PERINCIAN LARANGAN SHOLAT DI KUBURAN DAN MASJID YANG ADA KUBURANNYA

Senin, 12 Mei 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kuburan bukan tempat sholat, namun banyak masjid berada di dekat kuburan, bahkan ada masjid berada di lingkungan kuburan.
Sebagian orang mengatakan dengan kalimat mutlak, bahwa tidak boleh sholat di masjid yang ada kuburannya, dengan tanpa perincian.
Hal ini menyebabkan kebingungan sebagian Kaum Muslimin yang akan melaksanakan sholat di masjid yang berdekatan dengan kuburan.
Di dalam tulisan ringkas ini, kami akan berusaha menyampaikan masalah ini dengan rinci, semoga bermanfaat bagi Kaum Muslimin.
Jika benar yang kami sampaikan, maka ini dari petunjuk Alloh, jika salah maka dari penulis sendiri.

HUKUM SHOLAT DI KUBURAN

Ada beberapa bentuk sholat di kuburan dengan perincian sebagai berikut:

1- Kuburan Bukan Tempat Sholat.

Hadits Abu Sa’id Al-Khudri

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
” الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلَّا المَقْبَرَةَ وَالحَمَّامَ “

Dari Abu Sa’id al-Khudri, dia berkata:
Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Bumi seluruhnya adalah masjid (tempat untuk shalat), kecuali kuburan dan pemandian”.
(HR. Tirmidzi, no. 317; Abu Dawud, no. 492; Ibnu Majah, no. 745; Ahmad, no. 11788; Ibnu Khuzaimah, no. 791; Ibnu Hibban, no. 1699, 2316, 2321; al-Hâkim, no. 919, 920. Dishohihkan oleh Al-Hakim, Adz-Dzahabi, dll. Syaikh Al-Albani menshohihkannya di dalam Irwâ’ al-Ghalîl penjelasan hadits no. 286)

Ulama berbeda pendapat tentang bolehnya sholat di kuburan, tetapi pendapat yang tepat dan lebih kuat adalah terlarang, berdasarkan hadits ini.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat th 728 H) rohimahulloh berkata:

وَلَا تَصِحُّ الصَّلَاةُ فِي الْمَقْبَرَةِ وَلَا إلَيْهَا، وَالنَّهْيُ عَنْ ذَلِكَ إنَّمَا هُوَ سَدٌّ لِذَرِيعَةِ الشِّرْكِ،

“Tidak sah shalat di kuburan, dan juga tidak sah shalat menghadap kuburan.
Dan larangan dari itu sesungguhnya karena menutup sarana kesyirikan”.
(Al-Fatawa Al-Kubro, karya Ibnu Taimiyah, 5/327)

Namun dikecualikan sholat jenazah di kuburan, bagi orang belum menyolatkannya, sebagaimana disebutkan di dalam beberapa hadits.

2- Larangan Menjadikan Kubur Sebagai Masjid.

Hadits Jundub

عَنْ جُنْدُبٍ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِخَمْسٍ، وَهُوَ يَقُولُ: …
أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ،
أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ، إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ”

Dari Jundub, dia berkata:
Saya mendengar Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:…
“Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu menjadikan kuburan para Nabi dan orang-orang shalih mereka sebagai masjid (tempat ibadah).
Ingatlah, kamu jangan menjadikan kuburan sebagai masjid (tempat ibadah), karena aku melarangmu melakukan hal itu”.
(HR. Musim, no. 23/532; Ibnu Hibban, no. 6425)

Di dalam hadits ini dan lainnya, terdapat dalil larangan menjadikan kubur sebagai masjid (tempat ibadah). Hal ini mencakup 3 makna.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani (wafat th 1420 H) rohimahulloh berkata:
“Yang dapat dipahami dari “menjadikan kubur sebagai masjid” ini ada tiga makna:
• Pertama: Sholat di atas kuburan, artinya sujud di atasnya.
• Kedua: Sujud menghadap kuburan, dan menghadapkan wajah kepadanya saat sholat dan berdoa.
• Ketiga: Membangun masjid di atasnya dan meniatkan shalat di dalamnya”.
(Tahdzirus Sajid, hlm. 28-29 penerbit Al-Maktab Al-Islami, Beirut)

3- Larangan Sholat Menghadap Kubur.

Hadits Abu Martsad Al-Ghonawi

عَنْ أَبِي مَرْثَدٍ الْغَنَوِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
“لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ، وَلَا تُصَلُّوا إِلَيْهَا”

Dari Abu Martsad Al-Ghonawi, dia berkata:
Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Janganlah duduk di atas kubur dan jangan shalat menghadapnya”.
(HR. Muslim, no. 97/972; Tirmidzi, no. 1050; Nasai, no. 760; Abu Dawud, no. 3229; Ahmad, no. 17215; Ibnu Khuzaimah, no. 794; Ibnu Hibban, no. 2322, 2324)

Imam al-Munawiy rahimahullah (wafat th. 1031 H) berkata:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat menghadap kubur; dalam rangka mengingatkan umatnya agar tidak mengagungkan kubur beliau, atau kubur para wali selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sebab, bisa jadi mereka akan berlebihan hingga menyembahnya”.
(Faidhul Qadîr, 4/318)

Imam ‘Ali al-Qoriy rahimahullah (wafat th. 1014 H) berkata:
“(Sabda Nabi) ‘jangan shalat menghadapnya’, yaitu menghadap kubur, karena itu merupakan pengagungan yang ekstrim, karena setingkat tuhan yang disembah, maka ia menggabungkan hak seorang yang agung dan pengagungan yang ekstrim, ini dikatakan oleh Ath-Thibi.
Seandainya pengagungan ini benar-benar untuk kuburan atau orang yang dikubur, maka orang yang mengagungkannya telah melakukan kekafiran.
Menirunya adalah hal yang makruh (dibenci), dan sepatutnya makruh (dibenci) yang hukumya haram”. (Mirqotul Mafatih, 3/1217)

4- Sholat Di Dekat Kubur Tanpa Sengaja, Sholatnya Sah

Hadits Anas bin Malik

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: رَآنِي عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ: وَأَنَا أُصَلِّي عِنْدَ قَبْرٍ،
فَجَعَلَ يَقُولُ: «الْقَبْرُ» قَالَ: ” – فَحَسِبْتُهُ يَقُولُ: الْقَمَرُ – ” قَالَ: فَجَعَلْتُ أَرْفَعُ رَأْسِي إِلَى السَّمَاءِ فَأَنْظُرُ
فَقَالَ: «إِنَّمَا أَقُولُ الْقَبْرُ لَا تُصَلِّ إِلَيْهِ».
قَالَ ثَابِتٌ: فَكَانَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ يَأْخُذُ بِيَدِي إِذَا أَرَادَ أَنْ يُصَلِّيَ فَيَتَنَحَّى عَنِ الْقُبُورِ

Dari Anas bin Malik beliau berkata: Umar bin Al-Khattab melihatku ketika aku sedang shalat di dekat kubur.
Lalu beliau mulai berkata: “Kubur!”.
Anas berkata: “Jadi aku pikir beliau berkata: ‘Bulan!’. Maka aku mulai mengangkat kepalaku ke langit untuk melihat”.
Beliau bekata: “Aku hanya mengatakan: “Kubur!” Kamu jangan sholat menghadap kubur.”
Tsabit berkata: Kemudian Anas bin Malik biasa menggandeng tanganku ketika hendak shalat dan menjauh dari kubur.
(HR. Abdurrozaq dalam Al-Mushonnaf, no. 1581; dishohihkan oleh Syaikh Salim Al-Hilali dalam Mausu’ah Al-Manahi Asy-Syar’iyyah, 1/431)

Syaikh Salim Al-Hilali hafizhohulloh berkata:
“Sisi penunjukkan dalil (sholatya sah), bahwa Umar rodhiyallohu ‘anhu tidak memutuskan sholat Anas rodhiyallohu ‘anhu, beliau hanya melarangnya, itu menunjukan bahwa sholatnya sah, tidak batal”.
(Mausu’ah Al-Manahi Asy-Syar’iyyah, 1/431)

HUKUM SHOLAT DI MASJID YANG DI DALAMNYA ADA KUBURAN

Sholat di masjid yang di dalamnya ada kubur tidak sah.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz (wafat th. 1420 H) rohimahulloh menjelaskan di dalam fatwanya:

س: هل تجوز الصلاة في الجامع الذي فيه قبر
ج: الصلاة في المساجد التي فيها القبور لا تصح،
كل جامع فيه قبر أو مسجد فيه قبر ولو كان ليس بجامع، المساجد التي فيها القبور لا يصلى فيها، ولا تصح الصلاة فيها؛
لأن الرسول عليه الصلاة والسلام قال: «لعنة الله على اليهود والنصارى؛ اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد»

PERTANYAAN:

Bolehkah shalat di masjid jami’ yang di dalamnya ada kuburannya?

JAWABAN:

Sholat di masjid yang di dalamnya terdapat kuburan, tidak sah.
Setiap masjid jami’ yang di dalamnya terdapat kuburan, atau masjid biasa yang di dalamnya terdapat kuburan, meskipun itu bukan masjid jami’,
masjid-masjid yang di dalamnya terdapat kuburan tidak boleh untuk shalat di dalamnya, dan tidak sah shalat di dalamnya.
Karena Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Semoga laknat Allah menimpa kaum Yahudi dan Nasrani; mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid.”
(Fatawa Nur ‘Alad Darb li Ibni Baz, 11/370)

HUKUM SHOLAT DI MASJID YANG DI LUARNYA ADA KUBURAN

Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i (wafat th. 1422 H) rohimahulloh berkata:

“Shalat di dalam masjid yang di depannya terdapat kuburan di luar tembok/dinding masjid (shalatnya) sah.
Karena larangannya tentang shalat di dalam masjid yang di dalamnya terdapat kuburan.
Sebagaimana telah datang dari Abu Sa’id Al-Khudri rodhiyallohu ‘anhu, dari Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْحَمَّامَ وَالْمَقْبَرَةَ

“Bumi semuanya adalah masjid (tempat shalat) kecuali pemandian dan kuburan.

Dan di dalam Shahih Muslim (no: 532-pen) dari hadits Jundub dari Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam , bahwa beliau bersabda:

أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ
أَلاَ فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dahulu menjadikan kubur-kubur Nabi mereka dan orang-orang shalih mereka sebagai masjid-masjid.
Ingatlah, janganlah kamu menjadikan kubur-kubur sebagai masjid-masjid, sesungguhnya aku melarang kamu dari itu!”.

Sedangkan hadits: bahwa Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلاَ تُصَلُّوا إِلَيْهَا

“Janganlah kamu duduk di atas kubur dan janganlah kamu shalat menghadapnya.” (HR. Muslim, no: 972-pen)

Maka ini jika shalat menghadapnya tanpa pagar atau dinding.
Adapun jika di dapati dinding atau pagar, sedangkan kubur itu di luar masjid, maka shalat itu sah, insya Allah”.
(Tuhfatul Mujib ‘ala As-ilatil Hadhir wal Gharib, hlm: 83-84, karya Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, penerbit Darul Atsaar, cet: 3, 1425 H / 2004 M)

Dari penjelasan ini, maka kesimpulannya adalah:
• Bahwa shalat di kuburan hukumnya terlarang. Baik kuburan itu di depan orang shalat, di belakangnya, atau di sampingnya.
• Demikian juga shalat di masjid yang di dalamnya terdapat kuburan.
• Adapun jika kubur itu di luar masjid, atau ada dinding yang membatasinya, maka shalat itu sah.
Wallohu a’lam.

SIKAP TERHADAP MASJID YANG DI DALAMNYA ADA KUBURAN

Imam Ibnul Qayyim (wafat th 751 H) rohimahulloh berkata:

فَيُهْدَمُ الْمَسْجِدُ إِذَا بُنِيَ عَلَى قَبْرٍ،
كَمَا يُنْبَشُ الْمَيِّتُ إِذَا دُفِنَ فِي الْمَسْجِدِ، نَصَّ عَلَى ذَلِكَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَغَيْرُهُ،
فَلَا يَجْتَمِعُ فِي دِينِ الْإِسْلَامِ مَسْجِدٌ وَقَبْرٌ،
بَلْ أَيُّهُمَا طَرَأَ عَلَى الْآخَرِ مُنِعَ مِنْهُ، وَكَانَ الْحُكْمُ لِلسَّابِقِ،
فَلَوْ وُضِعَا مَعًا لَمْ يَجُزْ، وَلَا يَصِحُّ هَذَا الْوَقْفُ،
وَلَا يَجُوزُ، وَلَا تَصِحُّ الصَّلَاةُ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ

“Jika masjid dibangun di atas kuburan, maka itu (harus) dibongkar.
Sebagaimana orang mati digali jika dikuburkan di dalam masjid. Hal ini dikemukakan oleh Imam Ahmad dan lain-lain,
Dalam agama Islam, masjid dan kuburan tidak bisa digabungkan.
Akan tetapi, yang mana di antara keduanya yang datang (belakangan) kepada yang lain yang lain, maka itu yang dicegah, dan keputusan untuk yang terdahulu.
Jika masjid dan kubur dibuat bersamaan, itu tidak boleh, dan wakaf ini tidak sah.
Tidak boleh dan tidak sah shalat di masjid ini”.
(Zadul Ma’ad, 3/501)

BATAS MASJID DENGAN KUBURAN

1- Jika kubur berada di luar masjid, dan ada jarak jalan, atau dinding masjid dan dinding kuburan, maka tidak diragukan boleh sholat di masjid tersebut.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz (wafat th. 1420 H) rohimahulloh berkata:

” إذا كان في قبلة المسجد شيء من القبور فالأحوط أن يكون بين المسجد وبين المقبرة جدار آخر غير جدار المسجد أو طريق يفصل بينهما ،
هذا هو الأحوط والأولى ؛ ليكون ذلك أبعد عن استقبالهم للقبور .
أما إن كانت عن يمين المسجد أو عن شماله ، أي عن يمين المصلين ، أو عن شمالهم فلا يضرهم شيئا”

“Jika ada kuburan di arah kiblat masjid, maka lebih aman jika dipasang tembok selain tembok masjid, atau ada jalan yang memisahkan antara masjid dan kuburan.
Ini lebih hati-hati dan lebih disukai. Ini lebih jauh dari mereka menghadap kuburan (ketika sholat).
Namun jika letak kubur-kubur di sebelah kanan masjid atau di sebelah kirinya, yaitu di sebelah kanan jamaah sholat atau di sebelah kirinya, maka hal itu tidak membahayakan mereka sedikit pun.”
(Majmu’ Fatawa SyAikh Bin Baz, 13/357)

2- Jika kubur berada di luar masjid, dan tidak ada jarak dengan kubur kecuali hanya dinding masjid, semoga juga tidak mengapa.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat th 728 H) rohimahulloh berkata:

أن الصحابة كانوا في زمن الخلفاء الراشدين رضي الله عنهم أجمعين يدخلون المسجد ويصلّون فيه الصلوات الخمس،
ويصلّون على النبي صلى الله عليه وسلّم ويسلمون عليه عند دخول المسجد،
ولم يكونوا يذهبون يقفون إلى جانب الحجرة ويسلّمون هناك،
وكانت على عهد الخلفاء الراشدين والصحابة حجرته خارجة عن المسجد ولم يكن بينهم وبينه إلا الجدار.

“Pada masa Khulafaur Rosyidin, semoga Allah meridhoi mereka semua, para Sahabat biasa memasuki masjid Nabawi dan melaksanakan shalat lima waktu di di dalamnya.
Mereka bersholawat untuk Nabi dan mengucapkan salam kepada beliau sholallohu ‘alaihi wa sallam saat memasuki masjid.
Mereka tidak pergi dan berdiri di samping kamar Nabi dan mengucapkan salam di sana.
Pada masa Khulafaur Rosyidin dan Sahabat, kamar Nabi berada di luar masjid, dan tidak ada batas antara mereka (Sahabat) dengan (kubur) Nabi kecuali tembok (masjid)”.
(Ar-Rodd ‘Ala al-Ikhna’iy, hlm. 130)

QOROR (KETETAPAN) HAI’AH KIBARIL ULAMA, no. 79, tanggal 21-10-1400 H

ولما اطلع المجلس على البحث المذكور واستمع إلى كلام أهل العلم وآرائهم في المسألة،
واستعرض الواقع الحالي لمسجد ابن عباس في الطائف والمقبرة التي تقع في قبلة المصلي من الجزء الشمالي منه
• رأى بعض أعضاء المجلس أن جدار المسجد لا يكفي سترة للمصلي فيه؛
ولذلك ينبغي إقامة جدار آخر خاص بالمقبرة وفتح طريق للراجل بينهما
وتنبش القبور التي تقع في مكان هذا الطريق إن كان فيها بقية من رفات الموتى.
• ورأى الآخرون أنه يكتفى بجدار المسجد القبلي سترة للمصلي فيه؛
لأن المصلي يستقبل جدار المسجد وهو مضاف إليه لا إلى المقبرة،
ولأن إنشاء جدار آخر وفتح طريق بينه وبين جدار المسجد يترتب عليه نبش القبور دون ضرورة توجب ذلك،
ولكن ينبغي أن يسد البابان اللذان في ذلك الجدار،
وترفع النوافذ التي فيه إلى حيث لا يتمكن المصلي من رؤية المقبرة من خلالها،
ويفتح باب في أدنى جزء من الجدار ليس أمامه مقبرة ليدخل منه الإمام يوم الجمعة، وتقدم معه الجنائز للصلاة عليها.
وحيث كان الرأي الأخير للأكثرية من أعضاء المجلس فقد صدر القرار برأيهم.
والله الموفق. وصلى الله وسلم على عبده ورسوله محمد.

“Ketika Majlis (Hai’ah Kibaril Ulama) mengkaji penelitian tersebut di atas dan mendengarkan perkataan para ulama dan pendapat mereka mengenai masalah tersebut,
dan mengulas realita terkini Masjid Ibnu Abbas di Thoif dan kuburan yang berada di arah kiblat orang yang sholat di bagian utaranya.

• Beberapa anggota Majlis berpendapat bahwa dinding masjid tidak cukup untuk menutupi jamaah yang shalat di dalamnya;
Oleh karena itu, tembok lain harus didirikan untuk kuburan, jalan setapak harus dibuka di antara keduanya, dan kuburan yang terletak di tempat jalan itu harus digali jika masih ada sisa-sisa orang mati di dalamnya.

• Ada pula yang berpendapat bahwa dinding Masjid di arah kiblat cukup untuk menutupi orang yang shalat di dalamnya;
Sebab jamaahnya menghadap ke tembok masjid dan terhubung dengan masjid, bukan menghadap ke kuburan.
Karena membangun tembok lain dan membuka jalan antara tembok itu dengan tembok masjid berarti menggali kuburan tanpa ada keharusan untuk itu. Namun kedua pintu di dinding kiblat itu selayaknya ditutup. Dan jendela-jendela yang ada di dinding itu ditinggikan, sehingga jamaah tidak dapat melihat kuburan melalui jendela tersebut. Sebuah pintu dibuka di bagian paling bawah tembok yang tidak terdapat kuburan di depannya, sehingga imam dapat masuk melaluinya pada hari Jumat, dan dimajukan jenazah-jenazah untuk disholatkan.

Karena pendapat akhir diikuti mayoritas anggota Majlis, maka keputusan diambil berdasarkan pendapat mereka.
Hanya Alloh Yang memberikan taufiq. Semoga shalawat dan shalawat dilimpahkan kepada hamba-Nya dan rasul-Nya Muhammad”.
(Abhaats Hai’ah Kibaril Ulama, 7/495-496)

TAMBAHAN PERINGATAN:

Perlu diingat:

1. Diharamkan dan batalnya shalat di masjid yang di dalamnya terdapat kuburan, jika orang yang shalat bermaksud mencari keberkahan dengan kubur atau meyakini ada keutamaan shalat di dekatnya

2. Diharamkan shalat di masjid yang di dalamnya terdapat kuburan yang menjadi tempat ziarah, atau petilasan untuk perbuatan-perbuatan syirik dan bid’ah, jika keburukan tersebut tidak dapat diingkari.

3. Makruh shalat di masjid yang di dalamnya terdapat kuburan, jika seorang muslim tidak berniat ke kuburan tersebut, melainkan hal itu terjadi kebetulan.

Inilah sedikit penjelasan tentang masalah penting ini.
Semoga Alloh selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.
Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju ridho dan sorga-Nya yang penuh kebaikan.

Facebook Comments Box

Penulis : Ustadz Muslim Atsari Hafidzahullah Ta'ala

Sumber Berita: Grup Whatsapp Majlis Quran Hadits Ikhwan

Artikel Terjkait

Keutamaan Puasa Sunnah
Keutamaan Puasa Asyura (Yaitu hari kesepuluh dari bulan Muharram)
PANDUAN PRAKTIS FIKIH Mazhab Imam Ahmad Bin Hanbal (Jilid 03/04)
PANDUAN PRAKTIS FIKIH Mazhab Imam Ahmad Bin Hanbal (Jilid 02/04)
PANDUAN PRAKTIS FIKIH Mazhab Imam Ahmad Bin Hanbal (Jilid 04/04)
Ringkasan Ilmu Waris
Taman bagi Pengamat dan Perisai bagi Pendebat Dalam Ushul Fikih Menurut Mazhab Imam Ahmad bin Hanbal
Kaidah-Kaidah Fikih Dalam Berinteraksi Dengan Pihak Yang Berbeda Pendapat
Berita ini 22 kali dibaca

Artikel Terjkait

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:40 WIB

Keutamaan Puasa Sunnah

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:39 WIB

Keutamaan Puasa Asyura (Yaitu hari kesepuluh dari bulan Muharram)

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:04 WIB

PANDUAN PRAKTIS FIKIH Mazhab Imam Ahmad Bin Hanbal (Jilid 03/04)

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:04 WIB

PANDUAN PRAKTIS FIKIH Mazhab Imam Ahmad Bin Hanbal (Jilid 02/04)

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:02 WIB

PANDUAN PRAKTIS FIKIH Mazhab Imam Ahmad Bin Hanbal (Jilid 04/04)

Artikel Terbaru

Pendidikan

KETIKA KEJUJURAN PUN BISA MENJADI FITNAH

Rabu, 4 Feb 2026 - 02:49 WIB

Dakwah

Fawaid ilmiya 12

Rabu, 4 Feb 2026 - 02:46 WIB

Kitab Ulama

AL-FAWAID (KUMPULAN FAIDAH)

Rabu, 4 Feb 2026 - 02:45 WIB

Kitab Ulama

Agama-agama dan Mazhab-mazhab

Rabu, 4 Feb 2026 - 02:44 WIB