Dalam beberapa waktu terakhir, beredar sebuah tulisan yang menyebut pesantren sebagai lembaga yang “alergi psikologi”, sibuk membangun bangunan megah tetapi mengabaikan kesehatan mental santri. Narasi itu keras, menggugah, tetapi sekaligus terlalu hitam-putih untuk realitas yang jauh lebih kompleks.
Kekhawatiran mengenai kesehatan mental remaja memang valid. Pesantren seperti lembaga pendidikan lain tidak kebal dari problem burnout, tekanan akademik, hingga dinamika psikologis khas usia pubertas. Namun membingkai pesantren sebagai institusi yang menutup mata terhadap psikologi adalah penyederhanaan yang tidak hanya tidak adil, tetapi juga berpotensi menutup pintu dialog.
*Tidak Semua Pesantren Abai Psikologi*
Fakta yang sering terlewat adalah banyak pesantren sudah bergerak maju. Beberapa pesantren telah bekerja sama dengan psikolog pendidikan, membuka layanan konseling, menerapkan asesmen perkembangan, atau mengintegrasikan pembinaan karakter dengan pendekatan psikologi Islam.
Generalitas bahwa “pesantren menolak psikologi” mengabaikan upaya senyap para pengasuh dan guru yang terus belajar, beradaptasi, dan memperbarui pola pembinaan. Pesantren-pesantren yang berkembang hari ini justru memadukan tazkiyatun nafs dengan pendekatan psikologi modern.
Narasi tunggal bahwa pesantren anti-psikologi adalah gambaran yang tidak merepresentasikan keseluruhan lanskap pesantren di Indonesia.
*Psikologi Penting, tetapi Bukan Satu-satunya Jawaban*
Santri burnout, santri kabur, bullying antarsantri, hingga depresi remaja memang kasus yang harus ditangani. Tetapi menunjuk “ketiadaan psikolog” sebagai akar dari seluruh persoalan adalah reduksi yang tidak membantu.
Lingkungan pesantren adalah ekosistem yang kompleks. Ada pengasuh, guru, senior, budaya lembaga, dinamika sosial santri, hingga latar belakang keluarga. Semuanya berkelindan menentukan kesehatan mental seorang remaja.
Psikolog tentu diperlukan tetapi menghadirkan psikolog tanpa memperbaiki pola komunikasi, manajemen asrama, atau budaya disiplin tidak otomatis menyelesaikan persoalan. Sebaliknya, ustadz dan musyrif yang memahami psikologi perkembangan juga bagian dari solusi yang sama pentingnya.
*Bangunan Megah Tidak Selalu Berarti Abai Jiwa*
Klaim bahwa pesantren sibuk membangun gedung megah namun melupakan “jiwa santri” juga membutuhkan kehati-hatian. Infrastruktur layak bukan simbol kemewahan; ia adalah kebutuhan dasar pendidikan. Asrama yang sehat, ruang belajar yang baik, dan fasilitas yang memadai justru menjadi fondasi bagi kesejahteraan psikologis santri.
Tentu, pembangunan fisik tanpa pembangunan mental adalah ketimpangan. Tetapi membenturkan keduanya, fisik versus psikis seolah keduanya saling meniadakan, adalah retorika yang tidak tepat. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan.
*Ustadz Bukan Lawan Psikolog*
Narasi yang menyebut ustadz sebagai penyebab keretakan jiwa santri adalah bentuk generalisasi yang bisa menimbulkan resistensi. Mayoritas ustadz menjalankan tugas dengan dedikasi tinggi, sering kali melebihi batas kewajaran jam kerja dan jauh dari imbalan materi yang layak.
Alih-alih menyudutkan, langkah yang lebih produktif adalah memperkuat kapasitas mereka melalui pelatihan kesehatan mental, konseling dasar, dan komunikasi empatik. Psikolog bukan pengganti ustadz; mereka adalah mitra.
Menghadapkan keduanya hanya akan memperlebar jarak antara psikologi dan dunia pesantren.
Psikologi modern dan tradisi tazkiyatun nafs dalam khazanah Islam sebenarnya memiliki ruang pertemuan yang luas. Al-Ghazali, Ibn Qayyim, dan banyak ulama klasik telah membahas struktur jiwa, dinamika emosi, dan proses penyembuhan batin jauh sebelum ilmu psikologi dikodifikasi di Barat.
Tantangan pesantren saat ini bukan menolak psikologi, tetapi menemukan bentuk integrasi yang sesuai dengan kultur pendidikan pesantren. Integrasi itu tidak hadir lewat retorika konfrontatif, melainkan melalui dialog, pelatihan, dan pendampingan yang sistematis.
Kesehatan mental santri adalah isu penting dan tidak boleh diabaikan. Kritik tentu diperlukan, tetapi kritik yang proporsional, adil, dan berbasis pemahaman lapangan akan jauh lebih berdampak daripada retorika yang membenturkan dan menggeneralisasi.
Pesantren membutuhkan psikolog, tetapi juga membutuhkan guru, pengasuh, dan budaya lembaga yang sehat. Keduanya bukan pihak yang saling meniadakan. Keduanya dapat bersinergi untuk melahirkan generasi Qur’ani yang kuat secara spiritual, intelektual, dan emosional.
Pada akhirnya, yang kita butuhkan bukan saling menyalahkan, tetapi saling membangun agar pesantren benar-benar menjadi ruang tumbuh yang aman, manusiawi, dan mencerahkan.
Penulis : Eko Budi Prasetyo







