Rahasia Para Pecinta di Bulan Ramadan
أَسْرَارُ الْمُحِبِّينَ فِي رَمَضَانَ
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya dan memohon ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah Ta’ala dari kejahatan diri kami dan dari keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan-Nya, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim” (Ali Imran: 102).
“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekerabatan. Sungguh, Allah selalu menjaga dan mengawasimu” (an-Nisa: 1).
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, (70) niscaya Dia akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia memperoleh kemenangan yang agung” (al-Ahzab: 70-71).
Amma ba’du:
Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.
Kemudian amma ba’du:
Saudara-saudaraku dalam Allah, demi Zat yang membelah biji dan menciptakan makhluk bernyawa, sesungguhnya aku mencintai kalian karena Allah, dan aku memohon kepada Allah Jalla Jalaluhu agar mengumpulkan kita dengan cinta ini di bawah naungan ‘Arasy-Nya di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Ya Allah, jadikanlah seluruh amal kami saleh, jadikanlah ia ikhlas karena wajah-Mu semata, dan janganlah Engkau jadikan bagi selain-Mu sedikitpun bagian di dalamnya. Kekasih-kekasihku dalam Allah…
Hal terindah di dunia ini adalah Allah ‘Azza wa Jalla mempergunakan dirimu dalam ketaatan. Perasaan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla mempergunakan dirimu dalam ketaatan-Nya adalah perasaan luar biasa yang menguasai dirimu, hingga hampir-hampir engkau merasakan seakan ada tangan penuh kasih sayang menyentuh pipimu untuk memutar wajahmu dan memalingkan pandanganmu kepada apa yang diridhai Tuhanmu. Engkau merasakan tangan ini menggenggam tanganmu dengan penuh kasih sayang yang di dalamnya terdapat kekuatan, untuk memimpin dan mengangkatmu kepada ibadah-ibadah, ketaatan-ketaatan, dan amalan-amalan mendekatkan diri yang tidak pernah terlintas dalam benakmu. Dan engkau merasakan tangan ini penuh kasih sayang, kuat, dan hangat di punggungmu, mencegahmu untuk mundur, dan mendorongmu untuk maju, mencegahmu dari jatuh, dan membuatmu merasakan bahwa engkau tersandarkan.
Mahasuci Sang Raja! Demi Allah, sungguh itu adalah perasaan yang benar-benar luar biasa. Perasaan manusia bahwa ia terdorong untuk berbuat kebaikan, sibuk dengannya, terbuka di hadapannya pintu-pintu ketaatan, dimudahkan untuknya, dan ditolong untuk melakukannya.
Bandingkanlah antara manusia ini dengan yang lain, yang setiap kali menuju kepada ketaatan menjadi sulit baginya dan dipalingkan darinya, dan kemanapun ia berpaling, hatinya, matanya, tangannya, dan kakinya diambil oleh kemaksiatan dari berbagai kemaksiatan.
Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata: “Jika seorang hamba mengawali pagi dan petangnya dengan tidak ada yang menjadi perhatiannya selain Allah semata, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memikul seluruh kebutuhannya, dan menanggung darinya segala yang menjadi kekhawatirannya, serta mengosongkan hatinya untuk mencintai-Nya, lisannya untuk berdzikir kepada-Nya, dan anggota tubuhnya untuk menaati-Nya. Dan jika ia mengawali pagi dan petangnya dengan dunia sebagai perhatiannya, Allah membebaninya dengan segala kekhawatiran, kesedihan, dan kesusahannya, dan menyerahkannya kepada dirinya sendiri.
Maka tersibukkan hatinya dari mencintai-Nya dengan mencintai makhluk, lisannya dari berdzikir kepada-Nya dengan menyebut-nyebut mereka, dan anggota tubuhnya dari menaati-Nya dengan mengabdi kepada mereka dan kesibukan-kesibukan mereka. Maka ia bekerja keras seperti kerja keras binatang dalam mengabdi kepada selain-Nya, seperti pandai besi yang mengembungkan perutnya dan memeras tulang rusuknya untuk manfaat selain dirinya. Maka setiap orang yang berpaling dari penghambaan kepada Allah, ketaatan kepada-Nya, dan cinta kepada-Nya, akan diuji dengan penghambaan kepada makhluk, cinta kepada makhluk, dan pengabdian kepada makhluk. Allah Ta’ala berfirman: ‘Dan barangsiapa berpaling dari mengingat (al-Qur’an) Tuhan Yang Maha Pengasih (ar-Rahman), Kami biarkan setan (menyesatkannya), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya’ (az-Zukhruf: 36).”
Jika engkau bertanya: Bagaimana aku bisa menjadi orang yang pertama, dan terselamatkan dari menjadi yang kedua? Aku katakan: Sesungguhnya perkara itu pada awalnya membutuhkan rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga Dia menjadikanmu dari golongan orang-orang yang diberi rahmat ini, dan menjauhkanmu dari golongan orang-orang yang merugi ini.
Jika engkau berkata: Tidakkah ada jalan untuk mencari sebab-sebabnya?
Aku katakan: Tentu ada. Pada awalnya membutuhkan semangat yang tinggi dan niat yang benar. Jika Allah ‘Azza wa Jalla melihat dari hamba-Nya kejujuran niat, dan sampai kepada-Nya dari hamba itu amal yang tinggi, Dia akan mengulurkan tangan kepadanya dan memperhatikannya lebih dari perhatian ayah yang penuh kasih sayang kepada anaknya. Dia mengatur urusannya, dan memperbaiki keadaan-keadaannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sungguh, usaha kamu memang beraneka ragam. (4) Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, (5) serta membenarkan (pahala) yang terbaik (surga), (6) maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan). (7) Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah), (8) serta mendustakan (pahala) yang terbaik, (9) maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan)” (al-Lail: 4-10).
Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata: “Tercapainya tujuan yang paling tinggi tergantung pada semangat yang tinggi dan niat yang benar. Barangsiapa kehilangan keduanya, maka sulit baginya untuk mencapainya. Karena jika semangat itu tinggi, ia akan terkait dengan-Nya semata Subhanahu tanpa yang lain. Dan jika niatnya benar, hamba akan menempuh jalan yang mengantarkan kepadanya. Maka niat akan menjadikan jalan khusus untuknya, dan semangat akan menjadikan tujuan khusus untuknya. Jika tujuannya tunggal dan jalan yang mengantarkan kepadanya tunggal, maka pencapaian adalah tujuan akhirnya.
Dan jika semangatnya rendah, ia akan terkait dengan hal-hal yang rendah dan tidak terkait dengan tujuan yang paling tinggi. Dan jika niatnya tidak benar, maka jalannya tidak akan mengantarkan kepadanya. Maka porosnya perkara adalah pada semangat hamba dan niatnya, dan keduanya adalah tujuannya dan jalannya. Dan itu tidak sempurna kecuali dengan meninggalkan tiga hal:
Pertama: Kebiasaan-kebiasaan, tatacara-tatacara, dan aturan-aturan yang diciptakan oleh manusia.
Kedua: Meninggalkan penghalang-penghalang yang menghalanginya dari mengkhususkan tujuan dan jalannya, dan memotongnya.
Ketiga: Memutuskan ikatan-ikatan hati yang menghalangi antara dirinya dengan mengkhususkan keterikatan dengan tujuan.”
Kini telah jelas bagimu, wahai kekasih, kumpulan sebab-sebab yang diperlukan:
- Mengumpulkan perhatian, sehingga perhatianmu tidak lain hanyalah ridha Allah semata.
- Semangat yang tinggi dan niat yang benar.
- Meninggalkan kebiasaan-kebiasaan, memutuskan ikatan-ikatan, dan melampaui penghalang-penghalang.
Kemudian, wahai kekasih yang penuh cinta, jika engkau merasakan beban dan kesulitan dalam mengambil sebab-sebab yang telah kusebutkan kepadamu, maka sesungguhnya dari rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya dan kemuliaan-Nya kepada mereka Subhanahu, bahwa Dia menyiapkan untuk mereka kesempatan-kesempatan dan peristiwa-peristiwa di hari-hari zaman mereka, yang di dalamnya pencapaian menjadi lebih mudah dan pertolongan-pertolongan menjadi gratis untuk semua. Dia berfirman Subhanahu: “Dan Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur” (al-Furqan: 62). Maka ada musim-musim dan peristiwa-peristiwa yang pencapaian dan masuk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di musim-musim ini adalah dengan bawaan-bawaan, hadiah-hadiah, dan keindahan-keindahan dalam sehari atau semalam dengan sekilas dari rahasia kelembutan-Nya Subhanahu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya bagi Allah di hari-hari masa ada hembusan-hembusan, maka hadapilah ia, semoga salah seorang di antara kalian tertimpa hembusan sehingga ia tidak akan celaka selamanya setelahnya.”
Dari musim-musim ini adalah bulan Ramadhan yang mulia. Betapa indah dan mulianya, dengan satu hari darinya saja.
Di malam pertama Ramadhan, setan-setan dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, pintu-pintu surga dibuka, dan datanglah bantuan dari Allah ar-Rahman, dengan memerintahkan seorang penyeru untuk menyeru: “Wahai pencari kebaikan, kembalilah! Wahai pencari kejahatan, berhentilah!” Maka engkau melihat respons yang cepat di setiap tempat. Masjid-masjid dipenuhi oleh orang-orang yang shalat, dan terdengar dari jendela-jendela dan pintu-pintu suara adzan dan al-Qur’an. Sedekah-sedekah bertambah banyak, mushaf-mushaf berpindah tangan, para imam berlomba-lomba dalam mengkhatamkan al-Qur’an. Wahai pencari kebaikan, kembalilah! Wahai pencari kejahatan, berhentilah! Maka dalam satu jam saja, hanya dengan melihat hilal, engkau menyaksikan revolusi menyeluruh dalam kehidupan seluruh masyarakat, dan perubahan mendalam di setiap aspek.
Wahai pencari kebaikan, kembalilah!
Kesempatan berharga yang langka, di dalamnya ada rahmat dan ampunan serta penyebab-penyebabnya yang tersedia, para penolong di dalamnya banyak, dan faktor-faktor kerusakan terbatas, setan-setan yang durhaka dibelenggu, dan bagi Allah ada orang-orang yang dibebaskan setiap malam, pintu-pintu surga terbuka, dan pintu-pintu neraka tertutup. Maka barangsiapa tidak memperoleh rahmat dengan semua itu, kapan lagi ia akan memperolehnya? Tidak akan binasa di sisi Allah kecuali orang yang memang binasa. Dan barangsiapa tidak layak mendapat ampunan di musim ini, kapan lagi ia akan layak mendapatkannya? Dan barangsiapa telah menyelami lautan yang berombak namun tidak bersih, apa yang akan membersihkannya?
Jika taman menjadi tandus di musim semi-nya … Kapan lagi ia akan bercahaya dan subur
Sungguh aku telah meletakkan buku ini di tanganmu sebagai bantuan untuk ketaatan, dan peringatan dari kelalaian. Maka manfaatkanlah apa yang ada di dalamnya, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan tolonglah yang lain. Dan aku tidak akan kehilangan darimu doa yang saleh tanpa sepengetahuanmu setiap malam Ramadhan. Aku menitipkan kalian kepada Allah, dan aku mencintai kalian dalam Allah.
Ditulis oleh:
Abu al-‘Ala Muhammad bin Husain Ali Ya’qub
Semoga Allah memaafkannya, mengampuninya, mengampuni kedua orang tuanya, istri-istrinya, anak-anaknya, dan kaum muslimin dan muslimat.
Kairo: Malam Jumat, Dua Puluh Tujuh Rajab 1426 H
1/9/2005 M
Keutamaan Ramadan: Harta Rampasan yang Dingin dan Kesempatan yang Tidak Tergantikan
Keutamaan Ramadan dan Kesempatan yang Tidak Tergantikan
Segala puji bagi Allah Yang Maha Lembut, Maha Pengasih, Maha Agung, Maha Pemberi. Yang Maha Besar, Maha Kuasa, Maha Raja, Maha Pemberi Balasan. Yang Maha Kaya, Maha Tinggi, Maha Kuat, Maha Penguasa. Yang Maha Penyantun, Maha Mulia, Maha Penyayang, Maha Pengasih. Yang Maha Awal sehingga tidak ada yang mendahului-Nya, Yang Maha Pemberi nikmat sehingga tidak ada makhluk yang mampu menunaikan hak-Nya, Yang senantiasa melimpahkan karunia-Nya kepada seluruh makhluk-Nya dengan pemberian-pemberian yang mulia sepanjang masa, “Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman: 13)
Maha Suci Dia dari memiliki sekutu dan anak, Maha Mulia dari membutuhkan siapa pun, Maha Suci dari memiliki tandingan dan Maha Tunggal, Yang mengetahui apa yang akan terjadi dan menciptakan apa yang telah ada, “Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman: 13)
Dia menciptakan makhluk-makhluk dengan hikmah-Nya dan membentuknya, memisahkan berbagai hal dengan kekuasaan-Nya dan menyatukannya, membentangkan bumi di atas air dan meluaskannya, “Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia meletakkan neraca.” (Ar-Rahman: 7)
Benda-benda keras meleleh karena keagungan-Nya dan melunak, kesulitan-kesulitan tunduk karena kekuasaan-Nya dan menjadi ringan, dan ketika Dia mengazab “Langit terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak.” (Ar-Rahman: 37)
Maha Suci Dia
Yang memuliakan dan menghinakan, yang memiskinkan dan memperkaya, yang membahagiakan dan menyengsarakan, yang menghidupkan dan mematikan, yang membuat buruk dan mempercantik, yang merobohkan dan membangun, “Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (Ar-Rahman: 29)
Yang telah menentukan takdir sehingga tidak ada yang dapat menolak keputusan-Nya, dan mengetahui rahasia hamba serta isi hati dan tekadnya, “Dan tidak ada betina yang mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya,” (Fatir: 11) dan tidak ada kaki yang berpindah dari suatu tempat, “Dia menciptakan manusia (3) mengajarnya pandai berbicara.” (Ar-Rahman: 3-4)
Yang membentangkan bumi dan meluaskannya dengan kekuasaan-Nya, mengalirkan sungai-sungai di dalamnya dengan ciptaan-Nya, mewarnai tumbuh-tumbuhannya dengan hikmah-Nya, maka siapakah yang mampu mewarnai warna-warna itu, “Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya.” (Ar-Rahman: 12) Dia menegakkannya dengan gunung-gunung yang kokoh di berbagai penjurunya, mengirimkan awan dengan air yang menghidupkannya, dan menetapkan kepunahan bagi seluruh penghuninya, “Semua yang ada di bumi itu akan binasa.” (Ar-Rahman: 26)
Siapa yang mengabdi kepada-Nya dengan mengharap karunia-Nya akan memperoleh, siapa yang berlindung kepada-Nya untuk menghilangkan kesusahannya akan lenyap (kesusahannya), dan siapa yang berbuat baik kepada-Nya akan diberi keuntungan, sebagaimana Dia telah berfirman: “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (Ar-Rahman: 60)
Maha Suci Dia
Tuhan yang memberi pahala kepada hamba-hamba-Nya dan menghukum, yang menganugerahkan keutamaan dan memberikan kemuliaan, maka kemenangan bagi orang yang bertakwa dan kemuliaan bagi orang yang muraqabah, “Dan bagi orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya ada dua surga.” (Ar-Rahman: 46)
Yang telah menganugerahi umat ini dengan kesempurnaan ihsan-Nya, yang melimpahkan karunia dan kebaikan-Nya kepada mereka, dan menjadikan bulan mereka ini khusus dengan ampunan-Nya yang menyeluruh, “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Quran.” (Al-Baqarah: 185)
Aku memuji-Nya atas apa yang telah Dia khususkan bagi kami berupa puasa dan salat malam, aku bersyukur kepada-Nya atas tercapainya harapan dan limpahan nikmat, dan aku bersaksi bahwa Dia adalah Zat yang tidak dapat dijangkau oleh akal dan pikiran “(Kepada-Nya) meminta segala yang ada di langit dan di bumi. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (Ar-Rahman: 29)
Dan bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam adalah makhluk-Nya yang paling utama dan pilihan-Nya, yang didahulukan atas para nabi dengan kekalnya mukjizatnya, yang pada malam kelahirannya terbelah Iwan, “Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman: 13)
Dan kepada Abu Bakar, sahabatnya di gua, dan kepada Umar sang penakluk negeri-negeri, dan kepada Utsman sang syahid di dalam rumah, dan kepada Ali sang penghilang kesusahan beliau, pemimpin para pemberani, “Maha Berkah nama Tuhanmu Yang Mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman: 78)
Saudara-saudaraku…
Telah datang bulan puasa dengan segala berkahnya, betapa mulianya kedatangan tamu yang akan datang ini. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam biasa memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya dengan kedatangan Ramadan. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dia berkata: Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam biasa memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya, beliau bersabda: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan puasa kepada kalian. Padanya dibuka pintu-pintu surga, dan ditutup padanya pintu-pintu neraka, dan dibelenggu padanya setan-setan. Di dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang terhalangi dari kebaikannya, maka sungguh dia telah terhalangi.”
Berkata sebagian ulama: Hadits ini adalah dasar dalam saling mengucapkan selamat antara manusia atas bulan Ramadan. Bagaimana seorang mukmin tidak diberi kabar gembira dengan dibukanya pintu-pintu surga?! Bagaimana orang yang berdosa tidak diberi kabar gembira dengan ditutupnya pintu-pintu neraka?! Bagaimana orang yang berakal tidak diberi kabar gembira dengan waktu dibelenggunya setan-setan?! Dari mana datangnya masa yang menyerupai masa ini! Dan adalah sebagian salaf berdoa untuk mencapai Ramadan, maka jika memasuki bulan Rajab dia berkata: “Ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Syakban dan sampaikanlah kami ke Ramadan.”
Saudara-saudaraku…
Ramadan telah datang dengan segala kebaikan dan berkahnya… Ramadan telah datang membawa kabar gembira bagi para pekerja (amal saleh)… dan menggembirakan hati orang-orang yang bertakwa dengan hari-harinya yang baik… Ramadan telah datang sebagai kesempatan bagi orang-orang yang beribadah… Ramadan telah datang untuk membersihkan dosa-dosa orang-orang yang bertaubat dan menyesal… Ramadan telah datang untuk mengangkat derajat para pencinta yang jujur di surga… Ramadan telah datang saudara-saudaraku, maka adakah yang bersemangat?!… Ramadan telah datang, maka inilah sebagian dari keistimewaannya; semoga kalian menghargai tamu ini sesuai kadarnya, semoga kalian mengetahui kedudukan dan keutamaannya:
Pertama: Ramadan adalah bulan yang dipilih dan diistimewakan oleh Allah untuk menjadi waktu turunnya kitab-kitab dan risalah-risalah-Nya. Maka dia adalah bulan penghubung antara bumi dan langit, Allah menurunkan kalam-Nya padanya, menyapa makhluk-Nya padanya, menyebarkan cahaya-Nya padanya, dan memberikan wahyu kepada hamba-hamba pilihan-Nya padanya. Betapa agungnya bulan ini, sebab kebaikan, sumber cahaya, tempat keluarnya rahmat, dan tempat turunnya berkah dari langit ke bumi. Dari Watsilah bin Al-Asqa dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda: “Diturunkan lembaran-lembaran Ibrahim pada malam pertama Ramadan, diturunkan Taurat pada enam hari berlalu dari Ramadan, diturunkan Injil pada tiga belas hari berlalu dari Ramadan, diturunkan Zabur pada delapan belas hari berlalu dari Ramadan, dan diturunkan Al-Quran pada dua puluh empat hari berlalu dari Ramadan.”
Dan Allah mengkhususkannya dengan sifat yang lebih khusus lagi dengan turunnya kitab yang paling agung untuk umat yang paling agung, mengkhususkannya dari antara bulan-bulan lainnya dengan itu, maka Dia berfirman, Maha Agung keagungan-Nya: “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (Al-Baqarah: 185) Maka Al-Quran yang agung yang dengannya Allah mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya diturunkan pada bulan yang agung dan mulia ini. Adakah setelah ini keistimewaan lain?!
Kedua: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Allah Azza wa Jalla berfirman: Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa, karena ia untuk-Ku dan Aku yang akan memberi balasannya.” Allah Subhanahu wa Taala mengkhususkan puasa untuk diri-Nya sendiri dari antara seluruh amal-amal perbuatan, dan karena itulah Dia berfirman setelah itu: “Sesungguhnya dia hanya meninggalkan syahwatnya, makanannya, dan minumannya karena Aku.”
Berkata Ibnu Abdil Barr: Cukuplah firman-Nya: “Puasa adalah untuk-Ku” sebagai keutamaan puasa di atas ibadah-ibadah lainnya. Dan para ulama telah berbeda pendapat tentang makna firman Allah Taala: “Puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang memberi balasannya,” padahal seluruh amal adalah untuk-Nya dan Dialah yang memberi balasan atasnya, menjadi beberapa pendapat: Salah satunya: bahwa puasa tidak masuk ke dalamnya riya sebagaimana masuk ke dalam yang lainnya. Berkata Al-Qurthubi: Karena amal-amal itu dimasuki riya, sedangkan puasa tidak dapat diketahui oleh siapa pun hanya dengan melakukannya kecuali Allah, maka Dia menisbatkannya kepada diri-Nya sendiri.
Dan berkata Abu Ubaid dalam Gharibnya: Kita telah mengetahui bahwa amal-amal kebajikan semuanya adalah untuk Allah dan Dialah yang memberi balasan atasnya, maka kami berpendapat wallahu alam bahwa Dia mengkhususkan puasa karena ia tidak tampak dari anak Adam dengan perbuatannya dan sesungguhnya ia adalah sesuatu dalam hati; dan itu karena amal-amal tidak ada kecuali dengan gerakan-gerakan, kecuali puasa yang sesungguhnya ia adalah dengan niat yang tersembunyi dari manusia. Dan sebagaimana diketahui bahwa setiap apa yang dinisbatkan kepada Allah Azza wa Jalla memperoleh kemuliaan dengan itu maka ia adalah perkara yang paling mulia, maka Allah Taala menisbatkan Kakbah kepada diri-Nya dan ia adalah tempat yang paling mulia secara mutlak, dan menisbatkan kepada diri-Nya bulan Muharram, maka bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam: “Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah Al-Muharram,” dan menisbatkan kepada diri-Nya puasa maka hal itu menunjukkan bahwa ia termasuk amal yang paling utama.
Berkata Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah taala: Dan telah banyak perkataan tentang makna “Puasa adalah untuk-Ku” dan mereka menyebutkan di dalamnya berbagai segi yang banyak, dan di antara yang paling baik yang disebutkan di dalamnya adalah dua segi:
Salah satunya: bahwa puasa adalah semata-mata meninggalkan hak-hak nafsu dan syahwat-syahwatnya yang asli yang tercipta dengan kecenderungan kepadanya untuk Allah Azza wa Jalla, dan tidak terdapat hal itu dalam ibadah lain selain puasa; karena ihram sesungguhnya yang ditinggalkan di dalamnya hanyalah jima (hubungan suami istri) dan penyebab-penyebabnya berupa wewangian tanpa syahwat-syahwat lainnya dari makan dan minum, demikian juga itikaf sekalipun ia mengikuti puasa. Adapun salat, maka sesungguhnya meskipun orang yang salat meninggalkan di dalamnya semua syahwat kecuali bahwa waktunya tidak lama, maka orang yang salat tidak merasakan kehilangan makanan dan minuman dalam salatnya, bahkan dia dilarang untuk salat sementara jiwanya terdorong kepada makanan yang ada di hadapannya hingga dia mengambil darinya apa yang menenangkan jiwanya; dan karena itu diperintahkan untuk mendahulukan makan malam daripada salat.
Dan ini berbeda dengan puasa; karena sesungguhnya ia meliputi seluruh siang hari, maka orang yang puasa merasakan kehilangan syahwat-syahwat ini, dan jiwanya terdorong kepadanya terutama di siang hari musim panas karena panasnya yang sangat dan lamanya; dan karena itu diriwayatkan bahwa di antara sifat-sifat iman adalah puasa di musim panas. Dan adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berpuasa Ramadan dalam safar di tengah panas yang sangat tanpa para sahabatnya, sebagaimana berkata Abu Darda: Kami bersama Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pada bulan Ramadan dalam safar, dan salah seorang dari kami meletakkan tangannya di atas kepalanya karena panasnya yang sangat dan tidak ada di antara kami yang berpuasa kecuali Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan Abdullah bin Rawahah. Dan dalam Al-Muwaththa bahwa beliau Shallallahu Alaihi Wasallam berada di Al-Arj menuangkan air di atas kepalanya dan dia berpuasa karena kehausan atau panas.
Maka ketika dorongan jiwa semakin kuat kepada apa yang diinginkannya dengan kemampuannya atasnya kemudian meninggalkannya karena Allah Azza wa Jalla di tempat yang tidak mengetahuinya kecuali Allah, maka hal itu menjadi bukti atas sahnya iman, karena orang yang berpuasa mengetahui bahwa dia memiliki Tuhan yang melihatnya di tempat sepinya, dan Dia telah mengharamkan baginya untuk mengambil syahwat-syahwatnya yang tercipta dengan kecenderungan kepadanya di tempat sepi, maka dia menaati Tuhannya dan melaksanakan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya, karena takut akan hukuman-Nya dan mengharap pahala-Nya, maka Allah Taala mensyukurinya atas itu, dan mengkhususkan untuk diri-Nya amalnya ini dari antara seluruh amal-amalnya yang lain; dan karena itu Dia Subhanahu berfirman setelah itu: “Sesungguhnya dia hanya meninggalkan syahwatnya, makanannya, dan minumannya karena Aku.”
Berkata sebagian salaf: Beruntunglah orang yang meninggalkan syahwat yang hadir untuk janji gaib yang belum dilihatnya.
Ketika mukmin yang berpuasa mengetahui bahwa ridha Tuhannya ada dalam meninggalkan syahwatnya, maka dia mendahulukan ridha Tuhannya atas hawa nafsunya, maka kesenangannya menjadi dalam meninggalkan syahwatnya karena Allah karena imannya bahwa Allah melihatnya, dan imannya akan pahala dan siksa-Nya, maka hal itu menjadi lebih besar daripada kesenangannya dalam mengambil syahwatnya di tempat sepi, karena mengutamakan ridha Tuhannya atas hawa nafsunya, bahkan mukmin membenci hal itu di tempat sepinya lebih keras daripada kebenciannya terhadap sakitnya pukulan. Dan karena itu engkau dapati banyak dari orang-orang mukmin jika dipukul agar berbuka pada bulan Ramadan tanpa udzur tidak mau melakukannya; karena pengetahuannya akan kebencian Allah terhadap berbukanya pada bulan ini.
Dan ini termasuk tanda-tanda iman, bahwa mukmin membenci apa yang menyenangkannya dari syahwat-syahwatnya jika dia mengetahui bahwa Allah membencinya, maka kesenangannya menjadi pada apa yang meridhai Tuhannya, meskipun bertentangan dengan hawa nafsunya, dan sakitnya pada apa yang dibenci Tuhannya, meskipun sesuai dengan hawa nafsunya. Jika demikian halnya pada apa yang diharamkan karena sebab puasa berupa makanan, minuman, dan bersenang-senang dengan wanita; maka seharusnya hal itu lebih ditegaskan pada apa yang diharamkan secara mutlak, seperti zina, minum khamr, mengambil harta atau kehormatan tanpa hak, dan menumpahkan darah yang diharamkan; karena sesungguhnya ini memurkai Allah pada setiap keadaan, di setiap waktu, dan di setiap tempat.
Apabila iman seorang mukmin telah sempurna, ia akan membenci semua itu lebih besar dari kebenciannya terhadap pembunuhan dan pemukulan. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan salah satu tanda adanya manisnya iman: “Bahwa ia benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya, sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam api”, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Yusuf ‘alaihissalam: “Yusuf berkata: ‘Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada apa yang mereka ajak kepadaku'” (Yusuf: 33).
Dzun Nun al-Mishri ditanya: Kapan aku mencintai Tuhanku? Ia menjawab: Apabila apa yang Ia benci lebih sulit bagimu daripada bersabar. Dan yang lain berkata: Bukanlah termasuk tanda-tanda kecintaan bahwa engkau mencintai apa yang dibenci kekasihmu. Banyak manusia yang berjalan mengikuti kebiasaan, bukan atas apa yang diwajibkan iman dan dituntutnya. Oleh karena itu, banyak dari mereka yang jika dipukul tidak akan berbuka di bulan Ramadhan tanpa alasan. Dan di antara orang bodoh ada yang tidak berbuka karena alasan, meskipun ia akan terkena bahaya dengan berpuasa, semata-mata mengikuti kebiasaan, padahal Allah menyukai darinya agar ia menerima keringanan-Nya. Namun ia telah terbiasa dengan apa yang Allah haramkan seperti zina, minum khamar, dan mengambil harta, kehormatan, atau darah tanpa hak. Maka orang ini mengikuti kebiasaannya dalam semua itu, bukan mengikuti tuntutan iman.
Barangsiapa beramal sesuai tuntutan iman, maka kenikmatannya adalah dalam bersabar melawan nafsunya dari apa yang menjadi kecenderungannya jika di dalamnya terdapat kemurkaan Allah. Dan mungkin ia akan naik tingkat hingga membenci semua yang Allah benci darinya, dan menjauhinya meskipun hal itu sesuai dengan keinginan jiwa, sebagaimana dikatakan:
Jika keridhaan-Mu dalam begadangku Maka salam Allah atas tidurku
Dan yang lain berkata: Siksa-Mu bagiku nikmat Dan jauh-Mu bagiku dekat Engkau bagiku seperti ruhku Bahkan engkau lebih aku cintai darinya Cukup bagiku dari cinta bahwa aku Mencintai apa yang engkau cintai
Aspek kedua: Bahwa puasa adalah rahasia antara hamba dan Tuhannya yang tidak diketahui selain-Nya, karena ia tersusun dari niat batin yang tidak diketahui kecuali oleh Allah, dan meninggalkan mengambil syahwat-syahwat yang biasanya disembunyikan pengambilannya. Oleh karena itu dikatakan: Malaikat pencatat tidak menulisnya, dan dikatakan: Sesungguhnya di dalamnya tidak ada riya. Karena barangsiapa meninggalkan apa yang diajaknya nafsunya karena Allah ‘azza wa jalla di tempat yang tidak diketahui selain Yang memerintahkannya atau melarangnya, maka hal itu menunjukkan sahnya imannya.
Allah Ta’ala menyukai dari hamba-hamba-Nya agar mereka bermuamalah dengan-Nya secara rahasia antara mereka dan Dia, dan ahli kecintaan kepada-Nya menyukai untuk bermuamalah dengan-Nya secara rahasia antara mereka dan Dia, sehingga tidak ada yang mengetahui muamalah mereka kepada-Nya selain-Nya. Bahkan sebagian dari mereka berharap seandainya bisa melakukan ibadah yang tidak dirasakan oleh malaikat pencatat.
Sebagian mereka berkata ketika mengetahui sebagian rahasianya: Sesungguhnya hidup terasa nikmat ketika muamalah antara aku dan Dia adalah rahasia. Kemudian ia berdoa untuk dirinya dengan kematian, lalu ia meninggal.
Para pecinta cemburu dari diketahuinya rahasia-rahasia yang antara mereka dan yang mereka cintai dan mencintai mereka oleh orang lain.
Firman-Nya: “Meninggalkan syahwatnya, makanannya, dan minumannya karena Aku”, di dalamnya terdapat isyarat kepada makna yang telah kami sebutkan, bahwa orang yang berpuasa mendekatkan diri kepada Allah dengan meninggalkan apa yang diinginkan jiwanya dari makanan, minuman, dan pernikahan. Dan ini adalah syahwat-syahwat jiwa yang paling besar. Dalam mendekatkan diri dengan meninggalkan syahwat-syahwat ini melalui puasa terdapat faedah-faedah, di antaranya:
(a) Mematahkan nafsu, karena kenyang, minum, dan bersetubuh dengan wanita membawa jiwa kepada kesombongan, kegagahan, dan kelalaian.
(b) Mengosongkan hati untuk berpikir dan berdzikir, karena mengambil syahwat-syahwat ini dapat mengeraskan hati dan membutakannya, menghalangi antara hamba dan dzikir serta pikir, dan mengundang kelalaian.
Kosongnya batin dari makanan dan minuman menerangi hati, menyebabkan kelembutannya, menghilangkan kerasnya, dan mengosongkannya untuk dzikir dan pikir.
(c) Bahwa orang kaya mengetahui kadar keluasan Allah kepadanya dengan mengupayakannya kepadanya atas apa yang Ia cegah bagi banyak orang fakir dari kelebihan makanan, minuman, dan pernikahan. Karena dengan berpantangnya dari itu pada waktu tertentu, dan terjadinya kesulitan baginya dengan itu, ia mengingat dengannya orang yang dicegah dari itu secara mutlak. Maka hal itu mewajibkan baginya mensyukuri nikmat Allah kepadanya dengan kekayaan, dan mendorongnya untuk merahmati saudaranya yang membutuhkan dan membantunya dengan apa yang mungkin dari itu.
(d) Bahwa puasa mempersempit saluran darah yang merupakan saluran setan dari anak Adam. Karena sesungguhnya setan mengalir dalam diri anak Adam seperti mengalirnya darah. Maka dengan puasa tenanglah bisikan-bisikan setan, dan patahlah gelora syahwat dan amarah. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan puasa sebagai perisai untuk memutus syahwat pernikahan.
Isyarat Penting:
Ketahuilah bahwa tidak sempurna mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan meninggalkan syahwat-syahwat yang mubah ini pada selain keadaan puasa kecuali setelah mendekatkan diri kepada-Nya dengan meninggalkan apa yang diharamkan dalam setiap keadaan, seperti dusta, kezaliman, dan permusuhan terhadap manusia dalam darah, harta, dan kehormatan mereka. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta, maka Allah tidak memerlukan ia meninggalkan makanan dan minumannya”. Dalam hadits lain: “Puasa bukan dari makanan dan minuman, sesungguhnya puasa adalah dari perbuatan sia-sia dan perkataan keji”. Dan sebagian salaf berkata: Puasa yang paling ringan adalah meninggalkan minuman dan makanan. Jabir berkata: Apabila engkau berpuasa hendaklah pendengaranmu, penglihatanmu, dan lisanmu berpuasa dari dusta dan yang haram, tinggalkan menyakiti tetangga, hendaklah ada ketenangan dan ketentraman padamu di hari puasamu, dan jangan jadikan hari puasamu dan hari berbukamu sama. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berapa banyak orang yang berpuasa, bagiannya dari puasa hanya lapar dan haus, dan berapa banyak orang yang shalat malam, bagiannya dari shalat malam hanya begadang”.
Rahasia ini adalah: Bahwa mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan meninggalkan yang mubah tidak sempurna kecuali setelah mendekatkan diri kepada-Nya dengan meninggalkan yang haram. Barangsiapa melakukan yang haram kemudian mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan meninggalkan yang mubah, maka ia seperti orang yang meninggalkan yang fardhu dan mendekatkan diri dengan yang sunnah. Meskipun puasanya sah menurut jumhur sehingga tidak diperintahkan untuk mengulanginya, karena amal itu hanya batal dengan melakukan apa yang dilarang padanya karena kekhususannya, tidak dengan melakukan apa yang dilarang karena selain makna yang khusus padanya. Selesai perkataan Ibnu Rajab.
Untuk makna ini, wallahu a’lam, disebutkan dalam Al-Quran setelah penyebutan pengharaman makanan dan minuman bagi orang yang berpuasa di siang hari, disebutkan pengharaman memakan harta manusia dengan batil. Karena pengharaman ini umum di setiap waktu dan tempat, berbeda dengan makanan dan minuman. Maka hal itu adalah isyarat bahwa barangsiapa mematuhi perintah Allah Ta’ala dalam menjauhi makanan dan minuman di siang hari puasanya, hendaklah ia mematuhi perintah-Nya dalam menjauhi memakan harta manusia dengan batil, karena itu haram dalam setiap keadaan, tidak halal pada waktu dari waktu-waktu.
Ketiga: Keutamaan ketiga dari keutamaan-keutamaan Ramadhan: Di dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Ini termasuk keberkahan Allah Subhanahu wa Ta’ala, rahmat-Nya, dan penghormatan-Nya kepada umat ini. Maka kita adalah umat yang dirahmati. Ketika umat ini umurnya berkisar antara enam puluh dan tujuh puluh tahun, dan sedikit dari mereka yang melampaui itu, Allah memberikannya keberkahan dalam amal. Maka satu kebaikan dengan sepuluh kali lipatnya, dan membaca satu huruf dari Al-Quran dengan sepuluh kebaikan, dan Lailatul Qadar di Ramadhan lebih baik dari seribu bulan. Apakah engkau merenungkan makna ini: lebih baik dari seribu bulan?! Demi Allah, tidaklah diharamkan kebaikannya kecuali orang yang terharamkan dan terlaknat. Dan mengqiyamkannya di dalamnya terdapat pengampunan dosa-dosa yang telah lalu. Maka sungguh ia adalah nikmat yang melimpah kepada orang-orang mukmin.
Renungkanlah bersamaku: Bahwa seandainya engkau mengqiyamkan tiga puluh atau empat puluh malam qadar, setiap malam dengan delapan puluhan tahun lebih, niscaya umurmu akan menjadi lebih dari tiga ribu tahun. Maha Suci Sang Raja!! Ya Allah tambahkanlah kami dari keberkahan-Mu. Ya Allah anugerahkanlah kami untuk mengqiyamkan Lailatul Qadar dan jangan haramkan kami dari pahalanya.
Keempat: Dibukakan padanya pintu-pintu surga dan ditutup padanya pintu-pintu neraka. Saudaraku fillah, kekasihku fillah, apakah engkau merasakan makna ini juga: bahwa pintu-pintu surga terbuka bagi pencarinya dan ditutup padanya pintu-pintu neraka, dan bukan keutamaan ini untuk bulan lain dari yang masyhur. Maka ketahuilah kemuliaan bulan yang agung ini. Aku tidak tahu jika engkau tidak masuk surga sementara ia terbuka pintunya, kapan engkau akan memasukinya? Dan jika engkau tidak berpaling dari neraka sementara ia tertutup pintunya dan kembali tidak menginginkannya, kapan engkau akan berpaling?! Semoga Allah memaafkan aku dan engkau.
Kelima: Di Ramadhan dibelenggu setan-setan, dikekang marid-marid jin. Menjadi di dalamnya setan-setan terkekang, terbelenggu, menahannya belenggu-belenggu dan menghalanginya rantai-rantai. Dan semua ini agar jiwa terbebas lepas di suasana penghambaan kepada Allah Jalla Jalaluhu. Maka apa yang mencegahmu untuk menjadi orang yang dermawan di dalamnya untuk kebaikan sementara setan-setan telah dibelenggu?!
Begitulah hilang alasanmu, batallah alasan-alasanmu, dan hilang penghalang-penghalangmu. Tidak ada setan yang membisikkan kepadamu, tidak ada marid yang memerangimu dan menghalangimu. Hanyalah nafsumu yang memerintahkan keburukan dan membisikkannya dengan keburukan. Terimalah dan bebaskan diri dari kekuasaannya. Semoga Allah mencukupkan kami dan engkau dari kejahatannya.
Keenam: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila datang malam pertama bulan Ramadhan, dibelenggu setan-setan dan marid-marid jin, dibuka pintu-pintu neraka sehingga tidak ada satu pintu pun yang terbuka darinya, dan berseru penyeru: Wahai pencari kebaikan, datanglah, dan wahai pencari keburukan, berhentilah”. Barangsiapa menginginkan ketaatan di bulan mulia ini, maka jalannya mudah dan dimudahkan. Maka datanglah dengan sepenuh tekadmu, bergesegralah dengan sepenuh kerinduanmu. Dan barangsiapa menginginkan kemaksiatan Allah di bulan ini dipanggil: Hentikan kemaksiatanmu dan berhati-hatilah.
Wahai pencari kebaikan, datanglah, karena sesungguhnya engkau dibantu, diberi taufik, diberi pertolongan. Dan wahai pencari keburukan, berhentilah, karena sesungguhnya engkau dilaknat, dibenci, ditolak, diusir.
Ketujuh: Kebersamaan ketaatan di Ramadhan membangkitkan dalam jiwa semangat dan keteguhan. Maka semua manusia berpuasa, dan mereka berkumpul dalam shalat tarawih. Jiwa dari kebiasaannya adalah bersemangat ketika berpartisipasi dan tertarik dengan keramaian yang banyak. Oleh karena itu tetaplah Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu dalam kisah taubatnya setelah keluarganya menekannya sampai ia hampir kembali dan mendustakan dirinya, ia tetap ketika mengetahui dua orang saleh yang menyaksikan Badar menimpa mereka apa yang menimpanya. Demikian juga Musa ‘alaihissalam berkata: “Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku (29) yaitu Harun saudaraku (30) kuatkanlah dengan dia punggungku (31) dan jadikanlah dia sekutuku dalam urusanku (32) agar kami banyak bertasbih kepada-Mu (33) dan banyak mengingat-Mu” (Thaha: 29-34). Begitulah kuatlah punggungmu dalam ibadah dengan banyaknya orang yang berpartisipasi denganmu di dalamnya. Maka berangkatlah dan beribadahlah, engkau akan mendapati pembantu-pembantu dan orang yang mencintaimu. Maka engkau akan mendapat manfaat dan diambil manfaat darimu.
Oleh karena itu Ramadhan dianggap sebagai revolusi ibadah yang menyeluruh. Maka engkau dapati dari berkahnya datangnya manusia kepada kebaikan, pencarian manusia terhadap kebairan, condongnya hati-hati kepada agama, dan datangnya menuju masjid-masjid. Maka wahai para da’i Islam, wahai pewaris para nabi, inilah kesempatanmu maka manfaatkanlah. Jangan sia-siakan kesempatan ini dari tangan kalian dan tunjukkanlah manusia kepada Allah. Kenalkan kepada manusia agama mereka, karena sesungguhnya mereka di bulan ini siap untuk merespons dengan cepat. Maka manfaatkanlah dakwah mereka dan raihlah pahala mereka.
Kedelapan: Di Ramadhan berkumpul induk-induk ketaatan. Maka shalat, puasa, dan zakat fitrah di dalamnya adalah fardhu wajib. Kemudian ada tilawah Al-Quran, dzikir, doa, sedekah, umrah, dan memberi makan. Dari yang-yang disunnahkan yang ditekankan. Dan terjadinya ketaatan-ketaatan ini dan lainnya di bulan ini menjadikannya seperti taubat umat. Tetapi di mana orang-orang yang bersungguh-sungguh memanfaatkan kesempatan?!
Kesembilan: Di Ramadhan ada sebab-sebab yang banyak untuk pengampunan dosa dan pembebasan dari neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu”. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengqiyamkan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu”. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengqiyamkan Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu”.
Ambillah ghanimah yang cepat ini, tiga kesempatan dalam sebulan untuk pengampunan dosa-dosamu yang telah lalu.
Tiga kesempatan untuk membersihkan diri dari masa lalumu dan memulai lembaran baru yang putih.
Sungguh ia adalah kesempatan jika engkau lelaki sejati.
Kesepuluh: Kemudian juga kesempatan untuk masuk dalam barisan orang-orang besar. Datang seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa engkau adalah utusan Allah, aku shalat lima waktu, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan dan mengqiyamkannya, maka termasuk siapakah aku? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Termasuk orang-orang shiddiqin dan para syuhada”. Maha Suci Sang Raja! Di hadapanmu ada kesempatan untuk menjadi termasuk yang Allah berfirman tentang mereka: “Dan merekalah teman yang sebaik-baiknya” (An-Nisa: 69). Maha Suci Allah Yang Maha Agung! Ghanimah demi Allah yang mudah, dan kesempatan demi Allah yang tidak tergantikan. Maha Suci Sang Raja! Berapa banyak kesempatan di bulan ini untuk pengampunan dan pembebasan, bahkan berapa banyak kesempatan setiap malam. Sungguh celakalah orang yang terlewatkan kesempatan-kesempatan itu atau menyia-nyiakannya.
Dari Jabir bin Samurah ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jibril datang kepadaku lalu berkata: Wahai Muhammad, barangsiapa mendapati salah satu dari kedua orang tuanya lalu meninggal dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya, katakanlah: Amin, maka aku berkata: Amin. Ia berkata: Wahai Muhammad, barangsiapa mendapati bulan Ramadhan lalu meninggal dan Allah tidak mengampuninya dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya, katakanlah: Amin, maka aku berkata: Amin. Ia berkata: Dan barangsiapa engkau disebutkan di hadapannya lalu ia tidak bershalawat kepadamu dan meninggal dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya, katakanlah: Amin, aku berkata: Amin”.
Kesebelas: Sunnah i’tikaf di Ramadhan dianggap seperti ruang perawatan intensif untuk mengangkat kanker dosa dari hati-hati. Ia dianggap lingkungan steril yang jauh dari kotoran-kotoran dunia dan kotorannya. Dan adalah kekasih kami dan nabi kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf sepuluh hari terakhir dari Ramadhan. Dan pada tahun ia wafat, ia beri’tikaf dua puluh hari. Dan ketika terlewatkan baginya i’tikaf suatu kali, ia mengqadha’nya dan beri’tikaf sepuluh hari pertama Syawal. Dan perbuatannya ini memberitahumu tentang pentingnya ibadah ini, dan keseringan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam padanya mendorongmu untuk bersemangat padanya.
Dalam iktikaf terdapat kesendirian, pemutusan keterikatan dengan manusia, pembebasan dari racun pergaulan, dan manfaat-manfaat besar lainnya di antaranya adalah mengumpulkan perhatian kepada Allah, mengumpulkan hati yang telah tercerai-berai, mengubah tabiat-tabiat manusiawi dalam kebiasaan makan, minum, tidur, buang hajat, dan pergaulan. Dalam semua ini terdapat manfaat-manfaat berharga bagi siapa yang menyadarinya, mengumpulkannya, dan mengambil manfaat darinya lalu menyambutnya. Mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah, beriktikaf dan jangan mengabaikan, rugikan sedikit dari dunia dan menangkan akhirat. Ketahuilah bahwa semua ketaatan dan ibadah ini adalah jalan untuk turunnya rahmat Allah subhanahu wa ta’ala, maka hadapilah diri untuk mendapat rahmat Allah semoga kamu dirahmati. Ya Allah, rahmatilah kami dengan rahmat-Mu wahai Dzat Yang Maha Penyayang dari yang menyayangi.
Yang kedua belas: Allah memiliki orang-orang yang dimerdekakan dari neraka di setiap malam dalam bulan ini, maka jadilah salah seorang dari mereka agar berbahagia di dunia dan akhirat. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Allah memiliki orang-orang yang dimerdekakan pada setiap waktu berbuka.”
Saudaraku yang tercinta… apakah kamu mengetahui makna kalimat ini? (Ya Allah, merdekakanlah leher-leher kami dari neraka). Meskipun kalimat ini sering diulang-ulang di lisan, namun kita belum merenungi maknanya dengan baik sebagaimana mestinya. Bayangkanlah dalam makna kemerdekaan ini firman Allah azza wa jalla: “(Ingatlah) pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, ‘Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu.’ Dikatakan (kepada mereka), ‘Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).’ Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya ada azab. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin), ‘Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?’ Mereka menjawab, ‘Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri, menunggu (kehancuran kami), ragu-ragu dan ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datang ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang pandai menipu. Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak (pula) dari orang-orang kafir. Tempat kamu adalah neraka. Dialah tempat perlindunganmu. Dan dia adalah seburuk-buruk tempat kembali.'” (Surat Al-Hadid: 13-15).
Perhatikanlah dengan seksama firman-Nya: “Tempat kamu adalah neraka. Dialah tempat perlindunganmu. Dan dia adalah seburuk-buruk tempat kembali.” Kamu akan memahami bahwa kemerdekaan adalah keluar dari perwalian ini, agar neraka tidak menjadi wali/pelindungmu. Dan dalam ayat-ayat lain: “Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” Maka kemerdekaan adalah: pembebasan dari kepemilikan ini, kepemilikan neraka terhadap manusia. Maha Suci Raja Yang Maha Agung, apakah kamu menyadari bahaya yang sangat besar yang kamu selamat darinya dengan kemerdekaan? Ya Allah, merdekakanlah leher-leher kami dari neraka… Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang Engkau merdekakan dari neraka dan dari orang-orang yang dirahmati. Ini adalah kesempatan besar dalam bulan ini, pembebas dirimu dari neraka.
Yang ketiga belas: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki orang-orang yang dimerdekakan di setiap siang dan malam, setiap hamba dari mereka memiliki doa yang dikabulkan.” Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Ada tiga yang doanya tidak ditolak…” dan beliau menyebutkan di antaranya “orang yang berpuasa hingga berbuka.” Saudaraku: apakah kamu memiliki hajat kepada Allah?
Bergembiralah… kamu diizinkan untuk tiga puluh hajat, Maha Suci Allah Yang Maha Agung! Betapa manusia sangat menginginkan sesuatu yang terkabul dengan doa saat berbuka, karena menjelang waktu berbuka di akhir siang hari, manusia berada dalam kondisi terbaik untuk merasakan kerendahan diri, menampakkan kefakiran, mengulurkan tangan dalam kehinaan dan permohonan, serta menampakkan kehinaan dan kebutuhan, maka Allah mengabulkan doa orang yang berpuasa yang miskin itu. Manfaatkanlah kesempatan dan bersiaplah sebelum maghrib dengan menyiapkan daftar permintaan dan membebaskan diri dari aib, dan jadikanlah untuk kami bagian dalam doamu wahai saudara yang dicintai dan yang mencintai. Jangan lupa untuk menjadikan sebagian dari doamu adalah doa untuk umat seluruhnya agar Allah melapangkan semua kesulitan mereka.
Yang keempat belas: Puasa memberikan syafaat bagi pelakunya di hari kiamat. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Puasa dan Al-Quran akan memberikan syafaat kepada hamba pada hari kiamat. Puasa berkata: ‘Wahai Rabbku, aku telah mencegahnya dari makanan dan syahwat di siang hari, maka berikanlah syafaat kepadaku untuknya.’ Dan Al-Quran berkata: ‘Wahai Rabbku, aku telah mencegahnya dari tidur di malam hari, maka berikanlah syafaat kepadaku untuknya.’ Maka keduanya memberikan syafaat.” Allah ta’ala berfirman: “Ingatlah, kamu ini adalah orang-orang yang membela mereka dalam kehidupan dunia, maka siapakah yang akan membela mereka pada hari kiamat atau siapakah yang akan menjadi pelindung mereka?” (Surat An-Nisa: 109). Manusia membutuhkan di hari kiamat seorang wakil yang membela untuknya dan pemberi syafaat yang memberikan syafaat untuknya dalam kejadian-kejadian dahsyat di hari yang agung ini. Jika dia menemukan pemberi syafaat yang memberikan syafaat ini, maka itulah puncak kebahagiaan. Maka bersungguh-sungguhlah agar puasa mengenalmu, Ramadan mengenalmu, Al-Quran mengenalmu, dan Rasul shallallahu alaihi wa sallam mengenalmu, maka berkumpullah untukmu para pemberi syafaat, maka terjadilah keselamatan dengan karunia Allah.
Yang kelima belas: Sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam: “Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan yang membuatnya gembira: ketika berbuka dia gembira dengan berbukanya, dan ketika bertemu Rabbnya dia gembira dengan puasanya.” Betapa manusia sangat menginginkan di zaman ini di tengah kesedihan dan kegundahan, kekhawatiran dan kepedihan, sebuah kegembiraan yang membahagiakan hatinya dan melapangkan dadanya. Maka tiba-tiba saat berbuka dia menemukan kegembiraan besar yang Allah tanamkan dalam hatinya. Adapun kegembiraan orang yang berpuasa saat berbukanya, maka sesungguhnya jiwa-jiwa tercipta dengan kecenderungan kepada apa yang sesuai dengannya berupa makanan, minuman, dan pernikahan. Jika dicegah dari hal itu di suatu waktu, kemudian dibolehkan di waktu lain, maka bergembira dengan dibolehkannya apa yang dicegah darinya, khususnya ketika kebutuhan kepadanya sangat kuat. Maka jiwa-jiwa bergembira dengan hal itu secara alami. Jika hal itu dicintai oleh Allah, maka dicintai secara syariat. Adapun kegembiraannya saat bertemu Rabbnya, maka dengan apa yang dia temukan di sisi Allah berupa pahala puasa yang disimpan, maka dia menemukannya saat paling membutuhkannya, sebagaimana firman Allah ta’ala: “Dan apa yang kamu usahakan untuk dirimu dari kebaikan, niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang lebih baik dan yang lebih besar pahalanya.” (Surat Al-Muzzammil: 20). Dan firman-Nya ta’ala: “Pada hari ketika setiap jiwa mendapati segala kebajikan dihadirkan.” (Surat Ali Imran: 30). Dan firman-Nya subhanahu: “Barangsiapa berbuat kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (Surat Az-Zalzalah: 7). Dan di antara ciri-ciri terpenting dari puasa adalah bahwa ia tidak gugur dengan qishas dalam menunaikan kezaliman terhadap hamba.
Sufyan bin Uyainah rahimahullah berkata: Maka ketika hari kiamat, Allah menghisab hamba-Nya dan menunaikan apa yang menjadi tanggungannya dari kezaliman dari seluruh amalnya hingga tidak tersisa kecuali puasa. Maka Allah azza wa jalla menanggung apa yang tersisa dari kezaliman dan memasukkannya ke surga dengan puasa.
Puasa adalah untuk Allah azza wa jalla, maka tidak ada jalan bagi siapa pun untuk mengambil pahalamu dari puasa, bahkan pahalamu tersimpan untukmu di sisi Allah azza wa jalla. Maka dapat dikatakan bahwa: sesungguhnya semua amal mungkin dapat menghapus dosa-dosa pelakunya, sehingga tidak tersisa bekasnya. Karena diriwayatkan bahwa di hari kiamat akan ditimbang antara kebaikan dan keburukan dan sebagian diqishas dengan sebagian lainnya. Jika tersisa dari kebaikan satu kebaikan, maka pelakunya masuk surga dengannya. Maka dapat dikatakan bahwa puasa: sesungguhnya pahalanya tidak gugur dengan muqasah atau lainnya, bahkan pahalanya dihemat untuk pemiliknya hingga dia masuk surga dan pahalanya ditunaikan di dalamnya. Firman-Nya subhanahu: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Surat Az-Zumar: 10).
Yang keenam belas: Ramadan adalah bulan takwa. Ibnu Qayyim rahimahullah berkata dalam Zadul Ma’ad: “Karena tujuan dari puasa adalah menahan jiwa dari syahwat, menyapihnya dari kebiasaan-kebiasaan, menyeimbangkan kekuatan syahwatnya agar siap untuk mencari apa yang di dalamnya terdapat puncak kebahagiaannya dan kenikmatan, dan penerimaan terhadap apa yang menyucikannya yang di dalamnya terdapat kehidupan abadinya. Dan kelaparan serta kehausan mematahkan ketajaman dan amarahnya, mengingatkannya dengan kondisi perut-perut yang lapar dari orang-orang miskin, mempersempit jalan-jalan setan dari hamba dengan mempersempit jalan makanan dan minuman, menahan kekuatan-kekuatan anggota tubuh dari keleluasaannya mengikuti hukum tabiat dalam apa yang membahayakannya dalam kehidupan dunia dan akhiratnya, menenangkan setiap anggota dan setiap kekuatan dari liarnya, mengekangnya dengan kekangnya. Maka puasa adalah kekang orang-orang yang bertakwa, perisai para pejuang, latihan orang-orang baik dan orang-orang yang didekatkan, dan ia adalah untuk Rabb semesta alam dari seluruh amal-amal lainnya.
Karena sesungguhnya orang yang berpuasa tidak melakukan sesuatu, tetapi dia meninggalkan syahwatnya, makanannya, minumannya, dan syahwatnya karena Dzat yang disembahnya. Dia meninggalkan kecintaan-kecintaan jiwa dan kenikmatan-kenimatannya karena lebih memilih kecintaan dan keridhaan Allah. Ini adalah rahasia antara hamba dan Rabbnya yang tidak ada yang mengetahuinya selain-Nya. Para hamba mungkin mengetahui darinya tentang meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa yang tampak. Adapun kenyataan bahwa dia meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya karena Dzat yang disembahnya, maka itu adalah perkara yang tidak diketahui manusia. Itulah hakikat puasa.
Bagi puasa ada pengaruh yang menakjubkan dalam menjaga anggota-anggota yang lahir dan kekuatan-kekuatan yang batin, melindunginya dari percampuran yang mendatangkan untuknya bahan-bahan yang rusak yang jika menguasainya akan merusaknya, mengeluarkan bahan-bahan buruk yang menghalanginya dari kesehatannya. Maka puasa menjaga kesehatan hati dan anggota-anggota tubuh, dan mengembalikan kepadanya apa yang dirampas oleh tangan-tangan syahwat darinya. Maka puasa adalah salah satu pertolongan terbesar untuk takwa sebagaimana firman Allah ta’ala: ‘Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.’ (Surat Al-Baqarah: 183).”
Setelah perkataan yang kokoh dari Ibnu Qayyim ini dalam menyebutkan rahasia-rahasia puasa, kamu telah mengetahui bahwa tujuan terbesar dari puasa adalah takwa. Itulah mutiara yang hilang dan tujuan yang dicari. Kesempatanmu untuk mendapatkannya di bulan ini adalah yang terbesar, maka segeralah dan Allah tempat meminta pertolongan.
Pemberhentian Sejenak
Setelah manfaat-manfaat, keutamaan-keutamaan, hadiah-hadiah, dan hal-hal menarik tentang keutamaan-keutamaan bulan Ramadan yang diagungkan ini, harus ada pemberhentian sejenak:
Apakah mendapatkannya hanya dengan meninggalkan makanan dan syahwat dari fajar hingga maghrib, ataukah ada syarat-syarat lain? Dan di sini aku katakan kepadamu—wahai saudara yang tercinta dan yang mencintai—: Sesungguhnya hakikat dan rahasia puasa yang diharapkan bukanlah perkara formal yang dilakukan bagaimana pun juga, tetapi ada rahasia-rahasia untuk ibadah yang agung ini yang harus diketahui dan dikuasai secara ilmu dan amal. Kemudian ada tingkatan-tingkatan bagi orang-orang yang berpuasa… mereka tidak sama… tetapi amal-amal berbeda-beda sesuai dengan perbedaan semangat dan kondisi hati:
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: Ibnu Arabi mengutip dari sebagian ulama zuhud bahwa puasa ada empat jenis:
- Puasa awam: yaitu puasa dari makan, minum, dan jimak.
- Puasa khawash al-awam: yaitu ini dengan meninggalkan hal-hal yang haram dari perkataan atau perbuatan.
- Puasa al-khawash: yaitu puasa dari selain dzikir kepada Allah dan ibadah kepada-Nya.
- Puasa khawash al-khawash: yaitu puasa dari selain Allah, maka tidak ada berbuka bagi mereka hingga hari kiamat. Ini adalah maqam yang tinggi.
Ibnu al-Jauzi berkata: Puasa ada tiga: puasa ruh yaitu memendekkan angan-angan, puasa akal yaitu menyelisihi hawa nafsu, dan puasa anggota tubuh yaitu menahan diri dari makanan, minuman, dan jimak.
Dan dia berkata: Tidak ada anggota tubuh dalam badan manusia kecuali ia wajib berpuasa di Ramadan dan selain Ramadan. Maka puasa lisan: meninggalkan berbicara kecuali dalam dzikir kepada Allah ta’ala. Puasa pendengaran: meninggalkan mendengarkan kepada kebatilan dan kepada apa yang tidak halal didengar. Puasa mata: meninggalkan pandangan dan menundukkan dari larangan-larangan Allah.
Wahai saudaraku…
Wahai orang yang lama berpisah dari Allah, bergembiralah… bergembiralah wahai orang yang kerugiannya terus berlangsung sepanjang tahun, sesungguhnya telah datang perdagangan yang menguntungkan. Siapa yang tidak untung di Ramadan, kapan dia akan untung? Siapa yang tidak bertobat di dalamnya kepada Maulanya, maka dia dalam kejauhan darinya tidak akan bergerak.
Betapa banyak seruan: marilah menuju keberuntungan sedangkan kamu merugi. Betapa banyak kamu diajak kepada kebaikan sedangkan kamu pada kerusakan terus-menerus. Jika Ramadan datang menyongsong, maka sambutlah karena dengan kebaikan dia menyambut, mungkin kamu melewatkannya tahun depan dan datang setelahnya maka tidak diterima.
Saudara-saudaraku… siapa yang menjamin akan hidup hingga Ramadan?! Berapa banyak yang berharap berpuasa di bulan ini tetapi harapannya mengecewakannya, maka dia pergi sebelumnya menuju kegelapan kubur! Berapa banyak yang menyongsong hari yang tidak menyelesaikannya, dan berharap besok yang tidak meraihnya!!
Saudara-saudaraku…
Demi Allah, jika dikatakan kepada penghuni kubur: berharaplah, niscaya mereka berharap sehari dari Ramadan…
Dikatakan: Dua belas bulan bagaikan anak-anak Yakub alaihissalam, dan bulan Ramadan di antara bulan-bulan seperti Yusuf di antara saudara-saudaranya. Sebagaimana Yusuf adalah anak yang paling dicintai oleh Yakub, demikian pula Ramadan adalah bulan yang paling dicintai oleh Dzat Yang Maha Mengetahui yang gaib.
Jika pada Yusuf ada kesabaran dan pemaafan yang meliputi perlakuan buruk mereka ketika dia berkata: “Tidak ada celaan atas kamu pada hari ini” (Surat Yusuf: 92), maka seperti itulah bulan Ramadan, di dalamnya ada kelembutan, berkah, nikmat, kebaikan-kebaikan, kemerdekaan dari neraka, dan ampunan dari Raja Yang Maha Perkasa yang mengalahkan semua bulan.
Saudara-saudara Yusuf datang bergantung kepadanya dalam menutupi kekurangan dan menghilangkan penyakit setelah mereka adalah kesalahan-kesalahan yang tergelincir. Maka dia berbuat baik kepada mereka dalam penerimaan, memperbaiki keadaan mereka, memenuhi puncak harapan-harapan mereka, memberi mereka makan dalam kelaparan, mengizinkan mereka untuk kembali, dan berkata kepada pemuda-pemudanya: “Masukkanlah barang-barang (penukaran) mereka ke dalam karung mereka supaya mereka mengetahuinya” (Surat Yusuf: 62). Maka satu orang menutupi kekurangan sebelas orang. Demikian pula Ramadan satu dan bulan-bulan sebelas, dan dalam amal-amal kita ada kekurangan dan kekurangan apa! Dan hamba berharap agar di bulan Ramadan dapat menebus apa yang disia-siakan di bulan-bulan lainnya.
Yakub memiliki sebelas anak laki-laki yang hadir di hadapannya, dia melihat kepada mereka, memandang mereka, dan mengetahui keadaan mereka dan apa yang tampak dari perbuatan mereka. Penglihatannya tidak kembali dengan sesuatu dari pakaian mereka, dan kembali dengan baju Yusuf menjadi terang benderang, penglihatannya menjadi bercahaya. Maka demikian pula orang yang berdosa, jika mencium aroma Ramadan, duduk di dalamnya bersama orang-orang yang berdzikir dan pembaca Al-Quran, menemani mereka dengan syarat Islam dan iman, meninggalkan ghibah dan fitnah, maka dia akan menjadi insyaallah terampuni setelah dia berdosa, dan dekat setelah dia jauh. Dia melihat dengan hatinya setelah kebutaan, dan bahagia dengan kedekatannya setelah kesengsaraan, dan dihadapi dengan rahmat setelah kemurkaan.
Demi Allah, demi Allah, manfaatkanlah keutamaan ini di hari-hari yang sedikit ini, diikuti oleh nikmat yang besar, derajat yang mulia, kenyamanan yang panjang.
Dan keadaan yang diridhai, surga yang tersembunyi, kehidupan yang diridhai, tidak diperoleh kecuali dengan memuliakan bulan ini. Dan barangsiapa tidak memuliakan dia, maka nasibnya adalah neraka.
Siapa yang dirahmati di Ramadan maka dialah orang yang dirahmati, siapa yang diharamkan kebaikannya maka dialah yang terhalangi, siapa yang tidak berbekal untuk hari kemudian maka dia tercela…
Sampai kapan kamu dalam pakaian kesombongan? Apakah kamu tidak mengetahui nasib sangkakala? Apakah tidak bermanfaat bagimu apa yang kamu lihat dari pelajaran? Tuli pendengarannya ataukah tertutup penglihatannya? Demi Allah, sesungguhnya kamu berada dalam bahaya… telah tiba waktu kepergian dan dekat waktu perjalanan, dan saat kematian akan datang kabar kepadamu… setiap kali kamu keluar dari dosa, kamu masuk ke dosa lainnya?! Wahai yang sedikit kejernihannya, sampai kapan keruh ini?! Kamu di Ramadan seperti kamu di bulan Safar?! Jika kamu rugi di bulan ini, kapan kamu akan untung?! Jika kamu tidak bepergian di dalamnya menuju manfaat, kapan kamu akan bergerak?!
Wahai yang jika bertobat dia ingkar, wahai yang jika berjanji dia mengkhianati, wahai yang jika berbicara dia berdusta, berapa kali kami tutupi kamu atas maksiat, berapa kali kami sembunyikan kamu atas hal yang memalukan!!
WAHAI ENGKAU YANG TIDAK CUKUP BAGINYA DOSA DI BULAN RAJAB
Wahai engkau yang tidak cukup baginya dosa di bulan Rajab … hingga ia durhaka kepada Tuhannya di bulan Syakban
Telah menaungimu bulan puasa setelah keduanya … maka janganlah engkau jadikan ia juga bulan kemaksiatan
Dan bacalah Al-Quran dan bertasbihlah di dalamnya dengan bersungguh-sungguh … karena sesungguhnya ia adalah bulan tasbih dan Al-Quran
Dan bebankanlah pada jasad yang engkau harapkan keselamatan untuknya … karena akan dibakar jasad-jasad dengan api neraka
Berapa banyak yang engkau kenalممن berpuasa di masa lalu … dari kalangan keluarga, tetangga, dan saudara
Kematian telah memusnahkan mereka dan membiarkanmu hidup setelah mereka … hidup, maka betapa dekatnya yang jauh dari yang dekat
Dan orang yang bangga dengan pakaian Idul Fitri memotongnya … lalu esok hari ia menjadi kain kafan baginya
Sampai kapan manusia membangun tempat tinggalnya … padahal tujuan tempat tinggalnya adalah kubur bagi manusia
Saudara-saudaraku yang kucintai karena Allah…
Sesungguhnya aku yakin bahwa kalian ingin mengetahui bagaimana kita berpuasa Ramadan, dan bacaan kalian saat ini terhadap tulisan ini adalah bukti akan hal itu, maka maukah kalian menambahkan kepada itu sebuah amal… kalian berniat untuk mengetahui, maka apakah kalian berniat untuk mengamalkannya?… Tetapi ketahuilah bahwa sebelum beramal tidak boleh tidak harus ada persiapan dan kesiapan untuk beramal; oleh karena itu aku memulai bersama kalian secara bertahap: kita mulai dengan persiapan untuk beramal… ayolah ambil perlengkapanmu… dan kenakanlah senjatamu… dan perbaikilah niatmu… dan asahlah tekadmu… dan berjalanlah tanpa menoleh sambil bertawakal kepada Allah… ambil kata-kataku sebagai amal… dan segerakanlah sebelum ajal… Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami amal dengan apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, dan ajarkanlah kepada kami apa yang bermanfaat bagi kami, dan manfaatkanlah kami dengan apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, dan jadikanlah apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami sebagai hujjah untuk kami bukan untuk menentang kami, Ya Allah anugerahkanlah kepada kami amal, dan tuliskanlah bagi kami kebaikan Ramadan dan apa yang ada di dalamnya; sesungguhnya Engkau adalah Pelindung atas hal itu dan Yang Mahakuasa atasnya.
… Aku mencintai kalian karena Allah…
“Dan sekiranya mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk itu. Tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan kemauan mereka, dan dikatakan (kepada mereka), ‘Tinggallah bersama orang-orang yang tinggal.'” (Surat At-Taubah: 46)
Bagaimana Kita Mempersiapkan Diri Untuk Ramadan?
Saudara-saudaraku yang kucintai karena Allah
Salah seorang salaf bertemu dengan saudaranya lalu berkata kepadanya: Apakah engkau rela dengan keadaanmu yang ada padamu sekarang untuk kematian?, ia berkata: Tidak.
Ia berkata: Maka apakah engkau telah bertekad untuk bertobat tanpa menunda-nunda?, ia berkata: Tidak.
Ia berkata: Maka apakah engkau mengetahui negeri tempat beramal selain negeri ini?, ia berkata: Tidak.
Ia berkata: Maka apakah manusia memiliki dua jiwa, jika salah satunya mati ia beramal dengan yang lainnya?, ia berkata: Tidak.
Ia berkata: Maka apakah engkau merasa aman dari serangan kematian pada keadaanmu ini?, ia berkata: Tidak.
Ia berkata: Maka tidaklah tinggal dalam keadaan yang engkau alami ini orang yang berakal.
Sesungguhnya aku -wahai saudaraku- jika aku membayangkan bahwa pertanyaan-pertanyaan ini ditujukan kepadaku atau kepada kalian, maka kita tidak akan menjawab lebih dari apa yang dijawab oleh lelaki saleh ini, sungguh ia adalah pertanyaan-pertanyaan yang ingin aku tujukan kepada setiap kalian secara pribadi dan individual, aku bertanya kepadamu yang wajib engkau jawab di antara dirimu dan Tuhanmu:
(1) Apakah engkau rela dengan keadaanmu yang ada padamu sekarang untuk kematian?, maksudnya apakah engkau rela jika engkau mati sekarang?
(2) Apakah engkau rela jika nyawamu dicabut saat ini?
Mungkin sebagian orang berkata: Ya, agar aku bisa beristirahat, aku katakan: Dan apa yang membuatmu tahu bahwa engkau akan beristirahat?!, mungkin engkau keluar dari kesusahan dunia dan siksaannya menuju api neraka Jahannam yang lebih menyakitkan, lebih keras, dan lebih kekal.
(3) Apakah engkau rela dengan keadaanmu yang ada padamu sekarang untuk kematian? Mungkin sebagian kita berkata: Ya, padahal ia tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya, sesungguhnya tidak rela dengan kematian saat ini kecuali orang yang lalai dan bodoh.
(4) Apakah engkau rela dengan keadaanmu yang ada padamu sekarang untuk kematian, tidak?
(5) Maka apakah engkau telah bertekad untuk bertobat tanpa menunda-nunda?, yang jujur akan berkata: Tidak, aku telah menyebutkan dalam kitab “Bagaimana Aku Bertobat” bahwa orang yang membaca Al-Quran dan memandang kepada wanita, melakukan salat malam kemudian merokok… berpuasa kemudian berdusta, bahwa ini adalah tanda dari tanda-tanda rusaknya hati, dan ini adalah cacat dalam tobat.
Tidak boleh tidak bagi tobat ini ada syarat-syarat, dan syarat-syaratnya ada tiga yaitu: meninggalkan (dosa), penyesalan, dan tekad, meninggalkan dosa dan menyesal atas apa yang telah berlalu dan bertekad untuk tidak kembali, maka jika engkau menghadirkan ini dan ditanya sekarang: Apakah engkau berniat bertobat tanpa menunda-nunda?, engkau akan berkata: Tidak.
Kemudian datang kepadamu pertanyaan berikutnya:
(6) Apakah ada negeri untuk beramal selain dunia ini? Maksudnya apakah ada waktu untuk beramal selain umurmu?, tentu saja tidak.
(7) Maka apakah engkau memiliki dua jiwa, jika salah satunya mati engkau beramal dengan yang lainnya?, tentu saja tidak.
(8) Maka apakah engkau merasa aman dari serangan kematian atasmu sekarang?, tentu saja tidak, maka ini adalah keadaan yang tidak ditinggali oleh orang yang berakal.
Ya Allah, sampaikan kami kepada Ramadan; karena sesungguhnya dosa-dosa bertambah banyak atas kami, Ya Allah sampaikan kami kepada Ramadan, karena sesungguhnya hati-hati telah menghitam dari kami, Ya Allah sampaikan kami kepada Ramadan; karena sesungguhnya kesalahan-kesalahan telah membebani pundak-pundak kami, Ya Allah sampaikan kami kepada Ramadan karena sesungguhnya kerinduan kami kepadanya telah sangat kuat, Ya Allah sampaikan kami kepada Ramadan karena sesungguhnya penantian kami untuknya telah lama, sesungguhnya kami menanti dengan penuh suka cita tibanya Ramadan, dan bagaimana tidak dikabarkan seorang mukmin dengan dibukanya pintu-pintu surga?!, dan bagaimana tidak bahagia seorang yang berdosa dengan ditutupnya pintu-pintu api neraka?! Maka kebahagiaan adalah dalam masuknya Ramadan. Tetapi kegembiraan yang bagaimana?, sesungguhnya ia adalah kegembiraan dengan karunia Allah Taala, Allah Mahasuci dan Mahatinggi berfirman: “Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.'” (Surat Yunus: 58), sesungguhnya kami menanti Ramadan detik demi detik, maka tidak boleh tidak kita harus mengetahui dengan apa kita bergembira?
Maka kegembiraan ada dua: kegembiraan dengan kebenaran, dan kegembiraan dengan kebatilan, kegembiraan dengan kebenaran adalah kegembiraan dengan rahmat Allah dan karunia-Nya, bahwa engkau bergembira dengan tobat Allah atasmu dari kemaksiatan dan dosa-dosa, engkau bergembira dengan taufik Allah untukmu dengan salat malam setiap malam selama sebulan, engkau bergembira karena Allah memberikanmu kesempatan untuk berbuat baik kepada makhluk sehingga engkau memberi makan kepada orang-orang miskin, dan bahwa engkau berdoa kepada Allah dalam puasamu dan ketika berbukamu dan engkau merasa bahwa bagi orang yang berpuasa ada doa yang dikabulkan.
Adapun kegembiraan dengan kebatilan maka ia seperti orang-orang yang bergembira dengan sinetron dan film, salah seorang dari mereka bergembira karena di Ramadan akan ada tebak-tebakan dan pertunjukan, ia bergembira karena di Ramadan ada sepak bola dan pertandingan, turnamen olahraga dan perayaan, kemah Ramadan dan begadang, maka ini adalah kegembiraan dengan kebatilan, Allah Taala berfirman: “Yang demikian itu karena kamu bersuka cita di bumi tanpa hak dan karena kamu selalu bersuka ria. (75) Masuklah ke pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri. (76)” (Surat Ghafir: 75-76).
Orang mukmin bergembira dengan kebenaran, maka ia bergembira dengan dibukanya pintu-pintu surga dan ditutupnya pintu-pintu neraka, dan ia merasa senang di dalamnya dengan waktu di mana setan-setan dibelenggu, tetapi tidak boleh tidak harus ada persiapan untuk kegembiraan ini, tidak boleh tidak harus ada persiapan perlengkapan untuk festival ini, tidak boleh tidak harus ada persiapan sebelum kedatangan tamu…
Allah Taala berfirman: “Dan sekiranya mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk itu. Tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan kemauan mereka, dan dikatakan (kepada mereka), ‘Tinggallah bersama orang-orang yang tinggal.'” (Surat At-Taubah: 46), sesungguhnya termasuk dari karunia Allah yang agung dan anugerah-Nya yang besar dan nikmat-Nya yang mulia kepada kami adalah bahwa Dia menyampaikan kami kepada Ramadan, dan ketahuilah wahai yang kucintai bahwa termasuk dari nikmat-nikmat yang lalai kebanyakan manusia untuk mensyukurinya adalah nikmat penundaan.
Mahasuci Sang Raja Yang Mahalembut!, Dia telah menulis dalam sebuah kitab yang ada di sisi-Nya di atas Arasy bahwa rahmat-Nya mendahului kemurkaan-Nya, dan bahwa teguran-Nya mendahului siksa-Nya, Mahasuci Dia maka Dia adalah Yang Mahamulia, maka bersyukurlah atas nikmat Allah akan hal itu, berapa banyak Dia melihatmu dalam kemaksiatan sepanjang tahun maka Dia menutupimu dan memaafkanmu dan menunda-Mu dan mengakhirkanmu sampai Ramadan menjemputmu, dan memberikan kesempatan kepadamu untuk bertobat maka Dia menerima tobatmu dan memuliakanmu dan memberikanmu dan menganugerahimu dan mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu sepanjang umurmu; tetapi tidak boleh tidak harus ada persiapan untuk bulan ini sebelum kedatangannya, agar jiwa terlatih untuk taat sebelum memulainya, tidak boleh tidak harus ada persiapan perlengkapan dan mengambil kesiapan untuk Ramadan.
Allah Mahasuci dan Mahatinggi berfirman: “Dan sekiranya mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk itu” (Surat At-Taubah: 46), maka karena mereka tidak menyiapkan persiapan untuk berangkat, diketahui bahwa mereka tidak jujur; oleh karena itu mereka diberi hukuman dengan pelemahan dan penghinaan, maka jika engkau ingin dibebaskan dari neraka di Ramadan… jika engkau ingin diterima, dan kesalahanmu dihapus maka tidak boleh tidak harus ada persiapan perlengkapan, Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Berhati-hatilah, berhati-hatilah dari dua perkara: bahwa datang kewajiban waktu sedangkan engkau tidak siap untuknya dan tidak siap untuk melaksanakannya, maka engkau diberi hukuman dengan pelemahan dari melaksanakannya dan penghinaan dari mendapatkannya, Allah Taala berfirman: ‘Maka jika Allah mengembalikanmu kepada segolongan dari mereka (orang-orang munafik), lalu mereka meminta izin kepadamu untuk pergi (berperang), maka katakanlah, “Kamu tidak boleh pergi bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi (berperang) pada kali yang pertama. Karena itu duduklah (tinggallah) bersama orang-orang yang tidak ikut berperang.”‘ (Surat At-Taubah: 83).
Dan berhati-hatilah dari menolak perintah pada pandangan pertama karena menyelisihi hawa nafsumu; maka engkau diberi hukuman dengan pembalikan hati, Allah Taala berfirman: ‘Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Quran) pada kali pertama’ (Surat Al-Anam: 110)”
Dari sini diketahui bahwa tidak boleh tidak harus ada persiapan untuk bulan Ramadan sebelum memasukinya agar engkau tidak diberi hukuman dengan pelemahan dari perbuatan-perbuatan kebaikan dan penghinaan dari penambahan ketaatan di Ramadan, dan pahami ayat dalam cahaya perkataan ini, bahwa kebencian Allah terhadap keberangkatan mereka dan pelemahan mereka adalah hasil dari tidak adanya persiapan mereka sejak awal dan tidak adanya kejujuran keinginan mereka dalam hal itu, adapun jika manusia mempersiapkan diri untuk amal dan bersiap untuk melaksanakannya dan menghadap kepada Allah dengan penuh harap kepada-Nya; maka sesungguhnya Allah Mahasuci lebih mulia dari menolak seorang hamba yang menghadap kepada-Nya. Dan oleh karena itu salaf mempersiapkan diri untuk Ramadan dengan persiapan yang sesungguhnya dimulai secara mental, mereka berdoa kepada Allah enam bulan agar Dia menyampaikan mereka kepada Ramadan, kemudian mereka berdoa kepada Allah enam bulan lagi setelah Ramadan agar Dia menerima Ramadan, seakan-akan setahun penuh adalah Ramadan, dan termasuk dari persiapan juga adalah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memperbanyak puasa di bulan Syakban sampai beliau berpuasa semuanya kecuali sedikit, dan tidak pernah terlihat di bulan manapun beliau lebih banyak berpuasa selain di Syakban, dan tidak pernah beliau menyempurnakan puasa sebulan pun kecuali Ramadan.
Mereka, para salaf, mengetahui kadar Ramadan, Yahya bin Abi Katsir berkata: Termasuk dari doa mereka adalah: Ya Allah selamatkanlah aku hingga Ramadan dan selamatkanlah Ramadan untukku, Ya Allah selamatkanlah kami untuk Ramadan dan selamatkanlah Ramadan untuk kami, dan terimalah darinya dari kami dengan diterima.
MENCAPAI RAMADAN ADALAH NIKMAT DARI ALLAH KEPADA KITA:
Wahai para saudara, sesungguhnya mencapai bulan Ramadan, dan berpuasa di dalamnya adalah nikmat yang agung bagi siapa yang Allah berkuasakan atasnya, yang menunjukkan hal itu adalah hadits ini: Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata: Ada dua orang laki-laki dari Bali dari Qudhaah yang masuk Islam bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam, salah seorang dari keduanya gugur sebagai syahid dan yang lain ditunda satu tahun, Thalhah bin Ubaidillah berkata: Maka aku diperlihatkan surga lalu aku melihat di dalamnya orang yang ditunda dari keduanya masuk sebelum orang yang syahid, maka aku heran akan hal itu, lalu aku bangun dan aku menyebutkan hal itu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka beliau bersabda: “Bukankah ia telah berpuasa setelahnya Ramadan, dan melakukan salat enam ribu rakaat atau sekian dan sekian rakaat salat sunah?”, dan dalam riwayat lain dikatakan: “Dan ia mendapatkan Ramadan lalu ia berpuasanya, dan ia melakukan salat sekian dan sekian sujud dalam setahun?” mereka berkata: Benar, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya yang di antara keduanya lebih jauh daripada apa yang ada di antara langit dan bumi”.
Maka mencapai Ramadan adalah nikmat, dan siapa yang terhalang dari Ramadan maka ia adalah orang yang terhalang, siapa yang terhalang dari kebaikannya maka ia adalah orang yang terhalang, dan siapa yang tidak mempersiapkan bekal untuk menyambutnya maka ia tercela…
Datanglah Ramadan ladang ibadah … untuk membersihkan hati dari kerusakan
Maka tunaikanlah hak-haknya dengan perkataan dan perbuatan … dan bekalmu ambillah untuk hari kembali
Maka siapa yang menanam benih-benih dan tidak menyiraminya … ia merintih menyesal di hari panen
Dan telah disebutkan oleh para ulama bahwa bulan Rajab adalah bulan menanam, dan Syakban adalah bulan menyiram, dan Ramadan adalah bulan memetik buah, maka agar engkau memetik buah di Ramadan tidak boleh tidak harus ada benih yang ditanam, dan harus disiram agar ada buahnya.
Wahai para saudara, sesungguhnya kita seharusnya dari awal mempersiapkan diri untuk Ramadan dan itu dengan dua langkah:
Pertama: Membangkitkan kerinduan, dengan membangkitkan dari hati kita kerinduan untuk menyambut Ramadan sehingga kita dikasihi di dalamnya dan leher-leher kita dibebaskan dari neraka.
Dan kedua: Sesungguhnya jika engkau rindu maka engkau akan mencium bau Ramadan dari jauh sebagaimana Yakub mencium bau Yusuf, maka jika engkau mencium bau Ramadan dan mengenakan bajunya maka hatimu akan kembali melihat,
Maka persiapan untuk Ramadan dengan dua langkah: kerinduan, dan pandangan hati.
Adapun kerinduan maka sesungguhnya ia adalah proses mendidih di dalam hati dengan penuh semangat untuk menyambut kekasih yang tidak hadir yang telah lama ditunggu, dan adapun pandangan dan cahaya di dalam hati maka sesungguhnya ia membuat manusia melihat keutamaan hari-hari dan buah amal-amal dan janji-janji akhirat, maka hal itu menjadi pendorong untuk tingginya semangat dalam penyambutan dan persiapan.
Saudara-saudaraku, layak bagi kita untuk mempersiapkan diri dengan persiapan yang sesungguhnya untuk menyambut bulan Ramadan, bahwa kita mengetahui bagaimana kita benar-benar berpuasa. Sesungguhnya engkau dalam ibadah sejak detik engkau berniat puasa saat terbit fajar seakan-akan engkau memasuki salat dengan takbiratul ihram, maka jangan sampai hatimu berpaling dari Allah selama siang hari, di sepanjang siang hari engkau adalah orang yang berpuasa artinya orang yang beribadah kepada Allah, maka berhati-hatilah dari berpalingnya hati, dan inilah yang dimaksud dengan pandangan hati, bahwa engkau melihat dengan mata hatimu sepanjang siang hari puasa dirimu berdiri di hadapan Allah Azza wa Jalla.
Dan bulan Ramadan di sisi Allah adalah bulan yang diagungkan. Allah Ta’ala berfirman: “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (Surah Al-Baqarah: 185). Dan ini sudah cukup untuk mengagungkannya; bahwa Al-Qur’an diturunkan di dalamnya, dan di dalamnya terdapat Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Maka ia adalah bulan yang agung, ketaatan di dalamnya diagungkan dan kemaksiatan di dalamnya pun diagungkan, maka pahamilah permasalahan ini agar kamu mengetahui bahaya kejahatan terhadap diri dengan melakukan kemaksiatan di bulan Ramadan.
Para ulama berkata: Apabila dorongan (untuk berbuat maksiat) kuat namun tetap ditinggalkan, maka besar pahalanya. Dan apabila dorongan (untuk berbuat maksiat) lemah namun tetap dilakukan, maka besar dosanya.
Dan mereka telah mengambil kaidah ini dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tujuh orang yang akan dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: “Dan seorang laki-laki yang diajak oleh wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu dia berkata: Sesungguhnya aku takut kepada Allah.” Dorongan kepada kemaksiatan di sini kuat, karena dia (wanita) yang meminta, dan karena dia memiliki kedudukan dan kecantikan, namun dia meninggalkan itu karena Allah, maka dia berada dalam naungan Arasy Ar-Rahman. “Dan pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah,” ini juga berada dalam naungan Arasy Ar-Rahman, karena dorongan kepada kemaksiatan yang membawanya padanya kuat, namun tetap ditinggalkan maka besar pahalanya.
Dan sebaliknya, apabila dorongan lemah namun tetap dilakukan maka besar dosanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari Kiamat, tidak akan dilihat kepada mereka, tidak akan disucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih: orang tua yang berzina, raja yang pendusta, dan orang miskin yang sombong.” Orang tua yang berzina yaitu laki-laki yang sudah lanjut usia dan terjatuh dalam zina, maka ini selain dari hukuman zina, bahwa dia tidak akan diajak bicara oleh Allah, tidak akan disucikan, tidak akan dilihat kepada dia. Maka bagaimana jika kamu datang pada hari Kiamat lalu tidak diajak bicara oleh Allah? Dan tidak dilihat kepada kamu?! Alangkah getirnya pengabaian itu! Mungkin kamu berharap saat itu untuk menjadi debu. Maka tidak ada hukuman yang lebih keras daripada diharamkan dari melihat Allah, bagaimana lagi jika Dia berpaling darimu, tidak mengajak bicaramu, tidak menyucikanmu, tidak melihat kepadamu. Alangkah pedihnya hukuman itu! Seandainya hati kami mengetahuinya niscaya akan pecah. Ya Allah, janganlah Engkau palingkan wajah-Mu dari kami pada hari Kiamat.
Dan di bulan Ramadan melemah—tanpa ragu—dorongan kepada kemaksiatan, karena penolong terhadap kemaksiatan tidak ada. Pintu-pintu surga terbuka, pintu-pintu neraka tertutup, dan setan-setan dibelenggu, dan kebanyakan kaum muslimin sibuk dengan ketaatan, lalu kamu bermaksiat kepada Allah!! Maka pelaku maksiat di bulan Ramadan telah melakukan dosa besar. Ya Allah, lindungilah kami dari dosa-dosa dan kemaksiatan.
Saudaraku yang kucintai:
Sesungguhnya ini adalah waktu ketaatan, dan Allah telah memudahkan bagimu urusan dan menolongmu atasnya, bahkan Allah Subhanahu menyebut hari-hari puasa lalu menyedikitkannya dengan firman-Nya Jalla wa ‘Ala: “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu.” (Surah Al-Baqarah: 184). Maka hormati bulan ini dan jangan melakukan dosa-dosa di hari-hari tersebut. Dan aku memperingatkanmu dari perampok jalan menuju Allah, yang mengajak kepada kemaksiatan-Nya di bulan ini dari berbagai sarana media di koran-koran dan majalah-majalah, radio dan televisi, teater-teater dan pesta-pesta. Jauhilah kemaksiatan di bulan ini, karena sebagaimana kebaikan digandakan di dalamnya, keburukan juga digandakan, karena ditambahkan kepada kemaksiatan yang tampak dari zina mata dengan melihat yang haram dan juga kebohongan lisan dengan kepalsuan, kekejian dan fitnah, ditambahkan kepada itu kemaksiatan hati dari dosa-dosa besar yaitu tidak mengagungkan kehormatan-kehormatan Allah. Maka berhati-hatilah agar tidak turun kepadamu siksa Allah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih di bulan Ramadan.
Wahai kaum muslimin, hamba-hamba Allah yang beriman, bulan Ramadan seluruhnya adalah rahmat, tambahan ketaatan, dan penggandaan kebaikan. Maka bergembiralah wahai sekalian kaum muslimin, ini pintu-pintu surga yang delapan di bulan ini untuk kalian telah dibuka, dan semilirnya kepada hati orang-orang beriman telah berhembus, dan pintu-pintu neraka semuanya untuk kalian tertutup, dan kaki Iblis beserta keturunannya demi kalian terbelenggu.
Maka di bulan ini diambil dari Iblis pembalasan dendam, dan para pelaku maksiat dilepaskan dari belenggunya, maka tidak tersisa bagi mereka di sisinya jejak. Mereka adalah anak-anaknya yang telah ia beri makan dengan syahwat di sarang-sarangnya, maka hari ini mereka meninggalkan sarang-sarang tersebut. Mereka merobohkan benteng-benteng pertahanannya dengan peralatan taubat dan istighfar. Mereka keluar dari penjaranya menuju benteng taubat dan iman, maka mereka aman dari azab neraka. Mereka mematahkan punggungnya dengan kalimat tauhid, maka dia mengeluh karena sakit kekalahan. Di setiap musim dari musim-musim keutamaan dia bersedih, maka di bulan ini dia berseru celakalah aku karena apa yang dia lihat dari turunnya rahmat dan pengampunan dosa-dosa. Partai Ar-Rahman mengalahkan partai setan, maka tidak tersisa baginya kekuasaan kecuali atas orang-orang kafir. Kekuasaan hawa nafsu digulingkan, dan kekuasaan beralih kepada kekuasaan takwa, maka ambillah pelajaran wahai orang-orang yang memiliki pandangan.
Saudara-saudaraku,
Bulan Ramadan adalah bulan kewaspadaan, bulan kehati-hatian. Saudara-saudaraku, di hadapan kalian ada perjalanan, dan umur di dalamnya pendek, dan kalian semua demi Allah dalam bahaya. Berhati-hatilah dari Yang Maha Perkasa yang telah menentukan takdir. Kenalilah kadar Dzat yang telah menentukan takdir. Ingatlah bagaimana kalian bermaksiat dan Dia menutupi. Dan demi Allah, seandainya kalian berdiri di atas batu bara, dan sujud syukur kepada Allah di atas jarum, kalian tidak akan menunaikan syukur atas nikmat Allah walaupun atas nikmat penutupan (aib). Bukankah Dia menyembunyikan yang buruk dan menyebarkan yang baik?! Bukankah sebagian nikmat-Nya adalah pendengaran dan penglihatan?!
Saudara-saudaraku, waktunya telah tiba untuk pergi dan kalian tidak memiliki berita! Sampai kapan kalian dinasihati namun tidak mengambil pelajaran?! Sampai kapan kalian dibangunkan namun tidak melihat? Apakah kalian dibebani dengan apa yang tidak kalian mampu? Apakah kalian diajak bicara dengan apa yang tidak kalian pahami? Mengapa kalian berpaling dari tujuan kalian? Apa ini kelemahan padahal kalian sehat?! Apa ini tidur padahal kalian terjaga?! Saudara-saudaraku, selamatkanlah diri kalian hari ini dengan taubat sebelum kematian mendatangi kalian. Ya Allah, karuniakanlah kami sebelum kematian taubat, saat kematian ketenangan, dan setelah kematian surga dan kenikmatan.
Ini adalah persiapan untuk Ramadan. Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Tidak ada bulan dalam setahun yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa lebih banyak daripada puasanya di bulan Sya’ban. Beliau berpuasa semuanya.” Dan dalam riwayat: “Beliau berpuasa kecuali sedikit.” Maka oleh karena itu bersiaplah untuk Ramadan dengan memperbanyak puasa agar jiwa terbiasa dengan puasa. Bangun malam di bulan Sya’ban, perbanyak tilawah Al-Qur’an, dan perbanyak dzikir kepada Allah Ta’ala, sebagai persiapan untuk memasuki Ramadan.
As-Sari As-Saqathi berkata: Tahun adalah pohon, bulan-bulan adalah cabang-cabangnya, hari-hari adalah ranting-rantingnya, jam-jam adalah daun-daunnya, dan napas hamba adalah buahnya. Maka bulan Rajab adalah hari-hari bertunas, Sya’ban adalah hari-hari bercabang, dan Ramadan adalah hari-hari memetik buah, dan orang-orang beriman adalah pemungutnya.
Sebagian salaf berkata: Rajab adalah bulan penanaman, Sya’ban adalah bulan penyiraman, dan Ramadan adalah bulan pemetikan buah. Maka jika kamu ingin memetik buah di Ramadan, harus menanam di Rajab dan menyiram tanaman itu di Sya’ban.
Sesungguhnya ketika aku berkata kepadamu: Berpuasalah di Rajab dan Sya’ban, bangun malam di keduanya, bersedekahlah di keduanya, dan tanamlah amal-amal saleh di Rajab dan rawatlah dengan penyiraman di Sya’ban, aku hanya mengatakan itu agar kamu merasakan setelah itu di Ramadan kelezatan puasa, kelezatan shalat malam dan membaca Al-Qur’an, kelezatan sedekah dan berbagai kelezatan lainnya, karena urusan ini membutuhkan kesabaran, ketabahan dan waktu yang lama. Tidak datang dari awal. Dan hari-hari Ramadan sedikit, dan berlalunya hari-harinya cepat. Maka oleh karena itu tidak boleh tidak ada persiapan yang serius sebelumnya dengan periode yang cukup.
Maka jika kamu termasuk orang-orang yang jujur dan benar-benar ingin mempersiapkan diri, maka inilah wahai yang kucintai program praktis untuk pembekalan dan persiapan:
Mari Beramal
Latihan-latihan Persiapan
Latihan Pertama: Pelatihan untuk Memperindah Taubat:
Sesungguhnya kewajiban pertama untuk persiapan Ramadan adalah: taubat. Ya Allah, terimalah taubat kami dengan taubat yang nashuha (taubat yang sebenar-benarnya). Ya Allah, terimalah taubat kami dengan taubat yang Engkau ridhai.
Dan itu karena taubat adalah tugas seumur hidup, mewajibkan hamba di setiap saat. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (Surah An-Nur: 31). Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali. Dan terdengar darinya dalam satu majelis seratus kali mengatakan: “Ya Rabb, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
Dan bukan taubat seperti yang kamu lakukan selama ini: aku bertaubat. Kamu mengatakan: aku memohon ampun kepada Allah dengan lisanmu sedangkan hatimu lalai. Atau kamu mengira bahwa taubat itu hanya taubat dari melihat wanita-wanita yang berpakaian tidak sopan, atau taubat dari dusta, ghibah dan namimah saja, tidak lebih. Sesungguhnya aku menginginkan taubat kali ini dari hidupmu. Taubat dari pola hidup yang kita jalani. Taubat dari pola pikir yang kamu pikirkan. Taubat dari harapan-harapan yang panjang yang kita hidupi. Taubat dari hidup kita secara keseluruhan.
Taubat dari kehidupan ini. Sesungguhnya kita benar-benar ingin bertaubat. Sesungguhnya kita ingin memperindah taubat. Kita ingin pelatihan praktis untuk taubat yang baru dan baik.
Saudaraku, sebelum memasuki bulan Ramadan, perbaruilah taubat. Perbaikilah taubat. Sempurnakanlah taubat. Jujurlah dalam taubat. Sesungguhnya kamu membutuhkan untuk bertaubat saudaraku, bukan hanya dari dosa-dosa dan kemaksiatan—meskipun itu adalah yang utama dan yang paling utama—tetapi kita membutuhkan taubat-taubat yang lain. Setelah taubat dari dosa-dosa besar yang tampak dan yang tersembunyi, dan taubat dari kemaksiatan yang melekat dan yang datang sesekali, kita membutuhkan taubat dari hal-hal lain di antaranya:
Pertama: Taubat dari menyia-nyiakan waktu:
(1) Malam:
Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” (Surah An-Naba’: 10-11). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Mereka sedikit sekali tidur pada malam hari, dan pada akhir malam mereka memohon ampunan.” (Surah Adz-Dzariyat: 17-18). Dan ketika menggambarkan hamba-hamba Ar-Rahman, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang mereka: “Dan orang-orang yang bermalam untuk Rabb mereka dengan bersujud dan berdiri.” (Surah Al-Furqan: 64). Maka inilah fungsi malam dalam Islam: ketenangan, istirahat, bersendirian dengan Allah dan beribadah. Inilah malam kaum muslimin. Tetapi dengan sangat menyedihkan! Lihatlah malam kaum muslimin di zaman ini: alangkah sedihnya terhadap hamba-hamba!
Malam kaum muslimin berubah menjadi main-main, hiburan, kemaksiatan dan kelalaian. Sebagian mereka mengubah malamnya menjadi siang, dan siangnya menjadi malam. Dan malam pun terbuang. Termasuk waktu-waktu yang terbuang. Malam hilang dengan jam-jamnya yang berharga dan waktu-waktunya yang berharga. Malam hilang dengan kesempatan-kesempatan emasnya dan pembukaan-pembukaan Rabbaniyahnya. Malam hilang dan mereka berkata: bulan Ramadan adalah bulan begadang!! Inilah kesempatanmu. Maka dekatkanlah dirimu kepada Allah Ta’ala dan bertaubatlah dari menyia-nyiakan malammu dalam kemaksiatan dan hiburan. Dan buktikan kejujuran taubatmu ini dengan bangun shalat di hadapan-Nya, bermunajat kepada-Nya dan memohon kepada-Nya agar Dia mengampunimu. Kesempatan jangan disia-siakan.
(2) Dengan melamun di waktu luang:
Saudaraku fillah, apakah ada waktu-waktu yang berlalu olehmu ketika kamu duduk diam tidak melakukan apa-apa, hanya duduk memandang kosong ke kekosongan dan memikirkan tentang tidak ada apa-apa? Inilah perwujudan nyata dari kelalaian. Kelalaian yang menutupi hati. Pada akal. Kelalaian yang menguasai. Dan setiap kali bertambah pandanganmu ini, bertambah penguasaannya terhadapmu. Bertaubatlah dari itu dan jangan duduk dalam kekosongan. Sibukkan lisanmu dan hatimu dengan dzikir kepada Allah, dan sibukkan akalmu dengan memikirkan dzikir ini. Taubat yang diikuti dengan amal saleh.
(3) Musibah transportasi:
Berapa banyak waktu yang terbuang darimu setiap hari di transportasi, saudaraku fillah? Setidaknya tiga jam setiap hari, dan semuanya terbuang dalam kemaksiatan kepada Allah, dari bercampur baur dengan wanita, melepas pandangan, dan lainnya. Padahal seandainya kamu mau di jam-jam ini untuk berdzikir kepada Allah. Manfaatkanlah waktu ini dan jangan menyia-nyiakannya. Waktu ini cukup bagimu untuk ribuan dzikir setiap hari. Juga perindahlah taubat ini dengan keyakinanmu bahwa periode ini adalah kesempatan yang tersedia untuk dzikir kepada Allah dan sibuk dengan-Nya. Perindahlah taubat.
(4) Tidur:
Aku telah mengatakan kepada kalian sebelumnya: bulan ini membutuhkan semangat yang tinggi. Dan orang-orang yang tidur sepuluh jam setiap hari bukanlah orang-orang yang bersemangat tinggi, bahkan mereka adalah orang-orang yang malas dan lesu. Maka jika kamu berkata kepadaku: sesungguhnya kamu menghitung tidurmu ini karena Allah, aku berkata: menghitung sepuluh jam!! Bahkan delapan jam juga, bagaimana kamu menghitungnya? Perhitungan (ihtisab) adalah kamu berkata: ya Rabb, aku akan berbaring hanya untuk mengambil kekuatan untuk ketaatan kepada-Mu. Dan apakah kamu mengambil kekuatan untuk ketaatan kepada Allah dengan tidur sepuluh jam? Aku tidak akan menentukan jumlah jam tidurmu, tetapi semua ini adalah waktu yang terbuang dari umurmu. Tentukanlah sendiri apa yang cukup bagimu. Dan taubat dari itu adalah kamu bertaubat dari penipuan dengan mengetahui bahwa Allah yang mengawasimu mengetahui Subhanahu apa yang cukup bagimu. Maka perindahlah taubat dan jangan menipu.
KEDUA: TAUBAT DARI LISAN:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan lisanku”, dan dalam hadits panjang Mu’adz bin Jabal ketika ia bertanya kepada Rasulullah tentang amalan yang mendekatkannya ke surga dan menjauhkannya dari neraka; maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya di akhir hadits: “Maukah aku tunjukkan kepadamu pokok perkara, tiangnya, dan puncak bungkulnya”, kemudian beliau bersabda: “Maukah aku tunjukkan kepadamu kunci semua itu”, ia berkata: Ya, beliau bersabda: “Tahanlah ini”, dan beliau memegang lidahnya sendiri, maka Mu’adz berkata: Apakah kami akan dihisab dengan apa yang kami ucapkan?, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dan apakah yang menelungkupkan manusia ke dalam neraka selain hasil panen lidah-lidah mereka”.
Dan tidakkah lidahmu menyeretmu ke dalam segala keburukan, maka jika engkau membiarkannya ia akan membinasakanmu: dusta.. ghibah.. namimah.. tuduhan palsu.. riya’.. ujub.. penghinaan.. zina.. Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan lisan-lisan kami. Dan di antara malapetaka lisan di zaman kita:
(1) Malapetaka Telepon:
Tidak diragukan bahwa revolusi komunikasi yang terjadi di zaman kita memiliki manfaat dan Allah memberikan manfaat dengannya kepada kaum muslimin dalam berbagai aspek, dan telah melayani dakwah Islam dalam berbagai sisi; namun malapetaka telepon di zaman kita sangat mengherankan, dan harus ada pembahasan syar’i tentangnya wahai saudara-saudara. Kebanyakan orang di hari-hari ini membawa lebih dari satu telepon di sakunya, dan pertanyaan untukmu wahai muslim yang komitmen dengan Sunnah, wahai pencari akhirat, wahai yang bersemangat atas ridha Allah, apa yang engkau lakukan dengan telepon ini?
Mari kita tinggalkan pengelakan dan mari kita bicara pada intinya, sesungguhnya keberadaan telepon di tangan banyak orang hanya sekedar gaya-gayaan seperti orang lain, taklid buta, maka pemilik kita bukanlah pengusaha penting, bukan tokoh penting, dan telepon tidak mewakili baginya peran atau pengaruh apapun, lalu apa yang terjadi?, tiga hal buruk yang dibenci oleh Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah membenci bagi kalian tiga perkara: qila wa qala (katanya-katanya), menyia-nyiakan harta, dan banyak bertanya”.
Ketiga hal buruk itu berkumpul dalam telepon, maka tidak ada dalam komunikasi-komunikasi ini kecuali qila wa qala, dan tagihan telepon serta harga kartu telah menjadi beban pada anggaran yang dipotong dari mulut anak-anak.
Saudaraku yang kucintai, bertaubatlah kepada Allah, dan buanglah perangkat ini sebelum masuk Ramadhan, kumpulkan konsentrasi hatimu, kosongkan perhatianmu untuk ketaatan, dan kurangi kesibukan.
(2) Cerita-cerita, Hikayat-hikayat, Mimpi-mimpi, dan Sepak Bola serta Seni:
Wahai yang kucintai karena Allah, berbicara adalah syahwat, hingga engkau dapati sebagian orang tidak berhenti berbicara, dan sesungguhnya jika engkau duduk dalam suatu majelis -semoga Allah menjaga- dalam keadaan diam dan sunyi merenungi, lalu mengalihkan pandangan dan pendengaranmu untuk mendengar pihak-pihak yang berdialog, engkau akan dapati pembicaraan kosong dan dialog-dialog yang tidak sehat dan cerita-cerita yang tidak berguna, kisah-kisah dan hikayat-hikayat, berita-berita dan riwayat-riwayat, semuanya tidak ada nilainya, membahayakan dan tidak bermanfaat.
Dan yang menambah parah adalah banyaknya kebohongan dalam menceritakan mimpi-mimpi, maka engkau dapati semua orang mengarang dan menceritakan bahwa ia bermimpi, dan yang lain berfatwa dan menta’wilkan.. dan seperti itu pembicaraan tentang sepak bola dan seni dan kebanyakannya dusta dan kebohongan..
Maka bertaubatlah kepada Allah wahai saudara yang mulia dari cerita-cerita dan hikayat-hikayat ucapan dan pendengaran, dan manfaatkanlah waktu dengan dzikir kepada Allah..
(3) Penggambaran, Berlebih-lebihan, Kemunafikan, dan Basa-basi:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya”, dan bahaya dari bergaul dengan manusia dan didorong oleh rasa ingin tahu manusiawi serta keinginan untuk mengetahui rahasia makhluk, semua itu membuat orang-orang gemar banyak berbicara, namun musibah yang lebih besar adalah terjadinya berlebih-lebihan atau memperluas penggambaran detail untuk topik-topik yang tidak memerlukan dan tidak memuat..
Dan yang paling buruk dari semua yang telah disebutkan: basa-basi palsu yang dusta dan kemunafikan sosial yang saling berbalasan, maka adakah taubat dari bahaya yang mengerikan ini yang mengancam dengan kegempaan, pembekuan, dan pelemparan?!
(4) Bergurau dan Bercanda, serta Keji dan Kotor:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukanlah mukmin itu pencela, pelaknat, pelaku keji, dan berkata kotor”, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian banyak tertawa; karena sesungguhnya banyak tertawa mematikan hati”.
Telah menjadi ciri-ciri kebatilan di zaman kita adalah ringan darah (lucu) menurut anggapan mereka.. dan tidak ada yang lebih berat dari pendusta yang keji yang membuat orang tertawa dengan kebatilan, dan yang paling buruk dalam masalah ini adalah ketika ikut serta dalam perkara ini orang-orang yang berkomitmen dengan agama dan menampakkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka mengubah kebanyakan situasi yang serius menjadi bercandaan!!
Maka bertakwalah kepada Allah wahai kaum kami, dan bersihkanlah lisan-lisan kalian dari kesia-siaan pembicaraan, terlebih lagi dari keji dan kotor serta bergurau dan bercanda.
KETIGA: TAUBAT DARI HUBUNGAN-HUBUNGAN:
(1) Perkenalan karena Keadaan:
Seringkali engkau bertanya kepada salah seorang dari mereka: Berapa juz ia membaca Al-Qur’an hari ini, dan jawabannya: Saya berharap demi Allah untuk membaca; tetapi masalahnya.. tidak ada waktu!, dan ketika engkau bertanya: Kemana waktu hilang?, dan bagaimana waktu hilang?; maka sesungguhnya engkau akan dapati bahwa di antara yang paling berbahaya yang menyia-nyiakan waktu adalah banyaknya bergaul dengan manusia..
Sesungguhnya kita meremehkan telepon hanya untuk basa-basi, yang bisa menyia-nyiakan setengah jam, dan berjabat tangan dan dua kata “sambil lalu” setelah shalat di depan masjid menyia-nyiakan setengah jam lagi, dan demikianlah, waktu-waktu terbuang tanpa manfaat, dan hamba bertanggung jawab atas umurnya untuk apa ia habiskan.
Saya mohon saudaraku yang kucintai sebelum masuk Ramadhan agar engkau kurangi hubungan-hubunganmu.. engkau ringkas perkenalan-perkenanlanmu.. tidak ada ruang untuk menunaikan hak-hak semua orang ini..
Dan taubat dari ini adalah dengan mewujudkan keikhlasan dalam hubungan, dengan mendirikan bangunan cinta karena Allah, dan agar seseorang mencintai, ia tidak mencintainya kecuali karena Allah, maka hubungan-hubungan akan teratur dengan aturan cinta karena Allah dan benci karena Allah sehingga menjadi ibadah.
(2) Basa-basi dengan yang Haram:
Dalam hubungan-hubungan yang banyak dan bercabang tidak bisa tidak harus ada basa-basi, dan terkadang tidak ada ruang untuk basa-basi kecuali dengan dusta, atau dengan mengorbankan orang lain dan keduanya haram, maka harus ada taubat dari basa-basi; katakanlah kebenaran meskipun pahit, dan orang yang diam dari kebenaran adalah setan lain maka jangan berbasa-basi dengan haram, dan tahanlah lisanmu.
(3) Percampuran yang Diharamkan:
Bahaya terbesar dari hubungan adalah bila hubungan itu berdosa antara laki-laki dan perempuan meskipun mereka mengklaim bahwa itu hubungan yang tidak bersalah, mari kita jujur, tidak ada hubungan yang tidak bersalah, semuanya adalah hubungan yang diharamkan, sesungguhnya kita wahai kaum adalah hamba-hamba, yang mengatur kita adalah agama yang berdiri atas perintah dan larangan, dan bukan yang mengatur dalam hal itu adalah kebiasaan dan tradisi atau hawa nafsu dan syahwat..
Maka wajib taubat sebelum masuk Ramadhan dari setiap hubungan yang berdosa hingga hati menjadi suci..
KEEMPAT: TAUBAT HATI:
(1) Taubat dari Bisikan-bisikan:
Mimpi di siang hari adalah kesenangan sebagian orang, saudaraku yang kucintai: jangan biarkan khayalan membunuhmu, hiduplah kenyataan dan berhati-hatilah dari mimpi di siang hari, berhati-hatilah dari bisikan-bisikan yang buruk, jadikan bisikan-bisikanmu di bawah kendali, jangan biarkan ia keluar dari tanganmu, sesungguhnya jika engkau membiarkan bisikan-bisikan merumput di hati dan akalmu tanpa pengatur dan pengikat; maka engkau akan hidup dalam khayalan dan mempercayainya, berapa banyak orang yang dibunuh oleh khayalan menjadi syaikh, padahal mereka tidak pada sesuatu, dan yang lain dibunuh oleh khayalan menuntut ilmu dan hidup dalam mimpi di siang hari dengan pakaian longgar yang bukan pakaian mereka.
Saudaraku yang kucintai.. sebelum Ramadhan hiduplah kenyataan dan lupakan khayalan, dan bertaubatlah kepada Allah, kesibukanmu dengan amal mengeluarkanmu dari khayalan ini.
(2) Taubat dari Tergantung kepada Selain Allah:
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan mereka mengambil sesembahan-sesembahan selain Allah agar mereka mendapat kekuatan (81) Sekali-kali tidak! Nanti mereka akan mengingkari penyembahan mereka dan menjadi musuh bagi mereka” (Surat Maryam: 81-82). Berhati-hatilah saudaraku yang kucintai dari tergantung kepada selain Allah, semua akan mengecewakanmu dan meninggalkanmu kecuali Allah Yang Maha Agung, maka jangan sibuk dengan yang lain, dan jadikan kesibukanmu dengan yang memberimu manfaat dengan kesibukanmu dengannya, bertaubatlah dari tergantung pada sebab-sebab dan tergantung kepada selain Allah.
(3) Taubat dari Angan-angan, Menunda-nunda, dan Panjang Angan:
Tiga hal tersebut adalah penyakit-penyakit berbahaya yang membunuh iman..
Saudara-saudaraku karena Allah: saya memperingatkan kalian dari sin dan saufa (akan).. saya memperingatkan kalian dari tertipu oleh angan-angan. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: Bukanlah iman itu dengan angan-angan dan tidak pula dengan berhias, tetapi apa yang tertanam di hati dan dibenarkan oleh amal, dan sesungguhnya suatu kaum tertipu oleh angan-angan ampunan hingga mereka keluar dari dunia dan tidak ada kebaikan bagi mereka, mereka berkata: Kami berbaik sangka kepada Allah, dan mereka berdusta; seandainya mereka berbaik sangka niscaya mereka akan berbuat amal yang baik.
(4) Taubat dari Ujub, Sombong, Takabur, dan Melihat Diri:
Dan penyakit-penyakit ini juga membunuh iman, dan membawa hamba ke neraka jahanam, maka orang yang ujub amalnya sia-sia, dan tidak akan masuk surga orang yang di hatinya ada seberat atom kesombongan, dan takabur itu pembunuh, dan melihat diri membuatmu berjalan sombong, maka berhati-hatilah wahai orang miskin, karena sesungguhnya engkau tidak tahu dengan apa engkau diakhiri, bertaubatlah dari semua itu dan patah hati dan tunduklah dan rendahlah kepada Tuhanmu mudah-mudahan salah satu dari orang-orang yang engkau remehkan telah mendahuluimu ke surga dengan jauh, dan Allah memiliki urusan-urusan dalam makhluk-Nya, maka berhati-hatilah.. segeralah bertaubat, dan barangsiapa merendah diri untuk Allah maka Dia akan mengangkatnya.
KELIMA: TAUBAT DARI KEMALASAN:
(1) Berapa Jauh antara Ilmu dan Amal:
Dan kita di ambang pintu Ramadhan, dan semua tanpa kecuali mengetahui keutamaan-keutamaan Ramadhan, dan menghafal janji-janji atas amal-amal, namun apa manfaatnya ilmu ini?, dan apa gunanya hafalan ini?, mana amalnya?!
Bertobatlah wahai orang miskin dari kemalasan, karena sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah memohon perlindungan darinya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesedihan dan kesusahan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat kikir dan pengecut, dari lilitan hutang, dan dari tekanan orang-orang.” Maka mohonlah perlindungan kepada Allah dan bangkitlah berdiri, dan beramallah dengan apa yang telah engkau ketahui, inilah tobat…
(2) Lemahnya keyakinan terhadap janji dan ancaman:
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengucapkan: Subhanallahil ‘Azhim wa bihamdihi, ditanamlah baginya sebatang pohon kurma di surga.” Aku sekarang mengucapkan: Subhanallahi wa bihamdihi dan melihat jam ternyata hanya satu detik. Seandainya keyakinanmu teguh terhadap janji ini bahwa engkau memperoleh dengan satu detik sebatang pohon kurma di surga, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda: “Tidaklah ada pohon kurma di surga melainkan batangnya dari emas,” maka berat batang pohon kurma dari emas adalah ratusan kilogram. Ini adalah harga setiap detik dari umurmu, dan engkau menyia-nyiakannya begitu saja… engkau tidak peduli dan tidak mengindahkan. Ini hanya karena lemahnya keyakinanmu. Seandainya keyakinanmu teguh terhadap janji itu, niscaya engkau tidak akan menyia-nyiakan satu saat pun dari umurmu dan engkau tidak akan condong kepada kemalasan dan meninggalkan amal… Beramallah wahai orang yang malas.
(3) Mencari keringanan yang hina:
Sebagian orang ingin melepaskan diri dari agama tetapi dengan agama, maka ia mencari-cari keringanan (rukhshah), dan mengambil perbedaan pendapat di antara para ulama sebagai alasan untuk melarikan diri. Baginya semua masalah ada perbedaan pendapat di antara para ulama, dan ia memilih dengan hawa nafsunya, dan memilih apa yang sesuai dengan syahwatnya, dan mengira bahwa ia benar. Dan mereka mengira bahwa mereka benar. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang berdusta. Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah. Mereka itulah golongan setan. Ingatlah, sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi. (Surat Al-Mujadilah: 18-19)
Bertobatlah saudaraku yang tercinta dari sikap mencari keringanan yang hina ini, dan mohonlah pertolongan Allah untuk mengambil sikap tegas (azimah), dan beramal dengan sungguh-sungguh yang berbuah, dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.
Aku menjadikan kemalasan sebagai bagian terakhir dari pembahasan ini, agar kita tidak malas dalam bertobat, maka marilah kita bersegera sekarang… segera… dan bertobat kepada Allah…
Saudara-saudaraku… Ini adalah tobat yang wajib… bukan hanya sebagai persiapan untuk Ramadan saja, karena barangkali kita tidak akan mencapai Ramadan, tetapi ia wajib sebagai persiapan untuk kematian, karena engkau mungkin mati sekarang pada saat ini juga. Maka bertobatlah dan jangan menunda-nunda.
Latihan Kedua: Berlatih untuk Mengagungkan Syiar-Syiar
Kelalaian hati adalah salah satu hal yang paling berbahaya bagi hamba. Oleh karena itu, dalam persiapan untuk Ramadan harus ada latihan untuk menjaga kewaspadaan hati. Tidak diragukan lagi bahwa dari kewaspadaan hati adalah memperhatikan syiar-syiar Allah dan memberikan haknya berupa penghormatan, pengagungan, dan menjaga kehormatannya. Ini adalah tuntutan penting yang harus diperhatikan dalam persiapan untuk Ramadan.
Kita harus dari dalam diri kita merasa takut dan khawatir bahwa Ramadan berlalu tanpa kita dimerdekakan dari neraka dan dicatat sebagai ahli surga… Kaum Sabtu ketika mereka tidak mengagungkan perintah Allah untuk tidak memancing pada hari Sabtu, Allah mengubah mereka menjadi kera. Allah berfirman: Maka ketika mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang, Kami katakan kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina.” (Surat Al-A’raf: 166)
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Surat Al-Baqarah: 183) Ini adalah perintah dan kewajiban dan syiar yang agung. Barangsiapa mengagungkannya maka dia adalah orang yang bertakwa. Allah Ta’ala berfirman: Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. (Surat Al-Hajj: 32)
Latihan Ketiga: Berlatih Meluruskan Hati
Untuk mempersiapkan diri menghadapi Ramadan, harus ada kelurusan hati, yaitu dengan menjadikan Allah lebih dicintai oleh kita daripada segala sesuatu, maka kita mendahulukan kecintaan kepada-Nya atas segala sesuatu, dan kita mengagungkan perintah dan larangan-Nya, karena mengagungkan perintah dan larangan adalah bagian dari mengagungkan Yang Memerintah dan Yang Melarang, dan kita melakukan proses penyucian lahir dan batin.
Dan itu dilakukan dengan beberapa perkara, di antaranya:
1 – Bergantung kepada Allah:
Hendaknya hati bergantung kepada Allah semata, dan sesungguhnya salah satu faktor terbesar kerusakan hati adalah bergantung pada sebab-sebab. Jangan mengira bahwa dengan sebab-sebab ini saja engkau akan diberi taufik untuk taat kepada Allah, bahkan harus ada pertolongan dari Allah untukmu. Hati harus bergantung kepada Allah, karena engkau tidak memiliki daya dan kekuatan, sedangkan daya dan kekuatan hanya milik Allah semata. Dan salah satu akibat paling berbahaya dari bergantung pada sebab-sebab adalah Allah menghalangi antara dirimu dan hatimu. Allah berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu. Dan ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. (Surat Al-Anfal: 24)
Engkau harus memiliki kerinduan yang membakar yang mengantarkanmu kepada Tuhanmu, dan itu tidak akan terjadi kecuali dengan merenungkan nama-nama dan sifat-sifat Allah, dan menyaksikan karunia Allah kepadamu dan nikmat-Nya yang melimpah, dan merenungkan kesalahanmu sehingga engkau menyesal atas hilangnya waktu tanpa ketaatan kepada Allah, maka engkau merindukan untuk menebus yang hilang, dan jiwamu mendambakan amal saleh yang menghapus apa yang telah engkau perbuat. Ingatlah orang-orang yang telah mendahului sedangkan engkau masih terbenam dalam syahwatmu. Ingatlah hari ancaman sedangkan engkau menggigit tanganmu penuh penyesalan sementara ahli iman di Firdaus yang tertinggi telah menjauh dari orang-orang sepertimu.
2 – Hati memahami rahasia-rahasia ketaatan:
Dan menghayati manisnya iman… Maka jika hati memahami rahasia ketaatan, dan merasakan kelezatan ketaatan, keadaannya akan baik.
Sesungguhnya bencana amal-amal wahai saudara-saudara adalah jika hanya berjalan pada formalitas… pada penampilan… pada apa yang tampak di lahir… Begitulah kebanyakan orang di zaman kita tumbuh, mereka berwudhu dan shalat dan berpuasa dan berumrah dan berhaji, dan semua ibadah mereka lakukan sebagaimana mereka melihat ayah dan kakek mereka melakukannya. Begitulah mereka terus berlanjut, sebagaimana orang-orang melakukan mereka juga melakukan, tanpa kajian yang sebenarnya tentang rahasianya atau memahami ruhnya, dan akibatnya pengaruhnya hilang.
Dan engkau melihat shalat tanpa khusyuk, dan Al-Quran tanpa tadabbur, dan puasa tanpa tabarruk, dan haji serta umrah tanpa cinta dan kerinduan… Semua ibadah dilakukan secara formal untuk menunaikan kewajiban, tetapi tanpa kesadaran yang benar tentang rahasia ibadah. Maka hasilnya adalah engkau menjumpai amal-amal tanpa hasil, dan tidak ada pengaruhnya terhadap kepribadian hamba maupun keadaannya dengan Allah.
Sesungguhnya kita wahai saudara-saudara… Jika kita ingin merasakan rasa ibadah, dan kelezatan ketaatan, maka harus ada pengetahuan yang sebenarnya tentang rahasia ibadah. Dan Ramadan memiliki rahasia-rahasia, dan rahasia puasa adalah yang paling agung. Dan barangkali jika engkau membaca buku ini secara lengkap, engkau akan mengumpulkan dari bagian-bagiannya yang tersebar rahasia-rahasia ketaatan yang agung ini.
Latihan Keempat: Melatih Hati untuk Mulia dari Kemaksiatan
Pada dasarnya dalam hati ada kemuliaan ini secara fitrah, tetapi fitrah bisa berubah sebagaimana diketahui. Dan sebagaimana dikatakan: banyak sentuhan menghilangkan perasaan. Oleh karena itu, seseorang hendaknya berusaha sebelum Ramadan mengembalikan perasaan ini ke hatinya ketika tidak ada, atau memperkuatnya saat lemah. Maka dia merasa mulia untuk bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla, terutama jika dia merasakan keadaan imannya saat berpuasa.
Dan agar hati terlatih merasa mulia dari kemaksiatan sebelum Ramadan, harus menghayati makna-makna rohani yang luhur, agar hati terbiasa menolak kebohongan dan menganggap buruk ghibah dan namimah, mengingkari kemaksiatan dan berhati-hati darinya. Dan harus menghayati makna-makna tadabbur Al-Quran dan memahami dzikir-dzikir, dan merasakan kelezatan bermunajat dan tunduk di hadapan Allah. Barangsiapa merasakan manisnya, dia akan mulia dari pahitnya kemaksiatan. Maka cita-citanya akan tertuju kepada perkara-perkara yang tinggi dan membenci hal-hal yang rendah.
Dan kesempatan persiapan untuk Ramadan adalah latihan praktis untuk merasa mulia dari kemaksiatan dengan banyak berpuasa dan membaca Al-Quran. Dan selama sibuk dengan itu, tidak terbayang orang yang berakal melakukan kemaksiatan saat menunaikan ketaatan. Dan perkara ini membutuhkan pengingkaran secara akal, kemudian penolakan secara pemikiran, kemudian berpaling secara nyata dari kemaksiatan.
Latihan Kelima: Melatih Diri untuk Tunduk kepada Allah Azza wa Jalla
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. (Surat Al-‘Alaq: 6-7) Sesungguhnya pandangan manusia terhadap dirinya dengan mata kecukupan menyeretnya kepada kelampauan batas. Maka tidak pantas bagi mukmin kecuali kemiskinan, dan itu adalah asal penciptaannya. Tetapi kemiskinan batin ini membutuhkan perasaan yang nyata agar pengaruhnya tampak pada anggota tubuh, dalam pemikiran dan ibadah.
Dan diketahui bahwa kemiskinan adalah sifat dzati bagi setiap makhluk, sifat yang melekat padanya, sebagaimana kekayaan adalah sifat dzati bagi Sang Pencipta, jalla jalaluhu. Allah Ta’ala berfirman: Wahai manusia, kamulah yang membutuhkan Allah, sedangkan Allah Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. (Surat Fathir: 15) Maka engkau harus menampakkan kefakiranmu, kehinaanmu dan ketundukanmu di hadapan-Nya Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman: Dan sungguh, Allah telah menolong kamu dalam perang Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah. (Surat Ali ‘Imran: 123)… Dan ketika engkau melihat perbedaan antara kaum muslimin pada hari Badar dan hari Uhud, apa yang engkau temukan?… Hari Badar: Dan sungguh, Allah telah menolong kamu dalam perang Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah… Hari Uhud: Dan sungguh, kamu telah menginginkan kematian sebelum kamu menemuinya, maka sungguh, kamu telah melihatnya dan kamu menyaksikannya. (Surat Ali ‘Imran: 143)… Ada perbedaan antara mereka yang keluar untuk jihad dengan bertelanjang kaki… telanjang… lapar… dan Rasul shallallahu alaihi wasallam bermunajat kepada Tuhannya: “Jika Engkau membinasakan kelompok ini, maka Engkau tidak akan disembah lagi di bumi,” dengan: “Akan Allah tunjukkan apa yang aku perbuat.”
Pada yang pertama mereka dalam puncak kehinaan dan ketundukan… Dan pada yang kedua ada sesuatu dari pandangan terhadap diri… Mereka tidak tunduk dengan tunduk yang sempurna maka Allah menundukkan mereka… Subhanahu Dia Yang Mahaperkasa yang tidak dapat dikalahkan.
Wahai saudara-saudara, ketaatan adalah persediaan dan rezeki… Dan ketika engkau masuk kepada Sang Raja dalam keadaan fakir, Dia memberimu. Dan jika engkau masuk kepada-Nya dalam keadaan tinggi hati, Dia mengusirmu. Engkau harus masuk dengan kefakiranmu, kelemahanmu, kebutuhanmu dan kehinaanmu.
Dan pintu ini -pintu kehinaan- adalah pintu yang agung yang menghantarkan kepada ridha Rabb Yang Mahamulia, jalla jalaluhu, sebagaimana dikatakan oleh sebagian salaf: Aku datang kepada Allah dari semua pintu dan aku dapati semuanya penuh, maka aku datang kepada-Nya dari pintu kehinaan dan aku dapatinya kosong. Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membanggakan kefakirannya kepada Tuhannya, dan bahwa dia mulia nasabnya dalam kefakiran kepada Allah. Maka dia berkata:
Aku adalah peminta-minta dan anak peminta-minta Dan begitulah ayahku dan kakekku
Sesungguhnya menampakkan kefakiranmu kepada Allah akan mendatangkan rahmat Allah dan maaf-Nya untukmu. Karena engkau fakir kepada Allah, dan Allah Mahakaya dari engkau dan amalmu. Dan setiap amal yang engkau lakukan hanyalah untuk kebaikan dirimu sendiri: Barangsiapa mendapat petunjuk, maka sesungguhnya dia mendapat petunjuk untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa sesat, maka sesungguhnya dia sesat atas (kerugian) dirinya sendiri. (Surat Yunus: 108) Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mendapat manfaat dari ketaatan dan tidak dirugikan oleh kemaksiatan. Dan seandainya semua makhluk-Nya dari awal hingga akhir, manusia dan jin mereka, berada pada hati orang yang paling bertakwa di antara mereka, itu tidak menambah kerajaan-Nya sedikitpun. Dan seandainya awal mereka dan akhir mereka, manusia dan jin mereka, berada pada hati seorang yang paling durhaka di antara mereka, itu tidak mengurangi kerajaan-Nya sedikitpun.
Latihan Keenam: Mengangkat Tumor Ganas
Wahai saudara-saudara… Mungkin ada aib yang mengalami kanker… Dan mungkin ada dosa yang mengakar… Dan mungkin ada kebiasaan yang tertanam… Dan tidak bermanfaat dengan ini metode pengobatan tradisional… Ini hanya operasi bedah sebelum masuk Ramadan untuk mengangkat setiap aib.
Sebelas bulan kita habiskan dalam bermain-main dan bersenda gurau, oleh karena itu mengobati penyakit-penyakit dan tragedi dan dosa-dosa dan pelanggaran serta kelalaian tujuh bulan bukanlah perkara mudah, karena mungkin dalam periode ini muncul aib kecil, tetapi membiarkannya tujuh bulan penuh menyebabkan penyebaran kanker dalam iman.
Dan masalah kanker adalah bahwa ia menyebar dan meluas dan memenuhi sekitarnya… Maka harus segera mengobati aib-aib dan dosa-dosa serta kebiasaan-kebiasaan buruk ini, agar tidak berkembang dan menghancurkan hati… Dan pengobatannya bukan tradisional dengan penenang dan pereda nyeri… Tidak… Tetapi membutuhkan pengangkatan cepat untuk menyelamatkan kondisi iman… Dan pengangkatan membutuhkan tiga langkah:
1 – Semangat yang tinggi… yang ditajamkan dengan amal-amal:
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Dan orang-orang yang lain dari mereka yang belum menyusul mereka. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Surat Al-Jumu’ah: 3-4)
Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Seandainya iman berada di bintang Tsuraya, niscaya akan diraih oleh sebagian lelaki.”
Dan Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: Mencapai yang diinginkan bergantung pada semangat yang tinggi dan niat yang benar.
Wahai saudara-saudaraku yang kucintai karena Allah..
Berbicara itu mudah, menggambarkan dan menjelaskan sangatlah sederhana, prasangka bisa membunuh, angan-angan bisa menipu, dan ujian yang sebenarnya adalah ilmu, lalu di mana perbuatannya? Seringkali kita mendengar kata-kata dan mendapat janji-janji tapi tidak melihat perbuatan nyata yang berdampak, sebagaimana dikatakan: Aku mendengar kebisingan tetapi tidak melihat hasil giling.
Banyak pemuda yang sangat malas, tidak bekerja dan tidak bergerak lalu mengeluh kelesuan! Mereka mengeluh tidak khusyuk, mengeluh keras hati, padahal obatnya ada di tangan mereka sendiri. Bangkit dan bekerjalah. Allah Subhanahu wa Taala berfirman: “Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan amal saleh dan janganlah dia mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (Surah Al-Kahf: 110).
Kita menjelang Ramadan membutuhkan semangat yang tinggi, kita perlu memasuki Ramadan dengan jiwa penuh tantangan: menjadi atau tidak menjadi. Seperti halnya sahabat mulia Anas bin An-Nadhr yang tidak ikut Perang Badar, lalu turunlah firman Allah Azza wa Jalla: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surah Al-Baqarah: 218). Ia berkata: Demi Allah, jika Allah menyaksikan aku dalam suatu peperangan, niscaya Allah akan melihat apa yang aku lakukan. Sungguh aku kagum dengan tekad ini. Aku sangat mengagumi kata-kata ini.
Saudaraku yang tercinta..
Berapa Ramadan yang telah berlalu dalam umurmu, lehermu tidak dibebaskan padahal kesempatannya banyak?!
Berapa Ramadan yang telah berlalu dalam umurmu, dosa-dosamu yang telah lalu tidak diampuni padahal kesempatannya banyak?!
Berapa Ramadan yang telah berlalu dalam umurmu, dan kamu tidak meraih lailatul qadar sebagaimana mestinya padahal kesempatannya banyak?!
Seandainya kamu berbuat seperti Anas bin An-Nadhr lalu berkata seperti ucapannya: Demi Allah, jika Allah mempertemukanku dengan Ramadan, niscaya Allah akan melihat apa yang aku lakukan. Namun, persoalannya seperti yang telah kusebutkan sebelumnya bukanlah kata-kata, ini adalah tantangan, kekuatan, dan keteguhan. Karena kita telah melihat orang yang mengucapkannya sebelum itu di awal Ramadan lalu tidur. Ucapan itu benar-benar tulus dari Anas bin An-Nadhr sampai-sampai ia memperlihatkan kepada Allah kepahlawanannya dalam Perang Uhud setelahnya, karena hatinya terbelah ketika mengetahui pahala para mujahidin yang terlewatkan darinya. Hatinya terbakar ingin meraih pahala ini, maka ia mempersiapkan diri sebelum masuk ke dalamnya. Oleh karena itu, aku ingin kamu dari sekarang dan sebelum Ramadan mempersiapkan dan menyiapkan diri.
Kita memerlukan keteguhan, kekuatan, kerja keras yang terus-menerus, dengan semangat yang tinggi, hingga kita mulai memberantas penyakit-penyakit hati yang telah menyebar dengan kelalaian iman selama tahun yang lalu. Langkah pertama adalah berhenti mengeluh, tinggalkan kata-kata, dan mulailah bekerja.
2 – Jangan Menggunakan Obat Bius Apa Pun:
Kita membutuhkan permulaan yang sejati, tinggalkan kebohongan, menipu diri sendiri dan menipu orang lain. Allah Subhanahu wa Taala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipu daya mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (142) Dalam keadaan bimbang antara yang demikian (iman dan kekafiran); tidak masuk ke golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) ke golongan itu (orang-orang kafir). Barangsiapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.” (Surah An-Nisa: 142-143). Dengan terus terang kukatakan: tinggalkan obat penenang, tinggalkan suntikan bius, dan dokter-dokter bius yang meresepkan pengobatan sementara dan mengobati dengan ilusi.
Ketika kita ingin menyambut Ramadan dengan jiwa penuh tantangan yang telah kita sepakati sebelumnya -menjadi atau tidak menjadi- tidak layak aku katakan kepadamu: bertahaplah dalam ibadah, dalam puasa dan qiyam, zikir dan membaca Al-Quran; karena perkataan ini tidak tepat hari ini. Ini hanya tepat di waktu-waktu biasa ketika masih ada waktu yang lapang. Adapun sekarang dan dalam persiapan Ramadan, mulailah segera. Jangan gunakan obat penenang, dan jangan terima pembiusan, tahanlah sakit pembedahan, pembedahan kemalasan dan kelalaian, pembedahan kelalaian, permainan dan hiburan, pembedahan angan-angan, kebohongan dan kejahilan, pembedahan semua penyakit agar iman menjadi sehat. Mulailah segera.
3 – Mulailah Operasi Bedah Segera:
Segera, segera, jangan menunda. Teladanilah para imam kalian dari para rasul dan nabi. Lihatlah Nabi Musa Alaihissalam sebagaimana datang dalam hadits: “Malaikat maut diutus kepada Musa, ketika datang kepadanya ia menamparnya lalu mencongkel matanya, maka ia kembali kepada Tuhannya dan berkata: Engkau mengutusku kepada seorang hamba yang tidak menginginkan kematian. Maka Allah mengembalikan matanya dan berkata: Kembalilah kepadanya dan katakan kepadanya: letakkan tanganmu di atas punggung lembu maka bagimu dengan setiap rambut yang tertutup tanganmu satu tahun. Ia berkata: Wahai Tuhanku, lalu apa setelahnya?! Allah berkata: Lalu kematian. Ia berkata: Kalau begitu sekarang.” Ya, jika kematian tidak dapat dihindari maka sekarang. Tekad yang kuat.
Demikian juga Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, ketika diberi pilihan antara kunci-kunci perbendaharaan bumi dan keabadian di dalamnya atau apa yang ada di sisi Allah, ia memilih apa yang ada di sisi Allah.
Dan ketika beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersiap keluar untuk Perang Uhud lalu sebagian sahabat mencoba meyakinkannya untuk tinggal di Madinah, beliau berkata: “Tidak layak bagi seorang nabi yang telah mengenakan baju besi bangsa Arab untuk melepaskannya hingga Allah memutuskan antara dia dan musuhnya.”
Dalam persiapan Ramadan, kamu telah mengenakan baju besi bangsa Arab dan memulai persiapan; maka mulailah segera tanpa menunda dan tanpa penundaan. Jangan katakan: aku akan mencoba, katakan: aku memutuskan. Jangan katakan apa-apa, mulailah benar-benar dalam menyingkirkan penyakit-penyakit hatimu dan maksiat-maksiatmu yang tampak dan tersembunyi. Lepaskan diri dari kelalaian dan kejahilan, lepaskan diri dari segala yang menghalangimu dari ridha Allah dan menghalangimu dari masuk surga.
Latihan Ketujuh: Melakukan Beberapa Latihan Keteguhan dan Semangat:
Allah Subhanahu wa Taala berfirman: “Wahai orang yang berselimut (Muhammad), (1) bangunlah (untuk salat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (2) (yaitu) separuhnya atau kurangilah dari itu sedikit, (3) atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah Al-Quran itu dengan perlahan-lahan. (4) Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu. (5) Sesungguhnya bangun (untuk salat) di waktu malam adalah lebih kuat (mengisi jiwa); dan (bacaan di waktu itu) lebih berkesan.” (Surah Al-Muzzammil: 1-6). Aisyah Radhiyallahu Anha berkata: Allah menurunkan awal Surah Al-Muzzammil dan mewajibkan di dalamnya qiyam kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya melakukan qiyam selama dua tahun, hingga kaki-kaki mereka bengkak seperti batang-batang pohon kurma, lalu turunlah akhir surah yang berisi keringanan.
Ini adalah latihan-latihan keteguhan dan semangat. Di awal dakwah dan urusannya berat serta bebannya berat, maka harus ada latihan keteguhan. Dimulai oleh Jibril Alaihissalam dengan pelukan atau tiga pelukan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagaimana digambarkan oleh beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika berkata: “Ia memelukku hingga membuatku lelah lalu melepaskanku dan berkata: Bacalah.” Kemudian diwajibkan qiyam selama dua tahun; latihan dan pendidikan.
Demikian juga harus ada beberapa latihan keteguhan dan semangat sebelum masuk Ramadan, agar kita masuk Ramadan dengan semangat yang tinggi.
Abu Muslim Al-Khaulani menggantungkan cambuk di masjid rumahnya, ia mendidik dirinya dengannya. Jika kakinya lelah untuk berdiri, ia memukulnya dengan cambuk sambil berkata: Berdirilah! Demi Allah aku akan membawamu terus berjalan, hingga kelemahan berasal darimu bukan dariku. Dan ia berdiri sambil berkata: Apakah para sahabat Muhammad mengira bahwa mereka akan mendahului kami dengan kebaikan? Tidak, demi Allah. Kami akan berebut dengannya dengan mereka, hingga mereka tahu bahwa mereka meninggalkan di belakang mereka para pria sejati.
Ayo para lelaki, jadilah lelaki. Berebutlah dengan para pemimpin. Jangan lemah dan jangan bosan.
Abu Darda Radhiyallahu Anhu berkata kepada Shubayh: Wahai Shubayh, biasakanlah ibadah, karena ia memiliki kebiasaan. Dan sesungguhnya tidak ada di atas bumi sesuatu yang lebih berat baginya daripada orang kafir. Harus ada persiapan yang sejati, persiapan praktis sebelum Ramadan, harus ada latihan keteguhan.
Maka ada malam kamu salat satu rakaat dengan lima juz sebagaimana Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika salat satu rakaat dengan Surah Al-Baqarah, An-Nisa, dan Ali Imran.
Dan ada malam kamu katakan: Ini malam rukuk, maka panjangkan tasbih di dalamnya, merendahkan diri dan mengagungkan Tuhan.
Dan ada malam kamu katakan: Ini malam sujud, dan malam berlalu dalam sujud panjang yang ditandai dengan kerendahan, tangisan, rasa takut, dan harapan.
Dan ada malam kamu bangun sepanjang malam dengan satu ayat kamu ulangi dan menangis serta berharap dengannya hingga pagi.
Demikianlah latihan-latihan: hari untuk tasbih, hari untuk tahlil, hari untuk bershalawat kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan latihan-latihan puasa berturut-turut dan melanjutkan malam hingga sahur. Latihan-latihan. Demikianlah saudaraku tercinta, mulailah latihan keteguhan dan semangat, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah, dan ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan sesudah kesulitan ada kemudahan.
Latihan Kedelapan: Melatih Indera:
Yaitu dengan membiasakan inderamu pada ketaatan. Biasakan matamu melihat Al-Quran, dan cegah ia dari melihat wanita yang berpakaian terbuka. Biasakan telingamu mendengar Al-Quran, mendengar ilmu, dan cegah ia dari mendengar lagu, sinetron, kebohongan, kekejian, dan kedustaan. Biasakan lidahmu dengan rajin berzikir dan memperbanyaknya. Biasakan ia untuk memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran. Latih ia untuk berkata benar, dan memberi nasihat kepada orang-orang beriman. Karena indera-indera ini adalah jalan masuk ke hati. Mata menyampaikan padangan ke hati, telinga menyampaikan kata-kata kepadanya, dan lidah menyampaikan keburukan-keburukan kepadanya. Manusia bertanggung jawab atas anggota tubuh dan indera-inderanya ini di hari kiamat. Allah Taala berfirman: “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungan jawabnya.” (Surah Al-Isra: 36). Maka harus melatihnya sebagai persiapan agar menjadi lembut dan patuh padamu di Ramadan, dan mudah bagimu mengendalikannya.
Dan harus sabar dalam latihan, dan yakin bahwa Allah akan membukakan pintu bagimu dengan terus berdiri di pintunya. Tetaplah di pintu dan bersabarlah; karena ini hanya beberapa jam. Dan Allah Subhanahu wa Taala Maha Pemurah lagi Maha Bersyukur. Jika Dia melihatmu berjuang di jalan-Nya dan berlatih untuk taat kepada-Nya, maka Dia tidak akan menyia-nyiakanmu bahkan akan membantumu dan memberimu taufik. Inilah prasangka kepada-Nya dan Dia Maha Pemurah. Maka teruslah dalam pelatihan dan latihan dan jangan putus asa jika kelezatan ketaatan terlambat, selama kamu dalam posisi mendekatkan diri kepada Allah dan “melunakkan” untuk ridha-Nya. Dia Yang berfirman: “Yang melihatmu ketika kamu berdiri (salat), (218) dan (melihat) gerak-gerikmu di antara orang-orang yang sujud.” (Surah Asy-Syuara: 218-219). Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Akan dikabulkan doa salah seorang dari kalian selama ia tidak tergesa-gesa, ia berkata: Aku telah berdoa tetapi tidak kukira dikabulkan bagiku.” Dan Allah Subhanahu wa Taala berfirman: “Dan bersabarlah terhadap ketetapan Tuhanmu.” (Surah Ath-Thur: 48). Dan Dia Subhanahu berfirman: “Maka bersabarlah dengan kesabaran yang baik.” (Surah Al-Maarij: 5). Maka dengan kesabaran dan pelatihan kamu akan mencapai apa yang kamu inginkan insya Allah.
Latihan Kesembilan: Menghadirkan Ibadah dalam Pikiran Sebelum Memulainya:
Apakah kamu pernah melihat dirimu sendiri ketika sujud?
Cobalah membayangkan pemandangan ini; dahinmu di tanah, hidungmu tertekan di tanah, perutmu menggantung ke tanah, khusyuk yang luar biasa tanpa dibuat-buat di kedua mata, kedua tangan bertumpu kuat di tanah demikian juga kedua lutut. Karena kamu tidak melihat posisi ini dan merenungkannya dalam dirimu, kamu tidak merasakannya. Oleh karena itu, aku mengajakmu untuk membayangkan secara mental ibadah apa pun sebelum memulainya. Ini membantumu untuk meraihnya sebagaimana mestinya dan menguasainya sebagaimana seharusnya.
Maka sebelum kamu salat seperempat jam, pikirkan: Di hadapan siapa kamu akan berdiri? Pejamkan matamu dan hadirkan bahwa aku berdiri di hadapan Allah. “Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.” (Surah Ar-Rahman: 46). Dan hadirkan keagungan Allah, maka hati akan terguncang dan takut, lalu takut dan khusyuk. Para ulama berkata: Khusyuk dalam ibadah sebelum memulainya adalah sebab untuk khusyuk di dalamnya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila salat didirikan, maka janganlah kalian mendatanginya dengan berlari, tetapi datangilah dengan berjalan dan kalian dalam ketenangan. Apa yang kalian dapati maka salatlah, dan apa yang terlewat maka sempurnakanlah.” Dan dalam riwayat lain: “Apabila kalian mendatangi salat, datangilah dengan tenang dan penuh wibawa.”
Ibnu Hajar dalam syarah hadits ini berkata: Dapat dipahami darinya bahwa yang diandalkan untuk berjalan menuju salat adalah apa yang diandalkan dalam salat, sebagaimana bantuan datang sesuai kadar hadirnya hati, terkumpulnya pikiran, dan konsentrasi dalam amal.
Maka harus, saudaraku tercinta, memahami masalah puasa dan hikmahnya, dan merasakan kenikmatannya. Ambil contoh untuk menghadirkan secara mental dari sekarang pemandangan seseorang sebelum adzan satu atau dua menit, ia dalam keadaan sangat lapar, haus, lemah, dan lesu. Di hadapannya dan di tangannya ada semua jenis makanan dan minuman, tetapi ia tidak rela dan tidak mau mengulurkan tangannya untuk minum atau makan. Dan jika dikatakan kepadanya: Apa bedanya antara sekarang dan dua menit lagi?
Menghadirkan pemandangan ini secara mental menjawabmu bahwa perbedaannya sangat sangat besar, dan yang agung ringkasannya satu kata: hingga datang izin dari Allah.
Menghadirkan makna ini secara mental adalah puasa, bukan sekadar meninggalkan. Maka pahamilah, cobalah, dan lawanlah saat kamu dalam masa persiapan.
Latihan Kesepuluh: Menjaga Sikap Rendah Hati dan Selalu Menunduk:
Siapakah kamu? Apakah kamu mengenal dirimu? Apakah kamu tahu kadarmu? Apakah kamu tahu posisimu? Dengarkanlah hadits ini bersamaku lalu putuskan. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Diizinkan bagiku untuk menceritakan tentang seekor ayam jantan yang kedua kakinya telah menembus bumi, dan lehernya melengkung di bawah Arasy, ia bertasbih kepada Allah lalu berkata: Maha Suci Engkau betapa agungnya Engkau! Maka Allah Azza wa Jalla berfirman: Tidak mengetahui hal ini orang yang bersumpah atas nama-Ku dengan dusta.”
Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Aku melihat pada malam aku diisra-kan Jibril dalam wujudnya, ia memiliki enam ratus sayap, setiap sayap menutupi cakrawala.” Renungkanlah bersamaku makhluk-makhluk ini, ciptaan dari ciptaan Allah, apalagi planet-planet, bintang-bintang, langit-langit, dan bumi.
Sesungguhnya perenungan ini membuat manusia merasa kecil sehingga ia menjaga sikap rendah hati dan selalu menunduk dan tidak berani mengangkat kepalanya. Siapakah kamu?! Dan apakah kamu?!
Kemudian engkau mendengar firman Allah Azza wa Jalla di tengah-tengah ayat-ayat tentang puasa: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku” (Al-Baqarah: 186). Sesungguhnya merasakan makna ini dalam berpuasa, khususnya, sangatlah penting; karena puasa adalah rahasia antara hamba dan Tuhannya, maka ia membutuhkan pengawasan yang terus-menerus, dan dengan pengawasan yang terus-menerus kita sampai pada makna yang lebih mendalam, yaitu merasakan kebersamaan (Allah), maka seseorang akan merasa malu dan tersipu-sipu, khususnya ketika mengingat Allah. Tuhan kita Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi: “Aku bersama hamba-Ku selama ia mengingat-Ku dan bibirnya bergerak menyebut nama-Ku”, dan juga: “Barangsiapa mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku”, dan Allah Subhanahu berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: “Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu” (Al-Baqarah: 152), dan ketika suara para sahabat meninggi dengan tasbih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya kalian tidak menyeru Tuhan yang tuli dan tidak hadir; sesungguhnya kalian menyeru Tuhan Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat, yang lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada leher untanya”.
Sesungguhnya aku ingin agar nash-nash di atas turun ke hatimu sebagai obat setetes demi setetes, untuk mengobati penyakit-penyakit hati yang berbahaya sebelum masuknya Ramadhan, seperti: kesombongan, kekaguman diri, keangkuhan, melihat diri sendiri, merendahkan orang lain, egois dan cinta diri, mementingkan diri sendiri, membanggakan diri, mengungkit pemberian, dan berlebihan dalam bersumpah.
Ibnu Al-Jauzi ‘alaihi rahmatullah berkata: “Gandakan sebisamu; karena kelembutan bersama kelemahan adalah lebih banyak.”
Engkau membutuhkan kelembutan Allah kepadamu agar Dia menyembuhkanmu dan menolongmu, maka tampakkanlah kelemahanmu dan kerendahan hatimu dan jangan engkau sombong, nanti Dia berpaling darimu sehingga engkau merugi di dunia dan akhirat.
Latihan Kesebelas: Memperhatikan Karunia
Ibnu Al-Qayyim ‘alaihi rahmatullah berkata: “Dan seorang hamba berjalan menuju Allah di antara menyaksikan karunia (Allah) dan menelaah aib diri dan amal.”
Dan ketika engkau berlatih melakukan ketaatan dalam persiapan untuk Ramadhan, engkau juga sepatutnya memperhatikan karunia Allah kepadamu karena memperoleh kehormatan ketaatan dan taufik untuk melakukannya… memperhatikan karunia karena memperoleh kehormatan berdiri di hadapan Allah… karena memperoleh kehormatan mengingat-Nya… dan kemuliaan kalimat-kalimat-Nya mengalir di lidahmu… karena memperoleh kehormatan ibadah berjalan pada anggota tubuhmu meskipun banyak maksiatmu… Dia memasukkanmu ke rumah-Nya dan menganugerahimu haji dan umrah, menyembuhkanmu dan menguatkanmu… dan mengizinkanmu padahal Dia Yang Maha Agung, dan menambah karunia-Nya kepadamu maka Dia memilihmu dan mengangkatmu; meskipun engkau tidak layak…
Jika engkau merasakan bahwa Dia Subhanahu Yang Awal yang daripadanya dimulai kebaikan dan rahmat; maka Dia yang menyiapkan dan Dia yang memasok, maka awal ketaatanmu dari Allah dan akhirnya kepada Allah, Allah Subhanahu berfirman: “Kemudian Dia menerima taubat mereka agar mereka bertaubat” (At-Taubah: 118), dan Allah Ta’ala berfirman: “Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah Yang Maha menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima sedekah dan bahwa Allah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (At-Taubah: 104-105).
Dan Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (Al-Hadid: 3), dan engkau hidup di antara dua nama ini: Yang Awal dan Yang Akhir… rasakan itu sehingga terjadi padamu pembebasan dari daya dan kekuatan; dan ketika itu engkau tidak melihat amalmu, melainkan hanya melihat bahwa Yang Maha Mulia Subhanahu Dialah yang menganugerahi kepadamu dan menyibukkanmu dengan ketaatan kepada-Nya… dan memuliakan engkau di sisi-Nya… Ya Allah muliakanlah kami dan jangan hinakan kami, utamakan kami dan jangan mengutamakan atas kami.
Memperhatikan karunia membersihkan hati dari melihat amal, hak diri, riya’ dan sum’ah… Ya Allah anugerahilah kami syukur atas nikmat-Mu dan baiknya ibadah kepada-Mu… Ya Allah sesungguhnya kami memuji-Mu dengan pujian yang banyak yang sebanding dengan nikmat-nikmat-Mu dan memadai tambahan-Mu.
Latihan Kedua Belas: Menenangkan Pola Hidup
Mengurangi kecepatan gerak kehidupan sebagai persiapan untuk berhenti di Ramadhan, dan meringankan dari beban-beban dunia serta berusaha menghilangkan kekhawatiran-kekhawatiran sementaranya, dan berhati-hati dari kesibukan dengannya dan terlena dengannya dari ketaatan kepada Allah, maka harus ada pertimbangan… harus ada ketepatan dalam menyeimbangkan antara amal-amal akhirat yang lebih baik dan lebih kekal dengan amal-amal dunia yang akan pergi dan lenyap.
Sesungguhnya kita hidup di zaman ini dalam kehidupan yang penuh dengan gerakan dan kecepatan, sungguh kita hidup di hari-hari ini dalam kecepatan perubahan dan perubahan yang terus-menerus serta perubahan yang mengejutkan, maka tidak ada kesempatan nyata bagi manusia untuk berpikir sebelum perubahan, dan ini adalah bahaya terbesar zaman ini; oleh karena itu sebelum Ramadhan kita perlu memberi diri kita kesempatan, memberi diri kita kesempatan untuk ketenangan pikiran dan hati, kesempatan untuk meninjau pola hidup, dan menenangkan kecepatan ini; agar terjadi pertimbangan dan rasionalitas dalam mengambil keputusan untuk mengutamakan akhirat atas dunia sehingga terjadi kesinambungan, karena keputusan-keputusan yang cepat berubah dengan kecepatan yang sama.
Ayo wahai kekasih… ketenangan… ketenangan… ketenteraman… ketenteraman.
Wahai saudara-saudara…
Ayo bersiaplah untuk Ramadhan dan jangan sampai bagianmu darinya adalah kerugian dan kekecewaan, wahai orang yang bersungguh-sungguh, inilah musim semi kesungguhanmu, wahai pencari ini adalah waktu bekalmu, bangunlah wahai orang yang lalai dari tidur pengangguran, berhati-hatilah wahai orang yang bodoh dari syubhat-syubhat kesesatan, manfaatkanlah keselamatanmu di bulanmu, sebelum engkau tergadai di kuburmu, sebelum berakhirnya masamu, dan tidak adanya bekalmu, dan terputusnya suaramu, dan tersandungnya kakimu, dan munculnya penyesalanmu; karena sesungguhnya umur adalah jam-jam yang pergi dan waktu-waktu yang dicuri, dan semuanya terhitung atas dirimu, dan kematian mendekat setiap saat kepadamu.
Wahai awan kelalaian dari hati-hati tersingkaplah, wahai matahari takwa dan iman terbitlah, wahai lembaran-lembaran amal orang-orang yang berpuasa terangkatlah, wahai hati orang-orang yang berpuasa khusyu’lah, wahai kaki-kaki orang yang tahajjud sujudlah kepada Tuhanmu dan rukuklah, wahai mata orang yang tahajjud jangan tidur, wahai dosa-dosa orang yang bertaubat jangan kembali, wahai bumi hawa telanlah airmu, dan wahai langit jiwa-jiwa berhentilah, wahai kilat-kilat cahaya untuk para pecinta memancar cahayalah, wahai bisikan-bisikan orang yang arif gembalakanlah, wahai tekad orang-orang yang mencintai jangan puas dengan selain Allah, sungguh telah digelar di hari-hari ini hidangan-hidangan pemberian untuk orang-orang yang berpuasa; maka tidak ada seorang pun di antara kalian melainkan telah diundang, dan wahai tekad orang-orang mukmin segeralah, maka beruntunglah bagi orang yang menjawab lalu benar, dan celakalah bagi orang yang diusir dari pintu dan tidak diundang.
“Wahai kaum kami, penuhilah seruan penyeru (yang menyeru) kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosa kalian dan melindungi kalian dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak memenuhi seruan penyeru kepada Allah, maka dia tidak akan melemahkan (Allah) di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung-pelindung selain-Nya. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata” (Al-Ahqaf: 31-32).
Ya Allah tolonglah kami dan berilah kami taufik untuk persiapan Ramadhan… dengan pertolongan dan kekuatan-Mu wahai Yang Maha Mulia.
Bagaimana Kita Menyambut Ramadhan
Kehangatan Penyambutan
Barangsiapa memiliki awal yang membakar… akan memiliki akhir yang bersinar.
Menyambut Ramadhan “Sepuluh Wasiat Sebelum Masuknya Bulan”
Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa di antara kamu yang menyaksikan bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa” (Al-Baqarah: 185), Allah Raja memerintahkan bahwa barangsiapa menyaksikan maka hendaklah beramal, dan dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Jangan jadikan hari puasamu seperti hari berbukamu, jangan jadikan keduanya sama”, harus ada perubahan.
Sesungguhnya hanya dengan munculnya hilal Ramadhan di langit, pintu-pintu surga terbuka dan pintu-pintu neraka tertutup dan setan-setan dibelenggu dan penyeru menyeru.
Maha Suci Raja! Perubahan mendasar yang menakjubkan pada seluruh alam semesta, harus dirasakan oleh mukmin yang memiliki akal yang terjaga dan hati yang hidup, dan terjadi darinya penyambutan terhadap bulan ini, penyambutan yang sesungguhnya, maka muncul dampak dari penyambutan itu yaitu perubahan pola hidup; karena ia berinteraksi dengan alam semesta, maka jika alam semesta berubah ia juga harus berubah; oleh karena itu hal pertama yang kita sambut dengan bulan:
Melepaskan ketegangan saraf dalam pertarungan dengan kehidupan agar terjadi perdamaian…
Harus ada gencatan senjata antara semua pihak selama bulan ini untuk mencapai tujuan yang diinginkan dengan selamat: Pembebasan dari neraka, maka inilah sepuluh wasiat ini, beramallah dengannya semoga Allah merahmatimu.
Wasiat Pertama: Gencatan Senjata dengan Perdebatan dan Perselisihan
Di rumah dengan istri dan anak-anak, dan menyiapkan lingkungan Ramadhan yang penuh iman, Allah Subhanahu berfirman: “Dan Allah menjadikan bagi kalian dari rumah-rumah kalian tempat tinggal” (An-Nahl: 80), dan itu dengan hal-hal berikut: (1) Berusaha menyelesaikan semua masalah dan perselisihan sebelum masuknya bulan, agar tidak mengacaukan suasana imanmu, dan agar tidak menghambat ibadah-ibadah yang ingin kamu lakukan, harus kamu terbebas dari masalah-masalah ini dan membuat solusi mendasar untuk itu agar tidak mempengaruhi ibadahmu.
(2) Membuat berita acara perdamaian antara semua anggota keluarga, maka bersihkan lingkungan di sekitarmu dari noda perbedaan dan permusuhan, dan berusahalah agar tercipta suasana cinta, kasih sayang, dan kedekatan antara anggota keluarga; karena sesungguhnya itu termasuk yang memudahkan jalan agar mereka menaatimu dan menaati Tuhan mereka Subhanahu wa Ta’ala, Allah Ta’ala berfirman: “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka” (Al-Isra’: 53).
(3) Mengadakan pertemuan darurat dan mendesak dengan semua anggota keluarga untuk menyepakati prinsip-prinsip dan dasar-dasar yang akan dijalankan dalam naungannya selama bulan Ramadhan, dan di antara prinsip-prinsip ini:
- Meninggalkan televisi dan menontonnya, dan meyakinkan mereka bahwa mereka tidak akan rugi apa-apa jika melakukan itu, dan mari kita coba mengganti itu dengan amal-amal iman dan ibadah-ibadah yang bermanfaat.
- Menghentikan aliran lagu-lagu yang deras yang membunuh iman.
- Mengontrol lisan dan berhati-hati dari penyimpangannya kepada apa yang memurkai Allah.
- Membatalkan begadang dan jamuan serta undangan atau menguranginya, semampu mungkin.
(4) Mengambil jalan-jalan yang serius untuk menyelamatkan semua anggota keluarga dari neraka, Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (At-Tahrim: 6), Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: yaitu ajarkanlah mereka kebaikan dan didiklah mereka.
Wasiat Kedua: Mengadakan Gencatan Senjata di Tempat Kerja dengan Rekan dan Atasan
Dan itu dengan memaafkan permusuhan dan berdamai dengan semua orang dan melupakan perselisihan, dan memulai dengan halaman yang bersih dan putih, kita tidak ingin pusaran masalah di tempat kerja, dan kita tidak ingin kesibukan dengan kata-kata yang tidak berguna, kita tidak ingin waktu terbuang dalam pembicaraan yang sia-sia, dan harus ada perdamaian antara orang yang bermusuhan dan mencapai solusi tengah untuk memuaskan semua pihak tanpa maksiat kepada Allah, Allah Ta’ala berfirman: “Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesama kalian” (Al-Anfal: 1).
Kita ingin agar interaksimu dengan rekan-rekanmu di tempat kerja dibangun atas pencapaian keuntungan bagimu dalam agama, meskipun kamu rugi dunia, dan harus juga menyempurnakan pekerjaan dan membaikkannya terutama ketika kamu berpuasa memperhatikan Raja Subhanahu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian mengerjakan suatu pekerjaan, hendaklah ia menyempurnakannya”.
Wasiat Ketiga: Mengadakan Gencatan Senjata Dengan Dirimu Sendiri Untuk Menghilangkan Racun Hati
Racun hati ada lima: berlebihan dalam makan, berlebihan dalam berbicara, berlebihan dalam tidur, berlebihan dalam bergaul, dan berlebihan dalam memandang.
1 – Gencatan senjata dengan makan, sesungguhnya ini bulan puasa dan mengurangi, bukan bulan makan, rakus dan berlebihan
Makanan adalah bahan bakar syahwat, dan penuhnya perut dengan makanan adalah penyebab kemalasan tubuh dalam beribadah. Jika seseorang banyak makan, ia akan banyak minum, maka banyak tidur dan banyak merugi. Perhatikanlah bagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan pemuda lajang untuk berpuasa; dan memberikan alasan bahwa puasa itu “wija'” yaitu pemutus syahwat, menghilangkannya dan mendidiknya. Nabi shallallahu alaihi wasallam telah mengajarkan kepada kita fikih makanan maka beliau bersabda: “Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika memang harus, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya.” Kita inginkan gencatan senjata dengan makan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Makanlah dari rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah dia.” (Thaha: 81). Cukupkanlah dengan beberapa suap sebagaimana yang diperintahkan.
2 – Gencatan senjata dengan berbicara: Mohon… Tutuplah mulutmu di bulan Ramadan
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” Setiap kata yang keluar dari mulutmu adalah pahala atau siksa. Allah Jalla Jalaluhu berfirman: “Tiada suatu ucapan yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaaf: 18). Dan banyak bicara adalah sumber kesalahan.
Dalam hadits, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa diam, maka selamatlah dia.” Allah telah menjadikan bagimu satu lidah dan dua telinga agar apa yang kamu dengar lebih banyak daripada yang kamu bicarakan. Bencana melekat pada perkataan, maka hati-hatilah dari berlebihan dalam berbicara, dan hati-hatilah dari berlarut-larut dalam membicarakan dunia karena hal itu mengeraskan hati. Jika kamu mampu untuk tidak menjawab telepon kecuali untuk urusan yang sangat penting maka lakukanlah, dan perintahkan istrimu untuk berhenti dari panggilan telepon yang berlangsung berjam-jam tanpa manfaat, yang menyia-nyiakan waktu, dan biasanya berujung pada pembicaraan tentang urusan dunia, atau ghibah dan namimah karena demikianlah pembicaraan para wanita.
Maka janganlah kamu menggunakan telepon kecuali untuk ketaatan kepada Allah seperti berbakti kepada orang tuamu atau menyambung tali silaturahmi atau menyelesaikan urusan penting atau menunjukkan kepada kebaikan. Kendalikanlah lidahmu dari mengatakan apa yang tidak diridhai Allah Azza wa Jalla. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke neraka, beliau bersabda: “Mulut dan kemaluan.” Keduanya juga sebab masuk surga. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa dapat menjamin bagiku apa yang ada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya, aku jamin baginya surga.” Ini menunjukkan kepadamu bahaya lidah dan bahaya semua yang keluar darinya.
Yang menjadi kesaksian saudara-saudaraku: harus menghilangkan berlebihan dalam berbicara karena ia termasuk racun hati, dan sambutlah Ramadan dengan berpuasa juga dari berbicara.
3 – Gencatan senjata dengan tempat tidur… Biarkan ia beristirahat darimu selama sebulan
Tidur adalah nikmat dari Allah kepada hamba-hamba-Nya, tetapi jika melampaui batas berlebihan ia merusak hati. Akan datang bersamaku dalam program harian orang yang berpuasa bahwa cukup bagimu tidur empat jam dalam sehari di bulan Ramadan karena kamu menginginkan sesuatu yang agung, bahkan menginginkan sesuatu yang paling agung yaitu surga Allah. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu surga ya Rabb. Maka harus mengurangi jam tidurmu karena kamu dalam keadaan darurat, bersusah payah dalam meraih tujuan yang besar, bahkan tujuan terbesar. Maka hati-hatilah dari banyak tidur agar tidak tersia-sia umurmu, agamamu dan hatimu.
Setiap kali jiwamu menggodamu untuk tidur dan malas dalam beribadah, pejamkan matamu dan bayangkan surga, dan katakan kepada dirimu: Relakah kita kehilangan surga? Apakah kamu tidur sementara ada yang mendahului kita sekarang ke sana? Tidakkah kamu tahu bahwa si fulan sekarang sedang membaca Alquran, dan si fulan sekarang sedang shalat malam, apa manfaat tidur bagimu jika mereka mendahuluimu ke surga dengan derajat-derajat!!
Oleh karena itu aku nasihati -saudaraku- hendaknya kamu menjadikan bagimu seorang teman yang ikhlas yang memiliki semangat tinggi untuk berlomba dengannya dalam ibadah. Berlombalah siapa yang khatam Alquran lebih dulu dan berapa kali, berlombalah dalam qiyamul lail, dalam zikir kepada Allah, dan masing-masing membangunkan yang lain karena hal itu membawa semangat dan kegairahan bagimu. Allah Ta’ala berfirman: “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (Al-Muthaffifin: 26).
4 – Gencatan senjata dengan manusia… Nafas manusia adalah asap hati
Bergaul dengan manusia adalah ujian. Sebagian Salaf berkata: Ini adalah waktu untuk diam dan menetap di rumah.
Sesungguhnya manusia melemahkan dan mengecewakan kamu dari ketaatan, dan jarang kamu temukan dari mereka penasihat yang amanah. Maka hati-hatilah bergaul dengan orang-orang dunia, karena akhlak orang-orang bodoh itu menular. Sebagaimana dikatakan oleh ulama pendidikan: “Tabiat itu pencuri” dan “Manusia adalah anak lingkungannya.” Jika harus bergaul maka hendaknya sedikit, dan hendaknya dengan orang-orang saleh. Hendaknya dengan mereka yang memiliki semangat tinggi, orang yang jika kamu tunjukkan kepada kebaikan ia mendahuluimu kepadanya, tidak melemahkanmu darinya. Carilah orang yang kamu tahu semangatnya di langit bukan di tanah.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diperintahkan untuk bersabar bersama orang-orang mukmin yang bersungguh-sungguh dalam perjalanan kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman: “Dan bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia.” (Al-Kahfi: 28). Kemudian Allah Ta’ala memerintahkan beliau untuk menjauhi pergaulan dengan orang-orang lalai dan menaati mereka, maka Dia berfirman: “Dan janganlah kamu menaati orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28). Rabb kita Azza wa Jalla juga memperingatkan kita dari bersandar kepada orang-orang zalim dan bergaul dengan mereka, dan ini termasuk orang-orang durhaka yang terang-terangan bermaksiat. Melihat mereka mengeraskan hati sebagaimana melihat orang saleh mengingatkan kepada Allah. Allah Ta’ala berfirma: “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.” (Hud: 113).
5 – Gencatan senjata dengan kedua mata… Pejamkan matamu… Istirahatkan penglihatanmu
Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (An-Nur: 30). Dan dalam ayat yang setelahnya langsung: “Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (An-Nur: 31). Memandang wanita-wanita yang berpakaian terbuka menghancurkan tekad hati, menyebarkan dan menghancurkan hati karena ia racun. Membebaskan pandangan adalah sebab terjadinya kegelapan dalam hati, sebagaimana menundukkan pandangan adalah sebab terjadinya cahaya dan bashirah dalam hati. Oleh karena itu ayat-ayat cahaya datang setelah ayat-ayat perintah menundukkan pandangan. Menundukkan pandangan bukan hanya dari wanita saja, tetapi juga menundukkannya dari melihat kepada kemewahan dunia yang melupakan dan melalaikan. Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Thaha: 131).
Harus ada istirahat bagi penglihatan agar bashirah terlontar, dan jalan untuk itu adalah dengan mencukupkan rumahmu dan tidak berkeliaran di jalan-jalan. Sibukkan dirimu dengan beberapa ketaatan, kamu tidak menemukan waktu untuk keluar. Sibukkan penglihatanmu dengan melihat mushaf, kamu tidak melihat siapa pun.
Wasiat Keempat: Mengadakan Gencatan Senjata Dengan Silaturahmi Dan Orang Tua
Sesungguhnya perasaanmu -hanya perasaanmu- bahwa semua orang mencintaimu dan kagum padamu.
Hanya perasaan bahwa kamu tidak memiliki musuh dan tidak ada seorang pun yang dengki kepadamu.
Perasaan ini semata membawa ketenangan jiwa dan ketenangan hati dan ketenangan hati nurani, dan ketenangan pikiran yang dibutuhkan yang diperlukan oleh manusia.
Dan kamu lebih membutuhkan untuk merasakan hal ini dari orang-orang di sekitarmu, dan orang-orang yang paling dekat denganmu, bahwa kamu melihat keridhaan mereka atasmu dan kegembiraan mereka denganmu dan kecintaan mereka kepadamu. Sesungguhnya kita menginginkan ini bukan untuk mengagumi diri kita sendiri dan bukan hanya menginginkan ketenangan hati kita saja dan ketenangan jiwa kita saja tetapi:
Agar kita mampu mengumpulkan perhatian dan hati tenang, agar kita beribadah kepada Rabb kita sebagaimana mestinya. Sesungguhnya suasana iman ditandai dengan ketenangan dan ketentraman dan kelemahlembutan. Untuk menyambut Ramadan sebagaimana mestinya harus menyiapkan suasana ini, tetapi bagaimana?!!
Berbuat baik kepada semua orang, membuat semua orang nyaman, walaupun atas pengorbanan dirimu sendiri, memaafkan semua orang dan melepaskan hak-hak, dan menunaikan semua kewajiban terhadap semua orang. Kerahkan semua yang kamu mampu untuk mengadakan gencatan senjata dengan semua orang di sekitarmu dari kerabat. Menaati orang tua adalah fardhu wajib selama mereka tidak memerintahkan maksiat kepada Allah, maka wajib atasmu menaati mereka dan berbuat baik kepada mereka dan berbakti kepada mereka. Harus menyambung silaturahmimu dan hati-hati dari memutus silaturahmi. Allah Ta’ala berfirman: “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekerabatan.” (An-Nisa: 1). Artinya bertakwalah terhadap silaturahmi agar tidak kamu putuskan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah menciptakan rahim (kerabat). Ketika Dia selesai menciptakannya, rahim itu berkata: Ini adalah tempat berlindung kepada-Mu dari putusnya hubungan. Allah berfirman: Ya. Tidakkah kamu ridha jika Aku sambungkan orang yang menyambungmu dan Aku putuskan orang yang memutuskanmu? Rahim itu berkata: Tentu ya Rabb. Allah berfirman: Maka itu untukmu.” Barangsiapa menyambung silaturahminya, Allah akan menyambungnya, dan barangsiapa memutuskannya, Allah akan memutuskannya. Oleh karena itu harus mengunjungi kerabat dan menanyakan tentang mereka dan membantu mereka jika diperlukan, agar Allah menyambungmu dengan rahmat-Nya di bulan mulia ini. Mulailah bulanmu dengan menyambung silaturahmimu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (Al-Isra: 26). Mereka memiliki hak bukan kemurahan hatimu wahai Muslim.
Jika hak Muslim atas Muslim ada enam, maka pemilik hubungan kerabat haknya bertambah atas itu dengan sifat kerabat, dan kedua orang tua haknya lebih besar. Tidak mengapa membawa sedikit hadiah, dan hadiah menghilangkan panas dada. Hadiah menjadi sebab kasih sayang. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Saling memberi hadiahlah kalian agar kalian saling mencintai.”
Wasiat Kelima: Mengadakan Gencatan Senjata Diri Untuk Meninggalkan Dosa Dan Kemaksiatan Dan Keburukan
(1) Gencatan senjata dalam perang dengan Allah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Al-Baqarah: 229). Cobalah untuk mengadakan perjanjian dengan dirimu sendiri untuk berhenti dari perang dengan meninggalkan dosa dan kemaksiatan sama sekali. Mulailah segera dengan membuat janji dengan diri untuk berhenti dari dosa, dan bertobat kepada Allah Jalla Jalaluhu.
Harus tobat ini nasuha (sungguh-sungguh), dengan mencakup semua dosa, dan menyesal atas semua yang telah dikerjakan, dan bertekad dan berniat untuk tidak kembali kepadanya lagi.
Tobat wajib dari setiap dosa. Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang nasuha.” (At-Tahrim: 8). Perhatikanlah bagaimana Allah memerintahkan semua orang mukmin untuk bertobat dan mengaitkan keberuntungan mereka dengannya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An-Nur: 31).
Harus berjanji kepada dirimu sendiri untuk meninggalkan kemaksiatan dan keburukan, harus bertobat. Jika kamu tidak bertobat maka kamu adalah orang zalim dengan nash firman Allah Jalla Jalaluhu. Allah Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Al-Hujurat: 11). Dan harus menghilangkan kekerasan hati diri atas dosa karena sesungguhnya bersikeras pada dosa adalah dosa lain.
(2) Menjauh dari sebab-sebab kemaksiatan
Harus menutup pintu kemaksiatan dari dirimu sendiri. Menjauhlah dari tempat-tempat percampuran (ikhtilath), menjauhlah dari televisi, menjauhlah dari membaca majalah dan surat kabar yang mengajak kepada fitnah, menjauhlah dari setiap sebab dari sebab-sebab kemaksiatan, agar kamu menjaga imanmu karena sesungguhnya kemaksiatan memiliki kegelapan dalam hati dan hitam di wajah dan kebencian di hati makhluk.
Mengapa kamu menempatkan dirimu di antara fitnah kemudian berperang untuk selamat darinya.
Dan mengapa kamu mendekati sebab-sebab kemaksiatan dengan pengetahuanmu bahwa cara paling selamat untuk selamat dari fitnah adalah menjauh darinya? Kamu mengetahui hadits pembunuh seratus orang bagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkannya untuk meninggalkan negerinya yang ia tinggal di dalamnya karena ia negeri yang buruk, sebab-sebab kemaksiatan tersedia di dalamnya. Beliau memerintahkannya untuk pergi ke negeri begini dan begitu karena di sana ada kaum saleh agar beribadah kepada Allah bersama mereka. Beliau memerintahkannya untuk menjauh dari sebab kemaksiatan dan mendekat kepada sebab ketaatan.
(3) Bertekad untuk tidak kembali
Hendaknya kamu berniat dengan niat yang benar dan jujur untuk tidak kembali kepada dosa karena dalam kembali kepada dosa adalah kebinasaanmu, karena ia mungkin dalam kembalimu kepadanya adalah jatuhmu dari pandangan Allah. Sesungguhnya kamu jika kembali kepada dosa mungkin kamu mati di atasnya maka kamu bertemu Allah dalam keadaan durhaka. Bangkitlah kepada ketaatan kepada Rabbmu dan ikutilah keburukan dengan kebaikan, dan jangan tolehkan hatimu kepada dosa, dan hati-hatilah jatuh ke dalamnya; bahkan bertekadlah untuk tidak kembali kepadanya selamanya.
Wasiat Keenam: Gencatan Senjata Dengan Lama Absen Di Luar Rumah Dan Banyak Janji Temu Dan Pertemuan
Mulailah mengurangi keluar dan banyak janji temu dan pertemuan. Luangkan waktu di Ramadan untuk beribadah kepada Rabbmu, untuk mengobati dirimu sendiri dan bekerja untuk mendidiknya. Kamu dalam periode perawatan intensif untuk hati. Mengapa kamu banyak keluar dari rumah? Membeli ini dan mengunjungi si fulan dan berbicara dengan si fulan. Kamu bisa membeli keperluan Ramadan sebelum masuknya agar tidak sibuk dengan selain ibadah. Kamu bisa membeli pakaian Idulfitri sebelum masuk Ramadan dan meninggalkannya sampai Hari Raya. Hal-hal lain yang kamu inginkan pada Hari Raya belilah dari sekarang.
Uqbah bin Amir bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang keselamatan, maka beliau bersabda: “Tahanlah lidahmu, cukupkanlah rumahmu, dan menangislah atas kesalahanmu.”
Wasiat Ketujuh: Gencatan Senjata dengan Banyaknya Pengeluaran dan Pemborosan
Puasa disyariatkan untuk mengurangi makan dan minum; namun sangat disayangkan! Ternyata orang-orang justru berbelanja untuk makanan dan minuman di bulan Ramadan melebihi apa yang mereka belanjakan di bulan-bulan lainnya!! Padahal pemborosan bukanlah akhlak orang-orang beriman, bahkan itu adalah sifat setan-setan. Allah berfirmat: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (Surah Al-Isra: 26-27). Dan Tuhan kita telah memerintahkan kita untuk bersikap moderat dalam berbelanja dan mengharamkan pemborosan, Allah berfirman: “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah (pula) kamu terlalu mengulurkannya (sangat pemurah) nanti kamu menjadi tercela dan menyesal.” (Surah Al-Isra: 29). Dan kamu bisa menyepakati beberapa hal dengan keluarga:
(1) Kesepakatan tentang Sedekah:
Sedekah adalah bukti ketulusan seseorang dalam keimanannya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Salat adalah cahaya, sedekah adalah bukti, sabar adalah sinar, dan Al-Quran adalah hujah untukmu atau melawanmu. Setiap orang beraktivitas, ada yang menjual dirinya lalu membebaskannya atau membinasakannya.” Maka sepakatlah untuk bersedekah setiap hari meskipun sedikit; karena Allah akan melipatgandakannya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah menerima sedekah dari salah seorang dari kalian lalu Dia mengembangkannya untuknya sebagaimana salah seorang dari kalian mengembangbiakkan anak kudanya hingga sepotong makanan itu menjadi seperti gunung.” Sayyidah Aisyah radhiyallahu anha berkata ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya kepadanya: “Apa yang tersisa dari kambing itu?”, dia menjawab: Bahunya. Beliau bersabda: “Yang tersisa adalah semuanya kecuali bahunya.” Bersedekahlah sekali, dan berikanlah kepada istrimu agar dia juga bersedekah, dan berikan kepada anakmu agar dia bersedekah; supaya dia terbiasa memberi dan berderma, dan Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.
(2) Memberi Makan Orang-orang yang Berpuasa:
Berusahalah untuk memberi berbuka kepada seorang atau beberapa orang yang berpuasa, atau tiga atau sepuluh setiap hari sesuai kemampuanmu; karena bagimu pahala seperti pahalanya setiap hari. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti pahalanya tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun.” Buatlah kontrak asuransi dengan Allah untuk puasa. Apakah kamu ingin dicatat untukmu Ramadan enam ratus hari? Perkaranya sangat mudah, yang harus kamu lakukan hanyalah memberi berbuka kepada dua puluh orang yang berpuasa setiap hari, maka dalam tiga puluh hari kamu telah memberi berbuka kepada enam ratus orang yang berpuasa; maka dicatat untukmu Ramadan enam ratus hari.
3 – Memberi Makan Orang-orang Miskin:
Allah berfirman: “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (Surah Al-Insan: 8). Dan memberi makan adalah ibadah yang dengannya seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Wahai manusia: Tebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah tali silaturahmi, dan salatlah di malam hari ketika manusia sedang tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.” Dan Ibnu Umar radhiyallahu anhuma biasa berbuka setiap hari bersama orang-orang miskin.
4 – Membantu Orang-orang yang Membutuhkan:
Menunjukkan jalan orang yang tersesat, membantu orang lemah dalam menuntut haknya, mendukung orang miskin, menolong orang yang teraniaya, menetapkan sesuatu bagi orang yang membutuhkan. Sekelompok orang datang kepada Hasan Al-Bashri untuk suatu keperluan, maka dia berkata: Temuilah si fulan di masjid dan bawalah dia bersama kalian. Mereka mendatanginya, maka dia berkata: Sesungguhnya aku sedang beri’tikaf. Maka dia berkata: Kembalilah dan katakan kepadanya: Wahai orang yang lalai, tidakkah engkau tahu bahwa berjalanmu dalam memenuhi keperluan saudaramu hingga kamu menetapkannya untuknya lebih baik daripada i’tikafmu. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Dan Allah senantiasa menolong hamba selama hamba itu menolong saudaranya.”
Wasiat Kedelapan: Gencatan Senjata dengan Akal dan Hati dari Memikirkan dan Merencanakan Urusan Dunia
Dunia tidak layak untuk dipikirkan, dunia lebih hina dari itu, dan lebih rendah daripada untuk disibukkan dengannya dan direncanakan untuknya; oleh karena itu jadikanlah seluruh pikiranmu untuk akhirat: (1) Pikirkanlah kebaikan baru yang akan kamu kerjakan, carilah ibadah yang terlupakan untuk kamu lakukan, carilah dzikir yang terlupakan yang tidak diucapkan banyak orang atau yang tidak pernah kamu ucapkan dan berdzikirlah kepada Allah dengannya, pikirkanlah bagaimana mengumpulkan kebaikan dan menyimpan pahala di sisi Allah Jalla Jalaluhu.
(2) Pikirkanlah pengabdian kepada kaum muslimin bagaimana kamu melayani mereka. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu ketika menjadi khalifah kaum muslimin biasa memerah susu kambing-kambing tetangganya, dan Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu anhu pergi kepada seorang nenek tua yang lumpuh dan lemah untuk melayaninya, lalu dia menemukan bahwa seorang laki-laki telah mendahuluinya yang telah membersihkan rumahnya dan menghilangkan gangguan darinya dan mengisi bejana-bejananya; maka dia heran dengan orang yang mendahuluinya ini dan melakukan hal itu, ternyata dia adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu!! Mereka berlomba-lomba dalam melayani kaum muslimin dan berbuat baik kepada mereka.
(3) Berpikir tentang Pengabdian kepada Agama: Pikirkanlah bagaimana kamu mengabdi kepada agamamu, dan bagaimana kamu berkorban di jalannya, memberi kaset sebagai hadiah, menyampaikan nasihat, menghadiahkan buku kecil, mengajak seseorang untuk meninggalkan merokok, dan mengajak yang lain untuk menjaga salat, membuat majalah dinding, mengurus halaqah untuk menghafal dan mentajwid Al-Quran… dan berpikir tentang pengabdian kepada agamamu, dan agama kita membutuhkan setiap tangan yang menulis tentangnya dan membelanya, dan kepada setiap lisan yang menjelaskan keagungan dan hakikatnya kepada manusia, dan kepada setiap hati yang berdenyut dengan cintanya.
(4) Berpikir tentang Kenikmatan Akhirat: Pikirkanlah bagaimana kamu meraih surga esok hari, bagaimana merasakan kedekatan Allah ketika kamu berdzikir kepada-Nya, bagaimana mewujudkan kekhusyuan dalam salat, bagaimana bersepi dengan Tuhanmu di waktu turunnya Allah, menangis di hadapan-Nya dan bermohon kepada-Nya, lalu kamu merasakan kedekatan-Nya darimu dan kedekatanmu dari-Nya dan cinta-Nya kepadamu. Dikatakan kepada Hasan: Mengapa kita melihat ahli malam adalah orang yang paling bagus wajahnya di antara manusia? Dia berkata: Mereka bersepi dengan Ar-Rahman lalu Dia mengenakan kepada mereka cahaya-Nya.
Wasiat Kesembilan: Gencatan Senjata dengan Penggunaan Anggota Tubuh
Di bulan Ramadan istirahatkanlah matamu dengan tidak melihat dunia, dengan tidak melihat wanita-wanita yang berpakaian terbuka, istirahatkan matamu dengan melihat kalam Sang Raja Jalla Jalaluhu, istirahatkan matamu dari lelah berbuat dosa, dan istirahatkan telingamu dari hiruk pikuk pembicaraan dan kebisingan kesedihan dan kegelisahan… istirahatkan telingamu dari mendengar ghibah, namimah dan dusta, istirahatkan telingamu dari mendengar nyanyian, dan istirahatkan kakimu dari banyaknya berpindah-pindah ke sana kemari tanpa manfaat, istirahatkan kakimu dengan menetap di rumahmu atau masjidmu, istirahatkan kakimu dari banyaknya berusaha untuk mendapatkan apa yang tidak ada manfaatnya.
Dan istirahatkan akalmu dari kesedihan dunia dan kegelisahannya… sibukkan diri dengan ketaatan, dzikir dan istighfar sehingga tidak ada lagi tempat bagimu untuk kesedihan-kesedihan ini yang menggerogoti tubuhmu dan menyakitimu, dan istirahatkan lambungmu dengan tidak memasukkan makanan ke dalamnya setiap waktu, bahkan biarkan di siang hari Ramadan kosong dan beristirahat, istirahatkan lambungmu dari beratnya makanan, dan istirahatkan ususmu juga, istirahatkan hatimu dari keterikatan dengan manusia dan keterikatan dengan sebab-sebab dan kesibukan dengan selain Allah, kumpulkan perhatianmu dan istirahatkan anggota tubuhmu maka kamu akan menikmati cinta Allah.
Wasiat Kesepuluh: Gencatan Senjata dengan Kesedihan
Aku ingin kamu membuang kesedihan dari dadamu… jangan sibukkan pikiranmu dengannya, ada seorang laki-laki yang anak-anaknya meminta darinya pakaian sekolah, dan buku sekolah, dan buku tulis sekolah, maka dia tidak tahu dari mana dia akan mendapatkan uang untuk membeli apa yang anak-anaknya inginkan, dan kesedihan itu tetap ada di dadanya, dan dia tidur dengan pikirannya yang disibukkan dengan hal itu, tetapi dia tiba-tiba beristirahat dari kesedihan itu. Tahukah kalian apa yang terjadi? Dia mati… istirahat abadi dari dunia ini… oleh karena itu aku katakan: Demi Allah… sesungguhnya dunia ini tidak layak untuk kamu membunuh dirimu demi dunia.
Oleh karena itu: Jadikanlah kesedihan itu satu kesedihan, yaitu ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, jadikanlah ini kesedihanmu: agar Allah ridha kepadamu saja, karena jika Dia ridha kepadamu maka segala kebaikan, kebajikan, berkah dan karunia akan kamu dapatkan. Kesedihan ini tidak boleh ditunda dan semua kesedihan lainnya dapat ditunda, maka jadikanlah kesedihanmu di bulan Ramadan adalah memerdekakan lehermu dari neraka, dan meraih keridhaan Allah Azza wa Jalla.
Jika ini adalah gencatan senjata yang sempurna… maka akan ada ketenangan yang sempurna… maka akan ada penyambutan Ramadan dengan penuh kehangatan… dan permulaan yang diberkahi… dan perhatian yang terfokus… maka kita hidup di Ramadan…
Ayo: Bagaimana Kita Menghidupkan Ramadan?
Bagaimana Menghidupkan Ramadan
Program Praktis untuk Mempertahankan Pancaran Iman
Bagaimana Kamu Menghidupkan Ramadan?
Wahai orang-orang yang kucintai karena Allah…
Bagaimana seorang muslim menghidupkan sehari dari hari-hari Ramadan? Pembicaraan ini muncul karena umat -dan sangat disayangkan- belum merasakan nikmatnya Ramadan sejak mereka merasakan rasa kekalahan, sejak mereka hidup dalam makna kehinaan terhadap musuh-musuh, sejak mereka terombang-ambing dan berubah-ubah dan tidak merasakan rasa kemenangan dan tidak menghadap kepada Allah Azza wa Jalla saja. Dan seandainya umat berpuasa satu hari sebagaimana mestinya sejak hal itu terjadi kepada mereka; niscaya mereka akan berubah, dan seandainya mereka berubah niscaya Allah akan mengubah keadaan mereka, Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (Surah Ar-Ra’d: 11).
Dan agar kita menghidupkan Ramadan sebagaimana mestinya dan membentuk di dalamnya pembentukan para pria, maka kita harus berjalan di atas garis-garis utama berikut:
Pertama: Menetapkan Tujuan
Wahai saudara-saudaraku, sesungguhnya kita membutuhkan penetapan tujuan-tujuan yang dengannya kita memasuki Ramadan, kemudian merencanakan jalan untuk mencapai tujuan-tujuan ini, kemudian meletakkan rencana untuk evaluasi… evaluasi amal, kemudian menindaklanjuti pencapaian hasil. Sesungguhnya orang-orang hari ini jika salah seorang dari mereka ingin melakukan proyek untuk menginvestasikan hartanya; maka sebelum segala sesuatu dia harus melakukan studi kelayakan, dan sebelum orang-orang berkumpul dalam pertemuan yang penting, mereka harus menyusun program kerja atau agenda rapat. Ini dalam tradisi ahli dunia, ini adalah prinsip bagi mereka, tidakkah ini menjadi prinsip bagi ahli akhirat, terutama mereka mengejar sesuatu yang paling tinggi yaitu surga?! Maka mereka lebih berhak untuk itu.
Ya, demi Allah: ahli akhirat lebih berhak untuk melakukan studi kelayakan untuk puasa Ramadan, apakah akan ada hasil yang nyata, apakah akan ada buah yang nyata, dan apa yang diperlukan untuk aku kerjakan agar datang buah yang diharapkan… Sesungguhnya orang yang ingin mengevaluasi amalnya; dia melihat buahnya dari waktu ke waktu. Maka kita harus berhenti di setiap malam Ramadan dengan diri kita untuk melihat, dan karena Allah di setiap malam memerdekakan orang-orang dari neraka; maka di setiap malam harus ada evaluasi: apakah aku di hari ini termasuk orang yang dimerdekakan, dan apa yang harus aku lakukan untuk mengejar ketinggalan dari kemerdekaan dan ampunan. Ya Allah, merdekakanlah leher kami dari neraka ya Rabb…
Wahai saudara-saudaraku, agar leher kita dimerdekakan dari neraka, maka kita harus menetapkan tujuan, kita harus merencanakan rencana kerja, dan meletakkan cara untuk mencapai tujuan-tujuan ini, dan menyusun model untuk mengevaluasi amal dan mencapai hasil, dan pertama-tama inilah tujuan-tujuannya:
Tujuan Pertama: Kerinduan Hati kepada Rahmat
Kamu harus bertujuan agar hatimu mendapatkan rahmat Allah, dan harus meninggi, dan berharap, dan mengharapkan, dan mencintai, dan berharap untuk mendapatkan rahmat dari Allah sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak seorangpun dari kalian yang akan masuk surga karena amalnya.” Mereka berkata: Dan tidak engkau juga wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Dan tidak aku juga, kecuali Allah melimpahkan kepadaku dengan rahmat-Nya.” Maha Suci Allah!! Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang adalah utusan Allah… kekasih Allah… imam makhluk… dan kekasih Yang Haq Muhammad shallallahu alaihi wasallam tidak akan masuk surga kecuali dengan rahmat Allah.
Maka kamu membutuhkan untuk dirahmati, dan ketika hatimu gelisah untuk memohon rahmat; di sini akan turun kepadamu -insya Allah- rahmat Allah, dan khususnya bahwa Allah di setiap malam Ramadan memiliki rahmat-rahmat yang Dia khususkan untuk siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, Allah berfirman: “Sesungguhnya ini adalah peringatan, maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia menempuh jalan kepada Tuhannya. Dan kamu tidak mampu menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana. Dia memasukkan siapa yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya. Dan bagi orang-orang yang zalim, Dia menyediakan azab yang pedih.” (Surah Al-Insan: 29-31).
TUJUAN KEDUA: MENGHADIRKAN NIAT UNTUK MENDAPATKAN PENGAMPUNAN DOSA YANG TELAH LALU DAN YANG AKAN DATANG
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Hadits ini memerlukan perhatian khusus.
Seharusnya kamu memperhatikan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mensyaratkan agar kamu berpuasa dengan penuh keimanan dan mengharap pahala. Apakah kamu berpuasa dengan penuh keimanan dan mengharap pahala?!
Apakah kamu tahu terlebih dahulu apa arti “dengan penuh keimanan dan mengharap pahala”? Mungkin kamu berpuasa sebagaimana orang-orang berpuasa, menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan dari fajar hingga maghrib. Ketika adzan maghrib berkumandang kamu berbuka, dan ketika adzan subuh berkumandang kamu menahan diri secara otomatis. Di mana niatnya?! Di mana pengharapan pahalanya?!
Sungguh mengherankan bahwa sebagian orang bertanya-tanya, apakah harus berniat untuk puasa Ramadhan? Saya katakan: ya, harus berniat sejak malam hari. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa tidak berniat puasa sejak malam hari, maka tidak ada puasa baginya.” Niat adalah suatu keharusan.
Tinggalkanlah mekanisme otomatis dalam kehidupan ini. Mungkin ada yang mengatakan: saya mendengar sebagian orang berkata: sahur adalah niat. Saya katakan kepadamu: kami tidak memerintahkanmu untuk mengucapkan: “Saya niat berpuasa sehari dari hari-hari Ramadhan, wajib atas saya, karena Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.” Ini adalah bid’ah. Namun yang saya inginkan adalah: hendaknya hatimu menghadirkan bahwa kamu akan berpuasa karena Allah.
Mengapa? “Dengan keimanan” artinya penyerahan diri kepada Sang Raja Subhanahu wa Ta’ala; ya Rabbi, Engkau memerintahkanku untuk berpuasa maka aku berpuasa.
“Dan mengharap pahala” artinya: kamu mengharapkan pahala di sisi Allah. Masalah ini telah membuatku bingung untuk beberapa waktu, dan aku berkonsultasi dengan banyak ulama yaitu: apakah pengharapan pahala merupakan syarat untuk mendapatkan pahala? Artinya, jika seseorang duduk di masjid tanpa menghadirkan niat i’tikaf, turunnya rahmat, dan niat-niat lainnya; apakah ini tidak mendapat pahala? Yang benar adalah dia tidak mendapat pahala; karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya.” Dan orang ini tidak berniat apa-apa maka tidak ada apa-apa baginya.
Maka harus menghadirkan dalam setiap amal niat mengharap pahala dan penyerahan diri pada perintah Allah.
Ya Rabbi, aku meninggalkan ini karena-Mu; untuk mengharap pahala di sisi-Mu. Ketika niat ini membanjiri dan memenuhi hatimu; saat itulah kamu mendapatkan pahala. Oleh karena itu, harus menghadirkan niat untuk mendapatkan pengampunan dosa yang telah lalu dan yang akan datang, agar dosamu diampuni. Dan ini jika menunjukkan sesuatu, maka ia menunjukkan bahwa kamu dituntut agar hatimu selalu terjaga, selalu siap sedia, mendengar dan merespons perintah-perintah syariat.
TUJUAN KETIGA: KETINGGIAN JIWA UNTUK DIMERDEKAKAN DARI NERAKA
Harus merasakan makna kemerdekaan, merasakan bahwa kamu mungkin benar-benar termasuk penghuni neraka.
Yunus bin ‘Ubaid bersedekah pada hari raya kurban dengan daging yang banyak kemudian berkata kepada pembantunya:
“Demi Allah, aku tidak melihat sedikitpun darinya diterima dariku; dan sesungguhnya demi Allah aku khawatir aku termasuk penghuni neraka.”
Imam Adz-Dzahabi berkata dalam As-Siyar: Setiap orang yang tidak khawatir akan menjadi penghuni neraka, maka dia terpedaya telah merasa aman dari tipu daya Allah terhadap dirinya. Maka jangan merasa aman wahai saudaraku dari tipu daya Allah, terutama karena kamu banyak melakukan tipu daya, dan berhati-hatilah jangan sampai kamu termasuk penghuni neraka sedangkan kamu tidak sadar.
Dan untuk terlepas dari ini, kamu harus memerdekakan dirimu dari neraka. Jika Allah pada setiap malam Ramadhan memerdekakan orang-orang dari neraka, maka betapa besar kerugianmu jika berlalu satu malam pun dari Ramadhan dan kamu tidak dimerdekakan. Dan jika kamu mengetahui bahaya neraka, panasnya yang sangat, dan beratnya siksaan, maka ringan bagimu untuk mempersembahkan amal-amal saleh agar menjadi sebab kamu dimerdekakan darinya. Andai kamu mengenal neraka, menyadari bahayanya, dan mengetahui bahwa di hadapanmu ada kesempatan untuk dimerdekakan darinya; pasti kamu akan mengorbankan yang mahal dan berharga untuk mendapatkan kemerdekaan ini, dan hal ini akan menjadi perhatianmu sepanjang bulan. Ya Allah, merdekakanlah leher-leher kami dari neraka ya Rabbi.
TUJUAN KEEMPAT: KETINGGIAN JIWA UNTUK BANGKIT DARI KEPADATAN MATERI DAN URUSAN PERUT DAN KEMALUAN
Ibnu Qayyim berkata dalam kitab “Zaad Al-Ma’ad” dalam bab Pengobatan Nabawi: “Sesungguhnya puasa adalah perisai dari penyakit-penyakit jiwa, hati, dan jasad. Dan perisai artinya perlindungan.” Oleh karena itu, harus berniat dengan puasa agar hatimu disembuhkan dari cinta dunia, dan jadikan itu sebagai tujuanmu dalam berpuasa, dan jiwa kamu terangkat dari urusan perut dan kemaluan, dari tanah liat, dari bumi, dari makanan jasmani.
TUJUAN KELIMA: MENEGAKKAN KEDAULATAN ALLAH ATAS DIRI
Sesungguhnya manusia dalam kehidupan biasanya hidup dalam kelalaian yang sangat, dia mengikuti dirinya dalam segala yang diinginkannya: dirinya meminta makanan maka dia makan, menginginkan minuman maka dia minum, condong untuk keluar maka dia keluar, dan seterusnya. Maka diri menjadi liar dan melampaui batas. Ketika Ramadhan datang dan manusia mencegah dirinya dari kenikmatan yang halal; maka manusia harus merasakan makna ini: menegakkan kedaulatan Allah atas diri. Artinya: merasakan bahwa dirinya bukanlah yang memerintah, melarang, melampaui batas, dan menguasai, melainkan ia adalah hamba yang diperintah, pelayan yang taat dan patuh kepada Sang Raja Yang Maha Besar Subhanahu. Dia berkata: makan pada waktu ini dan tinggalkan pada waktu itu, maka dia mendengar dan taat serta tidak berhak untuk menentang. Sesungguhnya merasakan makna ini dan membuat diri merasakan pahitnya kehinaan dan ketaatan mutlak kepada Allah, bahwa dia tidak ditaati melainkan taat, dan sesungguhnya dia harus merespons semua yang diperintahkan adalah tujuan dan sasaran dari Ramadhan dan diwajibkannya puasa serta berlangsung selama tiga puluh hari. Dan seharusnya tujuan ini dipantau agar kita keluar darinya dari bulan yang mulia ini.
TUJUAN KEENAM: MENEGAKKAN KONSTITUSI AKHLAK
Sebagian mereka berkata: Agama itu seluruhnya adalah akhlak. Barangsiapa melebihi kamu dalam akhlak, maka dia melebihi kamu dalam agama. Dan bulan Ramadhan adalah bulan takwa, bulan akhlak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Puasa adalah perisai. Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah berkata kotor, berbuat keji, berteriak-teriak, dan berlaku bodoh. Jika ada yang mencacinya atau memeranginya, maka hendaknya berkata: sesungguhnya aku sedang berpuasa.”
Menjaga konstitusi akhlak Islam selama sebulan penuh dengan tidak mengucapkan kata-kata yang bertentangan dengan syariat, mengendalikan emosinya, dan selalu mengingat keterlibatannya dalam ibadah dengan mengucapkan kepada yang memeranginya: “Sesungguhnya aku sedang berpuasa”, adalah sekolah pendidikan yang agung. Kita jadikan ini sebagai tujuan yang kita bawa keluar dari Ramadhan.
TUJUAN KETUJUH: LATIHAN UNTUK ISTIKAMAH
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling istikamah meskipun sedikit.” Oleh karena itu, amalan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam terus menerus. Sesungguhnya bencana amal adalah terputus, terhenti, dan meninggalkan amal. Dan dalam bulan ini melatih diri untuk terus melakukan amal saleh. Ini tiga puluh hari berpuasa, dan tiga puluh malam shalat malam; agar diri terbiasa dengan amal lalu terus melakukannya selamanya.
Ini beberapa tujuan, dan ada sekitar dua puluh lima macam tujuan, namun kami mempersingkatnya. Ini adalah tujuan-tujuannya wahai saudara-saudaraku, lalu apa jalan untuk mencapai tujuan-tujuan ini?
Kedua: Jalan Untuk Mencapai Tujuan
Wahai saudara-saudara, harus mempersiapkan persiapan, dan itu dengan sebagai berikut:
Pertama: Mengurangi jam tidur.
Kedua: Mengurangi jumlah makanan sedapat mungkin.
Ketiga: Mengurangi berbicara.
Keempat: Mengurangi pergaulan dengan manusia.
Artinya secara keseluruhan: Membuang racun-racun hati yang berbahaya. Sesungguhnya program yang akan kita susun untuk mencapai tujuan-tujuan ini tidak akan mampu dilakukan oleh orang yang tidur sepuluh jam atau delapan jam atau enam jam dalam semalam di bulan Ramadhan. Cukup bagimu di Ramadhan untuk tidur empat jam saja. Saya dan kamu tahu bahwa banyak orang dunia tidur kurang dari itu. Tanyalah siswa SMA berapa jam mereka tidur pada hari-hari ujian? Kamu akan mendapatinya berkata: dua jam paling banyak, ini kenyataan.
Dan ini semua demi mendapatkan ijazah SMA, sedangkan kamu menginginkan surga, mana yang lebih berharga?! Berapa yang kamu bayar untuk masuk surga?! Sesungguhnya kami tidak menginginkan darimu selain mengorbankan sedikit tidur, makanan, bicara, dan pergaulan. Berkorbanlah! Dan jika kamu tidak berkorban di Ramadhan, maka kamu tidak akan pernah berkorban. Bukankah begitu?! Harus mengorbankan sebagian tidur. Kita akan mencukupkan hanya dengan empat jam tidur dalam sehari semalam, dan dua puluh jam bekerja bersama Allah. Jika kamu punya kesiapan, mari singsingkan lengan baju dengan sungguh-sungguh, jika tidak maka jangan beranjak dari tempatmu, dan tunggulah nasib para pemain.
Tujuan-tujuan yang telah kami sebutkan adalah tujuan yang berharga. Dan dengan ini umat dibentuk di Ramadhan. Dan jika tidak dibentuk dengan ini di Ramadhan, maka tidak akan pernah terwujud. Sesungguhnya kita membutuhkan percobaan: apakah umat kita layak untuk mendapat pemberdayaan atau tidak. Mari kita mulai program dengan izin Allah, tetapi apakah kamu siap untuk berjuang, apakah kamu siap untuk mengorbankan seluruh umurmu?! Minta tolonglah kepada Allah dan katakan: ya, insya Allah.
Spiritualitas Orang Yang Berpuasa
Rencana hari ramadhan
Dan menyiapkan leher untuk dimerdekakan
Rencana hari di ramadhan
Hari dalam kehidupan orang yang berpuasa
Permulaan: Berkah Hari
Datang Lebih Awal ke Shalat Subuh dan Mendengar Adzan di Masjid:
Dan datang lebih awal memiliki keutamaan dan berkahnya. Tetapi sangat disayangkan! Kamu mendapati banyak orang terutama saudara-saudara yang taat tidak datang lebih awal ke masjid kecuali karena ada ulama terkenal yang akan mereka dengarkan; maka dia terpaksa datang lebih awal untuk melihatnya, mendekat dengannya, dan bersalaman dengannya. Tetapi dia tidak datang lebih awal karena Allah. Adapun masjid yang dia shalat di dalamnya di lingkungannya, maka dia terlambat untuk shalat Jumat dan jamaah, datang di tengah khutbah, atau duduk dekat dengan pintu; agar kepergiannya dari masjid cepat setelah khatib selesai. Aku memohon kepada Allah agar memberi petunjuk kepada kami dan kepada mereka, dan bertaubat kepada kami dan kepada mereka.
Wahai saudara-saudara, perhatikanlah! Kita ingin datang lebih awal ke shalat subuh, dan mendengar adzan sementara kita di masjid. Dan ada banyak manfaat untuk datang lebih awal ke masjid dan menunggu shalat, di antaranya:
- Mengikuti adzan dan berdoa setelahnya.
- Menjaga shalat jamaah.
- Menjaga takbiratul ihram.
- Mendapatkan shaf pertama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sekiranya manusia mengetahui apa yang ada pada adzan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan undian, pasti mereka akan mengundi.” Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang pertama dan seburuk-buruknya adalah yang terakhir.” Subhanallah!! Kamu shalat di jamaah pertama di masjid tetapi termasuk seburuk-buruk shaf laki-laki?! Oleh karena itu, seharusnya kamu berlomba-lomba ke shaf pertama.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk shaf pertama.” Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beristighfar untuk shaf depan tiga kali, dan untuk shaf kedua satu kali, kemudian diam dan berpaling dan shalat.
Oleh karena itu, masalah mengharap pahala memerlukan penelitian. Carilah keutamaan-keutamaan amal. Dan ada kitab tentang keutamaan amal karya Al-Maqdisi, kembalilah kepadanya, kamu akan mendapatkan kebaikan yang banyak dengan izin Allah.
- Mendapatkan bagian kanan shaf. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk yang berada di sisi kanan shaf-shaf.”
- Mendapatkan mengaminkan di belakang imam dalam shalat jahr (bersuara). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila imam mengucapkan: dan bukan (jalan) orang-orang yang sesat, maka ucapkanlah amin; sesungguhnya barangsiapa ucapannya bertepatan dengan ucapan malaikat, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Saya katakan: alangkah ruginya jika Allah tidak mengampuni kita! Karena ini masalah yang sangat mudah yaitu hanya dengan mengucapkan: amin dengan tepat di belakang imam bersama imam, maka dosamu diampuni. Lalu apa yang menghalangimu?! Dan janji-janji pengampunan dosa yang telah lalu sangat banyak. Setelah semua ini jika tidak diampuni bagimu, bagaimana dan kapan diampuni bagimu?! Allah Ta’ala berfirman: “Maka barangsiapa mendapat petunjuk, maka sesungguhnya dia mendapat petunjuk untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barangsiapa sesat, maka sesungguhnya dia tersesat atas (kerugian) dirinya sendiri.” (Yunus: 108). Dan Allah Jalla Jalaluhu berfirman: “Barangsiapa berbuat kebajikan, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa berbuat kejahatan, maka (dosanya) atas dirinya sendiri. Dan Tuhanmu tidak menzalimi hamba-hamba (Nya).” (Fushshilat: 46).
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu surga ya Rabbi.
(7) Datang lebih awal ke masjid memungkinkan Anda untuk melakukan shalat-shalat sunnah yang disyariatkan antara adzan dan iqamah.
(8) Datang lebih awal ke shalat merupakan bukti bahwa hati terikat dengan masjid-masjid. Di antara tujuh golongan yang akan dinaungi Allah dengan naungan Arasy-Nya adalah “seorang laki-laki yang hatinya tergantung pada masjid-masjid”. Jika waktu shalat telah tiba, maka pergilah dengan segera ke masjid. Said bin al-Musayyib radhiyallahu anhu berkata:
Selama empat puluh tahun, tidak ada seorang muadzin pun yang mengumandangkan adzan untuk shalat lima waktu kecuali aku sudah berada di masjid, Subhanallah! Empat puluh tahun wahai orang yang tidak mampu melakukannya selama empat puluh hari. Sesungguhnya amal saleh itu memiliki pahala dan keistiqamahan pun memiliki pahala. Hati yang tergantung pada masjid tidak akan meninggalkannya, bahkan ia senang berlama-lama di dalamnya dan bersegera untuk kembali kepadanya.
(9) Datang lebih awal ke masjid dan menunggu shalat adalah sebab untuk hadirnya hati dan menghadapkan diri seseorang kepada shalatnya, dan perkara ini adalah inti dari shalat. Semakin lama ia berada di masjid dan berdzikir kepada Allah, maka akan hilang kesibukan-kesibukan dan urusan-urusan duniawinya, dan ia akan menghadapkan diri kepada bacaan dan dzikir yang sedang dilakukannya.
Bagaimanapun banyaknya kekhawatiran dan masalah yang Anda miliki di pekerjaan, dengan keluarga, dan dengan istri, maka shalatlah dua rakaat {bersujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)} (Surah Al-Alaq: 19). Anda akan terangkat dari kekhawatiran-kekhawatiran duniawi dan terbang tinggi di langit ketaatan. Adapun jika Anda datang terlambat ke shalat, maka luputlah semua keutamaan dan kebaikan ini dari Anda.
Maka menghadaplah kepada shalat dengan lebih awal, dan duduklah antara adzan dan iqamah agar Allah menghapus kekhawatiran-kekhawatiranmu dengan dzikir dan shalat serta menghadapkan seluruh dirimu kepada Allah. Sesungguhnya orang yang datang terlambat ke shalat, hatinya akan tetap sibuk dengan kekhawatiran-kekhawatiran dunia yang dihadapinya selama shalat. Oleh karena itu, Anda akan melihat bahwa orang-orang yang paling awal masuk ke masjid adalah orang-orang yang paling akhir keluar, dan sebaliknya, dan itu tidak lain karena apa yang telah saya sebutkan kepada Anda.
(10) Orang yang datang lebih awal ke shalat dapat membaca Al-Quran antara adzan dan iqamah. Saya telah menyebutkan kepada Anda berulang kali bagaimana Anda dapat mengkhatamkan Al-Quran setiap tiga hari, yaitu dengan datang lebih awal ke shalat dan membaca satu juz sebelum shalat antara adzan dan iqamah, dan setelah shalat Anda membaca satu juz lagi. Jadi Anda membaca dua juz dalam setiap shalat, dalam lima waktu shalat Anda telah membaca sepuluh juz, maka Anda akan mengkhatamkan Al-Quran dalam tiga hari.
(11) Orang yang datang lebih awal ke shalat dapat berdoa antara adzan dan iqamah. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Doa antara adzan dan iqamah tidak akan ditolak”. Demikian pula Anda dapat melakukan dzikir pagi dan petang setelah Subuh dan sebelum Maghrib.
(12) Sesungguhnya orang yang datang ke shalat lebih awal biasanya datang dengan tenang dan berwibawa sehingga ia melaksanakan perintah Nabi shallallahu alaihi wasallam dan mendapatkan kecintaan beliau. Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika shalat telah didirikan maka janganlah kalian mendatanginya dengan berlari, tetapi datangilah dengan berjalan dan dalam keadaan tenang, maka shalatlah apa yang kalian dapati dan sempurnakan apa yang terlewat”. Dan dalam riwayat lain: “Jika kalian mendatangi shalat maka datangilah dengan tenang dan berwibawa”. Orang yang datang ke shalat lebih awal akan datang dengan berjalan, sedangkan orang yang datang terlambat akan datang dengan tergesa-gesa.
Ini adalah beberapa manfaat datang lebih awal ke shalat, dan datang lebih awal itu berlaku untuk semua shalat, tetapi saya khususkan untuk menyebut shalat Subuh dan Maghrib. Dan saya ingin mengingatkan Anda agar bangun untuk shalat Subuh karena Allah dan bukan karena pekerjaan atau untuk sahur dan makan minum atau yang lainnya, tetapi karena Allah semata, karena Allah Taala berfirman dalam hadits qudsi: “Aku adalah Yang paling tidak membutuhkan sekutu dari kesyirikan. Barangsiapa yang beramal dan mempersekutukan-Ku dengan yang lain, maka Aku tinggalkan dia beserta sekutunya” atau “maka itu adalah untuk yang dipersekutukan”. Maka amal, baik sedikit maupun banyak, jika ada sebagiannya untuk selain Allah, maka Allah Mahasuci lagi Mahaagung tidak akan menerimanya. Maka bangunlah untuk Subuh karena Allah, dan jangan bangun karena selain Allah, karena Allah tidak menerima amal kecuali yang dilakukan dengan ikhlas karena-Nya dan untuk mengharapkan wajah-Nya.
Dan keluarlah untuk shalat dengan tidak menginginkan selain shalat agar Anda mendapatkan pahala yang sempurna. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian berwudhu kemudian menyempurnakan wudhunya, lalu keluar menuju masjid dengan tidak ada yang mendorongnya kecuali shalat, maka kaki kirinya akan terus menghapus kesalahan dan kaki lainnya menuliskan kebaikan hingga ia masuk masjid”.
Dalam shalat Subuh setelah Anda sampai di masjid shalatlah dua rakaat saja dan jangan menambah lebih dari dua rakaat, karena Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang untuk shalat antara adzan dan iqamah pada Subuh kecuali dua rakaat sunnah. Kemudian hadirkanlah kekhusyukan dan ketenangan serta berdoalah, karena bacaan Al-Quran di waktu Subuh disaksikan, para malaikat menyaksikannya, dan Allah Subhanahu wa Taala turun pada sepertiga malam terakhir dengan turun yang sesuai dengan keagungan-Nya hingga shalat Subuh selesai.
Mayoritas para mufassir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan bacaan Subuh dalam firman Allah Taala: {dan (shalat) Subuh. Sesungguhnya (shalat) Subuh itu disaksikan (oleh malaikat)} (Surah Al-Isra: 78), adalah Al-Quran yang dibaca dalam shalat, untuk mempersiapkan hatimu bagi bacaan Subuh.
Pertahankanlah panasnya kekhusyukan setelah shalat, yaitu dengan berada di masjid selama mungkin setelah shalat. Anda harus beri’tikaf hingga terbitnya matahari dan setelah matahari terbit dua puluh menit kemudian shalatlah dua rakaat. Apa yang harus Anda lakukan setelah shalat Subuh hingga terbitnya matahari?
Pertama: Anda membaca dzikir pagi
Kedua: Anda membaca wirid Al-Quran Anda.
Ketiga: Lima kata.
Anda harus membiasakan diri Anda untuk ini, untuk berada di masjid selama mungkin. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah jika telah menunaikan shalat Subuh akan menghadapkan wajahnya ke dinding di mihrabnya hingga Dhuha dan tidak berpaling sambil berkata: Inilah sarapan pagiku, jika aku meninggalkannya maka lemahlah kekuatanku. Artinya ini adalah makananku, jika aku tidak melakukannya maka aku akan mati.
Oleh karena itu saya katakan kepada Anda: Jika Anda duduk di masjid setelah shalat Subuh maka dilarang berbicara, dilarang berinteraksi dengan siapa pun, dilarang sibuk dengan sesuatu selain dzikir, jangan berpaling, jangan melihat kepada siapa pun, hadapkan wajahmu ke dinding, bacalah dzikir, dan bacalah wirid Al-Quranmu. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang shalat Subuh berjamaah, kemudian duduk berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit, kemudian shalat dua rakaat, maka baginya seperti pahala haji dan umrah yang sempurna, sempurna, sempurna”. Dan jangan lupakan lima kata yang merupakan wasiat-wasiat penting yang harus dilakukan: Musyaratah (persyaratan), Muraqabah (pengawasan), Mujahadah (perjuangan), Muhasabah (introspeksi), Muatabah (teguran), dan Muaqabah (hukuman).
Pertama: Musyaratah (Persyaratan):
Yaitu Anda membuat persyaratan dengan dirimu sendiri dan berkata kepadanya: Wahai diriku, kita memiliki modal yaitu umur, dan kita memiliki alat-alat yaitu anggota tubuh, dan yang dituntut adalah kita berdagang dengan Allah dan mendapatkan keuntungan terbesar yaitu surga. Jika engkau mampu -wahai diriku- untuk mengambil modal dan alat-alat kemudian memberiku setelah itu surga maka lakukanlah, jika tidak maka tidak. Jika dirimu membangkang kepadamu maka wajibkanlah ia untuk berada di masjid sebagai hukuman untuknya. Muhammad bin al-Munkadir biasa duduk di masjid berselisih dengan dirinya sendiri, ia berkata kepadanya: Mengapa engkau suka keluar dari rumah Tuhanmu?! Apakah engkau ingin melihat rumah si anu dan rumah si anu?! Demi Allah, tidak ada untukmu kecuali perempuan tua ini (maksudnya istrinya), demi Allah tidak ada makanan untukmu kecuali remahan roti ini, dan tidak ada minuman untukmu kecuali tegukan air masjid ini. Apakah engkau rela atau engkau ingin mati? Ia berkata: Maka aku melihatnya berkata: Aku rela.. aku rela. Maka begitulah lakukanlah dengan dirimu, tetapi diri itu penipu, selalu menyuruh kepada kejahatan, ia menyetujuimu secara lahir namun ingin menyelisihi dan menolak apa yang engkau persyaratkan kepadanya, maka datanglah kata kedua yaitu Muraqabah (pengawasan).
Kedua: Muraqabah (Pengawasan):
Awasilah dirimu dan jadilah pengawas atas tindakan-tindakanmu, dan jangan beri kesempatan kepada diri untuk melepaskan diri darimu. Sesungguhnya Anda mungkin keluar dari masjid lalu matamu jatuh pada seorang wanita yang bertabarruj, maka berjuanglah melawan dirimu dan cegahlah ia dari melihat dan katakan kepadanya: Bukankah kita telah mensyaratkan surga?! Salah seorang salaf berjalan di jalan lalu matanya jatuh pada seorang wanita, maka ia memukul matanya hingga bengkak dan ia terus berkata: Kenapa aku melihatmu menatap kepada yang tidak halal untukmu. Maka awasilah dirimu, kendalikan dan cegah ia dari yang tidak halal baginya, ambillah kendalinya dan paksa ia untuk tetap di jalan yang lurus, dan jangan lengah darinya agar engkau selamat.
Ketiga: Mujahadah (Perjuangan):
Dan yang paling berat adalah jihad melawan diri. Ia terikat dengan ikatan jasad, terikat dalam jasad ini, kemudian ia terikat dengan ikatan penghambaan, kemudian Anda mengancamnya dengan ikatan ketiga yaitu ikatan berada di masjid. Maka diri membutuhkan perjuangan, dan perjuangan ini membutuhkan kesabaran dan keteguhan menghadapi keangkuhan diri dan pelepasan dirinya. Berjuanglah melawannya agar ia tidak menyia-nyiakanmu dan berjalan di jalan neraka, berjuanglah melawannya semampumu.
Keempat: Muhasabah (Introspeksi):
Harus dilakukan introspeksi diri. Allah Subhanahu wa Taala berfirman: {Pada hari ketika setiap jiwa mendapati segala kebajikan yang telah dikerjakannya terbentang (di hadapannya), dan begitu pula semua kejahatan yang telah dikerjakannya, ia berharap agar antara dirinya dengan kejahatan itu ada jarak yang sangat jauh. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap (azab) diri-Nya} (Surah Ali Imran: 30), dan Dia Mahasuci berfirman: {Sungguh, Kami telah memperingatkan kamu dengan azab yang dekat, pada hari ketika manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya} (Surah An-Naba: 40). Engkau akan melihat amalmu dengan matamu dan mendengarnya dengan telingamu, oleh karena itu Anda harus duduk dengan dirimu dan melihat amal-amalmu untuk memperbaikinya sebelum engkau melihatnya di hari kiamat. Tulislah amal-amalmu dan letakkan di hadapanmu, dan katakan kepada dirimu: Apakah engkau senang bertemu Tuhanmu dengan lembaran ini?! Apakah engkau akan menerima lembaran amalmu dengan tangan kanan atau dengan tangan kiri?! Apakah dengan ini engkau masuk surga ataukah masuk neraka?! Apakah ini yang membuat Allah ridha kepadamu ataukah murka kepadamu?! Dan inilah teguran terhadap diri dan memarahinya agar ia mengetahui hakikat dan kadarnya.
Kelima: Muatabah dan Muaqabah (Teguran dan Hukuman):
Yaitu dengan menegur dirimu, mendidiknya, dan menghukumnya dengan mencegahnya misalnya dari sebagian perkara mubah sebagai pendidikan dan teguran, sebagai pembinaan dan pendidikan, atau menghukumnya dengan mewajibkannya istighfar sepuluh ribu kali dan mencegahnya dari tidur, menghukumnya dengan makan roti kering tanpa lauk-pauk dan minum setelah roti hanya air saja. Sebagian salaf ingin mengobati dirinya dari ghibah tetapi ia tidak mampu mengobatinya setelah mencoba beberapa pengobatan dengannya, kemudian ia menghukumnya dengan jika ia menggunjing seseorang maka ia bersedekah. Setiap kali ia menggunjing seseorang ia bersedekah, hingga ia berkata: Maka cinta dinar mengalahkanku sehingga aku meninggalkan ghibah. Maka hukumlah dirimu mudah-mudahan engkau mampu mengendalikan kendalinya.
Kelanjutan Amal:
Kemudian setelah itu ada shalat Dhuha maka shalatlah dua rakaat atau empat atau enam atau delapan, kemudian keluarlah dari masjid. Jika ada waktu untuk tidur atau pergi ke pekerjaan maka pergilah. Kemudian menjaga dzikir-dzikir yang sudah ditentukan seperti dzikir masuk masjid dan keluar darinya, masuk rumah dan keluar darinya, dzikir tidur, doa makan dan minum, doa berkendara. Dan dalam hal ini Anda harus membaca kitab Hisnul Muslim karya al-Qahtani, atau kitab Mukhtashar an-Nashihah fi al-Adzkar wa al-Ad’iyah ash-Shahihah.
Jika Anda pergi ke pekerjaan maka ketahuilah bahwa Anda dalam ibadah sejak saat Anda berniat puasa ketika terbit fajar, seolah-olah Anda masuk shalat dengan takbiratul ihram, maka jangan sekali-kali hatimu berpaling dari Allah selama siang hari.
Ya: Sesungguhnya niat puasa saat fajar bagaikan takbiratul ihram, maka Anda sejak saat itu berada dalam ibadah ini -yaitu puasa- melaksanakannya, maka jangan palingkan hatimu darinya. Tidak pantas Anda berada dalam ibadah lalu berdusta atau berghibah atau namimah atau melihat wanita yang bertabarruj. Oleh karena itu sebagian salaf berkata: Yang paling ringan dari puasa adalah meninggalkan makan dan minum. Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhu berkata: Jika engkau berpuasa maka hendaklah pendengaranmu, penglihatanmu, dan lisanmu ikut berpuasa dari dusta, tinggalkanlah menyakiti tetangga, hendaklah ada wibawa dan ketenangan padamu, dan janganlah engkau menjadikan hari puasamu dan hari berbukamu sama.
Hendaklah pendengaranmu berpuasa dari yang haram, berpuasa dari lagu-lagu dan ghibah, berpuasa dari kemunafikan dan namimah, berpuasa dari keburukan dan kekejian, berpuasa dari mencela, mencaci, dan melaknat. Hendaklah pendengaranmu berpuasa dari mendengar segala yang memurkai Allah Azza wa Jalla. Dan hendaklah penglihatanmu berpuasa dari melihat wanita-wanita yang bertabarruj di jalan-jalan, di majalah-majalah, di film-film dan sinetron, di acara tebak-tebakan dan sandiwara, di internet dan saluran satelit. Hendaklah penglihatanmu berpuasa dari hasad dan meremehkan orang. Hendaklah penglihatanmu berpuasa dari melihat harta dunia. Hendaklah penglihatanmu berpuasa sehingga tidak melihat kecuali kebaikan dan cahaya.. tidak melihat kecuali Al-Quran.. tidak melihat kecuali halaman alam semesta yang terlihat yang menambahmu dalam keimanan, keyakinan, ketakutan, dan pengagungan kepada Allah Mahasuci lagi Mahaagung.
Sesungguhnya kamu akan mendapati sebagian orang berpuasa dari yang halal dan berbuka dengan yang haram. Ia berpuasa dari istrinya yang halal dan berbuka pada wanita-wanita di jalan-jalan. Ia berpuasa dari makanan halal dan memakan daging saudaranya dalam keadaan mati dengan ghibah dan namimah (adu domba) padahal itu haram. Ia duduk di depan televisi lalu melihat wanita-wanita telanjang dan mendengar kebohongan dan keburukan. Saudaraku sekalian, berhati-hatilah! Sesungguhnya kemaksiatan di bulan Ramadan berbeda dengan kemaksiatan di bulan lainnya, dan ketaatan di bulan Ramadan berbeda dengan ketaatan di bulan lainnya. Waktu-waktu yang diagungkan memiliki keagungan dan kehormatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang bulan-bulan haram: “Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan-bulan itu” (Surah At-Taubah: 36), sebagai pengagungan terhadap bulan-bulan tersebut.
Oleh karena itu, di antara tanda-tanda taufik adalah datangnya ketaatan dan menjauhinya kemaksiatan. Dan di antara tanda kehinaan adalah datangnya kemaksiatan dan memberatkan ketaatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan ketakwaan kepada mereka” (Surah Muhammad: 17).
Bulan Al-Quran:
Kemudian perhatikanlah bahwa Ramadan adalah bulan Al-Quran, maka sepantasnya amal diperlipat gandakan di bulan ini. Kamu harus memfokuskan dan memperbanyak di bulan ini membaca Al-Quran.
Saudaraku yang tercinta, bukankah kamu mencintai Allah? Lalu mengapa tidak memperbanyak membaca firman-Nya?
Seandainya kamu mencintai Allah, pasti kamu menaati-Nya. Dan aku katakan kepadamu: Ya, dan bukan syarat orang yang mencintai adalah maksum (terbebas dari dosa), tetapi syaratnya adalah setiap kali ia tergelincir, ia harus segera memperbaiki noda tersebut.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu” (Surah Al-Baqarah: 185). Seolah-olah keberadaan Al-Quran mendahului pembebanan ibadah, seolah-olah dikatakan: Rayakanlah Al-Quran… Luangkan waktu untuk membaca Al-Quran… Tetapi sangat disayangkan, kaum muslimin hari ini justru meluangkan waktu untuk turnamen sepak bola Ramadan, menonton sinetron, membuat makanan dan kunafah. Sungguh mengherankan! Allah meluangkan waktu bagi kita untuk membaca kitab-Nya, tetapi kita malah berpaling darinya!!
Keadaan salaf dalam Ramadan bersama Al-Quran sungguh menakjubkan. Aku akan menyebutkan keadaan Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, beliau khatam Al-Quran di bulan Ramadan sebanyak enam puluh kali. Dalam sehari beliau khatam dua kali, khatam di malam hari dan khatam di siang hari. Oleh karena itu, Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah mengomentari hadits bahwa “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang membaca Al-Quran kurang dari tiga hari”, bahwa diperbolehkan di tempat-tempat utama dan waktu-waktu utama membaca Al-Quran kurang dari tiga hari, sebagaimana hal ini diriwayatkan dari banyak salaf dan para sahabat. Diriwayatkan dari Utsman radhiyallahu ‘anhu bahwa ia khatam Al-Quran dalam satu rakaat witir yang dilakukannya di Hijir (dekat Ka’bah).
Ibnu Rajab berkata: Para salaf membaca Al-Quran di bulan Ramadan dalam shalat dan selainnya.
Al-Aswad khatam Al-Quran di bulan Ramadan setiap dua malam, dan ia khatam di luar Ramadan setiap enam malam.
Qatadah khatam Al-Quran setiap tujuh malam sekali. Jika datang Ramadan, ia khatam setiap tiga malam sekali. Jika datang sepuluh malam terakhir, ia khatam setiap malam.
An-Nawawi berkata: Ibnu Abi Dawud meriwayatkan dengan sanad shahih bahwa Mujahid rahimahullah khatam Al-Quran di bulan Ramadan antara waktu Maghrib dan Isya. Mereka mengakhirkan shalat Isya di bulan Ramadan hingga seperempat malam berlalu.
Ibnu Al-Hakam berkata: Imam Malik jika masuk Ramadan, ia meninggalkan pembacaan hadits dan majlis-majlis ahli ilmu.
Sufyan Ats-Tsauri jika masuk Ramadan, ia meninggalkan semua ibadah dan fokus pada membaca Al-Quran. Aisyah radhiyallahu ‘anha membaca mushaf di awal siang di bulan Ramadan, jika matahari terbit, ia tidur.
Ibnu Mas’ud berkata: Sepantasnya pembaca Al-Quran dikenal dengan malamnya ketika orang-orang tidur, dan siangnya ketika orang-orang berbuka, dan tangisannya ketika orang-orang tertawa, dan wara’nya ketika orang-orang mencampur aduk, dan diamnya ketika orang-orang bergunjing, dan khusyuknya ketika orang-orang angkuh, dan kesedihannya ketika orang-orang bergembira.
Abu Al-Husain Muhammad bin Ali, sahabat Al-Junaid berkata: Aku menemani Abu Al-Abbas bin Atha’ beberapa tahun sambil belajar adab darinya. Beliau setiap hari khatam Al-Quran, dan setiap bulan Ramadan dalam setiap siang dan malam tiga kali khatam.
Di mana kita dibandingkan mereka!!
Maka hendaklah Al-Quran menguasai sebagian besar waktumu di siang hari dengan membaca, merenungi, dan tartil.
Bersemangatlah untuk selalu khatam, jangan lepaskan mushaf dari tanganmu sama sekali. Adapun jika kamu sedang bekerja, maka lazimlah berdzikir dan jangan pernah berhenti sama sekali.
Waspadalah Terhadap Orang-Orang yang Memakan Waktumu:
Setelah kamu pergi ke kampus atau pekerjaanmu, kamu akan menemui orang yang menemuimu lalu berkata kepadamu: Apakah kamu mendengar teka-teki kemarin? Ayo bermain agar kita menghibur puasa kita… Apakah kamu melihat sinetron itu? Apakah kamu melihat pertunjukan teater itu?… Ia ingin menyia-nyiakan waktumu dan menghalangimu dari ketaatan kepada Tuhanmu, karena hatinya kosong maka ia ingin kamu menjadi seperti dia. Dan yang paling buruk bagi hati adalah bergaul dengan manusia. Oleh karena itu, aku ingin kamu—wahai yang tercinta—mengalihkan pembicaraan untuk kepentingan agama, mengubah majlis ghibah, namimah, dan sia-sia menjadi majlis dzikrullah. Jika ia berkata kepadamu: Apakah kamu melihat sinetron itu? Maka katakan kepadanya: Apakah kamu mendengar bahwa Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku” (Surah Al-Baqarah: 186). Dengan begitu ia akan menjauh darimu atau kamu telah memberinya manfaat dan menyebarkan kebaikan serta menyeru kepada petunjuk. Jika ia membaca sepuluh ayat, maka seolah-olah kamu yang membacanya. Tetapi aku ingin kamu menyelamatkan dirimu… beribadah kepada Allah sendirian dengan sungguh-sungguh dan aktif. Sudah bertahun-tahun berlalu dan kamu terus menunda-nunda. Maka inilah Ramadan telah datang, jangan sia-siakan waktumu. Tidak ada kesempatan untuk menyia-nyiakan waktu. Dan jika seorang gadis mengulurkan tangannya kepadamu untuk bersalaman, katakan kepadanya: “Sesungguhnya aku tidak bersalaman dengan wanita” sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. Jika kamu mengatakan itu, maka kamu akan terbebas dari masalah ini selamanya.
Waspadalah menyia-nyiakan Ramadan dengan bercanda. Tinggalkanlah tertawa, main-main, dan menyia-nyiakan waktu dengan lelucon dusta yang buruk dan mungkar. Seharusnya kesedihan menyelimutimu karena kamu takut akan dosa-dosamu dan takut akan hari ketika ubun-ubun beruban. Apakah kamu sanggup tertawa di hari itu sedangkan Allah berfirman: “Dan tidak ada seorangpun dari kamu melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan” (Surah Maryam: 71). Aku ingin kamu menahan diri dari tertawa dan bercanda sedikit… Kurangilah semampumu.
Kebalikan dari yang Diharapkan:
Demikian juga kurangi makan. Musibahnya adalah orang-orang menjadikan Ramadan sebagai musim makan. Allah mensyariatkan puasa untuk menahan diri dari makan di siang hari, tetapi orang-orang justru berlebihan di malam hari. Kamu akan mendapati biaya makanannya di bulan Ramadan dua kali lipat dari bulan lainnya. Jika kamu katakan kepadanya: Sesungguhnya kamu makan di luar Ramadan tiga kali sehari, dan di Ramadan hanya dua kali, maka mengapa kamu tidak menjadikan yang ketiga untuk orang-orang miskin? Ia akan menjawab: Dari mana? Aku berhutang di bulan Ramadan demi makanan…
Inilah kenyataan pada kebanyakan orang. Mereka berpuasa dari makanan di siang hari dan berlebihan di malam hari… Mereka berpuasa dari syahwat kemaluan di siang hari, lalu setan-setan manusia mengolok-olok mereka dengan sinetron, film, dan kuis untuk menambah syahwat mereka di malam hari. Demikianlah orang-orang mendapatkan kebalikan dari tujuan disyariatkannya puasa di bulan Ramadan. Syahwat-syahwat yang Ramadan disyariatkan untuk mengobati dan mengendalikannya justru bertambah. Itulah hukuman.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah, Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya” (Surah Az-Zukhruf: 36). Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya” (Surah Al-Isra’: 16). Oleh karena itu, aku katakan kepadamu: Lupakan tertawa dan bicara di siang hari Ramadan. Tutup mulutmu dan tuliskan padanya: (Ditutup untuk perbaikan dan akan dibuka di akhir Ramadan insya Allah)… Biasakanlah dirimu berjuang. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu meletakkan kerikil di atas lidahnya untuk memberatkan lidahnya agar tidak berbicara.
Keluarlah untuk bekerja sambil berdzikir… Aku ingin kamu menghitung dzikir agar termotivasi. Ucapkan Sayyidul Istighfar lima ratus kali… Ucapkan seratus-seratus… Ucapkan seratus kali. Jika kamu merasakan kelezatan dzikir, maka teruslah dan lengkapilah. Kamu tidak tahu kapan pintu kelezatan ini akan tertutup bagimu. Demikianlah pintu dzikir terbuka bagimu… Ucapkan: Subhanallahi wa bihamdihi subhanallahil ‘azhim seribu kali atau lebih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua kalimat yang ringan di lisan, berat dalam timbangan, dicintai oleh Ar-Rahman: Subhanallahi wa bihamdihi subhanallahil ‘azhim”. Dicintai oleh Ar-Rahman! Subhanallahil ‘azhim!! Allah menunjukkan kepadamu apa yang Dia cintai, kemudian kamu tidak mengucapkannya!! Ucapkan: Rabbighfir li wa tub ‘alayya innaka antat-tawwabur-rahim. Atau bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan shalawat Ibrahimiyyah atau dengan bentuk lain dari rumusan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kami shalat Subuh berjamaah, lalu duduk di masjid hingga terbit matahari, kemudian kami shalat Dhuha, kemudian kami pergi bekerja. Di tempat kerja, sibukkan dirimu dengan pekerjaanmu saja dan tekuni. Jika tidak ada pekerjaan, maka sibukkan dirimu dengan Al-Quran atau dzikir. Bahkan ketika kamu bekerja, kamu bisa bekerja dengan tanganmu, sedangkan lisan dan hatimu sibuk dengan dzikrullah. Sibukkan dirimu sepanjang harimu dengan dzikir di jalan, di mobil, di rumah, di setiap waktu sibukkan dirimu dengan dzikrullah. Jangan lengah… Jangan berhenti.
Memantau Keluarga:
Saudaraku yang tercinta, sekarang kamu pulang dari kerja. Ketika kamu memasuki rumahmu, sebelum kamu bertanya kepada istrimu tentang makanan, tanyakan tentang shalat: Apakah kamu sudah shalat Ashar? Apakah kamu sudah shalat Zhuhur? Apakah kamu sudah mengucapkan dzikir-dzikir? Berapa kali kamu beristighfar hari ini? Berapa juz yang kamu baca hari ini? Dan pantaulah anak-anakmu: Kemarilah anakku, apa yang kamu hafal hari ini? Kamu beristighfar hari ini berapa kali? Kamu bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berapa kali? Apa yang kamu doakan kepada Allah hari ini? Katakan anakku: Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa nabimu? Katakan anakku: Apa makna Islam? Apa makna yakin? Apa makna ikhlas? Belajarlah dan ajarilah anakmu dan istrimu… Ambillah mushaf dan duduklah membentuk lingkaran untuk membaca dan mempelajari Al-Quran bersama mereka.
Ya Allah, penuhilah rumah-rumah kaum muslimin dengan Al-Quran, kebaikan, dan berkah. Amin.
Rumah-rumah hari ini penuh dengan masalah karena tidak ada dzikrullah di dalamnya kecuali sedikit. Rumah-rumah penuh dengan masalah karena istri melihat suami lalai maka ia bertambah lalai… Melihat suami bermaksiat kepada Allah maka ia bertambah maksiat… Melihat suami tidak taat kepada Allah maka ia berani kepadanya.
Sebagian salaf berkata: Sesungguhnya aku melihat dosa-dosaku pada perangai kendaraanku dan istriku… Ya Allah, perbaikilah istri-istri kaum muslimin ya Rabb.
Saudaraku yang tercinta, jangan lengah bertanya tentang shalat, puasa, dzikir, dan Al-Quran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa akhirat menjadi perhatiannya, maka Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di dalam hatinya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan hina”. Duduklah bersama anak-anakmu dan istrimu sebelum Maghrib, bacalah satu juz dari Al-Quran, berkumpullah untuk berdoa bagi diri kalian dan kaum muslimin… Maka rumah akan menjadi surga. Kamu hidup di surga bersama istri dari surga dan anak-anak dari surga.
Sibukkan dirimu dengan dzikir petang hingga adzan Maghrib, kemudian berbukalah dengan tiga butir kurma, kemudian minumlah sedikit air. Ketika berbuka, jangan lupa doa dan dzikir berbuka: Dzahabazh-zhama’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insya Allah… Kami memohon kepada Allah agar memberi kami pahala dan mencatat pahala kami secara sempurna. Kemudian shalatlah sunnah Maghrib qabliyyah setelah adzan. Maka berkumpullah bagimu dua perkara: bahwa waktu antara adzan dan iqamah adalah waktu dikabulkannya doa, dan bahwa ini adalah waktu berbuka yang dikabulkan di dalamnya doa, dan bahwa kamu ketika sujud dikabulkan bagimu doa. Maka kamu mengumpulkan ketiga hal ini. Jadikanlah sebagian dari doamu adalah doa untuk umat. Ya Allah, hilangkanlah kesusahan dari seluruh umat.
Shalat Maghrib di Masjid:
Kemudian segeralah ke shalat Maghrib berjamaah di masjid. Jika adzan Maghrib dikumandangkan, berbukalah. Dibolehkan makan bersama adzan sambil menjawabnya. Jangan lupa bahwa orang yang berpuasa ketika berbuka memiliki doa yang mustajab. Kira-kira apa yang akan kamu minta dalam doa ini? Mintalah surga dan sebab-sebabnya. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu surga dan apa yang mendekatkan kepadanya dari perkataan atau perbuatan, dan kami berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa yang mendekatkan kepadanya dari perkataan atau perbuatan.
Ketika muazin mengumandangkan azan, ingatlah bahwa kamu dituntut untuk melaksanakan salat wajib. Jangan jadikan kaitan dengan azan hanya sebatas makan saja, sesungguhnya azan adalah panggilan untuk salat, hayya ‘ala shalah (marilah salat).. hayya ‘ala falah (marilah meraih kemenangan). Yang lebih baik adalah kamu pergi ke masjid sebelum azan dan berdiri menunggu salat, dan saat itu kamu mengingat hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam, dan bersungguh-sungguh dalam berdoa agar Allah menyelamatkanmu di hari itu. Manfaatnya banyak dan semuanya bermanfaat.
Sesungguhnya sebagian orang berkata: Aku akan berbuka dulu kemudian keluar untuk salat. Dan ini biasanya akan membuatnya tertinggal satu rakaat karena orang-orang tergesa-gesa dalam salat Magrib. Aku katakan: Bawalah beberapa kurma bersamamu dan pergilah ke masjid. Jika kamu bertemu seseorang di jalan maka berilah dia sebutir kurma untuk berbuka, maka bagimu pahala seperti pahalanya, dan ajaklah dia untuk salat Magrib bersamamu di masjid, dan kamu telah mengamankan dua ibadahmu yaitu puasa dan salat.
Dan itulah hobi mengamankan ibadah. Di antara manusia ada yang hobi mengamankan mobil, gedung, dan kehidupan, padahal perusahaan asuransi haram tidak boleh. Maka jadilah kamu termasuk orang yang hobi mengamankan ibadah. Ketika kamu pergi untuk salat, ajaklah seseorang bersamamu. Jika kamu keluar dari salatmu dengan lima puluh persen maka akan sempurna kekurangan ini dengan salat orang yang salat bersamamu, karena bagimu pahala seperti pahalanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mengajak kepada petunjuk maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya.”
Demikian juga ketika berpuasa, berilah berbuka kepada orang yang berpuasa maka akan ditulis bagimu pahala seperti pahala puasanya. Cobalah untuk mengamankan ibadahmu dengan menjadikan bagimu simpanan yang tertunda yang akan bermanfaat bagimu jika terjadi semacam kekurangan darimu. Berilah orang yang berpuasa sebutir kurma dan katakan kepadanya: Berbukalah dengan ini dan doakanlah aku, karena sesungguhnya bagi orang yang berpuasa ada doa yang dikabulkan, maka semoga dia mendoakanmu dan dikabulkan untuknya. Dan bersemangatlah agar setiap hari ada orang miskin yang berbuka bersamamu. Mungkin kamu berkata: Bagaimana aku berbuka bersama orang miskin dan meninggalkan keluarga dan anak-anakku? Aku katakan kepadamu: Kumpulkanlah dua kebaikan, dan buatlah dia berbuka bersama keluarganya dan kamu berbuka bersama keluargamu dengan memberikan kepadanya sebagian dari makanan yang kamu siapkan untuk dirimu dan keluargamu yang biasanya kalian makan setengahnya dan membuang sisanya. Mulai sekarang belilah wadah bertingkat yang ada wadah-wadah di atas satu sama lain dan dibawa di tangan, untuk kamu isi dengan berbagai jenis makanan setiap hari dan kamu berikan kepada orang fakir.
Berbuka yang Ideal:
Kemudian kamu kembali ke rumahmu dengan gembira dan lapang, mengucapkan salam dan memberitahukan kepada mereka tentang doa, kemudian duduklah untuk berbuka sambil mengingat nikmat Allah atasmu, menghadirkan keadaan orang yang tidak menemukan makanan, dan jangan sampai nikmat menyibukkanmu dari Yang Memberi Nikmat. Dan ingatlah bahwa Allah ta’ala memerintahkanmu untuk melihat sebelum makan: “Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pulalah) kematangannya.” (Surah Al-An’am: 99), sebelum Dia berfirman: “Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Surah Al-An’am: 141). Maka haruslah kamu melihat makananmu dan perintahkan anak-anakmu dengan itu agar kalian mensyukuri nikmat Allah, merenungkan rezeki Allah, dan merasakan nikmat Allah atas kalian. Ini adalah manfaat maka manfaatkanlah.
Kemudian ingatlah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap yang menegakkan tulang punggungnya, jika memang harus maka: sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk napasnya.” Dan aku memperingatkanmu dari melampaui batas dan keangkuhan yang terjadi di rumah-rumah kaum muslimin di bulan Ramadan dalam masalah makanan dan minuman. Allah ta’ala berfirman: “Makanlah dari rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia.” (Surah Thaha: 81). Hati-hatilah dengan keangkuhan, yaitu melampaui batas. Boleh kenyang kadang-kadang, tetapi ketahuilah bahwa jika perut penuh maka pikiran tertidur, kebijaksanaan bisu, dan anggota tubuh berhenti dari ibadah.
Jika kamu memenuhi berbuka maka malam menjadi keruh dengan tidur, dan jika kamu memenuhi sahur maka siang hari menjadi kacau dengan kemalasan. Bahkan makanlah saat berbuka sepertiga saja sampai kamu merasakan lapar saat sahur, maka kamu bangun untuk sahur sebagai ketaatan kepada perintah Allah dan mencari keridhaan-Nya, dan mencari rahmat Allah dan malaikat-Nya atas orang-orang yang makan sahur, dan juga untuk menolak rasa lapar yang terjadi, dan menguatkan diri dengan makanan untuk ketaatan agar kamu mampu bekerja di siang hari. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap yang menegakkan tulang punggungnya.” Semoga rahmat Allah tercurah atasmu dan salam wahai Rasulullah. Bulan berganti dan bulan berganti dan bulan berganti dan tidak dinyalakan di rumah-rumah keluarga Muhammad api, dan dia adalah pemimpin kami dan pemimpin seluruh makhluk shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Maha Suci Allah yang Maha Raja! Dia tetap dua bulan dan tidak merasakan di keduanya sesuatu yang telah dimasak di atas api. Lalu dengan apa dia dan istri-istrinya hidup? Mereka hidup dengan kurma dan air. Apakah kamu mampu hidup dengan kurma dan air? Mengapa tidak? Apa yang akan terjadi jika kamu melakukan itu?
Jika perutmu penuh, dan makanan hampir keluar dari tenggorokanmu, kamu akan merasa salat menjadi panjang, dan tidak akan khusyu di dalamnya, dan terpaksa keluar ke kamar mandi dan lama tinggal di dalamnya. Dan jika kamu ingin tahu kedudukanmu, lihatlah di mana Dia menempatkanmu. Oleh karena itu ringankanlah, makanlah hanya sepertiga saja, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Memilih Imam dan Masjid:
Kemudian segeralah keluar untuk salat Isya lebih awal agar berdiri di belakang imam, dan pilihlah masjid yang kamu merasa nyaman dengannya dan imam yang kamu menikmati suaranya. Menjauh dari mereka yang bernyanyi, dan menjauh dari kebisingan masjid-masjid yang terkenal, dan carilah masjid yang tenang dan bersih, dan carilah imam yang jika dia membaca kamu anggap dia takut kepada Allah ta’ala, meskipun jauh dari rumahmu. Jangan kikir karena langkah-langkah dihitung dan pahalamu dibayar.
Karena sesungguhnya ketika kamu memasuki masjid ini kamu merasakan ketenangan, dan ketika imam ini membaca kamu berharap dia tidak selesai. Carilah ini semoga dia mendapat rahmat dan kamu mendapat rahmat bersamanya. Ali bin Abi Thalib melihat seorang laki-laki menggendong ibunya dalam tawaf, maka dia melakukan tawaf di belakangnya dan berkata: Demi Allah, aku melakukan tawaf padahal tidak ada niat tawaf bagiku, karena ketika aku melihat orang ini menggendong ibunya aku tahu bahwa akan turun rahmat kepadanya maka aku ingin mendapat sesuatu darinya. Maka kamu ketika salat di belakang imam yang ikhlas kamu merasakan bahwa rahmat turun kepadanya dan sampai kepadamu rahmat ini, dan kamu tidak bosan dengan salat di belakangnya.
Renungkanlah Al-Quran ayat demi ayat. Ingatlah bagaimana ayat-ayat ini turun di hati Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana para sahabat mengamalkannya. Dan ketika kamu salat di belakang satu imam sepanjang bulan kamu akan tahu apa yang akan dia baca besok, maka bacalah bagian yang akan dia baca sebelumnya selama siang hari. Dan jika kamu tidak memahami sebuah kata ketika kamu membaca kembalilah kepada buku-buku tafsir sampai kamu merasakan makna sebenarnya dari ayat ketika imam membacanya dalam qiyam. Jika kamu benar-benar merasakan makna ini, kamu tidak akan bosan meskipun imam membaca sepanjang malam.
Bagaimana Aku Memperoleh Kekhusyuan dalam Qiyam?
Dan agar memperoleh kekhusyuan pertama-tama kamu harus tahu manfaat kekhusyuan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba jika berdiri salat didatangkan semua dosanya lalu diletakkan di atas kepalanya dan pundaknya, maka setiap kali dia rukuk atau sujud gugur darinya dosa-dosanya.” Imam Al-Munawi berkata dalam Fathul Qadir: Yang dimaksud adalah bahwa setiap kali dia menyempurnakan satu rukun gugur darinya satu rukun dari dosa-dosa, sampai jika dia menyempurnakan salat sempurnalah keguguran itu. Dan ini adalah syarat dalam salat yang terpenuhi syarat-syarat, rukun-rukun, dan kekhusyuannya sebagaimana ditunjukkan oleh lafadz “hamba” dan “berdiri”, “Sesungguhnya seorang hamba jika berdiri salat”. Maka syaratnya adalah bahwa dia menjadi hamba dan berdiri, karena ini adalah isyarat bahwa dia berdiri di hadapan Raja segala raja dalam kedudukan hamba yang hina.
Manfaat Memperoleh Kekhusyuan:
Pertama: bahwa kamu setiap kali rukuk atau sujud gugur darimu dosa-dosa.
Kedua: bahwa pahala yang ditulis sesuai dengan kekhusyuan.
Ketiga: tidak ada bagi hamba dari salatnya kecuali apa yang dia pahami darinya.
Keempat: bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim yang hadir salat wajib lalu dia memperbaiki wudunya, kekhusyuannya, rukuknya dan sujudnya melainkan itu menjadi penghapus bagi yang sebelumnya.”
Kelima: bahwa orang yang khusyu dalam salatnya jika pulang darinya merasakan keringanan dari dirinya, dan merasakan beban-beban telah diangkat darinya, dia merasakan semangat dan kenyamanan, dan salat menjadi kesejukan matanya dan jiwanya, surga hatinya dan tempat istirahatnya di dunia. Maka tidak henti-hentinya dia seolah-olah dalam penjara dan kesempitan sampai dia masuk ke dalamnya maka dia beristirahat dengannya bukan darinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Bilal, nyamankanlah kami dengan salat.” Dan dia bersabda shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Dan dijadikan kesejukan mataku dalam salat.”
Ini adalah lima manfaat kekhusyuan jadikanlah itu sebab untuk memperoleh kekhusyuan, agar khusyu dalam salat wajib dan salat qiyam dan tetap bersama imam sampai dia menyempurnakan salatnya.
Teruslah dalam salat bersama imam sampai dia selesai. Telah datang dalam hadis Abu Dzar sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya seorang laki-laki jika salat bersama imam sampai dia pulang ditulis baginya qiyam satu malam.”
Apa yang Harus Kulakukan Setelah Pulang dari Qiyam?
Kemudian kamu kembali ke rumah, untuk mengadakan perlombaan yang bermanfaat untuk anak-anakmu misalnya. Ambillah satu ayat dari yang imam membacanya lalu kamu berkata kepada anakmu atau istrimu: Kapan kamu mendengar ayat ini terakhir kali? Maka siapa yang menjawab berilah dia hadiah: kurma, atau buklet, atau lembaran dzikir, atau kaset baru, atau baju Idul Fitri, atau hadiah yang sesuai, atau buatlah mereka berlomba siapa yang menghatamkan Al-Quran duluan. Kreatif lah dalam membuat anak-anakmu dan istrimu mencintai Allah.
Buatlah mereka mencintai Allah, berilah mereka dan berbuat baiklah kepada mereka dan katakan kepada mereka: Seandainya bukan karena Allah memerintahkanku dengan ini tidak akan pernah kulakukan ini kepada kalian. Maka mereka mencintai Allah, maka mereka mencintaimu. Buatlah anakmu mencintai Allah agar dia mencintaimu, karena jika dia mencintaimu karena kamu memberinya, maka dia akan membencimu ketika kamu tidak memberinya. Tetapi jika dia mencintai Allah dia akan mencintaimu baik kamu memberinya atau tidak memberinya, karena Allah memerintahkannya dengan ini. Dan demikian pula lakukanlah dengan istrimu. Dan setelah kamu pulang dari masjid jangan sampai kamu lalai. Pertahankanlah kehangatan kekhusyuan, dan aku tidak memintamu untuk menghatamkan Al-Quran setiap hari sekali, atau setiap tiga hari. Hatamkanlah dalam setiap minggu sekali, berarti bacalah setiap hari lima juz.
Bacalah satu juz di pagi hari sebelum salat, dan satu juz di kendaraan, dan satu juz setelah Asar bersama anak-anak, dan satu juz sebelum tidur, dan setengah juz kamu bangun dengannya dua rakaat di rumah, maka kamu menghatamkan Al-Quran empat kali, maka kamu telah membentuk kekayaan besar dari kebaikan. Kami memohon kepada Allah agar Dia memberi rezeki kepada kami dan kalian surga. Kamu pergi ke rumah membaca satu juz dari Al-Quran, dan duduk untuk muhasabah, kemudian tidur lebih awal agar kamu mampu bangun lebih awal.
Tahajud:
Allah ta’ala berfirman: “Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu.” (Surah Al-Isra: 79) Kamu salat tahajud dua rakaat saja agar mendapat sunnah, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik salat adalah panjang qunút.” Dan ketika kamu bangun jangan lupa membangunkan istrimu bersamamu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun di malam hari lalu salat dua rakaat dan membangunkan keluarganya, jika dia enggan memercikkan air ke wajahnya.” Bersungguh-sungguhlah untuk bangun satu jam atau lebih sebelum azan Subuh. Ini adalah waktu turun Ilahi setiap malam. Tuhan kami jalla jalaluhu menyeru setiap malam di waktu sahur di sepertiga malam terakhir: “Adakah orang yang meminta ampun maka Aku ampuni dia, adakah orang yang bertobat maka Aku terima tobatnya, adakah orang yang meminta maka Aku beri dia,” sampai terbit fajar dan itu setiap malam. Maka jangan sampai kamu melewatkan keutamaan besar ini, dan jadilah termasuk orang-orang yang berdzikir di waktu ini karena ini adalah berkah hari dan setiap hari.
Berkata sebagian salaf: Tidak ada yang mengajarkanku qiyam kecuali anakku. Dia membaca suatu hari: “Hai orang yang berselimut, bangunlah (untuk salat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya),” (Surah Al-Muzzammil: 1-2) maka dia berkata: Wahai ayah, apa makna bangunlah di malam hari? Aku katakan: Wahai anakku, bahwa seorang hamba salat di malam hari. Dia berkata: Wahai ayah, mengapa aku tidak melihatmu bangun? Aku katakan: Ayat ini khusus untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika anak itu belajar: “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam.” (Surah Adz-Dzariyat: 17), dia berkata: Wahai ayah, siapa mereka ini? Aku katakan: Hamba-hamba Allah yang beriman. Dia berkata: Mengapa aku tidak melihatmu bangun? Aku katakan: Aku akan bangun mulai malam ini wahai anakku. Dia berkata: Wahai ayah, biarkanlah aku jika kamu bangun aku bangun bersamamu. Maka aku katakan: Wahai anakku, kamu masih kecil belum dibebani, maka tidurlah sampai kamu beristirahat. Dia berkata: Wahai ayah, bagaimana menurutmu jika Allah membangkitkanku di hari kiamat lalu menanyakanku: Mengapa kamu tidak bangun?! Aku katakan kepadanya: Ayahku berkata kepadaku demikian: Lalu apa?! Maka laki-laki itu menangis dan berkata: Wahai anakku, bangunlah.
Demikianlah seharusnya kita mengajarkan anak-anak kita qiyam, kita mendidik mereka atas itu. Hari ini banyak di antara kita tidak mampu salat Subuh karena dia tidak dibesarkan di rumah yang salat atau keluarga rumah itu salat tetapi mereka tidak membangunkannya. Dan jika bangun tidak salat di masjid. Maka untuk ini seharusnya kita membiasakan istri-istri dan anak-anak kita untuk bangun dari tidur untuk salat. Bahkan harus kamu dan istrimu bergantian, kamu membangunkannya dan dia membangunkanmu untuk salat, dan saling menegur dan saling mengingatkan jika kalian tidak bangun.
Kamu bangun sebelum fajar satu atau dua jam, membangunkan anak-anakmu yang besar maupun yang kecil, dan setengah jam sebelum fajar kalian menyiapkan makanan sahur. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Makan sahur itu adalah berkah, maka janganlah kalian meninggalkannya walaupun hanya dengan meneguk seteguk air, karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla dan para malaikat-Nya bershalawat atas orang-orang yang makan sahur”. Kalian makan dalam sepuluh menit, lalu pergi ke masjid lebih awal, dan shalat tahiyyatul masjid sebelum adzan dan duduk beristighfar kepada Allah, “Dan di akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah)” (Adz-Dzariyat: 18), dan dalam hadits qudsi sebelumnya Allah berfirman: “Adakah orang yang meminta ampun maka Aku ampuni dia”, kemudian kamu shalat Subuh, shalat yang disaksikan dan dihadiri.. dan demikianlah selesai harimu.
Wahai saudaraku.. apakah kalian sudah bertekad?! Adakah yang bersemangat?! Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar Dia menolong kita untuk berdzikir kepada-Nya, bersyukur kepada-Nya dan beribadah dengan baik kepada-Nya, dan kita memohon kepada-Nya agar Dia memberikan taufiq kepada kita untuk selalu berbuat kebaikan di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan.. dan demikianlah kita menjawab -dengan pertolongan dan kekuatan Allah- pertanyaan: bagaimana kamu menjalani sehari di bulan Ramadhan?
Program:
- Berangkat lebih awal ke shalat Subuh di masjid, maka kamu keluar dari rumahmu seperempat jam sebelum fajar, dan shalat perempuan di rumahnya lebih utama; inilah hukum syariat.
- Shalat dua rakaat tahiyyatul masjid, dan terus beristighfar sampai adzan dikumandangkan untuk shalat, kemudian shalat dua rakaat sunnah.
- Membaca satu juz Al-Quran antara adzan dan iqamah jika kamu mampu, jika tidak maka wajib bagimu setelah shalat.
- Tinggal di masjid setelah shalat, dan membaca dzikir pagi, dan satu juz Al-Quran lagi sampai terbit matahari, dengan memperhatikan untuk tidak berbicara dengan siapa pun atau disibukkan oleh siapa pun.
- Shalat dua rakaat Dhuha kemudian keluar dari masjid.
- Pergi ke tempat kerja atau sekolah dan perguruan tinggi, atau kembali ke rumah jika ada waktu, dan tidur selama dua jam.
- Jika kamu akan pergi ke tempat kerja maka hendaklah kamu berdzikir sepanjang waktu, dan jangan berbicara kecuali dalam hal yang diridhai Allah Azza wa Jalla, dan tekuni pekerjaanmu, dan jangan merusak puasamu, dan perbaikilah akhlakmu, jauhilah sia-sia dan perkataan kotor dan ghibah dan namimah dan dusta dan perkataan keji karena semuanya membatalkan puasa, dan bacalah satu juz Al-Quran sebelum shalat Dzuhur dan sesudahnya, begitu juga pada shalat Ashar.
- Jika kamu akan kembali ke rumah, atau perempuan yang shalat di rumahnya, maka akan tidur selama dua jam dan bangun pada pukul sembilan membaca Al-Quran dan berdzikir kepada Allah sampai shalat Dzuhur.
- Ketika pulang dari pekerjaanmu, atau selesainya perempuan dari menyiapkan makanan dan pekerjaan rumah, hendaklah kamu mengumpulkan anak-anakmu di sekitarmu untuk memantau mereka dan bertanya kepada mereka apa yang telah mereka selesaikan dari ibadah-ibadah mereka.
- Kamu dapat membuat halaqah Al-Quran di rumah bersama istrimu dan anak-anakmu, kalian membaca Al-Quran sampai menjelang Maghrib, kemudian hendaklah kalian berdoa karena sesungguhnya doa tidak akan ditolak.
- Berbuka dengan tiga butir kurma dan seteguk air, dan shalat sunnah qabliyah Maghrib di rumah, kemudian keluar untuk shalat Maghrib di masjid.
- Hendaklah kamu membawa kurma bersamamu, atau ajwah, atau jus; untuk memberi berbuka kepada orang-orang yang berpuasa yang belum kembali ke rumah mereka.
- Shalat dua rakaat tahiyyatul masjid jika ada waktu untuk itu, kemudian shalat Maghrib, kemudian kembali ke rumahmu untuk berbuka bersama keluargamu, dan istrimu sudah shalat Maghrib bersama anak-anakmu yang kecil.
- Jangan lupa memberi berbuka kepada fakir miskin, dan bersyukurlah atas nikmat Allah.
- Berangkat lebih awal ke shalat Isya di masjid agar kamu berdiri di belakang imam, dan kamu dapat membawa istrimu dan anak-anakmu bersamamu, dan shalatlah bersama imam sampai selesai.
- Kembalilah ke rumahmu dan bacalah dua juz Al-Quran.
- Tidurlah sampai pukul dua pagi.
- Bangun dan shalat dua rakaat tahajjud, dan perhatikanlah di dalamnya panjangnya qunут “berdiri”.
- Sahur setengah jam sebelum fajar.
- Beristighfar, kemudian pergi ke masjid untuk shalat Fajar.
Nasihat-nasihat:
- Menjaga dzikir-dzikir yang ditentukan (pagi dan sore, masuk rumah dan keluar darinya, masuk masjid dan keluar darinya, doa berkendara, masuk kamar mandi dan keluar darinya….).
- Mengurangi bicara dan memperbanyak dzikir kepada Allah.
- Mengurangi makan, dan mengurangi pemborosan dan berlebih-lebihan.
- Mengurangi tidur, dan menjaga wirid membaca Al-Quran.
- Mengurangi janji-janji dan ikatan-ikatan dan pertemuan-pertemuan dan panggilan telepon.
- Mengurangi keluar dari rumah.
- Mengurangi bergaul dengan manusia.
- Menundukkan pandangan, berakhlak baik, zuhud terhadap dunia.
- Menjaga lidah dari semua cacatnya seperti: (ghibah, namimah, dusta, riya, fitnah, sia-sia, perkataan kotor, yang berlebihan…).
- Menjaga semua sunnah qabliyah dan ba’diyah untuk shalat-shalat.
- Menjaga siwak.
- Terus menerus benar dalam bertobat setiap jam.
- Menyambung silaturahmi, berbakti kepada orang tua, sedekah setiap hari.
- Memberi berbuka kepada orang-orang yang berpuasa, memberi makan kepada fakir miskin.
- Memurnikan niat dan merealisasikannya.
- Tingginya semangat dan berkompetisi.
- Khatam Al-Quran empat kali setidaknya selama bulan ini, satu kali setiap minggu.
- Menjaga wiridmu dari dzikir setiap hari lima ribu kali (seribu istighfar, seribu subhanallah wabihamdihi, subhanallahil adzim, seribu al-baqiyat ash-shalihat, seribu shalawat kepada Nabi, dan seribu wirid berbeda setiap hari: tahlil, subhanallah wabihamdihi, subhanallahil adzim wabihamdihi, la hawla wala quwwata illa billah, hasbiyallahu la ilaha illa huwa alaihi tawakkaltu wahuwa rabbul arsyil adzim, la ilaha illallahu wahdahu la syarika lahu lahul mulku walahul hamdu wahuwa ala kulli syai-in qadir), dan barang siapa menambah maka itu lebih utama.
- Tidak menonton televisi.
- Berdoa di belakang untuk semua kaum muslimin.
- Amar makruf nahi mungkar.
- Menghentikan kemaksiatan sepenuhnya di bulan Ramadhan dan memperbarui tobat setiap jam.
Wasiatku untukmu..
Hari-hari Ramadhan adalah hari-hari yang dijaga, ia bagaikan mahkota di atas kepala zaman, dan sampailah tanda tangan kaki dari Ar-Rahman Ar-Rahim: “Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran” (Al-Baqarah: 185).
Alangkah agungnya waktu yang besar kedudukannya yang wajib dijaga dari apa yang jika tiba akan menjadi masalah, seakan-akan kalian dengannya telah pergi dan berpindah, dan wajah orang shalih bersama Allah tidak berpindah, maka akan menjadi saksi atasmu “Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran”.
Maka wajib untuk menjaga di dalamnya kedua mata, wajib menjaga di dalamnya lisan, sangat penting mencegah langkah dalam kesalahan kedua kaki karena sesungguhnya ia bulan yang agung kedudukannya: “Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran”.
Wahai saudaraku.. timbang amal-amalmu di bulan ini dengan timbangan, belilah kelepasanmu dengan apa yang berharga dan murah, maka jika kalian tidak mampu mintalah kepada Yang Menolong dan Dia telah menolong, “Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran”.
Wahai saudaraku.. telah pergi tahun dan hilang barang dagangan antara kelalaian dan penyia-nyiaan, dan penundaan menghapus jam demi jam, dan matahari dan bulan dengan perhitungan, “Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran”.
Wahai orang yang berdiri di tempat kebimbangan, apakah kamu bertekad untuk berubah, sampai kapan kamu ridha dengan turun di tempat-tempat kehinaan, “Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran”.
Pada masa yang berlalu apakah telah berlalu dari hari-harimu satu hari yang shalih, kamu selamat di dalamnya dari kejahatan-kejahatan keji, demi Allah sungguh telah mendahului orang yang menang, dan kamu ridha dengan kerugian di bulan Ramadhan, “Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran”.
Matamu terlepas dalam yang haram, dan lisanmu terbentang dalam dosa-dosa, dan kedua kakimu pada dosa-dosa berbuat berani, dan semuanya dalam catatan bahkan di “Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran”.
Hatimu tidak hadir dalam shalat-shalatmu, dan pikiranmu habis dalam syahwat-syahwatmu, maka jika bersandar kepadamu orang yang bersandar dalam muamalahmu; kamu masukkan dia tempat penginapan orang yang berkhianat, “Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran”.
Wahai ini.. kebanyakan bicaramu sia-sia dan omong kosong, dan waktu dengan kelalaian berantakan, maka jika kamu mengghibah seorang muslim kamu tidak menyisakan dan tidak membiarkan, keselamatan darimu keselamatan walaupun di “Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran”.
Demi Allah seandainya kamu berakal tentang keadaanmu, atau mengingat kepergianmu, atau membayangkan amal-amalmu; niscaya kamu bangun rumah kesedihan, dan beritikaf di “Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran”.
Saudaraku dalam Allah, Ramadhan akan menyaksikan atasmu, dengan ucapan lisanmu, dan pandangan matamu, dan akan ditunjuk pada hari berkumpul kepadamu: celaka si fulan bin fulan; karena dia menyia-nyiakan “Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran”.
Saudaraku.. di setiap saat kamu mendekat dari kuburmu, maka perhatikanlah dirimu dalam mengatur urusanmu, dan aku tidak melihatmu kecuali di awal bulanmu yang pertama dan yang akhir sama saja, kapan kamu menjadi di “Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran”.
Wahai saudaraku.. telah pergi tahun dan dari Syaban setengahnya, dan aku tidak melihat dari amalmu setengahnya, maka jika di masa lalu telah jelek penggambarannya; maka bangunlah sekarang.. bangunlah sekarang dan berdoalah kepada Allah agar Dia memperbaikimu di “Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran”.
Pemandangan-Pemandangan Penghambaan dalam Ramadhan
Rabb (Tuhan) langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia, dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?
Pemandangan-Pemandangan Penghambaan dalam Puasa
Saudaraku…
Bulan Ramadhan adalah hari-hari kalbu dalam waktu; ketika ia menampakkan diri kepada dunia, seolah-olah masa berkata kepada para penghuninya: ini adalah hari-hari dari jiwa kalian, bukan dari hari-hariku, dan dari tabiat kalian, bukan dari tabiatku. Maka seluruh dunia menghadapkan diri pada keadaan jiwa yang sangat luhur, dan dalam bulan ini jiwa dijaga dengan melatihnya pada perkara-perkara yang tinggi dan akhlak-akhlak yang mulia. Kehidupan dipahami dengan wajah lain, bukan wajahnya yang muram. Kehidupan dilihat seolah-olah dilaparkan dari makanan hariannya sebagaimana ia (orang yang berpuasa) lapar, maka ia zuhud terhadapnya. Dan seolah-olah kehidupan dikosongkan dari hal-hal hina dan syahwat-syahwatnya sebagaimana ia dikosongkan, maka akhlaknya menjadi luhur. Dan seolah-olah kehidupan diwajibkan dengan makna-makna ketakwaan sebagaimana ia diwajibkan dengannya. Betapa indah dan mengagumkan jika kehidupan tampak di seluruh dunia—walau hanya sehari—berpuasa di siang harinya, berdiri shalat di malam harinya…! Apalagi jika kehidupan seperti itu berlangsung sebulan penuh setiap tahunnya?
Oleh karena itu, puasa adalah perubahan lengkap terhadap kehidupan, bukan sekadar menahan diri dari makan dan syahwat untuk waktu tertentu. Karena itulah orang yang berpuasa harus memiliki pemandangan-pemandangan dalam ibadah ini yang ia dapati pengaruhnya di dalam hatinya. Sebab ibadah ini menampakkan kepadanya taman-taman yang indah dari berbagai jenis penghambaan yang beragam. Di antara pemandangan-pemandangan penghambaan dalam puasa adalah:
Pemandangan Pertama: Pemandangan Tauhid
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Katakanlah: “Patutkah aku mengambil pelindung selain Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan?” Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya aku menjadi orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Al-An’am: 14). Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Al-Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. (QS. Al-Ma’idah: 75). Allah Jalla Jalaluhu (Maha Tinggi Kemuliaan-Nya) memberikan dalil untuk menolak ketuhanan Isa dan ibunya dengan fakta bahwa keduanya memakan makanan, karena sesungguhnya orang yang memakan makanan membutuhkan pengeluaran, dan di dalamnya terdapat apa yang ada di dalamnya…
Pemandangan pertama yang disaksikan orang yang berpuasa adalah pemandangan tauhid. Maka hatinya menyaksikan keagungan Allah Jalla Jalaluhu dan ketinggian-Nya atas makhluk-Nya: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. Asy-Syura: 11). Dia Maha Kaya, tidak membutuhkan apa pun, dan tidak membutuhkan siapa pun. Dan hamba menyaksikan dari dirinya sendiri kehinaan, kefakiran, kekurangan, dan kebutuhannya. Penahan dirinya dari makan dan minum hanya beberapa jam saja membuat tubuhnya lemah, akalnya lesu, lisannya berat, dan mencegah akalnya dari berpikir kecuali tentang apa yang ia butuhkan berupa makan dan minum.
Dan penyaksian hamba terhadap pemandangan tauhid ini bermanfaat baginya dalam puasanya dan berbukanya. Karena ia menyaksikan keagungan Rabb-nya, kekayaan-Nya dan kekuasaan-Nya Subhanahu: Semua makhluk yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan. (QS. Ar-Rahman: 29). Dan Allah Azza wa Jalla (Maha Mulia lagi Maha Agung) berfirman: Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)? (QS. Fathir: 3). Dan perasaan hati dengan keagungan ini memenuhinya dengan kekayaan, dan memberikan kekuatan kepada hati dalam perjalanan menuju-Nya Subhanahu. Dan perasaan kekayaan ini membuat hamba merasa cukup dari memandang makhluk, bertawakal kepada mereka, terikat dengan mereka dan tergantung kepada mereka, serta membersihkan hati dari berbagai penyakit yang tak terhitung dan tak terbilang.
Dan pemandangan ini menguat di bulan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan lainnya karena kontinuitas puasa dan melihat keadaan ini pada manusia. Karena selama tiga puluh hari hamba melihat kepatahan manusia dan kehinaan mereka karena kehilangan makanan dan minuman serta perampasan mereka darinya. Dan kekayaan tinggi yang tampak pada orang yang menyaksikan pemandangan tauhid menjadikannya gembira dengan apa yang ia dapati. Tidakkah engkau lihat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih memilih puasa daripada berbuka, maka beliau melakukan wishal (puasa terus-menerus tanpa berbuka), dan pemandangan tauhid ini membuatnya merasa kenyang sehingga beliau bersabda: “Aku bermalam di sisi Rabb-ku, maka Dia memberi aku makan dan minum.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka pemandangan tauhid dalam puasa adalah pemandangan hamba yang paling agung, paling bermanfaat, dan paling berhubungan dengan perbuatan. Maka pahamilah dan berpeganglah teguh dan jangan hanya mengandalkan (tanpa usaha).
Pemandangan Kedua: Pemandangan Sabar dan Syukur
Agama terdiri dari dua bagian: separuh syukur, dan separuh sabar.
Para ulama telah membahas masalah mana yang lebih utama: syukur ataukah sabar? Dan kesimpulan pembahasan—wallahu a’lam (Allah yang lebih mengetahui)—adalah bahwa setiap keadaan hamba yang lebih sesuai dengan kondisinya maka itulah yang lebih baik baginya jika hal itu lebih diridhai oleh Allah.
Dan manusia tidak lepas dari syukur dan sabar, karena ia menjalani kehidupannya di antara nikmat-nikmat yang berdatangan yang membutuhkan syukur, dan di antara fitnah-fitnah yang bertubi-tubi yang membutuhkan sabar. Dan sabar ada beberapa macam: sabar dalam ketaatan, sabar dari kemaksiatan, dan sabar atas musibah. Dan syukur ada beberapa macam: syukur atas nikmat yang tetap, syukur atas nikmat yang baru, syukur atas nikmat yang datang tiba-tiba, syukur atas tertolaknya bala, syukur atas tertolaknya musibah… dan lain-lain.
Dan keagungan Ramadhan adalah bahwa setiap harinya hamba melakukan semua jenis ibadah ini. Karena manusia berpuasa di siang hari, maka ia membutuhkan kesabaran; sabar dalam ketaatan, dan sabar dari kemaksiatan pada waktu yang sama. Dan ia juga sedang berpuasa serta melihat makanan dan minuman berkilauan di hadapan matanya namun ia tidak mampu mendapatkannya, maka ia teringat penderitaan orang-orang yang terampas yang melihat apa yang mereka inginkan namun tidak mampu mendapatkannya karena kemiskinan atau sakit atau sebab lainnya, maka ia sibuk dengan bersyukur.
Dan harinya berlangsung seperti ini, antara sabar dan syukur. Ketika ia berbuka di malam hari dan mengambil kebutuhannya dari makanan dan minuman serta memuaskan syahwatnya, ia membutuhkan syukur yang lebih mendalam dan amal yang lebih banyak. Maka ia kembali lagi kepada sabar dalam ketaatan untuk shalat malam, dan sabar dari kemaksiatan untuk menahan diri dari apa yang diserukan kepadanya oleh para perampok jalan menuju Allah di media massa dan lainnya berupa sinetron, kuis, film dan semua kemaksiatan yang zhahir dan bathin. Maka hamba yang beriman terus menjalani hari-hari dan malam-malam Ramadhan dalam keadaan melakukan ibadah yang berdatangan antara syukur dan sabar. Allah Ta’ala berfirman: Dan (ingatlah juga), tatkala Rabb-mu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7). Dan Allah Subhanahu berfirman: Dan jika kamu bersabar, maka (kesabaranmu) itu lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah. (QS. An-Nahl: 126-127). Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin, urusannya seluruhnya baik. Jika ia mendapat kesenangan ia bersyukur maka itu baik baginya, dan jika ia tertimpa kesusahan ia bersabar maka itu baik baginya.” (HR. Muslim).
Pemandangan Ketiga: Pemandangan Qabdh (Pengerutan) dan Basth (Perluasan)
Apakah hidup itu membosankan?!
Sesungguhnya orang-orang yang tidak memahami kehidupan tidak tahu bagaimana menjalani kehidupan ini. Jika mereka tidak menjalaninya sebagaimana mestinya, mereka mengeluhkan kebosanan!! Dan aku tidak tahu apakah ini adalah hukuman?
Sesungguhnya orang-orang yang tidak memahami maksud Allah dari mereka, maka mereka menjalani kehidupan dengan cara yang monoton, sehingga mereka tidak merasakan pembaruan dan sesuatu yang baru dalam makna-makna kehidupan dan kelezatannya; mereka mengeluhkan kebosanan, jemu dan bosan…
Adapun hamba yang rabbani, yang hidup sesuai kehendak Allah darinya, bukan sesuai kehendaknya dari Allah; maka hidupnya selalu baru. Ia dalam setiap saat dengan ibadah, dan setiap jam dengan niat. Dan pemandangan ini lebih jelas terlihat di bulan Ramadhan; karena orang yang berpuasa hidup antara larangan di siang hari maka ia menyaksikan pemandangan qabdh (pengerutan), kemudian ia berbuka dan terbuka baginya pintu-pintu kebaikan Allah maka ia menyaksikan pemandangan basth (perluasan). Dan begitulah antara tidur dan bangun, berbuka dan imsak (menahan diri), aktivitas dan istirahat, Muslim menjalani Ramadhan tanpa jemu dan tanpa bosan, karena setiap jam ia menantikan perubahan yang diciptakan oleh pembaruan salah satu ibadah dari berbagai ibadah.
Pemandangan Keempat: Akhlak yang Baik
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu godaan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-A’raf: 199-200). Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad). Dan bulan Ramadhan memiliki hubungan yang erat dengan akhlak yang luhur dan makna-makna yang tinggi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Puasa itu perisai. Jika salah seorang dari kalian berpuasa, maka janganlah berkata kotor, janganlah berbuat fasik, janganlah berteriak dan janganlah berbuat bodoh. Jika ada seseorang yang mencacinya atau memeranginya, hendaknya ia berkata: sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dan seolah-olah hadits ini meletakkan prinsip-prinsip akhlak orang-orang yang berpuasa:
Pertama: bahwa orang yang berpuasa tenang jiwanya, lembut wataknya, sangat menghormati, karena ia merasakan pengawasan ketika berpuasa, maka ia tidak berkata kotor yaitu tidak berbicara tentang persetubuhan dan pendahuluannya.
Kedua: tidak berbuat fasik: artinya ia tidak keluar dari batas-batas adab, tidak dalam perkataan dan tidak dalam perbuatan, bahkan ia sangat terkendali.
Ketiga: tidak berteriak: tidak mengeraskan suaranya; karena puasa adalah sejenis ketenangan. Dikatakan “shamitat ad-daabbah” artinya binatang itu diam dari bergerak, dan “shamatat al-khail” artinya kuda-kuda itu diam dari meringkik. Maka asal puasa adalah sejenis ketenangan. Dan orang yang berpuasa telah memahami jenis ibadah ini maka ia tidak berteriak. Ia membenci keributan dan menyukai ketenangan dan diam; karena itu lebih mengumpulkan hatinya kepada Rabb-nya.
Keempat: dan tidak berbuat bodoh: dan kebodohan itu ada beberapa jenis, dan Abu Jahl (bapak kebodohan) tidak peduli, dan para bapak kebodohan banyak. Orang yang berpuasa tidak berbuat bodoh, dan setiap kemaksiatan adalah kebodohan, dan segala sesuatu yang bermaksiat kepada Allah dengannya adalah kebodohan, dan setiap orang yang bermaksiat adalah orang bodoh. Dan orang yang memperlakukan manusia dengan apa yang mereka benci berarti ia berbuat bodoh kepada mereka karena ia tidak tahu hak mereka yaitu memperlakukan mereka dengan baik; karena itu orang yang berpuasa diperintahkan untuk selalu mengingat agar ia tahu bahwa ia sedang berpuasa maka ia berkata: sesungguhnya aku sedang berpuasa.
Kelima: dan yang paling penting bahwa jika ia disakiti atau diserang atau didzalimi oleh seseorang, atau sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jika ada seseorang yang mencacinya atau memeranginya”; maka prinsip Islam yang agung tampak di sini dengan jelas yaitu: membalas kejelekan dengan kebaikan.
Akhlak ini hilang dalam kehidupan kaum muslimin hari ini. Dan aku yakin bahwa banyak dari sistem akhlak dalam Islam yang hilang. Dan yang lebih berbahaya dari itu adalah sistem akhlak ini diganti dan beralih, akhlak orang-orang Barat menjadi yang asli, dan peribahasa-peribahasa rakyat serta ucapan-ucapan umum menjadi prinsip-prinsip akhlak kaum muslimin di zaman kita. Maka seruan untuk mendzalimi manusia agar tidak terdzalimi menjadi prinsip bagi banyak orang.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu godaan maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Fushshilat: 34-36). Maka perhatikanlah bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan kepadamu bahwa jika engkau berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadamu maka ia akan mencintaimu hingga seolah-olah ia menjadi teman yang sangat setia. Dan orang-orang lain berkata kepadamu: jika engkau memaafkannya ia akan tamak terhadapmu, dan atas dasar ini seterusnya.
Engkau lihat orang-orang berpaling dari janji-janji syariat dalam masalah akhlak, dan bergantung pada pengalaman hidup mereka, dan karena itu mereka dikecewakan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan hamba daripada akhlak yang baik.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sesungguhnya akhlak yang baik dapat mencapai derajat puasa dan shalat.” (HR. Abu Dawud).
Maka manfaatkanlah saudaraku yang tercinta kesempatan Ramadhan yang mulia, dan perbaikilah akhlakmu agar engkau berada di tingkat tertinggi dalam puasa ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku menjamin rumah di tingkat tertinggi surga bagi orang yang memperbaiki akhlaknya.” (HR. Abu Dawud).
Pemandangan Kelima: Zuhud terhadap Dunia
Seharusnya Ramadhan adalah bulan zuhud, karena puasa disyariatkan agar terjadi pengurangan. Dan Allah mewajibkan puasa kepada umat sebulan penuh setiap tahun agar manusia mengetahui kadar dunia, dan nilai makanan, minuman dan syahwat, serta agar mereka mampu mengendalikannya, sehingga dunia tidak mengendalikan mereka dan bukan menjadi tujuan dan harapan mereka dalam kehidupan mereka. Dan latihan ini dilakukan selama sebulan yang berulang setiap tahun sebagai pengingat terhadap masalah ini yang dapat kita sebut dengan benar: zuhud terhadap dunia. Karena itu di antara pemandangan-pemandangan penghambaan dalam puasa adalah zuhud. Maka apa hakikat zuhud itu.
Ibnul Qayyim rahimahullah (semoga Allah merahmatinya) menyebutkan dalam kitab Thariqul Hijratain wa Baabus Sa’adatain ketika membahas tentang zuhud dengan pembicaraan yang sangat berharga, kami nukil di sini dengan teksnya, maka bacalah dan ulangi dan pahamilah kemudian amalkanlah: “Zuhud terbagi menjadi empat bagian:
Pertama: fardhu bagi setiap muslim, yaitu zuhud terhadap yang haram. Dan ini jika seorang muslim melalaikannya maka terikat sebab hukuman, maka pasti terjadi akibatnya selama tidak terikat sebab lain yang menentangnya.
Kedua: zuhud yang disunahkan, dan ia memiliki tingkatan-tingkatan dalam hal disunahkannya sesuai dengan apa yang dizuhudi. Dan ia adalah zuhud terhadap yang makruh, dan kelebihan yang mubah serta keragaman dalam syahwat yang mubah.
Ketiga: zuhud orang-orang yang masuk dalam urusan ini, dan mereka adalah orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam perjalanan menuju Allah. Dan ia ada dua jenis:
Pertama: zuhud terhadap dunia secara keseluruhan. Dan yang dimaksud bukan mengosongkannya dari tangan dan bukan mengeluarkannya dan duduk kosong darinya, dan sesungguhnya yang dimaksud adalah mengeluarkannya dari hati sepenuhnya, sehingga ia tidak memperhatikannya, dan tidak membiarkannya mendiami hatinya, walau ia ada di tangannya. Bukan zuhud itu meninggalkan dunia dari tanganmu sementara ia ada di hatimu, dan sesungguhnya zuhud itu meninggalkannya dari hatimu sementara ia ada di tanganmu. Dan ini seperti keadaan para khalifah rasyidin, dan Umar bin Abdul Aziz yang dijadikan teladan dalam zuhudnya padahal perbendaharaan harta ada di tangannya. Bahkan seperti keadaan penghulu anak Adam shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Allah memberikan kepadanya kemenangan dari dunia yang diberikan, dan tidak menambahkannya kecuali zuhud terhadapnya.
Dan dari ini adalah atsar yang masyhur: “Bukan zuhud di dunia itu dengan mengharamkan yang halal dan bukan menyia-nyiakan harta; tetapi zuhud di dunia itu engkau lebih yakin dengan apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu, dan bahwa engkau lebih menginginkan pahala musibah jika engkau tertimpa musibah daripada keinginanmu terhadap musibah itu jika ia tetap bagimu.”
Dan yang membenarkan zuhud ini tiga hal:
Pertama: ilmu hamba bahwa dunia adalah bayangan yang berlalu dan khayalan yang datang, dan bahwa ia sebagaimana firman Allah Ta’ala tentangnya: Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. (QS. Al-Hadid: 20). Dan Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir. (QS. Yunus: 24). Dan Allah Ta’ala berfirman: Dan buatlah bagi mereka perumpamaan kehidupan dunia, seperti air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Kahfi: 45).
Dan Allah Subhanahu menamakannya “kesenangan yang memperdayakan”, dan melarang dari tertipu dengannya, dan mengabarkan kepada kita tentang buruknya akibat orang-orang yang tertipu dengannya dan memperingatkan kita dari tempat-tempat kehancuran mereka. Dan mencela orang yang ridha dengannya dan tenang kepadanya. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apa urusanku dengan dunia, sesungguhnya aku hanyalah seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon kemudian pergi dan meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Dan di dalam Musnad dari Nabi shalallahu alaihi wasallam terdapat hadits yang maknanya: bahwa Allah menjadikan makanan anak Adam dan apa yang keluar darinya sebagai perumpamaan bagi dunia, karena sesungguhnya meskipun ia membumbui dan menggaraminya, maka hendaklah ia melihat akan menjadi apa itu? Maka tidaklah tertipu olehnya dan tidak pula tenang kepadanya kecuali orang yang bercita-cita rendah, berakal hina, dan berderajat sangat rendah.
Yang kedua: pengetahuannya bahwa di balik dunia ini ada negeri yang lebih agung kedudukannya dan lebih besar bahayanya yaitu negeri kekal (akhirat), dan bahwa perbandingan dunia dengannya sebagaimana sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam: “Tidaklah dunia di dalam akhirat melainkan seperti salah seorang di antara kalian mencelupkan jarinya ke dalam lautan, maka hendaklah ia melihat apa yang kembali (menempel di jarinya).” Maka orang yang zuhud terhadap dunia seperti kedudukan seseorang yang di tangannya ada dirham palsu, lalu dikatakan kepadanya: Lemparkan itu maka bagimu gantinya seratus ribu dinar misalnya, maka ia melemparkannya dari tangannya karena mengharap ganti tersebut, maka zuhud terhadap dunia karena kesempurnaan keinginan pada sesuatu yang lebih agung darinya adalah zuhud terhadapnya.
Yang ketiga: pengetahuannya bahwa zuhudnya terhadap dunia tidak menghalanginya dari sesuatu yang telah dituliskan untuknya darinya, dan bahwa keserakahannya terhadapnya tidak mendatangkan baginya apa yang tidak ditakdirkan untuknya darinya. Maka ketika ia yakin akan hal itu dan menjadi ilmu yang yakin baginya, mudahlah baginya untuk zuhud terhadapnya, karena sesungguhnya ketika ia yakin akan hal itu dan dadanya tenteram karenanya, dan ia mengetahui bahwa yang dijamin untuknya dari dunia akan datang kepadanya, maka tersisa keserakahannya, kelelahannya, dan kesungguhannya sia-sia belaka, dan orang berakal tidak rela untuk dirinya dengan hal itu. Maka ketiga perkara ini memudahkan zuhud bagi hamba terhadap dunia, dan meneguhkan kakinya di maqamnya, dan Allah-lah Yang memberi taufik kepada siapa yang Dia kehendaki.
Jenis keempat dari jenis-jenis zuhud: zuhud terhadap dirimu sendiri, dan ini adalah bagian yang paling sulit dan paling berat, dan kebanyakan orang zuhud hanyalah sampai kepadanya dan tidak memasukinya. Karena sesungguhnya orang zuhud mudah baginya zuhud terhadap yang haram karena buruknya akibatnya dan jeleknya buahnya, dan untuk menjaga agamanya dan memelihara imannya, dan memilih kenikmatan dan kebahagiaan daripada azab, dan karena malu bergabung dengan para pelaku maksiat, dan karena rasa harga diri untuk tidak memilih apa yang jadi milik musuhnya. Dan mudah baginya zuhud terhadap yang makruh dan hal-hal mubah yang berlebihan karena pengetahuannya tentang apa yang akan luput darinya jika ia memilih hal-hal tersebut berupa kenikmatan dan kebahagiaan yang kekal serta kebahagiaan yang abadi.
Dan mudah baginya zuhudnya terhadap dunia karena pengetahuannya tentang apa yang di baliknya, dan apa yang ia cari berupa ganti yang sempurna dan tujuan yang paling tinggi. Adapun zuhud terhadap diri sendiri adalah menyembelihnya tanpa dua pisau, dan ini ada dua macam:
Pertama: perantara dan permulaan, yaitu engkau mematikannya sehingga tidak tersisa baginya di sisimu sedikitpun kedudukan, maka engkau tidak marah untuknya dan tidak ridha untuknya dan tidak membela untuknya dan tidak membalas untuknya, engkau telah memberikan kehormatannya untuk hari kefakiran dan kemelaratannya, maka ia lebih hina di sisimu daripada engkau membela untuknya atau membalas untuknya atau memenuhi panggilannya jika ia memanggil engkau atau memuliakan jika ia berbuat maksiat kepadamu atau marah untuknya jika ia dicela. Bahkan ia di sisimu lebih rendah daripada apa yang dikatakan tentangnya, atau engkau memanjakan dengan apa yang di dalamnya ada keuntungan dan keberhasilanmu meskipun itu sulit baginya. Dan ini meskipun berupa penyembelihan baginya dan mematikan tabiat dan akhlaknya, namun itulah kehidupan dan kesehatannya yang sebenarnya, dan tidak ada kehidupan baginya tanpa ini sama sekali.
Dan jalan terjal ini adalah jalan terjal terakhir yang dari sana hamba mengawasi tempat-tempat orang-orang yang didekatkan, dan turun darinya ke lembah kekal, dan minum dari mata air kehidupan, dan membebaskan ruhnya dari penjara cobaan dan bala serta belenggu syahwat, dan terkait dengan Tuhannya, sesembahannya, dan Penguasanya yang haq. Maka betapa sejuknya matanya dengan-Nya, betapa nikmat dan bahagianya dengan kedekatan-Nya, betapa gembiranya dengan kebebasan dari musuhnya, dan berlindung kepada Penguasanya, Pemilik urusannya, dan Pengatur maslahatnya. Dan zuhud ini adalah uang muka pertama dari mahar cinta, maka wahai orang yang bangkrut, tundalah.
Dan jenis kedua: tujuan dan kesempurnaan, yaitu memberikannya kepada Yang Dicintai secara keseluruhan, sehingga tidak menyisakan sedikitpun darinya, bahkan zuhud terhadapnya dengan zuhudn cinta terhadap bagian hina dari hartanya yang telah terkait keinginan kekasihnya kepadanya. Maka apakah ia mendapati dari hatinya keinginan untuk menahan bagian tersebut dan menahannya dari kekasihnya? Maka demikianlah zuhud pecinta yang jujur terhadap dirinya sendiri, ia telah keluar darinya dan menyerahkannya kepada Tuhannya, maka ia senantiasa memberikannya untuk-Nya dengan penawaran dirinya untuk diterima-Nya.
Dan seluruh tingkatan zuhud yang telah disebutkan adalah permulaan dan perantara untuk tingkatan ini, tetapi tidak sah kecuali dengan tingkatan-tingkatan tersebut. Maka barangsiapa yang ingin mencapai tingkatan ini tanpa apa yang sebelumnya, maka ia telah bersusah payah dan berangan-angan seperti orang yang ingin naik ke puncak menara tanpa tangga. Sebagian salaf berkata: sesungguhnya mereka dihalangi dari sampai karena menyia-nyiakan dasar-dasarnya, maka barangsiapa yang menyia-nyiakan dasar-dasarnya akan dihalangi dari sampai. Selesailah perkataan Ibnu Qayyim.
Saudaraku yang tercinta, jika engkau mengenal zuhud sebagaimana seharusnya, dan tidak ada perkataan setelah perkataan Imam, maka kesempatanmu di bulan Ramadhan adalah untuk menyaksikan pemandangan ini, khususnya bahwa engkau dibantu dengan sedikitnya makanan, sedikitnya minuman, sedikitnya waktu luang, dan kelelahan dari puasa, qiyam, dan tilawah Alquran. Inilah kehidupan, maka berzuhudalah terhadap dunia dan perantaranya.
Pemandangan Keenam: Mengutamakan Orang Lain (Itsar)
Bulan Ramadhan adalah sekolah yang agung, dan pelajaran-pelajaran yang didapat dari bulan ini adalah tugas-tugas sepanjang usia dan kenangan dalam kehidupan, dan ia adalah pelatihan praktis sepanjang tiga puluh harinya untuk memahami dan merasakan makna-makna iman yang tinggi ini agar kehidupan setelah Ramadhan berjalan dengan pola ini, karena dalam pembiasaan ini terdapat pendidikan jiwa dan pembebasan jiwa dari keburukannya.
Dan di antara keburukan yang sangat bermanfaat puasa dalam menghilangkannya adalah: kikir, karena jiwa tercipta dengan sifat ini. Allah Taala berfirman: “Dan jiwa-jiwa dipenuhi dengan kekikiran” (Surah An-Nisa: 128), dan Dia Yang Mahasuci berfirman: “Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Surah Al-Hasyr: 9), dan Dia Yang Mahasuci berfirman: “Katakanlah: ‘Jika kalian menguasai perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya kalian akan menahan (takut) membelanjakannya, dan manusia itu sangat kikir'” (Surah Al-Isra: 100). Maka Allah mensyariatkan puasa selama satu bulan untuk mengobati penyakit ini, yaitu dengan membiasakan manusia pada lawannya yaitu mengutamakan orang lain (itsar).
Dan Ibnu Qayyim rahimahullah adalah guru hati-hati di sekolah ketuhanan, telah memberi manfaat dan berbuat baik, maka ia memulai pembicaraan dalam bab ini dan perinciannya di kitab Tariqu al-Hijratain juga, maka kami kutip perkataannya di sini dengan panjang lebar dengan teksnya, semoga Allah memberi manfaat kepada kita semua dengannya, maka tidak ada setelah ilmu kecuali amal, maka ambillah dengan nikmat dan manfaat.
Beliau berkata rahimahullah: “Agama seluruhnya dan muamalah adalah dalam mengutamakan orang lain, karena ia adalah mendahulukan dan mengkhususkan orang yang engkau utamakan dengan apa yang engkau utamakan dengan hal itu atas dirimu sendiri. Dan dikatakan: barangsiapa mengutamakan Allah atas selain-Nya, maka Allah akan mengutamakannya atas selain-Nya.
Dan mengutamakan orang lain (itsar) ada yang berkaitan dengan makhluk, dan ada yang berkaitan dengan Pencipta. Jika berkaitan dengan makhluk maka kesempurnaannya adalah engkau mengutamakan mereka atas dirimu sendiri dengan apa yang tidak menyia-nyiakan waktu bagimu, dan tidak merusak keadaanmu, dan tidak mengurangi agamamu, dan tidak menutup jalanmu, dan tidak menghalangi datangnya bagianmu. Jika dalam mengutamakan mereka ada sesuatu dari itu, maka mengutamakan dirimu atas mereka lebih utama, karena sesungguhnya orang tidak mengutamakan bagiannya dari Allah kepada siapapun.
Dan ini sangat sulit bagi salik, dan yang pertama lebih mudah darinya, karena sesungguhnya itsar yang terpuji yang Allah puji pelakunya adalah: itsar dengan dunia bukan dengan waktu dan agama dan apa yang kembali dengan kebaikan hati. Allah Taala berfirman: “Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, meskipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan barangsiapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Surah Al-Hasyr: 9).
Maka Dia mengabarkan bahwa itsar mereka hanyalah dengan sesuatu yang jika seseorang dijaga dari kikir terhadapnya maka ia termasuk orang-orang yang beruntung, dan ini hanyalah kelebihan dunia, bukan waktu-waktu yang dihabiskan dalam ketaatan, karena sesungguhnya keberuntungan sepenuhnya adalah dalam kikir terhadapnya. Maka barangsiapa yang tidak kikir dengan waktunya, maka orang-orang akan meninggalkannya di bumi dengan nyata dalam keadaan bangkrut. Maka kikir dengan waktu adalah memakmurkan hati dan menjaga modal pokoknya.
Dan yang menunjukkan hal ini adalah bahwa Dia Yang Mahasuci memerintahkan untuk berlomba dalam amal kebajikan dan bersaing di dalamnya dan bersegera kepadanya, dan ini berlawanan dengan itsar di dalamnya. Allah Taala berfirman: “Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (Surah Ali Imran: 133), dan Allah Taala berfirman: “Maka berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan” (Surah Al-Baqarah: 148), dan Allah Taala berfirman: “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang-orang yang bersaing berlomba-lomba” (Surah Al-Muthaffifin: 26), dan Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Seandainya manusia mengetahui apa yang ada dalam adzan dan shaf pertama, niscaya mereka akan berundi untuk mendapatkannya” yaitu: akan ada undian.
Dan undian hanyalah terjadi ketika berdesakan dan bersaing bukan ketika mengutamakan orang lain, maka pembuat syariat tidak menjadikan ketaatan dan mendekatkan diri sebagai tempat untuk mengutamakan orang lain, bahkan tempat untuk bersaing dan berlomba, dan oleh karena itu para fuqaha berkata: tidak disunahkan mengutamakan orang lain dalam ketaatan.
Jika dikatakan: maka apa yang memudahkan jiwa untuk mengutamakan orang lain dengan dunia tanpa akhirat, karena sesungguhnya jiwa tercipta dengan mementingkan diri sendiri bukan mengutamakan orang lain? Dijawab: yang memudahkannya beberapa perkara:
Pertama: keinginan hamba pada kemuliaan akhlak dan ketinggiannya, karena sesungguhnya di antara akhlak orang yang paling utama, paling mulia, dan paling tinggi adalah mengutamakan orang lain, dan Allah telah menciptakan hati-hati untuk mengagungkan pelakunya dan mencintainya, sebagaimana Dia menciptakannya untuk membenci orang yang mementingkan diri sendiri dan membencinya, tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Dan akhlak ada tiga: akhlak mengutamakan orang lain, dan itu adalah akhlak keutamaan, akhlak pembagian dan kesetaraan, dan itu adalah akhlak keadilan, dan akhlak mementingkan diri sendiri dan berlebihan, dan itu adalah akhlak kezaliman.
Maka pemilik itsar dicintai, ditaati, disegani, dan pemilik keadilan tidak ada jalan bagi jiwa-jiwa untuk menyakitinya dan menguasainya, tetapi ia tidak tunduk kepadanya seperti tunduknya kepada orang yang mengutamakannya, dan pemilik mementingkan diri sendiri jiwa-jiwa untuk menyakitinya dan menguasainya lebih cepat dari aliran air dalam turunannya. Dan tidaklah menghilangkan kerajaan dan mencabutnya kecuali mementingkan diri sendiri! Karena sesungguhnya jiwa-jiwa tidak sabar terhadapnya, dan oleh karena itu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam memerintahkan sahabatnya untuk mendengar dan taat kepada penguasa meskipun mereka mementingkan diri sendiri atas mereka, karena dalam taat kepada orang yang mementingkan diri sendiri ada kesulitan atau karena benci terhadap mementingkan diri sendiri.
Kedua: menjauh dari akhlak orang-orang hina, dan membenci kikir dan tidak sukanya terhadapnya.
Ketiga: mengagungkan hak-hak yang Allah Subhanahu wa Taala jadikan bagi kaum muslimin sebagian mereka atas sebagian, maka ia menjaganya dengan sebaik-baik penjagaan, dan takut dari menyia-nyiakannya, dan mengetahui bahwa jika ia tidak memberikan di atas keadilan maka ia tidak bisa berdiri pada batasnya, karena sesungguhnya itu sangat sulit, bahkan pasti melampaui kepada keutamaan atau kurang darinya kepada kezaliman. Maka ia karena takutnya dari menyia-nyiakan hak dan masuk dalam kezaliman memilih itsar dengan apa yang tidak menguranginya dan tidak membahayakan, dan ia mendapatkan dengannya pujian yang indah di dunia dan pahala yang besar di akhirat, dengan apa yang mendatangkan baginya itsar berupa berkah dan limpahan kebaikan kepadanya, maka kembali kepadanya dari itsar-nya lebih utama dari apa yang ia berikan. Dan barangsiapa yang mencoba ini akan mengetahuinya, dan barangsiapa yang tidak mencoba maka hendaknya ia meneliti keadaan dunia, dan yang diberi taufik adalah siapa yang Allah Subhanahu wa Taala beri taufik.
Itsar yang Berkaitan dengan Ibadah kepada Allah:
Dan itsar yang berkaitan dengan Pencipta lebih agung dari ini dan lebih utama, yaitu mengutamakan keridhaan-Nya atas keridhaan selain-Nya, dan mengutamakan cinta-Nya atas cinta selain-Nya, dan mengutamakan takut dan harap kepada-Nya atas takut dan harap kepada selain-Nya, dan mengutamakan kehinaan, khusyu, kerendahan hati, permohonan, dan merayu kepada-Nya atas memberikan itu kepada selain-Nya, demikian juga mengutamakan meminta dan bertanya kepada-Nya dan menurunkan kebutuhan kepada-Nya atas terkaitnya hal itu dengan selain-Nya. Maka yang pertama mengutamakan sebagian hamba atas dirinya dalam apa yang dicintai olehnya, dan ini mengutamakan Allah atas selain-Nya, dan dirinya termasuk yang paling besar di antara yang lain, maka ia mengutamakan Allah atasnya lalu meninggalkan yang dicintainya untuk yang dicinta Allah. Dan tanda itsar ini ada dua perkara:
Pertama: melakukan apa yang Allah cintai meskipun jiwa membencinya dan lari darinya.
Kedua: meninggalkan apa yang Allah benci meskipun jiwa mencintainya dan menghendakinya.
Maka dengan dua perkara ini sahlah maqam itsar, dan beban itsar ini berat karena dominasi yang lain dan kuatnya panggilan kebiasaan dan tabiat. Maka cobaan di dalamnya besar dan beban di dalamnya berat dan jiwa lemah terhadapnya, dan tidak sempurna keberuntungan hamba dan kebahagiaannya kecuali dengannya. Dan sesungguhnya itu mudah bagi orang yang Allah mudahkan baginya. Maka sepatutnya bagi hamba untuk menjulang kepadanya meskipun sulit pendakiannya, dan untuk bersungguh-sungguh kepadanya meskipun besar cobaan di dalamnya, dan menanggung bahaya yang mudah di dalamnya untuk kerajaan yang agung dan kemenangan yang besar, karena sesungguhnya buah ini di dunia dan akhirat tidak menyerupai buah sesuatu dari amal-amal, dan yang mudah darinya membuat hamba naik, dan yang mudah darinya tidak membuat selainnya naik kepadanya dalam waktu yang panjang, dan itu adalah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan tidak terwujud cinta kecuali dengan itsar ini.
Dan yang memudahkannya bagi hamba beberapa perkara:
Pertama: bahwa tabiatnya lunak, tunduk, mudah, tidak kasar dan tidak keras, bahkan tunduk dengannya dengan mudah.
Kedua: bahwa imannya kuat dan yakinnya teguh, karena ini adalah buah iman dan hasilnya.
Ketiga: kuat kesabarannya dan ketetapannya. Selesailah perkataan Ibnu Qayyim rahimahullah.
Dan pemandangan itsar adalah pemandangan yang agung dan indah, tampak di Ramadhan lebih dari selainnya, karena sesungguhnya hanya meninggalkan makanan dan minumanmu meskipun syahwatmu sangat kuat untuk menahannya karena mencari keridhaan Allah, inilah makna itsar. Maka saksikanlah pemandangan ini, dan bergaullah dengan Allah dengannya selalu, dan telah disebutkan kepadamu oleh Imam makna-makna itsar dengan sempurna dan lengkap, maka tidak tersisa bagimu kecuali amal setelah pemahaman yang mendalam terhadap perkataan ini. Inilah ibadah, maka apakah ada yang bertanya kepadamu?!
Pemandangan Ketujuh: Merasakan Makna-Makna Positif Puasa
Sebagian orang mengira bahwa puasa adalah penindasan dan perampasan, tetapi saya katakan kepada mereka: Sesungguhnya tujuan puasa bukanlah penindasan dan perampasan, melainkan puasa adalah wasilah menuju tujuan yang mulia, yaitu pelatihan untuk kekuasaan dan kepemimpinan, kepemimpinan terhadap diri dan mengendalikan kendalinya, serta menjauhkannya dari hawa nafsu dan keinginannya. Bahkan ia adalah upaya meninggikan kepemimpinan tersebut ke tingkat tertingginya. Ketika kamu dalam keleluasaan berbuka, kamu melindungi perutmu dari memakan yang haram dan yang buruk, maka kini dalam lingkungan puasa kamu menyapihnya bahkan dari yang halal dan yang baik.
Kemarin kamu menahan lisanmu dari mencaci dan menyakiti, maka hari ini kamu menjaganya bahkan dari membalas keburukan dan dari menjawab hasutan dan provokasi. Jika seseorang bertengkar denganmu atau mencacimu, kamu tidak lebih dari berkata: Sesungguhnya aku berpuasa. Demikianlah dengan puasa kamu menguasai kendali syahwat dan amarahmu.
Sesungguhnya kesabaran itu menarik kepada kesabaran, dan kemenangan mengantarkan kepada kemenangan. Jika puasa telah mengajarimu untuk bersabar hari ini dengan sukarela dan pilihan sendiri di waktu aman dan sejahtera, maka besok kamu akan lebih mampu bersabar dan tabah dalam kesempitan, kesusahan, dan ketika kesulitan datang. Jika puasa telah mengajarimu bagaimana menang atas dirimu hari ini, maka dengan puasa kamu menjadi lebih layak untuk menang atas musuhmu besok. Itulah akibat takwa yang Allah kehendaki untukmu melalui puasa.
Sesungguhnya tujuan yang telah kita gambarkan dan tentukan ini berada di tengah jalan yang Allah gariskan untuk orang-orang yang berpuasa. Dan sesungguhnya di akhir jalan ini ada tujuan lain, bahkan tujuan-tujuan lain yang lebih penting dan lebih besar.
Sebenarnya, jika yang dituntut dari orang yang berpuasa hanyalah menahan dirinya dari syahwat dan gejolaknya, dan tidak ada di hadapannya pekerjaan positif baru untuk mengisi kekosongan itu, maka pengalaman puasa akan menjadi pengurangan tenaga yang bekerja dari satu sisi tanpa ada tambahan dari sisi lain. Maka puasa hanya akan menjadi—menurut istilah para ulama—”pengosongan” tanpa “hiasan”, atau perdagangan yang aman dari kerugian, tetapi tidak ada untung dan tidak ada perolehan di dalamnya.
Apakah syariat puasa dalam Islam seperti gambaran yang tandus dan gersang itu?
Tidak sama sekali… Sesungguhnya puasa adalah ibadah yang memiliki dua bagian, dan bagian pertamanya hanyalah persiapan dan penyiapan untuk bagian keduanya. Ia adalah pohon yang batangnya kesabaran, tetapi Allah tidak menghendaki bagi orang yang berpuasa membiarkan batang ini tandus dan gersang, melainkan menghendaki agar tumbuh di sisi-sisinya cabang-cabang syukur, dan mahkotanya dinobatkan dengan daun-daun dan buah-buah dari zikir dan pemikiran. Dan sesungguhnya barangsiapa yang merenungkan kata takwa yang diungkapkan Al-Quran tentang hikmah puasa, ia akan mendapatinya mengandung kedua bagian ini.
Dalam bagian pertamanya: menahan dan berhenti, menjauh dan menjauhi.
Tetapi dalam bagian keduanya: menghadap dan mendekat, memulai dan membangun.
Maka bukanlah masalah sebenarnya bagi orang yang berpuasa untuk menutup pintu-pintu indranya dan membungkam suara hawa nafsu dalam dirinya; karena itu hanya mewakili penutupan pintu-pintu api. Tetapi masalah yang paling besar adalah bahwa penutupan pintu-pintu indra menjadi pembukaan jalan-jalan ruh, dan membungkam suara hawa nafsu menjadi penguatan bagi kalimat kebenaran dan petunjuk. Itulah kunci-kunci pintu surga.
Barangsiapa yang ragu bahwa aspek positif ini adalah tujuan akhir dari syariat puasa, maka bacalah Kitab Allah, ia akan menemukan dalil-dalilnya tersebar dalam lipatan ayat-ayat puasa. Dan lihatlah sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ia akan menemukan tanda-tandanya terbentang dalam petunjuk kenabian dalam perkataan dan perbuatan. Yang mengherankan dalam petunjuk ini adalah bahwa Islam tidak membiarkan perintah puasa sebagai seruan yang lepas, melainkan meletakkan baginya metode-metode tertentu dan menggambarkan baginya rencana-rencana yang terperinci; karena ketika Islam menjadikan bulan puasa sebagai musim bagi pelepasan ruh dari ikatannya, ia membuka bagi ruh dua pintu untuk mengalir: pintu kemanusiaan dan pintu ketuhanan.
Adapun pelepasan ruh dari pintu kemanusiaan: yaitu ia membimbing kita agar kezuhudan kita terhadap makanan dan minuman bukan penahan dan penyimpanan dengan penjagaan dan penimbunan, melainkan kemurahan dan kedermawanan dengan pemberian dan pengutamaan: janganlah engkau wahai orang yang berpuasa hanya menutup kelaparanmu dan memuaskan dahagamu saja, tetapi berilah makan orang yang lapar dan berilah minum orang yang haus. Inilah puasa sebagaimana dipahami oleh imam kita yang agung shallallahu alaihi wasallam, karena ia adalah orang yang paling dermawan pada bulan Ramadhan, sehingga sesungguhnya ia pada bulan itu lebih dermawan daripada angin yang berhembus.
Zakat fitrah di akhir Ramadhan hanyalah mata rantai penutup dan penampakan umum kolektif bagi gerakan-gerakan jiwa individual ini, yang di dalamnya keutamaan sabar berubah menjadi keutamaan syukur, mengikuti petunjuk Al-Quran Al-Karim ketika berfirman: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya kepada kamu, supaya kamu bersyukur” (Al-Baqarah: 185).
Adapun pelepasan ruh di Ramadhan dari pintu ketuhanan, yaitu Islam membuka di dalamnya bagi ketaatan jalan-jalan yang dilalui dan menggambarkan baginya jalan-jalan yang mudah, tasbih dan tahmid, takbir dan tahlil: “Hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya kepada kamu”, tunduk dan permohonan, doa dan pertanyaan: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku” (Al-Baqarah: 186), rukuk dan sujud, berdiri dan bersungguh-sungguh serta bangkit: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosanya yang telah lalu”. Dan itikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan hanyalah akhir dari perjalanan, menghadap kepada Allah dan terputus sepenuhnya kepada-Nya: “Dan janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beritikhaf dalam masjid” (Al-Baqarah: 187).
Ketahuilah bahwa puncak perkara dan intinya dalam aspek ketuhanan ini adalah bermunajat kepada Allah dengan kalam-Nya dan mempelajari kitab-Nya, sebagaimana yang dilakukan Rasul yang terpilih dari manusia dan Rasul yang terpilih dari malaikat, ketika keduanya mempelajari Al-Quran pada Ramadhan setiap tahun. Dan karena suatu alasan, Allah menyebutkan hubungan erat antara Ramadhan dan Al-Quran, dan menjadikannya sebagai keutamaan dan keistimewaan pertama yang mengkhususkan bulan yang diagungkan ini, maka Allah berfirman dengan hikmah-Nya yang agung: “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)” (Al-Baqarah: 185); maka itu adalah isyarat bagi kita agar menjadikan bagian Ramadhan dari Al-Quran sebagai bagian yang paling sempurna.
Karena yang asal adalah beramal dan berjihad di jalan Allah, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berjihad di Ramadhan untuk mencapai derajat tertinggi dalam ibadah, selalu di posisi teratas. Ketika akan meninggal beliau bersabda: “Bahkan Rafiq (teman) yang tertinggi”. Syarat dengan syarat, dan setiap barang ada harganya.
Adapun puasa tidur… adapun puasa orang-orang yang menganggur… apa urusan mereka dengan surga?!
Apa urusanmu dengan cinta sedangkan kamu adalah tawanan biji-bijian, kamu terikat padanya seperti terikatnya bayi dengan ibu susuannya, sedangkan kaum tidak memberikan pandangan padanya… Nabi shallallahu alaihi wasallam berpuasa dan berjihad… berpuasa dan qiyam… berpuasa dan membaca… berpuasa dan berdoa… berpuasa dan shalat… berpuasa dan mengajar… berpuasa dan menerima Al-Quran, mengajarkannya, berdoa dengannya dan kepadanya… Demi ayah, ibu, dan jiwaku untuk engkau wahai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Oleh karena itu saudara-saudaraku, sesungguhnya puasa bukanlah musim untuk tidur. Engkau adalah muslim, maka engkau harus memiliki semangat tinggi untuk mencapai puncak; karena engkau adalah pemilik agama yang lurus… Dalam ayat ini: “Katakanlah: Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar”, terdapat bacaan lain yaitu dinan qayyiman (agama yang lurus). Dan agama yang lurus itu menjadikanmu ketika menyerah dan berserah diri: berpuasa dan mengerahkan usahamu serta meminta pertolongan kepada Allah yang Mahaagung. Allah Subhanahu berfirman: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu” (Al-Baqarah: 45). Wahai manusia… wahai saudara-saudara… wahai saudari-saudari… jika kalian menginginkan kesuksesan, maka mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat… dan berpegangteguhlah dengan penghambaan di mana pun kendaraannya hinggap.
Pemandangan Kedelapan: Kedermawanan Dan Kebaikan
Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan ia paling dermawan pada bulan Ramadhan ketika bertemu dengan Jibril. Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadhan untuk mempelajari Al-Quran bersamanya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika bertemu Jibril alaihissalam lebih dermawan dengan kebaikan daripada angin yang berhembus”.
Allah Yang Maha Mulia menyukai melihat bekas nikmat-Nya pada hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Taala berfirman: “Dan adapun nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutkannya” (Adh-Dhuha: 11). Dan di antara Asmaul Husna adalah “Al-Mannan” (Yang Maha Pemberi Karunia); maka Dia Subhanahu menyukai pujian. Ramadhan adalah bulan yang banyak berkahnya, besar kebaikannya. Allah telah memberi karunia kepada hamba-hamba-Nya di dalamnya dengan berbagai jenis nikmat; maka wajib bagi hamba sebagai balasannya memberikan berbagai jenis kedermawanan sebagai syukur atas nikmat-nikmat ini, mengikuti teladan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam; karena sesungguhnya beliau meskipun lebih dermawan daripada angin yang berhembus di luar Ramadhan, namun beliau menjadi lebih dermawan dari itu di Ramadhan.
Sesungguhnya kami menginginkan wahai saudara yang mulia agar engkau menunjukkan kepada Allah berbagai jenis kedermawanan di Ramadhan:
- Berilah makan orang-orang fakir dan miskin, dari makananmu yang kamu makan di mejamu atau yang lebih baik.
- Bersedekahlah dengan sedekah dari yang paling berharga yang kamu miliki.
- Muliakanlah orang fakir dengan lebih dari yang ia harapkan.
Kami menginginkan darimu penampakan kedermawanan yang belum pernah terjadi sebelumnya… Umar membagi hartanya dengan Allah, dan Abu Bakar mengeluarkan seluruh hartanya, maka apa yang akan engkau lakukan?
Dan ketahuilah bahwa nikmat Allah, kemuliaan-Nya, dan karunia-Nya tidak pernah didatangkan dengan sesuatu seperti kedermawanan dan memuliakan makhluk-Nya.
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil) (Al-Baqarah: 185).
Ramadhan dan Al-Quran, hubungan di antara keduanya erat dan ikatan keduanya besar.
Maka tidak boleh tidak membicarakan Al-Quran dengan sangat terperinci dan memberikan perhatian kepadanya di bulan yang mulia ini dengan perhatian khusus. Oleh karena itu, untuk kalian di sini bab yang menyenangkan tentang Al-Quran Al-Karim, maka bacalah dengan tenang dan jangan tergesa-gesa agar dapat beramal.
Al-Quran… Kitab Allah yang kekal, yang dengan kitab itu Allah mengeluarkan umat ini dari kegelapan kepada cahaya, maka Dia membentuknya dengan pembentukan yang pertama dan mengubahnya dari ketakutannya menjadi keamanan, dan memberikan kemampuan kepadanya di bumi, dan memberikan kepadanya unsur-unsur yang dengannya ia menjadi umat. Padahal sebelumnya ia bukan sesuatu apa-apa. Dan tanpa unsur-unsur ini ia bukan umat dan tidak memiliki tempat di bumi, dan tidak ada sebutan di langit. Maka tidak kurang dari bersyukur kepada Allah atas nikmat Al-Quran ini dengan merespons seruan untuk berpuasa di bulan yang di dalamnya Al-Quran diturunkan.
Al-Quran… Kitab umat ini, ia adalah ruhnya dan pembangkitnya, kedudukannya dan wujudnya. Ia adalah penjaganya dan penggembalanya, ia adalah penjelasannya dan penterjemahnya. Ia adalah undang-undang dasarnya dan metodenya, dan ia adalah bekal perjalanan.
Tetapi akan tetap ada jurang yang dalam antara kita dan Al-Quran selama kita tidak mewujudkan dalam perasaan kita dan menghadirkan dalam bayangan kita bahwa Al-Quran ini ditujukan kepada umat yang memiliki keberadaan nyata, dan dengannya diarahkan peristiwa-peristiwa nyata dalam kehidupan umat ini, dan dengannya dikelola pertempuran besar di dalam jiwa manusia dan di sebidang bumi juga. Akan tetap ada penghalang tebal antara hati kita dan Al-Quran selama kita membacanya seolah-olah hanya lantunan ibadah yang samar-samar, tidak ada hubungannya dengan kenyataan kehidupan manusia, padahal ayat-ayat ini diturunkan untuk menghadapi jiwa-jiwa, kejadian-kejadian, dan peristiwa-peristiwa yang hidup.
Ayat-ayat yang diturunkan dari sekitar Arsy, maka bumi dengan ayat-ayat ini menjadi langit dan ayat-ayat ini bagi langit itu adalah bintang-bintang, bahkan tentara Ilahi telah disebarkan untuknya bendera keutamaan, dan menghadap kepadanya dari ruh-ruh rombongan-rombongan. Hati-hati ditutup di hadapannya maka ia menerobos kunci-kuncinya, dan adat istiadat hati nurani menahan dirinya maka ia merebut rampasan perangnya.
Hati nurani orang-orang Arab menahan diri dari Al-Quran dengan kebiasaan dan akhlak yang mengakar di dalamnya, maka Al-Quran menembus ke dalamnya dan merebutnya dan menguasai urusannya.
Berapa banyak mereka berpaling dari jalannya dengan keras, dan siapa yang dapat menahan banjir ketika mengamuk? Mereka menentangnya dengan lisan sebagai penolakan, demi umurku, siapa yang dapat menolak takdir Allah?
Kata-kata ketika keras seperti ombak laut yang bergelora, dan ketika lembut seperti napas kehidupan akhirat. Ketika berjanji dari kemurahan Allah, menjadikan mulut tersenyum di wajah-wajah yang gaib.
Dan jika mengancam dengan azab Allah, menjadikan lidah bergetar dari demam hati.
Makna-makna yang manis yang membuatmu segar dari air perkataan, dan kelembutan yang darinya engkau merasakan hembusan surga, dan cahaya yang dengannya engkau melihat di cermin iman wajah keamanan. Berembun dengan embun kehidupan pada bunga hati nurani, dan terbang dalam ruh-ruhnya dari makna-makna pelajaran, makna aroma.
Mengalir dalam pikiran sebagaimana tetesan air naik di pohon.
Dan berhubungan dengan ruh seolah-olah ia membentangkan untuknya sebab ke langit.
Kata-kata yang tidak pernah dikenal kelam matanya, dan buah-buah yang tidak tumbuh di pena daun-daunnya, dan cahaya di atasnya kilau air seolah-olah awan menyalakan dirinya dengannya, dan air yang berkilauan dari cahaya seolah-olah diperas dari bintang-bintang.
Dan apakah mereka melihat selain kata-kata yang bercahaya alfaz-alfaznya bagaikan pelita-pelita, lalu mereka meniupnya dengan mulut-mulut mereka sebagaimana angin berhembus, mereka menginginkan untuk memadamkan cahaya Allah, dan di manakah cahaya bintang dari tiupan yang naik kepadanya seolah-olah hendak memadamkannya, dan di manakah cahaya bulan dari telapak tangan yang pemiliknya mengira bahwa telapak tangannya sebesar bulan lalu mengangkatnya seolah-olah hendak menyembunyikannya!
Dan jauh sekali, jauh sekali, untuk mencapai hal itu sama seperti membungkus matahari padahal ia adalah ibu kehidupan dalam kain kafan, dan menurunkannya dengan tangan-tangan padahal ia adalah roh api dalam kubur dari gua-gua zaman.
Sudah pasti bahwa Alquran adalah rahasia langit, maka ia adalah cahaya Allah di ufuk dunia hingga ia sirna, dan makna keabadian dalam negara bumi hingga ia berganti, dan oleh karena itu jika ahli kebatilan terus menerus dalam kesesatan mereka yang mengembara, maka akan tetap ayat-ayatnya menelan apa yang mereka ada-adakan, “Maka terjadilah kebenaran dan batallah apa yang mereka kerjakan” (Surah Al-A’raf: 118).
Keutamaan-keutamaan Alquran:
(1) Alquran adalah Rahmat:
Allah Subhanahu Wataala berfirman: “Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu Kitab (Alquran) yang dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Alquran) itu terdapat rahmat dan peringatan bagi orang-orang yang beriman” (Surah Al-Ankabut: 51), apakah tidak cukup bagi mereka bahwa mereka hidup bersama langit dengan Alquran ini, memperasa mereka bahwa mata Allah mengawasi mereka, dan bahwa Dia peduli kepada mereka dengan menurunkan firman-Nya kepada mereka, berbicara kepada mereka tentang apa yang ada dalam jiwa-jiwa mereka, dan mereka adalah makhluk kecil yang remeh ini yang tersesat dalam kerajaan Allah yang besar..
Dan Allah setelah itu memuliakan mereka hingga Dia menurunkan kepada mereka kalimat-kalimat-Nya yang dibacakan kepada mereka, dan orang-orang yang beriman adalah mereka yang merasakan sentuhan rahmat Allah dalam jiwa-jiwa mereka, dan mereka adalah orang-orang yang mengingat karunia Allah dan nikmat-Nya yang agung atas kemanusiaan dengan turunnya wahyu ini, dan merasakan kemurahan-Nya saat Dia mengundang mereka ke hadirat-Nya dan ke hidangan-Nya padahal Dia Yang Maha Tinggi Maha Besar, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat manfaat dari Alquran ini; karena ia hidup dalam hati-hati mereka, dan membukakan bagi mereka perbendaharaan-perbendaharaannya, dan memberikan kepada mereka simpanan-simpanannya dan bersinar dalam roh-roh mereka dengan pengetahuan dan cahaya..
(2) Alquran adalah Ketenangan:
Beriman kepada kalam Allah dan hidup bersamanya adalah ketenangan dalam hati dan istiqamah di jalan, dan keteguhan di jalan setapak, dan kepercayaan pada sandaran, dan ketentraman pada perlindungan, dan keyakinan akan akibat, Allah Subhanahu Wataala berfirman: “Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (Surah Yunus: 58), dan Allah Subhanahu Wataala berfirman: “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Alquran yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka kepada mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, Dia memberi petunjuk dengan itu siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada baginya seorang pemberi petunjuk pun” (Surah Az-Zumar: 23).
Kehidupan dalam naungan Alquran adalah nikmat yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang merasakannya, nikmat yang mengangkat umur dan memberkatinya dan menyucikannya, kemuliaan apakah bagi manusia yang melebihi kemuliaan ilahi yang agung ini bahwa Allah Subhanahu Wataala berbicara kepadanya dan ia memahami?!, nikmat apakah yang lebih besar dari turunnya Alquran?!, nikmat yang tidak cukup dipuji oleh manusia, maka Allah memuji diri-Nya atas nikmat ini dan Dia berfirman: “Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Kitab dan Dia tidak menjadikan padanya sesuatu yang bengkok” (Surah Al-Kahf: 1).
Kemuliaan apakah bagi umur yang diangkat oleh wahyu ini?, kedudukan mulia apakah yang dikaruniakan kepada manusia yang kecil remeh oleh Penciptanya Yang Maha Mulia?
Ini adalah karunia Allah atas manusia di bumi ini.. Karunia yang dengannya manusia dilahirkan dengan kelahiran baru, dan tumbuh dengan pertumbuhan baru..
Dan tidak ada yang lebih sengsara di muka bumi selain mereka yang kehilangan ketenangan jinak kepada Allah, tidak ada yang lebih sengsara selain yang meluncur di bumi ini terputus hubungannya dengan apa yang ada di sekelilingnya di alam semesta; karena ia terputus dari pegangan yang menghubungkannya dengan Allah, tidak ada yang lebih sengsara dalam kehidupan selain yang membelah jalannya sendirian tersesat di padang pasir, ia harus berjuang sendirian tanpa penolong atau pembimbing atau pembantu..
Alquran yang ajaib ini, yang jika ada Alquran yang dengannya gunung-gunung dapat berjalan atau dengannya bumi dapat dibelah atau dengannya orang-orang mati dapat berbicara, maka pada Alquran ini terdapat dari sifat-sifat dan pengaruh-pengaruh apa yang dengannya hal-hal luar biasa dan mukjizat-mukjizat ini dapat terjadi, tetapi ia datang untuk berbicara kepada orang-orang mukallaf yang hidup.
(3) Alquran Pencipta Para Lelaki:
Sungguh Alquran ini telah menciptakan dalam jiwa-jiwa yang menerimanya dan terbentuk dengannya lebih dari sekedar menjalankan gunung-gunung dan membelah bumi dan berbicara dengan orang-orang mati, dan sungguh ia telah menciptakan dalam jiwa-jiwa ini dan dengan jiwa-jiwa ini hal-hal luar biasa yang lebih besar dan lebih jauh pengaruhnya, karena betapa banyak Islam dan kaum muslimin telah mengubah wajah bumi, di samping apa yang mereka ubah dari wajah sejarah.
Mereka yang menerimanya dan terbentuk dengannya telah menjalankan apa yang lebih besar dari gunung-gunung yaitu sejarah bangsa-bangsa dan generasi-generasi, dan memotong apa yang lebih keras dari bumi, yaitu kejumudan pemikiran-pemikiran dan tradisi-tradisi, dan menghidupkan apa yang lebih padam dari orang-orang mati, yaitu bangsa-bangsa yang roh mereka dibunuh oleh kezaliman dan kekhayalan-kekhayalan.
Allah Subhanahu Wataala berfirman: “Sesungguhnya Alquran ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus” (Surah Al-Isra: 9), memberi petunjuk kepada yang lebih lurus dalam dunia hati nurani dan perasaan, antara lahir dan batin manusia, dalam dunia ibadah dengan keseimbangan antara taklif dan kemampuan, dalam hubungan-hubungan manusia satu sama lain..
(4) Alquran adalah Obat:
Allah Subhanahu Wataala berfirman: “Dan Kami turunkan dari Alquran sesuatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (Surah Al-Isra: 82), dalam Alquran terdapat kesembuhan, Alquran adalah rahmat bagi orang-orang yang hati-hati mereka bercampur dengan kegembiraan iman lalu bersinar, dan terbuka untuk menerima apa yang ada dalam Alquran dari roh dan ketenangan..
Dalam Alquran terdapat kesembuhan dari was-was dan kegelisahan dan kebingungan, karena ia menghubungkan hati dengan Allah, lalu ia ridha dan merasakan ridha dari Allah dan ridha dari kehidupan.
Dan kegelisahan adalah penyakit, dan kebingungan adalah kesengsaraan, dan was-was adalah penyakit, dan oleh karena itu ia adalah rahmat bagi orang-orang yang beriman..
Dan dalam Alquran terdapat kesembuhan dari hawa nafsu dan kenajisan dan ketamakan dan dengki dan bisikan-bisikan setan.
Dan dalam Alquran terdapat kesembuhan dari kecenderungan-kecenderungan yang goyah dalam perasaan dan pemikiran, karena ia melindungi akal dari kekeliruan.
Dan dalam Alquran terdapat kesembuhan dari penyakit-penyakit sosial yang menggoyahkan bangunan masyarakat-masyarakat.
(5) Alquran adalah Perlindungan Setelah Petunjuk:
Allah Subhanahu Wataala berfirman: “Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingat (Alquran) Tuhan Yang Maha Pemurah, Kami adakan baginya setan yang menjadi teman yang selalu menyertainya” (Surah Az-Zukhruf: 36), dan seburuk-buruk apa yang dilakukan teman pada temannya adalah menghalanginya dari jalan yang satu yang lurus, kemudian tidak membiarkannya sadar atau melihat kesesatan sehingga bertobat; melainkan mengira bahwa ia berjalan di jalan yang lurus yang benar, hingga akhir menjemput mereka sedang mereka lalai, di sinilah mereka sadar sebagaimana orang mabuk sadar, dan membuka mata mereka setelah rabun dan lelah.
Maka Alquran melindungimu dalam perjalananmu kepada Allah, dan menghindarkan darimu setan-setan jin, dan memberimu dari hujjah apa yang dengannya kamu mengalahkan setan-setan manusia.
(6) Alquran adalah Kehidupan Hati-hati:
Dan Allah Subhanahu Wataala berfirman: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)” (Surah Al-Hadid: 16), tidak ada keputusasaan dari hati yang padam dan membeku dan keras dan tumpul, karena sesungguhnya memungkinkan bahwa kehidupan merayap padanya, dan cahaya bersinar padanya, dan khusyuk untuk mengingat Allah, karena Allah menghidupkan bumi setelah matinya, lalu ia berdenyut dengan kehidupan, dan penuh dengan tumbuhan dan bunga, dan memberikan makanan dan buah-buahan, dan demikian juga hati-hati ketika Allah menghendaki, dan dalam Alquran ini ada yang menghidupkan hati-hati, sebagaimana bumi hidup dan apa yang memberikannya makanan dan siram dan kehangatan.
Allah Subhanahu Wataala berfirman: “Katakanlah: Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Alquran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi” (Surah Al-Isra: 107-108), mereka tidak sujud tetapi: “mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud”, kata-kata tidak cukup dalam menggambarkan apa yang bergejolak di dada-dada mereka karenanya, lalu air mata mengalir mengungkapkan tentang keharuan yang menenggelamkan itu yang tidak digambarkan oleh kata-kata..
Ini adalah pengaruh Alquran dalam hati-hati yang terbuka untuk menerima limpahan-limpahan-Nya, yang mengetahui sifat dan nilainya, dan sungguh aku heran kepada para pembaca Alquran bagaimana mereka nyenyak tidurnya padahal bersama mereka Alquran, demi Allah seandainya mereka mengetahui apa yang mereka pikul niscaya tidur akan terbang dari mereka karena gembira.
Ramadhan dan Alquran:
Ibnu Rajab rahimahullah berkata dalam Lataif Al-Ma’arif: “Puasa akan memberi syafaat bagi orang yang dicegahnya dari makanan dan syahwat-syahwat yang diharamkan semuanya, baik pengharamannya khusus dengan puasa seperti syahwat makan dan minum dan nikah dan mukadimah-mukadimahnya, atau tidak khusus seperti syahwat kelebihan kata-kata yang diharamkan, dan pandangan yang diharamkan dan pendengaran yang diharamkan, dan perolehan yang diharamkan, maka jika puasa mencegahnya dari hal-hal yang diharamkan ini semuanya maka sesungguhnya ia akan memberi syafaat untuknya di sisi Allah pada hari kiamat, dan berkata: Ya Rabb.. aku telah mencegahnya dari syahwat-syahwatnya maka syafaatkanlah aku untuknya, ini bagi orang yang menjaga puasanya dan mencegahnya dari syahwat-syahwat, adapun orang yang menyia-nyiakan puasanya dan tidak mencegahnya dari apa yang Allah haramkan atasnya, maka sesungguhnya layak bahwa ia dipukul dengannya wajah pemiliknya dan berkata kepadanya: Allah menyia-nyiakanmu sebagaimana engkau menyia-nyiakanku. Sebagian salaf berkata: Jika mukmin hendak meninggal dikatakan kepada malaikat: Ciumlah kepalanya, ia berkata: Aku menemukan dalam kepalanya Alquran, lalu dikatakan: Lalu hatinya, maka ia berkata: Aku menemukan dalam hatinya puasa, lalu dikatakan: Ciumlah kedua kakinya, maka ia berkata: Aku menemukan dalam kedua kakinya qiyam, lalu dikatakan: Dia menjaga dirinya maka Allah Azza wa Jalla menjaganya.”
“Dan demikian juga Alquran hanya akan memberi syafaat bagi orang yang dicegahnya dari tidur di malam hari, barangsiapa yang membaca Alquran dan qiyam dengannya maka sungguh dia telah menunaikan haknya maka ia akan memberi syafaat untuknya, adapun orang yang bersamanya Alquran lalu ia tidur darinya di malam hari dan tidak mengamalkannya di siang hari, maka sesungguhnya Alquran akan berdiri sebagai penuntut untuknya menuntut hak-haknya yang ia sia-siakan” selesai.
Dan “Adalah Nabi shallallahu alaihi wa sallam paling dermawan pada saat beliau di bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya lalu mempelajari bersamanya Alquran, dan adalah Jibril menemuinya setiap malam dari Ramadhan lalu mempelajari bersamanya Alquran, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika Jibril menemuinya lebih dermawan dengan kebaikan dari angin yang dikirimkan”.
Ibnu Rajab berkata: “Hadits menunjukkan atas kesunnahan mempelajari Alquran di Ramadhan dan berkumpul atas itu, dan menyetor Alquran kepada orang yang lebih hafal darinya, dan padanya dalil atas kesunnahan memperbanyak tilawah Alquran di bulan Ramadhan.”
“Dan dalam hadits bahwa pembelajaran antara Jibril alaihis salam dan antara Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah di malam hari, maka ini menunjukkan atas kesunnahan memperbanyak tilawah Alquran di malam hari, karena sesungguhnya malam terputus padanya gangguan-gangguan dan berkumpul padanya tekad, dan sejalan padanya hati dan lisan atas tadabbur sebagaimana Allah Subhanahu Wataala berfirman: “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan” (Surah Al-Muzzammil: 6)” selesai.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang membaca seratus ayat dalam satu malam ditulis baginya qunut satu malam”, dan beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Alquran datang pada hari kiamat lalu berkata: Ya Rabb pakaikanlah dia, lalu dipakaikan mahkota kemuliaan, kemudian berkata: Ya Rabb tambahkan untuknya, lalu dipakaikan pakaian kemuliaan, kemudian berkata: Ya Rabb ridhailah dia, maka Dia ridha kepadanya, lalu dikatakan: Bacalah dan naiklah, dan ditambahkan dengan setiap ayat satu kebaikan”.
Ahmad bin Al-Hawari berkata: Sesungguhnya aku membaca Alquran dan melihat dalam satu ayat lalu terheran akalku dengannya, dan aku heran dari para penghafal Alquran bagaimana tidur nyenyak mereka, dan mereka mampu sibuk dengan sesuatu dari dunia padahal mereka membaca kalam Allah, sungguh seandainya mereka memahami apa yang mereka baca, dan mengetahui haknya dan menikmatinya, dan merasa enak bermunajat dengannya; niscaya tidur akan pergi dari mereka karena gembira dengan apa yang mereka diberi rezeki.
Dan adalah Sufyan Ats-Tsauri jika masuk Ramadhan meninggalkan semua ibadah dan menghadap pada bacaan Alquran..
Dan adalah Malik jika masuk Ramadhan lari dari membaca hadits dan majelis-majelis ahli ilmu.
Dan adalah Ali Al-Azdi mengkhatam antara Maghrib dan Isya di setiap malam dari Ramadhan..
Dan Rabi’ bin Sulaiman berkata: Adalah Asy-Syafi’i mengkhatam Alquran di bulan Ramadhan enam puluh khatam, tidak ada darinya sesuatu kecuali dalam shalat.
Dan adalah Qatadah mengkhatam Alquran dalam setiap tujuh sekali, maka jika datang Ramadhan khatam dalam setiap tiga malam sekali, maka jika masuk sepuluh khatam dalam setiap malam sekali..
Dan adalah An-Nakha’i melakukan itu dalam sepuluh akhir darinya khusus, dan dalam sisa bulan dalam tiga..
Dan adalah Al-Aswad mengkhatam Alquran di Ramadhan dalam setiap dua malam, dan dalam selain Ramadhan dalam setiap enam malam..
Saudara-Saudaraku..
Ini adalah bulan Ramadan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran wahai hamba-hamba Allah, dan dalam sisa-sisanya masih ada kesempatan bagi orang-orang yang beribadah, dan inilah Kitab Allah yang dibacakan di tengah-tengah kalian dan didengarkan.
Dan inilah Al-Quran yang jika diturunkan pada gunung, maka kamu akan melihatnya tunduk dan terbelah, namun dengan ini tidak ada hati yang khusyu’, tidak ada mata yang menangis, tidak ada puasa yang dijaga dari yang haram sehingga bermanfaat, tidak ada shalat malam yang tegak sehingga diharapkan pada pelakunya akan memberi syafaat, dan menumpuklah atas kita kegelapan dosa-dosa sehingga tidak bisa melihat dan tidak bisa mendengar..
Berapa kali dibacakan kepada kita ayat-ayat Al-Quran namun hati kita seperti batu atau lebih keras lagi, dan berapa kali datang kepada kita Ramadan namun keadaan kita di dalamnya seperti keadaan orang-orang yang celaka, tidak para pemuda di dalamnya berhenti dari kesalahan, dan tidak para orang tua berhenti dari keburukan sehingga bergabung dengan orang-orang pilihan, di manakah kita dari suatu kaum yang jika mendengar seruan Allah mereka memenuhi seruan itu, dan jika dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah maka hati mereka menjadi bercahaya, dan jika mereka berpuasa maka berpuasa pula lisan mereka, pendengaran dan penglihatan mereka, apakah tidak ada teladan bagi kita pada mereka?, jarak antara kita dan keadaan yang jernih lebih jauh dari jarak antara Shafa dan Marwah, setiap kali baik perkataan kita maka buruk amal perbuatan kita..
Maka apakah ada taubat yang jujur dan tekad yang bulat.. kita membaca Kitab Allah dengan tadabbur dan pemahaman sehingga menjadi pemberi syafaat bagi kita di sisi Rabb kita sehingga mengangkat kesedihan yang ada pada kita..
Mari kita memahami Al-Quran dengan cara memperoleh kenikmatan Al-Quran:
Wahai saudara-saudara..
Jika kita mengetahui sekarang pentingnya Al-Quran dalam mengembalikan umat.. dan kita mengetahui bagaimana menghafalnya dan mempelajarinya sebagaimana para sahabat menghafalnya; agar kita terdidik dengannya dan kita mengetahui apa yang dituntut dari kita berkenaan dengan Al-Quran dalam poin-poin yang pasti.. maka tersisa kita mengetahui bagaimana kita memperoleh kenikmatan membaca dan mengajinya, terlebih lagi kita berada di bulan Al-Quran.
Memperoleh Kenikmatan Tilawah dan Membaca Al-Quran:
Ketahuilah bahwa kenikmatan ini tidak akan diperoleh kecuali dengan terpenuhinya adab-adab lahir dan adab-adab batin ketika membaca Al-Quran yang agung..
Adapun Adab-Adab Lahir:
(1) Adab pada Pembaca:
Hendaknya pembaca dalam keadaan berwudhu, dan hendaknya dalam keadaan berdiri dengan sikap sopan dan tenang, baik berdiri maupun duduk, menghadap kiblat, menundukkan kepala, tidak duduk bersila dan tidak bersandar, dan tidak duduk dengan sikap sombong. Jika dia membaca tanpa berwudhu atau dalam keadaan berbaring di tempat tidurnya; maka dia juga mendapat keutamaan; tetapi di bawah itu. Allah Ta’ala berfirman: “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi” (Ali Imran: 191), maka Dia memuji semuanya; tetapi mendahulukan berdiri dalam berzikir, kemudian duduk, kemudian zikir dalam keadaan berbaring.
(2) Adab dalam Ukuran Bacaan:
Dan untuk bacaan ada kebiasaan yang berbeda-beda, dalam memperbanyak dan mengurangi, dan yang diriwayatkan dari Utsman dan Zaid bin Tsabit dan Ibnu Mas’ud dan Ubai bahwa mereka mengkhatamkan Al-Quran setiap Jumat, mereka membaginya menjadi tujuh hizb.
(3) Tartil:
Tartil adalah yang dianjurkan dalam tilawah Al-Quran; karena kita akan menjelaskan bahwa tujuan dari bacaan adalah tafakkur, dan tartil membantu untuk itu; oleh karena itu Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha menyifati bacaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; maka dia menyifati bacaan yang dijelaskan huruf demi huruf. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Sungguh aku membaca Al-Baqarah dan Ali Imran dengan tartil dan tadabbur lebih aku cintai daripada aku membaca seluruh Al-Quran dengan tergesa-gesa, dan jelas bahwa tartil dan perlahan lebih dekat kepada penghormatan dan pengagungan dan lebih kuat pengaruhnya pada hati daripada tergesa-gesa dan terburu-buru.
(4) Menangis:
Dan itu dianjurkan dengan bacaan, dan sumbernya adalah kesedihan; yaitu hendaknya dia merenungkan apa yang ada di dalamnya dari ancaman dan peringatan, dan perjanjian-perjanjian dan ikatan, kemudian dia merenungkan kelalaiannya dalam perintah-perintah dan larangan-larangannya; maka dia pasti akan sedih dan menangis.
(5) Memperhatikan Hak Ayat-Ayat:
Jika melewati ayat sajdah maka dia bersujud, demikian juga jika mendengar dari orang lain ayat sajdah dia bersujud jika pembaca bersujud, dan dia tidak bersujud kecuali jika dalam keadaan suci, dan telah dikatakan dalam kesempurnaannya: bahwa dia bertakbir sambil mengangkat kedua tangannya untuk takbiratulihramnya dari posisi berdiri kemudian dia turun bersujud, kemudian dia bangkit dan menyempurnakan bacaan.
(6) Adab Tartil:
Hendaknya dia mengucapkan di awal bacaannya: A’udzu billahis sami’il ‘alimi minasy syaithanir rajim, dan di tengah-tengah bacaan jika melewati ayat tasbih maka dia bertasbih dan bertakbir, dan jika melewati ayat doa dan istighfar maka dia berdoa dan beristighfar, dan jika melewati (ayat) yang memberikan harapan dia meminta, dan jika melewati (ayat) yang menakutkan dia berlindung, dia melakukan itu dengan lisannya atau dengan hatinya.
(7) Merahasiakan Bacaan:
Maka itu lebih jauh dari riya dan pamer; dan itu lebih utama bagi orang yang khawatir akan hal itu pada dirinya. Jika dia tidak khawatir dan tidak ada dalam mengeraskan (bacaan) apa yang mengganggu orang yang shalat; maka mengeraskan lebih utama; karena amal di dalamnya lebih banyak, dan karena itu membangunkan hati pembaca, dan mengumpulkan perhatiannya untuk berpikir di dalamnya, dan karena mengeraskan suara mengusir kantuk, dan menambah semangatnya untuk membaca, dan mengurangi kemalasannya. Maka kapan saja hadir padanya sesuatu dari niat-niat ini; maka mengeraskan lebih utama.
(8) Membaguskan Bacaan:
Dan mengaturnya tanpa pemanjangan yang berlebihan yang mengubah susunan (ayat); maka itu adalah sunnah. Dan dalam hadits: “Hiasilah Al-Quran dengan suara-suara kalian”, dan dalam hadits lain: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak berlagukan Al-Quran”, maka ada yang mengatakan: yang dimaksud dengannya adalah mencukupkan diri, dan ada yang mengatakan: yang dimaksud dengannya adalah melagukan dan mengulang-ulang nada dengannya, dan itu lebih dekat menurut ahli bahasa. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendengarkan bacaan Abu Musa lalu beliau bersabda: “Sungguh orang ini telah diberi dari mazmur keluarga Daud”, dan diriwayatkan bahwa sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika mereka berkumpul maka mereka memerintahkan salah seorang dari mereka untuk membaca satu surat dari Al-Quran.
Adapun Adab-Adab Batin:
(1) Memahami Keagungan Kalam:
Memahami keagungan kalam dan ketinggiannya serta mengakui keutamaan-Nya Subhanahu wa Ta’ala dan kelembutan-Nya kepada makhluk-Nya dalam turunnya dari Arasy keagungan-Nya ke derajat pemahaman makhluk-Nya. Maka hendaknya dia melihat bagaimana Dia berlembut kepada makhluk-Nya dalam menyampaikan makna-makna kalam-Nya kepada pemahaman makhluk-Nya?, dan bagaimana menampakkan kepada mereka sifat itu dalam lipatan huruf-huruf dan suara-suara yang merupakan sifat manusia, karena manusia tidak mampu mencapai pemahaman sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla kecuali dengan perantara sifat-sifat dirinya sendiri. Dan seandainya tidak ada tersembunyinya hakikat keagungan kalam-Nya dengan pakaian huruf-huruf, maka tidak akan tetap untuk mendengar kalam itu Arasy dan tidak pula bumi, dan akan lenyaplah apa yang ada di antara keduanya dari keagungan kekuasaan-Nya dan cahaya-cahaya nur-Nya. Dan seandainya tidak ada penguatan Allah ‘azza wa jalla kepada Musa ‘alaihissalam, maka dia tidak akan sanggup mendengar kalam-Nya sebagaimana gunung tidak sanggup dengan permulaan tajalli-Nya sehingga menjadi hancur. Kamu harus wahai pembaca Al-Quran mengetahui bahwa Al-Quran adalah kalam Allah dan bahwa sifat takallum (berbicara) adalah dari sifat-sifat keagungan bagi Rabb Jalla wa ‘Ala, dan Rabbmu Jalla Jalaluhu jika menampakkan diri kepada sesuatu maka tidak akan tegak karena keagungan keagungan-Nya Subhanahu sesuatu pun, “Maka tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dibuatnya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan, Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: ‘Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau'” (Al-A’raf: 143).
Maka pahamilah dan ketahuilah wahai kekasih yang mencintai bahwa sifat kalam adalah dari sifat-sifat Malik Jalla Jalaluhu dan ia memiliki keagungan dari keagungan-Nya Subhanahu, dan sebagaimana Dia Subhanahu sebagaimana terbukti dalam hadits bahwa “hijab-Nya adalah cahaya, seandainya Dia membukanya niscaya terbakarlah cahaya-cahaya wajah-Nya apa yang terjangkau oleh pandangan-Nya dari makhluk-Nya”; maka pasti ada hijab untuk sifat ini.
Maka Allah menjadikan dan Dia adalah Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya, Maha Mulia, huruf-huruf dan suara-suara seakan-akan sebagai hijab untuk sifat kalam; agar hati dan akal mampu melihat sifat ini, jika tidak maka akan menjadi makhluk hancur luluh sebagaimana yang terjadi pada gunung. Allah Subhanahu berfirman: “Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah” (Al-Hasyr: 21).
Maka bersyukurlah kepada Allah wahai pembaca Al-Quran atas karunia yang agung ini bahwa kamu mampu membaca Al-Quran yang merupakan kalam Allah, dan kalam adalah sifat dari sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla. Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Al-Qamar: 17).
(2) Mengagungkan yang Berbicara:
Maka pembaca ketika memulai tilawah Al-Quran hendaknya menghadirkan dalam hatinya keagungan yang berbicara, dan mengetahui bahwa apa yang dia baca bukanlah dari kalam manusia, dan bahwa dalam tilawah kalam Allah ‘azza wa jalla terdapat bahaya yang besar. Karena Dia Ta’ala berfirman: “Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan” (Al-Waqi’ah: 79), dan sebagaimana zahir kulit mushaf dan kertasnya terjaga dari zahir kulit orang yang menyentuh kecuali jika dia bersuci, maka batin maknanya juga dengan hukum kemuliaan dan keagungan-Nya terhijab dari batin hati kecuali jika hati itu bersuci dari setiap kotoran, dan menyala dengan cahaya pengagungan dan penghormatan.
Dan sebagaimana tidak layak menyentuh kulit mushaf setiap tangan, maka tidak layak untuk tilawah huruf-hurufnya setiap lisan, dan tidak untuk memperoleh makna-maknanya setiap hati.
Maka mengagungkan kalam adalah mengagungkan yang berbicara, dan tidak akan hadir padanya keagungan yang berbicara kecuali jika dia memikirkan sifat-sifat-Nya dan keagungan-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya. Maka jika hadir dalam pikirannya Arasy dan istiwa Rabbnya di atasnya, dan Kursi yang melingkupi langit dan bumi, dan dia menghadirkan pemandangan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dari jin dan manusia dan binatang dan pepohonan, dan mengetahui bahwa Pencipta semua itu dan Yang Berkuasa atas mereka dan Pemberi rezeki kepada mereka adalah Satu, dan bahwa semua dalam genggaman-Nya berputar-putar antara karunia dan rahmat-Nya, dan antara murka dan kekuasaan-Nya, jika Dia memberi nikmat maka dengan karunia-Nya, dan jika Dia menghukum maka dengan keadilan-Nya, dan bahwa Dialah yang berfirman: Golongan ini ke surga dan Aku tidak peduli, dan golongan ini ke neraka dan Aku tidak peduli, dan ini puncak keagungan dan ketinggian. Maka dengan tafakkur pada contoh-contoh seperti ini akan hadir pengagungan terhadap yang berbicara dan kemudian pengagungan terhadap kalam.
(3) Kehadiran Hati dan Meninggalkan Pembicaraan Jiwa:
Dikatakan dalam tafsir: “Hai Yahya, ambillah Kitab itu dengan sungguh-sungguh” (Maryam: 12), yaitu dengan kesungguhan dan ketekunan. Dan mengambilnya dengan kesungguhan adalah hendaknya dia fokus padanya ketika membacanya, mengarahkan perhatiannya padanya dari yang lain. Dan dikatakan kepada sebagian mereka: Jika kamu membaca Al-Quran apakah kamu membuat dirimu berbicara tentang sesuatu?, maka dia berkata: Apakah ada sesuatu yang lebih aku cintai daripada Al-Quran sehingga aku membuat diriku berbicara dengannya!
Dan sebagian salaf jika membaca ayat dan hatinya tidak ada di dalamnya maka dia mengulanginya lagi.
Dan sifat ini dilahirkan dari yang sebelumnya yaitu pengagungan. Karena orang yang mengagungkan kalam yang dia baca maka dia akan gembira dengannya dan merasa tenteram dan tidak lalai darinya. Maka dalam Al-Quran ada yang dengannya hati merasa tenteram jika pembaca adalah ahlinya. Bagaimana mungkin dia mencari ketenangan dengan berpikir pada yang lain sedang dia sedang berjalan-jalan dan melihat-lihat. Dan orang yang melihat-lihat di tempat-tempat jalan-jalan tidak berpikir tentang yang lain. Maka telah dikatakan: Sesungguhnya Al-Quran adalah medan-medan, dan taman-taman, dan istana-istana, dan pengantin-pengantin, dan sutera-sutera, dan taman-taman.
Maka jika pembaca memasuki medan-medan, dan memetik dari taman-taman, dan memasuki istana-istana, dan menyaksikan pengantin-pengantin, dan memakai sutera, dan berjalan-jalan di taman-taman, maka itu akan menyerapnya dan menyibukkannya dari yang lain, maka hatinya tidak akan pergi, dan pikirannya tidak akan terpecah.
(4) Tadabbur:
Dan itu di belakang kehadiran hati. Karena boleh jadi dia tidak berpikir tentang selain Al-Quran tetapi dia hanya membatasi diri pada mendengarkan Al-Quran dari dirinya sendiri, dan dia tidak men-tadabbur-inya. Dan tujuan dari bacaan adalah tadabbur; oleh karena itu disunnahkan tartil secara zahir agar memungkinkan tadabbur dengan batin.
Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: Tidak ada kebaikan dalam ibadah tanpa pemahaman di dalamnya, dan tidak ada dalam bacaan tanpa tadabbur di dalamnya.
Dan jika tidak mampu ber-tadabbur kecuali dengan mengulang ayat maka hendaknya dia mengulang kecuali jika dia di belakang imam. Karena jika dia tetap dalam tadabbur ayat sedang imam telah sibuk dengan ayat lain maka dia berbuat salah, seperti orang yang sibuk dengan keheranan dari satu kata dari orang yang berbicara dengannya sehingga tidak memahami sisa perkataannya. Demikian juga jika dia dalam tasbih rukuk sedang dia berpikir tentang ayat yang dibaca imamnya maka ini adalah was-was.
Diriwayatkan dari Amir bin Abdu Qais bahwa dia berkata: Was-was datang kepadaku dalam shalat, maka dikatakan: Tentang urusan dunia?, maka dia berkata: Sungguh tombak-tombak bersilangan lebih aku cintai daripada itu; tetapi hatiku sibuk dengan posisiku di hadapan Rabbku ‘azza wa jalla, dan bagaimana aku pulang, maka dia menganggap itu was-was, dan memang demikian; karena itu menyibukkannya dari memahami apa yang dia sedang lakukan. Dan syaitan tidak mampu pada seperti itu kecuali dengan menyibukkannya dengan urusan agama, tetapi dia mencegahnya dengannya dari yang lebih utama.
Dan dari Abu Dzar dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat malam bersama kami pada suatu malam, maka beliau berdiri dengan satu ayat mengulang-ulangnya dan yaitu:
“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Al-Maidah: 118). Tamim Ad-Dari pernah menghabiskan semalam suntuk dengan membaca ayat ini: “Ataukah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, sama dalam hidup dan mati mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu” (Al-Jatsiyah: 21). Said bin Jubair menghabiskan malam dengan mengulang-ulang ayat ini: “Dan berpisahlah kamu pada hari ini, hai orang-orang yang berdosa” (Yasin: 59). Sebagian ulama berkata: “Sungguh aku membuka suatu surah, lalu sebagian dari apa yang kusaksikan di dalamnya menahanku untuk menyelesaikannya hingga terbit fajar.”
Sebagian mereka berkata: “Ayat yang tidak kufhami dan hatiku tidak hadir di dalamnya, aku tidak menghitung pahala untuknya.” Diriwayatkan dari Abu Sulaiman Ad-Darani bahwa ia berkata: “Sungguh aku membaca suatu ayat dan aku berdiri di dalamnya selama empat atau lima malam, dan seandainya bukan karena aku memutuskan perenunganku di dalamnya, niscaya aku tidak akan melewatinya ke ayat lain.”
Dari sebagian salaf bahwa ia tinggal di Surah Hud selama enam bulan, mengulanginya dan tidak selesai dari merenungkannya. Sebagian mereka berkata: “Aku memiliki satu khatam setiap Jumat, satu khatam setiap bulan, satu khatam setiap tahun, dan ada satu khatam yang sudah tiga puluh tahun belum kuselesaikan,” dan itu sesuai dengan tingkatan perenungan dan penelitiannya. Orang ini juga berkata: “Aku menempatkan diriku pada posisi pekerja upahan, maka aku bekerja secara harian, mingguan, bulanan, dan tahunan” (maksudnya secara harian ada khatam harian, mingguan berarti setiap Jumat, bulanan berarti setiap bulan, tahunan berarti setiap tahun).
(5) At-Tafahhum (Memahami):
Yaitu bahwa ia berusaha memahami setiap ayat dengan pemahaman yang layak baginya, karena Al-Quran mencakup penyebutan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla, penyebutan perbuatan-perbuatan-Nya, penyebutan keadaan para Nabi alaihimus salam, penyebutan keadaan orang-orang yang mendustakan mereka dan bagaimana mereka dibinasakan, penyebutan perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya, serta penyebutan surga dan neraka.
Adapun sifat-sifat Allah Azza wa Jalla seperti firman-Nya: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Asy-Syura: 11), dan seperti firman-Nya: “Dialah Allah yang tiada tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan” (Al-Hasyr: 23). Hendaklah ia merenungkan makna nama-nama dan sifat-sifat ini agar tersingkap baginya rahasia-rahasianya, karena di baliknya terdapat makna-makna yang tersembunyi yang tidak tersingkap kecuali bagi orang-orang yang diberi taufik. Kepada hal ini Ali radhiyallahu anhu mengisyaratkan ketika ditanya: “Apakah kalian memiliki sesuatu dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selain Al-Quran?” Maka ia menjawab: “Tidak, demi Dzat yang menciptakan biji dan menjadikan makhluk hidup, kecuali jika Allah memberikan kepada seorang hamba pemahaman dalam Kitab-Nya.”
Adapun perbuatan-perbuatan-Nya Ta’ala seperti penyebutan penciptaan langit dan bumi dan lainnya, maka hendaklah pembaca memahami darinya sifat-sifat Allah Azza wa Jalla, karena perbuatan menunjukkan pada pelakunya, maka itu menunjukkan keagungan-Nya.
Adapun keadaan para Nabi alaihimus salam: jika ia mendengar dari kisah mereka bagaimana mereka didustakan, dipukuli, dan sebagian mereka dibunuh, maka hendaklah ia memahami darinya sifat Kemandirian Allah Azza wa Jalla dari para rasul dan orang yang diutus kepada mereka, dan bahwasanya seandainya Dia membinasakan mereka semua, hal itu tidak akan mempengaruhi kerajaan-Nya sedikitpun. Dan jika ia mendengar pertolongan mereka di akhir perkara, hendaklah ia memahami Kekuasaan Allah Azza wa Jalla dan Kehendak-Nya untuk menolong kebenaran.
Adapun keadaan para pendusta, seperti kaum ‘Ad dan Tsamud dan apa yang menimpa mereka, hendaklah pemahamannya darinya adalah merasakan ketakutan dari kemurkaan dan pembalasan-Nya, dan hendaklah bagiannya darinya adalah mengambil pelajaran untuk dirinya sendiri, bahwa jika ia lengah dan berbuat tidak sopan serta tertipu dengan tenggang waktu yang diberikan, barangkali pembalasan akan menimpanya dan keputusan akan dilaksanakan padanya. Demikian pula jika ia mendengar sifat surga dan neraka serta berbagai hal lain dalam Al-Quran, maka tidak mungkin untuk merinci semua yang dipahami darinya karena hal itu tidak terbatas. Setiap hamba hanya mendapat dari Al-Quran sesuai kadar rezekinya: “Katakanlah: Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)” (Al-Kahfi: 109).
Tujuan dari apa yang kami sebutkan adalah memberikan isyarat tentang cara memahami agar pintunya terbuka, adapun merinci semuanya maka tidak ada harapan untuk itu. Barangsiapa tidak memiliki pemahaman dalam Al-Quran meskipun pada tingkatan yang paling rendah, ia termasuk dalam firman-Nya Ta’ala: “Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan kamu, sehingga apabila mereka keluar dari sisimu, mereka berkata kepada orang yang diberi ilmu: Apakah yang dikatakannya tadi? Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hatinya oleh Allah dan mereka mengikuti hawa nafsu mereka” (Muhammad: 16). Pengunci itu adalah penghalang-penghalang yang akan kami sebutkan dalam penghalang pemahaman.
(6) At-Takhalli ‘an Mawani’il Fahm (Membersihkan Diri dari Penghalang Pemahaman):
Tidak boleh tidak harus ada pembersihan sebelum penghiasan, karena kebanyakan manusia terhalang dari memahami makna Al-Quran karena sebab-sebab dan hijab-hijab yang diturunkan setan pada hati mereka, sehingga buta bagi mereka keajaiban-keajaiban rahasia Al-Quran.
Hijab pemahaman ada tiga:
Pertama: bahwa perhatiannya tercurah pada penyempurnaan huruf dengan mengeluarkannya dari makhrajnya, dan ini dijaga oleh setan yang ditugaskan kepada para pembaca untuk mengalihkan mereka dari memahami makna kalam Allah Azza wa Jalla. Setan ini tidak henti-hentinya membuat mereka mengulang-ulang huruf, membayangkan kepada mereka bahwa huruf itu belum keluar dari makhrajnya, maka perenungannya terbatas pada makhraj huruf, lalu bagaimana makna akan tersingkap baginya? Dan setan paling tertawa kepada orang yang taat pada tipuan seperti ini.
Kedua: bahwa ia menjadi pengikut suatu mazhab yang didengarnya dengan taklid, dan ia kaku padanya, dan tertanam dalam dirinya fanatisme terhadapnya hanya dengan mengikuti yang didengar tanpa sampai kepadanya dengan bashirah (pandangan batin) dan musyahadah (penyaksian). Maka ini adalah orang yang terikat oleh keyakinannya sehingga tidak mungkin baginya untuk melampaui keyakinannya, maka pandangannya terhenti pada apa yang didengarnya.
Jika terlintas dalam pikirannya suatu kilatan cahaya dari kejauhan, dan muncul baginya suatu makna dari makna-makna yang berbeda dengan apa yang didengarnya, setan taklid akan menyerangnya seraya berkata: “Bagaimana ini terlintas dalam pikiranmu padahal ia menyelisihi keyakinan bapak-bapakmu?” Maka ia melihat bahwa itu adalah tipu daya setan lalu ia menjauh darinya dan berhati-hati dari yang serupa. Contohnya adalah orang yang membaca firman-Nya Ta’ala: “(yaitu) Ar-Rahman yang beristewa di atas Arsy” (Thaha: 5), dan apa yang terkandung dalam makna ayat tentang ketinggian Allah Azza wa Jalla atas semua makhluk-Nya serta hegemoni dan penguasaan-Nya terhadap semua yang ada. Lalu datanglah kepadanya taklid pada keyakinan yang diwarisi tentang takwil dan kewajiban mensucikan Allah dari arah, maka ia terhalang dari tajalli-tajalli perenungan sifat ketinggian dan istiwa, padahal ia termasuk sifat-sifat yang berulang dalam Al-Quran dengan tujuan untuk menegaskan keagungan dan kebesaran Allah serta hakikat ketinggian-Nya atas makhluk-Nya.
Ketiga: bahwa ia bersikeras pada dosa atau bersifat sombong atau diuji secara umum dengan hawa nafsu duniawi yang dituruti, karena hal itu adalah sebab kegelapan hati dan karatnya, dan ia seperti kotoran pada cermin, dan ia adalah hijab terbesar bagi hati, dan dengannya terhalang kebanyakan orang.
Semakin banyak syahwat yang menumpuk, semakin tersembunyi makna-makna kalam. Dan semakin ringan beban dunia dari hati, semakin dekat makna padanya. Hati itu seperti cermin, syahwat seperti karat, makna-makna Al-Quran seperti gambar-gambar yang terpantul dalam cermin, dan riyadhah (latihan spiritual) untuk hati dengan menghilangkan syahwat seperti pemolesan untuk cermin. Allah Azza wa Jalla telah mensyaratkan inabah (kembali kepada Allah) dalam memahami dan mengingat, maka Dia berfirman: “Untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi setiap hamba yang kembali (kepada Allah)” (Qaf: 8), dan Dia berfirman: “Maka apakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran” (Ar-Ra’d: 19). Maka orang yang mengutamakan tipu daya dunia atas kenikmatan akhirat bukanlah termasuk orang yang berakal, karena itu tidak tersingkap baginya rahasia-rahasia Kitab.
(7) At-Takhshish (Pengkhususan):
Yaitu bahwa ia memperkirakan bahwa dialah yang dituju oleh setiap khitab dalam Al-Quran. Jika ia mendengar perintah atau larangan, ia memperkirakan bahwa dialah yang dilarang dan diperintah. Jika ia mendengar janji atau ancaman, demikian pula bahwa ancaman ini mengenainya. Jika ia mendengar kisah orang-orang terdahulu dan para nabi, ia mengetahui bahwa kisah itu bukan tujuan utama, melainkan tujuan utamanya adalah agar ia mengambil pelajaran darinya dan mengambil dari dalamnya apa yang ia butuhkan. Tidak ada satu kisah pun dalam Al-Quran kecuali disampaikan untuk faedah bagi Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan umatnya. Karena itu Allah Ta’ala berfirman: “Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman” (Hud: 120). Hendaklah hamba memperkirakan bahwa Allah meneguhkan hatinya dengan apa yang Dia kisahkan kepadanya tentang keadaan para nabi dan kesabaran mereka atas gangguan serta keteguhan mereka dalam agama untuk menantikan pertolongan Allah Ta’ala.
Bagaimana ia tidak memperkirakan ini padahal Al-Quran tidak diturunkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saja, melainkan ia adalah penyembuh, petunjuk, rahmat, dan cahaya untuk seluruh alam. Karena itu Allah Ta’ala memerintahkan semua orang untuk bersyukur atas nikmat Kitab, maka Dia berfirman: “Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al-Kitab dan Hikmah (Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu” (Al-Baqarah: 231). Dan Dia Azza wa Jalla berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu sekalian sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (Al-Anbiya: 10). Dan Dia Ta’ala berfirman: “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Dzikr (Al-Quran), agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan” (An-Nahl: 44). Dan Dia Subhanahu berfirman: “Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu” (Az-Zumar: 55). Dan Dia Azza wa Jalla berfirman: “(Al-Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa” (Ali Imran: 138).
Jika khitab ditujukan kepada semua manusia, maka ia ditujukan kepada individu-individu, maka pembaca yang satu ini adalah yang dituju, lalu apa urusannya dengan orang lain, hendaklah ia memperkirakan bahwa dialah yang dituju. Allah Ta’ala berfirman: “Dan Al-Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya)” (Al-An’am: 19). Muhammad bin Ka’b Al-Quradhi berkata: “Barangsiapa sampai kepadanya Al-Quran, maka seakan-akan Allah berbicara kepadanya.” Jika ia memperkirakan demikian, ia tidak akan menjadikan mempelajari Al-Quran sebagai pekerjaannya, melainkan ia membacanya sebagaimana hamba membaca surat majikannya yang ia tulis untuknya agar ia merenungkannya dan beramal dengan kandungannya. Karena itu sebagian ulama berkata: “Al-Quran ini adalah surat-surat yang datang kepada kita dari sisi Rabb kita Azza wa Jalla berisi janji-janji yang kita renungkan dalam shalat-shalat, kita perhatikan dalam khalwat-khalwat, dan kita laksanakan dalam ketaatan-ketaatan dan sunnah-sunnah yang diikuti.” Malik bin Dinar berkata: “Apa yang ditanam Al-Quran dalam hati kalian wahai ahli Quran? Sesungguhnya Al-Quran adalah musim semi orang mukmin sebagaimana hujan adalah musim semi bumi.” Qatadah berkata: “Tidak ada seorang pun yang duduk bersama Al-Quran kecuali ia bangkit dengan bertambah atau berkurang,” Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami turunkan dari Al-Quran sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (Al-Isra: 82).
(8) At-Ta’atstsur (Terpengaruh):
Yaitu bahwa hatinya terpengaruh dengan pengaruh-pengaruh yang berbeda sesuai perbedaan ayat-ayat, sehingga ia memiliki sesuai setiap ayat yang dibacanya pemahaman dan keadaan yang mewarnai hatinya berupa kesedihan, ketakutan, harapan, dan lainnya. Jika kesempurnaan ma’rifatnya telah sempurna, maka khusyuk adalah keadaan yang paling dominan pada hatinya, karena pembatasan dominan pada ayat-ayat Al-Quran. Ia tidak melihat penyebutan ampunan kecuali disertai dengan syarat-syarat yang orang yang mengenal Allah merasa pendek untuk meraihnya, seperti firman Azza wa Jalla: “Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun” kemudian Dia mengikuti itu dengan empat syarat: “kepada orang yang bertobat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar” (Thaha: 82). Dan firman-Nya Ta’ala: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran” (Al-‘Ashr: 1-3), Dia menyebutkan empat syarat. Dan ketika Dia menyingkat, Dia mensyaratkan syarat yang menyeluruh, maka Dia Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik” (Al-A’raf: 56), maka ihsan mencakup semuanya. Demikianlah orang yang menelusuri Al-Quran dari awal sampai akhir. Barangsiapa memahami itu, maka pantas bahwa keadaannya adalah khusyuk dan sedih.
Karena itu Al-Hasan berkata: “Demi Allah, tidak ada hari ini seorang hamba yang membaca Al-Quran dan beriman dengannya kecuali bertambah kesedihannya, berkurang kegembiraannya, bertambah tangisannya, berkurang tawanya, bertambah kelelahannya dan kesibukannya, serta berkurang istirahat dan penganggurannya.”
Wahaib bin Al-Ward berkata: “Kami melihat hadits-hadits dan nasihat-nasihat ini, maka kami tidak menemukan sesuatu yang lebih melembutkan hati dan lebih keras menarik kesedihan selain membaca Al-Quran, memahaminya, dan merenungkannya.” Terpengaruhnya hamba dengan tilawah adalah bahwa ia menjadi bersifat dengan sifat ayat yang dibaca.
Ketika ada ancaman dan pembatasan ampunan dengan syarat-syarat, ia mengecil karena ketakutannya seakan-akan ia hampir mati. Ketika ada kelapangan dan janji ampunan, ia bergembira seakan-akan ia terbang karena kegembiraan.
Ketika disebutkan Allah, sifat-sifat-Nya, dan nama-nama-Nya, ia merendahkan diri karena keagungan-Nya dan merasakan kebesaran-Nya.
Dan ketika menyebut orang-orang kafir tentang hal yang mustahil bagi Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung, seperti penyebutan mereka bahwa Allah memiliki anak dan istri -Maha Tinggi Allah dari itu-, hendaklah ia merendahkan suaranya dan merasa hancur di dalam batinnya karena malu dari buruknya perkataan mereka. Dan ketika menggambarkan surga, timbullah di dalam batinnya kerinduan kepadanya.
Dan ketika menggambarkan neraka, gemetar seluruh anggota tubuhnya karena takut kepadanya. Dan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Ibnu Mas’ud: “Bacalah untukku”, ia berkata: Maka aku membuka surat An-Nisa. Ketika aku sampai pada ayat: “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)” [An-Nisa: 41], aku melihat kedua matanya mencucurkan air mata. Maka beliau berkata kepadaku: “Cukup sekarang”. Dan ini karena penyaksian terhadap keadaan itu telah menguasai hatinya sepenuhnya shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dan sungguh di antara orang-orang yang takut ada yang jatuh pingsan ketika mendengar ayat-ayat ancaman, dan di antara mereka ada yang meninggal saat mendengar ayat-ayat.
Maka keadaan seperti ini mengeluarkannya dari keadaan sebagai pencerita dalam ucapannya. Jika ia membaca: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku takut jika aku mendurhakai Tuhanku, akan azab hari yang besar (kiamat)'” [Al-An’am: 15], namun ia tidak merasa takut, maka ia hanya seorang pencerita.
Dan jika ia membaca: “Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali” [Al-Mumtahanah: 4], namun keadaannya bukan dalam bertawakkal dan bertaubat, maka ia hanya seorang pencerita.
Dan jika ia membaca: “Dan sesungguhnya kami akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami” [Ibrahim: 12], maka hendaklah keadaannya adalah bersabar atau berketetapan hati untuk bersabar sehingga ia merasakan manisnya tilawah.
Jika ia tidak memiliki sifat-sifat ini dan hatinya tidak berpindah-pindah di antara keadaan-keadaan ini, maka bagiannya dari tilawah hanyalah gerakan lidah dengan laknat yang jelas atas dirinya sendiri dalam firman Allah Ta’ala: “Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim” [Hud: 18], dan Allah Ta’ala berfirman: “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” [Ash-Shaf: 3], dan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung berfirman: “Telah dekat kepada manusia saat perhitungan mereka, sedang mereka dalam kelalaian berpaling (daripadanya)” [Al-Anbiya: 1], dan ayat-ayat lainnya.
Dan ia termasuk dalam makna firman Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung: “Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga” [Al-Baqarah: 78], yaitu tilawah yang kosong. Dan firman Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung: “Dan betapa banyak tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya” [Yusuf: 105]. Karena Al-Quran adalah yang menjelaskan tanda-tanda itu di langit dan di bumi, dan apabila seseorang melewatinya tanpa terpengaruh, maka ia telah berpaling darinya. Oleh karena itu dikatakan: Sesungguhnya orang yang tidak memiliki akhlak Al-Quran, jika ia membaca Al-Quran, Allah Ta’ala akan memanggilnya: Apa urusanmu dengan kalam-Ku sedangkan engkau berpaling dari-Ku, tinggalkan kalam-Ku jika engkau tidak bertaubat kepada-Ku.
Dan perumpamaan itu seperti: orang yang bermaksiat membaca Al-Quran dan mengulanginya, perumpamaannya adalah orang yang mengulangi surat raja setiap hari berkali-kali, padahal raja telah menuliskan kepadanya tentang pemakmuraan kerajaannya, namun ia sibuk dengan merusaknya dan hanya membatasi diri pada pembacaan suratnya saja. Maka barangkali jika ia meninggalkan pembacaan ketika bermaksiat, itu lebih jauh dari sikap mengejek dan layak mendapat kemurkaan.
Oleh karena itu Yusuf bin Asbath berkata: Sesungguhnya aku ingin membaca Al-Quran, namun jika aku teringat apa yang ada di dalamnya, aku takut mendapat kemurkaan, maka aku beralih kepada tasbih dan istighfar.
Dan orang yang berpaling dari mengamalkannya dimaksudkan dengan firman Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung: “Lalu mereka melemparkannya ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Maka amatlah buruknya apa yang mereka tukar itu” [Ali ‘Imran: 187]. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersaid: “Bacalah Al-Quran selama hati kalian bersatu padanya. Jika kalian berselisih, maka kalian tidak sedang membacanya”. Dan dalam sebagian riwayat: “Jika kalian berselisih, maka berdirilah darinya”. Allah Ta’ala berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal” [Al-Anfal: 2]. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya sebaik-baik manusia suaranya dalam membaca Al-Quran adalah jika kamu mendengarnya, kamu melihat bahwa ia takut kepada Allah Ta’ala”.
Dan salah seorang qari berkata: Aku membaca Al-Quran kepada seorang syaikh-ku, kemudian aku kembali untuk membaca yang kedua kalinya, maka ia memarahiku dan berkata: Apakah engkau menjadikan Al-Quran sebagai pekerjaan untukku? Pergilah dan bacalah kepada Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung, lalu lihatlah apa yang Dia perintahkan kepadamu dan apa yang Dia larang untukmu.
Karena itulah kesibukan para sahabat Rasulullah Semoga Allah meridhai mereka adalah dalam keadaan dan amal-amal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat meninggalkan dua puluh ribu sahabat, tidak ada yang menghafal Al-Quran dari mereka kecuali enam orang, dan masih diperselisihkan dua orang dari mereka. Kebanyakan mereka menghafal satu atau dua surat. Dan orang yang menghafal Al-Baqarah dan Al-An’am termasuk ulama mereka. Dan ketika seseorang datang untuk belajar Al-Quran, lalu sampai pada firman Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” [Az-Zalzalah: 7-8], ia berkata: Ini cukup, dan pulang. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang itu pulang dalam keadaan faqih (paham)”. Dan sesungguhnya yang mulia adalah keadaan seperti itu yang Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung anugerahkan kepada hati orang mukmin setelah memahami ayat.
Adapun sekadar gerakan lidah, maka sedikit manfaatnya. Bahkan pembaca dengan lidah yang berpaling dari amal pantas menjadi yang dimaksud dengan firman Allah Ta’ala: “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” [Thaha: 124], dan dengan firman Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung: “Allah berfirman: ‘Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan'” [Thaha: 126], yaitu engkau meninggalkannya dan tidak memperhatikannya serta tidak mempedulikannya. Karena orang yang menunda-nunda suatu perkara dikatakan: ia lupa akan perkara itu. Dan tilawah Al-Quran dengan sebenar-benar tilawahnya adalah ketika lidah, akal, dan hati berserikat di dalamnya. Bagian lidah adalah membenarkan huruf-huruf dengan tartil. Bagian akal adalah menafsirkan makna-makna. Bagian hati adalah mengambil pelajaran dan terpengaruh dengan menahan diri dan menerima perintah. Maka lidah bertartil, amal menerjemahkan, dan hati mengambil pelajaran.
9) Naik Tingkat:
Yang aku maksud dengannya adalah naik tingkat sehingga ia mendengar kalam dari Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung, bukan dari dirinya sendiri. Maka tingkatan Al-Quran ada tiga. Tingkatan paling bawah: bahwa seorang hamba memperkirakan seakan-akan ia membacanya kepada Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung dalam keadaan berdiri di hadapan-Nya, dan Dia melihatnya dan mendengar darinya. Maka keadaannya pada perkiraan ini adalah: memohon, meminta-minta, tunduk, dan berdoa.
Kedua: bahwa ia menyaksikan dengan hatinya seakan-akan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung melihatnya dan berbicara kepadanya dengan kelembutan-Nya serta bermunajat kepadanya dengan pemberian nikmat-Nya dan kebaikan-Nya. Maka kedudukannya adalah malu, mengagungkan, mendengarkan, dan memahami.
Ketiga: bahwa ia melihat Sang Pembicara dalam kalam, dan dalam kata-kata adalah sifat-sifat. Maka ia tidak melihat dirinya, tidak melihat bacaannya, dan tidak melihat keterkaitan pemberian nikmat kepadanya dari sisi bahwa ia diberi nikmat. Tetapi perhatiannya tertuju pada Sang Pembicara, pikirannya terhenti kepada-Nya, seakan-akan ia tenggelam dengan menyaksikan Sang Pembicara dari yang lain. Dan ini adalah tingkatan orang-orang yang didekatkan. Dan tingkatan sebelumnya adalah tingkatan ashabul yamin (golongan kanan). Dan yang keluar dari ini, maka ia termasuk orang-orang yang lalai.
10) Berlepas Diri:
Yang aku maksud dengannya adalah bahwa seorang hamba berlepas diri dari daya dan kekuatannya serta dari melihat dirinya dengan pandangan ridha dan tazkiyah (pensucian diri). Jika ia membaca ayat-ayat ancaman dan pujian bagi orang-orang shalih, maka ia tidak menyaksikan dirinya pada saat itu. Bahkan ia menyaksikan orang-orang yang yakin dan orang-orang yang shiddiq di dalamnya, dan merindukan agar Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung menyertakannya bersama mereka. Dan jika ia membaca ayat-ayat kemurkaan dan celaan terhadap orang-orang yang bermaksiat dan yang menunda-nunda, ia menyaksikan dirinya di sana, dan memperkirakan bahwa dialah yang diajak bicara dengan penuh rasa takut dan khawatir.
Oleh karena itu Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: Aku memohon ampun kepada-Mu atas kezalimanku dan kekufuranku. Maka dikatakan kepadanya: Ini kezaliman, lalu bagaimana dengan kekufuran? Maka ia membaca firman Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung: “Dan Dia telah memberikan kepadamu dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)” [Ibrahim: 34].
Dan dikatakan kepada Yusuf bin Asbath: Jika kamu membaca Al-Quran, dengan apa kamu berdoa? Ia berkata: Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung dari kekuranganku tujuh puluh kali. Maka jika ia melihat dirinya dalam gambaran kekurangan dalam membaca, maka pandangannya terhadap kekurangannya menjadi sebab kedekatan. Karena sesungguhnya orang yang menyaksikan kejauhan dalam kedekatan, maka ia dilembuti dalam ketakutan, sehingga ketakutan itu menghantarkannya kepada tingkatan lain dalam kedekatan yang ada di belakangnya. Dan orang yang menyaksikan kedekatan dalam kejauhan, maka ia diperdaya dalam rasa aman, yang akan menghantarkannya kepada tingkatan lain dalam kejauhan yang lebih rendah dari yang ia berada di dalamnya.
Dan apabila ia menyaksikan dirinya dengan pandangan ridha, maka ia menjadi terhalang oleh dirinya dari Allah. Berakhirlah ucapan Al-Ghazali rahimahullah.
Inilah sepuluh tingkatan untuk mendapatkan kelezatan tilawah Al-Quran wahai kekasih. Dan kamu tidak akan bisa memahaminya hanya dengan sekilas pandangan matamu untuk pertama kalinya. Bahkan memerlukan perenungan dan musyawarah dengan saudara-saudaramu atau syaikh-syaikhmu untuk membuahkan pemikiran dan membuka pemahaman, kemudian amal.
Dan tidak akan dibukakan untukmu dari kali pertama pemahaman terhadap apa yang telah kusebutkan kepadamu. Tetapi perkara ini memerlukan perjuangan dan kesabaran agar bisa kamu dapatkan.
Ayo mulailah, kesempatan Ramadhan dengan pembukaan-pembukaan dan cahayanya. Ayo mulailah untuk meluncur di hari-hari yang diberkahi ini. Inilah ilmunya, maka di mana amalnya wahai pencari ridha Tuhanmu?
Saudara-saudaraku…
Dzikir adalah obat kehidupan dan masalah-masalahnya, pencerah hati dan kekuatannya. Barangsiapa melekat padanya maka ia berbahagia di dunia dan akhiratnya. Dan bagaimana tidak, sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maukah kalian aku beritahu tentang sebaik-baik amal kalian, yang paling suci di sisi Raja kalian, yang paling tinggi derajatnya, yang lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, dan lebih baik bagi kalian daripada kalian bertemu musuh kalian lalu kalian memenggal leher mereka dan mereka memenggal leher kalian?” Mereka berkata: Tentu. Beliau bersabda: “Dzikir kepada Allah Ta’ala”.
Dan sebaik-baik dzikir adalah Al-Quran. Dan telah datang kepada kalian musim Al-Quran, bulan Ramadhan bulan Al-Quran. Maka bersegeralah bersegeralah wahai umat Al-Quran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacalah Al-Quran karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para sahabatnya (pembacanya)”. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Puasa dan Al-Quran akan memberi syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata: Wahai Tuhanku, aku telah mencegahnya dari makan dan minum di siang hari, maka berilah aku syafaat untuknya. Dan Al-Quran berkata: Wahai Tuhanku, aku telah mencegahnya dari tidur di malam hari, maka berilah aku syafaat untuknya. Maka keduanya diberi syafaat”.
Saudara-saudaraku…
Al-Quran adalah kalam Allah, dan keutamaan kalam Allah atas seluruh kalam seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya. Maka terus-meneruslah membacanya, perbanyaklah membacanya di bulan Ramadhan, dan berkomitmenlah dengan apa yang telah kami sebutkan di atas dari adab-adab, yang zhahir dan yang bathin. Semoga Allah memberi taufik kepada kami dan kalian untuk apa yang telah Tuhan kami Subhanahu wa Ta’ala firmankan di awal kitab-Nya: “Di dalamnya terdapat petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa” [Al-Baqarah: 2].
Catatan Penting
Saudara-saudaraku…
Setelah kami sebutkan pentingnya Al-Quran dan keadaan salaf dengan Al-Quran di bulan Ramadhan, tidak lupa bagiku wahai saudara-saudaraku sebuah catatan penting.
Catatan ini adalah taubat untuk umat secara keseluruhan, untuk memperbaiki keadaan umat dengan Al-Quran agar Allah memperbaiki keadaan umat dalam kenyataan yang pahit. Maka pahamilah bersamaku, semoga Allah mengajarkan aku dan kamu hikmah dan kefasihan berbicara:
Sesungguhnya penggambaran realitas umat Islam hari ini adalah satu kata: “Tersesat”. Ya, umat sekarang berada dalam masa tersesat -kita memohon kepada Allah agar memaafkan kita-. Dan kita tidak akan keluar dari masa ini kecuali dengan mengubah diri kita agar realitas kita berubah. Karena Allah memiliki sunnatullah (hukum-hukum ketuhanan) yang tidak berubah dan tidak berganti. Dan Dia Subhanahu adalah Yang berfirman: “Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah: ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.’ Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” [Ali ‘Imran: 165]. Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” [Asy-Syura: 30]. Dan Allah Subhanahu berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” [Ar-Ra’d: 11].
Dan setelah umat mencoba berulang kali semua cara dalam mengembalikan kemuliaan dan tempat-tempat sucinya, tidak ada lagi yang tersisa kecuali solusi pertama dan utama serta asal yang telah dilalaikan darinya: Al-Quran Al-Karim.
Oleh karena itu, umat memerlukan proyek nasional yang disepakati dalam pendidikan atas Al-Quran, dan bersatu di sekitarnya untuk mengeluarkannya dari apa yang dialaminya, untuk mengembalikannya kepada kejayaannya yang hilang dan kebangkitannya yang hilang.
Saudara-saudaraku…
“Sesungguhnya Allah menurunkan Al-Quran sebagai kitab petunjuk, penyembuh, perubahan, dan perbaikan bagi umat ini. Dan inilah rahasia keajaiban-Nya. Dan sesungguhnya mempelajari membacanya, mentartilnya, dan menghafalnya adalah sarana-sarana pembantu yang mempermudah memanfaatkan keajaiban itu. Dan yang sangat disayangkan bahwa umat telah menjauh sepanjang abad-abad yang lalu dari inti dan sebab ia diturunkan. Maka umat memperlakukan sarana-sarana itu seakan-akan sebagai tujuan, dan kaum muslimin berlomba-lomba membacanya dan menghafalnya dalam waktu sesingkat mungkin, tanpa disertai perhatian terhadap makna-makna keimanan yang dibawa ayat-ayatnya.
Al-Quran hadir bersama kita dengan para pembaca dan para penghafalnya, namun tidak hadir bersama kita dengan individu-individu Qurani yang dikenal dengan tanda-tanda mereka, Al-Quran berjalan di atas bumi.
Al-Quran hadir bersama kita di masjid-masjid, halaqah-halaqah pengajaran, sekolah-sekolah tahfizh, stasiun-stasiun radio, dan media massa. Tetapi ia tidak hadir bersama kita dengan pengaruh dan dampaknya.
Al-Quran hadir di tengah kita dengan cetakan mewahnya, sampul yang memukau, dan ayat-ayatnya yang menghiasi dinding serta terukir pada perhiasan emas; namun ia tidak hadir dalam peran sejatinya untuk memimpin kehidupan dan mengarahkannya kepada Allah Azza wa Jalla.
Kita membuka acara-acara dengan bacaannya, mengadakan lomba-lomba dengannya, mendirikan fakultas-fakultas untuknya, namun dari semua perhatian ini kita tidak menuai buah yang nyata yang tampak dalam realitas kita dan mewarnai kehidupan kita.
Apa yang terjadi akibat cara berinteraksi yang menyimpang dengan Al-Quran ini?
Mukjizat Al-Quran terhenti, atau hampir berhenti bekerja, dan kaum muslimin menjauh dari rahasia kemuliaan, kejayaan, dan ketinggian mereka di sisi Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sungguh, Kami telah menurunkan kepadamu sebuah Kitab (Al-Quran) yang di dalamnya terdapat kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tidak mengerti?” (Al-Anbiya: 10). Maka bertambahlah jurang antara kewajiban dan kenyataan, antara perkataan dan perbuatan, dan tidak lagi muncul di tengah umat generasi-generasi Qur’ani yang mewujudkan Al-Quran sebagaimana yang terjadi pada generasi pertama, generasi yang agung itu.
Bukankah Kita Termasuk Ahli Al-Quran?!
Mungkin ada yang berkata: “Tetapi saya membaca Al-Quran dan mengkhatamkannya sebulan sekali—setidaknya—dan saya menghafalnya, bahkan saya berupaya mengajarkannya kepada orang lain, dan saya menganggap diri saya termasuk ahli Al-Quran, bahkan orang-orang di sekitar saya memperlakukan saya atas dasar itu. Meskipun demikian, di dalam hati saya merasa lain, tidak ada perbedaan perilaku antara saya dengan orang lain yang tidak peduli Al-Quran seperti kepedulian saya terhadapnya; bahkan saya merasakan seperti mereka, belenggu-belenggu yang membelenggu saya dan menghalangi saya dari melakukan apa yang diridhai Allah dan berkorban demi-Nya.”
Ya, ini adalah gambaran yang akurat tentang kondisi sebagian kita dengan Al-Quran, dan ini yang membuat persoalan semakin sulit, bahwa seseorang dari kita menganggap perhatiannya terhadap lafal dan bentuk Al-Quran telah menjadikannya termasuk ahli Al-Quran, padahal ahli Al-Quran adalah mereka yang mengamalkannya, yang mengambil manfaat dari mukjizatnya. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Pembawa Al-Quran adalah pembawa bendera Islam, ia tidak bermain-main bersama orang yang bermain-main dan tidak lalai bersama orang yang lalai.”
Sesungguhnya membaca lafal-lafal Al-Quran dan menghafal ayat-ayatnya dapat dilakukan oleh yang kecil dan yang besar, orang beriman dan munafik, orang baik dan orang jahat, bahkan orang-orang kafir. Oleh karena itu, mereka tidak bisa menjadi ahli Al-Quran hanya dengan menghafal dan banyak membaca lafalnya. Betapa mulianya perkataan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu: “Janganlah kalian tertipu oleh orang yang membaca Al-Quran; tetapi lihatlah siapa yang beramal dengannya.”
Ibnu Qayyim menegaskan makna ini dengan berkata: “Sebagian salaf berkata: Al-Quran diturunkan untuk diamalkan, tetapi mereka menjadikan membacanya sebagai amal… Oleh karena itu, ahli Al-Quran adalah mereka yang mengetahuinya dan mengamalkan apa yang ada di dalamnya, meskipun mereka tidak menghafalnya di luar kepala. Adapun orang yang menghafal Al-Quran tetapi tidak memahaminya dan tidak mengamalkannya, maka ia bukan termasuk ahli Al-Quran meskipun ia menegakkan huruf-hurufnya seperti anak panah.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam menyebutkan tanda-tanda hari kiamat: “Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang masih muda usianya, bodoh akal pikirannya, mereka membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya.”
Yang dituntut dari pembaca Al-Quran selain membaca dan menghafal, adalah hal lain yang sangat penting. Yang dituntut adalah mengambil manfaat dari mukjizatnya dalam mengubah kita dan menempatkan kita dalam cetakan yang diridhai Allah Azza wa Jalla. Yang dituntut adalah kita menggunakan Al-Quran sebagai sarana yang membimbing kita untuk berdamai dengan Allah, kemudian kita layak masuk dalam lingkaran perlindungan-Nya, kecukupan-Nya, dan pertolongan-Nya. Ini tidak akan terwujud hanya dengan membacanya dengan lisan, meskipun ribuan kali.
Ini tidak akan terwujud dengan menghafal huruf-hurufnya dan meninggalkan mutiara-mutiara dan harta karunnya…
Ini tidak akan terwujud jika kita menjadikan radio menyiarkan ayat-ayatnya sepanjang malam dan siang, sementara kita lalai darinya, sibuk dengan yang lain… Anak-anak kita tidak akan menjadi Qur’ani hanya dengan menghafal lafal-lafal Al-Quran, meskipun mereka menghafalnya semua…
Anak-anak kita akan menjadi Qur’ani ketika mereka mempelajari makna dan keimanan yang terkandung dalam ayat-ayat itu, dan menerapkan amal yang terkandung di dalamnya, setelah mereka menghafalnya, meskipun itu membuat mereka hanya menghafal beberapa juz dari Al-Quran. Itu lebih baik bagi mereka dan umat mereka daripada hanya menjadi penghafal saja, meskipun mereka menghafal semua. Dan jika mereka menggabungkan keduanya—maksud saya menghafalnya lengkap dengan memahami dan mengamalkannya—maka itulah yang lebih utama, bahkan itulah yang dituntut di hari-hari ini; karena ini adalah cita-cita tinggi, tambahan ketaatan, dan pertolongan bagi umat.
Seorang laki-laki datang kepada Abu Darda’ dan berkata: “Sesungguhnya anakku telah mengumpulkan Al-Quran.” Abu Darda’ berkata: “Ya Allah ampunilah; sesungguhnya yang mengumpulkan Al-Quran adalah orang yang mendengarkan dan menaatinya.”
Bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Mendidik Para Sahabat dengan Al-Quran?
Apa yang kita sebutkan ini juga untuk para pemuda dan orang dewasa… Dan lihatlah bagaimana para sahabat dididik. Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata dalam mukadimah tafsirnya di bawah judul “Bab Bagaimana Mempelajari dan Memahami Kitab Allah Ta’ala dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Apa yang Datang bahwa Dahulu Lebih Mudah Mengamalkannya daripada Menghafalnya”:
Abu Amr Ad-Dani meriwayatkan dari Utsman, Ibnu Mas’ud, dan Ubay: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada mereka sepuluh ayat, maka mereka tidak melampaui ke sepuluh ayat lainnya hingga mereka mempelajari apa yang terkandung di dalamnya berupa amal; maka beliau mengajarkan kepada kami Al-Quran dan amal sekaligus.” Dari Abu Abdurrahman As-Sulami berkata: “Dahulu jika kami mempelajari sepuluh ayat dari Al-Quran, kami tidak mempelajari sepuluh ayat berikutnya hingga kami mengetahui halal dan haramnya, perintah dan larangannya.”
Dari Nafi’ dari Ibnu Umar berkata: “Umar mempelajari surah Al-Baqarah dalam dua belas tahun, dan ketika ia mengkhatamkannya, ia menyembelih unta.” Abdullah bin Mas’ud berkata: “Sesungguhnya sulit bagi kami menghafal lafal-lafal Al-Quran, dan mudah bagi kami mengamalkannya. Dan sesungguhnya orang-orang setelah kami akan mudah bagi mereka menghafal Al-Quran, tetapi sulit bagi mereka mengamalkannya.”
Dari Mujahid dari Ibnu Umar berkata: “Orang yang utama dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di awal umat ini tidak menghafal dari Al-Quran kecuali satu surah atau sekitarnya, dan mereka diberi taufik mengamalkan Al-Quran. Dan sesungguhnya orang-orang akhir umat ini membaca Al-Quran, di antara mereka ada anak kecil dan orang buta, tetapi mereka tidak diberi taufik mengamalkannya.”
Khalaf bin Hisyam Al-Bazzar berkata: “Aku tidak menyangka Al-Quran kecuali pinjaman di tangan kami; itu karena kami meriwayatkan bahwa Umar bin Khattab menghafal Al-Baqarah dalam sepuluh tahun lebih, maka ketika ia menghafalnya ia menyembelih unta sebagai syukur kepada Allah. Dan sesungguhnya anak kecil di zaman kami ini duduk di hadapanku lalu membaca sepertiga Al-Quran tanpa melewatkan satu huruf pun, maka aku tidak menyangka Al-Quran kecuali pinjaman di tangan kami.”
Ahli ilmu hadits berkata: “Tidak pantas bagi penuntut ilmu hadits membatasi diri pada mendengar hadits dan menulisnya, tanpa mengetahui dan memahaminya; maka ia akan melelahkan dirinya tanpa mendapat manfaat yang berarti. Hendaknya hafalannya terhadap hadits secara bertahap, sedikit demi sedikit seiring malam dan hari.”
Di antara yang diriwayatkan tentang hal ini dari para penghafal hadits: Syu’bah, Ibnu Athiyyah, dan Ma’mar. Ma’mar berkata: “Aku mendengar Az-Zuhri berkata: Barangsiapa menuntut ilmu sekaligus banyak, maka akan luput darinya sekaligus banyak; sesungguhnya ilmu diraih satu atau dua hadits. Wallahu a’lam.”
Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ketahuilah apa yang kalian kehendaki, maka Allah tidak akan memberi kalian pahala dengan ilmu kalian hingga kalian mengamalkannya.”
Ibnu Abdul Barr berkata: “Diriwayatkan bahwa para ulama perhatiannya adalah pemahaman, dan orang-orang bodoh perhatiannya adalah periwayatan.”
Komentar dan Penjelasan
Harus ada komentar wahai orang-orang yang kucintai karena Allah setelah semua yang telah disebutkan. Saya menyebutkan semua yang di atas sekaligus meskipun tampaknya bertentangan dengan pendekatan kami dalam perintah membaca dan menghafal Al-Quran dengan tadabbur atau tanpa tadabbur dan menghafal Al-Quran dengan ilmu atau tanpa ilmu. Saya sampaikan yang di atas agar kita melangkah maju; oleh karena itu saya merangkum tujuan-tujuan kita dalam topik Al-Quran sekaligus:
Pertama: Memperhatikan Al-Quran dan menjadikannya di depan mata kita, tidak pernah berpisah denarinya siang malam.
Kedua: Membaca Al-Quran lebih penting dari menghafal dan ada dua jenis yang tidak bisa diabaikan salah satunya:
- Tilawah tadabbur dan tafakkur: Yaitu khataman yang tidak terburu-buru untuk sampai ke akhir Al-Quran; tetapi memberikan perhatian pada ilmu sehingga memberikan setiap ayat haknya untuk ditadabburi, mencari ilmu tentangnya, menggali rahasianya dengan membaca tafsir-tafsir dan kitab-kitab ilmu serta bertanya kepada ahli ilmu.
- Tilawah pahala: Yaitu khataman yang kita tuntut setiap hari dan di Ramadhan serta selainnya; ini untuk mengharap pahala, setiap huruf sepuluh kebaikan. Dalam tilawah ini diabaikan tadabbur, dan perhatian difokuskan pada meraih pahala dari Allah saja; karena janji bahwa setiap huruf mendapat sepuluh kebaikan tidak mensyaratkan tadabbur.
Ketiga: Menghafal Al-Quran adalah tugas umat dan tuntutan syariat, dan janganlah yang kami sampaikan dari nukilan sebagian salaf membuatmu tidak berminat; tetapi penekanan sebelumnya adalah demi amal. Maka haruslah engkau menghafal Al-Quran; karena derajatmu di surga sesuai dengan hafalanmu; dengan dalil hadits: “Akan dikatakan kepada pembaca Al-Quran: Bacalah dan naiklah, dan bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membaca dengan tartil di dunia; maka sesungguhnya kedudukanmu pada ayat terakhir yang engkau baca.”
Saudara-saudaraku dalam Islam:
Sesungguhnya saya ingin memperingatkan sebagian kaum kita yang mengambil sebagian perkataan dan meninggalkan sebagian lainnya karena hawa nafsu dalam diri mereka, maka mereka memilih dari perkataan apa yang mendukung hawa nafsu dan keinginan mereka.
Saya tegaskan sekali lagi bahwa semua yang dituntut darimu:
- Menghafal Al-Quran.
- Membaca Al-Quran.
- Memahami Al-Quran.
- Mentadabburi Al-Quran.
- Mengamalkan Al-Quran.
- Menyerahkan kendalimu kepada Al-Quran.
Agar Al-Quran mendidikmu, agar Allah membentukmu dengan Al-Quran, agar Al-Quran memimpinmu, dan agar Al-Quran menguasai hidupmu…
Agar engkau menjadi ahli Al-Quran… yang merupakan ahli Allah dan orang-orang pilihan-Nya…
Ya Allah, jadikanlah kami, keluarga kami, dan keturunan kami termasuk ahli Al-Quran, ahli-Mu dan orang-orang pilihan-Mu.
Tidak ada di dunia sesuatu yang menyerupai kenikmatan ahli surga kecuali manisnya bermunajat dalam qiyam.
Shalat Tarawih di Ramadhan
Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh kebaikan dan keberkahan. Maha Suci Allah Yang Maha Pemurah, Dia memberikan di dalamnya kesempatan-kesempatan ampunan bagi orang-orang beriman yang melebihi angan-angan. Tetapi Maha Suci Sang Raja Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa, engkau mendapati di bulan Ramadhan tanda khusus yang menakjubkan yang tidak ada di bulan-bulan lainnya, seakan-ia adalah tanda lahir di dahi bulan ini, yaitu qiyam Ramadhan.
Selain qiyam Ramadhan mengharuskan ampunan dosa-dosa yang telah lalu, qiyam Ramadhan memiliki kelezatan dan kebahagiaan khusus yang menakjubkan yang tidak ada bandingannya.
Maha Suci Sang Raja! Mungkin seseorang banyak dan lama melakukan qiyam sepanjang tahun; tetapi qiyam Ramadhan memiliki cita rasa khusus yang berbeda dari sepanjang tahun. Dan Maha Suci Sang Raja juga, Al-Quran di Ramadhan memiliki cita rasa khusus yang berbeda dari sepanjang hari dalam setahun. Dan dalam qiyam ada: Al-Quran.
Dan malam di Ramadhan memiliki cita rasa khusus juga yang berbeda dari seluruh malam dalam setahun.
Juga ini termasuk kekhususan Ramadhan, bahwa engkau mendapati qiyam mudah bagi semua orang, hingga engkau mendapati sebagian orang yang tidak shalat fardhu di luar Ramadhan, shalat qiyam di Ramadhan. Dan dari kekhususan bulan yang mulia ini juga adalah lembutnya suara-suara, maka Al-Quran terindah yang engkau dengar dalam hidupmu adalah yang engkau dengar di malam-malam Ramadhan.
Dan untukmu wahai saudaraku tercinta beberapa hal yang menyemangati untuk qiyam Ramadhan, yang pertama adalah manfaat ibadah ini.
Manfaat Shalat Tarawih:
(1) Qiyam Ramadhan termasuk keimanan; dan pengampunan dosa-dosa yang telah lalu: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata: “Targhib (dorongan) ini dan yang semisalnya adalah penjelasan tentang keutamaan ibadah-ibadah ini, bahwa jika ada dosa pada seseorang, maka akan diampuni baginya karena ibadah-ibadah ini. Adapun jika seseorang tidak memiliki dosa, keutamaan ini tampak dalam peningkatan derajat sebagaimana halnya para nabi yang ma’shum dari dosa.”
(2) Yang melakukan qiyam berhak mendapat nama ash-shiddiqin dan asy-syuhada’:
Ini adalah limpahan Sang Maha Pemurah dan kemurahan-Nya, disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di dalamnya keuntungan semua keuntungan: Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa engkau adalah utusan Allah, dan aku shalat lima waktu, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan melakukan qiyamnya, maka termasuk siapakah aku?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Termasuk orang-orang yang benar (ash-shiddiqin) dan para syuhada.”
(3) Barangsiapa melakukan qiyam bersama imamnya, ditulis baginya qiyam satu malam:
Telah datang dalam hadits Abu Dzar, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya seseorang jika shalat bersama imam hingga selesai, ditulis baginya qiyam satu malam.” Maka bertakwalah kepada Allah atas umurmu, dan sambut shalat tarawih niscaya Allah akan menyambutmu. Bahwa dihitung bagimu di sisi Allah satu malam, padahal semua malam dalam umur sia-sia dan terbuang tidak ada nilainya kecuali jika engkau melakukan qiyam untuk Allah Azza wa Jalla; saat itu akan dihitung bagimu di sisi Allah qiyam satu malam dan perhitungan pahala ini di sisi Allah sangat besar; maka bersabarlah terhadap imammu hingga ia selesai dan jangan terburu-buru sehingga engkau merugi malammu.
(4) Pilihlah untuk Dirimu Sebuah Nama di Sisi Allah:
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang shalat dengan sepuluh ayat, maka ia tidak akan dicatat sebagai orang yang lalai, dan barangsiapa yang shalat dengan seratus ayat, maka ia akan dicatat sebagai orang yang taat, dan barangsiapa yang shalat dengan seribu ayat, maka ia akan dicatat sebagai orang yang mendapatkan pahala berlimpah.”
Apabila seorang muslim mengetahui bahwa Allah melihat keadaannya, dekat dengannya, dan Allah menyebut-nyebut hamba tersebut, maka ia akan tahu bahwa ia memiliki nama di sisi Allah yang dengannya ia dikenal di sisi Allah Subhanahu Wataala. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya seorang laki-laki benar-benar berlaku jujur dan berusaha keras untuk jujur hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur, dan sesungguhnya seorang laki-laki benar-benar berdusta dan berusaha keras untuk berdusta hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” Dalam hadits yang ada di hadapan kita ini disebutkan nama-nama manusia di waktu malam, maka pilihlah amalan yang dengannya akan dicatat untukmu sebuah nama di sisi Allah.
(5) Shalat Malam adalah Kehormatan:
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Kehormatan seorang mukmin adalah shalat malam.” Mahasuci Raja segala raja! Ini adalah jalan yang dengannya manusia menjadi mulia sehingga ia menjadi mulia di sisi Allah. Sesungguhnya mencari sifat ini, sibuk untuk mencapainya, dan dinisbatkan kepada nama ini adalah suatu kewajiban yang pasti bagi setiap orang yang menginginkan kemuliaan. Maka bergabunglah dengan kafilah orang-orang yang mulia, dan tekunkanlah shalat malam niscaya engkau akan menjadi termasuk orang-orang yang mulia.
(6) Kafilah Orang-Orang Saleh:
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Hendaklah kalian melakukan shalat malam, karena sesungguhnya ia adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian.” Ya benar… Barangsiapa yang ingin bergabung dengan kafilah para shiddiqin dan para syuhada kemudian bergabung dengan kafilah orang-orang yang mulia, maka hendaklah ia menjadikan shalat malam sebagai kebiasaannya karena memang itulah kebiasaan mereka dan tanda mereka. Seakan-akan engkau merasakan dari kata kebiasaan tersebut adanya keistiqamahan, kesabaran, dan kesungguhan dalam amalan ini. Maka bersungguh-sungguhlah dalam hal itu sebagaimana kesungguhan mereka, niscaya engkau akan menjadi seperti mereka.
(7) Shalat Malam adalah Penyembuh dan Kesehatan:
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Hendaklah kalian melakukan shalat malam, karena sesungguhnya ia adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian, mencegah dari dosa, dan mengusir penyakit dari tubuh.” Mahasuci Allah Yang Mahaagung yang barangsiapa mengenal-Nya maka ia tidak akan kikir kepada-Nya dengan napas dari napas-napas kehidupannya. Sungguh itulah sebaik-baik muamalah dengan Yang Mahamulia. Apabila engkau berkorban untuk Allah dengan sebagian dari waktu istirahatmu, maka Dia akan menggantimu dengan istirahat yang lebih banyak dan kesehatan yang lebih baik. Bahkan Dia Subhanahu Wataala menjadikan shalatmu untuk-Nya ketika engkau melawan syahwat tidur lalu mengusirnya, maka Dia menjadikan balasan sesuai dengan amalannya, yaitu bahwa sebagai gantinya Dia akan mengusir penyakit dari tubuhmu. Maka kepada para pencari kesehatan, hendaklah kalian melakukan shalat malam, karena apabila Allah ridha dan menerima, maka Dia akan mengusir penyakit dan penyakit dari tubuh-tubuh kalian.
(8) Pelindung dari Dosa-Dosa:
Telah disebutkan dalam hadits sebelumnya bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebutkan di antara keutamaan shalat malam bahwa ia mencegah dari dosa. Ya demi Allah:
Bagaimana mungkin hati yang telah merasakan manisnya shalat malam kemudian di pagi harinya bermaksiat kepada Tuhannya.
Bagaimana mungkin hati yang merasakan di malam hari saat ia shalat bahwa Allah melihatnya dan membanggakannya, kemudian di pagi harinya bermaksiat kepada Allah.
Bagaimana mungkin hati yang bermalam bermunajat kepada Tuhannya dan menikmati kalimat-kalimat Allah, kemudian di pagi harinya meninggalkan ketaatan kepada-Nya. Itulah balasannya. Sebagaimana dikatakan oleh Hasan: Barangsiapa yang berbuat baik di malamnya maka ia akan mendapat balasan di siangnya, dan barangsiapa yang berbuat baik di siangnya maka ia akan mendapat balasan di malamnya.
(9) Allah Membanggakan Orang-Orang yang Shalat Malam:
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang laki-laki bangun di malam hari untuk shalat kemudian kedua matanya mengalahkannya lalu ia tertidur dalam sujudnya, maka sesungguhnya Allah berfirman kepada para malaikat-Nya: Lihatlah wahai malaikat-malaikat-Ku, ini hamba-Ku, ruhnya ada di sisi-Ku dan tubuhnya berada di hadapan-Ku. Catatlah untuknya shalatnya, dan jadikanlah tidurnya sebagai sedekah dari-Ku kepadanya.” Mahasuci Raja Yang Mahamulia! Allah membanggakan para malaikat-Nya dengan orang yang sujud sambil tertidur, maka bagaimana lagi dengan orang yang terjaga dan berjuang? Ini adalah kehormatan yang tidak dapat ditolak.
(10) Jalan Menuju Cinta Allah:
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tiga golongan yang Allah mencintai mereka, bergembira dengan mereka, dan tertawa kepada mereka” dan beliau menyebutkan di antaranya “seorang laki-laki yang memiliki istri yang cantik dan tempat tidur yang bagus, kemudian ia bangun untuk shalat. Maka Allah Azza Wajalla berfirman kepada para malaikat-Nya: Lihatlah wahai malaikat-malaikat-Ku, ini hamba-Ku, ia memiliki tempat tidur yang bagus dan istri yang cantik, namun ia meninggalkan keduanya, kemudian ia bangun untuk shalat mencari keridhaan-Ku dan membaca ayat-ayat-Ku, padahal jika ia mau, ia bisa saja tidur.” Lihatlah wahai kekasih yang mencintai, bagaimana semua yang engkau korbankan untuk Allah memiliki nilai di sisi Allah, dan jatuh di sisi Allah pada tempatnya. Yang menjadi bukti adalah firman-Nya Subhanahu kepada para malaikat: “padahal jika ia mau, ia bisa saja tidur”. Allah memelihara kebaikanmu bahwa engkau melawan tidur dan lebih memilih untuk bangun shalat, maka Dia mencintaimu, bergembira denganmu, dan tertawa kepadamu.
(11) Shalat Malam adalah Cahaya Wajah dan Hati:
Dikatakan kepada Hasan: Mengapa orang-orang yang shalat malam adalah orang-orang yang paling bagus wajahnya? Maka ia menjawab: Karena sesungguhnya mereka menyendiri bersama Allah di waktu sahur, maka Allah mengenakan kepada mereka dari cahaya-Nya. Ya, kami menyaksikan dan telah melihat bahwa ahli shalat malam adalah orang-orang yang paling bagus wajahnya. Apabila engkau melihat mereka, engkau akan teringat kepada Allah. Wibawa mereka tampak, kemanisan mereka luar biasa, dan keindahan mereka tampak jelas pada hati mereka.
Maka ketahuilah wahai saudaraku—semoga Allah membimbing kami dan engkau kepada jalan-Nya yang paling lurus—bahwa orang yang menasihati dirinya sendiri, maka musim-musim ketaatan tidak akan berlalu darinya dengan sia-sia, karena sesungguhnya orang-orang yang berbakti tidak mencapai kebaktian kecuali dengan berbakti. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat, dan Ramadhan ke Ramadhan, menghapus dosa-dosa di antara keduanya apabila dosa-dosa besar dijauhi.”
Maka marilah wahai pencari kebaikan menuju bulan yang di dalamnya pahala amalan-amalan dilipatgandakan. Kelelahan orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam melayani Tuhan mereka di bulan ini adalah istirahat. Hembusan dari hembusan angin kedekatan telah menerpa hati-hati di bulan Ramadhan, perantara nasihat berusaha untuk mendamaikan orang-orang yang terputus, kabar gembira sampai kepada orang-orang yang terputus dengan penyambungan, kepada orang-orang yang berdosa dengan ampunan, dan kepada orang-orang yang pantas mendapat neraka dengan pembebasan. Maka tidak tersisa lagi uzur bagi orang yang bermaksiat.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sangat menganjurkan untuk melakukan shalat malam Ramadhan tanpa memerintahkan mereka secara tegas, kemudian beliau bersabda: “Barangsiapa yang shalat malam Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.”
Al-Khaththabi berkata: Dengan penuh keimanan dan mengharap pahala artinya dengan niat dan tekad, yaitu melakukannya atas dasar pembenaran dan keinginan akan pahalanya, dengan jiwa yang senang melakukannya. Al-Baghawi berkata: Mengharap pahala artinya mengharap wajah Allah.
Dan sudah diketahui bahwa shalat malam Ramadhan dinamakan dengan shalat tarawih. Hafizh Ibnu Hajar berkata: Tarawih adalah bentuk jamak dari tarwihah, yaitu satu kali istirahat seperti taslimat dari salam. Shalat berjamaah di malam-malam Ramadhan dinamakan tarawih karena ketika pertama kali mereka melakukannya secara berjamaah, mereka beristirahat di antara setiap dua salam. Nabi shallallahu alaihi wasallam telah menetapkan berjamaah dalam shalat ini. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar pada suatu malam di bulan Ramadhan, lalu beliau melihat sekelompok orang di sudut masjid sedang shalat. Maka beliau bertanya: Apa yang mereka lakukan? Seseorang menjawab: Ya Rasulullah, mereka adalah orang-orang yang tidak hafal Al-Quran, Ubay bin Kaab membacakan Al-Quran untuk mereka, mereka shalat dengan shalatnya. Maka beliau bersabda: “Mereka telah berbuat baik, atau mereka telah benar.” Dan beliau tidak membenci hal itu untuk mereka.
Nabi shallallahu alaihi wasallam telah melakukan shalat tarawih. Dari Numan bin Basyir ia berkata: Kami shalat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada malam dua puluh tiga bulan Ramadhan hingga sepertiga malam yang pertama, kemudian kami shalat bersama beliau pada malam dua puluh lima hingga tengah malam, kemudian beliau shalat bersama kami pada malam dua puluh tujuh hingga kami mengira bahwa kami tidak akan mendapatkan al-falah. Ia berkata: Dan kami menyebut sahur dengan al-falah.
Dari Anas bin Malik ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam shalat di bulan Ramadhan, maka aku datang dan berdiri di sampingnya, dan datang laki-laki lain lalu ia juga berdiri hingga kami menjadi sekelompok orang. Ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam merasakan bahwa kami ada di belakang beliau, beliau mempercepat shalatnya, kemudian beliau masuk ke rumahnya lalu shalat dengan shalat yang tidak beliau lakukan di hadapan kami. Ia berkata: Kami bertanya kepada beliau ketika pagi: Apakah engkau mengetahui kami tadi malam? Maka beliau bersabda: “Ya, itulah yang membuat aku melakukan apa yang aku lakukan.”
Penghidupan Umar terhadap Sunnah Berjamaah dalam Tarawih:
Dahulu orang-orang melakukan shalat malam Ramadhan masing-masing di rumahnya secara sendirian, hingga berlalu masa awal khilafah Umar.
Abdurrahman al-Qari berkata: Aku keluar bersama Umar bin Khaththab pada suatu malam di bulan Ramadhan menuju masjid, tiba-tiba orang-orang berpencar terpisah-pisah. Ada laki-laki yang shalat sendiri, dan ada laki-laki yang shalat kemudian sekelompok orang shalat dengan shalatnya. Maka Umar berkata: Sesungguhnya aku melihat jika aku mengumpulkan mereka kepada satu qari akan lebih baik. Kemudian ia memutuskan lalu mengumpulkan mereka bersama Ubay bin Kaab. Kemudian aku keluar bersamanya pada malam yang lain dan orang-orang shalat dengan shalat qari mereka. Umar berkata: “Sebaik-baik bidah ini, dan yang mereka tinggalkan (dengan) tidur lebih utama daripada yang mereka lakukan—ia bermaksud akhir malam—dan orang-orang melakukannya pada awal malam.”
Keutamaan Melakukan Tarawih Berjamaah:
Dari Abu Dzar radhiyallahu anhu ia berkata: Kami berpuasa bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di bulan Ramadhan, maka beliau tidak shalat bersama kami sedikitpun di bulan itu hingga tersisa tujuh—yaitu tujuh malam—maka beliau shalat bersama kami hingga berlalu sepertiga malam. Ketika malam yang keenam, beliau tidak shalat bersama kami. Ketika malam yang kelima, beliau shalat bersama kami hingga berlalu setengah malam. Maka aku berkata: Ya Rasulullah, sekiranya engkau memberi kami tambahan shalat malam ini. Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya seseorang apabila shalat bersama imam hingga ia selesai, maka akan dihitung baginya shalat semalam penuh.” Ketika malam yang keempat, beliau tidak shalat. Ketika malam yang ketiga, beliau mengumpulkan keluarganya, istri-istrinya, dan orang-orang, maka beliau shalat bersama kami hingga kami khawatir akan melewatkan al-falah. Aku bertanya: Apa itu al-falah? Ia menjawab: Sahur. Kemudian beliau tidak shalat bersama kami sisa bulan itu.
Yang menjadi bukti dari hadits ini adalah sabda beliau: Barangsiapa yang shalat bersama imam. Maka ia jelas menunjukkan keutamaan shalat malam Ramadhan bersama imam.
Penulis “Aunul Mabud” berkata: Ia mendapatkan pahala shalat satu malam penuh.
Dikatakan kepada Imam Ahmad: Apakah engkau suka seseorang shalat bersama orang-orang di bulan Ramadhan ataukah sendiri? Ia menjawab: Shalat bersama orang-orang.
Beliau berkata: Aku suka ia shalat bersama imam dan witir bersamanya, karena hadits Nabi “Apabila ia shalat bersama imam…”
Dan dengan demikian, perkembangan tarawih di masa Nabi:
Pertama: Dimulai dengan menganjurkan untuk melakukannya tanpa memerintahkan secara tegas kepada mereka.
Kedua: Berpindah menjadi sunnah dan anjuran yang terkait dengan kewajiban puasa.
Ketiga: Dilakukan secara aktual, dilakukan oleh kelompok-kelompok orang.
Keempat: Orang-orang menyelinap ke tempat shalat beliau shallallahu alaihi wasallam lalu mereka mengikuti beliau shallallahu alaihi wasallam, sementara beliau tidak menyadari mereka, kemudian beliau menetapkan mereka atas hal itu, dan beliau tidak menetapkan atas kebatilan.
Kelima: Ketetapan beliau shallallahu alaihi wasallam untuk orang yang shalat bersama orang-orang baik di masjid maupun di rumah.
Keenam: Shalat beliau sendiri shallallahu alaihi wasallam secara aktual bersama keluarganya.
Ketujuh: Shalat beliau sendiri shallallahu alaihi wasallam bersama keluarganya dan orang-orang beberapa malam yang terpisah.
Jumlah Rakaat Shalat Malam Ramadhan:
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Sesungguhnya shalat malam Ramadhan itu sendiri, Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak menetapkan di dalamnya jumlah tertentu. Bahkan beliau shallallahu alaihi wasallam tidak lebih dari tiga belas rakaat, namun beliau memperpanjang rakaat-rakaatnya. Ketika Umar mengumpulkan mereka bersama Ubay bin Kaab, ia shalat bersama mereka dua puluh rakaat, kemudian witir tiga rakaat. Dan ia meringankan bacaan sesuai dengan jumlah rakaat yang ditambahkan, karena itu lebih ringan bagi makmum daripada memperpanjang satu rakaat.
Dan yang paling utama berbeda-beda sesuai perbedaan keadaan orang-orang yang shalat. Maka jika di antara mereka ada yang mampu untuk memperpanjang shalat dengan sepuluh rakaat dan tiga rakaat setelahnya sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam melakukannya untuk dirinya sendiri, maka itulah yang paling utama. Jika mereka tidak mampu, maka shalat dengan dua puluh rakaat lebih utama, dan itulah yang dikerjakan oleh kebanyakan kaum muslimin, karena ia pertengahan antara dua puluh dan empat puluh. Dan barangsiapa yang mengira bahwa shalat malam Ramadhan memiliki jumlah yang ditetapkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam yang tidak boleh ditambah dan tidak dikurangi, maka ia telah keliru.”
Dan demikian pula tidak disebutkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam menentukan jumlah bacaan tertentu pada setiap rakaat; bahkan hal itu berbeda-beda sesuai dengan semangat kaum, karena Umar bin Khaththab pernah memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad-Dari untuk mengimami orang-orang pada malam Ramadan, dan salah seorang dari mereka berkata: “Dahulu imam membaca ratusan ayat (surah-surah panjang), hingga kami bersandar pada tongkat karena lamanya berdiri, dan kami tidak selesai kecuali menjelang terbit fajar.”
Dan Abu Dawud berkata: Ahmad ditanya tentang seseorang yang membaca Al-Qur’an dua kali dalam Ramadan sambil mengimami orang-orang?, ia menjawab: Menurutku ini sesuai dengan semangat kaum, dan sesungguhnya di antara mereka ada para pekerja. Selesai ucapan Ibnu Taimiyah rahimahullah.
Saudaraku yang kucintai: Jangan sibuk membahas jumlah rakaat shalat malam dengan orang lain dan jangan berdebat sehingga menyia-nyiakan Ramadan, wajib bagimu untuk beramal: maka bersungguh-sungguhlah dalam melakukan qiyamul lail (shalat malam) pada sebagian besar malam dan jangan buang waktumu bersama orang-orang yang menganggur.
Dan diperbolehkan bagi para wanita untuk menghadiri jemaah dalam qiyam Ramadan, jika mereka menjaga adab-adab keluar yang sesuai syariat seperti berhijab, tidak memakai wewangian, tidak mengeraskan suara mereka atau bercampur baur dengan laki-laki di transportasi dan jalanan dan semacam itu, menundukkan pandangan, dan tidak berada hingga waktu terlambat di luar rumah tanpa mahram, kalau tidak maka shalat mereka di rumah-rumah mereka lebih utama, dan seorang laki-laki dari anggota keluarga dapat mengimami mereka untuk shalat, dari Jabir ia berkata: Ubay bin Ka’ab datang pada bulan Ramadan lalu berkata: Wahai Rasulullah, malam ini terjadi sesuatu dariku, beliau bersabda: “Apa itu wahai Ubay?”, aku berkata: Wanita-wanita di rumahku berkata: Sesungguhnya kami tidak bisa membaca Al-Qur’an, maka kami shalat di belakangmu mengikuti shalatmu, maka aku shalat bersama mereka delapan rakaat dan witir, maka beliau diam tentang hal itu dan itu seperti bentuk keridhaan.
Dan juga dapat seorang wanita mengimami para wanita dalam qiyam Ramadan, dari Ummu Waraqah Al-Anshariyah: bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkannya untuk mengimami penduduk rumahnya, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sering mengunjunginya dan menamakannya sebagai wanita syahidah, dan ia memiliki seorang muadzin.
Dan jika imam tidak hafal bacaan, maka boleh baginya untuk shalat mengimami orang-orang sambil membaca dari mushaf, karena Sayyidah Aisyah memerintahkan seorang budaknya untuk mengimaminya di bulan Ramadan sambil membaca dari mushaf, dan beberapa sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Abu Dawud berkata: Aku mendengar Ahmad ditanya: Az-Zubairi mengklaim bahwa apabila mereka khatam Al-Qur’an mereka mengangkat tangan-tangan mereka dan berdoa dalam shalat?, ia menjawab: Demikianlah aku melihat mereka melakukannya di Makkah, dan Sufyan pada saat itu masih hidup, yakni dalam qiyam Ramadan, dan demikian pula istirahat setelah setiap empat rakaat dengan duduk sebentar dilakukan oleh salaf, dan tidak berdoa ketika istirahat.
Saudaraku .. dan kekasihku:
Shalat adalah takaran.. maka barangsiapa menyempurnakan maka akan disempurnakan untuknya, dan barangsiapa mengurangi takaran; maka sungguh kalian telah mengetahui apa yang difirmankan tentang orang-orang yang mengurangi takaran, bukankah malu orang yang menyempurnakan takaran syahwatnya, dan mengurangi takaran qiyam dan shalatnya?!, celakalah Madyan.
Jika kecelakaan bagi orang yang mengurangi takaran dalam urusan dunia, maka bagaimana keadaan orang yang mengurangi takaran dalam urusan agama?, bagaimana keadaan orang-orang yang buruk dalam ibadah-ibadah mereka?, kasihanilah orang yang kebaikan-kebaikannya semuanya kejelekan, dan ketaatan-ketaatannya semuanya kelalaian.
Bagaimana tidak mengalir air mata seorang mukmin pada hari-hari ini, sedangkan ia tidak tahu apakah masih tersisa baginya umur untuk kembali, kapan akan baik orang yang tidak baik di bulan Ramadan?
Orang yang ditolak di malam lailatul qadar kapan akan baik?, setiap pohon yang tidak berbuah di musim berbuah maka ia akan ditebang.
Bulan Ramadan adalah bulan pelita, bulan tahajjud dan tarawih, wahai betapa indahnya waktu-waktunya yang gemilang betapa mulianya, dan jam-jam waktunya yang seperti permata betapa bagusnya, malam-malamnya bersinar dengan shalat tarawih, dan hari-harinya bercahaya dengan puasa dan tasbih, perhiasannya adalah keikhlasan dan kejujuran, dan buahnya adalah keselamatan dan kemerdekaan.
Maka keberuntungan bagi hamba yang berpuasa di siangnya, dan melakukan qiyam di sahurnya .. betapa baiknya ia dan pelita-pelita bintang bersinar, dan manusia telah tidur sedangkan ia bergadang dalam kebaikan, ia membasuh wajahnya dari air matanya, dan mata adalah yang paling suci dan paling suci.
Apabila malam menjadi gelap .. mereka menghadapinya:
Kekasihku karena Allah ..
Mungkin waktu-waktu bermunajat yang paling indah adalah saat engkau menyendiri dengan Tuhanmu sementara manusia tertidur, dan orang-orang yang menyendiri sudah terlelap, dan seluruh alam telah tenang, dan malam telah menurunkan tirai-tirainya, dan bintang-bintangnya telah terbenam, maka engkau hadirkan hatimu, dan engkau ingat Tuhanmu, dan engkau bayangkan kelemahanmu dan kebesaran Tuanmu, maka engkau merasa tenang dengan hadirat-Nya, dan hatimu tenteram dengan mengingat-Nya, dan engkau gembira dengan karunia dan rahmat-Nya, dan engkau menangis karena takut kepada-Nya, dan engkau merasakan pengawasan-Nya, dan engkau memohon dengan sungguh-sungguh dalam doa, dan engkau bersungguh-sungguh dalam meminta ampun, dan engkau sampaikan kebutuhan-kebutuhanmu kepada Dzat yang tidak lemah oleh sesuatu pun, dan tidak disibukkan dari sesuatu oleh sesuatu, sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah mengatakan kepadanya: Kun (jadilah), maka jadilah ia, dan engkau memohon kepada-Nya untuk dunia dan akhiratmu, dan jihad serta dakwahmu, dan cita-citamu dan negerimu dan keluargamu, dan dirimu dan saudara-saudaramu.
Malam adalah ketenangan dan ketentraman, dan dalam ketentraman ada konsentrasi dan kejernihan sedangkan manusia tertidur, dan dalam itu ada jauh dari riya, malam adalah berkhalwat dengan Allah, dan dalam berkhalwat ada kedekatan dan ketenangan dan munajat.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah bulan Allah Muharram, dan shalat yang paling utama setelah yang wajib adalah shalat malam”, dan sesungguhnya shalat malam lebih utama; karena hati di dalamnya lebih banyak menghadap kepada Allah, dan lebih jauh dari kesibukan-kesibukan, dan ketika waktu malam dan tahajjud di dalamnya adalah waktu-waktu paling utama untuk shalat sunnah, di dalamnya hamba menjadi dekat dengan Tuhannya, di dalamnya pintu-pintu langit dibuka dan di dalamnya doa dikabulkan, maka seharusnya engkau menjaganya selama bulan Ramadan.
Al-Azdi berkata: Aku mendengar Al-Khawwash berkata: Obat hati ada lima perkara: membaca Al-Qur’an dengan tadabbur, mengosongkan perut, qiyamul lail, berdoa dengan sangat pada waktu sahur, dan bergaul dengan orang-orang saleh.
Namun tidak bangkit untuk qiyamul lail kecuali ahli perjuangan dan perlawanan dan orang-orang yang memiliki keteguhan, maka bangkit menuju Allah pada jam-jam ini lebih berat langkahnya bagi jiwa dan lebih berat daripada bangkit menuju-Nya pada waktu yang lain; oleh karena itu qiyamul lail merupakan salah satu tolok ukur keteguhan yang jujur dan ciri-ciri jiwa-jiwa yang besar, maka wajib kita memasukkan ini dalam perhitungan kita dan tidak lalai darinya; agar jiwamu tidak menipumu dan menghilangkan darimu amal yang termasuk amal-amal paling utama yang dengannya bertaqarrub kepada Allah azza wa jalla di bulan ini dan selainnya, dan sesungguhnya kaum berbeda-beda dengan kemauan bukan dengan bentuk, dan barangsiapa melihat manisnya akibat maka ringan baginya pahitnya kesabaran.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Waktu paling dekat hamba dengan Tuhan adalah di tengah malam, maka jika engkau mampu menjadi termasuk orang yang mengingat Allah pada waktu itu maka jadilah.”
Sifat orang-orang yang melakukan tahajjud dan malam mereka:
Dalam menggambarkan satu malam dari malam-malam ahli kedekatan dan kesucian, ahli mendahului dan ketulusan, ahli Allah yang ikhlas:
Ibnu Qayyim alaihi rahmatullah berkata: “Adapun orang-orang yang mendahului lagi dekat maka kami memohon ampun kepada Allah yang tiada Tuhan selain Dia, pertama-tama dari menggambarkan keadaan mereka dan tidak memiliki sifat itu, bahkan kami tidak mencium harumnya, akan tetapi kecintaan kepada kaum mendorong untuk mengenal kedudukan mereka dan mengetahuinya, meskipun jiwa-jiwa tertinggal terputus dari menyusul mereka, maka dengarlah sekarang deskripsi kaum dan hadirkan pikiranmu untuk urusan mereka yang menakjubkan dan kedudukan mereka yang mulia, maka jika engkau mendapati dari dirimu pergerakan dan kemauan untuk menyerupai mereka maka bersyukurlah kepada Allah dan masuklah maka jalan jelas dan pintu terbuka.
Maka kabar kaum menakjubkan, dan urusan mereka tersembunyi kecuali bagi yang memiliki kesamaan dengan kaum, karena ia akan mengetahui apa yang ditunjukkan kepadanya oleh kadar yang sama, dan gambaran urusan mereka adalah bahwa mereka adalah kaum yang hati-hati mereka telah dipenuhi dengan ma’rifat Allah, dan diliputi dengan kecintaan kepada-Nya dan takut kepada-Nya dan mengagungkan-Nya dan muraqabah kepada-Nya, maka kecintaan mengalir ke seluruh bagian-bagian mereka sehingga tidak tersisa di dalamnya urat atau persendian kecuali telah dimasuki kecintaan.
Maka apabila salah seorang dari mereka meletakkan lambungnya di tempat tidurnya, naiklah nafas-nafasnya kepada Tuhannya dan Maulanya, dan berkumpul perhatiannya kepada-Nya, mengingat sifat-sifat-Nya yang tinggi dan nama-nama-Nya yang indah, menyaksikan Dia dalam nama-nama-Nya, dan sungguh telah terpancar kepada hatinya cahaya-cahayanya, maka terwarnai hatinya dengan ma’rifat dan kecintaan kepada-Nya, maka bermalamlah jasadnya di atas tempat tidurnya menjauh dari tempat berbaringnya, dan hatinya telah berpaut kepada Maulanya dan kekasihnya maka Dia memautkannya kepada-Nya, dan menjatuhkannya sujud di hadapan-Nya tunduk khusyu’ hina patah dari setiap sisi dari sisi-sisinya, maka alangkah mulianya sujud itu betapa mulianya sujud itu, ia tidak mengangkat kepalanya darinya hingga hari perjumpaan.
Dan dikatakan kepada sebagian salaf: Apakah hati bersujud di hadapan Tuhannya?, ia berkata: Iya demi Allah, dengan sujud yang ia tidak mengangkat kepalanya darinya hingga hari kiamat, maka berbeda jauh antara hati yang bermalam Tuhannya telah memotong dalam perjalanannya menuju-Nya padang pasir alam semesta, dan merobek hijab-hijab tabiat, dan tidak berhenti pada tanda, dan tidak tenang pada ilmu, hingga masuk kepada Tuhannya di rumah-Nya, maka menyaksikan kemuliaan kekuasaan-Nya dan keagungan keagungan-Nya dan tingginya urusan-Nya dan cahaya kesempurnaan-Nya. Maka apabila sifat-sifat Tuhannya dan nama-nama-Nya menjadi tempat penyaksian hatinya melupakannya dari mengingat selain-Nya, dan menyibukkannya dari kecintaan kepada selain-Nya.
Dan secara ringkas: maka tetaplah hati hamba -yang ini urusannya- sebagai singgasana bagi contoh yang paling tinggi -yakni singgasana untuk ma’rifat kekasihnya dan kecintaan kepada-Nya. Dan cukuplah dengan hati yang ini urusannya, maka alangkah dekatnya hati ini dari Tuhannya!!
Maka ini adalah orang-orang yang hati-hati mereka telah memotong alam semesta, dan bersujud di bawah Arsy, dan badan-badan mereka di tempat tidur mereka sebagaimana Abu Darda’ berkata: “Apabila hamba mukmin tidur dinaikkan ruhnya hingga bersujud di bawah Arsy, maka jika ia suci diizinkan baginya untuk bersujud, dan jika ia junub tidak diizinkan baginya untuk bersujud” dan ini -wallahu a’lam- adalah rahasia yang karenanya Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan orang yang junub apabila ingin tidur untuk berwudhu.
Maka apabila bangun hati ini dari tidurnya, naik kepada Allah dengan kemauan dan kecintaan dan kerinduannya, merindukan kepada-Nya, memohon kepada-Nya, membutuhkan kepada-Nya, i’tikaf kepada-Nya, maka keadaannya seperti keadaan kekasih yang ghaib darinya kekasihnya yang tidak ada kaya baginya dari-Nya, dan pasti baginya dari-Nya, dan kebutuhannya kepada-Nya lebih besar dari kebutuhannya kepada jiwa dan makanan dan minuman, maka apabila ia tidur ghaib dari-Nya, maka apabila ia bangun kembali kepada kerinduan kepada-Nya dan kepada kerinduan yang sangat dan kecintaan yang meresahkan, maka kekasihnya adalah akhir pikiran-pikirannya saat tidurnya dan yang pertama saat bangunnya sebagaimana sebagian kekasih berkata kepada kekasihnya:
Dan akhir sesuatu engkaulah dalam setiap tidur … Dan pertama sesuatu engkaulah saat kebangkitanku
Maka celakalah hati yang tidak layak untuk ini dan tidak membenarkannya, sungguh telah dipalingkan darinya kebaikan dunia dan akhirat.
Maka apabila bangun salah seorang dari mereka, dan telah datang ke hatinya urusan ini, maka yang pertama mengalir di lisannya adalah zikir kepada kekasihnya dan menghadap kepada-Nya, dan memohon kasih sayang-Nya dan bermanis-manis di hadapan-Nya, dan meminta pertolongan kepada-Nya agar tidak membiarkan antara dirinya dengan jiwanya dan tidak menyerahkannya kepada jiwanya sehingga menyerahkannya kepada kelemahan dan ketidakmampuan dan dosa dan kesalahan, bahkan Dia memeliharanya pemeliharaan anak kecil yang tidak memiliki bahaya dan tidak manfaat dan tidak kematian dan tidak kehidupan dan tidak kebangkitan.
Maka yang pertama dimulainya: “Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah mematikan kami dan kepada-Nya kebangkitan” sambil tadabbur maknanya; dari menyebut nikmat Allah kepadanya dengan menghidupkannya setelah tidurnya yang merupakan saudara kematian, dan mengembalikannya kepada keadaannya dalam keadaan sehat selamat terpelihara dari apa yang ia tidak ketahui dan tidak terlintas di benaknya dari hal-hal yang menyakitkan dan membinasakan, yang ia menjadi sasaran dan target semua panahnya, yang menginginkannya dengan kebinasaan atau bahaya, dan yang di antaranya adalah setan-setan jin dan manusia. Maka siapakah yang memeliharanya dan menjaganya sedangkan telah hilang darinya perasaannya dan ilmunya dan pendengarannya dan penglihatannya, Allah berfirman: “Katakanlah siapakah yang memelihara kamu di malam dan siang hari dari (azab) Yang Maha Pengasih bahkan mereka berpaling dari mengingat Tuhan mereka” (surah Al-Anbiya: 42) Maka apabila hamba membayangkan itu lalu berkata: “Segala puji bagi Allah” maka pujiannya lebih sempurna dan lebih lengkap daripada pujian orang yang lalai dari itu.
Kemudian renungkanlah bahwa Dzat yang telah menghidupkanmu kembali setelah kematian (tidur) ini mampu menghidupkanmu setelah kematian besarmu (kematian hakiki), kemudian ucapkanlah: “Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Mahabesar, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah”, kemudian berdoalah dan bermohonlah dengan merendahkan diri, kemudian berdirilah untuk berwudhu dengan hati yang hadir dan mengingat apa yang ada di dalamnya, kemudian shalatlah sebanyak yang telah Allah tetapkan bagimu dengan shalat orang yang mencintai dan menasihati kekasihnya, merendahkan diri dan hancur di hadapan-Nya, bukan shalat orang yang membanggakan diri dengan shalatnya kepada-Nya, ia melihat bahwa di antara nikmat terbesar kekasihnya kepadanya adalah bahwa Dia membangunkannya sementara menidurkan yang lain, mendatanginya sementara mengusir yang lain, dan memuliakan dirinya sementara melarang yang lain, maka dengan itu ia bertambah cinta kepada kekasihnya, dan ia melihat bahwa penyejuk matanya, kehidupan hatinya, surga jiwanya, kenikmatan dan kegembiraan serta kesenangannya ada dalam shalat tersebut, maka ia berharap panjangnya malam, dan ia khawatir dengan terbitnya fajar sebagaimana orang yang mencintai yang beruntung mendapat perjumpaan dengan kekasihnya menghendaki hal itu, maka ia seperti yang dikatakan:
Ia berharap kegelapan malam tetap bersamanya … dan ditambahkan padanya kegelapan hati dan mata
Maka ia bermanja-manja dalam shalatnya kepada Tuhannya seperti manjanya orang yang mencintai kepada kekasihnya Yang Mahaperkasa lagi Mahapenyayang, dan bermunajat kepada-Nya dengan kalam-Nya sambil memberikan kepada setiap ayat bagiannya dari penghambaan.
1 – Maka ayat-ayat tentang cinta dan kasih sayang menarik hati dan jiwanya kepada-Nya, dan ayat-ayat yang di dalamnya terdapat nama-nama dan sifat-sifat Allah, dan ayat-ayat yang dengannya Dia memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan karunia-karunia-Nya dan pemberian nikmat-Nya kepada mereka, dan kebaikan-Nya kepada mereka.
2 – Dan ayat-ayat tentang harapan dan rahmat serta keluasan kebaikan dan ampunan menyenangkan perjalanannya, sehingga ayat-ayat itu baginya seperti penggembala yang menyenangkan perjalanan dan meringankannya.
3 – Dan ayat-ayat tentang ketakutan, keadilan dan pembalasan, serta penurunan murka-Nya kepada orang-orang yang berpaling dari-Nya, yang mempersekutukan-Nya dengan yang lain, yang condong kepada selain-Nya, membuatnya gelisah, maka hal itu mengumpulkannya kepada-Nya dan mencegahnya agar hatinya tidak berkeliaran dari-Nya.
Maka perhatikanlah ketiga hal ini dan pahamilah, dan Allah-lah yang dimohon pertolongan, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
Dan pada intinya: ia menyaksikan Yang Berbicara, Mahasuci Dia, telah menampakkan diri dalam kalam-Nya, dan memberikan kepada setiap ayat bagiannya dari penghambaan hatinya yang khusus yang lebih dari sekadar membacanya dan membenarkan bahwa itu adalah kalam Allah, bahkan lebih dari sekadar memahaminya dan mengetahui maksudnya.
Kemudian ada urusan lain yang seandainya hamba menyadarinya, ia akan tahu bahwa sebelumnya ia hanya bermain-main, sebagaimana dikatakan:
Dan dulu aku melihat bahwa cintaku telah sampai pada batasnya … hingga tidak ada lagi jalan bagiku melampaui itu Tetapi ketika kami bertemu dan aku menyaksikan keindahannya … aku yakin bahwa aku sesungguhnya hanya sedang bermain-main
Alangkah malangnya dan alangkah menyesalnya, bagaimana waktu berlalu dan umur habis sementara hati terhalang, tidak mencium bau hal ini, dan keluar dari dunia seperti saat masuk ke dalamnya tanpa merasakan hal yang paling nikmat di dalamnya, bahkan ia hidup di dalamnya seperti hidupnya binatang, dan berpindah darinya seperti perpindahan orang yang bangkrut, maka kehidupannya adalah kelemahan dan kematiannya adalah kesedihan, dan kembalinya adalah penyesalan dan kekecewaan.
Maka apabila ia telah shalat sebanyak yang telah Allah tetapkan baginya, ia duduk menunduk di hadapan Tuhannya karena hormat dan pengagungan kepada-Nya, dan memohon ampunan kepada-Nya dengan istighfar orang yang telah yakin bahwa ia akan binasa jika Dia tidak mengampuninya dan merahmatinya, maka apabila ia telah selesai dari istighfar dan masih ada waktu malam tersisa, ia berbaring di sisi kanannya sambil mengumpulkan diri, memberi istirahat pada dirinya, menguatkan dirinya untuk menunaikan kewajiban shalat fardhu; maka ia menyambutnya dengan semangat, kesungguhan dan tekadnya seolah-olah ia tidak pernah tidur sepanjang malamnya dan tidak mengerjakan apa pun. Selesai perkataan dokter hati dan wangi-wangian para mutahajjidin, Ibnul Qayyim rahimahullah.
Tangisan mereka … dan lautan air mata:
Dan malam tidak disebutkan kecuali disertai dengan penyebutan air mata, dan tangisan adalah di antara yang paling agung yang dengannya para penyembah mendekatkan diri, dan yang dengannya orang-orang yang takut memohon belas kasihan, dan tidak ada yang lebih lembut hatinya daripada para mutahajjidin ketika mereka menjadikan air mata sebagai utusan mereka kepada Tuhan mereka, maka air mata adalah pemberi syafaat mereka yang paling gigih, karena mereka telah berkirim surat kepada Allah dengan air mata mereka dan mereka menunggu jawabannya.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Dua mata yang tidak akan pernah disentuh api neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang bermalam berjaga di jalan Allah”, dikatakan kepada Shafwan bin Mihraz ketika ia lama menangis dan mengingat kesedihannya: Sesungguhnya itu akan menyebabkan kebutaan, maka ia berkata: Itu adalah kesaksian untuknya, lalu ia menangis hingga buta.
Dan Abdurrahman bin Mahdi berkata: Aku tidak pernah bergaul dengan seorang laki-laki yang lebih lembut hatinya daripada Sufyan Ats-Tsauri, dan aku mengamatinya malam demi malam, ia tidak tidur kecuali di awal malam, kemudian ia terbangun dengan ketakutan sambil menyeru: Api neraka… api neraka, ingatan akan api neraka telah menyibukkanku dari tidur dan syahwat, kemudian ia berwudhu dan berkata setelah wudhunya: Ya Allah, Engkau mengetahui kebutuhanku tanpa diberitahu, dan aku tidak meminta kecuali pembebasan leherku dari api neraka, Tuhanku, sesungguhnya kegelisahan telah membuat diriku tidak bisa tidur, dan itu adalah dari nikmat-Mu yang melimpah kepadaku, Tuhanku, seandainya aku punya alasan untuk mengasingkan diri, aku tidak akan tinggal bersama manusia sejenak mata pun, kemudian ia menghadap shalatnya, dan tangisan menghalanginya dari membaca hingga aku tidak bisa mendengar bacaannya karena banyaknya tangisannya. Adapun Al-Hasan Al-Bashri, guru para penangis yang mereka gambarkan bahwa jika ia menangis seolah-olah api neraka tidak diciptakan kecuali untuknya, ketika dikatakan kepadanya: Apa yang membuatmu menangis?, ia berkata: Aku takut Dia akan melemparkanku besok ke dalam api neraka dan tidak peduli.
Dan dalam riwayat: Dan apa yang membuatku aman bahwa Dia tidak melihat sebagian dosaku lalu berkata: Pergilah, Aku tidak akan mengampunimu.
Jika engkau berdiri … bangunkan keluargamu:
Sesungguhnya hamba-hamba Yang Maha Pengasih tidak cukup bagi mereka hanya bermalam untuk Tuhan mereka dengan sujud dan berdiri, bahkan mereka berharap keturunan yang berjalan mengikuti jejak mereka, dan agar mereka memiliki istri-istri dari jenis mereka sehingga mata mereka menjadi sejuk dengan mereka, dan hati mereka tenang dengan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang beriman dan keturunan mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan keturunan mereka dengan mereka, dan Kami tidak mengurangi amal mereka sedikit pun. Setiap orang terikat dengan apa yang ia kerjakan” (Surah Ath-Thur ayat 21).
Dan perhatikanlah bersamaku sabda Rasul yang mulia shallallahu alaihi wasallam: “Barangsiapa bangun di malam hari dan membangunkan keluarganya lalu mereka shalat dua rakaat bersama, maka mereka dicatat sebagai laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah”.
Dan dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun di malam hari lalu shalat, dan membangunkan istrinya, jika ia menolak ia memercikkan air ke wajahnya, dan semoga Allah merahmati seorang perempuan yang bangun di malam hari lalu shalat dan membangunkan suaminya, jika ia menolak ia memercikkan air ke wajahnya”, dan percikan air ini adalah dalam rangka bercanda antara laki-laki dan istrinya, maka keduanya saling tolong-menolong dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala, dan salah satu dari keduanya tidak suka menyendiri dengan kebaikan tanpa yang lain. Mengapa semua perhatian ini terhadap malam?
Karena lima perkara:
Pertama: bahwa manusia ketika ia melakukan qiyamullail, ini lebih ikhlas kepada Tuhannya jalla wa ‘ala; karena ia berada pada waktu tersembunyi yang tidak ada seorang pun yang melihatnya.
Kedua: bahwa itu lebih berat bagi jiwa dan karena itu pahalanya lebih banyak, karena pahala sesuai dengan kesulitan.
Ketiga: dengan bebasnya pikiran dari kesibukan hidup dan ketenangan malam serta kekosongan dari dunia dan kerasnya kehidupan di dalamnya, hati menjadi lebih sesuai dan sejalan dengan lisan dalam berdzikir.
Keempat: bahwa malam adalah tempat turunnya rahmat dan turunnya Tuhan bumi dan langit, maka ibadah di dalamnya menjadi agung.
Kelima: bahwa qiyamullail adalah ibadah yang mengumpulkan kesucian hati.
Dan Qatadah berkata: “Dahulu dikatakan: Begadang di malam hari adalah munafik” yakni dalam qiyamullail.
Yang membantu dalam tahajjud:
Sebab-sebab lahiriah:
(1) Sedikit makan dan tidak berlebihan dalam makan:
Maka sebagaimana telah aku katakan kepadamu sebelumnya -wahai saudaraku yang kucintai- cobalah untuk mengurangi jumlah makanan, karena sedikitnya makanan adalah awan, dan apabila makan berkurang maka hati akan menghujankan hikmah, maka wajib bagi orang yang menasihati dirinya sendiri untuk tidak memperbanyak makan, sehingga ia memperbanyak minum, sehingga tidur mengalahkannya, dan berat baginya untuk bangun, tidakkah engkau takut dengan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Kurangilah sendawamu, karena sesungguhnya orang yang paling banyak kenyang di dunia adalah orang yang paling banyak lapar di akhirat”. Ma’qil bin Habib melihat sekelompok orang yang makan banyak maka ia berkata: Kami melihat sahabat-sahabat kami tidak akan shalat malam ini.
Dan Wahb bin Munabbih berkata: Tidak ada dari bani Adam yang lebih dicintai oleh saitannya selain orang yang banyak makan dan banyak tidur.
Dan Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: Barangsiapa kenyang maka masuk kepadanya enam bencana: hilangnya manisnya munajat, susahnya menghafal hikmah, kehilangan rasa kasih sayang kepada makhluk, beratnya ibadah, bertambahnya syahwat, dan sesungguhnya seluruh mukmin berkeliling di sekitar masjid-masjid, sedangkan orang-orang yang kenyang berkeliling di sekitar tempat sampah.
(2) Hemat dalam bekerja keras di siang hari:
Jangan melelahkan dirimu di siang hari dalam pekerjaan-pekerjaan yang melelahkan anggota badan, dan melemahkan saraf, karena itu adalah penyebab datangnya tidur, dan hendaklah engkau bersikap sedang dalam pekerjaan-pekerjaan ini, dan hindari berlebih-lebihan dalam berbicara, dan berlebih-lebihan dalam bergaul yang menyebarkan hati.
(3) Membantu diri dengan qailulah (tidur siang) di siang hari:
Maka dari Anas radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidurlah siang, karena sesungguhnya setan-setan tidak tidur siang”.
(4) Meninggalkan maksiat:
Jangan menanggung beban dosa di siang hari yang merusak puasamu, dan mengeraskan hatimu, dan menghalangimu dari qiyamullail.
Seorang laki-laki berkata kepada Al-Hasan Al-Bashri: Wahai Abu Sa’id, aku bermalam dalam keadaan sehat, dan aku suka qiyamullail, dan aku menyiapkan alat wudhuku; lalu apa sebabnya aku tidak bisa bangun?, maka ia berkata: Dosa-dosamu telah membelenggumu. Dan Ats-Tsauri berkata: Aku terhalang dari qiyamullail selama lima bulan karena dosa yang aku lakukan, dikatakan: Apa itu?, ia berkata: Aku melihat seorang laki-laki menangis lalu aku berkata dalam diriku: Ini orang yang pamer…
Rahimahumullah, dosa-dosa mereka sedikit maka mereka tahu dari mana mereka datang, sedangkan kami dosa-dosa kami banyak maka kami tidak tahu dari mana kami datang.
Dan Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata: Jika engkau tidak mampu qiyamullail dan puasa di siang hari; maka ketahuilah bahwa engkau adalah orang yang terhalang dan terbelenggu, kesalahanmu telah membelenggumu.
(5) Baiknya makanan:
Sebagian ulama berkata: Jika engkau berpuasa wahai orang yang celaka, maka lihatlah di mana engkau berbuka, dan dengan apa engkau berbuka, karena sesungguhnya hamba memakan suatu makanan lalu hatinya berubah dari keadaan semula dan tidak kembali ke keadaan awalnya, maka semua dosa menyebabkan kekerasan hati, dan menghalangi dari qiyamullail, dan yang paling berpengaruh adalah mengonsumsi yang haram.
Dan karena itu sebagian mereka berkata: Berapa banyak makanan yang menghalangi qiyamullail, dan sesungguhnya hamba memakan suatu makanan lalu ia terhalang dari qiyamullail selama setahun.
(6) Tidak berlebihan dalam mengisi tempat tidur:
Maka sesungguhnya di antara yang membantu qiyamullail adalah tidak berlebihan dalam mengisi tempat tidur; karena itu adalah sebab banyaknya tidur dan kelalaian, dan mendatangkan kemalasan dan kelemahan, dan tempat tidur Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah dari tikar yang meninggalkan bekas di kulitnya, dan bantalnya yang ia tidur padanya di malam hari adalah dari kulit yang isinya sabut.
Maka jangan berselimut dengan selimut, dan meletakkan pemanas di sampingmu, di atas tempat tidur yang empuk dan nyaman, karena dengan itu engkau bersiap untuk tidur panjang yang tidak akan pernah bisa bangun darinya, sengajalah agar tidurmu tidak nyaman sehingga engkau bisa bangun dengan mudah.
(7) Tidur di sisi kanan, dan berwudhu, bersiwak sebelum tidur, dan dzikir-dzikir sebelum tidur. Ini adalah sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam dan hadits-hadits di dalamnya terjaga dan terkenal, maka lakukanlah dan jangan malas.
SEBAB-SEBAB BATIN:
(1) Keikhlasan:
Barangsiapa yang bersih hatinya maka akan dibersihkan untuknya, dan barangsiapa yang keruh maka akan dikeruhkan atasnya, dan sesungguhnya akan ditakar untuk seorang hamba sebagaimana ia menakar. Apabila Yang Maha Mengetahui melihat apa yang ada di dalam hati sanubari dan tidak menemukan selain Yang Maha Mengetahui, maka Dia akan menempatkanmu di hadapan-Nya di tengah kegelapan malam, maka sesungguhnya berdirimu di malam hari adalah salah satu tanda dari tanda-tanda kecintaan kepada Allah, dan ia adalah ibadah yang judulnya dan mahkotanya adalah keikhlasan.
Wahai saudaraku… betapa banyak pelita yang telah dipadamkan oleh angin, dan betapa banyak ibadah yang dirusak oleh kebanggaan diri, dan satu saat seorang hamba merendahkan dirinya sendiri lebih baik baginya daripada ibadah yang di dalamnya ia menunjukkan amalnya, dan ketaatan yang paling berbahaya bagi seorang hamba adalah yang membuatnya lupa akan keburukannya dan membuatnya mengingat kebaikannya.
(2) Keyakinanmu bahwa Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi adalah yang menyerumu untuk bangun:
Sesungguhnya ini adalah seruan dari langit… dan cukuplah bahwa ini dari Allah untuk dilayani dan dilaksanakan, cukup bagimu sebagai balasan atas ketaatan bahwa Dia meridhaimu sebagai ahlinya… Lihatlah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Turun Rabb kami Tabaraka wa Ta’ala setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam yang akhir lalu berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku beri, siapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni.”
Berdirilah di lembah kehinaan… dan berkatalah di tengah kegelapan: Wahai Yang Mulia… sungguh kami dan keluarga kami ditimpa kesusahan…
(3) Sebaik-baik orang jika ia bangun di malam hari:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik orang adalah Abdullah jika ia bangun di malam hari.” Maka barangsiapa yang shalat di malam hari akan disifati sebagai sebaik-baik orang, dan ini adalah kesaksian yang mahal dan tinggi dari Kekasih Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sungguh telah disampaikan kepadamu puluhan hadits tentang keutamaan orang-orang yang shalat malam, maka bagaimana engkau menyia-nyiakan dirimu untuk menjadi salah satu dari mereka!!
(4) Keyakinanmu bahwa engkau dalam pandangan Allah:
Allah mendengar dan melihat shalatmu di malam hari… Menjadi ringan begadangnya para penjaga ketika mereka mendengar bahwa suara-suara mereka didengar oleh Raja, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Yang melihatmu ketika kamu berdiri (shalat). Dan (melihat) gerak-gerikmu di antara orang-orang yang sujud.” (QS. Asy-Syu’ara: 218-219)
(5) Nabimu shallallahu ‘alaihi wasallam bangun, sedangkan engkau tidur!!
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa bangun di malam hari hingga kedua telapak kakinya pecah-pecah, dan beliau tidak meninggalkan shalat malam baik saat sakit maupun dalam perjalanan, dan sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan shalat malam di waktu jihad, padahal Allah telah mengampuni dosanya yang terdahulu dan yang akan datang, maka bagaimana denganmu sedangkan malam telah menjerit karena tidurmu dan bumi menjerit karena kemaksiatanmu.
(6) Menempatkan surga di hadapan matamu:
Dan keyakinanmu bahwa shalat malam akan mewariskanmu surga yang paling tinggi… dan perenunganmu terhadap apa yang telah Allah siapkan bagi orang-orang yang shalat malam di kamar-kamar tinggi berupa kenikmatan surga… dan berdirilah lama bersama berita-berita tentang orang-orang yang shalat malam di malam mereka dan tidur mereka bersama bidadari.
(7) Menempatkan neraka dan siksaannya serta belenggu dan rantainya di hadapan matamu juga:
Maka barangsiapa yang begadang di sini dalam ketaatan kepada Allah dengan shalat malam sambil menangis bermunajat, ia tidak akan begadang di neraka bersama makanan yang pahit dan pohon zaqqum dan air nanah yang sangat panas, dan begadang malam dengan shalat lebih ringan daripada pakaian yang terbuat dari potongan besi dan meminum nanah.
(8) Tidur dengan niat bangun untuk shalat malam.
(9) Memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan berdoa kepada-Nya agar menganugerahkan kepadamu shalat malam.
(10) Pengetahuanmu tentang seberapa besar kesungguhan para sahabat yang mulia dalam shalat malam.
(11) Mengetahui seberapa besar kesungguhan para wanita salaf dalam shalat malam: Apakah engkau tidak punya teladan dari para lelaki?!!… Apakah engkau yang seorang lelaki didahului oleh para wanita?!!
(12) Setan menghalangimu dari shalat malam, apakah engkau mematuhinya?!!
(13) Terus-menerus menghisab diri:
Dan mencela diri karena shalat malam jika berlebihan dalam meninggalkannya.
(14) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa memeriksa para sahabatnya dan membangunkan mereka untuk shalat malam.
(15) Pengetahuanmu tentang tangisan salaf dan penyesalan mereka karena kehilangan shalat malam.
(16) Menuduh diri sendiri:
Dengan kekurangan dalam shalat malam, dan perkataanmu kepadanya: Bangunlah wahai tempat segala kejelekan, sungguh engkau lebih pantas dipukul daripada sejahat-jahat binatang, apakah disangka para sahabat Muhammad akan menyendiri bersamanya tanpa kita… Seorang lelaki dari kalangan salaf tidak datang ke tempat tidurnya kecuali dengan merangkak, dan meskipun demikian ia mencela dirinya sendiri karena kekurangan dalam hak Rabbnya.
(17) Menghukum diri sendiri:
Karena meninggalkan shalat malam, dan mencegahnya dari kesenangan selama beberapa hari, dan bersedekah dengan harta, sahabat Tamim Ad-Dari tertidur suatu malam sehingga tidak bangun untuk shalat malam, maka ia bangun selama setahun tidak tidur di dalamnya sebagai hukuman atas apa yang telah dilakukannya.
(18) Zuhud terhadap dunia:
Maka barangsiapa yang zuhud terhadap dunia dan sedikit mengambil darinya, dan bergaul dengan dunia dengan badannya, maka jiwanya menjadi tergantung dengan alam yang tinggi, dan hatinya tergantung dengan akhirat, bersih waktunya dengan bermunajat kepada Rabbnya dalam shalat malam, dan menjadikan Al-Quran sebagai selimut dan pakaiannya, dan barangsiapa yang mengenal nilai dunia dan sedikitnya tinggal di dalamnya, ia mematikan hawa nafsu di dalamnya dengan mencari kehidupan yang kekal, maka ia bangun dari tidur kelalaian dan mengambil kembali dengan shalat malam apa yang telah dirampas musuh darinya di masa pengangguran, dan barangsiapa yang dunia tidak menangis untuknya, maka akhirat tidak akan tersenyum kepadanya.
(19) Pengetahuanmu bahwa hewan-hewan mengingat Rabbnya, sedangkan engkau tidur!!
Mengapa hewan-hewan bertasbih kepada Rabbnya di waktu sahur? Padahal mereka tidak melakukan dosa dan tidak melakukan kejahatan, sedangkan engkau dalam tidur dan dengkuranmu!!, dan ayam-ayam jantan bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah sedangkan engkau dalam permainan dan kelalainmu… Tidakkah engkau malu!!
(20) Banyak mengingat kematian:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila telah lewat sepertiga malam bangun lalu bersabda: “Wahai manusia, ingatlah Allah, datanglah gempa pertama, barangsiapa yang takut maka berjalanlah di malam hari, dan barangsiapa yang berjalan di malam hari maka ia akan sampai ke tempat tujuan, ketahuilah bahwa barang dagangan Allah itu mahal, ketahuilah bahwa barang dagangan Allah adalah surga, datanglah gempa pertama diikuti oleh yang kedua, datanglah kematian dengan apa yang ada padanya.”
(21) Membaca biografi orang-orang yang shalat malam dan hidup bersama mereka:
Dan pendidikan dengan teladan adalah sebaik-baik cara yang membantu dalam shalat malam, dan kisah-kisah tentang orang-orang shalih yang shalat malam dan bagaimana mereka tidak ingin hidup di dunia kecuali untuk shalat malam…
Ketika Mu’adz bin Jabal didatangi kematian ia berkata: Selamat datang kematian selamat datang, tamu yang jarang datang dan kekasih yang datang saat kesulitan, tidak beruntung orang yang menyesal, Ya Allah, sesungguhnya aku dahulu takut kepada-Mu dan hari ini aku mengharap-Mu, Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu bahwa aku tidak suka tinggal di dunia untuk menanam pohon-pohon, dan tidak untuk menggali sungai-sungai, dan tidak untuk memetik buah-buahan; tetapi untuk kehausan di waktu panas, dan menghadapi waktu-waktu (malam), dan berdesak-desakan dengan para ulama dengan lutut di majelis-majelis ilmu.
Kisah-kisah ini adalah tentara dari tentara Allah yang Allah teguhkan dengannya hati orang-orang yang ingin menempuh jalan shalat malam, maka seorang hamba membenci dirinya sendiri, dan ia melihat orang-orang yang tujuan mereka dan tujuannya kepada Allah adalah satu, dan meskipun demikian mata mereka begadang sedangkan matanya tidur! Mata mereka tidak merasakan kantuk sedangkan ia tidur dan mendengkur! Mereka menangis di bawah selimut malam sedangkan ia bermain! Mereka takut dan mereka telah menegakkan kaki mereka hingga bengkak dan condong di waktu sahur untuk beristighfar sedangkan ia adalah orang yang aman, lalai, tidur! Maka jika ia ingin menyusul para pemimpin yang shalat malam… maka tinggalkanlah bersahabat dengan kasur dan bantal…
Adapun kemudahan-kemudahan batin untuk shalat malam maka ada empat perkara:
Pertama: Keselamatan hati dari dengki terhadap kaum muslimin, dan dari bid’ah dan dari kesia-siaan urusan dunia.
Kedua: Ketakutan yang dominan yang menetap di hati bersama pendeknya harapan, maka sesungguhnya jika ia memikirkan dahsyatnya akhirat dan tingkat-tingkat neraka jahannam, maka tidurlah hilang dan besar kekhawatirannya.
Ketiga: Agar ia mengetahui keutamaan shalat malam dengan mendengar ayat-ayat dan hadits-hadits dan atsar, hingga kokoh dengannya harapannya maka terusik oleh kerinduan untuk mencari tambahan.
Keempat: Dan ia adalah yang paling mulia dari pendorong-pendorong: Kecintaan kepada Allah dan kuatnya iman bahwa ia dalam shalatnya tidak berbicara dengan satu huruf pun kecuali ia bermunajat kepada Rabbnya dan Dia Subhanahu bersamanya mengawasi atasnya.
Adab-Adab Shalat Malam:
1 – Keikhlasan dan meninggalkan kebanggaan diri:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalat sunnah seorang lelaki di tempat yang tidak dilihat orang sama dengan shalat di hadapan orang-orang dua puluh lima kali lipat.” Dan sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidur pada sahur paling atas agar tidur menghilangkan kemurnian shalat malam dan beliau adalah orang yang paling jauh dari riya.
Mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
2 – Mandi dan memakai wewangian serta mengenakan pakaian yang bagus:
Dari Mujahid bin Jubair ia berkata: Mereka membenci makan bawang putih dan kurat dan bawang bombay di malam hari, dan mereka menyukai agar seorang lelaki menyentuh wewangian ketika bangun di malam hari yang ia usapkan pada kumisnya dan apa yang menghadap dari jenggot.
3 – Bersiwak untuk shalat malam:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba apabila bersiwak kemudian ia bangun shalat, malaikat berdiri di belakangnya, maka ia mendengarkan bacaannya, lalu ia mendekat kepadanya hingga ia meletakkan mulutnya di mulutnya, dan tidaklah keluar dari mulutnya sesuatu dari Al-Quran melainkan masuk ke dalam rongga malaikat, maka bersihkanlah mulut-mulut kalian untuk Al-Quran.” Maka lihatlah semoga Allah merahmatimu akan kerajinan para malaikat dan perhatian mereka mendengarkan Al-Quran dari manusia, dan demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya seandainya tidak ada dalam keutamaan siwak di malam hari kecuali hadits ini niscaya cukup.
4 – Mencuci tangan sebelum mencelupkannya ke dalam bejana wudhu.
5 – Bersungguh-sungguh dalam dzikir-dzikir shalat malam dan iftitah dan meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam cara shalatnya.
6 – Mengulang-ulang ayat dan mentadaburi apa yang ada di dalamnya.
7 – Mengulang-ulang surat.
8 – Menangis.
9 – Bagusnya shalat dan hadirnya hati.
10 – Meninggalkan shalat malam ketika mengantuk dan lemah:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian mengantuk dalam shalat maka hendaklah ia tidur hingga hilang darinya kantuk; karena sesungguhnya salah seorang dari kalian apabila shalat sedangkan ia mengantuk barangkali ia bermaksud beristighfar tetapi ia mencela dirinya sendiri.”
11 – Larangan mengkhususkan malam Jumat dengan shalat malam:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian mengkhususkan malam Jumat dengan shalat malam dari antara malam-malam yang lain, dan janganlah kalian mengkhususkan hari Jumat dengan puasa dari antara hari-hari yang lain kecuali jika itu dalam puasa yang biasa dipuasa oleh salah seorang dari kalian.”
12 – Membangunkan keluarga dan anak-anak dan orang yang di bawah tanggung jawabnya untuk shalat malam.
Dan ketahuilah -saudaraku- bahwa sesungguhnya barangsiapa yang terbiasa shalat malam maka ia akan diperingatkan untuk itu jika ia lalai darinya, dari Ibnu Mas’ud ia berkata: Apabila seorang lelaki tidur dan ia berniat bangun di malam hari, ia dibangunkan entah oleh kucing, atau oleh anak kecil, atau oleh sesuatu maka ia terbangun, lalu ia membuka matanya dan sungguh telah ditugaskan bersamanya dua qarin: qarin jahat dan qarin shalih, maka qarin jahat berkata: Bukalah dengan keburukan, kemudian bagimu malam yang panjang, engkau tidak mendengar suara dan tidak ada orang yang bangun, maka jika ia tidur hingga pagi maka datang kepadanya setan lalu kencing di telinganya, maka ia bangun pagi dengan berat, malas, buruk jiwanya, tertipu, adapun yang lain maka malaikat berkata kepadanya: Bukalah dengan kebaikan, bangunlah dan ingatlah Rabbmu dan shalatlah, maka jika ia bangun lalu berwudhu kemudian masuk masjid lalu mengingat Allah dan memuji-Nya, dan bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ketika selesai dari shalatnya malaikat menemuinya lalu menciumnya, kemudian ia bangun pagi dengan jiwa yang baik dan telah mendapatkan kebaikan.
Saudaraku dalam Allah…
Lemparkanlah dirimu di kegelapan malam di pintu kehinaan.
Dan katakanlah: Tuhanku, betapa banyak orang selain aku bagi-Mu dan tidak ada bagiku selain Engkau… Hamba-hamba-Mu selain aku banyak dan tidak ada bagiku tuan selain Engkau.
Maka dengan kefakiranku kepada-Mu dan kekayaan-Mu dari aku, dengan kekuatan-Mu dan kelemahan aku, dengan kemuliaan-Mu dan kehinaan aku kecuali Engkau merahmati aku dan memaafkan aku, ini ubun-ubunku yang berdusta yang bersalah di hadapan-Mu.
Aku memohon kepada-Mu permohonan orang miskin… dan aku berdoa kepada-Mu dengan doa orang yang tunduk lagi hina… dan aku berdoa kepada-Mu dengan doa orang yang takut lagi fakir, permohonan orang yang tunduk kepada-Mu lehernya, dan rendah kepada-Mu hidungnya, dan mengalir kepada-Mu matanya, dan hina kepada-Mu hatinya…
Tuhanku… Aku adalah orang yang setiap kali panjang umurku bertambah dosa-dosaku, aku adalah orang yang setiap kali aku bermaksud meninggalkan kesalahan maka muncul bagiku yang lain…
Celaka dosa-dosaku! Kesalahan yang belum usang dan pemiliknya sudah di kesalahan lain…
Celaka dosa-dosaku! Jika neraka menjadi tempat istirahat dan tempatku…
Celaka dosa-dosaku! Jika pemukul-pemukul untuk kepalaku dipersiapkan…
Ya Rabb, dosa-dosaku telah membuatku bisu dan terputus perkataanku maka tidak ada hujjah bagiku, maka aku adalah tawanan dengan musibahku, tergadai dengan amalku, ragu-ragu dalam kesalahanku, bingung dari tujuanku, terputus dariku, sungguh aku telah menempatkan diriku di tempat orang-orang celaka yang berani kepada-Mu, yang meremehkan janji-Mu, Maha Suci Engkau, keberanian apa yang telah aku lakukan kepada-Mu, dan penipuan apa yang telah aku tipu diriku sendiri.
Tuhanku rahmatilah tersandungku karena tersingkap wajahku dan tergelincirnya kakiku, dan kembalilah dengan kesabaran-Mu atas kebodohanku dan dengan kebaikan-Mu atas keburukanku, maka aku adalah orang yang mengakui dosanya yang mengakui kesalahannya…
Dan ini tanganku dan ubun-ubunku, aku merendahkan diri dengan hukuman dari diriku sendiri, rahmatilah kelemahan aku dan habisnya hari-hari aku dan dekatnya ajalku, dan sedikitnya dayaku dan kemiskinanku, Tuhanku dan rahmatilah aku ketika terputus dari dunia bekasku, dan terhapus dari makhluk kenanganku, dan aku menjadi di antara orang-orang yang terlupakan seperti orang yang telah dilupakan, Tuhanku dan rahmatilah aku ketika berubah bentuk dan keadaanku, ketika lapuk tubuhku dan bercerai-berai anggota tubuhku dan terputus-putus sambunganku, wahai kelalaianku tentang apa yang dikehendaki bagiku.
Tuhanku dan rahmatilah aku dalam penghimpunanku dan kebangkitanku, dan jadikanlah pada hari itu bersamaku wali-wali-Mu tempatku berdiri, dan dalam kekasih-kekasih-Mu arah pulangku, dan dalam kedekatan-Mu tempat tinggalku wahai Rabb semesta alam, Maha Suci Engkau Ya Allah dan kelembutan-Mu, Maha Suci Engkau Ya Allah dan Maha Tinggi Engkau.
IKTIKAF: KETIKA SETIAP KEKASIH MENYENDIRI DENGAN KEKASIHNYA
Iktikaf
Iktikaf… dan tahukah kamu apa itu iktikaf…
Kita sampai pada inti pembahasan dan ujian sejati dari cinta yang hakiki…
Ketika setiap kekasih menyendiri dengan kekasihnya.
Ketika iktikaf disebut, jiwa-jiwa yang beriman dan hati-hati yang jujur akan tertuju padanya.
Iktikaf adalah rumah perasaan… kedalaman iman… kejujuran tujuan… manisnya keterasingan…
Iktikaf… melekatkan diri di pintu… berdiri di mihrab… dan kenikmatan bagi orang yang memiliki akal…
Iktikaf… tidak bisa tidak bagi setiap orang yang jujur; karena ia merupakan tuntutan utama yang dibutuhkan dalam hidupnya…
Di dalam hati ada kekusutan yang tidak bisa dirapikan kecuali dengan menghadap kepada Allah…
Dan di dalam hati ada kekosongan… yang tidak bisa dipenuhi kecuali dengan ketenangan bersama-Nya dan merasakan kebersamaan-Nya…
Kesibukan hidup dan kerasnya… ketersebaran hati dan keceraiberaiannya… tragedi bergaul dengan manusia dan dunia mereka… semua itu membuat manusia merindukan khalwat yang terjaga, di mana ia menyendiri bersama Tuhan-nya dan Ilah-nya… kekasihnya dan sesembahan-nya serta penguasa-nya dan tujuannya…
Membuat manusia merindukan saat-saat di mana ia terbebas dari segala sesuatu, dan dari setiap orang… dan terkumpullah perhatian hatinya dan seluruh perasaannya bahkan seluruh inderanya hanya kepada Allah semata. Dan kegembiraan iktikaf Ramadhan bagi siapa yang ingin memanfaatkannya adalah kesempatan dari segala kesempatan…
Karena ia mengkhususkan sepuluh hari terakhir Ramadhan dengan suasana iman yang harum… suasana rohani yang lepas… di dalamnya ada hadiah-hadiah… keistimewaan dan manfaat… dan nikmat yang tak terhitung yang membutuhkan syukur…
Dan bagimu pada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ada teladan; karena sesungguhnya khalwat ini adalah periode persiapan dan pembekalan serta latihan untuk sebelas bulan yang akan datang.
Sebagian ahli tafsir berkata ketika membicarakan tentang khalwat Nabi shallallahu alaihi wasallam di gua Hira dengan perkataan yang sangat berharga yang saya nukil di sini dengan lengkap agar kamu merenungkannya dan mengambil manfaat darinya yang menyentuh hatimu. Ia berkata semoga Allah merahmatinya:
“Dan pilihannya shallallahu alaihi wasallam untuk pengasingan ini merupakan bagian dari pengaturan Allah baginya; untuk mempersiapkannya bagi perkara besar yang menunggunya. Dalam pengasingan ini ia menyendiri dengan dirinya, dan terlepas dari kesibukan hidup dan gangguan-gangguan kecilnya, dan luang untuk isyarat-isyarat alam semesta, dan bukti-bukti penciptaan; dan ruhnya berenang bersama ruh alam semesta; dan berpelukan dengan keindahan ini dan kesempurnaan ini; dan berinteraksi dengan Hakikat Terbesar, dan berlatih untuk berinteraksi dengan-Nya dalam pemahaman dan pengertian.
Dan harus bagi setiap ruh yang diinginkan agar ia berpengaruh dalam kenyataan kehidupan manusia sehingga mengubahnya ke arah lain… harus bagi ruh ini ada khalwat dan pengasingan beberapa waktu, dan terputus dari kesibukan bumi, dan hiruk pikuk kehidupan, dan kekhawatiran manusia yang kecil yang menyibukkan kehidupan.
Harus ada periode untuk perenungan dan pemikiran dan berinteraksi dengan alam semesta yang besar dan hakikat-hakikatnya yang lepas.
Tenggelam dalam kenyataan kehidupan membuat jiwa terbiasa dengannya dan tenang karenanya, sehingga tidak berusaha mengubahnya.
Adapun melepaskan diri darinya untuk sementara, dan menyendiri darinya, dan hidup dalam kebebasan penuh dari belenggu kenyataan yang kecil, dan dari kesibukan-kesibukan yang sepele; maka itulah yang menyiapkan ruh yang besar untuk melihat yang lebih besar, dan melatihnya pada perasaan kebesaran dirinya tanpa membutuhkan kebiasaan manusia, dan mendapatkan kekuatan dari sumber lain selain kebiasaan yang umum ini! Dan demikianlah Allah mengatur untuk Muhammad shallallahu alaihi wasallam ketika Dia mempersiapkannya untuk memikul amanah yang besar, dan mengubah wajah bumi, dan memodifikasi jalan sejarah… Dia mengatur baginya pengasingan ini sebelum menugaskannya dengan risalah selama tiga tahun. Ia terlepas dalam pengasingan ini sebulan dari waktu, bersama ruh alam semesta yang lepas, dan merenungkan apa yang di balik alam semesta dari ghaib yang tersembunyi, hingga tiba waktu berinteraksi dengan ghaib ini ketika Allah mengizinkan.” Selesai.
Wahai saudara-saudara…
Sesungguhnya poros utama kehidupan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah beribadah kepada Allah azza wa jalla, maka ia adalah sebaik-baik yang beribadah kepada Allah azza wa jalla di alam semesta ini. Ia memiliki ibadah-ibadah harian yang ia laksanakan secara terus-menerus, dari fardhu dan sunnah, dari pelaksanaan shalat lima waktu, dan melaksanakan shalat rawatib, dan shalat Dhuha, dan qiyamullail, dan menjenguk orang sakit, dan mempersiapkan jenazah, dan memenuhi kebutuhan manusia, dan lain sebagainya dari perilaku hariannya.
Dan ia memiliki ibadah mingguan, seperti: puasa Senin dan Kamis, dan shalat Jumat.
Dan ibadah tahunan, seperti: puasa bulan Ramadhan, dan qiyamnya, dan iktikafnya di sepuluh hari terakhirnya.
Dan semua perkara ibadah yang ia jalani shallallahu alaihi wasallam memiliki arahan-arahan pendidikan dalam kehidupan manusia muslim, oleh karena itu wajib bagi muslim mengetahui arahan-arahan pendidikan dalam ibadah-ibadah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang beragam, hingga ia mampu beramal mengikuti jalan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam; karena ia adalah teladan dalam semua urusan kita secara merata dan inilah ittiba’ (mengikuti) dengan ihsan.
Dan iktikaf adalah ibadah yang tidak seperti ibadah lainnya, ia berarti memutuskan diri kepada Allah azza wa jalla secara total, dan meninggalkan kenikmatan dunia, yang biasanya menghalangi ketinggian rohani manusia, dan hubungan yang sempurna dengan Allah azza wa jalla demi mewujudkan kejernihan rohani dalam hubungan manusia muslim dengan Allah azza wa jalla. Maka aspek rohani dalam syariat, fungsi utamanya adalah menciptakan hubungan yang terus-menerus antara hamba dan Penciptanya azza wa jalla melalui lingkaran ibadah yang luas, yang mencakup kehidupan manusia ini secara keseluruhan; mengharapkan dengan itu ridha Allah azza wa jalla, mengikuti di dalamnya syariat Yang Maha Benar tabaraka wa ta’ala. Dan terputuslah hubungan rohani ini ketika manusia ini menyimpang dari mengharapkan ridha Allah azza wa jalla, dan menerapkan syariat-Nya yang lurus, dan kembali dengan kembalinya manusia kepadanya.
Dan dalam iktikaf ada kesempatan besar untuk mewujudkan hubungan yang terus-menerus ini antara hamba dan Tuhannya azza wa jalla, yaitu dengan tersedianya niat ridha Allah azza wa jalla, dan mengikuti syariat-Nya tabaraka wa ta’ala secara terus-menerus selama iktikaf. Dan aspek-aspek pendidikan dari sunnah iktikaf tidak terbatas pada mendidik jiwa untuk mencari lailatul qadar, atau dalam mendidik aspek rohani dalam kehidupan manusia muslim, tetapi ada aspek-aspek pendidikan yang beragam yang memungkinkan kita untuk mengatakan: bahwa iktikaf sesungguhnya merupakan madrasah Islam yang diselenggarakan secara tahunan.
Dan ketika pendidikan Islam berupaya untuk mencapai manusia muslim pada derajat “sebaik-baik bentuk”, maka sunnahlah yang harus memberikan perhatian penuh padanya, dan berupaya untuk mengikuti jejak Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam keadaan-keadaannya sebagaimana para sahabat radhiyallahu anhum melakukan itu. Maka mereka adalah contoh-contoh manusia yang tinggi semangatnya, seperti: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan lainnya semoga Allah meridhai mereka dan para sahabat semuanya. Mereka berupaya terus-menerus dalam mengikutinya shallallahu alaihi wasallam dalam semua urusannya meskipun mereka tidak mengetahui hikmah dalam perilakunya shallallahu alaihi wasallam dalam situasi apa pun dari situasi kehidupannya.
Dan tidak ada bukti lebih jelas dari itu dari apa yang diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu ia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam shalat bersama para sahabatnya tiba-tiba ia melepas kedua sandalnya lalu meletakkannya di sebelah kirinya, ketika kaum itu melihat hal tersebut mereka melempar sandal mereka, ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyelesaikan shalatnya ia berkata: “Apa yang membuat kalian melempar sandal kalian?” Mereka berkata: Kami melihat engkau melempar sandalmu maka kami melempar sandal kami, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “Sesungguhnya Jibril alaihissalam datang kepadaku lalu memberitahuku bahwa pada keduanya ada kotoran,” dan beliau shallallahu alaihi wasallam berkata: “Apabila salah seorang dari kalian datang ke masjid maka hendaklah ia melihat, apabila ia melihat pada sandalnya ada kotoran atau gangguan maka hendaklah ia usap dan hendaklah ia shalat dengannya.”
Maka itulah inisiatif spontan yang segera untuk mengikuti perilaku Rasul shallallahu alaihi wasallam, ia melempar sandalnya maka mereka melempar sandal mereka dan demikianlah selamanya dalam semua peristiwa. Dan yang dihasilkan dari itu tentu saja penyerahan total kepada syariat Allah azza wa jalla, yang dasarnya adalah tingginya tingkat iman kepada Allah dalam jiwa-jiwa tersebut.
Dan ketika cahaya iman mulai meredup, dan indikatornya menurun dalam jiwa banyak orang Muslim -kecuali yang dirahmati Tuhanku- mulailah lepas dari lingkaran syariat Islam, dan khususnya sunnah Rasul shallallahu alaihi wasallam. Dan telah tumbuh tunas kejahatan dengan menganggap bahwa banyak dari apa yang datang dalam kehidupannya shallallahu alaihi wasallam adalah sunnah, dan tidak apa-apa meninggalkannya!!
Engkau melihat sebagian ulama dan orang-orang yang belajar fikih dari zaman kita, yang dikenal dengan sikap toleran dalam berpegang teguh dengan sunnah, apabila dikatakan kepadanya tentang meninggalkan sebagian sunnah, ia berkata: Itu sunnah, dan dibolehkan meninggalkannya, dan ia lupa atau lalai dari makna positif cinta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yaitu yang menuntut ittiba’ dan iqtida’, dan yang pantas bagi muslim yang cerdas bukan ini. Sesungguhnya salaf yang pertama melakukan setiap yang dituntut secara syar’i -meskipun itu anjuran atau keutamaan- dan tanpa membedakan antara yang dituntut dengan cara fardhu atau wajib, dan antara yang dituntut dengan cara anjuran atau sunnah.
Maka sunnah yang dianjurkan adalah benteng bagi fardhu yang wajib, dan pintu untuk menambah kebaikan dan cahaya bagi yang melakukannya, dan tanda cinta dan mengikuti petunjuk Rasul yang mulia shallallahu alaihi wasallam dalam semua urusannya. Maka semangat terhadap sunnah-sunnah Nabi dan mencontohnya adalah dari perolehan yang besar, dan sifat yang paling indah, dan taqarrub serta ketaatan yang paling utama; maka wajib bagimu dengannya wahai saudara muslim.
Dan iktikaf adalah sunnah mu’akkadah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melaksanakannya terus-menerus dalam kehidupannya setelah hijrahnya ke Madinah Al-Munawwarah. Dan sunnah ini dan sunnah-sunnah Nabi lainnya telah ditinggalkan dalam kehidupan banyak muslim hari ini -kecuali yang dirahmati Tuhanku- dan itu karena sebab-sebab di antaranya:
- Lemahnya aspek iman dalam jiwa-jiwa tersebut.
- Kecenderungan yang meningkat terhadap kenikmatan kehidupan dunia dan syahwatnya, yang mengakibatkan ketidakmampuan menjauh darinya meskipun untuk waktu yang singkat, dan dengan demikian menyibukkan waktu dan pikiran dengannya.
- Terbatasnya cinta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada aspek lisan tanpa amal, yang diwujudkan dalam menerapkan aspek-aspek Sunnah Muhammad yang beragam, di antaranya iktikaf.
Az-Zuhri berkata: Sungguh mengherankan orang-orang!, bagaimana mereka meninggalkan iktikaf, padahal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melakukan sesuatu dan meninggalkannya, dan beliau tidak meninggalkan iktikaf hingga wafat.
Iktikaf yang dijalani Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di sepuluh hari terakhir Ramadhan, dan terbatas masa waktunya antara sembilan hingga sepuluh hari, namun ia dianggap sebagai madrasah pendidikan yang independen dan terpadu, diselingi dengan banyak jenis ibadah kepada Allah azza wa jalla, yang berupaya membangunkan banyak aspek kehidupan dalam manusia, dan menjadikannya dalam satu lingkaran yang menuju kepada Penciptanya azza wa jalla, maka ia seperti kursus pendidikan intensif yang memiliki hasil-hasil positif segera pada kehidupan manusia di hari-hari dan malam-malam iktikaf.
Dan juga memiliki pengaruh positif pada kehidupan manusia dalam apa yang akan ia hadapi dari hari-hari selama hidupnya yang ia jalani hingga Ramadhan berikutnya. Maka pantaslah bagi kita anak-anak umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam untuk beramal dengan sunnah ini, dan mendatanginya tahun demi tahun, untuk mendapatkan manfaat dari aspek-aspeknya yang beragam, dan menghidupkan sunnah kekasih Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang berkata: “Barangsiapa menghidupkan sunnahku maka ia telah mencintaiku, dan barangsiapa mencintaiku akan bersamaku di surga.”
Petunjuk Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam Iktikaf:
Dan petunjuknya shallallahu alaihi wasallam dalam iktikaf adalah petunjuk yang paling sempurna dan paling mudah.
Adalah ketika ia ingin iktikaf diletakkan untuknya tempat tidur dan alasnya di masjidnya shallallahu alaihi wasallam, dan tepatnya di belakang tiang taubat sebagaimana datang dalam hadits dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Bahwa ia apabila iktikaf dihamparkan untuknya alas tidurnya, atau diletakkan untuknya tempat tidurnya di belakang tiang taubat.”
Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam didirikan untuknya khubah (kemah) seperti bentuk tenda, maka ia tinggal di dalamnya selain waktu-waktu shalat hingga sempurna khalwat baginya secara nyata, dan itu di masjid. Dan diperkirakan bahwa khubah itu didirikan di atas alas tidur atau tempat tidurnya. Dan itu sebagaimana dalam hadits Aisyah radhiyallahu anha ia berkata: “Adalah Nabi shallallahu alaihi wasallam iktikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan, maka aku mendirikan untuknya kemah, lalu ia shalat Subuh kemudian memasukinya.”
Dan ia terus-menerus tinggal di masjid tidak keluar darinya kecuali untuk kebutuhan manusia berupa kencing atau buang air besar; dan itu karena hadits Aisyah radhiyallahu anha ketika ia berkata: “Dan beliau tidak masuk rumah kecuali untuk kebutuhan apabila ia iktikaf.”
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dibawakan makanan dan minumannya ke tempat i’tikafnya, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa menjaga kebersihannya; karena beliau mengeluarkan kepalanya ke kamar Aisyah radhiyallahu ‘anha agar dia menyisir rambutnya, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Bahwa dia menyisir rambut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sementara dia sedang haid, dan beliau sedang beri’tikaf di masjid, sedangkan dia di kamarnya, beliau menyodorkan kepalanya kepadanya”.
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menjenguk orang sakit, dan tidak menyaksikan jenazah; hal itu demi fokus dan memutuskan hubungan total untuk bermunajat kepada Allah ‘azza wa jalla, dalam hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa dia berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati orang sakit sementara beliau sedang beri’tikaf, maka beliau lewat begitu saja dan tidak singgah menanyakan tentangnya”, dan juga dari Aisyah bahwa dia berkata: “Sunnah dalam i’tikaf adalah tidak menjenguk orang sakit, tidak menyaksikan jenazah, tidak menyentuh perempuan dan tidak menyetubuhinya, tidak keluar untuk suatu keperluan kecuali untuk hal yang sangat diperlukan, tidak ada i’tikaf kecuali dengan puasa, dan tidak ada i’tikaf kecuali di masjid jami'”.
Dan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengunjunginya di tempat i’tikafnya, dan pernah terjadi beliau keluar mengantarkan salah seorang dari mereka ke rumahnya dan hal itu karena darurat, karena waktunya malam, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat bahwa keluarnya bersama dia radhiyallahu ‘anha adalah suatu keharusan di malam itu, maka beliau keluar bersamanya dari tempat i’tikafnya untuk mengantarnya ke rumahnya.
Dan kesimpulannya: Bahwa petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam i’tikafnya ditandai dengan kemudahan, karena sebagian besar waktunya tinggal di masjid, dan menghadap kepada ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla, dan menanti-nantikan malam Lailatul Qadar.
Tujuan-tujuan I’tikaf:
- Mencari Lailatul Qadar.
- Berkhalwat dengan Allah ‘azza wa jalla, dan memutuskan hubungan dari manusia semampu mungkin; sehingga sempurna ketentraman bersama Allah ‘azza wa jalla dan dzikir kepada-Nya.
- Memperbaiki hati, dan mengumpulkan kerusakannya dengan menghadap kepada Allah tabaraka wa ta’ala dengan sepenuhnya.
- Pemutusan total untuk ibadah murni berupa shalat, doa, dzikir dan membaca Quran.
- Menjaga puasa dari segala yang mempengaruhinya dari kesenangan nafsu dan syahwatnya.
- Mengurangi perkara duniawi yang mubah, dan zuhud dari banyak hal meski mampu untuk berurusan dengannya.
Hukum I’tikaf:
Sunnah muakkadah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dalam hadits dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf sepuluh hari pertama Ramadhan, kemudian beri’tikaf sepuluh hari pertengahan di sebuah tenda Turki yang di pintunya ada tikar, dia berkata: Lalu beliau mengambil tikar itu dengan tangannya dan menyingkirkannya ke sudut tenda, kemudian menampakkan kepalanya dan berbicara kepada orang-orang, maka mereka mendekat kepadanya, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya aku beri’tikaf sepuluh hari pertama mencari malam ini, kemudian aku beri’tikaf sepuluh hari pertengahan, kemudian aku didatangi lalu dikatakan: Sesungguhnya malam itu di sepuluh hari akhir, maka siapa dari kalian yang suka beri’tikaf hendaklah beri’tikaf”, maka orang-orang beri’tikaf bersamanya, beliau bersabda: “Dan sesungguhnya aku diperlihatkan malam itu ganjil dan sesungguhnya aku bersujud paginya di tanah dan air”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun pada malam dua puluh satu dan telah berdiri untuk Subuh lalu hujan turun, maka masjid bocor, maka aku melihat tanah dan air, lalu beliau keluar ketika selesai dari shalat Subuh dan dahinya serta ujung hidungnya padanya ada tanah dan air; dan ternyata malam itu malam dua puluh satu dari sepuluh hari akhir.
Syarat-syarat I’tikaf:
- Islam: Karena tidak sah dari orang kafir, demikian juga orang yang murtad dari agamanya.
- Tamyiz (dapat membedakan): Karena tidak sah dari anak kecil yang tidak tamyiz.
- Suci dari hadas besar (dari junub, haid, dan nifas), dan jika hal-hal seperti ini menimpa mu’takif selama i’tikafnya maka wajib baginya keluar dari masjid; karena tinggalnya dalam keadaan seperti ini di masjid adalah haram.
- Berada di masjid: Dan yang afdhal adalah i’tikaf di masjid jami’ yang di dalamnya dilaksanakan Jumat, agar tidak terpaksa keluar dari masjid untuk keperluan shalat Jumat.
Rukun-rukun I’tikaf:
- Niat: Dan ini adalah perkara yang wajib, dan padanya terdapat keikhlasan amal kepada Allah ‘azza wa jalla, dan demikian juga dalam seluruh amal.
- Tinggal di masjid: Dan itu berdasarkan firman Allah ta’ala: {Dan Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail agar mensucikan rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf dan yang beri’tikaf serta yang ruku’ dan yang sujud} (Al-Baqarah: 125), dan dalam ini penegasan bahwa tempat i’tikaf adalah masjid.
Waktu dan Awal Waktunya:
Jika pada bulan Ramadhan maka waktu yang paling utama adalah sepuluh hari akhir darinya, dan boleh pada waktu kapan saja di Ramadhan atau selainnya, karena tidak dikhususkan pada waktu tertentu; karena ini adalah perkara yang disunnahkan pada semua waktu, dan khususnya jika seorang muslim mewajibkan dirinya dengan nadzar, adapun mengenai awal waktunya maka sebelum terbenamnya matahari bagi yang ingin beri’tikaf satu malam atau lebih.
Larangan-larangan I’tikaf:
- Keluar dari masjid: I’tikaf batal jika keluar dari masjid tanpa keperluan.
- Menyetubuhi perempuan: Dan termasuk padanya adalah jimak, maka perkara ini membatalkan i’tikaf; karena adanya larangan tentangnya secara tegas dalam firman Allah ta’ala: {Dan janganlah kalian menyetubuhi mereka sedang kalian beri’tikaf di masjid-masjid} (Al-Baqarah: 187).
- Haid dan nifas: Jika perempuan yang beri’tikaf haid atau nifas maka wajib baginya keluar dari masjid; hal itu untuk menjaga kesucian dan kesucian masjid, demikian juga orang junub hingga mandi.
- Menjalani masa iddah: Yaitu jika suami mu’takifah (perempuan yang beri’tikaf) meninggal sedangkan dia di masjid, maka wajib baginya keluar untuk menjalani iddah di rumahnya.
- Murtad: Karena sesungguhnya dari syarat-syarat i’tikaf adalah Islam, maka batallah i’tikaf orang yang murtad.
Tujuan-tujuan I’tikaf:
Tidak boleh tidak wahai orang-orang yang kucintai karena Allah untuk menentukan tujuan-tujuan yang diinginkan dari amal yang agung ini; karena mengetahui tujuan-tujuan dan menentukannya menjadikan jiwa terhormat karenanya dan senantiasa menuju kepadanya dan bersemangat untuk memperolehnya.. dan hal itu banyak:
- Penerapan konsep ibadah dalam bentuk keseluruhan:
I’tikaf mengakarkan dalam diri mu’takif konsep penghambaan yang hakiki kepada Allah ‘azza wa jalla, dan melatihnya tentang perkara agung ini yang demi itu manusia diciptakan; karena Allah tabaraka wa ta’ala berfirman: {Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku} (Adz-Dzariyat: 56), di mana sesungguhnya mu’takif telah menyerahkan dirinya seluruhnya dan waktunya seluruhnya beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla, karena manusia seringkali menyia-nyiakan waktu-waktu berharga, yang dihabiskannya dalam perkara-perkara mubah tanpa meniatkannya sebagai ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla, dan dalam lingkaran ini berjalan hidupnya, dan dia hidup dalam banyak jam kelalaian khususnya di zaman kontemporer kita yang banyak di dalamnya hal-hal yang menggoda dan mengalihkan dari ketaatan kepada Allah.
Maka mu’takif pada awalnya kita dapati dia berniat i’tikaf dengan ikhlas kepada Allah ‘azza wa jalla, dan dimulai dengan menetap di masjid demi ketaatan kepada Rabbnya, dan kesibukannya yang utama pada masa i’tikaf adalah ridha Allah ‘azza wa jalla, maka dia menyibukkan badannya dan inderanya dan waktunya demi perkara ini, dengan shalat yang fardhu dan sunnah, dengan doa, dzikir dan membaca Quran, dan lainnya, dan menjauh pada waktu yang sama dari pengalih ketaatan ini, maka dia menjauh dari majelis-majelis pembicaraan yang mubah, dan jika dia berbicara dengan saudaranya maka dalam batas keperluan dan dalam lingkaran ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla.
Dan dengan itu terwujud dalam kenyataannya konsep ibadah kepada Allah ‘azza wa jalla yang didefinisikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dengan ucapannya: Ibadah: adalah nama yang mencakup segala yang dicintai Allah dan diridhai-Nya dari perkataan dan perbuatan yang batin dan yang lahir, maka shalat dan zakat, puasa, haji, menunaikan amanah, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturrahim, memenuhi janji, amar ma’ruf nahi munkar, jihad terhadap orang-orang kafir dan munafik, berbuat baik kepada tetangga dan anak yatim, orang miskin, ibnu sabil dan budak dari manusia atau hewan, doa, dzikir dan bacaan, dan yang seperti itu dari ibadah, demikian juga mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah dan kembali kepada-Nya dan mengikhlaskan agama kepada-Nya, bersabar terhadap keputusan-Nya, bersyukur atas nikmat-Nya, ridha terhadap qadha-Nya, bertawakal kepada-Nya, mengharap rahmat-Nya, takut kepada azab-Nya, dan yang seperti itu dari ibadah kepada Allah. (akhir kutipan).
Dan dengan latihan ini di hari-hari sepuluh terakhir bulan Ramadhan yang penuh berkah, mu’takif dididik tentang cara penerapan konsep penghambaan kepada Allah ‘azza wa jalla dalam kehidupan umum dan pribadinya, dan meletakkan dalam bentuk penerapan firman Allah tabaraka wa ta’ala: {Katakanlah: Sesungguhnya shalatku dan ibadahku dan hidupku dan matiku untuk Allah Rabb semesta alam (162) tidak ada sekutu bagi-Nya dan dengan demikian aku diperintahkan dan aku adalah orang pertama yang berserah diri} (Al-An’am: 162-163). Dan setelah berakhirnya waktu i’tikaf, mu’takif bersungguh-sungguh sesuai kemampuannya untuk menjadikan kehidupan pribadi dan umumnya dalam lingkaran ibadah, dan banyak orang tidak menyadari bahwa niat adalah pengubah yang ajaib, namun ia tidak mengubah benda mati menjadi jenis lain dari benda mati; tetapi ia mengubah ibadah biasa yang lenyap dan hilang begitu selesai darinya menjadi amal-amal yang kekal abadi; maka makan, minum dan nikah semua itu lenyap hilang, maka jika hamba meniatkannya dengan niat yang shalih; seperti berniat untuk kuat dengan makan dan minum untuk ketaatan kepada Allah, dan seperti menjaga dirinya dari zina dengan nikah, dan mencari anak shalih yang beribadah kepada Allah dan berjihad di jalan-Nya; maka amal-amal ini berubah menjadi amal-amal kekal yang shalih.
Dan dengan orientasi ini pada jiwa manusia muslim, jiwa ini menjadi lurus dalam seluruh kehidupannya, dan jika banyak jumlah individu dari jenis ini dalam masyarakat Islam manapun maka masyarakat itu juga akan lurus.
- Mencari Lailatul Qadar:
Manusia berjuang dalam kehidupannya dari Ramadhan ke Ramadhan dua belas bulan dengan hari-hari dan malam-malamnya, {Wahai manusia, sesungguhnya kamu bekerja keras menuju Rabbmu dengan sungguh-sungguh maka kamu akan menjumpai-Nya} (Al-Insyiqaq: 6) dan manusia muslim tetap dalam proses memberi dan menerima di medan ketaatan dan kemaksiatan, dan hati lalai dalam banyak waktu dari medan ketaatan, dan anggota badan terlepas dalam dosa-dosa, dan dosa-dosa bertambah banyak pada pundak manusia ini dari yang dia sadari dan dari yang tidak dia sadari, dan dalam kenyataan manusia muslim yang bijak kita dapati dia beristighfar kembali kepada Allah ketika menyadari terjadinya dirinya dalam maksiat dan kesalahan, dan ini dari sifat manusia; berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Setiap anak Adam berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat”. Maka taubat orang bijak terus-menerus dan banyak yang hilang pada orang yang lalai. Dan tetaplah dengan itu dosa-dosa yang tidak dia ketahui, tetapi kenyataan ini tidak tersedia dalam kehidupan banyak muslim hari ini, yang hidup di zaman yang sifatnya kelalaian dari ridha Allah ‘azza wa jalla; hal itu karena banyaknya pengalih dan kesibukan dunia, dan banyaknya hiburan dan kemungkaran, yang menjadi di adat zaman ini sebagai kebaikan, semua ini mengharuskan pada manusia mencari waktu-waktu di mana dia berdiri untuk menghisab dirinya, dan membersihkan semampu mungkin dari penumpukan dosa-dosa.
Dan dari rahmat Allah ‘azza wa jalla kepada manusia muslim bahwa Dia mewujudkan untuknya musim-musim untuk ketaatan yang di dalamnya manusia mendekat kepada Rabbnya ‘azza wa jalla, dan dihapuskan dari padanya melalui pendekatan ini dosa-dosa dan kemaksiatan itu, dan dari musim-musim ini bulan Ramadhan, dan yang paling khusus pada bulan ini adalah Lailatul Qadar, karena Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berdiri (shalat malam) Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala maka diampuni baginya apa yang telah lalu dari dosanya”.
Maka dalam i’tikaf ada kesempatan periodik bagi mu’takif untuk meninjau kehidupannya yang lalu, dan merenungkan apa yang dia kerjakan di dalamnya dari keburukan, dan meniatkan untuk tidak kembali kepadanya, bertaubat dan menyesal atasnya, dan memohon kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Perkasa agar memberinya maaf dan mengampuninya, khususnya di Lailatul Qadar, dan yang paling berhak menyaksikan Lailatul Qadar dari awal waktunya hingga akhirnya adalah mu’takif; karena kamu mendapatinya diam di masjid pada waktu itu berdzikir kepada Allah dalam semua keadaannya dengan berbagai jenis dzikir mencari malam yang penuh berkah ini.
Dan perasaan manusia muslim dengan ampunan Allah ‘azza wa jalla, dan bahwa dia telah berkurang dari banyak dosa yang diangkat dari pundaknya memberinya semacam motivasi untuk bergegas dalam ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla, dan ridha-Nya dalam amal-amalnya yang berbeda, untuk memperoleh lebih banyak kebaikan yang memberatkan timbangan amalnya di hari dihadapkan kepada Allah ‘azza wa jalla.
(3) Membiasakan Diri Tinggal di Masjid:
Dalam itikaf terdapat latihan dan pendidikan bagi jiwa untuk membiasakan diri tinggal di masjid, yang memiliki kepentingannya dalam kehidupan manusia muslim; maka orang yang beritikaf telah mewajibkan dirinya untuk tinggal di masjid dalam waktu tertentu, dan di bulan Ramadan biasanya antara sembilan hingga sepuluh malam, ia menghabiskan seluruh waktunya dalam mencari ridha Allah Azza wa Jalla, dan jiwa manusia mungkin tidak menerima ikatan seperti ini di awal itikaf; namun penolakan ini biasanya cepat sirna karena apa yang diterima jiwa muslim berupa ketenangan dan ketenteraman dalam tinggalnya di rumah Allah.
Pengetahuan orang yang beritikaf tentang pentingnya tinggal di masjid selama itikafnya, dan karenanya berinisiatif pergi ke masjid sebelum atau setelah adzan setelah Ramadan, membuatnya bersungguh-sungguh dalam hal ini dalam hidupnya secara terus-menerus karena pentingnya yang terwujud dalam perkara-perkara berikut:
1 – Seorang Laki-laki yang Hatinya Tergantung dengan Masjid:
Bahwasanya laki-laki yang tinggal di masjid telah mencintai masjid dari hatinya, dan cinta itu menjadikannya termasuk orang-orang yang dinaungi Allah dalam naungan ArasyNya pada hari tidak ada naungan kecuali naunganNya, sebagaimana dalam hadits: “Dan seorang laki-laki yang hatinya tergantung dengan masjid.”
2 – Keutamaan Tinggal di Masjid:
Bahwasanya orang yang tinggal di masjid menunggu shalat memiliki pahala shalat, dan sesungguhnya para malaikat memintakan ampunan untuknya selama ia berada di tempat shalatnya dan belum berhadats. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Shalat setelah shalat tanpa ada percakapan sia-sia di antaranya adalah catatan di Illiyyin.”
3 – Kegembiraan Allah terhadap Hamba:
Kegembiraan Allah Azza wa Jalla dengan pengambilan masjid sebagai tempat oleh orang mukmin untuk menuju Allah padaNya dan mengingatNya, dan ini termasuk nikmat agung dari Allah Yang Maha Agung Azza wa Jalla kepada hamba yang fakir ini, sebagaimana dalam hadits bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang laki-laki muslim menjadikan masjid sebagai tempat untuk shalat dan dzikir melainkan Allah bergembira kepadanya sebagaimana kegembiraan keluarga orang yang tidak hadir kepada orang yang tidak hadir mereka ketika ia datang kepada mereka.”
Allahu Akbar!, engkau dapat membayangkan tanpa penyerupaan, tanpa pemisalan, tanpa peniadaan, dan tanpa takwil, kegembiraan Allah kepadamu saat kedatanganmu kepadaNya dan perhatianmu kepadaNya.
Pengetahuan tentang keutamaan-keutamaan ini sangat penting pada tingkat pertama bagi orang yang beritikaf; karena hal itu memberinya motivasi untuk melanjutkan itikafnya dengan bersungguh-sungguh dan berijtihad dalam mencari ridha Allah Azza wa Jalla; agar terus berlanjut baginya kebaikan-kebaikan dan pahala-pahala ini.
(4) Menjauh dari Kemewahan Materi:
Dunia telah terbuka bagi banyak muslim masa kini, dan tersedia berbagai sarana kenyamanan yang berbeda-beda yang setiap kali manusia cenderung kepadanya, ia semakin bertambah dalam memintanya, dan dengan demikian sarana kenyamanan ini bekerja dalam menambah kelalaian dalam kehidupan muslim, dan ia merasakan dalam banyak kesempatan bahwa sarana kehidupan yang mewah adalah perkara mendasar dalam hidupnya yang tidak dapat ia tinggalkan.
Bagi kita terdapat teladan yang baik pada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, ketika ia ridha dari dunia dengan secukupnya, dan dialah yang memberikan pemberian orang yang tidak takut kemiskinan, dan menikmati yang baik-baik ketika dimudahkan tanpa berlebihan dan tanpa kesombongan; untuk menjelaskan kepada umatnya hakikat zuhud agar mereka bersunah dengannya padanya; karena ia adalah imam para zahid dan teladan orang-orang mukmin dan rahmat Allah untuk seluruh alam. Dalam kehidupannya shallallahu alaihi wa sallam, Aisyah radhiyallahu anha berkata: “Keluarga Muhammad tidak pernah kenyang sejak kedatangannya di Madinah dari makanan gandum tiga malam berturut-turut hingga ia wafat.”
Dalam lauknya, Jabir radhiyallahu anhu berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam meminta lauk kepada keluarganya, maka mereka berkata: Kami tidak memiliki kecuali cuka, maka ia memintanya lalu mulai makan dan berkata: “Sebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka.”
Dalam tempat tinggalnya, dalam hadits Umar yang panjang, Umar berkata: “Maka aku masuk menemuinya, dan ternyata ia sedang berbaring di atas tikar pasir yang tidak ada alas di antaranya dan tikar itu, tikar pasir telah membekas di lambungnya, bersandar pada bantal dari kulit yang isinya sabut…”
Inilah realita sebaik-baik makhluk Allah Azza wa Jalla di dunia ini, dan inilah sikapnya terhadap sarana kehidupan yang membuat banyak dari kita—kecuali yang dirahmati Allah—berlebihan dalam memintanya dengan cara yang menambahnya lalai dari ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dan menjual agamanya karenanya.
Dalam itikaf, orang yang beritikaf meringankan diri dari perkara-perkara ini, maka ia mengetahui nilai sejatinya dan bahwa hal-hal itu tidak ada kepentingannya dan ia menjadi seakan-akan manusia asing di dunia ini, maka ia demi ridha Allah Azza wa Jalla rela untuk berdiam di sudut masjid yang biasanya tidak memiliki kecuali bantal untuk meletakkan kepalanya dan selimut untuk berselimut dengannya, kasurnya adalah kasur masjid; maka ia telah meninggalkan kasurnya yang empuk dan kebiasaan-kebiasaan khususnya demi ridha tersebut.
Demikian pula makanannya, biasanya tidak didatangkan kepadanya banyak makanan, maka ia makan sebagaimana orang asing makan, dan makan sebagaimana hamba yang fakir kepada Tuhannya makan.
Dengan demikian individu terdidik atas hakikat yang memiliki keasliannya dalam pendidikan Islam, yaitu bahwa kehidupan dunia adalah rumah ujian dan cobaan, dan bahwasanya ia adalah rumah singgah dan perlintasan menuju kehidupan lain yang kekal dan abadi, yang harus dikerjakan manusia sebagian besar waktunya melalui interaksinya dengan kehidupan yang fana ini, maka ia mengangkat diri dari keterikatan pada banyak perkara kehidupan yang telah menyibukkan pikirannya sebelumnya dari ridha Allah Azza wa Jalla.
(5) Berhenti dari Banyak Kebiasaan yang Berbahaya:
Dalam kondisi tidak adanya konsep pendidikan Islam di banyak masyarakat Islam, muncul pada individu-individu masyarakat ini banyak kemaksiatan yang tersebar yang dianggap remeh oleh manusia, di antaranya: merokok, mendengarkan musik dan lagu-lagu, dan menonton apa yang disiarkan di saluran satelit berupa pembicaraan yang mencoreng akidah muslim, dan pemandangan-pemandangan yang bekerja untuk meruntuhkan dasar-dasar akhlak Islam.
Maka manusia muslim mengenal dalam periode itikaf, dan ia telah menyendiri dengan Penciptanya, tentang konsep ibadah dalam bentuknya yang menyeluruh, dan bahwa ia harus menjadi hamba kepada Allah Azza wa Jalla sepanjang waktu dalam kehidupan umum dan khususnya, dan bahwa ia harus mencari ridha Allah Azza wa Jalla setiap saat, maka kesibukannya dengan ketaatan adalah kesibukan dari kemaksiatan, dan pengetahuan tentang konsep ibadah ini membuatnya berdiri pada kepalsuan kenikmatan kemaksiatan buruk ini, maka ia ketika mengambil cinta dan ridha Allah Azza wa Jalla sebagai timbangan untuk menimbang setiap amal yang ia lakukan; ia mendapati bahwa kemaksiatan-kemaksiatan itu tidak sesuai dengan cinta kepada Allah Azza wa Jalla ini, bahkan bekerja dalam arah yang berlawanan dengannya, dan dengan demikian ia mendapati bahwa kemaksiatan-kemaksiatan seperti itu mengeluarkannya dari lingkaran penghambaan yang jujur kepada Allah; dan jika demikian keadaannya maka ia harus membebaskan diri darinya dalam waktu yang secepat mungkin.
Maka muslim yang berakal yang mengikhlaskan niatnya kepada Allah Azza wa Jalla dalam itikafnya sangat bersungguh-sungguh atas keselamatan dan kesempurnaan ketaatan dan ibadahnya kepada Allah Azza wa Jalla; maka jika ia telah diuji dengan sesuatu dari kemaksiatan-kemaksiatan ini; maka itikaf adalah kesempatan tahunan di mana orang yang beritikaf dapat membebaskan diri dari bencana-bencana ini melalui jalan taubat dan memohon perlindungan kepada Allah Azza wa Jalla pertama, dan melalui jalan menyapih jiwa dari bencana-bencana itu dalam periode itikaf, dan tidak mewujudkan keinginan jiwa darinya dan membiasakan padanya, dan dalam semua ini terdapat pendidikan bagi jiwa atas kemampuan untuk membebaskan diri dari banyak kebiasaan yang tidak merelakan Allah Azza wa Jalla apalagi kemaksiatan dan dosa.
(6) Menjaga Lisan dan Anggota Badan dari Apa yang Tidak Bermanfaat bagi Manusia:
Disunnahkan bagi orang yang beritikaf untuk menyibukkan diri dengan shalat dan membaca Alquran dan dzikir kepada Allah dan yang seperti itu dari ketaatan-ketaatan, dan padanya untuk mensucikan itikafnya dari apa yang tidak bermanfaat baginya dari perkataan dan perbuatan, dan harus menghindari perdebatan dan berbantahan dan memaki, maka perkara-perkara ini dimakruhkan bagi yang bukan mutakif, maka baginya lebih makruh, dan tidak mengapa ia berbicara dengan apa yang terdapat kebutuhannya dan kemaslahatan padanya yang tidak ada dosa padanya.
Barangsiapa yang melepaskan tali lisan, dan mengabaikannya dengan kendor, setan akan membawanya dalam setiap lapangan, dan membawanya ke tepi jurang yang roboh hingga memaksanya ke kebinasaan, dan tidak ada yang menjatuhkan manusia dengan hidung mereka di neraka kecuali hasil panen lidah mereka, dan tidak selamat dari kejahatan lisan kecuali orang yang mengikatnya dengan kekang syariat, maka ia tidak melepaskannya kecuali pada apa yang bermanfaat baginya di dunia dan akhirat, dan menahannya dari semua yang ia takut akibatnya di masa cepatnya dan lambatnya.
Menundukkan pandangan juga termasuk perkara yang diperintahkan Islam dengannya, maka sepatutnya bagi orang yang beritikaf untuk tidak menggunakan pandangannya kecuali dalam perkara-perkara ketaatan dari membaca Alquran, dan menuntut ilmu, dan tadabbur, dan merenungkan kerajaan Yang Haq Tabaraka wa Taala, dan ia dengan itu memenuhi perintah Allah Azza wa Jalla dalam keadaannya ini dalam tempat tinggalnya di masjid yang mungkin didatangi oleh wanita-wanita, sebagaimana halnya di Masjidil Haram, atau dalam keadaan keluarnya untuk kebutuhan-kebutuhannya yang berbeda ke luar masjid.
Demikian pula sisa anggota badan, ia tidak menggunakannya kecuali dalam ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla, bahkan hati dan pikiran tidak boleh menggunakannya dalam mengharap perkara-perkara yang tidak merelakan Allah Azza wa Jalla.
(7) Berpikir tentang Karunia Allah Azza wa Jalla:
Di era kelalaian yang kita hidupi, dan usaha keras manusia mengejar tuntutan kehidupan materi; berkurang kesempatan-kesempatan yang memungkinkan manusia muslim menggunakan akal dan pikiran dalam bidang ayat-ayat kauniyah dan syar’iyyah.
Dalam periode itikaf jiwa muslim menjadi jernih dalam hubungannya dengan Penciptanya, dan manusia menghentikan tangannya dari kesibukan kehidupan dunia, dan menyendiri untuk apa yang merelakan Yang Haq Tabaraka wa Taala, dan tersedia baginya kesempatan demi kesempatan untuk melakukan operasi-operasi berpikir dan tadabbur, dan itu karena waktu yang lapang yang dijalani oleh orang yang beritikaf, dan ia telah mengosongkan hatinya dari segala sesuatu kecuali Allah Azza wa Jalla, maka seandainya orang yang beritikaf berpikir tentang urusan puasa dan itikaf saja; tentu ia mengetahui dan berdiri pada banyak hikmah yang berdiri di belakang keduanya, dan meningkatlah indikator iman padanya.
(8) Kesabaran dan Kekuatan Kehendak:
Dalam realita itikaf, manusia muslim menghadapi situasi-situasi beragam yang merupakan latihan praktis bagi hamba atas kesabaran, sebagai contoh:
- Ada kesabaran atas ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla, maka hal itu adalah perkara yang tidak biasa dilakukan orang yang beritikaf dalam kehidupan sebelum itikaf, dan ia sekarang jauh sepenuhnya dari setiap penghalang yang menghalanginya dari ketaatan ini, dan ketaatan yang terus-menerus kepada Allah Azza wa Jalla ini membutuhkan kesabaran yang terus-menerus dari pihak orang yang beritikaf, dan dalam hal ini terdapat pendidikan kehendak dan mengendalikan jiwa yang biasanya ingin terlepas dari ketaatan ini ke perkara-perkara lain yang ia sukai.
- Dan ada kesabaran atas apa yang berkurang dari apa yang terbiasa oleh jiwa darinya seperti jenis-jenis makanan misalnya.
- Dan ada kesabaran atas jenis kasur yang ia tidur padanya; karena tidak mungkin ditempatkan untuknya tempat tidur di masjid.
- Dan ada kesabaran atas apa yang ia dapati di masjid dari berdesakannya orang lain dengannya, dan dari tidak tersedianya ketenangan yang biasa ia kenal di rumahnya jika ia ingin tidur.
- Dan ada kesabaran terhadap istri karena diharamkan baginya menyetubuhinya ketika masuk ke rumahnya untuk keperluan padahal ia halalnya, dan dalam perkara ini terwujud nilai kesabaran dan nilai kekuatan dalam kehendak dan mengendalikan diri.
(9) Ketenangan Jiwa:
Sesungguhnya dzikir kepada Allah Azza wa Jalla secara umum membawa ketenangan jiwa tanpa ragu, dan ketenangan terpastikan dalam realita orang yang beritikaf secara mendasar; karena kehidupannya dalam itikafnya berputar di sekitar perkara ini dengan cara yang terus-menerus, maka terjaganya adalah dzikir, dan tidurnya adalah dzikir, dan makanannya adalah dzikir, dan gerakan serta diamnya semuanya dzikir, dan di sini terbitlah pada jiwanya ketenangan yang tidak ia kenal dalam hidupnya sebelum itikaf; karena ia bersandar dan tenang di sisi Allah, maka ia adalah tamu Allah di salah satu dari rumah-rumahNya, dan ia mungkin bertanya tentang rahasia ketenangan itu dan sumbernya, maka ia mendapati jawaban muncul dari lipatan amal-amalnya yang ia lakukan dalam itikafnya, yang di antaranya sebagai contoh:
- Shalat: Pertemuan langsung dengan Penciptanya.. ia bermunajat kepadaNya.. maka Allah Azza wa Jalla mendengarnya.. ia berdoa dalam sujudnya.. maka Dia mengabulkannya, maka jiwa tenang kepada pertemuan ini dan memperbanyaknya.
- Membaca Alquran: Yaitu dzikrullah yang diturunkanNya kepada RasulNya shallallahu alaihi wa sallam, dengannya terdapat ketenangan hati orang-orang mukmin, maka sesungguhnya hati tidak tenang kecuali dengan iman dan yakin, dan tidak ada jalan untuk mendapatkan iman dan yakin kecuali dari Alquran, maka sesungguhnya tenangnya hati dan ketenangannnya adalah dari keyakinannya, dan keguncangannnya dari keraguannya, dan Alquran adalah yang memberikan keyakinan, yang menghilangkan keraguan dan prasangka dan wahm, maka tidak tenang hati orang-orang mukmin kecuali dengannya.
ZIKIR TERIKAT DAN MUTLAK: TAHLIL, TAHMID, TASBIH, DAN TAKBIR
Zikir terikat dan mutlak: berupa tahlil, tahmid, tasbih, dan takbir… Dan dalam kontinuitas orang yang beriktikaf melakukan jenis zikir ini sepanjang waktunya merupakan sebab untuk memperoleh keamanan dan ketenangan jiwa.
Ibnu Qayyim berkata: “Sesungguhnya zikir kepada Allah Azza wa Jalla menghilangkan semua ketakutan dari hati, dan memiliki pengaruh luar biasa dalam memperoleh rasa aman. Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi orang yang ketakutan yang sangat menakutkan selain zikir kepada Allah Azza wa Jalla. Sebab sesuai dengan kadar zikirnya ia akan mendapatkan rasa aman dan ketakutannya akan hilang, sehingga ketakutan-ketakutan yang ia rasakan menjadi rasa aman baginya. Sedangkan orang yang lalai tetap ketakutan meskipun dalam keamanan, sehingga seakan-akan keamanan yang ia rasakan adalah ketakutan. Dan siapa yang memiliki sedikit saja kepekaan pasti telah merasakan hal ini, dan hanya kepada Allahlah kami memohon pertolongan.”
(10) Membaca Al-Quran:
Pengetahuan orang yang beriktikaf tentang keutamaan membaca Al-Quran yang mulia, mengamalkannya, dan mengkhatamkannya berulang kali, merupakan pendidikan untuk bersemangat mempelajari bacaan Al-Quran yang benar, dan juga bersemangat untuk terus-menerus membacanya, serta mengkhususkan wirid harian yang sangat dijaga untuk dibaca. Dengan demikian ia akan bahagia di dunia dan akhiratnya.
(11) Taubat Nasuha:
Dalam kehidupan orang yang beriktikaf kita dapati bahwa ada beberapa hal yang mendorongnya untuk bertaubat nasuha (taubat yang sungguh-sungguh) dari semua dosa-dosanya, di antaranya:
- Hati telah mengarah sepenuhnya kepada Allah Azza wa Jalla, dan hubungan antara manusia ini dengan Penciptanya bercirikan kontinuitas sepanjang siang dan malam dalam hari-hari dan malam-malam berturut-turut. Sudah sepatutnya manusia muslim memanfaatkan hubungan ini dengan taubat, penyesalan, dan istighfar; karena kedekatannya dengan Allah Azza wa Jalla.
- Ada ruang untuk berpikir dan merenungi kehidupannya: Bagaimana penerapan syariat Allah Azza wa Jalla? Apa saja kekurangan dalam penerapan ini? Apa penyebab yang menyebabkan adanya kekurangan ini? Melalui perenungan ini muncullah kesalahan dan maksiat manusia ini. Melalui perenungan datanglah pengakuan dan penerimaan dari dirinya tentang dosa dan maksiat ini, yang mendorongnya untuk segera bertaubat dengan niat dan tekad untuk tidak mengulanginya lagi.
- Orang yang beriktikaf menjalani kenyataan bulan pengampunan, taubat, dan pembebasan dari api neraka, dan dalam hal ini terdapat dorongan nyata untuk bertaubat nasuha.
- Merasakan keridhaan Allah Azza wa Jalla dan kepercayaan kepada-Nya bahwa Dia mengampuni semua dosa; melahirkan ketenangan dan kestabilan jiwa, dan mendorongnya untuk terus-menerus melakukan amal saleh, mengharap keridhaan Allah setiap saat, dan bersegera bertaubat dan beristighfar setiap kali muncul dosa, kesalahan, atau kekurangan darinya. Dengan demikian kehidupannya akan menjadi baik.
(12) Membiasakan Qiyamul Lail:
Orang yang beriktikaf mengharap keridhaan Allah Azza wa Jalla dari iktikaf dan qiyamul lailnya, khususnya di sepuluh hari terakhir Ramadhan, dari shalat tarawih dan tahajjud, serta mengupayakan semaksimal mungkin apa yang menambah keridhaan Allah Azza wa Jalla kepadanya.
Melalui qiyamul lail, orang yang beriktikaf terdidik untuk baik dalam berdiri di hadapan Allah Azza wa Jalla dengan jiwa yang bersih dan ruh yang tersambung kepada Allah Azza wa Jalla. Ia terdidik untuk baik dalam bermunajat, dan merasakan kelezatan itu, dengan keyakinan bahwa Allah Azza wa Jalla dekat dengannya… Dia melihatnya… mendengarnya… mengabulkan doanya.
Semua ini memberikan kepada manusia dorongan kuat untuk terus-menerus melakukan qiyamul lail. Sudah sepatutnya orang yang terbiasa dengan kelezatan bermunajat kepada Penciptanya di waktu sahur, yang dianggap sebagai waktu paling berharga dalam kehidupan seorang muslim, dengan keyakinan bahwa Allah Azza wa Jalla melihat dan mendengarnya, sudah sepantasnya tidak ada malam pun dari malam-malam umurnya yang pendek kecuali ia telah menikmati munajat tersebut dan memuliakan dirinya dengan berlindung yang benar kepada Penciptanya.
(13) Memakmurkan Waktu:
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Waktu manusia adalah umurnya yang sesungguhnya, dan ia adalah materi kehidupan abadinya dalam kenikmatan yang kekal, dan materi kehidupan sempitnya dalam siksa yang pedih. Ia berlalu seperti awan yang berlalu. Maka waktu yang digunakan untuk Allah dan bersama Allah itulah kehidupan dan umurnya. Selain itu tidak terhitung dari kehidupannya, meskipun ia hidup seperti hidup binatang. Jika ia memotong waktunya dalam kelalaian, tidak peduli, dan angan-angan kosong, dan sebaik-baik yang dihabiskannya adalah tidur dan pengangguran, maka kematiannya lebih baik baginya daripada kehidupannya.”
Orang yang beriktikaf telah berusaha keras dan bersemangat menghabiskan seluruh waktunya dalam ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dan keridhaan-Nya. Ia juga mengatur waktunya, dan terbiasa dalam periode iktikafnya dengan pembagian waktu tersebut; sehingga ia memanfaatkan setiap menit untuk keridhaan Allah. Dengan demikian ia telah mengetahui nilai dan hakikat waktu, sehingga terdidik dalam periode waktu singkat ini tentang cara memanfaatkan waktu dengan cara yang benar; yang diharapkan akan membawa pengaruh dalam kehidupannya setelah iktikaf.
(14) Kedekatan dengan Allah Azza wa Jalla, dan Kecintaan-Nya Tabaraka wa Ta’ala kepada Hamba:
Orang yang beriktikaf telah menjauh dari makhluk, dan melakukan apa yang Allah wajibkan kepadanya berupa puasa, shalat, dan zakat, serta mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dengan berbagai ibadah sunnah berupa iktikaf, shalat, membaca Al-Quran, zikir, tafakkur, taaammul, dan lain-lain. Jiwa terbiasa melakukan ibadah-ibadah sunnah ini. Dari jalan kedekatan hamba kepada Tuhannya ini, dan kejauhan dari makhluk, datanglah saling mencintai antara hamba dan Penciptanya Azza wa Jalla. Ini adalah karunia dari Allah Azza wa Jalla dalam mengangkat derajat orang yang beriktikaf di sisi-Nya Tabaraka wa Ta’ala. Inilah janji-Nya Subhanahu dalam hadits qudsi yang berbunyi: “Hambaqu tidak henti-hentinya mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya.”
Perasaan orang yang beriktikaf tentang kecintaan ini membuatnya berusaha mempertahankannya dalam kehidupannya setelah iktikaf; karena kecintaan Allah kepadanya adalah hal paling berharga yang dimiliki manusia di dunia yang fana dan di dunia yang kekal. Ia harus berusaha menumbuhkembangkan kecintaan ini melalui penambahan kedekatan kepada Allah Azza wa Jalla; karena hamba semakin bertambah mendekat kepada Allah Azza wa Jalla, Allah akan menambah kedekatannya kepada hamba, dan memberikan pahala dan ganjaran yang besar atas sedikit pendekatannya ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam suatu perkumpulan, Aku akan mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih baik dari mereka. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari.”
(15) Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa):
Allah Subhanahu berfirman: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri.” (Surah Al-A’la: 14)
Tazkiyah adalah penyucian jiwa dan pengangkatan kedudukannya di sisi Allah Azza wa Jalla, dengan menaati-Nya Tabaraka wa Ta’ala. Iktikaf adalah medan utama dalam penyucian jiwa. Dengan berlanjutnya konsep tazkiyah dari orang yang beriktikaf pada tahap setelah iktikaf, ia akan selalu bersemangat menyucikan jiwa dari setiap perkara yang tidak mengandung keridhaan Allah Tabaraka wa Ta’ala; maka hal itu akan menjadi tanda keberuntungan dan kesuksesannya di dunia dan akhiratnya.
(16) Kebaikan Hati dan Terkumpulnya Hati kepada Allah Azza wa Jalla:
Ini adalah kumpulan dari seluruh keutamaan iktikaf; sebab orang yang beriktikaf jika ikhlas niatnya dalam iktikafnya dan menahan diri pada ketaatan kepada Allah, dan sibuk dengan zikir kepada Tuhannya, dan mengharap keridhaan-Nya dengan hal itu, maka hatinya akan mengarah sepenuhnya kepada Penciptanya bermunajat kepada-Nya, berdoa kepada-Nya, memohon ampunan-Nya, dan merasa butuh kepada-Nya dalam semua urusannya. Dalam hal ini Ibnu Qayyim berkata:
“Dan Allah mensyariatkan untuk mereka iktikaf yang tujuan dan ruhnya adalah: tekun hati kepada Allah Ta’ala, terkumpul kepadanya, dan menyendiri dengan-Nya, memutus kesibukan dengan makhluk, dan sibuk hanya dengan-Nya semata Subhanahu. Sehingga zikir-Nya, kecintaan kepada-Nya, dan menghadap kepada-Nya menggantikan tempat kekhawatiran dan pikiran-pikiran hati. Semua perhatian menjadi kepada-Nya, dan semua pikiran menjadi dengan zikir-Nya, dan berpikir tentang pencapaian keridhaan-Nya dan apa yang mendekatkan kepada-Nya. Sehingga ketenangan dengan Allah menggantikan ketenangan dengan makhluk. Dengan ini ia dipersiapkan untuk ketenangan dengan-Nya pada hari kesendirian di kubur, di mana tidak ada teman baginya, dan tidak ada yang membuatnya gembira selain Dia. Inilah tujuan iktikaf yang paling agung.”
Sesungguhnya kesendirian dan ketenangan dengan Allah Azza wa Jalla yang dijalani orang yang beriktikaf di tempat iktikafnya adalah pendidikan dan latihan baginya; agar kesendirian dan ketenangan dengan Allah itu berlanjut dalam kehidupannya setelah iktikaf; sehingga ia terbebas dalam kehidupan umumnya setelah itu dari keterikatan jiwa yang bersifat material, dan terus mempersiapkan jiwa untuk ketenangan dengan Allah dalam kesepian kubur. Ini berarti bahwa di antara manfaat iktikaf ada yang tidak terbatas pada dunia; bahkan melampaui ke kehidupan akhirat, karena kubur adalah tempat pertama dari alam akhirat.
(17) Hakikat Mengikuti dan Mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Orang yang beriktikaf beriktikaf karena mengikuti Rasulullah dan terus beriktikaf mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua perkataan dan perbuatannya menghasilkan hal-hal mendasar yang dicari oleh orang yang beriktikaf, di antaranya:
- Kecintaan manusia kepada Allah Azza wa Jalla, dan ini adalah tuntutan mendasar.
- Kecintaan Allah Azza wa Jalla kepada manusia ini, dan ini adalah hasil mendasar dari mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
- Pengampunan dosa dari Allah Azza wa Jalla untuk manusia ini.
- Kemudian hasil otomatis, yaitu kecintaan manusia muslim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecintaan yang nyata yang datang melalui pengikutan. Pecinta yang sejati adalah pengikut semua perbuatan dan perkataannya tanpa tambahan atau pengurangan. Tingkat kesempurnaan dalam mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berpegang pada sunnah yang wajib maupun yang sunnah sama-sama; karena itu adalah bukti nyata kecintaan dan memperbanyak kebaikan yang datang dari jalan pengikutan manusia muslim terhadap perilakunya shallallahu ‘alaihi wa sallam secara umum.
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Ketika kebaikan hati dan keistiqamahannya di jalan perjalanannya menuju Allah Ta’ala bergantung pada terkumpulnya hati kepada Allah, dan tersatunya hati dengan menghadap sepenuhnya kepada Allah Ta’ala, dan kelebihan makanan dan minuman, kelebihan bergaul dengan manusia, kelebihan berbicara, dan kelebihan tidur adalah yang menambah kekacauannya dan mencerai-beraikannya ke setiap lembah, dan memutusnya dari perjalanan menuju Allah atau memperlemahnya atau menghambatnya dan menghentikannya.
Maka rahmat Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang mengharuskan kepada hamba-hamba-Nya untuk mensyariatkan bagi mereka puasa yang menghilangkan kelebihan makanan dan minuman, dan mengeluarkan dari hati campuran syahwat yang menghambatnya dari perjalanan menuju Allah Ta’ala. Disyariatkan dengan kadar kemaslahatan, sehingga hamba mendapat manfaat di dunia dan akhiratnya, dan tidak membahayakannya dan tidak memutusnya dari kemaslahatan yang cepat dan lambat.
Maka orang yang beriktikaf telah menahan dirinya pada ketaatan kepada Allah dan zikir kepada-Nya, dan memutus dirinya dari setiap hal yang menyibukkannya dari Allah. Ia tekun dengan hati dan badannya kepada Tuhannya dan apa yang mendekatkannya kepada-Nya; sehingga tidak tersisa baginya perhatian selain Allah dan apa yang meridhai-Nya.”
Oleh karena itu Imam Ahmad, imam sunnah, berpendapat bahwa orang yang beriktikaf tidak disunahkan bergaul dengan manusia, bahkan tidak pula untuk mengajarkan ilmu dan mengajarkan Al-Quran; justru yang lebih utama adalah menyendiri dengan dirinya sendiri, dan khalwat dengan bermunajat kepada Tuhannya, zikir kepada-Nya, dan berdoa kepada-Nya.
Jadi makna iktikaf dan hakikatnya adalah:
Memutus hubungan dengan makhluk untuk tersambung dengan pelayanan kepada Khaliq. Semakin kuat pengenalan kepada Allah, kecintaan kepada-Nya, dan ketenangan dengan-Nya; akan melahirkan pada pemiliknya terputusnya hubungan kepada Allah sepenuhnya dalam setiap keadaan. Sebagian salaf selalu menyendiri di rumahnya, bersepi dengan Tuhannya. Ditanyakan kepadanya: Apakah engkau tidak merasa sepi? Ia menjawab: Bagaimana aku merasa sepi sedangkan Dia berfirman: “Aku adalah teman duduk orang yang menyebut-Ku.”
Bagaimana Kita Memperoleh Kelezatan Iktikaf?
Adapun ketaatan itu memiliki kelezatan, hal ini ditunjukkan oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Merasakan rasa iman”, dan sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tiga perkara, barangsiapa memilikinya akan merasakan kelezatan iman”. Yang dimaksud adalah bahwa merasakan kelezatan iman dan ihsan adalah hal yang dirasakan oleh hati, kedudukannya seperti kedudukan merasakan kelezatan makanan terhadap mulut.
Ketahuilah—semoga engkau mengetahui semua kebaikan—bahwa kelezatan ketaatan puncaknya adalah dalam mengumpulkan hati, perhatian, dan rahasia kepada Allah. Ibnu Qayyim menjelaskan hal ini dengan berkata:
“Iktikaf adalah tekun hati sepenuhnya kepada Allah Azza wa Jalla, tidak menoleh dari-Nya ke kanan maupun ke kiri. Jika keinginan merasakan rasa berkumpul ini, kerinduan pemiliknya akan tersambung dan menyalanya api kecintaan dan pencarian di hatinya…”
Kemudian ia berkata: “Maka demi Allah, keinginan jiwa yang memutus semua alam semesta dan berjalan, tidak meletakkan tongkat perjalanan kecuali di hadapan Yang Maha Pengasih Tabaraka wa Ta’ala. Lalu sujud di hadapan-Nya, sujud syukur atas sampainya kepada-Nya. Ia terus bersujud sampai dikatakan kepadanya: ‘Wahai jiwa yang tenang (27) Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai (28) Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku (29) Dan masuklah ke dalam surga-Ku’ (Surah Al-Fajr: 27-30). Maha Suci Dia yang membedakan makhluk dalam keinginan mereka sehingga engkau melihat antara dua keinginan lebih jauh dari antara timur dan barat, bahkan lebih jauh dari antara serendah-rendahnya dan setinggi-tingginya. Dan itu adalah pemberian Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana: ‘Yang demikian itu adalah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar’ (Surah Al-Jumu’ah: 4).”
Kemudian dia berkata: Dan dengan demikian, ia merasakan kenikmatan yang luar biasa saat bermunajat kepada Tuhannya, merasa tenang bersama-Nya, dan dekat dengan-Nya, hingga ia seakan-akan berbicara dan berbincang dengan-Nya, terkadang memohon maaf kepada-Nya, terkadang merayu-Nya, terkadang memuji-Nya, hingga hati terus menerus mengucapkan: “Engkau adalah Allah yang tidak ada tuhan selain Engkau,” tanpa ada keterpaksaan dalam hal itu; bahkan ini menjadi kondisi dan maqam baginya, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya.”
Dan demikian pula percakapan dan munajatnya kepada-Nya, seakan-akan ia berada di hadapan Tuhannya, maka tentramlah jiwanya dan tenteram hatinya, sehingga ia semakin rajin berdoa dan memohon, dengan merendahkan diri kepada Allah Yang Maha Kaya, dan menampakkan kefakiran hamba di hadapan kemuliaan ketuhanan; karena sesungguhnya Tuhan subhanahu menginginkan dari hamba-Nya agar memohon kepada-Nya dan berharap kepada-Nya; karena sampainya kebaikan dan ihsan-Nya kepadanya bergantung pada permohonannya..
Bahkan Dia-lah yang memulai memberi karunia tanpa ada sebab dari hamba, dan tanpa perantaraan permohonan dan permintaannya, bahkan Dia telah menakdirkan karunia itu baginya tanpa ada sebab dari hamba, kemudian Dia memerintahkannya untuk memohon dan meminta kepada-Nya sebagai penampakan martabat penghambaan, kefakiran dan kebutuhan, serta pengakuan akan kemuliaan ketuhanan, kesempurnaan kekayaan Tuhan, dan kekhususan-Nya dalam memberi karunia dan ihsan, dan bahwa hamba tidak dapat lepas dari karunia-Nya sedetik pun, maka ia datang dengan meminta dan berdoa sebagaimana orang yang tahu bahwa ia tidak berhak mendapatkan sesuatu dengan permintaan dan doanya, tetapi Tuhannya ta’ala menyukai untuk dimohon, diharap, dan diminta.. Kemudian dia berkata: Jika kerendahan ini telah sempurna bagi hamba, maka sempurnalah baginya pengetahuan bahwa karunia Tuhannya telah mendahului baginya sejak awal sebelum Dia menciptakannya, dengan pengetahuan Allah subhanahu tentangnya dan tentang kekurangannya, dan bahwa Allah ta’ala tidak mencegah pengetahuan-Nya subhanahu tentang kekurangan hamba-Nya untuk menakdirkan baginya karunia dan ihsan, maka ketika hamba menyaksikan hal itu; bertambahlah kegembiraannya kepada Tuhannya dan kepada tempat-tempat karunia dan ihsan-Nya, dan ini adalah kegembiraan yang terpuji bukan tercela, Allah ta’ala berfirman: “Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (Yunus: 58) selesai.
Program Itikaf:
(1) Masuk ke tempat itikaf pada saat maghrib hari ke-20 Ramadan, maka malam kedua puluh satu adalah malam pertama dari malam-malam sepuluh terakhir.
(2) Jangan lupa niat itikaf, dan pahala sesuai dengan niat “Sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya,” dan niat mengalir seperti karunia Allah ta’ala, maka sesuai dengan keikhlasanmu Allah akan membukakan niat-niat untukmu, misalnya:
- Mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mencari kecintaan Allah dan Rasul-Nya.
- Mencari lailatul qadar.
- Mengumpulkan ketenangan hati.
- Meninggalkan urusan-urusan dunia dan kesibukannya.
- Menemani orang-orang saleh dan meneladani mereka.
- Mengikat pinggang dalam ibadah dan membebaskan diri dari kemalasan.
- Memakmurkan masjid. * Bertahannus (beribadah dengan tekun).
- Membebaskan diri dari kebiasaan dan mewujudkan makna penghambaan. Ini adalah contoh-contoh dan pembukaan datang dari Allah.
(3) Awal itikafmu adalah berbuka puasa, dan biasakanlah dirimu sejak hari pertama untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang melekat dan ritual-ritual yang menyertai berbuka puasa, biasakanlah kesederhanaan dan hindarilah keterpaksaan, kurma dan air dan kamu telah berbuka.
(4) Belajarlah dalam itikaf ini untuk tidak menyia-nyiakan waktumu, karena kurma dan segelas air tidak menghabiskan waktu lama, waspadalah.
(5) Kemudian duduklah di tempatmu di shaf pertama di belakang imam, bersiap untuk salat maghrib dengan menghadirkan niat-niat dalam berlomba-lomba ke shaf pertama.
(6) Mulailah perlombaan dan berlomba-lomba di masjid untuk semua amal kebaikan dan jika kamu mampu agar tidak ada seorang pun yang mendahuluimu kepada Allah maka lakukanlah.
(7) Hadirkan hatimu dan seluruh anggota tubuh serta perasaanmu, dan pertahankanlah semua kehadiranmu secara akal dan pikiran dalam salat maghrib, ini adalah salat pertama dalam itikaf, dan mintalah kepada Allah dengan sungguh-sungguh: taufiq dan pertolongan dan agar kamu tidak keluar dari tempat ini kecuali Tuhanmu telah ridha kepadamu dengan ridha yang tidak ada kemarahan setelahnya, dan agar Dia menerima tobatmu dengan tobat yang jujur yang tidak ada maksiat setelahnya, dan agar Dia menerima amalmu dan memberikanmu taufiq di dalamnya dan menganugerahimu keikhlasan dalam perkataan dan perbuatan, dan agar Dia menghindarkanmu dari penghalang-penghalang, dan agar Dia menganugerahimu penyempurnaan amal ini dan tidak merampas kebaikannya darimu, fokuslah pada doa-doa ini dan yang serupa dengannya, dan berdoalah kepada Tuhanmu dan merendahlah; karena Dia tidak akan menolak orang yang jujur, Maha Suci Dia.
(8) Jangan terburu-buru dan belajarlah serta biasakanlah itu, jangan terburu-buru pergi setelah salat; karena kamu tidak akan keluar dari masjid, pertahankanlah panasnya kekhusyukan setelah salat selama mungkin, dzikir setelah salat kemudian doa.. kemudian sibukkan diri dengan dzikir kepada Allah hingga datang waktu makan dan kamu dipanggil kepadanya.
(9) Kendalikan perutmu dalam itikaf ini, karena sesungguhnya waktu paling merugi yang kamu hilangkan adalah yang kamu habiskan di kamar mandi, maka makanlah dengan mudah dan sederhana dari apa yang telah disiapkan di masjid, dan jangan memerintahkan atau berpesan agar makanan datang untukmu dari rumah atau dari luar, ridhailah apa yang telah Allah takdirkan untukmu maka kamu akan menjadi manusia paling kaya.
Rendah hatilah dan makanlah dari apa yang tersedia, dan ketahuilah bahwa apa yang cukup untuk menghilangkan lapar sudah cukup, maka jangan enggan makan sepotong roti, dan jangan menggerutu terhadap perilaku orang-orang di sekitarmu saat makan, wajibkan dirimu untuk merendah diri kepada Allah, dan tinggalkan kenikmatan dalam perjalanan ini bersama Allah dalam itikaf di rumah-Nya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya hamba-hamba Allah bukanlah orang-orang yang hidup bersenang-senang, dan beliau sangat membenci banyak kemewahan.”
(10) Waktu makan tidak melebihi lima menit atau sepuluh menit paling lama, dan segeralah bangkit, masuklah kamar mandi sebelum ramai, perbarui semangatmu, berwudhulah, ganti pakaianmu jika memungkinkan, ambil tempatmu di shaf pertama, salatlah 6 rakaat dengan khusyu’ “salat awwabin” hingga adzan Isya.
(11) Ketahuilah bahwa orang-orang yang datang untuk salat Isya berbeda dengan orang-orang yang beritikaf, karena hati-hati yang menetap di masjid berbeda dengan hati-hati yang datang dari dunia dan kekhawatirannya; maka berhati-hatilah dari bercampur baur “bersembunyilah”.
(12) Salat Isya dan tarawih harus berbeda bagi orang yang beritikaf dari sebelumnya: kehadiran hati.. merasakan kelezatan.. manisnya munajat.. kenikmatan ketenangan bersama Allah.. kejujuran doa.. kamu adalah orang yang menetap di rumah Allah, tidak keluar.. tidak bercampur baur.. tidak bermaksiat.. jadilah lebih baik.
(13) Bersemangatlah untuk semua kebaikan: mengikuti adzan, atau jadikanlah bagian untukmu dari adzan, kemudian dua rakaat sunnah karena antara setiap dua adzan ada salat, kemudian doa antara adzan dan iqamah dan sibuk dengan dzikir.
(14) Jika salat tarawih selesai, segeralah ke tendamu di tempat itikaf, dan biarkanlah memberi salam kepada orang-orang, dan banyak berbicara; karena sesungguhnya itu mengeraskan hati, tidak boleh wahai yang tercinta dari pengasingan emosional yang sebenarnya dan kamu harus berjihad melawan dirimu sendiri agar kamu menerima itu dan mencintai itu dan ridha dengan itu.
Segeralah ke tendamu, berbaringlah dan sibukkan diri dengan dzikir, dan segera kamu akan tidur satu jam ini, dan ini penting tentu saja untuk tubuhmu di awal malam, karena di dalamnya ada pertolongan untuk semangat dalam tahajud.
(15) Ini satu jam, enam puluh menit tepatnya jika Allah memberkatinya akan sangat cukup, mohonlah pertolongan kepada Allah dan mintalah kepada Allah berkah dalam waktu-waktu dan amal-amalmu.
(16) Bangunlah dan pergilah dengan cepat dan dengan semangat, perbarui wudhumu, berwangilan, perbagus pakaianmu, bersiaplah dengan beberapa dzikir dan doa untuk masuk ke dalam salat, salat tahajud.
(17) Salat tahajud berlanjut hingga setengah jam sebelum Subuh, dan bersungguh-sungguhlah dalam salat ini lebih dari yang lainnya, karena sesungguhnya sepertiga akhir malam adalah waktu turunnya Allah, perbanyaklah doa dan bersungguh-sungguh dalam berdoa kepada Allah, perbarui tobat, mintalah kepada Allah penerimaan.
(18) Sahur dengan sangat sederhana dan cepat tidak melebihi 10 menit, kemudian perbarui wudhu meskipun kamu sudah berwudhu, kemudian luangkan waktu untuk beristighfar di waktu sahur.
(19) Berlombalah ke tempatmu di shaf pertama di belakang imam, dan sibukkan diri dengan istighfar saja: “Dan di akhir malam mereka memohon ampun.” (Adz-Dzariyat: 18), berhati-hatilah: tidak berbincang-bincang.. tidak tidur.. tidak lalai..
(20) Salat Subuh disaksikan, “Sesungguhnya bacaan Quran di waktu Subuh itu disaksikan.” (Al-Isra: 78), berada dalam kondisi yang paling waspada, dan renungkanlah ayat-ayat dan fokus dalam doa.
(21) Duduklah di tempat salatmu setelah salat, dan jangan berpaling setelah dzikir salat.. dzikir pagi yang ma’tsur semuanya jangan tinggalkan sedikitpun darinya.
(22) Bacalah sekarang setelah selesai dari dzikir pagi tiga juz, dan bacaan ini dengan niat mendapatkan pahala, adapun tilawah tadabbur maka memiliki waktu lain.
(23) Salat Dhuha delapan rakaat dengan sempurna, bersemangatlah padanya dan kamu telah menunaikan syukur persendianmu.
(24) Tibalah saatnya tidur dan istirahat, untukmu empat jam penuh tidur, maka tidurlah dengan nyenyak, dan mimpi-mimpi yang indah.
Jangan lupa perkataan Muadz: Sesungguhnya aku menghitung tidurku sebagaimana aku menghitung bangunku, maka hitunglah jam-jam itu, dan persaksikanlah Allah dari hatimu bahwa seandainya kamu mampu maka kamu tidak akan tidur; tetapi tidur ini bukan untuk kelalaian tetapi untuk memperkuat diri agar dapat melanjutkan.
(25) Bangunlah sebelum Dzuhur dengan waktu yang cukup untuk memulihkan semangat dan memperbarui wudhu, dan seperempat jam sebelum adzan dalam bersalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan konsentrasi yang sangat tinggi.
(26) Ikutilah adzan, dan salatlah sebelum fardhu empat rakaat dan manfaatkanlah sisa waktu dalam berdoa.
(27) Salatlah fardhu dengan kehadiran hati karena salat sirri memiliki rahasia-rahasia dalam ketenangan bersama Allah lebih dari salat jahr.
(28) Salatlah setelah fardhu empat rakaat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang salat sebelum Dzuhur empat rakaat dan setelah Dzuhur empat rakaat, Allah mengharamkan dagingnya dari api neraka.”
(29) Tilawah Quran, empat juz hingga seperempat jam sebelum adzan Ashar.
(30) Seperempat jam sebelum adzan dalam mengucapkan: Dua kalimat yang dicintai “Subhanallah wa bihamdihi, Subhanallahil ‘azhim” untuk mencari cinta dan kecintaan Allah.
(31) Salatlah sebelum fardhu empat rakaat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semoga Allah merahmati seseorang yang salat sebelum Ashar empat rakaat.”
(32) Bacalah setelah salat Ashar tiga juz dan telah sempurna untukmu sekarang sepuluh juz bacaan.
(33) Setengah jam sebelum Maghrib dzikir petang dengan konsentrasi dan doa.
(34) Waktu sebelum adzan Maghrib sangat penting, hadirkan doa yang mustajab bagi orang yang berpuasa, dan kamu di akhir hari dan dalam kondisi sangat lelah dari banyaknya amal untuk Allah, merendahlah dan hinakanlah diri dan mintalah pahala, dan hitunglah kelelahan, dan mintalah kepada Allah dengan merendahkan diri agar Dia menerima amalmu darimu, dan jangan lupa berdoa dengan ghaib untuk keluargamu dan untuk kaum muslimin, dan aku tidak akan kehilangan darimu doa dengan ghaib untukku.
Nasihat-nasihat Itikaf
(1) Larangan-larangan:
- Dilarang berbicara: Waspadalah dari banyak berbicara tanpa dzikir kepada Allah, karena sesungguhnya banyak berbicara tanpa dzikir kepada Allah adalah kekerasan bagi hati, dan sesungguhnya hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras.
- Dilarang bercanda: Waspadalah dari tertawa; karena sesungguhnya banyak tertawa mematikan hati, tinggalkanlah banyolan, tinggalkanlah lelucon sama sekali kamu berada di rumah Raja Yang Maha Agung, wajibkan sikap yang baik, dan jadilah dalam periode ini terus menerus bersedih.
- Dilarang bercampur baur: Jangan sibuk dengan orang lain, itikaf di masjid adalah itikaf berjemaah dan bersamamu banyak orang, tabiat berbeda-beda, dan lingkungan beragam. Jangan sibukkan matamu dengan terus memperhatikan orang lain. Jangan sibukkan telingamu dengan mendengar diskusi dan percakapan. Jangan sibukkan hatimu dengan mengomentari kejadian-kejadian. Jangan sibuk dengan orang lain.. biarkanlah makhluk kepada Sang Pencipta.. sibukkan diri dengan kondisimu bersama Allah, cobalah untuk melupakan manusia.
Panduan Itikaf dan Umrah Ramadan
Larangan-larangan dalam Masjid:
Dilarang Menggunakan Telepon di Dalam Masjid:
Matikan teleponmu sepenuhnya, dan yang terbaik adalah kamu telah meninggalkannya di rumahmu bersama urusan dunia. Dilarang membawa urusan dunia masuk ke rumah Allah. Jika ada, maka hanya satu panggilan sehari yang diizinkan untuk menanyakan kabar keluargamu, tidak ada nada dering, dan tidak ada pesan.
Dilarang Keluar dari Masjid:
Batas terakhir duniamu yang khusus: dinding masjid dan pintu-pintunya. Batas terakhir duniamu yang khusus: wajah-wajah orang yang salat dari jamaah masjid. Hati-hati jangan sampai hatimu lolos dari antara dinding-dinding dan berkeliaran di jalan. Tahanlah hatimu di sini.
Dilarang Malas:
Semua waktu adalah untuk bekerja, dan lihatlah programnya, kamu tidak akan menemukan satu menit pun waktu luang. Diperlukan semangat yang tinggi dalam periode ini, maka jangan kendur.
Dilarang Mengikuti Hawa Nafsu:
Ini adalah waktu berjuang melawan diri:
- Kurangi makanmu.
- Kurangi tidurmu semampumu.
- Kurangi bicaramu semampumu.
- Jangan membela dirimu sendiri, dan berbuat baiklah kepada orang yang berbuat buruk kepadamu.
- Tundukkan pandanganmu, dan jadikan matamu selalu mengawasi hatimu.
- Jangan menjawab pertanyaan-pertanyaan, dan jangan berkenalan dengan siapa pun.
Dilarang Lalai:
Perbarui tobatmu selalu, dan jangan biarkan dirimu tanpa amal, bahkan beramallah dengan tekun, dan lawanlah kemalasan. Jauhilah kemalasan, bersenang-senang, dan tidur, dan mintalah pertolongan kepada Allah.
Dilarang Sombong:
Ketika berinteraksi dengan orang lain, mungkin muncul tindakan-tindakan yang tidak disengaja; namun hal itu menunjukkan penyakit hati yang berbahaya berupa kesombongan, keangkuhan, ujub, merasa hebat sendiri, meremehkan orang lain, menghina mereka, dan merasa lebih tinggi dari mereka. Semua penyakit ini menggugurkan amal; maka berhati-hatilah dan waspadalah, dan kendalikan dirimu sesuai adab Islam:
- Jangan memandang siapa pun dengan pandangan sinis.
- Jangan menunjuk siapa pun dengan jarimu.
- Jangan meninggikan suaramu.
- Jangan mengolok-olok siapa pun.
- Jauhilah sikap memalingkan pipi dari orang lain.
- Hati-hati dari ghibah, namimah, dan fitnah dalam hati.
Celah-celah untuk Pemilik Semangat Tinggi:
- Khatam dari Subuh hingga Maghrib.
- Khatam dari Maghrib hingga Subuh.
- Salat 100 rakaat atau lebih dalam satu malam atau siang, “Dan bersujud dan dekatlah (kepada Allah)” (Surah Al-Alaq: 19), setiap hari 100 rakaat dalam 10 hari = 1000 rakaat.
- Berdzikir 12.000 kali tasbih dalam sehari semalam seperti Abu Hurairah.
- Membentuk simpanan kebaikan terbesar dalam itikaf.
- Berdoa selama satu jam penuh tanpa terputus.
- Berdoa dalam sujud selama setengah jam terus-menerus.
- Berdoa dengan semua doa dari Sunnah, dan bawalah bersamamu kitab “Mukhtashar An-Nashihah” karya Al-Muqaddim atau “Ad-Dua” karya Al-Qahtani.
- Biasakan untuk mengikat mushaf di tanganmu, maksudku jangan pernah melepaskannya dari tanganmu sama sekali, agar menjadi kebiasaan alami bagimu setelah Ramadan.
- Pikirkan untuk melakukan amal-amal besar yang luar biasa yang mengangkatmu di sisi Allah, dan tulislah dalam buku catatan serta jadwalkan sebelum memasuki itikaf.
- Tinjau kembali topik “Lompatan-lompatan” dalam “Umrah Ramadan”. Ini akan membukakan celah-celah lain yang lebih banyak lagi, dan Allah tempat meminta pertolongan.
Di akhir periode itikaf kita menemukan bahwa hubungan positif antara hamba dan Penciptanya yang Mahamulia telah meningkat dalam keberlangsungannya sepanjang siang dan malam. Orang yang beritikaf merasa tenteram kepada Penciptanya di salah satu rumah Allah yang Mahamulia. Ia mencintai Allah yang Mahamulia, dan cinta ini menemukan jalan ke hatinya melalui kepatuhannya berada di rumah Allah yang Mahamulia, berpaling dari kehidupan dunia yang ia cintai dan ia kumpulkan harta untuknya, serta menyapih dirinya darinya selama periode itikaf.
Cinta ini menemukan jalan ke hatinya, melalui kepatuhan kepada Allah yang Mahamulia, dari menunaikan kewajiban-kewajiban, dan melaksanakan berbagai amalan sunnah. Jiwa-jiwa mukmin yang benar merasakan perasaan cinta ini, dan mereka berharap rindu untuk bertemu Allah; karena mereka telah merasakan nikmatnya cinta ini, merasakan nikmatnya bermunajat, merasakan nikmatnya khusyuk, merasakan nikmatnya air mata yang mengalir karena takut kepada Allah dan mengagungkan-Nya, merasakan nikmatnya ketenangan jiwa, dan merasakan nikmatnya ketaatan secara menyeluruh; maka jadilah cinta ini yang datang sebagai hasil kedekatan hamba dengan Tuhannya yang Mahamulia.
Bonus Akhir Masa Kerja: Umrah Ramadan
Dan Datanglah Hari-hari Kebaikan:
Saudara-saudaraku yang kucintai karena Allah, datanglah hari-hari kebaikan, dan hari-hari ini berlalu, berjalan, dan lewat begitu saja, umur pun habis dan kematian datang dengan apa yang ada padanya, lalu hari kiamat terjadi dan saat itulah manusia menyesal namun penyesalan tidak bermanfaat, ia menyesal tetapi sudah tidak ada waktu untuk menyesal, ia mengajukan alasan-alasan tetapi tidak diterima: “Pada hari itu manusia berkata: ‘Ke mana tempat melarikan diri?’ Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhanmulah hari itu tempat kembali. Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya” (Surah Al-Qiyamah: 10-15). Kami memohon kepada Allah agar memberikan kami keberuntungan memanfaatkan waktu. Allah yang Mahamulia berfirman: “Dan Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur” (Surah Al-Furqan: 62). Ia menjadikan malam dan siang silih berganti, yang satu menggantikan yang lain agar hamba dapat memperbaiki apa yang telah terlewatkan, dan datangnya Ramadan adalah keberuntungan yang perlu kamu manfaatkan dengan sungguh-sungguh.
Keagungan Ramadan:
Wahai saudara-saudara, tahukah kalian seandainya seorang laki-laki dikaruniai istri yang salihah, berakhlak baik, beragama, cantik, dan terhormat, bagaimana keadaannya?! Sesungguhnya kebaikan seluruhnya telah berkumpul padanya, dan makna ini kita temukan di sini, jika berkumpul kemuliaan waktu, kemuliaan tempat, dan kemuliaan ibadah. Waktu yang mulia adalah Ramadan, Ramadan dan tahukah kamu apa itu Ramadan? Bulan yang agung, agung dengan segala makna kata tersebut, cukuplah dalam hal itu bahwa Allah menamakannya dengan nama-Nya dalam Kitab-Nya yang mulia, maka Ia berfirman: “Bulan Ramadan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)” (Surah Al-Baqarah: 185), dan Allah mewajibkan puasanya: “Maka barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa”.
Cukuplah bagimu di dalamnya sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadan namun tidak diampuni, maka Allah menjauhkannya ke dalam neraka”. Oleh karena itu aku berkata berulang kali: Sesungguhnya aku tidak membayangkan tahun tanpa Ramadan. Ramadan adalah termometer tahun, ia adalah pengatur tahun, dan seakan-akan aku mendengar hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Kalian terbakar, terbakar, maka jika kalian salat Subuh akan mencucinya, kemudian kalian terbakar, terbakar, maka jika kalian salat Dhuhur akan mencucinya”. Seakan-akan aku memahami makna ini pada Ramadan, seakan-akan maknanya bagiku adalah kalian terbakar, terbakar sepanjang tahun, maka jika Ramadan datang ia memadamkan api-api tahun seluruhnya, maka ia adalah musim yang sangat agung.
Dan sebagaimana aku berkata bahwa aku tidak membayangkan tahun tanpa Ramadan, maka aku katakan: Aku tidak membayangkan demi Allah permukaan bumi tanpa Kakbah, dan ini adalah kemuliaan tempat. Allah Ta’ala berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Kakbah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia” (Surah Al-Baqarah: 125). Maka Kakbah ini adalah keamanan dan penegakan agama; karena jika Kakbah dihancurkan maka hari kiamat akan terjadi, dan Allah yang Mahamulia telah berfirman: “Allah telah menjadikan Kakbah, rumah suci itu sebagai penegak (peribadatan) bagi manusia” (Surah Al-Ma’idah: 97). Para ulama berkata: Tegaklah agama mereka dengannya, maka tegaknya agama dengan Kakbah adalah perkara yang nyata. Selama Kakbah ada maka agama ada.
Oleh karena itu, sepatutnya kamu memahami perkara ini dan mengerti jika kamu ingin menunaikan umrah Ramadan; maka kenalilah kemuliaan waktu dan kemuliaan tempat.
Mengapa Kita Berumrah?
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya”. Maka wajib memurnikan niat dan meneliti dengan cermat sebelum berpikir untuk menunaikan umrah di Ramadan, jika tidak maka amal yang agung ini -umrah Ramadan- akan menjadi sia-sia belaka jika niatnya rusak. Mari kita perjelas dari awal mengapa kita berumrah di Ramadan?
Pertama: Perjalanan Menuju Allah:
Sebagian ulama Salaf berkata: Perjalanan ini mengingatkanku pada perjalanan menuju Allah.
Ketika kamu pergi umrah, kamu pergi kepada siapa? Kamu melakukan perjalanan kepada siapa? Sesungguhnya kamu berada dalam perjalanan menuju Allah Ta’ala, kamu memahami di dalamnya makna melarikan diri kepada Allah: “Maka larilah kepada Allah” (Surah Adz-Dzariyat: 50), dan kamu melihat di dalamnya makna hijrah: “Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah”.
Maka haruslah kamu memahami dalam umrah bahwa kamu adalah orang yang berhijrah kepada Allah, melarikan diri kepada Allah, melakukan perjalanan dan pergi kepada-Nya, dan semua ini masuk dalam makna kalimat “Labbaika Allahumma labbaik”.
Kedua: Talbiyah dan Melarikan Diri kepada Allah:
Banyak orang yang mengulang-ulang talbiyah ini namun tidak memahami maknanya. Labbaik artinya: Aku datang kepada-Mu ya Rabb, aku memenuhi perintah-Mu. Sebagian ulama Salaf jika dadanya sesak masuk ke rumahnya dan menutup pintu atas dirinya lalu berkata: Tuhanku, kepada-Mu aku datang. Makna ini kamu temukan dalam kenyataannya pada umrah, dan kamu yang pergi ke Baitullah berkata: Ya Rabb aku datang kepada-Mu. Oleh karena itu orang yang merasakan makna ini tidak mengulang-ulang talbiyah seakan-akan ia adalah lagu atau nyanyian yang diucapkan sebagaimana yang dilakukan banyak orang, tidak, tetapi ia bertalbiyah dari hatinya, bahkan hatinya yang bertalbiyah. Maka hatinya yang mengulang-ulang: Labbaika Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal hamda wannimata laka walmulk, la syarika lak. Oleh karena itu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang yang bertalbiyah melakukan talbiyah kecuali bertalbiyah pula apa yang ada di kanan dan kirinya dari batu atau pohon atau tanah, hingga terputus bumi dari sana dan dari sana”. Maka orang yang bertalbiyah ini menjadi pusat alam semesta, semua yang ada di kanannya bertalbiyah bersamanya, dan semua yang ada di kirinya bertalbiyah bersamanya, dan ia adalah titik pusat lingkaran. Merasakan hal itu memenuhi hati dengan ketundukan dan khusyuk kepada Sang Raja yang Mahaagung keagungan-Nya. Jabir radiyallahu anhu berkata: “Kami keluar dari Madinah berteriak melakukan haji dengan teriakan”. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Haji yang paling baik adalah al-ajj dan ats-tsajj”.
Al-Ajj adalah meninggikan suara dengan talbiyah, dan ats-tsajj: banyaknya menyembelih hewan. Labbaika Allahumma labbaik, kamu berkata: Aku datang kepada-Mu, aku datang kepada-Mu dengan dosa-dosa sepanjang hidup, dengan kesedihan-kesedihan hidup, dengan penderitaan tahun-tahun, dengan kesusahan kehidupan. Aku datang kepada-Mu dan tidak ada bagiku selain Engkau. Siapa lagi yang akan kudatangi selain Engkau?! Hamba-hamba-Mu selainku banyak dan tidak ada bagiku selain Engkau. Labbaik.
Ketika kamu mengucapkannya dengan makna ini; maka ia akan keluar dari hatimu, dari akalmu, dari matamu, akan menjadi labbaik dari setiap partikel dalam tubuhmu, dengan seluruh keberadaanmu, labbaik yang sesungguhnya. Maka makna kedua dari makna-makna umrah: Melarikan diri kepada Allah, melarikan diri dari fitnah, melarikan diri dari dunia, melarikan diri dari masa lalu yang menyedihkan kepada Allah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.
Ketiga: Hijrah kepada Allah:
Dan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah, dan dalam kisah pembunuh seratus orang, ulama memerintahkannya untuk keluar dari negerinya karena ia negeri yang buruk, dan pergi ke negeri lain yang di dalamnya ada orang-orang salih untuk beribadah kepada Allah bersama mereka. Dan makna ini kita temukan dalam umrah, maka kamu adalah orang yang berhijrah kepada Allah, kamu meninggalkan dosa-dosamu, kemaksiatanmu dan kelalainmu, kamu meninggalkan keluargamu dan duniamu, kamu meninggalkan segala sesuatu dan datang kepada Tuhanmu dan tidak ada bersamamu sesuatu pun dari dunia untuk beribadah kepada Allah bersama hamba-hamba-Nya yang salih di tempat yang paling suci di muka bumi; oleh karena itu haruslah kita berbicara tentang niat: Mengapa kita berumrah? Mengapa kamu pergi ke umrah Ramadan?
Apakah karena hal itu sudah menjadi kebiasaan bagimu? Dan apakah jika kamu tidak pergi, orang-orang akan membicarakanmu dengan buruk? Mungkin salah seorang dari mereka telah bosan dengan masalah-masalah dunia lalu pergi ke umrah untuk beristirahat dari kesulitan itu, pergi untuk bersenang-senang, dan berkata: Ramadan di sana memiliki kelezatan tersendiri, tidak ada anak-anak dan tidak ada masalah, atau pergi ke Masjidil Haram untuk bertemu para ulama dan duduk bersama mereka. Ini semua adalah niat-niat yang rusak. Mengapa kamu pergi?
Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan berkata: Ya Rasulullah, bagaimana dengan orang yang berperang di jalan Allah yang menginginkan pahala dan pujian, apa yang akan dia dapatkan? Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada apa-apa baginya.” Jika niatmu tercampur antara mengharapkan wajah Allah dengan keinginan-keinginan lain, maka amalmu akan rusak dan tidak ada apa-apa bagimu dan tidak ada pahala bagimu. Kamu harus terbebas dari semua niat yang rusak dan semua penyakit yang membinasakan, lalu berniat dengan niat yang saleh, murni, dan ikhlas yaitu: perjalanan, pelarian, dan hijrah kepada Allah semata.
Keempat: Tabtul (Memutuskan Diri untuk Beribadah)
Sesungguhnya kita perlu melakukan amal-amal baru, kita ingin melakukan amal-amal yang belum pernah kita lakukan sebelumnya. Amal-amal baru ini memperbarui iman, mengaktifkan sirkulasi keimanan. Di antara amal-amal tersebut adalah tabtul. Tabtul artinya memutuskan diri: “Dan sebutlah nama Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya dengan sepenuh-penuh hati.” (Surah Al-Muzzammil: 8), artinya putuskan dirimu kepada-Nya dengan sepenuhnya. Aku menasihatimu agar terkadang mencari masjid yang jauh dari tempat tinggalmu, di mana kamu tidak mengenal siapa pun di sana, dan tidak ada yang mengenalmu. Pergilah dan tinggallah di sana seharian penuh dari Isya sampai Subuh, atau dari Zuhur sampai Isya, putuskan dirimu sepenuhnya. Tidak ada telepon bersamamu, tidak ada ponsel, tidak ada yang mengenalmu, tidak ada yang menghubungimu dan melihatmu. Kamu mengenakan pakaianmu dan duduk sebagai orang miskin, faqir, hina, menampakkan kemiskinan, memutuskan diri dari kesibukanmu dengan dunia dan menghadap kepada Allah dengan segenap hatimu.
Kesempatanmu untuk tabtul di Kakbah adalah yang paling besar dan paling utama ketika kamu meninggalkan istri, anak-anak, pekerjaan, hartamu, teman-teman, rekan-rekan, dan telepon-teleponmu, dan memutuskan diri untuk beribadah kepada Allah semata tanpa sekutu bagi-Nya.
Makna tabtul adalah memutuskan diri. Adapun jika kamu pergi ke sana dengan membawa telepon-teleponmu dan mengikuti pekerjaanmu dari sana… Apa yang kalian lakukan? Apa yang kalian beli? Apa yang kalian jual? Ini bukan makna tabtul.
Kamu mengatakan: Labbaik (aku sambut panggilan-Mu) tidak ada sekutu bagi-Mu, lalu mengapa kamu menjadikan sekutu-sekutu bersama-Nya? Labbaik ya Allah, ataukah labbaik untuk pabrik? Labbaik ya Allah ataukah labbaik untuk perusahaan? Apakah kamu mengatakan: Ya, aku bersamamu tetapi aku juga bersama manusia, kepentinganku, hawa nafsuku, dan harapan-harapan duniawiku… Ini sama sekali tidak benar.
Sang Raja tidak meridhoi itu dan tidak menerimanya. Hanya Dia sendiri atau tidak sama sekali.
Bertabtul… Putuskan diri… Tinggalkan segala sesuatu di belakangmu, cobalah untuk melupakan dunia dengan segala isinya dan penghuninya. Oleh karena itu, janganlah kamu berbicara di sana melalui telepon setiap hari, tetapi jadikanlah itu hanya untuk keperluan darurat saja seperti untuk menanyakan kabar istrimu dan anak-anakmu. Nabi shallallahu alaihi wasallam sedang beri’tikaf dan Sayyidah Shafiyyah radhiyallahu anha datang menjenguknya, lalu beliau keluar bersamanya dan mengantarnya ke rumahnya. Dari ini kita belajar bolehnya bertanya untuk menenangkan hati tentang istri dan anak-anak. Setiap amal berdasarkan dalil bahwa itu adalah syariat dan agama. Tidak apa-apa kamu menenangkan hati tentang keluargamu, bahkan ini adalah yang diminta darimu agar kamu menanyakan kabar mereka dan menenangkan hati tentang keadaan mereka, karena mereka adalah tanggung jawabmu. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” Ini adalah tanggung jawab syar’i dan bukan dunia. Adapun pabrik dan pekerjaan, maka tinggalkanlah semua itu.
Kita ingin menjalani hidup kita hari demi hari, karena betapa cepatnya kematian orang-orang hari ini. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami husnul khatimah (akhir yang baik). Kita ingin memanfaatkan kematian orang-orang di sekitar kita agar tidak menjalani dunia dengan keluasannya, dengan panjangnya angan-angan di dalamnya, tetapi hiduplah setiap hari sebagai bagian yang mandiri pada dirinya sendiri.
Wahai para saudara…
Kita hari ini masih hidup, dan besok dalam ilmu Allah, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di dalamnya. Maka sempurnakanlah ibadahmu di harimu dan tinggalkanlah banyaknya kesibukan, dan wujudkanlah makna tabtul yaitu memutuskan diri untuk beribadah.
Biarkanlah aku berpindah bersamamu sekali lagi kepada niat-niat: Mengapa kita pergi ke umrah?
Karena di dalam ini terdapat jawaban banyak permasalahan. Sesungguhnya sebagian orang pergi ke umrah, kemudian datang sambil mengeluh dan berkata: Aku pergi ke umrah, tetapi aku tidak menemukan hatiku. Aku mengira bahwa aku akan berada di sana dalam puncak keimanan dan aku akan merasakan spiritualitas seolah-olah aku terbang di langit dan hidup di surga. Aku mengira bahwa aku akan mati karena kegembiraan dan kebahagiaan, tetapi aku tidak menemukan apa-apa dari itu, sangat disayangkan! Sesungguhnya banyak dari kaum muslimin hidup dalam khayalan… khayalan yang nyata… Mereka mengira bahwa hanya dengan pergi dan melihat Kakbah mereka akan terbang dengan dua sayap!!
Aku katakan: Tidak wahai saudaraku, bahkan urusan ini memerlukan amal, memerlukan ibadah sampai kamu mendapatkan apa yang kamu harapkan. Kamu mengapa pergi ke sana? Jika kita katakan: untuk tabtul, maka ini berarti kamu pergi untuk beribadah kepada Allah, shalat, zikir, doa, tawaf, membaca Al-Quran, dan istighfar. Jika kamu melakukan itu dan terus menerus melakukannya, kamu akan menemukan buahnya, jika tidak maka tidak ada, dan setiap barang ada harganya.
Sebagian orang pergi lalu melakukan umrah saja, kemudian pergi untuk duduk di hotel dan shalat di masjid yang berdekatan dengan hotel! Seolah-olah itu wisata!
Dan sebagian orang—sangat disayangkan!—menghabiskan hari-harinya di sana dengan tidur, bahkan dalam i’tikaf di sepuluh hari terakhir, kamu menemukannya shalat Zuhur lalu tidur, shalat Ashar lalu tidur. Dari mana kalau begitu kamu menemukan hatimu?! Dan bagaimana dengan keadaanmu seperti ini kamu menemukan hati?!
Imam Masruq bin Al-Ajda’ (tabi’i yang terkenal) berhaji lalu dia tidak tidur kecuali dalam keadaan sujud. Dia tidak meletakkan lambungnya di atas tanah, dan tidak tidur telentang, tetapi kantuk mengalahkannya saat dia sujud. Dia tidak tidur di atas tempat tidur, dan tidak berbaring telentang! Dia shalat sepanjang waktu, sehingga karena lamanya shalat dia tertidur saat sujud. Inilah semangat. Sesungguhnya kita pergi dengan niat tabtul, maka kita harus benar-benar beramal dan bersungguh-sungguh dalam amal ini.
Siapa yang pergi dengan niat tabtul harus memiliki program amal yang dia lakukan. Dia melihat mana yang lebih utama: shalat atau tawaf atau membaca Al-Quran atau zikir atau menghadiri majelis ilmu. Apa yang dia kerjakan? Dan apa yang dia persembahkan?
Para ulama berkata: Sesungguhnya setiap amal yang tidak dilakukan kecuali di tempat dan waktu tertentu maka itu adalah kewajiban waktu tersebut.
Maka amal yang paling utama adalah yang sesuai dengan tempat dan waktumu. Ketika kamu berada di Masjidil Haram, majelis ilmu memang ada tetapi ada di tempat lain dan di waktu lain, kamu bisa duduk dan sibuk dengan zikir, tetapi zikir ada waktu-waktu yang tidak terbatas, bahkan kamu bisa berzikir kapan saja dan di mana saja. Jadi tawaf lebih didahulukan, kamu membaca Al-Quran di dalamnya, berdoa, dan berzikir, karena tawaf tidak ada kecuali di sekitar Kakbah, maka ini tempatnya dan ini waktunya sehingga lebih diutamakan. Dan ini dari fikih ibadah. Sebagian orang tidak melakukan tawaf kecuali tawaf umrah saja, dan ini pemahaman yang salah. Bahkan setiap kali kamu menemukan jalan untuk tawaf, bertawaflah. Setiap kali kamu masuk Masjidil Haram dan menemukan jalan untuk tawaf, bertawaflah.
Mungkin kamu menemukan orang yang berkata: Tawaf di dalamnya ada percampuran (ikhtilath), dan para wanita berjalan di sampingmu, di belakangmu, dan di depanmu. Aku katakan: Apakah waktu tawaf manusia merasakan keberadaan wanita? Sesungguhnya kamu memerlukan pengobatan yang kuat dari awal. Kamu harus memahami terlebih dahulu apa kadar keagungan Kakbah, dan kamu harus memahami makna cinta, makna cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ketika kamu memahami makna cinta, dan mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan mengenal bahwa kamu berada di rumah-Nya, dan mengenal kadar rumah-Nya Subhanahu wa Ta’ala, dan kamu bertawaf di sekitar rumah kekasihmu dengan cinta, maka saat itu kamu tidak akan merasakan siapa yang ada di sekitarmu.
Tetapi sebagian orang telah merusak cinta. Cinta adalah makna, dan para ulama berkata: Lafaz adalah wadah makna. Jika kamu menempatkan makna dalam wadah tertentu, maka dengan itu kamu mempersempitnya… mengecilkannya. Jika kamu ingin berkata kepada seseorang: Apa itu cinta? Maka kamu telah salah dalam cinta.
Cinta adalah makna, maka tidak diletakkan dalam wadah, dan tidak dibatasi. Cinta adalah makna yang sangat luhur, makna yang tinggi, dan terutama jika kita berbicara tentang cinta kepada Allah, maka itu adalah makna yang dirasakan, dialami, dan tidak dideskripsikan. Inilah yang aku tuntut darimu, bahwa kamu pergi ke umrah dengan cinta, dan tentu saja dengan menambahkan dua syarat yang lain yaitu takut dan harap. Demikian juga kamu berpuasa Ramadan dengan cinta, takut, dan harap. Kamu shalat dengan cinta, takut, dan harap. Demikian juga semua ibadah dan keadaanmu dengan Allah. Saat itu kamu akan hidup dengan makna-makna yang tidak bisa kamu deskripsikan. Jika ditanya: Apa yang kamu rasakan? Kamu berkata: Aku merasakan bahwa aku sangat mencintai Allah… Aku merasa bahwa aku mencintai Allah dengan cinta yang sangat. Makna ini tidak dideskripsikan tetapi hanya dirasakan saja. Dan ada makna-makna dalam Islam yang tidak dijelaskan seperti: qurratu a’yun (penyejuk mata), ketenangan (sakinah), dan cinta. Ini adalah hal-hal yang tidak dideskripsikan, tidak diajarkan. Aku tidak bisa mengajarimu bagaimana mencintai Allah, tetapi aku bisa berkata kepadamu: Lakukanlah ini agar Dia mencintaimu.
Intinya: Bahwa kamu ketika memulai tawaf, kamu mengingat keagungan rumah ini, dan betapa kuatnya kerinduanmu kepadanya. Salah seorang saudara ketika pergi ke umrah untuk pertama kali dan melihat Kakbah berkata: Aku akan terkejut… Rumah Tuhan kita di dalamnya ada sepotong dari surga: Hajar Aswad (Batu Hitam) dari surga. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Hajar Aswad turun dari surga dan dia lebih putih daripada susu, lalu dihitamkan oleh dosa-dosa anak cucu Adam.” Jika kamu menyentuh Hajar Aswad maka kamu telah menyentuh sesuatu dari surga.
Seorang budak perempuan pergi ke haji, lalu dia berkata kepada orang-orang yang bersamanya: Di mana rumah Tuhanku? Mereka berkata kepadanya: Bersabarlah sampai kamu melihat rumah Tuhanmu. Ketika mereka masuk Masjidil Haram dan melihat Kakbah, mereka berkata kepadanya: Ini adalah rumah Allah. Maka dia berlari dan berlari-lari kecil sambil berkata: Rumah Tuhanku… rumah Tuhanku, sampai dia meletakkan pipinya di atas Kakbah, lalu mereka tidak mengangkatnya dari dinding Kakbah kecuali dalam keadaan meninggal!!
Inilah maknanya, dan mereka adalah orang-orang yang merasakan dan mengalaminya. Rumah Tuhanku… rumah Tuhanku!! Perasaanmu ketika melihat Kakbah bahwa hatimu telah terbang dan melekat pada Kakbah, pada rumah Tuhanmu, rumah kekasihmu, rumah Allah. Inilah yang diminta. Allah yang tidak kamu lihat dari-Nya kecuali kebaikan, Dialah yang mengantarkanmu ke Kakbah. Maka bagi-Nya segala puji dan karunia, Subhanahu wa Ta’ala.
Jika kamu sampai ke rumah ini dan melihatnya dan menyentuhnya dan kamu sekarang bertawaf di sekelilingnya, sesungguhnya orang yang rindu saat itu tidak merasakan siapa yang ada di sekelilingnya, dan sesungguhnya orang yang mencintai saat itu tidak mengetahui siapa yang ada di sampingnya, karena dia bertawaf di sekitar rumah kekasihnya sambil bermunajat kepada-Nya seolah-olah dia sendirian bersama-Nya.
Keenam: Menemani Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam Haji
Ini adalah niat yang mahal dengan semangat yang tinggi. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Umrah di bulan Ramadan seperti haji bersamaku.” Jika kamu merasakan keagungan janji Nabi yang benar ini, bahwa jika kamu berumrah di Ramadan, umrah yang jujur dengan niat yang ikhlas dan diikuti dengan ihsan (kebaikan) sesuai manhaj (jalan) Nabi shallallahu alaihi wasallam, kamu akan seperti orang yang berhaji bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam. Alangkah hebatnya umrah itu!! Bahkan lari cepat menuju Firdaus yang tertinggi. Berniat dengan jujur, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya.
Ketujuh: Pengampunan Dosa-dosa yang Telah Lalu
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Dari Jumat ke Jumat, dari umrah ke umrah, dan dari Ramadan ke Ramadan adalah penghapus dosa di antara keduanya jika menjauhi dosa-dosa besar.” Maka lihatlah jika terkumpul bagimu Jumat di bulan Ramadan dalam umrah, maka telah terkumpul bagimu tiga sebab untuk pengampunan dosa-dosa yang telah lalu dalam satu waktu. Maka ini pantas agar kamu kembali seperti hari ibumu melahirkanmu dan lembaran amalmu putih bersih tidak ada dosa di dalamnya.
Maka wajiblah bagi dirimu niat tersebut, bahwa kamu ingin mencuci dosa-dosamu, membersihkan diri dari kesalahan dan dosamu, dan bersuci dari pengkhianatan dan kejahatanmu. Kamu ingin memulai kehidupan baru dengan tanggal lahir yang baru, untuk menjadi hamba yang baru bagi Allah Azza wa Jalla. Maka datanglah dan jangan takut.
Kedelapan: Istana-istana Tertinggi dari Pahala-pahala Tertinggi
Tidak diragukan bahwa seorang pedagang yang berhati-hati dan ahli yang berpengalaman tidak meridhai kerugian dalam perdagangannya, apalagi kehilangan. Kita telah melihat bahwa para pedagang melakukan perjalanan ke ujung bumi mencari keuntungan tambahan. Maka bagaimana dengan orang yang umurnya pendek, ajalnya dekat, amalnya sedikit, dan usahanya lemah, di hadapannya ada kesempatan bahwa satu rakaat dihitung baginya dengan seratus ribu, satu tasbih dengan seratus ribu, dan satu huruf dari Al-Quran dengan seratus ribu.
Demi Allah, sesungguhnya itu adalah kemenangan yang besar dan kesempatan yang tidak tergantikan. Sesungguhnya itu benar-benar harta rampasan yang dingin. Jangan heran dengan pengulangan kata ini bersama kita, karena demi Allah aku tidak tahu bagaimana aku bersyukur kepada Allah atas nikmat besar ini, dan aku tidak tahu sampai sejauh mana cinta hati kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala dan keterikatan hati kepada-Nya akan mencapai setelah karunia-karunia besar ini.
Sesungguhnya Dia Subhanahu wa Ta’ala berjanji atas satu kebaikan dengan sepuluh kebaikan yang serupa, dan kami berkata: Kami ridha ya Tuhan. Kemudian berjanji atas satu dirham dengan tujuh ratus dalam infak, lalu kami berkata: Kami ridha ya Tuhan. Dan menjadikan nafkah dalam haji dan umrah seperti nafkah di jalan Allah dengan tujuh ratus ribu juga, lalu kami berkata: Kami ridha ya Tuhan. Tiba-tiba Yang Maha Mulia menambahkan kepada kami: Bahwa satu kebaikan di sana di rumah-Nya yang suci di Kakbah dengan seratus ribu, dan di masjid kekasih-Nya yang terpilih shallallahu alaihi wasallam satu kebaikan dengan seribu berdasarkan qiyas (analogi) terhadap shalat. Dan ini adalah mazhab Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma tentang masalah ini: Bahwa semua amal dilipatgandakan di dua Masjidil Haram (Makkah dan Madinah).
Maka datanglah wahai orang yang sia-sia, kesempatan seumur hidup. “Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapuskan kejahatan-kejahatan. Yang demikian itu adalah peringatan bagi orang-orang yang mengingat. Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (Surah Hud: 114-115) Manfaatkanlah kesempatan ini dan pergilah ke umrah Ramadan, kamu akan menemukan pelipatan dari kebaikan-kebaikan, keberkahan dan kebaikan, kesempatan dan pahala.
Dan tidak terlewat dariku untuk memperingatkanmu bahwa mazhab Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma ini sangat berbahaya, karena telah tetap dari beliau radhiyallahu anhu bahwa beliau pindah dari Makkah ke Thaif, lalu dikatakan kepadanya: Apakah kamu tidak suka dengan Tanah Haram (Makkah)? Beliau berkata: Mengapa aku tidak tidak suka dengan negeri yang dilipatgandakan di dalamnya kejahatan sebagaimana dilipatgandakan di dalamnya kebaikan. Maka sebagaimana aku memberimu kabar gembira, aku memperingatkanmu bahwa jika satu kebaikan dengan seratus ribu, maka satu kejahatan dengan seratus ribu.
Dan barangkali hal ini menunjukkan kepadamu firman Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung: “Dan barangsiapa bermaksud melakukan kejahatan di dalamnya dengan kezaliman, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian azab yang pedih” (Al-Hajj: 25), maka Allah mengancam dengan azab yang pedih hanya karena niat semata, dan hal ini dimaafkan di tempat selain ini; maka hal itu menunjukkan bahwa dosa-dosa akan dilipatgandakan hukumannya karena kemuliaan tempat.
Dan aku, meskipun terpesona bahwa kamu akan mendapat pahala seratus ribu qirath di surga dengan menshalatkan satu jenazah saja, satu qirath sebesar gunung Uhud, sebagai pembenaran terhadap hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam; namun aku sangat khawatir bahwa satu pandangan saja kepada wajah seorang wanita di tanah haram akan tercatat sebagai seratus ribu perzinaan.
Kesimpulan: Mengapa kita berumrah di bulan Ramadhan?
(1) Agar berkumpul bagi kita amalan-amalan terbaik dalam kemuliaan waktu, kemuliaan tempat, dan kemuliaan amalan.
(2) Perjalanan menuju Allah.
(3) Berlari kepada Allah.
(4) Hijrah kepada Allah.
(5) Bertahannus (beribadah dengan sungguh-sungguh), terputus dari segala kesibukan, dan mengosongkan diri untuk Allah.
(6) Menemani Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam haji.
(7) Pengampunan dosa-dosa yang telah lalu.
(8) Istana-istana tinggi dari pahala-pahala tinggi.
Kemudian mari kita bahas amalannya sendiri: Bagaimana kita berumrah?
Bagaimana Cara Berumrah?
(1) Niat: Dan telah kami jelaskan penjelasannya di awal.
(2) Harus mempelajari hukum-hukum umrah sebelum berangkat, dan ketahuilah bahwa hal itu adalah fardhu ain atas dirimu dalam ilmu ini, maka kamu harus mengetahui bagaimana cara melaksanakan umrah sesuai sunnah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
Hukum-hukum Ihram: Karena kitab kita ini bukan kitab fiqih; maka kami akan membahas rahasia-rahasia syariat umrah, dan kamu dapat merujuk salah satu kitab fiqih untuk menguasai syariat-syariatnya, tetapi secara sederhana ketahuilah bahwa rukun umrah ada empat: Ihram, thawaf mengelilingi Baitullah sebanyak tujuh kali, sa’i antara Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali, dan mencukur atau memotong rambut.
Dan inilah saudaraku rahasia-rahasia ihram:
Pertama: Pengagungan terhadap kedudukan Sang Raja yang Maha Agung keagungan-Nya, bahwa kamu tidak memasuki rumah-Nya pada kunjungan pertamamu kepada-Nya kecuali dengan pakaian yang Dia syaratkan.
Kedua: Di antara rahasia pakaian ihram adalah bahwa kamu melepas segala sesuatu kecuali dua kain putih, maka ia lebih sedikit dari kain kafan, karena kain kafan ada tiga lembar, agar kamu merasakan kecukupan dari seluruh dunia, karena kamu tidak memiliki darinya dalam kondisi ini kecuali dua kain ini, kaya dengan Dia Yang Maha Suci semata, dan merasa cukup dengan-Nya dari segala sesuatu selain-Nya.
Ketiga: Dalam pakaian ini dan kewajiban mengenakannya bagi setiap orang yang berihram untuk haji atau umrah terdapat perasaan bahwa manusia adalah sama di hadapan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung, mereka semua baik yang kaya maupun yang miskin, yang kecil maupun yang besar, pemimpin dan menteri, pekerja dan yang hina, semuanya telah menyingkap kepalanya dengan tunduk dan patuh kepada Yang Memiliki Keagungan, tidak ada yang membedakan satu dengan yang lain, semuanya telah melepas gelar doktor atau insinyur atau menteri atau pemimpin, dan semua tunduk pada nama hamba, dan ini adalah salah satu yang paling agung dalam momen ini, bahwa kamu melupakan pekerjaanmu dan kedudukan duniawimu dan ditetapkan bagimu nisbahmu kepada Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung sebagai hamba yang diatur, yang ditundukkan, yang taat yang menjaga batas-batas adab dan ketaatan.
Keempat: Di antara momen-momen ihram yang paling penting adalah ketika kamu menyaksikan saat melepas pakaian dunia kemudian kamu mandi dan mengenakan kain izaar dan ridaa’ saja seakan-akan malaikat maut datang kepadamu lalu mencabut ruhmu, dan mereka memandikanmu dan mengkafanimu, maka ketika kamu menghadapi kengerian yang dahsyat kamu berkata sebagaimana setiap orang yang meninggal berkata: “Hingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara mereka, dia berkata: Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan terhadap yang telah aku tinggalkan” (Al-Mu’minun: 99-100) dan masih tersisa bagimu kesempatan maka dikatakan kepadamu: Kembalilah, maka kamu kembali dengan kain kafanmu sambil berseru dengan suara paling keras… Labbaik Allahumma labbaik, jika kamu merasakan ini, semua yang kukatakan kepadamu, kamu benar-benar merasakannya, maka keluarlah labbaik Allahumma labbaik dari mata hatimu dengan seluruh perasaan dan emosi seorang yang diberi kesempatan terakhir untuk masa singkat, maka ia menghadap kepada Tuhannya sambil berkata labbaik… artinya aku datang kepada-Mu… aku datang kepada-Mu… aku datang kepada-Mu… senantiasa dalam ketaatan kepada-Mu… tunduk kepada-Mu… tetap dalam hal itu…
Dan juga di antara rahasia ihram adalah bahwa ia merupakan pendidikan yang sangat ketat dan teliti agar kamu belajar ketaatan mutlak tanpa campur tangan akal dalam perintah-perintah Allah, maka dilarang dalam ihram mengenakan penutup khusus selain kain izaar untuk menjaga aurat yang besar, dilarang memakai wewangian, dilarang memotong rambut, dilarang memotong kuku, berburu dilarang, dan istri dilarang, Maha Suci Sang Raja sungguh ini adalah ihram!!
Kelima: Ihramnya hati sebelum ihramnya jasad, sesungguhnya ketika kamu berniat umrah dengan mengharap wajah Allah, harus hati berihram terlebih dahulu dengan taubat nashuha sebelum jasad, maka sebagaimana jasad melepas pakaian dunia untuk ihram dan mengenakan pakaian akhirat, maka harus hati juga melepas urusan dunia, dan mengenakan urusan akhirat, maka janganlah hal-hal yang mengalihkan perhatian membuatnya lalai selama umrah dan jangan pula hal-hal yang memotong memutuskannya.
(4) Talbiyah:
Agar kamu bertalbiyah dari hatimu; maka kamu harus memahami makna kata labbaik, dan ia dalam syariat sebagaimana dalam bahasa, maksudnya satu, maka pahamilah maknanya agar kamu bertalbiyah dan bukan bernyanyi, makna labbaik: menjawab dan senantiasa dalam ketaatan kepada-Mu, dan dikatakan maknanya: tujuan dan maksudku kepada-Mu, dan dikatakan maknanya: cintaku kepada-Mu, dan dikatakan maknanya: keikhlasanku kepada-Mu, dan dikatakan maknanya: aku tetap dalam ketaatan kepada-Mu, dan dikatakan maknanya: dekat dari-Mu, dan dikatakan: aku tunduk di hadapan-Mu, artinya patuh.
Dan sebenarnya makna labbaik adalah semua yang telah disebutkan… semua itu; maka ucapkanlah dari hatimu.
(5) Melihat Baitullah… Ka’bah Rumah Cahaya:
Ketika Allah Taala menambahkan rumah itu kepada-Nya dan menisbahkannya kepada-Nya dengan firman-Nya Yang Maha Mulia lagi Maha Agung kepada kekasih-Nya: “Dan sucikanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, orang-orang yang beribadah, orang-orang yang ruku’ dan sujud” (Al-Hajj: 26), maka hati orang-orang yang mencintai terikat pada rumah kekasih mereka, maka setiap kali rumah haram itu disebut kepada mereka, mereka merindukan, dan setiap kali mereka teringat akan kejauhan mereka darinya, mereka bersedih…
Maka demi Allah sungguh mulia penglihatan itu!! … melihat Baitullah… momen-momen seakan bukan dari dunia…
Rumah yang tercipta dari batu… dan dinisbahkan kepada Allah maka menjadi magnet hati para lelaki…
Rumah yang barangsiapa pandangannya jatuh padanya diberi kabar gembira dengan terwujudnya pengampunan…
Rumah yang barangsiapa berthawaf mengelilinginya; kelembutan-kelembutan berthawaf di hatinya, maka putaran demi putaran, dan shaut demi shaut, dan bukankah balasan kebaikan itu melainkan kebaikan pula?
Rumah yang tidak rugi siapa yang membelanjakan hartanya untuk sampai kepadanya.
Rumah yang tidak untung siapa yang pelit kepadanya dengan sesuatu.
Rumah yang barangsiapa mengunjunginya melupakan kunjungannya, dan meninggalkan tempat tinggalnya.
Rumah yang jarak kepadanya tidak dianggap jauh.
Rumah yang kunjungan kepadanya tidak ditinggalkan karena datangnya rasa takut atau serangan bencana…
Rumah yang barangsiapa bersabar darinya; maka hatinya lebih keras dari batu…
Rumah yang barangsiapa sinar cahayanya jatuh padanya, terhibur dari matahari dan bulan-bulannya… Rumah yang bukan keanehan bagi orang yang jauh darinya bagaimana ia bersabar, tetapi yang aneh adalah orang yang hadir di sana bagaimana ia kembali!
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Turun pada rumah ini setiap hari seratus dua puluh rahmat: enam puluh untuk orang yang berthawaf, empat puluh untuk orang yang shalat, dan dua puluh untuk orang yang memandang”.
Dan demi Allah betapa banyak dalam melihat Baitullah dari hembusan-hembusan dan makna-makna harum…
Sungguh menakjubkan rumah itu… sungguh menakjubkan Ka’bah… rahasia apa dalam memandangnya… Demi Allah sungguh momen-momen ini bukan dari dunia…
Ayat-ayat yang membingungkan akal… dan keindahan yang membuatmu melupakan dunia seluruhnya… dan keagungan air mata mata adalah jawabannya… rahasia apa antara Baitullah dan mata ketika memandangnya… dan antara air matanya…
(6) Thawaf:
Pertama: Seandainya tidak ada keutamaan thawaf kecuali firman Allah Tabaraka wa Taala: “Dan sucikanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, orang-orang yang beribadah, orang-orang yang ruku’ dan sujud” (Al-Hajj: 26), niscaya cukup baginya. Maka Allah mempekerjakan para nabi untuk mensucikan rumah-Nya untuk orang-orang yang berthawaf, dan mendahulukan mereka atas yang lain.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Thawaf mengelilingi Baitullah adalah shalat, tetapi Allah menghalalkan di dalamnya berbicara, maka barangsiapa berbicara janganlah berbicara kecuali dengan kebaikan”.
Kedua: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam apabila berthawaf mengelilingi Baitullah mengusap Hajar dan Rukun pada setiap thawaf, dan beliau menempelkan dada dan wajahnya pada Multazam. Al-Manawi berkata: untuk tabarruk dan tafaul dengannya dinamakan Multazam; karena orang-orang memeluknya dan mendekapnya ke dada mereka, dan shahih bahwa tidaklah seseorang yang memiliki penyakit berdoa di sana melainkan sembuh, yaitu dengan niat yang benar dan membenarkan syariat dan ikhlas, dan selain itu yang diketahui oleh ahli keahlian.
Dari Muhammad bin Al-Munkadir dari ayahnya dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berthawaf mengelilingi Baitullah tujuh putaran tidak melakukan hal yang sia-sia di dalamnya maka seperti memerdekakan seorang budak yang dihitung baginya”.
Ketiga: Dari Muhammad bin Al-Munkadir dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berthawaf di rumah ini tujuh putaran dan menghitungnya; maka seperti memerdekakan seorang budak, tidak meletakkan kaki dan tidak mengangkat yang lain melainkan Allah menghapus dengannya sebuah kesalahan dan menulis baginya sebuah kebaikan”.
Keempat: Memulai dari Hajar; karena wajib ketika pensyariatan untuk menentukan tempat permulaan dan arah berjalan, dan Hajar adalah tempat terbaik dari Baitullah; karena ia turun dari surga, dan kanan adalah arah yang paling baik.
Dan thawaf qudum (kedatangan) seperti tahiyatul masjid, hanya disyariatkan untuk mengagungkan Baitullah; karena menunda thawaf di tempatnya dan waktunya ketika sebab-sebabnya siap adalah perilaku buruk, dan thawaf pertama di Baitullah di dalamnya terdapat ramal dan idhtiba’, dan itu untuk makna-makna: di antaranya apa yang disebutkan Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, dari menakut-nakuti hati orang-orang musyrik, dan menampakkan kekuatan kaum muslimin, maka ia adalah perbuatan dari perbuatan jihad, dan sebab ini telah berlalu dan lewat, dan di antaranya menggambarkan keinginan dalam ketaatan kepada Allah, dan bahwa perjalanan yang panjang dan kelelahan yang besar tidak menambahnya kecuali kerinduan dan keinginan.
(7) Mencium Hajar:
Dan yang paling agung dalam thawaf adalah mencium Hajar: Hajar… dan tahukah engkau apa Hajar itu!! … Ia dari surga… ya Allah… dari surga ada sesuatu di bumi kemudian kita tidak merindukan kepadanya!! … kemudian kita tidak meneteskan air mata di dekatnya dan di sekelilingnya!! … kemudian kita tidak menciumnya dengan bibir hati dan debaran jantung!!…
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Hajar Aswad dari surga”.
Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Hajar Aswad dahulu lebih putih dari salju hingga dosa-dosa Bani Adam membuatnya hitam”, Al-Hafizh dalam Al-Fath mengutip dari Al-Muhibb Ath-Thabari perkataannya: Dalam tetap hitamnya terdapat pelajaran bagi siapa yang tidak memiliki pandangan, karena jika dosa-dosa berpengaruh pada batu yang keras, maka pengaruhnya pada hati lebih kuat.
Wahai manusia… dosa-dosa menghitamkan Hajar dan ia dari surga, dan engkau dari tanah dan dari bumi, maka lihatlah ia menjadi hitam dan ia keras, maka tidakkah hati menjadi hitam jika bermaksiat dan ia dari daging dan darah!!
Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash secara marfu’: “Sesungguhnya Hajar dan Maqam adalah dua permata yakut dari surga, Allah menghilangkan cahayanya, dan seandainya tidak demikian niscaya keduanya menerangi apa yang ada antara timur dan barat”.
Dan beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya mengusap Hajar Aswad dan Rukun Yamani menghapuskan dosa-dosa dengan penghapusan”, maka betapa murahnya pemberian Sang Raja… dan ia adalah batu yang mulia dan membawa berkah yang usapannya datang dengan pengampunan dosa.
Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Seandainya bukan karena apa yang menyentuh Hajar dari kotoran-kotoran jahiliyah, tidaklah menyentuhnya orang yang memiliki penyakit melainkan sembuh, dan tidak ada di bumi sesuatu dari surga selainnya”.
Dari Ibnu Abbas secara marfu’: “Sesungguhnya untuk Hajar ini lidah dan dua bibir, ia bersaksi bagi orang yang mengusapnya pada hari kiamat dengan kebenaran”, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sungguh akan datang Hajar ini pada hari kiamat memiliki dua mata yang melihat dengannya, dan lidah yang berbicara dengannya, ia bersaksi atas orang yang mengusapnya dengan kebenaran”.
Saudaraku.. Sesungguhnya para ulama telah membuat bab tentang mencium Hajar Aswad, keutamaannya, dan berdesak-desakan untuk menciumnya.
Umar bin Khattab pernah mencium Hajar Aswad kemudian berkata: Demi Allah, sungguh aku tahu bahwa engkau adalah batu, dan seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.
Al-Qasim bin Muhammad berkata: Aku melihat Ibnu Umar berdesak-desakan menuju Rukun (Hajar Aswad) hingga berdarah, dan dia berkata: Hati-hati tertuju kepadanya, maka aku ingin hatiku bersama mereka.
Dan dari Abdullah bin Umar, bahwasanya dia mengusap Hajar Aswad kemudian mencium tangannya, dan berkata: Aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menciumnya.
(8) Shalat dua rakaat di belakang Maqam:
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang lalu thawaf mengelilingi Baitullah tujuh kali, kemudian shalat di belakang Maqam dua rakaat.
Setelah engkau menyelesaikan thawaf saudaraku tercinta, shalatlah dua rakaat sunnah thawaf di belakang Maqam Ibrahim, atau di mana saja yang memungkinkan sedekat mungkin darinya, kemudian usahakan agar engkau berdiri di Al-Multazam antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Tempelkan perutmu, dadamu, lututmu, dan wajahmu pada Ka’bah, dan bermunajatlah kepada Tuhanmu.. Panggillah Tuhanmu dari dekat, dan di sinilah air mata mengalir dan engkau merasakan kedekatan yang hakiki dengan pintu Tuanmu.. Kemudian pergilah setelahnya menuju air zamzam.
(9) Minum zamzam hingga kenyang:
Keutamaan Zamzam:
- Zamzam.. Dan tahukah engkau apa itu zamzam!! Tendangan Jibril ‘alaihissalam, hentakan malaikat, minuman Ismail, penuh berkah dan mengenyangkan, wahai minuman orang-orang yang berbakti.. Wahai sebaik-baik air.. Dan wahai penghulu segala air..
- Wahab bin Munabbih berkata: Kami mendapatinya dalam Kitab Allah, maksudnya zamzam, minuman orang-orang yang berbakti, terjaga, makanan yang mengenyangkan, obat dari penyakit, tidak pernah kering dan tidak tercela.
- Hati Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dicuci dengan air zamzam. Minumlah hingga kenyang dan basuhlah hatimu. Dari Anas bin Malik: Adalah Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Langit-langit (rumahku) dibelah ketika aku di Makkah, lalu Jibril ‘alaihissalam turun dan membelah dadaku kemudian membasuhnya dengan air zamzam, kemudian datang dengan bejana dari emas penuh dengan hikmah dan iman, lalu dituangkannya ke dadaku kemudian ditutupnya, kemudian dia mengambil tanganku dan naik ke langit dunia. Jibril berkata kepada penjaga langit dunia: Bukalah. Dia berkata: Siapa ini? Dia berkata: Jibril.”
- Sebaik-baik air di muka bumi, sebaik-baik air yang engkau minum agar menjadi dari sebaik-baik umat. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik air di muka bumi adalah air zamzam, di dalamnya terdapat makanan yang mengenyangkan, dan obat dari penyakit.”
- Orang munafik tidak minum hingga kenyang darinya. Dari Utsman bin Al-Aswad, menceritakan kepadaku Abdullah bin Abi Mulaikah berkata: Seorang laki-laki datang kepada Ibnu Abbas lalu berkata: Dari mana engkau datang? Dia berkata: Aku minum dari zamzam. Dia berkata: Apakah engkau meminumnya sebagaimana mestinya? Dia berkata: Bagaimana itu wahai Abu Abbas? Dia berkata: Jika engkau minum darinya, maka menghadaplah ke kiblat, sebutlah nama Allah, bernapaslah tiga kali, dan minumlah hingga kenyang, jika telah selesai maka pujilah Allah, karena sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya tanda perbedaan antara kami dan orang-orang munafik adalah bahwa mereka tidak minum zamzam hingga kenyang.”
Hadits ini adalah penyejuk mata bagi orang-orang yang ikhlas dan jujur, dan menjelaskan orang-orang munafik, maka berhati-hatilah, karena sesungguhnya zamzam adalah ujian bagi hatimu. Dan minum hingga kenyang adalah: banyak minum hingga lambung dan tulang rusuk mengembang, maka dikatakan: Si fulan minum hingga kenyang artinya: tulang rusuknya mengembang karena banyaknya minum.
- Air zamzam untuk apa yang diminum untuknya. Mengapa engkau minum dari zamzam? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Air zamzam untuk apa yang diminum untuknya.”
Al-Hakim At-Tirmidzi berkata kepada orang yang minum air zamzam:
Jika dia meminumnya untuk kenyang, Allah akan mengenyangkannya. Jika dia meminumnya untuk menghilangkan dahaga, Allah akan menghilangkan dahaganya. Jika dia meminumnya untuk kesembuhan, Allah akan menyembuhkannya. Jika dia meminumnya untuk akhlak yang buruk, Allah akan memperbaikinya. Jika dia meminumnya untuk kesempitan dada, Allah akan melapangkannya. Jika dia meminumnya untuk menghilangkan kegelapan dada, Allah akan meneranginya. Jika dia meminumnya untuk kekayaan jiwa, Allah akan menjadikannya kaya. Jika dia meminumnya untuk hajat, Allah akan mengabulkannya. Jika dia meminumnya untuk urusan yang menimpanya, Allah akan mencukupinya. Jika dia meminumnya untuk kesusahan, Allah akan menghilangkannya. Jika dia meminumnya untuk pertolongan, Allah akan menolongnya. Dan dengan niat apapun dia meminumnya dari pintu-pintu kebaikan dan kebaikan, Allah akan memberikan itu untuknya; karena dia meminta pertolongan dengan apa yang ditampakkan Allah Ta’ala dari surga-Nya sebagai pertolongan.
- Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Kami menamakannya (air yang) mengenyangkan -maksudnya zamzam- dan kami mendapatinya sebaik-baik penolong bagi keluarga.
- Wahab bin Munabbih berkata: Demi Dzat yang jiwa Wahab ada di tangan-Nya, tidaklah seseorang menuju kepadanya lalu meminumnya hingga kenyang melainkan akan menghilangkan penyakit dan menimbulkan kesembuhan.
Ibnu Qayyim ‘alaihi rahmatullah berkata: Aku dan selainku telah mencoba berobat dengan air zamzam dalam perkara-perkara yang mengagumkan, dan aku berobat dengannya dari beberapa penyakit lalu sembuh dengan izin Allah.
(10) Sa’i antara Shafa dan Marwah:
- Rahasia sa’i antara Shafa dan Marwah berdasarkan apa yang disebutkan dalam hadits, bahwa Hajar ibu Ismail ‘alaihissalam ketika keadaannya sangat sulit, dia berlari-lari di antara keduanya seperti larinya orang yang sangat kepayahan, maka Allah menghilangkan kepayahannya dengan memunculkan zamzam dan mengilhamkan keinginan kepada manusia untuk memakmurkan tempat itu. Maka wajib bersyukur atas nikmat itu atas anak-anaknya dan orang yang mengikuti mereka, dan mengingat mukjizat yang luar biasa itu agar membuat hati mereka takjub dan menunjukkan mereka kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu dalam hal ini seperti memperkuat ikatan hati dengan keduanya dengan perbuatan lahir yang teratur yang berbeda dengan kebiasaan kaum, di dalamnya ada kerendahan hati ketika pertama kali masuk Makkah, dan itu adalah menirukan apa yang dialaminya berupa kesulitan dan kepayahan, dan menirukan keadaan dalam hal seperti ini jauh lebih berpengaruh daripada perkataan lisan.
- Jika engkau mendekati Shafa, bacalah firman-Nya: “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 158), kemudian katakan: Kami memulai dengan apa yang Allah mulai dengannya. Kemudian mulailah dari Shafa lalu naiklah di atasnya hingga engkau melihat Ka’bah jika memungkinkan bagimu, dan menghadaplah ke Ka’bah dan bertauhidlah kepada Allah dan bertakbirlah dan katakan: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu yuhyii wa yumiitu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir, Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, anjaza wa’dahu wa nashara ‘abdahu wa hazamal ahzaaba wahdah. Ucapkan itu tiga kali, dan berdoalah di antara kalimat tahlil dengan doa yang engkau inginkan dari doa-doa yang ma’tsur. Kemudian turunlah untuk berlari-lari antara Shafa dan Marwah, maka berjalanlah menuju tanda yang diletakkan di sebelah kanan dan kiri, yaitu yang dikenal dengan lampu hijau, kemudian berlarilah dengan lari yang keras hingga tanda lainnya yang setelahnya, dan di masa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam di sana ada lembah Abthah yang di dalamnya terdapat kerikil halus, dan beliau bersabda: “Abthah tidak dilalui kecuali dengan berlari cepat.”
Kemudian berjalanlah mendaki hingga engkau sampai ke Marwah lalu naiklah di atasnya, dan lakukanlah di sana apa yang engkau lakukan di Shafa berupa menghadap Ka’bah, bertakbir, bertauhid, dan berdoa. Dan ini adalah satu putaran.
- Kemudian kembalilah hingga engkau naik ke Shafa, berjalanlah di tempat jalanmu dan berlarilah di tempat larimu, dan ini adalah putaran kedua, kemudian ke Marwah dan begitu seterusnya hingga sempurna bagimu tujuh putaran yang akhirnya di Marwah. Dan jika engkau berdoa dalam sa’i dengan ucapanmu: “Ya Tuhanku ampuni dan rahmatilah, sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Mulia lagi Maha Pemurah”, maka tidak mengapa, karena tsabit dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar, Al-Musayyab bin Rafi’, dan Urwah bin Az-Zubair.
Pemandangan Kehambaaan dalam Umrah:
Pemandangan Pertama: Merasakan Nikmat:
Tidak bisa tidak pada awalnya harus mengetahui karunia Allah kepadamu dengan mengizinkanmu melakukan umrah ini. Ka’bah adalah hujjah untukmu atau atasmu. Sang Raja Maha Agung memasukkanmu ke rumah-Nya.. Apakah engkau pantas untuk ini? Demi Allah tidak ada seorang pun dari makhluk yang pantas untuk itu, tetapi itulah karunia Allah Yang Maha Mulia. Dan seandainya Allah memperlakukan hamba-hamba dengan apa yang mereka pantas dapatkan, maka siapakah yang pantas dimasukkan Allah ke rumah-Nya?! Oleh karena itu, seharusnya engkau terus merasakan karunia-Nya kepadamu, bahwa Dia telah memuliakanmu dan memasukkanmu ke rumah-Nya, maka bersyukurlah atas itu.
Ka’bah adalah hujjah untukmu atau atasmu. Berapa banyak orang yang lebih kaya hartanya darimu, lebih sehat tubuhnya darimu, dan lebih tinggi semangatnya dalam mencari dunia, tetapi dia tidak pergi umrah, bukankah begitu? Dan berapa banyak orang yang memiliki harta yang banyak dan salah seorang dari mereka mampu mendapatkan visa umrah dalam satu jam saja sambil duduk di rumahnya, atau bahkan tidak memerlukan visa sama sekali karena dia penduduk aslinya, tetapi dia tidak diberi umrah, karena dia tidak peduli dengan itu, tidak tertarik dengan itu. Allah tidak melemparkan kerinduan itu ke dalam hatinya. Dia tidak memiliki kerinduan ke rumah Allah. Oleh karena itu, kita ingin kerinduan ke rumah Allah..
Suatu hari aku duduk di Masjidil Haram di depan Ka’bah dan tiba-tiba beberapa saudara berkata: Kemarilah wahai Syaikh tolong. Aku berkata: Ada apa? Mereka berkata: Ada seorang laki-laki yang kami ingin anda melihatnya, hanya satu menit, tidak akan mengambil banyak waktumu. Maka aku pergi bersama mereka, lalu aku menemukan seorang laki-laki tua berusia lanjut mengenakan pakaian ihram dan duduk di tanah. Mereka berkata: Orang ini thawaf hanya tiga putaran dari thawaf umrah dan tidak mau menyelesaikan tawafnya. Aku berkata kepadanya: Mengapa wahai haji? Apakah anda sudah melakukan umrah? Dia berkata: Belum. Aku berkata: Maka harus thawaf tujuh putaran. Dia berkata: Aku lelah. Aku berkata: Kalau begitu kami bawakan kursi roda untuk menyelesaikan thawaf. Dia berkata: Kenapa, apakah aku orang lumpuh cacat?!
Maka aku berkata: Tidak apa-apa, istirahatlah sebentar, tidurlah satu atau dua jam di hotel kemudian kembalilah untuk melakukan umrah dari awal lagi, atau selesaikan thawaf setelah engkau istirahat sekarang. Engkau bisa istirahat sepertiga jam dan selama jeda waktu tidak lama, lanjutkan thawaf dan tidak ada masalah. Ayolah selesaikan empat putaran lagi, maka dia berkata: Tidak, itu sudah cukup! Aku berkata: Kalau begitu pulanglah tetapi simpan pakaian ihram kemudian datanglah besok untuk melakukan umrah. Dia berkata: Tidak, aku sudah bosan dengan pakaian ini dan akan melepaskannya! Saat itu aku merasa akan gila.. Apa yang terjadi?! Berapa juta orang yang berharap datang ke sini dan tidak mampu, dan orang ini datang di depan Ka’bah dan tidak mau menyelesaikan umrahnya!!
Dan ketika aku duduk sendirian, aku berpikir tentang hal ini. Bagi Allah hujjah yang sempurna. Aku berkata: Ini termasuk dalam menegakkan hujjah Tuhan atas hamba, karena hamba terus berkata: Ya Tuhanku aku ingin umrah.. Aku berharap umrah.. Seandainya aku umrah maka aku akan mendapat hidayah dan keadaanku akan membaik. Dan agar dia tidak datang di hari kiamat dan berkata: Ya Tuhanku seandainya Engkau memberi taufik kepadaku untuk umrah niscaya aku mendapat hidayah, maka Allah berfirman kepadanya dengan peristiwa-peristiwa seperti ini: Bahkan Aku memberimu umrah, dan Aku membawamu hingga engkau sampai ke rumah-Ku, tetapi engkau tidak mendapat hidayah dan tidak membaik. Maka keberadaan Ka’bah, pergimu ke sana, dan umrahmu termasuk dalam menegakkan hujjah atasmu atau untukmu.
Pemandangan Kedua: Slogan Umrah .. Labbaik labbaik, jangan lupa melazimkan ketaatan dan ibadah:
Wahai saudara-saudaraku, apabila engkau pergi umrah, maka harus ada program yang engkau laksanakan. Engkau akan terkejut bahwa banyak orang menyia-nyiakan waktunya untuk hal yang tidak bermanfaat, tidak tahu akan pergi ke mana, tidak tahu akan berbuat apa, dan mencari Syekh Fulan dan Syekh Fulan seraya berkata: Aku melihat Syekh Fulan di sini. Dan engkau mendapati orang yang pergi berkeliling di jalan-jalan Mekah, dan sibuk dengan belanja dan telepon serta membeli pakaian dan oleh-oleh.
Untuk apa engkau datang?!! Pertanyaan ini harus mengendalikan perilaku kita. Untuk apa engkau datang?
Harus ada program: Berapa kali engkau akan tawaf dalam sehari? Dan jangan katakan kepadaku: Bagaimana aku memperbanyak tawaf dengan kepadatan ini? Bahkan tawaflah dan perbanyaklah tawaf.
Dan ketahuilah bahwa kepadatan itu adalah rahmat. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu pernah duduk di Masjidil Haram, lalu melihat seorang laki-laki tawaf sambil menggendong ibunya di atas kepalanya; maka ia segera berdiri dan tawaf di belakangnya. Kemudian setelah ia menyelesaikan tawafnya, ia berkata: Demi Allah, aku tidak berniat untuk tawaf namun ketika aku melihat orang ini tawaf sambil menggendong ibunya, aku mengira bahwa Allah akan menurunkan rahmat kepadanya; maka aku ingin agar aku mendapat sedikit darinya.
Oleh karena itu aku katakan kepadamu: Mungkin di antara orang-orang yang tawaf ini ada seorang laki-laki yang dirahmati sehingga rahmat turun kepadanya dan kepadamu. Engkau tidak tahu siapa yang akan dirahmati di antara semua orang ini, dan engkau tidak tahu siapa yang ikhlas di antara semua orang ini, engkau tidak tahu siapa di antara orang-orang ini yang Allah pandang dengan rahmat, maka jangan takut dengan kepadatan.
SEHARI DALAM KEHIDUPAN ORANG YANG UMRAH:
Susunlah untukmu sebuah program. Dan jika kita ingin menyusun program harian yang tetap, maka itu akan untuk orang-orang yang memiliki semangat tinggi yang menginginkan Firdaus tertinggi di surga, yang ingin kembali dari umrah dalam keadaan Tuhan mereka ridha kepada mereka; maka aku sarankan kepadamu:
- Tawaf empat kali dalam sehari.
- Membaca sepuluh juz setiap hari untuk mengkhatamkan setiap tiga hari.
- Shalat seratus rakaat dalam sehari.
- Istighfar seribu kali.
Dan aku tidak bermaksud seribu kali secara khusus melainkan untuk memperbanyak. Aku tidak bermaksud membatasi amal melainkan aku bermaksud memperbanyak amal. Jika engkau menjalani kehidupan imanmu seperti ini di Mekah selama umrah, engkau akan mencapai tujuan dari umrah, dan jauhilah kesibukan-kesibukan yang sia-sia di sana.
Aku ingin engkau ketika shalat di Masjidil Haram melihat Kakbah di hadapanmu. Tinggalkanlah mereka yang shalat di atap dengan alasan bahwa shaf tawaf penuh sesak dan ada wanita-wanita. Aku ingin Kakbah tetap di hadapan matamu sepanjang waktu agar ia memengaruhimu, mengobarkan perasaanmu, membangunkanmu, dan menyadarkanmu. Mendekatlah kepadanya, karena mungkin rahmat turun padanya maka engkau akan mendapat bagian darinya. Dan kedekatan dengan Kakbah juga membuatmu dalam kewibawaan dan penghormatan, membuatmu dalam keagungan dan kesopanan selamanya.
Dan aku mengingatkan kalian bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Dan shalat di Masjid Kakbah bernilai seratus ribu shalat di tempat selainnya”. Shalat di masjid bernilai seratus ribu shalat, dan di luar pintu Masjidil Haram bernilai satu.
Yang dimaksud: Buatlah untukmu sebuah program dan jangan biarkan dirimu mengikuti hawa nafsunya. Berkomitmenlah dan berlakulah dengan orang lain, dan bevaluasilah serta hisablah diri setiap malam. Dalam program ini engkau berniat untuk tawaf empat kali dalam sehari, ini paling sedikit. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa tawaf mengelilingi Baitullah sebanyak tujuh kali tanpa berbuat sia-sia di dalamnya, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu”. Berdirilah di hadapan Hajar Aswad dan angkat tanganmu untuk mengisyaratkan kepadanya, dan niatkanlah dengan hatimu untuk tawaf, dan jadikanlah dalam niatmu bahwa engkau akan tawaf agar Allah mengampuni dosamu yang telah lalu.
Dan engkau mendapati orang yang datang untuk bertanya: Jika aku menyentuh wanita dalam tawaf, apakah wudhuku batal atau tidak? Jika engkau merasa bahwa engkau menyentuhnya, berwudhulah. Tetapi pada dasarnya engkau tawaf dengan seluruh anggota tubuhmu sehingga engkau tidak merasakan apapun yang terjadi di sekelilingmu.
Tawaflah mengelilingi Kakbah, mengelilingi rumah Tuhanmu dan matamu tertuju pada Kakbah, dan bayangkanlah bagaimana Nabi Ibrahim membangun dan Ismail membantunya, dan bagaimana keadaannya ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam meletakkan Hajar Aswad. Ingatlah Abdullah bin Masud ketika ia dipukul saat membaca Surah Ar-Rahman. Engkau tawaf mengelilingi Kakbah dan teringat Nabi Musa ketika ia tawaf mengelilinginya.
Ingatlah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam ketika ia berbaring di bawah naungan Kakbah dan Khabbab bin Al-Aratt berkata kepadanya: Ya Rasulullah, tidakkah engkau berdoa untuk kami? Tidakkah engkau meminta pertolongan untuk kami?
Itulah kehidupan dan ini adalah iman. Itulah ketaatan. Ini adalah rasa dan kelezatan yang sesungguhnya.
Kita perlu tawaf di puncak terik dan tidak peduli walau sekali saja, dan dalam kegelapan malam dan tidak peduli dengan tidur, dan dalam kesesesakan kepadatan dan engkau merasa bahwa engkau tawaf sendirian. Hiduplah kehidupan ini wahai saudara-saudaraku. Hiduplah makna-makna ini. Tinggalkanlah kehidupan yang keruh yang kita jalani di sini, mari kita lepaskan diri darinya sebentar, dan mari kita hidup dengan makna-makna iman dengan hati kita. Satu rakaat di sana bernilai seratus ribu sebagaimana diberitakan Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan bersujudlah dan dekatkanlah dirimu (kepada Allah)” (Surah Al-Alaq: 19), dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Rabiah bin Kaab Al-Aslami: “Maka tolonglah aku atas dirimu dengan memperbanyak sujud”. Dan ia bersabda kepada Tsauban: “Hendaklah engkau memperbanyak sujud, karena sesungguhnya engkau tidak akan bersujud kepada Allah satu sujud melainkan Allah akan mengangkatmu dengannya satu derajat dan menghapuskan darimu dengannya satu kesalahan”.
Shalatlah seribu rakaat, shalatlah dua ribu rakaat, shalatlah sepuluh ribu. Dan di sana disunahkan untuk tidak memperpanjang shalat tetapi memperbanyak rakaat. Bukan dari pemahaman fiqih bahwa engkau memegang mushaf dan tetap sepanjang malam dalam dua rakaat, bahkan perbanyaklah jumlah rakaat.
Dan sungguh mengherankan bahwa engkau melihat orang yang duduk sementara imam dalam shalat. Imam shalat qiyam dan ia duduk berbicara tentang dunia. Bangunlah wahai anakku, shalatlah. Ia berkata kepadamu: Rasul shallallahu alaihi wasallam tidak menambah di Ramadhan maupun lainnya lebih dari sebelas rakaat. Dan ia terus berdebat dan keluar tanpa manfaat.
Tinggalkanlah dia.
Perbanyaklah shalat. Shalatlah shalat Dhuha dari setelah terbit matahari hingga sebelum Zhuhur sepertiga jam. Shalatlah lima puluh atau enam puluh rakaat dari Zhuhur hingga Ashar, dan dari Maghrib hingga Isya, dan dari Isya hingga Fajar. Shalatlah rakaat-rakaat yang banyak. Satu rakaat bernilai seratus ribu, dan engkau tidak tahu apa yang akan diterima? Mungkin satu sujud diterima maka engkau dirahmati karenanya. Shalatlah dan perbanyaklah shalat dan hayatilah makna-maknanya.
Pemandangan Ketiga: Engkau Di Sini Di Rumah-Nya, Maka Mintalah Dan Engkau DekaT:
Dan sungguh mengherankan bahwa engkau mendapati dalam tawaf sekelompok orang berjalan di belakang salah satu dari mereka yang memegang buku dan membaca doa-doa tawaf: doa putaran pertama, dan mereka mengulangi di belakangnya tanpa pemahaman apapun terhadap apa yang ia katakan: Apakah ia membaca ataukah ia berdoa? Apakah mereka hanya mengulangi ataukah mereka berdoa dan memohon kepada Allah Jalla Jalaaluh? Tinggalkanlah pembicaraan formal ini.
Aku ingin engkau berdoa dari hatimu. Katakanlah apa yang ada di hatimu. Mintalah kepada Allah apa yang engkau inginkan. Keluhkanlah kepada Tuhanmu. Katakanlah:
Ya Rabb, aku lelah, aku lemah, dan terfitnah. Ya Rabb, kemaksiatan-kemaksiatan yang aku lakukan ini, aku tidak tahu bagaimana aku berani melakukannya! Ya Rabb, genggamlah tanganku, Ya Rabb, terimalah taubatku. Ya Rabb, palingkanlah dari diriku keburukan dan kekejian dan kemaksiatan. Ya Rabb, selamatkanlah aku. Ya Rabb, jika Engkau meninggalkan aku, aku akan tersesat. Ya Rabb, tidak ada bagiku selain Engkau.
Katakanlah apa yang ada di dalam dirimu dan berdoalah kepada Allah dengan apa yang ada di hatimu dan tinggalkanlah kepura-puraan. Dan hayatilah keagungan tawaf, dan hayatilah ketika engkau tawaf dan matamu tertuju pada Kakbah bahwa engkau berbicara kepada Allah dari sekitar rumah-Nya. Ya Rabb, aku datang kepada-Mu di rumah-Mu, maka apakah Engkau akan mengusirku?!
Ya Rabb, sesungguhnya setiap orang yang dikunjungi akan memuliakan tamunya, dan aku telah datang kepada-Mu, maka apakah Engkau akan membiarkan aku kembali dengan dosa-dosaku sebagaimana aku datang dengannya?! Ya Rabb, Engkau Yang Maha Mulia, Engkau Yang Maha Agung, Engkau Yang Maha Penyantun.
Ya Rabb, ampunilah aku. Aku tidak akan kembali lagi ke rumahku terbebani dengan dosa-dosa. Jika tidak maka kematian di sini lebih baik bagiku. Ya Rabb, cabutlah ruhku, matikanlah aku, tetapi aku tidak akan kembali sebagaimana aku datang. Ya Rabb, aku datang kepada-Mu dan Engkau adalah Dokter yang mengobatiku.
Begitulah berbicaralah kepada Tuhanmu. Bermunajatlah kepada-Nya dan mintalah kepada-Nya. Keluhkanlah kepada-Nya.
Mulailah doamu dengan memuji Allah kemudian bershalawat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, karena sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam mendengar seorang laki-laki berdoa dalam shalatnya namun ia tidak memuji Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi-Nya, maka beliau bersabda: “Sungguh orang ini telah tergesa-gesa”. Sebelum engkau meminta sesuatu apapun dari Allah, mulailah dengan memuji dan memuliakan-Nya Subhanahu, dan bersyukurlah atas nikmat-nikmat-Nya, kemudian bershalawatlah kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam tiga kali, kemudian setelah itu mintalah.
Nabi shallallahu alaihi wasallam mengajarkan kita dalam doa qunut untuk mengucapkan: “Ya Allah, berilah aku petunjuk sebagaimana orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk”. Dialah yang memberi petunjuk kepada tukang-tukang sihir Firaun, Dia mampu memberi petunjuk kepada kita.
Maha Suci Sang Raja!! Si fulanah artis dan si fulan penyanyi; Allah memberi mereka petunjuk. Maka katakanlah: Ya Rabb, berilah aku petunjuk sebagaimana orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk. Ya Rabb, sebagaimana Engkau memberi petunjuk kepada mereka, berilah aku petunjuk. Dan sebagaimana Engkau menerima taubat mereka, terimalah taubatku. Dan sebagaimana Engkau memperbaiki mereka, perbaikilah aku. Merendahlah kepada Allah dan lunakkanlah suaramu dan menangislah kepada-Nya.
Dekatlah ke Kakbah dan berdirilah di bawah pintu di Multazam dan bergantuglah, dan berbicaralah dari bawah ambang pintu, pintu Kakbah. Luapkanlah kesusahanmu kepada Tuhanmu. Masukkan kepalamu ke Hajar Aswad dan ciumlah dan menangislah. Kemudian shalatlah dua rakaat di Hijr Ismail seakan-akan engkau di dalam Kakbah. Dan bersandarlah pada Kakbah dan katakanlah: Ya Rabb, aku menyerahkan punggungku kepada-Mu, dan aku menghadapkan wajahku kepada-Mu, dan aku menyerahkan urusanku kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tidak ada tempat melarikan diri dari-Mu kecuali kepada-Mu.
Begitulah hiduplah kehidupan imanmu; tawaf dan shalat, dan membaca Quran serta dzikir dan doa. Di sana dalam umrah Ramadhan ada amalan-amalan istimewa yang mewakili loncatan dalam iman. Engkau menyendiri sendirian, engkau meninggalkan istrimu dan anak-anakmu dan keluargamu dan engkau datang ke sini di Masjidil Haram maka harus engkau mengatur waktumu, terutama dengan tidak adanya masalah-masalah padamu sekarang.
Dan di sini tampaknya bagi sebagian orang untuk bertanya: Mana yang lebih baik: seseorang berhaji dengan teman atau berumrah dengan teman, ataukah sendirian? Tidak diragukan bahwa persahabatan itu membantu, dan persaingan itu bermanfaat, dan tindak lanjut itu menyemangati. Tetapi menyendiri adalah yang lebih utama. Oleh karena itu engkau dapat menggabungkan antara dua perkara, bahwa engkau duduk bersama mereka pada waktu berbuka, bahwa engkau melihat mereka dalam shalat jamaah, dan selain itu sendirilah jauh dari mereka. Duduklah di antara orang-orang yang tidak ada seorangpun yang mengenalmu di antara mereka. Duduklah sendirian, dan mulailah dalam amal bahkan amalan-amalan yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya dalam hidupmu, sebagaimana yang dilakukan Utsman bin Affan radhiyallahu anhu. Ia mengkhatamkan Quran dalam satu rakaat yang ia gunakan untuk witir di Hijr.
BABAK KEEMPAT: LONCATAN-LONCATAN IMAN
Harus ada loncatan-loncatan iman, dan kesempatanmu di sana dalam umrah adalah yang terbaik agar kamu bisa keluar dari sumur kekurangan, dan pengalaman penyesalan, dan dari lembah kelalaian, dan dari lembah kemaksiatan. Harus ada loncatan-loncatan iman yang mengangkatmu tinggi untuk keluar dari kelalaian-kelalaian yang beruntun ini.
Pertama: Khatam Al-Qur’an dalam Satu Rakaat
Di waktu-waktu dan tempat-tempat ini, khatamlah Al-Qur’an dalam satu malam sebagaimana yang dilakukan Utsman. Mungkin kamu akan berkata kepadaku: Apakah ini mungkin?! Apakah mungkin mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu malam?! Aku katakan: Ya, dan ini adalah perbuatan Utsman.
Mintalah pertolongan kepada Allah dan Allah akan memberimu taufik untuk itu. Bacalah setelah Fajar, setelah Zhuhur, setelah Ashar, setelah Maghrib, dan setelah Isya, kamu akan mengkhatamkan satu khataman dengan santai dan tenang. Lakukanlah sekali, sesungguhnya kamu membutuhkan loncatan seperti ini. Loncatan besar dalam amal-amal keimanan agar kamu terbebas dari belenggu dosa-dosa yang kamu hidupi.
Kedua: Thawaf dan Shalat
Juga di antara loncatan-loncatan yang dituntut adalah kamu melakukan thawaf tujuh putaran kemudian shalat dua rakaat, kemudian thawaf tujuh putaran lagi dan dua rakaat, kemudian tujuh putaran lagi dan dua rakaat, demikian sepanjang malam dari setelah Isya hingga Fajar, kamu hanya berada dalam thawaf saja. Benar kakimu akan sakit, dan kamu akan merasakan sakit di punggungmu dan mungkin akan mengalami sakit kepala, tetapi ini sekali untuk Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung.
Ketiga: Qiyamul Lail Seratus Rakaat
Di antara loncatan-loncatan yang dituntut juga adalah kamu shalat dari Isya hingga Fajar dua rakaat dua rakaat, dan melampaui batas seratus rakaat untuk mencatat dirimu di sisi Sang Raja dalam golongan orang-orang yang terdahulu lagi menang, karena kamu menyebut Allah maka Allah menyebutmu.
Keempat: Sedikitnya Tidur
Di antara loncatan-loncatan iman juga adalah kamu mengurangi jam tidurmu semampumu. Semoga Allah merahmati para guru kami, dahulu kami biasa menjalani tiga puluh hari Ramadhan di Ka’bah hanya dengan kurma dan air zamzam saja.
Makanan yang ringan yang tidak membutuhkan kamar kecil dan tidak mengalami sakit perut, dan tidak merasa banyak tidur, bahkan kamu merasakan keringanan dan kelembutan. Dan saya selalu mengatakan: Seandainya tidak ada bahaya dalam banyak makan kecuali banyaknya masuk kamar kecil, niscaya itu sudah cukup.
Kelima: Loncatan Kehidupan
Kami menginginkan loncatan yang nyata dalam kehidupanmu secara umum. Cobalah berhenti dari teh selama sebulan, tinggalkan makan daging selama sebulan, tidak akan terjadi apa-apa padamu, kamu tidak akan mati. Harus ada loncatan dalam kehidupan imanmu. Buatlah hal-hal yang belum pernah kamu lakukan sebelumnya. Shalatlah dengan shalat Nabi shallallahu alaihi wa sallam di malam hari. Shalatlah di rakaat pertama dengan Al-Baqarah, Ali Imran, dan An-Nisa, dan jadikan rukukmu seperti itu dan sujudmu seperti itu. Kemudian kamu shalat rakaat kedua dengan Al-Maidah dan Al-An’am, maka kamu menghabiskan malam dalam dua rakaat mengamalkan sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana yang tetap dalam hadits Hudzaifah dalam Shahihain.
Lakukanlah walau hanya sekali dalam hidupmu.
BABAK KELIMA: MERASA DEKAT DENGAN ALLAH
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Umrah di bulan Ramadhan menyamai haji bersamaku.” Bukan hanya sekedar haji, tetapi haji bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Kamu merasakan saat kamu melaksanakan umrah di bulan Ramadhan bahwa kamu bersama Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Ketika kamu merasakan bahwa kamu berhaji bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam, kamu merasakan kedekatan. Dan sering kali saya katakan: Para ulama berkata: Sesungguhnya dalam makna-makna iman ada tanda-tanda di jalan, barangsiapa yang tidak melihatnya maka sesungguhnya dia tidak pernah berjalan, tidak menempuh jalan.
Tanda pertama dari itu: merasa dekat dengan Allah. Barangsiapa yang tidak merasakan kedekatan maka dia tidak berjalan di jalan, karena sesungguhnya tanda pertama di jalan adalah merasa dekat dengan Allah. Tanda ini jika kamu merasakannya, kamu akan tenang bahwa kamu sedang berjalan di jalan. Kami memohon kepada Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung agar memberikan kami rasa dekat dengan-Nya. Dan tanda merasa dekat dengan-Nya adalah merasa jauh dari makhluk. Maka kamu tidak merasa dekat dengan manusia, kamu mencintai kesunyian, dan menyendiri dari manusia agar kamu merasa dekat dengan Allah, terutama saat kamu berada di rumah-Nya di sisi-Nya Yang Maha Suci. Kamu datang kepada-Nya lari dari manusia, berhijrah kepada-Nya, meminta perlindungan iman agar Dia melindungimu. Rasakan maknanya kemudian mintalah dengan mendesak, kamu akan menemukannya.
BABAK KEENAM: MENGAGUNGKAN URUSAN RAMADHAN
Ramadhan adalah bulan yang agung lagi mulia. Dalam hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menulis pahalanya, rahmat-Nya, dan berkah-Nya untuk manusia sebelum mereka memasukinya.” Allah menulis rahmat-Nya untuk manusia di bulan Ramadhan sebelum masuknya Ramadhan, dan menulis dosanya, kesengsaraannya, dan kekurangannya sebelum mereka memasukinya. Allah menulis siapa yang akan dirahmati dan siapa yang akan terhalang. Maka termasuk mengagungkan urusan Ramadhan adalah kamu mencari tempat-tempat rahmat. Jika kamu pergi ke Ka’bah, berkumpullah bagimu kemuliaan tempat, kemuliaan waktu, dan pelipatan amal. Bukan hanya puasa yang dilipatgandakan, tetapi ada qiyam, dzikir, tilawah Al-Qur’an, thawaf, memberi makan, dan amal-amal kebaikan dan takwa yang tidak terhitung jumlahnya. Dan minum air zamzam, sa’i antara Shafa dan Marwah, mencium Hajar, shalat di Hijr, menyentuh Rukun Yamani, berdiri di Multazam, shalat di belakang Maqam, shalat di Hijr Ismail. Semua amal ini tidak mudah kecuali di sana. Oleh karena itu kita berumrah di bulan ini mencari berkah amal-amal tersebut yang berkumpul di sana. Maka rasakan dalam hatimu bahwa kamu datang ke sini dan melakukan semua perbuatan ini mencari pengagungan bulan yang agung ini karena Allah mengagungkannya.
Masalah Tinggal di Makkah Lebih Utama daripada Tinggal di Madinah
Kamu mendapati sebagian orang berkata: Aku akan menyelesaikan umrah kemudian pergi ke Madinah karena Makkah penuh sesak, dan aku merasa lebih nyaman hatiku di Madinah.
Ini adalah masalah yang penentuannya berdasarkan hawa nafsu, masalah meniru manusia dan mengikuti perkataan orang awam bahwa Madinah lebih nyaman daripada Makkah, dan ini adalah pemahaman yang salah, dan termasuk tipu daya Iblis.
Kita tidak ingin larut mengikuti perkataan manusia, harus perkataan kita terkendali dengan syariat: Di Makkah ada Ka’bah rumah Allah, dan di Madinah ada masjid Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Tidak pantas kita mencampur antara hak Allah dengan hak Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Rasul shallallahu alaihi wa sallam berdoa untuk Madinah maka beliau bersabda: “Ya Allah, cintakanlah kepada kami Madinah seperti cinta kami kepada Makkah atau lebih.” Dan beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya Ibrahim mengharamkan Makkah dan aku mengharamkan Madinah.” Maka doanya agar Madinah seperti Makkah, dan perbandingan antara Makkah dan Madinah jelas. Shalat di Makkah dengan seratus ribu, dan di Madinah dengan seribu. Mana yang lebih menguntungkan?
Sesungguhnya kamu mendapati dalam kitab Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung pujian yang sempurna atas Masjid Ka’bah. Di mana yang sepadan dengannya di masjid Rasul shallallahu alaihi wa sallam?! Dan aku dengan ini tidak meremehkan urusan masjid Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, aku berlindung kepada Allah. Tetapi kami meletakkan sesuatu pada tempatnya yang benar, kami memberikan setiap sesuatu ukurannya yang pantas, dan ini termasuk keadilan yang Allah perintahkan kepada kami, dan termasuk pemahaman yang kami inginkan untuk menunjukkan umat kepadanya agar tidak terlewatkan pahala yang agung. Bukankah Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda di Makkah: “Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah negeri Allah yang paling dicintai Allah, dan negeri Allah yang paling aku cintai.” Dan Masjidil Haram adalah masjid pertama yang diletakkan di muka bumi, dan tidak ada tempat di bumi yang disyaratkan untuk memasukinya harus ihram dan menanggalkan pakaian kecuali Makkah.
Sesungguhnya Makkah adalah Makkah, dan Madinah adalah Madinah. Maka tentukan tujuanmu dari umrahmu dan jangan memilih apa yang sesuai hawa nafsumu, tetapi pilihlah apa yang terbaik bagimu di akhiratmu. Sesungguhnya kami mencintai masjid Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bukan hanya karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam saja, tetapi kami mencintainya untuk Allah sejak awal. Urusan-urusan ini harus terkendali dengan kendali yang benar, tidak ada sikap berlebihan di dalamnya dan tidak ada sikap melalaikan.
Maka itikafmu di Makkah berbeda dengan itikafmu di Madinah. Shalatmu di Makkah berbeda dengan shalatmu di Madinah. Jangan kamu sangka bahwa aku dengan itu melarangmu pergi ke Madinah, tidak sama sekali. Bahkan disunahkan mengunjungi masjid Rasul shallallahu alaihi wa sallam maka bersemangatlah untuk itu. Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung lagi Maha Mulia agar memberikan kami secara berturut-turut antara haji dan umrah, dan agar memberikan kami umrah di bulan Ramadhan selalu dan tidak menghalangi kami darinya, dan agar memberikan kami keikhlasan di dalamnya.
Duduklah di tepi lembah sahur, semoga unta kaum itu melewatimu. Dari mereka merpati belajar merintih dan unta belajar merindukan. Dan betapa sedihnya orang yang duduk jauh dari mereka, dan betapa sesalnya orang yang jauh dari mereka.
SEMILIR ANGIN SAHUR
Allah Ta’ala berfirman: Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sejumlah hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur (185). Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran. (Al-Baqarah: 185-186)
Allah Ta’ala berfirman: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran. (Al-Baqarah: 186)
Di tengah rangkaian ayat-ayat yang berbicara tentang puasa, kita mendapati perhatian yang mengagumkan kepada kedalaman jiwa dan rahasia batin, kita mendapati ganti yang sempurna lagi dicintai lagi diinginkan atas kesulitan puasa, dan balasan yang disegerakan atas ketundukan kepada Allah. Kita mendapati ganti itu dan balasan ini dalam kedekatan dengan Allah, dan dalam dikabulkannya doa, yang digambarkan dengan lafal-lafal yang transparan yang hampir bersinar: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.
Maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Ayat kelembutannya?! Dan perhatian yang bagaimana?! Dan transparansi yang bagaimana?! Dan keramahan yang bagaimana?!
Dan di mana letak kesulitan puasa dan kesulitan setiap taklif di bawah naungan kasih sayang ini, dan naungan kedekatan ini?! Dan naungan keramahan ini?!
Dan dalam setiap lafal dalam ayat semuanya terdapat kesegaran yang dicintai: penambahan hamba-hamba kepada-Nya Yang Maha Suci, dan jawaban langsung kepada mereka dari-Nya Yang Maha Suci. Dia tidak berfirman kepada mereka: Maka katakanlah kepada mereka sesungguhnya Aku dekat. Tetapi Dia sendiri yang memberikan jawaban dengan Dzat-Nya Yang Maha Tinggi kepada hamba-hamba-Nya begitu ada pertanyaan. Dekat. Dan Dia tidak berfirman: Aku mendengar doa. Tetapi Dia menyegerakan mengabulkan doa: Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.
Sungguh ayat yang mengagumkan. Ayat yang menuangkan ke dalam hati mukmin kesegaran yang manis, dan kasih sayang yang menenangkan, dan ketenangan yang tenang, dan kepercayaan dan keyakinan. Dan hidup darinya mukmin dalam kemuliaan keridhaan dan kedekatan yang segar, dan tempat berlindung yang aman dan tempat tinggal yang kokoh.
Dan dalam naungan kedekatan yang dicintai ini, dan kedekatan yang penuh kasih sayang ini, dan pengabulan yang cepat dari Allah, Allah Ta’ala mengarahkan hamba-hamba-Nya untuk memenuhi (perintah)-Nya, dan beriman kepada-Nya, semoga ini menuntun mereka kepada petunjuk dan hidayah dan kebaikan. Maka buah terakhir dari memenuhi (perintah) adalah untuk mereka juga, yaitu petunjuk dan hidayah dan kebaikan. Karena Allah Maha Kaya dari seluruh alam.
Dan petunjuk yang dihasilkan iman dan dihasilkan memenuhi (perintah) Allah adalah petunjuk yang diperlukan untuk kehidupan yang bahagia yang meridhai Allah. Dan dikabulkannya (doa) Allah kepada hamba-hamba diharapkan ketika mereka memenuhi (perintah)-Nya dan mereka mendapat petunjuk. Dan mereka harus berdoa kepada-Nya dan tidak tergesa-gesa, karena Dia menentukan pengabulan pada waktunya dengan takdir-Nya Yang Maha Bijaksana. Maha Suci Dzat yang memberikan harapan kepada orang yang taat dan yang bermaksiat, dan yang dekat dan yang jauh dalam kelapangan dada menuju hadirat kemuliaan-Nya dengan mengangkat kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan dengan firman-Nya: Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.
Ayat ini menunjukkan pengagungan keadaan doa dari beberapa sisi:
Pertama: Seakan-akan Dia Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi berfirman: Hamba-Ku, engkau hanya membutuhkan perantara di waktu selain waktu doa. Adapun dalam posisi doa maka tidak ada perantara antara-Ku dan engkau.
Kedua: Bahwa firman-Nya Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu menunjukkan bahwa hamba itu milik-Nya, dan firman-Nya: maka sesungguhnya Aku dekat menunjukkan bahwa Rabb adalah untuk hamba.
Ketiga: Dia tidak berfirman: Maka hamba itu dekat dari-Ku, tetapi berfirman: Aku darinya dekat. Dan lihatlah kemuliaan Yang Maha Pemurah yang jika tidak diminta Dia marah. Allah Ta’ala berfirman: Maka mengapa ketika azab Kami menimpa mereka, mereka tidak (segera) merendahkan diri? Tetapi hati mereka telah menjadi keras, dan setan telah menjadikan mereka memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan. (Al-An’am: 43) Dan Allah Ta’ala berfirman: Katakanlah (Muhammad), “Tuhanku tidak akan mengindahkan kamu, jika bukan karena doamu. Tetapi kamu telah mendustakan (Rasul), maka kelak (azab) pasti akan menimpamu.” (Al-Furqan: 77) Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, Allah akan marah kepadanya.”
Maka doa adalah kehinaan dan ketundukan, dan kekhusyukan dan merendahkan diri di pintu Yang Maha Mulia. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Mulia, Dia malu jika seorang hamba mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian mengembalikannya dengan hampa dan kecewa.”
Dan jika bukan Ramadhan waktu doa yang dikabulkan, maka di bulan apa doa itu? Dan itu adalah waktu bibir yang kering dan ketaatan yang sempurna, dan perut-perut yang lapar, waktu turunnya malaikat, waktu terbukanya pintu-pintu rahmat dan pintu-pintu langit.
Tetapi pintu-pintu langit membutuhkan kunci-kunci yang terbuka dengannya. Karena sesungguhnya Allah Yang Maha Agung lagi Maha Mulia dengan hikmah dan rahmat-Nya menjadikan untuk setiap sesuatu sebab, dan memerintahkan kami mengambil sebab-sebab agar kami sampai kepada kehendak-Nya Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi tanpa kami bergantung kepadanya. Karena Dia Yang Maha Suci Maha Kaya dari sebab-sebab, tetapi itu termasuk sunnah-sunnah Allah Yang Rabbani bahwa permulaan dari hamba dalam menampakkan kefakiran dan kebutuhan dan Allah menyempurnakan untuknya dan memberinya lebih dari yang diinginkannya.
Oleh karena itu para ulama mengumpulkan untuk doa adab-adab dan sebab-sebab yang diharapkan bagi siapa yang berkomitmen dengannya bahwa doanya mendapat penerimaan. Aku ingin sebelum kita berdoa dan sebelum aku menyebutkan kepadamu sebagian dari mata air doa orang-orang saleh, aku menyebutkannya kepadamu terlebih dahulu.
ADAB-ADAB DOA
(1) Memilih Waktu-Waktu Mulia untuk Berdoa
Hendaknya seseorang memperhatikan waktu-waktu mulia untuk berdoanya, seperti hari Arafah dalam setahun, bulan Ramadan dalam setahun, hari Jumat dalam seminggu, dan waktu sahur dari jam-jam malam.
(2) Memanfaatkan Keadaan-Keadaan Mulia
Berikut ini beberapa waktu dan keadaan di mana doa dikabulkan:
* Waktu Turunnya Allah
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya pada malam hari ada satu waktu, tidaklah seorang hamba muslim bertemu dengannya lalu meminta kepada Allah Taala padanya suatu kebaikan dari urusan dunia dan akhirat, melainkan Allah memberikannya kepadanya, dan yang demikian itu terjadi setiap malam.”
* Dalam Sujud
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Adapun sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, karena sungguh layak doa kalian dikabulkan.”
* Tidur dalam Keadaan Berdzikir Lalu Bangun di Malam Hari dan Berdoa
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim yang tidur dalam keadaan berdzikir dalam keadaan suci, lalu bangun di malam hari dan meminta kepada Allah Taala kebaikan dari urusan dunia dan akhirat, melainkan Allah memberikannya kepadanya.”
* Saat Adzan
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apabila dikumandangkan adzan untuk shalat, maka terbuka pintu-pintu langit dan doa dikabulkan.”
* Antara Adzan dan Iqamah
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Doa antara adzan dan iqamah tidak ditolak.”
* Saat Turunnya Hujan, Saat Bertemunya Dua Pasukan, dan Saat Iqamah Shalat
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Carilah pengabulan doa saat bertemunya dua pasukan, iqamah shalat, dan turunnya hujan.”
* Jam Terakhir dari Siang Hari Jumat
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Hari Jumat ada dua belas jam, di antaranya ada satu jam, tidaklah seorang hamba muslim yang meminta kepada Allah Taala padanya sesuatu melainkan Allah memberikannya kepadanya, maka carilah waktu itu pada jam terakhir setelah Ashar.”
* Doa Saudara untuk Saudaranya Tanpa Sepengetahuannya
Doa seorang muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya adalah doa yang mustajab. Di sisi kepalanya ada malaikat yang ditugaskan, setiap kali dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat yang ditugaskan itu berkata: Aamiin, dan semoga engkau juga mendapat yang serupa.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Doa seorang saudara untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya tidak ditolak.”
* Doa Orang yang Bepergian, Orang yang Teraniaya, Orang Tua untuk Anaknya, dan Doa Orang yang Berpuasa
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tiga doa yang mustajab: doa orang yang berpuasa, doa orang yang teraniaya, dan doa orang yang bepergian.”
* Tidak Tergesa-gesa
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Doa salah seorang dari kalian dikabulkan selama dia tidak tergesa-gesa, dia berkata: Aku telah berdoa tetapi tidak dikabulkan bagiku.”
* Doa di Bulan Ramadan
Karena Ramadan adalah waktu puasa dan waktu yang mulia, dan ada hubungan erat antara terbukanya pintu-pintu langit dan pintu-pintu rahmat dengan pengabulan doa, dan hal itu terjadi di bulan Ramadan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Allah memiliki orang-orang yang dimerdekakan pada setiap siang dan malam, setiap hamba di antara mereka memiliki doa yang mustajab.”
(3) Berdoa Menghadap Kiblat dan Mengangkat Tangan ke Langit
(4) Merendahkan Suara Antara Berbisik dan Bersuara Keras
Allah Taala berfirman: “Katakanlah: Berdoalah kepada Allah atau berdoalah kepada Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu berdoa, Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Asmaul Husna). Dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah (pula) merendahkannya, dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (Surat Al-Isra: 110). Aisyah radhiyallahu anha berkata: Yaitu dalam doamu. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya Dzat yang kalian seru itu tidaklah tuli dan tidak pula ghaib.”
(5) Tidak Dibuat-buat Sajak dalam Doa
Berdoalah dengan lisan kehinaan dan kefakiran, bukan dengan lisan kefasihan dan keterampilan berbicara.
(6) Bertadharru’ (Merendahkan Diri), Khusyu’, Penuh Harap, dan Penuh Takut
(7) Bersungguh-sungguh dalam Doa, Yakin akan Pengabulan, dan Benar-benar Berharap Padanya
Sufyan bin Uyainah berkata: Janganlah salah seorang dari kalian dicegah dari berdoa oleh apa yang dia ketahui dari dirinya sendiri, karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mengabulkan doa makhluk yang paling jahat yaitu Iblis lanatullah alaihi. “Iblis berkata: Ya Tuhanku, berilah aku tangguh sampai hari mereka dibangkitkan. (36) Allah berfirman: Maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh.” (Surat Al-Hijr: 36-37).
(8) Bersungguh-sungguh dalam Doa, Membesarkan Permintaan, dan Mengulangi Doa Tiga Kali
Ibnu Mas’ud berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam apabila berdoa, beliau berdoa tiga kali, dan apabila meminta, beliau meminta tiga kali. Dan beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian berangan-angan, maka hendaknya dia memperbanyak, karena sesungguhnya dia meminta kepada Tuhannya.”
Al-Munawi berkata: Apabila salah seorang dari kalian berangan-angan kebaikan dari kebaikan dua negeri (dunia dan akhirat), maka hendaknya dia memperbanyak angan-angan, karena sesungguhnya dia meminta kepada Tuhannya yang telah mendidiknya dan memberinya nikmat serta berbuat baik kepadanya. Maka hendaknya dia membesarkan keinginan dan meluaskan permintaan, dan meminta kepada-Nya yang banyak dan yang sedikit hingga tali sandal, karena sesungguhnya jika Dia tidak memudahkannya maka tidak akan mudah. Maka sepatutnya bagi peminta untuk memperbanyak permintaan dan tidak mempersingkat serta tidak membatasi, karena sesungguhnya perbendaharaan kemurahan-Nya mengalir siang dan malam, dan tidak akan habis oleh pemberian, sekalipun besar dan agung. Karena pemberian-Nya ada di antara huruf Kaaf dan Nuun. Dan hal ini tidak bertentangan dengan firman Allah: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.” (Surat An-Nisa: 32), karena yang itu adalah larangan dari berangan-angan apa yang dimiliki saudaranya karena iri dan dengki, sedangkan ini adalah berangan-angan kepada Allah kebaikan dalam agama dan dunianya serta meminta dari perbendaharaan-Nya.
(9) Memulai Doa dengan Menyebut Allah dan Memuji-Nya, serta Mengakhirinya dengan Shalawat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
Rasulullah bersabda: “Setiap doa terhalang hingga seseorang bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam.”
Abu Sulaiman Ad-Darani rahimahullah berkata: Barangsiapa ingin meminta hajat kepada Allah, maka hendaknya dia memulai dengan shalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, kemudian meminta hajatnya, kemudian mengakhiri dengan shalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menerima kedua shalawat itu, dan Dia lebih mulia dari membiarkan apa yang ada di antara keduanya.
(10) Adab Batiniah, yang Merupakan Pokok dalam Pengabulan
Yaitu bertaubat, mengembalikan hak-hak yang terzhalimi, dan menghadap kepada Allah Azza wa Jalla dengan sungguh-sungguh. Itulah sebab yang paling dekat untuk pengabulan.
Malik bin Dinar berkata: Sesungguhnya kalian menunggu terlalu lama turunnya hujan, sedangkan aku menunggu terlalu lama (turunnya) batu. Maksudnya: turunnya batu (siksa).
Dan Ibnu Mubarak berkata: Aku datang ke Madinah pada tahun yang sangat kering. Maka orang-orang keluar meminta hujan, lalu aku keluar bersama mereka. Tiba-tiba datang seorang budak hitam, lalu dia duduk di sampingku. Aku mendengarnya berkata: Ilahi… wajah-wajah telah menjadi buruk di sisi-Mu karena banyaknya dosa dan kejelekan amal. Dan Engkau telah menahan dari kami hujan dari langit untuk mendidik hamba-hamba-Mu dengan itu. Maka aku memohon kepada-Mu wahai Dzat Yang Maha Penyantun lagi Penyabar, wahai Dzat yang hamba-hamba-Nya tidak mengenal dari-Nya kecuali yang baik, agar Engkau menurunkan hujan kepada mereka sekarang juga. Maka dia terus berkata: Sekarang juga, sekarang juga, hingga langit tertutup awan dan hujan datang dari setiap penjuru. Ibnu Mubarak berkata: Lalu aku datang kepada Fudhail, maka dia berkata kepadaku: Mengapa aku melihatmu sedih? Aku berkata: Ada urusan yang orang lain mendahului kita padanya lalu dia mengurusnya tanpa kita. Lalu aku ceritakan kepadanya kejadian itu, maka Fudhail terjatuh pingsan.
Saudara-saudaraku…
Doa, munajat, merendahkan diri, dan memerlukan (Allah) di waktu sahur adalah ibadah yang memiliki kelezatan tersendiri. Dan di bulan Ramadan ia memiliki rasa yang lain, ia memiliki cita rasa khusus di bulan Ramadan. Dan orang yang beruntung adalah orang yang bangun di waktu sahur bermunajat kepada Tuhannya dan berharap kepada-Nya, agar dapat menghirup hembusan kedekatan dengan Allah. Maka demi Allah kemudian demi Allah, seandainya engkau mencium hembusan waktu sahur, niscaya bangunlah hatimu yang mabuk.
Dan dalam bab ini, dengan menangisi diri, berharap kepada karunia Allah, takut dari neraka dan meminta surga, kami akan memaparkan contoh-contoh harum dari munajat dan doa-doa para salaf yang agung, agar kita belajar bagaimana kita berharap kepada Tuhan kita dan membuka (pintu rahmat) di sisi-Nya dengan doa. Dan kami tidak memaparkan doa-doa Al-Quran Al-Karim dan Sunnah, karena dengan karunia Allah hal itu sudah dikenal dan terkenal bagi kalian.
Saudara-saudaraku…
Yahya bin Mu’adz Al-Wa’izh berkata: Beruntunglah seorang hamba yang ibadah menjadi pekerjaannya, kefakiran menjadi cita-citanya, uzlah (menyendiri) menjadi syahwatnya, akhirat menjadi perhatiannya, mencari penghidupan secukupnya saja, menjadikan kematian sebagai pikirannya, menyibukkan diri dengan kezuhudan sebagai niatnya, mematikan kebanggaannya dengan kehinaan, menjadikan kebutuhan hanya kepada Tuhan, mengingat di waktu-waktu sepi akan kesalahannya, mengalirkan air mata di pipinya, mengadukan kepada Tuhannya keterasingannya, meminta kepada-Nya rahmat dengan taubat. Dan beruntunglah orang yang demikian sifatnya, dan penyesalannya atas dosa-dosa, merintih siang dan malam, dan menangis kepada Allah di waktu sahur, bermunajat kepada Ar-Rahman, meminta surga, dan takut dari neraka.
Saudara-saudaraku…
Seandainya kalian melihat orang-orang yang memiliki hati dan rahasia, dan mereka telah mengambil persiapan untuk beribadah di waktu sahur, dan mereka berdiri di tempat berdiri dalam ketakutan dengan sikap meminta maaf. “Mereka takut akan suatu hari yang (pada hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.”
Mereka telah menekadkan untuk berpuasa padahal belum datang siang hari, mereka memenjarakan lisan-lisan maka tidak ada di antara mereka yang berbicara sia-sia, dan mereka menundukkan pandangan mereka dan melekatkan menundukkan pandangan. Maka lihatlah pujian kepada mereka sampai di mana berakhir dan menjadi. Kesedihan-kesedihan mereka adalah kesedihan orang yang kehilangan yang tidak punya kesabaran, dan air mata mereka seandainya bukan karena kehati-hatian niscaya dikatakan seperti sungai-sungai, dan wajah-wajah mereka dari ketakutan telah meliputinya warna kuning, dan kegelisahan telah mengelilingi mereka dan berputar. “Mereka takut akan suatu hari yang (pada hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.”
Mereka bersungguh-sungguh dalam perjalanan mereka kepada Pencipta mereka, dan mereka meridhai diri mereka sendiri dengan memperbaiki akhlak mereka. Maka tiba-tiba mereka telah dilelehkan oleh kesedihan kerinduan mereka. Tahukah engkau apa yang menahanmu dari mengikuti mereka: cinta dirham dan dinar.
Semoga Allah membangunkan kita dan kalian dari tidur ini dan memberikan kepada kita untuk mengikuti jiwa-jiwa yang berbuat baik, dan memberikan kepada kita di dunia kebaikan, dan di akhirat kebaikan, dan melindungi kita dari azab neraka.
Dari Doa-doa Salaf dan Munajat Mereka:
- Ya Tuhanku, alangkah bijaksana-Mu, alangkah mulia-Mu, alangkah dermawan-Mu, alangkah penyayang-Mu, alangkah pengasih-Mu, alangkah adil-Mu, alangkah dekat-Mu, alangkah kuasa-Mu, alangkah perkasa-Mu, alangkah luas-Mu, alangkah memenuhi-Mu, alangkah jelas-Mu, alangkah bercahaya-Mu, alangkah lembut-Mu, alangkah mengetahui-Mu, alangkah mengetahui-Mu, alangkah bersyukur-Mu, alangkah penyantun-Mu, alangkah bijaksana-Mu, alangkah penyayang-Mu dan kemuliaan-Mu..
- Ya Tuhanku, alangkah tinggi hujjah-Mu dan alangkah banyak pujian untuk-Mu, ya Tuhanku alangkah jelas kitab-Mu dan alangkah keras siksa-Mu, ya Tuhanku alangkah mulia tempat kembali kepada-Mu dan alangkah baik pahala-Mu, ya Tuhanku alangkah besar pemberian-Mu dan alangkah agung pujian-Mu, ya Tuhanku alangkah baik cobaan-Mu dan alangkah sempurna nikmat-Mu, ya Tuhanku alangkah tinggi tempat-Mu dan alangkah agung kekuasaan-Mu, ya Tuhanku alangkah kuat tipu daya-Mu dan alangkah mengalahkan siasat-Mu, ya Tuhanku alangkah mulia kerajaan-Mu dan alangkah sempurna urusan-Mu, ya Tuhanku alangkah agung arasy-Mu dan alangkah keras cengkeram-Mu, ya Tuhanku alangkah luas rahmat-Mu dan alangkah luas surga-Mu, ya Tuhanku alangkah mulia pertolongan-Mu dan alangkah dekat kemenangan-Mu, ya Tuhanku alangkah makmur negeri-Mu dan alangkah banyak hamba-Mu, ya Tuhanku alangkah luas rezeki-Mu dan alangkah bertambah syukur-Mu, ya Tuhanku alangkah cepat jalan keluar dari-Mu dan alangkah bijaksana perbuatan-Mu, ya Tuhanku alangkah lembut kebaikan-Mu dan alangkah kuat perintah-Mu, ya Tuhanku alangkah bercahaya maaf-Mu dan alangkah agung dzikir-Mu, ya Tuhanku alangkah adil hukum-Mu dan alangkah benar perkataan-Mu, ya Tuhanku alangkah menepati janji-Mu dan alangkah terlaksana janji-Mu, ya Tuhanku alangkah hadir manfaat-Mu dan alangkah kokoh perbuatan-Mu..
- Ilahi.. sempurna cahaya-Mu maka Engkau memberi petunjuk, maka bagi-Mu segala puji, besar kesantanan-Mu maka Engkau mengampuni, maka bagi-Mu segala puji, Engkau membentangkan tangan-Mu maka Engkau memberi, maka bagi-Mu segala puji, ya Tuhan kami wajah-Mu adalah wajah yang paling mulia, dan kekuasaan-Mu adalah kekuasaan yang paling agung, dan pemberian-Mu adalah pemberian yang paling utama dan paling menyenangkan, Engkau ditaati ya Tuhan kami maka Engkau disyukuri, dan Engkau dimaksiat maka Engkau mengampuni, dan Engkau mengabulkan orang yang terdesak, dan Engkau menghilangkan kesusahan, dan Engkau menyembuhkan penyakit, dan Engkau mengampuni dosa, dan Engkau menerima taubat, dan tidak ada yang dapat membalas karunia-Mu seorang pun, dan tidak dapat mencapai pujian-Mu perkataan orang yang berkata.
- Ilahi.. wahai Dzat yang indah dalam memaafkan, wahai Dzat yang menampakkan yang indah, dan menutupi yang jelek, wahai Dzat yang tidak menghukum dengan kesalahan, dan tidak membuka penutup (aib), wahai Dzat yang luas ampunan-Nya, wahai Dzat yang membentangkan kedua tangan dengan rahmat, wahai Dzat yang menjadi tempat setiap keluh kesah, dan wahai Dzat yang menjadi tujuan akhir setiap pengaduan, wahai Dzat yang mulia dalam memaafkan, wahai Dzat yang agung dalam memberi, wahai Dzat yang memulai nikmat sebelum ia berhak atasnya, wahai Tuhan kami dan tuan kami dan pelindung kami, dan wahai tujuan akhir keinginan kami, aku memohon kepada-Mu ya Allah, agar Engkau tidak membakar wajahku dengan api.
- Ya Allah, Engkau adalah Dzat yang paling berhak untuk diingat, dan paling berhak untuk disembah, dan paling agung untuk dituju, dan paling penyayang yang memiliki, dan paling dermawan yang diminta, dan paling luas yang memberi, Engkau adalah Raja tidak ada sekutu bagi-Mu, dan Esa tidak ada tandingan bagi-Mu, segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Mu, Engkau tidak akan ditaati kecuali dengan izin-Mu, dan tidak akan dimaksiat kecuali dengan pengetahuan-Mu, Engkau ditaati maka Engkau disyukuri, dan Engkau dimaksiat maka Engkau mengampuni, Engkau saksi yang paling dekat, dan penjaga yang paling dekat, Engkau menghalangi jiwa-jiwa, dan memegang ubun-ubun, dan menulis bekas-bekas, dan menyalin ajal-ajal, hati-hati terbuka untuk-Mu, dan rahasia di sisi-Mu adalah terang-terangan, halal adalah apa yang Engkau halalkan dan haram adalah apa yang Engkau haramkan, dan agama adalah apa yang Engkau syariatkan, dan urusan adalah apa yang Engkau putuskan, makhluk adalah ciptaan-Mu, dan hamba adalah hamba-Mu, dan Engkau adalah Ar-Ra’uf Ar-Rahim (Maha Penyayang lagi Maha Pengasih), ya Allah janganlah Engkau haramkan aku dari kebaikan yang ada di sisi-Mu karena keburukan yang ada padaku.
- Wahai tuanku dan harapanku, dan Dzat yang dengan-Nya amalku sempurna, aku berlindung kepada-Mu dari badan yang tidak berdiri di hadapan-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak rindu kepada-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari doa yang tidak sampai kepada-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari mata yang tidak menangis karena-Mu.
- Wahai Dzat yang menghiburku dengan kedekatan-Nya, dan membuatku asing dari makhluk-Nya, dan ada padaku saat kegembiranku, rahmatilah hari ini air mataku.
- Hati telah bersaksi untuk-Mu dalam kesusahan dengan mengetahui keutamaan bagi-Mu, dan bagaimana tidak bersaksi untuk-Mu hatiku dengan itu, sedangkan tidak baik bagi hatiku untuk terbiasa dengan selain-Mu, sungguh jauh, sungguh merugilah orang-orang yang lalai di sisi-Mu.
- Ilahi, aku berada di pagi dan petang hari dan hatiku berketetapan pada cinta-Mu wahai tuanku, dan rindu kepada perjumpaan dengan-Mu, maka segerakanlah itu sebelum datang kepadaku gelapnya malam.
- Para pemohon telah bangkit dan aku bangkit bersama mereka, kami bangkit menuju-Mu dan kami menghadap kepada kemurahan-Mu, betapa banyak orang yang berdosa telah Engkau maafkan dosanya, betapa banyak orang yang tertimpa kesusahan besar telah Engkau lapangkan kesusahannya, betapa banyak orang yang menderita penyakit besar telah Engkau hilangkan penderitaannya, maka demi kemuliaan-Mu, tidaklah yang mendorong kami untuk memohon kepada-Mu setelah kami melakukan kemaksiatan kepada-Mu kecuali apa yang telah Engkau kenalkan kepada kami tentang kemurahan dan kemuliaan-Mu, maka Engkaulah yang diharapkan untuk setiap kebaikan, dan yang diharap di setiap musibah.
- Tuanku.. menuju-Mu seorang hamba yang jiwanya ada pada-Mu, dan kendalinya di tangan-Mu, dan kerinduannya kepada-Mu, dan betapa menyesalnya ia, malamnya gelisah, dan siangnya cemas, dan perutnya terbakar, dan air matanya bersalingan, karena rindu untuk melihat-Mu, dan kerinduan untuk bertemu dengan-Mu, tidak ada ketenangan baginya tanpa-Mu, dan tidak ada harapan selain-Mu.
- Tuanku.. pemberian termanis di hatiku adalah harapanku kepada-Mu dan kata-kata terlembut di lisanku adalah pujian kepada-Mu.. dan saat-saat paling aku cintai adalah saat di mana terjadi pertemuan dengan-Mu.
- Tuhanku.. para raja telah menutup pintu-pintu mereka, sedangkan pintu-Mu terbuka bagi para pemohon, bintang-bintang telah terbenam, dan mata-mata telah tertidur, sedangkan Engkau adalah Yang Mahahidup Yang Maha Berdiri sendiri yang tidak mengantuk dan tidak tidur, Tuhanku.. tempat tidur telah digelar, dan setiap kekasih telah sepi dengan kekasihnya, sedangkan Engkau adalah kekasih orang-orang yang shalat malam dan teman bagi orang-orang yang merasa kesepian..
- Tuhanku.. jika Engkau mengusirku dari pintu-Mu maka ke pintu siapa aku akan berlindung, dan jika Engkau memutuskanku dari pelayanan kepada-Mu maka pelayanan kepada siapa yang aku harapkan..
- Tuhanku.. jika Engkau menyiksaku maka sesungguhnya aku pantas mendapat siksa dan murka, dan jika Engkau memaafkanku maka Engkau adalah Dzat yang memiliki kemurahan dan kemuliaan, wahai Tuanku bagi-Mu orang-orang yang mengenal telah ikhlas, dan dengan karunia-Mu orang-orang shalih diselamatkan, dan dengan rahmat-Mu orang-orang yang berdosa kembali bertaubat, wahai Dzat yang Maha Indah Pemaaf-Nya, rasakan kepadaku dinginnya maaf-Mu dan manisnya ampunan-Mu, dan jika aku tidak layak untuk itu, maka Engkau adalah Dzat yang memiliki ketakwaan dan Dzat yang memiliki ampunan.
- Tuhanku.. Engkaulah yang menciptakanku, dan di dalam rahim Engkau membentukku, maka rahmatilah aku Tuhanku, maka sebagaimana Engkau telah menganugerahkan kepadaku Islam; maka anugerahkanlah kepadaku ketaatan kepada-Mu, dan meninggalkan kemaksiatan kepada-Mu selama-lamanya selama Engkau membiarkanku hidup dan jangan dengan rahasia-rahasiaku, dan jangan Engkau menghina aku dengan banyaknya aibku..
- Mahasuci Engkau Penciptaku.. aku adalah orang yang tidak henti-hentinya bermaksiat kepada-Mu, maka karena dosaku mataku tidak tenang, dan aku celaka jika Engkau tidak memaafkanku.
- Mahasuci Engkau Penciptaku.. dengan wajah apa aku akan menemui-Mu, dan dengan kaki apa aku berdiri di hadapan-Mu, dengan lidah apa aku berbicara kepada-Mu, dengan mata apa aku melihat kepada-Mu?, sedangkan Engkau telah mengetahui rahasia urusanku, dan bagaimana aku meminta maaf kepada-Mu jika dimeteraikan pada lisanku, dan anggota tubuhku berbicara dengan semua yang telah terjadi dariku!!
- Mahasuci Engkau Penciptaku.. maka aku bertaubat kepada-Mu, maka terimalah taubatku, dan kabulkanlah doaku, dan rahmatilah masa mudaku, dan maafkanlah kesalahanku, dan rahmatilah panjangnya tangisanku, dan jangan Engkau mempermalukan aku dengan apa yang telah terjadi dariku..
- Mahasuci Engkau Penciptaku.. Engkau adalah penolong orang-orang yang meminta pertolongan, dan penyejuk mata orang-orang yang beribadah, dan kekasih hati orang-orang yang zuhud, maka kepada-Mu permohonan pertolonganku dan tempatku berpaling; maka rahmatilah masa mudaku, dan terimalah taubatku, dan kabulkanlah doaku, dan jangan Engkau menghina aku dengan kemaksiatan yang telah terjadi dariku..
- Tuhanku.. Engkau telah mengajarkanku kitab-Mu yang Engkau turunkan kepada Rasul-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian aku jatuh pada kemaksiatan kepada-Mu sedangkan Engkau melihatku, maka siapa yang paling celaka dariku ketika aku bermaksiat kepada-Mu sedangkan Engkau melihatku, dan di dalam kitab-Mu yang diturunkan Engkau telah melarangku, Tuhanku, aku jika mengingat dosa dan kemaksiatanku mataku tidak tenang karena apa yang telah terjadi dariku; maka aku bertaubat kepada-Mu maka terimalah itu dariku, dan jangan Engkau jadikan aku bahan bakar neraka jahannam..
- Ya Allah.. terangi dunia kami dengan cahaya dari taufik-Mu, dan potong hari-hari kami dalam berhubungan dengan-Mu, dan aturlah ketercerai-beraian kami dalam barisan ketaatan kepada-Mu, sungguh mengherankan bagi orang yang mengenal-Mu kemudian mencintai selain-Mu, dan bagi orang yang mendengar penyeru-Mu kemudian terlambat dari-Mu, Tuhanku, jangan Engkau siksa jiwa yang telah menyiksanya ketakutan dari-Mu.. dan jangan Engkau bisukan lidah yang semua yang ia ceritakan tentang-Mu.. dan jangan Engkau celakakan pandangan yang selama ini menangis untuk-Mu.. dan jangan Engkau kecewakan harapan yang tergantung pada-Mu.
- Tuhanku.. letakkanlah dalam kelemahanku kekuatan dari-Mu, dan cukupkanlah tanganku dari selain-Mu, rahmatilah air mata yang berlinang atas apa yang luput darinya dari-Mu, dinginkanlah hati yang terbakar atas kejauhan darinya dari-Mu.
- Tuhanku.. Engkau mengenalkan kami dengan ketuhanan-Mu, dan Engkau menenggelamkan kami dalam lautan nikmat-Mu, dan Engkau menyeru kami ke rumah kesucian-Mu, dan Engkau nikmatkan kami dengan mengingat-Mu dan kedekatan-Mu.
- Tuhanku, sesungguhnya kegelapan kezaliman kami terhadap diri kami sendiri telah merata, dan lautan kelalaian pada hati kami telah meluap, maka kelemahan menyeluruh, dan keterbatasan terjadi, dan berserah diri adalah yang paling selamat, dan Engkau lebih mengetahui keadaan.
- Tuhanku.. kami tidak bermaksiat kepada-Mu karena tidak tahu akan siksaan-Mu, dan tidak menghadapi azab-Mu, tetapi jiwa kami telah menghiasinya bagi kami, dan kecelakaan kami telah menolong kami, dan kami tertipu oleh perlindungan-Mu atas kami, dan kami berharap pada maaf-Mu kebaikan-Mu kepada kami, maka sekarang dari azab-Mu siapa yang akan menyelamatkan kami?!, dan dengan tali siapa kami akan berpegang jika Engkau memutuskan tali-Mu dari kami?, dan betapa malunya berdiri besok di hadapan-Mu!!, dan betapa aibnya kami jika diperlihatkan amal-amal buruk kami kepada-Mu!!, Ya Allah ampunilah apa yang Engkau ketahui, dan jangan Engkau buka apa yang Engkau tutupi.
- Tuhanku.. jika kami bermaksiat kepada-Mu dengan kebodohan, maka kami telah berdoa kepada-Mu dengan akal, ketika kami mengetahui bahwa kami memiliki Tuhan yang mengampuni dosa dan tidak peduli..
- Wahai Dzat yang telah menegakkan untukku penanaman ingatanku, dan telah mengalirkan untukku sungai-sungai yang mengalir, dan telah menjadikan untukku hari-hari raya dalam perkumpulan manusia, dan telah menegakkan untukku di antara mereka pasar-pasar ketakwaan; aku datang kepada-Mu dengan bergantung kepada-Mu, penuh hati dengan harapan kepada-Mu, dan basah lidah dengan doa kepada-Mu, di hatiku tentang dosa-dosa keluh kesah, dan bersamaku atas itu penyesalan, jika Engkau memberiku aku terima, dan jika Engkau menolakku aku ridha, dan jika Engkau meninggalkanku aku berdoa, dan jika Engkau menyeruku aku menjawab, maka berikanlah kepadaku Tuhanku apa yang aku inginkan, maka jika Engkau tidak memberiku apa yang aku inginkan; maka karuniakanlah kepadaku kesabaran atas apa yang Engkau inginkan.
- Ya Allah, rahmatilah kesendirian ku di dunia, dan rahmatilah kematianku saat wafat, dan rahmatilah berdiriku di hadapan-Mu.
- Ya Allah, sesungguhnya dosaku menyiksaku, dan taubatku mencairkanku; maka kehidupanku sepanjang masaku antara penyiksaan dan pencairan.
- Dan celaka aku dari-Mu, jika Engkau melihatku dan cita-citaku mendahului kepada selain-Mu, atau bagaimana aku tidak merana dalam mencari ridha-Mu.
- Tuhanku.. betapa rindunya aku untuk bertemu dengan-Mu, dan betapa besar keinginanku untuk balasan-Mu, dan Engkau adalah Yang Maha Mulia yang tidak mengecewakan di sisi-Mu harapan orang-orang yang berharap, dan tidak sia-sia di sisi-Mu kerinduan orang-orang yang merindukan.
- Tuhanku.. jika telah dekat ajalku dan tidak mendekatkanku kepada-Mu amalku, maka sesungguhnya aku telah menjadikan pengakuan dengan dosa sebagai perantara alasanku, maka jika Engkau memaafkan maka siapa yang lebih berhak dari-Mu dengan itu?!, dan jika Engkau berbuat adil maka siapa yang lebih adil dari-Mu di sana?!.
- Tuhanku.. telah berlaku pada diriku sendiri dengan memandang untuknya, dan tersisa untuknya baiknya pandangan-Mu, maka celaka untuknya jika Engkau tidak membahagiakan nya.
- Tuhanku.. sesungguhnya Engkau tidak henti-hentinya berbuat baik kepadaku di hari-hari hidupku, maka jangan Engkau putuskan dariku kebaikan-Mu setelah kematianku, dan sungguh aku berharap dari Dzat yang telah mengurusiku dalam hidupku dengan kebaikan-Nya agar menolongku saat kematianku dengan ampunan-Nya.
- Tuhanku.. bagaimana aku berputus asa dari baiknya pandangan-Mu setelah kematianku, sedangkan Engkau tidak mengurusiku kecuali yang indah dalam hidupku.
- Tuhanku.. jika dosa-dosaku telah membuatku takut; maka sesungguhnya kecintaanku kepada-Mu telah melindungiku, maka aturlah dari urusanku apa yang Engkau layak untuknya, dan kembalilah dengan karunia-Mu kepada orang yang tertipu oleh kebodohannya.
- Tuhanku.. jika Engkau menginginkan penghinaanku maka Engkau tidak akan membimbingku, dan jika Engkau menginginkan pemalsaanku Engkau tidak akan menutupi ku, maka nikmatilah aku dengan apa yang karenanya Engkau membimbingku, dan langgengkan untukku apa yang dengannya Engkau menutupi ku.
- Ya Allah, wahai Yang Maha Luas Pengampunan-Nya, dan wahai Yang Maha Merentangkan Kedua Tangan dengan Rahmat, lakukanlah kepadaku apa yang Engkau layak untuknya.
- Tuhanku.. aku berdosa di sebagian waktu, dan aku beriman kepada-Mu di semua waktu, maka bagaimana sebagian umurku yang berdosa mengalahkan seluruh umurku yang beriman?!
- Tuhanku.. jika Engkau memintaku kebaikan-kebaikanku akan aku jadikan untuk-Mu dengan keras kebutuhanku kepadanya, dan aku adalah hamba, maka bagaimana aku tidak berharap bahwa Engkau mengampuni untukku keburukan-keburukanku dengan kekayaan-Mu darinya, dan Engkau adalah Tuhan?!, maka wahai Dzat yang telah memberikan kami kebaikan apa yang ada di perbendaharaan-Nya, yaitu iman kepada-Nya sebelum permintaan, jangan Engkau menolak kami yang paling luas apa yang ada di perbendaharaan-Mu, yaitu maaf dengan permintaan.
- Tuhanku.. hujahku adalah kebutuhanku, dan persediaanku adalah kefakiranku, maka rahmatilah aku.
- Tuhanku.. bagaimana aku menahan diri dengan dosa dari berdoa, sedangkan aku tidak melihat-Mu menahan diri dengan dosa dari pemberian?!, maka jika Engkau mengampuni maka sebaik-baik pemurah Engkau, dan jika Engkau menyiksa maka bukan penzalim Engkau.
- Tuhanku.. aku memohon kepada-Mu dengan merendahkan diri, maka berilah aku dengan keutamaan.
- Ya Allah, jadikanlah ketaatan kepada-Mu sebagai kesungguhanku, dan kuatkanlah atas itu tubuhku, dan rendahkan jiwaku dari dunia, dan sibukkan aku dengan apa yang bermanfaat bagiku, dan berkahilah untukku dalam kekuatannya hingga berlalu dariku keadaanku, dan anugerahkanlah kepadaku dan rahmatilah aku, ketika Engkau mengembalikan setelah kematian penciptaanku, dan dari buruknya hisab maka sehatkanlah aku, hari Engkau membangkitkanku lalu Engkau menghisabku, dan jangan Engkau perlihatkan dariku, hari Engkau memperlihatkanku dengan apa yang telah lewat dari kezalimanku dan dosaku, dan amankan aku hari ketakutan yang paling besar, hari tidak memperdulikanku kecuali diriku sendiri, dan karuniakanlah kepadaku manfaat amalku, hari tidak bermanfaat bagiku amal selainku, dan sebagaimana Engkau telah menganugerahi ku dengan Islam maka anugerahkanlah kepadaku ketaatan kepada-Mu, dan meninggalkan kemaksiatan-Mu selama-lamanya selama Engkau membiarkanku, dan jangan Engkau permalukan aku dengan rahasia-rahasiaku, dan jangan Engkau menghina aku dengan banyaknya aibku.
- Mahasuci Engkau Penciptaku, aku bertaubat kepada-Mu maka terimalah taubatku, dan kabulkanlah doaku, dan rahmatilah masa mudaku, dan maafkanlah kesalahanku, dan rahmatilah panjangnya tangisanku, dan jangan Engkau permalukan aku dengan apa yang telah terjadi dariku, Mahasuci Engkau Penciptaku, Engkau adalah penolong orang-orang yang meminta pertolongan, dan penyejuk mata orang-orang yang beribadah, dan kekasih hati orang-orang yang zuhud, maka kepada-Mu permohonan pertolonganku dan tempatku berpaling, maka rahmatilah masa mudaku, dan terimalah taubatku, dan kabulkanlah doaku, dan jangan Engkau hinakan aku dengan kemaksiatan yang telah terjadi dariku, dan jangan Engkau jadikan aku bahan bakar neraka jahannam, setelah tauhidku dan imanku kepada-Mu.
- Tuhanku.. perantaraku kepada-Mu: nikmat-nikmat-Mu atasku, dan pembela syafaatku kepada-Mu: kebaikan-Mu kepadaku, Ya Allah, kepada-Mu tertuju keinginanku, dan kepada-Mu aku meminta kebutuhanku, dan dari-Mu aku berharap keberhasilan permintaanku, dan di tangan-Mu kunci-kunci permohonanku, aku tidak meminta kebaikan kecuali dari-Mu, dan aku tidak mengharapkannya dari selain-Mu, dan aku tidak berputus asa dari roh-Mu setelah pengetahuanku dengan karunia-Mu, wahai Dzat yang mengumpulkan segala sesuatu dengan hikmah-Nya, dan wahai Dzat yang berlaku dalam segala sesuatu hukum-Nya, wahai Dzat yang Maha Mulia nama-Nya; tidak ada bagiku selain-Mu maka aku memintanya dan aku tidak percaya selain-Mu maka aku berharap padanya, dan aku tidak menjadikan untuk selain-Mu kehendak dari selain-Mu aku berpegang dengannya, dan aku bertawakkal padanya, maka siapa yang aku tanyai jika aku tidak mengenal-Mu?!, dan kepada siapa aku percaya setelah aku mengenal-Mu?!
- Ya Allah, sesungguhnya kepercayaanku kepada-Mu, dan jika kelalaian telah melalaikan aku dari-Mu dan kesalahan-kesalahan telah menjauhkanku dari-Mu dengan tertipu, aku adalah nikmat dari-Mu berjalan dalam nikmat-nikmat-Mu, aku tidak bertambah atas pendahuluan ilmu-Mu, dan aku tidak berkurang dari ketegasan perintah-Mu, maka aku memohon kepada-Mu wahai ujung permohonan-permohonan, dan aku berkeinginan kepada-Mu wahai tempat kebutuhan-kebutuhan, permohonan dari orang yang telah mendustakan setiap harapan kecuali dari-Mu, dan keinginan dari orang yang berpaling dari setiap kepercayaan kecuali dari-Mu, agar Engkau menganugerahkan kepadaku iman yang aku majukan dengannya kepada-Mu, dan aku sampai dengannya kebesaran perantara kepada-Mu, dan agar Engkau menganugerahkan kepadaku keyakinan yang tidak Engkau lemahkan dengan syubhat kebohongan, dan tidak Engkau lemahkan bisikan keraguan, Engkau lapangkan dengannya dadaku, dan Engkau mudahkan dengannya urusanku, dan berlindung kepada kecintaan-Mu hatiku, hingga aku tidak lalai dari syukur-Mu, dan aku tidak nikmat kecuali dengan mengingat-Mu.
- Wahai Dzat yang tidak bosan manisnya mengingat-Nya lidah-lidah orang-orang yang takut, dan tidak lelah dari keinginan-keinginan kepada-Nya air mata orang-orang yang khusyuk, Engkau adalah ujung rahasia hatiku dalam rahasia penyembunyian, dan Engkau adalah tempat harapanku di antara pemborosan kezaliman, siapa yang merasakan manisnya bermunajat dengan-Mu maka berbahagia dengan ridha manusia tentang ketaatan kepada-Mu dan ridha-Mu?!, wahai Dzat yang dimaksiati dan dimintai taubat kepada-Nya, lalu Dia ridha seakan Dia tidak dimaksiati, dengan kemuliaan yang tidak disifati, dan kelembutan yang tidak dinukilkan, wahai kasih sayang dengan belas kasih-Nya, wahai pemaaf dengan kebesaran-Nya, tidak ada bagiku daya maka aku berpindah dari kemaksiatan kepada-Mu kecuali di waktu Engkau membangunkanku di dalamnya untuk kecintaan-Mu, aku tunduk kepada-Mu dan aku khusyuk kepada-Mu Tuhanku agar Engkau memuliakan aku dengan memasukkanku dalam ketaatan kepada-Mu, dan agar Engkau memandangku pandangan dari orang yang Engkau seru lalu ia menjawab-Mu, dan Engkau gunakan ia dengan pertolongan-Mu lalu ia taat kepada-Mu, wahai Yang Maha Dekat, jangan Engkau jauhkan dari orang-orang yang tertipu, wahai Yang Maha Pengasih, jangan Engkau tergesa-gesa pada orang-orang yang berdosa.
- Ya Allah, gunakanlah kami dengan sunnah Nabi kami, dan wafatkanlah kami atas millatnya, dan ilhamkan kami dengan petunjuknya, dan karuniakanlah kami menemani nya, dan kenalkan kami wajahnya dalam ridha-Mu dan surga, Ya Allah ambillah kami ke jalan dan sunnahnya, kami berlindung kepada-Mu agar kami menyelisihi sunnahnya dan jalannya, Ya Allah sejukkanlah matanya dengan orang yang mengikutinya dari umatnya, dan jadikanlah kami di antara mereka, dan masukkan kami ke telaganya, dan berikanlah kami minuman yang kenyang kami tidak haus setelahnya selamanya, Ya Allah pertemukan kami dengan Nabi kami tidak dalam kehinaan dan tidak dalam penyesalan, dan tidak dalam keluar dan tidak dalam kefasikan, dan tidak dalam perubahan dan tidak dalam keraguan, dan jadikanlah kami dari orang-orang yang Engkau anugerahi dari para Nabi dan orang-orang shiddiq dan para syuhada dan orang-orang shalih, dan sebaik-baik teman mereka.
- Tuhanku.. jika kecil di sisi ketaatan kepada-Mu amalku, maka sungguh besar di sisi harapan kepada-Mu cita-citaku.
- Tuhanku.. bagaimana aku berpaling dari sisi-Mu terhina sedangkan persangkaan baikku kepada-Mu telah tergantung?!.
- Tuhanku.. maka jangan Engkau batalkan kebenaran harapanku kepada-Mu di antara manusia.
- Tuhanku.. jika telah menggugurkanku dosa-dosa dari kemuliaan kelembutan-Mu, maka sesungguhnya telah menenangkan aku keyakinan kepada kemuliaan belas kasih-Mu.
- Tuhanku.. jika telah mengamankan aku kelalaian dari persiapan untuk bertemu dengan-Mu, maka sesungguhnya telah membangunkan aku pengetahuan untuk kemuliaan karunia-karunia-Mu.
- Tuhanku.. jika telah menyeruku ke neraka pedihnya siksa-Mu, maka sesungguhnya telah menyeruku ke surga banyaknya pahala-Mu.
- Ya Allah, jadikanlah kami dari orang-orang yang berpikir lalu mengambil pelajaran, dan memandang lalu melihat, dan mendengar lalu tergantung hati mereka dengan persaingan untuk mencari akhirat, hingga hinggap dan patah dari memandang kepada dunia dan apa yang ada di dalamnya, maka mereka merobek dengan cahaya hikmah apa yang dirajut oleh kegelapan kelalaian, dan mereka membuka pintu-pintu kunci kebutaan dengan cahaya kunci-kunci sinar, dan mereka memakmurkan majelis-majelis orang-orang yang mengingat dengan baiknya mawas diri langgengnya pujian, Ya Allah, jadikanlah kami dari orang-orang yang saling berkiriman atas mereka tirai-tirai penjagaan wali-wali, dan Engkau benteng hati mereka dengan kesucian kejernihan, dan Engkau hiasinya dengan pemahaman dan malu, dan Engkau terbangkan keprihatinan mereka di kerajaan langit-langit-Mu hijab hingga berakhir kepada-Mu, maka Engkau kembalikan ia dengan keindahan-keindahan faedah, Ya Allah jadikanlah kami dari orang-orang yang mudah bagi mereka jalan ketaatan, dan mereka teguh dalam kendali ketakwaan, dan mereka anugerahi dengan taufik tempat-tempat orang-orang yang berbakti, maka mereka dihiasi dan didekatkan dan dimuliakan dengan pelayanan kepada-Mu.
Bagi-Mu segala puji, wahai Dzat yang memiliki karunia, keagungan, nikmat, dan keluasan. Kepada-Mu kami menghadap, di pelataran-Mu kami singgah, kepada kebaikan-Mu kami menampakkan diri, dan dengan kedekatan-Mu kami turun. Wahai kekasih para taubat, wahai kegembiraan para ahli ibadah, wahai sahabat orang-orang yang menyendiri, wahai benteng para pengungsi, wahai sandaran orang-orang yang terputus, wahai Dzat yang membuat hati para orang arif mencintai-Nya, yang membuat hati para orang shiddiqin tenteram dengan-Nya, yang membuat ketakutan orang-orang yang takut berpaling kepada-Nya. Wahai Dzat yang memberi hati para ahli ibadah merasakan manisnya pujian dan kelezatan terputus kepada-Nya. Wahai Dzat yang menerima orang yang bertaubat dan memaafkan orang yang kembali, yang memanggil orang-orang yang berpaling dengan kemuliaan, dan mengangkat orang-orang yang menghadap kepada-Nya dengan keutamaan. Wahai Dzat yang bersabar terhadap orang-orang yang bersalah dan bersikap lembut terhadap orang-orang yang bodoh. Wahai Dzat yang melepaskan ikatan keinginan dari hati para wali-Nya, menghapus syahwat dunia dari pikiran hati orang-orang khusus-Nya dan ahli kecintaan-Nya, dan memberi mereka kedudukan kedekatan dan perwalian. Wahai Dzat yang tidak menyia-nyiakan orang yang taat dan tidak melupakan anak kecil. Wahai Dzat yang memberi dengan pemberian dan yang bermurah hati dengan hubungan. Wahai Dzat yang menyelamatkan dosa-dosa kami dengan taubat, menyingkap kesedihan kami dengan rahmat, memaafkan kejahatan kami setelah kejahilan kami, dan berbuat baik kepada kami setelah keburukan kami. Wahai penghibur kesepian kami, wahai tabib sakit kami. Wahai penolong orang yang putus asa, yang tali maksiat telah melilit lehernya, dan mati rasa malu telah hilang dari wajahnya. Anugerahkanlah kepada kami rahmat dari-Mu dan keselamatan di hadapan-Mu, wahai sebaik-baik Dzat yang berkuasa, dan yang paling penyayang yang merahmati dan memaafkan.
- Tuhanku, sesungguhnya aku mengakui kepada-Mu ya Allah dengan apa yang ditunjukkan oleh ciptaan-Mu dan yang disaksikan oleh perbuatan-Mu. Maka anugerahkanlah kepadaku ya Allah azam yang kuat kepada-Mu. Karena barangsiapa yang tidak dipuaskan oleh ketertarikan dengan nama-Mu, tidak dihilangkan dahaganya dengan datang ke telaga dzikir-Mu, tidak dilupakan dari semua kesedihan oleh ridha-Mu terhadapnya, tidak dilalaikan dari semua yang melalaikan oleh banyaknya nikmat-Mu, tidak terputus dari ketenangan dengan selain-Mu oleh kedudukan darinya dengan-Mu, maka hidupnya adalah mati, kematiannya adalah penyesalan, kegembiraannya adalah kesedihan, dan ketentramannya adalah kesepian.
- Tuhanku, beritahukanlah kepadaku aib-aib diriku dan membongkarnya di hadapanku agar aku dapat memohon kepada-Mu dalam taufik untuk menjauhinya, dan berdoa kepada-Mu di hadapan-Mu dengan rendah hati dan hina agar Engkau membersihkanku darinya. Jadikanlah aku dari hamba-hamba-Mu yang tubuh mereka hadir namun hati mereka ghaib, berkeliling di kerajaan-Mu dan merenung keajaiban ciptaan-Mu, kembali dengan faedah pengenalan-Mu dan balasan kebaikan-Mu. Engkau telah mengenakan kepada mereka pakaian cinta-Mu dan melepaskan dari mereka pakaian berhias untuk selain-Mu.
- Tuhanku, jangan tinggalkan antaraku dan tujuan terjauhku sebuah hijab melainkan Engkau robekkan, tidak ada penghalang melainkan Engkau angkat, tidak ada terjal melainkan Engkau mudahkan, tidak ada pintu melainkan Engkau buka, sehingga Engkau tegakkan hatiku di atas kebenaran dalam mengenal-Mu, Engkau rasakan kepadaku rasa cinta-Mu, dan Engkau sejukkan dengan ridha dari-Mu hatiku dan semua keadaanku, sehingga aku tidak memilih selain apa yang Engkau pilihkan, dan Engkau jadikan untukku kedudukan yang lapang di arena ketaatan-Mu.
- Tuhanku, bagaimana aku mencari rizki dari yang tidak memberiku rizki melainkan dari karunia-Mu?! Atau bagaimana aku membuat-Mu murka dalam ridha orang yang tidak mampu membahayakanku melainkan dengan pemberian kuasa dari-Mu?! Maka wahai Dzat yang aku meminta kepada-Nya ketentraman dengan-Nya dan menjauh dari makhluk-Nya, wahai Dzat yang kepada-Nya perlindunganku dalam kesulitanku dan harapanku, rahmatilah keterasinganku, dan anugerahkan kepadaku dari pengetahuan yang dengannya aku bertambah yakin, dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku yang selalu menyuruh kepada kejahatan sekedip mata.
- Tuhanku, seandainya aku mendapat tempat berlindung dalam kesulitan selain Engkau, atau tempat berlindung dalam kedudukan selain Engkau, maka pantas bagiku untuk tidak menghadapkan wajahku kepada-Nya dari-Mu dan tidak memilihnya atas-Mu, karena kebaikan-Mu yang lama dan yang baru, zahir nikmat-Mu kepadaku dan yang batin. Seandainya aku tercabik-cabik di negeri-negeri menjadi potongan-potongan dan kesulitan ditumpahkan kepadaku dengan deras, sedang aku tidak mendapat tempat bersandar selain Engkau dan tidak ada yang melapangkan apa yang menimpaku dariku selain Engkau. Maka wahai pewaris bumi dan siapa yang ada di atasnya, wahai pembangkit semua yang ada di dalamnya, wariskan harapanku kepada-Mu dariku harapanku, dan sampaikanlah perhatianku kepada-Mu hingga ujung penghubungku.
Ya saudara-saudaraku:
Inilah doa-doa salaf kita… betapa baiknya… betapa lembutnya… betapa baiknya harapan mereka dalam bermunajat, betapa dekatnya mereka dengan jalan keselamatan, betapa sedikitnya mereka bekerja keras, dan betapa mudahnya mereka bersusah payah. Tidak lain hanyalah sebentar kemudian mereka meraih apa yang mereka cari. Seandainya orang yang lalai merasakan minuman ketenangan mereka dalam kegelapan, atau orang yang jahil mendengar suara kerinduan mereka dalam berdiri, sementara mereka telah menegakkan kaki untuk apa yang mereka tegakkan, dan mereka bersenandung dengan dzikir yang paling mulia dan kata-kata yang paling manis, dan mereka mendirikan kemah di tepi-tepi sungai kejujuran, dan mereka menegakkan bendera kebenaran di pintu keyakinan, dan mereka menjalankan tunggangan kerinduan ke negeri keselamatan. Pasukan cinta mereka berjalan sementara manusia dalam kelalaian tertidur. Mereka mengadu di waktu sahur apa yang mereka alami dari gejolak cinta, dan mereka mendapatkan dari kelezatan malam apa yang tidak terlintas dalam pikiran. Dan ketika siang terang mereka menyambutnya dengan puasa, dan mereka bersabar di tengah terik dengan tidak minum dan meninggalkan makanan. Mereka mengenakan baju besi takwa karena takut dari tergelincir dan dosa-dosa. Maka cahaya mereka mempermalukan matahari siang dan melampaui bulan purnama. Maka karena mereka bumi menumbuhkan, dan karena jasa mereka awan mengalir, dan dengan mereka orang-orang yang salah dimaafkan dan diampuni dari orang-orang yang berdosa. Ketika kematian mendatangi mereka, ia meminta untuk mereka cawan ajal. Dan ketika mereka dikubur di bumi, maka ia berbangga dengan menjaga tulang-tulang itu. Maka atas dunia jika mereka mati setelah mereka, salam perpisahan.
Meraih Faedah dan Memetik Buah serta Memelihara Obat-obatan Ramadhan
Saudara-saudara, aku mencintaimu karena Allah.
Inilah tamu yang mulia melambaikan kepergian, hari-harinya berlalu cepat seolah-olah ia mimpi yang indah.
Wahai tamu yang mulia, pelan-pelan saja, karena hati kami masih merindukan pertemuanmu.
Tunggu, berjalanlah pelan karena betapa indahnya kediamanmu, betapa manisnya hari-harimu, dan betapa nikmatnya puasamu!!
Sungguh kami telah merasakan di dalammu kelezatan yang tidak kami rasakan di luar dirimu. Sungguh kami telah menjalani di dalammu kehidupan yang tidak kami jalani di luar dirimu!
Bagaimana engkau pergi dari kami setelah hari-hari yang manis kami habiskan?! Sesungguhnya kepergianmu dari kami adalah musibah yang tidak akan pernah kami lupakan.
Tetapi itu adalah takdir Tuhanku yang Ia tentukan dan tetapkan. Maka ya Allah berilah kami pahala dalam musibah kami ya Tuhan.
Saudara-saudara,
Hari-hari Ramadhan telah berlalu dengan cepat, dan tidak tersisa darinya kecuali beberapa hari saja. Wajib bagi kita untuk memberikan peringatan dan pemberitahuan untuk apa yang telah lewat dan apa yang tersisa. Yang tersisa saudara-saudara adalah sepuluh hari. Maka perhatikanlah karena akan berlalu juga seperti sekejap mata.
Ketahuilah, maka bersiap sediakanlah lengan kesungguhan di sepuluh hari ini, dan tinggalkanlah tidur yang nikmat, dan teladanilah Nabi kalian shallallahu alaihi wasallam. Karena beliau mengkhususkan sepuluh akhir dengan amalan-amalan yang tidak beliau kerjakan pada sisa bulan, yaitu mengkhususkannya dengan itikaf dan qiyam, mandi setiap malam antara Isya dan Subuh, membersihkan diri dan memakai wewangian, menghidupkan seluruh malam. Dari Aisyah radhiyallahu anha ia berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersungguh-sungguh di bulan Ramadhan dengan apa yang tidak beliau sungguh-sungguhkan di bulan lainnya, dan di sepuluh akhir darinya dengan apa yang tidak beliau sungguh-sungguhkan di selainnya.” Dan diriwayatkan dari beliau shallallahu alaihi wasallam bahwa “beliau mencampurkan dua puluh hari pertama dengan shalat dan tidur. Maka ketika masuk sepuluh akhir, beliau tidak merasakan kantuk.” Beliau melipat tempat tidurnya, menjauh dari istri-istrinya, menghidupkan malamnya, dan bersungguh-sungguh dalam berdoa kepada Tuhannya.
Salaf jika masuk sepuluh akhir, mereka mengangkat semangat ke puncaknya, dan mencurahkan seluruh tenaga. Dan bagaimana tidak, sedangkan sepuluh akhir adalah akhir perlombaan.
Talhah bin Ubaidillah berkata: Sesungguhnya kuda-kuda jika mendekati kepala lintasan mereka, mereka keluarkan semua yang ada pada mereka.
Maka orang yang beruntung adalah yang memanfaatkan musim umur sebelum perginya, menghisab dirinya sebelum membaca catatan amalnya, mengawasi Tuhannya dengan pengawasan orang yang tahu bahwa Dia melihatnya dalam pergi dan pulangnya.
Maka sepantasnya saudara-saudara bahwa kita menjaga keutamaan ini sepanjang umur kita, dan tidak menyia-nyiakan malam-malam yang penuh berkah ini yang Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkan dengan pasti bahwa Lailatul Qadar ada di dalamnya. Mungkin salah seorang dari kita telah mati sebelum mencapai sepuluh akhir di tahun yang akan datang: “Hingga berkatalah jiwa: ‘Alangkah besarnya penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban kepada) Allah, sedang aku adalah termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah).’ Atau dia berkata: ‘Sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku, tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa.'” (Surah Az-Zumar: 56-57), atau berkata: “Maka (Alangkah bahagianya), sekiranya aku berperang bersama mereka, maka aku memperoleh kemenangan yang besar (pula).” (Surah An-Nisa: 73).
Saudara-saudara,
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Surah Ali Imran: 133).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (Surah Al-Muthaffifin: 26). Dan hari-hari ini di akhir bulan kita butuh untuk bersemangat sehingga manusia dapat memperoleh derajat yang paling tinggi, dan membutuhkan persegeraan bahkan berlomba dengan napas karena ia berlalu seperti awan. Setiap saat yang berlalu tidak kembali dan tidak terganti. Maka berlombalah saudaraku yang tercinta dengan ajalmu, raihlah ridha Allah dengan amalmu, asahlah semangatmu, karena inilah waktunya kesungguhanmu.
Tugas-tugas Akhir Bulan:
Pertama: Berhenti Jujur dengan Allah dan dengan Diri:
Tidak ada jalan lain saudara-saudara selain berhenti dengan jujur tanpa bohong atau tipu daya atau berkelit. Tidak tersisa dari bulan ini kecuali sedikit, maka apa yang akan kamu lakukan di dalamnya?
Dalam pemberhentian ini engkau melihat secara nyata dan setelah konsentrasi penuh:
- Apakah engkau telah melaksanakan ibadah-ibadah sebagaimana mestinya?
- Apakah engkau menjalani Ramadhan benar-benar sebagaimana Tuhan kita cintai dan ridhai?
- Apakah hatimu merasakan rasa ibadah-ibadah?
- Apakah telah terwujud ketakwaan yang dituju dan dimaksud dari puasa ini?
- Apakah engkau telah membaca Al-Quran dan mendengarnya dan Allah menghidupkan dengannya hatimu yang mati?
- Apakah rumah telah berubah dan pola hidup pada dirimu telah berubah sehingga engkau menjadi hamba rabbani?
- Apakah engkau merasakan perubahan nyata dalam hatimu sehingga engkau melihat cahaya baru?
- Apakah setelah perubahan ini engkau bertekad untuk tetap teguh sehingga tidak akan kembali kepada kemaksiatan?
- Apakah engkau mengira setelah malam-malam yang panjang ini bahwa engkau telah memerdekakan lehermu dari neraka?
- Apakah setelah semua malam-malam itu dan di dalamnya dari peluang ampunan apa yang ada di dalamnya, engkau mengira bahwa engkau telah diampuni dosamu yang telah lalu?
Wahai orang yang dicintai yang mencintai, jangan basa-basi dan jangan mengabaikan.
Berhentilah dengan jujur dan mintalah pertolongan kepada Allah atas dirimu dan jujurlah kepadaku, tidak, bahkan jujurlah kepada Allah maka Dia akan jujur kepadamu dan jawablah tentang pertanyaan-pertanyaan itu. Dan masih ada kesempatan di hadapanmu. Ayo fokuskan pada hari-hari yang tersisa dan bekerjalah dengan kerja orang yang ingin memperbaiki apa yang telah lewat.
Ayo bangkitlah dan bebaskan dirimu dari belenggu-belenggu, dan berlepas dirilah dari aib-aibmu, dan carilah ridha Tuhanmu.
Ayo bekerjalah dan tinggalkanlah kemalasan, dan tinggalkanlah angan-angan, dan segera sebelum ajal, dan jangan tinggalkan kesempatan untuk beramal melainkan engkau kerjakan dengannya.
Beritikaf seluruh sisa bulan, dan terus lakukan ibadah, dan bersungguh-sungguhlah dalam menangis dan memohon maaf.
Saudara-saudara, salaf shalih bersungguh-sungguh dalam menyempurnakan amal dan melengkapinya dan menyempurnakannya, kemudian mereka memberikan perhatian setelah itu dengan penerimaannya dan mereka takut dari penolakannya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah) sedang hati mereka takut karena mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (Surah Al-Mu’minun: 60).
Ali bin Abi Thalib berkata: Jadilah kalian terhadap penerimaan amal lebih memberikan perhatian daripada kalian terhadap amal. Tidakkah kalian mendengar Allah Azza wa Jalla berfirman: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (Surah Al-Maidah: 27). Engkau telah beramal, tetapi apakah amalmu diterima? Inilah yang paling berbahaya, penerimaan amal. Betapa banyak amal yang disempurnakan pemiliknya dan diperbagusnya dan dipercantiknya kemudian ditolak oleh Allah kepadanya dan tidak diterima, dan itu karena buruknya niat pemiliknya. Ya Allah terimalah dari kami sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Oleh karena itu sebagian salaf berkata: Ketakutan atas amal agar tidak diterima lebih berat daripada amal. Dan berkata Abdul Aziz bin Abi Rawwad: Aku mendapati mereka bersungguh-sungguh dalam amal saleh, maka ketika mereka melakukannya, kesedihan menimpa mereka apakah diterima dari mereka atau tidak. Inilah pemahaman salaf dan pengertian mereka. Betapa banyak orang yang tertipu dengan amalnya sedang tidak ada baginya darinya sesuatu. Betapa banyak orang yang kagum dengan shalatnya sedang tidak ada baginya di dalamnya kebaikan!!
Oleh karena itu, Umar bin Abdul Aziz keluar menemui orang-orang pada hari Idul Fitri, lalu ia berkhutbah: Wahai manusia, sesungguhnya kalian telah berpuasa untuk Allah selama tiga puluh hari, dan kalian telah beribadah malam selama tiga puluh malam, dan kalian keluar hari ini memohon kepada Allah agar Dia menerima dari kalian.. maka ya Allah terimalah dari kami ya Rabb.
Dan Abdullah bin Mas’ud biasa berkata pada malam terakhir Ramadhan: Siapakah di antara kita yang diterima sehingga kita dapat mengucapkan selamat kepadanya, dan siapakah di antara kita yang terhalang sehingga kita dapat menghiburnya, wahai orang yang diterima selamat untukmu, wahai orang yang ditolak semoga Allah mengganti musibahmu.
Maka wahai para pelaku dosa-dosa besar, manfaatkanlah manfaatkanlah di hari-hari yang mulia ini, karena tidak ada gantinya dan tidak ada nilainya, maka barangsiapa yang dibebaskan dari neraka pada hari-hari ini sungguh ia telah memperoleh hadiah yang besar dan pemberian yang agung. Wahai orang yang telah dimerdekakan Allah dari neraka, janganlah engkau kembali setelah menjadi merdeka kepada perhambaan dosa-dosa. Apakah tuanmu menjauhkanmu dari neraka sedangkan engkau mendekat kepadanya!! Dan Dia menyelamatkanmu darinya sedangkan engkau menjatuhkan dirimu ke dalamnya dan tidak menjauh darinya!! Dan wahai pelaku maksiat, janganlah engkau berputus asa dari rahmat Allah karena keburukan amal-amalmu, karena betapa banyak orang yang dibebaskan dari neraka pada hari-hari ini dari orang-orang yang sepertimu; maka berbaik sangkalah kepada Tuhanmu dan bertaubatlah kepada-Nya; karena sesungguhnya tidak akan binasa di sisi Allah kecuali orang yang memang sudah binasa.
Kedua: Senantiasa Beristighfar
Wahai saudara-saudara, aku telah melihat bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya setelah haji untuk beristighfar, maka Dia berfirman: “Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surat Al-Baqarah: 199), dan Allah menyebutkan tentang para ahli ibadah yang melakukan qiyamul lail bahwa mereka biasa mengakhiri shalat mereka dengan istighfar, maka Dia berfirman: “Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam. (17) Dan pada akhir malam mereka memohon ampun.” (Surat Adz-Dzariyat: 17-18).
Al-Hasan berkata: Mereka memperpanjang shalat hingga waktu sahur kemudian mereka duduk beristighfar.
Dan termasuk petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam apabila selesai dari shalat adalah beristighfar tiga kali dengan mengucapkan: Aku memohon ampun kepada Allah.. Aku memohon ampun kepada Allah.. Aku memohon ampun kepada Allah.. Oleh karena itu kami katakan: Perbanyaklah istighfar di akhir puasamu, beristighfarlah kepada Allah sebanyak-banyaknya untuk menambal apa yang berlubang dari puasamu.
Sebagian salaf apabila selesai dari shalat, ia beristighfar dari kekurangannya dalam shalat tersebut sebagaimana orang yang berdosa beristighfar dari dosanya, Subhanallah!, jika ini adalah keadaan para salaf yang telah memperbaiki ibadah mereka dan menyempurnakannya serta ikhlas di dalamnya, bagaimana keadaan orang-orang yang buruk seperti kita dalam ibadah-ibadah kita!!
Dan Umar bin Abdul Aziz berkata dalam suratnya kepada berbagai daerah berkaitan dengan akhir Ramadhan: Ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan bapakmu Adam: “Keduanya berkata: Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Surat Al-A’raf: 23), dan ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan Nuh ‘alaihissalam: “Dan jika Engkau tidak memberi ampun kepadaku dan tidak merahmati aku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” (Surat Hud: 47), dan ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan Musa ‘alaihissalam: “Berkata Musa: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena itu ampunilah aku.” (Surat Al-Qashash: 16), dan ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan Dzun Nun ‘alaihissalam: “Tiada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (Surat Al-Anbiya: 87).
Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Ghibah merobek puasa dan istighfar menambalnya, maka barangsiapa di antara kalian yang mampu datang dengan puasa yang tertambal hendaklah ia melakukannya.
Dan dari Ibnu Al-Munkadir ia berkata: Puasa adalah perisai dari neraka selama tidak dirobek, dan perkataan buruk merobek perisai ini, dan istighfar menambal apa yang telah berlubang darinya.
Maka puasa kita ini membutuhkan istighfar yang bermanfaat dan amal shalih yang menjadi penolong baginya. Betapa banyak kita merobek puasa kita dengan anak-anak panah perkataan, kemudian kita menambalnya padahal lubangnya telah melebar hingga sulit ditambal. Betapa banyak kita menambal lubang-lubangnya dengan jarum hasanat kemudian kita memutusnya dengan pedang tajam dari kejelekan-kejelekan yang memutus.
Ya Rabb, rahmatilah orang yang hasanatnya semua adalah keburukan, dan ketaatan-ketaatannya semua adalah kelalaian. Dan dekat dengan ini adalah perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha pada malam lailatul qadar untuk memohon maaf; karena sesungguhnya orang mukmin bersungguh-sungguh di bulan Ramadhan dalam puasa dan qiyamnya, maka apabila dekat selesainya dan bertepatan dengan lailatul qadar, ia tidak meminta kepada Allah Ta’ala kecuali maaf seperti orang yang berbuat buruk dan lalai. Adalah Shilah bin Asyim menghidupkan malam kemudian ia berkata dalam doanya di waktu sahur: Ya Allah aku memohon kepada-Mu agar Engkau melindungiku dari neraka, atau apakah orang sepertiku berani meminta surga kepada-Mu?!
Istighfar yang paling bermanfaat adalah yang disertai dengan taubat dan ia adalah membuka ikatan keberanian berbuat dosa. Maka barangsiapa beristighfar dengan lisannya sedangkan hatinya masih terikat pada kemaksiatan, dan tekadnya adalah akan kembali kepada kemaksiatan setelah selesai bulan; maka ditolak, dan pintu penerimaan baginya tertutup. Ka’ab berkata: Barangsiapa berpuasa Ramadhan sedangkan ia membisikkan kepada dirinya bahwa jika ia berbuka setelah Ramadhan ia tidak akan bermaksiat kepada Allah; ia masuk surga tanpa pertanyaan dan tanpa hisab, dan barangsiapa berpuasa Ramadhan sedangkan ia membisikkan kepada dirinya jika ia berbuka setelah Ramadhan ia akan bermaksiat kepada Tuhannya maka puasanya ditolak.
Hamba-hamba Allah.. bulan Ramadhan hampir berakhir, maka siapakah di antara kalian yang telah menghisab dirinya di dalamnya untuk Allah dan berlaku adil, siapakah di antara kalian yang telah melaksanakan di bulan ini haknya yang ia ketahui, siapakah di antara kalian yang bertekad sebelum tertutupnya pintu-pintu surga untuk membangun baginya di dalamnya kamar-kamar yang bertingkat-tingkat. Ketahuilah bahwa bulan kalian telah mulai berkurang; maka tambahkanlah kalian dalam amal seakan-akan kalian menyaksikannya sudah berlalu, maka setiap bulan mungkin akan ada penggantinya, adapun bulan Ramadhan dari mana kalian akan mendapat penggantinya?!!
Ketiga: Memohon kepada Allah Maaf, dan Fokus pada Permintaan Ini, serta Sibuk dengannya
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: Bagaimana menurutmu jika aku bertepatan dengan lailatul qadar apa yang aku ucapkan padanya?, beliau bersabda: “Ucapkanlah: Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai maaf maka maafkanlah aku.”
Al-‘Afuww (Yang Maha Pemaaf) adalah salah satu nama Allah Ta’ala, dan Dia melampaui kejelekan-kejelekan hamba-hamba-Nya, menghapus bekas-bekasnya dari mereka, dan Dia menyukai maaf maka Dia suka memaafkan hamba-hamba-Nya, dan Dia suka dari hamba-hamba-Nya agar sebagian mereka memaafkan sebagian yang lain, maka apabila sebagian mereka memaafkan sebagian yang lain Dia memperlakukan mereka dengan maaf-Nya, dan maaf-Nya lebih Dia cintai daripada hukuman-Nya. Dan adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan: “Aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu dan dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu.”
Yahya bin Mu’adz berkata: Seandainya maaf bukan perkara yang paling Dia cintai; niscaya Dia tidak menguji dengan dosa orang yang paling mulia di sisi-Nya, ia mengisyaratkan bahwa Dia menguji banyak dari wali-wali-Nya dan kekasih-kekasih-Nya dengan sebagian dosa, agar Dia memperlakukan mereka dengan maaf karena sesungguhnya Dia menyukai maaf. Sebagian salaf shalih berkata: Seandainya aku mengetahui amal yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala, niscaya aku akan bersungguh-sungguh dengan diriku di dalamnya, maka seseorang melihat dalam mimpinya yang berkata kepadanya: Sesungguhnya engkau menginginkan sesuatu yang tidak mungkin, sesungguhnya Allah menyukai maaf, agar Dia memaafkan, dan sesungguhnya Dia menyukai agar memaafkan, agar semua hamba berada di bawah maaf-Nya, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang menunjuk dengan amal.
Dan telah datang dalam hadits Ibnu Abbas secara marfu’ bahwa Allah melihat pada malam lailatul qadar kepada orang-orang mukmin dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka Dia memaafkan mereka dan merahmati mereka kecuali empat orang: pecandu khamr, durhaka kepada orang tua, orang yang bermusuhan, dan pemutus silaturahmi.
Ketika para arif mengenal dengan keagungan-Nya mereka tunduk, dan ketika para pendosa mendengar tentang maaf-Nya mereka mengharap. Tidak ada kecuali maaf Allah atau neraka. Seandainya tidak ada harapan para pendosa terhadap maaf niscaya hati mereka akan terbakar dengan keputusasaan dari rahmat, tetapi apabila disebutkan maaf Allah mereka merasa tenang dengan kesejukan maaf-Nya.
Adalah sebagian orang terdahulu berkata dalam doanya: Ya Allah sesungguhnya dosa-dosaku telah besar, sehingga terlalu besar untuk disifati, dan sesungguhnya ia kecil di sisi maaf-Mu maka maafkanlah aku.
Dan yang lain dari mereka berkata: Dosaku besar, dan maaf-Mu banyak, maka satukanlah antara dosaku dan maaf-Mu wahai Yang Maha Pemurah.. Ya Allah maafkanlah kami.
Wahai orang yang dosanya besar, maaf Allah lebih besar dari dosamu, dosa yang paling besar di sisi maaf Allah menjadi kecil; dan sesungguhnya diperintahkan untuk memohon maaf pada malam lailatul qadar setelah bersungguh-sungguh dalam amal-amal di dalamnya dan di malam-malam sepuluh akhir; karena sesungguhnya para arif bersungguh-sungguh dalam amal-amal, kemudian mereka tidak melihat bagi diri mereka amal yang shalih dan tidak keadaan dan tidak perkataan, maka mereka kembali kepada memohon maaf seperti keadaan orang yang berdosa dan lalai. Yahya bin Mu’adz berkata: Bukan seorang arif orang yang tidak menjadikan batas tertinggi harapannya dari Allah adalah maaf.
Adalah Mutharrif berkata dalam doanya: Ya Allah ridhailah kami, maka jika Engkau tidak ridha kepada kami maka maafkanlah kami. Barangsiapa yang dosanya besar dalam pandangannya ia tidak mengharap ridha, dan batas tertinggi harapannya adalah mengharap maaf. Dan barangsiapa yang sempurna makrifatnya ia tidak melihat dirinya kecuali dalam kedudukan ini.
Keempat: Mencurahkan Batas Maksimal dalam Kesungguhan
Dalam Shahih Muslim dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa ia berkata: “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersungguh-sungguh di sepuluh akhir dengan kesungguhan yang tidak ia lakukan di selainnya.”
Saudaraku yang kucintai, seharusnya kesungguhan di akhir-akhir bulan lebih banyak daripada awalnya karena dua hal:
Pertama: Karena kemuliaan sepuluh akhir ini, dan pencarian lailatul qadar.
Kedua: Untuk perpisahan dengan bulan yang tidak diketahui apakah ia akan bertemu dengannya lagi atau tidak.
Dan mungkin terjadi dari sebagian orang sebaliknya, bahwa engkau dapati di awal Ramadhan sesuatu dari semangat dan tekad dalam beramal, kemudian ia tertimpa kelesuan setelah itu, atau sibuk dengan hal-hal remeh yang menyibukkannya dari menyempurnakan bulan sebagaimana seharusnya.
Padahal yang seharusnya adalah sebaliknya seandainya amal ada hasilnya; karena sesungguhnya setiap kali ia bertambah dari ketaatan-ketaatan dan ibadah-ibadah yang ia lakukan setiap hari di Ramadhan ia naik satu tingkat jika ia termasuk orang yang diterima, maka bertambahlah ketaatan-ketaatannya dan kedekatan-kedekatannya di hari berikutnya hingga ia mencapai puncak tertinggi tekad pada akhir bulan, sebagaimana ini adalah keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, karena sesungguhnya sebagaimana telah berlalu bersama kita adalah apabila masuk sepuluh akhir beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengetatkan sarungnya, membangunkan keluarganya, dan menghidupkan seluruh malam. Dan telah disebutkan dari sebagian salaf bahwa ketika kematian datang kepadanya dan dalam kondisi sakratul maut, ia berdiri dan duduk -maksudnya shalat- maka dikatakan kepadanya: Dalam kondisi seperti ini?, istirahatlah dirimu, maka ia berkata: Sesungguhnya kuda apabila sampai ke ujung lintasannya, ia mengeluarkan maksimal apa yang ada padanya, dan aku berlomba dengan nafas-nafasku. Maka engkau sekarang -wahai yang kucintai- sedang berlomba dengan jam-jam, karena Ramadhan hampir berakhir, maka curahkanlah maksimal yang engkau mampu, dan biarlah sepuluh hari ini berlalu jika berlalu tanpa makan dan tanpa minum dan tanpa tidur dan biarlah terjadi apa yang terjadi.
Dikatakan kepada sebagian salaf: Janganlah engkau menangis, karena sesungguhnya jika engkau menangis engkau akan buta, ia berkata: Itu untuk mataku sebuah kesaksian, maka ia menangis hingga buta. Pahamilah apa yang dimaksud dengan isyarat itu, dan berkeinginanlah terhadap apa yang ada di sisi Allah, dan mintalah pertolongan kepada Allah.
Kelima: Waspadalah dari Ujub dan Kesombongan
Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Janganlah salah seorang dari kalian berkata: Aku berpuasa seluruh Ramadhan, dan tidak aku bangun seluruh Ramadhan”, maka aku tidak tahu apakah ia membenci tazkiyatun nafs ataukah pasti ada kelalaian.
Saudaraku yang kucintai, waspadalah dari penyakit-penyakit hati; sesungguhnya disyariatkan puasa dan qiyam dan amal-amal yang engkau lakukan di Ramadhan itu untuk menyucikan jiwa dan memperbaiki hati; tetapi ada beberapa penyakit yang mengakar yang sulit dicabut dengan mudah, di antaranya adalah penyakit tersembunyi ini dan penyakit yang buruk: ujub dan melihat diri sendiri.
Ibnul Qayyim -semoga Allah merahmatinya- berkata: Antara amal dan hati ada jarak, dan di jarak itu ada perampok-perampok yang memutus jalan amal untuk sampai ke hati, maka engkau dapati seseorang banyak shalat banyak puasa, banyak dzikir dan tilawah Al-Quran dan tidak sampai ke hatinya dari amalnya sesuatu, tidak takut, tidak harap, tidak cinta, tidak yakin, tidak ridha. Dan mungkin jiwa menguasai amal shalih lalu menjadikannya tentara baginya lalu ia menyombongkan diri dengannya dan melampaui batas, maka engkau melihat seseorang paling banyak ibadahnya, paling zuhud, sedangkan ia dari Allah paling jauh.
Yang menjadi kesaksian dari perkataan ini adalah bahwa jiwa mungkin menguasai amal shalih lalu menyombongkan diri dengannya dan melampaui batas, maka waspadalah dari itu, agar jiwamu tidak menguasai kesulitan-kesulitan amal di Ramadhan, dari puasa dan qiyam dan Al-Quran dan dzikir dan i’tikaf dan lainnya, dan menyombongkan diri dengannya dengan jalan kebanggaan, dan mengembung dengannya dengan kesombongan dan menganggap diri tinggi atas orang lain, maka engkau rugi semua itu, dan kehilangan pahala amal dan hasil amal, maka hati-hati hati-hati.
Sesungguhnya di antara tanda-tanda penerimaan adalah bertambahnya seseorang dalam kerendahan dan ketundukan dan kepatuhan kepada Rabb yang Maha Agung.. maka bertambahlah ketundukan; niscaya engkau bertambah kedekatan.
Hamba-hamba Allah.. sesungguhnya bulan Ramadhan telah bertekad untuk pergi, dan tidak tersisa darinya kecuali sedikit, maka siapakah di antara kalian yang memperbaiki maka hendaklah ia menyempurnakan, dan barangsiapa yang lalai di dalamnya maka hendaklah ia berbuat baik dan beramal dengan penutup. Manfaatkanlah darinya apa yang tersisa dari malam-malam yang sedikit dan hari-hari. Titipkanlah padanya amal shalih yang bersaksi untuk kalian di sisi Raja Yang Maha Mengetahui, dan ucapkanlah salam perpisahan padanya ketika perpisahannya dengan salam yang paling suci.
Saudara-saudaraku.. hati-hati orang-orang bertakwa kepada bulan ini merindukan, dan dari rasa sakit perpisahannya mengerang. Bagaimana tidak mengalir bagi orang mukmin air mata atas perpisahannya, sedangkan ia tidak tahu apakah tersisa baginya dalam umurnya untuk kembali kepadanya.
Wahai penyesalan bagi orang yang melewatkan kebaikan di Ramadhan, betapa banyak orang malang itu dinasihati tetapi tidak menerima nasihat, betapa banyak ia dipanggil untuk perdamaian tetapi tidak menjawab untuk berdamai, betapa banyak ia menyaksikan orang-orang yang bersambung sedangkan ia berjauhan, betapa banyak berlalu kepadanya rombongan-rombongan yang berjalan sedangkan ia duduk, hingga apabila sempit baginya waktu, dan takut ditolak, ia menyesal atas kelalaian di mana penyesalan tidak bermanfaat, dan meminta pemulihan di waktu ketiadaan.
Saudara-saudaraku.. hari-hari sepuluh akhir adalah hari-hari kehidupan.. di dalamnya kebaikan-kebaikan dan keberkahan-keberkahan, dan pahala-pahala yang banyak, dan keutamaan-keutamaan yang melimpah. Di dalamnya suci amal-amal, dan tercapai harapan-harapan. Bagaimana tidak sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam begadang malamnya, dan menanggung semua bebannya, dan menghidupkan seluruh malamnya.
Sepuluh akhir ini penuh masjid-masjid, dan khusyuk di dalamnya orang yang rukuk dan sujud, dan bangkit untuk kebaikan-kebaikan setiap yang duduk, dan menjadi orang yang menginginkan seperti orang yang zuhud. Allah memuliakan waktu-waktu Ramadhan atas seluruh waktu-waktu lainnya, dan mengkhususkan sepuluh akhir dengan tambahan keutamaan dan kemuliaan, maka Dia melimpahkan di dalamnya keutamaan dan kemuliaan, dan dalil keutamaannya adalah bahwa di dalamnya terdapat lailatul qadar yang lebih baik dari seribu bulan.
Lailatul Qadar
Keutamaannya sangat besar, dan kebaikannya sangat luas. Bagaimana tidak, malam ini menyaksikan turunnya Al-Quran yang mulia, yang akan membimbing siapa saja yang berpegang teguh padanya menuju surga yang kekal dan penuh kenikmatan. Cukuplah sebagai kehormatan lailatul qadar bahwa ia lebih baik dari seribu bulan. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan (lailatul qadar). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Al-Qadr: 1-5)
Malam yang penuh berkah, barang siapa terhalangi dari kebaikannya maka ia terhalangi dari seluruh kebaikan. Oleh karena itu dianjurkan bagi seorang muslim yang bersemangat dalam ketaatan kepada Allah untuk menghidupkan malam ini dengan penuh iman dan berharap mendapat pahala yang besar, dengan shalat malam, berdzikir, membaca Al-Quran, dan berdoa. Barang siapa melakukan hal tersebut, maka akan diampuni semua dosa-dosanya yang telah lalu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang shalat malam pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Dianjurkan untuk memperbanyak doa pada malam ini, terutama dengan apa yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Aku bertanya: Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku mengetahui malam lailatul qadar, apa yang harus aku ucapkan? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ucapkanlah: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai maaf, maka maafkanlah aku.”
Para salaf mengkhususkan lailatul qadar dengan perhatian lebih. Tsabit Al-Bunani mengenakan pakaian terbaiknya, memakai wewangian, dan mewangikan masjid dengan dupa pada malam yang diharapkan sebagai lailatul qadar.
Tamim Ad-Dari radhiyallahu ‘anhu memiliki jubah yang dibelinya seharga seribu dirham, dan ia mengenakannya pada malam yang diharapkan sebagai lailatul qadar. Sebagaimana mereka mempersiapkan diri dengan berhias lahiriah, mereka juga menyadari bahwa hiasan lahir tidak sempurna kecuali dengan menghiasi batin melalui taubat dan kembali kepada Allah Ta’ala, serta membersihkannya dari kotoran dosa dan noda-nodanya. Karena hiasan lahir dengan kehancuran batin tidak ada gunanya sama sekali.
Tidak pantas untuk bermunajat kepada para Raja dalam kesendirian kecuali orang yang menghias lahir dan batinnya, dan membersihkan keduanya; terutama untuk Raja segala raja yang mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. Barang siapa berdiri di hadapan-Nya, hendaklah ia menghias bagi-Nya lahirnya dengan pakaian dan batinnya dengan pakaian takwa.
Diriwayatkan dari Malik bin Anas bahwa jika tiba malam dua puluh empat, ia mandi, memakai wewangian, dan mengenakan jubah, sarung dan selendang. Ketika pagi tiba, ia melipatnya dan tidak mengenakannya kecuali pada waktu yang sama tahun depan.
Maka, hendaklah seorang muslim berusaha mencari malam ini, karena ini adalah kesempatan hidupnya. Diketahui dari Sunnah bahwa pengetahuan tentang malam ini telah diangkat karena orang-orang bertengkar. Dari Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk memberitahu tentang lailatul qadar, lalu dua orang muslim bertengkar, maka beliau bersabda: “Sesungguhnya aku keluar untuk memberitahumu tentang lailatul qadar, namun si fulan dan si fulan bertengkar, maka pengetahuan itu diangkat. Mudah-mudahan hal ini lebih baik bagi kalian, maka carilah pada malam kesembilan, ketujuh, dan kelima.”
Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku diperlihatkan lailatul qadar, kemudian salah seorang keluargaku membangunkanku lalu aku lupa, maka carilah pada sepuluh malam terakhir.”
Juga diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau mencarinya pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadhan pada malam ganjil, karena sesungguhnya aku telah melihatnya lalu aku dilupakan.”
Al-Baghawi berkata: Secara keseluruhan, Allah menyembunyikan malam ini dari umat agar mereka bersungguh-sungguh dalam ibadah pada malam-malam sepuluh terakhir dengan harapan meraihnya, sebagaimana Dia menyembunyikan waktu mustajab pada hari Jumat, menyembunyikan ridha-Nya dalam ketaatan agar mereka tertarik pada semuanya, menyembunyikan murka-Nya dalam kemaksiatan agar mereka menjauhi semuanya, dan menyembunyikan hari kiamat agar mereka bersungguh-sungguh dalam ketaatan karena takut akan tibanya hari kiamat.
Kesimpulannya: seorang muslim mencari lailatul qadar pada malam-malam ganjil sepuluh terakhir: malam dua puluh satu, dua puluh tiga, dua puluh lima, dua puluh tujuh, dan dua puluh sembilan. Jika ia lemah dan tidak mampu mencarinya pada malam ganjil terakhir, maka hendaklah ia mencarinya pada malam ganjil tujuh terakhir: malam dua puluh lima, dua puluh tujuh, dan dua puluh sembilan. Wallahu Ta’ala a’lam.
Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata: Setiap waktu yang utama, baik malam maupun siang, maka akhirnya lebih utama dari awalnya, seperti hari Arafah dan hari Jumat. Demikian pula malam dan siang secara umum, akhirnya lebih utama dari awalnya. Begitu juga sepuluh hari Dzulhijjah dan Muharram, akhirnya lebih utama dari awalnya.
Telah terbukti dalam Shahihain bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari pertengahan Ramadhan sebelum beri’tikaf sepuluh hari terakhir untuk mencari lailatul qadar, sebelum beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa ia berada di sepuluh hari terakhir. Kemudian ketika hal itu jelas bagi beliau, beliau beri’tikaf sepuluh hari terakhir hingga Allah ‘azza wa jalla mewafatkannya.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika telah memasuki sepuluh terakhir, beliau mengikat sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” Mengikat sarung berarti menjauhi wanita, dan bisa juga berarti bersungguh-sungguh dalam ibadah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika tersisa sepuluh hari dari Ramadhan tidak membiarkan seorang pun dari keluarganya yang mampu untuk shalat malam kecuali beliau membangunkannya. Membangunkan mereka sangat ditekankan pada malam-malam ganjil yang diharapkan sebagai lailatul qadar.
Dinamakan lailatul qadar karena pada malam itu diturunkan kitab yang mulia (memiliki qadar/kedudukan), melalui lisan malaikat yang mulia, kepada rasul yang mulia, dan kepada umat yang mulia.
Saudaraku…
Seluruh umur menjadi ringan kecuali malam ini, malam yang di dalamnya Al-Quran diturunkan secara keseluruhan ke langit dunia, malam yang di dalamnya ditakdirkan berbagai ketetapan tahun itu, dan para malaikat menulis takdir-takdir, malam yang di dalamnya para malaikat turun.
Rasul kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh di sepuluh terakhir melebihi kesungguhan beliau di waktu lainnya, dan beliau beri’tikaf untuk mencari malam tersebut. Beliau berpuasa wisal karena mengharap malam itu. Wahai orang yang umurnya terbuang sia-sia, perbaiki yang telah terlewat padamu dengan lailatul qadar, karena ia dihitung sebagai umur.
Malam ini, Allah menerima taubat setiap orang yang bertaubat, ditulis di dalamnya dari Lauhul Mahfuzh apa yang akan terjadi pada tahunnya tentang kematian, kehidupan, rezeki, dan hujan.
Mujahid berkata: Puasa dan shalat malamnya lebih utama dari puasa dan shalat malam seribu bulan yang tidak ada lailatul qadar di dalamnya.
Ka’b Al-Ahbar berkata: Kami mendapati malam ini dalam kitab-kitab sebagai malam yang menurunkan dosa, menghapus dosa-dosa.
Ini adalah malam yang penuh berkah di mana bumi dimuliakan dengan kehadiran para malaikat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Lailatul qadar adalah malam ketujuh atau kedua puluh sembilan, dan sesungguhnya para malaikat pada malam itu lebih banyak di bumi daripada jumlah kerikil.”
Di antara tanda-tanda lailatul qadar adalah malam yang tidak dingin dan tidak panas, dan matahari terbit pada paginya tanpa sinar: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Lailatul qadar adalah malam yang nyaman, cerah, tidak panas dan tidak dingin, matahari terbit pada paginya lemah dan merah.” Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Matahari terbit pada pagi setelah malam itu tanpa sinar, seperti baskom hingga naik.” Ada tanda-tanda lain yang sebagian besarnya muncul setelah berakhirnya malam.
Dari hadits Ubadah bin Ash-Shamit dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Pada lailatul qadar tidak halal bagi bintang untuk dilempari hingga pagi, dan tandanya adalah bahwa matahari terbit pada paginya lurus tanpa sinar seperti bulan purnama, tidak halal bagi setan untuk keluar bersamanya pada hari itu.”
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa setan terbit bersama matahari setiap hari kecuali lailatul qadar, karena matahari terbit tanpa sinar.
Mujahid berkata tentang firman Allah Ta’ala: “Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar”: Kesejahteraan dari tidak terjadi penyakit atau setan tidak mampu berbuat apa-apa. Dari Adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas, ia berkata: Pada malam itu setan-setan yang jahat dibelenggu, iblis-iblis dirantai, semua pintu langit dibuka, dan Allah menerima taubat setiap orang yang bertaubat.
Wahai anak Adam, seandainya engkau mengetahui nilai dirimu, niscaya engkau tidak menghinakannya dengan kemaksiatan. Engkau adalah makhluk pilihan, dan untukmu disediakan surga jika engkau bertakwa. Surga adalah pemberian bagi orang-orang yang bertakwa, sedangkan dunia adalah pemberian iblis, dan ia diberi penangguhan di dalamnya. Bagaimana engkau rela bagi dirimu berpaling dari pemberianmu dan bersaing dengan iblis atas pemberiannya, serta menjadi besok bersamanya di neraka sebagai bagian dari pengikut-pengikutnya? Sesungguhnya kami mengusirnya dari langit demi engkau ketika ia sombong untuk sujud kepada bapakmu, dan kami menginginkan kedekatan engkau agar engkau menjadi bagian dari orang-orang khusus dan golongan kami. Tetapi engkau memusuhi kami dan bersahabat dengan musuh kami.
Para wanita bersedih karena kehilangan kesempatan shalat malam lailatul qadar karena haid atau nifas, tetapi hendaklah mereka berbuat baik sepanjang bulan agar Allah menerima dari mereka. Juwair berkata: Aku bertanya kepada Adh-Dhahhak: Bagaimana pendapatmu tentang wanita nifas, haid, musafir, dan orang yang tidur, apakah mereka mendapat bagian dari lailatul qadar? Ia berkata: Ya, setiap orang yang amalnya diterima Allah akan diberi bagiannya dari lailatul qadar. Makna ini adalah orang yang berbuat baik di bulan Ramadhan akan diterima Allah amalnya, dan yang amalnya diterima Allah tidak akan kehilangan bagiannya dari lailatul qadar.
Saudara-saudaraku…
Lailatul qadar adalah malam dibukanya pintu, didekatkannya kekasih-kekasih, didengarnya percakapan, dijawabnya doa, dan diberinya pahala yang besar bagi para pelaku amal.
Malam yang akan berlalu dengan perbuatan kalian, dan akan datang kepada kalian besok dengan amal kalian. Alangkah baiknya aku tahu apa yang kalian titipkan padanya, dan dengan amal apa kalian perpisahan dengannya. Apakah ia akan pergi dengan memuji perbuatan kalian, ataukah mencela karena kalian menyia-nyiakannya.
Lailatul qadar bagi para pecinta adalah malam mendapat keberuntungan dengan keintiman kepada Maha Pemilik mereka dan kedekatan dengan-Nya. Mereka hanya lari dari malam-malam jauh dari-Nya, karena pada malam itu turun para malaikat dengan cahaya dan kebaikan.
Saudara-saudaraku…
Di sepuluh terakhir, berhati-hatilah dari kelalaian yang mematikan, dan terjagalah pada waktu itu sebelum yang terakhir menyusul yang pertama. Mohon maaflah pada waktu itu karena hari-hari tinggal sedikit, sebelum ditolaknya permintaan maaf orang yang bermaksiat dengan pendustaannya. Agungkanlah waktu itu karena ia sangat besar urusannya. Tunggu dan perhatikanlah pada waktu itu dengan kewaspadaan yang baik lailatul qadar, karena ia sangat asing, sangat asing, dan sangat menakjubkan, sangat menakjubkan.
Saudara-saudaraku…
Ini adalah kesempatan terakhir kalian di bulan ini untuk selamat. Bersiaplah untuk sepuluh hari dengan tekad yang sungguh-sungguh pada kebaikan, dan jadikan semangat kalian tertuju pada menjaganya saja, karena ia adalah sepuluh hari yang diliputi berkah yang melimpah, dan dihiasi dengan kemuliaan yang nyata. Persiapkanlah untuk kedatangannya, dan mohonlah kepada Allah taufik agar kalian sempurnakan persiapan. Hati-hati, hati-hati dari menyia-nyiakan, mengabaikan, dan bermalas-malasan di waktu itu dari amal-amal saleh.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan barang siapa menghendaki akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia beriman, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.” (Al-Isra’: 19)
Saudara-saudaraku, wahai orang-orang beriman…
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian apabila dikatakan kepada kalian: Berangkatlah untuk berperang di jalan Allah, kalian merasa berat dan ingin tinggal di tempat kalian? Apakah kalian puas dengan kehidupan dunia daripada akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia dibanding dengan kehidupan akhirat hanyalah sedikit. Jika kalian tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah akan menyiksa kalian dengan siksa yang pedih dan digantinya kalian dengan kaum yang lain, dan kalian tidak akan dapat memberi mudarat kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Taubah: 38-39)
Saudara-saudaraku…
Sesungguhnya bulan Ramadhan telah dekat kepergiannya dan waktunya tiba. Ia akan pergi dari kalian dengan perbuatan kalian, dan akan datang kepada kalian besok dengan amal kalian. Alangkah baiknya aku tahu apa yang kalian titipkan padanya, dan dengan amal apa kalian perpisahan dengannya. Apakah ia akan pergi dengan memuji perbuatan kalian ataukah mencela penyia-nyiaan kalian? Betapa besarnya berkah waktu-waktunya, betapa manisnya semua ketaatannya. Malam-malamnya adalah kebebasan dan kebanggaan, waktu-waktunya adalah waktu pengabdian dan bermunajat, siangnya adalah masa kedekatan dan pertemanan, dan jam-jamnya adalah saat kesungguhan dan perjuangan. Maka bersegeralah pada sisa waktu dengan takwa sebelum datangnya kematian dan turunnya jenazah, dan engkau ditinggalkan oleh semua makhluk.
Di mana orang yang ikhlas beribadah, di mana pendeta yang zuhud, di mana orang yang terputus dan menyendiri, di mana pekerja yang baik? Sayang sekali, budak dunia tetap hidup dan sang pemimpin mati. Binasa orang yang kesalahannya adalah kesalahan, dan hidup orang yang sengaja berbuat dosa. Menjadi tempat orang-orang yang khusyuk setiap munafik yang memberontak. Bulan puasa telah pergi darimu, waktu shalat malam telah meninggalkanmu, penasihat telah mendesak dan telah menegur. Apakah matahari kebangkitan terbit sedang engkau tidur? Perbaiki apa yang tersisa dari hari-hari. Kami telah melihatmu lalai pada yang pertama, kedua, dan ketiga, maka tidak ada lagi setelah fajar mendekat.
Apakah engkau meninggalkan yang engkau cintai padahal engkau tetangga Dan mencari mereka padahal tempat bertemu telah jauh Dan menangis setelah kepergian mereka karena rindu Dan bertanya di rumah-rumah ke mana mereka pergi Engkau meninggalkan pertanyaan tentang mereka padahal mereka hadir Dan berharap rumah-rumah akan memberitahumu Maka salahkan dirimu dan jangan salahkan kendaraan Dan matilah karena sedih karena tidak ada pembelaan bagimu
Kasihanlah wahai bulan puasa… Aaah wahai bulan di antara bulan-bulan… Engkau lewat seperti bayangan dan mempercepat langkah… Engkau seperti mimpi, bukan seperti sisa masa-masa… Salam atas kalian wahai bulan iman…
Salam untukmu wahai bulan Ramadhan, salam untukmu wahai bulan puasa, shalat malam, dan tilawah Al-Quran. Salam untukmu wahai bulan pemaafan dan ampunan. Salam untukmu wahai bulan berkah dan ihsan. Salam untukmu wahai bulan pemberian dan keridaan. Salam untukmu wahai bulan keamanan. Engkau adalah penjara bagi orang-orang yang bermaksiat, dan ketenangan bagi orang-orang yang bertakwa. Salam untukmu wahai bulan ritual dan ibadah. Salam untukmu wahai bulan puasa dan tahajud. Salam untukmu wahai bulan tarawih. Salam untukmu wahai bulan cahaya dan pelita. Salam untukmu wahai bulan perdagangan yang menguntungkan. Salam untukmu wahai bulan yang di dalamnya ditinggalkan yang buruk. Salam untukmu wahai ketenangan para arif. Salam untukmu wahai kebanggaan para penutur. Salam untukmu wahai cahaya para pencinta. Salam untukmu wahai taman para abid. Salam untukmu wahai bulan yang di dalamnya orang-orang bertakwa berlomba. Salam untukmu dari hati yang bersedih karena perpisahan denganmu.
Alangkah baiknya aku tahu, apakah hari-harimu akan kembali atau tidak kembali? Alangkah baiknya kami mengetahui apa yang engkau saksikan atas kami pada hari kedatangan? Alangkah baiknya kami tahu siapa di antara kami yang diterima dan siapa yang ditolak? Apakah jika hari-harimu kembali, kami masih hidup dan bersaing dengan ahli rukuk dan sujud? Ataukah telah tertutup atas kami liang kubur, dan kami telah dicabik-cabik oleh kebusukan dan ulat? Betapa sedihnya karena berakhirnya engkau wahai bulan kebahagiaan.
Dan jika kamu bertekad untuk pergi, maka kesedihan perpisahan merobek hati
Wahai bulan kami yang akan berubah dan berpamitan, kami mengucapkan selamat tinggal kepadamu, dan bukan karena muak kami berpisah denganmu. Siang harimu adalah sedekah dan puasa, malam harimu adalah bacaan (Al-Quran) dan shalat malam. Maka dari kami untukmu penghormatan dan salam, apakah kamu akan kembali lagi kepada kami, atau ajal akan menjemput kami sehingga tidak kembali kepadamu? Lampu-lampu kami padamu terkenal, masjid-masjid kami karenamu makmur. Sekarang lampu-lampu dipadamkan, dan shalat tarawih terputus, kami kembali kepada kebiasaan, dan berpisah dengan bulan ibadah.
Wahai bulan Ramadan bersabarlah, air mata orang-orang yang mencintai mengalir, hati mereka karena penderitaan perpisahan terbelah, semoga pertemuan perpisahan memadamkan api kerinduan yang membakar, semoga saat tobat dan berhenti menambal puasa yang robek, semoga orang yang terputus dari rombongan yang diterima dapat menyusul, semoga tawanan dosa-dosa dibebaskan, semoga orang yang berhak masuk neraka dimerdekakan.
Ya Allah bebaskanlah kami dari neraka wahai Rabb, ya Allah terimalah dari kami Ramadan, ya Allah terimalah dari kami shalat, puasa, qiyamul lail dan seluruh amal; sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Allah selamatkanlah kami untuk Ramadan, dan selamatkanlah Ramadan untuk kami, dan terimalah ia dari kami dengan penerimaan yang baik. Ya Allah kembalikanlah kepada kami Ramadan berkali-kali dan waktu yang panjang.
Ya Allah bagi-Mu segala puji karena Engkau telah memberi kami taufik untuk berpuasa dan qiyam Ramadan. Bagi-Mu segala puji wahai Rabb karena Engkau telah memberi kami taufik untuk melaksanakan Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala. Bagi-Mu segala puji dengan iman, dan bagi-Mu segala puji dengan Islam, dan bagi-Mu segala puji dengan Al-Quran, dan bagi-Mu segala puji dengan shalat, puasa, qiyam, sedekah, ihsan dan membaca Al-Quran. Bagi-Mu segala puji di awal dan di akhir. Bagi-Mu segala puji, kami tidak dapat menghitung pujian kepada-Mu; Engkau sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri. Kami memuji-Mu dengan pujian yang sesuai dengan nikmat-nikmat-Mu dan sepadan dengan tambahan-Mu. Dan kami memohon ampun kepada-Mu ya Rabb kami dari semua dosa, kesalahan dan ketaatan dan kami bertobat kepada-Mu; sesungguhnya Engkau Maha Penerima Tobat, Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi. (Ali Imran: 8)
Dan apa setelah Ramadan?!
Ramadan datang… dan Ramadan berlalu…
Pasar yang berdiri kemudian bubar, untung di dalamnya orang yang untung, dan rugi di dalamnya orang yang rugi. Seorang Muslim merasakan sakit karena berpisah dengan Ramadan dan terus mengingat hari-hari dan malam-malamnya bagaimana penuh dengan kebaikan, dipenuhi dengan ibadah, bercahaya dengan ketaatan.
Dan Ramadan berakhir, tiba-tiba masjid-masjid kembali lagi kosong melompong kecuali dari ahlinya yang memang ahlinya. Para dai kepada Allah menangisi usaha selama sebulan yang mereka curahkan; dan ternyata pada akhirnya mereka tidak mendapati bekas yang mereka sangka dan nantikan.
Mengapa orang-orang mundur setelah Ramadan dan sibuk lagi dengan dunia mereka setelah merasakan manisnya kedekatan dengan Tuhan mereka?
Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat, Abu Bakar berdiri berkata: Barangsiapa menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah mati, dan barangsiapa menyembah Allah maka sesungguhnya Allah hidup tidak akan mati.
Dan inilah aku berkata: Barangsiapa menyembah Ramadan maka sesungguhnya Ramadan telah berlalu, dan barangsiapa menyembah Allah maka sesungguhnya Allah hidup tidak akan mati. Allah Ta’ala berfirman: Semua yang di atas bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (Ar-Rahman: 26-27), Tidak ada tuhan selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali wajah-Nya. Bagi-Nya segala penentuan, dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan. (Al-Qashash: 88).
Saudara-saudaraku yang kucintai karena Allah…
Rabb kalian Yang Maha Agung berfirman: Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali. (An-Nahl: 92). Pernahkah kamu melihat seorang perempuan memintal kain, memintal kemudian memintal, dan setelah selesai baginya itu ia berdiri lalu menguraikan pintalannya… mengembalikan kain menjadi benang seperti semula, apakah ini perbuatan orang yang berakal?
Begitulah keadaanmu: sesungguhnya setelah kamu qiyamul lail sebelas rakaat setiap hari di Ramadan; kamu ingin meninggalkan semua ini sehingga tidak qiyamul lail walau empat rakaat, maka di mana bekas qiyam padamu?!
Bukankah kamu telah menemukan kelezatan dalam qiyam Ramadan? Lalu mengapa kamu mengharamkan dirimu dari kelezatan ini? Mengapa kamu mengharamkan dirimu dari pahala? Mengapa kamu membiarkan kutu kemalasan menggerogoti imanmu?!
Saudara-saudaraku… sesungguhnya agama kita adalah agama istiqamah, tidak cocok di dalamnya berubah-ubah, lepas dan menyimpang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam: Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah tobat bersamamu. (Hud: 112). Maka istiqamahlah atas perintah Allah… istiqamah atas ketaatan kepada Allah hingga kamu bertemu dengan-Nya maka itulah hari lebaran hakikimu. Rabb kita Yang Maha Agung berfirman: Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (kematian). (Al-Hijr: 99), dan yang diyakini adalah: kematian. Maka jadilah rabbani dan jangan menjadi ramadani.
Istiqamahlah atas ketaatan kepada Allah dan jangan berubah-ubah.
Ketika Hudzaifah bin Yaman, sahabat yang mulia radiyallahu anhu, didatangi kematian, Abdullah bin Mas’ud duduk di dekat kepalanya lalu berkata: Berilah aku wasiat. Ia berkata kepadanya: Bukankah keyakinan telah datang kepadamu? Ibn Mas’ud berkata: Benar, demi kemuliaan Rabbku. Maka Hudzaifah berkata kepadanya: Jauhilah berubah-ubah; karena sesungguhnya agama Allah itu satu.
Sesungguhnya kamu harus keluar dari Ramadan dengan hati yang telah terbiasa dengan ketaatan, mencintainya dan membiasakan diri dengannya hingga menjadi baginya seperti udara dan air bagi manusia. Jauhilah membunuh imanmu dengan berat ke bumi, condong kepada kemalasan, rela dengan duduk-duduk dan mundur.
Sesungguhnya aku ingin kamu wahai yang kucintai menjadi kepribadian rabbani sepanjang hidupmu, bukan pada waktu-waktu terputus dalam hidupmu sehingga kamu menjadi orang musiman. Jauhilah meninggalkan ketaatan, jangan tinggalkan hafalan Al-Quran dan tilawahnya… karena amal-amal tidak terputus setelah berakhirnya Ramadan, pena tidak terangkat darimu setelah Ramadan. Ditanyakan kepada salah seorang saleh: Mana yang lebih utama: Rajab atau Sya’ban? Ia menjawab: Jadilah rabbani dan jangan menjadi sya’bani!! Kamu harus tetap, bersabar, mendidik dirimu dan mewajibkan dirimu.
Sesungguhnya langkah pertama jalan kegagalan dan kesia-siaan adalah membiarkan nafsumu mengendalikanmu dan mengarahkanmu sekehendaknya. Bangun, kamu bangun. Keluar, kamu keluar. Kemudian tidur, makan, kamu makan. Kamu harus memiliki kendali inisiatif, kamu harus mengendalikan nafsumu dan merendahkannya untuk ketaatan kepada Sang Raja Yang Maha Agung.
Wahai saudara-saudara, amal-amal masih belum terputus setelah Ramadan.
Al-Quran tidak ditinggalkan begitu saja setelah Ramadan berakhir, tetapi pertahankan wirid tetapmu padanya. Tetaplah pada itu karena Al-Quran adalah yang menyucikan jiwamu, memperbaiki hatimu, dan meneguhkanmu di jalan kebenaran. Teruslah membaca Al-Quran dua juz sehari minimal, kemudian tambah menjadi tiga kemudian menjadi lima agar khatam setiap minggu sebagaimana yang dilakukan para sahabat.
Begitu juga qiyam tidak terputus. Qiyamlah setiap malam dengan sebelas rakaat, karena Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan qiyamul lail. Jika terlewat suatu hari karena sakit atau lainnya, beliau shalat di siang hari dua belas rakaat. Disebutkan bahwa Al-Hasan bin Shalih menjual seorang budak perempuannya. Ketika tengah malam tiba, ia bangun lalu memanggil mereka: Wahai keluarga, shalat… shalat. Mereka berkata: Sudah terbit fajar? Ia berkata: Apakah kalian tidak shalat kecuali yang wajib?!! Kemudian ia datang kepada Al-Hasan lalu berkata: Kamu menjualku kepada kaum yang tidak shalat kecuali yang wajib?!!… Kembalikanlah aku.
Dan puasa tidak terputus. Maka hendaknya kamu segera berpuasa enam hari di bulan Syawal agar seakan-akan kamu berpuasa setahun penuh. Ramadan tiga puluh hari, dan kebaikan dengan sepuluh lipatnya menjadi tiga ratus, dan enam hari dengan sepuluh lipatnya yaitu enam puluh hari, maka sempurnalah setahun, seakan-akan kamu berpuasa setahun penuh. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa berpuasa Ramadan kemudian menyusulnya dengan enam hari dari Syawal; maka seperti puasa setahun. Dan ada tiga hari setiap bulan yang Nabi shallallahu alaihi wasallam berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasanya yaitu hari-hari putih: tanggal tiga belas, empat belas dan lima belas dari setiap bulan Hijriyah.
Abu Hurairah radiyallahu anhu berkata: Kekasihku shallallahu alaihi wasallam berwasiat kepadaku dengan tiga perkara yang tidak akan kutinggalkan selama aku hidup: puasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha, dan tidak tidur hingga witir. Dan aku ingin kamu memperhatikan baik-baik perkataannya radiyallahu anhu: Tidak akan kutinggalkan selama aku hidup.
Dan ada selain itu puasa Senin dan Kamis. Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: Amal-amal dihadapkan pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka amalku dihadapkan sedang aku berpuasa.
Dan ada puasa di bulan Muharram. Sangat dianjurkan berpuasa di dalamnya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Puasa paling utama setelah Ramadan adalah bulan Allah Al-Muharram.
Sekelompok salaf menjual seorang budak perempuan. Ketika mendekati bulan Ramadan, ia melihat mereka bersiap-siap untuknya dan mempersiapkan makanan dan lainnya. Ia bertanya kepada mereka, mereka berkata: Kami bersiap-siap untuk puasa Ramadan. Ia berkata: Apakah kalian tidak berpuasa kecuali Ramadan! Sungguh aku dulu bersama kaum yang sepanjang waktu mereka Ramadan. Kembalikanlah aku kepada mereka.
Dan jenis-jenis puasa banyak seperti puasa sepuluh hari pertama Dzulhijjah, dan puasa Sya’ban; bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berpuasa hingga para sahabat berkata: Tidak berbuka. Dan berbuka hingga mereka berkata: Tidak berpuasa. Maka puasa adalah sekolah untuk menyucikan jiwa, dan ini wasiatku khusus untuk para pemuda khususnya di hari-hari ini yang dipenuhi fitnah, aku memohon kepada Allah agar menyelamatkan aku dan kalian darinya.
Dan amal-amal saleh; semuanya tidak terputus dengan terputusnya Ramadan.
Dikatakan kepada Bisyr: Sesungguhnya ada kaum yang beribadah dan bersungguh-sungguh hanya di Ramadan saja. Ia berkata: Seburuk-buruk kaum yang tidak mengenal hak Allah kecuali di Ramadan.
Sesungguhnya orang saleh adalah yang beribadah dan bersungguh-sungguh sepanjang tahun. Perbanyaklah sedekah dan infak di jalan Allah, setiap kali Allah memberimu dengan karunia-Nya. Perbanyaklah dzikir kepada Allah dan tasbih dalam segala keadaanmu dan setiap waktu.
Bahkan i’tikaf tidak terputus dengan berakhirnya Ramadan, karena i’tikaf disyariatkan sepanjang tahun.
Saudara-saudaraku… bersegeralah dengan amal-amal saleh. Maka beruntunglah orang yang menyegerakan umurnya yang pendek, memakmurkan dengannya negeri akhirat, dan bersiap-siap untuk perhitungan Yang Maha Teliti lagi Maha Melihat, sebelum hilangnya kemampuan dan berpalingnya penolong.
Al-Hasan berkata: Aku heran dengan kaum yang diperintahkan dengan bekal, dipanggil untuk berangkat, dan yang pertama duduk di atas yang terakhir mereka sambil bermain-main!!
Dan ia berkata: Wahai anak Adam, pisau sedang diasah, tungku sedang dipanaskan, dan domba sedang digemukkan.
Abu Hazim berkata: Sesungguhnya barang dagangan akhirat tidak laku, maka perbanyaklah darinya di masa ketidaklakunnya; karena jika datang waktu lakunya, kalian tidak akan mendapatkan padanya sedikit pun atau banyak.
Aun bin Abdullah berkata: Betapa banyak orang yang menyambut hari namun tidak menyempurnakannya, dan betapa banyak orang yang berharap esok namun tidak meraihnya. Sesungguhnya kalian jika melihat ajal dan perjalanannya; niscaya kalian akan membenci angan-angan dan tipuannya.
Abu Bakar bin Ayyasy berkata: Jika salah seorang dari kalian jatuh dirhamnya, ia sepanjang harinya berkata: Inna lillah… hilang dirhamku, dan umurnya pergi namun ia tidak berkata: pergi umurku.
Dan dahulu ada kaum milik Allah yang menyegerakan waktu-waktu, menjaga jam-jam, dan melekat padanya dengan ketaatan.
Ini Al-Faruq Umar radiyallahu anhu tidak meninggal hingga berpuasa terus-menerus (puasa daud).
Dan Ummul Mukminin Aisyah radiyallahu anha berpuasa terus-menerus, dan Abu Thalhah berpuasa terus-menerus setelah Rasulullah selama empat puluh tahun.
Nafi’ berkata: Aku tidak pernah melihat Ibn Umar berpuasa dalam perjalanannya, dan tidak berbuka dalam kehadirannya.
Tsabit Al-Bunani berkata: Aku tidak meninggalkan di masjid satu tiang pun kecuali aku telah khatam Al-Quran di dekatnya.
Dikatakan kepada Amr bin Hani’: Kami tidak melihat lidahmu berhenti dari dzikir, berapa kamu bertasbih setiap hari? Ia berkata: Seratus ribu, kecuali yang salah hitung jari-jari.
Al-Mansur bin Al-Mu’tamir berpuasa empat puluh tahun dan qiyam malamnya. Ia sepanjang malam menangis. Ibunya berkata kepadanya: Wahai anakku, apakah kamu membunuh orang? Ia berkata: Aku lebih tahu apa yang telah kulakukan terhadap diriku.
Al-Jamani berkata: Ketika Abu Bakar bin Ayyasy didatangi kematian, saudara perempuannya menangis. Ia berkata: Jangan menangis, dan menunjuk ke sudut di rumah, sesungguhnya saudaramu telah khatam di sudut ini delapan belas ribu kali khatam.
Sebagian salaf berkata: Puasalah dunia dan jadikan berbukamu kematian. Dunia semuanya adalah bulan puasa orang-orang bertakwa, mereka berpuasa padanya dari syahwat-syahwat yang haram. Jika datang kepada mereka kematian maka telah berakhir bulan puasa mereka dan menyambut lebaran berbuka mereka.
Dan aku telah berpuasa dari kelezatan zamanku semuanya… dan hari perjumpaanku denganmu itulah berbuka puasaku
Barangsiapa berpuasa hari ini dari syahwatnya, akan berbuka padanya setelah kematiannya. Dan barangsiapa menyegerakan apa yang diharamkan atasnya sebelum wafatnya; dihukum dengan kehilangannya di akhirat. Allah Ta’ala berfirman: Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu dan kamu telah bersenang-senang dengannya. (Al-Ahqaf: 20).
Imam Ali berkata di malam terakhir Ramadan: Andai aku tahu siapa yang diterima ini sehingga kami mengucapkan selamat kepadanya, dan siapa yang tertolak ini sehingga kami memberikan belasungkawa kepadanya.
Demikian juga Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhuma biasa berkata: Siapakah di antara kita yang diterima amalnya sehingga kita dapat mengucapkan selamat kepadanya? Dan siapakah di antara kita yang terhalang sehingga kita dapat menyampaikan belasungkawa kepadanya?
Seolah-olah yang dapat dipahami dari hal tersebut, pertama, bahwa penerimaan amal adalah perkara gaib. Dan bahwa puncak dari usaha orang-orang mukallaf hanyalah dalam mewujudkan bentuk-bentuk lahiriah amal dan penampakan-penampakannya. Adapun yang menjadi sandaran dan yang menjadi poros dalam penerimaan, sesungguhnya adalah hakikat-hakikat amal dan niat-niatnya.
Alangkah baiknya jika aku tahu, siapakah yang diterima amalnya sehingga kita mengucapkan selamat kepadanya, dan siapakah yang terhalang sehingga kita menyampaikan belasungkawa kepadanya?
Sesungguhnya hal itu adalah gaib, tidak ada seorang pun yang tahu di mana orang yang diterima amalnya dan di mana orang yang terhalang?
Kita juga memahami bahwa setelah selesainya suatu amal, tidak boleh tidak harus ada waktu untuk muhasabah diri, dan melihat bagaimana amal ini dilakukan, dan apakah amal ini diterima oleh Allah Ta’ala ataukah amal ini ditolak dan terhalang?
Maka jiwa mendapatkan ketakutan setelah mengira bahwa masa usaha dan perjuangan telah berakhir. Datanglah masa yang lain, yaitu masa muhasabah diri, dan menghukum diri atas kelalaiannya, dan berjuang untuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah Azza wa Jalla kepadanya.
Sebagian salaf berkata: Mereka bersungguh-sungguh dalam amal saleh. Apabila mereka melakukannya, kekhawatiran menyelimuti mereka: apakah amal mereka diterima atau tidak? Maka mereka tidak lepas dari rasa khawatir dan takut mereka selama melakukan amal-amal mereka. Dan rasa khawatir serta takut mereka tidak hilang setelah berakhirnya amal-amal tersebut. Mereka tidak tahu apakah amal-amal mereka diterima ataukah amal-amal itu sia-sia karena tidak pada tempatnya untuk diterima?
Kita juga memahami dari perkataan dua sahabat mulia tersebut bahwa seorang hamba harus senantiasa berdiri di pintu Allah. Orang yang diterima amalnya tidak selesai usahanya dengan amal yang diterima. Bahkan amal yang diterima ini menuntut usaha yang berkelanjutan dalam mensyukuri nikmat Allah Azza wa Jalla yang telah diberikan kepadanya, dan dalam menunaikan hak Allah Azza wa Jalla atas taufik untuk melakukan amal saleh, dan dalam terus menikmati manisnya ketaatan yang Allah Azza wa Jalla telah rasakan kepadanya.
Demikian juga orang yang terhalang, tidak terputus harapannya dari Rabbnya Yang Maha Mulia, Jalla Jalaluhu, Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan penghalangan tersebut berarti hilangnya satu putaran dari putaran-putaran usaha karena buruknya perbuatannya dan tercela niatnya. Apabila dia menyadari hal itu, maka sudah pasti putaran usahanya yang lain akan lebih beruntung untuk diterima dan lebih berharap untuk mendapatkan rahmat Arhamur Rahimin.
Siapakah yang diterima amalnya yang telah ditolong untuk berpuasa dan shalat malam, dan untuk memperbaiki kewajiban-kewajiban amal dari shalat-shalat fardhu dan shalat Jumat?
Siapakah yang diterima amalnya yang telah ditolong untuk kewajiban bersedekah dan kewajiban membaca Al-Quran, dan ditutupkan baginya Ramadhan dengan kesempurnaan dalam amal-amal saleh?
Siapakah yang diterima amalnya sehingga kita dapat mengucapkan selamat kepadanya?
Konsekuensi Penerimaan Amal:
Pertama: Tunduk kepada Keagungan Allah:
Ucapan selamat kita kepadanya dan kebahagiaan kita atas karunia Allah Azza wa Jalla yang telah diberikan kepadanya, berarti dari dirinya ada tambahan ketundukan kepada keagungan Allah, dan pengakuan akan nikmat Allah Azza wa Jalla, dan tambahan usaha untuk mensyukuri nikmat-nikmat tersebut.
Dari Abu Imran asy-Syaibani: Musa berkata pada hari Thur: Ya Rabb, jika aku shalat maka itu dari-Mu, dan jika aku bersedekah maka itu dari-Mu, dan jika aku menyampaikan risalah-Mu maka itu dari-Mu. Bagaimana aku mensyukuri-Mu? Maka Allah Ta’ala berfirman kepada Musa: Sekarang engkau telah mensyukuri-Ku.
Inilah perkataan Kalimullah, orang yang berbicara dengan Allah Azza wa Jalla. Dan itu adalah perkataan orang yang mengetahui karunia Allah dan mengakui kebaikan-Nya. Dia berkata: Ya Rabb, jika aku shalat maka itu dari-Mu, bukan dari usaha diriku sendiri dan bukan dari hasil usahaku. Seandainya aku diserahkan kepada diriku sendiri, dan seandainya diri diserahkan kepada apa yang ada padanya, maka tidak ada dari hamba kecuali ketidakmampuan dan kekurangan, kemalasan dan dosa, kesalahan dan keburukan-keburukan.
Ya Rabb, jika aku shalat maka itu dari-Mu, dan jika aku bersedekah maka itu dari-Mu. Demikian juga harta bukanlah dari hasil usahaku, tetapi ia dari rezeki-Mu, karunia-Mu, dan pemberian-Mu. Seandainya Engkau kehendaki, aku tidak akan memperoleh sesuatu pun dari harta itu. Dan sungguh jiwa-jiwa dipenuhi dengan kekikiran, dan diciptakan dengan sifat menahan dan bakhil. Seandainya bukan karena Engkau memberi kepadaku dengan menjauhkan kekikiran diriku, maka tidak akan ada dariku sedekah dan infak.
Ya Rabb, jika aku bersedekah maka itu dari-Mu. Maka tidak ada bagiku dari amal itu sesuatu pun yang kunisbatkan kepada diriku.
Ya Rabb, jika aku menyampaikan risalah-Mu maka itu dari-Mu. Maka bukanlah penjelasan itu, belas kasih kepada para mukallaf, pertolongan dalam menyampaikan, penyampaian kepada hati-hati para mukallaf, gerakan para mukallaf berdasarkan hal itu, dan bukanlah sesuatu dari itu adalah dari usaha hamba atau dari hasil usahanya. Bahkan semua itu adalah karunia Allah Azza wa Jalla dan kebaikan-Nya.
Jika aku menyampaikan risalah-Mu maka itu dari-Mu. Bagaimana aku mensyukuri-Mu?
Seandainya shalat adalah syukur, maka ia bukan dari usahaku. Dan syukur adalah perbuatan yang dinisbatkan kepada hamba, bukan kepada Yang Memberi nikmat dan kemuliaan.
Dan jika sedekah adalah syukur, maka ia juga dari karunia-Mu. Maka tidak dinisbatkan kepada hamba sesuatu pun dari itu.
Dan jika penjelasan tentang Allah dan penyampaian risalah-Nya adalah syukur, maka ia juga dari Allah Azza wa Jalla, bukan dari makhluk.
Habislah tipu daya orang-orang yang berusaha dalam mensyukuri Allah. Mereka tidak mampu mensyukuri Allah Azza wa Jalla atas nikmat-nikmat-Nya. Maka pengakuan mereka akan ketidakmampuan adalah pengumuman mereka akan syukur kepada Allah Azza wa Jalla atas nikmat-nikmat-Nya.
Maka jawaban Yang Maha Mulia kepada Kalimullah adalah: Sekarang engkau telah mensyukuri-Ku.
Pengakuanmu akan ketidakmampuanmu untuk bersyukur adalah hakikat syukur itu sendiri. Karena syukur atas nikmat Allah Azza wa Jalla adalah dengan nikmat lain dari Allah Azza wa Jalla, karunia dan kebaikan, yang mengharuskan syukur lain, sehingga syukur yang lain menjadi nikmat lain yang mengharuskan syukur lain, dan seterusnya.
Maka berakhirlah keadaan kepada pengakuan akan ketidakmampuan, dan pengumuman akan kekurangan, dan bahwa syukur atas nikmat Allah Azza wa Jalla adalah pengumuman akan ketidakmampuan untuk mensyukuri-Nya.
Kedua: Menyaksikan Kebaikan Allah:
Alangkah baiknya jika aku tahu siapakah yang diterima amalnya sehingga kita mengucapkan selamat kepadanya, atas karunia Allah yang telah diberikan kepadanya. Dan bahwa hal itu menuntut pengumuman syukur atas nikmat Allah, dan pengumuman ketidakmampuan untuk menunaikannya. Dan bahwa hal itu menuntut, bersama dengan ucapan selamat tersebut, perhatian kepada amal dan melihatnya, sehingga dia menyaksikan kebaikan Allah Azza wa Jalla dalam apa yang telah terjadi, dan sehingga dia melihat kekurangan dirinya dalam setiap ibadah, di mana dia melihat aspek-aspek ketidakmampuannya, pintu-pintu kelalaiannya, kelemahannya, dan kelambanannya terhadap karunia Allah Azza wa Jalla yang mendahului, dan kebaikan Allah Ta’ala yang menguasainya.
Ketiga: Melihat Aib Diri dan Amal:
Ucapan selamat kepada orang-orang yang diterima amalnya berarti perhatian kepada nikmat Rabb semesta alam, dan berarti kembali kepada amal-amal yang telah dilakukan dengan melihatnya dan meneliti aspek-aspek kekurangan dan kecacatan di dalamnya. Dan bahwa seharusnya amal-amal ini lebih baik dari yang telah dilakukan. Dan bahwa hak Allah Azza wa Jalla lebih besar dari itu. Dan bahwa hak atas kesalahan-kesalahan orang-orang yang diterima amalnya dan keburukan-keburukan mereka menuntut amal yang lebih banyak. Maka untuk menghilangkan kotoran-kotoran hati mereka dibutuhkan berlipat-lipat dari apa yang telah mereka persembahkan. Bahkan keburukan-keburukan dan kecacatan-kecacatan ini menuntut dari mereka usaha yang berkelanjutan, ibadah yang tidak terputus, dan kesibukan terus-menerus dengan zikir kepada Allah Azza wa Jalla dan kecintaan kepada-Nya sampai mati. Tidak sempurna hak Allah Azza wa Jalla tanpa itu.
Alangkah baiknya jika aku tahu siapakah yang diterima amalnya sehingga berhak mendapat ucapan selamat itu, dan memperoleh bersama ucapan selamat itu peringatan atas usahanya.
Keempat: Istiqamah Hati:
Alangkah baiknya jika aku tahu siapakah yang diterima amalnya sehingga kita mengucapkan selamat kepadanya, sehingga ucapan selamat kita kepadanya adalah atas apa yang telah diperoleh hatinya dari kehinaan di hadapan Allah Azza wa Jalla, pengagungan terhadap perintah-Nya, ketundukan hati tersebut, dan kelembutan terhadap makhluk, agar dia menjaga keadaan itu, dan berubah menjadi pribadi lain setelah pemberian Allah Azza wa Jalla kepadanya di bulan Ramadhan, karunia-Nya kepadanya, dan kebaikan-Nya.
Kelima: Istiqamah dalam Amal Saleh:
Alangkah baiknya jika aku tahu siapakah yang diterima amalnya sehingga kita mengucapkan selamat kepadanya, agar dia mengharapkan musim Ramadhan yang lain dengan di antara keduanya ibadah yang berkelanjutan, dan kesibukan dengan Allah Azza wa Jalla, ketaatan kepada-Nya, pengabdian kepada-Nya, dan kecintaan kepada-Nya, kesibukan yang terus-menerus dan tidak terputus.
Alangkah baiknya jika aku tahu siapakah yang diterima amalnya sehingga kita mengucapkan selamat kepadanya, sehingga ucapan selamat kita kepadanya menjadi sebab istiqamahnya atas apa yang telah Allah Azza wa Jalla berikan taufik kepadanya dari amal saleh.
Maka tidak berakhir dengan berakhirnya Ramadhan puasanya…
Dan tidak hilang dengan hilangnya malam-malam Ramadhan shalat malamnya…
Dan tidak kembali kepada keadaan sebelumnya yaitu kekosongan antara dirinya dengan mushaf dan bacaan Al-Qurannya…
Agar dia berubah menjadi pribadi yang mengikuti Nabi shallallahu alaihi wa sallam. “Karena amal Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah langgeng.” Dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah Azza wa Jalla adalah yang paling langgeng meskipun sedikit.” Maka amal yang paling dicintai adalah yang paling langgeng meskipun sedikit. Agar ucapan selamat kita kepada orang-orang yang diterima amalnya menjadi sebab kelanggengan mereka atas apa yang telah Allah Azza wa Jalla berikan kepada mereka dari sebab-sebab taufik, maka mereka mengikuti dalam hal itu sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam: “Sungguh, pada diri Rasulullah itu terdapat suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan hari akhir, dan yang banyak mengingat Allah.” (Surah al-Ahzab: 21)
Selamat… Selamat
Wahai yang diterima amalnya, selamat. Tetapi jangan tertipu. Sesungguhnya kamu diterima dengan taufik Allah, petunjuk Allah, karunia Allah, dan rahmat-Nya, dan bukan dari dirimu. Maka hendaknya hatimu terikat kepada Allah sebagai syukur kepada Allah.
Wahai yang diterima amalnya, selamat. Tetapi jangan bangga dengan amalmu, karena sesungguhnya Allah berhak mendapat lebih dari itu.
Wahai yang diterima amalnya, selamat. Tetapi jagalah hatimu agar tidak hilang manisnya ketaatan yang kamu peroleh di bulan Ramadhan.
Wahai yang diterima amalnya, selamat. Tetapi hati-hati berjalan dan duduk bersama orang-orang yang menganggur dan tertipu oleh mereka.
Wahai yang diterima amalnya, selamat. Tetapi ketahuilah bahwa tanda penerimaan adalah bertambahnya ketaatan setiap hari.
Wahai yang diterima amalnya, selamat. Tetapi tanyakan kepada dirimu: Apakah kekuatan dorongan untuk beribadah menurun atau tidak?
Wahai yang diterima amalnya, selamat. Tetapi apakah jika kamu meninggal sekarang kamu akan mendapati Allah ridha kepadamu?
Wahai yang diterima amalnya, selamat. Tetapi tanyakan kepada dirimu: Apakah amalku akan mengantarkanku ke tingkat tertinggi surga ataukah hanya cukup untuk sekadar menyelamatkanku dari neraka?
Wahai yang diterima amalnya, selamat. Tetapi hati-hati terhadap kelemahan dan meninggalkan ketaatan kepada Allah.
Wahai yang diterima amalnya, selamat. Tetapi jika kamu bermain atau lalai setelah Ramadhan, maka ini adalah tanda kerugian.
Wahai yang diterima amalnya, selamat. Tetapi hati-hati agar hatimu tidak kembali keras setelah ia bersih di bulan Ramadhan.
Wahai yang diterima amalnya, selamat. Tetapi hati-hati agar tidak menghancurkan apa yang telah kamu bangun, kamu lelahkan, dan kamu begadang untuk membangunnya.
Wahai yang diterima amalnya, selamat. Tetapi hati-hati agar tidak menjadi orang Ramadhani, yang beribadah kepada Allah satu bulan dan meninggalkan-Nya sebelas bulan.
Wahai yang diterima amalnya, selamat. Tetapi hati-hati agar hatimu tidak menyimpang setelah kamu merasakan dan mengetahui, agar tidak menjadi bukti atas dirimu sendiri pada hari kiamat.
Wahai yang diterima amalnya, selamat. Tetapi ketahuilah bahwa kewajiban syukur kepada Allah mengharuskanmu untuk mensyukuri nikmat ketaatan yang Allah berikan taufik kepadamu dan menolong kamu untuk melakukannya dengan amal. Allah Ta’ala berfirman: “Bekerjalah kamu, wahai keluarga Dawud, sebagai rasa syukur. Dan sedikit sekali hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (Surah Saba’: 13)
Wahai yang diterima amalnya, selamat. Tetapi jangan hinakan dirimu setelah Allah memuliakan kamu dengan penghambaan hanya kepada-Nya.
Wahai yang diterima amalnya, selamat. Tetapi hati-hati agar tidak bermaksiat kepada Rabbmu dan meninggalkan kalam-Nya.
Wahai yang diterima amalnya, selamat. Tetapi hati-hati terhadap mata yang kaku dan buruknya akhlak.
Wahai yang diterima amalnya, selamat. Tetapi hati-hati menyia-nyiakan waktu. Sebagaimana kamu berhati-hati terhadap waktu di bulan Ramadhan, jagalah ia setelahnya.
Wahai yang diterima amalnya, selamat. Tetapi jagalah muatan iman yang besar yang ada bersamamu, tambahkan ia dan jangan kurangi.
Wahai yang diterima amalnya, selamat. Tetapi apakah kamu sedih dengan berakhirnya bulan ini ataukah senang?
Wahai yang diterima amalnya, selamat. Tetapi aku ingin kamu membandingkan antara dua hati: hatimu di Ramadhan dan hatimu setelah Ramadhan. Lihatlah dan renungkan.
Wahai yang diterima amalnya, selamat. Tetapi tanyakan kepada dirimu: Apakah aku setelah Ramadhan menghadap kepada dunia dengan hatiku dan akalku ataukah akhirat masih menjadi perhatian terbesarku?
Wahai yang diterima amalnya, selamat. Tetapi hati-hati agar puasa tidak berakhir dengan berakhirnya Ramadhan.
Wahai yang diterima amalnya, selamat. Tetapi orang yang berbahagia adalah yang mempersiapkan diri untuk hari kiamat.
Wahai yang diterima amalnya, selamat. Tetapi hati-hati dari mengandalkan apa yang telah kamu persembahkan, karena sesungguhnya orang yang mencintai Maulanya akan melanjutkan perjalanan kepada-Nya.
Wahai yang diterima amalnya, selamat. Tetapi hati-hati terhadap berpaling dan tipu daya, karena Allah bersamamu, mendengarmu, dan melihatmu.
Wahai yang diterima amalnya, selamat. Tetapi ketahuilah bahwa yang hakiki adalah hakikat hati, bukan hanya yang lahir saja. Allah Ta’ala berfirman: “Rabbmu lebih mengetahui apa yang ada di dalam jiwamu. Jika kamu orang-orang yang saleh, maka sungguh, Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat.” (Surah al-Isra’: 25)
Wahai yang diterima amalnya, selamat. Tetapi hati-hati agar tidak hilang takwa yang telah kamu peroleh.
Wahai yang diterima amalnya, selamat. Tetapi hati-hati agar tidak dikatakan kepadamu: Belasungkawa…
Andai aku tahu siapa orang yang terampas ini sehingga kami dapat menghiburnya?
Hingga dia melihat bahwa musibah agama lebih besar daripada musibah dunia, dan bahwa kerusakan dalam amal salehnya seharusnya lebih berat baginya daripada kerugian pada tubuh atau hartanya, dan bahwa apapun musibah dunia yang menimpanya, maka hak perbaikan dan gantinya terjamin, adapun musibah agama maka bagiannya dari Allah Azza wa Jalla telah hilang, dan bagiannya dari akhirat telah berlalu.
Konsekuensi Keterampasan:
Andai aku tahu bagaimana dia dapat memperbaiki itu, padahal telah terlewat dan hilang dengan hilangnya hari-hari dan masa-masanya?
Pertama: Pengakuan Akan Kezalimannya Terhadap Dirinya:
Andai aku tahu siapa orang yang terampas ini sehingga kami dapat menghiburnya?, dan kita semua adalah orang yang terampas itu, hingga dia tahu bahwa apa yang menimpanya adalah karena perbuatannya sendiri, amal buruknya, dan keburukan dalam niat dan tujuannya, dan bahwa itu semua dengan kebaikan Allah Azza wa Jalla dan karunia-Nya tidak pantas darinya, dan tidak sesuai dengan akal dan imannya, dan bahwa Allah Ta’ala tidak menzaliminya sedikitpun, tetapi dia menzalimi dirinya sendiri.
Dia Subhanahu berfirman dalam hadits qudsi: “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya itu adalah amal-amal kalian yang Aku hitung untuk kalian kemudian Aku balas penuh kepada kalian, maka barangsiapa menemukan kebaikan hendaklah dia memuji Allah, dan barangsiapa menemukan selain itu maka janganlah dia menyalahkan kecuali dirinya sendiri.”
Kedua: Kewaspadaan Terhadap Keburukan Perbuatan-Perbuatan Dosa:
Andai aku tahu siapa orang yang terampas ini sehingga kami dapat menghiburnya?, dan dia tahu bahwa perbuatan-perbuatan dosa dan kelalaian ini adalah hasil dari perbuatan-perbuatan dosa dan kelalaian sebelumnya, dan bahwa balasan kebaikan adalah taufik untuk kebaikan sesudahnya, dan bahwa hukuman dari perbuatan dosa adalah kekhilafan sehingga dia jatuh dalam perbuatan dosa yang mengikutinya dan terjadi setelahnya.
Ketiga: Keharusan Berdiri di Pintu:
Andai aku tahu siapa orang yang terampas ini sehingga kami dapat menghiburnya?, dan penghiburan kami adalah bahwa karunia Allah Azza wa Jalla yang luas mengharuskan untuk berdiri di pintu, dan bahwa hamba tidak meninggalkan pintu Tuhannya apapun kezaliman hamba atau keburukan perbuatannya, maka tidak henti-hentinya dari Allah Azza wa Jalla kemuliaan dan kedermawanan, meskipun dari hamba ada kekikiran dan penolakan, dan tidak henti-hentinya dari Allah Azza wa Jalla kebaikan dan pemberian, meskipun dari para mukallaf ada keburukan dan jeleknya perbuatan.
Keempat: Keharusan Bertaubat:
Andai aku tahu siapa orang yang terampas ini sehingga kami dapat menghiburnya?, dan dia tahu bahwa Allah Azza wa Jalla membentangkan tangan-Nya di malam hari agar orang yang berbuat buruk di siang hari bertaubat, dan membentangkan tangan-Nya di siang hari agar orang yang berbuat buruk di malam hari bertaubat, hingga matahari terbit dari barat, dan dia tahu bahwa pintu Allah Azza wa Jalla masih tetap terbuka, dan bahwa Allah Ta’ala tidak menolak taubat orang yang bertaubat “Allah Azza wa Jalla lebih gembira dengan taubat salah seorang dari kalian daripada salah seorang dari kalian yang menemukan untanya setelah hilang di tanah gersang.”
Maka taubat masih tersedia selama ruhmu wahai orang yang terampas belum sampai tenggorokanmu, maka kapanpun Allah Azza wa Jalla memberimu kesempatan dan melapangkan ajalmu maka masa kembalimu masih ada, urusan taubatmu masih wajib dan kamu tidak dibebaskan darinya.
Kelima: Memperbaiki Amal:
Andai aku tahu siapa orang yang terampas ini sehingga kami dapat menghiburnya?, hingga dia tahu bahwa dia harus memperbaiki amalnya; sehingga amalnya itu dengan niat yang ikhlas kepada Tuhan semesta alam..
Dan sehingga amalnya itu sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam.. Dan sehingga amalnya itu bersih dari penyakit kesombongan dan ujub, maka dia tidak melihat amal yang membuatnya bangga; bahkan dia melihat karunia Allah yang mengharuskan kerendahan diri dan kehinaannya di hadapan Tuhannya, pengakuannya akan ketidakmampuan untuk bersyukur kepada-Nya, dan dia tidak melihat dirinya yang melakukan amal itu, bahkan dia melihat dirinya yang menjadi sebab kekurangan dalam amal dan ketidakmampuan untuk melaksanakan hak Allah Ta’ala.
Keenam: Sesungguhnya Allah Hanya Menerima Dari Orang-Orang Yang Bertakwa:
Ali radhiyallahu anhu berkata: “Perhatikanlah penerimaan amal lebih keras daripada perhatian kalian terhadap amal itu sendiri, tidakkah kalian mendengar Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa’ (QS. Al-Maidah: 27).”
Sebagian mereka berkata: Sungguh aku lebih suka mengetahui bahwa Allah menerima dariku seberat biji sawi daripada dunia dan seisinya; karena Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa’ (QS. Al-Maidah: 27).
Sebagian mereka berkata: Mereka berdoa kepada Allah Azza wa Jalla selama enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya selama enam bulan lainnya agar Dia menerima Ramadhan mereka.
Semua itu berarti bahwa Ramadhan dengan hilangnya hari-harinya akan berakhir, dan bahwa kewajiban-kewajiban Ramadhan masih tetap ada, dan bahwa amal yang dilakukan di Ramadhan masih memanggil para mukallaf dan membutuhkan perhatian mereka terhadap penerimaan amal tersebut, setelah amal itu mereka lakukan, maka mereka dahulu bersungguh-sungguh dalam amal saleh, lalu ketika mereka melakukannya, kekhawatiran menimpa mereka apakah diterima dari mereka atau tidak, dan ketakutan mereka agar amal mereka tidak diterima lebih berat bagi mereka daripada amal itu sendiri, maka tidak hilang dengan hilangnya musim-musim ketaatan itu menghadap kepada Allah Azza wa Jalla, dan tidak pula perhatian terhadap amal-amal saleh.
Bahkan jika musim-musim ketaatan telah hilang; maka sesudah itu tetap ada penyempurnaan hak-hak ketaatan ini, dan penyempurnaan dari apa yang menjadi keharusannya, dari melihatnya, memeriksa cacat-cacatnya, dan berhati-hati untuk tidak membocorkannya; agar lebih jauh dari riya.
Takziah Kami.. Takziah Kami
Wahai orang yang terampas, takziah kami; wahai orang yang terampas semoga Allah mengganti musibahmu; tetapi dunia belum berakhir dengan berakhirnya Ramadhan dan masih ada sisa umur, dan Tuhan kami Jalla Jalaluhu masih membentangkan tangan-Nya di siang hari agar orang yang berbuat buruk di malam hari bertaubat, dan membentangkan tangan-Nya di malam hari agar orang yang berbuat buruk di siang hari bertaubat, maka bertaubatlah dan Allah telah menerima taubatmu.
Wahai orang yang terampas, takziah kami; tetapi jangan putus asa: ‘Tidakkah kamu suka Allah mengampuni kamu’ (QS. An-Nur: 22), jika di bulan puasa ada doa yang dikabulkan; maka di setiap malam Tuhanmu berfirman di sepertiga malam terakhir: “Adakah yang meminta sehingga Aku memberinya”, masih ada kesempatan di depanmu yang belum berakhir, masalahnya adalah kamu tidak akan kekal di neraka Jahanam selama kamu masih bertauhid, masih ada kesempatan di depanmu.
Wahai orang yang terampas, takziah kami; tetapi berhentilah untuk melihat dari mana kamu datang, mengapa kamu dikhianati, dengan apa kamu terpeleset, tidak diragukan bahwa itu dari dirimu sendiri ‘Tuhanmu tidak menzalimi hamba-hamba-Nya’ (QS. Fussilat: 46), kesempatan tersedia di hadapanmu dan kamu mengkhianati dirimu sendiri, kamu merugikan dirimu sendiri, ‘Dan Kami tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi (diri mereka sendiri)’ (QS. Az-Zukhruf: 76); oleh karena itu berhentilah untuk membebaskan diri dari nafsu yang menyuruh kepada kejahatan, berhentilah untuk merenungkan bagaimana Ramadhan hilang darimu sebagaimana hilang bertahun-tahun, berhentilah karena mukmin tidak disengat dari lubang yang sama dua kali.
Wahai orang yang terampas, takziah kami; tetapi jika Ramadhan telah hilang darimu; maka sesungguhnya Allah Yang Mahahidup tetap bersamamu selamanya, memanggil kamu untuk menghadap kepada-Nya dan kembali kepada-Nya; maka hadaplah niscaya kamu diterima.
Wahai orang yang terampas, takziah kami; tetapi ketahuilah bahwa pintu-pintu rahmat terbuka sepanjang tahun, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba selama belum terbit matahari dari barat.”
Wahai orang yang terampas, takziah kami; tetapi kamu masih hidup dapat memperbaiki apa yang terlewat darimu; dengan taubat dan tekad untuk memanfaatkan Ramadhan yang akan datang dari sekarang; maka bersiaplah.
Wahai orang yang terampas, takziah kami; tetapi ketahuilah bahwa musim-musim ketaatan beragam dan banyak, dan dari karunia Allah kepada kita bahwa itu ada di setiap bulan, maka setelah Ramadhan ada enam hari dari Syawal, kemudian sepuluh hari dari Dzulhijjah, kemudian haji, kemudian bulan Muharram, dan begitulah musim-musim dan ketaatan sepanjang tahun.
Wahai orang yang terampas, takziah kami; tetapi di depanmu ada puasa Senin dan Kamis, dan tiga hari dari setiap bulan, dan shalat sebelas rakaat setiap hari, dan sedekah, dan membaca Alquran dan selainnya, maka itu adalah pintu-pintu kebaikan di Ramadhan dan selainnya; maka hadaplah dan jangan bersedih.
Wahai orang yang terampas, takziah kami; tetapi cobalah melakukan umrah dalam periode mendatang; untuk mengganti apa yang terlewat darimu dan memperbaikinya.
Wahai orang yang terampas, takziah kami; tetapi jangan takut dan jangan bersedih; karena Yang Mahamulia Subhanahu adalah Syakur (Maha Mensyukuri) yang mensyukuri yang sedikit, kemudian menumbuhkannya, tetapi dengan syarat keikhlasan.
Wahai orang yang terampas, takziah kami? Tetapi manfaatkanlah setiap kesempatan setelah itu yang datang kepadamu dalam ketaatan kepada Allah.
Wahai orang yang terampas, takziah kami; tetapi katakanlah: takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki terjadi, dan belajarlah dari kesalahanmu agar kamu dapat maju setelah itu.
Wahai orang yang terampas, takziah kami; tetapi dalam sekejap kamu bisa menjadi wali sejati.. bertakwa sejati, dengan taubat dan menghadap kepada Allah, dan menyesal atas apa yang telah lewat, dan tekad untuk memperbaiki.
Wahai orang yang terampas, takziah kami; tetapi jangan putus asa; karena sesungguhnya ‘tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir’ (QS. Yusuf: 87).
Wahai orang yang terampas, takziah kami; tetapi bersamamu ada senjata kuat yang dengannya kamu dapat membuka setiap yang tertutup yaitu doa, maka tetaplah dengan tunduk dan membutuhkan.
Wahai orang yang terampas, takziah kami; tetapi penyesalanmu atas apa yang terlewat darimu menyenangkan Allah maka Dia merahmatimu, maka bergembiralah selama kamu menyesal dan bertekad.
Wahai orang yang terampas, takziah kami; tetapi bergembiralah karena kamu seorang muslim yang bertauhid, shalat dan mengingat Allah dan mencintai Nabimu Muhammad shallallahu alaihi wa sallam maka diharapkan bagimu dan darimu kebaikan.
Wahai orang yang terampas, takziah kami; tetapi cobalah lagi, dan teladanilah semut, makhluk lemah yang mencoba berkali-kali; hingga dia menempuh jalan yang diinginkannya.
Wahai orang yang terampas, takziah kami; tetapi bergembiralah; karena sesungguhnya kamu memiliki Tuhan yaitu Allah, Yang Mahakaya, Mahakuat, Al-Hannan (Yang Mahalembut), Al-Mannan (Maha Pemberi Karunia), Al-Malik (Maharaja), Ar-Rahman (Maha Pengasih), Ar-Rahim (Maha Penyayang), Al-Wadud (Maha Pengasih), Al-Lathif (Maha Halus) yang berfirman: “Barangsiapa mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta.”
Wahai orang yang terampas, takziah kami; tetapi bergembiralah dengan surga yang luasnya seluas langit dan bumi jika kamu istiqamah dan kembali kepada Allah.
Wahai orang yang terampas, takziah kami; tetapi masih bersamamu permata yang agung, dan mukjizat yang abadi, kamu melihatnya dan memegangnya dengan tanganmu: Alquran yang mulia, maka berbahagialah dengannya dan bacalah malam dan siang.
Wahai orang yang terampas, takziah kami; tetapi bergembiralah dan beroptimislah dengan penyesalan, taubat, dan kesedihan atas apa yang terlewat darimu, karena itu adalah tanda sehatnya hatimu, dan berdoalah kepada Allah agar Dia sampai kepada kebaikan.
Wahai orang yang terampas, takziah kami; tetapi tunggulah hingga kami berkata kepadamu: selamat kepadamu.
Andai aku tahu siapa orang yang terampas itu sehingga kami dapat menghiburnya?, hingga dia menahan dirinya pada ketaatan kepada Allah dan mencegahnya dari kebiasaan-kebiasaan, kesukaan-kesukaan, dan syahwat-syahwatnya, dan dia tahu bahwa keterampasan itu menimpanya karena tenggelamnya dalam mengejar syahwat-syahwatnya, dan karena meninggalkan sunnah-sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam hingga kebiasaan-kebiasaan dan kelaziman-kelazimannya mendudukkannya dari kemenangan yang besar.
Wahai Kesedihan Atas Apa Yang Telah Hilang!!..
Barangsiapa berpuasa Ramadhan dan dia bertekad jika Ramadhan pergi bahwa dia tidak akan bermaksiat kepada Allah Ta’ala; maka puasanya diterima tanpa hisab dan tanpa azab, dan barangsiapa berpuasa Ramadhan dan dia bertekad jika Ramadhan pergi bahwa dia akan bermaksiat kepada Allah Ta’ala, maka puasanya ditolak atasnya, dan amalnya tidak diterima darinya.
Maka andai aku tahu siapa orang yang terampas ini sehingga kami dapat menghiburnya?, hingga penghiburan kami kepadanya adalah kewajiban baginya untuk memulai taubatnya dan menyempurnakan istiqamahnya, dan peringatannya agar tidak datang kepadanya Ramadhan yang lain, hingga itu menjadi peringatan baginya agar tidak datang kepadanya kematian secara tiba-tiba, ‘Agar jangan sampai ada yang mengatakan: “Amat besarlah penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedangkan aku dahulu termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan(nya).” (56) Atau jangan sampai ia mengatakan: “Sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku, tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa.” (57) Atau jangan sampai ia mengatakan ketika melihat azab: “Sekiranya aku dapat kembali (ke dunia), niscaya aku akan menjadi orang yang berbuat baik.” (58) (Allah berfirman): “Sebenarnya telah datang ayat-ayat-Ku kepadamu, lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan kamu termasuk orang-orang yang kafir.”‘ (QS. Az-Zumar: 56-59).
Dan mungkin seseorang bertanya: Bagaimana aku tahu bahwa aku termasuk orang yang diterima (amalannya)?
Jawabannya, wallahu a’lam (dan Allah lebih mengetahui):
(1) Bahwa ia mendapati hatinya lebih dekat kepada Allah, lebih tenteram dengan-Nya dan lebih mencintai-Nya, maka ini adalah buah dari ketaatan dan tanda diterimanya amal.
(2) Bahwa ia mencintai ketaatan dan menghadapinya dengan gembira, dan merasakan bahwa pintu-pintunya terbuka baginya dan dipermudah baginya untuk melakukannya, dan merasakan bahwa pintu-pintu maksiat tertutup darinya dan dipalingkan darinya, dan ia membencinya serta merasa enggan melakukannya.
(3) Bahwa ia tidak kehilangan ketaatan-ketaatan yang biasa ia lakukan di bulan Ramadan, bahkan tetap konsisten melakukannya, bahkan memulai setelah Ramadan amalan-amalan yang tidak ia lakukan sebelum Ramadan.
(4) Bahwa ia tidak kembali kepada dosa-dosa yang telah ia bertobat darinya di bulan Ramadan, karena para ulama telah membahas tentang orang yang bertobat dari suatu dosa kemudian kembali melakukannya, bahwa ini adalah bukti bahwa tobatnya tidak diterima; karena seandainya tobatnya diterima, ia tidak akan kembali kepada dosa itu lagi. Oleh karena itu, telah tetap dalam hadits bahwa “Barangsiapa berbuat buruk dalam Islam, ia akan dituntut dengan (dosa) yang pertama dan yang terakhir”, artinya ia akan dihukum dengan dosa-dosa terdahulunya juga; karena dalam berbuat buruk setelah bertobat ada pembatalan terhadap tobatnya. Dan mungkin di antara hikmah hal ini adalah perintah beramal saleh setelah bertobat. Allah Ta’ala berfirman: “Kecuali orang yang bertobat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu Allah akan mengganti kesalahan-kesalahan mereka dengan kebaikan-kebaikan. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang” (Surah Al-Furqan: 70), “Dan sungguh, Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar” (Surah Thaha: 82), dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Dan ikutilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya”. Maka persyaratan beramal saleh setelah bertobat adalah ketetapan dalam mencegah kembali kepada dosa.
(5) Merasakan karunia, dan tidak merasa bangga dengan amal:
Kadang seorang hamba diuji setelah Ramadan dengan perasaan yang membuncah bahwa ia telah menunaikan kewajibannya, dan menahan dirinya di bulan Ramadan dari banyak hal yang ia sukai, lalu engkau mendapatinya pada hari raya bermaksiat!! Dan ini adalah tanda-tanda tidak diterimanya amal, yaitu ia berbalik arah setelah Ramadan langsung. “Dan barangsiapa berbalik ke belakang, maka ia tidak akan membahayakan Allah sedikitpun. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (Surah Ali Imran: 144). Oleh karena itu, dari tanda diterimanya amal adalah engkau mendapatinya takut terhadap amalnya dan cemas tidak diterima, merasakan karunia Allah dan nikmat-Nya atasnya, membicarakan hal itu, bersyukur atas nikmat-nikmat Allah, dan terus-menerus berdzikir.
(6) Ibnu Rajab rahimahullahu wa barakatuhu menyebutkan bahwa di antara tanda-tanda diterimanya Ramadan adalah: berpuasa enam hari dari bulan Syawal, dan ia menyebutkan untuk puasa enam hari itu manfaat-manfaat besar yang tidak bisa aku abaikan, maka ambillah dengan nikmat dan sehat, dan bergembiralah jika engkau berpuasa enam hari tersebut dengan niat-niat ini, dan semoga pemahamanmu terhadap manfaat-manfaat ini dan amalanmu dengannya adalah rezeki yang Allah kirimkan kepadamu agar Dia menerima (amalmu), maka marilah wahai orang yang diterima, bergembiralah setelah beramal:
Manfaat-manfaat puasa enam hari dari bulan Syawal setelah Ramadan:
(1) Mendapatkan pahala puasa setahun penuh: Yaitu bahwa puasa setahun penuh – dan Allah membalas satu kebaikan dengan sepuluh kebaikan sejenisnya – berarti akan ditulis bagi hamba puasa sepuluh bulan sebagai balasan puasa sebulan Ramadan, dan puasa enam hari akan setara dengan pahala puasa dua bulan lainnya, sehingga hamba dengan demikian telah menyempurnakan pahala puasa setahun penuhnya.
(2) Puasa bulan Syawal dan Syaban seperti shalat-shalat sunah rawatib sebelum dan sesudah shalat wajib, sehingga dengan demikian menyempurnakan apa yang terjadi kekurangan dan kelalaian dalam kewajiban-kewajiban, karena kewajiban-kewajiban akan disempurnakan dengan amalan-amalan sunah pada hari kiamat, sebagaimana diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dari berbagai jalan, dan kebanyakan manusia dalam puasa wajibnya terdapat kekurangan dan kelalaian, sehingga ia membutuhkan apa yang memperbaiki dan menyempurnakannya dari amalan-amalan; dan karena itulah Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang seseorang mengatakan: Aku puasa Ramadan sepenuhnya atau aku qiyam Ramadan sepenuhnya. Sahabat berkata: Aku tidak tahu apakah beliau membenci penyucian diri, ataukah karena pasti ada kelalaian.
Dan Umar bin Abdul Aziz rahimahullah biasa berkata: Barangsiapa tidak menemukan sesuatu untuk disedekahkan hendaklah ia berpuasa, maksudnya barangsiapa tidak menemukan apa yang bisa dikeluarkan sebagai sedekah fitrah di akhir Ramadan hendaklah ia berpuasa setelah hari raya; karena puasa menggantikan posisi memberi makan dalam menghapus kesalahan-kesalahan, sebagaimana ia menggantikan posisinya dalam kafarat sumpah dan kafarat-kafarat lainnya.
(3) Kembali berpuasa setelah puasa Ramadan adalah tanda diterimanya puasa Ramadan; karena Allah Ta’ala jika menerima amal seorang hamba, Dia memberikan taufik kepadanya untuk amal saleh setelahnya, sebagaimana sebagian mereka berkata: Balasan kebaikan adalah kebaikan setelahnya. Maka barangsiapa melakukan kebaikan kemudian mengikutinya dengan kebaikan setelahnya; maka itu adalah tanda diterimanya kebaikan yang pertama, sebagaimana barangsiapa melakukan kebaikan kemudian mengikutinya dengan keburukan, maka itu adalah tanda penolakan kebaikan dan tidak diterimanya. Maka barangsiapa ingin mengetahui sejauh mana penerimaan amalnya dari hal itu, hendaklah ia membiasakan dirinya untuk berpuasa dan qiyam dari awal lagi sehingga puasanya yang kedua menjadi tanda diterimanya puasanya yang pertama, dan sehingga qiyamnya yang terakhir menjadi tanda diterimanya qiyamnya yang sebelumnya. Barangsiapa melakukan suatu ketaatan dan selesai darinya, maka tanda diterimanya adalah ia menyambungnya dengan ketaatan lain, dan tanda penolakannya adalah ia mengikuti ketaatan itu dengan kemaksiatan… Sebaik-baik kebaikan adalah kebaikan setelah keburukan yang menghapusnya, dan lebih baik darinya adalah kebaikan setelah kebaikan yang mengikutinya. Dan seburuk-buruk keburukan adalah keburukan setelah kebaikan yang menghancurkannya dan menghilangkannya… Satu dosa setelah tobat lebih buruk dari tujuh puluh dosa sebelumnya. Kembalinya penyakit lebih sulit daripada penyakitnya dan kadang membinasakan. Mohonlah kepada Allah keteguhan di atas ketaatan-ketaatan hingga wafat, dan berlindunglah kepada-Nya dari berbolak-baliknya hati, dan dari kembali (kepada keburukan) setelah (melakukan kebaikan). Betapa sunyi dan hina kemaksiatan setelah kemuliaan ketaatan, dan betapa keji kemiskinan karena tamak setelah kekayaan karena qanaah.
(4) Puasa Ramadan mewajibkan pengampunan atas dosa-dosa yang telah lalu, dan bahwa orang-orang yang berpuasa Ramadan akan digenapi pahala mereka pada hari raya, yaitu hari pemberian hadiah, sehingga kembali berpuasa setelah hari raya adalah syukur atas nikmat ini. Karena syukur atas nikmat hanya dengan melakukan sesuatu yang sejenis dengannya; sehingga puasa menjadi nikmat yang mengharuskan syukur dengan puasa yang lain. Maka tidak ada nikmat yang lebih besar dari pengampunan dosa-dosa. Tidakkah engkau lihat bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam qiyam sampai telapak kakinya pecah-pecah, lalu dikatakan kepadanya: Engkau melakukan itu padahal telah diampuni bagimu dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang? Lalu beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidakkah aku menjadi hamba yang bersyukur”. Maka qiyamnya beliau shallallahu alaihi wasallam dengan qiyam yang panjang itu hingga telapak kakinya membengkak… kemudian hingga telapak kakinya pecah-pecah… kemudian hingga telapak kakinya terbelah setelah membengkak, semua itu sebagai syukur kepada Allah Azza wa Jalla atas pengampunan-Nya terhadap dosa-dosanya.
Dan sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bersyukur atas nikmat puasa Ramadan dengan menampakkan dzikir-Nya, dan berbagai jenis syukur lainnya. Firman-Nya: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (Surah Al-Baqarah: 185). Maka di antara syukur hamba kepada Tuhannya atas taufik-Nya untuk puasa Ramadan dan pertolongan-Nya atasnya, serta pengampunan dosa-dosanya adalah ia berpuasa untuk-Nya sebagai syukur setelah itu. Sebagian salaf jika diberi taufik untuk qiyam pada suatu malam dari malam-malam; ia berpuasa di siangnya, dan ia menjadikan puasanya sebagai syukur atas taufik untuk qiyam.
Dan Wuhaib bin Al-Warad ditanya tentang pahala suatu amal seperti thawaf dan sejenisnya lalu ia berkata: Jangan bertanya tentang pahala, tapi tanyakanlah apa yang wajib bagi orang yang diberi taufik untuk amal ini dari syukur, atas taufik dan pertolongan untuk melakukannya.
Setiap nikmat atas hamba dari Allah Azza wa Jalla dalam agama atau dunia membutuhkan syukur atasnya, kemudian taufik untuk bersyukur atasnya adalah nikmat lain yang membutuhkan syukur kedua, kemudian taufik untuk syukur kedua adalah nikmat lain yang membutuhkan syukur yang lain, dan begitu seterusnya selamanya sehingga hamba tidak mampu untuk melakukan syukur atas nikmat-nikmat. Dan hakikat syukur adalah mengakui ketidakmampuan dalam bersyukur.
(5) Bahwa amalan-amalan yang hamba mendekatkan diri dengannya kepada Tuhannya di bulan Ramadan tidak terputus dengan berakhirnya Ramadan; bahkan ia tetap ada setelah berakhirnya selama hamba masih hidup. Dan ini adalah makna hadits bahwa orang yang berpuasa setelah Ramadan seperti orang yang kembali setelah lari, artinya seperti orang yang lari dari perang di jalan Allah kemudian kembali kepadanya. Dan itu karena banyak orang bergembira dengan berakhirnya bulan Ramadan; karena merasa berat dengan puasa dan bosannya serta lamanya bagi mereka. Dan barangsiapa demikian maka ia hampir tidak akan kembali berpuasa dengan cepat. Maka orang yang kembali berpuasa setelah berbukanya pada hari raya, kembalinya itu menunjukkan keinginannya dalam berpuasa dan bahwa ia tidak bosan dan tidak merasa berat serta tidak membencinya.
Dan dalam hadits bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Amal yang paling dicintai Allah adalah Al-Hall Al-Murtahil”, dan ditafsirkan dengan pembaca Quran yang membaca dari awal sampai akhir, dan dari akhir sampai awal, setiap kali turun ia berangkat lagi. Dan orang yang kembali berpuasa dengan cepat setelah selesainya puasanya, mirip dengan pembaca Quran jika selesai dari bacaannya kemudian kembali kepadanya, dalam maknanya, wallahu a’lam.
(6) Dalam puasa enam hari dari bulan Syawal ini ada penggantian atas apa yang terlewatkan oleh hamba dari tugas-tugas puasa, dari tugas-tugas memperbaiki dirinya, dan menegakkannya atas perintah Allah Azza wa Jalla, dan dari tugas-tugas yang diharapkan pula dari puasa yaitu berbuat baik kepada orang-orang fakir, dan menyadari nikmat Allah Azza wa Jalla dalam harta, dan bersyukur atas nikmat-nikmat Allah Azza wa Jalla, dan kekosongan hamba untuk berdzikir dan berpikir, karena keadaannya saat berbuka adalah sibuk dari berdzikir dan berpikir, dan puasa membantu dia untuk berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla dan memikirkan akhiratnya.
(7) Dalam puasa hari-hari Syawal ada pengumuman tentang tetapnya tugas-tugas ibadah selama hamba masih hidup; maka tidak hilang dengan perginya musim-musim ketaatan-ketaatan; bahkan jika musim-musim telah pergi maka Allah Azza wa Jalla tetap adalah Dzat yang Maha Pemaaf dan Maha Pengampun, dan tetap pengampunan Allah Azza wa Jalla dan maaf-Nya diharapkan dengan ibadah dari puasa dan qiyam. Maka tidak pernah berakhir sepanjang masa tugas puasa, dan tidak pernah berakhir selama masa hidup hamba tugas qiyam dan tilawah Quran.
(8) Dalam puasa hari-hari Syawal ini, dan dalam mengikutinya setelah Ramadan tanpa jeda dan tidak menunda, ada pengumuman bahwa hamba tidak jemu dari ibadah, dan bahwa ia tidak menanti perginya dan berakhirnya Ramadan, dan bahwa ia tidak bosan berdiri di pintu Tuhannya, dan tidak jemu mengharap karunia dan pemberian serta anugerah-Nya, dan bahwa ia tetap bertahan, tetap pada tugas ibadah, berkeras untuk mengharap karunia Allah Azza wa Jalla dan pemberian-Nya.
Masalah qadha Ramadan dulu atau enam hari Syawal?
Dari Ummu Salamah bahwa ia memerintahkan keluarganya: Barangsiapa yang memiliki qadha dari Ramadan hendaklah ia mengqadha-nya besoknya dari hari raya. Maka barangsiapa yang memiliki qadha dari bulan Ramadan hendaklah ia mulai dengan mengqadha-nya di bulan Syawal; karena itu lebih cepat untuk membebaskan kewajibannya, dan itu lebih utama daripada berpuasa sunah enam hari dari Syawal. Karena para ulama berbeda pendapat tentang orang yang memiliki kewajiban puasa, apakah boleh ia berpuasa sunah sebelumnya atau tidak? Dan menurut pendapat yang membolehkan puasa sunah sebelum qadha, maka tidak tercapai tujuan puasa enam hari dari Syawal kecuali bagi orang yang menyempurnakan puasa Ramadan, kemudian mengikutinya dengan enam hari dari Syawal.
Barangsiapa yang masih memiliki kewajiban qadha dari bulan Ramadan kemudian ia memulai dengan puasa enam hari dari bulan Syawal secara sunnah, maka ia tidak akan mendapatkan pahala orang yang berpuasa Ramadan kemudian menyusulnya dengan enam hari dari Syawal; karena ia belum menyempurnakan bilangan hari Ramadan, sebagaimana orang yang berbuka Ramadan karena uzur dengan berpuasa enam hari dari Syawal tidak akan mendapat pahala puasa setahun tanpa keraguan.
Dan barangsiapa yang memulai dengan qadha di bulan Syawal, kemudian ia ingin menyusul dengan puasa enam hari dari Syawal setelah menyempurnakan qadha Ramadan, maka itu adalah baik; karena pada saat itu ia telah berpuasa Ramadan dan menyusulnya dengan enam hari dari Syawal, dan ia tidak akan mendapatkan keutamaan puasa enam hari dari Syawal dengan puasa qadha Ramadan; karena puasa enam hari dari Syawal hanyalah setelah menyempurnakan bilangan hari Ramadan.
Dan di antara tanda-tanda diterimanya amalan juga:
1 – Jika kamu setelah Ramadan bersegera kepada ketaatan dengan mencintainya, dan meninggalkan kemaksiatan dengan menjauhinya; maka itu adalah tanda-tanda diterimanya amalan, dan jika kamu melihat pintu-pintu kebaikan terbuka untukmu seperti menangis, lembutnya hati, begadang malam, dan sedikitnya tidur maka ini juga termasuk buah-buah Ramadan, sebagaimana pada saat Ramadan atau lebih, maka ini adalah tanda-tanda diterimanya amalan.
2 – Jika kamu setelah Ramadan lebih baik daripada apa yang kamu alami sebelum Ramadan, dan kamu merasakan bahwa kamu memiliki hati yang baru yang berdenyut dengan cinta kepada Allah, dan kamu merasa bahwa kamu mencintai Rabbmu lebih banyak, dan mencintai zikir-Nya dan berdiri di hadapan-Nya, dan mencintai bersyukur kepada-Nya dan mencintai menghadap kepada-Nya, maka ini adalah tanda-tanda diterimanya amalan.
Menjaga Ketaatan:
Kemudian wahai orang-orang yang kucintai karena Allah, jika setiap amalan yang disertai dengan keikhlasan itu merupakan hak, maka niat di dalamnya tidak tercampur dengan riya atau mencari nama, maka amalan tersebut harus dijaga agar tidak ada kerusakan yang menyelinap ke dalamnya. Dan penjagaan itu adalah:
Pertama: Dengan berhati-hati dari berbangga dengan ketaatan:
Yang pertama adalah menjaga amalan tersebut agar tidak terjadi pada diri hamba sikap mengungkit-ungkit kepada Allah Azza wa Jalla, atau kepada makhluk-Nya, sehingga ia tidak melihat amalan tersebut sampai mengharapkan hak yang harus ditunaikan oleh makhluk, atau sesuatu yang mewajibkan baginya sesuatu yang lain dari Rabb Azza wa Jalla, maka walaupun ada amalan, ia tetap melihat dirinya sebagai yang paling rendah di antara saudara-saudaranya dan yang paling banyak dosanya dan yang paling banyak aibnya, sehingga tidak ada hak untuknya atas mereka yang harus ditunaikan dengan amalannya.
Dan ia juga tidak berbangga dengan amalan tersebut kepada Rabbnya, ia tidak melihat bahwa ia telah melakukan sesuatu yang baginya ada hak atau kesombongan atas Allah Azza wa Jalla, maka ia tidak melihat amalan tersebut sebagai nikmat Allah Azza wa Jalla yang mengharuskan darinya syukur yang lain, dan usaha yang berkelanjutan, dan kesungguhan yang tidak terputus sampai mati.
Kedua: Dengan berhati-hati dari sikap ujub:
Hak amalan setelah selesai adalah berhati-hati agar tidak timbul ujub pada diri, dan menolak ujub dengan menyaksikan karunia Allah Azza wa Jalla kepadamu, dan kekurangan dirimu, maka pandanganmu terhadap amalanmu akan hilang, ketika kamu tenggelam dalam melihat nikmat Allah Azza wa Jalla bukan dalam melihat amalanmu.
Ketiga: Dengan berhati-hati dari kesombongan:
Dan hak amalan tersebut setelah selesai adalah berhati-hati pada diri dari kesombongan, maka kesombongannya dibangun atas menyandarkan usaha kepada usahanya sendiri, dan dari amalan untuk mendapatkannya, dan itu adalah penyandaran yang salah dan tidak benar, maka apa yang ada dari usaha atau upaya; itu adalah karunia Allah Azza wa Jalla, pemberian-Nya dan karunia-Nya, kebaikan-Nya dan kemurahan-Nya, tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan hamba.
Keempat: Dengan terus-menerus melakukan ketaatan:
Dan hak amalan tersebut setelah selesai adalah bahwa seseorang harus mengetahui bahwa tanda diterimanya hanyalah taufik untuk melakukan amalan-amalan serupa dan sejenisnya setelah selesai, dan bahwa ia harus mengetahui bahwa berakhirnya musim amalan tersebut berarti musuhnya mengumpulkan kekuatannya untuk menahannya dari berbuat lebih banyak amalan tersebut, sehingga musuh yang terkutuk itu mengumpulkan semua penghalang dan pemutus dari puasa dan shalat malam dan membaca Al-Quran, maka terjadi setelah Ramadan penurunan yang sangat tajam dari amalan-amalan saleh yang hilang dan lenyap.
Kelima: Dengan memohon pertolongan kepada Allah untuk menolak kesibukan:
Maka hak amalan-amalan yang telah kalian dapatkan dan Allah telah menolong kalian atasnya adalah bahwa kalian berhati-hati darinya terhadap tipu muslihat musuh yang mengintainya, sehingga ketika kesibukan berkumpul, dan kekhawatiran serta penghalang dan pemutus banyak; maka ada pada kalian dari permohonan pertolongan kalian kepada Allah Azza wa Jalla, dan meminta kekuatan-Nya, ada pada kalian dari itu apa yang menolak kesibukan dan penghalang dan pemutus, kalau tidak maka setiap penyerahan pada itu berarti hilangnya Ramadan dan terputusnya dengan amalan-amalan salehnya, dan berarti kembalinya hamba kepada kebiasaan-kebiasaan buruknya dan kebiasaan-kebiasaan jeleknya yang merupakan penghalang dari Allah Azza wa Jalla, dan terputus dari berjalan menuju-Nya, dan kelalaian dalam mendapatkan sebab-sebab keselamatan.
Wahai saudara-saudaraku..
Ketahuilah bahwa kenyamanan tidak didapat dengan kenyamanan, dan perkara-perkara yang tinggi tidak didapat dengan kemalasan, dan barangsiapa menanam akan menuai, dan barangsiapa bersungguh-sungguh akan mendapatkan.
Semoga Allah memberikan kebaikan kepada kaum yang kesibukan mereka dalam mengumpulkan bekal menyibukkan mereka dari keluarga dan anak-anak mereka, dan ingatan tentang akhirat mengalihkan mereka dari harta di hari kembali mereka, dan dunia memanggil mereka tetapi mereka tidak menjawab karena sibuk dengan keinginan mereka, dan mereka menjadikan kesedihan mereka sebagai bantal pengganti bantal mereka, dan mereka menjadikan malam sebagai jalan untuk jihad dan kesungguhan mereka, dan mereka menjaga anggota tubuh mereka dari neraka dari kesesatan dan kerusakan mereka.
Hati-hati mereka menghadap untuk menunaikan hak Yang Haq; maka terlalaikan dengan itu dari bercakap-cakap dengan makhluk.
Maka badan-badan di antara ahli dunia berusaha, dan hati-hati di taman kerajaan Allah merumput. Ketakutan mengunjungi mereka maka mereka menjadi bingung, dan pikiran berbicara kepada mereka maka mereka kembali takut.
Dan malam tiba kepada mereka maka mereka bermalam dengan terjaga, dan penyeru kebaikan memanggil mereka: “Kemarilah menuju keberuntungan”, maka mereka bangkit dengan menghadap.
Dan angin waktu sahur berhembus kepada mereka maka mereka terbangun dengan beristighfar, dan mereka memutus ikatan perjuangan maka mereka menjadi orang-orang yang sampai.
Maka mereka kembali di waktu fajar dengan pahala.. maka sungguh merugilah orang-orang yang menyesal.
Wahai saudara-saudaraku dalam Allah..
Sesungguhnya amal kebajikan tidak terputus darimu selama masih ada ruh padamu.. perbuatan ketaatan tidak gugur darimu selama masih ada nafas yang bergerak padamu.. dan di manapun kamu menemukan kebaikan maka bersegeralah kepadanya dan ikut serta.. Ya Allah anugerahkan kepada kami melakukan kebaikan-kebaikan, dan meninggalkan kemungkaran-kemungkaran, dan cinta kepada orang-orang miskin, dan jika Engkau menghendaki fitnah bagi hamba-hamba-Mu maka wafatkanlah kami kepada-Mu tanpa terfitnah.. Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.. Ya Allah ambillah ubun-ubun kami kepada apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas apa yang Engkau kehendaki.. dan layak untuk mengabulkan.
Wahai saudara-saudaraku..
Bulan-bulan dan amalan-amalan dan malam-malam dan hari-hari ini semuanya adalah takdir-takdir untuk ajal, dan waktu-waktu untuk amalan, kemudian berlalu dengan cepat, dan pergi semuanya, dan Zat yang mengadakannya dan menciptakannya dan mengkhususkannya dengan keutamaan-keutamaan dan meletakkannya adalah kekal tidak lenyap, dan abadi tidak berubah; Dia pada semua waktu adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan untuk amalan-amalan hamba-hamba-Nya adalah pengawas yang menyaksikan.
Maka Maha Suci Zat yang membolak-balikkan hamba-hamba-Nya dalam perbedaan waktu-waktu di antara tugas-tugas pelayanan; untuk mencurahkan kepada mereka di dalamnya keutamaan-keutamaan nikmat, dan memperlakukan mereka dengan puncak kedermawanan dan kemurahan.
Ketika berakhir tiga bulan yang mulia yang awalnya adalah bulan haram, dan akhirnya adalah bulan puasa; datang setelahnya tiga bulan, bulan-bulan haji ke Baitullah al-Haram, maka sebagaimana orang yang berpuasa Ramadan dan menghidupkannya diampuni dosanya yang telah lalu; maka barangsiapa berhaji ke Baitullah dan tidak berkata keji dan tidak berbuat maksiat ia kembali seperti hari dilahirkan oleh ibunya.
Maka tidak berlalu dari umur orang mukmin satu jam pun dari jam-jam kecuali bagi Allah ada padanya kewajiban dari kewajiban-kewajiban ketaatan; maka orang mukmin berbolak-balik di antara kewajiban-kewajiban ini, dan mendekatkan diri dengannya kepada Tuannya dan ia penuh harap dan takut, dan orang yang mencintai tidak bosan mendekatkan diri dengan sunnah-sunnah kepada Tuannya, dan tidak berharap kecuali kedekatan-Nya dan keridhaan-Nya.
Penulis : Abu al-'Ala Muhammad bin Husain bin Ya'qub as-Salafi al-Mishri
Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.







