HADITS ‘ABDULLOH BIN MAS’UD
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ:
لَمَّا نَزَلَتْ { الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ }
شَقَّ ذَلِكَ عَلَى المُسْلِمِينَ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّنَا لاَ يَظْلِمُ نَفْسَهُ؟
قَالَ: «لَيْسَ ذَلِكَ إِنَّمَا هُوَ الشِّرْكُ
أَلَمْ تَسْمَعُوا مَا قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ { يَا بُنَيَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ }»
Dari Abdullah (bin Mas’ud) radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:
“Ketika turun ayat Al-Qur’an: {orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan imannya dengan kezholiman} (QS. Al-An’am/6: 82)
Hal ini memberatkan kaum muslimin, maka mereka berkata: “Wahai Rasulullah, siapakah di antara kita yang tidak melakukan kezholiman?”
Beliau menjawab, “Bukan itu maksudnya. Tetapi itu maksudnya syirik!.
Tidakkah kamu mendengar apa yang dikatakan Luqman kepada putranya, ketika dia sedang menasehatinya: “Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Alloh, “Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar”. (QS. Luqman/31: 13)”.
(HR. Bukhori, no. 3429, 4776, 6918, 6937; Muslim, no. 197/124; Tirmidzi, no. 3067; Ahmad, no. 3589, 4031, 4240; Ibnu Hibban, no. 253)
FAWAID HADITS:
Ada beberapa faedah yang bisa kita ambil dari hadits ini, antara lain:
1- Al-Qur’an kalamulloh (perkataan Alloh) yang dibawa turun oleh Malaikat Jibril ‘alaihis salam kepada Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam.
2- Iman yang benar dan tidak dicampuri syirik merupakan sebab keamanan dan hidayah (petunjuk) Alloh.
Berdasarkan ayat Al-Qur’an: {Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezholiman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. } (QS. Al-An’am/6: 82)
3- Keutamaan Para Sahabat Nabi. Mereka memahami dan menjiwai makna ayat-ayat Al-Qur’an.
Memang mereka adalah generasi manusia paling baik, maka merupakan keharusan mengikuti jalan Sahabat di dalam beragama.
4- Para Sahabat Nabi mahir dalam bahasa Arab, namun terkadang keliru memahami makna ayat, kemudian diluruskan oleh Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam.
Maka memahami Al-Qur’an dengan benar tidak cukup hanya bermodalkan mahir dalam bahasa Arab.
Namun juga harus mengikuti penjelasan Nabi dan Para Sahabat yang merupakan murid-murid Nabi.
5- Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam menyampaikan Al-Qur’an kepada umatnya secara lafazh dan makna.
Penjelasan (penafsiran) beliau harus didahulukan daripada semua mufassiriin (Ahli Tafsir) Al-Qur’an.
6- Kesesatan orang-orang yang mengingkari Sunnah (hadits Nabi ang maqbul/shohih), baik mengingkari secara total atau mengingkari sebagian yang dianggap tidak sesuai dengan akal atau perasaan atau adat istiadat.
7- Metode terbaik di dalam menjelaskan makna ayat Al-Qur’an adalah: tafsir ayat dengan ayat, tafsir ayat dengan Sunnah, tafsir ayat dengan perkataan Sahabat, tafsir ayat dengan perkataan Tabi’in, dan tafsir ayat dengan makna bahasa Arab.
8- Larangan syirik merupakan larangan paling besar, sehingga disebutkan pertama kali.
9- Keutamaan Luqman dan kebagusan nasehatnya kepada anaknya.
10- Kewajiban orang tua memberikan nasehat kepada anaknya, dengan nasehat yang membawa kebaikan di dunia dan di akhirat. Nasehat pertama adalah kewajiban beribadah kepada Alloh, dan tidak menyekutukan-Nya dengan peribadahan kepada selain-Nya.
Inilah sedikit penjelasan tentang hadits yang agung ini.
Semoga Alloh selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.
Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju sorga-Nya yang penuh kebaikan.
Penulis : Ustadz Muslim Atsari Hafidzahullah Ta'ala
Sumber Berita: Grup Whatsapp Majlis Quran Hadits Ikhwan







