Said Al-Khatir

Kamis, 8 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang

Pendahuluan Cetakan Ini

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, dan shalawat serta salam atas junjungan kami Muhammad, penutup para nabi, dan atas keluarganya yang suci, para sahabatnya yang mulia dan cemerlang, serta para pengikutnya dengan kebaikan hingga hari pembalasan.

Setelah itu: Sesungguhnya kitab-kitab saya “Berburu Pikiran” dan “Perhatian Hati” karya Imam Abu al-Faraj, Abdul Rahman bin Ali bin al-Jawzi, dengan kandungan kejujuran terhadap jiwa dan spontanitas dalam ungkapan, naik ke jajaran kitab-kitab abadi yang pembacanya merasa telah melampaui waktu dan tempat, dan seolah hidup bersama pengarang merasakan gejolak jiwanya, denyut hatinya, pikiran akalnya, keadaan zamannya, dan lapisan masyarakatnya. Kedua kitab ini dari segi tersebut dianggap sebagai dua dokumen sejarah kemanusiaan yang penting, terutama yang berkaitan dengan kehidupan Ibnu al-Jawzi, semoga Allah merahmatinya.

Ketika guru kami yang mulia Muhammad Ali Dawlah meminta saya menyiapkan cetakan “Berburu Pikiran” khusus untuk Dar al-Qalam, saya menelusuri cetakan-cetakan kitab ini sejak pertama kali diterbitkan hingga hari ini. Saya menemukan bahwa yang pertama mencetaknya adalah pustakawan terkenal, Syaikh Muhammad Amin al-Khanji al-Halabi yang menetap di Mesir dan wafat tahun 1385 H – 1939 M, yaitu dari cetakan al-Syarq tahun 1345 H – 1927 M. Dalam pendahuluannya, ia menjelaskan bahwa penerbitan tersebut berdasarkan tiga naskah tulisan tangan:

  1. Yang pertama: “al-Ahmadiyyah” dari perpustakaan Ahmad Tal’at Bek
  2. Yang kedua: “al-Misriyyah” dari perpustakaan Pangeran Musthafa Fadhil Pasya dan tersimpan di Dar al-Kutub al-Misriyyah
  3. Yang ketiga: naskah India, yang tidak disebutkan keterangannya; hanya disebut dalam catatan kaki kitab

Tampaknya ketiga naskah tersebut diambil dari satu sumber asli karena sedikitnya perbedaan di antara ketiganya dan kesepakatannya dalam kesalahan-kesalahan yang ada dalam kitab. Pencetakan kitab ini disupervisi oleh salah seorang cerdik pandai dari mahasiswa al-Azhar atau mahasiswa Universitas Mesir sebagaimana kebiasaan Syaikh Amin dan orang-orang semisal beliau, tanpa menyebutkan nama peneliti yang tidak dikenal ini. Bab-bab cetakan ini diberi nomor berurutan dengan pendahuluan dari Syaikh Amin dan daftar isi, cetakan ini terdiri dari 456 halaman ukuran biasa.

Cetakan kedua adalah cetakan “Rayhanah al-Syam” oleh Qadhi, faqih, dan dai sastrawan, Syaikh Ali al-Thanthawi, yang memperkenalkan kitab ini kepada masyarakat setelah terlupakan di sudut-sudut selama lebih dari tiga dekade. Beliau menerbitkan ulang berdasarkan cetakan al-Khanji. Dalam pendahuluannya, beliau menyebutkan bahwa ia meminta Dr. Shalahuddin al-Munajjid (semoga Allah menjaganya) ketika menjadi direktur Institut Manuskrip Arab untuk mengirimkan fotokopi naskah tulisan tangan kitab tersebut. Dokter tersebut mengiriminya salinan yang mungkin adalah naskah Dar al-Kutub, yang merupakan salah satu sumber cetakan al-Khanji, sehingga manfaatnya terbatas. Perbaikan kitab tetap bergantung pada kecerdikan, ilmu, dan kecemerlangan Ustadz al-Thanthawi yang memang dikenal demikian.

Cetakan beliau ditandai dengan pendahuluan yang luar biasa, karena semua yang ditulis Syaikh al-Thanthawi adalah harta karun sastra tinggi. Syaikh al-Thanthawi meminta Syaikh Nashiruddin al-Albani (yang digambarkannya sebagai rujukan hari ini dalam periwayatan hadits di negeri-negeri Syam) untuk menjelaskan hadits-hadits dalam kitab dari segi keshahihan atau kelemahannya. Cetakan Syaikh diterbitkan dalam tiga jilid ukuran sedang oleh Dar al-Fikr di Damaskus tahun 1380 H – 1960 M. Saudaranya, Qadhi yang mulia Naji al-Thanthawi, ikut bekerja dalam kitab ini dengan mencocokkan kitab dengan manuskrip Dar al-Kutub al-Misriyyah dan membuat judul-judul bab. Dengan cetakan Syaikh Ali al-Thanthawi, kitab ini menyebar ke seluruh penjuru dan kemasyhurannya merata di kalangan khusus dan umum. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan.

Cetakan ketiga adalah cetakan Allamah dai besar Syaikh Muhammad al-Ghazali (semoga Allah merahmatinya) yang diterbitkan oleh Dar al-Kutub al-Haditsah di Mesir tahun 1960 M. Beliau membuatkan pendahuluan yang luar biasa meski singkat, dan menjelaskan pekerjaannya dalam kitab dengan berkata: “Saya telah menelaah kitab ini dan merasa perlu memudahkan orang-orang untuk mengambil manfaat darinya. Ketika saya melanjutkan pembacaan, saya merasakan bahwa para penyalin dan pencetak telah merusak kitab, dan hampir sebagian pemikiran pengarang menjadi samar atau terhapus karena banyaknya kesalahan ini, meski naskah-naskah sepakat mencatatnya tanpa kesadaran… Maka saya merasa perlu melayani makna yang benar semampu tenaga, dan tidak ada pilihan selain menghilangkan kata-kata yang dipaksakan, menetapkan kata-kata yang dihilangkan, dan memperbaiki kata-kata yang diubah. Saya tidak bermaksud mencatat perubahan ini dalam catatan kaki halaman karena tidak melihat faedah besar dalam menyebutkannya.” Apa yang dilakukan Syaikh Muhammad al-Ghazali ini, meski bagus dan cerdas, tidak disukai sebagian orang yang bekerja dalam penelitian warisan.

Kemudian cetakan-cetakan terus bermunculan, ada yang berdasarkan cetakan Syaikh al-Thanthawi, ada yang berdasarkan cetakan Syaikh al-Ghazali, dan ada yang mencampur kedua cetakan, hingga pembaca tidak lagi bisa membedakan antara yang ada dalam kitab asli dan yang menjadi keadaan sekarang. Sebagian besar perhatian orang yang peduli dengan kitab ini adalah mengeluarkan hadits-hadits, menerangkan tokoh-tokoh yang tidak terkenal, dan menjelaskan kata-kata asing, ada yang ringkas dan ada yang panjang lebar. Ini adalah kerja yang terpuji, semoga Allah membalas pelakunya dengan kebaikan. Jumlah cetakan kitab yang saya lihat mencapai enam belas cetakan yang beredar di pasar. Saya tidak merasa perlu menyebutkannya, bukan untuk merendahkan, tetapi demi singkatnya pembahasan.

Pekerjaan Saya dalam Kitab:

  1. Dokumentasi teks: Saya mendasarkan cetakan ini pada terbitan al-Khanji, menjadikannya sebagai pokok dan menetapkan tambahan yang perlu dan yang diletakkan dalam kurung siku, serta memperbaiki yang salah tulis dengan menjelaskan keadaan aslinya. Semoga teks yang saya sajikan lebih dekat dengan yang ditulis pengarangnya.
  2. Penyesuaian teks: Karena kitab ini dibaca kalangan khusus dan umum, saya menyesuaikan teks dengan harakat lengkap.
  3. Saya membuat judul-judul bab yang diambil dari ucapan pengarang kecuali beberapa judul yang dibuat pengarang sendiri dan saya beri tanda bintang.
  4. Saya mempertahankan nomor-nomor bab cetakan al-Khanji sebagaimana adanya.
  5. Saya membagi kitab menjadi paragraf-paragraf dan memberi nomor berurutan.
  6. Saya menetapkan ayat-ayat dengan tulisan mushaf dengan menyebutkan nomor ayat dan nama surah.
  7. Saya mengeluarkan hadits-hadits yang disebutkan pengarang secara ringkas. Yang ada dalam Shahihain atau salah satunya, saya cukupkan dengan itu, dan saya tunjukkan yang lemah. Perlu diketahui bahwa mengamalkan hadits lemah dengan kelemahan ringan secara hati-hati setelah menjelaskan kelemahannya dibolehkan menurut kebanyakan ulama jika dalam bidang akhlak dan keutamaan amal, bukan hukum.
  8. Saya terjemahkan tokoh-tokoh yang tidak terkenal secara ringkas.
  9. Saya jelaskan kata-kata asing untuk pembaca umum.
  10. Saya perkenalkan pengarang dalam pendahuluan.
  11. Saya buatkan daftar isi untuk kitab.

Untuk melengkapi manfaat, saya lampirkan pada kitab ini risalah “Perhatian Hati kepada Nasihat Anak” yang topiknya sesuai dengan “Berburu Pikiran” dalam gaya dan isinya. Pengarangnya menulis setelah “Berburu Pikiran”, sehingga seperti bab dari bab-babnya.

Saya mendasarkan perbaikan “Perhatian Hati” pada cetakan al-Manar yang disupervisi Syaikh Muhammad Hamid al-Fiqi (semoga Allah merahmatinya) berdasarkan dua naskah tulisan tangan di Dar al-Kutub al-Misriyyah. Kitab dicetak tahun 1949 H. Saya cocokkan dengan cetakan al-Taraqi yang diperkenalkan dan dikomentar oleh Nashiruddin al-Albani dan Mahmud Mahdi Astanbuli, terbitan Jam’iyyah al-Tamaddun al-Islami di Damaskus tahun 1347 H – 1955 M.

Pada penutup, saya harus berterima kasih kepada Ustadz Muhammad Ali Dawlah yang memberikan kesempatan kepada saya untuk melayani kitab ini dan berkenan menerbitkannya di Dar al-Qalam yang mulia. Saya juga berterima kasih kepada dua saudara mulia: Ustadz Ibrahim Shalih dan Ustadz Bassam al-Jabi yang saya datangi dalam setiap kesulitan atau masalah, semoga Allah membalas keduanya dengan kebaikan.

Saya memohon kepada Allah agar menerima amal saya. Apa yang saya perbaiki adalah karena karunia dan taufik-Nya, dan apa yang saya salahi adalah karena kekurangan dan kelalaian saya.

Saya memohon kepada Allah agar membalas setiap orang yang berkontribusi dalam penerbitan kitab ini dengan kebaikan. Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik yang dimintai. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

Damaskus: Awal Sya’ban 1425 H / 15 September 2004 M

Hasan al-Samahi Suwaidan

 

 

Terjemahan Pengarang

 

1- Nama dan Nasab, Kunyah dan Gelarnya: Beliau adalah Jamal al-Din, Abu al-Faraj Abd al-Rahman bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Ubaidillah bin Abdullah bin Hammadi bin Ahmad bin Muhammad bin Ja’far al-Jauzi al-Qurashi al-Taimi al-Bakri al-Baghdadi al-Hanbali.

Ayahnya yang bernama Ali adalah seorang tukang kuningan yang telah melahirkan tiga orang anak, yaitu: Abdullah, Abd al-Rahman, dan Abd al-Razaq. Ayahnya meninggal dunia pada awal tahun 514 H ketika anaknya Abd al-Rahman telah genap berusia tiga tahun. Kakeknya Ja’far mendapat gelar al-Jauzi yang dinisbatkan kepada sebuah pelabuhan yang disebut Pelabuhan al-Jauz di tepi sungai Tigris dekat Baghdad, menurut pendapat yang paling kuat.

2- Tempat dan Tanggal Kelahirannya: Abd al-Rahman bin al-Jauzi lahir pada akhir tahun 510 H di Darb Habib dari Nahr al-Ma’la di sisi timur Baghdad yang bernama al-Rasafah, sedangkan sisi baratnya disebut al-Kaukh, keduanya dihubungkan oleh dua jembatan di atas sungai Tigris.

3- Zamannya dan Lingkungannya: Iraq berada di bawah kekuasaan Dinasti Saljuk sejak pertengahan abad kelima Hijriah, dan abad keenam menyaksikan konflik dan perpecahan dalam keluarga Saljuk, yang memberikan kesempatan kepada khalifah-khalifah Abbasiyah di Baghdad untuk merebut kembali sebagian dari kekuasaan mereka.

Ibn al-Jauzi hidup sezaman dengan enam khalifah Abbasiyah, yaitu secara berurutan: al-Mustarshid (512-529 H), al-Rashid (529-530 H), al-Muqtafi (530-555 H), al-Mustanjid (555-566 H), al-Mustadi’ (566-572 H), dan al-Nasir (572-622 H).

Adapun Baghdad pada masanya telah kehilangan sebagian dari keindahannya, dan kehancuran menyelimuti beberapa bagiannya, karena fitnah, peperangan, dan bencana yang menimpanya dari waktu ke waktu. Dalam hidup Ibn al-Jauzi terjadi kebakaran besar pada tahun 510 H, gempa bumi pada tahun 511 H, kebakaran di istana kekuasaan pada tahun 515 H, fitnah dan peperangan pada tahun 517 H, gempa bumi pada tahun 538 H, gempa bumi lainnya pada tahun 544 H, banjir besar pada tahun 554 H yang menenggelamkan rumah Ibn al-Jauzi dan merusak buku-bukunya, kemudian datang wabah dan kelaparan pada tahun 574 H. Namun Baghdad tetap mempertahankan kedudukan ilmiah dan sastranya, para ulama dari berbagai penjuru datang kepadanya untuk menambah ilmu. Cukuplah kita ketahui bahwa guru-guru Ibn al-Jauzi mencapai delapan puluh sembilan orang guru, padahal ia tidak pernah bepergian dari Baghdad kecuali dua kali untuk menunaikan haji: pertama pada tahun 541 H, dan kedua pada tahun 553 H.

4- Masa Muda dan Menuntut Ilmunya: Ayahnya meninggal dunia ketika ia masih anak kecil yang baru genap berusia tiga tahun, maka bibinya mengasuhnya dan mengurus pendidikan serta pemeliharaannya. Bibinya membawanya ke masjid Syaikh Abu al-Fadl Ibn Nasir yang merawatnya dan mengajarinya. Beliau berkata dalam kitab Laftah al-Kabad, Fasal 3: “Sungguh syaikh kami Abu al-Fadl Ibn Nasir rahimahullah telah memberi taufik kepadaku, dan dialah yang mengurus pengajaran hadits kepadaku sejak masa kecil, dan dialah yang dijadikan Allah Ta’ala sebagai sebab petunjukku kepada ilmu. Sesungguhnya ia bersungguh-sungguh bersamaku, dan ia membawaku kepada guru-guru yang tinggi derajatnya, padahal aku tidak mengetahui apa yang dilihatnya dariku, dan aku tidak tahu apa itu ilmu sejak kecil. Ia mengatur apa yang aku dengar hingga aku dewasa, dan ia menetapkan untukku apa yang aku dengar dengan tulisan tangannya, dan ia mengambil ijazah untukku. Darinya aku memperoleh pengetahuan hadits dan periwayatan, dan aku tidak mendapat manfaat dari seseorang sebagaimana manfaat yang aku peroleh darinya.”

Demikianlah Ibn al-Jauzi tumbuh berkembang dengan kecintaan yang besar terhadap ilmu dalam berbagai cabangnya. Ia berkata dalam Shaid al-Khatir, Fasal 167: “Sesungguhnya aku adalah seorang yang dicintakan kepadanya ilmu sejak masa kanak-kanak, maka aku sibuk dengannya, kemudian tidak dicintakan kepadaku satu cabang ilmu saja melainkan berbagai cabang, kemudian cita-citaku dalam suatu cabang ilmu tidak terbatas pada sebagiannya melainkan aku ingin menguasainya secara menyeluruh.”

Ia telah mengabdikan seluruh waktu dan hartanya untuk ilmu. Ia berkata: “Ketika aku dewasa, mereka memberikan kepadaku dua puluh dinar dan dua rumah, dan berkata kepadaku: ‘Ini seluruh warisan.’ Maka aku mengambil dinar-dinar itu dan membelikan buku-buku ilmu dengannya, dan aku jual kedua rumah itu, lalu aku habiskan harganya untuk menuntut ilmu, dan tidak tersisa bagiku sesuatu pun dari harta.”

Perjalanan ilmiah Ibn al-Jauzi tidaklah mudah, bahkan ia menghadapi kesulitan-kesulitan di dalamnya, tetapi manisnya ilmu telah memudahkan baginya setiap kesulitan. Ia berkata rahimahullah: “Sungguh aku dalam manisnya menuntut ilmu menghadapi kesulitan-kesulitan yang bagiku lebih manis dari madu, karena apa yang aku cari dan aku harapkan. Aku di masa kanak-kanak membawa serta roti-roti kering, lalu aku keluar untuk menuntut hadits, dan aku duduk di tepi sungai Isa, aku tidak mampu memakannya kecuali di dekat air. Setiap aku makan satu suap, aku minum air setelahnya, dan mata cita-citaku tidak melihat kecuali kenikmatan memperoleh ilmu. Hal itu berbuah padaku bahwa aku mengenal banyaknya apa yang aku dengar tentang hadits dan sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keadaan-keadaan beliau serta adab-adabnya, dan keadaan para sahabat serta tabi’in mereka. Maka aku menjadi dalam pengetahuan jalan seperti anak yang paling pandai.”

5- Guru-gurunya dan Ketekunannya terhadap Ilmu: Ibn al-Jauzi sering mengunjungi ulama-ulama zamannya untuk menimba ilmu dari mereka, hingga jumlah guru-gurunya mencapai delapan puluh sembilan orang guru, ia menulis sebuah kitab khusus untuk menyebutkan mereka yaitu “Masyikhah Ibn al-Jauzi”. Namun guru-guru yang paling menonjol yang meninggalkan pengaruh dalam kepribadiannya ada empat orang, yaitu:

a- Muhammad bin Nasir al-Salami: Abu al-Fadl (467-550 H), imam muhaddits hafizh, dibesarkan sebagai yatim dalam asuhan kakeknya dari pihak ibu Abu Hakim al-Khabari, yang mengajarinya al-Quran dan menyampaikan hadits kepadanya. Ia membaca dengan jumlah yang tidak terbatas banyaknya, memperoleh kitab-kitab pokok, mengumpulkan dan mengarang, dan tersebar nama baiknya. Ia fasih, bagus bacaannya, kuat dalam bahasa Arab, mahir dalam bahasa, banyak keutamaan, terpercaya, kokoh, baik jalannya, beragama, fakir namun memelihara kehormatan diri, bersih dan suci, mewakafkan buku-bukunya, dan tidak memiliki keturunan.

b- Ali bin Ubaid bin Nasr bin al-Sari al-Zaghuni: Abu al-Hasan (455-527 H), ulama imam syaikh Hanabilah, yang memiliki berbagai ilmu, pemilik karya-karya tulis, ia adalah lautan dari lautan-lautan ilmu, kembali kepada agama dan takwa, zuhud dan ibadah. Ibn al-Jauzi berkata: “Aku menemaninya beberapa waktu, dan aku mendengar darinya, dan aku catat darinya fiqh dan ceramah.”

c- Abd al-Wahhab bin al-Mubarak al-Anmati: Abu al-Barakat (462-538 H), syaikh imam, hafizh, yang bermanfaat, terpercaya yang bersanad, sisa dari salaf. Al-Sam’ani berkata: “Ia adalah hafizh terpercaya yang teliti, luas periwayatannya, selalu ceria, cepat menangis, baik pergaulannya, mengeluarkan takhrij, dan mengumpulkan yang tidak terbatas, mungkin tidak tersisa satu juz pun kecuali ia membacanya dan memperoleh salinannya.” Abu Musa al-Madini berkata: “Ia adalah hafizh zamannya di Baghdad.” Ibn al-Jauzi berkata: “Aku membaca kepadanya dan ia menangis, maka aku mendapat manfaat dari tangisannya lebih dari manfaat yang aku peroleh dari periwayatannya, dan aku mendapat manfaat darinya yang tidak aku peroleh dari yang lainnya.”

d- Mauhub bin Ahmad bin Muhammad bin al-Khadir al-Jawaliqi: Abu Manshur (465-540 H), imam dalam nahw dan bahasa dari kebanggaan Baghdad, ia belajar sastra kepada Abu Zakaria al-Tabrizi dan terus bersamanya serta mahir. Ia terpercaya, wara’, lebat keutamaannya, berlimpah akalnya, bagus tulisannya, banyak ketepatannya, menyusun karya-karya tulis, dan tersebar penyebutannya. Ibn al-Jauzi berkata: “Ia belajar sastra tujuh belas tahun kepada al-Tabrizi, dan kepadanya berakhir ilmu bahasa, dan ia mengajar bahasa Arab di al-Nizhamiyyah, dan khalifah al-Muqtafi membaca kepadanya sesuatu dari kitab-kitab, dan ia rendah hati, banyak diam, hati-hati, sering berkata: ‘Aku tidak tahu.'”

Ibn al-Najjar berkata: “Ia adalah imam zamannya dalam bahasa, menulis banyak dengan tulisan tangannya yang bagus dan teliti dengan kokohnya agama dan lurus jalannya, dan ia terpercaya, hujjah, mulia.”

Al-Kamal Ibn al-Anbari berkata: “Dan ia bermanfaat karena keberagamaannya dan kebaikan perjalanannya.” Ibn Shafi’ berkata: “Ia termasuk pembela sunnah.”

Ibn al-Jauzi tidak puas dengan apa yang ia baca dan pelajari dari guru-guru yang mulia itu, bahkan ia tekun membaca setiap kitab yang dapat dijangkau tangannya. Ia berkata dalam Shaid al-Khatir, Fasal 137: “Dan aku memberitakan tentang keadaanku, bahwa aku tidak pernah puas dari muthala’ah (membaca) kitab-kitab, dan jika aku melihat kitab yang belum pernah aku lihat maka seakan-akan aku jatuh pada harta karun. Sungguh aku telah melihat daftar kitab-kitab yang diwakafkan di Madrasah al-Nizhamiyyah, ternyata berisi enam ribu jilid, dan dalam daftar kitab-kitab Abu Hanifah, dan kitab-kitab al-Humaidi, dan kitab-kitab syaikh kami Abd al-Wahhab, dan Ibn Nasir, dan Abu Muhammad al-Shikhab, dan semuanya adalah muatan-muatan, dan selain itu dari setiap kitab yang aku mampu, dan jika aku katakan: ‘Sesungguhnya aku telah muthala’ah dua puluh ribu jilid,’ itu lebih banyak lagi, dan aku masih dalam pencarian. Maka aku mendapat manfaat dengan melihat di dalamnya dari mengamati perjalanan hidup kaum itu, dan kadar cita-cita mereka, dan hafalan mereka, dan ibadah-ibadah mereka, dan keajaiban-keajaiban ilmu mereka, yang tidak diketahui oleh orang yang tidak muthala’ah. Maka aku menjadi meremehkan apa yang ada pada manusia, dan merendahkan cita-cita para penuntut ilmu, dan segala puji bagi Allah.”

Di antara yang ia baca adalah bagian-bagian yang banyak dari “Kitab al-Funun” karya Ibn Aqil, yaitu kitab yang sangat besar, di dalamnya terdapat faedah-faedah yang banyak dan agung, dalam ceramah, tafsir, fiqh, ushul fiqh, nahw, bahasa, syair, sejarah dan hikayat-hikayat, dan di dalamnya terdapat perdebatan-perdebatan dan majelis-majelisnya yang terjadi baginya, dan khawatir-khawatirnya serta hasil pemikirannya yang ia catat di dalamnya. Ia mendapat manfaat darinya dengan faedah-faedah yang banyak, dan mungkin kitab itulah yang mengingatkannya untuk mencatat khawatir-khawatirnya, maka jadilah darinya kitabnya “Shaid al-Khatir”. Secara keseluruhan, Kitab al-Funun meninggalkan pengaruh-pengaruh yang nyata dalam ilmu dan karya-karya tulis Ibn al-Jauzi. Ia berkata rahimahullah tentang Kitab al-Funun: “Dan kitab ini dua ratus jilid, aku peroleh darinya sekitar seratus lima puluh jilid.” Cucunya berkata dalam “Mir’ah al-Zaman”: “Dan kakekku meringkas darinya sepuluh jilid yang disebarkannya dalam karya-karya tulisnya.”

Sungguh ketekunannya terhadap waktu-waktu dalam hidupnya sangat kuat, ia tidak menyia-nyiakan waktunya tanpa faedah, bahkan jam-jam yang ia terpaksa gunakan untuk menerima tamu-tamunya, ia gunakan untuk urusan-urusan yang berkaitan dengan ilmu-ilmunya. Ia berkata dalam Shaid al-Khatir Fasal 164: “Kemudian aku menyiapkan pekerjaan-pekerjaan yang tidak menghalangi dari percakapan untuk waktu-waktu bertemu mereka, agar tidak berlalu waktu dengan sia-sia. Maka aku jadikan dari persiapan untuk bertemu mereka memotong kertas dan meraut pena, serta mengikat buku-buku catatan. Sesungguhnya hal-hal ini tidak bisa tidak ada, dan tidak membutuhkan pemikiran serta kehadiran hati, maka aku persiapkan untuk waktu-waktu kunjungan mereka, agar tidak tersia-sia sesuatu dari waktuku.”

Kemudian dicintakan kepadanya di awal menuntut ilmu jalan para zahid, maka dengarkanlah ia menggambarkan keadaannya dengan berkata: “Aku di awal masa muda telah diilhami menempuh jalan para zahid dengan terus menerus berpuasa dan shalat, dan dicintakan kepadaku khalwat (menyendiri), maka aku mendapati hati yang baik, dan mata bashirahku kuat tajamnya, menyesal atas sejenak yang berlalu bukan dalam ketaatan, dan bersegera dalam waktu untuk meraih ketaatan-ketaatan, dan aku memiliki jenis keakraban dan manisnya munajat.”

6- Tampilnya dalam Ceramah dan Bimbingan: Namun seni yang dicintai Ibn al-Jauzi adalah ceramah dan bimbingan, maka ia mempersiapkan untuknya persiapan dari ilmu-ilmu syariat, bahasa, sastra dan sejarah. Ia hafal banyak hadits, riqaq (hal-hal yang melunakkan hati), berita-berita, hikayat-hikayat dan syair-syair, dengan penguasaan sempurna terhadap keadaan zamannya dan urusan masyarakatnya, serta keadaan manusia baik kalangan khusus maupun umum. Ketika alat-alatnya telah lengkap – padahal ia masih dalam usia muda – ia mulai mengadakan majlis-majlis ceramah, dan yang pertama adalah di Masjid al-Manshur pada tahun 527 H.

Majlis-majlisnya mulai menarik orang-orang, penduduk Baghdad berdesakan menghadirinya, menimba dari ilmu, ceramah dan peringatannya baik kalangan khusus maupun umum, hingga ia menjadi salah satu tokoh Baghdad, dan kebanggaan yang dibanggakan kepada kota-kota lain. Para pengunjung Baghdad bersemangat menghadiri majlis-majlisnya yang tidak ada bandingannya di dunia Islam.

Dan inilah pengelana Andalus yang terkenal “Muhammad bin Ahmad bin Jubair” menghadiri salah satu majlis ini dan menggambarkannya dengan penjelasan yang indah dalam perjalanannya yang terkenal, ia berkata: “Kemudian kami menyaksikan pada pagi hari Sabtu setelahnya majlis syaikh faqih imam yang tunggal, Jamal al-Din Abu al-Fada’il bin Ali al-Jauzi di depan rumahnya di tepi sungai di sisi timur dan di ujungnya, bersambung dengan istana-istana khalifah, dan dekat dengan Pintu al-Bashliyyah, pintu terakhir dari pintu-pintu sisi timur. Ia mengadakan majlis di sana setiap hari Sabtu, maka kami menyaksikan majlis seorang yang bukan dari Amr atau Zaid, dan di dalam kantong terdapat semua buruan, ayat zaman, penyejuk mata iman, pemimpin Hanabilah, dan yang dikhususkan dalam ilmu-ilmu dengan martabat-martabat tinggi, imam jamaah, dan penunggang kuda arena keahlian ini, dan yang disaksikan baginya keutamaan mulia dalam kefasihan dan kemahiran, pemegang kendali kalam dalam nazm dan natsr, dan yang menyelam dalam lautan pikirannya atas permata-permata mutiara. Adapun nazmnya maka ‘rida’ tabiatnya ‘mihayyari’ kecocokannya, dan adapun natsrnya maka memecah dengan sihir bayan, dan mematikan perumpamaan dengan ‘Quss’ dan ‘Sahban’.”

“Dan di antara ayat-ayatnya yang paling menakjubkan, dan mukjizat-mukjizatnya yang paling besar: bahwa ia naik mimbar, dan para qari mulai membaca, dan jumlah mereka lebih dari dua puluh qari, maka dua atau tiga orang dari mereka mengambil satu ayat dari bacaan, mereka lantunkan dengan nada dan menarik; jika mereka selesai maka rombongan lain dengan jumlah mereka melantunkan ayat kedua, dan mereka terus bergantian ayat-ayat dari surat-surat yang berbeda hingga mereka menyelesaikan bacaan, dan mereka telah datang dengan ayat-ayat yang serupa, hampir tidak mampu orang yang cerdas pikirannya menghitungnya atau menyebutkannya berturut-turut. Jika mereka selesai, imam yang ajaib urusan ini mengambil dalam penyampaian khutbahnya dengan tergesa-gesa memulai, dan ia tuangkan dalam cangkang-cangkang pendengaran dari kata-katanya mutiara-mutiara, dan ia rangkai awal-awal ayat yang dibaca dalam khutbahnya menjadi fiqrah-fiqrah, dan ia datangkan dengan berturut-turut sesuai bacaan mereka tidak dimajukan atau dimundurkan, kemudian ia sempurnakan khutbah dengan qafiyah ayat terakhir darinya. Seandainya orang yang paling pandai dalam majlis berusaha menyebutkan apa yang dibaca para qari ayat demi ayat sesuai urutan, niscaya ia akan lemah untuk itu, bagaimana dengan orang yang merangkainya secara spontan, dan menyampaikan khutbah yang indah dengannya dengan tergesa-gesa: ‘Apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?’ (QS. At-Tur: 15), ‘Sesungguhnya inilah keutamaan yang nyata’ (QS. An-Naml: 16). Maka ceritakanlah tentang lautan dan tidak mengapa, dan jauh sekali, bukanlah berita tentangnya seperti mengalaminya.”

Kemudian setelah selesai dari khutbahnya, ia datang dengan nasihat-nasihat yang menyentuh hati dan ayat-ayat yang jelas dari Al-Quran, yang membuat hati-hati terbang karena kerinduan, dan jiwa-jiwa meleleh karena terbakar (perasaan), hingga meninggi suara hiruk pikuk, dan bergema isak tangis dengan sesenggukan, para pemberitahu mengumumkan dengan teriakan, dan mereka berjatuhan kepadanya seperti jatuhnya kupu-kupu pada lampu, masing-masing meletakkan ubun-ubunnya di tangannya lalu memotongnya, dan mengusap kepalanya sambil mendoakan untuknya, dan di antara mereka ada yang pingsan, lalu diangkat dengan lengan kepadanya, maka kami menyaksikan pemandangan yang mengerikan yang memenuhi jiwa dengan tobat dan penyesalan, dan mengingatkan pada kengerian hari kiamat; seandainya kami tidak mengarungi lautan yang luas, dan menyeberangi padang pasir yang tandus kecuali untuk menyaksikan satu majelis dari majelis-majelisnya, niscaya itu adalah perniagaan yang menguntungkan, dan tujuan yang berhasil dan sukses, dan segala puji bagi Allah karena telah bertemu dengan orang yang benda-benda mati pun bersaksi akan keutamaannya, dan alam semesta terasa sempit untuk menyamai dirinya, dan dalam majelisnya itu pertanyaan-pertanyaan datang menyergapnya, dan kertas-kertas pertanyaan beterbangan kepadanya; maka ia menjawab lebih cepat dari sekejap mata dan terkadang sebagian besar majelisnya yang menawan adalah dari hasil pertanyaan-pertanyaan tersebut, dan keutamaan berada di tangan Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki, tidak ada Tuhan selain-Nya.

7- Karya-karyanya:

Kemudian Ibnu Jauzi melihat bahwa menulis dalam bidang ceramah melengkapi majelis-majelisnya; bahkan menyebarluaskan manfaatnya, karena kitab dapat sampai ke tempat yang tidak dapat dicapai oleh pidato, dan kitab itu kekal sedangkan pemiliknya telah terbaring di bawah tanah.

Dan ia berkata rahimahullah: Aku melihat dari pendapat yang tepat bahwa manfaat karya tulis lebih banyak dari manfaat pengajaran dengan lisan; karena aku berbicara langsung dalam hidupku dengan sejumlah pelajar, dan aku berbicara melalui karya tulisku dengan makhluk yang tak terhitung yang diciptakan setelahnya, dan dalil hal ini adalah bahwa manfaat manusia dari karya-karya tulis orang-orang terdahulu lebih banyak dari manfaat mereka dari apa yang mereka peroleh dari guru-guru mereka; maka seyogyanya bagi seorang alim untuk memusatkan perhatian pada penulisan karya jika ia diberi taufik untuk menulis karya yang bermanfaat…

Sesungguhnya Ibnu Jauzi mulai menulis karya pada usia tujuh belas tahun; maka tidak mengherankan bahwa ia menjadi salah satu penulis terbanyak dalam Islam, dan jumlah karya-karyanya telah melampaui empat ratus kitab, yang dikumpulkan oleh Profesor Abdul Hamid Al-Aluji dalam sebuah kitab yang dinamakannya “Karya-karya Ibnu Jauzi” sebagaimana Imam Adz-Dzahabi menyebutkan nama-nama banyak di antaranya dalam Siyar-nya (21/370) dan aku cukup di sini menyebutkan yang paling terkenal: “At-Tabshirah” dan “Talbis Iblis” dan “Dzamm Al-Hawa” dan “Zad Al-Masir fi Ilm At-Tafsir” dan “Shifah Ash-Shifwah” dan “Al-Mudhisy” dan “Manaqib Al-Imam Ahmad bin Hanbal” dan “Al-Muntadzam fi Tarikh Al-Muluk wa Al-Umam” dan “Al-Maudhu’at fi Al-Ahadits Al-Marfu’at” dan “Al-Wafa bi Ahwal Al-Mushthafa” sebagaimana ia sendiri rahimahullah ta’ala menyebutkan sejumlah darinya dalam kitabnya ini.

8- Sifat-sifat dan Berita Keluarganya:

Ibnu Jauzi adalah orang yang elegan dalam penampilannya, bersih dan rapi, hidup dengan nikmat dalam kehidupannya, sebagaimana ia rahimahullah adalah pembicara yang mahir, jika ia ingin membuat orang tertawa, ia bisa membuat orang yang kehilangan anak tertawa dengan apa yang ia ceritakan dari kisah-kisah orang kikir dan orang bodoh dan orang lalai dan orang yang suka bercanda dan orang yang jenaka. Dan jika ia ingin membuat orang menangis, ia bisa membuat batu yang tuli menangis dengan apa yang ia kisahkan dari penggambaran akhirat dan dahsyatnya hari kiamat dan perjalanan hidup orang-orang shalih yang zuhud, dan ketakutan mereka kepada Allah ta’ala, maka ia memadukan antara ini dan itu untuk menarik hati, dan menyegarkan jiwa agar siap mendengar nasihat-nasihatnya, karena ia ahli dalam apa yang memperbaiki jiwa dan menarik hatinya.

Sebagaimana Ibnu Jauzi -rahimahullah ta’ala- juga terkenal selain karena kefasihan dan kekayaan hafalannya dengan kecepatan berpikir dan jawaban yang siap, dan mereka menceritakan tentangnya kisah-kisah menarik, di antaranya: bahwa seorang laki-laki bertanya kepadanya siapa manusia terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan suasana antara Syiah dan Sunni sangat tegang, maka ia berkata secara spontan: Manusia terbaik adalah orang yang putrinya berada di bawah lindungannya, maka Ahlus Sunnah berkata: Ia maksudkan Abu Bakar; karena putrinya Aisyah berada di bawah lindungan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Syiah berkata: Bahkan ia maksudkan Ali; karena putrinya Fathimah radhiyallahu ‘anha berada di bawah lindungannya.

Ia menikah rahimahullah dua kali lalu melahirkan dari istri pertamanya sepuluh anak, lima laki-laki dan lima perempuan, meninggal dari yang laki-laki empat orang, di antaranya anaknya Abdul Aziz yang meninggal karena diracun di Mosul tahun 554 H, dan tersisa Ali Abu Al-Qasim, dan ia telah menulis untuknya surat “Laftah Al-Kabid ila Nashihah Al-Walad” namun ia tidak mengambil manfaat dari nasihat ayahnya, dan ia adalah anak yang durhaka dan berperangai buruk, maka ia memanfaatkan cobaan ayahnya, lalu mengambil kitab-kitabnya, dan menjualnya dengan harga yang sangat murah, Ali ini meninggal tahun 630 H.

Adapun yang perempuan adalah: 1- Rabi’ah: Menikah dengan Ibnu Rasyid At-Thabari tahun 571 H, lalu orang ini sibuk dengan kitab-kitab para filosof, sehingga akidahnya menjadi rusak, maka Ibnu Jauzi memutuskan hubungan dengannya, ketika ia meninggal, ia menikahkan putrinya dengan seorang budak Turki milik Wazir Ibnu Hubairah bernama Quzghuli lalu melahirkan Yusuf yang dikenal dengan Sibth Ibnu Jauzi pemilik “Mir’ah Az-Zaman” dan karya-karya lainnya. 2- Zainab, dan 3- Syaraf An-Nisa, dan 4- Sitt An-Nisa Ash-Shughra, dan 5- Jauharah. Dan ia melahirkan dari istri keduanya anaknya Yusuf, dan ia adalah anak termuda dan paling cerdas, lahir tahun 580 H, berceramah setelah ayahnya, dan menulis serta menguasai hingga mengungguli teman-temannya, dan mengambil alih pengajaran di Madrasah Mustanshiriyah, dan membangun Madrasah Jauziyah di Damaskus, dan mewakafkannya, kemudian menjadi ustadz Dar Al-Khalifah Al-Musta’shim tahun 640 H, hingga terbunuh bersama Khalifah ia dan anak-anaknya Taj Ad-Din, dan Jamal Ad-Din, dan Syaraf Ad-Din di tangan Tatar tahun 656 H.

9- Cobaan-nya:

Ibnu Jauzi menghadapi cobaan berat di masa tuanya yang penyebabnya adalah Rafidhah (Syiah), dan Syaikh Ali Ath-Thanthawi telah meringkasnya dalam muqaddimah cetakannya untuk “Shaid Al-Khatir” maka ia berkata rahimahullah:

Wazir Ibnu Yunus Al-Hanbali telah mengadakan majelis untuk Ar-Rukn Abdul Salam Ibnu Abdul Qadir Al-Jili, dan membakar kitab-kitabnya, dan di dalamnya terdapat banyak kekufuran dan penyembahan bintang dan pendapat orang-orang terdahulu, dan itu dengan kehadiran Ibnu Jauzi dan ulama-ulama lainnya, dan Wazir mengambil madrasah kakeknya dan menyerahkannya kepada Ibnu Jauzi, ketika Ibnu Al-Qashshab menjadi wazir -dan ia adalah Rafidhi yang jahat- ia berusaha menangkap Ibnu Yunus, dan mengejar pengikut-pengikutnya; maka Ar-Rukn berkata kepadanya: Di mana kamu dari Ibnu Jauzi? Sesungguhnya ia adalah Nashbi, dan dari keturunan Abu Bakar Ash-Shiddiq, maka ia dari pengikut terbesar Ibnu Yunus, dan ia memberikannya madrasah kakekku, dan kitab-kitabku dibakar atas sarannya. Maka Ibnu Al-Qashshab menulis kepada Khalifah An-Nashir, dan An-Nashir memiliki kecenderungan kepada Syiah, dan tidak pernah memiliki kecenderungan lain sepanjang hidupnya kepada Syaikh Abu Al-Faraj, maka ia memerintahkan untuk menyerakhannya kepada Ar-Rukn Abdul Salam, lalu orang ini datang ke rumah Syaikh, dan mencacinya dan berkata kasar kepadanya, dan menyegel kitab-kitabnya dan rumahnya, dan mencerai-beraikan keluarganya.

Ketika malam tiba, ia dibawa dengan perahu, dan tidak bersamanya kecuali musuhnya Ar-Rukn, dan Syaikh mengenakan jubah tanpa celana, dan di kepalanya topi ringan, lalu dibawa ke Washit, dan pengurusnya adalah Syiah, maka Ar-Rukn berkata kepadanya: Biarkan aku menguasai musuhku agar aku melemparkannya ke penjara bawah tanah, maka ia memarahinya, lalu berkata: Hai zindiq! Kamu melemparkannya dengan ucapanmu? Bawa tulisan Khalifah, demi Allah seandainya ia dari ahli mazhab-ku niscaya aku akan mengorbankan nyawa dan hartaku untuk melayaninya.

Ibnu Al-Qadisi berkata: Ketika ia tiba di Washit, orang-orang berkumpul, dan Ibnu Abdul Qadir menuduh Syaikh bahwa ia telah mengelola wakaf madrasah, dan [bahwa ia] mengambil dari hartanya sekian dan sekian, dan ia berdusta dalam apa yang dituduhkannya, dan Syaikh mengingkari dan benar serta berbakti, dan disediakan untuk Syaikh sebuah rumah di gang Diwan, dan di pintunya ada penjaga, dan disediakan untuknya orang yang melayaninya, dan sebagian orang masuk kepadanya, dan mendengar darinya, dan ia mendiktekan kepada mereka, dan ia mengirim banyak syair ke Baghdad.

Dan ia tinggal di Washit selama lima tahun melayani dirinya sendiri, dan mencuci pakaiannya, dan memasak, dan mengambil air dari sumur, dan tidak dapat keluar ke pemandian atau lainnya, dan ia hampir berusia delapan puluh tahun.

Dan ia tetap dalam keadaan itu dari tahun sembilan puluh hingga tahun sembilan puluh lima, lalu dibebaskan, dan datang ke Baghdad, dan banyak orang keluar pada hari kedatangannya untuk menemuinya, dan penduduk Baghdad bergembira dengannya dengan kegembiraan yang berlebihan, dan diumumkan untuknya untuk duduk pada hari Sabtu, maka orang-orang shalat Jumat, dan mereka lewat mengambil tempat-tempat duduk di lokasi majelis dekat makam ibu Khalifah, lalu malam itu turun hujan deras yang memenuhi jalan-jalan, maka didatangkan pada malam hari tukang-tukang kasur dan penjual karpet, lalu mereka membersihkan tempat duduk, dan membentangkan di dalamnya kerikil halus dan tikar, dan orang-orang pergi saat hujan ke kubur Ma’ruf [Al-Karkhi] di bawah lorong hingga hujan reda, kemudian Syaikh duduk pagi hari Sabtu, dan orang-orang lewat, dan hadir pemilik-pemilik madrasah dan kaum sufi dan syaikh-syaikh ribath, dan padang memenuhi hingga suara Syaikh tidak sampai kepada yang paling akhir dari mereka.

Dan Khalifah mengembalikan Syaikh ke Baghdad dan memberikan pakaian kehormatan kepadanya, dan ia duduk di dekat makam ibu Khalifah untuk berceramah, dan membaca syair:

Kami menderita karena perpisahan di suatu masa, ketika kami bertemu seakan-akan kami tidak pernah menderita Kami marah ketika malam-malam berbuat jahat, maka ia tidak berhenti dengan kami hingga kami ridha Kami bahagia dengan pertemuan dan betapa kami menderita, dengan cawan-cawan penolakan dan betapa kami musnah Maka barangsiapa yang tidak hidup setelah kematian suatu hari, sesungguhnya kami setelah mati, kami hidup

Dan Syaikh tetap dalam kebiasaannya yang pertama dalam berceramah dan menyebarkan ilmu dan menulisnya hingga ia meninggal.

10- Wafatnya:

Ibnu Jauzi meninggal setelah sakit yang berlangsung lima hari, pada malam Jumat antara Maghrib dan Isya pada tanggal tiga belas Ramadhan yang mulia tahun 597 H di rumahnya yang dekat dengan kubur Ma’ruf Al-Karkhi di daerah Quthfata, di sisi barat kota As-Salam Baghdad.

Sumber-sumber sepakat bahwa hari wafatnya adalah hari yang bersejarah di Baghdad, karena hati orang-orang berguncang karena berita wafatnya, dan pasar-pasar ditutup, dan dikumandangkan untuk shalat atasnya di kedua sisi Baghdad, dan jenazahnya dipikul di atas kepala-kepala orang, kemudian mereka membawanya ke Masjid Al-Manshur untuk menshalatkannya, maka anaknya Abu Al-Qasim Ali menshalatkannya, dan masjid dengan keluasannya terasa sempit oleh orang-orang, maka dishalatkan atasnya dua kali, kemudian dibawa ke makam Bab Harb, lalu dikuburkan di sana dekat dengan Imam Ahmad rahimahumulllah.

Cucunya Abu Al-Muzhaffar berkata: Kakekku berwasiat agar ditulis di kuburnya:

Wahai Dzat Yang Banyak Memberi Maaf kepada orang yang banyak dosa padanya Datang kepadamu orang yang berdosa mengharap pengampunan atas kejahatan kedua tangannya
Aku adalah tamu dan balasan tamu adalah berbuat baik kepadanya

Bismillahirrahmanirrahim Dan kepada-Nya kami minta pertolongan dan kepada-Nya kami bertawakkal.

Berkata Syaikh Imam yang alim, Abu Al-Faraj Abdul Rahman bin Ali bin Muhammad bin Al-Jauzi rahimahullah ‘alaih:

Segala puji bagi Allah, pujian yang mencapai keridhaan-Nya, dan shalawat Allah atas yang paling mulia dari yang dipilih-Nya, dan atas siapa yang menyahabatinya dan mencintainya, dan salam yang tidak dapat dicapai ujungnya.

Karena khawatir berkelana dalam meneliti hal-hal yang muncul padanya, kemudian berpaling darinya lalu hilang, maka termasuk perkara yang paling penting adalah menjaga apa yang terlintas, agar tidak terlupa, dan sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ikatlah ilmu dengan tulisan”. Dan betapa banyak yang telah terlintas padaku sesuatu, lalu aku tersibukkan dari mencatatnya, maka hilang, lalu aku menyesalinya! Dan aku melihat dari diriku bahwa setiap kali aku membuka mata pemikiran, muncul baginya dari keajaiban-keajaiban ghaib apa yang tidak pernah terhitung, maka berdatangan kepadanya dari bukit pemahaman apa yang tidak boleh disia-siakan, maka aku jadikan kitab ini sebagai pengikat buruan pikiran, dan Allah yang memberi manfaat, sesungguhnya Dia dekat lagi mengabulkan.

1- Pasal: Nasihat dan Pendengar

Terkadang muncul ketika mendengar nasihat bagi pendengar suatu kesadaran, maka jika ia berpisah dari majelis dzikir, kembali lagi kekerasan hati dan kelalaian, maka aku merenungkan sebab dalam hal itu, lalu aku mengetahuinya. Kemudian aku melihat manusia berbeda-beda dalam hal itu, maka keadaan umum adalah bahwa hati tidak berada dalam sifatnya dari kesadaran ketika mendengar nasihat dan setelahnya; karena dua sebab:

Pertama: Bahwa nasihat-nasihat seperti cambuk, dan cambuk tidak menyakitkan setelah berakhir, dan menyakitkannya saat mengenai.

Kedua: Bahwa keadaan mendengar nasihat, manusia berada dalam keadaan hilang penyakit, telah menyendiri dengan tubuh dan pikirannya dari sebab-sebab dunia, dan mendengarkan dengan kehadiran hatinya; maka jika kembali kepada kesibukan-kesibukan, ia ditarik olehnya dengan afa-afatnya, maka bagaimana mungkin benar bahwa ia seperti keadaan semula?!

Dan ini adalah keadaan yang meliputi semua makhluk; kecuali bahwa para pemilik kesadaran berbeda-beda dalam keberlangsungan pengaruh, maka di antara mereka ada yang bertekad tanpa ragu-ragu, dan berlalu tanpa menoleh, seandainya rombongan tabiat berhenti bersama mereka, niscaya mereka mengeluh, sebagaimana Hanzhalah berkata tentang dirinya: Hanzhalah bermunafik.

Dan di antara mereka ada kaum yang condong kepada kelalaian kadang-kadang, dan yang telah berlalu dari nasihat-nasihat menyeru mereka kepada amal kadang-kadang, maka mereka seperti bulir yang dimiringkan angin.

Dan ada kaum yang tidak terpengaruh padanya kecuali sebesar mendengarnya, seperti air yang menggelinding di atas batu yang licin.

BAB 2: Daya Tarik Tabiat Sangat Banyak

Daya tarik tabiat menuju dunia sangat banyak, dan ia berasal dari dalam diri. Sedangkan mengingat akhirat adalah perkara yang bertentangan dengan tabiat, dan ia datang dari luar. Barangkali orang yang tidak memiliki ilmu mengira bahwa daya tarik akhirat lebih kuat, karena mendengar ancaman dalam Al-Qur’an. Namun tidak demikian; karena perumpamaan tabiat dalam kecenderungannya pada dunia seperti air yang mengalir, ia mencari tempat yang rendah; sedangkan mengangkatnya ke atas memerlukan usaha. Oleh karena itu syariat datang membantu: dengan mengasingkan dan menakut-nakuti untuk menguatkan tentara akal. Adapun tabiat, daya tariknya sangat banyak, dan bukanlah aneh jika ia menang, yang aneh justru jika ia dikalahkan.

BAB 3: Orang yang Melihat Perkara dengan Mata Hati

Siapa yang melihat dengan mata hatinya ujung perkara-perkara sejak awal, ia akan memperoleh kebaikannya dan selamat dari keburukannya. Siapa yang tidak melihat akibat-akibatnya, akan dikuasai oleh hawa nafsu, maka yang ia harapkan mendatangkan keselamatan justru mencelakakan, dan yang ia harapkan mendatangkan ketenangan justru mendatangkan kesusahan.

Penjelasan ini di masa depan akan terlihat dengan mengingat masa lalu, yaitu kamu tidak lepas dari pernah bermaksiat kepada Allah dalam hidupmu, atau mentaati-Nya. Mana kelezatan maksiatmu?! Dan mana lelahnya ketaatanmu?! Jauh sekali, semuanya telah berlalu dengan apa yang ada padanya. Andai saja dosa-dosa ketika pergi, benar-benar pergi!

Aku akan menambahkan penjelasan: misalkan saat kematian, dan lihatlah kepahitan penyesalan karena kelalaian. Aku tidak berkata: bagaimana ia mengalahkan manisnya kelezatan?! Karena manisnya kelezatan telah berubah menjadi pahit; maka tinggallah kepahitan duka tanpa perlawanan. Tidakkah kamu tahu bahwa perkara itu tergantung pada akibat-akibatnya?! Maka awasilah akibat-akibat agar selamat, dan jangan condong mengikuti hawa nafsu agar tidak menyesal.

BAB 4: Merenung Akibat-Akibat Dunia

Siapa yang merenung akibat-akibat dunia, ia akan berhati-hati. Siapa yang yakin dengan panjangnya perjalanan, ia akan bersiap untuk bepergian.

Alangkah anehnya urusanmu wahai orang yang yakin dengan sesuatu kemudian melupakannya, mengetahui bahaya suatu keadaan kemudian mendatanginya, takut kepada manusia padahal Allah lebih berhak untuk ditakuti!

Nafsumu mengalahkanmu dalam hal yang kamu sangka, namun kamu tidak mengalahkannya dalam hal yang kamu yakini!

Yang paling aneh: kamu senang dengan tipuan dan lalai dalam permainanmu dari apa yang telah disembunyikan untukmu!

Kamu tertipu dengan kesehatanmu dan melupakan datangnya penyakit, bergembira dengan afiatmu padahal lengah dari dekatnya kesakitan!

Sungguh kematian orang lain telah menunjukkan kematianmu, dan tempat tidur orang lain sebelum mati telah menampakkan tempat tidurmu. Meraih kesenanganmu telah menyibukkanmu dari mengingat kehancuran dirimu.

Seakan kamu tidak mendengar berita orang-orang yang telah pergi… dan tidak melihat pada yang tersisa apa yang diperbuat masa

Jika kamu tidak tahu, itulah rumah-rumah mereka… dihapus oleh tiupan angin setelah mereka dan kubur

Berapa banyak aku melihat pemilik rumah yang tidak turun ke liang kubur hingga ia turun! Berapa banyak aku saksikan penguasa istana yang digantikan musuhnya ketika dipecat!

Wahai orang yang setiap saat menuju ke sana, namun perbuatannya seperti orang yang tidak paham dan tidak tahu!

Bagaimana mata bisa tidur dengan tenang… padahal tidak tahu di mana dari dua tempat ia akan turun?

BAB 5: Mendekati Fitnah

Siapa yang mendekati fitnah, keselamatan akan menjauh darinya. Siapa yang mengaku sabar, diserahkan kepada dirinya sendiri.

Betapa banyak pandangan yang tidak memandang, dan yang paling berhak dikendalikan dan dikuasai: lisan dan mata.

Maka hati-hatilah jangan tertipu dengan tekadmu untuk meninggalkan hawa nafsu sambil mendekati fitnah, karena hawa nafsu itu penuh tipu daya! Berapa banyak pemberani di barisan perang yang terbunuh, datang kepadanya apa yang tidak ia duga dari orang yang ia malu untuk melihatnya. Ingatlah Hamzah dengan Wahsyi.

Maka berhati-hatilah dan jangan mencium setiap kilat… betapa banyak kilat yang di dalamnya ada petir yang membinasakan

Dan tundukkan pandangan agar beristirahat dari cinta… yang membuatmu mengenakan pakaian hina dan aib

Bencana pemuda adalah mengikuti nafsu… dan awal hawa nafsu adalah pandangan mata yang tinggi

BAB 6: Hukuman Terbesar

Hukuman terbesar adalah tidak merasakan hukuman itu, dan yang lebih parah adalah bergembira dengan apa yang merupakan hukuman, seperti senang dengan harta haram, dan bisa berbuat dosa. Orang yang demikian keadaannya tidak akan beruntung dengan ketaatan.

Aku merenungkan keadaan sebagian besar ulama dan ahli zuhud, maka aku melihat mereka dalam hukuman-hukuman yang tidak mereka sadari, kebanyakannya karena mencari kedudukan. Ulama di antara mereka marah jika ditentang langkahnya, penceramah berpura-pura dalam ceramahnya, dan ahli zuhud munafik atau riya.

Hukuman pertama mereka: berpaling dari kebenaran karena sibuk dengan makhluk. Di antara hukuman tersembunyi mereka: hilangnya manisnya bermunajat dan kenikmatan beribadah, kecuali laki-laki mukmin dan perempuan mukmin yang Allah pelihara bumi dengan mereka, batin mereka seperti lahir mereka bahkan lebih jernih, rahasia mereka seperti yang tampak bahkan lebih manis, cita-cita mereka setinggi bintang bahkan lebih tinggi. Jika dikenal mereka menyembunyikan diri, jika terlihat keramah mereka, mereka mengingkarinya. Manusia dalam kesesatan mereka, sedangkan mereka dalam memotong padang gurun mereka. Bumi mencintai mereka dan bergembira dengan mereka malaikat langit. Kami memohon kepada Allah agar diberi taufik mengikuti mereka dan dijadikan pengikut mereka.

BAB 7: Tingginya Cita-cita

Di antara tanda kesempurnaan akal adalah tingginya cita-cita, dan yang rela dengan yang rendah adalah rendah.

Aku tidak melihat dalam aib manusia suatu aib… seperti kurangnya orang yang mampu mencapai kesempurnaan

BAB 8: Cinta Allah Mendahului Cinta Kekasih-Nya

Maha Suci Yang cinta-Nya mendahului kekasih-kekasih-Nya; maka Dia memuji mereka atas apa yang Dia berikan kepada mereka, dan membeli dari mereka apa yang Dia berikan kepada mereka, dan mendahulukan sifat mereka yang terlambat karena mengutamakan mereka. Maka Dia membanggakan mereka dalam puasa mereka, dan mencintai bau mulut mereka yang berubah.

Alangkah mulianya keadaan yang terpelihara! Tidak setiap pencari bisa meraihnya, dan tidak setiap peminang bisa mencapai hakikat sifatnya.

BAB 9: Orang Berakal Memberikan Setiap Saat Haknya

Yang wajib bagi orang berakal adalah bersiap untuk kepergiannya; karena ia tidak tahu kapan perintah Tuhannya mengejutkannya? Dan tidak tahu kapan ia dipanggil?

Aku melihat banyak makhluk yang tertipu oleh masa muda, melupakan hilangnya teman-teman, dan dilalaikan oleh panjangnya angan-angan. Bahkan terkadang ulama murni berkata pada dirinya: aku akan sibuk dengan ilmu hari ini, kemudian mengamalkannya besok! Maka ia bersikap longgar dalam zuhud dengan dalih istirahat, menunda harapan untuk merealisasikan taubat, tidak menghindari ghibah atau mendengarkannya, dari memperoleh syubhat berharap menghapusnya dengan wara’, dan lupa bahwa kematian bisa datang tiba-tiba.

Maka orang berakal adalah yang memberikan setiap saat haknya dari kewajiban atasnya. Jika kematian mengejutkannya, ia terlihat sudah siap, dan jika mencapai harapan, bertambah kebaikan.

BAB 10: Bila Kamu Melihat Orang Dihukum, Ketahuilah Karena Dosa-dosa

Terlintas dalam pikiran tentang apa yang menimpa banyak orang di dunia berupa musibah berat dan bencana besar yang mencapai puncak kesulitan, maka aku berkata: Subhanallah! Sesungguhnya Allah adalah Yang Paling Mulia, dan kemurahan mengharuskan toleransi, lalu apa hikmah hukuman ini?!

Maka aku berpikir dan melihat banyak manusia dalam keberadaan mereka seperti tidak ada, tidak memperhatikan dalil-dalil keesaan, tidak melihat perintah Allah dan larangan-Nya; bahkan berjalan mengikuti kebiasaan mereka seperti binatang. Jika syariat sesuai keinginan mereka, baik, jika tidak, sandaran mereka pada tujuan mereka! Setelah memperoleh dinar tidak peduli, dari halal atau haram? Jika shalat mudah bagi mereka, dikerjakan, jika tidak mudah, ditinggalkan! Di antara mereka ada yang terang-terangan berbuat dosa besar, dengan mengetahui larangan.

Bahkan terkadang pengetahuan seorang ulama di antara mereka kuat, namun dosanya bertambah!!

Maka aku tahu bahwa hukuman-hukuman walaupun besar, masih di bawah kejahatan mereka; jika turun hukuman untuk membersihkan dosa, orang yang meminta tolong berteriak: coba lihat ini karena dosa apa?! Dan lupa apa yang telah terjadi yang bisa mengguncang bumi sebagiannya!

Terkadang orang tua dihina di masa tuanya hingga hati merasa kasihan, padahal ia tidak tahu bahwa itu karena mengabaikan hak Allah di masa mudanya! Maka bila kamu melihat orang dihukum, ketahuilah karena dosa-dosa.

BAB 11: Hasad Bersumber dari Cinta Dunia

Aku merenungkan saling hasad di antara ulama, maka aku melihat sumbernya dari cinta dunia. Sesungguhnya ulama akhirat saling mencintai dan tidak saling hasad, sebagaimana Allah berfirman: “Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan (kepada orang lain)” (Surat Al-Hasyr: 9), dan Allah berfirman: “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: ‘Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman'” (Surat Al-Hasyr: 10).

Abu Darda’ setiap malam mendoakan sekelompok saudaranya.

Imam Ahmad bin Hanbal berkata kepada anak Syafi’i: Ayahmu termasuk enam orang yang aku doakan setiap malam waktu sahur.

Perbedaan antara dua kelompok: ulama dunia melihat kepemimpinan di dalamnya, dan mencintai banyaknya pengikut dan pujian. Sedangkan ulama akhirat menjauh dari mengutamakan itu, bahkan mereka takut terhadapnya, dan kasihan kepada orang yang tertimpa dengannya.

An-Nakha’i tidak bersandar ke tiang.

Alqamah berkata: Aku benci tumitku diinjak dan dikatakan: Alqamah. Sebagian mereka jika duduk kepadanya lebih dari empat orang, ia bangkit dari mereka. Mereka saling lempar fatwa dan mencintai ketidakterkenalan.

Perumpamaan kaum itu seperti penumpang laut yang telah bergelombang, maka ada kesibukan sampai yakin selamat. Sebagian mereka mendoakan sebagian yang lain dan saling mengambil manfaat; karena mereka rombongan yang berteman lalu saling mencintai. Hari dan malam adalah perjalanan mereka menuju perjalanan surga.

BAB 12: Siapa yang Ingin Menjernihkan Keadaan

Siapa yang ingin menjernihkan keadaan, hendaklah bersungguh-sungguh menjernihkan amal. Allah berfirman: “Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak)” (Surat Al-Jin: 19).

Nabi bersabda dalam hadis qudsi yang diriwayatkannya dari Tuhannya: “Seandainya hamba-hamba-Ku mentaati-Ku, niscaya Aku turunkan hujan di malam hari, dan Aku terbitkan matahari di siang hari, dan tidak Aku perdengarkan kepada mereka suara guntur.”

Beliau bersabda: “Kebaikan tidak akan rusak, dosa tidak akan dilupakan, Yang Membalas tidak tidur, dan sebagaimana kamu berbuat, kamu akan dibalas.”

Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: Siapa yang menjernihkan, dijernihkan untuknya. Siapa yang mengkeruhkan, dikeruhkan atasnya. Siapa yang berbuat baik di malamnya, dibalas di siangnya. Siapa yang berbuat baik di siangnya, dibalas di malamnya.

Ada seorang syaikh berkeliling di majlis-majlis berkata: Siapa yang senang afiat berlangsung untuknya, hendaklah bertakwa kepada Allah.

Fudail bin Iyadh berkata: Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah, maka aku mengetahui itu pada akhlak hewan tungganganku dan budak perempuanku.

Ketahuilah -semoga Allah memberimu taufik- bahwa orang yang bius tidak merasakan pukulan; yang mengetahui tambah dan kurang hanyalah yang menghisab dirinya.

Bila kamu melihat keruhnya keadaan, ingatlah nikmat yang tidak kamu syukuri, atau kesalahan yang telah kamu lakukan.

Berhati-hatilah dari larinya nikmat dan datangnya siksaan tiba-tiba, jangan tertipu dengan luasnya hamparan kesabaran; karena barangkali cepat mengerut. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Surat Ar-Ra’d: 11).

Abu Ali Ar-Rudzubari berkata: Termasuk tertipu adalah berbuat buruk, lalu diperlakukan baik, kemudian meninggalkan taubat dengan mengira dimaafkan dalam kesalahan-kesalahan.

BAB 13: Taklif Terbagi Beberapa Bagian

Aku merenung suatu hari tentang taklif, maka aku melihatnya terbagi menjadi mudah dan sulit:

Adapun yang mudah: yaitu amal anggota badan; kecuali di dalamnya ada yang lebih sulit dari sebagian, maka wudhu dan shalat lebih mudah dari puasa, dan puasa mungkin pada suatu kaum lebih mudah dari zakat.

Adapun yang sulit, berbeda-beda, sebagiannya lebih sulit dari sebagian:

Di antara yang sulit: melihat dan berdalil yang mengantarkan pada pengenalan Khaliq, ini sulit bagi yang dikuasai urusan indrawi, mudah bagi ahli akal.

Di antara yang sulit: mengalahkan hawa nafsu, menguasai jiwa, menahan tangan tabiat dari bertindak pada yang dikehendaki. Semua ini mudah bagi orang berakal yang melihat pahalanya, mengharap akibatnya, walaupun berat sementara.

Sesungguhnya yang paling sulit dan paling aneh dari taklif: telah tetap hikmah Khaliq pada akal kemudian ia melihat-Nya memiskinkan orang yang sibuk dengan ilmu, menghadap pada ibadah, hingga kemiskinan menggigitnya dengan gigi taringnya, maka ia tunduk kepada orang jahil dalam mencari makanan, dan menguatkan orang fasik dengan kejahilan hingga dunia melimpah atasnya.

Kemudian kita melihat Dia menciptakan tubuh-tubuh dan mengaturnya, lalu meruntuhkan bangunan masa muda di awal permulaannya, dan ketika penyempurnaan bangunannya telah lengkap; maka tiba-tiba tubuh itu telah kembali menjadi lapuk.

Kemudian kita melihat Dia membuat anak-anak menderita, hingga setiap tabiat merasa kasihan kepada mereka, lalu dikatakan kepadanya: janganlah engkau meragukan bahwa Dia adalah Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Kemudian dia mendengar tentang pengutusan Musa kepada Firaun, dan dikatakan kepadanya: yakinilah bahwa Allah Ta’ala telah menyesatkan Firaun, dan ketahuilah bahwa Adam tidak punya pilihan lain selain memakan pohon itu, padahal dia telah ditegur dengan firman-Nya: “Dan Adam mendurhakai Tuhannya” (Taha: 121).

Dan dalam hal-hal seperti ini banyak makhluk menjadi bingung, hingga mereka keluar kepada kekufuran dan pendustaan, padahal seandainya mereka meneliti rahasia hal-hal ini, niscaya mereka akan mengetahui bahwa menyerahkan perkara-perkara ini adalah pembebanan akal agar tunduk.

Ini adalah dasar, jika dipahami, akan menghasilkan keselamatan dan penyerahan. Kita memohon kepada Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung agar membukakan bagi kita hal-hal yang gaib, yang telah membingungkan orang-orang yang sesat, sesungguhnya Dia Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan.

Pasal 14: Jangan Sia-siakan Waktu Walau Sedetik dalam Hal yang Bukan Ketaatan

34- Sepantasnya manusia mengetahui kemuliaan zamannya, dan nilai waktunya, maka janganlah dia menyia-nyiakan satu detik pun dalam hal yang bukan ketaatan, dan hendaklah mendahulukan yang terbaik dari yang terbaik dalam perkataan dan perbuatan.

35- Dan hendaklah niatnya dalam kebaikan tetap tegak tanpa lemah dengan apa yang tidak membuat badan tak mampu dari amal, sebagaimana datang dalam hadits: “Niat seorang mukmin lebih baik dari amalnya.”

36- Dan telah ada sekelompok salaf yang mempercepat memanfaatkan detik-detik, maka diriwayatkan dari Amir bin Abdul Qais: bahwa seorang laki-laki berkata kepadanya: “Berbicaralah denganku!” Maka dia berkata kepadanya: “Tahanlah matahari!”

Dan Ibnu Tsabit Al-Bunani berkata: Aku pergi untuk mentalqin ayahku, maka dia berkata: “Wahai anakku! Biarkanlah aku, karena aku sedang dalam wirid yang keenam.”

Dan mereka masuk kepada sebagian salaf ketika dia hampir meninggal dunia sedangkan dia sedang shalat, maka dikatakan kepadanya, lalu dia berkata: “Sekarang lembaran amalku sedang dilipat.”

37- Jika manusia mengetahui – meskipun dia bersungguh-sungguh – bahwa kematian akan memutuskannya dari amal, dia bekerja dalam hidupnya dengan apa yang dicatat pahalanya setelah kematiannya: jika dia memiliki sesuatu dari dunia, dia wakafkan wakaf, dan menanam tanaman, dan mengalirkan sungai, dan berusaha memperoleh keturunan yang mengingat Allah setelahnya, maka pahala itu untuknya, atau dia menyusun buku dalam ilmu; karena sesungguhnya karya tulis seorang alim adalah anaknya yang kekal, dan hendaklah dia menjadi pekerja kebaikan, alim dalam hal itu, maka dipindahkan dari perbuatannya apa yang dijadikan teladan oleh orang lain; maka itulah orang yang tidak mati.

“Sungguh telah mati suatu kaum padahal mereka hidup di tengah manusia”

Pasal 15: Tipu Daya dan Makar Setan

38- Aku melihat dari tipu daya dan makar setan yang paling besar adalah dia mengelilingi pemilik-pemilik harta dengan angan-angan, dan kesibukan dengan kelezatan-kelezatan yang memutuskan dari akhirat dan amal-amalnya! Jika dia telah menyibukkan mereka dengan harta dengan menghasut untuk mengumpulkannya, dan mendorong untuk memperolehnya, dia memerintahkan mereka untuk menjaganya dengan kikir terhadapnya, maka itu dari tipu dayanya yang kuat, dan makarnya yang kokoh.

39- Kemudian dia menyembunyikan dalam perkara ini hal-hal halus dari tipu daya yang tersembunyi yaitu dia menakuti orang-orang mukmin dari mengumpulkannya, maka pencari akhirat lari darinya, dan orang yang bertaubat bersegera mengeluarkan apa yang ada di tangannya. Dan setan terus menghasutnya pada zuhud, dan memerintahkannya untuk meninggalkan, dan menakutinya dari jalan-jalan usaha, dengan menampakkan nasihatnya, dan menjaga agamanya, dan dalam hal-hal tersembunyi itu ada keajaiban-keajaiban dari makarnya!

40- Dan terkadang setan berbicara melalui lisan sebagian masyaikh yang dijadikan teladan oleh orang yang bertaubat; maka dia berkata kepadanya: “Keluarkanlah hartamu! Dan masuklah dalam barisan para zahid! Dan kapan engkau mempunyai makan siang atau makan malam, maka engkau bukan dari ahli zuhud, dan tidak akan mencapai tingkatan-tingkatan keteguhan,” dan terkadang dia mengulanginya dengan hadits-hadits yang jauh dari kesahihan, dan yang datang karena sebab dan untuk makna tertentu; maka ketika dia mengeluarkan apa yang ada di tangannya, dan berhenti dari usaha-usahanya, dia kembali menggantungkan harapannya pada pemberian saudara-saudara, atau dia menganggap baik di sisinya persahabatan dengan penguasa; karena dia tidak kuat menempuh jalan zuhud dan meninggalkan kecuali beberapa hari, kemudian tabiat kembali, maka dia menagih tuntutan-tuntutannya, lalu dia jatuh dalam yang lebih jelek dari apa yang dia lari darinya, dan dia mengorbankan harga pertama dalam memperoleh agama dan kehormatannya, dan menjadi orang yang meminta-minta dengannya, dan berdiri dalam posisi tangan yang di bawah.

41- Seandainya dia melihat perjalanan hidup para lelaki dan orang-orang mulia mereka, dan merenungkan hadits-hadits sahih dari para pemimpin mereka, niscaya dia akan mengetahui bahwa Khalil (Ibrahim) alaihissalam memiliki harta yang banyak hingga negerinya menjadi sempit dengan ternak-ternaknya, demikian juga Luth alaihissalam, dan banyak dari para nabi alaihimussalam, dan kebanyakan dari para sahabat.

Dan sesungguhnya mereka bersabar ketika tidak ada, dan tidak menahan diri dari usaha apa yang memperbaikinya, dan tidak dari mengambil yang halal ketika ada.

Dan Abu Bakar radhiyallahu anhu keluar untuk berdagang sedangkan Rasul shallallahu alaihi wasallam masih hidup, dan kebanyakan mereka mengeluarkan kelebihan apa yang mereka ambil dari baitul mal, dan selamat dari kehinaan kebutuhan kepada saudara-saudara.

Dan Ibnu Umar tidak menolak sesuatu, dan tidak meminta.

42- Dan aku merenungkan keadaan ini pada kebanyakan ahli agama dan ilmu, maka aku dapati ilmu menyibukkan mereka dari usaha di awal-awal mereka, maka ketika mereka membutuhkan untuk kelangsungan hidup mereka, mereka menjadi hina, padahal mereka lebih berhak dengan kemuliaan.

43- Dan dahulu baitul mal mencukupi mereka dengan kelebihan saudara-saudara, maka ketika itu tidak ada di zaman ini, tidak ada orang yang beragama yang mampu mendapat sesuatu kecuali dengan mengorbankan sesuatu dari agamanya, dan semoga dia mampu, maka terkadang agama binasa, dan dia tidak memperoleh sesuatu.

44- Maka yang wajib bagi orang yang berakal adalah menjaga apa yang bersamanya, dan bersungguh-sungguh dalam usaha agar tidak perlu merayu orang zalim atau menjilat orang jahil, dan tidak menoleh kepada omong kosong para sufi, yang mengklaim dalam kemiskinan apa yang mereka klaim, maka kemiskinan itu tidak lain adalah penyakit orang-orang lemah, dan bagi yang sabar atas kemiskinan ada pahala orang yang sabar atas penyakit, ya Allah! kecuali jika dia pengecut dalam bertindak, merasa cukup dengan kecukupan; maka itu bukan dari tingkatan para pahlawan, bahkan itu dari kedudukan para pengecut zahid.

Adapun orang yang berusaha agar menjadi pemberi bukan yang diberi, yang bersedekah bukan yang disedekahi, maka itu dari tingkatan para pemberani yang utama, dan barang siapa merenungkan ini, dia akan mengetahui kemuliaan kaya, dan bahaya kemiskinan.

Pasal 16: Bagian Orang-orang Utama dari Dunia

45- Aku merenungkan keadaan orang-orang utama, maka aku dapati mereka pada umumnya telah berkurang dari bagian-bagian dunia, dan aku melihat dunia umumnya berada di tangan ahli kekurangan.

46- Maka aku melihat kepada orang-orang utama, ternyata mereka menyesal atas apa yang luput dari mereka yang diperoleh pemilik kekurangan, dan terkadang sebagian mereka putus asa karena itu, maka aku berbicara kepada sebagian yang menyesal, lalu aku katakan kepadanya: “Celakalah engkau! Pikirkanlah urusanmu, karena engkau keliru dari beberapa segi:

Yang pertama: bahwa jika engkau punya semangat dalam mencari dunia, maka bersungguh-sungguhlah dalam mencarinya, agar tidak menyesal karena luputnya, karena dudukmu menyesal atas apa yang diperoleh orang lain – dengan kurangnya kesungguhan-mu – adalah puncak kelemahan.

Yang kedua: bahwa dunia itu diminta untuk dilalui bukan untuk didiami, dan inilah yang ditunjukkan kepadamu oleh ilmumu, dan dicapai oleh pemahamanmu, dan apa yang diperoleh ahli kekurangan dari kelebihannya menyakiti badan-badan dan agama-agama mereka, maka jika engkau mengetahui itu, kemudian menyesal atas kehilangan apa yang kehilangannya lebih baik bagimu, maka penyesalanmu adalah hukuman atas penyesalanmu terhadap apa yang engkau ketahui kemaslahatannya dalam menjauhkannya, maka puaskanlah dengan itu sebagai azab segera jika engkau selamat dari azab yang akan datang.

Yang ketiga: bahwa engkau telah mengetahui sedikitnya bagian manusia secara keseluruhan dari makanan dunia dan kelezatannya, dibandingkan dengan hewan, karena dia memperoleh itu dalam jumlah lebih banyak dengan aman, sedangkan engkau memperolehnya dengan takut, dan sedikit jumlah; maka jika bagianmu dari itu digandakan untuk jenismu, maka itu menjadi menyamai hewan, dari segi bahwa hal itu menyibukkannya dari memperoleh keutamaan-keutamaan, dan meringankan beban mendorong pemiliknya untuk meraih kedudukan-kedudukan.

Maka jika engkau lebih memilih kelebihan dengan sedikitnya kelebihan, engkau kembali kepada apa yang engkau ketahui dengan meremehkan, maka engkau mencemarkan ilmumu, dan menunjukkan kekacauan pendapatmu.”

Pasal 17: Keadaan Manusia dengan Hal-hal yang Dilarang

47- Aku merenungkan keberanian para ulama terhadap syahwat-syahwat jiwa yang dilarang, maka aku melihatnya bertingkat menyaingi kekufuran, seandainya tidak ada makna yang menyinari: yaitu bahwa manusia ketika melakukan yang dilarang terbagi:

1- Di antara mereka ada yang jahil bahwa yang dilarang itu dilarang, maka ini punya satu jenis uzur. Dan di antara mereka ada yang menyangka yang dilarang itu makruh bukan haram, maka ini dekat dengan yang pertama, dan mungkin Adam shallallahu alaihi wasallam masuk dalam bagian ini.

2- Dan di antara mereka ada yang mengambil lalu salah, sebagaimana dikatakan: bahwa Adam alaihissalam dilarang dari pohon tertentu, maka dia makan dari jenisnya bukan dari pohon itu sendiri!

3- Dan di antara mereka ada yang mengetahui keharaman, hanya saja dominasi syahwat membuatnya lupa mengingat itu, maka apa yang dia lihat menyibukkannya dari apa yang dia ketahui. Dan karena itu pencuri tidak mengingat pemotongan; bahkan dia hilang sepenuhnya dalam meraih keuntungan, dan pezina tidak mengingat kehinaan atau had; karena apa yang dia lihat membuatnya lengah dari apa yang dia ketahui.

4- Dan di antara mereka ada yang mengetahui larangan, dan mengingatnya; hanya saja dia tertipu dengan kelembutan dan maaf. Dan ini meskipun benar; namun mengambil kehati-hatian lebih utama bagi orang yang berakal, bagaimana, padahal dia telah mengetahui bahwa Raja Yang Bijaksana ini memotong tangan karena seperempat dinar, dan meruntuhkan bangunan tubuh yang kokoh dengan rajam dengan batu karena kenikmatan sesaat, dan menenggelamkan, dan mengubah wujud, dan menenggelamkan…?!

Pasal 18: Timbangan Keadilan Tidak Pilih Kasih

48- Barang siapa merenungkan perbuatan-perbuatan Sang Pencipta Subhanahu, dia akan melihatnya berdasarkan kaidah keadilan, dan menyaksikan balasan dipersiapkan bagi yang dibalas, meskipun setelah beberapa waktu, maka tidak sepantasnya orang yang longgar tertipu, karena balasan mungkin tertunda.

49- Dan di antara dosa-dosa yang paling jelek yang telah dipersiapkan untuknya balasan yang besar: bersikeras pada dosa, kemudian dia menyuap Tuhannya dengan istighfar dan shalat dan ibadah, dan menurutnya bahwa penyuapan itu bermanfaat!

50- Dan manusia yang paling tertipu adalah yang melakukan apa yang Allah benci, dan meminta dari-Nya apa yang dia cintai, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits: “Dan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya, dan berangan-angan kepada Allah.”

51- Dan di antara yang sepantasnya bagi orang berakal untuk mengawasinya adalah terjadinya balasan, karena Ibnu Sirin berkata: “Aku mencela seorang laki-laki dan berkata: ‘Wahai orang bangkrut!’ Maka aku bangkrut setelah empat puluh tahun.”

Dan Ibnu Al-Jalla berkata: “Seorang syaikh melihatku sedangkan aku melihat kepada anak muda! Maka dia berkata: ‘Apa ini?! Engkau pasti akan menemukan akibatnya,’ maka aku lupa Al-Quran setelah empat puluh tahun.”

52- Dan sebaliknya dari ini, setiap orang yang beramal kebaikan, atau membenarkan niat, maka hendaklah dia menunggu balasan baiknya, meskipun masa berlama-lama, Allah Azza wa Jalla berfirman: “Sesungguhnya barang siapa bertaqwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik” (Yusuf: 90).

Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa menundukkan pandangannya dari keindahan seorang wanita, Allah memberinya pahala berupa iman yang dia rasakan manisnya di hatinya.”

Maka hendaklah orang berakal mengetahui bahwa timbangan keadilan tidak pilih kasih.

Pasal 19: Kebanyakan Keadaan Para Sufi Menyimpang dari Syariat

53- Aku merenungkan keadaan para sufi dan zahid, maka aku melihat kebanyakannya menyimpang dari syariat, antara jahil terhadap syara’ dan bid’ah dengan pendapat, mereka berdalil dengan ayat-ayat yang tidak mereka pahami maknanya, dan dengan hadits-hadits yang memiliki sebab-sebab, dan kebanyakannya tidak tsabit.

Di antara itu mereka mendengar dalam Al-Quran Al-Aziz: “Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya” (Ali Imran: 185), “Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau dan perhiasan” (Al-Hadid: 20), kemudian mereka mendengar dalam hadits: “Sungguh dunia itu lebih hina di sisi Allah daripada kambing mati di sisi pemiliknya,” maka mereka berlebihan dalam menjauhinya tanpa meneliti hakikatnya! Dan itu karena apa yang tidak diketahui hakikatnya, maka tidak boleh dipuji dan tidak boleh dicela.

54- Maka ketika kita meneliti tentang dunia, kita melihat bumi yang luas ini, yang dijadikan tempat tinggal bagi makhluk, keluar darinya rezeki mereka, dan dikubur di dalamnya mayat-mayat mereka. Dan seperti itu tidak dicela karena kemaslahatannya.

55- Dan kita melihat apa yang ada di atasnya dari air dan tanaman dan hewan, semuanya untuk kemaslahatan manusia, dan di dalamnya ada pemeliharaan sebab kelangsungannya, dan kita melihat kelangsungan manusia sebagai sebab untuk mengenal Tuhannya, dan taat kepada-Nya dan mengabdi kepada-Nya, dan apa yang menjadi sebab kelangsungan orang yang mengenal dan beribadah itu dipuji dan tidak dicela.

56- Maka jelaslah bagi kita bahwa celaan itu sesungguhnya untuk perbuatan-perbuatan orang jahil, atau orang yang bermaksiat di dunia, karena dia jika memiliki harta yang halal, dan menunaikan zakatnya, dia tidak dicela; maka sungguh telah diketahui apa yang ditinggalkan Zubair dan Ibnu Auf dan lainnya, dan sedekah Ali radhiyallahu anhu mencapai empat puluh ribu, dan Ibnu Mas’ud meninggalkan sembilan puluh ribu, dan Laits bin Sa’d memperoleh keuntungan setiap tahun dua puluh ribu, dan Sufyan berdagang dengan harta, dan Ibnu Mahdi memperoleh keuntungan setiap tahun dua ribu dinar.

57- Dan jika dia memperbanyak nikah dan budak wanita, dia terpuji tidak tercela; maka sungguh Nabi shallallahu alaihi wasallam memiliki istri-istri dan budak-budak wanita, dan kebanyakan sahabat memperbanyak dalam hal itu, dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu memiliki empat wanita merdeka, dan tujuh belas budak wanita, dan anaknya Hasan menikah sekitar empat ratus.

58- Maka jika mencari nikah untuk anak-anak, maka itu puncak ibadah, dan jika ingin kenikmatan, maka halal, termasuk di dalamnya ibadah yang tidak terhitung, dari menjaga dirinya dan wanita itu. Dan lain-lain. Dan Musa alaihissalam telah menghabiskan dari umurnya yang mulia sepuluh tahun sebagai mahar putri Syu’aib; seandainya bukan karena nikah termasuk hal-hal yang paling utama, niscaya tidak akan habis banyak waktu para nabi untuk itu. Dan Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata: “Yang terbaik dari umat ini adalah yang paling banyak wanita,” dan dia menggaulli budak wanitanya, dan turun kepada yang lain, dan budak wanita Rabi’ bin Khatsim berkata: “Rabi’ ber-azl.”

59- Adapun makanan, yang dimaksud darinya adalah menguatkan badan ini untuk beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, dan hak atas pemilik unta adalah memuliakan untanya agar membawanya.

Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam makan apa yang ada, jika ada daging dia memakannya, dan makan daging ayam, dan hal yang paling dicintainya adalah manisan dan madu, dan tidak diriwayatkan darinya bahwa dia menahan diri dari yang halal.

Dan Ali radhiyallahu anhu dibawakan faluzaj (sejenis makanan manis), maka dia makan darinya, dan berkata: “Apa ini?” Mereka berkata: “Hari Nauruz.” Maka dia berkata: “Nauruz-kan kami setiap hari.”

Dan sesungguhnya yang dibenci adalah makan melebihi kenyang, dan berpakaian dengan cara sombong dan angkuh.

60- Dan telah puas sebagian kaum dengan yang lebih rendah dari itu; karena halal yang bersih hampir tidak mungkin untuk memperoleh yang diinginkan; jika tidak maka sungguh Nabi shallallahu alaihi wasallam memakai jubah yang dibeli untuknya dengan dua puluh tujuh unta, dan Tamim Ad-Dari memiliki jubah yang dibeli dengan seribu dirham dia shalat dengannya di malam hari.

61- Maka datanglah sebagian kaum, lalu mereka menampakkan kezuhudan, dan membuat jalan yang dihiasi oleh hawa nafsu untuk mereka, kemudian mereka mencari dalil untuknya, padahal sepantasnya manusia mengikuti dalil, bukan mengikuti jalan, dan mencari dalilnya!

Kemudian mereka terbagi menjadi beberapa kelompok:

1- Di antara mereka ada yang berpura-pura di lahirnya, namun seperti singa pemangsa di batinnya, yang dalam kekhalwatannya mengambil syahwat-syahwat, dan tenggelam dalam kelezatan-kelezatan, sementara orang-orang melihatnya dengan pakaiannya seolah-olah dia seorang sufi yang zuhud, padahal yang zuhud hanyalah baju kemejanya saja. Dan jika dilihat keadaannya, maka dia memiliki kesombongan seperti Fir’aun.

2- Di antara mereka ada yang batinnya baik, namun dalam masalah syariat dia jahil (tidak tahu).

3- Di antara mereka ada yang memimpin dan menulis karya, kemudian diikuti oleh orang-orang jahil dalam jalan ini, dan mereka bagaikan orang-orang buta yang mengikuti orang buta pula. Seandainya mereka memperhatikan perkara yang pertama, yaitu yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum, niscaya mereka tidak akan menyimpang.

62- Sesungguhnya ada sekelompok orang dari kalangan para muhaqiq (peneliti kebenaran) yang tidak peduli dengan orang yang diagungkan dalam jiwa-jiwa manusia jika dia menyimpang dari syariat, bahkan mereka mencela dengan keras. Diriwayatkan dari Ahmad bahwa al-Marwazi berkata kepadanya: “Apa pendapatmu tentang nikah?” Dia menjawab: “Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” Al-Marwazi berkata: “Ibrahim telah berkata (sesuatu yang lain).” Ahmad berteriak kepadanya dan berkata: “Apakah kamu datang kepada kami dengan hal-hal kecil di jalan?”

Dan dikatakan kepada Ahmad: “Sesungguhnya Sariy as-Saqathi berkata: ‘Ketika Allah Ta’ala menciptakan huruf-huruf, alif berdiri, dan ba’ sujud…'” Ahmad berkata: “Jauhkan orang-orang darinya.”

63- Ketahuilah bahwa orang yang muhaqiq (peneliti kebenaran) tidak takut dengan nama orang yang diagungkan, sebagaimana seorang laki-laki berkata kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu: “Apakah kamu mengira bahwa kami mengira Thalhah dan az-Zubair berada di atas kebatilan?” Ali berkata kepadanya: “Sesungguhnya kebenaran tidak dikenal melalui laki-laki, kenalilah kebenaran, maka kamu akan mengenal ahlinya.”

64- Demi umurku, sesungguhnya telah tertanam dalam jiwa-jiwa pengagungan terhadap suatu kaum, maka jika dinukil sesuatu dari mereka, kemudian didengar oleh orang yang jahil terhadap syariat, dia menerimanya karena pengagungannya terhadap mereka dalam jiwanya. Sebagaimana dinukil dari Abu Yazid radhiyallahu ‘anhu bahwa dia berkata: “Aku marah pada diriku sendiri, sungguh aku bersumpah tidak akan minum air selama setahun.” Jika ini benar dari dia, maka ini adalah kesalahan yang buruk dan ketergelinciran yang keji, karena air menyalurkan makanan ke badan, dan tidak ada yang dapat menggantikan fungsinya. Jika dia tidak minum, maka dia telah berusaha menyakiti badannya, padahal untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam air tawar dicari.

Apakah kamu melihat ini sebagai perbuatan orang yang tahu bahwa dirinya bukan miliknya, dan bahwa tidak boleh bertindak padanya kecuali atas izin pemiliknya?!

65- Begitu juga mereka meriwayatkan dari sebagian sufi bahwa dia berkata: “Aku berjalan ke Mekah dengan jalan tawakal dengan bertelanjang kaki, maka duri masuk ke kakiku, aku menggaruknya dengan tanah dan tidak mengangkatnya. Dan aku memakai kain lap, jika mataku sakit, aku menggosoknya dengan kain lap itu, hingga hilang salah satu mataku.” Dan contoh-contoh seperti ini banyak, dan terkadang para pendongeng menganggapnya sebagai karamah, dan mengagungkannya di hadapan awam, sehingga terbayang bagi mereka bahwa pelaku ini lebih tinggi kedudukannya daripada asy-Syafi’i dan Ahmad.

Demi umurku, ini termasuk dosa yang paling besar dan cacat yang paling buruk, karena Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri” (an-Nisa: 29), dan Nabi ‘alaihish shalatu wassalam bersabda: “Sesungguhnya dirimu memiliki hak atasmu.” Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mencari naungan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perjalanan hijrah, hingga dia melihat batu besar, lalu dia membentangkan alas di bawah naungannya.

66- Telah dinukil dari para pendahulu umat ini permulaan-permulaan penyimpangan ini, dan penyebabnya dari dua sisi: Pertama: kejahilan terhadap ilmu. Kedua: dekatnya masa dengan rahbaniyah. al-Hasan biasa mencela Farqad as-Sabakhi dan Malik bin Dinar dalam kezuhudan mereka. Ketika dilihat di tempat al-Hasan ada makanan yang mengandung daging, dia berkata: “Tidak seperti roti Malik, dan tidak seperti piring Farqad.”

Dan dia melihat Farqad mengenakan kain wol, lalu berkata: “Wahai Farqad! Sesungguhnya kebanyakan penghuni neraka adalah pemilik kain-kain wol.”

67- Betapa banyak pendongeng yang menghias majlisnya dengan menyebutkan orang-orang yang keluar berpetualang tanpa bekal dan tanpa air, padahal dia tidak tahu bahwa ini termasuk perbuatan yang paling buruk, dan bahwa Allah Ta’ala tidak boleh dicoba. Terkadang didengar oleh orang jahil dari kalangan orang-orang yang bertobat, lalu dia keluar dan mati di jalan, maka bagi si pengucap ada bagian dari dosanya!!

Betapa banyak mereka meriwayatkan dari Dzun Nun bahwa dia bertemu dengan seorang wanita dalam petualangan, lalu dia berbicara dengannya dan wanita itu berbicara dengannya, dan mereka lupa hadits-hadits yang shahih: “Tidak halal bagi seorang wanita untuk bepergian sehari semalam kecuali bersama mahram”!!

68- Betapa banyak mereka meriwayatkan bahwa suatu kaum berjalan di atas air, padahal Ibrahim al-Harbi berkata: “Tidak shahih bahwa seseorang berjalan di atas air sama sekali!” Jika mereka mendengar ini, mereka berkata: “Apakah kalian mengingkari karamah para wali yang shalih?!” Maka kami katakan: Kami bukan termasuk orang yang mengingkarinya, tetapi kami mengikuti apa yang shahih, dan orang-orang shalih adalah mereka yang mengikuti syariat, dan tidak beribadah dengan pendapat mereka. Dalam hadits: “Sesungguhnya Bani Israil menyulitkan (agama) maka Allah menyulitkan mereka.”

69- Betapa banyak mereka mendorong kepada kefakiran, hingga membawa suatu kaum untuk mengeluarkan harta mereka, kemudian urusan mereka berakhir: entah kepada kemarahan ketika butuh, atau kepada meminta-minta kepada manusia!

70- Betapa banyak seorang muslim yang terganggu karena perintah mereka kepada manusia untuk mengurangi (makan)! Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk nafas.” Mereka tidak puas hingga memerintahkan berlebihan dalam mengurangi.

Abu Thalib al-Makki menceritakan dalam “Qut al-Qulub”: bahwa di antara mereka ada yang menimbang makanannya dengan pelepah kurma basah, maka setiap malam sedikit dari kelembabannya hilang. Dan aku dahulu termasuk orang yang mengikuti perkataannya ketika masih muda, maka perut menyempit, dan itu menyebabkan sakit bertahun-tahun! Apakah kamu melihat ini sebagai sesuatu yang dituntut oleh hikmah, atau yang dianjurkan oleh syariat?! Sesungguhnya tujuan manusia adalah kekuatannya, maka jika dia berusaha menguranginya, dia lemah dari ibadah.

71- “Dan janganlah kamu berkata: Mendapatkan yang halal murni adalah mustahil, karena itu wajib zuhud, untuk menghindari syubhat, karena seorang mukmin cukup baginya berusaha dalam usahanya mencari yang halal, dan tidak ada salahnya dari asal-asal yang darinya tumbuh harta-harta ini.” Jika kami masuk ke negeri Rum, lalu kami dapatkan harga-harga khamar dan upah zina, maka itu halal bagi kami sebagai ghanimah.

Apakah kamu menginginkan halal dengan makna bahwa butir emas tidak berpindah sejak keluar dari tambang dengan cara yang tidak boleh? Ini adalah sesuatu yang tidak dipedulikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bukankah kamu telah mendengar bahwa sedekah haram baginya, maka ketika Barirah disedekahi dengan daging, lalu dia menghadiahkannya, maka boleh baginya memakan daging itu karena berubahnya sifat.

72- Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku makruh mengurangi makanan, karena suatu kaum melakukannya, lalu mereka lemah dari kewajiban-kewajiban.” Dan ini benar, karena orang yang mengurangi terus mengurangi hingga dia lemah dari sunnah-sunnah, kemudian dari kewajiban-kewajiban, kemudian dia lemah dari bergaul dengan keluarganya dan memelihara mereka, dan dari mengerahkan kekuatan dalam usaha untuk mereka, dan dari berbuat kebaikan yang dahulu dia lakukan.

73- Janganlah kamu takut dengan apa yang kamu dengar dari hadits-hadits yang mendorong kelaparan, karena yang dimaksud dengannya: entah dorongan untuk puasa, atau larangan dari melawan kenyang. Adapun mengurangi makanan terus-menerus, maka itu berpengaruh pada kekuatan, maka tidak boleh.

74- Kemudian di antara orang-orang tercela ini ada yang melihat meninggalkan daging, padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suka memakan daging setiap hari.

75- Dan dengarlah dariku tanpa berpihak: Janganlah kamu berargumen kepadaku dengan nama-nama laki-laki, lalu kamu berkata: Bisyr telah berkata, dan Ibrahim bin Adham telah berkata, karena orang yang berargumen dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum lebih kuat argumentasinya. Selain itu, perbuatan-perbuatan mereka memiliki segi-segi yang bisa kita dukung dengan prasangka baik.

Sungguh aku telah mendiskusikan dengan sebagian guru kami apa yang diriwayatkan dari satu kelompok para master bahwa mereka mengubur buku-buku mereka! Aku berkata kepadanya: “Apa alasan ini?” Dia berkata: “Yang terbaik yang kita katakan adalah diam!” Dia menunjukkan bahwa ini kejahilan dari pelakunya. Dan aku mentakwil untuk mereka, aku berkata: “Mungkin apa yang mereka kubur dari buku-buku mereka mengandung sesuatu dari pendapat, maka mereka tidak mau orang-orang mengamalkannya.”

Sungguh kami meriwayatkan dalam hadits dari Ahmad bin Abil Hawari: bahwa dia mengambil buku-bukunya lalu melemparkannya ke laut, dan berkata: “Sebaik-baik petunjuk kamu dahulu, dan tidak ada keperluan kami kepada petunjuk setelah sampai kepada yang ditunjuk!”

Jika kami berprasangka baik padanya, kami katakan: di dalamnya ada dari perkataan mereka yang tidak dia ridhai. Adapun jika itu ilmu-ilmu yang benar, maka ini termasuk penyia-nyiaan yang paling keji.

Dan aku walaupun mentakwil untuk mereka ini, namun itu takwil yang benar untuk para ulama di antara mereka, karena kami telah meriwayatkan dari Sufyan ats-Tsauri bahwa dia berwasiat untuk mengubur buku-bukunya, dan dia menyesal atas hal-hal yang dia tulis dari suatu kaum, dan berkata: “Syahwat hadits membawaku.” Dan ini karena dia menulis dari orang-orang lemah dan yang ditinggalkan, maka seolah-olah ketika sulit baginya membedakan, dia berwasiat mengubur semuanya. Begitu juga orang yang memiliki pendapat dari perkataannya, kemudian dia kembali darinya, boleh mengubur buku-buku yang mengandung itu. Ini adalah segi takwil untuk para ulama.

76- Adapun para penzuhud yang melihat bentuk perbuatan para ulama, lalu mengubur buku-buku yang baik agar tidak menyibukkan mereka dari ibadah, maka itu kejahilan dari mereka, karena mereka mulai memadamkan pelita yang menerangi mereka, dengan berani menyia-nyiakan harta yang tidak halal disia-nyiakan.

77- Di antara yang mengamalkan peristiwa mengubur buku-buku ilmu adalah Yusuf bin Asbath, kemudian dia tidak sabar dari meriwayatkan hadits, lalu dia mencampur, maka dia dihitung dalam golongan orang-orang lemah.

Abdul Wahhab bin al-Mubarak mengabarkan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin al-Muzhaffar asy-Syami mengabarkan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Muhammad al-Atiqi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Yusuf bin Ahmad menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Amr al-Aqili menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Isa menceritakan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Khalid al-Khallal mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Syu’aib bin Harb berkata: Aku berkata kepada Yusuf bin Asbath: “Bagaimana kamu lakukan dengan buku-bukumu?” Dia berkata: “Aku datang ke pulau, ketika air surut aku kuburkan buku-buku itu, hingga air datang di atasnya lalu hilang.” Aku berkata: “Apa yang mendorongmu pada itu?” Dia berkata: “Aku ingin agar perhatian menjadi perhatian yang satu.”

Al-Aqili berkata: Adam menceritakan kepadaku, dia berkata: Aku mendengar al-Bukhari berkata: Shadaqah berkata: “Yusuf bin Asbath mengubur buku-bukunya, dan setelah itu dia dikuasai wahm (dugaan), maka tidak datang sebagaimana mestinya.”

78- Pengarang berkata: Aku katakan: Yang zhahir bahwa ini buku-buku ilmu yang bermanfaat, tetapi sedikitnya ilmu menyebabkan penyimpangan ini yang dimaksudkan untuk kebaikan, padahal itu keburukan. Seandainya buku-bukunya dari jenis buku-buku ats-Tsauri -karena di dalamnya ada dari orang-orang lemah, dan tidak benar baginya membedakan- dekat keadaannya. Adapun alasannya dengan mengumpulkan perhatian, itulah dalil bahwa buku-buku itu tidak seperti itu. Maka lihatlah sedikitnya ilmu apa yang berpengaruh pada ahli kebaikan!

79- Sungguh telah sampai kepada kami dalam hadits dari sebagian orang yang kami agungkan dan kami ziarahi: bahwa dia berada di tepi sungai Dijlah, lalu buang air kecil, kemudian bertayamum! Dikatakan kepadanya: “Air dekat darimu!” Dia berkata: “Aku khawatir tidak sampai kepadanya!” Ini walaupun menunjukkan pendeknya angan-angan, tetapi para fuqaha jika mendengar darinya hadits seperti ini, mereka bermain-main dengannya, dari segi bahwa tayamum hanya sah ketika tidak ada air. Jika air ada, maka menggerakkan tangan dengan tayamum adalah sia-sia. Bukan dari keharusan adanya air bahwa air itu harus di samping orang yang berhadats, tetapi seandainya pada jarak beberapa hasta, tetap dianggap ada, maka tidak ada perbuatan tayamum dan tidak ada pengaruh ketika itu.

80- Barangsiapa merenungkan hal-hal ini, dia tahu bahwa seorang faqih saja -walaupun sedikit pengikutnya, dan tersembunyi jika mati pengikut-pengikutnya- lebih utama daripada ribuan orang yang diusap awam untuk mengambil berkah! Dan yang mengiringi jenazah mereka tak terhitung.

Tidak ada manusia kecuali pemilik atsar yang diikuti, atau faqih yang memahami maksud syariat dan berfatwa dengannya?!

Kami berlindung kepada Allah dari kejahilan dan mengagungkan para pendahulu dengan taqlid kepada mereka tanpa dalil, karena barangsiapa datang ke tempat minum yang pertama, dia melihat tempat-tempat minum lainnya keruh.

81- Dan ujian besar adalah pujian awam, betapa banyak menyesatkan! Sebagaimana Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: “Tidak tersisa dari kepakan sandal di belakang orang-orang bodoh sesuatu dari akal mereka.”

Sungguh kami telah melihat dan mendengar dari awam bahwa mereka memuji seseorang, lalu berkata: “Dia tidak tidur malam, tidak berbuka siang, tidak mengenal istri, tidak merasakan dari syahwat dunia sesuatu pun, badannya telah kurus, tulangnya telah tipis, hingga dia shalat sambil duduk, maka dia lebih baik daripada para ulama yang makan dan bersenang-senang!” Itulah batas ilmu mereka.

Seandainya mereka faham, mereka tahu bahwa dunia seandainya berkumpul dalam suapannya, lalu dimakan oleh seorang alim yang berfatwa tentang Allah dan mengabarkan syariat-Nya, maka satu fatwa darinya yang menunjukkan kepada Allah Ta’ala adalah lebih baik dan lebih utama daripada ibadah ahli ibadah itu sepanjang sisa umurnya. Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Seorang faqih lebih berat bagi iblis daripada seribu ahli ibadah.”

Bagian 82

Dan barangsiapa yang mendengar perkataan ini, janganlah dia menyangka bahwa aku memuji orang yang tidak mengamalkan ilmunya; sesungguhnya aku memuji orang-orang yang mengamalkan ilmu, dan mereka lebih mengetahui kemaslahatan diri mereka sendiri. Di antara mereka ada yang baik dengan kehidupan keras, seperti Ahmad bin Hanbal, dan di antara mereka ada yang menggunakan kehidupan yang lembut, seperti Sufyan ats-Tsauri dengan kehati-hatiannya, Malik dengan ketakwaannya, dan asy-Syafi’i dengan kekuatan fikih-nya.

Dan tidak pantas seseorang dituntut dengan sesuatu yang mampu dilakukan orang lain, sedangkan dia lemah karenanya, karena seseorang lebih mengetahui kebaikan dirinya sendiri. Rabi’ah pernah berkata: “Jika kebaikan hatimu terletak pada faluzaj (makanan manis), maka makanlah.”

Bagian 83

Dan janganlah engkau, wahai pendengar, menjadi orang yang hanya melihat penampilan zuhud, karena mungkin ada orang yang menikmati hidup tetapi dia tidak menginginkan kenikmatan itu, melainkan dia bermaksud untuk kemaslahatan. Dan tidak semua badan kuat untuk menjalani kehidupan keras, terutama orang yang telah mengalami kesusahan, diperas oleh pemikiran, atau dihinggapi kemiskinan. Jika dia tidak berlaku lembut terhadap dirinya, maka dia telah meninggalkan kewajiban bersikap lembut terhadap dirinya.

Inilah ringkasannya. Seandainya aku menjelaskannya dengan menyebutkan berbagai berita dan riwayat, tentu akan panjang. Namun aku menuliskannya dengan tergesa-gesa ketika terlintas di hatiku. Dan Allah yang menguasai manfaat dengan rahmat-Nya.

Fasal 20: Urusan Jiwa dan Hakikatnya

Bagian 84

Urusan jiwa dan hakikatnya telah membingungkan manusia, meskipun mereka sepakat tentang keberadaannya. Dan ketidaktahuan tentang hakikatnya tidak membahayakan selama keberadaannya diakui.

Bagian 85

Kemudian mereka bingung tentang nasib jiwa setelah mati. Madzhab ahli kebenaran adalah bahwa jiwa memiliki wujud setelah kematiannya, dan bahwa jiwa itu mendapat kenikmatan dan siksaan. Ahmad bin Hanbal berkata: “Ruh orang-orang beriman berada di surga, dan ruh orang-orang kafir berada di neraka.”

Dan telah datang dalam hadits-hadits tentang para syuhada: “Bahwa ruh mereka berada di dalam tembolok burung-burung hijau yang bergantung dari pohon-pohon surga.”

Bagian 86

Sebagian orang yang bodoh telah berpegang pada zahir hadits-hadits tentang kenikmatan, lalu berkata: “Sesungguhnya orang-orang mati makan di kuburan dan menikah.” Yang benar dari hal itu adalah: jiwa keluar setelah mati menuju kenikmatan atau siksaan, dan jiwa itu merasakan hal tersebut hingga hari kiamat. Ketika terjadi kiamat, jiwa dikembalikan ke jasad agar sempurna baginya kenikmatan melalui perantara-perantara.

Bagian 87

Dan firman-Nya: “di dalam tembolok burung-burung hijau” adalah dalil bahwa jiwa-jiwa tidak memperoleh kelezatan kecuali melalui perantara, jika kelezatan itu berupa kelezatan makanan atau minuman. Adapun kelezatan ma’rifah dan ilmu-ilmu, maka mungkin jiwa memperolehnya dengan zatnya tanpa perantara.

Bagian 88

Yang dimaksud dari yang disebutkan ini adalah bahwa aku melihat adanya kegelisahan terhadap kematian, dan jiwa memandang dirinya dengan mata ketiadaan di hadapannya. Maka aku berkata kepadanya: “Jika engkau mempercayai syariat, maka pembicaraan menjadi tentang penjelasan kebenaran syariat.” Dia berkata: “Tidak ada keraguan padaku.” Aku berkata: “Maka bersungguh-sungguhlah dalam membenarkan iman dan merealisasikan takwa, dan bergembiralah saat itu dengan ketenangan dari saat kematian. Sesungguhnya aku tidak takut terhadapmu kecuali dari kekurangan dalam amal. Dan ketahuilah bahwa perbedaan kenikmatan sesuai dengan kadar derajat keutamaan. Maka naiklah dengan sayap-sayap kesungguhan ke menara tertingginya, dan berhati-hatilah dari pemburu hawa nafsu atau jerat syahwat.” Dan Allah yang memberi taufik.

Fasal 21: Taklif Badan dan Taklif Akal

Bagian 89

Aku berkata suatu hari dalam majelisuku: “Seandainya gunung-gunung memikul apa yang aku pikul, niscaya mereka akan lemah.” Ketika aku kembali ke rumah, jiwa berkata kepadaku: “Bagaimana engkau berkata demikian? Mungkin engkau membuat orang-orang menyangka bahwa padamu ada musibah, padahal engkau dalam keadaan sehat pada dirimu dan keluargamu? Bukankah yang engkau pikul hanyalah taklif yang dipikul oleh semua makhluk? Lalu apa maksud keluhan ini?”

Maka aku menjawabnya: “Sesungguhnya ketika aku lemah terhadap apa yang aku pikul, aku mengucapkan kalimat ini, bukan untuk mengeluh, tetapi untuk mencari kelapangan. Dan banyak sahabat dan tabi’in sebelumku yang berkata: ‘Seandainya kami tidak diciptakan!’ Dan itu tidak lain karena beban-beban yang mereka tidak mampu memikulnya. Kemudian, barangsiapa yang menyangka bahwa taklif-taklif itu mudah, maka dia tidak mengenalnya.

Apakah penyangka menyangka bahwa taklif itu adalah membasuh anggota-anggota dengan satu ritl air, atau berdiri di mihrab untuk melaksanakan dua rakaat? Jauh sekali! Ini adalah taklif yang paling mudah!

Sesungguhnya taklif adalah yang tidak mampu dipikul oleh gunung-gunung. Di antaranya adalah: ketika aku melihat takdir berjalan dengan apa yang tidak dipahami akal, aku mewajibkan akal untuk tunduk kepada yang menakdirkan. Maka hal itu termasuk taklif yang paling sulit, terutama dalam hal yang tidak diketahui akal maknanya, seperti menyakiti anak-anak kecil dan menyembelih hewan, dengan keyakinan bahwa yang menakdirkan hal itu dan yang memerintahkannya adalah Maha Penyayang di antara para penyayang. Maka inilah yang membuat akal bingung, sehingga taklifnya adalah berserah diri dan meninggalkan bantahan. Betapa jauh perbedaan antara taklif badan dan taklif akal!

Seandainya aku menjelaskan hal ini, tentu akan panjang. Namun aku meminta maaf atas apa yang aku katakan. Maka aku berkata tentang diriku – dan bukan tentang keadaan orang lain: Sesungguhnya aku adalah seorang laki-laki yang dicintai kepadanya ilmu sejak masa kanak-kanak, maka aku sibuk dengannya. Kemudian tidak dicintai kepadaku satu cabang ilmu saja, bahkan semua cabangnya. Kemudian dalam satu cabang ilmu, cita-citaku tidak terbatas pada sebagiannya saja, tetapi aku ingin mengkajinya secara tuntas. Sedangkan waktu tidak mencukupi, umur lebih sempit, kerinduan semakin kuat, dan ketidakmampuan semakin tampak. Maka tinggallah sebagian dari yang dicari sebagai penyesalan.

Bagian 90

Kemudian ilmu menunjukkanku pada ma’rifah Yang Disembah dan mendorongku untuk mengabdi kepada-Nya. Lalu dalil-dalil kepada-Nya berteriak kepadaku menuju-Nya. Maka aku berdiri di hadapan-Nya dan melihat-Nya dalam sifat-Nya, mengenal-Nya dengan sifat-sifat-Nya. Mata batinku menyaksikan dari kelembutan-Nya apa yang memanggilku untuk terpesona dalam kecintaan kepada-Nya dan menggerakkanku untuk menyendiri dalam mengabdi kepada-Nya. Menjadi menguasaiku suatu urusan seperti wajd, setiap kali aku mengingat-Nya. Maka kesendirianku dalam mengabdi kepada-Nya menjadi lebih manis bagiku daripada segala kemanisan.

Bagian 91

Setiap kali aku condong untuk berpisah dari kesibukan-kesibukan menuju kesendiri-an, ilmu berteriak kepadaku: “Ke mana engkau pergi? Apakah engkau berpaling dariku, padahal aku adalah sebab ma’rifahmu kepada-Nya?” Maka aku berkata kepadanya: “Sesungguhnya engkau hanya penunjuk jalan, dan setelah sampai, petunjuk tidak diperlukan lagi.” Dia berkata: “Jauh sekali! Semakin bertambah engkau, semakin bertambah ma’rifahmu kepada kekasihmu, dan engkau paham bagaimana dekat kepada-Nya. Dalilnya adalah: engkau akan tahu besok bahwa hari ini engkau dalam kekurangan. Bukankah engkau mendengar Dia berfirman kepada Nabi-Nya: ‘Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu’ (Thaha: 114)?”

Bagian 92

“Kemudian bukankah engkau menginginkan kedekatan kepada-Nya? Maka sibukkan dirimu dengan menunjukkan hamba-hamba-Nya kepada-Nya, karena itulah keadaan para nabi! Tidakkah engkau tahu bahwa mereka mengutamakan mengajar makhluk daripada kesendiri-an beribadah, karena pengetahuan mereka bahwa hal itu lebih disukai di sisi kekasih mereka? Tidakkah Rasul bersabda kepada Ali: ‘Sungguh, jika Allah memberi petunjuk dengan perantaraanmu kepada seorang laki-laki, itu lebih baik bagimu daripada unta merah’?”

Ketika aku memahami kebenaran perkataan ini, aku tergila-gila dalam keadaan itu. Dan setiap kali aku sibuk mengumpulkan orang-orang, perhatianku terpecah. Dan jika aku menemukan yang aku inginkan dari manfaat mereka, aku menjadi lemah. Maka aku tetap dalam lingkaran kebingungan, bimbang, tidak tahu pada kaki mana aku harus bertumpu.

Bagian 93

Jika aku berdiri bimbang, ilmu berteriak: “Bangunlah untuk mencari nafkah keluarga, dan bersungguh-sungguhlah dalam memperoleh anak yang mengingat Allah!” Ketika aku mulai melakukan hal itu, puting dunia mengering saat diperah, dan aku melihat pintu penghidupan tertutup di wajahku, karena keahlian ilmu telah menyibukkanku dari mempelajari keahlian lain.

Bagian 94

Ketika aku menoleh kepada anak-anak dunia, aku melihat mereka tidak menjual sesuatu dari barang dagangannya kecuali dengan agama pembelinya! Seandainya orang yang menjilat mereka atau memamerkan diri kepada mereka memperoleh dari dunia mereka, bahkan mungkin agamanya hilang dan dia tidak memperoleh yang diinginkannya!

Jika keresahan berkata: “Larilah!” Syariat berkata: “Cukuplah bagi seseorang sebagai dosa bahwa dia menyia-nyiakan orang yang dia nafkahi.” Dan jika tekad berkata: “Menyendirilah!” Dia berkata: “Lalu bagaimana dengan orang yang engkau tanggung?”

Bagian 95

Maka ujung perkaranya adalah aku mulai mengurangi dari dunia, padahal aku dibesarkan dalam kemewahan-nya dan diberi makan dengan susunya. Temperamenku lembut melebihi kelembutan keadaannya menurut kebiasaan. Ketika aku mengubah pakaianku dan mengasarkan makananku – karena makanan pokok tidak memungkinkan untuk diperluas – tabiat menolak karena berpisah dengan kebiasaan. Maka datanglah penyakit yang memutus dari kewajiban-kewajiban dan menjatuhkan ke dalam bencana-bencana! Dan diketahui bahwa lunaknya suapan setelah diperoleh dari sisi yang baik, kemudian mengasarkannya bagi orang yang tidak terbiasa berusaha adalah merusak jiwa.

Maka aku berkata: “Bagaimana aku berbuat? Dan apa yang aku lakukan?” Aku menyendiri dengan jiwaku dalam kesendirianku, menambah tangisan atas kekurangan keadaanku, dan berkata: “Aku menggambarkan keadaan ulama, padahal badanku lemah untuk mengulang ilmu! Dan keadaan zahid, padahal badanku tidak kuat untuk zuhud! Dan keadaan orang-orang yang mencintai (Allah), padahal bergaul dengan makhluk mencerai-beraikan perhatianku dan mengukir gambar-gambar yang dicintai dari hawa nafsu di jiwaku, sehingga cermin hatiku berkarat! Pohon kecintaan membutuhkan pemeliharaan di tanah yang baik yang disiram air kesendiri-an dari kincir pikiran.”

Jika aku mengutamakan mencari keuntungan, aku tidak mampu. Dan jika aku menghadapi anak-anak dunia – padahal tabiatku enggan dari kehinaan dan agamaku mencegahku – maka tidak tersisa bagi kecenderungan bersama kedua penarik ini bekas apa pun! Dan bergaul dengan makhluk menyakiti jiwa seiring napas. Maka tidak merealisasikan taubat yang aku mampu, tidak pula meraih tingkat ilmu atau amal atau kecintaan yang benar bagiku.

Ketika aku melihat diriku seperti yang dikatakan penyair: “Dia melemparkannya ke laut dalam keadaan terikat dan berkata kepadanya: Jangan, jangan sampai engkau basah oleh air!”

Aku bingung dalam urusanku, menangisi umurku, dan berteriak di padang kesendirianku dengan apa yang aku dengar dari sebagian orang awam, seolah-olah dia menggambarkan keadaanku:

“Wahai sesalku, betapa aku menutupi kesalahanku padamu, seperti tawanan tanpa daya dan tanpa jalan. Apa dayaku dalam kerinduan, telah hilang pengendalianku. Ketika Engkau mengikat sayapku, Engkau berkata kepadaku: Terbanglah!”

Fasal 22: Peristiwa Dunia dan Peristiwa Akhirat

Bagian 96

Aku merenungkan urusan dunia dan akhirat, lalu aku dapati peristiwa dunia bersifat indrawi dan alami, sedangkan peristiwa akhirat bersifat keimanan dan keyakinan. Dan hal-hal yang indrawi lebih kuat menarik bagi orang yang lemah ilmu dan keyakinannya.

Bagian 97

Peristiwa-peristiwa hanya bertahan dengan banyaknya sebab-sebabnya. Bergaul dengan manusia, melihat hal-hal yang indah, dan menghadapi kelezatan-kelezatan menguatkan peristiwa-peristiwa indrawi.

Dan menyendiri, berpikir, dan mendalami ilmu menguatkan peristiwa-peristiwa akhirat.

Hal ini tampak jelas: bahwa manusia jika keluar berjalan di pasar-pasar dan melihat perhiasan dunia, kemudian masuk ke pekuburan dan berpikir sehingga hatinya lembut, maka dia merasakan perbedaan yang jelas antara kedua keadaan itu. Sebab hal itu adalah menghadapi sebab-sebab peristiwa.

Bagian 98

Maka wajib bagimu menyendiri, berdzikir, dan mendalami ilmu. Karena menyendiri adalah pemeliharaan, berpikir dan ilmu adalah obat-obatan. Dan obat bersama percampuran tidak bermanfaat, padahal telah tertanam padamu camparan-campuran bergaul dengan makhluk dan percampuran dalam perbuatan. Maka tidak ada obat bagimu kecuali apa yang aku resepkan untukmu.

Adapun jika engkau bergaul dengan makhluk dan menghadapi syahwat-syahwat, kemudian engkau ingin kebaikan hati, maka engkau menginginkan yang mustahil.

Fasal 23: Jiwa Tidak Sabar Dikekang

Bagian 99

Aku merenungkan keserakahan jiwa terhadap apa yang dilarang baginya, lalu aku dapati keserakahannya bertambah sesuai kadar kekuatan larangan.

Dan aku melihat dalam contoh pertama: bahwa Adam ketika dilarang dari pohon, dia serakah terhadapnya meski banyak pohon-pohon lain yang bisa menggantikannya.

Dalam peribahasa: “Manusia serakah terhadap apa yang dilarang, dan tertarik kepada apa yang tidak diperoleh.” Dan dikatakan: “Seandainya manusia diperintah kelaparan, mereka akan sabar. Dan seandainya mereka dilarang menghancurkan kotoran, mereka akan menginginkannya dan berkata: ‘Kami tidak dilarang kecuali untuk sesuatu.'” Dan telah dikatakan:

“…hal yang paling dicintai manusia adalah apa yang dilarang.”

Bagian 100

Ketika aku meneliti sebab hal itu, aku temukan dua sebab:

Pertama: bahwa jiwa tidak sabar dikekang, karena cukup baginya dikekang dalam bentuk badan. Jika dikekang dalam makna dengan larangan, bertambahlah kegelisahannya. Oleh karena itu, jika manusia duduk di rumahnya selama sebulan, tidak sulit baginya. Tetapi jika dikatakan kepadanya: “Jangan keluar dari rumahmu sehari,” maka akan terasa lama baginya.

Kedua: bahwa jiwa merasa berat masuk di bawah hukum. Oleh karena itu dia menikmati yang haram dan hampir tidak bisa merasakan kelezatan yang halal. Karena itu mudah baginya beribadah atas dasar apa yang dilihat dan dipilihnya, bukan atas dasar apa yang dipilih (oleh Allah).

Fasal 24: Menyendiri dari Kejahatan, Bukan dari Kebaikan

Bagian 101

Jiwaku terus menarik-narik dengan apa yang diwajibkan oleh majelis nasihat, taubat orang-orang yang bertaubat, dan melihat orang-orang zahid – kepada zuhud, berpisah dari makhluk, dan menyendiri untuk akhirat. Maka aku merenungkan hal itu dan mendapati bahwa secara umum itu dari setan. Karena setan melihat bahwa tidak ada majelisku yang kosong dari makhluk yang tak terhitung jumlahnya, mereka menangis dan menyesali dosa-dosa mereka. Pada umumnya berdiri sekelompok orang yang bertaubat dan memotong rambut masa muda. Kadang-kadang ada lima puluh bahkan seratus orang. Sungguh pada suatu hari telah bertaubat di hadapanku lebih dari seratus orang, kebanyakan mereka adalah anak-anak yang tumbuh dalam permainan dan tenggelam dalam kemaksiatan.

Bagian 102

Maka setan – karena dalamnya penggaliannya dalam kejahatan – melihatku menarik kepadaku orang-orang yang kutarik darinya. Maka dia ingin menyibukkanku dari hal itu dengan apa yang dia hiasi, agar dia bisa menyendiri dengan orang-orang yang kutarik dari tangannya.

Sungguh dia telah menghiasi bagiku untuk berpisah dari majelis-majelis dan berkata: “Tidak kosong dari kemunafikan makhluk, bukan kejahatan.” Adapun aku bermaksud kepada manusia dengan apa yang tidak dibolehkan dalam syariat, maka aku berlindung kepada Allah.

Bagian 103

Kemudian aku melihat dia memperlihatkan kepadaku dalam ber-zuhud memutus sebab-sebab zahir yang dibolehkan dari usaha! Maka aku berkata kepadanya: “Jika zuhud terasa enak bagiku dan aku mampu menyendiri, lalu habis apa yang ada di tanganku, atau ada anggota keluargaku yang membutuhkan, bukankah aku akan kembali mundur? Maka biarkanlah aku mengumpulkan apa yang menutup kebutuhanku dan menjagaku dari meminta-minta kepada manusia. Jika umurku dipanjangkan, itu sebaik-baik sebab. Jika tidak, maka untuk keluarga. Dan aku tidak mau menjadi seperti pengendara yang menumpahkan airnya karena melihat fatamorgana, lalu ketika menyesal di waktu terlambat, penyesalan tidak bermanfaat. Sesungguhnya yang benar adalah menyiapkan tempat tidur sebelum tidur, dan mengumpulkan harta yang menutup kebutuhan sebelum tua adalah mengambil kehati-hatian. Rasul bersabda: ‘Bahwa engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya lebih baik bagimu daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin meminta-minta kepada manusia.’ Dan beliau bersabda: ‘Sebaik-baik harta adalah harta yang shalih bagi laki-laki yang shalih.’

Bagian 104

Adapun berpisah, maka sebaiknya menyendiri dari kejahatan, bukan dari kebaikan. Menyendiri dari kejahatan wajib dalam segala keadaan. Adapun mengajar para pencari ilmu dan memberi petunjuk kepada para murid, maka itu adalah ibadah orang alim.

Bagian 105

Sesungguhnya termasuk kelebihan sebagian ulama adalah mengutamakan kesibukan dengan shalat dan puasa daripada menyusun kitab atau mengajarkan ilmu yang bermanfaat, karena hal itu adalah benih yang banyak hasilnya dan memanjang masa manfaatnya.

Bagian 106

Jiwa condong kepada apa yang dihiasi setan dari hal itu karena dua makna: Pertama: kecintaan kepada kemalasan, karena berpisah menurutnya lebih mudah. Kedua: karena cinta pujian, karena jika dia dicitrakan dengan zuhud, kecenderungan orang awam kepadanya lebih banyak.

Bagian 107

Maka wajib bagimu melihat contoh pertama. Maka bersamalah dengan kelompok yang maju, yaitu Rasul dan sahabat-sahabatnya. Apakah dinukil dari salah seorang dari mereka apa yang dibuat-buat oleh orang-orang bodoh di antara orang-orang yang ber-zuhud dan bertasawuf, berupa berpisah dari ilmu dan menyendiri dari makhluk? Apakah kesibukan para nabi kecuali bergumul dengan makhluk, mendorong mereka kepada kebaikan, dan melarang mereka dari kejahatan?

Kecuali jika yang berpisah adalah orang yang bukan alim dengan maksud menahan diri dari kejahatan, maka itu adalah tingkat orang yang berlindung, takut dari bahaya percampuran. Adapun dokter yang alim dengan apa yang dia konsumsi, maka dia akan mendapat manfaat dari apa yang dia peroleh.

Bagian 25: Tujuan Dari Ilmu Adalah Mengamalkannya

108- Saya merenungkan maksud dari penciptaan, ternyata ia adalah kerendahan hati, keyakinan akan kekurangan diri, dan ketidakmampuan.

109- Saya membandingkan para ulama dan ahli ibadah yang mengamalkan ilmunya sebagai dua golongan: Saya tempatkan dalam barisan ulama: Malik, Sufyan, Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, dan Ahmad. Sedangkan dalam barisan ahli ibadah: Malik bin Dinar, Rabi’ah, Ma’ruf Al-Karkhi, dan Bisyr bin Al-Harits.

110- Setiap kali para ahli ibadah bersungguh-sungguh dalam beribadah, lisan hati mereka berteriak: “Ibadah kalian manfaatnya tidak melampaui diri kalian sendiri; sedangkan manfaat para ulama itu melampaui diri mereka. Mereka adalah pewaris para nabi, khalifah Allah di bumi, mereka yang menjadi sandaran, dan bagi mereka kemuliaan ketika mereka diam dan merendah, serta mengetahui kebenaran keadaan tersebut.”

Malik bin Dinar datang kepada Al-Hasan untuk belajar darinya, dan berkata: “Al-Hasan adalah guru kami.”

111- Dan ketika para ulama melihat bahwa mereka memiliki keutamaan karena ilmu, lisan hati berteriak kepada para ulama: “Bukankah tujuan dari ilmu hanya untuk mengamalkannya?!”

Ahmad bin Hanbal berkata: “Bukankah yang dikehendaki dari ilmu hanya apa yang telah dicapai oleh Ma’ruf?!”

Diriwayatkan secara sahih dari Sufyan Ats-Tsauri, dia berkata: “Aku berharap tanganku dipotong dan aku tidak menulis hadis.”

Ummu Ad-Darda berkata kepada seorang laki-laki: “Apakah kamu telah mengamalkan apa yang kamu ketahui?” Dia menjawab: “Tidak.” Dia berkata: “Lalu mengapa kamu memperbanyak hujah Allah atas dirimu?!”

Abu Ad-Darda berkata: “Celakalah orang yang tidak mengetahui dan tidak mengamalkan satu kali, dan celakalah orang yang mengetahui tetapi tidak mengamalkan tujuh puluh kali.”

Al-Fudhail berkata: “Orang jahil diampuni tujuh puluh dosa sebelum seorang yang berilmu diampuni satu dosanya.” Maka betapa tingginya makna firman Allah: “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Az-Zumar: 9)

Sufyan datang kepada Rabi’ah, lalu duduk di hadapannya, mengambil manfaat dari perkataannya.

Para ulama menunjukkan bahwa tujuan dari ilmu adalah mengamalkannya, dan bahwa ilmu itu adalah sarana. Maka mereka pun merendah dan mengakui kekurangan mereka. Akhirnya semuanya sampai pada pengakuan dan kerendahan hati. Maka ma’rifah mengeluarkan dari mereka hakikat penghambaan dengan pengakuan mereka, dan itulah yang dimaksud dari taklif (pembebanan syariat).

Bagian 26: Cinta Kepada Sang Pencipta Menimbulkan Kegelisahan dan Kerinduan

112- Saya merenungkan firman Allah: “Allah mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya” (Al-Maidah: 54). Ternyata jiwa menolak untuk menetapkan cinta kepada Sang Pencipta yang menimbulkan kegelisahan dan kerinduan, dan berkata: “Mencintai-Nya adalah menaati-Nya.” Maka saya merenungkan hal itu, ternyata jiwa telah jahil terhadap hal itu karena dominasi indera.

113- Penjelasannya adalah: cinta indera tidak melampaui bentuk-bentuk fisik, sedangkan cinta ilmu dan amal melihat bentuk-bentuk makna lalu mencintainya. Kita melihat orang-orang yang mencintai Abu Bakar, dan orang-orang yang mencintai Ali bin Abi Thalib, dan kaum yang fanatik kepada Ahmad bin Hanbal, dan kaum yang fanatik kepada Al-Asy’ari, sehingga mereka bertengkar dan mengorbankan jiwa untuk itu, padahal mereka bukan termasuk orang yang melihat bentuk fisik orang-orang tersebut, dan bukan bentuk fisik mereka yang menimbulkan cinta. Tetapi ketika makna-makna tergambar bagi mereka dan menunjukkan kesempurnaan orang-orang tersebut dalam ilmu, maka terjadilah cinta kepada bentuk-bentuk tersebut yang disaksikan dengan mata batin. Lalu bagaimana dengan Dzat yang menciptakan bentuk-bentuk makna tersebut dan memberikannya?!

114- Dan bagaimana aku tidak mencintai Dzat yang memberiku kenikmatan-kenikmatan inderaku, dan mengenalkanku pada kenikmatan-kenikmatan ilmuku?! Sesungguhnya kenikmatanku terhadap ilmu dan meraih ilmu-ilmu lebih utama dari semua kenikmatan inderawi. Dia-lah yang mengajariku, menciptakan bagiku daya tangkap, dan membimbingku kepada apa yang aku tangkap.

115- Kemudian Dia menampakkan diri kepadaku di setiap saat dalam makhluk yang baru, aku melihat-Nya dalam makhluk itu dengan ketelitian ciptaan itu dan kebaikan yang diciptakan itu. Maka semua yang aku cintai daripadanya, tentangnya, dan dengan-Nya, baik yang inderawi maupun maknawi, dan memudahkan jalan-jalan penangkapan dengan-Nya, dan yang ditangkap daripadanya. Yang paling nikmat dari semua kenikmatan adalah ma’rifah kepada-Nya. Seandainya tidak ada pengajaran-Nya, aku tidak akan mengenal-Nya.

116- Dan bagaimana aku tidak mencintai Dzat yang dengannya aku ada, kelangsungan hidupku daripadanya, pengaturanku di tangan-Nya, kembalinya aku kepada-Nya, dan setiap yang baik dan dicintai adalah buatan-Nya, kebaikan-Nya, dan kecenderungan jiwa-jiwa kepada-Nya?!

117- Maka demikian pula Yang Maha Sempurna Kuasa-Nya lebih baik dari yang dikuasai, dan Yang Menakjubkan Keahlian-Nya lebih sempurna dari yang dibuat, dan makna penangkapan lebih manis ma’rifahnya dari yang ditangkap.

118- Seandainya kita melihat ukiran yang menakjubkan, niscaya kita akan tenggelam dalam mengagungkan pengukir, mengagungkan urusannya, dan indahnya hikmahnya, hingga melupakan cinta kepada yang diukir. Dan ini adalah sesuatu yang dicapai oleh pikiran-pikiran yang jernih, ketika pandangannya menembus hal-hal inderawi dan menembus ke balik itu. Maka ketika itu, cinta kepada Sang Pencipta menjadi keharusan.

119- Dan sesuai dengan kadar melihat Sang Pembuat dalam yang dibuat, terjadilah cinta kepada-Nya: jika kuat, maka menimbulkan kegelisahan dan kerinduan; jika cenderung dengan yang ma’rifah kepada maqam keagungan, maka menimbulkan rasa takut; jika condong kepadanya untuk melihat kemurahan, maka menimbulkan harapan yang kuat: “Sungguh, setiap kaum mengetahui tempat minumnya masing-masing” (Al-Baqarah: 60).

Bagian 27: Keterbatasan Akal Dalam Memahami Semua Yang Dituntut

120- Saya merenungkan keadaan yang menakjubkan, yaitu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membangun jasad-jasad ini dengan teliti berdasarkan kaidah hikmah, sehingga yang dibuat itu menunjukkan kesempurnaan kuasa-Nya dan halus hikmah-Nya.

Kemudian Dia kembali merusaknya, maka akal menjadi bingung setelah tunduk kepada-Nya dengan hikmah dalam rahasia perbuatan itu?! Maka diketahuilah bahwa jasad-jasad itu akan dikembalikan untuk hari pembalasan, dan bahwa bangunan ini tidak diciptakan kecuali untuk melewati jalan ma’rifah dan berdagang di musim muamalah. Maka akal-akal pun tenang karenanya.

121- Kemudian saya melihat hal-hal sejenis ini yang lebih mengherankan darinya: seperti meninggalnya seorang pemuda yang belum mencapai sebagian tujuan pembangunannya! Dan yang lebih mengherankan dari itu adalah diambilnya seorang anak dari pangkuan kedua orang tuanya yang gelisah, dan tidak tampak rahasia pengambilannya, padahal Allah Maha Kaya dari mengambilnya, sedangkan keduanya adalah makhluk yang paling butuh akan kelangsungan hidupnya! Dan yang lebih mengherankan dari itu adalah dibiarkannya orang tua renta yang tidak mengetahui makna kelangsungan hidup, dan tidak ada baginya dalam hal itu kecuali sekedar gangguan! Dan dari jenis ini juga adalah disempitkannya rezeki atas orang mukmin yang bijak, dan diperluas atas orang kafir yang bodoh. Dalam hal-hal serupa yang disebutkan ini, akal menjadi bingung dalam mencari ta’lil (sebab-sebab)nya sehingga tetap terpana.

Maka saya terus melihat keseluruhan taklif, ketika kekuatan akal tidak mampu mengetahui hikmah itu, padahal telah tetap baginya hikmah Sang Pelaku, saya mengetahui keterbatasannya dalam memahami semua yang dituntut. Maka saya tunduk dengan mengakui ketidakmampuan, dan dengan itu menunaikan kewajiban taklifnya.

122- Seandainya dikatakan kepada akal: “Telah tetap pada dirimu hikmah Sang Pencipta dengan apa yang Dia bangun, maka apakah boleh terlintas dalam hikmah-Nya bahwa Dia merusaknya?” Niscaya akal akan berkata: “Tidak; karena saya mengetahui dengan dalil bahwa Dia Maha Bijaksana, dan saya tidak mampu memahami sebab-sebab hikmah-Nya, maka saya menyerah dengan terpaksa, mengakui ketidakmampuan saya.”

Bagian 28: Manfaat-Manfaat Pernikahan

123- Saya merenungkan manfaat-manfaat pernikahan, makna-maknanya, dan tujuannya. Saya melihat bahwa asal yang terbesar dalam penetapannya adalah adanya keturunan; karena hewan ini senantiasa mengalami kerusakan, kemudian yang rusak itu diganti oleh makanan, kemudian rusak dari bagian-bagian asli yang tidak diganti oleh sesuatu apapun. Ketika tidak ada jalan lain selain kehancurannya, dan yang dikehendaki adalah kelanjutan masa-masa dunia, maka dijadikan perempuan sebagai pengganti yang asli.

124- Dan ketika bentuk pernikahan ditolak oleh jiwa-jiwa yang mulia, karena membuka aurat dan bersentuhan dengan yang tidak baik bagi dirinya, maka dijadikan syahwat yang mendorong kepadanya, agar tercapai maksud tersebut.

125- Kemudian saya melihat maksud asli ini diikuti oleh sesuatu yang lain, yaitu mengeluarkan cairan yang menyakitkan jika terus tertahan. Sesungguhnya mani terpisah dari pencernaan keempat, maka ia dari saripati makanan yang paling jernih dan terbaik, kemudian berkumpul. Ia adalah salah satu simpanan bagi jiwa, karena jiwa menyimpan -untuk kelangsungan dan kekuatannya- darah, kemudian mani, kemudian menyimpan ampas yang merupakan salah satu tiang badan, seolah-olah karena takut tidak adanya yang lain. Ketika kumpulan mani bertambah banyak, ia menimbulkan kegelisahan seperti kegelisahan kencing bagi yang menahannya, kecuali bahwa kegelisahannya dari segi makna lebih banyak dari kegelisahan kencing dari segi bentuk. Maka banyaknya kumpulan dan lamanya tertahan menyebabkan penyakit-penyakit yang sulit; karena ia naik dari uapnya ke otak sehingga menyakiti, dan terkadang menyebabkan keracunan. Dan ketika temperamen sehat, maka tabi’at menuntut keluarnya mani ketika berkumpul, sebagaimana menuntut keluarnya air kencing.

126- Dan terkadang sebagian temperamen menyimpang, sehingga sedikit kumpulannya pada dirinya, maka jarang dia menuntut mengeluarkannya. Saya hanya berbicara tentang temperamen yang sehat, maka saya katakan: Telah saya jelaskan bahwa ketika terjadi penahanan padanya, maka menyebabkan penyakit-penyakit, dan menimbulkan pikiran-pikiran buruk, dan mendatangkan cinta yang berlebihan dan waswas… hingga bencana-bencana lainnya.

127- Dan kita dapati orang yang sehat temperamennya mengeluarkan itu ketika berkumpul, namun dia masih gelisah, seolah-olah dia seperti orang yang makan tetapi tidak kenyang! Maka saya meneliti hal itu, dan saya melihatnya terjadi karena ada cacat pada yang dinikahi: baik karena jelek, buruk penampilannya, atau karena ada cacat padanya, atau karena dia tidak dikehendaki oleh jiwa. Maka ketika itu keluar darinya, dan sebagian tetap tinggal.

Jika kamu ingin mengetahui apa yang menunjukkan kepadamu tentang itu, maka bandingkan kadar keluarnya mani di tempat yang diinginkan, dan di tempat yang kurang darinya, seperti senggama di antara paha, dibandingkan dengan senggama di tempat pernikahan, dan seperti menyetubuhi gadis dibandingkan dengan menyetubuhi janda. Maka ketahuilah kemudian bahwa memilih pasangan mengeluarkan sisa-sisa mani, sehingga terjadi bagi jiwa kesempurnaan kenikmatan, karena kesempurnaan keluarnya sisa-sisa.

128- Kemudian hal ini dapat berpengaruh pada anak juga, karena jika anak itu dari dua orang yang muda yang telah menahan diri mereka dari pernikahan dalam waktu yang lama, maka anak itu akan lebih kuat dibanding anak dari yang lainnya atau dari yang sering melakukan pernikahan pada umumnya.

129- Oleh karena itu, tidak disukai menikah dengan kerabat; karena hal itu menyebabkan jiwa menahan diri dari keleluasaannya, sehingga manusia membayangkan bahwa dia menikahi sebagian dirinya. Dan dipuji menikah dengan orang asing karena makna ini.

130- Dan dari jenis ini terjadi banyak maksud dari menolak sisa-sisa yang menyakitkan ini dengan pasangan yang baru, meskipun buruk bentuknya, yang tidak terjadi dengannya secara biasa.

Contoh ini adalah: bahwa orang yang makan ketika kenyang dengan roti dan daging sehingga tidak tersisa ruang untuk mengambil suapan, jika disajikan kepadanya makanan manis, maka dia akan mengambilnya. Seandainya disajikan yang lebih menakjubkan darinya, dia akan mengambilnya; karena kebaruan memiliki makna yang menakjubkan. Dan itu karena jiwa tidak cenderung kepada yang telah dikenalnya, dan mencari selain yang telah diketahuinya, dan terbayang baginya dalam yang baru suatu keinginan. Ketika dia tidak mendapat keinginannya, dia berpaling kepada yang baru lainnya, seolah-olah dia telah mengetahui adanya kenikmatan yang sempurna tanpa keruhnya, dan dia membayangkannya dalam apa yang dilihatnya.

131- Dan dalam makna ini terdapat dalil yang tersembunyi tentang kebangkitan; karena menciptakan orang yang cita-citanya terkait dengan yang tidak terkait adalah semacam main-main, maka pahamilah ini! Ketika jiwa melihat cacat-cacat apa yang dicampurinya di dunia, dia kembali mencari yang baru. Oleh karena itu para hikmah berkata: “Cinta adalah kebutaan terhadap cacat-cacat yang dicintai, maka barangsiapa merenungkan cacatnya akan lupa.”

132- Oleh karena itu disukai bagi perempuan untuk tidak menjauh dari suaminya dengan jarak yang membuatnya lupa kepadanya, dan tidak mendekat kepadanya dengan kedekatan yang membuatnya bosan. Demikian juga disukai hal itu baginya, agar dia tidak bosan, atau agar tidak tampak di hadapannya cacat-cacat yang tersembunyi.

133- Dan sepatutnya dia tidak melihat auratnya, dan berusaha agar tidak mencium darinya kecuali aroma yang paling harum, hingga sifat-sifat lainnya yang digunakan oleh perempuan-perempuan yang bijak. Sesungguhnya mereka mengetahui itu dengan fitrah mereka, tanpa memerlukan pengajaran. Adapun yang bodoh, maka mereka tidak memperhatikan hal ini, sehingga suami-suami cepat berpaling dari mereka.

134- Maka barangsiapa menginginkan kebaikan anak dan terpenuhinya keinginan, hendaklah memilih pasangan: jika itu istri, maka lihatlah kepadanya, jika dia jatuh cinta dalam hatinya maka menikahlah dengannya, dan perhatikan bagaimana jatuh cintanya dalam hatinya. Sesungguhnya tanda terkaitnya cintanya dengan hati adalah bahwa dia tidak memalingkan pandangan darinya. Ketika pandangan berpaling, hati menjadi gelisah karena menuntut pandangan, maka inilah puncaknya. Dan di bawahnya ada tingkatan-tingkatan sesuai ukurannya terjadi tercapainya tujuan-tujuan. Dan jika itu budak perempuan yang dibeli, maka lihatlah kepadanya lebih dari pandangan itu.

135- Dan barangsiapa mampu berbicara dengan perempuan atau berkata-kata dengannya dengan yang mewajibkan perhatian, kemudian lihatlah itu darinya. Sesungguhnya keindahan ada di mulut dan mata. Ahmad telah menegaskan kebolehan seorang laki-laki melihat dari perempuan yang ingin dinikahinya yang merupakan aurat, mengisyaratkan kepada yang lebih dari wajah.

136- Dan barangsiapa dapat menunda akad atau membeli budak perempuan untuk melihat bagaimana kerinduan hatinya, karena tidak tersembunyi bagi orang berakal kerinduan jiwa karena yang baru, dan kerinduannya karena cinta. Ketika dia melihat kegelisahan cinta, maka majulah. Sesungguhnya telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdul Baqi, dia berkata: Mengabarkan kepada kami Hamid bin Ahmad, dia berkata: Mengabarkan kepada kami Abu Nu’aim, dia berkata: Menceritakan kepada kami Sulaiman bin Ahmad, dia berkata: Menceritakan kepada kami Abdul Jabbar bin Abi Amir, dia berkata: Menceritakan kepadaku ayahku, dia berkata: Menceritakan kepadaku Khalid bin Salam, dia berkata: Menceritakan kepada kami Atha Al-Khurasani, dia berkata: Tertulis dalam Taurat: Setiap pernikahan yang tidak atas dasar cinta; adalah penyesalan dan penyesalan hingga hari kiamat.

137- Kemudian sepatutnya bagi yang memilih untuk melihat akhlak; karena itu termasuk yang tersembunyi. Sesungguhnya bentuk jika kosong dari makna, adalah seperti sayuran hijau yang merusak, dan kebaikan anak adalah yang dituju.

138- Dan kosongnya jiwa dari kesibukan dengan cinta yang tertahan adalah asal yang besar, yang mewajibkan perhatian hati kepada hal-hal penting. Dan barangsiapa kosong dari hal-hal penting yang datang, dia memperhatikan hal-hal penting yang asli. Oleh karena itu datang dalam hadis: “Janganlah hakim memutus antara dua orang dalam keadaan marah,” dan “Jika makanan malam disajikan dan shalat Isya datang, maka mulailah dengan makanan malam.”

139- Maka barangsiapa mampu mendapat perempuan yang saleh dalam bentuk dan makna, hendaklah menutup mata dari auratnya, dan hendaklah dia berusaha menyenangkannya, tanpa kedekatan yang membosankan, dan tanpa jarak yang melupakan. Hendaklah dia bersolek untuknya, maka akan tercapai dua tujuan darinya: anak, dan terpenuhinya keinginan, dengan kehati-hatian yang saya wasiatkan, kebersamaan akan langgeng, dan akan tercapai kecukupan dengannya dari yang lain.

140- Jika dia mampu memperbanyak, maka menambahkan kepada dia yang lain, dengan mengetahui bahwa dengan itu dia mencapai tujuan, yang mengosongkan hatinya dengan pengosongan yang lebih, maka itu lebih baik bagi keadaannya.

141- Jika dia takut adanya cemburu yang menyibukkan hati yang telah kita pedulikan untuk mengumpulkan perhatiannya, atau takut adanya yang indah yang menyibukkan hatinya dari mengingat akhirat, atau meminta darinya apa yang mewajibkan keluarnya dari wara’, maka cukup satu.

142- Dan termasuk yang saya wasiatkan adalah bahwa dia menjauhkan dalam hal-hal indah dari kemaksiatan, maka hendaklah yang mendapatkannya bersungguh-sungguh dalam menjaga dan menutupi mereka. Jika mendapat yang tidak menyenangkannya, segeralah mengganti, karena itu sebab lupa. Dan jika mampu membatasi, maka membatasi pada satu lebih utama. Jika dia sesuai tujuan, puaslah, dan jika tidak sesuai, gantilah.

143- Dan menikahi perempuan yang dicintai mengeluarkan air yang terkumpul, sehingga mewajibkan kebaikan anak dan kesempurnaannya, dan terpenuhinya keinginan dengan sempurna.

144- Dan barangsiapa takut adanya cemburu, maka hendaklah dengan budak-budak perempuan, karena mereka kurang cemburu, dan mempercantik mereka lebih mungkin daripada mempercantik istri-istri.

145- Sesungguhnya ada sekelompok orang yang mampu mengumpulkan, dan perempuan-perempuan sabar: Daud Alaihissalam memiliki seratus perempuan, dan Sulaiman Alaihissalam memiliki seribu perempuan. Dan telah diketahui keadaan Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.

Dan Amirul Mukminin Ali Radhiyallahu ‘anhu memiliki empat perempuan merdeka dan tujuh belas budak perempuan, dan putranya Al-Hasan Radhiyallahu ‘anhu menikah dengan sekitar empat ratus perempuan, dan selain ini yang panjang untuk disebutkan. Maka pahamilah apa yang saya isyaratkan, mudah-mudahan kamu berhasil dengannya insya Allah Ta’ala.

Bab 29: Hukuman yang Segera

  1. Segala sesuatu yang diciptakan Allah di dunia adalah contoh dari apa yang akan ada di akhirat, dan segala sesuatu yang terjadi di dunia adalah contoh dari apa yang akan terjadi di akhirat. Adapun mengenai makhluk-makhluk di dunia, Ibnu Abbas berkata: “Tidak ada sesuatu pun di surga yang menyerupai apa yang ada di dunia kecuali nama-namanya saja.” Hal ini karena Allah membuat rindu dengan nikmat kepada nikmat (yang lebih besar), dan menakut-nakuti dengan azab dari azab (yang lebih besar).
  2. Adapun mengenai apa yang terjadi di dunia, setiap orang yang berbuat zalim akan dihukum di dunia atas kezalimannya sebelum di akhirat, demikian juga setiap orang yang berbuat dosa. Inilah makna firman Allah: “Barangsiapa berbuat kejahatan, niscaya akan dibalas dengannya” (QS. An-Nisa: 123).
  3. Terkadang orang yang bermaksiat melihat keselamatan tubuh dan hartanya, lalu mengira bahwa tidak ada hukuman. Padahal kelalaiannya terhadap hukuman yang telah menimpanya itu sendiri adalah hukuman. Para bijak berkata: “Maksiat setelah maksiat adalah hukuman dari maksiat, dan kebaikan setelah kebaikan adalah pahala dari kebaikan.”
  4. Terkadang hukuman yang segera bersifat maknawi, sebagaimana dikatakan oleh salah seorang pendeta Bani Israil: “Ya Rabb! Berapa kali aku bermaksiat kepada-Mu dan Engkau tidak menghukumku!” Lalu dikatakan kepadanya: “Berapa kali Aku menghukummu dan kamu tidak menyadarinya! Bukankah Aku telah mengharamkan bagimu manisnya bermunajat kepada-Ku?”
  5. Barangsiapa merenungkan jenis hukuman ini, akan mendapatinya selalu mengintai. Hingga Wuhaib bin Al-Ward berkata ketika ditanya: “Apakah orang yang bermaksiat dapat merasakan kelezatan ketaatan?” Dia menjawab: “Bahkan orang yang berniat (berbuat maksiat pun tidak).”
  6. Betapa banyak orang yang melepas pandangannya (pada yang haram), lalu diharamkan baginya pelajaran dari mata hatinya. Atau melepas lisannya (dalam kemaksiatan), lalu diharamkan baginya kejernihan hatinya. Atau memilih syubhat dalam makanannya, lalu gelaplah rahasianya dan diharamkan baginya shalat malam serta manisnya bermunajat, dan lain sebagainya. Ini adalah perkara yang dikenali oleh orang-orang yang muhasabah (introspeksi) diri.
  7. Sebaliknya, orang yang bertakwa kepada Allah akan mendapati balasan yang baik atas ketakwaannya di dunia, sebagaimana dalam hadits Abu Umamah dari Nabi: “Allah berfirman: ‘Pandangan kepada wanita adalah anak panah beracun dari anak-anak panah setan. Barangsiapa meninggalkannya karena mengharap ridha-Ku, akan Ku-berikan kepadanya iman yang akan ia rasakan manisnya di dalam hatinya.'” Inilah contoh dari jenis ini yang mengingatkan orang yang lalai.
  8. Adapun balasan yang nyata secara lahiriah, jarang tertunda. Di antaranya adalah sabda Nabi: “Tidur pagi menghalangi rezeki,” dan “Sesungguhnya seorang hamba diharamkan rezeki karena dosa yang dilakukannya.”

Para mufassir meriwayatkan bahwa setiap orang dari suku-suku (Yakub) memiliki dua belas anak, sedangkan Yusuf memiliki sebelas karena ujian. Jika orang yang memiliki wawasan merenungkan hal seperti ini, ia akan melihat pembalasan dan memahaminya. Sebagaimana kata Al-Fudhail: “Sungguh aku bermaksiat kepada Allah, lalu aku mengetahui hal itu dari akhlak kendaraan dan budak wanitaku.”

Dari Abu Utsman An-Naisaburi diriwayatkan bahwa tali sandalnya putus ketika pergi ke shalat Jumat, lalu ia terlambat sejenak untuk memperbaikinya. Kemudian ia berkata: “Ini putus karena aku tidak mandi Jumat.”

  1. Di antara keajaiban pembalasan di dunia adalah ketika tangan zalim saudara-saudara Yusuf terulur: “Dan mereka menjualnya dengan harga yang murah” (QS. Yusuf: 20), maka telapak tangan mereka terulur di hadapannya dengan meminta, berkata: “Dan bersedekahlah kepada kami” (QS. Yusuf: 88). Ketika ia bersabar di hari ujian, ia memiliki wanita itu secara halal. Ketika wanita itu menuduhnya dengan berkata: “Apakah balasan orang yang bermaksud jahat terhadap keluargamu” (QS. Yusuf: 25), Allah membuatnya mengaku dengan berkata: “Akulah yang merayunya” (QS. Yusuf: 51).
  2. Seandainya seseorang meninggalkan maksiat karena Allah, niscaya ia akan melihat buahnya. Demikian juga jika ia melakukan ketaatan. Dalam hadits disebutkan: “Jika kalian miskin, berdaganglah dengan Allah melalui sedekah,” artinya: beramallah kepada-Nya untuk mendapatkan keuntungan yang segera.
  3. Sungguh kami telah melihat orang yang memanjakan dirinya dengan apa yang dilarang syariat karena menginginkan kenyamanan sesaat, lalu keadaannya berubah menjadi keresahan yang segera, dan maksudnya berbalik padanya.
  4. Salah seorang syaikh menceritakan bahwa ia membeli seorang budak wanita di masa mudanya. Ia berkata: “Ketika aku memilikinya, jiwaku sangat menginginkannya. Aku terus bertanya kepada para fuqaha, berharap ada yang memberi keringanan kepadaku, tetapi mereka semua berkata: ‘Tidak boleh melihatnya dengan syahwat, tidak boleh menyentuhnya, dan tidak boleh menyetubuhinya kecuali setelah ia haid.’ Aku bertanya kepadanya, lalu ia memberitahuku bahwa ia dibeli dalam keadaan haid. Aku berkata: ‘Masalahnya sudah dekat.’ Aku bertanya kepada para fuqaha, mereka berkata: ‘Haid ini tidak dihitung sampai ia haid dalam kepemilikanmu.’ Aku berkata kepada diriku yang sangat rindu karena kuatnya syahwat, kemampuan yang ada, dan dekatnya kesempatan: ‘Apa pendapatmu?’ Jiwaku menjawab: ‘Iman itu dengan bersabar di atas bara, mau atau tidak mau.’ Maka aku bersabar hingga waktunya tiba, lalu Allah membalasiku atas kesabaran itu dengan memberikan sesuatu yang lebih tinggi dan mulia darinya.”

Bab 30: Manusia Terkadang Menyembunyikan Amalnya tetapi Allah Menampakkannya

  1. Aku melihat dalil-dalil tentang Allah Yang Maha Suci dan Tinggi, dan kudapati lebih banyak dari pasir. Aku melihat yang paling menakjubkan di antaranya adalah bahwa manusia terkadang menyembunyikan apa yang tidak diridhai Allah, lalu Allah menampakkannya, walau setelah beberapa waktu, dan membuat lidah-lidah membicarakannya, meskipun orang-orang tidak menyaksikannya.

Terkadang Allah menjerumuskan pelakunya ke dalam musibah yang mempermalukannya di hadapan makhluk, sebagai jawaban atas semua dosa yang disembunyikannya. Hal ini agar manusia mengetahui bahwa ada Zat yang membalas kesalahan, dan tidak ada hijab atau persembunyian yang berguna dari qudrah dan kekuasaan-Nya, serta tidak ada amal yang sia-sia di sisi-Nya.

  1. Demikian juga manusia menyembunyikan ketaatan, lalu ketaatan itu tampak padanya, dan orang-orang membicarakannya bahkan lebih dari yang sebenarnya. Hingga mereka tidak mengenal dosanya dan tidak menyebutnya kecuali dengan kebaikan-kebaikan, agar diketahui bahwa ada Rabb yang tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal.
  2. Sesungguhnya hati manusia mengenal keadaan seseorang dan mencintainya atau membencinya, mencela atau memujinya sesuai dengan apa yang terjadi antara dirinya dan Allah. Jika ia memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan mencukupinya dari segala kekhawatiran dan menolak darinya segala keburukan. Tidaklah seorang hamba memperbaiki hubungannya dengan makhluk tanpa memperbaiki hubungannya dengan Allah, kecuali maksudnya akan berbalik dan orang yang memujinya akan menjadi pencela.

Bab 31: Dominasi Kebodohan dan Hawa Nafsu atas Kebanyakan Manusia

  1. Aku merenungkan bumi dan penghuninya dengan mata pemikiranku, lalu aku melihat kehancurannya lebih banyak dari kemakmurannya. Kemudian aku melihat bagian yang makmur, dan kudapati orang-orang kafir menguasai sebagian besarnya. Aku mendapati umat Islam di bumi sedikit dibandingkan dengan orang-orang kafir.
  2. Kemudian aku merenungkan kaum muslimin, lalu aku melihat pencaharian telah menyibukkan mayoritas mereka dari Sang Pemberi Rezeki, dan memalingkan mereka dari ilmu yang menunjukkan kepada-Nya.
  3. Sultan sibuk dengan memerintah dan melarang, serta urusan-urusan yang menyertainya. Air tujuan-tujuannya mengalir tanpa bendungan. Tidak ada yang menemuinya dengan nasihat, melainkan dengan pujian yang menguatkan hawa nafsu! Padahal penyakit seharusnya dilawan dengan lawannya. Sebagaimana kata Umar bin Al-Muhajir: Umar bin Abdul Aziz berkata kepadaku: “Jika kamu melihatku menyimpang dari kebenaran, peganglah bajuku, goyanglah aku, dan katakan: ‘Ada apa denganmu, wahai Umar?!'” Umar bin Khattab berkata: “Semoga Allah merahmati orang yang memberikan cacat-cacat kami kepada kami.” Maka manusia yang paling butuh nasihat dan peringatan adalah sultan.
  4. Adapun tentaranya, mayoritas mereka dalam kemabukan hawa nafsu dan perhiasan dunia. Ditambah lagi dengan kebodohan dan kurangnya ilmu. Mereka tidak merasakan sakit karena dosa, tidak kaget karena memakai sutera atau minum khamar. Bahkan sebagian mereka berkata: “Apa yang harus dilakukan tentara? Apakah memakai kapas?” Lalu mereka mengambil sesuatu bukan dari jalan yang benar, sehingga kezaliman menjadi tabiat mereka!
  5. Penduduk pedesaan telah tenggelam dalam kebodohan, demikian juga penduduk desa. Betapa banyaknya mereka bergaul dengan najis dan meremehkan urusan shalat! Bahkan terkadang wanita di antara mereka shalat sambil duduk!
  6. Kemudian aku melihat para pedagang, dan kudapati mereka dikuasai keserakahan hingga mereka tidak melihat selain wajah-wajah keuntungan, bagaimana pun caranya. Riba menjadi marak dalam muamalah mereka, sehingga mereka tidak peduli dari mana dunia didapat! Mereka lalai dalam urusan zakat dan tidak merasa aneh meninggalkannya, kecuali yang dilindungi Allah.
  7. Kemudian aku melihat para pekerja, dan kudapati penipuan dalam muamalah mereka sudah umum, demikian juga kecurangan timbangan dan pengurangan. Mereka juga tenggelam dalam kebodohan!
  8. Aku melihat kebanyakan orang yang memiliki anak menyibukkannya dengan berbagai pekerjaan ini untuk mencari keuntungan sebelum ia mengetahui apa yang wajib atasnya dan apa yang harus dipelajari.
  9. Kemudian aku melihat keadaan wanita-wanita, dan kudapati mereka sedikit agamanya, besar kebodohannya. Mereka tidak memiliki berita tentang akhirat kecuali yang dilindungi Allah. Aku berkata: “Sungguh aneh! Siapa yang tersisa untuk mengabdi kepada Allah dan mengenal-Nya?!”
  10. Maka aku melihat, ternyata para ulama, penuntut ilmu, ahli ibadah, dan orang-orang zahid. Aku merenungkan para ahli ibadah dan orang zahid, lalu aku melihat mayoritas mereka beribadah tanpa ilmu, dan senang dengan penghormatan, mencium tangannya, dan banyaknya pengikut. Hingga salah seorang dari mereka jika terpaksa membeli kebutuhan dari pasar tidak akan melakukannya, agar tidak rusak kewibawaannya! Kemudian tingkat prestise membawa mereka untuk tidak menjenguk orang sakit dan tidak menghadiri jenazah, kecuali orang yang sangat mulia menurut mereka.

Mereka tidak saling berkunjung, bahkan sebagian dari mereka pelit kepada sebagian lain dengan pertemuan. Prestise telah menjadi seperti berhala yang mereka sembah tanpa mereka sadari! Di antara mereka ada yang berani berfatwa dengan kebodohan agar tidak merusak prestise kepemimpinan! Lalu mereka mencela para ulama karena serakah terhadap dunia, padahal mereka tidak tahu bahwa yang tercela dari dunia adalah apa yang mereka lakukan, bukan mengambil yang halal!

  1. Kemudian aku merenungkan para ulama dan penuntut ilmu, lalu aku melihat sedikit dari penuntut ilmu yang memiliki tanda kecerdasan. Karena tanda kecerdasan adalah menuntut ilmu untuk diamalkan. Mayoritas mereka menuntut ilmu untuk menjadi jaring penghasilan: baik untuk mendapat jabatan hakim di suatu tempat, atau menjadi hakim suatu negeri, atau sekadar untuk membedakan diri dari sesama jenisnya, lalu mereka merasa cukup.
  2. Kemudian aku merenungkan para ulama, lalu aku melihat kebanyakan mereka dipermainkan dan diperbudak oleh hawa nafsu. Mereka mengutamakan apa yang dilarang ilmu, dan menghadapi apa yang dilarangnya. Mereka hampir tidak merasakan nikmatnya bermuamalah dengan Allah; yang penting bagi mereka hanyalah berbicara.
  3. Akan tetapi Allah tidak membiarkan bumi kosong dari orang yang menegakkan hujjah-Nya, yang menggabungkan antara ilmu dan amal, mengetahui hak-hak Allah, dan takut kepada-Nya. Dialah poros dunia. Ketika ia mati, Allah menggantikannya. Terkadang ia tidak mati hingga melihat orang yang layak menggantikannya dalam setiap urusan. Orang seperti ini tidak akan kosong dari bumi, ia menempati posisi nabi di tengah umat.

Orang yang aku sifatkan ini menegakkan pokok-pokok agama, menjaga batasan-batasan, meskipun ilmunya sedikit atau amalnya kurang. Adapun orang yang sempurna dalam semua aspek, keberadaannya langka. Dalam masa yang panjang hanya ada satu orang.

  1. Sungguh aku telah meneliti semua salaf, lalu aku ingin mengeluarkan di antara mereka orang yang menggabungkan antara ilmu hingga menjadi mujtahid dan antara amal hingga menjadi teladan bagi ahli ibadah. Aku tidak melihat lebih dari tiga orang: pertama Al-Hasan Al-Bashri, kedua Sufyan Ats-Tsauri, ketiga Ahmad bin Hanbal. Aku telah membuat kitab khusus untuk berita masing-masing dari mereka. Aku tidak mengingkari orang yang menambahkan mereka dengan Sa’id bin Al-Musayyab.
  2. Meskipun di antara salaf ada para pemimpin, kebanyakan mereka dikuasai satu bidang sehingga kurang dari bidang lain. Di antara mereka ada yang dikuasai ilmu, ada yang dikuasai amal. Semua ini memiliki bagian yang lengkap dari ilmu dan bagian yang penuh dari muamalah dan ma’rifah.
  3. Jangan berputus asa dari keberadaan orang yang mencontoh jejak mereka, meskipun keutamaan karena mendahului adalah bagi mereka. Allah telah memberikan kepada Khidir apa yang tersembunyi dari Musa. Perbendaharaan Allah penuh, dan pemberian-Nya tidak terbatas pada seseorang.
  4. Sungguh telah diceritakan kepadaku tentang Ibnu Aqil bahwa ia berkata tentang dirinya: “Aku bekerja di perahu lalu hancur.” Ini keliru! Dari mana ia tahu?! Betapa banyak orang yang takjub dengan dirinya, lalu disingkapkan kepadanya dari orang lain apa yang membuatnya meremehkan dirinya! Betapa banyak orang yang terlambat mendahului yang terdahulu! Telah dikatakan:

“Sesungguhnya malam-malam dan hari-hari itu hamil, Dan tidak ada yang tahu kecuali Allah apa yang akan dilahirkannya.”

Bab 32: Bahaya Syahwat dan Manfaat Bersabar darinya

  1. Aku melihat kecenderungan jiwa kepada syahwat berlebihan dalam kadarnya, hingga jika ia condong, hati, akal, dan pikiran ikut condong. Manusia hampir tidak mendapat manfaat dari nasihat apa pun! Maka suatu hari aku berteriak kepadanya ketika ia condong sepenuhnya kepada syahwat: “Celakalah kamu! Berhentilah sejenak, aku akan berbicara kepadamu beberapa kalimat, lalu lakukanlah apa yang kamu kehendaki!” Ia berkata: “Katakanlah, aku mendengar.” Aku berkata: “Telah jelas sedikitnya kecenderunganmu kepada syahwat yang halal, adapun kebanyakan kecenderunganmu adalah kepada yang haram. Aku akan menyingkap keduanya bagimu, mungkin kamu melihat yang manis itu pahit:

Adapun syahwat yang halal, ia dibolehkan bagimu, tetapi jalannya sulit: karena harta mungkin tidak mampu mendapatkannya, usaha mungkin tidak mendapatkan sebagian besarnya, dan waktu yang mulia habis karenanya. Lalu kesibukan hati dengannya saat berusaha dan saat mendapat, serta takut kehilangannya. Kemudian yang merusaknya dari kekurangan yang tidak tersembunyi bagi orang yang cerdas: jika makanan, kenyang menimbulkan bahaya; jika seseorang, kebosanan atau perpisahan atau buruk akhlak. Kemudian nikah yang paling nikmat adalah yang paling melemahkan badan, dan lain sebagainya yang panjang penjelasannya.

Adapun yang haram, ia mengandung apa yang kami sebutkan dari yang halal, dan menambah bahwa ia merusak kehormatan, tempat hukuman dunia dan aibnya, serta ancaman akhirat, kemudian kegelisahan setiap kali yang bertobat mengingatnya.”

  1. Dalam kekuatan mengalahkan hawa nafsu ada kelezatan yang melebihi setiap kelezatan. Tidakkah kamu melihat setiap orang yang dikalahkan hawa nafsu bagaimana ia menjadi hina karena ia dikalahkan, berbeda dengan yang mengalahkan hawa nafsu; ia menjadi kuat hati dan mulia karena ia mengalahkan?!
  2. Maka hati-hatilah dari melihat yang diinginkan dengan mata kebaikan, sebagaimana pencuri melihat kelezatan mengambil harta dari tempat yang aman, dan tidak melihat dengan mata pikirannya hukuman potong tangan! Hendaklah membuka mata hati untuk merenungkan akibat-akibat, berubahnya kelezatan menjadi keresahan, dan berubahnya dari kelezatan, baik karena bosan atau karena berbagai bahaya, atau karena terputus dengan menolaknya kekasih. Maka maksiat pertama seperti suapan yang dimakan orang lapar, tidak mengembalikan anjing kelaparan, malah membuat ingin makan.
  3. Hendaklah manusia mengingat kelezatan mengalahkan hawa nafsu sambil merenungkan manfaat bersabar darinya. Barangsiapa diberi taufik untuk itu, keselamatannya dekat darinya.

Bab 33: Hati itu Mengenal tetapi Penghalang-penghalangnya Banyak

  1. Terlintas dalam pikiranku suatu pikiran, sementara majlis telah enak, hati-hati telah hadir, mata-mata mengalir, kepala-kepala tertunduk, jiwa-jiwa telah menyesal atas kelalaiannya, tekad-tekad telah bangkit untuk memperbaiki urusan-urusannya, dan lidah-lidah penyesalan bekerja di dalam batin atas hilangnya ketegasan dan meninggalkan kehati-hatian. Maka aku berkata kepada diriku: “Mengapa kewaspadaan ini tidak berlangsung lama?! Aku melihat jiwa dan kewaspadaan di majlis saling bersahabat dan rukun; jika kami bangkit dari tempat ini, terjadilah keterasingan.”

Aku merenungkan hal itu, lalu aku melihat bahwa jiwa masih terjaga, dan hati masih mengenal, hanya saja penghalang-penghalangnya banyak. Pikiran yang seharusnya digunakan untuk mengenal Allah telah lelah karena digunakan untuk meraih dunia dan memenuhi kebutuhan jiwa. Hati tenggelam dalam hal itu, dan badan menjadi tawanan yang diperbudak.

Sementara pikiran berkeliling untuk mendatangkan makanan, minuman, dan pakaian, dan melihat dalam urusan itu serta apa yang disimpannya untuk esok dan tahunnya, ia khawatir dengan keluarnya hadats dan sibuk dengan bersuci. Kemudian khawatir dengan keluarnya kotoran yang menyakitkan, termasuk mani, maka ia butuh nikah. Ia tahu bahwa itu tidak sah kecuali dengan berusaha mencari dunia, maka ia memikirkan hal itu dan bekerja sesuai tuntutannya.

Kemudian datang anak, maka ia khawatir dengannya dan untuknya. Maka pikiran bekerja pada pokok-pokok dunia dan cabang-cabangnya. Jika manusia hadir di majlis, ia tidak hadir dalam keadaan lapar atau ingin buang air, tetapi hadir dengan mengumpulkan perhatiannya, melupakan apa yang ada dari dunia dalam ingatannya. Maka nasihat berkhalwat dengan hati, mengingatkannya dengan apa yang biasa, dan menariknya dengan apa yang dikenal. Maka bangkitlah pekerja-pekerja hati dalam perahu ma’rifahnya, mereka menghadirkan jiwa ke pintu tuntutan atas kelalaian, dan menyalahkan indera atas cacat-cacat yang telah berlalu. Maka mengalirlah mata penyesalan dan terjalinlah tekad perbaikan.

Seandainya jiwa ini kosong dari hal-hal biasa yang aku sebutkan, niscaya ia akan sibuk mengabdi kepada Penciptanya. Seandainya ia jatuh dalam gelombang cinta, niscaya ia akan merasa asing dari semua karena sibuk dengan kedekatan. Karena itulah para zahid menggunakan khalwat dan sibuk memutus penghalang-penghalang. Sesuai kadar perjuangan mereka dalam hal itu, mereka meraih dari pengabdian apa yang mereka inginkan, sebagaimana panen sesuai kadar benih.

  1. Hanya saja aku melihat dalam keadaan ini satu kehalusan, yaitu bahwa jika jiwa selalu dalam keadaan terjaga, ia akan jatuh pada yang lebih buruk dari kehilangan apa yang hilang, yaitu takjub dengan keadaannya dan meremehkan sejenisnya! Mungkin ia naik dengan kekuatan ilmu dan ma’rifahnya hingga mengklaim: “Bagiku, dan padaku, dan aku berhak…” Maka membiarkannya dalam pusaran dosa-dosanya berkelana. Jika ia berdiri di pantai, ia melaksanakan hak kehinaan penghambaan, dan itu lebih baik baginya.

Ini hukum kebanyakan makhluk, karena itu mereka disibukkan dari maqam ini. Barangsiapa yang layak untuknya, tidak ada salahnya baginya dari kesalahan yang diawasi mata takut dari hukumannya dengan lemah lembut, agar sahih penghambaan dan selamat ibadahnya. Kepada makna inilah hadits shahih menunjuk: “Seandainya kalian tidak berdosa, niscaya Allah akan menghilangkan kalian dan mendatangkan kaum yang berdosa, lalu mereka meminta ampun, maka Allah mengampuni mereka.”

Bab 34: Perbuatan Para Zahid yang Bodoh

  1. Aku telah merenungkan, dan aku melihat bahwa menjaga harta adalah suatu keharusan, dan apa yang disebut oleh para zahid bodoh sebagai tawakal – yaitu mengeluarkan semua yang ada di tangan – bukanlah sesuatu yang disyariatkan! Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ka’ab bin Malik: “Tahanlah sebagian hartamu,” atau sebagaimana beliau bersabda kepadanya. Dan beliau berkata kepada Sa’d: “Sungguh, meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya lebih baik bagimu daripada meninggalkan mereka dalam keadaan miskin yang meminta-minta kepada manusia.”

Jika ada orang bodoh yang berkeberatan dengan mengatakan: Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu datang dengan membawa seluruh hartanya. Maka jawabannya adalah: bahwa Abu Bakar adalah pemilik penghidupan dan perdagangan; jika dia mengeluarkan semuanya, dia mampu berhutang berdasarkan reputasinya untuk mencari nafkah. Maka barang siapa yang memiliki sifat seperti ini, aku tidak mencela pengeluaran hartanya.

Namun celaan itu mengarah kepada orang yang mengeluarkan hartanya, padahal dia bukan termasuk pemilik penghidupan, atau dia termasuk golongan tersebut, tetapi dia memutuskan diri dari penghidupan, sehingga dia menjadi beban bagi manusia, meminta-minta kepada mereka, dan dia meyakini bahwa dia berada dalam kemenangan, padahal hatinya tergantung kepada makhluk, dan ketamakannya tertancap pada mereka. Setiap kali pintu rumahnya bergerak, hatinya bangkit, dan dia berkata: “Rezeki telah datang!!”

Dan ini adalah perkara yang buruk bagi orang yang mampu mencari nafkah. Dan jika dia tidak mampu, maka mengeluarkan apa yang dimilikinya lebih buruk lagi; karena hatinya akan tergantung pada apa yang ada di tangan manusia, dan mungkin itu akan membuat dia iri kepada sebagian mereka, atau dia terhias dengan zuhud palsu, dan paling ringan keadaannya adalah dia akan berebut dengan orang-orang fakir, miskin, dan cacat dalam mendapatkan zakat.

  1. Maka hendaklah engkau mengikuti kelompok pertama, lalu lihatlah: apakah di antara mereka ada yang melakukan apa yang dilakukan oleh para zahid bodoh?! Dan aku telah mengisyaratkan di awal bahasan ini bahwa mereka bekerja dan meninggalkan harta. Maka kembalilah kepada kelompok pertama yang belum tersentuh, karena itulah yang jernih, dan waspadalah terhadap tempat-tempat minum yang telah dilalui oleh pandangan-pandangan rusak, yang secara makna keluar dari syariat, dan mengklaim dengan lisan halnya bahwa syariat itu kurang dan membutuhkan sesuatu untuk menyempurnakannya!
  2. Dan ketahuilah – semoga Allah memberikan taufik kepadamu – bahwa badan itu seperti tunggangan, dan tunggangan itu harus diberi makan dan diperhatikan. Jika engkau mengabaikan hal itu, maka itu akan menjadi sebab terhentinya perjalananmu.

Salman radhiyallahu ‘anhu pernah terlihat membawa makanan di pundaknya, lalu dikatakan kepadanya: “Apakah engkau melakukan ini padahal engkau adalah sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?!” Maka dia berkata: “Sesungguhnya jiwa jika telah mendapatkan makanan pokoknya, maka dia akan tenang.”

Dan Sufyan ats-Tsauri berkata: “Jika engkau telah mendapatkan makanan pokok untuk sebulan, maka beribadahlah.”

  1. Dan telah datang sekelompok orang yang tidak memiliki apapun kecuali klaim-klaim, lalu mereka berkata: “Ini adalah keraguan terhadap Pemberi Rezeki, dan kepercayaan kepadaku lebih utama!!” Maka berhati-hatilah terhadap mereka dan pandangan mereka.
  2. Dan mungkin hal seperti ini diriwayatkan dari sebagian tokoh zahid terdahulu, maka janganlah berpegang padanya, dan jangan biarkan perbedaan pendapat mereka membuatmu takut. Sebab Abu Bakar al-Marwazi berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal menganjurkan pernikahan, maka aku berkata kepadanya: “Ibnu Adham berkata…” Namun dia tidak membiarkanku menyelesaikan perkataanku hingga dia berteriak kepadaku dan berkata: “Aku menyebutkan kepadamu keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, lalu engkau datang kepadaku dengan cerita-cerita di pinggir jalan?!”
  3. Dan ketahuilah – semoga Allah memberikan taufik kepadamu – bahwa seandainya seseorang yang mengaku berzuhud menolak sebab-sebab, dan berkata: “Aku tidak makan, tidak minum, tidak berlindung dari panas matahari, dan tidak menghangatkan diri dari dingin!” maka dia berdosa menurut ijma’. Demikian pula jika dia berkata – padahal dia memiliki keluarga -: “Aku tidak akan bekerja, dan rezeki mereka ditanggung oleh Allah Ta’ala!” lalu mereka mengalami bahaya, maka dia berdosa, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Cukuplah seseorang itu berdosa dengan menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.”
  4. Dan ketahuilah bahwa perhatian terhadap pekerjaan akan mengumpulkan perhatian, mengosongkan hati, dan memutus ketamakan terhadap makhluk. Sebab tabiat memiliki hak yang menuntutnya, dan syariat telah menjelaskan hal itu. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya jiwa memiliki hak atasmu, dan matamu memiliki hak atasmu.”
  5. Dan perumpamaan tabiat dengan murid yang menempuh jalan seperti anjing yang tidak mengenal orang yang datang; setiap orang yang dilihatnya berjalan, dia menggonggongnya. Jika dilemparkan kepadanya sepotong roti, dia akan diam; maka yang dimaksud dari memperhatikan hal itu adalah mengumpulkan perhatian, tidak lebih. Maka pahamilah prinsip-prinsip ini, karena memahaminya itu penting.

Bab 35: Sebaik-baik Perkara adalah yang Pertengahan

  1. Aku merenungkan syahwat-syahwat dunia, maka aku melihatnya sebagai jerat-jerat kebinasaan dan perangkap-perangkap kerusakan. Barang siapa yang menguatkan akalnya atas tabiatnya dan menguasainya, maka dia selamat. Dan barang siapa yang dikalahkan oleh tabiatnya, maka betapa cepatnya kebinasaannya!
  2. Dan sungguh aku telah melihat sebagian anak dunia yang berusaha memiliki budak wanita, kemudian dia menggunakan obat-obatan panas yang merangsang syahwat, maka tidak lama kemudian panas alaminya melemah dan dia binasa.
  3. Dan aku tidak melihat dalam syahwat-syahwat jiwa yang lebih cepat membinasakan daripada syahwat ini. Sebab setiap kali manusia condong kepada seseorang yang dianggap indah, hal itu menyebabkan bangkitnya syahwat melebihi kebiasaan. Dan jika dia melihat yang lebih indah lagi, syahwat semakin bertambah, dan keluarnya sperma bertambah melebihi yang pertama, sehingga esensi kehidupannya habis dengan sangat cepat.

Dan sebaliknya dari ini adalah jika wanita itu buruk rupa, maka pernikahannya tidak menyebabkan keluarnya sisa yang menyakitkan sebagaimana mestinya, sehingga terjadi gangguan karena tertahan, dan kuatnya keinginan terhadap wanita.

  1. Demikian pula orang yang berlebihan dalam makan, maka dia akan mendatangkan banyak bahaya pada dirinya, dan orang yang kurang dalam takaran makanan pokok juga demikian. Maka aku mengetahui bahwa sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan.
  2. Dan dunia adalah padang pasir, maka sepatutnya yang memandu di dalamnya adalah akal. Barang siapa yang menyerahkan kendali tunggangannya kepada tabiat dan hawa nafsunya, maka betapa cepatnya kebinasaannya!

Ini berkaitan dengan badan dan dunia, maka qiyaskanlah dengannya urusan akhirat. Maka pahamilah.

Bab 36: Jangan Haramkan yang Halal (Al-Maidah:87)

  1. Telah sampai kepadaku tentang sebagian zahid zaman kita bahwa ketika dihidangkan makanan kepadanya, dia berkata: “Aku tidak makan!” Lalu dikatakan kepadanya: “Mengapa?!” Dia berkata: “Karena jiwaku menginginkannya, dan aku sudah bertahun-tahun tidak memberikan kepada jiwaku apa yang diinginkannya!”
  2. Maka aku berkata: “Sungguh, jalan yang benar telah tersembunyi dari orang ini dari dua segi, dan sebab tersembunyi itu adalah ketidaktahuan:

Adapun segi pertama: Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah seperti ini, begitu juga para sahabatnya. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa makan daging ayam, dan menyukai makanan manis dan madu.

Farqad as-Sabakhi masuk menemui Hasan saat dia sedang makan faluzaj (sejenis kue manis), lalu dia berkata: “Wahai Farqad! Apa pendapatmu tentang ini?” Maka dia berkata: “Aku tidak memakannya, dan aku tidak suka orang yang memakannya.” Maka Hasan berkata: “Air liur lebah, dengan sari gandum, bersama mentega sapi; apakah ada muslim yang mencela hal ini?!”

Dan seorang laki-laki datang kepada Hasan, lalu berkata: “Sesungguhnya aku memiliki tetangga yang tidak makan faluzaj.” Maka dia berkata: “Mengapa?!” Dia berkata: “Dia berkata: Aku tidak dapat menunaikan syukurnya.” Maka dia berkata: “Sesungguhnya tetanggamu itu bodoh, dan apakah dia dapat menunaikan syukur air dingin?!”

Dan Sufyan ats-Tsauri biasa membawa faluzaj dan domba panggang dalam perjalanannya, dan berkata: “Sesungguhnya hewan jika diperlakukan baik, dia akan bekerja.”

Dan apa yang terjadi pada para zahid setelah mereka dari jenis ini, maka itu adalah hal-hal yang dicuri dari kehidupan pertapaan. Dan aku takut terhadap firman Allah Ta’ala: “Janganlah kamu haramkan hal-hal yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas” (Al-Maidah: 87). Dan tidak ada yang terpelihara dari salah seorang dari salaf pertama dari kalangan sahabat dari jenis ini sedikitpun, kecuali jika itu karena suatu sebab.

Adapun sebab apa yang diriwayatkan tentang Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma: bahwa dia menginginkan sesuatu lalu dia memberikannya kepada orang fakir, dan dia memerdekakan budak wanitanya Rumaitsa, dan berkata: “Sesungguhnya dia adalah makhluk yang paling aku cintai,” maka ini dan yang serupa dengannya adalah baik; karena itu adalah mengutamakan dengan apa yang lebih baik menurut jiwa daripada yang lain, dan lebih banyak baginya daripada selainnya. Jika hal itu terjadi di beberapa waktu, maka dengan perbuatan itu akan dipatahkan kekuatan hawa nafsunya agar tidak melampaui batas dengan meraih semua yang diinginkannya.

Adapun orang yang terus-menerus menentang jiwanya secara mutlak, maka dia akan membutakan hatinya, menumpulkan pikiran-pikirannya, dan mencerai-beraikan tekadnya, sehingga akan lebih banyak merugikan daripada menguntungkannya. Dan Ibrahim bin Adham berkata: “Sesungguhnya hati jika dipaksa, maka dia akan buta.” Dan di balik perkataannya terdapat rahasia yang halus, yaitu bahwa Allah Azza wa Jalla telah meletakkan tabiat anak Adam pada makna yang menakjubkan, yaitu dia memilih sesuatu dari syahwat-syahwat yang memperbaikinya, maka dia mengetahui dengan pilihannya itu kebaikan hal tersebut, dan kebaikannya dengannya. Dan para ahli hikmah kedokteran telah berkata: “Sepatutnya memberi kelonggaran kepada jiwa dalam apa yang diinginkannya dari makanan, meskipun di dalamnya ada jenis bahaya; karena dia hanya memilih apa yang sesuai dengannya; jika zahid mengekangnya dalam hal seperti ini, maka itu akan berdampak buruk pada badannya. Dan seandainya tidak ada penarik-penarik batin dari tabiat, badan tidak akan bertahan. Sebab syahwat terhadap makanan bangkit, maka jika terjadi kecukupan dengan apa yang dikonsumsi, syahwat akan berhenti.

Maka syahwat adalah yang menginginkan dan yang mencari, dan sebaik-baik pendorong dia untuk kemaslahatan badan, namun jika berlebihan, maka terjadi bahaya. Dan jika dicegah dari apa yang diinginkannya secara mutlak dengan aman dari rusaknya akibat, maka itu akan berdampak pada rusaknya keadaan jiwa, dan lemahnya jasad, dan berbagai penyakit yang mengganggu keseluruhan, seperti mencegahnya dari air ketika sangat haus, dan makanan ketika lapar, dan bersetubuh ketika kuat syahwat, dan tidur ketika mengantuk, bahkan orang yang sedih jika tidak diberi kelegaan dengan keluhan, akan dibunuh oleh kesedihan.

Maka ini adalah prinsip, jika zahid ini memahaminya, dia akan tahu bahwa dia telah menyelisihi jalan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya dari segi riwayat, dan menyelisihi yang ditetapkan dari segi hikmah.

Dan tidak mengharuskan dari ini ucapan orang yang berkata: “Lalu dari mana makanan menjadi jernih?” Karena jika tidak jernih, maka meninggalkannya adalah kehati-hatian. Dan pembicaraan hanya tentang makanan yang tidak mengandung apa yang menyakitkan dalam bab kehati-hatian. Dan apa yang aku jelaskan adalah jawaban bagi orang yang berkata: “Aku tidak memberikan kepada jiwaku syahwat secara mutlak.”

Dan segi kedua: Sesungguhnya aku takut terhadap zahid bahwa syahwatnya telah berubah menjadi meninggalkan; maka dia menjadi menginginkan untuk tidak mengonsumsi. Dan jiwa memiliki tipu daya yang tersembunyi dalam hal ini, dan riya yang halus. Jika selamat dari riya kepada makhluk, maka bencana datang dari segi keterikatan batinnya dengan perbuatan seperti ini, dan kesombongannya secara batin dengannya. Maka ini adalah pertaruhan dan kesalahan.

Dan mungkin sebagian orang bodoh berkata: “Ini adalah menghalangi dari kebaikan dan dari zuhud!” Dan tidak demikian, sebab hadits telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Setiap amalan yang tidak sesuai dengan perintah kami, maka dia tertolak.”

Dan tidak sepatutnya terperdaya dengan ibadah Juraij, dan tidak dengan takwa Dzul Khuwaishirah.

  1. Dan sungguh para zahid telah masuk dalam jalan-jalan yang tidak dilalui oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, yaitu menampakkan khusyu’ yang berlebihan, dan berhias dalam mengkasarkan pakaian, dan hal-hal yang membuat orang awam mengaguminya, dan menjadi seperti penghidupan bagi sekelompok orang, yang mereka petik dari keuntungannya berupa mencium tangan, dan berlimpahnya penghormatan, dan penjagaan wibawa. Dan kebanyakan mereka dalam kesendiriannya tidak seperti keadaannya dalam pertemuannya.
  2. Dan Ibnu Sirin biasa tertawa terbahak-bahak di antara manusia, dan jika dia sendirian di malam hari, seakan-akan dia telah membunuh penduduk kampung. Maka kami memohon kepada Allah Ta’ala ilmu yang bermanfaat, karena itulah pokok. Jika diperoleh, akan mewajibkan mengenal yang disembah Azza wa Jalla, dan menggerakkan untuk melayani-Nya sesuai dengan apa yang disyariatkan dan dicintai-Nya, dan menempuh dengan pemiliknya jalan keikhlasan.
  3. Dan pokok dari segala pokok adalah ilmu, dan yang paling bermanfaat dari ilmu-ilmu adalah memperhatikan sirah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya: “Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka” (Al-An’am: 90).

Bab 37: Jihad Melawan Jiwa adalah Jihad yang Paling Besar

  1. Aku merenungkan jihad melawan jiwa, maka aku melihatnya sebagai jihad yang paling besar. Dan aku melihat sekelompok dari para ulama dan zahid tidak memahami maknanya; karena di antara mereka ada yang mencegah jiwa dari bagian-bagiannya secara mutlak, dan itu adalah kesalahan dari dua segi:

Salah satunya: bahwa terkadang orang yang mencegah jiwa dari syahwat justru memberikan kepadanya dengan pencegahan itu lebih banyak dari syahwat itu sendiri, seperti mencegahnya dari yang halal, lalu dia terkenal karena pencegahannya itu: maka jiwa ridha dengan pencegahan; karena dia telah menukarnya dengan pujian.

Dan yang lebih tersembunyi dari itu adalah dia melihat – dengan pencegahannya dari apa yang dicegah – bahwa dia telah melebihkan selain dirinya yang tidak mencegahnya dari hal itu. Dan ini adalah hal-hal halus yang membutuhkan pisau pemahaman untuk memurnikannya.

Dan segi kedua: bahwa kita telah ditugaskan untuk menjaganya, dan dari sebab-sebab menjaganya adalah kecenderungannya kepada hal-hal yang memeliharanya. Maka tidak ada pilihan selain memberikan kepadanya apa yang memeliharanya, dan kebanyakan atau semua itu adalah yang diinginkannya. Dan kita seperti wakil dalam menjaganya; karena dia bukan milik kita, tetapi dia adalah amanah pada kita. Maka mencegahnya dari hak-haknya secara mutlak adalah bahaya.

Kemudian terkadang pengetatan menyebabkan kelonggaran, dan terkadang orang yang menyempitkan dirinya, jiwanya lari darinya, sehingga sulit baginya untuk memperbaikinya; dan sesungguhnya jihad terhadapnya seperti jihad pasien yang berakal, dia membebankan kepadanya hal yang dibencinya dalam mengonsumsi apa yang diharapkan dengannya kesembuhan, dan dia melarutkan dalam kepahitan sedikit dari kemanisan, dan mengonsumsi dari makanan seukuran apa yang diresepkan dokter, dan tidak membiarkan syahwatnya membuatnya mengikuti keinginannya dari makanan yang mungkin menyebabkan kelaparan, dan dari suapan yang mungkin mengharamkan suapan-suapan.

  1. Maka demikian pula mukmin yang berakal, dia tidak melepaskan tali kekangnya, dan tidak mengabaikan kendalinya, tetapi dia melonggarkan untuknya di suatu waktu, dan tali di tangannya. Selama dia berada di jalan yang lurus, dia tidak menyempitkannya dalam penyempitan terhadapnya. Jika dia melihatnya telah menyimpang, dia mengembalikannya dengan kelembutan. Jika dia lemah dan menolak, maka dengan kekerasan, dan dia memperlakukannya dalam maqam perlakuan baik seperti istri, yang struktur akalnya dibangun atas kelemahan dan kekurangan. Maka dia diperlakukan dengan baik ketika nusyuz dengan nasihat. Jika tidak baik, maka dengan menjauhi. Jika tidak lurus, maka dengan pukulan. Dan tidak ada dalam cambuk-cambuk pendidikan yang lebih baik dari cambuk tekad.
  2. Ini adalah perjuangan dari segi amal, adapun dari segi menasihati dan menegurnya, maka sepatutnya bagi orang yang melihatnya tenang kepada makhluk, dan menampakkan diri dengan akhlak yang hina bahwa dia mengenalkannya pada pengagungan Khaliknya kepadanya, maka dia berkata: “Bukankah engkau yang dikatakan tentangmu: Aku ciptakan engkau dengan tangan-Ku, dan Aku sujudkan malaikat-malaikat-Ku kepadamu, dan Aku ridhai engkau untuk khalifah di bumi-Ku, dan Aku berkirim surat kepadamu, dan Aku meminjam darimu dan membeli?!” Jika dia melihatnya sombong, dia berkata kepadanya: “Apakah engkau tidak lain hanya setetes dari air yang hina, satu tegukan bisa membunuhmu, dan nyamuk bisa menyakitimu?!” Dan jika dia melihat kelalaiannya, dia mengenalkannya pada hak para mawla atas hamba-hamba. Dan jika dia lemah dalam beramal, dia ceritakan kepadanya tentang besarnya pahala. Dan jika dia condong kepada hawa nafsu, dia beri tahu tentang besarnya dosa, kemudian dia memperingatkannya dari hukuman duniawi yang cepat dan indrawi, seperti firman-Nya Ta’ala: “Katakanlah: Bagaimana pendapat kalian jika Allah mengambil pendengaran dan penglihatan kalian” (Al-An’am: 46), dan yang maknawi seperti firman-Nya Ta’ala: “Aku akan memalingkan dari ayat-ayat-Ku orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa kebenaran” (Al-A’raf: 146). Maka ini jihad dengan perkataan, dan yang itu jihad dengan perbuatan.

Bab 38: Tidak Dikabulkannya Doa

  1. Aku melihat termasuk bencana bahwa mukmin berdoa namun tidak dikabulkan, maka dia mengulangi doa, dan memanjang masa, dan tidak melihat bekas dikabulkan. Maka sepatutnya dia mengetahui bahwa ini termasuk bencana yang membutuhkan kesabaran, dan apa yang terjadi pada jiwa berupa waswas dalam tertundanya jawaban adalah penyakit yang membutuhkan pengobatan.
  2. Dan sungguh telah terjadi padaku sesuatu dari jenis ini; sesungguhnya telah turun padaku suatu musibah, maka aku berdoa, dan aku bersungguh-sungguh, dan kedekatan tidak terhilang. Maka apa faedah tertundanya jawaban?! Maka aku berkata kepadanya: “Menyingkirlah wahai yang terkutuk! Aku tidak butuh penagihan, dan aku tidak meridhaimu sebagai wakil.”

Kemudian aku kembali pada diriku dan berkata: “Hati-hatilah dari mendiami waswasnya, sebab seandainya tidak ada dalam tertundanya dikabulkan kecuali bahwa Yang Menakdirkan mengujimu dalam memerangi musuh, itu sudah cukup dalam hikmah.”

  1. Dia berkata: “Maka tanyakan kepadaku tentang tertundanya dikabulkan dalam musibah seperti ini!” Maka aku berkata: “Telah terbukti dengan dalil bahwa Allah Azza wa Jalla adalah Pemilik, dan bagi Pemilik adalah bertindak dengan mencegah dan memberi, maka tidak ada wajah untuk keberatan kepada-Nya.

Dan kedua: bahwa telah terbukti hikmah-Nya dengan dalil-dalil yang pasti, maka mungkin engkau melihat sesuatu sebagai kemaslahatan, padahal hikmah tidak menghendakinya. Dan mungkin tersembunyi wajah hikmah dalam apa yang dilakukan dokter dari hal-hal yang menyakitkan secara zahir, dia bermaksud dengannya kemaslahatan. Maka mungkin ini dari itu.

Dan ketiga: bahwa mungkin penundaan adalah kemaslahatan, dan tergesa-gesa adalah bahaya. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Hamba senantiasa dalam kebaikan selama dia tidak tergesa-gesa, dia berkata: Aku telah berdoa namun tidak dikabulkan bagiku!”

Dan keempat: bahwa mungkin tidak dikabulkannya doa karena ada cacat padamu. Mungkin dalam makanmu ada syubhat, atau hatimu saat berdoa dalam kelalaian, atau hukumanmu ditambah dalam mencegah kebutuhanmu karena dosa yang tidak engkau bersungguh-sungguh dalam bertaubat darinya. Maka carilah sebagian dari sebab-sebab ini, mudah-mudahan engkau sampai pada yang dimaksud, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Yazid radhiyallahu ‘anhu: bahwa turun seorang ‘ajam (non-Arab) di rumahnya, maka dia datang dan melihatnya, lalu berdiri di pintu rumah, dan memerintahkan sebagian sahabatnya untuk masuk dan mencabut tanah liat baru yang telah dia pasang. Maka orang ‘ajam itu berdiri dan keluar. Lalu Abu Yazid ditanya tentang hal itu? Maka dia berkata: “Tanah liat ini dari sisi yang mengandung syubhat, maka ketika syubhat hilang, pemiliknya pun pergi.”

Dan dari Ibrahim al-Khawwash rahimahullahu ‘alaihi: bahwa dia keluar untuk mengingkari kemungkaran, maka seekor anjing menggonggongnya, dan mencegahnya untuk melanjutkan, maka dia kembali, dan masuk masjid, dan shalat, kemudian keluar, maka anjing itu mengibaskan ekornya kepadanya, lalu dia melanjutkan, dan mengingkari, maka kemungkaran itu hilang. Lalu dia ditanya tentang keadaan itu? Maka dia berkata: “Ada kemungkaran padaku, maka anjing itu mencegahku, maka ketika aku kembali, aku bertaubat dari itu, maka terjadilah apa yang kalian lihat.”

Dan kelima: bahwa sepatutnya dilakukan penelitian tentang tujuanmu dengan permintaan ini. Mungkin dalam diperolehnya ada penambahan dosa, atau tertunda dari tingkat kebaikan, maka pencegahan lebih baik. Dan telah diriwayatkan dari sebagian salaf: bahwa dia meminta kepada Allah untuk berperang, maka berteriak kepadanya yang berteriak: “Sesungguhnya jika engkau berperang, engkau akan ditawan, dan jika ditawan, engkau akan murtad.”

Dan keenam: bahwa mungkin kehilangan apa yang engkau kehilangan menjadi sebab untuk berdiri di pintu dan berlindung, dan diperolehnya menjadi sebab untuk sibuk dari yang diminta. Dan ini adalah yang zahir, dengan dalil bahwa seandainya tidak ada musibah ini, kita tidak akan melihatmu di pintu perlindungan. Maka Yang Haq Azza wa Jalla mengetahui dari makhluk kesibukan

Pasal 39: Orang yang Ditimpa Musibah

208- Barangsiapa yang ditimpa musibah dan ingin menghilangkannya, hendaklah ia membayangkan musibah itu lebih besar dari yang sebenarnya sehingga terasa ringan, dan hendaklah ia mengkhayal pahala yang akan diperolehnya, serta membayangkan turunnya musibah yang lebih besar lagi, maka ia akan melihat keuntungan dalam bersabar terhadap musibah yang menimpanya.

Dan hendaklah ia memperhatikan cepatnya musibah itu berlalu, karena seandainya tidak ada kesusahan dari kesulitan, maka tidak akan dinanti-nantikan saat-saat kelapangan. Dan hendaklah ia mengetahui bahwa masa tinggal musibah di sisinya seperti masa tinggal tamu, maka ia akan memperhatikan kebutuhannya setiap saat. Alangkah cepatnya masa kunjungannya berlalu! Dan alangkah nikmatnya pujian dan kabar gembira di majlis-majlis, serta sifat penyambut tamu yang mulia!

209- Demikianlah seorang mukmin dalam kesulitan, sepatutnya memperhatikan waktu demi waktu, dan dalam hal itu ia memperhatikan keadaan jiwa, serta memperhatikan anggota badan, karena khawatir keluar dari lisan suatu kata, atau dari hati rasa tidak ridha. Seakan-akan telah terbit fajar pahala, maka berlalulah malam bala, dan dipujilah si pengembara yang memotong kegelapan. Maka tidaklah terbit matahari balasan, kecuali setelah ia sampai ke tempat keselamatan.

Pasal 40: Keutamaan Ilmu dan Faedah-faedahnya

210- Ketika aku melihat pandangan jiwaku terhadap ilmu itu baik, maka jiwa itu mendahulukan ilmu dari segala sesuatu, dan meyakini dalil, serta mengutamakan satu saat kesibukan dengannya daripada saat-saat sunnah, dan berkata: “Dalil terkuat bagiku tentang keutamaannya atas sunnah adalah: aku melihat banyak orang yang disibukkan oleh sunnah shalat dan puasa dari sunnah ilmu, hal itu kembali kepada mereka dengan mencela pokok-pokok agama.” Maka aku melihat jiwa itu dalam arah ini berada di jalan yang benar dan pendapat yang tepat.

211- Hanya saja aku melihat jiwa itu berhenti pada bentuk kesibukan dengan ilmu, maka aku berteriak kepadanya: “Apa yang telah ilmu berikan kepadamu?! Mana rasa takut?! Mana kecemasan?! Mana kehati-hatian?! Atau tidakkah kamu mendengar berita-berita orang-orang shalih dari kalangan ulama dalam ibadah dan kesungguhan mereka?!

Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pemimpin semuanya, kemudian beliau shalat hingga kedua kakinya bengkak?!

Bukankah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu sering terisak-isak dan banyak menangis?!

Bukankah di pipi Umar radhiyallahu ‘anhu ada dua garis bekas air mata?!

Bukankah Utsman radhiyallahu ‘anhu mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu rakaat?!

Bukankah Ali radhiyallahu ‘anhu menangis di malam hari di mihrabnya hingga jenggotnya basah dengan air mata, dan berkata: ‘Hai dunia, tipulah selain diriku’?!

Bukankah Hasan Al-Bashri hidup dengan kecemasan hati?

Bukankah Sa’id bin Al-Musayyab selalu berada di masjid, sehingga tidak terlewatkan shalat berjamaah selama empat puluh tahun?!

Bukankah Al-Aswad bin Yazid berpuasa hingga menghijau dan menguning?! Bukankah putri Ar-Rabi’ bin Khutsaim berkata kepadanya: ‘Mengapa aku melihat orang-orang tidur sedangkan ayah tidak tidur?!’

Maka dia berkata: ‘Sesungguhnya ayahmu takut akan azab mendadak?!’

Bukankah Abu Muslim Al-Khaulani menggantung cambuk di masjid untuk mendidik dirinya jika ia lemah?!

Bukankah Yazid Ar-Raqasyi berpuasa empat puluh tahun, dan biasa berkata: ‘Wahai penyesalanku! Para ahli ibadah telah mendahuluiku, dan aku tertinggal?!’

Bukankah Manshur bin Al-Mu’tamir berpuasa empat puluh tahun?!

Bukankah Sufyan Ats-Tsauri menangis darah karena takut?!

Bukankah Ibrahim bin Adham kencing darah karena takut?!

Tidakkah kamu mengetahui berita-berita empat imam dalam kezuhudan dan ibadah mereka: Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, dan Ahmad?!

Berhati-hatilah dari condong kepada bentuk ilmu dengan meninggalkan pengamalan dengannya, karena itu adalah keadaan orang-orang malas yang lemah:

Dan ambillah untuk dirimu dari dirimu dengan perlahan-lahan Dan masa mudamu belum berpaling

Dan takutlah serangan yang tidak memaafkan kesalahan Dan melipat mata air di tempat keluarnya

Dan umpamakan untuk dirimu siapa gerombolan Yang memasukkanmu dalam arena mahsyar

Pasal 41: Tentang Berlebihan Sebagian Orang yang Berzuhud

212- Yang menambah keutamaan ilmu di sisiku adalah: bahwa suatu kaum disibukkan dengan ibadah dari ilmu, maka mereka terhenti dari sampai kepada hakikat-hakikat yang dicari. Diriwayatkan dari sebagian ulama terdahulu bahwa dia berkata kepada seorang laki-laki: “Wahai Abu Al-Walid! Jika kamu memang Abu Al-Walid!” Ia takut untuk mengkunyainya padahal tidak ada anak baginya! Seandainya orang ini mendalami ilmu, tentu ia akan mengetahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkunyai Shuhaib dengan Abu Yahya, dan mengkunyai seorang anak kecil dengan berkata: “Wahai Abu Umair! Apa yang dilakukan An-Nughair?”

213- Berkata sebagian orang yang berzuhud: “Suatu hari dikatakan kepadaku: ‘Minumlah susu ini!’ Maka aku berkata: ‘Ini membahayakanku.’ Kemudian setelah beberapa waktu aku berdiri di dekat Ka’bah, lalu aku berkata: ‘Ya Allah! Sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak menyekutukan-Mu sekejap mata.’ Maka berseru kepadaku seorang penyeru: ‘Dan tidak juga pada hari susu itu?!'”

Dan ini jika benar, boleh jadi merupakan pendidikan baginya agar tidak berhenti pada sebab-sebab dengan melupakan Yang Menyebabkan. Jika tidak, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Makanan Khaibar tidak berhenti menyerangku hingga sekarang memotong pembuluh darahku,” dan bersabda: “Tidak ada harta yang bermanfaat bagiku seperti harta Abu Bakar.”

214- Di antara orang-orang yang berzuhud ada yang memandang tawakal adalah memutuskan semua sebab, dan ini adalah kebodohan dalam ilmu. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: masuk gua, bermusyawarah dengan dokter, memakai baju besi, menggali parit, masuk Makkah dalam perlindungan Muth’im bin Adi yang kafir, dan berkata kepada Sa’d: “Sungguh jika kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya lebih baik bagimu daripada meninggalkan mereka dalam keadaan miskin meminta-minta kepada manusia.”

Maka berhenti pada sebab-sebab dengan melupakan Yang Menyebabkan adalah salah, dan bekerja dengan sebab-sebab dengan bergantung hati kepada Yang Menyebabkan itulah yang disyariatkan. Dan semua kegelapan ini hanyalah dapat dipotong dengan pelita ilmu. Sungguh sesat orang yang berjalan dalam kegelapan kebodohan atau di lorong hawa nafsu.

Pasal 42: Kemuliaan Manusia

215- Aku tidak berhenti heran kepada orang yang melihat keutamaan malaikat atas para nabi dan wali! Jika keutamaan itu dengan bentuk rupa, maka bentuk rupa Adam lebih menakjubkan daripada yang bersayap. Dan jika bentuk rupa Adam ditinggalkan karena kotoran-kotoran yang melekat padanya, maka bentuk rupa bukanlah Adam, ia hanyalah wadah! Kemudian telah dianggap baik darinya apa yang biasanya dipandang buruk, seperti: bau mulut orang yang berpuasa, darah para syuhada, dan tidur dalam shalat. Maka tinggallah bentuk rupa yang makmur, dan hukum menjadi untuk makna. Apakah mereka memiliki kedudukan yang dicintai atau keutamaan yang dibanggakan?!

Bagaimanapun keadaannya, sungguh mereka telah sujud kepada kita, dan ini jelas dalam mengutamakan kita atas mereka.

216- Jika keutamaan itu dengan ilmu, maka telah diketahui kisah pada hari: “Tidak ada pengetahuan bagi kami” (Al-Baqarah: 32), “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka” (Al-Baqarah: 33). Dan jika malaikat diutamakan dengan substansi diri mereka, maka substansi ruh-ruh kita dari jenis itu, dan kami memikul beban-beban berat jasad.

Demi Allah, seandainya tidak ada kebutuhan penunggang kepada unta, maka ia akan berhenti untuk mencari makanannya, dan berlaku lemah lembut dalam perjalanan dengannya, untuk menempuh tanah Mina sebelum sepuluh hari.

217- Sungguh menakjubkan! Apakah malaikat diutamakan dengan banyaknya ibadah?! Maka tidak ada pendakian di sana. Atau heran kepada air jika mengalir, atau kepada yang menurun yang bergerak cepat?! Sesungguhnya yang menakjubkan adalah pendaki yang membelah jalan dan melawan rintangan!

218- Ya, mungkin terbayangkan dari mereka perselisihan dan klaim ketuhanan karena kemampuan mereka menghancurkan batu-batu dan membelah bumi. Karena itu mereka diancam: “Dan barangsiapa di antara mereka yang berkata: ‘Sesungguhnya aku adalah tuhan selain-Nya,’ maka yang demikian itu Kami beri balasan dengan neraka Jahannam” (Al-Anbiya: 29). Tetapi mereka mengetahui hukuman Yang Haq maka mereka berhati-hati darinya.

219- Adapun jauhnya kita dari pengetahuan yang hakiki, lemahnya keyakinan kita kepada Yang Melarang, dan kuatnya syahwat kita dengan kelengahan, maka membutuhkan jihad yang lebih besar dari jihad mereka.

Demi Allah, seandainya salah seorang dari malaikat yang muqarrab diuji dengan apa yang kami diuji dengannya, ia tidak akan mampu bertahan. Salah seorang dari kami bangun pagi, dan khitab syariat berkata kepadanya: “Carilah nafkah untuk keluargamu, dan berhati-hatilah dalam mencarinya!” Padahal telah menguasainya apa yang bukan dari perbuatannya, seperti cinta kepada keluarga, dan tertariknya anak ke dalam sanubari, serta kebutuhan badannya kepada apa yang tidak dapat dihindari.

Terkadang dikatakan kepada Khalilullah ‘alaihis salam: “Sembelihlah anakmu dengan tanganmu! Dan potonglah buah hatimu dengan telapak tanganmu! Kemudian berdirilah menuju manjaniq untuk dilemparkan ke dalam api!” Dan terkadang dikatakan kepada Musa ‘alaihis salam: “Berpuasalah sebulan; malam dan siang.”

Kemudian dikatakan kepada yang marah: “Tahanlah!” Dan kepada yang melihat: “Pejamkanlah!” Dan kepada yang berkata: “Diamlah!” Dan kepada yang menikmati tidur: “Tahajudlah!” Dan kepada yang mati kekasihnya: “Bersabarlah!” Dan kepada yang terkena musibah pada badannya: “Bersyukurlah!” Dan kepada yang berdiri dalam jihad antara dua pihak: “Tidak halal bagimu lari!”

Kemudian ketahuilah bahwa kematian datang dengan kepahitan yang paling sulit, maka ia mencabut ruh dari badan. Jika telah turun, maka tegarlah! Dan ketahuilah bahwa kamu dicabik-cabik di kubur, maka janganlah tidak ridha, karena itu termasuk yang berjalan dengan takdir! Dan jika kamu terkena penyakit, maka janganlah mengadu kepada makhluk!

Apakah malaikat memiliki sesuatu dari hal-hal ini?! Dan adakah di sana kecuali ibadah yang sederhana: tidak ada di dalamnya perlawanan terhadap tabiat dan tidak ada penolakan hawa nafsu?! Dan tidakkah itu hanyalah ibadah bentuk antara rukuk, sujud, dan tasbih?! Maka di mana ibadah mereka yang maknawi dibandingkan ibadah kita?!

220- Kemudian kebanyakan mereka dalam pelayanan kepada kita, antara yang mencatat atas kita, yang membela kita, yang ditugaskan untuk mengirim angin dan hujan, dan kebanyakan tugas mereka adalah memohonkan ampun untuk kita. Maka bagaimana mereka diutamakan atas kita tanpa sebab yang jelas?!

221- Adapun ketika dihakimi pada batu ujian percobaan, segolongan dari mereka -seperti yang diriwayatkan tentang Harut dan Marut-, mereka keluar lebih buruk dari yang palsu.

222- Dan janganlah kamu menyangka bahwa aku meyakini dalam ibadah malaikat ada jenis kekurangan, karena mereka sangat khawatir dan takut, karena pengetahuan mereka tentang keagungan Khalik. Tetapi ketenangan orang yang tidak pernah salah menguatkan jiwanya, dan kegoncangan orang yang tenggelam dalam kesalahan mengangkat ruhnya kepada ketinggian.

223- Maka ketahuilah -saudara-saudaraku- kemuliaan kedudukan kalian, dan jagalah permata-permata kalian dari dinodai oleh kehinaan dosa-dosa. Karena kalian adalah tempat menampakkan keutamaan atas malaikat, maka berhati-hatilah jangan sampai dosa-dosa merendahkan kalian ke lembah binatang! Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Pasal 43: Jika Sebagian Makhluk Tidak Diketahui Kecuali Secara Global, Maka Khalik Lebih Mulia dan Lebih Tinggi

224- Aku melihat banyak dari makhluk dan sekelompok dari ulama tidak berhenti dari penelitian tentang pokok-pokok hal-hal yang mereka diperintahkan untuk mengetahui secara globalnya tanpa penelitian tentang hakikat-hakikatnya! Seperti ruh misalnya, maka Allah Ta’ala menyembunyikannya dengan firman-Nya: “Katakanlah: ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku'” (Al-Isra: 85). Maka mereka tidak puas, dan mulai meneliti tentang hakikatnya, dan mereka tidak memperoleh sesuatu, dan tidak tetap bagi salah seorang dari mereka bukti atas apa yang diklaim! Demikian juga akal, karena ia ada tanpa ragu, sebagaimana ruh ada tanpa ragu. Keduanya dikenal dengan pengaruh-pengaruhnya, bukan dengan hakikat dirinya.

225- Jika ada yang bertanya: “Apa rahasia penyembunyian hal-hal ini?” Aku katakan: Karena jiwa senantiasa naik dari keadaan ke keadaan, maka seandainya ia mengetahui hal-hal ini, ia akan naik kepada Khaliknya. Maka penyembunyian apa yang di bawah-Nya adalah penambahan dalam mengagungkan-Nya, karena jika sebagian makhluk-Nya diketahui secara global, maka Dia lebih mulia dan lebih tinggi.

226- Dan seandainya ada yang bertanya: “Apa itu petir? Apa itu kilat? Apa itu gempa bumi?” Kami katakan: Sesuatu yang menggemparkan, dan itu cukup. Dan rahasia penyembunyian ini adalah: seandainya hakikat-hakikatnya disingkap, maka ringan kadar pengagungannya.

Dan barangsiapa yang memperhatikan pasal ini, ia akan mengetahui bahwa ini adalah pasal yang mulia.

227- Jika hal ini telah terbukti dalam makhluk-makhluk, maka Khalik lebih mulia dan lebih tinggi. Maka sepatutnya diberhentikan dalam menetapkan-Nya pada dalil wujud-Nya, kemudian diambil dalil tentang bolehnya Dia mengutus rasul-rasul-Nya, kemudian diterima sifat-sifat-Nya dari kitab-kitab dan rasul-rasul-Nya, dan tidak ditambah atas itu.

Sungguh telah meneliti banyak makhluk dari sifat-sifat-Nya dengan pendapat-pendapat mereka, maka kembali keburukan itu kepada mereka.

228- Dan jika kami katakan: Bahwa Dia ada, dan kami mengetahui dari kalam-Nya bahwa Dia Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Hidup, Maha Kuasa… maka itu cukup bagi kami dalam sifat-sifat-Nya, dan kami tidak mendalami sesuatu yang lain. Demikian juga kami katakan: Maha Berbicara, dan Al-Qur’an adalah kalam-Nya, dan kami tidak memaksakan diri pada apa yang melebihi itu. Dan tidak berkata salaf: tilawah dan matlu, qira’ah dan maqru. Dan mereka tidak berkata: bersemayam di atas Arasy dengan dzat-Nya. Dan tidak berkata: turun dengan dzat-Nya… bahkan mereka melepaskan apa yang datang tanpa penambahan. Dan kami tidak mengatakan untuk apa yang tetap dengan dalil apa yang tidak boleh atas-Nya. Dan ini adalah kata-kata seperti contoh, maka qiyaskan padanya semua sifat, kamu akan beruntung selamat dari ta’thil, terlepas dari tasybih.

Pasal 44: Sesungguhnya Kehidupan Hanya Baik dengan Perbedaan antara Hamba-hamba

229- Aku melihat kebanyakan makhluk dalam wujud mereka seperti yang tidak ada. Di antara mereka ada yang tidak mengenal Khalik. Di antara mereka ada yang menetapkan-Nya menurut tuntutan inderanya. Di antara mereka ada yang tidak memahami maksud dari taklif.

230- Dan kamu melihat orang-orang yang berkedok zuhud bersungguh-sungguh dalam berdiri dan duduk, meninggalkan syahwat-syahwat, dan melupakan apa yang telah mereka lupakan dari syahwat kemasyhuran dan mencium tangan! Seandainya salah seorang dari mereka diajak bicara, ia berkata: “Kepada orang sepertiku dikatakan ini?! Dan siapa si fulan yang fasik itu?!” Maka mereka ini tidak memahami maksudnya. Demikian juga banyak dari ulama dalam meremehkan selain mereka dan sombong dalam jiwa mereka. Maka aku heran, bagaimana mereka ini layak untuk bertetangga dengan Yang Haq dan menghuni surga?!

231- Maka aku melihat bahwa faedah keberadaan mereka di dunia serupa dengan faedah masuk mereka ke surga. Karena mereka di dunia antara yang diambil pelajaran darinya, orang yang mengenal Allah subhanahu mengetahui nikmat Allah atasnya dengan apa yang telah dibukakan kepadanya dari apa yang ditutupi dari yang itu. Dan sempurna sistem dengan mengikuti bentuk-bentuk mereka, atau pengikut yang dengan dia sempurna kemakmuran dan tegak dengannya penghidupan. Dan sesungguhnya kehidupan hanya baik dengan perbedaan yang jauh ini.

232- Kemudian di antara golongan khusus ada perbedaan-perbedaan: Karena orang yang mengenal tidak lapang waktunya untuk bergaul dengan orang yang berhenti pada bentuk. Maka zahid seperti penggembala kambing, dan alim seperti pendidik anak-anak, dan arif seperti yang mengajarkan hikmah. Dan seandainya tidak ada penjaga istana dan penjaganya dan penyalanya, tidak sempurna kehidupannya.

233- Maka dari kesempurnaan kehidupan orang arif adalah menggunakan mereka menurut kedudukan mereka. Maka jika mereka sampai kepadanya, ia membebaskan apa yang bersama mereka. Dan di antara mereka ada yang tidak sampai kepadanya, maka keberadaan mereka seperti penambahan “la” dalam kalimat, ia hanya tambahan, dan ia penguat.

234- Jika ada yang bertanya: “Andaikata ini benar di dunia, bagaimana di surga?!” Maka jawabannya: Bahwa bersahabat dengan tetangga itu diinginkan, dan melihat yang kurang adalah dari kesempurnaan kenikmatan yang sempurna. Dan untuk setiap orang ada minuman. Dan barangsiapa yang merenungkan apa yang aku isyaratkan, cukup baginya isyarat lafazku dari memperpanjang penjelasan.

Bagian 45: Hikmah Allah dalam Tumbuhan

235- Ketika aku memperhatikan pengaturan Sang Pencipta dalam mengalirkan rezkiku, dengan menundukkan awan, menurunkan hujan dengan lembut, dan benih yang terkubur di bawah tanah bagaikan orang mati yang telah membusuk menunggu tiupan dari sangkakala kehidupan, maka ketika air menyentuhnya, ia bergetar menghijau. Dan ketika air terputus darinya, ia mengulurkan tangan meminta dan memohon, menundukkan kepala dengan khusyuk, dan mengenakan jubah perubahan. Maka ia membutuhkan apa yang aku butuhkan dari kehangatan matahari, kesejukan air, lembutnya angin, dan pemeliharaan bumi! Maha Suci Allah yang telah menunjukkan kepadaku – melalui apa yang memeliharaku – bagaimana pemeliharaanku pada dasarnya.

236- Wahai jiwa yang telah mengetahui sebagian hikmah-Nya! Sungguh buruk bagimu – demi Allah – berpaling kepada selain-Nya, kemudian mengherankan! Bagaimana engkau berpaling kepada orang fakir seperti dirimu, yang lisan keadaannya berkata kepadaku: “Padaku ada seperti apa yang ada padamu wahai merpati.” Maka kembalilah kepada Asal yang pertama, dan mintalah kepada Yang Menyebabkan segala sebab. Berbahagialah bagimu jika engkau mengenal-Nya! Karena mengenal-Nya adalah kerajaan dunia dan akhirat.

Bagian 46: Berhati-hatilah dari Kemudahan yang Tidak Aman dari Kerusakan

237- Pada awal masa muda, aku telah diilhami untuk menempuh jalan para zahid dengan melanggengkan puasa dan shalat, dan aku disenangi dengan khalwat (menyendiri). Aku mendapati hati yang baik, dan mata batin yang tajam penglihatannya, yang menyesal pada setiap saat yang berlalu tanpa ketaatan, dan bergegas memanfaatkan waktu untuk meraih ketaatan. Aku memiliki keakraban dan kelezatan bermunajat. Kemudian sampailah pada suatu keadaan di mana sebagian penguasa mulai menyukai perkataanku, lalu mereka menarikku kepada mereka, maka condong pula tabiatku, dan aku kehilangan kelezatan itu. Kemudian yang lain menarikku, dan aku berhati-hati dari pergaulan dan makan bersamanya karena takut syubhat, dan keadaanku masih dekat. Kemudian datanglah ta’wil (interpretasi), maka aku bersikap longgar dalam hal-hal yang dibolehkan, lalu hilanglah apa yang aku rasakan berupa penerangan dan ketenangan. Pergaulan itu menimbulkan kegelapan dalam hati, hingga cahaya hilang seluruhnya. Kerinduanku pada apa yang hilang dariku menyebabkan kegelisahan orang-orang dalam majlis, sehingga mereka bertaubat dan memperbaiki diri, sementara aku keluar dalam keadaan bangkrut dalam hubungan antara diriku dan keadaanku!

238- Banyaklah keluhanku tentang penyakitku, dan aku tidak mampu mencari diriku sendiri, maka aku berlindung kepada penerimaan orang-orang shalih dan memohon perantaraan untuk kebaikanku. Maka kebaikan Tuhanku menarikku kepada khalwat meskipun aku tidak suka, dan mengembalikan hatiku meskipun aku menolak, dan menunjukkan kepadaku aib apa yang aku utamakan. Maka aku tersadar dari penyakit kelallaianku, dan berkata dalam munajat khalwatku:

“Tuhanku, bagaimana aku mampu bersyukur kepada-Mu? Dan dengan lisan apa aku berucap memuji-Mu, ketika Engkau tidak menyiksaku karena kelallaianku, dan membangunkanku dari tidurku, dan memperbaiki keadaanku meskipun tabiatku menolak?!

Betapa beruntungnya aku dalam apa yang diambil dariku jika buahnya adalah berlindung kepada-Mu! Betapa banyaknya kekayaanku ketika buahnya adalah menghadap kepada khalwat bersama-Mu! Betapa kayanya aku ketika Engkau memiskinkanku kepada-Mu! Betapa senangnya aku ketika Engkau membuatku sepi dari makhluk-Mu!

Aduh, waktu yang hilang bukan dalam pelayanan kepada-Mu! Menyesal pada masa yang berlalu bukan dalam ketaatan kepada-Mu.

239- Dahulu ketika aku bangun di waktu fajar, tidurku sepanjang malam tidak membuatku sakit, dan ketika siang hari berlalu, tidak membuatku sedih karena sia-sianya hari itu. Aku tidak tahu bahwa tidak merasakan itu karena kuatnya penyakit. Sekarang telah berhembus angin kesembuhan, maka aku merasakan sakit, lalu aku mengetahui adanya kesehatan. Wahai Yang Maha Pemberi Nikmat! Sempurnakanlah untukku kesembuhan.

240- Aduh, dari kemabukan yang tidak mengetahui kadar kemelaratan kecuali di waktu sadar! Sungguh aku telah merobek apa yang sulit untuk ditambal, betapa menyesalnya pada barang dagangan yang hilang, dan pada nahkoda yang lelah dalam gelombang angin utara naik turun dalam waktu lama, kemudian dikalahkan oleh kantuk, lalu kembali ke tempat semula.

241- Wahai yang membaca peringatanku dari kekacauan! Sesungguhnya aku – meski telah mengkhianati diriku dengan perbuatan – adalah penasehat bagi saudara-saudaraku dengan perkataan:

Berhati-hatilah – wahai saudara-saudaraku – dari kemudahan dalam hal yang tidak aman dari kerusakannya; karena setan menghiasi yang halal di tingkat pertama, kemudian menyeret kepada dosa, maka perhatikanlah akibatnya, dan pahamilah keadaannya! Kadang-kadang ia menunjukkan kepadamu tujuan yang baik, padahal dalam jalan menujunya ada pelanggaran!

Cukuplah pelajaran dalam keadaan itu dari bapakmu: “Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa?” (Surat Thaha: 120). Adam hanya memperhatikan tujuan – yaitu keabadian – tetapi ia salah dalam jalannya.

242- Dan inilah jebakan Iblis yang paling menakjubkan yang digunakan untuk menangkap para ulama, mereka menta’wil untuk akibat kemaslahatan, maka mereka mempercepat bahaya kerusakan!!

Contohnya: ia berkata kepada ulama: Masuklah kepada penguasa yang zalim ini, lalu berikan syafaat untuk orang yang terzalimi! Maka orang yang masuk itu mempercepat melihat kemungkaran, dan agamanya goyah, dan mungkin jatuh dalam jerat sehingga menjadi lebih zalim dari penguasa yang zalim itu. Barang siapa tidak percaya pada agamanya, hendaklah berhati-hati dari jebakan-jebakan, karena ia tersembunyi.

243- Yang paling selamat bagi orang penakut adalah menyendiri, khususnya di zaman ketika kebaikan telah mati, dan kemungkaran hidup, dan tidak tersisa lagi pengaruh bagi ahli ilmu di sisi para penguasa. Barang siapa bergaul dengan mereka, masuk bersama mereka dalam apa yang tidak boleh, dan tidak mampu menarik mereka dari apa yang mereka lakukan.

244- Kemudian barang siapa memperhatikan keadaan ulama yang bekerja untuk mereka dalam pemerintahan, akan melihat mereka terlepas dari manfaat ilmu, telah menjadi seperti polisi. Maka tidak ada jalan kecuali menyendiri dari makhluk, dan berpaling dari setiap ta’wil yang rusak dalam pergaulan; dan karena aku bermanfaat untuk diriku sendiri lebih baik bagiku daripada aku bermanfaat untuk orang lain tetapi aku dirugikan.

245- Maka berhati-hatilah dari tipu daya ta’wil, dan rusaknya fatwa! Dan bersabarlah atas apa yang diwajibkan oleh kesendirian! Karena jika engkau menyendiri dengan Tuhanmu, Ia akan membukakan untukmu pintu mengenal-Nya, maka mudahlah setiap yang sulit, dan sedaplah setiap yang pahit, dan mudahlah setiap yang sukar, dan tercapailah setiap yang dicari. Allah-lah Yang Memberi Taufik dengan karunia-Nya, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya.

Bagian 47: Sesungguhnya Allah Tidak Dapat Ditipu

246- Aku memperhatikan dalam diriku sebuah ta’wil dalam perkara halal yang dengannya aku memperoleh sesuatu dari dunia; kecuali bahwa dalam hal wara’ ia keruh. Maka aku melihat pertama-tama ia telah memerah susu agama, lalu hilanglah kelezatan bermuamalah dengan Allah Ta’ala, kemudian kembali mengkerutkan ambing perahanku untuknya, maka terjadilah kehilangan pada kedua keadaan.

Maka aku berkata kepada diriku: Tidaklah perumpamaanmu kecuali seperti penguasa yang zalim, mengumpulkan harta bukan dari jalan yang halal, lalu disita, maka diambil darinya apa yang dikumpulkan, dan dibebankan apa yang tidak dikumpulkan.

Maka berhati-hatilah dari rusaknya ta’wil, karena Allah Ta’ala tidak dapat ditipu, dan tidak dapat diraih apa yang ada di sisi-Nya dengan bermaksiat kepada-Nya.

Bagian 48: Memperbaiki Badan adalah Sebab untuk Memperbaiki Agama

247- Aku melihat diriku setiap kali pemikirannya jernih, atau mengambil pelajaran dari yang berlalu, atau mengunjungi makam orang-orang shalih, bergeraklah semangatnya dalam mencari kesendirian, dan menghadap kepada bermuamalah dengan Allah Ta’ala.

Maka aku berkata kepadanya suatu hari ketika ia berbicara kepadaku tentang hal itu: Ceritakanlah kepadaku, apa maksudmu?! Dan apa akhir yang kau cari?! Apakah engkau menginginkan dariku agar aku tinggal di padang tandus yang tidak ada teman di dalamnya, sehingga terlewatkan dariku shalat berjamaah, dan hilang dariku apa yang telah aku pelajari karena tidak ada yang aku ajari, dan agar aku makan makanan kasar yang tidak aku biasakan, sehingga terjadi kekurusan tubuhku dalam dua hari, dan agar aku mengenakan pakaian kasar yang tidak aku tahan, sehingga aku tidak tahu dari kesedihan bebanku siapa aku, dan agar aku sibuk dari mencari keturunan yang beribadah setelahku, dengan masih adanya kemampuan untuk mencari?! Demi Allah, tidak bermanfaat bagiku ilmu yang telah aku habiskan umurku untuknya jika aku menyetujuimu!

248- Dan aku mengetahui kesalahan yang terjadi padamu dengan ilmu: Ketahuilah bahwa badan adalah tunggangan, dan tunggangan jika tidak diperlakukan dengan lembut, tidak akan sampai dengan penunggangnya ke tempat tujuan. Bukan maksudku dengan kelembutan adalah memperbanyak syahwat, tetapi yang aku maksud adalah mengambil bekal yang baik untuk badan, maka pada saat itu jernilah pikiran, sehatlah akal, dan kuatlah ingatan.

Tidakkah engkau melihat pengaruh penghalang-penghalang dari jernih pikiran dalam sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Janganlah hakim memutuskan antara dua orang dalam keadaan marah”, dan para ulama mengqiyaskan pada itu lapar, dan apa yang sejalan dengannya dari keadaan menahan kencing atau buang air besar?! Dan apakah tabiat itu kecuali seperti anjing yang mengganggu orang yang makan, maka jika dilemparkan kepadanya sesuatu yang membuatnya sibuk, enakiah makannya?!

249- Adapun menyendiri dan mengasingkan diri, maka dari kejahatan bukan dari kebaikan, dan seandainya di dalamnya ada untukmu dampak kebaikan, niscaya hal itu dinukil dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dari para sahabatnya Radhiyallahu ‘anhum.

250- Jauh sekali! Sungguh aku telah mengetahui bahwa ada kaum yang berkepanjangan dengan mereka mengurangi makan dan kekeringan hingga berubah pikiran mereka, dan kuatlah cairan hitam (melankolis) atas mereka, sehingga mereka merasa asing dari manusia! Dan di antara mereka ada yang berkumpul untuknya dari makanan-makanan buruk cairan-cairan yang menjijikkan, sehingga ia tinggal sehari dua hari dan tiga hari tidak makan, dan ia mengira itu dari bantuan kebaikan, padahal itu dari buruknya pencernaan!

Dan ada di antara mereka yang naik dengan cairan itu hingga melihat bayangan-bayangan, lalu ia mengira itu malaikat!!

251- Maka demi Allah dalam ilmu! Demi Allah dalam akal! Karena cahaya akal tidak layak dihadapkan pada pemadamannya, dan ilmu tidak boleh condong pada pengurangannya. Jika keduanya dijaga, keduanya menjaga kewajiban-kewajiban zaman, dan menolak apa yang menyakiti, dan mendatangkan apa yang memperbaiki, dan menjadi lurus aturan-aturan dalam makanan, minuman, dan pergaulan.

252- Maka jiwa berkata kepadaku: Tentukanlah untukku sebuah kewajiban, dan anggaplah aku orang sakit yang telah ditulis untuknya resep minuman. Maka aku berkata kepadanya: Sungguh aku telah menunjukkanmu pada ilmu, dan ia adalah dokter yang melekat, meresepkan setiap saat untuk setiap penyakit yang muncul obat yang cocok.

253- Dan secara umum: Engkau harus melazimi takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam perkataan, pandangan, dan seluruh anggota badan, dan meyakini halal dalam makanan, dan menyimpan setiap saat apa yang baik untuknya dari kebaikan, dan merebut waktu dalam yang paling utama, dan menjauhi apa yang mengarah pada apa yang mengarah pada berkurangnya keuntungan, atau terjadinya kerugian! Dan jangan beramal kecuali setelah mendahulukan niat.

Dan bersiap-siaplah untuk yang mengguncang yaitu kematian, seolah-olah telah, dan apa yang ada padamu dari kedatangannya di waktu mana pun! Yang benar, bukan menurut hawa nafsu, karena memperbaiki badan adalah sebab untuk memperbaiki agama!

Dan tinggalkanlah kecerobohan yang ditunjukkan oleh kebodohan bukan ilmu, dari perkataan jiwa: Si fulan makan cuka dan sayuran! Dan si fulan tidak tidur malam!

Maka pikiullah apa yang engkau mampu dan apa yang telah engkau ketahui kekuatan badan atasnya, karena binatang jika mendekati sungai atau saluran air, lalu dipukul untuk melompat, ia tidak melakukan hingga menimbang dirinya. Jika ia mengetahui dalam dirinya kekuatan melompat; ia melompat, dan jika ia mengetahui bahwa ia tidak mampu, ia tidak melakukan, meski dibunuh.

Dan tidak semua badan sama dalam kemampuan, dan sungguh ada kaum yang memikul dari perjuangan-perjuangan di permulaan mereka hal-hal yang menyebabkan penyakit yang memutus mereka dari kebaikan, dan hati mereka murka karena terjadinya. Maka atas engkau dengan ilmu, karena ia adalah obat dari setiap penyakit, dan Allah-lah Yang Memberi Taufik.

Bagian 49: Masalah Sifat-sifat

255- Aku heran terhadap kaum yang mengaku berilmu, dan condong kepada penyerupaan, dengan membawa hadits-hadits pada zhahirnya. Seandainya mereka mengalirkan apa yang datang sebagaimana datang, niscaya selamat; karena barang siapa mengalirkan apa yang datang, dan berlalu tanpa bantahan dan tanpa menghadang, maka ia tidak berkata apa-apa, tidak untuknya dan tidak melawannya.

256- Tetapi ada kaum yang pendek ilmu mereka; maka mereka melihat bahwa membawa kalam pada selain zhahirnya adalah sejenis ta’thil (pengosongan sifat), dan seandainya mereka memahami luasnya bahasa, niscaya mereka tidak mengira demikian. Mereka tidak lain kecuali seperti perkataan Hajjaj kepada penulisnya ketika Khansa memujinya lalu berkata:

“Jika Hajjaj turun ke negeri yang sakit … Ia mengikuti penyakit terjauhnya lalu menyembuhkannya Menyembuhkannya dari penyakit yang sulit yang ada padanya … Seorang pemuda jika menggerakkan tombak menyembuhkannya”

Ketika ia menyelesaikan qasidah, ia berkata kepada penulisnya: Potong lidahnya! Maka datanglah penulis yang bodoh itu dengan pisau, lalu Khansa berkata kepadanya: Celakalah engkau! Sesungguhnya ia berkata: Berilah untuknya pemberian yang banyak. Kemudian ia pergi kepada Hajjaj, lalu berkata: Hampir saja demi Allah ia memotong lidahku.

257- Demikianlah kaum Zhahiriyyah yang tidak selamat dengan penyerahan, karena barang siapa membaca ayat-ayat dan hadits-hadits dan tidak menambah, aku tidak mencela, dan ini adalah jalan Salaf. Adapun yang berkata: Hadits menghendaki begini, dan dibawa pada begini, seperti yang berkata: Istawa di atas Arsy dengan dzat-Nya, dan turun ke langit dunia dengan dzat-Nya, maka ini adalah tambahan yang dipahami oleh yang mengatakannya dari indera bukan dari nukilan.

258- Dan sungguh aku heran terhadap seorang laki-laki Andalusi yang disebut: Ibnu Abdul Barr, ia mengarang kitab At-Tamhid, lalu menyebutkan di dalamnya hadits turun ke langit dunia, lalu berkata: Ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala di atas Arsy; karena seandainya tidak demikian, niscaya tidak ada makna bagi firman-Nya: turun. Dan ini adalah perkataan orang yang bodoh dalam ma’rifat Allah ‘Azza wa Jalla; karena ini mengambil dari inderanya apa yang diketahuinya dari turunnya benda-benda, lalu mengqiyaskan sifat Yang Haq padanya. Maka di manakah mereka ini dan mengikuti atsar?! Sungguh mereka telah berkata dengan perkataan yang paling buruk yang dikatakan oleh para muta’awwil, kemudian mencela para mutakallimin.

259- Dan ketahuilah wahai pencari petunjuk bahwa sesungguhnya telah mendahului kepada kita dari akal dan nukilan dua dasar yang kokoh, yang padanya bertumpu perkara hadits-hadits semuanya:

Adapun nukilan; maka firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala: “Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya” (Surat Asy-Syura: 11), dan barang siapa memahami ini, tidak membawa sifat bagi-Nya pada apa yang diwajibkan indera.

Dan adapun akal, maka sesungguhnya telah diketahui berlainannya Pencipta dengan makhluk-makhluk, dan beristidlal atas kebaruannya dengan perubahannya, dan masuknya pengaruh padanya, maka tetaplah baginya keqadiman Pencipta.

260- Dan betapa herannya semua keheranan dari penolak yang tidak memahami tabiat kalam! Bukankah dalam hadits yang shahih: “Sesungguhnya kematian disembelih antara surga dan neraka”?! Bukankah akal jika diminta fatwa dalam hal ini, mengalihkan perkara dari hakikatnya, karena apa yang tetap pada yang memahami hakikat kematian, lalu berkata: Kematian adalah keadaan yang mewajibkan batalnya kehidupan, maka bagaimana dimatikan kematian?! Jika dikatakan kepadanya: Maka apa yang engkau lakukan dengan hadits?! Ia berkata: Ini memberikan perumpamaan dengan mendirikan gambaran, agar diketahui dengan gambaran inderawi itu hilangnya makna tersebut.

Kami berkata kepadanya: Maka telah diriwayatkan dalam Shahih: “Datang surat Al-Baqarah dan Ali Imran seperti dua awan.”

Lalu ia berkata: Kalam tidak menjadi awan, dan tidak menyerupainya. Kami berkata kepadanya: Apakah engkau menggugurkan nukilan?! Ia berkata: Tidak, tetapi datang pahala keduanya. Kami berkata: Maka apa dalil yang mengalihkanmu dari hakikat-hakikat ini. Lalu ia berkata: Ilmuku bahwa kalam tidak menyerupai benda-benda, dan kematian tidak disembelih seperti menyembelih binatang ternak, “dan seandainya” mereka mengetahui luasnya bahasa Arab, niscaya tidak sempitlah kandang-kandang kalian dari mendengar seperti ini.

Maka para ulama berkata: Engkau benar, demikianlah engkau katakan dalam tafsir datangnya Al-Baqarah, dan dalam menyembelih kematian.

Lalu ia berkata: Betapa herannya kalian! Kalian mengalihkan dari kematian dan kalam apa yang tidak layak bagi keduanya dengan menjaga apa yang kalian ketahui dari hakikat keduanya, maka bagaimana kalian tidak mengalihkan dari Ilah Yang Qadim apa yang mewajibkan penyerupaan bagi-Nya dengan makhluk-Nya dengan apa yang telah ditunjukkan dalil atas mensucikan-Nya darinya?!

Maka ia tidak berhenti berdebat dengan lawan-lawan dengan dalil-dalil ini, dan berkata: Aku tidak memutuskan hingga aku memutuskan, maka ia tidak memutuskan hingga memutuskan.

Bagian 50: Kebaikan Allah Ta’ala kepada Hamba-hamba-Nya

261- Aku berfikir tentang rahasia yang mewajibkan penghapusan ayat rajam dari Al-Quran lafaznya dengan tetapnya hukumnya secara ijma’?! Maka aku dapati untuk itu dua makna:

Salah satunya: Kebaikan Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya dalam bahwa Ia tidak menghadapi mereka dengan kesulitan yang paling besar, bahkan menyebutkan cambuk, dan menutupi rajam.

Dan dari makna ini berkata sebagian ulama: Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman dalam hal-hal yang dibenci: “Diwajibkan atas kalian puasa” (Surat Al-Baqarah: 183), dengan lafaz yang tidak disebutkan pelakunya, meskipun telah diketahui bahwa Dialah yang mewajibkan. Maka ketika datang kepada apa yang mewajibkan kelapangan, Ia berfirman: “Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya rahmat” (Surat Al-An’am: 54).

Dan segi yang kedua: Bahwa Ia menunjukkan dengan itu keutamaan umat dalam memberikan jiwa dengan qana’ah (merasa cukup) dengan sebagian dalil, karena kesepakatan ketika terjadi pada hukum itu, adalah dalil; kecuali bahwa ia bukan seperti dalil yang dipotong dengan nashnya.

Dan dari jenis ini memulainya Khalil ‘alaihish shalatu was salam dalam menyembelih anaknya dengan mimpi, meskipun wahyu dalam terjaga lebih kuat.

Bab 51: Segala Urusan Bergantung pada Sebab-sebab

262- Pernah terjadi padaku suatu keadaan di mana aku berlindung dengan hatiku kepada Allah Ta’ala semata, dengan mengetahui bahwa tidak ada yang mampu mendatangkan manfaat bagiku dan menolak bahayaku selain Dia. Kemudian aku bangkit menggunakan sebab-sebab, lalu keyakinanku mengingkariku dan berkata: “Ini adalah meragukan tawakal!” Maka aku berkata: “Tidak demikian, karena Allah Ta’ala telah menetapkannya sebagai hikmah, dan makna keadaanku adalah: bahwa apa yang telah ditetapkan tidak bermanfaat, dan keberadaannya seperti ketiadaan!”

263- Sebab-sebab tetap ada dalam syariat, seperti firman Allah Ta’ala: “Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat untuk mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan hendaklah mereka mengambil senjata mereka” (QS. An-Nisa: 102). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Maka biarkanlah gandum itu dalam bulirnya” (QS. Yusuf: 47). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memakai dua baju besi sekaligus, dan bermusyawarah dengan dua orang dokter. Ketika beliau keluar ke Thaif, beliau tidak mampu masuk Makkah hingga mengirim utusan kepada Muth’im bin Adi dan berkata: “Aku masuk dalam perlindunganmu.” Padahal beliau bisa saja masuk dengan bertawakal tanpa sebab.

264- Apabila syariat menjadikan urusan-urusan bergantung pada sebab-sebab, maka berpaling dari sebab-sebab berarti menolak hikmah. Oleh karena itu, aku berpendapat bahwa berobat adalah disunahkan. Imam mazhab yang aku ikuti berpendapat bahwa meninggalkan pengobatan lebih utama, namun dalil mencegahku mengikutinya dalam hal ini. Karena dalam hadits shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah tidak menurunkan penyakit kecuali Dia menurunkan obatnya, maka berobatlah.” Kedudukan lafadz ini adalah perintah, dan perintah itu bisa wajib atau sunnah jika tidak didahului larangan. Jika didahului larangan, maka itu adalah perintah mubah. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Aku mempelajari pengobatan dari banyaknya penyakit Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang diresepkan untuknya.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu: “Makanlah ini, karena ini lebih cocok untukmu daripada itu.”

265- Orang yang berpendapat bahwa meninggalkan pengobatan lebih utama berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Akan masuk surga tujuh puluh ribu orang tanpa hisab,” kemudian beliau menggambarkan mereka: “Mereka tidak berbekam, tidak meminta ruqyah, tidak percaya pertanda buruk, dan kepada Tuhan mereka bertawakal.” Ini tidak bertentangan dengan pengobatan, karena ada kaum yang berbekam agar tidak sakit, dan meminta ruqyah agar tidak tertimpa musibah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membekam As’ad bin Zurarah dan memberi keringanan ruqyah dalam hadits shahih, maka kita tahu bahwa yang dimaksud adalah apa yang telah kita tunjukkan.

266- Apabila aku mengetahui perlunya mencairkan sifat alami, aku melihat bahwa makan buah belor adalah sesuatu yang dicegah oleh ilmuku, dan minum air asam jawa lebih cocok. Ini adalah pengobatan. Jika aku tidak minum yang cocok bagiku, kemudian berkata: “Ya Allah, sembuhkanlah aku!” maka hikmah berkata kepadaku: “Tidakkah kamu mendengar: ‘Ikatlah (untamu) dan bertawakallah’?! Minumlah! Dan katakan: Sembuhkanlah aku! Jangan seperti orang yang antara tanamannya dan sungai hanya satu genggam tanah, dia malas mengangkatnya dengan tangannya, kemudian berdiri melakukan shalat istisqa!”

267- Keadaan ini tidak lain seperti keadaan orang yang bepergian tanpa bekal. Dia bepergian tanpa bekal karena ingin menguji Tuhannya, apakah Dia akan memberinya rezeki atau tidak? Padahal perintah sudah datang kepadanya: “Dan berbekallah” (QS. Al-Baqarah: 197), lalu dia berkata: “Aku tidak akan berbekal!” Orang ini binasa sebelum dia dibinasakan. Seandainya datang waktu shalat dan dia tidak membawa air, dia akan dicela karena kelalaiannya dan dikatakan kepadanya: “Mengapa kamu tidak membawa air sebelum memasuki padang pasir!”

268- Maka hati-hatilah dari perbuatan kaum yang terlalu teliti sehingga keluar dari ketentuan agama, dan mengira bahwa kesempurnaan agama adalah dengan keluar dari tabiat dan menyelisihi ketentuan. Seandainya bukan karena kekuatan ilmu dan kedalaman di dalamnya, niscaya aku tidak mampu menjelaskan dan mengetahui hal ini. Pahamilah apa yang aku tunjukkan, karena itu lebih bermanfaat bagimu daripada lembaran-lembaran yang kamu dengar. Bersamalah dengan ahli makna, bukan dengan ahli hafalan semata.

Bab 52: Perintah kepada Mukmin untuk Bersuci

269- Aku melihat pada akhlak banyak orang pengabaian terhadap badan mereka. Di antara mereka ada yang tidak membersihkan mulutnya dengan tusuk gigi setelah makan, ada yang tidak membersihkan tangannya saat mencuci dari lemak, ada yang hampir tidak bersiwak, ada yang tidak berkohl, ada yang tidak memperhatikan ketiak, dan sebagainya. Pengabaian ini berdampak pada kerusakan agama dan dunia.

270- Adapun agama, maka sesungguhnya Allah memerintahkan mukmin untuk bersuci dan mandi untuk shalat Jumat karena berkumpul dengan orang-orang, melarang masuk masjid setelah makan bawang putih, memerintahkan syariat untuk membersihkan sela-sela jari, memotong kuku, bersiwak, mencukur bulu kemaluan, dan adab-adab lainnya. Jika ini diabaikan, maka dia meninggalkan sunnah syariat, dan mungkin sebagian dari itu berdampak pada rusaknya ibadah, seperti mengabaikan kuku sehingga terkumpul kotoran di bawahnya yang menghalangi air dalam wudhu.

271- Adapun dunia, aku melihat sekelompok orang yang mengabaikan diri mereka mendekati untuk berbisik, dan kelengahan yang menyebabkan mereka mengabaikan diri juga menyebabkan mereka tidak tahu tentang gangguan yang timbul dari mereka. Ketika mereka mulai berbisik rahasia, aku tidak bisa berpaling dari mereka karena mereka bermaksud berrahasia, maka aku mengalami kesulitan dari bau mulut mereka. Mungkin kebanyakan mereka sejak bangun tidur tidak pernah mengusap giginya dengan jari!

Kemudian hal seperti ini menyebabkan istri menjauh, dan mungkin dia tidak suka menyebutkan hal itu kepada suami, sehingga menghasilkan berpaling darinya. Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Aku suka berhias untuk istri sebagaimana aku suka dia berhias untukku.”

272- Di antara manusia ada yang berkata: “Ini adalah pura-pura!” Ini tidak benar, karena Allah Ta’ala menghiasi kita ketika menciptakan kita, karena mata memiliki bagian dalam melihat. Barangsiapa merenungkan bulu mata dan alis serta keindahan susunan penciptaan, dia tahu bahwa Allah menghiasi manusia.

273- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling bersih dan paling wangi. Dalam hadits dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan bahwa beliau mengangkat tangannya hingga terlihat putihnya ketiak. Betisnya jika terbuka seperti pelepah kurma. Beliau tidak pernah meninggalkan siwak, dan tidak suka jika tercium darinya bau yang tidak harum. Dalam hadits Anas yang shahih: “Allah tidak mencela beliau dengan putih sedikitpun.”

Para bijak berkata: “Barangsiapa membersihkan pakaiannya, berkurang kegelisahannya. Barangsiapa harum baunya, bertambah akalnya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para sahabatnya: “Mengapa kalian masuk menemuiku dengan gigi kotor?! Bersiwak lah!” Shalat dengan siwak lebih utama daripada shalat tanpa siwak.

274- Orang yang bersuci memanjakan dirinya dan mengangkat kekotorannya. Para bijak berkata: “Barangsiapa panjang kukunya, pendek tangannya.”

275- Kemudian dia mendekatkan diri kepada hati makhluk, dan jiwa-jiwa mencintainya karena kebersihan dan keharumannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suka wangi-wangian.

276- Kemudian dia menyenangkan istri dengan keadaan tersebut, karena wanita adalah saudara laki-laki. Sebagaimana dia membenci sesuatu dari istri, begitu juga istri membencinya. Mungkin dia sabar terhadap yang dibenci, sedangkan istri tidak sabar.

277- Aku melihat sekelompok orang yang mengaku zuhud, padahal mereka termasuk orang paling kotor, karena ilmu tidak meluruskan mereka.

278- Adapun yang diriwayatkan tentang Dawud Ath-Thai bahwa dikatakan kepadanya: “Mengapa tidak menyisir janggutmu?” Dia menjawab: “Aku sibuk darinya.” Ini adalah ucapan yang berdalih untuk tidak mengamalkan sunnah dan memberitahu tentang ketidakhadirannya dari dirinya karena dahsyatnya takut kepada akhirat. Seandainya dia sadar akan hal itu, tidak akan meninggalkannya. Maka jangan berdalil dengan keadaan orang yang dikuasai.

279- Barangsiapa merenungkan kekhususan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia melihat kesempurnaan dalam ilmu dan amal. Pada beliaulah menjadi teladan, dan beliau adalah hujah atas makhluk.

Bab 53: Allah Menciptakan Panas dan Dingin untuk Kemaslahatan Badan

280- Aku merenungkan berlebihannya ahli dunia dalam menghindari panas dan dingin, maka aku melihat hal itu membalikkan tujuan dalam bab hikmah. Yang terjadi hanyalah kelezatan semata, dan tidak ada kebaikan dalam kelezatan yang diikuti penderitaan.

281- Adapun dalam panas, mereka minum air es, dan itu sangat berbahaya. Ahli pengobatan berkata bahwa itu menimbulkan penyakit-penyakit sulit yang dampaknya muncul di masa tua. Mereka memasang tirai berlapis. Dalam dingin mereka membuat selimut tebal penahan dingin.

282- Ini dari segi hikmah bertentangan dengan apa yang Allah Ta’ala tetapkan. Dia menjadikan panas untuk melarutkan cairan, dan dingin untuk membekukannya. Mereka menjadikan sepanjang tahun seperti musim semi, sehingga hikmah yang untuk itu panas dan dingin ditetapkan menjadi terbalik, dan bahaya kembali kepada badan.

283- Jangan sampai pendengar ini mengira aku memerintahkannya menghadapi panas dan dingin. Yang aku katakan kepadanya: jangan berlebihan dalam berhati-hati, tetapi hadapilah panas untuk melarutkan sebagian cairan sampai batas yang tidak mempengaruhi kekuatan, dan dalam dingin hendaknya mengenaimu yang dekat, bukan yang membahayakan, karena panas dan dingin untuk kemaslahatan badan.

Sebagian penguasa pernah menjaga dirinya dari panas dan dingin sama sekali, sehingga perutnya membesar dan mati dengan cepat. Aku telah menyebutkan kisahnya dalam kitab “Laqth Al-Manafi’ fi ‘Ilm Ath-Thibb.”

Bab 54: Sabar terhadap Takdir dan yang Membantu Sabar

284- Tidak ada dalam taklif yang lebih sulit daripada sabar terhadap takdir, dan tidak ada yang lebih utama daripada ridha kepadanya. Adapun sabar, maka itu wajib. Adapun ridha, maka itu keutamaan.

285- Sabar menjadi sulit karena takdir umumnya berjalan dengan sesuatu yang dibenci jiwa. Yang dibenci jiwa tidak hanya berhenti pada penyakit dan gangguan badan, tetapi beragam hingga akal bingung dalam hikmah berjalannya takdir.

286- Di antaranya, jika kamu melihat orang yang tenggelam dalam dunia, lembah-lembahnya mengalir untuknya hingga dia tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan harta, lalu dia menjadikannya perabot yang digunakan. Diketahui bahwa kristal, akik, dan semacamnya mungkin lebih bagus bentuknya. Namun karena tidak pedulinya terhadap syariat menjadikan larangan di sisinya seperti tidak ada! Dia memakai sutra, menzalimi manusia, dan dunia tercurah kepadanya. Kemudian kamu melihat makhluk dari ahli agama dan pencari ilmu, tenggelam dalam kemiskinan dan bencana, tunduk di bawah kekuasaan penguasa zalim itu. Saat itulah setan menemukan jalan untuk membisikkan keraguan, dimulai dengan meragukan hikmah takdir. Maka mukmin perlu sabar terhadap bahaya yang diterimanya di dunia dan terhadap perdebatan iblis dalam hal itu.

287- Begitu juga dalam menguasakan orang kafir atas muslim dan orang fasik atas ahli agama. Yang lebih parah dari ini adalah menyakiti hewan dan menyiksa anak-anak. Dalam tempat-tempat seperti inilah iman diuji.

288- Yang menguatkan sabar dalam kedua keadaan: naql (dalil naqli) dan aql (dalil aqli). Adapun naql, yaitu Al-Quran dan Sunnah.

289- Adapun Al-Quran, terbagi menjadi dua bagian: Pertama: penjelasan sebab pemberian kepada orang kafir dan durhaka. Di antaranya firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya mereka menambah dosa” (QS. Ali Imran: 178). “Dan kalau tidaklah karena hendak menjadikan manusia umat yang satu, tentulah Kami jadikan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah untuk rumah-rumah mereka, atap-atap dari perak” (QS. Az-Zukhruf: 33). “Dan apabila Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu” (QS. Al-Isra: 16). Dalam Al-Quran banyak ayat seperti ini.

Bagian kedua: ujian mukmin dengan apa yang diterimanya, seperti firman Allah Ta’ala: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu” (QS. Ali Imran: 142). “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan” (QS. Al-Baqarah: 214). “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu” (QS. At-Taubah: 16). Dalam Al-Quran banyak ayat seperti ini.

290- Adapun Sunnah, terbagi menjadi perkataan dan keadaan: Adapun keadaan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berguling di atas tikar anyaman yang membekas di lambungnya. Umar radhiyallahu ‘anhu menangis dan berkata: “Kisra dan Qaishar dalam sutra dan brokat!” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apakah kamu ragu wahai Umar?! Tidakkah kamu ridha bahwa akhirat untuk kita dan dunia untuk mereka?!”

Adapun perkataan, seperti sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Seandainya dunia ini di sisi Allah sebanding dengan sayap nyamuk, niscaya Dia tidak akan memberi minum orang kafir seteguk air darinya.”

291- Adapun akal, maka ia menguatkan tentara sabar dengan pasukan, di antaranya: berkata: “Telah tetap pada diriku dalil-dalil qath’i tentang hikmah Yang Menetapkan takdir, maka aku tidak akan meninggalkan pokok yang tetap karena apa yang disangka orang jahil sebagai kerusakan.”

292- Di antaranya berkata: “Apa yang kamu anggap mengerikan wahai yang melihat dari terhamparnya tangan si durhaka adalah genggaman dalam makna, dan apa yang berbekas padamu dari tergenggamnya tangan si taat adalah hampar dalam makna. Karena hampar itu mengakibatkan siksaan panjang, dan genggaman ini menghasilkan keluasan dalam pahala yang besar. Maka zaman kedua orang itu akan berlalu dengan cepat, jarak tempuh dilipat, dan penunggang kuda dalam perjalanan cepat.”

293- Di antaranya berkata: “Telah tetap bahwa mukmin kepada Allah seperti buruh, dan zaman taklif seperti siang hari. Tidak pantas bagi orang yang bekerja di tanah liat memakai pakaian bersih, tetapi pantas bersabar dalam jam-jam kerja. Jika selesai, dia bersuci dan memakai pakaian terbaiknya. Barangsiapa bersenang-senang saat bekerja, akan menyesal saat pembagian upah dan dihukum karena malas dalam apa yang ditugaskan.”

294- Nukilan ini menguatkan sandaran sabar. Aku akan menambah penjelasannya: Apakah kamu melihat jika ingin mengangkat syuhada, bagaimana tidak diciptakan kaum yang mengulurkan tangan untuk membunuh mukmin?! Apakah pantas Umar dibunuh kecuali oleh orang seperti Abu Lu’luah?! Dan Ali kecuali oleh orang seperti Ibnu Muljam?! Apakah layak Yahya bin Zakariya dibunuh kecuali oleh penguasa kafir?!

295- Seandainya mata pemahaman hilang darinya tabir kebutaan, niscaya dia melihat Yang Menyebabkan bukan sebab-sebab, Yang Mahakuasa bukan takdir-takdir. Maka dia sabar terhadap ujian-Nya dengan mengutamakan apa yang Dia kehendaki. Dari sinilah muncul ridha, sebagaimana dikatakan kepada sebagian ahli bala: “Berdoalah kepada Allah untuk afiat!” Dia berkata: “Yang aku cintai adalah yang Allah cintai!”

Jika ridha-Mu dalam begadangku… maka salam Allah atas tidurku

Bab 55: Ridha terhadap Takdir dan yang Membantu Ridha

296- Setelah aku selesai menulis bab sebelumnya, berserulah kepadaku penyeru dari batinku: “Biarkanlah aku dari penjelasan sabar terhadap takdir, karena aku telah cukup dengan contoh yang kamu jelaskan! Gambarkanlah keadaan ridha, karena aku merasakan hembusan dari mengingatnya yang di dalamnya ada ruh bagi ruh!”

Aku berkata: “Wahai penyeru! Dengarlah jawaban! Dan pahamilah yang benar! Ridha termasuk buah dari pengenalan. Jika kamu mengenal-Nya, kamu ridha dengan takdir-Nya.”

297- Dalam takdir mungkin terdapat kepahitan yang sebagian rasanya dirasakan oleh yang ridha. Adapun yang mengenal, kepahitan berkurang padanya karena kuatnya manisnya pengenalan. Jika dia naik dengan pengenalan kepada mahabbah, kepahitan takdir menjadi manis. Sebagaimana kata penyair: Siksaan-Mu padamu manis… dan jauh-Mu padamu dekat Kamu bagiku seperti ruh… bahkan kamu lebih aku cintai darinya Cukup bagiku dari cinta bahwa aku… mencintai apa yang kamu cintai

Dan sebagian pencinta berkata dalam makna ini: Buruk dariku perbuatan selain-Mu… tetapi kamu melakukannya maka menjadi baik darimu

298- Penyeru berteriak kepadaku: “Ceritakan padaku, dengan apa aku ridha?! Katakanlah aku ridha dalam takdir-Nya dengan sakit dan miskin, apakah aku ridha dengan malas dari pelayanan-Nya dan jauh dari ahli kecintaan-Nya?! Jelaskan padaku apa yang masuk dalam ridha dan apa yang tidak masuk!”

Aku berkata kepadanya: “Bagus apa yang kamu tanyakan, maka dengarlah perbedaan dengan pendengaran orang yang memperhatikan sambil menyaksikan: Ridhailah dengan apa yang berasal dari-Nya. Adapun malas dan tertinggal, itu dinisbatkan kepadamu, maka jangan ridha dengannya dari perbuatanmu. Jadilah orang yang memenuhi hak-Nya atasmu, menghisab dirimu dalam apa yang mendekatkanmu kepada-Nya, tidak ridha darinya dengan malas dalam berjihad.

Adapun apa yang keluar dari takdir-Nya yang murni yang tidak ada usahamu di dalamnya, maka ridhailah dengannya, sebagaimana Rabiah rahimahallahu ‘alaiha berkata ketika disebut di hadapannya seorang laki-laki ahli ibadah yang memungut dari tempat sampah lalu memakannya. Dikatakan: “Mengapa dia tidak meminta Allah Ta’ala agar menjadikan rezeknya selain dari ini?!” Dia berkata: “Yang ridha tidak memilih. Barangsiapa merasakan rasa pengenalan, dia menemukan di dalamnya rasa mahabbah, maka ridha terjadi padanya dengan sendirinya.”

299- Maka hendaknya bersungguh-sungguh dalam mencari pengenalan dengan dalil-dalil, kemudian mengamalkan tuntutan pengenalan dengan keseriusan dalam pelayanan, mudah-mudahan hal itu mewariskan mahabbah. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman: “Hamba tidak henti mendekatkan diri kepada-Ku dengan nawafil hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dia dengar dengannya, dan penglihatannya yang dia lihat dengannya…” Itulah kekayaan terbesar… dan alangkah miskinnya!

Bab 56: Kesibukan Ulama dari Urusan Penghidupan

300- Aku melihat mayoritas ulama disibukkan oleh pencarian mereka akan ilmu di masa muda dari penghidupan, sehingga mereka membutuhkan apa yang tidak bisa dihindari. Tidak sampai kepada mereka dari baitul mal sesuatu, dan tidak dari pemberian saudara-saudara yang mencukupi, sehingga mereka perlu menghadapi penghinaan! Aku tidak melihat dalam hal itu hikmah kecuali dua sebab: Pertama: menundukkan kesombongan mereka dengan penghinaan ini. Kedua: memberi manfaat kepada orang-orang itu dengan pahala mereka.

301- Kemudian aku mendalami pikiran dan melihat nukti yang halus, yaitu bahwa jiwa yang mulia jika melihat keadaan dunia demikian, tidak akan menempatinya dengan hati, dan menjauh darinya dengan tekad, dan melihat hal yang paling mirip dengannya adalah tempat sampah yang didatangi anjing, atau jamban yang didatangi karena terpaksa. Jika kematian turun dengan kepergian dari rumah seperti ini, hati tidak tergantung dan melekat padanya, maka menjadi ringan saat itu.

Bab 57: Syariat di Dalamnya Ada Rukhshah dan Ada Azimah

302- Sekelompok orang zuhud terus mencela banyak ulama jika mereka berlapang dalam perkara mubah. Yang mendorong mereka pada ini adalah kebodohan. Seandainya mereka memiliki kelebihan ilmu, tidak akan mencela mereka. Ini karena tabiat tidak sama; ada orang yang baik dengan kehidupan keras, dan yang lain tidak baik dengan itu. Tidak boleh seseorang membebankan orang lain dengan apa yang dia tahan. Namun kita memiliki ukuran yaitu syariat, di dalamnya ada rukhshah dan ada azimah. Tidak pantas dicela orang yang membatasi dirinya dalam ukuran itu. Kadang rukhshah lebih utama dari azimah karena pengaruh manfaatnya.

303- Seandainya orang zuhud tahu bahwa ilmu mengakibatkan pengenalan kepada Allah Ta’ala, sehingga hati menjauh karena takut kepada-Nya dan tubuh lemas karena hati-hati dari-Nya, maka wajib berlembut kepada tubuh untuk menjaga kekuatan kendaraan. Dan karena alat ilmu dan hafalan adalah hati dan pikiran, jika alat dimudahkan, amal menjadi baik.

Ini perkara yang tidak diketahui kecuali dengan ilmu. Karena kebodohan orang zuhud terhadap ilmu, mereka mengingkari apa yang tidak mereka ketahui, dan menyangka bahwa yang dimaksud adalah melelahkan badan dan melemahkan kendaraan. Mereka tidak tahu bahwa takut yang melelahkan memerlukan istirahat yang mengimbangi, sebagaimana kata penyair: “Istirahatkanlah hati dengan mengingat.”

  1. Pasal: Tidak Ada Sesuatu dalam Keberadaan yang Lebih Mulia dari Ilmu
  2. Tidak ada dalam keberadaan sesuatu yang lebih mulia dari ilmu. Bagaimana tidak, sedangkan ilmu adalah petunjuk, jika tidak ada ilmu, maka terjadilah kesesatan?!
  3. Dan di antara tipu daya setan yang tersembunyi adalah bahwa dia memperindah dalam jiwa manusia untuk beribadah, supaya menyibukkannya dari ibadah yang paling utama, yaitu menuntut ilmu, bahkan dia telah memperindah bagi sekelompok orang terdahulu sehingga mereka mengubur buku-buku mereka dan melemparkannya ke laut! Dan hal ini telah diriwayatkan dari sekelompok orang. Dan prasangka terbaik saya tentang mereka adalah bahwa saya katakan: di dalam buku-buku itu ada sesuatu dari pendapat dan perkataan mereka sendiri, sehingga mereka tidak menyukai penyebarannya; namun seandainya di dalamnya terdapat ilmu yang bermanfaat dan benar yang tidak dikhawatirkan akibatnya, maka melemparkannya adalah menyia-nyiakan harta yang tidak halal.
  4. Dan sungguh telah mendekatlah tipu daya Iblis kepada sekelompok kaum sufi, sehingga mereka melarang murid-murid mereka membawa tinta, bahkan Ja’far al-Khuldi berkata: “Seandainya kaum sufi membiarkan saya, niscaya saya akan datang kepada kalian dengan sanad dunia, saya menulis satu majlis dari Abbas ad-Duri, lalu saya bertemu dengan sebagian kaum sufi, maka dia berkata: ‘Tinggalkan ilmu kertas, dan berpeganglah dengan ilmu kain tambalan.'” Dan saya melihat tinta bersama sebagian kaum sufi, maka berkata kepadanya sufi yang lain: “Tutuplah auratmu!” Dan mereka menyanyikan syair untuk asy-Shibli:

“Jika mereka meminta dariku ilmu kertas
Aku tampil atas mereka dengan ilmu kain tambalan”

Dan ini termasuk tipu daya Iblis yang tersembunyi, “Dan sungguh telah benar Iblis terhadap mereka akan sangkaannya” (Saba’: 20). Dan sesungguhnya dia melakukan dan memperindahkannya di hadapan mereka karena dua sebab: Pertama: dia menginginkan mereka berjalan dalam kegelapan.

Kedua: bahwa membaca ilmu setiap hari akan menambah kepada orang yang berilmu, dan menyingkap baginya apa yang tersembunyi darinya, dan menguatkan iman serta ma’rifahnya, dan memperlihatkan kepadanya cacat banyak dari jalan-jalannya, jika dia membaca manhaj Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat.

Maka Iblis ingin menutup jalan-jalan itu dengan tipu daya yang paling tersembunyi; dia memperlihatkan bahwa yang dimaksud adalah amal bukan ilmu untuk dirinya sendiri, dan tersembunyi dari orang yang tertipu bahwa ilmu adalah amal, dan amal yang bagaimana!

Maka berhati-hatilah dari tipuan tersembunyi ini, karena sesungguhnya ilmu adalah asal yang paling agung dan cahaya yang paling besar.

Dan terkadang membolak-balik kertas lebih utama dari puasa, shalat, haji, dan jihad, dan betapa banyak orang yang berpaling dari ilmu yang tenggelam dalam azab hawa nafsu dalam ibadahnya, dan menyia-nyiakan banyak kesempatan dengan sunnah, dan sibuk dengan apa yang dia sangka lebih utama daripada yang wajib, seandainya ada padanya secercah cahaya ilmu, niscaya dia akan mendapat petunjuk, maka perhatikanlah apa yang saya sebutkan kepadamu, engkau akan mendapat petunjuk insya Allah Ta’ala.

  1. Pasal: Mengelola Jiwa dan Bersikap Lemah Lembut Kepadanya adalah Keharusan
  2. Aku melihat dua orang kuli di bawah batang yang berat, dan mereka saling bersahut-sahutan dengan melantunkan nyanyian, dan kata-kata istirahat, salah satu dari mereka mendengarkan apa yang dikatakan yang lain, kemudian mengulanginya, atau menjawabnya dengan yang serupa, dan yang lain perhatiannya seperti itu pula, maka aku melihat bahwa seandainya mereka tidak melakukan ini, akan bertambah kesulitan atas mereka, dan beratnya perkara, dan setiap kali mereka melakukan ini, ringanhlah perkara itu.

Maka aku merenungkan sebab dalam hal itu, ternyata karena tergantungnya pikiran masing-masing dari mereka dengan apa yang dikatakan yang lain, dan kegembiraan mereka karenanya, dan memutarnya pikirannya dalam menjawab dengan yang serupa, maka terputuslah jalan, dan lupalah beratnya yang dipikul.

  1. Maka aku mengambil dari ini isyarat yang menakjubkan, dan aku melihat manusia telah memikul dari taklif perkara-perkara yang sulit, dan di antara yang paling berat yang dipikulnya adalah mengelola jiwanya, dan memaksanya bersabar dari apa yang dicintainya, dan atas apa yang dibencinya, maka aku melihat yang benar adalah memotong jalan kesabaran dengan hiburan dan bersikap lemah lembut kepada jiwa, sebagaimana kata penyair:

“Jika dia mengeluh maka hibur dia dengan Bima Sakti dari
Cahaya pagi, dan janjikan dia dengan istirahat siang”

  1. Dan dari ini adalah apa yang diceritakan tentang Bishr al-Hafi rahimahullah: dia berjalan bersama seorang laki-laki di jalan, lalu kawannya kehausan, maka dia berkata kepadanya: “Apakah kita minum dari sumur ini?” Maka Bishr berkata: “Bersabarlah sampai sumur yang lain!” Ketika mereka sampai kepadanya, dia berkata kepadanya: “Sumur yang lain;” maka dia terus menghiburnya, kemudian dia menoleh kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Begitulah dunia terputus.”
  2. Dan barang siapa memahami asal ini, dia menghibur jiwa, dan bersikap lemah lembut kepadanya, dan menjanjikan yang baik, supaya dia bersabar atas apa yang telah dipikulnya, sebagaimana sebagian salaf berkata kepada jiwanya: “Demi Allah, aku tidak bermaksud dengan mencegahmu dari ini yang engkau cintai kecuali karena kasih sayang kepadamu.” Dan Abu Yazid rahimahullah berkata: “Aku terus menggiring jiwaku kepada Allah Ta’ala sedang dia menangis, hingga aku menggiringnya sedang dia tertawa.”

Dan ketahuilah bahwa mengelola jiwa dan bersikap lemah lembut kepadanya adalah keharusan, dan dengan itu terputuslah jalan, maka ini adalah isyarat kepada petunjuk, dan penjelasannya panjang.

  1. Pasal: Penceramah Diperintahkan untuk Tidak Melampaui yang Benar
  2. Aku merenungkan hal-hal yang terjadi dalam majlis-majlis ceramah, yang dijadikan oleh orang awam dan para ulama yang jahil sebagai pendekatan diri, padahal itu adalah kemungkaran dan penyimpangan, yaitu bahwa qari’ melantunkan dengan merdu, dan mengeluarkan lagu-lagu menjadi nyanyian, dan penceramah melantunkan dengan merdu syair-syair Majnun dan Laila, maka yang ini bertepuk tangan! Dan yang ini membakar bajunya! Dan mereka meyakini bahwa itu adalah pendekatan diri!!

Dan diketahui bahwa lagu-lagu ini seperti musik, yang mewajibkan kegirangan bagi jiwa-jiwa dan mabuk; maka menghadapkan dengan apa yang mewajibkan kerusakan adalah kesalahan besar, dan sepatutnya dilakukan hisbah kepada para penceramah dalam hal ini.

  1. Dan demikian pula tukang ratap di antara mereka, karena mereka membangkitkan kesedihan, supaya banyak tangisan wanita, maka mereka diberi upah atas itu, seandainya mereka menyuruh bersabar, wanita-wanita tidak akan mau itu! Dan ini adalah kebalikan dari syariat. Ibnu Aqil berkata: “Kami menghadiri takziah seorang laki-laki yang telah meninggal anaknya, maka qari’ membaca: ‘Ya asafa ‘ala Yusuf’ (Yusuf: 84), maka aku berkata kepadanya: ‘Ini adalah ratapan dengan Al-Qur’an!'”
  2. Dan di antara penceramah ada yang berbicara tentang jalan ma’rifah dan mahabbah, maka engkau melihat tukang tenun dan pedagang pasar yang tidak mengetahui fardhu-fardhu shalat merobek-robek pakaiannya, mengaku karena cinta kepada Allah Ta’ala!! Dan yang paling baik keadaannya di antara mereka -dan dia adalah yang paling baik- dia membayangkan dengan wahamnya sosok yang adalah Khaliq, maka dia menangisinya karena kerinduannya kepadanya, karena apa yang didengarnya tentang keagungan, rahmat, dan keindahan-Nya. Dan bukanlah apa yang mereka bayangkan itu yang disembah; karena yang disembah tidak masuk dalam khayalan.
  3. Dan setelah ini, maka tahqiq dengan orang awam itu sulit, dan mereka hampir tidak dapat mengambil manfaat dari pahitnya kebenaran; akan tetapi penceramah diperintahkan untuk tidak melampaui yang benar, dan tidak menghadapkan kepada apa yang merusak mereka, bahkan dia menarik mereka kepada apa yang memperbaiki dengan cara yang paling lemah lembut, dan ini membutuhkan keterampilan, karena di antara orang awam ada yang terkesan dengan keindahan lafaz, dan di antara mereka ada yang terkesan dengan isyarat, dan di antara mereka ada yang tunduk dengan sebait syair.
  4. Dan yang paling membutuhkan balaghah adalah penceramah, supaya dia mengumpulkan tuntutan mereka; akan tetapi dia sepatutnya memperhatikan yang wajib dijawab, dan memberikan kepada mereka dari yang dibolehkan dalam lafaz sekadar garam dalam makanan, kemudian dia menarik mereka kepada azimah, dan mengenalkan kepada mereka jalan yang haq.
  5. Dan Ahmad bin Hanbal pernah hadir, lalu mendengar perkataan al-Harits al-Muhasibi, maka dia menangis, kemudian berkata: “Aku tidak suka hadir.” Dan sesungguhnya dia menangis; karena keadaan mewajibkan tangisan.
  6. Dan sungguh sekelompok salaf melihat kekacauan para qashash, maka mereka melarang hadir di hadapan mereka, dan ini secara mutlak tidak baik hari ini; karena dahulu orang-orang pada zaman itu sibuk dengan ilmu, maka mereka melihat menghadiri qishash menghalangi mereka, dan hari ini banyak yang berpaling dari ilmu, maka yang paling bermanfaat bagi orang awam adalah majlis ceramah, yang mengembalikannya dari dosa, dan menggerakkannya kepada taubat; dan sesungguhnya kerusakan ada pada qashash, maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla.
  7. Pasal: Para Nabi Berlebihan dalam Menetapkan Sifat-Sifat
  8. Di antara hal yang paling berbahaya bagi orang awam adalah perkataan para muta’awwilin dan para penafi sifat-sifat dan penambahan-penambahan. Karena sesungguhnya para nabi ‘alaihimush shalatu wassalam berlebihan dalam penetapan, supaya tertanam dalam jiwa-jiwa orang awam keberadaan Khaliq, karena jiwa-jiwa merasa tenteram dengan penetapan, jika orang awam mendengar apa yang mewajibkan penafian, terbuanglah dari hatinya penetapan, maka itu adalah bahaya yang paling besar baginya, dan orang alim yang mensucikan ini -menurut sangkaannya- adalah penyeimbang penetapan para nabi ‘alaihimush shalatu wassalam dengan penghapusan, dan memulai pembatalan apa yang mereka fatwa-kan.
  9. Dan penjelasan ini: bahwa Allah Ta’ala mengabarkan tentang istiwanya di atas Arsy, maka jiwa-jiwa merasa tenteram kepada penetapan Ilah dan keberadaan-Nya: Allah Ta’ala berfirman: “Dan tetap kekal wajah Tuhanmu” (ar-Rahman: 27). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Kedua tangan-Nya terbuka” (al-Ma’idah: 64). Dan Dia berfirman: “Dan Allah murka kepada mereka” (al-Fath: 6). “Allah ridha terhadap mereka” (al-Bayyinah: 8).

Dan Dia mengabarkan bahwa Dia turun ke langit dunia. Dan Dia berfirman: “Hati-hati hamba berada di antara dua jari.”

Dan Dia berfirman: “Dia menulis Taurat dengan tangan-Nya.” “Dan Dia menulis sebuah kitab maka itu ada di sisi-Nya di atas Arsy.” Hingga selain itu yang panjang untuk disebutkan.

Maka jika orang awam dan anak kecil telah dipenuhi dengan penetapan, dan hampir merasa tenteram dari sifat-sifat dengan apa yang dipahami oleh indra, dikatakan kepadanya: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya” (asy-Syura: 11), maka terhapuslah dari hatinya apa yang dilukis khayalan, dan tetaplah lafaz-lafaz penetapan tertanam.

Dan karena ini syariat membenarkan seperti ini, maka dia mendengar seorang penyanyi berkata: “Dan di atas Arsy Tuhan semesta alam” maka dia tertawa. Dan berkata kepadanya yang lain: “Atau Tuhan kita tertawa?” Maka dia berkata: “Ya.” Dan dia berkata: “Bahwa Dia di atas Arsy-Nya begini.”

Semua ini untuk memantapkan penetapan dalam jiwa-jiwa!

  1. Dan kebanyakan makhluk tidak mengetahui penetapan kecuali atas apa yang mereka ketahui dari yang disaksikan, maka dipuaskan dari mereka dengan itu, sampai mereka memahami pensucian. Dan karena ini disahkan islam orang yang berbalik dengan sujud. Adapun jika dimulai dengan orang awam yang kosong dari pemahaman penetapan, lalu kita katakan: “Tidak di langit! Dan tidak di atas Arsy! Dan tidak disifati dengan tangan! Dan kalam-Nya adalah sifat yang berdiri dengan dzat-Nya, dan tidak ada pada kita darinya sesuatu! Dan tidak dapat dibayangkan turun-Nya:” terhapuslah dari hatinya pengagungan mushaf, dan tidak tertatanlah dalam batinnya penetapan ilah. Dan ini adalah jinayah yang besar kepada para nabi, yang mewajibkan pembatalan apa yang mereka capek dalam penjelasannya, dan tidak boleh bagi seorang alim untuk datang kepada akidah orang awam yang telah merasa tenteram dengan penetapan lalu mengacaukannya, karena dia merusaknya, dan sulit perbaikannya.
  2. Adapun orang alim, maka sesungguhnya kami telah mengamankannya; karena tidak tersembunyi darinya kemustahilan terjadinya sifat Allah Ta’ala, dan bahwa tidak boleh Dia bersemayam sebagaimana yang diketahui, dan tidak boleh Dia dipikul, dan tidak boleh disifati dengan menempel dan bersentuhan, dan tidak boleh berpindah, dan tidak tersembunyi darinya bahwa yang dimaksud dengan membolak-balik hati di antara dua jari adalah memberitahukan tentang penguasaan atas hati-hati, karena apa yang diputar manusia di antara dua jari dia menguasainya sampai batas akhir, dan tidak membutuhkan ta’wil dari orang yang berkata: “Jari adalah pengaruh yang baik, maka hati-hati berada di antara dua pengaruh dari pengaruh-pengaruh rububiyyah, yaitu: penegakan, dan penyimpangan.” Dan tidak kepada ta’wil dari orang yang berkata: “Kedua tangan-Nya: dua nikmat-Nya;” karena jika dipahami bahwa yang dimaksud adalah penetapan, dan telah diceritakan kepada kita dengan apa yang kita pahami, dan dibuatkan untuk kita perumpamaan-perumpamaan dengan apa yang kita ketahui, dan telah tetap pada kita dengan asal yang dipotong dengannya bahwa tidak boleh baginya apa yang diketahui indra, kita mengetahui yang dimaksud dengan menyebut itu.
  3. Dan yang paling baik yang kita katakan kepada orang awam: “Jalankan hal-hal ini sebagaimana datang, dan jangan kalian hadapkan untuk menta’wilkannya,” dan semua itu dimaksudkan dengannya memelihara penetapan, dan ini yang dimaksudkan oleh salaf.

Dan Ahmad melarang dikatakan: “Lafazku dengan Al-Qur’an makhluk atau bukan makhluk.” Semua itu supaya dipikul atas ittiba’, dan tetaplah lafaz-lafaz penetapan atas keadaannya.

  1. Dan yang paling jahil manusia adalah orang yang datang kepada apa yang dimaksudkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengagungkannya, lalu dia melemahkan dalam jiwa-jiwa kekuatan pengagungan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Jangan kalian bepergian dengan Al-Qur’an ke negeri musuh,” menunjuk kepada mushaf. Dan asy-Syafi’i melarang orang yang berhadats membawanya dengan talinya, karena mengagungkannya.
  2. Maka jika datang orang yang sok pandai lalu berkata: “Kalam adalah sifat yang berdiri dengan dzat yang berbicara!” Maksud perkataannya ini bahwa tidak ada di sini sesuatu yang dihormati! Maka orang ini telah menentang dengan apa yang dibawanya maksud syariat, dan sepatutnya dipahami aturan-aturan syariat dan maksud-maksud para nabi ‘alaihimush shalatu wassalam.
  3. Dan mereka telah melarang dari membuka apa yang telah dipuaskan syariat, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari pembicaraan tentang qadar, dan melarang dari perselisihan; karena hal-hal ini keluar kepada apa yang menyakiti, karena peneliti tentang qadar jika sampai pemahamannya kepada berkata: “Dia memutuskan dan menghukum,” goyahlah imannya dengan keadilan, dan jika berkata: “Dia tidak mentakdir, dan tidak memutuskan,” goyahlah imannya dengan kekuasaan dan kepemilikan, maka adalah lebih utama meninggalkan menyelami hal-hal ini.
  4. Dan mungkin ada yang berkata: “Ini adalah pencegahan bagi kita dari mengetahui hakikat-hakikat, dan perintah untuk berhenti dengan taqlid!” Maka aku katakan: Tidak, sesungguhnya aku memberitahukanmu bahwa yang diinginkan darimu adalah iman kepada jumlah-jumlah, dan engkau tidak diperintahkan dengan penyelidikan untuk mengetahui hakikat, dengan bahwa kekuatan pemahamanmu lemah dari menggapai hakikat-hakikat.

Karena Khalil ‘alaihish shalatu wassalam berkata: “Perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati” (al-Baqarah: 260). Maka diperlihatkan kepadanya mayit yang dihidupkan, dan tidak diperlihatkan kepadanya bagaimana dihidupkan; karena kekuatannya lemah dari menggapai itu.

  1. Dan sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam -dan dia adalah yang diutus untuk menjelaskan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka- dipuaskan dari manusia dengan pengakuan itu sendiri, dan meyakini jumlah-jumlah.
  2. Dan demikian pula para sahabat, maka tidak dinukil dari mereka bahwa mereka berbicara tentang tilawah dan mutla, dan qira’ah dan maqru, dan tidak bahwa mereka berkata: “Istawa bermakna istawla! Dan turun bermakna merahmati!” Bahkan mereka dipuaskan dengan menetapkan jumlah-jumlah yang menetapkan pengagungan pada jiwa-jiwa, dan mereka menahan genggaman khayalan dengan firman-Nya: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya” (asy-Syura: 11).
  3. Kemudian Munkar dan Nakir ini, sesungguhnya mereka hanya bertanya tentang asal-asal yang dijumlahkan, maka mereka berkata: “Siapa Tuhanmu? Dan apa agamamu? Dan siapa nabimu?” Dan barang siapa memahami pasal ini, selamat dari tasybih para mujassimah, dan ta’thil para mu’aththilah, dan berhenti di atas jalan salaf yang pertama. Dan Allah yang memberi taufik.
  4. Pasal: Pengambilan Pendengaran dan Penglihatan Terjadi dengan Lalainyanya dari Hakikat-Hakikat
  5. Aku membaca ayat ini: “Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan kamu dan menutup hati kamu, siapakah tuhan selain Allah yang akan mengembalikannya kepada kamu'” (al-An’am: 46), maka terpancarlah bagiku darinya isyarat yang hampir membuatku gila karenanya, yaitu bahwa:

Jika yang dimaksud dengan ayat adalah pendengaran dan penglihatan itu sendiri, maka sesungguhnya pendengaran adalah alat untuk menggapai yang didengar, dan penglihatan adalah alat untuk menggapai yang dilihat, maka keduanya menyajikan itu kepada hati, lalu dia merenungkan dan mengambil pelajaran; jika makhluk-makhluk disajikan kepada pendengaran dan penglihatan, lalu keduanya menyampaikan kepada hati berita-beritanya, bahwa ia menunjukkan kepada Khaliq, dan memikul kepada taat kepada Shani’, dan memperingatkan dari siksaan-Nya ketika menyelisihi-Nya.

Dan jika yang dimaksud adalah makna pendengaran dan penglihatan; maka itu terjadi dengan lalainyanya dari hakikat-hakikat apa yang digapai karena sibuk dengan hawa nafsu, maka manusia dihukum dengan dicabutnya makna-makna alat-alat itu, maka dia melihat, dan seakan-akan dia tidak melihat, dan mendengar, dan seakan-akan dia tidak mendengar, dan hati lalai dari apa yang disakiti dengannya; maka tinggallah manusia bersalah atas dirinya, tidak tahu apa yang diinginkan darinya, tidak berpengaruh padanya bahwa dia akan diuji, dan tidak bermanfaat baginya nasihat yang jelas, dan tidak tahu di mana dia, dan tidak apa yang diinginkan darinya, dan tidak ke mana dia dibawa; dan sesungguhnya dia hanya memperhatikan dengan tabiat kemaslahatan yang segera, dan tidak memikirkan kerugian akhiratnya, tidak mengambil pelajaran dengan kawannya, dan tidak mengambil nasihat dengan temannya, dan tidak berbekal untuk jalannya, sebagaimana kata penyair:

“Manusia dalam kelalaian dan kematian membangunkan mereka
Dan mereka tidak sadar hingga habis umur
Mereka mengantar keluarga mereka dengan kumpulan mereka
Dan melihat kepada apa yang di dalamnya telah dikubur
Dan mereka kembali kepada mimpi-mimpi kelalaian mereka
Seakan-akan mereka tidak melihat sesuatu dan tidak memperhatikan”

Dan ini adalah keadaan kebanyakan manusia, maka kita berlindung kepada Allah dari dicabutnya faedah-faedah alat-alat, karena ia adalah keadaan-keadaan yang paling buruk.

63- Pasal: Cinta hanya dapat menguasai orang yang berhenti dan kaku

331- Saya telah meneliti apa yang dibicarakan para ahli hikmah tentang cinta, sebab-sebabnya, dan obat-obatannya. Saya telah menulis sebuah kitab dalam hal ini yang saya beri nama “Celaan terhadap Hawa Nafsu”. Di dalamnya saya sebutkan bahwa para ahli hikmah berkata: sebab cinta adalah gerakan jiwa yang kosong. Mereka berbeda pendapat: sebagian dari mereka berkata: cinta hanya menimpa orang-orang yang cerdas dan berbudaya, sementara yang lain berkata: justru menimpa orang-orang yang lalai di antara mereka dalam merenungkan hakikat-hakikat kebenaran.

332- Namun kemudian terlintas dalam pikiran saya suatu makna yang menakjubkan, yang akan saya jelaskan di sini, yaitu bahwa cinta hanya dapat menguasai orang yang berhenti dan kaku. Adapun orang-orang yang memiliki cita-cita tinggi, maka setiap kali mereka membayangkan apa yang dituntut oleh kecintaan, maka cacat-cacatnya menjadi tampak bagi mereka – baik melalui pemikiran tentangnya atau melalui pergaulan dengannya – maka jiwa mereka pun teralihkan dan tertarik kepada tujuan yang lain. Maka tidak akan berhenti pada tingkat cinta yang mengharuskan berpegang teguh pada bentuk itu, yang buta terhadap cacat-cacatnya, kecuali orang yang kaku dan berhenti.

333- Adapun orang-orang yang mulia dari kekurangan, maka mereka senantiasa dalam perjalanan menuju yang lebih tinggi, tidak ada yang menghalangi mereka. Jika tabiat mereka tertarik pada kecintaan kepada seseorang, mereka tidak sampai pada tingkat cinta yang menguasai sepenuhnya, tetapi mungkin mereka condong dengan kecenderungan yang kuat, baik di awal karena kurang berpikir, atau karena kurang bergaul dan mengetahui cacat-cacatnya, atau karena berpegang pada beberapa sifat terpuji yang melekat pada jiwa karena adanya kesesuaian antara dua orang, seperti orang cerdas dengan orang cerdas, orang pintar dengan orang pintar, maka hal itu menimbulkan kecintaan, tetapi bukan cinta yang menguasai. Mereka senantiasa dalam perjalanan, tidak pernah berhenti, dan unta tabiat mengikuti penggembala akal. Sesungguhnya tabiat memiliki objek yang tidak ditemukannya di dunia ini, karena ia menginginkan kesempurnaan yang tidak mungkin ada pada individu-individu. Jika ia melihat cacat-cacatnya, maka ia akan lari.

334- Adapun objek hati berupa kecintaan kepada Allah Yang Maha Pencipta, maka hal itu menghalanginya untuk berhenti bersama selain-Nya, meskipun kecintaan kepada-Nya tidak sama dengan kecintaan kepada makhluk. Namun orang-orang yang mengenal Allah telah disibukkan oleh kecintaan kepada-Nya dari mencintai selain-Nya, dan tabiat mereka menjadi tenggelam karena kuatnya pengenalan dan kecintaan hati, sebagaimana yang dikatakan Rabi’ah: “Aku mencintai kekasih yang tidak tercela karena mencintainya… dan kalian mencintai orang yang dalam cintanya terdapat cacat-cacat”

335- Telah diriwayatkan dari sebagian fakir zahid bahwa dia melewati seorang wanita dan dia terpikat padanya, lalu dia melamarnya kepada ayahnya. Ayahnya menikahkannya, dan membawanya ke rumah, serta mempakaikannya pakaian yang bukan pakaian lusuh. Ketika malam tiba, fakir itu berteriak: “Pakaianku! Pakaianku! Aku kehilangan apa yang biasa kurasakan!” Ini adalah kekeliruan dalam perjalanan fakir ini yang menunjukkan kepadanya bahwa dia telah menyimpang dari jalan yang benar.

336- Keadaan-keadaan ini hanya menimpa orang-orang yang mengenal Allah Azza wa Jalla, dan orang-orang yang mulia dari sifat-sifat tercela. Ibn Mas’ud pernah berkata: “Jika salah seorang dari kalian terpikat pada seorang wanita, maka hendaklah dia mengingat kandung kemihnya.” Contoh keadaan ini adalah bahwa akal hilang ketika menikmati mengonsumsi makanan yang diinginkan dari memikirkan perubahan makanan di mulut dan menelannya, dan lengah saat berhubungan intim dari bertemu dengan kotoran-kotoran karena kuatnya penguasaan syahwat, dan lupa saat menelan ludah tentang perubahannya dari makanan.

Dalam menutupi keadaan-keadaan itu terdapat maslahat, tetapi orang-orang yang terjaga ditimpa perasaan ini tanpa mencarinya dalam kebanyakan keadaan mereka, sehingga hal itu merusak kenikmatan hidup mereka dan menimbulkan rasa mulia dari kehinaan hawa nafsu. Sesuai dengan kadar pandangan terhadap akibat-akibat, cinta akan berkurang dari hati yang mencintai, dan sesuai dengan kadar kejumudan pikiran, kegelisahan akan menguat. Al-Mutanabbi berkata: “Seandainya orang yang mencintai memikirkan ujung… keindahan yang memikatnya, niscaya dia tidak akan terpesona”

337- Ringkasan yang ingin saya jelaskan adalah: bahwa tabiat orang-orang yang terjaga terus naik, maka tidak berhenti dengan seseorang yang dianggap baik. Sebab naiknya mereka adalah pemikiran tentang kekurangan dan cacat orang tersebut, atau dalam mencari yang lebih penting darinya. Hati orang-orang yang mengenal Allah naik kepada Yang dikenal-Nya, maka mereka mengambil pelajaran dalam tempat mengambil pelajaran.

Adapun orang-orang yang lalai, maka kejumudan mereka dalam kedua keadaan, dan kelalaian mereka dari kedua kedudukan, menimbulkan penawanan, pemaksaan, dan kebingungan mereka.

64- Pasal: Mengakui kekurangan lebih berhasil dalam memenuhi hajat

338- Saya mengalami suatu perkara yang memerlukan memohon kepada Allah Azza wa Jalla dan berdoa kepada-Nya. Saya berdoa dan memohon, lalu sebagian orang saleh ikut berdoa bersamaku, dan saya melihat semacam tanda-tanda dikabulkan doa. Maka jiwa saya berkata: “Ini karena doa hamba yang saleh itu, bukan karena doamu.” Saya berkata kepadanya: “Adapun aku, maka aku mengetahui dari diriku dosa-dosa dan kekurangan yang mengharuskan dicegahnya jawaban, namun mungkin saja akulah yang dikabulkan doanya, karena pendo’a yang saleh ini bersih dari apa yang aku sangkakan dari diriku, karena bersamaku ada rasa patah hati atas kekuranganku, sementara bersamanya ada kegembiraan karena amalnya. Mungkin saja pengakuan akan kekurangan lebih berhasil dalam memenuhi hajat. Lagipula aku dan dia memohon dari karunia, bukan karena amal kami. Jika aku berdiri di atas kaki pengakuan, mengakui dosa-dosaku, dan berkata: ‘Berilah aku dengan karunia-Mu,’ maka tidak ada dalam permohonanku sesuatu yang membuatku merasa aman, dan mungkin dia melihat kebaikan amalnya, yang menjadi penghalang baginya.

Maka janganlah memabukkanku wahai jiwa, cukuplah bagiku patah hati karena pengetahuanku tentang diriku! Bersamaku ada ilmu yang mengharuskan adab, dan pengakuan akan kekurangan, dan sangat membutuhkan apa yang aku minta, dan keyakinanku akan karunia Dzat yang dimintai: yang tidak ada pada hamba yang beribadah itu. Maka semoga Allah memberkahi ibadahnya, mungkin pengakuanku akan kekuranganku lebih sempurna.”

65- Pasal: Akal mana pun yang mendalami pandangan, dipuji sesuai kadar pemahamannya

339- Saya membacakan keajaiban-keajaiban ilmu dan hikmah-hikmah menakjubkan kepada sebagian orang yang mengaku berilmu. Saya melihatnya gelisah mendengar hal itu, tidak dapat menyelami kedalamannya, dan tidak tertarik pada apa yang akan datang. Maka saya berhenti membacakan sesuatu yang lain kepadanya, dan berkata: “Sesungguhnya yang cocok untuk hal seperti ini adalah akal yang menerimanya sebagaimana orang haus menerima air.”

340- Kemudian saya mengambil isyarat dari ini, yaitu bahwa seandainya orang ini memahami apa yang terjadi dan memuji saya atas kebaikan yang saya lakukan, niscaya kedudukannya akan besar di hatiku, dan aku akan menunjukkan kepadanya keindahan-keindahan kumpulan tulisan dan perkataanku. Tetapi karena aku tidak melihatnya layak untuk hal itu, maka aku palingkan darinya dan aku alihkan pandanganku darinya.

Isyaratnya adalah: bahwa Allah Azza wa Jalla telah mengklasifikasikan makhluk-makhluk ini, maka Dia membuat susunan yang baik dan mengatur dengan rapi, kemudian memperlihatkannya kepada akal-akal. Akal mana pun yang mendalami pandangan, dipuji sesuai kadar pemahamannya, maka Sang Pencipta mencintainya.

Demikian pula Allah menurunkan Al-Qur’an yang mengandung keajaiban-keajaiban hikmah. Barang siapa yang meneliti dengan tangan pemahaman dan berbicara dengannya dalam kesendirian pikiran, ia menarik ridha Dzat yang berbicara dengannya dan memperoleh kedekatan di sisi-Nya. Barang siapa yang pikirannya tenggelam pemahamannya dengan hal-hal yang dapat diindera, dipalingkan dari kedudukan itu. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Aku akan memalingkan dari ayat-ayat-Ku orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa hak” (QS. Al-A’raf: 146).

66- Pasal: Tidak ada yang menambah umur orang beriman kecuali kebaikan

341- Suatu hari saya berdoa: “Ya Allah! Sampaikanlah aku pada cita-citaku dalam ilmu dan amal, dan panjangkanlah umurku agar aku mencapai apa yang aku cintai dari hal itu.” Maka datang bisikan setan yang berkata: “Lalu apa? Bukankah kematian? Apa gunanya panjang umur?!” Saya berkata kepadanya: “Wahai yang bodoh! Seandainya kamu memahami apa yang ada di balik permohonanku, niscaya kamu tahu bahwa itu bukan sia-sia. Bukankah setiap hari ilmu dan pengetahuanku bertambah, maka buah tanamanku bertambah banyak, sehingga aku bersyukur di hari panenku?! Apakah aku senang jika aku mati dua puluh tahun yang lalu?! Tidak, demi Allah, karena aku tidak mengenal Allah Ta’ala sepersepuluh pengenalan hari ini. Dan semua itu adalah buah kehidupan, yang di dalamnya aku petik dalil-dalil keesaan, dan naik dari dataran rendah taklid menuju dataran tinggi bashirah (penglihatan batin), dan mengetahui ilmu-ilmu yang menambah kedudukanku dan mempermulia jiwaku. Kemudian bertambah tanamanku untuk akhirat, dan menguat perdaganganku dalam menyelamatkan para peserta didik yang belajar. Allah telah berfirman kepada pemimpin para rasul: “Dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu'” (QS. Thaha: 114). Dalam Shahih Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Tidak ada yang menambah umur orang beriman kecuali kebaikan.” Dalam hadits Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya termasuk kebahagiaan adalah panjang umur hamba dan Allah Azza wa Jalla memberinya rezeki berupa taubat.”

Alangkah baiknya jika aku mampu berumur seperti Nuh, karena ilmu itu banyak, dan setiap kali diperoleh darinya sesuatu, ia mengangkat dan bermanfaat.

67- Pasal: Beruntunglah orang yang mengenal Yang Maha Menyebabkan dan berpegang kepada-Nya

342- Hati orang-orang yang mengenal Allah dijaga dari sebab-sebab, meskipun sebab-sebab itu tidak tinggal bersamanya, karena ketika hati menyendiri untuk ma’rifahnya, Allah menyendiri untuknya dalam menguruskan urusannya. Jika ia berhadapan dengan sebab-sebab, Allah menghapus pengaruh sebab-sebab: “Dan pada hari Hunain ketika kamu menyombongkan diri dengan jumlah kalian yang banyak, tetapi jumlah itu tidak bermanfaat bagimu sedikitpun” (QS. At-Taubah: 25).

343- Perhatikanlah keadaan Ya’qub dan kehati-hatiannya terhadap Yusuf alaihimassalam, hingga dia berkata: “Dan aku khawatir serigala akan memakannya” (QS. Yusuf: 13), maka mereka berkata: “Maka dia dimakan serigala” (QS. Yusuf: 17). Ketika tiba waktu kelapangan, Yahuda keluar dengan baju, maka angin mendahuluinya: “Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf” (QS. Yusuf: 94).

344- Demikian pula perkataan Yusuf alaihissalam kepada saki: “Ingatlah aku di hadapan tuanmu” (QS. Yusuf: 42), maka dia dihukum dengan tinggal tujuh tahun. Meskipun Yusuf alaihissalam tahu bahwa tidak ada kelepasan kecuali dengan izin Allah, dan bahwa berhadapan dengan sebab-sebab itu disyariatkan, namun rasa cemburu berpengaruh dalam hukuman.

345- Dari jenis ini adalah kisah Maryam alaihassalam: “Dan Zakaria menjamin pemeliharaannya” (QS. Ali Imran: 37), maka Yang Maha Menyebabkan cemburu dari tinggalnya sebab-sebab bersamanya: “Setiap Zakaria masuk menemuinya di mihrab, dia dapati di sisinya rezeki” (QS. Ali Imran: 37).

346- Dari jenis ini adalah apa yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Allah enggan memberikan rezeki kepada hamba-Nya yang mukmin kecuali dari jalan yang tidak disangka-sangkanya.”

347- Sebab-sebab adalah jalan, dan harus ditempuh. Orang yang mengenal Allah tidak tinggal bersamanya, namun dia diperlihatkan dari urusannya apa yang tidak diperlihatkan kepada selainnya, bahwa sebab-sebab itu tidak tinggal bersama, dan mungkin dihukum jika condong kepadanya, meskipun kecenderungan yang tidak diterimanya. Namun sedikit kesalahan saja mengharuskan pendidikan.

Perhatikanlah akibat Sulaiman alaihissalam ketika dia berkata: “Sungguh aku akan menggauli seratus wanita malam ini, setiap seorang dari mereka akan melahirkan anak laki-laki,” dan dia tidak berkata: “Insya Allah!” Maka tidak ada yang hamil kecuali seorang, yang melahirkan setengah anak laki-laki.

348- Sungguh telah datang kepadaku suatu keadaan yang mengharuskan berpegang pada sebagian sebab-sebab, namun dari keharusan itu adalah bertemu dengan sebagian orang zalim dan menjaganya dengan sepatah kata. Ketika aku sedang memikirkan keadaan itu, masuklah seorang qari kepadaku, lalu dia mulai membaca. Aku mengambil fal dari apa yang dibacanya, maka dia membaca: “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan tidak ada bagimu pelindung-pelindung selain Allah, kemudian kamu tidak akan ditolong” (QS. Hud: 113). Maka aku terkejut dari jawaban atas pikiranku, dan aku berkata kepada jiwaku: “Dengarlah! Sesungguhnya aku meminta pertolongan dalam penjagaan ini, maka Al-Qur’an memberitahukanku bahwa jika aku cenderung kepada orang zalim, maka aku kehilangan apa yang aku cenderung karenanya yaitu pertolongan.” Maka beruntunglah orang yang mengenal Yang Maha Menyebabkan dan berpegang kepada-Nya, karena itulah tujuan tertinggi. Maka kita memohon kepada Allah agar Dia memberikan rezeki kepada kita.

68- Pasal: Orang beriman tidak berlebihan dalam dosa

349- Orang beriman tidak berlebihan dalam dosa. Hawa nafsu menguat dan api syahwat menyala, maka dia tergelincir. Dia memiliki tujuan yang tidak diazamkan orang beriman untuk melakukannya, dan tidak untuk kembali setelah selesai, tidak berlebihan dalam pembalasan jika marah, dan berniat bertaubat sebelum tergelincir.

350- Perhatikanlah saudara-saudara Yusuf alaihimussalam: mereka berazam untuk bertaubat sebelum menjauhkan Yusuf, maka mereka berkata: “Bunuhlah Yusuf”, kemudian mereka menambah dengan lebih besar: “atau buanglah dia ke suatu daerah”, kemudian mereka berazam untuk bertaubat: “supaya setelah itu kamu menjadi orang-orang yang saleh” (QS. Yusuf: 9). Ketika mereka keluar bersamanya ke padang pasir, mereka berniat membunuhnya sesuai dengan apa yang ada di hati berupa hasad, maka yang tertua di antara mereka berkata: “Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkan dia ke dalam sumur” (QS. Yusuf: 10), dan dia tidak menginginkan Yusuf mati, tetapi agar dia dipungut oleh sebagian musafir, maka mereka menyetujui hal itu.

Sebab keadaan-keadaan ini adalah bahwa iman sesuai dengan kekuatannya, terkadang menolaknya ketika ada niat, terkadang lemah sehingga menolaknya ketika berazam, dan terkadang dari sebagian perbuatan. Jika kelalaian menguasai dan dosa dilakukan, maka tabiat menjadi lemah, lalu iman bangkit untuk beramal, sehingga menyesal berlipat ganda dari apa yang dinikmati.

69- Pasal: Paling utama dari segala sesuatu adalah menambah ilmu

351- Paling utama dari segala sesuatu adalah menambah ilmu. Barang siapa yang cukup dengan apa yang diketahuinya dan menganggapnya mencukupi, maka dia menyendiri dengan pendapatnya, dan pengagungannya terhadap dirinya menghalanginya dari mengambil manfaat. Diskusi akan menunjukkan kesalahannya, dan mungkin dia diagungkan dalam hati manusia sehingga tidak berani menentangnya. Seandainya dia menampakkan sikap ingin mengambil manfaat, niscaya keburukan-keburukannya akan disampaikan kepadanya, sehingga dia kembali darinya.

352- Ibn Aqil menceritakan dari Abu al-Ma’ali al-Juwaini bahwa dia berkata: “Sesungguhnya Allah Ta’ala mengetahui hal-hal secara global dan tidak mengetahui detail-detailnya!” Saya tidak tahu syubhat apa yang menimpa orang malang ini hingga dia berkata demikian! Demikian pula Abu Hamid ketika berkata: “Turun adalah berpindah, dan istawa adalah bersentuhan.” Bagaimana aku menggambarkan orang ini dengan fiqh, atau orang itu dengan zuhud, sedangkan dia tidak tahu apa yang boleh bagi Allah dan apa yang tidak boleh?! Seandainya dia meninggalkan pengagungan terhadap dirinya, niscaya anak-anak kecil di sekolah akan menolak pendapatnya, sehingga tampak baginya kebenaran mereka.

353- Dari jenis ini adalah Abu Bakar bin Muqassam, dia menulis kitab argumentasi untuk para qari dan memberikan faedah-faedah di dalamnya, namun dia merusak ilmunya dengan membolehkan membaca dengan bacaan yang tidak dibacanya, kemudian hal itu bertambah parah darinya hingga dia membolehkan apa yang merusak makna, seperti firman Allah Ta’ala: “Maka tatkala mereka telah berputus asa dari padanya, mereka berbisik-bisik secara rahasia” (QS. Yusuf: 80). Dia berkata: “Boleh dikatakan di sini: ‘najiyyan’ yaitu mereka menjadi mulia dan bersih dari pencurian.” Ini adalah buruknya pemahaman terhadap kisah, karena yang dinisbatkan kepada pencurian, kemudian tampak bersamanya apa yang bersih, maka apa gunanya kebersihan mereka?! Sesungguhnya kisah itu dikemukakan untuk menjelaskan bahwa mereka menyendiri dan bermusyawarah tentang apa yang akan mereka lakukan, dan bagaimana mereka kembali kepada ayah mereka setelah saudara mereka ditahan. Maka sisi mana untuk keselamatan di sini?!

Barang siapa yang merenungkan kitabnya, akan melihat di dalamnya dari jenis ini yang lebih dari yang dapat dihitung, kebanyakannya dari jenis yang buruk ini. Seandainya dia mendengarkan ulama zamannya dan meninggalkan pengagungan terhadap dirinya, niscaya kebenaran akan tampak baginya.

Namun pembatasan seseorang pada ilmunya jika bercampur dengan narsisme, menghalangi dari meraih kebenaran. Kita berlindung kepada Allah dari hal itu.

70- Pasal: Allah menganugerahkan kepada kalian karena Dia memberi petunjuk kalian kepada iman

354- Saya merenungkan firman Allah Azza wa Jalla: “Mereka menyebut-nyebut kepadamu tentang keislaman mereka sebagai suatu pemberian. Katakanlah: ‘Janganlah kamu sebutkan keislamanmu sebagai suatu pemberian kepadaku. Sebenarnya Allah-lah yang memberikan nikmat kepadamu dengan memberikan petunjuk kepada kamu untuk beriman'” (QS. Al-Hujurat: 17). Aku melihat di dalamnya makna yang menakjubkan, yaitu bahwa ketika mereka dianugerahi akal, lalu mereka merenungkan dengan akal itu cacat berhala-berhala dan mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak layak untuk disembah, maka mereka mengarahkan ibadah kepada Dzat yang menciptakan segala sesuatu, maka pengetahuan ini adalah buah akal yang dianugerahkan kepada mereka, yang dengannya mereka berbeda dengan hewan. Jika mereka beriman dengan perbuatan mereka yang dianjurkan oleh akal yang dianugerahkan, maka mereka telah mengabaikan kadar yang dianugerahkan dan lalai dari Dzat yang menganugerahkan. Apa hak mereka atas buah, sedangkan pohon bukan milik mereka?!

Berdasarkan ini, setiap orang yang beribadah dan berjuang dalam ilmu dan amal hanya melihat dengan cahaya kewaspadaan dan kekuatan pemahaman serta akal suatu kebenaran, lalu mendapatkan yang dicari. Maka hendaklah dia mengarahkan syukur kepada Dzat yang mengirimkan kepadanya pelita dalam kegelapan tabiat.

355- Dari jenis ini adalah hadits tiga orang yang masuk gua, lalu batu besar jatuh menimpa mereka dan menutup pintu gua. Mereka berkata: “Marilah kita bertawasul dengan amal saleh kita!” Maka setiap orang dari mereka berkata: “Aku telah melakukan begini dan begini.”

Dan mereka ini: jika mereka memperhatikan nikmat dari Pemberi perlindungan dari kesalahan, maka mereka berperantara dengan pemberian-Nya kepada mereka yang menyebabkan mereka dikhususkan dengan nikmat tersebut dari anak-anak sejenisnya, maka dengan itulah mereka berperantara kepada-Nya.

Dan jika mereka memperhatikan perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka melihat balasannya, dengan menganggap bahwa mereka sendirilah yang melakukan, maka mereka adalah orang-orang yang ghaib bukan hadir, dan jawaban atas pertanyaan mereka adalah untuk memutus kesombongan mereka yang berkesinambungan.

356- Dan seperti ini adalah pandangan orang bertakwa terhadap takwanya, sehingga dia melihat bahwa dirinya lebih baik dari banyak makhluk, dan mungkin dia meremehkan ahli maksiat, dan menyombongkan diri atas mereka! Dan ini adalah kelalaian dari jalan suluk, dan mungkin mengeluarkan.

357- Dan aku tidak mengatakan kepadamu: bergaullah dengan orang-orang fasik karena meremehkan dirimu sendiri! Tetapi marahlah kepada mereka di dalam batin, dan berpalinglah dari mereka di lahir, kemudian perhatikanlah berlangsungnya takdir atas mereka! Kebanyakan mereka tidak mengetahui siapa yang mereka durhaki! Dan mayoritas mereka tidak bermaksud bermaksiat, tetapi ingin mengikuti hawa nafsunya, dan berat baginya untuk bermaksiat! Dan di antara mereka ada yang dikuasai oleh pandangan terhadap ampunan dan kesabaran, maka dia meremehkan apa yang dilakukannya, karena kuatnya keyakinannya terhadap ampunan!

Dan semua ini bukanlah alasan bagi mereka, tetapi perhatikanlah itu wahai pemilik takwa! Dan ketahuilah bahwa hujjah atasmu lebih sempurna dari hujjah atas mereka; karena kamu mengetahui siapa yang kamu durhaki, dan kamu mengetahui apa yang kamu lakukan, bahkan lihatlah pada pembalikan hati di antara dua jari, maka mungkin keadaan berputar, sehingga kamu menjadi yang terputus, dan yang terputus menjadi tersambung. Maka heran terhadap orang yang berbangga dengan kebaikan amalnya, dan melupakan siapa yang memberikan nikmat dan memberikan taufik.

Pasal 71: Syariat Kita Terjaga Prinsip-prinsipnya dan Terpelihara Kaidah-kaidahnya

358- Ketahuilah bahwa syariat kita terjaga prinsip-prinsipnya, terpelihara kaidah-kaidahnya, tidak ada kerusakan di dalamnya dan tidak ada cacat, demikian juga semua syariat.

359- Sesungguhnya bencana masuk dari orang-orang yang mengada-ada dalam agama atau orang-orang jahil, seperti apa yang terjadi pada orang-orang Nasrani ketika mereka melihat menghidupkan orang mati di tangan Isa alaihissalam, maka mereka merenungkan perbuatan yang luar biasa itu, yang tidak layak bagi manusia, maka mereka menisbatkan pelakunya kepada ketuhanan. Seandainya mereka merenungkan zatnya, niscaya mereka mengetahui bahwa zatnya tersusun atas kekurangan dan kebutuhan, dan hal ini cukup untuk menunjukkan ketidaklayakan ketuhannya, maka dipelajari saat itu bahwa apa yang terjadi di tangannya adalah perbuatan selain dirinya.

360- Dan hal itu dapat berpengaruh pada cabang-cabang, seperti yang diriwayatkan bahwa diwajibkan kepada orang-orang Nasrani puasa sebulan, maka mereka menambah dua puluh hari, kemudian mereka menjadikannya pada musim tertentu dari tahun menurut pendapat mereka, dan dari jenis ini adalah kekacauan orang-orang Yahudi dalam prinsip dan cabang.

361- Dan telah mendekati kesesatan dalam umat kita ini jalan-jalan tersebut, meskipun mayoritas mereka telah terpelihara dari syirik dan keraguan dan pertentangan yang tampak dan keji; karena mereka adalah umat yang paling berakal dan paling paham, namun syaitan mendekati mereka, dan tidak berharap untuk menenggelamkan mereka, meskipun dia telah menenggelamkan sebagian mereka dalam lautan kesesatan.

362- Maka di antaranya adalah bahwa Rasul shallallahu alaihi wasallam datang dengan kitab yang mulia dari Allah Azza wa Jalla, dikatakan dalam sifatnya: “Tiada Kami alpakan di dalam Kitab barang suatupun” (Surat Al-An’am: 38), dan menjelaskan apa yang mungkin bermasalah dari apa yang memerlukan penjelasan dengan sunnahnya, sebagaimana difirmankan kepada beliau: “supaya kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka” (Surat An-Nahl: 44), maka beliau berkata setelah penjelasan: “Aku telah meninggalkan kalian di atas yang putih bersih”. Maka datanglah kaum yang tidak puas dengan penjelasannya, dan tidak ridha dengan jalan para sahabatnya, maka mereka meneliti, kemudian mereka terpecah: di antara mereka ada yang menghadapi apa yang susah payah dikerjakan syariat dalam menetapkannya dalam hati maka menghapusnya darinya, karena Al-Qur’an dan hadits menetapkan Tuhan Azza wa Jalla dengan sifat-sifat yang memantapkan wujud-Nya dalam jiwa, seperti firman-Nya: “Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy” (Surat Al-A’raf: 54), dan firman-Nya: “Bahkan kedua tangan-Nya terbuka” (Surat Al-Maidah: 64), dan firman-Nya: “dan supaya kamu dibentuk di hadapan-Ku” (Surat Thaha: 39), dan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Allah turun ke langit dunia”, “dan membentangkan tangan-Nya bagi orang yang berbuat jahat pada malam dan siang”, dan “tertawa”, dan “marah”, dan semua hal-hal ini -meskipun zahirnya menimbulkan bayangan penyerupaan- maka yang dimaksud darinya adalah menetapkan wujud, maka ketika syariat mengetahui apa yang menimpa hati dari dugaan-dugaan ketika mendengarnya, memotongnya dengan firman-Nya: “tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia” (Surat Asy-Syura: 11).

363- Kemudian orang-orang itu kembali kepada Al-Qur’an yang merupakan mukjizat terbesar, dan syariat telah bermaksud memantapkan wujudnya, maka berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya” (Surat Al-Qadr: 1), “Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril)” (Surat Asy-Syu’ara: 193), “Maka serahkanlah kepada-Ku orang yang mendustakan perkataan ini” (Surat Al-Qalam: 44), “Dan ini adalah kitab yang Kami turunkan” (Surat Al-An’am: 92), dan menetapkannya dalam hati dengan firman-Nya: “(tersimpan) dalam dada orang-orang yang diberi ilmu” (Surat Al-Ankabut: 49), dan dalam mushaf dengan firman-Nya: “dalam Lauh Mahfuzh” (Surat Al-Buruj: 22), dan sabda Rasul shallallahu alaihi wasallam: “Janganlah kalian bepergian dengan Al-Qur’an ke negeri musuh”. Maka berkatalah segolongan dari mereka: makhluk! Maka mereka menjatuhkan kehormatan Al-Qur’an dari jiwa, dan berkata: tidak turun! Dan tidak dapat dibayangkan turunnya! Dan bagaimana sifat dapat terpisah dari yang bersifat?! Dan tidak ada dalam mushaf kecuali tinta dan kertas! Maka mereka kembali kepada apa yang susah payah dikerjakan pembuat syariat dalam menetapkannya dengan penghapusan.

364- Sebagaimana mereka berkata: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak di langit! Dan tidak dikatakan: bersemayam di atas ‘Arsy! Dan tidak turun ke langit dunia! Tetapi itu adalah rahmat-Nya!! Maka mereka menghapus dari hati apa yang dimaksudkan untuk ditetapkan di dalamnya, dan ini bukan maksud pembuat syariat.

365- Dan datang yang lain, maka mereka tidak berhenti pada apa yang dibatasi syariat, tetapi mereka bekerja di dalamnya dengan pendapat-pendapat mereka, maka mereka berkata: Allah di atas ‘Arsy, dan mereka tidak puas dengan firman-Nya: “Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy” (Surat Al-A’raf: 54).

Dan dikuburkan bagi mereka oleh kaum dari pendahulu mereka kuburan-kuburan, dan diletakkan bagi mereka oleh orang-orang mulhid hadits-hadits, maka mereka tidak mengetahui apa yang dibolehkan bagi-Nya dari apa yang tidak dibolehkan, maka mereka menetapkan dengannya sifat-sifat kebanyakan yang shahih darinya datang dengan perluasan bahasa Arab, maka mereka mengambilnya secara zahir, maka mereka dalam memukul perumpamaan seperti Juha, karena ibunya berkata kepadanya: jagalah pintu! Maka dia mencabutnya dan berjalan dengannya, maka diambil apa yang ada di rumah, maka ibunya menyalahkannya, maka dia berkata: sesungguhnya engkau berkata: jagalah pintu, dan tidak berkata: jagalah rumah!!

366- Dan ketika mereka membayangkan sosok yang besar di atas ‘Arsy, mereka mulai mentakwil apa yang bertentangan dengan keberadaannya di atas ‘Arsy: seperti sabdanya: “dan barangsiapa datang kepada-Ku berjalan, Aku datang kepadanya berlari”, maka mereka berkata: bukan yang dimaksud dengannya mendekat, dan sesungguhnya yang dimaksud adalah dekat kedudukan dan keutamaan!!

367- Dan mereka berkata dalam firman-Nya: “kecuali Allah datang kepada mereka dalam naungan (awan)” (Surat Al-Baqarah: 210): ini dimaksudkan pada zahirnya dalam datangnya zat. Maka mereka menghalalkannya pada suatu masa, dan mengharamkannya pada masa lain, dan mereka menyebut penisbatan kepada Allah Ta’ala sebagai sifat, karena Dia telah menisbatkan kepada-Nya peniupan dan ruh.

368- Dan mereka menetapkan penciptaan-Nya dengan tangan, seandainya mereka berkata: Dia menciptakannya, tidak mungkin mengingkari ini, tetapi mereka berkata: itu adalah sifat yang dengannya Dia menangani penciptaan Adam tanpa yang lain, maka keutamaan apa yang ada pada Adam?! Maka menyibukkan mereka pandangan pada keutamaan Adam dari pandangan kepada apa yang layak bagi Yang Haq dari apa yang tidak layak bagi-Nya, karena tidak dibolehkan bagi-Nya menyentuh, dan tidak bekerja dengan alat-alat; dan sesungguhnya Adam dinisbatkan kepada-Nya.

369- Dan mereka berkata: kami meluncurkan pada Allah Ta’ala nama bentuk, karena sabda-Nya: “Dia menciptakan Adam atas bentuk-Nya”, dan mereka memahami hadits ini, yaitu sabda beliau shallallahu alaihi wasallam: “Apabila salah seorang di antara kalian memukul, maka hendaklah menghindari wajah, dan jangan memukul wajah karena mirip wajahmu, karena Allah menciptakan Adam atas bentuk-Nya”.

Seandainya yang dimaksud dengannya adalah Allah Azza wa Jalla, maka wajah Allah Subhanahu akan menyerupai wajah orang yang bertengkar ini; karena hadits demikian datang: “dan jangan memukul wajah karena mirip wajahmu”.

370- Dan mereka meriwayatkan hadits Khaulah binti Hakim: “dan sesungguhnya pijakan terakhir yang dipijak Allah di Wajj”!! Dan mereka tidak mengetahui riwayat dan sejarah, dan sabda Rasul shallallahu alaihi wasallam: “Ya Allah! Kuatkanlah pijakan-Mu atas Mudhar”, dan bahwa yang dimaksud dengannya adalah peperangan terakhir yang di dalamnya kaum Muslimin berperang di Wajj, yaitu perang Hunain, maka mereka berkata: kami membawa berita itu pada zahirnya, dan bahwa Allah memijak tempat itu!! Dan tidak ragu bahwa menurut mereka Allah Ta’ala dahulu di bumi, kemudian naik ke langit!!

371- Dan demikian juga mereka berkata dalam sabdanya shallallahu alaihi wasallam: “Sesungguhnya Allah tidak bosan sampai kalian bosan”, mereka berkata: dibolehkan bahwa Allah disifati dengan kebosanan, maka mereka jahil terhadap bahasa, dan tidak mengetahui bahwa seandainya “sampai” di sini untuk tujuan, tidaklah berupa pujian; karena jika Dia bosan ketika mereka bosan, maka pujian apa?! Dan sesungguhnya itu seperti ucapan penyair:

Hudzail disholati dariku dengan lobang Tidak bosan dengan kejahatan sampai mereka bosan

Dan maknanya: tidak bosan meskipun mereka bosan.

372- Dan mereka berkata dalam sabdanya alaihishalatu wassalam: “Rahim itu cabang dari Rahman, bergantung pada pinggang Rahman”, maka mereka berkata: pinggang adalah sifat zat.

373- Dan mereka menyebutkan hadits-hadits seandainya diriwayatkan -dalam membatalkan wudhu- tidak diterima, dan umumnya diletakkan oleh orang-orang mulhid.

374- Sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, dia berkata: Allah menciptakan malaikat dari cahaya lengan dan dada, maka mereka berkata: kami menetapkan ini pada zahirnya, kemudian mereka memuaskan awam dengan ucapan mereka: dan kami tidak menetapkan anggota badan! Maka seakan-akan mereka berkata: fulan berdiri dan dia tidak berdiri!!

Maka berbeda ucapan mereka: apakah diluncurkan pada Allah Azza wa Jalla bahwa Dia duduk atau berdiri, seperti firman-Nya: “Yang menegakkan keadilan”: tidak dimaksudkan dengannya berdiri; dan sesungguhnya itu seperti dikatakan: amir menegakkan keadilan.

Dan sesungguhnya aku menyebutkan sebagian ucapan mereka, agar tidak tenang kepada sesuatu darinya, maka hati-hati dari mereka adalah ibadah, dan sesungguhnya jalan adalah jalan salaf.

375- Namun aku berkata kepadamu: sesungguhnya Ahmad bin Hanbal rahimahullahu alaihi berkata: termasuk sempitnya ilmu seseorang adalah meniru dalam agamanya kepada laki-laki. Maka tidak sepatutnya kamu mendengar dari orang yang diagungkan dalam jiwa sesuatu dalam prinsip lalu menirunya di dalamnya, seandainya kamu mendengar dari salah seorang mereka apa yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yang benar, maka katakanlah: ini dari perawi; karena telah tetap tentang imam itu bahwa dia tidak berkata dengan sesuatu dari pendapatnya, maka seandainya kami mengira kebenarannya darinya, maka dia tidak ditiru dalam prinsip dan tidak Abu Bakar dan tidak Umar radhiyallahu anhuma. Maka ini adalah prinsip yang wajib dibangun atasnya, maka janganlah menakuti kamu penyebutan orang yang diagungkan dalam jiwa, dan yang dimaksudkan dari penjelasan ini adalah bahwa agama kita selamat; dan sesungguhnya kaum telah memasukkan ke dalamnya apa yang menyakiti kita dengannya.

376- Dan sungguh telah memasukkan orang-orang yang berzuhud dalam agama apa yang membuat orang lari, sehingga mereka melihat perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka menjauhkan jalan, dan kebanyakan dalil jalan ini adalah para qashas, karena orang awam jika masuk ke majlis mereka dan dia tidak pandai berwudhu, mereka berbicara kepadanya dengan kehalusan Junaid dan isyarat Syibli, maka orang awam itu melihat bahwa jalan yang jelas adalah melazimi sudut, dan meninggalkan pencarian untuk keluarga, dan bermunajat kepada Yang Haq dalam khalwat menurut anggapannya, dengan keadaan dia tidak mengetahui rukun shalat, dan tidak dididik oleh ilmu, dan tidak dibentuk akhlaknya oleh sesuatu dari bergaul dengan ulama!! Maka dia tidak memperoleh manfaat dari khalwatnya kecuali sebagaimana keledai memperoleh manfaat dari kandang, maka jika waktu memanjang atasnya dalam sedikitnya makanan, bertambah kekeringannya, maka mungkin melankoli membayangkan baginya bayangan-bayangan, yang dia anggap sebagai malaikat, kemudian dia menundukkan kepalanya, dan mengulurkan tangannya untuk mencium!!

Maka betapa banyak yang telah kami lihat dari petani yang meninggalkan tanaman, dan duduk di sudut; maka sampai pada keadaan ini, maka dia beristirahat dari kelelahannya!! Seandainya dikatakan kepadanya: jenguk orang sakit! Dia berkata: aku tidak punya kebiasaan -maka laknat Allah kebiasaan yang menyelisihi syariat- maka orang awam melihat dengan apa yang dibawakan para qashas -bahwa jalan syariat ini, bukan yang diatasnya para fuqaha, maka mereka jatuh dalam kesesatan.

377- Dan di antara orang-orang yang berzuhud ada yang tidak peduli beramal dengan syariat atau tidak!! Kemudian berbeda-beda kejahilan mereka: di antara mereka ada yang menempuh madzhab ibahah, dan berkata: syaikh tidak dilawan, dan tenggelam dalam kemaksiatan!! Dan di antara mereka ada yang menjaga namosnya, maka berfatwa tanpa ilmu, agar tidak dikatakan: syaikh tidak tahu!!

378- Dan sungguh telah menceritakan kepadaku Syaikh Abu Hakim rahimahullahu alaihi: bahwa Syarif Dahali -yang biasa didatangi, diziarahi, dan ditabarruki dengannya- hadir padanya suatu hari, maka ditanya Abu Hakim: apakah halal perempuan yang ditalak tiga jika melahirkan laki-laki? Dia berkata: maka aku berkata: tidak demi Allah. Maka Syarif berkata kepadaku: diam! Maka demi Allah, sungguh aku telah berfatwa kepada manusia bahwa dia halal dari sini sampai Bashrah.

379- Dan diceritakan kepadaku Syaikh Abu Hakim bahwa kakek Azad Haddad -yang menyandang ilmu- datang seorang perempuan kepadanya, maka dia menikahkannya dengan seorang laki-laki, dan tidak bertanya tentang berakhirnya iddah, maka hakim mencegahnya, dan memisahkan antara dia dan suami, dan mengingkari kepada yang menikahkan, maka perempuan itu bertemu dengannya, maka berkata: wahai tuanku! Aku perempuan yang tidak tahu, maka bagaimana engkau menikahkanku?! Maka dia berkata: biarkan pembicaraan mereka! Kamu tidak lain adalah suci yang disucikan!!

380- Dan diceritakan kepadaku sebagian fuqaha tentang seorang laki-laki dari para abid bahwa dia sujud sahwi bertahun-tahun, dan berkata: demi Allah, aku tidak sahwi, tetapi aku melakukannya sebagai kehati-hatian! Maka faqih berkata kepadanya: sungguh telah batal shalatmu semuanya; karena kamu menambah sujud yang tidak disyariatkan!!

381- Kemudian termasuk cacat yang masuk agama kita adalah jalan para mutashawwifah, karena mereka menempuh jalan-jalan yang kebanyakannya menyelisihi syariat, dan ahli agama di antara mereka mengurangi dan meringankan, dan ini bukan syariat. Sehingga sesungguhnya seorang laki-laki yang dekat dari zamanku, dikatakan kepadanya: Katsir, masuk ke masjid Manshur, dan berkata: aku berjanji kepada Allah suatu janji dan aku melanggarnya; maka aku telah mewajibkan diriku agar tidak makan empat puluh hari! Maka diceritakan kepadaku oleh orang yang melihatnya bahwa dia bertahan sepuluh hari, kemudian pada sepuluh yang keempat hampir mati. Dia berkata: maka belum berlalu sampai dia kosong, maka dituang ke kerongkongannya air, maka kami mendengar baginya suara seperti suara penggorengan, kemudian mati setelah beberapa hari. Maka lihatlah orang miskin ini dan apa yang dilakukan kejahilannya kepadanya!!

382- Dan di antara mereka ada yang memperluas bagi dirinya dalam semua yang dia sukai dari kenikmatan dan kelezatan, dan puas dari tasawuf dengan baju dan sarung serta sorban yang lembut, dan tidak melihat dari mana dia makan, dan tidak dari mana dia minum, dan bergaul dengan para amir dari pemilik dunia, dan pakaian sutra, dan minuman khamr, menjaga hartanya dan kedudukannya.

383- Dan di antara mereka ada kaum yang membuat sunnah-sunnah bagi mereka, yang mereka terima dari kata-kata yang kebanyakannya tidak tetap!!

384- Dan di antara mereka ada yang tekun pada mendengar nyanyian dan tarian dan permainan, kemudian terbagi para ini, maka di antara mereka ada yang mengaku cinta di dalamnya, dan di antara mereka ada yang berkata dengan hulul, dan di antara mereka ada yang mendengar atas wajah hawa dan permainan, dan kedua jalan merusak awam dengan kerusakan umum.

385- Dan penjelasan ini panjang, dan aku telah menyusun kitab-kitab yang kamu lihat di dalamnya penjelasan yang baik insya Allah Ta’ala, di antaranya “Talbis Iblis”.

Dan yang dimaksudkan adalah agar kamu mengetahui bahwa syariat sempurna kamil, maka jika kamu dikaruniai pemahaman terhadapnya, maka kamu mengikuti Rasul shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya, dan meninggalkan jalan-jalan yang menyimpang, dan tidak meniru dalam agamamu kepada laki-laki, maka jika kamu melakukan, maka kamu tidak memerlukan wasiat yang lain.

386- Dan hati-hatilah dari jumudnya ahli riwayat, dan kebebasan para mutakallimin, dan liarnya para mutazahhedin, dan rakusnya ahli hawa, dan berhentinya para ulama pada bentuk ilmu tanpa amal, dan amal para mutaabbidin tanpa ilmu.

387- Dan barangsiapa yang dibantu Allah Ta’ala dengan luthf-Nya, dikaruniai pemahaman, dan dikeluarkan dari belenggu taklid, dan dijadikan umat sendirian pada zamannya, tidak peduli dengan siapa yang main-main, dan tidak menoleh kepada siapa yang mencela, telah menyerahkan kendalinya kepada pembimbingnya dalam jalan yang jelas. Allah melindungi kita dan kalian dari taklid kepada orang-orang yang diagungkan, dan mengilhamkan kita mengikuti Rasul shallallahu alaihi wasallam, karena dia adalah mutiara wujud, dan maksud alam shallallahu alaihi wa ala alihi wa ashhabihi wa atbaihi, dan mengkaruniai kita mengikutinya bersama para pengikutnya.

Pasal 72: Orang yang Berbahagia adalah yang Melazimi Takwa

388- Ketahuilah bahwa zaman tidak tetap pada satu keadaan, sebagaimana firman Azza wa Jalla: “Dan hari-hari itu Kami pergilirkan di antara manusia” (Surat Ali Imran: 140), maka terkadang fakir, dan terkadang kaya, dan terkadang mulia, dan terkadang hina, dan terkadang bergembira para wali, dan terkadang gembira para musuh.

Maka orang yang berbahagia adalah yang melazimi satu prinsip dalam setiap keadaan, yaitu takwa kepada Allah Azza wa Jalla, karena jika dia berkecukupan, takwa menghiasinya, dan jika dia miskin, membukakan baginya pintu-pintu kesabaran, dan jika dia diberi keselamatan, sempurna nikmat atasnya, dan jika dia diuji, takwa memperindahnya. Dan tidak merugikannya jika zaman menurunkannya atau menaikkannya, atau menelanjanginya, atau mengenyangkannya, atau melaparkannya; karena semua hal-hal itu akan hilang dan berubah, dan takwa adalah prinsip keselamatan, penjaga yang tidak tidur, mengambil tangan ketika tersandung, dan menjaga pada batas-batas.

Dan yang munkar adalah orang yang tertipu oleh kelezatan yang diperoleh dengan tanpa takwa, karena itu akan berubah, dan meninggalkannya dalam keadaan rugi.

389- Dan lazimilah takwa dalam setiap keadaan, karena kamu tidak melihat dalam kesempitan kecuali kelapangan, dan dalam penyakit kecuali kesehatan, ini adalah tunainya yang segera, dan yang ditunda sudah diketahui.

Pasal 73: Datangnya Cobaan kepada Orang Beriman

390- Aku merenungkan perkara yang mengagumkan dan prinsip yang indah, yaitu datangnya cobaan kepada orang beriman, dan disajikannya bentuk kelezatan kepadanya, dengan kemampuannya untuk meraihnya, dan khususnya apa yang tanpa susah payah dalam mencapainya, seperti kekasih yang cocok dalam khalwat yang terjaga. Maka aku berkata: Subhanallah! Di sinilah tampak pengaruh iman, bukan dalam shalat dua rakaat, demi Allah, Yusuf alaihissalam tidak naik, dan tidak berbahagia kecuali dalam maqam seperti itu.

Maka demi Allah atas kalian wahai saudara-saudaraku, renungkanlah keadaannya, seandainya dia mengikuti hawa nafsunya, siapa dia akan menjadi?! Dan bandingkanlah antara keadaan itu dan keadaan Adam alaihissalam, kemudian timbang dengan timbangan akal akibat kesalahan itu, dan buah kesabaran ini, dan jadikanlah pemahaman keadaan sebagai bekal pada setiap yang diinginkan.

391

Sesungguhnya kenikmatan-kenikmatan dunia senantiasa menampakkan diri kepada orang mukmin. Maka ketika ia menemuinya dalam barisan peperangan, sedangkan pasukan pemikiran terhadap akibat-akibat telah tertinggal darinya, maka ia akan kalah.

Seakan-akan aku melihat orang yang terjerumus dalam sebagian jeratnya, dan lisan halnya berkata kepadanya: “Berdirilah di tempatmu, engkau dan apa yang telah engkau pilih untuk dirimu sendiri.” Maka ujung urusannya adalah penyesalan dan tangisan. Jika ia berharap dapat keluar dari jurang tersebut, ia tidak akan keluar kecuali dalam keadaan penuh dengan luka-luka. Dan betapa banyak orang yang kakinya tergelincir, kemudian tidak pernah terangkat lagi setelahnya.

392

Barang siapa yang merenungkan kehinaan saudara-saudara Yusuf alaihissalam pada hari ketika mereka berkata: “Dan bersedekahlah kepada kami” (Yusuf: 88), maka ia akan mengetahui celaka akibat kekeliruan. Dan barang siapa yang merenungkan keadaan mereka, ia akan dapat membandingkan perbedaan antara mereka dengan saudara mereka, meskipun tobat mereka telah diterima; karena tidaklah sama antara orang yang menambal dan menjahit dengan orang yang bajunya masih utuh.

393

Betapa banyak tulang yang patah dan tidak dapat tersambung kembali. Jika tersambung pun, maka sambungannya lemah.

Maka berhati-hatilah wahai saudara-saudaraku terhadap tampilnya hal-hal yang diinginkan kepada jiwa-jiwa. Pastikanlah kekang kuda-kuda, dan waspadalah terhadap awan ketika menumpuk dengan naik ke bukit, karena barangkali lembah akan meluas sehingga menghanyutkan rombongan.

Bab 74: Dia Ingin Mengujimu untuk Mengetahui Rahasia-Rahasiamu

394

Aku merenungkan suatu keadaan yang menakjubkan, yaitu bahwa orang mukmin ditimpa musibah, lalu ia berdoa dan bersungguh-sungguh, tetapi tidak melihat tanda-tanda dikabulkan doanya. Ketika ia hampir putus asa, barulah pada saat itu ia melihat ke dalam hatinya. Jika hatinya ridha dengan takdir, tidak putus asa dari karunia Allah Azza wa Jalla, maka pada umumnya doa akan segera dikabulkan pada saat itu; karena di situlah iman menjadi baik, setan dikalahkan, dan di situlah terlihat kadar-kadar laki-laki. Dan telah diisyaratkan hal ini dalam firman Allah Ta’ala: “Hingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata: ‘Kapankah pertolongan Allah itu?'” (Al-Baqarah: 214).

395

Demikian pula yang terjadi pada Yakub alaihissalam. Ketika ia kehilangan seorang anak dan urusan itu berlangsung lama baginya, ia tidak berputus asa dari pertolongan. Maka ia mengambil anaknya yang lain dan tidak terputus harapannya dari karunia Tuhannya: “Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semua kepadaku”. Demikian pula kata Zakaria alaihissalam: “Dan aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku” (Maryam: 4).

396

Maka janganlah engkau memandang lama masa dikabulkannya doa. Lihatlah bahwa Dialah Yang memiliki, bahwa Dia Maha Bijaksana dalam mengatur, Maha Mengetahui kemaslahatan. Lihatlah bahwa Dia ingin mengujimu untuk menguji rahasia-rahasiamu, bahwa Dia ingin melihat permohonanmu, bahwa Dia ingin memberimu pahala atas kesabaranmu… dan lain sebagainya. Dan bahwa Dia mengujimu dengan penundaan agar engkau berperang melawan bisikan iblis. Setiap satu dari hal-hal ini menguatkan prasangka baik terhadap karunia-Nya dan mewajibkan syukur kepada-Nya, karena Dia telah membuatmu pantas dengan musibah untuk menoleh kepada permohonan kepada-Nya. Dan kebutuhan orang yang terpaksa untuk berlindung kepada-Nya adalah kekayaan semuanya.

Bab 75: Meraih yang Baik dan Menolak yang Menyakitkan

397

Karena badan manusia tidak dapat berdiri kecuali dengan meraih kemaslahatan dan menolak yang menyakitkan, maka ditanamkan padanya hawa nafsu agar menjadi sebab untuk menarik yang bermanfaat, dan kemarahan agar menjadi sebab untuk menolak yang menyakitkan.

398

Seandainya tidak ada hawa nafsu terhadap makanan, niscaya ia tidak akan mengambil makanan, sehingga badannya tidak dapat berdiri. Maka dijadikan baginya kecenderungan dan kerinduan kepadanya. Jika telah tercapai baginya kadar yang dapat menegakkan badannya, hilanglah kerinduan itu. Demikian pula dalam minuman, pakaian, dan pernikahan.

399

Faedah pernikahan dari dua segi: Pertama, kelestarian jenis, dan ini adalah tujuan utama. Kedua, mengeluarkan kelebihan yang tertahan yang berbahaya jika tertahan. Seandainya tidak ada hawa nafsu yang membuat pemiliknya condong kepada nikah, niscaya tidak ada seorang pun yang menginginkannya, sehingga hilanglah keturunan dan tersakitilah yang tertahan.

400

Adapun orang-orang yang mengetahui, mereka memahami maksudnya. Adapun orang-orang yang bodoh, mereka mengikuti syahwat dan hawa nafsu, dan tidak memahami maksud penciptaannya. Maka sia-sialah waktu mereka dalam hal yang tidak berguna, dan terlewatlah apa yang mereka diciptakan untuknya. Hawa nafsu mereka membawa mereka kepada kerusakan harta, hilangnya kehormatan dan agama, kemudian membawa mereka kepada kebinasaan.

401

Betapa banyak orang yang bermewah-mewah yang berlebihan dalam membeli budak wanita untuk membangkitkan tabiatnya dengan yang baru, ternyata tidak lama kemudian kekuatan aslinya melemah, sehingga mempercepat kebinasaannya. Demikian pula kami melihat orang yang berlebihan dalam kemarahannya sehingga keluar dari batas, lalu membunuh dirinya sendiri dan orang yang dicintainya.

402

Barang siapa yang mengetahui bahwa hal-hal ini diciptakan hanya sebagai pertolongan bagi badan untuk menempuh perjalanan dunia, dan tidak diciptakan untuk kenikmatan itu sendiri – kenikmatan dijadikan di dalamnya seperti tipu daya untuk menyampaikan manfaatnya – karena jika tujuannya adalah bermewah-mewah dengannya, niscaya binatang-binatang akan diberi bagian yang lebih banyak daripada manusia. Maka berbahagialah orang yang memahami hakikat penciptaan dan tidak dimiringkan oleh hawa nafsu dari memahami hikmah makhluk-makhluk.

Bab 76: Barang Siapa Merenungkan Akibat Maksiat Akan Melihatnya Buruk

403

Barang siapa yang merenungkan akibat-akibat maksiat, akan melihatnya buruk. Sungguh aku telah berpikir tentang kaum yang aku kenal yang mengakui zina dan lainnya, maka aku melihat dari kesulitan mereka di dunia – meskipun mereka kuat – hal yang tidak ada batasnya, seakan-akan mereka telah diselimuti kegelapan. Hati-hati menjauhi mereka. Jika ada sesuatu yang lapang bagi mereka, maka kebanyakannya dari harta orang lain. Jika ada urusan yang sempit bagi mereka, mereka mulai mencela takdir. Ini padahal mereka telah disibukkan dengan kotoran-kotoran ini dari mengingat akhirat.

404

Kemudian aku membalikkan, lalu berpikir tentang kaum yang bersabar terhadap hawa nafsu dan meninggalkan yang tidak halal. Di antara mereka ada yang telah masak buah-buah dunianya berupa makanan yang lezat, tempat tidur yang enak, kehidupan yang nikmat, dan kedudukan yang luas. Jika ada urusan yang sempit bagi mereka, kesabaran melapangkannya dan keridaan membuatnya baik. Maka aku memahami dengan keadaan makna firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya barang siapa bertakwa dan bersabar, maka Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik” (Yusuf: 90).

Bab 77: Tidak Baik Keakraban Kecuali dengan Melazimi Takwa

405

Seyogianya bagi orang berakal untuk melazimi pintu tuannya dalam segala keadaan, dan bergantung pada ujung karunia-Nya, baik ia bermaksiat maupun taat. Hendaklah ia memiliki keakraban dalam khalwatnya dengan-Nya. Jika terjadi kegelisahan, maka hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam mengangkat yang mengelisahkan, sebagaimana kata penyair:

“Apakah engkau gelisah karena apa yang telah engkau perbuat? Maka berbuat baiklah jika engkau menghendaki dan tentramkanlah.”

406

Jika ia melihat dirinya condong kepada dunia, mintalah dunia dari-Nya. Atau kepada akhirat, mintalah taufik untuk beramal untuknya. Jika ia takut akan bahaya apa yang diinginkannya dari dunia, mintalah kepada Allah perbaikan hatinya dan carilah keridaan-Nya. Karena jika hati baik, ia tidak akan meminta apa yang menyakitinya. Barang siapa yang demikian, ia akan berada dalam kehidupan yang sejahtera.

Hanya saja dari keharusan keadaan ini adalah melazimi takwa, karena keakraban tidak baik kecuali dengannya.

407

Para ahli takwa menyibukkan diri dari segala sesuatu kecuali berlindung dan memohon.

408

Dalam hadis disebutkan bahwa Qutaibah bin Muslim ketika berhadapan dengan orang Turki, ia terkejut dengan urusan mereka. Maka ia berkata: “Di mana Muhammad bin Wasi’?” Dikatakan: “Ia di ujung sayap kanan, bersandar pada busurnya, mengisyaratkan dengan jarinya ke arah langit.” Maka Qutaibah berkata: “Jari yang menyendiri itu lebih aku cintai daripada seratus ribu pedang yang terhunus dan ujung tombak yang tajam.” Ketika Allah memberikan kemenangan kepada mereka, ia berkata kepadanya: “Apa yang engkau lakukan?” Ia menjawab: “Aku mengambil untukmu jalan-jalan utama.”

Bab 78: Merahasiakan Urusan adalah Perbuatan Orang Bijak

409

Seyogianya bagi orang yang nikmat-nikmat Allah Azza wa Jalla telah tampak padanya, ia menampakkan darinya apa yang menjelaskan bekasnya, dan tidak membuka keseluruhannya. Ini termasuk kenikmatan dunia yang terbesar, yang kebijaksanaan memerintahkan untuk meninggalkannya, karena “sesungguhnya ain (pandangan mata yang dengki) itu benar adanya.”

410

Aku telah meneliti nikmat-nikmat, maka aku melihat menampakkannya manis di sisi jiwa. Namun jika ditampakkan kepada kekasih, tidak aman batinnya akan rusak karena kecemburuan. Dan jika ditampakkan kepada musuh, yang tampak adalah terkena ain karena kedengkian! Hanya saja aku melihat kemarahan orang yang dengki seperti yang melekat, karena dalam keadaan musibah ia merasa puas, dan dalam keadaan nikmat ia mengenai dengan ain.

Demi umurku, sesungguhnya orang yang diberi nikmat menginginkan kemarahan orang yang dengki kepadanya, tetapi ia tidak aman bahwa ia mempertaruhkan nikmatnya. Karena yang umum adalah orang yang dengki mengenainya dengan ain. Maka tidak sebanding kenikmatan menampakkan apa yang membuatnya marah dengan apa yang dirusak ainnya dengan mengenainya.

411

Merahasiakan urusan dalam segala keadaan adalah perbuatan orang bijak. Karena jika ia membuka kadar umurnya, mereka akan memandangnya pikun jika tua, dan meremehkannya jika muda. Jika ia membuka apa yang diyakininya, lawan-lawan akan memusuhinya dengan permusuhan. Jika ia membuka kadar hartanya, mereka akan meremehkannya jika sedikit, dan mendengkinya jika banyak. Dalam tiga hal ini penyair berkata:

“Jagalah lisanmu, jangan buka tiga hal: Umur, harta sejauh engkau mampu, dan mazhab. Karena pada tiga hal itu engkau akan diuji dengan tiga hal: Dengan yang mempermalukan, yang merendahkan, dan yang mendustakan.”

Qiyaskanlah pada apa yang telah kusebutkan apa yang tidak kusebutkan. Janganlah engkau termasuk orang-orang yang banyak bicara dan mudah terbuka, yang tidak dapat menyimpan rahasia mereka hingga menyebarkannya kepada yang tidak pantas! Betapa banyak kata yang terucap oleh lisan sehingga manusia binasa karenanya.

Bab 79: Berhati-hati dari Dosa-dosa

412

Aku melihat setiap orang yang tersandung sesuatu atau tergelincir dalam hujan, ia menoleh kepada apa yang membuatnya tersandung, lalu memandangnya. Ini adalah tabiat yang diletakkan dalam makhluk: baik untuk berhati-hati darinya jika ia melewatinya lagi dan dari yang sepertinya, atau untuk melihat – dengan kehati-hatian dan pemahamannya – bagaimana ia lalai berhati-hati dari yang seperti ini?! Maka aku mengambil isyarat dari itu, dan berkata:

Wahai orang yang tersandung berulang kali! Mengapa engkau tidak melihat apa yang membuatmu tersandung, lalu berhati-hati dari yang sepertinya, atau memandang buruk untuk dirimu – dengan kehati-hatianmu – kejadian itu?! Karena yang umum dari orang yang menoleh adalah makna tolehnya: bagaimana orang sepertiku – dengan kehati-hatiannya – tersandung dengan seperti apa yang kulihat?!

Sungguh menakjubkan bagimu! Engkau tersandung dengan seperti dosa ini dan dosa itu! Bagaimana hiasan memperdayaimu padahal engkau mengetahui dengan akalmu batinnya, dan melihat dengan mata pikiranmu akibatnya?! Bagaimana engkau mengutamakan yang fana atas yang kekal?! Bagaimana engkau menjual dengan kerugian? Bagaimah engkau memilih kenikmatan tidur sebentar atas terjaga dalam mu’amalah?!

Aduh bagimu! Sungguh engkau telah membeli dengan apa yang engkau jual beban-beban penyesalan yang tidak dapat dipikul punggung, dan menundukkan kepala yang kini jauh dari terangkat, dan air mata kesedihan atas buruknya perbuatan yang tidak ada putus-putusnya air matanya. Dan yang paling buruk adalah dikatakan kepadamu: “Dengan apa?! Dan karena apa?! Dan ini untuk apa?!”

Wahai orang yang tipu daya telah membalikkan timbangan untuknya dan menimbang untuknya, padahal timbangan itu miring!

Bab 80: Jarang yang Didatangi Bala dengan Takwa

413

Aku merenungkan firman Allah Ta’ala: “Barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka” (Thaha: 123). Para mufassir berkata: petunjuk-Ku adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kitab-Ku. Maka aku mendapatinya pada hakikatnya: bahwa setiap orang yang mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah, serta beramal dengan apa yang ada dalam keduanya, maka ia selamat dari kesesatan tanpa keraguan, dan terangkat darinya kecelakaan akhirat tanpa keraguan, jika ia mati dalam keadaan itu.

414

Demikian pula kecelakaan dunia, ia tidak celaka sama sekali. Hal ini dijelaskan oleh firman Allah Ta’ala: “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar” (At-Talaq: 2). Jika engkau melihatnya dalam kesulitan, ia memiliki keyakinan terhadap balasan yang membuat yang pahit menjadi madu baginya. Jika tidak, maka yang menang adalah baiknya kehidupan dalam segala keadaan.

415

Yang umum adalah ia tidak didatangi kesulitan kecuali jika ia menyimpang dari jalan takwa. Adapun yang melazimi jalan takwa, tidak ada kerusakan yang mendatanginya dan tidak ada musibah yang menimpanya. Ini yang umum. Jika kita anggap tidak ada dosa, maka itu untuk memasukkan emas kesabarannya ke dalam tungku musibah hingga keluar sebagai emas merah murni. Maka ia melihat manisnya siksaan karena ia menyaksikan yang diuji dalam musibah, bukan sakitnya. As-Syibli berkata: “Manusia mencintai-Mu karena nikmat-nikmat-Mu, dan aku mencintai-Mu karena bala-Mu.”

Bab 81: Tidak Merasakan Lezat Maksiat Kecuali yang Mabuk Lalai

416

Tidak merasakan lezat maksiat kecuali yang mabuk lalai. Adapun orang mukmin, ia tidak merasakan lezat karena ketika ia menikmati, berhadapan dengannya ilmu tentang keharaman dan takut akan hukuman. Jika ma’rifahnya kuat, ia melihat dengan mata ilmunya dekatnya Yang melarang, maka rusak kesenangan hidupnya dalam keadaan menikmatinya.

417

Jika mabuk hawa nafsu menang, hati tetap rusak dengan pengawasan-pengawasan ini, meskipun tabiat dalam syahwatnya. Dan itu hanya sesaat, kemudian ambillah dari penagih penyesalan yang melekat, tangisan yang berkesinambungan, dan penyesalan atas apa yang terjadi sepanjang masa, hingga seandainya ia yakin akan pengampunan, berhadapan dengannya takut akan teguran. Celakalah dosa-dosa! Betapa buruknya bekasnya! Dan betapa buruknya kabarnya! Dan jadilah syahwat yang tidak dapat diraih kecuali sekadar kekuatan lalai.

Bab 82: Sesungguhnya Uzlah Alim Adalah dari Kejahatan

418

Pada suatu hari aku pergi pagi-pagi mencari khalwat ke Masjid Ar-Rusafah, maka aku berkeliling sendirian dan berpikir di tempat itu, dan siapa yang pernah ada di sana dari para ulama dan orang-orang saleh. Aku melihat kaum yang telah lama tinggal di sana, maka aku bertanya kepada salah seorang dari mereka: “Sudah berapa lama engkau di sini?” Maka ia mengisyaratkan sekitar empat puluh tahun!

Aku melihatnya dalam rumah yang banyak kotoran dan kekotorannya, dan aku berpikir tentang penahanannya untuk dirinya dari nikah selama masa ini!!

Maka jiwa mulai memandang baik hal itu dan mencela dunia serta tertipu dengannya. Lalu ilmu datang mengingkari jiwa, dan pemahaman bangkit untuk hakikat-hakikat urusan, dan dasar syariat menguatkan apa yang dikatakan ilmu, maka teruraila dari itu.

419

Hingga aku berkata kepada jiwa: “Ketahuilah bahwa mereka ini ada dua macam:

Di antara mereka ada yang berjihad melawan dirinya dalam bersabar atas keadaan-keadaan ini, maka terlewatlah darinya keutamaan-keutamaan bergaul dengan ahli ilmu dan amal, mencari anak, memberi manfaat kepada makhluk, dan dirinya mengambil manfaat dengan duduk bersama ahli pemahaman. Maka terjadi padanya dari dirinya keadaan yang menyerupai binatang buas dalam hal itu, sehingga ia lebih suka menyendiri karena penyendiriannya sendiri. Barangkali tabiat menjadi kering dan akhlak menjadi buruk. Barangkali terjadi dari menahan airnya yang tertahan keracunan yang merusak badan dan akalnya. Barangkali khalwat mewariskan kepadanya was-was. Barangkali ia menyangka bahwa ia termasuk para wali dan merasa cukup dengan apa yang diketahuinya. Barangkali setan menampakkan kepadanya hal-hal dari khayalan-khayalan, sedangkan ia menganggapnya karamah!! Barangkali ia menyangka bahwa apa yang ada padanya adalah puncaknya, dan tidak tahu bahwa ia lebih dekat kepada keburukan. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang laki-laki bermalam sendirian, dan mereka ini setiap orang dari mereka bermalam sendirian!

Dan beliau melarang membujang, dan ini membujang! Dan beliau melarang rahbaniyyah.

Dan ini termasuk tipu daya iblis yang tersembunyi yang dijatuhkannya ke dalam jurang-jurang kesesatan dengan cara yang paling halus dan tersembunyi.

Dan golongan kedua: syaikh-syaikh yang telah habis, maka mereka terputus karena terpaksa, karena tidak ada seorang pun dari mereka yang memiliki tempat tinggal, maka mereka dalam kedudukan orang-orang yang uzur.

Meskipun golongan pertama telah memutuskan tali jiwa mereka dalam ilmu, amal, dan usaha, dan himmat mereka tergantung pada kemenangan yang mengetuk pintu mereka, maka mereka rela dengan kebutaan setelah melihat, dan dengan uzur setelah bebas.”

Bagian 420

Maka jiwa berkata kepadaku: “Aku tidak rela dengan apa yang kamu katakan, karena kamu hanya cenderung untuk lebih menyukai pernikahan dengan wanita-wanita cantik dan makanan-makanan yang lezat. Jika kamu bukan termasuk ahli ibadah, maka janganlah kamu mencela mereka.”

Maka aku berkata kepadanya: “Jika kamu memahami, aku akan bercerita kepadamu, dan jika kamu hanya meniru-niru keadaan orang lain, maka kamu tidak memiliki pemahaman.

Adapun tentang wanita-wanita cantik, sesungguhnya tujuan dari pernikahan ada beberapa hal: di antaranya adalah untuk mencari keturunan, dan di antaranya adalah untuk menyembuhkan jiwa dengan mengeluarkan kelebihan yang menyakitkan, dan keluarnya yang sempurna tidak terjadi kecuali dengan adanya yang cantik! Perhatikanlah hal ini dengan perbandingan antara bersetubuh tanpa farji, karena hal itu mengeluarkan kelebihan yang tidak keluar dengan bersetubuh melalui farji! Dan dengan sempurnanya keluarnya kelebihan tersebut, jiwa akan kosong dari kesibukan-kesibukannya, sehingga ia tahu di mana posisinya, sebagaimana kami menyuruh hakim untuk makan sebelum memutuskan perkara, dan kami melarangnya memutuskan perkara ketika ia sedang marah atau menahan air kencing. Dan dengan sempurnanya tercapainya tujuan ini, maka akan sempurna pula anak karena sempurnanya air mani yang darinya ia diciptakan. Kemudian jiwa memiliki bagian, maka ia akan memenuhinya sebagaimana unta memenuhi bagiannya dari makanan dalam perjalanan, dan hal itu membantu perjalanannya.

Adapun tentang makanan-makanan, maka orang bodoh adalah yang mencarinya untuk dirinya sendiri atau untuk kenikmatannya sendiri, padahal yang dimaksud adalah memperbaiki jiwa untuk mengumpulkan perhatiannya, dan meraih tujuannya dari maksudnya yang mengalihkannya dari memikirkan hawa nafsunya.”

Bagian 421

Dan jika kamu merenungkan keadaan generasi pertama, kamu akan melihat keajaiban dari hal ini: sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih untuk dirinya Aisyah radhiyallahu ‘anha, dan ia adalah wanita yang cantik. Dan beliau melihat Zainab, lalu beliau menganggapnya cantik, maka beliau menikahinya. Dan demikian pula beliau memilih Shafiyyah. Dan beliau jika diceritakan kepadanya tentang seorang wanita, beliau mengirim orang untuk melamarnya. Dan Ali radhiyallahu ‘anhu memiliki empat istri merdeka, dan tujuh belas budak wanita yang ia tinggalkan ketika meninggal. Dan sebelum umat ini, Daud ‘alaihissalam memiliki seratus istri, dan Sulaiman ‘alaihissalam memiliki seribu istri.

Maka barangsiapa yang mengklaim ada kerusakan dalam cara-cara ini, atau bahwa mereka mengikuti hawa nafsu mereka, dan menghabiskan modal umur dalam tujuan-tujuan ini, padahal ada yang lebih baik, maka ia telah menuduh orang-orang sempurna dengan kekurangan, padahal dialah yang kurang dalam pemahamannya, bukan mereka.

Dan Sufyan Ats-Tsauri jika bepergian, dalam perjalanannya ia membawa daging panggang dan halwa, dan ia berkata: “Sesungguhnya hewan jika tidak diperlakukan dengan baik, ia tidak akan bekerja.”

Bagian 422

Dan bidang-bidang yang aku tunjukkan ini, jika dimaksudkan untuk kebutuhan kepadanya, atau untuk memenuhi keinginan jiwa darinya, atau untuk mencapai tujuan-tujuan agama dan dunia darinya: maka semuanya adalah maksud yang benar, tidak boleh dikritik oleh orang yang berdiri dan duduk dalam rakaat-rakaat yang tidak ia pahami maknanya, dan dalam tasbih-tasbih yang kebanyakan lafaznya buruk.

Bagian 423

Tidak, tidak ada yang lebih baik selain ilmu yang merupakan sifat terbaik, dan ibadah yang paling mulia, dan dialah yang memerintahkan dengan kemaslahatan, dan yang berbicara dengan nasihat-nasihat. Kemudian manfaat ilmu sudah diketahui, dan zuhud orang zahid tidak melampaui ambang pintu rumahnya, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh jika Allah memberi petunjuk melalui dirimu kepada seorang laki-laki, itu lebih baik bagimu daripada apa yang disinari matahari.”

Bagian 424

Kemudian perhatikanlah keutamaan para rasul atas para nabi ‘alaihimusshalatu wassalam, dan binatang buas yang berburu atas yang tidak berburu, dan tanah liat yang dibuat darinya sesuatu yang bermanfaat atas tanah liat di tempat galian.

Dan puncak para ulama adalah tindakan mereka dengan ilmu dalam hal yang mubah, dan kebanyakan orang-orang zuhud adalah orang-orang bodoh, mereka diperbudak oleh ciuman tangan karena meninggalkan apa yang dibolehkan.

Berapa banyak uzlah yang menyia-nyiakan ilmu yang dengan itu dapat diperbaiki pokok agama, dan berapa banyak yang menjerumuskan ke dalam bencana yang dengan itu binasa agama, dan sesungguhnya uzlah seorang alim hanya dari kejahatan saja, dan Allah yang memberi taufik.

Fasal 83: Dosa-dosa Memiliki Akibat Buruk

Bagian 425

Sepatutnya bagi setiap orang yang berakal dan cerdas untuk berhati-hati terhadap akibat-akibat maksiat, karena tidak ada hubungan kekerabatan atau rahim antara manusia dengan Allah Ta’ala, dan Dia hanya berdiri dengan adil, memutuskan dengan keadilan. Dan meskipun kesabaran-Nya dapat menampung dosa-dosa, namun jika Dia berkehendak, Dia memaafkan, maka Dia memaafkan setiap dosa yang besar, dan jika Dia berkehendak Dia menghukum karena yang kecil. Maka hati-hatilah, hati-hatilah!

Bagian 426

Dan sungguh aku melihat kaum dari orang-orang yang bermewah-mewahan, mereka bergelimang dalam kezaliman dan kemaksiatan baik tersembunyi maupun terang-terangan, maka mereka lelah dari arah yang tidak mereka duga, maka dicabut akar-akar mereka, dan dirobohkan apa yang mereka bangun dari fondasi-fondasi yang mereka kukuhkan untuk keturunan mereka, dan hal itu tidak lain karena mereka mengabaikan sisi Tuhan ‘azza wa jalla, dan mereka mengira bahwa kebaikan yang mereka lakukan dapat melawan kejahatan yang terjadi, maka miring lah kapal sangkaan mereka, sehingga masuk ke dalamnya air tipu daya yang menenggelamkan mereka.

Bagian 427

Dan aku melihat kaum dari orang-orang yang menisbatkan diri kepada ilmu, mereka mengabaikan pandangan Tuhan ‘azza wa jalla kepada mereka dalam kesendirian, maka Dia menghapus kebaikan-kebaikan kenangan mereka dalam perkumpulan, sehingga mereka ada seperti tidak ada, tidak ada manisnya melihat mereka, dan tidak ada hati yang rindu untuk bertemu mereka.

Maka demi Allah, demi Allah dalam memperhatikan Tuhan ‘azza wa jalla; karena sesungguhnya timbangan keadilan-Nya menampakkan di dalamnya zarrah, dan balasan-Nya mengintai orang yang salah, meskipun setelah beberapa waktu, dan barangkali ia mengira bahwa itu adalah ampunan, padahal itu adalah penundaan, dan dosa-dosa memiliki akibat buruk.

Demi Allah, demi Allah! Kesendirian, kesendirian! Batin, batin! Niat, niat, karena sesungguhnya atas kalian ada mata dari Allah yang melihat! Dan janganlah kalian tertipu dengan kesabaran dan kemurahan-Nya, karena betapa banyak Dia membiarkan orang terjerumus! Dan jadilah kalian dalam memperhatikan kesalahan-kesalahan, bersungguh-sungguh dalam menghapusnya! Dan tidak ada yang bermanfaat seperti memohon dengan menjaga diri dari kesalahan-kesalahan, maka bersiaplah. Dan ini adalah fasal jika direnungkan oleh orang yang bermuamalah dengan Allah Ta’ala akan bermanfaat baginya.

Bagian 428

Dan sungguh berkata sebagian dari orang-orang yang muraqabah kepada Allah Ta’ala: “Aku mampu mendapatkan kelezatan dan itu bukan dosa besar, maka jiwaku menarikku kepadanya, dengan mengandalkan kecilnya, dan besarnya karunia Allah Ta’ala dan kemurahan-Nya, maka aku berkata kepada jiwaku: Jika kamu menang atas ini, maka kamulah kamu, dan jika kamu melakukan ini, maka siapakah kamu?! Dan aku mengingatkannya keadaan kaum yang dahulu memberi kelapangan bagi jiwa mereka dalam kelonggaran, bagaimana lenyap kenangan mereka, dan menguasai mereka hukuman karena berpaling dari mereka, maka aku takut dan kembali dari apa yang aku kehendaki, dan Allah yang memberi taufik.”

Fasal 84: Kenalilah Keagungan yang Melarang

Bagian 429

Banyak dari manusia yang bersikap longgar dalam perkara-perkara yang mereka anggap kecil, padahal itu merusak pokok-pokok, seperti meminjam para penuntut ilmu sebuah juz yang tidak mereka kembalikan, dan maksud masuk kepada orang yang sedang makan untuk makan bersamanya, dan mengambil makanan yang tidak diundang manusia kepadanya, dan berleha-leha dengan kehormatan musuh dengan bersenang-senang dengan itu, dan meremehkan dosa seperti ini, dan melepaskan pandangan karena meremehkan kesalahan itu, dan fatwa dari orang yang tidak tahu agar tidak dikatakan: dia bodoh, dan semacam itu yang dia anggap kecil padahal itu besar.

Dan yang paling ringan yang dilakukan itu kepada pemiliknya adalah menurunkannya dari tingkat orang-orang yang istimewa di antara manusia, dan dari kedudukan kemuliaan derajat di sisi Tuhan. Dan barangkali dikatakan kepadanya dengan lisan Tuhan: “Wahai orang yang dipercaya dengan perkara kecil lalu berkhianat! Apa bencana bagianmu maka hadapilah!”

Berkata sebagian dari salaf: “Aku berleha-leha dengan sesuap, maka aku mengambilnya, maka aku hari ini dari empat puluh tahun ke belakang.”

Demi Allah, demi Allah! Dengarlah dari orang yang telah mencoba! Jadilah kalian dalam muraqabah! Dan lihatlah akibat-akibatnya! Dan kenalilah keagungan yang melarang! Dan berhati-hatilah dari hembusan yang kamu remehkan, dan percikan api yang kamu anggap kecil, karena barangkali ia membakar sebuah negeri! Dan ini yang aku tunjukkan, sedikit yang menunjukkan banyak, dan contoh yang mengenalkan sisa-sisa yang diremehkan dari dosa-dosa.

Dan ilmu dan muraqabah akan mengenalkan kepadamu apa yang kamu lalai menyebutkannya, dan mengajarkan kepadamu jika kamu melihat dengan mata bashirah bekas sial perbuatannya, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Fasal 85: Meminta Kepada Allah Kebutuhan-kebutuhannya dan Melupakan Kejahatan-kejahatannya

Bagian 430

Aku melihat dari diriku keajaiban! Dia meminta kepada Allah ‘azza wa jalla kebutuhan-kebutuhannya, dan melupakan kejahatan-kejahatannya!! Maka aku berkata: “Wahai jiwa yang buruk! Apakah sepertimu pantas berbicara?! Jika berbicara, sepatutnya permintaan hanya ampunan saja.” Maka dia berkata: “Dari siapa aku meminta keinginan-keinginanku?!” Aku berkata: “Aku tidak melarangmu dari meminta keinginan, tetapi aku berkata: Realisasikanlah taubat dan berbicaralah, sebagaimana kami berkata kepada orang yang bermaksiat dalam perjalanannya jika terpaksa kepada bangkai: tidak boleh baginya makan, jika dikatakan kepada kami: Apakah dia akan mati?! Kami berkata: Tidak, tetapi hendaklah dia bertaubat dan makan.”

Maka demi Allah, demi Allah dari keberanian meminta tujuan-tujuan, dengan melupakan apa yang telah lalu dari dosa-dosa, yang mewajibkan menundukkan kepala, dan jika kamu disibukkan dengan memperbaiki apa yang telah lalu, dan menyesal atasnya, maka akan datang kepadamu keinginan-keinginanmu. Sebagaimana diriwayatkan: “Barangsiapa yang disibukkan oleh zikir-Ku dari meminta kepada-Ku, Aku berikan kepadanya yang terbaik dari apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta.”

Bagian 431

Dan Bisyr Al-Hafi biasa mengulurkan tangannya untuk meminta, kemudian ia turunkan, dan berkata: “Seperti diriku tidak pantas meminta! Dosa-dosa tidak meninggalkan untukku wajah.” Dan ini khusus untuk Bisyr karena kuatnya ma’rifahnya, ia pada waktu meminta seperti orang yang diajak bicara secara langsung, maka ia malu karena kesalahan-kesalahan. Adapun ahli ghaflah, maka permintaan mereka dari jauh. Maka pahamilah apa yang aku sebutkan, dan sibukkan diri dengan taubat dari kesalahan-kesalahan.

Bagian 432

Kemudian yang mengherankan dari permintaan-permintaanmu! Karena kamu hampir tidak meminta yang penting dari dunia, tetapi kelebihan hidup, dan kamu tidak meminta kebaikan hati dan agama seperti kamu meminta kebaikan dunia.

Maka tahanlah urusanmu; karena kamu dari kelonggaran dan ghaflah di tepi jurang, dan hendaklah kesedihanmu atas kesalahan-kesalahanmu menyibukkanmu dari keinginan-keinginanmu, karena Hasan Al-Bashri sangat takut, maka ketika dikatakan kepadanya dalam hal itu? Dia berkata: “Dan apa yang mengamankanku bahwa Dia telah melihat sebagian dosa-dosaku lalu berkata: Pergilah; tidak akan Aku ampuni untukmu?!”

Fasal 86: Tidak Mengenal Allah Kecuali yang Takut Kepada-Nya

Bagian 433

Yang paling mengherankan adalah pengakuan ma’rifah dengan jauh dari ‘irfan kepada Allah! Tidak mengenal-Nya kecuali yang takut kepada-Nya, adapun yang tenang, maka dia bukan dari ahli ma’rifah.

Bagian 434

Dan di antara orang-orang zuhud ada ahli kealpaaan, hampir salah seorang dari mereka yakin bahwa dia adalah wali yang dicintai dan diterima! Dan barangkali berturut-turut datang kepadanya kemudahan-kemudahan yang dia kira sebagai karamah, dan dia lupa istidraj, yang mengitari kemudahan-kemudahan! Dan barangkali dia meremehkan orang lain, dan mengira bahwa kedudukannya terpelihara dengannya! Memperdayainya rakaat-rakaat yang dia tegakkan di dalamnya, atau ibadah yang dia lakukan dengannya! Dan barangkali dia mengira bahwa dia adalah quthub bumi! Dan bahwa tidak akan ada yang mencapai kedudukannya setelahnya!!

Bagian 435

Dan seakan-akan dia tidak tahu bahwa ketika Musa ‘alaihissalam adalah mukallam, Yusya’ dinabikan! Dan ketika Zakariya ‘alaihissalam mustajab ad-da’wah, dia digergaji dengan gergaji! Dan ketika Yahya ‘alaihissalam disifati bahwa dia adalah sayyid, dikuasakan atasnya kafir yang memotong kepalanya! Dan ketika Bal’am bersamanya asma’ al-a’zham, dia menjadi seperti anjing! Dan ketika syariat diamalkan dengannya, dinasakh, dan batal hukumnya! Dan ketika badan terurus, rusak, dan dikuasakan kepadanya kebinasaan! Dan ketika alim bekerja keras hingga meraih derajat yang dia yakini, tumbuh anak kecil di zamannya, naik untuk menyelidiki cacat-cacatnya dan kesalahannya, dan betapa banyak pembicara yang berkata: “Tidak ada yang seperti diriku!” Jika dia hidup dan mendengar apa yang terjadi setelahnya dari kefasihan, dia akan menganggap dirinya bisu! Ini adalah nasihat Ibnu As-Sammak dan Ibnu ‘Ammar dan Ibnu Sam’un, tidak layak untuk sebagian murid-murid kami dan mereka tidak menyukainya. Maka bagaimana heran orang yang menghabiskan sesuatu?! Dan dengan apa yang datang setelah kami dari orang yang tidak menganggap kami!!

Maka demi Allah, demi Allah dari menetapi tempat, dan melawan kedudukan… Dan hendaklah yang terjaga dalam kegelisahan, meremehkan banyaknya ketaatan-ketaatannya, takut atas dirinya dari perubahan-perubahannya, dan berlakunya takdir-takdir padanya.

Dan ketahuilah bahwa melihat sekilas hal-hal yang aku tunjukkan ini akan memotong leher kesombongan, dan menghilangkan kibirnya takabur.

Fasal 87: Ma’rifah yang Mewajibkan Ridha dan Sabar

Bagian 436

Barangsiapa yang hidup bersama Allah ‘azza wa jalla dengan jiwa yang baik di masa keselamatan, ringan atasnya masa bala’, maka di sanalah ujian.

Sesungguhnya Malik ‘azza wa jalla, ketika membangun merobohkan, dan ketika memberi merampas, maka jiwa yang baik dan ridha di sana menjelaskan. Adapun orang yang berturut-turut datang kepadanya nikmat-nikmat? Maka dia akan berjiwa baik karena berturut-turutnya, maka jika menyentuhnya hembusan dari bala’, maka jauh ketetapannya. Berkata Hasan Al-Bashri: “Mereka sama pada waktu nikmat, maka jika turun bala’, mereka berbeda.”

Bagian 437

Maka orang yang berakal adalah yang menyiapkan simpanan, dan memperoleh bekal, dan menambah dari jumlah, untuk menghadapi perang bala’, dan tidak mungkin tidak menghadapi bala’, sekalipun tidak ada kecuali ketika terkapar kematian; karena jika itu turun -dan kami berlindung kepada Allah- maka tidak menemukan ma’rifah yang mewajibkan ridha atau sabar, mengeluarkan kepada kekafiran.

Dan sungguh aku mendengar sebagian dari orang yang aku kira padanya banyak kebaikan, dan dia berkata di malam-malam kematiannya: “Tuhanku, Dia menzalimiku!” Maka aku tidak berhenti gelisah dan khawatir dengan memperoleh persiapan yang dengannya aku menghadapi hari itu.

Bagaimana, padahal telah diriwayatkan bahwa syaitan berkata kepada para pembantunya di saat itu: “Seranglah orang ini, karena jika dia lolos dari kalian, maka kalian tidak akan mampu menguasainya?!”

Bagian 438

Dan hati mana yang akan tetap ketika menahan jiwa, dan memegang tenggorokan, dan mencabut jiwa, dan mengetahui perpisahan dengan yang dicintai kepada apa yang tidak diketahui apa itu, dan tidak ada dalam zahirnya kecuali kubur dan bala’.

Bagian 439

Maka kami memohon kepada Allah ‘azza wa jalla keyakinan yang menyelamatkan dari kejahatan hari itu, semoga kami sabar terhadap qadha’ atau ridha dengannya, dan kami berharap kepada Pemilik segala urusan agar Dia menganugerahkan kepada kami dari kelebihan-kelebihan nikmat-Nya kepada kekasih-kekasih-Nya, hingga pertemuan dengan-Nya lebih dicintai oleh kami daripada keberadaan kami, dan tafwidh kami kepada takdir-Nya lebih diinginkan oleh kami daripada pilihan kami.

Dan kami berlindung kepada Allah dari meyakini kesempurnaan bagi pengaturan kami, hingga jika terbalik kepada kami suatu urusan, kami kembali kepada qadar dengan kemarahan, dan ini adalah kebodohan yang murni dan kehinaan yang jelas, semoga Allah melindungi kami darinya.

Fasal 88: Sifat Orang yang Arif

Bagian 440

Tidak ada di dunia dan tidak di akhirat yang lebih baik kehidupannya daripada orang-orang yang arif kepada Allah ‘azza wa jalla. Karena orang yang arif kepada-Nya merasa tenteram dengan-Nya dalam kesendirian, jika nikmat merata, dia tahu dari siapa yang menghadiahkannya, dan jika lewat kepahitan, manis rasanya di mulutnya, karena ma’rifahnya kepada Yang menguji, dan jika dia meminta lalu tertunda tujuannya, maka menjadi keinginannya apa yang berlaku dengan qadar, tinggi darinya dengan maslahat, setelah yakinnya dengan hikmah, dan kepercayaannya dengan baiknya pengaturan.

Bagian 441

Dan sifat orang arif: bahwa hatinya memperhatikan yang dikenal, berdiri di hadapan-Nya, melihat dengan mata yakin kepada-Nya, maka telah menyebar dari berkah ma’rifahnya kepada anggota-anggota badan apa yang mendidiknya.

“Jika aku berbicara maka aku tidak berbicara selain kalian Dan jika aku diam maka kalian adalah ikatan batinku”

Bagian 442

Jika menguasai orang arif gangguan, dia memalingkan pandangannya dari sebab, dan tidak melihat selain Yang menyebabkan, maka dia dalam kehidupan yang paling baik dengan-Nya: jika diam, dia memikirkan penegakan hak-Nya, dan jika berbicara, dia berbicara dengan apa yang meridhai-Nya, hatinya tidak tenang kepada istri dan tidak kepada anak, dan tidak berpegang pada ekor cinta seseorang; dan sesungguhnya dia bergaul dengan makhluk dengan badannya, dan ruhnya di sisi Pemilik ruhnya.

Maka inilah yang tidak ada kekhawatiran atasnya di dunia, dan tidak ada kesedihan padanya waktu kepergian darinya, dan tidak ada kesendirian baginya di kubur, dan tidak ada ketakutan atasnya di hari mahsyar.

Bagian 443

Adapun orang yang tidak memiliki ma’rifah, maka dia tersandung: tidak berhenti mengeluh dari bala’ karena dia tidak mengenal Yang menguji, dan merasa sepi karena kehilangan tujuannya karena dia tidak mengenal maslahat, dan merasa tenteram dengan jenisnya karena tidak ada ma’rifah antara dia dengan Tuhannya, dan takut dari kepergian karena tidak ada bekal baginya, dan tidak ada ma’rifah dengan jalan.

Bagian 444

Dan betapa banyak alim dan zahid yang tidak dikaruniai dari ma’rifah kecuali apa yang dikaruniai orang awam yang menganggur! Dan barangkali dia melebihi keduanya! Dan betapa banyak orang awam yang dikaruniai darinya apa yang tidak dikaruniai kepada keduanya dengan kesungguhan keduanya! Dan sesungguhnya itu adalah karunia-karunia dan pembagian-pembagian: “Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Maidah: 54)

Bab 89: Jangan Menukar Kemuliaan Takwa dengan Kehinaan Maksiat

445

Demi Allah, wahai orang yang dimuliakan kedudukannya dengan takwa, janganlah engkau menukar kemuliaan takwa dengan kehinaan maksiat! Bersabarlah terhadap dahaga hawa nafsu di tengah terik syahwat, meskipun sangat pedih dan menyiksa. Jika engkau telah mencapai puncak kesabaran, maka mintalah kepada Allah dan berdoalah, karena itulah kedudukan orang yang “seandainya dia bersumpah kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.”

446

Demi Allah, seandainya bukan karena kesabaran Umar, tangannya tidak akan berani memukul bumi dengan tongkat. Dan seandainya bukan karena kesungguhan Anas bin Nadhar dalam meninggalkan hawa nafsunya, padahal dia telah berkata dengan penuh tekad: “Sungguh, jika Allah menyaksikanku dalam pertempuran, niscaya Allah akan melihat apa yang akan kuperbuat.” Maka dia maju pada hari perang Uhud dan terus berperang hingga terbunuh, dan dia tidak dikenali kecuali dari jari-jemarinya. Seandainya bukan karena tekad yang kuat ini, wajahnya tidak akan berseri-seri ketika dia bersumpah: “Demi Allah, gigi Rabi’ tidak akan patah.”

447

Demi Allah, rasakanlah manisnya menahan diri dari yang dilarang, karena itu adalah pohon yang berbuah kemuliaan dunia dan kehormatan akhirat. Ketika dahagamu sangat keras terhadap apa yang kau inginkan, bentangkanlah jari-jari harapan kepada Dzat yang memiliki minuman yang sempurna, dan katakanlah: “Kesabaranku telah habis dalam tahun-tahun yang sulit ini, maka segerakanlah bagiku tahun yang di dalamnya aku dapat merasakan hujan dan mendapat pertolongan.”

448

Demi Allah, renungkanlah orang yang telah menghabiskan sebagian besar umurnya dalam takwa dan ketaatan, kemudian dia diuji dengan fitnah di waktu akhir, bagaimana perahunya menabrak tebing hingga tenggelam saat akan naik! Celaka bagi dunia—bahkan celaka bagi surga—jika meraihnya mengharuskan berpaling dari Yang Tercinta!

449

Orang awam dinisbatkan dengan namanya dan nama ayahnya, adapun orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi, gelar lebih diutamakan daripada nasab. Katakan kepadaku: Siapa engkau? Apa pekerjaanmu? Dan sampai maqam mana kedudukanmu terangkat?

450

Wahai orang yang tidak bisa bersabar sejenak dari apa yang diinginkan! Demi Allah, tahukah engkau siapa laki-laki sejati?! Laki-laki sejati, demi Allah, adalah orang yang ketika dia menyendiri dengan sesuatu yang dicintainya dari yang haram, dan dia mampu melakukannya, dan dia sangat haus kepadanya, dia melihat pandangan Allah kepadanya, lalu dia malu untuk menggerakkan niat pada sesuatu yang dibenci Allah, maka hilanglah rasa hausnya.

451

Seolah-olah engkau tidak meninggalkan untuk kami kecuali apa yang tidak engkau inginkan, atau apa yang engkau tidak benar-benar menginginkannya, atau apa yang tidak engkau mampu! Begitulah kebiasaanmu, demi Allah! Ketika engkau bersedekah, engkau memberikan remah-remah yang tidak layak untukmu, atau di hadapan orang banyak yang memujimu. Mustahil! Demi Allah, engkau tidak akan memperoleh apa yang kami miliki hingga muamalahmu kepada kami ikhlas: engkau memberikan yang terbaik, meninggalkan yang engkau inginkan, dan bersabar atas apa yang engkau benci, dengan mengetahui—jika engkau benar-benar bermuamalah—bahwa engkau adalah pekerja upahan, dan matahari belum terbenam. Jika engkau seorang pencinta, engkau akan melihat itu sedikit dibandingkan ridha kekasihmu kepadamu. Dan pembicaraan kami tidak dengan yang ketiga.

Bab 90: Terbukti Hikmah Allah dalam Hukum dan Kerajaan-Nya

452

Aku melihat dalam akal ada semacam keinginan untuk mengetahui semua hikmah Allah Yang Maha Mulia dalam hukum-Nya! Terkadang sebagian hikmah tidak tampak baginya—seperti pembongkaran setelah pembangunan—maka dia berdiri bingung! Dan terkadang setan memanfaatkan kesempatan itu lalu membisikkan: “Di mana hikmah dari ini?!”

Maka aku berkata kepadanya: “Hati-hatilah jangan sampai tertipu, wahai orang malang! Sungguh, telah terbukti pada dirimu dengan dalil yang pasti—dari apa yang engkau lihat dari kesempurnaan ciptaan-ciptaan—tingginya hikmah Sang Pencipta. Jika sebagian hikmah tersembunyi darimu, itu karena lemahnya pemahamanmu.”

453

Kemudian, para raja selalu memiliki rahasia-rahasia, maka siapa engkau hingga dengan kelemahanmu ingin mengetahui semua hikmah-Nya?! Cukuplah bagimu yang umum! Dan hati-hatilah jangan sampai engkau mencampuri apa yang tersembunyi darimu, karena engkau adalah sebagian dari ciptaan-Nya, dan setitik debu dari buatan-Nya, maka bagaimana engkau bisa mengatur Dzat yang darinya engkau berasal?!

454

Kemudian telah terbukti pada dirimu hikmah-Nya dalam hukum dan kerajaan-Nya, maka gunakanlah alatmu sesuai kemampuanmu dalam mempelajari hikmah-hikmah yang mungkin, karena itu akan membuatmu takjub! Dan pejamkanlah mata terhadap apa yang tersembunyi darimu, karena pantas bagi pemilik penglihatan yang lemah untuk tidak melawan cahaya matahari.

Bab 91: Hal Paling Menakjubkan adalah Jihad Melawan Jiwa

455

Hal paling menakjubkan adalah jihad melawan jiwa, karena itu membutuhkan keterampilan yang luar biasa. Ada kaum yang melepaskan jiwanya dalam apa yang dicintainya, sehingga jiwa itu menjerumuskan mereka ke dalam apa yang mereka benci. Dan ada kaum yang berlebihan dalam menentangnya, hingga mereka mencegah haknya dan menzhaliminya, dan kezhaliman mereka terhadap jiwa berpengaruh pada ibadah mereka. Di antara mereka ada yang memburukkan makanannya, sehingga berpengaruh pada lemahnya badannya untuk menjalankan kewajibannya. Di antara mereka ada yang menyendirikan jiwanya dalam khalwat, sehingga menimbulkan keengganan terhadap manusia, dan berujung pada meninggalkan kewajiban atau keutamaan, seperti menjenguk orang sakit atau berbakti kepada orang tua.

Sesungguhnya orang yang bijak adalah orang yang jiwanya belajar kesungguhan darinya dan menjaga pokok-pokok agama. Ketika dia memberikan kelonggaran dalam hal yang mubah, jiwa tidak berani melampauinya, sehingga dia bersama jiwanya seperti raja ketika bercanda dengan sebagian tentaranya, maka anak buah tidak akan bersikap sembrono kepadanya, jika bersikap sembrono, dia ingat akan keagungan kerajaan. Demikian juga orang yang tahqiq, dia memberi jiwa bagiannya, dan memenuhi apa yang menjadi kewajibannya.

Bab 92: Segeralah Sebelum Terlambat

456

Aku melihat kebanyakan makhluk mendorong waktu dengan cara yang menakjubkan: jika malam panjang, dengan pembicaraan yang tidak bermanfaat, atau dengan membaca buku yang berisi cerita perang dan hiburan! Jika siang panjang, dengan tidur! Dan mereka di ujung-ujung siang berada di sungai Tigris atau di pasar-pasar! Maka aku menyerupakan mereka dengan orang-orang yang berbincang di kapal, sementara kapal itu berlayar membawa mereka, dan mereka tidak tahu!

457

Dan aku melihat orang-orang langka yang telah memahami makna keberadaan, maka mereka dalam persiapan bekal dan bersiap untuk kepergian, hanya saja mereka berbeda-beda, dan sebab perbedaan mereka adalah sedikitnya ilmu dan banyaknya tentang apa yang diperlukan di negeri tempat tinggal. Orang-orang yang terjaga di antara mereka mencari tahu berita tentang apa yang laku di sana, maka mereka memperbanyaknya, sehingga keuntungan mereka bertambah. Orang-orang yang lalai di antara mereka membawa apa yang kebetulan ada, dan terkadang mereka keluar tanpa pengawal, maka betapa banyak orang yang dirampok di jalan sehingga menjadi bangkrut!

Maka bertakwalah kepada Allah dalam musim-musim umur! Dan segeralah sebelum terlambat! Mintalah kesaksian dari ilmu, tukarkan dengan hikmah, berlomba-lombalah dengan waktu, evaluasi jiwa-jiwa, dan bersiaplah dengan bekal, karena telah berteriak si penggembala, namun tidak memahami suaranya orang yang terjatuh air mata penyesalan.

Bab 93: Kekacauan Ahli Akhirat

458

Yang paling berbahaya bagi orang sakit adalah kekacauan, dan tidak ada seorang pun kecuali dia sakit karena hawa nafsu. Menjaga dari hawa nafsu adalah pokok obat, dan kekacauan memperpanjang penyakit.

459

Kekacauan ahli akhirat ada dua macam: Pertama: Kekacauan para ulama, yaitu karena bergaul dengan lawan-lawan seperti para penguasa, karena mereka melemahkan kekuatan keyakinan mereka, semakin bertambah pergaulan. Dan mereka kehilangan dalil mereka di hadapan para murid, karena jika aku melihat dokter yang mencampur-adukkan dan menasihati untuk menjaga, aku ragu atau berhenti.

Kedua: Kekacauan para zahid, terkadang karena bergaul dengan ahli dunia, dan terkadang karena memelihara kemunafikan dalam menampakkan khusyu’ untuk menarik cinta orang awam.

Maka bertakwalah kepada Allah, karena penimbang balasan itu melihat, dan keikhlasan di dalam batin, dan kejujuran di dalam hati, dan sebaik-baik jalan keselamatan adalah menyembunyikan keadaan.

Bab 94: Guru Paling Bermanfaat adalah yang Mengamalkan Ilmunya

460

Aku bertemu dengan para guru yang keadaan mereka berbeda-beda, mereka berbeda dalam kadar ilmu mereka, dan yang paling bermanfaat bagiku dalam pergaulan adalah yang mengamalkan ilmunya di antara mereka, meskipun yang lainnya lebih berilmu darinya.

461

Dan aku bertemu dengan sekelompok ulama hadis yang hafal dan mengetahui, tetapi mereka longgar dalam ghibah yang mereka keluarkan sebagai jarh wa ta’dil, dan mereka mengambil upah atas pembacaan hadis, dan mereka tergesa-gesa dalam menjawab agar tidak rusak kedudukannya, meskipun terjadi kesalahan.

462

Dan aku bertemu dengan Abdul Wahhab Al-Anmathi, dia berada di atas kaidah salaf, tidak terdengar di majlisnya ghibah, dan dia tidak meminta upah atas mendengar hadis. Ketika aku membacakan kepadanya hadis-hadis tentang riqah (kelembutan hati), dia menangis, dan tangisannya berkelanjutan, maka tangisannya—sementara aku masih kecil saat itu—bekerja di hatiku dan membangun fondasi-fondasi, dan dia berada di atas perilaku para guru yang kami dengar sifat-sifatnya dalam riwayat.

463

Dan aku bertemu dengan Syaikh Abu Manshur Al-Jawaliqi, dia banyak diam, sangat hati-hati dalam apa yang dikatakan, teliti, dan tahqiq. Terkadang dia ditanya pertanyaan yang jelas, yang sebagian muridnya buru-buru menjawabnya, namun dia berhenti hingga yakin, dan dia banyak puasa dan diam, maka aku lebih banyak mendapat manfaat dari melihat kedua orang ini daripada dari yang lainnya. Aku memahami dari keadaan ini bahwa dalil dengan perbuatan lebih menunjukkan jalan daripada dalil dengan perkataan.

464

Dan aku melihat guru-guru yang memiliki khalwat dalam keceriaan dan bercanda, maka hati-hati menjadi longgar, dan keteledoran mereka menghamburkan apa yang mereka kumpulkan dari ilmu, sehingga sedikit manfaat yang diperoleh dari mereka dalam hidup mereka, dan mereka dilupakan setelah mati, sehingga hampir tidak ada yang memperhatikan karya-karya mereka.

Maka bertakwalah kepada Allah dalam menggabungkan ilmu dengan amal, karena itu adalah pokok yang terbesar. Dan malang sekali orang yang umurnya habis dalam ilmu yang tidak diamalkan, sehingga kehilangan kelezatan dunia dan kebaikan akhirat, lalu datang dalam keadaan bangkrut, padahal hujjah yang kuat telah tegak atasnya.

Bab 95: Sesungguhnya Allah Memberi Tenggang Waktu untuk Menguji Kesabaran yang Sabar

465

Maha Suci Raja Yang Maha Agung, yang siapa mengenal-Nya akan takut kepada-Nya, dan tidak pernah merasa aman dari makar-Nya orang yang mengenal-Nya.

466

Sungguh aku telah merenungkan perkara yang besar: bahwa Allah memberi tenggang waktu hingga seolah-olah Dia mengabaikan, maka engkau melihat tangan-tangan orang yang durhaka terlepas, seolah-olah tidak ada yang menghalangi. Ketika kemerdekaan bertambah, dan akal tidak insaf, Dia mengambil dengan pengambilan yang perkasa. Sesungguhnya pemberian tenggang waktu itu untuk menguji kesabaran yang sabar, dan untuk memberikan kelonggaran dalam tenggang waktu bagi orang yang zhalim, sehingga yang ini tetap dalam kesabarannya, dan yang itu dibalas dengan buruknya perbuatannya, di samping ada kelembutan dalam lipatan itu yang tidak kita ketahui. Ketika Dia mengambil dengan pengambilan sebagai hukuman, aku melihat setiap kesalahan ada konsekuensinya, dan terkadang dikumpulkan, lalu orang yang durhaka dipukul dengan batu yang menghancurkan. Dan terkadang tersembunyi dari manusia sebab hukumannya, maka dikatakan: “Fulan termasuk ahli kebaikan, maka apa sebab apa yang terjadi kepadanya?!” Maka takdir berkata: “Hukuman untuk dosa-dosa tersembunyi, yang pemenuhan hukumannya menjadi tampak.” Maka Maha Suci Dzat yang tampak hingga tidak ada yang tersembunyi dari-Nya, dan tersembunyi hingga seolah-olah tidak dikenal, dan memberi tenggang waktu hingga berharap pada kelonggaran-Nya, dan menghitung detail hingga akal bingung dari perhitungan-Nya. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.

Bab 96: Menggabungkan Ilmu dan Muamalah

467

Aku merenungkan ilmu dan kecenderungan kepadanya, dan kesibukan dengannya, maka ternyata itu menguatkan hati dengan kekuatan yang condong kepada jenis kekerasan. Seandainya bukan karena kekuatan hati dan panjangnya angan-angan, tidak akan terjadi kesibukan dengannya, karena aku menulis hadis dengan harapan dapat meriwayatkannya, dan aku memulai mengarang dengan harapan dapat menyelesaikannya.

Ketika aku merenungkan bab muamalah, angan-angan menjadi sedikit, hati menjadi lembut, datang air mata, munajat menjadi nikmat, ketenangan menyelimuti, dan aku seolah-olah berada dalam maqam muraqabah.

Hanya saja ilmu lebih utama, dan lebih kuat hujjahnya, dan lebih tinggi derajatnya, meskipun terjadi darinya apa yang aku keluhkan. Adapun muamalah, meskipun banyak faedah yang aku sebutkan darinya, namun itu dekat dengan keadaan orang pengecut yang malas, yang telah puas dengan perbaikan dirinya daripada memberi petunjuk kepada orang lain, dan menyendiri dengan uzlahnya daripada menarik makhluk kepada Tuhan mereka.

Maka yang benar adalah tekun pada ilmu, sambil memberikan penyegaran pada jiwa dengan sebab-sebab yang melembutkan secara perlahan yang tidak merusak kesempurnaan kesibukan dengan ilmu. Karena aku tidak suka untuk diriku—dari segi lemahnya hatiku dan lembutnya—memperbanyak ziarah kubur, dan menghadiri orang-orang yang sekarat, karena itu berpengaruh pada pikiranku, dan mengeluarkanku dari lingkungan orang-orang yang sibuk dengan ilmu ke maqam berfikir tentang kematian, dan aku tidak bermanfaat untuk diriku selama periode tertentu.

468

Dan pemisahan yang tepat dalam hal ini adalah bahwa hendaknya melawan penyakit dengan lawannya: siapa yang hatinya keras dan sangat keras, dan tidak ada pada dirinya muraqabah yang cukup untuk menghalanginya dari kesalahan, maka dia memperbaikinya dengan mengingat kematian, dan menghadiri orang-orang yang sekarat.

Adapun orang yang hatinya sangat lembut, maka cukup baginya apa yang ada padanya, bahkan hendaknya dia sibuk dengan apa yang melupakannya dari itu, agar bermanfaat dalam hidupnya, dan agar memahami apa yang difatwakan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bercanda, dan berlomba lari dengan Aisyah radhiyallahu ‘anha, dan bersikap lembut pada dirinya. Maka siapa yang mengikuti jejak beliau ‘alaihish shalatu was salam, dia memahami dari kandungannya apa yang aku katakan tentang perlunya bersikap lembut pada diri.

Bab 97: Kita Berlindung kepada Allah dari Panjangnya Angan-angan

469

Hal paling mengagumkan adalah tersadarnya orang yang sekarat ketika matinya, karena dia bangun dengan kebangkitan yang tidak dapat digambarkan, dan gelisah dengan kegelisahan yang tidak terbatas, dan menyesal atas masa lalunya, dan berharap dibiarkan agar dapat mengejar apa yang terlewatkan, dan dia jujur dalam taubatnya sesuai kadar keyakinannya pada kematian, dan hampir membunuh dirinya sebelum matinya dengan penyesalan.

Seandainya ditemukan sebutir dari keadaan-keadaan itu dalam waktu sehat, akan tercapai semua maksud dari amal dengan takwa.

Maka orang yang berakal adalah yang menggambarkan saat itu, dan beramal dengan tuntutannya. Jika tidak memungkinkan menggambarkan itu sesuai kenyataannya, dia membayangkannya sesuai kadar kewaspadaannya, karena itu akan menahan genggaman hawa nafsu, dan mendorong pada kesungguhan.

470

Adapun orang yang saat itu berada di depan matanya, dia seperti tawanan baginya, sebagaimana diriwayatkan dari Habib Al-Ajami: bahwa dia jika pagi hari, berkata kepada istrinya: “Jika aku mati hari ini, maka fulan akan memandikanku, dan fulan akan memikul jenazahku.”

471

Ma’ruf berkata kepada seorang laki-laki: “Imami kami shalat Zhuhur!” Laki-laki itu berkata: “Jika aku mengimami kalian Zhuhur, aku tidak akan mengimami kalian Ashar.” Maka Ma’ruf berkata: “Seolah-olah engkau berharap hidup sampai Ashar?!” Kita berlindung kepada Allah dari panjangnya angan-angan.

Dan seorang laki-laki menyebutkan laki-laki lain di hadapannya dengan ghibah, maka Ma’ruf berkata kepadanya: “Ingatlah kapas ketika mereka meletakkannya di atas matamu!”

Bab 98: Mengambil Isyarat dari Syair-syair

472

Terkadang orang yang waspada mengambil sebait syair, lalu mengambil isyarat darinya, dan mendapat manfaat. Junaid berkata: “Sari memberiku secarik kertas, tertulis di dalamnya: Aku mendengar seorang penggembala unta di jalan Makkah—semoga Allah memuliakannya—berkata:

“Aku menangis dan engkau tidak tahu apa yang membuatku menangis Aku menangis karena takut engkau akan meninggalkan aku
Dan memutuskan taliku serta meninggalkanku”

Lihatlah—semoga Allah merahmati dan memberi taufik kepadamu—pengaruh bait-bait ini pada Sari, hingga dia ingin Junaid mengetahui darinya apa yang dia ketahui, dan tidak layak untuk mengetahui yang seperti itu kecuali Junaid.

Karena ada kaum yang memiliki ketebalan tabiat dan kekasaran pemahaman, sebagian mereka berkata ketika mendengar yang seperti ini: “Apa yang ditunjukkan oleh ini? Jika kepada Yang Haq, maka Allah Yang Maha Mulia tidak ditunjukkan dengan lafazh muannats (perempuan), dan jika kepada wanita, maka di mana zuhudnya?!” Sungguh, ini adalah nyanyian orang-orang yang lalai jika mereka mendengar yang seperti ini, dan karena itu dilarang mendengar qasidah dan perkataan ahli nyanyian, karena yang dominan adalah membawa bait-bait itu pada maksud-maksud nafsu dan dominasi hawa nafsu. Dan dari mana kita mendapatkan seperti Junaid dan Sari?! Dan jika kita menemukan seperti mereka berdua, maka mereka berdua adalah ahli dalam apa yang mereka dengar.

473

Adapun bantahan orang yang kasar tabiatnya ini, maka jawabannya: bahwa Sari tidak mengambil isyarat dari lafazh, dan tidak mengqiyaskan itu pada yang dicarinya, sehingga menjadikannya muannats atau mudzakkar. Dia hanya mengambil isyarat dari makna, seolah-olah dia menyapa kekasihnya dengan makna bait-bait itu, maka dia berkata: “Aku menangis karena takut dari berpaling dan menjauhkanmu!” Maka inilah yang dia peroleh, dan dia tidak pernah memperhatikan tadziir atau ta’niits, maka pahamilah ini!

474

Dan orang-orang yang waspada selalu mengambil isyarat dari yang seperti ini, hingga mereka mengambilnya dari apa yang disebut orang awam dan mereka juluki dengan “kan wa kan” (cerita-cerita). Maka aku melihat dengan tulisan tangan Ibnu Aqil, dari sebagian guru-guru besarnya bahwa dia mendengar seorang wanita bernyanyi:

“Aku mencuci untuknya sepanjang malam Aku menggosok untuknya sepanjang siang
Dia keluar untuk melihat yang lain Licin jatuh ke dalam lumpur”

Maka dia mengambil dari itu isyarat yang maknanya: “Wahai hamba-Ku! Aku telah memperbaiki penciptaanmu, dan memperbaiki urusanmu, dan menyempurnakan bentukmu, lalu engkau menghadap kepada selain-Ku, maka lihatlah akibat dari menyelisihiku!”

Dan Ibnu Aqil berkata: “Aku mendengar seorang wanita berkata dari “kan wa kan” ini, sebuah kalimat yang tinggal di dalam kegelisahannya selama masa tertentu:

“Betapa sering aku berkata kepadamu dengan nama Allah Karena kelalaian itu ada bahayanya
Dan untuk yang buruk ada raginya Akan tampak setelah sedikit”

Ibnu Aqil berkata: “Betapa memukul itu sebagai celaan atas kelalaian kita terhadap perkara-perkara yang besok akan tampak raginyaitu di hadapan Allah ta’ala!”

Bab 99: Wara’ adalah Mengambil yang Lebih Hati-hati dalam Menghindari Syubhat

475

Memungkinkan bagiku untuk memperoleh sesuatu dari dunia dengan salah satu jenis rukhshah (keringanan), maka setiap kali aku memperoleh sesuatu darinya, ada sesuatu yang hilang dari hatiku, dan setiap kali jalan perolehan menjadi terang bagiku, muncul kegelapan baru di hatiku. Maka aku berkata: “Wahai jiwa yang buruk! Dosa itu menguasai hati, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: ‘Mintalah fatwa dari hatimu.'” Maka tidak ada kebaikan dalam dunia seluruhnya jika di dalam hati ada sesuatu dari perolehannya yang menyebabkan keruhnya jiwa, meskipun sedikit. Bahkan surga sekalipun jika diperoleh dengan sebab yang merusak agama atau muamalah, tidak akan nikmat! Dan tidur di atas tumpukan sampah dengan selamatnya hati dari keruhnya jiwa lebih nikmat daripada sandaran para raja.

476- Saya masih sering mengalahkan nafsu saya di suatu waktu, namun di waktu lain nafsu itu mengalahkan saya. Kemudian nafsu itu mengaku memerlukan sesuatu yang harus diperolehnya, dan berkata: “Bukankah saya tidak melampaui batas dalam mencari rezeki yang secara lahiriah halal!” Maka saya berkata kepadanya: “Bukankah kehati-hatian (wara’) melarang hal ini?” Nafsu itu menjawab: “Ya.” Saya berkata: “Bukankah kerasnya hati akan terjadi karenanya?” Nafsu itu menjawab: “Ya.” Saya berkata: “Maka tidak ada kebaikan bagimu dalam sesuatu yang buahnya seperti ini!”

477- Suatu hari saya menyendiri dengan nafsu saya, lalu berkata kepadanya: “Celakalah kamu! Dengarlah, aku akan berbicara kepadamu! Jika kamu mengumpulkan sesuatu dari dunia dari sisi yang mengandung keraguan, apakah kamu yakin akan membelanjakannya?” Nafsu itu berkata: “Tidak.” Saya berkata: “Maka cobaan itu adalah orang lain yang akan menikmatinya, sedangkan kamu tidak mendapat apa-apa kecuali kekesalan yang cepat dan dosa yang tidak aman.” Celakalah kamu! Tinggalkanlah hal yang dicegah oleh kehati-hatian karena Allah, maka perlakukanlah Dia dengan meninggalkannya. Seolah-olah kamu tidak mau meninggalkan kecuali yang haram saja, atau yang tidak benar caranya? Atau tidakkah kamu mendengar bahwa: “Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik darinya”? Tidakkah kamu mengambil pelajaran dari kaum-kaum yang mengumpulkan harta, lalu harta itu dinikmati oleh orang lain, dan mereka berharap namun tidak mencapai tujuan mereka? Betapa banyak orang berilmu yang mengumpulkan buku-buku banyak namun tidak bermanfaat baginya! Betapa banyak orang yang memanfaatkan padahal tidak memiliki sepuluh jilid! Betapa banyak orang yang hidup bahagia namun tidak memiliki dua dinar! Dan betapa banyak orang yang memiliki quintar (harta berlimpah) namun tersiksa!

Tidakkah kamu memiliki kecerdasan untuk memperhatikan keadaan orang-orang yang mengambil kemudahan dari satu sisi, lalu dicabut darinya dari berbagai sisi? Terkadang penyakit menimpa pemilik rumah atau sebagian penghuninya, maka ia menghabiskan dalam setahun berkali-kali lipat dari apa yang ia hemat dalam mencari rezeki, sedangkan orang yang bertakwa dalam keadaan sehat.

Maka nafsu mengeluh dari teguranku dan berkata: “Jika aku tidak melampaui kewajiban syariat, apa yang kamu inginkan dariku?!” Saya berkata kepadanya: “Aku sayang padamu dari kerugian, dan kamu lebih tahu tentang batin urusanmu.” Nafsu berkata: “Katakan kepadaku: apa yang harus kulakukan?” Saya berkata: “Hendaklah kamu muraqabah (mengawasi diri) kepada Dzat yang melihatmu, dan bayangkan dirimu berada di hadapan orang yang diagungkan dari makhluk; sesungguhnya kamu berada di hadapan Raja Yang Maha Agung, Dia melihat dari batinmu apa yang tidak dilihat oleh orang-orang terhormat dari lahirmu. Maka ambillah yang lebih hati-hati, dan waspadalah dari mengambil kemudahan dalam menjual keyakinan dan takwa dengan keinginan sesaat. Jika tabiat merasa sesak dengan apa yang kamu terima, maka katakan kepadanya: tunggu sebentar, masa untuk isyarat belum berakhir! Dan Allah akan membimbingmu menuju hakikat dan menolongmu dengan taufik-Nya.”

Fasal 100: Sesungguhnya Azab Mengintai

478- Saya terus mendengar tentang sekelompok pembesar dan pemegang jabatan bahwa mereka: minum khamar, berbuat maksiat, berbuat zalim, dan melakukan hal-hal yang mewajibkan hukuman hudud! Maka saya terus berpikir, berkata: “Kapan akan terbukti pada orang-orang seperti ini hal yang mewajibkan hukuman hudud? Seandainya terbukti, siapa yang akan menegakkannya?” Dan saya menganggap hal ini jarang terjadi dalam kebiasaan; karena mereka berada dalam posisi yang dihormati karena jabatan mereka.

Maka saya terus memikirkan tentang tertundanya hukuman hudud yang wajib bagi mereka, hingga kami melihat mereka telah tertimpa musibah, ditangkap berulang kali, dan mengalami hal-hal menakjubkan. Kezaliman mereka dibalas dengan pengambilan harta mereka, dan hukuman hudud diambil dari mereka berlipat ganda setelah penjara yang panjang, belenggu yang berat, dan kehinaan yang besar. Di antara mereka ada yang terbunuh setelah menghadapi setiap kesulitan! Maka saya mengetahui bahwa tidak ada yang terabaikan! Maka hati-hatilah, hati-hatilah, sesungguhnya azab mengintai.

Fasal 101: Ijtihad Orang Berakal dalam Hal yang Memperbaikinya adalah Wajib

479- Ijtihad orang berakal dalam hal yang memperbaikinya adalah wajib baginya berdasarkan tuntutan akal dan syariat. Di antaranya adalah menjaga hartanya, berusaha mengembangkannya, dan berharap pada pertambahannya -karena sebab kelangsungan hidup manusia adalah hartanya- maka telah dilarang untuk menghambur-hamburkannya. Firman Allah: “Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu)” (QS. An-Nisa: 5). Ketahuilah bahwa harta adalah sebab kelangsungan hidupnya: “yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan bagi kamu” (QS. An-Nisa: 5), yaitu: sebagai penyokong penghidupan kalian. Allah Azza wa Jalla berfirman: “dan janganlah kamu terlalu mengulurkan tanganmu” (QS. Al-Isra: 29). Allah Ta’ala berfirman: “dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros” (QS. Al-Isra: 26). Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian” (QS. Al-Furqan: 67).

480- Di antara keutamaan harta adalah bahwa Allah Ta’ala berfirman: “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik” (QS. Al-Baqarah: 245). Allah Ta’ala berfirman: “dan berinfaklah (hartamu) di jalan Allah” (QS. Al-Baqarah: 195). Allah Ta’ala berfirman: “mereka menginfakkan harta mereka” (QS. Al-Baqarah: 261). Allah Ta’ala berfirman: “Tidak sama di antara kamu orang yang menginfakkan (hartanya) sebelum penaklukan (Makkah)” (QS. Al-Hadid: 10).

481- Allah menjadikan harta sebagai nikmat, dan zakatnya sebagai pembersih. Allah Ta’ala berfirman: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka” (QS. At-Taubah: 103). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik harta adalah harta yang shalih bagi laki-laki yang shalih.” Beliau bersabda: “Tidak ada harta yang bermanfaat bagiku seperti harta Abu Bakar.” Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu biasa keluar untuk berdagang dan meninggalkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun beliau tidak melarangnya dari hal itu.

482- Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bahwa aku mati di antara dua lereng gunung sambil mencari kecukupan wajahku, lebih aku sukai daripada mati sebagai mujahid di jalan Allah.”

483- Sekelompok sahabat radhiyallahu ‘anhum berdagang, dan di antara para pemuka tabi’in adalah Sa’id bin Musayyab, ia meninggal dan meninggalkan harta, dan ia biasa menimbun minyak. Para salaf tetap pada hal ini.

484- Kemudian terkadang terjadi musibah -seperti penyakit- yang memerlukan sesuatu dari harta, maka manusia tidak menemukan jalan lain kecuali berusaha mencarinya, sehingga ia mengorbankan kehormatannya atau agamanya.

485- Kemudian bagi jiwa ada kekuatan jasmani ketika ada harta, dan hal itu dihitung oleh para dokter sebagai salah satu obat, hikmah yang ditetapkan oleh Yang Menetapkan.

486- Sesungguhnya muncul suatu kaum yang mencari jalan kenyamanan, lalu mengaku bahwa mereka bertawakkal, dan berkata: “Kami tidak memegang sesuatu, tidak berbekal untuk safar, dan rezeki badan akan datang!” Ini menentang syariat: sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menyia-nyiakan harta. Musa alaihissalam ketika bepergian mencari Khidir berbekal, Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hijrah berbekal, dan yang lebih jelas dari ini adalah firman Allah Ta’ala: “Dan berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa” (QS. Al-Baqarah: 197).

Kemudian para sufi ini mengaku benci dunia, namun mereka tidak memahami apa yang seharusnya dibenci, dan mereka menganggap berlebihan dalam mencari harta sebagai tamak dan rakus!! Pada intinya, mereka menciptakan dengan pendapat mereka suatu jalan: yang di dalamnya ada unsur rahbaniyyah jika mereka jujur, dan ada unsur pamer karena mereka memasang jaring penangkap dengan cara berzuhud! Mereka menyebut rezeki yang sampai kepada mereka sebagai fathu (kemenangan)!!

487- Ibnu Qutaibah berkata dalam “Gharib al-Hadits” ketika menjelaskan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Dan tangan yang di atas…”: “Yaitu yang memberi.” Ia berkata: “Yang mengherankan bagiku adalah suatu kaum yang berkata: yaitu yang mengambil! Aku tidak melihat kaum ini kecuali kaum yang menikmati meminta-minta, maka mereka berdalih untuk kehinaan. Adapun syariat, maka ia bersih dari keadaan mereka.”

488- Dalam hadits: negeri menjadi sempit karena ternak Ibrahim dan Luth alaihimassalam, maka keduanya berpisah.

489- Syu’aib alaihissalam memiliki banyak harta, kemudian ia berharap pada tambahan upah dari Musa alaihissalam, maka ia berkata: “Kemudian jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah dari kemurahanmu” (QS. Al-Qashash: 27).

490- Ibnu Aqil rahimahullah berkata: “Barangsiapa berkata: ‘Aku tidak mencintai dunia,’ maka ia pembohong. Sesungguhnya Ya’qub alaihissalam ketika diminta anaknya Bunyamin, ia berkata: ‘Apakah aku dapat mempercayai kamu terhadapnya’ (QS. Yusuf: 64), maka mereka berkata: ‘Dan kami akan menambah satu beban unta’ (QS. Yusuf: 65), maka ia berkata: Bawalah dia.”

491- Sebagian salaf berkata: “Barangsiapa mengaku benci dunia, maka ia pembohong di sisiku hingga terbukti kejujurannya. Jika terbukti kejujurannya, maka ia gila.”

492- Sekelompok sufi telah mengusir banyak makhluk dari mencari rezeki, dan membuat mereka takut padanya, padahal itu adalah kebiasaan para nabi dan orang-orang shalih. Mereka hanya mencari jalan kenyamanan dan duduk menunggu fathu. Jika kenyang, mereka menari. Jika makanan sudah dicerna, mereka makan. Jika tampak bagi mereka tipu daya terhadap orang kaya, mereka mewajibkan padanya undangan, baik karena syukur atau karena istighfar. Yang paling parah adalah dakwaan mereka bahwa ini adalah ibadah! Padahal telah terjadi ijma’ para ulama bahwa barangsiapa mengaku menari sebagai ibadah kepada Allah Ta’ala, maka ia kafir. Seandainya mereka berkata: mubah, tentu lebih dekat keadaannya! Ini karena ibadah tidak diketahui kecuali dengan syariat, dan tidak ada dalam syariat perintah menari atau anjuran kepadanya.

493- Sungguh telah sampai kepadaku tentang sekelompok dari mereka bahwa mereka menyalakan lilin di depan wajah anak-anak muda dan menatap mereka. Jika ditanya tentang hal itu, mereka mengejek yang bertanya dan berkata: “Kami mengambil pelajaran dari ciptaan Allah!” Apakah mereka lebih kuat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau mendudukkan pemuda yang datang kepadanya di belakang punggungnya dan berkata: “Bukankah fitnah Daud hanya karena pandangan”?! Jauh sekali! Syaitan telah menguasai tali kekang itu dan menuntunnya kepada apa yang ia inginkan.

494- Yang mengherankan adalah orang yang mencela dunia padahal ia makan hingga kenyang, dan tidak melihat dari mana makanannya! Para salaf yang shalih terus meneliti tentang makanan: hingga Ibrahim bin Adham lupa bersama sahabat-sahabatnya dan berkata: “Dengan siapa kita bekerja?” Sari as-Saqathi dikenal karena baiknya makanan, dan ia memiliki kedudukan dalam kehati-hatian.

495- Maka datanglah suatu kaum yang menyebut diri dengan sufi, mengaku mengikuti para pemimpin itu, dan mereka makan dari harta si fulan padahal mereka mengetahui asal-usul harta tersebut, dan berkata: “Rezeki kami!” Sungguh mengherankan! Ketika yang makan tidak peduli dari mana, tidak ada pencegahan dari syahwat atau pengurangan, tidak kosong ribath dari dapur, tidak terputus semalaman, dan asalnya dari harta yang telah diketahui dari mana, dan pemandian berjalan, dan penyanyi mengetuk rebana yang berkerincing, temannya dengan seruling, dan Sa’da dan Laila dalam nyanyian, dan anak-anak muda dalam lilin, kemudian ia mencela dunia setelah ini. Katakan kepada kami: siapa yang bermain-main dengan manusia selain mereka?! Tetapi, barangsiapa yang terkena tipu daya mereka, maka ia lebih hina dari mereka.

Fasal 102: Seandainya Jiwa-jiwa Sehat, Niscaya Akan Meleleh karena Takut kepada Allah atau Hilang dalam Cinta-Nya

496- Ketika dalam perjalanan haji aku khawatir dari suku Arab, maka kami berjalan melalui jalan Khaibar. Aku melihat gunung-gunung yang menakutkan dan jalan-jalan yang menakjubkan yang membuatku terpana, dan keagungan Sang Pencipta Azza wa Jalla bertambah dalam dadaku. Maka ketika mengingat jalan-jalan itu, muncul dalam diriku suatu pengagungan yang tidak kurasakan ketika mengingat selainnya. Maka aku berseru kepada jiwa: “Celakalah kamu! Beralihlah ke laut dan lihatlah ia serta keajaiban-keajaibannya dengan mata pikiran, kamu akan menyaksikan kengerian yang lebih besar dari ini. Kemudian keluarlah ke alam semesta dan lihatlah, sesungguhnya kamu akan melihatnya dibandingkan dengan langit dan falak seperti debu di padang. Kemudian berkelilinglah di falak-falak, berputarlah mengelilingi Arsy, dan lihatlah apa yang ada di surga dan neraka. Kemudian keluarlah dari semuanya dan lihatlah, sesungguhnya kamu akan menyaksikan alam dalam genggaman Yang Mahakuasa yang kekuasaan-Nya tidak berhenti pada batas.

Kemudian lihatlah dirimu, dan perhatikan awal dan akhirmu, dan pikirkanlah apa yang sebelum permulaan, tidak ada kecuali ketiadaan, dan apa yang setelah kebinasaan, tidak ada kecuali tanah.

Bagaimana bisa tenang dengan wujud ini orang yang melihat dengan mata pikirannya awal dan akhir?! Bagaimana bisa lalai pemilik hati dari mengingat Allah Yang Maha Agung ini?! Demi Allah, seandainya jiwa-jiwa sehat dari mabuk hawa nafsunya, niscaya akan meleleh karena takut kepada-Nya atau hilang dalam cinta kepada-Nya; namun perasaan menguasai, maka keagungan kekuasaan Sang Pencipta menjadi besar ketika melihat gunung, padahal seandainya kecerdasan memperhatikan makna-makna, niscaya kekuasaan akan menunjukkan kepada-Nya lebih sempurna dari petunjuk gunung. Mahasuci Dzat yang menyibukkan kebanyakan makhluk dengan apa yang mereka alami dari apa yang mereka diciptakan untuknya! Mahasuci Dia!

Fasal 103: Yang Wajib adalah Sabar Meskipun Doa Disyariatkan

497- Bagi bala ada batas-batas yang diketahui waktunya di sisi Allah Azza wa Jalla, maka tidak ada pilihan bagi yang diuji kecuali sabar hingga masa bala berlalu. Jika ia gelisah sebelum waktunya, kegelisahan tidak bermanfaat, sebagaimana bahan yang turun ke anggota, maka ia tidak akan kembali, tidak ada pilihan kecuali sabar hingga waktu kesembuhan.

Maka tergesa-gesa menghilangkan bala dengan takdir masanya tidak bermanfaat; yang wajib adalah sabar, meskipun doa disyariatkan, dan tidak bermanfaat kecuali dengan-Nya.

498- Hanya saja tidak pantas bagi yang berdoa untuk tergesa-gesa, bahkan hendaknya beribadah dengan sabar dan doa, dan berserah diri kepada Yang Mahabijaksana, dan memutuskan bahan-bahan yang menjadi sebab bala, karena kebanyakan bala adalah hukuman. Adapun yang tergesa-gesa, maka ia menyaingi Yang Mengatur, dan ini bukan maqam perhambaan; sesungguhnya maqam yang tertinggi adalah ridha, dan sabar adalah yang wajib, dan berlindung dengan banyak doa adalah sebaik-baik sandaran, dan menolak adalah haram, dan tergesa-gesa adalah menyaingi pengaturan. Maka pahamilah hal-hal ini, sesungguhnya ia akan meringankan bala.

Fasal 104: Bekal Orang yang Sabar

499- Tidak ada dalam wujud sesuatu yang lebih sulit dari sabar: baik dari yang dicintai atau atas hal-hal yang dibenci, terutama jika waktu memanjang atau diperkirakan putus asa dari kelapangan. Masa itu memerlukan bekal untuk memotong safar tersebut.

500- Bekal beraneka ragam jenisnya: di antaranya memperhatikan kadar bala, dan mungkin bisa lebih banyak. Di antaranya: bahwa ia dalam keadaan yang di atasnya lebih besar darinya, seperti diuji dengan kehilangan anak, padahal di sisinya ada yang lebih berharga darinya. Di antaranya: mengharap ganti di dunia. Di antaranya: melihat pahala di akhirat. Di antaranya: menikmati dengan membayangkan pujian dan sanjungan dari makhluk dalam hal yang mereka puji, dan pahala dari Yang Haq Azza wa Jalla. Di antaranya bahwa panik tidak bermanfaat, bahkan mempermalukan pemiliknya. Dan lain-lain hal yang dicetuskan oleh akal dan pikiran. Tidak ada dalam jalan sabar bekal selainnya, maka pantas bagi orang yang sabar untuk menyibukkan dirinya dengannya dan memotong waktu-waktu ujiannya dengannya, dan telah pagi hari di tempat singgah.

Fasal 105: Yang Didoa adalah Pemilik yang Bijaksana

501- Pantas bagi orang yang terjatuh dalam kesulitan, kemudian berdoa agar tidak terlintas dalam hatinya urusan dari terlambatnya ijabah atau tidak ada ijabah; karena yang wajib atasnya adalah berdoa, dan Yang didoa adalah Pemilik yang Bijaksana. Jika tidak mengabulkan, Dia berbuat apa yang Dia kehendaki dalam kerajaan-Nya. Jika menunda, Dia berbuat dengan tuntutan hikmah-Nya. Maka yang menolak kepada-Nya dalam batinnya keluar dari sifat hamba, menyaingi martabat-Nya, berhak mendapat hukuman-Nya.

502- Kemudian hendaklah ia mengetahui bahwa pilihan Allah Azza wa Jalla untuknya lebih baik dari pilihannya untuk dirinya. Terkadang ia meminta banjir yang menghanyutkannya! Dalam hadits: “Sesungguhnya seorang laki-laki meminta kepada Allah Azza wa Jalla agar dikaruniai jihad, maka berserulah penyeru kepadanya: ‘Sesungguhnya jika kamu berperang, kamu akan ditawan, dan jika ditawan, kamu akan murtad.'”

Jika hamba berserah diri karena menghukumi hikmah dan hukum-Nya, dan yakin bahwa semuanya adalah milik-Nya, hatinya akan tenang, baik hajatnya terkabulkan atau tidak.

503- Dalam hadits: “Tidak ada seorang muslim yang berdoa kepada Allah Ta’ala kecuali Dia mengabulkannya: baik Dia menyegerakannya, atau menundanya, atau menyimpannya untuknya di akhirat.” Jika ia melihat pada hari kiamat bahwa apa yang dikabulkan telah hilang, dan apa yang tidak dikabulkan pahalanya tetap ada, ia akan berkata: “Seandainya Engkau tidak mengabulkan doaku sama sekali.” Maka pahamilah hal-hal ini! Dan serahkanlah hatimu dari keraguan atau tergesa-gesa.

Fasal 106: Kedudukan Ulama di Atas Ahli Zuhud

504- Barangsiapa ingin mengetahui kedudukan ulama di atas ahli zuhud, maka hendaklah ia melihat kedudukan Jibril dan Mikail, dan yang dikhususkan dari malaikat dengan wilayah yang berkaitan dengan makhluk: sedangkan malaikat-malaikat lainnya berdiri untuk ibadah, dalam martabat rahib-rahib di biara-biara. Dan mereka telah mendapat kehormatan dengan pendekatkan sesuai kadar pengetahuan mereka tentang Allah Ta’ala.

Jika salah seorang dari mereka lewat dengan wahyu, penghuni langit menjadi panik, hingga ia mengabarkan kepada mereka berita tersebut. “Apabila rasa takut telah hilang dari hati mereka, mereka berkata: ‘Apakah yang difirmankan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘(Firman) yang benar'” (QS. Saba’: 23), sebagaimana jika zahid panik dari hadits yang didengarnya, ia bertanya kepada ulama tentang keshahihan dan maknanya. Mahasuci Dzat yang mengkhususkan suatu golongan dengan kekhususan yang membuatnya mulia atas jenis mereka!

505- Tidak ada kekhususan yang lebih mulia dari ilmu. Dengan bertambahnya ilmu, Adam menjadi yang disujudi, dan dengan berkurangnya, malaikat-malaikat menjadi yang menyujud. Maka makhluk yang paling dekat dengan Allah adalah para ulama.

506- Bukanlah ilmu dengan sekedar bentuknya yang bermanfaat, tetapi maknanya: dan sesungguhnya makna itu diperoleh dari orang yang mempelajarinya untuk diamalkan. Setiap kali ia menunjukkan kepada keutamaan, ia bersungguh-sungguh untuk memperolehnya. Setiap kali ia melarang dari kekurangan, ia berlebihan dalam menjauhinya. Pada saat itulah ilmu membukakan rahasianya kepadanya dan memudahkan jalannya, maka ia menjadi seperti orang yang ditarik oleh penarik. Jika digerakkan, ia cepat dalam perjalanannya.

Adapun yang tidak mengamalkan ilmu, ilmu tidak membukakan kepadanya kedalamannya dan tidak menyingkap rahasianya, maka ia seperti orang yang ditarik oleh penarik yang menariknya. Maka pahamilah perumpamaan ini dan baguskanlah niatmu, atau jangan susah payah.

Bab 107: Kebaikan Perkara adalah Sikap Moderat dalam Segala Hal

507- Ketahuilah bahwa kebaikan perkara adalah sikap moderat dalam segala hal. Apabila kita melihat ahli dunia telah dikuasai oleh angan-angan mereka dan rusak amal kebaikan mereka, maka kita perintahkan mereka untuk mengingat kematian, kubur, dan akhirat.

508- Adapun jika seorang alim tidak pernah lupa dari mengingat kematian, dan hadis-hadis tentang akhirat selalu dibacakan kepadanya serta mengalir di lidahnya, maka mengingatkan kematian lagi—lebih dari itu—tidak bermanfaat kecuali hanya memutuskan sama sekali. Bahkan sepatutnya bagi alim yang sangat takut kepada Allah Ta’ala dan banyak mengingat akhirat ini, ia menyibukkan dirinya dari mengingat kematian, agar harapannya sedikit terbentang, sehingga ia dapat mengarang, beramal kebaikan, dan mampu mencari keturunan. Adapun jika ia terus-menerus mengingat kematian, maka kerusakannya akan lebih besar daripada kemaslahatannya. Tidakkah engkau mendengar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berlomba lari dengan Aisyah radhiyallahu ‘anha, lalu Aisyah mengalahkan beliau, kemudian beliau berlomba lagi dan mengalahkan Aisyah, dan beliau pernah bercanda dan menyibukkan dirinya? Sebab melihat hakikat-hakikat dengan sungguh-sungguh akan merusak badan dan meresahkan jiwa. Telah diriwayatkan dari Ahmad bin Hanbal rahimahullahu bahwa ia memohon kepada Allah Ta’ala agar dibukakan baginya pintu rasa takut, lalu dibukakan baginya, kemudian ia khawatir akan akalnya, maka ia memohon kepada Allah agar mengembalikan hal itu darinya. Maka renungkanlah prinsip ini, karena sesungguhnya harus ada pengelabuan terhadap jiwa, dan dalam hal itu terdapat kebaikannya. Wallahu al-muwaffiq, wassalam.

Bab 108: Pemikiran Menunjukkan kepada Kedudukan yang Paling Mulia

509- Barangsiapa yang menggunakan pemikirannya yang jernih, maka pemikiran itu akan menunjukkannya untuk mencari kedudukan yang paling mulia, dan melarangnya dari rela dengan kekurangan dalam setiap keadaan. Abu Thayyib al-Mutanabbi telah berkata:

“Aku tidak melihat dalam cacat manusia suatu cacat Seperti kekurangan orang yang mampu mencapai kesempurnaan”

Maka sepatutnya bagi orang berakal untuk sampai pada puncak kemampuannya. Seandainya manusia bisa membayangkan naik ke langit, niscaya engkau akan melihat betapa buruknya kekurangan seseorang yang rela dengan bumi. Seandainya kenabian bisa diperoleh dengan usaha, niscaya engkau akan melihat orang yang kurang berusaha untuk meraihnya berada di tempat yang rendah. Namun jika hal itu tidak mungkin, maka sepatutnya ia mencari yang mungkin.

Perjalanan hidup yang indah menurut para ahli hikmah adalah: keluarnya jiwa menuju puncak kesempurnaannya yang mungkin baginya dalam ilmu dan amal.

510- Aku akan menjelaskan dari hal itu apa yang disebutkannya menunjukkan kepada yang tidak disebutkannya. Adapun mengenai badan, maka rupa tidak termasuk dalam usaha manusia, tetapi yang masuk dalam usahanya adalah memperbaiki dan memperindahnya. Maka jelek bagi orang berakal mengabaikan dirinya. Syariat telah memberi petunjuk kepada keseluruhan melalui sebagian, yaitu memerintahkan memotong kuku, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, dan melarang makan bawang putih dan bawang merah mentah karena bau. Sepatutnya ia mengqiyaskan hal itu dan mencari puncak kebersihan dan kesempurnaan perhiasan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu dikenali kedatangannya dari wangi minyak wangi, beliau adalah puncak dalam kebersihan dan kesucian. Aku tidak memerintahkan kebersihan berlebihan yang digunakan orang yang terkena waswas, tetapi sikap pertengahan itulah yang terpuji.

511- Kemudian sepatutnya ia berbuat lembut kepada badannya yang merupakan kendaraannya, dan tidak mengurangi kekuatannya sehingga kekuatannya hancur. Aku tidak memerintahkan kenyang yang menyebabkan sendawa, melainkan aku memerintahkan sikap pertengahan, karena kekuatan manusia seperti mata air yang mengalir, betapa banyak manfaatnya bagi pemiliknya dan selainnya serta membantu pekerja. Jangan memperhatikan perkataan orang-orang yang terkena waswas dari kalangan ahli zuhud yang bersungguh-sungguh dalam mengurangi (makan), lalu mereka lemah untuk melaksanakan kewajiban. Hal itu bukan dari syariat, dan tidak dinukil dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun para sahabatnya. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya hanya lapar ketika mereka tidak menemukan (makanan), dan kadang mereka mengutamakan (orang lain) lalu bersabar karena terpaksa.

512- Demikian pula sepatutnya ia memperhatikan kendaraan ini dalam makanannya. Berapa banyak suap yang mencegah banyak suap. Maka jangan berikan kepadanya apa yang menyakitinya, tetapi perhatikanlah yang lebih baik baginya, dan jangan memperhatikan ahli zuhud yang berkata: “Aku tidak akan mencapai syahwat-syahwatnya,” karena perhatian sepatutnya dalam menghalalkan makanan dan mengambil apa yang baik dengan takaran.

513- Tidak dinukil dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum apa yang diada-adakan oleh orang-orang yang terkena waswas yaitu meninggalkan hal-hal yang diinginkan secara mutlak. Yang dinukil dari mereka hanyalah meninggalkannya karena suatu sebab: entah karena memperhatikan kehalalannya, atau karena takut akan tuntutan jiwa terhadapnya setiap saat, dan hal itu dibolehkan.

514- Sepatutnya ia bersungguh-sungguh dalam perdagangan dan usaha, agar ia berlebih dari yang lain, dan yang lain tidak berlebih darinya, dan agar ia mencapai dari hal itu suatu puncak yang tidak menghalanginya dari ilmu.

515- Kemudian sepatutnya ia mencari puncak dalam ilmu. Di antara kekurangan yang paling jelek adalah taklid. Jika tekadnya kuat, ia akan naik hingga memilih sendiri mazhabnya, dan tidak bermazhab kepada seseorang, karena orang yang bertaklid itu buta, ia memimpin orang yang mengikutinya.

Kemudian sepatutnya ia mencari puncak dalam mengenal Allah Ta’ala dan bermuamalah dengan-Nya.

Secara keseluruhan, jangan tinggalkan keutamaan yang mungkin dicapai kecuali ia meraihnya, karena qana’ah adalah keadaan orang-orang hina.

“Jadilah lelaki yang kakinya di tanah Dan puncak cita-citanya di bintang Tsuroyya”

Seandainya engkau bisa melampaui setiap orang dari para ulama dan zahid, maka lakukanlah, karena mereka adalah laki-laki dan engkau juga laki-laki. Tidak ada yang tertinggal kecuali karena rendahnya cita-cita dan kehinaannya.

516- Ketahuilah bahwa engkau berada di medan perlombaan, dan waktu-waktu dirampas. Jangan condong kepada kemalasan, karena tidak ada yang tertinggal kecuali karena kemalasan, dan tidak ada yang meraih kecuali dengan kesungguhan dan tekad. Sesungguhnya cita-cita itu mendidih dalam hati sebagaimana mendidihnya apa yang ada dalam periuk. Sebagian ulama salaf berkata:

“Tidak ada hartaku selain kemuliaanku Dengannya aku hidup dari ketiadaan Jiwaku qana’ah dengan apa yang kuterima Dan cita-citaku terbentang dalam kemuliaan”

Bab 109: Betapa Sempurnanya Ilmu dan Harta pada Orang Beriman

517- Tidak ada di dunia yang lebih bermanfaat bagi para ulama daripada mengumpulkan harta untuk berkecukupan dari manusia, karena jika digabungkan dengan ilmu, maka tercapailah kesempurnaan.

518- Sesungguhnya kebanyakan ulama disibukkan oleh ilmu dari mencari nafkah, sehingga mereka membutuhkan apa yang tidak bisa dihindari, dan kurang sabar, lalu mereka masuk ke pintu-pintu yang mencemarkan mereka, meskipun mereka berdalih di dalamnya, namun selain itu lebih baik bagi mereka! Az-Zuhri bersama Abdul Malik, Abu Ubaid bersama Thahir bin Husain, Ibnu Abi Dunya sebagai pendidik Al-Mu’tadhid, dan Ibnu Qutaibah membuka bukunya dengan memuji wazir “Ibnu Khaqan”.

519- Senantiasa ada generasi dari para ulama dan zahid yang hidup dalam naungan sekelompok orang yang dikenal zalim. Meskipun mereka menempuh jalan takwil, namun mereka kehilangan dari hati dan kesempurnaan agama mereka lebih banyak daripada apa yang mereka peroleh dari dunia.

520- Kami telah melihat sekelompok sufi dan ulama yang mendatangi para penguasa untuk meraih apa yang ada di tangan mereka. Di antara mereka ada yang berdiplomasi dan riya, di antara mereka ada yang memuji dengan yang tidak boleh, di antara mereka ada yang diam dari kemungkaran, dan lain-lain dari bentuk diplomasi. Penyebabnya adalah kemiskinan. Maka kami tahu bahwa kesempurnaan kemuliaan dan jauhnya riya hanya ada dalam menjauhi para pekerja yang zalim.

521- Kami tidak melihat orang yang benar dalam hal ini kecuali pada salah satu dari dua orang:

Pertama, orang yang memiliki harta: seperti Sa’id bin Musayyab yang berdagang minyak dan lainnya, Sufyan Ats-Tsauri yang memiliki barang dagangan, dan Ibnu Mubarak.

Kedua, orang yang sangat sabar, qana’ah dengan apa yang direzekikan meskipun tidak mencukupinya: seperti Bisyr Al-Hafi dan Ahmad bin Hanbal. Ketika seseorang tidak menemukan kesabaran seperti kedua orang ini, dan tidak memiliki harta seperti orang-orang itu, maka tampaknya ia akan berbolak-balik dalam cobaan dan bencana, dan mungkin agamanya akan rusak.

522- Maka wajib bagimu—wahai pencari ilmu—bersungguh-sungguh dalam mengumpulkan harta untuk berkecukupan dari manusia, karena hal itu akan mengumpulkan agamamu! Kami tidak melihat pada umumnya orang munafik dalam beragama, zuhud, dan khusyuk, dan tidak ada bencana yang menimpa seorang alim, kecuali karena cinta dunia, dan kebanyakan itu karena kemiskinan. Jika ada orang yang memiliki harta yang mencukupinya, kemudian ia mencari dengan pergaulan itu tambahan, maka orang itu terhitung dalam golongan orang tamak, keluar dari golongan ulama. Na’udzu billahi min tilkal ahwal.

Bab 110: Fikih adalah Ilmu yang Paling Utama

523- Dalil terbesar atas keutamaan sesuatu adalah melihat buahnya. Barangsiapa merenungkan buah fikih, ia tahu bahwa fikih adalah ilmu yang paling utama. Sesungguhnya ahli mazhab mengungguli makhluk selamanya dengan fikih, meskipun di zaman salah seorang dari mereka ada yang lebih mengetahui darinya tentang Al-Quran, hadis, atau bahasa.

Perhatikanlah ini pada ahli zaman kita, karena engkau melihat pemuda yang mengetahui masail khilaf yang zhahir, maka ia berkecukupan, dan ia mengetahui dari hukum Allah Ta’ala dalam peristiwa-peristiwa apa yang tidak diketahui oleh yang mahir dari sisa para ulama!

524- Betapa banyak kami melihat orang yang unggul dalam ilmu Al-Quran, atau hadis, atau tafsir, atau bahasa, namun ia tidak mengetahui—dengan usia tuanya—kebanyakan hukum syariat, dan mungkin ia tidak mengetahui ilmu tentang apa yang diniatkannya dalam shalatnya!

525- Sepatutnya bagi faqih untuk tidak asing dari sisa ilmu-ilmu, karena ia tidak akan menjadi faqih, tetapi ia mengambil dari setiap ilmu dengan porsi, kemudian ia fokus pada fikih, karena fikih adalah kemuliaan dunia dan akhirat.

Bab 111: Wajib bagi Orang Berakal Berhati-hati dari Hawa Nafsu

526- Aku melihat banyak orang yang berhati-hati dari percikan najis, namun tidak menghindari ghibah! Mereka memperbanyak sedekah, namun tidak peduli dengan muamalah riba! Mereka tahajjud di malam hari, namun mengakhirkan kewajiban dari waktunya dalam hal-hal yang panjang hitungannya, yaitu menjaga cabang-cabang namun menyia-nyiakan pokok-pokok. Aku meneliti sebab hal itu, dan aku mendapatinya dari dua hal: Pertama, kebiasaan. Kedua, dominasi hawa nafsu dalam meraih yang diinginkan, karena ia bisa mendominasi sehingga tidak meninggalkan pendengaran dan penglihatan.

527- Termasuk dari golongan ini: bahwa saudara-saudara Yusuf berkata—ketika mereka mendengar suara penyeru: “Sesungguhnya kamu adalah pencuri-pencuri” (QS. Yusuf: 70)—: “Sungguh kamu telah mengetahui bahwa kami datang bukan untuk berbuat kerusakan di negeri ini dan kami bukanlah pencuri-pencuri” (QS. Yusuf: 73). Datang dalam tafsir bahwa ketika mereka memasuki Mesir, mereka menutup mulut unta-unta mereka agar tidak mengambil apa yang bukan milik mereka. Seolah-olah mereka berkata: “Kamu telah melihat apa yang kami lakukan kepada unta-unta kami, bagaimana mungkin kami mencuri?!” Mereka lupa perbedaan antara wara’ dan merebut makanan yang tidak mereka miliki, dengan melemparkan Yusuf ‘alaihissalam ke dalam sumur dan menjualnya dengan harga murah!!

528- Di antara manusia ada yang taat dalam perkara-perkara kecil, bukan yang besar, dan dalam hal yang bebannya ringan atau biasa, dan dalam hal yang tidak mengurangi sedikitpun dari kebiasaannya dalam makanan dan pakaian. Kami melihat kaum yang mengambil riba, dan salah seorang dari mereka berkata: “Bagaimana musuhku melihatku setelah aku menjual rumahku, atau pakaian dan kendaraanku berubah?!”

529- Kami melihat kaum yang waswas dalam bersuci dan menggunakan banyak air, namun tidak menghindari ghibah! Dan kaum yang menggunakan takwil-takwil rusak dalam meraih tujuan mereka, padahal mereka tahu bahwa hal itu tidak boleh!

Sampai-sampai aku melihat seorang laki-laki dari ahli kebaikan dan ibadah, seseorang memberinya harta untuk membangun masjid dengannya, lalu ia mengambilnya untuk dirinya sendiri, dan mengeluarkan sebagai ganti yang benar berupa potongan-potongan. Ketika ia sekarat, ia berkata kepada orang itu: “Maafkanlah aku, karena aku telah berbuat begini dan begitu!!” Kami melihat kaum yang meninggalkan dosa karena jauh darinya; mereka sudah terbiasa meninggalkannya, dan jika mereka dekat dengannya, mereka tidak bisa menahan diri. Di antara manusia ada keajaiban dari jenis-jenis ini yang panjang penyebutannya.

530- Kami telah mengetahui bahwa sekelompok ulama Yahudi memikul beban ibadah dalam agama mereka, namun ketika Islam datang dan mereka mengetahui kebenarannya, mereka tidak mampu melawan hawa nafsu mereka dalam menghapus kepemimpinan mereka.

Demikian pula Qaishar, karena ia mengenal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan dalil, kemudian ia tidak mampu melawan hawa nafsunya dan meninggalkan kerajaannya.

Maka takutlah kepada Allah dalam menyia-nyiakan pokok-pokok, dan dari mengabaikan ternak hawa nafsu, karena jika engkau mengabaikan ternaknya, ia akan merusak tanaman-tanaman takwa.

531- Perumpamaan hawa nafsu tidak lain seperti binatang buas yang di lehernya ada rantai. Jika pengendalinya menguasainya dengan kuat, ia akan menahannya. Mungkin syahwat-syahwatnya yang menguasai dirinya tampak baginya, sehingga rantai tidak mampu melawannya, maka ia lepas. Di antara manusia ada yang menahan hawa nafsunya dengan rantai, dan di antara mereka ada yang menahannya dengan benang! Maka sepatutnya bagi orang berakal untuk berhati-hati dari setan-setan hawa nafsu, dan agar ia menjadi orang yang melihat dengan jelas apa yang bisa ia lawan dari musuh-musuhnya, dan dengan siapa ia bisa menang.

Bab 112: Bencana Persahabatan adalah Hasad

532- Di antara kesalahan terbesar adalah: mempercayai manusia dan bersikap terbuka kepada teman-teman, karena sesungguhnya musuh yang paling keras dan paling banyak bahayanya adalah teman yang berubah menjadi musuh, karena ia telah mengetahui rahasia yang tersembunyi. Penyair berkata:

“Berhati-hatilah dari musuhmu satu kali Dan berhati-hatilah dari temanmu seribu kali Karena mungkin teman berubah Sehingga ia lebih mengetahui bahaya”

533- Ketahuilah bahwa di antara perkara yang ada dalam jiwa adalah hasad terhadap nikmat, atau ghibthah, dan cinta kemuliaan! Jika orang yang menganggapmu semisal dengannya melihatmu telah naik di atasnya, maka pasti ia terpengaruh, dan mungkin hasad. Sesungguhnya saudara-saudara Yusuf ‘alaihissalam termasuk dari jenis ini, terjadi kepada mereka apa yang menjadi urusan mereka.

Jika engkau berkata: “Bagaimana manusia bisa tetap tanpa teman?!”

Aku katakan kepadamu: Tidakkah engkau tahu bahwa yang sejenis itu hasad, dan bahwa kebanyakan awam meyakini tentang alim bahwa ia tidak tersenyum dan tidak mengambil dari syahwat dunia sedikit pun? Jika mereka melihat sebagian kelapangannya dalam yang mubah, ia jatuh dari mata mereka?! Jika ini keadaan awam, dan itu keadaan khawas, maka dengan siapa pergaulan itu?!

Tidak, demi Allah, pergaulan tidak benar dengan jiwa, karena ia berubah-ubah.

534- Tidak ada kecuali berdiplomasi dengan makhluk, berhati-hati dari mereka, dan mengambil kenalan tanpa tamak kepada teman yang jujur. Jika langka, maka hendaklah ia bukan yang semisal, karena hasad lebih cepat kepadanya, dan hendaklah ia tinggi dari tingkatan awam, tidak tamak untuk meraih kedudukanmu.

535- Jika pergaulan dengan orang ini tidak menyembuhkan—karena pergaulan sepatutnya antara para ulama yang sejenis, agar mereka mendapat dari isyarat-isyarat dalam pergaulan apa yang membahagiakan majlis—namun tidak ada jalan kepada pertemuan.

536- Perumpamaan keadaan ini bahwa jika engkau mempekerjakan orang-orang cerdas, mereka akan mengetahui batinmu, dan jika engkau mempekerjakan orang-orang bodoh, maksudmu akan terbalik. Maka jadikanlah orang-orang cerdas untuk keperluanmu yang di luar, dan orang-orang bodoh untuk keperluanmu di rumahmu, agar mereka tidak mengetahui rahasia-rahasiamu. Qana’ahlah dari teman-teman dengan siapa yang kusifatkan untukmu, kemudian jangan temui ia kecuali dengan mengenakan baju hati-hati, dan jangan biarkan ia mengetahui batin yang mungkin disembunyikan darinya, dan jadilah sebagaimana dikatakan tentang serigala:

“Ia tidur dengan salah satu matanya dan berjaga-jaga Dengan mata yang lain dari musuh-musuh, maka ia terjaga meskipun tidur”

Bab 113: Barangsiapa Berbuat Baik di Masa Lalu, Ia akan Berbuat Baik di Masa yang Tersisa

537- Aku melihat sekelompok orang yang menghabiskan awal umur dan masa muda mereka dalam mencari ilmu, bersabar atas berbagai macam gangguan, meninggalkan aneka macam kenyamanan, karena sikap mulia dari kebodohan dan kelemahannya, dan mencari ilmu dan keutamaannya. Ketika ia meraih darinya sedikit yang mengangkatnya dari tingkatan ahli dunia dan orang yang tidak memiliki ilmu kecuali yang segera, sempitlah penghasilannya, [atau sedikit apa yang dicarinya untuk dirinya dari bagian-bagian], maka ia bepergian [ke] negeri-negeri, mencari dari orang-orang hina, dan merendahkan diri kepada orang-orang rendah, ahli kehinaan dan pemungut cukai, dan lain-lain!

538- Aku berbicara kepada sebagian mereka dan berkata: “Celakalah engkau! Di mana sikap mulia dari kebodohan itu, yang karenanya engkau begadang, dan karenanya engkau haus siang harimu?! Ketika engkau naik dan mendapat manfaat, engkau kembali ke yang paling rendah! Apakah tidak ada tersisa padamu sedikit dari sikap mulia yang memberitahu engkau tentang kedudukan orang-orang hina?! Dan tidak ada bersamamu sedikit dari ilmu yang berjalan denganmu dari tempat hawa nafsu?! Dan tidak kau peroleh dengan ilmu kekuatan yang kau tarik dengannya tali kendali jiwa dari padang rumput yang buruk?! Padahal jelas bagiku bahwa begadang dan lelahmu seakan-akan untuk meraih dunia?”

539- Kemudian aku melihatmu mengaku bahwa engkau ingin sesuatu dari dunia untuk membantu mencari ilmu! Maka ketahuilah bahwa perhatianmu kepada jenis usaha yang kau cukupkan dengannya dari orang-orang hina lebih utama daripada menambah ilmumu. Seandainya engkau mengetahui apa yang mengurangi “agamamu”, engkau tidak akan melihat dalam apa yang telah engkau tekadkan suatu tambahan. Apa yang dikandung tekad ini: perjalanan yang semuanya adalah bahaya bagi jiwa, dan merendahkan wajah—yang selama ini dijaga—kepada orang yang tidak pantas perhatian sepertimu kepada seperti dia.

540- Jauh bahwa engkau akan qana’ah setelah memulai perkara ini dengan sekadar kecukupan, padahal engkau telah tahu apa yang ada dalam meminta setelah cukup dari dosa! Dan lebih jauh lagi bahwa engkau mampu wara’ dalam yang diambil! Siapa yang menjamin keselamatanmu dan kembali ke kampung halaman?! Betapa banyak kemiskinan melemparkan ke tempat-tempat terpencilnya orang yang binasa! Kemudian apa yang kau kumpulkan akan habis, dan tersisa darinya apa yang diberikan, dan cela orang bertakwa kepadamu, dan ikut-ikutan orang jahil denganmu. Cukup bagimu bahwa engkau kembali kepada apa yang kau ketahui dari celaan dunia dengan keburukannya, karena engkau melakukan apa yang bertentangan dengannya, khususnya setelah sebagian besar umur berlalu. Barangsiapa berbuat baik di masa lalu, ia akan berbuat baik di masa yang tersisa.

Bab 114: Keserakahan dalam Mencari Sesuatu Akan Menghalangi Tujuannya

  1. Aku melihat bahwa keserakahan dalam mencari sesuatu justru menghalangi tujuan si serakah itu sendiri. Kita telah melihat orang yang serakah dalam mengumpulkan harta, lalu dia memperoleh banyak harta, namun dia tetap saja tamak untuk menambahnya. Seandainya dia memahami, dia akan tahu bahwa tujuan dari harta adalah untuk dibelanjakan selama hidup. Jika usia habis untuk mengumpulkan harta, maka kedua tujuan itu akan terlewatkan semuanya!

Betapa banyak yang kita lihat dari orang yang mengumpulkan harta namun tidak menikmatinya, lalu meninggalkannya untuk orang lain dan menghancurkan dirinya sendiri, sebagaimana kata penyair:

Seperti ulat sutera, apa yang dibangunnya justru menghancurkannya Sedangkan yang lain mendapat manfaat dari apa yang dibangunnya

  1. Begitu pula kita melihat banyak orang yang bersemangat mengumpulkan buku-buku, lalu menghabiskan umur mereka untuk menyalinnya.

Seperti kebiasaan ahli hadis, mereka menghabiskan umur untuk menyalin dan mendengar hadis sampai akhir hidup, kemudian mereka terbagi: sebagian disibukkan dengan hadis, ilmunya, dan pembetulannya, padahal mungkin dia tidak memahami jawaban suatu peristiwa, dan mungkin dia memiliki seratus jalur untuk hadis “Aslam sallamaha Allah” (Orang yang masuk Islam, Allah menyelamatkannya). Telah diceritakan kepadaku tentang salah seorang ahli hadis bahwa dia mendengar “Juz Ibn Arafah” dari seratus guru, dan dia memiliki tujuh puluh salinan.

Di antara mereka ada yang mengumpulkan buku dan mendengarkannya, namun tidak tahu apa isinya, baik dari segi keshahihannya maupun dari pemahaman maknanya. Kamu melihatnya berkata: “Buku si fulan aku dengar, dan aku punya salinannya, buku si fulan, dan si fulan…” Dia tidak mengetahui ilmu apa yang dimilikinya dari segi memahami yang sahih dan yang lemah, padahal kesibukan itu telah menghalanginya dari ilmu yang penting! Mereka seperti kata Al-Huthai’ah:

Pembawa berita tanpa ilmu pada mereka Tentang bebannya kecuali seperti ilmu unta Demi hidupmu, unta tidak tahu ketika berangkat pagi Dengan bebannya atau pulang petang: apa dalam kantung-kantungnya

Kemudian kamu melihat di antara mereka ada yang memimpin dengan “menguasai periwayatan saja”, lalu dia mengulurkan tangannya kepada apa yang bukan urusannya. Jika dia berfatwa, dia salah; jika dia berbicara tentang ushul, dia mencampur aduk!

Seandainya aku tidak benci menyebut orang, pasti aku ceritakan dari berita-berita ulama besar mereka dan kesalahan mereka yang bisa dijadikan pelajaran, tetapi hal itu tidak tersembunyi dari orang yang teliti tentang keadaan mereka.

  1. Jika ada yang berkata: “Bukankah dalam hadis disebutkan: ‘Dua orang yang tidak pernah kenyang: pencari ilmu dan pencari dunia’?”

Aku jawab: Adapun orang yang berilmu, aku tidak berkata kepadanya: “Kenyangkanlah diri dari ilmu,” dan tidak pula “Batasi diri pada sebagiannya,” tetapi aku berkata kepadanya: “Dahulukan yang penting.” Sesungguhnya orang yang berakal adalah yang memperkirakan umurnya dan bekerja sesuai dengan perkiraannya. Meskipun tidak ada cara untuk mengetahui ukuran umur, namun dia membangun berdasarkan yang paling mungkin. Jika dia sampai, berarti dia telah menyiapkan bekal untuk setiap tahapan. Jika dia meninggal sebelum sampai, maka niatnya akan membawanya.

  1. Ketika orang yang berakal tahu bahwa umur itu pendek dan ilmu itu banyak, maka tidak pantas bagi orang berakal yang mencari kesempurnaan keutamaan untuk disibukkan, misalnya, dengan mendengar hadis dan menyalinnya untuk memperoleh setiap jalur, setiap periwayatan, dan setiap yang asing. Ini tidak akan selesai dari tujuannya dalam lima puluh tahun, terutama jika dia sibuk menyalin, kemudian dia tidak hafal Al-Quran. Atau dia sibuk dengan ilmu-ilmu Al-Quran tapi tidak mengenal hadis, atau dengan khilafiyyah dalam fiqh tapi tidak mengenal riwayat yang menjadi pokok permasalahan.
  2. Jika ada yang berkata: “Buatkan untukku apa yang kamu pilih untuk dirimu sendiri.” Maka aku katakan: Orang yang bercita-cita tinggi tidak tersembunyi sejak masa kanak-kanak, sebagaimana kata Sufyan bin Uyainah: “Ayahku berkata kepadaku ketika aku berusia lima belas tahun: ‘Masa kanak-kanakmu telah berlalu, maka ikutilah kebaikan, niscaya kamu akan menjadi ahlinya.’ Aku jadikan wasiat ayahku sebagai kiblat yang aku condongkan dan tidak aku tinggalkan.”
  3. Kemudian sebelum aku mulai menjawab, aku katakan: Sebaiknya orang yang memiliki harga diri merasa malu dari kekurangan yang bisa dihindari dari dirinya. Seandainya kenabian, misalnya, bisa diperoleh dengan usaha, tidak boleh dia puas dengan wilayah, atau seandainya dia bisa menjadi khalifah, tidak pantas dia puas dengan keamiran, dan seandainya dia bisa menjadi raja, dia tidak rela menjadi manusia biasa. Intinya adalah mengantar diri kepada kesempurnaan yang mungkin baginya dalam ilmu dan amal.
  4. Ketika telah diketahui pendeknya umur dan banyaknya ilmu, maka hendaklah dia memulai dengan Al-Quran dan menghafalkannya, serta memperhatikan tafsirnya dengan pandangan yang sedang, tidak ada yang tersembunyi baginya darinya. Jika memungkinkan baginya membaca tujuh qiraat, dan hal-hal dari ilmu nahwu, dan buku-buku bahasa, lalu dia memulai dengan ushul hadis dari segi riwayat seperti kitab-kitab shahih, musnad, dan sunan, dan dari segi ilmu hadis seperti mengenal perawi yang lemah dan nama-nama, maka hendaklah dia mempelajari ushul-ushul itu. Para ulama telah menyusun dari hal itu apa yang cukup bagi pelajar dari kesusahan.
  5. Hendaklah dia mempelajari sejarah untuk mengetahui apa yang tidak bisa ditinggalkan, seperti nasab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kerabat-kerabatnya, istri-istrinya, dan apa yang terjadi padanya.
  6. Kemudian hendaklah dia menghadapi fiqh, mempelajari madzhab dan khilafiyyah, dan hendaklah sandarannya pada masalah-masalah khilafiyyah. Hendaklah dia mempelajari masalah dan apa yang terkandung di dalamnya, lalu mencarinya dari tempat-tempatnya, seperti tafsir ayat, hadis, dan kata bahasa. Hendaklah dia sibuk dengan ushul fiqh dan faraid, dan hendaklah dia tahu bahwa fiqh adalah porosnya kemuliaan.
  7. Cukup baginya dari mempelajari ushul (tauhid) apa yang bisa dijadikan dalil tentang adanya Sang Pencipta. Jika dia telah menetapkan-Nya dengan dalil dan mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh bagi-Nya, serta menetapkan pengutusan rasul-rasul dan mengetahui wajibnya menerima dari mereka, maka dia telah mencakup tujuan dari ilmu ushul.

Jika waktu memungkinkan untuk menambah ilmu, hendaklah dari fiqh, karena itu yang paling bermanfaat.

  1. Kapan pun dia diberi kesempatan, dan dia mampu menyusun dalam suatu ilmu, maka dia meninggalkan dengan itu pengganti yang baik, sambil berusaha untuk memiliki anak.
  2. Kemudian dia tahu bahwa dunia adalah tempat penyeberangan, maka dia memperhatikan pemahaman mu’amalah dengan Allah Azza wa Jalla, karena kumpulan ilmu yang dia peroleh menunjukkannya kepada hal itu. Jika dia berusaha merealisasikan ma’rifah-Nya dan berdiri di pintu mu’amalah-Nya, jarang orang yang berdiri dengan jujur kecuali akan ditarik ke maqam wilayah. Barangsiapa yang dikehendaki akan diberi taufik. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memiliki kaum yang Dia ambil alih pendidikan mereka, dan Dia utus kepada mereka di masa kanak-kanak seorang pendidik yang disebut akal, dan pembimbing yang disebut pemahaman. Dia mengambil alih pendidikan dan pembinaan mereka, serta menyiapkan bagi mereka sebab-sebab kedekatan kepada-Nya. Jika muncul penghalang yang memutus mereka dari-Nya, Dia melindungi mereka darinya. Jika mereka terkena fitnah, Dia menolaknya dari mereka. Maka kami memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar menjadikan kami termasuk mereka, dan kami berlindung kepada-Nya dari kehinaan yang tidak bermanfaat bersamanya usaha.

Bab 115: Khalwat Memiliki Pengaruh yang Tampak dalam Pergaulan

  1. Sesungguhnya khalwat (menyendiri) memiliki pengaruh-pengaruh yang tampak dalam pergaulan. Betapa banyak mukmin kepada Allah Azza wa Jalla yang menghormati-Nya ketika menyendiri, meninggalkan apa yang dia inginkan karena takut pada siksa-Nya, atau mengharap pahala-Nya, atau karena mengagungkan-Nya. Dengan perbuatan itu dia seperti melemparkan kayu gaharu India ke dalam anglo, lalu harum mewangi menguar, dan makhluk menciumnya namun tidak tahu di mana sumbernya.
  2. Sesuai kadar perjuangan dalam meninggalkan apa yang diinginkan, cintanya akan menguat, atau sesuai kadar penolakan terhadap yang dicintai yang ditinggalkan itu, keharuman akan bertambah dan berbeda-beda seperti perbedaan kayu gaharu. Kamu melihat mata makhluk mengagungkan orang ini, lidah mereka memujinya, padahal mereka tidak mengenalnya dan tidak mampu menggambarkannya karena jauhnya mereka dari hakikat mengenalnya.
  3. Keharuman ini bisa berlanjut setelah kematian sesuai kadarnya. Di antara mereka ada yang dikenang dengan kebaikan untuk waktu yang lama kemudian dilupakan, di antara mereka ada yang dikenang seratus tahun kemudian namanya dan kuburnya tersembunyi, dan di antara mereka ada tokoh-tokoh yang namanya kekal selamanya.
  4. Sebaliknya, orang yang takut kepada makhluk dan tidak menghormati khalwatnya dengan Allah, maka sesuai kadar penentangannya dengan dosa-dosa dan sesuai ukuran dosa-dosa itu, menguar darinya bau kebencian, sehingga hati-hati membencinya. Jika sedikit kadar yang dia perbuat, sedikit pula lidah-lidah menyebutnya dengan kebaikan, dan tersisa hanya penghormatan kosong. Jika banyak, paling tinggi orang-orang diam tentangnya, tidak memuji dan tidak mencela.
  5. Betapa banyak orang yang menyendiri dengan dosa yang menjadi sebab jatuhnya dalam jurang kesengsaraan di kehidupan dunia dan akhirat. Seakan-akan dikatakan kepadanya: “Tinggallah dengan apa yang kamu pilih!” Maka dia tinggal selamanya dalam kegoncangan. Lihatlah saudara-saudaraku, bagaimana kemaksiatan itu berpengaruh dan menjerumuskan.

Abu Darda radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya seorang hamba menyendiri dengan kemaksiatan kepada Allah Ta’ala, lalu Allah melemparkan kebencian terhadapnya ke dalam hati orang-orang mukmin tanpa dia sadari.” Maka perhatikanlah apa yang aku tulis, kenalilah apa yang aku sebutkan, dan jangan abaikan khalwat dan rahasia kalian, karena sesungguhnya amal itu dengan niat, dan balasan sesuai kadar keikhlasan.

Bab 116: Barangsiapa Mengenal Jalannya Takdir, Dia Akan Teguh Menghadapinya

  1. Barangsiapa mengenal jalannya takdir, dia akan teguh menghadapinya. Orang yang paling jahil setelah ini adalah yang melawannya, karena yang dikehendaki oleh Yang Menakdirkan adalah kehinaan bagi-Nya. Jika kamu melawan takdir dan memperoleh keinginanmu dari itu, tidak tersisa bagimu kehinaan.

Contohnya: orang miskin lapar, lalu dia bersabar sesuai kemampuan. Jika dia lemah, dia keluar untuk meminta-minta kepada makhluk sambil malu kepada Allah bagaimana dia meminta kepada mereka. Meskipun dia punya uzur karena kebutuhan yang memaksanya, namun dia melihat bahwa dia terkalahkan kesabarannya, maka dia tetap beruzur dan malu, dan itulah yang dikehendaki darinya.

Bukankah keluarnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari Makkah sehingga tidak mampu kembali ke sana sampai masuk dalam perlindungan Muth’im bin Adi yang kafir, ada pelajaran dalam hal itu?

Maha Suci Yang mengaitkan urusan-urusan dengan sebab-sebab, untuk terjadi kehinaan orang yang mengenal karena butuh kepada sebab-sebab.

Bab 117: Ujian untuk Mengetahui Kesabaran dan Menampakkan Keutamaan

  1. Maha Suci Yang mengendalikan makhluk-Nya dengan keterasingan dan kehinaan untuk menguji kesabaran mereka dan menampakkan permata-permata mereka dalam ujian! Ini Adam ‘alaihissalam, malaikat sujud kepadanya, kemudian setelah sebentar dia dikeluarkan dari surga. Ini Nuh ‘alaihissalam dipukul sampai pingsan, kemudian setelah sebentar dia selamat dalam kapal dan musuh-musuhnya binasa. Ini Khalil ‘alaihissalam dilemparkan ke dalam api, kemudian setelah sebentar dia keluar dengan selamat. Ini Zabih (Ismail) berbaring dengan pasrah, kemudian selamat dan pujian kekal. Ini Ya’qub ‘alaihissalam hilang penglihatannya karena perpisahan, kemudian kembali karena perjumpaan. Ini Kalim (Musa) ‘alaihissalam sibuk dengan penggembalaan, kemudian naik ke peringkat berbicara dengan Allah. Ini nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kemarin dikatakan kepadanya: anak yatim, dan dia dibolak-balik dalam keajaiban yang dia hadapi dari musuh-musuh terkadang, dan dari tipu daya kemiskinan di lain waktu, dan dia lebih teguh dari gunung Hira. Kemudian ketika sempurna baginya keinginannya dari kemenangan dan tercapai tujuan dari raja-raja terbesar dan penduduk bumi, turunlah kepadanya tamu kepindahan, lalu dia berkata: “Wakarraba” (Betapa sakitnya).

Barangsiapa memperhatikan lautan dunia dan mengetahui bagaimana gelombang-gelombang bertemu dan bagaimana bersabar menghadapi hari-hari, tidak akan meremehkan turunnya bala dan tidak bergembira dengan kemudahan yang cepat.

Bab 118: Lakukanlah Amal yang Kalian Mampu

  1. Sebaiknya orang yang berakal tidak mendahului azam-azam besar sebelum menimbang dirinya: apakah dia mampu? Dan mencoba dirinya dalam menjalankan sebagiannya secara diam-diam dari makhluk, karena dia tidak aman bahwa dia melihat dalam keadaan yang tidak dia sabari, kemudian kembali dan terhina!

Contohnya: seorang laki-laki mendengar tentang ahli zuhud, lalu membuang pakaian indahnya, memakai yang rendah, dan menyendiri di sudut, dan hatinya dikuasai ingatan mati dan akhirat. Tidak lama tabiat yang menuntut memaksa dengan apa yang biasa terjadi. Di antara mereka ada yang langsung kembali kepada lebih dari apa yang dahulu, seperti makan unta setelah sakit, dan di antara mereka ada yang menengahi keadaan, lalu tinggal seperti yang bimbang.

  1. Sesungguhnya orang yang berakal adalah yang menutupi dirinya di antara manusia dengan pakaian yang sedang, tidak mengeluarkannya dari ahli kebaikan dan tidak memasukkannya dalam penampilan ahli kefakiran. Jika azamnya kuat, dia bekerja di rumahnya sesuai kemampuan dan meninggalkan pakaian perhiasan untuk menutupi keadaan, dan tidak menampakkan sesuatu kepada makhluk, karena itu lebih jauh dari riya dan lebih selamat dari kehinaan.
  2. Di antara manusia ada yang dikuasai pendeknya angan-angan dan ingatan akhirat, sampai mengubur buku-buku ilmu! Perbuatan ini menurutku termasuk kesalahan terbesar meskipun dinukil dari sejumlah tokoh besar! Sungguh aku telah menyebutkan hal ini kepada sebagian guru kami, lalu dia berkata: “Mereka semua salah.” Aku ta’wilkan untuk sebagian mereka bahwa di dalamnya ada hadis-hadis dari kaum yang lemah dan mereka tidak membedakannya, sebagaimana diriwayatkan dari Sufyan dalam mengubur buku-bukunya, atau di dalamnya ada sesuatu dari pendapat, maka mereka tidak suka diambil dari mereka, maka itu sejenis dengan pembakaran mushaf oleh Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu agar tidak diambil sesuatu yang di dalamnya yang disepakati selainnya. Ta’wil ini sahih untuk ulama mereka.

Adapun mencuci buku-buku oleh Ahmad bin Abi Hawari dan Ibnu Asbath, itu keteledoran murni. Maka hati-hati dari perbuatan yang dilarang syariat, atau melakukan apa yang disangka azam padahal itu kesalahan, atau menampakkan apa yang tidak kuat bagi yang menampakkan sehingga mundur ke belakang. “Lakukanlah amal yang kalian mampu,” sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bab 119: Tidak Ada Kebaikan dalam Kelezatan yang Setelahnya Neraka

  1. Paling jahil dari orang jahil adalah yang mengutamakan yang cepat daripada yang lambat tanpa aman dari buruknya akibat. Betapa banyak yang kita dengar tentang penguasa, amir, dan pemilik harta yang melepaskan dirinya dalam syahwat-syahwatnya dan tidak memperhatikan halal dan haram, lalu turun kepadanya penyesalan di waktu mati berkali-kali lipat dari apa yang dia nikmati, dan dia mendapat penyesalan pahit yang tidak bisa dilawan oleh seluruh kelezatan walau secuil pun darinya. Seandainya hanya ini saja, cukup menjadi kesedihan, apalagi balasan kekal di hadapannya!
  2. Dunia dicintai oleh tabiat, tidak diragukan dalam hal itu, dan aku tidak mengingkari pencarinya dan yang mengutamakan syahwat-syahwatnya, tetapi sebaiknya dia memperhatikan dalam usahanya dan mengetahui cara mengambilnya, agar selamat baginnya akibat kenikmatannya. Jika tidak, maka tidak ada kebaikan dalam kelezatan yang setelahnya neraka.
  3. Apakah pernah dihitung dalam orang-orang berakal yang dikatakan kepadanya: “Duduklah di kerajaan setahun, kemudian kami bunuh kamu”? Tidak mungkin, bahkan sebaliknya, yaitu orang yang berakal adalah yang sabar terhadap pahitnya usaha setahun, bahkan bertahun-tahun, untuk beristirahat di akhiratnya. Pada umumnya: celakalah kelezatan yang berakibat hukuman!
  4. Telah mengabarkan kepada kami Abdurrahman bin Muhammad Al-Qazzaz, dia berkata: Mengabarkan kepada kami Abu Bakar Al-Khatib, dia berkata: Mengabarkan kepada kami Al-Hasan bin Abi Thalib, dia berkata: Menceritakan kepada kami Yusuf bin Umar Al-Qawwas, dia berkata: Menceritakan kepada kami Al-Husain bin Ismail secara imla, dia berkata: Menceritakan kepada kami Abdullah bin Abi Sa’d, dia berkata: Menceritakan kepada kami Muhammad bin Maslamah Al-Balkhi, dia berkata: Menceritakan kepada kami Muhammad bin Ali Al-Quhustani, dia berkata: Menceritakan kepada kami Dulaf bin Abi Dulaf, dia berkata:

Aku bermimpi seakan-akan seseorang datang setelah kematian ayahku dan berkata: “Jawab panggilan amir!” Aku berdiri bersamanya, lalu dia memasukkanku ke rumah yang seram, kasar, hitam dindingnya, atap dan pintunya rusak, kemudian dia menaikkanku ke tangga di dalamnya, lalu memasukkanku ke kamar. Di dindingnya ada bekas api, di lantainya ada bekas abu, dan ayahku telanjang meletakkan kepalanya di antara lututnya. Dia berkata kepadaku seperti bertanya: “Dulaf?” Aku jawab: “Ya, semoga Allah memperbaiki amir.” Lalu dia mulai berkata:

Sampaikanlah kepada keluarga kami dan jangan sembunyikan dari mereka Apa yang kami alami di alam barzakh yang mengepak Kami telah ditanya tentang semua yang kami lakukan Maka kasihanilah kesepian kami dan apa yang kami hadapi

“Apakah kamu paham?” Aku jawab: “Ya.” Lalu dia mulai berkata:

Seandainya kita ketika mati dibiarkan Niscaya kematian adalah kenyamanan setiap yang hidup Tetapi kita ketika mati dibangkitkan Dan ditanya setelahnya tentang segala sesuatu

Bab 120: Kelezatan Indera dan Akal

  1. Seluruh kelezatan ada di antara yang inderawi dan yang akal. Puncak kelezatan inderawi dan yang tertinggi adalah bersetubuh, dan puncak kelezatan akal adalah ilmu. Barangsiapa memperoleh kedua puncak itu di dunia, maka dia telah meraih ujung, dan aku membimbing pencari kepada yang tertinggi dari yang dicari.
  2. Namun bagi pencari yang diberi rezeki ada tandanya, yaitu diberi rezeki kemuliaan cita-cita. Cita-cita ini lahir bersama anak, sehingga kamu melihatnya sejak masa kanak-kanak mencari hal-hal yang tinggi, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis: “Abdul Muthalib memiliki hamparan di Hijir, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang ketika masih kecil dan duduk di atasnya. Abdul Muthalib berkata: ‘Sesungguhnya anakku ini memiliki urusan.'”
  3. Jika ada yang berkata: “Jika aku memiliki cita-cita tetapi tidak diberi rezeki apa yang aku cari, apa hikmahnya?”

Jawabannya: Jika rezeki terhalang dari satu jenis, tidak terhalang dari jenis lain. Kemudian jarang sekali Dia memberimu cita-cita tetapi tidak menolongmu! Maka lihatlah keadaanmu: mungkin Dia memberimu sesuatu yang tidak kamu syukuri, atau mengujimu dengan sesuatu dari hawa nafsu yang tidak kamu sabari.

  1. Ketahuilah bahwa Dia mungkin melipat darimu banyak kelezatan dunia untuk mengistimewakanmu dengan kelezatan ilmu, karena kamu lemah, mungkin tidak kuat untuk mengumpulkan keduanya, maka Dia lebih tahu apa yang baik bagimu.
  2. Adapun apa yang aku ingin jelaskan kepadamu: sesungguhnya pemuda pemula dalam mencari ilmu sebaiknya mengambil dari setiap ilmu sedikit, dan menjadikan ilmu fiqh yang terpenting, tidak kurang dalam mengetahui riwayat, di dalamnya terlihat perjalanan orang-orang yang sempurna. Jika diberi rezeki kefasihan dari segi penempatan, kemudian ditambahkan kepadanya pengetahuan bahasa dan nahwu, maka telah diasah pisau lidahnya pada batu asah yang baik. Kapan pun ilmu mengantarkan kepada mengenal kebenaran dan mengabdi kepada Allah Azza wa Jalla, maka terbuka baginya pintu-pintu yang tidak terbuka untuk selainnya.

572

Seorang pencari ilmu hendaknya dengan lemah lembut menjadikan sebagian waktunya untuk mencari nafkah dan berdagang, dengan cara menunjuk orang lain untuk mengurusnya, bukan mengurus langsung, sambil mengatur hidup dengan tidak berlebih-lebihan dan tidak boros. Sebab meriwayatkan ilmu dan mengamalkannya hingga mencapai tingkat ma’rifah kepada Allah yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi itu “menawan perasaan”, sehingga mungkin kesenangan yang dicapainya itu menyibukkannya dari segala hal. Sungguh keadaan yang sehat dari cacat!

573

Jika ia mendapati tabiatnya condong kepada syahwat nikah, maka hendaklah ia memilih budak wanita, karena wanita merdeka pada umumnya adalah belenggu.

574

Hendaklah ia menjauhkan diri dari budak-budak wanita sampai ia menguji akhlak dan agama mereka. Jika ia ridha kepada mereka, maka ia meminta anak dari mereka. Jika tidak, maka mengganti mereka itu mudah.

575

Janganlah ia menikahi wanita merdeka kecuali jika ia tahu bahwa wanita itu sabar atas poligami dan berbudak wanita. Tujuannya hendaklah untuk bersenang-senang dengannya, bukan memaksakan diri dalam ejakulasi, karena hal itu merusak kekuatannya dan melemahkan asal. Inilah keadaan yang menghimpun kenikmatan indera dan akal. Aku menyebutkannya secara isyarat, dan pemahaman orang cerdas akan membimbingnya kepada apa yang tidak aku jelaskan.

Bab 121: Mengajarkan Cara Menghafal Ilmu

576

Ketahuilah bahwa pelajar membutuhkan kesinambungan belajar. Termasuk kesalahan adalah tenggelam dalam mengulang pelajaran siang dan malam, karena pelaku keadaan ini tidak akan bertahan kecuali beberapa hari, kemudian ia akan lemah atau sakit.

577

Kami meriwayatkan bahwa seorang dokter masuk menemui Abu Bakr bin al-Anbari dalam sakit kematiannya. Dokter itu melihat penyakitnya dan berkata: “Engkau telah melakukan sesuatu yang tidak dilakukan orang lain!” Kemudian ia keluar dan berkata: “Tidak ada harapan darinya.” Lalu ditanya kepadanya: “Apa yang telah ia lakukan?” Dokter menjawab: “Ia mengulang sepuluh ribu lembar setiap minggu.”

578

Termasuk kesalahan adalah membebankan hati menghafal yang banyak atau menghafal dari berbagai bidang ilmu, karena hati adalah anggota tubuh seperti anggota lainnya. Sebagaimana di antara manusia ada yang mampu mengangkat seratus pon, dan ada yang tidak mampu mengangkat dua puluh pon, demikian pula hati. Maka seseorang hendaknya mengambil sesuai kemampuannya atau di bawahnya. Jika ia menghabiskan kemampuannya pada suatu waktu, maka akan hilang waktu-waktu lainnya, sebagaimana orang rakus memakan beberapa suap berlebihan, sehingga menjadi sebab terhalangnya beberapa kali makan!

Yang benar adalah mengambil sekadar yang mampu ia tanggung, mengulanginya pada dua waktu dari siang dan malam, serta mengistirahatkan kemampuan pada sisa waktu.

579

Kesinambungan adalah dasar yang agung. Betapa banyak orang yang meninggalkan mengingat kembali setelah menghafal, sehingga hilang waktu yang panjang untuk mengembalikan hafalan yang telah terlupa.

580

Menghafal memiliki waktu-waktu dari umur. Yang paling baik adalah masa kanak-kanak dan yang mendekatinya dari waktu-waktu. Yang paling baik kebiasaannya adalah waktu sahur, pertengahan siang, dan sore hari lebih baik dari malam hari. Waktu lapar lebih baik dari waktu kenyang.

581

Tidak baik menghafal di hadapan tumbuhan hijau dan di tepi sungai karena hal itu melalaikan. Tempat-tempat tinggi untuk menghafal lebih baik dari tempat rendah.

582

Menyendiri adalah dasar. Mengumpulkan konsentrasi adalah dasar dari segala dasar. Mengistirahatkan jiwa dari mengulang satu hari dalam seminggu agar hafalan menetap dan jiwa mendapat kekuatan, seperti bangunan yang dibiarkan beberapa hari hingga kokoh, kemudian dibangun di atasnya.

583

Mengurangi hafalan dengan kesinambungan adalah dasar yang agung. Jangan memulai bidang ilmu sampai menguasai yang sebelumnya. Barang siapa tidak mendapati semangat untuk menghafal, hendaklah ia meninggalkannya, karena memaksa jiwa tidak baik.

584

Memperbaiki temperamen adalah dasar yang agung, karena makanan memiliki pengaruh pada hafalan. Az-Zuhri berkata: “Aku tidak makan cuka sejak menangani hafalan.” Dikatakan kepada Abu Hanifah: “Dengan apa hafalan fikih dapat dibantu?” Ia menjawab: “Dengan mengumpulkan konsentrasi.” Hammad bin Salamah berkata: “Dengan sedikitnya kesedihan.” Makhul berkata: “Barang siapa membersihkan pakaiannya, sedikirlah kekhawatirannya. Barang siapa harum baunya, bertambahlah akalnya. Barang siapa menggabungkan keduanya, bertambahlah kemuliaannya.”

585

Aku memilih bagi pemula dalam menuntut ilmu untuk menunda nikah semampu mungkin, karena Ahmad bin Hanbal tidak menikah sampai genap empat puluh tahun. Ini untuk mengumpulkan konsentrasi. Jika hal itu mengalahkannya, maka ia menikah dan berusaha keras menahan diri dengan perbuatan, agar kekuatan terpusat untuk mengulang ilmu.

586

Kemudian hendaklah ia melihat ilmu apa yang akan dihafalnya, karena umur itu mulia dan ilmu itu banyak. Sesungguhnya ada kaum yang menghabiskan waktu untuk menghafal sesuatu yang seharusnya didahulukan yang lain, meskipun semua ilmu itu baik. Tetapi yang lebih baik adalah mendahulukan yang lebih penting dan lebih utama. Yang paling utama untuk disibukkan adalah menghafal Al-Quran, kemudian fikih, dan yang setelah ini dalam kedudukan sebagai pengikut. Barang siapa diberi kewaspadaan, kewaspadaannya akan membimbingnya sehingga ia tidak membutuhkan dalil. Barang siapa bermaksud mencari wajah Allah Ta’ala dengan ilmu, tujuan itu akan membimbingnya kepada yang terbaik: “Dan bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah mengajarkan kepadamu” (Al-Baqarah: 282).

Bab 122: Cobaan Terbesar adalah Tertipu dengan Keselamatan Setelah Berbuat Dosa

587

Barang siapa menginginkan keselamatan dan kesehatan yang langgeng, hendaklah ia bertakwa kepada Allah yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi. Tidak ada hamba yang melepaskan dirinya dalam sesuatu yang bertentangan dengan takwa, meskipun sedikit, kecuali ia akan mendapatkan hukumannya, cepat atau lambat. Termasuk tertipu adalah engkau berbuat buruk, lalu melihat kebaikan, kemudian mengira bahwa engkau telah dimaafkan, dan melupakan: “Barang siapa mengerjakan kejahatan, niscaya dia akan dibalas dengan kejahatan itu” (An-Nisa: 123). Terkadang jiwa berkata: “Sesungguhnya Dia mengampuni,” lalu bersikap longgar! Tidak diragukan bahwa Dia mengampuni, tetapi kepada siapa yang Dia kehendaki.

588

Aku akan menjelaskan kepadamu suatu keadaan. Renungkanlah dengan pikiranmu, niscaya engkau akan mengetahui makna ampunan. Yaitu bahwa barang siapa berbuat salah tanpa sengaja, tidak merencanakan sebelum perbuatan, dan tidak berniat mengulangi setelah perbuatan, kemudian sadar akan perbuatannya lalu memohon ampun kepada Allah, maka perbuatannya – meskipun disengaja – dalam kedudukan keliru. Misalnya seseorang melihat sesuatu yang menarik, lalu tabiat mengalahkannya sehingga ia melepas pandangan, dan dalam keadaan melihat ia sibuk dengan kenikmatan tabiat dari memperhatikan makna larangan, sehingga ia seperti orang yang tidak sadar atau mabuk. Ketika ia sadar, ia menyesal atas perbuatannya, maka penyesalan itu menghapus kotoran-kotoran yang seperti kesalahan yang tidak disengaja. Inilah makna firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka pun mengingat Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan mereka)” (Al-A’raf: 201).

Adapun yang terus-menerus melakukan pandangan itu, mengulanginya, dan bersikeras padanya, maka seolah-olah ia dalam kedudukan sengaja melanggar larangan, menantang dengan menyelisihi. Maka pengampunan menjauh darinya sekadar kekerasan kepalanya. Termasuk jauhnya adalah tidak melihat balasan atas hal itu, sebagaimana kata Ibnu al-Jala: “Guruku melihatku berdiri memperhatikan seorang pemuda Kristen, lalu berkata: ‘Apa ini?! Engkau akan melihat akibatnya meski setelah lama.'” Aku lupa Al-Quran setelah empat puluh tahun.

589

Ketahuilah bahwa termasuk cobaan terbesar adalah tertipu dengan keselamatan setelah berbuat dosa, karena hukuman tertunda. Termasuk hukuman terbesar adalah manusia tidak merasakan hukuman itu, dan hukuman itu berupa pencabutan agama, pembutaan hati, dan buruknya pilihan bagi jiwa, sehingga dampaknya adalah keselamatan badan dan tercapainya tujuan.

590

Seorang yang pernah mengalami berkata: “Aku melepas pandanganku kepada yang tidak halal bagiku, kemudian aku menunggu hukuman. Aku dipaksa melakukan perjalanan panjang tanpa niat apa-apa, lalu aku mengalami kesulitan. Kemudian disusul dengan kematian orang yang paling aku cintai, dan hilangnya hal-hal yang sangat berarti bagiku. Kemudian aku memperbaiki perkaraku dengan taubat, maka keadaanku membaik.

Kemudian hawa nafsu kembali, mendorongku melepas pandangan lagi. Maka hatiku menjadi buta, kehilangan kelembutan, dan dirampas dariku yang lebih banyak dari kehilangan yang pertama. Aku mendapat ganti dari yang hilang dengan sesuatu yang kehilangannya lebih baik.

Ketika aku merenungkan apa yang diganti dan apa yang dirampas dariku, aku berteriak karena sakit cambukan itu. Maka aku berteriak dari pantai: ‘Saudara-saudaraku! Hati-hatilah dengan ombak laut ini, jangan tertipu dengan ketenangannya. Tetaplah di pantai, berpeganglah pada benteng takwa, karena hukuman itu pahit.’

Ketahuilah bahwa dalam berpegang pada takwa ada kepahitan karena kehilangan tujuan dan keinginan, namun dalam perumpamaan seperti pantangan yang diikuti kesehatan, sedangkan kekacauan mungkin mendatangkan kematian mendadak.

Demi Allah, seandainya kalian tidur di tempat sampah bersama anjing dalam mencari ridha Yang Menguji, itu sedikit dalam meraih ridha-Nya. Seandainya kalian mencapai puncak angan-angan dari tujuan dunia dengan berpaling dari-Nya, keselamatan kalian adalah kebinasaan, kesehatan kalian adalah penyakit, dan kesehatan kalian adalah sakit. Perkara itu pada akhirnya, dan orang berakal adalah yang memperhatikan akibat. Bersabarlah, semoga Allah merahmati kalian, dalam panasnya cobaan, karena betapa cepatnya berlalu! Allah yang memberi taufik, karena tidak ada daya kecuali dengan-Nya, dan tidak ada kekuatan kecuali dengan karunia-Nya.”

Bab 123: Kebatilan Memiliki Giliran dan Kebenaran Memiliki Serangan

591

Datang ke Baghdad sekelompok ahli bid’ah dari orang-orang Ajam. Mereka naik mimbar-mimbar peringatan untuk orang awam. Kebanyakan majlis mereka adalah mereka berkata: “Tidak ada kalam Allah di bumi! Bukankah mushaf itu hanya kertas, tinta, dan pewarna?! Sesungguhnya Allah tidak di langit! Sesungguhnya budak wanita yang dikatakan Nabi kepadanya: ‘Di mana Allah?’ adalah bisu, lalu menunjuk ke langit, artinya: Dia bukan dari berhala-berhala yang disembah di bumi!” Kemudian mereka berkata: “Mana orang-orang Hurufiyah yang mengklaim bahwa Al-Quran adalah huruf dan suara?! Ini adalah ungkapan Jibril!!”

Mereka terus seperti itu hingga pengagungan Al-Quran menjadi ringan di hati kebanyakan orang awam. Salah seorang dari mereka mendengar lalu berkata: “Inilah yang benar; kalau tidak, Al-Quran adalah sesuatu yang dibawa Jibril dalam kantung!”

Hal ini dikeluhkan kepada sekelompok Ahli Sunnah. Aku berkata kepada mereka: “Bersabarlah, karena syubhat pasti mengangkat kepalanya pada beberapa waktu, meskipun telah dipukul. Kebatilan memiliki giliran dan kebenaran memiliki serangan. Para penipu banyak, dan tidak ada negeri yang kosong dari orang yang memalsukan mata uang seperti cap sultan.”

592

Seseorang berkata: “Apa jawaban kita atas perkataan mereka?” Aku berkata: “Ketahuilah, semoga Allah memberimu taufik, bahwa Allah dan Rasul-Nya cukup dengan iman secara global dari makhluk, dan tidak membebani pengetahuan detail, baik karena mengetahui detail merusak aqidah, atau karena kemampuan manusia tidak mampu mempelajari hal itu.”

593

Yang pertama dibawa Rasul adalah menetapkan Pencipta. Al-Quran turun kepadanya dengan dalil atas wujud Pencipta dengan melihat ciptaan-Nya. Allah berfirman: “Atau siapakah yang menjadikan bumi itu tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya” (An-Naml: 61), dan berfirman: “Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (Adz-Dzariyat: 21). Allah terus berdalil atas wujud-Nya dengan makhluk-Nya, dan atas kekuasaan-Nya dengan buatan-Nya.

594

Kemudian menetapkan kenabian Nabi dengan mukjizatnya. Yang terbesar di antaranya adalah Al-Quran yang dibawanya, sehingga makhluk tidak mampu membuat yang sepertinya. Sekelompok sahabat cukup dengan dalil-dalil ini, dan berlalu atasnya generasi pertama, sedangkan sumbernya bersih tidak keruh.

595

Allah mengetahui bid’ah yang akan terjadi, maka Dia memperbanyak dalil-dalil dan memenuhi Al-Quran dengannya.

596

Ketika Al-Quran adalah sumber ilmu-ilmu dan mukjizat terbesar bagi Rasul, Allah menegaskan perkara di dalamnya. Allah berfirman: “Dan ini adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati” (Al-An’am: 92), “Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penyembuh” (Al-Isra: 82). Allah mengabarkan bahwa itu adalah kalam-Nya dengan firman-Nya: “Mereka berkehendak mengubah kalam Allah” (Al-Fath: 15), dan mengabarkan bahwa itu didengar dengan firman-Nya: “Sampai dia mendengar firman Allah” (At-Taubah: 6), dan mengabarkan bahwa itu terpelihara, maka berfirman: “Dalam Lauh Mahfuzh” (Al-Buruj: 22), dan berfirman: “Bahkan Al-Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu” (Al-Ankabut: 49), dan mengabarkan bahwa itu tertulis dan dibaca, maka berfirman: “Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya sesuatu kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu” (Al-Ankabut: 48), hingga yang panjang penjelasannya dari banyaknya ayat-ayat dalam makna-makna ini yang mewajibkan penetapan Al-Quran.

597

Kemudian Allah menyucikan Nabi-Nya agar tidak dianggap membawanya dari dirinya sendiri, maka berfirman: “Bahkan mereka berkata: ‘Dia telah mengada-adakan Al-Quran itu.’ Padahal Al-Quran itu adalah kebenaran dari Tuhanmu” (As-Sajdah: 3), dan mengancamnya jika melakukan, maka berfirman: “Dan seandainya dia mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat jantungnya” (Al-Haqqah), dan berfirman tentang orang yang mengklaim bahwa itu kalam makhluk ketika berkata: “Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia, kelak akan Aku masukkan dia ke dalam (neraka) Saqar” (Al-Muddatstsir).

598

Ketika Allah menyiksa setiap umat dengan jenis azab yang ditangani sebagian malaikat, seperti teriakan Jibril kepada Tsamud, pengiriman angin kepada ‘Ad, gempa kepada Qarun, pembalikan negeri kaum Luth oleh Jibril, dan pengiriman burung Ababil kepada yang bermaksud merusak Ka’bah, Allah sendiri menangani hukuman bagi orang yang mendustakan Al-Quran, maka berfirman: “Maka biarkanlah Aku (saja) dengan orang yang mendustakan Al-Quran ini” (Al-Qalam: 44), “Biarkanlah Aku dengan orang yang telah Aku ciptakan sendirian” (Al-Muddatstsir: 11). Ini karena Al-Quran adalah dasar syariat-syariat ini dan yang menetapkan setiap syariat sebelumnya, karena semua umat tidak memiliki yang menunjukkan kebenaran apa yang mereka yakini kecuali kitab kita, karena kitab-kitab mereka telah diubah dan diganti.

599

Setiap yang berakal tahu bahwa yang berkata: “Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia” (Al-Muddatstsir: 25) menunjuk kepada yang didengarnya. Tidak berbeda orang yang berakal dan ahli pemahaman terhadap khitab bahwa firman-Nya: “Dan sesungguhnya Al-Quran itu” adalah kinayah dari Al-Quran, dan firman-Nya: “diturunkan olehnya” juga kinayah daripadanya, dan firman-Nya: “Dan ini adalah kitab” adalah isyarat kepada yang hadir. Ini perkara yang lurus, tidak ada yang berbeda padanya dari orang-orang terdahulu di zaman Rasul dan para sahabat.

600

Kemudian syaitan menyusupkan tipu daya bid’ah. Maka berkata suatu kaum: “Yang ditunjuk ini makhluk!” Maka teguh Imam Ahmad dalam menolak perkataan ini, agar tidak menyusup kepada Al-Quran sesuatu yang menghapus sebagian pengagungannya dalam jiwa, dan mengeluarkannya dari penisbatan kepada Allah. Ia melihat bahwa membuat bid’ah yang tidak dikatakan di dalamnya tidak boleh digunakan, maka berkata: “Bagaimana aku mengatakan yang tidak dikatakan?!”

601

Kemudian tidak berbeda manusia dalam selain itu sampai tumbuh Ali bin Isma’il Al-Asy’ari. Ia pernah berkata dengan perkataan Mu’tazilah, kemudian terlintas dalam pikirannya, lalu mengklaim bahwa kalam adalah sifat yang berdiri pada jiwa! Klaimnya ini mewajibkan bahwa yang ada pada kita itu makhluk, dan menambah serta mengacaukan aqidah. Ahli bid’ah terus berkelana dalam arusnya sampai hari ini.

602

Pembicaraan dalam masalah ini tersusun dengan menyebut hujah dan syubhat dalam kitab-kitab ushul, maka aku tidak memperpanjang di sini. Tetapi aku sebutkan kepadamu kesimpulan yang cukup bagi yang Allah kehendaki hidayahnya: yaitu bahwa syara’ cukup dari kita dengan iman secara global, dan dengan mengagungkan zhahir-zhahir, dan melarang menyelami yang membangkitkan debu syubhat yang tidak kuat memutus jalannya langkah-langkah pemahaman.

Jika telah dilarang menyelami qadar, bagaimana boleh menyelami sifat-sifat Yang Menentukan qadar?!

Itu tidak lain karena salah satu dari dua perkara yang kusebutkan: baik karena takut membangkitkan syubhat yang menggoyahkan aqidah, atau karena kemampuan manusia tidak mampu meraih hakikat.

603

Jika zhahir-zhahir Al-Quran menetapkan wujud Al-Quran, lalu berkata seseorang: “Tidak ada Al-Quran di sini,” maka ia telah menolak zhahir-zhahir yang Rasul bersusah payah menetapkannya dan menetapkan wujudnya dalam jiwa. Dengan apa halal dan haram ditentukan, diputus dan dipotong, sedangkan tidak ada pada kita dari Allah yang telah terdahulu dengan sesuatu?! Apakah penentang memiliki dalil kecuali berkata: “Allah berfirman,” lalu kembali menetapkan yang dinafikannya?! Maka tidak benar bagi yang diberi taufik kecuali berhenti pada zhahir syara’. Jika yang berasyubhat menentangnya dan berkata: “Ini suaramu, dan ini tulisanmu, mana Al-Quran?!” hendaklah ia berkata kepadanya: “Kita telah sepakat bahwa ada sesuatu yang dengannya kita berdalil semua. Sebagaimana engkau mengingkari aku menetapkan sesuatu yang tidak dapat kutegakkan penetapannya secara indera, maka aku mengingkari engkau bagaimana menafikan wujud sesuatu yang telah tetap secara syara’?!”

604

Adapun perkataan mereka: “Bukankah di dalam mushaf hanya kertas, tinta, dan pewarna?!” Ini seperti perkataan yang berkata: “Bukankah manusia hanya daging dan darah?!” Jauh sekali! Sesungguhnya makna manusia adalah ruh. Barang siapa melihat kepada daging dan darah, ia berhenti pada indera. Jika ia berkata: “Demikian aku katakan: sesungguhnya yang tertulis selain tulisan.” Kami katakan kepadanya: “Inilah yang kami ingkari padamu, karena tidak tetap tahqiq ini bagimu dan lawanmu. Jika engkau maksudkan dengan tulisan tinta dan goresannya, maka ini bukan Al-Quran. Jika engkau maksudkan makna yang berdiri dengan itu, maka ini bukan tulisan.”

Bagian 605

Dan hal-hal ini tidak layak untuk dibahas secara mendalam, karena apa yang ada di bawahnya tidak mungkin untuk dipahami secara terperinci, seperti ruh misalnya; sesungguhnya kita mengetahui keberadaannya secara umum, adapun hakikatnya, maka tidak. Jika kita tidak mengetahui hakikat-hakikatnya, maka kita lebih tidak mengetahui sifat-sifat Allah Yang Haq. Maka wajib berdiam diri dengan dalil-dalil yang bersumber dari wahyu, sambil menafikan apa yang tidak layak bagi Allah Yang Haq; karena membahasnya akan menambah kebingungan orang yang membahasnya, dan tidak memberikan manfaat dalam pencapaian ilmu, bahkan akan mewajibkan untuk menafikan apa yang ditetapkan oleh wahyu tanpa ada pemahaman rasional yang benar. Maka tidak ada jalan keselamatan kecuali jalan para salafus salih dan keselamatan.

Bagian 606

Dan demikian pula aku katakan: bahwa menetapkan keberadaan Allah dengan makna-makna zahir dari ayat-ayat dan sunnah lebih wajib bagi orang awam daripada membicarakan kepada mereka tentang tanzih (penyucian Allah), meskipun tanzih itu wajib. Ibn Aqil biasa berkata: yang paling baik untuk keyakinan orang awam adalah makna-makna zahir dari ayat-ayat dan sunnah; karena mereka merasa tenang dengan penetapan (sifat Allah). Jika kita hapus hal itu dari hati mereka, maka akan hilang tata kelola dan kehormatan, dan orang awam akan terjatuh dalam keraguan. Aku lebih suka mereka tenggelam dalam syubhat daripada menenggelamkan mereka dalam tanzih; karena tasybih (menyerupakan Allah) akan mencelupkan mereka dalam penetapan, sehingga mereka akan berharap dan takut kepada sesuatu yang sudah mereka kenal, yang patut ditakuti dan diharapkan seperti itu. Sedangkan tanzih akan melemparkan mereka kepada penafian, dan tidak ada harapan ataupun ketakutan dari penafian.

Dan barangsiapa yang merenungkan syariat, ia akan melihatnya menyelupkan para mukallaf dalam tasybih dengan lafaz-lafaz yang makna zahirnya memberikan selain itu, seperti perkataan orang Badui: “Apakah Tuhan kita tertawa?” Beliau bersabda: “Ya”; maka beliau tidak bermuka masam karena hal ini.

Pasal 124: Ujian atas Orang yang Mengenal (Allah)

Bagian 607

Ujian yang paling besar adalah: Dia memberikan kepadamu semangat yang tinggi, kemudian menghalangimu dari beramal sesuai dengan tuntutannya. Maka akibat dari semangatmu adalah menolak bantuan makhluk karena merasa berat menanggung beban budi mereka, kemudian Dia mengujimu dengan kemiskinan, lalu kamu mengambil dari mereka! Dan Dia melembutkan watakmu, kamu tidak menerima makanan yang mudah didapat, sehingga kamu membutuhkan biaya tambahan, kemudian Dia mengurangi rezekimu! Dan Dia menggantungkan semangatmu pada hal-hal yang bagus, kemudian Dia memutus jalan menuju hal-hal itu dengan kemiskinan! Dan Dia memperlihatkan kepadamu ilmu-ilmu dalam kedudukan yang dicintai, kemudian Dia melemahkan badanmu dari pengulangan dan mengosongkan tanganmu dari harta yang dengannya kamu bisa mendapatkan buku-buku! Dan Dia menguatkan kerinduanmu untuk mencapai derajat-derajat orang arif dan zuhud, kemudian Dia membutuhkanmu untuk bergaul dengan para pemilik dunia! Dan inilah ujian yang nyata.

Bagian 608

Adapun orang yang rendah semangatnya, yang tidak malu meminta-minta kepada makhluk, tidak memandang buruk bertukar dengan istrinya, cukup dengan sedikit ilmu, dan tidak merindukan keadaan para arif, maka dia tidak merasa sakit karena kehilangan sesuatu, dan melihat apa yang dia dapatkan adalah puncaknya. Maka dia bergembira seperti gembiranya anak-anak dengan perhiasan, betapa mudahnya urusan baginya!

Bagian 609

Sesungguhnya ujian itu atas orang arif yang bersemangat tinggi, yang semangatnya mengajaknya kepada semua yang berlawanan, untuk menambah dari maqam kesempurnaan, dan langkahnya terpendek dari pencapaian tujuannya. Alangkah keadaan yang menghabiskan bekal orang-orang sabar di jalannya!

Seandainya tidak ada keadaan-keadaan lalai yang menimpa orang yang diuji ini sehingga dia hidup dengannya; niscaya kesinambungan perhatiannya kepada maqam-maqam akan membutakan pandangannya, dan ijtihad-nya dalam suluk akan melemahkan kakinya. Tetapi perhatian-perhatian bantuan untuknya – terkadang tercapainya sebagian keinginannya, dan terkadang dengan kelalaian dari apa yang dituju – meringankan hidupnya. Dan ini adalah perkataan yang mulia, tidak memahaminya kecuali ahlinya, dan tidak mengetahui hakikatnya kecuali para sahabatnya.

Pasal 125: Timbangan Keadilan Menampakkan Zarrah

Bagian 610

Jiwa berontak kepadaku dalam menuntut sesuatu dari tujuan-tujuannya dengan takwil yang rusak, maka aku berkata kepadanya: Demi Allah, bersabarlah, karena di tempat penyeberangan ada kesibukan karena takut tenggelam akibat banyaknya ombak daripada berjalan-jalan menikmati keajaiban laut!

Bagian 611

Jika kamu berniat melakukan perbuatan, maka ukurlah terjadinya, kemudian lihatlah akibat-akibatnya, dan apa yang kamu petik dari buah-buahnya. Paling tidak adalah penyesalan atas yang telah kamu lakukan, dan tidak aman bahwa itu akan berbuah murka Allah Yang Mulia lagi Agung, dan berpaling-Nya darimu. Maka celakalah yang memutuskan hubungan dengan-Nya meskipun itu surga!

Bagian 612

Kemudian ketahuilah -wahai jiwa- bahwa tidak ada sesuatu yang berlalu sia-sia, dan bahwa timbangan keadilan menampakkan zarrah di dalamnya. Maka lihatlah orang-orang yang sudah mati dan yang masih hidup, dan perhatikanlah orang yang tersebar namanya dengan kebaikan dan keburukan, dan penambahan serta pengurangan hal itu. Maha Suci Allah yang menampakkan dalil keadaan-keadaan tersembunyi atas pemiliknya, sehingga hati-hati manusia tertarik kepada ahli kebaikan, dan lari dari ahli keburukan, tanpa melihat sesuatu dari amal-amal mereka semua.

Bagian 613

Iblis berkata: “Apakah kamu akan meninggalkan keinginanmu demi makhluk?!” Aku berkata: “Tidak; ini hanya sebagian buah yang diperoleh bukan melalui jalan tujuan. Dan kita melihat orang yang berjalan tiga puluh farsakh agar dikatakan: orang yang berusaha. Maka orang yang bertakwa telah memperoleh kehormatan sebutan -meskipun dia tidak bermaksud memperoleh hal itu- sebagai tambahan baginya dalam timbangan balasan: “Kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan rasa kasih sayang (dalam hati orang-orang yang beriman kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh)” (Maryam: 96).

Bagian 614

Jiwa berkata: “Sungguh kamu telah memerintahkanku untuk sabar atas siksaan; karena meninggalkan tujuan-tujuan adalah siksaan.”

Aku berkata: “Bagimu ada ganti dari tujuan, dan dari setiap yang ditinggalkan ada pengganti. Dan kamu berada dalam maqam hamba, dan tidak layak bagi pekerja untuk memakai pakaian istirahat pada waktu dipekerjakan. Dan setiap waktu orang bertakwa adalah siang hari puasa. Dan barangsiapa takut hukuman, dia meninggalkan yang diinginkan. Dan barangsiapa ingin dekat, dia menggunakan wara’. Dan kesabaran memiliki kemanisan yang tampak pada akibat-akibatnya.”

Pasal 126: Menjauh dari Sebab-sebab Fitnah

Bagian 615

Barangsiapa yang jiwanya menariknya kepada kenikmatan yang haram, sehingga pandangannya kepadanya menyibukkan dari merenung akibat-akibatnya dan hukumannya, dan dia mendengar teriakan akal yang memanggilnya: “Celakalah kamu! Jangan lakukan! Sesungguhnya kamu akan berhenti dari pendakian, dan mulai turun, dan akan dikatakan kepadamu: Tinggallah dengan apa yang kamu pilih!” Jika hawa nafsunya menyibukkannya, sehingga dia tidak menoleh kepada apa yang dikatakan kepadanya, dia tidak akan berhenti turun, dan perumpamaannya dalam buruknya pilihan seperti perumpamaan yang dibuat: bahwa anjing berkata kepada singa: “Wahai pemimpin binatang buas! Ganti namaku; karena itu jelek.” Singa berkata kepadanya: “Kamu pengkhianat, tidak layak bagimu selain nama ini.” Dia berkata: “Maka coba aku.” Lalu dia memberikan sepotong daging, dan berkata: “Jaga ini untukku sampai besok, dan aku akan mengganti namamu.” Maka dia lapar, dan mulai melihat daging itu, dan bersabar. Ketika nafsunya mengalahkannya, dia berkata: “Dan apa salahnya dengan namaku?! Dan apa itu anjing selain nama yang bagus.” Lalu dia makan! Dan begitulah orang yang rendah semangat, yang puas dengan kedudukan yang paling rendah, yang memilih hawa nafsu yang cepat atas keutamaan yang lambat.

Bagian 616

Maka demi Allah, demi Allah dalam api hawa nafsu ketika menyala! Dan lihatlah bagaimana memadamkannya? Karena suatu kekeliruan bisa menjerumuskan ke dalam sumur kebinasaan, dan suatu bekas tidak terhapus, dan yang hilang tidak bisa dikembalikan pada hakikatnya. Maka jauhilah sebab-sebab fitnah, karena mendekatinya adalah cobaan yang pemiliknya hampir tidak selamat, dan keselamatan.

Pasal 127: Manusia Semuanya dalam Perang

Bagian 617

Aku melihat semua makhluk dalam barisan perang, dan setan-setan melempar mereka dengan panah hawa nafsu, dan memukul mereka dengan pedang kenikmatan. Adapun orang-orang yang tercampur-baur, maka mereka tumbang sejak awal waktu pertempuran. Dan adapun orang-orang bertakwa, maka mereka dalam perjuangan yang keras dari mujahad! Maka tidak bisa tidak dengan lamanya berdiri dalam peperangan akan ada luka, maka mereka terluka dan mengobati, kecuali bahwa mereka terlindungi dari kematian. Ya, sesungguhnya luka di wajah adalah aib yang kekal, hendaklah para mujahid berhati-hati terhadap hal itu.

Pasal 128: Dunia adalah Jebakan dan Orang Bodoh Terjatuh pada Pandangan Pertama

Bagian 618

Dunia adalah jebakan, dan orang bodoh terjatuh pada pandangan pertama. Adapun orang berakal yang bertakwa, maka dia bersabar terhadap kelaparan, dan berputar-putar di sekitar umpan, dan keselamatan jauh; betapa banyak orang sabar yang berijtihad bertahun-tahun, kemudian di akhir urusan terjatuh!

Maka hati-hati, hati-hati, karena kita telah melihat orang yang berada di atas jalan yang benar, kemudian tergelincir di tepi kubur.

Pasal 129: Dosa-dosa Memiliki Pengaruh yang Buruk

Bagian 619

Ketahuilah -saudara-saudaraku, dan siapa yang menerima nasihatku!- bahwa dosa-dosa memiliki pengaruh yang buruk, kepahitannya melebihi kemanisannya berkali-kali lipat, dan Yang Membalas mengintai, tidak ada sesuatu yang mendahului-Nya, dan tidak ada yang lolos dari-Nya. Bukankah diriwayatkan dalam tafsir bahwa setiap orang dari anak-anak Ya’qub alaihissalam -dan mereka dua belas orang- lahir baginya dua belas anak laki-laki, kecuali Yusuf, karena dia lahir baginya sebelas anak, dan dibalas karena dengki itu, maka berkurang satu anak.

Bagian 620

Alangkah sedihnya orang yang dipukul dengan cambuk namun tidak merasakan sakit! Dan orang yang penuh luka, namun tidak tahu keadaan dirinya! Dan orang yang terbolak-balik dalam hukuman namun tidak mengetahuinya! Demi hidupku, sesungguhnya hukuman yang paling besar adalah tidak mengetahui hukuman itu.

Bagian 621

Alangkah anehnya orang yang menipu dirinya! Dia memuaskan Tuhannya dengan ketaatan, kemudian memuaskan dirinya dengan syahwat, dan berkata: “Kebaikan dan keburukan!”

Bagian 622

Celakalah kamu! Dari kantongmu sendiri kamu berbelanja, dan dari barang daganganmu sendiri kamu merusak, dan wajah kehormatanmu kamu noda! Suatu luka bisa membunuh, dan suatu tersandung bisa membinasakan, dan suatu kelalaian tidak bisa diperbaiki.

Bagian 623

Celakalah kamu! Bangkitlah untuk dirimu, apa yang kamu tunggu dengan kembalimu? Dan apa yang kamu nantikan dengan tobatmu? Uban? Maka inilah yang melemahkan tulang! Dan apa lagi setelah kepergian ahli keluarga, anak-anak, dan kerabat selain menyusul?!

Anggap saja apa yang kamu harapkan dari dunia telah terjadi, lalu apa? Jika itu cepat, maka menyibukkanmu dengan cepat, kemudian tegukan terakhir kenikmatan adalah tersedak! Dan jika kamu berpisah dengan kekasihmu atau dia berpisah denganmu, alangkah pahitnya tegukan itu, kamu berharap pada saat itu seandainya kamu tidak melihatnya!

Bagian 624

Ah, untuk orang yang tertutup akalnya dari merenung, dan terhalang dari mendatangi mata air, sementara dia melihat tempat minum! Tidakkah dalam kubur-kubur ini ada pemberi peringatan?! Tidakkah dalam berputarnya zaman ada yang mencegah?! Di mana yang pernah memerintah dan mencapai cita-cita dalam apa yang diharapkan?!

Panggil mereka di tempat berkumpul mereka! Jauh sekali, mereka tuli dari yang memanggil mereka. Seandainya yang menimpa mereka adalah kematian, sesungguhnya kubur hanyalah sejenak. Kerja telah selesai wahai yang tidak ada kemarin! Wahai yang akan hancur anggota tubuhnya besok! Dengan wajah apa kamu akan menemui Tuhanmu?! Apakah yang kamu peroleh dari hawa nafsu sebanding dengan kata celaan?!

Bagian 625

Demi Allah, sesungguhnya rahmat setelah celaan terkadang tidak sempurna mencabut kebencian dari lubuk hati, apalagi jika celaan diikuti dengan hukuman?!

Bagian 626

Dan telah mengabarkan kepada kami Abdul Rahman bin Muhammad Al-Qazzaz, dia berkata: Mengabarkan kepada kami Abu Bakar Al-Khatib, dia berkata: Mengabarkan kepada kami Muhammad bin Al-Husain Al-Mu’addil, dia berkata: Mengabarkan kepada kami Abu Al-Fadl Az-Zuhri, dia berkata: Mengabarkan kepada kami Ahmad bin Muhammad Az-Za’farani, dia berkata: Menceritakan kepada kami Abu Al-Abbas bin Wasil Al-Muqri, dia berkata: Aku mendengar Muhammad bin Abdul Rahman Ash-Shairafi, dia berkata: Tetangga kami melihat Yahya bin Aktham setelah kematiannya dalam mimpi, lalu dia berkata: “Apa yang dilakukan Tuhanmu kepadamu?” Dia berkata: “Aku berdiri di hadapan-Nya, lalu Dia berkata kepadaku: ‘Aib bagimu wahai orang tua!’ Aku berkata: ‘Ya Tuhanku! Sesungguhnya Rasul-Mu berkata: Sesungguhnya Engkau malu kepada anak-anak berusia delapan puluh tahun untuk menyiksa mereka, dan aku anak berusia delapan puluh tahun, orang yang berjalan di bumi karena Allah.’ Maka Dia berkata kepadaku: ‘Rasul-Ku benar, maka Aku telah memaafkanmu.'”

Dan dalam riwayat lain dari Muhammad bin Salm Al-Khawwash, dia berkata: “Aku melihat Yahya bin Aktham dalam mimpi, lalu aku berkata: ‘Apa yang Allah lakukan denganmu?’ Dia berkata: ‘Dia menghentikanku di hadapan-Nya, dan berkata kepadaku: Wahai orang tua yang buruk! Seandainya bukan karena ubanmu, niscaya Aku membakarmu dengan api.'”

Dan yang dimaksud dari ini adalah melihat dengan mata ibrah, apakah ini cukup untuk masuk surga, apalagi untuk kenikmatan dunia? Maka kita memohon kepada Allah Yang Mulia lagi Agung agar Dia menyadarkan kita dari tidurnya orang-orang lalai, dan agar Dia memperlihatkan kepada kita segala sesuatu sebagaimana adanya, agar kita mengetahui aib-aib dosa. Dan Allah Yang Memberi Taufiq.

Pasal 130: Barangsiapa Bertawakal kepada Allah Maka Allah Cukup baginya

Bagian 627

Aku sempat dalam kesempitan urusan yang mewajibkan kesedihan yang melekat dan terus-menerus, dan aku berlebihan dalam berpikir untuk keluar dari kesedihan-kesedihan ini dengan segala cara dan segala segi, namun aku tidak melihat jalan untuk keluar. Lalu terbersit padaku ayat ini: “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar” (At-Talaq: 2), maka aku mengetahui bahwa takwa adalah sebab untuk keluar dari setiap kesedihan. Tidak ada selain bahwa aku berniat merealisasikan takwa, lalu aku mendapatkan jalan keluar.

Maka kita tidak menginginkan makhluk manapun untuk bertawakal atau mencari sebab atau berpikir kecuali dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala, dan memenuhi perintah-Nya, karena itu adalah sebab untuk membuka setiap yang tertutup. Kemudian Dia senang jika itu terjadi dari arah yang tidak diperkirakan oleh pemikir yang bertipu daya dan berencana, sebagaimana firman-Nya Yang Mulia lagi Agung: “Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya” (At-Talaq: 3).

Bagian 628

Kemudian orang yang bertakwa hendaknya mengetahui bahwa Allah Yang Mulia lagi Agung mencukupinya, maka jangan menggantungkan hatinya pada sebab-sebab, karena Allah Yang Mulia lagi Agung telah berfirman: “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkannya” (At-Talaq: 3).

Pasal 131: Bersihkan Jalan-jalan Ijabah dari Kotoran Dosa

Bagian 629

Sungguh aneh desakan mu dalam meminta tujuan-tujuanmu! Dan setiap kali penundaannya bertambah, desakanmu bertambah! Dan kamu lupa bahwa mungkin itu ditolak karena dua hal: Pertama, untuk kemaslahatan mu, maka mungkin kamu meminta keburukan yang cepat. Kedua, karena dosa-dosamu, karena pemilik dosa jauh dari ijabah. Maka bersihkanlah jalan-jalan ijabah dari kotoran maksiat, dan lihatlah apa yang kamu minta, apakah itu untuk memperbaiki agamamu, atau hanya untuk hawa nafsumu?

Jika itu untuk hawa nafsu semata, maka ketahuilah bahwa di antara kelembutan dan rahmat kepadamu adalah penundaannya, dan kamu dalam desakanmu seperti anak kecil yang meminta apa yang membahayakannya, lalu dicegah karena kasih sayang kepadanya.

Dan jika itu untuk kebaikan agamamu, maka mungkin kemaslahatan ada pada penundaannya, atau kebaikan agama ada pada tidak adanya itu.

Dan secara keseluruhan, pengaturan Allah Yang Haq kepadamu lebih baik daripada pengaturanmu, dan Dia mungkin mencegahmu dari apa yang kamu inginkan sebagai ujian, untuk menguji kesabaranmu, maka perlihatkanlah kepada-Nya kesabaran yang indah, kamu akan melihat dalam waktu dekat apa yang menyenangkan.

Dan apabila kamu membersihkan jalan-jalan ijabah dari kotoran dosa, dan bersabar atas apa yang Dia putuskan untukmu, maka semua yang terjadi lebih baik untukmu, baik pemberian maupun pencegahan.

Pasal 132: Persiapan untuk Mati

Bagian 630

Wajib bagi siapa yang tidak tahu kapan kematian mendatanginya untuk bersiap-siap, dan tidak tertipu dengan masa muda dan kesehatan, karena yang paling sedikit mati adalah orang-orang tua, dan yang paling banyak mati adalah orang-orang muda, dan karena itu jarang orang yang tua, dan mereka telah membuat syair:

Satu orang yang berumur panjang menipu suatu kaum Dan terlupakan yang mati dari kalangan pemuda

Bagian 631

Dan di antara penipuan adalah panjangnya angan-angan, dan tidak ada bencana yang lebih besar darinya, karena kalau bukan karena panjangnya angan-angan, tidak akan terjadi pengabaian sama sekali. Dan sesungguhnya maksiat didahulukan, dan tobat diakhirkan, karena panjangnya angan-angan. Dan syahwat dipercepat, dan inabah dilupakan, karena panjangnya angan-angan.

Bagian 632

Dan jika kamu tidak sanggup memendekkan angan-angan, maka beramallah seperti amal orang yang pendek angan-angannya: Dan jangan lupa sehingga kamu melihat apa yang telah berlalu dari harimu, jika kamu melihat kekeliruan, maka hapuslah dengan tobat, atau kerusakan, maka tamballah dengan istighfar. Dan jika kamu pagi hari, maka renungkanlah apa yang berlalu di malammu. Dan jauhilah penundaan, karena itu adalah tentara iblis yang terbesar.

Dan ambillah untukmu dari dirimu dengan perlahan Dan masa depan hidupmu belum berpaling Dan takutlah serangan mendadak yang tidak memaafkan kesalahan Dan melipat mata air atas tempat keluar Dan umpamakan untuk dirimu rombongan mana Yang merangkummu dalam arena mahsyar

Kemudian gambarkan untuk dirimu pendeknya umur, dan banyaknya kesibukan, dan kuatnya penyesalan atas kelalaian ketika mati, dan panjangnya penyesalan atas keterlambatan setelah terlewat. Dan gambarkan pahala orang-orang sempurna sedangkan kamu kurang, dan orang-orang yang berijtihad sedangkan kamu malas.

Bagian 633

Dan jangan kosongkan dirimu dari nasihat yang kamu dengar, dan pikiran yang kamu ajak bicara dengannya, karena jiwa seperti kuda yang mengamuk: jika kamu abaikan kendalinya, kamu tidak aman bahwa dia akan melemparkanmu. Dan demi Allah, hawa nafsumu telah mengotorimu, dan kamu telah menyia-nyiakan umurmu.

Maka bergegaslah dalam penjagaan sebelum rusaknya yang tersisa dengan kerinduan, betapa banyak sayap orang bijak yang tersangkut dalam jerat hawa nafsu! Dan betapa banyak orang mabuk yang jatuh ke dalam sumur kebinasaan! Dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.

Pasal 133: Waspada terhadap Kemaksiatan

634- Berhati-hatilah, berhati-hatilah terhadap kemaksiatan, karena akibatnya buruk. Betapa banyak kemaksiatan yang pelakunya senantiasa dalam kemerosotan selamanya, dengan tersandungnya langkah-langkahnya, kemiskinan yang berat, dan penyesalan atas apa yang luput darinya di dunia, dan celaka bagi siapa yang meraihnya. Seandainya ia mendekat pada waktu pembalasan atas perbuatan buruk yang telah dilakukannya, maka protestasinya terhadap takdir dalam kegagalan tujuan-tujuannya akan mengembalikan azab yang baru!

635- Betapa menyesal bagi yang dihukum tapi tidak merasakan hukumannya! Dan betapa sakit hati karena hukuman yang tertunda hingga lupa akan sebabnya. Bukankah Ibnu Sirin berkata: “Aku pernah mencela seseorang karena kemiskinannya, lalu aku menjadi miskin setelah empat puluh tahun”?! Dan Ibnu al-Jala’ berkata: “Aku pernah memandang seorang pemuda yang tampan, lalu aku lupa Al-Quran setelah empat puluh tahun.”

Betapa menyesal bagi yang dihukum tapi tidak tahu bahwa hukuman terbesar adalah tidak merasakan hukuman itu!

636- Demi Allah, demi Allah, baguskanlah tobat kalian, semoga ia dapat menahan tangan pembalasan. Dan berhati-hatilah, berhati-hatilah terhadap dosa, khususnya dosa-dosa di tempat sepi, karena menantang Allah Ta’ala akan menjatuhkan hamba dari pandangan-Nya. Perbaikilah hubungan antara dirimu dengan-Nya dalam rahasia, niscaya Dia akan memperbaiki keadaan zahirmu, dan jangan tertipu dengan penutupan-Nya – wahai orang yang bermaksiat – karena barangkali Dia akan menyingkap auratmu, dan jangan tertipu dengan kesabaran-Nya karena barangkali pembalasan akan datang tiba-tiba.

637- Hendaklah engkau gelisah dan berlari kepada-Nya serta merendah, karena jika ada yang bermanfaat, maka itulah dia. Berbekallah dengan kesedihan, dan minumlah gelas air mata, dan galilah dengan cangkul duka lubang kecil hati nafsu, semoga engkau dapat mengeluarkan air yang dapat membersihkan tubuh dosamu.

Pasal 134: Barangsiapa yang Mengagungkan Allah, Allah akan Mengagungkan Kedudukannya

638- Saudara-saudaraku! Dengarlah nasihat dari orang yang telah mencoba dan berpengalaman. Sesungguhnya sesuai dengan kadar penghormatan kalian kepada Allah Azza wa Jalla, Dia akan menghormati kalian, dan sesuai dengan kadar pengagungan dan penghormatan kalian kepada-Nya, Dia akan mengagungkan kedudukan dan kehormatan kalian.

639- Sungguh aku telah melihat – demi Allah – orang yang menghabiskan umurnya dalam menuntut ilmu hingga ia tua, kemudian ia melanggar batas-batas, maka ia menjadi hina di mata makhluk, dan mereka tidak menghiraukan dia, meskipun ilmunya luas dan perjuangannya kuat.

Dan sungguh aku telah melihat orang yang mengawasi Allah Azza wa Jalla sejak masa mudanya meskipun ia kurang dibandingkan dengan ulama tersebut – maka Allah mengagungkan kedudukannya di dalam hati, hingga jiwa-jiwa terikat kepadanya, dan mereka menggambarkannya dengan sifat yang melebihi kebaikan yang ada padanya.

Dan aku melihat orang yang terbiasa melihat kelurusan ketika ia lurus, maka ketika ia menyimpang, berpaling darinya kebaikan. Seandainya bukan karena keumuman penutupan dan keseluruhan rahmat Yang Mulia, niscaya terbongkar aib orang-orang yang disebutkan itu. Namun pada umumnya itu adalah pendidikan atau kelembutan dalam hukuman, sebagaimana dikatakan:

“Dan barangsiapa yang berbuat baik ketika murka… maka bagaimana dia ketika ridha”

Namun keadilan tidak memihak, dan hakim pembalasan tidak zalim, dan tidak ada yang hilang pada Yang Maha Terpercaya sedikitpun.

Pasal 135: Melazimi Majelis Tobat

640- Wahai orang yang berdosa! Jika engkau merasakan hembusan pembalasan, maka janganlah terlalu banyak mengeluh, dan jangan berkata: “Sungguh aku telah bertobat dan menyesal, mengapa tidak hilang dariku pembalasan yang kubenci!” Barangkali tobatmu belum terealisasi.

Dan sesungguhnya bagi pembalasan ada masa yang memanjang seperti penyakit yang lama, tidak mempan padanya tipu daya, hingga berlalu masanya. Dan sesungguhnya antara masa: “dan dia mendurhakai” (QS. Thaha: 121) hingga saat: “kemudian dia menerima” (QS. Al-Baqarah: 37) adalah masa yang panjang.

641- Maka bersabarlah wahai orang yang bersalah hingga air matamu meresap ke dalam kain hati yang najis; maka ketika diperas oleh tangan duka, kemudian berulang-ulang pencucian, maka dihukumi suci.

642- Adam terus menangisi kesalahannya selama tiga ratus tahun. Dan Ayyub alaihissalam tinggal dalam bencana selama delapan belas tahun, dan Ya’qub menangisi Yusuf alaihissalam selama delapan puluh tahun. Bagi bencana-bencana ada waktu-waktu, kemudian berakhir. Dan betapa banyak hukuman yang memanjang hingga waktu kematian.

643- Maka yang wajib bagimu adalah melazimi mihrab tobat, dan duduk dalam posisi meminta-minta, dan jadikan makananmu kegelisahan, dan minumanmu tangisan, barangkali datang pembawa kabar gembira penerimaan, maka Ya’qub kembali dari kesedihan dengan dapat melihat. Dan jika engkau mati dalam penjara dukamu, barangkali kesedihan dunia menggantikan kesedihan akhirat, dan dalam hal itu ada keuntungan besar.

Pasal 136: Air Mata Penyesalan Memadamkan Api Dosa

644- Yang wajib bagi orang berakal adalah berhati-hati terhadap akibat buruk kemaksiatan, karena apinya ada di bawah abu. Barangkali hukuman tertunda, kemudian datang tiba-tiba, dan barangkali datang dengan tergesa-gesa. Maka hendaklah segera memadamkan api dosa yang telah dinyalakan, dan tidak ada air yang memadamkan api itu kecuali yang berasal dari mata kepala, semoga lawan pembalasan ridha sebelum hakim memutuskan dalam hukumannya.

Pasal 137: Terimalah Nasihatku Wahai yang Tertipu oleh Tujuannya

645- Sungguh mengherankan orang yang mengenal Allah Azza wa Jalla namun menyelisihi-Nya, meskipun dalam hal yang merusak dirinya! Apakah hidup itu kecuali bersama-Nya?! Apakah dunia dan akhirat itu kecuali milik-Nya?!

646- Celakalah bagi yang memberi keringanan dalam melakukan apa yang dibenci untuk meraih apa yang dicintai! Demi Allah, sungguh ia telah kehilangan berkali-kali lipat dari apa yang diperoleh. Terimalah apa yang kukatakan wahai yang memiliki rasa! Apakah terjadi padamu kemandegan dalam hidup, dan kekacauan dalam keadaan kecuali saat menyelisihi-Nya?!

“Dan tidaklah berpaling tekadku dari pintu kalian… kecuali aku tersandung oleh ujung baju-bajuku”

647- Tidakkah engkau mendengar kisah itu dari sebagian salaf: bahwa dia berkata: “Aku melihat di atas tembok Beirut seorang pemuda yang berdzikir kepada Allah Ta’ala, maka aku berkata kepadanya: ‘Apakah engkau punya keperluan?’ Maka dia berkata: ‘Jika aku punya keperluan, aku meminta kepada-Nya dengan hatiku, lalu Dia memenuhinya.'”

648- Wahai para ahli muamalah! Demi Allah, janganlah kalian keruhkan minuman! Berdirilah di pintu muraqabah sebagaimana berdirinya para penjaga! Dan tolaklah apa yang tidak layak masuk sehingga merusak! Dan tinggalkanlah tujuan-tujuan kalian untuk meraih kekasih Yang Tercinta, karena tujuan-tujuan kalian akan tercapai. Namun aku berkata: Celakalah bagi yang meninggalkan dengan maksud mendapat balasan! Apakah ini syarat penghambaan?! Tidak, sesungguhnya yang semestinya bagiku jika aku adalah hamba sahaya adalah berbuat agar Dia ridha bukan agar aku diberi, karena jika aku pencinta, aku melihat terputusnya urat nadi dalam keridhaan-Nya sebagai penyambungan.

649- Terimalah nasihatku wahai yang tertipu oleh tujuannya! Jika engkau lemah menanggung bencana-Nya, maka mintalah pertolongan kepada-Nya, dan jika engkau kesakitan karena kesulitan pilihan-Nya, maka sesungguhnya engkau berada di hadapan-Nya, dan jangan putus asa dari ruh-Nya, meskipun kuat cekikan bencana. Demi Allah, sesungguhnya kematian pelayan dalam pelayanan itu baik menurut orang-orang berakal.

650- Saudara-saudaraku! Untuk diriku aku berkata, maka barangsiapa yang ikut minum bersamaku, hendaklah dia datang:

Wahai jiwa! Sungguh Dia telah memberimu apa yang tidak kau harapkan dan menyampaimu pada apa yang tidak kau minta, dan menutupi darimu keburukanmu yang jika tercium, hidung akan mengeluh! Maka apa ini keluhan karena luputnya kesempurnaan tujuan?! Apakah engkau budak atau merdeka?! Tidakkah engkau tahu bahwa engkau berada di rumah taklif?!

Dan pembicaraan ini seharusnya untuk orang-orang jahil, maka di mana klaimmu tentang ma’rifah?! Tidakkah engkau lihat jika berhembus angin lalu mengambil penglihatan, bagaimana dunia bisa enak bagimu?! Celaka bagimu! Sungguh telah buta basiroh yang paling mulia, dan engkau tidak tahu berapa kali aku berkata: semoga dan barangkali? Dan engkau dalam kesalahan terus maju.

Telah dekat kapal umur dari pantai kubur, dan tidak ada padamu dalam kapal barang dagangan yang menguntungkan. Telah bermain-main di lautan umur angin kelemahan, lalu memisahkan rajutan kekuatan, dan seakan-akan telah memisahkan kapal.

Telah sampai pada akhir ajal, dan mata nafsumu masih menoleh kepada masa muda. Demi Allah, janganlah engkau biarkan musuh-musuh bergembira atasmu! Ini adalah yang paling kecil dari bagian-bagian, dan yang lebih tepat dari itu adalah aku berkata: Demi Allah, janganlah luput darimu langkah pendahulu dengan kemampuanmu memotong lintasan. Bersendirilah, bersendirilah! Dan hadirkanlah teman akal, dan berputarlah dalam kebingungan pikiran, dan kembali kepada sisa-sisa ajal sebelum sisa-sisa itu menyimpangkanmu dari kebenaran.

Sungguh mengherankan! Setiap kali umur naik engkau turun! Dan setiap kali kematian serius engkau main-main! Apakah engkau termasuk orang yang diakhiri dengan fitnah, dan ditetapkan atasnya di akhir umurnya cobaan?! Awal umurmu lebih baik dari akhirnya, engkau di masa muda lebih baik daripada di masa tua: “Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia, dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu” (QS. Al-Ankabut: 43). Kami memohon kepada Allah Azza wa Jalla apa yang tidak diperoleh kecuali dengan-Nya, yaitu taufik-Nya, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan.

Pasal 138: Kebaikan Balasan bagi yang Takut kepada Kedudukan Tuhannya

651- Aku berkuasa dalam beberapa hari atas syahwat jiwa yang padaku lebih manis dari air jernih di mulut orang yang haus, dan takwil berkata: “Tidak ada di sini penghalang dan penghambat kecuali sejenis wara’!” Dan zahir perkara adalah tidak bolehnya, maka aku ragu-ragu antara dua perkara, lalu aku cegah jiwa dari itu, maka tinggallah kebingunganku karena mencegah apa yang menjadi puncak tujuannya tanpa ada yang menghalanginya kecuali takut larangan syariat, maka aku berkata kepadanya: “Wahai jiwa! Demi Allah, tidak ada jalan kepada apa yang engkau inginkan dan apa yang di bawahnya!” Maka ia gelisah, lalu aku berteriak kepadanya: “Berapa kali aku ikuti engkau dalam keinginan yang hilang kenikmatannya, dan tinggal penyesalan karena melakukannya! Maka perkirakan tercapainya tujuan dari keinginan ini, bukankah penyesalan akan tinggal di medan kenikmatan berkali-kali lipat dari waktunya?!” Maka dia berkata: “Bagaimana aku harus berbuat?” Maka aku berkata:

“Aku sabar dan demi Allah tidak ada padaku ketabahan… atas cinta, tetapi aku sabar meskipun berat”

Dan ini aku menunggu dari Allah Azza wa Jalla kebaikan balasan atas perbuatan ini.

652- Dan aku telah meninggalkan sisa halaman putih ini, berharap dapat melihat kebaikan balasan atas kesabaran, maka aku akan menulisnya di dalamnya insya Allah Ta’ala; karena Dia kadang mempercepat balasan kesabaran, dan kadang menundanya: jika dipercepat, aku akan menulisnya, dan jika ditunda, maka aku tidak ragu akan kebaikan balasan bagi yang takut kepada kedudukan Tuhannya; karena sesungguhnya barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik.

Demi Allah, aku tidak meninggalkannya kecuali karena Allah Ta’ala, dan cukup bagiku meninggalkannya sebagai bekal, hingga jika dikatakan kepadaku: “Apakah engkau ingat suatu hari engkau mengutamakan Allah atas nafsumu?” Aku berkata: “Hari ini dan itu.”

Maka berbangga-bangga-lah wahai jiwa dengan taufik-mu, dan pujilah yang memberi taufik kepadamu, karena betapa banyak yang telah dikecewakan selain engkau! Dan berhati-hatilah jangan sampai engkau dikecewakan dalam hal serupa! Dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

653- Dan ini terjadi pada tahun lima ratus enam puluh satu, maka ketika masuk tahun lima ratus enam puluh lima, aku diganti dengan yang lebih baik dari itu dengan apa yang tidak sebanding yang tidak dilarang oleh wara’ dan selainnya; maka aku berkata: “Ini adalah balasan meninggalkan karena Allah Subhanahu di dunia: ‘Dan sesungguhnya pahala akhirat lebih baik'” (QS. Yusuf: 57), dan segala puji bagi Allah.

Pasal 139: Cobaan bagi yang Mencari Kenikmatan dari Jalan Haram

654- Aku tidak mengingkari orang yang mencari kenikmatan dunia dari jalan yang halal; karena tidak semua orang kuat untuk meninggalkan. Sesungguhnya cobaan itu bagi yang mencarinya, lalu tidak mendapatinya atau sebagian besarnya kecuali dari jalan haram, maka ia bersungguh-sungguh mencapainya, dan tidak peduli bagaimana mendapatkannya. Maka inilah cobaan yang akal dikurangi haknya di dalamnya, dan pemiliknya tidak mendapat manfaat dari keberadaannya; karena seandainya dia menimbang apa yang dipilihnya dengan hukumannya, akan ringan timbangan kenikmatan yang fana pada zarah pertama dari bagian-bagiannya.

655- Dan betapa banyak kami telah melihat dari yang mengutamakan syahwatnya, lalu dirampas agamanya! Maka hendaklah orang berakal heran ketika menelaah keadaan mereka, bagaimana mereka mengutamakan sesuatu yang tidak mereka tinggali bersamanya, dan menjadi kepada hukuman yang tidak meninggalkan mereka?! Maka demi Allah, demi Allah jangan kurangi hak akal-akal! Dan hendaklah pejalan melihat di mana ia meletakkan kaki, karena banyak yang tergesa-gesa jatuh ke dalam sumur yang dalam, dan hendaklah mata kewaspadaan terbuka, karena kalian dalam barisan perang, tidak tahu dari mana menerima panah, maka tolonglah diri kalian, dan jangan menolong melawan diri kalian.

Pasal 140: Yang Haq Azza wa Jalla Lebih Dekat kepada Hamba-Nya daripada Urat Leher

656- Yang Haq Azza wa Jalla lebih dekat kepada hamba-Nya daripada urat leher; tetapi Dia memperlakukan hamba dengan perlakuan yang tidak hadir darinya, yang jauh darinya, maka Dia memerintahkannya untuk menuju rumah-Nya, mengangkat tangan kepada-Nya, dan memohon kepada-Nya.

Maka hati orang-orang jahil merasakan kejauhan, dan karena itulah terjadi dari mereka kemaksiatan, karena jika benar-benar terealisasi muraqabah mereka kepada Yang Hadir Maha Melihat, niscaya tangan-tangan akan terhalang dari kesalahan-kesalahan, dan orang-orang yang terjaga mengetahui kedekatan-Nya, maka hadir pada mereka muraqabah, dan mencegah mereka dari berbuat sesuka hati.

Seandainya bukan karena sejenis penutupan pada mata muraqabah yang hakiki, niscaya tidak akan terbentang tangan untuk makan, dan tidak akan mampu mata untuk melihat. Dan dari jenis ini: “Sesungguhnya hatiku tertutup.”

Dan jika terealisasi muraqabah, maka akan terjadi keakraban; dan sesungguhnya keakraban terjadi dengan merealisasikan ketaatan; karena penyelisihan mewajibkan keterasingan, dan keselarasan menyenangkan orang-orang yang akrab, maka betapa nikmatnya hidup orang-orang yang akrab! Dan betapa ruginya orang-orang yang terasingkan!

657- Dan ketaatan itu bukan sebagaimana yang disangka kebanyakan orang jahil bahwa ia hanya sekedar shalat dan puasa, sesungguhnya ketaatan adalah keselarasan dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, inilah pokok dan kaidah umum. Maka betapa banyak penyembah yang jauh; karena dia menyia-nyiakan pokok, dan merusak kaidah-kaidah dengan menyelisihi perintah dan melakukan larangan, dan sesungguhnya yang tahqiq adalah yang memegang rambut timbangan muhasabah jiwa, maka dia menunaikan apa yang diwajibkan atasnya, dan menjauhi apa yang dilarang darinya, maka jika diberi rezeki tambahan dia bersunat; dan jika tidak maka tidak membahayakannya. Wassalam.

Pasal 141: Manusia Hendaknya Tidak Bersaing dalam Kenikmatan Dunia

658- Dan dunia secara umum adalah tempat berlalu; maka hendaknya manusia tidak bersaing dalam kenikmatan-kenikmatannya, dan melewatkan hari-hari dengannya. Karena seandainya dia memikirkan bagaimana cara menyembelih, dan kotoran orang yang menanganinya, dan pembuatan kamakh dan makanan-makanan lainnya, tidak akan enak baginya. Dan seandainya dia memikirkan berputarnya suapan yang bercampur dengan ludah, tidak akan mampu menelannya.

659- Dan manusia tidak lepas dari dua keadaan: atau dia ingin bersenang-senang dengan kenikmatan-kenikmatan yang halal, atau dia ingin mengusir waktu dengan kebutuhan-kebutuhan pokok, dan mana pun yang dicari, maka tidak semestinya baginya mencari tahu tentang apa yang diperolehnya tentang batinnya; karena seandainya dia melihat aurat istri akan menjauh darinya, dan Aisyah radhiyallahu anha telah berkata: “Aku tidak melihatnya dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan dia tidak melihatku.”

660- Maka hendaknya orang berakal memiliki waktu tertentu dia memerintahkan istrinya untuk berhias untuknya pada waktu itu, kemudian dia menutup mata dari pemeriksaan, agar enak baginya hidupnya, dan hendaknya baginya memperhatikan dari dirinya ini, maka tidak menghadirinya kecuali dalam keadaan terbaik. Dan dengan yang seperti ini akan langgeng hidup. Adapun jika terjadi kebersahajaan, maka akan tampak dengannya aib-aib, lalu jiwa akan menjauh, dan mencari penggantian, kemudian akan terjadi pada yang kedua seperti yang terjadi pada yang pertama, dan demikian hendaknya dia berhias untuknya sebagaimana dia berhias untuknya, agar langgeng kasih sayang dengan baiknya keharmonisan.

661- Dan jika tidak berjalan perkara atas ini dalam hak orang yang memiliki rasa mulia dari sesuatu yang dijauhi jiwa, maka akan terjadi salah satu dari dua perkara, atau berpaling darinya, atau menggantikannya, dan dia membutuhkan dalam keadaan berpaling kepada kesabaran dari tujuan-tujuannya, dan dalam keadaan penggantian kepada kelebihan biaya, dan keduanya menyakiti.

Dan jika tidak menggunakan apa yang kami gambarkan, tidak akan dicari baginya hidup dalam kenikmatan, dan tidak akan mampu mengusir zaman sebagaimana mestinya.

Pasal 142: Maazallah, Sesungguhnya Dia Tuhanku

662- Jiwaku menggodaku kepada perkara yang dibenci dalam syariat, dan mulai menyusun takwil-takwil untukku, dan menolak kebencian, dan takwil-takwilnya rusak, dan hujjah jelas atas kebencian.

Maka aku berlindung kepada Allah Ta’ala dalam menolak itu dari hatiku, dan aku menghadap kepada bacaan, dan pelajaranku telah sampai pada surat Yusuf, maka aku membukanya, dan pikiran itu telah menyibukkan hatiku, hingga aku tidak tahu apa yang kubaca. Maka ketika aku sampai pada firman-Nya Ta’ala: “Dia berkata: ‘Maazallah, sesungguhnya dia (Zulaikha) tuanku yang telah berbuat baik kepadaku'” (QS. Yusuf: 23), aku terjaga untuknya, dan seakan-akan aku diperintah dengannya, maka aku sadar dari kemabukan itu, lalu aku berkata: “Wahai jiwa! Apakah engkau paham? Ini adalah budak yang dijual secara zalim, lalu dia memelihara hak orang yang berbuat baik kepadanya, dan menyebutnya pemilik, meskipun tidak ada baginya atas dia kepemilikan, maka dia berkata: ‘Sesungguhnya dia tuanku’, kemudian dia menambahkan dalam menjelaskan yang mewajibkan mencegah tangannya dari apa yang menyakitinya, maka dia berkata: ‘yang telah berbuat baik kepadaku’. Maka bagaimana dengan engkau, dan engkau adalah hamba yang sebenarnya bagi tuan yang tidak henti berbuat baik kepadamu dari saat keberadaanmu, dan jika penutupan-Nya atas kesalahanmu lebih banyak dari jumlah kerikil?!

Tidakkah engkau ingat bagaimana Dia membesarkanmu, dan mengajarimu, dan memberi rezeki kepadamu, dan membelamu, dan mengalirkan kebaikan kepadamu, dan menunjuki engkau jalan yang paling lurus, dan menyelamatkanmu dari setiap tipu daya, dan menggabungkan kepada baiknya bentuk zahir kebaikan akal batin, dan memudahkan bagimu jalan-jalan ilmu, hingga engkau meraih dalam waktu singkat rezekimu tanpa kesulitan yang memberatkan, dan tanpa keruhnya dari siapa, dengan luas tanpa sedikit?!

Demi Allah, aku tidak tahu nikmat mana atasmu yang akan kujelaskan kepadamu, baiknya bentuk, dan sehatnya alat-alat? Atau selamatnya temperamen, dan I’tidalnya susunan? Atau lembutnya tabiat yang kosong dari kehinaan? Atau ilham rushd sejak kecil? Atau penjagaan dengan baiknya perlindungan dari kekejian dan kesalahan? Atau dicintakannya jalan naql, dan mengikuti atsar, tanpa jumud atas taqlid kepada yang diagungkan, dan tanpa masuk dalam barisan bid’ah? “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya” (QS. Ibrahim: 34).

Berapa banyak penipu yang memasang tipu daya lalu Dia melindungimu? Berapa banyak musuh yang merendahkanmu dengan celaan lalu Dia mengangkatmu? Berapa banyak yang Dia hauskan dari minuman angan-angan makhluk dan memberimu minum? Berapa banyak yang Dia matikan yang tidak mencapai sebagian keinginanmu dan membiarkanmu hidup? Maka engkau bangun pagi dan sore dengan sehat badan, terjaga agama, dalam tambahan ilmu, dan tercapainya harapan. Maka jika dicegah suatu keinginan, maka engkau diberi rezeki kesabaran darinya setelah jelas bagimu wajah hikmah dalam pencegahan, maka selamatlah hingga terjadi keyakinan bahwa pencegahan lebih baik.

Seandainya aku pergi menghitung dari nikmat-nikmat ini apa yang terlintas ingatan, akan penuh kertas-kertas dan tidak terputus tulisan, dan engkau tahu bahwa apa yang tidak kusebutkan lebih banyak, dan bahwa apa yang kuisyaratkan untuk disebutkan tidak dijelaskan, maka bagaimana bisa baik bagimu menghadapi apa yang dibenci-Nya?! “Maazallah, sesungguhnya dia tuanku yang telah berbuat baik kepadaku. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan beruntung” (QS. Yusuf: 23).

Pasal 143: Memutus Sebab-sebab Fitnah

663- Aku tidak melihat fitnah yang lebih besar dari mendekati fitnah, dan jarang yang mendekatinya kecuali akan jatuh ke dalamnya: “Dan barangsiapa yang berkeliling di sekitar hima, akan hampir jatuh ke dalamnya.”

664

Berkata sebagian orang yang berpengalaman: “Suatu ketika aku mampu melakukan suatu kenikmatan yang lahirnya terlarang, namun mungkin saja halal; karena perkara itu masih samar. Maka aku berjuang melawan nafsu. Nafsu berkata: ‘Kamu tidak mampu; karena itulah kamu meninggalkannya.’ Maka aku mendekati hal yang mampu kulakukan, ketika aku mampu, lalu aku tinggalkan, maka aku benar-benar meninggalkannya. Lalu aku melakukannya dan meninggalkannya.

Kemudian aku kembali lagi dengan takwil (interpretasi), yang memperlihatkan kepadaku kebolehannya, meskipun perkara itu masih mengandung kemungkinan. Aku jarang menyetujuinya, hal itu meninggalkan bekas kehausan di hatiku, karena takut perkara itu haram.

Maka aku melihat bahwa nafsu terkadang menguasaiku dengan keringanan dan takwil, dan terkadang aku menguasainya dengan perjuangan dan menahan diri. Ketika aku mengambil keringanan, aku tidak merasa aman bahwa perkara itu terlarang, kemudian aku melihat dengan segera pengaruh perbuatan itu terhadap hati.

Ketika aku tidak merasa aman dari takwilnya, aku merenungkan untuk memutus harapannya dari perkara yang berpengaruh itu. Aku tidak melihat cara lain kecuali dengan berkata kepadanya: ‘Anggaplah perkara ini pasti halal, demi Allah yang tiada tuhan selain-Nya, aku tidak akan kembali kepadanya.’ Maka terputuslah harapannya dengan sumpah dan perjanjian. Ini adalah obat paling manjur yang kutemukan untuk mencegahnya; karena takwilnya tidak sampai menyuruh untuk melanggar sumpah dan membayar kafarat. Maka sebaik-baik hal adalah memutus sebab-sebab fitnah, dan meninggalkan keringanan dalam hal yang dibolehkan, jika hal itu membawa dan mengarah kepada yang tidak dibolehkan. Allah yang memberi taufik.”

Pasal 144: Barang siapa berlebihan dalam berhati-hati dari maksiat akan selamat

665

Seandainya tidak ada kelengahan orang yang berbuat maksiat di waktu bermaksiat, ia akan seperti orang yang menentang. Namun hawa nafsu menghalangi antara dia dan pemahaman terhadap keadaan, sehingga ia tidak melihat kecuali pemenuhan syahwatnya. Seandainya pelanggaran itu tampak baginya, ia akan keluar dari agama karena penentangan, tetapi ia hanya menginginkan hawa nafsunya, maka pelanggaran terjadi secara tidak langsung dan mengikuti.

666

Kebanyakan hal ini terjadi ketika mendekati fitnah, dan jarang yang selamat ketika mendekati; karena itu seperti mendahulukan api kepada rumput kering.

667

Kemudian seandainya orang berakal membedakan antara pemenuhan keinginannya sesaat, dan berlalunya sisa umur dengan penyesalan atas pemenuhan keinginan itu: ia tidak akan mendekatinya, meskipun diberi dunia. Namun mabuk hawa nafsu menghalangi antara pikiran dan hal itu.

668

Aduh, betapa banyak maksiat yang berlalu dalam waktunya seolah tidak pernah ada, kemudian bekas-bekasnya tetap ada, dan yang paling ringan adalah kepahitan dalam penyesalan yang tidak hilang! Jalan terbesar dalam berhati-hati adalah tidak menghadapi sebab fitnah, dan tidak mendekatinya. Barang siapa memahami hal ini dan berlebihan dalam berhati-hati, ia lebih dekat kepada keselamatan.

Pasal 145: Cobaan sesuai dengan kadar orang-orang

669

Cobaan sesuai dengan kadar orang-orang. Banyak manusia yang kamu lihat diam, ridha dengan apa yang mereka miliki dari agama dan dunia, mereka adalah kaum yang tidak diinginkan untuk kedudukan sabar yang tinggi, atau diketahui kelemahan mereka dalam menghadapi cobaan maka Allah berlembut kepada mereka.

Kemudian kamu diuji dengan jiwa yang cenderung kepada yang halal, dan mengklaim bahwa dengan itu ia mengumpulkan perhatiannya, dan menyembuhkan penyakitnya, untuk menerima penyingkiran penyakit demi meraih keutamaan.

Kedua keadaan ini seperti dua yang berlawanan; karena dunia dan akhirat adalah dua madunya.

Yang wajib dalam kedudukan ini adalah memelihara kewajiban-kewajiban, dan tidak memberi kelonggaran kepada jiwa dalam hal halal yang tidak aman bahwa ia akan melampaui darinya dengan berpaling dari kewajiban wara’. Orang yang diuji berteriak, maka menangisnya anak lebih baik daripada menangisnya bapak.

670

Ketahuilah bahwa membuka pintu hal-hal halal mungkin menimbulkan banyak bahaya dalam agama. Maka kuatkanlah bendungan sebelum membuka air, pakailah baju besi sebelum bertempur, perhatikanlah akibat dari apa yang kamu perbuat sebelum menggerakkan tangan, dan berlebihanlah dalam berhati-hati dengan menjauhi apa yang ditakuti darinya, meskipun tidak yakin.

Yang wajib bagi alim adalah mencari yang penting

Pasal 146: Yang wajib dalam ilmu adalah mencari yang penting

671

Sepatutnya bagi penuntut ilmu agar sebagian besar perhatiannya dicurahkan untuk menghafal dan mengulang; seandainya benar menggunakan waktu untuk itu, itu lebih utama, namun badan adalah tunggangan, dan memaksakan perjalanan kemungkinan besar akan terputus. Ketika kemampuan menjadi lelah, maka butuh pembaruan, dan menyalin serta muthala’ah dan menulis tidak bisa dihindari, dengan menghafal tetap yang penting, maka wajib membagi waktu untuk kedua perkara: menghafal di kedua ujung siang, dan kedua ujung malam, dan membagi sisanya antara bekerja dengan menyalin, dan muthala’ah, dan antara istirahat untuk badan, dan mengambil kesenangan.

672

Tidak sepatutnya terjadi kerugian di antara para sekutu: karena apabila salah satu dari mereka mengambil lebih dari haknya, akan terjadi kerugian, dan tampak bekasnya.

673

Sesungguhnya jiwa lari kepada menyalin dan muthala’ah dan menulis dari mengulang dan mengulangi; karena itu lebih disukai dan lebih baik baginya.

674

Maka hendaklah penunggang berhati-hati dari mengabaikan untanya, dan tidak boleh baginya membebankan kepadanya apa yang tidak mampu ditanggungnya.

675

Dengan keadilan dan keinsafan tercapai setiap keinginan, dan barang siapa menyimpang dari jalan yang benar, akan panjang jalannya, dan barang siapa melipat beberapa tempat dalam satu tempat, hampir saja ia akan kehilangan apa yang ia bersungguh-sungguh untuknya. Padahal manusia lebih butuh dorongan; karena kemalasan lebih melekat padanya daripada kesungguhan.

676

Setelah itu, yang wajib dalam ilmu adalah mencari yang penting. Betapa banyak ahli hadits menghafal misalnya untuk hadits: “Barang siapa datang ke Jumat, hendaklah ia mandi” dua puluh jalan, padahal hadits itu sudah tetap dari satu jalan, maka hal itu menyibukkannya dari mengetahui adab mandi. Umur lebih pendek dan lebih berharga daripada tersia-sia darinya dalam nafas, dan cukup akal sebagai penunjuk kepada kebenaran. Dan dengan Allah taufik.

Pasal 147: Jika benar niat alim, ia akan istirahat dari kepura-puraan

677

Jika benar niat alim, ia akan istirahat dari beban kepura-puraan. Sesungguhnya banyak ulama yang sombong dari berkata: “Aku tidak tahu,” maka mereka menjaga dengan fatwa kedudukan mereka di sisi manusia, agar tidak dikatakan: “Tidak tahu jawabnya,” meskipun mereka tidak yakin dengan apa yang mereka katakan, dan ini adalah puncak kekecewaan.

678

Telah diriwayatkan dari Malik bin Anas: bahwa seorang laki-laki bertanya kepadanya tentang suatu masalah, maka ia berkata: “Aku tidak tahu!” Laki-laki itu berkata: “Aku telah melakukan perjalanan ke berbagai negeri untukmu!” Maka ia berkata: “Kembalilah ke negerimu, dan katakan: Aku bertanya kepada Malik, maka ia berkata: ‘Aku tidak tahu.'” Lihatlah agama orang ini dan akalnya, bagaimana ia istirahat dari beban, dan selamat di sisi Allah, semoga Allah meridhainya.

679

Kemudian jika yang dimaksud adalah kedudukan di sisi mereka, maka hati mereka berada di tangan selain mereka.

Demi Allah, sungguh aku telah melihat orang yang memperbanyak shalat dan puasa dan diam, dan takhsyu’ dalam diri dan pakaiannya, namun hati-hati menolaknya, dan kedudukannya dalam jiwa-jiwa tidak begitu!

Dan aku melihat orang yang memakai pakaian mewah, dan tidak memiliki banyak sunnah, dan tidak takhsyu’, namun hati-hati berlomba dalam mencintainya. Maka aku merenungkan sebabnya, lalu kudapati itu adalah rahasia. Sebagaimana diriwayatkan dari Anas bin Malik: bahwa ia tidak memiliki banyak amal dari shalat dan puasa; tetapi ia memiliki rahasia.

Barang siapa memperbaiki rahasianya, maka tercium harum keutamaannya, dan hati-hati harum dengan semerbak kebaikannya. Maka demi Allah, demi Allah dalam hal rahasia, karena tidak bermanfaat dengan kerusakannya kebaikan yang zahir.

Pasal 148: Dunia adalah tempat cobaan dan ujian

680

Aku mengalami kesulitan, dan memperbanyak doa meminta kelapangan dan kenyamanan, namun jawaban terlambat, maka jiwa menjadi gelisah dan cemas! Maka aku berteriak kepadanya: “Celakakalah kamu! Renungkanlah urusanmu! Apakah kamu budak atau merdeka yang memiliki?! Apakah kamu yang mengatur atau yang diatur?! Tidakkah kamu tahu bahwa dunia adalah tempat cobaan dan ujian; maka jika kamu meminta tujuan-tujuanmu, dan tidak sabar atas apa yang bertentangan dengan keinginanmu, maka di mana cobaan?! Dan apakah cobaan itu kecuali berpaling, dan kebalikan dari tujuan-tujuan? Maka pahamilah makna taklif, maka akan mudah bagimu apa yang sulit, dan mudah apa yang sukar!”

Ketika ia merenungkan apa yang kukatakan, ia agak tenang. Maka kukatakan kepadanya: “Dan aku punya jawaban kedua, yaitu kamu menuntut hak dengan tujuan-tujuanmu, dan tidak menuntut dirimu dengan kewajiban bagi-Nya, dan ini adalah kebodohan; sesungguhnya sepatutnya perkara itu sebaliknya; karena kamu budak, dan budak yang berakal menuntut dirinya menunaikan hak pemilik, dan mengetahui bahwa tidak wajib atas pemilik menyampaikan apa yang ia sukai.”

Maka ia lebih tenang dari ketenangan itu. Kukatakan kepadanya: “Dan aku punya jawaban ketiga, yaitu kamu telah mengangap lambat jawaban, padahal kamu telah menutup jalan-jalannya dengan maksiat. Seandainya kamu telah membuka jalan, akan cepat. Seakan-akan kamu tidak tahu bahwa sebab kenyamanan adalah taqwa! Atau tidakkah kamu mendengar firman-Nya: ‘Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki’ (QS. At-Talaq: 2-3) ‘niscaya Dia menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya’ (QS. At-Talaq: 4)?! Atau tidakkah kamu paham bahwa kebalikan dengan kebalikan?! Aduh dari mabuk kelengahan yang menjadi lebih kuat dari setiap mabuk dalam menghadang air keinginan, mencegahnya dari sampai kepada tanaman angan-angan!”

Maka jiwa mengetahui bahwa ini benar, lalu tenteram. Kukatakan: “Dan aku punya jawaban keempat, yaitu kamu meminta apa yang tidak kamu ketahui akibatnya, dan mungkin di dalamnya ada mudharatmu. Maka perumpamaanmu seperti anak yang terpuji meminta permen, dan yang mengatur bagimu lebih tahu dengan kemaslahatan, apalagi Allah telah berfirman: ‘Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu’ (QS. Al-Baqarah: 216)?!”

Ketika kebenaran tampak bagi jiwa dalam jawaban ini, bertambahlah ketentraman hatinya. Kukatakan kepadanya: “Dan aku punya jawaban kelima, yaitu yang diminta ini mengurangi pahalamu, dan menurunkan dari derajatmu. Maka pencegahan Tuhan untukmu atas apa yang seperti ini adalah pemberian dari-Nya untukmu. Seandainya kamu meminta apa yang memperbaiki akhiratmu, akan lebih utama bagimu. Maka lebih utama bagimu memahami apa yang telah kujelaskan.” Ia berkata: “Sungguh aku telah berjalan-jalan di taman apa yang engkau jelaskan, aku paham ketika aku paham.”

Pasal 149: Alim yang mencari nafkah menjaga kehormatannya dan agamanya

681

Kami menghadiri sebagian jamuan makan orang-orang kaya, maka aku melihat ulama adalah orang paling hina di sisi mereka. Para ulama merendahkan diri kepada mereka, dan hina karena tempat tamak mereka kepada mereka, sedangkan mereka tidak peduli dengan mereka, karena mengetahui kebutuhan mereka kepada mereka. Maka aku melihat ini cacat pada kedua kelompok: Adapun pada ahli dunia, maka wajah cacat bahwa mereka sepatutnya mengagungkan ilmu, tetapi karena kebodohan mereka tentang kedudukannya, mereka terlewat, dan mengutamakan atasnya perolehan harta; maka tidak sepatutnya diminta dari mereka mengagungkan apa yang tidak mereka kenal, dan tidak mengetahui kedudukannya.

Sesungguhnya aku mengembalikan celaan kepada para ulama, dan berkata: “Sepatutnya kalian menjaga diri kalian yang dimuliakan dengan ilmu dari kehinaan kepada orang-orang hina. Jika kalian dalam kecukupan dari mereka, maka kehinaan kepada mereka, dan meminta dari mereka adalah haram atas kalian. Dan jika kalian dalam kecukupan, maka mengapa kalian tidak mengutamakan menjaga diri dari kehinaan dengan menjaga diri dari harta fana yang diperoleh dengan kehinaan.”

682

Tetapi terbayangkan bagiku dari perkara ini bahwa aku mengetahui sedikitnya kesabaran jiwa atas kecukupan, dan menjauh dari yang berlebih. Jika didapati itu darinya pada suatu waktu, tidak didapati terus-menerus. Maka lebih utama bagi alim berusaha dalam mencari kekayaan, dan berlebihan dalam mencari nafkah, meskipun hilang dengan itu banyak waktu menuntut ilmu; karena ia menjaga dengan kehormatannya kehormatannya. Dan Sa’id bin Al-Musayyab pernah berdagang minyak, dan meninggalkan harta. Dan Sufyan Ats-Tsauri meninggalkan harta, dan berkata: “Kalau bukan karena kamu, mereka akan menyeka-nyeka denganku.”

683

Telah lalu dalam kitabku ini dalam sebagian pasal kemuliaan harta, dan siapa dari sahabat dan ulama yang mengumpulkannya, dan rahasia dalam perbuatan mereka itu. Dan sampai kepada penuntut ilmu dalam hal itu, apa yang kujelaskan bahwa jiwa tidak tetap atas menjaga diri, dan tidak sabar atas kesinambungan zuhud.

684

Betapa banyak kami telah melihat orang yang kuat tekadnya untuk mencari akhirat, maka ia mengeluarkan apa yang di tangannya, kemudian lemah, lalu kembali mencari nafkah dari wajah yang paling buruk! Maka lebih utama menyimpan harta, dan tidak butuh kepada manusia, maka keluarlah tamak dari hati, dan bersih penyebaran ilmu dari campuran kecenderungan.

685

Barang siapa merenungkan berita orang-orang baik dari para ahli kitab, akan mendapati mereka di atas jalan ini; sesungguhnya yang menempuh jalan menghindar dari mencari nafkah adalah orang yang tidak dipengaruhi pada sisinya mengorbankan agama dan wajah, maka ia mencari kenyamanan, dan lupa bahwa itu dalam makna adalah kepayahan, sebagaimana yang dilakukan sekelompok orang bodoh dari sufi dalam mengeluarkan apa yang di tangan mereka, dan mengklaim tawakkal! Mereka tidak tahu bahwa mencari nafkah tidak bertentangan dengan tawakkal! Sesungguhnya mereka mencari jalan kenyamanan, dan menjadikan menghadapi manusia sebagai mencari nafkah! Dan ini adalah jalan yang tersusun dari dua hal: pertama: sedikitnya rasa malu atas kehormatan, dan kedua: sedikitnya ilmu.

Pasal 150: Hawa Nafsu Mendorong kepada Kemaksiatan

686- Aku merenungkan terjadinya kemaksiatan dari para pelakunya, maka kudapati mereka tidak bermaksud berbuat maksiat; mereka hanya bermaksud mengikuti hawa nafsunya, maka kemaksiatan terjadi sebagai akibatnya. Lalu aku memperhatikan sebab keberanian mereka berbuat demikian padahal mereka tahu akan terjadi pelanggaran; ternyata karena mereka memperhatikan kemurahan Sang Pencipta dan karunia-Nya yang melimpah. Seandainya mereka merenungkan keagungan-Nya dan kehebatan-Nya, niscaya tangan tidak akan terulur untuk menentang-Nya.

Sesungguhnya – demi Allah – patut ditakuti dari Dzat yang tindakan-Nya yang paling ringan adalah mematikan seluruh makhluk, bahkan menjatuhkan binatang untuk disembelih, menyiksa anak-anak dengan penyakit, memiskinkan orang berilmu, dan memperkaya orang bodoh.

687- Hendaklah orang yang hendak berbuat dosa menimbang dalam dirinya untuk takut kepada Dzat yang memiliki sifat-sifat demikian, karena Allah Ta’ala telah berfirman: “Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri-Nya sendiri” (Surah Ali Imran: 28). Memperhatikan sebab-sebab ketakutan lebih dekat kepada keamanan daripada memperhatikan sebab-sebab harapan, karena orang yang takut mengambil sikap hati-hati, sedangkan orang yang berharap bergantung pada tali angan-angan, dan prasangka bisa saja meleset!

Pasal 151: Mencari Rezeki dan Qanaah

688- Aku melihat umumnya para pemilik harta mempekerjakan para ulama dan merendahkan mereka dengan sesuatu yang sedikit yang mereka berikan dari zakat harta mereka: jika salah seorang di antara mereka mengadakan khataman, dia berkata: “Si fulan tidak hadir!” Dan jika sakit, dia berkata: “Si fulan tidak menjenguk!” Semuanya memberikan sesuatu yang sedikit kepadanya yang wajib diserahkan kepada orang sepertinya!! Para ulama pun ridha dengan kehinaan itu karena kondisi darurat.

Aku melihat bahwa ini adalah kebodohan para ulama terhadap apa yang wajib mereka lakukan dalam menjaga kehormatan ilmu, dan obatnya dari dua sisi:

Pertama: Qanaah (merasa cukup) dengan yang sedikit, sebagaimana dikatakan: “Barangsiapa ridha dengan cuka dan sayuran, tidak akan ada yang memperbudaknya.”

Kedua: Menggunakan sebagian waktu yang dihabiskan untuk melayani ilmu untuk mencari dunia; karena itu akan menjadi sebab memuliakan ilmu, dan itu lebih baik daripada menghabiskan seluruh waktu untuk menuntut ilmu sambil menanggung kehinaan ini.

Barangsiapa merenungkan apa yang telah kurenungkan dan memiliki harga diri, hendaklah dia mengukur kemampuannya, menjaga apa yang ada padanya, atau berusaha mencari pekerjaan yang mencukupinya. Barangsiapa tidak merasa hina dengan hal-hal semacam ini, dia tidak memperoleh dari ilmu kecuali bentuknya tanpa maknanya.

Pasal 152: Pokok Segala Urusan adalah Akal

689- Pokok segala urusan adalah akal; karena apabila akal telah sempurna, pemiliknya tidak akan beramal kecuali berdasarkan dalil yang paling kuat, dan buah akal adalah: memahami khitab (pembicaraan) dan menangkap maksud dari perintah. Barangsiapa memahami maksud dan beramal berdasarkan dalil, dia seperti orang yang membangun di atas fondasi yang kokoh.

690- Sungguh aku melihat banyak manusia tidak beramal berdasarkan dalil, melainkan bagaimana kebetulan saja, dan terkadang dalil mereka adalah kebiasaan! Dan ini adalah hal yang paling buruk.

691- Kemudian aku melihat banyak makhluk tidak mengikuti dalil melalui cara menetapkannya, seperti orang-orang Yahudi dan Nasrani; mereka meniru para leluhur dan tidak memperhatikan syariat-syariat yang datang, apakah benar atau tidak?! Demikian pula mereka menetapkan adanya Tuhan, namun tidak mengetahui apa yang boleh bagi-Nya dan apa yang tidak boleh, maka mereka menisbatkan kelahiran kepada-Nya! Dan mereka melarang kebolehan-Nya mengubah apa yang telah disyariatkan! Mereka tidak memperhatikan dengan sebenar-benarnya, baik dalam menetapkan Sang Pencipta dan apa yang boleh bagi-Nya, maupun dalam dalil tentang kebenaran kenabian, maka amal mereka menjadi sia-sia, seperti orang yang membangun di atas pasir.

692- Termasuk jenis ini dalam makna adalah kaum yang beribadah dan berzuhud, melelahkan badan mereka dalam beramal dengan hadits-hadits palsu, dan tidak bertanya tentangnya kepada orang yang mengetahui!

693- Di antara manusia ada yang menetapkan dalil, namun tidak memahami maksud yang ditunjukkan oleh dalil tersebut. Termasuk jenis ini adalah kaum yang mendengar celaan terhadap dunia, lalu mereka berzuhud, namun tidak memahami maksudnya, sehingga mereka mengira bahwa dunia tercela karena zatnya, dan bahwa jiwa wajib dimusuhi, maka mereka membebankan kepada diri mereka melebihi kemampuan, menyiksa jiwa dengan segala macam cara, dan mencegahnya dari bagian-bagiannya, dengan tidak mengetahui sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya jiwa kamu memiliki hak atas kamu.” Di antara mereka ada yang keadaannya membawa kepada meninggalkan kewajiban-kewajiban, lemahnya tubuh, dan melemahnya kekuatan! Semua itu karena lemahnya pemahaman terhadap maksud dan menangkap yang dimaksud.

694- Sebagaimana diriwayatkan tentang Dawud ath-Tha’i: bahwa dia meninggalkan air dalam tempayan di bawah tanah, lalu meminumnya dalam keadaan sangat panas! Dan dia berkata kepada Sufyan: “Jika kamu makan yang lezat dan enak, dan minum air dingin yang segar, kapan kamu akan mencintai kematian dan kedatangan kepada Allah?!”

Ini adalah kebodohan terhadap maksud, karena minum air panas menimbulkan penyakit-penyakit dalam tubuh, dan tidak tercapai dengannya rasa haus terobati, dan kita tidak diperintahkan menyiksa diri kita dengan cara ini, melainkan berlawanan dengan apa yang diserukan jiwa yang dilarang Allah.

Dalam hadits shahih: Sesungguhnya Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu ketika penggembala memerahnya susu dalam perjalanan hijrah, dia menuangkan air pada gelas hingga bagian bawahnya dingin, kemudian memberi minum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan menghamparkan untuknya di bawah naungan batu. Dan dia meminta air tawar untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan berkata: “Jika ada pada kalian air yang bermalam dalam kantong kulit; jika tidak, kita akan minum seperti binatang.”

Seandainya Dawud rahimahullah memahami bahwa memperbaiki makanan unta itu wajib untuk menempuh perjalanan, dia tidak akan melakukan ini.

Tidakkah kamu melihat Sufyan ath-Thauri, dia sangat berpengetahuan dan takut (kepada Allah), dan dia makan yang lezat, serta berkata: “Sesungguhnya hewan jika tidak diperlakukan dengan baik, tidak akan bekerja.”

695- Mungkin sebagian orang yang mendengar perkataanku ini berkata: “Ini adalah kecenderungan kepada para zahid!” Maka aku katakan: Bersamalah dengan para ulama, dan lihatlah jalan al-Hasan, Sufyan, Malik, Abu Hanifah, Ahmad, dan asy-Syafi’i, mereka adalah pokok-pokok Islam. Dan jangan taqlid agama kamu dari orang yang sedikit ilmunya, meskipun kuat zuhudnya. Anggaplah bahwa dia mampu melakukan ini, dan jangan mencontoh mereka dalam hal yang tidak kamu mampu, karena urusan bukan terserah kepada kita, dan jiwa adalah amanah pada kita. Jika kamu mengingkari apa yang telah kuperjelaskan, maka kamu termasuk kaum yang telah kuingkari. Ini adalah isyarat kepada maksud, dan penjelasan akan panjang.

Pasal 153: Kewajiban Orang Berakal Mengikuti Dalil

696- Kewajiban orang berakal adalah mengikuti dalil, kemudian tidak memperhatikan keburukan apa yang diperolehnya. Contohnya: telah terbukti dengan dalil yang pasti hikmah Sang Pencipta Azza wa Jalla, kepemilikan-Nya, dan pengaturan-Nya; maka apabila manusia melihat seorang alim yang kekurangan, dan seorang bodoh yang diberi rezeki, dalil yang menetapkan hikmah Sang Pencipta mewajibkan atasnya untuk berserah diri kepada-Nya, dan menisbatkan ketidakmampuan mengetahui hikmah kepada dirinya sendiri. Karena ada kaum yang tidak melakukan itu karena kebodohan mereka! Tidakkah kamu melihat mereka dengan apa menghukumi rusaknya pengaturan ini?! Bukankah dengan tuntutan akal mereka?! Bukankah akal mereka termasuk pemberian-Nya?! Maka bagaimana mereka menghukumi hikmah dan pengaturan-Nya dengan sebagian makhluk-Nya yang dibandingkan dengan-Nya lebih kurang dari segala sesuatu?!

697- Sungguh telah sampai kepadaku tentang si terkutuk Ibnu ar-Rawandi bahwa dia sedang duduk di atas jembatan, dan di tangannya ada roti yang dimakannya, lalu lewatlah kuda-kuda dan harta-harta, maka dia berkata: “Untuk siapa ini?” Dikatakan: “Untuk si fulan pelayan.” Kemudian lewat kuda-kuda dan harta-harta, maka dia berkata: “Untuk siapa ini?” Dikatakan: “Untuk si fulan pelayan.” Ketika pelayan itu lewat, dia melihat sosok yang hina, maka dia melemparkan roti ke arahnya, dan berkata: “Dan ini untuk si fulan! Pembagian macam apa ini?!”

698- Seandainya orang yang keberatan itu berpikir, niscaya jelas baginya beberapa segi, yang paling sederhana: ketidaktahuannya tentang siapa yang dia klaim mengenalinya, dan sedikitnya penghormatan kepadanya, dan itu mewajibkan atasnya lebih berat dari apa yang dia alami berupa penyempitan hidup; tetapi itu adalah warisan Iblis, ketika dia meyakini buruknya pengaturan dalam mengutamakan Adam ‘alaihissalam atasnya. Sungguh mengherankan seorang murid yang sombong kepada gurunya, dan seorang budak yang angkuh kepada tuannya!

699- Di antara hal yang sepatutnya diikuti dalilnya dan tidak menoleh kepada apa yang ditimbulkan keadaan: bahwa ilmu adalah perolehan yang paling mulia. Sungguh sekelompok orang bodoh telah melihat sedikitnya bagian para ulama dari dunia, maka mereka meremehkan ilmu, dan berkata: “Tidak ada faedahnya!” Itu karena ketidaktahuan mereka terhadap kadar ilmu, karena pengikut dalil tidak peduli apa yang diperolehnya; dan ujian akan terlihat dengan hilangnya tujuan.

Seandainya tidak ada dalil tentang kebenaran Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali berpaling dari dunia, menyempitkan kehidupan atasnya, kemudian tidak meninggalkan sesuatu, dan mengharamkan keluarganya dari warisan, itu sudah cukup sebagai dalil atas kebenaran tuntutannya untuk tujuan yang lain.

700- Terkadang orang bodoh melihat sekelompok ulama berbuat dosa, maka dia meremehkan ilmu, dan menganggapnya kurang, dan ini adalah kesalahan besar. Hendaklah orang berakal bertakwa kepada Allah, dan beramal dengan tuntutan akal dalam apa yang diperintahkannya berupa ketaatan kepada Allah Ta’ala dan beramal dengan ilmu, dan hendaklah dia mengetahui bahwa ujian dalam bersabar atas hilangnya hal-hal yang diinginkan, dan hendaklah dia berpegang teguh mengikuti dalil, meskipun mendatangkan keburukan, dan Allah yang memberi taufik.

Pasal 154: Segala Keuntungan dalam Kesabaran

701- Aku membaca Surah Yusuf ‘alaihissalam, maka aku takjub dengan pujiannya atas kesabarannya, penjelasan kisahnya kepada manusia, dan pengangkatan derajatnya karena meninggalkan apa yang ditinggalkannya. Lalu aku merenungkan isi rahasia perkara itu, ternyata itu adalah menyelisihi hawa nafsu yang dibenci.

Maka aku berkata: “Sungguh mengherankan! Seandainya dia mengikuti hawa nafsunya, siapakah dia? Namun karena dia menyelisihinya, sungguh dia menjadi perkara yang agung, dijadikan perumpamaan dengan kesabarannya, dan dibanggakan atas makhluk dengan kesungguhannya, dan semua itu terjadi dalam waktu sebentar, maka betapa mulianya dan membanggakannya menguasai diri pada saat sabar dari yang dicintai dan dia dekat!”

Dan kebalikan darinya adalah keadaan Adam dalam mengikuti hawa nafsunya, sungguh itu menjadi kekurangan dalam haknya selamanya, seandainya tidak ada perbaikan: “Lalu Dia menerima taubatnya” (Surah al-Baqarah: 37)!

Maka perhatikanlah – semoga Allah merahmati kalian – akibat kesabaran dan akhir hawa nafsu! Orang berakal adalah yang membedakan antara dua perkara, yang manis dan yang pahit, maka jika timbangan adil, dan tidak condong karena hawa nafsu, dia melihat semua keuntungan dalam kesabaran, dan semua kerugian dalam mengikuti nafsu, dan cukuplah ini sebagai nasihat dalam menyelisihi hawa nafsu bagi orang yang berakal, dan Allah yang memberi taufik.

Pasal 155: Riqaq dan Melihat Perjalanan Hidup Orang-orang Saleh

702- Aku melihat kesibukan dengan fiqih dan mendengar hadits hampir tidak cukup dalam memperbaiki hati; kecuali jika dicampur dengan riqaq (hal-hal yang melunakkan hati), dan melihat perjalanan hidup salaf salih.

Adapun sekedar mengetahui halal dan haram, tidak memiliki pengaruh besar dalam melunakkan hati; hati hanya menjadi lunak dengan mengingat hadits-hadits riqaq, dan berita-berita salaf salih; karena mereka mencapai maksud dari naql (teks), dan keluar dari bentuk-bentuk perbuatan yang diperintahkan kepada merasakan makna-maknanya dan yang dimaksud dengannya. Aku tidak memberitahu kamu ini kecuali setelah pengalaman dan merasakan, karena aku mendapati kebanyakan para muhaddits dan penuntut hadits, perhatian salah seorang di antara mereka pada hadits tinggi, dan memperbanyak ajza’ (bagian-bagian), dan kebanyakan fuqaha pada ilmu jadal, dan apa yang mengalahkan lawan. Bagaimana hati bisa lunak dengan hal-hal ini?!

703- Telah ada sekelompok salaf yang sengaja mendatangi hamba yang saleh untuk melihat sikapnya dan petunjuknya bukan untuk mengambil ilmunya, karena buah ilmunya adalah petunjuk dan sikapnya. Maka pahamilah ini, dan campurkanlah tuntutan fiqih dan hadits dengan melihat perjalanan hidup salaf dan zahid di dunia, agar menjadi sebab lunaknya hatimu.

704- Aku telah mengumpulkan untuk setiap orang dari tokoh-tokoh orang baik sebuah kitab yang berisi berita-berita dan adab-adabnya, maka aku mengumpulkan sebuah kitab tentang berita-berita al-Hasan, dan sebuah kitab tentang berita-berita Sufyan ath-Thauri, Ibrahim bin Adham, Bisyr al-Hafi, Ahmad bin Hanbal, Ma’ruf, dan lain-lain dari para ulama dan zahid. Dan Allah yang memberi taufik untuk mencapai maksud.

705- Tidak baik amal tanpa sedikit ilmu, keduanya dalam perumpamaan seperti penggiring dan pemimpin, dan jiwa di antara keduanya membangkang, dan dengan kesungguhan penggiring dan pemimpin, perjalanan akan terputus, dan kita berlindung kepada Allah dari kelesuan.

Pasal 156: Tidak Ada Dosa dalam Mengambil Rukhshah Selama Tidak Melanggar Ijma’

706- Aku mengambil rukhshah (keringanan) dalam sesuatu yang boleh dalam sebagian madzhab, maka aku merasakan dalam hatiku kekerasan yang besar, dan terbayang bagiku sejenis pengusiran dari pintu, dan kejauhan serta kegelapan yang menebal. Maka jiwa berkata: “Apa ini?! Bukankah aku tidak keluar dari ijma’ para fuqaha?!” Maka aku katakan kepadanya: “Wahai jiwa yang buruk! Jawabanmu dari dua segi:

Pertama: Kamu menta’wilkan apa yang tidak kamu yakini, seandainya kamu diminta fatwa, tidak akan kamu fatwakan dengan apa yang kamu lakukan.”

Dia berkata: “Seandainya aku tidak meyakini kebolehan itu, aku tidak akan melakukannya.” Aku katakan: “Kecuali keyakinanmu tidak akan engkau ridhai untuk orang lain dalam fatwa.”

Kedua: Seharusnya kamu gembira dengan kegelapan yang kamu rasakan setelah itu; karena seandainya tidak ada cahaya dalam hatimu, tidak akan berpengaruh hal seperti ini padamu.” Dia berkata: “Sungguh aku merasa asing dengan kegelapan baru yang terjadi dalam hati ini.” Aku katakan: “Maka bertekadlah untuk meninggalkan, dan anggaplah apa yang kamu tinggalkan boleh dengan ijma’, dan anggaplah meninggalkannya sebagai wara’, maka kamu selamat.”

Pasal 157: Kebutuhan Makhluk Satu Sama Lain

707- Di antara apa yang kuperoleh dari pengalaman zaman bahwa tidak sepatutnya seseorang menampakkan permusuhan kepada siapa pun selama dia mampu; karena mungkin dia akan membutuhkannya, bagaimanapun kedudukannya.

Sesungguhnya manusia mungkin tidak menyangka membutuhkan orang sepertinya suatu hari, sebagaimana tidak membutuhkan sebatang kayu yang terbuang, tidak diperhatikan; tetapi betapa banyak yang diremehkan ternyata dibutuhkan! Jika tidak terjadi kebutuhan kepada orang itu dalam menarik manfaat, terjadilah kebutuhan dalam menolak bahaya.

Sungguh aku membutuhkan dalam hidupku untuk berlaku lemah lembut kepada kaum yang tidak pernah terlintas dalam pikiranku akan terjadi kebutuhan untuk berlaku lembut kepada mereka.

708- Ketahuilah bahwa menampakkan permusuhan mungkin mendatangkan bahaya dari arah yang tidak diketahui; karena orang yang menampakkan permusuhan seperti orang yang menghunus pedang menunggu tempat untuk memukul, dan mungkin terlihat darinya tempat pukulan yang tersembunyi, meskipun orang yang bersiap diri berusaha keras menutupi dirinya, maka musuh itu memanfaatkannya.

Maka sepatutnya bagi orang yang hidup di dunia untuk berusaha keras tidak menampakkan permusuhan kepada siapa pun, karena apa yang telah kujelaskan tentang terjadinya kebutuhan makhluk satu sama lain, dan kemampuan sebagian mereka untuk membahayakan sebagian yang lain. Dan ini adalah keutamaan yang bermanfaat, manfaatnya akan terlihat bagi manusia dengan perubahan zaman.

Pasal 158: Berpegang Teguhlah pada Qanaah Selama Memungkinkan

709- Aku melihat jiwa memandang kelezatan-kelezatan pemilik dunia yang segera, dan melupakan bagaimana memperolehnya, dan apa yang dikandungnya dari bencana-bencana.

710- Penjelasan hal ini:

Bahwa jika kamu melihat pemilik kepemimpinan kekuasaan, lalu kamu merenungkan nikmatnya; kamu mendapatinya bercampur dengan kezaliman: jika dia tidak bermaksud demikian; terjadi dari para pegawainya. Kemudian dia takut, gelisah dalam semua urusannya, waspada dari musuh yang mungkin membunuhnya, cemas dari atasannya yang mungkin memecatnya, dan dari setingkatnya yang mungkin menyiasatinya. Kemudian sebagian besar waktunya berlalu untuk melayani para penguasa yang ditakutinya, dan dalam menghitung harta mereka, dan melaksanakan perintah-perintah mereka yang tidak lepas dari hal-hal yang mungkar. Dan jika dipecat, itu melebihi semua kelezatan yang diperolehnya. Kemudian kelezatan itu tenggelam oleh kewaspadaan di dalamnya, darinya, dan atasnya.

711- Jika kamu melihat pemilik perdagangan, kamu melihatnya telah berkelana ke negeri-negeri, maka tidak memperoleh apa yang diperolehnya kecuali setelah usia lanjut, dan berlalunya masa kelezatan, sebagaimana diceritakan bahwa seorang pemimpin pada masa mudanya miskin; ketika tua, dia kaya, dan memiliki harta-harta, serta membeli budak-budak dari orang Turki dan lainnya, dan jariyah-jariyah dari Romawi, maka dia mengucapkan bait-bait ini dalam menjelaskan keadaannya:

“Apa yang kuharapkan ketika aku berusia dua puluh tahun Kumiliki setelah melewati usia tujuh puluh tahun

Mengelilingiku dari orang-orang Turki anak-anak muda Seperti dahan-dahan di atas bukit-bukit pasir

Dan gadis-gadis dari anak-anak Romawi yang menawan Menyerupai dengan kecantikan bidadari bermata indah

Mereka menggodaku dengan jari-jari yang manja Hampir terikat dari ujung-ujungnya karena lembutnya

Mereka ingin menghidupkan mayat yang tidak bergerak Dan bagaimana mereka menghidupkan mayat yang sudah terkubur

Mereka berkata: Rintihan panjangmu di malam hari membuat kami terjaga Apa yang kamu keluhkan? Aku katakan: Usia delapan puluh tahun”

712- Keadaan ini adalah yang umum; karena manusia hampir tidak dapat berkumpul baginya semua yang dicintainya kecuali ketika mendekati kepergiannya, maka jika datang apa yang dicintai di awal masa mudanya, kebodohan masa muda menghalangi dari memahami pengaturan atau baiknya menikmati.

713- Manusia dalam masa kanak-kanak tidak tahu di mana dia berada, sampai dia mencapai usia baligh. Ketika sudah baligh, perhatiannya tertuju pada pernikahan bagaimanapun keadaannya. Jika dia menikah, datanglah anak-anak yang menghalanginya dari kenikmatan, membuatnya patah semangat, dan memaksanya untuk bekerja mencari nafkah bagi mereka. Sementara dia telah menghabiskan masa panjang yang mendekati usia tiga puluh tahun dan munculnya uban, dia menjadi takut pada dirinya sendiri karena tahu bahwa para wanita akan menjauhinya, sebagaimana kata Ibn al-Mu’tazz Billah:

“Sungguh aku telah melelahkan diriku di masa tuaku, bagaimana mungkin gadis-gadis muda akan mencintaiku?”

Ketika orang yang menikmati hal-hal indah memahami hal ini dan keluar dari pencarian bentuk pernikahan, dia tidak menemukan harta yang cukup untuk mencapai tujuannya. Jika dia bekerja, waktu untuk menikmatinya akan hilang, dan ketika tujuan tercapai, uban adalah kotoran yang paling buruk dan hal yang paling dibenci.

714- Kemudian pemilik harta khawatir akan hartanya, menghitung-hitung dengan pekerjanya, dicela jika boros dan jika kikir, anaknya mengawasi kematiannya, budak perempuannya mungkin tidak puas dengan kepribadiannya, dan dia sibuk menjaga urusan-urusannya. Waktunya telah berlalu dalam cobaan-cobaan, dan kenikmatan di dalamnya hanya selingan yang biasa, tanpa ada kenikmatan sejati. Kemudian di hari kiamat, penguasa dan pedagang akan dibangkitkan dalam kehinaan kecuali yang dilindungi Allah. Maka berhati-hatilah, jangan sekali-kali kamu memandang gambaran kenikmatan mereka, karena kamu akan menganggapnya baik karena jauh darimu, padahal jika kamu meraihnya, itu akan menjadi dingin bagimu. Kemudian di dalamnya terdapat cobaan dunia dan akhirat yang tidak dapat digambarkan. Maka berpeganglah pada qanaah (merasa cukup) selama mungkin, karena di dalamnya terdapat keselamatan dunia dan agama.

Telah dikatakan kepada salah seorang zahid, sementara di hadapannya ada roti kering: “Bagaimana kamu bisa menginginkan ini?” Dia menjawab: “Aku meninggalkannya sampai aku menginginkannya.”

Pasal 159: Katakanlah: “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami” (Surat At-Taubah ayat 51)

715- Terjadi permusuhan antara aku dan para pemegang kekuasaan karena masalah madzhab. Aku dalam majelis tazkir (pengajian) membela bahwa Al-Quran adalah kalam Allah, bahwa ia qadim (azali), dan mengutamakan Abu Bakar. Sementara di antara para pemegang kekuasaan ada yang condong ke madzhab Asy’ari, dan ada yang condong ke madzhab Rawafidh (Syiah), dan mereka bersekongkol melawanku secara tersembunyi. Suatu hari aku berkata dalam munajatku kepada Yang Haq Subhanahu wa Ta’ala: “Tuhanku! Ubun-ubun semuanya di tangan-Mu, tidak ada seorang pun di antara mereka yang mampu mencelakakan aku kecuali jika Engkau menjalankannya melalui tangannya. Dan Engkau berfirman, Maha Suci Engkau: ‘Dan mereka tidak dapat membahayakan seorang pun dengan sihirnya, kecuali dengan izin Allah’ (Surat Al-Baqarah ayat 102). Dan Engkau menenangkan hati orang yang diuji dengan firman-Mu: ‘Katakanlah: Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami’ (Surat At-Taubah ayat 51).

Jika Engkau menjalankan melalui tangan sebagian mereka apa yang menyebabkan kehinaanku, ketakutanku terhadap apa yang kubela lebih besar daripada ketakutanku terhadap diriku sendiri, agar tidak dikatakan: ‘Seandainya dia benar, tentu tidak akan dihina.’

Jika aku melihat kekuranganku dan dosa-dosaku, maka aku memang layak mendapat kehinaan, namun aku hidup dengan sunnah yang kubela, maka masukkan aku dalam perlindungannya. Banyak dari hamba-hamba-Mu yang saleh telah menitipkan aku kepada-Mu, jika Engkau tidak menjagaku karena diriku, maka jagalah aku karena mereka.

Tuhanku! Tolonglah aku melawan orang yang memusuhi aku, karena mereka tidak mengenal-Mu sebagaimana mestinya, dan mereka berpaling dari-Mu dalam segala keadaan. Sedangkan aku, meskipun dengan kekuranganku, lebih dekat kepada-Mu.”

Pasal 160: Orang bodoh menantang Allah

716- Diriwayatkan dari Hallaj sang sufi bahwa dia biasa duduk di bawah sinar matahari dalam panas yang sangat terik, dan keringatnya mengalir. Seorang yang berakal melewatinya dan berkata kepadanya: “Wahai orang bodoh! Ini adalah penantangan terhadap Allah Ta’ala.” Betapa baik apa yang dikatakannya! Karena Allah tidak meletakkan taklif (beban syariat) kecuali bertentangan dengan keinginan, dan terkadang hal itu membuat pelakunya tidak mampu bersabar. Orang jahil yang bodoh adalah yang menantang, atau yang meminta cobaan, seperti kata orang bodoh itu: “Bagaimanapun Engkau kehendaki, ujilah aku!!”

Pasal 161: Orang yang bahagia adalah yang merendahkan diri di hadapan Allah

717- Orang yang bahagia adalah yang merendahkan diri di hadapan Allah dan memohon kesehatan. Karena kesehatan tidak diberikan secara mutlak, pasti ada cobaan. Orang yang berakal akan terus memohon kesehatan agar menguasai sebagian besar keadaannya, sehingga mudah bersabar atas sedikit cobaan.

718- Secara keseluruhan, manusia harus mengetahui bahwa tidak ada jalan menuju hal-hal yang dicintainya secara murni. Dalam setiap tegukan ada kepahitan, dan dalam setiap suapan ada duri di tenggorokan:

“Betapa banyak yang mencintai dunia sejak dahulu, namun tidak ada jalan untuk bersatu dengannya”

719- Sesungguhnya kesabaran hanya terhadap takdir, dan jarang takdir berjalan kecuali bertentangan dengan keinginan jiwa.

Orang yang berakal adalah yang menenangkan jiwanya dalam kesabaran dengan janji pahala dan kemudahan urusan, agar waktu cobaan berlalu dengan selamat tanpa keluhan, kemudian meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala sambil memohon kesehatan.

Adapun orang yang memaksakan diri, dia tidak pernah mengenal Allah sama sekali. Kita berlindung kepada Allah dari kebodohan tentang-Nya, dan memohon kepada-Nya pengenalan terhadap-Nya, sesungguhnya Dia Maha Mulia lagi Maha Mengabulkan.

Pasal 162: Meneladani Pembawa Syariat

720- Jalan yang selamat dan cara yang lurus adalah meneladani pembawa syariat dan bersegera mengikuti sunnahnya, karena dialah yang sempurna tanpa kekurangan.

721- Banyak orang yang menyimpang ke jalan zuhud dan membebankan diri mereka melampaui kemampuan, lalu mereka sadar di akhir umur ketika badan sudah lemah dan hal-hal penting dari ilmu dan lainnya telah terlewatkan.

722- Ada pula kaum yang menyimpang ke bentuk ilmu semata, berlebihan dalam menuntutnya, lalu mereka sadar di akhir masa ketika amal dengannya telah terlewatkan.

723- Jalan Rasul yang terpilih shallallahu alaihi wa sallam adalah ilmu dan amal, serta berlembut kepada badan, sebagaimana dia berwasiat kepada Abdullah bin Amr bin Al-Ash dan berkata kepadanya: “Sesungguhnya badanmu memiliki hak atasmu, dan istrimu memiliki hak atasmu.”

Inilah jalan tengah dan perkataan yang memisahkan. Adapun kekeringan yang murni, betapa banyak ilmu yang terlewatkan, yang seandainya diperoleh akan meraih lebih banyak daripada yang diraih dengan amal. Perumpamaan orang alim seperti orang yang mengenal jalan, sedangkan ahli ibadah tidak mengenalnya. Ahli ibadah berjalan dari subuh hingga ashar, sementara orang alim bangun menjelang ashar, lalu mereka bertemu, dan orang alim telah mendahului dengan kelebihan satu putaran.

724- Jika ada yang berkata: “Jelaskan hal ini kepadaku!” Aku katakan: Bentuk ibadah adalah pelayanan kepada Allah Ta’ala, dan itu untuk-Nya. Terkadang ahli ibadah tidak mengetahui makna bentuk itu, karena mungkin dia mengira bahwa dia layak mendapat karamah melalui tangannya, bahwa dia layak dicium tangannya, atau bahwa dia lebih baik dari banyak orang. Semua itu karena kurangnya ilmu. Yang aku maksud dengan ilmu adalah memahami pokok-pokok ilmu, bukan banyaknya riwayat dan menelaah masalah-masalah khilafiyah.

Ketika orang alim yang menguasai ushul menelaah, dia akan mendahului ahli ibadah ini dengan akhlak yang baik, memperlakukan orang dengan baik, merendahkan diri, dan membimbing makhluk kepada Allah Ta’ala. Hal ini sulit bagi ahli ibadah, sementara dia tertidur dalam malam kebodohannya tentang keadaan.

725- Terkadang ahli ibadah menikah, lalu membebankan diri pada pengeringan, menahan istrinya dari keinginannya tanpa menceraikannya, menjadi seperti wanita yang mengurung kucing, tidak memberinya makan dan tidak melepaskannya untuk makan dari serangga-serangga tanah.

726- Barangsiapa merenungkan keadaan Rasul shallallahu alaihi wa sallam, akan melihat kesempurnaan akhlak yang memberikan setiap pemilik hak haknya: kadang bercanda, kadang tertawa, bermain dengan anak-anak, mendengar syair, berbicara dengan sindiran, bergaul baik dengan para wanita, makan apa yang dia mampu dan tersedia untuknya meski lezat seperti madu, minta dicarikan air yang segar, dibentangkan tempat tidur di tempat teduh, dan dia tidak mengingkari hal itu. Tidak pernah terdengar darinya seperti yang terjadi setelahnya dari orang-orang bodoh sufi dan zahid yang mencegah jiwa dari syahwatnya secara mutlak. Dia makan semangka dengan kurma basah, mencium dan mengisap lidah, meminta hal-hal yang indah.

Adapun makan roti jewawut, menimbang makanan, mengeringkan badan, dan meninggalkan setiap yang diinginkan, itu adalah penyiksaan jiwa dan perusakan badan yang tidak dituntut akal dan tidak dipuji syariat! Sekelompok orang puas dengan sedikit karena sebab-sebab tertentu, misalnya timbul syubhat lalu mereka mengurangi, atau makanan bercampur dengan makanan lain lalu mereka berhati-hati.

727- Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam memenuhi hak ibadah dengan qiyamul lail dan berijtihad dalam zikir. Maka ikutilah jalannya yang merupakan jalan paling sempurna, dan syariatnya yang tidak ada campuran di dalamnya. Tinggalkan pembicaraan si fulan dan si fulan dari para zahid, dan artikan perbuatan mereka dengan penafsiran terbaik, buatkan uzur bagi mereka selama kamu mampu. Jika tidak menemukan uzur, maka mereka terbantahkan dengan perbuatannya, karena dia adalah teladan makhluk dan pemimpin orang-orang berakal. Tidakkah manusia rusak kecuali karena menyimpang dari syariat?!

Sungguh telah terjadi kerusakan dari para sufi dan zahid yang merobek jaring syariat dan melewatinya. Di antara mereka ada yang mengklaim cinta dan kerinduan tanpa mengenal yang dicintai, kamu melihatnya berteriak, meminta tolong, merobek pakaiannya, dan keluar dari batasan syariat dengan klaimnya dan kandungannya!! Di antara mereka ada yang membebankan diri dengan lapar dan puasa terus-menerus, padahal telah sahih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa dia berkata kepada Abdullah bin Amr: “Berpuasalah sehari dan berbukalah sehari.” Dia berkata: “Aku ingin yang lebih utama dari itu.” Nabi berkata: “Tidak ada yang lebih utama.”

Di antara mereka ada yang keluar untuk mengembara sehingga melewatkan jamaah. Di antara mereka ada yang mengubur buku-buku ilmu dan duduk shalat dan puasa, tidak tahu bahwa menguburnya adalah kesalahan buruk, karena jiwa lalai dan butuh peringatan setiap saat, dan sebaik-baik pengingat adalah buku-buku ilmu.

Iblis masuk kepada setiap kelompok dari mereka dari mana dia mampu, dan tujuannya dengan mengubur buku adalah memadamkan pelita agar ahli ibadah berjalan dalam kegelapan.

728- Betapa baik kata sebagian ulama kepada seorang yang bertanya: “Aku ingin pergi ke Jabal al-Lukkam?” Dia berkata: “Ini ‘hawkalah'” yaitu kata awam yang artinya: cinta kemalasan.

729- Sesungguhnya para zahid berada di posisi kelelawar, telah mengubur diri mereka dengan mengasingkan diri dari memberi manfaat kepada manusia. Ini keadaan yang baik jika tidak menghalangi dari kebaikan: jamaah, mengikuti jenazah, menjenguk orang sakit. Namun ini adalah keadaan pengecut. Adapun orang-orang pemberani, mereka belajar dan mengajar, dan ini adalah maqam para nabi alaihimus salam.

730- Tahukah kamu betapa jauhnya perbedaan antara ahli ibadah ketika ditimpa musibah dengan seorang faqih? Demi Allah, seandainya manusia condong kepada ibadah, tentu syariat akan hilang. Padahal seandainya dia memahami makna ibadah, dia tidak akan membatasinya hanya pada shalat dan puasa! Terkadang orang yang berjalan untuk keperluan seorang muslim, ibadahnya itu lebih utama daripada puasa setahun. Amal dengan badan adalah usaha alat-alat lahir, sedangkan ilmu adalah usaha alat-alat batin dari akal, pikir, dan paham, karena itu ilmu lebih mulia.

731- Jika kamu berkata: “Bagaimana kamu mencela orang yang mengasingkan diri dari kejahatan dan menafikan ibadah dari mereka?!” Aku katakan: Aku tidak mencela mereka, tetapi telah terjadi dari mereka hal-hal yang disebabkan kebodohan, berupa klaim-klaim dan kerusakan yang disebabkan kurangnya ilmu. Mereka membebankan kepada diri mereka—yang bukan milik mereka dan tanpa izin Yang Memerintah—apa yang tidak boleh! Sampai salah seorang dari mereka menganggap bahwa melakukan apa yang menyakiti jiwa secara mutlak adalah keutamaan!! Sampai salah seorang yang bodoh berkata: “Aku masuk pemandian lalu aku lalai, maka aku bersumpah tidak akan keluar sampai aku bertasbih sekian dan sekian tasbih, maka lama urusannya sampai aku sakit!!” Ini orang yang mempertaruhkan dirinya dalam perbuatan yang bukan haknya.

732- Di antara para sufi dan zahid ada yang puas dengan bentuk pakaian, dan menunggangi kebodohan batiniah yang tidak dapat ditampung oleh kitab!! Semoga Allah membersihkan bumi dari mereka dan menolong para ulama atas mereka, karena kebanyakan orang bodoh bersama mereka. Seandainya seorang alim mengingkari salah seorang dari mereka, orang awam akan berpihak melawan ulama dengan kekuatan kebodohan.

733- Sungguh aku telah melihat banyak ahli ibadah—yang berada di posisi nenek-nenek tua—yang bertasbih dengan tasbih-tasbih yang tidak boleh diucapkan, dan melakukan dalam shalatnya apa yang tidak ada dalam sunnah!

734- Suatu hari aku masuk kepada sebagian orang yang beribadah, dia telah mengangkat imam, dan dia di belakangnya dalam jamaah shalat Dhuha dengan bersuara keras! Aku katakan kepada mereka: “Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: ‘Shalat siang itu bisu!'” Zahid itu marah dan berkata: “Berapa kali orang ini mengingkari kami! Si fulan masuk dan mengingkari, si fulan masuk dan mengingkari. Kami meninggikan suara kami agar tidak tidur.” Aku katakan: “Ajaib! Siapa yang berkata kepada kalian: jangan tidur?! Bukankah dalam Shahihain dari hadits Ibnu Amr bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata kepadanya: ‘Bangun dan tidurlah’?! Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidur, dan mungkin tidak ada malam yang berlalu kecuali dia tidur di dalamnya!!”

735- Sungguh aku menyaksikan seorang yang disebut Husain al-Qazwini di Masjid al-Manshur, dia berjalan di masjid dengan berjalan terus-menerus. Aku bertanya: “Apa sebab berjalan ini?!” Dikatakan kepadaku: “Agar tidak tidur!”

736- Semua ini adalah kebodohan yang disebabkan kurangnya ilmu. Karena jika jiwa tidak mengambil bagiannya dari tidur, akal akan kacau dan maksud dari ibadah akan hilang karena jauhnya pemahaman.

737- Telah menceritakan kepadaku sebagian orang saleh yang bermukim di Masjid al-Manshur: bahwa seorang laki-laki bernama Katsir masuk menemui mereka di masjid, lalu berkata: “Sesungguhnya aku telah berjanji kepada Allah atas suatu perkara namun aku melanggarnya, dan aku telah menetapkan hukuman bagi diriku sendiri untuk tidak memakan apa pun selama empat puluh hari!” Kata perawi: “Maka dia bertahan selama sepuluh hari pertama dalam keadaan yang masih baik, salat berjamaah, kemudian pada sepuluh hari kedua dia mulai lemah dan berusaha menyembunyikan keadaannya, kemudian pada sepuluh hari ketiga dia salat dalam keadaan duduk, lalu terbaring lemah pada sepuluh hari keempat. Ketika genap empat puluh hari, dibawalah kepadanya air rebusan kurma, lalu dia meminumnya. Kami mendengar suara di kerongkongannya seperti air yang menetes di atas wajan, kemudian dia meninggal beberapa hari kemudian.” Maka aku berkata: “Ya Allah! Sungguh mengherankan! Lihatlah apa yang diperbuat kebodohan terhadap pelakunya. Secara zahir, dia masuk neraka; kecuali jika diampuni. Seandainya dia memahami ilmu dan bertanya kepada ulama, tentu mereka akan memberitahunya bahwa dia wajib makan, dan bahwa apa yang dilakukannya terhadap dirinya sendiri adalah haram. Akan tetapi, termasuk kebodohan yang paling besar adalah seseorang yang menyendiri dengan ilmunya!”

738- Semua peristiwa ini muncul sedikit demi sedikit hingga menguat. Adapun generasi pertama, tidak ada hal seperti ini sama sekali. Para sahabat tidak pernah melakukan hal-hal seperti ini. Mereka biasa mengutamakan orang lain, makan tidak sampai kenyang, dan bersabar ketika tidak menemukan makanan. Barangsiapa ingin meneladani, hendaklah ia mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya, karena di sanalah terdapat kesembuhan dan yang dicari.

739- Tidaklah pantas bagi orang berakal untuk terus-menerus meniru seseorang yang diagungkan dan namanya tersebar, lalu berkata: “Abu Yazid berkata begini, ath-Tsauri berkata begitu,” karena orang yang meniru adalah buta. Betapa banyak orang buta yang enggan membawa tongkat! Barangsiapa memahami hal yang ditunjukkan ini, hendaklah mencari yang lebih utama dan lebih tinggi. Allah yang memberi taufik.

Fasal 163: Masuknya Pengaruh dari Filsafat dan Kerahiban

740- Aku merenungkan pengaruh yang masuk ke dalam agama kita dari sisi ilmu dan amal, maka kulihat ia datang dari dua jalan yang telah mendahului agama ini, dan manusia telah terbiasa dengan keduanya:

Fasal 164: Aku Berlindung kepada Allah dari Pergaulan dengan Orang-orang Pengangguran

741- Aku berlindung kepada Allah dari pergaulan dengan orang-orang pengangguran! Sungguh aku telah melihat banyak orang yang ikut-ikutan denganku dalam hal yang telah dibiasakan manusia berupa banyaknya kunjungan, dan mereka menyebut bolak-balik itu sebagai pelayanan. Mereka mencari kesempatan duduk dan membicarakan hal-hal tentang orang lain, hal-hal yang tidak berguna, dan yang diselingi dengan ghibah!

Ini adalah sesuatu yang dilakukan banyak orang di zaman kita, bahkan kadang orang yang dikunjungi mencarinya dan merindukan hal itu, merasa sunyi dengan kesendirian, terutama di hari-hari ucapan selamat dan hari raya. Maka kau melihat mereka saling berkunjung, tidak terbatas pada ucapan selamat dan salam saja, melainkan mencampurnya dengan hal-hal yang telah kusebutkan berupa pemborosan waktu. Ketika aku melihat bahwa waktu adalah hal yang paling mulia, dan yang wajib adalah memanfaatkannya dengan berbuat kebaikan, aku membenci hal itu. Aku berada di antara dua pilihan: jika aku mengingkari mereka, terjadilah keterasingan karena memutus kebiasaan! Dan jika aku menerimanya dari mereka, waktu akan terbuang! Maka aku berusaha menghindari pertemuan dengan sekuat tenaga. Jika aku terpaksa, aku memendekkan pembicaraan agar cepat berpisah.

Kemudian aku menyiapkan pekerjaan-pekerjaan yang mencegah dari percakapan pada waktu pertemuan mereka, agar waktu tidak berlalu sia-sia. Aku menyediakan untuk pertemuan mereka: memotong kertas, meraut pena, dan mengikat buku-buku. Hal-hal ini memang diperlukan dan tidak membutuhkan pemikiran serta kehadiran hati. Aku sediakan untuk waktu kunjungan mereka agar tidak ada yang terbuang dari waktuku. Kami memohon kepada Allah agar mengenalkan kepada kita kemulian waktu-waktu dalam hidup, dan memberi taufik untuk memanfaatkannya.

742- Sungguh aku telah menyaksikan banyak orang yang tidak mengenal makna kehidupan: di antara mereka ada yang telah dicukupkan Allah dari mencari nafkah dengan banyaknya harta, namun dia duduk di pasar sebagian besar siang hari memandangi orang-orang, dan betapa banyak bencana dan kemungkaran yang dilaluinya! Di antara mereka ada yang menyendiri dengan bermain catur! Di antara mereka ada yang menghabiskan waktu dengan banyak membicarakan tentang para penguasa, mahal dan murahnya harga, dan lain sebagainya. Maka aku tahu bahwa Allah tidak memberikan pengetahuan tentang kemulian umur dan mengenal kadar waktu-waktu kesehatan kecuali kepada orang yang diberi taufik dan ilham untuk memanfaatkan hal itu.

“Dan tidaklah yang demikian itu diberikan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. Fussilat: 35)

Fasal 165: Karya Tulis yang Bermanfaat dan Tahapan Umur Seorang Alim

743- Aku berpendapat dengan pendapat yang benar bahwa manfaat karya tulis lebih besar daripada manfaat pengajaran secara lisan; karena aku berbicara langsung dalam hidupku dengan sejumlah pelajar, namun dengan karya tulisku aku berbicara dengan makhluk yang tidak terhitung yang akan diciptakan kemudian. Dalil hal ini adalah bahwa manfaat manusia dari karya tulis ulama terdahulu lebih besar daripada manfaat mereka dari apa yang mereka peroleh dari guru-guru mereka.

744- Maka hendaklah seorang alim fokus pada karya tulis jika diberi taufik untuk karya tulis yang bermanfaat; karena tidak setiap orang yang menulis benar-benar menulis, dan bukan maksudnya mengumpulkan sesuatu bagaimana pun caranya. Melainkan ini adalah rahasia-rahasia yang Allah singkapkan kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, dan memberinya taufik untuk menyingkapnya, sehingga ia mengumpulkan yang terpencar, atau menyusun yang tercerai-berai, atau menjelaskan yang diabaikan. Inilah karya tulis yang bermanfaat.

745- Hendaklah memanfaatkan penulisan di pertengahan umur; karena awal umur adalah masa menuntut ilmu, dan akhirnya adalah lemahnya panca indera. Kadang pemahaman dan akal berkhianat karena pertambahan umur; dan perkiraan itu berdasarkan kebiasaan yang umum; karena tidak ada yang mengetahui yang gaib. Maka masa menuntut ilmu, menghafal dan sibuk hingga usia empat puluh tahun.

746- Kemudian mulai setelah empat puluh dengan karya tulis dan pengajaran, ini jika dia telah mencapai apa yang diinginkan dari pengumpulan dan hafalan, dan dibantu untuk mencapai tujuan-tujuan.

Adapun jika perangkatnya berupa buku-buku kurang, atau dia di awal umurnya lemah dalam menuntut ilmu sehingga tidak memperoleh yang diinginkan pada masa itu, maka tunda karya tulis hingga genap lima puluh tahun, kemudian mulai setelah lima puluh dalam karya tulis dan pengajaran hingga usia enam puluh tahun.

747- Kemudian tambah setelah enam puluh dalam pengajaran, mendengar hadis dan ilmu, dan kurangi karya tulis kecuali jika ada hal penting hingga usia tujuh puluh tahun.

748- Jika telah melewati tujuh puluh, jadikan yang dominan padanya mengingat akhirat dan bersiap untuk kepergian, maka fokuskan dirinya pada dirinya sendiri, kecuali pengajaran yang dianggap sebagai ibadah, atau karya tulis yang sangat dibutuhkan; maka itulah perhitungan yang paling mulia untuk akhirat.

Hendaklah perhatiannya pada membersihkan dirinya, memperbaiki akhlaknya, dan bersungguh-sungguh dalam memperbaiki kesalahannya. Jika dia wafat di tengah apa yang kita sebutkan, maka “niat orang mukmin lebih baik dari amalnya”, dan jika mencapai kedudukan-kedudukan ini, maka kita telah jelaskan apa yang cocok untuk setiap kedudukan.

749- Sufyan ath-Tsauri berkata: “Barangsiapa mencapai usia Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, hendaklah dia menyiapkan kain kafan untuk dirinya.” Telah mencapai sekelompok ulama usia tujuh puluh tujuh tahun, di antaranya Ahmad bin Hanbal. Jika mencapainya, hendaklah dia tahu bahwa dia berada di tepi kubur, dan setiap hari yang datang setelahnya adalah tambahan.

750- Jika genap baginya delapan puluh tahun, maka hendaklah dia jadikan seluruh perhatiannya tertuju pada membersihkan akhlaknya dan menyiapkan bekalnya. Hendaklah dia jadikan istighfar sebagai temannya, dzikir sebagai sahabatnya, teliti dalam muhasabah diri, dalam menyebarkan ilmu, atau bergaul dengan manusia. Karena dekatnya inspeksi terhadap pasukan mengharuskannya berhati-hati dari hal yang menghalangi. Hendaklah dia bersungguh-sungguh dalam meninggalkan jejaknya sebelum kepergiannya, seperti menyebarkan ilmunya, membagikan buku-bukunya, dan sebagian hartanya.

Setelah itu: barangsiapa yang ditangani Allah, Dia akan mengajarinya, dan barangsiapa yang dikehendaki-Nya, Dia akan memberinya ilham. Kami memohon kepada Allah agar menganugerahi kami dengan menangani kami, dan tidak berpaling dari kami, sesungguhnya Dia Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan.

Fasal 166: Kebiasaan Telah Menguasai Manusia

751- Aku melihat kebiasaan manusia telah menguasai amal mereka dengan syariat, sehingga mereka merasa asing melakukan sesuatu karena tidak adanya kebiasaan yang berlaku, bukan karena larangan syariat!

Betapa banyak orang yang disifati dengan kebaikan, berjual beli, namun ketika mendapat uang receh, dia menjualnya dengan yang utuh tanpa taklid kepada imam, atau mengamalkan rukhshah, sebagai kebiasaan kaum, dan menganggap berat untuk meminta fatwa!

Kita melihat banyak orang yang menjaga salat raghaib (salat sunnah tertentu), namun malas dalam salat fardhu.

752- Banyak dari kaum sufi tidak merasa asing dengan menzalimi manusia, kemudian bersedekah kepada fakir miskin, bahkan kadang malas mengeluarkan zakat, dan bermalas-malasan dengan menggunakan takwil-takwil di dalamnya. Kemudian jika salah seorang dari mereka menghadiri majlis nasihat, dia menangis seolah-olah berpura-pura dengan keadaan itu. Di antara mereka: ada yang mengeluarkan sebagian zakat untuk menyamarkan apa yang tidak dikeluarkannya. Di antara mereka: ada yang tahu bahwa asal hartanya haram, namun sulit baginya meninggalkannya karena kebiasaan. Di antara mereka: ada yang bersumpah dengan talak, lalu melanggar sumpahnya, dan melihat perceraian itu sulit, maka kadang dia melakukan takwil, kadang malas dari takwil dengan mengandalkan ampunan Allah, dan berjanji pada diri sendiri untuk bertobat! Di antara mereka: ada yang melihat bahwa mengamalkan syariat mungkin menjadi sebab menyempitkan penghidupannya, padahal dia telah terbiasa dengan keluasan, sehingga tidak mudah baginya meninggalkan apa yang telah dibiasakan! Kebiasaan secara umum adalah yang membinasakan.

753- Sungguh telah datang kepadaku seorang syaikh berusia delapan puluh tahun, aku membeli darinya sebuah toko, dan mengadakan akad dengannya. Ketika kami berpisah, dia berkhianat setelah beberapa hari. Aku minta dia hadir di hadapan hakim, dia menolak, maka aku hadirkan dia. Dia bersumpah palsu: bahwa dia tidak menjual! Aku berkata: “Sungguh menakjubkan!” Dia mulai menyuap orang-orang zalim yang menghalangi antara aku dan dia. Aku melihat dari kalangan awam yang telah dikuasai kebiasaan, sehingga tidak menoleh dengan kebiasaan itu kepada perkataan faqih yang berkata: “Ini orang yang tidak menerima harga, bagaimana jual beli bisa sah?!” Yang lain berkata: “Bagaimana boleh kamu mengambil toko tanpa ridha dia?!” Yang lain berkata: “Wajib atas kamu membatalkan jual beli!”

Ketika aku tidak membatalkannya, dia dan kerabat-kerabatnya mulai mencaci makiku, dan dia melihat bahwa dia membela hartanya.

Kemudian dia mengadu aku kepada penguasa dengan pengaduan yang dipenuhi kebohongan yang membuatku takjub, dan menyuap para penguasa zalim, maka mereka bersungguh-sungguh dan mengadu; kecuali Allah menyelamatkanku dari kejahatan mereka.

Kemudian aku tegakkan saksi di hadapan hakim, maka sebagian ahli dunia berkata kepada hakim: “Jangan hukum untuk dia!” Maka hakim berhenti dari memberikan hukuman setelah tegaknya saksi di hadapannya!! Aku melihat dari hakim ini dan hakim lain yang lebih tinggi darinya berupa meninggalkan penegakan kebenaran untuk menjaga kedudukan mereka, hal yang meremehkan di mataku apa yang dilakukan syaikh itu untuk menjaga hartanya, karena kebodohannya dan pengetahuan mereka.

Maka jelaslah bagiku dari perkara bahwa kebiasaan telah menguasai manusia, dan syariat diabaikan. Jika terjadi kesesuaian dengan syariat, maka itu kebetulan saja, atau karena kebiasaan. Sesungguhnya seandainya seseorang dipukul dengan cambuk, dia tidak akan berbuka di bulan Ramadan, karena kebiasaan yang telah berlangsung, namun dia mengambil kehormatan dan harta manusia, sebagai kebiasaan yang dominan! Betapa banyak aku melihat syaikh ini salat dan menjaga salat, namun ketika dia takut kehilangan tujuannya, dia tinggalkan syariat!

Betapa banyak aku melihat para hakim itu beribadah dan menuntut ilmu, namun ketika mereka takut kedudukan mereka hilang, mereka tinggalkan sisi agama!

Kemudian Allah menolongku atasnya, dan memerintahkan hakim untuk melaksanakan apa yang telah terbukti di hadapannya. Berputarlah tahun, maka syaikh itu meninggal dalam keadaan susah. Maka kami memohon kepada-Nya taufik untuk tunduk kepada syariat-Nya dan menyelisihi hawa nafsu kami.

Fasal 167: Kewajiban Alim Menjaga Ilmunya

754- Aku tidak mengenal bagi seorang alim kenikmatan, kemuliaan, kehormatan, ketenangan, atau keselamatan yang lebih baik daripada menyendiri. Karena dengan itu dia memperoleh keselamatan badan, agama, dan kedudukannya di sisi Allah dan di sisi makhluk; karena makhluk meremehkan orang yang bergaul dengan mereka, dan tidak mengagungkan kedudukan orang yang bergaul dengan mereka. Karena itulah kedudukan khalifah diagungkan karena mereka berhijab. Jika orang awam melihat salah seorang ulama mengambil rukhshah dalam perkara yang mubah, dia menjadi hina di mata mereka. Maka wajib atasnya menjaga ilmunya, dan menegakkan kedudukan ilmu di mata mereka.

Sebagian salaf berkata: “Kami dulu bercanda dan tertawa; namun ketika kami menjadi teladan, aku tidak melihat hal itu masih boleh bagi kami.”

755- Sufyan ath-Tsauri berkata: “Pelajarilah ilmu ini, jagalah, dan jangan campurkan dengan main-main sehingga hati-hati menolaknya.”

756- Memperhatikan manusia tidak sepatutnya diingkari. Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepada Aisyah: “Seandainya bukan karena kaummu baru saja keluar dari kekafiran, niscaya aku robohkan Ka’bah dan aku buatkan untuknya dua pintu…” Ahmad bin Hanbal berkata tentang dua rakaat sebelum Maghrib: “Aku melihat orang-orang membencinya maka aku tinggalkan.”

Jangan dengarkan orang bodoh yang melihat hal-hal seperti ini sebagai riya, ini hanyalah menjaga ilmu. Penjelasannya adalah bahwa seandainya seorang alim keluar kepada manusia dengan kepala terbuka, atau di tangannya ada sepotong roti yang dimakannya, dia akan hina di mata mereka meskipun hal itu mubah, sehingga dia menjadi seperti dokter yang menyuruh diet namun mencampurnya.

Maka tidak pantas bagi seorang alim bersikap santai di hadapan orang awam, untuk menjaga mereka. Jika dia ingin melakukan yang mubah, hendaklah dia sembunyikan dari mereka.

757- Ini adalah kadar yang diperhatikan Abu Ubaidah ketika dia melihat Umar bin Khattab radhiyallahu anhu datang ke Syam dengan naik keledai, dan kedua kakinya di satu sisi, maka dia berkata: “Ya Amirul Mukminin! Para pembesar akan menyambutmu!” Sungguh baik apa yang diperhatikannya! Kecuali Umar radhiyallahu anhu ingin mendidik Abu Ubaidah dengan menjaga asal, maka dia berkata: “Sesungguhnya Allah memuliakan kalian dengan Islam, maka kapan pun kalian mencari kemuliaan selain dengannya, Allah menghinakan kalian.”

Maknanya: hendaklah pencarian kemuliaan kalian dengan agama, bukan dengan bentuk-bentuk perbuatan.

758- Meskipun bentuk-bentuk diperhatikan, sesungguhnya seseorang menyendiri di rumahnya dalam keadaan telanjang, namun jika keluar kepada manusia, dia memakai dua baju, serban dan selendang. Hal seperti ini bukan kepura-puraan, dan tidak dinisbatkan kepada kesombongan. Malik bin Anas biasa mandi, memakai wangi-wangian, dan duduk untuk hadis.

759- Jangan perhatikan -wahai engkau- apa yang kau lihat dari rendahnya ulama di pintu-pintu penguasa; karena menyendiri lebih menjaga bagi alim dan ilmu, dan apa yang dirugikan ulama dalam hal itu berkali-kali lipat dari apa yang mereka untungkan. Sayyid al-fuqaha Said bin Musayyab tidak pernah mendatangi para penguasa, dan karena sikapnya ini mereka diam tentangnya, dan ini perbuatan orang yang berhati-hati.

760- Jika kamu menginginkan kenikmatan dan ketenangan, maka hendaklah wahai alim, di tengah rumahmu, dan jadilah menyendiri dari keluargamu, kehidupanmu akan menjadi baik. Jadikan waktu untuk bertemu keluarga, jika mereka mengetahuinya, mereka akan bersiap untuk bertemu denganmu, maka pergaulan dengan demikian lebih baik.

761- Hendaklah ada tempat di rumahmu untuk menyendiri, berbicara dengan baris-baris bukumu, dan berlari di arena pemikiranmu! Berhati-hatilah dari bertemu makhluk, terutama orang awam! Bersungguh-sungguhlah dalam mencari penghasilan yang membuatmu tidak tamak! Ini adalah puncak kenikmatan alim di dunia.

762- Dikatakan kepada Ibnu Mubarak: “Mengapa kamu tidak bergaul dengan kami?” Dia menjawab: “Aku pergi bergaul dengan para sahabat dan tabiin.” Dia menunjuk dengan itu bahwa dia melihat buku-bukunya.

763- Jika seorang alim dikaruniai kecukupan dari manusia dan kemudahan; jika dia memiliki pemahaman yang melahirkan karya tulis, maka sempurnalah kenikmatannya. Jika dia dikaruniai pemahaman yang naik ke muamalah dengan Allah dan munajat kepada-Nya, maka dia telah mempercepat masuk surga sebelum mati.

Kami memohon kepada Allah himah yang tinggi yang naik ke kesempurnaan, dan taufik untuk amal saleh, karena orang-orang yang menempuh jalan kebenaran adalah sedikit.

Fasal 168: Buah-buah Ilmu

764- Aku merenungkan keadaan manusia dalam keadaan tingginya kedudukan mereka, maka aku melihat kebanyakan makhluk kerugian mereka tampak ketika itu. Di antara mereka ada yang berlebihan dalam kemaksiatan di masa muda, di antara mereka ada yang menyia-nyiakan dalam mencari ilmu, di antara mereka ada yang banyak menikmati kenikmatan-kenikmatan: semuanya menyesal dalam keadaan tua, ketika terlewatnya kesempatan memperbaiki dosa-dosa yang telah lalu, atau kekuatan yang melemah, atau keutamaan yang terlewat. Maka berlalulah masa tua dalam penyesalan; jika syaikh itu sadar dari dosa-dosa yang telah lalu, dia berkata: “Wahai celaka aku atas apa yang kuperbuat!” Jika dia tidak sadar, dia menjadi menyesal atas terlewatnya apa yang dulu dinikmatinya.

765- Adapun orang yang menghabiskan masa muda dalam ilmu; maka dia di masa tua memuji hasil apa yang ditanamnya, menikmati menyusun apa yang dikumpulkannya, dan tidak melihat apa yang hilang dari kenikmatan badan sebagai sesuatu dibandingkan dengan apa yang diperolehnya dari kenikmatan ilmu, ini dengan adanya kenikmatannya dalam menuntut yang dulu dia harapkan untuk mencapai yang dicari, dan mungkin amal-amal itu lebih indah dari apa yang diperoleh darinya, sebagaimana kata penyair:

“Aku bergembira ketika berangan-angan berjumpa dengannya karena senang Dan betapa banyak angan-angan yang lebih manis dari pencapaian”

766- Sungguh aku telah merenungkan diriku dibandingkan dengan keluargaku yang menghabiskan umur mereka dalam mencari dunia, sedangkan aku menghabiskan masa kanak-kanak dan muda dalam menuntut ilmu. Aku melihat bahwa aku tidak kehilangan dari apa yang mereka peroleh; kecuali apa yang seandainya aku peroleh, aku akan menyesalinya.

Kemudian aku merenungkan keadaanku, ternyata kehidupanku di dunia lebih baik dari kehidupan mereka, kedudukanku di antara manusia lebih tinggi dari kedudukan mereka, dan apa yang kuperoleh dari pengetahuan ilmu tidak dapat dibandingkan. Maka iblis berkata kepadaku: “Kamu lupa lelah dan begadangmu?!” Aku berkata kepadanya: “Wahai yang bodoh! Terpotongnya tangan tidak terasa ketika melihat Yusuf, dan tidak panjang jalan yang menuju kepada sahabat.

Allah membalas orang yang berjalan menuju-Nya dengan kebaikan… meskipun ia meninggalkan untanya seperti tempat air yang kosong

Bagian 767

Sungguh, ketika aku dalam manisnya menuntut ilmu, aku menghadapi kesulitan-kesulitan yang bagiku lebih manis dari madu, karena apa yang aku cari dan harapkan. Di masa muda, aku membawa roti kering bersamaku, lalu keluar untuk mencari hadis, dan duduk di tepi sungai Isa. Aku tidak mampu memakannya kecuali di dekat air. Setiap kali aku makan satu suap, aku minum setelahnya. Mata tekadku tidak melihat selain kelezatan memperoleh ilmu.

Hal itu berbuah padaku bahwa aku mengenal banyak hal dari mendengar hadis tentang perjalanan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keadaan-keadaannya, adab-adabnya, keadaan para sahabat dan tabi’innya. Maka aku menjadi mengenal jalannya seperti anak yang paling pandai.

Dan hal itu berbuah padaku dari segi mu’amalah (praktik) apa yang tidak dapat dicapai dengan ilmu semata. Sampai-sampai aku ingat di masa muda, masa remaja dan saat masih bujang, kemampuanku terhadap hal-hal yang jiwa sangat mendambakannya seperti dahaganya orang haus terhadap air jernih. Yang mencegahku darinya hanyalah buah ilmu berupa takut kepada Allah ‘azza wa jalla. Seandainya bukan karena dosa-dosa yang tidak lepas dari manusia, sungguh aku akan takut pada diriku karena ujub (bangga diri). Namun Allah ‘azza wa jalla menjagaku, mengajariku, dan memberitahuku rahasia-rahasia ilmu tentang mengenal-Nya dan lebih memilih menyendiri bersama-Nya. Hingga seandainya Ma’ruf dan Bisyr hadir bersamaku, aku akan melihat mereka sebagai gangguan.

Bagian 768

Kemudian Dia mengembalikanku dan mencelupkanku dalam kekurangan dan kelalaian, hingga aku melihat orang yang paling sedikit kebaikannya pun lebih baik dariku. Kadang Dia membangunkanku untuk shalat malam dan kelezatan bermunajat, kadang Dia menghalangiku dari itu meskipun tubuhku sehat. Seandainya bukan karena kabar gembira dari ilmu bahwa ini adalah jenis pendidikan dan pembinaan, niscaya aku akan keluar entah kepada ujub ketika beramal, atau kepada putus asa ketika menganggur. Namun harapanku kepada karunia-Nya telah menyeimbangkan rasa takutku kepada-Nya.

Bagian 769

Kadang harapan menguasai karena kuatnya sebab-sebabnya, karena aku melihat bahwa Dia telah mendidikku sejak aku masih kanak-kanak. Ayahku meninggal ketika aku belum berakal dan ibu tidak memperhatikanku. Maka Dia menanamkan dalam tabi’atku cinta kepada ilmu, dan senantiasa mengarahkanku kepada yang penting demi yang penting, dan membawaku kepada orang yang membawaku kepada yang paling benar, hingga Dia memperbaiki urusanku. Betapa banyak musuh yang bermaksud menyerangku lalu Dia menghalau mereka dariku. Ketika aku melihat bahwa Dia telah menolongku, memberiku penglihatan, membelaku, dan menganugerahiku: maka kuatlah harapanku di masa depan dengan apa yang telah kulihat di masa lalu.

Sungguh telah bertobat di tanganku dalam majelis-majelis dzikir lebih dari dua ratus ribu orang, dan masuk Islam di tanganku lebih dari dua ratus jiwa. Betapa banyak mata orang sombong yang menangis karena nasihatku padahal sebelumnya tidak pernah menangis. Dan berhak bagi orang yang melihat anugerah ini untuk mengharapkan kesempurnaan.

Bagian 770

Kadang tampak sebab-sebab ketakutan dengan melihat kekurangan dan kekeliruanku. Sungguh aku pernah duduk suatu hari dan melihat di sekelilingku lebih dari sepuluh ribu orang, tidak ada di antara mereka kecuali yang hatinya telah lembut atau matanya telah menangis. Maka aku berkata kepada diriku: “Bagaimana keadaanmu jika mereka selamat sedangkan kamu binasa?!” Maka aku berteriak dengan lisan kerinduan hatiku:

“Tuhanku dan Penguasaku! Jika Engkau takdirkan aku disiksa esok, jangan beritahu mereka tentang siksaanku, demi menjaga kemuliaan-Mu, bukan untukku, agar mereka tidak berkata: ‘Dia menyiksa orang yang menunjukkan kepada-Nya.'”

“Tuhanku! Sungguh telah dikatakan kepada Nabi-Mu shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Bunuhlah Ibnu Ubay si munafik!’ Maka beliau berkata: ‘Jangan sampai orang-orang membicarakan bahwa Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya.'” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Tuhanku! Maka jagalah kebaikan keyakinan mereka terhadap kemuliaan-Mu dengan tidak memberitahu mereka tentang siksa pemberi petunjuk kepada-Mu. Mustahil bagi-Mu wahai Tuhanku untuk mengotori yang jernih.”

Jangan patahkan ranting yang Engkau hiasi… Mustahil bagi pemberi kemurahan untuk merusaknya Jangan hauskan tanaman yang tumbuh… dengan hujan anugerah-Mu telah berbunga

Pasal 169: Keadaan Terbaik adalah Pertengahan

Bagian 771

Di antara perkara yang tersembunyi dari orang berakal adalah dia melihat bahwa ketika tidak ada padanya istri atau budak wanita yang sangat dicintainya, dia tidak menikmati dunia. Ketika dia membayangkan kekasih yang dimiliki, dia mengkhayal kelezatan yang besar. Dan ketika ada padanya orang yang tidak dia sukai, dia menganggap dirinya terampas.

Bagian 772

Ini adalah perkara yang sangat tersembunyi, maka perlu dijelaskan: yaitu bahwa yang dimiliki itu membosankan. Ketika manusia mampu mendapatkan apa yang diinginkannya, dia akan bosan dengannya dan condong kepada yang lain. Kadang karena tampaknya cacat-cacatnya yang terungkap oleh pergaulan, karena para bijak telah berkata: “Cinta membuat buta dari cacat kekasih.” Kadang karena kemampuannya atas kekasih itu, sedangkan jiwa senantiasa menginginkan apa yang tidak mampu diraihnya.

Bagian 773

Kemudian seandainya kita memperkirakan kelangsungan cinta dengan kemampuan, maka itu mungkin terjadi, tetapi kurang dengan kadar tertentu. Yang menguatkannya adalah sikap dingin kekasih, maka sikap dinginnya itu seperti penolakan, atau penolakannya untuk bersetuju. Jika dia jernih, maka tidak terhindar dari kekeruhan: di antaranya khawatir terhadapnya, di antaranya sedikitnya kecenderungannya kepada pecinta ini. Mungkin dia memaksakan kedekatan dengannya, dan orang itu tahu sedikitnya kecenderungan kekasihnya kepadanya, maka menjadi rusaklah, bahkan membenci. Jika dia takut khianat darinya, dia butuh penjagaan, maka kuatlah kerusakan.

Bagian 774

Keadaan terbaik adalah pertengahan, yaitu memilih apa yang jiwa condong kepadanya, tanpa naik ke tingkat cinta berapi-api. Karena pecinta dalam siksaan, dan hanya orang yang kosong dari cinta yang mengkhayal kelezatan pecinta, padahal tidak demikian. Karena sebagaimana dikatakan:

Tidak ada di bumi yang lebih celaka dari pecinta… meski dia dapatkan cinta berasa manis Kau lihat dia menangis setiap waktu… karena takut perpisahan atau karena rindu Dia menangis jika mereka jauh karena rindu… dan menangis jika mereka dekat karena takut perpisahan Maka panas matanya saat berdekatan… dan panas matanya saat berpisah

Pasal 170: Tingginya Cita-cita

Bagian 775

Manusia tidak pernah diuji dengan yang lebih besar dari tingginya cita-cita. Karena orang yang tinggi cita-citanya memilih kemuliaan, mungkin zaman tidak mendukungnya, dan mungkin alatnya lemah, maka dia tinggal dalam siksaan.

Dan aku diberi bagian dari tingginya cita-cita, maka aku dalam siksaan karenanya. Aku tidak berkata: “Andai itu tidak ada,” karena hidup hanya manis sesuai dengan tidak adanya akal, dan orang berakal tidak memilih tambahan kelezatan dengan kekurangan akal.

Bagian 776

Sungguh aku melihat orang-orang yang menggambarkan tingginya cita-cita mereka, maka aku perhatikan, ternyata hanya dalam satu bidang, dan mereka tidak peduli dengan kekurangan dalam hal yang lebih penting. Ar-Radhi berkata:

Setiap tubuh dalam kekurusan ada musibah… dan musibah tubuhku dari perbedaan cita-citaku

Maka aku lihat, ternyata puncak angan-angannya adalah kepemimpinan.

Bagian 777

Abu Muslim Al-Khurasani di masa mudanya hampir tidak tidur. Ditanya tentang hal itu, dia berkata: “Pikiran jernih, cita-cita jauh, jiwa yang mendambakan perkara mulia, dengan kehidupan seperti kehidupan orang awam yang bodoh!” Ditanya: “Apa yang menyejukkan dahagamu?” Dia berkata: “Meraih kekuasaan.” Ditanya: “Maka carilah!” Dia berkata: “Tidak dicari kecuali dengan bahaya.” Ditanya: “Maka hadapilah bahaya!” Dia berkata: “Akal melarang.” Ditanya: “Maka apa yang kamu lakukan?” Dia berkata: “Aku akan jadikan akalku kebodohan, dan hadapi dengannya bahaya yang tidak diraih kecuali dengan kebodohan, dan aku atur dengan akal apa yang dapat dijaga dengannya. Karena ketidakjelasan adalah saudara ketiadaan.”

Maka aku lihat keadaan si malang ini, ternyata dia telah menyia-nyiakan hal terpenting, yaitu urusan akhirat, dan berdiri mencari jabatan. Betapa banyak dia membunuh hingga meraih sebagian keinginannya dari kelezatan dunia! Kemudian dia dibunuh secara diam-diam, melupakan pengaturan akal, lalu dibunuh, dan pergi ke akhirat dalam keadaan terburuk.

Bagian 778

Al-Mutanabbi berkata:

Di antara manusia ada yang rela dengan kehidupan mudahnya… kendaraannya adalah kakinya dan pakaian kulitnya Tetapi hatiku di antara tulang rusukku… tidak ada batas yang menghentikanku dalam keinginan Dia melihat tubuhnya berpakaian tipis tanah kuburnya… maka memilih berpakaian baju besi yang memberatkannya

Aku perhatikan yang kedua ini, ternyata nafsu makannya hanya berkaitan dengan dunia saja.

Bagian 779

Aku lihat tingginya cita-citaku, maka kulihat ia mengagumkan. Yaitu aku ingin dari ilmu apa yang aku yakini tidak akan aku capai, karena aku suka meraih semua ilmu dengan berbagai bidangnya, dan aku ingin mendalami setiap bidang! Ini perkara yang umur tidak mampu sebagiannya. Jika aku temui orang bercita-cita tinggi dalam satu bidang yang telah mencapai puncaknya, aku lihat dia kurang dalam bidang lain, maka aku tidak menganggap cita-citanya sempurna. Seperti ahli hadis yang melewatkan fiqh, dan faqih yang melewatkan ilmu hadis. Maka aku tidak melihat kerelaan dengan kekurangan ilmu kecuali terjadi karena kurangnya cita-cita.

Bagian 780

Kemudian aku ingin puncak pengamalan ilmu, maka aku dambakan wara’ seperti Bisyr dan zuhud seperti Ma’ruf! Dan ini bersama dengan muthala’ah kitab-kitab, memberi manfaat kepada makhluk, dan bergaul dengan mereka – jauh.

Bagian 781

Kemudian aku ingin kaya dari makhluk, dan mengharapkan berbuat baik kepada mereka! Kesibukan dengan ilmu menghalangi dari usaha, dan menerima pemberian adalah sesuatu yang ditolak cita-cita tinggi.

Bagian 782

Kemudian aku mendambakan mencari anak, sebagaimana aku dambakan merealisasikan karya tulis, agar tinggal pengganti yang mewakili setelah mati! Dalam mencari itu ada kesibukan hati yang suka menyendiri.

Bagian 783

Kemudian aku ingin menikmati hal-hal yang baik! Dalam itu ada halangan dari segi sedikitnya harta. Kemudian seandainya tercapai, maka tercerai beraslah kesatuan cita-cita. Demikian juga aku cari untuk tubuhku apa yang memperbaikinya dari makanan dan minuman, karena dia terbiasa kemewahan dan kelembutan! Dalam sedikitnya harta ada halangan. Semua itu menghimpun antara hal-hal yang bertentangan.

Bagian 784

Maka di mana aku dengan apa yang kugambarkan tentang keadaan orang yang puncak cita-citanya adalah dunia, sedangkan aku tidak suka sesuatu dari dunia mencederai wajah agamaku karena suatu sebab, atau mempengaruhi ilmuku, atau amalku?!

Wahai gelisahku dari menuntut qiyamul lail dan merealisasikan wara’, bersama mengulangi ilmu, kesibukan hati dengan karya tulis, dan mencari apa yang cocok untuk tubuh dari makanan!

Wahai sedihku atas apa yang terlewat dariku dari munajat dalam khalwat, bersama menemui manusia dan mereka menguasai! Wahai keruhnya wara’ bersama mencari apa yang tidak bisa tidak untuk keluarga!

Bagian 785

Namun aku telah pasrah terhadap siksaanku, dan mungkin pendidikanku dalam siksaanku. Karena tingginya cita-cita menuntut kemuliaan yang mendekatkan kepada Yang Haq ‘azza wa jalla. Mungkin kebingungan dalam mencari adalah petunjuk kepada yang dituju. Dan aku menjaga nafas-nafasku agar tidak sia-sia satu nafas pun tanpa faedah. Jika cita-citaku mencapai tujuannya ya bagus, jika tidak maka “niat mukmin lebih besar dari amalnya.”

Pasal 171: Harus Ada Tipuan agar Hidup Sempurna

Bagian 786

Ketika aku tulis pasal yang lalu, aku lihat jiwa mengingatkan pada apa yang harus ada untuknya dalam perjalanan, yaitu dia harus berlaku lemah lembut. Karena orang yang memotong dua marhalah dalam satu marhalah pantas berhenti. Maka hendaknya memotong jalan dengan yang paling lembut mungkin. Jika kendaraan lelah, bangunlah penggiring yang bernyanyi untuknya. Mengambil istirahat untuk kesungguhan adalah kesungguhan. Menyelam perenang mencari mutiara adalah naik. Terus berjalan membuat unta lelah. Padang pasir itu sulit.

Bagian 787

Siapa yang ingin melihat kelembutan dengan jiwa, maka lihatlah perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya beliau berlaku lembut dengan dirinya, bergurau, bergaul dengan wanita, mencium, menghisap lidah, memilih yang baik-baik, minta dicarikan air yang enak, memilih air dingin, dan makanan yang paling cocok seperti daging punggung, lengan, dan manisan.

Bagian 788

Semua ini adalah lemah lembut dengan unta dalam perjalanan. Adapun orang yang menggunakan cambuk, maka dia hampir tidak menyelesaikan perjalanan. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Sesungguhnya agama ini kuat, maka masukilah dengan lemah lembut, karena orang yang memaksakan diri tidak memotong bumi dan tidak menjaga punggung.” (HR. Ahmad)

Bagian 789

Ketahuilah bahwa orang berakal hendaknya menipu dirinya dalam hal yang akal ungkap cacatnya. Jika pikiran orang yang terjaga mendahului sebelum menggauli wanita bahwa itu adalah memeluk tubuh yang berisi kotoran, dan sebelum menelan suapan bahwa itu berputar-putar dalam ludah, seandainya lidah mengeluarkannya pasti dimuntahkan. Dan seandainya dia pikir dekatnya maut dan apa yang terjadi setelahnya, niscaya dia benci kelezatan segeranya.

Maka harus ada tipuan yang berjalan agar manusia manfaat dari hidupnya. Sebagaimana Labid berkata:

Dustai jiwa jika dia bicara padamu… sesungguhnya kejujuran jiwa merusak harapan

Dan Al-Busti berkata:

Beri tabi’atmu yang lelah karena susah istirahat… untuk segar, dan hiburlah dengan sesuatu dari gurau Tetapi jika kamu beri itu maka hendaklah… sekadar yang diberi makanan dari garam

Dan Abu Ali bin Asy-Syibl berkata:

Jika kamu bermaksud maka ajak jiwamu dengan angan-angan… janji, maka kebaikan surga adalah janji-janji Jadikan harapanmu di bawah putus asamu penjaga… hingga hilang dengannya kesusihanmu Tutupi dari teman duduk keluhanmu sesungguhnya… teman dudukmu adalah para pendengki dan yang gembira dengan musibah Tinggalkan harapan pada kejadian sesungguhnya… bagi yang hidup sebelum mati itu mati Kesusahan tidak ada ketetapannya seperti… dalam penghuninya tidak untuk kegembiraan ketetapan Seandainya tidak menipu jiwa-jiwa akal-akalnya… tidak jernih bagi yang terjaga kehidupan

Dan dia juga berkata:

Dengan menjaga tubuh jiwa tinggal di dalamnya… tinggalnya api dijaga dengan wadah Maka dengan putus asa yang pahit jangan matikan dia… dan jangan panjangkan untuknya panjangnya harapan Janjikan dalam kesulitannya kelapangan… dan ingatkan kesulitan dalam kelapangan Kebaikannya menghitung ini dan ini… dan dengan komposisi manfaat obat

Bagian 790

Sungguh kebanyakan salaf menyemir uban, agar orang tidak melihat dari mereka apa yang dibenci. Meskipun semir tidak menghilangkan pengetahuan jiwa tentang itu, tetapi itu sejenis menipu jiwa. Jiwa-jiwa senantiasa melihat yang tampak, sesungguhnya pikiran dan akal bersama yang ghaib.

Bagian 791

Dan harus ada tipuan yang berjalan agar hidup sempurna. Seandainya yang beramal bekerja dengan tuntutan pendeknya harapan, dia tidak akan menulis ilmu dan tidak mengarang.

Bagian 792

Maka pahamilah pasal ini dengan yang mendahuluinya. Karena yang pertama dalam maqam azimah (kesungguhan), dan ini di tempat rukhshah (keringanan). Tidak bisa tidak lelah butuh istirahat dan pertolongan. Dan Allah ‘azza wa jalla bersamamu sesuai kejujuran pencarian, kekuatan berlindung, dan melepas daya dan kekuatan. Dan Dia yang memberi taufik.

Bab 172: Dalam Pengajaran Pengelolaan (Hidup)

793- Kehidupan manusia berdiri atas dua hal: panas dan kelembaban. Sifat panas adalah menguraikan kelembaban dan memusnahkannya, maka manusia membutuhkan penggantian untuk yang telah terurai.

Tubuh orang muda membutuhkan nutrisi lebih banyak dari yang terurai darinya, sedangkan tubuh yang sudah mencapai batas membutuhkan nutrisi sesuai kadar yang terurai darinya, bahkan lebih dari yang mereka konsumsi.

794- Maka sebaiknya orang muda yang baligh berhati-hati dalam pernikahan, karena hal itu membangun fondasi kekuatan yang akan dia rasakan manfaatnya di hari tua.

Adapun orang paruh baya dan yang usianya stagnan, hendaknya berhati-hati dari berlebihan dalam bersenggama. Jika dia mendapat seperti apa yang keluar darinya, maka dia berlebihan; yang wajib adalah mengambil dari yang tersedia, dan hampir saja dia akan cepat habis.

Adapun orang tua, meninggalkan pernikahan adalah keharusan baginya, terutama jika usianya sudah lanjut, karena dia mengeluarkan dari substansi yang tidak akan pernah didapat penggantinya.

795- Kemudian orang berakal hendaknya memperhatikan hartanya, mencari penghasilan lebih banyak dari yang dia belanjakan, agar kelebihannya menjadi simpanan untuk masa ketidakmampuan, dan hendaknya berhati-hati dari pemborosan, karena keadilan adalah yang paling baik.

796- Kemudian memperhatikan istri, dan yang diharapkan darinya dua hal: adanya anak dan pengelolaan rumah. Jika dia pemubazir, maka itu cacat yang tidak dapat ditoleransi. Jika ditambah sifat mandul, maka tidak ada alasan untuk mempertahankannya, kecuali jika dia berparas cantik. Jika ditambah dengan akal dan kesucian, maka baik mempertahankannya. Dan jika dia termasuk yang perlu dijaga, maka meninggalkannya adalah keharusan.

797- Adapun pelayan, hendaknya berusaha mendapatkan pelayan yang tidak diperbudak nafsu, karena budak nafsu memiliki tuan selain tuannya. Hendaknya pemilik memperhatikan tabiat budaknya. Di antara mereka ada yang tidak mau kecuali dengan kemuliaan, maka muliakanlah dia, karena dia akan mendapat cintanya. Di antara mereka ada yang tidak mau kecuali dengan penghinaan, maka bersikaplah bijak kepadanya, dan berpaling dari kesalahan-kesalahan. Jika tidak bisa, maka tegurlah dengan lemah lembut, dan berhati-hatilah dari hukuman semampu mungkin. Berilah waktu istirahat untuk budak-budak. Sungguh aneh orang yang peduli dengan kendaraannya tapi melupakan perlakuan baik terhadap budak perempuannya! Budak terbaik adalah yang masih kecil, demikian juga istri, karena mereka terbiasa dengan akhlak pembeli.

798- Hendaknya menjaga diri dengan wibawa dari penyimpangan dengan istri, dan jangan memberitahukan hartanya kepadanya, karena dia ceroboh dan suka meminta banyak pengeluaran.

799- Adapun pengelolaan anak-anak, yaitu menjaga mereka dari pergaulan yang merusak. Apabila anak itu memiliki harga diri dan malu, maka diharapkan kebaikannya. Hendaknya dibawa bergaul dengan orang-orang mulia dan ulama, dan berhati-hati dari berteman dengan orang bodoh dan ceroboh, karena tabiat itu pencuri. Hendaknya anak dijaga dari dusta dengan sangat hati-hati, dan dari bergaul dengan anak-anak lain. Wasiatilah dia untuk berbakti lebih kepada kedua orang tua, dan jagalah dari bergaul dengan wanita. Jika sudah baligh, hendaknya dinikahkan dengan gadis muda, maka keduanya akan saling menguntungkan.

800- Ini adalah isyarat untuk pengelolaan urusan dunia. Adapun pengelolaan ilmu, hendaknya anak dibawa sejak mencapai umur lima tahun untuk sibuk dengan Al-Quran, fikih, dan mendengar hadits. Hendaknya hafalan lebih banyak dari yang didengar, karena masa menghafal sampai lima belas tahun. Jika sudah baligh, perhatiannya akan terpecah. Terkadang dipukul, terkadang diberi hadiah, agar dia mencapai masa baligh dengan telah memiliki hafalan yang mulia.

801- Yang pertama hendaknya diwajibkan menghafal Al-Quran dengan sempurna, karena itu akan menetap dan bercampur dengan daging dan darah. Kemudian pendahuluan nahwu untuk mengetahui kesalahan tata bahasa, kemudian fikih secara madzhab dan khilafiyah, dan apa yang memungkinkan setelah ini dari ilmu-ilmu lain, maka menghafalnya adalah baik.

802- Hendaknya berhati-hati dari kebiasaan ahli hadits, karena mereka menghabiskan waktu mendengar bagian-bagian yang berulang di dalamnya hadits-hadits, sehingga umur berlalu dan mereka tidak memahami apapun! Jika mereka mencapai usia tertentu, mereka meminta izin fatwa atau membaca sebagian Al-Quran, maka mereka mundur ke belakang, karena mereka menghafal setelah usia tua, sehingga tidak tercapai tujuan mereka. Menghafal di masa kecil untuk hal penting dari ilmu adalah dasar yang agung.

803- Kami telah melihat banyak orang yang sibuk dengan yang didengar dan menulis bagian-bagian, dan melihat hafalan sulit, maka condong ke yang lebih mudah, sehingga umurnya berlalu dalam hal itu. Ketika dia membutuhkan dirinya, dia duduk menghafal di hari tua, tapi tidak tercapai tujuannya.

Maka terjagalah untuk memahami apa yang saya sebutkan, dan perhatikanlah keikhlasan, karena tidak ada yang bermanfaat tanpanya.

Bab 173: Segeralah di Musim Menanam

804- Mahalnya harga sangat parah di Baghdad pada awal tahun 475 H. Setiap kali jelai datang, harga semakin naik, maka orang-orang berlomba membeli makanan. Beruntunglah orang yang setiap tahun mempersiapkan tanaman untuk makanannya, dan gembiralah orang yang segera di awal kelupaan membeli makanan sebelum harganya berlipat. Orang-orang fakir mengeluarkan apa yang ada di rumah mereka dan membuangnya di pasar yang hina, dan tampak kehinaan jiwa-jiwa yang dulunya mulia.

Maka aku berkata: “Wahai jiwaku! Ambillah dari keadaan ini isyarat: Sungguh beruntunglah yang memiliki amal salih di saat membutuhkannya, dan gembiralah yang memiliki jawaban ketika pertanyaan datang. Celakalah orang yang berlebihan yang tidak memperhatikan akibatnya! Maka terjagalah, karena aku telah menyadarkan orang-orang di dunia tentang perkara akhirat! Dan segeralah di musim menanam selama roh masih di dalam badan, karena seluruh waktu adalah Tisyrin (musim tanam), sebelum masuk Nisan (musim panen) dan tidak ada tanamanmu. Kebutuhan orang-orang yang memerlukan kepada harta mereka menghalangi mereka dari mengutamakan orang lain.”

Bab 174: Mukmin Antara Takut dan Harap

805- Aku merenungkan keadaan yang membuatku gelisah, yaitu bahwa seseorang mungkin berbuat segala kebaikan kepada istrinya, tapi dia tidak mencintainya. Demikian juga dia berbuat kepada temannya, tapi temannya membencinya. Dia mungkin mendekatkan diri kepada penguasa dengan segala kemampuannya, tapi penguasa tidak mengutamakannya, maka dia tetap bingung berkata: “Apa daya upayaku?!”

Maka aku takut jangan-jangan ini keadaanku dengan Sang Pencipta Yang Maha Suci, aku mendekatkan diri kepada-Nya, tapi Dia tidak menginginkanku, dan mungkin Dia telah menetapkanku celaka sejak azali. Karena ini pula Hasan (Al-Bashri) takut, maka dia berkata: “Aku takut Dia melihat sebagian dosaku, lalu berkata: ‘Tidak akan Aku ampuni engkau.'”

Maka tidak ada kecuali kegelisahan dan ketakutan, mudah-mudahan kapal harapan selamat – di hari memasukinya pantai – dari jurang.

Bab 175: Jumlah Hadits Rasulullah

806- Terjadi antara aku dan salah seorang ahli hadits pembicaraan tentang perkataan Imam Ahmad: “Yang sahih dari hadits Rasulullah ﷺ adalah tujuh ratus ribu hadits.” Maka aku berkata kepadanya: “Yang dimaksud adalah jalur-jalurnya.” Dia berkata: “Tidak, tapi matan-matannya!” Aku berkata: “Ini sulit dibayangkan.”

807- Kemudian aku melihat perkataan Abu Abdullah Al-Hakim yang mendukung apa yang dikatakan orang itu, yaitu dia berkata dalam kitab “Al-Madkhal ila Kitab Al-Iklil”: “Bagaimana boleh dikatakan bahwa hadits Rasulullah ﷺ tidak mencapai sepuluh ribu hadits, padahal yang meriwayatkan darinya dari sahabat-sahabatnya empat ribu orang laki-laki dan perempuan, mereka menyertainya lebih dari dua puluh tahun di Makkah, kemudian di Madinah, menghafal perkataan-perkataannya, perbuatan-perbuatannya, tidur dan terjaganya, gerakan-gerakannya, dan lain-lain, selain apa yang mereka hafal dari hukum-hukum syariat?!”

Dia berdalil dengan perkataan Ahmad: “Yang sahih dari hadits Rasulullah ﷺ adalah tujuh ratus ribu hadits lebih,” dan bahwa Ishaq bin Rahawayh biasa mendiktekan tujuh puluh ribu hadits dari hafalan, dan bahwa Abu Al-Abbas bin Uqdah berkata: “Aku hafal untuk Ahlul Bait tiga ratus ribu hadits.” Ibnu Uqdah berkata: “Dan muncul untuk Ibnu Kuraib di Kufah tiga ratus ribu hadits.”

Aku katakan: Tidak pantas menunjuk dengan ini kepada matan-matan.

Sungguh aneh bagaimana ini samar bagi Al-Hakim, padahal dia tahu bahwa musnad yang paling lengkap yang tampak adalah Musnad Ahmad bin Hanbal, dan dia telah mengelilingi dunia dua kali hingga mengumpulkannya, yaitu empat puluh ribu hadits, di antaranya sepuluh ribu yang berulang.

808- Hanbal bin Ishaq berkata: “Ahmad bin Hanbal mengumpulkan kami – aku, Shalih, dan Abdullah – dan membacakan kepada kami ‘Al-Musnad’, lalu berkata kepada kami: ‘Ini kitab yang aku kumpulkan dari lebih tujuh ratus lima puluh ribu, maka apa yang diperselisihkan kaum muslimin darinya tentang hadits Rasulullah ﷺ, kembalikanlah kepadanya. Jika kalian menemukannya, (maka itu hujjah), dan jika tidak, maka bukan hujjah.'”

Apakah menurutmu samar bagi orang yang terjaga bahwa yang dimaksudnya dengan mengumpulkannya dari tujuh ratus ribu adalah jalur-jalurnya?! Karena tujuh ratus ribu itu jika merupakan perkataan Rasulullah ﷺ, bagaimana dia mengabaikannya?!

809- Jika dikatakan: “Dia telah mengeluarkan dalam musnadnya hal-hal yang lemah,” maka aku berlindung kepada Allah bahwa tujuh ratus ribu itu yang terbukti darinya hanya tiga puluh ribu! Bagaimana kumpulan ini hilang?! Mengapa diabaikan, padahal semuanya sampai ke zaman Ahmad, lalu dia memilih darinya dan membuang sisanya?! Ahli hadits telah menulis segala sesuatu dari yang palsu dan dusta.

810- Demikian juga Abu Dawud berkata: “Aku mengumpulkan kitab ‘As-Sunan’ dari enam ratus ribu hadits.”

811- Tidak pantas dikatakan bahwa sahabat yang meriwayatkannya mati dan tidak menceritakannya kepada tabi’in, karena perkara itu telah sampai kepada Ahmad, lalu dia menghitung tujuh ratus ribu hadits, dan perkara itu tidak akan hilang begitu cepat!

Diketahui bahwa seandainya dikumpulkan yang sahih, yang mustahil yang palsu, dan setiap yang dinukil dari Rasulullah ﷺ, tidak akan mencapai lima puluh ribu! Mana sisanya?!

812- Tidak boleh dikatakan: “Hadits-hadits itu perkataan tabi’in,” karena para fuqaha telah menukil madzhab kaum itu, mencatatnya, dan mengambilnya, dan tidak ada alasan untuk meninggalkannya!

813- Maka pahamlah setiap yang berakal bahwa yang dimaksud adalah jalur-jalur, dan bahwa apa yang disangka Al-Hakim itu rusak. Seandainya bantahan ini diajukan kepadanya dan dikatakan kepadanya: “Mana sisanya?!” dia tidak akan punya jawaban. Tapi pemahaman itu langka, dan Allah Pemberi nikmat dengan taufik.

814- Seperti ini juga kelengahan kaum yang berkata: “Bahwa Al-Bukhari tidak mengeluarkan semua yang sahih menurutnya, dan bahwa apa yang dia keluarkan seperti contoh; kalau tidak, akan menjadi panjang.” Abu Bakar Al-Isma’ili telah condong ke arah ini, dan dia meriwayatkan dari Al-Bukhari bahwa dia berkata: “Yang aku tinggalkan dari yang sahih lebih banyak; yang dimaksud adalah jalur-jalur.”

Yang menunjukkan apa yang aku katakan adalah bahwa Ad-Daruquthni – dan dia pemimpin para hafizh – mengumpulkan apa yang wajib dikeluarkan Al-Bukhari dan Muslim, “maka sampailah” apa yang tidak mereka sebutkan berupa hadits-hadits yang sedikit. Seandainya seperti yang mereka katakan, dia akan mengeluarkan jilid-jilid. Kemudian perkataannya: “Apa yang wajib bagi Al-Bukhari”: dalil tegas apa yang aku katakan, karena yang mengeluarkan contoh, tidak wajib baginya sesuatu.

815- Demikian juga Abu Abdullah Al-Hakim mengeluarkan kitab yang dia kumpulkan di dalamnya apa yang wajib dikeluarkan Al-Bukhari, lalu dia menyebutkan hadits burung, maka sang hafizh tidak memperhatikan apa yang dia katakan.

Betapa sedikitnya pemahaman orang-orang ini yang disibukkan oleh nukilan hadits dari penelitian teliti, yang tidak wajib dalam keshahihan hadits; hal itu terjadi karena sedikitnya fikih dan pemahaman.

816- Sesungguhnya Al-Bukhari dan Muslim meninggalkan hadits-hadits orang-orang terpercaya karena mereka diselisihkan dalam hadits, maka kebanyakan orang mengurangi dari hadits dan menambah. Seandainya ada fikih, mereka akan tahu bahwa tambahan dari orang terpercaya diterima! Mereka meninggalkan hadits-hadits orang-orang karena mereka menyendiri dalam periwayatan dari seseorang, padahal diketahui bahwa menyendirinya orang terpercaya tidak cacat! Mereka meninggalkan dari itu yang gharib (jarang). Semua itu buruknya pemahaman. Karena itulah para fuqaha tidak mewajibkan ini, dan berkata: “Tambahan dari orang terpercaya diterima,” dan tidak diterima kritik hingga dijelaskan sebabnya.

817- Setiap yang tidak bergaul dengan para fuqaha dan bersungguh-sungguh dengan para muhaddits, dia tersakiti dan buruk pemahamannya!! Maka segala puji bagi Allah yang memberi nikmat kepada kami dengan kedua keadaan.

Bab 176: Bahasa adalah Logika Arab

818- Ketahuilah bahwa Allah Azza wa Jalla meletakkan dalam jiwa-jiwa hal-hal yang tidak membutuhkan dalil, maka jiwa-jiwa mengetahuinya secara darurat, dan kebanyakan makhluk tidak pandai mengungkapkannya. Sesungguhnya Dia meletakkan dalam jiwa-jiwa bahwa yang dibuat pasti ada yang membuatnya, bahwa yang dibangun pasti ada yang membangunnya, bahwa dua lebih banyak dari satu, dan bahwa satu jasad tidak bisa berada di dua tempat dalam satu keadaan. Hal-hal seperti ini tidak membutuhkan dalil.

819- Dan Dia mengilhami orang Arab berbicara dengan benar tanpa kesalahan tata bahasa, maka mereka membedakan antara yang marfu’ dan yang manshub dengan tanda-tanda dalam fitrah mereka, meskipun mereka tidak mampu mengucapkan alasannya.

820- Utsman bin Jinni berkata: “Suatu hari aku bertanya kepada Abu Abdullah Muhammad bin Assaf Al-Uqaili, aku berkata kepadanya: ‘Bagaimana kamu berkata: Dharabtu akhuka (aku memukul saudaramu)?’ Dia berkata: ‘Aku berkata: Dharabtu akhaka.’ Aku putar dia pada rafa’, maka dia menolak dan berkata: ‘Aku tidak akan pernah berkata akhuka!’ Aku berkata: ‘Bagaimana kamu berkata: Dharabani akhuka (saudaramu memukulku)?’ Maka dia me-rafa’-kan. Aku berkata: ‘Bukankah kamu mengklaim tidak akan pernah berkata akhuka?’ Dia berkata: ‘Apa ini?! Arah pembicaraannya berbeda!’ Ini adalah bukti paling jelas atas perenungan mereka terhadap tempat-tempat kalimat, dan pemberian mereka kepadanya di setiap tempat haknya, dan bahwa itu bukan mengalir begitu saja atau tidak peduli.”

821- Utsman berkata: “Bahasa itu adalah suara-suara yang setiap kaum ungkapkan untuk tujuan mereka, dan nahwu adalah mengikuti arah pembicaraan Arab dalam perubahannya, dari i’rab dan lainnya, seperti tatsniyah, jam’, tahqir, taksir, dan lain-lain, agar yang bukan dari ahli bahasa menyamai ahlinya.”

Bab yang Bermanfaat 177: Orang Berakal Memperhatikan Akibat, dan Orang Lalai Tidak Melihat Kecuali yang Hadir

822- Aku merenungkan keadaan orang-orang baik dan jahat, maka aku melihat sebab kebaikan orang baik adalah memperhatikan, dan sebab kerusakan orang jahat adalah mengabaikan perhatian. Yaitu bahwa orang berakal memperhatikan, maka dia tahu bahwa yang dibuat pasti ada pembuatnya, dan bahwa taat kepada-Nya adalah wajib. Dia merenungkan mukjizat-mukjizat Rasulullah ﷺ, maka dia menyerahkan kendali kepada syariat. Kemudian dia memperhatikan apa yang mendekatkannya kepada-Nya dan mengangkatnya di sisi-Nya. Jika berat baginya mengulang ilmu, dia merenungkan buahnya, maka itu menjadi mudah. Jika sulit baginya qiyamul lail, demikian juga. Jika dia melihat sesuatu yang diinginkan, dia merenungkan akibatnya, maka dia tahu bahwa kenikmatan akan fana, sedangkan aib dan dosa akan tetap, maka mudah baginya meninggalkannya. Jika dia ingin membalas orang yang mengganggunya, dia ingat pahala sabar dan penyesalan orang yang marah atas perbuatannya saat marah. Kemudian dia terus merenungkan cepatnya berlalunya umur, maka dia memanfaatkannya dengan mencapai keutamaan terbaik, sehingga dia meraih keinginannya.

823- Adapun orang lalai, dia tidak melihat kecuali hal yang hadir. Di antara mereka ada yang tidak merenungkan makna yang dibuat dan penetapan pembuat, maka mereka mengingkari dan meninggalkan perhatian, mengingkari rasul-rasul dan apa yang mereka bawa, memperhatikan yang segera dan tidak memikirkan awal dan akhirnya. Tidak ada pada mereka dari mengenal makanan kecuali makan. Seandainya mereka merenungkan bagaimana diciptakan dan untuk apa dijadikan penjaga badan-badan, mereka akan mengetahui hakikat perkara! Demikian juga setiap syahwat yang muncul bagi mereka, mereka tidak memperhatikan akibatnya, tapi kenikmatan segeranya. Betapa banyak yang telah menjerumuskan mereka, berupa terkena hukuman, putusnya tangan, dan aib! Menyegerakan kenikmatan melewatkan keutamaan dan menghasilkan kehinaan, dan sebabnya adalah tidak memperhatikan akibat. Ini kesibukan orang lalai dan yang tercela itu kesibukan hawa nafsu. Kami memohon kepada Allah Azza wa Jalla keterbangungan yang menunjukkan kepada kami akibat-akibat dan menyingkap bagi kami keutamaan dan cacat, sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas hal itu.

Bab 178: Angan-angan Lebih Besar dari Ajal

824- Aku diciptakan dengan cita-cita yang tinggi yang menuntut pencapaian tujuan-tujuan besar, namun umur telah berlalu dan aku belum mencapai apa yang kuharapkan! Maka aku mulai memohon perpanjangan umur, penguatan badan, dan tercapainya angan-angan. Lalu kebiasaan mengingkariku dan berkata: “Kebiasaan tidak pernah berlaku sesuai dengan yang kau minta.” Maka aku berkata: “Sesungguhnya aku meminta kepada Yang Mahakuasa yang dapat menembus kebiasaan-kebiasaan.” Dan telah dikatakan kepada seseorang: “Kami punya hajat kecil.” Maka dia berkata: “Carilah orang kecil untuk hajat itu.” Dan dikatakan kepada yang lain: “Kami datang kepadamu untuk suatu hajat yang tidak akan merugikanmu.” Maka dia berkata: “Mengapa kalian tidak mencari orang-orang rendahan untuk hajat itu!” Jika orang-orang yang memiliki harga diri dari kalangan penguasa dunia berkata demikian, mengapa kita tidak berharap pada karunia Yang Mulia Mahakuasa?!

Dan aku telah memohon doa ini pada bulan Rabiul Akhir tahun 575 H. Jika ajalku diperpanjang dan aku mencapai apa yang kuharapkan, maka aku akan memindahkan bab ini ke bagian selanjutnya, memperbaikinya, dan memberitahu tentang tercapainya angan-anganku. Namun jika hal itu tidak terjadi, maka Tuhanku lebih mengetahui kemaslahatan, karena Dia tidak menahan karena kikir, dan tidak ada daya kecuali dengan-Nya.

Bab 179: Betapa Sedikitnya yang Beramal untuk Allah Secara Ikhlas!

825- Betapa sedikitnya yang beramal untuk Allah Ta’ala secara ikhlas! Karena kebanyakan manusia suka memamerkan ibadah-ibadah mereka. Sufyan ats-Tsauri berkata: “Aku tidak menghitung amal yang terlihat dari diriku!” Dan mereka (para salaf) menyembunyikan diri mereka, sedangkan hari ini pakaian orang-orang justru menyohorkan mereka! Ayyub as-Sakhtiyani dulu memanjangkan kemejanya sampai menutupi kakinya, dan berkata: “Dulu ketenaran ada pada memanjangkan (pakaian), sekarang ketenaran ada pada memendekkannya.”

826- Ketahuilah bahwa meninggalkan memandang makhluk, menghapus kedudukan dari hati mereka dengan beramal, mengikhlaskan niat, dan menyembunyikan keadaan: itulah yang mengangkat orang-orang yang terangkat. Ahmad bin Hanbal pada suatu masa berjalan tanpa alas kaki dan membawa sandalnya di tangannya, keluar untuk memungut (barang bekas). Bisyr berjalan tanpa alas kaki terus menerus sendirian, dan Ma’ruf memungut biji kurma.

827- Hari ini kepemimpinan menjadi lebih penting dari segala kebutuhan, dan kepemimpinan tidak akan mengakar sampai kelalaian mengakar di hati, melihat makhluk, dan melupakan Hak (Allah), maka saat itulah dicari kepemimpinan atas ahli dunia.

828- Sungguh aku melihat keanehan dari manusia, bahkan dari yang berpakaian ilmu: jika mereka melihatku berjalan sendirian, mereka mengingkariku, dan jika mereka melihatku mengunjungi orang fakir, mereka membesarkan hal itu, dan jika mereka melihatku bersikap ramah dengan tersenyum, aku menjadi kecil di mata mereka. Maka aku berkata: “Sungguh aneh! Ini adalah cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum, namun keadaan makhluk menjadi hukum untuk menegakkan kedudukan. Tidak heran demi Allah kalian jatuh dari pandangan Yang Haq, maka Dia menjatuhkan kalian dari pandangan makhluk.”

829- Betapa banyak orang yang bersusah payah memelihara hukum (kedudukan), namun tidak diperhatikan dan tidak mendapat yang diinginkan, serta kehilangan keinginan yang lebih besar.

Maka berpalinglah wahai saudara-saudaraku untuk memperbaiki niat, dan meninggalkan berhias untuk makhluk! Hendaklah sandaran kalian adalah istiqamah dengan Yang Haq, karena dengan itu para salaf naik dan bahagia. Jauhilah apa yang ada pada manusia hari ini, karena dibandingkan dengan kewaspadaan para salaf, itu adalah tidur.

Bab 180: Beramallah, Karena Setiap Orang Dimudahkan untuk Apa yang Diciptakan untuknya

830- Demi Allah, didikan orang tua tidak bermanfaat jika tidak didahului oleh pilihan Sang Pencipta untuk anak itu! Karena Allah Subhanahu jika menghendaki seseorang, Dia mendidiknya sejak kecil, membimbingnya kepada kebenaran, menunjukkannya kepada petunjuk, membuat dia mencintai apa yang baik, menemaninya dengan orang yang baik, membuat dia membenci yang sebaliknya, memburukkan di pandangannya hal-hal yang rendah, melindunginya dari keburukan, dan mengambil tangannya setiap kali tersandung.

831- Dan jika Allah membenci seseorang, Dia membiarkannya selalu tersandung, terombang-ambing dalam setiap keadaan, tidak menciptakan untuknya semangat untuk mencari kemuliaan, menyibukkannya dengan kehinaan dari keutamaan. Dan jika dia berkata: “Mengapa aku dikhususkan dengan ini?!” Maka dijawab dengan jawaban yang tidak dapat dibantah: “Maka disebabkan apa yang telah diperbuat oleh tangan-tangan kalian” (QS. asy-Syura: 30).

Bab 181: Dan pada Diri Kalian Sendiri, Apakah Kalian Tidak Memperhatikan?

832- Di antara dalil terbesar tentang wujud Sang Pencipta Subhanahu adalah jiwa yang berbicara dan membedakan ini, yang menggerakkan badan sesuai kehendaknya, yang mengatur kemaslahatan-kemaslahatan, naik untuk mengenal benda-benda langit, memperoleh ilmu-ilmu yang mungkin diperoleh, menyaksikan Sang Pembuat dalam ciptaan-Nya, tidak terhalangi oleh tabir meskipun tebal! Namun dengan semua itu, tidak diketahui hakikatnya, keadaannya, substansinya, tempatnya, tidak dipahami dari mana datangnya, tidak diketahui ke mana perginya, dan bagaimana terkaitnya dengan jasad ini.

Semua ini mewajibkan atasnya bahwa ia memiliki pengatur dan pencipta, dan cukuplah itu sebagai dalil atas-Nya; karena seandainya ia ada dengan sendirinya, tentu keadaan-keadaannya tidak tersembunyi darinya. Maha Suci Dia, Maha Suci.

Bab 182: Ulama adalah Penjaga Syariat

833- Maha Suci Dia yang menganugerahkan kepada makhluk para ulama fuqaha yang memahami maksud perintah dan kehendak Pembuat Syariat, mereka adalah penjaga syariat, maka Allah memberikan balasan terbaik kepada mereka.

834- Sesungguhnya setan menjauh dari mereka karena takut, karena mereka mampu menyakitinya, sedangkan dia tidak mampu menyakiti mereka.

Sungguh setan telah mempermainkan ahli kebodohan dan yang sedikit pemahamannya, dan di antara permainan paling menakjubkannya adalah dia membaik-baikkan kepada suatu kaum untuk meninggalkan ilmu, kemudian mereka tidak puas dengan ini sampai mereka mencela orang-orang yang sibuk dengannya. Ini -jika mereka memahaminya- adalah mencela syariat; karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sampaikanlah dariku,” dan Rabbnya ‘azza wa jalla telah berfirman kepadanya: “Sampaikanlah” (QS. al-Maidah: 67). Jika tidak sibuk dengan ilmu, bagaimana menyampaikan syariat kepada makhluk?!

835- Sungguh telah dinukil hal seperti ini dari para zahid besar, seperti Bisyr al-Hafi! Dia berkata kepada Abbas bin Abdul Azhim: “Jangan bergaul dengan ahli hadits.” Dan berkata kepada Ishaq bin adh-Dhaif: “Kamu ahli hadits, maka aku suka kamu tidak kembali kepadaku.” Kemudian dia meminta maaf dan berkata: “Sesungguhnya hadits adalah fitnah kecuali bagi yang dikehendaki Allah dengannya, dan jika tidak diamalkan, maka meninggalkannya lebih baik.”

Ini aneh darinya! Dari mana dia tahu bahwa murid-muridnya tidak menginginkan Allah dengannya, dan bahwa mereka tidak mengamalkannya?! Bukankah mengamalkannya ada dua macam: mengamalkan yang wajib, dan itu tidak boleh ditinggalkan siapa pun. Yang kedua: sunnah, dan tidak wajib, dan sibuk dengan hadits lebih baik daripada bersunnah dengan puasa dan shalat. Dan aku tidak mengira dia menginginkan kecuali jalan dalam kelaparan terus menerus dan tahajud, dan itu sesuatu yang tidak dicela orang yang meninggalkannya.

Jika dia menginginkan agar tidak mendalami ilmu-ilmu hadits, ini adalah kesalahan; karena semua bagiannya terpuji. Bagaimana menurutmu jika manusia meninggalkan mencari hadits, apakah Bisyr akan berfatwa?! Maka demi Allah, perhatikanlah ucapan orang yang bukan faqih, dan jangan takut dengan pengagungan namanya, semoga Allah memaafkannya.

Bab 183: Orang Berakal adalah yang Menjaga Sisi Allah ‘Azza wa Jalla

836- Orang berakal adalah yang menjaga sisi Allah ‘azza wa jalla, meskipun makhluk marah. Dan setiap orang yang menjaga sisi makhluk dan menyia-nyiakan hak Sang Pencipta, Allah akan membalik hati orang yang dimaksudkan untuk diridhai, sehingga dia murka kepadanya.

837- Al-Ma’mun berkata kepada sebagian sahabatnya: “Jangan bermaksiat kepada Allah dengan mentaatiku, sehingga Dia menguasakan aku atasmu.”

838- Dan ketika Thahir bin al-Husain berlebihan dalam apa yang dilakukannya kepada al-Amin, membunuhnya dengan licik, dan menyalib kepalanya, meskipun itu atas kehendak al-Ma’mun; namun bekas perbuatan itu tetap di hatinya, sehingga al-Ma’mun tidak sanggup melihatnya.

Suatu hari dia masuk kepada al-Ma’mun, lalu al-Ma’mun menangis. Thahir berkata kepadanya: “Mengapa engkau menangis -semoga Allah tidak membuat matamu menangis- bukankah negeri-negeri telah tunduk kepadamu?” Al-Ma’mun berkata: “Aku menangis karena suatu perkara yang menyebutkannya adalah kehinaan, dan rahasianya adalah kesedihan, dan tidak ada seorang pun yang bebas dari duka.” Ketika Thahir keluar, dia mengirim kepada Husain al-Khadim dua ratus ribu dirham, dan memintanya untuk bertanya kepada al-Ma’mun: mengapa dia menangis?

Ketika al-Ma’mun makan siang, dia berkata: “Wahai Husain! Beri aku minum.” Husain berkata: “Tidak, demi Allah, aku tidak akan memberimu minum sampai engkau katakan mengapa engkau menangis ketika Thahir masuk kepadamu?” Al-Ma’mun berkata: “Wahai Husain! Bagaimana kamu peduli dengan ini sampai bertanya tentangnya?” Husain berkata: “Karena kegelisahanku tentang itu.” Al-Ma’mun berkata: “Wahai Husain! Ini perkara: jika keluar dari kepalamu, aku akan membunuhmu.”

Husain berkata: “Wahai tuanku! Kapan aku mengeluarkan rahasiamu?” Al-Ma’mun berkata: “Sesungguhnya aku teringat saudaraku Muhammad (al-Amin), dan kehinaan yang menimpanya, maka tangis mencekikku, lalu aku merasa lega dengan mengalirkannya, dan Thahir tidak akan luput dariku apa yang dia benci.”

Husain memberitahu Thahir tentang hal itu, maka Thahir pergi menemui Ahmad bin Abi Khalid dan berkata kepadanya: “Sesungguhnya kebaikan di sisiku bukan barang dagangan, maka sembunyikan aku dari pandangannya.” Ahmad berkata: “Akan aku lakukan.” Lalu dia masuk menemui al-Ma’mun dan berkata: “Aku tidak tidur tadi malam.” Al-Ma’mun bertanya: “Mengapa?” Ahmad berkata: “Karena engkau mengangkat Ghassan bin Abbad untuk Khurasan, sedangkan dia dan orang-orang bersamanya adalah pemakan kepala, maka aku takut jika ada pemberontak dari bangsa Turki muncul, dia akan dihancurkan.” Al-Ma’mun bertanya: “Siapa menurutmu?” Ahmad berkata: “Thahir bin al-Husain.” Maka al-Ma’mun memberikan surat pengangkatan kepadanya, lalu dia pergi. Dia tinggal beberapa lama, kemudian memutus doa untuk al-Ma’mun di mimbar pada hari Jumat. Petugas pos berkata kepadanya: “Kamu tidak berdoa untuk Amirul Mukminin.” Thahir berkata: “Lupa, jangan tulis!” Dia melakukan hal itu pada Jumat kedua dan ketiga, maka petugas itu berkata kepadanya: “Aku harus menulis, jangan sampai para pedagang menulis dan mendahuluiku.” Thahir berkata: “Tulis.” Maka dia menulis. Al-Ma’mun memanggil Ahmad bin Abi Khalid dan berkata: “Tidak luput dariku tipu dayamu dalam perkara Thahir, dan aku berjanji kepada Allah, jika kamu tidak berangkat sampai membawanya kepadaku sebagaimana kamu mengeluarkannya dari genggamanku, pasti kamu akan menyesal akibatnya.” Maka Ahmad berangkat, dan dia terus berlambat-lambat di jalan dan berpura-pura sakit, sampai dia tiba di ar-Rayy setelah sampai kepadanya berita wafatnya Thahir.

839- Aku berkata: Dan ketika ar-Rasyid keluar dari Baghdad, dan mereka ingin mengangkat al-Muqtafi, sekelompok saksi bersaksi bahwa ar-Rasyid tidak layak untuk khilafah, maka mereka menurunkannya dan mengangkat al-Muqtafi. Sampai kepadaku bahwa disebutkan kepada al-Muqtafi beberapa saksi, maka dia mencela mereka dan berkata: “Mereka termasuk yang membantu melawan Abu Ja’far (ar-Rasyid).”

840- Sebaliknya, setiap orang yang memelihara sisi kebenaran dan kebenaran, akan diridhai oleh orang yang murka kepadanya.

841- Sungguh Wazir Ibnu Hubairah menceritakan kepadaku bahwa al-Mustanjid billah menulis surat kepadanya ketika dia masih menjadi putra mahkota, dan ingin menyembunyikannya dari ayahnya. Ibnu Hubairah berkata: “Maka aku berkata kepada pembawa surat: ‘Demi Allah, aku tidak bisa membacanya dan tidak bisa menjawabnya.'” Ketika al-Mustanjid menjadi khalifah, aku masuk menemuinya, lalu aku berkata: “Dalil terbesar atas kejujuran dan keikhlasanku adalah bahwa aku tidak memihakim dalam perkara ayahmu.” Maka dia berkata: “Benar, kamu adalah wazir.”

842- Sebagian teman menceritakan kepadaku bahwa suatu kaum melaporkan kepada bendahara sebagian utang mereka untuk ditagih, maka al-Mustersyid berkata kepada kepala bendahara: “Tagih untuk mereka, dan ambil apa yang mereka jamin untuk kita!” Lalu dia menghadirkan Ibnu ar-Rutbi, dan mengemukakan perkara itu kepadanya. Ibnu ar-Rutbi berkata: “Ini perintah kezaliman, dan aku tidak akan memutuskan di dalamnya.” Kepala bendahara berkata: “Sesungguhnya Sultan telah memerintahkan.” Ibnu ar-Rutbi berkata: “Aku tidak akan melakukan.”

Lalu dia menghadirkan qadhi yang lain, maka dia memutuskan hukum. Khalifah diberitahu tentang keadaan itu, maka dia berkata: “Adapun Ibnu ar-Rutbi, dia patut disyukuri atas apa yang dikatakannya, adapun yang lain, dia dipecat,” karena telah jelas baginya bahwa kebenaran adalah apa yang dikatakan Ibnu ar-Rutbi.

843- Demikian juga yang diminta Sultan agar dijuluki Malik al-Muluk (Raja para Raja), maka dia meminta fatwa kepada para fuqaha, mereka membolehkannya, namun al-Mawardi menolak membolehkannya, maka kedudukannya menjadi agung di hadapan Sultan. Contoh seperti ini jika ditelusuri banyak.

844- Maka hendaklah baik niat untuk taat kepada Sang Pencipta, meskipun makhluk murka; karena dia akan kembali dengan hina, dan jangan murka kepada Sang Pencipta, karena Dia akan memurkai makhluk, sehingga kedua keuntungan itu hilang.

Bab 184: Asal-usul dan Rupa

845- Hendaklah orang berakal memperhatikan asal-usul orang yang dia gauli, bergaul, bekerjasama, berteman, menikahkan, atau menikah dengannya, kemudian setelah itu memperhatikan rupa; karena kebaikannya menunjukkan kebaikan batin.

846- Adapun asal-usul, maka segala sesuatu kembali kepada asalnya, dan jauh bagi orang yang tidak punya asal untuk memiliki sifat yang baik. Sesungguhnya wanita cantik jika dari keluarga buruk, jarang yang terjaga. Demikian juga orang yang bergaul, teman, mitra dagang, dan yang bergaul.

Maka jangan bergaul kecuali dengan orang yang punya asal yang takut ternoda, maka umumnya akan selamat, dan jika terjadi selain itu, itu jarang.

847- Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu ‘anhu berkata kepada seseorang: “Berilah saran kepadaku tentang siapa yang akan kuangkat.” Orang itu berkata: “Adapun ahli agama, mereka tidak menginginkanmu, adapun ahli dunia, kamu tidak menginginkan mereka; tetapi ambillah para bangsawan, karena mereka menjaga kemuliaan mereka dari apa yang tidak baik.”

848- Abu Bakr as-Shuli meriwayatkan, dia berkata: Al-Husain bin Yahya menceritakan kepadaku, dari Abu Ishaq, dia berkata: Al-Mu’tashim memanggilku suatu hari, lalu memasukkanku bersamanya ke pemandian, kemudian keluar, menyendiri denganku, dan berkata: “Wahai Abu Ishaq! Di hatiku ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepadamu: Sesungguhnya saudaraku al-Ma’mun mengangkat suatu kaum lalu mereka berhasil, dan aku memilih seperti mereka namun mereka tidak berhasil?” Aku bertanya: “Siapa mereka?” Dia berkata: “Dia mengangkat Thahir dan Banah, Ishaq dan keluarga Sahl, kamu telah melihat bagaimana mereka: dan aku mengangkat al-Afsyin, kamu telah melihat apa yang terjadi padanya, dan Asynas, aku tidak mendapatinya berbuat apa-apa, demikian Itakh dan Washif.” Aku berkata: “Wahai Amirul Mukminin! Di sini ada jawaban, adakah jaminan keamanan dari kemarahan?” Dia berkata: “Kamu mendapatkannya.” Aku berkata: “Saudaramu melihat asal-usul lalu mengangkatnya, maka cabang-cabangnya berhasil, sedangkan kamu mengangkat cabang-cabang yang tidak punya asal, maka tidak berhasil!” Maka dia berkata: “Wahai Abu Ishaq! Menanggung apa yang telah kulalui selama ini lebih ringan bagiku daripada jawaban ini.”

849- Adapun rupa, maka jika struktur tubuh sehat dan tidak ada cacat di dalamnya, umumnya batin sehat dan akhlak baik, dan jika ada cacat di dalamnya, maka cacat juga ada di batin, maka berhati-hatilah dengan orang yang punya cacat, seperti yang botak dan buta dan lainnya, karena batin mereka umumnya buruk.

850- Kemudian dengan mengetahui asal-usul orang yang bergaul, dan kesempurnaan rupanya, harus ada pengalaman sebelum bergaul, dan menggunakan kehati-hatian adalah wajib, meskipun dia seperti yang seharusnya.

185- Bab: Meraih Keinginan Tidak Dapat Dicapai Kecuali dengan Strategi

851- Seorang yang berakal seharusnya memusatkan perhatiannya untuk melihat akibat-akibat dan berhati-hati terhadap apa yang mungkin terjadi. Termasuk kesalahan adalah hanya melihat keadaan saat ini yang sesuai dengan kehidupannya, kesehatan badannya, padahal bisa jadi keadaan itu tidak akan berlangsung terus. Maka hendaknya ia bekerja dengan mengantisipasi terputusnya keadaan tersebut, sehingga ia siap menghadapi perubahan keadaan.

Demikian pula dengan melihat kenikmatan yang akan hilang namun meninggalkan akibat buruk dan aibnya, serta memilih kemalasan dan kenyamanan yang akan diikuti oleh kebodohan yang terus menerus.

852- Demikian pula meraih keinginan yang tidak dapat diperoleh kecuali dengan kelembutan dalam berstrategI, terutama jika diinginkan dari orang yang cerdas, karena ia akan memahami dengan sedikit isyarat saja. Barangsiapa ingin mengalahkan orang cerdas, hendaknya ia mendalami pengamatan dan berlembut dalam berstrategI.

853- Telah disebutkan dalam kitab-kitab strategi hal-hal yang dapat menajamkan pikiran, dan kami telah mengambil sebagiannya dalam kitab Al-Adzkiya (Orang-orang Cerdas). Seperti yang diriwayatkan bahwa seorang dari kalangan bangsawan tidak pernah berdiri untuk siapa pun dan tidak takut kepada siapa pun. Ketika seorang menteri lewat dan memberi salam kepadanya, ia tidak membalas dan tidak berdiri. Maka menteri itu berkata kepada seseorang: “Beritahu si fulan bahwa aku telah berbicara dengan Amirul Mukminin tentang haknya, dan ia telah memerintahkan untuknya seratus ribu, maka hendaknya ia datang untuk mengambilnya.” Orang itu memberitahukan hal tersebut kepadanya, maka bangsawan itu berkata: “Jika ia telah memerintahkan sesuatu untukku, maka kirimkanlah kepadaku. Maksudnya hanya ingin merendahkan aku dengan membuatku bolak-balik kepadanya.”

854- Ketika seseorang berhadapan dengan orang cerdas, hendaknya ia berhati-hati darinya dan mencuri tujuan-tujuannya dengan berbagai macam strategi, serta melihat apa yang mungkin terjadi untuk berjaga-jaga darinya, sebagaimana pemain catur melihat berbagai perpindahan.

855- Banyak orang cerdas yang tidak mampu mencapai tujuan mereka dari orang cerdas lainnya, maka mereka memberinya hadiah dan berlebih-lebihan dalam menghormatinya untuk menjeratnya. Jika ia kurang cerdas, ia akan terjebak dalam perangkap. Namun jika ia lebih cerdas dari mereka, ia akan tahu bahwa di balik kebaikan ini ada sesuatu yang tersembunyi, sehingga hal itu menambah kewaspadaannya.

856- Yang paling penting untuk diwaspadai adalah orang yang dendam, karena jika engkau menyakiti seseorang, maka engkau telah menanam permusuhan di hatinya. Jangan merasa aman dari berkembangnya pohon permusuhan itu, dan jangan tertipu dengan keramahan yang ditunjukkannya, meskipun ia bersumpah. Jika engkau mendekatinya, berhati-hatilah darinya.

857- Termasuk kecerobohan adalah menghukum seseorang atau menyakitinya dengan sangat, padahal engkau tahu bahwa hal seperti itu akan memperbaharui dendam, lalu kau melihatnya tunduk kepadamu, taat, bertobat, dan berhenti dari yang ia lakukan, kemudian engkau kembali mempercayainya dan melupakan apa yang telah engkau lakukan. Engkau mengira bahwa apa yang telah engkau lakukan terdahulu telah terhapus dari hatinya, padahal mungkin ia sedang merencanakan cobaan bagimu dan menyiapkan tipu daya, sebagaimana yang terjadi antara Qushair dengan Zabba, dan kisah-kisahnya sudah terkenal.

858- Janganlah engkau tinggal serumah dengan orang yang telah engkau sakiti. Jika terpaksa, maka tinggallah terpisah dari luar, karena kita tidak aman dari dendam.

Ketika engkau melihat musuhmu lengah dan tidak menyadari hal seperti ini, maka berbuatlah baik kepadanya, karena ia akan melupakan permusuhanmu dan tidak akan mengira bahwa engkau menyimpan balasan atas perbuatan buruknya. Saat itulah engkau dapat mencapai segala tujuan darinya.

859- Termasuk kelemahan adalah menampakkan permusuhan kepada musuh. Dari sebaik-baik pengaturan adalah berlembut kepada musuh sampai memungkinkan untuk mematahkan kekuatan mereka. Jika hal itu tidak memungkinkan, kelembutan menjadi sebab untuk mencegah tangan mereka dari menyakiti. Di antara mereka ada yang malu karena kebaikan perbuatanmu, sehingga hatinya berubah untukmu.

860- Ada sekelompok salaf yang jika mendengar seseorang mencela mereka, mereka memberikan hadiah dan memberinya sesuatu. Dengan begitu mereka segera mencegah kejahatannya dan menyiasati untuk mengubah hatinya. Hal itu memberikan mereka waktu untuk merencanakan strategi terhadapnya jika mereka menginginkannya. Cukuplah akal yang melihat akibat-akibat dan merenungkan segala kemungkinan sebagai pendidik.

861- Bab: Menjaga Rahasia

861- Aku melihat kebanyakan manusia tidak mampu menahan diri dari membocorkan rahasia mereka. Ketika rahasia itu terbuka, mereka menyalahkan orang yang mereka ceritakan. Sungguh mengherankan! Bagaimana mereka merasa sempit menahannya, lalu mereka menyalahkan orang yang membocorkannya?!

Dalam hadits: “Mintalah pertolongan untuk menyelesaikan urusan-urusan kalian dengan merahasiakan.”

862- Demi umurku, sesungguhnya jiwa merasa sulit menyembunyikan sesuatu dan merasa lega dengan membocorkannya, terutama jika berupa penyakit, kekhawatiran, atau cinta. Hal-hal ini dalam pembocoran-nya masih dapat dimaafkan. Yang wajib dirahasiakan adalah strategi orang yang berstrategI dalam apa yang ingin ia capai sebagai tujuan. Dari buruknya pengaturan adalah membocorkan hal itu sebelum sempurna, karena jika terbuka, batalah apa yang ingin dilakukan. Tidak ada uzur bagi orang yang membocorkan jenis rahasia ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika hendak bepergian, beliau menyamarkan dengan tujuan lain.

863- Jika ada yang berkata: “Aku hanya menceritakan kepada orang yang kupercaya.” Dikatakan kepadanya: Setiap pembicaraan yang melewati dua orang akan tersebar. Mungkin temanmu tidak merahasiakan. Berapa banyak yang telah kita dengar orang bercerita tentang raja-raja menangkap seseorang, lalu pembicaraan itu sampai kepada orang tersebut dan ia melarikan diri, sehingga penguasa gagal mencapai tujuannya! Sesungguhnya orang yang bijak adalah yang rahasianya tidak keluar darinya dan tidak membocorkannya kepada siapa pun.

864- Termasuk kelemahan adalah membocorkan rahasia kepada anak dan istri. Harta termasuk bagian dari rahasia. Memberitahukan mereka tentangnya: jika banyak, mungkin mereka berharap pewaris mati; jika sedikit, mereka akan merasa jengkel dengan keberadaannya. Mungkin mereka meminta dari harta yang banyak sesuai dengan banyaknya, sehingga habis karena pengeluaran.

865- Menyembunyikan musibah termasuk bagian dari merahasiakan rahasia, karena menampakkannya akan menyenangkan orang yang schadenfreude dan menyakitkan orang yang mencintai.

866- Demikian pula hendaknya menyembunyikan umur, karena jika tua, mereka akan meremehkannya karena pikun; jika muda, mereka akan menganggapnya rendah.

867- Di antara hal yang telah terjerumus ke dalamnya banyak orang yang berlebih-lebihan: mereka menyebut-nyebut seorang amir atau penguasa di antara teman-teman mereka dan mengomentarinya, lalu hal itu sampai kepadanya dan menjadi sebab kehancuran. Mungkin seseorang melihat kesetiaan yang sempurna dari temannya, lalu ia menyebarkan rahasianya. Telah dikatakan:

“Waspadalah terhadap musuhmu sekali… dan waspadalah terhadap temanmu seribu kali Karena mungkin teman berubah… sehingga lebih tahu tentang madharat”

868- Betapa banyak orang yang membocorkan rahasianya kepada istri atau teman, sehingga ia menjadi sandera di tangan mereka. Ia tidak berani menceraikan istri atau meninggalkan teman karena takut rahasia buruknya terbuka.

Orang bijak adalah yang bergaul dengan manusia secara lahir saja, sehingga dadanya tidak sempit dengan rahasianya. Jika ia ditinggalkan istri, teman, atau pembantu, tidak seorang pun dari mereka yang dapat mengatakan hal yang tidak disukainya.

869- Di antara rahasia terbesar adalah kesendirian. Hendaknya orang bijak berhati-hati di dalamnya dari bersikap bebas di hadapan makhluk. Barangsiapa yang diciptakan dengan akal yang tajam, akalnya akan menunjukkan kebenaran sebelum nasihat.

187- Bab: Tidak Kulihat yang Lebih Sulit bagi Jiwa daripada Menghafal Ilmu!

870- Tidak kulihat yang lebih sulit bagi jiwa daripada menghafal ilmu dan mengulanginya, terutama mengulangi apa yang tidak memiliki kesenangan dalam mengulangi dan menghafalnya, seperti masalah-masalah fiqih, berbeda dengan syair dan sajak yang memiliki kelezatan dalam mengulanginya. Meskipun sulit, karena jiwa menikmatinya sekali dua kali, jika pengulangan bertambah, menjadi sulit, tetapi tidak sesulit fiqih dan lainnya yang dianggap indah oleh tabiat. Engkau melihat jiwa cenderung kepada hadits, syair, penulisan, dan menyalin, karena setiap saat ia melewati apa yang belum dilihatnya. Hal itu seperti air yang mengalir, yaitu bagian demi bagian. Demikian pula orang yang menyalin apa yang harus ia dengar atau ia tulis, ia menikmati kebaruan dan beristirahat dari lelahnya pengulangan.

871- Namun, hendaknya orang berakal menjadikan sebagian besar waktunya untuk pengulangan, terutama anak-anak dan pemuda, karena hafalan akan tertanam pada mereka dengan kokoh yang tidak akan hilang. Ia menjadikan waktu-waktu lelah dari pengulangan untuk menyalin, dan berhati-hati jangan sampai jiwa lari ke penyalinan saat pengulangan, maka ia harus memaksanya, karena ia akan memuji hal itu seperti pujian orang yang berjalan di waktu pagi.

Akan menyesal orang yang tidak menghafal seperti penyesalan orang pincang saat butuh untuk melihat dan berfatwa.

872- Dalam hafalan ada hal halus yang harus diperhatikan, yaitu bahwa ahli fiqih menghafal pelajaran dan mengulanginya, kemudian meninggalkannya dan melupakannya, lalu membutuhkan waktu lain untuk menghafalnya. Maka hendaknya ia mengokohkan hafalan dan memperbanyak pengulangan agar dasar hafalan menjadi kokoh.

188- Bab: Menyendiri Hanya untuk Orang Alim dan Zahid

873- Tidak kukenal manfaat seperti menyendiri dari makhluk, terutama bagi orang alim dan zahid, karena engkau hampir tidak melihat kecuali orang yang senang dengan musibah, atau dengki terhadap nikmat, atau orang yang mencela kesalahanmu!

Alangkah nikmatnya menyendiri! Selamat dari keruhnya ghibah, bencana kepura-puraan, keadaan berpura-pura, dan pemborosan waktu. Kemudian hati menjadi kosong untuk berpikir karena terlepas darinya dengan pergaulan, lalu mengatur urusan dunia dan akhiratnya. Misalnya seperti diet, di dalamnya usus kosong dari makanan lalu mencernanya.

874- Tidak kulihat seperti apa yang dilakukan orang yang bergaul, karena ia melihat keadaannya saat ini dari bertemu orang dan berbicara dengan mereka, sehingga sibuk dengan itu dari apa yang ada di hadapannya. Misalnya seperti orang yang ingin bepergian yang sudah mendesak, lalu ia duduk dengan beberapa orang dan mereka menyibukkannya dengan pembicaraan sampai terompet berbunyi sedangkan ia belum berbekal!

Seandainya tidak ada dalam menyendiri kecuali memikirkan bekal perjalanan dan keselamatan dari keburukan pergaulan, itu sudah cukup.

875- Kemudian tidak ada penyendirian yang sesungguhnya kecuali bagi orang alim dan zahid, karena keduanya mengetahui tujuan penyendirian, meskipun keduanya tidak dalam kesendirian.

Adapun orang alim, ilmunya adalah temannya, kitab-kitabnya adalah yang mengajaknya berbicara, melihat sejarah salaf adalah yang meluruskannya, memikirkan peristiwa zaman yang lalu adalah hiburannya. Jika ia naik dengan ilmunya ke maqam ma’rifat yang sempurna kepada Khaliq Subhanahu dan berpegang pada ujung kecintaan-Nya, maka kelezatannya berlipat ganda dan sibuk dengannya dari alam semesta dan isinya. Ia menyendiri dengan kekasihnya dan beramal bersamanya sesuai dengan tuntutan ilmunya.

Demikian pula zahid, ibadahnya adalah temannya, yang disembahnya adalah teman duduknya. Jika dibukakan bagi penglihatannya tentang yang beramal bersamanya, ia ghaib dari makhluk dan mereka ghaib darinya. Sesungguhnya keduanya menyendiri dari yang menyakiti, maka keduanya dalam kesendirian di antara kelompok.

Inilah dua orang yang selamat dari keburukan makhluk, dan makhluk selamat dari keburukan keduanya. Bahkan keduanya adalah teladan bagi para ahli ibadah dan petunjuk bagi para salik. Pendengar mendapat manfaat dari pembicaraan keduanya, nasihat keduanya mengalirkan air mata, dan wibawa keduanya tersebar di majelis-majelis. Barangsiapa ingin meniru salah satu dari keduanya, hendaknya ia bersabar dalam kesendirian meskipun membencinya, agar kesabaran menghasilkan madu baginya.

876- Aku berlindung kepada Allah dari seorang alim yang bergaul dengan dunia, terutama dengan pemilik harta dan penguasa, yang mengambil hati dan merayu. Ia tidak memperoleh sesuatu dari dunia kecuali telah hilang dari agamanya yang semisal dengannya.

Kemudian di mana harga diri dari kehinaan kepada orang-orang fasik?! Yang tidak peduli dengan hal itu adalah yang tidak merasakan rasa ilmu dan tidak tahu apa yang dimaksud dengannya, seakan-akan ia telah jatuh di padang pasang surut dan tanah kosong yang membinasakan di padang-padang itu.

877- Demikian pula orang yang berzuhud jika bergaul dan bercampur, ia akan keluar kepada riya, kepura-puraan, dan kemunafikan, sehingga kehilangan dua bagian: dunia dan kenikmatan-nya tidak diperolehnya, dan akhirat juga tidak. Maka kami memohon kepada Allah ‘azza wa jalla kesendirian yang manis dan penyendirian dari keburukan yang nikmat, di mana Dia memperbaiki kami untuk bermunajat kepada-Nya dan mengilhami masing-masing dari kami untuk mencari keselamatan. Sesungguhnya Dia dekat lagi mengabulkan.

189- Bab: Bersiap untuk Kematian

878- Alangkah bodohnya orang yang tidak tahu kapan kematian akan datang kepadanya, sedangkan ia tidak bersiap untuk menemuinya! Orang yang paling bodoh dan lengah adalah yang telah melewati enam puluh dan mendekati tujuh puluh -karena yang di antara keduanya adalah medan pertempuran kematian, dan barangsiapa turun ke medan pertempuran, hendaknya bersiap- sedangkan ia dengan itu lengah dari bersiap.

Anak muda berkata: “Mudah-mudahan di masa tua kami… kami tinggalkan dosa-dosa, lalu apa yang dikatakan orang beruban?”

Demi Allah, sesungguhnya tertawa orang tua tidak memiliki makna, candaannya dingin maknanya, dan menyibukkan diri dengan dunia -padahal dunia telah menolaknya- melemahkan kekuatan dan melemahkan pendapat. Apakah masih tersisa bagi anak enam puluh tempat tinggal?!

879- Jika ia berharap mencapai tujuh puluh, ia hanya naik kepadanya dengan kesusahan yang sangat: jika berdiri, ia mendorong bumi; jika berjalan, ia terengah-engah; jika duduk, ia bernapas; ia melihat syahwat dunia tetapi tidak mampu meraihnya. Jika makan, perut menjadi susah dan pencernaan sulit; jika bersetubuh, ia menyakiti wanita dan jatuh sakit, tidak mampu mengembalikan kekuatan yang hilang untuk waktu yang lama. Ia hidup seperti hidup tawanan.

880- Jika ia berharap mencapai delapan puluh, ia merangkak kepadanya seperti merangkaknya anak kecil.

“Sepuluh tahun kedelapan puluh barangsiapa yang menjalaninya… maka sesungguhnya cobaan-cobaan di dalamnya beragam”

881- Orang berakal adalah yang memahami ukuran-ukuran zaman. Sesungguhnya sebelum baligh ia adalah anak-anak, tidak ada ukuran pada umurnya kecuali jika dikaruniai kecerdasan. Pada sebagian anak ada kecerdasan yang mendorong mereka sejak kecil untuk memperoleh kemuliaan dan ilmu.

Ketika baligh, hendaknya ia tahu bahwa itu adalah zaman berjuang melawan hawa nafsu dan belajar ilmu. Ketika dikaruniai anak, itu adalah zaman mencari nafkah untuk mu’amalah. Ketika mencapai empat puluh, berakhirlah kesempurnaannya, selesai manasik ajal, dan tidak tersisa kecuali turun ke kampung halaman.

“Seakan-akan pemuda naik tangga umur… sampai melewati empat puluh lalu turun”

Hendaknya ia ketika sempurna empat puluh menjadikan sebagian besar perhatiannya berbekal untuk akhirat, dan setiap pandangannya kepada apa yang di hadapannya, dan mulai bersiap untuk berangkat. Meskipun khitab ini untuk anak dua puluh, namun harapan mengejar dalam hak orang kecil tidak dalam hak orang besar.

882- Ketika mencapai enam puluh, Allah telah memberikan uzur kepadanya dalam ajal dan ia telah melewati waktu. Hendaknya ia menghadap sepenuhnya untuk mengumpulkan bekalnya dan menyiapkan alat-alat perjalanan. Hendaknya ia berkeyakinan bahwa setiap hari ia hidup adalah keuntungan yang tidak terhitung dalam perhitungan, terutama jika kelemahan menguat dan bertambah padanya, karena tidak ada penggerak seperti itu. Semakin tinggi umurnya, hendaknya ia menambah kesungguhannya.

883- Ketika masuk dalam sepuluh tahun kedelapan puluh, tidak ada kecuali perpisahan. Yang tersisa dari umur hanya penyesalan atas kelalaian atau ibadah dalam kelemahan.

Kami memohon kepada Allah ‘azza wa jalla kebangkitan yang sempurna yang menghalau dari kami tidur kelengahan, dan amal saleh yang dengannya kami aman dari penyesalan di hari perpindahan. Allah yang Maha Pemberi Taufik.

190- Bab: Hendaknya Orang Berakal Menahan Diri dari Melihat yang Tidak Mampu

884- Salaf tidak melarang mendalami ilmu kalam kecuali karena hal yang besar, yaitu bahwa manusia ingin melihat apa yang tidak kuat dilihat oleh penglihatannya, sehingga mungkin ia bingung dan keluar kepada hijab.

Karena jika kita melihat dzat Khaliq, akal menjadi bingung dan perasaan terpukau, karena ia tidak mengenal sesuatu yang tidak memiliki permulaan! Dan ia tidak mengetahui kecuali jism, jawhar, dan ‘aradh. Menetapkan yang keluar dari itu tidak dipahaminya.

Jika kita melihat perbuatan-perbuatan-Nya, kita melihat-Nya mengokohkan bangunan kemudian merobohkannya! Dan kita tidak mengetahui hikmah itu. Maka yang utama bagi orang berakal adalah menahan diri dari melihat apa yang tidak mampu dipandanginya.

Ketika akal berdiri dan melihat dalil wujud Khaliq dengan ciptaan-ciptaan-Nya, dan memperbolehkan pengutusan nabi, serta beristidlal dengan mukjizat-mukjizatnya, itu cukup baginya daripada terlibat dengan apa yang telah ia cukupkan darinya.

Jika ia berkata: “Al-Qur’an adalah kalam Allah ta’ala,” dengan dalil firman-Nya: “sampai ia mendengar kalam Allah” (At-Taubah: 6), itu cukup baginya.

885- Adapun orang yang berlebih-lebihan lalu berkata: “Apakah tilawah itu yang ditilawah atau bukan yang ditilawah, dan apakah qira’ah itu yang diqira’ah atau bukan yang diqira’ah,” maka ia membuang waktu tanpa memperoleh sesuatu. Yang dimaksud adalah mengamalkan apa yang dipahami.

886- Telah diceritakan bahwa seorang raja menulis kepada petugas-petugasnya di negeri-negeri: “Sesungguhnya aku akan datang kepada kalian, maka kerjakanlah ini dan ini!” Mereka pun melakukannya, kecuali salah seorang dari mereka. Ia duduk memikirkan surat itu, berkata: “Kira-kira ia menulisnya dengan tinta atau dengan dawat?! Kira-kira ia menulisnya sambil berdiri atau duduk?!” Ia terus berpikir sampai raja datang, sedangkan ia tidak mengerjakan sedikit pun dari yang diperintahkan kepadanya! Maka raja memberikan hadiah yang baik kepada semuanya dan membunuh orang ini.

191- Bab: Kenikmatan Orang Berakal dan Kenikmatan Orang Bodoh

887- Sungguh telah lengah para pencari dunia dari kenikmatan di dalamnya. Kenikmatan di dalamnya tidak lain adalah kemuliaan ilmu, kecemerlangan iffah (menjaga diri), kebanggaan ghirah (cemburu karena Allah), kemuliaan qana’ah (merasa cukup), dan manisnya berbuat baik kepada makhluk.

888- Adapun menikmati makanan dan nikah, itu adalah kesibukan orang bodoh dengan kenikmatan, karena itu tidak dimaksudkan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk menegakkan pengganti dalam badan dan anak.

Kenikmatan apa dalam nikah, padahal sebelum mubasyarah tidak tercapai, dalam keadaan mubasyarah adalah kegelisahan yang tidak menetap, ketika berakhir seakan tidak pernah ada, kemudian menghasilkan kelemahan dalam badan?!

Dan kesenangan apa yang ada dalam mengumpulkan harta berlebihan dari kebutuhan; sesungguhnya dia menjadi budak bagi penjaganya, bermalam dengan was-was terhadapnya, dan sedikitnya mengajaknya kepada yang banyak!

Dan kesenangan apa dalam makanan, padahal ketika lapar makanan kasar dan halus menjadi sama saja, maka jika makan berlebihan, dia membahayakan dirinya sendiri?!

889- Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata: Fitnah dibangun atas tiga hal: Wanita, mereka adalah jebakan iblis yang dipasang; minuman keras, ia adalah pedangnya yang tajam; dan dinar serta dirham, keduanya adalah anak panahnya yang beracun. Barangsiapa condong kepada wanita, hidupnya tidak akan jernih; barangsiapa mencintai minuman keras, tidak akan menikmati akalnya; dan barangsiapa mencintai dinar dan dirham, akan menjadi budak keduanya selama hidup.

192- Pasal: Asal Setiap Cobaan adalah Mengqiyaskan Sifat Khaliq dengan Sifat Makhluk

890- Asal setiap cobaan dalam akidah adalah mengqiyaskan urusan Khaliq dengan keadaan makhluk; karena para filosof ketika melihat menciptakan sesuatu dari tidak ada sebagai hal yang mustahil dalam kebiasaan, mereka mengatakan bahwa alam itu qadim (tidak berawal)! Dan ketika mengetahui segala sesuatu dalam kebiasaan mereka terasa berat, mereka berkata: Sesungguhnya Dia mengetahui yang global, bukan yang detail! Dan ketika mereka melihat rusaknya badan karena bencana, mereka mengingkari pemulihan kembali, dan berkata: Pemulihan adalah kembalinya ruh-ruh ke tempat asalnya!

891- Dan setiap orang yang mengqiyaskan sifat Khaliq dengan sifat makhluk, keluar kepada kekufuran, maka sesungguhnya kaum mujassimah masuk dalam hal itu; karena mereka menafsirkan sifat-sifat-Nya dengan apa yang mereka pahami.

Demikian pula pengaturan-Nya ‘azza wa jalla, karena barangsiapa menafsirkannya dengan apa yang dipahami dalam kebiasaan, akan melihat menyembelih hewan tidak baik, penyakit-penyakit buruk, pembagian kekayaan untuk orang bodoh, dan kemiskinan bagi orang cerdas yang kuat sebagai hal yang bertentangan dengan hikmah.

892- Dan ini dalam hubungan antarmanusia, adapun Khaliq subhanahu, maka akal tidak sampai pada hikmah-Nya. Ya, telah tetap pada akal keberadaan-Nya, kepemilikan-Nya, dan hikmah-Nya, maka memaparkannya dengan detail berdasarkan kebiasaan makhluk adalah kebodohan. Tidakkah engkau melihat pembangkang pertama -yaitu iblis- bagaimana dia berdalil dengan berkata: “Aku lebih baik daripadanya” (QS. Al-A’raf: 12)?! Dan perkataan penggantinya -yaitu Abu al-‘Ala al-Ma’arri:

“…dia melihat darimu apa yang tidak disukainya lalu menjadi zindiq”

Dan kami mohon kepada Allah ‘azza wa jalla taufik untuk berserah diri, dan berserah diri kepada Yang Mahabijaksana, “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami setelah Engkau memberi kami petunjuk” (QS. Ali ‘Imran: 8). Apakah engkau menyangka kita mampu mencari alasan perbuatan-perbuatan-Nya apalagi memandang Dzat-Nya?!

Dan bagaimana kita mengqiyaskan urusan-Nya dengan keadaan kita?! Jika kita melihat Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon untuk ibunya dan pamannya, namun tidak diterima darinya, dan dia kelaparan padahal dunia ada di tangannya, dan para sahabatnya dibunuh padahal kemenangan di tangan Penciptanya, bukankah ini yang membingungkan?! Maka apa urusan kita dengan menentang Pemilik yang telah tetap hikmah-Nya dan mantap kerajaan-Nya?!

193- Pasal: Setiap yang Berharga Banyak Kesulitan dalam Meraihnya

893- Aku merenungkan suatu keajaiban, yaitu bahwa setiap hal yang berharga dan penting, panjang jalannya, dan banyak kesulitan dalam meraihnya. Karena ilmu adalah hal yang paling mulia, maka tidak diperoleh kecuali dengan kesulitan, begadang, dan pengulangan, meninggalkan kelezatan dan kenyamanan, hingga sebagian fuqaha berkata: Aku bertahun-tahun menginginkan harisah namun tidak mampu; karena waktu penjualannya adalah waktu mendengar pelajaran!

Seperti ini pula meraih harta, karena membutuhkan risiko, perjalanan, dan kesulitan yang banyak. Demikian pula meraih kehormatan dengan kedermawanan dan kemurahan, karena membutuhkan jihad melawan nafsu dalam memberikan yang dicintai, dan mungkin berujung pada kemiskinan. Demikian pula keberanian; karena tidak diperoleh kecuali dengan mempertaruhkan jiwa. Penyair berkata:

“Seandainya tidak ada kesulitan, semua orang akan jadi pemimpin … Kedermawanan memiskinkan dan keberanian membunuh”

894- Dari jenis ini adalah meraih pahala di akhirat; karena bertambah sesuai kekuatan ijtihad dan ibadah, atau sesuai kadar harta yang dikeluarkan menurut jiwa, atau sesuai kadar kesabaran atas kehilangan yang dicintai, dan mencegah jiwa dari kegelisahan.

Demikian pula zuhud, membutuhkan kesabaran dari hawa nafsu. Dan iffah tidak ada kecuali dengan menahan kerakusan. Dan seandainya tidak ada yang dialami Yusuf ‘alaihissalam, tidak akan dikatakan kepadanya: “Wahai ash-shiddiq” (QS. Yusuf: 46).

895- Dan bagi Allah ada kaum yang tidak ridha dari keutamaan kecuali meraih semuanya, maka mereka berlebihan dalam setiap ilmu, berijtihad dalam setiap amal, dan tekun pada setiap keutamaan, maka jika badan mereka lemah dari sebagian itu, niat menggantikannya, dan mereka mendahuluinya. Dan keadaan mereka yang paling sempurna adalah berpaling dari amal-amal mereka; mereka meremehkannya meskipun sempurna, dan meminta maaf karena kekurangan. Dan di antara mereka ada yang menambah dari ini, maka sibuk dengan syukur atas taufik untuk itu. Dan di antara mereka ada yang tidak melihat apa yang dikerjakan sama sekali; karena dia melihat dirinya dan amalnya milik tuannya.

896- Dan kebalikan dari yang disebutkan dari para ahli ijtihad adalah keadaan ahli malas, rakus, dan syahwat, maka jika mereka menikmati kenyamanan sesaat, sungguh telah mewajibkan apa yang melebihi setiap kesulitan dari penyesalan dan kerugian. Dan barangsiapa memperhatikan kesabaran Yusuf ‘alaihissalam, dan tergesa-gesanya Ma’iz, akan jelas baginya perbedaannya, dan paham keuntungan dari kerugian! Dan sungguh aku merenungkan mengambil mutiara dari laut, maka kulihat setelah mengalami kesulitan-kesulitan. Dan barangsiapa memikirkan apa yang kusebutkan sebagai contoh, akan jelas baginya contoh-contoh serupa.

897- Maka orang yang diberi taufik adalah yang memperhatikan pendeknya musim untuk beramal, dan panjangnya masa pembalasan yang tidak ada akhirnya, maka memanfaatkan hingga sesaat, dan bersaing dalam setiap keutamaan, karena jika terlewat, tidak ada cara untuk mengejarnya, bukankah dalam hadits: “Dikatakan kepada seseorang: Bacalah dan naiklah, maka tempatmu di akhir ayat yang kau baca”? Seandainya pikiran bekerja dalam hal ini dengan sebenarnya, akan hafal Al-Qur’an dengan segera.

194- Pasal: Mukmin adalah yang Sempurna Imannya

898- Mukmin bukanlah yang melaksanakan kewajiban ibadah secara lahiriah, dan menjauhi yang diharamkan saja! Sesungguhnya mukmin adalah yang sempurna imannya, dan tidak ada keraguan di hatinya, tidak bersarang dalam dirinya bisikan dalam apa yang terjadi, dan setiap kali cobaan menimpanya semakin keras, bertambah imannya, dan menguat penyerahannya, dan mungkin dia berdoa namun tidak melihat bekas jawaban, dan hatinya tidak berubah; karena dia tahu bahwa dia adalah milik, dan baginya ada Pemilik yang bertindak sesuai kehendak-Nya. Jika ada keraguan di hatinya, keluar dari maqam hamba kepada maqam berargumen, sebagaimana terjadi pada iblis.

899- Dan iman yang kuat terlihat pengaruhnya ketika cobaan kuat; adapun jika kita melihat seperti Yahya bin Zakaria, seorang fasiq menguasainya, lalu memerintahkan menyembelihnya, maka disembelih! Dan mungkin terlintas di pikiran untuk berkata: Mengapa tidak dihalangi darinya oleh Yang menjadikannya nabi?! Demikian pula setiap penguasaan orang kafir atas para nabi dan mukmin, dan tidak ada yang menghalangi mereka!

Jika terlintas dalam pikiran bahwa kekuasaan tidak mampu menghalangi mereka, maka itu adalah kekufuran.

Dan jika mengetahui bahwa kekuasaan mampu menghalangi, namun tidak menghalangi, dan orang mukmin kelaparan sedangkan orang kafir kenyang, orang durhaka sehat sedangkan orang bertakwa sakit, tidak tersisa kecuali berserah diri kepada Pemilik, meskipun menyakitkan dan membakar.

900- Dan telah pergi Yusuf bin Ya’qub ‘alaihissalam, maka Ya’qub menangis delapan puluh tahun, kemudian tidak putus asa, maka ketika anaknya yang lain pergi, dia berkata: “Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semua kepadaku” (QS. Yusuf: 83). Dan Musa ‘alaihissalam telah berdoa kepada Fir’aun, maka dijawab setelah empat puluh tahun, dan dia menyembelih para nabi, namun tidak dihalangi oleh kekuasaan qadim yang agung, dan menyalib penyihir, dan memotong tangan mereka.

901- Dan berapa banyak musibah yang menimpa orang yang diagungkan, namun tidak menambahnya kecuali penyerahan dan ridha! Di sana terlihat makna firman-Nya: “Allah ridha terhadap mereka” (QS. Al-Bayyinah: 8), dan di sini tampak kadar kekuatan iman bukan dalam rakaat. Hasan al-Bashri berkata: Manusia sama dalam keadaan sehat, maka jika turun cobaan, mereka berbeda.

195- Pasal: Yang Paling Berbahaya bagi Awam adalah Para Mutakallim

902- Yang paling berbahaya bagi awam adalah para mutakallim, karena mereka mencampuradukkan akidah mereka dengan apa yang mereka dengar dari mereka.

Di antara hal yang paling buruk adalah jika hadir orang awam -yang tidak mengenal rukun shalat, dan tidak mengenal riba dalam jual beli- di majlis nasihat, namun tidak dilarang dari kelalaian dalam shalat, dan tidak diajarkan cara keluar dari riba, tetapi dikatakan kepadanya: Al-Qur’an berdiri dengan dzat! Dan yang ada pada kita adalah makhluk!! Maka Al-Qur’an menjadi hina di mata orang awam itu, lalu dia bersumpah dengannya atas kebohongan.

903- Celakalah mutakallim! Seandainya dia punya pemahaman, akan tahu bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menetapkan tanda-tanda yang jiwa merasa tenteram dengannya, dan tenang kepadanya, seperti Ka’bah dan menyebutnya rumah-Nya, dan Arsy dan menyebut istawa-Nya di atasnya, dan menyebut dari sifat-sifat-Nya tangan, pendengaran, penglihatan, mata, dan turun ke langit dunia, dan tertawa, dan semua ini agar jiwa tenteram dengan kebiasaan, dan Dia Maha Agung dari apa yang terkandung dalam sifat-sifat ini berupa anggota tubuh. Demikian pula mengagungkan urusan Al-Qur’an, dan melarang orang berhadats menyentuh mushaf, sampai urusan sebagian mutakallim membolehkan beristinja dengannya!! Maka mereka ini melawan syariat; karena mereka menghina apa yang diagungkan syariat. Dan apakah mendalami ilmu kalam termasuk yang mendekatkan kepada mengenal hakikat-hakikat, yang tidak mungkin ada perbedaan padanya?! Jauh sekali! Seandainya demikian, tidak akan terjadi perbedaan di antara para mutakallim.

904- Bukankah generasi pertama tidak membicarakan sesuatu dari ini, meskipun mereka menyinggung sebagian pokok?! Kemudian datang fuqaha negeri, lalu mereka melarang mendalami ilmu kalam, karena mengetahui apa yang dibawa dan apa yang dihindari! Dan barangsiapa tidak puas dengan akidah seperti “akidah” para sahabat, dan tidak dengan jalan seperti jalan Ahmad dan Syafi’i dalam meninggalkan pembahasan, maka tidak ada siapa-siapa.

905- Kemudian demi Allah renungkanlah, bukankah telah wajib atas kita meninggalkan riba dengan firman-Nya: “Janganlah kalian memakan riba” (QS. Ali ‘Imran: 130), dan meninggalkan zina dengan firman-Nya: “Dan janganlah kalian mendekati zina” (QS. Al-Isra’: 32)?! Maka apa faedah bagi kita dalam menyebut qiraat dan maqru, tilawah dan matluw, qadim dan muhdats?!

Jika dikatakan: Maka harus diyakini. Kami katakan: Jalan salaf adalah jalan yang paling jelas; karena kami tidak mengatakannya karena taqlid; tetapi dengan dalil, namun kami tidak mengambilnya dari jawhar dan aradh, dan juz’ yang tidak terbagi, tetapi dengan dalil-dalil naql dengan bantuan akal, tanpa meneliti apa yang tidak dibutuhkan. Dan ini bukan tempat penjelasan.

196- Pasal: Jasad menuju Kebinasaan dan Ruh menuju Ketenangan

906- Aku masih mengikuti kebiasaan manusia dalam bersedih atas orang yang meninggal dari keluarga dan anak-anak, dan tidak membayangkan kecuali hancurnya badan di kubur, maka aku bersedih karena itu.

Lalu berlalu hadits-hadits yang pernah berlalu, namun aku tidak memikirkannya, di antaranya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya jiwa mukmin adalah burung yang bergantung di pohon surga, hingga Allah ‘azza wa jalla mengembalikannya ke jasadnya pada hari dibangkitkan”.

Maka aku melihat bahwa kepergian itu menuju ketenangan, dan bahwa jasad ini bukan apa-apa; karena ia adalah kendaraan yang terurai dan rusak, dan akan dibangun baru pada hari kebangkitan, maka tidak pantas memikirkan kehancurannya, dan hendaknya jiwa tenang bahwa ruh-ruh berpindah kepada ketenangan, maka tidak tersisa kesedihan yang besar, dan bahwa pertemuan dengan orang tercinta sudah dekat.

Dan yang tersisa hanyalah penyesalan karena tergantungnya makhluk pada bentuk, maka manusia tidak melihat kecuali jasad yang indah yang telah hancur, lalu bersedih karena kehancurannya.

907- Dan jasad bukanlah manusia; sesungguhnya ia adalah kendaraannya, maka ruh-ruh tidak terkena kebinasaan, dan jasad-jasad bukan apa-apa.

Dan ambilah pelajaran dari ini dengan jika engkau mencabut gigimu, dan membuangnya di lubang, apakah engkau punya kabar apa yang dialaminya selama hidupmu?! Maka hukum jasad seperti hukum gigi itu, jiwa tidak tahu apa yang dialaminya.

Dan tidak pantas bersedih karena koyaknya jasad orang tercinta dan kehancurannya, dan ingatlah kenikmatan ruh-ruh dan dekatnya pembaruan, dan cepatnya pertemuan; karena memikirkan realisasi ini meringankan kesedihan, dan mempermudah urusan.

197- Pasal: Menjaga Lisan

908- Pantas bagi orang berakal untuk tidak berbicara dalam kesendirian tentang seseorang dengan sesuatu, hingga dia membayangkan hal itu tampak dan diumumkan dengannya, kemudian melihat apa yang dipetik!

Sungguh ada orang yang percaya pada teman, lalu berbicara di hadapannya tentang penguasa dengan suatu hal, lalu sampai kepadanya, maka membinasakan dia. Atau tentang teman, lalu sampai kepadanya, maka terjadilah masalah.

909- Demikian pula pantas menyembunyikan madzhab, karena yang diuntungkan dengan menampakkannya hanyalah permusuhan. Dan ketika Syarif Abu Ja’far terang-terangan menyelisihi Asy’ariah di zaman Muqtadi, dia ditangkap, dan dipenjara hingga mati, dan yang dimaksud adalah memotong fitnah, dan memperbaiki rakyat, karena itu lebih penting bagi penguasa daripada fanatik madzhab.

198- Pasal: Hikmah Allah Lebih Sempurna dari Setiap Orang Bijak

910- Aku melihat banyak orang yang lalai menampakkan kemarahan terhadap takdir, dan di antara mereka ada yang kurang imannya, maka mulai menentang! Dan di antara mereka ada yang keluar kepada kekufuran, dan melihat bahwa apa yang terjadi seperti main-main, dan berkata: Apa faedah peniadaan setelah pengadaan, dan cobaan dari Yang tidak butuh menyakiti kita?!

Maka aku katakan kepada sebagian yang memberi isyarat tentang ini: Jika akal dan hatimu hadir, aku akan bercerita kepadamu, dan jika engkau berbicara hanya karena kenyataanmu, tanpa pandangan dan keadilan, maka berbicara denganmu sia-sia.

Celakalah engkau! Hadirkan akalmu! Dan dengarkan apa yang kukatakan: Bukankah telah tetap bahwa Yang Haq subhanahu adalah Pemilik, dan bagi Pemilik untuk bertindak bagaimana Dia kehendaki?! Bukankah telah tetap bahwa Dia Hakim, dan Hakim tidak main-main?!

Dan aku tahu bahwa di hatimu ada sesuatu dari kalimat ini, karena kami telah mendengar dari Jalinus bahwa dia berkata: Aku tidak tahu, apakah Dia bijak atau tidak?! Dan sebab perkataannya ini? Bahwa dia melihat kehancuran setelah kerapian, maka mengqiyaskan keadaan dengan keadaan makhluk, yaitu bahwa barangsiapa membangun kemudian menghancurkan tanpa makna; maka bukan orang bijak. Dan jawabannya -seandainya dia hadir- bahwa dikatakan: Dengan apa jelas bagimu bahwa kehancuran itu bukan hikmah? Bukankah dengan akalmu yang diberikan Pencipta kepadamu? Dan bagaimana Dia memberikan kepadamu pikiran yang sempurna, dan luput dari-Nya kesempurnaan?!

911- Dan inilah cobaan yang terjadi pada iblis, karena dia mulai mencela hikmah dengan akalnya, maka seandainya dia berpikir, akan tahu bahwa pemberi akal lebih tinggi dari akal, dan bahwa hikmah-Nya lebih sempurna dari setiap orang bijak; karena dengan hikmah-Nya yang sempurna Dia menciptakan akal-akal. Maka ini jika direnungkan orang yang adil, hilang darinya keraguan, dan telah diisyaratkan subhanahu kepada seperti ini dalam firman-Nya: “Ataukah bagi-Nya anak-anak perempuan dan bagi kalian anak-anak laki-laki” (QS. Ath-Thur: 39), yaitu: Apakah Dia memberikan untuk diri-Nya yang kurang, dan memberikan kalian yang sempurna?! Maka tidak tersisa kecuali menisbatkan ketidakmampuan memahami apa yang terjadi kepada diri kita, dan berkata: Ini perbuatan Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana, namun tidak jelas bagi kami maknanya.

912- Dan ini bukan keajaiban, karena Musa ‘alaihissalam tersembunyi darinya wajah hikmah dalam merusak kapal yang sehat, dan membunuh anak yang tampan, maka ketika Khidir menjelaskan kepadanya wajah hikmah, dia tunduk. Maka hendaknya kita bersama Khaliq seperti Musa bersama Khidir.

913- Bukankah kita melihat hidangan yang indah dengan apa yang ada di atasnya dari jenis-jenis makanan yang bersih dan bagus dipotong dan dikunyah, “dan menjadi apa yang kita ketahui”, dan kita tidak memiliki kemampuan meninggalkan perbuatan-perbuatan itu, dan tidak mengingkari kerusakan itu, karena mengetahui kemaslahatan yang tersembunyi di dalamnya.

Maka apa yang menghalangi bahwa perbuatan Yang Haq subhanahu memiliki batin yang tidak kita ketahui?!

914- Dan termasuk paling bodoh dari orang bodoh adalah hamba yang dimiliki jika meminta untuk mengetahui rahasia tuannya, karena kewajibannya adalah berserah diri bukan menentang. Dan seandainya tidak ada dalam cobaan dengan apa yang diingkari tabiat kecuali bertujuan tunduknya akal dan penyerahannya, sudah cukup.

915- Dan sungguh aku merenungkan keadaan yang menakjubkan, mungkin yang dimaksud dengan kematian adalah itu, yaitu bahwa Khaliq subhanahu dalam ghaib yang tidak dicapai indra, maka seandainya Dia tidak menghancurkan bukti ini, akan terbayang bagi manusia bahwa dia adalah ciptaan tanpa pencipta, maka jika terjadi kematian, jiwa mengenal dirinya, yang tidak dikenalnya, karena berada dalam jasad, dan merasakan keajaiban-keajaiban setelah kepergiannya, maka jika dikembalikan ke badan, mengetahui dengan pasti bahwa dia diciptakan oleh Yang mengembalikannya, dan mengingat keadaannya di dunia -karena pikiran-pikiran dikembalikan sebagaimana jasad dikembalikan-, maka berkata yang berkata di antara mereka: “Mereka berkata: Sesungguhnya kami dahulu di antara keluarga kami merasa takut” (QS. Ath-Thur: 26), dan ketika melihat apa yang dijanjikan dari urusan akhirat, yakin dengan keyakinan yang tidak ada keraguan bersamanya -dan ini tidak diperoleh dengan menghidupkan mayit selainnya; dan hanya diperoleh dengan melihat perkara ini padanya-, maka dibangun bangunan yang menerima keabadian, dan tinggal di surga yang tidak berakhir keabadiannya, maka baik dengannya keyakinan itu untuk bertetangga dengan Yang Haq; karena dia beriman dengan apa yang dijanjikan, dan sabar dengan apa yang dicobakan, dan berserah diri pada takdir-takdir-Nya, maka tidak menentang, dan melihat dalam selainnya pelajaran, kemudian dalam dirinya, maka inilah yang dikatakan kepadanya: “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha lagi diridhai, maka masuklah ke dalam hamba-hamba-Ku” (QS. Al-Fajr: 28-29).

916- Adapun yang ragu dan kafir, maka pantas keduanya masuk neraka, dan tinggal di dalamnya; karena keduanya melihat dalil-dalil, namun tidak mengambil faedah, dan menentang Yang Mahabijaksana, dan menentang-Nya, maka kembali keburukan kekufuran mereka menggelapkan hati mereka, maka tetap seperti keadaan semula, maka ketika tidak mengambil faedah dari dalil di dunia, tidak mengambil faedah dari kematian dan pengembalian, dan dalil tetapnya keburukan di hati adalah firman-Nya: “Dan seandainya mereka dikembalikan tentu mereka akan kembali kepada apa yang dilarang” (QS. Al-An’am: 28).

Maka kami mohon kepada Allah ‘azza wa jalla akal yang berserah diri, berhenti pada batasnya, dan tidak menentang Pencipta dan Pengadanya, kemudian celakalah bagi yang menentang! Apakah tentangannya menolak takdir?! Maka tidak menguntungkan kecuali kehinaan! Kami berlindung kepada Allah dari yang dikhianati.

Bab 199: Wajib Bagi Mukmin untuk Bersabar Semaksimal Mungkin

917

Tidak patut bagi seorang mukmin untuk gelisah karena penyakit atau kedatangan kematian, meskipun sifat alami tidak dapat dikuasai. Namun, dia harus bersabar semaksimal mungkin: baik untuk mencari pahala dari apa yang dialaminya, atau untuk menunjukkan pengaruh ridha terhadap takdir. Itu hanyalah beberapa saat kemudian berlalu.

918

Hendaknya orang yang sembuh dari penyakit merenungkan jam-jam ketika dia merasa cemas: di mana saat-saat itu ketika sudah sembuh?! Cobaan telah pergi, dan pahala telah diperoleh, sebagaimana manisnya kenikmatan yang haram hilang, dan dosa tetap tertinggal. Waktu murka terhadap takdir berlalu, dan teguran tetap ada.

Bukankah kematian itu hanyalah rasa sakit yang bertambah, sehingga jiwa tidak mampu menahannya, lalu pergi?! Maka hendaknya orang sakit membayangkan adanya ketenangan setelah jiwa pergi, dan apa yang dialaminya menjadi ringan, sebagaimana dia membayangkan kesembuhan setelah meminum obat yang pahit.

919

Tidak patut terjadi kepanikan dengan menyebut kebusukan (tubuh), karena itu urusan kendaraan, adapun penunggang, dia berada di surga atau neraka. Hanya saja perhatian penuh harus diberikan pada hal-hal yang menambah derajat keutamaan, sebelum turun penghalang darinya. Maka orang yang beruntung adalah yang diberi taufik untuk memanfaatkan kesehatan, kemudian memilih untuk meraih yang lebih baik dan lebih baik lagi di waktu pemanfaatan.

920

Hendaknya diketahui bahwa bertambahnya kedudukan di surga sesuai dengan bertambahnya keutamaan di dunia ini. Umur pendek, dan keutamaan banyak, maka berlebih-lebihlah dalam bergegas. Betapa panjangnya ketenangan dari lelah! Betapa gembiranya orang yang bersedih! Betapa senangnya orang yang berduka! Ketika dia membayangkan kekalnya kenikmatan di surga tanpa ada yang mengganggu atau memotong, maka ringan baginya setiap cobaan dan kesulitan.

Bab 200: Kelalaian yang Terpuji dan Kelalaian yang Tercela

921

Suatu hari kami menghadiri pemakaman seorang pemuda yang meninggal ketika dunia sedang paling baik untuknya. Aku melihat celaan orang-orang terhadap dunia, mencela orang yang tenang kepadanya, dan menjelek-jelekkan orang yang lalai dari bersiap-siap untuk kematian ini sebagai perkara besar dari para hadirin. Maka aku berkata: “Bagus apa yang kalian katakan, tetapi dengarkanlah dariku apa yang belum kalian dengar:

Yang paling mengherankan adalah bahwa orang berakal ketika mengetahui dekatnya kematian ini darinya, akalnya mewajibkan kepadanya untuk bergegas beramal dan gelisah karena takut. Hal ini telah sangat menimpa sekelompok orang, sehingga mereka mengembara di padang belantara, melipat hari-hari dengan kelaparan, terus begadang di malam hari, dan menetap di kuburan, sehingga mereka cepat binasa. Demi umurku, apa yang mereka takuti layak mendapat perlakuan lebih dari perbuatan ini.

Tetapi kita melihat akal yang mewajibkan kegelisahan ini, telah memerintahkan apa yang mewajibkan ketenangan. Dia berkata: “Sesungguhnya tubuh ini diciptakan untuk menopang jiwa, sebagaimana unta menopang penunggang. Tidak boleh tidak berlembut dengan unta agar tercapai tujuan perjalanan. Tidak baik menurut akal untuk terus begadang dan lama gelisah, karena itu berpengaruh pada tubuh sehingga menggagalkan sebagian besar tujuan. Bagaimana lagi tubuh manusia diciptakan dengan lembut, maka jika meninggalkan makanan berlemak, otak mengering. Jika terus begadang, kekeringan menguat. Jika terus bersedih, hati sakit?! Maka tidak boleh tidak berlembut dengan tubuh, dengan mengonsumsi apa yang memperbaikinya, dan dengan hati, dengan apa yang menolak kesedihan yang membahayakannya; jika tidak, ketika yang membahayakan terus berlanjut, kerusakan dipercepat.”

Kemudian syariat datang dengan apa yang telah dikatakan akal: dia berkata: “Sesungguhnya jiwa memiliki hak atasmu, dan istrimu memiliki hak atasmu, maka berpuasalah dan berbukalah, berdirilah dan tidurlah.” Dan berkata: “Cukup bagi seseorang sebagai dosa bahwa dia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” Dan menganjurkan pernikahan.

922

Terus gelisah dan kering meninggalkan istri seperti janda, dan anak seperti yatim. Tidak ada cara untuk sibuk dengan ilmu dengan kegelisahan ini. Barang siapa yang ingin bukti apa yang kukatakan, hendaknya dia merenungkan keadaan Rasulullah SAW, karena beliau menyeimbangkan rasa takut yang ada padanya dengan bercanda, berlomba lari dengan Aisyah, dan banyak menikah. Beliau berlembut dengan tubuhnya, memilih air yang bermalam, dan menyukai manisan dan daging.

923

Seandainya tidak ada penyertaan sejenis kelalaian, para ulama tidak akan menulis karya, ilmu tidak akan dihafal, dan hadits tidak akan ditulis; karena orang yang berkata: “Mungkin aku mati hari ini,” bagaimana dia bisa menulis? Bagaimana dia mendengar dan menulis karya?! Jangan kalian takut dengan apa yang kalian lihat dari kelalaian orang-orang terhadap kematian dan tidak menyebutnya dengan sebenar-benarnya; karena itu adalah nikmat dari Allah SWT, dengannya dunia berdiri dan agama menjadi baik.

924

Yang dicela hanyalah kuatnya kelalaian yang mewajibkan kelalaian, mengabaikan perhitungan diri, menyia-nyiakan waktu untuk selain berbekal, dan terkadang menguat sehingga membawa pada kemaksiatan.

Adapun jika sesuai kadar, maka seperti garam dalam makanan, tidak boleh tidak ada. Jika berlebihan, makanan menjadi asin. Kelalaian terpuji jika sesuai kadar sebagaimana kami jelaskan, dan ketika berlebihan, terjadi celaan.

Pahamilah apa yang kukatakan, dan jangan berkata: “Si fulan sangat terjaga tidak tidur di malam hari, dan si fulan lalai tidur sebagian besar malam,” karena kelalaian yang mewajibkan kemaslahatan tubuh dan hati tidak tercela. Wassalam.

Bab 201: Barang Siapa yang Riya kepada Makhluk Menyembah Mereka Tanpa Dia Tahu

925

Hampir tidak ada yang suka berkumpul dengan orang-orang kecuali orang yang kosong; karena orang yang hatinya sibuk dengan kebenaran lari dari makhluk. Ketika kekosongan hati dari mengenal kebenaran memungkinkan, dia dipenuhi dengan makhluk, sehingga bekerja untuk mereka dan karena mereka, dan binasa karena riya tanpa tahu.

926

Aku memperhatikan sebagian orang yang berpakaian dengan kemiskinan dan tasawuf, dia memakai pakaian yang tidak bernilai satu dinar, padahal dia memiliki harta yang banyak. Dia telah memanjakan dirinya dengan makanan lezat, dan dia bekerja berdasarkan kesombongan dan memimpin. Dia mendekatkan diri kepada pemilik dunia, meremehkan pemilik ilmu, dan mengunjungi mereka bukan yang lain. Dia menolak apa yang diberikan agar tersebar namanya sebagai zahid. Kau melihatnya memelihara kemunafikan, dalam tipu dayanya seperti rubah, dan dalam bangunnya menuju tujuan batinnya seperti anjing ganas. Maka aku berkata: “Subhanallah! Yang dizuhud hanya pakaian! Apakah dia tidak mendengar sabda Nabi SAW: ‘Sesungguhnya Allah suka melihat bekas nikmat-Nya pada hamba-Nya’?”

927

Aku berlindung kepada Allah dari melihat diri dan melihat makhluk: karena barang siapa yang melihat dirinya, dia sombong, dan orang sombong bodoh; karena tidak ada sesuatu yang dia sombongkan kecuali orang lain memiliki lebih banyak darinya. Barang siapa yang riya kepada makhluk, dia menyembah mereka tanpa tahu!

928

Adapun orang yang beramal untuk Allah SWT, dia jauh dari makhluk; jika mereka mendekat kepadanya, dia menutupi keadaannya dengan apa yang mewajibkan mereka menjauh darinya.

929

Kami telah melihat orang yang riya dan tidak tahu, dia menahan diri dari berjalan di pasar, dari mengunjungi saudara, dan dari membeli sesuatu sendiri! Dirinya mengira “aku benci bercampur dengan pedagang!!” Padahal ini memelihara kedudukan di antara ulama, karena jika dia bercampur dengan mereka, kedudukannya akan hilang dan batal mencium tangannya!

930

Bisyr al-Hafi biasa duduk di majelis di tempat penjual minyak wangi. Yang lebih besar dari semua ini adalah Nabi kita SAW biasa membeli keperluannya dan membawanya sendiri.

Ali bin Abi Thalib RA keluar, dan dia adalah Amirul Mukminin ke pasar, lalu membeli kain.

931

Thalhah bin Musharrif adalah qari penduduk Kufah; ketika orang-orang banyak kepadanya, dia berjalan ke A’masy, lalu membaca kepadanya. Orang-orang condong ke A’masy dan meninggalkan Thalhah.

Inilah demi Allah belerang merah dan iksir, bukan apa yang dikira iksir dalam kimia. Muamalah dengan Allah Ta’ala begitulah adanya.

932

Adapun kebalikan dari keadaan ini, maka keadaan penyembah makhluk yang diberi pakaian. Ini telah meliputi mayoritas makhluk, kecuali Salaf.

Aku tebus rusa-rusa padang belantara yang tidak mengenal di dalamnya… mengunyah kata-kata dan tidak mewarnai alis.

Bab 202: Semua Kemaksiatan Jelek

933

Semua kemaksiatan jelek, dan sebagiannya lebih jelek dari sebagian yang lain: Zina termasuk dosa yang paling jelek, karena merusak tempat tidur dan mengubah nasab. Dengan tetangga lebih jelek lagi: telah diriwayatkan dalam Shahihain dari hadits Ibnu Mas’ud, dia berkata: “Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah! Dosa apa yang paling besar?’ Beliau berkata: ‘Bahwa kau menjadikan tandingan bagi Allah padahal Dia yang menciptakanmu.’ Aku berkata: ‘Kemudian apa?’ Beliau berkata: ‘Bahwa kau membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.’ Aku berkata: ‘Kemudian apa?’ Beliau berkata: ‘Bahwa kau berzina dengan istri tetanggamu.'” Bukhari meriwayatkan dalam Tarikhnya dari hadits Miqdad bin Aswad dari Nabi SAW: bahwa beliau berkata: “Sungguh jika seorang laki-laki berzina dengan sepuluh wanita lebih ringan daripada berzina dengan istri tetangganya; dan jika dia mencuri dari sepuluh rumah lebih ringan baginya daripada mencuri dari rumah tetangganya.” Hal ini karena dia menggabungkan kemaksiatan kepada Allah Azza wa Jalla dengan melanggar hak tetangga.

934

Di antara dosa yang paling jelek adalah zina yang dilakukan orang tua, dalam hadits: “Sesungguhnya Allah membenci orang tua yang berzina”; karena syahwat tabiat telah mati, dan tidak ada kekuatan yang mengalahkan, maka dia menggerakkannya dan berlebihan, sehingga kemaksiatannya adalah pembangkangan.

935

Di antara kemaksiatan yang menyerupai pembangkangan adalah laki-laki memakai sutra dan emas, khususnya cincin emas, yang dipakai orang tua sebagai perhiasan, dan itu termasuk perbuatan paling dingin dan dosa paling jelek.

936

Dari jenis ini adalah riya dan takhasyyu’, menampakkan zuhud kepada makhluk; karena itu seperti menyembah mereka, dengan mengabaikan sisi Allah Azza wa Jalla. Demikian juga muamalah dengan riba terang-terangan, khususnya dari orang kaya yang banyak hartanya.

937

Di antara hal paling jelek adalah penyakit yang lama pada orang tua yang besar, dan dia tidak bertobat dari dosa, tidak minta maaf dari kesalahan, tidak membayar hutang, dan tidak berwasiat mengeluarkan hak yang ada padanya!

938

Di antara kejelekkan dosa adalah pencuri atau orang zalim bertobat dan tidak mengembalikan kezaliman. Orang yang lalai dalam zakat atau shalat, dan tidak mengqadha.

939

Di antara yang paling jelek adalah dia melanggar sumpah talaknya, kemudian tetap tinggal dengan wanita itu!

Qiyaskan pada apa yang kusebutkan, kemaksiatan banyak, dan yang paling jeleknya tidak tersembunyi. Hal-hal yang dipandang jelek ini -apalagi yang jelek- menyerupai pembangkangan kepada Yang Memerintah, sehingga pelakunya layak mendapat laknat dan hukuman yang kekal.

940

Aku melihat minum khamr dari jenis itu; karena dia tidak diinginkan karena zatnya, tidak karena baunya, tidak karena rasanya -menurut yang disebutkan-. Kelezatannya -menurut yang dikatakan- setelah menelan kepahitannya. Maka berani melakukan apa yang tabiat tidak mengajak kepadanya -sampai sampai mengonsumsi kepada kelezatan- adalah pembangkangan. Kami memohon kepada Allah Azza wa Jalla iman yang menghalangi antara kami dan menyelisihi-Nya, dan taufik untuk apa yang meredhai-Nya; karena kami hanya dengan-Nya dan untuk-Nya.

Bab 203: Peringatan dari Takjub dengan Diri

941

Aku memperhatikan pada kebanyakan ulama dan zahid bahwa mereka menyembunyikan kesombongan. Yang ini melihat posisinya dan tingginya orang lain atasnya. Yang ini tidak menjenguk orang sakit yang miskin, melihat dirinya lebih baik darinya. Sampai aku melihat sekelompok orang yang ditunjuk kepada mereka: di antara mereka ada yang berkata: “Aku tidak mau dikubur kecuali di samping Ahmad bin Hanbal!” Dan dia tahu bahwa dalam hal itu ada pemecahan tulang mayit, kemudian dia melihat dirinya layak untuk posisi teratas itu.

Di antara mereka ada yang berkata: “Kuburkanlah aku di samping masjidku!” dengan dugaan bahwa dia akan menjadi tempat ziarah setelah mati, seperti Ma’ruf al-Karkhi.

Ini sifat yang membinasakan! Dan mereka tidak tahu!! Nabi SAW berkata: “Barang siapa yang mengira dia lebih baik dari orang lain, maka dia telah sombong.” Jarang aku melihat kecuali dia melihat dirinya!

942

Heran sekali dari orang yang melihat dirinya! Apakah dia melihatnya dengan apa?! Jika dengan ilmu; para ulama telah mendahuluinya. Jika dengan ibadah, para ahli ibadah telah mendahuluinya. Atau dengan harta, maka harta tidak mewajibkan dengan sendirinya keutamaan agama.

Jika dia berkata: “Aku telah mengetahui apa yang tidak diketahui orang lain dari ilmu di zamanku, apa urusanku dengan yang terdahulu?” Dikatakan kepadanya: “Kami tidak memerintahkanmu wahai penghafal Quran untuk melihat dirimu dalam hafalan seperti orang yang hafal setengah, dan tidak wahai faqih untuk melihat dirimu dalam ilmu seperti orang awam; hanya saja kami memperingatkanmu untuk melihat dirimu lebih baik dari orang mukmin itu, meskipun ilmunya sedikit, karena kebaikan itu dengan makna bukan dengan bentuk ilmu dan ibadah.”

943

Barang siapa yang melihat sifat-sifat dirinya dan dosa-dosanya; dia tahu bahwa dia yakin dengan dosa dan kekurangan, dan dia dari keadaan orang lain dalam bahaya. Yang diwaspadai darinya adalah takjub dengan diri dan melihat kedahuluan dalam keadaan akhirat.

944

Mukmin tidak berhenti merendahkan dirinya. Dikatakan kepada Umar bin Abdul Aziz RA: “Jika kau mati, akan kami kubur kau di kamar Rasulullah SAW?” Dia berkata: “Sungguh jika aku bertemu Allah dengan setiap dosa selain syirik lebih aku sukai daripada aku melihat diriku layak untuk itu.”

945

Kami riwayatkan: bahwa seorang laki-laki dari para rahib melihat dalam mimpi seseorang berkata kepadanya: “Si fulan tukang sepatu lebih baik darimu!” Dia turun dari biara, lalu datang kepadanya, menanyakan tentang amalnya, dia tidak menyebutkan amal besar! Dikatakan kepadanya dalam mimpi: “Kembalilah kepadanya, dan katakan kepadanya: mengapa wajahmu kuning?” Dia kembali, lalu bertanya? Dia berkata: “Aku tidak melihat seorang muslim kecuali aku mengira dia lebih baik dariku.” Dikatakan kepadanya: “Karena itulah dia terangkat.”

Bab 204: Orang Marah seperti Orang Mabuk Tidak Dimintai Pertanggungjawaban atas Apa yang Dikatakan

946

Ketika kau melihat temanmu marah dan mulai berbicara dengan apa yang tidak pantas, tidak patut kau terikat pada apa yang dikatakannya sedikitpun, dan tidak meminta pertanggungjawaban kepadanya, karena keadaannya seperti keadaan orang mabuk, tidak tahu apa yang terjadi. Bahkan bersabarlah dengan ledakannya, dan jangan bergantung padanya; karena setan telah mengalahkannya, tabiat telah bergejolak, dan akal telah tersembunyi.

947

Ketika kau menyimpan sesuatu dalam dirimu kepadanya, atau menjawabnya sesuai perbuatannya, kau seperti orang berakal yang menghadapi orang gila, atau seperti orang sadar yang menyalahkan orang yang pingsan. Maka dosanya untukmu.

Bahkan lihatlah dengan mata kasihan, dan lihatlah tasrif takdir kepadanya, dan bergembiralah dalam permainan tabiat dengannya. Ketahuilah bahwa jika dia sadar, dia menyesal atas apa yang terjadi, dan mengenal keutamaan sabar untukmu.

Paling tidak dari pembagian adalah kau menyerahkannya dalam apa yang dilakukannya dalam marahnya kepada apa yang membuatnya tenang.

948

Keadaan ini patut dilihat oleh anak ketika ayah marah, dan istri ketika suami marah. Biarkan dia puas dengan apa yang dikatakan, dan jangan bergantung pada itu, dia akan kembali menyesal dan minta maaf.

Ketika dibalas atas keadaan dan ucapannya; permusuhan menjadi mengakar, dan membalas dalam kesadaran atas apa yang dilakukan terhadapnya waktu mabuk.

949

Kebanyakan orang tidak dengan cara ini: ketika mereka melihat orang marah, mereka membalasnya dengan apa yang dikatakan dan dikerjakan. Ini tidak sesuai dengan hikmah, bahkan hikmah adalah apa yang kusebutkan, “Dan tidaklah yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu” (QS. Al-Ankabut: 43).

Bab 205: Tidak Patut Memusuhi Siapa Pun

950

Tidak ada orang bodoh di dunia seperti yang berbuat jahat kepada seseorang, dan dia tahu bahwa dia telah sampai ke hatinya dengan menyakiti, kemudian mereka berdamai secara lahir, lalu dia tahu bahwa bekas itu terhapus dengan perdamaian! Khususnya raja-raja, karena kelezatan terbesar mereka adalah tidak ada yang naik atas mereka, dan tidak ada maksud mereka yang patah. Jika terjadi sesuatu dari itu, tidak akan baik.

951

Perhatikanlah ini dengan Abu Muslim al-Khurasani, karena dia menurunkan kedudukan al-Manshur sebelum pemerintahannya, maka dia simpan itu dalam dirinya, lalu membunuhnya. Barang siapa yang melihat sejarah, melihat sekelompok orang yang terjadi kepada mereka seperti ini.

952

Tidak patut bagi orang yang berbuat jahat kepada pemilik kekuasaan jatuh ke tangannya, karena jika dia ingin melepaskan diri, tidak mampu. Dia tetap menyesal karena meninggalkan kehati-hatiannya, dan penyesalannya karena berdiam dengan jaminan keselamatan lebih keras baginya dari semua yang diterimanya berupa hinaan dan menyakiti.

953

Dari jenis ini adalah teman-teman yang serupa; karena kau ketika menyakiti seseorang, dan sampai ke hatinya sakitmu, jangan percaya pada kecintaannya, karena sakitmu di depan matanya. Jika dia tidak menipu kau, tidak akan jernih untukmu.

954

Jangan bergaul kecuali dengan orang yang kau beri kebaikan saja, karena dia tidak melihat darimu kecuali kebaikan, maka akan ada dalam dirinya. Demikian juga anak, istri, dan orang-orang yang bermuamalah.

955

Berkaitan dengan ini aku katakan: tidak patut kau memusuhi siapa pun dan tidak berbicara tentang haknya, karena mungkin dia mendapat giliran lalu balas dendam, dan mungkin dia dibutuhkan lalu tidak mampu mendapatkannya. Orang berakal membayangkan dalam dirinya setiap kemungkinan, dan menutupi apa yang ada di hatinya dari benci dan cinta, dan berbasa-basi dengan geram dan dendam. Ini adalah syura akal jika diterima.

Bab 206: Sempurna Akal adalah yang Melihat Akibat

956

Setiap orang yang tidak melihat akibat, dan tidak bersiap untuk apa yang mungkin terjadi; dia tidak sempurna akalnya!

Perhatikanlah ini dalam semua keadaan! Seperti dia tertipu dengan mudanya, dan terus dalam kemaksiatan, dan menunda-nunda tobat. Mungkin dia diambil tiba-tiba, dan tidak mencapai sebagian dari apa yang dicita-citakan. Demikian juga jika dia menunda-nunda amal, atau menghafal ilmu, karena waktu habis dengan penundaan, dan tujuan terlewat. Mungkin dia bertekad melakukan kebaikan, atau mewakafkan sesuatu dari hartanya, lalu menunda, maka dia kaget.

206- Bab: Orang yang sempurna akalnya adalah yang memperhatikan akibat-akibat

956- Setiap orang yang tidak memperhatikan akibat-akibat, dan tidak bersiap untuk hal-hal yang mungkin terjadi; maka dia tidak sempurna akalnya!

Perhatikanlah hal ini dalam semua keadaan! Seperti seseorang yang tertipu dengan masa mudanya, terus-menerus berbuat maksiat, dan menunda-nunda taubat, maka mungkin saja dia diambil secara tiba-tiba, dan tidak mencapai sebagian dari apa yang dia harapkan. Demikian juga jika dia menunda-nunda amal, atau menunda menghafal ilmu, maka waktu akan berlalu dengan penundaan, dan tujuan akan terlewatkan. Mungkin juga dia berniat melakukan kebaikan, atau mewakafkan sebagian hartanya, lalu menunda, kemudian dia dibuat terkejut. Maka orang yang berakal adalah yang mengambil sikap hati-hati dalam membayangkan apa yang mungkin terjadi, dan beramal sesuai dengan hal itu; jika ajal diperpanjang, tidak akan membahayakannya, dan jika yang ditakutkan terjadi, dia sudah berjaga-jaga.

957- Dan yang berkaitan dengan urusan dunia: bahwa seseorang condong kepada penguasa, dan berbuat buruk kepada sebagian pengikutnya, karena percaya dengan kedekatannya dengannya, maka mungkin penguasa itu berubah, lalu musuhnya naik pangkat, dan membalas dendam kepadanya. Dan mungkin dia memusuhi sebagian teman, dan tidak peduli dengannya; karena dia lebih rendah dalam keadaan saat ini, maka mungkin martabat orang itu naik, lalu dia membalas apa yang telah dilakukan kepadanya dari keburukan dan menambahnya.

Maka orang yang berakal adalah yang melihat apa yang mungkin terjadi, dan tidak memusuhi siapa pun: jika ada di antara keduanya hal yang mengharuskan permusuhan, dia menyembunyikan hal itu, jika dia yakin bisa menyerang musuhnya, lalu membalas dendam dengan pembalasan yang dibolehkan syariat; maka boleh; meskipun memaafkan lebih baik dalam hal kehidupan.

Karena itu sebaiknya melayani orang yang menganggur, karena mungkin dia akan bekerja, lalu mengetahui hal itu bagi yang melayaninya, dan qiyaskanlah pada contoh yang saya sebutkan dari semua keadaan.

207- Bab: Sesuai dengan naiknya manusia di dunia, turunlah kedudukannya di akhirat

958- Sesuai dengan naiknya manusia di dunia, turunlah kedudukannya di akhirat. Dan Ibn Umar radhiyallahu anhuma telah menyatakan hal ini dengan tegas, dia berkata: Demi Allah, tidak ada seorang pun yang meraih sesuatu dari dunia, kecuali berkurang derajatnya di sisi Allah, meskipun dia mulia di sisi-Nya.

959- Maka orang yang bahagia adalah yang merasa cukup dengan sekadarnya, karena waktu lebih mulia dari pada terbuang untuk mencari dunia, kecuali jika dia wara’ dalam perolehannya, membantu dirinya dari tamak, bermaksud membantu ahli kebaikan, dan bersedekah kepada yang membutuhkan, maka usaha orang ini lebih baik daripada menganggurnya.

Adapun naik pangkat yang sebabnya adalah bergaul dengan penguasa, maka jauh dari selamat agamanya, jika keselamatannya terlihat secara lahir, maka akibatnya berbahaya.

960- Abu Muhammad At-Tamimi berkata: Saya tidak pernah iri kepada siapa pun, kecuali kepada Asy-Syarif Abu Ja’far pada hari Al-Qa’im bi Amrillah wafat; karena dia memandikannya, lalu keluar sambil mengibaskan lengan bajunya, lalu duduk di masjidnya tanpa peduli dengan siapa pun, sedangkan kami gelisah tidak tahu apa yang akan terjadi pada kami. Hal itu karena At-Tamimi tergantung pada penguasa, melaksanakan surat-suratnya, maka dia takut dengan akibat buruk kedekatan. Dan kami telah melihat sekelompok ulama yang bergaul dengan penguasa, maka akibat mereka buruk.

Demi hidup saya, mereka mencari kenyamanan, namun salah jalan; karena kesedihan hati tidak sebanding dengan kenikmatan harta, dan kenikmatan makanan, ini di dunia sebelum akhirat.

961- Dan siapa yang lebih mulia dan lebih enak hidupnya daripada orang yang menyendiri di sudut, tidak bergaul dengan penguasa, dan tidak peduli apakah makanannya enak atau tidak?! Karena dia tidak lepas dari sepotong roti dan secangkir air, kemudian dia selamat dari kata-kata yang menyakitinya, atau dicela oleh syariat ketika masuk kepada mereka atau oleh manusia.

962- Dan barangsiapa yang merenungkan keadaan Ahmad ibn Hanbal dalam keterasingannya, dan keadaan Ibn Abu Dawud serta Yahya ibn Aktham, akan mengetahui perbedaan dalam enaknya hidup di dunia, dan keselamatan di akhirat.

963- Dan betapa bagusnya perkataan Ibn Adham: Seandainya raja-raja dan anak-anak raja mengetahui apa yang kami rasakan dari nikmatnya hidup, niscaya mereka akan berperang melawan kami dengan pedang. Dan sungguh Ibn Adham benar; karena penguasa jika makan sesuatu, takut kalau-kalau dimasukkan racun ke dalamnya, dan jika tidur, takut dibunuh, dan dia di balik pintu-pintu terkunci, tidak bisa keluar untuk bersenang-senang; jika keluar, dia gelisah dari orang yang paling dekat dengannya, dan kenikmatan yang diraihnya menjadi dingin padanya, dan tidak tersisa baginya kenikmatan makanan dan nikah, dan setiap kali dia mencari makanan yang lezat, dia banyak memakannya, maka perutnya rusak, dan setiap kali dia mendatangkan budak wanita baru, dia banyak mendatanginya, maka kekuatannya hilang, dan hampir tidak ada jarak antara satu jimak dengan jimak lainnya, maka dia tidak merasakan kenikmatan yang besar dalam jimak; karena kenikmatan jimak sesuai dengan jauhnya jarak antara dua waktu, dan demikian juga kenikmatan makan; karena orang yang makan dalam keadaan kenyang, dan jimak tanpa syahwat yang benar dan kegelisahan; tidak akan merasakan kenikmatan sempurna yang dirasakan orang fakir ketika lapar, dan bujangan ketika mendapat istri, kemudian orang fakir melemparkan dirinya di jalan pada malam hari lalu tidur, dan kenikmatan keamanan telah diharamkan kepada para penguasa, maka kenikmatan mereka kurang, dan perhitungan mereka bertambah.

964- Demi Allah, saya tidak mengenal orang yang hidup dengan kedudukan tinggi yang mencapai kenikmatan yang tidak dicapai orang lain; kecuali ulama yang ikhlas; seperti Al-Hasan dan Sufyan dan Ahmad, dan ahli ibadah yang tahqiq, seperti Ma’ruf; karena kenikmatan ilmu melebihi setiap kenikmatan, adapun bahaya mereka jika lapar, atau diuji dengan gangguan, maka hal itu menambah kemuliaan mereka, dan demikian juga kenikmatan khalwat dan ibadah.

965- Ini Ma’ruf, dia menyendiri bersama Tuhannya, enak hidup bersamanya, nikmat khalwat dengannya, kemudian dia telah wafat sekitar empat ratus tahun yang lalu, maka tidak lepas setiap hari dihadiahkan kepadanya apa yang diperkirakan kumpulan bagian-bagian dari Al-Qur’an! Dan paling sedikit orang yang berdiri di kuburnya lalu membaca: “Qul huwallahu ahad…” (Surat Al-Ikhlas ayat 1) dan menghadiahkannya untuknya, dan para penguasa berdiri di hadapan kuburnya dengan hina, ini setelah kematian, dan pada hari pengumpulan akan disebarkan kemuliaan-kemuliaan yang tidak bisa dideskripsikan! Dan demikian juga kuburan ulama yang tahqiq.

966- Dan ketika sebagian kaum diuji dengan bergaul dengan para penguasa, hal itu mempengaruhi kekeruhan dalam semua keadaan mereka: maka Sufyan ibn Uyainah berkata: Sejak saya mengambil dari harta fulan sang penguasa, saya dihalangi dari apa yang telah dianugerahkan kepada saya dari pemahaman Al-Qur’an. Dan ini Abu Yusuf Al-Qadhi tidak ada dua orang yang menziarahi kuburnya. Maka sabar dari bergaul dengan para penguasa -meskipun mengharuskan sempitnya hidup dari satu sisi- akan memperoleh enaknya hidup dari beberapa sisi, dan dengan percampuran tidak akan memperoleh tujuan, maka barangsiapa yang bertekad, dia tegas.

967- Abu Al-Hasan Al-Qazwini tidak keluar dari rumahnya kecuali waktu shalat, maka kadang-kadang datang penguasa, lalu duduk menunggunya untuk mengucapkan salam kepadanya, dan memanjangkan nafas dalam hal ini mungkin membuat pendengar jengkel, dan barangsiapa yang merasakan akan mengetahui.

208- Bab: Kebanyakan manusia berjalan mengikuti kebiasaan

968- Barangsiapa yang mengenal syariat sebagaimana mestinya, dan mengetahui keadaan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keadaan para sahabat dan para ulama besar, akan mengetahui bahwa kebanyakan manusia tidak berada di jalan yang benar; dan mereka hanya berjalan mengikuti kebiasaan, saling mengunjungi, lalu sebagian menggunjing sebagian yang lain, dan setiap orang mencari aib saudaranya, dan dengki jika ada nikmat, dan gembira jika ada musibah, dan sombong kepadanya jika dinasihati, dan menipu untuk memperoleh sesuatu dari dunia, dan mengambil kesalahannya jika bisa. Semua ini terjadi di antara orang-orang yang mengaku zuhud, bukan rakyat jelata.

969- Maka yang lebih utama bagi orang yang mengenal Allah Subhanahu, dan mengenal syariat, dan sejarah salaf shalih: memutuskan diri dari semuanya. Jika terpaksa bertemu dengan orang yang mengaku ilmu dan kebaikan, dia menemuinya, dan telah memakai baju zirah kehati-hatian, dan tidak memperpanjang pembicaraan dengannya, kemudian segera lari darinya ke pergaulan dengan buku-buku yang berisi tafsir untuk sabuk kesempurnaan.

209- Bab: Kesempurnaan itu langka

970- Kesempurnaan itu langka, dan orang yang sempurna sedikit wujudnya. Maka sebab pertama kesempurnaan: keserasian anggota badan, dan bagusnya bentuk batin, maka bentuk badan disebut khalq (ciptaan), dan bentuk batin disebut khuluq (akhlak).

Dan dalil kesempurnaan bentuk badan: bagusnya sikap, dan penggunaan adab. Dan dalil bentuk batin: bagusnya tabiat dan akhlak:

Maka tabiat: iffah (menjaga diri), naza’ah (bersih), anafah (harga diri) dari kebodohan, dan menjauhkan kerakusan.

Dan akhlak: karam (mulia), itsar (mengutamakan orang lain), menutup aib, memulai kebaikan, dan sabar terhadap orang bodoh.

Maka barangsiapa yang dianugerahi hal-hal ini, naik menuju kesempurnaan, dan tampak darinya sifat-sifat yang paling mulia, dan jika kurang satu sifat, menyebabkan kekurangan.

210- Bab: Barangsiapa yang menginginkan keselamatan tidak mengenal taklif

971- Tidak ada di dunia orang yang lebih bodoh daripada orang yang ingin bermuamalah dengan Yang Haq Subhanahu untuk mencapai tujuan-tujuan. Lalu di mana ujian itu?!

Tidak demi Allah, pasti ada pembalikan kehendak, dan penundaan jawaban doa-doa, dan musuh-musuh bergembira di waktu-waktu tertentu.

Adapun orang yang menginginkan keselamatan yang kekal baginya, dan kemenangan atas orang yang memusuhinya, dan kesehatan tanpa cobaan, maka dia tidak mengenal taklif, dan tidak memahami taslim (penyerahan).

Bukankah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam ditolong pada hari Badr, kemudian terjadi padanya apa yang terjadi pada hari Uhud?! Bukankah dia dihalangi dari Baitullah kemudian menang setelah itu?!

972- Maka pasti ada yang baik dan buruk, dan yang baik mengharuskan syukur, dan yang buruk menggerakkan untuk bertanya dan berdoa; jika jawaban ditolak, dikehendaki berjalannya cobaan, dan taslim kepada takdir.

Dan di sini iman terlihat, dan tampak dalam taslim permata laki-laki. Jika taslim terwujud secara batin dan lahir, maka itu urusan orang yang sempurna. Dan jika didapati di batin ada penyempitan dari takdir bukan dari yang ditakdirkan -karena tabiat pasti menolak yang menyakitkan; menunjukkan lemahnya ma’rifat, jika perkara keluar menjadi keberatan dengan lisan, maka itu keadaan orang-orang bodoh, kita berlindung kepada Allah darinya.

211- Bab: Di antara cobaan besar adalah menempatkan seseorang bukan pada tempatnya

973- Di antara cobaan besar adalah menempatkan seseorang bukan pada tempatnya. Seperti seorang laki-laki shalih membutuhkan untuk menjaga perasaan orang zalim dan hilir mudik kepadanya, dan bergaul dengan orang yang tidak layak, dan pekerjaan-pekerjaan yang tidak pantas baginya, atau urusan-urusan yang memutuskan kehendaknya yang dia pilih, seperti dikatakan kepada orang alim: Pergilah kepada penguasa; jika tidak kami khawatir atas kamu kekerasannya! Maka dia pergi, lalu melihat apa yang tidak layak baginya, dan dia tidak bisa mengingkarinya.

974- Atau dia membutuhkan sesuatu dari dunia -dan haknya telah dicegah- maka dia perlu menyindir dengan menyebut hal itu, atau terang-terangan untuk mendapat sebagian haknya, dan dia perlu menjaga perasaan orang yang sulit dijaga perasaannya, bahkan perhatiannya tersebar untuk keperluan-keperluan itu.

975- Dan demikian juga dia fakir untuk masuk dalam urusan-urusan yang tidak pantas baginya, seperti dia perlu mencari nafkah, maka dia hilir mudik ke pasar, atau melayani orang yang memberikan upahnya! Dan ini tidak bisa ditahan oleh hati orang yang muraqabah kepada Allah Subhanahu, karena apa yang tercampur dengannya dari kekeruhan, atau dia mempunyai keluarga dan dia fakir, maka dia memikirkan untuk mencukupi mereka, lalu masuk dalam jalan-jalan yang semuanya baginya berat.

976- Dan mungkin dia diuji dengan kehilangan orang yang dicintainya, atau dengan cobaan di badannya, atau dengan terbaliknya tujuannya, dan ditimpakan musuh-musuhnya kepadanya, maka dia melihat orang fasik mengalahkannya, dan orang zalim merendahkannya! Dan semua hal ini mengkeruhkan hidupnya, dan hampir menggoyahkan hati.

977- Dan tidak ada dalam cobaan dengan kekuatan hal-hal kecuali taslim, dan berlindung kepada Yang menakdirkan dalam kelapangan, maka orang mukmin yang tegas terlihat teguh untuk perkara-perkara besar ini, dan hatinya tidak berubah, dan lidahnya tidak berucap dengan keluhan.

Bukankah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam perlu berkata: “Siapa yang akan melindungiku? Siapa yang akan menolongku?” dan membutuhkan untuk masuk Makkah dalam perlindungan orang kafir, dan ditaruh kotoran di punggungnya, dan para sahabatnya dibunuh, dan menjaga perasaan orang-orang yang dijinakkan, dan lapar yang keras, dan dia diam tidak berubah?! Dan itu tidak lain karena dia tahu bahwa dunia adalah rumah cobaan, agar Allah melihat di dalamnya bagaimana kalian beramal?

Dan yang meringankan hal-hal ini adalah ilmu hamba tentang pahala, dan bahwa itu kehendak Yang Hak.

“…maka apa luka jika kalian ridha tidak memiliki rasa sakit”

212- Bab: Ulama yang mengumpulkan harta dari cara-cara buruk

978- Tidak dapat diingkari bahwa tabiat mencintai harta; karena itu sebab kelangsungan badan; tetapi cintanya bertambah di sebagian hati, sampai menjadi dicintai karena dirinya, bukan untuk dijadikan jalan menuju tujuan! Maka kamu melihat orang bakhil memikul hal-hal aneh pada dirinya, dan mencegah dirinya dari kenikmatan, dan menjadi kenikmatan baginya dalam mengumpulkan harta! Dan ini adalah fitrah dalam banyak makhluk, dan bukan aneh jika ada pada orang-orang bodoh.

979- Dan seharusnya berpengaruh padanya bagi para ulama mujahada (berjuang melawan) tabiat dan menyelisihinya, khususnya dalam perbuatan-perbuatan yang harus dalam mengumpulkan harta, adapun menjadi ulama yang mengumpulkan harta dari cara-cara buruk, dan dari syubhat yang kuat, dan dengan ketamakan yang keras, dan usaha dalam mencari, kemudian mengambil dari zakat, dan tidak halal baginya dengan kekayaan, kemudian menimbunnya, dan tidak memberi manfaat dengannya: maka ini kebinatan yang keluar dari sifat-sifat kemanusiaan, bahkan kebinatan lebih ma’zur; karena dengan riyadhah tabiatnya berubah, dan orang-orang ini tidak diubah oleh riyadhah, dan tidak memberi manfaat kepada mereka ilmu!

980- Dan sungguh Abu Al-Hasan Al-Bustami tinggal di ribath Al-Bustami yang di sungai Isa, dan dia tidak memakai kecuali wol musim dingin dan panas, dan dia dihormati dan dituju, maka dia meninggalkan harta yang lebih dari empat ribu dinar!

981- Dan kami melihat sebagian guru-guru kami, dan telah mencapai delapan puluh tahun, dan tidak mempunyai istri dan anak, dan telah sakit, maka dia menjatuhkan dirinya pada sebagian temannya, orang itu repot untuknya apa yang dia inginkan dan apa yang menyembuhkannya, maka dia mati, lalu meninggalkan harta-harta yang besar!

982- Dan kami melihat Shadaqah ibn Al-Husain penyalin, dan dia selalu mencela zaman dan penduduknya, dan berlebihan dalam takut dari manusia, dan mengering, dan dia di masjid sendirian, tidak ada yang mengurus urusannya, maka dia mati, lalu meninggalkan -menurut yang dikatakan- tiga ratus dinar.

983- Dan Abu Thalib ibn Al-Mu’ayyad As-Sufi menyertai kami, dan dia mengumpulkan harta, maka dicuri darinya sekitar seratus dinar, lalu dia sangat menyesal atasnya, dan itu sebab kehancurannya.

984- Dan di antara keadaan manusia bahwa kamu melihat kaum-kaum duduk atas sifat kaum, mencari fath (pemberian), maka datang kepada mereka darinya yang banyak, yang membuat mereka menjadi orang-orang kaya, dan mereka tidak menahan diri dari mengambil zakat, dan tidak dari meminta! Dan demikian juga qashash (pencerita), mereka keluar ke negeri-negeri, dan meminta, maka mereka peroleh harta yang banyak, maka mereka tidak meninggalkan meminta sebagai kebiasaan.

Maha Suci Allah! Apa yang memberi manfaat ilmu?! Bahkan kebodohan lebih ma’zur bagi orang-orang ini!

985- Dan di antara keadaan mereka yang paling buruk adalah melazimi sebab-sebab yang menarik dunia bagi mereka, dari takhasyyu’ (merendahkan diri), dan tanassuk (beribadah) secara lahir, dan melazimi menganjurkan uzlah dari pergaulan! Dan semua orang ini jauh dari syariat.

986- Dan sungguh saya perhatikan pada sebagian mereka dari mencela sejawatnya sampai dia sampai kepada menyerangnya untuk kehancuran. Maka celakalah mereka! Betapa sedikit mereka menikmati zahir dunia! Dan jika Yang membolak-balik hati, telah memalingkan hati dari mencintai mereka -karena Yang Hak ‘azza wa jalla tidak memiringkan hati kecuali kepada orang-orang yang ikhlas; maka dunia telah luput dari mereka secara hakikat, dan mereka tidak memperoleh kecuali bentuk sampah! Kami memohon kepada Allah ‘azza wa jalla akal yang mengatur dunia kami, dan memperoleh bagi kami akhirat kami, dan Ar-Razzaq Maha Kuasa.

213- Bab: Barangsiapa yang mengenal mulianya wujud memperoleh yang terbaik dari yang ada

987- Seharusnya bagi orang yang mengenal mulianya wujud untuk memperoleh yang terbaik dari yang ada. Umur ini adalah musim, dan perdagangan berbeda-beda, dan orang awam berkata: Hendaklah kalian dengan apa yang ringan bebannya, dan banyak harganya, maka seharusnya bagi orang yang terjaga tidak mencari kecuali yang paling berharga.

988- Dan yang paling berharga di dunia adalah ma’rifat kepada Yang Hak ‘azza wa jalla. Maka di antara orang-orang arif salik ada yang menemui dalam perjalanannya keinginannya dalam safar. Dan di antara mereka ada yang perhatiannya terkait dengan mencari keuntungannya. Dan di antara mereka ada yang melihat kepada apa yang meridhai kekasih, maka dia membawanya ke negeri muamalah, dan ridha dengan penerimaan sebagai harga, dan melihat bahwa semua barang dagangan tidak memenuhi hak khifarah, dan di antara mereka ada yang melihat wajibnya syukur dalam pilihannya suluk ini selain lainnya, maka dia mengakui ketidakmampuan.

Dan telah naik suatu kaum dari keadaan-keadaan ini, mereka membaca semata taufiq menyibukkan mereka dari melihat kepada amal, mereka itulah yang sedikit jumlahnya, dan sesungguhnya yang paling besar kadarnya lebih sedikit keturunannya daripada anqa maghrib.

214- Bab: Segeralah segeralah karena kepergian telah dekat

989- Barangsiapa yang mengetahui dekatnya kepergian dari Makkah, memperbanyak thawaf khususnya jika dia tidak berharap kembali, karena tuanya umur, dan lemahnya kekuatan. Maka demikian juga seharusnya bagi orang yang mendekatinya pantai ajal dengan tingginya umur untuk menyegerakan saat-saat, dan menunggu yang menyerang dengan apa yang baik baginya, sungguh telah ada di busur ajal tempat menarik waktu muda, dan kendur tali di masa tua dari siye busur, maka turun ke qab, dan lemah kekuatan-kekuatan, dan tidak tersisa kecuali menyerah kepada pejuang kehancuran.

Maka segeralah segeralah kepada pembersihan, agar kedatangan dalam keadaan suci.

990- Dan hidup apa di dunia yang enak bagi orang yang hari-harinya yang selamat mendekatkannya kepada kehancuran, dan naiknya umurnya turun dari kehidupan, dan panjangnya keberadaannya kurang jangka masa?!

Maka hendaklah dia memikirkan apa yang di hadapannya, dan itu lebih penting dari yang kami sebutkan. Bukankah dalam “Shahih”: “Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali diperlihatkan kepadanya tempatnya pagi dan sore dari surga atau neraka, lalu dikatakan: Ini tempatmu, sampai Allah membangkitkanmu”?!

Maka waa asafa (wahai penyesalan) bagi yang diancam betapa dia dibunuh sebelum pembunuhan! Dan wahai enaknya hidup bagi yang dijanjikan dengan lebih dari cita-cita! Dan hendaklah mengetahui orang yang mendekati tujuh puluh bahwa nafas adalah rintihan! Allah menolong orang yang memotong rintangan umur di atas pasir zarrud kematian.

215- Bab: Ridha Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Tuhannya

991- Barangsiapa yang ingin mengetahui hakikat ridha kepada Allah ‘azza wa jalla dalam perbuatan-perbuatan-Nya, dan ingin tahu dari mana timbulnya ridha, maka hendaklah dia memikirkan keadaan-keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena ketika ma’rifahnya kepada Khaliq Subhanahu sempurna, dia melihat bahwa Khaliq adalah pemilik, dan bagi pemilik ada tasharruf dalam miliknya, dan dia melihat-Nya hakim yang tidak membuat sesuatu sia-sia, maka dia menyerah penyerahannya budak kepada hakim; maka terjadilah keajaiban-keajaiban atasnya, dan tidak didapati darinya perubahan, dan tidak dari tabiat kegelisahan, dan tidak berkata dengan lisan hal: seandainya begini! bahkan dia teguh terhadap takdir-takdir keteguhan gunung terhadap angin topan.

992- Ini sayyid rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada makhluk sendirian, dan kekufuran telah memenuhi cakrawala, terus lari dari tempat ke tempat, dan bersembunyi di rumah khizran, dan mereka memukulnya jika keluar, dan mengeluarkan darah tumitnya, dan diletakkan kotoran di punggungnya, dan dia diam tenang dan keluar setiap musim lalu berkata: “Siapa yang akan melindungiku? Siapa yang akan menolongku?” … kemudian keluar dari Makkah, maka tidak mampu kembali kecuali dalam perlindungan orang kafir.

Dan tidak didapati dari tabiat kegelisahan, dan tidak dari batin keberatan, karena seandainya selain dia, akan berkata: Ya Rabb! Engkau pemilik makhluk, dan mampu atas pertolongan, maka mengapa aku dihinakan?! Sebagaimana Umar radhiyallahu anhu berkata pada hari perjanjian Hudaibiyah: Bukankah kita di atas kebenaran?! Maka mengapa kita memberikan yang hina dalam agama kita?! Dan ketika dia berkata ini, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku hamba Allah, dan Dia tidak akan menyia-nyiakanku”. Maka terkumpul dua kalimat dua asas yang kami sebutkan: maka perkataannya: “Sesungguhnya aku hamba Allah”: pengakuan dengan kepemilikan, dan seakan dia berkata: Aku budak yang diperbuat padaku apa yang dikehendaki. Dan perkataannya: “tidak akan menyia-nyiakanku”: penjelasan hikmah-Nya, dan bahwa Dia tidak melakukan sesuatu sia-sia.

Kemudian dia diuji dengan kelaparan, lalu dia melilit batu di perutnya, padahal “Dan milik Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi” (Surat Al-Munafiqun: 7). Sahabat-sahabatnya dibunuh, wajahnya terluka, gigi serinya patah, dan pamannya disiksa… namun dia tetap sabar. Kemudian dia dikaruniai seorang anak, lalu dirampas darinya, maka dia menghibur diri dengan Hasan dan Husain, namun diberitahu apa yang akan menimpa keduanya. Dia merasa tenang dengan Aisyah radhiyallahu anha, namun kehidupannya diganggu dengan tuduhan terhadapnya. Dia memperbanyak menampakkan mukjizat, namun dimunculkan Musailamah, Al-Ansi, dan Ibnu Shayad untuk menghadapinya. Dia menegakkan hukum amanah dan kejujuran, namun dikatakan: pembohong! tukang sihir!

Kemudian penyakit menyerangnya seperti demam yang menimpa dua orang, namun dia tetap tenang dan sabar. Jika dia menceritakan keadaannya, maka ketahuilah kesabaran. Kemudian kematian menjerat dirinya dengan kencang, hingga nyawanya yang mulia dicabut, sementara dia berbaring dengan kain compang-camping dan sarung kasar, dan pada malam itu mereka tidak memiliki minyak untuk menyalakan pelita.

Hal ini tidak mampu disabar dengan sebagaimana mestinya oleh nabi sebelumnya, dan andai para malaikat diuji dengannya, mereka tidak akan sabar.

993- Ini Adam alaihissalam, dihalalkan baginya surga kecuali satu pohon, namun lalat keserakahannya tidak hinggap kecuali pada yang terlarang. Sedangkan Nabi kita shallallahu alaihi wasallam berkata tentang yang halal: “Apa urusanku dengan dunia?!” Ini Nuh alaihissalam mengeluh dari apa yang menimpanya, hingga berteriak karena kesedihan dan dukanya: “Jangan Engkau biarkan seorang pun dari orang-orang kafir tinggal di bumi” (Surat Nuh: 26). Sedangkan Nabi kita shallallahu alaihi wasallam berkata: “Ya Allah! Berilah petunjuk kepada kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”

994- Ini Kalimullah Musa shallallahu alaihi wasallam, memohon pertolongan ketika kaumnya menyembah anak sapi atas takdir dengan berkata: “Ini tidak lain hanyalah cobaan-Mu” (Surat Al-A’raf: 155), dan ketika malaikat maut datang kepadanya, dia memukul matanya. Dan Isa shallallahu alaihi wasallam berkata: Jika Engkau menjauhkan kematian dari seseorang, maka jauhkanlah dariku. Sedangkan Nabi kita shallallahu alaihi wasallam diberi pilihan antara hidup dan mati, lalu memilih berpindah kepada Teman Yang Maha Tinggi.

995- Ini Sulaiman shallallahu alaihi wasallam berkata: “Dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan” (Surat Shad: 35). Sedangkan Nabi kita shallallahu alaihi wasallam berkata: “Ya Allah! Jadikanlah rezeki keluarga Muhammad secukupnya.” Ini, demi Allah, perbuatan seorang laki-laki yang mengenal alam dan Pencipta alam, maka matilah keinginan-keinginannya, dan teduh protes-protestnya, hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang terjadi.

216- Fasal: Syahwat indera yang paling besar adalah wanita

996- Syahwat indera yang paling besar adalah wanita. Seseorang mungkin melihat seorang wanita dalam pakaiannya, lalu terbayang baginya bahwa dia lebih cantik dari istrinya, atau dia membayangkan dalam pikirannya wanita-wanita cantik, dan pikirannya hanya melihat keindahan dari wanita, maka dia berusaha menikah dan berselir. Ketika dia memperoleh keinginannya, dia terus melihat cacat-cacat yang ada, yang sebelumnya tidak pernah dia pikirkan, lalu dia bosan dan mencari yang lain. Dia tidak tahu bahwa tercapainya keinginannya secara lahir mungkin mengandung cobaan, di antaranya adalah bahwa yang kedua tidak beragama, atau tidak berakal, atau tidak mencintainya, atau tidak pandai mengatur, maka hilanglah lebih banyak dari yang diperoleh!

Makna inilah yang menjatuhkan para pezina ke dalam perbuatan keji; karena mereka bergaul dengan wanita dalam keadaan cacat-cacatnya tersembunyi dari mereka, dan keindahan-keindahannya tampak, maka mereka menikmati saat itu, kemudian berpindah ke yang lain!

997- Maka hendaklah orang berakal mengetahui bahwa tidak ada jalan untuk memperoleh keinginan yang sempurna, sebagaimana yang diinginkan, “Dan kamu tidak akan memperolehnya melainkan dengan memicingkan mata” (Surat Al-Baqarah: 267). Dan tidak ada celaan terhadap wanita-wanita dunia yang lebih baik dari firman Allah Azza wa Jalla: “Dan bagi mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci” (Surat Al-Baqarah: 25).

998- Orang yang memiliki harga diri akan merasa malu dengan kotoran secara lahir, dan cacat akhlak secara batin. Maka hendaklah dia puas dengan yang batinnya adalah agama, dan lahirnya adalah menutupi aib dan qana’ah, karena dia akan hidup dengan hati yang lapang dan tenang. Ketika dia menginginkan banyak, maka dia hanya memperbanyak kesibukan hatinya dan melemahkan agamanya.

217- Fasal: Setiap orang disibukkan Allah dengan bidang tertentu

999- Maha Suci Allah yang menyibukkan setiap orang dengan bidang tertentu agar mata-mata dapat tidur di dunia. Adapun dalam ilmu pengetahuan, Allah mencintakan kepada orang ini Al-Qur’an, kepada orang ini hadits, kepada orang ini nahwu… karena seandainya tidak demikian, ilmu-ilmu tidak akan terpelihara.

Allah mengilhami orang ini untuk menjadi tukang roti, orang ini menjadi tukang bumbu, orang ini mengangkut duri dari padang pasir, orang ini membersihkan sampah, agar urusan makhluk menjadi tertib. Seandainya Allah mengilhami kebanyakan manusia untuk menjadi tukang roti misalnya, roti akan bermalam dan rusak! Atau menjadi tukang bumbu, bumbu-bumbu akan kering! Bahkan Allah mengilhami orang ini dan itu dengan kadar tertentu, agar urusan dunia dan akhirat menjadi teratur.

1000- Jarang di antara makhluk yang Allah ilhami dengan kesempurnaan, dan mencari yang terbaik, dan menggabungkan antara ilmu-ilmu dan amal-amal, serta muamalah hati. Dan pemilik keadaan ini berbeda-beda tingkatannya. Maha Suci Allah yang menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih. Kami memohon kepada-Nya ampunan jika tidak terjadi keridhaan, dan keselamatan jika kami tidak layak untuk bermuamalah.

218- Fasal: Ilmu hadits adalah syariat

1001- Ilmu hadits adalah syariat; karena ia menjelaskan Al-Qur’an, menerangkan halal dan haram, dan mengungkap perjalanan hidup Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya. Mereka telah mencampurkannya dengan kebohongan, dan memasukkan ke dalam riwayat-riwayat segala yang buruk. Jika zahid dan penceramah mendapat taufik, mereka tidak menyebutkan kecuali yang mereka saksikan kesahihannya. Jika mereka tidak mendapat taufik, zahid akan mengamalkan setiap hadits yang didengarnya karena prasangka baiknya kepada perawi! Dan penceramah akan mengatakan segala sesuatu yang dilihatnya karena ketidaktahuannya tentang penshahihan! Maka rusaklah keadaan zahid, dan menyimpang dari jalan petunjuk tanpa dia sadari.

Bagaimana tidak, padahal kebanyakan hadits yang menunjukkan zuhud tidak shahih?! Seperti hadits Ibnu Umar radhiyallahu anhu: “Siapa saja muslim yang menginginkan syahwat, lalu menahan syahwatnya dan mengutamakan selain dirinya; dia akan diampuni.”

Ini adalah hadits palsu, yang melarang manusia dari yang dihalalkan baginya, yang dengannya dia menguat untuk taat.

Seperti perkataannya: “Barangsiapa memakai pakaian bagus…” Demikian juga apa yang mereka riwayatkan: bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam disajikan dua lauk, lalu beliau berkata: “Dua lauk dalam satu mangkuk?! Aku tidak memerlukannya, aku khawatir Allah akan bertanya kepadaku tentang kemewahan dunia.” Dan dalam “Shahih”: bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam makan semangka dengan kurma basah.

Seperti ini jika ditelusuri banyak!

Mereka telah membangun di atas kerusakannya, maka rusaklah keadaan penceramah dan yang diberi ceramah; karena dia membangun perkataannya di atas hal-hal yang rusak dan mustahil.

1002- Sungguh ada sekelompok orang yang berzuhud, yang mengamalkan hadits-hadits dan riwayat-riwayat yang tidak shahih, maka sia-sialah waktu mereka dalam yang tidak disyariatkan, kemudian mereka mengingkari para ulama yang menggunakan hal-hal yang mubah, dan mereka melihat bahwa kekeringan adalah agama!

1003- Demikian juga para penceramah menceritakan kepada manusia apa yang tidak shahih dari Rasul shallallahu alaihi wasallam dan sahabat-sahabatnya, maka yang mustahil telah menjadi syariat bagi mereka. Maha Suci Allah yang memelihara syariat ini dengan berita-berita orang-orang shalih, yang menolak darinya penyelewengan orang-orang yang berlebihan, dan pengklaiman orang-orang yang batil!

219- Fasal: Musnad Imam Ahmad berisi yang shahih dan selainnya

1004- Sebagian ahli hadits pernah bertanya kepadaku: Apakah dalam Musnad Ahmad ada yang tidak shahih? Aku menjawab: Ya.

Hal itu mengherankan sekelompok orang yang dinisbatkan kepada madzhab! Aku menganggap mereka sebagai awam, dan mengabaikan pemikiran tentang hal itu. Ternyata mereka telah menulis fatwa-fatwa, dan sekelompok ahli dari Khurasan -di antaranya Abu Al-Ala Al-Hamadhani- menulis di dalamnya, mereka mengagungkan perkataan ini, menolaknya, dan memburukkan perkataan orang yang mengatakannya! Aku terdiam terkejub, dan berkata dalam hatiku: Sungguh mengherankan! Orang-orang yang dinisbatkan kepada ilmu juga menjadi awam! Itu tidak lain karena mereka mendengar hadits, namun tidak meneliti yang shahih dan yang lemahnya, dan mereka mengira bahwa orang yang mengatakan apa yang kukatakan telah mencela apa yang dikeluarkan Ahmad, padahal tidak demikian! Sesungguhnya Imam Ahmad meriwayatkan yang masyhur, yang baik, dan yang buruk, kemudian dia menolak banyak dari yang diriwayatkannya, dan tidak menerimanya, serta tidak menjadikannya sebagai mazhab baginya. Bukankah dia yang berkata tentang hadits berwudhu dengan nabidz: majhul (tidak dikenal)?!

1005- Barangsiapa melihat “Kitab Al-Ilal” yang disusun Abu Bakar Al-Khallal, dia akan melihat hadits-hadits banyak, semuanya dalam “Al-Musnad”, dan Ahmad telah mencela hadits-hadits tersebut.

Aku nukil dari tulisan tangan Qadhi Abu Ya’la Muhammad bin Al-Husain Al-Farra dalam masalah nabidz, dia berkata: Ahmad hanya meriwayatkan dalam “Musnad”-nya apa yang masyhur, dan tidak bermaksud memilih yang shahih atau yang lemah. Yang menunjukkan hal itu adalah bahwa Abdullah berkata: Aku berkata kepada ayahku: Apa pendapatmu tentang hadits Rib’i bin Hirasy dari Hudzaifah? Dia berkata: Yang diriwayatkan Abdul Aziz bin Abi Rawwad? Aku berkata: Ya. Dia berkata: Hadits-hadits lain menyelisihinya. Aku berkata: Engkau telah menyebutkannya dalam “Al-Musnad”? Dia berkata: Aku bermaksud dalam “Al-Musnad” yang masyhur, seandainya aku bermaksud memilih yang shahih menurutku, “Al-Musnad” ini tidak akan memuat kecuali sedikit sekali; tetapi wahai anakku, engkau mengetahui caraku dalam hadits, aku tidak menyelisihi hadits yang lemah jika tidak ada dalam bab itu sesuatu yang menolaknya. Qadhi berkata: Dan dia telah memberitahu tentang dirinya bagaimana caranya dalam Al-Musnad; maka barangsiapa menjadikannya sebagai dasar untuk keshahihan, dia telah menyelisihinya dan meninggalkan tujuannya.

1006- Aku berkata: Sungguh membuatku sedih di zaman ini bahwa para ulama -karena kekurangan mereka dalam ilmu- menjadi seperti awam, dan jika hadits palsu lewat di hadapan mereka, mereka berkata: telah diriwayatkan! Dan tangisan seharusnya karena rendahnya cita-cita. Dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

220- Fasal: Harga diri dari sifat-sifat tercela

1007- Aku mendengar tentang sebagian orang fasik terdahulu bahwa dia berkata:

Aku tidak melihat kehidupan kecuali mengikuti nafsu hawa, baik salah atau benar

Aku merenungkan keadaan orang ini, ternyata dia mati jiwanya, tidak memiliki harga diri atas kehormatannya, tidak takut aib! Dan seperti ini tidak termasuk dalam golongan manusia!

Sesungguhnya manusia bisa nekat membunuh agar tidak dikatakan: pengecut. Dan memikul beban berat agar dikatakan: dia tidak lalai. Dan takut aib, maka sabar atas segala musibah kemiskinan, dan dia menutupi hal itu, agar tidak dipandang dengan mata yang kurang. Bahkan orang bodoh jika dikatakan kepadanya: wahai orang bodoh! dia marah. Dan pencuri-pencuri yang bersiap untuk yang haram jika salah seorang berkata kepada yang lain: jangan bicara, karena saudara perempuanmu berbuat begini dan begitu! maka dia terbakar ghirah, lalu membunuh saudara perempuannya. Dan orang yang memiliki jiwa, tidak akan berdiri di tempat yang dicurigai, agar tidak disangka buruk. Adapun orang yang tidak peduli dilihat mabuk, tidak peduli jika terkenal di antara manusia, tidak sakit hati jika manusia menyebut-nyebutnya dengan buruk, maka dia dalam golongan binatang. Dan orang yang ingin mengikuti hawa nafsu ini, tidak akan merasakan kenikmatan, kecuali tidak takut kesulitan dan celaan, dan tidak memiliki kehormatan yang dikhawatirkan atasnya, maka dia adalah binatang dalam kulit manusia; jika tidak, kehidupan apa bagi orang yang minum khamar, kemudian setelah itu diambil dan dipukul, dan tersebar di antara manusia apa yang telah dilakukan kepadanya?! Apakah itu tidak menutupi kenikmatan?! Tidak, bahkan itu melebihinya berkali-kali lipat. Dan kehidupan apa bagi orang yang mengasihi kemalasan: jika dia melihat teman-temannya telah unggul dalam ilmu sedangkan dia bodoh, atau kaya dengan berdagang sedangkan dia miskin?! Apakah masih ada makna untuk menikmati kemalasan dan istirahat?! Seandainya pezina merenungkan pembicaraan tentang dirinya, atau membayangkan ditegakkannya hukuman atasnya, tentu dia akan menahan diri, namun dia melihat kenikmatan yang hadir seperti kilatan petir, dan celaka apa yang ditimbulkannya dari panjangnya duka!

Ini semua dalam hal yang segera, adapun yang tertunda, maka gangguan azab itu kekal, “Dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya” (Surat Asy-Syura: 18).

Kami memohon kepada Allah harga diri dari sifat-sifat tercela, dan cita-cita tinggi dalam mencari keutamaan, sesungguhnya Dia Maha Dekat lagi Mengabulkan.

221- Fasal: Azab bisa datang mendadak, dan bisa ditunda karena kesabaran

1008- Azab bisa datang mendadak, dan bisa ditunda karena kesabaran. Orang berakal adalah orang yang jika berbuat dosa, segera bertobat. Betapa banyak orang yang tertipu dengan penundaan terhadap orang-orang durhaka yang tidak diberi penundaan!

1009- Dosa yang paling cepat azabnya adalah yang tidak disertai kenikmatan yang melupakan larangan, sehingga dosa itu seperti perlawanan dan permusuhan; jika itu mengharuskan protes kepada Khalik, atau berselisih dengan-Nya dalam keagungan-Nya: maka itulah yang tidak dapat diperbaiki, khususnya jika terjadi dari orang yang mengenal Allah, karena jarang dia diabaikan.

1010- Abdul Majid bin Abdul Aziz berkata: Di Khurasan ada seorang laki-laki yang menulis mushaf dalam tiga hari, lalu seseorang menemuinya dan berkata: Dalam berapa hari ini ditulis? Maka dia menunjuk dengan jari telunjuk, tengah, dan jempol, dan berkata: Dalam tiga, “Dan Kami tidak merasa letih sedikitpun” (Surat Qaf: 38), maka keringatlah ketiga jarinya, dan dia tidak dapat memanfaatkannya setelah itu.

1011- Terpikir oleh sebagian orang fasih bahwa dia mampu mengatakan seperti Al-Qur’an! Maka dia naik ke loteng, menyendiri di dalamnya, dan berkata: Beri aku waktu tiga hari! Mereka naik menemuinya setelah tiga hari, tangannya telah kering di atas pena, dan dia telah mati.

1012- Abdul Majid berkata: Aku melihat seorang laki-laki yang menggauli istrinya dalam keadaan haid; maka dia mengalami haid, ketika hal itu sering terjadi padanya, dia bertobat, maka hal itu berhenti darinya.

1013- Yang termasuk dalam hal ini adalah seseorang mencela orang lain karena perbuatan, dan yang paling besar adalah mencelakannya karena yang bukan urusannya, maka dia berkata: wahai orang buta! wahai buruk rupa! Ibnu Sirin berkata: Aku mencela seorang laki-laki karena kemiskinan, maka aku ditahan karena hutang.

1014- Azab bisa tertunda dan datang di akhir umur, betapa panjangnya tersandung dengan usia tua karena dosa-dosa yang dilakukan di masa muda!

Maka berhati-hatilah dari akibat dosa-dosa, dan bersegeralah menghapusnya dengan tobat, karena dosa-dosa itu memiliki pengaruh buruk, jika cepat datang, jika tidak, akan berkumpul dan datang.

222- Fasal: Orang paling bahagia adalah yang memiliki makanan secukupnya

1015- Ketahuilah bahwa manusia diciptakan untuk perkara besar, yaitu dituntut mengenal Khaliknya dengan dalil, dan tidak cukup baginya taklid, dan itu memerlukan pengumpulan perhatian dalam mencarinya, dan dia dituntut menegakkan kewajiban-kewajiban, dan menjauhi yang haram. Jika cita-cita naik untuk mencari ilmu, dia memerlukan tambahan pengumpulan perhatian.

1016- Maka orang paling bahagia adalah yang memiliki makanan rumah secukupnya, bukan dari pemberian dan sedekah manusia, dan dia qana’ah dengannya. Karena saat itu perhatiannya berkumpul untuk tujuan-tujuannya dari agama, dunia, dan ilmu. Adapun jika dia tidak memiliki makanan yang cukup, maka perhatian yang ingin dikumpulkan dalam perkara-perkara itu akan terpecah, dan dia menjadi pencari tipu daya dalam “mengumpulkan” makanan, maka umur habis untuk mengumpulkan makanan badan yang dia inginkan kelangsungannya bukan untuk kelangsungan itu sendiri, dan sia-sialah tujuan dari kelangsungannya, dan mungkin dia memerlukan orang-orang hina.

Penyair berkata: Cukup bagiku dari zaman apa yang mencukupiku, yang menjaga kehormatanku dari kehinaan Karena takut ada orang yang berkata: si fulan berhutang budi kepada si fulan

1017- Maka sepatutnya bagi orang berakal jika diberi rezki makanan, atau memiliki modal: untuk menjaganya, agar perhatiannya terkumpul, dan tidak sepatutnya dia boros dalam hal itu, karena dia akan memerlukan sehingga perhatiannya terpecah. Jiwa jika telah mengamankan makanannya akan tenang; jika dia tidak memiliki harta, hendaklah berusaha secukup kebutuhannya, dan mengurangi berlebihan, agar perhatiannya terkumpul. Dan hendaklah qana’ah dengan yang sedikit; karena jika cita-citanya naik kepada kelebihan harta, akan terjadi yang ditakutkan yaitu terpecah; karena perpecahan yang pertama karena ketiadaan, dan perpecahan ini karena tamak kepada yang berlebihan, maka umur habis untuk yang sia-sia:

Barangsiapa menghabiskan hari-hari untuk menjaga hartanya karena takut miskin, maka yang dilakukannya adalah kemiskinan

1018- Maka pahamilah ini wahai pemilik cita-cita tinggi dalam mencari keutamaan; karena engkau jika tidak menyisihkan makanan anak-anak, mereka akan memecah hatimu, dan tabiatmu adalah anak-anak, maka kosongkanlah perhatianmu dari meminta pertolongan mereka, dan ketahuilah kadar kemuliaan harta yang mewajibkan pengumpulan perhatianmu, dan menjaga kehormatanmu dari makhluk, dan janganlah kemurahan hati membawamu kepada berlebihan dalam mengeluarkan, sehingga engkau menjadi seperti orang miskin yang mengharapkan darimu dengan mengharap dari selainmu.

1019- Dalam hadits: bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau melihat padanya bekas-bekas kemiskinan, maka ditawari kepadanya, lalu diberi sesuatu, kemudian datang orang miskin lain, maka orang pertama mengutamakan orang miskin itu dengan sebagian dari yang diberinya, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam melemparkannya kepadanya, dan melarangnya dari yang seperti itu.

1020- Qana’ah dengan yang mencukupi, dan meninggalkan mengharap kepada yang berlebihan adalah pokok dari segala pokok. Ketika Imam Ahmad bin Hanbal memutuskan asa dirinya dari menerima hadiah dan bantuan, terkumpullah perhatiannya, dan baiklah penyebutannya. Ketika Ibnu Al-Madini dan lainnya mengharapkannya, jatuh penyebutannya.

Lalu dari siapa?! Tidak lain adalah penguasa yang zalim, atau orang kaya yang menyebut-nyebut pemberiannya, atau teman yang bangga dengan apa yang diberikannya. Mandiri lebih nikmat dari segala kenikmatan, dan keluar dari belenggu pemberian -meski dengan menyesap tanah- lebih utama.

223- Fasal: Tegar dalam menghadapi musibah

1021- Telah tertanam dalam tabiat kecintaan untuk unggul atas jenis, maka tidak ada seorang pun kecuali dia suka menjadi lebih tinggi derajatnya dari selainnya. Jika terjadi musibah yang menyebabkan turunnya dari martabat orang lain, maka sepatutnya baginya untuk tegar dengan menutupi musibah itu, agar tidak dipandang dengan mata kekurangan, dan hendaklah orang yang memelihara diri bertingkah cantik agar tidak dipandang dengan mata kasihan, dan hendaklah orang sakit menahan diri agar tidak ditertawakan oleh orang yang sehat.

1022- Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepada para sahabatnya ketika masuk Mekah, dan mereka terkena demam, maka beliau khawatir musuh-musuh akan mengejek mereka ketika mereka lemah untuk sa’i, maka beliau berkata: “Semoga Allah merahmati orang yang menampakkan ketegaran dari dirinya”, maka mereka berlari -dan ramal adalah sa’i yang kencang- dan hilanglah sebab itu, namun hukumnya tetap, agar sebab itu diingat, sehingga dipahami maknanya.

1023- Mereka meminta izin kepada Muawiyah, dan dia dalam keadaan sekarat, maka dia berkata kepada keluarganya: Dudukkan aku! Maka dia duduk tegak menampakkan kesehatan, ketika para penjenguk keluar, dia membaca syair:

Dan ketegararanku kepada yang mengejek aku tunjukkan kepada mereka bahwa aku terhadap musibah zaman tidak tunduk Dan jika kematian mencengkeram dengan cakarnya aku dapati setiap jimat tidak berguna

1024- Para orang berakal terus menampakkan ketegaran ketika musibah, kemiskinan, dan bencana, agar tidak menanggung selain musibah juga ejekan musuh -dan itulah yang paling berat dari setiap musibah- dan orang miskin di antara mereka menampakkan kekayaan, dan orang sakit menampakkan kesehatan.

1025- Ya, kemudian ada nuktah yang perlu diperhatikan: mungkin seseorang menampakkan banyaknya harta, dan limpahnya nikmat, maka musuhnya mengenainya dengan mata jahat, sehingga tidak cukup apa yang dibanggakannya dengan apa yang ditemuinya dari berbaliknya nikmat!

Dan mata jahat tidak mengenai kecuali yang bagus, dan tidak cukup merasa bagus dalam terkena mata jahat sampai ada yang hasad, dan tidak cukup itu sampai ada yang jahat tabiatnya. Jika sifat-sifat ini berkumpul, ditakutkan terkena mata jahat.

Maka hendaklah seseorang menampakkan keindahan sebatas dia aman dari terkena mata jahat, dan mengetahui bahwa dia dalam kebaikan, dan hendaklah berhati-hati dari berlebihan dalam menampakkan nikmat, karena mata jahat di sana sangat ditakutkan.

Ya’qub berkata kepada anak-anaknya alaihimussalam: “Janganlah kamu masuk dari satu pintu, dan masuklah dari pintu-pintu yang berbeda” (Surat Yusuf: 67), dan dia hanya takut mata jahat menimpa mereka. Maka pahamilah fasal ini, karena ia bermanfaat bagi yang memiliki pertimbangan.

Bab 224: Kedudukan Orang-Orang Beriman di Akhirat Sesuai dengan Kadar Mereka

  1. Sesungguhnya kita diciptakan untuk hidup bersama Sang Pencipta dalam mengenal-Nya, berbicara dengan-Nya, dan melihat-Nya dalam kehidupan yang kekal. Adapun permulaan keberadaan kita di dunia ini bagaikan sebuah madrasah, tempat kita belajar menulis dan adab, agar seorang anak menjadi layak untuk menduduki berbagai jabatan ketika dewasa.
  2. Di antara anak-anak ada yang lambat pemahamannya, lama tinggal di madrasah, namun keluar tanpa memahami apa-apa. Ini adalah perumpamaan orang yang tidak mengetahui keberadaannya dan tidak meraih tujuan dari penciptaannya.
  3. Di antara anak-anak ada yang selain lambat pemahamannya, kurang pengertiannya, dan tidak belajar, ia juga menyakiti anak-anak lain. Ia menyakiti mereka, mencuri makanan mereka, dan mereka meminta tolong dari perbuatannya. Ia tidak baik, tidak paham, dan tidak menahan diri dari kejahatan. Ini adalah perumpamaan orang-orang jahat dan yang menyakiti.
  4. Di antara anak-anak ada yang menguasai sebagian tulisan, namun lemah dalam penguasaan dan buruk tulisannya. Ia keluar dan tidak menguasai kecuali sekadar yang cukup untuk perhitungan perdagangannya. Ini adalah perumpamaan orang yang memahami sebagian hal namun terluput darinya keutamaan-keutamaan yang sempurna.
  5. Di antara mereka ada yang bagus tulisannya namun tidak belajar hitung-hitungan, menguasai adab secara hafalan, tetapi kurang dalam mendidik jiwa. Orang ini layak menjadi sekretaris raja dengan risiko, karena buruknya batin yang rakus dan kurang beradab.
  6. Di antara mereka ada yang cita-citanya tinggi menuju kesempurnaan yang paripurna. Ia adalah yang terdepan di antara anak-anak di madrasah dan wakil gurunya, kemudian terangkat dari mereka dengan kemuliaan jiwa, adab batin, dan kesempurnaan keahlian adab lahir. Selalu ada dorongan dari batinnya yang mendorongnya untuk mempercepat belajar dan meraih setiap keutamaan, karena mengetahui bahwa madrasah tidak dituju untuk dirinya sendiri, melainkan untuk mengambil adab darinya dan berpindah ke keadaan kedewasaan dan pengelolaan. Maka ia mendahului waktu dalam meraih setiap keutamaan. Ini adalah perumpamaan mukmin yang sempurna, mendahului teman-temannya di hari pembalasan, dan menunjukkan papan amalnya dengan tulisan yang bagus, maka ia berkata dengan lisan keadaannya: “Ambillah! Bacalah kitabku!” (Al-Haqqah: 19).
  7. Demikian pula dunia dan penghuninya: di antara manusia ada yang binasa jauh dari kebenaran, yaitu orang-orang kafir. Ada yang bersalah dengan sedikit iman, maka ia dihukum, namun akhirnya menuju kebaikan. Ada yang selamat namun kurang. Ada yang sempurna, tetapi dibanding yang di bawahnya, dan ia kurang dibanding yang di atasnya.
  8. Maka bergegas-gegaslah wahai para pemilik pengertian! Sesungguhnya dunia adalah jembatan menuju negeri kediaman, perjalanan menuju “tempat menetap”, dan kedekatan dengan raja serta bertetangga dengannya. Maka bersiaplah untuk duduk bersama, bersiap-siaplah untuk bercakap, dan berlebih-lebihlah dalam menggunakan adab, agar kalian layak untuk dekat dengan kehadirat. Janganlah kemalasan mengalihkan kalian dari melatih kuda, dan hendaklah mengingat hari perlombaan mendorong kalian untuk bersungguh-sungguh dalam hal itu. Sesungguhnya kedekatan orang-orang beriman kepada Sang Pencipta sesuai kadar kehati-hatian mereka di dunia, dan kedudukan mereka sesuai kadar mereka. Bukanlah kedudukan penjaga lampu seperti kedudukan hajib, dan bukan kedudukan hajib seperti tempat menteri. “Dua surga dari emas, bejana-bejananya dan apa yang ada di dalamnya. Dan dua surga dari perak, bejana-bejananya dan apa yang ada di dalamnya.” Dan Firdaus yang tertinggi untuk yang lain. Mereka yang di bumi surga melihat penghuni derajat-derajat sebagaimana mereka melihat bintang yang bersinar.
  9. Maka hendaklah yang berusaha mengingat manisnya penyerahan kepada Yang Terpercaya, dan mengingat kelezatan pujian di hari perlombaan. Hendaklah yang berlomba takut dari kekurangan yang tidak dapat diperbaiki, dan takut dari cacat yang jelek kenangannya tetap ada. “Mereka adalah penghuni neraka yang dimerdekakan oleh Yang Maha Pengasih. Mereka direndahkan oleh mengikuti hawa nafsu, kemudian keselamatan mengejar mereka, maka mereka selamat setelah kesulitan. Maka ambillah pelajaran!” Dan bersabarlah dari yang diinginkan, karena hari-hari sedikit. “Orang-orang miskin yang beriman masuk surga sebelum orang-orang kaya mereka lima ratus tahun.”
  10. Maka bersungguh-sungguhlah wahai kaki-kaki yang mendahului! Sungguh telah tampak tanda, khususnya bagi siapa yang jelas baginya tanda lembah: baik dengan ilmu yang menunjukkan jalan, maupun dengan uban yang merupakan tanda kepergian, dan itulah yang diharapkan oleh ahli kesungguhan.
  11. Al-Junaid biasa membaca saat keluarnya ruhnya, lalu dikatakan kepadanya: “Di waktu seperti ini?!” Maka ia berkata: “Aku bersegera sebelum lembaran amalku dilipat.” Setelah ini, yang dimaksud adalah yang diberi taufik, yang dicari adalah yang ditolong, dan jika Dia menghendakimu untuk suatu urusan, Dia akan menyiapkanmu untuknya.

Bab 225: Balasan Sesuai Kadar Amal

  1. Aku merenungkan keadaan yang aneh, yaitu bahwa penghuni surga yang tinggal di buminya dalam kekurangan besar dibanding yang di atas mereka, dan mereka mengetahui keutamaan mereka. Seandainya mereka memikirkannya sehingga luput dari mereka, niscaya terjadi kegelisahan. Namun hal itu tidak akan terjadi karena hal itu tidak menimpa mereka, karena enaknya tempat tinggal mereka, dan tidak terjadi kesedihan di surga. Setiap orang ridha dengan apa yang diberikan kepadanya dari dua segi: Pertama, ia tidak menyangka bahwa ada kenikmatan di atas apa yang ia alami, meski kedudukan orang lain lebih tinggi. Kedua, dicintakan kepadanya sebagaimana dicintakan kepadanya anaknya yang buruk rupa, karena ia lebih menyukainya daripada orang asing yang cantik.
  2. Namun di bawah ini ada makna yang halus, yaitu bahwa kaum itu diciptakan untuk mereka cita-cita yang pendek di dunia dari mencari keutamaan-keutamaan, dan bervariasi kependekannya: di antara mereka ada yang menghafal sebagian Al-Quran dan tidak rindu pada kesempurnaan, ada yang mendengar sedikit hadis, ada yang mengetahui sedikit fikih, ada yang ridha dari segala sesuatu dengan sedikitnya, ada yang terbatas pada kewajiban-kewajiban, ada yang puas dengan shalat dua rakaat di malam hari. Seandainya cita-cita mereka tinggi, niscaya mereka bersungguh-sungguh dalam meraih semua keutamaan dan menolak kekurangan, serta mempekerjakan badan, sebagaimana kata penyair: “Setiap jasad memiliki bencana dalam kekurusan, dan bencana jasadku adalah berbedanya cita-citaku.”
  3. Yang menunjukkan perbedaan cita-cita adalah bahwa di antara manusia ada yang begadang mendengar cerita dan tidak mudah baginya begadang mendengar Al-Quran! Manusia dibangkitkan dengan membawa cita-cita itu, maka diberi sesuai kadar apa yang diraih di dunia. Sebagaimana ia tidak rindu pada kesempurnaan dan puas dengan yang rendah, ia puas di akhirat dengan yang serupa.
  4. Kemudian kaum itu berpikir dengan akal mereka, maka mereka mengetahui bahwa balasan sesuai kadar amal, dan tidak mengharap orang yang shalat dua rakaat mendapat pahala orang yang shalat seribu rakaat.
  5. Jika ada yang berkata: “Bagaimana bisa dibayangkan ia tidak menginginkan apa yang diraih oleh yang lebih utama darinya?!” Aku katakan: Jika tidak bisa dibayangkan meraihnya, bagaimana bisa dibayangkan sedih karena terluputnya?! Pernahkah kamu melihat orang awam sedih karena terluput fikih dengan kesedihan yang membelahnya?! Jauh sekali! Seandainya kesedihan itu ada padanya, niscaya menggerakkannya untuk sibuk mempelajarinya! Tidak ada pada mereka cita-cita yang mewajibkan penyesalan, di samping mereka telah ridha dengan keadaan mereka. Maka pahamilah apa yang kukatakan, dan bergegas-lah, karena ini adalah medan perlombaan.

Bab 226: Hikmah dari Pengambilan Jizyah

  1. Aku merenungkan tentang membiarkan orang Yahudi dan Nasrani di antara kita, dan mengambil jizyah dari mereka. Aku melihat dalam hal itu hikmah-hikmah yang menakjubkan: di antaranya adalah apa yang telah disebutkan bahwa Islam dahulu lemah, maka diperkuat dengan apa yang diambil dari jizyah mereka. Di antaranya adalah tampaknya kemuliaan Islam dengan kehinaan mereka. Selain itu dari yang telah dikatakan.

Terlintas dalam pikiranku makna yang menakjubkan, yaitu bahwa keberadaan mereka, ibadah mereka, dan pemeliharaan mereka terhadap syariat nabi mereka shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dalil bahwa sungguh telah ada nabi-nabi dan syariat-syariat, dan bahwa nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah yang pertama di antara para rasul. Sungguh telah berkumpul jin dan manusia dalam menetapkan Pencipta dan mengakui rasul-rasul, maka jelaslah bahwa kita tidak mengada-ada sesuatu yang tidak pernah ada. Mereka sabar atas kebatilan mereka dan membayar jizyah, bagaimana kita tidak sabar atas kebenaran, sedangkan kekuasaan ada pada kita? Dalam keberadaan mereka terdapat penghormatan terhadap apa yang benar dari agama, agar yang melihat kembali dan yang berpikir menggunakan akalnya.

Bab 227: Seorang Alim Hendaknya Mengambil Sebagian dari Setiap Ilmu

  1. Telah terbukti dengan dalil kemulian ilmu dan keutamaannya, namun para pencari ilmu berpencar-pencar, setiap orang jiwanya memanggilnya pada sesuatu: di antara mereka ada yang menghabiskan umurnya dalam qiraat, dan itu adalah pemborosan umur, karena sesungguhnya yang seharusnya adalah mengandalkan yang masyhur di antaranya bukan yang syaz. Betapa buruknya seorang qari yang ditanya tentang masalah fikih, namun ia tidak tahu! Dan tidak ada yang menyibukkannya dari itu kecuali banyaknya cara dalam riwayat-riwayat qiraat!! Di antara mereka ada yang sibuk dengan nahwu dan illat-illatnya saja. Di antara mereka ada yang menulis hadis dan memperbanyak, namun tidak melihat dalam pemahaman apa yang ditulis.

Kita telah melihat di antara guru-guru ahli hadis kami ada yang ditanya tentang masalah shalat, namun tidak tahu apa yang harus dikatakan! Demikian pula para qari! Demikian pula ahli bahasa dan nahwu!

  1. Abdurrahman bin Isa al-Faqih menceritakan kepadaku, ia berkata: Ibnu al-Manshuri menceritakan kepadaku, ia berkata: Kami hadir bersama Abu Muhammad bin al-Khasyab, dan ia adalah imam manusia dalam nahwu dan bahasa. Mereka berdiskusi tentang fikih, maka ia berkata: “Tanyakan kepadaku apa yang kalian mau!” Seorang laki-laki berkata kepadanya: “Jika dikatakan kepada kami: mengangkat tangan dalam shalat, apa itu? Maka apa yang kamu katakan?” Ia berkata: “Itu rukun!” Maka jamaah terkejut dari sedikitnya fikih yang ia miliki.

Sesungguhnya yang seharusnya adalah mengambil dari setiap ilmu sebagiannya, kemudian memperhatikan fikih, kemudian melihat tujuan ilmu-ilmu, yaitu bermuamalah dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengenal-Nya, dan mencintai-Nya.

  1. Betapa bodohnya orang yang memotong umurnya dalam mengetahui ilmu bintang! Sesungguhnya yang seharusnya adalah mengetahui dari itu perjalanan dan tempat-tempat untuk mengetahui waktu-waktu. Adapun melihat dalam apa yang diklaim sebagai takdir dan hukum, itu adalah kebodohan murni, karena tidak ada jalan untuk mengetahui itu secara hakikat. Telah dicoba dan tampak kebodohan yang mengklaimnya. Terkadang terjadi ketepatan pada suatu waktu, dan dengan asumsi ketepatan, tidak ada faedah di dalamnya kecuali mempercepat kesedihan! Jika ada yang berkata: “Bisa menolak itu,” maka sungguh ia telah mengakui bahwa tidak ada hakikatnya!
  2. Lebih bodoh dari mereka adalah yang sibuk dengan ilmu kimia, karena itu adalah omong kosong yang tidak berguna. Jika tidak bisa dibayangkan mengubah emas menjadi tembaga, tidak bisa dibayangkan mengubah tembaga menjadi emas. Pelaku ini menghalalkan menipu manusia dalam mata uang. Ini jika berhasil tujuannya!
  3. Pencari ilmu hendaknya membenarkan niatnya, karena hilangnya keikhlasan menghalangi diterimanya amal! Hendaklah bersungguh-sungguh dalam bergaul dengan ulama, melihat pendapat-pendapat yang berbeda, dan mengumpulkan kitab-kitab, karena tidak ada kitab yang kosong dari faedah! Hendaklah menjadikan cita-citanya untuk menghafal, dan tidak melihat dan menulis kecuali saat lelah dari menghafal! Hendaklah menjauhi pergaulan dengan penguasa! Hendaklah melihat manhaj Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat, dan tabi’in! Hendaklah bersungguh-sungguh dalam melatih jiwa dan mengamalkan ilmunya! Barangsiapa yang Allah tangani, Dia akan memberikan taufik kepadanya.

Bab 228: Kesombongan dan Hasad Menutupi Cahaya Akal

  1. Lama aku heran pada kaum yang memiliki keangkuhan dan pada mereka ada kesombongan yang berlebihan! Khususnya bangsa Arab, yang dari satu kata saja mereka lari, berperang, dan ridha dengan pembunuhan! Sampai-sampai sebagian kaum di antara mereka yang mendapati Islam berkata: “Bagaimana kami rukuk dan sujud sehingga pantat kami terangkat?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada kebaikan dalam agama yang tidak ada rukuk dan sujudnya.” Dengan keangkuhan ini, mereka tunduk kepada yang lebih baik dari mereka. Ini menyembah batu! Ini menyembah kayu! Sungguh ada kaum yang menyembah kuda dan sapi!

Sungguh mereka ini lebih hina dari Iblis, karena Iblis angkuh—karena mengklaim kesempurnaan—untuk sujud kepada yang kurang, maka ia berkata: “Aku lebih baik darinya” (Shad: 76)! Firaun angkuh untuk menyembah sesuatu sama sekali! Maka mengherankan kehinaan para pembangga, penyombong, dan yang angkuh ini terhadap batu atau kayu! Sesungguhnya yang seharusnya adalah yang kurang tunduk kepada yang sempurna!!

Telah diisyaratkan hal ini dalam mencela berhala dalam firman-Nya: “Apakah mereka mempunyai kaki untuk berjalan, atau mempunyai tangan untuk memegang dengan keras, atau mempunyai mata untuk melihat dengannya” (Al-A’raf: 195). Maknanya: kalian memiliki alat-alat persepsi ini sedangkan mereka tidak memilikinya, maka bagaimana yang sempurna menyembah yang kurang?!

Namun hawa nafsu kaum dalam mengikuti pendahulu dan menganggap manis apa yang mereka ciptakan dengan pendapat mereka menutupi akal, maka tidak merenungkan hakikat perkara!

  1. Kemudian hasad menutupi sebagian kaum sehingga mereka meninggalkan kebenaran padahal mereka mengetahuinya! Umayyah bin Abi ash-Shalt mengakui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mendatanginya untuk beriman kepadanya, kemudian kembali dan berkata: “Aku tidak beriman kepada rasul yang bukan dari Tsaqif.” Abu Jahal berkata: “Demi Allah, Muhammad tidak pernah berdusta, tetapi jika pelayanan dan penjagaan ada pada Bani Hasyim, kemudian kenabian, maka apa yang tersisa untuk kami?!” Abu Thalib melihat mukjizat-mukjizat dan berkata: “Sungguh aku tahu bahwa kamu di atas kebenaran, dan seandainya tidak ada wanita-wanita Quraisy mencela aku, niscaya aku menyenangkan matamu.”

Maka berlindunglah kepada Allah dari kegelapan hasad, kedalaman kesombongan, dan kebodohan hawa nafsu yang menutupi cahaya akal. Kita memohon kepada-Nya ilham kebenaran dan amal sesuai tuntutan kebenaran.

Bab 229: Di Antara Orang Shalih Ada yang Didominasi Kelembutan dan Ada yang Didominasi Ketakutan

  1. Kita telah mendengar tentang sekelompok orang shalih yang bermuamalah dengan Allah Azza wa Jalla dengan cara keselamatan, cinta, dan kelembutan, maka Allah bermuamalah dengan mereka demikian, karena tabiat mereka tidak kuat selain itu. Di antara yang terdahulu ada Burakhs al-‘Abid, keluar untuk meminta hujan, lalu berkata (bermunajat kepada Allah): “Apa ini yang tidak kami kenal dari-Mu?! Turunkanlah hujan kepada kami sekarang!” Maka turunlah hujan.

Di antara sahabat ada Anas bin an-Nadhr berkata: “Demi Allah, gigi ar-Rabi’ tidak akan patah.” Maka terjadilah perkara sebagaimana yang ia katakan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah ada yang jika bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan memenuhi sumpahnya.”

Mereka adalah kaum yang didominasi oleh melihat kelembutan dan kasih sayang, maka Allah berlembut kepada mereka dan diberlakukan sesuai dengan keyakinan mereka.

  1. Ada yang lebih tinggi dari mereka, mereka meminta namun tidak dikabulkan, dan mereka ridha dengan penolakan. Tidak ada seorang pun dari mereka yang bersikap bebas, bahkan mereka diikat oleh ketakutan, kepala mereka ditundukkan oleh kehati-hatian, dan mereka tidak melihat lidah mereka layak untuk bersikap bebas. Puncak harapan mereka adalah maaf. Jika salah seorang dari mereka bersikap bebas dengan meminta, lalu tidak melihat jawaban, ia kembali menyalahkan dirinya, berkata: “Orang sepertimu tidak pantas dikabulkan!” Bahkan mungkin berkata: “Mungkin maslahatnya dalam menolakku.” Mereka inilah laki-laki sejati.
  2. Orang bodoh adalah yang melihat ia berhak untuk dikabulkan. Jika tidak dikabulkan, ia mengeluh dalam batinnya, seakan meminta upah amalnya, seakan ia telah memberi manfaat kepada Sang Pencipta dengan ibadahnya!

Sesungguhnya hamba yang sejati adalah yang ridha dengan apa yang diperbuat Sang Pencipta. Jika meminta lalu dikabulkan, ia melihat itu sebagai anugerah. Jika ditolak, ia melihat itu sebagai tindakan pemilik terhadap miliknya, maka tidak terlintas di hatinya keberatan sama sekali.

Fasal 230: Ilmu adalah Mengenal Pokok-Pokok Dasar

1053- Aku melihat sekelompok ulama yang bersikap santai dan mereka mengira bahwa ilmu akan membela mereka! Padahal mereka tidak menyadari bahwa ilmu justru menjadi musuh mereka! Dan bahwa Allah akan mengampuni tujuh puluh dosa orang jahil sebelum mengampuni satu dosa orang berilmu. Hal itu karena orang jahil belum mengenal kebenaran, sedangkan orang berilmu tidak beradab terhadapnya.

1054- Aku melihat sebagian orang berkata: “Aku telah melemparkan sabitku di antara para penyabit dan tidur!” Kemudian dia bersikap santai dalam hal-hal yang tidak dibolehkan!! Maka aku berpikir; ternyata ilmu -yang sesungguhnya adalah mengenal hakikat-hakikat, mempelajari perjalanan orang-orang terdahulu, beradab dengan adab kaum, mengenal kebenaran, dan apa yang menjadi haknya- tidak ada pada kaum tersebut. Yang ada pada mereka hanyalah bentuk-bentuk lafal, dengan mana mereka mengetahui apa yang halal dan apa yang haram. Bukanlah demikian ilmu yang bermanfaat. Sesungguhnya ilmu itu adalah memahami pokok-pokok dasar, mengenal Yang Disembah dan keagungan-Nya, apa yang menjadi hak-Nya, mempelajari perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, beradab dengan adab mereka, dan memahami apa yang dinukilkan dari mereka. Itulah ilmu yang bermanfaat yang membuat ulama terbesar merasa dirinya lebih hina daripada orang paling jahil.

1055- Aku melihat sebagian orang yang beribadah selama beberapa waktu, kemudian ia melemah. Sampai kepadaku bahwa dia berkata: “Aku telah menyembah-Nya dengan ibadah yang tidak pernah disembah dengan ibadah seperti itu oleh seorang pun!! Dan sekarang aku telah lemah.” Aku berkata: “Betapa aku khawatir ucapannya ini menjadi sebab tertolaknya semua amalnya! Karena dia melihat bahwa dia telah berbuat sesuatu bersama kebenaran, padahal dia hanya berdiri meminta keselamatan dengan meminta derajat-derajat. Dalam hak dirinya dia berbuat, dan perumpamaannya tidak lain seperti perumpamaan orang yang berdiri meminta-minta, maka tidak pantas dia berterima kasih kepada pemberi. Sesungguhnya sebab sikap santai ini adalah ketidaktahuan terhadap hakikat-hakikat.

Dan dimana dia dibandingkan ulama-ulama besar dalam muamalah, dan mereka yang di antara mereka ada seperti Shilah bin Asyim, ketika singa melihatnya, singa itu lari darinya, dan dia berkata ketika malam berakhir saat shalatnya: “Ya Rabb! Lindungilah aku dari neraka, apakah orang sepertiku pantas meminta surga?!” Dan lebih mengena dari itu ucapan Umar: “Aku berharap selamat tanpa untung dan rugi!” Dan ucapan Sufyan ketika mau mati kepada Hammad bin Salamah: “Apakah kamu mengharapkan orang sepertiku selamat dari neraka.” Dan ucapan Ahmad: “Tidak, belum.”

1056- Maka aku memuji Allah ‘azza wa jalla karena telah terlepas dari kebodohan orang-orang yang menyebut diri mereka berilmu dari mereka yang telah aku cela, dan dengan zuhud dari mereka yang telah aku aibkan. Karena sesungguhnya aku telah melihat dari keagungan Sang Pencipta dan perjalanan orang-orang yang tahqiq apa yang membisukan lidah dari bersikap santai, dan menghapus pandangan terhadap setiap perbuatan. Bagaimana aku memandang perbuatanku yang bagus, padahal Dialah yang menganugerahkannya kepadaku, dan membuatku mengetahui apa yang tersembunyi dari yang lain?! Apakah hal itu terjadi karena diriku ataukah karena kebaikan-Nya? Dan bagaimana aku mensyukuri taufik-Ku untuk bersyukur?!

1057- Kemudian ulama mana pun jika menyelidiki urusan para ulama dari orang-orang terdahulu, tidak akan meremehkan dirinya?! Ini dalam bentuk ilmu, apalagi maknanya. Dan ahli ibadah mana pun yang mendengar tentang para ahli ibadah, tidak akan berlari dalam bentuk beribadah?! Apalagi maknanya.

Kami memohon kepada Allah ‘azza wa jalla pengetahuan yang mengenalkan kepada kami kadar-kadar kami, sehingga tidak tersisa bagi kesombongan dengan meremehkan apa yang ada pada kami bekas di hati-hati kami, dan kami berharap kepada-Nya pengetahuan tentang keagungan-Nya yang membisukan lidah-lidah untuk berucap dengan kesombongan, dan kami berharap dari karunia-Nya taufik yang dengannya kami memperhatikan aib-aib amal yang dengannya kami berbangga, sehingga memperhatikan cacat-cacatnya menghasilkan malu dari keberadaannya! Sesungguhnya Dia Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan.

Fasal 231: Sebab Kegelisahan Hidup adalah Terlewatnya Kesenangan-Kesenangan Duniawi

1058- Sebab kegelisahan hidup adalah terlewatnya kesenangan-kesenangan duniawi. Dan tidak ada di dunia kehidupan yang enak secara terus-menerus; kecuali bagi orang yang mengenal yang disibukkan oleh ridha kekasihnya, dan berbekal untuk perjalanan kepada-Nya. Karena jika dia mendapat kenyamanan di dunia, dia menggunakannya untuk membantu mencari akhirat, dan jika dia mendapat kesulitan, dia memanfaatkan kesabaran atasnya untuk pahala akhirat. Maka dia ridha dengan segala yang menimpanya, dia melihat itu dari takdir Sang Pencipta, dan dia tahu bahwa itu adalah kehendak-Nya, sebagaimana ucapan salah seorang dari mereka:

“Jika keridhaan kalian dalam begadangku… maka selamat tinggal tidurku”

1059- Adapun orang yang mencari bagiannya; maka dia gelisah karena terlewatnya keinginannya, dan dia kesal karena jauhnya apa yang dia inginkan. Jika dia miskin, hatinya berubah, dan jika dia hina, dia berubah. Hal ini karena dia berdiri bersama tujuan dan hawa nafsunya.

1060- Betapa bagusnya ucapan Al-Hushri: “Apa urusanku denganku… dan apa urusanku di dalamnya?!”

Dan ini adalah ucapan orang yang mengenal; karena jika dia melihat hakikat kepemilikan, maka seorang hamba yang tuannya mengelolanya, maka keberatannya tidak ada dasarnya, dan keinginannya agar terjadi selain apa yang wajib adalah kesia-siaan yang jelas. Dan jika dia melihat bahwa jiwa seperti milik baginya, maka sesungguhnya telah keluar dari tangannya sejak hari: “Sesungguhnya Allah telah membeli” (At-Taubah: 111), apakah pantas bagi orang yang menjual kambing untuk marah kepada pembeli jika dia menyembelihnya, atau hatinya berubah?!

1061- Demi Allah, jika Sang Pemilik subhanahu berkata: “Sesungguhnya Aku menciptakan kalian agar dijadikan dalil atas keberadaan-Ku, kemudian Aku akan memusnahkan kalian, dan tidak ada kebangkitan kembali”; maka wajib atas jiwa-jiwa yang mengenal-Nya untuk berkata: “Kami mendengar apa yang Engkau katakan dan patuh, dan apa hak kami terhadap diri kami sehingga kami berbicara?!” Apalagi Dia telah berjanji dengan balasan yang besar, dan kekal dalam kenikmatan yang tidak pernah habis?!

1062- Tetapi jalan untuk sampai membutuhkan kesabaran atas kesulitan, dan tidak tersisa bagi kelelahan pasir Zurud bekas jika Ka’bah telah tampak.

1063- Maka bersabarlah, bersabarlah wahai kaki-kaki para pemula! Rumah telah tampak. Dan bergembiralah, bergembiralah wahai kalian yang menengah! Kemah-kemah telah didirikan. Dan kegembiraan yang sempurna wahai kalian yang mengenal! Kalian telah disambut dengan kabar gembira…

1064- Demi Allah, telah hilang beban-beban muamalah dari kalian, maka pengetahuan kalian tentang Yang Menguji menjadi manisnya yang menyusul minum perjuangan, maka tidak tersisa di mulut bagi yang pahit bekas. Bayangkanlah dekatnya munajat dan nikmatnya hadir, dan berputarnya gelas-gelas ridha dari kalian, karena matahari dunia telah mulai tenggelam:

“Tidak ada di antara kita kecuali berlalunya… tujuh yang tersisa ini Sehingga panjang pembicaraan kita… dengan berbagai hal yang kita hadapi”

Fasal 232: Anggaplah Pencegahan Allah Kepadamu sebagai Pemberian untuk Mu

1065- Aku merenung ucapan Syaiban Ar-Ra’i kepada Sufyan: “Wahai Sufyan! Anggaplah pencegahan Allah kepadamu sebagai pemberian dari-Nya kepadamu; karena Dia tidak mencegahmu karena pelit, Dia hanya mencegahmu karena kasih sayang.” Maka aku melihatnya sebagai ucapan orang yang telah mengenal hakikat-hakikat.

1066- Karena manusia mungkin menginginkan hal-hal bagus yang luar biasa tetapi tidak mampu, dan ketidakmampuannya lebih baik baginya; karena jika dia mampu terhadapnya, hatinya akan terpecah, baik dengan menjaganya, atau dengan bekerja untuk mereka. Jika cintanya kepada mereka menguat; umurnya sia-sia, dan perhatian akhirat berubah menjadi perhatian kepada mereka. Jika mereka tidak menginginkannya, maka itulah kebinasaan yang paling besar. Dan jika mereka meminta nafkah, dia tidak mampu; itu menjadi sebab hilangnya harga diri dan binasanya kehormatannya. Dan jika mereka menginginkan hubungan badan, sedangkan dia tidak mampu, maka mungkin mereka membinasakannya atau berbuat zina. Dan jika kekasihnya mati, dia binasa karena sedih. Maka orang yang meminta yang luar biasa adalah meminta pisau untuk menyembelihnya, dan dia tidak tahu.

1067- Demikian juga terbatasnya takdir makanan; karena itu adalah nikmat, dan dalam “Sahihain”: bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ya Allah! Jadikanlah rizki keluarga Muhammad sebagai makanan pokok.” Dan jika banyak, perhatian akan terpecah. Maka orang yang berakal adalah yang tahu bahwa dunia tidak diciptakan untuk bersenang-senang, maka dia puas dengan menghabiskan waktu dalam keadaan apa pun.

Fasal 233: Berdalih dengan Takdir

1068- Aku melihat sekelompok makhluk berdalih dengan takdir, maka salah seorang dari mereka berkata: “Jika aku diberi taufik, aku akan melakukan!”

Dan ini adalah dalih yang lemah, dan penolakan terhadap perintah dengan santai, dan itu menunjukkan penolakan terhadap ucapan para nabi dan semua syariat; karena jika seorang kafir berkata kepada rasul: “Jika aku diberi taufik, aku akan masuk Islam!” dia tidak akan menjawabnya kecuali dengan memenggal leher.

Dan ini sejenis dengan ucapan orang-orang kepada Ali radhiyallahu ‘anhu: “Kami mengajakmu kepada Kitab Allah.” Maka dia berkata: “Kalimat yang benar yang dimaksudkan untuk kebatilan.” Dan demikian juga ucapan orang-orang yang menolak zakat: “Apakah kami akan memberi makan orang yang jika Allah berkehendak, Dia akan memberinya makan” (Yasin: 47)!

1069- Sungguh, taufik adalah dasar perbuatan, tetapi taufik adalah perkara yang tersembunyi, dan perintah untuk berbuat adalah perkara yang jelas, maka tidak pantas disibukkan dari yang jelas dengan menyebut yang tersembunyi.

1070- Dan yang memutuskan dalih ini adalah dikatakan kepada orang ini: “Sesungguhnya Allah subhanahu tidak menugaskanmu sesuatu kecuali pada dirimu ada alat-alat perbuatan itu, dan kamu memiliki kemampuan atasnya; jika kemampuan atasnya tidak ada, dan alat-alatnya tidak dimiliki, maka tidak ada perintah, dan tidak ada taklif.

Dan jika kamu berusaha dengan alat-alat itu dalam mencapai tujuan dan hawa nafsumu, maka berusahalah dengan alat-alat itu dalam menjalankan kewajibanmu.”

1071- Contohnya: bahwa kamu bepergian dalam mencari keuntungan, dan kamu diminta haji, tetapi kamu tidak melakukan! Dan sulit bagimu untuk bangun di malam hari, tetapi jika kamu ingin keluar untuk hari raya, kamu bangun subuh! Dan kamu berdiri dalam sebagian tujuanmu bersama teman berbicara berjam-jam, tetapi jika kamu berdiri dalam shalat, kamu terburu-buru, dan berat bagimu!

1072- Maka berhati-hatilah jangan sampai kamu bergantung pada perkara yang tidak ada hujjah bagimu di dalamnya! Kemudian dari bagianmu berkurang, dan dari nasibmu hilang; karena hanya untukmu bergerak, dan hanya untuk keuntunganmu didorong, maka segeralah, karena kamu akan disegerakan denganmu! Dan yang menghilangkan kemalasanmu -jika kamu merenungkannya- adalah bahwa kamu membayangkan pahala orang-orang yang bersungguh-sungguh, dan itu telah terlewat darimu! Dan cukup itu dalam menegur orang yang kurang jika dia memiliki jiwa, adapun yang mati semangatnya, maka:

“…………………….. … tidak ada rasa sakit bagi luka pada mayat”

1073- Bagaimana denganmu jika kamu bangkit dari kuburmu, dan telah didekatkan kendaraan-kendaraan keselamatan untuk kaum dan kamu tersandung, dan bercepatanlah kaki-kaki orang-orang saleh di atas shirath dan kamu terjatuh-jatuh?! Jauh sekali! Hilang manisnya kemalasan, dan tersisa pahitnya penyesalan, dan kering air gelas kemalasan, dan tersisa utusan penyesalan! Dan berapa kadar tinggal di dunia dibandingkan dengan kekalnya akhirat?! Kemudian berapa kadar umurmu di dunia, dan separuhnya tidur, dan sisanya lalai?

1074- Maka wahai peminang bidadari surga, sedangkan dia tidak memiliki satu pun dari tekad! Bukalah mata pikiran dalam cahaya pelajaran, mudah-mudahan kamu melihat tempat-tempat khitabmu! Jika kamu melihat penghambatan dari dalam, maka mintalah pertolongan dengan bantuan kasih sayang, dan bangunlah di waktu sahur, mudah-mudahan kamu melihat rombongan keuntungan! Dan bergantunglah pada kereta para penyesal, walau langkah-langkah, dan turunlah di tempat tinggal orang-orang yang bersungguh-sungguh, walau satu tempat, tempat apa pun!

Fasal 234: Syariat adalah Jalan

1075- Aku memandang ucapan Abu Darda radhiyallahu ‘anhu: “Aku tidak mengetahui sesuatu dari apa yang kami jalani hari ini kecuali kiblat!” Maka aku berkata: “Sungguh aneh! Bagaimana jika dia melihat kita hari ini, sedangkan tidak ada pada kita dari syariat kecuali bentuknya?! Dan syariat adalah jalan. Dan syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya diketahui baik melalui perbuatan-perbuatannya atau ucapan-ucapannya.

1076- Dan sebab penyimpangan dari jalannya shallallahu ‘alaihi wa sallam: baik ketidaktahuan tentangnya, maka manusia mengikuti tabiat dan kebiasaan, dan mungkin mengambil apa yang bertentangan dengan syariat sebagai jalan, dan para sahabat telah menyaksikannya, dan mendengar darinya, maka jarang salah seorang dari mereka menyimpang dari jalannya; kecuali bahwa Abu Darda radhiyallahu ‘anhu melihat sebagian penyimpangan karena kecenderungan tabiat, maka dia mengeluh, karena manusia mungkin mengetahui yang benar, tetapi tabiatnya condong darinya.

1077- Dan tidak berhenti hadis-hadis yang dinukilkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum, semakin sedikit keberuntungan dengannya, dan melihatnya, sampai sama sekali berpaling darinya di zaman kita ini, dan menjadi tidak diketahui; kecuali yang jarang, dan diambil jalan-jalan yang bertentangan dengan syariat, dan menjadi kebiasaan, dan lebih mudah bagi makhluk daripada mengikuti syariat.

Dan jika kebanyakan dari yang dinisbahkan kepada ilmu telah berpaling dari ilmu-ilmu syariat, bagaimana dengan orang awam?! Dan ketika banyak ulama berpaling dari yang dinukilkan, mereka membuat bid’ah dalam ushul dan furu’, maka ahli ushul disibukkan dengan kalam, dan mengambilnya dari para filosof dan ahli mantiq! Dan tangan ahli furu’ masuk dalam hal itu, maka mereka disibukkan dengan perdebatan, dan meninggalkan hadis yang menjadi poros hukum!

1078- Kemudian para pencerita melihat bahwa kemunafikan dengan kemunafikan, maka sebagian kaum dari mereka menghadap kepada penipuan dengan zuhud, dan tujuan mereka adalah dunia! Dan mayoritas mereka melihat bahwa hati-hati condong kepada lagu-lagu, maka mereka mendatangkan para penyanyi dari para pembaca, dan mereka menyanyikan syair-syair percintaan, dan meninggalkan kesibukan dengan hadis, dan tidak memperhatikan melarang orang awam dari riba dan zina, dan menyuruh mereka menunaikan kewajiban-kewajiban! Dan pembicara mereka memotong majelis dengan menyebut Laila dan Majnun, dan Thur dan Musa, dan Abu Yazid dan Hallaj, dan ocehan yang tidak ada hasilnya!

1079- Dan menyendirinya kaum-kaum dengan zuhud dan terputus, maka mereka menolak menjenguk orang sakit dan berjalan di antara manusia, dan menampakkan kerendahan hati, dan membuat kitab-kitab untuk riyadhah dan mengurangi makanan, dan syariat menjadi bagi mereka ucapan Abu Yazid dan Syibli dan para sufi! Dan diketahui bahwa barang siapa menyelidiki syariat, tidak akan melihat di dalamnya sesuatu dari itu.

1080- Adapun para penguasa, mereka mengikuti kebiasaan, dan menyebut apa yang mereka lakukan dari pembunuhan dan pemotongan sebagai politik, mereka tidak mengetahui di dalamnya berdasarkan tuntutan syariat! Dan yang kemudian mengikuti yang terdahulu dalam hal itu, maka dimana syariat Muhammadiyah?! Dan dari mana diketahui dengan berpaling dari yang dinukilkan?! Kami memohon kepada Allah ‘azza wa jalla taufik untuk menjalankan syariat, dan pertolongan untuk menolak bid’ah-bid’ah! Sesungguhnya Dia Maha Kuasa.

Bab 235: Tidak Ada Sambutan untuk Kegembiraan yang Membawa Kerugian

1081- Aku pernah mendengar Ali bin Husain, seorang penceramah, berkata di atas mimbar: “Demi Allah, aku menangis semalam karena ulah diriku sendiri.” Maka aku terus merenung dan berkata: “Perbuatan apa yang telah dilakukan jiwa orang ini hingga ia menangis?! Orang ini hidup mewah, memiliki budak-budak perempuan dari Turki, dan telah sampai kabar kepadaku bahwa ia menikah secara diam-diam dengan beberapa wanita, tidak makan kecuali makanan terbaik dari ayam dan makanan manis, memiliki pendapatan yang banyak, harta yang melimpah, kedudukan yang tinggi, dan berbuat kebaikan kepada manusia. Ia telah memperoleh sebagian ilmu dan menjadikan banyak ulama sebagai hambanya karena kebaikannya, dan kehidupannya selalu berkecukupan. Lalu apa yang membuatnya menangis?!”

1082- Kemudian aku merenungkannya, dan aku mengetahui bahwa jiwa tidak pernah berhenti pada satu batas; bahkan ia menginginkan kelezatan yang tidak ada batasnya. Setiap kali ia memperoleh sesuatu yang diinginkan, hal itu menjadi dingin di sisinya, dan ia menginginkan yang lain. Maka habislah umur, lemahlah badan, terjadilah kekurangan, menipisiah kedudukan, namun keinginan tidak tercapai.

Tidak ada orang yang lebih bodoh di dunia ini selain orang yang mencari kesempurnaan dalam kelezatan dunia. Sesungguhnya tidak ada kelezatan sejati di dunia ini, yang ada hanyalah kelegaan dari rasa sakit.

1083- Orang yang berbahagia adalah jika ia memperoleh seorang istri atau budak perempuan, lalu ia condong kepadanya dan wanita itu condong kepadanya, dan ia mengetahui kesucian dan agamanya, hendaklah ia mengikat kelingking (berkomitmen) untuk bersamanya.

Sebagian besar penyebab kelanggengan cintanya adalah tidak melepaskan pandangannya (kepada wanita lain). Apabila ia melepaskan pandangannya atau membuat jiwanya berharap kepada selain istrinya, maka ketamakan terhadap yang baru akan merusak akhlak, mengurangi pergaulan, dan menutupi aib yang ada di luar. Maka jiwa akan condong kepada yang baru yang terlihat, dan kehidupan menjadi keruh dengan yang hadir dan dekat, sebagaimana kata penyair:

“Seseorang selama masih memiliki mata yang dibolak-baliknya Pada mata-mata yang indah, tergantung pada bahaya Yang menyenangkan matanya justru yang membahayakan jiwanya Tidak ada sambutan untuk kegembiraan yang membawa kerugian”

Kemudian wanita kedua akan menjadi seperti yang pertama, dan jiwa menginginkan yang ketiga, dan ini tidak ada akhirnya.

Akan tetapi, menundukkan pandangan dari yang diinginkan dan putus asa jiwa dari mencari yang dianggap indah akan membuat kehidupan menjadi baik bersama pasangan.

Barangsiapa tidak menerima nasihat ini, ia akan tersandung di jalan hawa nafsu dan binasa dengan sia-sia. Bahkan mungkin ia berusaha untuk kehancuran dirinya yang segera dan aib yang nyata, karena banyak dari wanita yang dianggap cantik tidak memiliki kehormatan, dan kenikmatan bersamanya tidak sebanding dengan aib yang didapat. Di antara mereka ada yang boros dalam harta, dan di antara mereka ada yang membenci suami, sedangkan suami mencintainya seperti penyembah berhala.

1084- Yang paling bodoh adalah orang tua yang mencari gadis muda! Demi hidupku, sesungguhnya kesempurnaan kenikmatan hanya ada pada masa muda, sebagaimana kata seseorang:

“Seandainya… aku katakan: demi jiwaku, pemuda-pemuda yang masih kecil”

Apabila gadis itu belum baligh, kenikmatan tidak akan sempurna. Jika sudah baligh, ia menginginkan banyak jimak, sedangkan orang tua tidak mampu. Jika ia memaksakan diri, ia tidak akan mencapai keinginan wanita itu dan akan cepat binasa.

Janganlah tertipu dengan syahwat jimaknya, karena syahwatnya seperti fajar dusta.

Kami telah melihat seorang lelaki tua yang membeli budak perempuan, lalu bermalam dengannya, kemudian berpaling darinya dalam keadaan mati.

Di rumah sakit ada seorang pemuda yang telah berbaring dua bulan, lalu istrinya masuk menemuinya dan ia menyetubuhinya, kemudian berpaling darinya dalam keadaan mati.

Maka jelaslah bahwa jiwa bertahan dengan darah dan mani yang ada padanya. Jika keduanya habis dan jiwa tidak menemukan sandaran, maka ia akan pergi.

Jika orang tua puas dengan kenikmatan tanpa menyetubuhi, maka wanita itu tidak akan puas. Ia akan menjadi seperti musuh baginya. Mungkin hawa nafsu mengalahkannya sehingga ia berbuat zina, atau ia menyiasati untuk membunuhnya, terutama budak-budak perempuan yang kebanyakan berasal dari negeri syirik, sehingga dalam diri mereka ada kekerasan hati.

1085- Buruk bagi orang yang telah melewati usia enam puluh tahun untuk memperbanyak istri! Jika sebelum itu ia bertemu dengan wanita yang beragama, hendaklah ia menjaga pergaulan dengannya dan menyempurnakan kekurangannya, terkadang dengan memberi nafkah, terkadang dengan akhlak yang baik. Hendaklah ia memperbanyak menceritakan keadaan wanita-wanita shalihah dan zahidah, memperbanyak menyebut hari kiamat dan mencela dunia, dan menyinggung tentang cinta orang Arab, karena mereka dahulu jatuh cinta tetapi tidak memandang perlu menyetubuhi yang dicintai, sebagaimana kata salah seorang dari mereka:

“Sesungguhnya cinta hanyalah ciuman Dan pegangan tangan serta lengan Sesungguhnya cinta seperti itu Jika yang dicintai disetubuhi, maka rusaklah”

Jika ia mampu menyibukkan wanita itu dengan kehamilan atau anak, hendaklah ia menghalangnya dengan itu, sehingga ia dapat mempertahankan kekuatannya selama wanita itu sibuk dengan hal tersebut.

Jika ia menyetubuhi, hendaklah ia menahan diri dari mengeluarkan mani untuk menjaga kekuatannya dan menunaikan haknya.

1086- Pernah dikatakan kepada Bisyr: “Mengapa engkau tidak menikah?” Ia menjawab: “Dengan apa aku akan menipu seorang muslimah, padahal Allah Azza wa Jalla telah berfirman: ‘Dan mereka (para istri) mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut’ (QS. Al-Baqarah: 228).

1087- Orang yang malang adalah yang masuk dalam suatu urusan tanpa memperhatikan akibatnya sebelum masuk, dan melihat umpan perangkap lalu bergegas menuju kepadanya, lupa akan terbelenggunya sayap dan penyembelihan.

1088- Kesimpulan dari apa yang telah aku uraikan: menjaga pandangan dari dilepaskan, putus asa jiwa dari memperoleh dengan qana’ah terhadap yang sudah ada, terutama bagi yang telah lanjut usianya dan mengetahui bahwa gadis muda adalah musuh baginya, yang mengharapkan kehancurannya, sedangkan ia membesarkannya untuk orang lain. Dalam sebagian yang telah aku sebutkan terdapat hal yang dapat mencegah orang berakal dari terjerumus dalam bencana-bencana ini. Kami memohon kepada Allah Azza wa Jalla anugerah taufik dari karunia-Nya dan amal sesuai dengan tuntutan akal dan syariat. Sesungguhnya Dia Maha Mengabulkan lagi Maha Dekat.

Bab 236: Tidak Ada Batas untuk Angan-angan dan Tidak Ada Batas untuk Ketertipu

1089- Hal yang paling mengherankan adalah tertipu manusia dengan keselamatan dan berangan-angan akan perbaikan di masa depan!

Tidak ada batas untuk angan-angan ini dan tidak ada batas untuk ketertipu. Setiap kali ia mengalami pagi dan sore dalam keadaan sehat, bertambahlah ketertipu dan panjanglab angan-angan.

1090- Pelajaran apa yang lebih mengena daripada melihat rumah-rumah teman sebaya, keadaan saudara-saudara, dan kuburan orang-orang yang dicintai, lalu engkau mengetahui bahwa setelah beberapa hari engkau akan seperti mereka, kemudian tidak terjadi kesadaran hingga orang lain tersadar karena dirimu?! Ini, demi Allah, adalah keadaan orang-orang bodoh! Jauh dari orang yang berakal untuk menempuh jalan ini.

1091- Ya, demi Allah! Sesungguhnya orang yang berakal akan segera memanfaatkan keselamatan, ia menyimpan dari masa sekarang untuk masa depan, dan berbekal ketika mampu untuk waktu kesulitan, terutama bagi yang telah mengetahui bahwa tingkatan akhirat hanya tinggi sesuai dengan tingginya amal untuknya, dan bahwa memperbaiki setelah terlewat tidak mungkin. Andaikata orang yang bermaksiat diampuni, apakah ia akan memperoleh tingkatan para pekerja (amal shalih)?!

1092- Barangsiapa yang merenungkan surga, yang tidak ada kematian di dalamnya, tidak ada penyakit, tidak ada tidur, tidak ada sedih, bahkan kenikmatannya berkesinambungan tanpa terputus, dan tambahannya sesuai dengan tambahan batas di sini, niscaya ia akan merebut waktu ini, tidak tidur kecuali karena terpaksa, dan tidak lengah dari umurnya sesaat pun.

1093- Barangsiapa melihat bahwa suatu dosa telah berlalu kenikmatannya dan tinggal bahayanya yang kekal, itu cukup menjadi pencegah dari yang serupa, terutama dosa-dosa yang akibatnya berkelanjutan, seperti berzina dengan istri orang, lalu wanita itu hamil darinya, kemudian anak itu dinasabkan kepada suami, maka anak itu menghalangi warisan keluarga yang sesungguhnya dan mengambil warisan yang bukan haknya, berubablah nasab dan tempat tidur, dan itu berlanjut selamanya, semuanya akibat buruk dari sesaat. Maka kami memohon kepada Allah Azza wa Jalla taufik yang mengilhamkan petunjuk dan mencegah kerusakan. Sesungguhnya Dia Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan.

Bab 237: Sebab Kekacauan Akidah adalah Mengqiyaskan yang Hadir dengan yang Ghaib

1094- Aku merenungkan sebab kekacauan akidah, ternyata adalah condong kepada panca indra dan mengqiyaskan yang ghaib dengan yang hadir. Sesungguhnya ada kaum yang dikuasai oleh panca indra, ketika mereka tidak menyaksikan Sang Pencipta, mereka mengingkari keberadaan-Nya dan lupa bahwa Dia telah tampak melalui perbuatan-perbuatan-Nya, dan sesungguhnya perbuatan-perbuatan ini pasti memiliki pelaku. Orang yang berakal jika melewati padang pasir yang kosong, kemudian kembali dan di sana ada tanaman dan bangunan, ia akan mengetahui bahwa pasti ada yang menanam karena tanaman tidak terjadi dengan sendirinya, dan bangunan juga tidak.

1095- Kemudian datang kaum yang menetapkan keberadaan Sang Pencipta, lalu mengqiyaskan-Nya dengan keadaan mereka, maka mereka menyerupakan, hingga salah seorang dari mereka berkata tentang sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Dia turun ke langit dunia”: “Dia berpindah!” Dan ia berdalil bahwa orang Arab tidak mengenal turun kecuali perpindahan. Banyak makhluk yang sesat dalam sifat-sifat-Nya, sebagaimana banyak makhluk yang sesat dalam zat-Nya. Suatu kaum mengira bahwa Dia terpengaruh ketika mendengar bahwa Dia murka dan ridha, dan lupa bahwa sifat-Nya Subhanahu wa Ta’ala qadim (kekal), tidak terjadi sesuatu yang baru darinya.

Banyak makhluk sesat dalam perbuatan-perbuatan-Nya, mereka mulai mencari alasan, tidak puas dengan sesuatu, maka keluarlah dari mereka suatu kaum yang mencela perbuatan-Nya sebagai lawan dari “hikmah” – Maha Suci Allah dari itu!!

1096- Barangsiapa yang dianugerahi taufik, hendaklah ia hadirkan hatinya untuk apa yang aku katakan: Ketahuilah bahwa zat-Nya Subhanahu tidak menyerupai zat-zat, sifat-sifat-Nya tidak seperti sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya tidak dapat diqiyaskan dengan perbuatan makhluk.

Adapun zat-Nya Subhanahu, kami tidak mengenal zat kecuali yang berupa jasad, dan itu memerlukan penyusunan terdahulu, dan Dia Maha Suci dari itu, karena yang menyusun, jika berupa jawhar (substansi), maka jawhar terbatas dan memiliki yang serupa, dan Dia Maha Agung dari itu. Atau berupa ‘aradh (aksiden), maka ‘aradh tidak berdiri sendiri, tetapi dengan selainnya, dan Dia Maha Tinggi dari itu.

Jika kita menetapkan zat yang qadim (kekal) yang di luar dari yang kita kenal, maka hendaklah diketahui bahwa sifat-sifat mengikuti zat tersebut. Tidak boleh bagi kita mengqiyaskan sesuatu dengan apa yang kita lakukan dan pahami, tetapi kita beriman kepadanya dan menyerahkannya.

Demikian pula perbuatan-perbuatan-Nya. Sesungguhnya salah seorang dari kita jika melakukan perbuatan yang tidak mendatangkan manfaat baginya dan tidak menolak bahaya darinya, ia dianggap main-main. Sedangkan Dia Subhanahu mewujudkan makhluk bukan untuk manfaat yang kembali kepada-Nya dan bukan untuk menolak bahaya, karena manfaat tidak sampai kepada-Nya dan bahaya tidak menimpa-Nya.

1097- Jika ada yang berkata: “Sesungguhnya Dia menciptakan makhluk untuk memberi manfaat kepada mereka.” Kami katakan: Hal ini dibantah oleh fakta bahwa Dia menciptakan dari mereka golongan untuk kekafiran dan menyiksa mereka. Kita melihat Dia menyakiti binatang dan anak-anak, menciptakan bahaya-bahaya, padahal Dia berkuasa untuk tidak melakukan itu.

1098- Jika ada yang berkata: “Sesungguhnya Dia akan memberikan pahala atas itu.” Kami katakan: Dia berkuasa memberikan pahala tanpa hal-hal tersebut. Jika seorang penguasa ingin memperkaya orang miskin, lalu ia melukai orang itu kemudian memperka-yanya, ia akan dicela karena ia berkuasa memperkayanya tanpa luka.

1099- Kemudian barangsiapa melihat apa yang menimpa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya berupa kelaparan dan pembunuhan, dengan kuasa Penolong, kemudian ia berdoa untuk ibunya namun tidak dikabulkan – seandainya yang dimintai adalah salah seorang dari kita, kita akan berkata: “Mengapa engkau menolak apa yang tidak membahayakanmu?!”

1100- Akan tetapi, Yang Maha Haq Subhanahu, perbuatan-perbuatan-Nya tidak dapat diqiyaskan dengan perbuatan kita dan tidak dapat dicari alasannya. Yang mewajibkan kita untuk berserah diri adalah bahwa hikmah-Nya di atas akal, maka ia yang memutuskan atas akal-akal, dan akal-akal tidak memutuskan atasnya. Barangsiapa mengqiyaskan perbuatan-Nya dengan perbuatan kita, ia telah melakukan kesalahan yang besar.

1101- Kaum Mu’tazilah binasa karena hal ini. Mereka berkata: “Bagaimana mungkin Dia memerintahkan sesuatu dan menetapkan terhalangnya?! Seandainya seseorang mengundang kita ke rumahnya, kemudian menempatkan penghalang bagi yang masuk, niscaya ia akan dicela.” Mereka benar dalam hal yang berkaitan dengan yang nyata. Adapun Dia yang perbuatan-perbuatan-Nya tidak dapat dicari alasannya dan tidak dapat diqiyaskan dengan yang nyata, kita tidak dapat sampai pada pengetahuan hikmah-Nya.

1102- Jika ada yang berkata: “Bagaimana mungkin aku dapat mengarahkan akalku kepada apa yang bertentangan dengannya?” Kami katakan: Tidak ada pertentangan, karena akal telah memutuskan dengan dalil yang jelas bahwa Dia Maha Bijaksana dan Dia Maha Menguasai. Yang Maha Bijaksana tidak melakukan sesuatu kecuali untuk hikmah, akan tetapi hikmah tersebut tidak dapat dijangkau akal. Tidakkah engkau lihat bahwa Khidhr ‘alaihissalam melubangi kapal dan membunuh seseorang, maka Musa ‘alaihissalam mengingkarinya berdasarkan tuntutan ilmu, dan ia tidak mengetahui hikmah perbuatannya. Ketika Khidhr menampakkan hikmahnya, Musa tunduk? Dan bagi Allah lah perumpamaan yang tertinggi.

1103- Maka berhati-hatilah, berhati-hatilah agar tidak mengqiyaskan sesuatu dari perbuatan-perbuatan-Nya dengan perbuatan makhluk, atau sesuatu dari sifat-sifat-Nya, atau zat-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Jika engkau menjaga ini, engkau akan selamat dari penyerupaan yang menimpa orang yang memandang istawa sebagai bersandar dan turun sebagai berpindah, dan engkau akan selamat dari keberatan yang mengeluarkan suatu kaum kepada kekafiran hingga mereka mencela hikmah.

1104- Yang pertama dari kaum tersebut adalah Iblis. Ia memandang mendahulukan tanah atas api bukanlah hikmah, maka ia lupa bahwa ia mengetahui hal itu – menurut sangkaannya – dengan pemahaman yang diberikan kepadanya dan akal yang dianugerahkan kepadanya. Ia lupa bahwa Pemberi anugerah lebih mengetahui: “Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih kuat dari mereka?” (QS. Fushshilat: 15)

1105- Sungguh aku melihat Ibn ar-Rumi keberatan terhadap orang yang mengatakan kekal-nya orang kafir di neraka. Ia berkata: “Sesungguhnya keabadian tersebut adalah tambahan balas dendam yang diingkari akal. Seharusnya diterima semua yang dikatakan akal dan tidak menolak sebagiannya, karena menolak sebagiannya tidak lebih utama daripada menolak semuanya. Dan mengabadikan orang kafir tidak ada tujuan bagi yang menyiksa maupun yang disiksa, maka tidak boleh hal itu terjadi.”

Maka aku berkata: “Sungguh mengherankan orang yang mengaku memiliki akal, padahal tidak ada akal padanya! Yang pertama aku katakan kepadanya: Apakah benar menurutmu berita dari Sang Pencipta Subhanahu bahwa Dia mengabarkan kekal-nya penghuni neraka, ataukah tidak benar? Jika tidak benar menurutnya, maka pembicaraan saat itu tentang menetapkan kenabian dan kebenaran Al-Qur’an. Lalu apa maksud menyebutkan cabang dengan mengingkari pokok?! Jika ia berkata: ‘Telah tetap bagiku,’ maka wajib baginya berusaha menegakkan alasan, kecuali ia berdiri menghadapi perlawanan.”

1106- Sesungguhnya yang mengingkari ini adalah orang yang mengambil perkara dari yang nyata. Kami telah jelaskan bahwa zat Yang Maha Haq tidak seperti zat-zat, sifat-sifat-Nya tidak seperti sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya tidak dapat dicari alasannya. Seandainya ia merenungkan sesuatu dari alasan kekal-nya orang kafir, niscaya akan jelas. Mungkin saja diam-nya siksa mereka untuk menampakkan kebenaran ancaman, karena Dia berfirman: “Barangsiapa kafir kepada-Ku, Aku kekalkan dia dalam siksa.” Tidak ada kejahatan seperti kekafiran dan tidak ada hukuman seperti daim-nya pembakaran. Maka ia kekal untuk menampakkan kebenaran ancaman. Dan mungkin saja hal itu untuk menyempurnakan kenikmatan orang-orang beriman, karena mereka adalah musuh orang-orang kafir. Allah Subhanahu berfirman: “Dan melegakan hati orang-orang yang beriman” (QS. At-Taubah: 14). Betapa banyak kegelisahan di dada dan dendam kepada Abu Jahal atas apa yang dilakukannya! Betapa banyak kesedihan di hati Ammar, ibunya Sumayyah, dan lainnya dari perbuatan orang-orang kafir kepada mereka! Maka daim-nya siksa mereka adalah penyembuhan bagi hati orang-orang beriman.

Dan mungkin saja siksa itu kekal karena daim-nya keberatan dan ingat-nya yang disiksa terhadap apa yang tidak baik. Setiap kali bertambah siksa mereka, bertambah kekafiran dan keberatan mereka, maka mereka disiksa karena itu. Dalil daim-nya kekafiran mereka: “Maka mereka bersumpah kepada Allah sebagaimana mereka bersumpah kepada kamu” (QS. Al-Mujadilah: 18). Maka kekafiran mereka tidak hilang dan ma’rifat mereka kepada-Nya tidak terjadi. Kejahatan tersembunyi di dalam batin, dan atas dasar itu terjadi penyiksaan: “Dan jikalau mereka dikembalikan, niscaya mereka kembali kepada apa yang dilarang” (QS. Al-An’am: 28).

Pasal 238: Hendaklah Perhatian Orang Berakal adalah Menegakkan Kebenaran dan Ridha dengan Kebenaran

1107- Seorang mukmin kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketika memperhatikan pasal yang telah disebutkan sebelumnya, hendaknya tidak menentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal apapun, baik secara batin maupun lahir, dan tidak meminta alasan-alasan dari semua perbuatan-Nya. Sesungguhnya para ahli kalam telah berpaling dari sunnah dan berbicara dengan pendapat mereka sendiri, sehingga minuman mereka tidak jernih, sebagaimana dibuktikan dengan perbedaan pendapat mereka. Demikian pula dengan menyembunyikan qiyas (analogi), karena ketika mereka mengumumkannya, datanglah hadis-hadis yang mengacaukan mereka. Yang benar adalah mencari alasan untuk apa yang memungkinkan, dan berserah diri untuk apa yang tersembunyi.

1108- Demikian pula memohon kepada Yang Haq Subhanahu wa Ta’ala. Jika seorang mukmin berdoa kepada-Nya dan tidak melihat jawaban: hendaklah ia berserah diri, menyerahkan urusan, dan memberi interpretasi baik terhadap penolakan itu. Ia berkata: “Mungkin penolakan itu lebih baik, mungkin karena dosa-dosaku, mungkin penundaan itu lebih utama, dan mungkin ini bukanlah kemaslahatan.”

Jika ia tidak menemukan interpretasi, janganlah timbul dalam batinnya suatu bentuk keberatan, tetapi ia melihat bahwa ia telah beribadah dengan doa. Jika Allah memberinya karunia, maka itu adalah karunia-Nya, dan jika tidak mengabulkan, maka Dia adalah Pemilik yang melakukan apa yang Dia kehendaki.

Padahal kebanyakan permintaan hanyalah dalam mencari hal-hal duniawi yang jika ditolak, justru lebih baik!

1109- Hendaklah perhatian orang berakal adalah menegakkan hak Yang Haq, dan ridha dengan pengaturan-Nya, meskipun ia berbuat buruk!! Bila Dia menghadap kepadamu, hadaplah untuk memperbaiki urusanmu. Jika engkau tahu bahwa Dia Maha Mulia, maka berpeganglah kepada-Nya dan jangan meminta! Bila engkau menghadap untuk mentaati-Nya, mustahil seorang pembuat yang berbuat baik dan menasihati dalam pekerjaan, kemudian tidak diberi upah.

Pasal 239: Jangan Sia-siakan Sesaat pun dari Umurmu

1110- Demi Allah, sungguh aku membayangkan masuk surga dan tinggal kekal di dalamnya tanpa penyakit, tanpa meludah, tanpa tidur, tanpa cacat yang menimpa! Tetapi kesehatan yang kekal, tujuan-tujuan yang berkelanjutan yang tidak diselingi hal yang mengganggu, dalam kenikmatan yang selalu baru di setiap saat, menuju tambahan yang tidak berakhir: maka aku menjadi gembira, dan tabiat hampir tidak mampu mempercayai hal itu, jika bukan karena syariat telah menjaminnya!

1111- Diketahui bahwa kedudukan-kedudukan itu hanya sesuai dengan kadar kesungguhan di sini. Sungguh mengherankan orang yang menyia-nyiakan sesaat di dalamnya! Satu tasbih menancapkan baginya di surga sebatang pohon kurma, buahnya kekal dan naungannya.

Wahai orang yang takut kehilangan itu! Kuatkanlah hatimu dengan harapan. Wahai orang yang gelisah dengan ingatan mati! Lihatlah apa yang ada setelah pahitnya tegukan dari kesehatan; karena sejak saat keluarnya ruh, bahkan sebelum keluarnya, tempat-tempat terbuka bagi pemiliknya, maka mudahlah perjalanan orang yang tertarik karena kelezatan tempat yang dituju. “Kemudian ruh-ruh berada dalam tembolok burung-burung yang bergantungan di pohon-pohon surga.” Maka semua bencana dan ketakutan dalam siang ajal, dan matahari umur telah menguning, maka bersegeralah bersegera sebelum tenggelam! Tidak ada penolong yang menemani di jalan itu kecuali pikiran jika duduk bersama akal, lalu mereka saling mengingatkan akibat-akibat; jika selesai majelis itu, maka memperhatikan perjalanan orang-orang yang bersungguh-sungguh, karena itu akan kembali menarik pikiran darinya berbagai keutamaan, dan taufik ada di balik itu, dan bila Dia menghendaki sesuatu untukmu, Dia mempersiapkanmu untuknya.

1112- Adapun bergaul dengan orang-orang yang tidak memiliki berita kecuali dari yang cepat berlalu, itu adalah salah satu sebab terbesar penyakit pemahaman dan penyakit akal. Menjauhi keburukan adalah pantangan, dan pantangan adalah sebab kesehatan.

Pasal 240: Berpaling dari Allah adalah Sebab Kesedihan dan Kegelisahan

1113- Aku melihat sebab kesedihan dan kegelisahan: berpaling dari Allah Azza wa Jalla dan menghadap kepada dunia. Setiap kali sesuatu terlewat darinya, terjadilah kesedihan karena kehilangannya.

1114- Adapun orang yang diberi rezeki pengenalan Allah Ta’ala, ia beristirahat; karena ia merasa cukup dengan ridha terhadap takdir. Apa pun yang ditakdirkan untuknya, ia ridha. Jika ia berdoa dan tidak melihat bekas jawaban, tidak timbul dalam hatinya keberatan; karena ia adalah hamba yang diatur, maka perhatiannya adalah dalam melayani Sang Pencipta.

1115- Orang yang sifatnya demikian tidak lebih suka mengumpulkan harta, tidak bergaul dengan makhluk, dan tidak menikmati syahwat:

Karena ia either kurang dalam pengenalan, maka ia menghadap kepada ibadah murni, zuhud terhadap yang fana untuk meraih yang kekal.

Atau ia memiliki rasa dalam pengenalan; maka ia sibuk dari semua dengan Pemilik semua, maka engkau melihatnya beradab dalam khalwat dengan-Nya, senang dengan munajat-Nya, merasa asing dari bergaul dengan makhluk-Nya, ridha dengan apa yang ditakdirkan untuknya. Hidupnya bersama-Nya seperti hidup kekasih yang telah bersepi dengan kekasihnya, tidak menginginkan selain-Nya, tidak peduli dengan yang lain.

1116- Adapun orang yang tidak diberi rezeki hal-hal ini, ia senantiasa dalam kegelisahan, kehidupan yang keruh; karena apa yang ia minta dari dunia tidak mampu ia peroleh, maka ia selamanya dalam penyesalan, ditambah dengan apa yang terlewat darinya dari akhirat karena buruknya muamalah.

Kami memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar Dia memperbaiki kami untuk-Nya, karena tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya.

Pasal 241: Tidak Ada Kehidupan Kecuali di Surga

1117- Aku merenung dalam diriku, lalu aku melihat diriku bangkrut dari segala sesuatu?!

Jika aku bergantung pada istri, ia tidak seperti yang aku inginkan: jika rupanya bagus, akhlaknya tidak sempurna, dan jika akhlaknya sempurna, ia menginginkan tujuannya bukan untukku, dan mungkin ia menunggu kepergianku!

Jika aku bergantung pada anak, demikian juga! Pelayan dan murid bagiku juga demikian, jika tidak ada manfaat dariku bagi mereka, mereka tidak menginginkanku!

Adapun teman, tidak ada! Dan saudara fi sabilillah seperti burung nasar maghrib yang langka! Kenalan-kenalan merindukan orang-orang baik dan meyakini bahwa mereka telah hilang!

Aku tertinggal sendirian dan kembali kepada diriku, dan ia juga tidak jernih bagiku, tidak tetap dalam keadaan yang selamat! Tidak tersisa kecuali Sang Pencipta Subhanahu wa Ta’ala. Aku melihat bahwa: jika aku bergantung pada karunia-Nya, aku tidak aman dari bala, dan jika aku mengharap ampunan-Nya, aku tidak aman dari hukuman-Nya!

Sungguh menyesal! Tidak ada ketenangan dan tidak ada ketetapan! Sungguh gelisah karena kegelisahanku! Sungguh terbakar karena kebakaranku! Demi Allah, tidak ada kehidupan kecuali di surga, di mana terjadi keyakinan dengan keridaan, dan pergaulan dengan yang tidak mengkhianati dan tidak menyakiti. Adapun dunia, ia bukan rumah untuk itu.

Pasal 242: Orang yang Menemani Sultan Hendaknya Lahir dan Batinnya Sama

1118- Orang yang menemani sultan atau orang terhormat hendaknya lahir dan batinnya sama dengannya; karena ia mungkin mengirim orang untuk mengujinya, maka mungkin ia terbongkar dalam ujian.

1119- Sekelompok raja biasa bermaksud mendekatkan teman minum dan memberikan kamar untuknya di rumah mereka. Jika mereka ingin mengkhususkannya, mereka menguji batinnya, sedang ia tidak tahu, lalu tampak darinya apa yang tidak layak, maka ia diusir!

1120- Abruwiz pernah menguji seorang dari orang khusunya. Ia mengirim kepadanya seorang budak wanita dengan hadiah-hadiah, dan memerintahkannya untuk tidak duduk di sisinya, lalu ia membawanya. Kemudian ia mengirimnya lagi dan memerintahkannya untuk duduk sebentar setelah memberi salam, maka ia melakukannya, lalu lelaki itu memperhatikannya. Kemudian ia mengutusnya ketiga kalinya dan memerintahkannya untuk lama duduk di sisinya dan berbicara dengannya. Ia lama berbicara dengannya, maka ia menunjukkan kepadanya sesuatu dari kecenderungan kepadanya. Ia berkata: “Aku takut ia mengetahui kami, tetapi biarkan aku mengatur hal ini.”

Ia pergi dan memberitahu raja tentang itu! Maka ia mengutus yang lain dari budak-budak wanita khusnya dengan hal serupa. Ketika ia datang kepadanya, ia berkata: “Apa yang dilakukan si fulanah?” Ia berkata: “Sakit,” maka wajahnya menjadi pucat. Kemudian budak wanita kedua melakukan seperti yang dilakukan yang pertama. Ia berkata kepadanya: “Sesungguhnya raja pergi ke kebunnya dan tinggal di sana. Jika ia menginginkanmu untuk pergi bersamanya, tunjukkanlah bahwa engkau sakit. Jika ia memilihmu antara pulang ke rumah istri-istrimu atau tinggal di sini, pilihlah tinggal di sini dan beritahu dia bahwa engkau tidak mampu bergerak. Jika ia menyetujui itu, aku akan datang kepadamu setiap malam selama raja tidak ada!” Maka ia tenang dengan perkataannya.

Kemudian ia pergi dan memberitahu raja tentang itu. Setelah tiga hari, raja memanggilnya. Ia berkata: “Aku sakit,” maka utusan kembali dan memberitahunya, lalu ia tersenyum dan berkata: “Ini awal keburukan.” Ia mengutus kepadanya tandu yang diangkut kepadanya. Ketika Abruwiz melihatnya, ia berkata: “Dan tandu adalah keburukan kedua.” Ia melihat ikatan di kepalanya, berkata: “Dan ikatan adalah keburukan ketiga.” Raja berkata kepadanya: “Mana yang lebih engkau sukai: pulang kepada istri-istrimu agar mereka merawatmu, atau tinggal di sini sampai waktu kepulanganku?” Ia berkata: “Tinggal di sini lebih nyaman bagiku karena sedikit gerakan.” Maka ia tersenyum dan berkata: “Gerakanmu di sini jika dibiarkan lebih banyak dari gerakanmu ke rumahmu!” Kemudian ia memerintahkan tongkat pezina untuknya, yang biasa digunakan untuk menandai orang yang berzina. Lelaki itu yakin dengan perkaranya! Ia memerintahkan agar ditulis apa yang terjadi darinya huruf demi huruf, untuk dibacakan kepada orang-orang huruf demi huruf jika mereka hadir, dan agar ia diasingkan ke ujung kerajaan, dan tongkat diletakkan di ujung tombak yang bersamanya di mana saja ia berada, agar orang yang tidak mengenalnya berhati-hati darinya. Ketika ia diasingkan, ia mengambil pisau dari salah satu yang mengawalnya, lalu memotong kemaluannya dan berkata: “Barang siapa yang mentaati anggota kecil merusak semua anggota-anggotanya.” Ia mati pada saat itu.

1121- Aku berkata: Sekelompok amir biasa menyamar dan bertanya kepada rakyat biasa tentang perjalanan mereka, maka orang biasa berbicara dengan apa yang tidak layak, lalu mereka mencatatnya atasnya, dan kadang mereka mengutus mata-mata kepadanya.

Betapa banyak kata-kata yang diucapkan orang yang terbuka, lalu disampaikan oleh orang yang suka campur tangan, yang menghancurkan pemiliknya.

1122- Umar bin Abdul Aziz melihat seorang pekerja yang banyak shalat, lalu ia mengirim mata-mata yang berkata kepadanya: “Jika aku mengambil jabatan fulan untukmu, apa yang akan engkau berikan kepadaku?” Ia berkata: “Aku berikan kepadamu sekian dan sekian!” Umar berkata kepadanya: “Engkau menipu kami dengan shalatmu.”

1123- Telah sampai kepadaku bahwa seorang lelaki berbicara dengan seorang wanita, lalu ia menjawabnya dan mengundangnya ke rumahnya. Ketika ia masuk, ia bangkit untuk membunuhnya.

1124- Dari kisah ini dapat disimpulkan bahwa tidak layak merasa tenang dengan perkataan wanita atau suami, kemungkinan ia adalah mata-mata dan penguji. Demikian juga tidak menampakkan apa yang layak disembunyikan dari harta, mazhab, atau mencela seseorang, karena mungkin ada kerabatnya di antara yang hadir. Tidak mempercayai kasih sayang yang tidak berakar, karena mungkin di bawahnya ada bencana yang mengincarnya.

1125- Hendaklah berhati-hati dari setiap perkara yang mungkin. Betapa banyak kata yang dipindahkan teman kepada teman, lalu diceritakan oleh yang tidak bermaksud menyakiti si pembicara, lalu sampai dan ia terluka. Betapa banyak yang menampakkan cinta berlebihan sampai ia menguasai tujuannya.

Maka berhati-hatilah berhati-hati dari merasa tenang kepada siapa pun, khususnya dari musuh yang engkau sakiti atau engkau bunuh kerabatnya, karena mungkin ia menampakkan kebaikan sebagai jaring untuk menangkapmu, seperti kisah Zabba.

Pasal 243: Keserakahan dan Angan-angan

1126- Aku melihat jiwa setelah usia tinggi menguat angan-angannya dan bertambah keserakahannya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Anak Adam menjadi tua, dan dua sifat darinya menjadi muda: keserakahan dan angan-angan.”

Aku melihat kebanyakan sebab itu adalah kosongnya tangan dari dunia, banyaknya keluarga, dan kuatnya kebutuhan, maka manusia perlu terlibat dengan apa yang memalukan kehormatan untuk mencapai tujuan! Maka aku berkata: “Tuhanku! Setelah melihat gunung-gunung Arafah aku tersesat?! Setelah menghadap Haram, Arab-arab badui menangkapku?!

Sungguh menyesal! Apakah fajar Nahr terbit dan aku belum sampai ke Arafat?! Dan sungguh sia-sia perjalanan umur dan tidak tercapai yang dituju!

Dahulu aku mengharapkan-Mu untuk meraih cita-cita … Hari ini aku tidak meminta kecuali keridaan

Kemudian aku berkata: “Wahai jiwaku! Tidak ada tempat berlindung bagimu kecuali berlindung dan istighatsah orang yang tenggelam; jika dikasihani, jika tidak, betapa banyak penyesalan di bawah tanah!”

Pasal 244: Orang Tua Menikahi yang Muda

1127- Seorang syaikh mengadu kepadaku, ia berkata: “Usiaku telah tinggi, kekuatanku lemah, dan jiwaku meminta dariku membeli budak-budak wanita muda. Diketahui bahwa mereka menginginkan pernikahan, padahal tidak ada padaku, dan jiwa tidak puas dariku dengan nyonya rumah karena ia telah tua.” Aku berkata kepadanya: “Aku punya dua jawaban:

Yang pertama: Jawaban umum, yaitu aku berkata: Hendaknya engkau sibuk dengan mengingat mati dan apa yang engkau tuju, dan berhati-hati dari membeli budak wanita yang tidak mampu engkau penuhi haknya, karena ia akan membencimu. Jika engkau memaksa, engkau mempercepat kebinasaan, dan jika engkau menjaga kekuatanmu, ia marah, padahal ia tidak menginginkan syaikh bagaimanapun keadaannya.

Ali bin Ubaidullah pernah membacakan kepada kami, ia berkata: Muhammad At-Tamimi membacakan kepada kami:

Sadarlah wahai hatiku dari cintamu dan dengarlah Perkataan orang yang sedih atasmu yang penuh kasih

Engkau cinta gadis yang hatinya tergantung Pada selainmu, maka engkau yakin padahal tidak yakin

Engkau menjadi terikat, dan ia menjadi bebas Betapa jauh antara yang terikat dan yang bebas

Ketahuilah bahwa ia menghitung hari-hari atasmu dan meminta kelebihan harta darimu untuk bersiap untuk yang lain, dan mungkin ia bermaksud membunuhmu, maka berhati-hatilah! Keselamatan adalah dalam meninggalkan dan merasa cukup dengan apa yang menolak zaman.

Jawaban kedua: Aku berkata: Tidak lepas bahwa engkau mampu bersetubuh di waktu tertentu atau tidak mampu.

Jika engkau tidak mampu, maka yang utama adalah bersabar meninggalkan semuanya. Meskipun mungkin bagi orang bijak untuk menenangkan wanita dengan nafkah dan baik budi, tetapi ia mengambil risiko.

Jika engkau mampu di waktu-waktu tertentu untuk itu dan engkau melihat dari dirimu kerinduan yang kuat, maka hendaklah engkau dengan gadis-gadis remaja, karena mereka tidak mengenal pernikahan dan tidak meminta persetubuhan. Tenggelamkan mereka dengan nafkah dan baik budi dengan kehati-hatian atas mereka dan mencegah dari bergaul dengan wanita-wanita. Jika terjadi persetubuhan, bersabarlah dari mengeluarkan sperma sampai wanita menyelesaikan kebutuhannya!

Andalkan menasihatinya dan mengingatkannya dengan akhirat! Ceritakan kepadanya kisah-kisah para kekasih tanpa pernikahan dan buruknya gambaran perbuatan! Arahkan hatinya untuk mengingat orang-orang saleh! Jangan kosongkan dirimu dari wewangian, berhias, kecerdasan, diplomasi, dan nafkah yang luas! Ini mungkin menggerakkan unta untuk berjalan, dengan risiko keselamatan.”

Bab 245: Orang Berakal adalah yang Memperhatikan Akibat-akibat

1128- Orang paling bodoh adalah yang bekerja berdasarkan keadaan saat ini, tanpa membayangkan perubahannya, dan tidak memikirkan kemungkinan terjadinya hal-hal yang mungkin terjadi.

1129- Contohnya: seseorang yang terperdaya oleh suatu kekuasaan, lalu bertindak sesuai dengan kekuasaannya itu. Ketika keadaan berubah, dia binasa! Atau dia memusuhi banyak orang karena merasa berkuasa atau memiliki penguasa, namun ketika keadaannya berubah, dia menyesal sambil menggigit tangannya ketika sudah tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki!

1130- Demikian juga orang yang memiliki harta lalu memboroskannya, karena merasa tenang dengan adanya harta tersebut, dan melupakan keadaannya ketika tidak memiliki apa-apa! Dan orang yang menuruti syahwat, memperbanyak makanan, minuman, dan hubungan intim, karena yakin dengan kesehatannya, namun melupakan penyakit dan bencana yang akan mengikutinya!

1131- Di antara keadaan yang paling aneh adalah seseorang yang mencintai budak perempuannya, lalu memerdekakannya dan memberinya hadiah, atau mencintai seorang wanita lalu merasa tenang kepadanya dan memberinya hadiah hingga wanita itu berkuasa. Tidak berlalu lama hingga dia melupakan wanita itu atau mencari yang lain, namun tidak menemukan jalan untuk lepas. Jika dia berhasil lepas darinya, wanita itu telah mengambil apa yang dia peroleh darinya, sehingga dia merasakan kemarahan yang lebih besar dari kenikmatan yang pernah dia rasakan.

1132- Maka tidak sepatutnya seseorang mempercayai wanita atau cinta seseorang! Karena dia bisa mencintai seorang wanita dan mengira tidak akan pernah melupakannya, lalu berlaku semena-mena kepadanya. Padahal melupakan itu akan terjadi, bahkan mungkin dia mencintai yang lain, sehingga melupakan yang pertama, dan akan sulit baginya untuk lepas dari yang pertama!

1133- Orang berakal tidak masuk ke dalam sesuatu hingga dia menyiapkan jalan keluarnya, karena segala sesuatu tidak kekal, cinta tidak abadi, dan perubahan menyertai setiap keadaan.

1134- Demikian juga dia memberikan hartanya kepada anaknya, lalu menjadi beban bagi anaknya, sehingga sang anak berharap kematiannya, bahkan mungkin kikir dalam memberi nafkah.

1135- Demikian juga dia mempercayai teman, lalu menceritakan rahasia-rahasianya kepadanya. Terkadang teman itu membocorkannya, sehingga terjadi hal-hal yang menyebabkan kehancurannya.

1136- Demikian juga seseorang terperdaya dengan keselamatan dan melupakan datangnya kematian, lalu kematian datang tiba-tiba dan membuatnya terkejut, padahal kesempatan untuk memperbaiki telah berlalu dan yang tersisa hanyalah penyesalan.

1137- Orang berakel adalah yang matanya selalu memperhatikan akibat-akibat, berhati-hati dari hal-hal yang mungkin terjadi, dan bertindak dengan penuh kehati-hatian dalam setiap keadaan, menjaga harta dan rahasia, tidak mempercayai istri, anak, atau teman, bersiap untuk kepergian, dan siap untuk perpindahan. Inilah sifat orang-orang yang memiliki ketegasan, sedangkan kelalaian yang luas terjadi pada waktu menabur.

Bab 246: Tidak Ada Kecuali Pengetahuan Secara Umum

1138- Di antara hal yang paling mengherankan adalah upaya untuk mengetahui hakikat pengenalan terhadap Dzat Allah Azza wa Jalla, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya! Jauh sekali, tidak ada kecuali pengetahuan secara umum. Para ahli kalam telah mendalami hal ini, namun tidak memperoleh sesuatu, sehingga orang-orang berakal di antara mereka kembali kepada penyerahan diri.

1139- Demikian juga para ahli ra’yu (pendapat), mereka cenderung kepada qiyas (analogi), namun ternyata banyak hal yang bertentangan dengan keinginan mereka, sehingga mereka tidak menemukan tempat berlindung kecuali penyerahan diri. Mereka menamai apa yang menentang mereka sebagai istihsan.

1140- Ahli fiqih adalah yang memberikan alasan dengan apa yang memungkinkan, jika tidak mampu, dia menyerah untuk berserah diri. Inilah urusan para hamba.

1141- Adapun orang yang berkata: “Mengapa Dia berbuat demikian?” dan “Apa makna ini?” maka dia mencari untuk mengetahui rahasia Raja, padahal dia tidak akan menemukan jalan untuk itu, karena dua alasan: Pertama: Allah Ta’ala menyembunyikan banyak hikmah-Nya dari makhluk. Kedua: Tidak ada dalam kemampuan manusia untuk memahami semua hikmah Allah Ta’ala. Maka tidak tersisa bagi orang yang keberatan kecuali keberatan yang mengeluarkan kepada kekufuran: “Maka hendaklah dia menarik tali ke langit, kemudian hendaklah dia putuskan (nyawanya), lalu hendaklah dia lihat apakah tipu dayanya dapat menghilangkan apa yang membuatnya marah.” (Surat Al-Hajj: 15). Maknanya: barang siapa yang ridha dengan perbuatan-Ku, jika tidak, maka biarlah dia mencekik dirinya sendiri, karena Aku tidak berbuat kecuali apa yang Aku kehendaki.

Bab 247: Heran bagi Orang yang Mengambil Keringanan dalam Bergaul

1142- Orang yang diberi rizki oleh Allah Ta’ala berupa ilmu dan melihat perjalanan hidup para salaf, dia melihat bahwa dunia ini adalah kegelapan, dan kebanyakan manusia tidak berada di jalan yang benar, bergaul dengan mereka membahayakan dan tidak bermanfaat! Maka heran bagi orang yang mengambil keringanan dalam bergaul, padahal dia tahu bahwa tabiat adalah pencuri yang mencuri dari orang yang bergaul!

1143- Sesungguhnya bergaul seharusnya dilakukan dengan orang yang lebih tinggi dan lebih mulia dalam ilmu dan amal, agar dapat mengambil manfaat darinya. Adapun bergaul dengan orang yang lebih rendah, maka itu membahayakan, kecuali jika dia adalah orang awam yang menerima dari gurunya, maka sebaiknya bergaul dengan kehati-hatian.

1144- Pada zaman ini: jika terjadi pergaulan dengan orang awam, maka mereka adalah kegelapan yang mengakar. Jika seorang alim terpaksa bergaul dengan mereka, maka hendaklah dia bersiap-siap dengan pakaian kehati-hatian, dan hendaklah duduk bersamanya hanya untuk mengingatkan dan mendidik saja.

1145- Jika terjadi pergaulan dengan para ulama, maka kebanyakan mereka tidak berada di jalan yang benar, tujuan mereka adalah penampilan ilmu bukan mengamalkannya. Kamu hampir tidak melihat orang yang membicarakan urusan akhirat dengannya. Kesibukan mereka hanya gibah, mencari kemenangan, dan mencari dunia. Kemudian ada di antara mereka hasud kepada sesama yang tidak tergambarkan!

1146- Jika terjadi pergaulan dengan para penguasa, maka itu adalah tindakan merusak agama. Karena jika dia menerima jabatan duniawi dari mereka, maka kezaliman adalah keharusan dari jabatan itu, karena kebiasaan yang menguasai mereka dan berpaling dari syariat. Jika itu adalah jabatan keagamaan seperti menjadi hakim, maka mereka memerintahkannya dengan hal-hal yang hampir tidak mungkin baginya untuk meninjau kembali. Jika dia meninjau kembali, mereka tidak akan menerima, dan kebanyakan orang takut kehilangan jabatannya, sehingga melakukan apa yang diperintahkan kepadanya meskipun tidak dibolehkan.

1147- Terkadang kamu melihat pada zaman ini ada orang-orang yang mengeluarkan uang agar menjadi hakim atau saksi, tujuan mereka adalah kedudukan tinggi. Kemudian kebanyakan saksi bersaksi atas orang yang tidak dia kenal, dan berkata: “Dia dikenal!” padahal dia tahu bahwa dia pembohong! Dia hanya mengenalnya karena sebutir (uang) yang diberikan kepadanya. Betapa banyak kesaksian yang terjadi atas bukan orang yang disaksikan dan atas orang yang dipaksa!

1148- Jika terjadi pergaulan dengan para zahid (orang-orang yang zuhud), maka kebanyakan mereka tidak berada di jalan yang benar dan bertentangan dengan ilmu. Mereka telah membuat hukum-hukum untuk diri mereka sendiri, mereka tidak menghirup udara segar dan tidak keluar ke pasar, menampakkan ketundukan yang berlebihan, dan semua itu adalah kemunafikan. Di antara mereka ada yang memakai wol di bawah pakaiannya, bahkan terkadang memperlihatkan ujung lengan bajunya agar terlihat!

1149- Diriwayatkan dari Thahir bin Husain bahwa dia berkata kepada salah seorang zahid: “Sudah berapa lama kamu datang ke Irak?” Dia menjawab: “Aku masuk ke sana sejak dua puluh tahun yang lalu, dan aku sudah berpuasa selama tiga puluh tahun!” Thahir berkata: “Kami bertanya satu pertanyaan, tapi kamu menjawab dua.”

1150- Para sufi membangun ribath-ribath (tempat tinggal), mereka adalah pemberontak terhadap masjid-masjid. Tempat-tempat itu adalah toko-toko yang menjijikkan, di mana duduk orang-orang malas mencari rezeki padahal mampu melakukannya. Mereka duduk mengharapkan sedekah dan keadaan para penguasa zalim. Mereka telah membebaskan diri dari mengulang-ulang ilmu, kebanyakan mereka tidak shalat sunnah dan tidak bangun malam. Perhatian mereka hanya makanan, minuman, dan menari.

Mereka telah mengambil sunnah-sunnah yang menyelisihi syariat. Mereka memakai pakaian tambal sulam bukan karena fakir. Ini jelek karena tidak ada pada mereka tanda-tanda zuhud kecuali pakaian yang rendah. Pakaian mereka berteriak: “Kami adalah zahid!” sedangkan sisa perbuatan mereka yang tersembunyi mempermalukan mereka jika diketahui!! Dapur terus beroperasi, pemandian, manisan banyak, wewangian, kesenangan, dan kesombongan diperoleh dengan penampilan itu!

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Malik bin Nadhlah ketika melihatnya berpenampilan kusut: “Tidakkah kamu punya harta?” Dia menjawab: “Ya, dari segala jenis harta yang Allah Azza wa Jalla berikan kepadaku.” Nabi bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla jika memberikan nikmat kepada seorang hamba, Dia suka melihat (bekas) nikmat itu padanya.”

Di antara akhlak mereka adalah menjauhkan manusia dari ilmu, dan mereka mengklaim tidak perlu perantara, yang ada hanya hati dan Tuhan! Mereka memiliki perkataan dan perbuatan mungkar yang telah aku sebutkan dalam kitab Talbis Iblis. Ah, seandainya zaman ini ada Umar, dia akan membutuhkan seratus cambuk setiap hari, bahkan dia akan menggunakan pedang untuk para pemberontak ini. Mereka berada di dalam kota dan para ulama tidak memiliki kekuatan atas mereka, karena perkataan para ulama tentang mereka tidak diterima.

1151- Barang siapa yang diberi rizki oleh Allah Subhanahu untuk melihat perjalanan hidup para salaf dan diberi taufik untuk meneladani mereka, maka dia memilih untuk menyendiri dari kebanyakan manusia dan tidak bergaul dengan mereka. Karena barang siapa yang bergaul dengan mereka akan disakiti, dan barang siapa yang berdamai, tidak akan selamat dari basa-basi. Nasihat pada hari ini ditolak.

Bab 248: Termasuk Kebodohan Mendahului Musuh dengan Permusuhan

1152- Termasuk kebodohan adalah mendahului musuh atau orang yang hasud dengan permusuhan. Seharusnya jika kamu mengetahui keadaannya, kamu menampakkan kepadanya hal yang mewajibkan keselamatan di antara kalian berdua. Jika dia meminta maaf, terimalah, dan jika dia mulai bermusuhan, maka berlapang dadalah, dan tunjukkan kepadanya bahwa masalahnya mudah. Kemudian sembunyikan kehati-hatian darinya, jangan mempercayainya dalam keadaan apapun, dan menjauhlah darinya secara batin, dengan menampakkan pergaulan secara lahir.

1153- Jika kamu ingin menyakitinya, maka hal pertama yang menyakitinya adalah perbaikan dirimu dan kesungguhanmu dalam hal yang mengangkat derajatmu. Di antara hukuman terbesar baginya adalah memaafkan kesalahannya. Jika dia berlebihan dalam mencaci, maka berlebihlah dalam memaafkan. Orang awam akan menjauh darinya karena makinya, dan para ulama akan memujimu karena kesabaranmu! Apa yang menyakitinya dari hal itu dan yang membuatnya sedih secara lahir, adalah berlipat-lipat lebih baik daripada menyakitinya dengan perkataan yang jika kamu ucapkan kepadanya, kamu akan mendengar berlipat-lipat darinya.

1154- Kemudian dengan permusuhan kamu mengajarinya bahwa kamu adalah musuhnya, sehingga dia berhati-hati dan membebaskan lidahnya. Dengan memaafkan, dia tidak tahu apa yang ada di batinmu, sehingga kamu bisa puas darinya pada saat itu. Adapun jika kamu menghadapinya dengan hal yang merusak agamamu, maka dialah yang telah puas darimu! Tidak pernah menang orang yang dikalahkan oleh dosa. Yang menang adalah pemaafan yang indah. Hal ini hanya terjadi dari orang yang melihat bahwa Allah menguasakan musuh itu atasnya, entah sebagai hukuman atas dosa, atau untuk mengangkat derajat, atau untuk ujian. Dia tidak melihat musuh, tetapi melihat takdir.

Bab 249: Keluar dari Cobaan dengan Taubat dan Doa

1155- Jika kamu jatuh dalam cobaan yang sulit untuk keluar darinya, maka tidak ada bagimu kecuali berdoa dan berlindung kepada Allah, setelah kamu mendahulukan taubat dari dosa-dosa. Karena kesalahan mewajibkan hukuman, jika kesalahan hilang dengan taubat dari dosa-dosa, maka sebabnya terangkat.

1156- Jika kamu telah bertaubat dan berdoa, namun tidak melihat bekas dikabulkan, maka periksalah urusanmu. Mungkin taubat itu belum benar, maka perbaikilah, kemudian berdoalah, dan jangan bosan berdoa. Mungkin kemaslahatan ada dalam menunda dikabulkan, dan mungkin kemaslahatan tidak ada dalam dikabulkan, maka kamu diberi pahala dan dikabulkan sesuai dengan kemaslahatan. Di antara kemaslahatan adalah tidak diberi apa yang kamu minta, tetapi diganti dengan yang lain.

1157- Jika iblis datang dan berkata: “Sudah berapa lama kamu berdoa dan tidak melihat dikabulkan!” maka katakanlah: “Aku beribadah dengan berdoa, dan aku yakin bahwa jawaban itu ada, hanya saja mungkin penundaannya untuk beberapa kemaslahatan yang sesuai. Seandainya tidak terkabul, sudah terkabul ibadah dan kehinaan (di hadapan Allah).”

1158- Janganlah kamu meminta sesuatu kecuali kamu iringi dengan meminta yang terbaik. Betapa banyak yang diminta dari dunia, terkabulnya menjadi sebab kehancuran. Jika kamu diperintahkan bermusyawarah dalam urusan dunia kepada teman dudukmu, agar dia menjelaskan kepadamu sebagian pendapat yang tidak mampu pendapatmu, dan kamu melihat bahwa apa yang terlintas untukmu tidak baik, maka bagaimana kamu tidak meminta kebaikan kepada Tuhanmu, padahal Dia lebih tahu tentang kemaslahatan?! Istikharah termasuk bagusnya bermusyawarah.

Pasal 250: Para Ulama dan Pembagian Mereka serta Orang-orang Jahil dan Pembagian Mereka

1159 – Aku memandang manusia, dan aku melihat mereka terbagi antara yang berilmu dan yang jahil: Adapun orang-orang jahil, mereka terbagi menjadi:

Di antara mereka ada penguasa yang dibesarkan dalam kejahilan, mengenakan sutra, meminum khamar, mendzalimi manusia, dan memiliki pekerja yang dalam keadaan seperti keadaannya. Mereka ini sama sekali terpisah dari kebaikan.

Di antara mereka ada pedagang yang cita-citanya adalah mencari keuntungan dan mengumpulkan harta. Kebanyakan mereka tidak menunaikan zakat dan tidak menghindari riba. Mereka ini berwujud manusia namun hakikatnya bukan.

Di antara mereka ada pemilik mata pencaharian yang mengurangi takaran, merugikan timbangan, merugikan manusia, dan bermuamalah dengan riba. Mereka berada di pasar sepanjang hari, tidak ada cita-cita mereka kecuali apa yang mereka kerjakan. Ketika malam tiba, mereka tertidur seperti orang mabuk. Cita-cita salah seorang mereka adalah apa yang dimakan dan dinikmatinya. Mereka tidak mengetahui tentang shalat. Jika salah seorang mereka shalat, dia hanya mematuk-matuk atau mengumpulkan (menjamak) shalat. Mereka ini termasuk golongan binatang.

Di antara manusia ada yang rendah dalam semua keadaan mereka. Ada yang menjadi penyapu, pengangkut sampah, penjual dedak, pembersih jamban. Mereka ini adalah yang paling rendah di antara manusia.

Di antara mereka ada yang mencari kenikmatan, namun mata pencahariannya tidak mencukupi, sehingga keluar untuk merampok di jalan! Mereka ini adalah kelompok yang paling bodoh, karena mereka tidak memiliki kehidupan. Jika mereka menikmati sesaat dengan makan atau minum, ketika angin menggerakkan sebatang bambu, mereka lari karena takut kepada penguasa. Betapa sedikitnya masa hidup mereka! Kemudian mereka akan dibunuh dan disalib, disertai dosa akhirat.

Di antara mereka ada penduduk desa yang diliputi kejahilan. Kebanyakan mereka tidak menghindari najis, sehingga mereka seperti kerbau.

1160 – Aku melihat perempuan juga terbagi. Di antara mereka ada yang cantik namun berzina, ada yang berkhianat kepada suaminya dalam hartanya, ada yang tidak shalat dan tidak mengetahui apapun tentang agama. Mereka ini adalah bahan bakar neraka. Jika mereka mendengar nasihat, nasihat itu berlalu seperti mengenai batu! Jika Al-Quran dibaca di hadapan mereka, seolah-olah mereka mendengar dongeng!!

1161 – Adapun para ulama: Yang pemula di antara mereka terbagi kepada yang berniat buruk yang bertujuan dengan ilmu untuk berbangga bukan untuk mengamalkan, dan condong kepada kefasikan dengan menyangka bahwa ilmu akan menolak (azab) darinya, padahal ilmu itu adalah hujjah atasnya. Adapun yang menengah dan yang masyhur, kebanyakan mereka mendatangi para penguasa dan diam dari mengingkari kemunkaran.

Sedikit dari para ulama yang selamat niatnya dan baik tujuannya.

1162 – Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Allah berikan kepadanya kebaikan tujuan dalam menuntut ilmu. Dia menuntut ilmu untuk mendapat manfaat dan memberi manfaat, dan tidak peduli dengan amal sesuai dengan yang ditunjukkan ilmu kepadanya. Engkau melihatnya menjauhkan diri dari ahli dunia, berhati-hati dari bergaul dengan orang awam, qanaah dengan yang sedikit karena takut mengambil resiko di dunia dalam menuntut yang banyak, dan memilih uzlah. Tidak ada yang lebih mengingatkan akhirat daripada uzlah.

1163 – Tidak ada yang lebih berbahaya bagi seorang alim daripada masuk kepada para penguasa, karena hal itu akan memperindah dunia bagi alim tersebut, meremehkan kemunkaran, dan terkadang dia ingin mengingkari namun tidak mampu! Jika dia tidak qanaah dan nafsunya mengalahkannya dalam mencari kelebihan dunia, maka dia akan tunduk kepadanya; karena dia bergaul dengan pemilik dunia.

1164 – Sesungguhnya manusia berjalan di pasar sebentar saja, lalu lupa dengan apa yang dilihatnya terhadap apa yang diketahuinya. Bagaimana jika ditambah dengan sering mendatangi orang-orang kaya dan berambisi terhadap harta mereka?!

Adapun menyendiri, maka itu adalah sebab kembalinya hati, terkumpulnya perhatian, memandang akibat, bersiap untuk kepergian, dan mengumpulkan bekal. Jika ditambah dengan qanaah, akan mendatangkan keadaan-keadaan yang baik.

1165 – Tidak baik hari ini bergaul kecuali dengan kitab yang menceritakan kepadamu tentang rahasia-rahasia salaf. Adapun bergaul dengan para ulama, itu adalah resiko, karena mereka umumnya tidak berkumpul untuk mengingat akhirat. Bergaul dengan orang awam adalah fitnah bagi agama; kecuali jika berhati-hati dalam bergaul dengan mereka, mencegah mereka dari berbicara, dia yang berbicara, dan memaksa mereka mendengar, kemudian segera menjauh dari mereka.

1166 – Tidak mungkin berpisah total kecuali dengan memutus ambisi. Ambisi tidak akan terputus kecuali dengan qanaah terhadap yang sedikit, atau berdagang, atau memiliki tanah yang dapat dimanfaatkan. Karena kapan saja dia membutuhkan, perhatiannya akan terpecah. Kapan saja seorang alim berpisah dari makhluk, memutus ambisinya kepada mereka, dan fokus kepada mengingat akhirat; maka dialah yang bermanfaat dan diambil manfaat darinya. Allah yang memberi taufik.

Pasal 251: Para Salaf Sibuk dengan Al-Quran dan Ilmu

1167 – Barangsiapa yang merenungkan dengan mata pikiran kekalnya tinggal di surga, dalam kejernihan tanpa keruhnya, kenikmatan tanpa terputus, tercapainya semua yang diinginkan jiwa, dan tambahan yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia, tanpa perubahan dan tanpa hilang. Tidak dikatakan: seribu ribu tahun, atau seratus ribu ribu, bahkan seandainya manusia menghitung ribuan ribu tahun, hitungannya akan habis dan memiliki ujung, sedangkan kebahagiaan akhirat tidak akan pernah habis. Namun hal itu tidak diperoleh kecuali dengan bayaran umur ini.

1168 – Berapa ukuran umur yang maksimalnya seratus tahun? Darinya lima belas tahun masa kanak-kanak dan kejahilan, dan tiga puluh tahun setelah tujuh puluh -jika tercapai- adalah kelemahan dan ketidakmampuan. Pertengahan umur separuhnya tidur, sebagiannya waktu makan, minum, dan mencari nafkah. Yang tersaring darinya untuk ibadah sangat sedikit?! Tidakkah yang kekal itu dibeli dengan yang sedikit ini?!

1169 – Berpaling dari memulai jual beli ini adalah kerugian yang besar dalam kelalain dan kurangnya keyakinan terhadap janji. Sesungguhnya yang tahu bagaimana mengadakan jual beli dengan ilmu, dialah yang menunjukkan jalan, mengetahui apa yang cocok untuknya, dan memperingatkan dari perampoknya.

1170 – Sungguh iblis telah masuk kepada sekelompok orang zuhud dengan kerusakan-kerusakan, yang terbesar adalah mengalihkan mereka dari ilmu. Seolah-olah dia mulai memadamkan pelita agar bisa mencuri dalam kegelapan, hingga dia mengambil segolongan dari ulama besar, lalu membawa mereka kepada hal yang dilarang oleh ilmu.

1171 – Aku melihat Abu Hamid At-Thusi menceritakan tentang dirinya dalam sebagian karya tulisannya. Dia berkata: Aku bermusyawarah dengan seorang pemimpin terkenal dari kalangan sufi tentang konsisten membaca Al-Quran? Dia melarangku! Dan berkata: Jalannya adalah engkau memutus hubunganmu dengan dunia secara total, sehingga hatimu tidak menoleh kepada keluarga, anak, harta, dan ilmu, bahkan engkau sampai kepada keadaan dimana sama saja bagimu ada atau tidaknya semua itu. Kemudian engkau menyendiri di sudut, membatasi ibadah hanya pada fardhu dan sunnah rawatib, duduk dengan hati kosong, dan terus mengucapkan: Allah, Allah, hingga engkau sampai kepada keadaan dimana jika engkau berhenti menggerakkan lidah, engkau melihat seolah-olah kalimat itu berjalan di lidahmu. Kemudian engkau melihat apa yang dibukakan kepadamu sebagaimana dibukakan kepada para nabi dan wali!!

Aku berkata: Ini adalah perkara yang tidak membuatku heran terhadap yang menyarankannya; tetapi aku heran terhadap yang menerimanya dengan pengetahuan dan pemahamannya!! Apakah jalan bisa dipotong dengan berpaling dari membaca Al-Quran?! Apakah dibukakan kepada para nabi apa yang dibukakan dengan perjuangan dan riyadhah mereka?! Apakah bisa dipercaya apa yang muncul dari jalan-jalan ini?! Kemudian apa yang dibukakan?! Apakah itu pemberitahuan tentang ilmu ghaib? Ataukah wahyu?!

Semua ini dari permainan iblis terhadap kaum tersebut. Terkadang yang mereka bayangkan adalah akibat dari melankoli atau dari iblis.

Maka berpeganglah dengan ilmu, dan lihatlah perjalanan hidup para salaf. Apakah ada seorang pun di antara mereka yang melakukan atau memerintahkan hal ini?! Mereka hanya sibuk dengan Al-Quran dan ilmu, yang menunjukkan mereka kepada perbaikan batin dan penyuciannya. Kami memohon kepada Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi ilmu yang bermanfaat dan perlindungan dari musuh yang mencegah. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa.

Pasal 252: Kehati-hatian dalam Menyembunyikan Cinta dan Benci

1172 – Barangsiapa yang ingin memilih kekasih, maka kekasih itu ada dua jenis: wanita yang diinginkan karena keindahan rupanya, dan teman yang diinginkan karena kebaikan maknanya. Jika engkau terkesan dengan rupa seorang wanita, maka perhatikanlah akhlak batinnya dalam waktu yang lama sebelum hati terikat dengannya dengan ikatan yang kuat. Jika engkau melihatnya sebagaimana yang engkau sukai -dan pokok semua itu adalah agama, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Hendaklah engkau memilih yang beragama” (HR. Bukhari dan Muslim)- maka cenderunglah kepadanya dan nikahilah dia. Bersikapialah moderat dalam kecenderunganmu, karena termasuk kesalahan jika engkau menampakkan cinta kepada kekasihmu, karena dia akan berlaku sewenang-wenang kepadamu, dan engkau akan mendapat gangguan darinya berupa kezaliman, hijrah, kesombongan, dan permintaan nafkah yang banyak -meskipun dia mencintaimu- karena ini hanya akan mendatangkan kesombongan dan keinginan menguasai yang ditundukkan.

1173 – Ada rahasia yang mengagumkan, yaitu engkau terkadang bertindak sesuai dengan keadaan saat ini yang menunjukkan kesempurnaan cinta, kemudian hal itu tidak tetap bagimu, lalu engkau jatuh dan tetap tertunduk, dan sulit bagimu untuk lepas! Terkadang dia menguasaimu dengan mengetahui rahasiamu atau mengambil banyak dari hartamu.

1174 – Di antara yang paling baik yang sampai kepadaku dalam hal ini adalah bahwa seorang budak wanita salah seorang khalifah sangat mencintainya, namun tidak menampakkan hal itu kepadanya. Ketika ditanya tentang hal ini? Dia berkata: Jika aku menampakkan apa yang ada padaku, lalu dia menjauhiku, aku akan binasa. Penyair berkata:

Jangan tampakkan kasih sayang kepada kekasih Karena engkau akan melihat dengan matamu segala keanehan darinya Suatu hari aku menampakkan kasih sayangku kepada kekasih Lalu aku mendapat bagian dari hijrahnya

1175 – Demikian juga hendaknya engkau menyembunyikan sebagian cintamu kepada anak; karena dia akan menguasaimu, menyia-nyiakan hartamu, berlebihan dalam kesombongan, dan menolak untuk belajar dan beradab.

1176 – Demikian juga jika engkau memilih seorang teman dan mengujinya, jangan beritahu dia semua yang ada padamu, tetapi peliharalah dia dengan kebaikan, sebagamana engkau memelihara pohon. Sesungguhnya jika pohon itu bagus akarnya, buahnya akan baik dengan pemeliharaan. Kemudian berhati-hatilah darinya, karena keadaan bisa berubah. Telah dikatakan:

Waspadalah terhadap musuhmu sekali Dan waspadalah terhadap temanmu seribu kali Karena terkadang teman berubah Sehingga dia lebih tahu tentang bahaya

Pasal 253: Jangan Tampakkan Kebencianmu kepada yang Engkau Benci

1177 – Adapun jika engkau membenci seseorang karena dia menyakitimu, jangan tampakkan hal itu; karena engkau akan menyadarkannya untuk berhati-hati darimu, dan mengajaknya untuk berperang, sehingga dia akan berlebihan dalam memerangimu dan menyiasatimu. Tetapi hendaknya engkau menampakkan kebaikan kepadanya jika mampu, dan berbuat baik kepadanya semampumu, hingga permusuhannya patah karena malu membencimu. Jika tidak mampu, maka hijrah yang baik, tidak menampakkan di dalamnya apa yang menyakiti. Kapan saja engkau mendengar darinya perkataan yang kasar, jadikanlah jawabannya perkataan yang baik, karena itu lebih kuat dalam menahan lidahnya. Demikian juga semua yang ditakuti untuk ditampakkan, jangan engkau bicarakan, karena terkadang jatuh satu kata yang bisa menjatuhkan kehormatan penguasa, lalu disampaikan kepadanya, sehingga menjadi sebab kehancuranmu, atau tentang teman, sehingga menjadi sebab permusuhannya, atau engkau menjadi sandera bagi yang mendengarnya, takut dia akan menampakkannya. Maka kehati-hatian adalah menyembunyikan cinta dan benci.

1178 – Demikian juga hendaknya engkau menyembunyikan umurmu. Jika engkau tua, mereka akan meremehkanmu, dan jika engkau muda, mereka akan menganggapmu rendah. Demikian juga kadar hartamu, karena jika banyak, mereka akan menuduhmu pelit dalam pengeluaranmu, dan jika sedikit, mereka akan mencari kelegaan darimu. Demikian juga madzhab, karena jika engkau menampakkannya, engkau tidak aman bahwa akan mendengarnya orang yang menyelisihi, lalu dia memvonis kekafiran mu. Muhammad bin Abdul Baqi Al-Bazzaz telah menyajak kepada kami:

Jagalah lidahmu, jangan buka tiga perkara Umur, harta sesuai kemampuanmu, dan madzhab Karena dengan ketiga hal itu engkau akan diuji dengan tiga hal Dengan penipu, pembohong, dan pendustakan

Pasal 254: Pelayan Penguasa Khawatir atas Agama dan Dunianya

1179 – Lama aku heran terhadap orang yang beriman kepada Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi, beriman kepada balasan-Nya, namun memilih mengabdi kepada penguasa, dengan melihat kezaliman yang nyata darinya. Sungguh menakjubkan! Apa yang membuatnya kagum?! Jika yang membuatnya kagum adalah urusan dunia, tidak ada selain diteriaki di hadapannya “Bismillah”, duduk di tempat terhormat dalam majelis-majelis, memalingkan lehernya dengan sombong kepada sejawat, dan mengambil hadiah-hadiah, padahal dia tahu dari mana diperolehnya, dan terkadang dia leluasa dalam kemewahan.

Kemudian hal ini dihadapkan dengan pemungutan paksa dan pemecatan, sehingga diekstrak darinya kepahitan itu semua kemanisan yang ada dalam jabatan. Terkadang dia dekat keadaannya, lalu menjadi fakir karena pemungutan paksa. Kemudian lidah-lidah yang memuji berganti dengan mencela. Kemudian seandainya dia selamat dari ini, dia tidak selamat dari yang mengawasinya dan waspada darinya. Dia seperti penumpang laut, jika badannya selamat dari tenggelam, hatinya tidak selamat dari ketakutan.

Jika yang dimaksud adalah agama; maka dia tahu bahwa mereka umumnya tidak memungkinkannya untuk beramal sesuai dengan tuntutan agama. Mereka memerintahkannya meninggalkan yang wajib dan melakukan yang tidak boleh, sehingga agamanya hilang begitu saja! Dan azab akhirat lebih berat.

Pasal 255: Orang yang menjaga harga diri menjauhkan diri dari belas kasihan orang-orang hina

1180- Sungguh mengherankan orang yang menjaga harga dirinya! Bagaimana dia tidak sabar memakan roti kering, namun justru menghadapkan diri pada belas kasihan orang-orang hina?!

Apakah dia tidak tahu bahwa tidak ada lagi orang yang memiliki muruah (kehormatan)? Dan bahwa jika dia meminta, dia akan meminta kepada orang kikir yang tidak akan memberi, dan jika memberi pun hanya sedikit, maka dia akan memperbudak si penerima dengan pemberian itu sepanjang hidupnya?!

Kemudian jumlah sedikit itu akan segera habis, sementara belas kasihan dan rasa malu tetap tersisa, dan melihat diri sendiri dengan mata penghinaan karena telah menjadi peminta, dan melihat si pemberi dengan mata pengagungan selamanya. Kemudian hal itu mengharuskan untuk diam tentang aib-aib si pemberi, dan bergegas memenuhi hak-haknya serta melayaninya dalam segala hal.

1181- Yang lebih mengherankan dari ini adalah orang yang mampu memperbudak orang-orang merdeka dengan sedikit pemberian yang fana namun tidak melakukannya, padahal orang merdeka hanya dapat dibeli dengan kebaikan. Sebagaimana kata penyair:

“Berbuat baiklah kepada siapa yang kau kehendaki dan pedulilah urusannya, Maka kau, meskipun dia seorang pemimpin, adalah pemimpinnya. Dan jadilah kaya dari siapa yang kau kehendaki dari manusia, Meskipun dia seorang sultan, maka kau adalah setaranya. Dan barangsiapa yang kau butuhkan dan kau berdiri dengan mengharap darinya, Maka kau adalah tawanannya.”

Pasal 256: Berisi nasihat untuk para pemuda

1182- Sebaiknya anak laki-laki ketika sudah baligh berhati-hati dari terlalu banyak bersetubuh, agar tetap menjaga esensinya, karena hal itu akan bermanfaat baginya di masa tua. Karena menjadi tua adalah hal yang mungkin terjadi, dan bersiap-siap untuk kemungkinan adalah suatu kehati-hatian, apalagi untuk hal yang lebih dominan! Sebagaimana seseorang harus bersiap untuk musim dingin sebelum kedatangannya. Barangsiapa yang menghabiskan modal saat masih mampu, akan menderita karena kekurangan saat membutuhkan.

1183- Dan hendaklah orang yang beragama dan berakal tahu bahwa kenikmatan sesungguhnya adalah dengan mendekat kepada kekasih, dan kedekatan dapat diperoleh dengan ciuman dan pelukan, dan hal itu memperkuat cinta, dan cinta itu nikmat keberadaannya. Sedangkan bersetubuh justru mengurangi cinta dan menghilangkan kenikmatan tersebut! Orang-orang Arab dahulu biasa jatuh cinta namun tidak memandang bersetubuh dengan yang dicintai! Sebagaimana kata salah seorang dari mereka:

“…jika cinta dinikahi, maka rusaklah”

Adapun menikmati persetubuhan itu sendiri, adalah urusan binatang.

1184- Sungguh aku telah merenungkan tujuan dari persetubuhan, dan aku menemukan di dalamnya makna menakjubkan yang tersembunyi dari kebanyakan manusia, yaitu bahwa ketika jiwa mencintai seseorang, dia mencintai kedekatan dengannya, maka dia lebih memilih pelukan dan dekapan karena keduanya adalah puncak kedekatan. Kemudian dia menginginkan kedekatan yang lebih dari ini, maka dia mencium bibir. Kemudian dia mencari kedekatan dengan ruh, maka dia mencium mulut karena mulut adalah jalan menuju ruh. Kemudian dia mencari tambahan, maka dia mengisap lidah kekasihnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa memeluk Aisyah, menciumnya, dan mengisap lidahnya. Jika jiwa mencari tambahan kedekatan dengan jiwa, maka dia menggunakan persetubuhan. Itulah rahasia maknanya, dan darinya diperoleh kenikmatan inderawi.

Pasal 257: Bahaya ilmu kalam bagi orang awam

1185- Tidak ada yang lebih berbahaya bagi orang awam daripada mendengarkan ilmu kalam. Sesungguhnya orang awam harus diperingatkan dari mendengar dan mendalaminya, sebagaimana anak kecil diperingatkan dari tepi sungai karena takut tenggelam. Terkadang orang awam mengira bahwa dia memiliki kekuatan untuk memahami ini, padahal itu salah, karena banyak ulama yang tergelincir dalam hal ini, apalagi orang awam?!

1186- Aku tidak pernah melihat orang yang lebih bodoh dari kebanyakan penceramah di zaman kita. Mereka dihadiri oleh orang-orang awam yang kasar, namun mereka tidak melarang dari khamar, zina, dan ghibah, dan tidak mengajarkan rukun-rukun shalat serta kewajiban-kewajiban ibadah. Sebaliknya, mereka menghabiskan waktu dengan membicarakan istawa, takwil sifat-sifat, dan bahwa kalam berdiri dengan dzat, sehingga orang yang hatinya sehat menjadi terganggu karenanya.

1187- Sesungguhnya yang wajib bagi orang awam adalah beriman kepada lima perkara pokok: kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, dan cukup dengan apa yang dikatakan salaf: “Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan, istawa itu haq, dan caranya tidak diketahui.”

1188- Dan hendaklah diketahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak membebani orang-orang Arab badui kecuali dengan iman semata, dan para sahabat tidak membicarakan jawahir dan agradh (substansi dan aksiden). Barangsiapa yang meninggal mengikuti jalan mereka, maka dia meninggal sebagai mukmin yang selamat dari bid’ah. Dan barangsiapa yang mendekati pantai laut padahal dia tidak bisa berenang, maka yang tampak adalah tenggelam.

Pasal 258: Orang yang paling bodoh adalah yang tergila-gila dengan syahwat

1189- Orang yang paling bodoh adalah yang tergila-gila dengan syahwat. Syahwat ada dua macam: yang halal dan yang haram. Yang halal hampir tidak dapat diperoleh kecuali dengan mensia-siakan hal yang penting dari agama. Jika diperoleh sebesar biji dari syahwat itu, akan disertai dengan satu kwintal kegelisahan.

Kemudian syahwat itu hampir tidak pernah murni dalam dirinya sendiri, bahkan hal-hal yang mengotorinya beribu-ribu. Jika dibayangkan ketiadaannya setelah berlalu, dan tersisanya ribuan hal yang mengotori itu, maka bayangan itu menjadi pengekang nafsu dan penyedih jiwa.

Jika syahwat itu telah berlalu, maka yang tersisa adalah penyesalan yang terus-menerus yang tidak dapat digambarkan sifatnya. Syahwat menipu orang yang mudah tertipu, menghancurkan umur, dan melanggengkan kesedihan. Dan dengan semua ini, orang yang tergila-gila itu setiap kali meneguk dari satu syahwat, dia mencari yang lainnya, padahal dia sudah tahu kejahatan dan pengkhianatan yang pertama – ini adalah penyakit akal dan penyakit tabiat. Dia terus begitu sampai kematian merenggutnya, lalu dia bertemu dengan hamparan penyesalan yang tak dapat diperbaiki.

Sungguh mengherankan orang yang cita-citanya seperti ini padahal umurnya pendek, kemudian dia tidak peduli dengan akhiratnya, yang kenikmatannya bersih dari pengotor, suci dari cacat, kekal hingga masa yang tak terbatas, dan abadi dengan keabadian yang tak berakhir! Mendekatkan (kenikmatan akhirat) ini hanya dapat dicapai dengan menjauhkan (kenikmatan dunia) itu, dan memakmurkan yang ini dengan merusak yang itu. Sungguh mengherankan orang yang berakal, cerdas, dan baik dalam mengatur, namun dia luput dari memperhatikan keadaan-keadaan ini, dan lengah dari membedakan antara kedua perkara ini!

Jika syahwat itu berupa kemaksiatan, maka akan bertambah pada apa yang telah kami sebutkan: aib dunia, aib di antara makhluk, hukuman had, azab akhirat, dan murka Allah Subhanahu.

Demi Allah, jika yang halal saja menyibukkan dari meraih keutamaan-keutamaan, maka hal itu dicela untuk menunjukkan kehati-hatian, apalagi yang haram yang merupakan puncak keburukan?!

Kami memohon kepada Allah Azza wa Jalla kewaspadaan yang menggerakkan kami kepada manfaat-manfaat kami, dan menggoncangkan kami dari penipu-penipu kami, sesungguhnya Dia Maha Dekat.

Pasal 259: Hawa nafsu, menunda-nunda, dan tertipu dengan rahmat

1190- Aku merenungkan keadaan manusia, dan ternyata mereka dalam keadaan yang menakjubkan, yang hampir dapat dipastikan dengan rusaknya akal! Yaitu bahwa manusia mendengar nasihat-nasihat, dan disebutkan kepadanya akhirat, maka dia mengetahui kebenaran si pembicara, lalu dia menangis dan terguncang karena kelalaiannya, dan bertekad untuk memperbaiki, kemudian dia melambat-lambat melaksanakan apa yang telah ditekadkannya. Jika dikatakan kepadanya: “Apakah kamu ragu dengan apa yang dijanjikan kepadamu?” Dia menjawab: “Tidak, demi Allah.” Lalu dikatakan kepadanya: “Kalau begitu beramallah!” Maka dia berniat untuk itu, kemudian dia menunda amalnya, dan terkadang condong kepada syahwat yang haram, padahal dia tahu larangan terhadapnya!

1191- Dari jenis ini adalah tertundanya tiga orang yang ditinggalkan (dalam perang Tabuk), dan mereka tidak memiliki uzur, padahal mereka tahu jeleknya penundaan. Demikian juga setiap orang yang bermaksiat dan menyia-nyiakan. Aku merenungkan sebabnya – padahal keyakinannya benar namun perbuatannya lambat – ternyata ada tiga sebab:

Pertama: melihat hawa nafsu yang segera, karena melihatnya menyibukkan dari memikirkan apa yang akan dipetiknya.

Kedua: menunda-nunda taubat. Andai akal hadir, pasti akan waspada dari bencana penundaan, karena mungkin saja datang kematian sebelum taubat terwujud! Sungguh mengherankan orang yang memungkinkan rohnya dicabut sebelum lewat satu jam, namun tidak beramal dan masih berbuat haram! Hanya saja hawa nafsu memperpanjang harapan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalatlah seperti shalat orang yang berpamitan.” Ini adalah puncak obat untuk penyakit ini, karena barangsiapa yang mengira bahwa dia tidak akan bertahan sampai shalat yang lain, maka dia akan bersungguh-sungguh dan berusaha keras.

Ketiga: mengharapkan rahmat. Si pendosa berkata: “Tuhanku Maha Pengasih!” dan melupakan bahwa Dia keras dalam menghukum! Andai dia tahu bahwa rahmat-Nya bukan kelembutan, karena jika demikian, Dia tidak akan menyembelih seekor burung pun dan tidak akan menyakiti seorang anak – dan siksa-Nya tidak aman – karena Dia mensyariatkan memotong tangan yang mulia karena mencuri lima qirath (seperempat dinar), niscaya dia akan bersungguh-sungguh dan bertaubat. Maka kami memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar memberi kami kehati-hatian yang memutuskan maslahat dengan tegas.

Pasal 260: Berpaling dari hal-hal yang menggerakkan kesombongan, keangkuhan, dan takjub diri

1192- Aku memperhatikan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau memakai cincin, kemudian melepaskannya sambil berkata: “Ini menyibukkanku, sekali melihat kalian dan sekali melihat cincin ini.” Dan sabdanya: “Ini adalah orang yang berjalan dengan angkuh dalam jubahnya, merapikan rambutnya, maka ditenggelamkan ke dalam bumi, dan dia berputar-putar di dalamnya sampai hari kiamat.” Maka aku melihat bahwa tidak pantas bagi mukmin memakai pakaian yang membuatnya takjub, atau sesuatu dari perhiasan, karena hal itu menyebabkan melihat diri dengan mata kekaguman, padahal jiwa seharusnya hina di hadapan Sang Pencipta.

1193- Para ulama terdahulu di Bani Israil biasa berjalan dengan tongkat, agar tidak terjadi kesombongan dalam berjalan mereka.

1194- Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha memakai baju besi miliknya, lalu dia kagum dengannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: “Sesungguhnya Allah tidak melihatmu dalam keadaan seperti ini.”

1195- Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memakai kain bergambar, beliau berkata: “Ini telah melalaikanku dari shalatku.”

Semua ini mengharuskan berpaling dari perhiasan dan hal-hal yang menggerakkan kesombongan, keangkuhan, dan takjub diri. Karena itulah sutra diharamkan.

1196- Aku berkata tentang sebab-sebab hal ini: Sesungguhnya pakaian tambal sulam yang diperindah oleh para sufi dengan hiasan dan kilau, mungkin menyebabkan keangkuhan si pemakai, baik karena keindahannya sendiri, atau karena dia tahu bahwa pakaian itu menunjukkan dirinya sebagai sufi dan zahid. Demikian juga cincin di tangan, panjangnya lengan baju, dan sandal yang mencolok. Aku tidak mengatakan bahwa hal-hal ini haram, tetapi mungkin mendatangkan hal yang haram yaitu keangkuhan. Sebaiknya orang yang berakal memperhatikan apa yang kukatakan dalam menolak semua yang ditakuti keburukannya.

1197- Ibnu Umar pernah mengendarai unta pilihan, lalu dia kagum dengan jalannya. Maka dia turun dan berkata: “Wahai Nafi’! Masukkan dia ke dalam kawanan unta biasa.”

Pasal 261: Menyendiri adalah penjagaan

1198- Barangsiapa yang ingin mengumpulkan perhatiannya dan memperbaiki hatinya, hendaklah berhati-hati dari bergaul dengan manusia di zaman ini, karena dahulu pertemuan terjadi untuk membicarakan hal-hal yang bermanfaat, namun sekarang pertemuan terjadi untuk hal-hal yang merugikan!

1199

Dan sungguh aku telah berulang kali mencoba pada diriku sendiri untuk menyendiri di rumah pengasingan, maka hatiku pun terkumpul, dan ditambah lagi dengan menelaah riwayat hidup para salaf, maka aku melihat bahwa pengasingan itu bagaikan diet, dan menelaah riwayat hidup mereka adalah obat, sedangkan menggunakan obat bersama diet dari percampuran yang tidak baik adalah bermanfaat. Namun ketika aku memberi kelonggaran pada diriku untuk bergaul dan bertemu dengan orang-orang, maka hati yang telah terkumpul itu menjadi terpencar, dan terjadilah kelalaian dari apa yang selama ini aku jaga, dan terukir di hati apa yang telah dilihat mata, dan di batin apa yang didengar telinga, dan di jiwa apa yang diharapkan untuk diperoleh dari dunia. Padahal kebanyakan orang yang bergaul adalah orang-orang yang lalai, dan tabiat dengan bergaul bersama mereka akan mencuri dari tabiat mereka. Ketika aku kembali mencari hati, aku tidak menemukannya, dan aku berusaha mencari kehadiran hati itu namun aku kehilangannya, maka hatiku tetap dalam keramaian pertemuan dengan orang-orang selama berhari-hari, hingga hawa nafsu itu lupa.

1200

Dan apa manfaatnya menampakkan bangunan untuk dirobohkan?! Sesungguhnya kelanggengan pengasingan itu seperti bangunan, dan menelaah riwayat hidup para salaf akan meninggikannya. Namun ketika terjadi pergaulan, maka yang telah dibangun dalam waktu lama akan roboh dalam sekejap, dan sulit untuk diperbaiki, serta hati menjadi lemah! Dan barangsiapa yang memiliki pemahaman, dia akan mengenal penyakit hati, dan keberpalingannya dari pemiliknya, dan keluarnya burung dari sangkarnya. Dan tidak aman bagi orang sakit ini bahwa penyakitnya ini menjadi sebab kebinasaan, dan tidak aman pula bagi burung yang terkurung ini jatuh ke dalam jaring.

1201

Dan sebab penyakit hati adalah karena ia dahulu terlindung dari percampuran yang tidak baik, diberi makan dengan ilmu dan riwayat hidup para salaf, lalu bercampur, maka tabiatnya tidak kuat menahan, sehingga terjadilah penyakit.

Maka bersungguh-sungguhlah; karena ini hanyalah beberapa hari. Dan kita tidak melihat orang yang bisa ditemui, atau yang bisa diambil manfaat darinya, atau yang berguna majlisnya; kecuali yang jarang, yang aku tidak kenali.

Tidak ada di antara para sahabat seorang saudara yang bersungguh-sungguh yang bisa kukajak berdiskusi… tentang kisah Najd, dan tidak ada pecinta yang bisa kuminta tolong.

1202

Maka tetaplah pada khalwatmu! Dan jagalah selama kamu masih hidup! Dan jika jiwa gelisah karena rindu bertemu dengan makhluk, maka ketahuilah bahwa ia setelah murtad, maka paksa dia, agar pertemuan dengan mereka menjadi dibenci olehnya… Dan seandainya ia memiliki kesibukan dengan Sang Khaliq, niscaya ia tidak akan menyukai keramaian, sebagaimana orang yang bersendirian dengan kekasihnya tidak mengutamakan kehadiran orang lain. Dan seandainya ia mencintai jalan ke Yaman, niscaya ia tidak akan menoleh ke Syam.

Bab 262: Sebab-sebab Hidayah

1203

Aku merenung tentang sebab hidayah orang yang mendapat hidayah, dan terjaganya orang yang terbangun dari tidur kelalaiannya, maka kudapati sebab yang paling besar adalah pilihan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi terhadap orang tersebut, sebagaimana dikatakan: Jika Dia menghendakimu untuk suatu urusan, Dia akan mempersiapkanmu untuknya.

Terkadang kebangkitan terjadi hanya dengan pemikiran yang diwajibkan oleh pandangan akal, maka manusia melihat keberadaan dirinya, lalu ia mengetahui bahwa dirinya memiliki Pencipta, dan Dia telah menuntut haknya, mensyukuri nikmat-Nya, dan menakut-nakutinya dengan azab karena menyelisihi-Nya, dan hal itu tidak terjadi karena sebab yang tampak.

1204

Dan termasuk dari hal ini adalah apa yang terjadi pada Ashabul Kahfi: “Ketika mereka berdiri lalu berkata: ‘Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi'” (Surat Al-Kahf: 14). Dan dalam tafsir disebutkan: bahwa setiap orang dari mereka menemukan dalam hatinya kebangkitan, lalu berkata: Pasti ada Pencipta bagi makhluk ini, maka bertambah sesak batin mereka karena menyalanya api kehati-hatian, lalu mereka keluar ke padang pasir, kemudian berkumpul tanpa perjanjian, setiap orang bertanya kepada yang lain: Apa yang membuatmu keluar? Lalu mereka saling berkata jujur.

1205

Dan di antara manusia ada yang dijadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala -untuk sebab tersebut yaitu pemikiran dan perenungan- sebab yang tampak, baik dari nasihat yang didengarnya, atau yang dilihatnya, maka sebab yang tampak ini menggerakkan pikiran hati yang tersembunyi.

1206

Kemudian orang-orang yang terbangun terbagi: di antara mereka ada yang dikalahkan oleh hawa nafsunya, dan tabiatnya menuntut apa yang diinginkannya dari apa yang telah dibiasakan, maka ia kembali mundur ke belakang, dan tidak berguna baginya kebangkitan yang telah diperolehnya, maka kebangkitan orang seperti ini adalah tambahan hujah atasnya. Dan di antara mereka ada yang berdiri di posisi perjuangan antara dua barisan: akal yang memerintahkan takwa, dan hawa nafsu yang menuntut syahwat. Di antara mereka ada yang kalah setelah perjuangan yang panjang, lalu kembali kepada keburukan, dan diakhiri dengannya. Dan di antara mereka ada yang menang kadang, dan kalah kadang, maka lukanya tidak di tempat yang mematikan. Dan di antara mereka ada yang menaklukkan musuhnya, lalu memenjarakannya dalam penjara; maka tidak tersisa bagi musuh selain bisikan. Dan dari kalangan pilihan ada kaum yang sejak mereka terbangun tidak pernah tidur, dan sejak mereka menempuh jalan tidak pernah berhenti, maka perhatian mereka adalah naik dan meningkat. Setiap kali mereka melewati satu maqam ke maqam lain, mereka melihat kekurangan tempat yang mereka tinggalkan, maka mereka beristighfar. Dan di antara mereka ada yang naik dari kebutuhan kepada perjuangan: baik karena hinanya apa yang dipanggil oleh tabiat padanya, dan tidak ada tempat baginya, atau karena mulianya yang dicari, maka ia tidak menoleh kepada penghalang darinya.

1207

Dan ketahuilah bahwa jalan yang menghantarkan kepada Allah Subhanahu tidak termasuk yang bisa ditempuh dengan keberanian, tetapi ditempuh dengan hati, dan syahwat yang cepat adalah perampok jalan, dan jalan itu seperti malam yang gelap gulita; namun mata orang yang diberi taufik seperti penglihatan kuda; karena ia melihat dalam kegelapan sebagaimana ia melihat dalam cahaya, dan kejujuran dalam pencarian adalah mercusuar, di mana pun ditemukan ia menunjukkan jalan yang benar; dan hanya tersandung orang yang tidak ikhlas, dan keikhlasan hanya terhalang dari orang yang tidak dikehendaki. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

Bab 263: Heran kepada Orang yang Kagum dengan Rupanya dan Melupakan Asal Mulanya

1208

Aku heran kepada orang yang kagum dengan rupanya, dan berjalan dengan sombong, dan melupakan asal mulanya! Sesungguhnya awalnya hanyalah suapan yang digabung dengan tegukan air. Jika kamu mau, katakanlah: sepotong roti, bersama buah-buahan, dan sepotong daging, dan campuran susu, dan tegukan air dan yang semacam itu, dimasak oleh hati, lalu dikeluarkan darinya tetes-tetes mani, lalu menetap di buah zakar, lalu digerakkan oleh syahwat, lalu dituangkan, lalu tinggal di perut ibu beberapa waktu hingga sempurna bentuknya, lalu keluar sebagai bayi, berguling-guling dalam kain yang kencing.

Adapun akhirnya, maka ia dilemparkan ke dalam tanah, lalu dimakan cacing, dan menjadi tulang belulang yang diterbangkan angin kencang, dan betapa banyak debu badannya keluar dari tempat ke tempat lain, dan dibolak-balik dalam berbagai keadaan, hingga ia kembali lalu dikumpulkan!

Ini adalah berita badan; sesungguhnya ruh itulah yang dibebankan amal: jika ia dijauharkan dengan adab, dan diperbaiki dengan ilmu, dan mengenal Sang Pencipta, dan melaksanakan hak-Nya, maka tidak merugikannya hancurnya kendaraan, dan jika ia tetap pada sifatnya dari kebodohan, ia menyerupai tanah, bahkan menjadi pada keadaan yang lebih hina darinya.

Bab 264: Nasihat untuk Ahli Ilmu dan Para Penuntutnya

1209

Jauh sekali perhatian bisa terkumpul dengan terlibat dalam urusan dunia! Khususnya pemuda yang fakir, yang telah terbiasa dengan kemiskinan; karena jika ia menikah, dan tidak memiliki sesuatu dari dunia, ia akan peduli dengan pencarian, atau meminta kepada orang-orang, maka perhatiannya terpecah, dan datang anak-anak, maka bertambah urusan atasnya, dan ia tidak henti-hentinya memberi keringanan pada dirinya dalam apa yang diperoleh hingga terlibat dalam yang haram.

Dan orang yang berpikir, maka perhatiannya adalah apa yang dimakan, dan apa yang dimakan keluarganya, dan apa yang diridhai istri dari nafkah dan pakaian, dan ia tidak memilikinya, maka hati mana yang hadir baginya?! Dan perhatian mana yang terkumpul?!

Jauh sekali! Demi Allah, perhatian tidak akan terkumpul, sedangkan mata melihat kepada orang-orang, dan pendengaran mendengar pembicaraan mereka, dan lidah berbicara kepada mereka, dan hati terbagi dalam memperoleh apa yang tidak bisa ditinggalkan.

1210

Jika ada yang berkata: Lalu bagaimana aku berbuat?! Aku katakan: Jika kamu menemukan apa yang mencukupimu dari dunia, atau penghidupan yang mencukupimu, maka qanaatlah dengannya, dan menyendirilah dalam khalwat dari makhluk semampu kamu. Dan jika kamu menikah, maka dengan wanita fakir yang qanaat dengan yang sedikit, dan bersabarlah kamu atas rupanya dan kemiskinannya, dan jangan biarkan dirimu memandang tinggi kepada orang yang kamu butuhkan kelebihan nafkahnya; karena jika kamu dikaruniai istri yang salihah yang mengumpulkan perhatianmu, [maka itu baik], dan jika kamu tidak mampu, maka mengobati kesabaran lebih baik bagimu daripada berjudi, dan jauhilah wanita-wanita cantik, karena pemiliknya -jika bersikap permisif- seperti penyembah berhala, dan jika kamu memperoleh sesuatu di tanganmu, maka belanjakanlah sebagiannya, karena dengan menjaga sisanya kamu menjaga percikan hatimu.

1211

Dan berhati-hatilah sepenuh kehati-hatian dari zaman ini dan orang-orangnya, karena tidak tersisa orang yang menghibur, atau yang mengutamakan, atau yang peduli untuk menutup kekurangan, atau yang jika diminta akan memberi; kecuali memberi sedikit dengan kesal dan dengan budi, ia memperbudak orang yang diberi sepanjang sisa umur, dan menganggapnya berat setiap kali melihatnya, atau meminta dengannya pelayanan kepadanya, dan bolak-balik kepadanya.

1212

Dan sesungguhnya dahulu ada di zaman yang lalu seperti Abu Amr bin Nujaid, ia mendengar Abu Utsman Al-Hairi berkata suatu hari di atas mimbar: Aku berhutang seribu dinar, dan dadaku telah sesak. Maka pergilah Abu Amr kepadanya di malam hari dengan seribu dinar, dan berkata: Bayarlah hutangmu! Ketika ia kembali dan naik mimbar, ia berkata: Kita bersyukur kepada Allah untuk Abu Amr; karena ia telah melegakan hatiku, dan melunasi hutangku, maka berdirilah Abu Amr, lalu berkata: Wahai syaikh! Uang itu adalah milik ibuku, dan ia telah susah dengan apa yang kulakukan, jika kamu melihat untuk mengembalikannya, maka lakukanlah; ketika malam hari ia kembali kepadanya, dan berkata kepadanya: Mengapa kamu membeberkanku di antara orang-orang?! Aku tidak melakukan itu untuk makhluk, maka ambillah dan jangan sebutkan aku!

Mereka telah mati dan tersembunyi di tanah sosok-sosok mereka… dan yang tersebar adalah misk, dan tulang-tulang yang rapuh.

1213

Maka jauhilah dari orang yang perhatiannya dunia, karena tambahan mereka hari ini hingga diperoleh lebih dekat daripada mengutamakan, dan kamu hampir tidak melihat kecuali musuh di batin, sahabat di lahir, yang bergembira atas kesusahan, dan dengki atas nikmat.

Maka belilah pengasingan dengan apa yang dijual, karena orang yang memiliki hati jika berjalan di pasar-pasar, dan kembali ke rumahnya, hatinya berubah, maka bagaimana jika dihalangi dengan kecenderungan kepada sebab-sebab dunia?!

Dan bersungguh-sungguhlah dalam mengumpulkan perhatian dengan menjauh dari makhluk, agar hati kosong dengan memikirkan tempat kembali, dan mata batin melihat kemah-kemah kepergian!

Bab 265: Ziarah Kubur dan Berdiskusi dengan Buku-buku

1214

Dahulu murid di awal zaman jika hatinya gelap atau akalnya sakit, ia sengaja menziarahi sebagian orang salih, maka terbuka apa yang gelap. Dan hari ini, kapan pun diperoleh secuil kejujuran bagi seorang murid, maka ia dikembalikan di rumah pengasingan, dan menemukan hembusan dari ruh kesehatan, dan cahaya di batin hatinya, dan hampir perhatiannya terkumpul dan perceraiannya tersusun, lalu ia keluar, lalu bertemu dengan orang yang diisyaratkan kepadanya dengan ilmu atau zuhud, ia melihat di sisinya orang-orang yang menganggur, berjalan bersamanya dalam jalan ocehan, yang tidak bermanfaat, dan melihat rupanya seperti rupa orang yang lemah, dan yang paling ringan atasnya adalah menyia-nyiakan waktu dalam pembicaraan yang kosong, maka murid tidak kembali dari negeri itu; kecuali telah memperoleh kegelapan di hati, dan percikan dalam tekad, dan kelalaian dari mengingat akhirat, maka ia kembali sakit hati, lelah dalam mengobatinya berhari-hari banyak, hingga kembali kepada apa yang dahulu di dalamnya, dan mungkin tidak kembali; karena murid di dalamnya ada kelemahan; jika ia melihat seorang syaikh yang telah mencoba dan mengetahui, kemudian mengutamakan kebatilan, ia tidak aman bahwa tabiat mengikutinya.

1215

Maka yang lebih utama bagi murid hari ini adalah tidak menziarahi kecuali kubur-kubur, dan tidak berdiskusi kecuali dengan buku-buku, yang telah mengumpulkan kebaikan-kebaikan kaum, dan hendaklah ia meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala atas taufik untuk keridhaan-Nya, karena jika Dia menghendakinya; Dia akan mempersiapkannya untuk apa yang diridhai-Nya.

Bab 266: Sifat-sifat Wali Allah

1216

Aku merenungkan orang-orang yang dipilih Allah Azza wa Jalla untuk wilayah dan kedekatan dengan-Nya; maka sungguh kami telah mendengar sifat-sifat mereka, dan yang kami duga termasuk mereka dari yang kami lihat; maka kudapati Dia Subhanahu tidak memilih kecuali orang yang sempurna rupanya, tidak ada cacat dalam rupanya, dan tidak ada kekurangan dalam penciptaannya, maka kamu melihatnya cantik wajah, sedang tinggi badan, selamat dari cacat di badannya, kemudian ia sempurna di batinnya, dermawan, murah hati, berakal, bukan penipu, dan bukan pembohong, dan bukan pendendam, dan bukan pendengki, dan tidak ada padanya cacat dari cacat-cacat batin; maka dialah yang dibina sejak kecilnya.

Maka kamu melihatnya di masa kanak-kanak menyendiri dari anak-anak, seakan-akan di masa muda ia sudah syaikh, menolak dari kehinaan, dan takut dari kekurangan, kemudian tidak henti-hentinya pohon cita-citanya tumbuh, hingga kamu melihat buahnya tergantung di ranting-ranting masa muda, maka ia bersemangat terhadap ilmu, mengkerut dalam amal, menjaga waktu, memelihara saat-saat, berusaha dalam mencari keutamaan, takut dari kekurangan.

Dan seandainya kamu melihat taufik dan ilham Rabbani bagaimana mengambil tangannya jika tersandung, dan mencegahnya dari kesalahan jika bermaksud, dan mempekerjakan dia dalam keutamaan, dan menyembunyikan amalnya darinya hingga ia tidak melihatnya darinya.

1217

Kemudian mereka terbagi, di antara mereka ada yang mendalami fiqih atas dasar zuhud dan ibadah, dan di antara mereka ada yang mendalami fiqih atas ilmu dan mengikuti sunnah.

Dan jarang di antara mereka yang dikumpulkan [Allah] baginya semuanya, dan ditingkatkan untuk bersaing dengan orang-orang sempurna.

1218

Dan tanda penetapan kesempurnaan dalam ilmu dan amal adalah menghadap sepenuhnya kepada muamalah dengan Sang Khaliq dan mencintai-Nya, dan mencakup semua keutamaan, [dan tingginya cita-cita dalam mencari kesempurnaan yang mungkin], maka seandainya kenabian bisa dibayangkan untuk diperoleh, niscaya masuk dalam usahanya.

Dan martabat ini tidak bisa ditanggung oleh sifat, karena ia adalah mutiara wujud, yang hampir tidak mengkristal dalam kerang kecuali dalam setiap yang dicintai, kami memohon kepada Allah Azza wa Jalla taufik kami untuk keridhaan-Nya dan kedekatan-Nya, dan kami berlindung kepada-Nya dari pengusiran dan penjauhan-Nya.

Bab 267: Mereka Mengorbankan Kehormatan demi Tujuan

1219

Kebanyakan makhluk memiliki tabiat yang buruk, tidak bisa diperbaiki dengan latihan, mereka tidak tahu untuk apa mereka diciptakan?! Dan apa yang diinginkan dari mereka?! Dan puncak cita-cita mereka adalah memperoleh keinginan dari tujuan-tujuan mereka! Dan mereka tidak bertanya ketika meraihnya apa yang dibawa untuknya dari celaan! Mereka mengorbankan kehormatan demi tujuan, dan mengutamakan kenikmatan sesaat, walaupun mendatangkan zaman penyakit! Mereka memakai ketika berdagang pakaian penipu dalam lambang yang sombong, dan memakai dalam muamalah dan menyembunyikan keadaan! Jika mereka mendapat keuntungan, maka syubhat, dan jika mereka makan, mereka telah berbuka, mereka berusaha dalam memperoleh syahwat mereka, dengan keserakahan babi, dan mengibas-ngibaskan ekor seperti anjing, dan menerkam seperti singa, dan menyerang seperti serigala, dan menghindar seperti rubah! Dan mereka menyesal ketika mati karena kehilangan hawa nafsu bukan karena tidak adanya takwa! “Itulah batas kemampuan mereka dari ilmu” (Surat An-Najm: 30)!!

Bagaimana bisa beruntung orang yang mengutamakan apa yang dilihatnya dengan matanya atas apa yang dilihatnya dengan akalnya, dan apa yang diraihnya dengan penglihatannya lebih mulia baginya daripada apa yang dilihatnya dengan mata hatinya?!

Demi Allah, seandainya mereka membuka pendengaran mereka, niscaya mereka mendengar penyeru kepergian di zaman tinggal berteriak di lapangan-lapangan dunia: Lihatlah penyerahan kemah-kemah orang-orang terdahulu! Tetapi mereka ditenggelamkan oleh kemabukan kebodohan; maka mereka tidak sadar kecuali dengan pukulan had.

Bab 268: Perbelanjaan untuk Membangun Masjid dan Ribath

1220- Saya melihat sebagian ulama terdahulu ditanya tentang seseorang yang memperoleh penghasilan halal dan haram dari para sultan dan penguasa, kemudian membangun masjid dan ribath: apakah dia mendapat pahala dalam hal ini?

Maka dia memberikan fatwa yang membuat hati orang yang berinfak merasa senang, dan bahwa dia memiliki semacam komisi dalam membelanjakan harta yang bukan miliknya; karena dia tidak mengetahui identitas pemilik harta yang dirampas sehingga bisa mengembalikannya kepada mereka! Maka saya berkata: Sungguh menakjubkan para penjawab fatwa yang tidak mengetahui dasar-dasar syariat!!

Seharusnya dilihat terlebih dahulu keadaan orang yang berinfak ini; jika dia seorang sultan, maka apa yang keluar dari baitul mal sudah diketahui aspek-aspek pengeluarannya, bagaimana mungkin mencegah hak penerimanya dan menyibukkannya dengan sesuatu yang tidak bermanfaat berupa pembangunan madrasah dan ribath?!

Dan jika yang berinfak adalah dari kalangan penguasa dan wakil-wakil sultan; maka wajib baginya mengembalikan apa yang wajib dikembalikan ke baitul mal, dan dia tidak berhak atas harta tersebut kecuali apa yang ditetapkan sebagai kewajiban yang pantas baginya; jika dia bertindak selain itu, maka pengeluaran tersebut adalah untuk sesuatu yang bukan haknya, sekalipun diizinkan, izin tersebut tidak sah. Dan jika dia diberi tanah yang tidak sebanding dengan pekerjaannya, maka apa yang diambilnya adalah kelebihan dari harta kaum muslimin, dia tidak berhak atasnya, dan orang yang memberikan keleluasaan dalam hal itu juga berdosa, ini jika hartanya selamat dan dari sumber halal.

Adapun jika hartanya haram atau hasil rampasan, maka setiap tindakan terhadapnya adalah haram, dan wajib mengembalikannya kepada orang yang diambil darinya, atau kepada ahli warisnya; jika tidak diketahui cara pengembaliannya, maka harta tersebut masuk ke baitul mal kaum muslimin, dibelanjakan untuk kemaslahatan mereka, atau dibelanjakan untuk sedekah, dan pengambilnya tidak mendapat selain dosa.

1221- Ahmad bin Hasan bin Al-Banna mengabarkan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Ali Az-Zujaji mengabarkan kepada kami, dia berkata: Abdullah bin Muhammad Al-Asadi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Ali bin Hasan mengabarkan kepada kami, dia berkata: Abu Dawud menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Auf At-Tha’i menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Al-Mughirah menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-Auza’i menceritakan kepada kami, dia berkata: Musa bin Sulaiman menceritakan kepadaku, dia berkata: Saya mendengar Al-Qasim bin Mukhaimarah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa memperoleh harta dari dosa, lalu menyambung silaturahmi dengannya, atau bersedekah dengannya, atau membelanjakannya di jalan Allah; maka semua itu dikumpulkan, kemudian dilemparkan ke neraka Jahannam.”

1222- Adapun jika pembangun adalah seorang pedagang yang memperoleh penghasilan halal, lalu membangun masjid, atau mewakafkan wakaf untuk para penuntut ilmu; maka ini adalah sesuatu yang mendapat pahala, dan jarang sekali orang yang memperoleh penghasilan halal sampai berlebih sejumlah ini, atau mengeluarkan zakat secara sempurna, kemudian hatinya merasa senang dengan pembangunan dan pengeluaran seperti ini, karena bangunan seperti ini tidak boleh dari zakat, dan di manakah keselamatan niat dan kemurnian tujuan?!

1223- Kemudian pembangunan madrasah-madrasah hari ini adalah pertaruhan, karena kebanyakan penuntut ilmu telah asyik dengan ilmu perdebatan, dan berpaling dari ilmu-ilmu syariat, meninggalkan keluar masuk masjid, dan puas dengan madrasah dan gelar-gelar.

1224- Adapun pembangunan ribath; sama sekali tidak ada artinya; karena mayoritas kaum sufi duduk-duduk di atas permadani kebodohan dan kemalasan, kemudian pengaku mereka mengklaim cinta dan kedekatan, dan tidak suka disibukkan dengan ilmu, padahal mereka telah meninggalkan jejak Sari dan kebiasaan Al-Junaid, puas dengan menunaikan kewajiban, dan rela dengan pakaian tambalan, maka tidak baik membantu mereka dalam kebatilan dan kenyamanan mereka, dan tidak ada pahala dalam hal itu.

Bab 269: Riya’ Menghilangkan Amal

1225- Saya heran dengan orang yang berbuat-buat zuhud di depan manusia, berharap dengan itu mendekatkan dirinya ke hati mereka, dan lupa bahwa hati mereka berada di tangan Dzat yang dia beramal untuk-Nya; jika Dia ridha dengan amalnya, dan melihatnya ikhlas, maka Dia memalingkan hati-hati kepadanya, dan jika Dia tidak melihatnya ikhlas, maka Dia memalingkan hati-hati darinya.

Dan bila pekerja melihat kepada perhatian hati-hati kepadanya; maka dia telah bersaing dengan syirik; karena seharusnya dia puas dengan pandangan Dzat yang dia beramal untuk-Nya.

Dan dari keharusan ikhlas adalah tidak bermaksud mendapat perhatian hati-hati kepadanya, maka itu terjadi bukan karena sengaja, bahkan dengan tidak menyukainya.

1226- Dan hendaknya manusia mengetahui bahwa semua amalnya diketahui makhluk secara keseluruhan, walaupun mereka tidak mengetahui secara detail, maka hati-hati bersaksi untuk orang shalih dengan kebaikan, walaupun tidak menyaksikan hal itu darinya.

1227- Adapun orang yang bermaksud agar makhluk melihat amalnya; maka amalnya telah sia-sia; karena tidak diterima di sisi Khaliq, juga tidak di sisi makhluk; karena hati mereka telah berpaling darinya, maka amalnya sia-sia, dan umurnya hilang!

1228- Dan sungguh Ibn Al-Hushain mengabarkan kepada kami, dia berkata: Ibn Al-Madhhab mengabarkan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Ja’far mengabarkan kepada kami, dia berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepada kami, dia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Hasan bin Musa menceritakan kepada kami, dia berkata: Ibn Lahi’ah menceritakan kepada kami, dia berkata: Darraj menceritakan kepada kami, dari Abu Al-Haitsam, dari Abu Sa’id Al-Khudri, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: bahwa beliau bersabda: “Seandainya salah seorang dari kalian beramal di dalam batu yang tuli, tidak ada pintu dan jendela; niscaya amalnya akan keluar kepada manusia, bagaimanapun keadaannya.”

Maka hendaknya hamba bertakwa kepada Allah, dan bermaksud kepada Dzat yang niatnya bermanfaat baginya, dan jangan disibukkan dengan pujian orang yang sebentar lagi dia dan mereka akan binasa.

Bab 270: Bila Terjadi Keringanan, Membawa kepada yang Lain

1229- Seorang faqih dari negeri ajam datang kepada kami, dan dia adalah qadhi di negerinya, maka saya melihat di kendaraannya ada emas, dan bersamanya ada perak, dan banyak barang-barang yang haram, maka saya berkata: Apa manfaat ilmu bagi orang ini?! Ya, demi Allah, hujjah-hujjah telah banyak atasnya.

Dan sebab terbesar adalah sedikitnya pengetahuan mereka tentang jejak salaf, dan apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! Bukan karena mereka tidak tahu secara umum; tetapi mereka disibukkan dengan ilmu khilaf, dan bermaksud unggul dengan kulit pengetahuan, dan mereka tidak peduli mendengar hadits, tidak melihat jejak salaf, dan bergaul dengan para sultan, sehingga mereka perlu berpenampilan seperti mereka, dan mungkin terlintas dalam pikiran mereka bahwa ini dekat, dan jika tidak terlintas, maka hawa nafsu menguasai tanpa lawan, dan mungkin terlintas dalam pikiran mereka untuk berkata: Ini bisa ditolerir dan dimaafkan karena kesibukan kami dengan ilmu, kemudian mereka melihat para ulama memuliakan mereka untuk mendapat sesuatu dari dunia mereka, dan tidak mengingkari mereka.

1230- Dan sungguh saya melihat dari orang-orang yang menisbatkan diri kepada ilmu yang membawa anak muda, dan membeli budak, dan tidak akan mengabaikan ini kecuali orang yang telah berputus asa dari akhirat. Dan saya melihat dari orang yang telah mencapai delapan puluh tahun dari kalangan ulama dan dia masih dalam keadaan seperti ini, maka Demi Allah, Demi Allah wahai orang yang ingin menjaga agamanya, dan yakin dengan akhirat!

1231- Hindari takwil-takwil yang rusak, dan hawa nafsu yang menguasai; karena jika kamu memberi keringanan dengan masuk ke sebagiannya, perkara itu akan menarikmu kepada yang lain, dan kamu tidak akan mampu keluar karena hawa nafsu telah terbiasa. Maka terimalah nasihatku, dan puaslah dengan sepotong roti, dan jauhilah dari pemilik dunia, jika hawa nafsu mengeluh; maka biarkanlah untuk ini, dan mungkin dia berkata kepadamu: Perkara ini dekat! Maka jangan lakukan; karena – walaupun dekat – ia akan mengajak kepada yang lain, dan sulit untuk diperbaiki.

Maka sabar, sabarlah atas kesulitan hidup! Dan jauh, jauhilah dari pemilik hawa nafsu! Maka agama tidak akan sempurna kecuali dengan itu, dan bila terjadi keringanan; membawa kepada yang lain, seperti tepi pantai ke tengah laut. Dan hanyalah makanan di bawah makanan, dan pakaian di bawah pakaian, dan wajah yang lebih cerah dari wajah; dan hanyalah hari-hari yang sedikit.

Bab 271: Hikmah Khaliq di Balik Akal

1232- Barangsiapa merenung keagungan Allah Azza wa Jalla, akalnya akan bingung; karena dia perlu menetapkan wujud yang tidak ada awal bagi keberadaannya, dan ini adalah sesuatu yang tidak diketahui indra; hanya akal yang mengakuinya karena terpaksa, dan dia masih bingung setelah pengakuan ini, kemudian dia melihat dari perbuatan-perbuatan-Nya apa yang menunjukkan keberadaan-Nya, maka keberadaan-Nya tidak tersembunyi.

1233- Kemudian dalam takdir-takdir-Nya terjadi perkara-perkara yang seandainya tidak ada dalil yang menetapkan keberadaan-Nya, niscaya mewajibkan pengingkaran; karena Dia membelah laut untuk Bani Israil -dan itu adalah sesuatu yang tidak mampu dilakukan selain Khaliq- dan menjadikan tongkat menjadi ular, kemudian mengembalikannya menjadi tongkat, menelan apa yang mereka buat, dan tidak bertambah apa pun padanya, maka apakah setelah ini masih ada penjelasan?! Jika para penyihir beriman, Dia membiarkan mereka bersama Fir’aun menyalib mereka, dan tidak mencegah, dan para nabi diuji dengan kelaparan dan pembunuhan, dan Zakariya digergaji, dan Yahya dibunuh oleh seorang pezina, dan nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap tahun berkata: “Siapa yang akan menampungku? Siapa yang akan menolongku”, hampir saja orang jahil akan berkata tentang keberadaan Khaliq: Seandainya Dia ada, niscaya Dia menolong kekasih-kekasih-Nya!

Maka seharusnya bagi orang berakal yang telah tetap padanya keberadaan-Nya dengan dalil-dalil yang jelas dan nyata: jangan membiarkan akalnya membantah perbuatan-perbuatan-Nya, dan jangan mencari sebabnya; karena telah tetap bahwa Dia adalah pemilik dan bijaksana, jika tersembunyi dari kita sisi hikmah dalam perbuatan-Nya, kita menisbatkan ketidakmampuan itu kepada pemahaman kita.

Dan bagaimana tidak, padahal Musa ‘alaihissalam tidak mampu mengetahui hikmah melubangi kapal, dan membunuh anak, ketika jelas baginya hikmah kerusakan yang tampak itu; dia mengakui?! Seandainya jelas hikmah dalam perbuatan-perbuatan Khaliq, akal tidak akan mengingkari seperti pengingkaran Musa pada hari bersama Khidir.

Maka bila kamu melihat akal berkata: Mengapa? Maka bisukanlah dengan berkata kepadanya: Wahai yang lemah! Kamu tidak mengetahui hakikat dirimu, maka apa urusanmu membantah Pemilik?!

Dan mungkin akal berkata: Apa faedah cobaan, padahal Dia mampu memberi pahala tanpa cobaan?! Dan apa tujuan menyiksa ahli neraka, padahal tidak ada yang dendam?! Maka katakanlah kepadanya: Hikmah-Nya di atas tingkatanmu, maka berserahlah pada apa yang tidak kamu ketahui; karena yang pertama membantah dengan akalnya adalah Iblis, dia melihat keutamaan api atas tanah, maka berpaling dari sujud.

Dan kita telah melihat banyak makhluk, dan mendengar dari mereka bahwa mereka mencela hikmah; karena mereka menghakimi akal menurut tuntutannya, dan lupa bahwa hikmah Khaliq di balik akal.

Maka jangan biarkan akalmu leluasa dalam mencari sebab, atau meminta jawaban bantahan, dan katakan kepadanya: Berserahlah niscaya selamat, karena kamu tidak tahu kedalaman laut, kecuali kamu akan tenggelam sebelum itu, ini adalah dasar yang agung, bila luput dari manusia, bantahan akan mengeluarkannya kepada kekufuran.

Bab 272: Barangsiapa Lanjut Usia Hendaknya Mengambil Pelajaran dari Apa yang Hilang

1234- Menakjubkan orang yang berkata: Saya keluar ke kuburan untuk mengambil pelajaran dari ahli kebusukan!! Seandainya dia sadar; dia tahu bahwa dia adalah kuburan, cukup baginya mengambil pelajaran dari apa yang ada padanya daripada yang lain; khususnya orang yang sudah lanjut usia, maka syahwatnya lemah, dan kekuatannya berkurang, dan indra-indra tumpul, dan semangat melemah, dan rambut memutih; maka hendaknya mengambil pelajaran dari apa yang hilang, dan cukup dari menyebut orang yang hilang, karena dia telah cukup dengan apa yang ada padanya daripada melihat kepada yang lain.

Bab 273: Bila Akal Sempurna, Hilang Kenikmatan Dunia

1235- Bila akal sempurna; hilang kenikmatan dunia, maka tubuh mengecil, dan penyakit menguat, dan kesedihan bertambah; karena akal setiap melihat akibat-akibat, berpaling dari dunia, dan menoleh kepada apa yang dilihatnya, dan tidak ada kenikmatan padanya dengan sesuatu dari yang segera, dan hanya orang-orang yang lalai dari akhirat yang menikmati, dan tidak ada kelalaian bagi akal yang sempurna, dan karena itu dia tidak mampu bergaul dengan makhluk; karena mereka seakan-akan dari jenis yang berbeda darinya, sebagaimana kata penyair:

Tidak ada di negeri saudara yang bersemangat untuk saling bertukar… Pembicaraan tentang Najd dan tidak ada teman yang sejajar

Bab 274: Barangsiapa Mencela Kebangkitan Berarti Mencela Hikmah

1236- Kaum naturalis mengklaim bahwa materi wujud adalah air dan tanah dan api dan udara; jika pada hari kiamat, Dia hilangkan dasar-dasar, kemudian mengembalikan hewan, untuk mengetahui bahwa itu adalah dengan kekuasaan, bukan karena pengaruh universal! Saya katakan: Dan barangsiapa mencela kebangkitan; maka dia berlebihan dalam mencela hikmah.

1237- Dan barangsiapa berkata: Ruh adalah keadaan? Maka dia mengingkari kebangkitan; karena keadaan tidak kekal, dan jasad-jasad menjadi tanah; jika ada sesuatu, maka itu adalah awal penciptaan.

Tidak, demi Allah, bahkan Dia mengembalikan jiwa itu sendiri ruh dan jasad, dengan dalil pengembalian ingatan-ingatannya: “Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman (di dunia)” (As-Shaffat: 51).

1238- Demi kemuliaan-Nya, sesungguhnya kelembutan-Nya dalam permulaan adalah dalil atas akhir. Kasih sayang orang tua, dan mengalirkan susu di payudara, dan menumbuhkan makanan-makanan, dan memunculkan akal pada akibat-akibat, apakah pantas dikatakan setelah pengaturan ini: bahwa Dia mengabaikan setelah kematian, maka tidak membangkitkan?! Apakah kamu kira Dzat yang suka diketahui, maka menciptakan makhluk, dan berkata: “Aku adalah harta yang tidak dikenal, maka Aku suka dikenal”, lebih suka memusnahkan mereka, sehingga kadar-Nya tidak diketahui?! Maha Suci Dzat yang membutakan kebanyakan hati dari mengenal-Nya.

BAB 275: Penyingkapan Diri Sang Pencipta Yang Maha Suci

1239- Maha Suci Dzat yang menampakkan diri-Nya kepada makhluk-Nya sehingga tidak ada lagi yang tersembunyi, kemudian menyembunyikan diri sehingga seakan-akan tidak ada penampakan.

Penampakan apa yang lebih jelas dari ciptaan-ciptaan ini yang semuanya berbicara bahwa aku memiliki Pencipta yang menciptakan dan mengaturku menurut hukum hikmah?! Terutama manusia ini yang Dia ciptakan dari setetes air, membangunnya dengan fitrah yang paling menakjubkan, memberinya pemahaman dan akal, kewaspadaan dan ilmu, membentangkan baginya permadani bumi, mengalirkan air dan angin untuknya, menumbuhkan tanaman baginya, mengangkat langit di atasnya, menyalakan pelita matahari di siang hari, dan mendatangkan kegelapan agar dia beristirahat, dan hal-hal lain yang tidak tersembunyi. Semuanya berbicara dengan suara yang fasih menunjukkan Penciptanya. Sang Pencipta Yang Maha Suci telah menyingkapkan diri melalui perbuatan-perbuatan ini, maka tidak ada yang tersembunyi.

1240- Kemudian Dia mengutus para rasul yang miskin dari urusan dunia, lemah tubuhnya, lalu Dia menundukkan para penguasa melalui mereka, dan menampakkan melalui tangan mereka mukjizat-mukjizat yang tidak masuk dalam kemampuan manusia. Semua itu berbicara dengan kebenaran, dan Dia Yang Maha Suci telah menyingkapkan diri melalui itu kepada hamba-hamba-Nya.

1241- Kemudian datanglah Musa alaihissalam ke laut, maka terbelahlah laut; tidak ada lagi keraguan bahwa Pencipta yang melakukan ini. Isa alaihissalam berbicara kepada orang mati, maka dia bangkit. Dia mengirimkan burung-burung berbondong-bondong untuk menjaga rumah-Nya, maka binasalah orang-orang yang bermaksud menghancurkannya. Ini adalah perkara yang panjang untuk disebutkan, semuanya menunjukkan penyingkapan diri Sang Pencipta Yang Maha Suci tanpa ada yang tersembunyi.

1242- Ketika hal itu telah terbukti di hadapan orang-orang berakal tanpa keraguan dan keraguan, kemudian datanglah hal-hal yang seakan menutupi yang tampak, seperti yang telah disebutkan tentang dikuasainya para wali oleh musuh-musuh mereka. Jika penyingkapan diri telah terbukti dengan dalil-dalil yang tidak dapat ditakwilkan lain, maka diketahui bahwa penyembunyian ini memiliki rahasia yang tidak kita ketahui, yang mewajibkan akal untuk menyerahkan diri kepada Yang Maha Bijaksana. Siapa yang menyerahkan diri akan selamat, dan siapa yang menentang akan binasa.

BAB 276: Orang Alim yang Membangkang dan Orang Bodoh yang Mengabaikan

1243- Penganut setiap mazhab mungkin mengklaim berijtihad dalam mencari kebenaran, dan kebanyakan mereka tidak menginginkan kecuali kebenaran. Maka kamu melihat pendeta beribadah dan berpuasa, orang Yahudi merendahkan diri dan membayar jizyah, dan penganut setiap mazhab bersungguh-sungguh di dalamnya dan menanggung kehinaan serta gangguan dalam mencari petunjuk dan memperoleh pahala menurut keyakinannya. Meskipun demikian, akal memutuskan bahwa kebanyakan mereka sesat.

Ini mungkin membingungkan; yang menjelaskannya adalah bahwa petunjuk harus dicari dengan sebab-sebabnya, dan ijtihad harus digunakan dengan kejelasan. Adapun orang yang kehilangan sebab-sebab atau kehilangan sebagian alat, maka dia tidak disebut mujtahid.

1244- Orang Yahudi dan Nasrani terbagi antara orang alim yang telah mengetahui kebenaran Nabi kita shallallahu alaihi wasallam, tetapi dia mengingkarinya untuk mempertahankan kepemimpinannya, maka ini adalah pembangkang; dan antara peniru yang tidak mempergunakan akalnya, maka ini adalah orang yang mengabaikan, dia beribadah dengan mengabaikan pokok, dan itu tidak bermanfaat; dan antara orang yang memperhatikan dari mereka tetapi tidak memperhatikan dengan benar, maka dia berkata: “Dalam Taurat disebutkan bahwa agama kami tidak dapat dinasakh!” Dan menasakh syariat-syariat karena perbedaan zaman adalah benar, tetapi dia berkata: “Nasakh adalah bada (perubahan kehendak Allah)!” Dan dia tidak memperhatikan perbedaan antara keduanya, maka dia harus memperhatikan dengan benar.

1245- Dari jenis ini adalah ibadah kaum Khawarij dengan kepuasan mereka terhadap ilmu mereka yang terbatas, yaitu ucapan mereka: “Tidak ada hukum kecuali milik Allah,” padahal mereka tidak memahami bahwa tahkim (arbitrase) adalah bagian dari hukum Allah. Maka mereka menjadikan perang melawan Ali radhiyallahu anhu dan pembunuhannya berdasarkan prasangka buruk mereka.

1246- Ketika Muslim bin Uqbah menjarah Madinah dan membunuh orang-orang, dia berkata: “Jika aku masuk neraka setelah ini, sungguh aku celaka.” Dia menyangka dengan kebodohannya bahwa karena mereka menentang baiat kepada Yazid, maka boleh menghalalkan dan membunuh mereka.

1247- Maka celakalah orang awam yang sedikit ilmunya, tidak menuduh dirinya dalam suatu kejadian, tidak bermusyawarah dengan orang yang lebih berilmu darinya; bahkan dia memutuskan dengan prasangkanya dan bertindak. Ini adalah pokok yang patut direnungkan, karena dalam pengabaiannya telah binasa makhluk yang tak terhitung. Kami telah melihat banyak orang awam ketika terjadi suatu kejadian pada mereka, mereka tidak menerima fatwa: “Wajah-wajah pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas.” (Al-Ghasyiyah: 2-4)

BAB 277: Jiwa Memiliki Cadangan dalam Tubuh

1248- Jiwa memiliki cadangan dalam tubuh, di antaranya darah dan mani, serta hal-hal yang menguatkannya. Jika cadangan-cadangan hilang dan tidak tersisa darinya sesuatu, maka jiwa akan pergi.

1249- Di antara cadangannya adalah penguatan dengan harta dan kedudukan, serta hal-hal yang mendatangkan kegembiraan. Jika hal itu hilang, sementara jiwa itu mulia dan memiliki harga diri, maka akan sempitlah. Ketakutan bisa menyerangnya tanpa menemukan cadangan harapan yang melawannya, maka dia akan pergi. Kegembiraan bisa mengalahkannya tanpa menemukan kesedihan yang melawannya, maka dia akan pergi.

1250- Maka bersungguh-sungguhlah dalam menjaga cadangan-cadangannya, terutama orang tua, karena dia tidak boleh bergembira dengan keluarnya darah, atau keluarnya mani, meskipun dia merasakan syahwat; kecuali jika syahwat itu berlebihan melampaui batas, maka keluarkanlah yang mengganggu setiap saat. Tanda bahwa itu mengganggu adalah merasakan kelegaan ketika keluar. Jika dia merasakan kelemahan, maka keluarnya itu telah membahayakan.

1251- Hendaklah orang yang memiliki harga diri menjaga kehormatan dirinya dengan tidak berdiri di tempat yang tercela, karena dia menikmati cadangan kemuliaan dan harga diri, dan jiwa menentang adanya kebalikan dari itu.

1252- Demikian pula hendaklah dia bersiap untuk akhir umurnya dengan harta, karena khawatir dia membutuhkan lalu menjadi hina atau berusaha keras padahal alatnya telah lemah. Meninggalkan warisan untuk musuhnya lebih baik daripada membutuhkan temannya. Jangan mendengarkan orang yang mencela harta, karena mereka adalah orang-orang bodoh dan jahil yang mengandalkan berita kenyamanan, maka mereka menikmati kemalasan dan kemewahan, tidak malu mengambil sedekah, dan tidak malu meminta-minta. Setiap nabi memiliki penghidupan, dan semua sahabat juga, dan mereka meninggalkan harta yang banyak. Pahamilah pokok ini, dan jangan mendengarkan perkataan orang-orang jahil.

BAB 278: Ahli Zuhud Zaman Kita adalah Ahli Riya dan Kemunafikan

1253- Aku melihat pada ahli zuhud zaman kita dari sombong, menjaga prestise, dan kedudukan terhormat di hati orang awam, sampai aku hampir memutuskan bahwa mereka adalah ahli riya dan kemunafikan! Kamu melihat salah seorang dari mereka memakai pakaian yang terlihat dengan mata zuhud, makan makanan lezat, sombong kepada sesama manusia, berteman dengan orang kaya, menjauhkan orang miskin, suka dipanggil “maulana”, berjalan di sampingnya, membuang waktu dengan omong kosong, dan hidup dari pelayanan orang-orang kepadanya dan salam mereka.

Seandainya dia memakai pakaian yang mencampurkannya dengan para fuqaha, niscaya hilang kedudukannya dan tidak ada lagi yang bisa diandalkan! Seandainya perbuatannya sesuai dengan pakaiannya, perkara itu ringan. Tetapi mereka telah menipu orang-orang yang tidak tersembunyi keadaan mereka, apalagi Sang Pencipta Yang Maha Suci dan Maha Tinggi?!

BAB 279: Orang Beriman Harus Menjaga Dirinya

1254- Seringkali aku mengulangi makna yang akan aku sebutkan dalam kitab ini dengan ungkapan-ungkapan yang berbeda: Seorang beriman hendaklah sibuk dengan penghidupannya dan hemat dalam pengeluarannya, karena dahulu para ulama mendapat bagian dari baitul mal, kebaikan dari saudara-saudara, dan bantuan dari orang-orang awam. Semuanya telah terputus, dan tersisalah orang yang sibuk dengan ilmu atau ibadah dalam keadaan miskin, terutama yang memiliki keluarga.

1255- Kami tidak melihat seperti zaman buruk ini; tidak ada lagi yang ditunjuk untuk dibantu, atau untuk dipinjami. Maka orang beriman perlu masuk ke jalan-jalan yang tidak pantas baginya, dan menghadapi hal-hal yang tidak baik.

Maka hendaklah mengurangi keluarga, menguatkan bekal, dan menambal akhlak. Jika mungkin ada penghidupan, itu lebih utama daripada sibuk dengan ibadah dan mempelajari ilmu yang berlebihan; jika tidak, agama akan hilang dalam jalan-jalan yang tidak baik, atau menghadapi pemberian orang yang hina.

BAB 280: Orang Beriman Harus Berhati-hati dari Hal yang Mungkin Terjadi

1256- Orang berakal hendaklah berhati-hati sejauh mungkin; jika takdir berjalan dengan kehati-hatiannya, dia tidak tercela. Kehati-hatian harus dari segala sesuatu yang mungkin terjadi, dan mengambil persiapan untuk itu adalah wajib. Ini berlaku dalam setiap keadaan.

Seseorang memotong kukunya lalu terluka, tangannya membusuk dan dia meninggal. Guru kami Ahmad al-Harbi lewat sambil berkuda di tempat sempit, dia membungkuk di atas pelana, dadanya tertekan, dia sakit lalu meninggal. Yahya bin Nizar adalah seorang syaikh yang menghadiri majlisku, pendengarannya terganggu, dia memanggil tukang telinga, orang itu mengisap telinganya, sesuatu dari otaknya mengalir, lalu dia meninggal.

Lihatlah kehati-hatian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika melewati tembok yang miring, beliau mempercepat langkah.

1257- Hendaklah berhati-hati dengan mencari nafkah di masa mudanya, menyimpan untuk masa tuanya. Jangan mempercayai mitra kerja kecuali dengan jaminan, segeralah membuat wasiat karena takut kematian datang tiba-tiba, berhati-hatilah dari temanmu apalagi musuhmu, jangan mempercayai kasih sayang orang yang pernah kamu sakiti; karena dendam di hati jarang hilang. Berhati-hatilah dari istrimu, mungkin kamu memberitahu rahasia kepadanya, kemudian kamu menceraikannya, maka kamu akan dirugikan oleh apa yang dilakukannya.

Ibn Aflah sang penyair pernah berkorespondensi dengan seorang pemimpin di zaman al-Mustarsyid, penjaga pintunya mengetahui hal itu. Kebetulan dia memecat penjaga pintunya, maka orang itu mengadu, dan rumahnya dibongkar.

Hal-hal yang disebutkan ini adalah contoh-contoh yang mengingatkan pada yang tidak disebutkan. Yang paling penting dari semuanya adalah berhati-hati dengan mengambil persiapan dan membenarkan taubat, sebelum datang hal yang tidak bisa dipastikan kedatangannya. Waspadalah dari pencuri kemalasan; karena dia pandai mencuri waktu.

BAB 281: Orang yang Beruntung adalah yang Peduli Menjaga Agamanya dan Qana’ah dengan yang Sedikit dari Dunia

1258- Aku merenungkan permusuhan para raja, kerakusan pedagang, dan kemunafikan para penzuhud: aku mendapati kebanyakan itu adalah untuk kenikmatan inderawi. Jika orang berakal memikirkan hal itu, dia tahu bahwa urusan hal-hal inderawi itu dekat, dapat ditolak dengan sedikit saja, dan tujuan darinya tidak mungkin dicapai. Jika berlebihan, akan kembali dengan bahaya pada dirinya berlipat-lipat dari kenikmatan yang diperolehnya, seperti orang yang makan banyak atau bersetubuh banyak. Orang yang beruntung adalah yang peduli menjaga agamanya dan mengambil dari itu sekadar kebutuhan.

1259- Sungguh mengherankan! Pakaian ini: jika sedang-sedang, melayani; jika tinggi, juga melayani. Jika pemakainya melihatnya dengan kagum, maka Allah tidak melihatnya saat itu. Dalam shahih disebutkan: “Ketika seseorang berjalan dengan sombong dalam kain pelikatnya, dia ditenggelamkan ke bumi.”

1260- Minuman: jika haram, hukumannya berlipat-lipat dari kenikmatan, dan membukahatannya di antara manusia adalah hukuman lain. Jika halal, kerakusan di dalamnya akan membahayakan tubuh.

1261- Adapun yang disetubuhi, maka memelihara yang cantik menyakiti melebihi segala penyakitan, dan menghadapi yang buruk lebih menyakiti lagi. Maka hendaklah kamu pertengahan.

1262- Renungkanlah keadaan para sultan, berapa banyak mereka membunuh dengan kezaliman? Berapa banyak mereka melakukan hal haram? Mereka tidak memperoleh kecuali sedikit dari kenikmatan inderawi, maka berlalu awan umur meninggalkan penyesalan atas keutamaan dan hukuman yang diperoleh.

1263- Tidak ada di dunia kehidupan yang lebih enak daripada orang yang menyendiri dari dunia dengan ilmu, ilmu adalah temannya dan teman duduknya. Dia qana’ah dengan yang menyelamatkan agamanya dari hal-hal halal yang tersedia, tidak dengan susah payah, tidak dengan menyia-nyiakan agama. Dia berselimut kemuliaan dari kehinaan untuk dunia dan penduduknya, berselimut qana’ah dengan yang sedikit, jika tidak mampu yang banyak, maka dia menyelamatkan agama dan dunianya. Kesibukannya dengan ilmu menunjukkannya pada keutamaan, menyenangkannya di taman-taman. Dia selamat dari setan, penguasa, dan orang awam dengan uzlah. Tetapi ini tidak baik kecuali untuk orang berilmu; karena jika orang bodoh mengasingkan diri, dia kehilangan ilmu dan bingung.

BAB 282: Orang yang Diberi Taufik dari Para Penuntut Ilmu

1264- Aku merenungkan keadaan yang menimpa para penuntut ilmu yang menyebabkan kelalaian dari tujuan, yaitu kerakusan mereka pada penulisan, terutama ahli hadits. Itu menghabiskan waktu mereka sehingga tidak bisa menghafal dan memahami, maka habislah umur padahal mereka kosong dari ilmu kecuali sedikit. Siapa yang diberi taufik, dia menjadikan sebagian besar waktu untuk mengulang dan menghafal, dan menjadikan waktu lelah dari pengulangan untuk menyalin, maka dia memperoleh yang diinginkan.

Orang yang diberi taufiq adalah yang mencari yang penting; karena umur tidak mampu memperoleh semuanya. Kebanyakan ilmu adalah fiqh. Di antara manusia ada yang memperoleh ilmu tetapi lalai mengamalkan konsekuensinya, seakan-akan dia tidak memperoleh apa-apa. Kami berlindung kepada Allah dari khidhlaan (tidak diberi taufiq).

283- Bab: Kehati-hatian dan Musyawarah

1265- Tidak ada yang dapat diandalkan seseorang ketika berniat melakukan sesuatu seperti kehati-hatian; karena kapan pun dia bertindak atas suatu kejadian tanpa mempertimbangkan akibatnya, yang paling dominan padanya adalah penyesalan. Karena itulah diperintahkan bermusyawarah; karena manusia dengan kehati-hatian akan berpikir, sehingga berbagai keadaan terbayangkan dalam dirinya, seolah-olah dia telah bermusyawarah. Dan telah dikatakan: “Pendapat yang sudah dipertimbangkan matang lebih baik daripada yang mentah.”

1266- Orang yang paling ceroboh adalah yang bertindak tergesa-gesa dalam suatu kejadian, tanpa kehati-hatian dan tanpa bermusyawarah, terutama dalam hal yang ditimbulkan oleh kemarahan, karena itu berarti mencari kehancuran atau penyesalan yang besar.

Betapa banyak orang yang marah lalu membunuh dan memukul, kemudian ketika kemarahannya mereda, dia menghabiskan sisa hidupnya dalam kesedihan, tangisan, dan penyesalan! Dan yang umum terjadi pada pembunuh adalah dia akan dibunuh, sehingga sia-sia dunia dan akhiratnya.

1267- Demikian pula orang yang dikuasai syahwat, lalu tergesa-gesa mengejar kenikmatannya, dan melupakan akibatnya, betapa banyak penyesalan yang harus ditelannya sepanjang sisa hidupnya, dan celaan yang akan diterimanya setelah matinya, dan siksaan yang tidak aman dari kejadiannya, semua itu karena kenikmatan sesaat yang seperti kilat.

Demi Allah, demi Allah! Berhati-hatilah, berhati-hatilah dalam segala urusan! Dan perhatikanlah akibat-akibatnya! Terutama kemarahan yang memicu perselisihan dan mempercepat perceraian.

284- Bab: Barangsiapa Tidak Berhati-hati dengan Akalnya Akan Binasa karena Akalnya

1268- Seseorang bertanya kepadaku: Ada seorang ahli hikmah berkata: “Barangsiapa tidak berhati-hati dengan akalnya, akan binasa karena akalnya,” apa makna ini? Maka aku berpikir lama hingga maknanya tidak tersingkap bagiku, kemudian menjadi jelas; yaitu bahwa ketika seseorang berusaha mengetahui hakikat Sang Pencipta Yang Mahasuci dengan akal, maka akal itu berlari kepada indra, lalu terjadilah penyerupaan (tasybih). Maka kehati-hatian dari akal dengan akal adalah: dengan memandang, lalu mengetahui bahwa tidak boleh Dia menjadi jasad atau menyerupai sesuatu apapun.

1269- Dan ketika orang berakal memandang perbuatan-perbuatan Allah Yang Mahasuci, dia melihat hal-hal yang tidak dikehendaki akal, seperti kesakitan, penyembelihan hewan, pemberian kekuasaan kepada musuh atas wali-wali Allah padahal mampu mencegahnya, ujian kelaparan bagi orang-orang saleh, hukuman atas dosa setelah lama berlalu dari kesalahan, dan banyak hal sejenis ini, yang ditampilkan akal berdasarkan kebiasaan dalam pengurusannya, sehingga dia tidak melihat hikmah yang tampak baginya di dalamnya.

Maka kehati-hatian dari akal dengannya adalah dengan berkata kepadanya: Bukankah telah tetap padaku bahwa Dia adalah pemilik, bahwa Dia bijaksana, dan bahwa Dia tidak melakukan sesuatu dengan sia-sia? Maka akal berkata: Benar. Lalu dikatakan: Maka kita berhati-hati dari pertimbanganmu yang kedua dengan apa yang telah tetap padamu dalam yang pertama; tidak tersisa kecuali bahwa tersembunyi bagimu segi hikmah dalam perbuatan-Nya, maka wajib berserah kepada-Nya, karena pengetahuan kita bahwa Dia bijaksana. Ketika itu akal tunduk dan berkata: Aku telah berserah.

1270- Dan banyak makhluk memandang berdasarkan tuntutan kenyataan akal pertama, lalu mereka protes! Hingga orang awam berkata: Mengapa Dia menentukan bagiku akibat yang buruk?! Dan mengapa Dia mempersempit rezekiku?! Dan apa segi hikmah dalam menguji aku dengan berbagai macam cobaan?! Seandainya dia menyadari bahwa Dia adalah pemilik yang bijaksana, tidak tersisa kecuali berserah kepada apa yang tersembunyi.

1271- Dan sungguh telah bersekutu dengan pemahaman spontan akal itu makhluk dari kalangan pembesar, yang pertama adalah Iblis, karena dia melihat keutamaan api atas tanah, lalu dia protes. Dan kita melihat makhluk dari kalangan yang dinisbatkan kepada ilmu telah tergelincir dalam hal ini, dan mereka protes, serta melihat bahwa banyak perbuatan tidak ada hikmah di bawahnya. Dan sebabnya adalah apa yang telah kami sebutkan, yaitu bersekutu dengan pandangan akal dalam hal yang spontan dan kebiasaan, serta mengqiyaskan dengan perbuatan makhluk.

Seandainya mereka mengeluarkan ilmu akal yang tersembunyi, yaitu bahwa telah tetap kesempurnaan bagi Sang Pencipta, dan terhindar dari-Nya segala kekurangan, dan diketahui bahwa Dia bijaksana tidak bermain-main, niscaya tersisa berserah kepada apa yang tidak dapat dipahami.

1272- Dan perhatikanlah ini dengan keadaan Khidir dan Musa alaihimas salam, ketika Khidir melakukan hal-hal yang keluar dari kebiasaan, Musa mengingkari, dan lupa pemberitahuan Khidir kepadanya bahwa aku memandang pada apa yang tidak kamu ketahui dari akibat-akibatnya; jika tersembunyi kemaslahatan akibat-akibat itu pada Musa alaihis salam bersama makhluk, maka lebih pantas tersembunyi pada kita banyak hikmah Sang Bijaksana.

Dan ini adalah dasar, jika tidak tetap pada manusia, akan mengeluarkannya kepada bantahan dan kekafiran, dan jika tetap, dia akan tenang ketika turun setiap musibah.

285- Bab: Dengan Nikmat-Mu yang Terdahulu Aku Bertawassul kepada-Mu

1273- Sampai kepadaku tentang seorang dermawan bahwa seseorang meminta kepadanya, lalu berkata: Aku adalah orang yang telah kamu beri kebaikan pada hari ini dan itu. Maka dia berkata: Selamat datang bagi orang yang bertawassul kepada kami dengan kami, kemudian dia memenuhi kebutuhannya.

1274- Maka aku mengambil isyarat dari itu, lalu aku bermunajat dengannya, aku berkata: Engkau adalah yang telah membimbingnya sejak masa kanak-kanak, dan menjaganya dari kesesatan, dan melindunginya dari banyak dosa, dan mengilhaminya untuk menuntut ilmu, bukan karena pemahaman akan kemuliaan ilmu karena masih kecil, dan bukan karena cinta ayahnya, dan Engkau memberi rezeki kepadanya pemahaman untuk mempelajari dan mengarang, dan Engkau siapkan baginya sebab-sebab mengumpulkan ilmu, dan Engkau cukupi rezekinya tanpa lelah darinya, dan tanpa hina kepada makhluk dengan meminta-minta. Dan Engkau melindunginya dari musuh-musuh, tidak ada penguasa yang menyasar dia, dan Engkau kumpulkan baginya apa yang tidak Engkau kumpulkan bagi kebanyakan makhluk dari berbagai macam ilmu, yang hampir tidak terkumpul pada seseorang, dan Engkau tambahkan kepadanya keterikatan hati dengan mengenal-Mu dan mencintai-Mu, dan kebaikan ungkapan serta kelembutannya dalam menunjukkan kepada-Mu, dan Engkau letakkan baginya dalam hati-hati penerimaan, hingga makhluk menyambut dia, dan menerima apa yang dikatakannya, dan tidak meragukan dia, dan mereka merindukan perkataannya, dan tidak merasakan bosan darinya, dan Engkau jaga dia dengan menyendiri dari bergaul dengan yang tidak layak, dan Engkau hibur dia dalam khalwatnya dengan ilmu terkadang, dan dengan munajat kepada-Mu di waktu lain, dan jika aku pergi menghitung, aku tidak mampu menghitung sepersepuluh dari sepersepuluh: “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya” (Ibrahim: 34), maka wahai yang berbuat baik kepadaku sebelum aku meminta! Jangan Engkau kecewakan harapanku kepada-Mu sedang aku meminta, maka dengan nikmat-Mu yang terdahulu aku bertawassul kepada-Mu.

286- Bab: Yang Terpuji dari Segala Sesuatu adalah yang Pertengahan

1275- Mahasuci yang menjadikan makhluk di antara dua ujung yang berlawanan, dan yang pertengahan di antara mereka sangat jarang! Di antara mereka ada yang marah lalu membunuh dan memukul, dan di antara mereka ada yang bodoh karena kuatnya kesabaran, tidak berpengaruh padanya makian! Di antara mereka ada yang rakus memakan segala yang diinginkannya, dan di antara mereka ada yang bertakwa yang menjadi kering, sehingga mencegah jiwa haknya! Demikian pula selainnya, yang terpuji adalah yang pertengahan: orang yang membelanjakan semua yang didapatnya adalah pemboros, dan orang bakhil menyimpan harta, dan mencegah dirinya bagiannya.

1276- Dan diketahui bahwa harta tidak diinginkan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk kemaslahatan; maka jika manusia boros dengan harta, dia membutuhkan pengorbanan wajah dan agamanya serta budi baik orang-orang bakhil kepadanya, dan ini tidak baik; dan lebih baik manusia meninggalkan untuk musuhnya daripada membutuhkan kepada temannya.

1277- Dan di antara manusia ada yang bakhil, kemudian mereka bervariasi dalam kebakhilan, hingga sampai pada orang-orang bakhil urusan mencintai materi harta, maka mungkin salah seorang mereka mati kurus, sedangkan dia tidak membelanjakannya, lalu diambil orang lain, dan yang meninggalkan menyesal!! Dan sungguh telah sampai kepadaku dalam hal ini apa yang tidak ada yang melebihinya, aku sebutkan agar kamu mengambil pelajaran darinya:

1278- Maka menceritakan kepadaku guru kami Abu al-Fadl bin Nasir, dari gurunya dari al-Muhsin as-Suri, dia berkata: Ada di Sour seorang pedagang di kamarnya, setiap malam dia mengambil dari penjual makanan dua roti dan sebuah kemiri, lalu masuk ke kamarnya pada waktu maghrib, lalu menyalakan api pada kemiri, sehingga menyala sebesar kadar dia melepas pakaiannya, dan dalam waktu pembakaran kulit kemiri makanan telah matang, lalu dia mengoles dengannya dua roti dan memakannya, maka dia tetap seperti ini selama beberapa waktu, lalu mati, maka diambil darinya oleh raja Sour tiga puluh ribu!!

1279- Dan aku melihat seorang laki-laki dari kalangan ulama besar telah sakit, lalu berbaring di rumah salah seorang temannya, tidak ada yang melayaninya, dan tidak ada yang menemaninya, sedangkan dia dalam kesulitan, maka ketika mati, mereka menemukan di antara buku-bukunya lima ratus dinar!!

1280- Dan menceritakan kepadaku Abu al-Hasan ar-Randasi, dia berkata: Seorang laki-laki sakit di tempat kami, lalu mengirim kepadaku, maka aku datang, lalu dia berkata: Qadi telah menyegel hartaku, maka aku berkata: Jika kamu mau aku berdiri dan membuka segel, dan memberikanmu sepertiga untuk kamu bagikan, dan kamu berbuat dengannya apa yang kamu mau, maka dia berkata: Tidak demi Allah, aku tidak mau membagi-bagikannya, tetapi aku mau hartaku ada padaku. Maka aku berkata: Mereka tidak akan memberikanmu, tetapi aku mengambil untukmu sepertiga agar kamu bebas dengannya, maka dia berkata: Aku tidak mau, lalu mati, dan hartanya diambil!!

1281- Dia berkata: Dan datang seorang laki-laki, lalu menceritakan kepadaku sesuatu yang menakjubkan, dia berkata: Mertuaku sakit, lalu berkata kepadaku: Aku mau kamu membelikan untukku khabis (sejenis makanan manis), maka aku membelikan untuknya, dan dia terbaring di sebuah serambi, dan kami di serambi lain, lalu datang anakku yang kecil, dan berkata: Wahai tuanku! Sesungguhnya dia menelan emas!! Maka aku berdiri, dan ternyata dia memasukkan dinar dalam sesuatu dari khabis lalu menelannya! Maka aku pegang tangannya, dan melarangnya dari ini, lalu dia berkata: Aku takut kamu menikah lagi selain putriku, maka aku berkata: Aku tidak akan melakukan, lalu dia berkata: Bersumpahlah untukku! Maka aku bersumpah, lalu dia memberikan sisa emas, kemudian mati, maka aku kuburkan dia, maka ketika beberapa bulan kemudian, mati anak kami, maka kami bawa kepadanya, dan aku bawa serta kain mentah, dan aku berkata kepada penggali: Kumpulkan untukku tulang-tulang wanita tua itu dalam kain, maka aku bawa ke rumah, dan aku tinggalkan dalam tempayan, dan aku tuangkan air padanya, dan aku aduk, maka aku keluarkan delapan puluh dinar atau sekitarnya, yang telah ditelannya!!

1282- Dan menceritakan kepadaku seorang teman kami: bahwa seorang laki-laki mati, dan dikuburkan di rumah, kemudian digali setelah beberapa waktu untuk dikeluarkan, maka ditemukan di bawah kepalanya batu bata yang diberi ter, maka ditanyakan keluarganya tentangnya? Maka mereka berkata: Dia yang memberi ter pada batu bata ini, dan berwasiat agar dibiarkan di bawah kepalanya di kuburnya, dan berkata: Sesungguhnya batu bata cepat hancur, dan ini karena ter tidak akan hancur, maka mereka ambil, dan mereka rasakan berat, lalu mereka pecahkan, maka mereka temukan di dalamnya sembilan ratus dinar, maka diambil oleh petugas harta warisan!!

1283- Dan sampai kepadaku bahwa seorang laki-laki menyapu masjid-masjid, dan mengumpulkan tanahnya, kemudian memukulnya menjadi batu bata, maka dikatakan kepadanya: Ini untuk apa? Maka dia berkata: Ini tanah yang diberkahi, dan aku mau mereka letakkan di atas lahdku; maka ketika mati, diletakkan di atas lahdnya, lalu tersisa darinya beberapa batu bata, maka mereka lemparkan di rumah, lalu datang hujan, maka batu bata-batu bata itu hancur, maka ternyata di dalamnya ada dinar-dinar, maka mereka pergi, dan membongkar batu bata dari lahdnya, dan semuanya penuh dinar-dinar!!

1284- Dan sungguh telah mati salah seorang teman kami, dan aku tahu bahwa dia memiliki harta banyak, dan lama sakitnya, namun dia tidak memberitahu keluarganya tentang sesuatu apapun, dan aku hampir tidak ragu bahwa karena kikir dan serakahnya terhadap kehidupan dan harapannya untuk tetap hidup dia tidak memberitahu mereka tentang hartanya yang terpendam, karena takut diambil, sehingga dia hidup, sedangkan harta telah diambil, dan tidak akan ada setelah kehinaan ini!!

1285- Dan menceritakan kepadaku salah seorang teman kami tentang keadaan yang disaksikannya dari jenis ini, dia berkata: Si fulan memiliki dua anak laki-laki dan seorang anak perempuan, dan memiliki seribu dinar yang terpendam, maka dia sakit sakit keras, lalu keluarganya mengelilinginya, maka dia berkata kepada salah satu anaknya: Jangan pergi dari sisiku! Maka ketika berdua saja, dia berkatanya: Sesungguhnya saudaramu sibuk bermain dengan burung-burung, dan sesungguhnya saudarimu memiliki suami Turki, dan kapan sampai dari hartaku kepada mereka sesuatu, mereka akan membelanjakannya untuk bermain, dan kamu sesuai dengan sikapku dan akhlakku, dan aku memiliki di tempat si fulan seribu dinar; maka jika aku mati, ambillah sendiri, maka bertambah keras sakit laki-laki itu, maka pergi anak itu, lalu mengambil harta, maka sembuh ayahnya, lalu dia meminta anaknya mengembalikan harta kepadanya, namun tidak mau, maka sakit anak itu dan hampir mati, maka ayahnya merendahkan diri kepadanya dan berkata: Celakalah kamu! Aku mengkhususkanmu dengan harta tanpa mereka, lalu kamu mati, maka sia-sia harta! Celakalah kamu! Jangan lakukan! Maka tidak henti-hentinya hingga memberitahu tempatnya, lalu dia ambil, kemudian sembuh anak itu, dan berlalu waktu, lalu sakit ayahnya, maka berusaha keras anak itu agar memberitahu tempat harta dan sangat bersungguh-sungguh, namun tidak memberitahu, dan mati, dan sia-sia harta, maka Mahasuci yang meniadakan akal-akal dan pemahaman mereka ini! “Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya” (Al-Furqan: 44).

287- Bab: Jika Kamu Ingin Berteman dengan Seseorang Maka Ujilah Dia

1286- Dahulu kami memiliki teman-teman dan saudara-saudara yang aku andalkan; maka aku lihat dari mereka kekasaran dan meninggalkan syarat-syarat persahabatan dan persaudaraan hal-hal yang menakjubkan, maka aku mulai menegur, kemudian aku sadar dengan diriku, maka aku berkata: Dan apa gunanya teguran; karena jika mereka baik, maka karena teguran bukan karena kejernihan?! Maka aku berniat memutuskan hubungan dengan mereka! Kemudian aku berpikir, maka aku lihat manusia antara kenalan dan teman-teman dalam lahiriah, dan saudara-saudara yang batin, maka aku berkata: Tidak baik memutuskan hubungan dengan mereka; sesungguhnya yang sepatutnya adalah memindahkan mereka dari daftar persaudaraan ke daftar persahabatan lahiriah, maka jika tidak layak untuk itu, aku pindahkan mereka ke kelompok kenalan, dan aku perlakukan mereka seperti perlakuan kepada kenalan, dan termasuk kesalahan menegur mereka, karena telah berkata Yahya bin Muadz: Seburuk-buruk saudara adalah saudara yang kamu butuhkan untuk berkata kepadanya: Ingatlah aku dalam doamu.

1287- Dan kebanyakan manusia hari ini adalah kenalan, dan jarang di antara mereka teman dalam lahiriah; adapun persaudaraan dan persahabatan sejati, maka itu sesuatu yang sudah terhapus, maka jangan berharap padanya, dan aku tidak melihat manusia dapat jernih baginya persaudaraan dari kerabat atau anaknya atau istrinya, maka tinggalkan harapan dalam kejernihan, dan ambillah dari semua sisi, dan perlakukan mereka seperti perlakuan kepada orang asing! Dan jangan sampai kamu tertipu oleh yang menampakkan kepadamu kasih sayang, karena dia bersama waktu akan menjelaskan keadaan dalam apa yang ditampakkannya, dan mungkin dia menampakkan kepadamu itu karena sebab yang dia peroleh darimu!!

1288- Dan telah berkata Fudhail bin Iyadh: “Jika kamu ingin berteman dengan seorang teman, maka marahkan dia, maka jika kamu lihat dia sebagaimana seharusnya, maka berteman lah dengannya.”

Dan ini hari ini adalah taruhan; karena jika kamu marahkan seseorang, dia menjadi musuh seketika, dan sebab terhapusnya hukum kejernihan: bahwa para salaf dahulu cita-cita mereka hanya akhirat saja, maka jernih niat mereka dalam persaudaraan dan pergaulan, maka itu adalah agama bukan dunia, dan sekarang, telah menguasai cinta dunia atas hati-hati, maka jika kamu lihat orang yang menjilat dalam pintu agama, maka ujilah dia niscaya kamu dapatkan dia kurang.

Bab 288: Sungguh Mengherankan, Orang Bebas yang Memilih Belenggu dan Orang yang Istirahat Memilih Kelelahan

1289- Aku melihat orang yang sehat tidak mengenal kadar kesehatan kecuali ketika sakit, sebagaimana dia tidak mengenal syukur kemerdekaan kecuali ketika dalam penjara.

1290- Aku merenungkan keadaan manusia yang mengherankan, yaitu ketika dia memiliki istri yang tidak buruk, namun hatinya tidak terikat dengan cinta kepadanya dengan ikatan yang membuatnya senang. Hal ini disebabkan oleh dua hal:

Pertama: Bahwa wanita itu tidak sempurna kecantikannya. Kedua: Bahwa segala yang dimiliki itu dibenci, dan jiwa mencari apa yang tidak mampu diraihnya.

Maka kau akan melihatnya mengeluh dan mendambakan sesuatu yang dia cintai, atau wanita yang dia kagumi, padahal dia tidak tahu bahwa dia sesungguhnya sedang mencari belenggu yang kuat, yang menghalangi hati untuk bergerak dalam urusan akhirat, atau dalam ilmu atau amal apapun, dan merusaknya dalam mengatur urusan dunia. Maka si pencinta itu tetap menjadi tawanan yang dicintai, seluruh perhatiannya bersamanya. Sungguh mengherankan, orang bebas yang memilih belenggu, dan orang yang istirahat memilih kelelahan!!

1291- Jika wanita itu perlu dijaga, maka celakalah dia, tidak ada ketenangan baginya dan tidak ada kedamaian. Jika dia termasuk wanita yang suka berhias dan tidak aman dari kerusakannya, maka itulah kehancuran total baginya. Dia tidak bisa menikmati tidurnya jika tidur, dan tidak aman dari cobaan jika keluar rumah. Jika wanita itu menginginkan nafkah yang luas sedangkan dia tidak mampu, maka betapa banyak dia masuk ke tempat yang buruk karenanya. Jika wanita itu menyukai hubungan intim sedangkan dia sudah tua, maka itulah kehancuran besar. Dan jika wanita itu membencinya, maka tidak tersisa lagi sebab kehancurannya. Maka orang ini berusaha menghancurkan dirinya sendiri, sebagaimana kata penyair:

“Kami mencintai tubuh langsing dan pipi yang cantik, padahal kami tahu bahwa kami mencintai kematian”

Dan ini pada hakikatnya seperti menyembah berhala.

1292- Maka hendaklah orang yang memiliki istri yang tidak buruk bertakwa kepada Allah, dan berpaling dari bisikan jiwa dan angan-angannya, karena hal itu tidak ada batasnya. Seandainya dia memperoleh keinginannya sebagaimana dia mau, akan terjadi kebosanan, lalu dia mencari yang ketiga, kemudian terjadi kebosanan lagi, dan dia mencari yang keempat, dan hal ini tidak ada akhirnya. Yang diperolehnya hanyalah dalam waktu dekat, yaitu terikatnya hati dan tertawannya akal, sehingga dia menjadi seperti orang yang bingung, seluruh pikirannya untuk mendapatkan apa yang diinginkan kekasihnya. Jika terjadi perpisahan atau bencana, maka itulah penyesalan abadi jika dia masih hidup, atau kehancuran segera. Dan di manakah orang yang baik, terjaga agamanya, dan qana’ah bagi orang yang mencintainya?! Ini lebih langka dari kimiawi merah.

Maka hendaklah dia memperhatikan untuk mendapatkan apa yang mengumpulkan sebagian besar kekhawatiran, dan tidak menoleh kepada kegelapan hawa nafsu dan puncak angan-angan, agar selamat.

Bab 289: Ketika Ilmu Manusia Sempurna, Dia Tidak Sombong dengan Amalnya

1293- Ketika ilmu manusia sempurna, dia tidak melihat ada amal bagi dirinya, melainkan dia melihat karunia Allah yang memberikannya taufik untuk amal itu. Yang menghalangi orang berakal untuk melihat ada amal bagi dirinya atau sombong dengannya adalah beberapa hal: Di antaranya bahwa dia diberi taufik untuk amal itu: “Allah menjadikan kamu cinta kepada iman dan menjadikannya indah dalam hatimu” (QS. Al-Hujurat: 7). Dan di antaranya bahwa jika dibandingkan dengan nikmat-nikmat, amalnya tidak memenuhi sepersepuluh dari sepersepuluhnya. Dan di antaranya bahwa jika diperhatikan keagungan Yang disembah, maka setiap amal dan ibadah menjadi kecil, ini jika selamat dari campuran dan bersih dari kelengahan.

Adapun jika kelengahan mengelilinginya, maka sepatutnya dia lebih waspada dari penolakan amalnya, dan takut mendapat teguran karena kurang dalam amal itu, sehingga dia sibuk dari memandangnya.

1294- Dan perhatikanlah keadaan orang-orang cerdas dalam hal itu: Para malaikat yang bertasbih siang malam tanpa henti berkata: “Kami tidak menyembah-Mu dengan sebenar-benar penyembahan.” Ibrahim alaihissalam berkata: “Dan yang aku harap akan mengampuni kesalahanku” (QS. Asy-Syu’ara: 82), dan dia tidak sombong dengan kesabarannya terhadap api dan penyerahannya anaknya untuk disembelih.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Tidak ada seorang pun di antara kalian yang amalnya dapat menyelamatkannya.” Mereka bertanya: “Termasuk engkau?” Beliau menjawab: “Termasuk aku, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.” Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Apakah aku dan hartaku ini melainkan untuk engkau wahai Rasulullah?!” Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Seandainya aku memiliki (emas) sepenuh bumi, niscaya aku tebus dengannya dari dahsyatnya apa yang ada di hadapanku sebelum aku tahu apa kabarnya.” Ibnu Mas’ud berkata: “Andai saja ketika aku mati, aku tidak dibangkitkan.” Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Andai saja aku adalah sesuatu yang terlupakan dan tidak diingat-ingat.” Dan ini adalah keadaan semua orang berakal. Semoga Allah meridhai mereka semua.

1295- Telah diriwayatkan dari sekelompok orang saleh Bani Israil yang menunjukkan sedikitnya pemahaman terhadap apa yang aku jelaskan, karena mereka memandang amal-amal mereka, lalu mereka sombong dengannya.

1296- Di antaranya adalah hadits tentang ahli ibadah yang beribadah selama lima ratus tahun di sebuah pulau, dan setiap malam dikeluarkan untuknya sebuah delima. Dia memohon kepada Allah agar dimatikan dalam sujudnya. Ketika dia dikumpulkan (di hari kiamat), dikatakan kepadanya: “Masuklah surga dengan rahmat-Ku!” Dia berkata: “Bahkan dengan amalku.” Maka seluruh amalnya ditimbang dengan satu nikmat saja, ternyata tidak mencukupi. Lalu dia berkata: “Ya Tuhanku! Dengan rahmat-Mu.”

1297- Demikian juga penghuni gua yang tertutup batu besar atas mereka. Salah seorang di antara mereka bertawasul dengan amal yang seharusnya dia malu menyebutkannya, yaitu bahwa dia berniat untuk berzina, kemudian takut akan hukuman, maka dia meninggalkannya. Tahukah aku, dengan apa dia berbangga, orang yang takut akan dihukum karena sesuatu, lalu meninggalkannya karena takut hukuman?! Andaikan hal itu mubah lalu dia meninggalkannya, masih ada celanya. Seandainya dia paham, niscaya rasa malu karena niatnya itu membuatnya tidak berani menyebutkannya, sebagaimana Yusuf alaihissalam berkata: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan)” (QS. Yusuf: 53)!! Yang lain: dia membiarkan anak-anaknya menangis hingga subuh agar bisa memberi minum kedua orang tuanya dengan susu. Dalam kebaikan ini ada gangguan terhadap anak-anak, tetapi pemahaman itu langka. Seolah-olah ketika mereka berbuat baik menurut persangkaan mereka, lisan hal berkata: “Berilah mereka apa yang mereka minta, karena mereka meminta upah atas apa yang mereka kerjakan.”

1298- Seandainya bukan karena langkanya pemahaman, niscaya tidak ada orang sombong yang menyombongkan diri terhadap jenisnya, dan setiap orang sempurna akan takut dan meremehkan amalnya, waspada dari kekurangan dalam bersyukur atas apa yang dikaruniakan kepadanya. Pemahaman terhadap yang aku jelaskan ini menundukkan kepala kesombongan dan mewajibkan untuk bersahabat dengan kehinaan. Maka renungkanlah, karena ini adalah dasar yang agung.

Bab 290: Takut Setelah Taubat

1299- Orang berakal sepatutnya tetap takut terhadap dosa-dosanya, meskipun dia telah bertaubat darinya dan menangis karenanya. Aku melihat kebanyakan orang telah merasa tenang dengan diterimanya taubat, seolah-olah mereka telah memastikan hal itu! Padahal ini adalah perkara ghaib!! Kemudian seandainya diampuni, tetap ada rasa malu karena melakukannya.

1300- Yang menguatkan rasa takut setelah taubat adalah dalam hadits sahih: bahwa manusia datang kepada Adam alaihissalam dan berkata: “Berilah syafa’at untuk kami!” Maka dia berkata: “Dosaku,” kepada Nuh alaihissalam, dia berkata: “Dosaku,” kepada Ibrahim… kepada Musa… kepada Isa shalawaatullahi wa salaamuhu ‘alaihim. Para nabi ini jika diperhatikan dosa-dosa mereka, kebanyakannya bukanlah dosa hakiki. Kemudian jika memang dosa, mereka telah bertaubat darinya dan meminta maaf, namun mereka masih takut karenanya.

1301- Kemudian rasa malu setelah diterimanya taubat tidak hilang. Alangkah baiknya perkataan Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah: “Alangkah malunya aku dari-Mu, meskipun Engkau memaafkan!” Celakalah orang yang memilih dosa, lebih menyukai kenikmatan sesaat yang akan menjadi penyesalan yang tidak hilang dari hati mukmin, meskipun dia diampuni.

1302- Maka waspadalah dari segala yang menyebabkan rasa malu. Ini adalah perkara yang jarang diperhatikan oleh orang yang bertaubat atau zahid, karena dia melihat bahwa pengampunan telah menghapus dosa dengan taubat yang tulus! Sedangkan yang aku sebutkan ini mewajibkan rasa takut dan malu yang terus-menerus.

Bab 291: Kami Berlindung kepada Allah dari Buruknya Pemahaman

1303- Kami berlindung kepada Allah dari buruknya pemahaman, khususnya dari orang-orang yang mengaku berilmu. Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya bahwa Abu Abdurrahman As-Sulami dan Hibban bin ‘Athiyyah berselisih. Abu Abdurrahman berkata kepada Hibban: “Aku tahu apa yang membuat temanmu berani” -maksudnya Ali-. Dia bertanya: “Apa itu?” Dia berkata: “Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: ‘Mudah-mudahan Allah melihat ahli Badar lalu berkata: Berbuatlah sesuka kalian, karena Aku telah mengampuni kalian.'” Dan ini adalah buruknya pemahaman dari Abu Abdurrahman, ketika dia mengira bahwa Ali berperang dan membunuh dengan mengandalkan bahwa dia telah diampuni!!

Seharusnya diketahui bahwa makna hadits itu adalah: Biarlah amal-amal kalian yang telah lalu apa adanya, karena Aku telah mengampuni kalian. Adapun pengampunan untuk yang akan datang, hadits itu tidak mencakupnya. Menurutmu, jika ahli Badar -dan jauh dari mereka- melakukan syirik -karena mereka tidak ma’shum-, apakah mereka tidak akan dimintai pertanggungjawaban? Demikian juga maksiat-maksiat. Kemudian seandainya kita katakan bahwa hadits itu mencakup pengampunan untuk yang akan datang, maknanya adalah bahwa jalan kalian menuju pengampunan.

Kemudian lepas dari makna hadits, bagaimana boleh seorang muslim berprasangka kepada Amirul Mukminin Ali radhiyallahu ‘anhu bahwa dia melakukan yang tidak boleh dengan mengandalkan bahwa dia akan diampuni?! Jauh dari ini. Dia berperang dengan dalil yang memaksanya untuk berperang, maka dia berada di atas kebenaran. Para ulama tidak berselisih bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu tidak memerangi seseorang kecuali kebenaran bersama Ali. Bagaimana tidak, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah berkata: “Ya Allah! Putarkanlah kebenaran bersamanya ke mana pun dia berputar.” Maka Abu Abdurrahman telah keliru dengan kekeliruan yang buruk, yang mendorongnya adalah karena dia berpihak kepada Utsman.

Bab 292: Kami Berlindung kepada Allah dari Riya yang Membatalkan Amal-amal Kami

1304- Aku merenungkan para zahid zaman kami, ada hal-hal yang menunjukkan kemunafikan dan riya, padahal mereka mengaku ikhlas: Di antaranya mereka mewajibkan diri untuk di sudut (menyendiri), tidak mengunjungi teman, tidak menjenguk orang sakit, dan mengaku ingin terputus dari manusia untuk sibuk beribadah. Padahal itu hanyalah menegakkan aturan agar mereka ditunjuk sebagai orang yang menyendiri, karena jika mereka berjalan di antara manusia, akan hilang kehormatan mereka!

Padahal manusia dahulu tidak seperti itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjenguk orang sakit, membeli kebutuhan dari pasar. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berdagang kain. Abu Ubaidah bin Al-Jarrah menggali kubur, begitu juga Abu Thalhah. Ibnu Sirin memandikan mayat. Mereka tidak menegakkan aturan.

1305- Teman-teman kami mewajibkan diam di antara manusia, khusyu’, dan pura-pura mati. Ini adalah kemunafikan. Ibnu Sirin tertawa di siang hari dan di antara manusia, dan menangis di malam hari.

1306- Aku melihat di antara para zahid ada yang mewajibkan diri di masjid dan shalat, maka berkumpullah manusia dan mereka shalat mengikuti shalatnya siang malam. Hal ini telah tersebar untuknya, maka jiwanya semakin kuat karena cinta pujian. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata tentang shalat sunnah: “Jadikanlah ini di rumah-rumah.”

1307- Di antara teman-teman kami ada yang menampakkan puasa terus-menerus, dan dia diperkuat dengan perkataan orang: “Si fulan tidak berbuka sama sekali!!” Orang bodoh ini tidak tahu bahwa dia melakukan itu karena manusia. Kalau bukan karena ini, dia akan berbuka, dan manusia melihatnya dua atau tiga hari, sampai hilang nama itu darinya, kemudian dia kembali berpuasa. Ibrahim bin Adham ketika sakit, meninggalkan di sisinya makanan yang dimakan orang sehat.

1308- Aku melihat di antara zahid kami ada yang mengimami shalat Subuh hari Jumat dengan orang-orang, dan membaca Al-Mu’awwidzatain (dua surat terakhir), maksudnya: “Aku telah khatam!!” Sesungguhnya amal-amal ini terang-terangan kemunafikan dan riya.

1309- Di antara mereka ada yang mengambil sedekah padahal dia kaya, tidak peduli mengambil dari orang zalim atau orang baik, berjalan kepada para penguasa meminta-minta kepada mereka, padahal dia tahu dari mana harta mereka diperoleh.

Maka bertakwalah kepada Allah dalam memperbaiki niat-niat, karena kebanyakan amal-amal ini tertolak. Malik bin Dinar berkata: “Dan katakanlah kepada orang yang tidak jujur: jangan susah-susah!”

1310- Hendaklah orang yang riya tahu bahwa yang dia tuju akan luput darinya, yaitu perhatian hati kepadanya. Jika dia tidak ikhlas, dia akan diharamkan dari cinta hati, dan tidak akan diperhatikan, sedangkan orang yang ikhlas dicintai. Seandainya orang yang riya tahu bahwa hati orang-orang yang dia riyai ada di tangan Dzat yang dia durhaki, niscaya dia tidak akan melakukannya.

Betapa banyak kami lihat orang yang memakai wol dan menampakkan kesalehan, tidak diperhatikan. Yang lain memakai pakaian bagus dan tersenyum, namun hati-hati mencintainya. Kami memohon kepada Allah keikhlasan yang menyelamatkan kami, dan berlindung kepada-Nya dari riya yang membatalkan amal-amal kami. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa.

Bab 293: Dunia Diciptakan untuk Cobaan

1311- Termasuk kebodohan jika tersembunyi dari manusia maksud taklif (beban syariat), karena ia diletakkan bertentangan dengan tujuan-tujuan. Maka orang berakal sepatutnya tenang dengan terbaliknya tujuan-tujuan. Jika dia berdoa dan meminta tercapainya suatu tujuan, hendaknya dia beribadah kepada Allah dengan doa itu. Jika diberi yang dia minta, dia bersyukur. Jika tidak memperoleh yang dia minta, maka tidak sepatutnya dia mendesak dalam permintaan, karena dunia bukan untuk mencapai tujuan-tujuan. Hendaklah dia berkata kepada dirinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu” (QS. Al-Baqarah: 216).

1312- Di antara kebodohan terbesar adalah marah dalam batin karena terbaliknya tujuan-tujuannya, bahkan mungkin menentang dalam batin, atau berkata: “Tercapainya tujuanku tidak merugikan, dan doaku tidak dikabulkan!!”

Semua ini adalah bukti kebodohan, sedikitnya iman dan penyerahannya kepada hikmah.

1313- Siapakah yang memperoleh tujuan kemudian tidak keruh? Ini Adam, hidupnya enak di surga, lalu dikeluarkan darinya. Nuh meminta untuk anaknya tetapi tidak diberi yang dia mau. Ibrahim diuji dengan api, Ishaq dengan penyembelihan, Ya’qub dengan kehilangan anak, Yusuf dengan melawan hawa nafsu, Ayyub dengan cobaan, Dawud dan Sulaiman dengan fitnah. Semua nabi seperti ini. Adapun apa yang dialami nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berupa kelaparan, gangguan, dan keruhnya kehidupan, itu sudah diketahui.

1314- Maka dunia diciptakan untuk cobaan. Orang berakal sepatutnya membiasakan diri dengan sabar, dan mengetahui bahwa apa yang diperoleh dari yang diinginkan adalah kemurahan, dan apa yang tidak diperoleh adalah berdasarkan asal penciptaan dan tabiat dunia, sebagaimana dikatakan:

“Kamu diciptakan atas keruhnya, sedangkan kamu menginginkannya jernih dari kotoran dan kekeruhan Yang memaksa zaman berlawanan dengan tabiatnya, seperti mencari bara api dalam air”

1315- Di sinilah terlihat kekuatan iman dan kelemahannya. Hendaklah mukmin menggunakan obat dari penyakit ini, yaitu berserah kepada Pemilik, menghakimi dengan hikmah-Nya, dan berkata: “Telah dikatakan kepada pemimpin semua (Nabi) shallallahu ‘alaihi wasallam: ‘Tidak ada sedikitpun bagimu dalam urusan itu'” (QS. Ali Imran: 128). Kemudian hendaklah dia menghibur dirinya bahwa pencegahan bukan karena kikir, melainkan untuk kemaslahatan yang tidak dia ketahui. Hendaklah dia memberi pahala kepada orang yang sabar dari tujuan-tujuannya, dan hendaklah Allah mengetahui orang-orang yang berserah dan ridha. Bahwa masa cobaan adalah ukuran yang sedikit, dan tujuan-tujuan disimpan yang akan ditemui sebentar lagi. Seolah-olah kegelapan telah tersingkap, dan fajar pahala telah terbit.

Ketika pemahamannya naik sampai bahwa apa yang terjadi adalah kehendak Allah subhanahu, maka imannya menuntut agar dia menginginkan apa yang Allah inginkan, dan ridha dengan apa yang Allah takdirkan. Karena jika tidak demikian, dia akan keluar dari hakikat penghambaan secara makna. Ini adalah dasar yang patut direnungkan dan diamalkan dalam setiap tujuan yang terbalik.

Fasal 294: Peringatan Ulama dari Bergaul dengan Para Penguasa

1316 – Aku melihat banyak ulama dan para qushash (penceramah) yang hidupnya sempit di dunia, lalu mereka berlari kepada pergaulan dengan para penguasa untuk mendapatkan sebagian harta mereka. Padahal mereka tahu bahwa para penguasa hampir tidak pernah mengambil dunia dari jalan yang benar dan tidak mengeluarkannya pada tempatnya yang layak.

Kebanyakan dari mereka: jika mendapat hasil pajak yang seharusnya dibelanjakan untuk kemaslahatan umum, malah diberikan kepada penyair! Mungkin ada tentara bersamanya yang layak mendapat gaji sepuluh dinar, tapi dia berikan sepuluh ribu! Mungkin dia berperang, lalu mengambil harta yang seharusnya dibagi kepada pasukan, malah diambil untuk dirinya sendiri! Ini belum termasuk kezaliman yang terjadi dalam muamalah.

Hal pertama yang menimpa ulama tersebut adalah dia telah diharamkan dari manfaat ilmunya. Sebagian orang saleh pernah melihat seorang ulama keluar dari rumah Yahya bin Khalid Al-Barmaki, lalu berkata: “Aku berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat. Tidakkah dia melihat kemungkaran namun tidak mengingkarinya?!” Dia memakan makanan mereka yang hampir tidak diperoleh kecuali dengan kezaliman, sehingga hatinya menjadi buta, terharamkan dari kenikmatan bermuamalah dengan Allah Yang Maha Suci, kemudian tidak mampu memberi petunjuk kepada siapapun. Bahkan mungkin perbuatannya ini menjadi sebab kesesatan manusia dan mengalihkan mereka dari meneladaninya!

Maka dia merugikan dirinya sendiri, dan merugikan pemimpinnya; karena sang pemimpin berkata: “Seandainya aku tidak benar, dia tidak akan menemaniku, dan pasti dia akan mengingkariku.” Dia juga merugikan rakyat biasa, terkadang dengan membuat mereka melihat bahwa apa yang dilakukan pemimpin itu benar, dan terkadang bahwa masuk kepadanya dan diam dari pengingkaran itu boleh, atau membuat mereka cinta dunia. Demi Allah, tidak ada kebaikan dalam kelapangan dunia yang menyempitkan jalan akhirat.

1317 – Aku rela berkorban untuk kaum yang bersabar menahan dahaga dunia di terik syahwat sepanjang masa hidup, hingga mereka minum puas di hari kematian dari minuman keridaan. Dzikir mereka tetap diriwayatkan, sehingga memberi minum gema hati dan membersihkan karatnya. Ini Imam Ahmad, dia butuh makan, lalu keluar untuk memungut (sampah), namun tidak menerima harta penguasa. Ini Ibrahim Al-Harbi, dia makan sayuran, namun menolak seribu dinar dari Al-Mu’tadhid. Ini Bisyr Al-Hafi, dia mengeluh lapar, lalu dikatakan kepadanya: “Dibuatkan sup dari tepung untukmu?” Dia menjawab: “Aku takut Allah berkata kepadaku: Tepung ini dari mana kamu dapatkan?!”

Demi Allah, dzikir mereka tetap kekal, dan kesabaran itu hanyalah seperti tidur sebentar. Kenikmatan orang-orang yang berbuat longgar telah berlalu, badan-badan telah rusak, dan agama telah melemah.

1318 – Maka bersabarlah, bersabarlah wahai orang yang diberi taufik! Jangan iri kepada orang yang lapang urusan dunianya, karena jika kamu merenungkan kelapangan itu, kamu akan melihatnya sebagai kesempitan dalam hal agama! Jangan memberi kelonggaran kepada dirimu dengan takwil, karena umurmu di dunia sedikit!

Sama saja ketika berlalu hari Kisra dalam kegembiraan dan hari orang yang sabar atas kemiskinannya.

1319 – Ketika jiwa mengeluh karena kurang sabar, bacakanlah kepadanya kisah-kisah para zahid, maka dia akan kembali, malu, dan patah, jika dia punya semangat atau ada kesadaran di dalamnya. Berikan perumpamaan kepadanya antara kelonggaran Ali bin Al-Madini dan penerimaannya terhadap harta Ibn Abi Duad, dengan kesabaran Ahmad. Betapa jauhnya antara kedua orang itu, kedua sebutan itu. Lihatlah apa yang diriwayatkan dari masing-masing mereka, dan apa yang mereka dikenang dengannya… Ibn Al-Madini akan menyesal ketika Ahmad berkata: “Agamaku selamat untukku.”

Fasal 295: Mayoritas Manusia Keluar dari Ikatan Penghambaan

1320 – Aku merenungkan keadaan manusia, lalu aku lihat mayoritas mereka terlepas dari ikatan penghambaan. Jika mereka beribadah, itu karena kebiasaan; atau dalam hal yang tidak bertentangan dengan tujuan mereka dengan pertentangan yang menyakiti hati.

1321 – Kebanyakan penguasa mengumpulkan harta dari jalan-jalan yang buruk, dan membelanjakannya di jalan-jalan yang tidak layak, seolah-olah mereka telah memilikinya, padahal itu bukan harta Allah! Yang jika salah seorang dari mereka berperang (dengan namaNya), lalu memperoleh harta rampasan perang, dia ambil untuk dirinya dan berikan kepada teman-temannya sesuka hatinya!!

1322 – Para ulama karena kuatnya kemiskinan dan hebatnya kerakusan mereka, menyetujui para penguasa dan masuk dalam barisan mereka. Para pedagang dengan akad-akad yang rusak, rakyat biasa dalam kemaksiatan dan mengabaikan sisi syariat. Jika sebagian tujuan mereka tidak tercapai, mungkin mereka berkata: “Kami tidak mau shalat!” Semoga Allah tidak mengabulkan shalat mereka. Mereka telah menahan zakat dan meninggalkan amar makruf.

1323 – Di antara manusia ada yang tertipu dengan tertundanya hukuman, di antara mereka ada yang yakin akan pengampunan, dan kebanyakan mereka goyah imannya. Maka kami memohon kepada Allah agar mematikan kami dalam keadaan muslim.

Fasal 296: Akibat Kesabaran yang Indah adalah Indah

1324 – Sungguh menakjubkan keselamatan agama orang yang punya tanggungan, ketika pencaharian menjadi sempit baginya. Perumpamaannya seperti air, jika dipukul di permukaannya dengan bendungan; maka dia bekerja di dalam, dan bersungguh-sungguh hingga membuka lubang. Begitu juga orang yang punya tanggungan, jika urusan menjadi sempit baginya, dia terus berikhtiar; jika tidak mampu mencari yang halal, dia memberi kelonggaran dalam mengambil yang syubhat. Jika agamanya lemah, dia mengulurkan tangan kepada yang haram.

Maka orang mukmin jika mengetahui kelemahannya dalam mencari nafkah; dia bersungguh-sungguh dalam menjaga diri dari menikah, mengurangi nafkah jika sudah punya anak, dan qanaah dengan yang sedikit.

1325 – Adapun orang yang tidak punya pencaharian -seperti para ulama dan mutazahhid-, keselamatan mereka bagus, karena sumber-sumber dari penguasa telah terputus dari mereka dan perhatian rakyat biasa kepada mereka; jika keluarga mereka banyak, tidak aman mereka dari keburukan yang menimpa orang-orang jahil.

Barangsiapa di antara mereka yang mampu mencari dengan menyalin dan lainnya, hendaklah bersungguh-sungguh di dalamnya, dengan mengurangi nafkah dan qanaah dengan yang sedikit. Karena barangsiapa yang memberi kelonggaran hari ini, dia memakan yang haram; karena dia mengambil dari para zalim, khususnya dengan dalih tasawuf dan kezuhudan.

Barangsiapa yang punya harta, hendaklah bersungguh-sungguh dalam mengembangkan dan menjaganya. Karena tidak ada lagi yang mengutamakan dan tidak ada yang memfardukan. Mayoritas -bahkan semua- seolah menyembah harta. Barangsiapa menjaganya, dia menjaga agamanya. Jangan mendengarkan perkataan orang-orang jahil yang menyuruh mengeluarkan harta, karena ini bukan waktunya.

1326 – Ketahuilah bahwa jika perhatian tidak terkumpul, tidak akan diperoleh ilmu, tidak amal, dan tidak kesibukan dengan memikirkan keagungan Allah. Perhatian orang-orang terdahulu terkumpul dengan beberapa hal, umumnya karena mereka punya bagian dari baitul mal setiap tahun, dan itu sampai kepada mereka, bahkan berlebih dari mereka. Di antara mereka ada yang punya harta untuk berdagang dengannya, seperti Said bin Al-Musayyab, Sufyan, dan Ibnu Al-Mubarak. Perhatian mereka terkumpul. Sufyan berkata tentang hartanya: “Seandainya tidak ada kamu, mereka akan menyeka diri dengan aku!” Barang dagangan Ibnu Al-Mubarak hilang; dia menangis dan berkata: “Itu adalah tiang agamaku!” Ada kelompok yang tenang dengan pemberian saudara-saudara yang tidak menyinggung perasaan.

Ibnu Al-Mubarak mengirim kepada Fudhail dan lainnya. Al-Laits bin Sa’d memperhatikan para tokoh, dia mengirim kepada Malik seribu dinar, kepada Ibnu Lahi’ah seribu dinar, dan memberi Manshur bin Ammar seribu dinar dan budak wanita seharga tiga ratus dinar.

1327 – Zaman terus seperti ini hingga urusan berakhir dengan terhapusnya hal itu; pemberian penguasa menjadi sedikit, dan sedikit orang yang mengutamakan dari saudara-saudara; namun dalam yang sedikit itu ada yang menolak zaman. Adapun zaman kita ini, semua tangan telah tertutup, hingga sedikit yang mengeluarkan zakat wajib!

Bagaimana mungkin terkumpul perhatian orang yang ingin dari kalangan ulama dan zahid bekerja dengan perhatiannya siang malam dalam aspek-aspek pencaharian, padahal itu bukan urusannya, dan dia tidak tahu caranya?!

Kami melihat urusan lebih membutuhkan pendekatan kepada penguasa, memberi kelonggaran dalam mengambil yang tidak layak, dan mengeluarkan para mutazahhid kepada berpura-pura untuk mendapatkan dunia.

Allah, Allah wahai orang yang ingin menjaga agamanya! Aku telah mengulangi wasiat kepadamu dengan mengurangi semampunya: ringankan ikatan semampu kamu, dan jagalah dirham yang bersamamu; karena itu agamamu! Pahamilah apa yang telah aku jelaskan!

1328 – Jika jiwa mengeluh karena keinginannya, katakan kepadanya: Jika kamu punya iman, bersabarlah. Jika kamu ingin mendapatkan yang fana dengan mengorbankan agama, itu tidak bermanfaat bagimu. Pikirkanlah para ulama yang mengumpulkan harta bukan dari jalurnya, dan para munafik, agama mereka hilang dan dunia mereka lenyap! Pikirkanlah para ulama yang jujur, seperti Ahmad dan Bisyr, hari-hari berlalu, dan tersisa bagi mereka kebaikan sebutan. Secara keseluruhan: “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya” (QS. At-Talaq: 2-3) … Dan rezeki Allah “mungkin dengan dimudahkan” kesabaran atas musibah, dan hari-hari berlalu, akibat kesabaran yang indah adalah indah.

Fasal 297: Berbuat Baik kepada Istri adalah Pekerjaan Laki-laki

1329 – Seorang laki-laki mengadu kepadaku tentang kebenciannya kepada istrinya, kemudian berkata: “Aku tidak mampu menceraikannya, karena beberapa hal, di antaranya: banyaknya hutangnya kepadaku, kesabaranku sedikit, dan aku hampir tidak selamat dari ketergelinciran lidah dalam keluhan, dan kata-kata yang menunjukkan kebencianku kepadanya.”

Aku berkata kepadanya: “Ini tidak bermanfaat, dan sesungguhnya rumah didatangi dari pintu-pintunya! Hendaklah kamu menyendiri dengan dirimu, lalu ketahui bahwa dia hanya dikuasakan atasmu karena dosa-dosamu, maka berlebih-lebihanlah dalam meminta maaf dan bertaubat.

Adapun kegelisahan dan menyakiti dia, itu tidak bermanfaat, sebagaimana kata Al-Hasan bin Al-Hajjaj: “Hukuman dari Allah untuk kalian, maka jangan hadapi hukumanNya dengan pedang, dan hadapilah dengan istighfar.”

Ketahuilah bahwa kamu dalam posisi yang diuji dan kamu mendapat pahala dengan kesabaran, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu” (QS. Al-Baqarah: 216)! Maka bermuamalahlah dengan Allah Yang Maha Suci dengan sabar atas apa yang Dia tetapkan, dan mintalah kelapangan kepadaNya. Jika kamu mengumpulkan antara istighfar, taubat dari dosa-dosa, sabar atas takdir, dan meminta kelapangan, kamu mendapat tiga jenis ibadah yang kamu diberi pahala atas masing-masingnya.

Jangan sia-siakan waktu dengan sesuatu yang tidak bermanfaat, dan jangan berusaha dengan sangkaanmu bahwa kamu menolak apa yang ditakdirkan, “Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia” (QS. Al-An’am: 17).

Kami riwayatkan bahwa seorang tentara suatu hari turun di rumah Abu Yazid, lalu Abu Yazid datang dan melihatnya, dia berhenti dan berkata kepada sebagian sahabatnya: “Masuklah ke tempat itu, ambil tanah yang masih basah; karena itu dari aspek yang ada syubhatnya.” Dia mengambilnya, lalu tentara itu keluar.

Adapun menyakiti wanita, tidak ada alasannya; karena dia dikuasakan, maka hendaklah kesibukanmu dengan selain ini. Diriwayatkan dari sebagian salaf bahwa seorang laki-laki mencacinya, lalu dia meletakkan pipinya di tanah dan berkata: “Ya Allah! Ampuni aku dosa yang dengannya Engkau kuasakan orang ini atasku.”

1330 – Laki-laki itu berkata: “Dan wanita ini mencintaiku berlebihan, dan berlebih-lebihan dalam melayani aku, hanya saja kebencian kepadanya tertanam dalam tabiatku.”

Aku berkata kepadanya: “Maka bermuamalahlah dengan Allah Yang Maha Suci dengan sabar kepadanya; karena kamu diberi pahala. Dikatakan kepada Abu Utsman An-Naisaburi: ‘Amal apa yang paling kamu harapkan?’ Dia berkata: ‘Ketika aku muda, keluargaku berusaha agar aku menikah, tapi aku menolak; lalu datang seorang wanita dan berkata: “Wahai Abu Utsman! Aku telah mencintaimu, dan aku memohon kepadamu demi Allah agar kamu menikahiku,” lalu dia menghadirkan ayahnya -dia miskin- lalu dia menikahkanku, dan dia gembira dengan itu. Ketika dia masuk kepadaku, aku lihat dia buta sebelah mata, pincang, buruk rupa. Karena cintanya kepadaku, dia mencegahku keluar, maka aku duduk menjaga hatinya, dan tidak aku tunjukkan kepadanya sedikit pun dari kebencian, dan seolah aku di atas bara api dari kebenciannya. Aku tetap begini lima belas tahun hingga dia meninggal. Tidak ada dari amalku yang lebih aku harapkan selain menjaga hatinya.'”

Aku berkata kepadanya: “Ini pekerjaan laki-laki! Dan apa manfaatnya keributan orang yang diuji dengan kegelisahan dengan menampakkan kebencian?! Sesungguhnya jalannya adalah apa yang aku sebutkan kepadamu, yaitu taubat, sabar, dan meminta kelapangan.

Ingatlah dosa-dosa yang ini adalah hukumannya; jika terjadi kelapangan dalam perhitungan; jika tidak maka menggunakan kesabaran atas takdir adalah ibadah. Paksakan dirimu menampakkan kasih sayang kepadanya, meskipun tidak ada di hatimu, tetaplah pada ini. Belenggu tidak bersalah sehingga dicela, sesungguhnya yang patut adalah kesibukan dengan yang membelenggumu, wassalam.”

Fasal 298: Barangsiapa Ingin Perhatiannya Terkumpul Hendaklah Uzlah

1331 – Tidak diragukan bahwa hati yang beriman kepada Allah Yang Maha Suci dan perintah-perintahNya membutuhkan i’tikaf atas dzikir dan ketaatan kepadaNya serta melaksanakan perintah-perintahNya. Ini membutuhkan pengumpulan perhatian. Cukuplah dengan apa yang diletakkan dalam tabiat berupa penarikan kepada syahwat sebagai penyebar perhatian yang terkumpul.

Hendaklah manusia bersungguh-sungguh dalam mengumpulkan perhatiannya, agar hatinya menyendiri dengan dzikir kepada Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi, melaksanakan perintah-perintahNya, dan bersiap untuk bertemu denganNya. Itu hanya diperoleh dengan memutus hal-hal yang memotong, dan menahan diri dari hal-hal yang menyibukkan. Tidak mungkin memutus semua hal yang memotong sekaligus, maka hendaklah memotong apa yang bisa darinya.

1332 – Aku tidak melihat penyebar perhatian, pencerai hati seperti dua hal:

Pertama: Menuruti jiwa dalam mencari setiap yang diinginkannya, dan itu tidak berhenti pada batas di dalamnya, sehingga hilang agama dan dunia, dan tidak diperoleh semua yang diinginkan, seperti perhatian tertuju pada hal-hal yang indah, atau mengumpulkan harta, atau mencari kepemimpinan, dan yang menyerupai hal-hal ini.

Sungguh cerai berai yang tidak ada pengumpulnya! Umur habis, dan tidak diperoleh sebagian yang diinginkan darinya.

Kedua: Bergaul dengan manusia -khususnya awam- dan berjalan di pasar-pasar. Karena tabiat menagih syahwat, lupa kepergian dari dunia, cinta malas dari ketaatan, batal, lalai, dan istirahat. Maka berat bagi orang yang terbiasa bergaul dengan manusia untuk sibuk dengan ilmu atau ibadah. Dia terus bergaul dengan mereka hingga ringan baginya ghibah, dan sia-sia waktu tanpa apa-apa.

1333 – Barangsiapa ingin perhatiannya terkumpul, hendaklah uzlah, sehingga tidak mendengar suara siapapun; maka saat itu hati menyendiri dengan pengetahuannya, dan jiwa tidak menemukan teman seperti hawa nafsu yang mengingatkannya apa yang diinginkannya. Jika terpaksa bergaul, dia sesuai kesepakatan, sebagaimana katak muncul sebentar, kemudian kembali ke air. Ini jalan keselamatan, maka renungkan faedahnya, niscaya baik bagimu.

Fasal 299: Jangan Mencela Zaman

1334 – Mataku tidak melihat musibah yang turun kepada makhluk lebih besar dari mencela zaman dan mencaib masa. Ini terjadi di masa jahiliyah, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dari itu, beliau bersabda: “Jangan kalian mencela zaman, karena sesungguhnya Allah adalah zaman”, maknanya kalian mencela yang mencerai berai perkumpulan kalian, mematikan keluarga kalian, dan menisbatkannya kepada zaman, padahal Allah Ta’ala adalah yang melakukan itu.

Aku heran, bagaimana orang yang paling tahu tentang penyakit ini, mereka tetap seperti orang jahiliyah, tidak berubah?! Hingga mungkin berkumpul orang-orang cerdas, sastrawan, jenaka -menurut sangkaan mereka- tidak ada kesibukan mereka kecuali mencela zaman! Mungkin mereka menjadikan Allah sebagai dunia, dan berkata: “Dia berbuat dan melakukan!” Hingga aku lihat Abu Qasim Al-Hariri berkata:

“Ketika zaman buta, padahal dia bapak kebinasaan Dari petunjuk dalam arah dan tujuannya Aku pura-pura buta, hingga dikatakan aku saudara buta Tidak heran anak mengikuti jejak ayahnya”

Aku melihat banyak orang yang meyakini bahwa mereka fuqaha dan cerdas, namun tidak menjauhi dari ini.

Mereka jika maksudnya dengan zaman adalah berlalunya waktu, itu tidak punya pilihan, tidak punya kehendak, tidak mengenal petunjuk dari kesesatan, dan tidak pantas dicela, karena itu waktu yang diatur, bukan pengatur, sehingga dia berubah di dalamnya dan tidak berubah. Tidak disangka oleh orang berakal bahwa dia menunjuk bahwa yang tercela, yang berpaling dari petunjuk, yang buruk keputusannya, adalah zaman! Maka tidak tersisa kecuali bahwa kaum itu keluar dari ikatan Islam, dan menisbatkan keburukan-keburukan ini kepada Sang Pencipta, maka mereka meyakini tentangNya kekurangan hikmah, dan berbuat yang tidak benar, sebagaimana yang diyakini iblis dalam mengutamakan Adam.

Mereka tidak bermanfaat dengan penyimpangan ini meyakini Islam, tidak mengerjakan shalat, bahkan mereka lebih buruk dari orang kafir. Semoga Allah tidak memperbaiki urusan mereka, dan tidak memberi mereka petunjuk kepada kebenaran.

Fasal 300: Penambahan Pahala di Akhirat Sesuai Kadar Amal di Dunia

1335 – Di antara keajaiban yang aku lihat dari diriku dan dari semua makhluk: condong kepada kelalaian dari apa yang ada di tangan kita, dengan mengetahui pendeknya umur, dan bahwa penambahan pahala di sana, sesuai kadar amal di sini.

Wahai yang pendek umur! Manfaatkanlah hari-hariku di Mina! Tunggulah saat berangkat! Jangan sibukkan hatimu dengan selain apa yang diciptakan untuknya! Paksa dirimu pada yang pahit! Tundukkan dia jika menolak, dan jangan biarkan dia berkelana dalam angan-angan panjang, karena kamu hanya di padang rumput. Jelek bagi orang yang berada di antara dua barisan untuk sibuk dengan selain apa yang dia hadapi.

301- Bab: Perintah Menjaga Rahasia

1336- Saya telah mengulangi makna ini dalam kitab ini, yaitu perintah menjaga rahasia, dan waspada dari terlalu terbuka dalam hal-hal yang tidak pantas di hadapan orang-orang. Betapa banyak orang yang terbuka di hadapan seseorang yang dianggapnya sebagai sahabat, lalu dia berkata tentang seorang teman, atau tentang seorang penguasa, bahwa dia tidak peduli dengan hal itu, maka hal tersebut menjadi sebab kehancuran orang itu.

Maka saya berwasiat kepada orang yang berjiwa suci yang menyangka baik terhadap manusia: agar berhati-hati terhadap manusia, dan jangan berkata kepada makhluk sepatah kata pun yang tidak pantas untuk makhluk, dan jangan tertipu oleh orang yang menampakkan persahabatan atau religiusitas, karena keburukan telah merata.

302- Bab: Tasbih Orang-Orang yang Terjaga

1337- Saya merenungkan ibadah kebanyakan manusia; ternyata itu hanya kebiasaan. Adapun para pemilik keterjagaan, kebiasaan mereka adalah ibadah yang hakiki. Sesungguhnya orang yang lalai mengatakan: “Subhanallah” karena kebiasaan, sedangkan orang yang terjaga tidak henti-hentinya memikirkan keajaiban-keajaiban makhluk atau keagungan Sang Pencipta, maka pemikiran itu menggerakkannya, lalu dia berkata: “Subhanallah.”

1338- Seandainya seseorang memikirkan sebuah buah delima, lalu memperhatikan susunan biji-bijinya, dan penjagaannya dengan selaput-selaput agar tidak mengecil, dan penempatan air pada tulang biji, dan pembuatan selaput di atasnya untuk menjaganya, dan pembentukan anak ayam dalam perut telur, dan manusia dalam rahim ibu, hingga makhluk-makhluk lainnya: pemikiran ini akan menggerakkannya untuk mengagungkan Sang Pencipta, maka dia berkata: “Subhanallah!” Dan tasbih ini adalah buah pemikiran, inilah tasbih orang-orang yang terjaga, dan pemikiran mereka terus berkeliling, maka ibadah mereka dengan tasbih-tasbih menjadi benar-benar terealisasi.

Demikian pula mereka memikirkan keburukan dosa-dosa yang telah berlalu, maka pemikiran itu mewajibkan gerakan batin, kegelisahan hati, dan penyesalan jiwa, maka hal itu berbuah sehingga salah seorang dari mereka berkata: “Astaghfirullah.” Inilah tasbih dan istighfar. Adapun orang-orang yang lalai, mereka mengatakannya karena kebiasaan. Dan betapa jauhnya perbedaan antara kedua kelompok.

303- Bab: Kesibukan dengan Akhirat Tidak Jernih Kecuali dengan Memutus Hubungan dari Makhluk

1339- Ibadah, zuhud, dan kesibukan dengan akhirat tidak akan jernih kecuali dengan memutus hubungan total dari makhluk, sehingga tidak melihat mereka, dan tidak mendengar pembicaraan mereka kecuali pada waktu darurat, seperti shalat Jumat atau berjamaah, dan berhati-hati terhadap mereka pada saat-saat tersebut. Dan jika dia seorang alim yang ingin memberi manfaat kepada mereka, hendaklah dia menjanjikan waktu yang dikenal, dan berhati-hati dalam berbicara dengan mereka.

Adapun orang yang berjalan di pasar-pasar hari ini, berjual beli dengan dunia yang gelap ini, dan melihat kemungkaran-kemungkaran dan hal-hal yang buruk, maka dia tidak pulang ke rumah kecuali dalam keadaan hati yang telah gelap.

1340- Maka tidak sepatutnya bagi orang yang berkeinginan (menempuh jalan spiritual) untuk keluar kecuali ke padang sahara dan kuburan. Telah ada sekelompok dari salaf yang berjual beli, dan berhati-hati, namun dengan ini pun, tidak ada yang jernih bagi orang yang jernih di antara mereka sampai dia memutus hubungan dengan makhluk.

Abu Darda berkata: “Saya menekuni ibadah dan perdagangan; keduanya tidak bisa berkumpul, maka saya memilih ibadah.”

Dan telah datang dalam hadits: “Pasar-pasar melalaikan dan membuat lupa.” Maka barangsiapa yang mampu melakukan pantangan yang bermanfaat, dan terpaksa bercampur dengan manusia dan mencari nafkah untuk keluarga, hendaklah dia berhati-hati seperti hati-hatinya orang yang berjalan di atas duri, dan jauh kemungkinan keselamatannya.

304- Bab: Kebaikan Hati Berlangsung dengan Kelanggengan Takwa

1341- Barangsiapa yang dikaruniai hati yang baik, dan kenikmatan munajat, hendaklah dia menjaga keadaannya, dan berhati-hati dari perubahan; dan keadaannya hanya akan langgeng dengan kelanggengan takwa.

1342- Saya pernah dikaruniai hati yang baik, dan munajat dalam khalwat, lalu salah seorang pemilik jabatan menghadirkan saya ke makanannya, tidak mungkin menolaknya, maka saya mengambil dan makan darinya; lalu saya mengalami kesulitan-kesulitan, dan melihat hukuman secara langsung, dan berlanjut beberapa waktu, dan saya marah kepada hati saya, dan kehilangan semua yang pernah saya rasakan. Maka saya berkata: “Alangkah herannya! Sungguh saya dalam hal ini seperti orang yang dipaksa!” Lalu saya berpikir, ternyata masalah itu bisa diatasi dengan beberapa suap yang sedikit; namun takwil membuat mengambil makanan ini dengan syahwat lebih dari yang dibutuhkan untuk berdiplomasi. Maka jiwa berkata: “Dari mana saya tahu bahwa makanan ini haram?!” Maka keterjagaan berkata: “Mana wara’ dari syubhat?!” Ketika saya mengambil dengan takwil satu suap, dan menariknya dengan tabiat, saya mengalami dua perkara dengan kehilangan hati: “Maka ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan!” (QS. Al-Hasyr: 2)

305- Bab: Semangat Mukmin Terkait dengan Akhirat

1343- Semangat mukmin terkait dengan akhirat, maka segala yang ada di dunia menggerakkannya untuk mengingat akhirat, dan setiap orang yang disibukkan oleh sesuatu, maka semangatnya adalah kesibukannya.

Tidakkah kamu lihat bahwa jika para ahli kerajinan masuk ke rumah yang bagus, kamu akan melihat pedagang kain memperhatikan perabot, dan memperkirakan harganya, tukang kayu memperhatikan langit-langit, tukang bangunan memperhatikan dinding, dan penenun memperhatikan tenunan.

1344- Dan mukmin jika melihat kegelapan, dia mengingat kegelapan kubur, dan jika melihat yang menyakitkan, dia mengingat azab, dan jika mendengar suara yang mengerikan, dia mengingat tiupan sangkakala, dan jika melihat orang-orang tidur, dia mengingat orang-orang mati di kubur, dan jika melihat kenikmatan, dia mengingat surga; maka semangatnya terkait dengan apa yang ada di sana, dan itu menyibukkannya dari segala yang ada di sini.

1345- Dan yang paling besar baginya adalah dia membayangkan kelangsungan tinggal di surga, dan bahwa kelangsungannya tidak terputus, dan tidak berhenti, dan tidak mengalami gangguan, maka ketika dia membayangkan dirinya berbolak-balik dalam kenikmatan-kenikmatan yang kekal, yang tidak akan binasa: dia hampir gembira sampai terbang, dan menjadi mudah baginya apa yang ada di jalan menuju surga, berupa sakit, penyakit, cobaan, kehilangan yang dicintai, datangnya kematian, dan menghadapi kesukarannya. Sesungguhnya orang yang rindu kepada Ka’bah akan mudah baginya pasir Zarrud, dan orang yang mendambakan kesembuhan tidak peduli dengan pahitnya obat, dan dia tahu bahwa baiknya buah di sana sesuai dengan baiknya benih di sini, maka dia memilih yang terbaik, dan memanfaatkan musim tanam di bulan Oktober umur tanpa kelemahan. Kemudian mukmin membayangkan masuk neraka dan azab, maka hidupnya menjadi tidak nyaman, dan kegelisahannya menguat, maka dia memiliki kesibukan dengan kedua keadaan dari dunia dan isinya, maka hatinya mengembara di padang kerinduan kadang, dan di padang sahara ketakutan kadang lain, maka dia tidak melihat bangunan.

Ketika kematian mendatanginya, prasangka baiknya kepada keselamatan menguat, dan dia berharap untuk dirinya keselamatan, maka hal itu menjadi mudah baginya. Ketika dia turun ke kubur, dan datang kepadanya orang-orang yang bertanya, sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain: “Biarkanlah dia, dia baru saja beristirahat sebentar.”

Kami memohon kepada Allah Yang Mulia lagi Agung keterjagaan yang sempurna, yang menggerakkan kami untuk mencari keutamaan-keutamaan, dan mencegah kami dari memilih kehinaan-kehinaan; sesungguhnya jika Dia memberi taufik maka (tercapai), jika tidak maka tidak ada yang bermanfaat.

306- Bab: Kesempurnaan Bentuk adalah Keseimbangannya

1346- Sungguh saya memperhatikan terhadap Tuhanku Subhanahu wa Ta’ala suatu perkara yang menakjubkan, yaitu bahwa Dia Ta’ala tidak memilih untuk kecintaan-Nya, dan kedekatan kepada-Nya: kecuali yang sempurna bentuk dan makna. Dan saya tidak bermaksud keindahan garis-garis; namun kesempurnaan bentuk adalah keseimbangannya, dan yang seimbang tidak lepas dari keindahan, maka diikuti oleh keindahan bentuk batin, yaitu kesempurnaan akhlak, dan hilangnya kekeruhan, dan tidak terlihat dalam batinnya keburukan dan kekeruhan, bahkan batinnya telah indah sebagaimana zahirnya indah. Dan Musa alaihissalam adalah setiap orang yang melihatnya mencintainya, dan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam seperti bulan malam purnama.

1347- Dan bisa jadi wali itu berkulit hitam; tetapi dia indah bentuk, halus makna-maknanya.

Maka sesuai dengan apa yang ada pada manusia dari kesempurnaan dalam kesempurnaan fisik dan akhlak, begitulah amalnya, dan kedekatannya kepada Hadirat sesuai dengan itu, maka di antara mereka ada yang seperti pelayan di pintu, di antara mereka ada yang hajib, di antara mereka ada yang dekat, dan jarang yang sempurna baginya kesempurnaan, dan mungkin tidak ditemukan dalam seratus tahun di antara mereka kecuali satu, dan ini adalah hikayat apa yang diperoleh dengan usaha; bahkan usaha diperoleh darinya; karena jika terjadi kesempurnaan, mendorong kepada kesungguhan sesuai dengan kekurangannya. Dan ini tidak ada cara untuk asalnya; itu hanya fitrah, dan jika Dia menghendakimu untuk suatu perkara, Dia mempersiapkanmu untuknya.

307- Bab: Yang Haq Disucikan dari Kesia-siaan

1348- Saya merenungkan suatu kaum yang mengaku berakal, dan mereka menentang hikmah Sang Pencipta! Maka sepatutnya dikatakan kepada mereka: Pemahaman ini yang menunjukkan kalian untuk menolak hikmah-Nya, bukankah itu dari pemberian-Nya?!

Maka Dia memberikan kalian kesempurnaan, dan ridha untuk diri-Nya dengan kekurangan?! Ini adalah kekufuran murni, yang bertambah keburukannya dari pada pengingkaran.

1349- Maka pemimpin kaum itu adalah Iblis; sesungguhnya dia melihat dengan akalnya bahwa substansi api lebih mulia dari substansi tanah, maka dia menolak hikmah Sang Pencipta, dan mengikuti ini banyak makhluk dari para penentang, seperti Ibnu Rawandi, dan Al-Bishri. Dan Al-Ma’arri yang terkutuk ini, berkata: “Bagaimana Ibnu Hajjaj dicela karena kekonyolan, sedangkan masa lebih buruk perbuatannya darinya?! Apakah dia bermaksud dengan itu zaman?! Tidak, sesungguhnya berlalunya waktu tidak berbuat sesuatu; itu hanya penghinaan! Dan dia minta cepat mati, dengan sangkaannya bahwa dia akan beristirahat! Dan dia berwasiat untuk meninggalkan nikah, dan ibadah! Dan dia tidak melihat dalam penciptaan hikmah kecuali kesusahan dan kelelahan! Dan kembalinya badan-badan kepada kebinasaan!!”

Dan ini seandainya seperti yang disangkanya, maka penciptaan adalah sia-sia, dan Yang Haq disucikan dari kesia-siaan. Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia” (QS. Shad: 27). Maka jika apa yang diciptakan untuk kita tidak diciptakan dengan sia-sia, apakah kita -dan kita adalah tempat ma’rifat-Nya dan tempat taklif-Nya- telah ada dengan sia-sia?!

1350- Dan seperti kebodohan ini hanya keluar dari orang yang melihat dalam kasus-kasus akal yang dia putuskan terhadap yang zahir, seperti dia melihat bangunan yang dibongkar, dan akal dengan sendirinya tidak melihat itu sebagai hikmah, dan seandainya disingkapkan baginya hikmah itu; niscaya dia tahu bahwa itu benar, sebagaimana disingkapkan kepada Musa maksud Khidir dalam melubangi kapal, dan membunuh anak.

Dan diketahui bahwa menyembelih hewan, dan memotong roti, dan mengunyah makanan, tidak tampak baginya faedah secara mutlak, maka jika dia tahu bahwa itu adalah makanan untuk badan orang yang lebih mulia badannya dari yang disembelih, maka baiklah perbuatan itu.

Alangkah herannya! Tidakkah akal-akal memutuskan wajibnya taat kepada Yang Bijaksana, yang kamu tidak mampu mengetahui hukum-hukum makhluk-makhluk-Nya?! Maka bagaimana kamu menentang-Nya dalam perbuatan-perbuatan-Nya?! Kita berlindung kepada Allah dari kekecewaan.

308- Bab: Barangsiapa Terpaksa Menasihati Penguasa Hendaklah Berlembut dengannya

1351- Sepatutnya bagi orang yang menasihati penguasa untuk sangat berlembut, dan tidak menghadapinya dengan apa yang menunjukkan bahwa dia zalim, sesungguhnya para penguasa bagian mereka adalah menyendiri dengan penguasaan dan kemenangan; maka jika terjadi jenis teguran kepada mereka, itu adalah penghinaan, dan mereka tidak tahan hal itu, dan hanya sepatutnya dia mencampur nasihatnya dengan menyebut kemuliaan kekuasaan, dan diperolehnya pahala dalam mengurus rakyat, dan menyebut perjalanan para penguasa yang adil dari pendahulu-pendahulu mereka.

1352- Kemudian hendaklah penasihat melihat keadaan yang dinasihati sebelum menasihatinya: jika dia melihat perjalanan hidupnya terpuji -sebagaimana Manshur bin Ammar dan lainnya menasihati Ar-Rasyid dan dia menangis- dan maksudnya kebaikan, hendaklah dia menambah nasihat dan wasiatnya.

Dan jika dia melihatnya zalim, tidak menoleh kepada kebaikan, dan telah menguasainya kebodohan, hendaklah dia berusaha untuk tidak melihatnya dan tidak menasihatinya; karena jika dia menasihatinya, dia mempertaruhkan nyawanya, dan jika dia memujinya, dia menjadi penjilat. Jika dia terpaksa menasihatinya, maka seperti isyarat.

1353- Dan telah ada beberapa orang dari para penguasa yang lembut ketika nasihat, dan menahan para penasihat, sampai Al-Manshur pernah dihadapi dengan “kamu zalim” lalu dia sabar… Dan telah berubah zaman, dan rusak kebanyakan penguasa, dan para alim menjilat mereka, dan yang tidak menjilat tidak mendapat penerimaan untuk kebenaran, maka dia diam.

1354- Dan dahulu kekuasaan tidak diminta kecuali oleh orang yang telah dikuasai oleh ilmu-ilmu, dan diperbaiki oleh pengalaman-pengalaman, maka menjadi kebanyakan penguasa sama dalam kebodohan, maka datang kekuasaan kepada orang yang bukan ahlinya.

Dan seperti mereka ini sepatutnya berhati-hati dari mereka, dan menjauh dari mereka; maka barangsiapa yang diuji dengan menasihati mereka, hendaklah dia sangat berhati-hati dalam apa yang dikatakannya, dan tidak sepatutnya tertipu dengan ucapan mereka: “Nasihatilah kami!” Sesungguhnya jika dia berkata satu kata yang tidak sesuai dengan tujuan-tujuan mereka, bangkitlah panas hati mereka.

1355- Dan hendaklah orang yang mengingatkan penguasa berhati-hati untuk menyinggung para pemilik kekuasaan; sesungguhnya mereka jika mendengar hal itu, maka penasihat menjadi sasaran mereka untuk dibinasakan, karena takut penguasa mengambil pelajaran dari keadaan-keadaan mereka, maka rusaklah urusan-urusan mereka. Dan menjauh di zaman ini dari mereka lebih baik, dan diam dari menasihati mereka lebih selamat. Maka barangsiapa yang terpaksa, hendaklah berlembut selemah-lembutnya, dan menjadikan nasihatnya untuk awam, dan mereka mendengar, dan tidak bermaksud dari nasihat itu sesuatu untuk mereka. Dan Allah yang memberi taufik.

309- Bab: Kebenaran Tidak Menyerupai Kebatilan

1356- Kebenaran tidak menyerupai kebatilan; kebatilan hanya menipu di sisi orang yang tidak memiliki pemahaman, dan ini dalam hak orang yang mengaku kenabian, dan dalam hak orang yang mengaku karamah.

1357- Adapun kenabian, sesungguhnya telah mengakuinya banyak makhluk, tampak keburukan-keburukan mereka, dan jelas aib-aib mereka, dan di antaranya adalah apa yang diwajibkan oleh rendahnya cita-cita, dan kerusakan dalam syahwat-syahwat, dan kecerobohan dalam perkataan dan perbuatan, sampai mereka terbongkar.

1358- Maka di antara mereka Al-Aswad Al-Ansi: dia mengaku kenabian, dan menjuluki dirinya Dzul Khimar; karena dia berkata: “Dzul Khimar datang kepadaku,” dan awal perkaranya dia adalah dukun yang menyihir, maka dia menampakkan keajaiban-keajaiban. Dia keluar di akhir kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Madzhij berkirim surat kepadanya dan berjanji, dan Najran, dan mereka mengusir Amr bin Hazm, dan Khalid bin Sa’id, dua sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan jernihlah baginya Yaman, dan dia memerangi Syahr bin Badzam, maka dia membunuhnya, dan menikahi putrinya, maka dia membantu membunuhnya, maka dia binasa dalam kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan jelas bagi orang-orang berakal bahwa dia menyihir.

1359- Dan di antara mereka Musailamah, mengaku kenabian, dan menamai diri Rahman Yamamah; karena dia berkata: “Yang datang kepadaku adalah Rahman!” Maka dia beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mengaku bahwa dia telah disekutukan dengannya! Maka herannya dia beriman kepada rasul, dan berkata: “Sesungguhnya dia pendusta!” Kemudian dia datang dengan Quran yang membuat orang tertawa, seperti ucapannya: “Wahai katak putri dua katak! Jernihlah apa yang kamu jernihkan, atasmu di air, dan bawahmu di tanah.” Dan di antara keajaiban-keajaiban: kambing hitam, yang diperah susu putih! Maka tersingkaplah tabir kehormatannya dalam kefasihan ini. Kemudian dia mengusap dengan tangannya kepala anak kecil, maka hilang rambutnya! Dan dia meludah di sumur, maka kering.

Dan dia menikahi Sajah yang mengaku kenabian, maka mereka berkata: “Harus ada mahar untuknya.” Maka dia berkata: “Maharnya adalah bahwa saya telah menggugurkan dari kalian shalat fajar dan isyaku!”

1360- Dan Sajah ini telah mengaku kenabian setelah wafat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka sekelompok orang meresponsnya, maka dia berkata: “Siapkanlah kendaraan, dan bersiaplah untuk merampas, kemudian seberanglah atas Ar-Rabab, tidak ada di bawah mereka penghalang, maka perangilah mereka!”

Kemudian dia menuju ke Yamamah, maka Musailamah takut kepadanya. Lalu Musailamah mengirim surat dan memberi hadiah kepadanya. Ketika Sujah datang menghadap Musailamah, dia berkata: “Bacakan kepadaku apa yang dibawa Jibril kepadamu!” Musailamah menjawab: “Sesungguhnya kalian wahai kaum wanita diciptakan berkelompok-kelompok, dan dijadikan untuk kami sebagai istri-istri, kami masukkan ke dalam kalian dengan memasukkan.” Sujah berkata: “Kamu benar, kamu adalah nabi.” Lalu Musailamah berkata kepadanya:

“Bangunlah ke kamar tidur… karena telah disiapkan untukmu tempat tidur Jika kamu mau, kami akan merebahkanmu… dan jika kamu mau dengan bertumpu pada empat Dan jika kamu mau dengan dua pertiganya… dan jika kamu mau dengan semuanya”

Sujah berkata: “Bahkan dengan semuanya, karena itu lebih menyatukan untuk berkumpul!”

Maka dia terpermalukan di hadapan orang-orang berakal dari para pengikutnya. Salah seorang dari mereka, Attarid bin Hajib, berkata:

“Nabiah kami telah menjadi perempuan yang digilir orang… sementara nabi-nabi manusia adalah laki-laki Maka laknat Allah, Tuhan seluruh manusia… atas Sujah dan orang yang menyesatkan kami dengan kebohongan Maksudku Musailamah si pendusta, semoga tidak diberi minum… gema suaranya dari hujan manapun ia berada”

Kemudian Sujah kembali dari kesesatannya dan masuk Islam, dan dia terus membongkar aib-aib Musailamah hingga Musailamah terbunuh.

1361- Di antara mereka ada Tulaiha bin Khuwailid. Dia muncul setelah Musailamah mengklaim kenabian, dan diikuti oleh orang-orang awam. Dia tinggal di Semaira dan menyebut dirinya Dzun Nun. Dia berkata bahwa yang datang kepadanya disebut Dzun Nun. Di antara perkataannya: “Sesungguhnya Allah tidak akan berbuat apa-apa dengan menggosok-gosokkan wajah kalian ke tanah dan memburukkan pantat kalian, maka ingatlah Allah dengan suci sambil berdiri!” Dan dari “Quran”-nya: “Demi burung merpati dan burung tekukur, dan burung shred yang berpuasa, sungguh kerajaan kami akan mencapai Irak dan Syam.” Uyainah bin Hishn mengikutinya, lalu Khalid bin Walid memeranginya. Uyainah datang kepada Tulaiha dan berkata: “Celakalah kamu! Apakah malaikat sudah datang kepadamu?” Tulaiha menjawab: “Belum.” Uyainah berkata: “Kembalilah dan berperanglah!” Maka dia berperang. Kemudian kembali lagi dan berkata: “Apakah malaikat sudah datang?” Tulaiha menjawab: “Belum.” Maka dia kembali berperang, kemudian kembali lagi dan berkata: “Apakah malaikat sudah datang?” Tulaiha menjawab: “Belum.” Dia kembali berperang, kemudian kembali lagi dan berkata: “Apakah malaikat sudah datang?” Tulaiha menjawab: “Ya.” Uyainah bertanya: “Apa yang dikatakannya kepadamu?” Tulaiha menjawab: “Dia berkata: ‘Sesungguhnya bagimu ada kincir seperti kincirnya dan perkataan yang tidak akan kamu lupakan.'” Uyainah berteriak: “Demi Allah, orang ini pembohong!” Maka orang-orang melarikan diri dengan kalah, dan Tulaiha lari ke Syam. Kemudian dia masuk Islam dan Islamnya benar, dan dia terbunuh di Nahawand.

1362- Al-Waqidi menyebutkan bahwa ada seorang laki-laki dari Bani Yarbu’ yang bernama Jundub bin Kalthum, dijuluki Kardan, mengklaim kenabian pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia mengaku bahwa tanda kenabiannya adalah bisa menyalakan paku besi dan tanah liat! Ini karena dia mengoleskannya dengan minyak balm, maka api bekerja padanya.

1363- Seorang laki-laki bernama Kahmas al-Kalabi mengaku nabi. Dia mengaku bahwa Allah telah mewahyukan kepadanya: “Wahai yang lapar! Minumlah susu maka kamu akan kenyang, dan jangan pukul yang tidak bermanfaat karena itu tidak memuaskan!” Dia mengaku bahwa tandanya adalah bisa dilemparkan ke tengah binatang buas yang ganas dan tidak dimakan. Caranya adalah dengan mengambil minyak pohon bay, batu barsan, landak yang dibakar, buih laut, kerang yang dibakar dan ditumbuk, sedikit lidah buaya dan daun khathab, lalu mengoleskannya ke tubuhnya. Ketika binatang buas mendekat dan mencium bau-bauan itu serta baunya yang menyengat, mereka lari.

1364- Di Thaif, seorang laki-laki bernama Abu Ja’wanah al-Amiri mengaku nabi. Dia mengaku bahwa tandanya adalah bisa melemparkan api ke kapas dan tidak terbakar! Ini karena dia mengoleskannya dengan minyak yang dikenal.

1365- Di antara mereka ada Huzail bin Ya’fur dari Bani Sa’d bin Zuhair. Al-Asma’i menceritakan bahwa dia meniru surat Al-Ikhlas dengan berkata: “Katakanlah: Dia adalah Allah Yang Maha Esa, Tuhan seperti singa, duduk mengawasi, tidak ada yang luput darinya.”

1366- Di antara mereka ada Huzail bin Wasi’. Dia mengaku keturunan An-Nabighah adz-Dzubyani. Dia meniru surat Al-Kautsar. Seseorang bertanya kepadanya: “Apa yang kamu katakan?” Dia menjawab: “Sesungguhnya Kami telah memberimu permata-permata, maka shalatlah untuk Tuhanmu dan berterus teranglah, maka tidak ada yang menyakitimu kecuali setiap orang fasik.” Al-Qasri menangkapnya dan membunuhnya, lalu menyalibnya di tiang. Seorang laki-laki melewatinya dan berkata: “Sesungguhnya Kami telah memberimu tiang, maka shalatlah untuk Tuhanmu sambil duduk, tanpa rukuk dan tanpa sujud, maka aku tidak melihat kamu akan kembali.”

1367- Di antara yang muncul dan mengaku bahwa dia mendapat wahyu adalah Al-Mukhtar bin Abi Ubaid. Dia bingung dalam klaimnya dan membunuh banyak orang. Dia mengaku membantu Husain radhiyallahu ‘anhu, kemudian dia terbunuh.

1368- Di antara mereka ada Hanzalah bin Yazid al-Kufi. Dia mengaku bahwa tandanya adalah bisa memasukkan telur ke dalam botol dan mengeluarkannya dalam keadaan utuh! Caranya adalah dengan merendam telur dalam cuka asam sehingga kulitnya lunak, kemudian menuangkan air ke dalam botol, lalu memasukkan telur ke dalamnya. Ketika telur bertemu air, menjadi keras.

1369- Beberapa orang telah mengaku nabi sebelum Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti Zarathustra dan Mani, dan mereka terpermalukan. Tidak ada dari para pengklaim kenabian kecuali yang dihinakan.

1370- Kelompok Qarmatiyyah telah datang dengan tipu daya yang menakjubkan. Saya telah menyebutkan sebagian besar dari mereka dan tipu daya mereka dalam kitab sejarah saya yang bernama “Al-Muntazam”. Tidak ada di antara mereka yang berhasil kecuali akhirnya terpermalukan.

1371- Bukti kebenaran kenabian Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih jelas dari matahari. Dia muncul dalam keadaan miskin dan makhluk memusuhinya, lalu dia menjanjikan kerajaan maka dia menguasai, dan memberitahu apa yang akan terjadi maka terjadilah. Dia terjaga dari masa kenabian dari kerakusan, rendahnya cita-cita, dusta, dan kesombongan. Dia diperkuat dengan kepercayaan, amanah, kehormatan, dan kesucian. Mukjizat-mukjizatnya tampak bagi yang jauh dan dekat.

Diturunkan kepadanya Kitab yang mulia, yang membuat akal orang-orang fasih bingung, dan mereka tidak mampu mendatangkan ayat yang menyerupainya, apalagi surat. Salah seorang dari mereka berkata dan terpermalukan, kemudian dia memberitahu bahwa tidak akan ada yang menandinginya, maka terjadilah seperti yang dia katakan. Itulah firman-Nya: “Dan jika kalian dalam keraguan tentang apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami, maka datangkanlah satu surat yang semisal dengannya dan ajaklah saksi-saksi kalian selain Allah jika kalian orang-orang yang benar. Jika kalian tidak dapat melakukannya – dan pasti kalian tidak akan dapat melakukannya – maka peliharalah diri kalian dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan untuk orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 23-24)

Demikian pula firman-Nya: “Katakanlah: ‘Jika negeri akhirat di sisi Allah khusus untuk kalian tanpa manusia yang lain, maka inginilah kematian jika kalian orang-orang yang benar. Dan mereka tidak akan pernah menginginkannya selama-lamanya karena apa yang telah diperbuat tangan mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 94-95)

Maka tidak ada seorang pun yang menginginkannya, karena jika ada yang berkata: “Aku telah menginginkannya,” maka batallah klaimnya.

Dan beliau biasa berkata pada malam perang Badr: “Besok tempat terbunuhnya si Fulan di sini,” maka tidak meleset. Dan beliau berkata: “Jika Kisra binasa, maka tidak ada Kisra setelahnya, dan jika Qaisar binasa, maka tidak ada Qaisar setelahnya,” maka tidak ada yang memerintah setelah keduanya yang memiliki kedudukan besar atau yang mantap keadaannya.

Di antara bukti terbesar kebenarannya adalah bahwa dia tidak menginginkan dunia. Dia biasa bermalam dalam keadaan lapar, mengutamakan orang lain jika mendapat sesuatu, memakai wol, dan shalat malam. Sesungguhnya ajaran-ajaran palsu dicari untuk menarik syahwat. Karena dia tidak menginginkannya, maka itu menunjukkan bahwa dia menunjukkan kepada akhirat yang merupakan kebenaran.

Kemudian agamanya terus tinggi hingga merata ke seluruh dunia. Meskipun kekufuran ada di sudut-sudut bumi, namun ia terhinakan.

1372- Terjadilah dalam golongan pengikutnya dari umatnya para fuqaha yang jika para nabi terdahulu mendengar perkataan mereka, mereka akan bingung dengan kebaikan penggalian hukum mereka, para zahid yang jika para rahib melihat mereka, mereka akan bingung dengan kebenaran kezuhudan mereka, dan para cerdik pandai yang tidak ada bandingannya di masa lalu.

1373- Bukankah kaum Musa menyembah sapi, ragu-ragu menyembelih sapi, menyeberangi laut, kemudian berkata: “Buatlah untuk kami tuhan”?! Dan kaum Isa menyimpan dari hidangan padahal mereka dilarang?! Dan orang-orang yang melanggar hari Sabat bermaksiat kepada Allah karena ikan?! Sedangkan umat kita dengan pujian Allah selamat dari hal-hal ini. Hanya saja sebagian mereka condong kepada syahwat-syahwat yang dilarang, dan itu dari cabang-cabang bukan dari pokok-pokok. Jika mereka diingatkan, mereka menangis dan menyesal atas kelalaian mereka. Maka kita memuji Allah atas agama ini dan karena kita termasuk umat Rasul ini shallallahu ‘alaihi wa sallam.

1374- Telah ada sekelompok orang yang menyamar dengan kezuhudan condong kepada mencari dunia dan kepemimpinan. Hawa nafsu menyesatkan mereka, maka mereka berbuat curang dengan menampakkan yang menyerupai karamah, seperti Al-Hallaj dan Ibn asy-Sybas serta lainnya yang telah saya sebutkan keadaan penipuan mereka dalam kitab “Talbis Iblis”. Mereka melakukan itu karena berbedanya tujuan mereka.

1375- Allah senantiasa menghadirkan dalam agama ini dari kalangan fuqaha yang menampakkan apa yang disembunyikan orang-orang yang pendek akal, sebagaimana Dia menghadirkan dari kalangan ulama hadits yang membongkar apa yang disebarkan para pemalsu, sebagai penjagaan agama ini dan penolakan syubhat darinya. Maka senantiasa fuqaha dan muhaddits menampakkan keburukan setiap penipu dengan memalsu hadits atau menampakkan klaim kezuhudan dan kemunafikan. Maka tidak berpengaruh apa yang mereka klaim kecuali kepada orang jahil yang jauh dari ilmu dan amal. “Agar Dia menegakkan yang hak dan membatalkan yang batil meskipun orang-orang yang berdosa tidak menyukainya.” (QS. Al-Anfal: 8)

Fasal: Orang yang beruntung adalah yang sadar akan dirinya

1376- Sungguh menakjubkan orang yang ada tetapi tidak memahami makna keberadaan! Jika dia memahami, dia tidak beramal dengan tuntutan pemahamannya!! Dia tahu bahwa umur pendek, namun dia menyia-nyiakannya dengan tidur, pengangguran, pembicaraan kosong, dan mencari kelezatan. Padahal hari-harinya adalah hari-hari beramal bukan waktu senggang.

Dia ditugaskan menyedekahkan harta dengan melawan tabiat menurut syariat, namun dia kikir dengannya, hingga ketika keadaan menjadi sempit, dia berkata saat itu: “Bagikanlah hartaku setelah aku mati! Dan lakukanlah begini!” Maka di mana pengaruhnya jika dilakukan?! Dan jauh untuk dilakukan. Sesungguhnya yang diinginkan dengan infaqmu dalam sehatmu adalah melawan tabiat dalam memikul beban pengeluaran di masa sehat. Maka bedakanlah antara dua keadaan itu jika kamu punya pemahaman. Orang yang beruntung adalah yang sadar akan dirinya, beramal dengan tuntutan akalnya, memanfaatkan waktu yang ujungnya adalah waktu, dan meraih umur yang singkat sekali putusnya!

1377- Celakalah kamu! Apa yang kamu lakukan dengan menimbun harta yang tidak berpengaruh dengan kebaikan dalam catalan dan tidak ada kemuliaan dalam sejarah?! Apakah kamu tidak mendengar tentang infaq Abu Bakar dan kekikiran Tsa’labah?! Apakah kamu tidak melihat pengaruh pujian terhadap Hatim dan kekikiran Al-Habahib?!

1378- Celakalah kamu! Seandainya Dia mengujimu dengan hartamu sedikit, kamu akan meminta tolong, atau dengan badanmu satu malam dengan penyakit, kamu akan mengeluh. Kamu memenuhi tuntutanmu dari-Nya, tetapi tidak memenuhi hak-Nya atasmu. “Kecelakaan besar bagi orang-orang yang curang.” (QS. Al-Muthaffifin: 1)

Dan ketahuilah bahwa kadar yang disia-siakan ini menjadikan kekal selamanya dalam pahala amal padanya. Maha Suci Yang memberi karunia kepada kaum yang memahami maksud, maka mereka meletihkan badan-badan, dan menutup hati-hati yang lain, maka keberadaan mereka seperti tidak ada.

Bagaimana orang berakal tidak meletihkan badannya seperti lelahnya badan sementara yang dituju darinya?!

Apakah kamu melihat mengapa Yang Haq menampakkan diri dalam penciptaanmu wahai hamba?!

Tentu saja demi Allah, sesungguhnya wujudmu adalah dalil keberadaan-Nya, dan nikmat-nikmat-Nya atasmu adalah dalil kemurahan-Nya. Sebagaimana Dia mendahulukanmu atas seluruh hewan, maka dahulukanlah Dia dalam hatimu atas semua yang dicari.

Sungguh kecewa orang yang jahil tentang-Nya! Sungguh miskin orang yang berpaling dari-Nya! Sungguh hina orang yang bangga dengan selain-Nya! Sungguh menyesal orang yang sibuk dengan selain pelayanan kepada-Nya!

Fasal: Yang menghibur dari dunia dan meringankan perpisahan dengannya

1379- Sungguh aku heran terhadap orang berakal yang melihat dominasi kematian atas teman-teman dan tetangga-tetangganya, bagaimana hidupnya bisa menyenangkan?! Khususnya jika usianya tinggi!

Sungguh menakjubkan orang yang melihat ular berbisa merayap kepadanya, namun dia tidak gelisah!! Apakah dia tidak melihat orang tua dengan rayapan kematian di anggota-anggotanya, telah mengeluarkan pisau kekuatan, dan menurunkan kelemahan yang menggerogoti, membalik kehitaman menjadi keputihan, kemudian setiap hari menambah kekurangan.

1380- Dalam pandangan orang berakal terhadap dirinya sendiri terdapat yang menyibukkannya dari melihat kehancuran dunia dan perpisahan dengan saudara-saudara, meskipun itu menggelisahkan. Tetapi kesibukan orang yang rumahnya terbakar dengan memindahkan barang-barangnya membuatnya lupa menyebut rumah-rumah tetangga.

1381- Sesungguhnya di antara yang menghibur dari dunia dan meringankan perpisahan dengannya adalah pergantian kenalan dengan orang yang mengingkarimu. Sungguh kita telah melihat orang-orang kaya yang mengutamakan orang lain, orang-orang miskin yang sabar, dan orang-orang yang menghisab diri mereka sendiri yang bersikap wara’. Maka orang-orang bodoh menggantikan orang-orang berakal, dan orang-orang kikir menggantikan orang-orang dermawan.

Sungguh mudah kepergian! Mudah-mudahan jiwa bertemu dengan yang hilang, maka bergabung dengan yang dicintai.

Fasal: Allah memberikan akal kepada manusia untuk menegakkan hujjah atasnya

1382- Aku merenungkan firman Allah: “Tidakkah kamu lihat bahwa kepada Allah bersujud siapa yang di langit dan siapa yang di bumi dan matahari dan bulan dan bintang-bintang dan gunung-gunung dan pepohonan dan binatang-binatang dan banyak dari manusia.” Kemudian Dia berfirman: “Dan banyak yang pantas mendapat azab. Dan barang siapa dihinakan Allah maka tidak ada baginya yang memuliakan. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Hajj: 18)

Maka aku melihat semua benda mati digambarkan dengan sujud, dan dikecualikan dari yang berakal! Maka aku teringat perkataan sebagian mereka:

“Tidak ada yang membisu yang mengingkari Penciptanya… dari yang berkata-kata datang pengingkaran”

Aku berkata: Sesungguhnya ini adalah kekuasaan yang besar, diberikan akal kepada seseorang, kemudian manfaatnya dicabut! Dan sesungguhnya ini adalah bukti terkuat atas Yang Maha Kuasa lagi Maha Menundukkan. Jika tidak, bagaimana mungkin pantas bagi orang berakal untuk tidak mengenal dengan keberadaannya, keberadaan Yang menciptakannya?! Dan bagaimana dia memahat patung dengan tangannya kemudian menyembahnya?!

Tetapi Yang Maha Hak memberikan kepada suatu kaum dari akal apa yang menegakkan hujjah atas mereka, dan membutakan hati mereka sebagaimana Dia kehendaki dari jalan yang lurus.

Fasal: Hendaklah hamba berbekal sesuai dengan panjang perjalanan

1383- Aku tidak melihat yang lebih membahayakan orang mukmin selain bergaul dengan orang yang tidak baik, karena tabiat mencuri. Jika dia tidak menyerupai mereka dan tidak mencuri dari mereka, dia akan lemah dari amalnya.

Karena melihat dunia mendorong untuk mencarinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat tirai di pintunya, maka beliau merobeknya dan berkata: “Apa urusanku dengan dunia?!” Beliau memakai baju yang ada hiasannya, lalu melemparkannya dan berkata: “Hiasannya menyibukkanku.” Beliau memakai cincin, kemudian melemparkannya dan berkata: “Satu pandangan kepadaku, satu pandangan kepadanya.” Demikian pula melihat pemilik-pemilik dunia, rumah-rumah mereka dan keadaan-keadaan mereka, khususnya bagi orang yang jiwanya mencari keangkuhan.

1384- Demikian pula mendengar nyanyian-nyanyian dan bergaul dengan kaum sufi yang tidak ada perhatian mereka hari ini kecuali pada rizki yang diperoleh. Dari siapa pun asalnya, mereka terima, dan mereka tidak wara’ untuk mengambil dari orang zalim. Tidak ada rasa takut pada mereka sebagaimana para pendahulu mereka. Sari as-Saqathi biasa menangis sepanjang malam dan sangat berhati-hati dalam kehati-hatian, sedangkan mereka tidak punya kehati-hatian Sari dan tidak punya ibadah Al-Junaid. Hanya ada makan, menari, pengangguran, dan mendengar nyanyian dari para pemuda tampan, hingga salah seorang yang dikira perkataannya berkata: “Aku hadir bersama seorang laki-laki besar yang ditunjuk dari syaikh-syaikh ribath, dan penyanyi mereka seorang pemuda tampan. Maka syaikh berdiri dan memberinya satu dinar di pipinya.” Klaim mereka bahwa mendengar hal-hal ini mengajak ke akhirat melebihi kebohongan! Bukan heran dari mereka, yang heran adalah orang-orang jahil yang menafkahi mereka.

1385- Sungguh telah ada sekelompok orang terdahulu yang melihat para sufi awal beribadah dan bersikap wara’, maka mereka mengagumi keadaan mereka, dan mereka ma’zur dalam kekaguman mereka kepada mereka, meskipun kebanyakan kaum itu dalam ibadah mereka tidak di atas jalan yang benar, sebagaimana aku sebutkan dalam kitabku yang bernama “Talbis Iblis”. Adapun hari ini, maka telah jelas tersembunyi, salah seorang dari mereka bolak-balik kepada para zalim dan memakan harta mereka, dan bersalaman dengan mereka dengan baju yang tidak ada hiasannya! Dan inilah tasawuf hanya itu!!

Apakah tidak malu kepada Allah orang yang zuhud dari pakaian mewah karena makhluk, bukan karena Yang Haq, dan tidak zuhud dari makanan dan dari syubhat?! Maka menjauh dari mereka adalah wajib.

1386- Hendaklah orang yang menyendiri untuk taat kepada Allah dari makhluk jangan keluar ke pasar sekuat tenaganya. Jika keluar karena darurat, dia menundukkan pandangannya. Jangan menziarahi pemilik jabatan dan jangan menemuinya. Jika terpaksa, dia bersikap diplomatis. Jangan bergaul dengan orang awam kecuali karena darurat dengan berhati-hati. Jangan membuka pintu pernikahan bagi dirinya, tetapi cukup dengan perempuan yang ada agamanya. Penyair berkata:

“Manusia selama dia punya mata yang diputar-putar… di mata-mata yang indah terhenti dalam bahaya Yang menyenangkan matanya, merusak jiwanya… tidak ada sambutan bagi kesenangan yang datang dengan bahaya”

1387- Jika ilmu mendominasi padanya, dia menyendiri dengan belajarnya dan berhati-hati dari para pengikut yang belajar. Jika ibadah mendominasi padanya, dia menambah kehati-hatiannya! Hendaklah dia menjadikan khalwatnya sebagai temannya, dan melihat sejarah para salaf sebagai teman duduknya! Hendaklah dia punya rutinitas ziarah kubur orang-orang saleh dan berkhalwat di sana! Jangan sampai terlewat rutinitas shalat malam, dan hendaklah setelah separuh malam pertama, maka dia memperpanjang semampunya, karena itu waktu yang jauh contohnya! Hendaklah dia membayangkan kepergiannya yang dekat agar pendek angan-angannya! Hendaklah dia berbekal di jalan sesuai dengan panjang perjalnan!

Kami memohon kepada Allah agar memberi kita kesadaran dari karunia-Nya, dan menghadap kepada pelayanan kepada-Nya, dan jangan menelantarkan kami dengan berpaling dari-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan.

Bab 314: Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya

Ayat rujukan: Surat Ibrahim ayat 34

1388

Setiap kali aku merenungkan nikmat-nikmat yang terus-menerus dilimpahkan kepadaku, aku bingung bagaimana cara bersyukur atasnya! Dan aku tahu bahwa syukur itu sendiri adalah nikmat, lalu bagaimana aku bisa bersyukur?! Namun aku mengakui kekuranganku, dan berharap pengakuanku ini dapat memenuhi sebagian dari hak-hak yang wajib kulakukan.

Dan padaku ada satu sifat yang dengannya aku mengharapkan segala kebaikan, yaitu ketika seseorang berpuasa atau shalat, dia merasa telah beribadah dan melayani seakan-akan dia telah memenuhi hak yang dilayaninya. Sedangkan aku, ketika aku shalat dua rakaat, aku merasa seakan-akan aku hanya bekerja untuk diriku sendiri, karena Yang Dilayani tidak membutuhkan ketaatanku.

Salah seorang syaikh pernah berkata: “Dalam hadits disebutkan: ‘Doa adalah ibadah'”, dan aku berkata: “Ibadah adalah doa.”

1389

Sungguh mengherankan orang yang berdiri untuk berkhidmat lalu meminta bagian untuk dirinya, bagaimana dia bisa merasa telah melakukan sesuatu?! Kamu hanya sedang dalam kebutuhanmu, dan karunia dari Dia yang membangunkanmu tidak dapat diimbangi oleh pelayananmu. Maka aku berkata sebagaimana yang dikatakan orang terdahulu:

“Wahai puncak harapan, Engkau telah menjaminku dan menjagaku Masa telah menyerangku untuk membinasakanku, namun Engkau mencegahku Maka ia tunduk padaku dengan khusyuk ketika melihat Engkau menolongku Dan Engkau memakaikan aku jubah kekayaan, dari para penguasa Engkau melindungiku Jika aku diam, Engkau memulai (bicara) padaku, dan jika aku bertanya, Engkau menjawabku Jika aku bersyukur, Engkau menambahiku, maka Engkau memberiku dan memukau hatiku Seandainya aku mendapatkan dengan harta, maka harta-harta itu adalah yang Engkau berikan padaku”

Bab 315: Jiwa pasti membutuhkan sesuatu untuk menyibukkan dirinya

1390

Aku melihat kebanyakan ulama menyibukkan diri dengan bentuk lahir ilmu. Ahli fiqih sibuk dengan mengajar, dan penceramah sibuk dengan ceramah.

Yang satu memperhatikan pelajarannya, lalu bergembira dengan banyaknya pendengar, mencela perkataan orang yang menentangnya, menghabiskan waktunya untuk memikirkan bantahan-bantahan agar dapat mengalahkan orang yang berdebat dengannya. Matanya tertuju pada kepemimpinan dan peninggian derajat dalam majelis, dan terkadang cita-citanya adalah mengumpulkan harta benda dan bergaul dengan para penguasa!

Sedangkan penceramah, cita-citanya adalah menghias perkataannya, memperbanyak jamaahnya, dan menarik hati manusia untuk mengagungkannya. Jika ada yang setara dengannya dalam pekerjaannya, dia mulai mencela orang tersebut.

Ini adalah hati-hati yang lalai dari Allah Azza wa Jalla. Seandainya mereka mengenal-Nya, niscaya mereka akan sibuk dengan-Nya, dan kesenangan mereka adalah bermunajat dengan-Nya, mengutamakan ketaatan kepada-Nya, dan menghadap kepada-Nya dalam kesendirian. Namun karena mereka kosong dari hal ini, mereka menyibukkan diri dengan dunia, dan itu adalah dunia seperti mereka. Ketika mereka sendirian dalam ibadah kepada Allah Ta’ala, mereka tidak merasakan kelezatannya, dan mengumpulkan orang-orang lebih mereka sukai, serta kunjungan makhluk kepada mereka lebih mereka utamakan. Ini adalah tanda kehinaan.

1391

Sebaliknya, ketika seorang alim menghadap kepada Allah Subhanahu, sibuk dengan ketaatan kepada-Nya, maka hal yang paling sulit baginya adalah bertemu dengan makhluk dan berbicara dengan mereka. Hal yang paling dia cintai adalah menyendiri. Dia memiliki kesibukan sehingga tidak sempat mencela sesama atau mencari kepemimpinan, karena apa yang menarik perhatiannya dari akhirat lebih tinggi dari semua itu.

1392

Jiwa pasti membutuhkan sesuatu untuk menyibukkan dirinya. Barangsiapa yang sibuk melayani makhluk dan berpaling dari kebenaran, maka dia hanya membesarkan kepemimpinannya, dan itu mengharuskan berpaling dari kebenaran. “Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam dadanya” (Surat Al-Ahzab ayat 4).

Bab 316: Ya Allah, perlihatkanlah kepada kami segala sesuatu sebagaimana adanya

1393

Telah datang dalam atsar: “Ya Allah! Perlihatkanlah kepada kami segala sesuatu sebagaimana adanya!” Ini adalah perkataan yang sangat baik. Kebanyakan manusia tidak melihat sesuatu dengan mata yang sebenarnya, karena mereka melihat yang fana seakan-akan kekal, dan hampir tidak dapat membayangkan hilangnya apa yang mereka miliki, meskipun mereka mengetahui hal itu. Akan tetapi mata hati sibuk memandang yang hadir. Tidakkah kamu melihat hilangnya kenikmatan dan tersisanya dosanya?! Seandainya pencuri melihat tangannya dipotong, niscaya barang curian itu akan ringan baginya.

Barangsiapa yang mengumpulkan harta dan tidak menafkahkannya, maka dia tidak melihatnya dengan mata yang sebenarnya, karena harta itu adalah alat untuk mencapai tujuan, bukan dicari untuk dirinya sendiri.

Barangsiapa yang melihat kemaksiatan dengan mata syahwat, maka dia tidak melihatnya dengan benar, karena di dalamnya terdapat cacat-cacat yang kamu kehendaki, kemudian buahnya adalah hukuman yang tertunda dan aib yang segera datang.

1394

Lihatlah syahwat indera yang paling besar, yaitu bersetubuh! Sesungguhnya air mani tidak dihasilkan kecuali setelah makanan dan minuman. Barangsiapa yang memikirkan makanan, dia melihat ke pembajakan tanah, yang memerlukan sapi untuk membajak dengan bajak, yaitu besi, dan bersamanya kayu, dan terikat padanya tali. Barangsiapa yang memikirkan pembuatan tali, dia melihat ke penanaman ganja, penyisiran, dan pemintalan, serta besi dan pengangkutan dan pemukulannya, kayu dan pertumbuhan serta pertukangan, perputaran roda dan pembuatannya, kemudian penuaian hasil panen, pemotongan, penampi, penggilingan, pengulenan, dan pemanggangannya, serta pembuat tanur, pengangkutan duri. Dari jenis ini, jika diperhatikan, menjadi sangat banyak, hingga mereka berkata: “Tidak diperoleh sesuap makanan kecuali telah bekerja di dalamnya tiga ratus jiwa atau sekitar itu.”

Ketika dia memakan suapan itu, hendaklah dia memikirkan penciptaan gigi untuk memotongnya, geraham untuk mengunyahnya, manisnya air liur untuk mencampurnya, lidah untuk membaliknya, dan otot-otot mulut yang sebagian naik dan sebagian tinggal hingga tepat untuk ditelan. Kemudian usus mengambilnya dan mengantarkannya ke hati yang berfungsi sebagai pemasaknya. Ketika menjadi darah, dia membuang endapannya ke limpa, cairannya ke kandung kemih, dan memilih dari darah yang paling murni dan jernih untuk hati, otak, dan jantung. Dia mengambil yang terbaik dari itu dan mengantarkannya ke kedua buah zakar sebagai persiapan untuk menciptakan manusia.

Ketika api syahwat berkobar, air mani itu mengalir. Syariat telah menetapkan kesuciannya dan menetapkan kesucian rahim serta tempat yang disentuh oleh kemaluan laki-laki, maka darinya diciptakan manusia yang bertauhid.

Manusia ini tidak datang kecuali dengan harga yang sangat mahal, setelah keajaiban-keajaiban yang telah kami tunjukkan, bukan yang kami hitung!!

1395

Apakah pantas bagi orang yang memahami ini untuk menghambur-hamburkan air mani itu dalam yang haram? Atau bersetubuh di tempat yang najis sehingga tersia-sia?! Betapa banyak cobaan yang terkait dengan zina yang sepersepuluh dari sepersepuluhnya pun tidak sebanding dengan kenikmatan sesaat! Di antaranya: merobek kehormatan di antara manusia, membuka aurat yang diharamkan, mengkhianati saudara Muslim dalam istrinya jika wanita itu bersuami, memalukan wanita yang dizinai, padahal dia seperti saudara atau anak baginya.

Jika dia hamil darinya sedangkan dia punya suami, maka dia menisbatkannya kepada suami itu, dan pezina ini menjadi sebab warisan orang yang tidak berhak dan menghalangi orang yang berhak. Kemudian hal itu berlanjut dari anak ke anak.

Adapun murka Allah Subhanahu, itu sudah jelas. Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (Surat Al-Isra ayat 32). Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada dosa setelah syirik yang lebih besar di sisi Allah Ta’ala daripada setetes air mani yang diletakkan seorang laki-laki di rahim yang tidak halal baginya.”

1396

Barangsiapa yang memiliki pemahaman, dia tahu bahwa tujuan dari air mani adalah menciptakan orang-orang yang bertauhid. Seandainya syahwat tidak dirangkai (dalam penciptaan), niscaya persetubuhan tidak akan terjadi, karena itu adalah pertemuan dua anggota tubuh yang tidak indah, tidak indah bentuknya, dan tidak harum baunya. Hanya saja syahwat menutupi mata yang melihat agar terjadi kelahiran anak pada dasarnya, maka syahwat itu hanya sementara. Barangsiapa yang mencari syahwat dan melupakan kejahatannya dengan zina, maka dia tidak melihat sesuatu sebagaimana adanya. Qiaskanlah hal ini pada makanan, minuman, dan pengumpulan harta selain itu.

Bab 317: Faedah dalam penciptaan sesuatu yang menyakiti

1397

Jika ada yang bertanya: “Apa faedah penciptaan sesuatu yang menyakiti?!” Maka jawabannya: Sesungguhnya hikmah Pencipta telah terbukti. Jika tersembunyi dalam beberapa perkara, wajib menyerahkan diri. Kemudian sesungguhnya hal-hal yang indah secara keseluruhan adalah contoh dari apa yang telah disediakan sebagai pahala, dan hal-hal yang menyakiti adalah contoh dari apa yang telah disediakan sebagai hukuman. Tidak ada sesuatu yang diciptakan untuk merusak kecuali di dalamnya terdapat manfaat.

1398

Dikatakan kepada salah seorang dokter: “Si fulan berkata: ‘Aku seperti kalajengking, merugikan dan tidak bermanfaat’?” Maka dia berkata: “Betapa sedikitnya ilmunya! Sesungguhnya kalajengking bermanfaat jika perutnya dibelah, kemudian diikatkan pada tempat sengatannya. Dapat juga diletakkan dalam tempayan yang tertutup rapat, kemudian tempayan itu diletakkan dalam tanur. Jika sudah menjadi abu, diminumkan dari abu itu setengah daniq atau lebih kepada penderita batu ginjal, maka akan menghancurkannya tanpa merusak anggota tubuh lainnya! Kalajengking dapat menyengat orang yang menderita demam hebat sehingga demamnya hilang. Pernah menyengat orang yang lumpuh, maka lumpuhnya hilang. Dapat juga dimasukkan ke dalam minyak hingga menarik kekuatannya, maka minyak itu menghilangkan bisul-bisul yang keras. Seperti ini banyak contohnya.”

Orang yang bodoh adalah musuh bagi apa yang tidak dia ketahui, dan kebodohan terbesar adalah penolakan orang bodoh terhadap orang yang berilmu.

Bab 318: Semakin dalam pemahaman mengenal Pencipta, semakin tersesat dalam cinta kepada-Nya

1399

Semakin dalam pemahaman mengenal Pencipta, lalu menyaksikan kebesaran, kelembutan, dan ketinggian-Nya, maka tersesat dalam cinta kepada-Nya, sehingga keluar dari batas ketetapan. Telah diciptakan dari manusia yang dikuasai cinta kepada-Nya, sehingga mereka tidak mampu bergaul dengan makhluk. Di antara mereka ada yang tidak mampu diam dari zikir, ada yang tidak tidur kecuali karena terpaksa, ada yang mengembara di padang pasir, dan ada yang terbakar badannya. Alangkah indahnya kemabukan mereka, betapa lezatnya kemabukan mereka! Alangkah hidup gelisahnya mereka, betapa indahnya kerinduan mereka!

1400

Abu Ubaidah al-Khawash telah dikuasai kerinduan, sehingga dia berjalan di pasar-pasar sambil berkata: “Wahai rinduku kepada Dia yang melihatku sedangkan aku tidak melihat-Nya.”

1401

Fath bin Sakhraf berkata: “Rinduku kepada-Mu telah lama, maka segerakanlah kedatanganku kepada-Mu.”

1402

Qais bin ar-Rabi’ seakan-akan mabuk tanpa minum.

1403

Ibnu Aqil berkata: “Sesungguhnya berpakaian sederhana karena-Nya Subhanahu lebih indah daripada berhias selain karena-Nya.”

1404

Pernahkah kamu melihat orang telanjang yang lebih indah dari orang yang berihram?! Pernahkah kamu melihat orang yang berhias dengan perhiasan dunia memiliki sikap seperti pakaian orang-orang shalih?! Pernahkah kamu melihat kemabukan yang lebih indah dari kantuk orang yang tahajjud?! Pernahkah kamu melihat kemabukan yang lebih indah dari pingsan orang yang rindu?! Pernahkah kamu menyaksikan air jernih yang lebih jernih dari air mata orang yang menyesal?! Pernahkah kamu melihat kepala yang miring seperti kepala orang yang tunduk?! Pernahkah menempel ke tanah sesuatu yang lebih indah dari dahi orang yang shalat?! Pernahkah angin fajar menggerakkan daun-daun pohon sehingga mencapai kadar gerakannya terhadap ujung pakaian orang yang tahajjud?! Pernahkah terangkat telapak tangan dan terbentang tangan yang menyamai telapak tangan orang yang memohon?! Pernahkah menggerakkan hati suara nyanyian atau bunyi senar seperti gerakan rindu orang yang merindukan?! Sesungguhnya berpakaian sederhana itu indah dalam mencapai tujuan yang paling sempurna, maka karena itu indahlah berpakaian sederhana dalam mengabdi kepada Yang Memberi Nikmat.

Bab 319: Tentang sebab pemborosan para penguasa

1405

Para penguasa kebanyakan tidak mengenal agama dan tidak terdidik dengan adab-adabnya. Jika asal penciptaannya buruk akalnya dan tidak dikarunia bersama keburukan ini apa yang dapat mendidik tabiatnya dan mematangkan pikirannya, maka bagaimana bisa diharapkan kebaikan? Sesungguhnya akal bertumbuh dengan pengajaran, pencapaian, latihan, dan pembiasaan disertai dengan kerja yang terus-menerus.

Ya, kebanyakan mereka tidak mengenal agama dan tidak terdidik dengan adab-adabnya sama sekali. Terjadi pada mereka kekurangan akal dalam asal penciptaan, kemudian yang sedikit itu tidak dibantu, bahkan dibantu untuk menghilangkannya. Hal itu karena anggota tubuh jika terus-menerus tidak digunakan untuk pekerjaan yang dipersiapkan untuknya, akan rusak dan padam. Karena itu mata penyalin dan penjahit menjadi lemah, dan mata penduduk padang pasir menjadi tajam karena tidak ada yang menghalangi penglihatan mereka. Pekerjaan akal adalah berpikir dan memperhatikan akibat-akibat keadaan, serta mengambil kesimpulan dari yang tampak terhadap yang ghaib. Orang-orang ini selalu kenyang dengan makanan, dan itu merusak akal. Kemudian mereka memperpanjang tidur, dan jika bangun mereka minum yang memabukkan, maka terjadilah pada akal pemadaman dan penutupan, sehingga buruk pengaturannya.

Bab 320: Menceritakan kepada orang awam apa yang tidak dapat ditanggung hati mereka adalah bahaya

1406

Di antara bahaya-bahaya besar adalah menceritakan kepada orang awam apa yang tidak dapat ditanggung hati mereka atau apa yang telah mengakar dalam jiwa mereka yang bertentangan dengannya. Contohnya: suatu kaum telah mengakar dalam hati mereka penyerupaan (Allah dengan makhluk), dan bahwa Zat Pencipta Subhanahu menempel pada Arsy! Dan Dia seukuran Arsy, dan Arsy lebih besar empat jari! Mereka mendengar seperti ini dari guru-guru mereka, dan tetap pada mereka bahwa jika Dia turun dan berpindah ke langit dunia, maka enam langit kosong dari-Nya!!

1407

Jika salah seorang dari mereka diajak kepada penyucian (Allah dari sifat makhluk), dan dikatakan kepadanya: “Bukan seperti yang terlintas dalam pikiranmu. Sesungguhnya hadits-hadits itu harus dilewatkan sebagaimana datangnya tanpa menghuni apa yang kamu sangkakan,” hal ini sulit baginya karena dua alasan: Pertama, karena indera lebih menguasai dirinya, dan indera pada orang awam lebih menguasai. Kedua, karena apa yang telah dia dengar tentang itu dari guru-guru yang lebih bodoh darinya. Maka orang yang berbicara tentang ini membahayakan dirinya.

1408

Sungguh telah sampai kepadaku tentang sebagian orang yang beragama yang telah mengakar di hatinya penyerupaan, bahwa dia mendengar dari sebagian ulama sesuatu tentang penyucian, lalu dia berkata: “Demi Allah, seandainya aku mampu mengalahkannya, niscaya aku akan membunuhnya.”

Maka demi Allah, demi Allah, janganlah kamu ceritakan kepada makhluk dari orang awam apa yang tidak dapat dia tanggung tanpa tipu daya dan kelembutan, karena apa yang ada dalam jiwanya tidak akan hilang, dan orang yang menceritakan kepadanya membahayakan dirinya. Demikian juga semua yang berkaitan dengan pokok-pokok agama.

Bab 321: Laki-laki sejati adalah yang menjaga batasan-batasan dan memurnikan amal

1409

Jangan terpedaya dengan seseorang karena banyak bicaranya dan apa yang kamu lihat dia lakukan berupa shalat, puasa, sedekah, dan menyendiri. Sesungguhnya laki-laki sejati adalah yang memperhatikan dua hal: menjaga batasan-batasan dan memurnikan amal.

Betapa banyak yang telah kita lihat dari orang-orang yang beribadah namun melanggar batasan-batasan dengan bergunjing, dan melakukan apa yang tidak diperbolehkan sesuai dengan hawa nafsunya. Dan betapa banyak yang telah kita amati dari orang-orang yang beragama bahwa mereka dalam perbuatannya tidak mengharapkan Allah Ta’ala! Dan bencana ini bertambah dan berkurang pada manusia.

Betapa banyak orang yang khusyuk agar dikatakan: “Ahli ibadah!” Dan yang diam agar dikatakan: “Orang yang takut (kepada Allah)!” Dan yang meninggalkan dunia agar dikatakan: “Zuhud!”

Maka orang yang benar-benar laki-laki adalah yang memelihara batasan-batasan Allah, yaitu apa yang diwajibkan kepadanya dan dibebankan kepadanya, dan memperbaiki niat, sehingga amal dan ucapannya murni untuk Allah Ta’ala, tidak menginginkan makhluk dan tidak mengharapkan pengagungan mereka kepadanya.

1410- Dan tanda orang yang ikhlas adalah bahwa dia dalam keadaan terbuka seperti dalam keadaan tersembunyi. Dan terkadang dia memaksakan diri di antara manusia untuk tersenyum dan bersikap ramah, agar hilang darinya julukan zuhud. Sesungguhnya Ibnu Sirin biasa tertawa di siang hari, namun ketika malam tiba, seolah-olah dia telah membunuh penduduk kampung.

Dan ketahuilah bahwa yang menjadi tujuan amal tidak menginginkan sekutu. Maka orang yang ikhlas menyendirikan diri untuk-Nya dengan niat, sedangkan orang yang riya telah mempersekutukan-Nya untuk mendapatkan pujian manusia. Dan itu akan berbalik, karena hati mereka berada di tangan Dzat yang dipersekutukan dengan-Nya, maka Dia akan membalikkan hati mereka melawan dia, bukan kepada dia.

Maka orang yang mendapat taufik adalah yang muamalahnya dengan batinnya, dan amal-amalnya ikhlas. Dan itulah yang dicintai manusia meskipun dia tidak mempedulikan mereka, sebagaimana mereka membenci orang yang riya meskipun dia menambah ibadahnya.

Kemudian sesungguhnya orang yang memiliki sifat-sifat ini tidak berhenti dari kesempurnaan ilmu, dan tidak berkurang dalam mencari keutamaan. Maka dia memenuhi waktu dengan sebanyak-banyaknya kebaikan yang bisa dia tampung, dan hatinya tidak berhenti dari amal hati, hingga kesibukannya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi pekerjaannya.

Fasal 322: Cinta Nama Baik

1411- Aku melihat orang-orang yang berlebihan dalam agama mereka, kemudian mereka berkata: “Bawalah kami jika kami mati ke makam Ahmad.” Apakah mereka tidak mendengar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam “menolak untuk menshalatkan orang yang memiliki hutang” dan orang yang mencuri ghanimah, dan beliau bersabda: “Tidak bermanfaat baginya shalatku atasnya”?

1412- Dan sungguh aku telah melihat sekelompok ulama yang cinta nama baik mendorong mereka untuk meminta izin dari penguasa, lalu mereka dikubur di tempat tinggi Ahmad bin Hanbal, padahal mereka tahu bahwa di sana ada makhluk yang tulang-belulang sebagian mereka berada di atas sebagian yang lain, dan tidak ada di antara mereka kecuali yang tahu bahwa mereka tidak layak untuk dekat dengan yang seperti itu! Mana sikap merendahkan diri?! Apakah mereka tidak mendengar bahwa kepada Umar bin Abdul Aziz dikatakan: “Apakah engkau akan dikubur di kamar?” Maka dia berkata: “Sungguh aku bertemu Allah dengan setiap dosa -kecuali syirik- lebih aku sukai daripada aku melihat diriku layak untuk itu”?!

Akan tetapi kebiasaan dan cinta kepemimpinan telah mengalahkan mereka, maka tinggallah ilmu mengalir di lisan sebagai kebiasaan, bukan untuk diamalkan.

1413- Kemudian urusan berakhir kepada sekelompok orang yang bergaul dengan para penguasa dan melakukan kezaliman, mereka berebut untuk dikubur di makam Ahmad, dan mereka berwasiat dengan itu!!

Seandainya mereka berwasiat untuk dikubur di tempat yang kosong; mereka hanya dikubur di atas orang-orang mati, dan tulang-tulang mereka dikeluarkan, maka mereka dibangkitkan dengan kezaliman yang mereka lakukan, bahkan dalam kematian mereka. Dan mereka lupa bahwa mereka adalah para pembantu orang-orang zalim. Apakah mereka tidak tahu bahwa pembantu kezaliman adalah zalim?! Dan dalam hadits: “Cukuplah bagi seseorang sebagai pengkhianatan bahwa dia menjadi orang terpercaya bagi para pengkhianat.”

Sipir penjara berkata kepada Ahmad bin Hanbal: “Apakah aku termasuk pembantu orang-orang zalim?” Maka dia berkata: “Tidak, kamu adalah orang zalim; sesungguhnya pembantu orang-orang zalim adalah yang membantumu dalam suatu urusan.”

Fasal 323: Manusia Diciptakan Beserta Hasad

1414- Aku melihat manusia mencela orang yang hasad dan berlebihan, mereka berkata: “Tidak ada yang hasad kecuali orang jahat yang memusuhi nikmat Allah, tidak ridha dengan takdir-Nya, dan kikir kepada saudaranya sesama muslim.” Maka aku memperhatikan hal ini, dan aku tidak melihatnya sebagaimana yang mereka katakan.

Dan itu karena sesungguhnya manusia tidak boleh ada yang naik di atasnya; jika dia melihat temannya telah naik di atasnya, dia terpengaruh dan tidak suka temannya naik di atasnya, dan dia berharap temannya tidak mendapat apa yang dia dapat, atau dia mendapat apa yang temannya dapat, agar temannya tidak naik di atasnya. Dan ini tercampur dalam tabiat, dan tidak ada celaan atas itu; sesungguhnya celaan adalah jika dia mengamalkannya dengan ucapan atau perbuatan.

Dan aku mengira bahwa ini telah terjadi padaku karena penelitian dan pengamatanku; maka aku melihat hadits dari Hasan Al-Bashri telah mendahuluiku kepadanya. Dia berkata: Abdul Khaliq bin Abdul Shamad mengabarkan kepada kami, dia berkata: Ibnu An-Nuqur mengabarkan kepada kami, dia berkata: Al-Mukhlis mengabarkan kepada kami, dia berkata: Al-Baghawi menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Ruh menceritakan kepada kami, dia berkata: Mukhlad bin Al-Husain menceritakan kepada kami, dari Hisyam, dari Hasan, dia berkata: “Tidak ada seorang pun dari anak Adam kecuali hasad diciptakan bersamanya, maka barangsiapa yang tidak melampaui itu dengan ucapan atau perbuatan, tidak ada yang mengikutinya.”

Fasal 324: Bahaya Terbesar adalah Banyak Istri

1415- Di antara bahaya terbesar yang masuk kepada manusia adalah banyak istri.

Sesungguhnya pertama-tama pikirannya akan terpecah dalam mencintai mereka, menjaga perasaan mereka, cemburu mereka, dan menafkahi mereka. Dan dia tidak aman dari salah satu mereka yang akan membencinya dan menginginkan yang lain, maka dia tidak akan terlepas kecuali dengan membunuhnya! Dan seandainya dia selamat dari semua itu, dia tidak akan selamat dalam mencari nafkah untuk mereka. Jika dia selamat, dia tidak akan selamat dari kebosanan kepada mereka atau sebagian mereka, kemudian dia mencari apa yang tidak mampu dia lakukan dari yang lain; bahkan seandainya dia mampu dengan semua wanita Baghdad, lalu datang seorang wanita tertutup dari luar kota, dia mengira bahwa dia akan mendapat pada wanita itu apa yang tidak ada pada mereka!

Demi umurku, sesungguhnya dalam yang baru ada kelezatan, akan tetapi, betapa banyak yang tersembunyi jika terbuka akan memalukan.

Dan seandainya dia selamat dari setiap gangguan yang berkaitan dengan mereka, badannya akan lelah dalam bersetubuh, maka pencarian kenikmatannya akan menghalangi dari kesinambungan kenikmatan. Betapa banyak suapan yang menghalangi suapan-suapan! Dan betapa banyak kenikmatan yang menjadi sebab terputusnya kenikmatan-kenikmatan!!

1416- Dan orang yang berakal adalah yang membatasi diri pada satu istri, jika dia sesuai dengan tujuannya. Dan tidak mungkin tidak ada padanya sesuatu yang tidak sesuai; sesungguhnya amal berdasarkan yang dominan, maka sifat buruk dimaafkan untuk yang baik.

Dan sepatutnya pandangan kepada pintu agama sebelum melihat kepada kecantikan; karena jika agama kurang, orang yang memiliki muru’ah tidak akan mendapat manfaat dari wanita itu.

1417- Dan di antara yang menghancurkan orang tua dengan cepat adalah bersetubuh, maka janganlah tertipu dengan apa yang dia lihat dari kesiapan alat dan terjadinya syahwat; karena itu diambil dari kekuatannya, yang tidak akan kembali seperti itu. Maka tidak sepatutnya tertipu dengan gerakan dan syahwat, dan tidak mendekati wanita, jika dia memiliki pendapat untuk tetap hidup.

BAB 325: Orang yang Sedikit Akalnya Tidak Dapat Diharapkan Kebaikannya

1418 – Jika engkau melihat seseorang yang sedikit akalnya secara alamiah, maka jangan berharap kebaikan darinya! Adapun jika dia memiliki akal yang cukup, tetapi hawa nafsunya mengalahkannya, maka berharaplah kepadanya! Tanda-tandanya adalah dia mengatur urusannya dalam kebodohannya, dia menyembunyikan diri dari orang-orang ketika berbuat keji, dia memperhatikan dalam beberapa keadaan, dia menangis ketika dinasihati, dan dia menghormati ahli agama. Ini adalah orang berakal yang dikalahkan oleh hawa nafsu. Jika dia tersadar dengan penyesalan, setan hawa nafsu akan mundur, dan malaikat akal akan datang.

1419 – Adapun jika seseorang sedikit akalnya secara alamiah – tandanya adalah dia tidak mempertimbangkan akibat yang dekat maupun yang jauh, tidak malu kepada orang-orang jika mereka melihatnya berbuat keji, dan tidak mengatur urusan dunianya – maka orang seperti itu jauh dari harapan. Terkadang ada di antara mereka yang berhasil, penyebabnya adalah adanya benih akal yang tertutup oleh hawa nafsu, kemudian terbuka sedikit untuk kembali. Mereka seperti orang yang kesurupan lalu sadar.

BAB 326: Mempertimbangkan Akibat adalah Urusan Orang Berakal

1420 – Sepatutnya berhati-hati dari segala sesuatu yang mungkin terjadi, dan tidak sepatutnya berkata: “Umumnya selamat.” Kita telah melihat orang yang naik kapal bersama kuda-kuda, lalu kapal berguncang dan tenggelam bersama penumpangnya, meskipun umumnya perjalanan seperti itu selamat.

1421 – Sepatutnya manusia mengatur pengeluarannya, meskipun dia melihat dunia sedang baik, karena kemungkinan dunia itu terputus. Kebutuhan jiwa harus dipenuhi, jika dia boros di waktu lapang, ketika datang masa sempit, dia tidak aman dari masuk ke jalan-jalan buruk dan meminta-minta kepada orang. Demikian pula sepatutnya orang sehat bersiap untuk sakit, dan orang kuat bersiap untuk tua.

1422 – Secara keseluruhan, mempertimbangkan akibat dan apa yang mungkin terjadi adalah urusan orang berakal. Adapun hanya memandang keadaan saat ini saja, itu adalah keadaan orang bodoh dan dungu. Seperti melihat dirinya sehat lalu melupakan sakit, atau kaya lalu melupakan miskin, atau melihat kesenangan sesaat lalu melupakan apa yang ditimbulkan akibatnya. Akal tidak memiliki kesibukan lain selain mempertimbangkan akibat, dan akal menunjukkan kebenaran dari mana datangnya.

BAB 327: Iman Mukmin Tampak Ketika Diuji

1423 – Iman mukmin tampak ketika diuji. Dia bersungguh-sungguh dalam berdoa, tidak melihat tanda-tanda dikabulkan, namun harapan dan rajanya tidak berubah, meskipun sebab-sebab putus asa menguat. Karena dia tahu bahwa Yang Haq lebih tahu tentang kemaslahatan, atau karena yang dimaksud darinya adalah kesabaran atau keimanan. Dia tidak diuji kecuali karena Dia menginginkan penyerahan dari hati, untuk melihat bagaimana kesabarannya, atau menginginkan banyak berlindung dan berdoa.

1424 – Adapun orang yang menginginkan doanya segera dikabulkan dan mengeluh jika tidak segera dikabulkan, maka imannya lemah. Dia merasa memiliki hak untuk dikabulkan, seolah-olah menagih upah amalnya.

1425 – Tidakkah engkau mendengar kisah Yakub AS, dia tetap dalam cobaan selama delapan puluh tahun, harapannya tidak berubah. Ketika kehilangan Yusuf ditambah dengan kehilangan Bunyamin, harapannya tidak berubah. Dia berkata: “Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan mereka semua kepadaku” (QS. Yusuf: 83).

1426 – Makna ini dijelaskan oleh firman Allah: “Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan berbagai cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat” (QS. Al-Baqarah: 214).

Diketahui bahwa ini tidak keluar dari Rasul SAW dan orang-orang mukmin kecuali setelah cobaan yang lama dan hampir putus asa dari kelapangan. Dari sini sabda Rasulullah SAW: “Seorang hamba tetap dalam kebaikan selama dia tidak tergesa-gesa.” Ditanya: “Apa maksud tergesa-gesa?” Beliau menjawab: “Dia berkata: ‘Aku telah berdoa tetapi tidak dikabulkan.'”

Maka berhati-hatilah jangan sampai engkau menganggap lama masa cobaan dan bosan karena banyak berdoa. Sesungguhnya engkau diuji dengan cobaan, diperintahkan untuk sabar dan berdoa. Jangan berputus asa dari rahmat Allah, meskipun cobaan berlangsung lama.

BAB 328: Kenikmatan Dunia Mengandung Kekeruhan

1427 – Aku merenung tentang sebab masuk neraka, ternyata adalah kemaksiatan. Aku lihat kemaksiatan, ternyata terjadi karena mencari kenikmatan. Aku lihat kenikmatan, ternyata adalah tipuan yang bukan apa-apa. Di dalamnya ada kekeruhan yang membuatnya menjadi pahit, sehingga keluar dari kenikmatan. Bagaimana mungkin orang berakal mengikuti nafsunya dan rela dengan neraka karena kekeruhan ini?!

1428 – Di antara kenikmatan adalah zina. Jika tujuannya adalah menumpahkan air, maka bisa ditumpahkan dalam yang halal. Jika dalam kekasih, maka keinginan jiwa adalah kekal bersama kekasih. Jika dia memilikinya, yang dimiliki akan membosankan. Jika dia mendekatinya sebentar lalu berpisah, maka sedih perpisahan melebihi nikmat kedekatan. Jika dari zina itu lahir anak, maka aib yang kekal, hukuman yang sempurna, dan menundukkan kepala di hadapan Khaliq dan makhluk.

Adapun orang bodoh, dia melihat kenikmatan dalam mencapai tujuan itu, dan melupakan apa yang ditimbulkannya yang mengotori kehidupan dunia dan akhirat.

1429 – Di antaranya minum khamar, karena itu mengotori mulut dan pakaian, menjauhkan akal, dan pengaruhnya diketahui oleh Khaliq dan makhluk. Mengherankan orang yang memilih kesenangan sesaat yang mendatangkan hukuman dan hilangnya kehormatan! Bahkan mungkin keluar dengan kerusuhan sampai membunuh!!

1430 – Begitu juga semua yang dimakan. Jika kenikmatan itu ditimbang dengan timbangan akal, tidak sebanding dengan sepersepuluh dari sepersepuluh akibat buruknya di dunia dan akhirat. Kemudian kenikmatan itu sendiri tidak banyak. Bagaimana akhirat dijual dengan seperti ini?!

1431 – Maha Suci Allah yang memberi nikmat kepada suatu kaum, setiap kali tampak bagi mereka suatu kenikmatan, mereka memasang timbangan akal, melihat apa yang ditimbulkannya, dan memandang apa yang dihasilkan meninggalkannya, lalu memilih yang lebih baik. Dan menutupi hati-hati lain, sehingga mereka melihat bentuk sesuatu dan melupakan kejahatan-kejahatannya.

1432 – Yang mengherankan, kita melihat orang yang menjauhi istrinya padahal dia muda, untuk berlari di jalan, lalu dikatakan: “Pelari!” Hawa nafsunya mengalahkan untuk mencari yang lebih tinggi, yaitu pujian. Bagaimana dia tidak meninggalkan yang haram untuk dipuji di dunia dan akhirat?!

1433 – Kemudian bayangkan tercapainya apa yang dicari dari kenikmatan dan hilangnya, dan anggap bahwa itu telah terjadi dan telah hina, dan terlepas dari cobaan-cobaannya.

Di mana engkau dari yang lain?! Di mana lelahnya seorang alim yang telah belajar ilmu lima puluh tahun?! Lelahnya hilang, ilmu didapat. Di mana kesenangan orang yang menganggur?! Kesenangan hilang, menyisakan penyesalan.

BAB 329: Siapa yang Mengikuti Akal akan Selamat

1434 – Siapa yang berdiri pada keinginan indera akan binasa, dan siapa yang mengikuti akal akan selamat. Karena indera semata tidak melihat kecuali yang hadir, yaitu dunia. Adapun akal, dia melihat makhluk-makhluk, lalu tahu adanya Pencipta yang melarang dan membolehkan, melepas dan menghalangi, dan memberitahu: “Aku akan bertanya kepada kalian dan menguji kalian, agar tampak dalil keberadaan-Ku pada kalian, dengan meninggalkan apa yang kalian inginkan, sebagai ketaatan kepada-Ku, dan Aku telah membangun untuk kalian rumah selain ini, untuk memberi pahala kepada yang taat dan menghukum yang menentang.”

1435 – Kemudian seandainya meninggalkan indera dan apa yang diinginkannya dengan tujuan-tujuannya, perkara akan dekat! Dia berzina lalu dicambuk, minum khamar lalu dihukum, mencuri lalu dipotong, berbuat kesalahan lalu dipermalukan di antara makhluk, meninggalkan ilmu untuk menganggur lalu menyesal ketika terjadi kebodohan.

1436 – Kemudian kita lihat banyak orang yang bekerja sesuai akalnya, dunia dan akhiratnya selamat, dibedakan di antara makhluk dengan penghormatan, dan kehidupannya dalam kenikmatan umumnya lebih baik dari kehidupan yang sesuai dengan hawa nafsu. Maka hendaklah orang yang berakal mengambil pelajaran dari apa yang kukatakan, dan bekerja sesuai dalil, maka dia akan selamat.

BAB 330: Mengherankan Orang yang Memilih Syahwat Dunia

1437 – Mengherankan orang yang memilih syahwat dunia! Tidakkah dia merenungkan perkaranya dengan akal, sebelum sampai pada dalil-dalil syariat?! Sesungguhnya kenikmatan indera yang paling besar adalah jimak. Wanita yang cantik, masa kesempurnaannya hanya dari waktu baligh sampai tiga puluh tahun. Jika mencapainya, akan berpengaruh padanya, bahkan mungkin memutih beberapa rambut kepalanya, sehingga manusia menjauh darinya. Mungkin terjadi kebosanan sebelum itu, dan lamanya bergaul membuka aib-aib. Tidak ada celaan terhadap wanita dunia yang lebih jelas dari firman-Nya: “Dan di sana mereka mempunyai istri-istri yang suci” (QS. Al-Baqarah: 25). Seandainya manusia memikirkan tubuh yang penuh dengan najis, tidak akan enak memeluknya, tetapi syahwat menutupi mata pikiran.

1438 – Orang berakal adalah yang menjaga agama dan kemuliaan dengan meninggalkan haram, menjaga kekuatan dalam halal, membelanjakannya untuk mencari keutamaan dari ilmu atau amal, dan tidak berusaha menghabiskan umur serta menyebarkan hati dalam sesuatu yang tidak baik akibatnya.

Tidak ada dalam kemah-kemah kalian pengganti jiwaku Jika aku mati rindu dan tidak ada harga baginya

1439 – Umumnya orang-orang besar yang kita lihat dikuasai syahwat jimak, umur mereka hancur, mereka pergi dengan cepat. Kita lihat di antara orang berakal yang menahan diri dari cobaan ini, tidak menggunakannya kecuali saat perlu, sehingga tetap hitam rambut dan kuat mereka, sampai menikmatinya dalam kehidupan, mendapat kemuliaan, dan jiwa-jiwa mengenal dari mereka kekuatan tekad, sehingga tidak menuntut mereka dengan yang menyakiti.

BAB 331: Melihat Nabi SAW dalam Mimpi

1440 – Sebagian orang bingung tentang melihat Nabi SAW dan sabdanya: “Siapa yang melihatku dalam mimpi, maka dia telah melihatku.” Dia berkata: Zahir hadits menunjukkan bahwa dia melihatnya secara hakiki! Padahal di antara orang ada yang melihatnya tua, muda, sakit, dan sehat! Jawabannya: Siapa yang mengira bahwa jasad Rasulullah SAW yang disimpan di Madinah keluar dari kubur dan hadir di tempat dia melihatnya, maka ini kebodohan yang tidak ada yang menyerupainya. Dia bisa dilihat pada waktu yang sama di tempat berbeda?! Yang dilihat adalah mitsalnya (gambaran spiritual) bukan orangnya. Maka “siapa yang melihatku.. maka dia telah melihatku” artinya: telah melihat mitsalku, yang dikenali oleh kebenaran, dan diperoleh manfaat yang diinginkan.

1441 – Jika dikatakan: Apa pendapat kalian tentang melihat Allah SWT?! Maka kukatakan: Dia melihat mitsal bukan misal. Mitsal tidak memerlukan persamaan dan kemiripan, sebagaimana firman Allah: “Dia menurunkan air dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya” (QS. Ar-Ra’d: 17), lalu dijadikan-Nya sebagai perumpamaan Al-Quran dan manfaat makhluk darinya.

Yang menjelaskan ini adalah bahwa yang melihat Allah SWT hanya melihat-Nya dalam bentuk tertentu, sedangkan Allah SWT Maha Suci, Maha Esa, maka jelaslah apa yang kita katakan.

  1. Fasal yang Sangat Bermanfaat: Ilmu Itu Banyak dan Umur Itu Pendek
  2. Ketahuilah bahwa seandainya umur diperpanjang, aku tidak akan melarang untuk mendalami setiap ilmu hingga ujungnya. Namun umur itu pendek dan ilmu itu banyak. Maka sebaiknya seseorang membatasi bacaannya setelah menghafal Al-Quran pada sepuluh qiraat saja, dan dari hadis hanya pada kitab-kitab shahih, sunan, dan musnad yang telah tersusun. Sebab ilmu hadis telah berkembang melebihi batas, sedangkan matannya terbatas, hanya sanad-sanadnya saja yang berbeda.

Ilmu hadis saling berkaitan satu sama lain dan menarik, namun para fuqaha menyebutnya “ilmu orang malas” karena mereka sibuk menuliskan dan mendengarkannya, tetapi hampir tidak berusaha menghafalnya, sehingga terlewatkan yang penting, yaitu fiqih.

Para muhaddits dahulu adalah juga fuqaha, kemudian fuqaha tidak mengetahui hadis, dan muhaddits tidak mengetahui fiqih! Barangsiapa yang memiliki semangat tinggi dan memberikan nasihat untuk dirinya, hendaklah ia sibuk dengan yang penting dari setiap ilmu, dan menjadikan fiqih sebagai kesibukan utamanya, karena ia adalah ilmu yang paling agung dan paling penting.

  1. Abu Zur’ah berkata: Abu Tsaur menulis kepadaku: “Sesungguhnya hadis ini telah diriwayatkan oleh sembilan puluh delapan orang dari Rasulullah saw, dan yang shahih darinya hanya jalur yang sedikit.” Maka kesibukan dengan yang tidak shahih akan menghalangi kesibukan dengan yang lebih penting.

Seandainya umur diperpanjang, mempelajari semua jalur dalam semua hadis akan menjadi puncak kebaikan, tetapi umur itu pendek.

  1. Ketika Yahya bin Ma’in sibuk dengan jalur-jalur hadis, ia melewatkan banyak fiqih, hingga ketika ditanya tentang wanita haid: “Bolehkah ia memandikan mayit?” ia tidak tahu, sampai Abu Tsaur datang dan berkata: “Boleh, karena Aisyah ra berkata: ‘Aku biasa menyisir rambut Rasulullah saw sementara aku sedang haid.'” Yahya lebih mengetahui hadis daripadanya, tetapi ia tidak sibuk memahaminya.
  2. Maka aku melarang ahli hadis agar banyaknya jalur tidak menyibukkan mereka. Di antara hal yang paling buruk adalah ketika terjadi suatu peristiwa, ditanyakan kepada seorang syaikh yang telah menulis hadis selama enam puluh tahun, namun ia tidak mengetahui hukum Allah Azza wa Jalla dalam masalah tersebut! Demikian pula aku melarang orang yang sibuk dengan zuhud dan mengasingkan diri dari manusia untuk berpaling dari ilmu. Bahkan sebaiknya ia memberikan bagian untuk dirinya darinya, agar ia tahu jika tergelincir bagaimana cara keluar dari masalah.
  3. Fasal: Orang Berakal dan Berilmu Berjalan dengan Dua Teman: Ilmu dan Akal
  4. Mengenal Allah Subhanahu tidak diperoleh kecuali oleh orang yang sempurna akalnya dan sehat temperamennya, dan naik ke tingkat mencintai-Nya adalah dengan itu.

Sesungguhnya ada kaum yang akalnya kurang dan temperamennya rusak, makanan mereka buruk dan sedikit, maka terbayanglah bagi mereka khayalan-khayalan yang rusak. Mereka mengaku mengenal Haq dan mencintai-Nya, padahal mereka tidak memiliki ilmu yang mencegah mereka dari klaim tersebut, maka mereka binasa.

  1. Hendaklah diketahui bahwa di antara makanan ada yang menyebabkan kerusakan akal, dan ada yang menambah empedu hitam sehingga menyebabkan melankolia. Kau akan melihat pemiliknya suka menyendiri dan lari dari manusia. Ia mungkin mengurangi makanan sehingga penyakitnya bertambah parah, lalu terbayang khayalan yang ia anggap sebagai kebenaran. Di antara mereka ada yang berkata: “Aku melihat malaikat!” Dan di antara mereka ada yang sampai mengklaim mencintai Haq dan tergila-gila padanya, padahal hal itu bukan berdasarkan dasar yang dapat diandalkan.
  2. Sesungguhnya orang yang berakal dan berilmu berjalan di jalan dengan dua teman: ilmu dan akal. Jika ia mengurangi makanan, maka dengan akal. Batas pengurangan adalah meninggalkan kelebihan makanan dan apa yang dikhawatirkan keburukannya karena syubhat atau syahwat yang dikhawatirkan akan menjadi kebiasaan. Adapun mengurangi secara berlebihan padahal mampu, maka itu bukan karena akal maupun syariat, kecuali jika kemiskinan merata sehingga terpaksa mengurangi.
  3. Barangsiapa merenungkan keadaan Rasulullah saw dan para sahabatnya, akan mendapati mereka mengambil secukupnya dan tidak meninggalkan hak-hak jiwa yang memperbaikinya. Perkara yang paling baik dan paling adil adalah sabda Rasulullah saw: “Sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk nafas.” Beliau berkata kepada Ali bin Abi Thalib ra ketika sakit: “Makanlah dari makanan ini, karena lebih cocok untukmu daripada yang itu.”

Rasulullah saw biasa bermusyawarah dengan dokter, berbekam, menganjurkan pengobatan, dan bersabda: “Allah tidak menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan obatnya, maka berobatlah.”

  1. Lalu datang kaum yang tidak mengetahui ilmu dan hikmah dalam membangun badan. Di antara mereka ada yang tinggal di gunung memakan buah ek sehingga terkena sakit perut, dan di antara mereka ada yang hanya makan kacang dan gandum. Perbuatan ini menyebabkan penyakit pada badan dan naik ke tingkat merusak akal.

Kebetulan mereka kurang ilmu. Seandainya mereka berilmu, mereka akan memahami bahwa hikmah melarang hal seperti ini. Sebab badan dibangun atas campuran, jika seimbang akan mendatangkan kesehatan, dan jika sebagiannya berlebihan akan terjadi penyakit. Kebanyakan mereka sakit dan kematian mereka dipercepat. Di antara mereka ada yang sampai menghitam, dan di antara mereka ada yang tampak baginya bayangan-bayangan lalu mengklaim melihat malaikat, dan lain sebagainya.

  1. Adapun ahli ilmu dan akal, mereka lari dari makhluk karena takut bermaksiat, melihat kemungkaran. Di antara mereka ada yang marifatnya menguat sehingga mengenal Haq dan mencintai-Nya menyibukkannya dari bertemu makhluk.

Inilah khalwat (penyendirian) yang bersih, karena keluar dari ilmu dan akal, maka menjaga badan karena ia adalah unta yang mengantarkan.

  1. Tidak sepatutnya meremehkan makanan, terutama bagi yang tidak terbiasa hidup keras, dan jangan memakai wol pada badan bagi yang tidak terbiasa. Lihatlah jalan Rasulullah saw dan para sahabatnya, karena mereka adalah teladan. Jangan menoleh kepada cerita-cerita pinggir jalan yang mengatakan: “Si fulan zahid pernah makan tanah! Si fulan biasa berjalan tanpa alas kaki! Si fulan tidak makan selama sebulan!” Sebab yang tahqiq di antara orang-orang yang ikhlas kepada Allah Ta’ala berada di luar jalan yang benar, karena jalan yang benar adalah mengikuti Rasulullah saw dan para sahabatnya, dan apa yang biasa mereka lakukan.

Ini, demi umurku, sesungguhnya di antara mereka ada yang puas dengan sedikit susu yang dicampur air dan sabar berhari-hari tanpa makanan, tetapi itu karena terpaksa atau karena sudah terbiasa, sebagaimana orang badui terbiasa minum susu saja dan itu tidak membahayakannya. Dalam hadis: “Biasakan setiap badan dengan apa yang sudah biasa.”

  1. Di antara orang-orang zahid ada yang mengeluarkan semua hartanya karena zuhud. Diketahui bahwa kebutuhan tidak akan habis. Ketika ia membutuhkan, ia meminta-minta dan membutuhkan mengambil harta dari tangan orang yang diketahuinya zalim, dan merendahkan wajahnya!

Padahal para sahabat berdagang dan menjaga harta. Orang-orang zahid yang bodoh mengira mengumpulkan harta bertentangan dengan zuhud!

  1. Kesimpulan fasal ini adalah: sebaiknya orang yang dikaruniai pemahaman berusaha memperbaiki badannya, tidak membebankan padanya apa yang menyakitinya, tidak memberinya makanan yang tidak cocok, tidak menyia-nyiakan hartanya, dan bersungguh-sungguh mengembangkannya agar tidak membutuhkan. Sebab tidak ada zahid yang munafik kecuali karena dunia. Lihatlah perjalanan orang-orang sempurna dari salaf, sibukkan diri dengan ilmu karena ia adalah dalil. Maka saat itu perkara akan membawanya kepada khalwat dengan Rabbnya dan sibuk dengan kecintaan kepada-Nya, sehingga apa yang tampak darinya adalah buah yang matang, bukan mentah. Allah yang memberi taufik.
  2. Fasal: Ketika Batinmu Lurus, Maka Urusan-Urusan akan Lurus Untukmu
  3. Aku tidak melihat yang lebih mengherankan daripada permainan dunia dengan akal-akal. Kita telah mendengar dan melihat sekelompok orang cerdas yang sempurna akalnya, dunia bermain dengan mereka hingga mereka menjadi seperti orang gila. Mereka memegang jabatan, lalu keluar untuk membunuh, memukul, memenjarakan, mencaci, menghilangkan agama, dan terlibat langsung dalam semua kezaliman, karena dunia yang akan cepat hilang, dan selama masa tinggalnya tercampur dengan kesusahan.
  4. Wahai orang yang dikaruniai akal! Jangan meremehkan haknya dan jangan memadamkan cahayanya. Dengarlah apa yang kami tunjukkan, dan jangan menoleh kepada tangisan anak kecil tabiat karena tidak tercapai tujuannya. Jika kau mengasihani tangisannya, kau tidak akan mampu menyapihnya dan tidak dapat mendidiknya, sehingga ia tumbuh menjadi bodoh dan miskin:

“Jangan lalai dari mendidik anak kecil Meski ia mengeluh sakit lelah Biarkan orang dewasa dengan urusannya Orang dewasa terlalu besar untuk dididik”

  1. Ketahuilah bahwa masa ujian adalah tamu, hidangannya adalah sabar. Sebagaimana Ahmad bin Hanbal berkata: “Hanyalah makanan yang kurang dari makanan, dan pakaian yang kurang dari pakaian, dan hanyalah beberapa hari saja.” Jangan melihat kenikmatan orang-orang yang bermewah-mewah, lihatlah akibat mereka. Jangan sempit dada karena sempitnya penghidupan, hibur unta dengan nyanyian pengiring:

“Panjangkan malam bersamanya, apakah bintang condong atau miring Dan tunda tidur, apakah kelopak mata pelit atau dermawan Jika ia mengeluh maka hiburlah dengan cahaya fajar Dan janjikan perjalanan pada pagi hari”

  1. Ahmad bin Hanbal pernah diberi hadiah lalu ia menolaknya. Kemudian setelah setahun ia berkata kepada anak-anaknya: “Seandainya kita menerimanya, pasti sudah hilang.”
  2. Bisyr melewati sumur, temannya berkata: “Aku haus.” Ia berkata: “Sumur yang lain.” Mereka melewatinya, ia berkata: “Yang lain,” kemudian berkata: “Begitulah cara memutus dunia.”
  3. Mereka masuk ke rumah Bisyr al-Hafi, tidak ada tikar di rumahnya. Dikatakan kepadanya: “Tidakkah ini menyakitimu?” Ia berkata: “Ini perkara yang akan berlalu.”
  4. Dawud at-Tha’i memiliki rumah tempat ia berlindung. Atapnya runtuh, ia pindah ke atap lain, hingga akhirnya mati di selasar. Mereka inilah yang memandang akibat-akibat perkara.
  5. Setelah ini, aku tidak menuntutmu pada tingkat ini, tetapi aku katakan kepadamu: jika kau memperoleh sesuatu dari yang halal, tanpa fitnah dan gangguan, tidak kau peroleh dengan meminta, bukan dari tangan orang zalim yang kau tahu hartanya haram atau syubhat, maka lapangkanlah dirimu dalam hal-hal yang halal sebatas yang kau butuhkan. Jadilah hemat dalam pengeluaran, tidak boros, karena yang halal tidak menahan pemborosan. Jika kau boros, kau akan butuh kepada makhluk dan mengambil dari yang keruh.
  6. Jika urusan sempit bagimu, bersabarlah. Jika sabar melemah, mintalah kepada Pembuka pintu-pintu, Dia Maha Pemurah, di sisi-Nya kunci-kunci gaib. Jangan sekali-kali kau jual agamamu dengan berlagak di depan makhluk atau mendekat kepada penguasa dan meminta-minta harta mereka. Ingatlah jalan salaf.
  7. Ibnu Sam’un memiliki pakaian yang ia pakai ketika duduk untuk orang-orang, kemudian ia lipat hingga majlis berikutnya. Ia mewarisinya dari ayahnya dan bertahan empat puluh tahun.
  8. Maimunah binti Syaqulah memberi nasihat kepada orang-orang, ia memiliki pakaian yang bertahan empat puluh tahun.
  9. Barangsiapa jernih pandangannya dan halus ucapannya, bermanfaat nasihatnya. Barangsiapa keruh, menjadi keruh baginya. Keadaan tinggi dalam hal ini adalah menghadapkan hati kepada Allah Azza wa Jalla, bertawakkal kepada-Nya, memandang kepada-Nya, dan mengalihkan hati dari makhluk. Jika kau butuh, mintalah kepada-Nya. Jika kau lemah, berharaplah kepada-Nya. Jika kau bergantung pada sebab-sebab, kau akan terputus dari-Nya. Jika batinmu lurus, urusan-urusan akan lurus untukmu.
  10. Fasal: Orang yang Benar Tidak Mencari Kecuali yang Paling Tinggi
  11. Aku melihat diriku merasa tenteram dengan teman-teman yang kami sebut sahabat. Aku meneliti mereka dengan pengalaman, ternyata kebanyakan mereka adalah orang-orang yang iri terhadap nikmat dan musuh. Mereka tidak menutupi kesalahan, tidak mengetahui hak teman duduk, dan tidak berbagi harta mereka untuk sahabat. Aku merenungkan perkara ini, ternyata Allah Subhanahu cemburu terhadap hati mukmin jika ia menjadikan sesuatu untuk ia merasa tenteram dengannya. Maka Dia mengotori dunia dan penghuninya bagi orang itu, agar ketentraman hatinya hanya dengan Dia.
  12. Maka sebaiknya menganggap semua makhluk sebagai kenalan, tidak ada di antara mereka yang benar-benar sahabat. Bahkan anggap mereka musuh. Jangan tunjukkan rahasiamu kepada makhluk mana pun dari mereka. Jangan menganggap orang yang cocok untuk masa sulit sebagai anak, saudara, atau sahabat. Berlakulah dengan mereka secara lahiriah saja, jangan bergaul kecuali dalam keadaan terpaksa dengan berhati-hati sebentar, kemudian menjauh dari mereka.

Hadapkan diri kepada urusanmu, bertawakkal kepada Penciptamu, karena tidak ada yang mendatangkan kebaikan selain Dia, dan tidak ada yang menolak keburukan kecuali Dia. Jadikan Dia teman duduk dan teman akrabmu, tempat tawakkal dan keluhanmu. Jika pandanganmu lemah, minta tolong kepada-Nya. Jika keyakinanmu sedikit, minta kekuatan kepada-Nya. Jangan sekali-kali condong kepada selain-Nya, karena Dia cemburu, dan jangan mengeluh dari takdir-Nya, karena mungkin Dia marah dan tidak memberi kesempatan.

  1. Allah Azza wa Jalla berwahyu kepada Yusuf as: “Siapa yang menyelamatkanmu dari sumur? Siapa yang berbuat? Siapa yang berbuat?” Ia berkata: “Engkau.” Allah berkata: “Lalu mengapa kau menyebut selain Aku? Sungguh akan Aku perpanjang penjaramu!” atau seperti itu.

Ini, padahal Yusuf as hanya berusaha dengan sebab yang halal: “Ingatlah aku di sisi tuanmu” (QS. Yusuf: 42). “Dan pada hari Hunain ketika kamu bangga dengan jumlah kamu yang banyak” (QS. At-Taubah: 25).

  1. Aku tidak mengetahui kehidupan kecuali bagi orang yang mengenal Allah “Jalla Sya’nuhu”, hidup bersama-Nya, dan beradab di hadapan-Nya dalam gerakan dan ucapannya seolah-olah ia melihat-Nya. Ia berdiri di pintu pandangannya sebagai penjaga dari pandangan yang tidak pantas, di pintu lisannya sebagai penjaga dari kata yang tidak baik, dan di pintu hatinya melindungi tempat tinggalnya dari masuknya orang lain. Ia merasa liar dari makhluk karena sibuk dengan Allah. Ini terjadi dengan cara orang-orang spiritual. Adapun yang mencampur-campur, kekeruhan menguasainya. Orang yang benar tidak mencari kecuali yang paling tinggi. Penyair berkata:

“Ketahuilah, aku tidak suka berjalan kecuali menanjak Dan tidak suka kilat kecuali jika dari Yaman”

  1. Fasal: Kesibukan dengan Bentuk Ilmu Tanpa Hakikat dan Tujuannya
  2. Aku melihat kebanyakan ulama sibuk dengan bentuk ilmu tanpa memahami hakikat dan tujuannya. Qari sibuk dengan riwayat-riwayat, tekun pada yang syaadz, mengira bahwa tujuannya adalah tilawah itu sendiri. Ia tidak memperhatikan keagungan Yang berbicara, tidak melihat ancaman dan janji Al-Quran. Mungkin ia mengira bahwa menghafal Al-Quran akan melindunginya, maka kau lihat ia berkeringanan dalam dosa-dosa. Padahal jika ia memahami, ia akan tahu bahwa hujjah atasnya lebih kuat daripada orang yang tidak membaca!

Muhaddits mengumpulkan jalur-jalur, menghafal sanad-sanad, tetapi tidak merenungkan tujuan yang dinukil. Ia mengira telah menjaga hadis-hadis untuk manusia, maka ia berharap selamat dengan itu. Mungkin ia berkeringanan dalam kesalahan dengan mengira bahwa apa yang ia lakukan untuk syariat akan melindunginya!

Faqih telah merasa bahwa dengan argumen yang ia ketahui untuk memperkuat pertengkarannya, atau masalah-masalah yang ia ketahui madzhab di dalamnya, ia telah memperoleh dengan apa yang ia fatwakan kepada manusia yang mengangkat derajatnya dan menghapus dosanya. Mungkin ia terjun ke dalam kesalahan dengan mengira hal itu akan melindunginya! Mungkin ia tidak menghafal Al-Quran dan tidak mengetahui hadis, padahal keduanya melarang kemungkaran dengan ancaman dan kelembutan. Ditambah lagi dengan ketidaktahuan terhadap keduanya, cinta kepemimpinan, dan lebih memilih menang dalam berdebat, sehingga bertambah keras hatinya!

Begitulah kebanyakan manusia, bentuk-bentuk ilmu bagi mereka adalah keahlian, maka hal itu memberikan mereka kesombongan dan kebodohan.

  1. Sebagian orang yang dapat dipercaya menceritakan tentang seorang syaikh yang menghabiskan umurnya dalam banyak ilmu, bahwa ia terfitnahdi akhir umurnya dengan kefasikan yang ia tekundan ia berterang-terangan dengan Allah dalam hal itu. Keadaannya menunjukkan bahwa ilmunya akan menolak keburukan apa yang ia lakukan dan tidak akan meninggalkan bekas! Ia seolah-olah telah memastikan keselamatan untuk dirinya, sehingga tidak terlihat padanya bekas ketakutan atau penyesalan atas dosa!!

Perawi berkata: Ia berubah di akhir umurnya dan kemiskinan melekat padanya. Ia mengalami kesulitan tetapi tidak berhenti dari keburukan keadaannya, hingga suatu hari dikumpulkan untuknya beberapa qirath dengan cara meminta-minta. Ia malu karenanya dan berkata: “Ya Rabb! Sampai tingkat ini?!” Perawi berkata: Aku heran dengan kelalpaannya, bagaimana ia melupakan Allah Azza wa Jalla dan mengharapkan dari-Nya pengaturan yang baik, penjagaan, dan kelapangan rezki?! Seolah-olah ia tidak mendengar firman Allah Ta’ala: “Dan sekiranya mereka tetap istiqamah di atas jalan itu (agama Islam), pasti Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak)” (QS. Al-Jin: 16), dan tidak tahu bahwa maksiat menutup pintu-pintu rezki, dan barangsiapa menyia-nyiakan perintah Allah, Allah akan menyia-nyiakannya?! Aku tidak melihat ilmu yang tidak bermanfaat seperti ilmu orang ini, karena jika ulama tergelincir ia akan patah, sedangkan orang ini bersikeras, tidak merasa sakit karena maksiatnya, seolah-olah boleh baginya apa yang ia lakukan, atau ia memiliki otoritas dalam agama untuk menghalalkan dan mengharamkan. Ia segera sakit dan mati dalam keadaan yang paling buruk.

  1. Perawi berkata: Aku melihat syaikh lain yang memperoleh bentuk-bentuk ilmu tetapi tidak bermanfaat baginya. Kefasikan apa saja yang mungkin ia lakukan, ia tidak menghindarinya. Perkara apa saja yang tidak ia sukai dari takdir, ia tentang dengan menentang Yang menakdirkan dan mencela. Ia hidup dengan kehidupan yang paling keruh dan keyakinan yang paling buruk, hingga ia mati.
  2. Mereka ini tidak memahami makna ilmu. Ilmu bukan bentuk-bentuk lafaz, tetapi tujuannya adalah memahami yang dimaksud darinya. Hal itu akan mewariskan khasyah dan takut, menunjukkan pemberian dari Yang memberi ilmu, dan kekuatan hujjah bagi-Nya atas pelajar.

Kami memohon kepada Allah Azza wa Jalla keterjagaan yang membuat kami memahami tujuan dan mengenal Yang disembah. Kami berlindung kepada Allah dari jalan orang-orang awam yang menyebut diri ulama, tidak dilarang oleh apa yang mereka bawa, mengetahui tetapi tidak mengamalkan, sombong kepada manusia dengan apa yang tidak mereka amalkan, mengambil upah yang rendah padahal mereka dilarang dari apa yang mereka ambil. Tabiat mereka menguasai mereka, dan ilmu yang mereka pelajari tidak mendidik mereka. Mereka lebih hina keadaannya daripada orang awam yang tidak tahu. “Mereka mengetahui yang lahir dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai” (QS. Ar-Rum: 7).

Bab 337: Seorang ahli fiqih hendaklah mempelajari sedikit dari setiap bidang ilmu

1475

Seorang ahli fiqih hendaklah mempelajari sedikit dari setiap bidang ilmu: dari sejarah, hadis, bahasa, dan lain sebagainya; karena sesungguhnya fiqih membutuhkan semua cabang ilmu, maka hendaklah ia mengambil bagian penting dari setiap ilmu tersebut.

1476

Sungguh aku telah melihat sebagian ahli fiqih berkata: “Shibli dan Syarik al-Qadhi pernah bertemu!” Maka aku heran kepadanya! Bagaimana ia tidak mengetahui rentang waktu yang jauh di antara keduanya?! Dan berkata yang lain dalam perdebatan: “Ikatan pernikahan antara Fatimah dan Ali radiyallahu ‘anhuma tidak terputus hukumnya; karena itulah ia memandikannya!” Maka aku berkata kepadanya: “Celaka engkau! Bukankah Ali telah menikahi Umamah binti Zainab, yang merupakan putri saudara perempuan Fatimah!” Maka terputuslah argumentasinya.

1477

Dan aku melihat dalam kitab “Ihya Ulum al-Din” karya al-Ghazali dari hal seperti ini yang mengherankan berupa kekacauan dalam hadis-hadis dan sejarah, maka aku kumpulkan kesalahan-kesalahannya dalam sebuah kitab.

Dan ia telah menyebutkan dalam kitabnya yang ia namai “al-Mustadhhiri” yang ia persembahkan kepada al-Mustadhhir Billah: bahwa Sulaiman bin Abdul Malik mengirim utusan kepada Abu Hazim; lalu berkata kepadanya: “Kirimkanlah kepadaku dari makanan berbukamu!” Maka ia mengirimkan dedak yang digoreng, lalu ia berbuka dengan itu, kemudian menggauli istrinya, lalu lahirlah Abdul Aziz, kemudian lahir pula Umar!! Dan ini adalah kekacauan yang buruk, karena ia menjadikan Umar bin Abdul Aziz sebagai bin Sulaiman bin Abdul Malik! Ia menjadikan Sulaiman sebagai kakeknya; padahal ia adalah anak pamannya.

1478

Dan telah disebutkan oleh Abu al-Ma’ali al-Juwaini, di akhir kitab “al-Syamil fi al-Ushul”, ia berkata: Telah disebutkan oleh sekelompok orang terpercaya yang memperhatikan penelitian tentang hal-hal tersembunyi bahwa al-Hallaj, al-Janabi al-Qarmathi, dan Ibnu al-Muqanna’ berkonspirasi untuk menggulingkan negara-negara, merusak kerajaan, dan menarik hati rakyat, dan masing-masing memilih suatu negeri, maka al-Janabi menetap di al-Ahsa, Ibnu al-Muqanna’ masuk jauh ke pelosok negeri Turki, dan al-Hallaj menetap di Baghdad, lalu dua temannya memutuskan bahwa ia akan binasa dan gagal mencapai cita-cita, karena penduduk Baghdad jauh dari tertipu, kecerdasan mereka melimpah, dan firasat mereka benar. Aku berkata: Seandainya orang ini atau yang menceritakan darinya mengetahui sejarah, niscaya ia akan tahu bahwa al-Hallaj tidak bertemu dengan Ibnu al-Muqanna’; karena sesungguhnya Ibnu al-Muqanna’ diperintahkan untuk dibunuh oleh al-Manshur, lalu ia dibunuh pada tahun 144 H, dan Abu Sa’id al-Janabi al-Qarmathi muncul pada tahun 286 H, dan al-Hallaj dibunuh pada tahun 309 H, maka masa al-Qarmathi dan al-Hallaj berdekatan, adapun Ibnu al-Muqanna’; maka tidak sama sekali.

1479

Maka sepatutnya bagi setiap orang yang berilmu untuk ikut serta dalam cabang-cabang ilmu lainnya, sehingga ia mempelajari bagian darinya; karena setiap ilmu memiliki keterkaitan dengan ilmu lain. Dan sangat buruk bagi seorang ahli hadis yang ditanya tentang suatu peristiwa lalu ia tidak tahu, padahal pengumpulan hadis telah menyibukkannya darinya.

Dan buruk bagi ahli fiqih apabila dikatakan kepadanya: Apa makna sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begini? Lalu ia tidak tahu keshahihan hadis tersebut dan tidak pula maknanya! Kami memohon kepada Allah ‘azza wa jalla semangat yang tinggi, yang tidak rela dengan kekurangan dengan karunia dan kebaikan-Nya.

Bab 338: Semangat para ulama terdahulu

1480

Semangat para ulama terdahulu adalah tinggi, yang ditunjukkan oleh karya-karya mereka, yang merupakan sari dari umur mereka; kecuali bahwa kebanyakan karya mereka telah musnah; karena semangat para penuntut ilmu melemah, sehingga mereka mencari ringkasan-ringkasan, dan tidak bersemangat untuk kitab-kitab yang panjang, kemudian mereka membatasi diri pada apa yang mereka pelajari dari sebagiannya, maka musnalah kitab-kitab itu, dan tidak disalin!

1481

Maka jalan bagi penuntut kesempurnaan dalam mencari ilmu adalah menelaah kitab-kitab, yang telah tertinggal dari karya-karya, maka hendaklah ia memperbanyak membaca; karena sesungguhnya ia akan melihat dari ilmu-ilmu kaum, dan tingginya semangat mereka apa yang menajamkan pikirannya, dan menggerakkan tekadnya untuk bersungguh-sungguh, dan tidak ada kitab yang kosong dari manfaat.

1482

Dan aku berlindung kepada Allah dari perjalanan hidup orang-orang yang kami bergaul dengannya ini! Kami tidak melihat di antara mereka yang memiliki semangat tinggi; sehingga pemula dapat meneladaninya, dan tidak ada yang memiliki wara’, sehingga orang yang zuhud dapat mengambil manfaat darinya. Maka demi Allah, demi Allah, dan atas kalian untuk memperhatikan perjalanan hidup para salaf, dan menelaah karya-karya mereka dan berita-berita mereka, karena memperbanyak membaca kitab-kitab mereka adalah melihat mereka, sebagaimana yang dikatakan:

“Aku gagal melihat kampung halaman dengan mataku … maka mudah-mudahan aku dapat melihat kampung halaman dengan pendengaranku”

1483

Dan sungguh aku menceritakan tentang keadaanku: Aku tidak pernah puas membaca kitab-kitab, dan apabila aku melihat kitab yang belum pernah kulihat, seakan-akan aku menemukan harta karun, dan sungguh aku telah melihat daftar kitab-kitab wakaf di Madrasah an-Nizhamiyyah; ternyata berisi sekitar enam ribu jilid, dan dalam daftar kitab-kitab Abu Hanifah, dan kitab-kitab al-Humaidi, dan kitab-kitab guru kami Abdul Wahhab, dan Ibnu Nashir, dan kitab-kitab Abu Muhammad Ibnu al-Khasyab -yang bermuatan banyak- dan selain itu dari setiap kitab yang dapat kujangkau, dan seandainya aku katakan: Sesungguhnya aku telah membaca dua puluh ribu jilid, itu lebih banyak, dan aku masih dalam pencarian! Maka aku memperoleh manfaat dengan melihat di dalamnya dari memperhatikan perjalanan hidup kaum, dan kadar semangat mereka, dan hafalan mereka dan ibadah-ibadah mereka, dan keajaiban-keajaiban ilmu mereka: apa yang tidak diketahui oleh orang yang tidak membaca, maka aku menjadi meremehkan apa yang dijalani orang-orang, dan menganggap rendah semangat para penuntut ilmu. Dan segala puji bagi Allah.

Bab 339: Pengaruh sedikitnya akal dan meninggalkan penggunaannya

1484

Tidak ada yang lebih berharga bagi manusia selain dirinya sendiri, dan aku heran kepada orang yang mempertaruhkannya, dan memaparkannya kepada kebinasaan! Dan sebab dalam hal itu adalah sedikitnya akal, dan buruknya pandangan; maka di antara mereka ada yang memaparkannya kepada kerusakan, agar dipuji menurut anggapannya, seperti kaum yang keluar untuk membunuh binatang buas! Dan di antara mereka ada yang naik ke istana Kisra, agar dikatakan: Pemberani! Dan ada yang berjalan tiga puluh farsakh! Dan orang-orang ini apabila binasa, dibawa ke neraka; karena jika binasa, hilanglah jiwa yang harta dicari untuknya. Dan lebih mengherankan dari semuanya adalah orang yang mempertaruhkan dirinya dalam kebinasaan dan ia tidak tahu, seperti seseorang yang marah, lalu membunuh seorang muslim, maka ia menahan amarahnya dengan siksaan di neraka.

1485

Dan yang lebih aneh dari ini adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani, karena sesungguhnya salah seorang dari mereka ketika mencapai usia baligh, maka wajib atasnya untuk memperhatikan kenabian nabi kami shallallahu ‘alaihi wa sallam; maka apabila ia lalai lalu mati, maka baginya kekal di neraka.

Dan sungguh aku berkata kepada salah seorang dari mereka: Celaka engkau! Engkau mempertaruhkan dirimu dalam siksaan abadi! Kami beriman kepada nabi kalian maka engkau berkata: Seandainya seorang muslim beriman kepada nabi kami, dan mendustakan nabi kalian atau Taurat, ia kekal di neraka, maka tidak ada perbedaan antara kami dan kalian!! Karena kami beriman kepada kebenarannya dan kitabnya, maka seandainya kami bertemu dengannya, kami tidak akan malu, dan seandainya ia menegur kami misalnya dan berkata: Apakah kalian telah menjalankan hari Sabtu? Padahal hari Sabtu termasuk cabang, dan cabang tidak dihukum dengan kekal.

Maka berkata kepadaku pemimpin kaum: Kami tidak menuntut kalian dengan ini; karena hari Sabtu hanya wajib bagi Bani Israil.

Maka aku berkata: Maka kami telah selamat dengan ijma’ kalian, dan kalian binasa; karena kalian mempertaruhkan jiwa-jiwa kalian dalam siksaan abadi!! Dan mengherankan bagi orang yang mengabaikan memperhatikan apa yang apabila ia lalai di dalamnya mewajibkan kekal dalam hukuman abadi.

Dan lebih mengherankan dari semuanya adalah orang yang mengingkari Pencipta, sedangkan ia melihat ketelitian ciptaan, dan berkata: Tidak ada yang menciptakan. Dan sebab dalam semua hal ini adalah sedikitnya akal, dan meninggalkan penggunaannya dalam memperhatikan dan beristidlal.

Bab 340: Berapa banyak rahasia yang terungkap lalu menjadi sebab kebinasaan

1486

Tidak pantas bagi orang yang berakal untuk menampakkan rahasia hingga ia mengetahui bahwa apabila ia tampak tidak akan terluka dengan kemunculannya. Dan diketahui bahwa sebab menyebarkan rahasia adalah mencari kelegaan dengan menyebarkannya, dan itu adalah penderitaan yang dekat; maka hendaklah ia bersabar atasnya. Berapa banyak orang yang menampakkan rahasia kepada istrinya; maka ketika dicerai ia menyebarkannya dan binasalah, atau kepada temannya, maka ia menampakkannya karena iri kepadanya, apabila ia setara, dan jika ia orang awam, maka orang awam itu bodoh. Dan berapa banyak rahasia yang ditampakkan lalu menjadi sebab kebinasaan.

Bab 341: Pencinta ilmu

1487

Tidak ada yang mencapai puncak dalam mencari ilmu kecuali pencinta ilmu, dan pencinta hendaklah bersabar atas kesulitan-kesulitan, dan dari keharusan orang yang sibuk dengannya adalah jauh dari mencari nafkah. Dan sejak hilangnya perhatian kepada mereka dari para penguasa dan dari saudara-saudara, kemiskinan menjadi keharusan bagi mereka, dan keutamaan-keutamaan berseru: “Di situlah diuji orang-orang yang beriman dan digoncangkan (hati mereka) dengan goncangan yang sangat keras” (QS. Al-Ahzab: 11), maka setiap kali takut dari ujian, ia berkata:

“Jangan sangka kemuliaan itu kurma yang engkau makan … engkau tidak akan mencapai kemuliaan hingga engkau menggantungkan kesabaran”

1488

Dan ketika Ahmad bin Hanbal radiyallahu ‘anhu mengutamakan mencari ilmu, dan ia miskin; ia tetap empat puluh tahun sibuk dengannya, dan tidak menikah.

Maka pantas bagi orang miskin untuk bersabar atas kemiskinannya sebagaimana yang dilakukan Ahmad, dan siapa yang sanggup apa yang ia sanggup?! Sungguh ia menolak dari harta lima puluh ribu, dan ia makan kamakh dan lauk garam, maka tidak tersebar baginya pujian yang indah dengan sia-sia, dan tidak berulang kaki-kaki ke kuburnya kecuali karena makna yang menakjubkan, maka alangkah pujian yang memenuhi cakrawala, dan keindahan yang menghiasi wujud, dan kemuliaan yang menghapus semua itu! Ini di dunia, dan pahala akhirat tidak dapat dideskripsikan.

1489

Dan lihatlah kuburan kebanyakan ulama, tidak dikenal dan tidak diziarahi, mereka berkompromi, dan takwil, dan bergaul dengan para penguasa, maka hilanglah berkah ilmu, dan terhapus kewibawaan, dan mereka datang saat kematian ke kolam penyesalan! Maka alangkah penyesalan-penyesalan yang tidak dapat diperbaiki, dan kerugian yang tidak dapat dipulihkan! Dan bergaul dengan kelezatan hanya sebentar mata, dan penyesalan yang menetap selamanya.

Maka bersabarlah, bersabarlah wahai penuntut keutamaan; karena sesungguhnya kenikmatan istirahat dengan hawa nafsu atau dengan kelembutan akan hilang, dan tinggallah kesedihan. Dan berkata asy-Syafi’i radiyallahu ‘anhu:

“Wahai jiwa, tidak lain hanya bersabar beberapa hari … seakan-akan masanya adalah mimpi-mimpi yang kacau”

“Wahai jiwa, bergeraklah meninggalkan dunia dengan segera … dan tinggalkanlah ia karena kehidupan di hadapanku”

1490

Kemudian wahai ulama yang miskin! Apakah engkau senang dengan kerajaan seorang sultan dari para sultan, dan bahwa apa yang engkau ketahui dari ilmu tidak engkau ketahui? Tidak, aku tidak menyangka orang yang terjaga akan mengutamakan ini!

1491

Kemudian engkau apabila terjadi kepadamu pikiran yang bagus atau makna yang menakjubkan; engkau mendapat kenikmatan yang tidak didapat oleh orang yang menikmati kelezatan-kelezatan inderawi, maka sungguh ia terhalang dari rezeki syahwat apa yang telah engkau beri rezeki, dan engkau telah berbagi dengan mereka dalam penopang hidup, dan tidak tersisa kecuali kelebihan, yang apabila diambil hampir tidak merugikan. Kemudian mereka dalam mempertaruhkan di pintu akhirat umumnya, dan engkau dalam keselamatan pada umumnya.

Maka lihatlah wahai saudaraku akibat-akibat keadaan! Dan kalahkan kemalasan yang menghambat dari keutamaan; karena sesungguhnya banyak dari ulama yang mati dalam kelalaian berbolak-balik dalam penyesalan dan kesedihan.

1492

Seorang laki-laki melihat guru kami Ibnu az-Zaghuni dalam mimpi, maka berkata kepadanya sang guru: Paling banyak yang ada pada kalian adalah kelalaian, dan paling banyak yang ada pada kami adalah penyesalan.

1493

Maka larilah semoga Allah memberimu taufik sebelum ditahan! Dan batalkan ikatan hawa nafsu atas kerugian yang nyata! Dan ketahuilah bahwa keutamaan tidak berdatangan dengan perlahan, dan bahwa sedikit kelalaian merusak wajah kebaikan!

Maka bergeraklah bergeraklah, dan nafas nafas berulang, dan malaikat maut ghaib belum datang lagi, dan bangkitlah dengan tekad yang bertekad:

“Apabila ia bertekad melemparkan di antara kedua matanya tekadnya … dan memalingkan dari mengingat akibat-akibat ke samping”

“Dan ia tidak bermusyawarah dalam urusannya selain dirinya … dan tidak rela kecuali yang berdiri pedangnya sebagai teman”

1494

Dan tolaklahlah dalam tekad ini dunia dan para tuannya, maka semoga Allah memberkahi orang-orang dunia dalam dunia mereka, maka kami adalah orang-orang kaya, dan mereka adalah orang-orang miskin, sebagaimana yang dikatakan Ibrahim bin Adham: Seandainya para raja dan anak-anak raja mengetahui apa yang kami alami, niscaya mereka akan berperang dengan kami karenanya dengan pedang.

1495

Maka anak-anak dunia, salah seorang dari mereka hampir tidak makan sesuap kecuali haram atau syubhat, dan ia walaupun tidak mempengaruhi itu, maka wakilnya melakukannya, dan ia tidak peduli dengan sedikitnya agama wakilnya, dan jika mereka membangun rumah, mereka menyihir para pekerja, dan jika mereka mengumpulkan harta, maka dari segi-segi yang tidak pantas, kemudian setiap dari mereka takut akan dibunuh atau dipecat atau dicaci, maka hidup mereka pahit.

1496

Dan kami makan apa yang zhahir syariat bersaksi baginya dengan kebolehan, dan kami tidak takut dari musuh, dan kepemimpinan kami tidak menerima pemecatan, dan kemuliaan di dunia untuk kami bukan untuk mereka, dan perhatian makhluk kepada kami, dan mencium tangan kami dan penghormatan mereka kepada kami banyak, dan di akhirat antara kami dan mereka ada perbedaan insya Allah ta’ala; maka jika para tuan dunia memalingkan leher mereka, mereka mengetahui kadar kelebihan kami, dan jika tangan mereka terbelenggu dari memberi kami; maka kenikmatan menjaga diri lebih baik, dan kepahitan budi tidak sebanding dengan yang diambil, dan itu hanyalah makanan di bawah makanan, dan pakaian di bawah pakaian; dan sesungguhnya itu adalah hari-hari yang sedikit.

1497

Dan mengherankan bagi orang yang dimuliakan jiwanya hingga mencari ilmu -karena tidak mencarinya kecuali yang memiliki jiwa mulia, bagaimana ia tunduk untuk pemberian dari orang yang tidak ada kemuliaannya kecuali dengan dinar, dan tidak ada kebanggaannya kecuali dengan kemampuan?! Dan sungguh Abu Ya’la al-Alawi membacakan syair kepadaku:

“Berapa banyak kaum dalam akhlak mereka … cacat yang telah mereka jadikan sebagai kebanggaan”

“Harta menutupi keburukan mereka … engkau akan melihat jika hilang apa yang ia tutupi”

Semoga Allah membangunkan kami dari tidur orang-orang yang lalai, dan memberikan kami pikiran orang-orang yang terjaga, dan memberi kami taufik untuk beramal dengan tuntutan ilmu dan akal, sesungguhnya Dia dekat lagi memperkenankan.

Bab 342: Badan seperti kendaraan jika tidak diperlakukan dengan baik tidak akan sampai dengan penumpang

1498

Tidak pantas bagi manusia membebankan kepada badannya apa yang tidak sanggup; karena sesungguhnya badan seperti kendaraan, jika tidak diperlakukan dengan baik, tidak akan sampai dengan penumpang.

1499

Engkau akan melihat di antara manusia ada yang berzuhud, padahal dia telah membiasakan tubuhnya dengan kemewahan. Lalu dia menjauhkan diri dari apa yang telah dia biasakan, sehingga dia mendapat penyakit-penyakit yang memotongnya dari banyak ibadah. Telah dikatakan: “Biasakan setiap tubuh dengan apa yang telah dia biasakan!” Suatu ketika kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dibawakan dhab (biawak gurun), lalu beliau berkata: “Aku merasa tidak suka kepadanya karena dia bukan dari negeri kaumku.”

1500

Dalam hadits hijrah: bahwa Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mencari tempat teduh untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan menghamparkan bulu domba untuknya, dan menuangkan air ke dalam gelas yang berisi susu hingga dingin.

1501

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang kepada suatu kaum, lalu berkata: “Jika kalian memiliki air yang bermalam di dalam qirbah (tempat air dari kulit), kalau tidak kami akan minum langsung.” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam biasa makan daging ayam. Dalam hadits sahih: bahwa beliau menyukai manisan dan madu. Dan jika beliau tidak mampu mendapatkannya, beliau makan apa yang tersedia.

1502

Demi umurku, sesungguhnya di antara orang Arab dan penduduk desa ada yang tidak terpengaruh kerasnya makanan dan pakaian. Jika dia setelah tobatnya tetap berjalan sesuai kebiasaannya, dia tidak akan terganggu. Adapun orang yang telah terbiasa dengan kelembutan, jika dia mengubah keadaannya, tubuhnya akan berubah dan ibadahnya berkurang.

1503

Al-Hasan biasa terus-menerus makan daging dan berkata: “Rotiku bukan milik Malik, dan piringku bukan milik Farqad.”

1504

Ibnu Sirin tidak pernah membiarkan rumahnya kosong dari manisan. Sufyan Ats-Tsauri bepergian dengan membawa daging panggang dan faloodzaj dalam perjalanannya. Rabi’ah berkata: “Aku tidak melihat cacat pada tubuh yang dimaksudkan untuk bekerja untuk Allah jika memakan faloodzaj.” Barangsiapa yang terbiasa dengan kemewahan, maka sebaiknya dia berlaku lembut terhadap dirinya jika memungkinkan.

1505

Aku telah mengetahui hal ini pada diriku sendiri. Aku dibesarkan dalam kemewahan, ketika aku mulai mengurangi dan meninggalkan yang diinginkan, hal itu berdampak pada penyakit yang memotongku dari banyak ibadah. Hingga aku biasa membaca setiap hari lima juz Al-Quran. Suatu hari aku memakan sesuatu yang tidak baik, sehingga hari itu aku tidak mampu membacanya. Aku berkata: “Sesungguhnya satu suap yang mempengaruhi bacaan lima juz, setiap huruf mendapat sepuluh kebaikan, mengonsumsinya adalah ketaatan yang besar! Dan makanan yang menyakiti tubuh sehingga melewatkan perbuatan baik, seharusnya ditinggalkan!”

1506

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang laki-laki dari sahabatnya yang hadir di sisinya, dan telah berubah karena kehidupan keras, lalu beliau berkata kepadanya: “Siapa yang memerintahkanmu dengan ini?!”

1507

Orang yang berakal memberikan kepada tubuhnya dari makanan apa yang cocok untuknya, sebagaimana prajurit memberikan gandum kepada kudanya. Jangan kira bahwa aku memerintahkan memakan syahwat atau memperbanyak kelezatan. Aku hanya memerintahkan mengonsumsi apa yang menjaga jiwa dan melarang apa yang menyakiti tubuh. Adapun berlebihan dalam makanan, maka itu adalah sebab tidur, dan kenyang membutakan hati serta melunakkan dan melemahkan tubuh. Pahamilah apa yang aku tunjukkan, jalan yang baik adalah yang tengah.

Bab 343: Jika Akal Sempurna, Kecerdasan dan Kepintaran Menguat

1508

Jika akal sempurna, kecerdasan dan kepintaran menguat. Orang cerdas dapat keluar jika terjatuh dalam bencana, sebagaimana Al-Hasan berkata: “Jika pencuri itu cerdik, dia tidak akan dipotong tangannya. Adapun orang bodoh, dia menimpakan bencana pada dirinya sendiri.”

1509

Saudara-saudara Yusuf ‘alaihissalam menjauhkannya dari ayahnya agar mereka lebih diutamakan di sisinya. Mereka tidak tahu bahwa kesedihan ayah atas Yusuf akan menyibukkannya dari mereka, dan prasangka buruknya kepada mereka akan membuat mereka dibenci olehnya. Kemudian mereka melemparkannya ke dalam sumur dan berkata: “Supaya dia dipungut oleh sebagian musafir” (Yusuf: 10). Padahal dia bukan anak kecil, melainkan anak yang sudah besar. Mereka tidak tahu bahwa jika dia dipungut, dia akan menceritakan keadaannya sehingga berita itu sampai kepada ayahnya! Ini adalah kebodohan. Kemudian mereka berkata: serigala telah memakannya, dan mereka datang dengan baju gamisnya dalam keadaan utuh. Seandainya mereka merobeknya, hal itu masih bisa diterima. Kemudian ketika mereka pergi kepadanya untuk membeli makanan, dia berkata: “Bawalah kepadaku seorang saudara kalian” (Yusuf: 59). Seandainya mereka cerdas, mereka akan tahu bahwa raja Mesir tidak memiliki kepentingan dengan saudara mereka. Kemudian dia menahan saudaranya dengan dalih, lalu berkata: “Piala ini memberitahuku bahwa dia berbuat begini dan begitu!” Semua ini dan mereka tidak sadar. Ketika Yakub ‘alaihissalam merasakan hal-hal ini, dia berkata: “Pergilah kalian dan carilah berita tentang Yusuf” (Yusuf: 87). Yusuf ‘alaihissalam telah dilarang melalui wahyu untuk memberitahu ayahnya tentang keberadaannya. Karena itu, ketika mereka bertemu, ayahnya berkata: “Mengapa kamu tidak menulis kepadaku!” Yusuf menjawab: “Sesungguhnya Jibril ‘alaihissalam melarangku.” Ketika dia dilarang memberitahu keadaannya agar ujian berlalu, maka apa yang dia lakukan terhadap saudaranya adalah isyarat, seperti orang yang melamar wanita yang masih dalam masa iddah. Demi Allah, Yakub menangis karena memahami Yusuf, bukan hanya karena wajahnya.

Bab 344: Barangsiapa Diberi Kewaspadaan Hendaknya Bersabar untuk Meraih Keutamaan

1510

Manusia ditempatkan pada berbagai tuntutan yang menyebarkan perhatian. Mata menuntut yang dilihat, lidah menuntut pembicaraan, perut menuntut makanan, kemaluan menuntut nikah, dan tabiat menyukai mengumpulkan harta. Kita telah diperintahkan untuk mengumpulkan perhatian untuk mengingat akhirat, sementara hawa nafsu menyebarkannya. Bagaimana jika ditambah dengan kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi berupa mencari nafkah untuk tubuh dan keluarga?!

1511

Orang ini pagi-pagi pergi ke tokonya, memikirkan cara memperoleh penghasilan, menggunakan alat pemahaman untuk mendapatkan apa yang tidak bisa dihindari. Perhatian apa yang bisa terkumpul darinya?! Apalagi jika dia diambil keserakahan dalam bentuk tertentu, maka umur berlalu, dia bangkit dari toko menuju kubur. Bagaimana mungkin dia memperoleh ilmu atau amal atau keikhlasan niat atau mencari keutamaan?!

1512

Barangsiapa diberi kewaspadaan, hendaknya bersabar untuk meraih keutamaan. Jika dia zuhud tanpa keluarga, cukup dengan usaha sedikit. As-Sabti biasa bekerja hari Sabtu dan cukup dengannya sepanjang minggu. Jika dia memiliki harta, dia berpatungan dengan orang yang dapat diandalkan agama dan kepercayaannya sehingga dia tidak perlu khawatir. Jika dia memiliki keluarga, dia kumpulkan perhatiannya dalam niat mencari nafkah untuk mereka sehingga menjadi ibadah, atau dia memiliki harta seperti tanah yang menghasilkan separuh nafkahnya sehingga penghasilannya mencukupi. Dia mengurangi perhatian sebisa mungkin dari urusan-urusan lain agar dapat mengumpulkan perhatian untuk mengingat akhirat. Jika tidak melakukan itu, dia akan terambil dalam kelalaiannya dan menyesal di kuburnya.

1513

Keadaan yang paling buruk adalah keadaan seorang alim faqih yang setiap kali mengumpulkan perhatiannya untuk mengingat akhirat, disebar oleh pencarian nafkah untuk keluarga. Bahkan mungkin dia butuh mendekati penguasa zalim, mengambil yang syubhat, dan merendahkan wajah. Orang seperti ini harus membuat perhitungan dalam nafkah. Jika dia memperoleh sesuatu dari suatu sumber, dia mengaturnya. Tidak sepatutnya harapan pendek membuatnya mengeluarkan apa yang ada di tangannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Lebih baik kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya daripada meninggalkan mereka miskin sehingga meminta-minta kepada manusia.”

1514

Yang paling hina dari segala kehinaan adalah mendekati orang bakhil dan penguasa. Hendaklah dia mengatur urusannya, mengurangi urusan-urusan, dan menjaga kehormatannya, karena hari-hari tinggal sedikit. Suatu ketika kepada Ahmad bin Hanbal dikirim harta, anaknya meminta dia menerimanya. Dia berkata: “Wahai Shalih! Jagalah kehormatanku!” Kemudian berkata: “Aku akan meminta petunjuk Allah.” Esok harinya dia berkata: “Wahai anakku! Allah telah memutuskan bagiku untuk tidak menerimanya.” Ini padahal pemberian itu baik dan datang dari sumber yang baik! Keadaan sekarang justru terbalik.

Bab 345: Harus Ada Pergaulan Secukupnya

1515

Mengasingkan diri dari makhluk adalah sebab nikmatnya hidup, tetapi harus ada pergaulan secukupnya. Hadapi musuh dan tarik simpatinya, karena mungkin dia akan mencelakakanmu sehingga membinasakanmu! Berbuat baiklah kepada orang yang berbuat buruk kepadamu! Mintalah bantuan dalam urusanmu dengan menyimpan rahasia!

1516

Hendaklah manusia di sisimu sebagai kenalan, adapun sebagai sahabat, jangan. Karena yang paling berharga adalah mendapatkan sahabat. Sahabat harus berada dalam tingkat yang setara. Jika kamu bertemu orang awam, kamu tidak akan mendapat manfaat darinya karena buruknya akhlaknya, sedikitnya ilmu dan adabnya. Jika kamu bertemu yang setara atau mendekati, dia akan iri kepadamu. Jika kamu punya kewaspadaan, kamu akan melihat dari perbuatannya apa yang menunjukkan keirian: “Dan kamu pasti akan mengenal mereka dari nada bicaranya” (Muhammad: 30). Jika kamu ingin memastikan hal itu, tempatkanlah padanya orang yang akan memburukkanmu di sisinya, maka dia tidak akan keluar kecuali dengan apa yang ada di hatinya.

1517

Jika kamu ingin hidup tenang, jauhilah orang yang iri, karena dia melihat nikmatmu dan mungkin akan mengenainya dengan mata jahat! Jika kamu terpaksa bergaul dengannya, jangan bocorkan rahasiamu kepadanya, jangan minta nasihatnya, jangan tertipu dengan bujukannya kepadamu, atau apa yang dia tampakkan dari agama dan ibadah, karena iri mengalahkan agama! Kamu telah tahu bahwa Qabil, keirian mengeluarkannya untuk membunuh! Dan saudara-saudara Yusuf menjualnya dengan harga murah! Abu Amir Ar-Rahib adalah termasuk ahli ibadah yang berakal, dan Abdullah bin Ubai termasuk pemimpin, keirian kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengeluarkan mereka berdua kepada kemunafikan dan meninggalkan kebenaran.

1518

Tidak sepatutnya kamu mencari hukuman untuk orang yang iri kepadamu lebih dari apa yang ada padanya, karena dia dalam perkara besar yang terus-menerus. Tidak ada yang memuaskannya kecuali hilangnya nikmatmu. Setiap kali nikmatmu bertambah, siksaannya bertambah, sehingga tidak ada kehidupan untuknya! Kehidupan ahli surga tidak nikmat kecuali setelah iri dan dengki dicabut dari dada mereka. Seandainya tidak dicabut, mereka akan saling iri dan kehidupan mereka terganggu.

Bab 346: Barangsiapa Berjalan dengan Akal Dapat Menikmati Dunia

1519

Barangsiapa berjalan dengan akal, menyelisihi jalan hawa nafsu, dan memperhatikan akibat-akibat, dia dapat menikmati dunia berkali-kali lipat dari orang yang menggunakan syahwat. Adapun orang yang tergesa-gesa akan kehilangan bagian dunia dan pujian yang baik, dan itu menjadi sebab hilangnya yang dia inginkan dari kelezatan. Penjelasannya dari dua segi:

Pertama: Barangsiapa condong kepada syahwat nikah dan memperbanyaknya, kenikmatannya berkurang, panasnya habis, dan itu menjadi sebab tidak tercapainya yang dia inginkan darinya! Barangsiapa menggunakannya sesuai kadar yang dibolehkan akal dan dapat ditanggung, kenikmatannya lebih banyak karena jaraknya antara dua persetubuhan, dan dia dapat mengulanginya karena panasnya masih tersisa.

Demikian juga orang yang curang dalam muamalah atau khianat, dia tidak akan mendapat muamalah, sehingga kehilangan keuntungan muamalah yang terus-menerus karena khianat sekali. Seandainya dia dikenal dengan kepercayaan, muamalah manusia dengannya akan terus, sehingga keuntungannya bertambah.

Kedua: Barangsiapa bertakwa kepada Allah dan sibuk dengan ilmu atau merealisasikan zuhud, dibukakan untuknya dari yang halal apa yang sangat dia nikmati. Barangsiapa yang malas dari ilmu atau hawa nafsu dari merealisasikan zuhud, dia tidak memperoleh kecuali sedikit dari keinginannya. Allah berfirman: “Dan seandainya mereka tetap di atas jalan yang lurus, niscaya Kami akan memberi mereka minum air yang segar” (Al-Jin: 16).

Bab 347: Kehidupan Para Shiddiq dan Kehidupan Binatang

1520

Hendaknya seluruh amal untuk Allah, bersamanya, dan karena-Nya. Dia telah mencukupimu dari setiap yang ditakuti dan mendatangkan kepadamu setiap kebaikan. Jangan sampai kamu condong darinya dengan mengikuti hawa nafsu dan menyenangkan makhluk, karena dia akan membalikkan keadaan atasmu dan menghilangkan tujuanmu. Dalam hadits: “Barangsiapa menyenangkan manusia dengan murka Allah, orang yang memujinya dari manusia akan menjadi pencela.”

1521

Kehidupan yang paling nikmat adalah kehidupan orang yang hidup bersama Sang Pencipta. Jika dikatakan: bagaimana dia hidup bersamanya? Aku katakan: dengan melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, memelihara batas-batas-Nya, ridha dengan takdir-Nya, beradab yang baik dalam kesendirian, banyak mengingat-Nya, dan bersihnya hati dari keberatan terhadap takdir-Nya. Jika butuh, mintalah kepada-Nya. Jika Dia memberi, dan jika tidak, ridhailah dengan tidak diberi, dan ketahuilah bahwa Dia tidak mencegah karena kikir, melainkan karena memperhatikanmu. Jangan putus dari meminta karena kamu beribadah dengannya. Jika kamu terus demikian, Dia akan memberimu cinta-Nya dan benar-benar bertawakal kepada-Nya. Cinta akan menunjukkanmu kepada tujuan dan berbuah cinta-Nya kepadamu. Saat itu kamu hidup dengan kehidupan para shiddiq.

Tidak ada kebaikan dalam kehidupan jika tidak demikian. Kebanyakan manusia bingung dalam kehidupannya, menyenangkan sebab-sebab, condong kepadanya dengan hatinya, lelah dalam mencari rizki dengan rakus melebihi batas, dan berharap kepada makhluk. Dia keberatan ketika tujuan tidak tercapai. Takdir berjalan dan tidak peduli dengan kemarahan. Dia tidak memperoleh kecuali apa yang telah ditakdirkan. Dia telah kehilangan kedekatan dengan Yang Haq, cinta kepada-Nya, dan beradab dengan-Nya. Kehidupan seperti itu adalah kehidupan binatang.

Bab 348: Tujuan, Hikmah, dan Maksud dari yang Diciptakan

1522

Aku memperhatikan hikmah makanan, minuman, pakaian, dan nikah. Aku melihat bahwa manusia diciptakan dari unsur-unsur yang terurai, yaitu air, tanah, api, dan udara. Kelangsungan hidupnya dengan panas dan lembab. Panas selalu menguraikan kelembaban, sehingga dia butuh sesuatu yang mengganti apa yang hilang. Karena daging tidak bisa diganti kecuali dengan daging, syariat membolehkan menyembelih hewan agar orang yang lebih mulia darinya menjadi kuat.

Karena tubuhnya butuh pakaian dan dia memiliki kemampuan membedakan dan kemampuan membuat apa yang melindunginya dari bahaya berupa kapas dan wol, tidak dijadikan pada kulitnya apa yang melindunginya secara alami, berbeda dengan hewan yang tidak memiliki kemampuan menutupi kulitnya, maka diganti dengan bulu, rambut, dan wol.

Karena tidak bisa dihindari musnahnya manusia dan hewan, dibangkitkan syahwat bersetubuh agar keturunan mengganti. Tuntutan akal yang menggerakkan untuk mencari maslahat-maslahat ini adalah mengonsumsi makanan dan minuman sekadar kebutuhan dan maslahat agar terjadi kenikmatan dengan kesehatan.

Termasuk bencana adalah mencari kenikmatan dengan makanan walau tidak baik, memperbanyaknya, dan rakus dalam mengonsumsinya. Demikian juga pakaian dan nikah!

1523

Termasuk kehati-hatian adalah mengumpulkan harta dan menyimpannya untuk kebutuhan darurat. Termasuk kebodohan adalah membelanjakan yang ada, karena mungkin terjadi kebutuhan sehingga tidak mampu memenuhinya. Ketidakmampuannya berdampak pada tubuh atau kehormatan dengan memintanya dari orang-orang hina!

1524

Termasuk perkara yang paling buruk adalah larut dalam nikah untuk mencari bentuk kelezatan, lupa apa yang ditimbulkannya berupa hancurnya kekuatan, dan bertambah dalam haram dengan hukuman.

1525

Barangsiapa condong kepada pengaturan akal akan selamat di dunia dan akhiratnya. Barangsiapa berpaling dari bermusyawarah dengannya atau menerima darinya, akan mempercepat kebinasaan. Hendaklah dia memahami tujuan, hikmah, dan maksud dari yang diciptakan. Barangsiapa tidak memahami dan tidak mengamalkan sesuai dengan apa yang dia pahami, dia seperti orang awam yang paling bodoh, walau dia seorang alim.

Bab 349: Bergaul dengan Para Penguasa

1526

Mengherankan orang yang memiliki sedikit akal atau memiliki sedikit agama, bagaimana dia lebih suka bergaul dengan mereka. Dengan bergaul dengan mereka atau bekerja dengan mereka, dia pasti takut dari pemecatan, pembunuhan, atau racun. Dia tidak bisa bekerja kecuali sesuai perintah mereka. Jika mereka memerintahkan apa yang tidak boleh, dia tidak mampu menolak. Dia telah menjual agamanya dengan dunianya. Rasa takut mencegahnya dari melaksanakan perintah Allah. Akhiratnya sia-sia. Yang tersisa di tangannya hanya penghormatan sementara, dikatakan di hadapannya: “Bismillah!” dan perintah-perintahnya dilaksanakan! Itu jauh dari keselamatan dalam hal agama. Apa yang dia nikmati di dunia bercampur dengan takut pemecatan atau pembunuhan.

Bab 350: Orang yang Berakal adalah yang Bekerja Berdasarkan Kehati-hatian

1527- Termasuk kesalahan besar adalah berbicara tentang seseorang yang telah dipecat dari jabatannya dengan perkataan yang tidak pantas, karena tidak ada jaminan bahwa dia tidak akan menjabat lagi dan kemudian membalas dendam. Secara umum, tidak sepatutnya menampakkan permusuhan kepada siapa pun sama sekali. Orang yang diremehkan bisa saja naik derajatnya, dan orang yang tidak diperhitungkan mungkin saja mendapat kekuasaan. Bahkan sepatutnya menyembunyikan dendam yang ada di dalam hati terhadap musuh-musuh. Jika memungkinkan untuk membalas dendam kepada mereka, maka memaafkan justru merupakan pembalasan, karena hal itu akan merendahkan mereka.

1528- Dan sepatutnya berbuat baik kepada setiap orang, terutama kepada mereka yang mungkin saja akan memiliki kekuasaan, dan melayani orang yang dipecat dari jabatan, karena mungkin saja dia akan bermanfaat ketika menjabat kembali.

1529- Telah kami riwayatkan bahwa seorang laki-laki meminta izin menemui Qadhi al-Qudhah Ibnu Abi Dawud dan berkata: “Katakan kepadanya: Abu Ja’far ada di depan pintu!” Ketika dia mendengar hal itu, dia gembira dan berkata: “Izinkan dia masuk!” Maka dia masuk, dan qadhi itu berdiri menyambutnya, memuliakannya, memberinya lima ribu (dinar), dan mengantarnya pergi. Kemudian ada yang berkata kepadanya: “Orang biasa saja engkau perlakukan seperti ini?!” Dia menjawab: “Dahulu aku miskin, dan orang ini adalah temanku. Suatu hari aku datang kepadanya dan berkata: ‘Aku lapar.’ Dia berkata: ‘Duduklah!’ lalu keluar dan datang membawa daging panggang, manisan, dan roti, kemudian berkata: ‘Makanlah.’ Aku berkata: ‘Makan bersamaku.’ Dia berkata: ‘Tidak.’ Aku berkata: ‘Demi Allah, aku tidak akan makan sampai kamu makan bersamaku.’ Maka dia makan, dan aku melihat darah mengalir dari mulutnya. Aku bertanya: ‘Apa ini?’ Dia menjawab: ‘Sakit.’ Aku berkata: ‘Demi Allah, kamu harus memberitahuku.’ Dia berkata: ‘Ketika kamu datang kepadaku, aku tidak memiliki apa-apa, sedangkan gigiku dipasangi penyangga dari emas. Maka aku mencabutnya dan membelinya dengannya!’ Maka tidakkah sepatutnya aku membalas kebaikan seperti ini?!”

1530- Berbeda dengan hal-hal ini adalah Ibnu az-Zayyat, wazir al-Watsiq, yang biasa merendahkan al-Mutawakkil. Ketika al-Mutawakkil menjadi khalifah, dia menyiksanya dengan berbagai macam siksaan.

1531- Demikian pula Ibnu al-Jazari, yang tidak menghormati al-Mustarsyid sebelum dia berkuasa. Maka bencana menimpanya ketika al-Mustarsyid berkuasa.

1532- Maka orang yang berakal adalah yang merenungkan akibat-akibat dan memperhatikannya, membayangkan semua kemungkinan yang bisa terjadi, lalu bekerja berdasarkan kehati-hatian.

1533- Yang lebih dari itu adalah membayangkan datangnya kematian dengan segera, karena kematian bisa datang tiba-tiba tanpa sakit. Maka orang yang berhati-hati adalah yang mempersiapkan diri untuk kematian dan beramal seperti orang yang tidak akan menyesal jika kematian datang kepadanya. Dia berhati-hati dari dosa-dosa, karena dosa itu seperti musuh yang mengintai untuk membalas, dan menyimpan amal saleh untuk dirinya, karena amal saleh itu seperti teman sejati yang bermanfaat di saat kesulitan.

1534- Yang paling penting dari segala sesuatu adalah hendaknya orang mukmin mengetahui bahwa semakin dia menambah amalnya dalam keutamaan, semakin tinggi derajatnya di surga. Jika berkurang, maka derajatnya pun berkurang. Meskipun dia masuk surga dalam keadaan kurang dibandingkan dengan kesempurnaan orang lain, namun dia ridha dengan keadaannya dan tidak merasakan kekurangan itu. Maka rahmat Allah bagi orang yang memperhatikan akibat-akibat dan beramal berdasarkan perhatiannya itu. Dan Allah Ta’ala adalah Pemberi taufik.

Bab 351: Orang-orang Binasa karena Kurang Sabar terhadap Nafsu

1535- Ketika aku menyusun kitabku yang bernama “Al-Muntazham fi Tarikh al-Muluk wa al-Umam”, aku melihat perjalanan hidup manusia dari kalangan raja-raja, wazir-wazir, ulama, sastrawan, fuqaha, ahli hadits, zahid, dan lain-lain. Aku melihat dunia telah mempermainkan kebanyakan mereka sehingga menghilangkan agama mereka, sampai-sampai mereka tidak lagi meyakini adanya hukuman.

1536- Di antara para penguasa ada yang membunuh, merampas harta, memotong, dan memenjarakan tanpa hak, kemudian terjerumus dalam kemaksiatan seolah-olah urusan itu terserah kepadanya atau dia telah mendapat jaminan keamanan dari hukuman. Mungkin dia mengira bahwa menjaga rakyat akan menolak hukuman darinya, dan dia lupa bahwa telah dikatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku, siksa hari yang besar'” (QS. Al-An’am: 15).

1537- Sekelompok orang yang menyandang gelar ilmu telah terjerumus dalam kemaksiatan untuk mencapai tujuan-tujuan duniawi mereka yang cepat. Maka ilmu tidak bermanfaat bagi mereka! Kami melihat banyak orang yang mengaku zahid menyelisihi (ajaran) untuk meraih tujuan-tujuan mereka! Hal ini karena dunia adalah jebakan, manusia seperti burung pipit, dan burung pipit menginginkan biji-bijian tetapi lupa akan jerat. Kebanyakan manusia telah lupa akan diri mereka karena condong kepada kenikmatan sesaat, maka mereka sibuk bercengkerama dengan hawa nafsu dan tidak menoleh untuk bermusyawarah dengan akal. Sungguh mereka telah menjual kebaikan yang banyak dengan kenikmatan yang sedikit, dan layak mendapat siksa yang besar karena syahwat-syahwat yang tercela. Ketika kematian turun kepada salah seorang dari mereka, dia berkata: “Seandainya aku tidak pernah ada!” “Alangkah baiknya seandainya aku menjadi tanah” (QS. An-Naba’: 40)! Lalu dikatakan kepadanya: “Baru sekarang (kamu beriman)?” (QS. Yunus: 91).

1538- Betapa menyesalnya, karena kehilangan sesuatu yang tidak mungkin diperbaiki, karena tergadai sesuatu yang tidak bisa ditebus, karena penyesalan yang tidak pernah berakhir waktunya, dan karena disiksa padahal imannya sangat berharga baginya.

1539- Demi Allah, akal tidak bermanfaat kecuali bagi orang yang memperhatikannya dan bergantung kepadanya. Tidak mungkin menerima nasihatnya kecuali dengan tekad untuk sabar terhadap apa yang diinginkan.

1540- Perhatikanlah di antara para penguasa: Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu ‘anhuma, di antara para ulama: Ahmad bin Hanbal rahimahullah, dan di antara para zahid: Uwais al-Qarni. Mereka telah memberikan hak kesungguhan dan memahami tujuan keberadaan.

1541- Orang-orang yang binasa itu tidak binasa kecuali karena kurang sabar terhadap yang diinginkan, dan mungkin di antara mereka ada yang tidak beriman kepada kebangkitan dan hukuman. Yang mengherankan bukanlah orang seperti itu, tetapi yang mengherankan adalah orang mukmin yang yakin tetapi keyakinannya tidak bermanfaat baginya! Dia berakal dalam memikirkan akibat-akibat, tetapi akalnya tidak bermanfaat baginya!

Bab 352: Orang yang Dikaruniai Cita-cita Tinggi Akan Tersiksa Sesuai Ketinggiannya

1542- Orang yang dikaruniai cita-cita tinggi akan tersiksa sesuai dengan ketinggiannya! Sebagaimana kata penyair:

“Jika jiwa-jiwa itu besar, maka jasad akan lelah dalam mencapai maksudnya.”

Dan penyair lain berkata:

“Setiap jasad memiliki cobaan dalam kekurusan, dan cobaan jasadku adalah karena tingginya cita-citaku.”

Penjelasannya adalah bahwa orang yang tinggi cita-citanya akan menuntut semua ilmu dan tidak membatasi diri pada sebagiannya saja. Dia menuntut puncak dari setiap ilmu, dan hal ini tidak dapat ditanggung oleh badan.

1543- Kemudian dia melihat bahwa yang dimaksud adalah amal, maka dia bersungguh-sungguh dalam qiyamullail dan puasa siang hari. Menggabungkan antara hal itu dengan ilmu itu sulit. Kemudian dia ingin meninggalkan dunia, tetapi dia membutuhkan sesuatu yang tidak bisa dihindari. Dia menyukai mengutamakan orang lain tetapi tidak mampu kikir. Sifat dermawan menuntutnya untuk memberi, tetapi harga diri mencegahnya dari mencari nafkah. Jika dia mengikuti tabiatnya yang dermawan, dia akan membutuhkan dan fakir, badannya dan keluarganya akan terpengaruh. Jika dia menahan diri, tabiatnya menolak hal itu.

Secara keseluruhan, dia membutuhkan perjuangan dan menggabungkan hal-hal yang bertentangan. Maka dia selamanya dalam kesusahan yang tidak berakhir dan kelelahan yang tidak selesai. Kemudian jika dia merealisasikan keikhlasan dalam amal-amal, kelelahannya bertambah dan penderitaannya menguat.

1544- Maka di mana dia dengan orang yang rendah cita-citanya?! Jika dia seorang faqih lalu ditanya tentang hadits, dia berkata: “Aku tidak tahu!” Jika dia seorang muhaddits lalu ditanya tentang masalah fiqh, dia berkata: “Aku tidak tahu!” Dan dia tidak peduli jika dikatakan tentang dirinya: “Dia kurang!”

1545- Orang yang tinggi cita-citanya melihat kekurangan dalam sebagian ilmu sebagai aib yang telah membuka cacatnya dan menunjukkan auratnya kepada manusia. Orang yang rendah cita-citanya tidak peduli dengan pemberian manusia, tidak merasa jelek meminta-minta kepada mereka, dan tidak malu dari penolakan.

Orang yang tinggi cita-citanya tidak tahan dengan hal itu.

Tetapi kelelahan orang yang tinggi cita-citanya adalah kesenangan dalam makna, sedangkan kesenangan orang yang rendah cita-citanya adalah kelelahan dan aib, jika ada pemahaman.

1546- Dunia adalah tempat berlomba menuju puncak-puncak kemuliaan. Maka sepatutnya orang yang memiliki cita-cita tidak mengurangi usahanya dalam lintasannya. Jika dia menang, itulah yang diinginkan. Jika kudanya tersandung meskipun dengan kesungguhannya, dia tidak tercela.

Bab 353: Musibah Terbesar adalah Ridha Manusia terhadap Dirinya

1547- Musibah terbesar adalah ridha manusia terhadap dirinya dan merasa cukup dengan ilmunya! Ini adalah cobaan yang telah melanda kebanyakan manusia. Kamu melihat orang Yahudi atau Nasrani merasa bahwa dia berada di atas kebenaran, tidak mau meneliti dan tidak mau melihat dalil kenabian Nabi kami shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika dia mendengar sesuatu yang melunakkan hatinya, seperti Al-Quran yang mu’jizat, dia lari agar tidak mendengar! Demikian pula setiap orang yang mengikuti hawa nafsu tetap pada pendiriannya, entah karena itu adalah mazhab ayah dan keluarganya, atau karena dia pernah melihat sesuatu dan menganggapnya benar, tetapi tidak melihat apa yang menentangnya dan tidak berdiskusi dengan ulama agar mereka menjelaskan kesalahannya!

1548- Seperti ini keadaan orang-orang Khawarij terhadap Amirul Mukminin Ali radhiyallahu ‘anhu. Mereka menganggap baik apa yang terjadi pada mereka dan tidak kembali kepada orang yang tahu. Ketika Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu menemui mereka dan menjelaskan kesalahan mereka, dua ribu orang di antara mereka kembali dari mazhabnya. Di antara yang tidak kembali dari hawa nafsunya adalah Ibnu Muljam. Dia melihat mazhabnya adalah kebenaran, maka dia menghalalkan membunuh Amirul Mukminin radhiyallahu ‘anhu dan menganggapnya sebagai agama, sampai-sampai ketika anggota-anggota tubuhnya dipotong, dia tidak melawan. Tetapi ketika lidahnya mau dipotong, dia gelisah dan berkata: “Bagaimana aku bisa bertahan sejenak di dunia tanpa berdzikir kepada Allah?!” Orang seperti ini tidak ada obatnya.

1549- Demikian pula al-Hajjaj yang berkata: “Demi Allah, aku tidak mengharap kebaikan kecuali setelah mati!” Ini perkataannya! Dan betapa banyak orang yang tidak halal dibunuh telah dia bunuh, di antaranya Sa’id bin Jubair.

1550- Abdul Wahhab dan Ibnu Nashir al-Hafizh telah mengabarkan kepada kami, keduanya berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar mengabarkan kepada kami, dia berkata: Al-Husain bin Muhammad an-Nushaibi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Ismail bin Sa’id mengabarkan kepada kami, dia berkata: Abu Bakr bin al-Anbari menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Isa al-Khatli menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Ya’la menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-Ashma’i menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Ashim menceritakan kepada kami, dari Abbad bin Katsir, dari Qahzam, dia berkata: Ditemukan di penjara al-Hajjaj tiga puluh tiga ribu orang, tidak ada satu pun di antara mereka yang wajib dipotong, dibunuh, atau disalib.

1551- Aku berkata: Kebanyakan penguasa membunuh dan memotong karena mengira hal itu boleh! Seandainya mereka bertanya kepada ulama, pasti para ulama akan menjelaskan kepada mereka.

1552- Kebanyakan orang awam berani melakukan dosa karena mengandalkan ampunan dan melupakan hukuman! Di antara mereka ada yang mengandalkan bahwa dia termasuk Ahlus Sunnah, atau bahwa dia memiliki kebaikan-kebaikan yang mungkin bermanfaat. Semua ini karena kuatnya kebodohan. Maka sepatutnya manusia bersungguh-sungguh dalam mengetahui dalil, tidak berdiam dengan syubhatnya, dan tidak percaya dengan ilmu dirinya sendiri. Kami memohon kepada Allah keselamatan dari semua bencana.

Bab 354: Bab yang Perlu Direnungkan: Balasan Sudah Mengintai

1553- Ketahuilah bahwa balasan sudah mengintai, baik berupa kebaikan maupun kejahatan. Termasuk tertipu adalah jika orang yang berdosa menyangka ketika tidak melihat hukuman bahwa dia telah dimaafkan. Padahal terkadang hukuman datang setelah beberapa waktu. Jarang orang yang melakukan dosa kecuali dia akan dibalas karenanya. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Barangsiapa mengerjakan kejahatan, niscaya dia akan dibalas dengannya” (QS. An-Nisa’: 123).

1554- Adam ‘alaihissalam memakan satu suap, dan kalian telah mengetahui apa yang terjadi padanya. Wahb bin Munabbih berkata: Allah Ta’ala mewahyukan kepadanya: “Bukankah Aku telah memilihmu untuk diri-Ku, menempatkanmu di rumah-Ku, dan menyuruh malaikat-malaikat-Ku sujud kepadamu?! Lalu kamu durhaka kepada perintah-Ku dan lupa akan janji-Ku!! Demi kemuliaan-Ku, seandainya Aku memenuhi seluruh bumi dengan orang-orang sepertimu yang beribadah dan bertasbih siang malam, kemudian mereka durhaka kepada-Ku, pasti Aku turunkan mereka ke tempat-tempat orang-orang durhaka.” Maka Jibril melepas mahkota dari kepalanya, Mikail melepas sorban dari dahinya, dan menarik ubun-ubunnya, lalu diturunkan. Adam menangis selama tiga ratus tahun di atas Gunung Hindi, air matanya mengalir di lembah-lembah gunungnya, sehingga dari air mata itulah tumbuh pohon-pohon wangi-wangian kalian ini.

1555- Demikian pula Dawud ‘alaihissalam, dia memandang satu pandangan, maka hal itu mewajibkan teguran kepadanya dan tangisan yang terus-menerus, sampai rumput tumbuh dari air matanya.

1556- Adapun Sulaiman ‘alaihissalam, ada orang-orang yang bersengketa kepadanya, dan hatinya condong kepada salah satu pihak yang bersengketa, maka dia dihukum dan berubah di mata manusia. Dia biasa berkata: “Berilah aku makan!” tetapi tidak diberi makan.

1557- Adapun Ya’qub ‘alaihissalam, dikatakan bahwa dia menyembelih anak sapi di depan ibunya, maka dia dihukum dengan perpisahan dari Yusuf.

1558- Adapun Yusuf ‘alaihissalam, dia diambil karena niat (yang tidak baik), dan setiap saudara-saudaranya melahirkan dua belas anak, sedangkan dia kekurangan satu anak karena niat tersebut.

1559- Adapun Ayyub ‘alaihissalam, dia kurang dalam mengingkari raja yang zalim karena kuda-kuda yang ada di wilayahnya, maka dia diuji.

1560- Adapun Yunus ‘alaihissalam, dia keluar dari kaumnya tanpa izin, maka dia ditelan ikan paus.

1561- Allah Azza wa Jalla mewahyukan kepada Armiya: “Sesungguhnya kaummu telah meninggalkan perkara yang dengannya Aku muliakan nenek moyang mereka. Demi kemuliaan-Ku, pasti Aku kirimkan kepada mereka tentara-tentara yang tidak mengasihani tangisan mereka.” Dia berkata: “Ya Rabb! Mereka adalah anak cucu kekasih-Mu Ibrahim, umat pilihan-Mu Musa, dan kaum nabi-Mu Dawud.” Allah Ta’ala mewahyukan kepadanya: “Sesungguhnya Aku memuliakan Ibrahim, Musa, dan Dawud karena ketaatan mereka kepada-Ku. Seandainya mereka durhaka kepada-Ku, pasti Aku turunkan mereka ke tempat-tempat orang-orang durhaka.”

1562- Seorang ahli ibadah memandang seseorang yang tampan, maka gurunya berkata kepadanya: “Apa-apaan pandangan ini?! Kamu akan merasakan akibatnya.” Maka dia lupa Al-Quran setelah empat puluh tahun.

1563- Yang lain berkata: “Aku pernah mencela seseorang yang sebagian giginya telah hilang, maka gigi-gigiku pun rontok! Aku memandang seorang wanita yang tidak halal bagiku, maka orang yang tidak aku inginkan memandang istriku!”

1564- Ada seorang anak durhaka yang memukul ayahnya dan menyeretnya ke suatu tempat. Ayahnya berkata kepadanya: “Cukup! Sampai di sini pula dulu aku menyeret ayahku!!”

1565- Ibnu Sirin berkata: “Aku pernah mencela seorang laki-laki karena bangkrut, maka aku pun bangkrut.” Yang seperti ini banyak.

1566- Di antara yang paling mengagumkan yang aku dengar adalah tentang Wazir Ibnu Jahir yang bergelar an-Nizam: Al-Muqtafi marah kepadanya dan memerintahkan agar diambil darinya sepuluh ribu dinar. Keluarganya masuk kepadanya dengan sedih dan berkata kepadanya: “Dari mana kamu mendapat sepuluh ribu dinar?!” Dia berkata: “Yang diambil dariku tidak akan sampai sepuluh, atau lima, atau empat.” Mereka berkata: “Dari mana kamu tahu?” Dia berkata: “Sesungguhnya aku pernah menzalimi seorang laki-laki dan memaksanya membayar tiga ribu, maka yang diambil dariku tidak akan lebih dari itu.” Ketika dia membayar tiga ribu dinar, khalifah membebaskannya dan memaafkan sisanya.

1567- Aku berkata tentang diriku sendiri: Tidak pernah turun kepadaku bencana, kesedihan, atau sesak dada, kecuali karena kesalahan yang aku ketahui, sampai aku bisa berkata: “Ini karena perkara si fulan.” Terkadang aku menta’wil setelahnya, lalu aku melihat hukumannya. Maka sepatutnya manusia mengantisipasi balasan dosa-dosa, karena jarang yang selamat darinya.

1568- Dan hendaklah bersungguh-sungguh dalam bertaubat. Telah diriwayatkan dalam hadits: “Tidak ada sesuatu yang lebih cepat menyusul sesuatu daripada kebaikan yang baru untuk dosa yang lama.” Bersama dengan taubat hendaklah takut dari siksa dan mengharapkannya, karena Allah Ta’ala telah menerima taubat para nabi ‘alaihimussalam. Dalam hadits syafa’at: “Adam berkata: ‘Dosaku’, Ibrahim dan Musa berkata: ‘Dosaku’.”

1569- Jika ada yang berkata: Firman Allah Ta’ala: “Barangsiapa mengerjakan kejahatan, niscaya dia akan dibalas dengannya” (QS. An-Nisa’: 123) adalah berita, maka itu mengharuskan tidak memaafkan orang yang berdosa, padahal kita telah mengetahui penerimaan taubat dan maaf kepada orang-orang yang salah?

Maka jawabannya: dari dua sisi:

Pertama: bahwa hal itu berlaku bagi orang yang mati dalam keadaan bersikeras (tidak mau bertobat), dan tidak bertobat; karena sesungguhnya tobat dapat menghapus apa yang telah lalu sebelumnya.

Kedua: bahwa hal itu berlaku secara mutlak, dan inilah yang saya pilih, dan saya berdalil dengan nash dan akal: Adapun nash; ketika ayat ini turun, Abu Bakar berkata: “Wahai Rasulullah! Apakah kita akan dibalas dengan semua yang kita perbuat?” Maka beliau bersabda: “Bukankah kamu sakit? Bukankah kamu sedih? Bukankah kamu ditimpa kesusahan? Maka itulah balasan yang akan kalian terima.”

Adapun dari segi akal, sesungguhnya seorang mukmin jika bertobat dan menyesal, maka penyesalannya terhadap dosanya di setiap waktu lebih kuat daripada setiap hukuman; maka celakalah orang yang mengetahui pahitnya balasan yang kekal, kemudian memilih kelezatan maksiat sesaat!

Pasal 355: Muhasabah Diri Sebelum Dihisab

1570 – Suatu hari saya merenungkan diriku dengan renungan yang serius, lalu saya hisab diriku sebelum dihisab, dan saya timbang sebelum ditimbang, maka saya melihat kelembutan Ilahi: sejak masa kanak-kanak hingga sekarang saya melihat kelembutan demi kelembutan, dan penutupan atas keburukan, dan pengampunan atas apa yang mengharuskan hukuman, dan saya tidak melihat syukur atas itu kecuali dengan lisan!

1571 – Dan sungguh saya telah merenungkan dosa-dosa, jika dihukum dengan sebagiannya; niscaya saya akan binasa dengan cepat, dan jika sebagiannya dibuka kepada manusia, niscaya saya akan malu.

Dan janganlah ada yang meyakini ketika mendengar ini bahwa dosa-dosa itu termasuk dosa-dosa besar, sehingga dia menyangka seperti sangkaannya terhadap orang-orang fasik; bahkan itu adalah dosa-dosa yang buruk bagi orang seperti saya, yang terjadi karena takwil-takwil yang rusak. Maka ketika saya berdoa, saya berkata: “Ya Allah! Dengan pujian-Mu dan penutupan-Mu atasku, ampunilah aku!”

1572 – Kemudian saya menuntut diriku untuk bersyukur atas itu; maka saya tidak mendapatinya sebagaimana mestinya. Kemudian saya menuntut kepada takdir keinginan-keinginanku, dan tidak menuntut diriku dengan sabar atas yang tidak disukai, dan tidak dengan syukur atas nikmat.

Maka saya mulai meratapi kekuranganku dalam bersyukur kepada Yang Memberi Nikmat, dan bahwa saya menikmati menyampaikan ilmu tanpa benar-benar mengamalkannya.

1573 – Dan saya dulu mengharapkan kedudukan orang-orang besar, maka habislah umur, dan tidak tercapai yang diinginkan!!

Maka saya mendapati Abu al-Wafa Ibnu Aqil telah meratapi seperti ratapiannku, maka ratapannya mengagumkanku, lalu saya tuliskan di sini, dia berkata kepada dirinya:

Wahai diri yang bodoh! Kamu memperbaiki kata-kata agar dikatakan: si pendebat dan buah dari ini adalah agar dikatakan: wahai pendebat! Sebagaimana dikatakan kepada pegulat: si pemberani.

Kamu telah menyia-nyiakan hal yang paling berharga dan paling mulia menurut orang-orang berakal -yaitu hari-hari umur- hingga tersebar bagimu di antara orang yang akan mati besok nama pendebat, kemudian akan lupa yang mengingat dan yang diingat ketika hati-hati telah usang! Ini jika urusan tertunda hingga kematianmu; bahkan mungkin tumbuh pemuda yang lebih cerdas darimu, maka mereka berbohong kepadanya, dan nama itu menjadi miliknya. Dan orang-orang berakal dari Allah mereka sibuk dengan apa yang jika mereka terlipat akan membentangkan mereka, yaitu mengamalkan ilmu, dan pandangan yang murni untuk jiwa-jiwa mereka.

Cih untuk diriku! Padahal saya telah menulis beberapa jilid dalam berbagai cabang ilmu, dan tidak harum dengannya keutamaan, jika diperdebatkan, sombong, dan jika dinasihati; angkuh, dan jika dunia terlihat; terbang kepadanya seperti terbangnya burung nasar, dan jatuh ke atasnya seperti jatuhnya gagak pada bangkai, andai saja dia mengambil seperti mengambilnya orang yang terpaksa dari bangkai, berhati-hati dalam bergaul dengan aib-aib yang merusak, dan tidak malu pandangan Yang Haq kepadanya, dan jika patah untuknya tujuan; dia kesal, jika diberi nikmat; dia sibuk dari Yang Memberi Nikmat!!

Cih demi Allah dariku, hari ini di atas muka bumi, dan besok di bawahnya! Demi Allah, sesungguhnya busuknya jasadku setelah tiga hari di bawah tanah lebih sedikit daripada busuknya akhlakku dan aku berada di antara sahabat-sahabat!

Demi Allah, sesungguhnya aku telah terpesona dengan sabarnya Yang Mulia ini terhadapku, bagaimana Dia menutupi diriku, sedangkan aku melanggar batas, dan Dia mengumpulkanku sedangkan aku bercerai-berai?! Dan besok akan dikatakan: mati ulama yang alim lagi saleh, seandainya mereka mengenalku dengan pengenalan yang sebenarnya tentang diriku, mereka tidak akan menguburkanku.

Demi Allah, sungguh saya akan menyerukan diriku dengan seruan orang-orang yang membuka aib-aib musuh, dan akan meratapi ratapan orang-orang yang kehilangan anak-anak, karena tidak ada yang meratapiku meratapi aku untuk musibah-musibah yang tersembunyi ini, dan sifat-sifat yang tertutup, yang telah ditutupi oleh Yang mengetahui kabarnya, dan disembunyikan oleh Yang mengetahuinya.

Demi Allah, saya tidak mendapati untuk diriku sifat yang baik sehingga saya anggap baik untuk berkata dengan bertawassul dengannya: “Ya Allah! Ampunilah aku ini karena ini.”

Demi Allah, saya tidak pernah menoleh kecuali saya dapati dari-Nya Subhanahu kebaikan yang mencukupiku, dan perlindungan yang melindungiku dari serangan musuh-musuh, dan tidak pernah muncul hajat lalu saya mengulurkan tanganku kecuali Dia memenuhinya. Ini perbuatan-Nya terhadapku, dan Dia adalah Tuhan yang Maha Kaya dari diriku, dan ini perbuatanku, dan aku adalah hamba yang fakir kepada-Nya!! Dan tidak ada uzur bagiku sehingga aku berkata: aku tidak tahu, atau: aku lupa.

Demi Allah, sungguh Dia telah menciptakanku dengan penciptaan yang sehat lagi sempurna, dan menerangi hatiku dengan kecerdasan, hingga sesungguhnya hal-hal yang ghaib dan tersembunyi terbuka bagi pemahamanku, maka wahai penyesalanku atas umur yang telah berlalu dalam apa yang tidak sesuai dengan ridha! Wahai kehilanganku akan kedudukan para lelaki dan orang-orang cerdas! Wahai penyesalanku atas apa yang telah aku sia-siakan di sisi Allah, dan gembira musuh atasaku! Wahai kekalahanku dari orang yang berbaik sangka kepadaku ketika anggota-anggota tubuh bersaksi atasku! Wahai ketersingkiranku ketika tegaknya hujjah! Setan -demi Allah- telah mengolok-olokku, padahal aku orang yang cerdas!!

Ya Allah, tobat yang murni dari kotoran-kotoran ini, dan bangkit yang jujur untuk membersihkan apa yang tersisa dari kekeruhan-kekeruhan, dan aku telah datang kepada-Mu setelah lima puluh tahun, dan aku termasuk makhluk yang rusak, dan ilmu menolak kecuali mengambil tanganku ke tempat kemuliaan, dan tidak ada wasilah bagiku kecuali penyesalan dan penyesalan; maka demi Allah aku tidak mendurhakai-Mu dalam keadaan jahil terhadap kadar nikmat-Mu, dan tidak dalam keadaan lupa terhadap apa yang telah Engkau dahulukan dari kemuliaan-Mu, maka ampunilah aku atas perbuatanku yang lalu.

Pasal 356: Permusuhan Kerabat Itu Sulit

1574 – Permusuhan kerabat itu sulit, dan mungkin berlangsung lama, seperti perang Bakr dan Taghlib keduanya anak Wa’il, dan Abs dan Zubyan keduanya anak Baghd, dan Aus dan Khazraj keduanya anak Qailah. Al-Jahizh berkata: Perang ini berlangsung selama empat puluh tahun.

Dan sebab dalam hal ini adalah bahwa setiap orang dari kerabat tidak suka jika kerabatnya mengungguli dirinya, maka terjadilah saling dengki.

1575 – Maka hendaklah orang yang dilebihkan atas kerabat-kerabatnya agar rendah hati kepada mereka, dan mengangkat mereka dengan kemampuannya, dan berlembut kepada mereka; mudah-mudahan dia selamat. Seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Aku mempunyai kerabat yang aku sambung tetapi mereka memutuskanku?” Maka beliau bersabda: “Maka seakan-akan kamu menyuapi mereka abu panas, dan tidak akan berhenti bersamamu dari Allah penolong selama kamu tetap atas itu.”

Pasal 357: Mukmin yang Berakal Tidak Menoleh kepada yang Mendengkinya

1576 – Saya melihat anjing-anjing pemburu, jika melewati anjing-anjing kampung, anjing-anjing ini menggonggong, dan berlebihan, dan berlari cepat mengikutinya, dan seakan-akan dia melihatnya dimuliakan dan diagungkan, maka dia mendengkinya karena itu! Dan saya melihat anjing-anjing pemburu ketika itu tidak menoleh kepadanya, dan tidak memperdulikannya, dan tidak menganggap gonggongannya sesuatu! Maka saya melihat bahwa anjing-anjing pemburu seakan-akan bukan dari jenis anjing-anjing itu; karena anjing-anjing itu kasar badannya, tebal anggota-anggotanya, tidak ada amanah baginya, sedangkan ini halus, tipis penciptaannya, dan bersamanya adab-adab yang sesuai dengan penciptaannya yang halus, dan bahwa dia menahan buruan untuk pemiliknya karena takut hukumannya, atau karena memelihara syukur nikmatnya kepadanya.

Maka saya melihat bahwa adab dan kebaikan pergaulan mengikuti kehalusan badan, dan kejernihan ruh, dan begitulah mukmin yang berakal, tidak menoleh kepada yang mendengkinya, dan tidak menganggapnya sesuatu; karena dia berada di lembah, dan yang itu di lembah lain, dan yang itu mendengkinya karena dunia, sedangkan ini cita-citanya akhirat, maka wahai jauhnya antara dua lembah!

Pasal 358: Memperhatikan-Nya Termasuk Hal yang Paling Penting

1577 – Hendaklah orang yang beriman kepada Allah Ta’ala menyerahkan kepada-Nya dalam perbuatan-perbuatan-Nya, dan mengetahui bahwa Dia Maha Bijaksana dan Maha Memiliki, dan bahwa Dia tidak main-main; maka jika tersembunyi baginya hikmah perbuatan-Nya, dia menisbatkan kebodohan kepada dirinya, dan menyerahkan kepada Yang Maha Bijaksana lagi Maha Memiliki; maka jika akal menuntutnya dengan hikmah perbuatan, dia berkata: tidak tampak bagiku, maka wajib atasku menyerahkan urusan kepada Pemiliknya.

1578 – Dan sesungguhnya suatu kaum memandang dengan akal semata kepada banyak perbuatan-perbuatan Yang Haq Subhanahu; maka mereka melihatnya seandainya keluar dari makhluk, akan dinisbatkan padanya lawan hikmah, maka mereka menisbatkan Khaliq kepada itu!! Dan ini adalah kekafiran yang murni, dan kegilaan yang dingin!

Dan yang wajib adalah menisbatkan kebodohan kepada jiwa-jiwa; karena akal-akal lemah dari melihat hikmah-Nya, dan yang pertama melakukan itu adalah Iblis; karena sesungguhnya dia telah melihat-Nya telah melebihkan tanah atas api, sedangkan akal melihat api lebih utama, maka dia mencela hikmah-Nya, dan merata bala ini pada makhluk yang dinisbatkan kepada ilmu, dan banyak dari orang awam, maka betapa banyak kita telah melihat seorang alim yang keberatan, dan orang awam yang menolak lalu kafir! Dan ini adalah bala yang telah meliputi kebanyakan makhluk, mereka melihat seorang alim yang disempitkan rezekinya, dan seorang fasik yang dilapangkan rezekinya, maka mereka berkata: ini tidak layak dengan hikmah!!

1579 – Dan telah diketahui para ulama bahwa Allah Ta’ala telah menfardukan zakat-zakat dan kharaj dan jizyah dan ghanimah dan kafarat agar tercukupi dengannya orang-orang fakir, maka dikhususkan dengan itu para penganiaya, dan Dia bergaul dengan orang yang wajib atasnya zakat dengan mengeluarkan sebagiannya; maka lapar orang fakir! Maka hendaklah kita mencela para penganiaya ini, dan tidak keberatan kepada Yang menentukan kecukupan bagi orang-orang fakir.

Dan telah terjadi dalam itu hukuman bagi para penganiaya dalam menahan mereka hak-hak, dan ujian bagi orang-orang fakir dengan sabar mereka dari bagian-bagian mereka.

1580 – Dan kebanyakan orang-orang yang keberatan ini hampir tidak selamat ketika keluarnya ruh dari keberatan yang keluar kepada kekafiran, maka keluar jiwa dalam keadaan kafir. Maka betapa banyak orang awam yang berkata: si fulan telah diuji, padahal dia tidak layak! Dan maknanya: bahwa telah diperbuat kepadanya apa yang tidak layak dengan kebenaran, dan telah berkata sebagian orang yang terbuang:

Wahai Tuhanku Engkau menciptakan bulan-bulan malam Dan dahan-dahan pohon ban, dan bukit-bukit pasir Dan Engkau melarang hamba-hamba-Mu agar tidak jatuh cinta Wahai Hakim keadilan, yang mempunyai hukum yang adil

Dan seperti ini dinasyidkan oleh sekelompok ulama dan mereka menganggapnya baik, padahal itu kekafiran murni!!

Dan tidak paham orang-orang yang mengatakan ini rahasia larangan dan maknanya; karena Dia tidak melarang dari jatuh cinta; dan hanya melarang dari mengamalkan tuntutan cinta dari hal-hal yang haram, seperti memandang, dan menyentuh, dan perbuatan yang buruk.

1581 – Dan dalam menahan diri dari yang diinginkan adalah dalil atas iman dengan adanya Yang melarang, seperti sabarnya orang yang haus di bulan Ramadan dari air, maka sesungguhnya itu dalil atas iman dengan adanya Yang memerintahkan puasa, dan menyerahkan jiwa-jiwa kepada pembunuhan dan jihad dalil atas yakin dengan balasan.

Kemudian yang dianggap baik adalah contoh apa yang telah disediakan, maka di mana akal yang memperhatikan?! Tidak, seandainya dia memperhatikan, dan sabar sedikit, niscaya dia merugi banyak.

1582 – Dan seandainya saya pergi menyebutkan apa yang telah saya ketahui dari keberatan para ulama dan orang awam; niscaya panjang, dan di antara orang yang paling baik keadaannya dalam itu adalah apa yang diceritakan tentang Ibnu ar-Rawandi bahwa dia lapar suatu hari, dan laparnya sangat, maka dia duduk di atas jembatan dan telah menyakitkan dia kelaparan, maka lewat kuda-kuda yang dihias dengan sutera dan brokat, maka dia berkata: untuk siapa ini? Maka mereka berkata: untuk Ali bin Baltaq budak Khalifah. Maka lewat budak-budak wanita yang cantik-cantik, maka dia berkata: untuk siapa ini? Maka mereka berkata: untuk Ali bin Baltaq, maka lewat kepadanya seorang laki-laki, maka dia melihatnya, dan padanya bekas bahaya, maka dia melemparkan kepadanya dua roti, maka dia mengambilnya, dan melemparkannya, dan berkata: ini untuk Ali bin Baltaq, dan kedua ini untukku?! Dan lupa si bodoh yang tolol bahwa dia dengan apa yang dia katakan dan keberatan dan perbuat pantas untuk kelaparan ini.

1583 – Maka wahai orang-orang yang keberatan padahal mereka dalam kekurangan yang sangat -kepada Yang tidak ada cacat dalam perbuatan-Nya! Kalian pada awalnya dari air dan tanah, dan pada kedua dari air yang hina, kemudian kalian memikul najis selamanya, dan seandainya ditahan dari kalian udara, niscaya kalian menjadi bangkai, dan seandainya dipercepat dari kalian binasa kalian, dan betapa banyak pendapat yang dilihat orang bijak kalian; maka jika dia memaparkannya kepada yang lain, tampak baginya buruknya pendapatnya.

Kemudian maksiat-maksiat dari kalian berlebihan dalam batas, maka tidak ada pada kalian kecuali keberatan kepada Pemilik yang Bijaksana?! Dan seandainya tidak ada dalam bala-bala ini kecuali bahwa dikehendaki dari kita penyerahan; niscaya cukup.

1584 – Dan seandainya Dia menciptakan makhluk untuk menunjukkan wujud-Nya. Kemudian membinasakan mereka, dan tidak mengembalikan mereka, adalah itu untuk-Nya; karena Dia Pemilik; tetapi Dia dengan karunia-Nya berjanji dengan pengembalian dan balasan dan kekal yang abadi dalam kenikmatan. Maka kapan saja terjadi urusan yang tidak kamu ketahui sebabnya, maka nisbatkan itu kepada kekurangan ilmumu, dan kamu mungkin melihat orang yang terbunuh dengan zalim, dan betapa banyak yang telah terbunuh dan dizalimi, hingga dibalas dengan sebagiannya. Dan jarang terjadi kepada seseorang bencana kecuali dan dia layak mendapatkannya, hanya saja bencana-bencana yang dibalas dengannya ghaib dari kita, dan kita melihat balasan saja.

Maka serahkanlah niscaya kamu selamat, dan hati-hatilah seluruh keberatan atau menyimpan, maka mungkin mengeluarkanmu dari lingkaran Islam.

Pasal 359: Keadaan Manusia pada Hari Raya Menyerupai Keadaan Mereka pada Hari Kiamat

1585 – Saya melihat manusia pada hari raya, maka saya menyerupakan keadaan dengan kiamat: karena sesungguhnya mereka ketika bangun dari tidur mereka, keluar ke hari raya mereka seperti keluarnya orang-orang mati dari kubur-kubur mereka ke tempat berkumpul mereka.

1586 – Maka di antara mereka ada yang hiasannya puncak, dan kendaraannya puncak, dan di antara mereka yang menengah, dan di antara mereka yang tercela, dan atas ini keadaan manusia pada hari kiamat: Allah Ta’ala berfirman: “Pada hari Kami kumpulkan orang-orang yang bertakwa kepada Yang Maha Pengasih sebagai utusan” (Surat Maryam), yaitu: sebagai penunggang kuda: “Dan Kami halau orang-orang yang berdosa ke neraka Jahannam dalam keadaan kehausan” (Surat Maryam), yaitu: dalam keadaan haus, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mereka dikumpulkan sebagai penunggang dan pejalan kaki dan atas wajah-wajah mereka”, dan di antara manusia ada yang terinjak dalam desakan hari raya, dan demikian para penganiaya, manusia menginjak mereka dengan kaki-kaki mereka pada hari kiamat.

1587 – Dan di antara manusia pada hari raya adalah orang kaya yang bersedekah, demikian pada hari kiamat ahli kebaikan di dunia adalah ahli kebaikan di akhirat. Dan di antara mereka orang fakir yang meminta, yang meminta agar diberi, demikian pada hari pembalasan: “Aku sediakan syafaatku untuk ahli dosa-dosa besar”, dan di antara mereka ada yang tidak dikasihani: “Maka tidak ada bagi kami orang-orang yang memberi syafat, dan tidak pula teman yang karib” (Surat asy-Syu’ara).

1588 – Dan bendera-bendera berkibar pada hari raya, demikian bendera-bendera orang-orang bertakwa pada hari kiamat, dan terompet ditiup, demikian diberitakan keadaan hamba, maka dikatakan: wahai ahli tempat berdiri! Sesungguhnya si fulan telah berbahagia dengan kebahagiaan yang tidak ada kecelakaan setelahnya, dan sesungguhnya si fulan telah celaka dengan kecelakaan yang tidak ada kebahagiaan setelahnya.

1589 – Kemudian mereka kembali dari hari raya dengan orang-orang khusus ke pintu kamar memberitahukan pelaksanaan perintah-perintah: “Mereka itulah orang-orang yang didekatkan” (Surat al-Waqi’ah: 11), maka keluar surat kepada mereka: “Dan adalah usaha kalian yang disyukuri” (Surat al-Insan: 22). Dan yang di bawah mereka berbeda keadaannya: maka di antara mereka ada yang kembali ke rumah yang makmur “Dengan apa yang kalian dahulukan pada hari-hari yang telah lalu” (Surat al-Haqqah: 24), dan di antara mereka menengah, dan di antara mereka ada yang kembali ke rumah kemiskinan. Maka ambillah pelajaran wahai orang-orang yang berakal.

Pasal 360: Berisi Nasihat untuk Para Ulama dan Zahid

1590 – Wahai kaum! Kalian telah mengetahui bahwa amal-amal itu dengan niat-niat, dan kalian telah memahami firman Allah Ta’ala: “Ketahuilah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)” (Surat az-Zumar: 3), dan kalian telah mendengar dari salaf bahwa mereka tidak mengajar, dan tidak berkata hingga niat mendahului dan benar.

1591 – Apakah akan habis zaman kalian wahai para fuqaha dalam perdebatan dan teriakan, dan terangkat suara-suara kalian ketika berkumpul orang awam kalian maksudkan untuk mengalahkan?! Atau tidak kah kalian mendengar: “Barang siapa mencari ilmu untuk membanggakan dengannya para ulama, atau untuk berdebat dengannya orang-orang bodoh, atau untuk memalingkan dengannya wajah-wajah manusia kepadanya; dia tidak akan mencium bau surga” Kemudian salah seorang kalian maju untuk berfatwa, padahal dia bukan ahlinya, dan para salaf dulu saling mendorong untuk menjauhinya.

1592

Wahai para kaum yang berlaku zuhud! Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi dan yang lebih tersembunyi lagi! Apakah kalian menampakkan kemiskinan dalam pakaian kalian, padahal kalian masih memenuhi nafsu-nafsu jiwa, dan menampakkan kerendahan hati serta tangisan di hadapan orang banyak tetapi tidak di tempat sepi?! Ibn Sirin biasa tertawa dan tertawa terbahak-bahak, namun ketika sendirian dia menangis sebagian besar malam. Sufyan berkata kepada temannya: “Betapa tidak malunya kamu! Kamu shalat padahal orang-orang melihatmu?!”

Aku akan menebus rusa-rusa padang pasir yang tidak pernah mengenal di sana mengunyah pembicaraan, ataupun pewarnaan alis.

1593

Celakalah bagi para pemanis muka di hari: “Dan dihimpun apa yang ada di dalam dada” (Surat Al-Adiyat: 10), yaitu niat-niat! Maka sadarlah dari kemabukan kalian, bertobatlah dari kesalahan kalian, dan istiqamahlah di jalan yang benar: “Agar jiwa tidak mengatakan: Aduhai celakalah aku atas kelalaianku terhadap (kewajiban) Allah” (Surat Az-Zumar: 56).

Bab 361: Kekacauan Sebagian Ulama dan Ahli Ibadah

1594

Aku melihat kebanyakan manusia menyimpang dari syariat, berjalan mengikuti kebiasaan yang mereka kenal. Dan mungkin di antara mereka ada dua kelompok yang terbebas: ulama dan ahli ibadah.

1595

Aku merenungkan kebanyakan ulama, lalu aku melihat mereka dalam kekacauan: di antara mereka ada yang hanya membatasi diri pada urusan dunia, dan berpaling dari urusan akhirat: entah karena ketidaktahuannya terhadapnya, atau karena beratnya perkara itu baginya. Maka dia tidak menjalankan apa yang berat baginya dari yang diwajibkan oleh ilmu, dan mengikuti kebiasaan-kebiasaan dalam hal yang lain! Dan mungkin dia mengira bahwa dia diberi keringanan dalam dosa-dosa, karena dia seorang yang berilmu, padahal dia lupa bahwa ilmu adalah hujah atasnya.

Di antara mereka ada yang terpaku pada bentuk lahir ilmu, lengah dari tujuan ilmu. Dan di antara mereka ada yang bergaul dengan penguasa, maka si pergaul tersakiti dengan apa yang dilihatnya berupa dosa-dosa dan kezaliman, namun dia tidak bisa mengingkari, bahkan mungkin memuji! Dan penguasa tersakiti dengan persahabatannya, lalu berkata: “Seandainya aku tidak benar, orang ini tidak akan duduk bersamaku!” Dan rakyat awam tersakiti, lalu berkata: “Seandainya perkara penguasa tidak dekat, ulama ini tidak akan bergaul dengannya!”

Aku melihat para keturunan Nabi mempercayai syafaat nenek moyang mereka, dan melupakan bahwa orang Yahudi adalah dari Bani Israil!

1596

Adapun kelompok kedua, yaitu para ahli ibadah, aku melihat kebanyakan mereka dalam kekacauan: Adapun yang benar tujuannya di antara mereka, mereka tidak berada di jalan yang benar dalam kebanyakan amal mereka: sejumlah orang terdahulu telah meletakkan untuk mereka kitab-kitab yang mengandung hal-hal buruk yang tersembunyi, dan hadis-hadis yang tidak sahih, dan mereka memerintahkan di dalamnya hal-hal yang menyelisihi syariat, seperti kitab-kitab Al-Harits Al-Muhasibi, dan Abu Abdullah At-Tirmidzi, dan Qut Al-Qulub karya Abu Thalib Al-Makki, dan kitab “Al-Ihya” karya Abu Hamid At-Thusi. Ketika pemula membuka matanya dan berniat menempuh jalan dengan kitab-kitab ini, kitab-kitab itu membawanya kepada dosa-dosa; karena mereka telah membangun di atas hadis-hadis yang mustahil, dan mereka mencela dunia, namun tidak mengetahui apa yang tercela darinya? Maka pemula membayangkan celaan terhadap esensi dunia, lalu orang yang terputus melarikan diri ke gunung, dan mungkin dia melewatkan jamaah dan Jumat, dan dia membatasi diri pada kurma dan pir sehingga menyebabkan kolik, dan sebagian mereka puas dengan minum susu sehingga melemahkan tabiat, atau makan kacang dan lentil sehingga menimbulkan bunyi perut!

1597

Sesungguhnya orang yang bermaksud naik haji hendaklah terlebih dahulu berlembut kepada unta agar sampai. Tidakkah kamu lihat orang Turki yang cerdas, dia memperhatikan kudanya sebelum mengusahakan makanan untuk dirinya?!

1598

Mungkin penceramah berusaha menjelaskan keadaan suatu kaum dari salaf dan para zahid, lalu murid mengikuti mereka, maka dia tersakiti karenanya! Dan ketika kami menolak riwayat itu, dan menjelaskan kesalahan pelakunya, orang-orang jahil berkata: “Apakah kamu menolak para zahid?!” Padahal yang sepatutnya adalah mengikuti yang benar, dan tidak memandang nama-nama yang diagungkan dalam jiwa; karena kami berkata: “Abu Hanifah berkata:” kemudian Asy-Syafi’i menyelisihinya! Yang sepatutnya adalah mengikuti dalil.

1599

Al-Marwadzi berkata: Ahmad bin Hanbal memuji pernikahan, lalu aku berkata kepadanya: Ibrahim bin Adham telah berkata, maka dia berteriak dan berkata: “Kita jatuh ke jalan-jalan sampingan! Hendaklah kamu berpegang pada apa yang ada pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.”

1600

Ahmad berbicara tentang Al-Harits Al-Muhasibi; dan menolak Sari As-Saqathi ketika dia berkata: “Ketika Allah menciptakan huruf-huruf, Alif berdiri, dan Ba’ sujud!” Maka dia berkata: “Jauhkan orang-orang darinya.” Kebenaran tidak pantas dipilih kasih; karena dia serius.

1601

Sungguh aku melihat kebanyakan manusia telah menyimpang dari syariat, dan ucapan para zahid menjadi seperti syariat bagi mereka! Dikatakan: “Abu Thalib Al-Makki berkata: Di antara salaf ada yang menimbang makanannya dengan timbangan, lalu mengurangi setiap hari!!”

Ini adalah sesuatu yang tidak dikenal oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya; mereka hanya makan kurang dari kenyang, adapun membebankan diri dengan kelaparan, maka itu dilarang.

1602

Dan dia berkata: “Dawud Ath-Thai berkata kepada Sufyan: Jika kamu minum air dingin, kapan kamu akan mencintai kematian?! Dan airnya ada di dalam tempayan!!”

Dia tidak mengetahui bahwa jiwa memiliki hak, dan bahwa minum air panas melunakkan perut dan menyakiti, dan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa mendinginkan air.

1603

Yang lain di antara mereka berkata: “Sejak lima puluh tahun aku menginginkan daging panggang, tapi dirhemnya tidak bersih bagiku!!” Yang lain berkata: “Aku ingin mencelupkan wortel ke dalam sirup, tapi tidak bersih bagiku!!” Apakah mereka menginginkan uang yang sejak keluar dari tambang tidak pernah masuk ke dalam syubhat?! Ini adalah sesuatu yang tidak diperhatikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; meskipun wara’ itu baik, tetapi tidak dengan memikul kesulitan yang berat.

1604

Dan ini Bisyr Al-Hafi berkata: “Aku tidak bercerita; karena aku suka bercerita!!”

Ini adalah alasan yang tidak layak; karena manusia diperintahkan menikah, dan itu termasuk hal yang paling diinginkan.

1605

Bisyr berjalan tanpa alas kaki, hingga disebut: Al-Hafi! Seandainya dia menutupi urusannya dengan sandal, itu lebih baik, dan bertelanjang kaki menyakiti mata, dan bukan termasuk urusan dunia sama sekali; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki sandal.

1606

Sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya tidak seperti apa yang dilakukan para zahid hari ini; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa tertawa, bercanda, memilih hal-hal yang baik, berlomba dengan Aisyah radhiyallahu ‘anha, biasa makan daging, suka makanan manis, meminta air yang segar untuknya, dan demikian pula jalan para sahabatnya.

1607

Para zahid menampakkan jalan-jalan seakan-akan itu permulaan syariat, dan semuanya tidak di jalan yang benar, dan mereka berdalil dengan ucapan Al-Muhasibi dan Al-Makki, dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang berdalil dengan sahabat atau tabi’in, atau dengan imam dari imam-imam Islam; jika mereka melihat seorang alim memakai pakaian bagus, atau menikahi wanita cantik, atau berbuka di siang hari, atau tertawa; mereka mencela!!

1608

Maka hendaklah diketahui bahwa kebanyakan yang benar tujuannya di antara mereka tidak berada di jalan yang benar: karena sedikitnya ilmu mereka, hingga sebagian mereka berkata: “Sejak delapan puluh tahun aku tidak pernah berbaring!”, dan yang lain berkata: “Aku bersumpah tidak akan minum air selama setahun!!” Mereka ini tidak benar; karena jiwa memiliki hak.

1609

Adapun yang buruk tujuannya, di antara yang munafik dan riya untuk menarik dunia dan mencium tangan, maka tidak ada pembicaraan dengannya, dan mereka adalah mayoritas sufi; karena mereka mengangkat pakaian berwarna-warni, agar orang-orang melihat mereka dengan mata meninggalkan perhiasan, padahal tidak ada yang lebih baik dari sutra di antara mereka; padahal orang-orang terdahulu menambal karena kemiskinan. Maka mereka dalam kenikmatan dan mengumpulkan harta, mengambil syubhat, menggunakan kenyamanan dan permainan, dan bergaul dengan penguasa. Mereka ini telah membuka topeng, dan berbeda dengan zuhud orang-orang awal mereka. Bahkan, yang lebih mengherankan dari mereka adalah orang yang membiayai ini untuk mereka.

Bab 362: Allah Menjadikan Keadaan Manusia Memiliki Contoh-contoh untuk Diambil Pelajaran

1610

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menjadikan keadaan manusia memiliki contoh-contoh untuk diambil pelajaran: di antara contoh keadaannya adalah bulan, yang dimulai kecil, kemudian menjadi sempurna sebagai purnama, kemudian berkurang hingga hilang, dan mungkin terjadi sesuatu yang merusaknya seperti gerhana; demikian pula manusia awalnya nutfah, kemudian naik dari kerusakan ke kebaikan; jika sempurna, maka seperti purnama yang sempurna, kemudian keadaannya berkurang karena kelemahan, maka mungkin kematian menyerang sebelum itu seperti gerhana menyerang bulan. Penyair berkata:

Dan manusia seperti hilal saat kemunculannya Tampak kecil halus kemudian melengkung Bertambah hingga jika sempurna diikuti Perputaran dua yang baru dengan kekurangan, kemudian hilang

1611

Di antara contoh keadaan adalah ulat sutra; karena dia hidup hingga mulai tumbuh kekuatannya, seperti perpindahan anak, kemudian tidur seperti kelengahan manusia dari memperhatikan akibat, kemudian terbangun, lalu bersemangat makan seperti semangat rakus mengumpulkan dunia, kemudian melilit dirinya seperti manusia menumpuk dosa atas agamanya; maka tergadai dalam penjara itu, seperti mayit tergadai dalam kuburnya, kemudian keluar, maka keluar sebagai makhluk lain, seperti bangkitnya orang mati dengan tidak bersunat dan tidak berilmu.

Dan telah menunjukkan kepadanya tentang kebangkitan menjadikan nutfah seperti mati, kemudian menjadi manusia, dan melempar biji ke bawah tanah lalu rusak, kemudian bergerak hijau.

Jika manusia memiliki pemikiran Maka dalam segala sesuatu ada pelajaran baginya

Bab 363: Keutamaan Akal dengan Merenungkan Akibat

1612

Keutamaan akal adalah dengan merenungkan akibat; adapun yang sedikit akalnya, dia melihat keadaan sekarang, dan tidak memperhatikan akibatnya. Pencuri melihat mengambil harta, dan melupakan pemotongan tangan! Si malas melihat kenikmatan istirahat, dan melupakan apa yang diperoleh dari kehilangan ilmu dan mencari harta. Ketika tua ditanya tentang ilmu, dia tidak tahu, dan ketika butuh, dia meminta; maka hina. Sungguh berlipat apa yang diperolehnya berupa penyesalan atas kenikmatan kemalasan, kemudian dia kehilangan pahala akhirat dengan meninggalkan amal di dunia. Demikian pula peminum khamar, dia menikmati saat itu, dan melupakan apa yang diperoleh dari bencana di dunia dan akhirat! Demikian pula zina; karena manusia melihat memenuhi syahwat, dan melupakan apa yang diperoleh berupa aib dunia dan had, dan mungkin wanita itu memiliki suami, lalu dia menisbatkan kehamilan dari orang ini kepadanya, dan perkara berlanjut. Maka qiyaskan pada contoh ini, dan sadarlah akan akibat, dan jangan mengutamakan kenikmatan yang menghilangkan kebaikan banyak, dan sabarlah dalam kesulitan, kamu akan memperoleh keuntungan yang berlimpah.

Bab 364: Jauh Sekali Benarnya Agama dengan Meraih Kenikmatan

1613

Tidak ada kehidupan di dunia kecuali bagi alim atau zahid. Ya, mungkin terjadi dalam kejernihan keadaan mereka kekeruhan, yaitu bahwa alim disibukkan dengan ilmu, atau dengan terputus dari mencari nafkah, dan mungkin dia memiliki keluarga; maka mungkin dia terkena fitnah penguasa lalu rusak keadaannya, demikian pula zahid.

1614

Maka hendaklah alim dan abid bergerak dalam penghidupan, seperti menyalin dengan upah, atau pekerjaan khusus, dan jika dibuka untuknya sesuatu, dia qana’ah dengan yang sedikit; maka tidak ada yang memperbudaknya, sebagaimana Ahmad bin Hanbal memiliki upah yang mungkin tidak mencapai satu dinar untuk makan, dan ketika tidak qana’ah, bergaul dengan penguasa dan awam merusak agamanya.

1615

Di antara manusia ada yang ingin memperluas makanan, dan di antara mereka ada yang tidak cocok dengan kehidupan kasar. Jauh sekali benarnya agama dengan meraih kenikmatan!

1616

Jika alim dan zahid qana’ah dengan yang cukup, salah satu dari mereka tidak akan merendahkan diri kepada penguasa, dan tidak akan diperbudak dengan bolak-balik ke pintunya, dan zahid tidak butuh kepada kepura-puraan. Kehidupan yang nikmat bagi yang terputus, yang tidak merendahkan diri dengannya, dan tidak memikul beban budi.

Bab 365: Perbedaan Manusia dalam Pemahaman

1617

Betapa banyaknya perbedaan manusia dalam pemahaman! Bahkan ulama berbeda banyak sekali dalam ushul dan furu’: kamu melihat suatu kaum mendengar berita sifat-sifat, lalu mereka membawanya kepada apa yang dikehendaki indera, seperti ucapan mereka: “Dia turun dengan dzat-Nya ke langit, dan berpindah!!” Ini pemahaman buruk; karena yang berpindah adalah dari tempat ke tempat, dan itu mengharuskan tempat lebih besar darinya, dan mengharuskan gerak, dan semua itu mustahil atas Yang Haq Azza wa Jalla.

1618

Adapun dalam furu’: seperti yang diriwayatkan dari Dawud: bahwa dia berkata dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Janganlah salah seorang di antara kalian kencing di air yang diam kemudian berwudhu darinya”, maka dia berkata: “Jika orang lain kencing; boleh!!” Dia tidak memahami maksud dari penajisan, tetapi mengambil lafazh saja!! Demikian pula dia berkata: “Daging babi haram: bukan kulitnya!!” Kami berlindung kepada Allah dari buruknya pemahaman.

1619

Demikian pula penyair berbeda yang disibukkan dengan memperhatikan hal-hal halus: seperti ucapan mereka:

Kami memiliki mangkuk-mangkuk putih yang berkilau di pagi hari Dan pedang-pedang kami menetes darah dari keberanian

Mangkuk-mangkuk adalah bilangan sedikit, seandainya dia berkata: mangkuk; itu lebih baligh! Seandainya dia berkata: di kegelapan, itu lebih baik! Dan “menetes” dalil atas sedikitnya. Demikian pula ucapan:

Kesukaannya wewangian dan tempat tidur, dan di atasnya Perak dan mutiara tersusun

Ini kurang; karena jika wanita hitam melakukan ini, itu memperindahnya; yang memuji sebenarnya adalah yang berkata:

Tidakkah kamu melihatku setiap kali aku datang sebagai tamu Aku mendapatinya wangi meskipun dia tidak memakai wewangian

Demikian pula ucapan:

Aku menyeru hatiku untuk meninggalkannya lalu dia mengikutiku Hingga ketika aku berkata ini benar dia menarik diri

Seandainya dia benar dalam cinta tidak akan ada hati yang berbicara dengannya, dan jika berbicara dalam perpisahan, tidak akan menyetujuinya; yang benar-benar mencintai adalah yang berkata:

Mereka berkata: Seandainya kamu menasehati hatimu niscaya dia sadar Lalu aku berkata: Apakah orang yang jatuh cinta memiliki hati?

Seperti ini jika dibahas banyak; yang paling sedikit ada pada manusia adalah pemahaman dan menyelam pada hal-hal halus makna.

Bab 366: Kenikmatan Dunia Bercampur dengan Kesusahan

1620

Barangsiapa merenungkan dunia; dia mengetahui bahwa tidak ada kenikmatan sama sekali di dalamnya. Jika ada kenikmatan, bercampur dengan kesusahan, yang melebihi kenikmatan berlipat-lipat.

1621

Di antara kenikmatan adalah wanita, maka mungkin wanita cantik tidak tetap, dan mungkin tidak mencintai suami. Ketika dia mengetahui itu, dia menjauh darinya, dan mungkin dia berkhianat, dan itu kebinasaan: jika keinginan terpenuhi, maka ingatan perpisahan menambah kesakitan atas kenikmatan.

1622

Di antara kenikmatan adalah anak: dan menanggung anak perempuan hingga menikah, dan apa yang diterimanya dari suaminya, dan takut ainya: cobaan buruk. Anak laki-laki jika sakit hati meleleh, dan jika keluar dari batas kebaikan bertambah penyesalan, dan jika menjadi musuh, maka keinginannya kebinasaan ayah, kemudian jika keinginan terpenuhi, maka ingatan perpisahannya melelehkan hati.

1623

Seandainya seorang fasiq mencintai sebagian anak muda: rusak kehormatannya di dunia, dan hilang agamanya, kemudian tidak lama berubah kecantikannya, maka menjadi dibenci, dengan apa yang terdahulu berupa kerusakan dan dosa. Berapa banyak nafsu lelaki menguasai hingga menyetubuhi budak-budak hitam, lalu datang anak hitam; maka tetap menjadi aib atasnya.

1624

Dari jenis ini adalah menikmati harta, dan dalam mengumpulkannya ada dosa-dosa, dan perpisahannya penyesalan, dan hilangnya umur di dalamnya kerugian.

Ini contoh untuk yang tidak disebutkan! Maka hendaklah orang yang diberi taufiq oleh Allah Subhanahu: mengambil yang darurat yang condong kepada keselamatan agama dan badan dan kesehatan, dan meninggalkan hawa nafsu yang kesusahannya berlipat atas kenikmatannya.

1625

Barangsiapa sabar atas yang dibenci karena mengharapkan manfaat di akhir; dia menikmati berlipat-lipat, seperti penuntut ilmu; karena dia lelah sedikit, dan meraih kebaikan dua negeri, dengan keselamatan akhir. Kenikmatan kemalasan mengakibatkan tidak ada ilmu dan amal, maka bertambah penyesalan atas kenikmatan berlipat-lipat. Maka demi Allah jangan sampai hawa nafsumu yang segera mengalahkanmu, dan ketika hawa nafsu hendak melompat, maka cegahlah, dan timbanglah yang segera dengan yang akan datang: “Dan tidak ada yang mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal” (Surat Al-Baqarah: 269).

367- Fasal: Berbagai Tipu Daya Iblis

1626- Aku melihat Iblis telah menipu dengan berbagai macam tipu daya terhadap makhluk, dan memalingkan kebanyakan mereka dari ilmu yang merupakan pelita bagi para penempuh jalan spiritual, lalu membiarkan mereka tersesat dalam kegelapan kebodohan, dan menyibukkan mereka dengan urusan-urusan yang bersifat indrawi. Mereka menganggap baik apa yang dianggap baik oleh indra, dan tidak memperhatikan nasihat akal. Ketika salah seorang dari mereka mengalami kesempitan hidup atau musibah, maka dia mengingkari lalu kafir: ada di antara mereka yang menyalahkan zaman, dan ada yang mencaci dunia! Ini adalah sikap merendahkan karena zaman dan dunia tidak berbuat apa-apa; yang ada hanyalah cacat pada Yang Menentukan takdir. Dan ada di antara mereka yang sampai pada pengingkaran hikmah, lalu berkata: “Apa faedahnya dalam kekurangan bangunan ini?!”

1627- Sebagian dari mereka mengklaim bahwa tidak dapat dibayangkan kembalinya yang telah hancur, dan mereka mengingkari kebangkitan, serta berkata: “Tidak ada seorang pun yang datang dari sana!” Mereka lupa bahwa eksistensi belum berakhir, dan seandainya mereka menyusul, maka iman kepada yang gaib akan menjadi nyata, dan tidak pantas untuk menunjukkan kehidupan dengan yang hidup.

1628- Kemudian Iblis melihat, dan dia melihat di kalangan kaum muslimin ada suatu kaum yang memiliki kecerdasan, maka dia menunjukkan kepada mereka bahwa berdiam pada zhahir syariat adalah keadaan yang turut dialami oleh orang awam, maka dia menghiasi bagi mereka ilmu kalam, dan mereka pun berargumen dengan ucapan Buqrat, Jalinus dan Fitagoras!! Padahal orang-orang ini bukanlah ahli syariat, dan tidak mengikuti Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam; mereka hanya berbicara sesuai dengan apa yang disuguhkan oleh jiwa mereka.

1629- Para salaf dahulu, jika salah seorang dari mereka memiliki anak, mereka menyibukkannya dengan menghafal Al-Quran dan mendengar hadits, sehingga iman tertanam kuat di dalam hatinya. Namun sekarang orang-orang telah bermalas-malasan dalam hal ini, sehingga anak yang cerdas menyibukkan diri dengan ilmu-ilmu orang terdahulu, dan membuang hadits-hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta berkata: “Khabar ahad!” Dan ahli hadits menurut mereka disebut: Hasyawiyyah!!

1630- Mereka meyakini bahwa ilmu yang halus adalah ilmu tentang lompatan dan materi, serta bagian yang tidak dapat dibagi, kemudian mereka naik ke pembahasan tentang sifat-sifat Sang Pencipta, lalu mereka menolak apa yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan dugaan-dugaan mereka. Kaum Mu’tazilah berkata: “Sesungguhnya Allah tidak dapat dilihat karena yang dapat dilihat pasti berada di suatu arah,” dan mereka menentang sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan, kalian tidak akan berdesak-desakan dalam melihat-Nya.” Hadits ini mewajibkan untuk mengutamakan penglihatan kepada-Nya, meskipun kita tidak mampu memahami bagaimana caranya.

1631- Orang-orang bodoh ini telah mengasingkan diri dari kesibukan dengan Al-Quran, dan berkata: “Makhluk!” Sehingga kehormatan Al-Quran hilang dari hati. Dan dari sunnah, mereka berkata: “Khabar-khabarnya ahad!” Padahal mazhab mereka hanyalah pencurian dari Buqrat dan Jalinus. Orang yang mengikuti para filsuf telah mendapat keuntungan berupa memanjakan dirinya dari lelahnya shalat dan puasa!

1632- Para ulama besar dahulu mencela ilmu kalam, hingga Asy-Syafi’i berkata: “Keputusanku terhadap mereka adalah mereka harus ditunggangi di atas bagal, dipermalukan, dan dikatakan: ‘Ini adalah balasan bagi orang yang meninggalkan Kitab dan Sunnah, dan menyibukkan diri dengan kalam.'” Akhirnya mereka sampai pada keyakinan bahwa barangsiapa tidak mengetahui penjelasan dalil tauhid maka dia bukan muslim!! Maka demi Allah, dari bergaul dengan ahli bid’ah, dan hendaklah kalian berpegang pada Kitab dan Sunnah, niscaya kalian akan mendapat petunjuk.

368- Fasal: Memanfaatkan Waktu

1633- Aku melihat kebiasaan-kebiasaan telah mengalahkan manusia dalam menyia-nyiakan waktu, padahal orang-orang terdahulu memperingatkan dari hal itu.

1634- Al-Fudhail berkata: “Aku mengenal orang yang menghitung perkataannya dari Jumat ke Jumat.”

1635- Mereka menemui seseorang dari kalangan salaf, lalu berkata: “Mungkin kami telah menyibukkanmu?” Dia menjawab: “Aku akan jujur kepada kalian, aku sedang membaca, lalu aku tinggalkan membaca karena kalian.”

1636- Seorang ahli ibadah datang kepada Sari As-Saqathi, dan melihat di sisinya ada sekelompok orang, maka dia berkata: “Apakah engkau telah menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang menganggur?” Kemudian dia pergi dan tidak duduk.

1637- Apabila yang dikunjungi bersikap lunak, maka pengunjung akan berambisi padanya, sehingga memperpanjang duduk, maka dia tidak selamat dari gangguan.

1638- Sekelompok orang sedang duduk di sisi Ma’ruf dan mereka memperpanjang duduk, maka dia berkata: “Sesungguhnya malaikat matahari tidak berhenti dalam menggembalakannya, apakah kalian tidak ingin berdiri?!”

1639- Di antara yang menjaga waktu adalah ‘Amir bin ‘Abd Qais. Seorang laki-laki berkata kepadanya: “Berhentilah, aku akan berbicara denganmu.” Dia menjawab: “Tahanlah matahari.”

1640- Dikatakan kepada Kurz bin Wabrah: “Bagaimana kalau engkau keluar ke padang sahara?” Dia menjawab: “Waktu akan sia-sia.”

1641- Dawud Ath-Tha’i makan remah-remah dan berkata: “Antara makan remah-remah dan makan roti bisa untuk membaca lima puluh ayat.”

1642- ‘Utsman Al-Baqalawi selalu berzikir kepada Allah ta’ala. Dia berkata: “Sesungguhnya pada waktu berbuka puasa aku merasakan jiwaku seakan-akan keluar, karena kesibukan makan mengalihkan dari zikir.”

1643- Sebagian salaf berpesan kepada para sahabatnya: “Jika kalian keluar dari sisiku, maka berpisahlah, mudah-mudahan salah seorang dari kalian membaca Al-Quran di jalannya, dan apabila kalian berkumpul, kalian akan berbincang-bincang.”

1644- Ketahuilah bahwa waktu terlalu mulia untuk disia-siakan sedikitpun darinya. Dalam Shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang berkata: ‘Subhanallahi al-‘azhimi wa bihamdih’, maka akan ditanam baginya sebatang pohon kurma di surga.” Betapa banyak jam yang disia-siakan oleh manusia yang membuatnya kehilangan pahala yang besar! Hari-hari ini bagaikan ladang, seakan-akan dikatakan kepada manusia: “Setiap kali engkau menabur satu biji, Kami keluarkan untukmu seribu kurr.” Maka apakah pantas bagi orang yang berakal untuk ragu-ragu dalam menabur dan bermalas-malasan?!

1645- Yang membantu dalam memanfaatkan waktu adalah: menyendiri dan mengasingkan diri sedapat mungkin, membatasi diri pada salam atau keperluan penting bagi siapa yang ditemui, dan sedikit makan karena banyak makan adalah sebab tidur yang panjang dan sia-sianya malam. Barangsiapa yang melihat perjalanan hidup para salaf dan beriman kepada pembalasan, akan jelas baginnya apa yang aku sebutkan.

369- Fasal: Pergaulan dengan Wanita

1646- Hendaknya orang yang berakal memilih wanita yang salihah dari keluarga yang salih yang didominasi oleh kemiskinan, agar dia melihat apa yang dibawa untuknya sebagai sesuatu yang banyak!

1647- Hendaknya menikah dengan yang sebaya dengannya. Adapun orang tua, jika menikah dengan gadis muda, akan menyakitinya, dan mungkin dia akan berbuat zina, atau membunuhnya, atau meminta cerai, sementara dia mencintainya, maka dia akan tersakiti. Hendaknya dia menyempurnakan kekurangannya dengan akhlak yang baik dan banyak memberi nafkah.

1648- Tidak pantas bagi wanita untuk terlalu dekat dengan suaminya sehingga dia bosan, dan jangan pula menjauh darinya sehingga dia melupakannya. Hendaknya pada saat mendekat kepadanya dalam keadaan bersih sempurna dan berhias.

1649- Hendaknya dia berhati-hati jangan sampai suaminya melihat kemaluannya atau seluruh tubuhnya, karena tubuh manusia tidaklah indah! Demikian pula hendaknya dia tidak memperlihatkan tubuhnya kepada istrinya; sesungguhnya bersetubuh adalah di tempat tidur.

1650- Suatu hari Kisra melihat bagaimana hewan disembelih dan dimasak, maka jiwanya bergejolak dan dia menolak daging. Dia menceritakan hal itu kepada menterinya, maka menterinya berkata: “Wahai raja! Masakan di atas meja, dan wanita di tempat tidur.” Maksudnya: jangan mencari-cari hal itu.

1651- ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Aku tidak pernah melihatnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau tidak pernah melihatku. Suatu malam beliau berdiri dalam keadaan telanjang, dan aku tidak pernah melihat tubuh beliau sebelumnya.” Inilah kehati-hatian, dan dengan demikian laki-laki tidak akan mencela wanita karena dia tidak melihat cacatnya. Hendaknya wanita memiliki tempat tidur sendiri, dan dia memiliki tempat tidur sendiri, mereka tidak berkumpul kecuali dalam keadaan sempurna. Ada orang yang meremehkan hal-hal ini, maka dia melihat wanita dalam keadaan lusuh, berkata: “Ini adalah ayah anak-anakku!” dan dia sendiri juga lusuh! Sehingga masing-masing melihat dari yang lain apa yang tidak dia inginkan, maka hati menjadi enggan, dan pergaulan tetap berlangsung tanpa cinta. Ini adalah fasal yang perlu direnungkan dan diamalkan, karena ini adalah dasar yang agung.

370- Fasal: Keutamaan Qana’ah (Merasa Cukup)

1652- Tidak ada kehidupan di dunia kecuali bagi orang yang qana’ah dengan yang sedikit. Semakin bertambah keserakahan terhadap kemewahan hidup, semakin bertambah kerisauan, tersebar hati, dan hamba menjadi terhina. Adapun orang yang qana’ah, dia tidak perlu bergaul dengan orang yang di atasnya, dan tidak peduli dengan orang yang setingkat dengannya karena dia memiliki apa yang ada padanya.

1653- Sesungguhnya ada suatu kaum yang tidak qana’ah dan mereka menuntut kehidupan yang menyenangkan, maka mereka merusak agama mereka, dan hina di hadapan orang lain, khususnya para ahli ilmu. Mereka bolak-balik kepada para penguasa sehingga para penguasa memperbudak mereka, dan mereka melihat kemungkaran namun tidak mampu mengingkarinya, bahkan mungkin mereka memuji orang zalim untuk menghindari kejahatannya. Kehinaan dan berkurangnya agama yang mereka dapatkan berlipat ganda dibandingkan dengan dunia yang mereka peroleh.

1654- Di antara orang yang paling buruk keadaannya adalah yang menawarkan diri untuk menjadi hakim dan saksi. Dahulu keduanya adalah kedudukan yang baik. ‘Abdul Hamid Al-Qadhi tidak memihak siapa pun. Dia mengirim surat kepada Al-Mu’tadhid dan berkata kepadanya: “Engkau telah menyewa tanah wakaf, maka bayarlah sewanya!” Maka dia pun membayar. Al-Mu’tadhid berkata kepadanya: “Si fulan telah meninggal, dan dia berhutang kepada kami.” Dia menjawab: “Engkau ingat ketika engkau mengangkatku, engkau berkata kepadaku: ‘Aku telah mengeluarkan urusan ini dari leherku dan meletakkannya di lehermu.’ Aku tidak akan menerima apa yang engkau katakan kecuali dengan dua orang saksi.”

1655- Demikian pula para saksi dahulu: sekelompok orang masuk menemui salah seorang khalifah, maka pelayan berkata: “Saksikanlah tuan kami dengan begini!” Mereka pun menjadi saksi. Al-Majdzu’i maju ke tirai dan berkata: “Wahai Amirul Mukminin! Apakah aku menyaksikan engkau dengan apa yang ada dalam kitab ini?” Dia menjawab: “Saksikan!” Dia berkata: “Itu tidak cukup, aku tidak akan menyaksikan sampai engkau berkata: ‘Ya.'” Dia berkata: “Ya.”

1656- Adapun di zaman kita, dasar-dasar itu telah berubah dari semuanya, khususnya orang yang didekati dengan harta agar menjadi saksi, maka kau melihatnya ditarik untuk bersaksi atas apa yang tidak dia lihat! Abu Al-Ma’ali bin Syafi’ berkata kepadaku: “Aku pernah membawa kepada sebagian penduduk pedesaan yang dipenjara, dan aku bersaksi atasnya, padahal aku tahu bahwa seandainya dia tidak dipaksa, dia akan datang kepadaku dengan kedua kakinya, dan aku memohon ampun kepada Allah dari hal itu.”

1657- Para saksi tidak memiliki gaji sehingga mereka melakukan itu untuk mendapatkannya; yang mereka dapatkan hanyalah menyeret jubah, mengetuk pintu, dan ucapan penyambut: “Semoga Allah menjaga nikmat-Nya, kesaksian!”

1658- Ketika dikatakan kepada Ibrahim An-Nakha’i: “Jadilah hakim!” dia memakai kemeja merah dan duduk di pasar, maka mereka berkata: “Orang ini tidak layak!”

1659- Salah seorang pembesar masuk menemui Ar-Rasyid, dan khalifah telah menghadirkannya untuk mengangkatnya sebagai hakim. Dia memberi salam dan berkata kepadanya: “Bagaimana kabarmu, dan bagaimana anak-anak?” Maka dikatakan: “Orang ini gila!” Demi Allah! Gila itu adalah akal. Aku tidak mengira iman kepada akhirat kecuali goyah di kebanyakan hati. Kami memohon kepada Allah Subhanahu keselamatan untuk agama, karena Dia Maha Kuasa.

371- Fasal: Berserah Diri kepada Yang Maha Bijaksana

Makna ini telah berulang dalam kitab ini, namun mengulanginya kepada jiwa-jiwa adalah penting, agar tidak lalai dari yang semisalnya.

1660- Hendaknya orang mukmin mengetahui bahwa Allah Subhanahu adalah Pemilik yang Maha Bijaksana yang tidak main-main, dan ilmu ini mengharuskan meniadakan protes terhadap takdir.

1661- Banyak makhluk yang tergila-gila dengan protes sebagai cercaan terhadap hikmah, dan itu adalah kekufuran. Yang pertama adalah Iblis dalam ucapannya: “Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan dia dari tanah” (Shad: 76). Maksud ucapannya: sesungguhnya pengutamaan-Mu tanah atas api bukanlah hikmah!! Aku telah melihat orang yang dahulu adalah seorang faqih yang kebiasaannya adalah protes; ini karena yang protes melihat kepada bentuk perbuatan, dan seandainya bentuk perbuatan itu keluar dari makhluk seperti kita, maka pantas untuk diprotes. Adapun Dia yang akal-akal terlalu kurang untuk melihat hikmah-Nya, maka protes orang yang kurang dan bodoh kepada-Nya adalah kegilaan.

1662- Adapun protes orang-orang yang tidak bermoral maka terus-menerus, karena mereka menginginkan urusan-urusan berjalan sesuai dengan tujuan mereka. Apabila tujuan salah seorang dari mereka patah, maka dia protes.

1663- Di antara mereka ada yang melampaui batas sampai menyebut kematian, lalu berkata: “Membangun lalu merobohkan!!” Kami punya teman yang telah membaca Al-Quran dan qiraat, dan mendengar banyak hadits, kemudian dia terjerumus dalam dosa-dosa, dan hidup lebih dari tujuh puluh tahun. Ketika kematian mendatanginya, dikisahkan kepadaku bahwa dia berkata: “Dunia telah sempit kecuali dari jiwaku!!” Dari jenis ini aku mendengar seseorang berkata ketika mati: “Tuhanku menzalimiku!!” Dan ini banyak!

1664- Dibenci untuk menceritakan ucapan orang-orang yang tidak bermoral dalam kegilaan dan protes-protes mereka yang dingin. Seandainya mereka memahami bahwa dunia adalah medan perlombaan dan rumah sakit kesabaran, untuk menunjukkan dengan itu bekas Sang Pencipta, niscaya mereka tidak akan protes. Keselamatan dan tercapainya tujuan yang mereka minta ada di hadapan mereka seandainya mereka memahami. Mereka seperti petani yang berlumur tanah, dan jika sudah selesai, dia memakai pakaian yang bersih. Ketika hendak merobohkan badan ini yang tidak layak untuk kekal, jiwa yang mulia dipindahkan darinya, dan dibangun bangunan yang bisa menerima kekalekalan.

1665- Setelah ini, katakanlah kepada yang protes: “Maka hendaklah dia mengulurkan tali ke langit kemudian hendaklah dia putuskan, lalu hendaklah dia lihat apakah tipudayanya dapat melenyapkan apa yang membuatnya marah” (Al-Hajj: 15). Katakan kepadanya: jika dia protes, itu tidak akan mencegah berjalannya takdir, dan jika dia pasrah, takdir tetap berjalan. Maka lebih baik takdir berjalan sementara dia mendapat pahala daripada berjalan sementara dia mendapat dosa.

1666- Betapa baiknya diamnya Waddhah Al-Yamani ketika dia bersembunyi dalam peti, maka raja berkata: “Wahai peti! Jika di dalammu ada apa yang kami duga, maka kami telah menghapus bekasmu, dan jika tidak ada, maka menguburkan kayu bukanlah dosa.” Seandainya dia berteriak, dia tidak akan mendapat manfaat apa pun, bahkan mungkin dikeluarkan lalu dibunuh dengan cara yang paling buruk.

372- Fasal: Barangsiapa yang Melihat Keadaan Dunia Mengetahui bahwa Kehendak Allah adalah Menjauhinya

1667- Barangsiapa yang melihat keadaan dunia, dia mengetahui bahwa kehendak Allah Subhanahu adalah menjauhinya. Barangsiapa yang condong kepada yang halal darinya untuk menikmati, dia akan mendapati bersama setiap kegembiraan ada kesedihan, di samping setiap kenyamanan ada kelelahan, dan di akhir setiap kenikmatan ada kepahitan yang melebihinya. Tidak ada sesuatu dari dunia yang diangkat kecuali ia juga diturunkan. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mencintai ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, maka datanglah hadits ifk (tuduhan palsu). Beliau condong kepada Zainab, maka turunlah: “Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya” (Al-Ahzab: 37).

1668- Kemudian cukuplah bahwa ketika yang dicintainya terwujud, mata akal melihat perpisahan dengannya, maka keberadaannya menjadi tidak menyenangkan, sebagaimana kata penyair: “Kesedihan yang sempurna bagiku adalah dalam kegembiraan yang pemiliknya yakin akan berpindah darinya.”

1669- Maka orang yang berakal mengetahui bahwa kehendak Allah dengan kekeruhan ini adalah menjauhkan dari dunia, sehingga tinggallah mengambil bekal darinya sebagai kebutuhan, dan meninggalkan hal-hal yang menyibukkan. Maka berkumpullah perhatian dalam melayani Allah, dan barangsiapa yang menyimpang dari itu akan menyesal karena terlewatkan.

Bab 373: Orang Yang Berakal Mengatur Kehidupannya di Dunia dengan Akalnya

1670- Orang yang berakal mengatur kehidupannya di dunia dengan akalnya. Jika dia miskin, dia berusaha keras dalam mencari nafkah dan keahlian yang dapat mencukupinya dari kehinaan kepada makhluk, mengurangi ketergantungan, dan menggunakan sikap qanaah (merasa cukup), sehingga dia hidup selamat dari belas kasihan manusia dan mulia di antara mereka.

Jika dia kaya, maka sepatutnya dia mengatur pengeluarannya karena takut menjadi miskin sehingga membutuhkan kehinaan kepada makhluk. Termasuk musibah adalah boros dalam pengeluaran dan bermegah-megahan untuk menyakitkan hati musuh-musuh, seolah-olah dengan hal tersebut – jika berlebihan – dia mengundang dirinya terkena mata jahat!

1671- Sepatutnya bersikap sederhana dalam segala keadaan dan merahasiakan apa yang patut dirahasiakan. Sungguh telah ada seorang tukang cuci yang menemukan harta, lalu dia berlebihan dalam pengeluaran, sehingga hal itu diketahui orang, lalu hartanya diambil darinya dan dia kembali miskin.

Sesungguhnya pengelolaan yang baik adalah menjaga harta, bersikap sederhana dalam pengeluaran, dan merahasiakan apa yang tidak patut diperlihatkan.

1672- Termasuk kesalahan adalah memberitahu istri tentang jumlah harta. Jika hartanya sedikit, maka suami akan hina di matanya. Jika hartanya banyak, dia akan meminta tambahan pakaian dan perhiasan! Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi berfirman: “Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu)” (QS. An-Nisa: 5). Demikian pula dengan anak.

1673- Demikian pula dengan rahasia-rahasia, sepatutnya dijaga dan hati-hati dalam menyimpannya, bahkan dari sahabat sekalipun, karena bisa jadi dia berubah. Sebagaimana kata penyair:

Waspadalah terhadap musuhmu satu kali Dan waspadalah terhadap sahabatmu seribu kali Karena bisa jadi sahabat berubah Sehingga dia lebih tahu tentang mudharatmu

1674- Dengan pujian kepada Allah Ta’ala, telah selesai apa yang dituju oleh pemikiran yang lemah dari pencatatan apa yang dikumpulkan pena dari “Shaid al-Khatir” (Tangkapan Pikiran), dengan membatasi padanya tentang “Pembersihan dari penyakit-penyakit jiwa, dan berhias dengan adab-adab syariat serta akhlak yang diridhai.” Semoga Allah Ta’ala menjadikannya sebaik-baik petunjuk di mimbar nasihat dan bimbingan, dan sebermanfaat-manfaatnya kitab yang tampak di cermin kemunculan untuk membimbing para hamba. Segala puji bagi Allah di awal dan di akhir, semoga Allah melimpahkan shalawat kepada junjungan kami Muhammad dan keluarganya serta para sahabatnya.

Laftatul Kabid ila Nashihatil Walad (Kelembutan Hati untuk Nasihat Anak)

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan dengan-Nya kami memohon pertolongan.

Bab 374: Pendahuluan

1675- Segala puji bagi Allah yang menciptakan bapak yang paling besar dari tanah, dan mengeluarkan zuriatnya dari tulang dada dan tulang belakang, menguatkan kabilah-kabilah dengan kekerabatan dan nasab, menganugerahiku ilmu dan mengenal kebenaran, memperbaiki pendidikanku di masa kecil, menjagaku di masa muda, dan menganugerahiku zuriat yang aku harapkan dengan keberadaan mereka berlimpahnya pahala: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua orang tuaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)” (QS. Ibrahim: 40-41).

1676- Adapun sesudah itu, ketika aku mengetahui kemuliaan pernikahan dan keutamaan anak-anak, aku mengkhatamkan (Al-Quran) dan memohon kepada Allah Ta’ala agar menganugerahiku sepuluh anak. Maka Allah menganugerahiku mereka: lima laki-laki dan lima perempuan. Dari yang perempuan meninggal dua orang, dan dari yang laki-laki empat orang. Tidak tersisa dari yang laki-laki kecuali anakku Abu al-Qasim. Maka aku memohon kepada Allah Ta’ala agar menjadikan padanya pengganti yang shalih dan meraih dengannya cita-cita dan kesuksesan.

1677- Kemudian aku melihat darinya sikap agak bermalas-malasan dalam bersungguh-sungguh menuntut ilmu. Maka kutulislah untuknya risalah ini untuk mendorongnya dan menggerakkannya menempuh jalanku dalam menuntut ilmu, serta menunjukkannya untuk berlindung kepada Allah Yang Maha Memberikan Taufik, dengan mengetahui bahwa tidak ada yang mengecewakan orang yang diberi taufik dan tidak ada yang memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan. Tetapi Allah Ta’ala telah berfirman: “Dan hendaklah kamu saling menasihati supaya mentaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al-Ashr: 3), dan berfirman: “Maka berilah peringatan, jika peringatan itu bermanfaat” (QS. Al-A’la: 9). Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Bab 375: Manusia Dibedakan dengan Akal

1678- Ketahuilah wahai anakku – semoga Allah memberimu taufik untuk kebenaran – bahwa manusia tidak dibedakan dengan akal kecuali untuk beramal sesuai dengan tuntutannya. Maka hadirkanlah akalmu, gunakanlah pikiranmu, dan bersendirilah dengan dirimu.

1679- Ketahuilah dengan dalil bahwa engkau adalah makhluk yang dibebani taklif, bahwa ada kewajiban-kewajiban yang engkau dituntut menunaikannya, bahwa dua malaikat mencatat ucapan-ucapan dan pandangan-pandanmu, bahwa nafas-nafas orang hidup adalah langkah-langkahnya menuju ajalnya, masa tinggal di dunia sedikit, tahanan di kubur panjang, dan azab karena mengikuti hawa nafsu adalah berat. Maka di mana kenikmatan kemarin? Telah pergi dan meninggalkan penyesalan! Di mana syahwat jiwa? Berapa banyak dia merendahkan kepala dan menggelincirkan kaki. Tidak bahagia orang yang bahagia kecuali dengan menyelisihi hawa nafsunya, dan tidak celaka orang yang celaka kecuali dengan mengutamakan dunianya.

Maka ambillah pelajaran dari para raja dan ahli zuhud yang telah berlalu. Di mana kenikmatan mereka? Di mana kepayahan mereka? Yang tersisa adalah pahala yang besar dan pujian yang indah bagi orang-orang shalih, serta ucapan buruk dan azab yang berat bagi orang-orang yang bermaksiat. Seolah-olah tidak ada yang lapar dan tidak ada yang kenyang.

1680- Bermalas-malasan dari keutamaan-keutamaan adalah seburuk-buruk teman, dan cinta kepada kesenangan menghasilkan penyesalan yang melebihi setiap kenikmatan. Maka terjagalah dan bersusah payahlah untuk dirimu.

1681- Ketahuilah bahwa menunaikan kewajiban-kewajiban dan menjauhi larangan-larangan adalah wajib. Kapan saja manusia melampaui batas, maka neraka, neraka!

1682- Kemudian ketahuilah bahwa menuntut keutamaan-keutamaan adalah puncak keinginan orang-orang yang bersungguh-sungguh.

1683- Kemudian keutamaan-keutamaan itu berbeda-beda. Ada orang yang menganggap keutamaan adalah zuhud di dunia, ada yang menganggapnya kesibukan dengan ibadah.

1684- Sebenarnya, keutamaan yang sempurna tidak lain adalah menggabungkan antara ilmu dan amal. Jika keduanya diperoleh, keduanya mengangkat pemiliknya untuk merealisasikan ma’rifat kepada Khaliq dan menggerakkannya untuk mencintai-Nya, takut kepada-Nya, dan rindu kepada-Nya.

Itulah tujuan yang dimaksud. “Sesuai dengan kadar orang-orang yang punya tekad datanglah tekad-tekad.” Tidak semua yang menginginkan dikehendaki, tidak semua pencari mendapatkan. Tetapi kewajiban hamba adalah bersungguh-sungguh. “Setiap orang dimudahkan untuk apa yang diciptakan untuknya.” Allah-lah yang dimintai pertolongan.

Bab 376: Mengenal Allah dengan Dalil adalah Yang Pertama Harus Diperhatikan

1685- Yang pertama harus diperhatikan adalah mengenal Allah Ta’ala dengan dalil. Diketahui bahwa siapa yang melihat langit yang ditinggikan dan bumi yang diletakkan, serta menyaksikan bangunan-bangunan yang rapi khususnya dalam tubuh dirinya sendiri, dia tahu bahwa tidak mungkin ada hasil kerajinan tanpa perajin dan tidak ada bangunan tanpa yang membangun.

1686- Kemudian dia merenungkan kebenaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diutus kepadanya. Dalil terbesar adalah Al-Quran yang melemahkan makhluk untuk mendatangkan satu surat yang sepertinya.

1687- Jika telah tetap di sisinya wujud Khaliq dan kebenaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka wajib menyerahkan perhatian kepada syariat. Jika tidak melakukan hal itu, menunjukkan ada kerusakan dalam keyakinannya.

1688- Wajib atasnya mengetahui apa yang wajib atasnya dari wudhu, shalat, zakat – jika dia punya harta – haji, dan kewajiban-kewajiban lainnya. Jika telah mengetahui kadar yang wajib, dia menunaikannya.

1689- Sepatutnya orang yang punya cita-cita tinggi naik ke tingkat keutamaan-keutamaan, yaitu sibuk dengan menghafal Al-Quran dan tafsirnya, hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengetahui sirahnya dan sirah para sahabatnya serta ulama setelah mereka, untuk memilih tingkatan yang paling tinggi. Tidak bisa tidak harus mengetahui apa yang memperbaiki lisannya dari nahwu dan mengetahui sebagian bahasa yang digunakan.

1690- Fiqih adalah pokok ilmu-ilmu, tazkir (nasihat) adalah manisannya dan paling umum manfaatnya. Aku telah menyusun dalam hal-hal yang disebutkan ini dari karya-karya tulis yang mencukupi dari semua karya tulis ulama terdahulu dan lainnya dengan pujian dan karunia Allah. Maka aku mencukupimu dari mencari kitab-kitab dan mengumpulkan tekad untuk mengarang. Tidak ada tekad yang berhenti kecuali karena rendahnya. Jika tekad tinggi, tidak akan puas dengan yang rendah.

1691- Aku telah mengetahui dengan dalil bahwa cita-cita itu terlahir bersama manusia. Hanya saja sebagian cita-cita menjadi pendek pada sebagian waktu. Jika didorong, dia akan berjalan. Jika engkau melihat pada dirimu kelemahan, mintalah kepada Yang Memberi Nikmat. Atau kemalasan, berlindunglah kepada Yang Memberi Taufik. Engkau tidak akan meraih kebaikan kecuali dengan taat kepada-Nya dan tidak akan luput darimu kebaikan kecuali dengan bermaksiat kepada-Nya. Siapa yang menghadap kepada-Nya lalu tidak dikabulkan semua keinginannya? Siapa yang berpaling dari-Nya lalu berhasil dengan faedah atau beruntung dengan sebagian tujuannya? Atau tidakkah engkau mendengar ucapan penyair:

Demi Allah, tidaklah aku datang kepadamu sebagai tamu Kecuali aku dapati bumi terlipat untukku Dan tidaklah aku mematahkan tekad dari pintumu Kecuali aku tersandung oleh ujung bajuku

Bab 377: Pengaturan Yang Maha Lembut terhadap Hamba-Nya yang Lemah

1692- Lihatlah wahai anakku kepada dirimu ketika batas-batas, dan perhatikanlah: bagaimana engkau menjaganya? Sesungguhnya siapa yang memelihara akan dipelihara, dan siapa yang menyia-nyiakan akan ditinggalkan.

1693- Aku menyebutkan untukmu sebagian keadaanku, mudah-mudahan engkau melihat kesungguhanku dan memohon taufik untukku. Sebagian besar nikmat bukan karena usahaku, tetapi dari pengaturan Yang Maha Lembut terhadapku. Aku ingat diriku memiliki cita-cita tinggi ketika masih di sekolah dasar umur enam tahun, dan aku bergaul dengan anak-anak yang lebih besar. Aku telah dianugerahi akal yang berlimpah di masa kecil yang melebihi akal orang-orang tua. Aku tidak ingat pernah bermain di jalan dengan anak-anak atau tertawa berlebihan. Bahkan ketika aku berumur tujuh tahun atau sekitarnya, aku menghadiri halaman masjid, tidak memilih lingkaran pesulap, tetapi mencari muhaddits yang bercerita kisah-kisah panjang. Aku menghafal semua yang kudengar dan pulang ke rumah lalu menulisnya.

1694- Sungguh Allah memberikan taufik kepadaku melalui syaikh kami Abu al-Fadhl Ibn Nashir rahimahullah. Dia membawaku kepada para syaikh dan menyuruhku mendengar “Al-Musnad” dan kitab-kitab besar lainnya padahal aku tidak tahu apa yang diinginkan dariku. Dia mengatur hal-hal yang kudengar sampai aku dewasa, lalu dia memberiku daftarnya. Aku menemaniya sampai dia wafat rahimahullah, sehingga aku memperoleh darinya pengetahuan hadits dan periwayatan.

1695- Sungguh anak-anak turun ke sungai Tigris dan berjalan-jalan di jembatan, sedangkan aku di masa kecil mengambil satu juz dan duduk tersembunyi dari orang-orang di samping rawa, lalu sibuk dengan ilmu.

1696- Kemudian aku diberi ilham zuhud, maka aku terus menerus berpuasa, sibuk dengan mengurangi makanan, dan mewajibkan diriku bersabar. Hal itu terus berlanjut dan aku bertekad, tekun, dan melatih begadang. Aku tidak puas dengan satu cabang ilmu, tetapi aku mendengar fiqih, nasihat, hadits, dan mengikuti para zahid.

1697- Kemudian aku belajar bahasa dan tidak meninggalkan seorang pun yang meriwayatkan dan bernasihat, tidak ada orang asing yang datang kecuali aku hadiri, dan aku memilih keutamaan-keutamaan.

1698- Jika ada dua perkara yang muncul, pada kebanyakan keadaan aku mendahulukan hak yang benar. Maka Allah memperbaiki pengurusan dan pendidikanku, menjalankanku pada apa yang paling baik untukku, menolak dariku para musuh, pendengki, dan yang menipu, menyiapkan untukku sebab-sebab ilmu, mengirimkan kepadaku kitab-kitab dari tempat yang tidak kusangka, menganugerahiku pemahaman, cepat hafal, keberuntungan dan bagusnya penulisan. Tidak kurang sedikitpun dari dunia, bahkan Allah mengalirkan kepadaku rezeki secukupnya bahkan lebih.

1699- Allah meletakkan untukku penerimaan di hati makhluk melebihi batas, dan menjatuhkan ucapanku ke dalam jiwa mereka sehingga mereka tidak ragu dengan kebenarannya. Telah masuk Islam di tanganku sekitar dua ratus orang dari Ahli Dzimmah (non-Muslim), dan telah bertaubat di majelissku lebih dari seratus ribu orang. Aku telah memotong lebih dari dua puluh ribu hubungan dari yang dilakukan orang-orang jahil.

1700- Sungguh aku berkeliling kepada para syaikh untuk mendengar hadits, napas terputus dalam berlari agar tidak ketinggalan. Aku pagi hari tidak punya makanan dan sore hari tidak punya makanan. Allah tidak pernah menghinakanku kepada makhluk, tetapi Dia mengalirkan rezkiku untuk menjaga kehormatanku. Seandainya aku jelaskan keadaanku, penjelasannya akan panjang.

Inilah engkau lihat keadaanku sekarang. Aku kumpulkan untukmu dalam satu kalimat, yaitu firman Allah Ta’ala: “Dan bertakwalah kepada Allah, maka Allah akan mengajarimu” (QS. Al-Baqarah: 282).

Bab 378: Bersungguh-sungguhlah Selama Masih Ada Kesempatan

1701- Maka terjagalah wahai anakku untuk dirimu, sesallah atas kelalaianmu yang telah lalu, dan bersungguh-sungguhlah mengejar orang-orang sempurna selama masih ada kesempatan, sirami cabangmu selama masih ada kelembabannya, dan ingatlah waktu yang terbuang darimu sebagai pelajaran yang cukup. Kenikmatan malas di dalamnya telah hilang dan tingkatan keutamaan terlewatkan.

1702- Salaf shalih rahimahullah dahulu suka mengumpulkan setiap keutamaan dan menangis karena terlewat satu darinya. Ibrahim bin Adham rahimahullah berkata: Kami masuk kepada seorang ahli ibadah yang sakit, dia memandang kedua kakinya sambil menangis. Kami bertanya: “Mengapa engkau menangis?” Dia menjawab: “Keduanya tidak pernah berdebu di jalan Allah.” Yang lain menangis, mereka bertanya: “Apa yang membuatmu menangis?” Dia menjawab: “Aku menyesali hari yang lewat yang tidak kupuasai, dan malam yang hilang yang tidak kushalati.”

1703- Ketahuilah wahai anakku bahwa hari-hari terbentang menjadi jam-jam, jam-jam terbentang menjadi nafas-nafas, dan setiap nafas adalah perbendaharaan. Maka hati-hatilah jangan sampai ada nafas yang hilang tanpa sesuatu sehingga engkau melihat di hari kiamat perbendaharaan kosong dan menyesal.

1704- Seorang laki-laki berkata kepada Amir bin Abd Qais: “Berhentilah, aku akan berbicara kepadamu.” Dia menjawab: “Tahanlah matahari.”

1705- Sekelompok orang duduk di sisi Ma’ruf rahimahullah, dia berkata: “Tidakkah kalian ingin berdiri? Sesungguhnya malaikat matahari menariknya tanpa lelah!”

1706- Dalam hadits: “Siapa yang berkata: Subhanallahi al-azhimi wa bihamdih, akan ditanam untuknya pohon kurma di surga.” Maka lihatlah orang yang menyia-nyiakan waktu, betapa banyak pohon kurma yang luput darinya!

1707- Salaf dahulu memanfaatkan saat-saat. Kuhamas rahimahullah mengkhatamkan Al-Quran setiap hari dan malam tiga kali. Empat puluh orang dari salaf shalat subuh dengan wudhu isya. Rabi’ah al-Adawiyyah menghidupkan seluruh malam, jika fajar terbit dia tidur sebentar, lalu bangun dengan terkejut dan berkata kepada dirinya: “Tidur di kubur itu panjang.”

Bab: Merenungkan Hakikat Kehidupan Dunia

1708- Barangsiapa yang merenungkan kehidupan dunia sebelum ia ada, maka ia akan melihat masa yang panjang; dan jika ia merenungkannya setelah keluar darinya, maka ia akan melihat masa yang panjang, dan mengetahui bahwa tinggal di kubur itu lama. Jika ia merenungkan hari kiamat, maka ia tahu bahwa hari itu adalah lima puluh ribu tahun. Jika ia merenungkan tinggal di surga atau neraka, maka ia tahu bahwa itu tidak ada akhirnya. Ketika ia kembali merenungkan berapa lama ia tinggal di dunia, misalnya kita anggap enam puluh tahun, maka tiga puluh tahun berlalu dalam tidur, dan sekitar lima belas tahun dalam masa kanak-kanak. Jika dihitung sisanya, maka sebagian besarnya dalam syahwat, makanan, dan mencari keuntungan. Jika dipisahkan apa yang untuk akhirat, maka akan ditemukan di dalamnya riya’ dan kelalaian yang banyak. Dengan apa engkau akan membeli kehidupan yang kekal, padahal harganya hanyalah jam-jam ini?

Bab: Jangan Berputus Asa dari Kebaikan

1709- Dan janganlah membuatmu putus asa dari kebaikan, wahai anakku, karena kelalaian yang telah berlalu; sesungguhnya banyak makhluk yang telah terbangun setelah tidur yang panjang.

1710- Syaikh Abu Hakim menceritakan kepadaku dari Qadhi al-Qudhat Syaikh Abu al-Hasan ad-Damghani rahimahullah, ia berkata: “Pada masa mudaku, aku sibuk dengan kebatilan dan tidak memperhatikan ilmu. Ayahku, Abu Abdullah rahimahullah memanggilku dan berkata: ‘Wahai anakku! Aku tidak akan hidup selamanya untukmu, maka ambillah dua puluh dinar ini, dan aku akan membukakan untukmu toko tukang roti agar engkau bisa mencari nafkah.’ Aku berkata kepadanya: ‘Apa maksud perkataan ini?!’ Ia berkata: ‘Kalau begitu bukalah toko penjual kain!’ Aku berkata: ‘Dengan ilmu,’ dan aku bersungguh-sungguh, maka Allah Ta’ala membukakan untukku.”

1711- Salah satu sahabat Abu Muhammad al-Halwani rahimahullah menceritakan kepadaku, ia berkata: “Ayahku meninggal ketika aku berusia dua puluh satu tahun, dan aku dikenal dengan sifat malas. Aku datang menagih dari beberapa penghuni rumah yang kuwarisi, lalu aku mendengar mereka berkata: ‘Si pengelola datang,’ maksudnya si bodoh. Aku berkata pada diriku sendiri: ‘Ini yang dikatakan tentangku.’ Maka aku datang kepada ibuku dan berkata: ‘Jika engkau ingin mencariku, maka carilah aku di majelis Syaikh Abu al-Khattab,’ dan aku terus bersamanya. Aku tidak keluar kecuali untuk menjadi hakim, maka aku menjadi hakim untuk beberapa waktu.” Penulis berkata: Aku melihatnya sendiri, dan dia memberi fatwa serta berdebat.

1712- Maka wajibkanlah pada dirimu, wahai anakku, untuk bangun saat terbit fajar, dan jangan berbicara tentang urusan dunia; karena para salaf shalih rahimahullah tidak berbicara pada waktu itu tentang urusan dunia. Ucapkanlah saat bangun dari tidur: “Segala puji bagi Allah yang menghidupkanku setelah mematikanku dan kepada-Nya kebangkitan.” Segala puji bagi Allah yang: “Dan Dia menahan langit agar tidak jatuh ke bumi, kecuali dengan izin-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang lagi Maha Penyayang kepada manusia” (Al-Hajj: 65).

1713- Kemudian berdirilah untuk bersuci, kerjakanlah sunnah fajar, dan keluarlah ke masjid dengan khusyu’. Ucapkanlah di perjalanan: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan hak orang-orang yang memohon kepada-Mu, dan dengan hak langkahku ini, sesungguhnya aku tidak keluar karena kesombongan dan keangkuhan, bukan karena riya’ dan sum’ah. Aku keluar karena takut murka-Mu dan mengharap ridha-Mu. Aku memohon kepada-Mu agar Engkau melindungiku dari neraka, dan mengampuni dosa-dosaku, sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.”

Usahakanlah shalat di sebelah kanan imam. Jika telah selesai dari shalat, maka ucapkanlah: “Tidak ada tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, Dia menghidupkan dan mematikan, di tangan-Nya kebaikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” -sepuluh kali- kemudian bertasbihlah sepuluh kali, bertahmidlah sepuluh kali, dan bertakbirlah sepuluh kali, bacalah Ayat Kursi, dan mohonlah kepada Allah Subhanahu agar shalat diterima.

1714- Jika memungkinkan bagimu, maka duduklah berdzikir kepada Allah Ta’ala sampai matahari terbit dan naik, kemudian shalatlah dan kerjakanlah apa yang telah ditetapkan untukmu. Jika delapan rakaat, maka itu baik.

1715- Jika engkau telah mengulang pelajaranmu sampai waktu dhuha tinggi, maka kerjakanlah shalat dhuha delapan rakaat, kemudian sibukkan diri dengan muthala’ah atau menyalin sampai waktu ashar. Kemudian kembalilah ke pelajaranmu setelah ashar sampai waktu maghrib, dan shalatlah setelah maghrib dua rakaat dengan dua juz. Jika telah shalat isya, maka kembalilah ke pelajaranmu.

1716- Kemudian berbaringlah di sisi kananmu, bertasbihlah tiga puluh tiga kali, bertahmidlah tiga puluh tiga kali, dan bertakbirlah tiga puluh empat kali, dan ucapkanlah: “Ya Allah, lindungilah aku dari azab-Mu pada hari Engkau mengumpulkan hamba-hamba-Mu.”

1717- Dan jika engkau membuka mata dari tidur, maka ketahuilah bahwa jiwa telah mengambil bagiannya, maka berdirilah untuk berwudhu, dan shalatlah dalam kegelapan malam semampumu. Mulailah dengan dua rakaat yang ringan, kemudian setelahnya dua rakaat dengan dua juz dari Al-Quran, kemudian kembalilah ke pelajaran ilmu, karena ilmu lebih utama dari semua ibadah sunnah.

Bab: Menyendiri adalah Asal Segala Kebaikan

1718- Dan hendaklah engkau menyendiri, karena itu adalah asal segala kebaikan, dan berhati-hatilah dari teman duduk yang buruk. Hendaklah teman dudukmu adalah buku-buku, dan melihat sirah para salaf.

1719- Dan jangan sibuk dengan suatu ilmu sampai engkau menguasai yang sebelumnya, dan lihatlah sirah orang-orang yang sempurna dalam ilmu dan amal, dan jangan puas dengan yang rendah, karena penyair berkata: “Dan aku tidak melihat dalam cacat manusia sesuatu… seperti kekurangan orang yang mampu mencapai kesempurnaan.”

1720- Dan ketahuilah bahwa ilmu mengangkat derajat orang-orang rendah; banyak ulama yang tidak memiliki nasab yang terkenal, dan tidak memiliki rupa yang bagus.

1721- Atha’ bin Abi Rabah berkulit hitam, penampilannya menakutkan. Sulaiman bin Abdul Malik -seorang khalifah- datang kepadanya bersama kedua anaknya, lalu mereka duduk bertanya kepadanya tentang manasik haji. Dia menceritakan kepada mereka sambil memalingkan wajahnya dari mereka. Khalifah berkata kepada kedua anaknya: “Berdirilah dan jangan malas dalam menuntut ilmu, karena aku tidak akan melupakan kehinaan kita di hadapan hamba yang berkulit hitam ini.”

1722- Al-Hasan adalah maula (budak), demikian juga Ibnu Sirin, Makhul, dan banyak orang lainnya; mereka dimuliakan karena ilmu dan takwa.

Bab: Berkanahlah Niscaya Engkau Mulia

1723- Dan bersungguh-sungguhlah wahai anakku dalam menjaga kehormatanmu dari berusaha mencari dunia dan merendahkan diri kepada para ahlinya. Berkanahlah niscaya engkau mulia, karena telah dikatakan: “Barangsiapa yang qana’ah dengan roti dan sayuran, maka tidak ada seorang pun yang dapat memperbudaknya.”

1724- Seorang badui melewati Basrah lalu berkata: “Siapakah pemimpin kota ini?” Dikatakan kepadanya: “Al-Hasan al-Bashri.” Dia berkata: “Dengan apa dia memimpin mereka?” Mereka berkata: “Karena dia tidak membutuhkan dunia mereka, sedangkan mereka membutuhkan ilmunya.”

1725- Ketahuilah wahai anakku, bahwa ayahku dahulu berkecukupan dan meninggalkan ribuan uang. Ketika aku dewasa, mereka memberiku dua puluh dinar dan dua rumah, dan berkata kepadaku: “Ini semua warisan.” Aku mengambil dinar-dinar itu, dan membelinya buku-buku ilmu, dan menjual kedua rumah itu, serta menghabiskan harganya untuk menuntut ilmu. Tidak tersisa bagiku sesuatu pun dari harta, dan ayahmu tidak pernah hina dalam menuntut ilmu, tidak pernah keluar berkeliling di negeri-negeri seperti para penceramah lainnya, tidak pernah mengirim surat kepada seseorang meminta sesuatu, dan urusannya berjalan dengan lurus. “Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya” (At-Thalaq: 2-3).

Bab: Ketika Takwa Benar, Engkau Akan Melihat Segala Kebaikan

1726- Wahai anakku! Dan ketika takwa benar, engkau akan melihat segala kebaikan. Orang yang bertakwa tidak riya’ kepada makhluk, dan tidak melakukan apa yang merusak agamanya. Barangsiapa yang menjaga batas-batas Allah, maka Allah akan menjaganya.

Bab: Tingginya Cita-cita Menuju Kesempurnaan

1731- Dan hendaklah cita-citamu tinggi menuju kesempurnaan, karena ada orang yang berhenti pada zuhud, dan ada orang yang sibuk dengan ilmu, dan langka sekali orang yang menggabungkan antara ilmu yang sempurna dan amal yang sempurna.

1732- Ketahuilah bahwa aku telah meneliti para tabi’in dan generasi setelah mereka, maka aku tidak melihat yang paling beruntung dengan kesempurnaan selain empat orang: Sa’id bin al-Musayyab, Al-Hasan al-Bashri, Sufyan ath-Thawri, dan Ahmad bin Hanbal radhiallahu ‘anhum. Mereka adalah laki-laki sejati; mereka memiliki cita-cita tinggi yang lemah pada kita. Di kalangan salaf ada banyak orang yang memiliki cita-cita tinggi. Jika engkau ingin melihat keadaan mereka, maka lihatlah dalam kitab Shifat ash-Shafwah. Jika engkau ingin merenungkan berita tentang Sa’id, Al-Hasan, Sufyan, dan Ahmad radhiallahu ‘anhum, maka aku telah mengumpulkan kitab untuk masing-masing dari mereka.

Bab: Hafalan adalah Modal Pokok dan Penerapan adalah Keuntungan

1733- Dan engkau telah tahu wahai anakku bahwa aku telah menyusun seratus kitab, di antaranya Tafsir Kabir: dua puluh jilid, dan Tarikh: dua puluh jilid, dan Tahdzib al-Musnad dua puluh jilid, dan sisa kitab-kitab antara besar dan kecil, ada yang lima jilid, dua jilid, tiga dan empat, ada yang kurang dan ada yang lebih. Aku telah mencukupimu dengan karya-karya ini dari meminjam buku-buku, dan mengumpulkan tekad dalam penulisan.

1734- Maka hendaklah engkau menghafal! Sesungguhnya hafalan adalah modal pokok dan penerapan adalah keuntungan. Jujurlah dalam kedua keadaan dalam berlindung kepada Allah Subhanahu, maka jagalah batas-batas-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu” (Muhammad: 7).

Bab: Barangsiapa yang Berpaling dari Amal akan Dicabut Berkahnya

1735- Dan berhati-hatilah jangan sampai engkau berhenti pada bentuk lahir ilmu tanpa mengamalkannya; karena orang-orang yang masuk kepada para penguasa dan menghadap kepada ahli dunia telah berpaling dari mengamalkan ilmu, maka mereka dicabut berkah dan manfaatnya.

Bab 13/387: Berdasarkan Manfaat yang Engkau Peroleh dari Ilmu, Para Pendengar Akan Memperoleh Manfaat

1736- Jauhilah dirimu dari kesibukan beribadah tanpa ilmu, karena sesungguhnya banyak orang dari kalangan zahid dan sufi yang tersesat dari jalan petunjuk ketika mereka beramal tanpa berdasarkan ilmu.

1737- Tutupilah dirimu dengan dua pakaian yang bagus yang tidak membuatmu terkenal di antara ahli dunia karena kemewahan keduanya, dan tidak pula di antara para zahid karena keburukannya.

1738- Hisablah dirimu pada setiap pandangan, setiap kata, dan setiap langkah, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban atas semua itu. Berdasarkan manfaat yang engkau peroleh dari ilmu, para pendengar akan memperoleh manfaat. Ketika penceramah tidak mengamalkan ilmunya, nasihatnya akan tergelincir dari hati sebagaimana air tergelincir dari batu. Maka janganlah engkau berceramah kecuali dengan niat, janganlah engkau berjalan kecuali dengan niat, dan janganlah engkau makan satu suap pun kecuali dengan niat. Dengan mempelajari akhlak para salaf, perkara ini akan terbuka bagimu.

Bab 14/388: Hendaklah Engkau Membaca Kitab-kitab Ini

1739- Hendaklah engkau membaca kitab “Minhaj al-Muridin” karena ia mengajarkanmu tentang suluk (perjalanan spiritual). Jadikanlah ia sebagai teman duduk dan gurumu. Perhatikanlah kitab “Said al-Khatir” karena engkau akan menemukan peristiwa-peristiwa yang memperbaiki agama dan duniamu. Hafalkanlah kitab “Jinnat al-Nazhar” karena ia cukup untuk menajamkan pemahamanmu tentang fikih. Ketika engkau sibuk dengan kitab “al-Hada’iq”, ia akan menunjukkanmu kepada kebanyakan hadis. Jika engkau menoleh kepada kitab “al-Kasyf”, ia akan menjelaskan kepadamu hal-hal tersembunyi yang ada dalam “al-Shahihain” (Shahih Bukhari dan Muslim) dari hadis. Janganlah engkau sibuk dengan kitab-kitab tafsir yang disusun oleh orang-orang non-Arab. “al-Mughni” dan “Zad al-Masir” tidak meninggalkan kebutuhanmu akan sesuatu pun dalam tafsir! Adapun apa yang telah kukumpulkan untukmu dari kitab-kitab ceramah, maka tidak ada kebutuhan setelahnya untuk tambahan sama sekali.

Bab 15/389: Pandai Bergaul

1740- Jadilah pandai dalam bergaul dengan makhluk, dengan tetap menjaga sikap mengasingkan diri yang kuat dari mereka. Sesungguhnya uzlah (menyendiri) adalah istirahat dari teman bergaul yang buruk dan menjaga wibawa. Seorang penceramah khususnya, hendaknya tidak terlihat berpenampilan buruk, berjalan di pasar, atau tertawa, agar orang berprasangka baik kepadanya sehingga mereka mendapat manfaat dari ceramahnya. Jika engkau terpaksa bergaul dengan manusia, bergaullah dengan mereka dengan kesabaran, karena jika engkau membuka tabir akhlak mereka, engkau tidak akan mampu bergaul dengan mereka.

Bab 16/390: Berikanlah kepada Setiap yang Berhak, Haknya

1741- Berikanlah kepada setiap yang berhak, haknya, dari istri, anak, dan kerabat. Perhatikanlah setiap jam dari jam-jammu, untuk apa ia berlalu? Janganlah engkau menyerahkannya kecuali untuk hal yang paling mulia yang mungkin. Janganlah engkau mengabaikan dirimu, biasakanlah dirimu dengan amal yang paling mulia dan paling baik. Kirimkanlah ke peti kubur apa yang membuatmu senang ketika sampai kepadanya, sebagaimana dikatakan:

Wahai orang yang sibuk dengan dunianya … dan tertipu oleh panjangnya angan-angan Kematian datang tiba-tiba … dan kubur adalah peti amal

1742- Perhatikanlah akibat-akibat perkara; akan mudah bagimu bersabar dari segala yang engkau inginkan dan yang engkau benci. Jika engkau mendapati dirimu dalam keadaan lalai, bawalah dirimu ke pekuburan dan ingatkan dia akan dekatnya kepergian.

1743- Aturlah urusanmu -dan Allah yang mengatur- dalam pengeluaranmu, tanpa berlebih-lebihan, agar engkau tidak membutuhkan manusia. Sesungguhnya menjaga harta adalah bagian dari agama, dan lebih baik engkau meninggalkan warisan untuk ahli warismu daripada engkau membutuhkan manusia.

Bab 17/391: Sesungguhnya Kami adalah Keturunan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu

1744- Wahai anakku, ketahuilah bahwa kami adalah keturunan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Kakek kami adalah al-Qasim bin Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Bakar bin Muhammad bin Abi Bakar radhiyallahu ‘anhu -dan kabar-kabarnya terdokumentasi dalam kitab “Shifat ash-Shafwah”.

1745- Kemudian para pendahulu kami sibuk dengan perdagangan, jual beli. Tidak ada di antara generasi belakangan yang diberi karunia semangat dalam menuntut ilmu selain aku. Kini perkara ini telah sampai kepadamu, maka bersungguh-sungguhlah agar engkau tidak mengecewakan harapanku terhadap apa yang kuharapkan untukmu dan bagimu. Sungguh aku telah menyerahkanmu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan kepada-Nya aku memohon agar Dia memberimu taufik untuk berilmu dan beramal.

Inilah kadar usahaku dalam wasiatku, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Segala puji bagi Allah yang menambah pujian para pemuja, dan semoga Allah bershalawat atas junjungan kami Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya, serta memberi salam.

Keterangan Penutup: Tercantum di akhir naskah tulisan tangan yang kami nukil yang tersimpan di Dar al-Kutub al-Mishriyyah dengan nomor “125” majami’, sebagai berikut:

Akhir kitab “Laftah al-Kabid ila Nashihah al-Walad” (Curahan Hati untuk Nasihat Anak), dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, serta shalawat Allah atas junjungan kami Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya yang mulia. Ditulis pada hari Senin tanggal tiga belas Sya’ban yang diagungkan tahun tujuh ratus tiga.

Dan telah dibandingkan dengan naskah lain yang tersimpan di Dar al-Kutub dengan nomor “123” majami’, yaitu pada hari Rabu tanggal 23 Ramadhan tahun “1349 H” oleh Utsman Khalil.

 

83. SAID AL-KHATIR

Facebook Comments Box

Penulis : Ibnu Al-Jauzi

Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.

Artikel Terjkait

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT
Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya
Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat
Kewajiban dan Keutamaan Taubat
Keutamaan Tauhid
Keutamaan Puasa Sunnah
Keutamaan Puasa Asyura (Yaitu hari kesepuluh dari bulan Muharram)
Keutamaan Mengajarkan Ilmu dan Menyeru Manusia kepada Kebaikan
Berita ini 0 kali dibaca

Artikel Terjkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 03:47 WIB

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:41 WIB

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:40 WIB

Keutamaan Puasa Sunnah

Artikel Terbaru

Akidah

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:47 WIB

Fatwa Ulama

Akibat Dosa Menyebabkan Bencana Alam – Faedah 10

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:45 WIB

Dakwah

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Jan 2026 - 15:41 WIB