HADITS ABU HUROIROH
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
1. “يَا أَبَا هُرَيْرَةَ كُنْ وَرِعًا، تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ،
2. وَكُنْ قَنِعًا، تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ،
3. وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ، تَكُنْ مُؤْمِنًا،
4. وَأَحْسِنْ جِوَارَ مَنْ جَاوَرَكَ، تَكُنْ مُسْلِمًا،
5. وَأَقِلَّ الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ”
Dari Abu Hurairah, dia berkata:
Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
• “Wahai Abu Hurairah, jadilah engkau orang yang waro’, niscaya engkau menjadi orang yang paling baik ibadahnya di antara manusia.
• Jadilah engkau orang yang qona’ah, niscaya engkau menjadi orang yang paling bersyukur di antara manusia.
• Cintailah (kebaikan) untuk manusia, sebagaimana kamu mencintai untuk dirimu sendiri, maka kamu akan menjadi orang yang beriman.
• Berbuat baiklah kepada tetangga, niscaya kamu akan menjadi seorang muslim.
• Dan sedikitkan tertawa, karena sesungguhnya banyak tertawa akan mematikan hati.”
(HR. Ibnu Majah, no. 4217; Ath-Thobroni dalam Musnad asy-Syamiyyiin, no. 385, 3408; Abu Thohir Al-Mukhollis dalam Al-Mukhollisiyyat, no. 183; Al-Baihaqi dalam Al-Aadaab, no. 323, 831, dan dalam Syu’abul Iman, no. 5366; Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’, 10/365; Abu ‘Ubaid dalam Al-Khuthob wal Mawa’izh, no. 129.
Dari jalur al-Watsilah bin Al-Asqo’, dari Abu Hurairah.
Dihasankan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Sunan Ibni Majah, no. 4217.
Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam keterangan Silsilah Ash-Shohihah, no. 930.
JALUR LAIN:
Hadits ini juga diriwayatkan dari jalur Ja’far bin Sulaiman, dari Abu Thoriq, dari Al-Hasan Al-Bashri, dari Abu Hurairah, sebagai berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
“مَنْ يَأْخُذُ عَنِّي هَؤُلَاءِ الكَلِمَاتِ فَيَعْمَلُ بِهِنَّ أَوْ يُعَلِّمُ مَنْ يَعْمَلُ بِهِنَّ”؟
فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: فَقُلْتُ: أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَأَخَذَ بِيَدِي فَعَدَّ خَمْسًا وَقَالَ:
1. “اتَّقِ المَحَارِمَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ،
2. وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ،
3. وَأَحْسِنْ إِلَى جَارِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا،
4. وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُسْلِمًا،
5. وَلَا تُكْثِرِ الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ القَلْبَ”
Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Siapa yang akan mengambil kata-kata ini dariku dan mengamalkannya, atau mengajari seseorang untuk mengamalkannya?”
Abu Hurairah berkata: Lalu aku berkata: “Aku, ya Rasulullah!”.
Maka beliau memegang tanganku dan menghitung sampai lima dan bersabda:
1. “Jagalah dirimu dari perkara-perkara yang diharamkan, niscaya engkau menjadi orang yang paling baik ibadahnya di antara manusia.
2. Ridho-lah dengan apa yang Alloh bagikan untukmu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya di antara manusia.
3. Berbuat baiklah kepada tetangga, niscaya kamu akan menjadi seorang mukmin.
4. Cintailah (kebaikan) untuk manusia, sebagaimana kamu mencintai untuk dirimu sendiri, maka kamu akan menjadi seorang muslim.
5. Janganlah kamu memperbanyak tertawa, karena sesungguhnya banyak tertawa akan mematikan hati.”
(HR. Tirmidzi, no. 2305; Syaikh Al-Albani menyatakan hasan lighoirihi di dalam Silsilah Ash-Shohihah, no. 930.
Karena sesungguhnya sanad riwayat ini lemah, memiliki beberapa cacat, sebagaimana dijelaskan oleh Ulama, antara lain:
Imam Tirimidzi.
Setelah meriwayatkan hadits ini, beliau menyatakan:
” هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ جَعْفَرِ بْنِ سُلَيْمَانَ
وَالحَسَنُ لَمْ يَسْمَعْ مِنْ أَبِي هُرَيْرَةَ شَيْئًا.
هَكَذَا رُوِيَ عَنْ أَيُّوبَ، وَيُونُسَ بْنِ عُبَيْدٍ، وَعَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ، وَرَوَى أَبُوعُبَيْدَةَ النَّاجِيُّ، عَنِ الْحَسَنِ، هَذَا الْحَدِيثَ قَوْلَهُ وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ”
“Ini hadits ghorib (memiliki satu jalur riwayat), kami hanya mengetahuinya dari hadits Ja’far bin Sulaiman.
Dan Al-Hasan tidak mendengar apapun dari Abu Hurairah.
Demikian juga diriwayatkan dari Ayyub, Yunus bin Ubaid, dan Ali bin Zaid, dan Abu Ubaidah Al-Naji, dari Al-Hasan, hadits ini adalah perkataannya (Al-Hasan).
Dia tidak menyebutkan di dalam riwayat itu dari Abu Hurairah, dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam”. (Sunan at-Tirmidzi, no. 2305)
Syaikh Al-Albani.
Ketika menjelaskan hadits ini, beliau menyatakan:
. وقال الترمذي: ” حديث غريب، والحسن لم يسمع من أبي هريرة شيئا “.
قلت: والصواب أنه سمع منه في الجملة كما بينه الحافظ في ” تهذيب التهذيب ”
• غير أنه أعني الحسن مدلس، فلا يحتج بما رواه عنه معنعنا كما في هذا الحديث.
• ثم إن فيه علة أخرى وهي جهالة أبي طارق هذا، قال الذهبي: ” لا يعرف “.
“(Imam) Tirmidzi berkata: ‘Ini hadis ghorib (memiliki satu jalur riwayat). Al-Hasan tidak mendengar apapun dari Abu Hurairah’.
Aku berkata: ‘Yang benar bahwa dia (Al-Hasan) mendengar dari Abu Hurairah secara umum, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Hafizh (Ibnu Hajar) di dalam Tahdzib at-Tahdzib’.
• Namun dia, yang saya maksud Al-Hasan, adalah orang seorang mudallis (perowi yang menyamarkan hadits), sehingga ia tidak dijadikan hujjah dengan periwayatan mu’an’an (menyebutkan dari Fulan), sebagaimana dalam hadis ini.
• Lalu di dalamnya ada cacat lain, yaitu tidak diketahuinya Abu Tariq ini. Adz-Dzahabiy berkata: “Dia tidak dikenal.”
(Silsilah Ash-Shohihah, 2/601, di dalam keterangan hadits no. 930)
KESIMPULAN:
Hadits yang jelas shohih yang diriwayatkan dari jalur Al-Watsilah, riwayat Ibnu Majah, dll, sebagaimana di atas, ini yang dijadikan pegangan.
Sedangkan riwayat dari jalur Al-Hasan, itu lemah, maka tidak dijadikan pegangan. Walaupun Syaikh Al-Albani menghukumi sebagai hadits hasan lighoirihi, namun ada beberapa kalimat yang berbeda dengan riwayat yang shohih, sehingga riwayat yang shohih tentu yang didahulukan. Wallohu a’lam.
KETERANGAN HADITS:
1. Makna waro’.
Syaik Ali bin Muammad Al-Jurjani rohimahulloh (wafat th.816 H) berkata:
الورع: هو اجتناب الشبهات خوفًا من الوقوع في المحرمات
Al-Waro’: adalah menghindari perkara-perkara yang samar, karena takut terjerumus pada hal-hal yang haram. (At-Ta’rifat, hlm. 252)
Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh (wafat th. 751 H) berkata:
والفرق بينه وبين الورع
أن الزهد ترك مالا ينفع في الآخرة.
والورع ترك ما يخشى ضرره في الآخرة
“Perbedaan antara zuhud dengan waro’,
Bahwa zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak berguna di akhirat.
Sedangkan waro’ adalah meninggalkan apa yang dikhawatirkan akan menimbulkan bahaya di akhirat”. (Al-Fawaid, hlm. 181)
2. Makna qona’ah.
Saikh Abul Fadhl Al-Bustiy rohimahulloh (wafat th. 544 H) berkata:
القناعة وَهُوَ الرضي بِمَا أعْطى الله
“Qona’ah: yaitu ridho (rasa puas) terhadap apa yang telah Alloh berikan”. (Masyariqul Anwar ‘ala Shihahil Atsar, 2/187)
FAWAID HADITS:
Ada beberapa faedah yang bisa kita ambil dari hadits ini, antara lain:
1. Perintah kepada seorang muslim untuk bersifat waro’.
2. Orang yang bersifat waro’ akan menjadi orang yang paling baik ibadahnya di antara manusia. Karena dengan sifat waro’ seorang akan meninggalkan hal-hal yang dilarang. Sedangkan ibadah adalah dengan melakukan hal-hal yang diperintahkan, dan meninggalkan hal-hal yang dilarang.
3. Perintah kepada seorang muslim untuk bersifat qona’ah.
4. Orang yang bersifat qona’ah akan menjadi orang yang paling bersyukur di antara manusia.
Karena termasuk syukur yang terbesar adalah ridho dengan yang ada.
5. Perintah kepada seorang mukmin untuk mencintai kebaikan untuk mukmin lain, sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri.
6. Di antara sifat wajib seorang mukmin adalah mencintai kebaikan untuk manusia, sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri.
Sebab seorang mukmin adalah saudara mukmin lainnya.
7. Perintah kepada seorang muslim untuk berbuat baik kepada tetangga.
8. Di antara sifat wajib seorang muslim adalah berbuat baik kepada tetangga.
Sebab seorang muslim adalah orang yang muslimin selamat dari gangguan lidah dan tangannya.
9. Perintah kepada seorang muslim untuk menyedikitkan tertawa.
10. Keburukan banyak tertawa, yaitu akan mematikan hati.
Inilah sedikit penjelasan tentang hadits yang agung ini.
Semoga Alloh selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.
Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju ridho dan sorga-Nya yang penuh kebaikan.
Penulis : Ustadz Muslim Atsari Hafidzahullah Ta'ala
Sumber Berita: Grup Whatsapp Majlis Quran Hadits Ikhwan







