Kelembutan Hati dan Tangisan

Kamis, 8 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kelembutan Hati dan Tangisan

الرِّقَّةُ وَالْبُكَاءُ لِابْنِ قُدَامَةَ

BAB PERTAMA

Menyebutkan Sebagian dari Sifat-sifat Mereka

Telah mengabarkan kepada kami Syekh Abu al-Fath Muhammad bin Abdul Baqi bin Ahmad, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu al-Fadhl Hamad bin Ahmad bin al-Hasan al-Haddad, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah al-Ashbahani, telah menceritakan kepada kami al-Abbas bin Muhammad al-Kanani, telah menceritakan kepada kami Abu al-Harisy al-Kalabi, telah menceritakan kepada kami Ali bin Yazid bin Bahram, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Abi Karimah, dari Abu Hajib, dari Abdurrahman bin Ghanm, dari Mu’adz bin Jabal, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda:

“Sesungguhnya seorang mukmin di sisi kebenaran adalah tawanan, ia mengetahui bahwa di atasnya ada pengawas, pada pendengarannya, penglihatannya, lisannya, tangannya, kakinya, perutnya, dan kemaluannya, bahkan pandangan sekilas dengan matanya, butiran tanah yang menempel di jarinya, celak matanya, dan seluruh usahanya. Sesungguhnya seorang mukmin tidak merasa aman hatinya, tidak tenang jiwanya, tidak merasa aman dari kegoncangan, karena ia senantiasa mengharapkan kematian pagi dan petang. Maka takwa adalah pengawasnya, al-Quran adalah petunjuknya, rasa takut adalah jalannya, kehormatan adalah kendaraannya, kewaspadaan adalah penjaganya, rasa khawatir adalah pakaiannya, shalat adalah perlindungannya, puasa adalah bentengnya, sedekah adalah penebusnya, kejujuran adalah menterinya, malu adalah pemimpinnya, dan Rabbnya ‘Azza wa Jalla di balik semua itu selalu mengintainya. Wahai Mu’adz, sesungguhnya seorang mukmin dibelenggu oleh al-Quran dari banyak hawa nafsu dan syahwatnya, dan menghalangi antara dirinya dengan kebinasaan dalam apa yang ia hawa-nafsukannya dengan izin Allah.”

“Wahai Mu’adz, sesungguhnya aku mencintai untukmu apa yang aku cintai untuk diriku sendiri, dan aku sampaikan kepadamu apa yang disampaikan kepadaku oleh Jibril ‘alaihissalam, maka janganlah aku mendapatimu menemuiku pada hari kiamat sementara ada orang yang lebih beruntung dengan apa yang Allah ‘Azza wa Jalla berikan kepadamu selain dirimu!”

Telah mengabarkan kepada kami Imam Abu al-Hasan Ali bin Asakir bin al-Murahab al-Batha’ihi dengan bacaanku di hadapannya, aku berkata kepadanya: telah mengabarkan kepada kalian Abu Thalib Abdul Qadir bin Muhammad bin Abdul Qadir bin Muhammad bin Yusuf al-Yusufi, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu Ali al-Hasan bin Ali bin al-Madzhab at-Tamimi, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Ja’far bin Hamdan bin Malik al-Qathi’i, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, ia berkata: telah menceritakan kepadaku ayahku semoga Allah merahmatinya, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ismail bin Abdul Karim bin Ma’qil bin Munabbih, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abdul Shamad bin Ma’qil, ia berkata: aku mendengar Wahab bin Munabbih berkata:

“Ketika Allah Ta’ala berbicara kepada Musa, Dia berfirman: ‘Janganlah kalian berdua terpikat dengan perhiasan Fir’aun, dan apa yang diberikan kepadanya sebagai kenikmatan, dan janganlah kalian berdua mengarahkan pandangan kepada itu, karena itu adalah keindahan kehidupan dunia dan perhiasan orang-orang yang hidup mewah. Sesungguhnya jika Aku menghendaki untuk menghiasi kalian berdua dari dunia dengan perhiasan yang ketika Fir’aun melihat kalian berdua, ia mengetahui bahwa kemampuannya tidak mampu untuk mendapatkan seperti apa yang kalian berdua dapatkan, niscaya Aku lakukan. Tetapi Aku lebih menginginkan kalian berdua menjauh dari itu dan Aku menjauhkannya dari kalian berdua. Demikianlah Aku lakukan kepada para wali-Ku, dan sejak dahulu Aku telah memilih yang terbaik bagi mereka dalam hal itu. Sesungguhnya Aku menghalau mereka dari kenikmatan dan kemudahan dunia sebagaimana pengembala yang penuh kasih sayang menghalau kambing gembalaannya dari tempat-tempat penggembalaan yang membinasakan. Dan sesungguhnya Aku menjauhkan mereka dari kesenangan dan kehidupan dunia sebagaimana pengembala yang penuh kasih sayang menjauhkan unta-untanya dari tempat beristirahat yang berbahaya. Dan itu bukan karena mereka hina di sisi-Ku, tetapi agar mereka menyempurnakan bagian mereka dari kemuliaan-Ku dengan selamat dan sempurna, tidak terluka oleh dunia, dan tidak ditaklukkan oleh hawa nafsu. Dan ketahuilah bahwa para hamba tidak berhias untuk-Ku dengan perhiasan yang lebih baik daripada zuhud terhadap dunia, karena itu adalah perhiasan orang-orang yang bertakwa. Di atas mereka ada pakaian dari zuhud itu yang mereka dikenali karenanya, berupa ketenangan dan kekhusyukan, tanda mereka di wajah-wajah mereka dari bekas-bekas sujud. Merekalah para wali-Ku yang sesungguhnya, benar-benar. Maka apabila engkau bertemu mereka, rendahkanlah sayapmu untuk mereka, dan rendahkanlah hatimu dan lisanmu untuk mereka. Dan ketahuilah bahwa barangsiapa menghinakan wali-Ku atau menakut-nakutinya, maka sungguh ia telah melawan-Ku dengan permusuhan dan memulai perang terhadap-Ku, dan menampakkan dirinya kepada-Ku dan menyeru-Ku kepadanya. Dan Aku adalah yang paling cepat untuk menolong para wali-Ku. Apakah orang yang memerangi-Ku mengira bahwa ia mampu melawan-Ku? Atau apakah orang yang memusuhi-Ku mengira bahwa ia dapat mengalahkan-Ku? Atau apakah orang yang melawan-Ku mengira bahwa ia dapat mendahului-Ku atau melepaskan diri dari-Ku? Bagaimana mungkin, sedangkan Aku adalah Pembela mereka di dunia dan akhirat, Aku tidak menyerahkan pertolongan mereka kepada selain-Ku?'”

Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Abdurrahman, dari Hisyam bin Sa’d, dari Zaid bin Aslam, dari ‘Atha’ bin Yasar, ia berkata:

“Musa ‘alaihissalam berkata: ‘Wahai Rabbku, siapakah golongan-Mu yang merupakan golongan-Mu, yang Engkau naungi mereka di dalam naungan Arasy-Mu?’ Allah berfirman: ‘Mereka adalah orang-orang yang bersih tangannya, suci hatinya, yang saling mencintai karena keagungan-Ku, yang apabila Aku disebutkan, mereka teringat karena-Ku, dan apabila mereka menyebutkan-Ku, Aku teringat karena sebutan mereka. Mereka adalah orang-orang yang menyempurnakan wudhu ketika menghadapi kesulitan, dan yang kembali kepada zikir-Ku sebagaimana burung-burung nasar kembali ke sarangnya, dan yang sibuk dengan cinta-Ku sebagaimana anak kecil sibuk dengan cinta kepada manusia, dan yang marah karena larangan-larangan-Ku apabila dilanggar sebagaimana harimau marah ketika diserang.'”

Ia berkata: dan telah menceritakan kepada kami Ghawts bin Jabir, ia berkata: aku mendengar Muhammad bin Dawud, dari ayahnya, dari Wahab, ia berkata: para Hawariyyun berkata:

“Wahai Isa, siapakah para wali Allah yang tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati?” Isa ‘alaihissalam berkata: “Mereka adalah orang-orang yang melihat kepada batin dunia ketika orang-orang melihat kepada zhahirnya, dan yang melihat kepada akhir dunia ketika orang-orang melihat kepada awalnya. Maka mereka mematikan darinya apa yang mereka khawatirkan akan mematikan mereka, dan mereka meninggalkan apa yang mereka ketahui akan meninggalkan mereka. Maka menjadi banyak dari dunia bagi mereka adalah sedikit, dan mengingat dunia bagi mereka adalah kehilangan, dan kegembiraan mereka dengan apa yang mereka dapatkan darinya adalah kesedihan. Maka apa yang datang kepada mereka dari pemberian dunia, mereka tolak, dan apa yang datang kepada mereka dari ketinggian dunia tanpa hak, mereka rendahkan. Dan dunia telah rusak pada pandangan mereka, maka mereka tidak memperbaruinya. Dan rumah-rumah mereka telah hancur, maka mereka tidak membangunnya. Dan mati syahwat mereka di dalam dada mereka, maka mereka tidak menghidupkannya. Mereka menghancurkan dunia maka mereka membangun dengan itu akhirat mereka, dan mereka menjualnya maka mereka membeli dengan itu apa yang kekal bagi mereka. Dan mereka meninggalkannya, maka dengan meninggalkannya itu mereka adalah orang-orang yang bergembira. Dan mereka melihat kepada penghuninya yang tergeletak, telah menimpa mereka berbagai cobaan, maka mereka menghidupkan ingatan kematian, dan mematikan ingatan kehidupan. Mereka mencintai Allah ‘Azza wa Jalla, dan mereka mencintai zikir-Nya, dan mereka menerangi diri dengan cahaya-Nya dan mereka menerangi dengan-Nya. Bagi mereka ada kabar yang mengagumkan, dan di sisi mereka ada kabar yang mengagumkan. Dengan mereka tegak al-Kitab dan dengan al-Kitab mereka tegak. Dengan mereka berbicara al-Kitab dan dengan al-Kitab mereka berbicara. Dan dengan mereka diketahui al-Kitab dan dengan al-Kitab mereka mengetahui. Dan mereka tidak melihat pemberian bersama apa yang telah mereka dapatkan, tidak pula keamanan selain apa yang mereka harapkan, tidak pula ketakutan selain apa yang mereka waspadai.”

Ia berkata: dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Ayyasy, dari Idris bin Wahab bin Munabbih, dari ayahnya, ia berkata: Ibnu Abbas mendapat kabar bahwa sekelompok orang di pintu Bani Sahm sedang berselisih, aku kira ia berkata: tentang takdir. Maka ia bangkit menuju mereka, lalu memberikan tongkatnya kepada Ikrimah, dan meletakkan salah satu tangannya di atasku, dan yang lain di atas Thawus. Ketika ia sampai kepada mereka, mereka memberi jalan untuknya dan menyambutnya dengan baik, namun ia tidak duduk. Lalu ia berkata:

“Atau tidakkah kalian mengetahui bahwa Allah memiliki hamba-hamba yang dibisukan oleh rasa takut kepada-Nya bukan karena bisu atau tidak fasih, padahal mereka adalah orang-orang yang berilmu, fasih, pandai bicara, dan mulia. Mereka adalah orang-orang yang berilmu tentang hari-hari Allah. Tetapi apabila mereka mengingat keagungan Allah, karena itu goncang akal mereka, patah hati mereka, dan terputus lisan mereka. Hingga apabila mereka sadar dari keadaan itu, mereka bergegas kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan amal-amal yang suci.”

Dan diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Mahdi dari jalur lain, dan ia menambahkan di dalamnya: “Mereka menganggap diri mereka termasuk orang-orang yang lalai dan bersalah, padahal mereka adalah orang-orang yang cerdas dan kuat. Dan bersama orang-orang yang salah dan zalim, padahal mereka adalah orang-orang yang paling suci dan tidak bersalah. Ketahuilah bahwa mereka tidak menganggap banyak untuk-Nya yang banyak, dan tidak ridha untuk-Nya dengan yang sedikit, dan tidak menunjukkan kepada-Nya dengan amal-amal. Mereka di manapun engkau bertemu mereka: sedang prihatin, khawatir, cemas, dan takut.” Kemudian ia pergi dari mereka, lalu kembali ke tempat duduknya.

Telah mengabarkan kepada kami Syekh Abu Muhammad Abdullah bin Abdurrahman bin Ahmad bin Shabir as-Salami dengan bacaan di hadapannya di Damaskus, telah mengabarkan kepada kami asy-Syarif Abu al-Qasim Ali bin Ibrahim bin al-Abbas al-Husaini, telah mengabarkan kepada kami Rasya’ bin Nazhif bin Ma Sya’a Allah al-Muqri’, telah memberitahukan kepada kami Ismail bin Muhammad adh-Dharrab, telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Marwan, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdul Aziz ad-Dinawari, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Waki’, dari Amr bin Munabbih, dari Awfa bin Dalham, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia berkata:

“Pelajarilah ilmu agar kalian dikenali karenanya, dan beramallah dengannya agar kalian menjadi termasuk ahlinya. Dan sesungguhnya akan datang sesudah kalian suatu zaman di mana kebenaran diingkari sembilan per sepuluhnya, dan sesungguhnya tidak akan selamat darinya kecuali setiap orang yang lemah lembut tempat tumbuhnya penyakit. Mereka itulah para imam petunjuk dan pelita ilmu. Mereka bukan orang-orang yang tergesa-gesa yang suka menyebar-nyebarkan dan boros.” Kemudian ia berkata: “Sesungguhnya dunia telah pergi meninggalkan, dan sesungguhnya akhirat sedang datang mendekat, dan setiap satu dari keduanya memiliki anak-anak. Maka jadilah kalian dari anak-anak akhirat, dan janganlah kalian menjadi dari anak-anak dunia. Ketahuilah bahwa orang-orang yang zuhud terhadap dunia menjadikan bumi sebagai hamparan, dan tanah sebagai alas tidur, dan air sebagai wewangian. Ketahuilah bahwa barangsiapa yang merindukan surga, ia melupakan syahwat. Dan barangsiapa yang khawatir dari neraka, ia mundur dari hal-hal yang haram. Dan barangsiapa yang zuhud terhadap dunia, ringan baginya berbagai musibah. Ketahuilah bahwa Allah memiliki hamba-hamba seakan-akan mereka telah melihat penghuni surga di dalam surga kekal selamanya, dan penghuni neraka di dalam neraka tersiksa. Kejahatan mereka terjaga keamanannya, hati mereka sedih, jiwa mereka suci, dan kebutuhan mereka ringan. Mereka bersabar beberapa hari yang sedikit untuk mendapatkan istirahat yang panjang. Adapun malam hari, mereka berbaris dengan kaki mereka, mengalir air mata mereka di pipi mereka, mereka merintih kepada Rabb mereka: Rabb kami, Rabb kami, mereka meminta pembebasan leher mereka. Dan adapun siang hari, mereka adalah orang-orang yang berilmu, penyantun, berbakti, bertakwa, seakan-akan mereka adalah anak panah yang ramping. Orang yang melihat mereka berkata: mereka sakit, padahal tidak ada pada kaum itu penyakit! Dan mereka kerasukan, padahal telah bercampur pada kaum itu perkara yang besar.”

Telah mengabarkan kepada kami Abu Thalib al-Mubarak bin Ali bin Muhammad bin Khudhair ash-Shairafi, telah mengabarkan kepada kami Abu Ghalib Syuja’ bin Faris adz-Dzuhli, telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin Ali al-Khayyath, telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Dust, telah mengabarkan kepada kami Abu Ali al-Husain bin Shafwan, telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Abi ad-Dunya, telah menceritakan kepada kami Ali bin al-Ja’d, telah mengabarkan kepadaku Amr bin Syamir, dari as-Suddi, dari Abu Arakah, ia berkata:

Aku shalat bersama Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu shalat Fajar. Ketika ia salam, ia berpaling ke sebelah kanannya, kemudian ia diam seakan-akan ada kesedihan di atasnya, hingga ketika matahari berada di dinding masjid setinggi tombak, ia membalik tangannya, dan berkata:

“Demi Allah, sungguh aku telah melihat para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka aku tidak melihat pada hari ini sesuatu yang menyerupai mereka. Sungguh mereka di waktu pagi hari kusut, kuning pucat, berdebu, di antara mata mereka seperti lutut kambing, karena mereka semalam bagi Allah bersujud dan berdiri, mereka membaca Kitabullah ‘Azza wa Jalla, mereka bergantian antara dahi mereka dan kaki mereka. Maka apabila mereka di pagi hari lalu mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, bergoyang mereka sebagaimana bergoyangnya pohon di hari berangin, dan menetes mata mereka hingga membasahi pakaian mereka. Demi Allah, seakan-akan kaum itu semalam dalam keadaan lalai.” Kemudian ia bangkit, dan tidak terlihat ia tertawa terbahak-bahak, hingga ia dipukul oleh Ibnu Muljam, musuh Allah yang fasik.

Abu Thalib mengabarkan kepada kami, Abu Hasan Ali bin Muhammad bin Al-Allaf mengabarkan kepada kami, Abu Qasim Abdul Malik bin Muhammad bin Bisyran mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Husain Al-Ajurri mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Ahmad bin Harun mengabarkan kepada kami, Ibrahim bin Hasan mengabarkan kepada kami, Abu Hafs Umar bin Muhammad bin Hakam menceritakan kepada kami, Ahmad bin Abi Hawari menceritakan kepada kami, ia berkata:

“Pada suatu hari aku masuk menemui Abu Sulaiman Ad-Darani dan dia sedang menangis, lalu aku bertanya kepadanya: Apa yang membuatmu menangis? Maka ia berkata kepadaku: Wahai Ahmad, sesungguhnya ketika malam tiba bagi ahli kecintaan (kepada Allah), mereka membentangkan kaki-kaki mereka dan air mata mereka mengalir di pipi-pipi mereka, sedangkan Yang Mahamulia mengawasi mereka lalu menyeru: Wahai Jibril, pandanglah orang-orang yang menikmati kalam-Ku dan merasa tenang dengan munajat (berbisik) kepada-Ku, dan sesungguhnya Aku mengawasi mereka, Aku mendengar tangisan mereka, dan Aku melihat tangisan mereka. Maka serulah kepada mereka: Wahai Jibril, apa kepanikan yang Aku lihat pada kalian ini? Apakah ada yang mengabarkan kepada kalian tentang-Ku bahwa seorang kekasih menyiksa kekasih-kekasihnya? Ataukah pantas bagi-Ku untuk membiarkan sekelompok orang bermalam, dan ketika bermalam Aku dapati mereka berdiri untuk-Ku, dan ketika malam menutupi mereka, mereka merayu-Ku? Maka demi-Ku, Aku bersumpah, sungguh Aku akan menjadikan hadiah-Ku kepada mereka ketika mereka tiba di hari Kiamat adalah Aku akan menyingkap wajah-Ku yang mulia untuk mereka, Aku memandang kepada mereka dan mereka memandang kepada-Ku.”

Syaikh Abu Fath Muhammad bin Abdul Baqi bin Ahmad bin Salman mengabarkan kepada kami, khatib Abu Hasan Ali bin Muhammad bin Muhammad Al-Anbari mengabarkan kepada kami, Husain bin Shafwan mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Muhammad menceritakan kepada kami, Ismail bin Zakariya menceritakan kepadaku, Abdullah bin Mubarak menceritakan kepada kami, dari Mu’ammar, dari Yahya bin Mukhtar, dari Hasan, ia berkata:

“Seorang mukmin adalah orang yang berdiri di atas dirinya sendiri, ia menghisab (menghitung-hitung) dirinya untuk Allah. Dan sesungguhnya hisab (perhitungan) di hari Kiamat menjadi berat bagi suatu kaum yang mengambil perkara ini tanpa muhisabah (menghitung-hitung). Sesungguhnya seorang mukmin tiba-tiba dihadapkan sesuatu dan ia kagum padanya lalu ia berkata: Demi Allah, sesungguhnya aku menyukaimu, dan sesungguhnya engkau adalah kebutuhanku, tetapi demi Allah tidak ada jalan untukku menuju kepadamu, jauh sekali, telah dihalangi antaraku dan dirimu. Dan luput darinya sesuatu, maka ia berkata: Aku tidak menginginkan ini, apa urusanku dengan ini, demi Allah aku tidak punya alasan dengan ini, demi Allah aku tidak akan kembali kepada ini selamanya insya Allah. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah kaum yang Al-Quran menghentikan mereka, dan menghalangi antara mereka dengan kebinasaan mereka. Sesungguhnya orang mukmin adalah tawanan di dunia, ia berusaha dalam membebaskan lehernya, ia tidak merasa aman dari sesuatu pun hingga ia bertemu Allah, ia mengetahui bahwa ia dituntut pertanggungjawaban dalam pendengarannya dan penglihatannya, dalam lisannya, dan dalam anggota-anggota badannya, dituntut pertanggungjawaban dalam semua itu.”

Dan dari Hasan bahwasanya ia pernah berkata: “Seorang mukmin di dunia seperti orang asing, ia tidak bersedih karena kehinaannya dan tidak bersaing dengan penduduknya dalam kemuliaannya. Manusia memiliki keadaan dan ia memiliki keadaan lain, dirinya telah membuatnya khawatir, manusia dalam ketenangan darinya, dan dirinya darinya dalam kesusahan. Demi Allah, sungguh aku telah mendapati suatu kaum, mereka terhadap apa yang Allah halalkan bagi mereka lebih zuhud (tidak mementingkan dunia) daripada kalian terhadap apa yang Allah haramkan atas kalian, dan mereka terhadap agama mereka lebih melihat dengan hati mereka daripada kalian dengan penglihatan kalian, dan mereka terhadap kebaikan-kebaikan mereka lebih takut akan ditolak atas mereka daripada kalian untuk kejahatan-kejahatan kalian bahwa kalian dihukum karenanya. Ketika malam menutupi mereka maka berdiri di atas ujung-ujung kaki mereka, mereka membentangkan wajah-wajah mereka, air mata mengalir di pipi-pipi mereka, mereka bermunajat kepada Tuhan mereka dalam membebaskan leher-leher mereka.”

Dan ia berkata: “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah beriman seorang hamba kepada hari Kiamat melainkan ia menangis, dan melainkan ia bersusah payah, dan melainkan ia layu, dan melainkan ia bersedih, dan melainkan bumi menjadi sempit baginya meskipun luas.”

Dan ia berkata: “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang menjadikan kehidupan satu kehidupan saja, maka ia makan roti kering, dan memakai pakaian usang, dan menempel dengan bumi, dan bersungguh-sungguh dalam ibadah, dan menangis atas kesalahan, dan lari dari hukuman, dan mencari rahmat, hingga datang kepadanya kematian sementara ia dalam keadaan demikian.”

Abu Ma’ali Abdullah bin Abdurrahman bin Ahmad As-Sulami mengabarkan kepada kami, Abu Qasim Ali bin Ibrahim Al-Husaini mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Ali bin Tsabit Al-Khatib mengabarkan kepada kami, Abu Fath Muhammad bin Ahmad bin Abi Fawaris Al-Hafizh mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Hasan An-Naqqasy menceritakan kepada kami, Muhammad bin Fadhl Ath-Thabari menceritakan kepada kami, Hannad bin Sari menceritakan kepada kami, Abdurrahman Al-Muharibi menceritakan kepada kami, dari Bakr bin Khunais, dari Dhirar bin Amr, dari Hasan, ia berkata:

“Pembaca Al-Quran ada tiga: seorang laki-laki yang menjadikannya sebagai dagangan, memindahkannya dari negeri ke negeri, mencari dengan itu apa yang ada di sisi manusia, dan suatu kaum membaca Al-Quran: mereka hafal huruf-hurufnya, dan menyia-nyiakan batasan-batasannya, dan menarik penguasa dengannya, dan sombong dengannya kepada penduduk negeri mereka, maka sungguh telah banyak jenis ini dalam pembawa Al-Quran.”

Hasan berkata: Semoga Allah tidak memperbanyak mereka.

“Dan seorang laki-laki membaca Al-Quran, maka ia memulai dengan apa yang ia ketahui dari obat Al-Quran, lalu ia meletakkannya pada penyakit hatinya, maka ia begadang malamnya, dan bercucuran air matanya, dan mereka berselimut dengan kesedihan, dan kusam dengan kekhusyukan, dan diam di mihrab-mihrab mereka, dan merendahkan diri dalam kain tudung mereka, maka dengan mereka Allah menurunkan hujan, dan menurunkan pertolongan, dan menolak bala, dan demi Allah jenis ini dalam pembawa Al-Quran lebih sedikit daripada belerang merah.”

Abu Thalib Mubarak bin Ali bin Muhammad bin Khudhair mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Manshur Al-Qazzaz mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ali mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Muhammad menceritakan kepada kami, Husain bin Shafwan mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibnu Abi Dunya mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Ja’far Al-Warkani menceritakan kepada kami, Nu’aim bin Sulaiman menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Manshur, dari Sa’id Al-Jurmi, bahwasanya ia pernah berkata:

“Pemuda-pemuda yang sudah tua dalam usia muda mereka, tidak mengetahui keburukan mata-mata mereka, jauh dari permainan pendengaran-pendengaran mereka, berat dari kebatilan kaki-kaki mereka, kempis perut-perut mereka dari usaha yang haram, sungguh Allah telah memandang kepada mereka di tengah malam membungkuk di atas bagian-bagian Al-Quran tulang punggung mereka, mengalir di pipi-pipi air mata mereka, setiap kali mereka melewati ayat dari sebutan surga mereka menangis kerinduan, dan setiap kali mereka melewati ayat dari sebutan neraka mereka berteriak darinya karena takut, seolah-olah abu neraka di telinga-telinga mereka, dan seolah-olah bara api di depan mata-mata mereka, telah memakan bumi dahi-dahi mereka dan lutut-lutut mereka, dan telah mengubah begadang dan kehausan warna-warna mereka, dan mereka adalah di malam mereka ahli begadang dan ahli tangisan, dan mereka adalah di siang mereka ahli dzikir dan ahli kehausan. Ketika disebutkan kepada mereka tentang dunia nampak kezuhudan mereka di dalamnya karena pengetahuan mereka akan fana-nya, dan ketika disebutkan tentang akhirat besar di dalamnya keinginan mereka karena pengetahuan mereka akan kekalnya, maka kecil dunia di mata-mata mereka, dan membenci dirinya jiwa-jiwa mereka, maka hina dari setelah kesulitan, dan taat kepada mereka dari setelah durhaka, kehidupan di sisi mereka di dunia adalah musibah karena takut fitnah, dan kematian di sisi mereka adalah nikmat dalam apa yang mereka harapkan setelahnya dari kenyamanan dan ketenangan, tidak berhenti dengan tawa bibir-bibir mereka, dan tidak berpisah kesedihan-kesedihan dari hati-hati mereka. Mereka simpan apa yang mereka dahulukan dari amal-amal untuk apa yang mereka takuti dari dahsyatnya kengerian.”

Dan disebutkan sisa hadits.

BAB KEDUA

Sebutan Sepintas dari Berita-berita Para Nabi alaihimussalam

Nabi Adam alaihissalam

Abu Fath Muhammad bin Abdul Baqi mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Hasan bin Khairun Al-Mu’addal mengabarkan kepada kami, Abu Ali Hasan bin Ahmad bin Syadzân mengabarkan kepada kami, Abu Ali Isa bin Muhammad Ath-Thaumari mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Ahmad bin Bara’ mengabarkan kepada kami, Abdul Mun’im bin Idris mengabarkan kepada kami, ayahku mengabarkan kepadaku, dari Wahb bin Munabbih:

“Bahwasanya Adam alaihissalam tinggal dalam kemurkaan selama tujuh hari, kemudian sesungguhnya Allah menengoknya di hari ketujuh sementara ia menunduk sedih sangat susah, maka Allah mewahyukan kepadanya: “Wahai Adam apa kesusahan yang Aku lihat padamu ini? Wahai Adam dan apa musibah ini yang sungguh telah menyakitimu bencana dan kesengsaraannya?” Adam berkata: Besar musibahku wahai Tuhanku, dan telah melingkupi diriku kesalahanku, dan aku keluar dari kerajaan Tuhanku, maka aku menjadi di negeri kehinaan setelah kemuliaan, dan di negeri kesengsaraan setelah kebahagiaan, dan di negeri bencana setelah kesejahteraan, dan di negeri perpindahan dan kepergian setelah ketetapan dan ketenangan, dan di negeri kehancuran setelah keabadian dan kekalaan, dan di negeri tipu daya setelah keamanan, wahai Tuhanku! Maka bagaimana aku tidak menangis atas kesalahanku? Ataukah bagaimana tidak bersedih diriku? Ataukah bagaimana bagiku untuk memperbaiki musibah dan bencana ini wahai Tuhanku?

Allah berfirman kepadanya: Bukankah Aku telah memilihmu untuk diri-Ku, dan Aku menempatkanmu di negeri-Ku, dan Aku memilihmu atas makhluk-Ku, dan Aku mengkhususkanmu dengan kemuliaan-Ku, dan Aku jatuhkan kepadamu kecintaan-Ku, dan Aku peringatkanmu murka-Ku? Bukankah Aku telah menyentuhmu dengan tangan-Ku, dan Aku meniupkan padamu dari roh-Ku, dan Aku bersujudkan untukmu malaikat-malaikat-Ku? Bukankah engkau adalah tetangga-Ku di tengah-tengah kemuliaan-Ku, engkau berada di tengah-tengah surga-Ku di mana engkau kehendaki dari kemuliaan-Ku, maka engkau durhaka perintah-Ku, dan engkau lupakan janji-Ku, dan engkau sia-siakan wasiat-Ku? Maka bagaimana engkau mengingkari azab-Ku? Maka demi keagungan-Ku dan kebesaran-Ku, seandainya Aku penuhi bumi dengan laki-laki, semuanya sepertimu bertasbih malam dan siang tidak berhenti, kemudian mereka durhaka kepada-Ku, sungguh Aku turunkan mereka di tempat-tempat orang-orang durhaka. Dan sesungguhnya Aku telah merahmati kelemahanmu, dan Aku maafkan ketergelinciranmu, dan Aku terima tobatmu, dan Aku dengar keluhan rendahmu, dan Aku ampuni dosamu, maka katakanlah tidak ada tuhan selain Engkau Mahasuci Engkau ya Allah dan dengan puji-Mu, aku zhalimi diriku, dan aku ketahui keburukan, maka terimalah tobatku, sesungguhnya Engkau adalah Maha Penerima Tobat Maha Penyayang.”

Maka Adam mengucapkannya, kemudian Tuhannya berfirman kepadanya: Katakanlah: tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau ya Allah dan dengan puji-Mu, aku zhalimi diriku, dan aku kerjakan keburukan maka ampunilah aku, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun yang paling pengasih.

Maka Adam berkata, kemudian Tuhannya berfirman kepadanya: Katakanlah: tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau ya Allah dan dengan puji-Mu, aku zhalimi diriku, dan aku kerjakan keburukan maka rahmatilah aku, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengasih yang paling pengasih.

Ia berkata: Dan adalah Adam telah keras tangisan dan kesedihannya karena apa yang ada dari besarnya musibahnya, hingga sesungguhnya malaikat-malaikat bersedih karena kesedihannya, dan menangis karena tangisannya, maka ia menangis atas surga, dua ratus tahun, lalu Allah mengutus kepadanya sebuah kemah dari kemah-kemah surga, maka Dia meletakkannya untuknya di tempat Ka’bah sebelum Ka’bah ada.

Dan dalam riwayat lain, ia berkata: “Maka Adam menangis tiga ratus tahun di atas gunung Hind, mengalir air matanya di lembah-lembah gunungnya. Ia berkata: Maka tumbuh dengan air mata itu pohon-pohon wangi kalian ini.”

Ia berkata: Kemudian ia keluar menuju Baitulharam (Rumah Suci), maka ia mulai melangkah selangkah, maka menjadi tempat-tempat kakinya tempat-tempat tinggi dan peradaban, dan di antaranya padang pasir dan gurun, hingga ia sampai ke Rumah, dan thawaf tujuh kali putaran, maka ia menangis hingga ia tenggelam dalam air matanya sampai lututnya, kemudian ia shalat, maka ia menangis sujud hingga meluap air matanya dan mengalir di atas bumi, maka diseru pada waktu itu: Wahai Adam, sungguh telah Aku rahmati kelemahanmu, dan Aku terima tobatmu, dan Aku ampuni dosa-dosamu, maka katakanlah: tidak ada tuhan selain Allah, Mahasuci Engkau dan dengan puji-Mu, aku kerjakan keburukan, dan aku zhalimi diriku, maka terimalah tobatku sesungguhnya Engkau adalah Maha Penerima Tobat Maha Penyayang, maka ampunilah aku dan Engkau sebaik-baik yang mengampuni, dan rahmatilah aku dan Engkau sebaik-baik yang merahmati.*

Ia berkata: Maka ia tinggal setelah itu tidak menampakkan wajahnya yang jelas, hingga datang kepadanya malaikat, maka ia berkata: Semoga Allah menghidupkanmu wahai Adam dan memutihkanmu.

Ia berkata: Maka ia tertawa.

Dan diriwayatkan dari Ibnu Sammak, ia berkata: Umar bin Dzar menceritakan kepadaku, dari Mujahid:

“Bahwasanya Adam alaihissalam ketika ia makan dari pohon gugur darinya semua perhiasan surga, dan tidak tersisa padanya sesuatu dari perhiasannya kecuali mahkota dan karangan bunga, dan ia mulai tidak tertutup dengan sesuatu dari daun surga melainkan gugur darinya, maka ia menoleh kepada Hawa menangis, dan berkata: Bersiaplah untuk keluar dari tetangga Allah, ini adalah awal celaka maksiat.

Hawa berkata: Wahai Adam aku tidak mengira bahwa ada seseorang yang bersumpah dengan nama Allah sambil berdusta. Dan itu karena sesungguhnya Iblis bersumpah kepada keduanya atas pohon, dan Adam di surga berlari, merasa malu dari Tuhan semesta alam, maka menempel kepadanya sebuah pohon dengan sebagian ranting-rantingnya, maka Adam mengira bahwasanya ia telah disegerakan dengan hukuman, maka ia menundukkan kepalanya sambil berkata: Ampun ampun.

Maka Allah Azza wa Jalla berfirman: Wahai Adam apakah lari dari-Ku? Ia berkata: Bahkan malu dari-Mu Tuanku.

Maka Allah Azza wa Jalla mewahyukan kepada dua malaikat: Keluarkanlah Adam dan Hawa dari tetangga-Ku karena sesungguhnya keduanya telah durhaka kepada-Ku, maka melepas Jibril alaihissalam mahkota dari kepalanya, dan melepas Mikail karangan bunga dari dahinya, maka ketika ia turun dari kerajaan Suci ke negeri lapar dan kelaparan, ia menangis atas kesalahannya seratus tahun, sungguh ia lemparkan kepalanya di atas lututnya, hingga tumbuh bumi rumput dan pohon-pohon dari air matanya, hingga menetes air mata di lekukan batu karang dan pantatnya, maka lewat kepadanya burung rajawali besar sungguh telah membuatnya kelelahan kehausan, maka ia minum dari air mata Adam, dan Allah Subhanahu memperkatakan burung rajawali maka ia berkata: Wahai Adam aku di bumi ini sebelummu dua ribu tahun, dan sungguh telah sampai aku timur bumi ini dan baratnya, dan aku minum dari perut-perut lembahnya, dan genangan-genangan gunungnya, dan pesisir laut-lautnya, aku tidak minum air lebih manis dan tidak lebih harum dari air ini.

Adam berkata: Celakalah engkau wahai burung rajawali! Apakah engkau mengerti apa yang engkau katakan? Dari mana engkau dapati kemanisan air mata hamba yang durhaka Tuhannya dan mengalir di dua pipi yang durhaka? Dan air mata mana yang lebih pahit dari air mata orang durhaka! Tetapi aku kira bahwasanya engkau wahai burung rajawali bahwasanya engkau mencela aku karena aku durhaka Tuhanku, maka aku digusur dari negeri nikmat ke negeri kesengsaraan dan kepapaan.

Burung rajawali berkata: Wahai Adam adapun apa yang engkau sebutkan dari celaan maka aku tidak mencelamu, tetapi begitulah aku dapati rasa air matamu, dan air mata mana yang lebih manis dari air mata hamba yang durhaka Tuhannya, dan ia ingat dosanya, maka gentar hatinya, dan khusyu jasadnya, dan ia menangis atas kesalahannya karena takut dari Tuhannya Azza wa Jalla? “

Dan disebutkan Imam Ahmad rahimahullah dalam kitab Az-Zuhd: Ibrahim bin Khalid menceritakan kepada kami, Rabbah menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku diceritakan dari Syu’aib Al-Juba’i, ia berkata:

“Adalah pohon yang Allah Azza wa Jalla melarang darinya Adam dan istrinya serupa gandum, namanya Ad-Da’ah (ketenangan). Dan adalah pakaian keduanya cahaya.”

Ibrahim alaihi salam

Telah mengabarkan kepada kami Imam Abu al-Hasan Ali bin Asakir al-Muqri, telah mengabarkan kepada kami al-Amin Abu Thalib al-Yusufi, telah mengabarkan kepada kami Abu Ali bin al-Madzhab at-Tamimi, telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr bin Malik al-Qathi’i, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, ia berkata: telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Syaiban, telah menceritakan kepada kami Abu Hilal, telah menceritakan kepada kami Bakr, ia berkata: “Ketika Ibrahim dilemparkan ke dalam api, seluruh makhluk berseru kepada Rabb mereka Azza wa Jalla seraya berkata: Ya Rabb, kekasih-Mu dilemparkan ke dalam api, maka izinkanlah kami untuk memadamkannya.

Maka Allah berfirman: Dia adalah kekasih-Ku, tidak ada kekasih-Ku di bumi selain dia, dan Aku adalah Rabb-nya, tidak ada Rabb baginya selain Aku, maka jika dia meminta pertolongan kalian, tolonglah dia, jika tidak maka biarkanlah dia.

Ia berkata: Lalu datanglah malaikat hujan, ia berkata: Ya Rabb, kekasih-Mu dilemparkan ke dalam api, maka izinkanlah aku untuk memadamkannya dengan hujan.

Maka Allah berfirman: Dia adalah kekasih-Ku, tidak ada kekasih-Ku di bumi selain dia, dan Aku adalah Rabb-nya, tidak ada Rabb baginya selain Aku, maka jika dia meminta pertolonganmu maka tolonglah dia, jika tidak maka biarkanlah dia.

Ia berkata: Maka ketika dia dilemparkan ke dalam api, dia berdoa kepada Rabb-nya Azza wa Jalla dengan doa yang dilupakan oleh Abu Hilal.

Ia berkata: Maka Allah Azza wa Jalla berfirman: “Wahai api, jadilah kamu dingin dan sejahtera bagi Ibrahim” (Surat al-Anbiya: 69).

Ia berkata: Maka api menjadi dingin pada hari itu bagi penduduk Timur dan Barat, hingga tidak ada kaki (binatang) yang matang karenanya.”

Dan telah mengabarkan kepada kami Abu al-Fath Muhammad bin Abdul Baqi, telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Ahmad, telah mengabarkan kepada kami al-Hafizh Abu Nuaim Ahmad bin Abdullah, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin as-Sindi, telah menceritakan kepada kami al-Hasan bin Alawiyah, telah menceritakan kepada kami Ismail bin Isa, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Bisyr, ia berkata: berkata Muqatil dan Said: “Ketika Ibrahim alaihi salam dibawa, lalu mereka melepaskan pakaiannya, mengikat kain pembungkusnya, dan meletakkannya di ketapel: menangislah langit, bumi, gunung-gunung, matahari, bulan, Arasy, Kursi, awan, angin, dan para malaikat, semuanya berkata: Ya Rabb, hamba-Mu akan dibakar, maka izinkanlah kami untuk menolongnya, maka api pun berkata sambil menangis: Ya Rabb, Engkau menundukkanku untuk bani Adam dan hamba-Mu dibakar denganku, maka Allah mewahyukan kepada mereka: Sesungguhnya hamba-Ku beribadah kepada-Ku, dan dia disakiti karena-Ku, jika dia berdoa kepada-Ku maka Aku akan mengabulkannya, dan jika dia meminta pertolongan kalian maka tolonglah dia, maka ketika dia dilempar, Jibril alaihi salam menemuinya di antara ketapel dan api, lalu berkata: Assalamu alaikum wahai Ibrahim, aku adalah Jibril, apakah engkau memiliki hajat? Dia berkata: Adapun kepadamu maka tidak! Hajatku hanya kepada Rabb-ku.”

Dawud alaihi salam

Dan telah mengabarkan kepada kami Abu al-Hasan Ali, telah mengabarkan kepada kami Abdul Qadir bin Muhammad, telah mengabarkan kepada kami at-Tamimi, telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr bin Malik, telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, telah mengabarkan kepada kami al-Mas’udi, dari Yunus bin Khabbab: “Bahwa Dawud alaihi salam bersujud selama empat puluh hari hingga tumbuh kehijauan dari air mata matanya, lalu ia berkata pada akhir masa itu: Ya Rabb, dahi telah lecet, air mata telah kering, dan dosa Dawud masih seperti semula, maka dijawablah: Wahai Dawud, apakah engkau haus sehingga diberi minum? Atau lapar sehingga diberi makan? Atau teraniaya sehingga ditolong? Ia berkata: Maka dia terisak-isak hingga menghancurkan kehijauan yang ada di sana.

Ia berkata: Maka diampunkanlah dia pada saat itu.”

Berkata Ahmad: Dan telah menceritakan kepada kami al-Walid bin Muslim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Jabir, dari Ismail bin Abi Muhajir: “Bahwa Dawud ditegur karena banyak menangis, maka ia berkata: Biarkanlah aku menangis sebelum hari tangisan, sebelum pembakaran tulang-belulang, dan terbakarnya jenggot, dan sebelum aku diperintahkan oleh malaikat-malaikat yang keras dan kuat yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka, dan mereka melakukan apa yang diperintahkan.”

Ia berkata: Dan telah menceritakan kepada kami Abdul Shamad, telah menceritakan kepada kami Abdul Jalil, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Syahr bin Hausyab, ia berkata: “Dawud alaihi salam disebut sebagai orang yang meratap dalam Kitab, dan sesungguhnya dia pergi hingga datang ke laut, lalu berkata: Wahai laut, sesungguhnya aku lari kepada Rabb-ku, lari dari Dzat Yang Mencari yang pencarian-Nya tidak jauh, maka jadikanlah aku setetes dari airmu, atau seekor binatang dari yang ada padamu, atau sebutir tanah dari tanahmu, atau sebongkah batu dari batumu.

Maka laut berkata: Wahai hamba yang lari dari Dzat Yang Mencari yang pencarian-Nya tidak jauh, kembalilah dari mana engkau datang, karena sesungguhnya tidak ada sesuatu pun dariku kecuali terbuka yang dilihat oleh Allah Taala kepadanya, telah menghitungnya dan menghitungnya dengan hitungan, maka aku tidak mampu melakukan itu, kemudian dia pergi hingga datang ke gunung, lalu berkata: Wahai gunung, sesungguhnya aku lari dari Dzat Yang Mencari yang pencarian-Nya tidak jauh, jadikanlah aku sebuah batu dari batumu, atau sebutir tanah dari tanahmu, atau sebongkah batu dari batumu, atau sesuatu dari yang ada di perutmu.

Maka gunung berkata: Wahai hamba yang lari dari Dzat Yang Mencari yang pencarian-Nya tidak jauh, sesungguhnya tidak ada sesuatu pun dariku kecuali dilihat oleh Allah Azza wa Jalla dan memandang kepadanya, telah menghitungnya dan menghitungnya dengan hitungan, maka aku tidak mampu melakukan itu, kemudian dia pergi hingga datang ke tanah yaitu pasir, lalu berkata kepadanya: Wahai pasir, jadikanlah aku sebutir tanah dari tanahmu, atau sebongkah batu dari batumu, atau sesuatu dari yang ada di perutmu, maka Allah Taala mewahyukan kepada pasir untuk menjawabnya.

Maka pasir berkata: Wahai hamba yang lari dari Dzat Yang Mencari yang pencarian-Nya tidak jauh, kembalilah dari mana engkau datang, maka jadikanlah amalmu dua bagian: untuk harapan atau untuk ketakutan, maka mana pun dari keduanya yang Rabb-mu mengambilmu, engkau tidak perlu khawatir.”

Telah mengabarkan kepada kami Abu al-Husain Ahmad bin Hamzah bin Ali as-Salmi, telah mengabarkan kepada kami al-Mubarak bin al-Hasan, telah memberitakan kepada kami Abu Bakr Muhammad bin Ali al-Khayyath, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Daust, telah mengabarkan kepada kami al-Husain bin Shafwan, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin al-Husain, telah menceritakan kepadaku Hafsh bin Umar al-Adani, telah menceritakan kepada kami sahabat-sahabat kami dari Shan’a, dari Wahb bin Munabbih, ia berkata: “Ketika Dawud alaihi salam melakukan dosa, dia mulai keluar ke padang gurun, lalu menangis, dan binatang-binatang buas menangis bersamanya, kemudian dia kembali kepada bani Israil, lalu menangis dan mereka menangis bersamanya, kemudian dia kembali kepada keluarganya, lalu menangis dan mereka menangis bersamanya, maka ketika hal itu berkepanjangan baginya dan tidak kembali kepadanya dengan sesuatu, dia terjatuh bersujud, lalu menangis hingga tumbuh rumput dari air matanya, kemudian dia terisak-isak maka pohon mengering dan terbakar dari helaan napasnya, maka dipanggilah: Wahai Dawud, apakah engkau teraniaya sehingga ditolong? Telanjang sehingga diberi pakaian? Haus sehingga diberi minum? Lapar sehingga diberi makan? Dia berkata: Tidak, dosaku telah membinasakanku, maka tidak kembali kepadanya dengan sesuatu, lalu dia merintih dalam sujudnya pada akhir tangisannya, kemudian suaranya terputus, sehingga tidak terdengar kecuali seperti rintihan yang samar, maka pada saat itulah dia dirahimi.”

Dan dengan sanad yang sama, berkata Abdullah: telah menceritakan kepada kami Abdullah ar-Rumi, telah menceritakan kepada kami Asad, telah menceritakan kepada kami al-Walid, dari Ibnu Abi al-Atikah, ia berkata: “Adalah di antara perkataan Dawud alaihi salam: Maha Suci Pencipta cahaya, Tuhanku, apabila aku mengingat dosaku maka sempitlah bagiku bumi dengan keluasannya, dan apabila aku mengingat rahmat-Mu maka kembalilah kepadaku jiwaku.

Maha Suci Pencipta cahaya, Tuhanku, aku keluar untuk bertanya kepada para tabib hamba-hamba-Mu agar mereka mengobati dosaku, dan semua mereka menunjukkanku kepada-Mu.”

Berkata Muhammad bin al-Husain: Dan telah menceritakan kepada kami al-Mughirah bin Muhammad, telah menceritakan kepadaku Bakr bin Khunaish, dari Abu Abdullah asy-Syami, dari Nauf asy-Syami, ia berkata: “Ketika Dawud melakukan dosa, dia mulai menangis kepada bani Israil dan mereka menangis kepadanya, kemudian dia keluar ke padang gurun, lalu menangis kepada binatang-binatang buas dan mereka menangis kepadanya, kemudian dia meratapi dirinya, dan burung-burung berkumpul di sekitarnya lalu menangis karena tangisannya, kemudian dia merasa sempit dengan dosanya lalu berkelana di gunung-gunung dan memanggil: Kepada-Mu aku lari Tuhanku dari besarnya dosaku.

Maka dia terus seperti itu hingga petang, lalu kembali kepada keluarganya, kemudian masuk ke rumah ibadahnya, maka dia terus shalat, menangis, bersujud.

Ia berkata: Maka datanglah kepadanya seorang anaknya yang kecil lalu memanggilnya: Wahai ayahku, malam telah tiba, dan orang-orang yang berpuasa telah berbuka.

Maka dia berkata: Wahai anakku, sesungguhnya ayahmu tidak seperti biasanya, sesungguhnya ayahmu telah jatuh dalam perkara yang besar, sesungguhnya ayahmu sibuk darimu dan dari makanmu.

Ia berkata: Maka anak itu kembali sambil menangis kepada ibunya, lalu wanita itu datang, dan berkata: Wahai Nabi Allah, ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, malam telah tiba, dan waktu berbuka orang yang berpuasa telah hadir, tidakkah kami membawakan makanan untukmu? Maka dia memanggilnya dari balik pintu: Apa yang akan dilakukan Dawud dengan makanan setelah melakukan dosa?

Maka dia terus seperti itu hingga diampuni.”

Dan dari Wahb bin Munabbih, ia berkata: “Dawud memiliki kasur yang diisi dengan abu, dia shalat di atasnya, maka dia shalat, lalu menangis dalam sujudnya hingga membasahi tempat sujudnya, kemudian air mata mengalahkannya lalu mengalir hingga membasahi tempat kasur dari bawahnya, dan dia memanggil dalam sujudnya: Dahi telah lecet, dan air mata telah kering, dan dosaku belum diampuni bagiku.

Maka dikatakan kepadanya: Wahai Dawud, apakah engkau haus sehingga diberi minum? Lapar sehingga diberi makan? Telanjang sehingga diberi pakaian? Ia berkata: Maka bertambahlah tangisan di atas tangisannya, dan mulai merintih pada akhir isakannya.

Ia berkata: Maka pada saat itulah dia dirahimi (sayangi), lalu diampuni.”

Berkata Muhammad: telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Muhammad at-Taimi, telah menceritakan kepada kami Muadz bin Ziyad at-Tamimi, ia berkata: “Ketika Dawud melakukan dosa, dia mulai berlari kepada para ahli ibadah, lalu menangis kepada mereka di puncak-puncak gunung, dan mereka menangis kepadanya, lalu dia datang kepada seorang laki-laki yang menyendiri, lalu memanggilnya: Aku adalah Dawud nabi Allah pemilik dosa, atau belumkah sampai kepadamu wahai lelaki? Ia berkata: Maka lelaki itu menangis dengan tangisan yang keras, kemudian berkata: Wahai Dawud, dosamu telah sampai kepada biawak di lubangnya, maka bagaimana tidak sampai kepada bani Israil? Maka Dawud menangis pada saat itu, dan terjatuh bersujud, maka dia terus menangis hingga tumbuh rumput dari air matanya.”

Dan telah mengabarkan kepada kami Abu Thalib al-Mubarak bin Khudhair, telah mengabarkan kepada kami Abu Ghalib Syuja’ bin Faris, telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr al-Khayyath, telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah bin Daust, telah mengabarkan kepada kami Abu Ali, telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr Abdullah bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Husain, telah menceritakan kepadaku Amr bin Jarir al-Bajali, telah menceritakan kepada kami Amir bin Yasaf, dari Yahya bin Abi Katsir, ia berkata: telah sampai kepada kami bahwa “Apabila tiba hari ratapan Dawud alaihi salam, dia diam sebelum itu selama tujuh hari tidak makan makanan, tidak minum minuman, dan tidak mendekati wanita, maka apabila sebelum itu sehari dikeluarkanlah untuknya mimbar ke padang, dan memerintahkan Sulaiman agar penyeru berkeliling negeri dan yang di sekitarnya dari hutan-hutan, bukit-bukit, gunung-gunung, padang gurun, biara-biara, tempat ibadah, dan gereja-gereja lalu memanggil di dalamnya: Ketahuilah barangsiapa mencintai untuk mendengar ratapan Dawud.

Ia berkata: Maka datanglah binatang-binatang buas dari padang gurun dan bukit-bukit, dan datang binatang-binatang buas dari hutan-hutan, dan datang hewan-hewan melata dari gunung-gunung, dan datang burung-burung dari sarang-sarangnya, dan datang para rahib dari tempat ibadah dan biara-biara, dan datang para gadis dari kamarnya, dan berkumpullah orang-orang untuk hari itu, dan datang Dawud alaihi salam hingga naik ke mimbar, dan bani Israil mengelilinginya, dan setiap jenis pada kelompoknya mendengarkan kepadanya.

Ia berkata: Dan Sulaiman alaihi salam berdiri di atas kepalanya, ia berkata: Maka dia alaihi salam mulai memuji Rabb-nya, maka mereka berteriak dengan tangisan dan jeritan, kemudian dia mulai menyebutkan surga dan neraka, maka matilah sekelompok orang, dan sekelompok binatang buas, dan sekelompok hewan melata, dan sekelompok binatang buas, dan sekelompok rahib dan gadis-gadis yang beribadah, kemudian dia mulai menyebutkan kematian dan kengerian hari kiamat, dan mulai meratapi dirinya, ia berkata: Maka matilah sekelompok dari mereka, dan sekelompok dari mereka, dan dari setiap jenis sekelompok, maka ketika Sulaiman melihat apa yang telah banyak dari kematian di setiap kelompok dari mereka, memanggil: Wahai Nabi Allah, engkau telah memecah-belah para pendengar setiap serpihan, dan telah mati kelompok-kelompok dari bani Israil, dan dari binatang buas, dan hewan melata, dan binatang buas dan para rahib.

Ia berkata: Maka dia menghentikan ratapan dan mulai berdoa.

Ia berkata: Maka ketika dia seperti itu, tiba-tiba para ahli ibadah bani Israil memanggilnya: Wahai Dawud, engkau terburu-buru meminta balasan kepada Rabb-mu.

Ia berkata: Maka Dawud terjatuh pada saat itu dalam keadaan tidak sadarkan diri.

Ia berkata: Maka ketika Sulaiman melihatnya dan apa yang menimpanya, dia datang dengan usungan lalu membawanya di atasnya, kemudian memerintahkan penyeru: Barangsiapa memiliki dengan Dawud kerabat dekat atau sanak, maka datanglah dengan usungan lalu membawanya, karena sesungguhnya orang-orang yang bersama Dawud telah dibunuh oleh sebutan surga dan neraka, maka sungguh wanita itu datang dengan usungan, lalu berdiri di samping ayahnya dan dia telah meninggal, lalu memanggil: Wahai ayahku yang dibunuh oleh sebutan neraka, wahai ayahku yang dibunuh oleh sebutan surga, wahai ayahku yang dibunuh oleh sebutan ketakutan kepada Allah Taala.

Ia berkata: Hingga sesungguhnya binatang-binatang buas berkumpul pada yang mati dari mereka lalu membawanya, dan binatang-binatang buas dan hewan melata demikian juga.

Ia berkata: Dan mereka berpencar, maka apabila Dawud sadar dari pingsannya memanggil: Wahai Sulaiman apa yang dilakukan oleh ahli ibadah bani Israil si fulan dan si fulan? Lalu dia menyebutkan beberapa orang dari bani Israil, maka Sulaiman berkata: Mereka mati semua, maka Dawud berdiri lalu meletakkan tangannya di atas kepalanya, kemudian masuk ke rumah ibadahnya, dan menutup pintu untuknya, kemudian memanggil: Apakah Engkau durhaka kepada Dawud wahai Tuhan Dawud? Atau bagaimana Engkau mengurangi baginya hingga dia mati? Karena takut kepada-Mu? Atau karena takut dari api-Mu? Atau karena rindu kepada surga-Mu dan perjumpaan dengan-Mu? Wahai Tuhan Dawud, Tuhan Dawud, maka dia terus seperti itu selama tujuh hari memanggil: Tuhan Dawud.

Ia berkata: Maka Sulaiman datang, lalu berdiri di pintu rumahnya lalu memanggil: Wahai ayahku, apakah engkau mengizinkanku untuk masuk kepadamu? Maka dia mengizinkannya, lalu dia masuk dan bersamanya roti gandum, lalu berkata: Wahai ayahku, kuatkanlah dirimu untuk apa yang engkau inginkan, ia berkata: Maka dia makan dari itu apa yang dikehendaki Allah, kemudian keluar kepada bani Israil lalu berada di antara mereka.”

Yahya alaihissalam

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, ia berkata: Yahya bin Zakaria alaihissalam masuk ke Baitul Maqdis ketika ia berusia delapan tahun, lalu ia melihat para ahli ibadah Baitul Maqdis yang mengenakan jubah dari bulu dan kerudung dari bulu domba, dan ia melihat para penghijrah mereka, atau ia berkata: para ahli tahajud mereka, yang telah melubangi tulang selangka mereka, dan memasukkan rantai ke dalamnya serta mengikatkannya ke lengkungan-lengkungan Baitul Maqdis, maka hal itu membuatnya takjub, dan ia kembali kepada kedua orang tuanya. Ia melewati anak-anak kecil yang sedang bermain, mereka berkata: Wahai Yahya, kemarilah agar kita bermain bersama.

Ia berkata: Aku tidak diciptakan untuk bermain.

Itulah firman Allah azza wa jalla: “Dan Kami berikan kepadanya hikmah sejak kecil” (Maryam: 12).

Maka ia mendatangi kedua orang tuanya, dan meminta kepada mereka agar dikenakan jubah bulu, maka mereka pun melakukannya. Kemudian ia kembali ke Baitul Maqdis, maka ia melayaninya di siang hari dan bermalam di dalamnya pada malam hari, hingga usianya mencapai lima belas tahun. Kemudian rasa takut datang kepadanya, maka ia berkelana dan menetap di pinggiran bumi dan gua-gua di celah gunung. Kedua orang tuanya keluar mencarinya, maka mereka menemukannya ketika turun dari gunung-gunung Tsaniyah ke arah Danau Yordan. Ia telah duduk di tepi danau itu sambil merendam kedua kakinya di dalam air, dan dahaga hampir membunuhnya, sementara ia berkata: Demi keagungan-Mu, aku tidak akan meminum air yang sejuk sampai aku mengetahui kedudukanku di sisi-Mu. Maka kedua orang tuanya memintanya untuk memakan roti dari gandum yang mereka bawa dan meminum air, maka ia pun melakukannya dan membayar kafarat sumpahnya. Kemudian ia dipuji karena kebaikannya, maka Allah azza wa jalla berfirman: “Dan berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukanlah orang yang sombong lagi durhaka” (Maryam: 14).

Kedua orang tuanya mengembalikannya ke Baitul Maqdis. Ketika ia berdiri dalam shalatnya, ia menangis, dan Zakaria juga menangis karena tangisannya, hingga ia pingsan. Ia terus seperti itu hingga air matanya melubangi daging pipinya dan gigi gerahamnya terlihat. Maka ibunya berkata kepadanya: Wahai Yahya, seandainya engkau mengizinkanku, aku akan membuatkan penutup untukmu agar dapat menutupi gigi gerahammu dari orang-orang yang melihat.

Ia berkata: Terserah engkau.

Maka ibunya mengambil dua potong kain tebal dan melekatkannya di kedua pipinya. Ketika ia menangis, air matanya terserap dalam kedua potongan kain itu, kemudian ibunya berdiri dan memerasnya dengan tangannya. Ketika ia melihat air matanya mengalir di lengan ibunya, ia berkata: Ya Allah, ini air mataku, dan ini ibuku, dan aku adalah hamba-Mu, dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang dari para penyayang.

Zakaria alaihissalam

Telah mengabarkan kepada kami Abu al-Ma’ali bin Shabir dengan membacakan kepadanya, telah mengabarkan kepada kami Abu al-Qasim Ali bin Ibrahim al-Husaini, telah menceritakan kepada kami Abu al-Hasan Rasy’a bin Nazhif al-Muqri, telah menceritakan kepada kami al-Hasan bin Ismail bin Muhammad al-Ghassani, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Marwan al-Maliki, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad al-Baghdadi, telah menceritakan kepada kami Abdul Mun’im bin Idris, dari ayahnya, dari Wahab bin Munabbih: “Bahwa Zakaria alaihissalam melarikan diri dan masuk ke dalam sebatang pohon, maka gergaji diletakkan pada pohon itu dan dipotong menjadi dua bagian. Ketika gergaji mengenai punggungnya, ia merintih, maka Allah mewahyukan kepadanya: Wahai Zakaria, berhentilah dari rintihan atau Aku akan membalikkan bumi dan siapa yang ada di atasnya. Ia berkata: Maka ia terdiam hingga terpotong menjadi dua bagian alaihissalam.”

Telah mengabarkan kepada kami Abu al-Qasim Hibatullah bin al-Hasan bin Hilal ad-Daqqaq dengan membacakan kepadanya, dan aku mendengar pada tahun lima ratus enam puluh satu, dikatakan kepadanya: Telah mengabarkan kalian Abu al-Husain al-Mubarak bin Abdul Jabbar ash-Shairafi, telah mengabarkan kepada kami Abu Thalib Muhammad bin Ali bin al-Fath al-‘Asyari, telah mengabarkan kepada kami Abu al-Husain Muhammad bin Abdullah Ibnu Akhi Maimi, telah mengabarkan kepada kami al-Husain bin Shafwan, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Abi ad-Dunya, telah menceritakan kepadaku Ali bin Abi al-Hasan bin Abi Maryam, dari al-Faraj bin Sa’id, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yahya bin Malik, telah menceritakan kepada kami Mubarak bin Fadhalah, dari al-Hasan: “Bahwa ada seorang laki-laki yang disebut Uqaib yang beribadah kepada Allah, dan pada masa itu ada seorang raja yang menyiksa orang-orang dengan siksaan yang mengerikan.

Uqaib berkata: Seandainya aku turun menemui raja ini dan menyuruhnya bertakwa kepada Allah azza wa jalla, itu akan menjadi kewajiban bagiku. Maka ia turun dari gunung dan berkata kepadanya: Wahai engkau, bertakwalah kepada Allah azza wa jalla.

Raja yang sombong itu berkata kepadanya: Wahai anjing, apakah orang sepertimu yang menyuruh bertakwa kepada Allah azza wa jalla? Aku akan menyiksamu dengan siksaan yang belum pernah aku siksa kepada siapapun dari seluruh alam. Maka ia memerintahkan agar ia dikuliti hidup-hidup dari kakinya hingga kepalanya. Maka ia pun dikuliti. Ketika sampai ke perutnya, ia merintih, maka Allah azza wa jalla mewahyukan kepadanya: Uqaib, bersabarlah, Aku akan mengeluarkanmu dari negeri kesedihan menuju negeri kegembiraan, dan dari negeri kesempitan menuju negeri kelapangan. Ketika pengulitan sampai ke wajahnya, ia berteriak, maka Allah ta’ala mewahyukan kepadanya: Engkau telah membuat menangis penduduk langit-Ku dan penduduk bumi-Ku, dan membuat para malaikat-Ku terlupa dari tasbih mereka kepada-Ku. Sungguh jika engkau berteriak yang ketiga kalinya, Aku akan menurunkan azab dengan sangat dahsyat.

Maka ia bersabar hingga wajahnya dikuliti, karena takut kaumnya akan ditimpa azab.”

Ayyub alaihissalam

Telah mengabarkan kepada kami Abu al-Fath Muhammad bin Abdul Baqi bin Ahmad bin Salman, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu al-Fadhl Ahmad bin al-Husain bin Khairun, telah mengabarkan kepada kami Abu Ali al-Hasan bin Ahmad bin Syazan, telah mengabarkan kepada kami Abu Ali Muhammad bin Ahmad ath-Thaumari, telah mengabarkan kepada kami Abu al-Hasan Muhammad bin Ahmad bin al-Barra’ bin Mubarak al-Abdi, telah menceritakan kepada kami Abdul Mun’im bin Idris bin Sinan, telah mengabarkan kepada kami ayahku, dari Wahab bin Munabbih: “Bahwa dari kisah Ayyub adalah bahwa ia seorang laki-laki dari Romawi, dan Allah ta’ala telah memilihnya dan menjadikannya nabi, dan mengujinya dengan kekayaan, banyak harta dan anak, dan melapangkan baginya urusan dunia, dan meluaskan baginya rezeki. Ia memiliki wilayah Batsniyah dari tanah Syam, bagian atas dan bawahnya, dan ia memiliki berbagai jenis harta, dan ia adalah orang yang berbakti, bertakwa, penyayang kepada orang-orang miskin, memberi mereka makan, menanggung janda-janda, menjamin anak-anak yatim, memuliakan tamu, dan membantu musafir. Ia bersyukur atas nikmat-nikmat Allah, menunaikan hak-hak-Nya. Bersamanya ada tiga orang yang telah beriman kepadanya dan membenarkannya. Sesungguhnya Allah ta’ala mengujinya pada hartanya, anaknya, dan dirinya sendiri sebagai rahmat baginya agar melipatgandakan pahala baginya dari ujian yang menimpanya, sebagai pelajaran bagi orang-orang yang sabar, dan peringatan bagi orang-orang yang beribadah. Maka Allah menguasakan atas dirinya musuh Allah Iblis, lalu ia mengumpulkan para pengikut setianya dan berkata: Sesungguhnya aku telah dikuasakan atas harta Ayyub dan keluarganya, maka apa yang kalian miliki? Salah satu dari mereka berkata: Aku akan menjadi angin puting beliung yang berapi, tidak ada yang kulewati kecuali akan kubakar. Iblis berkata: Engkau dan itu. Maka ia keluar hingga mendatangi unta-untanya, lalu membakarnya beserta penggembala-penggembala-nya. Musuh Allah Iblis datang menyerupai kepala penggembala, dan Ayyub sedang berada di tempat shalatnya, sedang shalat. Ia berkata: Wahai Ayyub, datang api yang menimpa unta-untamu dan membakarnya beserta yang ada di dalamnya kecuali aku, maka aku datang memberitahumu. Ayyub berkata: Segala puji bagi Allah yang Dia telah memberikannya dan Dia telah mengambilnya, yang mengeluarkanmu darinya sebagaimana mengeluarkan ilalang dari gandum, dan seandainya Allah mengetahui ada kebaikan padamu, niscaya Dia akan membinasakan engkau bersama jiwa-jiwa itu. Harta Ayyub terus ditimpa kehancuran, demi harta, setiap kali berita kehancuran sesuatu dari hartanya sampai kepadanya, ia memuji Allah, menyanjung-Nya dengan baik, ridha dengan takdir, dan menenangkan dirinya menghadapi ujian, hingga ketika tidak tersisa lagi hartanya, Iblis mendatangi keluarga dan rumahnya yang berada di sebuah istana miliknya, kemudian menjadi angin ribut yang mengangkat istana dari berbagai sisinya, lalu menghempaskannya kepada keluarga dan anak-anaknya hingga meremukkan mereka. Kemudian ia mendatanginya dalam wujud kepala pelayan mereka dan memberitahunya, maka Ayyub bersedih atas anaknya dan berkata: Seandainya ibuku tidak melahirkanku. Kemudian Ayyub kembali pada apa yang ia katakan, lalu memuji Allah dan menyanjung-Nya, maka taubatnya mendahului musuh Allah sampai kepada Allah. Kemudian musuh Allah datang saat ia sedang sujud, lalu meniupkan ke tubuhnya, maka menjadi bisul-bisul seperti bisul domba, ia menggaruk dengan kukunya hingga kukunya rontok, kemudian dengan pecahan tembikar dan batu hingga dagingnya berguguran, dan tidak tersisa darinya kecuali urat, saraf dan tulang, dan kedua matanya yang berputar di kepalanya untuk melihat, dan hatinya untuk berakal, dan lidahnya untuk berdzikir, dan Iblis tidak sampai kepada sesuatu dari isi perutnya, karena tidak ada kehidupan kecuali dengannya.”

Dan dari riwayat lain: “Dan semua orang meninggalkannya dan membuangnya, kecuali istrinya Rahmah binti Maisya bin Yusuf bin Ya’qub alaihimussalam, karena ia bersabar bersamanya. Ia bersedekah dengan sepotong roti dan sesuap makanan dan memberinya makan, dan ia menggiling untuk orang-orang dengan tangannya dan mengambil upahnya berupa makanan, tidak pernah berhenti melakukan itu.”

Diriwayatkan dari Sa’id bin al-Musayyab bahwa keadaannya mencapai titik di mana ia dibuang di tempat pembuangan dan auratnya ditutupi dengan abu, ulat jatuh darinya lalu ia mengembalikannya ke tempatnya di badannya.

Kembali hadits kepada Wahab: Ia berkata: “Maka ia tetap dalam ujian itu selama tiga tahun tidak lebih sehari pun. Ketika Iblis tidak mampu mengalahkannya dan tidak dapat berbuat apa-apa terhadapnya, ia menghadang istrinya dalam wujud yang tidak seperti wujud manusia dalam hal besar, tinggi, dan tubuhnya, dengan kendaraan yang bukan kendaraan manusia, lalu berkata kepadanya: Apakah engkau istri Ayyub, laki-laki yang tertimpa ujian ini? Ia berkata: Apakah engkau mengenalku? Ia berkata: Tidak. Ia berkata: Sesungguhnya aku adalah tuhan bumi, dan akulah yang melakukan kepada suamimu apa yang kulakukan, dan itu karena ia menyembah Tuhan langit dan meninggalkanku, maka aku murka, dan seandainya ia sujud kepadaku satu kali sujud, aku akan mengembalikan kepadanya dan kepadamu apa yang kalian miliki dari anak dan harta, karena sesungguhnya itu ada padaku. Kemudian ia memperlihatkan kepada istrinya semua itu di bagian bawah lembah tempat ia menemuinya. Maka istrinya kembali kepada Ayyub dan memberitahukan apa yang dikatakan dan apa yang diperlihatkan kepadanya. Ayyub berkata: Sesungguhnya musuh Allah telah mendatangimu untuk memfitnahmu dari agamamu. Kemudian ia bersumpah jika Allah menyembuhkannya, ia akan memukulnya seratus kali. Ketika ujian berlangsung lama baginya, datanglah tiga orang yang telah beriman bersamanya dan membenarkannya, di antaranya seorang pemuda muda yang telah beriman kepadanya dan membenarkannya. Mereka duduk di sisi Ayyub dan melihat ujian yang menimpanya, maka mereka sangat terkejut dan merasa ngeri. Salah seorang dari mereka berkata: Sungguh urusan engkau telah membuat kami lelah wahai Ayyub, jika engkau berbicara maka tidak ada tempat bagi pembicaraan padamu, dan jika kami diam tentangmu atas apa yang kami lihat padamu maka itu lebih berat bagi kami. Namun kami melihat dari perbuatanmu perbuatan-perbuatan yang kami tidak mengharapkan bagimu pahala atas perbuatan itu selain apa yang kami lihat, dan sesungguhnya seseorang hanya menuai apa yang ditanamnya, dan sesungguhnya ia hanya dibalas dengan apa yang dikerjakannya. Dengan itu aku bersaksi atas Allah yang tidak dapat diukur keagungan-Nya dan tidak dapat dihitung nikmat-Nya, bahwa Dia adalah hakim yang tidak berlaku zalim, dan Dia lebih cepat kepada maaf dan ampunan daripada kepada murka dan hukuman. Maka Ayyub berbicara menjawab mereka. Yang lain berkata: Apakah engkau membantah Allah wahai Ayyub dalam urusan-Nya, ataukah engkau ingin berlaku adil dengan-Nya dalam hukum-Nya, ataukah engkau menyucikan dirimu padahal engkau bersalah, ataukah engkau membebaskannya padahal engkau sakit? Apa yang bermanfaat dan berguna bagimu bahwa engkau melihat dirimu tidak bersalah padahal kesalahanmu telah mengelilingimu, dan amalmu telah mengikatmu, dan dosamu telah dihitung bagimu, dan engkau terus-menerus berbuat dosa seperti air yang mengalir dalam aliran yang tidak dapat dibendung. Dan ia menyebutkan banyak perkataan, dan perkataan Ayyub dalam menjawab mereka.

Maka pemuda yang hadir bersama mereka berkata: Sesungguhnya kalian telah berbicara wahai para orang tua sebelumku, dan kalian lebih berhak berbicara dan lebih layak dariku karena hak usia kalian, dan karena kalian telah mengalami sebelumku dan melihat, dan mengetahui apa yang tidak kuketahui. Namun dengan itu kalian meninggalkan perkataan yang lebih baik dari apa yang kalian katakan, dan pendapat yang lebih benar dari apa yang kalian lihat, dan urusan yang lebih baik dari apa yang kalian datangkan, dan nasihat yang lebih bijak dari apa yang kalian nasihatkan. Sesungguhnya Ayyub memiliki hak dan perlindungan atas kalian yang lebih baik dari apa yang kalian perbuat. Apakah kalian tahu wahai para orang tua, hak siapa yang kalian kurangi? Dan kehormatan siapa yang kalian langgar? Dan siapa laki-laki yang kalian cela dan tuduh? Tidakkah kalian tahu wahai para orang tua bahwa Ayyub adalah nabi Allah, pilihan-Nya dan yang terpilih-Nya dari bumi pada hari kalian ini? Allah memilihnya untuk wahyu-Nya, dan menjadikannya istimewa untuk diri-Nya, dan mempercayainya dengan kenabian-Nya. Kemudian tidakkah kalian tahu dan Allah ta’ala tidak memberitahu kalian bahwa Dia murka pada sesuatu dari urusannya sejak Allah memberikan kepadanya apa yang diberikan-Nya alaihissalam hingga hari kalian ini, dan tidak pula bahwa Ayyub berkata tentang Allah selain yang benar sepanjang kalian menemaninya hingga hari kalian ini. Jika ujian adalah yang merendahkannya di hadapan kalian dan menurunkannya di hati kalian, maka sungguh kalian telah mengetahui bahwa Allah menguji para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang shalih. Kemudian ujian-Nya kepada wali-wali-Nya bukanlah bukti murka-Nya kepada mereka, dan bukan pula kehinaan-Nya bagi mereka, tetapi itu adalah kemuliaan dan kebaikan bagi mereka. Seandainya Ayyub tidak berada di sisi Allah pada kedudukan ini, tidak dengan kenabian, tidak dengan keistimewaan, tidak dengan keutamaan, dan tidak dengan kemuliaan, melainkan ia adalah saudaramu yang kalian bersaudara dengannya atas dasar persahabatan, maka tidaklah pantas bagi orang bijak untuk mencela saudaranya saat ujian, dan tidak mencemoohnya dengan musibah, dan tidak mencacatnya dengan apa yang tidak ia ketahui padahal ia sedang dalam kesusahan dan kesedihan. Tetapi ia merahmatinya, menangis bersamanya, memintakan ampun untuknya, bersedih atas kesedihannya, dan menunjukkannya kepada jalan yang benar urusannya. Dan tidak bijak dan tidak penyayang orang yang tidak mengetahui ini. Maka takutlah kepada Allah wahai para orang tua pada diri kalian sendiri.

Kemudian pemuda itu menghadap kepada Ayyub setelah selesai dari perkataannya kepada sahabat-sahabat Ayyub, lalu berkata: Dan sesungguhnya pada keagungan Allah wahai Ayyub, kemuliaan-Nya, dan mengingat kematian apa yang memotong lidahmu, memecahkan hatimu, dan membuatmu lupa akan hujahmu. Tidakkah mereka tahu wahai Ayyub bahwa Allah memiliki hamba-hamba yang ditakuti oleh rasa takut kepada-Nya tanpa lemah dan tanpa bisu? Dan sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasih, pandai berbicara, berakal, mulia, dan mengetahui tentang Allah dan hari-hari-Nya. Tetapi ketika mereka mengingat keagungan Allah, lidah mereka terputus, kulit mereka merinding, dan hati mereka hancur karena mengagungkan, menghormati, dan memuliakan-Nya. Ketika mereka sadar dari itu, mereka berlomba-lomba kepada Allah dengan amal-amal yang suci. Mereka menganggap diri mereka bersama orang-orang zalim dan orang-orang berdosa, padahal sesungguhnya mereka sangat suci dan bebas dari dosa. Dan bersama orang-orang yang lalai dan berlebih-lebihan, padahal sesungguhnya mereka cerdas dan kuat. Tetapi mereka tidak menganggap banyak yang banyak bagi Allah, dan tidak ridha dengan yang sedikit bagi-Nya, dan tidak membanggakan diri dengan amal-amal kepada-Nya.

Maka mereka memahami kapan pun mereka melihat mereka dalam keadaan terkejut, ketakutan, khawatir, khusyuk, merasa gentar, tunduk, dan mengakui (kebesaran Allah). Maka Nabi Ayyub alaihissalam berkata: Sesungguhnya Allah Taala menanam hikmah dengan rahmat di dalam hati orang kecil dan orang besar, maka kapan pun hikmah itu tumbuh di dalam hati, Allah menampakkannya pada lisan. Dan tidaklah hikmah itu berasal dari usia, uban, ataupun lamanya pengalaman. Apabila Allah menjadikan seorang hamba bijaksana di masa mudanya, Allah tidak akan menurunkan kedudukannya di sisi para orang bijak, dan mereka melihat cahaya kemuliaan dari Allah padanya.

Dan Ibnu Abbas menyebutkan kisah Nabi Ayyub, beliau berkata: Dan ia diletakkan di atas abu, maka suatu hari istrinya berkata: Wahai Ayyub, demi Allah telah turun kepadaku kesulitan dan kefakiran sehingga aku telah menjual satu ikat dari rambut kepalaku dengan sepotong roti lalu aku beri makan kepadamu, maka berdoalah kepada Tuhanmu agar Dia menyembuhkanmu.

Ayyub berkata: Celakalah engkau, kita telah berada dalam kenikmatan selama tujuh puluh tahun, maka bersabarlah hingga engkau berada dalam kesusahan selama tujuh puluh tahun.

Beliau berkata: Maka ia berada dalam ujian itu selama tujuh tahun.

Beliau berkata: Dan Syaitan duduk di jalan, lalu ia mengambil sebuah kotak untuk mengobati. Maka datanglah istri Ayyub kepadanya, lalu berkata: Wahai hamba Allah, sesungguhnya di sini ada seorang manusia yang sedang diuji, apakah engkau mau kami mengobatinya? Ia berkata: Jika ia mau aku akan melakukannya, dengan syarat ia mengucapkan satu kalimat kepadaku jika ia sembuh, yaitu: Engkau yang menyembuhkanku.

Beliau berkata: Maka ia mendatangi Ayyub, lalu berkata: Wahai Ayyub, sesungguhnya di sini ada seorang laki-laki yang mengaku bahwa ia dapat mengobatimu dengan syarat engkau mengucapkan satu kalimat kepadanya: Engkau yang menyembuhkanku.

Ayyub berkata: Celakalah engkau, itu adalah Syaitan. Demi Allah, jika Allah menyembuhkanku, aku akan mencambukmu seratus kali cambukan.

Dan dalam riwayat lain: Maka ia berkata kepadanya: Pergilah, aku tidak membutuhkanmu. Lalu istrinya pergi darinya, dan ia berkata: Wahai Tuhanku, penyakit telah menimpaku, dan Engkau adalah Maha Penyayang dari para penyayang (Surah Al-Anbiya: 83), maka datanglah Jibril, lalu ia memegang tangannya, berkata: Berdirilah, kemudian berkata kepadanya: Hentakkanlah kakimu, maka memancarlah mata air, lalu berkata: Mandilah, maka ia pun mandi, kemudian ia memindahkannya, lalu berkata: Hentakkanlah kakimu, maka ia menghentakkan kakinya dan memancarlah mata air, lalu berkata: Minumlah, maka ia pun minum, kemudian ia dikenakan jubah dari surga, maka tiba-tiba Ayyub menjadi sebaik-baik dan sesempurna-sempurna keadaannya! Kemudian istrinya merasa kasihan dan menyayanginya, lalu berkata: Kepada siapa ia makan jika ia diusir?! Maka ia datang kepadanya, tetapi ia tidak melihatnya! Lalu ia pergi dengan bingung ke desa sambil berlari, kemudian kembali dengan bingung tidak mengerti.

Beliau berkata: Dan ia melewati Ayyub, lalu berkata: Wahai hamba Allah, apakah engkau melihat orang yang diuji yang tergeletak di tempat sampah? Beliau berkata: Maka Ayyub berkata kepadanya: Apa yang engkau khawatirkan tentangnya? Ia berkata: Engkau benar, tetapi aku khawatir anjing atau binatang buas telah memakannya, maka Ayyub tidak dapat menahan diri dan menangis, lalu berkata: Apakah engkau mengenalinya jika engkau melihatnya? Maka ia melihat kepadanya, lalu berkata: Demi Allah, sesungguhnya engkau paling mirip dengannya ketika ia masih sehat.

Kembali hadits kepada Ibnu Abbas: Beliau berkata: Maka ia berkata: Celakalah engkau, akulah Ayyub, Allah Azza wa Jalla telah mengembalikan diriku kepadaku. Beliau berkata: Maka istrinya berkata: Wahai hamba Allah, bertakwalah kepada Allah dan jangan mengejekku.

Ia berkata: Celakalah engkau, akulah Ayyub.

Maka diriwayatkan bahwa keduanya berpelukan, dan Allah Azza wa Jalla mengembalikan kepadanya hartanya dan anak-anaknya secara nyata, dan yang semisal mereka bersama mereka.

Nabi yang Disembelih alaihissalam

Telah mengabarkan kepada kami Syaikh Abu Al-Abbas Ahmad bin Al-Mubarak bin Sa’d bin Al-Marqa’ati dengan bacaanku kepadanya, telah mengabarkan kepadaku kakekku dari pihak ibuku Tsabit bin Bandar bin Ibrahim, telah mengabarkan kepada kami Abu Ali Al-Hasan bin Al-Husain bin Dawma An-Na’ali, telah mengabarkan kepada kami Abu Ali Makhlad bin Ja’far Al-Baqirhi, telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad Al-Hasan bin Alawiyah Al-Qattan, telah mengabarkan kepada kami Ismail bin Isa Al-Attar, telah mengabarkan kepada kami Abu Hudzaifah Ishaq bin Bisyr, dari Abdurrahman bin Qubaisah, dari bapaknya, ia berkata: Nabi Ibrahim alaihissalam melihat dalam mimpi: Wahai Ibrahim, bangkitlah dan persembahkanlah anakmu kepada-Ku sebagai persembahan. Dan mimpi itu terjadi di Makkah, maka Ibrahim berkata: Semoga Allah menghinakan Iblis, ia ingin mencela aku.

Maka ia berdiri shalat hingga pagi, maka ketika malam berikutnya ia melihat mimpi yang sama, lalu ia berkata seperti perkataannya sebelumnya, hingga pada malam ketiga datanglah panggilan kepadanya saat ia berdiri: Wahai Ibrahim, bukanlah Iblis yang menyuruhmu dengan ketaatan kepada Tuhanmu, bangkitlah dan lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu.

Dan dari Ishaq yang meriwayatkannya hingga Ka’ab Al-Ahbar: Maka ketika pagi, ia berkata kepada ibunya: Cucilah kepalanya.

Maka ibunya mencuci kepalanya, dan memakaikan kepadanya pakaiannya, kemudian meminyakinya, lalu berkata: Wahai anakku, ambillah pisau dan tali kemudian pergilah bersama kami.

Said berkata: Dan dari selain hadits Ka’ab, ia berkata: Iblis berkata: Aku akan mengambil kesempatan dari Ibrahim, maka ia mendatanginya dalam wujud seorang lelaki tua, lalu berkata: Wahai Ibrahim, mau kemana engkau? Ibrahim berkata: Aku ada keperluan di lembah ini.

Ia berkata: Sesungguhnya aku melihat Syaitan telah datang kepadamu dalam mimpimu lalu memerintahkanmu untuk menyembelih anakmu ini, maka Ibrahim mengenalinya, lalu berkata: Pergilah dariku, celakalah engkau, demi Allah aku akan melaksanakan perintah Tuhanku.

Maka ketika musuh Allah berputus asa, ia datang kepada Ishaq, lalu berkata: Mau kemana engkau pergi dengan ayahmu di lembah ini? Ia berkata: Aku pergi bersamanya untuk suatu keperluan.

Ia berkata: Tidakkah engkau tahu bahwa ia ingin menyembelihmu? Ia berkata: Celakalah engkau! Apakah engkau pernah melihat ayah menyembelih anaknya? Ia berkata: Ya. Ia berkata: Mengapa begitu? Ia berkata: Ia mengklaim bahwa Allah memerintahkannya dengan itu.

Ia berkata: Maka hendaklah ia melakukan apa yang diperintahkan Tuhannya kepadanya, kami mendengar dan kami taat. Maka ketika anak itu menolaknya, ia pergi kepada ibunya, berkata: Apakah engkau tahu kemana anakmu pergi dengan ayahnya? Ia berkata: Ke lembah ini untuk suatu keperluan.

Ia berkata: Tidaklah ia pergi dengannya kecuali untuk menyembelihnya, maka ia berkata: Tidak, ia lebih penyayang kepadanya dan lebih mencintainya dari itu.

Ia berkata: Sesungguhnya ia mengklaim bahwa Allah memerintahkannya dengan itu.

Ia berkata: Maka jika Tuhannya memerintahkannya dengan itu, kami menyerahkan diri kepada perintah Allah.

Maka kembalilah musuh Allah dengan kemarahannya.

Ishaq berkata: Dari Abu Ilyas, dari Wahb: Maka keduanya berangkat, hingga tiba di lembah dari Mina, lalu tiba di kaki gunung Tsabir, maka ia berkata: Turunlah wahai anakku.

Maka ia turun, lalu ia berkata: Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka lihatlah apa pendapatmu (Surah Ash-Shaffat: 102).

Beliau berkata: Maka berseri wajahnya, dan bergetarlah persendiannya, kemudian ia berkata: Dan ia mendahului ayahnya, lalu berkata: Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, engkau akan mendapatiku insya Allah termasuk orang-orang yang sabar (Surah Ash-Shaffat: 102).

Ibrahim berkata kepadanya: Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat wajahmu berseri dan persendianmu bergetar tetapi tidak patah, dan tidak ada sesuatu yang memasukinya?! Ia berkata: Wahai ayahku, Tuhanku memiliki pengganti untukku darimu, dan surga adalah pengganti dari dunia, dan tidaklah Tuhanmu memerintahkanmu dengan ini kecuali karena Dia ridha bagiku, sesungguhnya apa yang ada di sisi-Nya lebih baik bagiku, maka lakukanlah perintah Tuhanmu, tetapi wahai ayahku, ikatlah tangan dan kakiku agar aku tidak tersentak dari sayatan pisau sehingga darahku memercik, wahai ayahku, kafanilah aku dengan pakaianmu, dan kembalikanlah pakaianku kepada ibuku agar ia dapat mencium bauku, itu akan menjadi hiburan baginya.

Beliau berkata: Maka ia mengikat tangannya dan kakinya, kemudian mengasah pisaunya, dan duduk di dekat kepalanya, lalu berkata: Ilahiku, segala puji bagi-Mu di masa yang kekal, Engkau telah menganugerahiku anak di usia tua, dan Engkau telah menjanjikanku, dan Engkau tidak mengingkari janji, maka Engkau menguji aku dengan ujian ini, maka jika ini adalah keridhaan-Mu, aku menyerahkan diri kepada perintah-Mu, dan jika ini dari kemurkaan-Mu kepadaku, maka aku memohon ampunan-Mu dan bertobat kepada-Mu.

Beliau berkata: Maka para malaikat menangis, dan berkata: Seorang nabi menelungkupkan wajahnya dan yang lain ingin menyembelihnya! Beliau berkata: Maka ia mendekat kepada anaknya dan merebahkannya pada dahi, yaitu pada wajah agar ia tidak melihat wajahnya sehingga panik.

Beliau berkata: Kemudian ia memasukkan pisaunya dari bawah dagunya, kemudian menggerakkannya, maka memantullah pisau itu, dan bengkoklah pisau itu, lalu ia mengasahnya, dan menghindari melihat wajahnya, kemudian ia memasukkan pisau itu ke lehernya, maka memantullah pisau itu, dan tumpalah, dan Allah membalikkannya di tangannya, kemudian ia menariknya untuk menyelesaikannya.

Dan dipanggilah: Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu, ambillah yang ada di belakangmu dan sembelihlah dia sebagai gantinya.

Beliau berkata: Maka ia menoleh, maka tiba-tiba ia melihat seekor kambing kibas yang bertanduk dan berbintik-bintik putih.

Maka Ibrahim meninggalkan Ishaq dalam ikatannya, dan mengikuti kambing kibas itu. Maka diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata: Maka Ibrahim melepaskan anaknya sebagaimana keadaannya dalam ikatan dan mengikuti kambing kibas itu, lalu ia mengeluarkannya ke Jumrah Ula, maka ia melemparnya dengan tujuh kerikil, kemudian ia melepaskannya, lalu ia datang kepadanya di Jumrah Wustha, maka ia mengeluarkannya ke sana, lalu ia melemparnya dengan tujuh kerikil, kemudian ia melepaskannya, maka ia menyusulnya di Jumrah Kubra, lalu ia melemparnya dengan tujuh kerikil, kemudian ia menangkapnya, lalu ia datang dengannya ke tempat penyembelihan di Mina dan menyembelihnya.

Wahb berkata: Maka datanglah Jibril kepada Ishaq, lalu ia melepaskannya, kemudian berkata: Sesungguhnya Allah Taala berfirman: Bagimu di sisi-Ku doa yang mustajab dengan kesabaranmu.

Ia berkata: Wahai Tuhanku, aku memohon kepada-Mu agar Engkau mengampuni setiap orang yang mati dan tidak menyekutukan-Mu dengan sesuatu apa pun. Maka ketika Ibrahim datang kepadanya, ia berkata: Wahai anakku, siapa yang melepaskanmu? Ia berkata: Seorang laki-laki. Maka ia menggambarkannya kepadanya dan apa yang ia katakan kepadanya, dan ia bertanya. Ia berkata: Wahai anakku, sesungguhnya engkau diberi taufik.

Beliau berkata: Maka datanglah kepada keduanya panggilan dari langit: Wahai Ibrahim, wahai yang paling jujur di antara orang-orang jujur, dan wahai Ishaq, wahai yang paling sabar di antara orang-orang sabar, kalian berdua berada dalam pandangan-Ku, Aku menguji kalian berdua lalu Aku memberi taufik kepada kalian berdua, dan Aku menguji kalian berdua lalu kalian bersabar, dan sesungguhnya Aku menghendaki dengan itu kepada kalian berdua untuk mencapai kedudukan yang tidak ada sesudahnya, dan derajat-derajat tinggi dari surga, dan di dunia (kedudukan) lisan yang jujur di kalangan orang-orang setelah mereka, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Isa Alaihi Salam

Telah dibacakan kepada Abu al-Hasan Ali bin Asakir bin al-Murahab al-Bathaaihi rahimahullah, telah memberitahu kalian al-Amin Abu Thalib Abdul Qadir bin Muhammad bin Yusuf, ia berkata: telah memberitahu kami Abu Bakar Muhammad bin Ali bin Muhammad al-Khayyath al-Muqri, ia berkata: telah memberitahu kami al-Hafizh Abu al-Fath Muhammad bin Ahmad bin Abi al-Fawaris, ia berkata: telah memberitahu kami Abu Bakar Ahmad bin Ja’far bin Salm al-Khatali, ia berkata: telah memberitahu kami Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin al-Hajjaj al-Marraudzi, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Nashr al-Raffa, dan ia termasuk dari sebaik-baik kaum muslimin, ia berkata: “Ketika Isa bin Maryam shalawaatullahi alaihi wa sallam sedang dalam pengembaraannya, tiba-tiba langit menuangkan hujan, maka ia berlindung ke sebuah gua, ternyata di dalamnya ada seorang penggembala, maka ia menjauh darinya, kemudian ia berlindung ke semak belukar, ternyata di dalamnya ada singa yang sedang berbaring. Singa itu mengangkat kepalanya, lalu berkata: Tuanku, Engkau telah menjadikan bagi setiap orang tempat berlindung kecuali aku! Maka Allah mewahyukan kepadanya: Tempat berlindungmu ada di sisi-Ku, di bawah naungan Arasy-Ku, dan di tempat yang tetap dari rahmat-Ku. Aku akan menikahkanmu dengan seribu bidadari, dan Aku akan memberikan jamuan pada pernikahanmu selama seribu tahun, dan akan menyeru penyeru pada hari kiamat: Hadirkanlah pesta pernikahan wali Allah yang zuhud.”

Dan dari Abdul Aziz bin Dhabyan, ia berkata: Berkata al-Masih: “Barangsiapa yang belajar dan mengamalkannya, maka dialah yang disebut atau dipanggil agung di kerajaan langit.”

Dan dari Hilal bin Yasaf, ia berkata: Berkata Isa Alaihi Salam: “Apabila salah seorang dari kalian shalat, hendaklah ia menutup dirinya dengan tirai, karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla membagi pujian sebagaimana Dia membagi rezeki.”

Telah kubacakan kepada al-Katibah Syahdah binti Ahmad bin al-Faraj al-Ibri: telah memberitahu kalian Abu Abdullah al-Husain bin Ahmad bin Muhammad bin Thalhah al-Na’ali, ia berkata: telah memberitahu kami Abu al-Hasan Muhammad bin Ubaidillah al-Hannaai, ia berkata: telah memberitahu kami Abu Amr Umar bin Ahmad al-Sammak, ia berkata: telah memberitahu kami Abu al-Qasim Ishaq bin Ibrahim bin Muhammad al-Khatali, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hatim al-Thusi, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdullah al-Harawi, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim al-Thaghlibi, telah menceritakan kepada kami Muqatil, dari al-Dhahhak, dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Isa bin Maryam Alaihi Salam keluar untuk meminta hujan, maka Allah mewahyukan kepadanya: Jangan ada yang meminta hujan bersamamu kecuali orang yang berdosa. Maka ia memberitahu mereka tentang hal itu, lalu berkata: Barangsiapa yang termasuk ahli dosa hendaklah ia menyingkir. Maka semua orang menyingkir kecuali seorang laki-laki yang terkena penyakit pada mata kanannya! Maka Isa berkata kepadanya: Mengapa kamu tidak menyingkir? Ia berkata: Wahai Ruh Allah, aku tidak pernah bermaksiat kepada Allah sekejap mata pun, dan sungguh aku pernah menoleh dan melihat kaki seorang wanita tanpa aku bermaksud melihatnya, maka aku mencongkelnya! Dan seandainya aku melihatnya dengan mata kiri, niscaya aku akan mencongkelnya juga. Ia berkata: Maka Isa menangis hingga jenggotnya basah oleh air matanya, kemudian berkata: Maka berdoalah, karena kamu lebih berhak berdoa daripada aku, karena aku terjaga dengan wahyu sehingga tidak bermaksiat, sedangkan kamu tidak bermaksiat. Maka orang itu maju, mengangkat kedua tangannya, dan berkata: Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah menciptakan kami, dan telah Engkau ketahui apa yang kami kerjakan sebelum Engkau menciptakan kami, namun hal itu tidak menghalangi-Mu untuk menciptakan kami, dan Engkau telah menjamin rezeki kami, maka turunkanlah langit kepada kami dengan hujan yang lebat.

Maka demi Dzat yang jiwa Isa ada di tangan-Nya, belum keluar perkataan itu dari mulutnya hingga langit melepaskan air hujan dengan deras, dan orang-orang yang hadir maupun yang tidak hadir mendapat siraman hujan. Telah memberitahu kami Syaikh yang alim dan unik Muhyiddin Abu Muhammad Abdul Qadir bin Abi Shalih al-Jilani radhiyallahu anhu dengan cara dibacakan olehnya sementara aku mendengarkan pada tahun lima ratus enam puluh satu pada awal yang dikatakan: telah memberitahu kalian Abu Bakar Ahmad bin al-Muzhaffar bin Sausan al-Tammar, ia berkata: telah memberitahu kami Abu Ali al-Hasan bin Ahmad bin Ibrahim, telah memberitahu kami Abu Bakar Muhammad bin al-Abbas bin Nujaih al-Hafizh, telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Yusuf al-Qazwini, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’id, telah menceritakan kepada kami Amr bin Abi Qais, dari Simak, dari Abdurrahman bin Yazid, dari ayahnya, dari Abdullah bin Mas’ud: bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Bani Israil mengangkat seorang khalifah atas mereka setelah Musa, ia berdiri shalat di bulan di atas Baitul Maqdis, lalu ia menyebutkan beberapa hal yang ia lakukan,” ia berkata: “Maka ia keluar dan turun dengan tali, lalu di pagi hari tali itu masih tergantung di masjid sementara ia telah pergi.

Ia berkata: “Maka ia pergi hingga mendatangi suatu kaum di tepi laut, lalu ia mendapati mereka membuat batu bata, maka ia bertanya kepada mereka bagaimana mereka mengambil batu bata ini?” Ia berkata: “Maka mereka memberitahunya, lalu ia membuat batu bata bersama mereka, dan ia makan dari hasil pekerjaan tangannya, apabila tiba waktu shalat ia bersuci lalu shalat, maka para pekerja melaporkan hal itu kepada mandor mereka bahwa di antara kami ada seorang laki-laki yang melakukan begini dan begitu, maka ia mengutus orang kepadanya, namun ia menolak untuk mendatanginya, tiga kali, kemudian ia datang sendiri mengendarai tunggangan. Ketika ia melihatnya, ia lari dan ia mengejarnya, lalu ia mendahuluinya, maka ia berkata: Tunggu aku, aku ingin berbicara denganmu. Maka ia memberitahu kabarnya kepadanya, ketika ia memberitahunya bahwa ia dahulu adalah seorang raja, dan bahwa ia lari karena takut kepada Tuhannya Azza wa Jalla, ia berkata: Sesungguhnya aku sangat yakin bahwa aku akan mengikutimu.

Ia berkata: “Maka ia mengikutinya, lalu keduanya beribadah kepada Allah Azza wa Jalla hingga mereka meninggal di Ramilah Mesir.”

Ia berkata: Maka berkata Abdullah: Seandainya aku berada di sana, niscaya aku akan menemukan kedua kubur mereka, dari sifat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang ia gambarkan.”

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, telah memberitahu kami Jarir bin Hazim, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tidak ada yang berbicara dalam buaian kecuali tiga orang: Isa bin Maryam, dan teman Juraij. Dan adalah Juraij seorang ahli ibadah, maka ia membuat biara, lalu ia berada di dalamnya. Maka ibunya mendatanginya sementara ia sedang shalat, lalu ia berkata: Wahai Juraij.

Maka ia berkata: Ya Tuhanku, ibuku dan shalatku! Lalu ia menghadap pada shalatnya, maka ia (ibunya) pergi. Ketika hari berikutnya ibunya mendatanginya sementara ia sedang shalat, lalu ia berkata: Wahai Juraij! Maka ia berkata: Ya Tuhanku, ibuku dan shalatku! Lalu ia menghadap pada shalatnya, maka ia pergi.

Ketika hari berikutnya ibunya mendatanginya sementara ia sedang shalat, lalu ia berkata: Wahai Juraij! Maka ia berkata: Ya Tuhanku, ibuku dan shalatku! Lalu ia menghadap pada shalatnya, maka ia berkata: Ya Allah, jangan Engkau matikan ia hingga ia melihat wajah-wajah para pelacur! Maka Bani Israil menyebut-nyebut Juraij dan ibadahnya, dan adalah ada seorang wanita pelacur yang terkenal dengan kecantikannya, maka ia berkata: Jika kalian mau, aku akan memfitnahnya untuk kalian.” Ia berkata: “Maka ia menampakkan diri kepadanya, namun ia tidak menoleh kepadanya, maka ia mendatangi seorang penggembala yang biasa berteduh di biaranya, lalu ia membolehkan dirinya kepadanya, maka ia menggaulinya, lalu ia hamil. Ketika ia melahirkan, ia berkata: Ini dari Juraij! Maka mereka mendatanginya, menurunkannya, meruntuhkan biaranya, dan mulai memukulnya. Maka ia berkata: Apa masalah kalian? Mereka berkata: Kamu berzina dengan pelacur ini lalu ia melahirkan darimu.

Maka ia berkata: Di mana bayinya? Maka mereka membawanya, lalu ia berkata: Biarkan aku shalat dulu. Maka ia shalat, ketika selesai ia mendatangi bayi itu, lalu mencucuk perutnya, dan berkata: Wahai anak kecil, siapa ayahmu? Ia berkata: Fulan si penggembala.

Ia berkata: Maka mereka mendatangi Juraij sambil menciumnya dan menyeka-nyeka dirinya dengannya, dan berkata: Kami akan membangun biaramu dari emas.

Ia berkata: Tidak, kembalikanlah dari tanah liat sebagaimana semula.

Maka mereka melakukannya.

Dan ketika seorang bayi sedang menyusu dari ibunya, lalu lewatlah seorang laki-laki yang menunggang tunggangan yang bagus dengan pakaian yang indah, maka ibunya berkata: Ya Allah, jadikanlah anakku seperti orang ini.

Maka ia meninggalkan puting susu, menghadap kepadanya, memandangnya, lalu berkata: Ya Allah, jangan jadikan aku sepertinya, kemudian kembali ke puting susu dan mulai menyusu.” Ia berkata: “Seakan-akan aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sedang menirukan menyusunya dengan jari telunjuknya di mulutnya lalu mulai menghisapnya.”

Ia berkata: “Dan mereka melewati seorang budak wanita sementara mereka memukulnya, dan berkata: Kamu berzina, kamu mencuri, sementara ia berkata: Cukuplah Allah bagiku dan Dia sebaik-baik pelindung.

Maka ibunya berkata: Ya Allah, jangan jadikan anakku sepertinya.

Maka ia meninggalkan menyusu, memandangnya, lalu berkata: Ya Allah, jadikanlah aku sepertinya.

Maka di situ keduanya saling menanggapi pembicaraan, lalu ia berkata: Celaka, lewatlah seorang laki-laki yang bagus penampilannya, maka aku berkata: Ya Allah, jadikanlah anakku sepertinya, lalu kamu berkata: Ya Allah, jangan jadikan aku sepertinya, dan mereka melewati budak wanita ini sementara mereka memukulnya dan berkata: Kamu berzina, kamu mencuri, maka aku berkata: Ya Allah, jangan jadikan anakku sepertinya, lalu kamu berkata: Ya Allah, jadikanlah aku sepertinya!!” Ia berkata: “Sesungguhnya laki-laki itu adalah seorang tiran, maka aku berkata: Ya Allah, jangan jadikan aku sepertinya, dan sesungguhnya wanita ini mereka berkata kepadanya: Kamu berzina padahal ia tidak berzina, dan kamu mencuri padahal ia tidak mencuri, maka aku berkata: Ya Allah, jadikanlah aku sepertinya.”

Telah dibacakan kepada Syaikh Abu al-Ma’ali Abdullah bin Abdurrahman bin Ahmad bin Ali bin Shabir al-Salami, sementara aku mendengarkan: telah memberitahu kalian al-Syarif al-Nasib Abu al-Qasim Ali bin al-Husain bin Ibrahim bin al-Abbas al-Husaini, telah memberitahu kami Abu al-Fath Abdul Karim bin Muhammad bin Ahmad bin al-Qasim al-Muhamili dalam suratnya kepada kami dari Baghdad, telah memberitahu kami Abu al-Hasan Ali bin Umar al-Daraquthni al-Hafizh, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar al-Azraq Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin al-Bahlul, ia berkata: telah menceritakan kepada kami kakekku, ia berkata: telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Ishaq bin Ziyad dari Bani Usamah bin Luay, dari Syabib bin Syaibah, dari Khalid bin Shafwan bin al-Ahtam, ia berkata: “Yusuf bin Umar mengutusku kepada Hisyam bin Abdul Malik dalam delegasi Irak,” ia berkata: “Maka aku menghadap kepadanya dan ia telah keluar untuk mengunjungi kerabatnya, keluarganya, pengikutnya, dan para pengiringnya dari teman-teman duduknya, lalu ia turun di tanah lapang yang luas, di tahun yang hujannya datang awal dan meratanya bagus, dan berturut-turut hujan dari atasnya, dan bumi telah mengenakan perhiasannya dari berbagai warna tumbuhan yang tumbuh darinya, dari bunga musim semi yang indah, ia adalah pemandangan yang paling indah, penampakan yang paling indah, dan tempat yang paling indah untuk dilihat, di dataran yang tanahnya seperti potongan-potongan kapur barus, seandainya sebuah potongan dilempar ke dalamnya tidak akan berdebu.

Dan telah didirikan untuknya tenda besar dari sutra yang telah dibuat untuknya oleh Yusuf bin Umar di Yaman, di dalamnya ada kemah, di dalamnya ada empat hamparan dari sutra merah, seperti itu pula bantal-bantalnya, dan di atasnya ada jubah dari sutra merah, seperti itu pula sorbannya.

Ia berkata: Dan orang-orang telah mengambil tempat duduk mereka, maka aku mengeluarkan kepalaku dari sisi barisan, lalu ia memandangku seperti orang yang ingin memintaku berbicara, maka aku berkata: Semoga Allah menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu wahai Amirul Mukminin, dan memberikannya kepadamu dengan syukur, dan menjadikan apa yang Dia amanahkan kepadamu dari urusan ini sebagai petunjuk, dan akibat dari apa yang kamu tuju adalah pujian, memurnikannya untukmu dengan takwa, dan memperluasnya untukmu dengan pertumbuhan, tidak ada kekeruhan bagimu dari apa yang telah jernih, dan tidak bercampur kegembiraannya dengan keburukan, maka sungguh kamu telah menjadi bagi kaum muslimin kepercayaan dan tempat istirahat, kepada engkaulah mereka menuju dalam urusan-urusan mereka, dan kepada engkaulah mereka berlindung dalam kezaliman yang menimpa mereka, dan aku tidak mendapati wahai Amirul Mukminin, semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu, sesuatu yang lebih efektif dalam menunaikan hakmu dan menghormati majelismu dari apa yang Allah karuniakan kepadaku berupa duduk bersamamu dan melihat wajahmu, selain mengingatkanmu akan nikmat-nikmat Allah kepadamu, dan memperingatkanmu untuk mensyukurinya, dan aku tidak mendapati wahai Amirul Mukminin sesuatu yang lebih efektif dari kisah para raja yang terdahulu, maka jika Amirul Mukminin mengizinkan aku, aku akan memberitahunya tentang hal itu.

Ia berkata: Maka ia duduk tegak, padahal sebelumnya ia bersandar, kemudian berkata: Katakanlah wahai Ibnu al-Ahtam.

Maka aku berkata: Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya seorang raja dari raja-raja sebelummu keluar di tahun seperti tahun kita ini ke al-Khawarnaq dan al-Sadir, di tahun yang hujannya datang awal dan meratanya bagus, dan berturut-turut hujan dari atasnya, dan bumi telah mengenakan perhiasannya dari bunga musim semi yang indah, maka ia dalam pemandangan yang paling indah, penampakan yang paling indah, dan tempat yang paling indah untuk dilihat, di dataran yang tanahnya seperti potongan-potongan kapur barus, hingga seandainya sebuah potongan dilempar ke dalamnya tidak akan berdebu,” ia berkata: Dan ia telah diberi masa muda, bersama dengan kekayaan, kekuasaan dan penguasaan.

Dia berkata: Lalu dia memandang jauh ke kejauhan, lalu berkata kepada orang-orang yang duduk bersamanya: “Untuk siapa semua ini? Pernahkah kalian melihat seperti apa yang aku miliki? Pernahkah kalian melihat seperti apa yang telah diberikan kepadaku?” Dia berkata: Di sisinya ada seorang lelaki dari orang-orang yang tersisa yang menjunjung tinggi hujjah (kebenaran), dan berjalan di atas adab kebenaran dan jalannya.

Dia berkata: Dan bumi tidak akan pernah kosong dari orang yang menegakkan hujjah Allah kepada hamba-hamba-Nya. Maka dia berkata: “Wahai Raja! Engkau telah bertanya tentang suatu perkara, apakah engkau mengizinkan aku menjawabnya?” Dia berkata: “Ya.” Dia berkata: “Menurutmu apa yang engkau miliki sekarang, apakah sesuatu yang selalu engkau miliki ataukah sesuatu yang sampai kepadamu sebagai warisan dari orang lain dan akan berpindah darimu dan akan sampai kepada orang lain sebagaimana sampai kepadamu sebagai warisan dari orang lain sebelummu?!” Dia berkata: “Memang demikianlah adanya.” Dia berkata: “Tidakkah engkau lihat bahwa engkau hanya kagum dengan sesuatu yang sedikit, engkau berada di dalamnya sebentar dan hilang darinya dalam waktu yang lama, dan besok engkau akan dimintai pertanggungjawaban atasnya?” Dia berkata: “Celaka engkau! Lalu ke mana tempat melarikan diri? Dan di mana tempat mencari?” Dia berkata: “Engkau harus memilih: engkau tetap dalam kerajaanmu bekerja di dalamnya dengan ketaatan kepada Allah Tuhanmu dalam segala yang menyusahkanmu, menyenangkanmu, yang menyakitimu dan membakarmu, atau engkau melepas mahkotamu dan mengenakan pakaian compang-camping dan kain kasarmu dan beribadah kepada Tuhanmu di gunung ini hingga ajalmu datang!” Dia berkata: “Jika sudah waktu sahur, ketuklah pintuku karena aku akan memilih salah satu dari dua pendapat ini. Jika aku memilih apa yang sekarang aku miliki, engkau akan menjadi menteri yang tidak akan dibantah, dan jika aku memilih padang gurun dan tanah tandus, engkau akan menjadi teman yang tidak akan ditentang.”

Dia berkata: Lalu dia mengetuk pintunya saat sahur, ternyata dia telah melepas mahkotanya, melepas pakaian mewahnya, mengenakan kain kasarnya, dan bersiap untuk berkelana.

Dia berkata: Demi Allah, mereka berdua menetap di gunung itu hingga ajal mereka tiba.

Dan inilah yang dikatakan saudara Bani Tamim, Adi bin Salim Al-Marai Al-Adawi:

“Wahai engkau yang mencela dan mencerca karena zaman / apakah engkau orang yang terbebas dan sempurna? Atau apakah engkau memiliki janji yang kuat dari hari-hari / ataukah engkau orang bodoh yang tertipu? Siapa yang engkau lihat diabadikan oleh takdir / atau siapa yang memiliki pelindung dari bahaya? Di mana Kisra? Kisra raja-raja, ayah / Sasan, atau di mana sebelumnya Syapur? Dan Bani Al-Ashfar, para raja Roma yang mulia / tidak tersisa dari mereka yang disebutkan Dan penguasa Hadhr ketika membangunnya / ketika Tigris dan Khabur dibawa kepadanya Dia membangunnya dengan marmer dan melapisnya dengan kapur / maka burung-burung bersarang di menaranya Dia tidak takut akan bahaya takdir, maka lenyaplah / kerajaan darinya dan pintunya ditinggalkan Dan ingatlah penguasa Khawarnaq ketika / dia melihat suatu hari untuk berpikir tentang petunjuk Dia senang dengan apa yang dimilikinya dan banyaknya yang dia kuasai / dan laut yang membentang serta Sadir Maka hatinya tersadar dan berkata: apa / kebahagiaan makhluk hidup yang akan menuju kematian Kemudian mereka menjadi seperti daun yang kering / yang ditiup oleh angin timur dan barat Kemudian setelah kejayaan, kerajaan dan kemakmuran / di sana kuburan menutupi mereka”

Dia berkata: Demi Allah, Hisyam menangis hingga membasahi janggutnya dan membasahi sorbannya, dan memerintahkan untuk membongkar bangunan-bangunannya, dan memindahkan kerabat-kerabatnya, keluarganya, pelayan-pelayannya, dan orang-orang yang duduk bersamanya, dan menetap di istananya.

Dia berkata: Lalu para pelayan mendatangi Khalid bin Shafwan bin Al-Ahtam dan berkata: “Apa yang kau inginkan dari Amirul Mukminin? Kau telah merusak kenikmatannya dan mengganggunya.” Dia berkata: “Pergilah kalian dariku! Aku telah berjanji kepada Allah Ta’ala untuk tidak menyendiri dengan raja kecuali aku mengingatkannya kepada Allah Azza wa Jalla.”

 

 

BAB KETIGA

Menyebutkan Sebagian dari Berita-berita Nabi Kita

Telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad Abdullah bin Manshur bin Hibatullah Al-Maushili, dia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abul Husain Al-Mubarak bin Abdul Jabbar Ash-Shairafi, dia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abul Hasan Muhammad bin Abdul Wahid bin Muhammad bin Ja’far, dia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Ibrahim bin Al-Hasan bin Syadzan, dia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Al-Mughallash, dia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Utsman Sa’id bin Yahya bin Sa’id Al-Umawi, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku pamanku Abdullah bin Sa’id, dari Ziyad, dari Ibnu Ishaq, dia berkata: Kemudian Allah Ta’ala memerintahkan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam untuk terus terang dengan apa yang dibawa kepadanya, untuk mengumumkan perintah-Nya kepada manusia, dan mengajak manusia kepadanya. Antara Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyembunyikan perintah-Nya dan merahasiakannya sampai kemudian mengumumkannya adalah tiga tahun sejak pengutusan beliau, menurut apa yang sampai kepadaku. Maka Allah Ta’ala berfirman: “Maka sampaikanlah secara terang-terangan apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (Surah Al-Hijr: 94)

Dan berfirman: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu dari kalangan orang-orang yang beriman.” (Surah Asy-Syu’ara: 214-215), “Dan katakanlah, ‘Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang jelas.'” (Surah Al-Hijr: 89). Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terang-terangan kepada kaumnya tentang Islam dan menyatakan dengan jelas sebagaimana Allah memerintahkan kepadanya, kaumnya tidak menjauh darinya dan tidak menolaknya sama sekali dalam apa yang sampai kepadaku, hingga beliau menyebut tuhan-tuhan mereka dan mencaci makinya. Ketika beliau melakukan itu, mereka sangat marah atas apa yang beliau katakan dan mengingkarinya! Dan mereka bersepakat untuk menentang dan memusuhi beliau, kecuali orang-orang yang dilindungi Allah dengan Islam, dan mereka sedikit dan bersembunyi. Dan pamannya Abu Thalib melindungi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan membela beliau. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meneruskan perintah Allah, tidak ada sesuatu pun yang menghentikan beliau. Ketika Quraisy melihat bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak peduli dengan apa yang mereka ingkari dari beliau, yaitu perpisahan beliau dari mereka dan mencela tuhan-tuhan mereka, dan mereka melihat bahwa Abu Thalib telah melindungi dan membela beliau sehingga tidak menyerahkan beliau, maka orang-orang Quraisy datang kepada Abu Thalib: Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Abu Sufyan bin Harb, Abul Bakhtari bin Hisyam, Al-Aswad bin Al-Muththalib, Al-Walid bin Al-Mughirah, Abu Jahal bin Hisyam, Al-Ash bin Wa’il, Nubaih dan Munabbih anak Al-Hajjaj, atau siapa pun yang datang dari mereka, lalu berkata: “Wahai Abu Thalib, keponakanmu telah mencaci maki tuhan-tuhan kami, mencela agama kami, memandang rendah akal kami, dan menyesatkan bapak-bapak kami. Jadi engkau harus menghentikan dia dari kami, atau engkau biarkan antara kami dan dia, karena engkau bersama kami dalam menentang dia, maka kami akan mengurus dia untukmu.” Maka Abu Thalib berbicara kepada mereka dengan kata-kata lemah lembut dan menjawab mereka dengan baik. Lalu mereka pergi darinya. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meneruskan apa yang beliau lakukan: menampakkan agama Allah dan mengajak kepadanya. Kemudian masalah antara beliau dan mereka memburuk, hingga orang-orang berjauhan dan saling membenci, dan Quraisy banyak membicarakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di antara mereka dan saling menghasut untuk menentang beliau, dan sebagian mereka mendorong yang lain untuk menentang beliau. Kemudian mereka datang lagi kepada Abu Thalib untuk kedua kalinya, dan berkata: “Wahai Abu Thalib, engkau memiliki usia, kehormatan, dan kedudukan. Dan kami telah memintamu untuk menghentikan keponakanmu dari kami tetapi engkau tidak menghentikan dia dari kami. Dan demi Allah, kami tidak akan bersabar atas ini, atas pencacian bapak-bapak kami, memandang rendah akal kami, dan mencela tuhan-tuhan kami, hingga engkau menghentikan dia dari kami, atau kami akan melawan dia dan engkau dalam hal itu, hingga salah satu dari dua kelompok ini binasa,” atau seperti itulah yang mereka katakan. Kemudian mereka pergi darinya. Maka berat bagi Abu Thalib perpisahan dengan kaumnya dan permusuhan mereka, tetapi dia tidak rela menyerahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan tidak rela mengkhianatinya.

Ibnu Ishaq berkata: Ya’qub bin Utbah bin Al-Mughirah bin Al-Akhnas menceritakan kepadaku bahwa dia diceritakan bahwa Quraisy ketika mengatakan perkataan ini kepada Abu Thalib, dia memanggil Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu berkata: “Wahai keponakanku, kaummu telah datang kepadaku dan berkata kepadaku begini dan begini, maka kasihilah aku dan dirimu sendiri, dan janganlah engkau membebani aku dengan apa yang tidak aku mampu.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengira bahwa pamannya telah berubah pikiran tentang dirinya, dan bahwa dia akan mengkhianatinya dan menyerahkan beliau, dan bahwa dia lemah dalam menolong beliau dan berdiri bersama beliau. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya: “Demi Allah wahai pamanku, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan perkara ini, aku tidak akan meninggalkannya, hingga Allah menampakkannya, atau aku binasa karenanya.” Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meneteskan air mata dan menangis, kemudian berdiri. Ketika beliau berpaling, Abu Thalib memanggilnya dan berkata: “Kembalilah wahai keponakanku.” Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menghadap kepadanya, dia berkata: “Pergilah wahai keponakanku dan lakukanlah apa yang engkau sukai, demi Allah aku tidak akan menyerahkanmu untuk apa pun selamanya.”

Al-Umawi berkata: Pamanku Muhammad bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari Ishaq bin Yahya, dari Musa bin Thalhah, dari Aqil bin Abi Thalib, dia berkata: Quraisy datang kepada Abu Thalib, lalu berkata: “Sesungguhnya keponakanmu telah menyakiti kami, dan kami tidak akan membiarkanmu dalam hal itu dan tidak akan berkumpul bersamamu atasnya. Janganlah dakwah ini dilakukan di Ka’bah kami dan perkumpulan kami, jika tidak, demi Allah, kami akan mengusir dia.”

Dia berkata: “Lakukanlah wahai Aqil, panggillah Muhammad untukku.” Lalu mereka keluar. Aku mendatangi beliau di rumah Abdul Muththalib dekat Mas’a. Beliau keluar bersamaku mengenakan dua selendang kotor dari Hadramaut, menutup kepala, bertelanjang kaki, mengikuti bayangan, hingga kami datang kepada Abu Thalib di Syi’ib. Lalu Nabi shallallahu alaihi wasallam duduk di ambang pintu. Abu Thalib berkata kepadanya: “Ke sini wahai keponakanku.” Beliau berkata: “Tempatku di sini.” Dia berkata: “Wahai keponakanku, kaummu telah berbuat adil kepadamu, mereka telah menawarkan kepadamu agar dakwahmu antara engkau dan sahabat-sahabatmu, dan di mana pun kalian duduk, dan tidak di Ka’bah mereka, dan tidak di perkumpulan mereka, karena mereka tidak akan berdekatan dengan kami.”

Aqil berkata: Demi Allah, aku tidak pernah mendengarnya memanggil beliau dengan namanya sebelum hari itu, dia biasa berkata: wahai pamanku.

Maka beliau berkata: “Wahai Abu Thalib, apakah engkau mampu menyembunyikan matahari ini jika engkau ingin menyembunyikannya?” Dia berkata: “Lakukanlah sesuai keinginanmu, demi Allah kami tidak akan mengkhianatimu dan tidak akan meninggalkanmu, semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu.”

Kemudian kembali ke hadits Ziyad, dia berkata: Ibnu Ishaq menceritakan kepadaku, dia berkata: Al-Abbas bin Abdullah bin Ma’bad menceritakan kepadaku, dari sebagian keluarganya, dari Ibnu Abbas: “Bahwa Quraisy datang dengan Umarah bin Al-Walid bin Al-Mughirah, lalu berkata: ‘Wahai Abu Thalib, ini Umarah bin Al-Walid, pemuda paling gagah di Quraisy, paling penyair, dan paling tampan. Ambillah dia, untukmu akalnya dan pertolongannya, dan jadikanlah dia sebagai anak, maka dia untukmu. Dan serahkanlah kepada kami keponakanmu, yang telah menentangmu dalam agamamu dan agama bapak-bapakmu, memecah belah persatuan kaummu, dan memandang rendah akal mereka, agar kami membunuh dia. Dia hanyalah seorang lelaki seperti lelaki lain.’

Dia berkata: ‘Demi Allah, sungguh buruk apa yang kalian tawarkan kepadaku! Kalian memberiku anak kalian untuk aku besarkan, dan aku memberikan kalian anakku untuk kalian bunuh! Ini tidak akan pernah terjadi!'”

Maka Muth’im bin Adi bin Naufal bin Abdul Manaf berkata: “Demi Allah wahai Abu Thalib, sesungguhnya kaummu telah berlaku adil kepadamu dan mereka telah berusaha keras untuk melepaskan diri dari apa yang engkau benci, namun aku tidak melihat engkau mau menerima sesuatu pun.”

Maka Abu Thalib berkata kepada Muth’im: “Demi Allah mereka tidak berlaku adil kepadaku, tetapi engkau telah berketetapan untuk menghinaku dan membantu kaum itu melawanku, maka berbuatlah sesukamu,” atau seperti itulah yang dikatakan Abu Thalib.

Ziyad berkata: Dan telah menceritakan kepadaku Al-Mujalid bin Sa’id, dari Abdurrahman bin Ziyad bin An’am Al-Humairi, dari Sa’d bin Mas’ud: “Bahwa Abu Thalib tidak menemukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selama dua hari, maka hal itu sangat menyulitkannya, dan dia mengira bahwa Muhammad telah dibunuh dengan licik. Maka dia mengutus orang untuk mencarinya, namun tidak menemukannya. Lalu dia memanggil anak-anaknya dan anak-anak saudaranya serta orang-orang yang berpendapat seperti dia dari Bani Hasyim dan yang lainnya, maka mereka berkumpul kepadanya. Lalu dia berkata: Asahlah senjata kalian dan bersiaplah di tempat kalian! Dan dia memberikan kepada anak-anaknya dan anak-anak saudaranya, setiap orang di antara mereka sebilah pisau tajam yang telah diasahnya, dan berkata: Hendaklah setiap orang di antara kalian duduk di samping seorang laki-laki dari Quraisy, hingga aku pergi ke gunung ini. Sesungguhnya aku telah mencari Muhammad di tempat-tempat yang mungkin kecuali tempat ini di sisi gunung yang menghadap ke Mekah. Apabila aku datang membawa berita kematian Muhammad, maka hendaklah setiap orang di antara kalian menikam teman duduknya.”

Dia berkata: “Dan Abu Thalib keluar sambil berseru: Wahai Muhammad! Wahai Muhammad! Hingga dia sampai ke bagian bawah Mekah. Lalu dia mendatangi tempat yang dia maksudkan, dan dia menemukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di sana. Ketika dia pulang, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya: Ada apa denganmu wahai paman? Dia menjawab: Demi Allah aku mengira engkau telah dibunuh dengan licik, dan aku hampir hari ini membunuh kaumku karenamu! Tidakkah engkau memberitahuku jika engkau keluar ke suatu tempat di mana tempatmu agar aku mengetahuinya? Maka Nabi Allah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya: Wahai paman, tidak ada seorang pun dari manusia yang lebih aku cintai untuk dibahagiakan Allah dengan apa yang aku diutus dengannya selain dirimu. Maukah aku tunjukkan kepadamu sebuah tanda agar engkau masuk Islam? Dia berkata: Apa tandanya wahai anak saudaraku? Beliau bersabda: Aku akan memperlihatkan kepadamu sesuatu yang tidak mampu diperlihatkan oleh siapa pun kepadamu! Dia berkata: Maka perlihatkanlah! Beliau bersabda: Apakah engkau melihat pohon itu? Dia menjawab: Ya. Beliau bersabda: Sesungguhnya aku akan berdoa kepada Tuhanku maka pohon itu akan datang kepadamu hingga engkau melihatnya di hadapanmu.”

Dia berkata: “Maka lakukanlah! Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdoa kepada Tuhannya, kemudian berkata: Datanglah dengan izin Allah! Maka pohon itu datang bergetar hingga sampai kepada keduanya. Lalu beliau bersabda: Ambillah dari daunnya dan sebagian rantingnya.”

“Maka Abu Thalib mengambilnya, kemudian beliau berkata kepada pohon itu: Kembalilah dengan izin Allah! Maka pohon itu kembali. Kemudian Abu Thalib berkata: Wahai anak saudaraku, pada dirimu ada ini, maka ikutilah aku! Dia berkata: Wahai anak saudaraku, inilah yang kaummu katakan bahwa engkau adalah tukang sihir, maka pergilah hingga aku menenangkan mereka darimu. Maka Abu Thalib datang sambil memegang tangan Nabi shallallahu alaihi wasallam menuju perkumpulan Quraisy di masjid. Ketika mereka melihatnya, mereka berkata: Ini Abu Thalib memegang tangan Muhammad, apa yang kalian perkirakan dia inginkan? Apakah kalian perkirakan dia ingin menyerahkannya kepada kalian? Mereka berkata: Kami tidak memperkirakan kecuali dia akan melakukannya. Maka Abu Thalib datang hingga berdiri di hadapan mereka. Lalu mereka berkata: Ada apa denganmu wahai Abu Thalib? Dia berkata: Aku mengira kalian telah membunuhnya. Demi Tuhan Baitullah Al-Haram dan negeri yang haram ini, seandainya kalian melakukannya, niscaya setiap orang dari mereka ini akan membunuh teman duduknya. Keluarkan pisau-pisau kalian! Maka mereka mengeluarkannya. Ketika Quraisy melihat itu, mereka putus asa dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.”

Dari selain riwayat Al-Umawi: Ketika Quraisy mengetahui bahwa tidak ada jalan bagi mereka kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam, mereka bersepakat untuk menulis di antara mereka terhadap Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib sebuah perjanjian bahwa mereka tidak akan menikahi mereka, tidak akan meminang kepada mereka, tidak akan berjual beli dengan mereka, dan tidak akan membeli dari mereka. Ketika mereka berkumpul untuk itu, mereka menulisnya dalam sebuah lembaran, kemudian mereka saling berjanji dan bersumpah atas hal itu, kemudian mereka menggantung lembaran itu di dalam Ka’bah sebagai penguatan atas diri mereka sendiri. Ketika Quraisy melakukan itu, Bani Hasyim dan Bani Muththalib berpihak kepada Abu Thalib bin Abdul Muththalib, lalu mereka masuk bersamanya ke dalam lembahnya dan berkumpul kepadanya. Dan keluar dari Bani Hasyim adalah Abu Lahab Abdul Uzza bin Abdul Muththalib menuju Quraisy, dan dia membantu Quraisy atas mereka. Dan dia berkata kepada Hindun binti Utbah: “Wahai putri Utbah, apakah aku telah menolong Al-Lat dan Al-Uzza, dan memisahkan diri dari orang yang memisahkan diri dari keduanya serta membantu melawan keduanya?” Dia menjawab: “Ya, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan wahai Abu Utbah.” Kemudian Quraisy menyerang orang-orang yang masuk Islam, maka mereka menyakiti mereka dan menyiksa mereka. Dan ujian itu semakin berat atas mereka, fitnah menjadi besar di antara mereka, dan mereka diguncang dengan guncangan yang keras. Dan ketika Amr bin Al-Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah pulang dari sisi Najasyi dan mengabarkan kepada mereka apa yang dia katakan, kesedihan mereka bertambah, dan mereka menyakiti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya dengan siksaan yang keras. Mereka memukuli mereka di setiap jalan, mengepung mereka di lembah mereka, memutus bantuan dan pasar dari mereka. Mereka tidak membiarkan seorang pun memasukkan makanan kepada mereka, atau sesuatu yang bisa mereka manfaatkan. Maka mereka keluar dari lembah menuju pasar-pasar. Quraisy mendahului mereka ke pasar-pasar, lalu membeli barang-barang itu dan menaikkan harganya atas mereka. Mereka melakukan itu selama tiga tahun, hingga kaum itu mengalami kesulitan yang sangat berat, hingga mereka mendengar suara-suara anak-anak mereka menangis kelaparan dari balik lembah. Maka Abu Thalib berkata:

Tidakkah sampaikanlah dariku atas ikatan di antara kita, kepada Luay dan khususnya dari Luay Bani Ka’b Tidakkah kalian ketahui bahwa kami menemukan Muhammad sebagai Nabi, seperti Musa yang tertulis di awal kitab Dan bahwa ada kecintaan padanya di kalangan hamba, dan tidak ada kebaikan, dari orang yang Allah khususkan dengan cinta Dan bahwa apa yang kalian tempelkan dari tulisan kalian itu, akan menjadi bagi kalian suatu hari seperti jeritan anak unta yang meminta susu Kami tidak akan, demi Tuhan Baitullah, menyerahkan Ahmad untuk kemuliaan, dari gigitan zaman dan tidak untuk kesusahan Dan belum terputus dari kami dan dari kalian ujung-ujung rambut, dan tangan-tangan yang terlatih dengan pedang yang tajam gemilang Di medan pertempuran yang sempit, engkau melihat pecahnya tombak-tombak di dalamnya, dan burung-burung nasar yang kotor berkelompok seperti yang meminum Seolah-olah arena kuda di tempat-tempatnya, dan keramaian para pahlawan adalah medan perang

Kemudian hadits kembali kepada Ziyad: “Maka mereka tinggal dalam keadaan itu selama dua atau tiga tahun, hingga mereka mengalami kesulitan besar, dan tidak sampai kepada mereka sesuatu pun kecuali dengan sembunyi-sembunyi dari setiap orang yang ingin menyampaikan bantuan kepada mereka dari Quraisy. Dan sesungguhnya Abu Jahal bin Hisyam, menurut apa yang diceritakan, bertemu dengan Hakim bin Hizam bin Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza. Bersamanya ada budaknya yang membawa gandum yang dia maksudkan untuk bibinya Khadijah binti Khuwailid bin Asad, yang berada bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersamanya di lembah. Maka dia (Abu Jahal) menahannya dan berkata: Apakah engkau akan membawa makanan kepada Bani Hasyim? Engkau dan makananmu tidak akan pergi hingga aku mempermalukanmu di Mekah! Maka Abu Al-Bakhtari bin Hisyam bin Al-Harits bin Asad datang kepadanya dan berkata: Ada apa denganmu dan dengannya? Dia menjawab: Dia membawa makanan kepada Bani Hasyim. Maka Abu Al-Bakhtari berkata kepadanya: Makanan yang ada pada bibinya diberikan kepadanya, lalu dia mengirim kepadanya, apakah engkau melarangnya mendatangi bibinya dengan makanannya? Lepaskan jalan orang itu! Namun Abu Jahal menolak, hingga salah satu dari mereka mencela yang lain. Maka Abu Al-Bakhtari mengambil rahang unta dan memukulnya hingga luka, dan menginjaknya dengan injakan yang keras. Hamzah bin Abdul Muththalib berada dekat melihat semua itu, dan mereka tidak suka jika hal itu sampai kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya sehingga mereka bergembira atas mereka. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam keadaan itu terus menyeru kaumnya siang dan malam, sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, menampakkan perintah Allah, tidak takut dalam hal itu kepada seorang pun dari manusia. Maka Quraisy, ketika Allah melindunginya dari mereka dengan pamannya dan kaumnya dari Bani Hasyim dan Bani Muththalib, dan mereka menghalangi antara mereka dan apa yang mereka inginkan dari kekerasan terhadap mereka dan terhadapnya, maka mereka mencela, mengejek, dan menentangnya. Kemudian sesungguhnya yang berdiri untuk membatalkan lembaran perjanjian yang ditulis Quraisy terhadap Bani Hasyim dan Bani Muththalib adalah beberapa orang dari Quraisy, dan tidak ada yang berbuat baik dalam hal itu lebih baik dari perbuatan Hisyam bin Amr bin Al-Harits bin Habib bin Nashr bin Malik bin Hasl bin Amir bin Luay. Dan hal itu karena dia adalah anak saudara Nadhlah bin Hasyim bin Hasyim bin Abdul Manaf dari ibunya, dan Nadhlah serta Amr adalah dua saudara seibu. Hisyam bersikap baik kepada Bani Hasyim, dan dia memiliki kehormatan dalam kaumnya. Dan dia menurut yang sampai kepadaku, datang dengan unta yang telah dimuati penuh makanan pada malam hari, hingga ketika dia menghadapkannya ke mulut lembah, dia melepaskan tali kekangnya dari kepalanya, kemudian memukulnya di sisinya, maka unta itu masuk ke lembah kepada mereka. Dan dia datang dengan unta yang telah dimuati gandum, lalu melakukan seperti itu juga. Kemudian dia pergi menemui Zuhair bin Abi Umayyah bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Makhzum, dan ibunya adalah Atikah binti Abdul Muththalib. Maka dia berkata: Wahai Zuhair, apakah engkau rela makan makanan dan memakai pakaian sedangkan paman-pamanmu dalam keadaan seperti yang engkau ketahui, tidak berjual beli dan tidak dibeli dari mereka, tidak menikah dan tidak dinikahi dengan mereka?! Adapun aku, aku bersumpah demi Allah, seandainya mereka adalah paman-paman Abu Al-Hakam bin Hisyam kemudian engkau menyerunya kepada seperti apa yang dia seru kepadamu, dia tidak akan pernah memenuhinya! Dia berkata: Celakalah engkau wahai Hisyam! Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku hanyalah seorang laki-laki sendirian. Demi Allah, seandainya ada laki-laki lain bersamaku, niscaya aku akan berdiri untuk membatalkannya hingga aku membatalkannya.

Dia berkata: “Aku telah menemukan seorang laki-laki.”

Dia berkata: “Siapa dia?” Dia menjawab: “Aku.” Dia berkata: “Carikan aku yang ketiga.”

Maka dia pergi menemui Muth’im bin Adi bin Naufal, lalu berkata: Wahai Muth’im, apakah engkau rela jika dua cabang dari Bani Abdul Manaf binasa sedangkan engkau menyaksikan hal itu, menyetujui Quraisy dalam hal itu? Demi Allah, jika kalian membolehkan mereka dalam hal ini, niscaya kalian akan mendapati mereka lebih cepat dalam hal itu kepada kalian.

Dia berkata: “Celakalah engkau! Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku hanyalah seorang laki-laki sendirian.” Dia berkata: “Aku telah menemukan yang kedua.” Dia berkata: “Siapa dia?” Dia menjawab: “Aku.” Dia berkata: “Carikan aku yang ketiga.” Dia berkata: “Telah aku lakukan.” Dia berkata: “Siapa dia?” Dia menjawab: “Zuhair bin Abi Umayyah.”

Dia berkata: “Carikan kami yang keempat.”

Dia berkata: “Maka dia pergi menemui Abu Al-Bakhtari bin Hisyam, lalu berkata kepadanya seperti apa yang dia katakan kepada Muth’im bin Adi.” Dia berkata: “Apakah ada orang yang membantu dalam hal ini?” Dia berkata: “Ya.” Dia berkata: “Siapa dia?” Dia menjawab: “Zuhair bin Abi Umayyah, Muth’im bin Adi, dan aku.” Dia berkata: “Carikan kami yang kelima.”

Maka dia pergi menemui Zam’ah bin Al-Aswad bin Al-Muththalib, lalu menyebutkan kepadanya kekerabatan mereka dan hak mereka. Dia berkata: “Apakah ada orang lain dalam perkara yang engkau seru aku kepadanya ini?” Dia berkata: “Ya.” Kemudian dia menyebutkan nama-nama kaum itu kepadanya. Maka mereka berjanji bertemu di Khathm Al-Hajun pada malam hari di bagian atas Mekah. Maka mereka berkumpul di sana, lalu mereka menyepakati perkara mereka dan saling berjanji untuk berdiri menentang lembaran perjanjian itu hingga mereka membatalkannya._

Dan Zuhair berkata: “Aku yang akan memulai kalian, maka aku akan menjadi yang pertama berbicara.” Ketika pagi tiba, mereka pergi ke perkumpulan-perkumpulan mereka, dan Zuhair bin Abi Umayyah pergi dengan mengenakan pakaian bagus, lalu dia thawaf di Ka’bah tujuh kali, kemudian menghadap kepada penduduk Mekah dan berkata: “Wahai penduduk Mekah, sesungguhnya kami makan makanan dan memakai pakaian, sedangkan Bani Hasyim binasa, tidak berjual beli dan tidak dibeli dari mereka! Demi Allah aku tidak akan duduk hingga lembaran yang memutuskan dan menzalimi ini dirobek.”

Abu Jahal berkata, dan dia berada di sudut masjid: “Engkau berdusta demi Allah, lembaran itu tidak akan dirobek.”

Zam’ah bin Al-Aswad berkata: “Engkau demi Allah lebih berdusta. Kami tidak ridha ketika lembaran itu ditulis ketika ditulis.”

Abu Al-Bakhtari berkata: “Zam’ah benar. Kami tidak ridha dengan apa yang ditulis di dalamnya dan tidak mengakuinya.” Muth’im bin Adi berkata: “Kalian berdua benar dan berdusta orang yang mengatakan selain itu. Kami berlepas diri kepada Allah darinya dan dari apa yang ditulis di dalamnya.”

Dan Hisyam bin Amr berkata seperti itu. Maka Abu Jahal berkata saat itu: “Ini adalah perkara yang diputuskan pada malam hari dan dimusyawarahkan di tempat selain tempat ini.”

Dan Abu Thalib berada di sudut masjid.

Maka Muth’im bin Adi berdiri menuju lembaran perjanjian itu lalu merobeknya. Dia menemukan rayap telah memakannya kecuali tulisan “Dengan nama-Mu ya Allah.”

Dia berkata: “Dan penulis lembaran perjanjian itu adalah Manshur bin Ikrimah, saudara Bani Abdu Ad-Dar, maka tangannya lumpuh menurut apa yang mereka katakan.”

Yang selain Ziyad berkata: Ketika Allah merusak lembaran tipu daya mereka, Nabi shallallahu alaihi wasallam dan rombongannya keluar, maka mereka hidup di antara manusia.

Hadits kembali kepada Ziyad: dari Al-Ajlah, dari Abu Ishaq As-Subai’i, dari Amru bin Maimun Al-Audi, dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang shalat di Masjidil Haram, sementara Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Al-Walid bin Utbah, Abu Jahal bin Hisyam, Umayyah bin Khalaf, An-Nadhr bin Al-Harits, dan Uqbah bin Abi Mu’ith duduk-duduk di Hijr (bagian dari Ka’bah). Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sujud dan memperpanjang sujudnya, Abu Jahal berkata: “Siapa di antara kalian yang pergi ke Bani Fulan, karena mereka baru saja menyembelih dan memotong hewan, lalu membawakan kepada kita kotoran perut, darah, dan kotorannya untuk diletakkan di atas Muhammad?” Maka pergilah orang yang paling bodoh dan paling celaka di antara mereka: Uqbah bin Abi Mu’ith. Ia membawa kotoran tersebut dan melemparkannya di antara kedua pundak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang sujud tanpa bergerak. Sementara aku berdiri tidak mampu berbicara dan tidak dapat mencegahnya, karena aku tidak memiliki kabilah yang dapat melindungiku.

Aku hampir putus asa, tiba-tiba aku mendengar Fatimah datang, lalu ia membuang kotoran itu dari beliau, kemudian menghadap kaum Quraisy dan mencaci maki mereka, namun mereka tidak menjawab apa-apa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kepalanya sebagaimana biasa beliau mengangkatnya.

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyelesaikan shalatnya, beliau berdoa: “Ya Allah, Engkau yang menghukum Quraisy (tiga kali). Ya Allah, Engkau yang menghukum Uqbah bin Abi Mu’ith, Utbah, Syaibah, Abu Jahal, Al-Walid, Umayyah, dan An-Nadhr.” Kemudian beliau keluar dan bertemu dengan Abu Al-Bakhtari yang membawa cambuk di pinggangnya. Ketika ia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia melihat ada yang tidak beres padanya! Lalu ia menangkap beliau dan berkata: “Kemarilah, ada apa denganmu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Lepaskan aku.” Ia berkata: “Demi Allah, aku tidak akan melepaskanmu, kecuali engkau memberitahuku apa masalahmu, karena pasti ada sesuatu yang menimpamu.” Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahui bahwa ia tidak akan melepaskannya, beliau memberitahunya bahwa Abu Jahal memerintahkan untuk melemparkan kotoran kepadanya. Abu Al-Bakhtari berkata: “Ayo masuk ke masjid.”

Ia membawa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke masjid, kemudian mendatangi Abu Jahal dan berkata: “Wahai Abu Al-Hakam, apakah engkau yang memerintahkan agar kotoran dilemparkan kepada Muhammad?” Lalu Abu Al-Bakhtari bin Hisyam mengangkat cambuknya dan memukul kepala Abu Jahal dengannya. Maka orang-orang pun saling berhadapan, dan Abu Jahal berteriak: “Celakalah kalian! Ini untuk Muhammad, Muhammad hanya ingin menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian agar ia dan para pengikutnya selamat.” Mereka semua terbunuh pada hari Badar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata pada hari Badar: “Barangsiapa bertemu dengan Abu Al-Bakhtari bin Hisyam, maka jangan membunuhnya.”

Kemudian Khadijah dan Abu Thalib wafat dalam satu tahun, dan wafat mereka terjadi setelah sepuluh tahun dari diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Musibah pun bertubi-tubi menimpa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan wafatnya Khadijah yang merupakan menteri yang jujur baginya dalam Islam, yang menjadi tempat ia bersandar. Dan wafatnya Abu Thalib, pamannya, yang merupakan tangan kanannya, pelindungnya, penolongnya, dan pembantunya. Hal itu terjadi tiga tahun sebelum hijrahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke Madinah. Ketika Abu Thalib wafat, kaum Quraisy melakukan gangguan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak pernah mereka harapkan bisa lakukan semasa Abu Thalib masih hidup, hingga seorang orang bodoh dari kaum Quraisy menghadang beliau dan menaburkan tanah di atas kepalanya.

Ziyad berkata, dari Ibnu Ishaq: Maka Hisyam bin Urwah menceritakan kepadaku dari ayahnya, ia berkata: “Ketika orang bodoh itu menaburkan tanah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke rumahnya dengan tanah di atas kepalanya. Maka salah satu putrinya bangun mendatanginya dan membersihkan tanah dari kepalanya sambil menangis, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: “Jangan menangis wahai putriku, sesungguhnya Allah akan melindungi ayahmu.” Dan beliau berkata di antaranya: “Quraisy tidak pernah melakukan sesuatu yang aku benci hingga Abu Thalib wafat.”

Ibnu Ishaq berkata: dari Yazid bin Abi Ziyad: Maka Muhammad bin Ka’ab Al-Quradhi menceritakan kepadaku, ia berkata: Ketika kaum Quraisy memperbanyak gangguan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau merasa kehilangan pamannya yang biasa menghalangi gangguan kaumnya, maka beliau berangkat ke Thaif dengan berjalan kaki menuju suku Tsaqif agar mereka melindunginya, menolongnya, dan membantunya, serta bersama beliau melawan kaum Quraisy, hingga beliau menemui Mas’ud, Habib, dan Abdul Yalil putra-putra Amru bin Umair bin Auf bin Uqdah bin Ghirah, yang saat itu merupakan pembesar Quraisy. Beliau menawarkan dirinya kepada mereka, mengajak mereka untuk menolongnya dan berdiri bersamanya, serta menceritakan kezaliman kaumnya. Namun mereka tidak memberi perlindungan, tidak menolong, tidak mengasihani, dan tidak merahasiakannya.

Salah seorang dari mereka berkata: “Kami sudah mengetahui sebagian besar urusanmu dan masalah antara engkau dengan kaummu. Engkau orang yang menginginkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Apakah Allah tidak menemukan orang lain untuk diutus selain engkau?” Yang lain berkata: “Aku akan mencuri kain penutup Ka’bah jika Allah benar-benar mengutusmu dengan sesuatu!” Dan yang lain berkata: “Aku tidak akan mengatakan apa-apa kepadamu. Demi Allah, jika engkau benar-benar utusan Allah sebagaimana engkau katakan, maka engkau terlalu mulia bagi Allah untuk kami ajak bicara dengan sesuatu yang menyakitimu. Dan jika engkau berdusta atas nama Allah dan atas nama dirimu sendiri, maka engkau terlalu hina bagiku untuk aku ajak bicara.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada mereka: “Rahasiakan hal ini dariku, karena aku tidak suka jika kaumku mengetahui bahwa aku mendatangi kalian namun kalian tidak memercayaiku, sehingga mereka semakin berani kepadaku.” Namun mereka tidak melakukannya, malah menyebarkannya, dan mempermalukan beliau. Beliau keluar dari mereka sementara penduduk Thaif telah mengumpulkan dua barisan: di kanan dan kirinya. Ketika beliau keluar dan melewati mereka, mereka berteriak kepadanya: “Engkau ingin merusak kami sebagaimana engkau merusak kaummu?” Ketika beliau selamat dari mereka dan menjauh, beliau mendatangi kebun anggur milik Utbah dan Syaibah putra Rabi’ah bin Abdul Syams, lalu berteduh di bawah pohon anggur dalam keadaan sedih. Beliau berdoa: “Ya Allah, aku mengadu kepada-Mu tentang lemahnya kekuatanku, sedikitnya akal dayaku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Engkau adalah Maha Pengasih di antara para pengasih. Engkau Tuhan orang-orang yang lemah, Engkau Tuhanku. Kepada siapa Engkau serahkan aku? Kepada orang jauh yang bermuka masam kepadaku? Ataukah kepada musuh yang Engkau kuasakan urusanku kepadanya? Jika tidak ada kemurkaan-Mu kepadaku, maka aku tidak peduli. Namun keselamatan dari-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang dengannya kegelapan menjadi terang, dan dengannya urusan dunia dan akhirat menjadi baik, agar Engkau tidak menurunkan kemurkaan-Mu kepadaku atau kemarahan-Mu menimpaku. Bagi-Mu segala kepuasan hingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Mu.”

Ada yang mengatakan bahwa beliau mengucapkannya ketika berangkat ke Madinah.

Ia berkata: Di dalam kebun itu ada Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin Rabi’ah. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat mereka, beliau bersembunyi dari mereka dan tidak suka duduk bersama mereka agar mereka tidak melihat kondisi beliau. Namun mereka melihatnya, lalu mengutus seorang budak bernama Addas, seorang Nasrani. Mereka berkata: “Ambillah anggur ini, masukkan ke dalam wadah ini, lalu bawalah kepada orang itu.”

Addas berasal dari penduduk Niniwe. Ketika Addas membawakan anggur kepadanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan tangannya dan menyebut nama Allah. Addas memperhatikan wajahnya dan berkata: “Sesungguhnya ini adalah sesuatu yang tidak diucapkan orang-orang saat ini!” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya: “Siapakah engkau?” Ia menjawab: “Aku seorang Nasrani.”

Beliau bertanya: “Dari negeri mana engkau?” Ia menjawab: “Dari penduduk Niniwe.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: “Negeri Yunus bin Matta, hamba yang saleh.” Ketika Addas mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut Yunus bin Matta, ia berkata: “Bagaimana engkau tahu, semoga Allah memberkahimu, tentang Yunus?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Itu saudaraku dan kekasihku, meskipun aku tidak pernah melihatnya. Ia adalah nabi dari para nabi Allah dan aku adalah nabi seperti dia, Allah mengutusku dengan kebenaran.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meremehkan siapa pun yang menyebutkan hal itu kepadanya. Ia berkata: Ketika Addas mendengar itu, ia bersujud dan mulai mencium kaki beliau. Ketika Utbah dan Syaibah melihatnya, salah seorang dari mereka tertawa kepada yang lain, dan mereka berkata: “Budak kita sudah rusak.” Mereka memanggilnya, lalu ia datang kepada mereka. Mereka berkata: “Mengapa engkau berbuat kepada orang ini apa yang tidak pernah engkau lakukan kepada seorang pun dari kami? Engkau mencium kakinya dan bersujud kepadanya?” Ia berkata: “Aku memang melakukannya, ini adalah nabi dari para nabi. Ia memberitahuku tentang kaumku, penduduk Niniwe, dan nabi mereka Yunus bin Matta dengan sesuatu yang tidak mungkin ada yang memberitahuku di negeri ini kecuali seorang nabi.”

Mereka tertawa dan berkata: “Jangan biarkan ia menipumu dari agamamu, karena begitulah ia berbuat kepada orang-orang bodoh. Demi Allah, kami benar-benar ingin membunuhnya.”

Ia berkata kepada mereka: “Kalian tidak akan mampu membunuh orang yang aku lihat, maka taatilah aku dan sambut ia dalam apa yang ia ajak kalian berdua.” Maka mereka menegurnya dengan keras.

Al-Umawi berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin As-Saib Al-Kalbi menceritakan kepada kami, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku: “Demi Allah, aku tidak melihat padamu dan pada Bani Ayahmu ada perlindungan. Maka maukah engkau mengantarku ke musim haji agar engkau memperkenalkanku kepada kabilah-kabilah Arab?” Ia berkata: Maka aku mengantarnya, aku membawanya ke musim haji. Ia berkata: Beliau memulai dengan kelompok Bani Amru bin Mu’awiyah ini.

Beliau bertanya: “Siapa kalian?” Mereka menjawab: “Kindah.” Beliau bertanya: “Apakah kalian menginginkan kebaikan?” Mereka bertanya: “Apa itu?” Beliau berkata: “Kalian bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, mendirikan shalat, dan beriman kepada apa yang datang dari Allah.” Mereka bertanya: “Siapa engkau?” Beliau berkata: “Aku adalah Rasulullah.” Mereka berkata: “Kami tidak membutuhkan apa yang engkau bawa kepada kami. Engkau memulai dengan kami untuk memalingkan kami dari tuhan-tuhan kami dan kami memusuhi orang-orang secara sama rata sehingga orang-orang Arab melempar kami dari satu busur? Kembali saja ke kaummu, kami tidak membutuhkan apa yang engkau bawa kepada kami.” Maka beliau keluar dari mereka dan mendatangi Bakr bin Wa’il, lalu mendatangi Bani Qais bin Tsa’labah. Beliau bertanya: “Bagaimana jumlahnya?” Mereka menjawab: “Seperti kerikil.” Beliau bertanya: “Bagaimana perlindungannya?” Mereka menjawab: “Kami tidak dapat melindungi dasar lembah. Kami bertetangga dengan kaum dari Persia, kami tidak dapat memberikan perlindungan atas mereka dan tidak dapat mencegah dari mereka.”

Beliau berkata: “Maka demi Allah, jika Allah membiarkan kalian hidup hingga kalian menempati tempat-tempat mereka, menikahi wanita-wanita mereka, dan memperbudak anak-anak mereka, hendaklah kalian bertasbih kepada Allah 33 kali, memuji-Nya 33 kali, dan bertakbir 34 kali.”

Mereka bertanya: “Siapa engkau?” Beliau berkata: “Aku adalah Rasulullah.”

Ia berkata: Ketika beliau melewati mereka, Abu Jahal bin Hisyam melewati mereka. Mereka berkata: “Wahai Abu Al-Hakam, apakah engkau mengenal tuan ini yang baru saja pergi dari kami?” Ia berkata: “Ya, di puncak tertinggi kami. Tentang urusan apa kalian menanyakan kepadaku?” Mereka berkata: “Ia berkata kepada kami begini dan begini.”

Ia berkata: “Jangan pedulikan ia karena sesungguhnya ia gila, mengigau dari kepalanya.”

Mereka berkata: “Kami demi Allah melihat hal itu ketika ia menyebutkan kepada kami tentang urusan Persia apa yang ia sebutkan.”

Ia berkata: Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan dan mendatangi Bani Amir. Beliau bertanya: “Siapa kalian?” Mereka menjawab: “Bani Qusyair.”

Beliau bertanya: “Bagaimana perlindungannya?” Mereka menjawab: “Tidak ada yang berani melawan kami dan tidak ada yang berani menyalakan api kami.”

Beliau berkata: “Sesungguhnya aku adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kalian agar kalian melindungiku hingga aku menyampaikan risalah Tuhanku, dan aku tidak memaksa seorang pun dari kalian terhadap sesuatu.”

Mereka bertanya: “Siapa engkau?” Beliau berkata: “Aku adalah putra Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim.”

Mereka bertanya: “Lalu di mana kaummu darimu?” Beliau berkata: “Mereka adalah orang pertama yang mengusirku dan mendustakanku.”

Mereka berkata: Tetapi kami tidak akan beriman kepadamu dan tidak akan mengusirmu, dan kami akan melindungimu hingga engkau menyampaikan risalah Tuhanmu.

Maka beliau duduk, kemudian datanglah kepada mereka Baihara bin Firas bin Abdullah bin Salamah bin Qusyair, lalu ia berdiri di hadapan mereka, kemudian berkata: Siapa pria ini yang aku tidak kenal di antara kalian? Mereka berkata: Ini Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib Al-Quraisyi, ia mengklaim bahwa ia adalah utusan Allah.

Ia berkata: Apa urusan kalian dengannya? Mereka berkata: Ia datang kepada kami agar kami melindunginya hingga ia menyampaikan risalah Tuhannya.

Ia berkata: Lalu apa jawaban kalian kepadanya? Mereka berkata: Kami berkata dengan lapang dada dan senang hati, pindahlah ke negeri kami dan kami akan melindungimu sebagaimana kami melindungi diri kami sendiri.

Ia berkata: Tidak ada seorang pun di antara kalian di sini yang pulang dengan sesuatu yang lebih buruk daripada yang kalian pulang dengannya, kalian ingin memerangi manusia secara terbuka dan mereka akan memanah kalian dengan satu busur? Maka kaumnya lebih mengetahui tentang dirinya, seandainya mereka merasakan kebaikan darinya tentu mereka lebih berbahagia dengannya, maka kembalikanlah ia kepada kaumnya, kalian sengaja mendatangi orang buangan suatu kaum yang telah diusir oleh kaumnya sendiri dan diusir, lalu kalian menampungnya dan menolongnya? Sungguh buruk pendapat yang kalian miliki, kemudian ia berkata kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Berdirilah dan kembalilah kepada kaummu, maka berdirilah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu menaiki untanya, kemudian Baihara menusuk pinggang unta itu dengan tongkat yang ada padanya, maka unta itu memberontak dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di atasnya, dan Dhiba’ah binti Amir bin Qarat bin Salamah bin Qusyair ada di sana, maka ketika ia melihat apa yang dilakukan terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ia berkata: Wahai bani Amir! Tidakkah aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dibuat lari dan aku tidak mampu melindunginya? Ia berkata: Maka bangkitlah tiga orang dari anak-anak pamannya menuju tiga orang dari mereka yang membuat unta itu memberontak, lalu masing-masing dari mereka menumbangkan seorang pria, kemudian mereka menampar wajah-wajah mereka, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Ya Allah, berkahilah orang-orang ini, dan laknatilah orang-orang itu, adapun orang-orang yang dilaknat: Baihara bin Firas, dan Hiriz bin Abdullah bin Salamah bin Qusyair, dan Abu Harb bin Muawiyah salah satu dari bani Uqail: mereka semua mati dalam keadaan terlaknat, adapun orang-orang yang menolongnya: Ghathif, dan Ghathfan kedua anak Suhail, dan Urwah, atau Azrah bin Abdullah bin Salamah: mereka semua mati sebagai syuhada.

Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi berkata: Dan Islam tersebar, dan diikuti oleh para pria dari kaumnya dan lainnya, dalam keadaan takut terhadap kaum mereka, mereka mendengar gangguan, dan diejek di setiap perkumpulan, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selalu menawarkan diri kepada bangsa Arab di setiap musim, menyeru mereka kepadanya, dan mengabarkan kepada mereka bahwa ia adalah nabi yang diutus, dan meminta perlindungan kepada mereka agar mereka melindungi punggungnya, hingga ia menyampaikan dari Allah apa yang diutuskan kepadanya. Dan dari Rabi’ah bin Abbad Ad-Du’ali, ia berkata: Demi Allah, sungguh aku mengingatnya ia berkeliling di tempat-tempat peristirahatan di Mina, dan aku bersama ayahku sebagai pemuda muda, dan di belakangnya ada seorang pria tampan, bermata juling, memiliki dua kepang rambut, setiap kali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berhenti di suatu kaum, lalu berkata: Sungguh aku adalah utusan Allah kepada kalian yang memerintahkan kalian agar menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, ia berkata: maka orang yang di belakangnya berkata: Sungguh orang ini yang mengajak kalian untuk meninggalkan agama kalian, dan melepaskan dari leher-leher kalian Al-Lat dan Al-Uzza, dan sekutu-sekutu kalian dari bani Malik bin Uqaisy, kepada apa yang ia bawa kepada kalian berupa bid’ah.

Maka aku berkata kepada ayahku: Siapa ini? Ia berkata: Ini adalah pamannya Abu Lahab Abdul Uzza bin Abdul Muthalib.

Al-Umawi berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Ma’ruf bin Kharbuz menceritakan kepadaku, bahwa Ja’far bin Abdurrahman bin Muhaishin bin Abi Wada’ah As-Sahmi menceritakan kepadanya, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika Abu Thalib wafat, kaum Quraisy menimpakan kepadanya gangguan dan pengusiran, maka beliau keluar pada suatu malam ke atas lembah, dan terus berada di sana hingga sore hari berikutnya, lalu bertemu dengan Ibnu Ariqid, salah satu dari bani Adi bin Amr bin Khuzaah, dan ia adalah pemandu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ke Madinah, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya: Maukah engkau membantuku kepada Al-Akhnas bin Syariq? Ia berkata: Ya, beliau berkata: Datangilah dia, lalu katakan kepadanya: Sungguh Muhammad berkata: Berilah aku perlindungan dari kaummu, ia berkata: Maka ia mendatanginya, lalu berkata: Sungguh Muhammad mengutusku kepadamu agar engkau memberinya perlindungan dari kaummu.

Ia berkata: Sungguh sekutu Quraisy tidak memberikan perlindungan kepada kerabat mereka, maka ia mendatanginya dan mengabarkan hal itu kepadanya, maka beliau berkata: Bantulah aku kepada Suhail bin Amr, lalu katakan: Sungguh Muhammad berkata kepadamu: Berilah aku perlindungan dari kaummu, maka ia mendatanginya, lalu berkata: Sungguh Muhammad berkata kepadamu: Berilah aku perlindungan dari kaummu.

Maka ia berkata: Sungguh bani Amir bin Lu’ay tidak memberikan perlindungan kepada bani Ka’ab, maka ia kembali kepadanya dan mengabarkan kepadanya, maka beliau berkata: Maukah engkau membantuku kepada Muth’im bin Adi? Lalu katakan kepadanya sungguh Muhammad berkata kepadamu: Berilah aku perlindungan dari kaummu, maka ia berkata: Ya aku akan melakukannya, aku adalah pelindung baginya, di mana dia? Ia berkata: Di atas lembah.

Ia berkata kepadanya: Katakan kepadanya: maka hendaklah ia datang, maka ia mendatanginya dan mengabarkan kepadanya, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam pergi kepadanya, dan bermalam di sisinya pada malam itu hingga pagi.

Ia berkata: Kemudian Muth’im berkata kepadanya: Berdirilah dan pakailah pakaianmu.

Ia berkata: Maka beliau memakai pakaiannya, kemudian keluar dan bersamanya Muth’im bin Adi menggantungkan pedangnya, dan bersamanya ada anak-anaknya enam atau tujuh orang, seperti tombak-tombak, menggantungkan pedang-pedang mereka, lalu mereka memasuki masjid, kemudian mereka semua mengusap Rukun, kemudian mereka berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam: Thawaflah, dan mereka duduk bersandar pada tali pedang-pedang mereka di tempat thawaf, maka datanglah Abu Sufyan bin Harb, lalu berkata: Wahai Muth’im, apakah engkau pemberi perlindungan ataukah pengikut? Ia berkata: Bahkan pemberi perlindungan.

Ia berkata: Kalau begitu orang yang engkau lindungi tidak akan dilanggar, maka ia duduk bersamanya hingga Nabi shallallahu alaihi wasallam menyelesaikan thawafnya, maka berdirilah Muth’im bin Adi dan anak-anaknya bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan Abu Sufyan bangkit ke tempat duduknya, maka beliau tinggal beberapa hari, kemudian diizinkan baginya untuk berhijrah, maka ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam tiba di Madinah, beliau tidak tinggal kecuali sebentar, hingga terdengar kabar kematian Muth’im, maka Hassan berkata: Demi Allah, sungguh aku akan meratapi dia.

Maka seorang pria dari sahabat Muhammad shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya: Bagaimana engkau meratapi seorang pria kafir? Maka ia berkata: Aku berterima kasih kepadanya atas apa yang ia lakukan terhadap Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka ia berkata:

Wahai mataku, tidakkah engkau menangisi pemimpin manusia dan menumpahkan Air mata, jika kering maka tumpahkanlah darah Dan menangislah untuk orang yang agung di dua tempat suci keduanya Atas manusia, kebaikannya baginya telah dikenal ketika ia berbicara Seandainya kemuliaan hari ini menyelamatkan satu orang Dari manusia, kemuliaannya hari ini akan menyelamatkan Muth’im Engkau melindungi utusan Allah dari mereka, maka mereka menjadi Hamba-hambamu selama ada yang bertalbiyah di tempat halal dan haram

Dan ia menyebutkan sisanya.

Dan diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda tentang tawanan Badar: Seandainya Muth’im bin Adi masih hidup kemudian ia meminta kepadaku untuk membebaskan orang-orang busuk ini, niscaya aku akan membebaskan mereka untuknya, kemudian sungguh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertemu dengan sekelompok orang dari kaum Anshar di musim haji, maka beliau menawarkan dirinya kepada mereka, lalu mereka menjawabnya, dan mereka masuk Islam, dan itu adalah kebaikan yang Allah Ta’ala simpan bagi mereka dan mengkhususkan mereka dengannya.

Al-Umawi berkata: Maka ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Ishaq menceritakan kepada kami, dari Ashim bin Umar bin Qatadah, bahwa ia menceritakan kepadanya orang-orang dari kaumnya yang tidak diragukan: bahwa ketika sekelompok dari mereka tiba di Aqabah kemudian pulang, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menemui mereka dan mereka enam orang: Mu’adz dan Auf kedua anak Afra’, dan Jabir bin Abdullah bin Ri’ab, dan Qutbah bin Amir bin Hadidah, keduanya dari bani Salamah, dan As’ad bin Zurarah dari bani An-Najjar, dan Rifa’ah bin Rafi’ dari bani Zuriq, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya kepada mereka: Dari mana kalian? Mereka berkata: Dari Khazraj, maka beliau berkata: Apakah kalian dari sekutu Yahudi? Mereka berkata: Ya, beliau berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berbicara kepada mereka, dan mengabarkan kepada mereka tentang apa yang Allah utuskan kepadanya dan memuliakan beliau dengannya, maka sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain: Ketahuilah demi Allah bahwa ia adalah pria yang Yahudi memperingatkan kalian tentangnya dan menyebutkan bahwa ia akan ada, maka jangan sampai mereka mendahuluimu kepadanya, dan mereka adalah yang paling mengetahui di antara bangsa Arab tentang urusan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan itu karena mereka adalah tetangga Yahudi di negeri mereka, maka mereka mendengar dari mereka, dan Yahudi meminta kemenangan dengan dirinya terhadap mereka, dan itu karena kaum ini dari Anshar adalah penyembah berhala, dan Yahudi adalah ahli kitab, dan mereka telah menyerang mereka, maka Yahudi berkata: Sungguh seorang nabi yang diutus sekarang telah mendekat zamannya, dan mereka berharap bahwa ia dari mereka, lalu kami mengikutinya, maka ia akan membunuh kalian seperti pembunuhan terhadap kaum ‘Ad dan Iram, sering mereka mengatakan itu kepada mereka, dan sering mereka mendengarnya dari mereka, maka ketika mereka mendengar dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam apa yang mereka dengar, mereka menjawabnya dengan beriman kepadanya, dan dengan membenarkannya, dan mereka berkata: Sungguh kami telah meninggalkan kaum kami, dan kami tidak mengetahui seorang pun dari bangsa Arab di antara mereka yang memiliki permusuhan seperti yang ada di antara mereka, dan kami akan kembali dengan apa yang kami dengar darimu kepada mereka, mudah-mudahan Allah menerima hati mereka, dan memperbaiki dengan dirimu hubungan di antara mereka, maka jika mereka berkumpul bagimu atas satu urusan, maka tidak ada pria yang lebih mulia darimu.

Kemudian mereka tiba di Madinah kepada kaum mereka, lalu mereka menyebarkan Islam di antara mereka, dan menyebutkan kepada mereka urusan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, hingga tersebar hal itu di kampung-kampung Anshar.

Ibnu Ishaq berkata: Dari Abdullah bin Abi Bakar, ia berkata: Anshar menulis surat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam agar beliau mengutus kepada mereka seorang pria untuk mengajari mereka agama, maka beliau mengutus Mush’ab bin Umair, lalu ia singgah di rumah As’ad bin Zurarah, maka ia mendatangi bersama dengannya rumah-rumah Anshar, dan menyeru mereka kepada Allah, dan membacakan kepada mereka Al-Quran, dan mengajari orang-orang yang telah masuk Islam dari mereka tentang Islam.

Ia berkata: Maka ia keluar bersamanya yaitu As’ad bin Zurarah menuju taman dari taman-taman bani Zhafar, lalu duduk bersamanya di dalamnya, dan datang kepadanya seorang pria dari orang-orang yang telah mendengar tentang Islam, lalu jatuh ke dalam hatinya dari penduduk dua kampung: dari bani Zhafar, dan dari bani Abdul Asyhal, ia berkata: Maka mendengar hal itu Sa’d bin Mu’adz, lalu ia berkata kepada Usaid bin Hudhair: Datangilah pria ini karena seandainya bukan karena ia bersama As’ad bin Zurarah dan ia adalah anak bibinya tentu aku yang mencukupimu terhadapnya.

Ia berkata: Maka Usaid bin Hudhair mengambil tombak, kemudian keluar hingga tiba kepada keduanya, lalu berdiri di hadapan keduanya sambil mencaci maki.

Ia berkata: Dan As’ad bin Zurarah telah berkata ketika melihat Usaid bin Hudhair: Ini adalah pemimpin dari pemimpin-pemimpin kaumku, ia memiliki kehormatan dan kedudukan, maka semoga Allah memberikan kebaikan kepadanya.

Maka ia berkata: Jika ia mendengar dariku, aku akan berbicara kepadanya.

Ia berkata: Maka ketika ia tiba kepada keduanya, ia berbicara kepada keduanya dengan pembicaraan yang kasar, maka Mush’ab berkata kepadanya: Atau maukah engkau duduk lalu mendengar? Maka jika engkau mendengar kebaikan, engkau menerimanya, dan jika engkau mendengar sesuatu yang engkau benci atau menentangmu, kami akan membebaskanmu dari apa yang engkau benci, maka ia berkata: Tidak ada masalah dengan ini, kemudian ia menancapkan tombaknya, dan duduk, maka ia membacakan kepada keduanya Al-Quran, dan berbicara kepada keduanya tentang Islam.

Ia berkata: Maka demi Allah, sungguh kami mengenali Islam padanya sebelum ia berbicara, dengan cerahnya wajahnya dan kelemahannya, kemudian ia berkata: Betapa baiknya perkataan ini, maka ia masuk ke dalamnya, kemudian mereka memerintahkannya, lalu ia bersaksi dengan kesaksian kebenaran, kemudian ia berkata: Bagaimana kalian berbuat jika kalian ingin masuk ke dalamnya? Keduanya berkata kepadanya: Engkau berdiri lalu mandi, kemudian engkau menyucikan pakaianmu, dan engkau sujud dua kali sujud, dan engkau bersaksi dengan kesaksian kebenaran.

Ia berkata: Maka ia melakukannya, kemudian keluar kembali, maka ketika Sa’d bin Mu’adz melihatnya datang, ia berkata: Aku bersumpah demi Allah, sungguh Usaid telah kembali kepada kalian dengan wajah yang berbeda dari wajah yang ia pergi dengannya dari kalian, maka ketika ia berdiri di hadapannya, ia berkata: Apa yang ada di belakangmu? Ia berkata: Aku berbicara kepada dua pria itu, dan aku berkata kepada keduanya seperti apa yang engkau katakan kepadaku, maka keduanya berbicara kepadaku dengan pembicaraan yang lembut, dan keduanya mengklaim bahwa keduanya akan meninggalkan itu, dan telah sampai kepadaku bahwa bani Haritsah telah mendengar tentang tempat As’ad bin Zurarah, lalu mereka sepakat untuk membunuhnya, dan ia adalah anak bibimu, dan mereka hanya ingin dengan itu untuk mempermalukanmu, maka jika engkau memiliki keperluan dengannya, maka selamatkanlah dia, ia berkata: Maka ia bangkit, dan mengambil tombak dari tangan Usaid, dan berkata: Demi Allah, aku tidak melihat engkau memperoleh sesuatu apa pun, kemudian ia keluar hingga datang kepada keduanya, lalu berdiri di hadapan keduanya sambil mencaci maki, maka ia berkata kepada As’ad bin Zurarah: Apakah engkau datang kepada kami dengan pria asing ini untuk membodohi orang-orang bodoh kami dan orang-orang lemah kami? Demi Allah, seandainya bukan karena apa yang ada antara aku dan engkau dari kekerabatan, aku tidak akan membiarkanmu dan ini, dan As’ad bin Zurarah telah berkata kepada Mush’ab ketika melihat Sa’d datang: Ini demi Allah adalah pemimpin dari yang ada di belakangnya, jika ia mengikutimu, tidak akan ada dua orang dari kaumnya yang berselisih atasmu, maka semoga Allah memberikan kebaikan yang baik kepadanya, ia berkata: Jika ia duduk, kami akan mendengarkan kepadanya apa yang kami dengarkan kepada temannya, ia berkata: Maka ketika Sa’d selesai dari perkataannya kepada As’ad bin Zurarah, Mush’ab berkata kepadanya: Atau maukah engkau duduk? Maka jika engkau mendengar sesuatu yang engkau sukai, engkau menerimanya, dan jika sesuatu menentangmu atau engkau benci, kami akan membebaskanmu.

Ia berkata: Engkau telah berbuat adil, tidak ada masalah dengan ini, ia berkata: Maka ia menancapkan tombaknya, kemudian duduk, maka ia berbicara kepadanya tentang Islam, dan membacakan kepadanya Al-Quran.

Dia berkata: Demi Allah, dia tidak berbicara hingga kami mengenali Islam di wajahnya, dengan kecerahan dan ketenangan wajahnya, lalu dia masuk Islam dan berkata: Betapa baiknya dan indahnya ini, kami menerimanya dan akan membantu kalian, bagaimana kalian berbuat jika masuk dalam agama ini? Dia berkata: Kamu mandi, mensucikan pakaianmu, kemudian salat dua rakaat, dan mengucapkan kesaksian kebenaran. Dia berkata: Maka dia pun melakukannya, kemudian keluar hingga mendatangi rumah Bani Abdul Asyhal, lalu berkata: Wahai Bani Abdul Asyhal, bagaimana menurut kalian pendapatku di tengah kalian dan kedudukanku di antara kalian? Mereka berkata: Demi Allah, kami mengetahui bahwa engkau adalah pemimpin kami, orang terbaik kami, yang paling membawa keberkahan, dan yang paling memberi petunjuk dalam urusan.

Dia berkata: Maka sesungguhnya berbicara dengan laki-laki dan perempuan kalian haram bagiku hingga kalian beriman kepada Allah semata, dan bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Dia berkata: Demi Allah, tidak ada seorang pun di hari itu di rumah Bani Abdul Asyhal, baik laki-laki maupun perempuan, kecuali telah masuk Islam.

Al-Umawi berkata: Abu Sulaiman Daud bin Mihran menceritakan kepada kami, dia berkata: Daud bin Abdurrahman al-Attar menceritakan kepada kami, dari Ibnu Khutsaim, dari Abu az-Zubair, bahwa Jabir bin Abdullah menceritakan kepadanya, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tinggal selama sepuluh tahun mengikuti jamaah haji di tempat-tempat tinggal mereka pada musim-musim haji di Mijannah dan Ukaz, serta tempat-tempat tinggal mereka di Mina: “Siapa yang mau melindungi dan menolongku hingga aku menyampaikan risalah Tuhanku dan baginya surga?” Namun dia tidak menemukan seorang pun yang mau melindunginya dan menolongnya, bahkan seseorang yang datang dari Mesir dan Yaman, kemudian datang kepadanya kaumnya atau kerabatnya, lalu mereka berkata: Berhati-hatilah terhadap pemuda Quraisy agar dia tidak memfitnahmu, dan dia berjalan di antara kemah-kemah mereka, menyeru mereka kepada Allah Azza wa Jalla, mereka menunjuk kepadanya dengan jari-jari mereka, hingga Allah mengutus kami untuknya dari Yatsrib, maka datanglah seorang laki-laki dari kami kepadanya, lalu beriman kepadanya, dan membacakan Alquran kepadanya, kemudian kembali kepada keluarganya, maka mereka masuk Islam karena keislamannya, hingga tidak tersisa satu rumah pun dari rumah-rumah Yatsrib kecuali di dalamnya ada sekelompok Muslim yang menampakkan Islam, kemudian Allah mengutus kami, lalu kami bermusyawarah dan berkumpul tujuh puluh orang, maka kami berkata: Sampai kapan kami membiarkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diusir di gunung-gunung Makkah dan merasa takut? Maka kami berangkat hingga kami mendatanginya pada musim haji, lalu kami menjanjikan pertemuan di lembah Aqabah, maka kami berkumpul di sana satu orang dua orang, hingga kami lengkap bersama beliau di sana, lalu kami berkata: Wahai Rasulullah, atas dasar apa kami membai’atmu? Beliau bersabda: “Kalian membai’atku untuk mendengar dan taat dalam keadaan giat maupun malas, untuk berinfak dalam kesulitan maupun kemudahan, untuk menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, untuk berkata demi Allah tanpa takut celaan orang yang mencela, dan untuk menolongku jika aku datang kepada kalian, dan melindungiku sebagaimana kalian melindungi diri kalian sendiri, istri-istri kalian, dan anak-anak kalian, dan bagi kalian surga.” Maka kami berdiri untuk membai’atnya, dan Asad bin Zurarah memegang tangannya, padahal dia adalah yang termuda dari tujuh puluh orang itu, lalu berkata: Tunggu dulu wahai penduduk Yatsrib, sesungguhnya kami tidak menempuh perjalanan jauh ini kecuali karena kami tahu bahwa dia adalah utusan Allah, dan sesungguhnya mengeluarkannya hari ini berarti memusuhi seluruh bangsa Arab, dan terbunuhnya orang-orang terbaik kalian, dan pedang-pedang akan mengiris kalian, jika kalian adalah kaum yang sabar terhadap sayatan pedang jika menimpa kalian, dan terhadap terbunuhnya orang-orang terbaik kalian, dan perpisahan dengan seluruh bangsa Arab, maka ambillah dia dan pahala kalian atas Allah, dan jika kalian takut dari diri kalian sendiri dengan suatu ketakutan, maka tinggalkanlah dia karena itu lebih memberikan uzur bagi kalian di sisi Allah. Maka mereka berkata: Lepaskanlah tanganmu dari kami wahai Asad bin Zurarah, demi Allah kami tidak akan meninggalkan bai’at ini dan tidak akan membatalkannya. Maka kami berdiri mendatanginya satu per satu, lalu dia mengambil janji dari kami atas syaratnya, dan memberikan kepada kami atas itu surga.

Dia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Muhammad bin Ishaq berkata: Ma’bad bin Ka’ab bin Malik menceritakan kepadaku, dari saudaranya Abdullah bin Ka’ab, dari ayahnya Ka’ab, dan yang lain, bahwa mereka menjanjikan pertemuan dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada tahun berikutnya di Makkah dengan siapa saja yang mengikuti mereka, maka mereka keluar pada tahun berikutnya tujuh puluh orang di antara orang-orang yang keluar dari tanah syirik dari kaum mereka, hingga kami tiba di Makkah, kemudian kami keluar menuju Mina, lalu kami menunaikan haji, hingga ketika kami berada di pertengahan hari-hari Tasyriq, kami dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berjanji, dia berkata: Maka kami keluar dari tengah malam menyelinap dari kemah-kemah kami, dan menyembunyikan itu dari orang-orang musyrik kaum kami yang bersama kami, hingga ketika kami berkumpul di Aqabah, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam datang bersama pamannya Abbas bin Abdul Muthalib, dia berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membacakan Alquran kepada kami, lalu kami menjawabnya, dengan membenarkannya dan beriman kepadanya serta menerima apa yang dia katakan, kemudian sesungguhnya Abbas bin Abdul Muthalib berbicara, lalu berkata: Wahai sekalian Khazraj, sesungguhnya Muhammad adalah dari kami sebagaimana telah kalian ketahui, dan sesungguhnya kami telah melindunginya dari orang-orang yang seperti kami, dan dia berada dalam keluarga dan kaumnya dalam keadaan terlindungi. Dia berkata: Maka Bara’ bin Ma’rur berbicara, dan memegang tangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu berkata: Bai’atlah kami. Maka beliau bersabda: “Aku membai’at kalian agar kalian melindungiku sebagaimana kalian melindungi diri kalian sendiri, istri-istri kalian, dan anak-anak kalian.”

Mereka berkata: Ya, demi Allah dan Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, dan sebagaimana kami melindungi kain-kain kami, maka kami demi Allah adalah ahli perang dan pertempuran, kami mewarisinya turun-temurun dari nenek moyang kami.

Dia berkata: Maka seorang laki-laki dari Anshar menginterupsi pembicaraan dan dia tidak menyebut namanya kepadaku, Muhammad berkata: Dan telah disebutkan kepadaku oleh orang yang tidak aku ragukan bahwa dia adalah Abu al-Haitham bin at-Tayyihan, maka dia berkata: Wahai Rasulullah! Sesungguhnya antara kami dan kaum (Yahudi) ada ikatan, dan sesungguhnya kami akan memutuskannya, apakah mungkin jika kami membai’atmu dan keluar bersamamu, kemudian Allah menolongmu dan memenangkanmu bahwa engkau akan kembali kepada kaummu dan meninggalkan kami? Dia berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tersenyum, kemudian bersabda: “Darah adalah darah, dan kehancuran adalah kehancuran, dan aku dari kalian dan kalian dari aku, aku berdamai dengan siapa yang kalian berdamai dengannya, dan aku berperang dengan siapa yang kalian berperang dengannya.”

Muhammad berkata: Dan telah disebutkan bahwa pada malam itu telah berbicara bersama Bara’ bin Ma’rur yaitu Asad bin Zurarah, dan Abdullah bin Rawahah, dan bahwa Abbas bin Ubadah bin Nadhlah berkata: Demi Allah wahai Rasulullah, jika engkau menghendaki niscaya kami akan menyerang penduduk Mina besok dengan pedang-pedang kami.

Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Kami belum diperintahkan untuk itu.” Ketika beliau berjabat tangan dengan mereka, iblis Aqabah berteriak dengan suara paling keras, dengan suara paling nyaring yang pernah aku dengar: Wahai penduduk kemah-kemah, apakah kalian mau (mendengar) tentang Muhammad dan orang-orang yang murtad bersamanya, mereka telah berbai’at untuk memerangi kalian? Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ini adalah iblis Aqabah, ini adalah anak iblis kecil, dan tidak ada bahaya bagi kalian darinya, dia telah tahu tempat kalian, maka bubar lah ke kemah-kemah kalian.” Dia berkata: Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memanggil: “Wahai anak iblis kecil, demi Allah, sungguh aku akan menghadapimu wahai musuh Allah.” Dia berkata: Kemudian kami kembali ke kemah-kemah kami, maka ketika pagi hari datanglah kepada kami para pembesar Quraisy, lalu berkata: Wahai sekalian Khazraj, sesungguhnya telah sampai kepada kami tentang kalian, dan kami tidak tahu apakah itu benar atau batil? Bahwa kalian tidak ada kaum yang lebih kami benci untuk terjadi perang antara kami dan mereka daripada kalian.

Dia berkata: Maka bangkitlah orang-orang musyrik dari kaum kami yang bersama kami bersumpah demi Allah bahwa mereka tidak mengetahui dan tidak melakukan, dia berkata: Dan mereka memang benar, kemudian mereka mendatangi Abdullah bin Ubay bin Salul dan dengan dia mereka memulai, padahal dia adalah pemimpin Khazraj, maka dia berkata: Demi Allah aku tidak mengetahui sedikitpun tentang ini, dan seandainya ada hal seperti ini di kaumku, mereka tidak akan menyembunyikannya dariku. Dia berkata: Kemudian mereka mencari tahu tentang berita itu dan mendapati bahwa itu memang telah terjadi, setelah kaum itu keluar, maka mereka keluar untuk mengejar mereka, lalu mereka menyusul Mundzir bin Amr dan Sa’d bin Ubadah di Adzakhir, dan mereka menangkap Sa’d, dan Mundzir lolos, hingga Harb bin Umayyah bin Abdi Syams dan Jubair bin Muth’im membebaskannya karena perlindungan yang ada padanya kepada mereka berdua.

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan para sahabatnya yang Muhajirin dari Quraisy: “Bergabunglah dengan saudara-saudara kalian di Madinah.” Maka mereka menyelinap menuju mereka, dan yang pertama keluar adalah Abu Salamah bin Abdul Asad bin Hilal bin Abdullah bin Umar bin Makhzum, dia keluar dalam perjalanan bersama anaknya Salamah dan istrinya Ummu Salamah binti Abi Umayyah bin al-Mughirah, maka ketika dia melewati Bani al-Mughirah mereka berdiri menghadapinya, lalu berkata: Ini engkau telah menguasai dirimu, bagaimana menurut pendapatmu tentang saudari kami, mengapa kami membiarkanmu membawanya berkeliling di negeri-negeri? Kemudian mereka merebut tali kekang untanya dari tangannya, dan Bani Abdul Asad marah, lalu mereka berdiri mendatangi Salamah yang ada di pangkuannya, lalu mereka memegang tangannya, dan berkata: Demi Allah kami tidak akan meninggalkan anak kami bersamanya ketika kalian mengambilnya dari suaminya, maka mereka saling menarik anak itu di antara mereka hingga tangannya terlepas, maka Abu Salamah pergi, dan Bani al-Mughirah menahanku, dan Bani Abdul Asad mengambil anakku dariku, maka tidak ada seorang wanita pun yang mengalami kesedihan kecuali di bawah apa yang aku alami, aku dipisahkan dari suamiku dan dari anakku, maka aku keluar setiap hari ke Bathha, lalu menangis hingga malam, dan aku terus seperti itu, hingga seorang laki-laki dari Bani al-Mughirah lewat di dekatku, lalu berkata: Mengapa kalian tidak mengeluarkan wanita malang ini? Kalian menahannya dari suaminya, dan menahan anaknya darinya? Dia berkata: Maka mereka mengembalikan anakku kepadaku, dan membiarkan aku untuk keluar menuju suamiku, maka aku pergi kepadanya.

Ibnu Ishaq berkata: “Kemudian sesungguhnya Quraisy bermusyawarah tentang urusan mereka terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika mereka takut kepadanya dan melihat orang-orang yang mengikutinya, dan mengetahui bahwa kaum itu telah membai’atnya untuk memerangi mereka, maka sesungguhnya dia akan segera meninggalkan mereka, maka berkumpullah para pembesar mereka di Darun Nadwah untuk bermusyawarah tentang beliau, namun Allah Taala tidak memungkinkan mereka menguasainya, maka Quraisy tetap seperti itu, dalam menyakiti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan rencana mereka yang bersatu tentang beliau, saling membantu atas beliau, menghasut orang-orang bodoh mereka terhadap beliau, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tinggal selama dua belas tahun di Makkah, kemudian Allah mengizinkan beliau untuk keluar menuju Madinah, dan memerintahkan beliau untuk berhijrah, dan Allah mewajibkan kepada beliau perang untuk agama-Nya.”

 

 

Penyebutan Tentang Wafatnya Rasulullah ﷺ

Abu Al-Fath Muhammad bin Abdul Baqi bin Ahmad bin Salman mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Fadl Ahmad bin Al-Hasan bin Khairun mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Qasim Abdul Malik bin Muhammad bin Abdullah bin Bisyran mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Ali Ahmad bin Al-Fadl bin Al-Abbas bin Khuzaimah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ahmad bin Abi Al-Awwam Ar-Rumahi menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far Al-Madaini menceritakan kepada kami, ia berkata: Salam bin Salm menceritakan kepada kami, dari Abdul Malik bin Abdurrahman, dari Al-Hasan Al-Urani, dari Al-Asy’ats bin Tuliq, dari Murrah Al-Hamdani, dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata:

Kami berkumpul di rumah ibu kami Aisyah, lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihat kepada kami, maka air matanya bercucuran, kemudian beliau menguatkan diri dan mengabarkan kepada kami tentang dirinya ketika waktu perpisahan sudah dekat. Beliau bersabda: “Selamat datang kepada kalian, semoga Allah menghidupkan kalian, semoga Allah mengumpulkan kalian, semoga Allah menolong kalian, semoga Allah meninggikan kalian, semoga Allah memberi manfaat kepada kalian, semoga Allah memberi taufik kepada kalian, semoga Allah menerima kalian, semoga Allah memberi petunjuk kepada kalian, semoga Allah menyelamatkan kalian. Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, dan aku wasiatkan kalian kepada Allah. Janganlah kalian berlaku tinggi atas Allah terhadap hamba-hamba-Nya dan negeri-negeri-Nya, karena sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman kepada-Ku dan kepada kalian: ‘Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa’ (Surat Al-Qashash: 83).”

Dan Allah berfirman: ‘Bukankah di dalam Jahannam itu terdapat tempat tinggal bagi orang-orang yang menyombongkan diri?’ (Surat Az-Zumar: 60).

Kami berkata: Wahai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kapan ajal Anda? Beliau bersabda: “Ajalnya sudah dekat, dan tempat kembali kepada Allah Azza wa Jalla, kepada Sidratul Muntaha, kepada Jannatul Ma’wa, dan Arsy yang Maha Tinggi.”

Kami berkata: Wahai Rasulullah, siapa yang akan memandikan Anda? Beliau bersabda: “Laki-laki dari keluargaku, yang terdekat kemudian yang terdekat.”

Kami berkata: Wahai Rasulullah, dengan apa kami akan mengkafani Anda? Beliau bersabda: “Dengan pakaianku ini jika kalian mau, atau kain dari Yaman, atau kain putih.”

Kami berkata: Wahai Rasulullah, siapa yang akan menshalatkan Anda? Maka beliau menangis dan kami pun menangis. Beliau bersabda: “Tunggulah, semoga Allah mengampuni kalian dan membalas kalian dengan kebaikan atas (jasa kalian kepada) nabi kalian. Jika kalian telah memandikan dan mengkafani aku, maka letakkanlah aku di tepi kuburku. Sesungguhnya orang pertama yang akan menshalatkan aku adalah kekasih dan teman dudukku Jibril, kemudian Mikail, kemudian Israfil, kemudian Malaikat Maut bersama malaikat-malaikat yang banyak. Kemudian masuklah dan shalatlah untukku serta ucapkanlah salam dengan sebenar-benarnya. Dan janganlah kalian menyakiti aku dengan tazkiyah (pujian berlebihan), tangisan keras, atau teriakan. Hendaklah yang memulai shalat untukku adalah laki-laki dari keluargaku, kemudian wanita-wanita mereka, kemudian kalian. Dan sampaikan salam untuk diri kalian sendiri dengan banyak, dan siapa yang tidak hadir di sisi-Ku dari para sahabatku, maka sampaikan kepadanya salam yang banyak. Ketahuilah, sesungguhnya aku mempersaksikan kalian bahwa aku telah mengucapkan salam kepada setiap orang yang masuk Islam, dan kepada siapa yang mengikutiku dalam agamaku dari hari ini sampai hari kiamat.”

Kami berkata: Wahai Rasulullah, siapa yang akan memasukkan Anda ke dalam kubur? Beliau bersabda: “Laki-laki dari keluargaku, bersama malaikat-malaikat yang banyak yang melihat kalian dari tempat yang kalian tidak melihat mereka.”

Abu Al-Hasan Ali bin Asakir Al-Muqri mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Thalib bin Yusuf mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibnu Al-Madzhab mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Qathi’i mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Shafwan bin Isa menceritakan kepadaku, ia berkata: Anis bin Abi Yahya mengabarkan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu anhu, ia berkata:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar menemui kami dalam sakitnya yang menyebabkan beliau wafat, dalam keadaan mengikat kepalanya. Ia berkata: Lalu aku mengikuti beliau hingga naik ke mimbar, kemudian bersabda: “Sesungguhnya aku saat ini sedang berdiri di atas telaga (Al-Kautsar).”

Ia berkata: Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba telah ditawarkan kepadanya dunia dan perhiasannya, lalu ia memilih akhirat.” Ia berkata: Tidak ada seorang pun dari kaum yang memahaminya kecuali Abu Bakar radhiyallahu anhu, maka ia berkata: Dengan ayah dan ibuku kami tebus Anda wahai Rasulullah, dengan harta kami, diri kami, dan anak-anak kami. Ia berkata: Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam turun dari mimbar, dan beliau tidak terlihat (naik) lagi sampai saat ini (wafatnya).

Ahmad berkata: Aku mendengar Ya’la bin Hakim bercerita, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar dalam sakitnya yang menyebabkan beliau wafat, dengan mengikat kepalanya dengan kain, lalu duduk di atas mimbar, kemudian memuji Allah dan menyanjung-Nya. Kemudian bersabda: “Sesungguhnya tidak ada seorang pun dari manusia yang lebih berjasa kepadaku dengan hartanya dan dirinya selain Abu Bakar bin Abi Quhafah. Dan seandainya aku mengambil seseorang dari manusia sebagai kekasih, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih, tetapi persahabatan Islam (lebih utama). Tutuplah bagiku setiap pintu kecil di masjid ini kecuali pintu kecil Abu Bakar.”

Dan Ibnu Ishaq meriwayatkannya dari Urwah, dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepada kami: “Siramkan kepadaku tujuh tempayan air dari tujuh sumur, mudah-mudahan aku dapat keluar kepada manusia untuk berwasiat kepada mereka.”

Ibnu Ishaq berkata: dari Muhammad bin Ja’far, dari Urwah, dari Aisyah: Maka kami menyiramkan kepada beliau dari tujuh tempayan, lalu beliau merasa lega, kemudian beliau shalat bersama manusia dan berkhutbah kepada mereka. Beliau memohonkan ampun untuk para syuhada dari sahabat-sahabat Uhud, dan berwasiat dengan kebaikan kepada Anshar. Beliau bersabda: “Amma ba’du, wahai golongan Muhajirin, sesungguhnya kalian telah bertambah banyak, dan Anshar tetap pada keadaan mereka, tidak bertambah dari keadaan mereka yang ada hari ini. Dan Anshar adalah peti simpananku yang aku berlindung kepadanya, maka muliakanlah orang yang mulia di antara mereka, dan maafkanlah orang yang berbuat salah di antara mereka.” Beliau bersabda: “Kemudian sesungguhnya seorang hamba dari hamba-hamba Allah telah diberi pilihan antara apa yang ada di sisi Allah dan antara dunia, maka ia memilih apa yang ada di sisi Allah.” Maka tidak ada yang memahaminya kecuali Abu Bakar radhiyallahu anhu, lalu ia menangis. Orang-orang mengira bahwa beliau bermaksud tentang dirinya sendiri, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya: “Pelan-pelanlah wahai Abu Bakar. Tutuplah pintu-pintu besar yang menghadap ke masjid ini kecuali pintu Abu Bakar, karena sesungguhnya aku tidak mengetahui seorang pun yang lebih utama bagiku jasanya dalam persahabatan selain Abu Bakar.”

Ibnu Ishaq berkata: dari Ibnu Abi Mulaikah, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda dan mengeraskan suaranya hingga…

(Catatan: Teks terputus di akhir)

Facebook Comments Box

Penulis : Ibnu Qudamah al-Maqdisi

Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.

Artikel Terjkait

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT
Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya
Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat
Kewajiban dan Keutamaan Taubat
Keutamaan Tauhid
Keutamaan Puasa Sunnah
Keutamaan Puasa Asyura (Yaitu hari kesepuluh dari bulan Muharram)
Keutamaan Mengajarkan Ilmu dan Menyeru Manusia kepada Kebaikan
Berita ini 3 kali dibaca

Artikel Terjkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 03:47 WIB

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:41 WIB

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:40 WIB

Keutamaan Puasa Sunnah

Artikel Terbaru

Akidah

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:47 WIB

Fatwa Ulama

Akibat Dosa Menyebabkan Bencana Alam – Faedah 10

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:45 WIB

Dakwah

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Jan 2026 - 15:41 WIB