Masa kecil Musa, Yusuf dan Muhammad

Kamis, 8 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lantaran cemburu atas perhatian Ya’qub yang tertumpah kepada Yusuf, maka saudara-saudaranya berencana membunuh adik mereka. Salah seorang dari mereka mengusulkan makar yang dosanya lebih ringan.

 

“Janganlah kalian bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dipungut rombongan musafir, jika kalian hendak berbuat.” (Q.S. Yusuf: 10)

Usulan itu diterima dan rencana penghilangan Yusuf akhirnya benar-benar dijalankan. Mereka berpura-pura menangis dan membawa baju Yusuf yang dilumuri darah palsu ke hadapan Ya’qub alaihissalam.

Sementara itu Yusuf yang dibuang di sumur tua pada akhirnya dipungut oleh rombongan musafir yang melintas.

Kemudian datanglah sekelompok musafir, lalu mereka menyuruh seorang mengambil air, maka dia menurunkan timbanya. Dia berkata: “Oh kabar gembira, ini ada seorang anak!” Kemudian mereka menyembunyikan dia sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (Q.S. Yusuf: 19)

Kafilah ini melanjutkan perjalanan hingga tiba di negeri Mesir. Di sana Yusuf dijual sebagai budak dengan harga yang murah.

Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, beberapa dirham, dan mereka merasa tidak tertarik kepada Yusuf. (Q.S. Yusuf: 20)

Sepasang suami istri melihat anak kecil yang dijual itu. Sang suami yang merupakan pejabat istana kemudian memerintahkan istrinya agar merawat Yusuf. Dia berharap akan ada manfaat yang bisa ia petik dan dijadikannya Yusuf sebagai anak adopsi.

Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya: “Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat untuk kita atau kita pungut dia sebagai anak”. Dan demikianlah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya ta’bir mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (Q.S. Yusuf: 21)

Kalau Yusuf hampir dibunuh kakak-kakaknya, demikian pula Musa nyaris dibunuh Firaun.

Peti yang hanyut di tepian sungai Nil itu tersangkut di sisi istana Firaun. Dan, segeralah dayang-dayang istana membuka isi peti itu. Ketika diketahui bahwa peti berisi seorang bayi laki-laki, Firaun sontak hendak membunuhnya. Akan tetapi niat Firaun itu berhasil dicegah istrinya.

 

Dan berkatalah istri Fir’aun: “Ia adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat untuk kita atau kita ambil ia menjadi anak.” Sedangkan mereka tiada menyadari. (Q.S. Al-Qashash: 9)

 

Dengan skenario Rabbul Alamin maka Musa tinggal di istana Firaun. Singkat cerita, bayi itu hanya mau disusui ibu kandungnya. Maka, ibu kandungnya yang semula menghanyutkannya ke sungai kini bertemu kembali dengan bayinya.

 

Kedua nabi Bani Israil di atas sempat mencicipi hidup dalam kemewahan istana Mesir. Hikmahnya adalah agar Yusuf bisa dengan tenang menuntut ilmu dan menerima wahyu dari Rabbnya. Sedangkan Musa terselamatkan dari pembantaian bayi lelaki Bani Israil dengan cara yang unik.

Tetapi dari istana itu pula kedua nabi yang mulia ini diterpa fitnah dan cobaan. Ibu angkat Yusuf jatuh cinta kepadanya dan mengajaknya berzina. Karena tegas menolak, Yusuf akhirnya dijebloskan ke dalam penjara.

Sedangkan Firaun, ayah angkat Musa, adalah tirani yang harus dihadapi Musa dengan segala kezaliman dan sikap melampaui batasnya.

Sekarang tengoklah masa kecil Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Beliau tidak pernah tinggal di istana. Beliau tinggal beberapa tahun, sejak bayi hingga usia 4-5 tahun di perkampungan Bani Sa’ad.

Merupakan tradisi orang Arab untuk menyerahkan penyusuan dan pengasuhan bayi mereka kepada wanita-wanita dari pelosok pedesaan. Tujuannya agar bayi-bayi tumbuh dalam udara segar dan mengenal serta mempelajari bahasa Arab yang fasih.

Saat wanita-wanita pedesaan datang ke Makkah mencari bayi-bayi untuk disusui (dengan mengambil uang jasa pengasuhan dari keluarganya), mereka mengabaikan bayi Muhammad karena kondisi beliau yang yatim. Tujuan mereka adalah mendapat imbalan materi dari jasa penyusuan itu, sementara ibu dan kakek sang bayi tidaklah bisa diharapkan.

Halimah dari Bani Sa’ad bin Bakr nyaris pulang tanpa satu pun bayi yang akan ia susui. Namun pada akhirnya ia mengambil bayi Muhammad, semata karena tidak ada bayi yang bisa ia bawa pulang.

“Tidak mengapa bila kamu melakukan hal itu, semoga Allah menjadikan kehadirannya sebagai suatu keberkahan,” ujar suami Halimah.

 

Dan memang ucapan suami Halimah itu terbukti. Rumah tangga mereka diliputi kebahagiaan, kesejahteraan dan kecukupan sejak merawat bayi Muhammad. Ternak mereka gemuk-gemuk, sehat dan memproduksi susu.

 

Baru karena peristiwa pembelahan dada oleh malaikat, Halimah memulangkan Muhammad kepada ibundanya.

 

Dalam kisah Yusuf, peran Ya’qub selaku ayah lebih dominan. Dalam kisah Musa, peran sang ibu selaku pengasuh lebih tampak. Namun Yusuf sempat terpisah dari Ya’qub berpuluh tahun lamanya. Musa mendapat kasih sayang dari dua orang ibu: ibu kandungnya dan Asiah, istri Firaun  yang menjadi ibu angkatnya.

 

Adapun Nabi Muhammad sempat diasuh ibu kandungnya Aminah dan beberapa ibu susuan. Peran ayahnya digantikan sosok kakeknya Abdul Muthalib (sampai usia 8 tahun) dan pamannya, Abu Thalib (sampai beliau menjadi Rasul).

Faidah dari latar biografi beliau di masa kecil di perkampungan Bani Sa’ad ialah beliau tumbuh menjadi sosok yang fisiknya kuat, tangguh jiwanya karena tidak dimanja kemewahan, fasih berbahasa Arab (bahkan dijuluki Jawami’ul Kalim), dekat dengan kesederhanaan dan orang-orang sederhana (rakyat jelata), tawadhu, sangat berempati dan sangat menginginkan kebaikan untuk umatnya (harishun), lemah lembut dan penyayang (raufurrahim), memiliki jiwa kepemimpinan dan kemandirian (dengan menggembala dan berdagang), zuhud (tidak mementingkan dunia) dan lain-lain.

Rasul ini pula yang berdoa: “Wahai Allah! Hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, dan matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku (pada hari kiamat) dalam rombongan orang-orang miskin.”

Menurut para ulama, makna doa itu ialah: “Wahai Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan khusyu’ dan tawadhu, dan matikanlah aku dalam keadaan khusyu’ dan tawadhu, dan kumpulkanlah aku (pada hari kiamat) dalam rombongan orang-orang yang khusyu’ dan tawadhu.”

Referensi : https://almanhaj.or.id/2299-salah-faham-terhadap-doa-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html

Wallahu a’lam bis shawab.

Facebook Comments Box

Penulis : Deny Firmansyah

Sumber Berita: https://almanhaj.or.id/2299-salah-faham-terhadap-doa-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html

Artikel Terjkait

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT
Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya
Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat
Kewajiban dan Keutamaan Taubat
Keutamaan Tauhid
Keutamaan Puasa Sunnah
Keutamaan Puasa Asyura (Yaitu hari kesepuluh dari bulan Muharram)
Keutamaan Mengajarkan Ilmu dan Menyeru Manusia kepada Kebaikan
Berita ini 2 kali dibaca

Artikel Terjkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 03:47 WIB

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:41 WIB

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:40 WIB

Keutamaan Puasa Sunnah

Artikel Terbaru

Akidah

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:47 WIB

Fatwa Ulama

Akibat Dosa Menyebabkan Bencana Alam – Faedah 10

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:45 WIB

Dakwah

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Jan 2026 - 15:41 WIB