Dzikrulloh (menyebut/mengingat Alloh) adalah suatu ibadah yang agung. Banyak sekali manfaat dan faedahnya. Dan agama Islam telah mengajarkan macam-macam dzikir yang banyak sekali, mulai bangun tidur di pagi hari sampai menjelang tidur lagi di malam hari ada contoh-contoh dzikirnya.
Selain mengajarkan dzikir, Islam juga mengajarkan adab-adabnya. Di antara adabnya adalah berdzikir dengan suara pelan, tidak dengan keras.
Adab dzikir ini diperintahkan oleh Alloh Ta’ala di dalam kitab suciNya,
diperintahkan oleh Nabi Muhamad sholallohu ‘alaihi was salam di dalam Sunnahnya, dan dijelaskan oleh banyak ulama.
Oleh karena itu tata cara dzikir hukum asalnya adalah dengan pelan, kecuali ada keterangan atau dalil yang menunjukkan dilakukan dengan keras, maka dilakukan dengan keras.
Namun di zaman ini kita lihat sebagian umat Islam berkumpul untuk berdzikir bersama, baik di masjid, di rumah, atau lainnya, kemudian mereka mengeraskan suara mereka, bahkan terkadang mereka lakukan dengan pengeras suara. Sebagian mereka melakukan sampai larut malam, sehingga bisa menggangu istirahat tetangga sekitar. Semua ini sesungguhnya bertentangan dengan adab dzikir yang telah kami sebutkan.
Karena kewajiban sesama umat Islam adalah saling menasehati untuk menetapi kebenaran dan kesabaran, maka di dalam tulisan ini akan kami sampaikan sedikit keterangan dalam bab ini, semoga bermanfaat agi kita semua.
PERINTAH ALLOH UNTUK DZIKIR DENGAN PELAN
Alloh Ta’ala berfirman:
” وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ “
Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu/dengan pelan dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (QS. Al-A’rof/7: 205)
Syaikh Abdurrohman bin Nashir as-Sa’di rohimahulloh (wafat th. 1376 H) berkata menjelaskan ayat ini di dalam tafsirnya:
“Dzikir kepada Allah Ta’ala adalah dengan hati, dengan dengan lesan, dan dengan keduanya, dan ini adalah jenis dan keadaan dzikir yang paling sempurna.
Maka Allah memerintahkan RasulNya, Muhammad sholallohu ‘alaihi was salam, yang asal, sedangkan selain beliau (hukumnya) mengikuti, untuk berdzikir kepada Rabbnya
(pada dirinya),
yaitu: dengan ikhlas dan sendirian.
(dengan merendahkan diri),
yaitu merendahkan diri dengan lesanmu dan mengulang-ulang jenis-jenis dzikir;
(dan rasa takut),
yaitu di dalam hatimu, engkau takut kepada Allah, bergetar hatimu, dan takut amalanmu tidak akan diterima. Dan tanda takut tersebut adalah, seseorang berusaha dan berjuang di dalam menyempurnakan dan memperbaiki amalan serta tulus dengan amalannya;
(dan dengan tidak mengeraskan suara),
yaitu bersikaplah pertengahan, janganlah engkau mengeraskan shalatmu dan janganlah engkau merendahkannya (suaramu), dan lakukan di antaranya;
(di waktu pagi) yaitu awal siang (dan di waktu petang) yaitu akhir siang.
Dua waktu ini memiliki kekhususan dan keutamaan di atas waktu selainnya untuk dzikrulloh.
(dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai)
yaitu orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka melupakan diri mereka sendiri, karena mereka itu terhalangi kebaikan dunia dan akhirat, dan mereka berpaling dari (Allah) yang seluruh kebahagiaan dan kesuksesan adalah di dalam berdzikir kepadaNya dan beribadah kepadaNya; dan mereka mendekat kepada (makhluk) yang seluruh kecelakaan dan kerugian adalah di dalam menyibukkan diri dengannya.
Ini termasuk adab yang sepantasnya seorang hamba menjaganya dengan sebenar-benarnya.
Yaitu memperbanyak dzikrulloh, di waktu-waktu malam dan siang, khususnya dua ujung siang, dengan ikhlas, khusyu’, merendahkan diri, menghinakan diri, tenang, hatinya sesuai dengan lesannya, dengan adab, kehormatan, menghadapkan diri dan konsentrasi terhadap doa dan dzikir, dan tidak lalai, karena sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai dan tidak perhatian”.
(Tafsir Taisir Karimir Rahman, surat Al-A’raf ayat 205)
PERINTAH NABI UNTUK BERDZIKIR PELAN
Selain perintah Allah Ta’ala, Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi was salam juga memerintahkan untuk berdzikir dengan suara pelan.
Marilah kita perhatikan hadits shahih di bawah ini:
: عَنْ أَبِي مُوسَى الأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ
لَمَّا غَزَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْبَرَ، أَوْ قَال لَمَّا تَوَجَّهَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَشْرَفَ النَّاسُ عَلَى وَادٍ، فَرَفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالتَّكْبِيرِ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
: فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، إِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا ”
” إِنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا وَهُوَ مَعَكُمْ
وَأَنَا خَلْفَ دَابَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَمِعَنِي وَأَنَا أَقُولُ: لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
” فَقَالَ لِي: ” يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ”. قُلْتُ:” لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ،
” قَالَ: ” أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ مِنْ كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الجَنَّةِ ” قُلْتُ: ” بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَدَاكَ أَبِي وَأُمِّي
” قَالَ: ” لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Dari Abu Musa Al-Asy’ari, dia berkata:
Ketika Rosulullah sholallohu ‘alaihi was salam memerangi atau menuju Khoibar,
orang-orang mendaki sebuah lembah, maka mereka mengeraskan suara mereka dengan takbir, Alloohu akbar, Alloohu akbar, laa ilaaha illa Alloh.
Maka Rosululloh sholallohu ‘alaihi was salam bersabda:
“Rendahkanlah suaramu, sesungguhnya kamu tidak menyeru kepada (Dzat) yang tuli dan tidak hadir.
Bahkan kamu menyeru kepada (Dzat) yang Maha mendengar dan Maha dekat, dan Dia bersama kamu”.
(Abu Musa berkata:) Dan aku berada di belakang binatang tunggangan Rosululloh sholallohu ‘alaihi was salam .
Beliau mendengar aku mengatakan “laa haula walaa quwwata illa billaah”,
lalu beliau berkata kepadaku: “Wahai ‘Abdulloh bin Qois!”
Aku menjawab: “Aku memenuhi panggilanmu wahai Rosulullah”.
Beliau bersabda: “Tidakkah aku tunjukkan kepadamu satu kalimat yang termasuk harta simpanan sorga”.
Aku menjawab: “Ya wahai Rosulullah, bapakku dan ibuku sebagai tebusanmu”.
Beliau bersabda: “Laa haula walaa quwwata illa billaah”.
(HR. Bukhari, no: 4205; Muslim, no: 2704)
PENJELASAN ULAMA
1- Imam Syafi’i rohimahulloh (wafat th. 204 H) berkata:
وَأَخْتَارُ للامام وَالْمَأْمُومِ أَنْ يَذْكُرَا اللَّهَ بَعْدَ الِانْصِرَافِ من الصَّلَاةِ وَيُخْفِيَانِ الذِّكْرَ
إلَّا أَنْ يَكُونَ إمَامًا يَجِبُ أَنْ يُتَعَلَّمَ منه فَيَجْهَرَ حتى يَرَى أَنَّهُ قد تُعُلِّمَ منه ثُمَّ يُسِرُّ
“Aku memilih untuk imam dan makmum setelah selesai sholat untuk berdzikir kepada Allah.
Imam dan makmum itu berdzikir dengan pelan.
Kecuali orang yang menjadi imam, yang mana orang-orang wajib belajar darinya, maka dia membaca dengan keras sampai dia melihat bahwa orang-orang sudah belajar darinya, kemudian (setelah itu) dia membaca dengan pelan”.
(Kitab Al-Umm, 1/127, Maktabah Syamilah)
2- Imam Nawawi rohimahulloh (wafat th. 676 H) berkata:
( اِرْبَعُوا ) مَعْنَاهُ : اُرْفُقُوا بِأَنْفُسِكُمْ ، وَاخْفِضُوا أَصْوَاتكُمْ
فَإِنَّ رَفْع الصَّوْت إِنَّمَا يَفْعَلهُ الْإِنْسَان لِبُعْدِ مَنْ يُخَاطِبهُ لِيَسْمَعهُ
وَأَنْتُمْ تَدْعُونَ اللَّه تَعَالَى ، لَيْسَ هُوَ بِأَصَمَّ وَلَا غَائِب
بَلْ هُوَ سَمِيع قَرِيب ، وَهُوَ مَعَكُمْ بِالْعِلْمِ وَالْإِحَاطَة
فَفِيهِ : النَّدْب إِلَى خَفْض الصَّوْت بِالذِّكْرِ إِذَا لَمْ تَدْعُ حَاجَة إِلَى رَفْعه
فَإِنَّهُ إِذَا خَفَضَهُ كَانَ أَبْلَغَ فِي تَوْقِيره وَتَعْظِيمه
فَإِنْ دَعَتْ حَاجَة إِلَى الرَّفْع رَفَعَ ، كَمَا جَاءَتْ بِهِ أَحَادِيث
Irba’u (perintah Nabi di dalam hadits di atas-pen) maknanya: kasihilah dirimu dan rendahkanlah suaramu,
karena meninggikan suara hanyalah dilakukan oleh seseorang karena jauhnya orang yang dia ajak bicara agar dia mendengarnya,
sedangkan kamu menyeru Allah Ta’ala, Dia tidak Tuli dan tidak Jauh,
bahkan Dia itu Maha Mendengar dan Maha Dekat, dan Dia bersama kamu dengan ilmuNya dan kekuasaanNya yang meliputi.
Di dalam hadits ini terdapat anjuran berdzikir dengan merendahkan suara jika tidak ada kebutuhan untuk meninggikan suara.
Sesungguhnya dengan merendahkan suara, itu lebih sempurna di dalam menghormatiNya dan mengagungkanNya.
Namun jika ada kebutuhan untuk meninggikan suara, (boleh) meninggikan (suara), sebagaimana telah datang hadits-hadits tentang hal ini”.
(Syarah Muslim karya Nawawi, 9/68)
3- Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqolani rohimahulloh (wafat th. 852 H) berkata:
قَالَ الطَّبَرِيُّ فِيهِ كَرَاهِيَةُ رَفْعِ الصَّوْتِ بِالدُّعَاءِ وَالذِّكْرِ وَبِهِ قَالَ عَامَّةُ السَّلَفِ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ انْتَهَى
Imam Thabari rohimahulloh berkata:
“Di dalam hadits ini (terdapat dalil) dibencinya meninggikan suara dengan doa dan dzikir, dan ini merupakan pendapat mayoritas Salaf dari kalangan sahabat dan tabi’in”. (Fathul Bari, 6/135)
4- Muhammad al-Khothib asy-Syarbini rohimahulloh (wafat th. 977 H) berkata:
وَيُسَنُّ الإِسْرَارُ بِالذِّكْرِ وَالدُّعَاءِ
إِلَّا أَنْ يَكُوْنَ إِمَامًا يُرِيْدُ تَعْلِيْمَ الْمَأْمُوْمِيْنَ فَيَجْهَرُ بِهَا فَإِذَا تَعَلَّمُوْا أَسَرَّ
Dan disukai mengucapkan pelan dengan dzikir dan doa.
Kecuali orang yang menjadi imam yang ingin mengajari para makmum, maka dia membacanya dengan keras, jika para makmum sudah belajar, dia membaca dengan pelan”. (Mughnil Muhtaj, 1/182)
5- Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malyabari rohimahulloh (wafat th. 987 H) berkata:
( فَائِدَةٌ ) قَالَ شَيْخُنَا أَمَّا الْمُبَالَغَةُ فِي الْجَهْرِ بِهِمَا فِي الْمَسْجِدِ بِحَيْثُ يَحْصُلُ تَشْوِيْشٌ عَلَى مُصَلٍّ فَيَنْبَغِي حُرْمَتُهَا
Faedah: Guru kami berkata, “Adapun berlebihan bersuara keras dengan keduanya (doa dan dzikir) di dalam masjid, yang mengacaukan orang sholat, maka selayaknya itu diharamkan”. (Fathul Mu’in, 1/184-186)
Inilah sedikit keterangan tentang adab berdzikir dengan pelan, semoga bermanfaat.
Penulis : Ustadz Muslim Atsari Hafidzahullah Ta'ala
Sumber Berita: Grup Whatsapp Majlis Quran Hadits Ikhwan








