Ketika Lulusan Pesantren Menjauh, dan yang Bukan Santri Justru Mendekat

Kamis, 8 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fenomena ini kian sering terdengar: lulusan pesantren yang selama bertahun-tahun hidup dalam kultur religious justru memilih melanjutkan kuliah di kampus umum, bukan di perguruan tinggi Islam. Lebih jauh lagi, sebagian dari mereka tampak goyah dalam komitmen beragama, tidak lagi sefokus ketika di pesantren, mudah larut dalam gaya hidup permisif, atau sekadar menjalani ritual tanpa ruh.

Sebaliknya, mahasiswa yang tidak pernah mencicipi bangku pesantren kadang justru tampil lebih bersemangat menekuni Islam, aktif di kajian kampus, dan menampilkan kegigihan pada nilai-nilai yang ironisnya, justru pernah dimiliki penuh oleh para santri.

Fenomena terbalik ini tentu memerlukan pembacaan yang jernih. Ada tiga lapis persoalan yang patut dievaluasi.

Pertama, “kejenuhan religius” yang lahir dari sistem pesantren sendiri.

Bagi sebagian santri, pesantren menyediakan lingkungan yang sangat terstruktur yakni jam belajar diatur, ritme ibadah ditentukan, ruang gerak sosial terbatas. Struktur ini efektif melatih disiplin, tetapi bila tidak dibarengi penanaman makna, ia dapat berubah menjadi rutinitas mekanis.

Ketika keluar dari ekosistem yang terkendali, sebagian lulusan menemukan “kebebasan” sebagai ruang pelarian. Mereka menikmati euforia lepas dari kontrol dan mengalami apa yang disebut *religious burnout* kejenuhan yang muncul dari aktivitas keagamaan yang dipraktikkan tanpa dialog batin.

Di titik ini, pesantren perlu bertanya *Apakah internalisasi nilai berjalan seiring dengan disiplin, ataukah hanya sekadar menumpuk rutinitas?*

Kedua, kampus umum menawarkan status dan peluang mobilitas sosial yang lebih menjanjikan.

Banyak santri melihat perguruan tinggi umum sebagai jalan menuju karier yang lebih luas teknologi, kedokteran, ekonomi, hingga teknik. Pilihan ini rasional. Namun, masalahnya bukan pada orientasi karier, melainkan pada hilangnya *sense of identity* keagamaan setelah mereka masuk ke lingkungan baru.

Kampus umum, dengan pluralitas dan penetrasi budaya digital yang kuat, sering kali menjadi arena intens bagi pergeseran nilai. Tanpa fondasi keagamaan yang kokoh dan relevan, sebagian lulusan pesantren kesulitan beradaptasi secara nilai.

Di sisi lain, mahasiswa non-pesantren justru memasuki kampus umum tanpa beban rutinitas agama yang melelahkan. Ketika mereka bertemu dakwah kampus yang sistematis, adaptif, dan kontekstual, mereka merasakan “kebaruan” yang menyegarkan. Tidak heran, gairah belajar agama mereka bisa melampaui para santri.

Ketiga, Pola pendidikan pesantren sering kurang menyiapkan santri menghadapi pluralitas dan guncangan nilai.

Sebagian pesantren masih menekankan hafalan, ketaatan, dan kepatuhan, tetapi kurang memberikan ruang bagi dialog kritis, pemikiran kontemporer, atau simulasi problem etis yang akan mereka hadapi di kampus umum.

Ketika santri memasuki ruang yang penuh keberagaman ideologi, gaya hidup, hingga normalisasi perilaku permisif, mereka sering gagap. “Kejutan budaya” ini dapat melemahkan identitas yang belum diperkokoh secara intelektual.

Sebaliknya, kajian Islam di kampus umum biasanya menawarkan topik-topik yang menjawab kegelisahan mahasiswa seperti eksistensi, pencarian makna, kegelisahan moral, hingga ruang diskusi pemikiran Islam modern. Ini menjadi magnet kuat bagi mahasiswa yang haus orientasi.

*Lalu, apa yang perlu dievaluasi ?*

  1. Pesantren harus memperkaya metode pembelajaran.

Penguatan critical thinking, isu kontemporer, dan literasi digital perlu masuk dalam kurikulum. Santri perlu dilatih menghadapi kehidupan nyata, bukan hanya rutinitas ritual.

  1. Internalisasi nilai harus lebih menekankan makna, bukan sekadar rutinitas.

Pendidikan yang melahirkan ketaatan bukan karena kontrol, tetapi karena kesadaran, akan menghasilkan komitmen religius yang lebih tahan banting.

  1. Pesantren perlu membangun ekosistem alumni.

Pendampingan spiritual dan intelektual pasca lulus penting agar santri tidak merasa “terputus” dari identitasnya ketika memasuki dunia kampus.

  1. Dakwah Islam perlu dihadirkan secara relevan, kontekstual, dan dialogis.

Mahasiswa hari ini tidak mencari ceramah yang menggurui, melainkan percakapan yang menjawab kegelisahan hidup. Pesantren yang mampu mengintegrasikan pendekatan ini akan lebih mampu menjaga kesinambungan nilai alumninya.

Fenomena ini bukan sekadar cerita tentang santri yang “mundur” dan mahasiswa umum yang “maju” dalam religiusitas. Ini cermin dari sistem pendidikan Islam yang sedang diuji oleh dinamika zaman, apakah ia hanya menghasilkan umat yang patuh, ataukah melahirkan generasi Muslim yang tangguh secara spiritual, kritis secara intelektual, dan matang secara sosial ?

Yang salah bukanlah santrinya. Yang perlu diperbaiki adalah desain ekosistem pendidikan yang membuat nilai agama tetap hidup, bahkan ketika santri melangkah jauh dari gerbang pesantren.

Facebook Comments Box

Penulis : Eko Budi Prasetyo

Artikel Terjkait

Mencari Arah Baru Pendidikan Islam
Pelajaran Pendidikan dari Kehidupan Para Sahabat Jilid 1
Psikologi di Pesantren: Menghindari Retorika Hitam-Putih
Brain Rot di Era AI dan Ancaman Pudarnya Daya Pikir Manusia
Titik Tolak Seorang Penuntut Ilmu
Guru Juga Butuh Liburan: Alasan Penting Guru Perlu Liburan Akhir Tahun
Adab Seorang Penuntut Ilmu
URGENSI ILMU, AMAL DAN KEIKHLASAN
Berita ini 155 kali dibaca

Artikel Terjkait

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:25 WIB

Mencari Arah Baru Pendidikan Islam

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:01 WIB

Pelajaran Pendidikan dari Kehidupan Para Sahabat Jilid 1

Kamis, 8 Januari 2026 - 14:36 WIB

Psikologi di Pesantren: Menghindari Retorika Hitam-Putih

Kamis, 8 Januari 2026 - 13:59 WIB

Ketika Lulusan Pesantren Menjauh, dan yang Bukan Santri Justru Mendekat

Kamis, 8 Januari 2026 - 02:41 WIB

Brain Rot di Era AI dan Ancaman Pudarnya Daya Pikir Manusia

Artikel Terbaru

Akidah

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:47 WIB

Fatwa Ulama

Akibat Dosa Menyebabkan Bencana Alam – Faedah 10

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:45 WIB

Dakwah

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Jan 2026 - 15:41 WIB