IZHAR AL-HAQQ (PENYINGKAPAN KEBENARAN) JILID KE-03/04

Kamis, 8 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

IZHAR AL-HAQQ (PENYINGKAPAN KEBENARAN)

JILID KE-03/04 DARI 04

BAB KETIGA: TENTANG PENETAPAN NASKH (PEMBATALAN HUKUM)

Pengertian Naskh dalam Bahasa dan Istilah Islam

Naskh dalam bahasa berarti penghapusan. Dalam istilah ahli Islam, naskh adalah penjelasan tentang berakhirnya suatu hukum praktis yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Naskh tidak terjadi menurut kami pada kisah-kisah, tidak pada perkara-perkara yang pasti secara rasional seperti adanya pencipta dunia, tidak pada perkara-perkara inderawi seperti terang siang dan gelap malam, tidak pada doa-doa, tidak pada hukum-hukum yang wajib berdasarkan hakikat mereka sendiri seperti firman Allah “Percayalah dan jangan menyekutukan (Allah)” (Surat An-Nisa, ayat 36), tidak pada hukum-hukum yang abadi selamanya seperti firman Allah “dan janganlah kamu terima persaksian mereka selama-lamanya” (Surat An-Nur, ayat 4), dan tidak pada hukum-hukum yang bersifat sementara sebelum waktu yang ditentukan seperti firman Allah “maka maafkanlah dan tolongmenolonglah sampai Allah membawa perintah-Nya” (Surat Al-Baqarah, ayat 109).

Tetapi naskh terjadi pada hukum-hukum yang bersifat praktis, kemungkinan ada atau tidak ada, yang tidak abadi dan tidak sementara. Hukum-hukum ini disebut hukum-hukum mutlak. Syaratnya adalah waktu, orang yang diberi hukum, dan cara tidak boleh sama, melainkan harus ada perbedaan dalam semuanya atau sebagian dari ketiga hal ini.

Makna Hakiki Naskh

Makna naskh yang tersebut bukan berarti Allah memerintah atau melarang terlebih dahulu tanpa mengetahui akibatnya, kemudian berubah pikiran dan membatalkan hukum pertama—hal ini mengakibatkan ketidaktahuan. Bukan juga berarti Allah memerintah atau melarang kemudian membatalkan dengan kondisi yang sama dalam perkara-perkara tertulis—hal ini mengakibatkan hal yang tidak layak secara rasional.

Jika kami katakan bahwa Allah telah mengetahui akibatnya, maka naskh semacam ini tidak diperbolehkan menurut kami. Mahabesar Allah atas itu dengan kebesaran yang sangat besar. Melainkan maknanya adalah Allah telah mengetahui bahwa hukum ini akan tetap berlaku bagi orang-orang yang diberi hukum sampai waktu tertentu, kemudian akan dinasakh. Ketika waktu itu tiba, Allah mengutus hukum lain yang menunjukkan adanya penambahan dan pengurangan, atau pembatalan secara mutlak. Pada hakikatnya ini adalah penjelasan tentang berakhirnya hukum pertama. Akan tetapi karena waktu tidak disebutkan dalam hukum pertama, ketika hukum kedua datang, menurut pengetahuan kita yang terbatas secara lahir tampak seolah-olah ada perubahan.

Perumpamaan untuk Memahami Naskh

Analoginya yang tidak sempurna adalah ketika engkau memerintah pelayanmu yang engkau ketahui keadaannya untuk melakukan suatu layanan, dan dalam niatmu dia akan melayani sampai, misalnya, satu tahun. Setelah satu tahun dia akan melayani dengan cara lain, tetapi engkau tidak menampakkan niat dan azammu. Ketika masa itu berlalu dan engkau menugaskannya untuk layanan lain, maka menurut perampuan lahir di mata pelayan, dan juga di mata orang lain yang belum engkau beritahu tentang niatmu, ada perubahan. Akan tetapi pada hakikatnya dan menurut pandanganmu, ini bukan perubahan.

Tidak ada yang mustahil dalam makna ini baik berkaitan dengan zat Allah maupun sifat-sifatnya. Sebagaimana dalam pergantian musim seperti musim semi, panas, gugur, dan dingin, serta dalam pergantian siang dan malam, dan pergantian kondisi manusia seperti kemiskinan dan kekayaan, kesehatan dan penyakit dan seterusnya, semua mengandung hikmah dan kemaslahatan bagi Allah Swt., baik telah tampak bagi kami atau belum tampak. Demikian juga dalam naskh hukum-hukum terdapat hikmah dan kemaslahatan bagi Allah berdasarkan kondisi orang-orang yang diberi hukum, waktu, dan tempat.

Tidakkah engkau lihat bahwa dokter yang berpengalaman mengubah obat-obatan dan makanan dengan memperhatikan kondisi pasien dan hal-hal lain sesuai dengan kemaslahatan yang dia lihat, dan tidak seorang pun menganggap tindakannya sebagai permainan, kebodohan, dan ketidaktahuan. Bagaimana mungkin orang yang berakal berpikir demikian tentang Sang Mahatahu Mutlak yang mengetahui segala sesuatu dengan ilmu yang azali dan abadi.

Tidak Ada Kisah yang Dinasakh

Jika engkau telah mengerti hal ini, maka aku mengatakan bahwa tidak ada satu kisah pun dari kisah-kisah yang tercantum dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang dinasakh menurut kami. Ya, memang beberapa di antaranya palsu, seperti cerita bahwa Nabi Luth berdasarkan salam kepada beliau berzina dengan kedua putrinya dan keduanya hamil dari zina dengan ayah mereka, sebagaimana dinyatakan dengan jelas dalam Kitab Kejadian pasal 19. Atau bahwa Yehuda anak Ya’qub berdasarkan salam kepada beliau berzina dengan Tamar istri anaknya dan dia hamil dari zina dengannya dan melahirkan dua anak kembar Pares dan Zara, sebagaimana dinyatakan dengan jelas dalam Kitab Kejadian pasal 38, dan Nabi Daud, Nabi Sulaiman, dan Nabi Isa berdasarkan salam kepada mereka semua adalah keturunan Pares yang disebutkan tadi, sebagaimana dinyatakan dengan jelas dalam Injil Matius pasal 1.

Atau bahwa Nabi Daud berdasarkan salam kepada beliau berzina dengan istri Uria, dan dia hamil dari zina dengannya, kemudian Nabi Daud membunuh suaminya dengan tipu daya dan mengambilnya sebagai istri, sebagaimana dinyatakan dengan jelas dalam 1 Samuel pasal 11. Atau bahwa Nabi Sulaiman berdasarkan salam kepada beliau murtad di akhir hidupnya dan menyembah berhala setelah kemurtadannya dan membangun kuil-kuil untuk mereka, sebagaimana dinyatakan dengan jelas dalam 1 Raja-raja pasal 11. Atau bahwa Nabi Harun berdasarkan salam kepada beliau membangun kuil untuk anak sapi dan menyembahnya, dan memerintahkan Bani Israil menyembahnya, sebagaimana dinyatakan dengan jelas dalam Keluaran pasal 32.

Kami mengatakan bahwa kisah-kisah ini dan sejenisnya adalah palsu dan batil menurut kami, dan kami tidak mengatakan bahwa mereka dinasakh. Perkara-perkara yang pasti secara rasional, inderawi, hukum-hukum yang wajib, hukum-hukum yang abadi, hukum-hukum yang bersifat sementara sebelum waktu yang ditentukan, dan hukum-hukum mutlak yang dalam hal ini waktu, orang yang diberi hukum, dan cara sama—semua hal ini tidak dapat dinasakh agar tidak timbul hal yang tidak layak. Demikian juga doa-doa tidak dapat dinasakh. Maka Zabur yang merupakan doa-doa tidak dapat dinasakh menurut makna naskh yang kami kenal. Kami juga tidak mengatakan dengan pasti bahwa Zabur menasakh Taurat dan dinasakh oleh Injil, sebagaimana pemilik Mizan Al-Haq (Timbangan Kebenaran) telah membohongi hal ini kepada kaum Muslimin dan mengatakan bahwa hal ini dinyatakan dengan jelas dalam Al-Qur’an dan tafsir-tafsir.

Kami melarang menggunakan Zabur dan kitab-kitab lain dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru karena kitab-kitab tersebut sangat diragukan karena tidak memiliki sanad yang bersambung dan terbukti telah terjadi perubahan wording di dalamnya dengan semua macamnya, sebagaimana telah engkau ketahui dalam Bab Kedua.

Naskh Diperbolehkan pada Hukum-hukum Tertentu

Naskh diperbolehkan pada hukum-hukum mutlak yang tidak disebutkan, yang layak dinasakh. Maka kami mengakui bahwa beberapa hukum dari Taurat dan Injil termasuk hukum-hukum yang layak dinasakh telah dinasakh dalam Syariat Muhammad Shallallahu alaihi wa assalamu. Kami tidak mengatakan bahwa setiap hukum dari kedua kitab tersebut telah dinasakh. Bagaimana pun, beberapa hukum Taurat jelas belum dinasakh, seperti: haramnya sumpah palsu, pembunuhan, zina, homoseksual, pencurian, kesaksian palsu, khianat terhadap harta dan kehormatan tetangga, dan kewajibannya memuliakan kedua orang tua, haramnya menikahi bapak dan ibu, anak dan putri, paman dan bibi, paman ibu dan bibi ibu, mengumpulkan dua saudari, dan banyak hukum-hukum lain. Demikian juga beberapa hukum Injil jelas belum dinasakh.

Misalnya, dalam Injil Markus pasal 12 tertulis demikian: “29 Nabi Isa berkata kepadanya ketika mereka berdiskusi: ‘Hukum yang pertama dari semua hukum adalah: Dengarkan wahai Israel, Tuhan Tuhan kami adalah satu Tuhan.’ 30 ‘Dan engkau harus mencintai Tuhan Tuhanmu dengan seluruh hatimu dan dengan seluruh jiwamu dan dengan seluruh akalmu dan dengan seluruh kekuatanmu. Ini adalah hukum yang pertama.’ 31 ‘Yang kedua mirip dengannya yaitu: Engkau harus mencintai sesamamu seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum yang lebih besar dari kedua hukum ini.'”

Kedua hukum ini tetap berlaku dalam Syariat kami dengan cara yang paling kuat, dan keduanya tidak dinasakh. Naskh tidak terbatas pada Syariat kami saja, melainkan juga terdapat dalam syariat-syariat terdahulu dengan sangat banyak, dengan kedua macamnya. Yang dimaksud adalah naskh yang terjadi dalam Syariat seorang nabi yang datang kemudian untuk menggantikan hukum yang ada dalam Syariat seorang nabi yang terdahulu, dan naskh yang terjadi dalam Syariat seorang nabi untuk menggantikan hukum lain dari Syariat nabi itu sendiri.

Contoh-contoh Naskh dari Kitab Suci Terdahulu

Contoh-contoh dari macam pertama adalah sebagai berikut:

  1. Pernikahan Saudara dengan Saudari di Zaman Nabi Adam

Saudara-saudara menikahi saudari-saudari mereka di zaman Nabi Adam alaihi assalamu wassalaam. Sarah istri Nabi Ibrahim alaihi assalamu wassalaam juga adalah saudari kandung beliau, sebagaimana dipahami dari perkataannya tentangnya yang terdapat dalam Kitab Kejadian pasal 20 ayat 12 dalam terjemahan Arab tahun 1625 dan 1648: “Sesungguhnya dia adalah saudariku yang sebenarnya, putri ayahku tetapi bukan putri ibuku, dan aku telah menikahinya.”

Pernikahan dengan saudari haram sepenuhnya dalam Syariat Musa, baik saudari seayah, seibu, atau tersembunyi. Pernikahan ini sama dengan zina, dan yang menikahi adalah terkutuk, dan pembunuhan kedua suami istri wajib.

Dalam Kitab Imamat pasal 18 ayat 9 tertulis demikian: “Jangan membuka aurat saudaramu dari ayah atau ibumu yang dilahirkan di rumah atau di luar rumah.” Dalam tafsir Dwalai dan Rejardemint pada akhir penjelasan ayat ini: “Pernikahan seperti ini sama dengan zina.”

Dalam Kitab Imamat pasal 20 ayat 17 tertulis demikian: “Pria mana pun yang menikahi saudaranya, putri ayahnya atau putri ibunya, dan melihat auratnya dan dia melihat auratnya, ini adalah aib yang besar, maka keduanya akan dibunuh di depan rakyatnya, karena dia telah membuka aurat saudaranya. Dosa mereka ada di kepala mereka.”

Dalam Kitab Ulangan pasal 27 ayat 22 tertulis demikian: “Terkutuklah dia yang tidur dengan saudaranya dari ayah atau ibunya.”

Seandainya pernikahan ini tidak diperbolehkan dalam Syariat Nabi Adam dan Nabi Ibrahim alaihi assalamu wassalaam, maka akan mengakibatkan semua manusia adalah anak hasil zina, orang-orang yang menikah adalah penzina, dan mereka wajib dibunuh dan terkutuk. Bagaimana mungkin hal ini dipikirkan tentang para Nabi alaihi assalamu wassalaam. Maka tidak ada pilihan selain mengakui bahwa hal itu diperbolehkan dalam Syariat mereka berdua, kemudian dinasakh.

Catatan Penting tentang Pernikahan Sarah

Penerjemah yang mengeluarkan terjemahan Arab pada tahun 1811 menerjemahkan Kitab Kejadian pasal 20 ayat 12 demikian: “Dia adalah kerabatku dari pihak ayah, bukan dari pihak ibu.” Tampak bahwa dia dengan sengaja mengubahnya agar tidak mengakibatkan naskh berkaitan dengan pernikahan Sarah, karena “kerabat ayah” mencakup anak perempuan paman, bibi, dan lain-lain.

  1. Semua Hewan Halal di Zaman Nabi Nuh

Firman Allah dalam berbicara kepada Nabi Nuh alaihi assalamu wassalaam dan anak-anaknya dalam Kitab Kejadian pasal 9 ayat 3 demikian dalam terjemahan Arab tahun 1625 dan 1648: “Dan apa pun yang bergerak di bumi dan hidup akan menjadi makanan bagi kalian seperti sayuran hijau.” Semua hewan halal dalam Syariat Nabi Nuh seperti sayuran, dan banyak hewan diharamkan dalam Syariat Musa, termasuk babi juga, sebagaimana dinyatakan dengan jelas dalam Imamat pasal 11 dan Ulangan pasal 14.

Catatan Penting tentang Hewan Halal

Penerjemah yang mengeluarkan terjemahan Arab pada tahun 1811 juga mengubahnya di sini. Dia menerjemahkan Kitab Kejadian pasal 9 ayat 3 yang disebut demikian: “Setiap yang bergerak yang hidup dan suci akan menjadi makanan bagi kalian seperti sayuran rumput.” Dia menambahkan kata “suci” dari pihaknya agar tidak mencakup hewan-hewan yang diharamkan dalam Syariat Musa, karena dikatakan tentangnya dalam Taurat bahwa mereka itu najis.

  1. Pernikahan Ya’qub dengan Kedua Saudari

Ya’qub alaihi assalamu wassalaam mengumpulkan dua saudari Lea dan Rahil, putri pamannya, sebagaimana dinyatakan dengan jelas dalam Kitab Kejadian pasal 29. Pengumpulan ini haram dalam Syariat Musa. Dalam Imamat pasal 18 ayat 18 tertulis demikian: “Dan janganlah menikahi saudari istri dalam hidup istrimu untuk menyakitinya, dan janganlah membuka aurat keduanya bersama-sama untuk menyakiti mereka.”

Seandainya mengumpulkan dua saudari tidak diperbolehkan dalam Syariat Ya’qub, maka akan mengakibatkan anak-anak mereka adalah anak hasil zina semoga Allah melindungi kita, dan kebanyakan nabi-nabi Israil adalah keturunan mereka berdua.

  1. Pernikahan Bapak Musa dengan Bibinya

Telah engkau ketahui pada kesaksian pertama dari Tujuan Ketiga bahwa Yokhebed istri Imran adalah bibi Musa. Para penerjemah untuk terjemahan Arab yang diterbitkan tahun 1635 dan 1648 dengan sengaja mengubahnya untuk menyembunyikan kejekan. Bapak Musa menikahi bibinya. Pernikahan ini haram dalam Syariat Musa.

Dalam Imamat pasal 18 ayat 12 tertulis demikian: “Jangan membuka aurat bibimu karena dia adalah kerabat ayahmu.” Demikian juga dalam Imamat pasal 20 ayat 19 dari Kitab yang sama.

Seandainya pernikahan ini tidak diperbolehkan sebelum Syariat Musa, maka akan mengakibatkan Nabi Musa, Nabi Harun, dan saudari mereka Maryam adalah anak hasil zina semoga Allah melindungi kita. Dan akan mengakibatkan mereka tidak dapat memasuki jemaah Tuhan sampai sepuluh keturunan, sebagaimana dinyatakan dengan jelas dalam Ulangan pasal 23 ayat 3. Dan jika mereka termasuk orang-orang yang dikeluarkan dari jemaah Tuhan, siapa yang pantas memasuki jemaah Tuhan.

Contoh Kelima

Dalam Pasal ke-31 dari Kitab Yeremia tertulis demikian:

Ayat 31: “Sesungguhnya akan datang hari-hari – demikianlah firman Tuhan – dan Aku akan membuat perjanjian baru dengan rumah Israel dan rumah Yehuda”

Ayat 32: “Bukan seperti perjanjian yang Aku buat dengan nenek moyang mereka pada hari Aku mengambil tangan mereka untuk mengeluarkan mereka dari tanah Mesir, suatu perjanjian yang mereka langgar, padahal Aku berkuasa atas mereka – demikianlah firman Tuhan”

Yang dimaksud dengan perjanjian baru adalah hukum yang baru. Dari sini dapat dipahami bahwa hukum syariat yang baru ini menghapus syariat Musa. Tokoh terhormat mereka, Paulus, dalam Pasal ke-8 dari suratnya kepada orang-orang Ibrani mengklaim bahwa hukum ini adalah hukum dari Isa, sehingga menurut pengakuannya sendiri, syariat Isa bin Maryam menghapus syariat Musa. Kelima contoh ini dimaksudkan untuk mendesak orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen semuanya, dan untuk mendesak orang-orang Kristen, ada contoh-contoh lain.

Contoh Keenam

Dalam syariat Musa dibolehkan bagi seorang laki-laki menceraikan isterinya dengan alasan apa pun dan laki-laki lain boleh menikahi perempuan yang diceraikan itu setelah ia keluar dari rumah suami pertamanya, sebagaimana dijelaskan dalam Pasal ke-24 dari Kitab Ulangan. Dalam syariat Isa, perceraian hanya dibolehkan karena alasan zina. Demikian juga laki-laki lain tidak boleh menikahi perempuan yang diceraikan itu, bahkan itu sama dengan berzina, sebagaimana diterangkan dalam Pasal ke-19 Ayat ke-5 dan 9 dari Injil Matius.

Ketika orang-orang Farisi keberatan kepada Isa bin Maryam mengenai masalah ini, Isa menjawab mereka: “Sesungguhnya Musa tidak membolehkan kalian menceraikan istri-istri kalian kecuali karena kekerasan hati kalian, tetapi sejak semula bukanlah demikian. Dan Aku katakan kepada kalian bahwa siapa pun yang menceraikan isterinya bukan karena zina dan menikahi yang lain, maka dia telah berzina, dan siapa pun yang menikahi perempuan yang diceraikan itu juga berzina.”

Dari jawaban Isa dapat diketahui bahwa penghapusan hukum ini terbukti terjadi dua kali: sekali dalam syariat Musa dan sekali dalam syariatnya, dan menunjukkan bahwa suatu hukum dapat diturunkan pada suatu waktu sesuai dengan kondisi orang yang dibebani hukum, meskipun tidak baik dalam hakikat sejatinya.

Contoh Ketujuh

Banyak hewan-hewan yang haram dalam syariat Musa, dan keharamannya dihapus dalam syariat Isa dan kebolehan umum ditetapkan melalui fatwa Paulus. Ayat ke-14 dari Pasal ke-14 dalam surat Paulus kepada orang-orang Roma tertulis: “Sesungguhnya aku tahu dan yakin dalam Tuhan Isa bahwa tidak ada sesuatu apa pun yang haram pada dirinya sendiri, tetapi sesuatu itu haram bagi siapa pun yang menganggapnya haram.”

Ayat ke-15 dari Pasal ke-1 dalam suratnya kepada Titus tertulis: “Sesungguhnya segala sesuatu adalah halal bagi orang-orang yang suci, dan tidak ada sesuatu apa pun yang halal bagi orang-orang yang najis dan munafik, karena mereka semua adalah najis, bahkan akal dan hati nurani mereka.”

Kedua kaidah ini – bahwa sesuatu itu haram bagi siapa pun yang menganggapnya haram, dan segala sesuatu adalah halal bagi orang-orang yang suci – adalah hemat, karena kemungkinan orang-orang Israel tidak suci, oleh karena itu kebolehan umum ini tidak terjadi bagi mereka. Tetapi ketika orang-orang Kristen adalah suci, maka kebolehan umum ini terjadi bagi mereka dan segala sesuatu menjadi halal bagi mereka. Tokoh terhormat mereka sangat bersungguh-sungguh dalam menyebarkan hukum kebolehan umum ini, dan karena itu dia menulis kepada Timotius dalam Pasal ke-4 dari suratnya yang pertama:

“Karena segala sesuatu yang diciptakan Allah adalah baik dan tidak boleh ditolak apa pun darinya jika kami memakannya sambil bersyukur, karena ia disucikan oleh firman Allah dan doa, jika engkau mengingatkan saudara-saudara akan hal ini, maka engkau akan menjadi pelayan Kristus yang baik, terdidik dalam ajaran iman dan pengajaran yang benar yang telah engkau ikuti jejaknya.”

Contoh Kedelapan

Hukum-hukum mengenai hari-hari raya yang dijelaskan dalam Pasal ke-23 dari Kitab Tawarikh adalah wajib selamanya dalam syariat Musa. Dalam ayat-ayat 14, 21, 31, dan 41 dari Pasal tersebut terdapat redaksi-redaksi yang menunjukkan sifatnya yang abadi.

Contoh Kesembilan

Menghormati hari Sabtu adalah hukum yang abadi dalam syariat Musa, dan tidak boleh bagi siapa pun melakukan pekerjaan apa pun di dalamnya. Barang siapa melakukan pekerjaan padanya dan siapa pun yang tidak menjaganya, maka wajib dibunuh. Hukum ini telah diulang dan dikukuhkan berkali-kali dalam kitab-kitab Perjanjian Lama di banyak tempat, misalnya dalam Ayat ke-3 dari Pasal ke-2 dari Surat Kejadian, dalam Pasal ke-20 dari Surat Keluaran dari Ayat ke-8 hingga ke-11, dalam Ayat ke-12 dari Pasal ke-23 dari Surat Keluaran, dalam Ayat ke-21 dari Pasal ke-34 dari Surat Keluaran, dalam Ayat ke-3 dari Pasal ke-19 dan juga dari Pasal ke-23 dari Surat Tawarikh, dalam Pasal ke-5 dari Kitab Ulangan dari Ayat ke-12 hingga ke-15, dalam Pasal ke-17 dari Kitab Yeremia, dalam Pasal ke-56 dan 58 dari Kitab Yesaya, dalam Pasal ke-9 dari Kitab Nehemia, dalam Pasal ke-20 dari Kitab Yehezkiel. Dan dalam Pasal ke-31 dari Surat Keluaran tertulis:

Ayat 13: “Berbicaralah kepada orang-orang Israel dan katakan kepada mereka bahwa mereka harus menjaga hari Sabat-Ku, karena ia adalah tanda antara Aku dan kamu di antara generasi-generasi kalian supaya kalian tahu bahwa Akulah Tuhan yang menyucikan kalian.”

Ayat 14: “Jagalah hari Sabat-Ku karena ia adalah hari istirahat bagi kalian, barang siapa tidak menjaganya hendaklah dibunuh. Barang siapa melakukan pekerjaan di dalamnya, maka nyawa orang itu akan terputus dari tengah-tengah kaumnya.”

Ayat 15: “Enam hari kalian boleh melakukan pekerjaan kalian, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat istirahat yang kudus bagi Tuhan, dan barang siapa melakukan pekerjaan pada hari ini, hendaklah dibunuh.”

Ayat 16: “Dan orang-orang Israel harus menjaga hari Sabat itu dan menjadikannya hari raya bagi generasi-generasi mereka, sebagai perjanjian selamanya.”

Ayat 17: “Ia adalah tanda antara Aku dan antara orang-orang Israel sampai selamanya, karena dalam enam hari Tuhan menjadikan langit dan bumi, dan pada hari ketujuh Ia berhenti beristirahat dari pekerjaannya.”

Dan dalam Pasal ke-35 dari Surat Keluaran tertulis:

Ayat 2: “Enam hari kalian boleh melakukan pekerjaan kalian, tetapi hari ketujuh hendaklah menjadi hari kudus, hari Sabat istirahat bagi Tuhan. Barang siapa melakukan pekerjaan padanya hendaklah dibunuh.”

Ayat 3: “Jangan nyalakan api dalam tempat tinggal kalian pada hari Sabat.”

Dan dalam Pasal ke-15 dari Surat Bilangan tertulis:

Ayat 32: “Ketika orang-orang Israel berada di padang gurun, mereka menemukan seorang laki-laki yang mengumpulkan kayu bakar pada hari Sabat.”

Ayat 33: “Mereka membawanya kepada Musa dan Harun dan kepada seluruh jemaah.”

Ayat 34: “Mereka memasukkannya ke dalam penjara karena belum diketahui apa yang harus mereka lakukan kepadanya.”

Ayat 35: “Maka Tuhan berfirman kepada Musa: ‘Laki-laki ini harus dibunuh, dan seluruh umat harus merajamnya dengan batu di luar perkemahan.'”

Ayat 36: “Maka mereka mengeluarkannya dan merajamnya dengan batu hingga mati, sesuai dengan perintah Tuhan.”

Orang-orang Yahudi yang hidup sebagaimana Isa bin Maryam menyakitinya dan ingin membunuhnya karena tidak menghormati hari Sabtu. Ini juga termasuk bukti-bukti penolakan mereka. Ayat ke-16 dari Pasal ke-5 dari Injil Yohanes tertulis:

“Oleh karena itu orang-orang Yahudi mengejar Isa dan mencari untuk membunuhnya, karena Ia melakukan hal-hal tersebut pada hari Sabat.”

Ayat ke-16 dari Pasal ke-9 dari Injil Yohanes tertulis:

“Maka berkatalah beberapa orang Farisi: ‘Orang ini bukan dari Allah karena Ia tidak menjaga hari Sabat.'”

Sekarang, jika engkau telah memahami hal ini, aku katakan: Tokoh terhormat mereka Paulus menghapus hukum-hukum yang telah disebutkan dalam contoh ketujuh, kedelapan, dan kesembilan, dan menjelaskan bahwa semua hal ini adalah kesesatan. Dalam Pasal ke-8 dari suratnya kepada orang-orang Kolose Ayat ke-16:

“Oleh karena itu jangan biarkan siapa pun menghakimi kalian berkenaan dengan makanan atau minuman atau berkenaan dengan hari raya atau bulan baru atau hari Sabat.”

Ayat ke-17: “Karena hal-hal ini adalah bayangan-bayangan dari hal-hal yang akan datang, tetapi tubuhnya adalah milik Kristus.”

Dalam tafsir Douay dan Raguet Maint, berikut ini adalah penjelasan dari Ayat ke-16: Berkat Doktrin menyatakan: “Yaitu, hari-hari raya pada orang-orang Yahudi ada tiga jenis dalam setiap tahun, dalam setiap bulan, dan dalam setiap minggu. Semua ini dihapuskan, bahkan hari Sabat juga, dan hari Sabat orang-orang Kristen didirikan menggantikannya.”

Bispo Harslay menyatakan dalam penjelasan ayat tersebut: “Hari Sabtu Gereja Yahudi telah hilang dan orang-orang Kristen tidak mengikuti praktik Sabat mereka menurut kebiasaan kanak-kanak para Farisi.”

Dan dalam tafsir Henry Wascott: “Karena Isa menghapus hukum-hukum upacara, maka tidak boleh bagi siapa pun untuk membebani perkataan asing karena tidak diperhatikan, Yasobir dan Lia menyatakan: Karena jika menjaga hari Sabat adalah wajib bagi seluruh manusia dan semua bangsa di dunia, maka tidak akan pernah bisa dihapuskan sebagaimana telah dihapuskan sekarang, tetapi akan mengharuskan orang-orang Kristen untuk menjaganya dari generasi ke generasi sebagaimana mereka lakukan pada awalnya demi menghormati dan memuaskan orang-orang Yahudi.”

Klaim tokoh terhormat mereka Paulus bahwa hal-hal tersebut adalah kesesatan tidak sesuai dengan redaksi Taurat, karena Allah menjelaskan alasan keharaman hewan-hewan dengan “mereka haram, karena itu kalian harus suci karena Aku suci,” sebagaimana diterangkan dalam Pasal ke-11 dari Surat Tawarikh. Ia menjelaskan alasan Lebaran Roti Tanpa Ragi “karena Aku mengeluarkan tentara-tentara kalian dari tanah Mesir, maka jagalah hari ini bagi generasi-generasi kalian sebagai suatu peraturan selamanya,” sebagaimana diterangkan dalam Pasal ke-12 dari Surat Keluaran. Ia menjelaskan alasan Pesta Pondok Sungai demikian: “Supaya tahu generasi-generasi kalian bahwa Aku mengasingkan orang-orang Israel di pondok-pondok ketika Aku mengeluarkan mereka dari tanah Mesir,” sebagaimana diterangkan dalam Pasal ke-23 dari Surat Tawarikh. Dan Ia menjelaskan di banyak tempat alasan menghormati hari Sabtu: “Karena Tuhan menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan beristirahat pada hari ketujuh dari pekerjaannya.”

Contoh Kesepuluh

Hukum sunat adalah abadi dalam syariat Ibrahim bin Terah, sebagaimana diterangkan dalam Pasal ke-17 dari Surat Kejadian. Karena itu, hukum ini tetap berlaku pada anak-anak keturunan Ismail dan Ishak, dan tetap berlaku juga dalam syariat Musa. Ayat ke-3 dari Pasal ke-12 dari Surat Tawarikh tertulis:

“Dan pada hari kedelapan anak laki-laki itu disunati.”

Isa bin Maryam juga disunati, sebagaimana diterangkan dalam Ayat ke-21 dari Pasal ke-2 dari Injil Lukas. Pada orang-orang Kristen hingga saat ini ada doa khusus yang mereka lakukan pada hari sunat Isa bin Maryam untuk mengingat hari itu. Hukum ini tetap berlaku hingga kenaikan Isa bin Maryam ke langit, dan tidak dihapuskan oleh Isa sendiri, tetapi dihapuskan oleh para rasul pada masa mereka, sebagaimana dijelaskan dalam Pasal ke-15 dari Kisah Para Rasul, dan engkau akan mengetahuinya juga dalam contoh ketiga belas. Tokoh terhormat mereka Paulus sangat menekankan penghapusan hukum ini dalam Pasal ke-5 dari suratnya kepada orang-orang Galatia demikian:

“Dan sesungguhnya aku Paulus berkata kepada kalian bahwa jika kalian disunati, maka Kristus tidak akan memberi manfaat kepada kalian.”

Ayat ke-3: “Karena aku bersaksi kepada setiap orang yang disunati bahwa ia terikat untuk melakukan seluruh hukum.”

Ayat ke-4: “Kalian yang dibenarkan oleh hukum telah lepas dari Kristus dan jatuh dari kasih karunia.”

Ayat ke-6: “Karena dalam Kristus sunat tidak memberi manfaat apa pun dan ketidaksunat juga tidak, tetapi iman yang bekerja melalui kasih sayang.”

Ayat ke-15 dari Pasal ke-6 dari surat yang sama tertulis:

“Karena dalam Kristus Isa, sunat tidaklah memberi manfaat apa pun dan ketidaksunat juga tidak, tetapi yang penting adalah ciptaan baru.”

Contoh Kesebelas

Hukum-hukum mengenai kurban-kurban sangat banyak dan abadi dalam syariat Musa, dan semuanya telah dihapuskan dalam syariat Isa.

Contoh Keduabelas

Banyak hukum-hukum yang khusus bagi keluarga Harun mengenai imamat, pakaian ketika hadir untuk melayani, dan lain-lain adalah abadi, dan semuanya telah dihapuskan dalam syariat Isa.

Contoh Ketigabelas

Para rasul, setelah musyawarah lengkap, menghapuskan semua hukum praktis dari Taurat kecuali empat hal: kurban berhala, darah, hewan yang dicekik, dan zina. Mereka mempertahankan keharamannya dan mengirimkan surat kepada gereja-gereja, yang tercatat dalam Pasal ke-15 dari Kisah Para Rasul, dan beberapa ayatnya demikian:

Ayat ke-24: “Kami telah mendengar bahwa beberapa orang yang pergi dari kami telah mengganggu kalian dengan perkataan mereka dan menggoyahkan jiwa-jiwa kalian, mengatakan bahwa kalian harus disunati dan menjaga hukum, padahal kami tidak memerintahkan mereka untuk melakukan hal itu.”

Ayat ke-28: “Karena roh kudus telah menyetujui dan kami juga telah menyetujui untuk tidak membebani kalian dengan apa pun selain hal-hal yang diperlukan ini.”

Ayat ke-29: “Yaitu bahwa kalian harus menjauh dari kurban berhala, darah, hewan yang dicekik, dan zina. Jika kalian menjauh dari hal-hal ini, maka kalian telah berbuat baik. Semoga sejahtera.”

Para rasul hanya mempertahankan keharaman empat hal ini agar orang-orang Yahudi yang baru masuk ke agama Kristen tidak menolak dengan sepenuh hati, karena mereka mencintai hukum-hukum dan upacara-upacara Taurat. Kemudian, ketika tokoh terhormat mereka Paulus melihat pada waktu berikutnya bahwa perhatian ini tidak perlu, ia menghapuskan keharaman tiga hal pertama melalui fatwa kebolehan umum yang telah dikutip dalam contoh ketujuh, dan atas hal ini terdapat kesepakatan mayoritas orang-orang Protestan. Dengan demikian, tidak ada yang tersisa dari hukum-hukum praktis Taurat kecuali zina. Dan karena tidak ada hukuman untuk zina dalam syariat Isa, maka zina juga dihapuskan dari aspek ini. Dengan demikian, syariat ini telah selesai dari segi penghapusan semua hukum praktis yang dalam syariat Musa abadi atau tidak abadi.

Contoh Keempatbelas

Dalam Pasal ke-2 dari surat Paulus kepada orang-orang Galatia Ayat ke-20:

“Aku telah disalib bersama Kristus dan sekarang aku hidup, namun bukan aku lagi yang hidup melainkan Kristus yang hidup dalam diriku, dan kehidupan jasmaniah yang sekarang aku jalani ini terikat pada iman kepada Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan untuk aku.”

Ayat ke-21: “Aku tidak menghapuskan kasih karunia Allah karena jika keadilan datang dari hukum, maka Kristus telah mati sia-sia.”

Dr. Hemand mengatakan dalam penjelasan Ayat ke-20: “Dia menyelamatkanku dengan mengorbankan roh-Nya untuk aku dari syariat Musa.”

Dia mengatakan dalam penjelasan Ayat ke-21: “Menggunakan pembebasan ini untuk alasan ini dan tidak mengandalkan keselamatan pada syariat Musa dan tidak menganggap hukum-hukum Musa sebagai perlu karena dia membuat Injil Kristus seakan-akan tidak berguna.”

Dr. Wit B mengatakan dalam penjelasan Ayat ke-21: “Dan jika demikian, membeli keselamatan melalui kematiannya tidak akan perlu dan tidak akan ada rasa apa pun dalam kematiannya.”

Yail menyatakan: “Jika syariat orang-orang Yahudi melindungi kita dan menyelamatkan kita, maka apa kebutuhan kematian Kristus, dan jika syariat adalah bagian dari keselamatan kita, maka kematian Kristus tidak cukup untuk itu.”

Semua perkataan ini jelas menunjukkan bahwa syariat Musa telah selesai dan dihapuskan.

Contoh Kelimabelas

Dalam Pasal ke-3 dari surat tersebut:

“Semua orang yang bergantung pada perbuatan hukum adalah terkutuk. Tidak ada seorang pun yang dibenarkan di hadapan Allah melalui manusia, karena hukum tidak berhubungan dengan iman. Sebaliknya, Kristus telah membebaskan kita dari kutukan hukum dengan menjadi kutukan bagi kita.”

Ringkasnya, Lard mengatakan dalam halaman 478 dari volume 9 tafsirnya setelah mengutip ayat-ayat ini: “Kami berpikir bahwa tujuan rasul di sini adalah makna yang diketahui banyak orang, yaitu hukum dihapuskan atau menjadi tidak berguna melalui kematian dan penyaliban Kristus.”

Kemudian dia mengatakan dalam halaman 487 dari volume yang sama: “Rasul menyatakan dengan jelas di tempat-tempat ini bahwa penghapusan hukum-hukum upacara adalah hasil dari kematian Isa.”

Contoh Keenambelas

Dalam Pasal ke-3 yang disebutkan di atas Ayat ke-23:

“Karena kami diperangkap di bawah hukum dan dikurung sambil menunggu iman yang akan datang.”

Ayat ke-24: “Jadi hukum menjadi pendidik kami yang membimbing kami kepada Kristus agar kami dibenarkan oleh iman.”

Ayat ke-25: “Tetapi setelah iman datang, kami tidak lagi berada di bawah pendidik.”

Tokoh terhormat mereka dengan jelas menyatakan “bahwa tidak ada ketaatan kepada hukum-hukum Taurat setelah iman kepada Isa bin Maryam.”

Dalam tafsir Douay dan Raguet Maint, Dean Stanley Hope mengatakan: “Hukum-hukum upacara dihapuskan melalui kematian Isa dan penyebaran Injilnya.”

Contoh Ketujuhbelas

Dalam Ayat ke-15 dari Pasal ke-2 dari surat Paulus kepada orang-orang Efesus:

“Dan dengan tubuh-Nya telah meniadakan permusuhan, yaitu hukum tentang perintah-perintah dalam bentuk hukum tertulis.”

Contoh Kedelapanbelas

Ayat ke-12 dari Pasal ke-7 dari surat Ibrani:

“Karena ketika imamat diubah, maka karena keharusan hukum juga diubah.”

Dalam ayat ini ditunjukkan ketergantungan antara perubahan imamat dan perubahan hukum. Jika orang-orang Muslim juga mengatakan bahwa dengan melihat ketergantungan ini, syariat Isa dihapuskan, maka mereka benar dalam perkataan mereka, bukan salah.

Dalam tafsir Douay dan Raguet Maint, dalam penjelasan ayat ini, Dr. Siknagt mengatakan: “Hukum pasti diubah berkenaan dengan hukum-hukum kurban dan kesucian dan yang lain,” artinya dihapuskan.

Contoh Kesembilanbelas

Ayat ke-18 dari Pasal ke-7 yang disebutkan di atas:

“Karena pembatalan perintah sebelumnya terjadi karena kelemahan dan ketidakbermanfaatannya.”

Dalam ayat ini terdapat pernyataan tegas bahwa pencabutan hukum-hukum Taurat terjadi karena Taurat itu lemah tanpa manfaat. Dalam tafsir Henry Waskut dikemukakan: “Telah diangkat syariat dan keimamatan yang keduanya tidak menghasilkan penyempurnaan, dan berdiri seorang imam dan pengampunan baru yang menyempurnakan di dalamnya orang-orang yang membenarkan dan jujur.”

(Dua Puluh)

Dalam Bab Delapan dari Ibrani: “Jika perjanjian yang pertama itu tidak cacat, maka tidak akan dicari tempat bagi perjanjian yang kedua, oleh karena dengan menyebut suatu perjanjian yang baru, Dia telah membuat yang pertama itu kuno; dan apa yang menjadi kuno dan tua akan segera hilang.” Dalam pernyataan ini terdapat penjelasan tegas bahwa hukum-hukum Taurat itu cacat dan dapat dicabut karena Taurat itu usang dan tua. Dalam tafsir Dualai dan Ragard Mint di ekor syarah ayat tiga belas, kata-kata Yale berbunyi begini: “Ini sangat jelas bahwa Allah Maha Tinggi menghendaki untuk mencabut yang usang dan kurang sempurna dengan risalah baru yang baik, untuk itu Dia menghapus mazhab keagamaan Yahudi dan mendirikan mazhab Kristen sebagai gantinya.”

(Dua Puluh Satu)

Dalam ayat kesembilan dari Bab Kesepuluh dari Ibrani: “Demikianlah yang lama itu dicabut supaya yang baru itu dapat ditegakkan.” Dalam tafsir Dualai dan Ragard Mint pada syarah ayat kedelapan dan kesembilan, kata-kata Yale berbunyi begini: “Para rasul berdalil pada kedua ayat ini, dan di dalamnya terdapat isyarat bahwa korban-korban Yahudi tidak mencukupi, oleh sebab itu Masih menanggung kematian untuk memperbaiki kekurangannya, dan dengan menghapus perbuatan yang satu, penggunaan yang lain menjadi batal.”

Jadi telah menjadi jelas bagi orang yang berakal dari contoh-contoh yang disebutkan beberapa hal: (Pertama) pencabutan beberapa hukum dalam syariat yang datang kemudian bukanlah kekhususan syariat kami saja, tetapi juga terdapat dalam syariat-syariat sebelumnya. (Kedua) bahwa semua hukum-hukum praktis Taurat, baik yang abadi maupun yang tidak abadi, telah dicabut dalam syariat Isa. (Ketiga) bahwa kata naskh (pencabutan) juga terdapat dalam perkataan kitab suci mereka berkenaan dengan Taurat dan hukum-hukumnya. (Keempat) bahwa kitab suci mereka telah menetapkan hubungan antara perubahan kepemimpinan dan perubahan syariat. (Kelima) bahwa kitab suci mereka mengklaim bahwa sesuatu yang usang dan tua mendekati kehancuran. Oleh karena itu saya mengatakan, karena syariat Isa itu usang dibandingkan dengan syariat Muhammad saw., maka tidak ada yang aneh dalam mencabutnya, bahkan hal itu perlu sesuai dengan perkara keempat. Dan Anda telah mengetahui pada contoh kedelapan belas dan keenam bahwa kitab suci mereka dan para mufasir mereka menggunakan kata-kata yang tidak sesuai berkenaan dengan Taurat dan hukum-hukumnya padahal mereka mengakui bahwa itu adalah firman Allah. (Ketujuh) bahwa tidak ada keberatan dalam pencabutan hukum-hukum Taurat dengan arti yang telah menjadi istilah di kalangan kami, kecuali pada hukum-hukum yang telah dinyatakan bahwa itu abadi atau harus dijaga selamanya lapisan demi lapisan. Namun keberatan ini tidak menimpa kami karena kami pertama tidak mengakui bahwa Taurat ini adalah Taurat yang diturunkan atau karya tulis Musa sebagaimana yang telah diketahui pada bab pertama. Dan kami kedua tidak mengakui bahwa Taurat itu terjaga dari perubahan (tahrif) sebagaimana telah terbukti pada bab kedua.

Dan kami katakan ketiga sebagai tuntutan bahwa Allah mungkin terlihat baginya permulaan dan penyesalan atas apa yang Dia perintahkan atau Dia lakukan, lalu Dia kembali darinya, dan begitu juga Dia memberikan janji yang kekal kemudian mengingkari janji-Nya. Perkara ketiga ini saya katakan hanya sebagai tuntutan saja, karena hal ini dipahami dari kitab-kitab Perjanjian Lama demikian dari berbagai tempat sebagaimana akan Anda ketahui segera. Dan saya beserta semua ulama Ahlussunnah berlepas diri dan menyangkal kepercayaan yang busuk ini. Sebenarnya keberatan ini akan menimpa orang-orang Kristen yang mengakui bahwa Taurat ini adalah firman Allah dan merupakan karya tulis Musa dan tidak berubah. Penyesalan dan permulaan adalah mustahil bagi Allah. Tafsir (ta’wil) yang mereka sebutkan untuk kata-kata yang disebutkan jauh dari keadilan dan sangat lemah.

Kata-kata ini dalam segala hal mengandung arti yang sesuai dengannya. Misalnya jika dikatakan kepada seseorang tertentu bahwa dia selamanya akan demikian, maka tidak dimaksud dengan selamanya di sini kecuali jangka waktu yang memanjang sampai akhir hidupnya, karena kita tahu dengan jelas bahwa dia tidak akan tetap hidup sampai kehancuran dunia dan hari kiamat. Jika dikatakan kepada suatu kaum besar yang akan tetap sampai kehancuran dunia meskipun orang-orangnya berubah di setiap lapisan demi lapisan, bahwa mereka harus terus menerus melakukan hal demikian dari lapisan ke lapisan atau untuk selamanya atau sampai akhir zaman, maka dipahami darinya keselamaan sampai kehancuran dunia tanpa keraguan. Dan menyamakan salah satunya dengan yang lain sangat tidak pantas. Untuk itulah para ulama Yahudi menolak tafsir mereka baik dahulu maupun sekarang, dan menisbatkan ketidakadilan dan kesesatan kepada mereka.

Contoh-Contoh Bagian Kedua:

(Pertama) bahwa Allah memerintahkan kepada Ibrahim alaihissalam untuk menyembelih Ishak alaihissalam, kemudian Allah mencabut perintah ini sebelum dilaksanakan sebagaimana dijelaskan dalam Bab Dua Puluh Dua dari Kitab Kejadian.

(Kedua) bahwa dia melaporkan perkataan seorang nabi dari para nabi tentang Eli imam besar dalam Bab Dua dari Kitab Samuel Pertama demikian: “Tuhan, Allah Israel berfirman: Aku telah menjanjikan kepada rumahmu dan rumah ayahmu untuk selamanya dapat melayani di hadapan-Ku. Tetapi sekarang Tuhan berfirman: Jangan terjadi demikian! Sebab aku akan memuliakan orang yang memuliakan Aku, tetapi orang yang menganggap rendah Aku akan dihinakan. Behold, akan Ku adakan seorang imam yang setia yang akan berbuat sesuai dengan apa yang ada dalam hati dan pikiran-Ku.” Demikian janji Allah bahwa kedudukan imam akan tetap dalam rumah Eli imam dan rumah anaknya, kemudian Allah mengingkari janji-Nya dan mencabutnya lalu mengangkat seorang imam lain.

Dalam tafsir Dualai dan Ragardmint, kata-kata pemimpin Patrick demikian: “Allah di sini mencabut suatu hukum yang merupakan janji-Nya dan yang telah Dia tetapkan bahwa kepala para imam akan tetap dari kalangan kamu untuk selamanya. Dia memberikan kedudukan ini kepada Eleazar putra tertua Harun, kemudian memberikannya kepada Tamar putra terkecil Harun, kemudian sekarang berpindah karena dosa anak-anak Eli imam kepada anak-anak Eleazar.” Maka terjadi pengingkaran janji Allah dua kali sampai zaman berlakunya syariat Musa alaihissalam. Adapun pengingkaran yang terjadi dalam pasal ini ketika muncul syariat Isa kali ketiga, hal ini tidak tersisa jejak apa pun dari kedudukan ini baik pada anak-anak Eleazar maupun pada anak-anak Tamar.

Janji yang diberikan kepada Eleazar dinyatakan dalam Bab Dua Puluh Lima dari Kitab Bilangan demikian: “Aku memberikan kepadanya perjanjian-Ku tentang damai sejahteraan, dan ia serta keturunan-nya akan menerima imamat yang kekal karena dia telah menunjukkan kesetiaan kepada Aku-ku.”

Dan jangan bingung orang yang memperhatikan pengingkaran janji Allah menurut pandangan Ahlul Kitab, karena kitab-kitab Perjanjian Lama berbicara tentang hal itu, dan bahwa Allah melakukan sesuatu kemudian menyesal. Dilaporkan dalam ayat tiga puluh sembilan dari Zabur Delapan Puluh Delapan atau Delapan Puluh Sembilan menurut perbedaan penerjemahan, perkataan Daud alaihissalam dalam berbicara kepada Allah Maha Perkasa demikian: “Engkau telah memecahkan perjanjian dengan hamba-Mu dan telah menghina kemakmuran-Nya di tanah.”

Jadi Daud alaihissalam mengatakan: “Engkau telah memecahkan perjanjian dengan hamba-Mu.” Dan dalam Bab Enam dari Kitab Kejadian demikian: “Ketika Tuhan melihat bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa setiap niat dan pikiran hati mereka selalu tertuju pada yang jahat, maka Tuhan menyesal bahwa Dia telah menciptakan manusia di bumi, dan Dia bersedih hati. Lalu Tuhan berfirman: Aku akan menghapus manusia yang telah Ku ciptakan dari muka bumi, baik manusia maupun binatang dan ternak serta burung-burung di udara, sebab Aku menyesal telah membuatnya.”

Jadi ayat keenam semuanya, dan perkataan “karena Aku menyesal telah membuatnya” menunjukkan bahwa Allah menyesal dan bersedih hati atas penciptaannya yaitu manusia. Dan dalam Zabur seratus lima demikian: “Tuhan memperhatikan penderitaan mereka, ketika mendengar jerit kesusahan mereka, dan Dia mengingat perjanjian-Nya dan tergeraklah hati-Nya oleh belas kasih-Nya yang besar.”

Dalam ayat kesebelas dari Bab Lima Belas dari Kitab Samuel Pertama, perkataan Allah demikian: “Aku menyesal telah mengangkat Saul menjadi raja, karena dia telah berpaling dari pada-Ku dan tidak melaksanakan perintah-Ku.”

Kemudian dalam ayat tiga puluh lima dari bab yang sama demikian: “Samuel bersedih hati karena Saul, karena Tuhan telah menyesal telah mengangkat Saul menjadi raja atas Israel.”

Dan di sini adalah cacatan yang dibolehkan kami kemukakan sebagai tuntutan saja. Yaitu bahwa ketika telah terbukti penyesalan dalam hak Allah dan terbukti bahwa Dia menyesal telah menciptakan manusia dan telah menjadikan Saul raja, maka dibolehkan bahwa Dia telah menyesal telah mengutus Masih alaihissalam setelah Dia menampakkan klaim keilahian menurut pemikiran orang-orang yang percaya trinitas. Karena klaim ini dari manusia yang diciptakan adalah dosa yang lebih besar dari ketidaktaatan Saul terhadap perintah Tuhan. Dan sebagaimana Allah tidak mengetahui sebelumnya bahwa Saul akan menentang perintah-Nya, demikian juga dibolehkan bahwa Dia mengetahui sebelumnya bahwa Masih alaihissalam akan mengklaim keilahian. Sesungguhnya saya mengatakan hal ini sebagai tuntutan saja karena kami tidak percaya dengan berkat Allah atas penyesalan Allah dan tidak percaya atas klaim Masih alaihissalam akan keilahian. Bahkan menurut kami lingkungan keilahian dan begitu juga lingkungan kenabian Masih alaihissalam bersih dari sampah kekeruhan dan pengingkaran-pengingkaran ini.

(Ketiga) Dalam Bab Empat dari Kitab Yehezkiel demikian penerjemahan Arab tahun 1844 [ayat] 10: “Makananmu yang dimakan itu akan ditakar, dua puluh syikal sehari dari masa ke masa engkau akan memakannya. Dan air yang diminum akan ditakar per sepertiga hin dari masa ke masa. Dan roti jelai akan dimakan, dan engkau akan membakar kotoran manusia di hadapan mereka. Dan engkau akan memakannya. Aku berkata: Ah Tuhan, janganlah; sesungguhnya jiwaku belum terkotori, dan dari yang mati dan yang teroyak oleh binatang buas aku tidak pernah makan, dan tidak pernah masuk ke mulutku daging yang haram. Lalu firman-Nya kepadaku: Lihat, Aku memberikan kotoran lembu kepada engkau sebagai ganti kotoran manusia, dan engkau membuat rotimu di atasnya.”

Allah memerintahkan pertama kali bahwa “engkau akan membakarnya dengan kotoran yang keluar dari manusia” kemudian ketika Yehezkiel alaihissalam memohon, Allah mencabut perintah ini sebelum dilaksanakan lalu berfirman: “Aku memberikan kotoran lembu kepada engkau sebagai ganti kotoran manusia.”

(Keempat) Dalam Bab Tujuh Belas dari Kitab Tawarikh demikian: “Setiap orang dari bani Israel yang menyembelih seekor lembu atau domba atau kambing di perkemahan atau di luar perkemahan dan tidak membawa persembahan-Nya ke depan pintu kemah pertemuan untuk mempersembahkan-nya kepada Tuhan maka orang itu diperhitungkan telah menumpahkan darah, orang itu telah menumpahkan darah, dan orang itu akan dimusnahkan dari antara bangsanya.”

Dan dalam Bab Dua Belas dari Kitab Ulangan demikian: “Tetapi kalau engkau ingin makan daging menurut nafsu hatimu, maka menyembelihlah dan makanlah daging sesuka hatimu menurut berkat Tuhan Allahmu yang diberikan-Nya kepada engkau di dalam segala tempat huntian-mu dan sebagainya. Dan apabila Tuhan Allahmu meluaskan daerah-mu seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu dan engkau ingin makan daging sebab nafsu hatimu menginginkan untuk makan daging, maka menyembelihlah daging dari sapi dan kambing milikmu seperti yang kuperintahkan kepadamu, dan makanlah di dalam segala tempat hunian-mu menurut kehendak hatimu. Seperti halnya rusa dan kijang dimakan, demikianlah engkau dapat memakannya, baik yang najis maupun yang tahir dapat dimakan.”

Jadi pencabutan hukum Kitab Tawarikh dilakukan dengan hukum Kitab Ulangan. Horn mengatakan pada halaman 619 dari jilid pertama tafsirnya setelah menukil ayat-ayat ini demikian: “Pada kedua tempat ini terdapat pertentangan pada yang tampak, tetapi jika diperhatikan bahwa syariat Musa itu ditambah dan dikurangi sesuai dengan keadaan bani Israel dan tidak demikian sehingga tidak dapat diubah, maka penjelasan ini sangat mudah.” Kemudian dia berkata: “Musa dalam tahun keempat puluh dari hijrah mereka sebelum masuk Palestina mencabut hukum itu” yaitu hukum Kitab Tawarikh “dengan hukum Kitab Ulangan pencabutan yang tegas, dan memerintahkan bahwa setelah masuk Palestina dibolehkan bagi mereka menyembelih sapi dan kambing di mana pun tempat yang mereka kehendaki dan memakannya.” Selesai ringkasan.

Jadi dia mengakui pencabutan hukum yang disebutkan dan bahwa syariat Musa ditambah dan dikurangi sesuai dengan keadaan bani Israel. Maka mengherankan bagi Ahlul Kitab bahwa mereka keberatan atas penambahan dan pengurangan seperti ini dalam syariat yang lain dan mengatakan bahwa itu mengharuskan ketidakadaan (jahil) Allah.

(Kelima) Dalam ayat 3, 23, 30, 35, 39, 43, dan 46 dari Bab Empat dari Kitab Bilangan bahwa para pelayan kemah perjanjian tidak boleh kurang dari tiga puluh dan tidak boleh lebih dari lima puluh. Dan dalam ayat 24 dan 25 dari Bab Delapan dari kitab yang sama bahwa mereka tidak boleh kurang dari dua puluh lima dan tidak boleh lebih dari lima puluh.

(Keenam) Dalam Bab Keempat dari Kitab Tawarikh bahwa tebusan kesalahan kaum adalah seekor lembu saja. Dan dalam Bab Lima Belas dari Kitab Bilangan bahwa harus seekor lembu dengan perlengkapannya dan seekor kambing jantan, jadi hukum yang pertama dicabut.

(Ketujuh) Diketahui dari perintah Allah dalam Bab Enam dari Kitab Kejadian bahwa masuklah ke dalam kapal dua dua dari setiap jenis binatang baik burung maupun ternak bersama dengan Nuh alaihissalam. Dan diketahui dari Bab Tujuh dari kitab yang sama bahwa masuklah tujuh tujuh jantan dan betina dari binatang yang tahir, dan dari burung-burung semua jenis, dan dari binatang yang tidak tahir dua dua. Kemudian diketahui dari bab yang sama bahwa dia memasukkan dari setiap jenis dua dua. Jadi hukum ini dicabut dua kali.

(Kedelapan) Dalam Bab Dua Puluh dari Kitab Raja-Raja demikian: “Pada waktu itu Hizkia jatuh sakit dan hampir mati. Nabi Yesaya bin Amos datang kepadanya dan berkata kepadanya: Demikian firman Tuhan: Aturlah rumah tanggamu, sebab engkau akan mati dan tidak akan hidup. Maka Hizkia berpaling menghadap ke dinding dan berdoa kepada Tuhan, katanya: Ingatlah, ya Tuhan, bahwa aku telah berjalan di hadapan-Mu dengan setia dan dengan sepenuh hati, dan telah melakukan apa yang baik di mata-Mu. Dan Hizkia menangis dengan tangisan yang menyayat hati.”

“Sebelum Yesaya sampai ke tengah pelataran, datanglah firman Tuhan kepada-Nya: Kembalilah dan katakan kepada Hizkia, pemimpin umat-Ku: Demikian firman Tuhan, Allah Daud, ayah-mu: Aku telah mendengar doamu dan melihat air mata-mu, dan sesungguhnya Aku akan menyembuhkan engkau, dalam tiga hari engkau dapat naik ke rumah Tuhan. Dan Aku akan menambah tahun-tahun hidupmu lima belas tahun.” dan seterusnya.

Jadi Allah memerintahkan Hizkia melalui lisan Yesaya bahwa aturlah rumah tanggamu karena engkau akan mati. Kemudian Allah mencabut perintah ini sebelum Yesaya sampai ke tengah pelataran setelah menyampaikan perintah, dan menambah tahun-tahun hidupnya lima belas tahun.

(Kesembilan) Dalam Bab Sepuluh dari Injil Matius demikian: “Kedua belas murid ini diutus oleh Yesus dan ditugaskan-Nya demikian: Janganlah pergi ke jalan bangsa-bangsa dan janganlah masuk ke kota-kota orang Samaria, melainkan sebaliknya pergilah kepada domba-domba yang hilang dari rumah Israel.”

Dan dalam Bab Lima Belas dari Injil Matius, perkataan Masih alaihissalam tentang diri-Nya demikian: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari rumah Israel.”

Jadi sesuai dengan ayat-ayat ini Isa alaihissalam mengkhususkan risalahnya kepada bani Israel. Dan dilaporkan perkataannya dalam ayat lima belas dari Bab Enam Belas dari Injil Markus demikian: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada seluruh makhluk.” Jadi hukum yang pertama dicabut.

(Kesepuluh) Dalam Bab Dua Puluh Tiga dari Injil Matius demikian: “Pada waktu itu Yesus berbicara kepada para pendengar dan murid-murid-Nya, katanya: Para ahli Taurat dan orang-orang Farisi duduk di kursi Musa, sebab itu tunaikanlah dan lakukanlah segala yang mereka katakan kepada kamu.”

Jadi dia menghukum bahwa semua yang mereka katakan kepada kamu maka lakukanlah. Dan tidak diragukan bahwa mereka mengatakan menjaga semua hukum-hukum praktis Taurat khususnya yang abadi menurut anggapan mereka dan semuanya telah dicabut dalam syariat Isa seperti yang telah diketahui secara terperinci dalam contoh-contoh bagian pertama. Jadi hukum ini sepenuhnya dicabut. Dan mengherankan bagi para ulama Protestan bahwa mereka mengemukakan ayat-ayat ini dalam surat-surat mereka untuk memperdayakan kaum awam Islam dengan berdalil padanya untuk membantah naskh dalam Taurat. Maka wajib bagi mereka pembunuhan karena mereka tidak memuliakan hari Sabat, dan melanggar perlindungannya menurut hukum Taurat adalah wajib dibunuh, seperti yang telah diketahui dalam contoh kesembilan dari contoh-contoh bagian pertama.

(Kesebelas) Telah diketahui pada contoh ketiga belas bahwa para rasul setelah musyawarah mencabut semua hukum-hukum praktis Taurat kecuali empat hukum, kemudian Paulus mencabut haramnya tiga di antaranya.

Bagian Kedua Belas

Dalam ayat yang keenam puluh enam dari Bab Kesembilan dari Injil Lukas, sabda Isa Alaihi Assalam demikian: “Sesungguhnya Anak Manusia tidak datang untuk membinasakan nyawa manusia, tetapi untuk menyelamatkan.” Dan seumpamanya dalam Injil Yohanes pada ayat yang ketujuh belas dari Bab Ketiga, dan dalam ayat yang keempat puluh tujuh dari Bab yang kedua belas, dan yang terdapat dalam ayat yang kedelapan dari Bab Kedua dari Surat Kedua kepada penduduk Tesalonika berbunyi demikian: “Dan pada waktu itu akan dinyatakan orang yang jahat itu, yang Tuhan akan musnahkan dengan nafas mulutnya dan binasakan dengan cahaya kedatangannya.” Maka ucapan yang kedua menghapus yang pertama. Dari contoh-contoh empat yang terakhir ini, yaitu dari yang kesembilan sampai dengan yang kedua belas, telah diketahui bahwa penghapusan hukum-hukum Injil terjadi sesungguhnya, apalagi sekedar kemungkinan, di mana Isa Alaihi Assalam menghapus sebagian hukumnya dengan hukum yang lainnya, dan para rasul menghapus sebagian hukumnya dengan hukum-hukum mereka, dan Paulus menghapus sebagian hukum-hukum para rasul, bahkan sebagian perkataan Isa Alaihi Assalam dengan hukum-hukum dan perkataannya. Dan telah tampak bagimu bahwa apa yang dinukil dari Al-Masih Alaihi Assalam dalam ayat yang kelima puluh lima dari Bab Keduapuluh empat dari Injil Matius, dan ayat yang ketiga puluh tiga dari Bab Kedua puluh satu dari Injil Lukas, bukanlah yang dimaksud dengannya bahwa sesuatu dari perkataan-perkataanku dan sesuatu dari hukum-hukumku tidak dihapus dan tidak akan mewajibkan pembohongan terhadap Injil mereka. Tetapi yang dimaksud dengan perkataannya: perkataanku adalah ucapan yang telah dikenal, yang telah diberitakannya tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi sesudahnya, dan itu telah disebut sebelum pernyataan ini dalam kedua Injil itu. Maka penyandaran dalam perkataannya: perkataanku adalah untuk hal-hal yang telah ditentukan, bukan untuk keseluruhan. Dan para penafsirnya juga menafsirkan pernyataan ini sesuai dengan apa yang telah aku katakan dalam penafsiran tentang ini dalam uraian untuk Injil Matius, demikian: “Pendeta Pirus berkata: yang dimaksudnya ialah bahwa hal-hal yang telah aku beritahukan akan terjadi dengan pasti. Dinstan Hoob berkata: Sesungguhnya langit dan bumi, meskipun tidak dapat berubah berkaitan dengan hal-hal yang lain, tetapi keduanya bukanlah yang paling kuat seperti hukum-hukum pemberitahuanku tentang hal-hal yang telah aku beritahukan. Maka semuanya itu akan hilang, dan pemberitahuanku tentang hal-hal yang telah aku beritahukan tidak akan hilang. Bahkan, perkataan yang telah aku ucapkan sekarang tidak akan tertinggal satu pun dari maksudnya.” Maka istidlal dengan pernyataan ini sangat lemah. Dan pernyataan yang disebut demikian: “Langit dan bumi akan lenyap, tetapi perkataanku tidak akan lenyap.”

Apabila engkau telah mengetahui contoh-contoh dari kedua bagian itu, maka tidak ada lagi keraguan bagimu tentang terjadinya penghapusan dengan kedua bagiannya dalam Syariat Musa dan Isa, dan telah tampak bahwa apa yang didakwa oleh Ahlul Kitab tentang tidak mungkinnya penghapusan adalah bathil, tiada keraguan padanya. Mengapa tidak demikian, padahal kemaslahatan mungkin berbeda menurut perbedaan waktu, tempat, dan orang yang dibebani taklif? Sebab beberapa hukum mungkin dapat dilaksanakan oleh orang yang dibebani taklif pada beberapa waktu dan tidak dapat dilaksanakan pada waktu yang lain. Dan sebagian mungkin sesuai bagi sebagian orang yang dibebani taklif tanpa sebagian yang lain. Bukankah engkau melihat bahwa Al-Masih Alaihi Assalam bersabda, berbicara kepada para rasul: “Masih banyak hal yang ingin aku katakan kepada kamu, tetapi sekarang kamu belum sanggup memikulnya. Apabila Ia, yaitu Ruh Kebenaran, telah datang, maka Ia akan membimbing kamu ke dalam segala kebenaran.” Sebagaimana yang dinyatakan dengan jelas dalam Bab Keenam belas dari Injil Yohanes. Dan Ia bersabda kepada orang kusta yang telah disembuhkannya: Jangan memberitahukan hal ini kepada siapapun. Sebagaimana yang dinyatakan dengan jelas dalam Bab Kedelapan dari Injil Matius. Dan bersabda kepada dua orang buta yang matanya telah dibuka olehnya: Jangan memberitahukan hal ini kepada siapapun. Sebagaimana yang dinyatakan dengan jelas dalam Bab Kesembilan dari Injil Matius. Dan bersabda kepada kedua orang tua anak perempuan yang telah dia hidupkan kembali: Jangan memberitahukan hal apa yang telah terjadi. Sebagaimana yang dinyatakan dengan jelas dalam Bab Kedelapan dari Injil Lukas. Dan memerintahkan orang yang telah dikeluarkan setan darinya: Pulanglah ke rumahmu dan beritahukanlah apa yang telah diperbuat Allah kepadamu. Sebagaimana yang dinyatakan dengan jelas dalam bab yang disebutkan. Telah diketahui dalam contoh yang keenam dan ketiga belas dari contoh-contoh bagian pertama, dan dalam contoh keempat dari contoh-contoh bagian kedua, apa yang sesuai dengan masalah ini. Dan demikian pula, Bani Israil telah diperintahkan untuk berjihad melawan orang-orang kafir selama mereka berada di Mesir, dan diperintahkan setelah mereka keluar.

[Dan Guru Mikhail Misyaqah berkata dalam Bab Ketiga dari Bagian Kedua dari bukunya yang bernama “Jawaban-jawaban Penginjil terhadap Kesesatan Tradisionalis” yang diterbitkan pada tahun 1852 Masehi di Beirut dalam halaman 71 dan 72: “Sesungguhnya Syariat Musa memiliki tiga bagian, yaitu: Syariat Akhlaki, Syariat Liturgi, dan Syariat Politik. Syariat Akhlaki meringkasnya dalam Sepuluh Perintah Allah, dan tidak ada yang dibebaskan dari menjaganya. Itulah Taurat yang dimaksud oleh Tuan Al-Masih dengan sabdanya: “Jangan pikir aku datang untuk meniadakan Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakan, melainkan untuk menyempurnakannya. Karena itu aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, segala yang ada di dalamnya tidak akan dihapuskan dari Taurat, bahkan tidak sepatah katapun.” Dan bukti hal itu adalah bahwa Tuan Al-Masih setelah mengatakan hal ini mulai menafsirkan bagi mereka perintah-perintah dan menyempurnakannya dengan sabdanya: Telah difirmankan kepada orang-orang dahulu: Jangan membunuh. Tetapi aku berkata kepadamu: Barangsiapa marah kepada saudaranya, wajib dihukum. Telah difirmankan kepada orang-orang dahulu: Jangan berzina. Tetapi aku berkata kepadamu: Barangsiapa memandang perempuan dengan berniat menginginkannya, ia telah berzina dengan dia dalam hatinya. Dan sesungguhnya telah difirmankan kepada orang-orang dahulu: Jangan membatalkan sumpahmu. Tetapi aku berkata kepadamu: Sama sekali jangan bersumpah. Biarlah perkataanmu ya dan ya, atau tidak dan tidak. Adapun dua syariat yang lain, ia tidak membiarkannya, bahkan membatalkannya sepenuhnya dengan melarang perceraian dan tidak memperbolehkan rajam untuk pezina perempuan, beserta hal-hal banyak lainnya yang telah ditulis oleh para rasul dalam membatalkannya, seperti khitan dan pembedaan makanan dan lain-lain dari hal-hal liturgi dan politik. Syariat Liturgi berkaitan dengan bagaimana menjalankan upacara dan mempersembahkan kurban-kurban di Bait Suci. Itu telah batal ketika Bait Suci rusak. Itu khusus bagi orang Yahudi ketika Bait Suci masih berdiri. Adapun Syariat Politik, itu berkaitan dengan hukum-hukum temporal, seperti pembagian warisan, penjualan properti, dan qisas untuk kejahatan. Itu khusus bagi negara Yahudi. Ketika pemerintahan mereka lenyap, mereka tidak lagi diwajibkan untuk menjaganya. Singkatnya: Hukum-hukum dua syariat liturgi dan politik tidak diwajibkan bagi orang-orang Kristen. Karena itu khusus bagi orang Yahudi selama masa pemerintahan mereka dan Bait Suci masih berdiri, maka keduanya lenyap dengan lenyapnya keduanya itu.” Selesai ungkapannya dengan bahasanya.

Dari perkataannya telah diketahui dua hal:

Pertama: Yang dimaksud dengan Taurat dalam sabda Al-Masih yang dinukil dalam Bab Kelima dari Injil Matius: hanya sepuluh perintah saja. Itu adalah ungkapan dari Syariat Akhlaki, dan itu adalah yang benar.

Kedua: Al-Masih hanya mempertahankan Syariat Akhlaki saja dan menyempurnakannya. Dan membatalkan dengan pasti dua syariat sisanya yang adalah ungkapan dari bukan sepuluh perintah itu.

Dan aku berkata: Sesungguhnya hukum Sabat dari sepuluh perintah ini juga dihapus dalam Syariat Isa. Maka diperoleh bagi mereka selesainya dari semua hukum-hukum Taurat kecuali sembilan hukum. Dan sembilan hukum ini tetap dalam Syariat Muhammadi juga. Maka tidak wajib atas kami keberatan apapun berkenaan dengan penghapusan hukum-hukum Taurat. Dan telah tampak bahwa pegangan sebagian pendeta dengan sabda Al-Masih yang disebutkan tentang tidak ada penghapusan hukum-hukum Taurat adalah timbul dari ketidaktahuannya atau kecurangannya dan tidak adanya integritas agamanya.]

 

 

BAB KEEMPAT: PEMBATALAN TRINITAS

Ia mencakup sebuah pendahuluan dan tiga bab.

Pendahuluan

Pendahuluan ini dalam penjelasan dua belas hal yang memberikan pemahaman mendalam kepada pembaca tentang bab-bab berikutnya.

Hal Pertama

Bahwa kitab-kitab Perjanjian Lama berbicara bahwa Allah itu Esa, azali, abadi, tidak mati. Ia Mahakuasa yang berbuat apa yang Dia kehendaki. Tidak ada sesuatu apapun yang menyamai-Nya, baik dalam zat maupun dalam sifat-sifat. Dia bersih dari tubuh dan bentuk. Dan hal ini karena terkenalnya dan banyaknya dalam kitab-kitab itu, tidak membutuhkan kutipan bukti-bukti.

Hal Kedua

Bahwa menyembah selain Allah adalah haram. Dan keharamannya dinyatakan dengan jelas dalam berbagai tempat dalam Taurat, seperti Bab Kedua puluh dan Bab Tiga puluh empat dari Kitab Keluaran. Dan telah dinyatakan dengan jelas dalam Bab Ketiga belas dari Kitab Ulangan bahwa jika seorang nabi atau orang yang mengaku mendapat ilham dalam mimpi mengajak kepada penyembahan selain Allah, maka orang yang mengajak ini dibunuh, meskipun dia memiliki mukjizat-mukjizat yang besar. Demikian pula, jika seseorang dari keluarga atau teman-teman menggoda ke arah itu, orang yang menggoda ini dirajam dan kepadanya tidak dikenakan hukuman rajam. Dan dalam Bab Ketujuh belas dari Kitab itu dinyatakan bahwa jika terbukti pada seseorang penyembahan selain Allah, dia dirajam, entah laki-laki atau perempuan.

Hal Ketiga

Dalam ayat-ayat banyak yang tidak terhitung dari Perjanjian Lama, terdapat isyarat tentang ke-tubuhan, bentuk, dan anggota badan bagi Allah Taala. Misalnya, dalam ayat 26 dan 27 dari Bab Pertama dari Kitab Kejadian dan ayat 6 dari Bab Kesembilan dari Kitab yang disebutkan, terdapat penetapan bentuk dan gambar bagi Allah. Dalam ayat 17 dari Bab Lima puluh sembilan dari Kitab Yesaya, terdapat penetapan kepala. Dalam ayat 9 dari Bab Ketujuh dari Kitab Daniel, terdapat penetapan kepala dan rambut. Dalam ayat 3 dari Mazmur Keempat puluh tiga, terdapat penetapan wajah, tangan, dan lengan. Dalam ayat 22 dan 23 dari Bab Tiga puluh tiga dari Kitab Keluaran, terdapat penetapan wajah dan punggung. Dalam ayat 15 dari Bab Tiga puluh tiga, terdapat penetapan mata dan telinga. Demikian pula dalam ayat 18 dari Bab Kesembilan dari Kitab Daniel, terdapat penetapan mata dan telinga. Dalam ayat 29 dan 52 dari Bab Kedelapan dari Kitab Raja-raja Pertama, dan dalam ayat 17 dari Bab Keenam belas, dan ayat 19 dari Bab Tiga puluh dua dari Kitab Yeremia, dan ayat 21 dari Bab Tiga puluh empat dari Kitab Ayub, dan ayat 21 dari Bab Kelima, dan ayat 3 dari Bab Kelima belas dari Kitab Amsal, terdapat penetapan mata. Dalam ayat 4 dari Mazmur Kesepuluh, terdapat penetapan mata dan kelopak mata. Dalam ayat 6, 8, 9, dan 15 dari Mazmur Ketujuh belas, terdapat penetapan telinga, kaki, hidung, jiwa, dan mulut. Dalam ayat 27 dari Bab Tiga puluh dari Kitab Yesaya, terdapat penetapan bibir dan lidah. Dalam Bab Tiga puluh tiga dari Kitab Ulangan, terdapat penetapan tangan dan kaki. Dalam ayat 18 dari Bab Tiga puluh satu dari Kitab Keluaran, terdapat penetapan jari-jari. Dalam ayat 19 dari Bab Keempat dari Kitab Yeremia, terdapat penetapan perut dan hati. Dalam ayat 3 dari Bab Kedua puluh satu dari Kitab Yesaya, terdapat penetapan punggung. Dalam ayat 7 dari Mazmur Kedua, terdapat penetapan kemaluan. Dalam ayat 28 dari Bab Kedua puluh dari Kisah Para Rasul, terdapat penetapan darah.

Dan untuk pensucian dalam Taurat terdapat dua ayat, yaitu ayat yang kedua belas dan ayat yang kelima belas dari Bab Keempat dari Kitab Ulangan, keduanya demikian:

12: “Tuhan berbicara kepada kamu dari tengah api, kamu mendengar suara perkataan-Nya, tetapi kamu tidak melihat sesuatu gambar apapun.”

15: “Jagalah diri kamu dengan seksama, karena kamu tidak melihat sesuatu gambar pada waktu Tuhan berbicara kepada kamu di Horeb dari tengah api.”

Dan ketika isi kedua ayat ini sesuai dengan bukti rasional, maka wajib ditakwilkan ayat-ayat yang tidak terhitung banyaknya, bukan kedua ayat ini. Dan Ahlul Kitab di sini juga bersepakat dengan kami dan tidak memeringkatkan ayat-ayat yang tidak terhitung banyaknya daripada kedua ayat ini. Dan sebagaimana terdapat isyarat tentang ke-tubuhan bagi Allah Taala, demikian pula terdapat isyarat tentang penetapan tempat bagi Allah Taala dalam ayat-ayat yang tidak terhitung dari Perjanjian Lama dan Baru, seperti ayat 8 bab 25, dan ayat 45 dan 46 dari bab 29 dari Kitab Keluaran. Dalam ayat 3 bab 5 dan 34 bab 35 dari Kitab Bilangan. Dalam ayat 15 dari Bab Kedua puluh enam dari Kitab Ulangan. Dalam ayat 5 dan 6 dari Bab Ketujuh dari Kitab Samuel Kedua. Dalam ayat 30, 32, 34, 36, 39, 45, dan 49 dari Bab Kedelapan dari Kitab Raja-raja Pertama. Dalam ayat 11 dari Mazmur Kesembilan. Dalam ayat 4 dari Mazmur Kesepuluh. Dalam ayat 8 dari Mazmur Kedua puluh lima. Dalam ayat 16 dari Mazmur Keenam puluh tujuh. Dalam ayat 2 dari Mazmur Ketujuh puluh tiga. Dalam ayat 2 dari Mazmur Ketujuh puluh lima. Dalam ayat 1 dari Mazmur Kedelapan puluh delapan. Dalam ayat 21 dari Mazmur Seratus tiga puluh empat. Dalam ayat 17 dan 21 dari Bab Ketiga dari Kitab Yoel. Dalam ayat 2 dari Bab Kedelapan dari Kitab Zakharia. Dalam ayat 45 dan 48 bab 5, dan ayat 1, 9, 14, dan 26 bab 6, dan ayat 11 dan 21 bab 7, dan ayat 32 dan 33 bab 10, dan ayat 50 bab 2, dan ayat 13 bab 15, dan ayat 17 bab 16, dan ayat 10, 14, 19, dan 35 bab 18, dan ayat 19 dan 22 bab 23 dari Injil Matius.

Dan tidak terdapat dalam Perjanjian Lama dan Baru ayat-ayat yang menunjukkan pensucian Allah dari tempat, kecuali sedikit, seperti ayat 1 dan 2 dari Bab Keenam puluh enam dari Kitab Yesaya, dan ayat 48 dari Bab Ketujuh dari Kisah Para Rasul. Tetapi ketika isi ayat-ayat sedikit ini sesuai dengan bukti rasional, maka ditakwilkan ayat-ayat banyak yang tidak terhitung banyaknya yang menunjukkan tempat bagi Allah Taala, bukan ayat-ayat sedikit ini. Dan Ahlul Kitab juga bersepakat dengan kami dalam takwil ini. Maka telah tampak dari hal ketiga ini bahwa yang banyak jika bertentangan dengan bukti, maka harus dikembalikan kepada yang sedikit yang sesuai dengannya. Dan tidak diperhatikan banyaknya. Apalagi jika yang banyak sesuai dan yang sedikit bertentangan? Maka takwil di dalamnya menjadi perlu dengan jelas bagi akal.

Hal Keempat

Telah diketahui dalam hal ketiga bahwa Allah tidak ada yang menyamai-Nya, tidak ada gambar dan bentuk untuknya. Dan telah dinyatakan dengan jelas dalam Perjanjian Baru juga dalam berbagai tempat bahwa melihat Allah di dunia tidak terjadi. Dalam ayat yang kedelapan belas dari Bab Pertama dari Injil Yohanes demikian: “Tidak seorangpun pernah melihat Allah.” Dalam ayat yang keenam belas dari Bab Keenam dari Surat Pertama kepada Timotius: “Tidak seorangpun dari manusia pernah melihat Dia dan juga tidak dapat melihat Dia.” Dalam ayat yang kedua belas dari Bab Keempat dari Surat Pertama Yohanes: “Tidak seorangpun pernah melihat Allah.” Maka terbukti dari ayat-ayat ini bahwa yang dapat dilihat tidak akan pernah menjadi Allah. Dan jika pada Dia diberikan dalam perkataan Allah atau para nabi atau para rasul, gelar Allah dan sejenisnya, maka janganlah ada yang tertipu hanya dengan penggunaan gelar seperti Allah. Dan janganlah ada yang mengklaim bahwa takwil adalah majas semata-mata. Bagaimana bisa demikian? Karena pergi ke majas harus dilakukan saat adanya qarinah yang mencegah dari kehendaki kebenaran, terutama jika bukti pasti menunjukkan larangan. Ya, akan ada cara yang sesuai untuk penggunaan gelar-gelar seperti itu pada selain Allah untuk setiap tempat. Misalnya, penggunaan gelar-gelar ini dalam lima kitab yang dinisbatkan kepada Musa Alaihi Assalam pada beberapa malaikat, karena untuk tujuan menampakkan kebesaran Allah di dalamnya lebih daripada yang lain.

Surat Keluaran, Pasal 23, Ayat 20-23

“Aku akan mengutus malaikat-Ku di depanmu untuk menjagamu di jalan dan membawamu ke tempat yang telah Aku siapkan. Berhatilah terhadapnya dan dengarkan suaranya, jangan memberontak terhadapnya, karena dia tidak akan mengampuni kesalahanmu; nama-Ku ada pada dirinya. Malaikat-Ku akan berjalan di depanmu dan membawamu kepada orang Amori, Het, Ferezi, Kanani, Hiwi, dan Yebusi yang akan Aku usir.”

Pernyataan “Aku akan mengutus malaikat-Ku di depanmu” dan juga “malaikat-Ku akan berjalan di depanmu” menunjukkan bahwa yang berjalan bersama Bani Israel dalam tiang awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari adalah seorang malaikat dari para malaikat. Padanya dikenakan ungkapan-ungkapan semacam ini, seperti akan Anda lihat nanti, berdasarkan apa yang telah saya sebutkan. Hal ini jelas dari perkataannya: “nama-Ku ada pada dirinya.” Penggunaan ungkapan-ungkapan seperti ini terdapat dalam banyak tempat, bukan hanya untuk malaikat dan manusia sempurna, tetapi juga untuk individu-individu biasa, bahkan untuk setan terkutuk, dan bahkan untuk makhluk yang tidak memiliki akal sekalipun.

Dari beberapa tempat Alkitab, kita dapat memahami penjelasan atas beberapa ungkapan ini. Di beberapa tempat lain, konteks pembicaraan menunjukkan penjelasan tersebut dengan jelas sehingga tidak membingungkan bagi pembaca yang cermat. Saya akan menyampaikan kepada Anda bukti-bukti dari bagian ini. Dalam bagian ini, saya mengutip dari terjemahan bahasa Arab Perjanjian Lama yang diterbitkan di London pada tahun 1844, dan dari terjemahan Perjanjian Baru, baik dari terjemahan tersebut maupun dari terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan di Beirut pada tahun 1860. Saya tidak mengutip seluruh teks tempat yang dijadikan bukti, melainkan hanya mengutip ayat-ayat yang relevan dengan tujuan pembahasan ini dan meninggalkan ayat-ayat yang tidak perlu.

Surat Kejadian, Pasal 17, Ayat 1, 4, 7-9, 15, 18, 22

Ayat 1: “Ketika Abram berusia sembilan puluh sembilan tahun, Tuhan menampakkan diri kepadanya dan berkata: Aku adalah Allah yang berkuasa atas segalanya; berjalanlah di hadapan-Ku dan jadilah sempurna.”

Ayat 4: “Dan Allah berkata kepadanya: Aku ini, dan perjanjian-Ku ada bersama engkau, dan engkau akan menjadi bapa dari banyak bangsa.”

Ayat 7-8: “Aku akan menegakkan perjanjian-Ku antara Aku dan engkau dan keturunan-mu sesudah engkau, turun-temurun, sebagai perjanjian yang kekal, untuk menjadi Allah bagi engkau dan keturunan-mu sesudah engkau. Aku akan memberikan kepadamu dan keturunan-mu negeri tempat engkau tinggal sebagai pendatang, seluruh negeri Kanaan, sebagai milik yang kekal; dan Aku akan menjadi Allah mereka.”

Ayat 9: “Kemudian Allah berfirman kepada Abraham lagi…”

Ayat 15: “Dan Allah berkata lagi kepada Abraham…”

Ayat 18: “Dan Allah berkata…”

Ayat 22: “Setelah selesai berbicara dengan Abraham, Allah naik meninggalkan Abraham.”

Pembicara yang terlihat ini adalah seorang malaikat, seperti yang telah saya jelaskan. Berdasarkan perkataannya “naik meninggalkan Abraham,” dalam ungkapan ini padanya dikenakan istilah Allah, Tuhan, dan Ilah. Dan dia sendiri berkata tentang dirinya: “Aku adalah Allah yang berkuasa atas segalanya” dan “untuk menjadi Allah bagimu dan keturunan-mu sesudah engkau” dan “Aku akan menjadi Allah mereka.”

Surat Kejadian, Pasal 18

Demikian juga, ungkapan-ungkapan serupa digunakan pada malaikat yang menampakkan diri kepada Abraham dengan dua malaikat lainnya, yang memberitahu berita gembira tentang kelahiran Ishak, dan memberitahukan bahwa kota-kota Lot akan dihancurkan, dalam lebih dari empat belas tempat.

Surat Kejadian, Pasal 28, Ayat 10-19, 22

Ayat 10: “Yakub berangkat dari Beersyeba menuju Haran.”

Ayat 11: “Dia sampai di suatu tempat dan bermalam di sana, karena matahari sudah terbenam. Dia mengambil salah satu batu dari tempat itu dan menjadikannya bantal, lalu dia berbaring di sana.”

Ayat 12: “Dia bermimpi, dan ternyata ada sebuah tangga yang berdiri tegak di atas bumi, dengan puncaknya menjangkau ke langit; dan ternyata ada malaikat-malaikat Allah yang naik dan turun di atasnya.”

Ayat 13: “Dan Tuhan berdiri di atas tangga itu dan berkata: Aku adalah Tuhan, Allah Abraham, ayahmu, dan Allah Ishak. Tanah yang kamu tiduri aku berikan kepadamu dan kepada keturunanmu.”

Ayat 14: “Keturunanmu akan seperti debu tanah, dan engkau akan meluas ke barat dan ke timur, ke utara dan ke selatan; dan semua bangsa di bumi akan mendapatkan berkat melalui engkau dan keturunanmu.”

Ayat 15: “Ketahuilah, Aku menyertai engkau; aku akan menjaga engkau di mana pun engkau pergi, dan aku akan membawamu kembali ke tanah ini; karena aku tidak akan meninggalkan engkau sampai aku melakukan apa yang telah aku janjikan kepadamu.”

Ayat 16: “Yakub terjaga dari tidurnya dan berkata: Sesungguhnya Tuhan ada di tempat ini, dan aku tidak menyadarinya!”

Ayat 17: “Dia merasa takut dan berkata: Betapa menakjubkan tempat ini! Ini bukan lain daripada rumah Allah dan pintu gerbang langit.”

Ayat 18: “Pada pagi harinya Yakub bangun, mengambil batu yang telah dijadikannya bantal, memasangnya sebagai tugu dan menuangkan minyak di atasnya.”

Ayat 19: “Dia menamai tempat itu Betel, padahal dulunya nama kota itu adalah Luz.”

Ayat 20: “Yakub membuat nazar, katanya: Jika Allah menyertai aku dan menjaga aku di jalan yang akan aku tempuh, memberikan roti untuk aku makan dan pakaian untuk aku kenakan,”

Ayat 21: “dan aku kembali dengan selamat ke rumah ayahku, maka Tuhanlah yang akan menjadi Allahku,”

Ayat 22: “dan batu ini yang telah aku pasang sebagai tugu akan menjadi rumah Allah; dan dari semua yang engkau berikan kepadaku, aku akan memberikan sepersepuluh untuk engkau.”

Surat Kejadian, Pasal 31, Ayat 11-13

Dalam surat Kejadian, pasal 31, Yakub mengatakan dalam perkataannya kepada isterinya Leah dan Rahel:

Ayat 11: “Malaikat Allah berkata kepadaku dalam mimpi: Yakub! Dan aku berkata: Ini aku.”

Ayat 12-13: “Dia berkata: Aku adalah Allah Betel, di tempat engkau mengurapi tugu batu dan mengatakan sesuatu kaul kepada-Ku. Sekarang bangunlah, keluarlah dari tanah ini dan kembalilah ke tanah tempat lahirmu.”

Surat Kejadian, Pasal 32, Ayat 9, 12

Ayat 9: “Yakub berdo’a: Ya Allah ayahku Abraham dan Allah ayahku Ishak, Tuhan yang berkata kepadaku: Kembalilah ke tanah-mu dan ke keluarga-mu dan aku akan memberikan yang baik kepadamu,”

Ayat 12: “Engkau telah berkata: Sungguh aku akan berbuat baik kepadamu dan membuat keturunanmu seperti pasir laut yang banyak sehingga tidak dapat dihitung.”

Surat Kejadian, Pasal 35

Dalam surat Kejadian, pasal 35:

“Kemudian Allah berkata kepada Yakub: Bangunlah, naiklah ke Betel dan tinggallah di sana, dan bangunlah mezbah untuk Allah yang menampakkan diri kepadamu ketika engkau melarikan diri dari hadapan Esau, saudara-mu.”

Ayat 2: “Yakub berkata kepada keluarganya…”

Ayat 3: “Mari kita naik ke Betel dan aku akan membangun mezbah di sana untuk Allah yang mengijabkan doaku pada waktu aku dalam kesusahan dan yang menyertai aku dalam perjalananku.”

Ayat 6: “Yakub sampai di Luz yang berada di tanah Kanaan, itulah Betel…”

Ayat 7: “Dia membangun mezbah di sana dan menamai tempat itu Betel, karena di sana Allah menampakkan diri kepadanya…”

Surat Kejadian, Pasal 48, Ayat 3-4

Ayat 3: “Allah yang berkuasa atas segalanya menampakkan diri kepadaku di Luz di tanah Kanaan dan memberkati aku.”

Ayat 4: “Dia berkata kepadaku: Aku akan membuat engkau bertambah banyak dan menjadikan engkau bapa dari sekumpulan bangsa, dan aku akan memberikan tanah ini kepada keturunan-mu sesudah engkau sebagai milik yang kekal.”

Jelas dari ayat 11 dan 13 pasal 31 bahwa yang menampakkan diri kepada Yakub dan berjanji, membuat perjanjian dan nazar dengan Yakub adalah seorang malaikat. Penggunaan istilah seperti “Allah” atas dirinya muncul dalam ungkapan-ungkapan tersebut lebih dari delapan belas kali. Malaikat ini berkata: “Aku adalah Tuhan, Allah Abraham, ayahmu, dan Allah Ishak.” Dan Yakub mengatakan tentangnya: “Ya Allah ayahku Abraham dan Allah ayahku Ishak, Tuhan,” dan “Allah yang berkuasa atas segalanya menampakkan diri kepadaku.”

Surat Kejadian, Pasal 32, Ayat 24-30

Ayat 24: “Yakub tertinggal sendiri, dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar muncul.”

Ayat 25: “Ketika laki-laki itu melihat bahwa dia tidak dapat mengalahkan Yakub, dia menyentuh pangkal paha Yakub, dan pangkal paha Yakub terkilir ketika dia bergulat dengan laki-laki itu.”

Ayat 26: “Laki-laki itu berkata: Lepaskan aku, karena fajar sudah muncul. Tetapi Yakub menjawab: Aku tidak akan melepaskan engkau sampai engkau memberkati aku.”

Ayat 27: “Laki-laki itu bertanya: Siapa nama-mu? Yakub menjawab: Yakub.”

Ayat 28: “Laki-laki itu berkata: Nama-mu tidak akan dipanggil lagi Yakub, tetapi Israel, karena engkau telah bergulat dengan Allah dan dengan manusia dan engkau menang.”

Ayat 29: “Yakub bertanya: Beritahukan nama-mu kepada-ku. Laki-laki itu menjawab: Mengapa engkau bertanya tentang nama-ku? Dan dia memberkati dia di sana.”

Ayat 30: “Yakub menamai tempat itu Penuel, katanya: Aku telah melihat Allah muka dengan muka, dan nyawaku terselamatkan.”

Penyerang yang bergulat dengan Yakub ini adalah seorang malaikat, seperti yang saya ketahui. Jika itu adalah Allah sendiri, maka Allah Bani Israel akan dalam kondisi kelemahan yang sangat ekstrem, karena dia bergulat dengan Yakub sampai fajar tanpa dapat mengalahkannya tanpa tipu daya. Hal ini diperkuat oleh perkataan Hosea yang tegas dalam pasal 12, ayat 3-4 dari kitabnya:

“Dalam kandungan dia menangkis saudara-nya, dalam kekuatannya dia bergulat melawan malaikat. Dia bergulat melawan malaikat dan menang; dia menangis dan memohon belas kasihan kepadanya. Di Betel dia menjumpai dia, dan di sana dia berbicara dengan kita.”

Istilah “Allah” digunakan untuk dirinya di kedua tempat ini. Dalam pasal 35 surat Kejadian, ayat 9-15:

Ayat 9: “Allah menampakkan diri lagi kepada Yakub setelah dia kembali dari Paddan-Aram, dan memberkatinya.”

Ayat 10: “Allah berkata kepadanya: Nama-mu adalah Yakub, tetapi nama-mu tidak akan dipanggil lagi Yakub, tetapi Israel akan menjadi nama-mu. Dan dia menamai dia Israel.”

Ayat 11: “Allah berkata kepadanya: Aku adalah Allah yang berkuasa atas segalanya. Berkembanglah dan bertambahlah banyak; satu bangsa—bahkan suatu kumpulan bangsa—akan datang dari engkau, dan raja-raja akan keturunan engkau.”

Ayat 12: “Tanah yang aku berikan kepada Abraham dan Ishak akan aku berikan kepada-mu, dan kepada keturunan-mu sesudah engkau aku akan memberikan tanah itu.”

Ayat 13: “Kemudian Allah naik dari dia.”

Ayat 14: “Yakub mendirikan sebuah tugu di tempat di mana dia berbicara dengan dia, sebuah tugu batu, dan dia menuangkan curahan minuman di atasnya dan menuangkan minyak di atasnya.”

Ayat 15: “Yakub menamai tempat di mana Allah berbicara dengan dia, Betel.”

Yang menampakkan diri di sini adalah malaikat yang disebutkan tadi. Istilah “Allah” digunakan atas dirinya di lima tempat, dan dia berkata: “Aku adalah Allah yang berkuasa atas segalanya.”

Surat Keluaran, Pasal 3, Ayat 2, 4, 6-7, 11-16

Ayat 2: “Tuhan menampakkan diri kepada Musa dalam api yang membara dari tengah semak belukar. Musa melihat semak belukar itu terbakar dalam api, tetapi semak belukar itu tidak menjadi abu.”

Ayat 4: “Musa melihat bahwa Allah melihat dan mendekat…”

Ayat 6: “Dia berkata: Aku adalah Allah bapak-bapakmu, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Musa menutup wajahnya karena dia takut memandang kepada Allah.”

Ayat 7: “Tuhan berkata…”

Ayat 11: “Musa berkata kepada Allah…”

Ayat 12: “Allah berkata kepadanya: Aku akan bersama-sama dengan engkau; dan ini adalah tandanya bagi-mu bahwa aku yang menyuruh engkau: ketika engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.”

Ayat 13: “Musa berkata kepada Allah: Apabila aku datang kepada Bani Israel dan berkata kepada mereka: Allah bapak-bapakmu telah menyuruh aku datang kepada kalian. Tetapi jika mereka bertanya kepada-ku: Siapa nama-Nya? Apa yang akan aku katakan kepada mereka?”

Ayat 14: “Allah berkata kepada Musa: Aku adalah Aku. Demikianlah katakan kepada Bani Israel: Aku telah menyuruh aku datang kepada kalian.”

Ayat 15: “Allah juga berkata kepada Musa: Demikianlah katakan kepada Bani Israel: Tuhan, Allah bapak-bapakmu, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub, telah menyuruh aku datang kepada kalian. Ini adalah nama-Ku untuk selamanya, dan ini adalah peringatan-Ku turun-temurun.”

Ayat 16: “Pergilah, berkumpullah dengan para tua-tua Bani Israel dan katakan kepada mereka: Tuhan, Allah bapak-bapakmu, menampakkan diri kepadaku, Allah Abraham dan Yakub…”

Yang menampakkan diri kepada Musa dan berbicara dengannya berkata tentang dirinya: “Aku adalah Allah bapak-bapakmu, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub.” Kemudian dia berkata: “Aku adalah Aku.” Kemudian dia memerintahkan Musa untuk berkata kepada Bani Israel: “Aku telah menyuruh aku datang kepada kalian” dan “Tuhan, Allah bapak-bapakmu, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub, telah menyuruh aku datang kepada kalian.” Dan dia berkata: “Ini adalah nama-Ku untuk selamanya, dan ini adalah peringatan-Ku turun-temurun.”

Istilah-istilah seperti “Allah,” “Tuhan,” dan sejenisnya digunakan padanya dalam ungkapan ini lebih dari dua puluh lima kali. Yesus Kristus juga menggunakan istilah “Allah” untuk dia, seperti yang dilaporkan oleh Markus dalam pasal 12, Matius dalam pasal 22, dan Lukas dalam pasal 20, di mana Yesus mengatakan kepada para Saduki:

“Apakah kamu belum membaca dalam kitab Musa, pada kisah semak belukar, bagaimana Allah berfirman kepadanya: Aku adalah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub?”

Ini adalah akhir ungkapan Markus. Yang berbicara ini adalah seorang malaikat, seperti yang telah saya jelaskan. Oleh karena itu, dalam sebagian besar terjemahan Hindi dan Persia, istilah “Allah” diganti dengan kata “frishte” yang merupakan terjemahan dari “malaikat.”

Surat Keluaran, Pasal 7, Ayat 1

“Tuhan berkata kepada Musa: Ketahuilah, aku telah menjadikan engkau seperti Allah bagi Firaun, dan Harun, saudara-mu, akan menjadi nabi-mu.”

Surat Keluaran, Pasal 4, Ayat 16

“Dia akan berbicara kepada bangsa itu untuk engkau; dia akan menjadi mulutmu, dan engkau akan menjadi allah baginya dalam hal-hal yang berkenaan dengan Allah.”

Istilah-istilah “Ilah” dan “Allah” digunakan untuk Musa. Dari sini tampak jelas keunggulan Yahudi atas Kristen dalam hal doktrin ini. Walaupun mereka mengklaim mencintai Musa dan mempertingginya di atas semua nabi lainnya, mereka tidak membawanya ke tingkat ketuhanan, berpegangan pada ayat-ayat semacam ini.

Surat Keluaran, Pasal 13, Ayat 21-22

Ayat 21: “Tuhan berjalan di muka mereka untuk menunjukkan jalan kepada mereka pada siang hari dengan tiang awan, dan pada malam hari dengan tiang api untuk membimbing mereka. Pada siang hari dan pada malam hari.”

Ayat 22: “Tiang awan itu tidak pernah surut dari hadapan bangsa itu pada siang hari, dan tiang api itu tidak surut pada malam hari.”

Kemudian dalam pasal 14 surat Keluaran:

Ayat 19: “Malaikat Allah yang berjalan di depan tentara Israel bergeser dan berjalan di belakang mereka. Tiang awan itu juga bergeser dari hadapan mereka dan berdiri di belakang mereka,”

Ayat 24: “Ketika fajar tiba, Tuhan memandang ke medan tentara Mesir melalui tiang api dan awan dan menumpahkan kekacauan pada tentara Mesir.”

Yang berjalan adalah seorang malaikat, seperti yang dinyatakan dengan jelas dalam ayat 19. Istilah “Tuhan” dikenakan padanya sesuai dengan terjemahan bahasa Arab, dan istilah “Yahweh” sesuai dengan terjemahan Hindi yang saya miliki.

Surat Ulangan, Pasal 1, Ayat 30-33

Ayat 30: “Tuhan, Allahmu, yang berjalan di depanmu, Dia akan memerangi untuk kamu, seperti yang telah Dia lakukan untuk kamu di Mesir di hadapan mata kamu,”

Ayat 31: “dan di padang gurun, di mana kamu telah melihat bagaimana Tuhan, Allahmu, membawa kamu, seperti seorang ayah membawa anaknya, di seluruh jalan…”

Ayat 32: “Namun dalam hal ini kamu tidak percaya kepada Tuhan, Allahmu,”

Ayat 33: “yang berjalan di depanmu dalam perjalanan untuk mencari bagi kamu tempat untuk mendirikan tenda kamu; dalam malam hari, menunjukkan jalan kamu dengan api, dan pada siang hari dengan tiang awan,”

Dalam ungkapan ini, istilah “Tuhan Allahmu” dan “Tuhan” digunakan pada malaikat yang disebutkan di atas di tiga tempat, karena dia adalah yang berjalan di depan mereka dan memerangi tentara Mesir.

Surat Ulangan, Pasal 31, Ayat 3, 4, 5, 6, 8

Ayat 3: “Tuhan, Allahmu, yang berjalan di hadapan-mu…”

Ayat 4: “Tuhan akan melakukan…”

Ayat 5: “Tuhan akan memberikan kamu…”

Ayat 6: “Kuatkan hati dan jadilah berani, jangan takut dan jangan gemetar di hadapan mereka, karena Tuhan, Allahmu, yang berjalan di depanmu…”

Ayat 8: “Dan Tuhan yang berjalan di hadapan kamu, Dia akan bersama kamu…”

Dalam ungkapan ini juga, istilah “Tuhan Allahmu” dan “Tuhan” digunakan pada malaikat yang disebutkan: ayat 22 dari pasal 13 kitab Hakim-Hakim, dalam kaitannya dengan dia yang berbicara dengan Nuh dan istrinya dan memberitahu berita gembira tentang anak:

“Manuh berkata kepada isterinya: Kita pasti akan mati, karena kita telah melihat Allah.”

Hal ini dinyatakan dengan jelas dalam ayat 3, 9, 13, 15, 16, 18, dan 21 dari pasal ini bahwa dia adalah seorang malaikat, dan istilah “Allah” digunakan padanya. Demikian juga, penggunaan ini pada malaikat terjadi dalam pasal 6 kitab Yesaya, pasal 3 kitab 1 Samuel, pasal 4 dan 9 kitab Yehezkiel, pasal 7 kitab Amos, dan ayat 6 dari Mazmur 81 menurut terjemahan bahasa Arab, dan dari Mazmur 82 menurut terjemahan-terjemahan lain:

“Aku telah berkata: Kamu adalah allah-allah, dan semuanya adalah anak-anak Yang Mahatinggi.”

Di sini, istilah “allah-allah” dan “anak-anak Allah” digunakan untuk orang-orang awam, apalagi untuk orang-orang khusus.

Dan dalam Bab Keempat dari Surat Kedua kepada Penduduk Korintus demikian: ayat 3 dan 4

“Tetapi jika Injil kami tertutup, maka tertutup bagi mereka yang binasa, yaitu mereka yang padanya dewa dunia ini telah membutakan pikiran orang-orang yang tidak percaya, agar supaya terang dari Injil tentang kemuliaan Kristus tidak bersinar kepada mereka”

Dan yang dimaksud dengan dewa dunia adalah setan menurut klaim para ulama Protestan. Jadi pernyataan semacam ini datang kepada setan yang terkutuk menurut klaim mereka, apalagi kepada manusia. Saya katakan menurut klaim mereka karena mereka menginginkannya di sini agar tidak tersirat bahwa kebutaan berasal dari Allah Yang Maha Tinggi, sehingga akan mengakibatkan bahwa Allah adalah pencipta kejahatan. Dan ini adalah salah satu kegilaan mereka karena sesungguhnya pencipta kejahatan menurut kitab-kitab suci mereka pasti adalah Allah Yang Maha Tinggi. Saya akan menyampaikan dua saksi di sini, dan Anda akan menemukan bukti-bukti lain juga di tempatnya.

Ayat ketujuh dari Bab Keempat Puluh Lima dari kitab Yesaya demikian:

“Pembentuk terang dan Pencipta kegelapan, Pembuat damai dan Pencipta kejahatan. Aku adalah Tuhan yang membuat semua ini”

Dan Santo Paulus mereka mengatakan dalam Bab Kedua dari Surat Kedua kepada Penduduk Tesalonika:

“Karena itu Allah akan mengirim kepada mereka kekuatan untuk berbuat sesat, sehingga mereka percaya kepada dusta, supaya semua orang yang tidak percaya kepada kebenaran, tetapi berkenan pada ketidakbenaran, dihukum”

Dan karena klaim mereka seperti yang telah kami sebutkan, dan tujuannya adalah penyampaian dengan cara mengikat mereka, maka tujuan telah tercapai yaitu bahwa pernyataan tentang dewa dunia datang kepada setan.

Dan ayat 16 dari Bab Ketiga dari surat Paulus kepada Penduduk Filipi demikian:

“Mereka berakhir pada kebinasaan, tuhan mereka adalah perut mereka, dan kemuliaan mereka ada pada aib mereka”

Jadi Santo mereka menggunakan kata “tuhan” untuk perut.

Dan dalam Bab Keempat dari Surat Pertama Yohanes demikian, ayat 8 dan 16:

“Siapa yang tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, karena Allah adalah kasih. Kami telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kami. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia”

Jadi Yohanes telah menetapkan kesatuan kasih dengan Allah, dan berkata di dua tempat “Allah adalah kasih” kemudian menetapkan kesalingketergantungan demikian: barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan penggunaan kata “tuhan-tuhan” untuk patung-patung sangat banyak dalam kitab-kitab suci, jadi tidak perlu menyampaikan bukti-bukti. Demikian juga penggunaan kata “tuhan” dalam arti yang dilayani dan guru sangat banyak, yang berarti tidak perlu menyampaikan bukti-buktinya.

Penjelasan yang terdapat dalam ayat 38 dari Bab Pertama dari Injil Yohanes demikian:

“Lalu katanya, ‘Rabi’ (yang diterjemahkan berarti: ‘Guru’)”

Jika Anda telah memahami apa yang telah saya sebutkan, maka Anda telah memperoleh wawasan yang sempurna bahwa tidak dibenarkan bagi orang berakal sehat untuk bersandar pada penggunaan beberapa kata-kata ini untuk beberapa kejadian yang kehadirannya, perubahannya, dan ketidakberdayaannya adalah hal-hal materi bahwa ia adalah tuhan atau anak Allah, dan menolak semua bukti-bukti akal yang pasti, begitu juga bukti-bukti tradisional.

Perkara Kelima

Sesungguhnya terjadinya kiasan di tempat-tempat selain yang telah disebutkan dalam perkara ketiga dan keempat sangat banyak. Misalnya: Allah menjanjikan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihi assalam tentang memperbanyak keturunannya. Ayat keenam belas dari Bab Ketiga Belas dari kitab Kejadian:

“Maka Aku akan membuat keturunanmu seperti debu tanah; jika orang dapat menghitung debu tanah, maka keturunanmu pun dapat dihitung”

Dan ayat ketujuh belas dari Bab Kedua Puluh Dua dari kitab yang disebutkan:

“Aku akan memberkati engkau dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang-bintang di langit dan seperti pasir di tepi pantai; dan keturunanmu itu akan mewarisi pintu-pintu kota musuhnya”

Dan demikian juga Allah menjanjikan kepada Nabi Yakub ‘alaihi assalam bahwa keturunanmu akan menjadi seperti pasir tanah seperti yang telah Anda ketahui dalam perkara keempat. Dan keturunan mereka berdua tidak pernah mencapai jumlah setimbang pasir di dunia pada waktu mana pun, apalagi mencapai jumlah pasir pantai atau pasir tanah. Dan terjadinya pujian terhadap tanah yang Allah janjikan untuk memberikannya dalam ayat kedelapan dari Bab Ketiga dari kitab Keluaran dan ayat-ayat lainnya dengan mengatakan bahwa di dalamnya mengalir susu dan madu, padahal tidak ada tanah di dunia seperti itu. Dan terjadinya dalam Bab Pertama dari kitab Ulangan demikian:

“Dan kota-kota itu besar dan berbenteng sampai ke langit”

Dan terjadinya dalam Bab Kesembilan dari kitab yang disebutkan demikian:

“Dan lebih besar darimu kota-kota besar dan berbenteng tinggi sampai ke langit”

Dan dalam Zabur Ketujuh Puluh Tujuh demikian, ayat 65 dan 66:

“Maka bangunlah Tuhan seperti orang yang sedang tidur, seperti seorang perkasa yang terbangun dari anggur. Ia memukul musuh-musuhnya dari belakang dan menempatkan mereka dalam aib selamanya”

Dan ayat ketiga dari Zabur Seratus Tiga dalam mendeskripsikan Allah demikian:

“Engkau menutup langit dengan air sebagai kemah, Engkau menjadikan awan sebagai kereta-Mu, berjalan di atas sayap angin”

Dan perkataan Yohanes penuh dengan kiasan, jarang sekali ada paragraf yang tidak memerlukan takwil seperti yang jelas bagi siapa saja yang membaca Injilnya, surat-suratnya, dan penglihatannya. Saya hanya akan membatasi diri dengan menyampaikan satu pernyataan dari perkataannya. Dia mengatakan dalam Bab Dua Belas dari Wahyu demikian, ayat 1 sampai 7:

“Dan terdengarlah suara yang besar di surga: “Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan kerajaan Allah kita, dan kekuasaan Kristus kita; karena telah dilemparkan ke bawah si pendakwa saudara-saudara kita, dia yang siang malam mendakwa mereka di hadapan Allah kita. Mereka mengalahkan dia karena darah Anak Domba dan karena perkataan kesaksian mereka; dan mereka tidak mencintai nyawa mereka sampai mati. Sebab itu bergembiralah, hai surga dan mereka yang diam di dalamnya! Celakalah bagi bumi dan laut! Sebab Iblis telah turun kepadamu dengan sangat marah, karena dia tahu bahwa waktunya sudah singkat.”

Dan dalam ayat-ayat berikutnya:

“Ketika naga itu melihat bahwa dia telah dilemparkan ke bumi, dia mengejar perempuan itu, yang telah melahirkan anak laki-laki. Tetapi kepada perempuan itu diberikan dua sayap dari burung elang yang besar, supaya ia dapat terbang ke padang gurun, ke tempatnya, di mana ia dipelihara jauh dari haribaan ular itu selama satu waktu, dua waktu, dan setengah waktu.”

Perkataan ini secara lahir adalah perkataan orang-orang yang kehilangan akal, jadi jika tidak ditakwil, maka mustahil secara mutlak. Dan takwilnya juga akan sangat jauh dan tidak mudah. Sedangkan Ahlul Kitab menakwilkan ayat-ayat yang disebutkan dan sejenisnya dengan pasti dan mengakui banyaknya terjadinya kiasan dalam kitab-kitab suci.

Pengarang “Panduan Siswa kepada Kitab Suci yang Berharga” mengatakan dalam Bab Ketiga Belas dari bukunya:

“Adapun gaya bahasa Kitab Suci, maka ia penuh dengan metafora yang luas dan gelap, terutama Perjanjian Lama.”

Kemudian dia berkata:

“Gaya bahasa Perjanjian Baru juga sangat metaforis, terutama percakapan Penyelamat kita, dan banyak pendapat yang salah telah muncul karena beberapa guru Kristen menjelaskannya secara harfiah. Karena itu kami memberikan beberapa contoh untuk menunjukkan bahwa menjelaskan metafora secara harfiah tidak benar, seperti perkataan Kristus tentang Herodes: ‘Pergi dan katakan kepada rubah itu.’ Jelas bahwa yang dimaksud dengan kata ‘rubah’ dalam ungkapan ini adalah seorang penguasa yang zalim, karena hewan yang disebut demikian dikenal dengan kelicikan dan pengkhianatan juga.”

“Tuhan kami berkata kepada orang-orang Yahudi: ‘Akulah roti hidup yang turun dari surga. Jika seseorang makan dari roti ini, ia akan hidup selamanya. Roti yang akan kuberikan adalah tubuhku, yang akan kuberikan untuk kehidupan dunia.’ Yohanes pasal 6 ayat 15. Orang-orang Yahudi yang menuruti hawa nafsu memahami ungkapan ini dalam makna harfiah dan berkata: Bagaimana mungkin orang ini memberikan tubuhnya kepada kami untuk kami makan? Ayat 52. Mereka tidak memperhatikan bahwa yang dimaksudkan adalah pengorbanannya yang diberikan sebagai penebus untuk dosa-dosa dunia.”

“Kristus kami juga berkata tentang roti ketika menyelenggarakan perjamuan rahasia: ‘Ini adalah tubuhku,’ dan tentang anggur: ‘Ini adalah darahku,’ Matius pasal 26 ayat 26. Sejak abad kedua belas, orang-orang Katolik Romawi memberikan makna lain yang terbalik dan berbeda untuk ayat-ayat lain dalam kitab-kitab suci dan untuk bukti yang benar, dan mereka menetapkan untuk menghasilkan dari sini pengajaran mereka tentang transubstansiasi, yaitu transformasi roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus yang esensinya ketika seorang imam mengucapkan kata-kata konsekrasi yang disangka-sangka, padahal mungkin tampak bagi semua indera bahwa roti dan anggur tetap pada esensinya dan tidak berubah.”

“Adapun takwil yang benar untuk perkataan Tuhan kami adalah bahwa roti menyerupai tubuhnya dan anggur menyerupai darahnya.”

Pengakuannya jelas tidak ada keraguan di dalamnya. Namun harus diperhatikan pernyataannya “Sejak abad kedua belas sampai seterusnya” karena ia membantah orang-orang Romawi dalam keyakinan transubstansiasi roti dan anggur menjadi tubuh Kristus ‘alaihi assalam dan darahnya dengan kesaksian indra. Dan dia menakwilkan perkataan Kristus ‘alaihi assalam dengan penghapusan mudhaf (penggamit). Walaupun makna lahirnya seperti yang mereka pahami, karena demikianlah: ayat 26 dan 27 dan 28:

“Ketika mereka masih makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecahnya dan memberikannya kepada murid-muridnya dan berkata: ‘Ambillah, makanlah, ini adalah tubuhku.’ Lalu Ia mengambil cawan, bersyukur dan memberikannya kepada mereka dan berkata: ‘Minumlah kamu semua dari padanya, sebab ini adalah darahku, darah perjanjian baru yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa-dosa.'”

Mereka berkata: Kata “ini” menunjukkan esensi dari sesuatu yang hadir secara keseluruhan, dan jika esensi roti tetap ada, maka penggunaan kata ini tidak akan benar. Dan mereka adalah mayoritas umat Kristen di dunia sebelum munculnya aliran Protestan, dan masih banyak dari aliran ini hingga saat ini juga.

Sebagaimana keyakinan ini salah menurut kesaksian indra di mata aliran ini, demikian juga keyakinan Trinitas itu salah. Bahkan jika kita anggap bahwa beberapa pernyataan yang samar-samar menunjuk padanya menurut lahirnya, itu tetap mustahil menurut bukti-bukti yang pasti. Jika mereka berkata: Bukankah kami orang-orang yang berakal? Bagaimana kita dapat mengakuinya jika itu mustahil? Kami katakan: Bukankah orang-orang Romawi juga orang-orang yang berakal seperti Anda, dan dalam jumlah lebih banyak dari Anda hingga saat ini, apalagi pada masa lalu? Lantas bagaimana mereka mengakui dan bersepakat pada sesuatu yang tidak benar di mata Anda dan yang dibuktikan kebohongannya oleh indra juga? Dan itu memang salah dalam kenyataannya juga dengan cara-cara:

Cara Pertama: Gereja Romawi menyatakan bahwa roti saja bertransformasi menjadi tubuh dan darah Kristus dan menjadi Kristus yang sempurna. Maka aku berkata: jika bertransformasi menjadi Kristus yang sempurna, hidup dengan ketuhanannya dan kemanusiaannya yang diambil dari Maryam ‘alaiha assalam, maka pasti ada pada dirinya ciri-ciri tubuh manusia dan ada di dalamnya kulit, tulang, darah dan anggota-anggota lainnya. Namun semua itu tidak ada di dalamnya. Sebaliknya, semua ciri-ciri roti tetap ada sekarang seperti sebelumnya. Jika seseorang melihatnya atau menyentuhnya atau mencicipinya, ia tidak merasakan apa pun selain roti. Jika disimpan, ia mengalami pelapukan yang menimpa roti, bukan pelapukan yang menimpa tubuh manusia. Jadi jika transformasi terbukti, maka itu adalah transformasi Kristus menjadi roti, bukan transformasi roti menjadi Kristus. Jika mereka berkata bahwa Kristus bertransformasi menjadi roti, itu akan lebih sedikit jauh dari ini, meskipun itu juga salah dan bertentangan dengan kejelasan akal.

Cara Kedua: Kehadiran Kristus dengan ketuhanannya di berbagai tempat pada waktu yang sama, meskipun mungkin dalam pandangan mereka, namun ditinjau dari kemanusiaannya tidak mungkin karena dengan pertimbangan ini dia mirip dengan kami sehingga dia lapar, makan, minum, tidur, takut kepada orang-orang Yahudi dan melarikan diri dan semacamnya. Bagaimana mungkin dia terangkali dengan pertimbangan ini dengan satu tubuh di banyak tempat tanpa batas pada waktu yang sama dalam kenyataannya? Dan yang mengherankan adalah bahwa dia tidak pernah ditemukan sebelum naik ke surga dengan pertimbangan ini bahkan di dua tempat, apalagi di tempat-tempat tanpa batas. Demikian juga setelah naik ke surga. Bagaimana dia bisa ada setelah berabad-abad setelah penemuan keyakinan salah ini dengan pertimbangan yang disebutkan itu di tempat-tempat tanpa batas pada waktu yang sama?

Cara Ketiga: Jika kita anggap bahwa jutaan-jutaan imam di dunia menguduskan pada waktu yang sama dan persembahan masing-masing bertransformasi menjadi Kristus yang dilahirkan dari Perawan, maka tidak bisa tidak salah satu: baik setiap Kristus yang baru ini sama dengan yang lain, atau berbeda. Yang kedua salah menurut pandangan mereka, dan yang pertama salah dalam kenyataannya karena materi masing-masing berbeda dengan materi yang lain.

Cara Keempat: Jika roti bertransformasi menjadi Kristus yang sempurna di tangan seorang imam lalu imam ini memecahkan roti ini menjadi banyak potongan dan bagian-bagian kecil, maka tidak bisa tidak salah satu: baik Kristus terputus-putus sesuai jumlah potongan dan bagian-bagian, atau setiap potongan dan bagian juga bertransformasi menjadi Kristus yang sempurna. Pada yang pertama, orang yang mengkonsumsi tidak mengkonsumsi Kristus yang sempurna, dan pada yang kedua dari mana datangnya Kristus-kristus ini karena yang didapatkan dari persembahan hanyalah Kristus yang satu?

Cara Kelima: Jika Perjamuan Tuhan yang dirayakan sebelum penyaliban berselang sedikit adalah persembahan yang sama dengan yang terjadi di kayu salib, maka harus cukup untuk menyelamatkan dunia. Jadi tidak ada kebutuhan untuk disalib di kayu oleh tangan orang-orang Yahudi sekali lagi. Karena Kristus tidak datang ke dunia dalam pandangan mereka kecuali untuk menyelamatkan manusia dengan satu persembahan saja. Dan bagaimana mungkin dia menderita berkali-kali seperti yang ditunjukkan oleh pernyataan akhir Bab Kesembilan dari Surat kepada Orang-Orang Ibrani dengan jelas.

Cara Keenam: Jika apa yang mereka klaim benar, maka orang-orang Kristen harus lebih jahat daripada orang-orang Yahudi karena orang-orang Yahudi hanya menyakitinya satu kali saja lalu berhenti dan tidak memakan dagingnya. Sementara mereka menyakitinya dan menyembelihnya setiap hari di tempat-tempat tanpa batas. Jika pembunuh satu kali adalah kafir dan terkutuk, lantas bagaimana dengan orang-orang yang menyembelihnya berkali-kali tanpa batas dan memakan dagingnya dan meminum darahnya? Kami berlindung kepada Allah dari mereka yang memakan tuhannya mereka dan meminum darahnya sesungguhnya. Jadi jika tuhannya yang lemah dan sengsara tidak luput dari tangan mereka, siapa yang akan luput? Allah jauhkan kami dari wilayah mereka. Betapakah baiknya apa yang telah dikatakan: “Seorang teman yang tidak tahu banyak adalah musuh yang tersebar-sebar,” yang artinya sama dengan ungkapan Arab: “Musuh yang berakal lebih baik daripada teman yang bodoh,” dan terjemahan harfiahnya adalah: “Teman bodoh seperti musuh.”

Cara Ketujuh: Terjadinya dalam Bab Dua Puluh Dua dari Lukas perkataan Kristus dalam Perjamuan Tuhan demikian:

“Lakukanlah ini sebagai peringatan akan aku.”

Jika Perjamuan ini adalah persembahan yang sama, maka tidak benar bahwa ini adalah peringatan karena sesuatu bukan peringatan untuk dirinya sendiri. Orang-orang yang berakal yang akal sehat mereka menghakimi khayalan-khayalan semacam ini dalam hal-hal yang dapat diindera. Jika mereka membayangkan dalam diri Allah atau dalam hal-hal akal, apakah ada yang aneh dari mereka? Namun saya akan mengalihkan pandangan dari ini dan berkata sebagai tanggapan kepada para ulama Protestan: Sebagaimana para pemikir ini berkumpul di dekat Anda pada keyakinan ini yang bertentangan dengan indra dan akal dengan meniru para bapa atau dengan tujuan lain, demikian juga kumpulan mereka dan kumpulan Anda pada keyakinan Trinitas yang bertentangan dengan indra dan bukti-bukti. Dan banyak manusia yang Anda sebut ateis jumlah mereka pada zaman ini lebih banyak dari jumlah aliran Anda bahkan lebih banyak dari aliran Romawi juga, dan mereka adalah orang-orang berakal seperti Anda dan dari kelompok-kelompok Anda dan dari penduduk negeri-negeri Anda dan mereka adalah orang-orang Kristen seperti Anda tetapi mereka meninggalkan madzhab ini karena mengandung hal-hal semacam ini yang mereka olok-olok dengan olok-olok yang tajam, mereka tidak mengolok-olok hal lain sebanding dengannya, seperti yang jelas bagi siapa saja yang telah membaca buku-buku mereka. Dan aliran Unitarian dari aliran-aliran Kristen juga menolaknya, dan orang-orang Muslim, orang-orang Yahudi, nenek moyang dan keturunan mereka memahaminya dari jenis mimpi-mimpi yang kacau.

Perkara Keenam

Pengertian yang kabur terdapat sangat banyak dalam perkataan Kristus ‘alaihi assalam sehingga tidak memahaminya para sahabatnya dan murid-muridnya dalam banyak hal kecuali dia menjelaskannya sendiri. Maka perkataan-perkataan dari perkataan-perkataan yang kabur ini yang dia jelaskan, mereka memahaminya. Adapun yang tidak dia jelaskan, mereka memahami sebagian darinya setelah waktu yang lama dan sebagian tetap tidak jelas bagi mereka hingga akhir kehidupan. Dan ada banyak hal yang serupa dengannya, saya akan puas di sini dengan beberapa di antaranya.

Terjadinya dalam Bab Kedua dari Injil Yohanes percakapan Kristus ‘alaihi assalam dengan orang-orang Yahudi yang sedang mencari mukjizat demikian, ayat 19, 20, 21, dan 22:

“Jawab Yesus: ‘Robohkan bait suci ini, dan dalam tiga hari Aku akan membangunnya kembali.’ Berkata orang-orang Yahudi: ‘Bait suci ini telah dibangun empat puluh enam tahun, dan Engkau akan membangunnya kembali dalam tiga hari?’ Tetapi Ia berbicara tentang bait suci tubuh-Nya. Sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, murid-murid-Nya teringat akan perkataan itu, maka mereka percaya kepada tulisan suci dan kepada perkataan yang telah diucapkan Yesus.”

Di sini murid-muridnya, apalagi orang-orang Yahudi, tidak memahami. Namun murid-muridnya memahami setelah dia bangkit dari orang mati.

Dan Kristus berkata kepada Nikodemus, seorang guru dari orang-orang Yahudi: “Jika seseorang tidak dilahirkan dari atas, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah.” Nikodemus tidak memahami maksudnya, dan berkata: “Bagaimana mungkin seseorang dilahirkan ketika ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan?” Lalu Kristus menjelaskannya sekali lagi, namun dia tetap tidak memahami maksudnya pada kesempatan ini juga, dan berkata: “Bagaimana hal itu mungkin?” Maka Kristus berkata: “Engkau seorang guru Israel dan engkau tidak mengerti hal-hal ini?” Dan kisah ini dijelaskan secara mendetail dalam Bab Ketiga dari Injil Yohanes.

Dan Kristus berkata dalam berbicara kepada orang-orang Yahudi: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. Roti yang akan Kuberikan adalah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk kehidupan dunia.” Lalu orang-orang Yahudi bercekcok satu dengan yang lain, katanya: “Bagaimana mungkin orang ini memberikan daging-Nya kepada kami untuk kami makan?” Maka Kristus berkata kepada mereka: “Jika kamu tidak makan daging Anak Manusia dan tidak minum darah-Nya, kamu tidak memiliki hidup di dalam diri-Mu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia memiliki hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada hari terakhir. Sebab daging-Ku adalah makanan yang sesungguhnya dan darah-Ku adalah minuman yang sesungguhnya. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tetap berada di dalam Aku dan Aku tetap berada di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup telah mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa makan Aku, ia akan hidup oleh Aku.” Maka banyak dari murid-muridnya berkata: “Pengajaran ini keras, siapa yang dapat menerima semuanya?” Lalu banyak dari mereka kembali dan tidak lagi menyertai Yesus. Dan kisah ini dijelaskan secara mendetail dalam Bab Keenam dari Injil Yohanes.

Di sini orang-orang Yahudi tidak memahami perkataan Kristus dan para murid merasa kesulitan dengan hal itu, dan banyak dari mereka murtad.

Dalam pasal kedelapan dari Injil Yohanes disebutkan demikian:

Ayat 21-22: “Yesus berkata kepada mereka: Aku akan pergi, dan kamu akan mencari Aku, dan kamu akan mati dalam dosa kamu; di mana Aku pergi, kamu tidak dapat datang. Lalu kata orang-orang Yahudi: Mungkinkah Dia akan membunuh diri, sehingga Dia berkata: Di mana Aku pergi, kamu tidak dapat datang?”

Ayat 51-52: “Sesungguhnya, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika seorang menjaga firman-Ku, dia tidak akan pernah melihat kematian selamanya. Maka kata orang-orang Yahudi kepada-Nya: Sekarang kami tahu bahwa Engkau memiliki setan. Abraham telah mati, dan para nabi juga, dan Engkau berkata: Jika seorang menjaga firman-Ku, dia tidak akan pernah merasakan kematian selamanya?”

Di sini juga orang-orang Yahudi tidak memahami maksud Yesus Kristus di kedua tempat tersebut, bahkan mereka menuduhnya gila di tempat kedua.

Dalam pasal kesebelas dari Injil Yohanes disebutkan demikian:

Ayat 11-14: “Yesus berkata kepada mereka: Lazarus, sahabat kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi untuk membangunkannya. Maka kata murid-murid-Nya: Tuhan, jika dia telah tertidur, dia akan sembuh. Tetapi Yesus berbicara tentang kematian Lazarus, sementara mereka menganggap Dia berbicara tentang tidur biasa. Maka Yesus berkata kepada mereka dengan terang: Lazarus telah mati.”

Di sini juga murid-murid Nabi Isa bin Maryam tidak memahami perkataan-Nya sampai Dia menyatakannya dengan jelas.

Dalam pasal keenam belas dari Injil Matius disebutkan demikian:

Ayat 6-8: “Yesus berkata kepada mereka: Berhati-hatilah dan waspadalah terhadap ragi orang-orang Farisi dan Saduki. Maka mereka berpikir dalam hati bahwa itu terjadi karena mereka tidak membawa roti. Ketika Yesus mengetahui hal itu, Dia berkata kepada mereka: Mengapa kamu berpikir dalam hati kamu, wahai orang-orang yang kurang percaya? Bukankah kamu belum memahami bahwa Aku tidak berbicara kepada kamu tentang roti?”

Ayat 11-12: “Bagaimana kamu tidak memahami bahwa Aku tidak berbicara kepada kamu tentang roti, tetapi untuk berhati-hati terhadap ragi orang-orang Farisi dan Saduki? Maka mereka memahami bahwa Dia tidak berkata untuk berhati-hati terhadap ragi roti, tetapi terhadap ajaran orang-orang Farisi dan Saduki.”

Di sini juga murid-murid Nabi Isa bin Maryam tidak memahami maksudnya sampai dia memberikan peringatan.

Dalam pasal kedelapan dari Injil Lukas, mengenai anak perempuan yang dihidupkan kembali oleh Nabi Isa bin Maryam dengan izin Allah, disebutkan demikian:

Ayat 52-53: “Semua orang menangis dan meratapi dia. Tetapi Yesus berkata: Jangan menangis; dia tidak mati, tetapi tidur. Mereka menertawakannya, karena mereka tahu bahwa dia telah mati.”

Di sini juga semua orang tidak memahami maksud Nabi Isa bin Maryam, dan itulah mengapa mereka menertawakannya.

Dalam pasal kesembilan dari Injil Lukas, kata-kata Nabi Isa bin Maryam ketika berbicara kepada para murid-Nya, disebutkan demikian:

Ayat 44: “Dengarkan baik-baik apa yang Aku katakan: Anak Manusia akan diserahkan ke tangan manusia.”

Ayat 25: “Tetapi mereka tidak memahami perkataan ini; hal itu tersembunyi dari mereka sehingga mereka tidak mengerti, dan mereka takut untuk bertanya kepada-Nya tentang hal itu.”

Di sini para murid tidak memahami dan tidak berani bertanya kepada-Nya karena takut.

Dalam pasal kedelapan belas dari Injil Lukas disebutkan demikian:

Ayat 31-34: “Lalu Yesus mengambil kedua belas murid dan berkata kepada mereka: Dengarkan, kami akan naik ke Yerusalem, dan semua yang telah ditulis oleh para nabi tentang Anak Manusia akan digenapi. Karena Dia akan diserahkan kepada bangsa-bangsa, dan akan dikejek, dikutuk, dan diludahi. Mereka akan memukul Dia dengan cambuk dan akan membunuh Dia, dan pada hari ketiga Dia akan bangkit.”

Ayat 34: “Tetapi mereka tidak memahami sama sekali dari semua ini; hal itu tersembunyi dari mereka, dan mereka tidak mengerti apa yang dikatakan.”

Di sini juga para murid tidak memahami meskipun ini adalah penjelasan yang kedua kalinya, dan tidak ada kesamaran dalam perkataan-Nya menurut penampakan lahir. Mungkin penyebab ketidakpahaman mereka adalah karena mereka telah mendengar dari orang-orang Yahudi bahwa Nabi Isa bin Maryam akan menjadi penguasa agung. Ketika mereka beriman kepada Isa bin Maryam dan membenarkan keMesiahan-Nya, mereka mengira bahwa Dia akan duduk di kursi kekuasaan, dan mereka juga akan duduk di kursi-kursi kekuasaan, karena Isa bin Maryam telah menjanjikan kepada mereka bahwa mereka akan duduk di atas dua belas kursi, dan setiap seorang dari mereka akan memerintah salah satu suku dari suku-suku Bani Israil. Mereka telah menafsirkan kekuasaan ini sebagai kekuasaan duniawi seperti yang terlihat, dan berita ini bertentangan dengan apa yang mereka sangka dan harapkan, itulah mengapa mereka tidak memahami. Kamu akan segera mengetahui bahwa mereka memang mengharapkan hal tersebut.

Selain itu, dua hal telah mengacaukan pemahaman murid-murid Nabi Isa bin Maryam dari beberapa ajaran Kristen, dan kebingungan ini telah bertahan pada sebagian besar mereka atau semuanya hingga kematian mereka:

(Pertama) Mereka percaya bahwa Yohanes tidak akan mati sampai hari kebangkitan.

(Kedua) Mereka percaya bahwa kebangkitan akan terjadi pada masa mereka, seperti yang telah aku jelaskan secara terperinci dalam pasal pertama.

Hal ini memastikan bahwa kata-kata Nabi Isa bin Maryam itu sendiri tidak terpelihara dalam salah satu Injil, melainkan dalam setiap Injil terdapat terjemahan-Nya dalam bahasa Yunani menurut apa yang dipahami oleh para perawi. Telah dijelaskan secara terperinci dalam kesaksian kedelapan belas dari bagian ketiga pasal kedua bahwa Injil Matius tidak lagi ada melainkan yang tersisa adalah terjemahannya, dan nama penerjemahnya tidak diketahui dengan pasti hingga sekarang. Tidak juga terbukti dengan sanad yang bersambung bahwa kitab-kitab yang tersisa berasal dari orang-orang yang dinisbatkan kepadanya. Telah terbukti dengan pasti bahwa pemalsuan telah terjadi dalam kitab-kitab ini, dan telah terbukti bahwa para pemimpin agama telah memalsu dengan tujuan untuk mendukung suatu masalah yang dapat diterima atau untuk menolak suatu keberatan.

Telah dijelaskan dalam kesaksian ketiga puluh satu dari bagian kedua dengan bukti-bukti yang kuat bahwa pemalsuan mereka dalam masalah ini telah terbukti. Mereka menambahkan dalam pasal kelima dari Surat Pertama Yohanes ungkapan ini: “Di surga, dan mereka bertiga—Bapa, Firman, dan Roh Kudus, dan ketiga ini adalah satu, dan mereka yang bersaksi di bumi.” Mereka juga menambahkan beberapa kata-kata dalam pasal pertama dari Injil Lukas dan menghapus beberapa kata-kata dari pasal pertama dari Injil Matius. Mereka juga menghapus ayat kedelapan dari pasal dua puluh dua dari Injil Lukas.

Dalam keadaan seperti ini, jika ditemukan beberapa ajaran Kristen yang samar-samar yang menunjukkan pada Trinitas, tidak ada ketergantungan padanya, meskipun perkataan-perkataan itu tidak jelas, seperti yang akan anda ketahui dalam poin kedua belas dari pendahuluan.

Bagian Kedua: Prinsip-Prinsip Logika dan Pemahaman

(Prinsip Ketujuh) Akal manusia mungkin tidak dapat memahami mahiyah dan esensi sejumlah hal seperti apa adanya, namun akal masih dapat menghukumi kemungkinan adanya hal-hal tersebut, dan keberadaan sesuatu di dalam akal manusia tidak mengharuskan adanya hal yang mustahil. Oleh karena itu, hal-hal seperti ini dihitung sebagai yang mungkin. Akal dapat menghukumi dengan intuisi atau dengan bukti yang pasti tentang kemustahilan sejumlah hal, dan keberadaan sesuatu di dalam akal manusia mengharuskan adanya hal yang mustahil. Oleh karena itu, hal-hal seperti ini dihitung sebagai yang mustahil. Antara kedua keadaan ini terdapat perbedaan yang jelas.

Dari kategori kedua adalah: (1) berkumpulnya dua kontradiksi yang sesungguhnya dan terpisahnya keduanya, (2) berkumpulnya kesatuan sejati dan kemajemukan sejati dalam satu waktu dari satu segi, (3) berkumpulnya genap dan ganjil, (4) berkumpulnya individu-individu yang berbeda, (5) berkumpulnya hal-hal yang berlawanan seperti cahaya dan kegelapan, hitam dan putih, panas dan dingin, kelembaban dan kekeringan, kebutaan dan penglihatan, diam dan gerakan dalam materi individual dengan kesatuan waktu dan segi. Kemustahilan hal-hal seperti ini bersifat intuitif yang dihukumi oleh akal setiap orang yang berakal. Demikian juga dari kategori kedua adalah: keharusan terjadinya diskusus dan regresi infinit semacamnya. Akal menghukumi kebatalan hal-hal ini dengan bukti-bukti yang pasti.

(Prinsip Kedelapan) Jika dua pernyataan bertentangan, maka keduanya harus dihapuskan jika tidak mungkin ditafsirkan, atau keduanya harus ditafsirkan jika mungkin. Tafsiran harus sedemikian rupa sehingga tidak mengharuskan hal yang mustahil atau kebohongan. Misalnya, ayat-ayat yang menunjukkan jasmaniah dan bentuk bertentangan dengan beberapa ayat yang menunjukkan penyucian Allah, maka ayat-ayat tersebut harus ditafsirkan seperti yang telah dijelaskan dalam prinsip ketiga. Namun tafsiran harus sedemikian rupa sehingga tidak mengatakan bahwa Allah memiliki dua sifat, yakni jasmaniah dan penyucian. Jika akal kita tidak memahami hal ini, maka tafsiran ini sama sekali batil dan wajib ditolak karena tidak menghilangkan kontradiksi.

(Prinsip Kesembilan) Bilangan adalah kategori dari kuantitas dan tidak dapat berdiri sendiri melainkan bergantung pada hal lain. Setiap yang ada harus tunduk pada kesatuan atau kemajemukan. Esensi-esensi yang ada dengan pembedaan sejati yang terspesialisasi dengan spesialisasi mustahil tunduk pada kesatuan sejati, karena jika demikian akan mengharuskan berkumpulnya dua hal yang berlawanan seperti yang telah dijelaskan dalam prinsip ketujuh. Ya, dimungkinkan bahwa esensi-esensi itu tunduk pada kesatuan normatif dengan cara bahwa keseluruhan adalah kemajemukan sejati dan kesatuan normatif.

(Prinsip Kesepuluh) Perselisihan antara kami dan para penganut Trinitas dan Tauhid keduanya sesungguhnya. Jika mereka mengatakan bahwa Trinitas adalah sesungguhnya dan Tauhid adalah normatif, maka tidak ada perselisihan antara kami dan mereka. Namun mereka mengatakan bahwa masing-masing adalah sesungguhnya, seperti yang dinyatakan dengan tegas dalam kitab-kitab para ulama Protestan. Penulis Mizan al-Haq dalam pasal pertama dari kitabnya yang bernama Halli al-Ishkal mengatakan demikian: “Para Kristen membawa Tauhid dan Trinitas keduanya pada pengertian yang sesungguhnya.”

(Prinsip Kesebelas) Para ulama historiografi Mesir seperti Al-Maqrizi dalam kitabnya yang bernama Al-Khitat, dalam menjelaskan perbedaan-perbedaan Kristen yang ada pada zamannya, mengatakan: “Kaum Nasrani memiliki banyak kelompok: Melkani, Nestorius, Ya’qubi, Budhasani, dan Marquli—mereka adalah Rohawi yang tinggal di sekitar Haran, dan selain mereka.” Kemudian dia berkata: “Melkani, Ya’qubi, dan Nestorius semuanya sepakat bahwa yang mereka sembah adalah tiga hypostasis (aqanim), dan ketiga hypostasis ini adalah satu, dan dia adalah substansi yang qadim, yang dimaksudnya adalah Bapa, Anak, dan Roh Kudus—Allah yang satu.” Kemudian dia berkata: “Mereka mengatakan bahwa Anak bersatu dengan manusia yang diciptakan sehingga dia dan apa yang bersatu dengannya menjadi satu Kristus, dan Kristus adalah Allah para hamba dan Tuhan mereka. Kemudian mereka berselisih tentang sifat persatuan, sehingga sebagian dari mereka berpikir bahwa persatuan terjadi antara substansi ilahi dan substansi kemanusiaan, dan persatuan itu tidak mengeluarkan masing-masing dari substansi dan elemennya, dan Kristus adalah Allah yang disembah dan bahwa dia adalah anak Maryam yang mengandungnya dan melahirkannya, dan bahwa dia dibunuh dan disalibkan.”

“Sebagian dari mereka berpikir bahwa Kristus setelah persatuan memiliki dua substansi, satu ilahi dan satu kemanusiaan, dan pembunuhan serta penyaliban terjadi dari sisi kemanusiaan-Nya, bukan dari sisi ilahi-Nya, dan Maryam mengandung Kristus dan melahirkannya dari sisi kemanusiaan-Nya. Ini adalah pendapat Nestorius. Kemudian mereka mengatakan bahwa Kristus dalam kesempurnaannya adalah Allah yang disembah dan dia adalah anak Allah—Tuhan jauh di atas ucapan mereka.”

“Sebagian dari mereka berpikir bahwa persatuan terjadi antara dua substansi, ilahi dan kemanusiaan, sehingga substansi ilahi adalah sederhana, tidak terbagi dan tidak dapat dipecah. Sebagian dari mereka berpikir bahwa persatuan terjadi dengan cara Anak memasuki tubuh dan bercampur dengannya. Di antara mereka ada yang berpikir bahwa persatuan terjadi dengan cara penampakan, seperti penampakan ukiran cincin atau tanda ketika jatuh di tanah liat atau lilin, dan seperti penampakan bayangan manusia di cermin, dan sebagainya dari perbedaan-perbedaan yang tidak ditemukan pada yang lain. Melkani dinisbatkan pada Raja Romawi, dan mereka mengatakan bahwa Allah adalah nama untuk tiga makna, sehingga Dia adalah satu tiga dan tiga satu. Ya’qubi mengatakan bahwa Dia adalah satu qadim, dan Dia tidak memiliki tubuh dan bukan manusia, kemudian Dia berwujud dan menjadi manusia. Marquli mengatakan bahwa Allah adalah satu, pengetahuan-Nya adalah lain, qadim bersama-Nya, dan Kristus adalah anak-Nya dari segi belas kasihan, seperti dikatakan Abraham adalah teman/khalil Allah.” Di sinilah perkataan Al-Maqrizi berakhir.

Jadi telah jelas bagi anda bahwa pandangan-pandangan mereka tentang tanda-tanda persatuan antara hypostasis Anak dan tubuh Kristus sangat berbeda, dan itulah mengapa bukti-bukti yang dikemukakan dalam kitab-kitab Islam kuno berbeda. Kami tidak bersengketa dengan kelompok Marquli tentang doktrin ini kecuali berdasarkan pertimbangan penggunaan kata-kata yang menyesatkan.

Ketika fraksi Protestan melihat bahwa penjelasan tentang hubungan persatuan tidak terlepas dari kerusakan yang jelas, mereka meninggalkan pandangan-pandangan para leluhur mereka, mengakui ketidakmampuan diri mereka sendiri, dan memilih untuk diam tentang penjelasannya dan tentang hubungan antara ketiga hypostasis.

(Prinsip Kedua Belas) Doktrin Trinitas tidak pernah ada dalam salah satu umat pada periode apa pun sejak zaman Adam hingga zaman Musa bin Imran. Dugaan-dugaan para penganut Trinitas dalam mempertahankan beberapa ayat dari Kitab Kejadian tidak dapat diterima terhadap kami karena sebenarnya merupakan pemalsuan makna. Makna berdasarkan pegangan mereka dari jenis makna yang ada dalam perut penyair. Saya tidak mengklaim bahwa mereka tidak berpegang pada dugaan mereka dengan ayat dari kitab tersebut, sebaliknya saya mengklaim bahwa belum terbukti dari teks bahwa doktrin ini ada pada salah satu umat sebelumnya.

Adapun bahwa doktrin ini tidak terbukti dalam Syariah Musiawi dan kaumnya adalah hal yang tidak memerlukan penjelasan, karena siapa pun yang membaca Taurat yang digunakan sekarang tidak akan luput dari hal ini. Yahya bin Zakaria tinggal sampai akhir hayatnya ragu-ragu tentang Isa bin Maryam apakah dia adalah Kristus yang dijanjikan ataukah tidak, seperti yang dinyatakan dengan tegas dalam pasal kesebelas dari Injil Matius bahwa dia mengirim dua dari murid-muridnya dan berkata kepadanya: Apakah Engkau yang akan datang ataukah kami menantikan yang lain? Jika Isa bin Maryam adalah Tuhan, maka perbuatannya adalah kekafiran karena ragu-ragu pada Tuhan adalah kekafiran. Bagaimana mungkin dapat dibayangkan bahwa dia tidak mengenal Tuhannya, dan dia adalah nabi-Nya, bahkan dia adalah sebaik-baik para nabi berdasarkan kesaksian Kristus seperti yang dinyatakan dengan tegas dalam pasal ini?

Jika yang terbaik tidak mengenal meskipun dia hidup sezaman, maka ketidaktahuan para nabi-nabi lain sebelumnya lebih layak untuk dipertimbangkan. Para ulama Yahudi dari zaman Musa bin Imran hingga waktu ini tidak mengakui Trinitas. Jelaslah bahwa esensi Allah dan sifat-sifat kesempurnaannya adalah qadim, tidak berubah, ada sejak azali dan selamanya. Jika Trinitas adalah penting, maka wajib bagi Musa dan para nabi Bani Israil untuk menjelaskannya dengan penjelasan yang sempurna.

Hal yang sangat mengherankan adalah bahwa Syariah Musiawi, yang harus ditaati oleh semua para nabi hingga zaman Isa bin Maryam, kosong dari penjelasan tentang doktrin ini yang, menurut pendapat para penganut Trinitas, adalah pusat keselamatan, dan tidak ada seorang pun yang dapat diselamatkan tanpanya, baik nabi maupun bukan nabi. Namun Musa dan tidak seorang pun dari para nabi Israil menjelaskan doktrin ini dengan penjelasan yang jelas sehingga doktrin ini dapat dipahami dari perkataan mereka secara terang-terangan tanpa meninggalkan keraguan apa pun.

Sebaliknya, Musa bin Imran menjelaskan hukum-hukum yang, menurut pandangan para penganut Trinitas, sangat lemah dan tidak lengkap, dengan penjelasan lengkap, dan dia mengulanginya berkali-kali, dan dia menekankan penjagaannya dengan penekanan yang sangat kuat, dan dia mewajibkan pembunuhan terhadap siapa pun yang meninggalkannya.

Lebih mengherankan lagi bahwa Isa bin Maryam juga tidak menjelaskan doktrin ini hingga naik ke langit dengan penjelasan yang jelas, misalnya dengan mengatakan: Sesungguhnya Allah adalah tiga hypostasis—Bapa, Anak, dan Roh Kudus, dan hypostasis Anak berhubungan dengan tubuhku dengan hubungan tertentu atau dengan hubungan yang pemahamannya berada di luar jangkauan akal kamu, maka ketahuilah bahwa aku adalah Allah tidak ada yang lain, karena hubungan tersebut, atau mengatakan perkataan lain seperti ini yang menyampaikan makna ini secara terang-terangan.

Para penganut Trinitas tidak memiliki dari perkataan-perkataan-Nya selain beberapa perkataan yang samar-samar. Penulis Mizan al-Haq dalam kitabnya yang bernama Miftah al-Asrar mengatakan:

“Jika engkau berkata: Mengapa Kristus tidak menjelaskan keilahian-Nya dengan penjelasan yang lebih jelas dari apa yang dia sebutkan, dan mengapa dia tidak mengatakan dengan tegas dan singkat bahwa aku adalah Allah tidak ada yang lain?”

Dia menjawab pertama dengan jawaban yang tidak dapat diterima yang tidak terkait dengan tujuan kami untuk menyebutkannya di sini. Kemudian dia menjawab yang kedua: “Karena tidak ada seorang pun yang dapat memahami hubungan dan kesatuan ini sebelum dia bangkit dari kematian dan naik ke langit. Jika dia telah mengatakan secara terang-terangan, mereka akan memahami bahwa dia adalah Allah menurut tubuh manusia, dan ini adalah sesuatu yang pasti batil. Jadi pemahaman masalah ini juga termasuk dalam masalah-masalah yang dia katakan kepada murid-muridnya: Aku masih banyak perkara hendak kukatakan kepada kamu, tetapi kamu tidak sanggup menanggungnya sekarang. Akan tetapi apabila Dia, Roh Kebenaran, telah datang, Dia akan membimbing kamu ke dalam segala kebenaran, karena Dia tidak akan berbicara atas kehendak-Nya sendiri, tetapi apa yang Dia dengar akan Dia katakan, dan akan memberitahukan kepada kamu hal-hal yang akan datang.”

Kemudian dia berkata: “Para pemimpin besar umat Yahudi berkali-kali berniat untuk menangkap dia dan merajamnya, padahal dia tidak menjelaskan keilahian-Nya di hadapan mereka kecuali dengan cara kiasan.”

Dari perkataan-perkataan-Nya dapat diketahui dua alasan: (Pertama) ketidakmampuan siapa pun memahami sebelum naik ke langit. (Kedua) ketakutan terhadap orang-orang Yahudi. Keduanya sangat lemah dalam derajat tertinggi.

Adapun yang pertama, sungguh jumlah ini cukup untuk menolak keraguan: hubungan persatuan yang ada antara tubuhku dan hypostasis Anak, pemahaman-Nya berada di luar kemampuan kamu, jadi tinggalkan penelitian tentangnya dan percayalah bahwa aku bukan Allah dilihat dari tubuh, tetapi dari hubungan persatuan yang disebutkan. Tetapi ketidakmampuan itu sendiri untuk memahaminya tetap ada bahkan setelah naik ke langit, sehingga tidak ada seorang ulama pun sampai sekarang yang mengetahui bagaimana hubungan dan kesatuan ini, dan siapa pun yang mengatakan apa pun, ucapannya adalah tembakan di kegelapan yang tidak terlepas dari kerugian besar, dan itulah mengapa para ulama fraksi Protestan sepenuhnya meninggalkan penjelasannya. Pastor ini sendiri mengakui di beberapa tempat dalam tulisan-tulisannya bahwa hal ini adalah dari hal-hal rahasia yang berada di luar jangkauan akal, dan itulah mengapa mereka meninggalkan penjelasannya sama sekali.

Adapun yang kedua, karena Isa bin Maryam tidak datang kepada mereka kecuali agar menjadi pendamaian untuk dosa-dosa makhluk dan agar disalibkan oleh orang-orang Yahudi, dan dia mengetahui dengan pasti bahwa mereka akan menyalibnya dan kapan mereka akan menyalibnya. Jadi di manakah tempat ketakutan terhadap orang-orang Yahudi dalam menjelaskan doktrin? Hal yang sangat mengherankan adalah bahwa Pencipta bumi dan langit dan yang Kuasa atas segala sesuatu takut terhadap hamba-hamba-Nya yang merupakan orang-orang paling hina di dunia, dan karena ketakutan mereka tidak menjelaskan doktrin yang merupakan pusat keselamatan.

Pengabdi-pengabdi Allah dari kalangan para nabi seperti Nabi Yeremia, Nabi Yesaya, dan Nabi Yahya semoga salam kepada mereka semuanya tidak takut kepada mereka dalam menyampaikan kebenaran dan mereka ditindas dengan penindasan yang sangat berat serta ada beberapa di antara mereka yang dibunuh. Lebih mengherankan lagi bahwa Nabi Isa semoga salam kepada Anda takut kepada mereka dalam menyampaikan masalah besar ini, dan beliau menandaskan amar makruf dan nahi munkar dengan sangat keras sampai mencapai tingkat cercaan. Beliau menyapa para penulis Taurat dan orang-orang Farisi secara langsung dengan perkataan-perkataan ini: “Celakalah kalian wahai para penulis Taurat dan orang-orang Farisi yang munafik, celakalah kalian wahai para pemimpin yang buta dan wahai orang-orang yang bodoh buta, wahai orang Farisi yang buta, wahai ular-ular dan viper bagaimana kalian melarikan diri dari penghakiman Jahannam,” dan beliau menampakkan keburukan-keburukan mereka di hadapan banyak saksi, sampai-sampai beberapa di antara mereka mengeluh bahwa engkau memaki kami sebagaimana tersurat dalam Bab Dua Puluh Tiga dari Injil Matius dan Bab Sebelas dari Injil Lukas. Contoh-contoh seperti ini juga disebutkan di tempat-tempat lain dalam Injil. Maka bagaimana mungkin diperkirakan bahwa Nabi Isa semoga salam kepada Anda meninggalkan penjelasan akidah yang merupakan poros keselamatan karena takut kepada mereka? Sama sekali tidak, sekali lagi tidak mungkin keadaannya demikian.

Dari perkataannya diketahui bahwa Nabi Isa semoga salam kepada Anda tidak pernah menjelaskan masalah ini di kalangan orang-orang Yahudi kecuali melalui cara kiasan saja, dan sesungguhnya mereka menolak akidah ini dengan penolakan yang paling keras sampai-sampai mereka bermaksud merajamnya berkali-kali karena penjelasan kiasannya tersebut.

Bab Pertama: Pembatalan Trinitas dengan Dalil-Dalil Akal

Dalil Pertama

Karena trinitas dan tauhid adalah realitas sejati menurut umat Kristen berdasarkan kaidah kesepuluh dari pendahuluan, maka apabila trinitas sejati itu ada, pastilah keluarbiasaan (kemultiplan) sejati juga harus ada berdasarkan kaidah kesembilan dari pendahuluan. Tidak mungkin setelah terbuktinya keluarbiasaan itu untuk menetapkan tauhid sejati. Jika demikian, akan mengakibatkan terkumpulnya dua sifat yang bertentangan secara sejati berdasarkan kaidah ketujuh dari pendahuluan, dan hal ini mustahil. Maka sebagai akibatnya, terjadi keluarbiasaan pada wajib dan terabaikannya tauhid dengan pasti. Oleh karena itu, orang yang mengatakan trinitas tidak mungkin menjadi penganut tauhid sejati kepada Allah Yang Maha Tinggi.

Pendapat yang menyatakan bahwa trinitas sejati dan tauhid sejati, walaupun keduanya bertentangan sejati dalam selain yang wajib, namun keduanya tidak demikian itu, mengandung sofisme murni. Sebab apabila telah terbukti bahwa dua hal menurut diri mereka sendiri adalah bertentangan sejati atau saling negasi dalam realitas, maka tidak mungkin keduanya berkumpul dalam satu hal individual dalam satu waktu dari satu aspek, baik hal itu wajib maupun bukan wajib. Apalagi sesungguhnya yang satu sejati tidak memiliki sepertiga yang benar, sementara yang tiga memiliki sepertiga yang benar, yakni satu. Yang tiga adalah kumpulan dari tiga unit, dan yang satu sejati bukanlah kumpulan dari unit-unit apapun.

Sesungguhnya yang satu sejati adalah bagian dari yang tiga. Jika keduanya berkumpul dalam satu tempat, maka akan mengakibatkan bagian menjadi keseluruhan dan keseluruhan menjadi bagian. Berkumpulnya ini mengakibatkan Allah terdiri dari bagian-bagian yang tidak terbatas secara aktual karena kesatuan sejati antara keseluruhan dan bagian dalam kondisi ini. Keseluruhan tersusun, maka setiap bagian dari bagian-bagiannya juga tersusun dari bagian-bagian yang merupakan hakikat bagian ini dan seterusnya. Bahwa sesuatu tersusun dari bagian-bagian yang tidak terbatas secara aktual adalah perkara yang salah dengan pasti. Berkumpulnya ini juga mengakibatkan yang satu menjadi sepertiga dari dirinya sendiri dan yang tiga menjadi tiga kali lipat dari dirinya sendiri, dan yang satu adalah tiga kali lipat dari yang tiga.

Dalil Kedua

Jika terdapat dalam dzat Allah tiga hipokstasis (qanun) yang terbedakan dengan perbedaan sejati sebagaimana mereka katakan, maka dengan mengabaikan pemikiran tentang keluarbiasaan pada yang wajib, akan mengakibatkan Allah bukan realitas yang terperhitungkan melainkan komposisi konvensional. Sebab komposisi sejati harus terdapat saling ketergantungan antara bagian-bagiannya. Misalnya, batu yang diletakkan di samping manusia tidak menghasilkan kesatuan dari keduanya. Tidak ada saling ketergantungan antara yang-wajib-ada, karena itu adalah karakteristik dari yang-mungkin-ada. Yang wajib tidak bergantung pada yang lain. Setiap bagian terpisah dari yang lain dan berbeda darinya walaupun termasuk dalam totalitas. Jika sebagian dari bagian-bagian tidak bergantung pada bagian lain, maka dari bagian-bagian itu tidak terbentuk dzat yang satu. Selain itu, dalam kondisi yang disebutkan, Allah adalah tersusun, dan setiap yang tersusun bergantung dalam terealisasinya pada terealisasinya setiap satu dari bagian-bagiannya. Bagian berbeda dari keseluruhan dengan jelas, maka setiap yang tersusun bergantung pada yang lain. Setiap yang bergantung pada yang lain adalah mungkin menurut diri sendiri. Maka akan mengakibatkan Allah adalah mungkin menurut diri sendiri. Ini adalah perkara yang salah.

Dalil Ketiga

Jika terbukti perbedaan sejati antara hipokstasis-hipokstasis, maka hal yang dengannya perbedaan ini terjadi, baik hal itu adalah dari sifat-sifat kesempurnaan atau bukan. Pada pandangan pertama, tidak semua sifat kesempurnaan adalah sesuatu yang bersama di antara mereka. Ini bertentangan dengan apa yang telah ditetapkan di kalangan mereka bahwa setiap hipokstasis dari hipokstasis-hipokstasis ini mempunyai semua sifat kesempurnaan. Pada pandangan kedua, yang bersifat dengannya memiliki sifat yang bukan dari sifat-sifat kesempurnaan. Ini adalah kekurangan yang Allah harus dinihilkan darinya.

Dalil Keempat

Bersatunya antara substansi ilahi dan substansi kemanusiaan, jika bersatu secara sejati, maka hipokstasis Putra akan terbatas dan berhingga. Setiap yang demikian, menerima pertambahan dan pengurangan adalah mungkin baginya. Setiap yang demikian, kekhususannya pada ukuran yang tertentu memerlukan penentu dan pengukur. Setiap yang demikian adalah ciptaan. Maka akan mengakibatkan hipokstasis Putra adalah ciptaan. Ketercipta-annya mengakibatkan ketercipta-an Allah.

Dalil Kelima

Jika ketiga hipokstasis terbedakan dengan perbedaan sejati, maka harus ada perbeda yang bukan kewajiban dzat, karena kewajiban dzat adalah sesuatu yang bersama di antara mereka. Apa yang dengannya ada kebersamaan berbeda dari apa yang dengannya ada perbedaan. Maka setiap satu dari mereka tersusun dari dua bagian. Setiap yang tersusun adalah mungkin menurut diri sendiri. Maka akan mengakibatkan setiap satu dari mereka adalah mungkin menurut diri sendiri.

Dalil Keenam

Ajaran golongan Yakubiyah adalah salah terang-terangan karena mengakibatkan perubahan yang kuno menjadi yang baru dan yang immaterial menjadi material. Adapun ajaran golongan lain, dikatakan dalam pembatalannya: bahwa persatuan ini adalah dengan wujud atau bukan. Jika yang pertama, maka ia salah dari tiga segi sesuai dengan jumlah trinitas.

Pertama, karena persatuan itu tidak terlepas dari adalah seperti persatuan air mawar dalam bunga dan minyak dalam wijen dan api dalam arang. Ini salah karena ini hanya benar jika hipokstasis Putra adalah badan, dan mereka menyetujui dengan kami bahwa ia bukan badan. Atau mungkin seperti hadirnya warna pada badan. Ini juga salah karena pengertian dari ketergantungan ini adalah hadirnya warna pada ruang karena hadirnya tempatnya di ruang ini. Ini juga hanya terbayangkan pada badan-badan. Atau mungkin seperti hadirnya sifat-sifat relatif pada dzat-dzat. Ini juga salah karena pengertian dari ketergantungan ini adalah ketergantungan. Jika terbukti persatuan hipokstasis Putra dengan makna ini dalam sesuatu, maka ia bergantung maka ia mungkin dan bergantung pada penyebab. Itu mustahil. Jika terbukti kebatilan dari semua penjelasan, maka mustahil membuktikannya.

Kedua, karena jika kita abaikan makna persatuan kita katakan: jika hipokstasis Putra persatu dalam badan, maka persatuan itu adalah atas dasar keharusan atau atas dasar kemungkinan. Tidak ada jalan menuju yang pertama karena dzatnya adalah cukup dalam menuntut persatuan ini atau tidak cukup dalam hal itu. Jika yang pertama, mustahil menunggu penuntutan itu pada hadirnya syarat. Maka akan mengakibatkan baik ketercipta-an Allah atau qidam al-mehall (keabadian tempat), dan keduanya salah. Jika yang kedua, maka menjadi penuntut persatuan itu adalah sesuatu yang bertambah pada dzatnya yang baru terjadi. Maka dari ketercipta-an persatuan mengakibatkan terjadinya sesuatu dalam dirinya, maka ia menerima kejadian. Itu mustahil karena jika demikian maka penerimaan itu adalah dari luzum dzatnya, dan telah hadir sejak azali. Itu mustahil karena kehadiran kejadian pada azali adalah mustahil. Tidak ada jalan menuju yang kedua. Pada kondisi ini persatuan itu adalah bertambah pada dzat hipokstasis, maka jika persatu dalam badan pastilah persatu dalam dirinya sifat yang tercipta, dan persatuan-nya mengakibatkan menerima kejadian. Itu salah sebagaimana kamu tahu.

Ketiga, karena jika hipokstasis Putra persatu dalam badan Nabi Isa semoga salam kepada Anda, maka tidak terlepas dari baik tetap dalam dzat Allah juga atau tidak. Jika yang pertama, mengakibatkan yang persatu secara individual ada di dua tempat. Jika yang kedua, mengakibatkan dzat Allah kosong darinya, maka ia hilang. Karena hilangnya bagian mengakibatkan hilangnya keseluruhan. Jika persatuan itu tanpa persatuan wujud, kita katakan: jika hipokstasis Putra persatu dengan Nabi Isa semoga salam kepada Anda, maka keduanya pada saat persatuan, jika keduanya ada maka mereka adalah dua bukan satu, maka tidak ada persatuan. Jika keduanya tidak ada dan yang ketiga terjadi, maka itu juga bukan persatuan melainkan ketiadaan dua hal dan hadirnya hal ketiga. Jika yang satu tetap dan yang lain tidak ada, maka yang tidak ada mustahil persatu dengan yang ada karena mustahil dikatakan yang tidak ada dengan pribadi yang sama adalah yang ada.

Maka jelas bahwa persatuan adalah mustahil. Barangsiapa yang mengatakan persatuan itu atas dasar penampakan seperti penampakan tulisan cincin ketika jatuh pada tanah liat atau lilin atau seperti penampakan wajah manusia dalam cermin, maka ucapannya tidak membuktikan persatuan sejati melainkan membuktikan perbedaan. Sebab seperti tulisan cincin yang tampak pada tanah liat atau lilin berbeda dari cincin dan wajah manusia dalam cermin berbeda dari manusia, demikian juga hipokstasis Putra berbeda dari Nabi Isa semoga salam kepada Anda. Bahkan sejauh-jauhnya apa yang wajib adalah bahwa penampakan kesan sifat hipokstasis di dalamnya lebih banyak daripada penampakan-nya pada yang lain, seperti penampakan pengaruh sinar matahari di Badakhshan pada beberapa batu yang darinya terjadi batu mulia yang dikenal lebih banyak daripada pengaruhnya pada batu-batu yang bukan batu-batu itu.

Dan betapa indahnya apa yang dikatakan:

Mustahil tidak tertandingi oleh mustahil lain Dan perkataan dalam kenyataan tidak diucapkan Dan pikiran yang salah dan cerita bohong Terbuka dari mereka dan asalnya adalah fantasi Allah lebih tinggi dari apa yang mereka katakan itu adalah kufur Dan dosa pada akibatnya tidak dikatakan.

Dalil Ketujuh

Golongan Protestan membantah golongan Katolik tentang kemustahilan berubahnya roti menjadi Nabi Isa semoga salam kepada Anda dalam perjamuan suci dengan kesaksian indera dan menghina-hinanya. Sanggahan dan penghinaan ini kembali kepada keduanya juga karena orang yang melihat Nabi Isa semoga salam kepada Anda tidak melihat darinya melainkan satu pribadi manusia saja. Mendustakan indera yang paling jujur, yaitu penglihatan, membuka pintu sofisme dalam hal-hal yang pasti. Maka mengatakan dengannya adalah salah seperti mengatakan perubahan. Orang-orang bodoh dari golongan-golongan Kristen dari mana pun golongan penganut trinitas mereka berasal telah sesat dalam akidah ini dengan sesat yang nyata. Mereka tidak membedakan antara substansi ilahi dan substansi kemanusiaan sebagaimana para ulama mereka membedakannya menurut lahir. Tetapi mereka berpercaya pada keilahian Nabi Isa semoga salam kepada Anda menurut substansi kemanusiaan dan mereka sangat keliru.

Dilaporkan bahwa tiga orang masuk Kristen dan seorang romo mengajarkan kepada mereka akidah-akidah yang penting terutama akidah trinitas. Mereka dalam melayani romo itu. Datanglah seorang pecinta dari para pecinta romo ini dan bertanya kepadanya tentang siapa yang masuk Kristen? Dia berkata: tiga orang masuk Kristen. Pecinta ini bertanya: Apakah mereka mempelajari sesuatu dari akidah-akidah penting? Dia menjawab: Ya. Pecinta ini meminta salah satu dari mereka untuk dilihat. Dia bertanya kepadanya tentang akidah trinitas. Dia menjawab: Engkau mengajarkan kepadaku bahwa Allah itu tiga, yang satu adalah di langit, yang kedua lahir dari perut Maryam yang suci, dan yang ketiga adalah yang turun dalam bentuk merpati kepada Allah yang kedua setelah menjadi anak berusia tiga puluh tahun. Romo itu marah dan mengusirnya. Dia berkata: Ini adalah orang yang tidak tahu. Kemudian dia meminta yang kedua dari mereka dan bertanya kepadanya. Dia berkata: Engkau mengajarkan kepadaku bahwa Allah itu tiga dan yang satu dari mereka disalib, maka yang tinggal adalah dua Allah. Romo itu juga marah kepadanya dan mengusirnya. Kemudian dia meminta yang ketiga dan dia adalah orang yang cerdas dibanding yang pertama dan yang kedua dan rajin dalam menjaga akidah-akidah. Dia bertanya kepadanya. Dia berkata: Wahai tuan aku telah menjaga apa yang engkau ajarkan kepadaku dengan baik dan memahaminya dengan pemahaman yang sempurna dengan rahmat Tuhan Nabi Isa semoga salam kepada Anda bahwa yang satu adalah tiga dan yang tiga adalah satu dan yang satu dari mereka disalib dan mati maka yang semua mati karena persatuan, dan tidak ada Allah sekarang jika tidak akan mengakibatkan penolakan persatuan.

Saya katakan: tidak ada kekurangan bagi mereka yang ditanya sebab akidah ini membuat orang-orang bodoh keliru demikian dan membuat para ulama mereka bingung. Mereka mengakui: Kami berakidah tetapi kami tidak memahami. Mereka tidak mampu membayangkan dan menjelaskannya. Oleh karena itu Fakhruddin al-Razi mengatakan dalam tafsirnya di bawah tafsir surah an-Nisa: “Ketahuilah bahwa ajaran orang-orang Nasrani sangat tidak jelas.” Kemudian dia berkata: “Kami tidak melihat ajaran di dunia yang lebih lemah dan jauh dari akal daripada ajaran orang-orang Nasrani.” Dan dia berkata dalam tafsir surah al-Maidah: “Dan kami tidak melihat di dunia perkataan yang lebih rusak dan lebih jelas kebatalannya daripada perkataan orang-orang Nasrani.” Jika kamu telah mengetahui dengan dalil-dalil akal yang pasti bahwa trinitas sejati adalah mustahil dalam dzat Allah, maka jika terdapat perkataan dari perkataan-perkataan Kristen yang menunjukkan menurut lahirnya trinitas, maka wajib melakukan takwil terhadapnya. Karena ia tidak terlepas dari baik kami bekerja berdasarkan penunjukan dalil-dalil dan penunjukan perkataan bersama-sama. Atau kami meninggalkan keduanya. Atau kami mengutamakan periwayatan atas akal. Atau kami mengutamakan akal atas periwayatan. Yang pertama adalah salah dengan pasti dan tidak mengakibatkan sesuatu itu mustahil dan tidak mustahil dalam realitas. Yang kedua juga mustahil. Jika demikian akan mengakibatkan terangkatnya dua saling negasi. Yang ketiga juga tidak diperbolehkan karena akal adalah asas dari periwayatan. Terbuktinya periwayatan tergantung pada kehadiran Sang Pencipta dan ilmunya dan kuasanya dan menjadi dia pengutus para rasul. Terbuktinya mereka dengan dalil-dalil akal. Maka mencela akal adalah mencela akal dan periwayatan bersama-sama. Maka tidak tersisa melainkan kami memastikan kebenaran akal dan sibuk melakukan takwil atas periwayatan. Takwil di kalangan Ahli Kitab bukanlah jarang atau sedikit sebagaimana kamu telah tahu dari perkara ketiga dari pendahuluan bahwa mereka melakukan takwil atas ayat-ayat yang tidak terhitung yang menunjukkan kebendaan Allah dan bentuknya karena dua ayat yang isi-nya sesuai dengan dalil akal. Dan demikian mereka melakukan takwil atas ayat-ayat banyak yang tidak terhitung yang menunjukkan tempat bagi Allah Yang Maha Tinggi karena ayat-ayat sedikit yang sesuai dengan dalil. Dan kamu telah tahu dalam perkara keempat dan kelima juga hal yang sama dijelaskan. Tetapi mengherankan adalah para ahli akal dari golongan Katolik dan mereka yang mengikuti mereka bahwa sekali-kali mereka membatalkan hukum indera dan akal bersama-sama. Mereka menghukumkan bahwa roti dan anggur yang tercipta di depan mata kami setelah masa lebih dari seribu delapan ratus tahun dari naik-nya Nabi Isa semoga salam kepada Anda dalam perjamuan suci berubah menjadi daging dan darahnya secara sejati. Maka mereka menyembahnya dan sujud kepadanya. Dan sekali-kali mereka membatalkan hukum akal dan kejelasan dan melempar dalil-dalil akal ke belakang. Mereka mengatakan: Trinitas sejati dan tauhid sejati mungkin berkumpul dalam satu hal individual dalam satu waktu dari satu aspek. Mengherankan adalah golongan Protestan karena mereka membantah mereka dalam yang pertama bukan pada yang kedua.

Jika bekerja berdasarkan lahir periwayatan adalah penting walaupun bertentangan dengan indera dan akal, maka yang adil adalah golongan Katolik lebih baik dari golongan mereka karena mereka berlaku ekstrem dalam mematuhi lahir perkataan Nabi Isa semoga salam kepada Anda sehingga mereka mengakui keilahian apa yang tertampar pada indera dan kejelasan. Dan seperti orang-orang penganut trinitas berlaku ekstrem dalam hal Nabi Isa semoga salam kepada Anda dan membawanya ke tingkat keilahian, demikian mereka melangkau dalam hal-nya dan hal para ayahnya. Mereka berpercaya bahwa ia dikutuk dan setelah mati ia turun ke Jahannam dan tinggal di sana tiga hari sebagaimana akan kamu ketahui. Dan bahwa Nabi Daud semoga salam kepada Anda dan Nabi Sulaiman semoga salam kepada Anda dan demikian juga ayah-ayah lain Nabi Isa semoga salam kepada Anda dari anak-anak Fares yang dilahirkan Tamar dengan cara zina dari Yahuda. Dan bahwa Nabi Daud semoga salam kepada Anda berzina dengan istri Uriah dan bahwa Nabi Sulaiman semoga salam kepada Anda murtad pada akhir umurnya sebagaimana telah diketahui.

Ada satu di antara arus para ulama Kristen. Dia telah memperoleh beberapa ilmu-ilmu Islam. Dia menerjemahkan Al-Quran al-Majid dengan bahasanya dan terjemahannya diterima oleh orang-orang Kristen. Dia berpesan kepada bangsanya dalam beberapa hal. Saya mengambil pesannya dari terjemahannya yang dicetak pada tahun 1836 masehi:

Pertama: “Jangan ada pemaksaan dari kalian terhadap orang-orang Muslim.”

Kedua: “Jangan ajarkan kepada mereka masalah-masalah yang bertentangan dengan akal, karena mereka bukanlah orang-orang bodoh yang dapat kami kuasai dalam masalah-masalah ini seperti pemujaan berhala dan perjamuan suci, karena mereka sering tersandung oleh masalah-masalah ini. Dan setiap gereja di dalamnya masalah-masalah ini tidak dapat menarik mereka kepada dirinya sendiri.”

Maka perhatikanlah bagaimana dia berpesan dan menunjukkan bahwa hal seperti pemujaan berhala dan masalah perjamuan suci bertentangan dengan akal.

Yang adil adalah sesungguhnya ahli masalah-masalah ini adalah kaum musyrik dengan pasti. Semoga Allah membimbing mereka ke jalan yang lurus.

Bab Kedua: Pembatalan Konsep Tiga Tuhan Melalui Perkataan Isa Alaihi Assalam

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

(Perkataan Pertama):

Dalam ayat ketiga dari pasal ketujuh belas Injil Yohanes, Isa alaihi assalam berdoa kepada Allah dengan berkata: “Dan inilah hidup yang kekal, bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utusan.” Dengan demikian Isa alaihi assalam menjelaskan bahwa hidup yang kekal merupakan pengetahuan manusia bahwa Allah adalah Satu-satunya, yang benar-benar Tuhan, dan bahwa Isa alaihi assalam adalah utusan-Nya. Dia tidak mengatakan bahwa hidup yang kekal adalah mengetahui bahwa zat-Nya terdiri dari tiga wujud yang berbeda secara nyata, atau bahwa Isa adalah manusia dan Allah, atau bahwa Isa adalah Allah dalam bentuk jasmani. Karena perkataan ini dalam bentuk doa kepada Allah, tidak ada alasan untuk takut terhadap orang-orang Yahudi. Seandainya iman terhadap konsep tiga tuhan merupakan dasar keselamatan, tentu Isa alaihi assalam akan menjelaskannya. Terbukti bahwa hidup yang kekal adalah iman kepada Keesaan Allah yang sejati dan iman terhadap kerasulan Isa, maka lawannya adalah kematian yang kekal dan kesesatan yang jelas. Keesaan yang sejati adalah lawan dari konsep tiga tuhan yang sejati, sebagaimana telah dijelaskan secara rinci dalam Bab Pertama. Adapun kenyataan bahwa Isa adalah utusan berlawanan dengan kenyataan bahwa Isa adalah Allah, karena perbedaan antara yang mengutus dan yang diutus adalah hal yang diperlukan. Hidup yang kekal ini dimiliki oleh umat Islam berkat rahmat Allah. Adapun selain mereka, kaum Majusi dan musyrik dari India dan Tiongkok tidak memilikinya karena absennya kedua iman tersebut pada mereka. Pengikut konsep tiga tuhan dari kalangan Kristen tidak memilikinya karena absennya iman yang pertama. Seluruh orang-orang Yahudi tidak memilikinya karena absennya iman yang kedua.

(Perkataan Kedua):

Dalam pasal dua belas Injil Markus, pada ayat 28: “Kemudian datanglah seorang ahli Taurat dan mendengarkan mereka berdebat. Dia melihat bahwa Yesus menjawab mereka dengan baik, lalu bertanya kepada-Nya: Hukum mana yang paling utama?” Ayat 29: “Yesus menjawab: Hukum yang paling utama ialah: Dengarlah, hai Israel, Tuhan Allah kita ialah Tuhan yang esa.” Ayat 30: “Engkau harus mengasihi Tuhan, Allahmu, sepenuh hati, sepenuh jiwa, sepenuh akal budi, dan sepenuh kekuatan. Itulah hukum yang terutama.” Ayat 31: “Dan hukum yang kedua ialah: Engkau harus mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih besar dari pada kedua hukum itu.” Ayat 32: “Lalu kata ahli Taurat itu kepada-Nya: Benar, Guru, Engkau telah mengatakan dengan tepat bahwa Allah esa dan tidak ada yang lain selain Dia.” Ayat 33: “Dan mengasihi-Nya dengan sepenuh hati, sepenuh akal budi, dan sepenuh hati, serta mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri adalah lebih penting dari pada segala korban bakaran dan persembahan.” Ayat 34: “Ketika Yesus melihat bahwa jawaban orang itu bijaksana, Dia berkata kepadanya: Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah.”

Dalam pasal dua puluh dua Injil Matius, dalam perkataan Isa alaihi assalam setelah menjelaskan kedua hukum tersebut, disebutkan: “Pada kedua hukum inilah bergantung seluruh Taurat dan para nabi.” Dengan demikian jelas bahwa hukum pertama yang dinyatakan secara tegas dalam Taurat dan dalam semua kitab-kitab para nabi, dan yang merupakan kebenaran dan penyebab keselamatan, adalah iman bahwa Allah esa dan tidak ada tuhan selain Dia. Seandainya iman terhadap konsep tiga tuhan merupakan dasar keselamatan, tentu saja akan dijelaskan dalam Taurat dan semua kitab-kitab para nabi, karena ini adalah hukum pertama. Isa alaihi assalam akan mengatakan: Hukum pertama adalah Tuhan esa yang memiliki tiga wujud yang berbeda secara nyata. Namun hal ini tidak dijelaskan secara tegas dalam satu pun dari kitab-kitab para nabi, dan Isa alaihi assalam tidak mengatakannya demikian. Oleh karena itu, konsep tiga tuhan bukanlah dasar keselamatan.

Terbukti bahwa dasar keselamatan adalah iman kepada Keesaan Allah yang sejati, bukan iman terhadap konsep tiga tuhan. Kerancuan pemikiran para penyangkal dengan berusaha mengambil konsep tiga tuhan dari beberapa kitab para nabi tidak dapat diterima oleh lawan mereka, karena pengambilan ini sangat tersembunyi dan ditolak oleh pernyataan tekstual. Argumen lawan mereka adalah: Seandainya iman terhadap konsep tiga tuhan memiliki peran dalam keselamatan, tentu saja para nabi Israel akan menjelaskannya dengan cara yang sangat jelas, sebagaimana mereka menjelaskan Keesaan Allah.

Dalam pasal keempat dari Kitab Ulangan, ayat 35: “Ketahuilah pada hari itu, dan ingatlah selamanya, bahwa Tuhanlah Allah di atas langit dan di bawah bumi; tidak ada yang lain.” Ayat 39: “Ketahuilah hari ini dan ingatlah dalam hatimu, bahwa Tuhanlah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah; tidak ada yang lain.”

Dalam pasal keenam dari Kitab yang sama, ayat 4: “Dengarlah, hai Israel, Tuhan Allah kita ialah Tuhan yang esa.” Ayat 5: “Engkau harus mengasihi Tuhan, Allahmu, dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa, dan segenap kekuatanmu.”

Dalam pasal empat puluh lima dari Kitab Yesaya, ayat 5: “Akulah Tuhan, dan tidak ada yang lain; tidak ada tuhan selain Aku. Aku telah melengkapi engkau, padahal engkau belum mengenal Aku.” Ayat 6: “Supaya orang-orang dari timur dan dari barat ketahui, bahwa tidak ada selain Aku. Akulah Tuhan, dan tidak ada yang lain.” Keharusan adalah bahwa orang-orang dari timur dan barat harus mengetahui bahwa tidak ada tuhan melainkan Allah semata, bukan bahwa Allah adalah ketiga dari tiga.

Dalam ayat kesembilan dari pasal empat puluh enam dari Kitab Yesaya, ayat 2: “Sesungguhnya Aku adalah Allah, dan tidak ada tuhan yang lain selain Aku, dan tidak ada yang sama seperti Aku.”

(Perhatian): Penerjemah Injil berbahasa Arab yang diterbitkan tahun 1811 M telah mengubah perkataan Isa alaihi assalam dengan mengganti kata ganti orang pertama dengan kata ganti orang kedua, dan menerjemahkannya demikian: “Tuhan Allahmu adalah Allah yang esa.” Dengan perubahan ini dia telah menghilangkan maksud terbesar, karena kata ganti orang pertama di sini menunjukkan bahwa Isa bukanlah Tuhan, tetapi seorang hamba yang dituhan-kan, yang berbeda dengan kata ganti orang kedua. Tampaknya perubahan ini disengaja.

(Perkataan Ketiga):

Dalam ayat tiga puluh dua dari pasal tiga belas Injil Markus, perkataan Isa alaihi assalam demikian: “Tetapi tentang hari dan jam itu, tidak seorang pun yang tahu, bahkan malaikat-malaikat di sorga dan Anak pun tidak tahu, hanya Bapa saja.” Perkataan ini dengan jelas menentang konsep tiga tuhan, karena Isa alaihi assalam membatasi pengetahuan tentang hari kebangkitan hanya kepada Allah dan menolaknya dari diri-Nya sendiri, sebagaimana Dia menolaknya dari hamba-hamba Allah lainnya, dan menyamakan diri-Nya dengan mereka dalam hal ini. Ini tidak mungkin terjadi jika Dia adalah Allah, terutama jika kita mempertimbangkan bahwa Kata dan wujud Anak adalah ungkapan dari pengetahuan Allah, dan kita mengasumsikan bahwa keduanya bersatu dalam Isa dan menerima persatuan ini menurut pandangan kaum yang mengatakan “hulul” (manifestasi) atau menurut pandangan kaum Yakobite yang mengatakan “inkisar” (transformasi), maka hal ini mengharuskan sebaliknya, atau setidak-tidaknya Anak harus mengetahui sebagaimana Bapa mengetahui. Karena pengetahuan bukanlah sifat tubuh, maka alasan biasa mereka tidak berlaku, yaitu bahwa Dia menolaknya dari diri-Nya berdasarkan keadaan tubuh-Nya. Dengan demikian terbukti bahwa Dia bukan Allah, baik berdasarkan keadaan tubuh maupun hal lainnya.

(Perkataan Keempat):

Dalam pasal dua puluh Injil Matius: Ayat 20: “Datanglah ibu dari kedua anak Zebedeus kepada Yesus dengan anak-anaknya dan sujud menyembah, meminta sesuatu kepada-Nya.” Ayat 21: “Yesus bertanya: Apa yang kamu minta? Jawabnya: Katakanlah bahwa kedua anakku ini akan duduk satu di sebelah kanan-Mu dan satu lagi di sebelah kiri-Mu dalam Kerajaan-Mu.” Ayat 22: “Yesus menjawab…” dan seterusnya. Ayat 23: “Tetapi duduk di sebelah kanan-Ku dan di sebelah kiri-Ku bukan hak Ku untuk memberikannya, melainkan adalah untuk mereka yang telah disediakan oleh Bapa-Ku.” Ringkasnya, Isa alaihi assalam menolak kekuatan dari diri-Nya sendiri dan membatasinya pada Allah, sebagaimana Dia menolak pengetahuan tentang hari kiamat dan membatasinya pada Allah. Seandainya Dia adalah Allah, tidak semestinya demikian.

(Perkataan Kelima):

Dalam pasal sembilan belas Injil Matius: Ayat 16: “Seorang muda datang kepada Yesus dan berkata: Guru yang baik, perbuatan baik apa yang harus kuperbuat untuk mendapatkan hidup yang kekal?” Ayat 17: “Yesus berkata kepadanya: Mengapa kamu menyebutku baik? Tidak seorang pun yang baik selain satu, yaitu Allah.” Perkataan ini mencabut akar konsep tiga tuhan. Dia tidak puas dalam kerendahan hati bahkan untuk dijuluki baik, dan seandainya Dia adalah Allah, perkataan-Nya ini tidak akan bermakna. Dia seharusnya menjelaskan bahwa tidak ada yang baik melainkan Bapa dan Aku dan Roh Kudus. Dia tidak menunda penjelasan ketika butuh. Jika Dia tidak puas dengan panggilan “baik”, bagaimana mungkin Dia puas dengan perkataan-perkataan kaum penyangkal konsep tiga tuhan yang mereka ucapkan pada waktu-waktu doa mereka: “Ya Tuhan kami dan Allah kami Yesus, jangan binasakan apa yang telah Engkau ciptakan dengan tangan-Mu.” Jauh dari sifat-Nya untuk puas dengan hal seperti itu.

(Perkataan Keenam):

Dalam pasal dua puluh tujuh Injil Matius: Ayat 46: “Sekitar jam kesembilan Yesus berseru dengan suara yang keras: Eli, Eli, lama sabaktani? Artinya: Allah-ku, Allah-ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Ayat 50: “Yesus berseru sekali lagi dengan suara yang keras dan menyerahkan roh-Nya.”

Dalam ayat empat puluh enam dari pasal dua puluh tiga Injil Lukas: “Yesus berseru dengan suara yang keras dan berkata: Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan roh-Ku.” Perkataan ini secara langsung menolak ketuhanan Isa, terutama menurut pandangan kaum yang mengatakan “hulul” atau “inkisar.” Karena seandainya Dia adalah Allah, Dia tidak akan meminta pertolongan kepada Allah lain dengan mengatakan “Allah-ku, Allah-ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku,” dan tidak akan mengatakan “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan roh-Ku,” serta tidak mungkin Dia mengalami ketidakberdayaan dan kematian.

Dalam ayat dua puluh delapan dari pasal empat puluh Kitab Yesaya: “Tidakkah Engkau mengetahui? Tidakkah Engkau mendengar? Tuhan adalah Allah yang kekal, yang menciptakan ujung-ujung bumi. Dia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lemah, dan pengertian-Nya tidak terlalu dalam untuk dijelajahi.” Dalam ayat enam dari pasal empat puluh empat dari Kitab yang sama: “Demikianlah firman Tuhan, Raja Israel dan Penebus-nya, Tuhan semesta alam: Akulah yang pertama dan Akulah yang terakhir, dan tidak ada tuhan selain Aku.” Dalam ayat sepuluh dari pasal kesepuluh dari Kitab Yeremia: “Tetapi Tuhan adalah Allah yang benar, Dia adalah Allah yang hidup dan Raja yang kekal…” Dalam ayat dua belas dari pasal pertama dari Kitab Habakuk: “Ya Tuhan, Allah yang kudus, Engkau tidak mati.” Dalam ayat tujuh belas dari pasal pertama dari Surat Pertama kepada Timotius: “Raja segala zaman, Yang kekal, Yang tidak dapat fana, Yang tidak dapat terlihat, satu-satunya Allah yang bijaksana.”

Maka bagaimana mungkin yang mengalami kelemahan dan kematian adalah Allah yang kekal, terbebas dari kelemahan dan kelelahan? Bagaimana mungkin yang fana dan tidak berdaya adalah Allah? Mustahil dan tidak! Sebaliknya, Allah yang sejati adalah Dia yang pada saat itu, menurut mereka, Isa alaihi assalam meminta pertolongan kepada-Nya. Yang menakjubkan adalah bahwa mereka tidak puas hanya dengan kematian Allah menurut mereka, tetapi mereka juga percaya bahwa setelah kematian-Nya, Dia juga masuk ke neraka.

Jawad ibn Sabbat melaporkan kepercayaan ini dari Kitab Doa yang diterbitkan pada tahun 1506: “Sebagaimana Kristus mati untuk kita dan dikubur, demikian pula kita harus percaya bahwa dia masuk neraka.”

Friar Filipus Quadrinolius menulis sebuah kitab dalam bahasa Arab sebagai tanggapan terhadap surat Ahmad al-Sharif ibn Zayn al-Abidin al-Isfahani, dan menamakannya “Pemikiran-Pemikiran Filipus.” Kitab ini diterbitkan tahun 1669 di Roma Besar di Palestina. Saya mendapatkan naskah kuno dari kitab ini melalui meminjam dari perpustakaan Inggris di kota Delhi. Dalam kitabnya yang disebutkan, Friar yang tersembunyi itu menulis: “Yang menderita untuk keselamatan kita dan turun ke neraka, kemudian pada hari ketiga bangkit dari antara orang-orang mati.”

Dalam “Breviary” dalam penjelasan kepercayaan Athanasia yang diyakini oleh kaum Kristen, kata “hell” ada dan artinya adalah neraka. Jawad ibn Sabbat mengatakan bahwa Pendeta Myrtyros berkata kepadanya dalam menjelaskan kepercayaan ini bahwa ketika Kristus menerima tubuh manusia, dia harus menanggung semua keadaan manusia, masuk neraka dan juga disiksa. Ketika dia keluar dari neraka, dia mengeluarkan semua orang yang disiksa di dalamnya sebelum dia masuk.

Dia bertanya kepadanya: Apakah ada dalil transmisi untuk kepercayaan ini? Dia menjawab bahwa hal itu tidak memerlukan dalil. Maka seorang laki-laki Kristen dari kelompok itu berkata dengan cara yang menggelikan: Bapa sangat kejam, seandainya tidak, dia tidak akan meninggalkan Anak di neraka. Pendeta itu marah dan mengusir dia dari kelompok itu. Pria ini kemudian datang kepada saya dan memeluk Islam, tetapi dia mengambil perjanjian dari saya untuk tidak menunjukkan keadaan masuk Islamnya selama dia masih hidup. Yusuf Wolff memasuki kota Lucknow pada tahun 1248 Hijriah dan tahun 1833 Masehi. Dia adalah salah satu pendeta terkenal dan mengklaim ilham bagi diri sendiri. Dia mengklaim bahwa turunnya Kristus akan terjadi pada tahun 1847 Masehi. Terjadi dialog antara dia dan seorang mujtahid Syiah dalam bentuk tulisan dan diskusi dalam masalah ini. Mujtahid Syiah menanyainya tentang kepercayaan ini juga. Dia menjawab: Ya, Kristus masuk neraka dan disiksa, tetapi tidak apa-apa, karena masuknya adalah untuk keselamatan umatnya.

Beberapa fraksi mereka percaya padanya dalam keadaan yang lebih buruk. Dia berkata: Dalam sejarahnya, dalam penjelasan fraksi Marcion. Fraksi ini percaya bahwa setelah kematian Isa alaihi assalam, Dia masuk neraka dan menyelamatkan roh-roh Kain dan orang-orang Sodom karena mereka hadir bersama-Nya dan tidak taat kepada Allah Pencipta Kejahatan. Dia membiarkan roh-roh Habel, Nuh, Ibrahim, dan orang-orang saleh lainnya dari zaman kuno di neraka karena mereka menentang fraksi pertama. (Fraksi ini percaya bahwa Pencipta dunia tidak terbatas pada Allah yang mengutus Isa, dan karena itu mereka tidak mengakui bahwa kitab-kitab Perjanjian Lama adalah ilham).

Jadi kepercayaan fraksi ini mencakup hal-hal berikut:

  1. Semua roh, baik roh para nabi dan orang-orang saleh atau orang-orang berbuat jahat, disiksa di neraka sebelum Isa alaihi assalam masuk.
  2. Isa alaihi assalam masuk neraka.
  3. Isa alaihi assalam menyelamatkan roh-roh orang-orang berbuat jahat dari siksaan dan membiarkan roh-roh para nabi dan orang-orang saleh di dalamnya.
  4. Orang-orang saleh ini menentang Isa dan orang-orang berbuat jahat setuju dengannya.
  5. Pencipta dunia adalah dua: Pencipta Kebaikan dan Pencipta Kejahatan, dan Isa alaihi assalam adalah utusan yang pertama, dan para nabi terkenal lainnya adalah utusan yang kedua.
  6. Kitab-kitab Perjanjian Lama bukan ilham.

Penulis “Mizan al-Haq” mengatakan dalam kitabnya yang dinamakan “Hal al-Isykal fi Jawab Kasyf al-Astar” demikian: “Kebenaran adalah bahwa dalam kepercayaan Kristen ada bahwa Kristus masuk neraka dan bangkit pada hari ketiga dan naik ke surga. Tetapi yang dimaksud dengan neraka di sini adalah Hades, yang merupakan tempat antara neraka dan bola langit asli. Artinya, dia masuk Hades untuk menunjukkan kepada penghuninya keagungan-Nya dan untuk mengingatkan mereka bahwa Aku adalah pemilik kehidupan dan Aku telah memberikan tebusan dosa melalui kematian di salib dan telah membuat Setan dan neraka ditaklukkan dan bagi para percaya seperti yang tidak ada.”

(Saya berkata) Pertama: Terbukti dari pernyataan terang dari Kitab Doa dan kata-kata Filipus Quadrinolius, dan terbukti secara jelas dari pengakuan Myrtyros dan Yusuf Wolff dan dari kepercayaan Athanasia yang diikuti bahwa neraka memiliki makna harfiahnya. Dia juga mengakui bahwa ini ada dalam kepercayaan, kemudian dia melakukan takwil. Takwilnya tanpa dalil tidak dapat diterima, dan dia harus membuktikan dari kitab-kitabnya bahwa antara neraka dan bola langit asli adalah tempat yang disebut Hades, kemudian dia harus membuktikan dari kitab-kitab ini bahwa masuknya Kristus ke neraka adalah untuk tujuan menunjukkan dan mengingatkan yang disebutkan, padahal tidak ada keberadaan bola langit menurut para filsuf Eropa, dan para ilmuwan Protestan dari generasi terkemuka mengikuti mereka dalam pendapat ini. Maka bagaimana pengalihan ini dapat valid menurut dugaan mereka?

(Kemudian saya berkata) Kedua: Jika Hades ini adalah tempat kesenangan dan hadiah atau tempat penderitaan dan siksaan, jika itu yang pertama, maka tidak ada kebutuhan untuk mengingatkan penghuninya karena mereka sebelum ini dalam kesenangan dan kehidupan yang memuaskan. Jika itu yang kedua, maka tidak ada manfaat dalam takwil karena neraka roh hanya bisa menjadi tempat siksanya.

(Kemudian saya berkata) Ketiga: Bahwa kematian di salib adalah tebusan dosa sangat mustahil menurut akal, karena yang dimaksud dengan dosa ini menurut dugaan mereka adalah dosa asli yang berasal dari Adam alaihi assalam, bukan dosa yang berasal dari anak-anaknya. Tidak boleh anak-anak dihukum karena dosa asli ini, karena anak-anak tidak diminta pertanggungjawaban atas dosa bapak mereka atau sebaliknya. Ini bertentangan dengan keadilan.

Dalam ayat dua puluh dari pasal delapan belas dari Kitab Yehezkiel: “Jiwa yang berbuat dosa, ia harus mati. Anak tidak akan membawa kesalahan bapaknya dan bapak tidak akan membawa kesalahan anaknya. Keadilan orang benar akan atas dia dan kejahatan orang jahat akan atas dia.”

(Kemudian saya berkata) Keempat: Apa makna menjadikan Setan tertaklukkan oleh kematian, karena menurut Injil mereka dia telah dirantai dengan rantai kekal sebelum kelahiran Isa alaihi assalam.

Dalam ayat keenam dari Surat Yudas: “Dan malaikat-malaikat yang tidak memelihara kerajaan mereka, tetapi meninggalkan tempat tinggal mereka yang layak, telah Dia pegang dalam belenggu kekal dalam kegelapan untuk penghakiman hari yang besar.”

Kemudian yang menakjubkan adalah bahwa mereka tidak puas hanya dengan kematian Allah mereka yang diklaim dan masuknya ke neraka, tetapi mereka menambahkan bahwa Dia juga menjadi terkutuk. Wallahualam! Dan keadaan terkutuk ini diakui oleh kaum Kristen, dan penulis “Mizan al-Haq” juga mengakuinya dengan sepenuh kepuasan jiwa dan menyatakannya dengan tegas dalam kitab-kitabnya. Rasul mulia mereka, Paulus, juga menyatakannya dengan tegas.

Dalam ayat tiga belas dari pasal ketiga dari Suratnya kepada orang-orang Galatia: “Kristus telah menebus kita dari kutuk Hukum Taurat, sebab Ia telah menjadi kutuk bagi kita, karena ada tertulis: Terkutuk setiap orang yang digantung pada kayu salib.”

Bagi kami, penggunaan kata seperti ini sangat keji. Bahkan mengutuk Allah adalah wajib dirajam menurut hukum Taurat. Satu orang dirajam atas kesalahan ini di zaman Musa alaihi assalam, sebagaimana dinyatakan secara tegas dalam pasal dua puluh empat dari Kitab Bilangan. Bahkan mengutuk orang tua juga wajib dibunuh, apalagi mengutuk Allah, sebagaimana dinyatakan dalam pasal dua puluh dari Kitab yang sama.

(Pendapat Ketujuh)

Dalam ayat ketujuh belas dari bab dua puluh Injil Yohanes terdapat ucapan Yesus yang mulia dalam penyampaiannya kepada Maryam Magdalena sebagai berikut: “Jangan menyentuhku karena Aku belum naik kepada Bapaku, tetapi pergilah kepada saudara-saudaraku dan katakanlah kepada mereka bahwa Aku akan naik kepada Bapaku dan Bapamu, Allah-ku dan Allah-mu.”

Dalam ucapan ini, Yesus yang mulia menyetarakan dirinya dengan manusia (Bapaku dan Bapamu, Allah-ku dan Allah-mu) agar tidak ada kebohongan yang dikatakan tentangnya, sehingga tidak akan dikatakan bahwa dia adalah Allah atau anak Allah. Seperti murid-muridnya adalah hamba Allah dan bukan anak-anak Allah secara hakiki melainkan secara majazi (kiasan), demikian pula dia adalah hamba Allah dan bukan anak Allah secara hakiki. Dan karena ucapan ini disampaikan setelah Yesus yang mulia bangkit dari kematian menurut anggapan mereka, tidak lama sebelum kenaikan, maka terbukti bahwa dia terus menerus menyatakan dengan jelas bahwa dia adalah hamba Allah hingga waktu kenaikan. Ucapan ini sejalan dengan apa yang diceritakan Allah tentangnya dalam Alquran yang mulia:

Aku tidak mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku, yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.” (Surah Al-Maidah ayat 117)

(Pendapat Kedelapan)

Dalam ayat dua puluh delapan dari bab empat belas Injil Yohanes terdapat ucapan Yesus yang mulia sebagai berikut: “Bapaku lebih besar daripada aku.”

Dalam ucapan ini juga terdapat penolakan atas ke-Allahan-an-nya, karena Allah tidak ada yang menyerupai-Nya, apalagi ada yang lebih besar daripada-Nya.

(Pendapat Kesembilan)

Dalam ayat dua puluh empat dari bab empat belas Injil Yohanes terdapat ucapan Yesus yang mulia sebagai berikut: “Perkataan yang kamu dengar itu bukanlah perkataan-Ku tetapi perkataan Bapak yang mengutus Aku.”

Dalam ucapan ini juga terdapat pernyataan tegas tentang kenabian dan bahwa perkataan yang kamu dengar adalah wahyu dari Allah.

(Pendapat Kesepuluh)

Dalam bab dua puluh tiga Injil Matius terdapat ucapan Yesus yang mulia dalam penyampaiannya kepada murid-muridnya sebagai berikut:

“Jangan pula panggil seseorang di bumi ini bapak, karena hanya satu Bapak kamu, yaitu Dia yang di surga. Jangan pula disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpin kamu, yaitu Kristus.”

Di sini juga dia menyatakan dengan tegas bahwa Allah adalah satu dan bahwa dia adalah pengajar bagi mereka.

(Pendapat Kesebelas)

Dalam bab dua puluh enam Injil Matius diceritakan:

“Sampailah Yesus bersama-sama dengan mereka di suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada para murid itu: ‘Duduklah di sini sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa.'”

“Kemudian Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus bersama-sama dengan-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan sangat gentar.”

“Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Hati-Ku sangat sedih, bahkan sampai mati. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah bersama-sama dengan Ku.'”

“Kemudian Ia maju sedikit, lalu jatuh tersungkur dan berdoa sambil berkata: ‘Ya Bapaku, jika sekiranya mungkin, biarlah cawan ini berlalu dari pada-Ku. Tetapi bukan seperti kehendak-Ku, melainkan seperti kehendak-Mu.'”

“Kemudian datanglah Ia kepada para murid itu, …'”

“Lalu pergi pula Ia untuk kedua kalinya dan berdoa sambil berkata: ‘Ya Bapaku, jika tidak mungkin cawan ini berlalu dari pada-Ku, tanpa Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu.'”

“Kemudian datanglah Ia lagi …'”

“Lalu meninggalkan mereka pula dan pergi ke tempat lain, lalu berdoa untuk ketiga kalinya sambil mengatakan perkataan yang sama itu.”

Ucapan-ucapan dan keadaan-keadaan yang terkandung dalam pernyataan-pernyataan ini menunjukkan bahwa dia adalah seorang hamba dan menolak ke-Allahan-an-nya. Apakah Allah dapat bersedih dan gentar, mati, dan berdoa kepada Allah lain serta berdoa dengan penuh kerendahan hati? Tidak, demi Allah. Dan ketika dia datang ke dunia dalam wujud jasmaniah untuk menyelamatkan dunia dengan darah mulianya dari azab neraka, lantas apa makna kesedihan dan kegentar tersebut? Dan apa makna dari doa: “Jika sekiranya mungkin, biarlah cawan ini berlalu dari pada-Ku”?

(Pendapat Keduabelas)

Termasuk kebiasaan mulia beliau bahwa ketika menyebut dirinya sendiri, beliau biasanya menggunakan istilah “Anak Manusia” sebagaimana yang tidak terlewatkan bagi mereka yang memperhatikan Injil yang tersebar luas. Sebagai contoh, dalam bab 8 ayat 20, bab 9 ayat 6, bab 16 ayat 13 dan 27, bab 17 ayat 9, 12, dan 22, bab 18 ayat 11, bab 19 ayat 28, bab 20 ayat 18 dan 28, bab 24 ayat 27, bab 26 ayat 24, 45, dan 64 dari Injil Matius, dan demikian pula dalam Injil-injil lainnya. Dan jelas bahwa “Anak Manusia” tidak dapat berarti selain dari seorang manusia.

Bab Ketiga: Pembatalan Dalil-Dalil Periwayatan Tentang Ke-Allahan-An Yesus

Telah Anda ketahui dalam perkara kelima dari pendahuluan bahwa ucapan-ucapan Yohanes penuh dengan majaz, jarang sekali Anda menemukan satu paragraf yang tidak memerlukan takwil. Telah Anda ketahui dalam perkara keenam bahwa kesamaran terdapat berkali-kali dalam ucapan-ucapan Yesus yang mulia, sehingga orang-orang sezaman dengannya dan murid-muridnya pun tidak memahaminya berkali-kali, sampai dia sendiri menjelaskannya. Telah Anda ketahui dalam perkara kedua belas bahwa Yesus yang mulia telah menjelaskan ke-hamba-an-nya sampai kenaikan dengan penjelasan yang tidak meninggalkan keraguan sedikitpun, dan makna ini dapat dipahami dengan tegas dari penjelasannya itu. Oleh karena itu, ucapan-ucapan yang dipegang oleh umat Kristen pada umumnya merupakan ucapan-ucapan yang masih samar, yang diriwayatkan dari Injil Yohanes, dan terbagi kepada tiga jenis:

Sebagian darinya tidak menunjukkan menurut makna-makna yang sebenarnya kepada tujuan mereka, sehingga penyimpulan ke-Allahan-an dari padanya hanyalah dugaan mereka semata, dan penyimpulan dan dugaan ini tidak dapat dipertimbangkan dan tidak boleh digunakan sebagai lawan dari bukti-bukti nalar yang pasti dan nas-nas Yesawiyah sebagaimana telah Anda ketahui dalam dua bab tersebut.

Sebagian lainnya adalah ucapan-ucapan yang penjelasannya dapat dipahami dari ucapan-ucapan Kristiani lainnya dan dari beberapa bagian Injil, oleh karena itu tidak ada pertimbangan untuk pendapat mereka tentangnya.

Sebagian lainnya lagi adalah ucapan-ucapan yang menurut pandangan mereka sendiri harus ditakwilkan. Oleh karena itu jika takwil wajib dilakukan, maka kami katakan takwil ini harus sedemikian rupa sehingga tidak bertentangan dengan bukti-bukti dan nas-nas, namun bagaimana mungkin mereka dapat mencapai itu? Oleh karena itu, tidak perlu mengutip semuanya, melainkan saya hanya akan mengutip yang paling banyak agar jelas bagi pemerhati mengenai cara mereka membuat kesimpulan dan dia dapat mengukur sisanya atas dasarnya.

DALIL PERTAMA

Dari penggunaan istilah “Anak Allah” bagi Yesus yang mulia.

Saya katakan: Dalil ini sangat lemah dari dua perspektif:

Pertama, karena penggunaan istilah ini ditentang oleh penggunaan istilah “Anak Manusia” sebagaimana telah Anda ketahui, dan juga oleh penggunaan istilah “Anak Daud”. Oleh karena itu, diperlukan perbandingan sedemikian rupa sehingga tidak menetapkan pertentangan dengan bukti-bukti nalar, dan darinya tidak timbul hal yang mustahil.

Kedua, karena istilah “Anak” tidak dapat bermakna sebenarnya. Karena makna sebenarnya menurut kesepakatan bahasa seluruh dunia adalah lahir dari nirmah kedua orang tua, dan ini mustahil di sini. Oleh karena itu, wajib membawanya kepada makna majazi yang sesuai dengan kedudukan Yesus. Telah diketahui dari Injil bahwa istilah ini dalam hal-nya bermakna “orang yang saleh/baik”.

Dalam ayat tiga puluh sembilan dari bab lima belas Injil Markus diceritakan:

“Adapun pejabat pasukan Roma yang berdiri berhadapan dengan Yesus, ketika ia melihat bahwa Yesus meninggal dengan cara demikian, berkatalah ia: ‘Sesungguhnya, orang ini adalah Anak Allah.'”

Dan Lukas meriwayatkan ucapan pejabat tersebut dalam ayat empat puluh tujuh dari bab dua puluh tiga Injilnya sebagai berikut:

“Sesungguhnya orang ini adalah orang yang benar.”

Dalam Injil Markus terdapat istilah “Anak Allah” sementara dalam Injil Lukas menggantinya dengan istilah “orang yang benar”. Dan istilah serupa ini digunakan juga untuk mereka yang saleh selain Yesus. Sebagaimana digunakan istilah “anak Iblis” untuk mereka yang saleh dalam bab lima Injil Matius sebagai berikut:

“Berbahagialah orang-orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”

“Tetapi Aku berkata kepada kamu: Kasihilah musuh-musuhmu dan doakanlah mereka yang menganiaya kamu untuk menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga.”

Jadi Yesus yang mulia menggunakan istilah “anak-anak Allah” untuk mereka yang membawa damai dan berdamai serta mereka yang melakukan perbuatan-perbuatan tersebut, dan menggunakan istilah “Bapa” untuk Allah sehubungan dengan mereka.

Dan dalam bab delapan Injil Yohanes dalam percakapan yang terjadi antara orang-orang Yahudi dan Yesus dikatakan:

“Mereka berkata kepada-Nya: ‘Kami tidak pernah dilahirkan dari perzinahan. Kami hanya punya satu Bapak, yaitu Allah.'”

“Yesus berkata kepada mereka: ‘Sekiranya Allah adalah Bapamu, tentu kamu mengasihi Aku.'”

“Kamu adalah berasal dari Bapak kamu, yaitu Iblis, dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan Bapamu. Dia adalah pembunuh sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, karena tidak ada kebenaran padanya. Ketika ia berkata dusta, ia berkata dari hakikatnya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapak segala dusta.”

Orang-orang Yahudi mengklaim bahwa mereka memiliki satu Bapa yaitu Allah, dan Yesus yang mulia berkata kepada mereka bahwa Bapa mereka adalah Setan. Dan jelas bahwa Allah dan Setan bukanlah bapak mereka dalam makna sebenarnya, oleh karena itu wajib membawanya kepada makna majazi. Tujuan orang-orang Yahudi adalah mengatakan kami adalah orang-orang yang saleh dan taat kepada perintah Allah. Sementara tujuan Yesus yang mulia adalah menolak, tidak, kamu bukan demikian, tetapi kalian adalah orang-orang yang jahat dan taat kepada Setan.

Dan dalam bab tiga Surat Pertama Yohanes dikatakan:

“Setiap orang yang dilahirkan dari Allah tidak berbuat dosa, sebab benih Allah ada di dalam dia dan dia tidak dapat berbuat dosa, karena dia dilahirkan dari Allah. Dengan demikian nyatalah siapa anak-anak Allah dan siapa anak-anak Iblis.”

Dan dalam ayat tujuh dari bab keempat Surat tersebut:

“Setiap orang yang mengasihi telah dilahirkan dari Allah.”

Dan dalam bab lima Surat tersebut:

“Setiap orang yang percaya bahwa Yesus adalah Kristus, telah dilahirkan dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang memperanakkan mengasihi juga dia yang diperanakkan oleh Dia. Dengan ini kita tahu bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, apabila kita mengasihi Allah dan melakukan perintah-perintah-Nya.”

Dan dalam ayat empat belas dari bab delapan Surat Roma dikatakan:

“Sebab semua orang yang dipimpin oleh Roh Allah adalah anak-anak Allah.”

Dan dalam bab dua Surat Paulus kepada jemaat di Filipi dikatakan:

“Lakukanlah segala sesuatu tanpa bersungut-sungu dan tanpa pertengkaran, supaya kamu bersih dan tak bercela, anak-anak Allah yang sempurna, di tengah-tengah generasi yang bengkok dan sesat ini.”

Dan daya menunjuk dari ucapan-ucapan ini terhadap apa yang telah saya katakan tidaklah tersembunyi. Dan jika makna ke-Allahan-an tidak dapat dipahami dari penggunaan istilah “Allah” dan sejenisnya sebagaimana telah Anda ketahui dalam perkara keempat dari pendahuluan, lalu bagaimana mungkin dipahami dari istilah “Anak Allah” dan sejenisnya, terutama jika kita memperhatikan banyaknya penggunaan majaz dalam kitab-kitab Perjanjian Lama dan Baru sebagaimana telah Anda ketahui dari pendahuluan, dan terutama jika kita memperhatikan bahwa penggunaan istilah “Bapa” dan “Anak” dalam kitab-kitab kedua Perjanjian datang di tempat-tempat yang tidak terbatas jumlahnya. Saya akan mengutip beberapa di antaranya sebagai contoh model:

[1] Lukas bercerita dalam bab tiga Injilnya dalam penjelasan silsilah Yesus yang mulia bahwa dia adalah anak Yusuf dan Adam adalah anak Allah. Dan jelas bahwa Adam yang mulia bukanlah anak Allah dalam makna sebenarnya dan bukan pula Allah, tetapi ketika dia dilahirkan tanpa dua orang tua, dia dinisbahkan kepada Allah. Dan semoga Allah memberkati Lukas, sungguh dia telah berbuat baik di sini, karena ketika Yesus yang mulia dilahirkan tanpa ayah saja, dia menisbahkannya kepada Yusuf si tukang kayu, dan ketika Adam yang mulia dilahirkan tanpa dua orang tua, dia menisbahkannya kepada Allah.

[2] Dalam bab empat Kitab Keluaran terdapat ucapan Allah sebagai berikut:

“Katakanlah kepada Firaun: ‘Beginilah firman Tuhan: Israel adalah anak sulung-Ku.'”

“Aku telah berkata kepadamu: Lepaskanlah anak-Ku itu, supaya ia beribadah kepada-Ku; tetapi engkau menolak untuk melepaskannya. Bahwa akan Aku bunuh anak sulung-mu.”

Allah menggunakan istilah “anak Allah” untuk Israel di kedua tempat itu, bahkan menggunakan istilah “anak sulung”.

[3] Dalam Zabur Ke-delapan Puluh Delapan terdapat ucapan Daud yang mulia dalam penyampaiannya kepada Allah sebagai berikut:

“Maka pada waktu itu Engkau berbicara melalui penglihatan kepada mereka yang dikasihi-Mu, dan berfirman: ‘Aku telah memberikan pertolongan kepada yang perkasa, aku telah meninggikan orang pilihan dari antara rakyat-Ku.'”

“Aku telah menemukan Daud, hamba-Ku, telah melumuri dia dengan minyak suci-Ku.”

“Dia akan memanggil-Ku: Engkaulah Bapaku, Allah-ku, dan Batu Karang keselamatan-ku.”

“Aku juga akan menjadikan dia anak sulung, yang tertinggi di antara segala raja-raja bumi.”

Allah menggunakan istilah “Bapa” untuk Allah dan istilah “yang perkasa”, “yang pilihan”, “Kristus”, dan “anak sulung Allah”, dan “tertinggi di antara segala raja-raja bumi” untuk Daud.

[4] Dalam ayat sembilan dari bab tiga puluh satu Kitab Yeremia, terdapat ucapan Allah sebagai berikut:

“Aku telah menjadi Bapak bagi Israel, dan Efraim adalah anak sulung-Ku.”

Allah menggunakan istilah “anak sulung Allah” untuk Efraim. Seandainya penggunaan istilah-istilah seperti ini menyebabkan ke-Allahan-an, maka Israel, Daud, dan Efraim lebih berhak untuk diangkat menjadi Allah, sebab anak sulung lebih berhak untuk dihormati daripada yang lain menurut syariat-syariat terdahulu dan menurut hukum pernikahan yang umum. Tetapi jika mereka mengatakan bahwa istilah “anak tunggal” datang dalam hal Yesus yang mulia, maka kami katakan bahwa “tunggal” tidak mungkin bermakna sebenarnya, karena Allah telah menetapkan baginya banyak saudara, dan istilah “anak sulung” datang dalam hal tiga di antara mereka, bahkan wajib bermakna majazi seperti “anak”.

[5] Dalam bab tujuh Kitab Samuel Kedua terdapat ucapan Allah yang Maha Tinggi dalam hal Sulaiman sebagai berikut:

“Aku akan menjadi bapanya, dan dia akan menjadi anak-Ku.”

Seandainya penggunaan istilah ini menjadi penyebab ke-Allahan-an, maka Sulaiman yang mulia lebih berhak daripada Yesus yang mulia, karena dia mendahuluinya dan merupakan salah satu dari para leluhur Yesus yang mulia.

[6] Dalam ayat pertama dari bab empat belas, ayat kesembilan belas dari bab tiga puluh dua Kitab Ulangan, ayat kedua dari bab pertama, ayat pertama dari bab tiga puluh, ayat kedelapan dari bab enam puluh tiga Kitab Yesaya, ayat kesepuluh dari bab pertama Kitab Hosea, penggunaan istilah anak-anak Allah datang untuk semua bani Israel.

[7] Dalam ayat enam belas dari bab enam puluh tiga Kitab Yesaya terdapat ucapan Yesaya dalam penyampaiannya kepada Allah sebagai berikut:

“Karena Engkaulah Bapak kami, sekalipun Abraham tidak mengenal kami, dan Israel tidak mengakui kami. Engkaulah, ya Tuhan, Bapak kami, Penebus kami sejak dahulu adalah nama-Mu.”

Dan dalam ayat kedelapan dari bab enam puluh empat Kitab tersebut:

“Dan sekarang, ya Tuhan, Engkaulah Bapak kami.”

Jadi Yesaya yang mulia menyatakan dengan tegas dalam hal dirinya dan hal bani Israel lainnya bahwa Allah adalah Bapak kami.

[8] Dalam ayat ketujuh dari bab tiga puluh delapan Kitab Ayub diceritakan:

“Ketika bintang-bintang fajar bersama-sama bernyanyi merdu, dan semua anak-anak Allah bersorak-sorai?”

[9] Telah Anda ketahui pada awal jawaban ini bahwa penggunaan istilah anak-anak Allah datang untuk mereka yang saleh, untuk mereka yang beriman kepada Yesus, untuk mereka yang mencintai, untuk mereka yang taat kepada perintah Allah, dan untuk mereka yang melakukan perbuatan-perbuatan baik.

[10] Dalam ayat kelima dari Zabur Ke-enam Puluh Tujuh dikatakan:

“Bapa bagi para yatim piatu dan hakim bagi para janda adalah Allah dalam tempat kediaman-Nya yang suci.”

Allah menggunakan istilah “Bapa para yatim piatu”.

[11] Dalam bab enam Kitab Kejadian diceritakan:

“Ketika anak-anak Allah melihat bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik, mereka mengambil bagi mereka isteri dari antara mereka yang mereka pilih.”

“Pada waktu itu orang-orang Gibor ada di bumi. Itu juga terjadi kemudian, ketika anak-anak Allah datang kepada anak-anak perempuan manusia dan mereka melahirkan anak-anak bagi mereka. Inilah orang-orang perkasa yang termasyhur sejak zaman purba.”

Yang dimaksud dengan anak-anak Allah adalah anak-anak para bangsawan dan dengan anak-anak perempuan manusia adalah anak-anak kaum awam. Oleh karena itu, penerjemah terjemahan Arab yang dicetak tahun 1811 M menerjemahkan ayat pertama sebagai berikut:

“Anak-anak para bangsawan melihat anak-anak perempuan kaum awam itu cantik, maka mereka mengambil bagi mereka istri.”

Jadi penggunaan istilah anak-anak Allah datang untuk anak-anak para bangsawan secara mutlak, dan dapat dipahami darinya keabsahan penggunaan istilah Allah untuk mereka yang bangsawan juga.

[12] Penggunaan istilah “Bapamu” datang di banyak tempat dalam Injil, dalam penyampaian kepada murid-murid dan orang lain.

[13] Istilah anak dan bapa dapat ditambahkan kepada sesuatu yang memiliki kesesuaian tertentu dengan makna sebenarnya, seperti penggunaan istilah “bapa dusta” untuk Setan sebagaimana telah Anda ketahui, dan seperti penggunaan istilah “anak-anak neraka” dan “anak-anak Yerusalem” untuk orang-orang Yahudi dalam ucapan Yesus yang mulia dalam bab dua puluh tiga Injil Matius. Penggunaan istilah “anak-anak dunia” datang untuk para ahli dunia, penggunaan istilah “anak-anak Allah dan anak-anak kebangkitan” datang untuk penghuni surga dalam ucapan Yesus yang mulia dalam bab dua puluh Lukas. Dan dalam ayat kelima dari bab kelima Surat Pertama kepada jemaat di Tesalonika penggunaan istilah “anak-anak terang dan anak-anak siang” datang untuk jemaat Tesalonika.

DALIL KEDUA

Dalam ayat dua puluh tiga dari bab delapan Injil Yohanes dikatakan:

“Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Kamu berasal dari dunia bawah, Aku berasal dari dunia atas. Kamu berasal dari dunia ini, Aku tidak berasal dari dunia ini.'”

Mereka mengartikannya: maksud saya adalah bahwa aku adalah Allah yang turun dari surga dan menjelma.

Saya katakan: Oleh karena ucapan ini bertentangan dengan yang tampak, karena Yesus yang mulia adalah dari dunia ini, maka mereka telah melakukan takwil dengan takwil ini, namun takwil ini tidak tepat dari dua perspektif:

Pertama: Bahwa itu bertentangan dengan bukti-bukti nalar dan nas-nas.

Kedua: Bahwa Yesus yang mulia mengatakan ucapan serupa ini juga dalam hal murid-muridnya dalam ayat kesembilan belas dari bab lima belas Injil Yohanes sebagai berikut:

“Sekiranya kamu dari dunia ini, maka dunia akan mengasihi yang menjadi miliknya sendiri. Akan tetapi karena kamu bukan dari dunia ini, melainkan Aku yang memilih kamu dari dunia ini, sebab itu dunia membenci kamu.”

Dan dalam bab tujuh Injil Yohanes dikatakan:

“Karena mereka bukan berasal dari dunia ini, seperti juga Aku bukan berasal dari dunia ini.”

“Mereka bukan dari dunia ini, seperti juga Aku bukan dari dunia ini.”

Dia mengatakan mengenai murid-muridnya: mereka bukan dari dunia ini, dan dia menyetarakan dirinya dengan mereka dalam hal bukan berasal dari dunia ini. Seandainya ini mengakibatkan ke-Allahan-an sebagaimana mereka klaim, maka semua mereka adalah Allah—berlindung diri kepada Allah. Akan tetapi takwil yang tepat adalah: Kamu adalah pencari dunia yang hina, sementara aku bukanlah demikian, melainkan adalah pencari akhirat dan ridha Allah. Dan majaz ini adalah umum dalam berbagai bahasa, dikatakan tentang para zuhad dan orang-orang saleh bahwa mereka bukan dari dunia.

BUKTI KETIGA

Dalam ayat ketiga puluh dari bab kesepuluh dari Injil Yohanes begini: “Aku dan Bapa adalah satu” (Yohanes 10:30). Jadi ini menunjukkan persatuan Masih dengan Allah. Aku katakan bahwa argumentasi ini tidak benar dengan dua alasan:

Alasan Pertama: Masih Alaihi Assalaam menurut mereka juga adalah seorang manusia yang memiliki jiwa yang berakal, dan dia tidak bersatu dengan cara ini. Maka mereka memerlukan ta’wil (penafsiran) sehingga mereka berkata: Sebagaimana dia adalah manusia yang sempurna, demikianlah dia adalah ilah yang sempurna, dengan pertimbangan pertama dia berbeda, dan dengan pertimbangan kedua dia bersatu. Dan engkau telah mengetahui bahwa ta’wil ini batil.

Alasan Kedua: Bahwa hal semacam ini juga terjadi pada hak para sahabat dalam bab ketujuh belas dari Injil Yohanes begini 21: “Agar semuanya menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kami, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yohanes 17:21). Ayat 22: “Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada Aku, agar mereka menjadi satu, sama seperti Kami adalah satu” (Yohanes 17:22). Ayat 23: “Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka menjadi sempurna menjadi satu, agar dunia mengerti bahwa Engkau telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka seperti Engkau mengasihi Aku” (Yohanes 17:23).

Kata-katanya “agar semuanya menjadi satu” dan katanya “agar mereka menjadi satu sama seperti Kami adalah satu” dan katanya “menjadi sempurna menjadi satu” semuanya menunjukkan pada persatuan mereka. Dan dia menyamakan dalam pernyataan kedua antara persatuan Masih dengan Allah dan antara persatuan Masih dengan sesama mereka. Dan jelas bahwa persatuan Masih di antara mereka sendiri tidaklah persatuan sejati, demikian juga persatuan Masih dengan Allah. Sebaliknya, kebenaran adalah bahwa persatuan dengan Allah adalah ungkapan tentang ketaatan kepada hukum-hukumnya dan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik. Dan dalam persatuan seperti ini Masih, para sahabat, dan semua orang beriman semuanya sama derajatnya. Adapun perbedaannya hanya dalam hal kekuatan dan kelemahan, maka persatuan Masih dengan makna ini lebih kuat dan lebih dahsyat daripada persatuan yang lain.

Dan bukti bahwa persatuan adalah ungkapan tentang makna ini adalah pernyataan Yohanes dalam bab pertama dari suratnya yang pertama begini ayat 5: “Dan inilah berita yang kami dengar dari pada-Nya dan kami wartakan kepada kamu: Allah adalah terang dan sama sekali tidak ada kegelapan di dalam Dia” (1 Yohanes 1:5). Ayat 6: “Jika kita mengatakan bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, padahal kita hidup di dalam kegelapan, maka kita berdusta dan tidak melakukan kebenaran” (1 Yohanes 1:6). Ayat 7: “Tetapi jika kita hidup di dalam terang, sama seperti Dia berada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan satu dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya, menyucikan kita dari segala dosa” (1 Yohanes 1:7).

Dalam terjemahan Persia ayat keenam dan ketujuh adalah begini: Ayat 6 “Jika kita mengatakan bahwa kami bersatu dengan Dia dan berjalan dalam kegelapan kita berbohong dan tidak melakukan kebenaran” (1 Yohanes 1:6 versi Persia). Ayat 7 “Dan jika kita berjalan dalam terang seperti dia berada dalam terang kita satu sama lain bersatu” (1 Yohanes 1:7 versi Persia). Maka di dalamnya terjadi penggantian kata “persekutuan” dengan kata “persatuan”, sehingga diketahui bahwa persatuan dengan Allah atau persekutuan dengan Allah adalah ungkapan tentang apa yang kami katakan.

BUKTI KEEMPAT

Dalam bab keempat belas dari Injil Yohanes begini ayat 9: “Siapa yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa. Bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa kepada kami? Tidak percayakah engkau, bahwa Aku ada di dalam Bapa dan Bapa ada di dalam Aku? Perkataan-perkataan yang Aku katakan kepada kamu bukanlah dari Aku sendiri, tetapi Bapak yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan itu” (Yohanes 14:9-10).

Kata-katanya “siapa yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” dan katanya “Aku ada di dalam Bapa dan Bapa ada di dalam Aku” dan katanya “Bapak yang diam di dalam Aku” menunjukkan pada persatuan Masih dengan Allah. Dan argumentasi ini juga lemah dengan dua alasan:

Alasan Pertama: Adalah karena melihat Allah di dunia tidak mungkin bagi mereka seperti yang engkau ketahui dalam hal keempat dari mukaddimah, maka mereka ta’wil-kan dengan pengetahuan. Dan pengetahuan tentang Masih menurut aspek jasmaniyahnya juga tidak memberikan persatuan, maka mereka berkata bahwa yang dimaksud dengan pengetahuan adalah menurut aspek ketuhanannya. Dan pembatalan yang terjadi dalam pernyataan kedua dan ketiga harus di-ta’wil menurut mayoritas Trinitas, maka mereka berkata bahwa yang dimaksud adalah persatuan batin. Jadi setelah ta’wil-ta’wil ini mereka berkata bahwa karena dia adalah manusia yang sempurna dan ilah yang bekerja, maka ketiga perkataannya sah menurut pertimbangan kedua. Dan engkau telah mengetahui berkali-kali bahwa ini batil karena ta’wil harus tidak menyalahi bukti-bukti dan nas-nas.

Alasan Kedua: Adalah karena ayat kedua puluh dari bab tersebut begini: “Pada hari itu kamu akan mengerti, bahwa Aku ada di dalam Bapa-Ku dan kamu ada di dalam Aku dan Aku ada di dalam kamu” (Yohanes 14:20). Dan engkau telah mengetahui dalam jawaban bukti ketiga bahwa Masih berkata mengenai hak para sahabat: “Aku ada di dalam mereka dan Engkau ada di dalam Aku” (Yohanes 17:23). Dan sudah jelas bahwa tempat adalah tempat dalam tempat. Dan ayat kesembilan belas dari bab keenam dari surat pertama kepada orang-orang Korintus begini: “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?” (1 Korintus 6:19). Dan ayat keenam belas dari bab keenam dari surat kedua kepada Korintus begini: “Dan kebaktian kita kepada Tuhan Allah hidup sejati bertentangan dengan patung-patung, karena kita adalah bait Allah yang hidup” (2 Korintus 6:16).

Dan ayat keenam dari bab keempat dari surat kepada orang-orang Efesus begini: “Satu Allah dan Bapa dari semua, yang di atas semua dan melalui semua dan di dalam kamu semua” (Efesus 4:6). Jika pembatalan itu menunjukkan persatuan dan membuktikan ketuhanan, maka harus orang-orang Korintus, bahkan semua orang Korintus, dan juga semua orang Efesus adalah ilah-ilah. Sebaliknya, kebenaran adalah bahwa apabila yang rendah adalah dari pengikut yang tinggi, seperti dia adalah utusan-nya atau hamba-nya atau murid-nya atau orang terdekat dari kerabat-kerabatnya, maka perkara yang dinisbahkan kepada yang rendah dari pemuliaan dan penghinaan dan cinta kasih dan sebagainya, dinisbahkan kepada yang tinggi secara majazi (kiasan). Untuk itu Masih Alaihi Assalaam berkata mengenai hak para sahabat: “Barangsiapa menerima kamu, menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, menerima Dia yang mengutus Aku” (Matius 10:40). Seperti yang terjadi dalam ayat keempat puluh dari bab kesepuluh dari Injil Matius. Dan dia berkata mengenai hak anak-anak kecil: “Barangsiapa menerima seorang anak seperti ini atas nama-Ku, menerima Aku; dan barangsiapa menerima Aku, menerima Dia yang mengutus Aku” seperti yang jelas dinyatakan dalam ayat kedelapan puluh delapan dari bab kesembilan dari Injil Lukas (Lukas 9:48).

Dan dia berkata mengenai hak tujuh puluh orang yang dia utus berdua-dua ke negeri-negeri: “Siapa mendengarkan kamu, mendengarkan Aku; dan siapa menolak kamu, menolak Aku; dan siapa menolak Aku, menolak Dia yang mengutus Aku” seperti yang jelas dinyatakan dalam ayat keenam belas dari bab kesepuluh dari Injil Lukas (Lukas 10:16). Dan demikianlah juga terjadi mengenai hak orang-orang di sebelah kanan dan orang-orang di sebelah kiri dalam bab kedua puluh lima dari Injil Matius (Matius 25:31-46).

Untuk itu Allah berfirman melalui lisan Yeremia: “Engkau telah memakan aku, engkau telah menelan aku, Nebukadnezar, raja Babel, telah membuat aku seperti sebuah bejana yang kosong, dia telah mengisi perutnya dari kelezatan kami dan menindas kami” seperti yang jelas dinyatakan dalam bab lima puluh satu dari kitab Yeremia (Yeremia 51:34). Dan yang serupa dengan ini juga terjadi dalam Al-Qur’an yang mulia: “Sesungguhnya orang-orang yang berbaiat kepadamu sebenarnya berbaiat kepada Allah; tangan Allah di atas tangan-tangan mereka” (Al-Qur’an 48:10).

Dan sesuai dengan yang demikian ini, maka pengetahuan tentang Masih menurut pertimbangan ini adalah seperti pengetahuan tentang Allah. Adapun pembatalan pihak lain dalam Allah atau pembatalan Allah dalam dirinya, dan demikian juga pembatalan pihak lain dalam Masih atau pembatalan Masih dalam dirinya, adalah ungkapan tentang ketaatan terhadap perintah keduanya. Dalam bab ketiga dari surat pertama Yohanes begini: “Barangsiapa melakukan perintah-perintah-Nya akan tetap tinggal di dalam Dia dan Dia di dalam orang itu. Dan kita mengerti bahwa Ia tetap tinggal di dalam kita, dari Roh yang telah diberikan-Nya kepada kita” (1 Yohanes 3:24).

Dan mungkin mereka akan berpegangan pada beberapa keadaan Masih, maka kadang-kadang mereka mengambil kesimpulan bahwa dia dilahirkan tanpa seorang ayah. Argumentasi ini sangat lemah, karena seluruh dunia adalah hadis (baru) dan dari waktu terjadinya sampai waktu sekarang ini telah berlalu enam ribu tahun menurut anggapan mereka. Dan setiap makhluk dari langit dan bumi dan benda mati dan tumbuhan dan hewan dan Adam, diciptakan menurut mereka dalam satu minggu. Jadi semua hewan diciptakan tanpa ayah dan ibu, maka setiap salah satu dari ini bergabung dengan Masih dalam hal diciptakan tanpa ayah, dan melebihi dia dalam hal tanpa ibu, dan berbagai macam serangga lahir setiap tahun pada musim turunnya hujan tanpa ayah dan ibu. Jadi bagaimana hal ini bisa menjadi alasan untuk ketuhanan?

(Namun jika kita memandang kepada jenis manusia, maka Adam Alaihi Assalaam melebihi dia. Demikian juga Melkizedek sang imam yang adalah sezaman dengan Ibrahim Alaihi Assalaam. Dalam ayat ketiga dari bab ketujuh dari surat kepada orang-orang Ibrani keadaannya begini: “Tanpa ayah, tanpa ibu, tanpa silsilah, tidak mempunyai awal hari dan tidak mempunyai akhir hidup” (Ibrani 7:3). Jadi dia melebihi Masih dalam hal tanpa ibu dan dalam hal tidak mempunyai awal).

Dan kadang-kadang mereka mengambil kesimpulan dengan keajaiban-keajaibannya, dan ini juga lemah karena salah satu keajaiban terbesarnya adalah menghidupkan orang-orang mati. Dengan mengabaikan pertanyaan tentang kebenarannya, dari Injil yang umum dipahami adalah pengingkaran akan hal ini. Aku katakan bahwa Isa Alaihi Assalaam menurut Injil ini, sampai waktu penyaliban, tidaklah menghidupkan kecuali tiga orang saja, seperti yang engkau ketahui dalam bab pertama. Dan Hizqil Alaihi Assalaam menghidupkan ribuan seperti yang jelas dinyatakan dalam bab tiga puluh tujuh dari kitabnya (Hizqil 37:1-14), jadi dia lebih patut untuk menjadi ilah. Dan Ilyas Alaihi Assalaam menghidupkan seorang mati seperti yang jelas dinyatakan dalam bab ketujuh belas dari kitab Raja-raja pertama (1 Raja-raja 17:17-24). Dan Elisa Alaihi Assalaam juga menghidupkan seorang mati seperti yang jelas dinyatakan dalam bab keempat dari kitab Raja-raja kedua (2 Raja-raja 4:32-37). Dan keajaiban ini lahir dari Elisa setelah kematiannya, bahwa seorang mati dilemparkan ke dalam kuburnya kemudian hidup dengan izin Allah seperti yang jelas dinyatakan dalam bab tiga belas dari kitab tersebut (2 Raja-raja 13:20-21). Dan dia menyembuhkan penyakit kusta dari orang-orang yang menderita kusta seperti yang jelas dinyatakan dalam bab kelima dari kitab tersebut (2 Raja-raja 5:1-19).

Dan mungkin mereka akan berpegangan pada beberapa ayat dari kitab-kitab Perjanjian Lama dan pada beberapa perkataan para sahabat. Dan sesungguhnya aku telah menyebutkan berpegangan-berpegang ini beserta jawabannya dalam kitab “Izalah al-Auham” (Menghilangkan Kekeruhan), maka barangsiapa ingin mengetahuinya hendaklah merujuk kepada kitab itu. Dan aku meninggalkan penyebutan berpegangan-berpegang itu dalam kitab ini karena berpegangan pertama sangat lemah. Dan dengan mengabaikan kelemahan itu, tidak terbukt darinya ketuhanan menurut anggapan mereka juga, selama tidak diakui bahwa Masih adalah manusia yang sempurna dan ilah yang sempurna. Dan ta’wil ini batil, seperti yang engkau ketahui berkali-kali. Dan berpegangan-berpegang kedua adalah sama keadaannya dengan berpegangan pada keadaan-keadaan Masih pada umumnya, maka diperlakukan dengan cara memperlakukan perkataan-perkataan Masih dari tiga keadaan seperti yang engkau ketahui di awal bab ini.

Seandainya kami asumsikan bahwa beberapa perkataan dari mereka adalah nas tentang hal ini, maka kami katakan bahwa itu menurut pemikiran mereka. Dan engkau telah mengetahui dalam bab pertama bahwa semua penetapan mereka bukan atas wahyu. Dan sudah terjadi dari mereka kesalahan-kesalahan dan perbedaan-perbedaan dan pertentangan-pertentangan dengan pasti. Dan perkataan orang yang mereka muliakan Paulus tidaklah diterima oleh kami karena dia bukan sahabat dan tidak wajib diterima oleh kami. Sebaliknya kami tidak menerima dan tidak percaya pada keandalannya.

Ketahuilah semoga Allah membimbingmu, sesungguhnya aku hanya menyebutkan perkataan-perkataan Kristiani dan menta’wil-kannya untuk melengkapi pemaksaan dan membuktikan bahwa berpegangan mereka padanya lemah. Dan demikian juga apa yang aku katakan tentang perkataan-perkataan para sahabat semuanya hanya menurut asumsi penerimaan bahwa itu adalah perkataan mereka. Dan tidak terbukt bagi kami bahwa itu adalah perkataan Masih Alaihi Assalaam dan para sahabat karena ketiadaan sanad kitab-kitab ini seperti yang engkau ketahui dalam bab pertama. Dan karena terjadinya tahrif (pemalsuan) di dalamnya secara umum dan dalam masalah ini secara khusus juga. Seperti yang engkau ketahui dalam bab kedua bahwa kebiasaan mereka dalam hal-hal semacam ini demikianlah adanya.

Dan keyakinanku adalah bahwa Masih dan para sahabat pasti bebas dari akidah kafir ini dengan pasti. Dan aku bersaksi bahwa tidak ada ilah kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah, dan bahwa Isa adalah hamba Allah dan utusan Allah, dan bahwa para sahabat adalah utusan-utusan utusan Allah.

DIALOG IMAM FAKHR AL-RAZI DENGAN SEORANG PENDETA

Terjadi antara Imam yang agung Fakhr al-Razi, semoga Allah merahmatinya, dan antara beberapa pendeta satu perbincangan di Khwarazm. Karena menyampaikan kisah ini tidaklah terlepas dari manfaat, maka aku sampaikan:

Beliau semoga Allah merahmatinya berkata dalam jilid kedua dari tafsirannya dalam surat Ali Imran di bawah penjelasan firman Allah yang Mahaagung: “Barangsiapa berbantah dengan kamu tentang hal itu setelah pengetahuan datang kepadamu” (Ali Imran 3:60). Kebetulan ketika aku berada di Khwarazm, aku diberitahu bahwa seorang Nasrani datang yang mengaku telah memperdalam dan mendalami ajaran mereka. Maka aku pergi menemuinya dan kami mulai berdiskusi. Dia berkata kepadaku: Apa bukti akan kenabian Muhammad صلى الله عليه وسلم?

Aku berkata kepadanya: Sebagaimana telah diceritakan kepada kami tentang timbulnya keajaiban dari tangan Musa dan Isa dan lainnya dari para nabi Alaihi Assalaam, demikian juga telah diceritakan kepada kami tentang timbulnya keajaiban dari tangan Muhammad صلى الله عليه وسلم. Jika kami menolak mutawatir (riwayat yang disampaikan oleh banyak orang atau kami menerimanya namun kami mengatakan bahwa keajaiban tidak menunjukkan pada kebenaran, maka pada saat itu kenabian semua nabi Alaihi Assalaam menjadi batal. Dan jika kami mengakui keabsahan mutawatir dan kami mengakui petunjukan keajaiban kepada kebenaran, kemudian keduanya ada pada hak Muhammad صلى الله عليه وسلم, maka wajib untuk diakui dengan pasti akan kenabian Muhammad Alaihi Assalaam dengan keperluan. Karena ketika ada persamaan dalam bukti, harus ada persamaan dalam tercapainya yang dibukti.

Maka pendeta itu berkata: Aku tidak mengatakan tentang Isa Alaihi Assalaam bahwa dia adalah seorang nabi, sebaliknya aku mengatakan bahwa dia adalah ilah.

Aku berkata kepadanya: Pembicaraan tentang kenabian harus didahului dengan pengetahuan tentang ketuhanan. Dan perkataan yang kamu katakan ini adalah batil. Dan yang menunjukkan hal ini adalah bahwa ilah adalah ungkapan tentang sesuatu yang wajib adanya karena dirinya sendiri, yang mesti tidak berupa badan dan tidak terhimpit pada tempat dan bukan aksesoris. Adapun Isa adalah ungkapan tentang pribadi manusia yang berjisim ini yang ada setelah tidak ada sebelumnya. Dan dibunuh setelah hidup menurut pengakuan kamu. Dan dia adalah bayi pada awalnya, kemudian menjadi tumbuh besar, kemudian menjadi pemuda. Dan dia makan dan minum dan buang air dan tidur dan bangun. Dan sudah pasti dalam kejelasan akal bahwa yang hadis tidak bisa menjadi qadim. Dan yang memerlukan tidak bisa menjadi berkecukupan. Dan yang mungkin tidak bisa menjadi wajib. Dan yang berubah tidak bisa menjadi kekal.

Alasan Kedua: Dalam membantah ucapan ini adalah bahwa kamu mengakui bahwa orang-orang Yahudi menangkapnya dan menyalibnya dan membiarkannya hidup di atas kayu salib. Dan mereka telah merobek tulang rusuknya dan bahwa dia berusaha mengindari mereka dan bersembunyi dari mereka. Dan ketika mereka memperlakukannya dengan perlakuan itu, dia menunjukkan kecemasan yang sangat hebat. Jika dia adalah ilah atau ilah itu berdiam di dalamnya atau bagian dari ilah berdiam di dalamnya, mengapa tidak dia menolak mereka dari dirinya sendiri dan mengapa tidak dia membinasakan mereka semuanya? Dan alasan apa yang dia miliki untuk menunjukkan kecemasan dari mereka dan berusaha melarikan diri dari mereka? Demi Allah, sesungguhnya aku sangat heran bagaimana orang yang berakal itu bisa pantas mengucapkan perkataan ini dan meyakini kebenarannya. Hampir saja kejelasan akal menjadi saksi atas kebatilannya.

Alasan Ketiga: Dan itu adalah bahwa hendaklah dikatakan bahwa ilah adalah pribadi jasmaniah yang teramati ini, atau dikatakan bahwa ilah berdiam dengan keseluruhannya. Atau berdiam sebagian dari ilah dan bagian darinya di dalamnya. Dan ketiga bagian itu semuanya batil. Adapun yang pertama, karena jika ilah semesta alam adalah badan itu, maka ketika orang-orang Yahudi membunuhnya adalah berarti orang-orang Yahudi telah membunuh ilah semesta alam. Maka bagaimana semesta alam tetap ada setelah itu tanpa ilah? Kemudian sesungguhnya yang paling hina dan rendah dari manusia ialah orang-orang Yahudi. Jadi ilah yang dibunuh oleh orang-orang Yahudi adalah ilah yang amat lemah.

Adapun yang kedua, yaitu bahwa ilah dengan sepenuhnya berdiam dalam badan ini, itu juga batil. Karena jika ilah itu bukan badan dan bukan aksesoris, maka menjadi tidak mungkin baginya untuk berdiam dalam badan. Dan jika dia adalah badan, maka bediamannya dalam badan yang lain adalah ungkapan tentang percampuran bagian-bagiannya dengan bagian-bagian dari badan itu. Dan itu mengakibatkan terjadinya keterpecahan dalam bagian-bagian ilah itu. Dan jika dia adalah aksesoris, maka dia memerlukan tempat dan ilah menjadi memerlukan kepada yang lain. Dan semuanya itu adalah sial.

Adapun yang ketiga, yaitu bahwa berdiam di dalamnya sebagian dari bagian-bagian ilah dan bagian dari bagian-bagiannya, itu juga tidak mungkin. Karena bagian itu jika dianggap dalam ketuhanan, maka ketika terpisah dari ilah wajib bahwa ilah tidak tetap menjadi ilah. Dan jika tidak dianggap dalam merealisasikan ketuhanan, maka dia bukan bagian dari ilah. Jadi terbukti kebatilan bagian-bagian ini. Maka adalah pernyataan Nasrani itu batil.

Alasan Keempat: Dalam kebatilan pernyataan Nasrani adalah apa yang telah terbukti melalui mutawatir bahwa Isa Alaihi Assalaam adalah sangat besar keinginannya dalam beribadah dan berbuat taat. Seandainya dia adalah ilah, niscaya hal itu menjadi tidak mungkin karena ilah tidak beribadah kepada dirinya sendiri. Jadi ini adalah alasan-alasan yang amat jelas dan terang yang menunjukkan pada kebatilan pernyataan mereka.

Kemudian aku berkata kepada pendeta itu: Dan apa yang menunjukkan kepadamu bahwa dia adalah ilah? Dia berkata: Yang menunjukkan kepadanya adalah timbulnya keajaiban-keajaiban darinya dari menghidupkan orang-orang mati dan menyembuhkan orang-orang buta sejak lahir dan penyakit kusta, dan hal itu tidak mungkin terjadi kecuali dengan kekuatan ilah yang Mahaagung.

Maka aku berkata kepadanya: “Apakah engkau mengakui bahwa tidak ada konsekuensi logis dari tidak adanya dalil untuk tidak adanya yang didalalkan, ataukah tidak?” Jika engkau tidak mengakuinya, maka akan mengharuskan darimu dari penyangkalan dunia pada masa dahulu kala penyangkalan Pencipta. Adapun jika engkau mengakui bahwa tidak ada konsekuensi logis dari tidak adanya dalil untuk tidak adanya yang didalalkan, maka aku berkata: karena engkau membolehkan inkarnasi Allah dalam tubuh Isa alaihissalam, bagaimana engkau mengetahui bahwa Allah tidak menginkarnas dalam tubuhku dan tubuhmu dan dalam tubuh setiap hewan, tumbuhan, dan benda mati?”

Maka jawabnya: “Perbedaannya jelas. Sesungguhnya aku hanya menghukumi inkarnasi itu karena telah tampak perbuatan-perbuatan luar biasa itu atasnya. Adapun perbuatan-perbuatan luar biasa itu tidak tampak dari tanganku dan tidak dari tanganmu, maka kami ketahui bahwa inkarnasi itu tidak ada di sini.”

Maka aku berkata kepadanya: “Telah menjadi jelas sekarang bahwa engkau tidak memahami makna perkataanku bahwa tidak ada konsekuensi logis dari tidak adanya dalil untuk tidak adanya yang didalalkan. Hal itu karena tampilnya keajaiban-keajaiban itu adalah dalil atas inkarnasi Allah dalam tubuh Isa alaihissalam. Maka tidak tampilnya keajaiban-keajaiban itu dari diriku dan darimu tidak ada padanya melainkan bahwa tidak ada dalil itu, maka apabila telah terbukti bahwa tidak ada konsekuensi logis dari tidak adanya dalil untuk tidak adanya yang didalalkan, tidak ada konsekuensi logis dari tidak tampilnya keajaiban-keajaiban itu dari diriku dan darimu untuk tidak adanya inkarnasi dalam hakku dan dalam hakmu, bahkan dalam hak anjing, kucing, dan tikus.”

Kemudian aku berkata: “Sesungguhnya suatu aliran yang pernyataannya mengakibatkan pembenaran inkarnasi zat Allah dalam tubuh anjing dan lalat adalah dalam tingkatan kekejian dan kerusakan yang paling ekstrem.”

Kemudian sesungguhnya perubahan tongkat menjadi ular adalah lebih jauh dari akal dari penghidupan kembali orang mati menjadi hidup, karena kesamaan antara tubuh makhluk hidup dan tubuh orang mati lebih banyak daripada kesamaan antara kayu dan tubuh ular. Maka jika perubahan tongkat menjadi ular tidak mengharuskan Musa alaihissalam menjadi Allah dan anak Allah, maka dengan lebih layak penghidupan orang mati tidak menunjukkan ketuhanan. Pada kesempatan ini orang Kristen itu tertutup mulutnya dan tidak ada lagi ucapan darinya, dan Allah lebih mengetahui. Tamat perkataannya dengan ungkapan yang mulia.

BAB KELIMA: DALAM MEMBUKTIKAN BAHWA AL-QURAN ADALAH FIRMAN ALLAH DAN MUKJIZAT SERTA MENOLAK KERAGUAN-KERAGUAN PARA RAHIB

Aku menyertakan pada pembahasan Al-Quran pembahasan pembuktian kesahihan hadits-hadits Nabi yang diriwayatkan dalam kitab-kitab yang shahih dari kitab-kitab Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah.

Aku menjadikan bab ini mencakup empat pasal:

Pasal Pertama: Perkara-Perkara Yang Menunjukkan Bahwa Al-Quran Adalah Firman Allah

DALAM MEMBUKTIKAN BAHWA AL-QURAN ADALAH FIRMAN ALLAH

Perkara-perkara yang menunjukkan bahwa Al-Quran adalah firman Allah sangat banyak. Aku cukupkan darinya dua belas perkara menurut jumlah murid-murid Al-Masih, dan aku tinggalkan yang lainnya, seperti dikatakan bahwa orang yang mengingkari dan menentang pada saat penjabaran suatu perkara dari perkara-perkara duniawi dan juga agamawi akan diperhatikan dalam Al-Quran, dan bahwa penjabaran setiap sesuatu, baik berupa dorongan atau ancaman, belas kasihan atau teguran, adalah pada tingkat keseimbangan tanpa berlebihan dan tanpa berkurang, dan kedua perkara ini tidak ditemukan dalam perkataan manusia karena dia berbicara dalam penjabaran setiap keadaan dengan apa yang sesuai dengan keadaan itu, maka dia tidak memperhatikan dalam teguran keadaan orang-orang yang mampu menerima belas kasihan dan demikian sebaliknya, dan dia tidak memperhatikan pada saat menyebutkan dunia keadaan akhirat dan demikian sebaliknya. Dia berbicara dalam kemarahan dengan berlebihan melampaui kesalahan dan demikian perkara-perkara lainnya.

(PERKARA PERTAMA): Keterletak­annya pada tingkat tinggi keindahan berbicara yang belum pernah diketahui sebelumnya dalam susunan-susunan mereka dan tidak mampu mencapainya tingkatan-tingkatan keindahan berbicara mereka, dan itu adalah ungkapan dengan lafal yang menakjubkan untuk makna yang sesuai dengan situasi tempat perkataan itu diletakkan, tanpa kelebihan dan tanpa kekurangan dalam penjabaran dan pengisyaratan atasnya, dan atas dasar ini setiap kali bertambah kemuliaan lafal-lafal dan bersinar makna-makna dan kesesuaian pengisyaratan, adalah perkataan itu lebih indah, dan menunjukkan keterletakannya pada tingkat ini cara-cara:

(Pertama) Bahwa keindahan berbicara Arab sebagian besar itu dalam mendeskripsikan hal-hal yang terlihat seperti mendeskripsikan unta atau kuda atau gadis atau kemegahan atau pukulan atau tikaman atau mendeskripsikan perang atau mendeskripsikan serangan. Demikian juga keindahan berbicara orang-orang non-Arab sama saja, baik mereka adalah penyair atau penulis, sebagian besarnya dalam hal-hal seperti ini. Lingkaran keindahan dan keindahan berbicara dalam hal ini sangat luas karena sifat kebanyakan manusia cenderung ke arahnya. Dan telah tampak dari zaman dahulu kala pada setiap waktu dan di setiap wilayah dari seorang penyair atau penulis isi baru dan kelucuan halus dalam penjabaran sesuatu dari hal-hal yang disebutkan itu dan menjadi orang yang kemudian mengikuti berdiri di atas ketelitian-ketelitian orang-orang yang terdahulu pada umumnya. Maka seandainya orang itu sehat akalnya dan berpaling untuk mencapai keahlian dalam mendeskripsikannya akan tercapai baginya setelah praktik dan kerja keras keahlian dalam penjabaran sesuatu dari hal-hal ini sesuai dengan kesehatan pikirannya dan kebaikan akalnya, dan bukanlah Al-Quran dalam penjabaran khusus hal-hal ini maka seharusnya tidak terjadi padanya lafal-lafal yang indah yang disepakati atasnya Arab dalam perkataan mereka.

(Kedua) Bahwa Allah Taala menjaga di dalamnya metode kebenaran dan bersih dari kebohongan dalam semuanya, dan setiap penyair yang meninggalkan kebohongan dan berkomitmen pada kebenaran turun puisinya dan tidak bagus, dan oleh karena itu dikatakan “Puisi terbaik adalah yang paling bohong.” Dan engkau melihat bahwa Labid bin Rab’iyah dan Hassan bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhuma ketika mereka masuk Islam turun puisi mereka dan puisi Islam mereka tidak seperti puisi Jahiliyah mereka, dan Al-Quran datang indah dengan kesucian dari kebohongan dan keberani-beraniyan.

(Ketiga) Bahwa perkataan yang indah hanya kebetulan pada syair pada bait dan dua bait dan selebihnya tidak demikian, berbeda dengan Al-Quran karena keseluruhannya indah meskipun panjang, sedemikian sehingga makhluk tidak mampu mencapainya. Dan barangsiapa merenungkan kisah Yusuf alaihissalam akan mengetahui bahwa ia dengan panjangnya jatuh pada tingkat tinggi keindahan berbicara.

(Keempat) Bahwa penyair atau penulis jika mengulangi suatu isi atau kisah perkataan keduanya tidak seperti yang pertama, dan telah terulang kisah-kisah para Nabi dan keadaan-keadaan awal dan akhir serta hukum-hukum dan sifat-sifat Allah, dan ungkapan-ungkapan berbeda dalam ringkas dan panjang dan keahlian dalam penjabarannya dengan ghaib dan khitab, dan meskipun demikian masing-masing dari mereka pada puncak keindahan dan tidak tampak perbedaan sama sekali.

(Kelima) Bahwa ia membatasi pada wajibnya ibadah-ibadah dan haramnya keburukan-keburukan dan dorongan pada budi pekerti mulia dan meninggalkan dunia dan memilih akhirat, dan seperti-seperti perkara-perkara ini mengharuskan berkurangnya keindahan. Oleh karena itu jika dikatakan kepada penyair yang indah atau penulis yang fasih untuk menulis sembilan atau sepuluh masalah fiqih atau aqidah dalam ungkapan yang indah berisi perumpamaan-perumpamaan yang fasih dan kiasan-kiasan yang halus, dia tidak mampu.

(Keenam) Bahwa setiap penyair pandai dalam satu jenis jika perkataannya lemah dalam jenis lain, seperti dikatakan tentang penyair-penyair Arab: bahwa puisi Imru’ al-Qais bagus pada saat kesenangan dan penyebutan perempuan dan pendeskripsian kuda, dan puisi An-Nabi’ah pada saat ketakutan dan puisi Al-A’sha pada saat permintaan dan pendeskripsian minuman keras dan puisi Zuhair pada saat keinginan dan harapan. Dan dikatakan tentang penyair-penyair Persia bahwa An-Nizami dan Al-Firdawsi unik dalam penjabaran perang, dan As-Sadi istimewa dalam cinta, dan Al-Anuri dalam qasidah. Dan Al-Quran datang indah pada puncak keindahan dalam setiap jenis, baik dorongan atau ancaman, larangan atau nasehat atau yang lainnya. (Dan dia menghadirkan di sini sebagai contoh dari setiap jenis ayat demi ayat)

Dalam dorongan firmannya: “Maka tiada seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka berupa kenikmatan mata” (Surah As-Sajdah [32]: 17)

Dalam ancaman firmannya: “dan telah gagal setiap orang yang sangat sombong lagi durhaka. Di hadapannya adalah Jahannam dan dia diberi minuman dari nanah. Dia meminumnya dalam tegukan dan hampir saja tidak dapat meneguknya. Kematian datang kepadanya dari setiap tempat, padahal dia tidak akan mati. Dan di hadapannya ada siksaan yang amat berat.” (Surah Ibrahim [14]: 15-17)

Dalam larangan dan celaan firmannya: “Maka keduanya Kami siksa karena dosanya, kemudian dari antara mereka ada yang Kami kirimkan hujan batu, dan di antara mereka ada yang diterkam suara yang dahsyat, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan. Allah sekali-kali tidak akan menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri sendiri.” (Surah Al-‘Ankabut [29]: 40)

Dalam nasehat firmannya: “Apakah engkau tidak memperhatikan bahwa jika Kami beri mereka kenikmatan selama beberapa tahun, kemudian datang kepada mereka apa yang telah diancamkan kepada mereka, tidaklah bermanfaat bagi mereka apa yang telah diberikan kepada mereka.” (Surah Az-Zumar [39]: 21)

Dalam ilmu ketuhanan firmannya: “Allah mengetahui apa yang dikandung setiap betina dan berapa banyak berkurang atau bertambah rahim itu. Dan pada sisi Allah adalah pengetahuan tentang segala sesuatu dengan ukuran yang pasti. Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Maha Besar, Yang Maha Tinggi.” (Surah Ar-Ra’d [13]: 8-9)

(Ketujuh) Yang lazim adalah bahwa jika perkataan pindah dari suatu isi ke isi lain, dan berisi penjabaran hal-hal yang berbeda, tidak tetap kebaikan ikatan perkataan dan jatuh dari tingkat tinggi keindahan berbicara. Dan Al-Quran ditemukan di dalamnya berpindah dari kisah ke kisah ke kisah lain, dan keluar dari satu pintu ke pintu lain, dan berisi perintah dan larangan, berita dan pertanyaan, janji dan ancaman, pembuktian kenabian, tauhid zat, pengunikan sifat-sifat, dorongan dan ancaman, penyampaian contoh, dan penjabaran keadaan. Dan meskipun demikian ditemukan di dalamnya kesempurnaan ikatan dan tingkat tinggi keindahan berbicara yang keluar dari kebiasaan sehingga membingungkan akal-akal para orang fasih Arab.

(Kedelapan) Bahwa Al-Quran pada sebagian besar tempat datang dengan lafal yang sedikit berisi makna yang banyak dan lafal itu lebih segar, dan barangsiapa merenungkan pada Surah Sad mengetahui apa yang kukatakan bagaimana pembukaan­nya dan mengumpulkan di dalamnya dari berita-berita orang-orang kafir dan pertentangan mereka dan mengecam mereka dengan pembinasaan umat-umat sebelum mereka dan dari penolakan mereka terhadap Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan keheranan mereka atas apa yang dibawanya, dan berita tentang kesepakatan para malaikat mereka atas kekafiran, dan tampilnya iri dalam perkataan mereka, dan mengecam mereka dan memandang rendah mereka dan mengancam mereka dengan kehinaan dunia dan akhirat, dan penolakan umat-umat sebelum mereka dan pembinasaan Allah terhadap mereka, dan pengancaman Quraisy dan seumpamanya seumpama malapetaka mereka. Dan mendorong Nabi untuk sabar atas gangguan mereka dan penghiburan dirinya dalam kisah-kisah para Nabi seperti Daud, Sulaiman, Ayyub, Ibrahim, Yaqub dan lainnya alaihissalam. Dan semua itu yang disebutkan dari awalnya hingga akhirnya dalam lafal-lafal sedikit berisi makna-makna banyak, dan demikian juga firmannya Taala: “Dan dalam qisas itu ada kehidupan bagimu” (Surah Al-Baqarah [2]: 179) sesungguhnya perkataan ini lafal­nya sedikit dan maknanya banyak. Dan dengan kefasihan­nya berisi persesuaian antara makna-makna yang berlawanan keduanya adalah qisas dan kehidupan. Dan dalam keanehan dengan menjadikan pembunuhan yang mengakibatkan hilangnya kehidupan tempat baginya dan lebih utama dari semua perkataan yang terkenal di kalangan Arab dalam bab ini, karena mereka mengungkapkan makna ini dengan mengatakan: “Pembunuhan sebagian adalah penghidupan seluruhnya” dan mengatakan: “Perbanyaklah pembunuhan agar berkurang pembunuhan” dan mengatakan: “Pembunuhan mencegah pembunuhan”. Dan paling bagus dari perkataan-perkataan yang diriwayatkan dari perkataan terakhir dan lafal Al-Quran lebih fasih darinya dengan enam cara: (Yang pertama): Bahwa ia lebih singkat dari semuanya karena perkataannya “dan bagi kalian” tidak termasuk dalam bab ini karena harus ditaksirkan itu dalam semuanya karena perkataan penyatanya “pembunuhan sebagian penghidupan seluruhnya” harus ditaksirkan serupanya dan demikian juga dalam mengatakan mereka “pembunuhan mencegah pembunuhan”. (Yang kedua): Bahwa mengatakan mereka “pembunuhan mencegah pembunuhan” tampak memerlukan keterangan sesuatu itu penyebab hilangnya dirinya sendiri berbeda dengan lafal Al-Quran karena ia memerlukan keterangan bahwa jenis dari pembunuhan yaitu qisas adalah penyebab dari jenis dari aneka kehidupan. (Yang ketiga): Bahwa mengatakan mereka yang paling bagus ada pengulangan lafal pembunuhan berbeda dengan lafal Al-Quran.

(Yang keempat): Bahwa mengatakan mereka yang paling bagus tidak memberi manfaat melainkan tangkal dari pembunuhan, berbeda dengan lafal Al-Quran karena ia memberi manfaat tangkal dari pembunuhan dan luka jadi lebih bermanfaat.

(Yang kelima): Bahwa mengatakan mereka yang paling bagus menunjukkan apa yang diminta dengan sebab lain berbeda dengan lafal Al-Quran karena ia menunjukkan apa yang ditujukan dengan sebab awal, karena penolakan pembunuhan diminta dengan sebab lain dari mana ia berisi tercapainya kehidupan yang diminta dengan awal.

(Yang keenam): Bahwa pembunuhan secara zalim juga pembunuhan padahal itu bukan mencegah pembunuhan berbeda dengan qisas maka tampaklah perkataan mereka batil dan adapun lafal Al-Quran benar tampak dan tersembunyi.

Demikian juga firmannya Taala: “Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul­nya” dalam kewajibannya “dan menaati Rasul­nya” dalam sunnahnya atau dalam semua yang diperintahkan dan dilarangkan keduanya “dan takut kepada Allah” yaitu takut melanggarnya dan siksanya dan perhitungannya “dan menjaganya” di sisa hidupnya dalam semua urusannya “maka mereka itulah orang-orang yang beruntung” dengan hal yang dimaksud di awal dan akhir (Surah An-Nur [24]: 52), sesungguhnya perkataan ini dengan ringkasnya kalimat pengumpul untuk semua yang harus ada. (Diriwayatkan) bahwa Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu suatu hari tidur di masjid maka tiba-tiba ada yang berdiri di atas kepalanya bersaksi dengan syahadat kebenaran lalu memberitahu bahwa ia dari para pembesar Romawi dan dari golongan yang pandai memahami bahasa-bahasa dari Arab dan lainnya, dan bahwa ia mendengar seorang laki-laki dari tawanan-tawanan Muslim membaca suatu ayat dari kitabmu maka aku merenungkannya maka ternyata ia mengumpulkan setiap hal yang diturunkan Allah kepada Isa bin Maryam dari keadaan-keadaan dunia dan akhirat, dan itu firmannya “Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul­nya” (Surah An-Nur [24]: 52) ayat tersebut.

Diriwayatkan bahwa seorang tabib Kristen yang mahir bertanya kepada Al-Husain bin Ali Al-Waqidi: “Mengapa tidak ditransfer sesuatu dalam kitabmu tentang ilmu kedokteran? Padahal ilmu itu dua ilmu: ilmu tubuh dan ilmu agama.” Maka kata Al-Husain: “Sesungguhnya Allah menjelaskan seluruh ilmu kedokteran dalam setengah ayat.” Maka bertanya tabib Kristen tentang ayat ini. Maka ia berkata: “Itu adalah firmannya: “Makanlah dan minumlah apa yang dihalalkan Allah untuk kalian dan jangan berlebih-lebihan.” (Surah Al-A’raf [7]: 31) yaitu jangan melanggar ke arah yang haram dan jangan berlebih-lebihan dalam pengeluaran yang tercela, dan jangan mengambil jumlah yang banyak yang akan merugikan kalian dan kalian tidak membutuhkannya.”

Kemudian bertanya tabib: “Apakah Nabimu juga mengatakan sesuatu dalam hal ini?” Maka kata Al-Husain: “Sesungguhnya Nabimu juga mengumpulkan kedokteran dalam lafal-lafal sedikit.” Maka bertanya tabib darinya, maka kata Al-Husain: “Itu adalah ini: ‘Perut adalah rumah penyakit dan pantang adalah kepala dari setiap obat dan berikan kepada setiap tubuh apa yang telah dibiasakan'” Maka kata tabib: “Sesungguhnya keadilan bahwa kitabmu dan Nabimu tidak meninggalkan kebutuhan kepada Galenus, maksudnya jelaskan hal yang adalah kepala menjaga kesehatan dan menghilangkan penyakit dan asal-usulnya dan madarat­nya.”

(Kesembilan): Bahwa kejagaannya dan kesegaran­nya adalah seperti dua sifat yang bertentangan, dan pengumpulannya keduanya pada apa yang seharusnya dalam setiap bagian dari perkataan panjang berlawanan dengan kebiasaan yang lazim untuk para orang fasih, maka pengumpulannya keduanya pada setiap tempat dari tempat-tempat Al-Quran semuanya adalah bukti atas kesempurnaan keindahan dan keindahan berbahasanya yang keluar dari kebiasaan.

(Kesepuluh): Bahwa ia berisi semua jenis keindahan berbicara dari macam-macam penekanan dan aneka perumpamaan dan perbandingan, dan jenis-jenis kiasan dan kebaikan pembukaan dan penutupan, dan kebaikan akhiran, dan pendahuluan dan penangguhan dan pemisahan dan penggabungan yang pantas dengan situasi, dan bebas dari lafal yang tidak indah dan yang aneh keluar dari analogi yang tidak disenangi dari penggunaan, dan lainnya dari jenis-jenis keindahan berbicara. Dan tidak mampu siapa pun dari para orang fasih dan yang sempurna dari Arab yang paling arab melainkan atas jenis atau dua jenis dari jenis-jenis yang disebutkan, dan seandainya ia menginginkan yang lain dalam perkataannya tidaklah berhasil baginya, dan ia menjadi kurang. Dan Al-Quran mengandung semuanya maka itu sepuluh yang sempurna, dan cara-cara sepuluh ini menunjukkan bahwa Al-Quran pada tingkat tinggi keindahan berbicara yang keluar dari kebiasaan, mengenalnya para orang yang fasih Arab dengan naluri mereka, dan para ulama dari berbagai aliran dengan keahlian mereka dalam seni berbicara dan pemahaman komprehensif mereka tentang cara-cara berbicara, dan siapa yang lebih mengenal bahasa Arab dan jenis-jenis keindahan berbahasanya dia lebih mengenal keajaiban Al-Quran.

(PERKARA KEDUA): Susunannya yang menakjubkan dan gaya­nya yang aneh dalam pembukaan dan penutupan dan akhiran, dengan berisinya pada halus-halus penjabaran dan hakekat-hakekat pengetahuan esoterik, dan kebaikan ungkapan, dan kehalusilannya dalam isyarat, dan kesalahan susunan, dan kesalahan tertib, maka dibingungkan oleh akal-akal Arab yang paling arab, dan akal-akal para orang fasih. Dan kebijaksanaan dalam penyimpangan ini adalah agar tidak tetap bagi orang yang memaksa-maksa mengingkari tempat untuk pencurian, dan terbedakan perkataan ini dari perkataan mereka dan tampak penggungggulannya, karena orang yang fasih baik penyusun atau penulis berusaha dalam tempat-tempat ini usaha yang sempurna, dan dipuji dan dicela atasnya pada umumnya dalam tempat-tempat ini seperti dicela pada pembukaan Imru’ al-Qais:

Qafa nabbik min dzikra habiibin wa manzil Bi saqthil lawa bayna ad-dukhuuli fa huumel

(Berhentilah tangislah karena ingatan kekasih dan tempat tinggal, di dataran rendah Lawa antara tempat masuk dan tempat terang)

Karena permulaan bait itu mengumpulkan antara kesegaran lafal dan kemudahan komposisi dan banyaknya makna maka ia berhenti dan menghentikan dan menangis dan mengajak menangis dan menyebutkan kekasih dan tempat tinggal, dan syatr kedua tidak ditemukan di dalamnya sesuatu dari itu… dan dicela pada pembukaan Abu An-Najm penyair yang terkenal maka ia masuk kepada Hisyam bin Abdul Malik, maka mendeklamasikan kepadanya:

Terdapat anekdot tentang pembukaan puisi yang mengandung cacat. Misalnya, ketika Jarir masuk menemui Abd al-Malik dan telah memujinya dengan sebuah syair yang dimulai dengan huruf Ha, pembukaan syair tersebut adalah:

“Apakah engkau terjaga atau hatimu tidak terjaga?”

Maka Abd al-Malik berkata kepadanya: “Sebaliknya, hatimu yang tidak terjaga, wahai anak yang hina.” Demikian pula, terdapat cacat dalam pembukaan Al-Buhtiri ketika dia membacakan syairnya kepada Yusuf ibn Muhammad yang dimulai dengan:

“Bagimu kecelakaan dari malam yang diperpendek akhirnya”

Maka dia menjawab: “Sebaliknya, bagimu kecelakaan dan aib…”

Dan terdapat cacat dalam pembukaan Ishaq Al-Mawsili, seorang pujangga yang berbakat, ketika dia masuk menemui Al-Muhtasim setelah selesai membangun istananya di lapangan dan membacakan syairnya yang dimulai dengan:

“Wahai rumah, selain dirimu yang telah mengubahmu dan merusakmu, Alangkah indahnya aku tahu apa yang telah membinasakan dirimu!”

Maka Al-Muhtasim sangat terkejut dari pembukaan ini dan memerintahkan untuk segera menghancurkan istana itu. Demikianlah kebanyakan penyair terkenal telah berbuat kesalahan di tempat-tempat tersebut.

Para bangsawan Arab, meskipun sempurna dalam pengetahuan mereka tentang rahasia kata-kata dan permusuhan keras mereka terhadap Islam, tidak menemukan ruang dalam keindahan Alquran dan kebaikan susunannya dan gaya bahasanya untuk tidak mengajukan kritik, bahkan mereka mengakui bahwa ia bukan dari jenis pidato para pembicara dan puisi para penyair. Mereka menganggapnya sekali kali sebagai sihir, terpesona oleh keindahan lisannya dan kebaikan susunannya, dan mereka mengatakan sekali kali bahwa ia adalah kebohongan yang mereka buat dan cerita-cerita orang-orang terdahulu, dan mereka berkata sekali kali kepada sahabat-sahabat dan orang-orang terkasih mereka jangan mendengarkan Alquran ini dan buat keributan di dalamnya agar kalian dapat menang. Dan semua ini adalah perilaku orang yang kalah dan terhambat. Maka terbukti bahwa Alquran adalah mukjizat karena keindahan lisannya, keindahan bahasanya, dan kebaikan susunannya.

Dan bagaimana dapat dibayangkan bahwa para penutur fasih dan para orator dari kalangan Arab murni itu banyak, sebanyak pasir di padang pasir dan kerikil di lembah, dan terkenal dengan fanatisme ekstrem dan semangat kebodohan, dan obsesi mereka dengan pertandingan dan pamer-pamereran, dan pertahanan terhadap silsilah keluarga. Mereka meninggalkan perkara yang lebih mudah, yaitu datang dengan surat yang lebih pendek daripadanya, dan memilih yang lebih berat dan sulit seperti pengusiran, pengorbanan nyawa dan kehidupan, dan mereka ditimpa oleh penawanan anak-anak mereka dan pembegalan harta, sementara lawan mereka yang menantang terus menerus mengoreksi mereka di depan umum dengan perkataan-perkataan seperti ini:

Firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 23: “Maka datangkanlah satu surat yang seperti Alquran itu dan ajaklah penolong-penolong kalian selain Allah jika kalian adalah orang-orang yang benar.”

Firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 23-24: “Dan jika kalian dalam keraguan tentang apa yang kami turunkan kepada hamba kami, maka datangkanlah satu surat yang seperti Alquran itu dan ajaklah saksi-saksi kalian selain Allah jika kalian adalah orang-orang yang benar. Maka jika kalian tidak melakukannya dan sungguh kalian tidak akan melakukannya, maka takutlah terhadap api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”

Firman Allah dalam Surah Al-Isra’ ayat 88: “Katakanlah sesungguhnya jika berkumpul manusia dan jin untuk membuat yang serupa dengan Alquran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya meskipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.”

Jika mereka menyangka bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapat bantuan dari yang lain, maka mereka juga dapat mencari bantuan dari yang lain, karena dia adalah seperti mereka para pengingkar dalam hal pengetahuan bahasa dan dalam kemampuan untuk mencari bantuan. Maka ketika mereka tidak melakukannya itu dan memilih pertarungan fisik daripada tandingan verbal dan pertempuran senjata daripada perdebatan, terbukti bahwa keindahan Alquran telah mereka akui dan mereka tidak mampu untuk membuat tandingan. Satu-satunya perkara adalah mereka menjadi terbagi antara yang mempercayai Alquran dan yang menurunkannya, dan antara yang kebingungan dengan keindahan mulainya yang ajaib.

Diriwayatkan bahwa Al-Walid ibn Al-Mughirah mendengar dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bacaan:

Surah An-Nahl ayat 90: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

Maka dia berkata: “Demi Allah, sesungguhnya ia mempunyai kemanisan dan sesungguhnya di atasnya terdapat kilau, dan sesungguhnya bagian bawahnya penuh dan bagian atasnya berbuah. Bukan ini perkataan manusia.”

Dan diriwayatkan juga bahwa ketika dia mendengarkan Alquran, hatinya menjadi lembut. Maka Abu Jahil datang kepadanya, dan dia adalah anak pamannya yang mengingkari. Dia berkata: “Demi Allah, tidak ada seorang pun di antara kalian yang lebih tahu tentang puisi daripada aku, dan demi Allah, apa yang dia katakan tidak menyerupai sesuatu pun dari itu. Sungguh aku telah mendengar apa yang dikatakan para dukun, namun hal itu bukan perkataannya. Aku telah mencobanya dengan kaidah-kaidah puisi namun ia tidak cocok, dan tidak akan cocok di atas lidah siapa pun setelah aku. Sesungguhnya ia adalah puisi dan sungguh ia itu benar dan mereka adalah pembohong.”

Dan diriwayatkan juga bahwa dia mengumpulkan orang-orang Quraisy pada saat kedatangan musim haji dan berkata: “Sesungguhnya rombongan-rombongan Arab akan datang kepada kalian. Maka tetapkanlah satu pendapat bersama sehingga kalian saling tidak mendustakan.” Mereka berkata: “Kami mengatakan bahwa dia adalah seorang dukun.” Dia berkata: “Demi Allah, dia bukan dukun karena senandung-senandungnya dan sajak-sajaknya.” Mereka berkata: “Dia gila.” Dia berkata: “Dia bukan gila karena kegilaan dan berbisik-bisiangnya.” Mereka berkata: “Maka kami mengatakan dia adalah seorang penyair.” Dia berkata: “Dia bukan seorang penyair karena kami telah mengenal semua jenis puisi: puisi raja, puisi rakyat, puisi berkualitas, puisi panjang, dan puisi pendek.” Mereka berkata: “Maka kami mengatakan dia adalah tukang sihir.” Dia berkata: “Dia bukan tukang sihir karena hembusan-hembusan dan ikatan-ikatan sihirnya.” Mereka berkata: “Maka apa yang kami katakan?” Dia berkata: “Kalian tidak akan mengatakan sesuatu pun dari ini kecuali aku mengetahui bahwa itu adalah kebohongan, dan perkataan yang paling dekat adalah bahwa dia adalah tukang sihir.”

Kemudian dia berkata: “Sesungguhnya sihirnya itu memisahkan antara seorang lelaki dan anaknya, antara seorang lelaki dan saudaranya, antara seorang lelaki dan istrinya, dan antara seorang lelaki dan kabilahnya.” Maka mereka bercerai dan duduk di jalan-jalan untuk memperingatkan manusia dari mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka Allah Taala menurunkan:

Surah Al-Maddassir ayat 11: “Biarkanlah dia dan apa yang telah Aku ciptakan sendirian baginya” … (dan ayat-ayat selanjutnya).

Dan diriwayatkan bahwa Utbah berbicara kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang apa yang telah dia bawa yang bertentangan dengan kaumnya. Maka dia membacakan kepadanya:

Surah Fusilat ayat 1-14: “Ha Mim. Ini adalah turunan dari Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang telah dijelaskan ayat-ayatnya…” hingga “… Aku memberi peringatan kepadamu dengan kegemuruhan seperti kegemuruhan yang menimpa kaum ‘Ad dan Samud.”

Maka Utbah memegang mulutnya dengan tangannya dan memohon dengan hubungan keluarga agar dia berhenti. Dan dalam riwayat lain, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam terus membaca sementara Utbah mendengarkan dengan seksama, dengan kedua tangannya di belakang punggungnya bersandar kepadanya, sampai dia tiba pada ayat sujud maka Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersujud, dan Utbah berdiri tidak tahu apa yang akan dia jawab, dan dia kembali kepada keluarganya dan tidak keluar ke kaumnya sampai mereka datang kepadanya. Dia meminta maaf kepada mereka dan berkata: “Demi Allah, dia telah berbicara kepadaku dengan perkataan yang belum pernah didengar oleh kedua telingaku sepertinya sebelumnya, jadi aku tidak tahu apa yang harus aku jawab kepadanya.”

Abu ‘Ubaidah menyebutkan bahwa seorang Arab Badui mendengar seseorang membaca:

Surah Al-Hijr ayat 94: “Maka tegakkanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”

Maka dia bersujud dan berkata: “Aku bersujud karena keindahan lisannya.”

Dan seseorang lain dari kaum musyrikin mendengar seseorang dari kaum Muslimin membaca:

Surah An-Nahl ayat 4: “Maka ketika mereka putus asa terhadapnya, mereka berambil pembicaraan secara tersembunyi.”

Maka dia berkata: “Aku bersaksi bahwa sesuatu yang diciptakan tidak mampu untuk membuat perkataan seperti ini.”

Dan Al-Asma’i menceritakan bahwa dia mendengar seorang gadis kecil berbicara dengan ungkapan yang fasih dan isyarat yang elok, dia berusia lima atau enam tahun, dan dia berkata: “Aku meminta ampun kepada Allah dari semua dosaku.” Maka dia berkata: “Dari apa engkau meminta ampun sementara belum ada tindakan yang dilakukan kepadamu?” Maka gadis itu berkata:

“Aku meminta ampun kepada Allah dari seluruh dosaku, aku telah membunuh seorang manusia tanpa haknya, seperti rusa yang lembut dalam kotoran, pertengahan malam telah tiba dan aku belum menepatinya.”

Maka dia berkata kepadanya: “Semoga Allah menghancurkan dirimu, betapa fasihnya engkau!” Maka gadis itu berkata: “Atau ada keindahan lisan setelah ini dibandingkan dengan firmannya Yang Maha Tinggi?”

Surah Al-Qashash ayat 7-9: “Dan kami wahyukan kepada ibu Musa: Susuilah dia, dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka jatuhkan dia ke dalam laut dan jangan khawatir dan jangan bersedih hati. Sesungguhnya kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya termasuk para rasul.” Allah menghimpun dalam satu ayat antara dua perintah dan dua larangan, dua berita, dan dua kabar gembira.

Dalam kisah masuk Islamnya Abu Dzar dan deskripsi tentang saudaranya Anis, dia berkata: “Demi Allah, aku tidak pernah mendengar seseorang yang lebih mahir berpuisi daripada saudaraku Anis. Sesungguhnya dia telah melawan dua belas penyair pada masa Jahiliyyah, dan aku adalah salah satunya. Dia berangkat ke Makkah dan datang kepadaku. Aku berkata: Apa yang dikatakan oleh manusia? Dia berkata: Mereka berkata dia adalah seorang penyair, seorang dukun, dan seorang tukang sihir. Kemudian dia berkata: Sesungguhnya aku telah mendengar apa yang dikatakan para dukun maka hal itu bukan perkataannya. Aku telah mencobanya dengan kaidah-kaidah puisi namun ia tidak cocok. Tidak akan cocok di atas lidah siapa pun setelah aku. Sesungguhnya itu adalah puisi dan sungguh itu benar dan sesungguhnya mereka adalah pembohong.”

Dan diriwayatkan dalam kedua kitab shahih dari Jubair ibn Muthim Radiallahu ‘anhu bahwa dia berkata: Aku mendengarkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca pada Shalat Maghrib dengan Surah Ath-Thur. Ketika dia sampai pada ayat ini:

Surah Ath-Thur ayat 36-42: “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu atau mereka adalah pencipta? Ataukah mereka yang menciptakan langit dan bumi? Sebenarnya mereka tidak meyakini. Ataukah mereka memiliki perbendaharaan Tuhanmu ataukah mereka yang menguasai?” Hampir hati saya terbang ketika masuk Islam.

Dan telah diceritakan bahwa Ibn Al-Muqaffa’ berusaha untuk membuat tandingan Alquran dan mulai mengerjakannya. Maka dia melewati seorang anak yang membaca:

Surah Al-Anfal ayat 11: “Dan ketika dia memerintahkan tanah: Telanglanlah air ini.”

Maka dia kembali dan menghapus apa yang telah dia kerjakan dan berkata: “Aku bersaksi bahwa ini tidak bisa ditandingi dan ini bukan dari perkataan manusia.”

Yahya ibn Hakam Al-Ghazali, seorang orator terkenal di Andalus pada zamannya, telah diceritakan bahwa dia berusaha mengerjakan sesuatu dari ini. Dia melihat Surah Al-Ikhlas untuk datang dengan gaya bahasanya dan menyusun kata-kata menurut polanya. Dia berkata: Maka rasa takut dan kelembutan menyerang aku darinya yang membawaku kepada taubat dan kembali kepada Allah.

An-Nazham dari kaum Mu’tazilah mengatakan: Kemukjizatan Alquran adalah dengan cara Ash-Sharf (pengalihan), dalam pengertian bahwa orang-orang Arab mampu membuat perkataan seperti Alquran sebelum diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi Allah mengalihkan mereka dari membuat tandingannya karena motivasi-motivasi setelah pengutusan itu. Pengalihan ini melanggar kebiasaan sehingga menjadi mukjizat. Oleh karena itu, dia juga mengakui bahwa Alquran adalah mukjizat karena pengalihan itu dan tandingannya tidak dapat dilakukan oleh mereka setelah pengutusannya, dan hanya perselisihannya dalam hal itu dapat dilakukan sebelum pengutusannya. Namun perkataannya tidak benar dengan beberapa alasan:

Pertama: Jika demikian, maka mereka akan membuat tandingan Alquran dengan perkataan yang keluar dari mereka sebelum pengutusannya dan akan menjadi seperti Alquran.

Kedua: Bahwa para penutur fasih Arab hanya kagum dengan kebaikan susunannya dan keindahan lisannya dan keunggulan kekokohannya, bukan karena ketidakmampuan untuk membuat tandingan meskipun kemudahan dalam hal itu pada dirinya sendiri.

Ketiga: Bahwa jika kemukjizatan dimaksudkan dengan pengalihan, maka akan lebih pantas untuk meninggalkan perhatian pada keindahan lisannya dan keunggulan tingkatannya, karena Alquran dengan penilaian ini semakin rendah keindahan lisannya dan masuk dalam kerusakan bahasa, semakin besar tidak tersedianya tandingan dalam melanggar kebiasaan.

Keempat: Hal ini ditolak oleh firmannya Yang Maha Tinggi:

Surah Al-Isra’ ayat 88: “Katakanlah sesungguhnya jika berkumpul manusia dan jin untuk membuat yang serupa dengan Alquran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya meskipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.”

Jika dikatakan: Sesungguhnya ketika para penutur fasih Arab mampu berbicara dengan mufradat (kata-kata individual) dari Surah itu dan murakkabaatunya (susunannya) yang pendek, maka mereka mampu datang dengan tandingan. Maka kami menjawab: Hubungan ini adalah dilarang (tidak valid) karena hukum kalimat dapat berbeda dari hukum bagian-bagian. Tidakkah engkau lihat bahwa setiap rambut rambut tidak cocok untuk mengikat gajah atau kapal, dan jika disusun dari rambut-rambut itu tali yang kuat, maka cocok untuk mengikat gajah atau kapal dengannya. Dan karena jika pendapat itu benar akan menjadi perlu bahwa setiap individu Arab mampu datang dengan tandingan syair-syair orang-orang fasih seperti Imru’ Al-Qais dan yang lainnya.

Perkara Ketiga: Alquran mengandung berita tentang peristiwa-peristiwa yang akan datang yang kemudian ditemukan pada hari-hari sesudahnya sesuai dengan apa yang telah diberitahu.

  1. Tentang Masuk ke Masjid Al-Haram

Surah Al-Fath ayat 27: “Sungguh, kalian akan memasuki Masjid Al-Haram, jika Allah menghendaki, dalam keadaan aman dengan kepala dicukur atau dipendekkan rambutnya, tanpa merasa takut.”

Hal ini terjadi sesuai dengan berita, dan para sahabat memasuki Masjid Al-Haram dalam keadaan aman dengan kepala mereka dicukur dan dipendekkan rambutnya tanpa merasa takut.

  1. Tentang Janji Allah kepada Orang-orang Beriman

Surah An-Nur ayat 55: “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kalian yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia akan membuat mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah membuat berkuasa orang-orang sebelum mereka, dan bahwa Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan bahwa Dia akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan, menjadi keamanan, mereka menyembah-Ku dan tidak mempersekutukan apa pun dengan-Ku.”

Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kaum Mukmin untuk menjadikan khalifah-khalifah di antara mereka dan menguatkan agama yang diridai untuk mereka serta menukar ketakutan mereka dengan keamanan. Maka Allah memenuhi janji-Nya dalam waktu yang singkat dengan menampakkan dalam kehidupan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa kaum Muslim menguasai Makkah, Khaibar, Bahrain, kerajaan Yaman, dan sebagian besar daerah Arab. Benua Habasyah menjadi daerah Islam dengan masuknya Raja An-Najasyi ke dalam Islam. Orang-orang dari Hajr dan sebagian orang-orang Kristian dari sekitar Syam menerima ketaatan dan membayar jizya. Dominasi ini terus meningkat pada masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq Radiallahu ‘anhu dengan kaum Muslim menguasai sebagian daerah Persia, Basrah, Damaskus, dan sebagian daerah Syam lainnya. Kemudian dominasi ini terus meningkat pada masa kekhalifahan Umar Al-Faruq Radiallahu ‘anhu dengan kaum Muslim menguasai seluruh daerah Syam, seluruh kerajaan Mesir, dan sebagian besar daerah Persia. Kemudian dominasi ini terus meningkat pada masa kekhalifahan Utsman Dzul-Nurain Radiallahu ‘anhu dengan kaum Muslim menguasai ke arah Barat hingga ke Andalus yang jauh dan Al-Qayrawan, dan ke arah Timur hingga batas Cina. Dalam waktu tiga puluh tahun kaum Muslim menguasai kerajaan-kerajaan ini secara total, dan agama Allah yang diridai menang atas semua agama di kerajaan-kerajaan ini sehingga mereka menyembah Allah dalam keadaan aman tanpa merasa takut. Dan pada masa kekhalifahan Amir Al-Mu’minin Ali ibn Abi Thalib Karromallahu Wajhahu, meskipun kaum Muslim tidak menguasai kerajaan-kerajaan baru, namun tidak ada keraguan dalam kemajuan umat Islamiyyah pada masa beliau yang mulia juga.

  1. Tentang Kemenangan Atas Bani Hanifah

Surah Al-Imran ayat 13: “Kalian akan diajak (untuk berhadapan) dengan suatu kaum yang perkasa lagi sangat kuat, kalian akan memerangi mereka atau mereka akan menyerah.”

Hal ini terjadi sesuai dengan berita karena yang dimaksud dengan kaum yang perkasa lagi sangat kuat, menurut pendapat yang paling jelas dan paling terkenal, adalah Bani Hanifah yakni kaum Musailamah Al-Kadzab dan yang mengajak adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq Radiallahu ‘anhu.

  1. Tentang Penampakan Agama Islam

Surah At-Taubah ayat 33: “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar agama itu menang atas semua agama.”

Kondisi perkataan ini adalah seperti perkataan yang kedua dan pemenuhan janji ini yang lengkap akan menampak segera sesuai dengan yang diharapkan insyaallah. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

  1. Tentang Peperangan Hudaibiyyah dan Khaibar

Surah Al-Fath ayat 18-21: “Sungguh, Allah telah rida terhadap orang-orang Mukmin ketika mereka berbaiat kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi mereka pahala berupa kemenangan yang dekat, dan harta rampasan yang banyak yang mereka ambil. Dan Allah adalah Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. Allah telah menjanjikan kalian banyak harta rampasan yang akan kalian ambil, lalu Dia mempercepat kepadanya ini dan menahan tangan manusia dari kalian agar menjadi bukti bagi orang-orang Mukmin dan membimbing kalian ke jalan yang lurus. Dan (ada) yang lain yang belum kalian kuasai, Allah telah melingkupinya, dan Allah adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Yang dimaksud dengan kemenangan yang dekat adalah penaklukan Khaibar, dan yang dimaksud dengan harta rampasan yang banyak di tempat pertama adalah harta rampasan Khaibar atau Hajr, dan yang dimaksud dengan harta rampasan yang banyak di tempat kedua adalah harta rampasan yang akan didapatkan oleh kaum Muslim dari hari janji sampai hari Kiamat, dan yang dimaksud dengan “yang lain” adalah harta rampasan Hawazin atau Persia atau Rum. Dan hal ini terjadi sesuai dengan berita.

  1. Tentang Kabar Gembira Akan Tiga Perkara

Surah Al-Fath ayat 29: “Dan yang lain, yang kalian cintai, adalah pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat.”

Perkataan “yang lain” yaitu memberikan kalian sifat yang lain, dan perkataan “pertolongan dari Allah” adalah penerang bagi “yang lain” dan perkataan “kemenangan yang dekat” yaitu kemenangan yang segera dan itu adalah penaklukan Makkah. Dan Al-Hasan berkata: Ini adalah penaklukan Persia dan Rum. Dan hal ini terjadi sesuai dengan berita.

  1. Tentang Fath Makkah dan Masuk Orang Banyak ke Islam

Surah An-Nasr ayat 1-2: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong.”

Yang dimaksud dengan kemenangan adalah penaklukan Makkah, karena yang paling benar adalah bahwa Surah ini turun sebelum penaklukan Makkah karena “apabila” menuntut masa depan dan tidak dikatakan “apabila telah datang” untuk hal yang telah terjadi. Maka terjadilah penaklukan Makkah dan manusia masuk ke dalam Islam berdatangan demi berdatangan dari ahli Makkah, Ath-Thaif, dan lainnya dalam kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  1. Tentang Kemenangan Kaum Mukmin

Surah Ar-Rum ayat 49: “Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: Kalian akan dikalahkan.”

Dan hal ini terjadi sesuai dengan berita sehingga mereka menjadi kalah.

  1. Tentang Pertempuran Badar

Surah Al-Anfal ayat 7-8: “Dan (ingat) ketika Allah menjanjikan kepada kalian bahwa salah satu dari dua rombongan itu akan menjadi milik kalian, dan kalian ingin agar yang tidak bersenjata itu (menjadi milik kalian), tetapi Allah menghendaki untuk mengesahkan yang benar dengan kalimat-kalimatnya dan mengakhiri orang-orang kafir.”

Hal ini terjadi sesuai dengan berita.

10- Dan seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Sesungguhnya Kami telah memadai bagimu terhadap orang-orang yang memperolok-olok” (Al-Hijr: 95). Ketika ayat ini diturunkan, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira kepada para sahabatnya bahwa Allah telah memadai mereka dari keburukan dan gangguan orang-orang yang memperolok-olok. Mereka adalah sekelompok orang di Makkah yang mengajaukan manusia dari Nabi dan menyakiti beliau, kemudian mereka binasa dengan berbagai cobaan dan penderitaan, sehingga cahaya Nabi bersinar sempurna dan kehadirannya menjadi gemilang.

11- Dan seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan Allah akan memelihara engkau dari kejahatan manusia” (Al-Ma’idah: 67). Dan hal ini benar-benar terjadi sebagaimana yang dikabarkan, meskipun banyak yang berniat untuk merugikan beliau, namun Allah Subhanahu wa Ta’ala memelihara beliau, hingga beliau berpindah dari dunia ini ke tempat-tempat yang baik di akhirat.

12- Dan seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di bumi yang terdekat (dengan tanah Arab), dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah itu. Dan pada hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Allah menolong siapa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. (Ini adalah) janji Allah, Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. Mereka hanya mengetahui hal-hal yang zahir dalam kehidupan dunia, sedang mereka tentang akhirat adalah lalai” (Ar-Rum: 1-7). Orang-orang Persia adalah penyembah api (Majusi) dan Romawi adalah Nasrani. Maka tiba berita mengenai kekalahan Persia oleh Romawi di Makkah, lalu orang-orang musyrik bergembira dan berkata: “Kalian dan orang-orang Nasrani adalah Ahli Kitab, sedangkan kami dan Persia adalah orang-orang buta huruf yang tidak memiliki kitab. Saudara-saudara kami (Persia) telah menang atas saudara-saudara kalian (Romawi), dan kami pasti akan menang atas kalian.” Maka turunlah ayat-ayat ini. Kemudian Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Semoga Allah tidak membuat mata kalian melihat buruk, demi Allah sungguh Romawi akan menang atas Persia dalam beberapa tahun.” Maka berkatalah Ubay ibn Khalf: “Engkau berbohong, tetapkanlah antara kami dan dirimu suatu jangka waktu.” Lalu mereka bertaruh dengan sepuluh ekor unta dari masing-masing pihak dan menetapkan jangka waktu selama tiga tahun. Kemudian Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu memberitahu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Beliau bersabda: “Kata ‘beberapa tahun’ itu berarti antara tiga hingga sembilan tahun.” Lalu Abu Bakar menambah jumlah unta dan memperpanjang jangka waktu, sehingga menjadi seratus ekor unta selama sembilan tahun. Abu Bakar meninggal setelah kembali dari Perang Uhud, dan Romawi menang atas Persia pada tahun ketujuh setelah kekalahan mereka. Maka Abu Bakar mengambil unta-unta tersebut dari para ahli waris Ubay. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sedekahkanlah (unta-unta itu).”

Penulis “Mizan al-Haq” dalam pasal keempat dari bab ketiga mengatakan: “Jika kita anggap benar apa yang diklaim oleh para penafsir bahwa ayat ini diturunkan sebelum kemenangan Romawi atas Persia, maka kami mengatakan bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan berdasarkan dugaannya atau pikiran yang tepat untuk menenangkan hati para sahabatnya, dan dia telah mendengar kata-kata semacam ini dari orang-orang yang berakal dan berpikir dalam setiap zaman.” Akhir dari pernyataannya. Maka perkataannya “jika kita anggap benar apa yang diklaim para penafsir” menunjuk kepada bahwa hal ini bukan sesuatu yang pasti baginya, dan ini adalah hal yang aneh, karena firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “seyogyanya mereka akan menang dalam beberapa tahun” merupakan teks yang jelas bahwa hal ini akan terjadi pada masa depan yang dekat dalam waktu kurang dari sepuluh tahun sesuai dengan makna kata “beberapa tahun” dan “beberapa”, demikian juga firman-Nya: “dan pada hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman” dan firman-Nya: “Ini adalah janji Allah, Allah tidak akan menyalahi janji-Nya”, karena keduanya menunjukkan terjadi kegembiraan pada masa yang akan datang dan terjadi hal ini pada waktu itu, dan tidak ada arti untuk janji dan ketidakkhilafan terhadap janji dalam hal yang sudah terjadi. Dan perkataannya bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan berdasarkan dugaannya atau pikiran yang tepat ditolak dengan dua cara:

(Pertama): Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah termasuk orang-orang yang berakal menurut orang-orang Kristen juga, dan Pastor Mulia ini mengakui ini di sini dan di tempat-tempat lain dalam tulisan-tulisannya, dan bukanlah kebiasaan orang yang berakal yang mengklaim kenabian untuk membuat klaim yang pasti bahwa suatu perkara akan terjadi dalam waktu singkat seperti ini sama sekali dan memerintahkan para pengikutnya untuk bertaruh dalam hal ini, apalagi ketika menghadapi orang-orang yang mengingkari yang mencari kehinaan dirinya dan mencari celah kegagalannya dalam suatu perkara yang dampaknya tidak akan memberikan manfaat yang berarti, dan ketidakterjadiannya akan menjadi penyebab kehinaan dan kebohongannya di mata mereka, serta akan memberikan bukti kuat bagi mereka untuk mendustakan beliau.

(Kedua): Meskipun orang-orang yang berakal berbicara dalam beberapa hal berdasarkan akal mereka dan keputusan mereka kadang-kadang benar dan kadang salah, namun telah menjadi kebiasaan Allah bahwa jika pembicara itu adalah pengklaim nubuwah yang berdusta dan menginformasikan tentang peristiwa yang akan terjadi, dan berfabrikasi atas Allah dengan menyandarkan informasi ini kepada Allah, maka informasi ini tidak akan benar melainkan keluar dengan kesalahan dan kekhilafan sama sekali, sebagaimana akan Anda ketahui di akhir penelitian ini jika Allah berkehendak.

13- Dan seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Atau mereka mengatakan: ‘Kami adalah golongan yang akan menang, akan dikalahkan golongan itu dan mereka akan lari ke belakang” (Al-Qamar: 45). Dari Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa dia berkata ketika ayat ini diturunkan: “Saya tidak tahu apa maknanya hingga pada hari Badr, saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang memakai baju perang dan berkata: ‘akan dikalahkan golongan itu’. Maka aku tahu maknanya.”

14- Dan seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Perangilah mereka, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan tangan-tangan kamu, dan akan menghinakan mereka, dan menolong kamu terhadap mereka, serta menyembuhkan hati-hati kaum yang beriman” (At-Taubah: 14). Dan hal-hal ini benar-benar terjadi sebagaimana yang dikabarkan.

15- Dan seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Mereka tidak akan dapat merugikan kamu, melainkan hanya dengan gangguan” baik dengan mencela Muhammad dan Isa ‘alaihi as-salam, atau dengan menakut-nakuti orang-orang lemah dari kalangan Muslim, “dan jika mereka memerangi kamu, mereka akan lari ke belakang, kemudian mereka tidak akan ditolong” (Ali Imran: 111). Maka beliau menginformasikan tentang tiga hal gaib: (Pertama): Bahwa orang-orang beriman akan aman dari kemudaratan orang-orang Yahudi. (Kedua): Jika mereka memerangi orang-orang beriman, mereka akan mundur kalah. (Ketiga): Bahwa mereka tidak akan mendapatkan kekuatan dan keagungan setelah kekalahan, dan semuanya telah terjadi.

16- Dan seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Mereka ditimpa kehinaan di mana pun mereka berada, kecuali mereka tetap berhubungan dengan Allah dan dengan manusia; dan mereka mendapat kemurkaan dari Allah, serta mereka diliputi kerendahan” (Ali Imran: 112). Dan hal ini benar-benar terjadi sebagaimana yang dikabarkan, dan orang-orang Yahudi tidak memiliki pemerintahan di tempat manapun, dan di setiap wilayah mereka dijumpai sebagai rakyat yang ditimpa kehinaan.

17- Dan seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Kami akan memasukkan ketakutan ke dalam hati orang-orang yang kafir” (Ali Imran: 151), dan hal ini benar-benar terjadi pada hari Uhud dengan dua cara sebagaimana yang dikabarkan. (Pertama): Ketika orang-orang musyrik menguasai orang-orang Muslim pada hari Uhud dan mengalahkan mereka, Allah memasukkan ketakutan dalam hati mereka sehingga mereka meninggalkan para Muslim dan melarikan diri tanpa alasan. (Kedua): Ketika mereka berangkat ke Makkah, saat mereka berada di tengah perjalanan mereka menyesal dan berkata: “Alangkah buruknya apa yang telah kami lakukan, sesungguhnya kami telah membunuh mereka hingga ketika tidak ada yang tersisa kecuali yang terluka maka kami tinggalkan mereka, kembalilah dan habiskan mereka sebelum mereka mendapatkan kekuatan dan keagungan,” namun Allah memasukkan ketakutan dalam hati mereka sehingga mereka pergi ke Makkah.

18- Dan seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (Al-Hijr: 9), maksudnya dari pemalsuan, penambahan, dan pengurangan sesuai dengan apa yang diriwayatkan secara mutawatir oleh para ulama murid dari para pembaca pada setiap zaman. Dan hal ini benar-benar terjadi sebagaimana yang dikabarkan, karena tidak satu orang pun dari para penyesatan, pelingkaran, dan Qarmatah yang dapat mengubah sesuatu darinya, baik satu huruf dari huruf-huruf pembangunannya, maupun dari huruf-huruf maknanya, maupun satu i’rab (harakat) dari i’rabnya hingga masa kami sekarang, maksud seribu dua ratus delapan puluh tahun dari Hijrah, berbeda dengan Taurat, Injil, dan yang lainnya sebagaimana yang telah Anda ketahui dalam bab pertama dan kedua. Alhamdulillah atas kesempurnaan nikmat ini.

19- Dan seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Kebatilan tidak akan datang kepadanya baik dari depan maupun dari belakang; ini adalah kitab yang diturunkan dari Allah Yang Maha Bijaksana dan Maha Terpuji” (Fussilat: 42). Dan keadaan ucapan ini seperti ucapan sebelumnya.

20- Dan seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Sesungguhnya Tuhan yang mewajibkan Al-Quran atas dirimu benar-benar akan membawamu ke suatu tempat kembali” (Al-Qashash: 85). Dan diriwayatkan bahwa ketika beliau keluar dari gua dan berjalan bukan melalui jalan karena takut dikejar, lalu ketika beliau merasa aman beliau kembali ke jalan. Beliau turun di Al-Juhfah antara Makkah dan Madinah, dan mengenali jalan menuju Makkah lalu berhasrat padanya dan mengingat tempat kelahiran beliau dan tempat kelahiran ayahnya. Maka turunlah Jibril ‘alaihi as-salam dan berkata: “Apakah engkau merindukan negeri dan tempat kelahiranmu?” Maka Beliau bersabda: “Ya.” Lalu Jibril ‘alaihi as-salam berkata: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya Tuhan yang mewajibkan Al-Quran atas dirimu benar-benar akan membawamu ke suatu tempat kembali’, maksudnya ke Makkah dengan keunggulan atas mereka.”

21- Dan seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Katakanlah: ‘Apakah hanya menurut kalian akhirat itu milik Allah semata tanpa orang lain? Maka tunaikanlah kematian itu jika kamu orang-orang yang benar. Dan mereka sekali-kali tidak akan menginginkannya selamanya” karena yang telah mereka lakukan, “dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim” (Al-Baqarah: 94-95). Yang dimaksud dengan berkehendak adalah berkehendak dengan ucapan. Dan tidak ada keraguan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan keunggulannya dalam pendapat dan kebijaksanaan dan pandangan yang baik dalam akibat, sebagaimana diakui oleh yang setuju dan yang tidak setuju, dan sampai ke posisi yang beliau capai di dunia dan akhirat, serta sampai ke kekuasaan yang besar, tidak diperbolehkan bagi beliau – sedangkan beliau tidak yakin dari sisi Tuhan tentang wahyu – untuk menantang musuh-musuh terberat dengan hal yang beliau tidak aman dari akibat buruknya, dan tidak aman dari lawan bahwa dia akan mengalahkannya dengan bukti dan hujjah, karena orang yang berakal yang tidak pernah mencoba hal-hal tidak akan menyukai itu, apalagi dalam hal orang-orang yang paling berakal sekalipun. Maka terubus bahwa beliau tidak tergesa-gesa dalam tantangan ini kecuali setelah wahyu dan kepercayaan penuh kepada Allah.

Demikian pula tidak ada keraguan bahwa mereka adalah orang-orang yang paling memusuhi beliau, dan mereka adalah orang-orang yang paling bersemangat dalam mendustakan beliau, dan mereka adalah orang-orang yang berpikir dalam hal-hal yang dengannya Islam dapat dihapuskan atau kehinaan menimpa pengikutnya, dan apa yang diminta dari mereka adalah hal yang mudah bukan sulit, maka seandainya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak benar dalam dakwaannya di mata mereka, mereka pasti akan bergerak cepat untuk mengucapkannya untuk mendustakan beliau, tetapi mereka tidak mau mengucapkan kehendak tersebut berulang kali dan mereka mengumumkan bahwa beliau adalah pembohong yang berfabulasi atas Allah bahwa Dia berfirman demikian, dan menyatakan klaim dari diri sendiri. Mereka berkata kali ini: “Demi Dia yang nyawaku ada di tangan-Nya, tidak akan mengucapkannya seorang laki-laki dari mereka kecuali dia akan tersedak air liur, maksudnya akan mati di tempat itu,” dan mereka berkata lagi: “Jika orang-orang Yahudi menginginkan kematian, mereka pasti akan mati, sedangkan kami menginginkannya berkali-kali dan kami tidak mati di tempat kami.” Sehingga melalui pengalihan mereka dari kehendak mereka, meskipun mereka adalah orang-orang yang paling bersemangat dalam mendustakan beliau, keajaiban beliau tampak jelas dan hujjahnya menjadi nyata. Dan dalam ayat ini ada dua informasi tentang yang gaib: (Pertama) ucapan-Nya: “dan mereka sekali-kali tidak akan menginginkannya selamanya” menunjukkan dengan menunjukan yang jelas bahwa hal itu tidak akan terjadi di masa depan dari salah satu mereka sehingga memberikan keumuman orang. (Kedua) ucapan: “selamanya” menunjukkan bahwa hal itu tidak dijumpai dalam sesuatu dari waktu-waktu yang akan datang di masa depan sehingga memberikan keumuman waktu. Maka dengan memandang kepada kedua keumuman ini keduanya adalah dua informasi tentang gaib.

22- Dan seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan jika kamu (masih) dalam keraguan tentang apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami, maka datangkanlah satu surah yang sama dengan ini dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat (surah itu) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat, maka takutilah api neraka yang bahan bakarnya batu dan manusia, yang disediakan bagi orang-orang kafir” (Al-Baqarah: 23-24). Maka beliau menginformasikan bahwa mereka tidak akan melakukannya sama sekali, dan hal ini benar-benar terjadi sebagaimana yang dikabarkan. Dan ayat ini menunjukkan keajaiban dari empat aspek:

(Pertama) Kami mengetahui dengan riwayat mutawatir bahwa orang-orang Arab berada pada tingkat permusuhan yang tertinggi terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dalam tingkat kesemangatan tertinggi untuk membatalkan urusan beliau, karena meninggalkan tanah air dan keluarga serta mengorbankan jiwa adalah bukti yang sangat kuat untuk itu. Maka ketika itu dikombinasikan dengan sumpah seperti ini, yaitu firman-Nya: “Maka jika kamu tidak dapat membuat dan pasti kamu tidak akan dapat membuat”, kesemangatan mereka menjadi lebih kuat. Maka jika mereka mampu membawa sesuatu yang menyerupai Al-Quran atau menyerupai satu surah darinya, mereka pasti akan membawanya. Karena mereka tidak membawanya, maka keajaiban itu tampak jelas. (Kedua) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meskipun dicurigai di mata mereka dalam hal kenabian, tetapi kondisinya diketahui dalam hal berlimpahnya akal, kemuliaan, dan pengetahuan tentang akibat. Maka jika beliau adalah pembohong, beliau tidak akan menantang mereka dengan tantangan yang sejauh ini dalam hal tantangan, tetapi beliau harus takut dari apa yang beliau harapkan dari fitnah yang akibatnya akan kembali pada semua urusannya. Maka jika beliau tidak mengetahui melalui wahyu tentang ketidakberdayaan mereka dalam menentang, maka tidak diizinkan bagi beliau untuk membebani mereka dengan sumpah ini.

(Ketiga) Jika beliau tidak yakin dalam urusannya, beliau tidak akan yakin bahwa mereka tidak akan membawa sesuatu yang menyerupainya, karena orang yang berfabulasi tidak akan pasti dalam ucapannya. Maka kepastian beliau menunjukkan bahwa beliau yakin dalam urusan beliau. (Keempat) Informasi ini keluar dengan cara itu, karena sejak masa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga zaman kami sekarang tidak ada waktu yang terlewat di mana ada yang memusuhi agama dan Islam, dan mereka bersungguh-sungguh dalam mencerca, namun meskipun kesemangatan ini sangat kuat, penentangan tidak pernah dijumpai. Maka empat aspek ini dalam menunjukkan keajaiban adalah apa yang termuat dalam ayat ini.

Maka berita-berita ini dan yang serupa menunjukkan bahwa Al-Quran adalah firman Allah, karena kebiasaan Allah berjalan bahwa orang yang mengklaim nubuwah jika menginformasikan tentang sesuatu dan menyangkutkannya kepada Allah secara dusta, maka informasinya tidak keluar dengan benar.

Dalam bab delapan belas dari buku pengecualian demikian: “Maka jika engkau menyukai dan berkata dalam hatimu, bagaimana aku dapat memahami perkataan yang tidak Tuhan yang Maha Perkasa ucapkan?” Pasal dua puluh dua: “Maka ini akan menjadi tanda bagimu bahwa apa yang dikatakan nabi itu atas nama Tuhan dan tidak terjadi, maka Tuhan itu tidak mengucapkannya, tetapi nabi itu telah mengada-adakannya dalam meninggikan dirinya, maka janganlah takut padanya.”

(Hal yang Keempat) Adalah apa yang diinformasikan tentang cerita-cerita umat yang sudah lalu dan bangsa-bangsa yang telah binasa, dan telah diketahui bahwa beliau adalah orang yang ummi, tidak membaca dan tidak menulis dan tidak sibuk dengan belajar bersama para ulama atau bergaul dengan para orang mulia, tetapi beliau dibesarkan di antara kaum yang menyembah berhala dan tidak mengenal kitab, dan mereka juga kosong dari ilmu-ilmu rasional. Beliau tidak pernah absen dari kaumnya dengan cara yang memungkinkan beliau belajar dari orang lain. Dan tempat-tempat di mana Al-Quran menyanggahi dalam menjelaskan cerita-cerita dan keadaan-keadaan yang disebutkan dalam kitab-kitab Ahli Kitab, seperti cerita penyaliban Isa ‘alaihi as-salam dan yang lainnya, adalah pertentangan yang disengaja: Baik karena beberapa kitab-kitab ini bukan asli seperti Taurat dan Injil yang terkenal, atau karena mereka bukan ilham dari Allah, dan apa yang disebut ditunjukkan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Sesungguhnya Al-Quran ini menerangkan kepada Bani Isra’il sebagian besar dari apa yang mereka berselisih padanya” (An-Naml: 76).

(Hal yang Kelima) Adalah apa yang ada di dalamnya tentang membuka rahasia orang-orang munafik di mana mereka saling bersepakat dalam rahasia dalam berbagai macam tipu daya dan strategi, dan Allah memberitahu Rasul-Nya tentang keadaan-keadaan itu dari waktu ke waktu, dan menginformasikan beliau tentang mereka secara terperinci, maka beliau tidak menemukan dalam semua itu kecuali kebenaran. Demikian pula apa yang ada di dalamnya tentang membuka keadaan orang-orang Yahudi dan hati-hati mereka.

(Hal yang Keenam) Adalah pengumpulannya tentang pengetahuan-pengetahuan parsial dan ilmu-ilmu universal yang tidak pernah dialami oleh orang-orang Arab secara umum, dan tidak oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara khusus, dari ilmu tentang syariat-syariat dan penunjukan terhadap jalan-jalan hujjah rasional, perilaku dan nasihat serta hikmah, dan berita-berita akhirat dan keindahan etika dan sifat-sifat. Penjelasan dalam hal ini adalah bahwa ilmu itu baik bersifat keagamaan atau selainnya, dan tidak ada keraguan bahwa yang pertama adalah paling besar dalam urusan dan paling tinggi dalam tempatnya. Maka ilmu itu baik tentang keyakinan dan agama, atau baik tentang amal.

Adapun ilmu tentang keyakinan dan agama, maka itu adalah ungkapan tentang mengenal Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir. Adapun mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka itu adalah ungkapan tentang mengenal zat-Nya dan mengenal sifat-sifat keagungan-Nya, mengenal sifat-sifat kemuliaan-Nya dan amal-amal-Nya, mengenal hukum-hukum-Nya dan mengenal nama-nama-Nya. Dan Al-Quran mengandung tanda-tanda masalah-masalah ini dan cabang-cabangnya dan perinciannya dengan cara yang tidak ada yang menyamakannya, bahkan tidak ada yang mendekatinya dari kitab-kitab manapun. Adapun ilmu tentang amal, maka itu baik merupakan ungkapan tentang ilmu tentang taklif-taklif yang berkaitan dengan lahir, yaitu ilmu fiqih. Dan diketahui bahwa semua fuqaha telah menggali masalah-masalah mereka dari Al-Quran. Atau baik merupakan ilmu tasawuf yang berkaitan dengan pembersihan batin dan latihan hati, dan telah terjadi dalam Al-Quran dari masalah-masalah ilmu ini apa yang tidak dijumpai dalam yang lain, seperti firman-Nya: “Ambillah yang maaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh” (Al-A’raf: 199) dan firman-Nya: “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan” (An-Nahl: 90) dan firman-Nya: “Tidak sama yang baik dengan yang buruk. Pukullah dengan yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antaranya ada permusuhan seolah-olah dia adalah waliku yang amat setia” (Fussilat: 34). Maka perkataan-Nya: “Pukullah dengan yang lebih baik” maksudnya angkatlah kebodohan dan ketidakmengerti mereka dengan akhlak yang paling baik, yaitu kesabaran dan membalas keburukan dengan kebaikan. Dan perkataan-Nya: “maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antaranya ada permusuhan” maksudnya jika engkau membalas keburukan mereka dengan kebaikan dan perbuatan mereka yang jelek dengan perbuatan yang baik, maka mereka akan meninggalkan perbuatan-perbuatan jelek mereka dan berubah dari permusuhan menjadi cinta, dan dari kebencian menjadi kasih sayang, dan seumpamanya dari ucapan-ucapan ini banyak sekali di dalamnya.

Maka telah tetap (jelas) bahwa Al-Qur’an mencakup seluruh ilmu-ilmu naqli (wahyu), baik yang pokok maupun cabangnya. Di dalamnya juga terdapat isyarat terhadap berbagai jenis petunjuk akal, serta bantahan terhadap para pengikut kesesatan dengan hujjah-hujjah yang kuat dan dalil-dalil yang jelas, mudah dipahami, dan padat maknanya.

Seperti firman Allah Ta’ala:

“Bukankah (Allah) yang menciptakan langit dan bumi berkuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka?” (Surah Yasin: 81)

Dan firman Allah Ta’ala:

“Yang menghidupkannya ialah (Allah) yang menciptakannya pertama kali.” (Surah Yasin: 79)

Dan firman Allah Ta’ala:

“Sekiranya pada keduanya (langit dan bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, niscaya keduanya itu telah binasa.” (Surah Al-Anbiya: 22)

Dan sungguh indah apa yang telah dikatakan:

“Seluruh ilmu terdapat di dalam Al-Qur’an, namun akal manusia terlalu pendek untuk mencapainya.”

Alasan Ketujuh Keajaiban Al-Qur’an

Ketujuh, yaitu Al-Qur’an terlepas dari pertentangan dan ketimpangan meskipun ia adalah kitab besar yang mencakup berbagai macam jenis ilmu pengetahuan. Seandainya Al-Qur’an bukan berasal dari Allah, pasti akan ditemukan di dalamnya berbagai macam kata-kata yang saling bertentangan, karena sebuah kitab besar yang panjang tidak mungkin terlepas dari hal tersebut. Namun karena tidak ditemukan hal tersebut di dalamnya, maka kami mengetahui bahwa Al-Qur’an bukan berasal dari selain Allah, sebagaimana firman Allah Taala: “Maka apakah mereka tidak memahami Al-Qur’an? Kalau (Al-Qur’an itu) berasal dari selain Allah, tentulah mereka mendapatkan di dalamnya banyak pertentangan.” (Surat An-Nisa: 82)

Terhadap ketujuh hal yang disebutkan tersebut, Allah Taala telah menunjuknya dengan firman-Nya: “Yang menurunkan-nya ialah Yang Maha Mengetahui rahasia yang tersembunyi di langit dan di bumi.” (Surat As-Sajdah: 6) Sebab, keserupaan keserupaan, gaya bahasa yang menakjubkan, pemberitaan tentang hal-hal ghaib, dan cakupan berbagai macam ilmu pengetahuan, serta terlepasnya dari pertentangan dan ketimpangan, padahal kitab itu besar dan mencakup berbagai macam ilmu pengetahuan, semua ini hanya datang dari Yang Maha Mengetahui, yang tidak akan terlewatkan dari ilmu-Nya walaupun seberat zarah dari apa yang ada di langit dan di bumi.

Alasan Kedelapan Keajaiban Al-Qur’an

Kedelapan, yaitu Al-Qur’an adalah mukjizat yang kekal dan dibaca di setiap tempat, disertai dengan jaminan Allah untuk menjaganya, berbeda dengan mukjizat para nabi yang telah berakhir dengan berakhirnya masa mereka. Mukjizat ini tetap sebagaimana keadaannya sejak masa turunnya sampai zaman kita sekarang. Telah berlalu lebih dari seribu dua ratus delapan puluh tahun dari hijrah, dan buktinya sangat kuat, sedangkan pengingkaran terhadapnya adalah tidak mungkin. Di setiap zaman, di berbagai negara dan kota, dipenuhi dengan para ahli bahasa, para imam ilmu retorika, dan orang-orang yang mengingkari sangat banyak, serta para penentang yang membandel selalu hadir dan siap. Dan selamanya insyaallah akan tetap begini selama dunia dan penghuninya masih ada dalam kebaikan dan kesejahteraan. Karena yang bersifat mukjizat dari Al-Qur’an hanyalah sebanding dengan ukuran surah terpendek, maka setiap bagian darinya dengan ukuran tersebut adalah mukjizat. Dengan demikian, Al-Qur’an mencakup lebih dari dua ribu mukjizat.

Alasan Kesembilan Keajaiban Al-Qur’an

Kesembilan, yaitu pembacanya tidak pernah bosan dan pendengarnya tidak pernah muak terhadapnya. Sebaliknya, pengulangan terhadapnya mengakibatkan peningkatan kecintaan kepadanya, sebagaimana telah dikatakan:

“Dan sebaik-baik teman duduk adalah orang yang tidak pernah membosankan pembicaraannya, pengulangan terhadapnya terus meningkatkan keindahan di dalamnya.”

Sementara perkataan lain akan membosankan jika begitu fasih sampai pada puncaknya dengan pengulangan mendengarnya, dan menjadi dibenci oleh watak. Namun hal ini berlaku bagi mereka yang memiliki hati yang sehat, bukan bagi mereka yang memiliki watak yang sakit.

Alasan Kesepuluh Keajaiban Al-Qur’an

Kesepuluh, yaitu Al-Qur’an menggabungkan antara dalil dan yang didalalahkan. Pembaca Al-Qur’an, jika dia termasuk orang yang memahami maknanya, akan mengerti letak-letak hujah dan beban taklif secara bersamaan dalam satu kalimat, baik menurut pengertian literal maupun pengertian tidak literalnya. Sebab, dengan keindahan kalimat itu dapat disimpulkan keajaiban-Nya, dan dengan makna-maknanya dapat diketahui perintah dan larangan Allah serta janji dan ancaman-Nya.

Alasan Kesebelas Keajaiban Al-Qur’an

Kesebelas, yaitu Al-Qur’an mudah dihafal oleh para pembelajarnya, sebagaimana firman Allah Taala: “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang akan belajar?” (Surat Al-Qamar: 17)

Menghafalnya mudah bagi anak-anak kecil dalam waktu yang singkat. Dan ditemukan pada zaman ini juga dalam umat ini, meskipun Islam melemah di kebanyakan negara, lebih dari seratus ribu penghafal Al-Qur’an, sedemikian rupa sehingga Al-Qur’an dapat ditulis dari hafalan setiap satu di antara mereka dari awal hingga akhir, tanpa ada kesalahan dalam i’rab apalagi dalam lafaz. Sedangkan tidak ada di seluruh negara-negara Eropa jumlah penghafal Injil yang sama dengan jumlah penghafal Al-Qur’an di satu desa dari desa-desa Mesir saja, meskipun orang-orang Kristen telah bebas pikiran dan berfokus pada ilmu pengetahuan dan kerajinan selama tiga ratus tahun. Ini adalah keistimewaan yang jelas bagi umat Muhammad Rasul Allah yang meraih berkah dari Tuhan dan kitab mereka.

Alasan Keduabelas Keajaiban Al-Qur’an

Keduabelas, yaitu ketakutan yang mengenai hati para pendengarnya dan telinganya saat mendengarkan Al-Qur’an, dan rasa takzim yang menimpa pembacanya. Ketakutan ini mungkin menimpa mereka yang tidak memahami maknanya dan tidak mengetahui tafsirnya. Di antara mereka ada yang masuk Islam karenanya pada pandangan pertama, dan di antara mereka ada yang tetap pada kekafirannya, dan di antara mereka ada yang menjadi kafir pada saat itu kemudian kembali kepada Tuhannya setelahnya.

Diriwayatkan bahwa seorang Nasrani pernah melewati seseorang yang sedang membaca Al-Qur’an, lalu dia berhenti menangis. Ketika ditanya tentang penyebab menangisnya, dia berkata: ketakutan yang terjadi padanya karena pengaruh kalam Tuhan. Ja’far At-Tayyar semoga Allah meridhainya, ketika membaca Al-Qur’an kepada An-Najasyi dan sahabat-sahabatnya, mereka terus menangis hingga Ja’far semoga Allah meridhainya selesai membaca. An-Najasyi mengirim tujuh puluh orang ulama Kristen kepada Rasul Allah Rasul Allah yang meraih berkah dari Tuhan untuk membaca Al-Qur’an kepada mereka. Dia membaca kepada mereka surat Ya Sin, maka mereka menangis dan beriman. Kemudian turun ayat berkaitan dengan kedua kelompok atau salah satunya, firman Allah Taala: “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul, kamu lihat mata mereka mengeluarkan air mata karena kebenaran (yang mereka ketahui) sambil berkata: ‘Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka tuliskanlah kami bersama orang-orang yang bersaksi.'” (Surat Al-Maidah: 83)

Engkau telah mengetahui keadaan Jubayr ibn Mut’im semoga Allah meridhainya, dan ‘Utbah, dan Ibnu Al-Muqaffa’, dan Yahya ibn Hikam Al-Ghazali. An-Nuri Al-Syustari mengatakan dalam tafsirnya: Al-‘Allamah Ali Al-Qushji, ketika meninggalkan seberang sungai menuju Romawi, didatangi oleh seorang ahli dari para ahli Yahudi untuk menyempurnakan pemahaman Islam. Mereka berdebat selama sebulan dan tidak terlepas satu pun dari bukti-bukti Al-‘Allamah hingga saat itu. Kemudian pada suatu hari waktu pagi Al-‘Allamah sedang sibuk membaca Al-Qur’an di atas atap rumah, dan suaranya sangat jelek. Ketika Al-‘Allamah itu masuk pintu dan mendengarkan Al-Qur’an, Al-Qur’an memberi pengaruh yang mendalam dalam hatinya. Ketika sampai kepada Al-‘Allamah, dia berkata: Sesungguhnya aku masuk Islam. Maka Al-‘Allamah memasukkannya ke dalam Islam. Kemudian dia ditanya tentang sebabnya, dia berkata: Seumur hidupku aku tidak pernah mendengarkan suara jelek seperti milikmu. Ketika sampai ke pintu, aku mendengarmu membaca Al-Qur’an dan telah terjadi pengaruh yang mendalam padaku, maka aku tahu bahwa itu adalah wahyu.

Dengan demikian, terbukti dari hal-hal yang disebutkan bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat dan kalam Allah. Bagaimana tidak demikian, padahal keindahan kalimat disebabkan oleh tiga hal: bahwa lafaznya adalah fasih, bahwa susunannya diinginkan, dan bahwa kandungannya adalah baik. Ketiga hal ini terbukti ada dalam Al-Qur’an tanpa keraguan.

Alasan mengapa mukjizat nabi kami termasuk dari jenis keindahan bicara adalah karena beberapa mukjizat muncul di setiap zaman dari jenis apa yang mendominasi ahlnya juga. Sebab, mereka mencapai tingkatan tertinggi di dalamnya dan berhenti pada batas yang dapat dicapai manusia. Maka ketika mereka melihat apa yang berada di luar batas tersebut, mereka mengetahui bahwa itu berasal dari Allah.

Demikian halnya dengan sihir pada zaman Musa Alaihi Assalam. Sesungguhnya sihir adalah sesuatu yang mendominasi ahlnya, dan mereka adalah para ahli di dalamnya. Ketika para ahli sihir yang sempurna mengetahui bahwa batas sihir adalah tipu daya terhadap apa yang tidak memiliki kebenaran sejati, kemudian mereka melihat tongkatnya berubah menjadi ular yang menelan sihir mereka yang mereka ubah dari yang benar yang tetap menjadi yang tertipu dan batil tanpa bertambah ukurannya, mereka mengetahui bahwa itu berada di luar sihir dan mukjizat dari Allah, maka mereka beriman kepadanya.

Adapun Firaun, karena dia kurang mahir dalam seni ini, dia mengira itu juga sihir, meskipun lebih besar dari sihir para penyihir mereka.

Demikian juga ilmu kedokteran, karena ia mendominasi ahlnya pada zaman Isa Alaihi Assalam, dan mereka adalah para ahli di dalamnya. Maka ketika mereka melihat menghidupkan orang mati dan menyembuhkan orang buta sejak lahir, mereka mengetahui dengan ilmu mereka yang sempurna bahwa keduanya bukan dari batas keahlian medis, tetapi dari Allah.

Adapun keindahan bicara telah mencapai tingkatan tertinggi pada zaman Rasul Rasul Allah yang meraih berkah dari Tuhan. Ia adalah kebanggaan mereka sedemikian rupa sehingga mereka menggantungkan tujuh syair di pintu Ka’bah untuk menantang membuat tandingannya, sebagaimana disaksikan oleh buku-buku sirah. Maka ketika Nabi Rasul Allah yang meraih berkah dari Tuhan membawa apa yang tidak dapat ditandingi oleh semua orang fasih, diketahuilah bahwa itu pasti berasal dari Allah.

Turunnya Al-Qur’an secara bertahap dan terbagi, bukan sekaligus, dengan berbagai cara:

Pertama: Nabi Rasul Allah yang meraih berkah dari Tuhan bukan termasuk orang-orang yang fasih membaca, seandainya Al-Qur’an turun kepadanya sekaligus, dia tidak akan dapat menguasainya, dan lupa akan memungkinkan menimpanya.

Kedua: Seandainya Al-Qur’an diturunkan kepadanya sekaligus, barangkali dia akan mengandalkan pada tulisan tersebut dan bermalas-malasan dalam menghafal. Namun karena Allah menurunkan secara bertahap, dia menghafalnya dan tradisi menghafal tetap berlanjut pada umatnya.

Ketiga: Dalam hal turunnya kitab sekaligus, seandainya semua hukum turun sekaligus pada masyarakat, tentu akan memberatkan mereka. Namun karena diturunkan secara terbagi-bagi, tidak ada salahnya, taklif turun sedikit demi sedikit, sehingga menanggungnya lebih mudah. Sebagaimana diriwayatkan dari sebagian sahabat, dia berkata: Sungguh Allah telah berbuat baik kepada kami dengan sebaik-baiknya. Dulu kami adalah orang-orang yang menyekutukan Allah. Seandainya Rasul Allah datang kepada kami dengan agama ini sekaligus dan dengan Al-Qur’an sekaligus, tentu taklif-taklif ini akan memberatkan kami, sehingga kami tidak masuk Islam. Tetapi dia mengajak kami kepada satu kalimat. Ketika kami menerima dan merasakan manisnya iman, kami menerima apa di belakangnya satu demi satu, hingga agama sempurna dan syariat lengkap.

Keempat: Ketika dia melihat Jibril sekali demi sekali, hatinya diperkuat dengan melihatnya, sehingga dia lebih kuat dalam menunaikan apa yang diamanahkan, dan dalam kesabaran menghadapi kesulitan kenabian, dan dalam menanggung gangguan kaum.

Kelima: Ketika syarat keajaiban pada Al-Qur’an terpenuhi sekalipun diturunkan secara bertahap, terbukti bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat. Sebab, seandainya mereka mampu, mereka harus dapat membuat tandingannya secara bertahap dan terbagi.

Keenam: Al-Qur’an turun sesuai dengan pertanyaan mereka dan peristiwa yang menimpa mereka, sehingga mereka terus bertambah wawasan, karena pemberitaan tentang cacat ditambahkan dengan keindahan bicara karena hal tersebut.

Ketujuh: Karena Al-Qur’an turun secara bertahap dan terbagi, dan Nabi Rasul Allah yang meraih berkah dari Tuhan menantang mereka dari awal, seolah-olah dia menantang mereka dengan setiap bagian dari bagian-bagian Al-Qur’an. Maka ketika mereka tidak mampu menghadapinya, ketidakmampuan mereka terhadap pembuat tandingan keseluruhan adalah lebih patut terjadi. Dengan jalan ini terbukti bahwa kaum pasti tidak mampu membuat tandingan tanpa terkecuali.

Kedelapan: Perantaraan antara Allah dan para nabi-Nya dan menyampaikan kalam-Nya kepada mereka adalah kedudukan yang agung. Seandainya Al-Qur’an turun sekaligus, kemungkinan hilangnya kedudukan ini dari Jibril Alaihi Assalam adalah mungkin. Namun karena diturunkan secara bertahap dan terbagi, kedudukan yang agung itu tetap baginya.

Alasan pengulangan penjelasan tauhid, keadaan hari kiamat, dan kisah-kisah para nabi di berbagai tempat adalah karena orang-orang Arab adalah orang-orang yang menyekutukan Allah dan menyembah berhala, mereka mengingkari hal-hal ini. Sedangkan orang-orang non-Arab, sebagian dari mereka seperti orang-orang dari India, Tiongkok, dan Majusi adalah seperti orang-orang Arab dalam pengingkaran, dan sebagian dari mereka seperti orang-orang yang menyerupakan (Tuhan dengan makhluk) adalah berlebihan dan kurang dalam keyakinan terhadap hal-hal ini. Maka untuk kepastian dan penguatan, hal-hal ini dijelaskan berulang kali.

Adapun pengulangan kisah-kisah memiliki alasan-alasan lain juga, di antaranya:

Karena keajaiban Al-Qur’an juga disebabkan oleh keindahan bicaranya, dan tantangan dari aspek ini, kisah-kisah diulang dengan kalimat-kalimat yang berbeda, ringkas dan panjang, sambil menjaga tingkatan tertinggi keindahan bicara pada setiap tingkat, sehingga diketahui bahwa Al-Qur’an bukan kalam manusia. Sebab hal ini menurut para ahli bicara berada di luar kemampuan manusia.

Di antaranya adalah bahwa mereka dapat mengatakan bahwa lafaz-lafaz yang fasih yang sesuai dengan kisah-kisah ini telah kita gunakan dan lafaz-lafaz yang lain tidak tersisa yang sesuai dengannya. Atau mereka dapat mengatakan bahwa jalan setiap orang fasih berbeda dengan jalan yang lain. Sebagian dari mereka mampu pada gaya panjang lebar, dan sebagian dari mereka mampu pada yang ringkas, sehingga tidak perlu dari ketidakmampuan pada satu jenis ketidakmampuan mutlak. Atau mereka mengatakan bahwa lingkaran keindahan bicara sempit dalam penjelasan kisah-kisah, dan apa yang keluar dari kamu dalam penjelasannya sekali diandaikan atas keberuntungan dan kebetulan. Maka ketika kisah-kisah diulang dengan ringkas lebar dan panjang, tidak ada lagi alasan dari ketiga alasan ini.

Di antaranya adalah bahwa dia Rasul Allah yang meraih berkah dari Tuhan merasa sesak hatinya karena gangguan dan keburukan kaum sebagaimana Allah mengabarkan: “Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa dada engkau menjadi sempit karena apa yang mereka katakan.” (Surat Al-Hijr: 97) Maka Allah menceritakan kisah dari kisah-kisah para nabi yang sesuai dengan keadaannya pada waktu itu untuk menenangkan hatinya, sebagaimana Allah mengabarkan: “Dan semuanya itu kami ceritakan kepadamu dari berita-berita rasul-rasul, dengan yang mana kami teguhkan hatimu, dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Surat Hud: 120)

Di antaranya adalah bahwa orang-orang Muslim mengalami gangguan dari tangan-tangan orang-orang kafir, atau bahwa sejumlah orang memasuki Islam, atau bahwa orang-orang kafir adalah tujuannya untuk memberi peringatan kepada mereka. Maka Allah menurunkan dalam setiap tempat dari kisah-kisah ini apa yang sesuai dengannya, sebab keadaan pendahulu adalah pelajaran bagi yang sesudahnya.

Di antaranya adalah bahwa satu kisah dapat mencakup banyak hal, maka disebutkan sekali-kali dan dimaksudkan dengannya beberapa hal dengan sengaja, dan sebagiannya mengikuti, dan sekali lagi dibalikkan.

 

 

Pasal Kedua: Dalam Menjawab Keberatan-Keberatan Para Pastor terhadap Al-Qur’an

(Keberatan Pertama) Kami tidak mengakui bahwa ungkapan Al-Qur’an berada pada tingkat tertinggi dari keunggulan retorika yang melampaui kebiasaan. Sekalipun kami mengakuinya, hal itu akan menjadi bukti yang tidak sempurna untuk kemukjizatan, karena keunggulan itu hanya terlihat bagi mereka yang memiliki pengetahuan sempurna tentang bahasa Arab. Hal ini mengharuskan bahwa semua kitab yang terdapat dalam bahasa-bahasa lain seperti Yunani, Latin, dan sebagainya juga berada pada tingkat keunggulan retorika firman Allah, padahal dimungkinkan bahwa tujuan-tujuan palsu dan isi-isi yang jelek dapat disampaikan dengan kalimat-kalimat fasih dan ungkapan-ungkapan yang sangat elegan.

(Jawaban) Pengingkaran terhadap kenyataan bahwa ungkapan Al-Qur’an berada pada tingkat tertinggi adalah pengingkaran murni, sebagaimana telah Anda ketahui dari penjelasan pertama dan kedua pada bab sebelumnya. Adapun pernyataan mereka bahwa keunggulan itu hanya terlihat bagi mereka yang memiliki pengetahuan sempurna tentang bahasa Arab adalah benar, namun analogi mereka tidak sempurna. Sebab, karena mukjizat ini dimaksudkan untuk mengalahkan para ahli bahasa dan orator, dan telah terbukti ketidakmampuan mereka, mereka tidak mampu menolaknya, dan bahkan mengakuinya. Ahli bahasa mengenalinya melalui intuisi bahasanya, para ulama mengenalinya melalui keahlian mereka dalam seni retorika dan pengetahuan mereka yang mendalam tentang gaya-gaya bahasa, dan kaum awam dari berbagai kalangan mengenalinya melalui kesaksian ribuan ribu orang dari para ahli bahasa dan ulama. Dengan demikian, terbukti bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat yang pasti, bukan bukti yang tidak sempurna sebagaimana mereka klaim. Keunggulan retorika ini menjadi salah satu dari banyak sebab yang dengannya diketahui bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah, dan bukanlah klaim umat Islam bahwa penyebab Al-Qur’an menjadi firman Allah terbatas hanya pada keunggulan retorikanya saja. Demikian pula mereka tidak mengklaim bahwa mukjizat Nabi (saw) terbatas hanya pada keunggulan retorika Al-Qur’an saja, melainkan mereka mengklaim bahwa keunggulan retorika ini adalah salah satu dari banyak sebab yang menjadikan Al-Qur’an adalah firman Allah, dan bahwa Al-Qur’an dengan pertimbangan ini juga merupakan salah satu dari banyak mukjizat Nabi (saw), sebagaimana telah Anda ketahui dalam bab sebelumnya, dan akan Anda ketahui dalam bab keenam insya Allah.

Kesaksian atas klaim pertama adalah bahwa Bapak Sarkis al-Harouni, Metropolitan Syam, dengan izin Papa Urbanus VIII, mengumpulkan banyak imam, biarawan, dan ulama serta pengajar bahasa Ibrani, Arab, Yunani, dan lainnya untuk memperbaiki terjemahan Arab yang penuh dengan banyak kesalahan dan kekurangan yang melimpah. Mereka bersungguh-sungguh dalam pekerjaan ini dengan kesungguhan penuh pada tahun seribu enam ratus dua puluh lima dari penanggalan Masehi, lalu mereka memperbaiki. Namun, ketika setelah perbaikan sempurna masih tersisa dalam terjemahan mereka kekurangan-kekurangan yang merupakan sifat bawaan dari orang-orang Kristen, mereka meminta maaf atas hal itu dalam pendahuluan yang mereka tulis pada awal terjemahan tersebut. Saya memindahkan permintaan maaf mereka dari pendahuluan yang disebutkan dengan ungkapan dan kata-kata mereka sendiri, dan ini adalah pernyataannya: “Kemudian sesungguhnya dalam perpindahan ini kamu akan menemukan sesuatu dari ucapan yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa, bahkan bertentangan dengannya, seperti jenis maskulin menggantikan feminin, bilangan tunggal menggantikan jamak, jamak menggantikan dual, nominatif menggantikan akusatif dan genitif dalam nomina, dan jussive dalam verba, penambahan huruf sebagai pengganti vokal dan apa yang serupa dengan itu. Penyebab semua ini adalah kesederhanaan ucapan orang-orang Kristen sehingga menjadi bagi mereka jenis bahasa itu khusus. Namun, bukan hanya dalam bahasa Arab saja, tetapi dalam Latin, Yunani, dan Ibrani, para nabi, rasul, dan bapa-bapa terdahulu mengabaikan standar ucapan, karena Roh Kudus tidak menghendaki agar kami membatasi perluasan firman ilahi dengan batasan-batasan sempit yang ditentukan oleh kaidah-kaidah. Lalu menyampaikan kepada kami rahasia-rahasia surgawi tanpa fasihah dan keindahan retorika.” Berakhirlah pernyataan mereka.

Kesaksian atas klaim kedua adalah bahwa Abu Talib Khan, sang penjelajah, merancang sebuah kitab dalam bahasa Persia yang disebutnya “Al-Masir al-Talibi” dan berisi tentang keadaan penjelajahannya, dan menuliskan di dalamnya dari keadaan setiap wilayah yang dijelajahinya apa yang dilihatnya dari keindahan dan keburukan mereka. Maka dia menulis tentang keindahan dan keburukan penduduk Inggris, dan saya menerjemahkan keburukan yang kedelapan dari kitabnya karena ada hubungannya dengan kebutuhan dalam tempat ini. Dia berkata: “(Yang kedelapan) kesalahan mereka dalam mengetahui batas-batas ilmu pengetahuan dan bahasa orang lain, karena mereka menganggap diri mereka sebagai pengenal setiap bahasa dan ahli dalam setiap ilmu jika mereka mengenal beberapa kata terhitung dari bahasa itu atau beberapa masalah terhitung dari ilmu itu. Mereka merancang kitab-kitab tentang keduanya dan menyebarkan hiasan-hiasan palsuan ini setelah pencetakan. Saya menemukan makna ini dengan kesaksian orang-orang Perancis dan Yunani karena penguasaan bahasa-bahasa mereka tersebar luas di kalangan penduduk Inggris, dan saya memperoleh keyakinan dengan menyaksikan tindakan-tindakan mereka dalam bahasa Persia.” Berakhirlah. Kemudian dia berkata: “(Kumpulan di London banyak kitab-kitab dari jenis ini sehingga hampir saja kitab-kitab yang benar akan tetap tidak terbedakan setelah beberapa waktu berlalu).” Berakhirlah perkataannya. Dan pengataan mereka bahwa dimungkinkan bahwa tujuan-tujuan yang salah dapat disampaikan—tidak memiliki tempat dalam hal Al-Qur’an, karena ia penuh dari awalnya hingga akhirnya dengan penyebutan dua puluh tujuh perkara ini, dan kamu tidak akan menemukan ayat panjang di dalamnya yang kosong dari penyebutan suatu perkara dari perkara-perkara ini:

(Kesatu) Sifat-sifat kesempurnaan ilahi, seperti menjadi satu, kekal dahulu, azali, abadi, berkuasa, maha mengetahui, maha mendengar, maha melihat, berbicara, bijaksana, maha mengetahui lagi, Pencipta langit dan bumi, maha pengasih, al-Rahman, sabar, adil, suci, pemberi kehidupan, pematian hayat, dan lainnya.

(Kedua) Pentahkikan Allah dari cacat dan kekurangan, seperti terjadinya, ketidakberdayaan, kebodohan, kezaliman, dan lainnya.

(Ketiga) Seruan kepada tauhid murni dan pencegahan dari syirik secara mutlak dan dari tritunggal yang merupakan cabang syirik dengan pasti seperti yang telah kamu ketahui dalam bab keempat.

(Keempat) Penyebutan para nabi semoga selamat sejahtera dan berkah Allah selalu menyertai mereka.

(Kelima) Pentahkikan mereka dari penyembahan berhala dan kekafiran dan lainnya.

(Keenam) Memuji orang-orang yang beriman kepada para nabi.

(Ketujuh) Mencela para pengingkar mereka.

(Kedelapan) Menekankan keimanan kepada para nabi secara umum dan kepada Isa secara khusus.

(Kesembilan) Janji bahwa orang-orang yang beriman akan mengungguli para pengingkar pada akhirnya.

(Kesepuluh) Realitas hari kiamat dan balasan amal-amal pada harinya.

(Kesebelas) Penyebutan surga dan neraka.

(Keduabelas) Mencela kehidupan dunia dan penjelasan ketidaktetapannya.

(Ketigabelas) Memuji kehidupan akhirat dan penjelasan ketetapannya.

(Keempatbelas) Penjelasan tentang halal dan haramnya benda-benda.

(Kelimabelas) Penjelasan tentang hukum-hukum pengelolaan rumah tangga.

(Keenambelas) Penjelasan tentang hukum-hukum pemerintahan kota-kota.

(Ketujuhbelas) Dorongan untuk mencintai Allah dan ahli Allah.

(Kedelapanbelas) Penjelasan tentang hal-hal yang merupakan sarana untuk sampai kepada Allah.

(Kesembilanbelas) Mencegah bergaul dengan orang-orang fasik dan pelaku maksiat.

(Kedua puluh) Menekankan keikhlasan niat dalam ibadah jasmaniah dan harta.

(Kedua puluh satu) Ancaman terhadap riya dan sum’ah.

(Kedua puluh dua) Penekanan atas perbaikan akhlak secara global dan terperinci.

(Kedua puluh tiga) Ancaman terhadap akhlak-akhlak tercela secara global.

(Kedua puluh empat) Memuji akhlak-akhlak mulia, seperti kebijaksanaan, kerendahan hati, kemurahan, keberanian, kesucian, dan lainnya.

(Kedua puluh lima) Mencela akhlak-akhlak buruk seperti kemarahan, kesombongan, kekikiran, pengecut, kezaliman, dan lainnya.

(Kedua puluh enam) Nasehat tentang takwa.

(Kedua puluh tujuh) Anjuran untuk mengingat Allah dan beribadah kepadanya. Dan tidak ada keraguan bahwa perkara-perkara ini terpuji secara akal dan naql. Penyebutan perkara-perkara ini dalam Al-Qur’an datang berulang kali untuk penekanan dan penegasan. Jika kandungan-kandungan ini buruk, lantas apa kandungan yang akan baik?

Ya, tidak ada dalam Al-Qur’an:

[1] Bahwa nabi tertentu berzina dengan putrinya sendiri.

[2] Atau berzina dengan istri orang lain dan membunuhnya dengan tipu daya.

[3] Atau menyembah anak sapi.

[4] Atau murtad di akhir hidupnya dan menyembah patung-patung serta membangun kuil-kuil untuk mereka.

[5] Atau mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, berdusta dalam penyampaian, dan memperdaya dengan dusta seorang nabi lain yang malang, lalu melemparnya ke dalam murka Tuhan.

[6] Atau bahwa Daud, Sulaiman, dan Isa semoga selamat sejahtera dan berkah Allah selalu menyertai mereka semuanya adalah anak-anak dari anak hasil perzinaan, yaitu Farish bin Yahuda.

[7] Atau bahwa Rasul Agung adalah anak Allah, sulung, bapak para nabi, lalu anak tertuanya berzina dengan istri ayahnya.

[8] Dan anak keduanya dengan istri anaknya. Dan nabi agung ini mendengar apa yang keluar dari kedua anaknya yang terkasih dan tidak menjalani hukum bagi mereka berdua. Hanya saja dia berdoa terhadap yang tertua ketika kematiannya karena gerakan keji ini dan tidak diteruskan tentang yang lain dalam hal murka juga, bahkan dia berdoa untuk keuntungannya dengan berkah sempurna saat kematian.

[9] Atau bahwa Rasul Agung yang lain, sulung kedua, yang juga penzina dengan istri orang lain, anaknya yang terkasih berzina dengan putrinya yang terkasih dan dia mendengar, dan tidak menjalani hukum bagi mereka berdua, mungkin dia enggan menjalankan hukum karena dia juga tertimpa dengan perzinaan menurut klaim mereka. Bagaimana mungkin dia menjalankan hukum atas orang lain terutama atas anak-anaknya? Dan hal ini diakui di antara orang-orang Yahudi dan Kristen dan dinyatakan secara tegas dalam kitab-kitab Perjanjian Lama yang diakui kedua kelompok.

[10] Atau bahwa Yahya semoga selamat sejahtera dan berkah Allah selalu menyertai dia, rasul yang merupakan para nabi Israel terbesar berdasarkan kesaksian Isa semoga selamat sejahtera dan berkah Allah selalu menyertai dia. Dan meskipun yang terkecil dalam kerajaan surga lebih besar darinya berdasarkan kesaksian Isa semoga selamat sejahtera dan berkah Allah selalu menyertai dia juga, dia tidak mengenal tuhannya yang kedua dan utusan yang kedua itu, yaitu Isa dengan baik berdasarkan hubungan yang tidak diketahui hingga usia tiga puluh tahun, selama tuhannya ini tidak berkehendak untuk hambanya ini dan selama dia tidak menerima pembaptisan darinya dan selama tuhan yang ketiga tidak turun ke tuhan yang kedua dalam bentuk burung merpati. Dan setelah melihat penurunan yang ketiga ke yang kedua dalam bentuk yang disebutkan itu, dia teringat kembali perkara tuhannya yang pertama, si Bapak, bahwa tuhan yang kedua adalah tuhannya, pemiliknya, dan Pencipta bumi dan langit.

[11] Atau bahwa rasul yang lain, si pencuri yang memiliki kantong untuk mencuri, yang dimaksud adalah Yudas Iskariot, yang merupakan pemilik kemuliaan dan mukjizat dan salah satu dari para rasul yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari Musa bin Imran dan sisa-sisa para nabi Israel menurut klaim mereka, menjual agamanya dengan dunianya dengan tiga puluh dirham, dan rela dengan menyerahkan tuhannya ke tangan orang-orang Yahudi dengan keuntungan kecil ini sehingga mereka mengambil tuhannya dan menyalib mereka. Mungkin keuntungan ini besar baginya karena dia adalah nelayan yang jatuh, seorang pencuri, dan meskipun dia seorang rasul pemilik mukjizat juga menurut klaim mereka, maka tiga puluh dirham baginya lebih dicintai dan memiliki derajat lebih tinggi dari tuhannya yang disalib.

[12] Atau bahwa Kayafa, kepala imam yang kenabian ditegakkan dengan kesaksian Yohanes si Penggisil, berfatwa tentang membunuh tuhannya, mendustakannya, mengkafirkannya, dan menghinanya. Dan terjadi hak tuhannya yang disalib tiga hal aneh dari tiga nabi dengan bilangan tritunggal bahwa para nabi Israelnya yang terbesar tidak mengenalnya dengan baik hingga usia tiga puluh tahun selama tuhannya ini tidak berkehendak untuk dia dan tuhannya yang ketiga tidak turun kepadanya dalam bentuk burung merpati. Dan nabi keduanya rela menyerahkannya dan mengunggulkan keuntungan tiga puluh dirham atas derajat ilahiyahnya dan janjinya. Dan rasululinya yang ketiga berfatwa tentang membunuhnya, mendustakannya, dan mengkafirkannya. Allah melindungi kami dari keyakinan-keyakinan buruk seperti ini terhadap para nabi semoga selamat sejahtera dan berkah Allah selalu menyertai mereka. Dan jangan mengorbankan aku atas apa yang aku pindahkan hiasan-hiasan palsuan ini dengan cara paksaan. Demi Allah, kemudian demi Allah, aku tidak percaya terhadap para nabi hal-hal ini dan mereka bebas darinya. Dan aku mengatakan bahwa sebagian dari apa yang aku pindahkan tentang keadaan Yahya semoga selamat sejahtera dan berkah Allah selalu menyertai dia hingga keadaan Kayafa dinyatakan secara tegas dalam Perjanjian Baru.

Dan demikian juga tidak ada dalam Al-Qur’an masalah-masalah mulia ini yang sebagian besar membuat akal kami tidak sanggup, bahkan akal-akal dunia, dan yang diyakini oleh golongan tua yang sangat besar, yaitu golongan Katolik yang jumlahnya menurut klaim sebagian dari para bapaknya pada masa ini juga adalah sekitar dua ratus juta.

[1] Bahwa Maryam semoga berkah dan selamat sejahtera atas dia telah dihamili oleh ibunya tanpa kedekatan suami seperti yang terungkap realitas ini kepada para papal baru-baru ini.

[2] Dan seperti bahwa Maryam ibu Allah benar-benar.

[3] Dan seperti bahwa setiap sepotong roti dari potongan-potongan roti, meskipun mempunyai ukuran jutaan, tidak digandakan, akan berubah dalam perjamuan Tuhan pada saat yang sama di tempat-tempat yang berbeda menjadi Isa yang sempurna dengan ilahiyahnya dan kemanusiaannya yang lahir dari perawan jika diasumsikan bahwa jutaan imam di penjuru dunia timur dan barat, utara dan selatan, menguduskan pada saat yang sama.

[4] Dan seperti bahwa satu roti jika dipecah oleh imam bahkan menjadi seratus ribu potong, setiap potong darinya juga menjadi Isa yang sempurna. Meskipun keberadaan biji-bijian kemudian penggodokan kemudian pengulenan kemudian keberadaan roti kemudian potongan semuanya dari peristiwa-peristiwa dengan pengamatan, maka aturan penahanan mereka tidak berfungsi dalam semua hal ini.

[5] Atau bahwa harus dibuat gambar dan patung-patung dan sujud di depannya.

[6] Atau bahwa tidak ada keselamatan tanpa keimanan kepada papa, sekalipun dia tidak layak dalam hal yang sebenarnya.

[7] Atau bahwa uskup Roma adalah papa bukan selain dia dan dia adalah kepala gereja dan terlindungi dari kesalahan. Dan bahwa:

[8] Gereja Roma adalah ibu dari semua gereja-gereja dan gurunya.

[9] Atau bahwa untuk papa dan yang terkait dengannya ada perbendaharaan dengan jumlah besar dari jasa-jasa para wali bahwa mereka dapat memberikan pengampunan-pengampunan terutama jika mereka memenuhi harga yang tepat untuk mereka seperti yang beredar di kalangan mereka.

[10] Atau bahwa untuk papa ada jabatan untuk menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Guru Mikha’il Mishaqah dari para ulama Protestan berkata dalam halaman 66 dari kitabnya yang disebut “Jawaban-Jawaban Injili terhadap Kebodohan-Kebodohan Tradisional” yang dicetak pada tahun 1852 di Beirut ini: “Sekarang kamu lihat mereka menikahkan paman dengan putri saudaranya, dan paman (dari ibu) dengan putri saudaranya, dan laki-laki dengan istri saudaranya yang memiliki anak-anak yang berlawanan dengan pengajaran kitab-kitab suci dan dewan-dewan mereka yang terlindungi dari kesalahan. Dan hal-hal yang diharamkan ini telah menjadi halal ketika mereka mengambil rupiah atasnya. Dan berapa banyak pembatasan yang mereka tempatkan pada ulama gereja dengan mengharamkan pernikahan syariat yang diperintahkan oleh Tuhan pemberi syariat.” Berakhir perkataannya dengan lafaznya. Kemudian dia berkata: “Dan berapa banyak mereka mengharamkan jenis-jenis makanan kemudian menghalalkan apa yang mereka haramkan. Dan pada zaman kami mereka menghalalkan makan daging dalam puasa besar mereka yang selama ini mereka keras melarangnya di dalamnya.” Berakhir perkataannya dengan lafaznya. Dan dalam Risalah Kedua dari kitab Tiga Belas Risalah dalam halaman 88:

Fransis Dibadella sang Kardinal berkata: Sesungguhnya papa diberi otorisasi untuk melakukan apa yang dia kehendaki bahkan apa yang tidak halal juga, dan dia lebih besar dari Allah. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan.” Berakhir perkataannya dengan lafaznya.

[11] Atau bahwa jiwa-jiwa orang-orang saleh diarahkan ke siksaan dalam api penyuci dan bergelombang dalam api-apinya sehingga papa memberikan kepadanya pengampunan atau para imam membebaskannya dengan ritual-ritual mereka setelah menguasai harga-harganya, dan itu berbeda dari neraka. Dan orang-orang ini mendapatkan dokumen-dokumen dari wakil-wakil papa dan penggantinya untuk mendapatkan penyelamatan dari siksaannya. Tetapi keajaiban dari orang-orang cerdas ini adalah bahwa jika mereka membeli dokumen-dokumen dari khalifah Allah yang kekuasaannya berjalan di bumi dan langit, mengapa mereka tidak meminta darinya tanda terima yang ditanda tangani dengan stempel dari mereka yang membebaskan dari siksaan? Dan karena kekuatan para papal terus bertambah hari demi hari dengan curahan Roh Kudus, papa Leon yang Kesepuluh menciptakan untuk pengampunan memo-memo pengampunan yang diberikan darinya atau dari wakilnya kepada pembeli dengan pengampunan dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang juga. Dan ditulis di dalamnya seperti ini: “Tuhan kami Yesus Kristus merahumimu dan memaafkanmu atas jasa-jasa penderitaan kudusnya. Dan setelah itu telah diberikan kepada aku dengan kekuatan otoritas rasul-rasulku Petrus dan Paulus dan papa yang mulia di daerah-daerah ini bahwa aku mengampuni engkau pertama-tama kelemahan-kelemahanmu yang rohani apapun itu kemudian dosa-dosamu dan kekurangan-kekuranganmu apapun itu yang melampaui hitungan, bahkan juga dosa-dosa yang penyimpanannya bagi papa untuk menyelesaikannya, dan sejauh mana perluasan kunci-kunci Gereja Roma, aku mengampuni engkau dari semua siksaan yang akan engkau layak dapatkan dalam api penyuci dan mengembalikanmu kepada sakramen-sakramen Gereja Kudus dan kepada persatuannya dan kepada apa yang telah engkau peroleh saat pembaptisanmu dari kesucian dan kemurnian sehingga ketika engkau mati, pintu-pintu siksaan ditutup di hadapanmu dan pintu-pintu surga dibuka untukmu. Dan jika engkau tidak mati sekarang, maka itu tetap bagimu dengan keefektifan sempurna sampai jam terakhir kematianmu atas nama Bapak dan Anak dan Roh Kudus, Amin.” Ditulis dengan tangan Saudara Yohanes pengganti wakil yang kedua.”**

[12] Atau bahwa jarak neraka adalah rongga kubus dalam inti bumi masing-masing sisinya dua ratus mil.

[13] Atau bahwa papa menorehkan salib pada sepatunya dan yang lain di wajahnya, mungkin sepatu papa tidak lebih rendah dari salib dan dari wajah-wajah uskup-uskup yang lain.

[14] Atau bahwa beberapa wali memiliki wajah seperti wajah anjing dan tubuhnya seperti tubuh manusia, dan dia bersyafaat untuk mereka di sisi Allah. Guru yang disebutkan berkata dalam halaman 114 dari kitabnya yang disebutkan menusuk golongan itu atau tulisan: “Dan mungkin mereka menggambarkan beberapa wali dalam bentuk yang tidak pernah Allah ciptakan seumpamanya, seperti penggambaran kepala anjing pada tubuh manusia yang mereka sebut Santo Kristoforus dan mereka menghadirkan kepadanya berbagai jenis ibadah ketika mereka memuluinya dan bersujud di hadapannya dan menyalakan lilin untuknya dan membakar dupa dan meminta syafaatnya. Apakah layak bagi orang-orang Kristen untuk percaya pada keberadaan akal diskursif dan kesucian dalam otak-otak anjing? Apa itu dari keamanan gereja-gereja mereka dari kesalahan?” Berakhir perkataannya dengan lafaznya.

Dan perkataan ini apakah layak bagi orang-orang Kristen dst. adalah benar dengan pasti. Dan wali ini serupa dengan beberapa wali dari para penyembah berhala di India. Dan mungkin cinta orang-orang Kristen dari penduduk Eropa terhadap anjing-anjing adalah karena keberadaannya dalam bentuk wali yang dihormati ini.

[15] Atau bahwa kayu salib dan gambar-gambar Bapak Kekal dan Anak dan Roh Kudus disujud kepadanya dengan sujud sejati yang beribadah dan bahwa gambar-gambar wali-wali disujud kepadanya dengan sujud kehormatan. Dan saya bingung apa arti kepatutan hal-hal pertama untuk sujud beribadah, karena kehormatan mereka kepada kayu salib tidak terlepas dari salah satu dari keduanya: baik bahwa sesuatu seperti itu telah menyentuh tubuh Kristus, dan dia naik di atasnya menurut klaim mereka, atau karena dia adalah perantara penebusan, atau karena darahnya mengalir di atasnya. Jika yang pertama, maka berarti jenis keledai harus disembah bagi mereka lebih tinggi dari salib di kalangan mereka karena Kristus semoga selamat sejahtera dan berkah Allah selalu menyertai dia menunggangi keledai betina dan keledai muda dan mesjid-mesjid Kristus adalah tempat istirahat dan tempat masuknya yang dimuliakannya ke Yerusalem. Dan keledai berbagi dengan manusia dalam genus yang dekat dan kehewanan, jadi dia adalah tubuh yang hidup, peka, bergerak dengan kehendak, tidak seperti kayu yang tidak memiliki kemampuan perasaan dan gerakan. Jika yang kedua, maka Yudas Iskariot, penggerak, lebih layak untuk dihormati karena dia adalah perantara pertama dan sarana besar untuk penebusan. Karena andaikata dia tidak menyerahkan, tidak mungkin bagi orang-orang Yahudi menangkap Kristus dan menyalib dia, dan karena dia sama dengan Kristus semoga selamat sejahtera dan berkah Allah selalu menyertai dia dalam kemanusiaan dan atas bentuk manusia yang merupakan bentuk Allah, dan dia penuh dengan Roh Kudus pemilik kemuliaan dan mukjizat. Jadi keajaiban bahwa sarana pertama ini di kalangan mereka terkutuk dan yang lebih kecil diberkati dan dihormati.

Adapun yang ketiga, karena duri yang ditenun sebagai mahkota di atas kepala Kristus semoga selamat sejahtera dan berkah Allah selalu menyertai dia telah memenangkan jabatan tertinggi juga, yaitu aliran darah di atasnya. Lantas mengapa dia tidak dihormati dan tidak disembah dan tidak dinyalakan api untuknya, dan kayu ini disembah? Kecuali jika mereka mengatakan bahwa itu adalah rahasia seperti rahasia tritunggal dan perubahan substansi yang berada di luar jangkauan akal-akal manusia. Dan lebih buruk adalah penghormatan gambar persona Bapak, karena kamu telah mengetahui dalam perkara ketiga dan keempat dari pendahuluan bab keempat bahwa Allah bebas dari keserupaan dan tidak ada yang melihatnya dan tidak ada yang mampu melihatnya di dunia. Jika begitu, lantas bapak mana dari para bapak mereka yang melihatnya sehingga dia melukisnya? Dan dari mana mereka tahu bahwa gambar ini sesuai dengan gambarnya Yang Maha Tinggi dan bukan sesuai dengan gambar setanlah yang jahat atau gambar kafir dari para kafir? Dan mengapa kalian tidak menyembah setiap manusia tanpa perbedaan baik dia Muslim atau kafir karena manusia adalah atas bentuk Allah menurut nass Taurat. Dan keajaiban bahwa papa bersujud kepada gambar ilusi benda mati ini yang tidak memiliki perasaan atau gerakan dan merendahkan gambar Allah yang merupakan manusia dan mengulurkan kakinya kepada manusia itu supaya dia mencium sepatuya. Dan tidak tampak bagiku perbedaan antara penganut kitab ini dan para penyembah berhala di India. Saya menemukan awam mereka seperti awam mereka dan khusus mereka seperti khusus mereka dalam ibadah ini. Dan ulama para penyembah berhala di India mengatakan seperti perkataan ulama-ulama mereka dalam meminta maaf.

[16] Atau bahwa papa adalah hakim tertinggi dalam penghakiman atas penafsiran makna-makna kitab-kitab dan akidah ini diciptakan dalam generasi-generasi kemudian. Sebaliknya, Akestein dan Mulut Emas dan lainnya dari para pendahulu yang bukan papa dan tidak meminta izin kepada mereka tidak akan mampu untuk menafsirkan semua kitab-kitab suci dengan inisiatif mereka sendiri. Dan tafsir-tafsir mereka diterima di semua gereja-gereja zaman mereka. Mungkin papa-papa mendapatkan penghakiman tertinggi ini dengan membaca tafsir-tafsir mereka setelah mereka merancangnya.

[17] Demikian pula halnya para uskup dan diaken dilarang menikah, dan karena itu mereka melakukan apa yang tidak dilakukan oleh mereka yang menikah, dan dalam banyak hal beberapa guru mereka menentang usaha keras para paus. Maka saya akan mengutip beberapa perkataan mereka dari buku Tiga Belas Risalah dalam Risalah Ketiga pada halaman 144 dan 145:

Santo Bernardus berkata – Khotbah nomor 66 dalam Nyanyian Lagu-Lagu: Mereka telah menghilangkan dari Gereja perkawinan yang mulia dan ranjang yang tanpa noda, maka mereka memenuhinya dengan zinah di tempat tidur bersama laki-laki dan ibu-ibu dan saudara perempuan dan dengan semua jenis pencemar. Dan Pharaon Pelagius, uskup terdahulu di negeri Portugal pada tahun 1300 berkata: Semoga para klerus tidak pernah bernazar untuk kesucian, terutama klerus Spanyol karena anak-anak jemaah di sana lebih banyak sedikit daripada anak-anak imamat, dan Yohanes uskup Salzburg pada abad kelima belas menulis bahwa dia menemukan beberapa imam yang sedikit tidak terbiasa dengan kecemaran yang berkembang bersama perempuan, dan bahwa biara biarawati tercemari seperti rumah-rumah yang diperuntukkan untuk zinah. Akhir perkataannya dengan redaksinya secara ringkas. Dan bagaimana seseorang percaya pada kesucian bagi mereka jika mereka muda peminum minuman keras dan Rubil putra Yakub tidak selamat kemudian melakukan zinah dengan istri selir ayahnya, dan Yehuda putra Yakub tidak selamat melakukan zinah dengan istri anaknya, dan Daud tidak selamat melakukan zinah dengan istri Uria padahal dia memiliki banyak istri dan Lut tidak selamat melakukan zinah dalam keadaan mabuk minuman keras dengan kedua anak perempuannya, dan seterusnya. Jika keadaan para nabi dan anak-anak mereka sesuai keyakinan mereka demikian, bagaimana kesucian diharapkan dari mereka, sebaliknya yang benar adalah bahwa Pharaon Pelagius dan Yohanes jujur dalam pernyataan bahwa anak-anak jemaah di sana lebih banyak sedikit daripada anak-anak imamat, dan bahwa biara biarawati tercemari seperti rumah-rumah yang diperuntukkan untuk zinah.

Masalah-masalah serupa dengan ini sangat banyak, saya menghindari untuk menjelaskannya karena takut memperpanjang. Maka saya berkata:

Mungkin seandainya mereka menemukan kandungan-kandungan luhur ini yang saya kutip dan sejenisnya dalam Alquran, mereka akan mengakui bahwa itu adalah firman Allah dan menerimanya, tetapi ketika mereka menemukannya kosong dari kandungan-kandungan itu dan sejenisnya, bagaimana mereka dapat mengakui dan menerima, karena kandungan-kandungan yang baik dan akrab bagi mereka adalah kandungan-kandungan itu dan sejenisnya, bukan kandungan-kandungan yang disebutkan dalam Alquran. Adapun beberapa kandungan yang terdapat dalam Alquran dalam penyebutan surga dan neraka dan lain-lainnya, dan mereka mengklaim bahwa itu jelek, maka saya akan menyebutkannya jika Allah menghendaki dalam keraguan yang ketiga dengan jawaban-jawabannya maka tunggu.

(Keraguan yang Kedua)

Bahwa Alquran bertentangan dengan kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru di berbagai tempat, maka itu bukanlah firman Allah.

Jawaban: Pertama – Bahwa kitab-kitab ini ketika sanad-sanad bersambungnya tidak terbukti sampai kepada para pengarangnya dan demikian pula tidak terbukti bahwa setiap kitab di antara mereka adalah ilhami, maka telah terbukti bahwa mereka berbeda secara makna di banyak tempat dan penuh dengan kesalahan-kesalahan yang banyak dengan keyakinan – sebagaimana anda telah mengetahui hal-hal ini dalam Bab Pertama – dan telah terbukti adanya pemalsuan di dalamnya juga sebagaimana anda telah ketahui dalam Bab Kedua, maka pertentangan mereka terhadap Alquran di tempat-tempat yang disebutkan tidak membahayakan, sebaliknya menjadi bukti bahwa tempat-tempat yang disebutkan adalah kesalahan atau dipalsukan dalam kitab-kitab yang disebutkan seperti kesalahan-kesalahan dan pemalsuan-pemalsuan lainnya yang anda ketahui dalam kedua bab tersebut, dan anda telah ketahui dalam hal keempat dari pasal pertama dari bab ini bahwa pertentangan ini disengaja untuk tujuan memberi perhatian bahwa apa yang bertentangan dengan Alquran adalah kesalahan atau dipalsukan bukan tidak sengaja.

(Jawaban yang Kedua) Bahwa pertentangan antara Alquran dan kitab-kitab kedua Perjanjian dalam mencela para imam terdiri dari tiga jenis: (Pertama) dari segi hukum-hukum yang dinasakh. (Kedua) dari segi beberapa keadaan yang disebutkan dalam Alquran tidak ditemukan penyebutannya dalam kedua Perjanjian. (Ketiga) dari segi bahwa penjelasan beberapa keadaan dalam Alquran bertentangan dengan penjelasan kitab-kitab ini, dan tidak ada jalan bagi mereka untuk menolak Alquran dari segi jenis-jenis ini.

(Adapun yang Pertama) maka karena anda telah mengetahui dalam Bab Keenam dengan tidak ada penambahan padanya bahwa nasakh tidak terbatas pada Alquran, sebaliknya terdapat dalam syariat-syariat terdahulu dengan banyak, dan tidak ada mustahil di dalamnya, dan syariat Isa telah menasakh semua hukum-hukum Taurat kecuali sembilan hukum dari hukum-hukum sepuluh yang terkenal, dan di dalamnya terjadi penyempurnaan juga menurut anggapan mereka, dan penyempurnaan juga adalah salah satu jenis nasakh, maka hukum-hukum ini juga menjadi dinasakh dengan cara ini, maka setelah itu bukan termasuk hal yang pantas bagi seorang Kristen yang berakal untuk menolak Alquran dari segi jenis ini.

(Adapun yang Kedua) maka itu seperti yang pertama juga, dan bukti-buktinya sangat banyak saya cukupkan darinya pada tiga belas bukti:

(Bukti Pertama) Ayat kesembilan dari risalah Yudas demikian: (Tetapi Mikhael, kepala malaikat-malaikat, ketika berdebat dengan iblis memperdebatkan mayat Musa, dia tidak berani mengucapkan hukuman menista, tetapi berkata: Tuhan akan menegor engkau) pertentangan Mikhael dengan iblis tentang mayat Musa tidak disebutkan dalam kitab mana pun dari kitab-kitab Perjanjian Lama.

(Bukti Kedua) Kemudian dalam risalah itu demikian ayat 14: (Dan tentang orang-orang itu juga bernubuat Henokh yang ketujuh dari Adam, katanya: Lihatlah Tuhan datang dengan puluhan ribu orang-orang kudus) 15 (untuk menjalankan penghakiman atas semua orang dan menghukum semua orang fasik tentang semua perbuatan kefasikan yang mereka lakukan, dan tentang semua kata-kata kasar yang telah diucapkan oleh orang fasik itu kepada Dia) dan tidak ada jejak berita ini juga dalam kitab mana pun dari kitab-kitab Perjanjian Lama.

(Bukti Ketiga) Ayat kedua puluh satu dari pasal dua belas dari Risalah kepada orang-orang Ibrani demikian: (Dan demikianlah pemandangan itu menakutkan sehingga Musa berkata: Aku sangat ketakutan dan gemetar), keadaan ini disebutkan dalam pasal sembilan belas dari Kitab Keluaran, tetapi tidak ditemukan di dalamnya dan juga tidak dalam kitab mana pun dari kitab-kitab Perjanjian Lama potongan ini: (sehingga Musa berkata: Aku sangat ketakutan dan gemetar). (Bukti Keempat) Ayat kedelapan dari pasal ketiga dari Risalah Kedua kepada Timotius demikian: (Dan sebagaimana Yanis dan Yambris menentang Musa) dan seterusnya, keadaan ini disebutkan dalam pasal ketujuh dari Kitab Keluaran dan tidak ada jejak kedua nama ini dalam pasal ini dan juga tidak dalam pasal lain dan juga tidak dalam kitab lain mana pun dari kitab-kitab Perjanjian Lama.

(Bukti Kelima) Ayat keenam dari pasal lima belas dari Risalah Pertama kepada orang-orang Korintus demikian: (Dan sesudah itu Dia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus, sebagian besar dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa telah meninggal) dan tidak ada jejak untuk ini dalam injil mana pun dari empat injil, dan juga tidak dalam kitab Kisah-kisah Para Rasul, padahal Lukas adalah orang yang paling giat dalam menyusun keadaan-keadaan seperti ini.

(Bukti Keenam) Dalam ayat tiga puluh lima dari pasal dua puluh dari Kitab Kisah-kisah demikian: (mengingat perkataan Tuhan Yesus bahwa Dia berkata: Berbahagialah memberi daripada menerima), perkataan ini tidak ada jejaknya dalam injil mana pun dari keempat injil.

(Bukti Ketujuh) Nama-nama yang disebutkan dalam pasal pertama dari Injil Matius sesudah Zerubabel tidak ditemukan dalam kitab mana pun dari kitab-kitab Perjanjian Lama.

(Bukti Kedelapan) Dalam pasal ketujuh dari Kitab Kisah-kisah demikian: 23 (Dan ketika umurnya telah genap empat puluh tahun, timbul dalam hatinya untuk mengunjungi saudara-saudaranya, anak-anak Israel) 24: (Dan ketika dia melihat seseorang ditindas, dia membela orang itu dan membela yang tertindas dengan membunuh orang Mesir itu) 25: (Dan dia mengira bahwa saudara-saudaranya akan mengerti bahwa Allah dengan tangannya memberikan kepada mereka keselamatan, tetapi mereka tidak mengerti) 26: (Dan pada hari berikutnya dia menampakkan diri kepada mereka ketika mereka bertengkar, lalu dia memimpin mereka kepada kedamaian sambil berkata: Hai orang-orang, kamu adalah saudara-saudara, mengapa kamu saling menindas) 27: (Maka orang yang menindas sesamanya mendorongnya sambil berkata: Siapa yang menetapkanmu menjadi pemimpin dan hakim atas kami) 28: (Apakah engkau ingin membunuhku seperti engkau membunuh orang Mesir kemarin), keadaan ini disebutkan dalam pasal kedua dari Kitab Keluaran, tetapi beberapa hal disebutkan dalam Kitab Kisah-kisah dan apa yang tidak disebutkan dalam Kitab Keluaran, dan redaksi Keluaran demikian: 11- (Dan dalam masa itu ketika Musa telah besar, dia keluar kepada saudara-saudaranya dan melihat beban pekerjaan mereka dan melihat seorang laki-laki Mesir memukul seorang dari saudara-saudaranya orang-orang Ibrani) 12: (Lalu dia melihat ke sisi-sisi dan tidak melihat seorang pun, maka dia membunuh orang Mesir itu dan menguburnya dalam pasir) 13: (Dan dia keluar pada hari berikutnya dan memandang dua orang Ibrani bertengkar, maka dia berkata kepada orang yang tidak adil itu: Mengapa engkau memukul temanmu) 14: (Maka orang itu berkata kepadanya: Siapa yang membuat engkau berkuasa atas kami atau menjadi hakim, boleh jadi engkau ingin membunuhku seperti kemarin engkau membunuh orang Mesir itu).

(Bukti Kesembilan) Ayat keenam dari risalah Yudas demikian: (Dan malaikat-malaikat yang tidak menjaga kedudukannya, tetapi meninggalkan tempat kediamannya, Dia menjaga mereka dalam belenggu kekal dalam kegelapan untuk penghakiman hari besar).

(Bukti Kesepuluh) Dalam ayat keempat dari pasal kedua dari Risalah Kedua Petrus: (Allah tidak memberi ampun kepada malaikat-malaikat yang telah berbuat dosa, tetapi dalam rantai-rantai kegelapan melemparkan mereka ke dalam neraka dan menyerahkan mereka dalam pengawasan untuk dihakimi) dan keadaan ini yang dikutip oleh Petrus dan Yudas para rasul tidak ditemukan dalam kitab mana pun dari kitab-kitab Perjanjian Lama, sebaliknya tampak bahwa itu dusta karena yang dimaksud dengan malaikat-malaikat yang ditahan ini adalah setan-setan, dan setan-setan itu bukan ditahan dalam belenggu kekal sebagaimana disaksikan oleh pasal pertama dari Kitab Ayub dan ayat kedua belas dari pasal pertama dari Injil Markus, dan ayat kedelapan dari pasal kelima dari Risalah Pertama Petrus dan lainnya dari ayat-ayat.

(Bukti Kesebelas) Ayat delapan belas dari Mazmur seratus empat menurut terjemahan Arab, dan dari Mazmur seratus lima menurut terjemahan-terjemahan lain demikian: (Dan kakinya ditindas dengan belenggu dan hatinya melewati dengan besi) dan keadaan Yusuf sebagai tahanan disebutkan dalam pasal tiga puluh sembilan dari Kitab Kejadian dan tidak disebutkan bahwa kakinya ditindas dengan belenggu dan hatinya melewati dengan besi, dan kedua hal ini tidak perlu bagi seorang tahanan meskipun keduanya umum terjadi.

(Bukti Kedua Belas) Dalam ayat keempat dari pasal dua belas dari Kitab Hosea demikian: (Dan malaikat itu menang dan menjadi kuat dan menangis dan memintanya) dan seterusnya, keadaan penandingan malaikat dengan Yakub disebutkan dalam pasal tiga puluh dua dari Kitab Kejadian dan tidak ditemukan di dalamnya tangisan Yakub.

(Bukti Ketiga Belas) Terdapat dalam Injil penyebutan surga dan neraka dan kebangkitan dan balasan perbuatan di dalamnya meskipun secara ringkas, dan tidak ada jejak ini dalam lima kitab Musa, sebaliknya tidak terdapat di dalamnya kecuali janji-janji duniawi bagi orang-orang yang taat dan ancaman duniawi bagi orang-orang yang tidak taat. Dan demikian terdapat banyak tempat lainnya.

Maka tampak dari apa yang kami sebutkan bahwa jika beberapa keadaan disebutkan dalam satu kitab dan tidak ditemukan penyebutannya dalam kitab yang terdahulu, maka dari ini tidak mengikuti pemalsuan kitab yang kemudian, jika tidak maka mengikuti bahwa Injil adalah dusta karena pemuatannya tentang keadaan-keadaan yang tidak disebutkan dalam Taurat dan juga tidak dalam kitab lain mana pun dari kitab-kitab Perjanjian Lama. Maka yang benar adalah bahwa kitab yang terdahulu tidak perlu mencakup semua keadaan-keadaan. Bukankah engkau melihat bahwa nama-nama semua anak-anak Adam dan Set dan Enos dan lainnya dan juga keadaan-keadaan mereka tidak disebutkan dalam Taurat? Dan dalam tafsir Douay dan Rheims catatan penjelasan ayat dua puluh lima dari pasal empat belas dari Kitab Raja-raja Kedua demikian: (Tidak ada penyebutan nabi Yunus ini kecuali dalam ayat ini). Dan dalam pengumuman terkenal yang dialamatkan kepada orang-orang Niniwe: (Dan dalam kitab mana pun dari kitab-kitab tidak ada pemberitahuan darinya tentang peristiwa-peristiwa yang akan datang yang dengannya Yerobeam berkewenangan untuk memerangi para penguasa Siria dan penyebabnya tidak terbatas pada banyaknya kitab-kitab para nabi yang tidak kami miliki, tetapi penyebabnya juga adalah para nabi tidak menulis banyak dari berita-berita mereka tentang peristiwa-peristiwa yang akan datang) selesai. Maka perkataan ini menunjukkan dengan jelas apa yang saya katakan, dan ayat tiga puluh dari pasal dua puluh dari Injil Yohanes demikian: (Dan masih banyak tanda-tanda lain yang dilakukan Yesus di depan murid-muridnya yang tidak ditulis dalam kitab ini) dan ayat dua puluh lima dari pasal dua puluh satu dari Injil Yohanes demikian: (Dan masih banyak hal-hal lain yang dilakukan Yesus, jika dituliskan satu persatu, saya rasa dunia sendiri tidak akan dapat memuat kitab-kitab yang tertulis). Dan perkataan ini meskipun tidak bebas dari berlebihan puitis, tetapi tidak meragukan memberitahukan bahwa semua keadaan-keadaan Isa tidak ditulis, maka orang yang menolak dari segi jenis kedua terhadap Alquran keadaannya seperti orang yang menolak dari segi jenis pertama tanpa ada perbedaan.

(Adapun Jenis Ketiga) maka karena pertentangan-pertentangan seperti ini terdapat antara kitab-kitab Perjanjian Lama sebagian dengan sebagian dan antara injil-injil sebagian dengan sebagian dan antara injil dan Perjanjian Lama, sebagaimana anda telah ketahui dalam pasal ketiga dari bab pertama. Dan terdapat dalam tiga naskah Taurat, artinya yang Ibrani dan Yunani dan Samaria, dan anda telah memperoleh pengetahuan tentang beberapa pertentangan juga dalam bab kedua, tetapi para imam memiliki kebiasaan bahwa mereka sering menyesatkan orang-orang awam Muslim dalam banyak waktu dengan keraguan ini, maka yang paling tepat adalah saya menyebutkan beberapa pertentangan ini dan saya tidak takut dari perpanjangan yang sedikit karena itu tidak bebas dari manfaat penting.

Perbedaan-Perbedaan dalam Naskah Kitab Suci

Perbedaan Pertama

Mengenai waktu sejak penciptaan Nabi Adam hingga masa air bah, menurut versi Ibrani adalah seribu enam ratus lima puluh enam tahun [1656], menurut versi Yunani adalah dua ribu dua ratus enam puluh dua tahun [2262], dan menurut versi Samaria adalah seribu tiga ratus tujuh tahun [1307].

Perbedaan Kedua

Mengenai waktu sejak air bah hingga kelahiran Nabi Ibrahim alaihissalam, menurut versi Ibrani adalah dua ratus sembilan puluh dua tahun [292], menurut versi Yunani adalah seribu tujuh puluh dua tahun [1072], dan menurut versi Samaria adalah sembilan ratus empat puluh dua tahun [942].

Perbedaan Ketiga

Ditemukan dalam naskah Yunani antara Arfakhsyad dan Syalah satu generasi bernama Qinan, akan tetapi tidak ditemukan dalam naskah Ibrani dan Samaria maupun dalam kitab Hari-Hari pertama, dan dalam sejarah Yusifus. Namun Luqa si Injili bergantung pada naskah Yunani, lalu menambahkan Qinan dalam penyebutan silsilah al-Masih. Oleh karena itu seharusnya orang-orang Kristen mempercayai kebenaran versi Yunani dan menganggap yang lainnya sebagai kesalahan, agar tidak terjadi tuduhan bahwa Injil mereka palsu.

Perbedaan Keempat

Mengenai tempat pembangunan Kuil (Masjid), menurut versi Ibrani adalah Gunung Ebal, dan menurut versi Samaria adalah Gunung Gerizim. Saya telah menjelaskan keadaan perbedaan-perbedaan ini dalam bab kedua, oleh karena itu saya tidak akan memperpanjang penjelasan di sini.

Perbedaan Kelima

Waktu sejak penciptaan Nabi Adam hingga kelahiran al-Masih menurut versi Ibrani adalah [4004], menurut versi Yunani adalah [5872], dan menurut versi Samaria adalah [4700]. Dalam jilid pertama dari tafsir Henry Waskatt disebutkan bahwa Ahlis mengambil tanggal setelah melakukan koreksi atas kesalahan-kesalahan Yusifus dan versi Yunani, dan berdasarkan perhitungannya dari penciptaan dunia hingga kelahiran al-Masih adalah [5411] dan dari air bah hingga kelahiran adalah [3155]. Selesai.

Charles Roger dalam bukunya yang membandingkan terjemahan-terjemahan Inggris, menukil dua puluh lima pendapat dari para sejarawan mengenai jangka waktu dari penciptaan dunia hingga kelahiran al-Masih dan hingga tahun seribu delapan ratus empat puluh tujuh, kemudian dia mengakui bahwa tidak ada dua pendapat yang cocok satu sama lain, atau bahwa membedakan yang benar dari yang salah adalah mustahil. Saya menukil terjemahan perkataannya dan cukup menjelaskan hingga kelahiran al-Masih, karena jangka waktu setelahnya tidak ada perbedaan di antara para sejarawan, oleh karena itu tidak perlu menukil batas akhir yang lain.

Nama-Nama Para Sejarawan … Jangka Waktu dari Penciptaan Nabi Adam hingga Kelahiran al-Masih

  1. Marianus Skonus … 4192
  2. Larens Yus Kodomanus … 4141
  3. Tomaldit … 4103
  4. Mikail Mastli Nus … 4079
  5. Ji Baptis Rok Kiulus … 4062
  6. Jikob Slianus … 4053
  7. Henri Kus Bundanus … 4051
  8. William Link … 4041
  9. Erazmus Ribun Hult … 4021
  10. Jikubus Kibulus … 4005
  11. Arj Bisyab Asyar … 4003
  12. Diuni Siuus Batawyus … 4983
  13. Bisyab Bik … 3973
  14. Kirn Zim … 3971
  15. Ili As Rius Nirus … 3970
  16. Juhani Klaurius … 3968
  17. Kristianus Lunkarmuntanus … 3966
  18. Filb Malahtakhton … 3964
  19. Jikob Hin Li Nus … 3963
  20. Alfun Sus Sal Murun … 3958
  21. Iski Likir … 3949
  22. Mitiyus Brul Dius … 3927
  23. Andriyas Hil Wi Kius … 2836
  24. Perjalanan umum orang-orang Yahudi … 3760
  25. Perjalanan umum orang-orang Kristen

(Dan tidak ada dua pendapat dari pendapat-pendapat ini yang cocok, dan siapa yang tidak merenungkan masalah ini pada suatu waktu tidak akan memahami bahwa masalah ini sangat rumit, akan tetapi tampak bahwa para sejarawan yang suci tidak pernah bermaksud untuk menulis sejarah dengan teratur, dan sekarang tidak mungkin siapapun mengetahui angka yang benar.) Selesai perkataan Charles Roger.

Jadi ternyata dari perkataannya bahwa mengetahui yang benar sekarang adalah mustahil sama sekali, dan para sejarawan dari zaman Perjanjian Lama juga menulis apa yang mereka tulis dengan menebak tanpa pengetahuan, dan perjalanan umum di kalangan orang-orang Yahudi berlawanan dengan perjalanan umum di kalangan orang-orang Kristen. Jadi berbuatlah adil wahai orang yang berakal, sesungguhnya jika kamu memahami pertentangan al-Qur’an al-Karim dengan salah satu dari sejarah-sejarah mereka yang suci yang keadaannya seperti yang telah kamu ketahui, jangan ragu-ragu akan al-Qur’an karena pertentangan itu. Bukan, demi Allah, sebaliknya kami mengatakan bahwa para ulama suci mereka telah membuat kesalahan dan menulis apa yang mereka tulis, terutama ketika kami memperhatikan sejarah-sejarah dunia, kami memastikan bahwa penelitian ulama mereka dalam hal-hal seperti ini tidak memiliki kecuali tingkat dugaan dan tebakan, oleh karena itu kami tidak mengandalkan pendapat-pendapat lemah ini.

Kata al-Allamah Taqi al-Din Ahmad ibn Ali al-Maqrizi dalam jilid pertama dari sejarahnya, menukil dari al-Faqih al-Hafiz Abu Muhammad Ali ibn Ahmad ibn Said ibn Hazm:

“Adapun kami – maksudnya para ahli Islam – kami tidak memastikan dengan ilmu jumlah yang tertentu bagi kami, dan barang siapa yang mengklaim dalam hal itu tujuh ribu tahun atau lebih atau kurang, sesungguhnya dia telah mengatakan sesuatu yang tidak pernah datang sama sekali dari Rasulullah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Assalamu Alaikum dalam hal itu sesuatu lafaz yang benar darinya, sebaliknya kami memastikan bahwa dunia memiliki batas yang tidak diketahui melainkan hanya oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman:

{Aku tidak membuat mereka menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan penciptaan diri mereka sendiri} [Qs. Al-Kahfi: 51]

dan Rasulullah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Assalamu Alaikum bersabda:

“Kamu dalam umat-umat sebelum kamu hanyalah seperti rambut putih dalam lembu hitam, atau rambut hitam dalam lembu putih”

dan perbandingan ini bagi orang yang merenungkannya dan mengetahui jumlah umat Islam dan perbandingan apa yang ada di tangan mereka dari bumi yang sudah dibangun, dan bahwa itu adalah yang terbanyak, akan mengetahui bahwa dunia memiliki batas yang tidak diketahui melainkan hanya oleh Allah Ta’ala.”

Selesai perkataannya dengan redaksinya, dan ini adalah pilihan saya juga, dan ilmu yang sempurna ada pada Allah dan Dia lebih mengetahui.

Perbedaan Keenam

Hukum yang kesebelas, yang tambahan atas sepuluh hukum yang terkenal, terdapat dalam naskah Samaria tetapi tidak terdapat dalam naskah Ibrani.

Perbedaan Ketujuh

Ayat keempat puluh dari bab kedua belas Kitab Keluaran dalam naskah Ibrani adalah demikian: “Semua lama Bani Israel diam di tanah Mesir adalah empat ratus tiga puluh tahun” dan dalam naskah Samaria dan Yunani adalah demikian: “Semua lama Bani Israel dan bapa-bapa mereka dan nenek moyang mereka diam di tanah Kanaan dan tanah Mesir adalah empat ratus tiga puluh tahun” dan yang benar adalah apa yang ada di keduanya, dan apa yang ada dalam naskah Ibrani adalah kesalahan yang pasti.

Perbedaan Kedelapan

Dalam ayat kedelapan dari bab keempat Kitab Kejadian dalam naskah Ibrani adalah demikian: “Dan Qabil berkata kepada Habil saudaranya dan ketika berada di ladang” dan dalam naskah Samaria dan Yunani adalah demikian: “Dan Qabil berkata kepada Habil saudaranya, mari kita keluar ke ladang, dan ketika keduanya berada di ladang” dan yang benar adalah apa yang ada di keduanya menurut peneliti-peneliti mereka.

Perbedaan Kesembilan

Dalam ayat ketujuh belas dari bab ketujuh Kitab Kejadian dalam naskah Ibrani adalah demikian: “Dan air bah selama empat puluh hari menurun ke atas bumi” dan dalam naskah Yunani adalah demikian: “Dan air bah selama empat puluh hari dan malam menurun ke atas bumi” dan yang benar adalah apa yang ada dalam naskah Yunani.

Perbedaan Kesepuluh

Dalam ayat kedelapan dari bab kedua puluh sembilan Kitab Kejadian dalam naskah Ibrani adalah demikian: “Hingga terkumpul ternak” dan dalam naskah Samaria dan Yunani dan dalam Konik Kat dan terjemahan Bahasa Arab dari Hiubi Kint adalah demikian: “Hingga terkumpul para penggembala” dan yang benar adalah apa yang ada dalam kitab-kitab ini bukan apa yang ada dalam naskah Ibrani.

Perbedaan Kesebelas

Dalam ayat dua puluh dua dari bab tiga puluh lima Kitab Kejadian dalam naskah Ibrani adalah demikian: “Dan dia menggauli Bilhah, selir ayahnya, lalu Israil mendengarnya” dan dalam naskah Yunani adalah demikian: “Dan dia menggauli Bilhah, selir ayahnya, lalu Israil mendengarnya dan hal itu sangat buruk di matanya” dan yang benar adalah apa yang ada dalam naskah Yunani.

Perbedaan Keduabelas

Pada awal ayat kelima dari bab empat puluh empat Kitab Kejadian terdapat dalam naskah Yunani kalimat ini: “Ketika kalian mencuri piala-piala” dan tidak terdapat dalam naskah Ibrani, dan yang benar adalah apa yang ada dalam naskah Yunani.

Perbedaan Ketigabelas

Dalam ayat dua puluh lima dari bab lima puluh Kitab Kejadian dalam naskah Ibrani adalah demikian: “Jadi bawalah tulang-tulang saya dari sini” dan dalam naskah Yunani dan Samaria adalah demikian: “Jadi bawalah tulang-tulang saya dari sini bersama kalian”.

Perbedaan Keempatbelas

Pada akhir ayat dua puluh dua dari bab kedua Kitab Keluaran dalam naskah Yunani terdapat ungkapan ini: “Dan dia melahirkan juga seorang anak laki-laki yang kedua dan menamai dia Elazar, lalu dia berkata, karena Allah bapaku telah membantuku dan menyelamatkan aku dari pedang Firaun” dan tidak terdapat dalam naskah Ibrani, dan yang benar adalah apa yang ada dalam naskah Yunani, dan para penerjemah Bahasa Arab telah memasukkannya dalam terjemahan-terjemahan mereka.

Perbedaan Kelimabelas

Dalam ayat kedua puluh dari bab keenam Kitab Keluaran dalam naskah Ibrani adalah demikian: “Maka dia melahirkan untuk dia Harun dan Musa” dan dalam naskah Samaria dan Yunani adalah demikian: “Maka dia melahirkan untuk dia Harun dan Musa dan Maryam saudara mereka” dan yang benar adalah apa yang ada di keduanya.

Perbedaan Keenambelas

Terdapat pada akhir ayat keenam dari bab kesepuluh Kitab Bilangan dalam terjemahan Yunani ungkapan ini: “Dan apabila mereka meniupkan yang ketiga kalinya maka berkatlah kemah-kemah sebelah barat untuk berangkat, dan apabila mereka meniupkan yang keempat kalinya maka berkatlah kemah-kemah sebelah utara untuk berangkat” dan tidak terdapat dalam naskah Ibrani, dan yang benar adalah apa yang ada dalam naskah Yunani.

Perbedaan Ketujuhbelas

Terdapat dalam naskah Samaria dalam bab kesepuluh Kitab Bilangan antara ayat kesepuluh dan kesebelas ungkapan ini: “Tuhan berfirman kepada Musa: Sesungguhnya kalian telah duduk di gunung ini cukup lama, jadi baiklah kalian berpalingdari sini dan pergilah ke gunung orang-orang Amori dan ke tempat-tempat yang menyusul ke arah pasir dan ke tempat-tempat gunung dan dataran rendah menghadap sebelah selatan dan ke tepi laut tanah orang-orang Kanaan dan Libanon dan ke sungai besar sungai Efrat, lihat Aku telah memberikan tanah ini kepada kalian, masukilah dan warisi tanah yang dikatakan oleh Tuhan kepada bapa-bapa kalian Ibrahim dan Ishak dan Yakub bahwa Dia akan memberikannya kepada kalian dan kepada keturunan kalian sesudah kalian.” Selesai. Dan ungkapan ini tidak terdapat dalam naskah Ibrani. Penafsir Harnsli berkata dalam halaman 161 dari jilid pertama dari tafsirnya: “Terdapat dalam naskah Samaria antara ayat kesepuluh dan kesebelas dari bab kesepuluh Kitab Bilangan ungkapan yang terdapat dalam ayat keenam dan ketujuh dan kedelapan dari bab pertama Kitab Ulangan, dan hal ini terlihat pada masa Prokopius.”

Perbedaan Ke-18

Dalam pasal 10 dari Kitab Pengulangan, dalam bahasa Ibrani demikian:

Ayat 6: “Kemudian bani Israel berangkat dari Beeroth bani Jaakan ke Moserah, dan Harun meninggal di sana dan dikubur di sana. Kemudian Eleazar anak-anaknya menjadi imam menggantikan dia.”

Ayat 7: “Dari sana mereka tiba ke Gudgadah dan berangkat dari sana serta tinggal di Jotbathah, suatu tanah dengan air dan terusan air.”

Ayat 8: “Pada waktu itu suku Lewi dipisahkan untuk membawa tabut perjanjian Tuhan dan berdiri di hadapan Tuhan dalam pelayanan serta memberkati dengan nama-Nya sampai hari ini.”

Pernyataan ini berbeda dengan pernyataan dalam pasal 33 dari Kitab Bilangan dalam penjelasan tahapan-tahapan perjalanan. Ditemukan dalam teks Samaria dalam Kitab Pengulangan juga terdapat pernyataan yang sama dengan di Kitab Bilangan, dan pernyataan Kitab Bilangan demikian:

Ayat 30: “Mereka berangkat dari Hasmonah dan tiba di Moseroth.”

Ayat 31: “Dari Moseroth mereka turun di bani Aaqan.”

Ayat 32: “Berangkat dari bani Aaqan dan tiba di gunung Gidgad.”

Ayat 33: “Dari sana mereka turun di Jotbath.”

Ayat 34: “Dari Jotbath mereka tiba di Abronah.”

Ayat 35: “Berangkat dari Abronah dan turun di Etsyon Geber.”

Ayat 36: “Berangkat dari sana dan tiba di padang gurun Sin, yaitu Kadesh.”

Ayat 37: “Berangkat dari Kadesh ke Hor Gunung, yang terletak di perbatasan tanah Edom.”

Ayat 38: “Kemudian Harun imam naik ke Hor Gunung menurut perintah Tuhan dan meninggal di sana dalam tahun ke-40 dari keluarnya bani Israel dari Mesir, pada bulan kelima pada hari pertama bulan itu.”

Ayat 39: “Harun pada waktu itu berumur seratus dua puluh tiga tahun.”

Ayat 40: “Orang Kanaan, raja Arad, yang tinggal di Tanah Negeb di tanah Kanaan, mendengar bahwa bani Israel telah datang.”

Ayat 41: “Kemudian mereka berangkat dari Hor Gunung dan turun di Zalmonah.”

Ayat 42: “Berangkat dari sana dan tiba di Pinon.” Dan seterusnya.

Adam Clarke dalam halaman 779 dan 780 dari jilid pertama tafsirnya dalam penjelasan pasal 10 dari Kitab Pengulangan menukil laporan Kennicott secara sangat rinci dan intisarinya adalah: “Bahwa pernyataan teks Samaria adalah benar, pernyataan Ibrani adalah keliru. Empat ayat antara ayat kelima dan kesepuluh, yakni ayat keenam sampai kesembilan di sini adalah benar-benar asing. Seandainya ayat-ayat ini dihapus, maka seluruh pernyataan akan terhubung dengan baik. Empat ayat ini ditulis karena kesalahan penulis di sini dan berasal dari pasal 2 dari Kitab Pengulangan.” Selesai. Setelah menukil laporan ini, Adam Clarke menunjukkan persetujuannya dan berkata: “Jangan terburu-buru dalam mengingkari laporan ini.”

Saya mengatakan hal ini menunjukkan bahwa empat ayat tersebut adalah tambahan dalam kalimat terakhir yang terdapat di akhir ayat kedelapan.

Perbedaan Ke-19

Ayat kelima dari pasal 32 dari Kitab Pengulangan dalam bahasa Ibrani demikian: “Mereka yang mengeluarkan nyawa mereka. Cacat mereka bukan cacat yang akan terjadi pada anak-anak mereka. Mereka adalah generasi yang bengkok dan terbalik.”

Dalam bahasa Yunani dan Samaria demikian: “Mereka telah merusak diri mereka sendiri. Mereka bukan dari-Nya. Mereka adalah anak-anak kesalahan dan cacat.”

Dalam tafsir Henry dan Wescott dinyatakan: “Pernyataan ini lebih dekat kepada naskah asli.” Selesai.

Penafsir Harsley dalam halaman 215 dari jilid pertama berkata demikian: “Maka hendaklah ayat ini dibaca sesuai dengan Samaria dan Yunani menurut Hengel, Kennicott. Naskah Ibrani telah diubah di sini.” Selesai.

Ayat ini dalam terjemahan bahasa Arab yang dicetak tahun 1831, tahun 1844, dan tahun 1848 demikian: “Mereka berlaku salah kepada-Nya, padahal Dia bebas dari anak-anak cacat. Hai generasi yang bengkok dan berliku.”

Perbedaan Ke-20

Ayat kedua dari pasal 20 dari Kitab Kejadian dalam bahasa Ibrani demikian: “Dia berkata tentang Sara isterinya bahwa dia adalah saudara perempuannya. Abimelek raja Gerar mengutus orang-orang dan mengambil dia.”

Dalam tafsir Henry dan Wescott dinyatakan bahwa ayat ini dalam bahasa Yunani demikian: “Dan dia berkata tentang Sara isterinya bahwa dia adalah saudara perempuannya karena dia takut untuk mengatakan bahwa dia adalah isterinya, dengan mengira bahwa penduduk kota akan membunuhnya karena dia. Abimelek raja Filistin mengutus orang-orang dan mengambilnya.” Selesai.

Maka pernyataan ini: “Karena dia takut untuk mengatakan bahwa dia adalah isterinya, dengan mengira bahwa penduduk kota akan membunuhnya karena dia” tidak terdapat dalam bahasa Ibrani.

Perbedaan Ke-21

Terdapat dalam pasal 30 dari Kitab Kejadian setelah ayat 36 pernyataan ini dalam teks Samaria: “Dan berkata malaikat Tuhan kepada Yakub: ‘Wahai Yakub.’ Dia menjawab: ‘Aku mendengarkan.’ Malaikat itu berkata: ‘Angkatlah pandanganmu dan lihatlah kepada domba jantan dan kambing jantan yang menindih anak-anak domba dan kambing-kambing. Karena sesungguhnya aku telah melihat semua yang telah dilakukan Laban kepadamu. Aku adalah Allah dari rumah Bethel di mana engkau meminyaki batu lajur dan menazarkan nazar kepadaku. Dan sekarang bangunlah, keluarlah dari tanah ini ke tanah tempat engkau dilahirkan.'” Tetapi tidak terdapat dalam bahasa Ibrani.

Perbedaan Ke-22

Terdapat setelah kalimat pertama dari ayat ketiga dari pasal 11 dari Kitab Keluaran pernyataan ini dalam naskah Samaria: “Dan berkata Musa kepada Firaun: ‘Tuhan berfirman: Israel adalah anak-Ku, bahkan anak sulung-Ku. Aku telah berkata kepadamu: Lepaskanlah anak-Ku agar dia dapat mempersembahkan ibadah kepada-Ku. Tetapi engkau menolak untuk melepaskan dia. Sesungguhnya aku akan membunuh anak-Mu yang sulung.'” Tetapi tidak terdapat dalam bahasa Ibrani.

Perbedaan Ke-23

Ayat ketujuh dari pasal 24 dari Kitab Bilangan dalam bahasa Ibrani demikian: “Air mengalir dari kalengnya dan keturunannya dengan banyak air. Rajanya tinggi lebih dari Agag dan kerajaannya dinaikkan.”

Dalam bahasa Yunani: “Dan akan muncul dari padanya seorang manusia dan dia akan menghakimi banyak bangsa dan kerajaannya akan lebih besar dari kerajaan Agag dan kerajaannya akan dinaikkan.”

Perbedaan Ke-24

Terdapat dalam ayat 21 dari pasal 9 dari Kitab Imamat dalam bahasa Ibrani kalimat ini: “Sebagaimana diperintahkan Musa.” Tetapi terdapat gantinya dalam bahasa Yunani dan Samaria kalimat ini: “Sebagaimana diperintahkan Tuhan kepada Musa.”

Perbedaan Ke-25

Ayat 10 dari pasal 26 dari Kitab Bilangan dalam bahasa Ibrani demikian: “Maka terbuka bumi mulutnya dan menelan Korah dengan kematian jemaah beserta dua ratus lima puluh orang yang dibakar api dan jadilah kesaksian yang besar.”

Dalam teks Samaria demikian: “Dan bumi menelan mereka dan ketika jemaah itu mati dan api membakar Korah beserta dua ratus lima puluh orang, maka jadilah peringatan.”

Dalam tafsir Henry dan Wescott dinyatakan: “Pernyataan ini sesuai dengan konteks dan ayat ke-17 dari Mazmur 106.” Selesai.

Perbedaan Ke-26

Ahli kritik terkemuka mereka, Le Clerc, mengeluarkan perbedaan-perbedaan antara Samaria dan Ibrani dan membaginya menjadi enam kategori:

Kategori Pertama: Perbedaan-perbedaan di mana Samaria lebih benar daripada Ibrani, yaitu sebelas perbedaan.

Kategori Kedua: Perbedaan-perbedaan di mana petunjuk dan konteks menuntut kebenaran apa yang dalam Samaria, yaitu tujuh perbedaan.

Kategori Ketiga: Perbedaan-perbedaan di mana terdapat penambahan dalam Samaria, yaitu tiga belas perbedaan.

Kategori Keempat: Perbedaan-perbedaan di mana Samaria telah diubah dan perubahannya jelas, yaitu tujuh belas perbedaan.

Kategori Kelima: Perbedaan-perbedaan di mana Samaria lebih halus dalam isinya, yaitu sepuluh perbedaan.

Kategori Keenam: Perbedaan-perbedaan di mana Samaria tidak lengkap, yaitu dua perbedaan.

Rincian perbedaan-perbedaan yang disebutkan adalah sebagai berikut:

Kategori Pertama: Sebelas perbedaan … Kategori Kedua: Tujuh perbedaan

Dalam Kitab Kejadian pasal 2 ayat 9, pasal 4 ayat 2-3, pasal 7 ayat 19, pasal 2 ayat 20, pasal 16 ayat 23, pasal 14 ayat 34, pasal 10-11 ayat 49, pasal 50. … Dalam Kitab Keluaran pasal 2 ayat 2, pasal 1 ayat 2, pasal 4. … Dalam Kitab Kejadian pasal 31 ayat 49, pasal 35 ayat 26, pasal 37 ayat 17, pasal 41 ayat 34-43, pasal 47 ayat 3. … Dalam Kitab Pengulangan pasal 32 ayat 5-1.

Kategori Ketiga: Tiga belas perbedaan .. Kategori Keempat: Tujuh belas perbedaan

Dalam Kitab Kejadian pasal 29 ayat 15-3, pasal 30 ayat 36, pasal 41 ayat 16. … Dalam Kitab Keluaran pasal 7 ayat 18-7, pasal 8 ayat 23, pasal 9 ayat 5, pasal 21 ayat 20, pasal 22 ayat 5, pasal 32 ayat 10-9. … Dalam Kitab Kejadian pasal 2 ayat 13-2, pasal 4 ayat 10, pasal 9 ayat 5, pasal 10 ayat 19, pasal 11 ayat 21, pasal 18 ayat 3, pasal 19 ayat 12, pasal 20 ayat 16, pasal 24 ayat 38-55, pasal 35 ayat 7, pasal 36 ayat 6, pasal 31 ayat 50. … Dalam Kitab Keluaran pasal 5 ayat 3, pasal 13 ayat 6, pasal 15 ayat 5.

Dalam Kitab Imamat pasal 1 ayat 10-2, pasal 17 ayat 4. … Dalam Kitab Pengulangan pasal 5 ayat 21-1.

Dalam Kitab Bilangan pasal 22 ayat 32-1.

Kategori Kelima: Sepuluh perbedaan … Kategori Keenam: Dua perbedaan

Dalam Kitab Kejadian pasal 5 ayat 8-6, pasal 11 ayat 31, pasal 19 ayat 9, pasal 27 ayat 34, pasal 39 ayat 3, pasal 43 ayat 25. … Dalam Kitab Keluaran pasal 12 ayat 40-2, pasal 40 ayat 17. … Dalam Kitab Kejadian pasal 20 ayat 16-2, pasal 25 ayat 13.

Dalam Kitab Bilangan pasal 4 ayat 1-14.

Dalam Kitab Pengulangan pasal 20 ayat 16-1.

Ahli kritik terkemuka mereka, Horn, dalam jilid kedua dari tafsirnya yang dicetak tahun 1822, berkata: “Sesungguhnya ahli kritik terkemuka Le Clerc telah membandingkan bahasa Ibrani dengan Samaria dengan sungguh-sungguh dan teliti serta mengeluarkan tempat-tempat ini, dan dalam tempat-tempat ini bagi Samaria dibandingkan dengan Ibrani ada sejenis kebenaran.” Selesai.

Jangan sampai ada orang yang mengira bahwa tempat-tempat perbedaan antara Ibrani dan Samaria terbatas pada enam puluh seperti yang telah ditentukan Le Clerc, karena Perbedaan Ke-4, Ke-8, Ke-10, Ke-15, Ke-17, Ke-18, Ke-22, Ke-24, dan Ke-25 tidak termasuk dalam enam puluh ini. Tetapi maksud Le Clerc adalah menentukan tempat-tempat di mana ada banyak perbedaan antara dua naskah menurut verifikasinya, dan tidak masuk dalam enam puluh ini dari yang saya sebutkan kecuali empat perbedaan saja. Jika kita mengambil semua perbedaan yang disebutkan dalam dua puluh enam kesaksian setelah menghilangkan yang sama, maka menjadi delapan puluh dua kesaksian dari perbedaan-perbedaan yang ada antara tiga naskah Taurat. Saya puas dengan ini dan tidak akan menyebutkan perbedaan-perbedaan yang ada antara Ibrani dan Yunani berkenaan dengan kitab-kitab lain dari Perjanjian Lama karena takut bertele-tele. Dan jumlah ini cukup bagi orang yang berakal.

Terbukti bahwa pendapat yang membantah dengan mempertimbangkan tipe ketiga juga gugur dari pertimbangan seperti gugurlnya dengan mempertimbangkan dua tipe pertama.

Keberatan Ketiga

Terdapat dalam Alquran bahwa petunjuk dan kesesatan berasal dari Allah Yang Mahatinggi, bahwa surga penuh dengan sungai-sungai, bidadari, dan istana-istana, dan bahwa perang melawan orang-orang kafir adalah diperintahkan. Isi-isi ini terkesan buruk dan menunjukkan bahwa Alquran bukan firman Allah. Keberatan ini juga termasuk keberatan terkuat mereka. Jarang ada surat-surat mereka yang merupakan bantahan terhadap umat Islam di mana tidak terdapat keberatan ini, dan mereka memiliki penjelasan-penjelasan aneh dalam memaparkannya menurut perbedaan pemikiran mereka. Para pembaca menjadi bingung melihat kedalaman prasangka mereka setelah memperhatikan penjelasan-penjelasan ini.

(Saya mengatakan) Sebagai jawaban atas hal pertama ini, sesungguhnya contoh-contoh isi serupa ini terdapat di berbagai tempat dalam kitab-kitab suci mereka. Oleh karena itu haruslah mereka mengatakan bahwa kitab-kitab suci mereka tidak berasal dari Allah pasti. Dan saya akan menukil beberapa ayat dari kitab-kitab mereka agar keadaan menjadi jelas bagi pembaca.

Ayat 21 dari pasal 4 dari Kitab Keluaran demikian: “Kemudian Tuhan berkata kepadanya ketika dia kembali ke Mesir: Perhatikanlah semua mukjizat-mukjizat yang telah Aku letakkan di tanganmu, kerjakanlah itu di hadapan Firaun. Tetapi Aku akan membuat keras hatinya sehingga dia tidak akan melepaskan umat itu.”

Kemudian perkataan Allah dalam Ayat ketiga dari Bab ketujuh dari Kitab Keluaran seperti ini: (Sesungguhnya Aku akan meng-keras-kan hati Firaun dan Aku akan memperbanyak tanda-tanda keajaiban-Ku dan mukjizat-Ku di negeri Mesir) dan dalam Bab kesepuluh dari Kitab Keluaran seperti ini:

1: (Dan Allah berfirman kepada Musa masuk menghadap Firaun, sesungguhnya Aku telah meng-keras-kan hatinya dan hati hamba-hambanya supaya Aku memperlihatkan tanda-tanda keajaiban-Ku ini)

20: (Dan Allah mengeraskan hati Firaun dan dia tidak melepaskan Bani Israil)

27: (Dan Allah mengeraskan hati Firaun dan dia tidak mau melepaskan mereka)

Dan dalam Ayat kesepuluh dari Bab kesebelas dari Kitab Keluaran seperti ini: (Dan Allah mengeraskan hati Firaun sehingga dia tidak melepaskan Bani Israil dari negerinya)

Maka jelas dari ayat-ayat ini bahwa Allah telah meng-keras-kan hati Firaun dan hamba-hambanya untuk memperbanyak mukjizat-mukjizat Musa -semoga Salam senantiasa tercurah baginya- di negeri Mesir.

Dan Ayat keempat dari Bab dua puluh sembilan dari Kitab Ulangan seperti ini: (Dan Allah tidak memberikan kepada kalian hati yang mengerti, dan tidak mata yang melihat, dan tidak telinga yang mendengar sampai pada hari ini). Dan Ayat kesepuluh dari Bab keenam dari Kitab Yesaya seperti ini: (Buta-kan hati bangsa ini dan berat-kan telinga mereka dan tutup-kan mata mereka agar mereka tidak melihat dengan matanya dan tidak mendengar dengan telinganya dan tidak memahami dengan hatinya lalu bertobat sehingga Aku menyembuhkan mereka). Dan Ayat kedelapan dari Bab kesebelas dari Surat Roma seperti ini: (Sebagaimana tertulis, Allah memberikan kepada mereka ruh tidur dan mata yang tidak melihat dan telinga yang tidak mendengar sampai hari ini).

Dan dalam Bab dua belas dari Injil Yohanes seperti ini: (Mereka tidak dapat beriman karena Yesaya telah mengatakan juga, sesungguhnya Dia telah membutakan mata mereka dan meng-keras-kan hati mereka agar mereka tidak melihat dengan mata mereka dan tidak merasa dengan hati mereka dan tidak kembali sehingga Aku menyembuhkan mereka). Maka telah diketahui dari Taurat dan Kitab Yesaya dan Injil bahwa Allah telah membutakan mata Bani Israil dan meng-keras-kan hati mereka dan memberat-kan telinga mereka agar mereka tidak bertobat sehingga Aku menyembuhkan mereka. Oleh karena itu mereka tidak melihat kebenaran dan tidak memikirkan kebenaran itu dan tidak mendengarnya. Tidak bertambah pengertian lain dari hal ditutupnya hati dan pendengaran oleh Allah dari hal ini. Dan Ayat ketujuh belas dari Bab enam puluh tiga dari Kitab Yesaya dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1671 dan tahun 1831 dan tahun 1844 seperti ini: (Mengapa Engkau menggoda kami wahai Tuhan dari jalan-Mu? Engkau telah meng-keras-kan hati kami agar kami tidak takut kepada-Mu? Maka bertobatlah karena hamba-hamba-Mu adalah suku warisan-Mu).

Dan Ayat kesembilan dari Bab empat belas dari Kitab Yehezkiel dalam terjemahan-terjemahan tersebut seperti ini: (Dan jika seorang nabi sesat dan berkata dengan perkataan maka Aku adalah Tuhan telah menggoda nabi itu dan aku rentangkan tangan-Ku atas dia dan aku binasakan dia dari tengah-tengah umat-Ku Israil). Maka jelas dalam perkataan Yesaya: (Engkau menggoda kami wahai Tuhan dan meng-keras-kan hati kami) dan dalam perkataan Yehezkiel: (Aku adalah Tuhan telah menggoda nabi itu).

Dan dalam Bab dua puluh dua dari Kitab Raja-Raja pertama seperti ini:

19: (Kemudian Mikha berkata pula, oleh karena itu dengarkan perkataan Tuhan: Aku melihat Tuhan duduk di atas tahta-Nya dan semua bala tentara langit berdiri di sekelilingnya di sebelah kanan dan di sebelah kiri-Nya)

20: (Maka Tuhan berfirman, siapa yang akan menipu Ahab rajanya Israil sehingga dia naik dan jatuh di Ramot Gilead? Dan yang seorang berkata perkataan yang satu dan yang lain berkata perkataan yang lain)

21: (Maka keluarlah ruh dan berdiri di hadapan Tuhan dan berkata, aku akan menipu dia. Tuhan berkata kepadanya, dengan apa?)

22: (Maka dia berkata, aku akan keluar dan akan menjadi ruh pembohongan di mulut semua nabi-nabi-nya. Tuhan berkata kepadanya, engkau akan bisa menipu dan mampu melakukannya, keluarlah dan lakukanlah demikian)

23: (Dan sekarang Tuhan telah menempatkan ruh pembohongan di mulut semua nabi-nabi-mu) dan mereka sekitar empat ratus orang (ini dan Tuhan berkata demi kejahatan atasmu) dan riwayat ini jelas menunjukkan bahwa Allah Taala duduk di atas tahta-Nya dan berkumpul di sisinya majlis permusyawaratan untuk tipu daya dan pendustaan (seperti berkumpulnya parlimen di London untuk beberapa urusan pemerintahan). Maka hadir semua bala tentara langit, kemudian setelah permusyawaratan dia mengirim ruh pembohongan maka ruh ini terjatuh di mulut-mulut dan menyesatkan manusia. Maka perhatikan wahai orang yang berakal, jika Allah dan bala tentara langit menghendaki menyesatkan manusia bagaimana manusia yang lemah dapat selamat. Dan di sini ada keajaiban lain yaitu Allah bermusyawarah dan mengirim ruh pembohongan setelah permusyawaratan untuk menipu Ahab, maka bagaimana Mikha sang rasul menampilkan rahasia majlis permusyawaratan dan memperingatkan Ahab tentangnya.

Dan dalam Bab kedua dari Surat Kedua kepada Thesalonika seperti ini:

11: (Dan karena itu) yaitu karena mereka tidak menerima kecintaan kepada kebenaran (akan dia kirim kepada mereka ruh sesat sehingga mereka mempercayai kebohongan)

34: (Supaya semua yang tidak percaya kepada kebenaran tetapi merasa senang berbuat dosa dihukum).

Maka yang mereka percayai memproklamasikan bahwa Allah mengirim kepada mereka yang terhilang ruh sesat terlebih dahulu maka mereka mempercayai kebohongan lalu Dia menghukum mereka. Dan ketika Al-Masih -semoga Salam senantiasa tercurah baginya- telah selesai memarahi kota-kota yang penduduknya tidak bertobat maka dia berkata: (Aku memuji Engkau wahai Bapa Tuhan langit dan bumi karena Engkau telah menyembunyikan hal-hal ini dari orang-orang bijaksana dan pandai dan menyatakannya kepada anak-anak kecil. Ya, wahai Bapa, karena dengan demikian sudah menjadi kesenangan di hadapan-Mu) sebagaimana dinyatakan dalam Bab kesebelas dari Injil Matius. Maka Al-Masih -semoga Salam senantiasa tercurah baginya- dengan terang menyatakan bahwa Allah menyembunyikan kebenaran dari orang-orang bijaksana maka menyatakannya kepada anak-anak kecil dan memuji atas peristiwa ini dan berkata bahwa itulah kesenangan Allah. Dan Ayat ketujuh dari Bab empat puluh lima dari Kitab Yesaya dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1671 dan tahun 1831 seperti ini: (Sang Pembentuk cahaya dan Pencipta kegelapan, Pembuat kedamaian dan Pencipta kejahatan, Aku Tuhan yang membuat semua ini).

Dan dalam terjemahan bahasa Persia yang diterbitkan tahun 1838 seperti ini: (Pembuat cahaya yang melimpah dan pencipta kegelapan adalah aku, pembuat kedamaian dan yang menampakkan kejahatan dari-ku wahai Tuhanku aku membuat semua hal-hal ini dengan wujud saya).

Dan dalam Ayat tiga puluh delapan dari Bab ketiga dari Ratapan Yeremia seperti ini: (Apakah dari mulut Tuhan tidak keluar keburukan dan kebaikan?) dan dalam terjemahan bahasa Persia yang diterbitkan tahun 1838: (Apakah kebaikan dan keburukan dari mulut Allah tidak keluar?) dan pertanyaan ini adalah pertanyaan penyangkalan dan maksudnya bahwa kebaikan dan keburukan keduanya bersumber dari Allah Taala. Dan dalam Ayat kedua belas dari Bab pertama dari Kitab Mikha dalam terjemahan-terjemahan yang tersebut seperti ini: karena keburukan turun dari pihak Tuhan ke pintu Yerusalem. Dan dalam terjemahan bahasa Persia yang diterbitkan tahun 1838: (tetapi kejahatan dari pintu dan dari Yerusalem dari Allah turun). Maka jelas bahwa Pencipta kejahatan adalah Allah Taala sebagaimana Dia adalah Pencipta kebaikan. Dan dalam Bab kedelapan dari Surat Roma seperti ini:

29: (Karena mereka yang telah diketahui-Nya sebelumnya, Dia telah menetapkan mereka untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya agar Dia menjadi sulung dari banyak saudara)

30: (Dan mereka yang telah Dia tetapkan sebelumnya, mereka ini juga Dia panggil) dst.

Dan dalam Bab kesembilan dari Surat yang tersebut:

11: (Dan sementara mereka berdua belum dilahirkan dan juga belum berbuat baik atau jahat agar tujuan Allah menurut pilihan tetap berlaku, bukan dari pekerjaan tetapi dari Dia yang memanggil)

12: (Dikatakan kepadanya bahwa yang lebih besar akan menjadi hamba bagi yang lebih kecil)

13: (Sebagaimana tertulis, Aku mencintai Yakub dan aku benci Esau)

14: (Maka apakah kami akan berkata apakah itu ketidakadilan di sisi Allah? Sekali-kali tidak!)

15: (Karena Dia berkata kepada Musa, Aku akan menaruh belas kasihan pada siapa yang Aku kehendaki dan Aku akan memiliki penyayang kepada siapa yang Aku kehendaki)

16: (Maka tidak tergantung pada siapa yang menghendaki dan tidak pada siapa yang bersusaha payah tetapi pada Allah yang menaruh belas kasihan)

17: (Karena Dia berkata dalam Kitab kepada Firaun, untuk ini juga Aku telah membangkitkan engkau agar Aku menunjukkan kekuatan-Ku dalam diri-mu dan agar nama-Ku diproklamasikan di seluruh bumi)

18: (Maka Dia menaruh belas kasihan pada siapa yang Dia kehendaki dan Dia mengeras hati siapa yang Dia kehendaki)

19: (Maka engkau akan berkata kepadaku, mengapa Dia menyalahkan masih? Karena siapa yang tahan terhadap kehendak-Nya?)

20: (Tetapi siapa engkau wahai manusia yang berbalas dengan Allah? Apakah yang dijadikan akan berkata kepada yang menjadikan mengapa engkau menjadikan aku demikian?)

21: (Atau apakah tukang tembikar tidak memiliki kekuasaan atas tanah untuk membuat dari satu benjolan satu bejana untuk kehormatan dan satu lagi untuk kehinaan) Maka perkataan ini dari yang mereka percayai cukup untuk membuktikan takdir dan bahwa hidayah dan kesesatan berasal dari pihak-Nya.

Sungguh tepatlah apa yang dikatakan Yesaya -semoga Salam senantiasa tercurah baginya- dalam Ayat kesembilan dari Bab empat puluh lima dari Kitab-nya: (Celakalah bagi mereka yang bertentangan dengan yang menjadikan tembikar dari tukang tembikar bumi. Apakah tanah akan berkata kepada yang membentuknya apa yang engkau lakukan? Apakah karya itu akan berkata kepadanya tangan-tangan itu tidak milik-mu?) dan dengan memperhatikan ayat-ayat ini barangkali pemandu sekte Protestan jika (ia) merasa condong kepada determinisme sebagaimana ditunjukkan oleh ungkapan-ungkapannya yang tampak, disebutkan dalam halaman 277 dari jilid kesembilan dari Katholik Herald, ucapan-ucapan pemandu yang terpuji, maka aku akan menukil darinya dua ucapan:

  1. (Tabiat manusia seperti kuda, jika Allah menungganginya dia berjalan seperti yang Allah kehendaki, dan jika Iblis menungganginya dia berjalan seperti yang Iblis berjalan, dan dia tidak memilih penunggang dari dirinya sendiri tetapi para penunggang berusaha supaya salah satu dari mereka menguasainya dan berkuasa atasnya)
  2. (Jika ditemukan sesuatu perintah dalam Kitab-Kitab Suci yang katakan lakukan perkara ini maka pahamilah bahwa Kitab-Kitab ini memerintahkan untuk tidak melakukan perkara yang baik ini karena engkau tidak mampu melakukannya)

Selesai. Maka tampak dari perkataannya bahwa dia menganut determinisme. Dan pendeta Thomas Ankilas Katholik berkata dalam halaman 33 dari Kitab-nya yang bernama Cermin Kebenaran yang diterbitkan tahun 1851, menyerang sekte Protestan demikian: (Para pendeta mereka yang tua mengajarkan mereka perkataan-perkataan yang dibenci ini)

  1. (Bahwa Allah adalah pencipta kedurhakaan)
  2. (Dan bahwa manusia bukanlah bebas memilih untuk menghindari dosa)
  3. (Dan bahwa mengerjakan Hukum Sepuluh tidak mungkin)
  4. (Dan bahwa dosa-dosa besar meskipun amat besar tidak membuat manusia sampai pada kekurangan di mata Allah)
  5. (Dan bahwa iman saja yang menyelamatkan manusia karena kami diadili dengan iman saja dan pengajaran ini lebih bermanfaat dan pengajaran yang penuh dengan ketenangan)
  6. (Dan bahwa Bapa pembaruan agama yang dimaksud Martin Luther berkata, percayalah saja dan ketahuilah dengan yakin bahwa keselamatan akan diperoleh bagi kalian tanpa kesulitan puasa dan tanpa beban takwa dan tanpa kesulitan pengakuan dan tanpa kesulitan perbuatan-perbuatan baik dan kalian akan memperoleh keselamatan yang berharga tanpa keragu-raguan seperti Kristus sendiri, dosalah dengan keberanian penuh, dosalah dan percayalah saja dan dia akan menyelamatkan kalian dengan iman dan jika kalian di uji dalam sehari seribu kali dengan zina atau pembunuhan percayalah saja, Aku katakan sesungguhnya iman kalian akan menyelamatkan kalian)

Selesai. Maka jelas bahwa apa yang dikatakan para ahli Protestan dalam perkara pertama mengenai Al-Quran pasti dibantah tanpa keragu-raguan, bertentangan dengan Kitab-Kitab Suci mereka dan dengan perkataan pemandu mereka.

Dan tidak mengikut dari penciptaan keburukan bahwa Allah adalah jahat, sebagaimana tidak mengikut dari penciptaan kecelakaan, kecerahan, dan aksesoris lainnya bahwa dia bersifat busuk atau terang. Dan hikmat dalam penciptaan keburukan adalah sebagaimana hikmat dalam penciptaan Iblis yang merupakan asal dari keburukan dan kepala kerusakan meskipun dengan pengetahuan abadi Allah bahwa Iblis akan mengeluarkan darinya begini dan begitu. Dan sebagaimana hikmat dalam penciptaan syahwat dan keserakahan dalam sifat manusia dengan pengetahuan abadi-Nya tentang apa yang menjadi akibat dari keduanya pada setiap individu manusia. Dan sebagaimana Allah mampu untuk tidak menciptakan Iblis atau menciptakannya tetapi tidak memberikan kepadanya kekuatan untuk godaan dan tidak melarang dari keburukan, namun Dia menciptakan dan tidak melarangnya dari keburukan karena hikmat tertentu. Demikian pula Dia mampu untuk tidak menciptakan keburukan tetapi dalam penciptaan-Nya kepadanya terdapat hikmat tertentu.

(Adapun jawaban mengenai perkara kedua) adalah bahwa tidak ada keburukan dalam surga memuat bidadari, istana, dan semua kelezatan yang lain menurut akal. Dan tidak seorang pun dari ahli Islam yang mengatakan bahwa kelezatan surga terbatas pada kelezatan tubuh saja seperti yang dikatakan oleh para ahli Protestan dengan keliru atau menyesatkan rakyat biasa. Sebaliknya mereka menganut dengan bunyi Al-Quran bahwa surga memuat kelezatan roh dan kelezatan tubuh, dan yang pertama lebih baik daripada yang kedua dan kedua jenis ini diperoleh oleh orang-orang yang beriman. Allah berfirman dalam Surah At-Taubah: Janji Allah kepada orang-orang yang beriman dan perempuan-perempuan yang beriman, surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan tempat tinggal yang baik di surga Adn dan rida dari Allah itu adalah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung (QS. At-Taubah [9]: 72). Maka firman-Nya rida dari Allah itu adalah lebih besar, maksud-nya bahwa rida dari Allah memiliki kedudukan lebih tinggi daripada semua yang telah disebutkan sebelumnya dari surga dan sungai-sungai dan tempat tinggal yang baik, dan perkataan ini menunjukkan bahwa yang terbaik dari yang Allah berikan di surga adalah kelezatan roh. Meskipun Dia juga memberikan kelezatan tubuh. Oleh karena itu Dia berkata itulah kemenangan yang agung, karena manusia adalah makhluk dari dua substansi halus atas dan padat bawah tubuhan, dan pada keduanya terjadi kebahagiaan dan kesengsaraan. Maka jika kebaikan-kebaikan tubuhan diperoleh dan kepadanya disertai perolehan kebahagiaan-kebahagiaan roh, maka roh telah meraih kebahagiaan yang layak baginya dan tubuh telah mencapai kebahagiaan yang layak baginya. Dan tidak ada keraguan bahwa itu adalah kemenangan yang agung. Dan jika para ahli Protestan berkata bahwa penggabungan keduanya juga di surga adalah kejelekan dalam pandangan kami, saya katakan kepada mereka janganlah kalian bingung karena semoga Allah berkehendak hal itu tidak akan diperoleh oleh kalian. Dan telah aku ketahui dalam Bab pertama bahwa Injil menurut kami adalah pernyataan dari apa yang diturunkan kepada Isa -semoga Salam senantiasa tercurah baginya- saja. Maka sekiranya ditemukan dalam perkataan dari perkataan-perkataan Kristen yang maksudnya bertentangan dengan lahir hukum Al-Quran, maka dengan mengabaikan pandangan bahwa dia diriwayatkan dengan riwayat yang lemah, dan bahwa pertentangan Kitab-Kitab Suci mereka tidak membahayakan Al-Quran, sebagaimana telah aku ketahui dalam jawaban atas kesan yang kedua.

Aku katakan bahwa perkataan itu pasti ditakwilkan sama sekali, dan bahwa ahli surga adalah seperti malaikat menurut klaim mereka tidak bertentangan dengan makan dan minum menurut hukum Kitab-Kitab mereka. Apakah mereka tidak melihat bahwa tiga malaikat yang menampak kepada Ibrahim dan Ibrahim -semoga Salam senantiasa tercurah baginya- menghadirkan bagi mereka sapi panggang dan mentega dan susu, maka mereka memakan hal-hal ini sebagaimana dinyatakan dalam Bab kedelapan belas dari Kitab Kejadian. Dan bahwa dua malaikat yang datang kepada Luth -semoga Salam senantiasa tercurah baginya- dan dia membuat untuk mereka hidangan dan roti tidak beragi, maka mereka memakan sebagaimana dinyatakan dalam Bab kesembilan belas dari Kitab Kejadian. Dan yang mengherankan adalah ketika mereka mengakui kebangkitan tubuh maka apa penolakan terhadap kelezatan tubuh. Ya, seandainya mereka mengingkari kebangkitan sama sekali seperti para penyembah berhala Arab, atau seandainya mereka mengingkari kebangkitan tubuh dan mengakui kebangkitan roh seperti pengikut Aristoteles maka akan ada alasan untuk penolakan mereka menurut lahir. Dan menurut mereka Tuhan menjadi daging dan tidak pernah lepas darinya makan dan minum dan akibat-akibat lain yang bersifat tubuhan mengingat bahwa Dia adalah manusia. Dan ketika Isa -semoga Salam senantiasa tercurah baginya- tidak melakukan menyepi seperti Yahya dalam menghindari makanan yang lezat dan minum anggur maka para penyangkal menjelek-jelekkannya bahwa dia adalah pemakan dan peminum sebagaimana dinyatakan dalam Bab kesebelas dari Injil Matius. Dan menurut kami dugaan ini dibantah tetapi kami katakan bahwa tidak ada keraguan bahwa Isa -semoga Salam senantiasa tercurah baginya- mengingat tubuh adalah hanya manusia saja. Maka seperti makanan yang lezat dan minum anggur tidak menjadi penghalang baginya -semoga Salam senantiasa tercurah baginya- dari kelezatan roh dengan menjadi di dunia ini tetapi adalah pada kehadirannya merupakan penguasaan hukum-hukum roh. Demikian pula kelezatan tubuh tidak akan menjadi penghalang dari kelezatan roh bagi ahli surga dengan menjadi pada penciptaan yang akhir.

(Adapun jawaban mengenai perkara ketiga) akan datang dalam Bab keenam semoga Allah berkehendak, karena jihad dalam cacat cela terhadap Nabi Muhammad semoga Salam senantiasa tercurah baginya menurut mereka adalah dari cacat cela yang terbesar maka aku menyebutkannya dalam cacat-cacat cela di sana.

(Kesan yang keempat) bahwa Al-Quran tidak terdapat di dalamnya apa yang diperlukan oleh roh dan dinginkan. (Jawaban) adalah bahwa apa yang diperlukan oleh roh dan dinginkan adalah dua perkara: keyakinan-keyakinan yang sempurna dan perbuatan-perbuatan yang saleh. Dan Al-Quran memuat penjelasan tentang kedua jenis itu dengan cara yang paling sempurna sebagaimana telah aku ketahui dalam jawaban atas kesan yang pertama. Dan tidak mengikut dari ketiadaan beberapa hal yang merupakan kebutuhan roh menurut pendapat para ahli Protestan kekurangan Al-Quran sebagaimana tidak mengikut kekurangan Taurat dan Injil dan Al-Quran dari ketiadaan perkara yang merupakan kebutuhan roh menurut pendapat para ahli orang-orang musyrik dari India dari kalangan Brahmana, sebagaimana telah aku dengar dari mereka bahwa mereka berkata bahwa penyembelihan hewan untuk keperluan makan dan kenikmatan bertentangan dengan keperluan roh dan tidak disukai oleh akal sama sekali, dan tidak terbayangkan bahwa dia mendapatkan izin darinya dari pihak Allah, maka Kitab yang memuat padanya tidak akan berasal dari pihak Allah.

(Kesan yang kelima) terdapat dalam Al-Quran perbedaan-perbedaan makna misalnya firman-Nya: Tidak ada paksaan dalam agama dan firman-Nya dalam Surah Al-Ghasyiyah: Maka berilah peringatan, karena engkau hanyalah seorang yang memberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang menguasai mereka dan firman-Nya dalam Surah An-Nur: Katakanlah taatilah Allah dan taatilah Rasul, jika mereka berpaling maka sesungguhnya atas dia apa yang dibebankan kepadanya dan atas kamu apa yang dibebankan kepada kamu. Dan jika kamu taati dia niscaya kamu akan mendapat petunjuk. Tidak ada kewajiban bagi Rasul melainkan menyampaikan dengan jelas (QS. An-Nur [24]: 54). Dan ayat-ayat ini bertentangan dengan ayat-ayat yang di dalamnya diperintahkan jihad. Dan terjadi dalam kebanyakan ayat bahwa Al-Masih adalah manusia dan rasul saja, dan terjadi dalam suatu tempat kebalikannya bahwa dia bukanlah dari jenis manusia tetapi kedudukannya lebih tinggi darinya. Yang pertama firman-Nya dalam Surah An-Nisa: Sesungguhnya Al-Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang Dia kirimkan kepada Maryam, dan ruh daripada-Nya (QS. An-Nisa [4]: 171). Dan yang kedua firman-Nya dalam Surah At-Tahrim: dan Maryam binti Imran yang menjaga kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh daripada Kami (QS. At-Tahrim [66]: 12). Dan kedua perbedaan ini adalah dari perbedaan-perbedaan terbesar menurut dugaan para pendeta, dan oleh karena itu penulis Timbangan Kebenaran puas dengan keduanya dalam Bab ketiga dari Bab ketiga darinya. (Aku katakan) dalam jawaban atas perbedaan yang pertama bahwa ini bukanlah perbedaan tetapi hukum ini ada sebelum jihad, maka ketika hukum jihad turun menghapus hukum ini. Dan penghapusan bukanlah perbedaan makna, jika tidak maka harus ada di antara Injil dan Taurat dalam semua hukum yang dihapus perbedaan makna, dan demikian pula dalam hukum-hukum Taurat sendiri dan demikian pula dalam hukum-hukum Injil sendiri sebagaimana telah aku ketahui dalam Bab ketiga dengan penjelasan yang tidak ada pertambahan di atasnya. Selain itu firman-Nya Tidak ada paksaan dalam agama (QS. Al-Baqarah [2]: 256) bukanlah dihapus. Dan telah aku ketahui jawaban atas perbedaan yang kedua dalam perkara ketujuh dari pendahuluan Kitab ini dan jelas bagi-mu di sana bahwa kedua perkataan yang disebutkan itu tidak menunjukkan bahwa Isa putra Maryam bukanlah dari jenis manusia, dan pemahaman terhadap makna ini bukanlah selain keraguan semata dan dugaan yang rusak. Dan yang mengherankan dari mereka yang berakal adalah bahwa mereka tidak melihat perbedaan-perbedaan dan kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam Kitab-Kitab mereka sebagaimana telah aku ketahui sebagiannya dalam Bab ketiga dari Bab pertama.

Pasal Ketiga: Terbuktinya Kesahihan Hadits Nabi dalam Kitab-Kitab Sahih dari Kitab-Kitab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Bab ini mencakup tiga manfaat:

Manfaat Pertama

Mayoritas Ahli Kitab dari kalangan Yahudi dan Kristen, baik terdahulu maupun kemudian, menganggap periwayatan lisan sama dengan tulisan, bahkan mayoritas Yahudi menganggapnya lebih dari tulisan. Sekelompok orang lainnya menganggapnya setara dengannya dan meyakini bahwa keduanya wajib diterima dan merupakan dua prinsip utama iman. Mayoritas Protestan dari kalangan Kristen menolaknya sebagaimana Saduki dari kalangan Yahudi juga menolaknya. Mereka yang menolak dari kalangan Protestan terpaksa menolaknya karena jika mereka tidak menolaknya, mereka tidak akan dapat menjelaskan prinsip-prinsip agama mereka dan keyakinan-keyakinan baru mereka. Namun demikian, mereka masih membutuhkannya di banyak tempat, dan ada bukti dari kitab-kitab suci mereka yang menunjukkan pentingnya hal tersebut, sebagaimana akan menjadi jelas semuanya ini jika Allah menghendaki.

Adam Clarke mengatakan dalam penjelasannya mengenai pendahuluan Kitab Ezra dalam jilid kedua dari tafsirnya yang diterbitkan tahun 1751: “Hukum Yahudi terbagi menjadi dua jenis: tertulis yang mereka sebut Taurat, dan tidak tertulis yang mereka sebut periwayatan lisan yang sampai kepada mereka melalui perantaraan para syaikh. Mereka menyatakan bahwa Allah memberikan kepada Musa kedua jenis ini di atas Gunung Sinai, sehingga yang satu sampai kepada kami melalui tulisan dan yang kedua melalui perantaraan para syaikh yang mewariskannya generasi demi generasi. Untuk alasan ini mereka meyakini bahwa keduanya setara dalam derajat dan berasal dari Allah, dan wajib diterima. Bahkan mereka mengutamakan yang kedua dan mengatakan bahwa hukum tertulis itu tidak lengkap dan terkunci dalam banyak tempat, dan tidak mungkin iman itu sempurna tanpa mempertimbangkan periwayatan lisan. Periwayatan lisan ini jelas dan lebih lengkap, menjelaskan dan melengkapi hukum tertulis. Oleh karena itu mereka mengalihkan makna hukum tertulis jika bertentangan dengan periwayatan lisan. Terkenal di antara mereka bahwa perjanjian yang diambil dari Bani Israil bukan karena hukum tertulis, melainkan karena periwayatan lisan ini. Seolah-olah dengan tipu daya ini mereka meninggalkan hukum tertulis dan menjadikan periwayatan lisan sebagai fondasi agama dan iman mereka. Sebagaimana orang Katolik Roma dalam agama mereka memilih jalan ini dan menafsirkan firman Allah menurut periwayatan ini, meskipun makna periwayatan ini bertentangan dengan banyak tempat lain. Keadaan mereka pada zaman Tuhan kami sampai pada tingkat di mana Tuhan menuntut mereka karena mereka membatalkan firman Allah demi tradisi mereka, dan mereka sangat melampaui perjanjian Tuhan hingga mereka memuliakan periwayatan lisan lebih dari tulisan. Dalam kitab-kitab mereka dinyatakan bahwa kata-kata para syaikh lebih dicintai daripada kata-kata Taurat, dan beberapa kata-kata Taurat bagus dan beberapa tidak bagus, tetapi semua kata-kata para syaikh bagus, dan kata-kata mereka jauh lebih baik daripada kata-kata para nabi.

Maksud mereka dengan kata-kata para syaikh adalah periwayatan lisan ini yang sampai kepada mereka melalui perantaraan para syaikh. Juga dalam kitab-kitab mereka disebutkan bahwa tulisan seperti air, dan Misna serta Talmud yang diriwayatkan di dalamnya seperti anggur dalam bejana-bejana khusus. Juga dalam kitab-kitab mereka bahwa hukum tertulis seperti garam dan Misna serta Talmud seperti lada dan rempah-rempah yang manis, dan pernyataan-pernyataan lain seperti ini yang dapat dipahami bahwa mereka memuliakan periwayatan lisan lebih dari hukum tertulis dan memahami firman Allah sesuai dengan pemahaman penjelasannya dari periwayatan lisan ini. Jadi hukum tertulis bagi mereka dalam posisi seperti tubuh mati dan periwayatan lisan dalam posisi seperti ruh yang dengannya ada kehidupan. Mereka mengatakan tentang ini menjadi prinsip bahwa ketika Allah memberikan Taurat kepada Musa, Dia juga memberikan kepadanya makna-makna Taurat dan memerintahkan untuk menulis yang pertama dan menjaga yang kedua dan menyampaikannya hanya melalui periwayatan lisan, dan demikianlah cara pewarisannya dari generasi ke generasi. Oleh karena itu mereka menyebut yang pertama dengan istilah hukum tertulis dan yang kedua dengan istilah hukum lisan. Fatwa-fatwa yang sesuai dengan periwayatan lisan ini mereka sebut hukum-hukum Musa yang diperoleh di Gunung Sinai. Mereka mengklaim bahwa seperti halnya Musa memperoleh Taurat dalam empat puluh hari ketika percakapan antara dia dan Allah terjadi di Gunung Sinai, demikian juga dia memperoleh periwayatan lisan ini dan Musa membawanya dari gunung dan menyampaikannya kepada Bani Israil dengan meminta Harun di kemah setelah kembali dari gunung. Dia mengajarkan kepadanya hukum tertulis terlebih dahulu kemudian periwayatan lisan yang merupakan makna-makna hukum tertulis sebagaimana dia menerimanya dari Allah. Harun bangkit setelah belajar dan duduk di sebelah kanan Musa. Lalu masuk Eleazar dan Itamar putra-putra Harun dan mereka belajar seperti bapak mereka belajar. Kemudian seorang di antara mereka duduk di sebelah kiri Musa dan yang lainnya di sebelah kanan Harun. Lalu tujuh puluh orang tua-tua masuk dan belajar kedua hukum tersebut dan duduk di kemah. Kemudian orang-orang yang ingin belajar duduk di situ dan belajar. Musa bangkit dan Harun membaca apa yang telah dipelajarinya dan bangkit. Kemudian Eleazar dan Itamar membaca dan bangkit. Kemudian tujuh puluh orang tua-tua membaca apa yang telah mereka pelajari kepada orang-orang. Maka setiap orang dari mereka mendengar hukum ini empat kali dan menghafalnya dengan baik. Kemudian mereka memberitahu Bani Israil yang lainnya setelah keluar. Mereka menyampaikan hukum tertulis melalui tulisan dan menyampaikan maknanya melalui periwayatan kepada generasi kedua. Hukum-hukum dalam teks tertulis ada enam ratus tiga belas, dan mereka membagi hukum menurut jumlah tersebut. Mereka mengatakan bahwa Musa mengumpulkan seluruh Bani Israil pada awal bulan kesebelas tahun keempat puluh keluar dari Mesir dan memberitahu mereka tentang kematiannya, dan memerintahkan bahwa siapa pun yang lupa suatu perkataan dari hukum ilahi yang sampai kepada mereka melalui dua orang ini datanglah kepadaku dan tanyakan kepadaku. Demikian pula jika seseorang memiliki keberatan terhadap suatu perkataan dari hukum-hukum ini, datanglah kepadaku agar aku menghilangkan keberatan itu. Dan dia terlibat dalam pengajaran hingga sisa hidupnya, maksudnya dari awal bulan kesebelas hingga keenam belas dari bulan kedua belas. Tentang hukum tertulis dan tidak tertulis, dia memberikan kepada Bani Israil tiga belas naskah hukum tertulis yang ditulis oleh tangannya sendiri dengan memberikan setiap kelompok satu naskah agar tetap terjaga di antara mereka generasi demi generasi. Dia juga memberikan kepada anak-anak Lewi naskah lain agar tetap terjaga juga di dalam Bait Suci. Dan dia membacakan hukum yang tidak tertulis, yaitu periwayatan lisan, kepada Yusya.

Dia naik ke Gunung Nebo pada hari ketujuh dari bulan itu dan meninggal di sana. Yusya mewariskan periwayatan lisan ini kepada para tua-tua setelah kematian Musa, dan mereka mewariskannya kepada para nabi. Seorang nabi menyampaikannya kepada nabi lain hingga Yeremia menyampaikannya kepada Barukh, Barukh kepada Ezra, dan Ezra kepada majelis ulama yang Simeon yang Adil adalah yang terakhir, dan dia menyampaikannya kepada Antignos dari Sokho, dan dia kepada Yose bin Yokim, dan dia kepada Yose bin Yoezer, dan dia kepada Natan al-Arili dan Yusya bin Perahyah, dan keduanya kepada Yehudah ben Tabbai dan Simeon ben Shatah, dan keduanya kepada Shammai dan Hillel, dan dia kepada anaknya Simeon. Diduga bahwa Simeon ini adalah Simeon yang Tuhan kami pengantara dosa ambil di tangan-tangannya ketika Maria membawanya ke Bait Suci setelah masa penyuciannya selesai. Dia menyampaikannya kepada Gamliel anaknya, dan Gamliel ini adalah orang dari siapa Paulus belajar, dan dia menyampaikannya kepada Simeon anaknya, dan dia kepada Gamliel anaknya, dan dia kepada Simeon anaknya, dan dia kepada Raban Yehudah Ha-Nasi anaknya. Yehudah ini mengumpulkan periwayatan lisan ini dalam sebuah kitab yang dia namai Misna.

Kemudian Adam Clarke mengatakan bahwa orang-orang Yahudi sangat memuliakan kitab ini dan meyakini bahwa semua isinya berasal dari Allah dan diwahyukan kepada Musa di Gunung Sinai seperti hukum tertulis, dan untuk alasan ini wajib diterima seperti halnya hukum tertulis. Sejak kitab ini disusun, kitab itu tersebar luas di antara mereka melalui pembelajaran dan pengajaran. Para ulama besar mereka menulis dua penjelasan untuknya, satu di abad ketiga di Yerusalem dan yang lainnya di awal abad keenam di Babilonia. Nama setiap penjelasan ini adalah Talmud, yang berarti penjelasan dalam bahasa Talmudik. Mereka menganggap penjelasan lengkap teks dalam dua Talmud ini tercapai secara sempurna dalam pandangan mereka. Ketika penjelasan dan teks digabungkan, gabungan ini disebut Talmud, dan untuk membedakan keduanya disebut Talmud Yerusalem dan Talmud Babilonia. Sekarang aliran mereka yang tersebar semuanya tercakup dalam kedua Talmud ini yang mana tulisan para nabi berada di luar keduanya. Karena Talmud Yerusalem sudah tidak ada, oleh sebab itu sekarang pertimbangan Talmud Babilonia bagi mereka lebih besar.

Horn mengatakan dalam Bab Ketujuh dari Bagian Pertama Jilid Kedua dari tafsirnya yang diterbitkan tahun 1822: “Misna adalah kitab yang berisi berbagai periwayatan Yahudi dan penjelasan-penjelasan teks dari kitab-kitab suci. Pendapat mereka tentangnya adalah bahwa ketika Allah memberikan Taurat kepada Musa di Gunung Sinai, Dia juga memberikan kepadanya periwayatan lisan ini pada waktu yang sama dan sampai dari Musa kepada Harun, Eleazar, dan Yusya, dan dari mereka kepada para nabi lainnya, dan dari para nabi ini kepada para tua-tua lainnya, dan demikianlah sampai dari generasi ke generasi hingga sampai kepada Simeon. Simeon ini adalah Simeon yang Tuhan kami pengantara dosa ambil di tangan-tangannya dan sampai darinya kepada Gamliel dan dari dia kepada Yehudah Ha-Nasi, yaitu yang suci, dan dia mengumpulkannya di akhir abad kedua dengan kesulitan dalam empat puluh tahun dalam sebuah kitab. Dari waktu ini kitab ini telah digunakan di kalangan Yahudi turun-temurun, dan sering kali kehormatan kitab ini lebih besar daripada hukum tertulis.

Kemudian dia mengatakan bahwa pada Misna ada dua penjelasan, masing-masing disebut Talmud, satu adalah Talmud Yerusalem yang ditulis di Yerusalem menurut pendapat beberapa ahli pada abad ketiga dan menurut pendapat Fadermon pada abad kelima, dan yang kedua adalah Talmud Babilonia yang ditulis pada abad keenam di Babilonia. Talmud ini penuh dengan cerita-cerita yang tidak dapat dipercaya, tetapi bagi Yahudi memiliki pertimbangan yang sangat besar dan pembelajaran serta pengajarannya tersebar luas di antara mereka. Mereka merujuk kepadanya dalam setiap masalah dengan patuh, mengakui bahwa itu adalah pemandu bagi mereka. Disebut Talmud karena makna Talmud adalah penjelasan. Mereka berpikir bahwa penjelasan ini adalah penjelasan sempurna Taurat dan tidak mungkin ada penjelasan yang lebih baik daripada itu, dan tidak ada kebutuhan untuk penjelasan lain. Ketika Talmud Yerusalem digabungkan dengan teks, gabungan ini disebut Talmud Yerusalem, dan ketika Talmud Babilonia digabungkan dengannya disebut Talmud Babilonia.

Dari penjelasan kedua mufasir ini tampak empat hal:

Pertama: Orang-orang Yahudi menganggap periwayatan lisan seperti Taurat, bahkan sering mereka memuliakan periwayatan lisan lebih daripada itu. Mereka memahami bahwa ia dalam posisi ruh dan Taurat dalam posisi tubuh. Jika keadaan Taurat demikian, bagaimana keadaan kitab-kitab lainnya.

Kedua: Periwayatan lisan ini dikumpulkan oleh Yehudah Ha-Nasi di akhir abad kedua dan terjaga melalui hafalan lisan hingga seribu tujuh ratus tahun. Dalam periode ini orang-orang Yahudi mengalami berbagai bencana besar dan musibah dahsyat seperti peristiwa Nebukadnezar, Antiokhus, Titus, dan lainnya sehingga sanad (mata rantai periwayatan) putus dalam peristiwa-peristiwa ini dan kitab-kitab hilang sebagaimana telah diketahui dalam bab kedua. Namun demikian, menurut mereka pertimbangannya lebih besar daripada Taurat.

Ketiga: Periwayatan lisan ini dalam kebanyakan tingkatan-tingkatannya diriwayatkan oleh seorang periwayat, seperti Gamliel Pertama dan Kedua, Simeon Kedua dan Ketiga. Orang-orang ini bukan nabi menurut Yahudi dan menurut Kristen mereka adalah dari yang paling kafir mengingkari Mesias. Namun periwayatan lisan ini menurut Yahudi adalah fondasi iman dan prinsip keyakinan-keyakinan. Sedangkan menurut kami hadis yang sahih yang diriwayatkan dari periwayat tunggal (ahad) tidak dapat menjadi fondasi keyakinan-keyakinan.

Keempat: Ketika Talmud Babilonia ditulis pada abad keenam, cerita-cerita yang tidak dapat dipercaya menurut perkataan Horn terjaga hanya melalui hafalan lisan hingga masa yang lebih dari dua ribu tahun. Jika kamu telah mengetahui keadaan Yahudi dari pengakuan para ahli dari golongan Protestan, maka ketahuilah sekarang keadaan mayoritas Kristen Kuno.

Yosefus (Eusebius) yang sejarahnya dianggap terpercaya oleh para ulama Katolik dan Protestan mengatakan dalam Bab Kesembilan dari Kitab Kedua dari sejarahnya yang diterbitkan tahun 1848 dalam halaman 87 dalam penjelasan tentang Yakobus si Pengikut: “Bahwa Klemes menyampaikan cerita yang dapat dijaga dalam kitabnya yang ketujuh dalam penjelasan tentang Yakobus. Dan tampak bahwa Klemes menyampaikan cerita ini dari periwayatan lisan yang sampai kepadanya dari para bapak dan leluhur.

Kemudian dia menyampaikan dalam Bab Dua Puluh Tiga dari Kitab Ketiga perkataan Ireneus dalam halaman 123: “Gereja Efesus yang dibangun oleh Paulus dan tempat tinggal Yohanes si Pengikut hingga masa pemerintahan Trajan adalah saksi yang beriman terhadap periwayatan-periwayatan para pengikut.

Kemudian dia menyampaikan dalam halaman yang sama perkataan Klemes: “Dengarkan mengenai Yohanes si Pengikut suatu cerita yang bukan bohong tetapi benar dan teruji yang tetap terjaga dalam hati-hati.

Kemudian dia mengatakan dalam Bab Dua Puluh Empat dari Kitab Ketiga dalam halaman 126: “Para murid Mesias seperti kedua belas pengikut dan tujuh puluh rasul dan banyak orang lainnya tidak hanya mengetahui keadaan-keadaan yang disebutkan,” maksudnya keadaan-keadaan yang ditulis oleh para penginjil, “tetapi yang menulisnya dari mereka hanya Matius dan Yohanes, dan diketahui dari periwayatan lisan bahwa penulisan keduanya juga dilakukan karena keharusan.

Kemudian dia mengatakan dalam Bab Dua Puluh Delapan dari Kitab Ketiga dalam halaman 132: “Ireneus menulis dalam kitabnya yang ketiga suatu keadaan yang layak ditulis, dan sampai kepadanya keadaan ini dari Polikarpus melalui periwayatan lisan.

Kemudian dia mengatakan dalam Bab Kelima dari Kitab Keempat dalam halaman 147: “Aku tidak melihat daftar para uskup Yerusalem dengan urutan dalam sebuah kitab, tetapi terbukti melalui periwayatan lisan bahwa mereka tinggal untuk waktu yang singkat.

Kemudian dia mengatakan dalam Bab Tiga Puluh Enam dari Kitab Ketiga dalam halaman 138: “Sampai kepada kami melalui periwayatan lisan bahwa ketika mereka mengutus Ignatios ke Roma untuk dibunuh dengan melemparkannya di hadapan binatang buas karena dia adalah seorang Kristen dan Maria dengan pengawasan tentara, dia memperkuat berbagai gereja dalam perjalanan dengan nasehat dan perkataannya dan memberitahu mereka tentang bidat-bidat yang tersebar pada hari-hari itu atau yang baru terjadi, dan dia menasihati mereka untuk berpegang teguh pada periwayatan lisan dengan pegangan yang kuat dan juga untuk kepentingan penjagaan yang lebih besar, dia menyetujui bahwa tulislah periwayatan lisan ini dan tetapkan saksianku di atasnya.

Kemudian dia mengatakan dalam Bab Tiga Puluh Sembilan dari Kitab Ketiga dalam halaman 142: “Polycarpus mengatakan dalam pendahuluan bukunya: Aku menulis untuk keuntungan kalian semua hal-hal yang sampai kepada aku dari para leluhur dan aku hafal setelah penyelidikan lengkap, agar keteraturan peningkatan penyelidikannya lebih terbukti dengan kesaksianku di atasnya, karena aku dari dulu tidak menyetujui hanya mendengarkan hadis dari mereka yang berbicara banyak dan mengajarkan nasihat-nasihat lain juga, tetapi aku mendengarkan hadis dari mereka yang hanya mengajarkan nasihat-nasihat sejati yang diriwayatkan dari Tuhan kami yang Benar. Siapa pun yang aku temui dari pengikut-pengikut para leluhur, aku menanyai mereka tentang perkataan Andreas atau Petrus atau Filipus atau Tomas atau Yakobus atau Matius atau seseorang lain dari murid-murid Tuhan kami atau Aristion atau Presbitir Yohanes, orang-orang yang menginginkan Tuhan kami, apa yang mereka katakan. Karena manfaat yang aku peroleh dari lisan-lisan orang-orang terkasih aku tidak memperolehnya dari kitab-kitab.

Kemudian dia mengatakan dalam Bab Kedelapan dari Kitab Keempat dalam halaman 151: “Hegesipos dari para sejarawan gereja terkenal, dan aku telah menyampaikan dari karya-karyanya banyak hal yang dia sampaikan dari para pengikut melalui periwayatan lisan. Penulis ini menulis pertanyaan-pertanyaan para pengikut yang sampai kepadanya melalui periwayatan lisan dengan bahasa yang mudah dalam lima kitab.

Kemudian beliau mengutip dalam Bab Keempat Belas dari Kitab Keempat, pernyataan Irenaeus dalam halaman 158 mengenai keadaan Polikarpus: (Polikarpus selalu mengajarkan apa yang telah dipelajarinya dari para rasul, dan Gereja menyampaikannya melalui riwayat, dan hal itu adalah suatu masalah yang benar). Kemudian beliau mengutip dalam Bab Keenam dari Kitab Kelima, pernyataan Irenaeus tentang daftar uskup Roma, dan berkata dalam halaman 201: (Sekarang sampai kepada Therus, uskup keduabelas dalam rantai yang melaluinya kebenaran dan riwayat lisan dari para rasul sampai kepada kami).

Kemudian beliau mengutip dalam Bab Kesebelas dari Kitab Kelima, pernyataan Klemens dalam halaman 206: (Aku tidak menulis buku-buku ini untuk mencari kemuliaan, melainkan karena dugaan yang besar, dan agar menjadi penawar untuk kelupaan. Aku mengumpulkannya dengan cara penafsiran, seolah-olah penjelasan untuk masalah-masalah ilahi yang melaluinya aku menjadi diagungkan setelah mempelajarinya dari orang-orang mulia yang benar. Di antara mereka adalah Ponikaus yang berada di Yunani, dan yang kedua yang tinggal di Bikinia, Kristia. Salah seorang adalah Suriah dan yang lain adalah Mesir. Sisanya adalah penduduk Timur. Salah seorang adalah Asyuria dan salah seorang adalah Ibrani dari penduduk Palestina. Guru tua yang akhirnya aku layani tersembunyi di Mesir, dan dia lebih baik dari semua guru lainnya. Aku tidak mencari guru lain setelahnya karena tidak ada yang lebih baik darinya. Para guru ini menjaga riwayat-riwayat yang benar yang ditransmisikan dari Petrus, Yakobus, Yohanes, dan Paulus, generasi demi generasi).

Kemudian beliau mengutip dalam Bab Kedua Puluh dari Kitab Kelima, pernyataan Irenaeus dalam halaman 219: (Dengan karunia Allah, aku mendengar hadits-hadits ini dengan perhatian penuh dan menuliskannya dalam hati aku, bukan dalam kertas. Kebiasaanku sejak dahulu adalah aku selalu mengulanginya dengan taat). Kemudian beliau berkata dalam Bab Keduapuluh Empat dari Kitab Kelima dalam halaman 222: (Polikrates, sang Uskup, menulis suatu riwayat yang sampai kepadanya melalui riwayat lisan dalam bukunya yang dia kirimkan kepada Wiktor dan Gereja Roma).

Kemudian beliau berkata dalam Bab Keduapuluh Lima dari Kitab Kelima dalam halaman 226: (Narkisus, Theofilus, dan Kassius dari para uskup Palestina, dan uskup Gereja Asor, dan uskup Ptolemais Klarus, dan orang-orang lain yang datang bersama para uskup ini, mempersembahkan banyak hal mengenai riwayat yang sampai kepada mereka dalam masalah Perayaan Paskah dari para rasul yang ditransmisikan melalui riwayat lisan, generasi demi generasi, dan mereka menulis di akhir kitab agar mereka mengirimkan salinannya kepada gereja-gereja agar tidak ada tempat pelarian bagi mereka yang sesat dari jalan lurus).

Kemudian beliau berkata dalam Bab Ketigabelas dari Kitab Keenam dalam penjelasan keadaan Klemens dari Aleksandria, yang merupakan salah satu pengikut pengikut para rasul dalam halaman 246: (Sesungguhnya dia berkata dalam bukunya yang dia tulis mengenai Perayaan Paskah bahwa orang-orang terkasih memintanya untuk menulis untuk kemanfaatan generasi-generasi yang akan datang, riwayat-riwayat yang telah didengarnya dari para uskup).

Kemudian beliau berkata dalam Bab Ketigapuluh Satu dari Kitab Keenam dalam halaman 263: (Efrikatus dalam suratnya yang masih ada sampai sekarang dan yang pernah dia kirimkan kepada Aristides, menjelaskan persamaan antara dua penjelasan Matius dan Lukas mengenai nasab Kristus berdasarkan riwayat yang sampai kepadanya dari para nenek moyang dan leluhur).

Dari ketujuhbelas pernyataan beliau, dapat diketahui bahwa para Kristen kuno sangat menghormati riwayat. John Malter Katalik menulis dalam bukunya yang diterbitkan di negara Derby pada tahun 1843 dalam suratnya yang kesepuluh yang dia kirimkan kepada James Brown: (Aku sebelumnya juga telah menulis bahwa dasar iman Katolik bukan hanya Firman Allah yang tertulis, melainkan lebih umum baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis, maksudnya Kitab Suci dan riwayat lisan sebagaimana dijelaskan oleh Gereja Katolik).

Kemudian dalam surat itu dia berkata: (Bahwa Irenaeus berkata dalam Bab Lima dari Jilid Ketiga dari bukunya bahwa tidak ada hal yang lebih mudah bagi para pencari kebenaran daripada menyelidiki dalam setiap gereja tentang riwayat lisan yang ditransmisikan dari para rasul dan menampakkannya di seluruh dunia).

Kemudian dia berkata dalam surat itu: (Bahwa Irenaeus berkata dalam Bab Ketiga dari Jilid Pertama dari bukunya bahwa meskipun bahasa-bahasa umat berbeda-beda, namun esensi riwayat lisan di setiap tempat bersatu. Gereja-gereja Jerman tidak berbeda dalam pengajaran dan keyakinan dari gereja-gereja Perancis, Spanyol, Timur, Mesir, dan Libya).

Kemudian dia berkata dalam surat itu: (Bahwa Irenaeus berkata dalam Bab Kedua dari Jilid Ketiga bahwa karena penjelasan rantai semua gereja akan mengakibatkan panjang lebar, oleh karena itu kami kembali kepada riwayat dan keyakinan Gereja Roma yang sangat kuno, agung, dan terkenal. Gereja ini dibangun oleh Petrus dan Paulus, dan semua gereja sesuai dengan itu karena riwayat lisan yang ditransmisikan dari para rasul, generasi demi generasi, semuanya terpelihara di dalamnya).

Kemudian dia berkata dalam surat itu: (Bahwa Irenaeus berkata dalam Bab Keenampuluh Empat dari Kitab Keempat bahwa seandainya para rasul tidak meninggalkan Kitab-kitab bagi kami, maka kami mengatakan bahwa sudah harus kami taat kepada perintah-perintah yang ditetapkan melalui riwayat lisan yang ditransmisikan dari para rasul, dan mereka menyerahkannya kepada orang-orang yang menyerahkannya kepada Gereja, dan riwayat-riwayat ini adalah yang digunakan oleh para barbarian yang percaya kepada Kristus tanpa menggunakan huruf dan tinta).

Kemudian dia berkata dalam surat itu: (Bahwa Tertulian berkata dalam bukunya yang dia tulis untuk membantah para pembawa bid’ah dan diterbitkan di negara Renania pada halaman 36 dan 37: Kebiasaan para pembawa bid’ah adalah mereka berpegang pada Kitab Suci dan mereka berargumen mengatakan bahwa tidak ada selain Kitab Suci yang tertulis yang dapat dijadikan dasar iman, dan dikatakan berdasarkannya, dan mereka melumpuhkan yang kuat dengan tipuan ini dan melemparkan yang lemah ke dalam jaring-jaring mereka, dan membuat yang sedang-sedang saja ragu-ragu. Oleh karena itu kami katakan kepada mereka, jangan pernah biarkan orang-orang ini untuk berdebat dengan menggunakan Kitab Suci sebagai bukti karena tidak ada keuntungan yang dihasilkan dari diskusi yang dilakukan dengan Kitab Suci kecuali otak dan perut menjadi kosong. Oleh karena itu cara kembali kepada Kitab Suci adalah salah, karena tidak ada penyelesaian satu hal pun dari kitab-kitab ini, dan jika ada sesuatu akan menjadi dengan cara yang tidak sempurna. Dan seandainya hal ini juga tidak ada, cara diskusi dalam keadaan itu juga harus ditetapkan terlebih dahulu bahwa Kitab Suci hubungannya berasal dari siapa dan sampai kepada siapa dalam waktu berapa lama riwayat yang melaluinya kami menjadi orang Kristen, karena tempat di mana ditemukan hukum agama Kristen dan keyakinannya, di tempat itu ditemukan kebenaran Injil dan maknanya serta semua riwayat agama Kristen yang bersifat lisan).

Kemudian dia berkata dalam surat itu: (Bahwa Argon berkata bahwa tidak layak bagi kami menganggap serius orang-orang yang mengemukakan dari Kitab Suci kemudian mengatakan bahwa diskursusnya dalam rumah kalian, perhatikanlah itu. Karena tidak layak bagi kami meninggalkan riwayat pertama yang ada di dalam Gereja atau mempercayai sesuatu yang berbeda dari apa yang telah sampai kepada kami dari Gereja-gereja Allah melalui riwayat yang bersambung).

Kemudian dia berkata dalam surat itu: (Bahwa Basilius menulis bahwa banyak masalah yang dijaga dalam Gereja yang disampaikan kepadanya, diambil sebagiannya dari Kitab Suci dan sebagiannya dari riwayat lisan, dan kekuatan keduanya dalam agama adalah sama. Dan barang siapa yang memiliki pemahaman tentang hukum Isa, tidak akan keberatan dengan ini).

Kemudian dia berkata dalam surat itu: Berkata Bapa Panias dalam bukunya yang dia tulis untuk melawan para pembawa bid’ah: “Mari kita gunakan riwayat lisan karena tidak semua hal ditemukan dalam Kitab Suci”.

Kemudian dia berkata dalam surat itu: (Bahwa Krisostom dengan jelas menyatakan dalam penjelasan ayat ke-3 dari pasal ke-14 dari Surat Kedua kepada Jemaat Tesalonika: Terlihat dari sini dengan jelas bahwa para rasul tidak menyampaikan semua hal kepada kami melalui tulisan, melainkan menyampaikan banyak hal tanpa tulisan juga, dan keduanya sama dalam pertimbangan. Oleh karena itu, perhatikanlah bahwa riwayat Gereja adalah sumber iman, dan jika sesuatu ditetapkan melalui riwayat lisan, maka kita tidak mencari lebih dari itu).

Kemudian dia berkata dalam surat itu: (Bahwa Agustin menulis mengenai orang yang menerima pembaptisan dari para pembawa bid’ah bahwa sekalipun tidak ada sanad tertulis dalam hal ini, namun dia harus memperhatikan bahwa praktik ini diambil dari riwayat lisan, karena banyak hal yang Gereja Umum serahkan telah ditetapkan oleh para rasul dan tidak tertulis).

Kemudian dia berkata dalam surat itu: (Bahwa Uskup Van Sent berkata: “Biarlah para pembawa bid’ah menafsirkan Kitab Suci sesuai dengan riwayat Gereja Umum”).

Dari keduabelas pernyataannya, dapat diketahui bahwa riwayat lisan adalah dasar iman umat Katolik dan telah dihormati di kalangan para pendahulu. Pada halaman 64 dari Jilid Ketiga dari Kathorik Herald: (Rabb Musa Qudsi menghadirkan banyak bukti bahwa teks Firman Suci tidak dapat dipahami tanpa bantuan hadits dan riwayat lisan, dan para guru Katolik telah mengikuti kaidah ini setiap waktu).

Tertulian berkata: “Hendaklah dikembalikan kepada pemahaman tentang hal yang diajarkan Kristus kepada para rasul, kepada gereja-gereja yang dibangun oleh para rasul dan diajarkan melalui tulisan-tulisan dan riwayat lisan mereka“.

Dari pernyataan-pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa orang-orang Yahudi memiliki penghormatan terhadap riwayat dan hadits lebih besar daripada penghormatan mereka terhadap Taurat, dan bahwa mayoritas dari para Kristen kuno seperti Klemens, Irenaeus, Hegesipos, Polikarpus, Polikrates, Narkisus, Theofilus, Kassius, Klarus, Klemens dari Aleksandria, Afrikanus, Tertulian, Argon, Basilius, Bapa Panias, Krisostom, Agustin, Uskup Van Sent, dan lainnya, mereka menghormati riwayat lisan dan menganggapnya penting. Ignasius adalah salah seorang yang dalam wasiatnya di akhir hidupnya memerintahkan untuk berpegang teguh pada riwayat lisan dengan sangat kuat. Klemens berkata dalam deskripsi tentang guru-gurunya bahwa mereka menjaga riwayat-riwayat yang benar yang diriwayatkan dari Petrus, Yakobus, Yohanes, dan Paulus, generasi demi generasi. Bapa Panias berkata: Keuntungan yang aku dapatkan dari lidah orang-orang hidup aku tidak mendapatkannya dari buku-buku. Irenaeus berkata: Dengan karunia Allah, aku mendengar hadits-hadits ini dengan perhatian penuh dan menuliskannya dalam hatiku, bukan dalam kertas. Kebiasaanku sejak dahulu adalah aku selalu mengulanginya dengan taat. Dan dia juga berkata: Tidak ada hal yang lebih mudah bagi para pencari kebenaran daripada menyelidiki dalam setiap gereja tentang riwayat lisan yang ditransmisikan dari para rasul dan menampakkannya di seluruh dunia. Dan dia juga berkata: Seandainya para rasul tidak meninggalkan Kitab-kitab bagi kami, maka kami mengatakan bahwa sudah harus kami taat kepada perintah-perintah yang ditetapkan melalui riwayat lisan yang ditransmisikan dari para rasul. Argon dan Tertulian menyalahkan mereka yang mengingkari hadits. Basilius berkata: Masalah-masalah yang diambil dari Kitab Suci dan yang diambil dari hadits keduanya sama dalam kekuatan. Krisostom berkata: Keduanya sama dalam pertimbangan dan riwayat Gereja adalah sumber iman. Dan jika sesuatu ditetapkan melalui riwayat lisan, maka kita tidak mencari lebih dari itu. Agustin dengan jelas menyatakan bahwa banyak hal yang Gereja Umum serahkan telah ditetapkan oleh para rasul dan tidak tertulis. Oleh karena itu, adalah adil untuk mengatakan bahwa mereka yang dari golongan Protestan yang menolak secara mutlak keotoritasan hadits dalam agama Kristen, mereka adalah orang yang baik atau mereka adalah orang yang bersikap keras kepala dan melampaui batas. Perkataan mereka bertentangan dengan Kitab Suci mereka sendiri dan dengan mayoritas para ahli mereka dari kalangan para pendahulu. Menurut pendapat beberapa kalangan pendahulu, mereka termasuk dalam golongan para pembawa bid’ah. Meskipun demikian, mereka harus menganggapnya penting dalam banyak kebodohan golongan mereka, seperti keyakinan bahwa Anak sama dengan Bapa dalam esensi, bahwa Roh Kudus dipancarkan dari Bapa dan Anak, bahwa Kristus memiliki dua sifat dan satu substansi, bahwa Dia memiliki dua kehendak, kehendak ilahi dan kehendak manusia, bahwa setelah Dia mati Dia turun ke Neraka, dan hal-hal kebodohan lainnya, padahal perkataan-perkataan ini tidak ditemukan begitu saja dalam Perjanjian Baru, dan mereka tidak mempercayai hal-hal ini kecuali dari hadits dan tradisi. Di samping itu, mereka juga harus menolak banyak bagian dari Kitab Suci mereka, seperti menolak Injil Markus dan Lukas dan sembilan belas bab dari Kitab Kisah Para Rasul, karena dituliskan melalui riwayat lisan bukan melalui pengalaman langsung atau wahyu sebagaimana telah diketahui dalam bab pertama. Dan seperti menolak lima bab dari Amsal mulai dari bab keduapuluh lima sampai keduapuluh sembilan, karena dikumpulkan pada zaman Hizkia dari riwayat lisan yang beredar di antara mereka, dan antara waktu pengumpulan dan kematian Sulaiman Alaihi Assalam adalah jarak waktu dua ratus tujuh puluh tahun.

Bagian 1: Ayat Pertama dari Kitab Amsal

Ayat pertama dari bab 25 dari Kitab Amsal yang disebutkan adalah sebagai berikut: “Ini juga amsal-amsal Sulaiman yang telah dikumpulkan oleh para sahabat Hizkia, raja Yehuda.”

Adam Clark, seorang mufassir, dalam tafsirnya yang dicetak pada tahun 1851, pada akhir penjelasan ayat ini mengatakan: “Diketahui bahwa di akhir kitab ini terdapat amsal-amsal yang dikumpulkan atas perintah Hizkia Raja dari riwayat-riwayat lisan yang berkembang sejak zaman Sulaiman. Mereka mengumpulkan amsal-amsal ini darinya dan menjadikannya tambahan dari kitab ini. Dan mungkin yang dimaksud dengan sahabat-sahabat Hizkia adalah Nabi Isaya, Sanya, dan lainnya dari para nabi yang hidup di era itu.”

“Sehingga tambahan itu sama dengan kitab yang tersisa dalam hal sanad. Jika tidak, bagaimana mereka menambahkannya dalam kitab suci?” (Akhir kutipan)

Perkataannya “dikumpulkan atas perintah Hizkia Raja dari riwayat-riwayat lisan” jelas sesuai dengan apa yang saya katakan. Sedangkan perkataannya “dan mungkin yang dimaksud…” itu ditolak karena hanya merupakan kemungkinan semata yang tidak dapat diterima lawan tanpa sanad yang lengkap, dan dia tidak memiliki sanad. Dia hanya mengatakan kemungkinan dan menebak-nebak tentang hal yang tidak terlihat. Perkataannya “bagaimana mereka menambahkannya dalam kitab suci” ditolak, karena orang-orang Yahudi memandang riwayat-riwayat lebih penting daripada Taurat. Maka jika Taurat menjadi sanad yang dipertimbangkan menurut mereka, padahal Taurat dikumpulkan dari riwayat-riwayat para syekh setelah kira-kira seribu tujuh ratus tahun, demikian pula cerita-cerita Babel menjadi dipertimbangkan padahal dikumpulkan setelah dua ribu tahun, lantas apa halangan untuk mempertimbangkan lima bab yang dikumpulkan setelah dua ratus tujuh puluh tahun?

Beberapa pengkaji dari para ulama Protestan telah berbuat adil dan mengakui bahwa riwayat-riwayat lisan juga dipertimbangkan sebagaimana yang tertulis di halaman 63 dari jilid kedua dari Katlk Herld demikian: “Dokter Brett, yang merupakan salah seorang tokoh terkemuka Protestan, mengatakan di halaman 73 dari bukunya bahwa perkara ini jelas dari kitab-kitab suci bahwa agama Kristen dipercayakan kepada para uskup pertama dan pengikut-pengikut para rasul melalui riwayat lisan, dan mereka diperintahkan untuk menjaganya dan menyerahkannya kepada generasi yang datang kemudian. Tidak terbukti dari satu pun kitab suci, baik itu surat dari Paulus atau dari para rasul lainnya, bahwa mereka telah menulis, baik dengan kesepakatan atau sendiri-sendiri, semua hal yang memiliki keterlibatan dalam keselamatan, dan mereka membuat suatu kaidah yang dipahami darinya bahwa tidak ada di dalamnya sesuatu yang perlu berkaitan dengan keselamatan kecuali yang tertulis.”

Dan dia mengatakan di halaman 32 dan 33 dari buku yang disebutkan: “Anda akan melihat bahwa Paulus dan para rasul lainnya, sebagaimana mereka menyampaikan kepada kami hadis-hadis melalui tulisan, demikian pula mereka menyampaikan melalui riwayat lisan, dan celakalah mereka yang tidak menjaganya. Hadis-hadis Kristen tentang hal iman adalah sanad seperti halnya yang tertulis.” (Akhir perkataan Dokter Brett)

Dan Uskup Munik mengatakan: “Hadis-hadis para rasul adalah sanad seperti tulisan-tulisan mereka, dan tidak seorang pun dari Protestan yang menyangkal bahwa penentuan riwayat lisan para rasul lebih banyak daripada tulisan-tulisan mereka.”

Dan Glannk dan Rathh mengatakan: “Perselisihan ini tentang injil mana yang kanonik dan injil mana yang tidak kanonik dapat dihilangkan dengan riwayat lisan, yang merupakan dasar keadilan untuk setiap perselisihan.” (Akhir perkataan dari Katlk Herld)

Dan Pendeta Thomas Anglish Katlk dalam halaman 180 dan 181 dari bukunya yang bernama Cermin Kebenaran yang dicetak tahun 1851 mengatakan: “Uskup Mani Sik dari ulama Protestan menyaksikan bahwa enam ratus perkara yang ditetapkan Allah dalam agama dan diperintahkan kepada gereja menerimanya, dan untuk kebenaran itu kitab suci tidak menjelaskannya di satu tempat dan melaksanakannya.”

Dengan pengakuan tokoh ini, enam ratus perkara terbukti melalui riwayat lisan dan kewajibannya adalah menerima dalam golongan Protestan.

Bagian 2: Manfaat Kedua tentang Hafalan

Perkara ini jelas dari pengalaman yang benar bahwa perkara yang luar biasa atau perkara yang diperhatikan pelaksanaannya akan dijaga oleh banyak orang, dan yang sebaliknya biasanya tidak akan tetap terjaga karena kurangnya perhatian. Oleh karena itu, jika Anda bertanya kepada orang-orang yang tidak terbiasa makan makanan tertentu atau makanan-makanan khusus, “Apa yang Anda makan kemarin atau dua hari yang lalu?” biasanya tidak akan teringat oleh kebanyakan mereka karena kurangnya perhatian terhadap perkara ini dan karena tidak luar biasa atau besar. Demikian pula halnya dengan kebanyakan perbuatan umum dan perkataan umum.

Jika Anda bertanya tentang bintang ekor yang pernah ada dan muncul pada bulan Safar tahun 1259 Hijriah dan bulan Maret tahun 1843 Masehi, dan bintang itu terlihat di langit hingga satu bulan dan sangat panjang, maka hal itu akan diingat oleh banyak orang yang melihatnya, bahkan jika bulan dan tahun kemunculannya tidak diingat oleh mereka. Padahal lebih dari dua puluh satu tahun telah berlalu. Demikian pula halnya dengan gempa bumi yang besar, pertempuran yang sengit, dan perkara-perkara yang jarang terjadi.

Mengingat perhatian kaum Muslim terhadap hafalan Alquran di setiap abad, maka ditemukan pada era ini juga lebih dari seratus ribu penghafal Alquran di seluruh negeri-negeri Islam, meskipun kekuasaan umat Islam telah hilang dari kebanyakan wilayah kerajaan-kerajaan dan kelemahan telah menimpa perkara-perkara keagamaan di wilayah terbesar mereka. Barang siapa dari umat Kristen yang merasa ragu terhadap hal ini, biarlah dia mencoba dan masuk ke Masjid Al-Azhar saja maka dia akan menemukan setiap waktu lebih dari seribu penghafal dari para penghafal Alquran yang menghafal dengan tajwid yang sempurna. Jika dia menelusuri desa-desa Mesir, dia tidak akan menemukan satu desa pun dari desa-desa umat Islam yang kosong dari penghafal Alquran, dan dia akan menemukan banyak sekali dari keledai dan pengembala dari penduduk Mesir yang juga penghafal Alquran.

Jika dia berbuat adil, pasti akan mengakui bahwa keledai dan pengembala ini lebih unggul dalam hal ini daripada paus, uskup, dan pendeta yang ditemukan di timur dan barat di era ini, yaitu era penyebaran ilmu di kalangan Kristen, apalagi di abad-abad Kristen yang lampau dari generasi ketujuh hingga generasi kelima belas, di mana kebodohan berada di tempat lambang ilmu di abad-abad itu menurut pengakuan ulama Protestan. Menurut saya, tidak ada di seluruh negara-negara Eropa sepuluh orang penghafal Injil atau Taurat atau keduanya sedemikian rupa sehingga hafalan mereka untuk salah satu atau keduanya menyamai hafalan keledai dan pengembala ini terhadap Alquran.

Anda telah mengetahui di manfaat pertama perkataan Ireneus yang mengatakan: “Saya telah mendengar hadis-hadis ini dengan perhatian yang seksama berkat karunia Allah dan saya menulisnya dalam hati saya bukan di atas kertas, dan kebiasaan saya sejak zaman dahulu adalah saya mengulangnya dengan kesungguhan-sungguhan.” Dan dia juga mengatakan: “Meskipun bahasa-bahasa kaum berbeda-beda, namun esensi riwayat lisan itu bersatu di setiap tempat. Maka gereja-gereja Jerman tidak berbeda dalam pengajaran dan kepercayaan dengan gereja-gereja Prancis, Spanyol, kawasan Timur, Mesir, dan Libya.”

Dan William Muir dalam bab ketiga dari Sejarah Gereja yang dicetak tahun 1848 mengatakan: “Orang-orang Kristen zaman dulu tidak memiliki akidah tertulis dari akidah-akidah iman yang kepercayaan padanya perlu untuk keselamatan, dan diajarkan kepada anak-anak dan kepada mereka yang memasuki agama Kristen dengan pengajaran lisan, dan akidah-akidah ini seragam antara dekat dan jauh. Kemudian ketika mereka mencatatnya dalam tulisan dan membandingkannya, mereka menemukan sesuai, dan mereka tidak menemukan di dalamnya kecuali perbedaan lingual yang sedikit, dan tidak ada perbedaan dalam pokok permasalahan.” (Akhir perkataannya)

Maka dapat diketahui bahwa perkara yang diperhatikan pelaksanaannya akan dijaga dan tidak akan terserang kerusakan dengan berlalunya waktu yang panjang. Perkara ini jelas pada Alquran, dan telah berlalu seribu dua ratus delapan puluh tahun, dan dia dijaga melalui tulisan di setiap abad sebagaimana dijaga melalui hafalan di setiap abad juga dengan ribuan pria yang menghafal.

Kebanyakan golongan Kristen pada era ini sedemikian rupa sehingga jika kita memperhatikan keadaan ulama-ulama besar mereka dan khusus mereka, apalagi orang-orang awam mereka, kita akan menemukan bahwa mereka tidak dapat melakukan pembacaan kitab-kitab suci mereka. Al-Muallim Mikhail Mashaqqah dari ulama Protestan dalam penutupan bukunya yang bernama Panduan untuk Menaati Injil yang dicetak tahun 1849 di halaman 316 mengatakan: “Pada satu hari saya bertanya kepada seorang pendeta dari para pendeta Katolik agar dia menjawab saya dengan jujur tentang membaca kitab suci dan berapa kali dia membacanya dalam rentang hidupnya. Dia mengatakan bahwa dia membaca kadang-kadang dan mungkin beberapa jilid tidak pernah dibacanya, namun sejak dua belas tahun yang lalu karena sibuk melayani jemaat, dia tidak memiliki lagi kesempatan membacanya. Dan sangat mungkin bahwa banyak dari rakyat mengetahui kebodohan akleri-akleri ini namun meskipun demikian mereka menyerah kepada arahan mereka dalam larangan terhadap membaca buku-buku bermanfaat yang membimbing mereka.” (Akhir perkataannya sesuai dengan redaksinya)

Bagian 3: Manfaat Ketiga tentang Hadis Sahih

Hadis yang sahih juga dipertimbangkan oleh umat Islam dengan cara yang akan kami jelaskan. Karena perkataan Rasulullah Muhammad, sesungguhnya Allah memuliakan dan menyelamatkannya: “Takutlah menyebutkan hadis daripadaku kecuali apa yang kalian ketahui. Barang siapa yang berdusta kepadaku dengan sengaja, maka biarlah dia menempati tempat duduknya dari neraka” adalah mutawatir yang diriwayatkan oleh enam puluh dua sahabat di antaranya sepuluh yang diberi kabar gembira (surga).

Dengan ini, umat Islam telah memperhatikan hadis-hadis Nabi sejak abad pertama. Perhatian mereka dalam menjaga hadis-hadis lebih besar daripada perhatian umat Kristen sebagaimana perhatian mereka dalam menjaga Alquran di setiap abad lebih berat daripada perhatian umat Kristen dalam menjaga kitab-kitab suci mereka. Namun para sahabat tidak mencatatnya dalam kitab-kitab pada era mereka untuk beberapa alasan, di antaranya adalah tindakan pencegahan penuh agar perkataan Rasulullah tidak tercampur dengan perkataan Allah. Para pengikut sahabat seperti Az-Zuhri, Ar-Rabi’ bin Sabih, Sa’id, dan lainnya semoga Allah merahmati mereka telah memulai mencatatnya, namun mereka tidak menulisnya tersusun rapi menurut susunan bab-bab fikih.

Ketika susunan ini baik, para pengikut pengikut sahabat mengamalkan susunan ini. Maka Imam Malik semoga Allah merahmati dia yang lahir tahun sembilan puluh lima Hijriah menyusun Al-Muwatta’ di Madinah. Dan Abu Muhammad Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij menyusun di Makkah, Abdul Rahman bin Al-Awza’i di Syam, Sufyan Ats-Tsauri di Kufah, dan Hammad bin Salamah di Bashrah. Kemudian Al-Bukhari dan Muslim menyusun kitab-kitab sahih mereka dan membatasinya hanya pada menyebutkan hadis-hadis yang sahih dan meninggalkan selain itu dari yang lemah.

Para imam ahli hadis berijtihad dengan ijtihad yang sangat besar dalam perkara hadis. Mereka menyusun ilmu yang besar nilainya tentang nama-nama para perawat hadis untuk diketahui keadaan setiap perawi hadis bagaimana keadaannya dalam agama dan hafalan. Setiap pemilik kitab-kitab sahih meriwayatkan hadis-hadis dengan isnad dari mereka hingga Rasulullah Muhammad, sesungguhnya Allah memuliakan dan menyelamatkannya. Beberapa hadis Al-Bukhari adalah hadis tiga yang sampai dengan tiga perantara hingga Rasulullah Muhammad, sesungguhnya Allah memuliakan dan menyelamatkannya.

Hadis yang sahih terbagi menjadi tiga kategori: mutawatir, masyhur, dan khabar al-wahid.

Mutawatir ialah yang diriwayatkan oleh sejumlah kelompok dari kelompok yang mustahil menurut akal mereka bersepakat atas kebohongan. Contohnya seperti periwayatan jumlah rakaat shalat dan jumlah zakat dan semacamnya.

Masyhur ialah yang pada era sahabat seperti khabar-khabar ahad kemudian terkenal pada era tabi’in atau era atba’ tabi’in dan diterima umat pada salah satu dari dua era terakhir tersebut sehingga menjadi seperti mutawatir, seperti rajam dalam masalah zina.

Khabar al-wahid ialah yang diriwayatkan oleh satu orang dari satu orang atau satu dari kelompok atau kelompok dari satu orang. Mutawatir darinya menimbulkan ilmu pasti dan menolaknya adalah kufur. Masyhur menimbulkan ilmu ketenangan dan menolaknya adalah bid’ah dan fasik. Khabar al-wahid tidak menimbulkan salah satu dari kedua ilmu yang disebutkan dan dipertimbangkan dalam praktik bukan dalam menetapkan akidah dan asas agama. Jika bertentangan dengan bukti yang pasti akal atau periwayatan maka ditakwilkan jika takwil dimungkinkan, jika tidak ditinggalkan dan bukti akal tidak diamalkan.

Perbedaan antara hadis sahih dan Alquran ada tiga segi:

  1. Pertama, seluruh Alquran diriwayatkan dengan mutawatir sebagaimana diturunkan kepada Rasulullah Muhammad, sesungguhnya Allah memuliakan dan menyelamatkannya, dan periwayatnya tidak mengubahnya dengan kata lain, berbeda dengan hadis sahih karena periwayatannya dengan makna juga dibolehkan bagi perawi yang terpercaya yang mahir dengan bahasa Arab dan gaya berbicara mereka.
  2. Kedua, Alquran karena seluruhnya mutawatir maka wajib kufur dengan menolak sebagian darinya juga, berbeda dengan hadis sahih karena tidak wajib kufur kecuali dengan menolak bagian darinya yaitu mutawatir bukan masyhur dan khabar al-wahid.
  3. Ketiga, hukum-hukum terkait dengan lafal Alquran dan susunannya juga seperti kesahihan shalat dan bahwa ungkapannya adalah mukjizat, berbeda dengan hadis karena hukum-hukum tidak terkait dengan lafal-lafal hadis.

Jika engkau telah mengetahui apa yang tersebut dalam tiga manfaat itu maka terbukti bagimu bahwa tidak wajib dari perpertimbangan kami terhadap hadis sahih dengan cara yang disebutkan sesuatu dari keburukan dan hal-hal yang mustahil.

 

 

Pasal Keempat: Menanggapi Keraguan-Keraguan Para Pendeta terhadap Hadis

Ada lima keraguan:

Keraguan Pertama: Perawi-perawi hadis adalah istri-istri Muhammad, sesungguhnya Allah memuliakan dan menyelamatkannya, kerabat-kerabatnya, dan para sahabatnya, dan kesaksian mereka tidak dipertimbangkan terhadapnya.

Jawaban: Keraguan ini dapat dibalikkan kepada mereka dengan sedikit perubahan dengan mengatakan bahwa perawi-perawi tentang keadaan-keadaan Kristen dan perkataan-perkataannya yang tercantum dalam injil-injil ini adalah ibu Jesus dan ayah palsu Maria, Yusuf si pengrajin kayu, dan para muridnya, dan kesaksian mereka tidak dipertimbangkan terhadapnya.

Jika mereka mengatakan bahwa ada kemungkinan bahwa iman kerabat dan sahabat Muhammad, sesungguhnya Allah memuliakan dan menyelamatkannya adalah karena keinginan kekuasaan duniawi, saya katakan kemungkinan ini tidak valid karena dia hingga tiga belas tahun berada dalam penderitaan ekstrim dari gangguan orang-orang kafir dan para sahabatnya semoga Allah meridhai mereka juga tertimpa gangguan ekstrim dari mereka hingga periode yang disebutkan sehingga mereka meninggalkan kampung halaman mereka dan hijrah ke Habasyah dan Madinah. Tidak mungkin dibayangkan bahwa salah seorang dari mereka hingga periode ini mengharapkan keinginan dunia.

Apalagi kemungkinan ini juga ada pada para rasul karena mereka adalah orang-orang miskin nelayan dan mereka telah mendengar dari orang-orang Yahudi bahwa Kristus akan menjadi seorang penguasa besar kedudukan. Maka ketika Jesus anak Maria semoga Allah memuliakan mereka berdua mengklaim bahwa dia adalah Kristus yang dijanjikan, mereka mempercayainya dan memahami bahwa mereka akan mendapatkan posisi-posisi mulia dengan mengikutinya dan selamat dari kesukaran jala dan penangkapan ikan. Ketika Jesus semoga Allah menyelamatkannya berjanji kepada mereka: “Karena aku duduk di atas kursi takhtaku, kamu pun akan duduk di atas dua belas kursi takhta menghakimi dua belas suku Israel” sebagaimana dinyatakan secara terang dalam bab 19 dari Injil Matius.

Demikianlah janji-janji mereka: “Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Aku dan karena Injil, dia akan mendapat seratus kali lipat sekarang di masa ini dan mendapat kehidupan abadi di masa yang akan datang”, sebagaimana diterangkan dalam pasal kesepuluh dari Injil Markus. Demikian pula mereka dijanjikan hal-hal lain, sehingga mereka yakin bahwa mereka akan menjadi penguasa yang masing-masing akan memerintah atas sebuah suku dari suku-suku Israel. Jika ada sesuatu yang mereka tinggalkan karena mengikutinya, itu akan digantikan bagi mereka seratus kali lipat di dunia ini. Hal ini tertanam kuat dalam pikiran mereka sehingga Yakub dan Yohanes, anak-anak Zebedee, atau ibunya mereka—sesuai perbedaan riwayat dalam kedua Injil—meminta kedudukan menteri agung agar salah seorang dari mereka duduk di sebelah kanan Isa Alaihi Assalam dan yang lain di sebelah kirinya dalam kerajaan-Nya, sebagaimana diterangkan dalam pasal kedua puluh dari Injil Matius dan pasal kesepuluh dari Injil Markus.

Namun ketika mereka melihat bahwa kerajaan khayalan tersebut tidak mereka dapatkan, dan bukan seratus kali lipat di dunia ini yang mereka terima, bahkan Isa Alaihi Assalam sendiri tidak memiliki harta duniawi sedikitpun melainkan miskin, dan mereka takut kepada orang-orang Yahudi serta lari dari satu tempat ke tempat lain. Ketika mereka melihat orang-orang Yahudi bermaksud menangkap dan membunuh-Nya, mereka terjaga bahwa pemahaman mereka itu salah dan janji-janji yang disebutkan itu seperti fatamorgana yang disangka air oleh orang yang kehausan. Maka salah seorang dari mereka rela menukar kerajaan khayalan itu dan lipatan-lipatan semu itu dengan tiga puluh dirham yang dia terima dari orang-orang Yahudi dengan syarat menyerahkan-Nya kepada mereka. Yang lainnya meninggalkan-Nya ketika orang-orang Yahudi menangkap-Nya, mereka lari dan menyangkal-Nya tiga kali. Bahkan Petrus, yang dipimpin oleh para rasul dan paling besar di antara mereka, yang menjadi dasar dan gembala domba-domba-Nya serta penggantinya, mengutuk-Nya dengan sumpah bahwa dia tidak mengenal-Nya.

Mereka menjadi putus asa sama sekali dari khayalan-khayalan mereka setelah Isa—menurut klaim mereka—disalib. Akan tetapi ketika mereka melihat-Nya lagi setelah kebangkitan, harapan mereka kembali lagi, dan mereka mengira bahwa kali ini mereka akan menjadi penguasa. Maka mereka bertanya kepada-Nya bersama-sama pada saat kenaikan-Nya: “Apakah sekarang ini waktu Engkau mengembalikan kerajaan kepada Israel?”, sebagaimana diterangkan dalam pasal pertama dari Kitab Kisah-Kisah Para Rasul. Setelah kenaikan-Nya, mereka jatuh ke dalam khayalan lain yang lebih besar dari kerajaan duniawi yang tidak mereka dapatkan hingga waktu kenaikan itu, yaitu bahwa Mesias akan turun dari langit di zaman mereka dan bahwa kebangkitan sudah dekat, seperti yang telah dijelaskan secara terperinci dari pasal ketiga dan keempat dari pasal pertama. Bahwa setelah turun-Nya, Dia akan membunuh Dajjal dan mengurung Iblis selama seribu tahun, dan bahwa mereka akan duduk di atas singgasana setelah turun-Nya dan hidup dengan hidup yang memuaskan sampai masa yang disebutkan di dunia ini, sebagaimana dipahami dari pasal kesembilan belas dan kedua puluh dari Kitab Wahyu serta Ayat kedua dari pasal keenam dari Surat Pertama kepada orang-orang Korintus. Kemudian kebahagiaan yang berkelanjutan akan mereka dapatkan di surga selamanya pada kebangkitan yang kedua.

Oleh karena hal-hal ini, mereka berbesar-besaran dalam memuji-Nya dan menetapkan keadaan-keadaan-Nya, sebagaimana kata injili keempat pada akhir injilnya: “Masih banyak hal lain yang dikerjakan oleh Yesus; jika semuanya ditulis satu per satu, aku tidak mengira bahwa dunia sendiri dapat memuat kitab-kitab itu.” Tanpa ragu ini adalah kebohongan murni dan berlebih-lebihan gaya puisi yang buruk. Mereka berbesar-besaran dengan perkataan-perkataan semacam ini untuk merangkul orang-orang bodoh dalam jaring-jaring mereka sampai mereka mati tanpa mencapai tujuan mereka. Oleh karena itu, tidak ada pertimbangan untuk kesaksian mereka tentang-Nya. Penjelasan ini bersifat memaksa (dalil ilzam), bukan keyakinan sebagaimana telah aku nyatakan berkali-kali.

Jadi, sebagaimana asumsi ini tentang Isa Alaihi Assalam dan para rasul-Nya yang benar itu gugur, demikian pula asumsi mereka tentang para sahabat Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam gugur. Para pendeta mungkin merujuk untuk mengelabui kaum awam kepada apa yang diucapkan oleh golongan Imamiah Dua Belas tentang para sahabat Radhiallahu Anhum Ajma’in. Jawaban atasnya, baik dalil ilzam maupun penelitian, adalah sebagai berikut:

Adapun dalil ilzam, maka karena Mosheim, sang sejarawan, berkata dalam jilid pertama sejarahnya: “Golongan Abioni yang berada pada abad pertama mengira bahwa Isa Alaihi Assalam hanyalah seorang manusia biasa yang lahir dari Maryam dan Yusuf sang tukang kayu seperti manusia-manusia lain. Kepatuhan terhadap Syariat Musa tidak terbatas hanya untuk orang-orang Yahudi saja, tetapi wajib juga atas selain mereka. Pengerjaan hukum-hukumnya perlu untuk keselamatan. Ketika Paulus mengingkari keharusan pekerjaan ini dan membantah mereka dengan pertentangan yang hebat dalam masalah ini, mereka memcelanya dengan cela yang hebat dan menghinakan tulisan-tulisannya dengan hinaan yang luar biasa.”

Lardner berkata pada halaman 376 dari jilid kedua tafsirnya: “Para pendahulu memberitahu kami bahwa golongan ini menolak Paulus dan surat-suratnya.”

Bell berkata dalam sejarahnya menjelaskan golongan ini: “Golongan ini mengakui dari kitab-kitab Perjanjian Lama hanya Taurat saja dan mengasingkan diri dari nama-nama Daud, Sulaiman, Yeremia, dan Hizqil Alaihi Assalam. Dari Perjanjian Baru mereka hanya memiliki Injil Matius saja, tetapi mereka sering menafsirkannya secara harfiah di banyak tempat dan mengeluarkan dua pasal pertamanya.”

Dalam sejarahnya menjelaskan golongan Marcion: “Golongan ini mengira bahwa ada dua Tuhan, satu menciptakan kebaikan dan yang lain menciptakan keburukan. Mereka mengatakan Taurat dan kitab-kitab Perjanjian Lama lainnya berasal dari Tuhan yang kedua dan semuanya bertentangan dengan Perjanjian Baru. Kemudian dia berkata bahwa golongan ini mengira Isa turun ke neraka setelah mati-Nya dan menyelamatkan roh-roh Kabil dan penduduk Sodom dari siksanya karena mereka hadir di sisinya dan tidak taat kepada Tuhan penciptanya yang jahat, dan menahan roh-roh Habil, Nuh, Ibrahim, dan orang-orang saleh lainnya di neraka karena mereka telah melanggar golongan yang pertama. Mereka mengira bahwa pencipta dunia tidak terbatas pada Tuhan yang mengirim Isa. Oleh karena itu, mereka tidak mengakui bahwa kitab-kitab Perjanjian Lama adalah ilham ilahi. Mereka mengakui dari Perjanjian Baru hanya Injil Lukas saja, tetapi mereka tidak mengakui dua pasal pertamanya. Mereka mengakui dari surat-surat Paulus sepuluh surat saja, tetapi mereka menolak apa yang bertentangan dengan khayalan-khayalan mereka.”

Lardner meriwayatkan dalam jilid ketiga tafsirnya perkataan Eusebius menjelaskan golongan Mani sebagai berikut: “Golongan ini mengatakan bahwa Tuhan yang memberikan Taurat kepada Musa dan berbicara dengan para nabi Israel bukanlah Tuhan tetapi satu dari para setan. Mereka mengakui kitab-kitab Perjanjian Baru, tetapi mereka mengakui terjadinya penyimpangan di dalamnya dan mengambil apa yang mereka setujui serta meninggalkan sisanya dan mengutamakan beberapa kitab palsu di atasnya dan mengatakan bahwa itu benar-benar benar.” Kemudian Lardner dalam jilid tersebut berkata: “Para sejarawan sepakat bahwa golongan ini sama sekali tidak mengakui kitab-kitab suci Perjanjian Lama setiap saat.”

Dalam Kisah-kisah Arkelaos tertulis doktrin golongan ini sebagai berikut: “Setan membohongi para nabi Yahudi. Setan berbicara kepada Musa dan para nabi Yahudi. Mereka berpegang pada Ayat kedelapan dari pasal kesepuluh Injil Yohanes bahwa Kristus berkata kepada mereka: penjarah dan perampok. Mereka mengeluarkan Perjanjian Baru.” Demikianlah halnya dengan golongan-golongan lain, tetapi aku cukup dalam meriwayatkan ajaran-ajaran ketiga golongan yang disebutkan itu sesuai dengan jumlah tritunggal (trinity).

Aku berkata: Apakah perkataan-perkataan golongan-golongan ini berlaku pada ulama-ulama Protestan ataukah tidak? Jika berlaku, maka timbul kewajiban bagi mereka untuk percaya pada sepuluh hal berikut ini:

  1. Bahwa Isa Alaihi Assalam hanyalah seorang manusia biasa yang lahir dari Yusuf sang tukang kayu.
  2. Bahwa pengerjaan hukum-hukum Taurat diperlukan untuk keselamatan.
  3. Bahwa Paulus adalah jahat dan surat-suratnya wajib ditolak.
  4. Bahwa ada dua Tuhan, pencipta kebaikan dan pencipta keburukan.
  5. Bahwa roh-roh Kabil dan penduduk Sodom mendapat keselamatan dari siksaan neraka dengan kematian Isa Alaihi Assalam, sementara roh-roh Habil, Nuh, Ibrahim, dan orang-orang saleh terdahulu tetap tersiksa di neraka sesudah kematian-Nya.
  6. Bahwa mereka-mereka ini adalah orang-orang yang taat kepada setan.
  7. Bahwa Taurat dan kitab-kitab Perjanjian Lama lainnya berasal dari setan.
  8. Bahwa yang berbicara kepada Musa dan para nabi Israel bukanlah Tuhan tetapi setan.
  9. Bahwa kitab-kitab Perjanjian Baru mengalami pengubahan dan penambahan.
  10. Bahwa beberapa kitab palsu adalah benar-benar benar.

Jika perkataan-perkataan golongan-golongan ini tidak berlaku pada mereka, maka perkataan beberapa golongan Islam tidak berlaku pula pada mayoritas kaum Muslim, apalagi jika perkataan ini bertentangan dengan Quran dan perkataan-perkataan para Imam Suci Radhiallahu Anhum juga, sebagaimana akan kamu ketahui.

Jika telah kamu pahami hal ini, maka aku mengatakan: Quran berbicara bahwa para sahabat besar Radhiallahu Anhum tidak keluar dari mereka sesuatu yang menyebabkan kekafiran dan mengeluarkan mereka dari iman.

  1. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Surah At-Taubah:

“Orang-orang terdahulu dari kaum Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan berbuat baik, Allah meridhai mereka dan mereka pun meridhai Allah. Allah telah menyiapkan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar.”

Dalam hal orang-orang terdahulu dari kaum Muhajirin dan Ansar, Allah mengatakan empat hal:

  • Pertama: Keridaan-Nya atas mereka
  • Kedua: Keridaan mereka atas Allah
  • Ketiga: Kabar gembira surga bagi mereka
  • Keempat: Janji keabadian mereka di dalamnya

Tanpa ragu, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar Al-Faruk, dan Utsman Dzun-Nurain Radhiallahu Anhum adalah dari orang-orang terdahulu dari kaum Muhajirin, demikian pula Amirul Mukminin Ali Radhiallahu Anhu adalah dari mereka. Maka terbukti bagi mereka empat hal ini dan terbukti keabsahan khilafah mereka. Oleh karena itu, perkataan orang-orang yang mencela ketiga sahabat ini Radhiallahu Anhum adalah tertolak, sebagaimana perkataan orang-orang yang mencela yang keempat Radhiallahu Anhu adalah tertolak.

  1. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Surah At-Taubah juga:

“Orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka, derajat mereka lebih tinggi di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang menang. Tuhan mereka memberikan kabar gembira kepada mereka tentang rahmat dari-Nya, keridaan-Nya, dan surga-surga untuk mereka di mana ada kenikmatan yang abadi. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.”

Dalam hal orang-orang mukmin yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka, Allah mengatakan empat hal:

  • Pertama: Derajat mereka lebih tinggi di sisi Allah
  • Kedua: Mereka adalah orang-orang yang menang dengan maksud mereka
  • Ketiga: Mereka diberi kabar gembira dengan rahmat, keridaan, dan surga
  • Keempat: Keabadian mereka dalam surga selama-lamanya

Allah menekankan hal keempat dengan penekanan yang sangat kuat melalui tiga ungkapan: perkataan “abadi” (maqim), perkataan “kekal di dalamnya selama-lamanya” (khalidin fihaa abada), dan perkataan “pahala yang besar” (ajrun azhim). Tanpa ragu, ketiga Khalifah Radhiallahu Anhum adalah dari orang-orang mukmin yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka, demikian pula Ali Radhiallahu Anhu adalah dari mereka. Maka terbukti bagi mereka empat hal ini.

  1. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Surah At-Taubah juga:

“Hanya Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia yang berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Mereka itulah yang mendapat kebaikan. Mereka itulah orang-orang yang beruntung. Allah telah menyiapkan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.”

Dalam hal orang-orang mukmin yang berjihad, Allah mengatakan empat hal:

  • Pertama: Kebaikan adalah untuk mereka
  • Kedua: Mereka adalah orang-orang yang beruntung
  • Ketiga: Janji surga
  • Keempat: Keabadian mereka di dalamnya

Tanpa ragu, ketiga sahabat Radhiallahu Anhum adalah dari orang-orang mukmin yang berjihad. Maka terbukti empat hal ini bagi mereka.

  1. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Surah At-Taubah juga:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, jiwa-jiwa mereka dan harta-harta mereka dengan memberikan kepada mereka surga. Mereka berperang di jalan Allah, maka mereka membunuh atau terbunuh. Sebagai suatu janji yang benar dari Allah dalam Taurat, Injil, dan Quran. Dan siapa yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah keberuntungan yang besar. Orang-orang yang bertaubat, yang beribadah, yang memuji, yang berpuasa, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan melarang berbuat munkar, dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan berikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.”

Allah menjanjikan surga kepada orang-orang mukmin yang berjihad sebagai janji yang terikat erat dan menyebutkan sembilan sifat bagi mereka. Maka terbukti bahwa mereka seperti itu dan mereka akan memenangkan surga.

  1. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Surah Al-Hajj:

“(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan melarang berbuat munkar. Dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”

Perkataan “yang jika Kami teguhkan” adalah sifat bagi yang tersebut sebelumnya, yaitu perkataan “yang diusir dari negeri mereka”, sehingga maksudnya adalah orang-orang Muhajirin bukan orang-orang Ansar karena orang-orang Ansar tidak diusir dari negeri mereka. Allah menyifati orang-orang Muhajirin bahwa jika Allah meneguhkan kedudukan mereka di bumi dan memberikan mereka kekuasaan, mereka menunaikan empat perkara: mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf, dan melarang berbuat munkar.

Telah terbukti bahwa Allah telah meneguhkan kedudukan keempat Khalifah Radhiallahu Anhum di bumi. Maka wajib mereka menunaikan empat perkara tersebut. Jika demikian halnya, maka terbukti mereka berada di atas kebenaran. Dalam perkataan “Dan kepada Allah-lah kembali segala urusan” terdapat petunjuk bahwa peneguhan kedudukan mereka di bumi yang tersebut sebelumnya pasti terjadi. Kemudian segala urusan kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai akhirnya, karena Dialah yang kerajaan-Nya tidak akan hilang.

  1. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Surah Al-Hajj:

“Dan berjihad untuk Allah dengan penuh usaha adalah hak Allah. Dia telah memilih kamu dan Dia tidak menjadikan bagi kamu dalam agama suatu beban; agama ayahmu Ibrahim. Dia (Allah) menamai kamu sekalian orang-orang Muslim sejak dahulu dan dalam (Al-Quran) ini, agar Rasul itu menjadi saksi atas kamu dan kamu menjadi saksi atas segenap manusia. Maka dirikanlah shalat, tunaikan zakat, dan berpeganglah kepada Allah. Dialah Pelindung kamu. Sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”

Allah menamakan para sahabat dalam ayat ini dengan orang-orang Muslim.

  1. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Surah An-Nur:

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwasanya Dia akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan berkuasa orang-orang sebelum mereka, dan bahwasanya Dia akan menetapkan bagi mereka agama mereka yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia akan mengubah (keadaan) mereka, setelah ketakutan mereka, menjadi keamanan, mereka menyembah-Ku saja, tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Ku. Dan barangsiapa kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang fasik.”

Lafal “min” dalam perkataan “di antara kamu” adalah untuk penjumlahan, dan “kum” adalah dhamir mukhathab, keduanya menunjukkan bahwa maksud dari perkataan ini adalah sebagian dari orang-orang mukmin yang ada pada waktu turun surah ini, bukan semuanya. Lafal al-istikhlaf (penguasaan) menunjukkan bahwa terwujudnya janji ini adalah setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, dan diketahui bahwa tidak ada nabi setelahnya karena dia adalah penutup para nabi. Maksud dari penguasaan ini adalah cara imamat. Dhamir-dhamir yang kembali kepada mereka dalam perkataan “akan menjadikan mereka” hingga “tidak mempersekutukan” semuanya berbentuk jama’. Jama’ secara hakikat tidak diemban dengan kurang dari tiga orang, maka menunjukkan bahwa imam-imam ini yang dijanjikan kepadanya tidak akan kurang dari tiga orang.

Perkataan “Dia akan menetapkan bagi mereka” hingga akhirnya adalah janji bagi mereka dengan datangnya kekuatan, keberanian, dan berlakunya hukum di dunia, maka menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang kuat memiliki keberanian, dan hukum mereka berlaku di dunia. Perkataan “agama mereka yang telah diridai-Nya untuk mereka” menunjukkan bahwa agama yang tampak pada masa pemerintahan mereka adalah agama yang diridai Allah. Perkataan “Dia akan mengubah keadaan mereka, setelah ketakutan mereka, menjadi keamanan” menunjukkan bahwa mereka pada masa kekhalifahan mereka adalah orang-orang yang aman tidak takut, dan tidak berada dalam ketakutan dan takqiyyah.

Perkataan “mereka menyembah-Ku saja, tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Ku” menunjukkan bahwa mereka pada masa kekhalifahan mereka juga adalah orang-orang mukmin tidak musyrik.

Maka ayat ini menunjukkan keabsahan imamat keempat Imam Radhiallahu Anhum, terutama ketiga Khalifah yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar Al-Faruk, dan Utsman Dzun-Nurain Radhiallahu Anhum, karena penaklukan-penaklukan besar dan penguasaan yang sempurna serta lahirnya agama dan keamanan yang ada pada masa mereka tidak terjadi pada masa Amirul Mukminin Ali Radhiallahu Anhu karena sibuknya dengan memerangi orang-orang Khawarij pada masa mulia beliau. Maka terbukti bahwa apa yang diucapkan oleh orang-orang Syi’ah tentang ketiga sahabat Radhiallahu Anhum atau orang-orang Khawarij tentang Utsman dan Ali Radhiallahu Anhuma adalah perkataan yang tidak layak diperhatikan.

8- Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Fath tentang hak para Muhajirin dan Ansar yang bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat Perjanjian Hudaibiyah:

{Ketika orang-orang yang kafir memasukkan dalam hati mereka keangkuhan, keangkuhan dari zaman dahulu, maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa (kalimah at-taqwa), dan mereka lebih berhak dengannya dan lebih pantas. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.} (Al-Fath: 26)

Maka Allah menyebutkan empat perkara mengenai mereka:

(Pertama) Sesungguhnya mereka adalah mitra Rasul dalam turunnya ketenangan.

(Kedua) Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang beriman.

(Ketiga) Bahwa kalimat takwa adalah wajib dan tidak terpisahkan dari mereka.

(Keempat) Sesungguhnya mereka adalah yang paling berhak dengan kalimat takwa dan paling pantas dengannya. Tidak ada keraguan bahwa Abu Bakar dan Umar Radhiallahu ‘anhuma termasuk dalam para Muhajirin ini, sehingga terbukti bagi mereka dan seluruh mereka keempat perkara ini. Barangsiapa mempercayai sesuatu yang lain tentang mereka, maka akidahnya adalah batil dan bertentangan dengan Al-Quran.

9- Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman dalam Surat Al-Fath:

{Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud, mencari karunia dari Allah dan keridaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas-bekas sujud.} (Al-Fath: 29)

Allah memuji para Sahabat dengan sifat-sifat mereka yang keras terhadap orang-orang kafir, saling berkasih sayang, ruku’, sujud, dan mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Barangsiapa dari yang mengaku Islam mempercayai hal lain tentang mereka, maka ia adalah tersesat.

10- Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Hujurat:

{Tetapi Allah telah membuat kamu mencintai iman dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu, dan membuat kamu membenci kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.} (Al-Hujurat: 7)

Maka diketahui bahwa para Sahabat adalah pencinta iman dan pembenci kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat hidayah. Mempercayai hal yang bertentangan dengan perkara-perkara ini tentang mereka adalah kesalahan.

11- Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Hasyr:

{(Harta rampasan fai’) adalah untuk fakir Muhajirin yang diusir dari kampung halaman dan harta benda mereka, yang mencari karunia dari Allah dan keridaan(-Nya), dan mereka menolong (agama) Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka. Mereka mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka dan tidak menemukan dalam hati mereka sedikit pun keberatan terhadap apa yang diberikan kepada mereka, dan mereka mengutamakan (mereka) daripada diri mereka sendiri meskipun mereka dalam kesusahan. Barangsiapa yang dipelihara dirinya dari kekikiran (sifat kikir), mereka itulah orang-orang yang beruntung.} (Al-Hasyr: 8-9)

Allah memuji para Muhajirin dan Ansar dengan enam sifat:

(Pertama) Bahwa hijrah para Muhajirin ini bukan untuk dunia, melainkan untuk mencari keridaan Allah.

(Kedua) Bahwa mereka adalah penolong agama Allah dan Rasul-Nya.

(Ketiga) Bahwa mereka adalah orang-orang yang jujur dalam perkataan dan perbuatan.

(Keempat) Bahwa para Ansar mencintai mereka yang berhijrah kepada mereka.

(Kelima) Bahwa mereka senang ketika sesuatu terjadi pada para Muhajirin.

(Keenam) Bahwa mereka mengutamakan mereka daripada diri mereka sendiri meskipun mereka dalam kebutuhan. Keenam sifat ini menunjukkan kesempurnaan iman. Barangsiapa mempercayai hal lain tentang mereka, maka ia adalah tersesat. Para fakir Muhajirin ini adalah mereka yang berkata kepada Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu: “Wahai Khalifah Rasulullah,” dan Allah menjadi saksi akan kejujuran mereka. Oleh karena itu, wajib mereka adalah jujur dalam perkataan ini juga. Ketika hal tersebut demikian, maka wajib untuk yakin akan kebenaran imamatnya.

12- Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Ali ‘Imran:

{Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.} (Ali ‘Imran: 110)

Allah memuji para Sahabat dengan tiga sifat:

(Pertama) Bahwa mereka adalah umat terbaik.

(Kedua) Bahwa mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.

(Ketiga) Bahwa mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah. Demikian halnya dengan ayat-ayat yang lain, tetapi karena khawatir panjang, aku cukupkan dengan dua belas tempat sesuai dengan jumlah para Hawariyyin (pengikut setia) Isa ‘alaihi assalam dan jumlah dua belas Imam Thaahirin Radhiallahu ‘anhum ajma’in.

Dan aku nukil lima ucapan dari ucapan-ucapan Ahlul Bayt ‘alaihimussalam sesuai dengan jumlah lima yang Thaahirin ‘alaihimussalam.

1- Dalam Nahjul Balagha yang merupakan kitab yang dipercaya oleh Syiah, terdapat ucapan Ali Radhiallahu ‘anhu yang berbunyi:

“Demi Allah, orang itu; sesungguhnya dia meluruskan kebengkokan, menyembuhkan penyakit kronis, menegakkan Sunnah, dan menghilangkan bid’ah. Dia pergi dalam keadaan bersih pakaiannya, sedikit cacat, mencapai kebaikannya, dan mendahului keburukannya. Dia mematuhi Allah, bertakwa kepada-Nya dengan hak-Nya. Dia meninggalkan mereka di atas jalan-jalan yang berliku, orang-orang yang tersesat tidak tertunjuk di dalamnya dan orang-orang yang mendapat petunjuk tidak yakin.”

Maksud “orang itu” (fulan) menurut pilihan kebanyakan penggaris (mufassir) termasuk Al-Bahrani adalah Abu Bakar As-Shiddiq Radhiallahu ‘anhu, dan menurut pilihan beberapa penggaris adalah Umar Al-Faruk Radhiallahu ‘anhu. Maka Ali Radhiallahu ‘anhu menyebutkan sepuluh sifat dari sifat-sifat Abu Bakar atau Umar Radhiallahu ‘anhu, maka haruslah sifat-sifat tersebut ada pada mereka, dan ketika sifat-sifat ini terbukti baginya setelah kematiannya dengan pengakuan Ali Radhiallahu ‘anhu, maka tidak ada lagi keraguan tentang kebenaran khilafahnya.

*2- Dan dalam Kasyful Ghummah yang merupakan karya Ali bin Isa Al-Arbili Ad-Duodecimal yang merupakan salah satu dari ulama-ulama terpercaya menurut Imamiah (Sang Imam Ja’far ditanya tentang perhiasan pedang apakah dibolehkan? Dia berkata: Ya, Abu Bakar As-Shiddiq telah menghiasi pedangnya. Maka yang meriwayatkan berkata: Apakah engkau mengatakan demikian? Lalu Imam melompat dari tempatnya dan berkata: Ya, As-Shiddiq, ya, As-Shiddiq, ya, As-Shiddiq. Barangsiapa yang tidak menyebut As-Shiddiq bagi dirinya, maka janganlah Allah menghalalkan perkataannya di dunia dan akhirat)

Terbukti dengan pengakuan Imam Hamam bahwa Abu Bakar As-Shiddiq Radhiallahu ‘anhu adalah shiddiq yang benar, dan siapa yang mengingkarinya adalah pembohong di dunia dan akhirat.

3- Dan terdapat dalam beberapa surat Ali Radhiallahu ‘anhu sebagaimana yang dinukil oleh para penggaris Nahjul Balagha tentang Abu Bakar dan Umar Radhiallahu ‘anhuma yang berbunyi:

“Demi hidupku, sesungguhnya kedudukan mereka berdua dalam Islam adalah besar, dan musibah terhadap keduanya dalam Islam adalah berat. Semoga Allah merahmati mereka berdua dan memberikan balasan kepada mereka berdua dengan sebaik-baik balasan untuk apa yang mereka kerjakan.”

4- Dan yang menukil Shahib Al-Fushul yang merupakan salah satu dari ulama-ulama besar Imamiah Ad-Duodecimal dari Imam Hamam Muhammad Al-Baqir Radhiallahu ‘anhu yang berbunyi:

“Sesungguhnya dia berkata kepada sekelompok orang yang membicarakan Abu Bakar, Umar, dan Utsman: Apakah kalian tidak akan memberitahu aku apakah kalian termasuk dari orang-orang Muhajirin yang diusir dari rumah dan harta mereka, mencari karunia dari Allah dan keridaan-Nya, dan menolong Allah dan Rasul-Nya? Mereka menjawab: Tidak. Dia berkata: Apakah kalian termasuk dari orang-orang yang menempati kota dan iman sebelum mereka, mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka? Mereka menjawab: Tidak. Dia berkata: Adapun kalian, maka kalian telah berlepas diri untuk menjadi salah satu dari kedua golongan ini. Dan aku menyaksikan bahwa kalian bukan termasuk dari orang-orang yang Allah firmankan: {Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar) berkata: ‘Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman sebelum kami, dan janganlah Engkau masukkan pada hati kami kebencian terhadap orang-orang yang telah beriman. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau adalah Penyayang lagi Penyayang Rabb kami’} (Al-Hasyr: 10)

Maka orang yang membicarakan As-Shiddiq, Al-Faruk, dan Dzun-Nurain Radhiallahu ‘anhum adalah termasuk keluar dari ketiga golongan yang dipuji Allah dengan kesaksian Imam Hamam Radhiallahu ‘anhu. Dan dalam tafsir yang dinisbatkan kepada Imam Hamam Al-Hasan Al-‘Askari Radhiallahu ‘anhu wa ‘an abaih Al-Karam: “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepada Adam untuk menuangkan kepada setiap orang dari pencinta Muhammad, keluarga Muhammad, dan para Sahabat Muhammad apa yang jika dibagi rata dengan setiap jumlah yang Allah ciptakan dari panjangnya waktu sampai akhirnya, dan mereka adalah orang-orang kafir, akan membawa mereka pada akibat yang terpuji dan iman kepada Allah sehingga mereka berhak dengannya untuk surga. Dan sesungguhnya barangsiapa yang membenci keluarga Muhammad dan para Sahabatnya, atau salah seorang dari mereka, Allah akan mengazab mereka dengan azab yang jika dibagi rata dengan semacam ciptaan Allah akan membinasakan mereka semuanya.”

Maka diketahui bahwa kecintaan adalah apa yang ada pada keluarga dan para Sahabat Radhiallahu ‘anhum, bukan pada salah satu dari mereka berdua, dan membenci salah seorang dari keluarga dan para Sahabat adalah cukup untuk kehancuran. Semoga Allah menyelamatkan kami dari keburukan akidah tentang para Sahabat dan keluarga Radhiyallahu ‘alaihim ajma’in, dan mematikan kami dalam keadaan mencintai mereka. Dan memandang kepada banyaknya ayat-ayat dan hadits-hadits yang shahih, telah terjadi ijma’ (kesepakatan) ahli kebenaran atas wajibnya memuliakan para Sahabat Radhiallahu ‘anhum.

(Keraguan Kedua) Para penulis kitab-kitab hadits tidak melihat dengan mata mereka sendiri kondisi-kondisi yang berkaitan dengan Muhammad dan mukjizat-mukjizat yang luar biasa dari Ahmad, dan tidak mendengar ucapan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam darinya tanpa perantara, melainkan mereka mendengarnya secara mutawatir setelah seratus atau dua ratus tahun dari wafatnya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka mengumpulkannya dan membuang separuhnya karena tidak dipandang layak.

(Jawaban) Kamu telah mengetahui pada bab ketiga bahwa periwayatan lisan dianggap layak oleh mayoritas ahli kitab, dan penilaian terhadapnya terbukti dari Injil yang beredar ini, dan bahwa kelompok Protestan memerlukan penilaian terhadapnya dalam berbagai hal yang sesuai pengakuan (Mani Sik) Uskup mencapai enam ratus, dan bahwa lima pasal dari Kitab Amsal dikumpulkan dari periwayatan lisan pada zaman Hizqiah setelah berlalu 270 tahun dari kematian Sulaiman ‘alaihi assalam, dan bahwa Injil Markus, Lukas, dan 19 pasal dari Kitab Perbuatan ditulis dengan periwayatan lisan, dan bahwa hal yang penting bagi urusannya akan dijaga dan tidak ada cacat yang masuk dengannya karena berlalunya waktu, dan bahwa Para Tabi’in telah memulai mendokumentasikan hadits-hadits dalam kitab-kitab, tetapi mereka mendokumentasikannya bukan sesuai urutan bab-bab fiqih, dan bahwa generasi Tabi’ At-Tabi’in mendokumentasikannya sesuai urutan mereka, kemudian sesungguhnya Al-Bukhari dan para penulis kitab-kitab shahih lainnya hanya menghubungkan diri dengan penyebutan hadits-hadits yang shahih dan meninggalkan yang dha’if, dan setiap pemilik dari kitab-kitab shahih meriwayatkan hadits-hadits dengan sanad dari mereka kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan telah diistilahkan dalam nama-nama para periwayat suatu cabang ilmu yang sangat besar nilainya yang dengannya dapat diketahui kondisi setiap periwayat hadits. Dan juga kamu telah mengetahui bahwa bagaimana ahli Islam menilai hadits shahih sehingga tidak ada sesuatu yang ditolak dari mereka, dan ucapan mereka “mereka mendengarnya secara mutawatir dan membuang separuhnya karena tidak dipandang layak” adalah salah, karena mereka tidak membuang karena tidak dipandang layak sesuatu hadits dari hadits-hadits yang mereka dengar secara mutawatir, karena hadits mutawatir menurut mereka adalah wajib dipandang layak. Memang mereka meninggalkan yang dha’if yang sanadnya tidak sempurna dan meninggalkannya tidak membahayakan sebagaimana telah kamu ketahui.

Pada bab kedua dari ucapan Adam Clark: “Hal ini terbukti dengan pasti bahwa banyak Injil-Injil palsu yang beredar pada awal zaman Kristen, dan banyaknya keadaan-keadaan palsu dan tidak benar ini mendorong Lukas untuk menulis Injil, dan dijumpai penyebutan lebih dari 70 Injil palsu ini, dan banyak bagian dari Injil-Injil palsu ini masih ada, dan (Theobaldi Seuss) mengumpulkan Injil-Injil palsu ini dan menerbitkannya dalam tiga volume.” Selesai.

(Keraguan Ketiga) Setiap orang berakal jika meninggalkan fanatisme akan mengetahui bahwa kebanyakan hadits tidak mungkin pengertiannya itu benar sesuai dengan kenyataannya.

(Jawaban) Tidak ada dalam hadits-hadits shahih sesuatu yang kandungannya adalah mustahil bagi akal, adapun beberapa mukjizat yang melawan kebiasaan, dan beberapa kondisi surga, neraka, dan malaikat yang tidak ada bandingannya di dunia ini, jika penolakan mereka karenanya adalah hal-hal yang mustahil dengan bukti, maka atas mereka adalah menyebutkan bukti ini dan atas kami jawabannya, dan jika karenanya melawan kebiasaan atau tidak ada bandingannya di dunia ini, maka itu tidak merugikan kami, karena mukjizat jika sesuai dengan kebiasaan biasa saja bukan mukjizat. Bukankah tongkat menjadi ular dan menelan semua ular para penyihir, kemudian menjadi seperti semula tanpa pertambahan ukuran, dan demikian semua mukjizat Musa ‘alaihi assalam melawan kebiasaan biasa. Dan membandingkan dunia akhirat dengan dunia ini adalah perbandingan yang tidak seimbang. Memang jika berdiri bukti pasti atas kemustahilan sesuatu, maka pasti akan kemustahilan di dunia akhirat juga, dan tanpa adanya bukti pasti, maka tidak berani menolaknya di dunia akhirat. Apakah mereka tidak melihat perbedaan kondisi-kondisi iklim? Sesungguhnya beberapa hal ada di beberapa iklim saja bukan di iklim lain. Maka barangsiapa dari suatu iklim dan mendengar kondisi beberapa hal yang aneh khusus untuk iklim lain akan menganggap jauh, bahkan sering sekali menolaknya dengan syarat bahwa pendengarannya bukan mutawatir.

Dan mungkin beberapa hal itu dianggap jauh pada beberapa waktu dan tidak pada waktu lain, sebagaimana bahwa memotong jarak laut ini dengan kecepatan ini yang dipotong dengan kapal-kapal uap atau darat yang dipotong dengan mobil-mobil uap adalah termasuk yang dianggap jauh oleh manusia sebelum adanya kapal-kapal uap dan mobil-mobil uap, dan demikian juga sampainya kabar dalam satu atau dua menit ke jarak yang jauh dengan perantaraan kawat yang dikenal adalah termasuk yang dianggap jauh sebelum adanya kawat itu, dan tidak tetap dianggap jauh setelah penemuan dan pemeriksaan hal-hal ini.

Tetapi keadilan mengatakan bahwa kebiasaan para penolak adalah mereka menutup mata keadilan dan menghukum setiap hal yang dilihat jauh dalam pendapat mereka sebagai mustahil, dan para ulama Protestan telah belajar kebiasaan ini dari sejenis mereka yang mereka sebut Atheis (pengingkari Tuhan), tetapi yang aneh dari para ulama ini adalah mereka tidak melihat bahwa kitab-kitab mereka penuh dengan kesalahan-kesalahan jelas sebagaimana aku telah menukil beberapa darinya sebagai contoh pada bab ketiga dari bagian pertama, dan mereka tidak terbangun oleh pengaduan sejenis mereka dan memperlakukan Muslim dengan cara sejenis mereka memperlakukan Muslim, dan sesungguhnya pengaduan sejenis mereka pada umumnya lebih kuat daripada pengaduan-pengaduan mereka yang tidak lengkap, dan aku akan menukil beberapa tempat dari tempat-tempat yang mereka buat lelucon dan mengadukan darinya. Misalnya:

[1] Terdapat pada pasal 22 dari Kitab Bilangan demikian: 28: “Maka Tuhan membuka mulut keledai dan berkatalah keledai itu kepada Bileam: Apakah yang telah kuperbuat kepadamu sehingga engkau telah memukuli aku tiga kali?” 29: “Maka berkatalah Bileam kepada keledai itu: Karena engkau telah berlaku licik kepadaku, dan lain-lain.” 30: “Maka berkatalah keledai itu kepada Bileam: Bukankah aku keledaimu yang biasa engkau menunggangi dari dahulu sampai hari ini? Apakah aku pernah berbuat demikian kepadamu? Jawabnya: Tidak.”

Berkata Horn pada halaman 636 dari jilid kedua dari tafsirnya yang diterbitkan tahun 1822: “Sesungguhnya orang-orang kafir dari zaman yang dekat ini membuat lelucon tentang berbicara keledai Bileam.” Selesai.

[2] Dan terdapat pada pasal 17 dari Kitab Raja-Raja Pertama bahwa gagak-gagak adalah menghadirkan daging dan roti untuk Elias sang utusan selama suatu masa, dan hal ini adalah bahan tawa di antara sejenis mereka sampai-sampai ahli kajian terkenal mereka Horn cenderung kepada pendapat mereka dan merendahkan para penafsir dan penterjemah mereka dengan tiga cara sebagaimana kamu telah mengetahuinya pada bab ketiga dari bagian pertama.

[3] Dan terdapat pada pasal empat dari Kitab Hizqial demikian, dan aku menukil ungkapannya dari terjemahan Arab yang diterbitkan tahun 1844: [4]: “Dan engkau tidur di atas pinggir sebelah kirimu dan letakkan dosa-dosa rumah Israel di atasnya sesuai dengan jumlah hari engkau tidur di atasnya, dan ambil dosa mereka,” [5]: “Dan aku memberikan kepadamu tahun-tahun dosa mereka sesuai dengan jumlah hari tiga ratus sembilan puluh hari, dan pikul dosa keluarga Israel,” 6: “Kemudian jika engkau selesai dengan ini, tidur di atas pinggir sebelah kananmu sekali lagi dan ambil dosa keluarga Yehuda empat puluh hari, sesungguhnya sehari aku jadikan sebagai pengganti setahun untukmu,” 7: “Dan hadapkan mukamu ke pengepungan Yerusalem dan lenganmu terbentang dan bangun di atasnya,” 8: “Sesungguhnya aku telah mengikat engkau dengan tali dan engkau tidak akan berpaling dari satu pinggir ke pinggir yang lain sampai engkau selesai dengan hari-hari pengepunganmu,” 9: “Dan engkau ambil untukmu gandum, jelai, kacang adas, lentil, jewawut, dan dapat dimakan, dan letakkan semuanya dalam satu wadah dan buatlah roti untukmu sesuai dengan jumlah hari engkau tidur di atasnya tiga ratus sembilan puluh hari dan makanlah,” 10: “Dan makananmu yang engkau makan adalah dengan timbangan dua puluh mitsqal dalam setiap hari dari satu waktu ke waktu yang lain makanlah,” 11: “Dan minumlah air dengan ukuran seperenam dari qasth dari satu waktu ke waktu yang lain minumlah,” 12: “Dan seperti roti jelai makanlah dan oleskan dengan kotoran yang keluar dari manusia di hadapan mata mereka.”

Kemudian Allah memerintahkan Nabi Yehezkiel semoga damai sejahtera atas dirinya dengan tiga perintah:

Pertama: agar dia berbaring di atas sisi kirinya selama tiga ratus sembilan puluh hari sambil menanggung dosa Bani Israil, kemudian berbaring di atas sisi kanannya selama empat puluh hari sambil menanggung dosa Bani Yehuda.

Kedua: agar dia menghadapkan wajahnya ke arah pengepungan Yerusalem dan lengannya tetap tegang, tanpa berpalingkan dari satu sisi ke sisi lainnya hingga hari-hari pengepungan itu selesai.

Ketiga: agar dia makan selama tiga ratus sembilan puluh hari roti yang dicampur dengan kotoran manusia. Kemudian orang-orang dari jenis mereka mengolok-olokkan perintah-perintah ini dan menolak bahwa ini berasal dari Allah. Mereka mengatakan bahwa ini lemah dan bertentangan dengan akal. Mereka berkata, “Bagaimana mungkin Allah memerintahkan nabi suci-Nya untuk makan selama tiga ratus sembilan puluh hari roti yang dicampur dengan kotoran manusia? Apakah tidak ada makanan lain? Kecuali jika dikatakan bahwa kotoran menurut hukum orang-orang suci adalah suci, sebagaimana dipahami dari ungkapan jelas tokoh suci mereka Paulus dalam ayat kelima belas dari pasal pertama dalam suratnya kepada Titus.” Namun Allah telah memberitahukan melalui Paulus bahwa “jiwa yang berdosa akan mati, anak tidak memikul dosa bapa, dan bapa tidak memikul dosa anak. Keadilan yang adil akan tertimpa padanya, dan kemunafikan orang munafik akan tertimpa padanya,” sebagaimana dinyatakan dalam ayat kedua puluh dari pasal kedelapan belas dalam kitabnya. Lantas bagaimana Allah memerintahkan dia memikul dosa Israil dan Yehuda selama empat ratus tiga puluh hari?

[4] Dan terdapat dalam pasal kedua puluh dari Kitab Yesaya bahwa Allah memerintahkan dia agar telanjang dan berjalan kaki selama tiga tahun dan berjalan dalam keadaan demikian. Orang-orang dari jenis mereka mengolok-olokkan perintah ini dan berkata dengan mengejek, “Apakah Allah memerintahkan nabi-Nya yang berada dalam batas akal dan bukan orang gila untuk berjalan dengan membuka aurat yang besar di antara wanita dan laki-laki selama tiga tahun?”

[5] Dan terdapat dalam pasal pertama dari Kitab Hoseya bahwa Allah memerintahkan dia mengambil untuk dirinya seorang istri yang berzina dan anak-anak dari perzinahan. Kemudian terdapat dalam pasal ketiga dari kitab yang tersebut bahwa dia mencintai seorang wanita yang fasik yang dicintai suaminya. Dan telah terdapat dalam ayat ketiga belas dari pasal kedua puluh satu dari Kitab Imamat demikian: “Imam tidak boleh menikah kecuali dengan perempuan yang masih perawan, dan tidak boleh menikah dengan janda, atau perempuan yang sudah diceraikan, atau perempuan yang dinajiskan dengan zina, dia tidak boleh menikah dengan mereka sama sekali, tetapi harus menikah dengan perempuan yang masih perawan dari bangsanya.”

Dan dalam pasal kelima dari Injil Matius demikian: “Siapa pun yang melihat seorang perempuan untuk menginginkan dia, maka dia sudah berzina dengan dia dalam hatinya.” Bagaimana mungkin Allah memerintahkan nabi-Nya dengan apa yang telah disebutkan? Demikian pula ada keberatan-keberatan lain, barangsiapa yang menghendaki hendaklah merujuk pada kitab-kitab orang-orang dari jenis mereka.

KEBERATAN KEEMPAT

Banyak hadits bertentangan dengan Al-Quran, karena dalam Al-Quran terdapat bahwa Muhammad semoga salawat dan salam Allah atas dirinya tidak muncul darinya mukjizat apa pun, sementara dalam hadits dinyatakan bahwa darinya muncul banyak mukjizat. Dan dalam Al-Quran terdapat bahwa Muhammad semoga salawat dan salam Allah atas dirinya adalah seorang yang berdosa, sementara dalam kebanyakan hadits disebutkan bahwa dia adalah orang yang terjaga dari kesalahan. Dan dalam Al-Quran terdapat bahwa Muhammad semoga salawat dan salam Allah atas dirinya pada mulanya dalam keadaan tidak mengetahui dan sesat, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Ad-Duha [93]: “Dan Dia mendapatkan engkau sedang tersesat, maka Dia memberi petunjuk” dan sebagaimana firman-Nya dalam Surah As-Syura [42]: “Engkau tidak mengetahui apa itu Al-Kitab dan tidak (pula mengetahui) apa itu iman. Tetapi Kami jadikan Al-Quran itu cahaya, Kami memberi petunjuk dengannya siapa yang Kami kehendaki dari hamba-hamba Kami”. Sementara dalam hadits disebutkan bahwa dia dilahirkan dalam keadaan beriman dan karena itulah muncul darinya banyak mukjizat. Ini adalah puncak usaha mereka dalam membuktikan pertentangan antara Al-Quran dan hadits.

Jawaban: Adapun dua hal pertama, karena keduanya termasuk cela terbesar terhadap Nabi Muhammad semoga salawat dan salam Allah atas dirinya, aku bermaksud untuk membahasnya dalam bab keenam tentang cela-cela, dan menjawabnya di sana, maka tunggulah.

Jawaban tentang yang ketiga: Bahwa orang yang tersesat dalam ayat pertama bukan dimaksudkan sebagai orang yang tersesat dari keimanan sehingga bermakna orang yang kafir, dengan demikian keberatan mereka terbantahkan. Tetapi dalam penafsiran ayat ini ada beberapa cara:

Pertama: Apa yang diriwayatkan secara marfu’ bahwa dia semoga salawat dan salam Allah atas dirinya bersabda, “Aku tersesat dari kakekku Abdul Muthalib dan aku masih anak-anak, tersesat dan hampir kelaparan membunuhku, maka Allah memberi aku petunjuk.”

Kedua: Bahwa artinya adalah Dia mendapatkan engkau tersesat dari syariat-Mu, yaitu engkau tidak mengetahuinya kecuali melalui ilham atau wahyu, maka Dia memberi engkau petunjuk ke arahnya sekali melalui wahyu yang terang dan sekali melalui yang tersembunyi. Ini adalah pilihan Al-Bidhawi, Al-Kasyaf, dan Al-Jalalain. Dalam Al-Bidhawi, “Dia mendapatkan engkau tersesat dari ilmu hikmah dan hukum-hukum, maka Dia memberi petunjuk,” mengajarkanmu melalui wahyu dan ilham dan memudahkan bagimu berpikir. Dan makna ini juga datang untuk Musa semoga damai sejahtera atas dirinya juga dalam firman Allah Taala: “Aku melakukannya sedangkan aku adalah dari orang-orang yang tersesat” [Al-Quran, Surah Al-Qasas 28:15].

Ketiga: Bahwa dikatakan air tersesat dalam susu jika menjadi terbenam di dalamnya, maka makna ayat adalah engkau menjadi terbenam di antara orang-orang kafir di Mekkah, lalu Allah Taala memperkuat engkau hingga Engkau menampakkan agama-Nya. Dan makna ini datang dalam firman-Nya Taala: “Apakah ketika kami sesat di bumi, apakah kami berada dalam penciptaan yang baru?” [Al-Quran, Surah As-Sajdah 32:10].

Keempat: Bahwa artinya adalah engkau tersesat dari kenabian, engkau tidak pernah berharap dan tidak pernah terpikirkan dalam hatimu sesuatu darinya, karena orang-orang Yahudi dan Kristen menganggap bahwa kenabian adalah untuk Bani Israil, maka Aku memberi engkau petunjuk ke arah kenabian yang tidak pernah engkau harapkan sama sekali.

Kelima: Bahwa artinya adalah Kami mendapatkan engkau tersesat dari hijrah karena belum turunnya izin, maka Kami memberi engkau petunjuk dengan izin.

Keenam: Bahwa orang Arab menyebut pohon di padang pasir sebagai “dallah” seolah-olah Allah Taala berkata, “Negeri itu adalah seperti padang pasir yang tandus, tidak ada di dalamnya pohon yang berbuah buah keimanan kecuali engkau, maka engkau adalah pohon yang unik di padang pasir ketidaktahuan. Maka Kami mendapatkan engkau tersesat, lalu Kami memberi petunjuk melaluimu kepada makhluk.” Dan serupa dengan hal ini adalah sabda beliau semoga salawat dan salam Allah atas dirinya, “Hikmah adalah amanah yang hilang bagi orang yang beriman.”

Ketujuh: Bahwa artinya adalah Kami mendapatkan engkau tersesat dari kiblat, karena engkau menginginkan agar Kakbah dijadikan kiblat bagimu dan engkau tidak tahu apakah hal itu akan tercapai bagimu atau tidak, maka Allah memberi petunjuk dengan firman-Nya: “Maka Kami akan memalingkan engkau ke arah kiblat yang engkau sukai” [Al-Quran, Surah Al-Baqarah 2:144]. Maka seolah-olah Dia menyebut kebingungan itu dengan kesesatan.

Kedelapan: Kesesatan bermakna cinta kasih sebagaimana dalam firman-Nya Taala: “Sesungguhnya engkau benar-benar dalam kesesatanmu yang dahulu” [Al-Quran, Surah Yusuf 12:95], yaitu cinta kasihmu. Dan artinya adalah engkau adalah pecinta, maka Kami memberi engkau petunjuk ke arah syariat-syariat yang dengannya engkau dapat mendekat kepada ibadah yang dicintai.

Kesembilan: Bahwa artinya adalah Kami mendapatkan engkau tersesat dalam kaummu, mereka menyakiti engkau dan tidak rela menerimamu sebagai penguasa, maka Dia memperkuat urusanmu dan memberi engkau petunjuk sehingga engkau menjadi penguasa atas mereka.

Kesepuluh: Bahwa artinya adalah engkau tidak dapat menemukan jalan ke langit-langit, maka Kami memberi engkau petunjuk tatkala Kami mengangkat engkau ke sana pada malam perjalanan malam.

Kesebelas: Bahwa artinya adalah Kami mendapatkan engkau tersesat, yaitu lupa, maka Kami memberi petunjuk, yaitu Kami mengingatkan engkau. Dan itu terjadi pada malam perjalanan malam, engkau lupa apa yang seharusnya diucapkan karena keagungan, maka Allah Taala memberi engkau petunjuk tentang bagaimana memuji hingga engkau berkata, “Aku tidak dapat menghitung pujian atasmu.” Dan kesesatan datang dengan makna ini dalam firman-Nya Taala: “Agar salah seorang dari keduanya tidak tersesat” [Al-Quran, Surah Al-Baqarah 2:282].

Kedua belas: Al-Junayd rahmatullahi ‘alaihi berkata, “Kami mendapatkan engkau bingung dalam menerangkan apa yang diturunkan kepadamu, maka Kami memberi engkau petunjuk untuk menerangkannya.” Karena firman-Nya Taala: “Dan Kami turunkan kepadamu Adz-Dzikr untuk menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka” [Al-Quran, Surah An-Nahl 16:44]. Dan ini didukung oleh firman-Nya Taala: “Janganlah engkau gerakkan lidahmu dengannya untuk menyegerakan bacaannya. Sesungguhnya atas Kami mengumpulkan dan membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya atas Kami menjelaskannya” [Al-Quran, Surah Al-Qiyamah 75:16-19], dan firman-Nya Yang Maha Mulia: “Dan jangan terburu-buru membaca Al-Quran sebelum disempurnakan wahyu kepadamu, dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu'” [Al-Quran, Surah Thaha 20:114].

Dan bagaimanapun halnya, tidak ada pegangan untuk mereka dengan ayat ini, dan ayat ini harus ditafsirkan dengan cara-cara yang telah aku sebutkan dan dengan yang serupa yang telah disebutkan oleh para mufasir sesuai dengan firman-Nya Taala: “Sahabmu (Muhammad) tidak tersesat dan tidak pula menyimpang” [Al-Quran, Surah An-Najm 53:2], karena yang dimaksud dengannya adalah peniadaan kesesatan dan penyimpangan dalam urusan agama tanpa keraguan, dan artinya adalah dia tidak kafir, dan paling tidak dari itu, maka dia tidak berbuat fasik.

Dan yang dimaksud dalam ayat kedua dengan Al-Kitab adalah Al-Quran, dan dengan Al-Iman adalah rincian-rincian hukum-hukum Islam. Makna ayat adalah engkau tidak mengetahui sebelum wahyu datang untuk membaca Al-Quran dan tidak pula hukum-hukum dan syariat, dan ini benar karena Nabi Muhammad semoga salawat dan salam Allah atas dirinya sebelum wahyu datang adalah orang yang beriman kepada tauhid Tuhan secara umum dan tidak mengetahui rincian-rincian Islam, tetapi menjadi mengetahui setelah wahyu datang. Atau yang dimaksud dengan Al-Iman adalah salat, sebagaimana dalam firman-Nya Taala: “Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian” [Al-Quran, Surah Al-Baqarah 2:143], yaitu salat kalian. Maka makna ayat adalah engkau tidak mengetahui apa itu Al-Kitab, yaitu Al-Quran, dan tidak pula Al-Iman, yaitu salat. Dan Rasulullah semoga salawat dan salam Allah atas dirinya tidak mengetahui cara-cara salat yang disyariatkan dalam hukumnya sebelum kenabian. Atau yang dimaksud dengan Al-Iman adalah penduduk-penduduk keimanan dengan menghilangkan mudhaf (kata yang ditambahkan), yaitu engkau tidak mengetahui apa itu Al-Kitab dan siapa penduduk keimanan yang berarti siapa yang akan beriman kepadamu.

Dan penghilangan mudhaf itu banyak terjadi dalam kitab-kitab mereka yang suci juga. Ayat kedua puluh dua dari Mazmur tujuh puluh delapan demikian: “Oleh karena itu Tuhan mendengar dan menjadi marah, dan api menyala pada Yakub dan murka meninggi pada Israil.”

Dan dalam ayat keempat dari pasal ketujuh belas dari Kitab Yesaya demikian: “Kemuliaan Yakub melemah dan lemak tubuhnya kurus.”

Dan dalam pasal keempat puluh tiga dari Kitab Yesaya demikian: ayat 22: “Engkau tidak berdoa kepadaku, Yakub, dan engkau tidak bersusah payah karenaku, Israil.” Ayat 28: “Maka aku menajiskan para pemimpin yang mulia dan menjadikan Yakub tersiksa dan Israil sebagai penghinaan.”

Dan dalam pasal ketiga dari Kitab Yeremia demikian: ayat 6: “Dan Tuhan berkata kepadaku pada hari-hari Yosia raja, apakah engkau telah melihat apa yang telah kuperbuat dengan kemaksian Israil, dia pergi untuk dirinya ke setiap gunung yang tinggi dan di bawah setiap pohon yang hijau dan dia berzina di sana?” Ayat 7: “Dan aku berkata setelah dia melakukan semua ini kembalilah kepadaku, tetapi dia tidak kembali, dan adiknya Yehuda yang fasik melihat.” Ayat 8: “Karena Israil yang melakukan maksiat telah berzina, aku telah menceraikannya dan memberikan kepadanya surat talak, tetapi adiknya Yehuda yang fasik tidak takut, tetapi juga pergi dan berzina.” Ayat 11: “Dan Tuhan berkata kepadaku, Israil yang melakukan maksiat telah membenarkan dirinya dibandingkan dengan Yehuda yang fasik.” Ayat 12: “Kembalilah, Israil yang melakukan maksiat.”

Dan dalam pasal keempat dari Kitab Hoseya demikian: ayat 15: “Jika engkau, Israil, berzina, maka Yehuda tidak bersalah.” Ayat 16: “Karena Israil adalah seperti sapi yang memberontak.” Ayat 17: “Teman dari berhala adalah Efraim.” Dan dalam pasal kedelapan dari Kitab Hoseya demikian: ayat 3: “Israil telah menolak kebaikan.” Ayat 8: “Israil telah menelan, sekarang menjadi di antara bangsa-bangsa seperti peralatan yang najis. Efraim membangun lebih banyak mezbah untuk dosa.” “Dan Israil telah lupa Pencipta-nya.”

Maka dalam ungkapan-ungkapan ini harus menghilangkan mudhaf (kata yang ditambahkan), jika tidak, maka haruslah—dan kami berlindung kepada Allah—bahwa Yakub semoga damai sejahtera atas dirinya adalah orang yang dikemarahi, lemah kemuliaan, bukan orang yang berdoa kepada Allah, tersiksa, penghinaan, maksiat yang berzina di bawah setiap pohon, tidak kembali kepada Allah, seperti sapi yang memberontak, orang yang ditolak kebaikan, seperti peralatan yang najis, dan lupa kepada Penciptanya.

KEBERATAN KELIMA

Hadits-hadits bertentangan.

Jawaban: Bahwa yang kami perhatikan adalah hadits-hadits yang sahih yang diriwayatkan dalam kitab-kitab shahih. Adapun hadits-hadits yang diriwayatkan dalam kitab-kitab yang tidak dapat dipercaya tidak kami anggap sama sekali dan tidak bertentangan dengan hadits-hadits yang sahih, sebagaimana Injil-injil yang banyak melebihi tujuh puluh dalam abad-abad pertama tidak bertentangan di kalangan orang-orang Kristen dengan empat Injil ini.

Dan perbedaan yang ditemukan dalam hadits-hadits yang sahih umumnya hilang dengan ta’wil yang minimal, dan perbedaan itu bukan seperti perbedaan yang ditemukan dalam riwayat-riwayat kitab-kitab mereka yang suci hingga sekarang sebagaimana telah anda ketahui seratus dua puluh empat darinya dalam bab pertama. Andaikan kami meriwayatkan dari kitab-kitab mereka yang diterima perbedaan-perbedaan yang menjadi seperti perbedaan yang mereka tetapkan dalam beberapa hadits yang sahih, jarang ada bab yang akan keluar kosong dari perbedaan seperti ini.

Dan mereka yang dinamakan ilmuwan Protestan sebagai yang tidak percaya telah meriwayatkan banyak perbedaan-perbedaan ini dalam kitab-kitab mereka dan mengolok-oloknya. Maka barangsiapa yang menghendaki hendaklah merujuk pada kitab-kitab mereka.

Lima puluh perbedaan yang mereka riwayatkan tentang zat Allah dan sifat-sifat-Nya dari kitab-kitab kedua perjanjian:

Dan aku juga meriwayatkan sebagai contoh dari Kitab Jean Clarke yang diterbitkan tahun 1839 di London dan Kitab Ecce Homo yang diterbitkan tahun 1813 di London dan yang lainnya lima puluh perbedaan yang mereka riwayatkan tentang zat Allah dan sifat-sifat-Nya dari kitab-kitab kedua perjanjian, dan aku cukup dengan meriwayatkan perbedaan-perbedaan ini. Karena mereka yang keberatan semoga Allah memberi mereka petunjuk, walaupun mereka melampaui batas sopan santun, tetapi pelampauan ini lebih kecil dari pelampauan yang ditemukan dalam ucapan-ucapan mereka ketika mencela para nabi semoga damai sejahtera atas mereka semua, khususnya ketika mencela Marium dan Isa semoga damai sejahtera atas keduanya, sebagaimana akan engkau ketahui dalam perbedaan keempat puluh empat dari ucapan-ucapan yang aku riwayatkan. Mereka menarik mundur. Sesungguhnya aku meriwayatkan keberatan-keberatan ini agar terjadi wawasan bagi orang yang memperhatikan bahwa keberatan-keberatan ilmuwan Protestan terhadap hadits-hadits nabi adalah lebih lemah daripada keberatan-keberatan orang-orang dari jenis mereka terhadap isi-isi kitab-kitab mereka yang suci. Dan aku tidak meriwayatkannya karena ia disukai oleh aku, tetapi aku berlepas diri dari kebanyakan dongeng kedua kelompok tersebut, dan meriwayatkan kekafiran bukanlah kekafiran.

(1) Ayat kedelapan dari Mazmur seratus empat puluh lima demikian: “Tuhan adalah penyayang, pengasih, lambat terhadap amarah, dan besar kasih sayang-Nya.” Dan ayat kesembilan belas dari pasal keenam dari Kitab Samuel Yang Pertama demikian: “Dan Tuhan memukul orang-orang dari rumah Syemesy karena mereka melihat tabut Tuhan. Dia memukul dari bangsa itu lima puluh ribu pria dan tujuh puluh.” Maka perhatikanlah betapa dahsyatnya rahmat-Nya dan lambatnya amarah-Nya, bahwa dia membunuh lima puluh ribu pria dan tujuh puluh dari bangsa-Nya yang khusus karena suatu kesalahan yang ringan.

(2) Ayat kesepuluh dari pasal tiga puluh dua dari Kitab Ulangan demikian: “Dia menemukan mereka di tanah tandus di tempat yang menakutkan dan padang gurun yang luas. Dia mengelilingi mereka dan mengajar mereka dan menjaga mereka seperti murid mata.” Dan dalam pasal dua puluh lima dari Kitab Bilangan ayat 3: “Dan Allah berkata kepada Musa, pergilah dengan para pemimpin bangsa semuanya dan salibkan mereka di hadapan Allah menghadap matahari terbenam agar murka-Ku yang ganas berbalik dari Israil.” Ayat 9: “Dan yang mati adalah dua puluh empat ribu orang.” Maka perhatikanlah menjaganya bangsa seperti murid mata bahwa Dia memerintahkan Musa menyalib semua pemimpin bangsa dan membinasakan dua puluh empat ribu orang dari mereka.

(3) Ayat kelima dari pasal kedelapan dari Kitab Ulangan demikian: “Ingatlah dalam hatimu bahwa sebagaimana seorang ayah mendidik anaknya demikian Tuhan Allahmu mendidikmu.” Dan ayat tiga puluh dua dari pasal kesebelas dari Kitab Bilangan demikian: “Dan daging itu masih di antara gigi mereka belum habis mereka memakannya ketika Tuhan menjadi marah terhadap bangsa itu dan memukulnya dengan pukulan yang amat dahsyat.” Maka perhatikanlah mendidik-Nya seperti seorang ayah mendidik anaknya bahwa mereka yang memiliki kemewahan ketika makanan datang kepada mereka dan mulai makan, Dia memukul mereka dengan pukulan yang dahsyat.

(4) Dalam ayat delapan belas dari pasal ketujuh dari Kitab Mikha mengenai Allah demikian: “Bahwa Dia menginginkan rahmat.” Dan dalam pasal ketujuh dari Kitab Ulangan mengenai tujuh bangsa yang besar demikian: ayat 2: “Tuhan Allahmu akan menyerahkan mereka ke dalam tanganmu maka pukullah mereka sehingga engkau tidak menyisakan seorang pun dari mereka, maka janganlah engkau membuat ikatan perjanjian dengan mereka dan janganlah engkau menaruh belas kasihan.” Ayat 16: “Dan engkau akan memakan semua bangsa yang Tuhan Allahmu memberikan kepadamu maka janganlah mata engkau berbelaskasihan terhadap mereka.”

(5) Perhatikanlah bahwa Allah menginginkan belas kasihan! Namun Dia memerintahkan Bani Israil untuk membunuh tujuh bangsa yang besar dan tidak menunjukkan belas kasihan kepada mereka serta tidak memberikan maaf kepada mereka.

Dalam Ayat ketiga belas dari Pasal kelima dari Surat Yakobus tertulis demikian: “Kamu telah melihat kesabaran Tuhan, karena Tuhan maha pemurah dan penyayang”. Dan Ayat keenam belas dari Pasal ketiga belas dari Kitab Hosea tertulis demikian: “Sebab Samaria akan binasa, karena ia telah melawan Allohnya; mereka akan jatuh oleh pedang, bayi-bayi mereka akan dipukul, dan perempuan-perempuan hamil mereka akan direnyah”. Perhatikanlah kelimpahan belas kasihan-Nya terhadap anak-anak dan perempuan hamil!

(6) Dalam Ayat ketiga puluh tiga dari Pasal ketiga dari Ratapan Yeremia tertulis demikian: “Bahwa dari dalam hati-Nya, Dia tidak menganiaya manusia atau membuat mereka bersedih”, namun ketidaksediaannya menganiaya manusia dan membuat mereka bersedih berada pada tingkatan: Dia membinasakan orang-orang Ashdod dengan bisul, sebagaimana dinyatakan dalam Pasal kelima dari Kitab 1 Samuel, dan Dia membinasakan ribuan pasukan dari lima raja dengan menjatuhkan batu-batu besar dari langit sehingga mereka yang mati terkena batu lebih banyak daripada mereka yang dibunuh oleh Bani Israil dengan pedang, sebagaimana dinyatakan dalam Pasal kesepuluh dari Kitab Yosua, dan Dia membinasakan banyak dari Bani Israil dengan mengirimkan ular-ular, sebagaimana dinyatakan dalam Pasal dua puluh satu dari Kitab Bilangan.

(7) Dalam Ayat keempat puluh satu dari Pasal enam belas dari 1 Tawarikh tertulis demikian: “Bahwa kemurahan-Nya adalah abadi” dan Ayat kesembilan dari Mazmur seratus empat puluh lima tertulis demikian: “Tuhan itu baik bagi semua orang dan kasih sayang-Nya meliputi semua makhluk-Nya”, namun keabadian kemurahan-Nya dan keumuman belas kasihan-Nya terhadap semua makhluk berada pada tingkatan: Dia membinasakan semua hewan dan manusia kecuali penghuni bahtera di zaman Nuh alaihis salam dengan mengirimkan banjir, dan Dia membinasakan penduduk Sodom, Gomora, dan sekitarnya dengan menjatuhkan belerang dan api dari langit, sebagaimana dinyatakan dalam Pasal tujuh belas dan kesembilan belas dari Kitab Kejadian.

(8) Ayat keenam belas dari Pasal dua puluh empat dari Kitab Ulangan tertulis demikian: “Jangan membunuh orang tua karena kesalahan anak-anak, dan jangan membunuh anak-anak karena kesalahan orang tua, tetapi setiap orang hendak mati karena dosa-nya sendiri”. Dan dalam Pasal dua puluh satu dari Kitab 2 Samuel disebutkan bahwa Daud alaihis salam menyerahkan tujuh orang dari keturunan Saul atas perintah Tuhan kepada penduduk Gibeon untuk dibunuh karena kesalahan Saul, maka mereka menggantung mereka. Padahal Daud alaihis salam telah berjanjian dengan Saul dan bersumpah bahwa dia tidak akan membinasakan keturunan-nya setelah kematiannya, sebagaimana dinyatakan dalam Pasal dua puluh empat dari Kitab 1 Samuel, sehingga dia menemukan pengingkaran janji juga atas perintah Tuhan.

(9) Dalam Ayat ketujuh dari Pasal tiga puluh empat dari Kitab Keluaran tertulis demikian: “Anak-anak itu akan dihukum karena dosa orang tua mereka hingga turunan ketiga dan keempat”, dan dalam Ayat kedua puluh dari Pasal delapan belas dari Kitab Yehezkiel tertulis demikian: “Jiwa yang berbuat dosa, maka dia akan mati; anak tidak menanggung kesalahan ayah, dan ayah tidak menanggung kesalahan anak; keadilan dari orang yang adil adalah atas dirinya, dan kejahatan dari orang jahat adalah atas dirinya”. Maka diketahui dari ini bahwa anak-anak tidak menanggung kesalahan orang tua hingga satu generasi, apalagi empat generasi. Dan jika penanggung ini hanya sampai empat generasi saja, tentu akan menjadi hal yang dimanfaatkan, namun Allah Bapa menghapuskan hukum ini juga dan memerintahkan penanggung kesalahan orang tua atas anak-anak setelah banyak generasi juga.

Dalam Pasal lima belas dari Kitab 1 Samuel tertulis demikian: “Demikianlah firman Tuhan Maha Perang, ‘Aku telah mengingat semua yang telah dilakukan Amalek kepada Israel, yaitu dia telah menghalang-halanginya di jalan pada waktu Israel keluar dari Mesir. Sekarang pergilah dan kalahkan Amalek, dan musnahkanlah segala milik mereka, dan jangan seorang pun yang luput dari mereka; tetapi bunuhlah laki-laki dan perempuan, anak-anak dan bayi, lembu dan domba, unta dan keledai'”. Perhatikanlah bahwa Dia mengingat dengan kuat ingatan-Nya setelah empat ratus tahun apa yang telah dilakukan Amalek kepada Israel, kemudian Dia memerintahkan setelah masa ini untuk membalas dendam atas anak-anak mereka dan membunuh laki-laki mereka, perempuan mereka, dan anak-anak mereka yang sangat kecil serta hewan ternak mereka dari lembu, domba, dan keledai. Dan ketika Saul tidak menjalankan perintah mulia-Nya, Dia menyesal telah menjadikan dia raja dan anak satu-satunya dinaikkan menjadi Tuhan yang kedua, lalu memerintahkan penanggung kesalahan orang tua atas anak-anak setelah empat ribu tahun.

Dalam Pasal dua puluh tiga dari Injil Matius, perkataan Tuhan yang kedua ini dalam pemberitahuan kepada orang Yahudi tertulis demikian: “Sehingga atas kamu akan datang segala darah yang tak bersalah yang tertumpah di bumi, dari darah Habil yang adil sampai kepada darah Zakharia bin Barakya yang telah kamu bunuh antara rumah ibadat dan mezbah. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, semuanya itu akan datang atas generasi ini”. Kemudian Allah Bapa yang pertama dinaikkan dan membayangkan bahwa dosa Adam ditanggung atas anak-anak-Nya hingga masa ini, dan telah berlalu lebih dari empat ribu tiga puluh tahun, dan dari Adam hingga Isa telah berlalu tujuh puluh lima generasi menurut yang dinyatakan oleh Lukas dalam Pasal ketiga dari Injil-nya, dan Dia menganggap bahwa semua anak Adam layak mendapat api neraka jika tidak ada penebusan yang sempurna dan baik, dan Dia tidak melihat selain anak-Nya yang kedua pantas untuk melakukan ini yaitu untuk disalib oleh tangan kaum paling rendah di dunia, yaitu orang Yahudi, dan tidak terlihat bagi-Nya jalan keselamatan selain ini, maka Dia memerintahkan dia untuk disalib dan meninggalkan dia dan tidak memberikan bantuan kepadanya dalam kesusahan-Nya sehingga dia dengan jelas menyatakan karena kesukaran penyiksaan dan berteriak kepada Bapa, Allohku! Allohku! Mengapa Engkau meninggalkan Aku? Kemudian dia berteriak kedua kalinya dan meninggal, dan setelah kematian-Nya dia menjadi terlaknat dan masuk ke neraka (dan kami berlindung kepada Alloh dari hal itu). Padahal tidak terbukti dari setiap kitab dari kitab-kitab Perjanjian Lama bahwa Zakharia bin Barakya dibunuh antara rumah ibadat dan mezbah. Ya, dinyatakan dalam Pasal dua puluh empat dari Kitab 2 Tawarikh bahwa Zakharia bin Yehoyada, imam, dibunuh di halaman rumah Tuhan di zaman Raja Yoas, kemudian pelayan-pelayan raja membunuh dia untuk membalas dendam darah Zakharia, maka Injil mengubah Yehoyada dengan Barakya, dan mungkin Lukas karena itu dalam Pasal kesebelas dari Injil-nya cukup dengan nama Zakharia saja dan tidak menyebutkan nama ayah-nya. Perhatikanlah kesembilan hal ini bagaimana terbukti dari mereka belas kasihan Alloh Mahatinggi.

(10) Dalam Ayat kelima dari Mazmur tiga puluh tertulis demikian: “Karena amarah-Nya hanya sebentar”, dan dalam Ayat ketiga belas dari Pasal tiga puluh dua dari Kitab Bilangan tertulis demikian: “Maka amarah Tuhan membara-bara terhadap Israel, dan Dia menggiring mereka di padang belantara empat puluh tahun, hingga habislah seluruh angkatan itu yang telah melakukan yang jahat di hadapan Tuhan”. Perhatikanlah amarah-Nya yang sebentar itu, bagaimana dia memperlakukan Bani Israil!

(11) Dalam Ayat pertama dari Pasal tujuh belas dari Kitab Kejadian: “Akulah Alloh Yang Mahakuasa”, dan dalam Ayat kesembilan belas dari Pasal pertama dari Kitab Hakim-hakim tertulis demikian: “Tuhan menyertai Yehuda dan dia menguasai pegunungan, tetapi dia tidak dapat menghalau penduduk lembah, karena mereka mempunyai kereta-kereta besi yang banyak”. Perhatikanlah kuasa-Nya bahwa Dia tidak sanggup menghalau penduduk lembah karena mereka memiliki banyak kereta besi.

(12) Dalam Ayat tujuh belas dari Pasal kesepuluh dari Kitab Ulangan tertulis demikian: “Karena Tuhan, Allohmu, adalah Alloh dari segala alloh dan Tuhan dari segala tuan, Alloh yang besar, perkasa”. Dan Ayat ketiga belas dari Pasal kedua dari Kitab Amos, menurut terjemahan Arab tahun 1844: “Sesungguhnya Aku akan memberatkan kamu di bawah kaki-ku seperti gerobak yang penuh dengan jerami memberatkan”. Menurut terjemahan Persia tahun 1838: “Aku akan meremukkan kamu di bawah kaki-ku seperti gerobak yang penuh dengan jerami diremas”. Perhatikanlah kebesaran dan kekuatan-Nya bahwa Dia diremas di bawah Bani Israil seperti gerobak yang penuh jerami diremas!

(13) Dalam Ayat dua puluh delapan dari Pasal empat puluh dari Kitab Yesaya tertulis demikian: “Tuhan yang menciptakan ujung-ujung bumi tidak akan menjadi lelah dan tidak akan lesu”, dan Ayat dua puluh tiga dari Pasal kelima dari Kitab Hakim-hakim tertulis demikian: “Duduklah dan lakukanlah kutukan kepada Meroz, kata malaikat Tuhan, lakukanlah kutukan yang sangat terhadap penghuninya, karena mereka tidak datang menolong Tuhan melawan yang perkasa”. Perhatikanlah ketanpa kelemahan-Nya bahwa Dia memerlukan bantuan melawan yang perkasa dan Dia melaknat siapa yang tidak datang membantunya. Dan dalam Ayat kesembilan dari Pasal ketiga dari Kitab Maleakhi tertulis demikian: “Kamu telah terkena kutukan, karena kamu menipu Aku, semuanya kamu ini, dengan persembahan yang tidak cukup”. Dan ini juga menunjukkan bahwa Bani Israil telah merampok-Nya sehingga Dia melaknat mereka, dan terbukti dari keempat contoh ini keadaan kuasa-Nya.

(14) Ayat ketiga dari Pasal lima belas dari Kitab Amsal tertulis demikian: “Mata Tuhan ada di mana-mana, memperhatikan yang jahat dan yang baik”, dan dalam Ayat kesembilan dari Pasal ketiga dari Kitab Kejadian tertulis demikian: “Tuhan Alloh menyeru manusia itu dan berkata kepada-nya, ‘Di manakah engkau?'”. Perhatikanlah pengawasan mata-Nya di mana-mana bahwa Dia memerlukan pertanyaan kepada Adam ketika dia bersembunyi di tengah pohon di surga!

(15) Dalam Ayat kesembilan dari Pasal enam belas dari Kitab 2 Tawarikh tertulis demikian: “Mata Tuhan memandang setiap tempat di seluruh bumi”, dan Ayat kelima dari Pasal kesebelas dari Kitab Kejadian tertulis demikian: “Turunlah Tuhan untuk melihat kota dan menara itu yang dibangun oleh anak-anak Adam”.

Perhatikanlah jangkauan mata-Nya di seluruh bumi bahwa Dia memerlukan turun dan melihat untuk mengetahui keadaan kota dan menara itu!

(16) Ayat kedua dari Mazmur seratus tiga puluh sembilan tertulis demikian: “Engkau telah mengetahui kedudukanku dan bangun tidurku, dan memahami segala perbuatanku dari jauh”, diketahui dari ini bahwa Alloh mengetahui semua jalan hamba-hamba-Nya dan perbuatan-perbuatan mereka. Dan dalam Pasal delapan belas dari Kitab Kejadian tertulis demikian: Ayat 2: “Firman Tuhan: ‘Sungguh, sorak-sorakan dari Sodom dan Gomora makin bertambah besar, dan dosanya makin berat'”, Ayat 21: “Aku akan turun dan akan melihat, apakah perbuatan mereka sesuai dengan sorak-sorakan yang sampai kepada-Ku, atau tidak. Aku ingin mengetahui hal itu”. Perhatikanlah bahwa Dia mengetahui semua jalan dan perbuatan hamba-hamba-Nya bahwa Dia memerlukan turun dan melihat untuk mengetahui apakah perbuatan penduduk Sodom dan Gomora sesuai dengan sorak yang sampai kepada-Nya atau tidak.

(17) Ayat kelima dari Mazmur tersebut tertulis demikian: “Pengetahuan itu amat mengherankan bagiku; terlalu tinggi, tidak dapat aku capai”, dan dalam Ayat kelima dari Pasal tiga puluh tiga dari Kitab Keluaran tertulis demikian: “Tetapi sekarang, lepaskanlah perhiasan-perhiasanmu dari padamu, dan aku akan mengetahui apa yang akan Aku lakukan kepadamu”. Perhatikanlah pengetahuan-Nya yang di luar jangkauan pemahaman bahwa Dia tidak mengetahui apa yang akan Dia lakukan kepada mereka sampai mereka melepas perhiasan-perhiasan mereka. Dan Ayat keempat dari Pasal enam belas dari Kitab Keluaran tertulis demikian: “Firman Tuhan kepada Musa, ‘Sesungguhnya Aku akan menjatuhkan hujan roti dari langit bagi kamu, dan bangsa itu akan keluar dan mengumpulkan, masing-masing jumlah yang mereka butuhkan setiap hari, supaya Aku menguji mereka, apakah mereka berjalan menurut taurat-Ku atau tidak'”, dan Ayat kedua dari Pasal kedua dari Kitab Ulangan tertulis demikian: “Ingatlah semua jalan yang ditempuh Tuhan, Allohmu, dengan membimbing kamu empat puluh tahun di padang gurun, untuk merendahkan hatimu dan untuk menguji engkau, guna mengetahui apa yang ada dalam hatimu, apakah engkau berpegang pada perintah-perintah-Nya atau tidak”.

Maka Tuhan memerlukan ujian untuk mengetahui apa yang ada di dalam hati-hati mereka, sehingga Dia menguji mereka dengan menjatuhkan hujan roti dan dengan membimbing mereka empat puluh tahun di padang gurun. Maka diketahui dari keenam contoh ini keadaan Dia sebagai pengetahuan yang Mahaghaib.

(18) Dalam Ayat keenam dari Pasal ketiga dari Kitab Maleakhi tertulis demikian: “Sebab Aku, Tuhan, tidak berubah”. Dan dalam Pasal dua puluh dua dari Kitab Bilangan tertulis demikian: Ayat 20: “Alloh datang kepada Balam pada malam hari dan berkata kepadanya, ‘Jika laki-laki-laki itu datang untuk memanggil engkau, bangunlah dan pergilah bersama mereka, tetapi hanya yang Aku katakan kepadamu yang boleh engkau lakukan'”, Ayat 21: “Balam bangun di fajar hari dan menunggangi keledai betina-nya dan berangkat bersama dengan para pemimpin Moab”, Ayat 22: “Maka murka Alloh terbara karena dia pergi”, dst. Perhatikanlah ketidakberubahan-Nya bahwa Dia datang pada malam hari dan memerintahkan Balam untuk pergi bersama para pemimpin Moab, dan ketika Balam melakukan apa yang diperintahkan, Dia murka kepada-nya.

(19) Dalam Ayat ketujuh belas dari Pasal pertama dari Surat Yakobus tertulis demikian: “Pada Allah tiada perubahan dan tidak ada bayangan perubahan”, dan Dia telah memerintahkan pemeliharaan hari Sabat di banyak tempat dari kitab-kitab Perjanjian Lama dan dinyatakan dalam banyak tempat bahwa itu abadi, dan para pendeta telah mengganti Sabat dengan Minggu, sehingga harus diakui oleh mereka bahwa Dia berubah.

(20) Dalam Pasal pertama dari Kitab Kejadian disebutkan tentang langit, bintang-bintang, dan binatang bahwa semuanya baik, dan dalam Ayat lima belas dari Pasal lima belas dari Kitab Ayub tertulis demikian: “Dan langit bukanlah yang murni di hadapan-Nya”, dan dalam Ayat kelima dari Pasal dua puluh lima tertulis demikian: “Dan bintang-bintang bukanlah yang suci di mata-Nya”, dan disebutkan dalam Pasal kesebelas dari Kitab Imamat tentang banyak hewan, burung, dan serangga bumi bahwa mereka jelek dan haram.

(21) Dalam Ayat dua puluh lima dari Pasal delapan belas dari Kitab Yehezkiel tertulis demikian: “Dengarkan wahai rumah Israel, apakah jalan-Ku tidak lurus atau bukankah jalan-jalan kamu yang jahat?”. Dan dalam Pasal pertama dari Kitab Maleakhi tertulis demikian: Ayat 2: “‘Aku telah mengasihi kamu,’ firman Tuhan. Tetapi kamu berkata, ‘Bagaimana Engkau telah mengasihi kami?’ Bukankah Esau saudara Yakub?’ firman Tuhan, ‘namun Aku telah mengasihi Yakub'”, Ayat 3: “Tetapi Esau Aku benci dan telah Aku ubah pegunungan-pegunungannya menjadi tandus dan warisannya menjadi hutan belantara untuk naga-naga padang gurun”. Perhatikanlah kelurus-benaran jalan-Nya bahwa Dia membenci Esau tanpa alasan dan menjadikan pegunungan-pegunungannya tandus dan warisannya untuk naga-naga padang gurun!

(22) Dalam Ayat ketiga dari Pasal lima belas dari Wahyu tertulis demikian: “Ya, Tuhan, Alloh Yang Mahakuasa, adil dan benar adalah jalan-jalan-Mu”.

Dan Ayat dua puluh lima dari Pasal dua puluh dari Kitab Yehezkiel tertulis demikian: “Jika Aku memberikan kepada mereka ketetapan yang tidak baik dan peraturan yang tidak dapat mereka jalani”.

(23) Ayat enam puluh delapan dari Mazmur seratus sembilan belas tertulis demikian: “Tuhan, Engkau baik dan berbuat kebaikan, ajarilah aku akan ketetapan-ketetapan-Mu”, dan Ayat dua puluh tiga dari Pasal kesembilan dari Kitab Hakim-hakim tertulis demikian: “Alloh mengirimkan roh jahat antara Abimelekh dan penduduk Sikhem, dan penduduk Sikhem mulai berkhianat kepada-nya”. Perhatikanlah kebaikan-Nya bahwa Dia mengirimkan roh jahat untuk menghebohkan pertentangan!

(24) Terdapat di banyak ayat pengharaman zina, dan jika diasumsikan bahwa para pendeta jujur dalam perkataan mereka, maka harus Tuhan sendiri berzina dengan istri Yusuf tukang kayu yang malang, sehingga hamil dari zina ini (dan kami berlindung kepada Alloh dari hal itu). Dan para ateis dalam hal ini melampaui batas dan mengejek dengan ejekan yang sangat memukau sehingga kulit orang-orang beriman merinding karenanya, dan aku mengutip untuk memperingatkan yang melihat apa yang dikatakan penulis Exiguum dan aku menghapus ejekannya. Ateis ini mengatakan di halaman 44 dari bukunya yang dicetak tahun 1813: “Disebutkan dalam Injil yang bernama To To dan Ti Fi Mary, dan dianggap di zaman ini sebagai salah satu injil palsu, bahwa Maryam alaihis salam adalah pengabdi yang dibebaskan untuk melayani Rumah Suci dan tinggal di sana sampai dia berusia enam belas tahun, dan Pater Jerome Zower yang disebutkan ini dipilih setelah dia meyakini kebenaran-Nya, maka pada saat itu dimungkinkan bahwa Maryam hamil dari seorang imam dari para imam rumah itu dan imam itu mengajarkan-nya untuk mengatakan bahwa aku hamil dari Ruh Kudus”, akhir kutipan. Kemudian ateis ini mengejek dengan ejekan yang sangat memukau penjelasan Lukas dan mengatakan: “Hal ini terbukti di antara orang Yahudi seperti ini: bahwa anak seorang tentara yang mencintainya dan dari gerakan kejamnya lahir Mesias orang-orang Yesui, sehingga Yusuf tukang kayu marah terhadap-nya karena hal ini dan meninggalkan istri pengkhianat ini dan pergi ke Babel, dan Maryam pergi bersama Yesus ke Mesir, dan Yesus belajar ilmu sihir di sana, dan datang setelah mempelajarinya ke Yudea untuk menunjukkan kepada manusia”, akhir kutipan. Kemudian dia mengatakan: “Cerita-cerita bohong yang banyak dan hampa telah tersebar di antara kaum pagan, seperti mereka mempercayai bahwa tuhan mereka Menro lahir dari otak Yupiter dan Bakus dalam paha Yupiter, dan tuhan orang-orang Cina lahir dari perawan yang hamil dari sinar matahari”, akhir ringkasan.

Catatan Tentang Joanna Southcott

Sesuai dengan kesempatan ini, pantas untuk menguraikan suatu cerita yang disampaikan oleh Jean Milner dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 1838: (Joanna Southcott mengklaim bahwa dia mendapatkan inspirasi ilahi beberapa waktu sebelum masa itu dan mengatakan: “Sesungguhnya aku adalah wanita yang Allah Swt. berfirman tentangnya dalam Ayat kelima belas dari Bab ketiga dari Kitab Kejadian: (Dia akan meremukkan kepalamu). Dan terjadi untuknya dalam Bab kedua belas dari Wahyu seperti ini: [1] Maka tampaklah suatu tanda yang besar di langit: seorang perempuan berselimutkan matahari, dan bulan di bawah kakinya, dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. [2] Dan ia sedang mengandung, dan berteriak-teriak dalam kesakitan hendak melahirkan. Dan aku hamil dari Isa Alayhi Assalam, dan banyak orang Kristen mengikutinya dan mereka mendapatkan kegembiraan yang besar dari kehamilan ini dan mereka membuat ornamen-ornamen dari emas dan perak) Berakhirlah ucapannya.

Tetapi kami tidak pernah mendengar bahwa ia melahirkan dari kehamilan ini seorang anak yang diberkahi atau tidak. Dan dalam kondisi pertama, apakah anak beruntung itu mendapatkan derajat keilahian seperti ayahnya atau tidak? Dan jika memang demikian, apakah kemudian diubah dari keyakinan tentang doktrin tritunggal menjadi keempat-tunggalan atau tidak? Demikian juga, apakah gelar “Allah Bapak” diubah menjadi “Kakek” atau tidak?

(25) Dalam Ayat kesembilan belas dari Bab dua puluh tiga dari Kitab Bilangan demikian: (Allah bukan manusia sehingga Dia berdusta, bukan anak manusia sehingga Dia menyesal). [Bilangan 23:19]

Dan dalam Bab keenam dari Kitab Kejadian demikian: (Maka menyesallah Tuhan karena Dia telah menjadikan manusia di muka bumi, dan Dia menyesal dalam hati-Nya. Berfirmanlah Tuhan: “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Aku ciptakan dari muka bumi, dari manusia sampai hewan melata sampai burung-burung di langit; sebab Aku menyesal bahwa Aku telah menjadikan mereka”). [Kejadian 6:6-7]

(26) Ayat dua puluh sembilan dari Bab lima belas dari Kitab 1 Samuel demikian: (Sesungguhnya Kemuliaan Israel tidak akan membohongi dan tidak akan menyesal, karena Dia bukan manusia sehingga Dia menyesal). [1 Samuel 15:29]

Dan dalam Bab yang tersebut demikian: (Dan firman Tuhan datang kepada Samuel, katanya: “Aku menyesal telah menjadikan Saul menjadi raja”) [1 Samuel 15:10-11]. Tuhan menyesal telah menjadikan Saul menjadi raja.

(27) Dalam Ayat dua puluh dua dari Bab dua dari Kitab Amsal demikian: (Bibir dusta adalah kekacoauan bagi Tuhan). [Amsal 22:22]

Dan dalam Bab ketiga dari Kitab Keluaran demikian: (Dan Aku telah berfirman kepada-Mu: Keluarkan umat-Ku, yaitu orang-orang Israel dari Mesir, ke tanah yang mengalir susu dan madu, tanah tempat tinggal orang-orang Kanani, Heti, Amori, Feris, Hiwi dan Yebus) [Keluaran 3:17], (Dan mereka akan mendengarkan suara-Mu; dan engkau beserta para tua-tua Israel akan pergi menghadap raja Mesir dan berkata kepadanya: TUHAN, Allah orang-orang Ibrani, telah berpanggilan kepada kami; sebab itu izinkanlah kami pergi sejauh tiga hari perjalanan ke padang gurun untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allah kami) [Keluaran 3:18].

Dan Ayat ketiga dari Bab kelima dari Kitab tersebut, Musa dan Harun berkata kepadanya, yaitu kepada Firaun: (Allah orang-orang Ibrani telah berpanggilan kepada kami; sebab itu izinkanlah kami pergi sejauh tiga hari perjalanan ke padang gurun untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN Allah kami, supaya Dia jangan menimpa kami dengan sampar atau pedang). [Keluaran 5:3]

Dan dalam Ayat kedua dari Bab kesebelas dari Kitab tersebut adalah firman Allah Swt. dalam berbicara kepada Musa Alayhi Assalam demikian: (Beritahukanlah kepada telinga segenap rakyat: Biarlah setiap laki-laki meminta kepada tetangganya dan setiap perempuan kepada tetangganya barang-barang dari perak dan barang-barang dari emas) [Keluaran 11:2].

Dan Ayat tiga puluh lima dari Bab dua belas dari Kitab Keluaran demikian: (Maka orang Israel berbuat seperti yang disuruh Musa; mereka meminta dari orang-orang Mesir barang-barang dari perak dan emas dan pakaian yang banyak sekali) [Keluaran 12:35].

Maka perhatikanlah kemurkaan-Nya terhadap dusta bahwa Dia memerintahkan Musa dan Harun agar keduanya berdusta kepada Firaun, maka keduanya pun berbohong, dan demikian juga setiap laki-laki dan setiap perempuan, dan Dia memerintahkan untuk tipu daya dan mengambil seluruh harta tetangga dengan cara berbohong dan menggunakannya. Padahal Dia telah memerintahkan di beberapa tempat dalam Taurat tentang pemenuhan hak tetangga. Apakah pemenuhan haknya sesuai dengan apa yang diperintahkan pada waktu mereka keluar? Dan apakah layak bagi Allah Swt. mengajarkan mereka pengkhianatan dan ketidaksetiaan?

Dan dalam Bab enam belas dari Kitab 1 Samuel (Tuhan berfirman kepada Samuel: “Isilah tanduk-mu dengan minyak, dan pergilah; aku akan menyuruh engkau kepada Isai dari Betlehem, sebab aku telah melihat seorang raja bagi-Ku di antara anak-anaknya”). Samuel berkata: “Bagaimana aku dapat pergi? Kalau didengar oleh Saul, dia akan membunuh aku”. Tuhan berfirman: “Bawalah seorang lembu betina dengan tangan-mu dan katakanlah: Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan. Maka Samuel berbuat seperti yang diperintahkan Tuhan, dan datanglah dia ke Betlehem) [1 Samuel 16:1-4]. Berakhir kesimpulannya.

Maka Allah Swt. memerintahkan Samuel untuk berbohong karena sesungguhnya Dia telah mengutusnya untuk mengurapi Daud dan menjadikannya penguasa bukan untuk mempersembahkan kurban. Dan telah diketahui dalam jawaban dari keraguan ketiga dalam bab kedua dari bab ini bahwa Allah Swt. mengirimkan ruh kesesatan agar jatuh ke mulut sekitar empat ratus nabi palsu (dan menyesatkan mereka sehingga mereka berbohong). Maka dari keempat contoh ini ternyata kemurkaan-Nya terhadap bibir dusta.

(28) Ayat dua puluh enam dari Bab dua puluh dari Kitab Keluaran demikian: (Jangan mendaki ke mezbah-Ku dengan tangga supaya jangan terang aurat-mu di depannya). [Keluaran 20:26]

Maka diketahuinya bahwa tidak sepatutnya terang aurat laki-laki, apalagi aurat perempuan. Dan dalam Ayat ketujuh belas dari Bab ketiga dari Kitab Yesaya: (Tuhan akan menyingkapkan aurat anak-anak perempuan Sion) [Yesaya 3:17].

Dan dalam Bab empat puluh tujuh dari Kitab Yesaya demikian: (Ambillah batu penggiling dan menggiling tepung; singkapkan jubah-mu, dongakkan kaki-mu menyeberangi sungai) [Yesaya 47:2], (Aurat-mu akan terbuka dan kebencanaan-mu akan terlihat; Aku akan mengambil pembalasan dan tidak akan ada siapa pun yang mencegah Aku) [Yesaya 47:3].

Dan Ayat delapan belas dari Bab dua puluh dari Kitab Kejadian demikian: (Karena Tuhan telah menutup semua rahim rumah Abimelekh karena Hawa, isteri Abraham) [Kejadian 20:18].

Dan Ayat tiga puluh satu dari Bab dua puluh sembilan demikian: (Ketika dilihat Tuhan bahwa Lea tidak dicinta, maka Dia membuka rahimnya; tetapi Rahel tidak dapat mengandung) [Kejadian 29:31].

Dan Ayat dua puluh dua dari Bab tiga puluh dari Kitab tersebut demikian: (Maka Tuhan mengingat Rahel dan mendengarkan doa-Nya dan membuka rahimnya) [Kejadian 30:22].

Maka perhatikanlah kemurkaan-Nya terhadap penyingkapan aurat laki-laki dan keinginan-Nya untuk menyingkapkan dan membulangi aurat perempuan dan membuka serta menutup rahim mereka.

(29) Dalam Ayat dua puluh empat dari Bab kesembilan dari Kitab Yeremia demikian: (Akulah Tuhan yang membuat kasih sayang, keputusan dan keadilan di bumi). [Yeremia 9:24]

Dan telah diketahui keadaan kepuasan-Nya terhadap belas kasihan dan kebenaran, maka ketahuilah keadaan keadilan-Nya dalam Bab dua puluh satu dari Kitab Yehezkiel demikian: (Kata Tuhan Allah: Beginilah firman Tuhan Allah kepada tanah Israel: Lihat, Aku ini melawan engkau dan Aku akan menggamit pedang-Ku dari sarung dan membunuh di tengah-tengah engkau orang-orang adil dan orang-orang yang bejat) [Yehezkiel 21:3], (Karena Aku telah membunuh di tengah-tengah engkau orang-orang adil dan orang-orang yang bejat, maka pedang-Ku akan keluar dari sarung terhadap segala daging dari selatan sampai ke utara) [Yehezkiel 21:4].

Jika dikabulkan bahwa membunuh orang bejat adalah keadilan menurut para ahli Protestan, tetapi bagaimana membunuh orang yang adil dapat menjadi keadilan di antara mereka?

Dan dalam Bab tiga belas dari Kitab Yeremia demikian: (Beginilah firman Tuhan: Lihat, Aku ini akan membuat semua penduduk tanah ini mabuk, baik raja-raja yang duduk di atas takhta Daud maupun imam-imam dan nabi-nabi dan semua penduduk Yerusalem) [Yeremia 13:13], (Dan Aku akan membuat mereka saling memukul, ayah bersama anak; tidak akan Aku pedulikan, tidak akan Aku sayangi, tidak akan Aku belas kasihan, tetapi akan Aku binasakan, demikianlah firman Tuhan) [Yeremia 13:14].

Maka dia membuat semua penduduk tanah itu mabuk kemudian membunuh mereka, ini apakah keadilan?

Dan Ayat dua puluh sembilan dari Bab dua belas dari Kitab Keluaran demikian: (Pada tengah malam Tuhan membunuh semua anak sulung di tanah Mesir, dari anak sulung Firaun yang duduk di atas takhtanya sampai anak sulung tawanan perempuan yang ada di dalam penjaranya, dan juga semua anak sulung ternak) [Keluaran 12:29].

Maka membunuh semua anak sulung penduduk Mesir dan anak sulung ternak, apakah ini keadilan? Karena kebanyakan dari anak sulung penduduk Mesir adalah anak-anak kecil yang terlindungi dari kesalahan, dan anak sulung ternak juga tidak bersalah.

(30) Ayat dua puluh tiga dari Bab delapan belas dari Kitab Yehezkiel demikian: (Apakah aku menyenangkan hati dalam kematian orang yang bejat, demikianlah firman Tuhan Allah, bukankah aku menyenangkan hati dalam hal ia bertobat dari jalannya dan menjadi hidup?). [Yehezkiel 18:23]

Dan Ayat kesebelas dari Bab tiga puluh tiga demikian: (Katakanlah kepada mereka: Demi kehidupan-Ku, demikianlah firman Tuhan Allah, aku tidak bersenang hati dalam kematian orang yang bejat, tetapi aku bersenang hati dalam hal orang yang bejat itu bertobat dari jalannya dan menjadi hidup) [Yehezkiel 33:11].

Maka diketahui dari kedua ayat ini bahwa Allah Swt. tidak mencinta kematian orang yang jahat tetapi mencinta agar orang jahat itu bertobat dan selamat.

Dan Ayat dua puluh dari Bab kesebelas dari Kitab Yosua demikian: (Maka Tuhan mengeraskan hati mereka dan mereka memerangi Israel dengan sekuat-kuatnya, sehingga mereka dibinasakan tanpa belas kasihan) [Yosua 11:20].

(31) Ayat keempat dari Bab kedua dari Surat Pertama kepada Timotius demikian: (Allah menghendaki agar semua orang diselamatkan dan sampai pada pengetahuan akan kebenaran). [1 Timotius 2:4]

Dan dalam Bab kedua dari Surat Kedua kepada orang-orang Tesalonika demikian: (Karena itu Tuhan mengirim kepada mereka kekuatan sesat sehingga mereka percaya kepada dusta) [2 Tesalonika 2:11], (supaya semua orang yang tidak percaya kepada kebenaran tetapi berkenan kepada kejahatan itu dihukum) [2 Tesalonika 2:12].

(32) Ayat delapan belas dari Bab dua puluh satu dari Kitab Amsal demikian: (Yang benar dipermudah oleh kejujuran, tetapi orang yang jahat sendiri tertangkap dalam kejahatan). [Amsal 21:18]

Dan Ayat kedua dari Bab kedua dari Surat Pertama Yohanes demikian: (Dia adalah pendamai bagi dosa-dosa kami, dan bukan hanya untuk dosa-dosa kami saja, melainkan juga untuk dosa-dosa seluruh dunia).** [1 Yohanes 2:2]

Maka dipahami dari ayat pertama bahwa orang-orang jahat menjadi pendamai untuk orang-orang baik, dan dari ayat kedua bahwa Isa Alayhi Assalam yang menurut orang-orang Kristen adalah maksum menjadi pendamai untuk orang-orang jahat.

Catatan Manfaat: Apa yang diklaim oleh beberapa pendeta bahwa umat Muslim tidak memiliki pendamai yang baik adalah sesat, karena jika kita merenungkan makna ungkapan Amsal dan memperhatikan berbagai kelompok manusia, kita akan menemukan bahwa banyak pendamai dari para pengingkar terhadap Muhammad Shallallahu Alayhi Wa Assalam tersedia untuk setiap individu dari umat Muslim. Selain itu, ketika Isa Alayhi Assalam menjadi pendamai untuk dosa-dosa seluruh dunia sesuai dengan pengakuan Yohanes, bagaimana mungkin dia tidak menjadi pendamai untuk umat Muslim yang mengakui keesaan Allah, kenabian-Nya, dan kejujuran-Nya serta kesucian ibunya? Bahkan jika seseorang berlaku adil, dia akan mengetahui bahwa mereka yang akan hidup selamanya adalah umat Muslim ini dan bukan yang lain, sebagaimana telah diketahui dalam bab keempat.

(33) Terjadi dalam Bab dua puluh dari Kitab Keluaran: (Jangan membunuh dan jangan berzina). [Keluaran 20:13-14]

Dan Ayat kedua dari Bab keempat belas dari Kitab Zakharia demikian: (Maka semua bangsa akan berkumpul melawan Yerusalem untuk memeranginya; kota itu akan direbut, rumah-rumah akan disatroni, para perempuan akan diperkosa) [Zakharia 14:2].

Maka Tuhan berjanji akan mengumpulkan bangsa-bangsa agar mereka membunuh kaumnya yang khusus dan memperkosa para perempuan mereka dan berzina dengan mereka.

(34) Dalam Ayat ketiga belas dari Bab pertama dari Kitab Habakuk demikian: (Engkau memiliki mata yang terlalu suci untuk melihat yang jahat, dan Engkau tidak dapat menahan pandangan terhadap yang salah). [Habakuk 1:13]

Dan Ayat ketujuh dari Bab empat puluh lima dari Kitab Yesaya: (Aku membentuk terang, dan menciptakan gelap; Aku membuat damai dan menciptakan bencana; Akulah Tuhan yang membuat semuanya itu) [Yesaya 45:7].

(35) Dalam Zabur keempat puluh empat demikian: (Mata Tuhan tertuju kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada mereka yang menanti belas kasihan-Nya) [Mazmur 34:15], (Orang-orang itu menjerit dan Tuhan mendengar, dan menyelamatkan mereka dari segala kesusahan mereka) [Mazmur 34:17], (Tuhan itu dekat kepada mereka yang patah hati, dan Dia menyelamatkan mereka yang remuk semangat-nya) [Mazmur 34:18].

Dan dalam Zabur dua puluh dua demikian: (Allahu-ku, Allahu-ku, mengapa Engkau meninggalkan aku dan jauh dari penyelamatan-ku, jauh dari kata-kata teriakan-ku?) [Mazmur 22:1], (Allahu-ku, Allahu-ku, siang aku berseru tetapi Engkau tidak menjawab, dan malam pun aku tidak diam) [Mazmur 22:2].

Dan Ayat empat puluh enam dari Bab dua puluh tujuh dari Injil Matius demikian: (Sekitar jam yang kesembilan berserulah Yesus dengan suara yang keras, katanya: Eli, Eli, lama sabaktani? Artinya: Allahu-ku, Allahu-ku, mengapa Engkau meninggalkan aku?) [Matius 27:46].

Bukankah Daud dan Isa Alayhi Assalam termasuk mereka yang takut kepada Tuhan dan yang patah hati dan yang rendah semangat? Maka mengapa Tuhan meninggalkan mereka berdua dan tidak mendengar jerit hati mereka?

(36) Ayat ketiga belas dari Bab dua puluh sembilan dari Kitab Yeremia demikian: (Kamu akan mencari Aku dan akan menemukan Aku apabila kamu mencari Aku dengan segenap hati-mu). [Yeremia 29:13]

Dan Ayat ketiga dari Bab dua puluh tiga dari Kitab Ayub demikian: (Sekiranya aku tahu di mana harus mencari Dia, maka aku akan datang ke takhta-Nya) [Ayub 23:3].

Dan Allah Swt. telah bersaksi tentang Ayub bahwa dia seorang yang benar-benar saleh, takut kepada Allah Swt., dan jauh dari keburukan sebagaimana yang jelas dinyatakan dalam bab pertama dan kedua dari kitab-nya. Maka orang yang dikaramkan ini tidak mendapat pengetahuan tentang jalan untuk menemukan Allah Swt., apalagi menemukan-Nya.

(37) Dalam Ayat keempat dari Bab dua puluh dari Kitab Keluaran demikian: (Jangan membuat patung atau gambar apapun dari segala yang ada di langit, yang ada di bumi, atau yang ada di dalam air di bawah bumi). [Keluaran 20:4]

Dan Ayat delapan belas dari Bab dua puluh lima dari Kitab tersebut demikian: (Buatlah kerub yang terukir dari emas; buatlah kedua kerub itu di kedua ujung tutup tabut itu) [Keluaran 25:18].

(38) Ayat keenam dari Surat Yudas demikian: (Adapun malaikat-malaikat yang tidak memelihara kedudukannya tetapi meninggalkan tempat kediaman yang sepatutnya, Dia telah menyimpannya dalam belenggu kekal di bawah gelap gulita untuk diadili pada hari yang besar itu). [Yudas 6]

Maka diketahui darinya bahwa setan-setan terikat dengan belenggu yang besar sampai hari kiamat. Dan diketahui dari bab pertama dan kedua dari Kitab Ayub bahwa setan tidak terikat melainkan bebas dan hadir di hadapan Allah Swt.

(39) Dalam Ayat keempat dari Bab kedua dari Surat Kedua Petrus demikian: (Jika Allah tidak menyimpan para malaikat yang berbuat dosa, tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka dan menyerahkan mereka kepada kurungan kegelapan untuk dijaga sampai hari penghakiman). [2 Petrus 2:4]

Dan dalam Bab keempat dari Injil Matius bahwa setan menguji Isa Alayhi Assalam [Matius 4:1-11].

(40) Ayat keempat dalam Zabur sembilan puluh demikian: (Sebab seribu tahun di hadapan-Mu seperti hari kemarin yang sudah berlalu dan seperti sebuah penggantian waktu pada malam hari). [Mazmur 90:4]

Dan Ayat kedelapan dari Bab ketiga dari Surat Kedua Petrus demikian: (Tetapi yang satu ini jangan luput dari perhatianmu, bahwa satu hari di hadapan Tuhan seperti seribu tahun dan seribu tahun seperti satu hari) [2 Petrus 3:8].

Namun demikian, dia berkata dalam Ayat enam belas dari Bab kesembilan dari Kitab Kejadian demikian: (Busur itu akan Aku letakkan di awan-awan, dan itu akan menjadi tanda perjanjian abadi antara Aku dan bumi) [Kejadian 9:13].

Sebab anggapan bahwa pelangi adalah tanda perjanjian tidak sesuai, karena pelangi tidak ada dalam setiap awan melainkan hanya pada beberapa waktu ketika ada awan, dan itu biasanya terjadi ketika awan tipis, dan waktu ini tidak menyebabkan banyaknya hujan yang ditakutkan mengakibatkan banjir besar. Maka tanda itu tidak didapatkan pada saat dibutuhkan melainkan pada saat tidak dibutuhkan lagi.

(41) Dalam ayat yang kedua puluh dari pasal ketiga puluh tiga dari Kitab Keluaran, firman Allah dalam berbicara kepada Musa alaihi assalam adalah demikian: “Sesungguhnya engkau tidak dapat melihat wajah-Ku, karena tidak ada manusia yang dapat melihat wajah-Ku dan tetap hidup.” Dan dalam ayat yang ketiga puluh dari pasal ketiga puluh dua dari Kitab Kejadian, firman Yakub alaihi assalam adalah demikian: “Aku telah melihat Allah wajah ke wajah dan jiwaku terselamatkan.” Maka Yakub alaihi assalam telah melihat Allah wajah ke wajah dan tetap hidup, dan dalam cerita yang terjadi dengan perkataan ini ada hal-hal lain yang juga tidak layak. Pertama: disebutkan pertarungan antara Allah dan Yakub. Kedua: berlangsung hingga fajar tiba. Ketiga: tidak satupun dari keduanya mengalahkan yang lain. Keempat: Allah tidak mampu pergi dengan sendirinya sehingga berkata “lepaskan aku.” Kelima: Yakub tidak melepaskannya kecuali dengan imbalan yaitu berkah darinya. Keenam: Allah menanyakan namanya kepadanya sehingga Yakub tahu bahwa dia tidak mengetahui namanya.

(42) Ayat yang kedua belas dari pasal keempat dari Surat Pertama Yohanes adalah demikian: “Tidak seorang pun pernah melihat Allah.” Dan dalam pasal dua puluh empat dari Kitab Keluaran adalah demikian: “Musa naik, demikian juga Harun, Nadab, dan Abihu, serta tujuh puluh orang dari para tua-tua Israel. Mereka melihat Allah Israel, dan di bawah kaki-Nya seperti suatu batu dengan warna seperti batu safir dan seperti warna langit yang cerah. Tetapi Dia tidak mengangkat tangan-Nya terhadap tua-tua Israel itu, maka mereka melihat Allah, lalu mereka makan dan minum.” Jadi Musa dan Harun serta tujuh puluh orang tua-tua alaihi assalam telah melihat Allah, lalu makan dan minum bersama-Nya. Aku berkata pertama: bahwa kalimat terakhir menurut lahir menunjukkan bahwa mereka makan Allah dan minum-Nya, namun tujuannya mungkin seperti yang dipahami oleh para pengkritik. Dan kedua: bahwa Allah bani Israel (kami berlindung dari keburukan ini) memiliki rupa seperti dewa-dewa dari para musyrik Hindu seperti Ramakrisna, karena warna-warna mereka menurut apa yang dinyatakan dengan terang dalam buku-buku mereka adalah seperti warna langit.

(43) Dalam ayat yang keenam belas dari pasal keenam dari Surat Pertama kepada Timotius adalah demikian: “Dia yang tidak dilihat oleh siapa pun dari manusia dan tidak dapat dilihat.”

Dan dalam pasal keempat dari Wahyu, bahwa Yohanes melihat-Nya duduk di atas takhta dan yang duduk dalam penglihatan ini mirip seperti batu yaspis dan batu purnama.

(44) Ayat yang ketiga puluh tujuh dari pasal kelima dari Injil Yohanes, perkataan Yesus dalam berbicara kepada orang-orang Yahudi adalah demikian: “Tetapi kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, dan tidak pernah melihat rupa-Nya.” Dan engkau telah mengetahui keadaan melihat Allah dari contoh sebelumnya. Tinggal keadaan mendengar suara-Nya. Dalam ayat yang dua puluh empat dari pasal kelima dari Kitab Ulangan adalah demikian: “Sesungguhnya kami telah melihat bahwa Tuhan telah menunjukkan kepada kami kemuliaan-Nya dan kebesaran-Nya, dan kami telah mendengar suara-Nya dari tengah api.”

(45) Dalam ayat yang keempat belas dari pasal empat dari Injil Yohanes adalah demikian: “Allah adalah roh.” Dan dalam ayat yang tiga puluh sembilan dari pasal dua puluh empat dari Injil Lukas adalah demikian: “Roh tidak mempunyai daging dan tulang.” Dan dari kedua pernyataan ini diketahui bahwa Allah tidak mempunyai daging dan tulang, namun telah terbukti bagi-Nya dalam buku-buku mereka setiap anggota tubuh dari kepala hingga kaki dan mereka mengutip contoh-contoh untuk membuktikan anggota-anggota tubuh ini yang telah aku ketahui dalam pendahuluan pasal keempat. Kemudian mereka berkata dengan ejek: “Belum diketahui sampai sekarang apakah dia adalah tukang kebun, pembangun, pengrajin tembikar, penjahit, dokter bedah, tukang cukur, bidan, penjagal, petani, pedagang, atau yang lain, karena perkataan-perkataan dalam buku-buku mereka bertentangan.”

Dalam ayat yang kedelapan dari pasal kedelapan dari Kitab Kejadian adalah demikian: “Maka Tuhan Allah menanam taman Eden dari awal.” Maka diketahui darinya bahwa dia adalah tukang kebun.

Demikian pula diketahui dari ayat yang kesembilan belas dari pasal empat puluh satu dari Kitab Yesaya dan dalam ayat yang ketiga puluh lima dari pasal kedua dari Surat Pertama Samuel adalah demikian: “Dan dia membangun rumah bagi-Ku yang tetap.” Dan demikian pula dalam ayat 11 dan 27 dari pasal ketujuh dari Surat Kedua Samuel dan ayat 38 dari pasal sebelas dari Surat Pertama Raja-raja dan ayat 1 dari Mazmur 127. Dan diketahui dari ayat-ayat ini bahwa dia adalah pembangun. Ayat yang kedelapan dari pasal enam puluh empat dari Kitab Yesaya adalah demikian: “Sekarang, Tuhan, Engkau adalah Bapa kami, kami adalah tanah liat dan Engkau adalah pembuat kami, kami semua adalah buatan tangan-Mu.” Maka diketahui darinya bahwa dia adalah pengrajin tembikar. Ayat yang dua puluh satu dari pasal ketiga dari Kitab Kejadian adalah demikian: “Maka Tuhan Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk Adam dan istrinya, lalu Dia mengenakan kepada mereka.” Maka diketahui bahwa dia adalah penjahit. Dan dalam ayat 17 dari pasal tiga puluh dari Kitab Yesaya adalah demikian: “Aku akan menyembuhkan lukamu.” Maka diketahui bahwa dia adalah dokter bedah. Ayat yang kedua puluh dari pasal ketujuh dari Kitab Yesaya adalah demikian: “Pada waktu itu Tuhan akan mencukur dengan pisau yang disewa di seberang Sungai Efrat, yaitu dengan raja Asyur, kepala dan rambut tubuh, bahkan dia akan mencukur janggutnya juga.” Maka diketahui bahwa dia adalah tukang cukur. Dan diketahui dari ayat 31 dari pasal dua puluh sembilan dan ayat 22 dari pasal tiga puluh dari Kitab Kejadian bahwa dia adalah bidan. Dan telah diutip mereka belum lama ini dalam penjelasan perbedaan yang kedelapan puluh delapan. Ayat yang keenam dari pasal tiga puluh empat dari Kitab Yesaya adalah demikian: “Pedang Tuhan penuh dengan darah, gemuk dengan lemak, dari darah domba-domba dan kambing-kambing jantan yang terpelihara.” Maka diketahui bahwa dia adalah penjagal. Ayat yang kelima belas dari pasal empat puluh satu dari Kitab Yesaya adalah demikian: “Lihat, Aku telah menjadikan engkau seperti penggilingan baru yang bergigi dua, Engkau akan menggiling gunung-gunung dan membuatnya menjadi debu.” Maka diketahui bahwa dia adalah petani. Dan dalam ayat kedelapan dari pasal ketiga dari Kitab Yoel adalah demikian: “Aku akan menjual anak-anak dan anak-anak perempuanmu ke tangan anak-anak Yehuda.” Maka diketahui bahwa dia adalah pedagang. Dan dalam ayat yang ketiga belas dari pasal lima puluh empat dari Kitab Yesaya adalah demikian: “Semua anak-anakmu akan diajar oleh Tuhan.” Maka diketahui bahwa dia adalah guru. Dan diketahui dari pasal tiga puluh dua dari Kitab Kejadian bahwa dia adalah pesilat.

(46) Ayat yang kesembilan dari pasal dua puluh dua dari Surat Kedua Samuel adalah demikian: “Asap keluar dari hidung-Nya, dan api membara keluar dari mulut-Nya menelan, dan bara api menyala-nyala dari-Nya.” Dan ayat yang kesepuluh dari pasal tiga puluh tujuh dari Kitab Ayub adalah demikian: “Dari nafas Allah membeku salju, dan air yang mengalir membeku.”

(47) Ayat yang kedua belas dari pasal kelima dari Kitab Hosea adalah demikian: “Dan Aku seperti ngengat bagi Efraim dan seperti pelapuk bagi rumah Yehuda.”

Dan ayat yang ketujuh dari pasal tiga belas dari kitab yang disebutkan adalah demikian: “Maka Aku akan menjadi bagi mereka seperti singa, seperti macan tutul, di jalan orang-orang Asyur.” Sekarang seperti ngengat dan pelapuk dan sekarang seperti singa dan macan tutul.

(48) Ayat yang kesepuluh dari pasal ketiga dari Ratapan Yeremia adalah demikian: “Dia menjadi singa bagi kami, seperti beruang yang bersembunyi di tempat gelap.” Dan ayat yang kesebelas dari pasal empat puluh dari Kitab Yesaya adalah demikian: “Seperti gembala Dia menggembalakan kawanannya” dan seterusnya. Sekarang seperti beruang dan singa dan sekarang seperti gembala.

(49) Dalam ayat yang ketiga dari pasal lima belas dari Kitab Keluaran adalah demikian: “Tuhan seperti laki-laki prajurit.” Dan dalam ayat yang kedua puluh dari pasal tiga belas dari Surat Ibrani adalah demikian: “Dan Allah damai sejahtera.”

(50) Dalam ayat yang kedelapan dari pasal keempat Yohanes adalah demikian: “Allah adalah kasih.” Dan ayat yang kelima dari pasal dua puluh satu dari Kitab Yeremia adalah demikian: “Dan Aku akan memimpin kamu dengan tangan terbentang dan dengan lengan yang kuat dan dengan kutukan dan dengan murka dan dengan kemurkaan yang sangat besar.” Dan ketika sampai pada yang kelima puluh, aku puas dengan mengutip perbedaan-perbedaan ini sebatas ini untuk menghindari perpanjangan, maka barangsiapa menghendaki lebih dari itu hendaklah membaca buku-buku para pengkritik yang disebutkan, dia akan menemukan perbedaan-perbedaan lain. Ayat yang kelima belas dari pasal dua puluh satu dari Kitab Ulangan adalah demikian: “Jika seorang laki-laki mempunyai dua istri, satu yang dicintai dan satu yang dibenci” dan seterusnya. Ayat yang dua puluh tujuh dari pasal kesembilan dari Kitab Yosua adalah demikian: “Dan dia menentapkan mereka, yaitu penduduk Gibeon, pada hari ini untuk menjadi pemotong kayu dan penarik air bagi seluruh umat untuk pelayanan mezbah Tuhan di tempat yang akan dipilih Tuhan.” Dan dalam pasal lima puluh enam dari Kitab Yesaya adalah demikian: “Tuhan berfirman kepada para sida-sida yang menjaga hari Sabat-Ku dan memilih apa yang Ku-sukai dan memegang perjanjian-Ku: ‘Aku akan memberi mereka di rumah-Ku dan di tembok-tembok-Ku suatu tempat dan nama yang lebih utama daripada anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuan, aku akan memberi mereka nama yang abadi yang tidak akan terhapus.'” Diketahui dari ayat-ayat ini bahwa Allah membenarkan poligami seorang laki-laki dari kaum dalam perbudakan dan perhambaan dan rela terhadap para sida-sida. (Dan semua hal-hal ini) semuanya tercela di kalangan orang-orang Inggris baik menurut syariat atau akal. Ayat yang dua puluh lima dari pasal pertama dari Surat Pertama kepada orang-orang Korintus adalah demikian: “Karena kebodohan Allah lebih bijaksana daripada manusia dan kelemahan Allah lebih kuat daripada manusia.” Dan ayat yang kesembilan dari pasal empat belas dari Kitab Yehezkiel adalah demikian: “Dan nabi itu apabila tersesat dan berbicara dengan perkataan, maka Aku Tuhan telah menyesatkan nabi itu itu” dan seterusnya. Dan diketahui dari kedua ayat ini ketidaktahuan Allah dan penyesatannya terhadap para nabi-Nya (kami berlindung dari keburukan ini).

Dan Yohanes Klark sang ateis berkata setelah dia mengutip beberapa perkataan yang diutip dalam apa sebelumnya: “Sesungguhnya Allah bani Israel ini bukan hanya seorang pembunuh yang zalim, pembohong, bodoh, penyesat saja, tetapi dia juga adalah api yang membakar.”

Seperti yang dikatakan Paulus dalam ayat yang dua puluh sembilan dari pasal dua belas dari Surat Ibrani “Allah kita adalah api yang membakar dan jatuh di tangan Allah ini mengerikan.” Seperti yang dikatakan Paulus dalam ayat yang tiga puluh satu dari pasal kesepuluh dari Surat Ibrani: “Mengerikan adalah jatuh di tangan Allah yang hidup.” Maka memperoleh kebebasan dari perbudakan terhadap Allah semacam ini dengan segera adalah lebih baik, karena jika Anak Tunggal-Nya tidak terselamatkan, siapa yang akan mengharap darinya belas kasihan dan kelembutan, dan Allah ini yang diatur dalam buku-buku ini bahwa dia adalah Allah yang tidak patut dipercaya, melainkan dia adalah sesuatu yang tidak pasti yang mengumpulkan pertentangan-pertentangan dan khayalan-khayalan yang menyesatkan para nabi-Nya.” Selesai.

Maka lihatlah generasi para pendeta kemana mereka sampai dan hendaklah diketahui bahwa keberatan-keberatan mereka terhadap apa yang terdapat dalam terjemahan-terjemahan bahasa Inggris mereka dan lainnya, maka jika orang yang melihat dalam penjelasan nomor ayat atau dalam beberapa konten menemukan sesuatu yang bertentangan dengan terjemahan bahasa Arab, hal itu karena perbedaan terjemahan-terjemahan.

 

 

BAB KEENAM: (Dalam Membuktikan Kenabian Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam dan Menolak Fitnah Para Pendeta yang Mencakup Dua Fasal)

PASAL PERTAMA: (Dalam Membuktikan Kenabian Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam dan Di Dalamnya Enam Jalan)

[Mu’jizat Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam]

JALAN PERTAMA

Bahwasanya telah tampak banyak mu’jizat di tangan beliau Shalallahu Alaihi Wasallam, dan aku akan menyebutkan beberapa ringkasan darinya dalam jalan ini dari Al-Qur’an dan hadis-hadis yang sahih dengan menghilangkan sanad dan menyebutkannya dalam dua macam.

Telah kamu ketahui dalam Fasal Ketiga dari Bab Kelima dengan penjelasan paling lengkap bahwasanya tidak ada cacat akal dan naql dalam menganggap riwayat-riwayat lisan yang mencakup syarat-syarat riwayat yang dianggap sah menurut para ulama kami rahimahumullaah Ta’ala. Dan di dalamnya ada dua macam:

MACAM PERTAMA: Dalam penjelasan kabar-kabarnya tentang hal-hal yang gaib baik yang telah lalu maupun yang akan datang. Adapun yang telah lalu seperti kisah-kisah para Nabi alaihimussalam dan kisah-kisah umat-umat yang telah punah tanpa mendengar dari siapa pun dan tanpa diajarkan dari suatu kitab, sebagaimana telah kamu ketahui dalam perkara keempat dari Fasal Pertama Bab Kelima. Dan telah disyaratkan dengannya melalui firman Allah Ta’ala:

“Itulah dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu; tidak mengetahuinya engkau dan tidak (pula) kaummu sebelum ini.” (Ali Imran: 44)

Dan perbedaan yang terjadi antara Al-Qur’an dan kitab-kitab Ahlul Kitab dalam penjelasan beberapa kisah ini, telah kamu ketahui keadaannya dalam Fasal Kedua Bab Kelima dalam menjawab keraguan kedua. Adapun yang akan datang sangat banyak.

Dari Hudzaifah Radhiyallahu Anhu bahwasanya dia berkata: “Beliau (Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam) berdiri di depan kami lalu beliau tidak meninggalkan sesuatu yang akan terjadi dalam waktu itu sampai Hari Kiamat kecuali beliau beritakan, yang menghafalnya menghafalnya dan yang lupa dia lupa. Sahabat-sahabatku ini telah mengetahuinya, dan sungguh terjadi dari (kabar-kabar) itu sesuatu lalu aku mengenalinya dan mengingatnya sebagaimana seorang laki-laki mengenal wajah seorang laki-laki jika wajah itu hilang dari pandangannya kemudian jika dia melihatnya dia mengenalinya.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Dan telah kamu ketahui dalam perkara ketiga dari Fasal Pertama Bab Kelima dua puluh dua kabar dari kabar-kabar yang termasuk dalam Al-Qur’an. Dan Allah Ta’ala berfirman:

“Atau apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (ujian) seperti (yang dialami) orang-orang yang telah lalu sebelummu? Mereka ditimpa kesengsaraan dan penderitaan, dan diguncangkan sehingga berkataanlah Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia: Bilakah (datang) pertolongan Allah? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Al-Baqarah: 214)

Maka Allah Ta’ala menjanjikan kepada kaum Muslim dalam perkataan ini bahwa mereka akan diguncang sampai mereka memohon-mohon dan meminta pertolongan kepada-Nya. Dan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda kepada para sahabatnya: “Perkara akan berat dengan berkumpulnya golongan-golongan terhadap kalian, namun kesudahan akan bagi kalian atas mereka.”

Dan beliau juga bersabda: “Golongan-golongan itu akan berjalan menuju kalian sembilan atau sepuluh (kelompok).”

Maka golongan-golongan itu datang sebagaimana dijanjikan Allah dan Rasul-Nya dan mereka berjumlah sepuluh ribu, dan mereka mengepung kaum Muslim serta memerangi mereka dengan perang yang sangat sengit hingga selama sebulan lamanya, dan kaum Muslim berada dalam keadaan yang sangat sempit, berat dan ketakutan, dan mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan kepada kami Allah dan Rasul-Nya” dan mereka yakin akan masuk surga dan memperoleh kemenangan. Sebagaimana telah diberitahu Allah Ta’ala dengan firman-Nya:

“Ketika orang-orang Mukmin melihat golongan-golongan (musuh), mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya, dan Allah serta Rasul-Nya telah berkata yang benar.” Dan tidaklah hal itu menambah kepada mereka kecuali iman dan ketaatan.” (Al-Ahzab: 22)

Dan telah mengeluarkan para imam hadis rahimahumullaah:

  1. Bahwasanya Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam memberitahukan kepada para sahabat tentang penaklukan Makkah, Baitul Maqdis, Yaman, Syam dan Irak.
  2. Dan bahwasanya keamanan akan tampak sehingga seorang wanita dapat melakukan perjalanan dari Hirah ke Makkah tanpa takut kecuali kepada Allah.
  3. Dan bahwasanya Khaibar akan ditaklukan oleh tangan Ali Radhiyallahu Anhu esok harinya.
  4. Dan bahwa mereka akan membagi-bagikan harta karun kerajaan Persia dan Kerajaan Romawi.
  5. Dan bahwasanya anak-anak perempuan Persia akan menjadi pelayan mereka. Dan semua perkara ini terjadi pada zaman para Sahabat Radhiyallahu Anhum sebagaimana telah diberitahu.
  6. Dan bahwasanya ummatnya akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan.
  7. Dan bahwasanya Persia akan mendapat sungguhan atau dua sungguhan kemudian tidak akan ada Persia lagi selamanya, dan Romawi memiliki tanduk-tanduk setiap kali hilang satu tanduk, maka menjadi pengganti tanduk yang lain, golongan yang memiliki batu dan laut, jauh sekaliannya dari akhir masa. Yang dimaksud dengan Romawi adalah golongan Prancis dan Kristen. Dan telah terjadi sebagaimana telah diberitahu, apa yang tersisa dari kesultanan Persia adalah bekas jejak, berbeda dengan Romawi, sesungguhnya kesultanannya walaupun telah hilang dari Syam pada zaman khilafah Umar Radhiyallahu Anhu dan Heraklius lari dari Syam ke ujung negerinya, namun kesultanannya tidak hilang sepenuhnya, bahkan setiap kali hilang satu generasi, maka menjadi pengganti satu generasi yang lain.
  8. Dan bahwasanya Allah telah menggenggam untukku bumi maka aku melihat timur dan baratnya, dan akan sampai kekuasaan ummatku apa yang telah digenggam untukku darinya. Maknanya adalah Allah telah mengumpulkan untukku bumi sekali saja dengan mendekatkan yang jauh ke yang dekat sehingga aku mengetahui apa yang ada di dalamnya, dan ummatku akan menaklukan-nya bagian demi bagian sehingga mereka menguasai seluruh bagiannya. Dan karena pembatasan dengan timur dan baratnya, maka agamanya tersebar di timur dan barat antara tanah Hindustan yang merupakan puncak timur hingga Laut Tanjah yang berada di puncak barat, dan tidak tersebar di selatan dan utara seperti penyebaran di timur dan barat. Dan mungkin dalam menyebutkan keduanya dengan bentuk jamak dan mendahulukan timur, ada isyarat kepada perkara itu dan kepada tampaknya banyaknya para ulama darinya dibanding yang lain, dan bahwasanya para ulama timur lebih banyak dan lebih tampak daripada para ulama barat.
  9. Dan bahwasanya tidak akan berhenti dari golongan barat yang menang atas kebenaran sampai Hari Kiamat tiba. Dan dalam hadis lain riwayat Abu Umamah: “Tidak akan berhenti dari ummatku suatu kelompok yang menang atas kebenaran sampai datang kepada mereka perintah Allah dan mereka seperti itu. Kemudian dikatakan: Wahai Rasulallah, di manakah mereka? Beliau menjawab: Di Baitul Maqdis.” Maksud mayoritas ulama dengan golongan barat adalah ahli Syam karena dia adalah barat dari Hijaz dengan bukti riwayat dan mereka berada di Syam.
  10. Dan bahwasanya fitnah tidak akan tampak selama Umar masih hidup. Dan telah terjadi sebagaimana telah diberitahu, dan Umar Radhiyallahu Anhu telah menutup pintu fitnah.
  11. Dan bahwasanya Al-Mahdi Radhiyallahu Anhu akan tampak.
  12. Dan bahwasanya Isa alaihissalam akan turun.
  13. Dan bahwasanya Dajjal akan keluar. Dan ketiga perkara ini akan tampak insya Allah Ta’ala, dan Allah yang paling tahu.
  14. Bahwasanya Utsman akan dibunuh dan dia sedang membaca Al-Mushhaf.
  15. Dan bahwasanya paling sial di akhir zaman adalah orang yang mecelup ini dari ini. Yakni bulu kumis Ali dari darah kepalanya, yakni orang yang membunuhnya, dan keduanya Radhiyallahu Anhuma syahid sebagaimana telah diberitahu.
  16. Dan bahwasanya Ammar akan dibunuh oleh kelompok yang zalim maka dia dibunuh oleh pengikut Muawiyah.
  17. Dan bahwasanya khalifah setelah aku dari ummatku tiga puluh tahun kemudian menjadi kerajaan dengan cara yang keras setelah itu. Maka khalifah yang hak/benar adalah seperti itu berlalu dalam masa khalifah Hasan bin Ali Radhiyallahu Anhuma, karena khalifah Abu Bakar Radhiyallahu Anhu berjumlah dua tahun tiga bulan dua puluh hari, dan khalifah Umar Radhiyallahu Anhu sepuluh tahun enam bulan empat hari, dan khalifah Utsman Radhiyallahu Anhu sebelas tahun sebelas bulan delapan belas hari, dan khalifah Ali Radhiyallahu Anhu empat tahun sepuluh bulan sembilan hari, dan dengan selesainya berakhir khalifah Hasan Radhiyallahu Anhu.
  18. Dan bahwasanya kehancuran ummatku akan terjadi di tangan anak-anak muda dari Quraisy. Yang dimaksud adalah Yazid dan Bani Marwan.
  19. Dan bahwasanya para Anshar akan berkurang sehingga menjadi seperti garam dalam makanan, maka terus-menerus perkara mereka terpecah sehingga tidak tersisa bagi mereka suatu jemaah. Dan telah terjadi sebagaimana telah diberitahu.
  20. Dan bahwasanya akan ada di dalam Tsaqif seorang pendusta dan seorang pembinasa yakni pemusnah. Maka mereka melihat keduanya yaitu Al-Mukhtar dan Al-Hajjaj.
  21. Dan bahwasanya wabah yakni penyakit menular dan wabah pes akan ada setelah penaklukan Baitul Maqdis. Dan wabah ini terjadi pada zaman khalifah Umar Radhiyallahu Anhu di Amwas dari desa-desa Baitul Maqdis, dan di sana berada tentaranya, dan ini adalah pertama kali wabah pes terjadi dalam Islam meninggal karenanya tujuh puluh ribu orang dalam tiga hari.
  22. Dan bahwasanya mereka akan berperang di laut seperti para raja di atas tempat tidur. Dalam Dua Sahih: “Rasulallah Shalallahu Alaihi Wasallam biasa mengunjungi Ummu Haram binti Milhah dari bibi-bibi Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam dari menyusui, dan dia adalah istri Abdullah bin Sabit. Maka beliau mengunjunginya pada suatu hari lalu dia memberi makan kepada beliau kemudian dia duduk menyisir rambut beliau lalu beliau tidur, kemudian beliau terbangun sambil tertawa. Maka dia berkata: Mengapa engkau tertawa? Beliau menjawab: Sekelompok orang dari ummatku ditampilkan kepada saya sedang berperang di jalan Allah, mereka menunggangi punggung tengah laut seperti para raja di atas tempat tidur atau seperti para raja di atas tempat tidur. Maka dia berkata: Berdoalah kepada Allah agar dia jadikan aku dari mereka. Beliau menjawab: Engkau dari orang-orang terdahulu. Maka dia menunggangi laut pada zaman Muawiyah lalu dia terjatuh dari kendaraannya setelah keluar darinya maka dia meninggal.”
  23. Dan bahwasanya jika iman digantungkan pada Bintang Shurayya maka akan meraihnya orang-orang dari anak-anak Persia. Dan di dalamnya ada isyarat kepada Imam Terbesar Abu Hanifah Al-Kufi rahimahullah Ta’ala juga.
  24. Dan bahwasanya Fatimah pertama kali menyusul beliau dari keluarganya. Maka dia meninggal Radhiyallahu Anha enam bulan setelah wafatnya Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam.
  25. Dan bahwasanya kedua anakku ini yakni Hasan bin Ali Radhiyallahu Anhuma adalah dua pemimpin dan akan memperbaiki Allah dengan dirinya antara dua golongan besar. Dan telah terjadi sebagaimana telah diberitahu, maka Allah memperbaiki dengannya antara pengikutnya dan ahli Syam.
  26. Dan bahwasanya Abu Dzar akan hidup seorang diri, dan akan meninggal. Maka telah terjadi sebagaimana telah diberitahu.
  27. Dan bahwasanya paling cepat istri-istrinya menyusul beliau adalah yang paling panjang tangannya. Maka Zainab binti Jahsy Radhiyallahu Anha adalah paling cepat menyusul beliau karena panjangnya tangan dengan sedekah.
  28. Dan bahwasanya Husain bin Ali Radhiyallahu Anhuma akan dibunuh di Thaff. Dan itu dengan dibuka huruf Tha dan diggandakan huruf Fa, tempat di dekat Kufah di tepi sungai Efrat, dan sekarang menjadi terkenal dengan Karbala, maka Husain Radhiyallahu Anhu dimartirkan di Thaff sebagaimana telah diberitahu.
  29. Dan beliau berkata kepada Suraqah bin Ja’syam: Bagaimana denganmu jika engkau mengenakan gelang Kisra? Maka ketika gelang itu dibawa kepada Umar Radhiyallahu Anhu, beliau memakaikannya kepadanya dan berkata: Alhamdulillah yang telah melepasnya dari Kisra dan memakaikannya kepada Suraqah.
  30. Dan beliau berkata kepada Khalid Radhiyallahu Anhu ketika beliau menugasnya kepada Ukaidir: Sesungguhnya engkau akan menemukan dia sedang berburu lembu. Dan telah terjadi sebagaimana telah diberitahu. Dan dalam hadis Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu di hadapan kedua Syaikh: “Sesungguhnya Rasulallah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: Hari Kiamat tidak akan tiba sehingga keluar api dari tanah Hijaz yang menerangi leher-leher unta di Basrah.”

Dan telah keluar api besar pada jarak dekat dari Madinah, dan permulaannya pada hari Ahad awal bulan Jumadal Akhirah tahun enam ratus lima puluh empat, dan dia ringan sampai malam Selasa di harinya, kemudian tampak dengan tampak yang diikuti oleh khalas dan awam, dan karena ketidaktampakan-nya dengan tampak yang dihitung-hitung sampai hari Selasa maka terlewat dari sebagian orang dan berkata bahwasanya permulaannya pada hari ketiga bulan, dan pada hari Rabu tampak dengan tampak yang sangat keras, dan gerakannya menjadi kuat dan bumi berguncang dengan apa yang ada di atasnya, dan suara-suara meninggi kepada Pencipta-nya, dan tanda-tanda guncangan berlangsung sampai penduduk Madinah yakin akan terjadinya kemusnahan dan berguncang dengan guncangan yang sangat hebat. Maka tiba pada hari Jumat tengah siang hari, asap yang tebal bergerak di angkasa dengan kondisinya yang berat membesar, kemudian api tersebar dan meninggi sampai menutupi pandangan mata. Maka api itu tenang pada kaum berpaut dekat kaki At-Tanuim di tepi Al-Harrah terlihat dalam bentuk negeri besar di atasnya tembok melingkupi dengan merlon seperti merlon benteng dan menara serta menara masjid, dan terlihat laki-laki-laki memimpinnya tidak lewat pada gunung kecuali dia hancurkan dan lelehkan, dan keluar dari kumpulan itu sungai merah dan sungai biru untuknya kebisingan seperti kebisingan guntur membawa batu-batu dan gunung-gunung di hadapannya.

Kehidupan di Madinah menjadi berkah berkat kehadiran Nabi Muhammad Sang Rasul Allah yang mulia. Angin sejuk berhembus di kota tersebut. Api yang mengeluarkan cahaya itu padam pada malam tanggal dua puluh tujuh bulan Rajab, yaitu malam Isra dan Mi’raj. Syeikh Qutb al-Din al-Qastallani telah mengarang risalah tentang penjelasan kondisi api tersebut yang dinamainya “Menggabungkan Ringkasan dalam Keajaiban dengan Api Hijaz”.

Berita ini termasuk berita-berita yang sangat luar biasa pula karena Nabi Muhammad Sang Rasul Allah yang mulia telah memberitahu tentang keluarnya api ini sebelum tampilannya sekira enam ratus lima puluh tahun, dan dicatat dalam kitab Sahih al-Bukhari sebelum tampilannya sekira empat ratus tahun. Sahih al-Bukhari memiliki derajat penerimaan yang sangat tinggi sejak zaman penyusunannya hingga sekarang, bahkan sembilan puluh ribu orang mengambil sanad haditsnya dari Imam al-Bukhari dengan langsung tanpa perantara selama masa hidupnya. Oleh karena itu tidak ada ruang bagi orang yang keras kepala untuk mendustakan berita yang jelas dan jujur ini.

Muslim meriwayatkan dalam kitab al-Fitan dari hadits Abdullah ibn Mas’ud semoga Allah meringankan dosa mereka tentang hal Dajjal melalui periwayatan Abu Qatadah dari Yasir ibn Jabir berkata: “Angin merah mengamuk di Kufah lalu datanglah seorang laki-laki yang tidak memiliki celah untuk ucapan, kemudian berkata: ‘Wahai Abdullah ibn Mas’ud telah datanglah hari kiamat.’ Maka Abdullah duduk padahal sebelumnya dia sedang bersandar. Kemudian berkata: ‘Sesungguhnya hari kiamat tidak akan terjadi sehingga harta warisan tidak dibagi dan tidak ada kegembiraan karena rampasan perang.’ Kemudian berkata sambil membuat isyarat dengan tangannya demikian sambil mengarahkannya ke arah Syam.”

“Berkata dia: ‘Ada musuh yang berkumpul untuk penduduk Syam dan penduduk Syam berkumpul (melawan) mereka.’ Aku berkata: ‘Maksudnya adalah Romawi.’ Dia berkata: ‘Ya, benar.’ Kemudian pada saat itu terjadi pertempuran yang mengakibatkan kekalahan berat. Para musim Muslim menunjuk suatu pasukan untuk mati, mereka tidak kembali kecuali dengan menang. Maka mereka berperang hingga malam memisahkan mereka. Tersisa mereka berdua-duanya, masing-masing tidak menang, dan pasukan itu habis. Kemudian Muslim menunjuk suatu pasukan untuk mati, mereka tidak kembali kecuali dengan menang. Maka mereka berperang hingga malam memisahkan mereka. Tersisa mereka berdua-duanya, masing-masing tidak menang, dan pasukan itu habis. Kemudian Muslim menunjuk suatu pasukan untuk mati, mereka tidak kembali kecuali dengan menang. Maka mereka berperang hingga petang. Tersisa mereka berdua-duanya, masing-masing tidak menang, dan pasukan itu habis.”

“Maka ketika sampai hari yang keempat, datanglah sisa-sisa Islam kepada mereka. Maka Allah memberikan kekalahan kepada mereka (Romawi), mereka berperang dengan pembunuhan yang hebat. Salah satu perawi mengatakan: ‘Tidak akan terlihat yang seumpamanya,’ dan yang lain mengatakan: ‘Belum pernah terlihat yang seumpamanya,’ sehingga seekor burung yang terbang di tepi mereka tidak akan meninggalkan mereka hingga dia jatuh mati. Maka sanak-keluarga ayah yang berjumlah seratus orang tidak menemukan yang tersisa dari mereka kecuali seorang laki-laki. Lalu berapa harta rampasan yang akan digembirakan atau berapa harta warisan yang akan dibagi?

Sementara mereka masih dalam kondisi itu tiba-tiba mereka mendengar berita tentang suatu kaum yang lebih banyak dari itu. Maka datanglah pewarta yang membawa berita bahwa Dajjal telah tinggal di belakang mereka diantara keluarga-keluarga mereka. Maka mereka meninggalkan apa yang ada di tangan mereka dan menghadapkan perhatian kepada berita itu.” Semoga Allah melindungi kami dari fitnah Dajjal.

Ketahuilah bahwa para ilmuwan Protestan menurut kebiasaan mereka membodohi kaum awam dengan keberatan-keberatan yang menipu terhadap berita-berita tentang hal yang akan datang yang terdapat dalam Alquran dan Hadits. Oleh karena itu saya sebutkan di sini beberapa berita yang dinisbatkan kepada para nabi Israel semoga bersalaam mereka dari kitab-kitab suci mereka agar pembaca mengerti bahwa keberatan-keberatan mereka tidak berarti apa-apa. Tujuan saya bukan menjelek-jelekkan ungkapan-ungkapan para nabi semoga bersalaam mereka karena berita-berita itu tidak terbukti dengan cara yang pasti bahwa bersumber dari mereka, tetapi keadaannya sama dengan riwayat-riwayat yang lemah yang diriwayatkan dengan cara berita dari seseorang, maka kesalahan darinya bukan dengan perkataan mereka secara pasti dan keberatan terhadapnya adalah hak. Oleh karena itu saya katakan:

Yang pertama: Berita yang dinukilkan dalam Bab Enam dari Kitab Kejadian.

Yang kedua: Berita yang dinukilkan dalam Ayat Kedelapan dari Bab Ketujuh dari Kitab Yesaya.

Yang ketiga: Berita yang dinukilkan dalam Bab Dua Puluh Sembilan dari Kitab Yeremia.

Yang keempat: Berita yang terdapat dalam Bab Dua Puluh Enam dari Kitab Yehezkiel.

Yang kelima: Berita yang terdapat dalam Bab Delapan dari Kitab Daniel.

Yang keenam: Berita yang terdapat dalam Bab Sembilan dari Kitab tersebut.

Yang ketujuh: Berita yang terdapat dalam Bab Dua Belas dari Kitab tersebut.

Yang kedelapan: Berita yang terdapat dalam Bab Ketujuh dari Kitab Samuel Kedua.

Yang kesembilan: Berita yang terdapat dalam Ayat 39 dan 40 dari Bab Dua Belas dari Injil Matius.

Yang kesepuluh: Berita yang terdapat dalam Ayat Dua Puluh Tujuh dan Dua Puluh Delapan dari Bab Enam Belas dari Injil Matius.

Yang kesebelas: Berita yang terdapat dalam Bab Dua Puluh Empat dari Injil Matius.

Yang kedua belas: Berita yang terdapat dalam Bab Sepuluh dari Injil Matius.

Semuanya adalah kesalahan sebagaimana telah anda pahami tentang hal-hal ini dalam Bab Pertama. Apabila salah seorang dari mereka ingin mengajukan keberatan terhadap berita-berita tentang hal yang akan datang yang terdapat dalam Alquran dan Hadits, maka haruslah dia menunjukkan terlebih dahulu kesahihan berita-berita yang terdapat dalam kitab-kitab mereka yang telah saya tunjukkan sekarang, baru kemudian dia boleh mengajukan keberatan.

Adapun jenis yang kedua adalah tentang perbuatan-perbuatan yang tampak darinya semoga Allah meninggikan derajatnya yang bertentangan dengan kebiasaan, dan ini lebih dari seribu, namun saya cukup dengan penyebutan empat puluh diantaranya:

  1. Allah Yang Mahatinggi berfirman dalam Surah Al-Isra: “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (keajaiban) Kami.” (QS. Al-Isra: 1)

Ayat ini dan hadits-hadits yang sahih menunjukkan bahwa Mi’raj itu terjadi pada waktu terjaga dengan jasad. Adapun dalil hadits-hadits jelas sekali, dan adapun dalil dari ayat ini ialah karena lafal “hamba” digunakan untuk seluruh totalitas jasad dan roh. Allah Yang Mahatinggi berfirman: “Apakah engkau melihat orang yang melarang seorang hamba ketika dia berdoa?” (QS. Al-Alaq: 9-10), dan Allah juga berfirman dalam Surah Al-Jin: “Dan bahwasanya ketika seorang hamba Allah berdiri berdoa kepada-Nya mereka hampir-hampir menindih dia.” (QS. Al-Jin: 19)

Tidak ada keraguan bahwa yang dimaksud dengan “hamba” dalam kedua tempat itu ialah seluruh totalitas roh dan jasad. Demikian juga yang dimaksud dengan “hamba” di sini. Dan karena orang-orang kafir menganggap jauh (mustahil) peristiwa Mi’raj ini dan mengingkarinya, dan karena mendengarnya orang-orang Islam yang lemah menjadi murtad dan mereka terpesona olehnya, maka andai saja Mi’raj itu bukan dengan jasad dan pada waktu terjaga, niscaya dia tidak akan menjadi sebab orang-orang kafir menganggapnya jauh dan mengingkarinya serta menjadi sebab orang-orang Islam yang lemah menjadi murtad dan terpesona olehnya. Sebab hal semacam itu dalam mimpi tidak dianggap mustahil dan tidak diragukan dan tidak diingkari. Apakah engkau tidak melihat bahwa jika seseorang mengklaim bahwa dia berjalan dalam tidurnya sekali ke timur dan sekali ke barat sementara dia tidak berpindah dari tempatnya dan keadaannya tidak berubah dari keadaan semula, maka tidak seorang pun yang akan mengingkarinya dan tidak akan menganggapnya jauh, dan tidak ada yang mustahil dalam hal itu baik secara akal maupun secara naql (dalil agama).

Adapun secara akal ialah karena Khalik alam semesta memiliki kekuasaan atas semua kemungkinan, dan terjadi gerakan yang berlangsung dengan kecepatan mencapai tingkat seperti itu dalam jasad Muhammad Sang Rasul Allah yang mulia itu adalah mungkin, maka wajib bahwa Allah Yang Mahatinggi memiliki kekuasaan atasnya. Paling jauh dalam hal ini ialah bahwa dia bertentangan dengan kebiasaan dan semua mu’jizat (tanda keajaiban) adalah demikian adanya.

Adapun secara naql (dalil agama) ialah karena naik jasad unsuri ke arah bola-bola langit tidak haram menurut pandangan Ahlul Kitab.

  1. Pendeta William Smith mengatakan dalam kitabnya yang bernama “Jalan Para Wali dalam Penjelasan Keadaan Khanokh yang Merupakan Rasul yang Hidup tiga ribu tiga ratus delapan puluh dua tahun sebelum kelahiran Al-Masih”: “Sesungguhnya Allah memindahkannya hidup-hidup ke langit supaya dia tidak melihat kematian sebagaimana telah dicatat bahwa dia tidak pernah ditemukan karena Allah memindahkannya meninggalkan dunia tanpa membawa penyakit dan kesakitan dan rasa sakit dan kematian dan memasuki dengan jasadnya ke dalam kerajaan langit.”

Ucapannya “sebagaimana telah dicatat” merujuk pada Ayat Dua Puluh Empat dari Bab Kelima dari Kitab Kejadian.

Dan dalam Bab Kedua dari Kitab Raja-Raja Kedua demikian: “Dan terjadi manakala Tuhan akan mengangkat Elia ke langit dengan puyuh, maka pergilah Elia dan Elisa dari Gilgal. Dan ketika mereka berjalan dan berbicara, tiba-tiba ada kereta berapi dan kuda berapi mendekat di antara mereka berdua, dan terangkatlah Elia ke langit dengan puyuh itu.”

Dan Adam Clarke yang merupakan mufasir mengatakan dalam penjelasan ayat ini: “Tidak ada keraguan bahwa Elia diangkat ke langit hidup-hidup.”

Dan Ayat Sembilan Belas dari Bab Enam Belas dari Injil Markus demikian: “Sesudah berbicara dengan mereka, Tuhan naik ke langit dan duduk di sebelah kanan Allah.”

Dan Paulus mengatakan tentang keadaan Mi’rajnya dalam Bab Dua Belas dari Surat Kedua kepada Jemaat Korintus demikian: “Aku tahu akan seorang manusia di dalam Kristus yang empat belas tahun yang lalu—entah di dalam tubuh atau di luar tubuh aku tidak tahu, Allah yang tahu—dia dirampas ke langit yang ketiga. Dan aku tahu bahwa orang itu—entah di dalam tubuh atau di luar tubuh aku tidak tahu, Allah yang tahu— dia dirampas ke surga dan mendengar kata-kata yang tidak boleh diucapkan manusia dan tidak boleh dikatakan manusia.” Dia mengklaim bahwa Mi’rajnya ke langit yang ketiga dan ke surga serta mendengar kata-kata yang tidak boleh diucapkan dan tidak boleh dikatakan manusia.

Dan Yohanes mengatakan dalam Bab Empat dari Wahyu: “Sesudah ini aku melihat suatu pintu terbuka di langit dan suara yang pertama kali kudengar itu berbicara kepada aku dan berkata: ‘Naiklah ke sini dan aku akan memperlihatkan kepadamu apa yang harus terjadi kemudian.’ Dan segera aku ditangkap dalam Roh, dan lihat suatu takhta terdapat di langit dan di atas takhta itu duduk seseorang.”

Hal-hal ini adalah hal-hal yang diakui oleh kalangan Kristen, oleh karena itu tidak ada ruang bagi para pendeta untuk mengajukan keberatan terhadap Mi’raj Nabi Muhammad Sang Rasul Allah yang mulia secara akal atau naql. Ya, memang terhadap mereka dapat dibalas bahwa menurut ilmu tata surya modern tidak ada keberadaan langit-langit, maka bagaimana mungkin bagi mereka dapat dipercaya bahwa Khanokh, Elia, dan Al-Masih semoga bersalaam mereka diangkat ke langit, Al-Masih duduk di sebelah kanan Allah, dan orang yang mereka anggap suci dirampas ke langit yang ketiga dan ke surga. Kami telah mengerti sorga kaum Papia (Paus) dan neraka mereka sebagaimana telah berlalu dalam Bagian Kedua dari Bab Kelima, tetapi kami tidak mengerti surga kalangan Kristen apakah berada di langit yang ketiga yang imajinatif seperti gigi-gigi makhluk halus menurut mereka atau di atasnya, atau apakah itu merupakan kiasan tentang neraka sebagaimana difahami dengan memperhatikan Injil dan kitab akidah mereka, karena Al-Masih berkata kepada pencuri yang disalib bersama dengannya pada saat penyaliban: “Hari ini engkau akan bersama-sama dengan Aku di surga.”

Dan mereka berteriak dalam akidah ketiga dari akidah-akidah mereka bahwa dia turun ke neraka. Jika kita memperhatikan kedua hal itu, maka dapat diketahui bahwa surga mereka ialah neraka menurut pandangan mereka.

Juwad ibn Sabath mengatakan dalam Bukti Keenam Belas dari Bagian Kedua dari kitabnya bahwa Pendeta Kiaro menannyai saya di hadapan para penerjemah: “Apa yang diyakini kaum Muslim tentang Mi’raj Muhammad Sang Rasul Allah yang mulia?” Saya jawab: “Mereka meyakini bahwa dia dari Makkah ke Yerusalem dan darinya ke langit.”

Berkata Pendeta: “Tidak mungkin naik jasad ke langit.” Saya jawab: “Saya bertanya kepada beberapa Muslim tentang hal ini dan mereka menjawab bahwa hal itu mungkin terjadi seperti halnya mungkin terjadi pada jasad Isa semoga Allah meninggikan derajatnya.” Berkata Pendeta: “Mengapa engkau tidak memberikan bukti dengan kemustahilan robekan dan penyambungan kembali pada bola-bola langit?” Saya jawab: “Saya memberikan bukti dengannya tetapi dia menjawab bahwa keduanya mungkin bagi Muhammad Sang Rasul Allah yang mulia seperti halnya keduanya mungkin bagi Isa semoga Allah meninggikan derajatnya.”

Berkata Pendeta: “Mengapa engkau tidak mengatakan bahwa Isa adalah Tuhan yang memiliki hak untuk berbuat sesuka hatinya terhadap makhluk-makhluknya?” Saya jawab: “Saya memang mengatakan itu tetapi dia berkata bahwa keilahian Isa itu batil karena tidak mungkin menimpa Allah tanda-tanda kelemahan seperti tanda pemukulan dan penyaliban dan kematian dan penguburan.”

Dilaporkan oleh beberapa orang hidup bahwa seorang pendeta di suatu negeri Benares dari negeri-negeri India mengatakan dalam beberapa majelis untuk membodohi orang-orang Muslim desa yang bodoh: “Bagaimana kalian meyakini Mi’raj padahal dia adalah hal yang diragukan?” Maka seorang Majusi dari kaum Majusi India menjawab dengannya: “Mi’raj bukan lebih diragukan daripada seorang perempuan perawan mengandung tanpa suami. Jika memang setiap hal yang diragukan itu adalah dusta, maka ini juga adalah dusta. Lalu bagaimana kalian meyakininya?” Sehingga pendeta itu terdiam.

  1. Allah Yang Mahatinggi berfirman: “Telah dekat Hari Kiamat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka melihat sesuatu tanda keajaiban mereka berpaling dan mengatakan ini sihir yang terus-menerus.” (QS. Al-Qamar: 1-2)

Allah telah memberitahu tentang terjadinya pembelahan bulan dengan menggunakan kata kerja masa lampau, maka pembelahan itu harus betul-betul terjadi. Membawanya pada makna “akan terbelah” adalah jauh karena empat alasan:

Alasan yang pertama: Bacaan Hudzaifah ialah “telah terbelah bulan” dan itu terang-terangan menunjukkan waktu lampau dan ketentuan adalah keselarasan antara bacaan-bacaan.

Alasan yang kedua: Allah telah memberitahu tentang penolakan mereka terhadap ayat-ayat-Nya dan penolakan yang nyata terhadapnya tidak dapat dibayangkan terjadi sebelum terjadinya.

Alasan yang ketiga: Para mufasir yang terkenal secara tegas mengatakan bahwa terbelah mempunyai makna terbelah dan menolak pendapat orang yang mengatakan makna satu saat akan terbelah.

Alasan yang keempat: Hadits-hadits yang sahih menunjukkan terjadinya itu secara pasti. Oleh karena itu penjelас Kitab al-Mawaqif mengatakan: “Dan ini adalah hadits yang mutawatir (diriwayatkan secara luas) yang telah diriwayatkan oleh sekumpulan besar dari kalangan Sahabat seperti Ibn Mas’ud dan yang lain.”

Dan Ilmuwan Abu Nasr Abdul Wahhab ibn al-Imam Ali ibn Abdul Kafi ibn Tamam al-Ansari as-Subki dalam penjelasannya tentang Ringkasan Ibn al-Hajib dalam Ilmu Ushul berkata: “Dan yang benar menurut saya ialah bahwa pembelahan bulan adalah hadits mutawatir yang tersurat dalam Alquran diriwayatkan dalam kedua kitab Sahih (Bukhari dan Muslim) dan selainnya.”

Keberatan yang paling kuat dari para pengingkar ialah bahwa benda-benda langit tidak mungkin mengalami robekan dan penyambungan kembali dan bahwa pembelahan bulan ini seandainya pernah terjadi niscaya tidak akan tersembunyi dari semua orang di bumi dan para sejarawan dunia akan meriwayatkannya.

(Jawaban) Keberatan ini sangat lemah baik dari segi naql (dalil agama) maupun akal. Adapun dari segi naql maka ada tujuh alasan:

Alasan yang pertama: Peristiwa Banjir Nuh semoga Allah meninggikan derajatnya berlangsung sepanjang satu tahun dan dalam Banjir itu habis semua yang bernyawa dari burung, binatang ternak, serangga, dan manusia kecuali yang ada dalam kapal. Dan yang selamat dari manusia tidak lebih dari delapan orang sebagaimana dinyatakan tegas dalam Bab Ketujuh dan Kedelapan dari Kitab Kejadian.

Dan dalam Ayat Dua Puluh dari Bab Ketiga dari Surat Pertama Petrus demikian: “Pada waktu Nuh, ketika bahtera sedang dibangun —di mana hanya beberapa orang, yakni delapan jiwa, yang diselamatkan oleh air itu.”

Dan Ayat Kelima dari Bab Kedua dari Surat Keduanya demikian: “Dan Dia tidak menunjukkan belas kasihan kepada dunia yang dahulu, tetapi Dia menyelamatkan Nuh pemberi peringatan tentang kebenaran, bersama-sama dengan tujuh orang lain, ketika Dia menghidupkan air banjir ke atas dunia orang-orang yang tidak beribadah.”

Dan telah berlalu dari peristiwa ini suatu jangka waktu sampai ke hari ini menurut klaim Ahlul Kitab hanyalah sekira empat ribu dua ratus dua belas tahun matahari, dan keadaan ini tidak ditemukan dalam sejarah dan kitab-kitab kaum musyrik India. Dan mereka mengingkari hal ini dengan pengingkaran yang sangat dan para ilmuwan mereka semua menertawakannya. Mereka mengatakan: “Seandainya mengabaikan waktu yang lalu dan memperhatikan waktu Krisna Avtara (yang) menurut kesaksian kitab-kitab mereka adalah empat ribu sembilan ratus enam puluh tahun sebelum hari ini, maka tidak ada ruang untuk kesahihan peristiwa yang umum ini karena kota-kota yang besar dan banyak dari zaman itu hingga sekarang seluruhnya tenggelam dan telah terbukti berdasarkan kesaksian sejarah mereka bahwa ada dalam wilayah India dari zaman itu hingga sekarang jutaan yang banyak dalam setiap zaman, dan mereka mengklaim bahwa keadaan waktu Krisna karena adanya banyak sejarah sama seperti keadaan kemarin.”

Ibn Khaldun mengatakan dalam Jilid Kedua dari sejarahnya: “Ketahuilah bahwa orang-orang Persia dan India tidak mengenal Banjir dan sebagian orang Persia mengatakan itu hanya terjadi di Babil saja.”

Dan Ilmuwan Taqi al-Din Ahmad ibn Ali ibn Abdul Qadir ibn Muhammad yang dikenal dengan al-Maqrizi dalam Jilid Pertama dari kitabnya yang bernama “Kitab al-Mawa’iz wa al-I’tibar bi Dikr al-Khitat wa al-Atsar”: “Orang-orang Persia dan semua kaum Majusi dan orang-orang Kaldea (Babil) dan orang-orang India dan orang-orang Cina dan berbagai macam bangsa-bangsa timur mengingkari Banjir. Sebagian orang Persia membenarkannya tetapi mereka mengatakan Banjir tidak terjadi kecuali di Syam dan Maghrib dan tidak membanjiri seluruh peradaban dan hanya beberapa orang saja yang tenggelam dan tidak melampaui Cilekan Halwan dan tidak sampai ke kerajaan-kerajaan timur.”

Anak-anak kelompok para pendeta mengingkari banjir besar tersebut dan memperolok-oloknya. Saya mengutip perkataan Jean Clark, seorang ateis, dari surat ketiganya yang termuat dalam bukunya yang diterbitkan tahun 1839 di Leeds, dia berkata di halaman 54: “(Ini) maksudnya banjir besar, tidak benar menurut kesaksian ilmu filsafat dan saya heran! Apakah paus-paus mati dalam air banjir besar ini?”

Ketika menurut bunyi ayat kelima dari pasal keenam kitab Kejadian, pikiran-pikiran hati manusia itu jahat, mengapa Allah membiarkan delapan orang. Mengapa tidak menciptakan manusia sekali lagi setelah menghancurkan semuanya? Dan mengapa Allah membiarkan barang-barangnya yang lama, di mana pikiran-pikiran jahat tetap ada karena barang-barang itu? Karena pohon yang jelek tidak menghasilkan buah yang baik seperti yang dikatakan Matius dalam ayat keenambelas pasal ketujuh, “Apakah orang mengambil anggur dari duri-duri, atau buah ara dari rumput duri?” Dan Nuh adalah peminum arak, seorang yang bodoh, dan seorang penganiaya (kami berlindung kepada Allah). Seperti yang dapat dipahami dari ayat 21 dan 25 pasal kesembilan kitab Kejadian, maka bagaimana dapat diharapkan keturunannya menjadi baik.

Dan perhatikanlah bahwa dia tidak baik seperti yang terlihat dari ayat kedua pasal kedua surat Paulus kepada jemaat Efesus dan ayat ketiga pasal ketiga suratnya kepada Titus dan ayat ketiga pasal keempat surat pertama Petrus dan ayat kelima Mazmur yang kelima puluh satu.” Akhir dari perkataannya. Kemudian dia memperolok-olok di halaman 93 dengan ejekan yang sangat berat melampaui batas dalam ketidakadaban, oleh karena itu saya tidak rela menukil perkataannya yang busuk.

Keajaiban Matahari Berhenti dan Kedudukan Nuh

Wajah Kedua: Dalam pasal kesepuluh kitab Yosua, sesuai dengan terjemahan Bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1844 adalah seperti ini: ayat 12 “Maka pada waktu itu Yosua berbicara kepada Tuhan di hadapan Israel, dan berkata di hadapan mereka: ‘Hai Matahari, berhentilah di atas Gibeon, dan Engkau Bulan, di atas lembah Ajalon!'” Ayat 13 “(Maka berhentilah Matahari dan Bulan itu, sampai bangsa itu selesai membalas musuhnya. Bukankah ini tertulis dalam kitab Orang-orang Jujur: Matahari berhenti di tengah langit dan tidak segera terbenam kurang lebih satu hari penuh).”

Dan dalam pasal keempat bagian ketiga dari kitab Penelitian Agama yang Benar, yang diterbitkan tahun 1846 di halaman 362 adalah seperti ini: “(Adapun Matahari terbenam atas doa Yosua selama dua puluh empat jam)” Akhir perkataannya. Dan peristiwa ini sangat besar dan menurut klaim Kristen terjadi seribu empat ratus lima puluh tahun sebelum kelahiran Kristus. Jika hal itu terjadi, tentu akan terlihat oleh semua orang dan awan tebal pun tidak akan menghalangi pengetahuan akan hal itu juga, dan ini jelas serta tidak ada pertentangan di berbagai belahan karena jika kita anggap beberapa tempat sedang malam pada waktu itu karena perbedaan, maka harus terlihat karena perpanjangan malam mereka setara dengan dua puluh empat jam. Dan peristiwa besar ini tidak tertulis dalam buku-buku sejarah orang-orang India, orang-orang Cina, maupun orang-orang Persia. Saya mendengar dari para ulama penyembah berhala India yang mendustakan hal ini, dan mereka dengan yakin menetapkan bahwa hal itu jelas merupakan kesalahan, dan anak-anak kelompok para pendeta mendustakan dan memperolok-oloknya serta mengajukan keberatan-keberatan:

Keberatan Pertama: Bahwa perkataan Yosua “Hai Matahari, berhentilah,” dan perkataannya “Matahari berhenti,” menunjukkan bahwa Matahari yang bergerak dan Bumi yang diam, sebaliknya seharusnya dia berkata “Hai Bumi, berhentilah” dan “Bumi berhenti.” Dan hal ini batil menurut ilmu astronomi baru yang semua ahli Eropa sekarang mengandalkannya dan mereka percaya bahwa yang lama itu batil. Mungkin Yosua tidak mengetahui keadaan ini, atau cerita ini adalah dusta.

Keberatan Kedua: Bahwa perkataannya “Matahari berhenti di tengah langit” menunjukkan bahwa waktu itu adalah tengah hari dan ini juga cacat dengan beberapa cara: Pertama, karena Bani Israel telah membunuh musuh-musuh mereka dalam jumlah ribuan dan mengalahkan mereka, dan ketika mereka melarikan diri, Tuhan menurunkan batu-batu besar dari langit atas mereka, dan orang-orang yang mati terkena batu lebih banyak dari yang dibunuh oleh Bani Israel, dan hal-hal ini terjadi sebelum tengah hari seperti yang dinyatakan dalam pasal itu jadi tidak ada alasan bagi Yosua untuk gelisah pada waktu itu karena Bani Israel yang menang sangat banyak dan sisa musuh-musuh sangat sedikit dan sisa hari itu adalah setengah, maka membunuh mereka sebelum matahari terbenam sangat mudah. Kedua, karena waktu itu adalah tengah hari maka bagaimana mereka melihat Bulan pada waktu itu dan menghentikannya adalah sia-sia menurut kaidah-kaidah filsafat. Ketiga, karena waktu itu adalah tengah hari dan Bani Israel sedang sibuk berperang dan kacau, dan mereka tidak meragukan jumlah sisa hari itu, dan mereka tidak memiliki jam pada waktu itu. Maka bagaimana mereka tahu bahwa Matahari berdiri di lingkaran tengah hari selama dua belas jam dan tidak bergeser untuk jangka waktu itu ke arah barat.

Keberatan Ketiga: Jean Clark berkata: “(Bahwa Allah telah menjanjikan semua hari Bumi adalah menabur dan menuai, dingin dan panas, musim panas dan musim dingin, malam dan siang, tidak berhenti seperti yang dinyatakan dalam ayat dua puluh dua pasal kedelapan kitab Kejadian, jadi jika Matahari tidak terbenam untuk jangka waktu yang disebutkan maka malam akan berhenti pada waktu itu).”

Keajaiban Matahari Mundur pada Zaman Yesaya

Wajah Ketiga: Dalam ayat kedelapan pasal tiga puluh delapan dalam penjelasan kembalinya Matahari dengan mukjizat Yesaya adalah seperti ini: “(Maka Matahari mundur sepuluh derajat pada tangga-tangga yang telah dilalui.)

Dan peristiwa ini sangat besar, dan karena terjadi pada siang hari maka harus terlihat oleh mayoritas penduduk dunia, dan terjadi tujuh ratus tiga belas tahun sebelum kelahiran Kristus menurut perhitungan matahari, dan peristiwa ini tidak tertulis dalam sejarah orang-orang India, Cina, dan Persia. Dan juga dapat dipahami darinya gerak Matahari dan diamnya Bumi, dan ini juga batil menurut ilmu astronomi baru.

Namun jika kita mengabaikan hal itu, kita berkata bahwa ada tiga kemungkinan: entah hanya siang yang mundur sebesar sepuluh derajat, atau Matahari mundur di langit dengan jumlah itu seperti yang tampak, atau gerak Bumi mundur dari timur ke barat sebesar jumlah itu. Dan ketiga kemungkinan ini batil menurut filsafat. Dan ketiga peristiwa ini diakui oleh Yahudi dan Kristen, dan peristiwa-peristiwa lainnya yang akan saya sebutkan khusus menyangkut Kristen.

Keajaiban Tubuh-Tubuh Orang Kudus Bangkit

Wajah Keempat: Dalam pasal dua puluh tujuh Injil Matius: ayat 51 “(Seketika itu terbelah tabir Bait Suci menjadi dua bagian dari atas sampai ke bawah, bumi berguncang, batu-batu terbelah. 52 Makam-makam terbuka, dan banyak tubuh orang-orang kudus yang telah meninggal bangkit kembali. 53 Sesudah kebangkitan Yesus mereka keluar dari makam-makam itu dan masuk ke kota suci, serta menampakkan diri kepada banyak orang.)” Dan peristiwa ini pasti dusta seperti yang saya ketahui dalam bab ketiga pasal pertama, dan tidak ditemukan dalam sejarah-sejarah lama dari bangsa-bangsa yang tidak sepaham, dari Romawi dan Yahudi. Dan Markus dan Lukas tidak menyebutkan terbelahnya batu-batu, terbukanya makam-makam, keluarnya banyak tubuh orang-orang kudus dan masuknya mereka ke kota suci, padahal penyebutan itu seharusnya lebih layak daripada penyebutan teriakan Isa saat meninggal yang keduanya sepakat menyebutkannya. Dan terbelahnya batu adalah hal-hal yang bekasnya tetap setelah terjadi, dan anehnya Matius tidak menyebutkan apa yang terjadi dengan orang-orang mati itu setelah dibangkitkan kepada siapa mereka menampakkan diri, dan seharusnya penampakan mereka kepada Yahudi dan Pilatus agar mereka beriman kepada Isa, seperti seharusnya bagi Isa untuk menampakkan diri kepada mereka setelah bangkit dari kematian agar hilang keragu-raguan dan tidak ada kesempatan lagi bagi Yahudi untuk mengatakan bahwa murid-muridnya datang malam hari dan mencuri jenazahnya. Demikian juga tidak disebutkan bahwa orang-orang mati itu setelah dibangkitkan kembali ke tubuh mereka atau tetap hidup. Dan sebagian orang yang cerdas berkata: Mungkin Matius hanya melihat hal-hal ini dalam mimpi. Namun dapat dipahami dari pernyataan Lukas bahwa terbelahnya tabir Bait Suci terjadi sebelum kematian Isa, yang bertentangan dengan Matius dan Markus.

Kegelapan Saat Penyaliban Kristus

Wajah Kelima: Matius, Markus, dan Lukas menulis dalam penjelasan penyaliban Kristus bahwa kegelapan terjadi di seluruh Bumi dari jam keenam hingga jam kesembilan. Dan peristiwa ini karena terjadi pada siang hari di seluruh Bumi dan berlangsung sampai empat jam, maka harus tidak tersembunyi dari mayoritas penduduk dunia, dan tidak ditemukan penyebutannya dalam sejarah-sejarah orang-orang India, Cina, dan Persia.

Wajah Keenam: Bahwa Matius menulis dalam pasal kedua cerita pembunuhan bayi-bayi, tetapi tidak ada yang lain dari para penginjil dan sejarawan yang menulisnya.

Keajaiban Terbelahnya Langit dan Merpati

Wajah Ketujuh: Dalam pasal ketiga Injil Matius dan Lukas, dan dalam pasal pertama Injil Markus adalah seperti ini: “(Seketika Yesus keluar dari air, dia melihat langit terbelah dan Roh seperti seekor merpati turun ke atas dirinya. Dan terdengar suara dari langit: Engkaulah Anak-Ku yang Tercinta, kepada-Mulah saya berkenan.)” Akhir dengan ungkapan Markus.

Maka terbelahnya langit karena terjadi pada siang hari, harus tidak tersembunyi dari mayoritas penduduk dunia, dan demikian juga melihat merpati dan mendengar suara tidak khusus kepada salah satu dari mereka yang hadir, dan tidak ada yang menulis hal-hal ini selain para penginjil.

Dan “Jean Clark” berkata mengolok-olok peristiwa ini: “(Bahwa Matius meninggalkan kita dalam kegelapan dari suatu pengetahuan yang besar, yakni ketika langit terbuka apakah pintu-pintunya yang besar terbuka? Atau yang sedang? Atau yang kecil? Dan apakah pintu-pintu ini ada di sisi Matahari ini atau di sisi lain? Dan karena kelalaian yang datang dari Matius ini para pendeta kami memukul kepala mereka bingung dalam menentukan sisinya, kemudian dia berkata: Dan juga dia tidak memberitahu kami apakah merpati ini diambil seseorang dan dikurung dalam sangkar, atau mereka melihatnya kembali ke arah langit. Dan jika mereka melihatnya kembali maka dalam hal ini harus pintu-pintu langit tetap terbuka untuk jangka waktu itu, maka harus mereka melihat bagian dalam langit dengan cara yang baik karena tidak diketahui bahwa ada penjaga yang diatasnya sebelum kedatangan Petrus ke sana, mungkin merpati ini adalah jin).” Akhir perkataannya.

(Adapun kebatilannya secara akal) karena delapan alasan:

(Pertama) Bahwa terbelahnya bulan terjadi pada malam hari dan itu adalah waktu lalai dan tidur dan diam dari berjalan dan berkeliling di jalan, terutama pada musim dingin, karena orang-orang beristirahat di dalam rumah-rumah mereka dan sudut-sudutnya dengan menutup pintu-pintu mereka, maka hampir tidak tahu siapa pun tentang hal-hal langit kecuali yang menantikan dan memperhatikannya. Tidakkah kau melihat gerhana bulan, sesungguhnya terjadi sering, dan mayoritas orang tidak mendapat pengetahuan tentangnya sampai seseorang memberitahunya pada dini hari.

(Kedua) Bahwa peristiwa ini tidak berkelanjutan untuk waktu yang lama, maka tidak mungkin bagi orang yang melihat untuk pergi kepada orang lain yang jauh darinya dan memperingatkannya, atau membangunkan orang yang tidur dan menunjukkannya kepadanya.

(Ketiga) Karena hal itu tidak diharapkan terjadi oleh para ilmuwan untuk memandangnya pada waktunya dan melihatnya seperti mereka melihat hilal Ramadan dan Idul Fitri dan Idul Adha dan gerhana matahari dan gerhana bulan pada waktunya biasanya karena hal-hal itu diharapkan terjadi, dan tidak setiap orang memandang ke langit di setiap bagian dari siang hari apalagi malam. Karena itu mereka yang menginginkan mukjizat ini melihatnya demikian juga siapa pun yang kebetulan memandang ke langit pada waktu itu seperti yang datang dalam hadis-hadis sahih bahwa orang-orang kafir ketika melihatnya berkata: “Ibnu Abi Kabsyah telah mempesona kami,” maka Abu Jahal berkata: “Ini adalah sihir, maka utuslah ke penduduk berbagai belahan sehingga kamu lihat apakah mereka juga melihatnya?” Maka penduduk berbagai belahan Mekkah memberitahu bahwa mereka juga melihatnya terbelah, dan itu karena orang-orang Arab biasanya bepergian di malam hari dan tinggal di siang hari maka mereka berkata: “Ini adalah sihir yang berkelanjutan.”

Dan dalam pemberitaan ke-sebelas dari sejarah Ferishta bahwa penduduk Malabar dari wilayah India juga melihatnya, dan gubernur wilayah itu yang merupakan dari para Majusi India memeluk Islam setelah hal itu terbukti baginya. Dan Hafiz Al-Mari telah menyampaikan dari Ibnu Taimiyah bahwa sebagian musafir menyebutkan bahwa dia menemukan di negeri India sebuah bangunan tua yang tertulis padanya: “Dibangun pada malam bulan terbelah.”

(Keempat) Karena di beberapa tempat dan pada beberapa waktu dapat menghalangi antara orang yang melihat dengan bulan, awan tebal atau gunung, dan terdapat perbedaan besar pada beberapa waktu di daerah-daerah tempat hujan turun banyak, bahwa di beberapa tempat awan tebal dan hujan turun sehingga orang yang melihat tidak melihat pada siang hari Matahari dan warna biru itu sampai berjam-jam, dan demikian juga tidak melihat pada malam hari Bulan dan bintang-bintang dan warna tersebut. Dan di beberapa tempat lain tidak ada jejak awan dan tidak ada hujan dan jarak antara tempat-tempat itu dan tempat-tempat pertama sedikit, dan penduduk negeri-negeri utara seperti Romawi dan Franja pada musim turun salju dan hujan tidak melihat Matahari sampai berhari-hari, apalagi Bulan.

(Kelima) Bahwa bulan karena perbedaan terbitnya bukan dalam batas yang sama untuk semua penduduk Bumi, maka dapat terbit pada beberapa orang sebelum terbit pada orang lain, maka tampak di beberapa belahan dan beberapa tempat tinggal pada penduduk beberapa negeri tanpa yang lain, dan karena itu kami mendapati gerhana pada beberapa negeri tanpa yang lain, dan kami mendapatkannya di beberapa negeri mengenai beberapa bagian dari bulan, dan di beberapa negeri mencakup semua ujungnya, dan di beberapa negeri tidak diketahui kecuali oleh para ahli dalam ilmu astronomi, dan sering kali para ahli yang terpercaya dalam ilmu astronomi menceritakan tentang keajaiban yang mereka saksikan dari cahaya-cahaya yang tampak dan bintang-bintang yang terbit besar yang tampak pada beberapa waktu atau jam dari malam, dan tidak ada seorang pun yang mengetahuinya selain mereka.

(Keenam) Bahwa jarang terjadi jumlah orang yang melihat peristiwa-peristiwa langka yang sama mencapai batas yang menghasilkan keyakinan, dan berita dari beberapa orang awam tidak dianggap oleh para sejarawan dalam peristiwa-peristiwa besar, ya, berita mereka juga dianggap dalam peristiwa-peristiwa yang bekas-bekasnya tetap setelah terjadi, seperti angin yang kuat, turunnya salju yang banyak, dan dingin. Maka mungkin para sejarawan beberapa negeri tidak menganggap berita beberapa orang awam dalam peristiwa ini, dan menganggapnya sebagai kesalahan pandangan mata dari para pelapor awam, dan mereka mengira bahwa hal itu seperti suatu bentuk gerhana.

(Ketujuh) Bahwa para sejarawan sering menulis peristiwa-peristiwa bumi dan tidak membahas peristiwa-peristiwa langit kecuali sedikit terutama para sejarawan zaman dahulu, dan pada masa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa assalam di negeri Inggris dan Perancis sangat menyebar kebodohan, dan terkenalnya Inggris dan Perancis dengan keahlian dan ilmu hanya setelah masa beliau dengan waktu yang panjang.

(Kedelapan) Bahwa orang yang mengingkari jika mengetahui bahwa perkara itu adalah mukjizat atau karamah bagi orang yang dia ingkarinya maka dia berusaha untuk menyembunyikannya, dan tidak rela dengan penyebutannya dan penulisannya biasanya. Seperti tidak tersembunyi bagi orang yang telah membaca bab kesebelas Injil Yohanes, dan bab keempat dan kelima dari kitab Kisah Para Rasul, maka tampak bahwa tidak ada keberatan akal dan riwayat terhadap mukjizat terbelahnya bulan.

Dan pengarang kitab Mizan al-Haq dalam edisi cetak tahun 1843 di Mir Zabur berkata: “Makna ayat menurut kaidah tafsir dinisbatkan kepada hari Kiamat, karena lafaz al-Sa’ah yang dikenal dengan alif-lam, yang dimaksud dengannya adalah sa’ah yang diketahui dan waktu yang diketahui, yaitu hari Kiamat. Seperti halnya lafaz ini datang dengan makna ini dalam ayat-ayat yang berada di akhir surah ini. Untuk itu, beberapa mufassir di antaranya Hakim al-Baidawi dan lainnya menafsirkan lafaz al-Sa’ah dengan makna Kiamat dan mereka berkata: bahwa dari tanda-tanda hari Kiamat berdasarkan ayat ini, tanda ini juga ada, yaitu bulan akan terbelah.” Selesai perkataannya.

Lalu dia mengklaim dua perkara. Pertama: bahwa yang benar menurut kaidah tafsir adalah inshaqqa seharusnya bermakna akan terbelah. Kedua: bahwa beberapa mufassir di antaranya Hakim al-Baidawi dan lainnya menafsirkannya demikian.

Keduanya adalah kesalahan.

Adapun (pertama), karena inshaqqa adalah bentuk lampau, dan membawanya kepada makna akan terbelah adalah majaz (kiasan), dan kita tidak boleh merujuk kepada majaz selama membawa pada makna hakiki masih dimungkinkan. Di sini tidak ada penghalang, bahkan wajib dibawa kepada makna hakikinya seperti yang telah anda ketahui tadi.

Adapun (kedua), karena ini adalah kebohongan murni terhadap al-Baidawi. Dia tidak menafsirkan inshaqqa dengan “akan terbelah”, melainkan menafsirkannya dengan makna lampauannya. Tetapi setelah dia menafsirkan sesuai pilihannya, dia menukil pendapat sebagian orang dengan gaya tanpa penegasan, kemudian menolak perkataannya. Maka perkataan ini adalah ditolak di sisinya. Ketika pengarang al-Istifsar menyerang pengarang Mizan atas ungkapan tersebut dan berkata: “Pendeta itu entah salah paham atau menyesatkan awam,” maka pengarang yang disebut itu terbangun dan mengubah ungkapan ini dalam edisi baru bahasa Persia yang dicetak tahun 1849, dan edisi Urdu yang dicetak tahun 1850, dan berkata:

“Lafaz al-Sa’ah yang didefinisikan dengan alif-lam dalam kondisi singular datang di setiap tempat dalam al-Quran dengan makna hari Kiamat. Kalimat ‘inshaqqa al-Qamar’ karena koneksi waw (huruf sambung), dihubungkan dengan kalimat ‘iqtaraba al-Sa’ah’, dan dalam setiap dua kalimat terdapat bentuk lampau. Sebagaimana fi’il pertama ‘iqtaraba’ bermakna masa depan, yaitu akan datang hari Kiamat, demikian pula fi’il kedua ‘inshaqqa’ juga bermakna akan terbelah, yaitu ketika datang hari Kiamat maka bulan akan terbelah. Beberapa ulama mufassir juga menafsirkannya demikian, seperti al-Zamakhsyari dan al-Baidawi. Meskipun keduanya percaya dalam tafsir mereka bahwa ayat ini adalah mu’jizat Muhammad salallahu alaihi wa assalam, namun keduanya juga menyatakan hal ini dengan tegas. Dan dari sebagian orang dikatakan bahwa maknanya adalah terbelah pada hari Kiamat. Dalam qira’at Huzaifah: ‘wa qad inshaqqa al-Qamar’ yaitu mendekati waktu Kiamat. Telah terjadi dari ayat-ayat pendekatannya bahwa bulan telah terbelah. Dan al-Baidawi berkata: ‘Dan dikatakan maknanya adalah akan terbelah pada hari Kiamat.'” Selesai perkataannya.

Maka pengarang Mizan terbangun dan mengubah ungkapan itu, namun dia aneh dalam meringkas ungkapan al-Kasyaf, di mana dia menghilangkan sebagian ungkapan dengan klaim bahwa ia tidak bermanfaat dan menukil perkataannya: “Dalam qira’at Huzaifah: telah terbelah bulan, dst.” Perkataan ini tidak sesuai dengan maksudnya, karena ini adalah teks yang menetapkan adanya mu’jizat yang disebut itu. Jika dikatakan: dia menukil perkataan ini sejalan (dengan maksudnya), saya katakan: maka pada saat itu tidak ada alasan untuk menghilangkan sebagian ungkapan. Dan ungkapan al-Kasyaf adalah demikian:

“Dan dari sebagian orang dikatakan bahwa maknanya adalah terbelah pada hari Kiamat. Firman-Nya: ‘Dan jika mereka melihat suatu tanda, mereka berpaling dan berkata: ini adalah sihir yang berkelanjutan’ menolaknya, dan cukup al-Kasyaf sebagai penolak. Qira’at Huzaifah: telah terbelah bulan, yaitu mendekati Kiamat. Telah terjadi dari tanda-tanda pendekatannya bahwa bulan telah terbelah, sebagaimana anda mengatakan: datanglah Amir dan pemberita telah datang membawa berita kepulangannya. Dan dari Huzaifah bahwa dia berkhutbah di al-Mada’in kemudian berkata: Ketahuilah, sesungguhnya Kiamat telah dekat dan sesungguhnya bulan telah terbelah pada masa nabi kalian.” Selesai perkataannya dengan lafaznya.

Perkataannya: lafaz al-Sa’ah yang didefinisikan dengan alif-lam, dst. Dan demikian pula perkataannya: kalimat inshaqqa al-Qamar karena waw al-‘ataf, dst. Keduanya tidak menghasilkan tujuannya. Kiranya dia memahami bahwa lafaz al-Sa’ah ketika bermakna Kiamat dan terbelahnya bulan adalah dari tanda-tandanya, maka harus berkaitan dengannya dan terjadi di dalamnya. Ini adalah kesalahan yang timbul dari kurangnya perenungan. Allah berfirman dalam surah Muhammad:

“Apakah mereka hanya menunggu Kiamat datang kepada mereka tiba-tiba? Sesungguhnya telah datang tanda-tandanya.” (QS. Muhammad: 18)

Firman-Nya: “Sesungguhnya telah datang tanda-tandanya” menunjukkan bahwa tanda-tandanya telah terwujud, karena partikel qad ketika masuk ke bentuk lampau adalah teks yang menetapkan keberadaan perbuatan pada waktu lampau yang dekat dengan sekarang. Untuk itu para mufassir menafsirkan perkataan ini demikian. Dalam al-Baidawi: “Karena telah tampak tanda-tandanya seperti diutusnya Nabi dan terbelahnya bulan.” Dalam al-Tafsir al-Kabir: “Al-Ashrat adalah tanda-tanda. Para mufassir berkata: adalah seperti terbelahnya bulan dan risalah Muhammad salallahu alaihi wa assalam. Dalam al-Jalalayn, yaitu tanda-tandanya di antaranya diutusnya Nabi Muhammad salallahu alaihi wa assalam dan terbelahnya bulan dan asap.” Ungkapan al-Husaini seperti al-Baidawi.

Perkataannya: “Sebagaimana fi’il pertama iqtaraba bermakna masa depan” adalah kesalahan, karena bermakna lampau. Terjemahannya dalam bahasa Persia, yaitu (ruzw-i qiyamat khwahd amad) tidak benar. Apa yang diriwayatkan dari sebagian orang adalah ditolak oleh para mufassir.

Kemudian dia berkata: “Seandainya kami mengakui bahwa shaqqu al-Qamar (pembelahan bulan) terjadi, maka itu juga bukan mu’jizat Muhammad salallahu alaihi wa assalam, karena tidak dinyatakan dengan jelas dalam ayat ini maupun dalam ayat lain bahwa mu’jizat ini tampak dari tangan Muhammad salallahu alaihi wa assalam.” Selesai.

Saya katakan: Ada bukti yang menunjukkan bahwa itu adalah mu’jizat, yaitu ayat kedua dan hadis-hadis sahih yang kesahihannya menurut standar akal melampaui kesahihan Injil-Injil yang berubah ini yang penuh dengan kesalahan dan perbedaan yang diriwayatkan dengan riwayat ahad yang hilang sanadnya yang bersambung, sebagaimana telah anda ketahui dalam bab pertama dan kedua.

Kemudian dia berkata: “Bahwa hubungan ayat kedua dengan ayat pertama adalah bahwa para peninkari melihat pada akhir zaman tanda-tanda Kiamat dan tidak beriman kepada mereka, bahkan mereka mengatakan menurut kebiasaan kaum kafir dahulu bahwa itu adalah sihir besar belaka.” Selesai perkataannya.

Ini juga adalah kesalahan dari dua sisi:

Pertama: bahwa si peninkari tidak meninkari karena permusuhan semata, dan si kafir tidak menisbatkan hal yang melanggar kebiasaan kepada sihir kecuali jika seseorang telah mengklaim bahwa hal yang melanggar kebiasaan ini adalah mu’jizat saya atau karamah saya. Jika tanda-tanda Kiamat tampak pada akhir zaman tanpa pengakuan, bagaimana mungkin para peninkari menolaknya, dan bagaimana mereka mengatakan bahwa itu adalah sihir besar belaka?

Kedua: bahwa terbelahnya bulan pada masa depan hanya bisa terjadi pada hari Kiamat khusus. Dan pada hari itu para kafir tidak akan mengatakan bahwa itu adalah sihir berkelanjutan karena tampaknya peristiwa Kiamat pada hari itu kepada setiap orang. Kecuali jika salah seorang dari mereka adalah orang yang akal namun permusuh, seperti pemberi petunjuk ini, kiranya dia mengatakan menurut klaimnya, atau mengucapkan perkataan ini sendiri atau semacamnya dari ulama Protestan, setelah mereka terbangun dari kekacangannya karena kokohnya permusuhan terhadap agama Muhammad dalam hati mereka.

Kemudian dia berkata: “Seandainya mu’jizat ini tampak dari tangan Muhammad, tentu dia akan memberitahu para permusuh yang memintanya mu’jizat dengan mengatakan: aku telah membelah bulan pada waktu sekian-sekian, maka janganlah kamu kafir.” Dan segera anda akan melihat jawabannya dalam bab kedua dengan cara paling lengkap, insya Allah.

Dan pengarang Wajhatu al-Iman menolak mu’jizat ini dan berkata: “Beberapa orang mufassir seperti al-Zamakhsyari dan al-Baidawi menafsirkan masalah ini dengan bahwa bulan akan terbelah pada hari Kiamat. Seandainya terjadi, tentu akan terkenal di seluruh dunia dan tidak ada arti terkenalnya di satu kawasan saja.” Selesai perkataannya secara singkat.

Telah tampak bagi anda dari apa yang kami sebutkan bahwa kedua perkara itu pastilah tidak benar. Pendeta ini melampaui pengarang Mizan, di mana dia menghadirkan dalil naqliy (dari teks) dan dalil ‘aqly (dari akal). Dia juga menyatakan nama al-Kasyaf. Kiranya dia melihat dalam edisi lama Mizan suatu lafaz seperti al-Baidawi dan lainnya, kemudian dia mengira bahwa yang dimaksud dengan “lainnya” adalah al-Kasyaf, karena al-Baidawi memiliki banyak kesesuaian dengan al-Kasyaf dibandingkan tafsir-tafsir lain. Maka dia menyatakan nama al-Kasyaf untuk mendapatkan keunggulan atas pengarang Mizan.

Dan pengarang al-Kasyaf berkata pada awal tafsir surah ini: “Terbelahnya bulan adalah dari ayat-ayat rasul Allah Muhammad salallahu alaihi wa assalam dan dari mu’jizat-mu’jizat bercahayanya.” Selesai perkataannya.

Dan pengarang risalah yang dia tulis sebagai jawaban atas surat yang dikirim oleh orang terpelajar Ni’mat di Hind, menanggapi mu’jizat ini berkata: “Tidak terbukti dari ayat ini bahwa mu’jizat ini berasal dari Muhammad salallahu alaihi wa assalam, dan hal ini juga tidak terbukti dari tafsir-tafsir.” Selesai.

Orang ketiga ini dengan kebaikan yang memancar dari keduanya melampaui mereka berdua, di mana dia berkata: “Hal ini tidak terbukti dari tafsir-tafsir.” Kiranya dia percaya bahwa pendeta pertama benar dalam perkataannya seperti al-Baidawi dan lainnya, dan pendeta kedua benar dalam perkataannya seperti al-Zamakhsyari dan al-Baidawi. Kemudian dia mengukur kondisi tafsir-tafsir lain dengan kedua tafsir ini, lalu berkata: “Dan hal ini tidak terbukti dari tafsir-tafsir,” untuk mendapatkan keunggulan atas kedua pendeta itu sebelumnya, dan untuk menampakkan kedalaman penelitiannya di kalangan kaumnya bahwa dia telah membaca semua tafsir. Maka tampak bahwa setiap penerus di antara ketiga orang ini melampaui pendahulunya. Ini tidak mengherankan, karena masalah semacam ini telah menyebar di antara orang-orang Kristen pada abad pertama seperti tampak dari surat-surat para rasul, dan menjadi sesuatu yang diperindah secara religius pada abad kedua dari abad-abad Kristen, sebagaimana berkata sejarawan Mosheim dalam penjelasan kondisi ulama abad kedua dari abad-abad Kristen pada halaman 65 dari jilid pertama sejarahnya yang dicetak tahun 1832:

“Di antara pengikut pendapat Plato dan Pythagoras ada perkataan terkenal bahwa berbohong dan menipu demi menambah kebenaran dan ibadah kepada Allah, bukan saja tidak dilarang melainkan dapat ditingkatkan. Pertama-tama orang-orang Yahudi Mesir belajar perkataan ini sebelum Kristus, sebagaimana ini tampak dengan pasti dari banyak kitab-kitab kuno. Kemudian wabah kesalahan yang buruk ini menyebar ke orang-orang Kristen sebagaimana tampak hal ini dari banyak kitab yang disandarkan kepada tokoh-tokoh besar secara dusta.” Selesai perkataannya.

Dan Adam Clark dalam jilid keenam tafsirnya dalam penjelasan bab pertama dari surat Paulus kepada penduduk Galatia berkata:

“Hal ini pasti bahwa banyak Injil yang dusta beredar pada awal-awal abad Kristen. Banyaknya keadaan-keadaan dusta dan tidak sahih ini membangkitkan Lukas untuk menyusun Injil. Terdapat penyebutan lebih dari tujuh puluh Injil dusta itu, dan banyak bagian-bagian dari Injil-Injil itu masih tersisa.” Selesai.

Jika nenek moyang mereka menisbatkan lebih dari tujuh puluh injil kepada Kristus dan para rasul dan Maryam semoga sejahtera atas mereka, lalu apa yang mengherankan jika para pendeta ini menisbatkan beberapa hal kepada tafsir-tafsir al-Quran demi menyesatkan awam kaum Muslim?

Ketahuilah bahwa risalah terakhir itu terkenal di Hind dan para pendeta sering menyebarkannya di negerinya, akan tetapi ketika beberapa ulama Islam menulis jawaban atasnya dan tersohor apa yang mereka tulis, maka mereka meninggalkannya. Dicetak tiga kitab dari kitab-kitab jawaban atasnya. Pertama: “al-Tuhfatu al-Masihiyyah” oleh Sayyidu ad-Din al-Hasyimi. Kedua: “Ta’yidu al-Muslimin” oleh salah satu kerabat mujtahid Syi’ah Lucknow. Ketiga: “Khulasatu Saifi al-Muslimin” oleh al-Fadil Haidar Ali al-Qurasysi.

  1. Dalam al-Baidawi diriwayatkan bahwa ketika Quraisy keluar dari al-Aqanqal, Nabi Muhammad salallahu alaihi wa assalam bersabda: “Ini Quraisy datang dengan kesombongan dan kebanggaan mereka, mendustakan rasulmu. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu apa yang telah Kau janjikan kepadaku.” Maka malaikat Jibril semoga sejahtera atas dirinya datang kepadanya dan berkata: “Ambil segenggam tanah dan lemparkan kepada mereka.” Ketika kedua pasukan bertemu, dia mengambil segenggam kerikil dan melemparnya ke wajah mereka. Dan dia bersabda: “Cacat wajah-wajah itu!” Maka tidak seorang pun dari orang-orang musyrik kecuali sibuk dengan matanya, lalu mereka melarikan diri. Dan kaum mumin mengejar mereka membunuh dan menangkap mereka. Kemudian ketika mereka berhenti, mereka mulai bermegah-megahan, maka seseorang berkata: aku membunuh dan aku menangkap.” Selesai.

Firman Allah Mahatinggi: “Dan kamu tidak melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah yang melempar.” (QS. al-Anfal: 17) Maksudnya: “Dan kamu tidak melempar,” wahai Muhammad, melempar yang mencapai mata mereka dan kamu tidak mampu melakukannya, “ketika kamu melempar,” yaitu menghadirkan bentuk pelemparan. “Tetapi Allah yang melempar,” menghadirkan apa yang merupakan puncak pelemparan, maka sampailah ke semua mata mereka hingga mereka melarikan diri dan kalian berkuasa untuk memutuskan populasi mereka.

Dan al-Fakhru ar-Razi semoga Allah belas kasihan kepada dirinya berkata: “Dan yang paling benar adalah bahwa ayat ini turun pada hari Badr. Karena jika tidak, di tengah-tengah kisah akan masuk perkataan yang asing darinya, dan itu tidak layak. Tetapi tidak mustahil bahwa di bawahnya tercakup seluruh peristiwa, karena ‘ibrah (pelajaran) adalah umum lafaz bukan khusus sababnya.” Selesai perkataannya.

Telah anda ketahui dalam pengantar bagaimana kondisi apa yang diucapkan pengarang Mizan al-Haq tentang mu’jizat ini maka aku tidak akan mengulanginya.

  1. Memancarnya air dari sela-sela jari Nabi Muhammad salallahu alaihi wa assalam di tempat-tempat yang berbeda. Mu’jizat ini lebih besar daripada memancarnya air dari batu seperti yang terjadi bagi Musa semoga sejahtera atas dirinya, karena itu adalah dari kebiasaan batu pada umumnya. Adapun dari daging dan darah, tidak pernah terjadi dari selain Nabi Muhammad salallahu alaihi wa assalam.

Dari Anas bin Malik semoga Allah ridhoi dirinya, dia berkata: “Aku melihat Rasul Allah Muhammad salallahu alaihi wa assalam dan telah tiba waktu salat Ashar, maka orang-orang mencari air untuk wudu tetapi tidak mendapatkannya. Maka dibawa kepada Rasul Allah Muhammad salallahu alaihi wa assalam air wudu, lalu Rasul Allah Muhammad salallahu alaihi wa assalam memasukkan tangannya ke dalam wadah itu dan memerintahkan orang-orang untuk berwudu darinya. Dia berkata: maka aku melihat air memancar dari sela-sela jari Nabi Muhammad salallahu alaihi wa assalam, lalu orang-orang berwudu hingga mereka semuanya berwudu.” Mu’jizat ini terjadi di al-Zwara’ di dekat pasar Madinah.

*5. Dari Jabir semoga Allah ridhoi dirinya: “Orang-orang merasa haus pada hari Hudaibiyah dan Rasul Allah Muhammad salallahu alaihi wa assalam di hadapannya ada tempayan, dia berwudu darinya dan orang-orang mendekat kepadanya dan berkata: kami tidak memiliki air kecuali yang ada dalam tempayan mu. Maka Nabi Muhammad salallahu alaihi wa assalam memasukkan tangannya ke dalam tempayan, lalu air terpancar dari sela-sela jarinya seperti mata-mata air.” Orang-orang saat itu berjumlah seribu empat ratus.

*6. Dari Jabir semoga Allah ridhoi dirinya, dia berkata: “Rasul Allah Muhammad salallahu alaihi wa assalam bersabda kepadaku: wahai Jabir, panggillah untuk berwudu,” dan dia menyebutkan hadis panjang dan bahwa kami tidak mendapatkan kecuali setetes air di dalam kantong yang rusak. Dia membawanya kepada Nabi Muhammad salallahu alaihi wa assalam, lalu dia mencelupkannya dan berbicara sesuatu yang aku tidak tahu apa itu. Dia berkata: “Panggillah dengan mangkuk rombongan!” Maka aku datang dengan mangkuk itu dan aku letakkan di hadapannya. Dia menyebutkan bahwa Nabi Muhammad salallahu alaihi wa assalam menebarkan tangannya di dalam mangkuk itu dan memisahkan jari-jarinya, dan Jabir menuangnya sambil berkata: “Dengan nama Allah.” Dia berkata: maka aku melihat air memancar dari sela-sela jarinya, kemudian mangkuk itu terpancar dan melingkar hingga penuh. Dia memerintahkan orang-orang untuk mengambil air maka mereka mengambil hingga mereka puas. Aku berkata: apakah masih ada seseorang yang memiliki kebutuhan? Maka Rasul Allah Muhammad salallahu alaihi wa assalam mengangkat tangannya dari mangkuk itu dan mangkuk itu penuh.” Mu’jizat ini terjadi dalam perang Bauwat.

  1. Dari Mu’adz bin Jabal dalam kisah perang Tabuk, bahwa mereka tiba di mata air sementara itu memancarkan sesuatu dari air seperti tali, maka mereka mengambil dari mata air itu dengan tangan mereka hingga terkumpul dalam sesuatu. Kemudian Rasul Allah Muhammad salallahu alaihi wa assalam membasuh wajahnya dan tangannya, kemudian dia mengembalikannya ke dalamnya, lalu mengalir air yang banyak maka orang-orang mengambilnya. Dikatakan dalam hadis Ibnu Ishaq: “Maka keluar dari air apa yang memiliki bunyi seperti bunyi petir,” kemudian dia berkata: “Kiranya wahai Mu’adz, jika hidup panjang bagimu, anda akan melihat apa yang di sini telah penuh dengan kebun-kebun.”
  1. Dari Imran ibn Hisham Radhiyallahu ‘Anhuma bahwa dia berkata: (Ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para sahabatnya mengalami kehausan dalam salah satu perjalanan mereka, beliau mengirim dua orang dari sahabatnya dan memberitahu mereka bahwa mereka akan menemukan seorang perempuan di tempat yang disebut, bersama unta yang membawa dua buah kulit air. Mereka menemukan perempuan itu dan membawanya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Beliau memasukkan air dari salah satu wadahnya ke dalam sebuah tempat dan berdoa untuk berkat, kemudian mengembalikan air itu ke dalam kedua kulit air tersebut. Perempuan itu membuka kulit airnya dan beliau memerintahkan orang-orang untuk mengisinya dengan tempat minum mereka sehingga tidak ada seorang pun yang meninggalkan sesuatu kecuali mengisinya. Imran berkata: Dan tampak bagi saya bahwa keduanya tidak bertambah kecuali semakin penuh, kemudian beliau memerintahkan untuk mengumpulkan makanan bagi perempuan itu hingga penuh bajunya dan berkata: Pergilah, karena kami tidak mengambil dari air Anda sedikitpun, tetapi Allah Yang memberikan minum kepada kami). Hadits Riwayat Imran ibn Hisham
  2. Dalam hadits Umar Radhiyallahu ‘Anhu tentang pasukan kesulitan ketika mereka mengalami kehausan luar biasa, sehingga seseorang mengorbankan untanya lalu memeras isinya dan meminumnya. Abu Bakar meminta kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam untuk berdoa, maka beliau mengangkat kedua tangannya dan tidak menurunkannya sampai langit menjadi mendung lalu hujan turun deras. Mereka mengisinya dengan semua tempat mereka dan hujan tidak melampaui perkemahan. Hadits Riwayat Umar Radhiyallahu ‘Anhu
  3. Dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam meminta makanan, maka beliau memberikan kepadanya setengah satu wasaq (satuan takaran) gandum. Laki-laki itu terus memakannya bersama istrinya dan tamunya sehingga habis. Dia datang kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan memberitahunya. Beliau berkata: Sekiranya engkau tidak menghabiskannya, makanan itu akan terus cukup untuk memenuhi kebutuhan kalian. Hadits Riwayat Jabir Radhiyallahu ‘Anhu
  4. Dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memberi makan delapan puluh orang dari kue-kue gandum, yang dibawa oleh Anas di bawah lengannya. Hadits Riwayat Anas Radhiyallahu ‘Anhu
  5. Dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memberi makan seribu orang di hari Perang Parit dari satu satu takaran gandum dan seekor kambing. Jabir Radhiyallahu ‘Anhu berkata: Aku bersumpah demi Allah bahwa mereka makan sampai meninggalkannya dan berpaling, dan panci pembuat kaldu kami mendidih seperti biasanya dan adonan kami dipanggang, sementara Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam meludahi adonan dan panci pembuat kaldu lalu memberinya berkat. Hadits Riwayat Jabir Radhiyallahu ‘Anhu
  6. Dari Abu Ayyub Radhiyallahu ‘Anhu bahwa dia menyiapkan makanan untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan Abu Bakar sebanyak yang cukup untuk mereka berdua. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkata kepadanya: Undanglah tiga puluh orang dari para pemimpin Anshar. Abu Ayyub mengundang mereka maka mereka makan sampai meninggalkan makanan itu, kemudian beliau berkata: Undanglah enam puluh orang. Hal yang sama terjadi, kemudian beliau berkata: Undanglah tujuh puluh orang. Mereka makan sampai meninggalkan makanan itu, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang keluar kecuali telah masuk Islam dan berbai’at (berjanji setia). Abu Ayyub Radhiyallahu ‘Anhu berkata: Maka makan dari makanan saya seratus delapan puluh orang. Hadits Riwayat Abu Ayyub Radhiyallahu ‘Anhu
  7. Dari Samurah ibn Jundub bahwa dia membawa kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sebuah mangkuk berisi daging, lalu mereka bergantian memakannya dari pagi sampai malam, sekumpulan orang berdiri sementara yang lain duduk. Hadits Riwayat Samurah ibn Jundub
  8. Dari Abdurrahman ibn Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhuma dia berkata: Kami bersama Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berjumlah seratus tiga puluh orang. Disebutkan dalam hadits bahwa beliau menguleni satu takaran makanan dan disembelih seekor domba lalu dipanggang perutnya. Beliau berkata: Demi Allah, dari seratus tiga puluh orang kami semua, tidak ada seorang pun kecuali telah diberikan bagian, kemudian beliau membuat dua mangkuk dari daging itu. Kami semua makan bersama dan masih tersisa dalam kedua mangkuk tersebut sehingga dibawa ke atas unta. Hadits Riwayat Abdurrahman ibn Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhuma
  9. Dari Salamah ibn Akwa’, Abu Hurairah, dan Umar ibn Khattab Radhiyallahu ‘Anhum mereka menyebutkan bahwa kelaparan menimpa manusia bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam salah satu perangnya. Beliau meminta sisa makanan, maka datanglah seseorang dengan segenggam makanan bahkan lebih, yang terbanyak adalah yang membawa satu takaran kurma. Beliau mengumpulkan semuanya di atas tikar dan Salamah berkata: Aku membagi-bagikannya seperti kepada kelompok kambing, kemudian beliau memanggil orang-orang dengan wadah-wadah mereka dan tidak ada wadah di pasukan kecuali diisinya dan masih bersisa. Hadits Riwayat Salamah ibn Akwa’, Abu Hurairah, dan Umar ibn Khattab Radhiyallahu ‘Anhum
  10. Dari Anas ibn Malik bahwa ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menikahi Zainab, beliau memerintahkan (Anas) untuk mengundang orang-orang yang disebutkan namanya sehingga rumah dan kamar penuh. Beliau menghadirkan mangkuk berisi kurma yang dibuat seperti kue, merendamnya dan mencelupkan tiga jarinya, dan orang-orang itu makan siang dan pulang, namun mangkuk itu tetap seperti semula. Hadits Riwayat Anas ibn Malik
  11. Dari Ali ibn Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Fatimah memasak sebuah panci untuk makan siang mereka dan mengirim Ali kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam agar makan bersama mereka. Beliau memerintahkan Fatimah untuk mengambil lauk ke semua istrinya satu mangkuk demi satu, kemudian untuk beliau, kemudian untuk Ali, kemudian untuk Fatimah, kemudian panci diangkat padahal masih penuh melimpah. Fatimah berkata: Kami makan darinya sesuai kehendak Allah. Hadits Riwayat Ali ibn Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu
  12. Dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu tentang utang ayahnya setelah meninggal. Jabir telah menawarkan seluruh pokok hartanya kepada para kreditur ayahnya tetapi mereka menolak, dan penghasilan buah perkebunannya tidak mencukupi untuk membayar utang mereka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam datang kepadanya setelah memerintahkan untuk memetik pohonnya dan menjadikannya lumbung-lumbung di tempatnya. Beliau berjalan di antaranya dan berdoa. Lalu Jabir mampu membayar utang para krediturnya dan tersisa sama banyak dengan apa yang mereka dapatkan setiap tahunnya. Hadits Riwayat Jabir Radhiyallahu ‘Anhu
  13. Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata: Kelaparan menimpa manusia, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bertanya kepadaku: Apakah ada sesuatu? Aku menjawab: Ya, ada beberapa kurma dalam tas. Beliau berkata: Bawalah. Beliau memasukkan tangannya lalu mengeluarkan segenggam, membukanya dan berdoa untuk berkat. Kemudian berkata: Panggillah sepuluh orang. Mereka makan sampai kenyang, kemudian sepuluh orang lagi demikian pula sehingga beliau memberi makan seluruh tentara dan mereka semua kenyang. Beliau berkata: Ambillah apa yang telah kau bawa dan masukkan tanganmu serta ambil darinya dan jangan mencurahkannya. Aku mengambil sebanyak-banyaknya dari apa yang kubawa. Aku memakannya dan memberi makan kepada istri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Abu Bakar, dan Umar sampai Utsman dibunuh maka dijarah dari diriku dan hilang. Hadits Riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu

Dan mukjizat melimpahnya makanan dengan berkat doanya diriwayatkan dari sekitar lima belas sahabat, kemudian diriwayatkan dari mereka oleh puluhan dari kalangan Tabi’in, kemudian dari mereka dan seterusnya yang tidak terhitung jumlahnya. Kebanyakan dari mukjizat ini diriwayatkan dalam kisah-kisah terkenal dan dalam kumpulan hadits yang terkenal, dan tidak mungkin membicarakannya kecuali sesuai dengan kejujuran untuk menghindari pendustaan. Sesungguhnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pada awalnya mendapatkan air yang sedikit atau makanan yang sedikit kemudian menambahnya, dan bukan menciptakan sejak awal dari ketiadaan menjadi ada air yang banyak atau makanan yang banyak, menjaga sopan santun menurut lahirnya agar diketahui bahwa Pencipta adalah Allah. Berkat itu terjadi karena Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, meskipun penambahan itu sebenarnya juga dari sisi Allah seperti penciptaan. Demikian juga yang dilakukan oleh para nabi seperti yang tampak dari mukjizat Ilyas ‘Alaihi Assalam dalam melimpahnya tepung dan minyak di rumah seorang perempuan janda sebagaimana dijelaskan dalam pasal ketujuh belas dari Kitab Raja-raja Pertama, dan dari mukjizat Alisa’ ‘Alaihi Assalam dalam melimpahnya dua puluh roti gandum dan biji-bijian yang dipukul-pukul di dalam serbet sehingga seratus orang makan dan masih bersisa, sebagaimana dijelaskan dalam pasal keempat dari Kitab Raja-raja Kedua, dan dari mukjizat Isa ‘Alaihi Assalam dalam melimpahnya lima roti dan dua ikan sebagaimana dijelaskan dalam pasal keempat belas dari Injil Matius.

  1. Dari Ibn Umar Radhiyallahu ‘Anhuma dia berkata: Kami bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam perjalanan, lalu mendekatlah kepadanya seorang Beduin, beliau bertanya: Wahai Beduin, ke mana tujuanmu? Dia menjawab: Ke keluargaku. Beliau berkata: Apakah kau tertarik kepada kebaikan? Dia bertanya: Apa itu? Beliau berkata: Bahwa engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Dia berkata: Siapa yang menjadi saksi atas apa yang engkau katakan? Beliau berkata: Pohon sida (acacia) ini. Dan pohon itu ada di tepi lembah. Pohon itu maju mencabut akarnya dari tanah sehingga berdiri di hadapannya. Beliau memintanya bersaksi tiga kali, maka pohon itu bersaksi bahwa dia seperti yang dikatakan beliau. Kemudian pohon itu kembali ke tempatnya. Hadits Riwayat Ibn Umar Radhiyallahu ‘Anhuma
  2. Dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pergi untuk memenuhi kebutuhan pribadinya tetapi tidak menemukan sesuatu untuk menyembunyikan diri, tiba-tiba ada dua pohon di tepi lembah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pergi ke salah satu pohon itu, menangkap satu cabang darinya dan berkata: Taklukkan diri padaku dengan izin Allah. Pohon itu menjadi taat seperti unta yang terlatih mendengarkan penunggang. Jabir menyebutkan bahwa beliau berbuat demikian dengan pohon yang lain sehingga ketika berada di tengah keduanya beliau berkata: Tutuplah diri aku dengan izin Allah. Keduanya bertautan. Beliau duduk di belakang keduanya. Dia (Jabir) keluar dengan tubuh segar. Aku duduk berbicara dengan diriku sendiri, lalu aku berpaling dan ternyata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sedang berjalan mendekat dan kedua pohon itu telah berpisah lalu masing-masing berdiri di atas batangnya. Hadits Riwayat Jabir Radhiyallahu ‘Anhu
  3. Dari Ibn Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, beliau berkata kepada seorang Beduin: Apakah menurut pendapatmu jika aku memanggil tangkai kurma ini dari pohon korma ini apakah akan membuktikan bahwa aku adalah utusan Allah? Dia menjawab: Ya. Lalu beliau memanggilnya, dan tangkai kurma itu mulai terlepas dari pohonnya sambil berjalan ke arahnya. Beliau berkata: Kembalilah. Maka ia kembali ke tempatnya. Hadits Riwayat Ibn Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma
  4. Dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu: Masjid memiliki atap dari batang-batang pohon kurma. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkhutbah, beliau berdiri di samping salah satu batang pohon. Ketika sebuah mimbar dibuatkan untuknya, kami mendengar suara batang itu seperti suara unta betina dalam cinta. Dalam riwayat Anas: sampai masjid bergemuruh dengan isak tangisnya. Dalam riwayat Sahal: dan menambah tangisan orang-orang ketika mereka melihatnya, dalam riwayat Al-Mutallab: sampai batang itu retak dan pecah sehingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam datang dan meletakkan tangannya padanya maka berhentilah. Berita tentang isak dan rindu pohon batang itu menurut susunannya terkenal di kalangan Salaf dan Khalaf, dan menurut maknanya mutawatir (diriwayatkan oleh banyak jalur) sehingga memberikan pengetahuan yang pasti. Diriwayatkan dari sekitar lima belas sahabat termasuk Ubay ibn Ka’ab, Anas ibn Malik, Abdullah ibn Umar, Abdullah ibn Abbas, Sahal ibn Sa’d As-Sa’idi, Abu Sa’id Al-Khudri, Buraidah, Ummu Salamah, dan Al-Mutallab ibn Abi Wadiah Radhiyallahu ‘Anhum semuanya meriwayatkan dengan makna hadits ini meskipun lafal-lafal mereka berbeda-beda dalam cara menceritakan, maka tidak ada keraguan tentang terjadinya tahawwur (perpindahan) makna. Hadits Riwayat Jabir dan lainnya Radhiyallahu ‘Anhum
  5. Dari Ibn Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma: Di sekitar Baitullah (Ka’bah) ada tiga ratus enam puluh patung dengan kakinya ditancapkan ke batu dengan timah. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memasuki masjid pada tahun penaklukan Mekah, beliau mulai menunjuk dengan tongkat di tangannya kepada mereka tanpa menyentuhnya sambil berkata: Telah datang kebenaran dan telah lenyaplah kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap. (QS. Al-Isra’ 17:81) Maka setiap patung yang ditunjuk wajahnya roboh ke belakang, dan setiap patung yang ditunjuk belakangnya roboh ke depan, sehingga tidak tertinggal satupun patung. Hadits Riwayat Ibn Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma
  6. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengajak seorang laki-laki masuk Islam, maka dia berkata: Aku tidak akan beriman kepadamu sampai engkau menghidupkan putri saya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkata: Tunjukkan kubur putrimu. Orang itu menunjukkannya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkata: Wahai si Fulanah! Dia menjawab: Aku hadir, semoga baik kepadamu wahai utusan Allah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bertanya: Apakah engkau ingin kembali ke kehidupan dunia? Dia menjawab: Tidak, demi Allah wahai Rasulullah, sesungguhnya aku menemukan Allah lebih baik bagi saya daripada kedua orang tua saya, dan aku menemukan akhirat lebih baik daripada dunia. Hadits Riwayat dari kisah ini
  7. Jabir Radhiyallahu ‘Anhu menyembelih seekor domba, memasaknya dan membuat kuah di dalam mangkuk besar. Dia membawanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, lalu orang-orang makan, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkata kepada mereka: Makanlah dan jangan patahkan tulang. Kemudian beliau mengumpulkan tulang-tulang dan meletakkan tangannya padanya lalu berbicara dengan kata-kata tertentu, maka tiba-tiba domba itu berdiri mengibaskan ekornya. Hadits Riwayat Jabir Radhiyallahu ‘Anhu
  8. Dari Sa’d ibn Abi Waqqas Radhiyallahu ‘Anhu dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memberikan panah kepada saya supaya saya menembak. Maka aku menembak, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah memanah dari busurnya pada hari itu sehingga busur itu patah. Pada hari itu juga mata Qatadah ibn An-Nu’man terpukul sehingga jatuh ke pipinya, lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengembalikannya dan menjadi matanya yang paling baik. Hadits Riwayat Sa’d ibn Abi Waqqas Radhiyallahu ‘Anhu
  9. Dari Utsman ibn Hunayf bahwa seorang buta berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam: Berdoalah kepada Allah agar Dia membuka penglihatanku. Beliau berkata: Pergilah, berwudhu, kemudian sholat dua rakaat, dan katakanlah: Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dan menghadapkan diriku kepada-Mu dengan nabi saya Muhammad nabi belas kasihan. Wahai Muhammad, aku menghadapkan diri dengan engkau kepada Tuhan saya agar Dia membuka penglihatanku. Ya Allah, terimalah syafaatnya untukku. Dia berkata: Maka aku kembali dan Allah telah membuka penglihatanku. Hadits Riwayat Utsman ibn Hunayf
  10. Ibn Mula’ab As-Sunnahah mengalami penyakit penumpukan cairan (istisqa’), lalu mengirim kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Beliau mengambil genggaman tanah, meludahi padanya dan memberikannya kepada utusannya. Orang itu mengambilnya dengan heran, mengira bahwa beliau menggombakannya. Dia membawanya kepada orang sakit yang sedang dalam kondisi sakit parah. Dia meminumnya dan Allah menyembuhkannya. Hadits Riwayat tentang Ibn Mula’ab As-Sunnahah
  11. Dari Habib ibn Fudaik bahwa ayahnya keduanya matanya menjadi putih tidak bisa melihat apapun, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam meludah di matanya maka dia dapat melihat. Dia melihat ayahnya memasukkan jarum pada usia delapan puluh tahun. Hadits Riwayat Habib ibn Fudaik
  12. Beliau meludah di mata Ali Radhiyallahu ‘Anhu pada hari Khaibar dan matanya mengalami radang, maka di pagi harinya sudah sembuh. Hadits Riwayat tentang Ali Radhiyallahu ‘Anhu
  13. Beliau meludah pada luka di betis Salamah ibn Akwa’ pada hari Khaibar maka sembuh. Hadits Riwayat Salamah ibn Akwa’ Radhiyallahu ‘Anhu
  14. Datang kepadanya seorang perempuan dari Khatham membawa seorang anak laki-laki yang menderita penyakit dan tidak bisa berbicara. Beliau membawa air, berkumur-kumur dan membasuh kedua tangannya kemudian memberikannya kepada perempuan itu dan memerintahkan agar dia memberi minum anak laki-laki itu dan mengoleskannya. Maka anak laki-laki itu sembuh dan berkembang dengan akal yang melebihi akal manusia. Hadits Riwayat tentang perempuan dari Khatham
  15. Dari Ibn Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma: Datang seorang perempuan membawa anaknya yang kerasukan setan. Beliau mengusap dadanya, maka anak itu muntah sesuatu seperti anak anjing yang hitam keluar dari perutnya dan dia sembuh. Hadits Riwayat Ibn Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma
  16. Periuk terbalik di atas lengan Muhammad ibn Hatib saat dia masih anak kecil. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengusapnya, berdoa untuknya dan meludahi periuk, maka dia sembuh seketika. Hadits Riwayat tentang Muhammad ibn Hatib
  17. Ada di telapak tangan Syurhabail Al-Ja’fi sebuah benjol yang mencegahnya menggenggam pedang dan tali kuda. Dia mengeluhkannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, maka beliau terus menggesernya sampai hilang dan tidak tertinggal bekas. Hadits Riwayat Syurhabail Al-Ja’fi
  18. Dari Anas ibn Malik Radhiyallahu ‘Anhu dia berkata: Ibuku berkata: Wahai Rasulullah, Anas hamba-mu, berdoalah untuk dia. Beliau berkata: Ya Allah, berlimpahkanlah hartanya dan keturunannya dan berkahi bagi dia pada apa yang telah Engkau berikan. Anas berkata: Demi Allah, hartaku sangat berlimpah dan anak-anakku serta cucu-cucuku hari ini mencapai sekitar seratus orang. Hadits Riwayat Anas ibn Malik Radhiyallahu ‘Anhu
  1. Dia (Nabi Muhammad) berdoa menentang Kisra ketika Kisra mengoyak surat beliau, agar Allah mengoyak kekuasaannya. Maka tidak tertinggal bagi Kisra sesuatu pun, dan tidak ada lagi keunggulan bagi Persia di seluruh penjuru dunia.
  2. Dari Asma binti Abu Bakar semoga Allah meridhai mereka berdua, ia mengeluarkan jubah tiyasan dan berkata: Sesungguhnya Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam memakai jubah ini, lalu kami mencucinya untuk para pasien dan mereka menyembuh dengannya. Dan ini adalah mu’jizat-mu’jizat. Sekalipun tidak semua dari masing-masing nya mencapai tingkat mutawatir, namun bagian yang disepakati bersama di antara semuanya adalah mutawatir tanpa keraguan, seperti keberanian Ali, kemurahan hati Hatim, dan bagian ini saja sudah cukup. Adapun peristiwa-peristiwa yang diriwayatkan Markus dan Lukas semuanya adalah berita ahad yang tidak dapat dipertimbangkan sama dengan hadits-hadits sahih yang diriwayatkan dengan riwayat ahad yang sanadnya terbukti dan bersambung. Bahkan peristiwa-peristiwa yang disepakati keempatnya Injili untuk meriwayatkannya adalah berita ahad, pertimbangannya bagi kami tidak melebihi riwayat ahad sebagaimana yang telah kamu ketahui dalam bab pertama.

JALAN KETIGA: AKHLAK DAN SIFAT-SIFAT NABI MUHAMMAD SALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM

[Akhlak Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wa Sallam]

Sesungguhnya pada diri beliau telah terkumpul dari akhlak-akhlak mulia, sifat-sifat luhur, kesempurnaan ilmiah dan praktis, serta kebaikan-kebaikan yang kembali kepada jiwa, raga, nasab, dan tanah air, sedemikian rupa sehingga akal meyakinkan bahwa ini tidak dapat terkumpul pada selain nabi. Sebab setiap salah satunya sekalipun dapat ditemukan pada selain nabi juga, namun kesatuan semuanya tidak dapat terjadi melainkan untuk para nabi. Maka terkumpulnya pada diri beliau Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam adalah dari bukti-bukti kenabian. Para penentang juga telah mengakui kehadiran mayoritas kebaikan-kebaikan ini pada diri beliau Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam. Misalnya, “Espan Hemis sang Kristen” dari mereka yang adalah musuh paling berat terhadap Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam dan yang meragukan haknya, namun dia terpaksa mengakui kehadiran mayoritas hal-hal yang disebutkan pada diri beliau Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam. Sebagaimana yang dinukil oleh Sale dalam kata-katanya di pengantar terjemahan Al-Quran pada halaman keenam dari cetakan tahun 1850, demikian: “Bahwa beliau adalah tampan wajahnya dan suci, cara beliau memuaskan, berbuat ihsan kepada orang-orang miskin adalah watak beliau, beliau memperlakukan semua orang dengan akhlak yang baik, beliau adalah berani terhadap musuh, beliau menghormati nama Allah dengan penghormatan yang sangat besar, beliau sangat ketat terhadap mereka yang berdusta, dan mereka yang menuduh orang-orang yang tidak bersalah, para pezina, pembunuh, dan orang-orang yang menyukai hal yang tidak berguna, serta para pemfitnah dengan ketegasan yang luar biasa, kebanyakan nasehatnya adalah tentang kesabaran, kemurahan hati, belas kasihan, kebajikan, dan berbuat baik, menghormati kedua orang tua dan orang-orang besar, memuliakan dan menghormati mereka, dan beliau adalah orang yang beribadah dan berlatih spiritual hingga pada tingkat yang tertinggi.” Berakhir ucapannya.

JALAN KETIGA: Barangsiapa memandang kepada apa yang tercakup dalam syariat beliau yang mulia berkaitan dengan keyakinan, ibadah, muamalah, politik, tata krama, dan kebijaksanaan, pasti mengetahui dengan pasti bahwa semuanya tidak lain dari penetapan ilahi dan wahyu surgawi, dan bahwa pembawa semuanya itu tidak lain adalah seorang nabi. Telah kamu ketahui dalam bab kelima bahwa keberatan-keberatan para pendeta terhadapnya sangat lemah, asalnya adalah kedurhakaan murni dan kesewenang-wenangan.

JALAN KEEMPAT: MUNCULNYA AGAMANYA ATAS SEMUA AGAMA DALAM WAKTU SINGKAT

Bahwasanya beliau alaihissalam mengklaim di antara kaum yang tidak memiliki kitab dan hikmat pada diri mereka: Sesungguhnya aku diutus dari sisi Allah dengan Al-Kitab yang terang benderang dan hikmah yang menakjubkan untuk menerangi dunia dengan iman dan amal saleh. Dan beliau berdiri tegak dengan kelemahan, kemiskinan, dan sedikitnya penolong serta pembela, berlawanan dengan semua penduduk bumi, rakyat mereka, menengah mereka, penguasa mereka, dan para perkasa mereka. Lalu beliau menyesatkan pendapat mereka, meremehkan pemikiran mereka, meniadakan agama-agama mereka, dan menghancurkan negara-negara mereka. Agama beliau muncul atas agama-agama dalam waktu singkat di timur dan barat, dan bertambah sepanjang zaman dan masa. Musuh-musuh, meskipun banyak jumlah, peralatan, dan kekuatan mereka, serta fanatisme dan kebanggaan mereka yang ekstrem, dan meskipun mereka mengerahkan segenap usaha untuk memadamkan cahaya agama beliau dan menghapuskan jejak mazhab beliau, namun mereka tidak mampu melakukannya. Apakah itu bisa terjadi selain dengan pertolongan ilahi dan bimbingan surgawi? Alangkah baiknya apa yang dikatakan Gamaliel, guru orang-orang Yahudi, kepada mereka mengenai para murid: “Wahai laki-laki Israel, hati-hatilah terhadap diri kalian dalam hal orang-orang ini, untuk hal yang akan kalian lakukan.” (Kisah Para Rasul 5:35) “Sebab di depan ini ada Theudas yang mengatakan tentang dirinya: bahwa dia adalah seseorang yang kepadanya melekat sejumlah laki-laki kira-kira empat ratus, yang dibunuh dan semua orang-orang yang menuruti dia tersebar dan tidak menjadi apa-apa.” (Kisah Para Rasul 5:36) “Sesudah ini ada Yudas orang Galilea dalam hari-hari sensus penduduk, dan mengagungkan pengikut di belakangnya, dia juga binasa dan semua orang-orang yang menuruti dia tersebar.” (Kisah Para Rasul 5:37) “Dan sekarang aku katakan kepada kalian, jauhilah orang-orang ini dan biarkan mereka, karena jika rencana dan pekerjaan ini dari manusia, maka akan lenyap sendirinya.” (Kisah Para Rasul 5:38) “Akan tetapi jika ia dari Allah, maka kalian tidak akan mampu melenyapkannya, supaya kalian tidak didapati melawan Allah juga.” (Kisah Para Rasul 5:39) Sebagaimana yang terang dalam bab kelima dari kitab Kisah Para Rasul. Dan ayat ketujuh dari Mazmur Pertama demikian: “Sebab Tuhan mengenal jalan orang-orang benar, dan jalan orang-orang fasik akan lenyap.” (Mazmur 1:6) Dan ayat keenam dari Mazmur Kelima demikian: “Engkau membinasakan semua orang yang berkata dusta; Tuhan membenci orang yang berdarah-darah dan yang curang.” (Mazmur 5:6)

Dan ayat keenam belas dari Mazmur Ketigapuluh empat demikian: “Wajah Tuhan menghadapi orang-orang yang berbuat jahat, untuk menghilangkan ingatan mereka dari bumi.” (Mazmur 34:16) Dan dalam Mazmur Ketigapuluh tujuh demikian: “Sebab tangan-tangan orang-orang fasik akan ditaklukkan, dan Tuhan memperkuat orang-orang benar.” (Mazmur 37:17) “Orang-orang fasik akan binasa, dan musuh-musuh Tuhan akan lenyap seperti asap yang menghilang.” (Mazmur 37:20) Jika Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bukan termasuk orang-orang benar, niscaya Tuhan telah membinasakan jalannya, menolaknya, menghilangkan jejaknya dari bumi, memecahkan kekuatannya, dan memusnahkannya seperti asap. Namun Tuhan tidak melakukan sesuatu pun dari itu. Maka Muhammad sallallahu alaihi wa sallam termasuk orang-orang benar. Demi kehidupanku, sesungguhnya para ulama Protestan dalam mendustakan agama Muhammadi adalah pemerangi Allah. Namun waktunya sudah dekat, maka mereka akan mengetahui, “dan orang-orang yang aniaya akan mengetahui di tempat mana mereka kembali.” (Surah Asy-Syu’ara: 227) Dan mereka sama sekali tidak mampu melenyapkannya, sebagaimana janji Allah, “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, dan Allah akan menyempurnakan cahaya-Nya,” yakni agama Islam, “meskipun orang-orang kafir membencinya.” Yakni orang-orang Yahudi, Kristen, dan musyrik. Alangkah baiknya apa yang pernah diucapkan:

“Ketahuilah bagi siapa yang tertarik menentangku dengan cemburu, Apakah kau tahu kepada siapa engkau berbuat tidak sopan? Engkau telah berbuat tidak sopan kepada Allah dalam perbuatannya, Karena engkau tidak rela dengan apa yang telah Dia berikan kepadaku.”

JALAN KELIMA: BAHWASANYA BELIAU MUNCUL DI WAKTU KETIKA MANUSIA SANGAT MEMBUTUHKAN SIAPA YANG MEMBIMBING MEREKA KE JALAN YANG LURUS DAN MENGAJAK MEREKA KE AGAMA YANG BENAR

Sebab orang-orang Arab berada dalam penyembahan berhala dan pembunuhan bayi perempuan. Orang-orang Persia berada dalam kepercayaan pada dua tuhan dan menghubungi ibu dan anak perempuan. Orang-orang Turki berada dalam merusak negara dan menyiksa hamba-hamba. Orang-orang India berada dalam penyembahan sapi, dan sujud kepada pohon dan batu. Orang-orang Yahudi berada dalam pengingkaran dan agama penyerupaan, dan penyebaran kebohongan-kebohongan yang dimulai. Orang-orang Kristen berada dalam perkataan tentang tritunggal, penyembahan salib dan patung-patung orang-orang kudus dan kudusah perempuan. Dan demikian semua kelompok-kelompok lainnya berada dalam lembah-lembah kesesatan dan penyimpangan dari kebenaran dan sibuk dengan hal-hal mustahil. Dan tidak sesuai dengan kebijaksanaan Allah Yang Maha Raja Yang Jelas, untuk tidak mengutus pada waktu ini seseorang yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Dan tidak ada yang tampil cocok untuk perkara besar ini dan mendirikan bangunan yang kokoh ini selain Muhammad bin Abdullah sallallahu alaihi wa sallam. Maka beliau menghilangkan adat-adat yang menyimpang dan perkataan-perkataan yang rusak. Matahari-matahari tauhid dan bulan-bulan tasnzih bersinar, dan kegelapan syirk, watsaniyah, tritunggal, dan penyerupaan lenyap. Kepada beliau dari keberkatan yang paling baik dan dari salam yang paling sempurna. Dan kepada beliau tersebut Allah Yang Maha Tinggi dengan firman-Nya: “Wahai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kalian Rasul Kami yang menjelaskan kepada kalian pada waktu terputusnya para rasul, agar kalian tidak mengatakan: ‘Tidak ada yang membawa berita gembira kepada kami dan tidak ada pemberi peringatan.’ Telah datang kepada kalian pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Dan Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (Surah Al-Maidah: 19)

Berkata Fakhruddin Ar-Razi semoga Allah memuliakan rahasianya dalam tafsir ayat ini: “Faedah dalam pengutusan Muhammad sallallahu alaihi wa sallam pada waktu terputusnya para rasul adalah bahwa perubahan dan pemalsuan telah merambah syariat-syariat yang terdahulu karena lamanya masa dan panjangnya waktu, dan akibat dari itu kebenaran bercampur dengan kebatilan dan ketulusan bercampur dengan kebohongan, dan itu menjadi alasan yang nyata untuk keengganan makhluk dari ibadah, karena mereka memiliki alasan untuk mengatakan: ‘Ya Tuhan kami, kami mengetahui bahwa tidak ada jalan selain untuk beribadah kepada-Mu, namun kami tidak mengetahui bagaimana cara kami beribadah.’ Maka Allah Yang Maha Tinggi mengutus Muhammad sallallahu alaihi wa sallam pada waktu ini untuk menghilangkan alasan ini.” Berakhir ucapannya dengan redaksinya.

JALAN KEENAM: KABAR-KABAR DARI PARA NABI YANG TERDAHULU MENGENAI KENABIAN BELIAU

Karena para pendeta sangat menipu orang-orang awam dalam bab ini dengan tipu daya yang sangat besar, maka aku telah mempertimbangkan untuk memulai dengan menyampaikan kabar-kabar tersebut yang diawali dengan delapan perkara yang memberikan pandangan kepada sang pemandang:

PERKARA PERTAMA: Para nabi Israel seperti Yesaya, Yeremia, Daniel, Yehezkiel, dan Isa alaihi salam telah memberitahu tentang peristiwa-peristiwa yang akan datang seperti peristiwa Nebukadnezar, Koresy, Alexander, dan para khalifahnya, serta peristiwa-peristiwa Edom, Mesir, Niniwe, dan Babel. Sangat jauh dari kebenaran jika tidak ada satupun dari mereka yang memberitahu tentang munculnya Muhammad sallallahu alaihi wa sallam yang pada waktu kemunculannya seperti tumbuhan terkecil, kemudian menjadi pohon yang besar tempat burung-burung langit bersarang di cabang-cabangnya, lalu memecahkan para perkasa dan para raja, agamanya sampai ke timur dan barat, mengalahkan agama-agama lain, dan berlanjut untuk waktu yang lama sehingga telah berlalu pada kemunculannya masa seribu dua ratus delapan puluh tahun hingga saat ini dan akan terus berlanjut insya Allah hingga akhir keberadaan dunia. Dan muncul dari umatnya ribuan ribu ulama rabbani, para cendekiawan yang mahir, para wali dengan karamah, perjuangan dan pengabdian, serta para penguasa besar. Dan peristiwa ini adalah peristiwa terbesar, dan ia tidak lebih kecil dari peristiwa Edom, Niniwe, dan lainnya. Maka bagaimana akal yang sehat dapat membenarkan bahwa mereka memberitahu tentang peristiwa-peristiwa yang lemah dan meninggalkan memberitahu tentang peristiwa yang besar?

PERKARA KEDUA: Bahwasanya nabi yang terdahulu jika memberitahu tentang nabi yang kemudian, tidak disyaratkan dalam pemberitahuannya bahwa dia memberitahu dengan detail lengkap bahwa dia akan keluar dari suku tertentu pada tahun tertentu di negara tertentu, dan sifatnya seperti ini dan seperti itu. Namun pemberitahuan ini pada umumnya adalah ringkas bagi orang-orang awam, dan adapun bagi orang-orang khusus maka dapat menjadi jelas dengan perantaraan indikasi-indikasi, dan dapat juga tetap tersembunyi dari mereka, mereka tidak mengenal kejelasannya selain setelah klaim nabi yang kemudian bahwa nabi yang terdahulu telah memberitahunya mengenai dirinya, dan munculnya kebenaran klaimnya dengan mu’jizat dan tanda-tanda kenabian. Setelah klaim dan munculnya kebenaran klaim tersebut, menjadi jelas bagi mereka tanpa keraguan. Oleh karena itu mereka dinasihati, sebagaimana Al-Masih alaihi salam menasihati para ulama Yahudi dengan berkata: “Celakalah kamu, para ahli taurat, sebab kamu telah mengambil kunci ilmu pengetahuan, kamu sendiri tidak masuk ke dalamnya dan mereka yang ingin masuk pun kamu cegah.” Seperti yang terang dalam bab kesebelas Injil Lukas. Dan menurut pandangan orang-orang Kristen, dapat tersembunyi dari para nabi apalagi dari para ulama. Bahkan dapat juga tetap tersembunyi dari nabi yang diberi kabar mengenainya menurut klaim mereka, dalam bab pertama Injil Yohanes demikian: (Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang-orang Yahudi dari Yerusalem mengirim imam-imam dan orang-orang Lewi untuk bertanya kepadanya: “Siapakah engkau?”) (Dia mengaku dan tidak menyangkal, tetapi mengaku: “Aku bukan Mesias.”) (Mereka bertanya kepadanya: “Kalau begitu siapa yang engkau utus?” Yohanes menjawab: “Aku adalah suara yang berseru di padang gurun: Luruskan jalan Tuhan.” Sebagaimana yang dikatakan Yesaya nabi.) (Dan mereka yang diutus itu berasal dari golongan Farisi.) (Mereka bertanya kepadanya lagi: “Mengapa engkau membaptis, jika engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi?”)

Al-alif wa al-lam dalam lafaz “an-nabi” (nabi) yang terletak pada ayat 21 dan 25 adalah untuk arti ma’ahud (yang tertentu), dan yang dimaksud adalah nabi yang tertentu yang telah diberitahu oleh Musa alaihi salam dalam bab kedelapan belas dari kitab Ulangan sesuai apa yang telah dijelaskan oleh para ulama Kristen. Maka para imam dan orang-orang Lewi adalah dari para ulama Yahudi dan mengetahui kitab-kitab mereka, dan mereka juga tahu bahwa Yahya alaihi salam adalah nabi, namun mereka ragu-ragu apakah dia adalah Al-Masih alaihi salam atau Ilia alaihi salam atau nabi yang tertentu yang telah diberitahu oleh Musa alaihi salam. Maka tampak dari ini bahwa tanda-tanda dari ketiga nabi ini tidak tertera dalam kitab-kitab mereka dengan cara yang tidak meninggalkan keraguan bagi orang-orang khusus apalagi orang-orang awam. Oleh karena itu mereka bertanya pertama kali: Apakah engkau Al-Masih? Setelah Yahya alaihi salam mengingkari bahwa dia adalah Mesias, mereka bertanya: Apakah engkau Elia? Setelah dia mengingkari juga bahwa dia adalah Elia, mereka bertanya: Apakah engkau nabi yang tertentu?

Seandainya tanda-tanda itu tertera dengan cara yang tidak meninggalkan tempat untuk keraguan, maka tidak ada tempat untuk keraguan. Bahkan tampak dari ini bahwa Yahya alaihi salam tidak mengenal dirinya sendiri bahwa dia adalah Elia sampai dia mengingkari dan berkata: “Aku bukan.” Dan Isa telah bersaksi bahwa dia adalah Elia. Dalam bab kesebelas Injil Matius, ucapan Isa alaihi salam mengenai Yahya alaihi salam demikian: (Dan jika kamu mau menerima semuanya itu, dialah Elia yang hendak datang.) Dan dalam bab ketujuh belas Injil Matius demikian: (Dan murid-muridnya bertanya kepada-Nya: “Mengapa kalau begitu para ahli taurat mengatakan bahwa Elia harus datang lebih dulu?”) (Jawab Yesus kepada mereka: “Memang Elia akan datang untuk memulihkan segala sesuatu.”) (Tetapi Aku berkata kepadamu: Elia telah datang, tetapi mereka tidak mengenal dia, malah memperlakukan dia sesuka hati. Demikian jugalah Anak Manusia akan diperlakukan oleh mereka.”) (Maka barulah murid-murid itu mengerti, bahwa yang dimaksudkan-Nya ialah Yohanes Pembaptis.)

Tampak dari kalimat terakhir ini bahwa para ulama Yahudi tidak mengenal Yahya alaihi salam bahwa dia adalah Elia dan berbuat kepadanya apa yang mereka kehendaki, dan bahwa para murid juga tidak mengenal bahwa dia adalah Elia sekalipun mereka adalah nabi menurut klaim orang-orang Kristen, dan lebih tinggi derajatnya dari Musa alaihi salam, dan mereka telah bergantung dari Yahya dan melihatnya berkali-kali, dan kedatangannya adalah perlu sebelum tuhan dan mesias mereka.

Dan dalam ayat tiga puluh tiga dari bab pertama Injil Yohanes ucapan Yahya demikian: (Dan aku tidak mengenal dia, tetapi supaya Dia akan dinyatakan kepada Israel maka aku datang membaptis dengan air. Ucapan orang itu: “Aku tidak mengenal dia” menurut klaim para pendeta bermakna: “Aku tidak mengenal dia dengan pengenalan yang sempurna bahwa Dia adalah Mesias yang dijanjikan,” maka diketahui bahwa Yahya alaihi salam tidak mengenal Isa alaihi salam dengan pengenalan yang pasti bahwa Dia adalah Mesias yang dijanjikan hingga tiga puluh tahun sehingga belum turun Ruh al-Quds. Mungkin karena lahirnya Al-Masih dari perempuan yang belum pernah bersuami bukan dari tanda-tanda yang khusus untuk Al-Masih. Jika demikian, bagaimana hal itu dapat dibenarkan? Namun aku akan mengalihkan pandangan dari ini dan berkata bahwa Yahya adalah nabi yang paling mulia dari para nabi Israel dengan kesaksian Isa alaihi salam sesuai apa yang terang dalam bab kesebelas Injil Matius, dan bahwa Isa alaihi salam adalah tuhan dan rabbnya menurut klaim orang-orang Kristen, dan kedatangannya adalah perlu sebelum Al-Masih, dan benar-benar pasti bahwa dia adalah Elia. Jika demikian nabi yang paling mulia ini tidak mengenal dirinya sendiri hingga akhir hayatnya, dan tidak mengenal tuhannya dan rabbnya hingga waktu yang tersebut, dan begitu pula para murid yang lebih baik dari Musa dan semua nabi Israel tidak mengenal selama hidup Yahya bahwa dia adalah Elia, maka apa derajat para ulama dan orang-orang awam menurut mereka dalam mengenal nabi yang kemudian berdasarkan berita dari nabi yang terdahulu mengenainya dan keraguan mereka mengenainya?

Qoifa, kepala imam, adalah nabi menurut kesaksian Yohanes sesuai apa yang terang dalam ayat lima puluh satu dari bab kesebelas Injilnya, dan dia telah memfatwakan pembunuhan Isa alaihi salam dan kekafirahannya dan menghina-Nya sesuai apa yang terang dalam bab dua puluh tujuh Injil Matius. Seandainya tanda-tanda Al-Masih tertera dalam kitab-kitab mereka dengan cara yang tidak meninggalkan keraguan kepada seorang pun, maka tidak akan mungkin bagi nabi yang memfatwakan pembunuhan tuhannya dan kekafirahannya ini untuk memfatwakan pembunuhan-Nya dan kekafirahannya.

Matius dan Lukas meriwayatkan dalam bab ketiga, dan Markus dan Yohanes dalam bab pertama dari injil-injil mereka, kabar Yesaya mengenai Yahya alaihi salam, dan Yahya alaihi salam telah mengakui bahwa kabar ini adalah mengenai dirinya sesuai apa yang dijelaskan oleh Yohanes. Dan kabar ini dalam ayat ketiga dari bab empat puluh kitab Yesaya demikian: (Suara orang yang berseru di padang gurun: Siapkanlah jalan Tuhan, luruskan jalan-Nya di padang gurun untuk Tuhan kami.) Dan dalam ayat itu tidak disebutkan sesuatu pun dari hal-hal yang khusus bagi Yahya alaihi salam baik dari sifat-sifatnya atau dari waktu keluarnya atau tempat keluarnya, sedemikian rupa sehingga tidak meninggalkan keraguan. Seandainya tidak ada klaim Yahya alaihi salam bahwa kabar ini adalah mengenai dirinya, dan begitu pula klaim para penulis Perjanjian Baru, niscaya ini tidak akan tampak bagi para ulama Kristen dan orang-orang khusus mereka apalagi orang-orang awam. Sebab deskripsi seruan di padang gurun mencakup kebanyakan para nabi Israel yang datang setelah Yesaya alaihi salam, bahkan berlaku juga untuk Isa alaihi salam. Karena dia juga berseru seperti seruan Yahya alaihi salam: Bertobatlah karena sudah dekat kerajaan surga.

Pengantar dan Penjelasan Imam Fakhr al-Razi

Dan akan tampak kepadamu dalam masalah keenam keadaan berita-berita yang dibawa oleh para penulis Injil tentang Nabi Isa alaihissalam dari para nabi terdahulu alaihimussalam. Kami tidak mengklaim bahwa para nabi yang memberitakan tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, setiap berita dari mereka bersifat terperinci sedemikian rupa sehingga tidak ada ruang untuk takwil bagi yang membantah.

Imam Fakhr al-Razi berkata dalam penjelasan ayat Allah Taala: {Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil, dan janganlah kamu sembunyikan yang hak, padahal kamu mengetahui} (Al-Baqarah: 42)

Ketahuilah bahwa yang paling jelas mengenai huruf ba (preposisi) dalam firman-Nya “dengan yang batil” adalah bahwa ia merupakan ba al-isti’anah (preposisi alat) seperti dalam ucapan kalian “saya menulis dengan pena”. Maknanya ialah janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan sebab-sebab keragu-raguan yang kalian lontarkan kepada para pendengar. Hal ini karena teks-teks yang terdapat dalam Taurat dan Injil mengenai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan teks-teks yang tersembunyi yang membutuhkan penalaran untuk mengetahuinya. Kemudian mereka berbantah mengenainya dan mengaburkan cara menunjukkan kepada mereka yang merenungnya dengan sebab melontarkan keragu-raguan. Berakhirlah ucapannya demikian.

Penjelasan Syaikh ‘Abd al-Hakim al-Siyalkuti

Syaikh ‘Abd al-Hakim al-Siyalkuti dalam catatan kakinya pada tafsir al-Baidawi berkata:

Ini merupakan masalah yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut dan perlu dipahami bahwa setiap nabi datang dengan ungkapan yang bersirat dan isyarat yang tersembunyi yang hanya diketahui oleh orang-orang yang mendalam ilmunya, dan itu karena hikmah ilahi. Para ulama telah berkata: tidak ada satupun kitab yang diturunkan dari langit kecuali mengandung penyebutan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi dengan isyarat-isyarat. Seandainya itu jelas bagi kaum awam, niscaya para ulamanya akan diminta pertanggungjawaban atas penyembunyiannya. Kemudian hal itu bertambah kabur dengan peralihan dari satu bahasa ke bahasa lain, dari bahasa Ibrani ke bahasa Suryani dan dari bahasa Suryani ke bahasa Arab. Saya telah menyebutkan kesimpulan dari ungkapan-ungkapan yang berasal dari Taurat dan Injil. Jika engkau mempertimbangkannya, engkau akan menemukan bahwa ia menunjukkan kebenaran kenabian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara yang bersirat yang jelas bagi orang-orang yang mendalam ilmunya dan tersembunyi bagi kaum awam. Berakhirlah ucapannya demikian.

Masalah Ketiga: Pengingkaran Terhadap Penantian Nabi Lain

(Masalah Ketketiga) Klaim bahwa Ahli Kitab tidak pernah menantikan nabi lain selain al-Masih dan Ilyas, adalah klaim yang batil dan tidak berdasar. Sebaliknya, mereka menantikan selain keduanya juga. Ketika telah diketahui dalam masalah kedua bahwa para ulama Yahudi yang sezaman dengan Nabi Isa alaihissalam menanyai Yahya alaihissalam pertama kali: “Apakah engkau al-Masih?” Ketika dia menolak, mereka menanyakan: “Apakah engkau Ilyas?” Ketika dia menolak, mereka menanyakan: “Apakah engkau an-Nabi?” yakni nabi yang telah dijanjikan yang telah diberitakan oleh Musa alaihissalam. Dari sini dapat diketahui bahwa nabi ini ditantikan sebagaimana ditantikannya al-Masih dan Ilyas, dan dia sangat terkenal sehingga tidak memerlukan penyebutan nama, melainkan isyarat saja sudah cukup.

Dan dalam pasal ketujuh dari Injil Yuhanna setelah penyebutan ucapan Nabi Isa alaihissalam, demikian:

40: “Maka berkatalah banyak orang dari orang-orang yang mendengar perkataan itu: Sungguh, Dia ini adalah an-Nabi”

41: “Dan yang lain-lain berkata: Dialah al-Masih”

Dari ucapan ini juga tampak bahwa an-Nabi yang dijanjikan menurut mereka berbeda dari al-Masih, dan oleh karena itu mereka mempertentangkannya dengan al-Masih.

Masalah Keempat: Pengingkaran Klaim Penutup Kenabian

(Masalah Keempat) Klaim bahwa al-Masih adalah penutup para nabi dan tidak ada nabi setelahnya adalah batil, karena telah diketahui dalam masalah ketiga bahwa mereka menantikan nabi yang dijanjikan lainnya yang berbeda dari al-Masih dan Ilyas alaihimussalam. Ketika tidak terbukti dengan bukti bahwa dia datang sebelum al-Masih, maka dia pastilah setelahnya. Selain itu, mereka mengakui kenabian para sahabat dan Paulus, bahkan kenabian yang lainnya juga.

Dan dalam pasal kesebelas dari Kitab Kisah para Rasul demikian:

27: “Pada hari-hari itu turunlah beberapa nabi dari Yerusalem ke Antiokhia”

28: “Dan berdirilah seorang dari antara mereka bernama Agabos dan melalui Ruh menunjukkan bahwa akan terjadi kelaparan yang besar di seluruh dunia, yang memang terjadi pada zaman Klaudius (Kaisar)”

Semua orang ini adalah nabi menurut pernyataan tegas dalam Injil mereka, dan seorang dari mereka bernama Agabos memberitakan tentang terjadinya kelaparan yang besar.

Dan dalam pasal kedua puluh satu dari Kitab yang disebutkan demikian:

10: “Sementara kami tinggal di sana beberapa hari, datanglah seorang nabi dari Yudea bernama Agabos”

11: “Lalu ia datang kepada kami dan mengambil ikat pinggang Paulus, kemudian mengikat tangan dan kaki dirinya sendiri sambil berkata: Demikianlah berkata Ruh Kudus, pria pemilik ikat pinggang ini akan diikat orang-orang Yahudi di Yerusalem dan diserahkan ke tangan orang-orang bukan Yahudi”

Dan dalam ungkapan ini juga ada pernyataan tegas bahwa Agabos adalah nabi. Mereka mencoba membela klaim ini dengan ucapan al-Masih yang dinukil dalam ayat kelima belas dari pasal ketujuh Injil Matius demikian: “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepada kalian dengan pakaian domba, tetapi dari dalam mereka adalah serigala-serigala yang ganas” (Matius 7: 15)

Usaha mereka untuk menggunakan ini sangat aneh, karena al-Masih alaihissalam memerintahkan untuk waspada terhadap nabi-nabi palsu, bukan nabi-nabi yang benar juga, dan oleh karena itu dia memberi batasan dengan kata “palsu”. Benar, seandainya dia berkata “waspadalah terhadap setiap nabi yang datang setelahku”, tentu dari segi lahirnya ada alasan untuk menggunakan ini, meskipun patut ditakwilkan menurut mereka, karena terbukti kenabian orang-orang yang disebutkan. Dan memang tampak banyak nabi-nabi palsu pada generasi pertama setelah naik ke langit, sebagaimana tampak dari surat-surat yang terdapat dalam Perjanjian Baru dalam pasal kesebelas Surat Kedua kepada Orang-orang Korintus demikian:

12: “Tetapi apa yang saya lakukan, saya akan terus melakukannya agar saya memotong kesempatan mereka yang menginginkan kesempatan untuk dianggap sama dengan kami dalam hal yang mereka banggakan”

13: “Sebab orang-orang seperti itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja yang licik, yang menyampaikan diri mereka sebagai rasul-rasul Kristus”

Para pemimpin Kristen mereka dengan suara keras mengumumkan bahwa rasul-rasul palsu yang pengkhianat telah muncul pada zamannya dan mereka menyamar sebagai rasul-rasul al-Masih.

Dan Adam Klark, seorang penafsir, berkata dalam penjelasan tempat ini: Para orang ini dengan dusta mengklaim bahwa mereka adalah rasul-rasul al-Masih, padahal mereka sebenarnya bukanlah rasul-rasul al-Masih dan mereka mengajar dan berusaha, tetapi tujuan mereka hanyalah mencari keuntungan.

Dan dalam pasal keempat dari Surat Pertama Yuhanna demikian:

“Wahai saudara-saudara sekalian, janganlah percayai setiap ruh, tetapi ujilah ruh-ruh itu apakah berasal dari Allah, karena banyak nabi-nabi palsu telah keluar ke dunia”

Jadi tampak dari kedua ungkapan ini bahwa nabi-nabi palsu telah muncul pada zaman para sahabat.

Dan dalam pasal kedelapan Kitab Kisah para Rasul demikian:

9: “Ada seorang laki-laki bernama Simon di kota itu yang telah menggunakan ilmu sihir dan membuat orang-orang Samaria heran dengan mengatakan bahwa dia adalah seseorang yang hebat”

10: “Dan semua orang, dari yang kecil hingga yang besar, mengikutinya sambil berkata: Dialah kekuatan Allah yang besar”

Dan dalam pasal ketiga belas Kitab yang disebutkan demikian: “Ketika mereka menyeberangi pulau ke Pafos, mereka menemukan seorang laki-laki penyihir, nabi palsu, Yahudi, bernama Bar-Yesus”

Demikian juga akan tampak penipu-penipu pembohong yang masing-masing mengklaim bahwa dia adalah al-Masih, sebagaimana telah diberitakan oleh Nabi Isa alaihissalam dan berkata: “Janganlah seseorang menyesatkan kalian, sebab banyak orang akan datang dengan nama-Ku sambil berkata: Saya adalah al-Masih, dan akan menyesatkan banyak orang” (Matius 24: 4-5)

Seperti yang tertera dengan jelas dalam pasal kedua puluh empat Injil Matius. Jadi maksud al-Masih alaihissalam adalah memperingatkan terhadap nabi-nabi palsu dan al-Masih-al-Masih palsu, bukan terhadap nabi-nabi yang benar juga. Oleh karena itu, dia berkata setelah ucapan yang disebutkan dalam pasal ketujuh: “Dari buah-buah mereka kalian akan mengenal mereka. Apakah mereka mengumpulkan anggur dari duri atau buah ara dari berduri?” (Matius 7: 16)

Dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk nabi-nabi yang benar, sebagaimana ditunjukkan oleh buah-buahnya menurut apa yang telah diketahui dalam jalan-jalan yang terdahulu. Dan tidak ada pertimbangan untuk celaan para pengingkar sebagaimana akan diketahui dalam bab kedua. Karena setiap orang tahu bahwa orang-orang Yahudi mengingkari Nabi Isa bin Maryam alaihimussalam dan mendustakan-nya, dan tidak ada orang yang lebih jahat dari pada-nya di mata mereka, sejak awal dunia hingga masa keluarnya-nya. Demikian pula ribuan dari para filosof dan ulama yang merupakan anak-anak dari golongan pendeta dan adalah orang-orang Kristen kemudian mereka keluar dari agama ini karena mereka menganggap buruk agama itu, mengingkarinya dan menghina-hinakannya serta agamanya dan mengarang banyak surat untuk membuktikan pandangan-pandangan mereka dan surat-surat ini telah terkenal di seluruh penjuru dunia, dan pengikut-pengikut mereka terus bertambah setiap hari di negeri-negeri Eropa. Sebagaimana pengingkaran orang-orang Yahudi dan para filosof serta ulama ini terhadap Nabi Isa alaihissalam tidak dapat diterima oleh kami, demikian juga pengingkaran orang-orang yang mempercayai trinitas terhadap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dapat diterima oleh kami.

Masalah Kelima: Tentang Berita-Berita Mengenai Isa

(Masalah Kelima) Berita-berita yang dibawa oleh orang-orang Kristen mengenai Nabi Isa alaihissalam tidak dapat dibuktikan kebenaran-nya berdasarkan tafsir-tafsir dan takwil-takwil orang-orang Yahudi, dan karena itu mereka mengingkarinya dengan pengingkaran yang sangat kuat. Para ulama Kristen tidak memperhatikan tafsir-tafsir dan takwil-takwil mereka dalam bab ini dan mereka mentafsir dan mentakwilnya sedemikian rupa hingga menurut klaim mereka dapat dibuktikan kebenaran-nya terhadap Nabi Isa alaihissalam. Penulis Kitab Mizan al-Haq dalam bab ketiga dari pasal pertama pada halaman 46 dari naskah Persia yang diterbitkan tahun 1849 berkata:

Para guru kuno dari agama Kristen hanya mengklaim klaim yang benar bahwa orang-orang Yahudi mentakwil ayat-ayat yang merupakan isyarat kepada Yesus al-Masih dengan takwil-takwil yang tidak benar dan tidak pantas dan menjelaskan-nya berlawanan dengan kenyataan.

Dan ucapannya “hanya mengklaim klaim yang benar” tentu merupakan kesalahan, karena para guru kuno sebagaimana mengklaim klaim ini, mereka juga mengklaim bahwa orang-orang Yahudi telah mengubah kitab-kitab dengan perubahan leksikal, sebagaimana telah diketahui dalam bab kedua. Akan tetapi saya mengasingkan perhatian dari ini dan berkata: Sebagaimana takwil-takwil orang-orang Yahudi terhadap ayat-ayat yang disebutkan ditolak tidak benar dan tidak pantas menurut orang-orang Kristen, demikian juga takwil-takwil orang-orang Kristen terhadap berita-berita yang mengenai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ditolak dan tidak dapat diterima oleh kami. Dan engkau akan melihat bahwa berita-berita yang kami nukil mengenai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih jelas kebenarannya dibandingkan dengan berita-berita yang dibawa oleh para penulis Injil mengenai Nabi Isa alaihissalam. Maka tidak apa-apa bagi kami jika kami tidak memperhatikan takwil-takwil mereka yang rusak. Sebagaimana orang-orang Yahudi mengklaim terhadap beberapa berita yang menurut klaim orang-orang Kristen mengenai Nabi Isa alaihissalam bahwa berita-berita itu mengenai al-Masih mereka yang ditunggu-tunggu atau mengenai yang lain atau tidak mengenai siapa pun, dan orang-orang Kristen mengklaim bahwa berita-berita itu mengenai Nabi Isa alaihissalam dan tidak peduli dengan pertentangan mereka, demikian juga kami tidak peduli dengan pertentangan orang-orang Kristen mengenai beberapa berita yang mengenai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam jika mereka berkata bahwa berita-berita itu mengenai Nabi Isa alaihissalam. Dan engkau akan melihat juga bahwa kebenarannya terhadap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih layak daripada kebenarannya terhadap Nabi Isa alaihissalam. Maka klaim kami lebih berhak daripada klaim mereka.

Masalah Keenam: Berita-Berita Tentang Nabi Muhammad

(Masalah Keenam) Penulis-penulis Perjanjian Baru menurut keyakinan orang-orang Kristen adalah orang-orang yang mendapat ilham, dan mereka telah membawa berita-berita mengenai Nabi Isa alaihissalam, maka nukilan ini menurut klaim mereka berdasarkan ilham. Maka saya sebutkan beberapa darinya dengan cara contoh agar yang diajak bicara dapat menimbang keadaan berita-berita ini dengan berita-berita yang saya nukil dalam jalan ini mengenai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan jika salah seorang dari para pendeta menempuh jalan yang sewenang-wenang dan berusaha untuk mentakwil berita-berita yang saya nukil dalam jalan ini, maka wajib atasnya untuk mengarahkan pertama-tama berita-berita yang dibawa oleh penulis-penulis Perjanjian Baru mengenai Nabi Isa alaihissalam, agar tampak kepada orang yang adil yang cerdas keadaan berita-berita yang dibawa oleh kedua belah pihak, dan membandingkan keduanya dengan mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan. Dan jika dia mengasingkan perhatian dari pengarahan berita-berita yang menyangkut Isa yang dibawa oleh penulis-penulis tersebut.

Pertama dari berita-berita Muhamadiyah yang saya nukil dalam jalan ini akan ditanggung kepada pada ketidakmampuan dan fanatisnya, karena telah diketahui dalam masalah kedua dan kelima bahwa yang membantah mempunyai lapangan yang luas untuk takwil dalam hal-hal seperti berita-berita ini. Dan saya hanya cukup dengan menyebutkan sebagian dari apa yang dibawa oleh penulis-penulis Perjanjian Baru, karena jika tampak bahwa sebagian darinya tentu keliru, dan sebagian darinya telah diubah, dan sebagian darinya tidak dapat dibuktikan kebenarannya terhadap Nabi Isa alaihissalam kecuali dengan klaim murni dan penetapan semata-mata, maka tampak bahwa keadaan berita-berita lain yang dibawa oleh orang-orang Kristen yang bukan orang-orang yang mendapat ilham dan wahyu adalah lebih buruk, maka tidak diperlukan untuk menukilnya.

Berita Pertama: Apa yang dinukil dalam pasal pertama Injil Matius, dan telah diketahui dalam penjelasan kesalahan kelima puluh dalam bab ketiga pasal pertama bahwa ini adalah kesalahan. Terlebih lagi, fakta bahwa Maryam adalah perawan pada saat kehamilan tidak diakui oleh orang-orang Yahudi dan para pengingkar, dan bukti tidak dapat diselesaikan atas mereka, karena sebelum kelahiran Nabi Isa alaihissalam, dia berada dalam pernikahan dengan Yusuf al-Najjar menurut pernyataan tegas dalam Injil dan orang-orang Yahudi yang sezaman dengan Nabi Isa alaihissalam, dan mereka mengatakan bahwa dia adalah anak Yusuf al-Najjar sebagaimana tersurat dalam ayat 55 dari pasal 13 Injil Matius dan ayat 45 dari pasal 1 dan ayat 42 dari pasal keenam Injil Yuhanna, dan sampai sekarang mereka masih mengatakan demikian bahkan lebih jelek lagi. Dan tanda yang lain yang khusus untuk Nabi Isa alaihissalam tidak disebutkan dalam berita ini.

Berita Kedua: Apa yang dinukil dalam ayat keenam dari pasal kedua Injil Matius. Berita ini merupakan isyarat kepada ayat kedua dari pasal kelima Kitab Mikha, dan ungkapan Matius tidak sesuai dengan ungkapan Mikha. Salah satunya telah diubah. Dan telah diketahui dalam saksi kedua puluh tiga dari tujuan pertama bab kedua bahwa para ahli mereka memilih perubahan ungkapan Mikha. Akan tetapi klaim mereka ini hanya untuk menjaga Injil saja, dan bagi yang menentang adalah batil.

Berita Ketiga: Apa yang dinukil dalam ayat kelima belas dari pasal yang disebutkan Injil Matius.

Berita Keempat: Apa yang dinukil dalam ayat 17 dan 18 dari pasal yang disebutkan.

Berita Kelima: Apa yang dinukil dalam ayat dua puluh tiga dari pasal yang disebutkan. Dan ketiga berita ini adalah kesalahan sebagaimana diketahui dalam bab ketiga pasal pertama.

Berita Keenam: Ayat kesembilan dari pasal dua puluh tujuh Injil Matius. Dan telah diketahui dalam saksi dua puluh sembilan dari tujuan kedua bab kedua bahwa ini adalah kesalahan. Terlebih lagi, keadaan ini terdapat dalam pasal kesebelas Kitab Zakaria, dan tidak ada kesesuaian dengan cerita yang dibawa oleh Matius. Karena Nabi Zakaria alaihissalam setelah menyebutkan nama-nama dua tongkat dan merawat kawanan kambing, berkata demikian terjemahan Arab tahun 1844:

12: “Dan aku berkata kepada mereka: Jika baik di mata kalian, berikanlah upahku. Dan jika tidak, jangan berikan. Lalu mereka menimbang upahku tiga puluh perak”

13: “Dan Tuhan berkata kepadaku: Lemparkan kepada pengrajin patung, harga mulia yang Aku nilai atas diri-Ku. Maka aku mengambil tiga puluh perak itu dan melemparkannya di rumah Tuhan kepada pengrajin patung”

Jadi jelas dari ucapan Zakaria bahwa ini adalah penjelasan suatu keadaan, bukan berita tentang peristiwa yang akan datang. Dan bahwa penerima dirham itu dari orang-orang saleh seperti Zakaria alaihissalam, bukan dari orang-orang kafir seperti Yudas.

Berita Ketujuh: Apa yang dinukil oleh pemimpin mereka Paulus dalam ayat keenam dari pasal pertama Surat Ibrani, dan telah diketahui keadaannya dalam bab ketiga bahwa ini adalah kesalahan yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya terhadap Nabi Isa alaihissalam.

Berita Kedelapan: Ayat tiga puluh lima dari pasal tiga belas Injil Matius demikian:

“Supaya genaplah firman yang diucapkan oleh nabi yang mengatakan: Saya akan membuka mulut dengan perumpamaan, saya akan mengucapkan hal-hal yang tersembunyi sejak awal dunia”

Ini merupakan isyarat kepada ayat kedua dari Zabur (Mazmur) tujuh puluh delapan, tetapi ini adalah klaim murni dan penetapan semata-mata. Karena ungkapan Zabur ini demikian:

2: “Saya akan membuka mulut dengan perumpamaan, saya akan mengucapkan hal-hal yang telah lama terjadi”

3: “Semua yang kami dengar dan ketahui, dan bapak-bapak kami telah memberitahukannya kepada kami”

4: “Dan mereka tidak menyembunyikannya dari anak-anak mereka kepada generasi berikutnya, ketika mereka menceritakan tentang pujian-pujian Tuhan dan kekuatan-kekuatan-Nya dan keajaiban-keajaiban yang telah Dia lakukan”

5: “Ketika Dia menetapkan kesaksian di Yakub, dan meletakkan hukum di Israel, semua yang telah Dia perintahkan kepada bapak-bapak kami untuk diketahui oleh anak-anak mereka”

6: “Agar generasi berikutnya mengetahui, anak-anak yang akan dilahirkan”

7: “Mereka juga akan bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka”

8: “Agar mereka menaruh kepercayaan mereka kepada Allah dan tidak melupakan pekerjaan-pekerjaan Allah dan mencari perintah-perintah-Nya”

9: “Agar mereka tidak menjadi seperti bapak-bapak mereka, generasi yang membangkang, generasi yang hatinya tidak kokoh dan ruhnya tidak percaya kepada Allah”

Dan ayat-ayat ini jelas menunjukkan bahwa Nabi Daud alaihissalam bermaksud dirinya sendiri, dan karena itu dia mengungkapkan dirinya dengan bentuk orang pertama (aku), dan meriwayatkan keadaan-keadaan yang telah didengarnya dari para bapak untuk disampaikan kepada anak-anak sesuai dengan perjanjian Allah agar riwayat tetap terpelihara. Dan dia menjelaskan dari ayat kesepuluh hingga ayat keenam puluh lima keadaan karunia-karunia Allah dan keajaiban-keajaiban yang berhubungan dengan Musa dan kejahatan bani Israel serta apa yang menimpa mereka karenanya. Kemudian dia berkata:

65: “Lalu Tuhan bangun seperti orang yang tidur, seperti seorang jago yang membangkitkan dirinya dari anggur”

66: “Maka Dia mengalahkan musuh-musuh-Nya dari belakang dan menjadikan mereka aib selamanya”

67: “Dan Dia menolak kemah Yusuf dan tidak memilih suku Efraim”

68: “Tetapi memilih suku Yuda, gunung Sion yang Dia cintai”

69: “Dia membangun tempat kudus-Nya seperti binata liar, dan mendirikannya di bumi selamanya”

70: “Dia memilih Daud, hamba-Nya, dan mengambilnya dari kandang domba”

71: “Dari belakang anak-anak yang disusuinya Dia mengambilnya untuk menggembalakan Yakub, hamba-Nya, dan Israel, warisan-Nya”

72: “Maka dia menggembalakan mereka dengan tulus hati-Nya dan membimbing mereka dengan kearifan tangannya”

Ayat-ayat terakhir ini juga menunjukkan dengan jelas bahwa Zabur ini adalah hak Daud alaihissalam, sehingga tidak ada hubungan hal ini dengan Isa alaihissalam.

(Berita Kesembilan) terdapat dalam Pasal Keempat dari Injil Matius sebagai berikut: Pasal 4:14-16

“Supaya genaplah firman yang difirmankan oleh nabi Yesaya, katanya: Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, seberang Yordan, Galilea orang-orang kafir, Bangsa yang duduk dalam gelap telah melihat terang yang besar, dan bagi mereka yang duduk di negeri bayang-bayang maut telah muncul terang”

dan ini adalah rujukan kepada ayat pertama dan kedua dari Pasal Kesembilan dari Kitab Yesaya, yang bunyinya sebagai berikut: Yesaya 9:1-2

“Di waktu yang lalu Dia merendahkan tanah Zebulon dan tanah Naftali, tetapi di kemudian hari Dia akan memuliakan jalan ke laut, seberang Yordan, Galilea orang-orang kafir. Bangsa yang berjalan dalam gelap telah melihat terang yang besar; atas mereka yang diam di negeri bayang-bayang maut telah bersinar terang.”

Adapun perbedaan antara kedua ungkapan tersebut ialah bahwa salah satunya telah diubah. Terlepas dari ini, tidak ada indikasi dari perkataan Yesaya tentang kemunculan seorang pribadi, melainkan yang tampak ialah bahwa Yesaya alaihissalam memberitahu bahwa keadaan penduduk tanah Zebulon dan Naftali dahulu kala dalam kondisi yang buruk, kemudian menjadi baik, sebagaimana ditunjukkan oleh bentuk-bentuk masa lalu, yakni “merendahkan,” “memuliakan,” “telah melihat,” dan “bersinar.” Dan jika kita meninggalkan makna lahir tersebut dan mengalihkan kepada makna majazi dengan arti masa depan, dan kami katakan bahwa melihat cahaya dan bersinar cahaya atas mereka adalah ungkapan tentang lewatnya orang-orang saleh di tanah mereka, maka klaim bahwa realisasi berita ini hanya Isa alaihissalam adalah suatu penetapan yang murni, karena banyak dari wali-wali dan orang-orang saleh telah melewati tanah tersebut, terlebih para sahabat Nabi Muhammad salallahu alaihi wasallam dan wali-wali umatnya juga, yang telah menghilangkan kegelapan kufur dan trinitas dari wilayah-wilayah ini karena mereka, dan telah tampak cahaya tauhid dan pembetulan tentang al-Masih sebagaimana seharusnya. Aku puas dengan batas ini karena takut kepanjangan, dan aku telah mengalihkan berita-berita lain juga dalam menghilangkan waham dan karya-karya saya lainnya serta menjelaskan wajah-wajah kelemahan mereka.

(Perkara Ketujuh) ialah bahwa Ahli Kitab terdahulu dan belakangan memiliki kebiasaan yang selalu berlaku bahwa mereka umumnya menerjemahkan nama-nama dalam terjemahan mereka dan menghadirkan maknanya sebagai gantinya, dan ini adalah kesalahan besar dan sumber kerusakan, dan bahwa mereka menambah sesuatu pada suatu waktu dengan cara tafsiran dalam perkataan yang menurut pendapat mereka adalah perkataan Allah, dan mereka tidak menunjukkan perbedaannya. Kedua perkara ini sama halnya dengan perkara-perkara yang biasa bagi mereka, dan barangsiapa yang merenungkan terjemahan-terjemahan mereka yang beredar dalam bahasa-bahasa yang berbeda akan menemukan banyak bukti perkara-perkara tersebut, dan aku juga menghadirkan dengan cara contoh beberapa di antaranya.

  1. Dalam Ayat Keempat Belas dari Pasal Keenam Belas dari Kitab Kejadian dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1625, tahun 1831, dan tahun 1844 berbunyi: “Oleh karena itu ia menamai sumur itu: Sumur Penglihatan Hidupku” mereka menerjemahkan nama sumur yang dalam bahasa Ibrani dengan bahasa Arab.
  2. Dan dalam Ayat Keempat Belas dari Pasal Kedua Puluh Dua dari Kitab Kejadian dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1811 berbunyi: “Maka Abraham menamai tempat itu: Tuhan akan menyediakan” dan dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1844: “Dia menamai tempat itu: Tuhan Melihat” maka penerjemah pertama menerjemahkan nama Ibrani dengan “tempat Tuhan membalas budi penemu-penemuannya” dan penerjemah kedua dengan “Tuhan Melihat.”
  3. Dan dalam Ayat Kedua Puluh dari Pasal Tiga Puluh Satu dari Kitab Kejadian dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1625 dan tahun 1844 berbunyi: “Tetapi Yakub menyembunyikan hal itu dari mertuanya” dan dalam terjemahan bahasa Urdu yang diterbitkan tahun 1825 menyebutkan nama Laban sebagai ganti “mertuanya,” maka para penerjemah bahasa Arab meletakkan kata “mertuanya” sebagai ganti nama.
  4. Dan dalam Ayat Kesepuluh dari Pasal Empat Puluh Sembilan dari Kitab Kejadian dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1625 dan tahun 1844: “Tongkat pengawas tidak akan pergi dari Yehuda, dan pemberi perintah dari keturunannya sampai datang Dia yang akan disembah oleh semua bangsa” maka perkataannya “Dia yang akan disembah oleh semua bangsa” adalah terjemahan dari kata Shiloh dan terjemahan ini sesuai dengan terjemahan Yunani. Dan dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1811: “Tongkat pengawas tidak akan pergi dari Yehuda dan pemberi perintah dari bawah kekuasaannya sampai datang Dia yang miliknya dan kepadanya akan berkumpul bangsa-bangsa” dan penerjemah ini menerjemahkan kata Shiloh dengan “Dia yang miliknya” dan terjemahan ini sesuai dengan terjemahan Siria, dan penerjemah terkenalnya Le Clerc menerjemahkan kata ini dengan “akibatnya,” dan dalam terjemahan bahasa Urdu yang diterbitkan tahun 1825 terdapat kata Shila, dan dalam terjemahan Latin dari Witchet “Dia yang akan diutus.” Maka para penerjemah menerjemahkan kata Shiloh dengan apa yang tampak jelas dan kuat menurut mereka, dan kata ini adalah seperti nama bagi pribadi yang diberi kabar gembira.
  5. Dan dalam Ayat Keempat Belas dari Pasal Ketiga dari Kitab Keluaran dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1625 dan tahun 1844, Allah berfirman kepada Musa: “Aku adalah Aku” dan dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1811: “Dia berkata kepadanya: Yang Abadi yang Tiada Berakhir” maka kata “Aku adalah Aku” adalah seperti nama bagi zat-Nya, maka penerjemah kedua menerjemahkannya dengan “Yang Abadi yang Tiada Berakhir.”
  6. Dan dalam Ayat Kesebelas dari Pasal Kedelapan dari Kitab Keluaran dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1625 dan tahun 1844 berbunyi: “akan tetap tinggal di sungai” dan dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1811 berbunyi: “akan tetap tinggal di Sungai Nil.”
  7. Dan dalam Ayat Kelima Belas dari Pasal Ketujuh dari Kitab Keluaran dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1625 dan tahun 1844 berbunyi: “Musa membangun sebuah mezbah dan menamakannya: Tuhan Adalah Kebesaran Saya” dan dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1811: “dan membangun sebuah mezbah dan menamakannya: Tuhan adalah Tandaku” dan terjemahan bahasa Urdu sesuai dengan yang terakhir ini, maka aku berkata terlepas dari perbedaannya bahwa para penerjemah menerjemahkan nama Ibrani.
  8. Dan dalam Ayat Kedua Puluh Tiga dari Pasal Tiga Puluh dari Kitab Keluaran dalam kedua terjemahan yang disebutkan berbunyi: “dari minyak zaitun berkualitas tinggi” dan dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1811: “dari misk yang murni,” dan antara minyak zaitun dan misk terdapat perbedaan, maka mereka menafsirkan nama Ibrani dengan apa yang tampak kuat menurut mereka.
  9. Dan dalam Ayat Kelima dari Pasal Tiga Puluh Empat dari Kitab Ulangan dalam kedua terjemahan yang disebutkan berbunyi: “Maka di sana Musa, hamba Tuhan, meninggal” dan dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1811 berbunyi: “Maka di sana Musa, utusan Allah, meninggal” maka penerjemah-penerjemah ini jika mengganti dalam berita-berita gembira tentang Muhammad kata “utusan Allah” dengan kata lain, maka tidaklah aneh bagi mereka.
  10. Dan dalam Ayat Ketiga Belas dari Pasal Kesepuluh dari Kitab Yosua, dalam terjemahan yang diterbitkan tahun 1844 berbunyi: “Bukankah hal ini tertulis dalam Kitab Para Benar” dan dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1811: “Bukankah itu tertulis dalam Kitab Orang Lurus” dan dalam terjemahan bahasa Persia yang diterbitkan tahun 1838 kata “Yasar” menggantikan “Para Benar” atau “Orang Lurus.” Dan dalam terjemahan bahasa Persia yang diterbitkan tahun 1845 kata “Yashar.” Dan dalam terjemahan bahasa Urdu yang diterbitkan tahun 1835 kata “Yashaliha Yasar” atau “Yashar atau Yasha” adalah nama penulis kitab, maka para penerjemah bahasa Arab menerjemahkan nama ini menurut pendapat mereka dengan “Para Benar” atau “Orang Lurus.”
  11. Dan dalam Pasal Kedelapan dari Kitab Yesaya, dalam terjemahan bahasa Persia yang diterbitkan tahun 1839: “Dan Tuhan berfirman kepadaku: ‘Ambil sebuah gulungan besar dan tulislah di dalamnya dengan tulisan manusia dengan cepat mengambiil mangsanya dengan kecepatan’ … namai dia Dengan Cepat Mengambil Mangsanya.” dan terjemahan bahasa Urdu yang diterbitkan tahun 1825 sesuai dengan ini. Dan dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1844 berbunyi: “Tuhan berfirman kepadaku: Ambilah sebuah gulungan besar dan tulislah di dalamnya dengan tulisan manusia menyampaikan yang dirampas dengan cepat merampas dengan tergesa-gesa … namai dia: Dirampas dengan Cepat dan Merampas dengan Tergesa-gesa.” Dan dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1811 berbunyi: “Tuhan berfirman kepadaku: Ambilah sebuah gulungan utuh sebuah lembaran baru yang besar, dan tulislah di dalamnya dengan tulisan manusia yang tajam untuk meletakkan perampasan harta karena sudah tiba … namai dia: Merampas dengan Cepat dan Merampas Demi Penolong-Nya.” Maka nama anak itu adalah “Dengan Cepat Mengambil Mangsanya,” maka para penerjemah bahasa Arab menerjemahkan nama ini menurut pendapat mereka, dan mereka berbeda di antara mereka sendiri. Dan terlepas dari perbedaannya, penerjemah bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1811 menambahkan kata-kata dari dirinya sendiri, maka yang seperti ini jika mengganti dalam berita-berita gembira tentang Muhammad salallahu alaihi wasallam nama-nama dari nama-nama Nabi atau menambahkan sesuatu, maka tidaklah jauh dari mereka, karena perkara ini berasal dari mereka sesuai dengan kebiasaan mereka.
  12. Dan dalam Ayat Keempat Belas dari Pasal Kesebelas dari Injil Matius, dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1811 dan tahun 1844 berbunyi: “Jika kamu mau menerimanya, dialah Elia yang akan datang,” dan dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1816: “Jika kamu mau menerimanya, ini adalah Dia yang akan datang.” Maka penerjemah terakhir mengganti kata “Elia” dengan ini, maka yang seperti ini jika mengganti sebuah nama dari nama-nama Nabi salallahu alaihi wasallam dalam berita gembira, maka tidaklah mengherankan.
  13. Dan dalam Ayat Pertama dari Pasal Keempat dari Injil Yohanes dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1811, tahun 1831, dan tahun 1844 berbunyi: “Ketika Yesus mengetahui” dan dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1816, dan tahun 1860: “Ketika Tuhan mengetahui.” Maka kedua penerjemah terakhir mengganti kata “Yesus,” yang merupakan nama Isa alaihissalam, dengan “Tuhan” yang merupakan dari kata-kata pengagungan, maka jika mereka mengganti sebuah nama dari nama-nama Nabi salallahu alaihi wasallam dengan kata-kata penghinaan karena kebiasaan dan permusuhan mereka, maka tidaklah mengherankan. Dan bukti-bukti ini menunjukkan penerjemahan nama-nama, dan menghadirkan kata lain sebagai gantinya.

Catatan Kaki

[1] Dalam Pasal Dua Puluh Tujuh dari Injil Matius berbunyi: “Sekitar jam yang kesembilan berserulah Yesus dengan suara yang keras, katanya: Elohi, Elohi, lama sabaktani, yaitu: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku.” Dan dalam Pasal Lima Belas dari Injil Markus berbunyi: “Pada jam yang kesembilan berserulah Yesus dengan suara yang keras, katanya: Eloi, Eloi, lama sabaktani, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku.” Maka kata “yaitu: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku” dalam Injil Matius, dan demikian pula kata “yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku” dalam Injil Markus, keduanya bukanlah dari perkataan pribadi yang disalib dengan pasti, melainkan ditambahkan kepada perkataannya.

[2] Dalam Ayat Ketujuh Belas dari Pasal Ketiga dari Injil Markus berbunyi: “Dia menamai mereka Boanerges, yaitu Anak-anak Petir.” Maka kata “yaitu Anak-anak Petir” bukanlah dari perkataan Isa alaihissalam melainkan adalah penambahan.

[3] Dalam Ayat Empat Puluh Satu dari Pasal Kelima dari Injil Markus berbunyi: “Dia berkata kepadanya: Talita koum, yang berarti: Gadis, Aku berkata kepadamu, bangunlah!” Maka penafsiran ini adalah penambahan, bukanlah dari perkataan Isa alaihissalam.

[4] Dalam Ayat Tiga Puluh Empat dari Pasal Ketujuh dari Injil Markus dalam terjemahan yang diterbitkan tahun 1816: “Dan menengadah ke langit, lalu mengeluh dan berkata kepadanya: Efatha, yang berarti: Terbuka,” dan dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1811: “Dan menengadah ke langit, mengeluh, dan berkata: Efata, yang berarti: Terbuka.” Dan dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1844 berbunyi: “Dan menengadah ke langit, mengeluh, dan berkata kepadanya: Terbuka, yang berarti: Terbuka.” Dan dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1860 berbunyi: “Dan mengangkat pandangannya ke arah langit dan mendesah, serta berkata kepadanya: Efata, yaitu: Terbuka.” Dari ungkapan ini, meskipun tidak diketahui kebenaran kata Ibrani apakah itu “Efata” atau “Efata,” karena adanya perbedaan dalam terjemahan-terjemahan yang asal perbedaannya adalah ketidakbenaran kata-kata asalnya, namun diketahui dengan pasti bahwa kata “yaitu: Terbuka” atau “yang berarti: Terbuka,” adalah penambahan, bukanlah dari perkataan Isa alaihissalam. Dan keempat perkataan Kristiani ini yang aku alihkan dari catatan pertama hingga di sini, menunjukkan bahwa al-Masih alaihissalam berbicara dengan bahasa Ibrani yang merupakan bahasa kaumnya, dan bukan berbicara dengan bahasa Yunani, dan ini juga dekat dengan analogi, karena dia adalah seorang Ibrani anak dari seorang wanita Ibrani, tumbuh besar di antara kaumnya yang Ibrani. Maka perkataan-perkataannya ditransfer dalam Injil-injil ini dalam bahasa Yunani adalah transfer dengan makna, dan ini adalah perkara lain yang ditambahkan atas fakta bahwa perkataan-perkataannya diriwayatkan dengan riwayat ahad.

[5] Dalam Ayat Tiga Puluh Delapan dari Pasal Pertama, dari Injil Yohanes berbunyi: “Mereka berkata kepadanya: Rabbi, yang berarti: Guru.” Maka perkataannya “yang berarti: Guru” adalah penambahan, bukanlah dari perkataan keduanya.

[6] Dalam Ayat Empat Puluh Satu dari Pasal yang disebutkan dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1811 dan tahun 1844: “Kami telah menemukan Mesias, yang artinya: Kristus.” Dan dalam terjemahan bahasa Persia yang diterbitkan tahun 1816: (Kami telah menemukan Mesias, terjemahan kata Christos dinamakan) dan terjemahan bahasa Urdu yang diterbitkan tahun 1814 sesuai dengan Persia, maka diketahui dari kedua terjemahan bahasa Arab bahwa kata yang diucapkan Andraes adalah “Mesias” dan “Kristus” adalah terjemahannya, dan dari terjemahan Persia dan Urdu bahwa kata asalnya adalah “Kristus” dan “Christos” adalah terjemahannya, dan diketahui dari terjemahan bahasa Urdu yang diterbitkan tahun 1839 bahwa kata asalnya adalah “Khristus” dan “Kristus” adalah terjemahannya, maka tidak diketahui dari perkataannya bahwa kata asalnya apa, yaitu “Mesias” atau “Kristus” atau “Khristus,” dan meskipun kata-kata ini memiliki arti yang sama, namun tidak diragukan bahwa yang diucapkan oleh Andraes adalah salah satu dari ketiga kata ini dengan pasti, dan jika disebutkan kata dan penjelasannya, maka haruslah disebutkan kata asalnya terlebih dahulu, kemudian disebutkan penjelasannya. Namun aku meninggalkan hal ini dan berkata bahwa penjelasan yang diragukan, apa pun itu, adalah penambahan, bukanlah dari perkataan Andraes.

[7] Dalam Ayat Empat Puluh Dua dari Pasal Pertama dari Injil Yohanes, perkataan Isa alaihissalam tentang Petrus al-Hawari dalam terjemahan bahasa Arab tahun 1811 berbunyi: “Engkau akan dinamai Kefas, yang artinya: Batu.” Dan dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1816: “Engkau akan dinamai Batu yang dijelaskan dengan Kefas.” Dan dalam terjemahan bahasa Persia yang diterbitkan tahun 1816: (Engkau akan dinamai Kefa yang terjemahannya adalah Batu) semoga Allah menghujani batu atas penyelidikan dan pembetulan mereka. Tidaklah dapat dibedakan dari perkataannya antara yang dijelaskan dan yang menjelaskan, namun aku meninggalkan hal ini dan berkata bahwa penjelasan bukanlah dari perkataan al-Masih alaihissalam melainkan adalah penambahan, dan jika keadaan terjemahan mereka dan keadaan penyelidikan mereka tentang gelar ilahnya dan gelar khalifanya seperti yang telah kamu ketahui, maka bagaimana kita dapat berharap dari mereka kebenaran tetap terpeliharanya kata “Muhammad” atau “Ahmad” atau gelar dari gelar-gelarinya salallahu alaihi wasallam.

[8] Dalam Ayat Kedua dari Pasal Kelima dari Injil Yohanes mengenai kolam dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1844: “disebut dalam bahasa Ibrani Beit-Zata.” Dan dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1860: “dinamai dalam bahasa Ibrani Beit-Hesda.” Dan dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1811: “disebut dalam bahasa Ibrani Beit-Hesda, yaitu: Rumah Belas Kasihan.” Maka perbedaan antara “Zata,” “Hesda,” dan “Hesda,” meskipun merupakan hasil dari pembetulan mereka terhadap kitab-kitab samawi, namun aku meninggalkan hal itu dan berkata penerjemah terakhir menambahkan penjelasan dari dirinya sendiri dalam perkataan yang menurut pendapatnya adalah perkataan Allah, maka jika mereka menambahkan sesuatu dengan cara penjelasan dari diri mereka sendiri dalam berita-berita gembira tentang Muhammad salallahu alaihi wasallam, maka tidaklah jauh dari mereka.

[9] Dalam Ayat Tiga Puluh Enam dari Pasal Kesembilan dari Kitab Kisah Para Rasul berbunyi: “Adalah di Yafo seorang murid perempuan bernama Tabita, yang diterjemahkan berarti: Rusa.”

[10] Dalam Ayat Kedelapan dari Pasal Ketiga Belas dari Kitab Kisah Para Rasul, dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1844: “Mereka didakwa oleh Elimas si tukang sihir, karena demikian nama itu diterjemahkan.” Dan dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1860: “Mereka ditentang oleh Alim si tukang sihir, karena demikian nama itu diterjemahkan.” Dan dalam beberapa terjemahan bahasa Urdu kata “al-Mas,” dan dalam beberapa kata “al-Ma,” maka terlepas dari perbedaan apakah namanya “Elimas” atau “Alim” atau “al-Mas” atau “al-Ma,” aku berkata bahwa terjemahan namanya adalah penambahan.

[11] Di akhir Surat Paulus yang Pertama kepada Jemaat Korintus, dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1816: “Dan barangsiapa tidak mengasihi Kristus, maka sesungguhnya ia akan terkutuk, Marana Atha.” Dan dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1844 berbunyi: “Dan barangsiapa tidak mengasihi Tuhan kita Yesus Kristus, maka sesungguhnya ia akan terkucil, Marana Atha.” Dan dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1860: “Jika ada seorang yang tidak mengasihi Tuhan Yesus Kristus, maka sesungguhnya ia akan terkutuk, Anathema, Marana Atha.” Dan dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1811: “Barangsiapa tidak mengasihi Tuhan Yesus Kristus, maka sesungguhnya ia akan terpisah, Marana Atha, yaitu: Tuhan telah datang.” Maka terlepas dari kebenaran kata asalnya, aku berkata bahwa penerjemah terakhir telah menambahkan penjelasan dari dirinya sendiri dan berkata “yaitu: Tuhan telah datang.”

Dan inilah bukti-bukti tafsir. Telah terbukti dari apa yang kami sebutkan bahwa menerjemahkan nama-nama atau menggantinya dengan kata-kata lain, serta menambahkan tafsiran dari pihak mereka sendiri, adalah kebiasaan mereka sejak dahulu hingga sekarang. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika mereka menerjemahkan salah satu nama Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam atau menggantinya dengan kata lain, atau menambahkan sesuatu melalui cara tafsiran atau lainnya sedemikian rupa sehingga merusak istidlal menurut lahirnya. Dan tidak diragukan bahwa perhatian mereka dalam hal ini melampaui perhatian yang mereka miliki dalam melawan sekte-sekte mereka. Mereka tidak melalaikan tahrif dalam perlawanan mereka, sebagaimana yang Anda ketahui dari bab kedua dari ucapan Horn: “Bahwa hal ini juga terbukti bahwa beberapa tahrifan yang disengaja berasal dari mereka yang termasuk ahli agama dan keagamaan. Tahrifan-tahrifan ini diutamakan setelah mereka untuk mendukung suatu masalah yang diterima atau menolak keberatan yang masuk. Misalnya, ayat ketiga puluh tiga dari bab dua puluh dua dari Injil Lukas dengan sengaja ditinggalkan karena beberapa ahli agama berpikir bahwa memperkuat kerajaan untuk Tuhan bertentangan dengan ketuhanan-Nya. Dengan sengaja ditinggalkan dalam bab pertama dari Injil Matius, kata-kata ini sebelum mereka berkumpul di ayat delapan belas, dan kata-kata ini anak pertama mereka di ayat dua puluh lima, agar tidak terjadi keraguan terhadap keperjakaan abadi Maria Alaihas Salam. Dan kata dua belas diganti dengan sebelas di ayat kelima dari bab lima belas dari Surat Pertama kepada penduduk Korintus, agar tidak terjadi tuduhan kebohongan atas Paulus, karena Yudas Iskariot telah mati sebelumnya. Dan beberapa kata ditinggalkan di ayat tiga puluh dua dari bab tiga belas dari Injil Markus. Beberapa pembimbing juga menolak kata-kata ini karena mereka membayangkan bahwa mereka mendukung sekte Airin. Dan beberapa kata ditambahkan di ayat tiga puluh lima dari bab pertama dari Injil Lukas dalam terjemahan Siria, Persia, Arab, Etiopia dan terjemahan lainnya, dan dalam banyak naskah pembimbing dalam perlawanan terhadap sekte Yutius Kinius karena mereka menyangkal bahwa Isa memiliki dua sifat.” Akhir ucapannya.

Jika demikian kondisi ahli agama dan keagamaan seperti yang Anda ketahui, maka bagaimana pendapat Anda tentang mereka yang bukan ahli agama? Bahkan, kebenaran itu adalah bahwa tahrifan yang disengaja melalui pengubahan, penambahan, dan pengurangan adalah sifat mereka semua. Beberapa informasi yang disampaikan oleh para ulama pendahulu dari kalangan Islam, seperti Imam Al-Qurthubi dan lainnya, Anda tidak akan menemukannya sesuai dalam beberapa kata dengan terjemahan-terjemahan terkenal sekarang. Penyebabnya umumnya adalah perubahan ini, karena para ulama Islam ini mengutip dari terjemahan Arab yang beredar pada zaman mereka. Setelah waktu mereka berlalu, perbaikan terjadi pada terjemahan itu. Mungkin inilah alasan perbedaan terjemahan, namun yang pertama adalah yang diandalkan karena kami melihat bahwa kebiasaan ini masih berlaku hingga sekarang dalam terjemahan dan tulisan-tulisan mereka.

Tidakkah Anda melihat tentang “Mizan Al-Haq” bahwa naskahnya ada tiga. Naskah pertama adalah naskah lama yang dirujuki oleh penulis “Al-Istifsar”. Ketika dia merujuknya dan penulisnya menyadari, dia memperbaiki naskah lama itu. Dia menambah di beberapa tempat, mengurangi di tempat lain, dan mengubah di tempat lain. Kemudian naskah yang sudah diperbaiki ini dicetak dan tulisan jawaban atas “Al-Istifsar” ditulis dan dinamakan “Hal Al-Ishkal”. Kemudian tulisan bantahan atas naskah kedua “Mizan Al-Haq” ditulis, dan setiap tempat di mana naskah yang baru ini berbeda dengan naskah lama diberitahukan, dan dinamakan “Mu’addil I’wijaj Al-Mizan”.

Namun buku saya ini tidak dicetak di India karena beberapa peristiwa. Dan salah seorang sahabat saya menulis bantahan atas “Hal Al-Ishkal” dalam menjawab “Al-Istifsar” dan menamakannya “Al-Istibsyar”, dan bantahan ini dicetak dan menjadi terkenal di India. Pada waktu pencetakannya dan menjadi terkenalnya, penulis “Mizan Al-Haq” berada di India. Sepuluh tahun berlalu setelah pencetakannya dan penulis yang dimaksud tidak menulis apa pun dalam jawabannya. Saya mendengar dari beberapa orang terpercaya bahwa dia memperbaiki “Mizan” untuk ketiga kalinya yang dia cetak dengan bahasa Turki dan mengubah di tempat-tempat di mana dia melihat perubahan itu perlu. Misalnya perubahan di awal bagian kedua dari bab pertama dan lainnya.

Barangsiapa yang melihat “Al-Istifsar” dan naskah lama “Mizan” tidak sampai kepadanya, melainkan naskah kedua atau ketiga sampai kepadanya, dan dia ingin mengoreksi pernyataan penulis “Al-Istifsar” tentang ucapan penulis “Mizan” dengan kedua naskah ini, dia akan menemukannya tidak sesuai dengan keduanya di beberapa tempat. Demikian juga barangsiapa yang melihat “Mu’addil I’wijaj Al-Mizan”, dan naskah pertama maupun kedua tidak sampai kepadanya, melainkan naskah ketiga bahasa Turki yang sampai kepadanya, dan dia ingin mengoreksi pernyataan dengan naskah Turki ini, dia akan menemukan di beberapa tempat pernyataan itu sesuai dengannya. Jika dia tidak menyadari perubahan dan perbaikan ini, dia akan mengira bahwa pembantah dan yang mengutip salah dalam mengutip, padahal tidak demikian. Melainkan hal ini terjadi dari adanya perubahan dan tahrifan pada yang dibantah, sementara pembantah dan yang mengutip benar. Intinya adalah bahwa perbaikan dan tahrifan seperti ini terus berlangsung dalam buku-buku, terjemahan-terjemahan, dan surat-surat mereka hingga saat ini.

(Masalah Kedelapan) Bahwa Paulus, meskipun menurut kalangan Trinitas berada dalam tingkatan para Rasul, namun dia tidak diterima di mata kami dan kami tidak menganggapnya dari orang-orang yang beriman dengan ikhlas, melainkan dari para munafik pembohong dan pengajar-pengajar palsu serta rasul-rasul penipu yang muncul dalam jumlah besar setelah kenaikan Almasih, sebagaimana yang Anda ketahui dalam masalah keempat. Dia merusak agama Kristen dan menghalalkan setiap yang diharamkan bagi pengikutnya. Pada awalnya dia menyakiti kelompok pertama orang-orang Kristen secara terang-terangan. Namun ketika dia melihat bahwa penyakitan terang-terangan ini tidak memberikan hasil yang signifikan, dia masuk melalui cara kemunafikan dalam agama ini dan mengklaim kenabian dari Almasih dan menampilkan zahir yang asketis. Maka dia melakukan dalam tabir ini apa yang dia lakukan. Kalangan Trinitas menerima dia karena asketisnya yang lahiriah dan karena pembebasan tanggung jawab mereka dari semua beban-beban syariat. Sebagaimana banyak orang-orang Kristen pada abad kedua menerima Montanus yang asketis dan bertapak serta mengklaim bahwa dia adalah Al-Faraqlith yang dijanjikan, mereka menerima dia karena asketisnya dan pertapaannya, sebagaimana akan disebutkan nanti dalam basyarat kedelapan belas, dan para muhaqqiq dari ulama Islam sejak dahulu hingga sekarang menolaknya.

Imam Al-Qurthubi Rahimahullah berkata dalam bukunya tentang hal Paulus ini, menjawab salah seorang pendeta dalam pembahasan masalah puasa demikian: “Kami katakan bahwa dia, yaitu Paulus, adalah orang yang merusak agama kalian dan membutakan pandangan dan pikiran kalian. Dialah yang mengubah agama Almasih yang benar, yang kalian tidak pernah mendengar kabar tentangnya atau menemukan jejak darinya. Dialah yang mengalihkan kalian dari Kiblat dan menghalalkan bagi kalian setiap yang diharamkan dalam agama, dan oleh karena itu banyaknya keputusan-keputusannya di mata kalian dan kalian tukar-menukar di antara kalian.” Akhir ucapannya.

Penulis “Tajhil Al-Injil” berkata dalam bab kesembilan dari bukunya, dalam menjelaskan aib-aib orang Kristen tentang hal Paulus ini demikian: “Paulus ini telah merampas mereka dari agama dengan tipu muslihat yang halus karena dia melihat akal pikiran mereka menerima apa pun yang disampaikan kepadanya, dan orang jahat ini telah menghapus jejak-jejak Taurat.” Akhir ucapannya.

[Dan dalam jilid kedua dari “Futuh As-Sham” ada perkataan Maqawqis Sultan Mesir dalam suratnya kepada jajaran pemerintahannya demikian: “Paulus telah menyesatkan kalian dan menggodanya ketika dia membohongi kalian dan mengubah syariat kalian dan menamakan kalian dengan nama yang tidak layak bagi kalian. Dan bagaimana mungkin dia mengembalikan kalian dari jalan yang jelas dan menghalalkan bagi kalian semua yang diharamkan atas kalian sebelumnya, dan ini adalah suatu kemustahilan dan sebab kebutaan bahwa kalian melampui apa yang dikatakan nabi kalian. Dan bagaimana pantas ruh Allah Isa bin Maryam Alaihi Assalam berbicara kepada kalian dengan apa yang Allah tidak utus kepadanya. Kemudian sesungguhnya Paulus mengatakan kepada kalian bahwa dia menghalalkan bagi kalian babi dan minuman keras dan melakukan maksiat apa yang nampak dan apa yang tersembunyi. Maka kalian mematuhi perintahnya dan membenarkan ucapannya. Murni bagi Almasih untuk melakukan hal itu.” Akhir ucapannya.

Dan Yukhanna penduduk Aleppo, yang telah masuk Islam, berkata dalam suratnya kepada putrinya yang memberi nasehat kepadanya demikian: “Sesungguhnya yang membohongi orang-orang Kristen dan menyimpangkan mereka dari jalan kebenaran adalah seorang laki-laki yang bernama Paulus, dia adalah dari kaum Yahudi, telah menyesatkan mereka dari jalan yang lurus dan membuat bagi mereka kesesatan yang lama.” Akhir ucapannya.]

Demikianlah perkataan-perkataan ulama kami yang lain. Maka ucapannya menurut kami tertolak dan surat-suratnya yang tercakup dalam “Al-Ahd Al-Atiq” semuanya wajib ditolak dan kami tidak akan membeli ucapannya dengan satu biji sesawi. Oleh karena itu aku tidak akan mengutip dari ucapan-ucapannya dalam jalan ini sesuatu pun dan ucapannya tidak akan menjadi hujjah atas kami.

Apabila Anda telah mengetahui delapan masalah ini, maka aku mengatakan bahwa informasi yang terjadi tentang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam masih banyak ditemukan hingga sekarang pula sekalipun telah terjadi tahrifan dalam kitab-kitab ini. Barangsiapa yang pertama kali mengetahui cara informasi nabi yang didahulukan atas nabi yang dikemudiankan sebagaimana yang Anda ketahui dalam masalah kedua, kemudian kedua kalinya memandang dengan pandangan yang adil kepada informasi-informasi ini dan membandingkannya dengan informasi yang disampaikan oleh para penginjil tentang Isa Alaihi Assalam, dan Anda telah mengetahui beberapa potongan darinya dalam masalah keenam, maka dia akan meyakini bahwa informasi-informasi tentang Muhammad dalam tingkat kekuatan yang sangat tinggi. Dan aku akan mengutip dalam jalan ini dari kitab-kitab yang dihormati di kalangan ulama Protestan delapan belas basyarat.

BASYARAT-BASYARAT:

Basyarat Pertama

Dalam Bab Delapan Belas dari Kitab Taurat (Deuteronium):

17 “Lalu Tuhan berfirman kepadaku: Benar semua yang mereka katakan.”

18 “Aku akan membangkitkan bagi mereka seorang nabi dari tengah-tengah saudara-saudara mereka seperti engkau, dan Aku akan menaruh firman-firman-Ku dalam mulutnya, dan dia akan menyampaikan kepada mereka segala yang Aku perintahkan kepadanya.”

19 “Barangsiapa yang tidak mendengarkan perkataan nabi itu yang akan diucapkan atas nama-Ku, maka Aku sendiri akan meminta pertanggungan jawab dari padanya.”

20 “Tetapi nabi yang berani bercakap dengan sesuatu dalam nama-Ku yang tidak Aku suruh dikatakan, atau yang bercakap atas nama allah-allah lain, nabi itu haruslah dihukum mati.”

21 “Jika engkau berkata dalam hatimu: Bagaimana aku akan mengenal firman yang tidak telah difirmankan oleh Tuhan?”

22 “Ketahuilah bahwa apabila seorang nabi bercakap atas nama Tuhan dan apa yang dikatakannya tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah suatu firman yang bukan dari Tuhan; nabi itu telah bercakap dengan sombong, jangan merasa takut kepadanya.”

Basyarat ini bukan basyarat tentang Yusha Alaihi Assalam sebagaimana yang didakwakan oleh rabbi-rabbi Yahudi sekarang, dan bukan pula basyarat tentang Isa Alaihi Assalam sebagaimana yang didakwakan oleh ulama Protestan, melainkan basyarat tentang Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam karena sepuluh alasan:

(Alasan Pertama) Anda telah mengetahui dalam masalah ketiga bahwa orang-orang Yahudi yang hidup semasa Isa Alaihi Assalam menunggu seorang nabi lain yang dijanjikan dalam bab ini, dan orang yang dijanjikan ini menurut mereka bukan Almasih. Oleh karena itu, orang yang dijanjikan ini bukan Yusha dan bukan Isa Alaihi Assalam.

(Alasan Kedua) Dalam basyarat ini terdapat lafaz “seperti engkau” dan Yusha serta Isa Alaihi Assalam tidak mungkin sama seperti Musa Alaihi Assalam. Pertama: karena keduanya dari Bani Isra’il, dan tidak boleh seorang pun dari Bani Isra’il menjadi sama seperti Musa sebagaimana ditunjukkan oleh ayat kesepuluh dari bab tiga puluh empat dari Kitab Taurat: 5 “Tidak ada lagi seorang nabi di antara Bani Isra’il seperti Musa, yang kenal Tuhan itu muka muka.” Jika ada seorang pun dari Bani Isra’il yang sama seperti Musa setelahnya, maka ini menyalahkan ucapan ini. Kedua: karena tidak ada persamaan sempurna antara Yusha dan Musa Alaihi Assalam, karena Musa Alaihi Assalam adalah pemilik kitab dan syariat baru yang mengandung perintah dan larangan, sementara Yusha tidaklah demikian, melainkan dia pengikut syariatnya. Demikian juga tidak ada persamaan sempurna antara Musa dan Isa Alaihi Assalam, karena menurut keyakinan orang Kristen, Isa Alaihi Assalam adalah Tuhan dan Rabb, sementara Musa Alaihi Assalam adalah hamba-Nya. Dan menurut keyakinan mereka, Isa Alaihi Assalam menjadi terkutuk untuk syafaat para makhluk sebagaimana dinyatakan oleh Paulus dalam bab ketiga dari suratnya kepada penduduk Galatia, sementara Musa Alaihi Assalam tidak menjadi terkutuk untuk syafaat mereka. Dan Isa Alaihi Assalam memasuki neraka setelah kematiannya sebagaimana dinyatakan dalam aqidah kalangan Trinitas, sementara Musa Alaihi Assalam tidak memasuki neraka. Dan Isa Alaihi Assalam menurut keyakinan orang Kristen disalib untuk menjadi tebusan bagi umatnya, sementara Musa Alaihi Assalam tidak menjadi tebusan bagi umatnya dengan penyaliban. Dan syariat Musa mengandung hudud, takzir, hukum-hukum ghusl dan kesucian serta haramnya dari makanan dan minuman, berbeda dengan syariat Isa Alaihi Assalam, yang kosong darinya sebagaimana dibuktikan oleh injil yang tersebar di antara mereka. Dan Musa Alaihi Assalam adalah pemimpin yang ditaati dalam kaumnya karena terlaksananya perintah dan larangannya, sementara Isa Alaihi Assalam tidak demikian.

(Alasan Ketiga) Dalam basyarat ini terdapat lafaz “dari tengah-tengah saudara-saudara mereka”, dan tidak diragukan bahwa dua belas suku dengan jelas ada pada waktu itu bersama Musa Alaihi Assalam hadir di sisinya. Jika yang dimaksudkan adalah bahwa nabi yang dijanjikan adalah dari mereka, dia akan mengatakan “dari mereka” bukan “dari tengah-tengah saudara-saudara mereka”. Karena penggunaan sejati dari lafaz ini adalah bahwa orang yang dijanjikan tidak memiliki hubungan keturunan paternal dan maternal dengan Bani Isra’il sebagaimana datang lafaz persaudaraan dengan penggunaan sejati ini dalam janji Allah kepada Hajar tentang Ismail Alaihi Assalam dalam ayat dua belas dari bab enam belas dari Kitab Kejadian, dan artinya dalam terjemahan Arab yang dicetak tahun 1844 demikian: “Dan di hadapan semua saudara-saudaranya akan dia tinggal” dan dalam terjemahan Arab yang dicetak tahun 1811 demikian: “Di antara semua saudara-saudaranya akan dia diam.” Dan datang dengan penggunaan ini juga dalam ayat delapan belas dari bab dua puluh lima dari Kitab Kejadian tentang Ismail dalam terjemahan Arab yang dicetak tahun 1844 demikian: “Di hadapan semua saudara-saudaranya dia akan diam.” Dan dalam terjemahan Arab yang dicetak tahun 1811 demikian: “Di antara semua saudara-saudaranya dia mendirikan.” Dan yang dimaksudkan dengan persaudaraan di sini adalah anak-anak Esau dan Ishak dan selain mereka dari anak-anak Ibrahim Alaihi Assalam.

Dan dalam ayat empat belas dari bab dua puluh dari Kitab Bilangan demikian: “Kemudian Musa mengutus utusan dari Kadesy kepada raja Edom berkata demikian: Begini kata saudaramu Isra’il bahwa engkau telah mengetahui semua kesusahan yang menimpa kami.” Dan dalam bab kedua dari Kitab Taurat demikian: 2 “Lalu firman Tuhan kepadaku” 4 “Perintahkan kepada Rakyat itu: Kalian akan melewati wilayah saudara-saudara kalian, anak-anak Esau yang tinggal di Seir, dan mereka akan takut kepada kalian.” 8 “Setelah kami lewat dari saudara-saudara kami, anak-anak Esau yang menempati Seir dan sebagainya.”

Dan yang dimaksudkan dengan saudara-saudara Bani Isra’il adalah anak-anak Esau. Dan tidak diragukan bahwa penggunaan lafaz saudara-saudara Bani Isra’il pada sebagian mereka sebagaimana datang di beberapa tempat dalam Taurat adalah penggunaan majazi. Dan sesungguhnya kenyataan tidak ditinggalkan dan tidak beralih kepada makna majazi jika tidak ada penghalang yang kuat melarang pembebanan pada makna sejati. Dan Yusha dan Isa Alaihi Assalam keduanya dari Bani Isra’il, oleh karena itu basyarat ini tidak berlaku atas keduanya.

(Alasan Keempat) Dalam basyarat ini terdapat lafaz “Aku akan membangkitkan”, dan Yusha Alaihi Assalam berada di sisi Musa Alaihi Assalam, termasuk dalam Bani Isra’il, seorang nabi pada waktu itu. Maka bagaimana lafaz ini berlaku atas dirinya?

(Alasan Kelima) Dalam basyarat ini terdapat lafaz “Aku akan menaruh firman-firman-Ku dalam mulutnya”, dan ini adalah isyarat bahwa nabi itu akan diturunkan kepadanya kitab, dan bahwa dia akan menjadi seorang yang ummi dan hafiz perkataan, dan hal ini tidak berlaku atas Yusha Alaihi Assalam karena ketiadaan kedua perkara ini pada dirinya.

(Alasan Keenam) Dalam basyarat ini terdapat “Barangsiapa yang tidak mendengarkan perkataan nabi itu, maka Aku sendiri akan meminta pertanggungan jawab dari padanya.” Hal ini disebutkan untuk memuliakan nabi yang dijanjikan itu, maka haruslah orang yang dijanjikan itu menonjol dengan hal ini di antara nabi-nabi lain. Oleh karena itu, tidak boleh yang dimaksudkan dengan pertanggungan jawab adalah azab akhirat yang ada di neraka, atau musibah dan hukuman duniawi yang menimpa para penolak dari ghaib, karena pertanggungan jawab ini tidak khusus untuk penolakan atas nabi tertentu melainkan mencakup semua nabi. Maka pada saat itu yang dimaksudkan dengan pertanggungan jawab adalah pertanggungan jawab legislatif. Maka terjelaskan darinya bahwa nabi ini diperintahkan oleh Allah untuk mengambil pertanggungan jawab dari para penolaknya. Oleh karena itu hal ini tidak berlaku atas Isa Alaihi Assalam karena syariatnya kosong dari hukum-hukum hudud, qisas, takzir, dan jihad.

(Alasan Ketujuh) Dalam bab ketiga dari Kitab Kisah Para Rasul dalam terjemahan Arab yang dicetak tahun 1844 demikian: “Oleh karena itu bertobatlah dan berpalinglah, supaya dihapuskan dosa-dosamu, 20 agar tibalah masa-masa kesenangan dari hadapan Tuhan, dan supaya Dia mengutus Kristus yang telah ditentukan untuk kalian, yaitu Yesus, 21 yang langit harus menerima sampai waktu pemulihan segala sesuatu yang telah difirmankan Allah melalui mulut nabi-nabi-Nya yang kudus sejak dahulu kala, 22 sebab Musa berkata: Tuhan Allah kalian akan membangkitkan bagi kalian seorang nabi dari antara saudara-saudara kalian seperti aku, kepada dia harus kalian mendengarkan dalam segala sesuatu yang dikatakannya kepada kalian, 23 dan setiap orang yang tidak mendengarkan nabi itu akan dibinasakan dari antara umat.”***

Dalam terjemahan Persia yang diterbitkan tahun 1816, 1828, 1841, dan 1842, demikianlah bunyinya:

  1. Supaya kamu ditanam di tempat baru dan dapat merasakan kehadiran Tuhan di waktu yang baru.
  2. Dan Yesus Kristus akan dikirim kembali kepadamu.
  3. Karena langit harus menahan-Nya sampai waktu pembuktian segala sesuatu yang telah difirmankan Allah melalui mulut nabi-nabi kudus-Nya sejak zaman dahulu.
  4. Musa berkata kepada bapak-bapak kita: Tuhan Tuhan kamu akan membangkitkan seorang nabi seperti aku dari antara saudara-saudara kamu. Apa pun yang dikatakannya kepada kamu, kamu harus mematuhinya.
  5. Dan barang siapa tidak mendengarkan perkataan nabi itu, akan diputuskan dari umatnya.

Ungkapan ini, khususnya menurut terjemahan-terjemahan Persia, dengan jelas menunjukkan bahwa nabi ini bukan Yesus Kristus semata-mata, dan bahwa Kristus harus diterima oleh langit sampai waktu munculnya nabi ini.

Penjelasan tentang Kedustaan Klaim Protestan

Bagi orang-orang Kristen yang meninggalkan fanatisme salah, dan merenungkan perkataan Petrus, pernyataan Petrus ini cukup untuk membatalkan klaim para sarjana Protestan bahwa berita gembira ini adalah tentang Yesus semata-mata. Ketujuh aspek yang telah saya sebutkan semuanya berlaku dengan kebenaran yang paling sempurna bagi Muhammad Rasulullah ﷺ, karena ia bukan Yesus semata-mata dan menyerupai Musa semata-mata dalam banyak hal:

[1] Bahwa dia adalah hamba Allah dan rasul-Nya. [2] Bahwa dia memiliki orang tua. [3] Bahwa dia menikah dan memiliki anak-anak. [4] Bahwa hukum-Nya mencakup urusan-urusan pemerintahan sipil. [5] Bahwa dia diperintahkan untuk berjihad. [6] Bahwa kesucian pada saat beribadah disyaratkan dalam hukum-Nya. [7] Bahwa ghusl wajib bagi yang junub, menstruasi, dan nifas dalam hukum-Nya. [8] Bahwa kesucian pakaian dari urin dan feses disyaratkan. [9] Bahwa daging binatang yang tidak disembelih dan persembahan berhala adalah haram. [10] Bahwa hukum-Nya mencakup ibadah-ibadah jasmani dan latihan-latihan raga. [11] Bahwa dia memerintahkan had zina. [12] Penetapan hukuman, ta’zir, dan qisas. [13] Bahwa dia mampu menjalankannya. [14] Pengharaman riba. [15] Bahwa dia memerintahkan mengingkari mereka yang mengajak kepada selain Allah. [16] Bahwa dia memerintahkan tauhid khusus. [17] Bahwa dia memerintahkan umatnya untuk mengatakan kepadanya: “Anda adalah hamba Allah dan rasul-Nya,” bukan “anak Allah” atau “Allah semata-mata, kami berlindung kepada Allah.” [18] Bahwa dia meninggal di atas tempat tidur. [19] Bahwa dia dikuburkan seperti Musa semata-mata. [20] Bahwa dia tidak dilaknat karena umatnya. Dan demikianlah hal-hal lain yang akan terlihat ketika kedua hukum mereka direnungkan. Oleh karena itu, Allah Yang Maha Tinggi berfirman dalam firman-Nya yang megah:

“Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu seorang Rasul yang menjadi saksi atas kamu, sebagaimana Kami telah mengutus kepada Firaun seorang Rasul.” (Deuteronomium 18:15-18)

Dan dia adalah dari saudara-saudara Bani Israel karena dia dari Bani Ismail. Kitab telah diturunkan kepadanya dan dia adalah ummi, membuat firman Allah di mulutnya, dan dia berbicara dengan wahyu sebagaimana Allah Yang Maha Tinggi berfirman:

“Dan dia tidak berbicara atas hawa nafsunya. Itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.” (Surah Al-Ajal 53:3-4)

Dan dia diperintahkan untuk berjihad, dan Allah membalas dendam karena dia terhadap para pemimpin Quraisy dan para penguasa Persia dan Romawi dan lainnya. Dan dia muncul sebelum Yesus turun dari langit, dan adalah patut bagi langit untuk menerima Yesus semata-mata sampai munculnya Nabi Muhammad ﷺ untuk mengembalikan segala sesuatu ke asal-usulnya, dan menghapuskan kesyirikan dan trinitas serta penyembahan berhala. Tidak ada seorang pun yang meragu tentang banyaknya pengikut trinitas di zaman akhir ini, karena Rasul yang jujur dan dipercaya telah memberitahu kami dengan penjelasan yang paling lengkap dan cara yang paling sempurna, sehingga tidak ada keraguan tentang banyaknya mereka pada waktu menjelang munculnya Mahdi Radhiyallahu ‘anhu. Dan waktu ini sudah dekat, insyallah. Dan Imam akan muncul dan kebenaran akan muncul dengan segera, dan agama akan seluruhnya untuk Allah. Semoga Allah menjadikan kami termasuk penolong dan pelayan-Nya. Amin.

Aspek Kedelapan: Tentang Ancaman Pembunuhan bagi Nabi Dusta

Aspek kedelapan adalah bahwa dalam berita gembira ini, dijelaskan dengan tegas bahwa nabi yang mengatakan kepada Allah apa yang tidak diperintahkan akan dibunuh. Jika Muhammad Rasulullah ﷺ bukan benar-benar seorang nabi, dia akan dibunuh. Allah juga berfirman dalam Al-Qur’an yang mulia:

“Dan jika dia membuat-buat beberapa ucapan terhadap Kami, pasti Kami akan menangkap dia pada tangan kanan, kemudian pasti Kami akan memotong urat nadi lehernya.” (Surah Al-Haqqah 69:44-46)

Namun dia tidak dibunuh. Sebaliknya, Allah berfirman tentangnya:

“Dan Allah akan melindungimu dari (kejahatan) manusia.” (Surah Al-Maidah 5:67)

Dan Allah memenuhi janji-Nya. Tidak ada seorang pun yang dapat membunuhnya sampai dia bertemu dengan Rabb-nya di tempat tertinggi semata-mata, Rasulullah ﷺ. Adapun Yesus semata-mata, dia dibunuh dan disalib menurut klaim Ahlul Kitab. Jadi jika berita gembira ini tentang dia, maka akan mengikuti bahwa dia adalah nabi yang berbohong, sebagaimana yang didakwakan oleh orang-orang Yahudi. Kami berlindung kepada Allah.

Aspek Kesembilan: Tentang Kebenaran Berita Ghaib

Aspek kesembilan adalah bahwa Allah telah menjelaskan tanda-tanda nabi yang berbohong: bahwa pemberitaannya tentang hal-hal ghaib di masa depan tidak akan keluar dengan benar. Namun Muhammad Rasulullah ﷺ memberitakan tentang banyak hal-hal yang akan datang, sebagaimana telah diketahui dalam metode pertama, dan kebenaran pemberitaannya tentang hal-hal itu telah terbukti. Oleh karena itu, dia adalah nabi yang jujur, bukan nabi yang berbohong.

Aspek Kesepuluh: Tentang Pengakuan Ulama Yahudi

Aspek kesepuluh adalah bahwa para ulama Yahudi mengakui bahwa dia adalah yang dikabarkan dalam Taurat. Sebagian dari mereka masuk Islam dan sebagian tetap dalam kekufuran. Demikian pula, Kayafa, yang adalah kepala imam dan nabi menurut klaim Yohanes, mengetahui bahwa Yesus adalah Masih yang dijanjikan, namun dia tidak beriman. Sebaliknya, dia memberi fatwa tentang kekufurannya dan pembunuhannya, sebagaimana dijelaskan oleh Yohanes dalam pasal 11 dan 18 dari Injilnya.

Cerita Mukhairik

Dari hadits tentang Mukhairik, yang adalah seorang rabi yang terpelajar, sangat kaya dengan pohon kurma, dan mengenal Rasulullah ﷺ dengan ciri-cirinya. Namun cinta terhadap agamanya mengalahkannya, sehingga dia tetap seperti itu sampai hari Uhud, yang merupakan hari Sabtu. Dia berkata: “Wahai kaum Yahudi! Demi Allah, sesungguhnya kamu mengetahui bahwa kemenangan Muhammad atas kamu adalah hak.” Mereka berkata: “Tetapi hari ini adalah hari Sabtu.” Dia berkata: “Tidak ada Sabtu.” Kemudian dia mengambil senjatanya dan keluar sampai dia datang kepada Rasulullah ﷺ pada hari Uhud, yang merupakan hari Sabtu. Dan dia berwasiat kepada orang-orang yang tertinggal dari kaumnya: “Jika aku dibunuh pada hari ini, maka hartaku adalah untuk Muhammad, jadilah apa yang Allah menghendaki dengannya.” Maka dia bertempur sampai dia dibunuh. Rasulullah ﷺ kemudian berkata: “Mukhairik adalah sebaik-baik orang Yahudi.” Rasulullah ﷺ kemudian mengambil hartanya, dan kebanyakan sedekah Rasulullah ﷺ di Madinah berasal dari harta Mukhairik.

Hadits dari Abu Hurairah

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ datang ke rumah sekolah (Yahudi) dan berkata: “Keluarkan orang-orang paling alim di antara kamu.” Maka Abdullah bin Saurah keluar. Rasulullah ﷺ menyendirikan dirinya dengannya dan bersumpah demi agamanya dan apa yang Allah berikan kepada mereka dan memberi mereka manna dan salwa dan menaungi mereka dengan awan: “Apakah kamu mengetahui bahwa aku adalah Rasul Allah?” Dia menjawab: “Ya, demi Allah.” Dan kaum mengetahui apa yang aku ketahui. Dan ciri-cirimu dan sifat-sifatmu jelas dalam Taurat. Namun mereka membencimu.” Rasulullah ﷺ bertanya: “Apa yang mencegahmu (untuk beriman)?” Dia menjawab: “Aku membenci pertentangan dengan kaumku. Mungkin mereka akan mengikutimu dan masuk Islam.” Maka dia masuk Islam.

Hadits dari Shafiyyah binti Huyai

Dari Shafiyyah binti Huyai Radhiyallahu ‘anha: Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah dan tinggal di Quba, ayahku Huyai bin Akhtab dan pamanku Abu Yasir bin Akhtab datang kepadanya di pagi hari dengan wajah yang murung. Mereka tidak kembali sampai matahari terbenam. Ketika mereka datang, mereka tampak lelah, malas, dan lesu. Mereka berjalan perlahan-lahan. Aku merasa senang melihat mereka, namun mereka tidak mengalihkan perhatian kami. Kemudian aku mendengar pamanku Abu Yasir berkata kepada ayahku: “Apakah dia (orang yang dikabarkan dalam Taurat)?” Ayahku menjawab: “Ya, demi Allah.” Pamannya berkata: “Apakah kamu mengenalinya dan mempercayainya?” Ayahku menjawab: “Ya.” Pamannya berkata: “Lalu apa yang ada dalam hatimu tentang dia?” Ayahku menjawab: “Permusuhan selamanya, demi Allah.”

Sepuluh tahun penuh pertentangan telah berlalu sejak saat itu.

Penjelasan tentang Saudara-saudara Bani Israel

Jika dikatakan bahwa saudara-saudara Bani Israel tidak terbatas pada Bani Ismail, karena Bani Esau dan anak-anak Qatura, istri Abraham semata-mata, juga termasuk saudara-saudara mereka, aku berkata: Ya, ini juga termasuk saudara-saudara Bani Israel. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang tampil dengan ciri-ciri yang disebutkan, dan Allah juga tidak memberikan janji kepada mereka. Sebaliknya, dengan Bani Ismail, Allah memberikan janji kepada Abraham semata-mata dan Hajar semata-mata. Selain itu, tidak pantas bahwa perwujudan berita ini adalah Bani Esau, sesuai dengan apa yang diminta oleh doa Ishak semata-mata, sebagaimana dijelaskan dalam pasal 27 dari Kitab Kejadian.

Dua Keberatan Sarjana Protestan

Para sarjana Protestan memiliki dua keberatan, yang dikutip oleh penulis Al-Mizan dalam bukunya yang disebut “Halli Al-Isykal fi Jawabi Al-Istifsar”:

Keberatan Pertama

Keberatan pertama adalah bahwa di ayat 15 dari pasal 18 Kitab Ulangan, demikianlah bunyinya: “Tuhan Tuhan kamu akan membangkitkan seorang nabi dari antara kamu, dari antara saudara-saudara kamu.” Ungkapan “dari antara kamu” dengan jelas menunjukkan bahwa nabi ini harus dari Bani Israel, bukan dari Bani Ismail.

Jawaban untuk Keberatan Pertama

Jawaban atas hal ini adalah bahwa ungkapan yang disebutkan tidak bertentangan dengan maksud kami. Karena ketika Muhammad Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah dan di sana perangkatnya menjadi sempurna, Madinah dikelilingi oleh negeri-negeri Yahudi seperti Khaibar, Bani Qainuqa, Bani Nadhr, dan lainnya. Oleh karena itu, dia bangkit dari antara mereka. Dan jika dia adalah dari saudara-saudara mereka, maka dia bangkit dari antara mereka. Dan ungkapan “dari antara saudara-saudara kamu” adalah pengganti dari ungkapan “dari antara kamu,” pengganti berisi menurut pendapat Ibnu Al-Hajib dan pengikutnya yang mengatakan bahwa hubungan ketidakseluruhan cukup untuk mewujudkan pengganti ini, seperti “Zaid datang kepadaku, saudaranya,” dan “Zaid datang kepadaku, hambanya.” Atau pengganti perubahan menurut pendapat Ibnu Malik. Dan dengan kedua perhitungan ini, yang diganti bukan yang dimaksud. Dan bukti bahwa itu bukan yang dimaksud adalah bahwa ketika Musa semata-mata mengulangi janji ini dari perkataan Allah di ayat 18, ungkapan “dari antara kamu” tidak ditemukan di dalamnya. Dan Petrus Rasul juga menceritakan perkataan ini, dan ungkapan ini tidak ditemukan di dalamnya, sebagaimana telah diketahui dalam aspek ketujuh. Demikian pula, Stefanus juga menceritakannya, dan ungkapan ini juga tidak ditemukan dalam ceritanya, sebagaimana dijelaskan dalam pasal 7 dari Kitab Perbuatan-perbuatan, dan ungkapannya demikianlah: “Inilah Musa yang mengatakan kepada Bani Israel: Tuhan kamu akan membangkitkan seorang nabi seperti aku dari antara saudara-saudara kamu. Kepada dia kamu akan mendengarkan.” Penghilangan di tempat-tempat ini adalah bukti bahwa itu bukan yang dimaksud. Oleh karena itu, kemungkinan pengganti sangat kuat. Penulis Al-Istifsar berkata: “Ungkapan ‘dari antara kamu’ adalah penambahan Zaid atau pengubahan, dan tiga hal membuktikannya:

Pertama: Mereka yang diajak bicara di tempat ini adalah semua Bani Israel, bukan hanya sebagian. Jadi ungkapan “dari antara kamu” adalah berbicara kepada seluruh kaum, sehingga ungkapan “dari antara saudara-saudara kamu” menjadi sia-sia, tidak memiliki arti. Namun ungkapan “dari antara saudara-saudara kamu” muncul di tempat lain, jadi itu benar, dan ungkapan “dari antara kamu” adalah penambahan Zaid atau pengubahan.

Kedua: Ketika Musa semata-mata melaporkan perkataan Allah untuk membuktikan perkataannya, ungkapan ini tidak ditemukan di dalamnya. Dan tidak diperbolehkan bahwa apa yang dikatakan Musa bertentangan dengan apa yang dikatakan Allah.

Ketiga: Setiap kali para rasul menceritakan perkataan ini, ungkapan “dari antara kamu” tidak ditemukan di dalamnya. Jika kamu berkata: “Jika yang mengubah telah mengubah, mengapa dia tidak mengubah seluruh perkataan?” Aku berkata: Kami melihat dalam hal-hal yang adil bahwa dokumen yang diubah, perubahan kata-kata yang diubah di dalamnya sering terbukti dari tempat-tempat lain di dalamnya, dan bahwa saksi palsu diambil dengan beberapa pernyataan mereka. Jadi cara yang tepat adalah bahwa kebiasaan Allah berlaku bahwa Dia tidak membimbing rencana para pengkhianat dan memperlihatkan khianat pengkhianat agama sesuai dengan belas kasihan-Nya. Oleh karena itu, sesuai dengan kebiasaan ini, apa yang keluar dari pengkhianat adalah sesuatu yang memperlihatkan khianatnya. Selain itu, tidak ada agama yang semua pengikutnya adalah pengkhianat. Para pengkhianat yang mengubah kitab-kitab Perjanjian Dua memiliki pandangan tertentu dari sisi beberapa orang yang saleh, oleh karena itu mereka tidak mengubah semuanya.”

Keberatan Kedua

Keberatan kedua adalah bahwa Yesus semata-mata menganggap berita gembira ini untuk dirinya sendiri. Dia berkata di ayat 46 dari pasal 5 dari Injil Yohanes: “Musa menulis tentang aku.” Maka ungkapan dalam Injil demikianlah: “Karena jika kamu percaya kepada Musa, kamu pasti akan percaya kepadaku, karena dia menulis tentang aku.” Dan tidak ada penjelasan di dalamnya bahwa Musa semata-mata menulis tentang dia di tempat-tempat tertentu, tetapi yang dipahami darinya adalah bahwa Musa menulis tentang dia. Dan ini benar jika ada petunjuk kepadanya di suatu tempat dalam Taurat, dan kami mengakui hal ini seperti yang akan diketahui di akhir penjelasan berita gembira ketiga. Namun kami menyangkal bahwa ungkapannya adalah petunjuk kepada berita gembira ini untuk alasan-alasan yang telah diketahui. Dan orang yang keberatan ini mengklaim di pasal 3 dari pasal 3 dari pasal 2 dari Al-Mizan bahwa ayat 15 dari pasal 3 dari Kitab Kejadian adalah petunjuk kepadanya. Jadi jumlah ini cukup untuk membuktikan apa yang dikatakan Yesus semata-mata. Ya, jika Yesus semata-mata telah mengatakan bahwa Musa semata-mata tidak menunjuk di lima bukunya kepada nabi mana pun selain diriku, maka akan ada tempat untuk keraguan ini pada waktu itu.

Berita Gembira Kedua

Ayat 21 dari pasal 32 Kitab Ulangan demikianlah: “Mereka membuat Aku cemburu dengan yang bukan tuhan, dan mereka membuat-Ku marah dengan berhala-berhala kosong mereka. Maka Aku akan membuat mereka cemburu dengan yang bukan bangsa, dan mereka akan Aku buat marah dengan bangsa yang bodoh.”

Yang dimaksud dengan bangsa yang bodoh adalah Arab, karena mereka berada dalam tingkat kebodohan dan kesesatan yang paling ekstrem. Mereka tidak memiliki pengetahuan, baik pengetahuan tentang hukum agama maupun pengetahuan akal. Mereka tidak mengenal apa pun selain penyembahan berhala dan patung. Dan mereka adalah yang paling hina di mata Yahudi karena mereka adalah anak-anak Hajar, pelayan perempuan. Jadi maksud ayat adalah bahwa Bani Israel membuat Aku cemburu dengan penyembahan kepada berhala-berhala yang tidak berguna, maka Aku akan membuat mereka cemburu dengan menginginkan mereka yang mereka anggap hina dan bodoh di mata mereka. Dan Allah memenuhi janji-Nya dengan mengutus Nabi Muhammad Rasulullah ﷺ dari kalangan Arab, sehingga membimbing mereka ke jalan yang lurus, sebagaimana Allah Yang Maha Tinggi berfirman dalam Surah Al-Jumah:

“Dia-lah yang telah mengutus di antara kaum yang buta huruf seorang rasul dari mereka, yang membacakan ayat-ayat Allah kepada mereka, membersihkan mereka, dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah.” (Surah Al-Jum’ah 62:2)

Namun yang dimaksud dengan bangsa yang bodoh bukan Yunani, sebagaimana dipahami dari perkataan terang-terangan orang suci mereka Paulus di pasal 10 dari Surat Roma. Karena Yunani, lebih dari tiga ratus tahun sebelum kemunculan Yesus semata-mata, melampaui semua orang di dunia dalam ilmu pengetahuan dan seni. Dan semua filsuf terkenal seperti Socrates, Hippocrates, Pythagoras, Plato, Aristoteles, Archimedes, Pliny, Euclid, Galen, dan lainnya, yang adalah pemimpin teologi, matematika, fisika, dan cabang-cabangnya sebelum Yesus semata-mata. Dan Yunani pada masanya mencapai tingkat kesempurnaan tertinggi dalam seni mereka. Mereka mengenal hukum-hukum Taurat dan cerita-ceritahnya dan kitab-kitab lain dari Perjanjian Lama juga melalui terjemahan Septuaginta yang muncul dalam bahasa Yunani dua ratus delapan puluh enam tahun sebelum Kristus. Namun mereka tidak percaya pada agama Musa dan terus mencari hal-hal kebijaksanaan baru, sebagaimana orang suci ini mengatakan di pasal 1 dari Surat Pertama kepada orang-orang Corinth demikianlah: “Karena orang Yahudi menuntut tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat.” Dan: “Tetapi kami memberitakan Kristus disalib, bagi orang Yahudi suatu batu sandungan, bagi orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan.”

Oleh karena itu, tidak diperbolehkan bahwa yang dimaksud dengan bangsa yang bodoh adalah Yunani. Jadi perkataan orang suci mereka dalam Surat Roma entah ditafsirkan atau ditolak. Dan telah diketahui di poin kedelapan bahwa perkataannya jatuh dari pertimbangan kami.

Berita Gembira Ketiga

Di pasal 33 dari Kitab Ulangan, dalam terjemahan Arab yang diterbitkan tahun 1844 demikianlah: “Dia berkata: Tuhan datang dari Sinai dan bersinar kepada kami dari Seir. Dia tampak dari gunung Faran dengan berkat-berkat di tangan kanannya, dan api berkode berada di depan-Nya.”

Kedatangan-Nya dari Sinai dan pemberian Taurat kepada Musa semata-mata. Penyinaran-Nya dari Seir dan pemberian Injil kepada Yesus semata-mata. Penampakan-Nya dari Gunung Faran adalah penurunan Al-Qur’an. Karena Faran adalah gunung dari gunung-gunung Makkah. Di pasal 21 dari Kitab Kejadian, dalam keadaan Ismail semata-mata, demikianlah: “Dan Allah bersama dia dan dia bertumbuh dan tinggal di padang gurun dan menjadi seorang pemuda yang mahir memanah. Dan dia tinggal di padang gurun Faran dan ibunya mengambil seorang istri untuk dia dari tanah Mesir.” Dan tidak ada keraguan bahwa Ismail semata-mata mendiami Makkah. Dan tidak tepat bahwa yang dimaksud adalah bahwa api ketika muncul dari Gunung Sinai muncul dari Seir dan dari Faran juga dan tersebar di tempat-tempat ini. Karena jika Allah menciptakan api di suatu tempat, tidak dikatakan “Allah datang dari tempat itu” kecuali jika peristiwa itu diikuti oleh wahyu yang turun di tempat itu atau hukuman atau sesuatu yang serupa dengannya. Dan mereka telah mengakui bahwa wahyu mengikuti peristiwa itu di Gunung Sinai. Oleh karena itu, dengan cara yang sama, pasti ada di Seir dan Faran juga.

Kabar Gembira Keempat

Dalam Ayat Kedua Puluh dari Pasal Ketujuh Belas dari Kitab Kejadian, Allah menjanjikan kepada Nabi Ibrahim Alaihi Assalam mengenai Nabi Ismail Alaihi Assalam. Dalam terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1844, berbunyi demikian: “Dan tentang Ismail, Aku dengar doamu. Sesungguhnya Aku memberkatinya dan akan membuatnya besar dan membuahkan keturunan yang sangat banyak. Dia akan menghasilkan dua belas pemimpin, dan Aku akan menjadikannya menjadi satu bangsa yang besar.”

Perkataan “Aku akan menjadikannya menjadi satu bangsa yang besar” menunjukkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, sebab di antara anak cucu Ismail tidak ada yang menjadi satu bangsa yang besar selain beliau. Allah Taala berfirman dalam menyampaikan doa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Alaihi Assalam mengenainya dalam Firman-Nya yang mulia juga:

“Ya Tuhan kami, utuskanlah kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan hikmah, serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahakuat, Maha Bijaksana.” (Surah Al-Baqarah: 129)

Imam Al-Qurthubi berkata dalam pasal pertama dari bagian kedua kitabnya: “Beberapa cendekiawan yang tumbuh dalam bahasa Yahudi dan membaca beberapa kitab mereka telah menyadari hal ini. Mereka mengatakan bahwa dari ungkapan-ungkapan yang disebutkan dalam Taurat di dua tempat, nama Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam dapat dikeluarkan dengan cara perhitungan bilangan yang digunakan oleh para Yahudi di antara mereka.

Pertama: Dalam ungkapan ‘sangat besar’ dalam bahasa Yahudi disebut ‘madmad’. Perhitungan huruf-huruf ini adalah sembilan puluh dua. Sebab ba’ dua, mim empat puluh, alif satu, dal empat, mim kedua empat puluh, alif satu, dal empat. Demikian juga mim dari Muhammad empat puluh, ha’ delapan, mim empat puluh, dal empat. Jumlah keseluruhannya juga sembilan puluh dua.

Kedua: Dalam ungkapan ‘satu bangsa yang besar’ dalam bahasa Yahudi disebut ‘liguyi gadol’. Lam bagi mereka tiga puluh, ghain tiga karena bagi mereka berada dalam posisi jim (sebab mereka tidak memiliki jim dan sad dalam bahasa mereka), waw enam, ya’ sepuluh, ghain juga tiga, dal empat, waw enam, lam tiga puluh. Jumlah semuanya juga sembilan puluh dua.”

Abdus Salam adalah salah satu dari para ahli Yahudi yang kemudian masuk Islam pada masa Sultan Bayazid Khan. Dia menyusun sebuah risalah kecil yang dinamainya “Ar-Risalah Al-Hadiyah”. Dia berkata di dalamnya: “Bahwa mayoritas bukti-bukti dari para ahli Yahudi menggunakan huruf-huruf ilmu Jimal Al-Kabir, yaitu huruf abjad. Sebab para ahli Yahudi ketika Nabi Sulaiman Alaihi Assalam membangun Baitul Maqdis berkumpul dan berkata: Bangunan ini akan bertahan empat ratus sepuluh tahun, kemudian akan terjadi kerusakan padanya, sebab mereka menghitung kata ‘buzata’.”

Kemudian dia berkata: “Mereka membantah bukti ini dengan mengatakan bahwa ba’ dalam ‘madmad’ bukan bagian dari kata itu sendiri, melainkan alat dan huruf yang didatangkan untuk penghubung. Jika demikian, untuk mengeluarkan nama Muhammad, haruslah ada ba’ kedua dan seharusnya berupa ‘bemadmad’. Kami katakan: Menurut yang terkenal di antara mereka, apabila dua ba’ berkumpul, yang satu alat dan yang lain dari kata itu sendiri, maka alat itu dihapus dan yang tinggal adalah yang asli dari kata itu sendiri. Ini adalah sesuatu yang biasa terjadi di antara mereka di banyak tempat, sehingga tidak perlu mendaftarkannya.”

Para ulama telah menegaskan bahwa salah satu dari nama-nama Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah ‘madmad’, sebagaimana disebutkan dalam kitab Syifa’ karya Qadi Iyad.

Kabar Gembira Kelima

Ayat Kesepuluh dari Pasal Empat Puluh Sembilan dari Kitab Kejadian, menurut terjemahan bahasa Arab tahun 1722 dan 1831, berbunyi demikian: “Tongkat kerajaan tidak akan hilang dari Yehuda dan pemberi hukum dari antara kakinya sampai datang Dia yang berhak atas segalanya, dan kepadanya semua bangsa akan patuh.”

Dan dalam terjemahan bahasa Arab tahun 1811: “Tongkat kerajaan tidak akan hilang dari Yehuda dan pemberi hukum dari bawah perintahnya sampai datang Dia yang bagi-Nya itu, dan kepadanya berkumpul semua bangsa.”

Kata “Dia yang berhak atas segalanya” atau “Dia yang bagi-Nya itu” merupakan terjemahan dari kata Syiloh. Dalam menerjemahkan kata ini terdapat perbedaan yang sangat banyak di antara mereka. Abdus Salam dalam Ar-Risalah Al-Hadiyah berkata demikian: “Pemberi hukum tidak akan hilang dari Yehuda dan pemberi keputusan tidak akan hilang dari di antara kakinya sampai datang Dia yang bagi-Nya itu, dan kepadanya berkumpul semua bangsa.”

Dalam ayat ini terdapat isyarat bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam akan datang setelah selesainya masa pemerintahan Nabi Musa dan Nabi Isa Alaihi Assalam. Sebab yang dimaksud dengan pemberi hukum ialah Nabi Musa, karena setelah Nabi Yakub tidak ada pemberi syariat sampai masa Nabi Musa kecuali Nabi Musa sendiri. Dan yang dimaksud dengan pemberi keputusan ialah Nabi Isa Alaihi Assalam, karena setelah Nabi Musa sampai masa Nabi Isa tidak ada pemberi syariat kecuali Nabi Isa. Dan setelah keduanya tidak ada pemberi syariat kecuali Nabi Muhammad. Maka jelaslah bahwa yang dimaksud dengan perkataan Yakub di akhir zaman ialah Nabi kami Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, sebab di akhir waktu setelah berlalu masa pemerintahan pemberi hukum dan pemberi keputusan tidak datang kecuali Nabi kami Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam.

Hal ini juga ditunjukkan oleh firman-Nya “sampai datang Dia yang berhak atas segalanya”, yaitu yang berhak atas pemerintahan dengan petunjuk dari konteks dan susunan ayat. Adapun perkataan-Nya “dan kepadanya berkumpul semua bangsa” merupakan tanda yang jelas dan bukti yang nyata bahwa yang dimaksud dengannya ialah Nabi kami, sebab semua bangsa hanya berkumpul kepadanya. Zubur tidak disebutkan sebab tidak ada ketentuan hukum di dalamnya, dan Nabi Daud mengikuti Nabi Musa. Yang dimaksud dengan berita Yakub ialah pemberi hukum.

Penulis mengatakan: Yang dimaksud dengan pemberi hukum ialah Nabi Musa Alaihi Assalam, sebab syariatnya bersifat pemaksaan dan pembalasan. Dan yang dimaksud dengan pemberi keputusan ialah Nabi Isa Alaihi Assalam, sebab syariatnya tidak bersifat pemaksaan maupun pembalasan. Jika yang dimaksud dengan tongkat ialah kedaulatan duniawi dan dengan pemberi keputusan ialah penguasa duniawi, seperti yang dapat dipahami dari surat-surat pendeta dari golongan Protestan dan dari beberapa terjemahan mereka, maka tidak benar jika yang dimaksud dengan Syiloh ialah Mesias Yahudi sebagaimana klaim mereka, dan juga bukan Nabi Isa Alaihi Assalam sebagaimana klaim kaum Nasrani.

Adapun yang pertama: hal itu jelas karena kedaulatan duniawi dan penguasa duniawi telah hilang dari keturunan Yehuda selama lebih dari dua ribu tahun sejak masa Nebukadnezar, dan sampai sekarang belum terdengar kabar tentang Mesias Yahudi.

Adapun yang kedua: karena keduanya juga hilang dari keturunan Yehuda sebelum kemunculan Nabi Isa Alaihi Assalam dengan selisih enam ratus tahun sejak masa Nebukadnezar yang mengasingkan Bani Yehuda ke Babil. Mereka berada dalam pengasingan selama enam puluh tiga tahun, bukan tujuh puluh tahun seperti yang dikatakan beberapa ulama Protestan untuk mengelabui kaum awam.

Kemudian Antiokhus menimpa mereka. Dia memberhentikan Onias, Imam Yahudi, dan menjual jabatannya kepada saudaranya Yason dengan tiga ratus enam puluh wina emas yang harus diserahkan kepadanya sebagai pajak setiap tahun. Kemudian dia memberhentikan Yason dan menjual itu kepada saudaranya Menelaos dengan enam ratus enam puluh wina emas. Kemudian berita kematiannya tersebar luas, maka Yason meminta untuk mengembalikan bagi dirinya jabatan imamat dan memasuki Yerusalem dengan ribuan tentara. Dia membunuh semua orang yang dia curigai sebagai musuhnya. Tetapi berita ini adalah berita bohong. Kemudian Antiokhus menyerbu Yerusalem dan menguasainya kembali pada tahun 170 sebelum kelahiran Masih. Dia membunuh empat puluh ribu dari penduduknya dan menjual sebanyak itu sebagai budak.

Dalam pasal kedua puluh dari bagian kedua “Murshid At-Talibin” dalam penjelasan tentang tabel sejarah pada halaman 481 dari edisi yang diterbitkan tahun 1852 Masehi disebutkan: “Dia merampok Yerusalem dan membunuh delapan puluh ribu.” Dia merampas barang-barang berharga yang ada di Bait Suci senilai delapan ratus wina emas. Dia mengorbankan babi di atas mezbah untuk penghinaan. Kemudian dia kembali ke Antiokhia dan menunjuk Filipus, salah satu dari para penjahat, sebagai penguasa atas Yehuda.

Dalam perjalanan keempatnya ke Mesir, dia mengirim Apolonius dengan dua puluh ribu tentaranya dan memerintahkan mereka untuk menghancurkan Yerusalem, membunuh semua laki-laki yang ada di dalamnya, dan menawan para wanita dan anak-anak. Mereka berangkat ke sana.

Sementara orang-orang di kota berkumpul untuk berdoa pada hari Sabtu, Apolonius dan pasukannya menyerang mereka dengan tiba-tiba. Mereka membunuh semua orang, kecuali yang berhasil lari ke gunung-gunung dan bersembunyi di gua-gua. Mereka merampok harta kekayaan kota dan membakarnya, meruntuhkan tembok-temboknya, dan menghancurkan rumah-rumahnya. Kemudian mereka membangun untuk diri mereka sendiri sebuah benteng yang kokoh dari reruntuhan itu di gunung Akra. Dari tempat itu pasukan-pasukan militer bisa mengawasi semua penjuru Bait Suci, dan siapa pun yang mendekat, mereka bunuh.

Kemudian Antiokhus mengirim Athenaeus untuk mengajarkan kepada Orang-orang Yahudi cara-cara penyembahan berhala Yunani dan membunuh setiap orang yang tidak mematuhi perintah itu. Athenaeus datang ke Yerusalem dengan bantuan beberapa Orang-orang Yahudi yang kafir. Dia membatalkan kurban harian, menghapuskan setiap ketaatan kepada agama Yahudi secara umum dan khusus, membakar semua salinan kitab-kitab Perjanjian Lama yang dia temukan dengan penggeledahan menyeluruh. Dia mendedikasikan Bait Suci untuk Yupiter dan mendirikan patungnya di atas mezbah Orang-orang Yahudi. Dia membunuh semua orang yang dia temukan melanggar perintah Antiokhus.

Matatyahu si imam berhasil selamat bersama lima orang putranya dalam malapetaka ini dan mereka lari ke tempat tinggal mereka di suku Dan. Mereka balas dendam terhadap para kafir itu dengan pembalasan yang sekuat tenaga mereka sebagaimana yang tercatat dalam sejarah.

Bagaimana mungkin berita ini bisa tepat pada Nabi Isa Alaihi Assalam? Jika mereka mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tetapnya kedaulatan dan pemerintahan adalah keunggulan dari kaum itu, seperti yang dikatakan beberapa dari mereka sekarang, kami katakan: Perkara ini tetap ada sampai kemunculan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Mereka di berbagai wilayah Arab memiliki benteng-benteng dan harta milik, tidak taat kepada siapa pun, seperti Orang-orang Yahudi Khaibar dan lainnya, sebagaimana yang disaksikan oleh sejarah. Tetapi setelah kemunculan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, kehinaan dan kesengsaraan ditimpakan kepada mereka, dan mereka menjadi taat kepada orang lain di setiap negeri.

Maka yang lebih tepat adalah bahwa yang dimaksud dengan Syiloh ialah Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, bukan Mesias Yahudi dan bukan Nabi Isa Alaihi Assalam.

Kabar Gembira Keenam

Zubur Empat Puluh Lima berbunyi demikian:

  1. “Hati saya memuaskan sesuatu yang baik. Aku mengatakan semua perbuatanku kepada Raja.”
  2. “Lidahku adalah pena penulis yang sangat cepat menulis.”
  3. “Engkau lebih indah daripada anak-anak manusia.”
  4. “Kemuliaan telah dicurahkan pada bibirmu. Oleh karena itu Allah memberkatimu selamanya.”
  5. “Ikat pedangmu di pinggangmu, wahai orang yang kuat, dengan kehebatanmu dan keindahanmu.”
  6. “Kokohkan dan berjayalah. Menangisi demi kebenaran, kelembutan, dan ketulusan. Dan tangan kananmu menuntunmu dengan cara yang ajaib.”
  7. “Panahmu tajam, wahai orang yang kuat. Bangsa-bangsa jatuh di bawahmu, di hati musuh-musuh Raja.”
  8. “Tahta-Mu, wahai Allah, adalah abadi sampai selamanya. Tongkat kelurusan adalah tongkat kerajaan-Mu.”
  9. “Engkau mencintai kebenaran dan membenci kejahatan. Oleh karena itu Allah, Tuhan-Mu, telah mengurapi-Mu dengan minyak kegembiraan, lebih dari pada teman-temanmu.”
  10. “Dari ramuan-ramuan dan kemiri dan kayu gaharu dari pakaianmu, dari istana-istana mulia-Mu tempat gading membuat-Mu sangat senang.”
  11. “Putri-putri raja ada di antara para wanita mulia-Mu. Permaisuri berdiri di sebelah kananmu, berbusana kain emas berkilau.”
  12. “Dengarkan, wahai putri, dan lihatlah, dan dengarkan baik-baik telingamu. Lupakan bangsamu dan rumah ayahmu.”
  13. “Maka raja akan menginginkan kecantikanmu. Sebab dia adalah Tuhanmu Allah, dan kepadanya engkau harus bersujud.”
  14. “Putri Tirus akan datang dengan hadiah. Orang-orang kaya dari semua bangsa akan mencari wajah-Mu.”
  15. “Semua kemuliaan putri raja berasal dari dalam, berpakaian kain emas yang berkilau.”
  16. “Mereka akan dibawa kepada Raja adalah para gadis pelayar, sahabat-sahabat mereka dibawa kepada-Mu.”
  17. “Mereka akan dibawa dengan kegembiraan dan kesenangan. Mereka akan memasuki istana Raja.”
  18. “Anak-anakmu akan menggantikan ayah-ayahmu. Engkau akan mengangkat mereka menjadi pemimpin di seluruh bumi.”
  19. “Aku akan membuat namamu terkenal di setiap generasi. Oleh karena itu bangsa-bangsa akan memujimu selamanya, sampai selamanya.”

Hal ini adalah perkara yang diakui oleh Ahli Kitab bahwa Nabi Daud Alaihi Assalam memberi kabar gembira dalam Zubur ini tentang seorang nabi yang akan muncul setelah masanya. Sampai sekarang tidak muncul kepada Orang-orang Yahudi seorang nabi yang memiliki sifat-sifat yang disebutkan dalam Zubur ini. Para ulama Protestan mengklaim bahwa nabi ini ialah Nabi Isa Alaihi Assalam, sedangkan Ahli Islam baik dahulu maupun sekarang mengklaim bahwa nabi ini ialah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam.

Maka aku mengatakan bahwa dalam Zubur ini disebutkan dari sifat-sifat nabi yang diberi kabar gembira ini sifat-sifat ini:

  1. Keindahannya.
  2. Dia adalah yang terbaik dari manusia.
  3. Kemuliaan dicurahkan pada bibirnya.
  4. Dia diberkati selamanya.
  5. Dia memakai pedang.
  6. Dia adalah orang yang kuat.
  7. Dia memiliki kebenaran, kelembutan, dan ketulusan.
  8. Tangan kanannya membimbing dengan cara yang ajaib.
  9. Panahnya tajam.
  10. Bangsa-bangsa jatuh di bawahnya.
  11. Dia mencintai kebenaran dan membenci kejahatan.
  12. Putri-putri raja melayaninya.
  13. Hadiah-hadiah datang kepadanya.
  14. Semua orang kaya dari bangsa tunduk kepadanya.
  15. Anak-anaknya adalah pemimpin-pemimpin bumi menggantikan para ayahnya.
  16. Namanya terkenal dari generasi ke generasi.
  17. Bangsa-bangsa memujinya selamanya.

Semua sifat-sifat ini terdapat pada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam dengan cara yang paling sempurna.

Adapun yang pertama: Karena Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, “Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih indah daripada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Seolah-olah matahari berjalan di wajahnya. Dan apabila dia tersenyum, cahaya bersinar di dinding.”

Dan dari Ummu Ma’bad Radhiyallahu Anha dikatakan dalam beberapa deskripsi yang dia berikan tentangnya: “Dia adalah orang yang paling indah dari jauh dan yang paling manis dan paling indah dari dekat.”

Adapun yang kedua: Karena Allah Taala berfirman:

“Para rasul itu telah Kami lebihkan derajatnya sebagian-sebagian dari yang lain…” (Surah Al-Baqarah: 253)

Para ulama tafsir mengatakan bahwa dengan perkataan “dan Kami tinggikan derajat beberapa mereka” dimaksud dengan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, yaitu Kami tinggikan derajatnya di atas semua nabi dari segi-segi yang banyak. Imam Al-Fakhrul-Razi telah memperpanjang pembahasan dalam tafsir ayat ini dalam tafsirnya yang besar. Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam berkata, “Aku adalah pemimpin anak-anak Adam pada hari Kiamat, bukan karenanya sombong,” maksudnya bukan saya mengatakan itu untuk menyombongkan diri, melainkan untuk mengisyaratkan nikmat Tuhanku.

Adapun yang ketiga: Hal itu tidak membutuhkan penjelasan. Bahkan yang setuju dan yang tidak setuju mengakui keindahan bicaranya. Para perawi dalam mendeskripsikan perkataannya mengatakan bahwa beliau adalah orang yang paling jujur dalam ucapannya. Oleh karena itu beliau memiliki keindahan berbicara yang paling sempurna dan tempat yang paling lengkap.

Adapun yang keempat: Karena Allah Taala berfirman:

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat atas Nabi itu.” (Surah Al-Ahzab: 56)

Dan ribuan ribuan orang berdoa kepadanya dalam shalat-shalat lima waktu.

Adapun yang kelima: Hal itu jelas karena beliau sendiri berkata, “Aku adalah rasul Allah dengan pedang.”

Adapun yang keenam: Kekuatan jasmaninya sempurna, sebagaimana terbukti bahwa Rukana mengasingkan diri bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam di salah satu lembah Mekkah sebelum dia masuk Islam. Dia berkata, “Wahai Rukana, tidakkah engkau takut kepada Allah dan menerima apa yang aku ajak?” Dia berkata, “Demi Allah, jika aku tahu apa yang engkau katakan itu benar, aku akan mengikutimu.” Beliau berkata, “Bagaimana jika aku menjatuhkanmu? Apakah engkau tahu bahwa apa yang aku katakan itu benar?” Dia berkata, “Ya.” Ketika beliau menangkapnya, beliau menjatuhkannya sehingga Rukana tidak bisa berbuat apa-apa. Kemudian dia berkata, “Wahai Muhammad, ulangi.” Beliau pun menjatuhkannya lagi. Dia berkata, “Wahai Muhammad, ini benar-benar ajaib.” Beliau berkata, “Dan lebih ajaib dari itu, jika aku mau menunjukkannya kepadamu jika engkau takut kepada Allah dan mengikuti perintahku.” Dia berkata, “Apa itu?” Beliau berkata, “Aku akan memanggil pohon ini untuk mendatangimu.” Lalu beliau memanggilnya dan pohon itu datang sampai berdiri di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Beliau berkata kepadanya, “Kembalilah ke tempat-Mu.” Pohon itu pun kembali. Rukana kembali ke kaumnya dan berkata, “Wahai Bani Abdil Manaf, aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih sihir darinya.” Kemudian dia ceritakan kepada mereka apa yang dia lihat.

Rukana ini termasuk dari para pejuang yang kuat dan terkenal dalam gulat. Adapun keberaniannya, Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih berani, lebih mahir, dan lebih murah hati daripada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam.”

Ali Karamallahu Wajhahu berkata, “Dan sesungguhnya kami ketika pertempuran sengit dan mata-mata membulat merah, kami berlindung kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Maka tidak ada seorang pun yang lebih dekat kepada musuh daripada dia. Aku benar-benar melihat diriku sendiri pada hari Badar, dan kami berlindung kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam sementara dia adalah yang paling dekat kepada musuh, dan dia adalah termasuk dari orang-orang yang paling berani pada hari itu.”

Adapun yang ketujuh: Karena amanah dan kejujuran merupakan sifat-sifat mulia baginya Shallallahu Alaihi Wa Sallam, seperti yang dikatakan An-Nadhr ibn Al-Harits kepada kaum Quraisy, “Sesungguhnya Muhammad telah berada di kalangan kamu sebagai seorang pemuda yang baru. Dia telah memuaskan kamu di kalangan kamu. Dia adalah yang paling jujur dalam perkataannya dan yang paling besar dalam amanahnya. Sampai ketika kamu melihat beruban di kedua pelipis kepalanya dan dia datang kepada kamu dengan apa yang dia datangkan, kamu berkata: Dia adalah seorang penyihir. Tidak, demi Allah, dia bukan seorang penyihir.”

Dan Heraklius bertanya kepada Abu Sufyan tentang keadaan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Dia berkata, “Apakah kamu pernah mencurigainya berbohong sebelum dia mengatakan apa yang dia katakan?” Dia menjawab, “Tidak.”

Adapun yang kedelapan: Karena beliau melempar pada hari Badar dan juga pada hari Hunain wajah-wajah kaum kafir dengan segenggam debu sehingga tidak ada satu musyrik pun yang tidak terganggu matanya. Mereka pun lari dan kaum Muslim dapat menangkap dan membunuh mereka. Contoh-contoh seperti ini termasuk dari petunjuk tangan kanan yang ajaib.

Adapun yang kesembilan: Karena sesungguhnya anak-anak Ismail adalah ahli memanah pada masa dahulu, hal ini tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut. Dan hal ini merupakan perkara yang diinginkan oleh Rasulullah, dan beliau bersabda: “Akan dibukakan bagi kalian (negeri) Romawi dan Allah akan memberikan kecukupan kepada kalian, maka janganlah seorang pun dari kalian malas bermain-main dengan panahnya.” (Hadits) Dan beliau bersabda: “Luruskanlah panah wahai anak cucu Ismail, sesungguhnya ayah kalian adalah seorang pemanah.” (Hadits) Dan beliau bersabda: “Barangsiapa mempelajari memanah kemudian meninggalkannya, maka dia bukan dari kami.” (Hadits)

Adapun yang kesepuluh: Karena sesungguhnya manusia masuk berombongan-rombongan ke dalam agama Allah selama hidup Rasulullah.

Adapun yang kesebelas: Hal ini terkenal dan diakui oleh para penyangkal sekalipun, sebagaimana telah kamu ketahui dalam penjelasan kedua.

Adapun yang kedua belas: Karena sesungguhnya putri-putri para raja dan pangeran menjadi pembantu bagi kaum Muslim pada tingkat pertama, termasuk di antaranya Shahr Banu putri Yazdagerd, Raja Persia, yang menjadi istri Imam Husain Radliyallahu ‘anhu.

Adapun yang ketiga belas dan keempat belas: Karena sesungguhnya An-Najasyi raja Habasyah dan Mundzir bin Saw’i raja Bahrain dan raja Oman tunduk dan memeluk Islam, serta Heraklius kaisar Romawi mengirimkan hadiah kepada Rasulullah, dan Muqauqis raja Mesir mengirimkan kepadanya tiga orang budak wanita, seorang budak laki-laki berkulit hitam, seekor bagal abu-abu, seekor keledai cokelat, seekor kuda, pakaian-pakaian, dan lain-lainnya.

Adapun yang kelima belas: Sesungguhnya telah sampai dari keturunan Imam Hasan Radliyallahu ‘anhu kepada kesultanan, dan ribuan di berbagai wilayah dari Hijaz, Yaman, Mesir, Maghrab, Syam, Persia, India, dan selainnya. Dan mereka telah meraih kekuasaan dan kerajaan tertinggi, dan hingga sekarang juga di negeri-negeri Hijaz, Yaman, dan tempat-tempat lain, terdapat para pangeran dan penguasa dari keturunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan akan tampil jika Allah menghendaki Al-Mahdi Radliyallahu ‘anhu dari keturunannya, dan dia akan menjadi khalifah Allah di bumi, dan agama akan sepenuhnya untuk Allah pada masa pemerintahannya yang mulia.

Adapun yang keenam belas dan ketujuh belas: Karena sesungguhnya ribuan ribuan generasi demi generasi pada waktu-waktu lima (kali) meneriakkan dengan suara yang keras di berbagai wilayah: “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Dan kaum Muslimin bershalawat kepadanya pada waktu-waktu tersebut tanpa dapat dihitung jumlah mereka, dan para penghafal menjaga bacaan Al-Qur’annya, dan para penafsir menafsirkan makna-makna Firqannya, dan para pengkhotbah menyampaikan nasihatnya, dan para ulama serta raja-raja menyebutkan pelayanannya, dan mereka mengucapkan salam kepadanya dari balik penghalang, serta mengelus wajah mereka dengan debu makamnya dan mengharapkan syafaatnya.

Dan berita ini tidak terbukti untuk Isa Alaihi as-salam, sebagaimana didakwakan oleh para ulama Protestan dengan dakwaan yang palsu, karena mereka mendakwa bahwa berita yang tercantum dalam pasal lima puluh tiga dari Kitab Yesaya, tentang Isa Alaihi as-salam, dan berita tentangnya adalah sebagai berikut: “Dia tidak memiliki penampilan dan kecantikan, kami melihatnya tetapi dia tidak memiliki penampilan yang kami sukai, dia dihinakan, dan dia adalah seorang yang penuh penderitaan, biasa mengalami penyakit, dan wajahnya tertutup dan dijauhkan, kami tidak menganggapnya penting, dan kami menganggapnya seperti penderita kusta dan dipukul oleh Allah dan direndahkan, dan Tuhan menghendaki untuk menanggungnya.”

Adapun deskripsi-deskripsi ini bertentangan dengan deskripsi-deskripsi yang terdapat dalam Zabur yang disebutkan, maka tidak terbukti bahwa dia itu baik, dan tidak terbukti bahwa dia itu kuat. Demikian pula tidak terbukti bahwa dia menguasai pedang, maupun panahnya diruncingkan, maupun tunduknya para kaya, maupun mereka mengirimi hadiah kepadanya. Sebaliknya, menurut klaim orang-orang Kristen, mereka menangkapnya dan menghinakannya, mempermainkannya, memukulnya dengan cambuk, kemudian menyalibnya. Dan dia tidak memiliki istri dan tidak memiliki anak, maka tidak terbukti masuknya putri-putri ke rumahnya, dan tidak terbukti bahwa anak-anaknya menggantikan bapak-bapak mereka menjadi pemimpin-pemimpin bumi.

(Catatan penting) Terjemahan ayat kedelapan yang saya kutip sesuai dengan terjemahan Persia Zabur yang pernah saya miliki, dan terjemahan-terjemahan Urdu untuk Zabur, serta sesuai dengan kutipan orang suci mereka Paulus, karena dia mengutip ayat ini dalam pasal pertama dari surat Ibrani-nya. Demikianlah terjemahan Arab tahun 1821, tahun 1831, dan tahun 1844: “Aku mencintai kebenaran dan membenci dosa, oleh karena itu Allahtamu menguapi engkau dengan minyak kegembiraan melebihi teman-temanmu.” Dan terjemahan-terjemahan Persia yang dicetak tahun 1816, tahun 1828, dan tahun 1841. Serta terjemahan-terjemahan Urdu yang dicetak tahun 1839, tahun 1840, dan tahun 1841, sesuai dengan terjemahan-terjemahan Arab. Maka terjemahan yang bertentangan dengan apa yang saya kutip adalah tidak benar. Cukuplah untuk menolaknya dengan menggunakan argumen orang suci mereka. Dan telah saya ketahui dalam pendahuluan pasal keempat bahwa penggunaan istilah Tuhan dan Rabb dan sejenisnya, telah berlaku untuk massa apalagi untuk kalangan khusus. Dan ayat keenam dari Zabur Mazmur ke-82 adalah sebagai berikut: “Aku telah mengatakan, kalian adalah para tuhan dan anak-anak Yang Tertinggi semuanya.” Maka tidak akan diterimakan apa yang dikatakan penulis Miftah al-Asrar bahwa dalam ayat yang disebutkan terjadi demikian: “Aku mencintai kebenaran dan membenci kejahatan, karena itu wahai Tuhan, Allahtamu menguapi engkau dengan minyak kemegahan melebihi sahabat-sahabatmu, dan tidak dikatakan kepada seseorang selain Kristus wahai Tuhan Allahtamu menguapi engkau,” dan seterusnya, karena kami tidak mengakui pertama-tama: kebenaran terjemahannya karena bertentangan dengan perkataan orang suci mereka. Kedua: andaipun kita mengabaikan ketidakbenaran terjemahannya tersebut, maka saya katakan dakwanya ini jelas-jelas batil. Karena istilah Tuhan di sini bermakna kiasan bukan makna sebenarnya, dan hal ini dibuktikan oleh perkataannya Allahtamu, karena Tuhan yang sebenarnya tidak memiliki tuhan bagi-Nya. Maka jika bermakna kiasan, hal ini terbukti untuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana terbukti untuk Isa Alaihi as-salam.

(Berita Gembira Ketujuh) Dalam Mazmur ke-149 adalah sebagai berikut: 1. “Nyanyikanlah kepada Tuhan dengan nyanyian yang baru, pujian-Nya dalam jemaah orang-orang setia.” 2. “Biarlah Israel bergembira dalam Penciptanya, dan anak-anak Sion bersorak-sorai dalam rajanya.” 3. “Biarlah mereka memuji nama-Nya dengan tari-tarian, dengan rebana dan lira biarlah mereka bernyayi untuk-Nya.” 4. “Karena Tuhan suka kepada umat-Nya, Dia akan memperindah orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan.” 5. “Biarlah orang-orang setia bersorak-sorai dalam kemuliaan, biarlah mereka bersukacita di tempat tidur mereka.” 6. “Pujian-Nya di tenggorokan mereka dan pedang berhaluan dua tangan di tangan mereka,” 7. “untuk membalas dendam kepada bangsa-bangsa dan menghukum bangsa-bangsa,” 8. “untuk mengikat raja-raja mereka dengan belenggu dan bangsawan-bangsawan mereka dengan besi, untuk melakukan atas mereka hukuman yang tertulis.” 9. “Ini adalah kemuliaan bagi semua orang-orang setia-Nya.” Maka dalam Zabur ini orang yang dikabarka-kan dilukiskan sebagai Raja, dan yang mentaatinya dilukiskan sebagai orang-orang setia, dan disebutkan dari sifat-sifat mereka kebanggaan mereka dalam kemuliaan dan pujian-Nya di tenggorokan mereka, dan berupa pedang berhaluan dua tangan di tangan mereka, dan pembalasan mereka kepada bangsa-bangsa dan hukuman mereka untuk bangsa-bangsa, serta penangkapan mereka kepada raja-raja dan bangsawan dengan belenggu dan besi. Maka saya katakan: orang yang dikabarka-kan adalah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya Radliyallahu ‘anhum, dan semua sifat-sifat yang disebutkan dalam Zabur ini terbukti bagi dia dan para sahabatnya, dan bukan orang yang dikabarka-kan adalah Sulaiman Alaihi as-salam karena dia tidak memperluas kerajaannya melebihi kerajaan bapaknya menurut klaim Ahlul Kitab, dan karena dia menjadi murtad beribadah kepada berhala pada akhir hidupnya menurut klaim mereka, bukan pula Isa anak Maryam Alaihi as-salam karena dia jauh dari sifat-sifat yang disebutkan tentangnya karena dia ditangkap kemudian dibunuh menurut klaim mereka, demikian pula kebanyakan pengikutnya ditangkap dengan belenggu dan besi, kemudian dibunuh oleh tangan raja-raja dan bangsawan kafir.

(Berita Gembira Kedelapan) Dalam pasal empat puluh dua dari Kitab Yesaya adalah sebagai berikut: 9. “Hal-hal pertama telah datang dan Aku mengabarka-kan perkara-perkara yang baru sebelum terjadi Aku memberitahukan kepadamu.” 10. “Bernyanyilah kepada Tuhan dengan nyanyian yang baru, pujian-Nya dari ujung bumi, baik mereka yang berlayar di laut maupun apa yang ada di dalamnya, pulau-pulau dan penduduk-penduduknya.” 11. “Biarlah padang gurun dan kota-kotanya meninggi serta desa-desa tempat Kedar tinggal bersorak-sorak; biarlah penduduk batu karang menggebu-gebu dari puncak-puncak bukit.” 12. “Mereka memberikan kemuliaan kepada Tuhan dan memuji-Nya di pulau-pulau.” 13. “Tuhan keluar seperti seorang perkasa, seperti seorang perajurit Dia menggugah semangat; Dia berteriak, ya Dia mengeluarkan teriakan perang melawan musuh-musuhnya.” 14. “Aku telah berdiam diri lama-lama, Aku telah diam dan menahan diri; seperti perempuan yang sedang melahirkan akan Aku berteriak, akan Aku menghancurkan dan menelan habis sekaligus.” 15. “Aku akan meninggalkan gunung-gunung dan bukit-bukit tandus dan semua tanamannya akan Aku keringkan; Aku akan mengubah sungai-sungai menjadi pulau-pulau dan danau-danau akan Aku keringkan.” 16. “Aku akan membimbing orang-orang buta di jalan yang tidak mereka kenal, di jalanan yang tidak mereka ketahui akan Aku membuat mereka berjalan; Aku akan mengubah kegelapan di hadapan mereka menjadi terang dan jalan-jalan yang berbelok menjadi lurus. Hal-hal ini akan Aku lakukan dan tidak akan meninggalkan mereka.” 17. “Orang-orang akan dipukul mundur dan sangat malu-malukan, mereka yang membuat patung dan menyuruh penuangan logam serta berkata kepada ciptaan-ciptaan mereka: ‘Kamu adalah tuhan-tuhan kami,’ mereka akan dihinakan dengan sangat.” Dan ayat ke-17 dalam terjemahan Persia adalah sebagai berikut: “Orang-orang yang mengandalkan patung akan dihinakan dan kalahkan sepenuhnya dengan aib dan malu.”

Terlihat dari ayat kesembilan bahwa Yesaya Alaihi as-salam terlebih dahulu memberitahukan tentang beberapa perkara, kemudian dia memberitahukan tentang berita-berita baru yang akan datang di masa depan, maka kondisi yang dia beritahukan dari ayat ini hingga akhir pasal berbeda dengan kondisi yang dia beritahukan sebelumnya, dan oleh karena itu dia berkata dalam ayat ke-23 sebagai berikut: “Siapa di antara kalian yang mendengar ini akan memperhatikan dan mendengarkan untuk waktu-waktu berikutnya?” Nyanyian yang baru adalah ungkapan tentang ibadah menurut cara baru yang terdapat dalam Syariat Muhammadiyyah, dan penyebarannya kepada penduduk ujung-ujung bumi dan penduduk pulau-pulau serta penduduk kota-kota dan padang gurun, adalah isyarat kepada keuniversalan kenabian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan istilah Kedar adalah isyarat yang lebih kuat kepadanya karena Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk dalam keturunan Kedar anak Ismail. Dan perkataannya “dari puncak-puncak gunung mereka berteriak” adalah isyarat kepada ibadah khusus yang dilakukan pada hari-hari Haji, di mana ribuan ribuan manusia berteriak “Labbaik Allahumma Labbaik (Aku siap Ya Allah aku siap).” Dan perkataannya “pujian-Nya mereka beritahukan di pulau-pulau” adalah isyarat kepada Adzan yang disampaikan oleh ribuan ribuan orang di berbagai penjuru dunia pada waktu-waktu lima dengan suara keras. Dan perkataannya “Tuhan seperti seorang perkasa keluar seperti seorang perajurit yang menggugah semangat” adalah isyarat kepada isi dari jihad, isyarat yang baik, bahwa jihad dia dan jihad pengikut-pengikutnya adalah untuk Allah dan atas perintah-Nya, terbebas dari kepentingan-kepentingan hawa nafsu, dan karena itu Allah mengungkapkan keluarnya nabi ini dan keluarnya pengikut-pengikutnya dengan keluarnya-nya, dan dijelaskan dalam ayat ke-14 alasan penetapan hukum jihad dan diisyaratkan dalam ayat ke-16 tentang keadaan orang-orang Arab karena mereka tidak memahami hukum-hukum Allah dan mereka menyembah berhala serta ditimpa oleh berbagai adat istiadat yang buruk dari zaman Jahiliyyah, sebagaimana Allah berfirman tentang mereka: “Sesungguhnya mereka sebelumnya berada dalam kesesatan yang jelas” (Al-Qur’an Surah An-Nahl: 22). Dan perkataannya “Aku tidak akan meninggalkan mereka” adalah isyarat kepada bahwa umatnya adalah umat yang dikasihani “bukan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula orang-orang yang sesat” (Al-Qur’an Surah Al-Fatihah: 7), dan kepada dukungan Syariat-nya. Dan perkataannya “dan mereka yang mengandalkan patung berkata kepada ciptaan penuangan logam: ‘Kamu adalah tuhan-tuhan kami,’ mereka akan dihinakan dengan kehinaan,” adalah janji bahwa para penyembah berhala dan patung seperti para musyrik Arab dan para penyembah salib serta gambaran-gambaran para wali akan mengalami kehinaan dan kekalahan yang sempurna, dan telah dipenuhi janji-Nya. Karena sesungguhnya para musyrik Arab, Heraklius pemimpin besar Romawi, dan Kisra Persia telah berusaha maksimal untuk memadamkan cahaya Ahmadi tetapi mereka hanya memperoleh kehinaan yang sempurna dan pada akhirnya tidak tertinggal jejas kesyirikan di wilayah orang-orang Arab, dan hilang kerajaan Kisra sama sekali dan hilang pemerintahan penduduk salib dari Syam sama sekali.

Adapun di wilayah-wilayah lain, dari beberapa di antaranya jejas itu hilang sama sekali seperti Bukhara dan Kabul dan lainnya, dan dari beberapa jejaknya menjadi sedikit seperti India dan Sind dan lainnya, dan Tauhid tersebar ke timur dan barat.

(Berita Gembira Kesembilan) Dalam pasal empat puluh empat dari Kitab Yesaya adalah sebagai berikut: 1. “Bernyanyilah, hai wanita yang mandul, yang tidak mengandung; bersorak-sora-kanlah nyanyian bergemuruh dan berteriak, karena lebih banyak anak dari pada si istri, firman Tuhan.” 2. “Lebarkan tempat kemahmu, dan biarlah kain kemahmu di tanamankan, jangan menahan diri; panjangi tali-talimu dan perkuatlah pasak-pasak-mu.” 3. “Karena engkau akan meluas ke kanan dan ke kiri, dan benih-benihmu akan mewarisi bangsa-bangsa dan akan menghuni kota-kota yang tandus.” 4. “Jangan takut, karena engkau tidak akan malu; jangan merasa malu, karena engkau tidak akan terhina; sesungguhnya engkau akan meninggalkan malu perawan-perawanmu, dan engkau tidak akan mengingat lagi kehinaan duda-duda-mu.” 5. “Karena Pembuat-mu adalah Suami-mu, namanya ialah Tuhan Semesta Alam, dan Penebus-mu ialah Yang Kudus, namanya ialah Allah segenap bumi.” 6. “Sebab Tuhan telah memanggil engkau seperti perempuan yang ditinggalkan dan bersedih-sedihan, seperti istri yang diambil pada masa muda-nya dan ditolak, firman Allahmu.” 7. “Sebentar saja Aku meninggalkan engkau, tetapi dengan belas-kasihan yang besar Aku akan mengumpulkan engkau kembali.” 8. “Dalam murka sebentar saja Aku menyembunyikan wajah-Ku dari pada engkau, tetapi dengan kemurahan yang kekal Aku akan belas-kasihan kepada-mu, firman Penebus-mu, Tuhan.” 9. “Sebab hal ini sama seperti zaman Nuh bagi-Ku, di mana Aku bersumpah bahwa air bah Nuh tidak akan datang lagi atas bumi; demikian Aku bersumpah bahwa Aku tidak akan marah kepada-mu dan tidak akan menunjuk-nunjuk engkau.” 10. “Sebab gunung-gunung akan berpindah dan bukit-bukit akan terguncang, tetapi kemurahan-Ku tidak akan berpindah dari pada-mu dan perjanjian Kedamaian-Ku tidak akan terguncang, firman Tuhan yang belas-kasihan kepada-mu.” 11. “Hai kota yang tertindas, diombang-ambingkan badai dan tidak punya penghibur; sesungguhnya Aku akan membangun batu-batu-mu dengan batu nilam dan fondasimu dengan batu saphir.” 12. “Aku akan membuat batu-batu-mu menjadi permata dan semua pagar-mu menjadi batu-batu mulia.” 13. “Semua anak-anak-mu akan diajar-ajar oleh Tuhan dan sejahtera yang besar akan dialami anak-anak-mu.” 14. “Kamu akan ditegakkan dalam kebenaran; jauhkan diri dari penindasan, karena engkau tidak akan takut, dan jauhkan diri dari keterraran karena itu tidak akan mendekat kepada-mu.” 15. “Lihatlah mereka yang akan mengumpul melawan engkau tetapi bukan dari pada-Ku; barangsiapa yang mengumpul melawan engkau akan rubuh karena engkau.” 16. “Sesungguhnya Aku telah menciptakan pandai-besi yang menyalakan api dan mengeluarkan perkakas untuk pekerjaan-nya; dan Aku telah menciptakan pemusnah untuk membinasakan.” 17. “Setiap senjata yang diformulasikan melawan-mu tidak akan berhasil, dan setiap lidah yang membantah-mu dalam pengadilan engkau akan memperdengarkan hukuman atasnya. Inilah pusaka para hamba Tuhan dan keadilan mereka dari pada-Ku, firman Tuhan.”

Adapun pendapat saya: yang dimaksud dengan perempuan mandul dalam ayat pertama adalah Kota Mekah yang mulia, karena tidak ada nabi yang muncul darinya sesudah Ismail Alaihi as-salam dan tidak ada wahyu yang turun di dalamnya, berbeda dengan Yerusalem karena banyak nabi muncul di dalamnya dan banyak wahyu yang turun. Dan anak-anak Ibu pertama adalah ungkapan tentang keturunan Hagar karena dia dalam posisi seperti istri yang diusir keluar dari rumah tinggal di padang gurun, dan karena itu terjadi dalam janji Allah kepada Hagar tentang Ismail: “Insan (manusia) yang hidup di padang gurun.” sebagaimana dinyatakan dalam Pasal Enam Belas dari Kitab Kejadian. Dan anak-anak istri pertama adalah ungkapan tentang keturunan Sarah.

Maka Allah menegur Mekah memerintah dia untuk berserah dan bertauhid serta menyanyikan ucapan syukur, karena banyak dari keturunan Hagar menjadi lebih baik daripada keturunan Sarah, maka keunggulan terjadi bagi Mekah karena keunggulan yang terjadi bagi penduduknya, dan telah dipenuhi janji bahwa Allah mengutus Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan, sebaik-baik manusia, penutup para nabi dari keturunan penduduknya dalam keturunan Hagar, dan inilah yang dimaksud dengan pandai besi yang menyalakan api dan mengeluarkan peralatan untuk kerjanya, dan dia adalah pemusnah yang diciptakan untuk membinasakan para musyrik, dan terjadi keluasan bagi Mekah melalui nabi ini dan apa yang diperoleh selain darinya dari berbagai tempat ibadah di dunia karena tidak ada tempat ibadah yang seperti Ka’bah sejak munculnya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga sekarang, dan kehormatan yang diperolehnya melalui kurban-kurban pada setiap tahun selama seribu dua ratus delapan puluh tahun, tidak pernah diperoleh Baitul Maqdis kecuali dua kali, sekali pada masa Sulaiman Alaihi as-salam ketika selesai membangunnya, dan sekali pada tahun ke-18 dari pemerintahan Yosya, dan akan tetap kehormatan ini untuk Mekah selamanya semoga Allah menghendaki, sebagaimana janji Allah dengan firman-Nya: “Jangan takut karena engkau tidak akan malu dan tidak akan terhina karena engkau tidak akan merasa terhina,” dan dengan firman-Nya: “Dengan kemurahan yang besar akan Aku kumpulkan engkau dan dengan kemurahan yang kekal akan Aku belas-kasihani engkau,” dan dengan firman-Nya: “Aku bersumpah tidak akan marah kepada-mu dan tidak akan menunjuk-nunjuk engkau,” dan dengan firman-Nya: “Kemurahan-Ku tidak akan meninggalkan engkau dan perjanjian kedamaian-Ku tidak akan terguncang,” dan meraih kerajaan keturunannya ke timur dan barat serta mewarisi bangsa-bangsa dan membangun kota-kota dalam waktu singkat yang tidak melebihi dua puluh dua tahun dari Hijrah, dan seperti pertaklukan ini dalam masa singkat seperti ini tidak pernah didengar dari zaman Adam Alaihi as-salam sampai zaman Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi siapa yang mengklaim agama baru.

Dan inilah yang dimaksud firman Allah, “dan benih-benihmu akan mewarisi bangsa-bangsa dan akan menghuni kota-kota yang tandus.” Para sultan Islam dahulu dan sekarang telah berusaha sepenuhnya dalam membangun Ka’bah dan Masjidil Haram serta menghiasinya, dan menggali sumur-sumur, kolam-kolam dan mata air di Mekah dan sekitarnya, dan dari masa yang panjang ini layanan mulia ini terhubung dengan para sultan Keluarga Utsmani, semoga Allah mengampuni leluhur mereka dan merestai mereka dan Allah menambah kebaikan keturunan mereka dan meluaskan kerajaan mereka di berbagai arah serta memberi taufik kepada mereka untuk keadilan dan berbagai kebaikan. Maka mereka telah melayani dan terus melayani kedua Haramain Mulia semoga Allah abadikan kemuliaan keduanya dari masa ini sampai sekarang seperti adanya, hingga gelar pelayan kedua Haramain Mulia menjadi gelar yang paling mulia dan paling terhormat di antara mereka, dan orang-orang asing menyukai untuk bermukim di dekatnya sejak munculnya Islam sampai sekarang, terutama pada zaman ini, dan ribuan orang berdatangan ke sana setiap tahun dari berbagai wilayah dan negeri yang jauh, dan telah dipenuhi janji dengan firman-Nya: “Setiap senjata yang diformulasikan melawan-mu tidak akan berhasil,” karena setiap orang dari para pembangkang yang berdiri melawannya Allah merendahkannya sebagaimana terjadi pada para pemilik gajah. Diriwayatkan bahwa Abrahah bin Ash-Shabbah Al-Asyram ketika menjadi raja atas Yaman atas nama Asmah An-Najasyi, membangun sebuah gereja di Sana’a dan menamakannya Al-Qulais dan bermaksud untuk mengalihkan para jemaah Haji kepadanya dan bersumpah akan meruntuhkan Ka’bah, maka dia keluar dengan pasukan Habasyah dan bersama dengannya gajah bernama Mahmud yang sangat kuat dan besar dan gajah-gajah lainnya. Maka Abdulmuthalib keluar menemuinya dan menawarkan kepadanya sepertiga dari harta-harta Tihama agar dia kembali tetapi dia menolak, dan dia menyiapkan pasukannya dan memajukan gajahnya. Maka setiap kali mereka mengarahkannya ke arah Haram dia berlutut dan tidak bergerak, dan jika mereka mengarahkannya ke arah Yaman atau ke arah lain dia berlari cepat. Maka Allah mengirimkan burung-burung, masing-masing membawa batu dalam paruhnya dan dua batu di kakinya, ukuran batu itu lebih besar dari lentil dan lebih kecil dari biji kuaci. Batu itu jatuh di kepala setiap laki-laki sehingga keluar dari anusnya. Dan pada setiap batu tertulis nama orang yang akan ditimpa batu itu. Maka mereka lari terbirit-birit dan binasa di setiap jalan dan tempat persinggahan. Adapun Abrahah mengalami pembusukan, jari-jarinya dan tulang-tulangnya rontok satu persatu. Dia tidak mati hingga dadanya terbelah karena jantungnya. Wazinya Abu Yakssum berhasil lari, dengan seekor burung yang terbang di atasnya hingga sampai ke Negus. Dia menceritakan kisah tersebut kepada Negus. Ketika dia telah menyelesaikan ceritanya, batu jatuh mengenainya dan dia roboh mati di hadapan Negus. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberitahukan tentang kondisi mereka dalam Surah Al-Fil (Surah 105), dan sesuai dengan janji yang telah disebutkan, Al-Masih Ad-Dajjal yang buta sebelah tidak akan memasuki Makkah dan akan kembali dengan kecewa seperti yang diriwayatkan dalam hadits-hadits sahih.

(KABAR GEMBIRA KESEPULUH)

Dalam Bab 65 dari Kitab Yesaya tertulis demikian:

  1. “Aku didatangi oleh orang-orang yang tidak menanyakan Aku sebelumnya, dan Aku ditemukan oleh orang-orang yang tidak mencari Aku. Aku bersabda: ‘Inilah Aku untuk umat yang tidak menyeru dengan namaKu.'”
  2. “Aku telah mengulurkan tanganKu sepanjang hari kepada rakyat yang tidak beriman, yang mengikuti jalan yang tidak baik menurut pikiran mereka.”
  3. “Rakyat yang terus-menerus membuat AKu murka di hadapanKu, yang menyembelih dalam taman-taman dan menyembelih di atas batu-batu.”
  4. “Mereka yang duduk di kuburan dan bermalam di tempat-tempat tersembunyi, yang memakan daging babi dan dalam periuk mereka ada kaldu yang najis.”
  5. “Mereka berkata: ‘Jauhilah Aku, jangan menghampiri Aku, karena engkau najis!’ Mereka ini akan menjadi asap di hidungKu, api yang menyala-nyala seharian.”
  6. “Sesungguhnya tertulis di hadapanKu, Aku tidak akan diam, tetapi akan membalas, akan membalas ke dalam pangkuan mereka.”

Adapun maksud dari “mereka yang tidak menanyakan Aku” dan “mereka yang tidak mencari Aku” adalah orang-orang Arab, karena mereka tidak memahami hakikat Allah dan sifat-sifatNya serta syariatNya, oleh sebab itu mereka tidak bertanya tentang Allah dan tidak mencari petunjuk dariNya, sebagaimana firman Allah Taala dalam Surah Ali Imran:

“Sungguh Allah telah memberikan budi bahasa (karunia) kepada orang-orang mukmin ketika Dia mengutus di antara mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayatNya, membersihkan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

Tidak dapat dimaksudkan dengan mereka orang-orang Yunani, sebagaimana yang telah diketahui pada kabar gembira yang kedua. Sifat-sifat yang disebutkan dalam ayat kedua dan ketiga sesuai dengan keadaan baik orang Yahudi maupun orang Kristen. Adapun sifat-sifat yang disebutkan dalam ayat keempat lebih sesuai dengan keadaan orang Kristen, sedangkan sifat yang disebutkan dalam ayat kelima lebih sesuai dengan keadaan orang Yahudi. Maka Allah menolak mereka dan memilih umat Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam.

(KABAR GEMBIRA KESEBELAS)

Dalam Bab 2 dari Kitab Daniel terdapat penjelasan tentang mimpi yang dilihat oleh Bukhtinassar, raja Babil, lalu ia lupa. Kemudian Nabi Daniel menjelaskan menurut wahyu mimpi tersebut dan penafsirannya:

  1. “Engkau, wahai raja, sedang memandang, dan tiba-tiba ada satu patung yang sangat besar. Patung itu sangat besar dan tinggi, berdiri menghadap ke hadapanmu, dan penampilannya menakutkan.”
  2. “Kepala patung itu terbuat dari emas murni, dada dan lengannya dari perak, perut dan pahanya dari tembaga.”
  3. “Betisnya dari besi, dan kakinya sebagian dari besi dan sebagian dari tanah liat.”
  4. “Engkau sedang melihat demikian hingga terlepas satu batu dari gunung tanpa tangan manusia dan menimpa patung itu pada kaki yang terbuat dari besi dan tanah liat, lalu menghancurkannya.”
  5. “Maka besi, tanah liat, tembaga, perak, dan emas semuanya hancur berkeping-keping dan menjadi seperti debu di tempat pengirikan gandum pada musim panas. Angin membawa debu itu pergi sehingga tidak tertinggal jejaknya sama sekali. Adapun batu yang menimpa patung itu menjadi sebuah gunung yang besar dan memenuhi seluruh bumi.”
  6. “Inilah mimpinya. Sekarang kami akan memberitahukan tafsirnya di hadapan tuanku, wahai raja.”
  7. “Engkau, wahai raja, adalah raja segala raja, kepada siapa Allah Maha Kuasa telah memberikan kerajaan, kekuatan, kekuasaan, dan kemuliaan.”
  8. “Ke mana pun anak-anak manusia berdiam, hewan-hewan di ladangan, dan burung-burung di langit, Dia telah memberikan semuanya ke dalam tanganmu dan membuat engkau berkuasa atas semuanya. Engkau adalah kepala emas itu.”
  9. “Setelah engkau akan bangkit kerajaan lain yang lebih lemah dari padamu, dari perak. Kemudian kerajaan yang ketiga lagi dari tembaga, yang akan berkuasa atas seluruh bumi.”
  10. “Kerajaan yang keempat akan seperti besi, sebab besi memecahkan dan meremukkan segalanya. Seperti besi yang meremukkan itu, kerajaan itu akan meremukkan dan memecahkan semua kerajaan itu.”
  11. “Tentang kaki dan jari-jari kaki yang engkau lihat—sebagian dari tanah liat yang halus dan sebagian dari besi—kerajaan itu akan terpecah-belah. Akan ada kekuatan besi dalam kerajaan itu, sebab besi itu bercampur dengan tanah liat yang lembut.”
  12. “Jari-jari kaki itu sebagian dari besi dan sebagian dari tanah liat, demikianlah kerajaan itu akan sebagian kuat dan sebagian rapuh.”
  13. “Sebab engkau melihat besi bercampur dengan tanah liat yang lembut, mereka itu akan berpadu dengan perhubungan manusia, tetapi tidak akan saling menempel satu pada yang lain, seperti besi tidak dapat bercampur dengan tanah liat.”
  14. “Pada zaman kerajaan-kerajaan itu, Allah di langit akan mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan pernah dihancurkan, dan kerajaan itu tidak akan jatuh ke tangan bangsa lain. Kerajaan itu akan meremukkan dan mengakhiri semua kerajaan itu, tetapi kerajaan itu sendiri akan tetap selamanya.”
  15. “Seperti yang engkau lihat bahwa dari gunung terlepas satu batu tanpa tangan manusia, dan batu itu menghancurkan tanah liat, besi, tembaga, perak, dan emas. Allah yang Maha Besar telah memberitahukan kepada raja apa yang akan terjadi setelah ini. Mimpi itu benar dan tafsirnya sungguh tepat.”

Adapun yang dimaksud dengan kerajaan pertama adalah kekuasaan Bukhtinassar, kerajaan kedua adalah kekuasaan orang-orang Media yang berkuasa setelah pembunuhan Baltsazar putra Bukhtinassar, sebagaimana yang jelas tertulis dalam Bab 5 dari kitab yang disebutkan. Kekuasaan mereka adalah lemah dibanding kekuasaan orang-orang Kaldan. Yang dimaksud dengan kerajaan ketiga adalah kekuasaan orang-orang Persia (Kiyan), karena Kurus, raja Iran yang menurut pendapat para pendeta Kristen disebut Khaksyarsa, berkuasa atas Babel sebelum kelahiran Nabi Isa Alaihi Assalam lima ratus tiga puluh enam tahun. Karena orang-orang Persia menguasai kekuasaan yang mendunia, maka seakan-akan mereka menguasai seluruh bumi. Yang dimaksud dengan kerajaan keempat adalah kekuasaan Iskandar putra Filipus dari Roma, yang berkuasa atas wilayah Persia tiga ratus tiga puluh tahun sebelum kelahiran Nabi Isa Alaihi Assalam. Kekuasaan ini sangat kuat seperti besi. Kemudian kekuasaan itu membuat wilayah Persia terpecah-belah di antara berbagai kelompok raja, sehingga kekuasaan ini tetap lemah hingga munculnya Dinasti Sasanid. Setelah munculnya mereka, kekuasaan menjadi kuat kembali, maka kekuasaan ini menjadi lemah sekali-kali dan kuat sekali-kali.

Pada masa Nusyirwan lahirlah Nabi Muhammad Abdullah Shalallahu Alaihi Wasallam, dan Allah memberikan kepadanya kekuasaan zahir dan batin. Para pengikutnya telah berkuasa dalam waktu yang singkat di sebelah timur dan barat, serta atas seluruh wilayah Persia yang mana mimpi dan tafsirnya terkait dengannya. Ini adalah kekuasaan yang kekal yang tidak akan pernah berakhir, dan kerajaan itu tidak diberikan kepada bangsa lain. Kesempurnaannya akan tampak dengan segera pada zaman Imam Mahdi Radhiyallahu Anhu. Namun kelemahan dan kehancuran akan terjadi sebelum kemunculannya dalam waktu yang singkat, sebagaimana beberapa tandanya dapat dilihat sekarang. Kemudian hal itu akan hilang dengan kemunculannya, dan agama akan seluruhnya untuk Allah. Batu itu—yang terlepas dari gunung tanpa tangan manusia dan menghancurkan tanah liat, besi, tembaga, perak, dan emas, lalu menjadi gunung yang besar dan memenuhi seluruh bumi—adalah Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam.

(KABAR GEMBIRA KEDUABELAS)

Yudas Rasul menyampaikan dalam suratnya berita yang diucapkan oleh Nabi Enokh, yang merupakan keturunan ketujuh dari Nabi Adam Alaihi Assalam. Dari kenaikannya hingga kelahiran Nabi Isa Alaihi Assalam, menurut perhitungan sejarawan mereka, tiga ribu tujuh belas tahun. Saya menerjemahkan pernyataannya dari terjemahan bahasa Arab yang diterbitkan tahun 1844:

“Tuhan telah datang dengan ribuan para malaikat-malaikatNya yang suci untuk menghakimi semua orang dan membantah semua orang yang menipu tentang semua perbuatan kedurhakaan mereka yang mereka lakukan dan tentang semua perkataan keras yang telah diucapkan oleh orang-orang munafik yang berdosa terhadap Allah.”

Telah diketahui dalam pendahuluan Bab Keempat bahwa penggunaan kata “Tuhan” dalam arti pemilik dan guru adalah umum, sehingga tidak perlu mengulanginya. Adapun kata “yang mulia” atau “yang suci” dalam kedua kitab disebutkan untuk mereka yang beriman dan berada di bumi dengan cara yang umum.

Footnote [1]: Ayat pertama dari Bab 5 Kitab Ayub seperti ini: “Sekarang panggillah! Adakah yang akan menjawabmu? Dan kepada siapa diantara malaikat-malaikat suci akan engkau berpaling?” Yang dimaksud dengan malaikat-malaikat suci di sini adalah orang-orang beriman yang berada di bumi. Adapun menurut sarjana Protestan, mereka menampilkan apa yang dimiliki oleh sarjana Katolik, karena tempat pembersihan mereka, yang merupakan tempat penderitaan jiwa-jiwa yang saleh sampai mereka mendapat keselamatan melalui pengampunan Paus, ditemukan setelah Nabi Isa Alaihi Assalam dan tidak ada pada zaman Nabi Ayub Alaihi Assalam.

Footnote [2]: Ayat kedua dari Bab 1 Surat Pertama kepada Jemaat Korintus seperti ini: “Kepada jemaat Allah di Korintus, yang dikuduskan dalam Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi orang-orang kudus…” dan seterusnya. Yang dimaksud dengan yang dikuduskan dan yang mulia adalah orang-orang yang beriman pada Kristus Yesus yang berada di Korintus.

Footnote [3]: Ayat ketiga belas dari Bab 12 Surat kepada Jemaat Roma seperti ini: “Mengambil bagian dalam kebutuhan orang-orang kudus…” dan seterusnya.

Footnote [4, 5]: Dalam Bab 15 darinya seperti ini: “Tetapi sekarang aku akan pergi ke Yerusalem untuk melayani orang-orang kudus” 26 “Karena orang-orang dari Makedonia dan Akhaya bersukacita untuk memberikan sumbangan untuk orang-orang miskin di antara orang-orang kudus di Yerusalem.” Yang dimaksud dengan orang-orang kudus dalam kedua tempat itu adalah orang-orang beriman yang berada di Yerusalem.

Footnote [6]: Ayat pertama dari Bab 1 Surat kepada Jemaat Filipi seperti ini: “Dari Paulus dan Timotius, hamba-hamba Kristus Yesus, kepada semua orang-orang kudus dalam Kristus Yesus di Filipi…” dan seterusnya. Yang dimaksud dengan orang-orang kudus di sini adalah orang-orang beriman yang berada di Filipi.

Footnote [7]: Terdapat dalam ayat kesepuluh dari Bab 5 Surat Pertama kepada Timotius mengenai pelayanan wanita seperti ini: “Mencuci kaki orang-orang kudus…” Yang dimaksud dengan orang-orang kudus di sini adalah orang-orang beriman yang berada di bumi dengan dua alasan: Pertama, orang-orang kudus yang berada di surga adalah ruh yang tidak memiliki kaki. Kedua, para pelayanan wanita tidak dapat naik ke surga. Setelah memahami penggunaan kata “Tuhan” dan “yang mulia” atau “yang suci,” aku mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Tuhan adalah Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam, dan dengan “ribuan yang suci” adalah para sahabat. Ungkapan tentang kedatangannya dengan “telah datang” adalah karena hal itu adalah perkara yang pasti. Jadi Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam datang dengan para sahabat yang mulia, lalu dia menghukum para kafir, dan membantah para munafik, para pendosa atas perbuatan kemunafikan dan perkataan-perkataan jahat mereka terhadap Allah dan para rasul-Nya.

Dia membantah para musyrik karena mereka tidak menyerahkan diri kepada tauhid Allah dan risalah para rasul-Nya sama sekali, dan penyembahan mereka terhadap patung dan berhala. Dia membantah orang-orang Yahudi atas pengabaian mereka terhadap hak Nabi Isa dan Maryam Alaihi Assalam dan beberapa kepercayaan mereka yang palsu. Dia membantah penganut trinitas sama sekali atas pengabaian mereka terhadap tauhid Allah dan kelebihan mereka terhadap hak Nabi Isa Alaihi Assalam, dan atas penyembahan kebanyakan mereka terhadap salib dan patung-patung dan beberapa kepercayaan mereka yang palsu.

(KABAR GEMBIRA KETIGABELAS)

Dalam Bab 3 dari Injil Matius demikian:

“Pada zaman itu datanglah Yohanes Pembaptis memberitakan di padang gurun Yudea.”

  1. “Katanya: Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat.”

Dalam Bab 4 dari Injil Matius demikian:

  1. “Tetapi ketika Yesus mendengar bahwa Yohanes telah ditangkap, Ia pergi ke Galilea.”
  2. “Sejak waktu itu Yesus mulai memberitakan, kata-Nya: Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat.”
  3. “Yesus berkeliling ke seluruh Galilea, mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka…” dan seterusnya.

Dalam Bab 6 dari Injil Matius, dalam penjelasan tentang doa yang diajarkan Nabi Isa Alaihi Assalam kepada murid-muridnya demikian:

“Datanglah kerajaanMu.”

Ketika Dia mengutus para rasul ke negeri-negeri Israel untuk menyeru dan memberitakan, Dia memberi mereka perintah-perintah, di antaranya perintah ini juga:

“Ketika kamu pergi, beritakanlah, katakan bahwa Kerajaan Sorga sudah dekat” sebagaimana yang jelas tertulis dalam Bab 10 dari Injil Matius.

Terdapat dalam Bab 9 dari Injil Lukas demikian:

  1. “Ia memanggil kedua belas murid-Nya dan memberikan kepada mereka kuasa dan kewenangan atas semua setan dan untuk menyembuhkan penyakit.”
  2. “Ia menyuruh mereka memberitakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang-orang sakit.”

Dalam Bab 10 dari Injil Lukas demikian:

“Setelah itu Tuhan menunjuk tujuh puluh orang lain lagi dan mengutus mereka…” dan seterusnya. “Ia berkata kepada mereka” dan seterusnya.

  1. “Kota mana pun yang kamu masuki dan mereka menerima kamu, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu.”
  2. “Sembuhkanlah orang-orang sakit di sana dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat kepada kamu.”
  3. “Tetapi kota mana pun yang kamu masuki dan mereka tidak menerima kamu, keluarlah ke jalan-jalan kota itu dan katakanlah.”
  4. “Bahkan debu dari kota kamu yang menempel pada kami pun kami kebaskan untuk kamu. Namun ketahuilah bahwa Kerajaan Allah sudah dekat.”

Menjadi jelas bahwa masing-masing Yohanes, Isa Alaihi Assalam, para rasul, dan tujuh puluh murid memberitakan Kerajaan Sorga, dan Nabi Isa Alaihi Assalam memberitakan dengan kata-kata yang sama dengan yang digunakan Yohanes Alaihi Assalam, sehingga diketahui bahwa Kerajaan ini, sebagaimana tidak muncul pada zaman Yohanes Alaihi Assalam, demikian juga tidak muncul pada zaman Isa Alaihi Assalam dan tidak pada zaman para rasul dan tujuh puluh orang, melainkan masing-masing dari mereka memberitakan tentangnya, menginformasikan tentang kemuliaan dan kebesarannya, dan berharap kedatangannya.

Oleh karena itu, yang dimaksud dengan Kerajaan Sorga bukanlah jalan keselamatan yang muncul dengan syariat Nabi Isa Alaihi Assalam, sebaliknya tidak akan Nabi Isa Alaihi Assalam, para rasul, dan tujuh puluh orang mengatakan bahwa Kerajaan Sorga sudah dekat, dan tidak akan diajarkan kepada para murid untuk berdoa: “Datanglah kerajaaanMu,” karena jalan ini telah muncul setelah Nabi Isa Alaihi Assalam mengklaim kenabian dengan syariatnya. Maka yang dimaksud adalah jalan keselamatan yang muncul dengan syariat Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam. Mereka ini memberitakan jalan yang mulia ini. Kata “Kerajaan Sorga” menurut kesan luar menunjukkan bahwa kerajaan ini akan berbentuk kekuasaan dan bukan dalam bentuk kemiskinan, dan bahwa peperangan dan perdebatan di dalamnya melawan yang berlainan pendapat akan dilakukan untuk tujuannya, dan bahwa pembentukan hukum-hukumnya harus didasarkan pada sebuah kitab yang surgawi, dan setiap hal dari ketiga hal ini sesuai dengan syariat Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam.

Apa yang dikatakan oleh para sarjana Kristen bahwa yang dimaksud dengan kerajaan ini adalah penyebaran agama Kristen di seluruh dunia dan mencakup setiap bagian dunia setelah turunnya Nabi Isa Alaihi Assalam, adalah penafsiran yang lemah dan bertentangan dengan makna lahiriah. Hal ini ditentang oleh perumpamaan-perumpamaan yang diriwayatkan dari Nabi Isa Alaihi Assalam dalam Bab 13 dari Injil Matius. Misalnya, Dia berkata: “Kerajaan Sorga itu seumpama seorang yang menabur benih yang baik di ladangnya.” Kemudian Dia berkata: “Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi yang diambil oleh seseorang dan ditanam di ladangnya.” Kemudian Dia berkata: “Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil oleh seorang perempuan dan disembunyikan dalam tiga sukat tepung sampai semuanya beragi.”

Dia membandingkan Kerajaan Sorga dengan seorang yang menabur, bukan dengan pertumbuhan tanaman dan panen. Demikian juga Dia membandingkan dengan biji sesawi, bukan dengan menjadi pohon yang besar. Dia membandingkan dengan ragi, bukan dengan semua tepung menjadi beragi. Demikian pula penafsiran ini ditolak oleh perkataan Nabi Isa Alaihi Assalam setelah menjelaskan perumpamaan yang diriwayatkan dalam Bab 21 dari Injil Matius demikian:

“Sebab itu Aku berkata kepadamu: Kerajaan Allah akan diambil dari kamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang menghasilkan buahnya.”

Perkataan ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan Kerajaan Sorga adalah jalan keselamatan itu sendiri, bukan penyebarannya di seluruh dunia dan mencakup seluruh dunia. Sebaliknya, tidak akan ada artinya mengambil penyebaran dan jangkauan dari satu kelompok dan memberikannya kepada kelompok lain. Maka yang benar adalah bahwa yang dimaksud dengan kerajaan ini adalah kerajaan yang dijelaskan oleh Nabi Daniel Alaihi Assalam dalam Bab 2 dari kitabnya. Jadi realisasi Kerajaan Sorga ini dan kerajaan itu adalah kenabian Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam. Wallahu A’lam wa Ilmuhum Atam.

(KABAR GEMBIRA KEEMPATBELAS)

Dalam Bab 13 dari Injil Matius demikian:

  1. “Dia menghadapkan kepada mereka perumpamaan yang lain, katanya: Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi yang diambil oleh seseorang dan ditanam di ladangnya.”
  2. “Itulah biji yang paling kecil dari semua biji, tetapi bila sudah tumbuh, maka ia lebih besar dari pada sayur-sayuran dan menjadi pohon, sehingga burung-burung di langit datang bersarang di cabang-cabangnya.”

Kerajaan Sorga adalah jalan keselamatan yang muncul dengan syariat Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam, karena dia dilahirkan di kalangan orang-orang yang rendah di mata dunia, mereka adalah orang-orang padang pasir pada umumnya, dan tidak memahami ilmu pengetahuan dan kerajinan, terputus dari kenikmatan jasmani dan kemewahan duniawi, terutama di mata orang-orang Yahudi karena mereka dari keturunan Hajar. Maka Allah mengutus dari mereka Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam. Syariatnya pada awal perkembangannya adalah seperti biji sesawi—syariat yang paling kecil menurut penampakan lahiriah—tetapi karena keumuman prinsipnya, ia tumbuh dalam waktu yang singkat dan menjadi yang terbesar di antaranya dan mencakup timur dan barat, sehingga mereka yang tidak taat kepada satupun dari syariat-syariat menjadi berpegang pada ujung syariatnya.

(KABAR GEMBIRA KELIMABELAS)

Dalam Bab 20 dari Injil Matius demikian:

  1. “Sebab Kerajaan Sorga itu sama seperti seorang tuan rumah yang pergi pagi-pagi untuk menyewa pekerja-pekerja bagi kebun anggurnya.”
  2. “Ia telah membuat perjanjian dengan para pekerja untuk membayar sehari satu denar dan menyuruh mereka pergi ke kebun anggurnya.”
  3. “Kira-kira jam yang ketiga dia keluar lagi dan melihat yang lain berdiri di pasar tanpa kerja.”
  4. “Ia berkata kepada mereka: ‘Pergilah juga kamu ke kebun anggurku, dan apa yang adil akan kuberikan kepada kamu.’ Maka mereka pun pergi.”
  5. “Kira-kira jam yang keenam dan jam yang kesembilan dia keluar lagi dan berbuat demikian juga.”
  6. “Kira-kira jam yang kesebelas dia keluar lagi dan mendapatkan yang lain berdiri tanpa kerja. Ia berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu berdiri di sini seharian tanpa kerja?'”
  7. “Mereka berkata kepadanya: ‘Karena tidak seorang pun yang menyuruh kami.’ Ia berkata kepada mereka: ‘Pergilah juga kamu ke kebun anggurku, dan apa yang adil akan kamu terima.'”
  8. “Ketika sore hari tiba, pemilik kebun anggur itu berkata kepada mandornya: ‘Panggilah para pekerja dan bayarlah upah mereka, mulai dari yang terakhir sampai yang pertama.'”
  9. “Maka datanglah mereka yang bekerja kira-kira jam yang kesebelas, dan masing-masing menerima satu denar.”
  10. “Kemudian datanglah yang pertama, mengira bahwa ia akan menerima lebih banyak. Tetapi ia juga menerima satu denar.”
  11. “Ketika menerimanya, mereka bersungut-sungut terhadap tuan rumah itu.”
  12. “Katanya: ‘Mereka yang terakhir ini hanya bekerja satu jam, tetapi engkau telah memberi mereka upah sama dengan kami, yang telah menanggung beban kerja seharian dan terik panas.'”
  13. “Tetapi ia menjawab seorang dari mereka dan berkata: ‘Teman, aku tidak menganiaya engkau. Bukankah engkau telah membuat perjanjian dengan aku untuk satu denar?'”
  14. “‘Ambillah hakmu dan pergilah! Aku mau memberikan upah kepada yang terakhir ini sama seperti kepadamu.'”
  15. “‘Atau bukankah aku berhak berbuat sekehendak hati dengan milikku sendiri? Atau iri hatimu karena aku baik hati?'”
  16. “‘Demikianlah orang-orang terakhir akan menjadi yang pertama dan orang-orang pertama akan menjadi yang terakhir, sebab banyak yang terpanggil tetapi sedikit yang terpilih.'”

Maka orang-orang yang belakangan adalah umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka didahulukan dalam pahala, dan mereka adalah orang-orang yang terakhir namun terdepan sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kami adalah orang-orang yang terakhir namun orang-orang yang terdepan” dan beliau bersabda: “Sesungguhnya surga diharamkan atas para nabi semuanya hingga aku memasukinya, dan diharamkan atas umat-umat hingga umatku memasukinya”.

(Kabar Gembira Keenam Belas) dalam Bab Kedua Puluh Satu dari Injil Matius demikian: 33 (Dengarlah perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan rumah yang menanam kebun anggur dan memagarinya dengan pagar serta menggali tempat pemerasan di dalamnya dan membangun menara lalu menyerahkannya kepada para penggarap dan pergi) 34 (Dan ketika waktu berbuah sudah dekat dia mengutus hamba-hambanya kepada para penggarap untuk mengambil buah-buahnya) 35 (Maka para penggarap itu menangkap hamba-hambanya, sebagian mereka cambuk, sebagian mereka bunuh, dan sebagian mereka rajam) 36 (Kemudian dia mengutus lagi hamba-hamba yang lain lebih banyak dari yang pertama, maka mereka memperlakukan mereka seperti itu juga) 37 (Maka akhirnya dia mengutus anak lelakinya kepada mereka dengan berkata: Mereka akan menghormati anakku) 38 (Tetapi para penggarap itu ketika melihat anak itu berkata di antara mereka: Inilah ahli warisnya, marilah kita bunuh dia dan kita ambil warisannya) 39 (Maka mereka menangkapnya dan mengeluarkannya ke luar kebun anggur dan membunuhnya) 40 (Apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dia lakukan terhadap para penggarap itu) 41 (Mereka berkata kepadanya: Orang-orang jahat itu akan dia binasakan dengan kebinasaan yang buruk dan kebun anggur itu akan dia serahkan kepada penggarap-penggarap lain yang akan memberikan buah-buahnya pada waktunya) 42 (Yesus berkata kepada mereka: Tidakkah kamu pernah membaca dalam Kitab-kitab: Batu yang dibuang oleh para pembangun, itu telah menjadi batu penjuru, dari Allah hal ini terjadi dan ia ajaib di mata kita) 43 (Oleh karena itu aku katakan kepadamu bahwa kerajaan Allah akan diambil dari kamu dan diberikan kepada umat yang mengerjakan buah-buahnya) 44 (Dan barangsiapa jatuh ke atas batu ini akan hancur, dan barangsiapa batu ini jatuh ke atasnya akan diremukkan) 45 (Dan ketika para kepala imam dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaannya, mereka tahu bahwa dia berbicara tentang mereka).

Aku katakan: Sesungguhnya tuan rumah adalah kiasan tentang Allah, dan kebun anggur adalah kiasan tentang syariat, dan memagarinya dengan pagar serta menggali tempat pemerasan di dalamnya dan membangun menara adalah kiasan tentang penjelasan yang haram dan yang halal serta perintah-perintah dan larangan-larangan, dan bahwa para penggarap yang sewenang-wenang adalah kiasan tentang orang-orang Yahudi, sebagaimana dipahami oleh para kepala imam dan orang-orang Farisi bahwa dia berbicara tentang mereka, dan para hamba yang diutus adalah kiasan tentang para nabi ‘alaihimussalam, dan anak lelaki adalah kiasan tentang Isa ‘alaihissalam, dan sungguh kamu telah mengetahui dalam Bab Keempat bahwa tidak mengapa penggunaan lafal ini untuknya, dan orang-orang Yahudi juga telah membunuhnya menurut sangkaan mereka. Dan batu yang dibuang oleh para pembangun adalah kiasan tentang Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan umat yang mengerjakan buah-buahnya adalah kiasan tentang umatnya shallallahu ‘alaihi wasallam, dan inilah batu yang setiap orang yang jatuh ke atasnya akan hancur, dan setiap orang yang batu ini jatuh ke atasnya akan diremukkan. Dan apa yang diklaim oleh para ulama Kristen menurut sangkaan mereka bahwa batu ini adalah ungkapan tentang Isa ‘alaihissalam, maka itu tidak benar karena beberapa alasan:

(Pertama) bahwa Daud ‘alaihissalam berkata dalam Zabur yang keseratus delapan belas demikian: 22 (Batu yang dibuang oleh para pembangun telah menjadi kepala sudut) 23 (Dari Allah hal ini terjadi, dan ia ajaib di mata kita). Maka jika batu ini adalah ungkapan tentang Isa ‘alaihissalam dan dia dari orang-orang Yahudi dari keluarga Yehuda dari keluarga Daud ‘alaihissalam, maka apa keajaibannya di mata orang-orang Yahudi secara umum karena Isa ‘alaihissalam menjadi kepala sudut, terutama di mata Daud ‘alaihissalam secara khusus, karena sangkaan orang-orang Kristen bahwa Daud ‘alaihissalam mengagungkan Isa ‘alaihissalam dalam mazmur-mazmurnya dengan pengagungan yang sangat, dan meyakini ketuhanan terhadapnya, berbeda dengan keluarga Ismail, karena orang-orang Yahudi meremehkan anak-anak Ismail dengan sangat meremehkan, dan adalah keberadaan salah satu dari mereka sebagai kepala sudut adalah ajaib di mata mereka.

(Dan yang kedua) bahwa disebutkan di tengah tentang batu ini: setiap orang yang jatuh ke atas batu ini akan hancur, dan setiap orang yang batu ini jatuh ke atasnya akan diremukkan, dan tidak benar sifat ini pada Isa ‘alaihissalam karena dia berkata: (Dan jika seseorang mendengar perkataanku dan tidak beriman, maka aku tidak menghakiminya karena aku tidak datang untuk menghakimi dunia, tetapi untuk menyelamatkan dunia). Sebagaimana dalam Bab Kedua Belas dari Injil Yohanes, dan kebenarannya terhadap Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memerlukan penjelasan, karena beliau diperintahkan untuk memperingatkan orang-orang jahat yang durhaka, maka jika mereka jatuh ke atasnya akan hancur, dan jika dia jatuh ke atas mereka akan meremukkan mereka. (Ketiga) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaanku dan perumpamaan para nabi adalah seperti istana yang bagus bangunannya, dan tersisa darinya tempat satu batu bata, maka orang-orang yang melihatnya berkeliling, mereka kagum dengan keindahan bangunannya, kecuali tempat batu bata itu, dengan aku bangunan itu disempurnakan, dan dengan aku para rasul disempurnakan”. Dan karena kenabiannya telah terbukti dengan dalil-dalil lain sebagaimana aku telah menyebutkan sebagian darinya dalam jalan-jalan sebelumnya, maka tidak mengapa aku berdalil dengan kabar gembira ini dengan perkataannya juga.

(Dan yang keempat) bahwa yang dipahami dari perkataan Al-Masih adalah bahwa batu ini bukan anak lelaki.

(Kabar Gembira Ketujuh Belas) dalam Bab Kedua dari Wahyu demikian: 26 (Dan barangsiapa yang menang dan memelihara perbuatan-perbuatanku sampai akhir, maka aku akan memberinya kuasa atas bangsa-bangsa) 27 (Maka dia akan menggembalakan mereka dengan tongkat dari besi, seperti tembikar yang dipecahkan, sebagaimana aku juga telah menerima dari Bapaku) 28 (Dan aku akan memberinya bintang fajar) 29 (Barangsiapa yang mempunyai telinga hendaklah dia mendengar apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat). Maka orang yang menang ini yang diberi kuasa atas bangsa-bangsa dan menggembalakan mereka dengan tongkat dari besi adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana Allah berfirman tentang beliau: “Dan Allah menolongmu dengan pertolongan yang mulia” (QS. Al-Fath: 3). Dan Sathih sang peramal telah menamakannya pemilik tongkat. Diriwayatkan bahwa pada malam kelahirannya shallallahu ‘alaihi wasallam istana Kisra Anusyirwan retak, dan jatuh dari itu empat belas bubungan, dan api Persia padam, dan tidak pernah padam sebelum itu selama seribu tahun, dan Danau Sawah surut hingga menjadi kering, dan Mubadzan melihat dalam tidurnya bahwa unta-unta liar memimpin kuda-kuda Arab menyeberangi Sungai Tigris dan menyebar di negeri mereka, maka Kisra takut akan kejadian-kejadian ini dan mengutus Abdul Masih kepada Sathih sang peramal yang berada di negeri Syam, dan ketika Abdul Masih sampai kepadanya, ia mendapatinya dalam sakaratul maut lalu menyebutkan hal-hal ini di hadapannya, maka Sathih menjawab: (Apabila banyak bacaan, dan muncul pemilik tongkat, dan Danau Sawah surut, dan api Persia padam, maka Babel bukan tempat tinggal bagi orang Persia, dan Syam bukan tempat tidur bagi Sathih, akan memerintah dari mereka raja-raja dan ratu-ratu sejumlah bubungan, dan semua yang akan datang pasti datang). Kemudian Sathih wafat pada saat itu, dan Abdul Masih kembali, lalu memberitahu Anusyirwan tentang apa yang dikatakan Sathih. Kisra berkata: Hingga empat belas raja memerintah, akan terjadi banyak hal. Maka memerintah dari mereka sepuluh dalam empat tahun, dan yang tersisa memerintah hingga masa Khalifah Utsman radhiyallahu ‘anhu, maka binasa yang terakhir dari mereka yaitu Yazdegerd pada masa khalifahnya. Dan hara’ah dengan kasrah ha’ adalah tongkat yang besar, dan bintang fajar adalah ungkapan tentang Al-Quran, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat An-Nisa: “Dan Kami telah menurunkan kepadamu cahaya yang terang” (QS. An-Nisa: 174), dan dalam Surat At-Taghabun: “Maka berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan cahaya yang Kami turunkan” (QS. At-Taghabun: 8).

Pengarang Shaulah adh-Dhaigham berkata setelah mengutip kabar gembira ini: Aku berkata kepada dua pendeta Wite dan William pada saat perdebatan: Sesungguhnya pemilik tongkat dari besi ini adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka mereka bingung mendengar hal ini, dan berkata: Sesungguhnya Isa ‘alaihissalam memberikan perintah ini kepada gereja Tiatira, maka harus muncul orang seperti ini di sana, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pergi ke sana. Aku berkata: Gereja ini berada di wilayah mana. Maka mereka kembali kepada buku-buku bahasa, dan berkata: Itu berada di tanah Romawi, dekat dengan Istanbul. Aku berkata: Para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pergi pada masa khalifah Al-Faruq Al-A’zham Umar radhiyallahu ‘anhu ke negeri-negeri ini dan menaklukkannya, dan setelah para sahabat radhiyallahu ‘anhum, orang-orang Muslim juga menguasainya di kebanyakan waktu, kemudian sultan-sultan Bani Utsman berkuasa, semoga Allah melanggengkan kekuasaan mereka untuk waktu yang panjang, dan mereka berkuasa hingga saat ini, maka kabar ini jelas mengenai Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, selesai perkataannya.

Aku katakan: Ulama mulia Abbas Ali Al-Jajmawi Al-Hindi mengarang pertama kali kitab yang besar dalam membantah ahli Trinitas, dan menamakannya Shaulah adh-Dhaigham terhadap musuh-musuh putra Maryam, kemudian dia rahimahullah berdebat dengan Wite dan William dua pendeta di negeri Kanpur dari negeri-negeri India dan mewajibkan mereka, kemudian meringkas kitabnya, dan menamakan ringkasan itu Khulasah Shaulah adh-Dhaigham, dan perdebatannya adalah sebelum pengarang Mizan al-Haq berdebat di Akbarabad sekitar dua puluh dua tahun.

(Kabar Gembira Kedelapan Belas) dan kabar gembira ini terdapat di akhir bab-bab Injil Yohanes, dan aku mengutip dari terjemahan Arab yang dicetak tahun 1821 dan tahun 1831 dan tahun 1844 di kota London, maka aku katakan: Dalam Bab Keempat Belas dari Injil Yohanes demikian: 15 (Jika kamu mengasihiku maka peliharalah perintah-perintahku) 16 (Dan aku akan meminta kepada Bapa maka Dia akan memberikan kepadamu Parakletos yang lain untuk menetap bersama kamu selamanya) 17 (Roh kebenaran yang tidak sanggup dunia menerimanya karena ia tidak melihatnya dan tidak mengenalnya dan kamu mengenalnya karena ia menetap di tengah-tengah kamu dan ia tetap di dalam kamu) 26 (Dan Parakletos yaitu Roh Kudus yang akan diutus Bapa dalam nama-Ku, dia akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan dia akan mengingatkan kamu akan semua yang telah kukatakan kepadamu) 30 (Dan sekarang aku telah mengatakannya kepadamu sebelum terjadi supaya apabila terjadi kamu percaya). Dan dalam Bab Kelima Belas dari Injil Yohanes demikian: (Tetapi apabila Parakletos datang yang akan kuutus kepadamu dari Bapa yaitu Roh kebenaran yang keluar dari Bapa, dia akan bersaksi tentangku) 27 (Dan kamu akan bersaksi karena kamu bersamaku dari permulaan). Dan dalam Bab Keenam Belas dari Injil Yohanes demikian: 7 (Tetapi aku berkata kepadamu kebenaran bahwa lebih baik bagimu aku pergi karena jika aku tidak pergi Parakletos tidak akan datang kepadamu tetapi jika aku pergi aku akan mengutusnya kepadamu) 8 (Maka apabila dia datang, dia akan menegur dunia tentang dosa dan tentang kebenaran dan tentang penghakiman) 9 (Tentang dosa karena mereka tidak percaya kepadaku) 10 (Dan tentang kebenaran karena aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihatku lagi) 11 (Dan tentang penghakiman karena penguasa dunia ini telah dihakimi) 12 (Dan aku mempunyai banyak perkataan untuk kukatakan kepadamu tetapi kamu belum sanggup memikulnya sekarang) 13 (Dan apabila Roh kebenaran itu datang, dia akan mengajarkan kepadamu semua kebenaran karena dia tidak berkata-kata dari dirinya sendiri tetapi dia berbicara dengan semua yang dia dengar dan memberitahukan kepadamu tentang apa yang akan datang) 14 (Dan dia akan memuliakanku karena dia mengambil dari apa yang menjadi milikku dan memberitahukannya kepadamu) 15 (Semua yang menjadi milik Bapa adalah milikku oleh karena itu aku berkata bahwa dari apa yang menjadi milikku dia akan mengambil dan memberitahukannya kepadamu). Dan aku mendahulukan sebelum penjelasan cara berdalil dengan ungkapan-ungkapan ini dua hal:

Hal pertama: Bahwa kamu telah mengetahui dalam Hal Ketujuh, bahwa ahli kitab dahulu dan kemudian kebiasaan mereka adalah menerjemahkan pada umumnya nama-nama, dan bahwa Isa ‘alaihissalam berbicara dengan bahasa Ibrani bukan dengan bahasa Yunani, maka dengan demikian tidak ada keraguan bahwa penulis Injil yang keempat menerjemahkan nama yang dikabari dengannya dalam bahasa Yunani sesuai kebiasaan mereka, kemudian para penerjemah bahasa Arab menguraikan lafal Yunani dengan Parakletos, dan aku telah mendapatkan risalah kecil dalam bahasa Urdu dari risalah-risalah para pendeta pada tahun seribu dua ratus enam puluh delapan dari Hijriyah, dan risalah ini dicetak di Kalkuta dan adalah dalam penelitian lafal Parakletos, dan pengarangnya mengklaim bahwa maksudnya adalah untuk menyadarkan orang-orang Muslim tentang sebab kekeliruan mereka dari lafal Parakletos, dan ringkasan perkataannya adalah: (Bahwa lafal ini mu’arrab dari lafal Yunani, maka jika kita katakan bahwa lafal Yunani asli adalah Paraklitos maka artinya adalah penghibur dan penolong dan wakil, dan jika kita katakan bahwa lafal asli adalah Periklitos maka artinya dekat dengan makna Muhammad dan Ahmad, maka siapa yang berdalil dari ulama Islam dengan kabar gembira ini memahami bahwa lafal asli adalah Periklitos dan artinya dekat dengan makna Muhammad dan Ahmad, maka mengklaim bahwa Isa ‘alaihissalam mengabarkan tentang Muhammad atau Ahmad tetapi yang benar adalah Paraklitos), selesai ringkasan dari perkataannya.

Maka aku katakan bahwa perbedaan antara dua lafal itu sangat sedikit dan bahwa huruf-huruf Yunani saling mirip, maka berubahnya Periklitos menjadi Paraklitos pada sebagian naskah dari penulis adalah dekat dengan qiyas, kemudian ahli Trinitas yang mengingkari menguatkan naskah ini atas naskah-naskah lain, dan barangsiapa yang merenungkan Bab Kedua dari kitab ini dan Hal Ketujuh dari jalan keenam ini dengan pandangan insaf, akan yakin dengan keyakinan bahwa hal seperti ini dari ahli agama dari ahli Trinitas bukanlah jauh, bahkan tidak jauh bahwa itu termasuk hal-hal yang dianggap baik.

Dan hal kedua: Bahwa sebagian orang mengklaim sebelum kemunculan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa mereka adalah perwujudan lafal Parakletos, misalnya Montanus orang Kristen yang ada pada abad kedua Masehi, dan dia adalah orang yang sangat bertapa dan paling bertakwa pada zamannya, mengklaim sekitar tahun 177 Masehi di Asia Kecil kerasulan dan berkata: Aku adalah Parakletos yang dijanjikan yang Isa ‘alaihissalam berjanji kedatangannya, dan orang-orang banyak mengikutinya dalam hal itu sebagaimana disebutkan dalam sebagian sejarah.

Dan William Muir menyebutkan keadaannya dan keadaan pengikutnya dalam Bagian Kedua dari Bab Ketiga dari sejarahnya dalam bahasa Urdu yang dicetak tahun 1848 Masehi demikian: (Bahwa sebagian orang berkata bahwa dia mengklaim: Aku adalah Parakletos yaitu penghibur Roh Kudus dan dia adalah paling bertakwa dan sangat bertapa dan untuk itu orang-orang menerimanya dengan penerimaan yang berlebihan), selesai perkataannya. Maka diketahui bahwa penantian Parakletos ada pada abad-abad awal Kristen juga dan untuk itu orang-orang mengklaim sebagai perwujudannya dan orang-orang Kristen menerima klaim mereka. Dan pengarang Lubb at-Tawarikh berkata: (Bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen dari orang-orang sezaman Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menantikan nabi maka Muhammad mendapat dari hal ini manfaat yang besar karena dia mengklaim: Aku adalah orang yang ditunggu itu), selesai ringkasan perkataannya.

Maka diketahui dari perkataannya juga bahwa ahli kitab menantikan keluarnya seorang nabi pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan itu adalah kebenaran karena Najasyi raja Habasyah ketika sampai kepadanya surat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam (maka dia berkata: Aku bersaksi demi Allah bahwa dia adalah nabi yang ditunggu oleh ahli kitab) dan menulis jawaban dan menulis dalam jawaban (Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah yang benar dan yang membenarkan, dan aku telah membaiatmu dan membaiat anak pamanmu yaitu Ja’far bin Abi Thalib, dan masuk Islam di tangannya untuk Allah Tuhan semesta alam) dan Najasyi ini sebelum Islam adalah seorang Nasrani, dan Muqauqis raja Qibti menulis dalam jawaban surat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam demikian: (Untuk Muhammad bin Abdullah dari Muqauqis penguasa Qibti salam atasmu amma ba’du maka aku telah membaca suratmu dan memahami apa yang kamu sebutkan di dalamnya dan apa yang kamu serukan kepadanya, dan aku telah mengetahui bahwa nabi masih tersisa dan aku telah menyangka bahwa dia akan keluar di Syam dan aku telah memuliakan utusanmu) dan Muqauqis ini walaupun tidak masuk Islam tetapi dia mengakui dalam suratnya: Aku telah mengetahui bahwa nabi masih tersisa, dan dia adalah seorang Nasrani, maka kedua raja ini tidak takut pada waktu itu kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam karena kekuatan dunianya, dan datang Al-Jarud bin Al-‘Ala bersama kaumnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: Demi Allah sungguh kamu telah datang dengan kebenaran dan berkata dengan kejujuran, dan Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran sebagai nabi sungguh aku telah menemukan sifatmu dalam Injil dan kamu diberi kabar gembira oleh putra Al-Batul, maka panjang salam untukmu dan syukur bagi yang memuliakanmu, tidak ada bekas setelah mata dan tidak ada keraguan setelah yakin, ulurkan tanganmu maka aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya engkau Muhammad Rasulullah), kemudian kaumnya beriman dan Al-Jarud ini adalah dari ulama Nasrani dan dia telah mengakui bahwa kamu telah diberi kabar gembira oleh putra Al-Batul yaitu Isa ‘alaihissalam, maka jelas bahwa orang-orang Kristen juga menantikan keluarnya seorang nabi yang diberi kabar gembira oleh Isa ‘alaihissalam, maka jika kamu telah mengetahui itu maka aku katakan bahwa lafal Ibrani yang diucapkan Isa ‘alaihissalam hilang, dan lafal Yunani yang ada adalah terjemahan, tetapi aku meninggalkan penelitian tentang aslinya, dan berbicara tentang lafal Yunani ini, jika aslinya adalah Periklitos maka hal itu jelas, dan akan menjadi

kabar gembira Al-Masih tentang Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan lafal yang dekat dari Muhammad dan Ahmad, dan ini walaupun dekat dengan qiyas dengan mempertimbangkan kebiasaan mereka tetapi aku meninggalkan kemungkinan ini, karena itu tidak sempurna sebagai ilzam terhadap mereka, dan aku katakan: jika lafal Yunani aslinya adalah Paraklitos sebagaimana mereka klaim maka ini tidak meniadakan dalil juga, karena artinya adalah penghibur, dan penolong, dan wakil, sebagaimana dijelaskan pengarang risalah, atau pemberi syafaat, sebagaimana terdapat dalam terjemahan Arab yang dicetak tahun 1816, dan makna-makna ini semuanya benar terhadap Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan aku akan menjelaskan sekarang pertama bahwa yang dimaksud dengan Parakletos adalah nabi yang diberi kabar gembira yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bukan Roh yang turun kepada murid-murid Isa ‘alaihissalam pada hari Pentakosta yang disebutkan dalam Bab Kedua dari Kitab Perbuatan. Dan aku sebutkan kedua keraguan-keraguan para ulama Kristen dan menjawabnya maka aku katakan:

Adapun yang pertama: maka menunjukkan atas itu beberapa hal:

Nomor 1 bahwa Isa ‘alaihissalam berkata: (Pertama, jika kamu mengasihiku maka peliharalah perintah-perintahku) kemudian mengabarkan tentang Parakletos maka maksudnya ‘alaihissalam bahwa para pendengar meyakini bahwa apa yang disampaikan kepada mereka sangat penting dan wajib dipelihara, maka jika Parakletos adalah ungkapan tentang Roh yang turun pada hari Pentakosta tidaklah perlu fiqrah ini, karena tidak disangka bahwa para hawari menganggap aneh turunnya Roh kepada mereka sekali lagi, karena mereka telah dilimpahi dengannya dari sebelumnya juga, bahkan tidak ada tempat untuk menganggap aneh juga karena jika dia turun ke hati seseorang dan bersemayam di dalamnya pasti akan muncul pengaruhnya dengan jelas, maka tidak terbayangkan pengingkaran orang yang terpengaruh darinya dan tidak muncul pada mereka dalam bentuk yang ada di dalamnya sangkaan ada keanehan, maka dia adalah ungkapan tentang nabi yang diberi kabar gembira, maka hakikat perkara adalah bahwa Al-Masih ‘alaihissalam ketika mengetahui dengan pengalaman dan dengan cahaya kenabian bahwa banyak dari umatnya mengingkari nabi yang diberi kabar gembira ketika kemunculannya, maka dia menegaskan pertama dengan fiqrah ini kemudian mengabarkan tentang kedatangannya.

[2] Bahwa roh ini bersatu dengan Bapak secara mutlak dan dengan Anak, dengan memandang ketuhanannya, suatu persatuan yang hakiki, maka tidak benar dalam haknya (Farqalith yang lain) berbeda dengan Nabi yang diberi kabar gembira tentangnya, karena sesungguhnya perkataan ini benar dalam haknya tanpa pemaksaan makna.

[3] Bahwa perwakilan dan syafaat termasuk ciri-ciri kenabian, bukan dari ciri-ciri roh yang bersatu dengan Allah ini, maka keduanya tidak benar tentang roh tersebut dan benar tentang Nabi yang diberi kabar gembira tentangnya tanpa pemaksaan makna.

[4] Bahwa Isa alaihissalam berkata: (Dia akan mengingatkan kalian semua yang telah kukatakan kepada kalian). Dan tidak terbukti dari surat-surat Perjanjian Baru, bahwa para Hawari telah melupakan apa yang dikatakan Isa alaihissalam, dan roh yang turun pada hari Pentakosta ini mengingatkan mereka akan hal itu.

[5] Bahwa Isa alaihissalam berkata: (Dan sekarang aku telah mengatakannya kepada kalian sebelum hal itu terjadi, supaya ketika hal itu terjadi, kalian percaya). Dan ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengannya bukanlah roh tersebut, karena engkau telah mengetahui dalam perkara pertama bahwa ketidakpercayaan tidak diduga dari mereka saat turunnya roh itu, bahkan tidak ada ruang untuk menganggapnya aneh juga, maka tidak perlu perkataan ini, dan bukan kelayakan orang yang bijaksana dan berakal untuk berbicara dengan kata-kata yang sia-sia apalagi kelayakan Nabi yang sangat agung kedudukannya. Jika kita maksudkan dengannya Nabi yang diberi kabar gembira, maka perkataan ini pada tempatnya, dan sangat tepat untuk penekanan untuk kedua kalinya.

[6] Bahwa Isa alaihissalam berkata: (Dia akan bersaksi tentang diriku). Dan roh ini tidak bersaksi tentangnya di hadapan siapa pun, karena murid-muridnya yang roh itu turun kepada mereka tidak membutuhkan kesaksian, karena mereka mengenal Al-Masih dengan pengenalan yang benar bahkan sebelum turunnya roh itu juga, maka tidak ada manfaat kesaksian di hadapan mereka, dan orang-orang yang mengingkari yang membutuhkan kesaksian, maka roh ini tidak bersaksi di hadapan mereka, berbeda dengan Muhammad shallallahu alaihi wasallam karena sesungguhnya beliau bersaksi untuk Al-Masih alaihissalam dan membenarkannya serta membebaskannya dari tuduhan ketuhanan, yang merupakan jenis kekufuran dan kesesatan yang paling buruk, dan membebaskan ibunya dari tuduhan zina, dan disebutkan pembelaan mereka dalam Al-Quran di berbagai tempat, dan dalam hadits-hadits di tempat-tempat yang tak terhitung.

[7] Bahwa Isa alaihissalam berkata: (Dan kalian akan bersaksi karena kalian bersamaku sejak awal). Dan ayat ini dalam terjemahan Arab yang dicetak tahun 1816 seperti ini: (Dan kalian juga bersaksi karena kalian bersamaku sejak awal). Dan dalam terjemahan Arab yang dicetak tahun 1860 seperti ini: (Dan kalian juga bersaksi karena kalian bersamaku sejak awal). Maka terdapat dalam ketiga terjemahan ini kata “juga”, dan demikian juga terdapat dalam terjemahan-terjemahan Persia yang dicetak tahun 1816 dan tahun 1828 dan tahun 1841, dan dalam terjemahan Urdu yang dicetak tahun 1814 terjemahan kata “juga”. Maka kata “juga” hilang dari terjemahan-terjemahan yang dinukil darinya ungkapan Yohanes baik karena lupa atau disengaja. Maka perkataan ini menunjukkan dengan jelas bahwa kesaksian para Hawari berbeda dengan kesaksian Farqalith. Jika yang dimaksud dengannya adalah roh yang turun pada hari Pentakosta, maka tidak ada perbedaan antara dua kesaksian tersebut, karena roh yang disebutkan tidak memberikan kesaksian yang independen selain kesaksian para Hawari, bahkan kesaksian para Hawari adalah kesaksiannya sendiri, karena roh ini meskipun ia adalah Tuhan yang bersatu dengan Allah dengan persatuan hakiki yang bersih dari turun, hulul, menetap, dan bentuk yang merupakan sifat-sifat jasad dan hal-hal yang bersifat jasmani, turun seperti angin ribut dan muncul dalam bentuk-bentuk lidah yang terbagi seolah-olah dari api, dan menetap di atas setiap orang dari mereka pada hari Pentakosta, maka keadaan mereka seperti keadaan orang yang dirasuki jin. Sebagaimana perkataan jin menjadi perkataannya dalam keadaan itu, maka demikian juga kesaksian roh adalah kesaksian para Hawari, maka tidak benar perkataan ini, berbeda jika yang dimaksud dengannya adalah Nabi yang diberi kabar gembira, maka kesaksiannya berbeda dengan kesaksian para Hawari.

[8] Bahwa Isa alaihissalam berkata: (Jika aku tidak pergi, Farqalith tidak akan datang kepada kalian, tetapi jika aku pergi, aku akan mengutusnya kepada kalian). Maka ia menggantungkan kedatangannya dengan kepergiannya, dan roh ini menurut mereka turun kepada para Hawari ketika ia hadir saat mengutus mereka ke negeri-negeri Israel, maka turunnya tidak tergantung pada kepergiannya, maka ia tidak dimaksudkan sebagai Farqalith, tetapi yang dimaksud dengannya adalah seseorang yang tidak ada seorang pun dari para Hawari yang mendapat manfaat darinya sebelum masa kenaikannya, dan kedatangannya tergantung pada kepergian Isa alaihissalam. Dan Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah demikian, karena beliau datang setelah kepergian Isa alaihissalam, dan kedatangannya tergantung pada kepergian Isa alaihissalam, karena keberadaan dua rasul pemilik dua syariat yang independen dalam satu masa tidak diperbolehkan, berbeda jika yang kemudian mengikuti syariat yang pertama atau setiap rasul mengikuti satu syariat, karena diperbolehkan dalam bentuk ini keberadaan dua orang atau lebih dalam satu masa dan satu tempat, sebagaimana terbukti keberadaan mereka antara masa Musa alaihissalam dan Isa alaihissalam.

[9] Bahwa Isa alaihissalam berkata: (Dia akan menegur dunia). Maka perkataan ini seperti nash yang jelas untuk Muhammad shallallahu alaihi wasallam, karena beliau menegur dunia terutama orang-orang Yahudi atas ketidakpercayaan mereka kepada Isa alaihissalam dengan teguran yang tidak diragukan kecuali oleh orang yang keras kepala, dan kelak anaknya yang bijak Muhammad Al-Mahdi akan menjadi teman Isa alaihissalam pada masa membunuh Dajjal yang bermata satu dan pengikut-pengikutnya, berbeda dengan roh yang turun pada hari Pentakosta, karena tegurannya tidak benar menurut prinsip siapa pun, dan bukan kedudukan para Hawari untuk menegur bahkan setelah turunnya roh itu juga, karena mereka menyeru kepada agama dengan cara memberi harapan dan nasihat. Dan apa yang dikatakan Rankin dalam bukunya yang bernama Dafi’ al-Buhtan yang berbahasa Urdu dalam bantahannya terhadap Khulashat Shaulat adh-Dhaigham: (Bahwa kata teguran tidak terdapat dalam Injil dan tidak dalam terjemahan mana pun dari terjemahan-terjemahan Injil, dan orang yang membuat dalil ini mencantumkan kata ini agar benar tentang Muhammad dengan jelas karena Muhammad shallallahu alaihi wasallam menegur dan mengancam banyak, tetapi kesalahan seperti ini bukan kelayakan orang-orang beriman dan orang-orang yang takut kepada Allah) selesai perkataannya, maka ia tertolak. Dan pendeta ini entah bodoh yang salah atau orang yang menyesatkan yang tidak memiliki iman dan tidak takut kepada Allah, karena kata ini terdapat dalam terjemahan-terjemahan Arab yang disebutkan yang dinukil darinya ungkapan Yohanes, dan dalam terjemahan yang dicetak 1671 di Roma Agung, dan ungkapan terjemahan Arab yang dicetak di Beirut tahun 1860 seperti ini: (Dan ketika ia datang, ia akan menginsafkan dunia tentang dosa, dst).

Dan dalam terjemahan Arab yang dicetak tahun 1816 dan tahun 1825, dan dalam terjemahan-terjemahan Persia yang dicetak tahun 1816 dan tahun 1828 dan tahun 1841 terdapat kata kewajiban, dan kata menginsafkan dan kewajiban juga dekat dengan teguran tetapi tidak ada keluhan darinya, karena hal seperti ini termasuk kebiasaan ulama Protestan. Dan oleh karena itu engkau melihat bahwa para penerjemah Persia dan Urdu meninggalkan kata Farqalith karena kemasyhurannya di kalangan kaum Muslim tentang Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan penerjemah terjemahan Urdu yang dicetak tahun 1839, maka orang-orang ini adalah pendahulu-pendahulunya juga, di mana ia mengembalikan kata ganti perempuan kepada roh agar terjadi kerancuan bagi orang awam bahwa wujud kata ini adalah perempuan dan bukan laki-laki.

[10] Isa alaihissalam berkata: (Adapun tentang dosa, karena mereka tidak beriman kepadaku). “Dan ini menunjukkan bahwa Farqalith akan tampak kepada orang-orang yang mengingkari Isa alaihissalam dengan menegur mereka atas ketidakpercayaan kepada beliau, dan roh yang turun pada hari Pentakosta tidak tampak kepada manusia dengan menegur mereka.” (Rujukan dari Injil Yohanes)

[11] Isa alaihissalam berkata: (Aku masih mempunyai banyak hal untuk dikatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya). “Dan ini bertentangan dengan maksud roh yang turun pada hari Pentakosta karena ia tidak menambahkan hukum apa pun pada hukum-hukum Isa alaihissalam, karena menurut dugaan penganut Trinitas ia memerintahkan para Hawari dengan akidah Trinitas dan menyeru penduduk seluruh dunia, maka perintah apa yang mereka peroleh lebih banyak dari perkataan-perkataannya yang ia katakan kepada mereka hingga masa kenaikannya.” (Rujukan dari Injil Yohanes) Memang setelah turunnya roh ini, mereka menghapuskan semua hukum Taurat yang merupakan selain beberapa dari sepuluh hukum yang disebutkan dalam Bab ke-20 dari Kitab Keluaran, dan menghalalkan semua yang diharamkan. Dan perkara ini tidak diperbolehkan dalam haknya untuk dikatakan bahwa mereka tidak mampu memikulnya, karena mereka mampu memikul gugurnya hukum pengagungan Sabat yang merupakan hukum Taurat yang paling agung, yang orang-orang Yahudi mengingkari kenabian Isa alaihissalam yang dijanjikan karena tidak memelihara hukum ini, maka penerimaan gugurnya semua hukum lebih ringan bagi mereka. Memang penerimaan penambahan hukum-hukum karena lemahnya iman dan lemahnya kekuatan hingga masa kenaikannya sebagaimana diakui oleh ulama Protestan, adalah di luar kemampuan mereka. Maka jelaslah bahwa yang dimaksud dengan Farqalith adalah nabi yang ditambahkan dalam syariatnya hukum-hukum dibandingkan dengan syariat Isa, dan beban memikulnya berat bagi orang-orang yang dibebani yang lemah, dan ia adalah Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

[12] Bahwa Isa alaihissalam berkata: (Ia tidak akan berkata-kata dari dirinya sendiri, tetapi ia akan berkata dengan segala yang ia dengar). “Dan ini menunjukkan bahwa Farqalith akan berada dalam keadaan yang Bani Israel mendustakannya, maka Isa alaihissalam perlu menegaskan keadaan kebenarannya lalu berkata perkataan ini, dan tidak ada ruang untuk dugaan pendustaan dalam hak roh yang turun pada hari Pentakosta, selain bahwa roh ini menurut mereka adalah dzat Allah maka tidak ada makna untuk perkataannya ‘tetapi ia berkata dengan apa yang ia dengar’.” (Rujukan dari Injil Yohanes) Maka wujudnya adalah Muhammad shallallahu alaihi wasallam, karena sesungguhnya dalam haknya ada dugaan pendustaan dan ia bukan dzat Allah dan ia berkata dengan apa yang diwahyukan kepadanya sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (Surah An-Najm, 53:3-4) dan berfirman: “Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku” (Surah Yunus, 10:15 dan surah lainnya).

[13] Bahwa Isa alaihissalam berkata: (Sesungguhnya ia akan mengambil dari apa yang menjadi milikku). “Dan ini tidak benar tentang roh, karena ia menurut penganut Trinitas adalah qadim dan tidak diciptakan dan berkuasa mutlak yang tidak ada kesempurnaan yang ditunggu baginya, bahkan setiap kesempurnaan dari kesempurnaan-kesempurnaannya telah ada padanya secara aktual, maka harus yang dijanjikan tentangnya dari jenis yang mempunyai kesempurnaan yang ditunggu.” (Rujukan dari Injil Yohanes) Dan karena perkataan ini menimbulkan kesan bahwa nabi ini akan taat kepada syariatnya, ia menolaknya dengan perkataannya setelah itu: (Segala sesuatu yang dimiliki Bapak adalah milikku, oleh sebab itu aku berkata dari apa yang menjadi milikku ia akan mengambil). Artinya bahwa setiap sesuatu yang diperoleh Farqalith dari Allah seakan-akan diperoleh dari diriku, sebagaimana terkenal barangsiapa untuk Allah maka Allah untuknya, maka oleh sebab itu aku berkata bahwa dari apa yang menjadi milikku ia akan mengambil.

Adapun yang kedua, yakni keraguan-keraguan yang dikemukakan ulama Protestan, maka ada lima:

Keraguan tentang Kabar Gembira yang Kedelapan Belas:

(Keraguan Pertama) Terdapat dalam ungkapan ini penafsiran Farqalith dengan Roh Kudus dan Roh Kebenaran, dan keduanya adalah ungkapan tentang Pribadi Ketiga, maka bagaimana mungkin benar bahwa yang dimaksud dengan Farqalith adalah Muhammad shallallahu alaihi wasallam? Aku katakan dalam jawaban: Bahwa penulis Mizan al-Haq mengklaim dalam karya-karyanya bahwa kata-kata Roh Allah dan Roh Kudus dan Roh Kebenaran dan Roh Kejujuran dan Roh Mulut Allah bermakna satu, dan ia berkata dalam Fasal Pertama dari Bab Kedua dari Miftah al-Asrar di halaman 53 dari naskah Persia yang dicetak tahun 1850: (Bahwa kata Roh Allah dan kata Roh Kudus dalam Taurat dan Injil bermakna satu) selesai. Maka ia mengklaim bahwa kedua kata ini digunakan dengan makna yang sama dalam kedua Perjanjian. Dan ia berkata dalam Hal al-Ishkal dalam jawaban Kasyf al-Astar: (Siapa yang memiliki kesadaran sedikit tentang Taurat dan Injil maka ia mengetahui bahwa kata-kata Roh Kudus dan Roh Kebenaran dan Roh Mulut Allah dan lainnya bermakna Roh Allah, oleh karena itu aku tidak melihat pembuktiannya perlu) selesai. Jika engkau telah mengetahui perkataan ini, maka kami memutuskan pandangan dari kebenaran klaimnya dan ketidakbenarannya di sini dan kami menerima kesamaan kata-kata ini menurut dugaannya, tetapi kami mengingkari bahwa penggunaannya di setiap tempat dari tempat-tempat di kedua Perjanjian bermakna Pribadi Ketiga, dan kami mengatakan perkataan yang sesuai dengan perkataannya: siapa yang memiliki kesadaran sedikit tentang kitab-kitab kedua Perjanjian, mengetahui bahwa kata-kata ini digunakan selain Pribadi Ketiga banyak kali. Dalam ayat keempat belas dari Bab ketiga puluh tujuh dari kitab Yehezkiel, firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam khitab kepada ribuan manusia yang Dia hidupkan dengan mukjizat Yehezkiel alaihissalam seperti ini: “Maka Aku akan memberikan roh-Ku di dalam kalian” (Yehezkiel 37:14).

Maka dalam perkataan ini Roh Allah bermakna jiwa manusia yang berbicara, bukan bermakna Pribadi Ketiga yang adalah dzat Allah menurut dugaan mereka. Dan dalam Bab Keempat dari Surat Pertama Yohanes seperti ini terjemahan Arab tahun 1760: 1 (Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya kepada setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka dari Allah, karena nabi-nabi palsu banyak telah keluar ke dunia) 2 (Dengan ini kalian mengenal Roh Allah, setiap roh yang mengakui Yesus Kristus bahwa ia telah datang dalam daging maka ia dari Allah) 6 (Kami dari Allah, maka siapa yang mengenal Allah mendengar kami, dan siapa yang bukan dari Allah tidak mendengar kami, dari ini kami mengenal Roh Kebenaran dan Roh Kesesatan). Dan kalimat ini yang terdapat dalam ayat kedua: (Dengan ini kalian mengenal Roh Allah).

Dan dalam terjemahan-terjemahan lain seperti ini terjemahan Arab tahun 1821, dan tahun 1831, dan tahun 1844: (Dan dengan ini dikenal Roh Allah). Terjemahan Arab tahun 1825: (Maka sesungguhnya kalian membedakan Roh Allah) dan kata Roh Allah dalam ayat kedua, dan kata Roh Kebenaran dalam ayat keenam, bermakna pengkhotbah yang benar, bukan bermakna Pribadi Ketiga, dan oleh karena itu penerjemah terjemahan Urdu yang dicetak tahun 1845 menerjemahkan kata setiap roh dengan setiap pengkhotbah, dan kata roh-roh dengan para pengkhotbah dalam ayat pertama, dan kata roh dalam ayat kedua dengan pengkhotbah dari pihak Allah, dan kata Roh Kebenaran dalam ayat keenam dengan pengkhotbah yang jujur, dan menerjemahkan kata Roh Kesesatan dengan pengkhotbah yang menyesatkan. Dan bukan yang dimaksud dengan Roh Allah dan Roh Kebenaran adalah Pribadi Ketiga yang adalah dzat Allah menurut dugaan mereka, dan ini jelas. Maka penafsiran Farqalith dengan Roh Kudus dan Roh Kebenaran tidak merugikan kami karena keduanya bermakna pengkhotbah yang benar, sebagaimana kata Roh Kebenaran dan Roh Allah dengan makna ini dalam Surat Pertama Yohanes, maka benar penggunaannya untuk Muhammad shallallahu alaihi wasallam tanpa keraguan.

(Keraguan Kedua) Bahwa yang diajak bicara dengan kata ganti mereka adalah para Hawari, maka harus Farqalith tampak pada masa mereka, dan Muhammad shallallahu alaihi wasallam tidak tampak pada masa mereka. Aku katakan ini juga bukan sesuatu, karena asal-usulnya adalah bahwa orang-orang yang hadir saat khitab harus disukai dengan kata ganti khitab, dan ini tidak perlu di setiap tempat. Tidakkah engkau melihat bahwa perkataan Isa alaihissalam dalam ayat keempat dan enam puluh dari Bab kedua puluh enam dari Injil Matius dalam khitab kepada kepala-kepala imam dan tua-tua dan majelis seperti ini: “Dan juga aku berkata kepada kalian, mulai sekarang kalian akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Kekuasaan dan datang di atas awan-awan langit” (Matius 26:64). Dan orang-orang yang diajak bicara ini telah mati dan berlalu atas kematian mereka masa yang lebih dari seribu delapan ratus tahun, dan mereka tidak melihatnya datang di atas awan-awan langit, maka sebagaimana yang dimaksud dengan orang-orang yang diajak bicara di sini adalah orang-orang yang ada dari kaum mereka saat turunnya dari langit, maka demikian juga dalam hal yang kita bicarakan ini yang dimaksud adalah orang-orang yang akan ada saat munculnya Farqalith.

(Keraguan Ketiga) Bahwa terjadi dalam hak Farqalith bahwa dunia tidak melihatnya dan tidak mengenalnya, dan kalian mengenalnya, dan ia tidak benar tentang Muhammad shallallahu alaihi wasallam, karena manusia melihatnya dan mengenalnya. Aku katakan ini juga bukan sesuatu, dan mereka adalah orang-orang yang paling membutuhkan takwil dalam perkataan ini dibandingkan dengan kami, karena Roh Kudus adalah dzat Allah menurut mereka dan dunia mengenal Allah lebih daripada mengenal Muhammad shallallahu alaihi wasallam, maka harus kita katakan bahwa yang dimaksud dengan mengenal adalah mengenal yang hakiki dan sempurna. Maka dalam bentuk takwil tidak ada kerancuan dalam kebenaran perkataan ini tentang Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan yang dimaksud adalah bahwa dunia tidak mengenalnya dengan pengenalan hakiki yang sempurna, dan kalian mengenalnya dengan pengenalan hakiki yang sempurna. Dan yang dimaksud dengan melihat adalah mengenal, dan oleh karena itu Isa alaihissalam tidak mengulangi kata melihat setelah kata kalian tetapi berkata “dan kalian mengenalnya”.

Dan jika kita membebankan melihat pada penglihatan mata, maka penafian melihat dibebankan pada apa yang dimaksud dalam perkataan penginjil pertama dalam Bab ketiga belas dari Injilnya, dan aku nukil ungkapannya dari terjemahan Arab yang dicetak tahun 1816 dan tahun 1825: 13 (Oleh sebab itu aku memberikan perumpamaan kepada mereka karena mereka melihat tetapi tidak memandang, dan mendengar tetapi tidak mendengarkan dan tidak memahami) 14 (Dan telah sempurna pada mereka nubuatan Yesaya di mana ia berkata: Sesungguhnya kalian mendengar dengan pendengaran tetapi tidak memahami, dan melihat dengan penglihatan tetapi tidak memandang). Maka tidak ada masalah juga. Dan semacam kedua perkara ini meskipun adalah makna-makna majazi tetapi ia seperti hakikat urfi. Dan terjadi dalam perkataan Isa alaihissalam banyak kali: dalam ayat ketujuh dan dua puluh dari Bab kesebelas dari Injil Matius seperti ini: “Dan tidak ada seorang pun yang mengenal Anak kecuali Bapak, dan tidak ada seorang pun yang mengenal Bapak kecuali Anak dan siapa yang Anak menghendaki untuk menyatakannya kepadanya” (Matius 11:27).

Dan dalam ayat kedua puluh delapan dari Bab Ketujuh Injil Yohanes demikian: “Dia yang mengutus aku adalah benar, yang kalian tidak mengenal-Nya.”

Dan dalam Bab Kedelapan Injil Yohanes demikian: “Kalian tidak mengenal aku dan tidak mengenal Bapa-Ku, seandainya kalian mengenal aku, niscaya kalian mengenal Bapa-Ku juga” 55 “Dan kalian tidak mengenal-Nya yaitu Allah” dan seterusnya.

Dan dalam ayat kedua puluh lima dari Bab Ketujuh Belas Injil Yohanes demikian: “Wahai Bapa, sesungguhnya dunia tidak mengenal-Mu, adapun aku, maka aku mengenal-Mu.”

Dan dalam Bab Keempat Belas Injil Yohanes demikian: 7 “Seandainya kalian mengenal aku, niscaya kalian mengenal Bapa-Ku juga, dan mulai sekarang kalian mengenal-Nya dan telah melihat-Nya” 8 “Filipus berkata kepada-Nya: Wahai Tuan, tunjukkanlah kepada kami Bapa dan itu cukup bagi kami” 9 “Yesus berkata kepadanya: Aku bersama kalian sudah sekian lama dan engkau belum mengenal aku wahai Filipus? Siapa yang melihat aku, sungguh ia telah melihat Bapa, lalu bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah kepada kami Bapa?”

Maka yang dimaksud dalam perkataan-perkataan ini dengan pengenalan adalah pengenalan yang sempurna, dan dengan penglihatan adalah pengenalan, jika tidak demikian, perkataan-perkataan ini tidak benar secara pasti, karena orang-orang awam telah mengenal Isa alaihissalam, apalagi pemuka-pemuka Yahudi, para pendeta, para syekh, dan para hawari (murid-murid), dan melihat Allah dengan mata kepala di dunia ini adalah mustahil menurut ahli Trinitas juga.

Keraguan Keempat: Bahwa disebutkan mengenai Parakletos: “Sesungguhnya dia tinggal bersama kalian, dan tetap di dalam kalian.” Dan tampak dari perkataan ini bahwa Parakletos pada saat perkataan itu diucapkan sedang tinggal bersama para hawari dan tetap di dalam mereka, lalu bagaimana hal ini bisa benar untuk Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Saya katakan: Sesungguhnya perkataan ini dalam terjemahan-terjemahan lain demikian: Terjemahan Arab tahun 1816 dan tahun 1825: “Karena dia berdiam bersama kalian, dan akan berada di dalam kalian.” Dan terjemahan-terjemahan Persia yang dicetak tahun 1816, tahun 1828, dan tahun 1841. Dan terjemahan Urdu yang dicetak tahun 1814 dan tahun 1839, semuanya sesuai dengan kedua terjemahan ini. Dan dalam terjemahan Arab yang dicetak tahun 1860 demikian: “Tinggal bersama kalian, dan akan berada di dalam kalian.” Maka jelas bahwa yang dimaksud dengan perkataan-Nya “tetap di dalam kalian” adalah ketetapan di masa mendatang secara pasti, maka tidak ada keberatan dengan cara apapun. Dan tersisa perkataan-Nya “tinggal bersama kalian”, maka saya katakan: Tidak benar membawa perkataan ini pada makna dia tinggal bersama kalian sekarang, karena hal itu bertentangan dengan perkataan-Nya: “Aku akan memohon kepada Bapa, maka Dia akan memberi kalian Parakletos yang lain”, dan perkataan-Nya: “Sungguh telah aku katakan kepada kalian sebelum hal itu terjadi, agar ketika hal itu terjadi kalian beriman”, dan perkataan-Nya: “Jika aku tidak pergi, Parakletos tidak akan datang kepada kalian.” Dan jika ditakwilkan, kami katakan bahwa maknanya adalah masa mendatang, sebagaimana perkataan setelahnya bermakna masa mendatang, dan maknanya adalah akan tinggal bersama kalian di masa mendatang, maka tidak ada cacatnya juga dalam kebenarannya untuk Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Dan pengungkapan masa mendatang dengan bentuk sekarang bahkan dengan bentuk lampau dalam perkara-perkara yang pasti banyak terdapat dalam Perjanjian Lama dan Baru. Tidakkah engkau melihat bahwa Hizkiel alaihissalam pertama kali mengabarkan tentang keluarnya Yakjuj dan Makjuj di masa mendatang, dan kebinasaan mereka ketika tiba di pegunungan Israel.

Kemudian dia berkata dalam ayat kedelapan dari Bab Ketiga Puluh Sembilan dari kitabnya demikian: “Lihatlah, hal itu telah datang dan terjadi, firman Tuhan Allah, inilah hari yang telah Aku katakan.” Maka perhatikanlah perkataan-Nya “lihatlah hal itu telah datang dan terjadi”, dan perkataan ini dalam terjemahan Persia yang dicetak tahun 1839 demikian: “Innak rasid wa biwaqa’ peiwast” (telah tiba dan telah terjadi). Maka dia mengungkapkan masa mendatang dengan bentuk lampau karena hal itu adalah pasti yang tidak diragukan. Dan telah berlalu masa lebih dari dua ribu empat ratus lima puluh tahun dan keluarnya mereka belum tampak.

Dan dalam ayat kedua puluh lima dari Bab Kelima Injil Yohanes demikian: “Sesungguhnya sesungguhnya aku katakan kepada kalian bahwa akan datang suatu saat dan itulah sekarang ketika orang-orang mati mendengar suara anak Allah, dan orang-orang yang mendengar akan hidup.” Maka perhatikanlah perkataan-Nya “dan itulah sekarang” padahal telah berlalu masa lebih dari seribu delapan ratus tahun dan saat ini belum datang, dan hingga sekarang juga masih tidak diketahui, tidak ada yang tahu kapan akan datang.

Keraguan Kelima: Dalam Bab Pertama Kitab Kisah Para Rasul demikian: 4 “Dan ketika dia berkumpul bersama mereka, dia memerintahkan mereka agar tidak meninggalkan Yerusalem, tetapi menantikan janji Bapa yang telah kalian dengar dari-Ku” 5 “Karena Yohanes membaptis dengan air, tetapi kalian akan dibaptis dengan Roh Kudus tidak lama lagi setelah hari-hari ini.” Dan ini menunjukkan bahwa Parakletos adalah Roh yang turun pada hari Pentakosta. Karena yang dimaksud dengan janji Bapa adalah Parakletos. Saya katakan: Pengakuan bahwa yang dimaksud dengan janji Bapa adalah Parakletos adalah pengakuan semata, bahkan itu keliru karena tiga belas alasan dan engkau telah mengetahuinya. Bahkan yang benar adalah bahwa kabar tentang Parakletos adalah satu hal, dan janji penurunan Roh atas mereka sekali lagi adalah hal lain, dan Allah telah memenuhi kedua janji tersebut. Dan Dia mengungkapkan janji pertama dengan kedatangan Parakletos, dan di sini dengan janji Bapa. Intinya adalah bahwa Yohanes meriwayatkan kabar gembira tentang Parakletos, dan para penulis Injil yang lain tidak meriwayatkannya. Dan Lukas meriwayatkan janji turunnya Roh yang turun pada hari Pentakosta dan Yohanes tidak meriwayatkannya.

Dan tidak masalah dalam hal ini, karena mereka terkadang sepakat dalam meriwayatkan peristiwa-peristiwa kecil, seperti Isa alaihissalam mengendarai keledai ketika pergi ke Yerusalem, keempat penulis Injil sepakat meriwayatkannya, dan terkadang mereka berbeda dalam meriwayatkan peristiwa-peristiwa besar. Tidakkah engkau melihat bahwa Lukas menyendiri dalam menyebutkan menghidupkan anak janda dari kematian di Nain, dan dalam menyebutkan pengutusan tujuh puluh murid oleh Isa alaihissalam, dan dalam menyebutkan penyembuhan sepuluh orang kusta, dan tidak ada seorang pun dari penulis Injil yang menyebutkan peristiwa-peristiwa ini meskipun itu termasuk peristiwa-peristiwa besar. Dan bahwa Yohanes menyendiri dalam menyebutkan pesta pernikahan di Kana, Galilea, dan tampak dari Yesus di sana mukjizat mengubah air menjadi anggur, dan mukjizat ini adalah mukjizat pertamanya, dan sebab munculnya kemuliaannya dan keimanan para murid kepada-Nya. Dan dalam menyebutkan penyembuhan orang sakit di Bait Saida di Yerusalem, dan ini juga mukjizat besar, dan orang sakit itu telah sakit selama tiga puluh delapan tahun. Dan dalam menyebutkan kisah seorang wanita yang tertangkap berzina. Dan dalam menyebutkan penyembuhan orang buta, dan ini juga termasuk mukjizat-mukjizat terbesar-Nya yang disebutkan dengan jelas dalam Bab Kesembilan. Dan dalam menyebutkan menghidupkan Lazarus dari antara orang mati, dan tidak ada seorang pun dari penulis Injil yang menyebutkannya meskipun itu adalah peristiwa-peristiwa besar. Dan demikian pula keadaan Matius dan Markus, karena keduanya menyendiri dalam menyebutkan beberapa mukjizat dan peristiwa yang tidak disebutkan oleh yang lain.

Dan karena pembahasan dalam metode ini telah panjang, maka kami cukupkan sampai sebatas ini dari kabar-kabar gembira yang kami nukil dari kitab-kitab mereka yang dianggap mu’tabar pada zaman kami. Adapun kabar-kabar gembira yang terdapat dalam kitab-kitab lain yang tidak dianggap mu’tabar pada zaman kami, maka kami tidak menukil nya. Dan setelah selesai, aku nukil darinya satu kabar gembira juga sebagai contoh.

Maka saya katakan: Pendeta Sale mengutip dalam mukadimah terjemahannya untuk Alquran Mulia dari Injil Barnabas sebuah kabar gembira tentang Muhammad demikian: “Ketahuilah wahai Barnabas bahwa dosa meskipun kecil akan dibalas oleh Allah karena Allah tidak ridha terhadap dosa. Dan ketika ibuku dan murid-muridku berpaling karena dunia, Allah murka karena perkara ini, dan Dia menghendaki dengan tuntutan keadilan-Nya untuk membalas mereka di dunia ini atas keyakinan yang tidak layak ini agar mereka memperoleh keselamatan dari azab neraka Jahanam, dan mereka tidak mengalami kesakitan di sana. Dan aku meskipun tidak bersalah, tetapi karena sebagian manusia berkata tentangku bahwa dia adalah Allah dan anak Allah, Allah membenci perkataan ini dan dikehendaki oleh kehendak-Nya agar setan-setan tidak menertawakan aku pada hari Kiamat dan tidak mengolok-olok aku. Maka Dia menganggap baik dengan kebaikan dan rahmat-Nya agar tertawa dan olok-olok terjadi di dunia karena kematian Yudas, dan setiap orang mengira bahwa aku disalib. Tetapi penghinaan dan olok-olok ini akan tetap ada hingga datangnya Muhammad Rasulullah. Maka ketika dia datang di dunia, dia akan mengingatkan setiap mukmin tentang kesalahan ini, dan keraguan ini akan terangkat dari hati manusia.” Selesai terjemahan perkataannya. (Saya katakan) Kabar gembira ini besar meskipun mereka keberatan bahwa Injil ini ditolak oleh majelis-majelis ulama terdahulu kami. (Saya katakan) Tidak ada pertimbangan terhadap penolakan dan penerimaan mereka sebagaimana engkau telah mengetahui dengan sangat jelas dalam Bab Pertama. Dan Injil ini termasuk Injil-Injil kuno dan disebutkan dalam kitab-kitab abad kedua dan ketiga. Maka berdasarkan ini, Injil ini ditulis sebelum kemunculan Muhammad shallallahu alaihi wasallam dua ratus tahun. Dan tidak ada seorang pun yang mampu mengabarkan tanpa ilham dengan perkara seperti ini sebelum kejadiannya dua ratus tahun. Maka pasti ini adalah perkataan Isa alaihissalam. Dan jika mereka berkata bahwa salah seorang Muslim mengubah Injil ini setelah kemunculan Muhammad shallallahu alaihi wasallam, saya katakan: Kemungkinan ini sangat jauh karena kaum Muslim tidak memperhatikan keempat Injil ini juga, lalu bagaimana dengan Injil Barnabas? Dan jauh kemungkinannya bahwa perubahan salah seorang Muslim pada Injil Barnabas berpengaruh hingga mengubah naskah-naskah yang ada pada kaum Kristen juga. Dan mereka mengira bahwa para ulama Ahli Kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani yang masuk Islam meriwayatkan dari kitab-kitab Perjanjian Lama dan Baru kabar-kabar gembira tentang Muhammad dan mengubahnya. Maka berdasarkan anggapan mereka, saya katakan bahwa para ulama besar ini mengubah menurut anggapan mereka, dan perubahan para ulama ini tidak berpengaruh pada kitab-kitab mereka yang ada pada mereka di tempat-tempat kabar gembira ini, lalu bagaimana perubahan sebagian Muslim pada Injil Barnabas berpengaruh pada naskah-naskah yang ada pada mereka? Maka kemungkinan ini lemah, sangat lemah, dan wajib ditolak.

Peringatan: Kami mengutip kabar ini pertama kali dalam kitab Al-I’jaz Al-‘Isawi, dari terjemahan yang dicetak tahun 1850 Masehi, dan kitab ini dicetak tahun 1271 Hijriah dan tahun 1854 Masehi dan tersebar di berbagai negeri Hindia dan terjemahan-terjemahan mereka. Dan kitab-kitab mereka berubah dalam cetakan yang lebih akhir dibandingkan cetakan yang lebih awal dengan perubahan tertentu, sebagaimana telah saya peringatkan dalam mukadimah kitab juga. Maka jika pembaca tidak menemukan kabar gembira ini dalam sebagian naskah terjemahan tersebut yang dicetak pada tahun selain tahun yang disebutkan, janganlah dia ragu, terutama jika sebagian ini dari naskah-naskah yang dicetak pada tahun yang lebih akhir dari seribu delapan ratus lima puluh empat Masehi, karena para ulama Protestan jika menghilangkan dalam cetakan mereka kabar gembira ini dari terjemahan tersebut, maka tidak mengherankan dari kebiasaan mereka yang telah menjadi seperti perkara yang alamiah bagi mereka.

Dan berkata Al-Fadhil Haidar Ali Al-Qurashi dalam kitabnya yang bernama Khulasah Saif Al-Muslimin yang berbahasa Urdu dalam halaman 63 dan 64: “Bahwa Pendeta Auskan Armenia menerjemahkan Kitab Yesaya dengan bahasa Armenia pada tahun seribu enam ratus enam puluh enam, dan terjemahan ini dicetak pada tahun seribu tujuh ratus tiga puluh tiga di percetakan Antoni Portoli, dan terdapat dalam terjemahan ini dalam Bab Keempat Puluh Dua paragraf ini: ‘Bertasbihlah kepada Allah dengan tasbih yang baru dan pengaruh kekuasaan di atas punggungnya dan namanya adalah Ahmad’ selesai. Dan terjemahan ini ada pada orang-orang Armenia maka lihatlah padanya.” Selesai perkataannya.

(Saya katakan) Terjemahan ini tidak sampai kepada saya dan saya tidak melihatnya, tetapi orang mulia ini mungkin melihatnya dan menelitinya. Dan tidak diragukan bahwa paragraf ini sangat bermanfaat, meskipun terjemahan ini tidak dianggap mu’tabar di kalangan ulama Protestan. Dan yang masuk Islam dari ulama Yahudi dan Nasrani pada abad pertama bersaksi tentang adanya kabar-kabar gembira tentang Muhammad dalam kitab-kitab Perjanjian Lama dan Baru, seperti Abdullah bin Salam, kedua putra Sa’iyah, Bunyamin, Mukhairiq, Ka’ab Al-Ahbar, dan lain-lain dari ulama Yahudi. Dan seperti Bahira, Anastasius Al-Habashi, Dhafathir yaitu uskup Romawi yang masuk Islam di tangan Dihyah Al-Kalbi pada masa Risalah lalu mereka membunuhnya, Al-Jarud, An-Najasyi, As-Sus, dan para rahib yang datang bersama Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, dan lain-lain dari ulama Nasrani. Dan telah mengakui kebenaran kenabian-Nya dan keumuman risalah-Nya, Heraklius Kaisar Romawi, Muqauqis penguasa Mesir, Ibnu Shuriya, Huyay bin Akhtab, Abu Yasir bin Akhtab dan lain-lainممن yang hasad membawa mereka kepada kecelakaan dan mereka tidak masuk Islam. Dan diriwayatkan bahwa beliau shallallahu alaihi wasallam ketika menginginkan dalil-dalil kepada Nasrani Najran, kemudian mereka bersikeras dalam kebodohan mereka, maka beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memerintahku jika kalian tidak menerima hujjah agar aku mubahalah dengan kalian.” Maka mereka berkata: “Wahai Abul Qasim, kami akan kembali lalu kami pikirkan urusan kami kemudian kami datang kepadamu.” Maka ketika mereka kembali, mereka berkata kepada Al-‘Aqib yang merupakan pemimpin pendapat mereka: “Apa pendapatmu?” Maka dia berkata: “Demi Allah, sungguh kalian telah mengetahui kenabian-Nya, dan sungguh dia telah datang kepada kalian dengan pemisah dalam urusan sahabat kalian. Demi Allah, tidak ada kaum yang mubahalah dengan seorang nabi melainkan mereka binasa. Dan jika kalian menolak kecuali agama kalian, maka berdamailah dengan orang itu dan pulanglah.” Maka mereka datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan beliau telah berangkat pagi sambil menggendong Husain, dan memegang tangan Hasan, dan Fathimah berjalan di belakang beliau, dan Ali radhiyallahu anhu di belakangnya, dan beliau berkata: “Jika aku berdoa maka kalian mengamini.” Maka berkata uskup mereka: “Wahai sekalian Nasrani, sesungguhnya aku melihat wajah-wajah, seandainya mereka memohon kepada Allah agar memindahkan gunung dari tempatnya niscaya Dia memindahkannya, maka janganlah kalian mubahalah lest kalian binasa.” Maka mereka tunduk kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan memberikan kepadanya jizyah dua ribu helai pakaian merah dan tiga puluh baju besi dari besi. Maka beliau alaihishshalatu wassalam bersabda: “Seandainya mereka mubahalah niscaya mereka akan dimutasi menjadi kera dan babi, dan lembah akan berkobar api atas mereka, dan Allah akan membinasakan Najran dan penduduknya, bahkan burung di atas pohon.” Dan kejadian ini menunjukkan kenabian-Nya dengan dua cara:

Pertama: Bahwa beliau alaihishshalatu wassalam menakut-nakuti mereka dengan turunnya azab atas mereka, dan seandainya beliau tidak yakin dengan hal itu, maka hal itu darinya adalah usaha dalam menampakkan kedustaan diri sendiri, karena seandainya beliau mubahalah dan azab tidak turun maka kebohongannya tampak. Dan diketahui bahwa beliau adalah orang yang paling berakal di antara manusia, maka tidak layak bagi-Nya melakukan perbuatan yang mengakibatkan tampaknya kebohongan-Nya. Maka ketika beliau bersikeras pada hal itu, kami mengetahui bahwa beliau bersikeras padanya karena yakin dengan janji Allah.

Kedua: Bahwa kaum itu mengorbankan jiwa dan harta dalam perselisihan dengan Rasul shallallahu alaihi wasallam. Maka seandainya mereka tidak mengetahui bahwa beliau adalah nabi, mereka tidak akan meninggalkan mubahalah dengan-Nya.

Fasal Kedua: (Dalam Menolak Celaan)

Ketahuilah, semoga Allah membimbingmu di dua negeri, bahwa orang-orang Kristen mengklaim bahwa para nabi hanya ma’shum dalam menyampaikan wahyu saja, baik secara lisan maupun tulisan. Adapun selain dalam penyampaian, mereka tidak ma’shum, tidak sebelum kenabian dan tidak setelahnya. Maka keluar dari mereka setelahnya semua dosa dengan sengaja, apalagi kesalahan dan lupa. Maka keluar dari mereka zina dengan mahram apalagi dengan orang asing, dan keluar dari mereka penyembahan berhala, dan membangun tempat ibadah untuknya. Dan tidak keluar menurut mereka seorang nabi dari Ibrahim hingga Yahya alaihimassalam yang tidak berzina atau dari anak-anak hasil zina. Kami berlindung kepada Allah dari keyakinan-keyakinan rusak seperti ini terhadap para nabi alaihimussalam.

Dan engkau telah mengetahui dalam Perkara Ketujuh dari Mukadimah Kitab, dan dalam Fasal Ketiga dan Keempat dari Bab Pertama, dan dalam Maqshad Pertama dari Bab Kedua, bahwa klaim mereka tentang ishmah dalam penyampaian juga batil, tidak ada dasarnya menurut prinsip-prinsip mereka. Dan klaim ini keluar dari mereka untuk menyesatkan orang awam. Maka celaan-celaan mereka terhadap Muhammad shallallahu alaihi wasallam dalam beberapa perkara yang mereka pahami sebagai dosa dalam anggapan mereka yang rusak, tidak mencacati kenabian-Nya menurut prinsip-prinsip mereka. Dan aku meskipun tidak suka mengutip dosa-dosa para nabi dan kekufuran-kekufuran yang diada-adakan dari kitab-kitab mereka meskipun secara ilzam (menjungkir-balikkan argumen), dan aku tidak berkeyakinan terhadap para nabi tentang kesaksian mereka terhadap dosa-dosa dan kekufuran-kekufuran ini, sama sekali tidak. Tetapi ketika aku melihat bahwa para ulama Protestan telah memanjangkan lidah mereka dengan berlebihan terhadap Muhammad shallallahu alaihi wasallam dalam perkara-perkara ringan, dan menjadikan biji sawi sebagai gunung untuk menyesatkan orang awam yang tidak mengetahui kitab-kitab mereka, dan ada kemungkinan orang-orang bodoh terjatuh dalam keraguan karena tipuan-tipuan batil mereka, maka aku mengutip sebagiannya secara ilzam. Dan aku berlepas diri dari keyakinan padanya dengan seribu lisan, dan tidaklah mengutipnya kecuali seperti mengutip kalimat-kalimat kekufuran, dan mengutip kekufuran bukanlah kekufuran. Dan aku mendahulukan mengutipnya daripada mengutip celaan-celaan mereka terhadap Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan jawaban atas celaan-celaan itu. Dan menulis Pendeta William Smith dari ulama Protestan sebuah kitab dalam bahasa Urdu dan mencetaknya di negeri Mirzapur dari negeri-negeri Hindia pada tahun 1848 Masehi, dan dia menamainya Jalan Para Wali. Dan dia menulis di dalamnya keadaan para nabi dari Adam hingga Ya’qub alaihimussalam dengan mengutip dari Kitab Kejadian dan tafsir-tafsirnya yang mu’tabar di kalangan ulama Protestan. Maka aku mengutip di beberapa tempat dari kitab ini juga.

[1] Kisah Adam alaihissalam di kalangan mereka sudah terkenal, dan dalam Bab ketiga dari Kitab Kejadian sudah tercatat, dan mereka mengakui bahwa dia berdosa dengan sengaja dan tidak mengakui dosanya ketika Allah memintanya, dan pertobatannya tidak terbukti menurut mereka sampai akhir hidupnya. Dalam halaman 23 dari kitab Jalan Para Wali disebutkan: “Alangkah malangnya bahwa pertobatannya tidak terbukti dan bahwa dia tidak meminta ampun kepada Allah atas dosanya walaupun satu kali saja.” Selesai.

[2] Dalam Bab kesembilan dari Kitab Kejadian demikian: ayat 18 “Maka anak-anak Nuh yang keluar dari bahtera itu adalah Sam, Ham, dan Yafet, dan Ham adalah bapak Kanaan” ayat 20 “Dan Nuh mulai menjadi petani mengolah tanah dan menanam kebun anggur” ayat 21 “Dan dia minum anggur lalu mabuk dan terbuka auratnya di dalam kemahnya” ayat 22 “Ketika Ham bapak Kanaan melihat itu yaitu aurat bapaknya terbuka, dia memberitahu saudara-saudaranya di luar” ayat 24 “Ketika Nuh bangun dari mabuknya, dan mengetahui apa yang diperbuat anaknya yang bungsu” ayat 25 “Maka dia berkata: Terkutuklah Kanaan, dia akan menjadi hamba sahaya bagi saudara-saudaranya”. Dalam ayat-ayat itu terdapat pernyataan tegas bahwa Nuh minum anggur dan mabuk lalu menjadi telanjang, dan yang mengherankan adalah bahwa yang berdosa dengan melihat aurat bapaknya adalah Ham bapak Kanaan, sedangkan yang dihukum dengan kutukan adalah anaknya Kanaan, dan anak menanggung dosa bapak bertentangan dengan keadilan. Yehezkiel berkata dalam ayat kedua puluh dari Bab kedelapan belas dari kitabnya: “Jiwa yang berbuat dosa, dialah yang akan mati, anak tidak menanggung dosa bapak, dan bapak tidak menanggung dosa anak, dan keadilan orang yang adil akan ditanggungnya, dan kemunafikan orang munafik akan ditanggungnya.”

Seandainya kita menganggap bahwa anak menanggung dosa bapak itu bertentangan dengan keadilan, maka apa alasan mengkhususkan Kanaan, karena anak-anak Ham ada empat orang: Kush, Misraim, Put, dan Kanaan, sebagaimana dinyatakan dengan jelas dalam Bab kesepuluh.

[3] Dalam halaman 74 dari kitab Jalan Para Wali tentang keadaan Ibrahim demikian: “Tidak diketahui keadaannya sampai tujuh puluh tahun dari umurnya dan dia dibesarkan di kalangan penyembah berhala, dan sebagian besar umurnya berlalu bersama mereka, dan diketahui bahwa kedua orang tuanya tidak mengenal Tuhan yang benar. Dan diperkirakan bahwa Ibrahim juga menyembah berhala sebelum Allah menampakkan diri kepadanya, kemudian Allah menampakkan diri kepadanya dan memilihnya dari anak-anak dunia, dan menjadikannya hamba yang khusus.” Selesai. Maka jelaslah bahwa yang disangka oleh orang-orang Kristen adalah bahwa Ibrahim sampai tujuh puluh tahun dari umurnya menyembah berhala. Saya katakan bahwa dia menjadi penyembah berhala sampai mencapai tujuh puluh tahun adalah hampir yakin, bila dilihat dari prinsip-prinsip mereka. Karena penduduk dunia pada waktu itu menurut mereka adalah penyembah berhala, dan dia dibesarkan di antara mereka, dan kedua orang tuanya juga termasuk dari mereka. Dan Tuhan tidak menampakkan diri kepadanya sampai waktu itu, dan terpelihara dari penyembahan berhala bukanlah syarat setelah kenabian, apalagi menjadi syarat sebelum kenabian. Dan ketika keadaan bapak para nabi ini demikian sampai tujuh puluh tahun dari umurnya sebelum kenabian, maka lihatlah keadaannya setelah kenabian.

[4] Dalam Bab kedua belas dari Kitab Kejadian demikian: ayat 11 “Ketika dia hampir masuk ke Mesir, dia berkata kepada Sarah istrinya: Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau seorang wanita yang cantik” ayat 12 “Dan akan terjadi ketika orang-orang Mesir melihatmu, mereka akan berkata bahwa dia istrinya dan mereka akan membunuhku dan membiarkanmu hidup” ayat 13 “Dan sekarang aku mohon kepadamu katakanlah bahwa engkau saudariku, agar aku mendapat kebaikan karenamu, dan jiwaku hidup karenamu.” Maka sebab kebohongan bukan hanya rasa takut semata, tetapi juga harapan mendapatkan kebaikan, bahkan kebaikan lebih kuat. Oleh karena itu dia mendahulukannya dan berkata agar aku mendapat kebaikan karenamu, dan jiwaku hidup karenamu. Dan kebaikan itu juga dia dapatkan, sebagaimana dinyatakan dengan jelas dalam ayat keenam belas. Lagipula rasa takutnya akan dibunuh hanya khayalan belaka, apalagi jika dia rela meninggalkannya, maka tidak ada alasan untuk takut setelah itu sama sekali, dan bagaimana akal dapat menerima bahwa Ibrahim rela meninggalkan istrinya dan menyerahkannya tanpa membelanya, dan tidak rela dengan yang semacam itu orang yang memiliki harga diri, apalagi rela orang seperti Ibrahim yang punya harga diri.

[5] Dalam Bab kedua puluh dari Kitab Kejadian demikian: ayat 1 “Dan Ibrahim berangkat dari sana ke tanah selatan, dan tinggal antara Kadesh dan Syur dan menetap di Gerar” ayat 2 “Dia berkata tentang Sarah istrinya bahwa dia saudaranya, dan Abimelekh raja Gerar mengirim utusan dan mengambilnya” ayat 3 “Maka Allah datang kepada Abimelekh dalam mimpi pada malam hari, dan berkata kepadanya: Lihatlah engkau akan mati karena perempuan yang telah kau ambil karena dia bersuami” ayat 4 “Dan Abimelekh belum mendekatinya, maka dia berkata: Ya Tuhan, apakah Engkau membinasakan bangsa yang benar yang tidak tahu apa-apa” ayat 5 “Bukankah dia yang mengatakan bahwa dia saudaranya, dan dia berkata bahwa dia saudaranya.” Di sini Ibrahim dan Sarah berbohong untuk kedua kalinya, dan barangkali sebabnya di sini selain rasa takut juga adalah mendapatkan manfaat, dan memang didapat sebagaimana dinyatakan dengan jelas dalam ayat keempat belas, lagipula tidak ada alasan untuk takut jika dia rela menyerahkannya tanpa berperang. Dalam halaman 99 dari kitab Jalan Para Wali demikian: “Barangkali ketika Ibrahim menyangkal bahwa Sarah adalah istrinya pada kali pertama, dia bertekad dalam hatinya bahwa dia tidak akan melakukan dosa seperti ini lagi, tetapi dia jatuh dalam jerat setan yang sama sekali lagi karena kelalaian.” Selesai.

[6] Dalam halaman 92 dan 93 dari kitab Jalan Para Wali: “Tidak mungkin Ibrahim tidak berdosa dalam menikahi Hajar, karena dia mengetahui dengan baik perkataan Al-Masih yang tertulis dalam Injil, bahwa Dia yang menciptakan sejak awal menciptakan mereka laki-laki dan perempuan, dan berkata karena itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya, dan bersatu dengan istrinya dan keduanya akan menjadi satu daging.” Selesai. Saya katakan sebagaimana hal ini tidak mungkin, demikian juga tidak mungkin dia tidak berdosa dalam menikahi Sarah, karena dia mengetahui dengan baik perkataan Musa yang tertulis dalam Taurat: “Jangan buka aurat saudaramu dari bapakmu atau dari ibumu yang lahir di rumah atau di luar rumah.” Dan juga perkataannya: “Seorang laki-laki yang menikahi saudaranya anak perempuan bapaknya atau saudaranya anak perempuan ibunya, dan melihat auratnya dan dia melihat auratnya, ini adalah aib yang sangat besar, maka mereka dibunuh di hadapan bangsanya. Dan itu karena dia membuka aurat saudaranya maka dosa mereka di atas kepala mereka.” Dan juga perkataannya: “Terkutuklah orang yang bersetubuh dengan saudaranya dari bapaknya atau ibunya.” Sebagaimana kamu telah mengetahui dalam Bab ketiga dari buku ini, dan pernikahan seperti ini sama dengan zina menurut ulama Protestan. Maka harus dianggap Ibrahim alaihissalam berzina sebelum kenabian dan sesudahnya, dan semua anak-anaknya dari Sarah adalah anak-anak zina, dan jika pernikahan dengan saudara diperbolehkan dalam syariatnya, maka harus juga membolehkan poligami dalam syariat itu, maka tidak ada keberatan terhadap Hajar maupun terhadap Sarah dan inilah yang benar menurut kami, tetapi menurut prinsip mereka yang rusak itu, nabi ini bapak para nabi, sebagaimana dia pembohong, demikian juga pezina dari awal umurnya sampai akhirnya, dan dengan ini dia adalah kekasih Allah. Apakah kekasih Allah seperti ini?

[7] Dalam Bab kesembilan belas dari Kitab Kejadian demikian: ayat 30 “Maka Luth naik dari Zoar dan tinggal di gunung bersama kedua putrinya dan dia takut tinggal di Zoar dan berlindung di sebuah gua dia dan kedua putrinya bersamanya” ayat 31 “Maka berkatalah yang sulung kepada yang bungsu: Sesungguhnya ayah kita sudah tua dan tidak ada laki-laki di bumi yang dapat masuk kepada kita sebagaimana kebiasaan seluruh bumi” ayat 32 “Marilah kita beri dia minum anggur dan kita tidur bersamanya dan kita tegakkan keturunan dari ayah kita” ayat 33 “Maka mereka memberi ayahnya minum anggur pada malam itu dan yang sulung masuk lalu tidur dengan ayahnya dan dia tidak tahu ketika putrinya berbaring dan ketika dia bangun” ayat 34 “Dan ketika hari berikutnya berkatalah yang sulung kepada yang bungsu: Lihatlah tadi malam aku tidur dengan ayahku, marilah kita beri dia minum anggur pada malam ini juga dan masuklah dan tidurlah bersamanya agar kita tegakkan keturunan dari ayah kita” ayat 35 “Maka mereka memberi ayahnya minum anggur pada malam itu juga dan yang bungsu masuk lalu tidur dengan ayahnya dan dia tidak tahu ketika dia berbaring dan ketika dia bangun” ayat 36 “Maka hamilah kedua putri Luth dari ayahnya” ayat 37 “Dan yang sulung melahirkan seorang anak laki-laki dan menamainya Moab dan dia adalah bapak orang-orang Moab sampai hari ini” ayat 38 “Dan yang bungsu juga melahirkan seorang anak laki-laki dan menamainya Ammon, yaitu anak dari jenisnya, maka dia adalah bapak orang-orang Ammon sampai hari ini.”

Dalam halaman 128 dari kitab Jalan Para Wali setelah menyebutkan keadaan ini demikian: “Keadaannya patut ditangisi dan kami setelah menyesal dan takut serta khawatir atas diri kami sendiri heran padanya, apakah dia yang tetap bersih pakaiannya dari semua kejahatan Sodom, dan kuat dalam berjalan di jalan Allah, dan jauh dari semua kenajisan negeri itu, lalu dikuasai oleh kefasikan setelah dia keluar ke daratan, maka orang macam apa yang akan aman di negeri atau daratan atau gua?” Selesai perkataannya. Ketika para pendeta menangisi keadaannya maka tidak perlu bagi kami untuk memperpanjang, dan tangisan mereka sudah cukup, hanya saja saya katakan bahwa Moab dan Ammon yang lahir dari zina tidak dibunuh oleh Allah, tetapi Dia membunuh anak yang lahir dari zina Daud alaihissalam dengan istri Uria. Barangkali zina dengan istri orang lain lebih buruk daripada zina dengan anak perempuan menurut mereka, bahkan mereka berdua adalah orang-orang yang diterima di sisi Allah. Adapun Moab, karena Obed kakek Daud alaihissalam nama ibunya adalah Rut sebagaimana dinyatakan dengan jelas dalam Bab pertama dari Injil Matius, dan Rut ini adalah orang Moab dari keturunan Moab, maka dia termasuk nenek moyang Daud dan Sulaiman dan Isa alaihimussalam, dan Daud adalah anak Allah yang sulung dan Sulaiman juga anak Allah dan Isa adalah anak Allah yang tunggal, bahkan Allah menurut anggapan orang-orang Kristen. Adapun Ammon, karena Rehabeam anak Sulaiman, termasuk kakek Isa alaihissalam, sebagaimana dinyatakan dengan jelas dalam Bab pertama dari Injil Matius juga, dan ibunya adalah orang Ammon dari keturunan Ammon sebagaimana dinyatakan dengan jelas dalam Bab keempat belas dari Kitab Raja-Raja Pertama, maka dia juga termasuk nenek moyang anak Allah yang tunggal, bahkan Allah menurut anggapan mereka.

Dan ayat kesembilan belas dari Bab kedua dari Kitab Ulangan demikian: “Dan kamu mendekati anak-anak Ammon berhati-hatilah untuk memerangi mereka dan jangan tergerak untuk berperang dengan mereka karena Aku tidak akan memberikan kepadamu sesuatu dari tanah anak-anak Ammon, sesungguhnya Aku telah memberikannya kepada anak-anak Luth sebagai warisan.” Maka kehormatan apa bagi Moab dan Ammon, anak-anak zina, yang lebih besar daripada bahwa sebagian putri yang pertama menjadi nenek yang diagungkan bagi anak-anak Allah, bahkan Allah menurut anggapan mereka. Dan sebagian putri yang kedua menjadi nenek bagi anak Allah yang tunggal, bahkan Allah menurut anggapan mereka. Dan bahwa Allah melarang bani Israil yang adalah anak-anak Allah menurut nash Taurat dari mewarisi tanah anak-anaknya, tetapi masih ada cacatnya yaitu jika nasab Isa alaihissalam sampai kepada Moab dan Ammon dengan pertimbangan kedua nenek yang diagungkan ini, maka dia menjadi orang Moab dan Ammon, padahal orang Ammon dan Moab tidak boleh masuk jemaah Tuhan sampai selama-lamanya.

Ayat ketiga dari Bab kedua puluh tiga dari Kitab Ulangan demikian: “Dan orang-orang Ammon dan Moab setelah sepuluh angkatan juga tidak boleh masuk jemaah Tuhan sampai selama-lamanya.”

Maka bagaimana Isa alaihissalam masuk jemaah Tuhan bahkan menjadi pemimpin mereka, bahkan anak Allah menurut anggapan mereka? Dan jika dikatakan bahwa pertimbangan nasab adalah dengan ayah bukan dengan ibu, maka Isa alaihissalam tidak akan menjadi orang Ammon atau Moab, saya katakan jika demikian harus juga dia tidak menjadi orang Israil atau Yahudi atau Daud atau Sulaiman juga, karena diperolehnya sifat-sifat ini baginya juga dari pihak ibu bukan ayah, maka dia bukan Al-Masih yang dijanjikan, dan mempertimbangkan sifat-sifat ini dari pihak ibu dan tidak mempertimbangkan dia orang Ammon dan Moab dari pihak nenek moyang, adalah tarjih tanpa murajjih. Dan ini berlaku bagi Daud dan Sulaiman alaihimassalam juga dengan pertimbangan Rut, tetapi saya tidak memperpanjang pembicaraan dalam hal ini dan kembali ke asal cerita, dan saya katakan: bahwa Luth alaihissalam ini yang keadaannya patut ditangisi menurut para pendeta, tidak diragukan bahwa menurut hukum Injil dia adalah orang benar dan suci, tidak ada keraguan menurut mereka dalam kesuciannya setelah perbuatan keji ini yang belum pernah terdengar yang sepertinya pada orang-orang hina yang sedang mabuk pada kebanyakan waktu, karena mereka membedakan dalam keadaan mabuk juga antara anak-anak mereka dengan orang asing, dan ketika hilang pembedaan antara anak perempuan dan lainnya karena beratnya mabuk, orang yang mabuk pada saat itu tidak lagi mampu untuk bersetubuh sebagaimana disaksikan oleh orang-orang yang gemar minum anggur, dan kami belum mendengar sampai sekarang di India bahwa orang hina dari kalangan hina melakukan perbuatan ini dalam kemabukan dengan putrinya atau dengan ibunya. Maka jika anggur membawa kepada tingkatan ini, sungguh malang keadaan penduduk Eropa dari orang-orang Kristen, bagaimana dapat diharapkan keselamatan ibu-ibu dan putri-putri dan saudara-saudara perempuan mereka dari tangan anak-anak dan ayah-ayah dan saudara-saudara laki-laki, karena mereka pada kebanyakan waktu sedang mabuk, laki-laki maupun perempuan mereka, terutama jika kita bandingkan keadaan dengan orang-orang hina mereka.

Dan yang mengherankan adalah bahwa orang suci ini sebagaimana ditimpa pada malam pertama, juga ditimpa pada malam kedua, kecuali jika dikatakan bahwa urusan ini adalah urusan yang ditakdirkan agar lahir anak-anak Allah, bahkan Allah dari sebagian putrinya, dan dia masuk dalam silsilah nasab anak Allah yang tunggal, dan yang seperti ini jika terjadi pada seseorang dari manusia biasa, sempitlah baginya bumi dengan segala luasnya karena sedih dan duka, maka yang mengherankan dari Luth. Aku berlindung kepada Allah dari khurafat-khurafat ini, dan saya katakan bahwa kisah dusta ini adalah dari kebohongan-kebohongan. Dalam Bab kedua dari Surat kedua Petrus demikian: ayat 7 “Dan menyelamatkan Luth orang benar yang dikalahkan dari perjalanan orang-orang jahat dalam percabulan” ayat 8 “Karena orang benar itu dengan penglihatan dan pendengaran dan dia yang tinggal di antara mereka menyiksa hari demi hari jiwanya yang benar dengan perbuatan-perbuatan berdosa.” Maka Petrus menyebut Luth alaihissalam sebagai orang benar dan memujinya, maka saya juga bersaksi bahwa dia adalah orang benar dan bersih dari apa yang mereka tuduhkan kepadanya.

[8] Dalam Bab kedua puluh enam dari Kitab Kejadian demikian: ayat 6 “Maka tinggallah Ishak di Gerar” ayat 7 “Dan orang-orang tempat itu bertanya kepadanya tentang istrinya, maka dia berkata: Dia saudaraku, karena dia takut mengatakan bahwa dia istrinya supaya mereka tidak membunuhnya karena kecantikannya.” Maka Ishak berbohong dengan sengaja juga seperti ayahnya, dan berkata tentang istrinya bahwa dia saudaranya. Dalam halaman 168 dari kitab Jalan Para Wali: “Tergelincir iman Ishak karena dia berkata tentang istrinya bahwa dia saudaranya.” Kemudian dalam halaman 169: “Alangkah malangnya bahwa tidak ditemukan kesempurnaan pada seorang pun dari anak Adam selain Yang Satu yang tidak ada bandingannya, dan yang mengherankan bahwa jerat setan yang menjebak Ibrahim, juga menjebak Ishak, dan dia berkata tentang istrinya bahwa dia saudaranya, maka alangkah malangnya bahwa orang-orang seperti ini yang dekat dengan Allah membutuhkan nasihat.” Selesai perkataannya. Dan ketika para pendeta menyesali dengan sangat atas tergelincirnya imannya dan tidak adanya kesempurnaan padanya dan jatuhnya dalam jerat setan yang menjebak Ibrahim alaihissalam dan bahwa dia membutuhkan nasihat, maka kami tidak memperpanjang pembicaraan tentangnya.

[9] Dalam Bab kedua puluh lima dari Kitab Kejadian demikian: ayat 29 “Maka Yakub memasak makanan dan ketika Esau datang kepadanya dalam keadaan lelah dari ladang” ayat 30 “Maka dia berkata kepadanya: Berilah aku makan dari masakan merah ini karena aku sangat lelah dan karena sebab ini dinamakan namanya Edom” ayat 31 “Maka Yakub berkata kepadanya: Juallah kepadaku hak kesulunganmu” ayat 32 “Maka dia menjawab dan berkata: Lihatlah aku akan mati maka apa gunanya hak kesulungan bagiku” ayat 33 “Maka Yakub berkata kepadanya: Bersumpahlah kepadaku, maka Esau bersumpah kepadanya dan menjual hak kesulungan” ayat 34 “Maka Yakub memberikan kepada Esau roti dan makanan dari lentil, lalu dia makan dan minum dan pergi dan menyepelekan bahwa dia menjual hak kesulungan.” Maka lihatlah religiusitas Esau yang adalah anak sulung Ishak alaihissalam, bahwa dia menjual hak kesulungan, yang dengannya ada hak untuk jabatan kenabian dan berkah, menurutnya tidak setingkat dengan roti dan lauk dari lentil ini, dan demikian juga lihatlah kasih sayang Yakub alaihissalam dan kedermawanannya, bahwa dia tidak memberikan kepada saudara yang sulung yang lapar dan lelah ini makanan tersebut kecuali dengan jual beli dan tidak memperhatikan kasih sayang persaudaraan dan berbuat baik tanpa ganti.

[10] Barangsiapa menelaah Bab kedua puluh tujuh dari Kitab Kejadian, akan mengetahui dengan yakin bahwa Yakub alaihissalam berbohong tiga kali dan menipu ayahnya, dan penipuannya sebagaimana berpengaruh pada Ishak alaihissalam, juga berpengaruh pada Allah, karena Ishak alaihissalam berdoa dengan sepenuh hati dan keyakinannya untuk Esau bukan untuk Yakub alaihissalam, maka sebagaimana Ishak tidak membedakan antara dua saudara dalam doa, demikian juga Allah tidak membedakan antara keduanya ketika mengabulkan doa. Maka yang mengherankan adalah bahwa kewalian Allah dan kenabian dan kesalehan diperoleh dengan cara yang batil. Dan saya teringat sebuah kisah yang sesuai dengan konteks ini yaitu: bahwa seorang pendosa dari golongan Banu meminta rumput dari keledai untuk kudanya dan keledai tidak memberikannya, maka dia berkata: Jika kamu tidak memberiku, aku akan berdoa agar keledaimu mati malam ini, dan dia pergi lalu kudanya mati pada malam itu. Ketika dia bangun dan mendapati kudanya mati, dia menggelengkan kepalanya dengan heran lalu berkata: Sungguh heran, sungguh heran bahwa telah berlalu jutaan tahun atas ketuhanan Tuhan kami dan Dia tidak membedakan kuda dari keledai sampai saat ini, aku berdoa atas keledai tetapi Dia membinasakan kudaku. Dan jika keadaan religiusitas bapak para nabi Israil demikian atau keadaan ilmu Allah demikian, maka orang yang ingkar boleh berkata: Boleh jadi dasar muamalat para nabi Israil dengan Allah juga berdasarkan penipuan seperti bapak tertinggi mereka, dan boleh jadi Isa alaihissalam berjanji kepada Allah bahwa berikan kepadaku kekuatan karamah, aku akan menyeru makhluk kepada keesaan-Mu dan ketuhanan-Mu, tetapi Allah tidak membedakan kejujuran dari kebohongan lalu memberikan kekuatan kepadanya, maka dia menyeru kepada ketuhanan dirinya sendiri dan zalim kepada Allah. Aku berlindung kepada Allah dari perkara-perkara yang sia-sia ini.

Dan saya kutip beberapa bagian dari kitab Jalan Para Wali dari halaman 179 dan 180 dan 181. Dia berkata pertama: “Ini adalah tempat yang sangat menakutkan bahwa orang seperti ini mengucapkan kebohongan demi kebohongan dan melibatkan nama Allah dalam penipuannya.” Kemudian dia berkata kedua: “Yakub mengatakan perkataan yang adalah puncak kekufuran: Kehendak Allah adalah bahwa aku mendapatkan buruan dengan cepat.”

Kemudian dia berkata untuk yang ketiga: “Kami tidak meminta maaf dari sisi Yakub dalam masalah ini dengan alasan apapun, dan setiap orang saleh harus menjauh dan lari dari masalah seperti ini.” Kemudian dia berkata untuk yang keempat: “Intinya adalah dia berbuat buruk untuk mendapatkan kebaikan, dan dalam Injil harus ada balasan untuk orang seperti ini.” Kemudian dia berkata untuk yang kelima: “Sebagaimana Yakub berbuat dosa, ibunya juga berdosa lebih banyak darinya karena dialah yang membangun kerusakan ini dan dia yang memerintahkan Yakub untuk melakukan perbuatan-perbuatan menipu ini.” Selesai.

[11] Dalam Bab Dua Puluh Sembilan dari Kitab Kejadian seperti ini: 15 (Kemudian dia berkata kepada Yakub: Apakah engkau saudaraku sehingga harus bekerja untukku dengan cuma-cuma, apa upahmu) 16 (Maka dia memiliki dua anak perempuan, nama yang tertua Lea dan nama yang bungsu Rahel) 17 (Dan pada mata Lea ada kelemahan, sedangkan Rahel cantik wajahnya dan elok penampilannya) 18 (Maka Yakub mencintai Rahel dan berkata: Aku akan bekerja untukmu demi Rahel anak perempuanmu yang bungsu selama tujuh tahun) 19 (Maka Laban berkata kepadanya: Engkau lebih berhak atas dia daripada orang lain, maka tinggallah bersamaku) 20 (Dan Yakub bekerja demi Rahel selama tujuh tahun dan baginya itu seperti beberapa hari saja karena cintanya yang besar kepadanya) 21 (Maka dia berkata kepada Laban: Berikanlah isteriku karena aku telah menyelesaikan hari-hari agar aku dapat menghampirinya) 22 (Maka Laban mengumpulkan banyak orang yang dicintai dan membuat pesta pernikahan) 23 (Dan ketika sore hari dia memasukkan anak perempuannya Lea kepada Yakub) 24 (Dan Laban memberikan seorang budak bernama Zilfa untuk anak perempuannya dan Yakub menghampirinya seperti biasa, dan ketika pagi hari dia melihatnya bahwa dia adalah Lea) 25 (Maka dia berkata kepada Laban: Apa yang telah engkau lakukan terhadapku, bukankah aku bekerja untukmu demi Rahel, mengapa engkau menipuku) 26 (Laban menjawab: Bukan kebiasaan di negeri kami untuk menikahkan yang bungsu sebelum yang tertua) 27 (Maka selesaikanlah minggu ini, lalu aku akan memberikanmu yang lainnya sebagai ganti pekerjaan yang akan kamu kerjakan untukku tujuh tahun lagi) 28 (Maka Yakub melakukan demikian dan setelah masuk minggu itu dia menikah dengan Rahel) 29 (Dan Laban memberikan kepada anak perempuannya Rahel seorang budak bernama Bilha) 30 (Maka dia menghampiri Rahel dan mencintainya lebih dari Lea, dan bekerja untuknya dan melayaninya tujuh tahun lagi). Dan ada tiga keberatan terhadapnya:

(Yang pertama) bahwa Nabi Yakub alaihissalam tinggal di rumah Laban dan dia melihat kedua anak perempuannya dan mengenal mereka dengan baik, dari segi wajah, tubuh, dan suara mereka, dan pada Lea ada tanda yang jelas yaitu kelemahan pada mata, maka sangat mengherankan bahwa Lea berada di tempat tidurnya sepanjang malam dan dia melihatnya, bercinta dengannya, dan menyentuhnya tetapi tidak mengenalinya, kecuali jika mereka mengatakan bahwa dia mabuk seperti Nabi Luth alaihissalam, sehingga sebagaimana Nabi Luth alaihissalam tidak membedakan, demikian juga dia.

(Yang kedua) bahwa dia mencintai Rahel dan bekerja untuk ayahnya pertama kali selama tujuh tahun karena dia, dan baginya itu seperti beberapa hari saja karena cintanya yang berlebihan dan kecintaan yang sangat besar, kemudian ketika Laban menipu dan menikahkannya dengan anak perempuannya yang tertua, Yakub bertengkar dengannya dan mengambil Rahel dengan bekerja selama tujuh tahun lagi, dan hal-hal ini menurut dugaan orang-orang Kristen tidak sesuai dengan martabat kenabian, dan sebagaimana dia menipu ayahnya, dia ditipu oleh mertuanya.

(Yang ketiga) bahwa dia tidak cukup dengan satu istri, dan tidak diperbolehkan menikahi dua perempuan apalagi dua saudara perempuan menurut dugaan mereka yang rusak.

Dan penulis buku Jalan Para Wali beralasan di halaman 189 dari bukunya seperti ini: “Tampaknya jika Laban tidak menipu Yakub, dia tidak akan menikah selain Rahel dan tidak dapat disimpulkan darinya tentang bolehnya poligami, karena itu bukan berdasarkan perintah Allah dan bukan dengan ridha Yakub.” Selesai.

Saya katakan: Alasan ini lemah, tidak berguna sama sekali dan tidak menyelamatkan Nabi Yakub alaihissalam dari keharaman, karena dia tidak dipaksa untuk pernikahan kedua, dan seharusnya dia cukup dengan satu istri. Dan saya katakan: Sebagaimana pemberi alasan ini mengatakan dalam tuduhan terhadap Nabi Ibrahim alaihissalam, bahwa Nabi Yakub alaihissalam mengetahui dengan baik ucapan Almasih yang tertulis dalam Injil, bahwa Yang menciptakan dari awal menciptakan mereka laki-laki dan perempuan, dan seterusnya. Dan demikian juga dia mengetahui dengan baik ucapan Nabi Musa alaihissalam bahwa menggabungkan dua saudara perempuan adalah haram mutlak, sebagaimana Anda ketahui di Bab Ketiga. Maka salah satu dari dua pernikahan itu batal, dan perempuan yang pernikahannya batal harus anak-anaknya dan anak-anak dari anak-anaknya adalah anak-anak zina, maka mengharuskan pada kedua kemungkinan bahwa banyak dari nabi-nabi Bani Israil adalah seperti itu, naudzubillah. Maka perhatikanlah agama orang-orang Kristen, bagaimana mereka demi menjaga prinsip-prinsip mereka yang rusak menuduh para nabi dan menisbatkan perbuatan-perbuatan keji kepada mereka. Apalagi alasan pincang ini tidak berlaku untuk Zilfa dan Bilha yang dinikahi Yakub atas isyarat Lea dan Rahel sebagaimana dinyatakan secara tegas dalam Bab Tiga Puluh dari Kitab Kejadian, dan semua anak-anak mereka menjadi anak-anak zina menurut prinsip-prinsip mereka.

[12] Dalam Bab Tiga Puluh Satu dari Kitab Kejadian seperti ini: 19 (Dan Laban telah pergi untuk menggunting dombanya, dan Rahel mencuri berhala-berhala ayahnya) 20 (Maka Nabi Yakub alaihissalam menyembunyikan urusannya dari mertuanya dan tidak memberitahunya bahwa dia melarikan diri) 21 (Dan dia lari, dan semua yang dimilikinya, dan menyeberangi sungai, dan menuju ke gunung Gilead) 22 (Dan sampai kepada Laban pada hari ketiga bahwa Yakub telah melarikan diri) 23 (Maka Laban mengambil saudara-saudaranya dan mengikutinya perjalanan tujuh hari dan menyusulnya di gunung Gilead) 29 (Dan dia berkata kepada Yakub: Mengapa engkau melakukan seperti ini, dan membawa anak-anak perempuanku secara sembunyi-sembunyi dariku seperti orang yang ditawan dengan pedang) 30 (Dan sekarang engkau telah pergi, dan yang mendorongmu pada itu adalah keinginan untuk pergi ke rumah ayahmu, mengapa engkau mencuri tuhan-tuhanku) 31 (Yakub menjawab dan seterusnya) 32 (Dan adapun apa yang engkau teguran terhadapku tentang pencuriannya, barangsiapa yang ditemukan padanya tuhan-tuhanmu akan dibunuh di hadapan saudara-saudara kita dan seterusnya) 33 (Maka Laban masuk ke kemah Yakub dan Lea dan kedua budak itu tetapi tidak menemukannya, dan ketika dia masuk ke kemah Rahel) 34 (Maka dia bersegera dan menyembunyikan berhala-berhala itu di bawah pelana unta, dan duduk di atasnya, maka Laban menggeledah seluruh kemah itu dan tidak menemukan sesuatu) 35 (Dan dia berkata: Jangan menghukumku wahai tuanku, karena aku tidak dapat bangkit menghadapmu karena aku sedang datang bulan, maka Laban menggeledah semua yang ada di rumah tetapi tidak menemukan).

Maka perhatikanlah Rahel bagaimana dia mencuri berhala-berhala ayahnya, dan bagaimana dia berbohong, dan tampaknya dia mencuri untuk peribadatannya, sebagaimana ditunjukkan oleh zhahir ungkapan Bab Tiga Puluh Lima dari Kitab Kejadian, sebagaimana akan Anda ketahui dalam bukti yang akan datang, dan karena dia dari keluarga penyembah berhala dan ayahnya adalah penyembah berhala yang menyembah berhala-berhala, sebagaimana ditunjukkan oleh ayat tiga puluh dan tiga puluh dua, dan tampaknya dia menganut agama ayahnya, maka istri tercinta Nabi Yakub alaihissalam ini adalah pencuri, pembohong, dan penyembah berhala.

[13] Dalam Bab Tiga Puluh Lima dari Kitab Kejadian seperti ini: 2 (Dan Yakub berkata kepada keluarganya dan semua yang bersamanya: Singkirkanlah tuhan-tuhan asing dari antara kalian dan bersucilah, dan gantilah pakaian kalian) 4 (Maka mereka menyerahkan kepadanya semua tuhan-tuhan asing yang ada di tangan mereka dan anting-anting yang ada di telinga mereka, maka dia menguburnya di bawah pohon besar yang di Sikhem).

Dan tampak dari ungkapan ini bahwa keluarga Nabi Yakub alaihissalam dan yang bersamanya sampai saat ini menyembah berhala-berhala, dan hal ini dalam pandangan terhadap keluarganya sangat buruk. Apakah dia tidak melarang mereka sebelum ini dari penyembahan berhala, dan jika mereka menyerahkan kepadanya semua tuhan-tuhan asing, maka tampaknya Rahel juga menyerahkan tuhan-tuhan yang dicuri juga, maka seharusnya Nabi Yakub alaihissalam mengirimnya kepada Laban bukan menguburnya di bawah pohon besar yang di Sikhem, dan memaafkan Rahel atas pencuriannya.

[14] Dalam Bab Tiga Puluh Empat dari Kitab Kejadian seperti ini: 1 (Dan Dina anak perempuan Lea keluar untuk melihat anak-anak perempuan negeri itu) 2 (Maka Sikhem putra Hemor orang Hewi, pemimpin negeri itu melihatnya dan mencintainya lalu mengambilnya dan bercinta dengannya dan merendahkannya) 3 (Dan jiwanya terikat padanya, dan dia mencintainya dan berbicara kepadanya dengan apa yang cocok dengannya, dan jatuh di hatinya) 4 (Maka Sikhem berkata kepada Hemor ayahnya: Ambilkan gadis ini untukku sebagai istri) 8 (Maka Hemor berbicara kepada mereka) dan seterusnya 13 (Maka anak-anak Yakub menjawab dan seterusnya) 14 (Kami tidak dapat melakukan apa yang kalian minta, dan tidak memberikan saudara perempuan kami kepada laki-laki yang tidak bersunat karena itu adalah aib bagi kami) 15 (Dengan ini kami menyerupai kalian jika kalian menjadi seperti kami agar disunat semua laki-laki kalian) 24 (Maka mereka semua setuju dan disunat semua yang laki-laki di antara mereka) 25 (Maka ketika hari ketiga dan rasa sakit mereka sangat hebat, dua putra Yakub yaitu Simeon dan Lewi saudara Dina, masing-masing mengambil pedangnya, dan masuk ke kota dengan tenang, dan membunuh semua laki-laki) 26 (Dan Hemor dan Sikhem putranya, dan mengambil Dina saudara perempuan mereka dari rumah Sikhem) 27 (Dan mereka keluar dan masuk anak-anak Yakub kepada orang-orang yang terbunuh, dan menjarah kota yang telah mempermalukan Dina saudara perempuan mereka di situ) 28 (Dan mereka mengambil domba mereka, sapi mereka, keledai mereka, dan semua yang di rumah-rumah, dan semua yang di ladang dan menawan anak-anak laki-laki mereka dan perempuan-perempuan mereka).

Maka perhatikanlah kesucian Dina anak perempuan Yakub bahwa dia berzina dan jatuh cinta kepada Sikhem sebagaimana ditunjukkan oleh perkataannya: Dan jatuh di hatinya. Dan perhatikanlah kezaliman anak-anak Yakub, bahwa mereka membunuh semua laki-laki penduduk kota itu, dan menawan perempuan-perempuan dan anak-anak laki-laki mereka, dan menjarah semua harta mereka. Maka kesalahan dan kezaliman mereka jelas, dan kesalahan Nabi Yakub alaihissalam adalah bahwa dia tidak mencegah mereka dari tindakan buruk ini sebelum terjadinya, dan tidak mengambil qishas dari mereka, dan tidak mengembalikan perempuan-perempuan, anak-anak laki-laki, dan harta yang dirampas, dan jika dia tidak mampu mencegah mereka, mengembalikan hal-hal ini, dan mengambil qishas, maka seharusnya dia meninggalkan persahabatan dengan orang-orang zalim ini, apalagi sangat tidak masuk akal bahwa dua orang membunuh semua penduduk kota itu, meskipun kita anggap mereka dalam kesakitan khitan.

[15] Dalam Bab Tiga Puluh Lima dari Kitab Kejadian seperti ini: (Ruben pergi dan bercinta dengan Bilha gundik ayahnya, maka Israil mendengar).

Maka perhatikanlah Ruben anak tertua Nabi Yakub alaihissalam, bahwa dia berzina dengan istri ayahnya, dan terhadap Yakub bahwa dia tidak menjalankan had atau ta’zir, tidak terhadap anaknya dan tidak terhadap istri ini, dan tampaknya had zina pada waktu ini adalah membakar pezina laki-laki dan perempuan dengan api, sebagaimana dipahami dari ayat dua puluh empat dari Bab Tiga Puluh Delapan dari Kitab Kejadian, dan dia mendoakan laknat terhadap anak ini di akhir hidupnya sebagaimana dinyatakan secara tegas dalam Bab Empat Puluh Sembilan dari kitab ini.

[16] Dalam Bab Tiga Puluh Delapan dari Kitab Kejadian: 6 (Dan bahwa Yehuda menikahkan anak sulungnya Er dengan seorang perempuan bernama Tamar) 7 (Dan Er sulung Yehuda adalah buruk di hadapan Tuhan, maka Tuhan membunuhnya) 8 (Dan Yehuda berkata kepada putranya Onan: Hampirilah istri saudaramu, dan jadilah bersamanya, dan tegakkanlah keturunan untuk saudaramu) 9 (Maka ketika Onan mengetahui bahwa keturunan itu bukan untuknya, maka ketika dia menghampiri istri saudaranya, dia merusaknya di tanah agar tidak ada keturunan untuk saudaranya) 10 (Maka tampak darinya keburukan di hadapan Tuhan karena perbuatannya itu, dan Tuhan membunuhnya) 11 (Maka Yehuda berkata kepada Tamar menantunya: Duduklah sebagai janda di rumah ayahmu sampai Sela putraku besar) dan seterusnya 13 (Maka diberitahukanlah kepada Tamar dengan mengatakan: Lihatlah mertuamu naik ke Timnat untuk menggunting dombanya) 14 (Maka Tamar melepaskan pakaian kejanggaannya dan mengambil selendang dan berhias, dan duduk di pinggir jalan) dan seterusnya 15 (Maka ketika Yehuda melihatnya dia mengira dia pelacur karena dia telah menutup wajahnya agar tidak dikenali) 16 (Dan dia menghampirinya dan berkata kepadanya: Biarkan aku menghampirimu, karena dia tidak tahu bahwa dia adalah menantunya. Maka dia berkata kepadanya: Apa yang akan engkau berikan kepadaku agar engkau menghampiriku) 17 (Maka dia berkata kepadanya: Aku akan mengirimkan kepadamu anak kambing dari kawanan. Dan dia berkata kepadanya: Berikan kepadaku jaminan sampai engkau mengirimkannya) 18 (Maka Yehuda berkata: Apa yang akan aku berikan kepadamu sebagai jaminan. Maka dia berkata: Cincin stempelmu, sorbanmu, dan tongkatmu yang di tanganmu. Maka dia memberikannya kepadanya, dan menghampirinya maka dia hamil darinya) 19 (Dan dia bangkit lalu pergi, dan melepaskan pakaiannya dan selendangnya, dan memakai pakaian kejanggaannya) 24 (Maka ketika setelah tiga bulan diberitahukanlah kepada Yehuda dengan mengatakan: Tamar menantumu telah berzina dan dia telah hamil dari zina. Maka Yehuda berkata: Keluarkan dia agar dibakar) 25 (Dan ketika mereka mengeluarkannya, dia mengirim kepada mertuanya dengan mengatakan: Dari laki-laki yang ini miliknya, aku hamil, maka kenalilah milik siapa cincin stempel, sorban, dan tongkat ini) 26 (Maka Yehuda mengenalinya dan berkata: Dia lebih benar dariku karena aku tidak memberikannya kepada Sela putraku, tetapi dia tidak mengenalinya lagi setelah itu) 27 (Dan ketika waktu melahirkan tiba dan ternyata kembar di rahimnya, maka saat kontraksinya, yang satu mendahului dan mengeluarkan tangannya maka bidan mengambil benang merah dan mengikatnya di tangannya dengan mengatakan: Ini keluar pertama) 29 (Maka dia menarik tangannya segera, dan saudaranya keluar maka dia berkata: Mengapa karenamu tembok roboh, dan karena itu dia memanggil namanya Peres) 30 (Dan setelah itu keluar saudaranya yang di tangannya benang merah, maka dia memanggil namanya Zerah).

Di sini ada beberapa hal: Pertama: Bahwa Tuhan membunuh Er karena dia buruk dan keburukannya tidak dijelaskan apakah keburukan ini lebih buruk dari keburukan pamannya yang lebih tua yang berzina dengan istri ayahnya, dan dari keburukan kedua pamannya yang lain Simeon dan Lewi yang membunuh semua laki-laki penduduk kota itu, dan dari keburukan ayahnya dan semua pamannya yang menjarah harta kota itu dan menawan perempuan-perempuan dan anak-anak mereka, dan dari keburukan ayahnya yang berzina dengan istrinya setelah kematiannya. Apakah mereka ini layak mendapat belas kasihan dan tidak dibunuh sedangkan Er layak dibunuh maka Tuhan membunuhnya.

Dan yang kedua: Mengherankan bahwa Tuhan membunuh Onan atas kesalahan mencabut mani, dan tidak membunuh paman-pamannya dan ayahnya atas dosa-dosa yang disebutkan. Apakah pencabutan ini lebih besar dosanya dari dosa-dosa ini.

Dan yang ketiga: Bahwa Yakub tidak menjalankan had dan tidak ta’zir terhadap anak yang terkasih ini dan tidak terhadap perempuan pelacur ini, bahkan tidak terbukti dari bab ini maupun dari bab lain bahwa dia resah karena hal ini terhadap Yehuda, dan Bab Empat Puluh Sembilan dari Kitab Kejadian adalah saksi yang jujur tentang ketidakresahannya di mana dia mencela Ruben dan Simeon dan Lewi atas apa yang keluar dari mereka, dan tidak mencela Yehuda atas apa yang keluar darinya, bahkan diam tentang apa yang keluar darinya dan memujinya dengan pujian yang tinggi dan mendoakannya dengan doa yang sempurna dan mengunggulkannya atas saudara-saudaranya.

Dan yang keempat: Bahwa Tamar disaksikan dalam haknya oleh Yehuda mertuanya dengan sangat berbakti, maka Mahasuci Allah, sebaik-baik orang berbakti dan sebaik-baiknya perempuan berbakti yang melampaui dalam kebaktian dari bab yang disebutkan, bagaimana tidak menjadi berbakti dengan sangat di mana dia tidak membuka auratnya kecuali untuk ayah suaminya dan tidak berzina kecuali dengan mertuanya atau mendapatkan darinya dengan zina satu kali ini dua anak laki-laki yang sempurna.

Dan yang kelima: Bahwa Nabi Daud dan Nabi Sulaiman dan Nabi Isa alaihimussalam semuanya dalam anak-anak Peres yang terjadi dari zina sebagaimana dinyatakan secara tegas dalam Bab Pertama dari Injil Matius (Surah Matius pasal 1).

Dan yang keenam: Bahwa Allah tidak membunuh Peres dan Zerah meskipun mereka berdua adalah anak-anak zina, bahkan membiarkan mereka seperti dua anak Luth yang adalah anak-anak zina, dan tidak membunuh mereka sebagaimana Dia membunuh anak Nabi Daud alaihissalam yang lahir dari zinanya dengan istri Uria, mungkin zina dengan istri orang lain lebih buruk dari zina dengan istri anak.

[17] Dalam Bab Tiga Puluh Dua dari Kitab Keluaran (Kitab Exodus) seperti ini: 1 (Dan bangsa itu melihat bahwa Musa telah lama tidak turun dari gunung, maka bangsa itu berkumpul kepada Harun dan berkata kepadanya: Bangunlah dan buatlah untuk kami tuhan-tuhan yang akan berjalan di depan kami karena Musa orang ini yang menaikkan kami dari tanah Mesir, kami tidak tahu apa yang menimpanya) 2 (Maka Harun berkata kepada mereka: Lepaskanlah anting-anting emas yang di telinga istri-istri kalian dan anak-anak laki-laki kalian dan anak-anak perempuan kalian dan bawalah kepadaku) 3 (Maka bangsa itu melepaskan anting-anting yang di telinga mereka dan membawanya kepada Harun) 4 (Maka dia mengambilnya dari mereka dan menjadikannya anak sapi tuangan dan berkata: Inilah tuhan-tuhanmu wahai Bani Israil yang menaikkan kalian dari tanah Mesir) 5 (Maka ketika Harun melihat itu dia membangun mezbah di hadapannya dan berseru dan berkata: Besok adalah hari raya untuk Tuhan) 6 (Maka mereka bangun pagi dan mempersembahkan korban bakaran dan persembahan keselamatan dan bangsa itu duduk makan dan minum dan bangun untuk bermain-main). Maka tampak dari ungkapan ini bahwa Harun membuat anak sapi dan membangun mezbah di hadapannya dan berseru dan berkata: Besok adalah hari raya untuk Tuhan. Maka dia menyembah anak sapi dan memerintahkan Bani Israil untuk menyembahnya, maka mereka mempersembahkan korban bakaran dan persembahan, dan tidak diragukan bahwa dia adalah rasul.

Pendeta Ismet menulis di bagian pertama dari bukunya yang bernama Tahqiq Ad-Din Al-Haqq yang dicetak tahun 1842 di halaman 42: “Sebagaimana tidak ada di antara mereka” yaitu di antara Bani Israil “penguasa, tidak ada di antara mereka nabi selain Musa dan Harun dan tujuh puluh dari yang ditunjuk.” Selesai. Kemudian dia berkata: “Tidak ada selain Musa dan Harun dan orang-orang yang mereka tunjuk sebagai nabi bagi mereka.” Selesai. Maka tampak bahwa Harun adalah nabi menurut orang-orang Kristen.

Dan harus diketahui oleh pembaca bahwa saya mengutip kedua ungkapan ini dari edisi yang dicetak tahun 1842 dan menulis bantahan terhadap edisi ini, dan menamainya Membalik Tuduhan, dan penulis buku Klarifikasi juga membantah edisi ini, dan menamainya, dan saya mendengar bahwa pendeta ini setelah bantahan mengubah bukunya sehingga menambah di beberapa tempat dan mengurangi di beberapa tempat, dan mengubah beberapa tempat, sebagaimana penulis Timbangan Kebenaran melakukan dalam edisi Timbangan seperti itu, maka saya tidak tahu apakah pendeta ini membuang kedua ungkapan ini dalam edisi terakhir yang diubah atau tidak, dan ungkapan-ungkapan Perjanjian Lama juga menunjukkan kenabiannya dan pengikutannya terhadap syariat Nabi Musa alaihissalam tidak bertentangan dengan kenabiannya, sebagaimana hal ini tidak bertentangan dengan kenabian Yusya dan Daud dan Yesaya dan Yeremia dan Yehezkiel dan lain-lain dari nabi-nabi Bani Israil yang ada antara zaman Nabi Musa dan Nabi Isa alaihimussalam. Dalam ayat dua puluh tujuh dari Bab Keempat dari Kitab Keluaran seperti ini: (Maka Tuhan berkata kepada Harun: Pergilah dan temuiMusa ke padang belantara, maka dia pergi dan menemuinya di gunung Allah dan menciumnya). Dan dalam Bab Delapan Belas dari Kitab Bilangan (Kitab Numbers) seperti ini: 1 (Dan Tuhan berkata kepada Harun) dan seterusnya 8 (Kemudian Tuhan berbicara kepada Harun dan berkata kepadanya) dan seterusnya 20 (Kemudian Tuhan berkata kepada Harun) dan seterusnya. Dan dalam bab ini dari awal sampai akhir dialah yang diajak bicara sebenarnya. Dan dalam Bab Kedua dan Keempat dan Keempat Belas dan Keenam Belas dan Kesembilan Belas terdapat ungkapan ini: (Dan Tuhan berbicara kepada Musa dan Harun dan berkata kepada mereka berdua) di enam tempat. Dan dalam ayat ketiga belas dari Bab Keenam dari Kitab Keluaran seperti ini: (Maka Tuhan berbicara kepada Musa dan Harun dan memerintahkan mereka dan mengutus mereka kepada Bani Israil dan kepada Firaun raja Mesir agar mereka mengeluarkan Bani Israil dari Mesir).

Dari pernyataan-pernyataan ini terlihat bahwa Allah mewahyukan kepada Harun alaihissalam secara tersendiri dan bersama dengan Musa alaihissalam, dan mengutusnya kepada Bani Israil dan Firaun sebagaimana mengutus Musa alaihissalam. Barangsiapa menelaah Kitab Keluaran akan tampak baginya bahwa mukjizat-mukjizat yang muncul di hadapan Firaun, kebanyakannya muncul melalui tangan Harun alaihissalam. Dan Maryam, saudara perempuan Musa dan Harun alaihissalamu, juga seorang nabiah (perempuan nabi) sebagaimana disebutkan dengan jelas dalam ayat kedua puluh dari Bab kelima belas Kitab Keluaran seperti ini: (Dan Maryam sang nabiah, saudara Harun, mengambil rebana di tangannya) dan seterusnya. Dan ayat kedua puluh enam dari Mazmur yang keseratus lima seperti ini: (Ia mengutus Musa hamba-Nya dan Harun yang telah dipilih-Nya). Dan ayat keenam belas dari Mazmur yang keseratus enam seperti ini: (Dan mereka membuat murka Musa di perkemahan dan Harun orang kudus Tuhan). Maka pengingkaran penulis Mizan al-Haq terhadap kenabian Harun dalam halaman 105 dari bukunya yang bernama Hal al-Isykal yang dicetak tahun 1847 bukanlah sesuatu.

[18] Dalam Bab kedua Kitab Keluaran seperti ini: 11 (Dan pada hari-hari itu ketika Musa telah dewasa, ia keluar kepada saudara-saudaranya dan melihat pekerjaan berat mereka, dan ia melihat seorang laki-laki Mesir memukul seorang laki-laki dari saudara-saudaranya orang Ibrani) 12 (Maka ia menoleh ke kanan dan ke kiri, dan tidak melihat seorang pun, lalu ia membunuh orang Mesir itu dan menguburkannya). Maka Musa alaihissalam membunuh orang Mesir karena fanatik kepada kaumnya.

[19] Dalam Bab keempat Kitab Keluaran seperti ini: 10 (Maka Musa berkata: Aku memohon kepada-Mu ya Tuhan, sesungguhnya aku bukan orang yang fasih berbicara sejak kemarin dan sejak dahulu juga, dan sejak Engkau berbicara dengan hamba-Mu, sesungguhnya aku cedal dan berat lidah) 11 (Maka Tuhan berkata kepadanya: Siapakah yang menciptakan mulut manusia, atau siapakah yang menjadikan orang bisu dan tuli dan yang melihat dan yang buta, bukankah Aku) 12 (Maka pergilah dan Aku akan bersama mulutmu dan mengajarmu apa yang harus kau katakan) 13 (Adapun dia maka berkata: Aku memohon kepada-Mu ya Tuhan agar Engkau mengutus siapa yang hendak Engkau utus) 24 (Maka sangat marahlah Tuhan kepada Musa) dan seterusnya. Maka Musa alaihissalam meminta pembebasan dari kenabian, padahal Tuhan telah berjanji kepadanya dan menjadikannya tenang, maka Tuhan sangat marah kepadanya.

[20] Dalam ayat kesembilan belas dari Bab ketiga puluh dua Kitab Keluaran seperti ini: (Maka ketika ia mendekati perkemahan dan melihat anak lembu dan kelompok penyanyi, maka sangat marahlah Musa dan ia melemparkan kedua loh dari tangannya dan memecahkannya di kaki gunung). Dan kedua loh ini adalah dari buatan Allah dan tulisan Allah, sebagaimana disebutkan dengan jelas dalam bab ini, maka memecahkannya adalah kesalahan, dan tidak pernah ada yang seperti keduanya setelah itu, karena kedua loh yang ada setelahnya adalah dari buatan Musa dan dari tulisannya, sebagaimana disebutkan dengan jelas dalam Bab ketiga puluh empat Kitab Keluaran.

[21] Ayat kedua belas dari Bab kedua puluh Kitab Bilangan seperti ini: (Dan Tuhan berkata kepada Musa dan Harun: Karena kalian berdua tidak mempercayai-Ku dan menguduskan-Ku di hadapan Bani Israil, karena itu kalian berdua tidak akan memasukkan jemaah ini ke negeri yang telah Aku berikan kepada mereka). Dan dalam Bab ketiga puluh dua Kitab Ulangan seperti ini: 48 (Dan Tuhan berbicara kepada Musa pada hari itu dan berkata kepadanya) 49 (Naiklah ke gunung Abarim ini yaitu gunung penghargaan ke gunung Nebo yang di tanah Moab di seberang Yerikho, kemudian pandanglah tanah Kanaan yang Aku berikan kepada Bani Israil agar mereka mewarisinya kemudian matilah di gunung) 50 (Yang kau naiki dan berkumpullah dengan kaum-kaummu, sebagaimana saudaramu Harun mati di Gunung Hor dan berkumpul dengan kaumnya) 51 (Karena kalian berdua telah mendurhakai-Ku di tengah Bani Israil di dekat air perselisihan di Kadesy padang belantara Sin dan tidak menyucikan-Ku di tengah Bani Israil) 52 (Maka sesungguhnya kau akan melihat negeri yang Aku berikan kepada Bani Israil dari hadapannya, adapun kau maka tidak akan memasukinya). Maka dalam kedua pernyataan ini disebutkan dengan jelas adanya kesalahan dari Musa dan Harun alaihimassalam sehingga mereka berdua terhalangi dari memasuki tanah suci, dan Allah telah berfirman dengan menegur: Sesungguhnya kalian berdua tidak mempercayai-Ku dan menguduskan-Ku dan sesungguhnya kalian berdua telah mendurhakai-Ku.

[22] Simson sang rasul berzina dengan seorang perempuan pezina yang ada di Gaza, kemudian jatuh cinta kepada seorang perempuan bernama Delilah yang berasal dari penduduk Lembah Sorek, dan ia biasa masuk kepadanya. Maka orang-orang kafir Filistin memerintahkan perempuan itu untuk bertanya kepadanya, bagaimana orang-orang Filistin dapat menguasainya dan mengikatnya, dan ia tidak mampu melepaskan ikatan itu, dan mereka menjanjikan pemberian yang besar. Maka perempuan itu bertanya kepadanya, lalu ia berbohong tiga kali. Maka perempuan pelacur ini berkata kepadanya: Bagaimana kau berkata bahwa kau mencintaiku sedangkan hatimu tidak bersamaku dan kau telah membohongiku tiga kali, dan ia menekannya dengan kata-katanya berhari-hari, maka ia memberitahukan kepadanya segala sesuatu, dan berkata: Jika mereka mencukur rambut kepalaku maka hilang dariku kekuatanku dan aku menjadi seperti salah seorang dari manusia. Maka ketika perempuan itu melihat bahwa ia telah menampakkan apa yang ada di hatinya, ia memanggil para pemimpin orang Filistin, dan menidurkannya di atas lututnya, dan memanggil tukang cukur lalu mencukur tujuh kepang rambut kepalanya. Maka hilanglah kekuatannya darinya, lalu mereka menawannya dan mencabut kedua matanya dan memenjarakannya di penjara, kemudian ia mati syahid di sana. Dan kisah ini disebutkan dengan jelas dalam Bab keenam belas Kitab Hakim-Hakim. Dan Simson adalah nabi dan menunjukkan kenabiannya ayat 5 dan 25 dari Bab ketiga belas. Dan ayat 6 dan 19 dari Bab keempat belas, dan ayat 14 dan 18 dan 19 dari Bab kelima belas dari kitab yang disebutkan, dan ayat ketiga puluh dua dari Bab kesebelas Surat Ibrani.

[23] Dalam Bab kedua puluh satu Kitab Samuel Pertama tentang keadaan Daud, ketika ia lari karena takut kepada Saul raja Israil, dan tiba di Nob kepada Ahimelekh sang imam seperti ini: 1 (Dan Daud datang ke Nob kepada Ahimelekh sang pendeta, maka Ahimelekh heran dengan kedatangan Daud dan berkata kepadanya: Mengapa kau datang sendirian dan tidak ada seorang pun bersamamu) 2 (Maka Daud berkata kepada Ahimelekh sang imam: Sesungguhnya raja memerintahku suatu perkara dan berkata kepadaku: Janganlah seorang pun mengetahui tentang hal ini yang akan aku utus kau dan aku perintahkan kau, adapun para pemuda maka aku telah menetapkan bagi mereka tempat itu dan demikian) 3 (Dan sekarang jika ada sesuatu di bawah tanganmu atau lima roti maka berikanlah kepadaku atau apa pun yang kau temukan) 6 (Dan ia memberikan kepadanya roti, roti kudus dan seterusnya) 8 (Dan Daud berkata kepada Ahimelekh: Apakah di bawah tanganmu ada pedang atau tombak, karena pedangku dan tombakku tidak kubawa bersamaku, karena perintah raja mendesak). Maka Daud alaihissalam berbohong bohong demi bohong, dan buah dari kebohongan ini adalah bahwa Saul sang pembunuh raja Bani Israil membunuh seluruh penduduk Nob, laki-laki mereka dan perempuan mereka dan anak-anak mereka dan hewan-hewan mereka dari sapi dan kambing dan keledai, dan dalam peristiwa ini terbunuh delapan puluh lima imam, dan selamat dalam peristiwa ini seorang anak Ahimelekh bernama Abyatar, dan ia lari dan sampai kepada Daud alaihissalam. Dan Daud alaihissalam mengakui bahwa aku sebab bagi pembunuhan seluruh keluargamu, sebagaimana disebutkan dengan jelas dalam Bab kedua puluh dua dari kitab yang disebutkan.

[24] Dalam Bab kesebelas Kitab Samuel Kedua seperti ini: (Daud alaihissalam bangun dari tempat tidurnya setelah tengah hari berjalan-jalan di atas atap istana kerajaannya, maka ia melihat seorang perempuan sedang mandi di atap rumahnya dan perempuan itu sangat cantik, maka Daud alaihissalam mengutus dan bertanya tentang perempuan itu dan mereka berkata kepadanya: Sesungguhnya ia adalah putri Syeba, istri Uria, maka Daud mengutus utusan-utusan dan mengambilnya dan tidur bersamanya, kemudian ia kembali ke rumahnya lalu hamil dan memberitahukannya dan berkata: Sesungguhnya aku telah hamil. Maka Daud alaihissalam mengutus kepada Yoab berkata kepadanya: Utuslah kepadaku Uria, maka Yoab mengutus Uria, dan Daud alaihissalam bertanya kepada Uria tentang keselamatan Yoab dan tentang keselamatan rakyat dan tentang perang, kemudian berkata: Turunlah ke rumahmu. Maka Uria keluar lalu berbaring di pintu rumah raja dan tidak turun ke rumahnya, dan mereka memberitahu Daud alaihissalam, bahwa Uria tidak turun ke rumahnya. Maka Daud alaihissalam berkata: Mengapa kau tidak turun ke rumahmu. Maka Uria berkata: Tabut Allah dan Israil dan Yehuda di dalam kemah-kemah dan tuanku Yoab dan hamba-hamba tuanku di padang belantara dan aku pergi ke rumahku dan makan dan minum dan tidur dengan istriku, tidak demi hidupmu dan kehidupan jiwamu sesungguhnya aku tidak melakukan ini. Dan Daud alaihissalam berkata: Tinggallah hari ini juga di sini, dan jika besok aku akan mengutusmu.

Dan Uria tinggal di Yerusalem pada hari itu, dan pada hari berikutnya Daud alaihissalam memanggilnya untuk makan di hadapannya dan minum lalu memabukkannya, dan keluar waktu sore lalu tidur di tempatnya di samping hamba-hamba tuannya dan tidak turun ke rumahnya, maka ketika pagi Daud alaihissalam menulis surat kepada Yoab, dan mengirimkannya dengan tangan Uria dan berkata: Tempatkan Uria di garis depan perang, dan jika perang memanas mundurlah dan tinggalkan dia sendirian agar terbunuh, maka ketika Yoab mengepung kota ia menempatkan Uria di tempat yang ia ketahui bahwa orang-orang pemberani ada di sana, maka penduduk kota keluar dan berperang melawan Yoab lalu gugur dari rakyat beberapa orang dari hamba-hamba Daud alaihissalam dan Uria mati, dan Yoab mengutus kepada Daud alaihissalam dan memberitahukannya, dan istri Uria mendengar bahwa suaminya telah mati lalu meratapi dia, maka ketika ratapannya selesai, Daud alaihissalam mengutus dan memasukkannya ke rumahnya dan menjadi istrinya dan melahirkan baginya seorang anak, dan buruk perbuatan ini yang dilakukan Daud di hadapan Tuhan) selesai ringkasannya. Dan dalam Bab kedua belas Kitab Samuel Kedua hukuman Tuhan bagi Daud melalui lisan Natan sang nabi alaihimassalam seperti ini: 9 (Dan mengapa kau meremehkan perintah Tuhan dan melakukan yang buruk di hadapan mata-Ku dan membunuh Uria orang Het dalam perang dan istrinya kau ambil sebagai istrimu dan membunuhnya dengan pedang Bani Ammon) 14 (Tetapi karena kau telah membuat musuh-musuh Tuhan gembira dengan perbuatan ini maka anak yang dilahirkan bagimu akan mati). Maka terjadi dari Daud delapan dosa:

(Pertama) bahwa ia memandang perempuan asing dengan pandangan syahwat, dan Isa alaihissalam telah berkata bahwa setiap orang yang memandang perempuan untuk menginginkannya maka ia telah berzina dengannya di dalam hatinya, sebagaimana disebutkan dengan jelas dalam Bab kelima Injil Matius.

(Dan kedua) bahwa ia tidak cukup dengan pandangan syahwat, bahkan ia memintanya dan berzina dengannya, dan keharaman zina adalah pasti, dan termasuk Sepuluh Perintah yang terkenal. Sebagaimana Allah berfirman dalam Taurat: Jangan berzina.

(Dan ketiga) bahwa zina ini dengan istri tetangga, dan ini jenis zina yang paling keras, dan dosa lain sebagaimana disebutkan dengan jelas dalam Sepuluh Perintah yang terkenal.

(Dan keempat) ia tidak menjalankan hukuman zina tidak pada dirinya sendiri, dan tidak pada perempuan ini. Dan ayat kesepuluh dari Bab kedua puluh Kitab Imamat seperti ini: (Dan barangsiapa berzina dengan perempuan yang bersuami maka bunuhlah pezina laki-laki dan pezina perempuan). Dan ayat kedua puluh dua dari Bab kedua puluh dua Kitab Ulangan seperti ini: (Jika seorang laki-laki tidur dengan istri orang lain maka keduanya harus mati, pezina laki-laki dan pezina perempuan, dan angkatlah kejahatan dari Israil).

(Dan kelima) bahwa Daud alaihissalam meminta Uria dari perkemahan, dan memerintahkannya agar pergi ke rumahnya, dan kebanyakan tujuan Daud alaihissalam adalah untuk menutupi aibnya, dan kehamilan ini dinisbatkan kepada Uria. Dan ketika ia tidak pergi karena ketaatannya beragama, dan bersumpah bahwa ia tidak akan pulang, maka Daud alaihissalam menahannya pada hari kedua, dan membuatnya mabuk dengan memberi minum anggur yang banyak agar pulang ke rumahnya dalam keadaan mabuk, tetapi ia tidak pulang dalam keadaan ini juga dengan menjaga ketaatannya beragama, dan tidak menoleh kepada istrinya yang cantik yang halal baginya secara syariat dan akal. Maha Suci Allah Yang Mahaperkasa, keadaan ketaatan beragama orang awam menurut Ahli Kitab dalam meninggalkan perkara yang boleh karena ketaatan beragama seperti ini, dan keadaan ketaatan beragama para nabi Israil dalam melakukan perbuatan keji seperti ini.

(Dan keenam) bahwa ketika tidak tercapai hasil yang ia maksudkan dengan memabukkan Uria, Daud alaihissalam bertekad untuk membunuhnya, lalu membunuhnya dengan pedang Bani Ammon, dan dalam ayat ketujuh dari Bab kedua puluh tiga Kitab Keluaran: (Jangan membunuh orang benar yang suci).

(Dan ketujuh) bahwa ia tidak sadar akan kesalahannya, dan tidak bertobat selama Natan sang nabi alaihissalam tidak menegurnya.

(Dan kedelapan) bahwa telah sampai kepadanya hukuman Allah bahwa anak ini yang lahir dari zina akan mati, dan dengan ini ia berdoa untuk kesembuhannya, dan berpuasa dan bermalam di atas tanah.

[25] Dalam Bab ketiga belas Kitab Samuel Kedua, bahwa Amnon anak tertua Daud berzina dengan Tamar secara paksa kemudian berkata kepadanya: Keluarlah, dan ketika ia menolak untuk keluar ia memerintahkan pelayannya lalu mengeluarkannya, dan menutup pintu di belakangnya maka ia keluar sambil berteriak, dan Daud alaihissalam mendengar perkara-perkara ini, dan berat baginya, tetapi ia tidak berkata kepada Amnon sesuatu pun karena cintanya kepadanya dan tidak kepada Tamar, dan Tamar ini adalah saudara perempuan Absalom bin Daud alaihissalam dengan pasti, dan karena itu Absalom membenci Amnon, dan bertekad untuk membunuhnya, dan ketika ia mampu membunuhnya ia membunuhnya.

[26] Dalam ayat kedua puluh dua dari Bab keenam belas Kitab Samuel Kedua seperti ini: (Maka mereka memasang kemah untuk Absalom di atas atap, dan ia masuk kepada gundik-gundik ayahnya di hadapan seluruh Israil). Kemudian Absalom memerangi ayahnya sehingga terbunuh dalam peperangan itu dua puluh ribu orang dari Bani Israil sebagaimana disebutkan dengan jelas dalam Bab kedelapan belas. Maka anak Daud alaihissalam ini melampaui Ruben anak tertua Yakub alaihissalam dalam tiga hal:

(Pertama) bahwa ia berzina dengan semua gundik ayahnya berbeda dengan Ruben yang berzina dengan satu gundik saja.

(Dan kedua) bahwa ia berzina di hadapan seluruh Israil secara terang-terangan berbeda dengan Ruben yang berzina secara sembunyi-sembunyi.

(Dan ketiga) bahwa ia memerangi ayahnya sehingga terbunuh dua puluh ribu orang dari Bani Israil. Dan Daud alaihissalam dengan terjadinya perkara-perkara ini dari anak yang buruk ini, ia mewasiatkan para pemimpin tentara agar tidak ada seorang pun membunuhnya, tetapi Yoab melanggar perintahnya, dan membunuh anak yang buruk ini, dan ketika Daud alaihissalam mendengar ia menangis dengan sangat, dan bersedih karenanya. Dan aku tidak heran dengan perkara-perkara ini karena yang semisalnya jika terjadi dari anak-anak para nabi, bahkan para nabi, tidaklah mengherankan menurut hukum kitab-kitab suci mereka, tetapi aku heran bahwa zinanya dengan gundik-gundik ayahnya adalah dengan keadilan Tuhan, dan Dialah yang menggerakkan pezina ini, karena Dia telah berjanji kepadanya melalui lisan Natan sang nabi alaihissalam ketika Daud alaihissalam berzina dengan istri Uria. Dalam Bab kedua belas dari kitab yang disebutkan seperti ini: 11 (Maka inilah yang Tuhan katakan: Sesungguhnya Aku membangkitkan atasmu kejahatan dari rumahmu, dan Aku akan mengambil istri-istrimu di hadapanmu lalu Aku berikan kepada temanmu maka ia akan tidur dengan istri-istrimu di hadapan matahari ini) 12 (Maka sesungguhnya kau telah melakukan ini secara sembunyi-sembunyi, dan Aku akan menjadikan perkataan ini di hadapan seluruh Israil, dan di hadapan matahari). Maka Allah memenuhi apa yang Dia janjikan.

[27] Dalam Bab kesebelas Kitab Raja-Raja Pertama seperti ini: 1 (Dan Raja Sulaiman telah mencintai perempuan-perempuan asing yang banyak, dan putri Firaun, dan perempuan-perempuan dari putri-putri Moab, dan dari putri-putri Ammon, dan dari putri-putri Edom, dan dari putri-putri Sidon, dan dari putri-putri Het) 2 (Dari kaum-kaum yang Tuhan telah berfirman kepada Bani Israil: Jangan kalian masuk kepada mereka, dan jangan mereka masuk kepada kalian agar tidak memalingkan hati kalian kepada tuhan-tuhan mereka, dan mereka inilah yang Sulaiman melekat kepada mereka dengan cinta yang sangat) 3 (Dan menjadi baginya tujuh ratus istri merdeka, dan tiga ratus gundik, dan istri-istrinya menyesatkan hatinya) 4 (Maka ketika Sulaiman sudah tua istri-istrinya menyesatkannya kepada tuhan-tuhan lain, dan tidak sempurna hatinya kepada Allah Tuhannya seperti hati Daud ayahnya) 5 (Dan Sulaiman mengikuti Asytoret tuhan orang Sidon dan Milkom berhala Bani Ammon) 6 (Dan Sulaiman melakukan yang buruk di hadapan Tuhan dan tidak sempurna mengikuti Tuhan seperti Daud ayahnya) 7 (Kemudian Sulaiman mendirikan tempat pemujaan untuk Kamos berhala Moab di gunung yang di hadapan Yerusalem, dan untuk Milkom berhala Bani Ammon) 8 (Dan demikian ia lakukan untuk semua istri-istrinya yang asing, dan mereka membakar dupa, dan menyembelih untuk tuhan-tuhan mereka) 9 (Maka marahlah Tuhan kepada Sulaiman karena hatinya berpaling dari Tuhan Allah Israil yang telah menampakkan diri kepadanya dua kali) 10 (Dan melarangnya dari perkataan ini agar tidak mengikuti tuhan-tuhan orang asing, dan ia tidak menjaga apa yang Tuhan perintahkan kepadanya) 11 (Maka Tuhan berkata kepada Sulaiman: Sesungguhnya kau telah melakukan perbuatan ini, dan tidak menjaga perjanjian-Ku dan perintah-perintah-Ku yang telah Aku perintahkan kepadamu, Aku akan merobek-robek kerajaanmu, dan menjadikannya kepada hambamu). Maka terjadi dari Sulaiman alaihissalam lima dosa:

(Pertama)

Dan ini adalah yang paling besar di antaranya, bahwa ia murtad di akhir umurnya, yaitu pada saat menghadap kepada Allah. Dan balasan orang murtad dalam syariat Musa adalah rajam, walaupun ia adalah nabi yang memiliki mukjizat sebagaimana disebutkan secara tegas dalam bab ketiga belas dan ketujuh belas dari Kitab Ulangan, dan tidak diketahui dari satu tempat pun di Taurat bahwa taubat orang murtad diterima. Seandainya taubat orang murtad diterima, niscaya Nabi Musa alaihissalam tidak memerintahkan untuk membunuh penyembah lembu emas, hingga terbunuh dua puluh tiga ribu orang karena kesalahan menyembahnya.

(Kedua)

Bahwa ia membangun tempat-tempat ibadah yang tinggi untuk berhala-berhala di gunung di hadapan Yerusalem, dan tempat-tempat ibadah ini tetap ada selama dua ratus tahun hingga dinajiskan, dan Yosia bin Amon, raja Yehuda pada masanya, menghancurkan berhala-berhala tersebut, setelah wafatnya Nabi Sulaiman alaihissalam lebih dari tiga ratus tiga puluh tahun, sebagaimana disebutkan secara tegas dalam bab kedua puluh tiga dari Kitab Raja-raja Kedua.

(Ketiga)

Bahwa ia menikahi wanita-wanita dari berbagai bangsa, yang Allah telah melarang untuk berhubungan dengan mereka, dalam bab ketujuh dari Kitab Ulangan begini: (Dan janganlah engkau membuat pernikahan dengan mereka, maka janganlah engkau memberikan putrimu kepada anaknya, dan janganlah engkau mengambil putrinya untuk anakmu).

(Keempat)

Ia menikahi seribu wanita, padahal banyaknya istri telah diharamkan atas orang yang menjadi penguasa Bani Israil dalam ayat ketujuh belas dari bab ketujuh belas dari Kitab Ulangan begini: (Dan janganlah engkau memperbanyak istri-istrinya agar mereka tidak menyesatkan dirinya).

(Kelima)

Bahwa istri-istrinya membakar dupa dan menyembelih untuk berhala-berhala, dan telah disebutkan secara tegas dalam bab kedua puluh dua dari Kitab Keluaran: (Barangsiapa menyembelih untuk berhala maka hendaklah ia dibunuh). Maka membunuh mereka adalah wajib, dan juga mereka telah menyesatkan hatinya, maka merajam mereka adalah wajib sebagaimana disebutkan secara tegas dalam bab ketiga belas dari Kitab Ulangan, namun ia tidak menjalankan hukuman-hukuman atas mereka hingga akhir hidupnya. Maka sungguh mengherankan bahwa Nabi Daud dan Nabi Sulaiman alaihimassalam tidak menjalankan hukum-hukum Taurat atas diri mereka sendiri, dan tidak pula atas keluarga mereka, maka tindakan toleransi apakah yang lebih besar dari ini? Apakah hukuman-hukuman ini yang diwajibkan Allah hanya untuk dijalankan kepada orang-orang miskin yang sengsara saja? Dan tidak terbukti taubat Nabi Sulaiman alaihissalam dari satu tempat pun di Perjanjian Lama, bahkan yang tampak adalah tidak ada taubatnya karena seandainya ia bertaubat niscaya ia akan merobohkan tempat-tempat ibadah yang dibangunnya, dan menghancurkan berhala-berhala yang diletakkannya di tempat-tempat ibadah tersebut, dan merajam wanita-wanita yang menyesatkan itu. Apalagi taubatnya tidak bermanfaat karena hukum orang murtad dalam Taurat tidak lain adalah rajam. Dan apa yang diklaim oleh penulis Mizan al-Haq dalam halaman kelima puluh lima dari Jalan Kehidupan yang dicetak tahun 1847 tentang taubat Nabi Adam dan Nabi Sulaiman alaihimassalam, adalah klaim murni dan kebohongan belaka.

[28]

Engkau telah mengetahui dalam Perkara Ketujuh dari Pendahuluan Kitab bahwa nabi yang berada di Betel telah berdusta dalam menyampaikan wahyu, dan menipu hamba Allah yang malang, dan melemparkannya ke dalam murka Tuhan dan membinasakannya.

[29]

Dalam bab kesepuluh dari Kitab Samuel Pertama mengenai Saul raja Israil yang terkenal kejam begini: 10 (Dan mereka tiba di bukit dan tampaklah barisan para nabi menemuinya, dan turunlah kepadanya roh Tuhan lalu ia bernubuat di antara mereka) 11 (Dan ketika mereka yang mengenalnya dari kemarin dan sebelum kemarin melihatnya ternyata ia bersama para nabi sedang bernubuat, setiap orang dari mereka berkata kepada temannya: Apa yang telah terjadi pada anak Qis? Apakah Saul juga termasuk para nabi?) 12 (Maka sebagian dari mereka menjawab yang lain dan berkata: Siapa bapak mereka? Karena itu menjadi pepatah: Apakah Saul juga termasuk para nabi?) 13 (Dan setelah selesai bernubuat ia datang ke tempat tinggi).

Dan ayat keenam dari bab kesebelas dari Kitab Samuel Pertama begini: (Dan roh Allah turun atas Saul ketika ia mendengar perkataan ini, dan amarahnya sangat menyala).

Diketahui dari ungkapan-ungkapan ini bahwa Saul telah dilimpahi Roh Kudus, dan ia memberitakan tentang keadaan-keadaan yang akan datang.

Dan dalam bab keenam belas dari kitab yang disebutkan: (Dan roh Allah menjauh dari Saul dan datanglah roh jahat menyiksanya dengan perintah Tuhan).

Dan diketahui darinya bahwa nabi ini jatuh dari derajat kenabian lalu roh Allah menjauh darinya, dan roh setan menguasainya.

Dan dalam bab kesembilan belas dari kitab yang disebutkan begini: 23 (Maka Saul pergi ke Nayot yang di Ramah, dan turunlah kepadanya juga roh Tuhan, lalu ia terus berjalan dan bernubuat hingga ia tiba di Nayot di Ramah) 24 (Dan ia pun menanggalkan pakaiannya dan ia juga bernubuat di hadapan Samuel, dan ia jatuh telanjang sepanjang siang itu dan sepanjang malam itu, maka menjadi pepatah: Apakah Saul termasuk para nabi).

Maka nabi yang jatuh dari derajat kenabian ini mendapat derajat tinggi itu sekali lagi, dan turunlah Roh Kudus kepadanya dengan sangat kuat, sehingga ia melempar pakaiannya dan menjadi telanjang, dan ia berada dalam keadaan ini sehari semalam. Maka nabi yang menghimpun roh setan dan roh Rahman ini adalah tempat keajaiban, maka barangsiapa yang menghendaki hendaklah ia melihat keadaan kezaliman dan kekerasannya dalam kitab yang disebutkan.

[30]

Yudas Iskariot adalah salah seorang dari para murid, dan ia dilimpahi Roh Kudus, dan penuh dengannya, pemilik karamah, sebagaimana disebutkan secara tegas dalam bab kesepuluh dari Injil Matius. Dan nabi ini menjual agamanya dengan dunianya, dan menyerahkan Nabi Isa alaihissalam ke tangan orang-orang Yahudi karena tamak tiga puluh dirham, kemudian ia mencekik dirinya sendiri dan mati, sebagaimana disebutkan secara tegas dalam bab kedua puluh tujuh dari Injil Matius. Dan Yohanes bersaksi tentangnya dalam bab kedua belas dari Injilnya bahwa ia adalah pencuri, dan pundi-pundi uang ada padanya, dan ia membawa apa yang dimasukkan ke dalamnya. Apakah nabi seperti pencuri yang menjual agamanya dengan dunianya ini?

[31]

Para murid yang menurut anggapan mereka lebih utama daripada Nabi Musa dan seluruh nabi-nabi Bani Israil alaihimussalam, melarikan diri pada malam ketika orang-orang Yahudi menangkap Nabi Isa alaihissalam dan meninggalkannya di tangan musuh-musuh, dan ini adalah dosa besar. Dan jika dikatakan bahwa perbuatan ini terjadi dari mereka karena kepengecutan mereka, dan kepengecutan adalah hal yang alami. Aku katakan: seandainya ini diterima, maka tidak ada alasan bagi mereka dalam hal lain yang lebih mudah, yaitu bahwa Nabi Isa alaihissalam berada dalam kegelisahan yang sangat pada malam ini, dan ia berkata kepada mereka bahwa jiwaku sangat sedih, tinggallah di sini dan berjaga-jagalah bersamaku. Kemudian ia maju sedikit untuk salat, kemudian ia datang kepada mereka dan mendapati mereka tertidur, lalu ia berkata kepada Petrus: Apakah demikian kalian tidak mampu berjaga-jaga bersamaku satu jam saja, berjaga-jagalah dan salatlah. Lalu ia pergi untuk kedua kalinya untuk salat kemudian datang dan mendapati mereka tertidur, maka ia meninggalkan mereka dan pergi kemudian datang kepada murid-muridnya dan berkata kepada mereka: Tidurlah dan beristirahatlah. Sebagaimana disebutkan secara tegas dalam bab kedua puluh enam dari Injil Matius. Dan seandainya mereka memiliki cinta sedikit pun niscaya mereka tidak akan melakukan perbuatan ini. Tidakkah engkau melihat bahwa orang-orang durhaka dari ahli dunia jika pemimpin mereka atau kerabat dekat dari kerabat-kerabat mereka berada dalam kegelisahan yang sangat, atau sakit yang keras pada suatu malam, mereka tidak tidur pada malam itu walaupun mereka adalah orang-orang yang paling fasik.

[32]

Bahwa Petrus sang murid yang adalah ketua para murid, dan khalifah Nabi Isa alaihissalam menurut klaim golongan Katolik, dan walaupun ia setara kedudukannya dalam perkara yang disebutkan sebelumnya dengan para murid yang lain, namun ia mendapat keutamaan bahwa ketika orang-orang Yahudi menangkap Nabi Isa alaihissalam, ia mengikutinya dari jauh sampai ke rumah kepala imam, lalu ia duduk di luar rumah, maka datanglah seorang budak perempuan berkata: Dan engkau juga bersama Yesus orang Galilea. Maka ia mengingkari di hadapan semua orang. Kemudian seorang perempuan lain melihat dan berkata kepada orang-orang yang ada di sana: Orang ini bersama Yesus orang Nazaret. Maka ia mengingkari lagi dengan bersumpah: Aku tidak mengenal orang ini. Dan setelah sebentar datanglah orang-orang yang berdiri dan berkata kepada Petrus: Sesungguhnya engkau juga termasuk mereka. Maka mulailah ia pada saat itu mengutuk dan bersumpah: Sesungguhnya aku tidak mengenal orang ini. Dan pada saat itu juga ayam berkokok, lalu Petrus teringat perkataan Nabi Isa alaihissalam: Sesungguhnya sebelum ayam berkokok engkau akan mengingkariku tiga kali, sebagaimana disebutkan secara tegas dalam bab kedua puluh enam dari Injil Matius. Dan Al-Masih alaihissalam telah berkata kepadanya: Enyahlah dariku hai setan, engkau adalah batu sandungan bagiku karena engkau tidak peduli dengan apa yang dari Allah, tetapi engkau peduli dengan apa yang dari manusia, sebagaimana disebutkan secara tegas dalam bab keenam belas dari Injil Matius. Dan kitab suci mereka Paulus menulis dalam bab kedua dari suratnya kepada penduduk Galatia begini: 11 (Tetapi ketika Petrus datang ke Antiokhia, aku menentangnya secara langsung karena ia tercela) 12 (Karena sebelum datang beberapa orang dari Yakub, ia makan bersama orang-orang non-Yahudi, tetapi ketika mereka datang ia mengundurkan diri dan memisahkan dirinya karena takut kepada mereka yang dari golongan bersunat) 13 (Dan orang-orang Yahudi yang lain juga bermunafik bersamanya, hingga Barnabas juga terbawa oleh kemunafikan mereka) 14 (Tetapi ketika aku melihat bahwa mereka tidak berjalan dengan lurus menurut kebenaran Injil, aku berkata kepada Petrus di hadapan semua orang: Jika engkau yang adalah orang Yahudi hidup secara non-Yahudi, mengapa engkau mewajibkan orang-orang non-Yahudi untuk menjadi Yahudi).

Dan Petrus mendahului para murid dalam berbicara, tetapi pada beberapa waktu ia tidak tahu apa yang dikatakannya sebagaimana disebutkan secara tegas dalam ayat ketiga puluh tiga dari bab kesembilan dari Injil Lukas. Dan dalam Surat Kedua dari Kitab Tiga Belas Surat yang dicetak tahun 1849 di Beirut dalam halaman 60: (Bahwa salah seorang bapa berkata bahwa ia menderita penyakit kesombongan dan pembangkangan yang keras). Yohanes Mulut Emas, perkataan 82 dan 83 tentang Matius kemudian dalam halaman 61: (Mulut Emas berkata bahwa ia lemah dan goyah akalnya, dan Santo Agustinus berkata tentang Petrus: Bahwa ia tidak tetap karena ia kadang beriman dan kadang ragu, dan kadang ia mengetahui bahwa Al-Masih tidak mati, dan kadang ia takut ia akan mati, dan Al-Masih berkata kepadanya suatu waktu: Berbahagialah engkau, dan waktu lain berkata kepadanya: Hai setan) selesai dengan lafaznya.

Maka murid ini menurut mereka lebih utama daripada Nabi Musa dan seluruh nabi-nabi Bani Israil. Jika keadaan yang lebih utama dari Nabi Musa adalah seperti yang engkau ketahui, maka apa yang harus diyakini tentang yang kurang utama?

[33]

Adalah Kayafas kepala imam seorang nabi dengan kesaksian Yohanes dalam ayat kelima puluh satu dari bab kesebelas dari Injil Yohanes. Perkataannya tentang Kayafas dalam Terjemahan Arab yang dicetak tahun 1841 dan tahun 1844 begini: (Dan ia tidak mengatakan ini dari dirinya sendiri, tetapi karena ia adalah kepala imam pada tahun itu, maka ia bernubuat bahwa Yesus akan mati menggantikan bangsa itu). Maka perkataannya “bernubuat” menunjukkan kenabiannya. Dan nabi ini memberi fatwa untuk membunuh Nabi Isa alaihissalam, dan mengkafirkannya dan menghinakannya. Maka jika perkara-perkara ini dengan kenabian dan ilham, maka Nabi Isa alaihissalam wajib ditolak – naudzubillah. Dan jika dengan godaan setan, maka dosa apakah yang lebih besar dari ini? Dan aku cukupkan sampai batas ini dan aku katakan bahwa dosa-dosa yang disebutkan dan semacamnya, disebutkan secara tegas dalam kitab-kitab Perjanjian Lama dan Baru, dan dosa-dosa ini tidak mencacati kenabian nabi-nabi mereka. Maka tidakkah mereka malu untuk mengkritik Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dalam perkara-perkara yang ringan?

Dan jika engkau telah mengetahui ini, maka sekarang aku memulai memindahkan cacian-cacian mereka dan jawaban atasnya dan aku katakan:

(Cacian Pertama)

Cacian tentang jihad, dan ini adalah cacian yang paling besar menurut anggapan mereka, dan mereka menetapkannya dalam surat-surat mereka dengan penetapan-penetapan yang aneh dan samar, yang sumbernya adalah permusuhan murni. Dan aku akan meletakkan dasar sebelum menjelaskan jawaban dengan lima perkara:

(Perkara Pertama)

Bahwa Allah membenci kekafiran dan membalasnya di akhirat dengan yakin, dan demikian juga Ia membenci kemaksiatan dan kadang-kadang Ia menghukum orang-orang kafir dan pelaku maksiat di dunia juga. Maka Ia menghukum orang-orang kafir kadang dengan menenggelamkan secara umum pada masa Nabi Nuh alaihissalam, karena Ia membinasakan setiap yang bernyawa selain penghuni kapal dengan banjir besar. Dan kadang dengan menenggelamkan secara khusus, seperti pada masa Nabi Musa alaihissalam di mana Ia menenggelamkan Firaun dan tentaranya. Dan kadang dengan membinasakan secara mendadak, seperti Ia membinasakan anak sulung setiap manusia dan hewan dari penduduk Mesir pada malam keluarnya Bani Israil dari Mesir, sebagaimana disebutkan secara tegas dalam bab kedua belas dari Kitab Keluaran. Dan kadang dengan menurunkan hujan belerang dan api dari langit, dan membalikkan kota-kota, seperti pada masa Nabi Luth alaihissalam, karena Ia membinasakan Sodom dan Gomora dan sekitarnya dengan menurunkan hujan belerang dan api dan membalikkan kota-kota. Dan kadang dengan membinasakan mereka dengan penyakit-penyakit, seperti Ia membinasakan orang-orang Asdod dengan ambeien, sebagaimana disebutkan secara tegas dalam bab kelima dari Kitab Samuel Pertama. Dan kadang dengan mengutus malaikat untuk membinasakan mereka, seperti yang Ia lakukan terhadap tentara Asyur, di mana Ia mengutus seorang malaikat, lalu ia membunuh dari mereka dalam satu malam seratus delapan puluh lima ribu orang, sebagaimana disebutkan secara tegas dalam bab kesembilan belas dari Kitab Raja-raja Kedua. Dan kadang dengan jihad para nabi dan pengikut-pengikut mereka, sebagaimana akan engkau ketahui dalam Perkara Kedua. Dan demikian juga Ia menghukum pelaku maksiat juga kadang dengan pembenaman dan api, seperti Ia membinasakan Korah, Datan, Abiram dan lainnya ketika mereka menentang Nabi Musa alaihissalam, maka bumi terbelah dan menelan Korah, Datan, Abiram, istri-istri mereka, anak-anak mereka dan harta benda mereka. Kemudian keluarlah api lalu memakan dua ratus lima puluh orang, sebagaimana disebutkan secara tegas dalam bab keenam belas dari Kitab Bilangan.

Dan kadang dengan membinasakan secara mendadak seperti Ia membinasakan empat belas ribu tujuh ratus orang ketika Bani Israil menentang pada keesokan hari kebinasaan Korah dan lainnya. Dan seandainya Nabi Harun alaihissalam tidak berdiri di antara orang-orang yang mati dan yang hidup, dan tidak meminta ampun untuk kaum, niscaya semuanya binasa dengan murka Tuhan pada hari ini, sebagaimana disebutkan secara tegas dalam bab yang disebutkan. Dan seperti Ia membinasakan lima puluh ribu tujuh puluh orang dari penduduk Beit Syemes karena mereka melihat tabut Allah, sebagaimana disebutkan secara tegas dalam bab keenam dari Kitab Samuel Pertama. Dan kadang dengan mengutus ular-ular yang menyakitkan, seperti bahwa Bani Israil ketika menentang Nabi Musa alaihissalam sekali lagi, Allah mengutus kepada mereka ular-ular yang menyakitkan, lalu mereka mematuk mereka, maka banyak dari mereka yang mati sebagaimana disebutkan secara tegas dalam bab kedua puluh empat dari Kitab Bilangan. Dan kadang dengan mengutus malaikat seperti Ia membinasakan tujuh puluh ribu orang dalam satu hari, karena Nabi Daud alaihissalam menghitung Bani Israil, sebagaimana disebutkan secara tegas dalam bab kedua puluh empat dari Kitab Samuel Kedua. Dan kadang-kadang Ia tidak menghukum orang-orang kafir dan pelaku maksiat di dunia. Tidakkah engkau melihat bahwa para murid menurut anggapan orang-orang Kristen adalah lebih utama daripada Nabi Musa dan seluruh nabi-nabi Bani Israil, dan daripada tabut Allah? Dan bahwa pembunuh-pembunuh mereka menurut orang-orang Kristen adalah yang paling buruk daripada orang-orang kafir masa Nabi Nuh, Nabi Luth, dan Nabi Musa alaihimussalam. Dan Nero si penindas musyrik, yang adalah raja para raja Romawi, membunuh Petrus sang murid dan istrinya serta Paulus dan banyak dari orang-orang Kristen dengan jenis pembunuhan yang paling keras.

Begitu pula kebanyakan orang-orang kafir dari kalangan Hawariyun (pengikut Nabi Isa alaihis salam) dan para pengikut mereka. Allah tidak membinasakan mereka dengan tenggelam, tidak pula dengan hujan belerang dan api serta pembalikan kota, tidak dengan pembunuhan anak-anak tertua mereka, tidak dengan menguji mereka dengan berbagai penyakit, tidak dengan mengutus malaikat, tidak dengan mengutus ular-ular, dan tidak pula dengan cara lain.

(Perkara Kedua) Bahwa para nabi terdahulu juga membunuh orang-orang kafir, menawan istri-istri dan anak-anak mereka, serta merampas harta benda mereka. Perkara-perkara ini tidak khusus pada syariat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Sebagaimana hal ini tidak tersembunyi bagi orang yang menelaah kitab-kitab Perjanjian Lama dan Baru. Dan ada banyak bukti untuk ini, saya cukupkan dengan menyebutkan sebagian saja.

1- Dalam Pasal ke-20 dari Kitab Ulangan (Deuteronomy) demikian: 10 (Dan apabila engkau mendekati suatu kota untuk memeranginya, serulah mereka terlebih dahulu untuk berdamai) 11 (Maka jika mereka menerima dan membukakan pintu-pintu gerbang untukmu, semua penduduk yang ada di dalamnya akan selamat dan mereka akan menjadi budak-budakmu yang membayar upeti kepadamu) 12 (Dan jika mereka tidak mau membuat perjanjian denganmu dan memulai peperangan denganmu, maka perangilah kota itu) 13 (Dan apabila Tuhan Allohmu menyerahkannya ke tanganmu, bunuhlah semua yang ada di dalamnya dari jenis laki-laki dengan mata pedang) 14 (Kecuali para wanita, anak-anak, dan hewan ternak, serta apa yang ada di kota itu selain mereka, dan bagikanlah seluruh rampasan perang kepada pasukan, dan makanlah dari jarahan musuh-musuhmu yang diberikan Tuhan Allohmu kepadamu) 15 (Dan demikianlah hendaknya engkau lakukan terhadap semua kota yang sangat jauh darimu dan bukan dari kota-kota ini yang akan engkau ambil sebagai warisan) 16 (Adapun kota-kota yang diberikan kepadamu, maka janganlah engkau sisakan satu jiwa pun dari mereka) 17 (Tetapi binasakanlah mereka semua dengan mata pedang: orang Het, Amori, Kanaan, Ferisi, Hewi, dan Yebus, sebagaimana yang diperintahkan Tuhan Allohmu kepadamu). Maka jelaslah dari pernyataan ini bahwa Allah memerintahkan terhadap enam suku bangsa, yaitu orang Het, Amori, Kanaan, Ferisi, Hewi, dan Yebus, agar membunuh dengan mata pedang setiap makhluk hidup dari mereka, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak mereka. Dan diperintahkan terhadap selain mereka, agar mengajak berdamai terlebih dahulu, maka jika mereka menerima dan mau taat serta membayar upeti, (biarkan mereka), dan jika mereka tidak menerima, perangilah mereka. Jika berhasil mengalahkan mereka, bunuhlah setiap laki-laki dari mereka dengan pedang, tawanlah wanita dan anak-anak mereka, rampaslah hewan ternak dan harta benda mereka, dan bagikanlah kepada para mujahidin. Dan demikianlah hendaknya dilakukan terhadap semua kota yang jauh dari kota-kota enam bangsa tersebut. Pernyataan satu ini saja cukup sebagai jawaban atas dalil-dalil mereka yang lemah. Para ulama Islam terdahulu dan khalaf telah mengutipnya dalam bantahan terhadap mereka, namun mereka (orang Kristen) diam saja seolah-olah tidak melihatnya dalam ucapan pihak lawan, dan tidak menjawabnya, tidak dengan pengakuan dan tidak pula dengan takwil.

2- Dalam Pasal ke-23 dari Kitab Keluaran (Exodus) demikian: 23 (Dan malaikat-Ku akan berjalan di hadapanmu dan membawamu kepada orang Amori, Het, Ferisi, Kanaan, Hewi, dan Yebus yang akan Aku binasakan) 24 (Janganlah engkau sujud kepada tuhan-tuhan mereka dan jangan menyembahnya, dan jangan berbuat seperti perbuatan mereka, tetapi hancurkanlah mereka dan pecahkanlah berhala-berhala mereka).

3- Dalam Pasal ke-34 dari Kitab Keluaran tentang enam bangsa tersebut demikian: 12 (Maka berhati-hatilah agar engkau tidak membuat perjanjian sama sekali dengan penduduk negeri itu yang engkau datangi, supaya mereka tidak menjadi jerat bagimu) 13 (Tetapi runtuhkanlah mezbah-mezbah mereka, pecahkanlah patung-patung mereka, dan tebanglah tiang-tiang berhala mereka).

4- Dalam Pasal ke-33 dari Kitab Bilangan (Numbers): 51 (Perintahkanlah kepada bani Israil dan katakanlah kepada mereka: Apabila kamu menyeberangi sungai Yordan dan kamu memasuki tanah Kanaan) 52 (Maka binasakanlah semua penduduk negeri itu, hancurkanlah tempat-tempat suci mereka, pecahkanlah semua patung-patung terukir mereka, dan binasakan semua mezbah mereka) 55 (Kemudian jika kamu tidak membinasakan penduduk negeri itu, maka mereka yang tersisa dari mereka akan menjadi seperti duri di matamu dan tombak di rusukmu, dan mereka akan menyusahkanmu di negeri yang kamu diami) 56 (Dan apa yang telah Aku rencanakan untuk Aku lakukan kepada mereka, akan Aku lakukan kepadamu).

5- Dalam Pasal ke-7 dari Kitab Ulangan demikian: 1 (Apabila Tuhan Allohmu membawamu ke dalam negeri yang engkau masuki untuk mewarisinya, dan menghalau bangsa-bangsa yang banyak dari hadapanmu: orang Het, Girgasi, Amori, Kanaan, Ferisi, Hewi, dan Yebus, tujuh bangsa yang lebih banyak jumlahnya darimu dan lebih kuat darimu) 2 (Dan Tuhan Allohmu menyerahkan mereka ke tanganmu, maka bunuhlah mereka sehingga engkau tidak menyisakan seorang pun dari mereka, janganlah engkau membuat perjanjian dengan mereka dan janganlah engkau mengasihani mereka) 5 (Tetapi lakukanlah terhadap mereka demikian: hancurkanlah mezbah-mezbah mereka, pecahkanlah patung-patung mereka, tebanglah tiang-tiang berhala mereka, dan bakarlah berhala-berhala mereka). Maka diketahui dari pernyataan-pernyataan ini bahwa Allah memerintahkan untuk membinasakan setiap makhluk hidup dari tujuh bangsa tersebut dan tidak mengasihani mereka, tidak membuat perjanjian dengan mereka, menghancurkan mezbah-mezbah mereka, memecahkan patung-patung mereka, membakar berhala-berhala mereka, dan menebang tiang-tiang berhala mereka. Dan perintah untuk membinasakan mereka sangat ditekankan dengan penekanan yang kuat, dan dikatakan: Jika kamu tidak membinasakan mereka, Aku akan lakukan kepadamu apa yang telah Aku rencanakan untuk lakukan kepada mereka. Dan disebutkan tentang tujuh bangsa ini (bahwa mereka lebih banyak jumlahnya darimu dan lebih kuat darimu). Dan telah terbukti dalam Pasal pertama dari Kitab Bilangan bahwa jumlah bani Israil yang layak untuk berperang, yaitu yang berusia dua puluh tahun ke atas, adalah 603.550 orang, dan bahwa orang Lewi secara keseluruhan, baik laki-laki maupun perempuan, begitu juga perempuan dari sebelas suku yang lain secara keseluruhan, serta laki-laki mereka yang belum mencapai usia dua puluh tahun, tidak termasuk dalam jumlah ini. Dan jika kita mengambil jumlah semua bani Israil dan menambahkan semua yang tidak terhitung, laki-laki maupun perempuan, dengan yang terhitung, maka totalnya tidak kurang dari 2.500.000, yaitu dua setengah juta. Dan jika tujuh bangsa ini lebih banyak jumlahnya dan lebih kuat dari mereka, maka sudah pasti jumlah bangsa-bangsa ini lebih banyak dari jumlah mereka. Dan Pendeta Dr. Keith telah mengarang sebuah kitab dalam bahasa Inggris tentang penjelasan kebenaran berita-berita tentang peristiwa-peristiwa masa depan yang tercantum dalam kitab-kitab suci mereka, dan Pendeta Marek menerjemahkannya ke dalam bahasa Persia dan menamainya Kasyful Atsar fi Qishashi Anbiya’i Bani Israil (Penyingkapan Bekas dalam Kisah-kisah Para Nabi Bani Israil).

Terjemahan ini dicetak di Edinburgh pada tahun 1846 Masehi dan tahun 1262 Hijriyah. Maka dalam halaman 26 dari terjemahan ini: (Diketahui dari kitab-kitab kuno bahwa tanah Yahudi, 550 tahun sebelum Hijriyah, terdapat delapan crore) yaitu delapan puluh juta (makhluk hidup) selesai. Maka kemungkinan besar bahwa tanah-tanah ini pada zaman Nabi Musa alaihis salam, sama makmurnya atau bahkan lebih dari itu, maka Allah memerintahkan untuk membunuh delapan puluh juta atau lebih makhluk hidup.

6- Dalam ayat ke-20 dari Pasal ke-22 dari Kitab Keluaran demikian: (Barangsiapa mempersembahkan korban untuk berhala hendaklah ia dibunuh).

7- Barangsiapa menelaah Pasal ke-13 dari Kitab Ulangan, akan mengetahui bahwa orang yang mengajak untuk menyembah selain Allah, meskipun ia seorang nabi yang memiliki mukjizat, wajib dibunuh. Demikian pula orang yang mengajak untuk menyembah berhala wajib dirajam, meskipun ia dari kalangan kerabat atau sahabat. Dan jika penduduk suatu kota menyembahnya, bunuhlah mereka semua beserta hewan ternak mereka dengan mata pedang, dan bakarlah kota beserta harta benda dan barang-barangnya dengan api dan jadikanlah ia gundukan tanah, kemudian jangan dibangun lagi.

8- Dalam Pasal ke-17 dari Kitab Ulangan demikian: 2 (Jika ditemukan di antaramu di dalam salah satu pintu gerbangmu yang diberikan Tuhan Allohmu kepadamu, seorang laki-laki atau perempuan yang melakukan kejahatan di hadapan Tuhan Allohmu dan melanggar perjanjian-Nya) 3 (Dengan pergi dan menyembah tuhan-tuhan lain dan sujud kepadanya, dan sujud kepada matahari, bulan, dan semua bala tentara langit, yang tidak Aku perintahkan) 4 (Dan engkau diberitahu tentang itu dan mendengarnya, dan engkau menyelidikinya dengan saksama dan ternyata benar, bahwa perbuatan keji itu telah dilakukan, maka bawalah laki-laki atau perempuan yang melakukan perbuatan jahat itu ke pintu gerbang kotamu dan rajamlah dia dengan batu).

9- Dalam Pasal ke-3 dari Kitab Keluaran demikian: 21 (Dan Aku akan memberikan kemurahan kepada bangsa ini di hadapan orang Mesir, dan apabila kamu hendak pergi, janganlah kamu pergi dengan tangan hampa) 22 (Tetapi hendaklah perempuan meminta dari tetangganya perempuan dan dari perempuan yang tinggal di rumahnya, benda-benda perak, emas, dan pakaian, dan kenakanlah itu pada anak-anakmu laki-laki dan perempuan, dan jaranlah orang Mesir). Kemudian dalam Pasal ke-11 dari Kitab yang sama, firman Allah kepada Nabi Musa alaihis salam demikian: 1 (Maka berbicaralah kepada rakyat supaya setiap laki-laki meminta dari temannya, dan setiap perempuan dari temannya perempuan, benda-benda perak dan emas) 3 (Dan Tuhan memberikan kemurahan kepada umat-Nya di hadapan orang Mesir). Kemudian dalam Pasal ke-12 dari Kitab yang sama demikian: 35 (Dan bani Israil melakukan seperti yang diperintahkan Musa, dan meminjam dari orang Mesir benda-benda perak, emas, dan banyak sekali pakaian) 36 (Adapun Tuhan telah memberikan kemurahan kepada umat-Nya di hadapan orang Mesir sehingga mereka meminjamkan kepada mereka, dan mereka merampas orang Mesir). Maka jika jumlah bani Israil seperti yang telah engkau ketahui, dan laki-laki serta perempuan mereka meminjam dari orang Mesir, maka yang mereka pinjam adalah harta yang tidak terhitung banyaknya, sebagaimana Allah telah berjanji pertama kali bahwa kalian akan merampas Mesir, kemudian memberitahukan kedua kalinya: dan mereka merampas orang Mesir. Tetapi Dia membolehkan mereka untuk merampas dengan tipu muslihat peminjaman, yang secara lahiriah adalah penipuan dan pengkhianatan.

10- Dalam Pasal ke-32 dari Kitab Keluaran tentang peristiwa penyembahan anak sapi demikian: 25 (Maka Nabi Musa alaihis salam melihat bahwa rakyat itu telah menjadi telanjang, karena Harun telah membuat mereka telanjang untuk aib kenajisan, dan menjadikan mereka telanjang di antara musuh-musuh) 26 (Maka berdirilah ia di pintu gerbang perkemahan dan berkata: Siapa yang berada di pihak Tuhan, datanglah kepadaku. Maka berkumpullah kepadanya semua bani Lewi) 27 (Dan ia berkata kepada mereka: Beginilah firman Tuhan, Alloh Israil: Hendaklah setiap orang di antaramu mengikatkan pedangnya, dan berjalanlah melalui perkemahan dari pintu gerbang ke pintu gerbang, dan kembalilah, dan hendaklah setiap orang di antaramu membunuh saudaranya, temannya, dan kerabatnya) 28 (Maka bani Lewi melakukan seperti yang diperintahkan Nabi Musa alaihis salam, dan pada hari itu mereka membunuh dari rakyat sekitar 23.000 orang). Maka Nabi Musa alaihis salam membunuh 23.000 orang karena penyembahan anak sapi. Dan ketahuilah bahwa tercantum dalam terjemahan Arab tahun 1831, tahun 1844, dan tahun 1848 yang darinya saya kutip pernyataan ini, kata-kata “23.000 orang”.

11- Dalam Pasal ke-25 dari Kitab Bilangan, bahwa ketika bani Israil berzina dengan anak-anak perempuan Moab dan sujud kepada tuhan-tuhan mereka, Tuhan memerintahkan untuk membunuh mereka, maka Nabi Musa membunuh 24.000 orang dari mereka.

12- Barangsiapa menelaah Pasal ke-31 dari Kitab Bilangan, akan jelas baginya bahwa ketika Nabi Musa alaihis salam mengutus 12.000 orang bersama Pinehas bin Eleazar untuk memerangi penduduk Midian, mereka berperang dan menang atas mereka, membunuh semua laki-laki dari mereka, lima raja mereka dan Bileam, menawan wanita dan anak-anak mereka serta semua ternak mereka, membakar desa-desa, tempat tinggal, dan kota-kota mereka dengan api. Ketika mereka kembali, Nabi Musa alaihis salam marah kepada mereka dan berkata: Mengapa kalian membiarkan wanita-wanita hidup? Kemudian ia memerintahkan untuk membunuh setiap anak laki-laki dan setiap wanita yang tidak perawan, dan menyisakan yang masih perawan. Mereka melakukan seperti yang diperintahkan. Dan rampasan perang dari domba adalah 675.000, dari sapi 72.000, dari keledai 61.000, dan dari wanita perawan 32.000. Setiap mujahid mendapat jarahan selain hewan dan manusia, dan jumlahnya disebutkan dalam pasal ini, kecuali bahwa para pemimpin ribuan dan ratusan memberikan emas kepada Musa dan Eleazar sebanyak 16.750 misqal. Dan jika jumlah wanita perawan adalah 32.000, maka berapa banyakkah yang terbunuh dari laki-laki secara keseluruhan, baik orang tua, pemuda, maupun anak-anak, dan dari wanita yang tidak perawan.

13- Nabi Yusya’ alaihis salam (Yosua) melakukan setelah wafatnya Nabi Musa alaihis salam sesuai dengan hukum-hukum yang tercantum dalam Taurat, maka ia membunuh jutaan orang. Barangsiapa menginginkan, silakan telaah hal ini dalam kitabnya dari Pasal pertama sampai Pasal ke-11. Dan telah disebutkan dengan jelas dalam Pasal ke-12 dari kitabnya bahwa ia membunuh 31 sultan dari sultan-sultan orang kafir, dan bani Israil menguasai kerajaan mereka.

14- Dalam Pasal ke-15 dari Kitab Hakim-hakim tentang peristiwa Simson demikian: (Dan ia menemukan tulang rahang keledai, maka ia mengulurkan tangannya dan mengambilnya, dan membunuh dengannya 1.000 orang).

15- Dalam Pasal ke-27 dari Kitab Samuel I: 8 (Dan naiklah Daud bersama orang-orangnya, dan mereka merampas penduduk Gesur, Girzi, dan Amalek, karena mereka adalah penduduk negeri itu sejak dahulu kala dari perbatasan Sur sampai perbatasan Mesir) 9 (Dan Daud menghancurkan seluruh negeri itu, dan tidak menyisakan laki-laki maupun perempuan, dan mengambil domba, sapi, keledai, unta, dan barang-barang, dan ia kembali dan datang kepada Akhis). Perhatikanlah perbuatan Nabi Daud alaihis salam bahwa ia menghancurkan negeri itu dan tidak menyisakan laki-laki maupun perempuan dari penduduk Gesur, Girzi, dan Amalek, serta merampas hewan ternak dan barang-barang mereka.

16- Dalam Pasal ke-8 dari Kitab Samuel II: 2 (Dan ia mengalahkan orang Moab dan mengukur mereka dengan tali, dan membaringkan mereka di tanah, dan mengukur dua tali untuk dibunuh dan menyempurnakan satu tali untuk dibiarkan hidup, dan orang Moab menjadi hamba Daud yang membayar upeti kepadanya) 3 (Dan Daud juga mengalahkan Hadadezer bin Rehob, raja Zoba) dst. 5 (Maka datanglah orang Aram Damsyik untuk membantu Hadadezer raja Zoba, dan Daud membunuh dari orang Aram 22.000 orang). Maka perhatikanlah perbuatan Nabi Daud alaihis salam terhadap orang Moab, Hadadezer, pasukannya, dan pasukan Aram.

17- Ayat ke-18 dari Pasal ke-10 dari Kitab Samuel II demikian: (Dan orang Siria melarikan diri dari hadapan orang Israil, dan Daud membunuh dari orang Siria 700 kereta dan 40.000 pasukan berkuda, dan Sobakh panglima tentara dipukulnya sehingga ia mati di tempat itu).

18- Dan dalam Pasal ke-12 dari Kitab Samuel II demikian: 29 (Maka Daud mengumpulkan semua rakyat dan berangkat ke Raba, lalu memerangi penduduknya dan merebutnya) 30 (Dan ia mengambil mahkota raja mereka dari kepalanya, beratnya satu talenta emas, dan di dalamnya ada permata yang tinggi nilainya, dan dikenakanlah itu pada Daud, dan jarahan kota itu dibawanya keluar sangat banyak) 31 (Dan penduduk yang ada di dalamnya, ia ambil dan menggergaji mereka dengan gergaji, dan menggilas mereka dengan eretan besi, dan memotong mereka dengan pisau-pisau, dan memasukkan mereka ke dalam perapian batu bata. Demikianlah ia lakukan terhadap semua kota bani Amon, lalu Daud dan semua rakyat kembali ke Yerusalem). Dan saya kutip pernyataan ini kata demi kata dari terjemahan Arab yang dicetak tahun 1831 dan tahun 1844. Maka perhatikanlah bagaimana Nabi Daud alaihis salam membunuh bani Amon dengan pembunuhan yang mengerikan, dan membinasakan semua kota dengan siksaan besar seperti ini yang tidak dapat dibayangkan lebih dari itu.

19- Dalam Pasal ke-18 dari Kitab Raja-raja I: bahwa Nabi Ilyas alaihis salam (Elia) menyembelih 450 orang dari mereka yang mengaku sebagai nabi-nabi Baal.

20- Ketika empat raja mengalahkan Sodom dan Gomora, merampas semua harta penduduknya, menawan Nabi Luth alaihis salam, dan merampas hartanya juga, dan berita ini sampai kepada Nabi Ibrahim alaihis salam, maka Nabi Ibrahim alaihis salam keluar untuk menyelamatkan Nabi Luth alaihis salam. Maka dalam penjelasan keadaan ini dalam Pasal ke-14 dari Kitab Kejadian (Genesis) demikian: 14 (Maka ketika Abram mendengar bahwa Lut anak saudaranya ditawan, ia mengerahkan budak-budak laki-lakinya yang lahir di rumahnya, 318 orang, dan mengejar mereka sampai ke Dan) 15 (Dan ia membagi rombongannya, dan menyerang mereka pada malam hari, dan mengalahkan mereka, dan mengejar mereka sampai Hoba yang di sebelah utara Damsyik) 16 (Dan ia mengembalikan seluruh harta benda, juga Lut anak saudaranya beserta hartanya, dan juga para wanita serta rakyat) 17 (Dan keluarlah raja Sodom untuk menemuinya setelah ia kembali dari mengalahkan Kedorlaomer dan raja-raja yang bersamanya di Lembah Syawe, yaitu Lembah Raja).

21- Dalam Pasal ke-11 dari Surat kepada orang Ibrani demikian: 32 (Dan apa lagi yang harus kukatakan? Karena waktu tidak cukup bagiku untuk menceritakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud, Samuel, dan para nabi) 33 (Yang karena iman menaklukkan kerajaan-kerajaan, melakukan kebenaran, memperoleh janji-janji, menutup mulut singa-singa) 34 (Memadamkan kekuatan api, luput dari mata pedang, menjadi kuat dari kelemahan, menjadi perkasa dalam peperangan, memukul mundur pasukan orang-orang asing). Maka jelaslah dari perkataan orang suci mereka Paulus, bahwa penaklukan para nabi ini atas kerajaan-kerajaan, pemadaman mereka terhadap api, keselamatan mereka dari mata pedang, dan kekalahan mereka atas pasukan orang-orang kafir, adalah dari jenis kebajikan, bukan dari jenis dosa. Dan sumber mereka adalah kekuatan iman dan memperoleh rahmat Tuhan, bukan kekerasan hati dan kezaliman. Meskipun perbuatan sebagian mereka dalam bentuk jenis kezaliman yang paling keras, terutama dalam pembunuhan anak-anak kecil yang tidak ternoda oleh noda dosa-dosa. Dan Nabi Daud alaihis salam menghitung jihad-jihadnya dari kebaikan-kebaikan ketika ia berkata dalam Mazmur ke-18: 20 (Dan Tuhan membalaskan kepadaku seperti kebajikanku dan seperti kesucian tanganku Ia membalas kepadaku) 21 (Karena aku menjaga jalan-jalan Tuhan, dan aku tidak mengingkari Allohku) 22 (Karena semua hukum-hukum-Nya ada di hadapanku, dan keadilan-Nya tidak kujauhkan dariku) 23 (Dan aku menjadi suci tanganku di hadapan mata-Nya). Dan Allah telah bersaksi bahwa jihad-jihadnya dan semua perbuatan baiknya diterima di sisi Allah dalam ayat ke-8 dari Pasal ke-14 dari Kitab Raja-raja I, firman Allah demikian: (Daud hamba-Ku yang menjaga perintah-perintah-Ku, dan mengikuti-Ku dengan segenap hatinya, dan melakukan apa yang baik di hadapan-Ku).

Maka apa yang dikatakan oleh pengarang Mizan al-Haqq dan ulama Protestan lainnya, bahwa jihad-jihad Nabi Daud alaihis salam adalah untuk kepentingan kekuasaan dan kerajaannya, maka sumbernya adalah kurangnya keagamaan, karena pembunuhan wanita dan anak-anak serta semua penduduk beberapa negeri tidaklah diperlukan untuk kepentingan ini. Selain itu, kami katakan bahwa jika kita mengandaikan bahwa pembunuhan ini adalah untuk kepentingan kekuasaan, namun tidak terlepas dari dua kemungkinan: diridhai Allah dan halal baginya, atau dibenci Allah dan haram baginya. Jika yang pertama, maka terbukti tujuan kami. Dan jika yang kedua, maka hal itu mengharuskan kebohongan perkataannya dan perkataan orang suci mereka, serta kebohongan kesaksian Allah tentangnya, dan mengharuskan bahwa darah ribuan orang yang terlindungi dan yang tidak wajib dibunuh ada di tanggungannya. Darah satu orang yang tidak bersalah saja cukup untuk kebinasaan, bagaimana mungkin ia memperoleh keselamatan akhirat.

BAB KETIGA DARI SURAT PERTAMA YOHANES

Dalam Bab Ketiga dari Surat Pertama Yohanes: “Dan kamu tahu bahwa setiap pembunuh tidak memiliki kehidupan kekal yang menetap di dalamnya.” Dan dalam Bab Kedua Puluh Satu dari Wahyu: “Tetapi orang-orang pengecut, orang-orang kafir, orang-orang yang keji, para pembunuh, orang-orang berzina, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala, dan semua pendusta, bagian mereka adalah di lautan yang menyala dengan api dan belerang.” Ini adalah Perkara Kedua, dan kita berlindung kepada Allah, dan karena menghindari kepanjangan, saya cukupkan sampai di sini.

PERKARA KETIGA

Tidak disyaratkan bahwa hukum-hukum praktis yang ada dalam syariat terdahulu harus tetap berlaku dalam syariat yang datang kemudian dengan cara yang sama persis. Bahkan tidak disyaratkan bahwa hukum-hukum praktis ini dalam satu syariat pun harus sama dari awal hingga akhir. Justru diperbolehkan hukum-hukum ini berbeda sesuai dengan perbedaan kemaslahatan, zaman, dan orang yang dibebani hukum. Hal-hal ini telah kamu ketahui dalam Bab Ketiga dengan sangat lengkap. Perang suci (jihad) disyariatkan dalam Syariat Musa dengan cara yang merupakan jenis kezaliman paling keji menurut para pengingkar kenabian. Namun pensyariatannya tidak berlanjut dalam Syariat Isa. Bani Israil tidak diperintahkan berjihad sebelum keluar dari Mesir, tetapi kemudian diperintahkan berjihad setelah keluar. Dan Nabi Isa Alaihissalam akan membunuh Dajjal dan pasukannya setelah turun, sebagaimana disebutkan dengan jelas dalam Bab Kedua dari Surat Kedua kepada Jemaat Tesalonika dan Bab Kesembilan Belas dari Wahyu.

Demikian pula tidak disyaratkan bahwa cara memperlakukan orang-orang kafir dan para pembangkang harus dengan satu cara saja, sebagaimana kamu telah ketahui dalam Perkara Pertama. Maka tidak diperbolehkan bagi orang yang mengimani kenabian dan wahyu untuk keberatan terhadap hal-hal semacam ini dalam syariatnya. Tidak diperbolehkan baginya berkata bahwa pembinasaan setiap makhluk hidup selain penghuni bahtera pada banjir Nabi Nuh Alaihissalam, pembinasaan penduduk Sodom, Gomora dan sekitarnya pada zaman Nabi Luth Alaihissalam, dan pembinasaan setiap anak sulung dari anak-anak manusia dan binatang ternak dari penduduk Mesir pada malam keluarnya Bani Israil dari Mesir di zaman Nabi Musa Alaihissalam adalah kezaliman. Terutama pembinasaan ribuan orang dalam peristiwa banjir, dan pembinasaan ribuan orang dalam dua peristiwa terakhir dari anak-anak manusia yang masih kecil dan anak-anak binatang yang tidak pernah ternoda oleh dosa apa pun.

Demikian pula tidak diperbolehkan berkata bahwa pembunuhan tujuh bangsa seluruhnya sehingga tidak tersisa satu pun dari mereka, terutama pembunuhan anak-anak kecil mereka yang belum melakukan dosa apa pun adalah kezaliman. Atau berkata bahwa pembunuhan para lelaki dan penawanan anak-anak serta perampasan harta dari selain tujuh bangsa itu, atau pembunuhan semua laki-laki Midian termasuk bayi yang menyusui, serta pembunuhan semua wanita mereka yang sudah tidak perawan dan membiarkan para gadis untuk diri mereka sendiri, dan perampasan harta dan hewan adalah kezaliman. Atau berkata bahwa peperangan-peperangan Nabi Daud Alaihissalam dan peperangan para nabi Bani Israil lainnya Alaihimussalam, atau penyembelihan Nabi Elia Alaihissalam terhadap empat ratus lima puluh orang nabi Baal, atau pembunuhan Dajjal dan pasukannya oleh Nabi Isa Alaihissalam setelah turunnya adalah kezaliman. Tidak mungkin akal membenarkan bahwa Allah melakukan atau memerintahkan seseorang dengan kezaliman-kezaliman semacam ini.

Demikian pula tidak diperbolehkan berkata bahwa pembunuhan orang yang menyembelih untuk berhala, pembunuhan orang yang mengarahkan ibadah kepada selain Allah, pembunuhan seluruh penduduk kampung jika terbukti mereka mengarahkan (kepada hal itu), pembunuhan dua puluh tiga ribu penyembah patung anak sapi oleh Nabi Musa Alaihissalam, dan pembunuhan dua puluh empat ribu orang yang berzina dengan putri-putri Moab dan bersujud kepada tuhan-tuhan mereka oleh Nabi Musa Alaihissalam adalah kezaliman yang mengerikan. Dalam hukum-hukum ini terdapat pemaksaan agar manusia tetap pada Syariat Musa karena takut dibunuh dan dirajam. Jelas bahwa keimanan hati tidak mungkin diperoleh dengan paksaan, bahkan mustahil manusia mendapatkan kecintaan kepada Allah dengan paksaan. Maka hukum-hukum semacam ini tidak mungkin datang dari Allah.

Memang, orang yang tidak mengimani kenabian dan syariat-syariat, yang menjadi atheis dan zindiq serta mengingkari hal-hal semacam ini, tidaklah aneh dari dirinya. Namun kami tidak membahas dia dalam kitab ini. Bahasan kami di dalamnya adalah dengan orang-orang Kristen pada umumnya dan ulama-ulama Protestan khususnya.

PERKARA KEEMPAT

Ulama-ulama Protestan menuduh dengan dusta bahwa agama Islam tersebar dengan pedang. Tuduhan ini tidak benar sebagaimana kamu telah ketahui dalam Perkara Ketujuh dari Pendahuluan Kitab. Perbuatan mereka berbeda dengan perkataan mereka. Sebab mereka dan juga pendahulu mereka dari kaum Trinitas, jika berkuasa penuh, bersungguh-sungguh dalam menghapuskan para penentang. Saya akan mengutip beberapa keadaan dari kitab-kitab dan risalah-risalah mereka. Saya akan mengutip keadaan mereka terhadap orang Yahudi dari kitab Kasyful Atsar fi Qashashi Anbiyai Bani Israil yang telah saya sebutkan dalam penjelasan Perkara Kedua, maka saya katakan:

Penulisnya berkata dalam halaman 27: “Konstantin yang Agung yang hidup sekitar tiga ratus tahun sebelum Hijriah memerintahkan untuk memotong telinga orang-orang Yahudi dan mengusir mereka ke berbagai wilayah. Kemudian raja diraja Romawi pada abad kelima Masehi memerintahkan untuk mengusir mereka dari kota Iskandariah yang telah menjadi tempat aman mereka sejak lama, tempat mereka datang dari segala penjuru untuk beristirahat. Ia memerintahkan penghancuran sinagoga-sinagoga mereka, pelarangan ibadah mereka, penolakan kesaksian mereka, dan tidak berlakunya wasiat jika salah seorang dari mereka berwasiat untuk seseorang dalam hartanya. Ketika muncul pemberontakan dari mereka karena hukum-hukum ini, semua harta mereka dirampas, banyak dari mereka dibunuh, dan darah tertumpah dengan kezaliman yang membuat semua Yahudi di wilayah ini gemetar ketakutan.”

Kemudian dia berkata dalam halaman 28: “Ketika orang-orang Yahudi kota Antiokhia ditawan setelah mereka dikalahkan, sebagian organ tubuh mereka dipotong, sebagian dibunuh, dan sisanya semuanya diusir. Mereka dihinakan di seluruh kerajaan ini dengan berbagai jenis kezaliman oleh raja diraja, yang akhirnya mengusir mereka dari kerajaannya. Para penguasa kerajaan-kerajaan lain terdorong untuk memperlakukan orang-orang Yahudi dengan cara yang sama. Keadaan mereka adalah mereka menanggung kezaliman dari Asia hingga ujung Eropa. Kemudian setelah waktu singkat, mereka dipaksa di Kerajaan Spanyol untuk menerima salah satu dari tiga syarat: menerima agama Kristen, jika menolak maka dipenjara, dan jika menolak keduanya maka diusir dari tanah air mereka. Perlakuan serupa terjadi terhadap mereka di negeri Prancis. Orang-orang malang ini berpindah dari wilayah ke wilayah dan tidak mendapat tempat tinggal yang tetap. Mereka tidak mendapat keamanan di Asia Besar juga, bahkan dibunuh dalam banyak kesempatan sebagaimana mereka dibunuh di kerajaan-kerajaan Franka.

Kemudian dia berkata dalam halaman 29: “Kaum Katolik menganiaya mereka dengan keyakinan bahwa mereka adalah orang-orang kafir. Para pembesar agama ini mengadakan sidang musyawarah dan memberlakukan beberapa hukum terhadap mereka: Pertama: Barangsiapa melindungi orang Yahudi terhadap orang Kristen maka ia bersalah dan keluar dari agama. Kedua: Orang Yahudi tidak diberi jabatan dalam negara mana pun. Ketiga: Jika seorang Kristen adalah budak orang Yahudi maka ia bebas. Keempat: Tidak boleh ada yang makan bersama orang Yahudi atau berdagang dengannya. Kelima: Anak-anak mereka harus diambil dan dibesarkan dalam agama Kristen. Dan masih ada hukum-hukum lain seperti ini.” Saya katakan tidak diragukan lagi bahwa hukum kelima adalah jenis pemaksaan yang paling keras.

Kemudian dia berkata: “Adalah kebiasaan penduduk kota Toulouse dari wilayah Prancis untuk menampar wajah orang-orang Yahudi pada hari raya Paskah. Kebiasaan kota Beziers adalah penduduknya dari hari Minggu pertama hari-hari raya hingga hari raya melempar orang-orang Yahudi dengan batu. Pembunuhan juga sering terjadi dalam pelemparan ini, dan hakim kota yang beragama Kristen mendorong penduduknya untuk melakukan perbuatan ini.”

Kemudian dia berkata dalam halaman 30 dan 31: “Sultan-sultan Prancis merencanakan suatu urusan terhadap orang-orang Yahudi, yaitu mereka membiarkan orang-orang Yahudi hingga mereka menjadi kaya dengan usaha dan perdagangan, kemudian merampas harta mereka. Kezaliman ini mencapai puncaknya karena keserakahan. Kemudian ketika Philippe Auguste menjadi sultan di Prancis, pertama-tama ia mengambil seperlima dari utang-utang orang Yahudi yang menjadi tanggungan orang-orang Kristen, dan membebaskan orang-orang Kristen dari sisanya, tanpa memberikan apa pun kepada orang Yahudi. Kemudian ia mengusir semua orang Yahudi dari kerajaannya. Kemudian Saint Louis naik tahta kesultanan dan ia memanggil orang-orang Yahudi dua kali di kerajaannya dan mengusir mereka dua kali. Kemudian Charles VI mengusir orang-orang Yahudi dari Kerajaan Prancis. Telah terbukti dari sejarah bahwa orang-orang Yahudi diusir dari Kerajaan Prancis tujuh kali. Jumlah orang Yahudi yang diusir dari Kerajaan Spanyol, jika diperkirakan paling sedikit, tidak kurang dari satu juta tujuh puluh ribu keluarga. Di Kerajaan Austria, banyak dari mereka dibunuh, banyak dirampas, dan sedikit yang selamat yaitu mereka yang masuk Kristen. Banyak dari mereka meninggal setelah pintu-pintu mereka ditutup terlebih dahulu, lalu mereka membinasakan diri mereka sendiri, anak-anak mereka, istri-istri mereka, dan harta mereka, baik dengan tenggelam di laut atau dibakar dengan api. Orang-orang yang tidak terhitung jumlahnya dibunuh dalam Perang Salib. Orang-orang Inggris bersepakat untuk menganiaya orang-orang Yahudi. Ketika keputusasaan besar terjadi pada orang-orang Yahudi kota York karena kezaliman, mereka saling membunuh satu sama lain, sehingga seribu lima ratus orang laki-laki, perempuan, dan anak-anak terbunuh. Mereka menjadi hina di kerajaan ini sehingga ketika para bangsawan memberontak terhadap sultan, mereka membunuh tujuh ratus orang Yahudi dan merampas harta mereka untuk menunjukkan kekuatan mereka kepada orang-orang. Roger Bigod dan Henry III dari para sultan Inggris berulang kali merampas harta orang-orang Yahudi secara zalim, terutama Henry III. Kebiasaannya adalah merampas orang-orang Yahudi dengan segala cara secara zalim dan tanpa belas kasihan. Ia menjadikan orang-orang kaya besar mereka menjadi miskin dan menganiaya mereka sehingga mereka rela diusir dan meminta izin untuk keluar dari kerajaannya, tetapi ia tidak menerima permintaan ini dari mereka juga.

Ketika Edward I naik tahta kesultanan, ia mengakhiri urusan dengan merampas semua harta mereka kemudian mengusir mereka dari kerajaannya, sehingga lebih dari lima belas ribu orang Yahudi diusir dalam kesulitan yang sangat besar.”

Kemudian dia berkata dalam halaman 32: “Seorang musafir bernama Southey melaporkan bahwa keadaan penduduk Portugal lima puluh tahun yang lalu adalah mereka menangkap orang Yahudi dan membakarnya dengan api. Laki-laki dan perempuan mereka berkumpul pada hari pembakarannya seperti berkumpul pada hari raya. Mereka bersenang-senang dan para wanita berteriak saat pembakarannya karena kegembiraan.” Kemudian dia berkata dalam halaman 33: “Paus yang merupakan pemimpin golongan Katolik telah menetapkan beberapa hukum keras terhadap orang-orang Yahudi.” Selesailah perkataan Kasyful Atsar fi Qashashi Anbiyai Bani Israil.

Penulis Sirah Mutaqaddimin berkata: “Sultan keenam dari Konstantin I, dengan nasihat para pembesarnya pada tahun 379, memerintahkan agar setiap orang yang ada di Kesultanan Romawi masuk Kristen dan membunuh siapa yang tidak masuk Kristen.” Selesai. Dan pemaksaan apa yang lebih besar dari ini.

Thomas Newton memiliki tafsir tentang kabar-kabar mengenai peristiwa-peristiwa masa depan yang terdapat dalam Kitab-Kitab Suci. Tafsir ini dicetak pada tahun 1803 di kota London. Dalam halaman 65 dari jilid kedua dalam penjelasan tentang penguasaan kaum Trinitas atas Yerusalem, demikian: “Mereka menaklukkan Yerusalem pada tanggal lima belas bulan Tammuz Romawi tahun 1099 setelah mengepung selama lima minggu dan membunuh orang-orang non-Kristen. Mereka membunuh lebih dari tujuh puluh ribu Muslim, mengumpulkan orang-orang Yahudi dan membakar mereka, serta menemukan harta rampasan yang besar di masjid-masjid.” Selesai.

Setelah kamu mengetahui keadaan kezaliman mereka terhadap orang-orang Yahudi khususnya dan terhadap rakyat kesultanan umumnya, dan apa yang mereka lakukan ketika berkuasa atas Yerusalem, sekarang saya sebutkan sebagian dari apa yang dilakukan Katolik terhadap orang-orang Kristen lainnya. Saya kutip keadaan-keadaan ini dari Kitab Tiga Belas Risalah yang dicetak di Beirut tahun 1849 Masehi dalam bahasa Arab, maka saya katakan:

Dia berkata dalam halaman 15 dan 16: “Adapun Gereja Roma, ia telah berkali-kali menggunakan penganiayaan dan pengusiran yang menyiksa terhadap kaum Protestan, yaitu para saksi atau lebih tepatnya para martir, di kerajaan-kerajaan Eropa. Diperkirakan ia telah membakar dengan api setidaknya dua ratus tiga puluh ribu orang yang beriman kepada Yesus tanpa Paus, yang menjadikan Kitab-Kitab Suci saja sebagai petunjuk dan panduan untuk iman dan amal mereka. Ia juga telah membunuh ribuan dan puluhan ribu dari mereka dengan pedang, penjara, alat penyiksa untuk mematahkan sendi-sendi dengan tarikan, dan berbagai siksaan yang paling mengerikan. Di Prancis, dalam satu hari terbunuh tiga puluh ribu orang laki-laki yaitu pada hari yang disebut hari Santo Bartolomeus. Dengan cara ini ujung roknya berlumuran darah orang-orang suci.” Selesai perkataannya dengan redaksinya.

Dan dalam halaman 338 dalam Risalah Kedua Belas dari kitab tersebut: “Terdapat hukum yang ditetapkan dalam sidang yang diadakan di Toledo di Spanyol yang mengatakan: ‘Kami menetapkan hukum bahwa setiap orang yang datang ke kerajaan ini setelah ini, tidak diizinkan untuk naik ke tahta kecuali ia bersumpah terlebih dahulu bahwa ia tidak akan membiarkan seorang pun yang bukan Katolik hidup di kerajaannya. Jika setelah mengambil pemerintahan ia melanggar perjanjian ini, maka biarlah ia terkutuk. Semoga Tuhan yang kekal mengabadikannya dan menjadikannya seperti kayu bakar untuk api yang abadi.'” Kumpulan Sidang-Sidang dari Carterojeh 404. “Dan Sidang Lateran mengatakan bahwa semua raja, penguasa, dan pemilik kekuasaan harus bersumpah bahwa mereka dengan segala daya upaya dan hati mereka membasmi semua rakyat mereka yang divonis oleh para pemimpin Gereja sebagai sesat, dan tidak membiarkan seorang pun dari mereka di wilayah mereka. Jika mereka tidak menjaga sumpah ini maka rakyat mereka dibebaskan dari ketaatan kepada mereka.” Bab 3. “Dan hukum ini juga telah ditetapkan dalam Sidang Konstantia” Sidang 45 “dan dari ketetapan Paus Martinus V” tentang kesesatan Wycliffe. “Dan dalam sumpah yang disumpahkan oleh para uskup di bawah kepemimpinan Paus Paulus III tahun 1551 terdapat perkataan ini: ‘Bahwa para sesat, kaum pemisah, dan para pembangkang terhadap tuan kami Paus dan para penggantinya, mereka dengan segala kekuatanku aku usir dan aku binasakan.'” Sidang Lateran dan Sidang Konstantia mengatakan: “Barangsiapa yang menangkap para sesat memiliki izin dan kekuasaan untuk mengambil semua yang mereka miliki dan menggunakannya untuk dirinya sendiri tanpa penghalang.” Sidang Lateran 4 Jilid 2 Pasal 1 Halaman 152 dan Sidang Konstantia Sidang 45 Jilid 7. “Dan Paus Innocentius III mengatakan bahwa hukuman ini terhadap para sesat kami perintahkan kepada semua raja dan penguasa dan kami wajibkan kepada mereka di bawah hukuman-hukuman gerejawi.” Ketetapan 7 Kitab 5.

Dan pada tahun 1724, Raja Louis XI menetapkan delapan belas hukum.

Pertama: Kami memerintahkan bahwa hanya agama Katolik saja yang diizinkan di kerajaan kami, dan adapun mereka yang berpegang pada agama lain hendaklah dipenjara seumur hidup, sedangkan para perempuan hendaklah rambutnya dipotong dan dipenjara hingga mati.

Kedua: Kami memerintahkan bahwa semua pendeta yang mengumpulkan jamaah di luar akidah Katolik, dan yang mengajarkan atau menjalankan ibadah yang bertentangan dengannya, dihukum mati. Dalam surat para uskup di Spanyol kepada Raja tahun 1765, mereka berkata kepadanya: Berikan kepada peraturan-peraturan itu seluruh kekuatannya, dan kepada agama seluruh kemuliaannya. Namun ucapan kami ini menyebabkan pembaruan undang-undang tahun 1724 yang disebutkan: (Dan termasuk di antara peraturan-peraturan Inggris di bawah kepemimpinan Paus adalah bahwa setiap orang yang mengatakan tidak boleh bersujud kepada ikon-ikon harus dipenjara dalam penjara yang keras sampai dia bersumpah bahwa dia akan bersujud kepadanya, dan uskup atau hakim gereja memiliki kewenangan untuk menghadirkan atau memenjarakan siapa saja yang dicurigai sebagai orang sesat (heretik), dan orang sesat yang keras kepala hendaklah dibakar dengan api di hadapan rakyat, dan semua penguasa hendaklah bersumpah bahwa mereka akan membantu hakim ini dalam membasmi orang-orang sesat yang ketika kesesatan mereka terungkap, harta mereka disita dan diserahkan kepadanya, dan dosa-dosa mereka dihapus dengan kobaran api). Cook Faraidh nomor 3 halaman 40 dan 41 dan juga nomor 4 halaman 15. (Dan Baronius mengatakan bahwa Raja Charles Kelima meyakini dengan pendapatnya yang salah bahwa dia membasmi orang-orang sesat bukan dengan pedang tetapi dengan perkataan, dan dalam indeks Kitab Suci yang dicetak di Roma dalam bahasa Latin dan Arab di bawah huruf Ha terdapat ajaran ini: Bahwa orang-orang sesat seharusnya kita binasakan, dan dia mengemukakan bukti tentang hal itu bahwa Raja Yehu membunuh para imam palsu dan Elia menyembelih imam-imam Baal, dan lain sebagainya. Maka demikianlah seharusnya anak-anak gereja membinasakan orang-orang sesat).

Kemudian di halaman 347 dan 348: (Sejarawan Montane yang terkemuka dalam kepemimpinan Karmelit bersama sejarawan-sejarawan lain memberitahu kita tentang seorang pengkhotbah Injil yang terpandang bernama Thomas dari Roden, yang dibakar oleh Paus karena dia berkhotbah menentang kerusakan-kerusakan Gereja Romawi, dan para sejarawan menyebutnya sebagai orang suci dan martir sejati bagi Kristus).

Dan di halaman 350 sampai 355: (Pada tahun 1194, Alfonso Raja Aragon di Spanyol memerintahkan pengusiran kaum Waldensian dari negerinya karena mereka adalah orang-orang sesat. Dan pada tahun 1206, bertentangan dengan keinginan Pangeran Raymond gubernur kota Toulouse, Paus mengirim hakim-hakim Inkuisisi ke kota tersebut, karena pangeran yang disebutkan telah menolak mengusir kaum Waldensian ini, kemudian tidak lama setelah itu atas permintaan Paus, Raja Prancis mengirim pasukan ke kota tersebut dan sekitarnya yang jumlahnya tiga ratus ribu, lalu mereka mengepung Pangeran Raymond di kotanya untuk mempertahankan dirinya, dan untuk melawan kekuatan dengan kekuatan. Dalam pertempuran itu terbunuh satu juta orang, dan pengikut Raymond dikalahkan dan mereka dikenai segala macam penghinaan dan siksaan. Paus dalam menggerakkan perang-perang ini berkata kepada kaumnya: Sesungguhnya kami mengagungkan kalian dan mewajibkan kalian untuk berusaha keras menghancurkan orang-orang sesat yang jahat ini, orang-orang sesat Albigensian yaitu kaum Waldensian, dan mengusir mereka dengan tangan yang kuat lebih keras daripada terhadap kaum Saracen yaitu kaum Muslim. Dan pada tahun 1400 pada akhir bulan Desember, pengikut Paus tiba-tiba menyerang kaum Waldensian di Valleys Piedmont wilayah Raja Sardinia, mereka melarikan diri dari hadapan mereka tanpa perlawanan, namun banyak yang terbunuh dengan pedang dan banyak yang mati karena salju. Kemudian Paus setelah itu tujuh puluh tujuh tahun kemudian, menugaskan Albertus Uskup Agung Cronus di kota Cremona untuk memerangi kaum Waldensian di wilayah selatan Prancis, dan di Valleys Piedmont, di mana tersisa sebagian dari mereka yang kembali setelah perang tahun 1400. Orang yang disebutkan ini segera maju dengan delapan belas ribu pejuang, dan melakukan perang yang berlangsung sekitar tiga puluh tahun terhadap kaum Kristen yang berkata: Kami setiap saat menghormati Raja dan membayar upeti, tetapi tanah kami dan agama kami yang kami warisi dari Allah dan dari nenek moyang kami tidak ingin kami tinggalkan. Dan di Calabria wilayah Italia tahun 1560 dibunuh ribuan ribu kaum Protestan, sebagian dibunuh oleh tentara dan sebagian oleh pengadilan Inkuisisi.

Salah seorang guru Romawi berkata: Sungguh saya gemetar setiap kali membayangkan algojo itu dengan belati berdarah di antara giginya dan sapu tangan yang meneteskan darah di tangannya dan dia berlumur darah di kedua tangannya hingga siku, menyeret satu demi satu dari penjara, seperti yang dilakukan tukang jagal terhadap domba. Dan pada tahun 1601, Duke of Savoy mengusir lima ratus keluarga dari kaum Waldensian. Juga pada tahun 1655 dan tahun 1676 penganiayaan terhadap mereka diperbarui di Valleys Piedmont, karena Raja Louis Keempat Belas atas isyarat dari Paus maju dengan pasukannya terhadap mereka di rumah-rumah mereka dalam keadaan sangat tenang, maka tentara menyembelih banyak dari mereka, dan memasukkan lebih dari sepuluh ribu orang ke dalam penjara. Banyak dari mereka mati karena desakan dan kelaparan, dan yang selamat dikeluarkan untuk berpindah dari negeri tersebut. Hari itu sangat dingin dan bumi tertutup salju dan es, maka banyak ibu dengan anak-anak mereka di pangkuan mereka mati di pinggir jalan karena kedinginan. Dan Charles Kelima tahun 1521 mengeluarkan perintah pengusiran kaum Protestan di negeri Flanders atas pendapat Paus, dan karena itu dibunuh lima ratus ribu jiwa.

Setelah Charles, anaknya Philip yang berkuasa, dan ketika dia pergi ke Spanyol tahun 1559, dia menugaskan Pangeran Alva untuk mengusir kaum Protestan. Orang yang disebutkan itu dalam beberapa bulan membunuh dengan tangan algojo kerajaan yang sah delapan belas ribu orang, dan setelah itu dia membanggakan diri bahwa dia telah membunuh di seluruh kerajaan tiga puluh enam ribu orang. Pembunuhan yang disebutkan oleh guru Kean dalam perayaan Santo Bartholomew terjadi pada 24 Agustus tahun 1572 di waktu perdamaian yang sempurna. (Raja Prancis telah menjanjikan saudara perempuannya kepada Pangeran Navarre yang merupakan salah satu ulama dan bangsawan Protestan. Kemudian dia dan teman-teman pembesar gereja mereka berkumpul di Paris untuk menyelesaikan janji pernikahan tersebut. Ketika lonceng berbunyi untuk doa pagi, mereka tiba-tiba bangkit sesuai kesepakatan mereka sebelumnya terhadap Pangeran dan teman-temannya, dan terhadap semua kaum Protestan di Paris, maka mereka menyembelih dari mereka saat itu sepuluh ribu jiwa. Demikian juga terjadi di Rouen dan Lyon dan sebagian besar kota di negeri itu, hingga sebagian sejarawan mengatakan bahwa terbunuh sekitar enam puluh ribu orang. Penganiayaan ini berlangsung selama tiga puluh tahun, karena kaum Protestan mengambil senjata untuk melawan kekuatan dengan kekuatan, dan mati dalam perang ini dari mereka sembilan ratus ribu orang. Ketika terdengar di Roma perbuatan Raja Prancis dalam perayaan Santo Bartholomew, mereka menembakkan meriam dari menara-menara, dan Paus pergi bersama para kardinal untuk menyanyikan mazmur syukur di gereja Santo Petrus, dan menulis ucapan terima kasih dan penghormatan kepada Raja atas kebaikan dan perbuatan baik yang dia lakukan dengan Gereja Romawi melalui tindakan ini. Ketika Raja Henry Keempat naik ke tahta Prancis, dia menghentikan penganiayaan ini tahun 1593. Namun diduga dia dibunuh karena tidak menyerah pada pemaksaan dalam urusan agama. Kemudian pada tahun 1675 penganiayaan diperbaharui dan setelah banyak orang terbunuh, para sejarawan mengatakan bahwa lima puluh ribu orang terpaksa meninggalkan negeri mereka untuk menyelamatkan diri dari kematian). Demikianlah ucapannya, dan saya mengutip ungkapan buku ini dengan kata-katanya dari Risalah Kedua Belas.

Dan jika engkau telah mengetahui keadaan kezaliman kelompok Katolik, ketahuilah bahwa keadaan kezaliman kelompok Protestan hampir sama dengannya, dan saya mengutip keadaan ini dari buku Cermin Kebenaran yang diterjemahkan oleh Pastor Thomas Ingles dari ulama Katolik, dari bahasa Inggris ke bahasa Urdu, dan dicetak tahun 1851 Masehi. Buku ini banyak terdapat di kalangan penganut kelompok ini di India. Di halaman 41 dan 42: (Kaum Protestan pada awal urusan mereka merampas enam ratus empat puluh lima biara, sembilan puluh sekolah, dua ribu tiga ratus tujuh puluh enam gereja, dan seratus sepuluh rumah sakit dari pemiliknya, lalu menjualnya dengan harga murah dan para penguasa membaginya di antara mereka, dan mengusir ribuan orang miskin yang melarat telanjang dari tempat-tempat ini). Kemudian dia berkata di halaman 54: (Ketamakan mereka meluas hingga mereka tidak membiarkan orang mati juga, mereka mengganggu jasad-jasad mereka dalam tidur kehancuran dan merampas kain kafan mereka).

Kemudian dia berkata di halaman 48 dan 49: (Dan hilang dalam rampasan ini perpustakaan-perpustakaan yang disebutkan oleh John Bale dengan sangat menyesal dengan kata-kata ini: Sesungguhnya mereka merampas buku-buku dan menggunakan kertas-kertasnya untuk memanggang, dan untuk membersihkan tempat lilin dan sandal, dan menjual sebagian buku kepada para pedagang rempah dan pedagang sabun, dan menjual banyak dari buku-buku itu ke seberang laut melalui tangan para penjilid buku. Buku-buku ini bukan seratus atau lima puluh, bahkan kapal-kapal penuh dengan buku-buku itu, dan mereka menyia-nyiakannya sehingga bangsa-bangsa asing heran. Dan saya mengetahui seorang pedagang yang membeli dua perpustakaan, masing-masing dengan harga dua puluh rupee. Setelah kezaliman ini, mereka tidak meninggalkan dari perbendaharaan gereja-gereja kecuali dinding-dinding kosong, kemudian mereka menganggap diri mereka sebagai orang-orang terhormat dan memenuhi gereja-gereja dengan orang-orang dari penganut mazhab mereka). Kemudian dia berkata di halaman lima puluh dua sampai halaman lima puluh enam: (Sekarang mari kita perhatikan perbuatan-perbuatan kezaliman yang dilakukan kaum Protestan terhadap kelompok Katolik hingga saat ini, bahwa mereka menetapkan lebih dari seratus undang-undang yang semuanya bertentangan dengan keadilan dan belas kasihan, untuk tujuan kezaliman, dan kami menyebutkan beberapa dari undang-undang zalim ini:

  1. Seorang Katolik tidak mewarisi harta peninggalan orang tuanya.
  2. Tidak boleh seorang pun dari mereka membeli tanah setelah usianya melebihi delapan belas tahun kecuali dia menjadi Protestan.
  3. Mereka tidak boleh memiliki kantor.
  4. Tidak boleh seorang pun dari mereka bekerja dalam pengajaran, dan siapa yang melanggar hukum ini dipenjara selamanya.
  5. Siapa yang dari mazhab ini membayar pajak dua kali lipat.
  6. Jika salah seorang dari pendeta mereka salat, dia harus membayar tiga ratus tiga puluh rupee dari hartanya, dan jika salah seorang dari mereka yang bukan pendeta salat, dia harus membayar satu rupee dan dipenjara setahun.
  7. Jika salah seorang dari mereka mengirim anaknya ke luar Inggris untuk belajar, dia dan anaknya dibunuh dan semua harta dan ternaknya disita.
  8. Mereka tidak diberi jabatan dari pemerintah.
  9. Siapa dari mereka yang tidak hadir pada hari Minggu atau hari raya di gereja Protestan, diambil darinya dua ratus rupee setiap bulan, dan dia dikeluarkan dari jamaah, dan tidak diberi jabatan kepadanya.
  10. Siapa dari mereka yang pergi jauh dari London dengan jarak lima mil, diambil darinya seribu rupee sebagai denda.
  11. Pengaduan salah seorang dari mereka tidak didengar di hadapan hakim menurut undang-undang.
  12. Tidak ada seorang pun dari mereka yang berani bepergian lebih dari lima mil, karena takut hartanya dan barangnya dirampok, dan demikian juga tidak ada seorang pun dari mereka yang mampu mengadu dalam suatu perkara di hadapan hakim, karena takut diambil darinya seribu rupee sebagai denda.
  13. Pernikahan mereka tidak sah, tidak juga persiapan jenazah mereka, tidak mengafani orang mati, tidak pembaptisan anak-anak mereka, kecuali jika hal-hal ini menurut cara gereja Inggris.
  14. Jika salah seorang perempuan dari mazhab ini menikah, negara mengambil dua pertiga dari mas kawinnya, dan dia tidak mewarisi dari harta peninggalan suaminya, dan suaminnya tidak berwasiat untuknya dari hartanya dengan sesuatu apa pun. Perempuan-perempuan mereka dipenjara sampai suami-suami mereka membayar sepuluh rupee setiap bulan atau memberikan sepertiga tanah mereka kepada negara.
  15. Kemudian akhirnya dikeluarkan hukum bahwa jika mereka semua tidak menjadi Protestan, mereka akan dipenjara kemudian diasingkan dari tanah air mereka seumur hidup, dan jika mereka menolak hukum atau kembali dari pengasingan tanpa perintah, mereka dikenai kewajiban yang berat.
  16. Pendeta tidak hadir ketika mereka dibunuh atau ketika persiapan dan pengafanan jenazah mereka.
  17. Tidak boleh ada senjata di rumah salah seorang dari mereka.
  18. Tidak boleh seorang pun dari mereka mengendarai kuda yang harganya lebih dari lima puluh rupee.
  19. Jika seorang pendeta dari mereka melakukan salah satu dari tugas-tugas yang berkaitan dengannya, dia dipenjara selamanya.
  20. Pendeta yang kelahiran Inggris, dan bukan dari mazhab Protestan, jika tinggal lebih dari tiga hari di Inggris dianggap sebagai pengkhianat dan dibunuh.
  21. Siapa yang menampung pendeta yang disebutkan di tempatnya, dibunuh.
  22. Kesaksian seorang Katolik tidak diterima di pengadilan. Dan dibunuh berdasarkan undang-undang zalim ini pada masa Ratu Elizabeth dua ratus empat orang. Seratus empat dari mereka adalah pendeta dan sisanya dari orang-orang kaya, dan kesalahan mereka tidak lain adalah bahwa mereka mengakui bahwa mereka dari mazhab Katolik. Dan mati sembilan puluh pendeta dan pembesar-pembesar lain di penjara, dan diasingkan seratus lima orang seumur hidup, dan banyak dari mereka dicambuk dan harta mereka disita dan dirampas, hingga keluarga mereka binasa. Dan dibunuh Mary yang terkenal, Ratu Skotlandia, yang merupakan putri dari bibi Ratu Elizabeth, karena dia berasal dari mazhab Katolik).

 

Kemudian ia berkata di halaman enam puluh satu sampai enam puluh enam: Banyak rahib dan ulama mereka dibawa atas perintah Ratu Elizabeth di atas kapal-kapal, lalu ditenggelamkan di laut. Pasukan ratu datang ke Irlandia untuk memaksa pemeluk agama Katolik masuk ke dalam agama Protestan, maka mereka membakar gereja-gereja Katolik dan membunuh para ulama mereka, dan mereka memburu mereka seperti memburu binatang buas liar, dan mereka tidak memberikan jaminan keamanan kepada siapa pun dan jika mereka memberikan jaminan keamanan kepada seseorang, mereka juga membunuhnya setelah jaminan keamanan itu, dan mereka menyembelih pasukan yang berada di benteng Smyrwck dan membakar desa-desa dan negeri-negeri, dan merusak tanaman dan ternak serta mengusir penduduknya tanpa membedakan kedudukan dan umur. Kemudian parlemen mengirim para gubernur pada tahun 1643 dan tahun 1644 untuk merampas semua harta dan tanah kaum Katolik tanpa membedakan di antara mereka, dan berbagai macam kezaliman berlanjut hingga zaman Raja James yang pertama dan terjadi peringanan kezaliman pada masa pemerintahannya kemudian raja mengasihani mereka pada tahun 1778, namun kaum Protestan marah kepadanya dan mengajukan petisi kepada Sultan dari pihak empat puluh empat ribu orang dari golongan Protestan pada tanggal dua Juni tahun 1780, dan mereka meminta agar parlemen mempertahankan undang-undang yang zalim terhadap pemeluk agama Katolik sebagaimana sebelumnya. Namun parlemen tidak menanggapi hal itu maka seratus ribu orang Protestan berkumpul di London dan membakar gereja-gereja serta menghancurkan tempat-tempat kaum Katolik. Dan kebakaran itu terlihat dari satu tempat di tiga puluh enam lokasi, dan fitnah ini berlangsung selama enam hari, kemudian raja membuat undang-undang lain pada tahun 1791 dan memberikan kaum Katolik hak-hak yang mereka miliki hingga saat ini.

Kemudian ia berkata di halaman 73 dan 74: Apakah kalian mendengar keadaan Chartres School yang berada di Irlandia, hal ini adalah perkara yang benar, bahwa kaum Protestan mengumpulkan setiap tahun sekitar dua ratus lima puluh ribu rupee, dan menyewa sebagian besar tempat-tempat besar, dan dengan itu mereka membeli anak-anak golongan Katolik yang berasal dari orang-orang miskin papa. Dan mereka mengirim mereka dengan kereta ke wilayah lain secara sembunyi-sembunyi, agar tidak dilihat oleh ayah dan ibu mereka, dan sering terjadi bahwa orang-orang celaka ini ketika kembali ke kampung halaman mereka, menikah dengan saudara perempuan mereka atau saudara laki-laki mereka atau ayah mereka atau ibu mereka karena kebodohan dan tidak dapat membedakan. Selesai perkataannya.

Dan kezaliman yang dilakukan oleh sebagian golongan Protestan terhadap sebagian yang lain, tidak saya sebutkan karena khawatir akan kepanjangan, dan saya cukupkan sampai batas ini, dan saya katakan: Lihatlah kepada orang-orang yang mencela agama Muhammadiyah ini, bagaimana mereka menyebarkan agama mereka dengan tirani dan kezaliman.

(Perkara Kelima) Bahwa hukum jihad dalam syariat Muhammadiyah adalah seperti ini: orang-orang kafir diajak terlebih dahulu dengan nasihat yang baik kepada Islam, maka jika mereka menerimanya maka itulah (yang diinginkan) dan mereka menjadi seperti kami, dan jika mereka tidak menerima maka jika mereka dari kalangan musyrik Arab maka hukum mereka adalah dibunuh, sebagaimana hukum ini ada dalam syariat Musa terhadap tujuh bangsa dan orang murtad dan orang yang menyembelih untuk berhala dan orang yang menyeru kepada penyembahannya, dan jika mereka dari selain mereka diajak kepada perdamaian dengan menerima jizyah (upeti) dan ketaatan, maka jika mereka menerima darah mereka menjadi seperti darah kami, dan harta mereka seperti harta kami, dan jika mereka tidak menerima maka mereka diperangi, dengan memperhatikan syarat-syarat yang disebutkan dengan jelas dalam kitab-kitab fikih. Sebagaimana yang serupa dengan itu ada dalam syariat Musa terhadap selain tujuh bangsa. Dan dongeng-dongeng yang dinukil oleh ulama Protestan dalam penjelasan masalah ini sebagiannya adalah kebohongan dan sebagiannya adalah omong kosong.

Dan saya nukil surat Khalid bin Walid radhiyallahu anhu kepada pemimpin pasukan Persia dan surat jaminan keamanan dari Umar radhiyallahu anhu untuk orang-orang Nasrani Syam agar keadaan menjadi jelas bagi orang yang cerdas memperhatikan.

Adapun yang pertama bentuknya seperti ini: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dari Khalid bin Walid kepada Rustam dan Mihran beserta para pembesar Persia. Salam sejahtera bagi orang yang mengikuti petunjuk, amma ba’du: Sesungguhnya kami mengajak kalian kepada Islam, maka jika kalian enggan maka berikanlah jizyah dengan tangan kalian dalam keadaan kalian hina, maka jika kalian enggan maka sesungguhnya bersamaku ada kaum yang mencintai pembunuhan di jalan Allah, sebagaimana orang Persia mencintai khamr. Dan salam sejahtera bagi orang yang mengikuti petunjuk.

Adapun yang kedua bentuknya seperti ini: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, ini adalah yang diberikan oleh hamba Allah Umar Amirul Mukminin kepada penduduk Iliya (Yerusalem) berupa jaminan keamanan bagi diri mereka dan gereja-gereja mereka dan salib-salib mereka yang sakit maupun yang sehat dan seluruh agama mereka, bahwa gereja-gereja mereka tidak akan dihuni dan tidak akan dihancurkan dan tidak akan dikurangi darinya dan tidak dari salib-salib mereka dan tidak dari sedikitpun harta mereka, dan mereka tidak dipaksa untuk meninggalkan agama mereka, dan tidak akan disakiti seorang pun dari mereka dan tidak akan dihuni Iliya seorang pun dari orang-orang Yahudi, dan atas penduduk Iliya untuk memberikan jizyah sebagaimana penduduk kota-kota lain memberikannya, dan atas mereka untuk mengeluarkan darinya orang-orang Romawi dan perampok, maka barangsiapa keluar dari mereka maka ia aman atas dirinya dan hartanya hingga mereka sampai ke tempat aman mereka, dan barangsiapa tinggal dari mereka maka ia aman, dan atasnya seperti apa yang atas penduduk Iliya dari jizyah, dan barangsiapa yang suka dari penduduk Iliya untuk berjalan dengan dirinya dan hartanya bersama orang-orang Romawi dan meninggalkan gereja dan salib mereka, maka sesungguhnya mereka aman atas diri mereka dan atas gereja mereka dan atas salib mereka hingga mereka sampai ke tempat aman mereka, dan barangsiapa yang ada di dalamnya dari penduduk negeri, maka barangsiapa yang mau dari mereka tinggal maka atasnya seperti apa yang atas penduduk Iliya dari jizyah, dan barangsiapa yang mau kembali ke negerinya maka sesungguhnya tidak akan diambil dari mereka sesuatu pun hingga mereka memanen panen mereka, dan atas apa yang ada dalam surat ini adalah janji Allah dan jaminanNya dan jaminan RasulNya shallallahu alaihi wasallam dan jaminan para khalifah dan jaminan orang-orang beriman jika mereka memberikan apa yang menjadi kewajiban mereka dari jizyah.

Menyaksikan hal itu dari kalangan para sahabat radhiyallahu anhum adalah Khalid bin Walid radhiyallahu anhu dan Amru bin Ash radhiyallahu anhu dan Abdurrahman bin Auf radhiyallahu anhu dan Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu anhu, dan semua orang mengakui bahwa Amirul Mukminin Umar radhiyallahu anhu adalah orang yang keras dalam Islam dengan sangat keras, dan jihad di Syam adalah termasuk jihad-jihadnya yang paling besar dan ia datang sendiri dengan dirinya yang mulia ketika pengepungan Iliya, dan ketika ia menguasai Iliya dan orang-orang Kristen menerima jizyah, ia tidak membunuh seorang pun dan tidak memaksa untuk beriman dan memberikan kepada mereka syarat-syarat yang baik, dan para sejarawan dan penafsir mereka juga telah mengakuinya, sebagaimana engkau ketahui dari perkataan Thomas Newton dalam bab ketiga dari bagian pertama, dan engkau telah mengetahui pada perkara keempat dari pembahasan ini dari perkataan penafsir tersebut apa yang dilakukan orang-orang Kristen terhadap kaum Muslim dan Yahudi ketika mereka menguasai Iliya.

Dan perbedaan antara syariat Muhammadiyah dan Musa dalam masalah jihad adalah bahwa dalam syariat Muhammadiyah orang kafir diajak terlebih dahulu dengan nasihat yang baik kepada Islam berbeda dengan syariat Musa, dan jelas bahwa tidak ada keburukan dalam ajakan ini, dan menahan diri setelah beriman dari pembunuhan adalah puncak keadilan. Dalam ayat kesebelas dari bab tiga puluh tiga dari kitab Yehezkiel: “Tuhan Allah berfirman Aku tidak menginginkan kematian orang munafik tetapi agar orang munafik kembali dari jalannya.” Dan ayat ketujuh dari bab lima puluh lima dari kitab Yesaya seperti ini: “Maka hendaklah orang munafik meninggalkan jalannya dan orang jahat meninggalkan pikirannya, dan hendaklah ia kembali kepada Tuhan maka Ia akan merahmatinya dan kepada Tuhan kami karena Dia Maha Pengampun.”

Dan kedua: Bahwa ada hukum pembunuhan perempuan dan anak-anak jika mereka dari tujuh bangsa dalam syariat Musa, berbeda dengan syariat Muhammadiyah, karena sesungguhnya mereka tidak dibunuh meskipun mereka dari kalangan musyrik Arab, sebagaimana mereka tidak dibunuh dalam syariat Musa juga jika mereka dari selain tujuh kaum.

Maka jika telah jelas lima perkara ini, saya katakan tidak ada keburukan dalam masalah jihad Islam baik secara naql (nash) maupun secara akal. Adapun secara naql karena apa yang telah engkau ketahui pada perkara-perkara yang disebutkan, dan adapun secara akal karena sesungguhnya telah terbukti dengan dalil yang benar bahwa perbaikan daya teoritis lebih didahulukan daripada perbaikan daya praktis maka perbaikan akidah lebih didahulukan daripada perbaikan amal, dan ini adalah premis yang disepakati di kalangan semua orang beragama, dan oleh karena itu amal saleh tidak bermanfaat tanpa iman menurut mereka. Dan orang-orang Kristen juga tidak menentang kami dalam bab ini karena amal saleh tanpa iman kepada Almasih juga tidak menyelamatkan menurut mereka juga. Dan bahwa orang yang dermawan, penyantun, rendah hati yang kafir kepada Isa alaihissalam lebih jahat menurut mereka daripada orang yang kikir, pemarah, sombong yang beriman kepada Isa alaihissalam. Dan demikian pula telah terbukti dengan pengalaman yang benar bahwa manusia terkadang tersadar akan kesalahan dan keburukannya dengan peringatan orang lain, dan demikian pula telah terbukti dengan pengalaman yang benar bahwa manusia kebanyakan tidak menaati kebenaran karena kehormatan kaumnya dan kekuatan mereka, dan tidak menyimak perkataan orang dari golongan lain bahkan enggan mendengar perkataannya, terutama jika perkataan ini bertentangan dengan tabiat golongannya dan prinsip-prinsip mereka, dan dalam penerimaannya ada kesulitan dalam pelaksanaan ibadah-ibadah badaniyah dan maliyah berbeda dengan jika kehormatan kaumnya dan kekuatan mereka hancur maka ia tidak enggan untuk menyimak. Dan demikian pula telah terbukti dengan pengalaman bahwa musuh jika melihat bahwa lawannya condong kepada ketenangan dan kedamaian maka ia tamak untuk menguasai kerajaannya, dan ini adalah sebab yang paling dominan dalam hilangnya negara-negara lama dan setelah penguasaannya terjadi kerusakan yang besar bagi agama dan keberagamaan, dan oleh karena itu semua orang Kristen terpaksa kepada apa yang bertentangan dengan Injil mereka yang beredar:

Maka pemeluk agama Katolik berkata: Bahwa Gereja Romawi memiliki kekuasaan yang hakiki atas setiap orang Kristen melalui pembaptisan, karena setiap orang yang dibaptis tunduk kepada Gereja Romawi dan berada di bawahnya dan ia berkewajiban untuk menghukum orang-orang yang durhaka dengan hukuman-hukuman gerejawi, dan untuk menyerahkan orang-orang yang berkeras dalam kesesatan mereka dan yang membahayakan masyarakat, kepada pihak penguasa agar mereka menghukum mereka dengan kematian, dan dengan demikian dapat mewajibkan mereka untuk menjaga iman Katolik dan syariat-syariat gerejawi di bawah hukuman apa pun. Dan pendapat mereka ini telah dinukil oleh Ishaq Bird yang termasuk ulama Protestan, dalam kitabnya yang bernama Kitab Tiga Belas Risalah dalam risalah kedua belas di halaman 360 dari cetakan yang dicetak tahun 1849 di Beirut.

Dan ulama Protestan dari Inggris berkata: Kebahagiaan raja baginya adalah kekuasaan tertinggi dalam kerajaan Inggris ini dan di wilayah-wilayahnya yang lain, dan baginya kekuasaan yang pertama atas semua yang berkaitan dengan kerajaan ini baik yang bersifat gerejawi maupun sipil dalam setiap keadaan, dan tidak tunduk bahkan tidak boleh tunduk kepada penguasa asing, dan boleh bagi orang-orang Kristen untuk memegang senjata atas perintah para penguasa dan melakukan peperangan. Sebagaimana yang disebutkan dengan jelas dalam akidah ketiga puluh tujuh dari akidah-akidah agama mereka, maka kedua golongan meninggalkan zhahir perkataan Isa alaihissalam yaitu: “Jangan melawan kejahatan tetapi barangsiapa menampar pipi kananmu maka palingkanlah kepadanya yang kiri, dan barangsiapa ingin berperkara denganmu dan mengambil bajumu maka biarkanlah baginya jubah juga, dan barangsiapa menyuruhmu satu mil maka pergilah bersamanya dua mil, barangsiapa meminta kepadamu maka berikanlah kepadanya.” Karena sesungguhnya perkataan-perkataan ini bertentangan dengan apa yang mereka tetapkan dan jika mereka mengamalkan perkataan-perkataan ini, saya tidak mengatakan lebih dari ini, bahwa kekuasaan Inggris akan hilang dari India dalam beberapa hari yang sedikit dan penduduk India akan mengusir mereka tanpa kesulitan.

Dan oleh karena itu berkata sebagian orang bijak yang cerdas, semoga Allah memperpanjang umurnya, dengan mengkritik perkataan-perkataan ini sebagai ilzam (argumen pemaksaan): Pembebanan kepada manusia dengan apa yang tidak dalam kemampuannya, dan tidak mungkin bagi suatu negara untuk mengamalkannya, dan tidak mungkin untuk mewajibkan seseorang dengannya kecuali sebagian nelayan yang tidak memiliki jubah maka diambil dari mereka dan mereka tidak peduli dengan penyia-nyiaan waktu. Selesai perkataannya.

Kemudian ia berkata: Dan semua itu tidak disebutkan dalam Markus dan Yohanes padahal semua orang Nasrani dengan pengabaian mereka terhadap pengamalan hukum-hukum ini masih tetap berdalih dengannya dan dengannya mereka beralasan tentang keutamaan mazhab mereka, maka bagaimana pantas bagi Markus dan Yohanes untuk mengabaikan hal itu dan bersepakat berdua untuk kisah melepaskan keledai jantan. Apakah termasuk kebiasaan para sejarawan bahwa mereka menyebutkan perkara-perkara yang hina dan diam tentang yang mulia, terutama bahwa mereka adalah orang-orang yang diajak dengannya dan dapat dikatakan bahwa orang yang menyebutkannya maka ia melihat kepada pembebanan orang lain, dan orang yang diam tentangnya maka ia khawatir akan pembebanan dirinya sendiri. Selesai perkataannya dengan lafaznya.

Dan berkata sebagian orang atheis: Sesungguhnya hukum-hukum ini yang menjadi kebanggaan orang-orang Kristen tidak terlepas bahwa ia adalah mustahab (disukai) berdasarkan sebagian keadaan atau wajib. Maka jika ia mustahab maka tidak masalah dengannya. Namun ia tidak khusus untuk agama Kristen karena sesungguhnya kemustahaban ini berdasarkan sebagian keadaan juga ada pada selain agama mereka juga, dan jika ia wajib maka tidak ragu bahwa ia adalah sumber-sumber kerusakan dan kejahatan dan sebab-sebab hilangnya negara-negara dan kenyamanan dan ketenangan dan kegembiraan. Dan ketika telah terbukti apa yang saya sebutkan maka tidak ragu dalam kebaikan jihad secara akal jika ia memenuhi syarat-syarat yang disebutkan dalam syariat Muhammadiyah. Dan saya teringat sebuah kisah yang sesuai dengan konteks:

Datang salah seorang pendeta di pengadilan Mufti dari pengadilan-pengadilan Pemerintahan Inggris di India lalu ia berkata: Wahai Yang Terhormat Mufti, saya memiliki pertanyaan kepada kaum Muslim, saya mohon penundaan kepada penjawab sampai satu tahun untuk menyampaikan jawabannya. Maka Mufti memberi isyarat kepada pengawas pengadilan dan ia adalah seorang yang bijak lalu ia berkata: Pertanyaan apa ini? Pendeta berkata: Sesungguhnya nabi kalian mengklaim bahwa ia diperintahkan untuk berjihad dan Musa tidak diperintahkan dengannya dan tidak pula Isa. Maka pengawas berkata: Inikah pertanyaan yang engkau mohon penundaan kepada kami sampai satu tahun untuk kami pikirkan jawabannya? Pendeta berkata: Ya. Pengawas berkata: Kami tidak meminta penundaan darimu, dan aku jawab engkau sekarang karena dua sebab: Adapun pertama karena sesungguhnya kami adalah pegawai Pemerintahan Inggris dan tidak ada kesempatan bagi kami kecuali pada hari-hari libur, maka siapa yang memberikan penundaan kepada kami sampai satu tahun. Dan adapun kedua karena sesungguhnya pertanyaan ini tidak memerlukan dalam jawabannya perenungan. Apa yang engkau katakan tentang Judge (yaitu hakim Inggris yang berkedudukan seperti qadhi dalam syariat), apakah boleh baginya menurut undang-undang Inggris untuk membunuh pembunuh sebagai qishash jika pembunuhan terbukti atasnya di hadapannya? Pendeta berkata: Tidak, karena ia tidak diperintahkan dengan ini, tetapi jabatannya adalah mengirim pembunuh ini ke Session Judge (yaitu hakim besar darinya). Ia berkata: Apakah boleh bagi hakim besar ini menurut undang-undang untuk membunuhnya jika pembunuhan terbukti di hadapannya? Pendeta berkata: Tidak, karena ia juga tidak diperintahkan, tetapi jabatannya adalah untuk memverifikasi perkara kedua kalinya dan memberitahu hakim yang lebih tinggi darinya hingga keluar keputusan pembunuhan dari yang tertinggi ini kemudian hakim besar ini memutuskan untuk membunuhnya. Maka pengawas berkata: Apakah ketiga hakim ini tidak terikat dengan satu Pemerintahan Inggris? Pendeta berkata: Ya tetapi perbedaan kekuasaan karena jabatan-jabatan mereka. Maka pengawas berkata: Sekarang telah jelas jawaban dari perkataanmu, maka harus engkau ketahui bahwa Musa dan Isa alaihimassalam berkedudukan seperti dua hakim yang pertama dan Nabi kami berkedudukan seperti hakim ketiga yang tertinggi, maka sebagaimana tidak lazim dari ketiadaan kekuasaan dua hakim yang pertama ketiadaan kekuasaan yang ketiga maka demikian pula tidak lazim dari ketiadaan kekuasaan Musa dan Isa alaihissalam ketiadaan kekuasaan Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Maka pendeta itu terdiam dan keluar dengan kecewa. Maka barangsiapa memandang kepada apa yang saya sebutkan dengan pandangan yang adil, dan menjauhkan diri dari penentangan dan kecurangan, ia akan mengetahui dengan yakin bahwa ketegasan dalam masalah jihad, dan pembunuhan orang murtad dan orang yang mengajak kepada penyembahan berhala dalam syariat Musa, lebih keras dan lebih banyak daripada ketegasan yang ada di dalamnya dalam syariat Muhammadiyah, dan bahwa celaan orang-orang Kristen sangat bertentangan dengan keadilan, dan saya heran dengan keadaan mereka bahwa mereka tidak memandang kepada bagaimana nenek moyang mereka menyebarkan agama mereka dengan kezaliman dan bagaimana mereka menetapkan undang-undang yang zalim bagi orang-orang yang menentang mereka. Dan karena pembahasan ini telah panjang, saya tidak akan menyinggung omong kosong mereka yang tercantum dalam risalah-risalah mereka. Dan dalam apa yang saya sebutkan sudah cukup untuk menolak omong kosong ini dan dengan Allah lah taufik.

(Celaan Kedua) Tidak munculnya mukjizat-mukjizat di tangan Muhammad shallallahu alaihi wasallam

Dari syarat-syarat kenabian adalah munculnya mukjizat di tangan orang yang mengklaimnya dan tidak muncul mukjizat di tangan Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh apa yang terdapat dalam Surah Al-An’am: “Tidak ada padaku apa yang kalian minta untuk disegerakan sesungguhnya keputusan itu hanya milik Allah, Dia menceritakan kebenaran, dan Dia adalah sebaik-baik pemutus.” (Surah Al-An’am) Dan demikian pula apa yang terdapat dalam surah itu: “Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sungguh-sungguh jika datang kepada mereka suatu ayat pasti mereka akan beriman kepadanya, katakanlah sesungguhnya ayat-ayat itu hanya ada di sisi Allah, dan apakah yang memberitahukan kalian bahwa jika ia datang mereka tidak akan beriman.” (Surah Al-An’am) Dan demikian pula apa yang terdapat dalam Surah Bani Israil: “Dan mereka berkata kami tidak akan beriman kepadamu hingga engkau memancarkan untuk kami dari bumi mata air, atau ada untukmu kebun dari kurma dan anggur, lalu engkau pancarkan sungai-sungai di tengahnya dengan memancar, atau engkau jatuhkan langit sebagaimana engkau sangkakan atas kami berkeping-keping, atau engkau datangkan Allah dan para malaikat secara berkelompok, atau ada untukmu rumah dari emas, atau engkau naik ke langit, dan kami tidak akan beriman akan kenaikanmu hingga engkau turunkan kepada kami kitab yang kami baca, katakanlah Mahasuci Tuhanku, bukankah aku hanyalah manusia yang menjadi rasul.” (Surah Al-Isra) Dan demikian pula beberapa ayat yang lain.

(Jawabannya) bahwa tiga perkara yang disebutkan oleh penanya tersebut adalah kekeliruan.

Pertama: karena munculnya mukjizat bukanlah termasuk syarat kenabian menurut ketentuan Injil yang dikenal ini, maka tidak munculnya mukjizat tidak menunjukkan tidak adanya kenabian. Dalam ayat keempat puluh satu dari bab kesepuluh Injil Yohanes demikian: (Maka datanglah kepada-Nya banyak orang, dan mereka berkata bahwa Yohanes tidak melakukan satu mukjizat pun). Dan dalam ayat kedua puluh tujuh dari bab kedua puluh satu Injil Matius demikian: (Yohanes menurut semua orang adalah seorang nabi). Dan dalam terjemahan Arab yang dicetak tahun 1835: (Mereka semua menganggap Yahya seorang nabi). Dan telah disebutkan dalam bab kesebelas Injil Matius perkataan Isa alaihissalam tentangnya: (Sesungguhnya ia lebih utama dari seorang nabi). Maka orang yang lebih utama dari para nabi ini tidak pernah muncul darinya mukjizat dari berbagai mukjizat menurut kesaksian banyak orang, padahal kenabiannya diakui oleh kaum Kristen.

Kedua: perkara kedua itu keliru sama sekali sebagaimana engkau telah mengetahui dalam bab pertama.

Ketiga: perkara ketiga itu entah keliru dari mereka atau pengkeliruan. Karena yang dimaksud dengan “apa” dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala “apa yang kalian minta agar disegerakan” yang terdapat dalam ayat pertama adalah azab yang mereka minta agar disegerakan dengan perkataan mereka: “Maka turunkanlah kepada kami hujan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.” (Surah Al-Anfal: 32). Dan makna ayat “tidak ada padaku apa yang kalian minta agar disegerakan” yaitu azab yang kalian minta agar disegerakan. “Keputusan itu hanya milik Allah” dalam menyegerakan azab dan mengakhirkannya. “Dia menceritakan yang hak” yaitu Dia memutuskan keputusan yang hak tentang menyegerakan dan mengakhirkan. “Dan Dia adalah sebaik-baik orang yang memutuskan” (Surah Al-An’am: 57) yaitu para hakim. Maka hasil dari ayat tersebut adalah bahwa azab akan turun kepada kalian pada waktu yang Allah kehendaki untuk menurunkannya, dan tidak ada kuasa bagiku untuk mendahulukannya atau mengakhirkannya. Dan azab itu telah turun kepada mereka pada hari Badar dan setelahnya, maka ayat ini tidak menunjukkan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah muncul darinya mukjizat.

Adapun ayat kedua maka maknanya “Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpah yang sungguh-sungguh” – mashdar (kata benda) dalam posisi hal (keterangan keadaan) – “bahwa jika datang kepada mereka suatu mukjizat” dari yang mereka usulkan “pasti mereka akan beriman kepadanya. Katakanlah: ‘Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu ada di sisi Allah'” Dia Maha Kuasa atasnya, Dia menampakkan darinya apa yang Dia kehendaki. “Dan apakah yang memberitahukan kepada kalian” – pertanyaan pengingkaran – “bahwa mukjizat itu” yaitu mukjizat yang diusulkan “apabila datang, mereka tidak akan beriman.” (Surah Al-An’am: 109) Yaitu kalian tidak tahu bahwa mereka tidak akan beriman kepadanya, dan perkataan ini menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menurunkannya karena Dia mengetahui bahwa jika mukjizat itu datang mereka tidak akan beriman.

Adapun ayat ketiga maka maknanya “Dan mereka berkata: ‘Kami tidak akan beriman kepadamu sampai engkau memancarkan untuk kami dari bumi'” yaitu bumi Mekah “mata air yang memancar” yaitu sumber air yang melimpah yang tidak pernah kering airnya. “Atau engkau mempunyai kebun kurma dan anggur, lalu engkau alirkan sungai-sungai di celah-celahnya dengan mengalir deras. Atau engkau jatuhkan langit sebagaimana yang engkau sangkakan kepada kami berkeping-keping” – mereka maksudkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Jika Kami menghendaki, niscaya Kami benamkan mereka ke dalam bumi atau Kami jatuhkan kepada mereka gumpalan dari langit.” (Surah Saba’: 9)“Atau engkau datangkan Allah dan para malaikat berhadapan” yaitu sebagai saksi atas kebenaran apa yang engkau dakwakan dan penjamin atas tanggungannya. “Atau engkau mempunyai sebuah rumah dari emas. Atau engkau naik ke langit” yaitu pada tangga-tangganya. “Dan kami tidak akan beriman dengan kenaikanmu” saja “sampai engkau turunkan kepada kami sebuah kitab” dari langit yang di dalamnya terdapat pembenaran untukmu (Surah Al-Isra’: 90-93). Dari Ibnu Abbas: Abdullah bin Abi Umayyah berkata: Kami tidak akan beriman kepadamu sampai engkau membuat tangga ke langit, kemudian engkau naik padanya sedang aku melihat sampai engkau mendatanginya, kemudian engkau datang bersamamu dengan surat yang terbuka, bersamanya empat malaikat yang bersaksi untukmu bahwa engkau sebagaimana yang engkau katakan. “Yang kami baca. Katakanlah: ‘Maha Suci Tuhanku'” – sebagai keheranan terhadap usulan-usulan mereka – “Bukankah aku hanya seorang manusia yang menjadi rasul” seperti para rasul yang lain. Dan tidaklah maksud mereka dengan usulan-usulan ini kecuali permusuhan dan keras kepala, dan seandainya datang kepada mereka setiap mukjizat niscaya mereka berkata: “Ini adalah sihir.” Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla: “Dan seandainya Kami turunkan kepadamu sebuah kitab di atas kertas” (Surah Al-An’am: 7), “Dan seandainya Kami bukakan kepada mereka sebuah pintu dari langit” (Surah Al-Hijr: 14), dan demikian pula keadaan beberapa ayat yang lain, dipahami darinya secara zhahir penafian penampakan mukjizat, tetapi yang dimaksud dengannya adalah penafian mukjizat yang diusulkan, dan tidak mesti dari penafian ini, penafian mukjizat-mukjizat secara mutlak, dan tidak mesti atas para nabi bahwa mereka menampakkan mukjizat setiap kali orang-orang yang mengingkari memintanya, bahkan mereka tidak menampakkan jika orang-orang yang mengingkari meminta karena permusuhan atau ujian atau ejekan. Dan saya kemukakan untuk perkara ini bukti-bukti dari Perjanjian Baru:

(Pertama) dalam bab kedelapan Injil Markus demikian: 11 (Maka keluarlah orang-orang Farisi dan mulai berdebat dengan-Nya meminta dari-Nya mukjizat dari langit untuk menguji-Nya) 12 (Lalu Dia mengeluh dengan roh-Nya dan berkata: ‘Mengapa angkatan ini meminta mukjizat? Sesungguhnya, Aku berkata kepada kalian, tidak akan diberikan kepada angkatan ini mukjizat.’). Maka orang-orang Farisi meminta mukjizat dari Isa alaihissalam dengan cara ujian, maka Dia tidak menampakkan mukjizat, dan tidak pula menunjuk pada waktu itu kepada mukjizat yang telah muncul dari-Nya sebelumnya, dan tidak pula berjanji untuk menampakkannya setelah itu juga, bahkan ucapannya “tidak akan diberikan kepada angkatan ini mukjizat” menunjukkan bahwa mukjizat tidak akan muncul dari-Nya setelah ini sama sekali, karena lafazh “angkatan” mencakup semua orang yang ada pada zamannya.

(Kedua) dalam bab kedua puluh tiga Injil Lukas demikian: 8 (Adapun Herodes ketika melihat Yesus sangat gembira karena ia telah ingin dari waktu yang lama untuk melihat-Nya karena mendengar tentang-Nya banyak hal, dan berharap melihat mukjizat yang dibuat dari-Nya) 9 (Dan ia bertanya kepada-Nya dengan banyak perkataan tetapi Dia tidak menjawabnya dengan sesuatu) 10 (Dan berdirilah para kepala imam dan ahli-ahli Taurat mengadukan-Nya dengan keras) 11 (Maka Herodes menghina-Nya bersama pasukannya dan mengejek-Nya, dan mengenakan kepada-Nya pakaian yang berkilau dan mengembalikan-Nya kepada Pilatus). Maka Isa alaihissalam tidak menampakkan mukjizat pada waktu itu, padahal Herodes berharap untuk melihat dari-Nya mukjizat, dan yang paling mungkin adalah jika ia melihat, niscaya ia akan memaksa orang-orang Yahudi atas pengaduan mereka dan tidak akan menghina bersama pasukannya dan tidak akan mengejek.

(Ketiga) dalam bab kedua puluh dua Injil Lukas demikian: 63 (Dan orang-orang yang menangkap Yesus sedang mengejek-Nya dan mereka mencambuk-Nya) 64 (Dan mereka menutup-Nya, dan mereka memukul wajah-Nya, dan bertanya kepada-Nya dengan berkata: ‘Bernubuatlah siapa yang memukul-Mu?’ Dan hal-hal lain yang banyak, mereka mengatakan kepada-Nya dengan menghujat). Dan karena pertanyaan mereka adalah ejekan dan penghinaan, maka Isa alaihissalam tidak menjawab mereka.

(Keempat) dalam bab kedua puluh tujuh Injil Matius demikian: 39 (Dan orang-orang yang lewat menghujat-Nya, dan mereka menggelengkan kepala mereka) 40 (dengan berkata: ‘Wahai penghancur Bait Suci dan pembangunnya dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jika Engkau adalah anak Allah maka turunlah sekarang dari salib’) 41 (Dan demikian pula para kepala imam juga sedang mengejek dengan para ahli Taurat dan para tua-tua berkata: ‘Dia menyelamatkan orang lain tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat menyelamatkannya. Jika Dia adalah raja Israel maka turunlah sekarang dari salib agar kami beriman kepada-Nya’) 43 (Dia telah bertawakkal kepada Allah maka biarlah Dia menyelamatkan-Nya sekarang jika Dia menghendaki-Nya karena Dia berkata: ‘Aku adalah anak Allah’) 44 (Dan demikian pula kedua perampok yang disalibkan bersama-Nya untuk mencela-Nya). Maka Isa alaihissalam tidak menyelamatkan diri-Nya pada waktu ini, dan tidak turun dari salib meskipun orang-orang yang lewat mencela-Nya, para kepala imam, para ahli Taurat, para tua-tua, dan para perampok. Dan para kepala imam, para ahli Taurat, dan para tua-tua berkata bahwa jika Dia turun dari salib mereka akan beriman kepada-Nya, maka seharusnya Dia untuk menolak aib dan untuk menetapkan hujjah turun sekali dari salib kemudian naik. Tetapi karena maksud mereka adalah permusuhan dan ejekan, maka Isa alaihissalam tidak menjawab mereka.

(Kelima) dalam bab kedua belas Injil Matius demikian: 38 (Pada saat itu menjawab segolongan dari ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi dengan berkata: ‘Wahai guru, kami ingin melihat dari-Mu mukjizat’) 39 (Maka Dia menjawab dan berkata kepada mereka: ‘Angkatan yang jahat dan fasik meminta mukjizat, dan tidak akan diberikan kepadanya mukjizat kecuali mukjizat Yunus nabi’) 40 (Karena sebagaimana Yunus berada dalam perut ikan paus tiga hari dan tiga malam, demikian pula anak manusia akan berada di dalam jantung bumi tiga hari dan tiga malam). Maka para ahli Taurat dan orang-orang Farisi meminta mukjizat, tetapi Isa alaihissalam tidak menampakkannya pada waktu ini, dan tidak menunjukkan mereka kepada mukjizat yang telah muncul dari-Nya sebelum pertanyaan ini, bahkan Dia mencela mereka dan melontarkan kepada mereka lafazh fasik dan jahat, dan berjanji dengan mukjizat yang tidak pernah muncul dari-Nya, karena ucapan-Nya “sebagaimana Yunus berada dalam perut ikan paus” dan seterusnya, keliru tanpa keraguan sebagaimana yang engkau telah ketahui dalam bab ketiga dari bab pertama. Dan jika kita abaikan pandangan tentang kekeliruan ini, maka kebangkitan-Nya secara mutlak tidak dilihat oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi dengan mata kepala mereka sendiri. Dan seandainya Isa alaihissalam bangkit dari kematian, seharusnya Dia menampakkan diri-Nya kepada para pengingkar yang meminta mukjizat ini agar menjadi hujjah atas mereka dan penunaian janji. Dan Dia tidak menampakkan diri-Nya kepada mereka, dan tidak kepada orang-orang Yahudi yang lain, meskipun sekali. Dan karena itu mereka tidak meyakini kebangkitan ini, bahkan mereka berkata dari zaman itu sampai saat ini bahwa murid-murid-Nya mencuri jasad-Nya dari kubur pada malam hari.

(Keenam) dalam bab keempat Injil Matius demikian: (Maka mendekatlah kepada-Nya penguji dan berkata kepada-Nya: ‘Jika Engkau adalah anak Allah maka katakanlah agar menjadi batu-batu ini roti’) 4 (Maka Dia menjawab dan berkata: ‘Ditulis: Bukan dengan roti saja manusia hidup tetapi dengan setiap firman yang keluar dari mulut Allah’) 5 (Kemudian Iblis membawa-Nya ke kota suci, dan meletakkan-Nya di atas sayap Bait Suci) 6 (Dan berkata kepada-Nya: ‘Jika Engkau adalah anak Allah maka jatuhkanlah diri-Mu ke bawah karena ditulis bahwa Dia memerintahkan para malaikat-Nya tentang-Mu, maka di atas tangan-tangan mereka mereka membawa-Mu agar tidak terbentur dengan batu kaki-Mu’) 7 (Yesus berkata kepada-Nya: ‘Ditulis juga: Jangan mencoba Tuhan Allahmu’). Maka Iblis meminta dengan cara ujian dari Isa alaihissalam dua mukjizat, tetapi Dia tidak menjawab dengan salah satu dari keduanya, dan mengakui pada kali kedua bahwa tidak pantas bagi hamba untuk mencoba Tuhan-nya, bahkan tuntutan penghambaan adalah memelihara adab dan tidak mencoba.

(Ketujuh) dalam bab keenam Injil Yohanes demikian: 29 (Yesus menjawab dan berkata kepada mereka: ‘Inilah pekerjaan Allah agar kalian beriman kepada yang diutus-Nya’) 30 (Maka mereka berkata kepada-Nya: ‘Maka mukjizat apa yang Engkau buat agar kami melihat dan beriman kepada-Mu’) 31 (Apa yang Engkau kerjakan? Bapak-bapak kami makan manna di padang gurun sebagaimana ditulis bahwa Dia memberikan kepada mereka roti dari langit untuk dimakan). Maka orang-orang Yahudi meminta mukjizat tetapi Isa alaihissalam tidak menampakkannya, dan tidak menunjuk kepada mukjizat yang Dia lakukan sebelum pertanyaan ini, bahkan berbicara dengan perkataan yang samar-samar, yang tidak dipahami oleh kebanyakan pendengar, bahkan banyak dari murid-murid-Nya murtad karenanya. Sebagaimana yang dinyatakan dalam ayat keenam puluh enam dari bab yang disebutkan, yaitu dalam terjemahan Arab yang dicetak tahun 1860 demikian: (Dan sejak waktu ini banyak dari murid-murid-Nya kembali ke belakang, dan tidak kembali berjalan bersama-Nya). Dan dalam terjemahan Arab yang dicetak tahun 1835: (Dan sejak itu banyak dari murid-murid-Nya murtad dengan tumit mereka dan tidak berjalan bersama-Nya setelah itu selamanya).

(Kedelapan) dalam bab pertama Surat kepada penduduk Korintus demikian: 22 (Karena orang-orang Yahudi meminta mukjizat dan orang-orang Yunani meminta hikmat) 23 (Dan kami memberitakan Al-Masih yang disalibkan dan itu adalah sandungan bagi orang-orang Yahudi dan kebodohan bagi orang-orang Yunani). Maka orang-orang Yahudi sebagaimana mereka meminta mukjizat dari Al-Masih alaihissalam, mereka juga memintanya dari para hawari, dan santo mereka Paulus mengakui bahwa mereka meminta mukjizat dan kami memberitakan Al-Masih yang disalibkan. Maka jelaslah dari ungkapan-ungkapan yang dinukil ini bahwa Isa alaihissalam dan para hawari tidak menampakkan mukjizat di hadapan para peminta pada waktu-waktu mereka meminta mukjizat di dalamnya, dan tidak menunjukkan para pengingkar kepada mukjizat yang mereka lakukan sebelum waktu-waktu ini. Maka jika seseorang berargumen dengan ayat-ayat yang disebutkan bahwa Isa alaihissalam dan para hawari tidak memiliki kemampuan untuk menampakkan perkara yang luar biasa kebiasaan, karena kalau tidak niscaya muncul dari mereka pada waktu-waktu yang disebutkan dan mereka menunjukkan para pengingkar kepada perkara luar biasa yang muncul dari mereka sebelum waktu-waktu ini. Maka karena tidak muncul dari mereka salah satu dari dua perkara ini, maka terbukti bahwa mereka tidak memiliki kemampuan untuk menampakkannya, akan menjadi argumen ini menurut para santo yang dipaksakan dan akan menjadi perkataan ini bertentangan dengan keadilan, maka demikian pula perkataan para pendeta menurut kami dengan berpegang kepada beberapa ayat Al-Qur’an yang telah engkau ketahui keadaannya bertentangan dengan keadilan dan sama dengan pemaksaan. Bagaimana tidak, padahal mukjizat-mukjizat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dinyatakan dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih, sebagaimana yang engkau telah ketahui dalam bab pertama, dan datang penyebutannya secara global juga di banyak tempat dari Al-Qur’an:

1- Dalam Surah Ash-Shaffat: “Dan apabila mereka melihat mukjizat, mereka mengejek. Dan mereka berkata: ‘Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.'” (Surah Ash-Shaffat: 14-15). Dalam Tafsir Al-Kasysyaf: “Dan apabila mereka melihat mukjizat” dari mukjizat-mukjizat Allah yang jelas seperti terbelahnya bulan dan yang semisalnya “mereka mengejek” mereka berlebihan dalam ejekan atau mereka meminta sebagian mereka dari sebagian yang lain agar mengejek darinya. Dan dalam Tafsir Kabir: (Dan yang keempat dari perkara-perkara yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ceritakan tentang mereka bahwa mereka berkata: ‘Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata,’ yaitu bahwa mereka apabila melihat mukjizat dan mu’jizat mengejek darinya, dan sebab dalam ejekan itu adalah keyakinan mereka bahwa itu dari jenis sihir, dan ucapan-Nya ‘nyata’: maknanya adalah bahwa menjadi sihir itu adalah perkara yang jelas, tidak ada keraguan bagi siapa pun di dalamnya) selesai perkataan-Nya. Dan dalam Tafsir Al-Baidhawi: “Dan apabila mereka melihat mukjizat” yang menunjukkan kebenaran yang berkata “mereka mengejek” mereka berlebihan dalam ejekan dan berkata bahwa itu adalah sihir, atau meminta sebagian mereka dari sebagian yang lain agar mengejek darinya. “Dan mereka berkata: ‘Sesungguhnya ini'” mereka maksudkan apa yang mereka lihat “tidak lain hanyalah sihir yang nyata” jelas sihirnya, selesai. Dan dalam Tafsir Jalalain: “Dan apabila mereka melihat mukjizat” seperti terbelahnya bulan “mereka mengejek” mereka mengolok-olok dengannya. “Dan mereka berkata” di dalamnya “sesungguhnya” tidak “ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata” jelas, selesai, dan seperti itu dalam Tafsir Husaini.

2- Dan dalam Surah Al-Qamar: “Dan jika mereka melihat mukjizat, mereka berpaling dan berkata: ‘Sihir yang terus-menerus.'” (Surah Al-Qamar: 2) Dan sungguh engkau telah mengetahuinya dalam bab pertama.

3- Dan dalam Surah Ali Imran: “Bagaimana Allah akan memberi petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah mereka beriman dan mereka telah bersaksi bahwa Rasul itu benar dan telah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata?” (Surah Ali Imran: 86). Dalam Tafsir Al-Kasysyaf dalam tafsir ucapan-Nya (keterangan-keterangan yang nyata) adalah bukti-bukti dari Al-Qur’an dan berbagai mukjizat yang lain yang ditetapkan dengan yang semisalnya kenabian, selesai perkataan-Nya. Dan lafazh keterangan-keterangan yang nyata apabila yang disifatinya diperkirakan maka digunakan dalam Al-Qur’an umumnya dengan makna mukjizat-mukjizat, dan penggunaannya dalam selainnya dalam kondisi itu sangat sedikit, maka tidak dipahami dengan makna yang sedikit tanpa qarinah yang kuat.

Dalam Surah Al-Baqarah: “Dan Kami berikan kepada Isa putra Maryam keterangan-keterangan yang nyata” (Surah Al-Baqarah: 87), dan dalam Surah An-Nisa: “Kemudian mereka mengambil anak sapi setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata” (Surah An-Nisa: 153), dan dalam Surah Al-Ma’idah: “Ketika engkau datang kepada mereka dengan keterangan-keterangan yang nyata” (Surah Al-Ma’idah: 110), dan dalam Surah Al-A’raf: “Dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan keterangan-keterangan yang nyata” (Surah Al-A’raf: 101), dan dalam Surah Yunus: “Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan keterangan-keterangan yang nyata” (Surah Yunus: 13), kemudian dalam surah itu: “Maka mereka datang kepada mereka dengan keterangan-keterangan yang nyata” (Surah Yunus: 74), dan dalam Surah An-Nahl: “Dengan keterangan-keterangan yang nyata dan kitab-kitab” (Surah An-Nahl: 44), dan dalam Surah Thaha: “Kami tidak akan mengutamakanmu atas apa yang datang kepada kami dari keterangan-keterangan yang nyata” (Surah Thaha: 72), dan dalam Surah Ghafir: “Dan sungguh telah datang kepadamu dengan keterangan-keterangan yang nyata dari Tuhanmu” (Surah Ghafir: 28), dan dalam Surah Al-Hadid: “Sungguh telah Kami utus rasul-rasul Kami dengan keterangan-keterangan yang nyata” (Surah Al-Hadid: 25), dan dalam Surah At-Taghabun: “Yang demikian itu karena sesungguhnya datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan keterangan-keterangan yang nyata” (Surah At-Taghabun: 6) dan demikian pula dalam selain tempat-tempat ini.

4- Dalam Surah Al-An’am: “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya tidak akan beruntung orang-orang yang zalim.” (Surah Al-An’am: 21). Dalam Tafsir Al-Baidhawi: “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah” seperti perkataan mereka: Malaikat adalah anak-anak perempuan Allah dan ini adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah. “Atau mendustakan ayat-ayat-Nya” seperti mereka mendustakan Al-Qur’an dan mukjizat-mukjizat dan menamai-Nya sihir, dan sesungguhnya disebutkan “atau” padahal mereka mengumpulkan antara dua perkara sebagai peringatan bahwa setiap satu dari keduanya sendirian mencapai puncak penglampauan batas dalam kezaliman atas diri, selesai.

Dan dalam Tafsir Al-Kasysyaf: Mereka mengumpulkan antara dua perkara yang bertentangan, maka mereka berdusta kepada Allah dan mereka mendustakan apa yang telah terbukti dengan hujjah dan keterangan yang jelas dan bukti yang shahih, di mana mereka berkata: ‘Kalau Allah menghendaki niscaya kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak pula bapak-bapak kami,’ dan mereka berkata: ‘Dan Allah memerintahkan kami dengannya,’ dan mereka berkata: ‘Malaikat adalah anak-anak perempuan Allah dan ini adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah,’ dan mereka menisbatkan kepada-Nya pengharaman bahira dan saibah, dan mereka pergi lalu mendustakan Al-Qur’an dan mukjizat-mukjizat, dan menamai-Nya sihir dan tidak beriman kepada Rasul, selesai.

Dan dalam Tafsir Kabir, jenis kedua dari kerugian mereka adalah pendustaan mereka terhadap ayat-ayat Allah, yang dimaksud dengannya adalah celaan mereka terhadap mukjizat-mukjizat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan kritikan mereka terhadapnya, serta pengingkaran mereka bahwa Al-Quran adalah mukjizat yang jelas dan nyata, selesai.

Dan dalam surat tersebut juga: “Dan apabila datang kepada mereka suatu ayat (mukjizat), mereka berkata: ‘Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang diberikan kepada para rasul Allah.’ Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan risalah-Nya. Orang-orang yang berdosa itu akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan azab yang keras disebabkan tipu daya yang mereka lakukan.” (Surah Al-An’am: 124)

Dan dalam Tafsir Kabir dalam menafsirkan firman-Nya: “Dan apabila datang kepada mereka”, bahwa mereka ketika terlihat bagi mereka mukjizat yang jelas, selesai.

Dan Paus Alexander berkeyakinan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pemilik ilham, meskipun ilham tersebut menurutnya tidak wajib untuk diserahkan. Dalam jilid kelima dari bukunya yang bernama “Deniad Hei” terdapat kalimat ini: “Wahai Muhammad, sesungguhnya burung merpati berada di telingamu.” Dan saya mengutip kalimat ini dari jilid yang dicetak tahun 1897 dan tahun 1806 di London, tetapi dalam edisi pertama di halaman 267, dan dalam edisi kedua di halaman 303. Kemungkinan Paus menyandarkan ilham Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada burung merpati, karena ilham menurut orang Kristen terjadi melalui perantaraan Roh Kudus, dan telah turun Roh Kudus kepada Isa ‘alaihissalam setelah selesai dari pembaptisan dalam bentuk burung merpati, sebagaimana disebutkan dengan jelas dalam Bab Ketiga dari Injil Matius, maka ia mengira bahwa ilham Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam terjadi melalui perantaraan burung merpati.

Tuduhan Ketiga terkait dengan wanita, dan ini ada lima segi:

Pertama, bahwa kaum muslimin tidak diperbolehkan menikahi lebih dari empat istri, namun Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mencukupkan diri dengan itu bahkan mengambil sembilan untuk dirinya sendiri, dan menampakkan hukum Allah dalam haknya bahwa Allah memperbolehkannya untuk menikah dengan lebih dari empat.

Kedua, bahwa kaum muslimin wajib berlaku adil di antara istri-istri mereka, dan ia menampakkan hukum Allah dalam haknya bahwa keadilan ini tidak wajib baginya.

Ketiga, bahwa ia masuk ke rumah Zaid bin Haritsah radiyallahu ‘anhu, ketika tirai diangkat pandangannya jatuh pada Zainab binti Jahsy, istri Zaid radiyallahu ‘anhuma, maka ia tertarik padanya dan berkata “Subhanallah”. Ketika Zaid mengetahui perkara ini, ia menceraikannya lalu ia menikahinya, dan menampakkan bahwa Allah memperbolehkannya untuk menikah.

Keempat, bahwa ia bersendirian dengan Mariah Al-Qibtiyyah radiyallahu ‘anha di rumah Hafshah radiyallahu ‘anha pada hari gilirannya, maka Hafshah radiyallahu ‘anha marah, lalu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Aku haramkan Mariah atas diriku,” kemudian ia tidak mampu tetap pada pengharaman tersebut. Maka ia menampakkan bahwa Allah memperbolehkannya untuk membatalkan sumpah dengan membayar kafarat.

Kelima, bahwa diperbolehkan bagi para pengikutnya, jika salah seorang dari mereka meninggal, yang lain menikahi istrinya setelah habis masa iddahnya, dan ia menampakkan hukum Allah dalam haknya bahwa tidak diperbolehkan bagi siapapun menikahi istri dari istri-istrinya setelah kematiannya.

Dan kelima segi ini adalah segenap usaha mereka dalam tuduhan terkait wanita. Dan segi-segi ini seluruhnya atau sebagiannya terdapat dalam kebanyakan risalah mereka seperti Mizan Al-Haqq, Tahqiq Ad-Din Al-Haqq, Dafi’ Al-Buhtan, Dalail Itsbat Risalah Al-Masih, Dalail An-Nubuwwah, Radd Al-Laghw dan lain-lainnya. Dan saya akan memaparkan delapan perkara yang darinya akan terlihat jawaban atas seluruh segi-segi ini, maka saya katakan:

Perkara Pertama, bahwa menikahi lebih dari satu wanita adalah diperbolehkan dalam syariat-syariat terdahulu:

Karena Ibrahim ‘alaihissalam menikahi Sarah kemudian Hajar dalam kehidupan Sarah, dan ia adalah khalilullah (kekasih Allah), dan Allah mewahyukan kepadanya dan membimbingnya kepada perkara-perkara kebaikan. Seandainya pernikahan kedua tidak diperbolehkan, tentu Allah tidak membiarkannya tetap demikian bahkan memerintahkannya untuk membatalkannya dan mengharamkannya. Dan karena Yakub ‘alaihissalam menikahi empat wanita: Lia, Rahel, Bilhah, dan Zilpah. Dua yang pertama adalah dua putri Laban pamannya, dan dua yang terakhir adalah dua budak. Dan mengumpulkan dua saudara perempuan adalah haram qath’i dalam syariat Musa ‘alaihissalam, sebagaimana telah engkau ketahui dalam Bab Ketiga. Seandainya menikahi lebih dari satu wanita adalah haram, tentu mengharuskan anak-anaknya dari istri-istri tersebut adalah anak-anak haram, Na’udzubillah. Dan Allah mewahyukan kepadanya dan membimbingnya kepada perkara-perkara kebaikan, maka bagaimana mungkin terbayangkan bahwa Dia membimbingnya dalam perkara-perkara hina, dan tidak membimbingnya dalam perkara besar ini. Maka pembiaran Allah terhadap Yakub ‘alaihissalam atas pernikahan dengan keempat wanita tersebut terutama dua saudara perempuan adalah dalil yang jelas atas kebolehan pernikahan seperti ini dalam syariatnya.

Dan karena Gideon bin Yoas menikahi wanita-wanita yang banyak. Dalam Bab Kedelapan dari Kitab Hakim-hakim demikian: 30 “Dan ia memiliki tujuh puluh anak laki-laki yang keluar dari tulang sulbinya karena ia memiliki istri-istri yang banyak.” 31 “Dan gundiknya yang ada di Sikhem melahirkan baginya seorang anak laki-laki bernama Abimelek.” Dan kenabian-nya jelas dari Bab Keenam dan Ketujuh dari kitab tersebut, dan dari Bab Kesebelas dari Surat Ibrani. Dan karena Daud ‘alaihissalam menikahi wanita-wanita yang banyak. Ia menikahi pertama kali Mikhal putri Saul, dan mahar penggantinya adalah seratus kulup dari kulup orang-orang Filistin, dan Daud ‘alaihissalam memberikan kepadanya dua ratus kulup dari kulup mereka, maka Saul memberikan putrinya Mikhal kepada Daud ‘alaihissalam. Ayat ke dua puluh tujuh dari Bab Kedelapan belas dari Kitab Samuel Pertama demikian: “Maka berlakulah beberapa hari, lalu bangkitlah Daud dengan orang-orangnya dan membunuh dari orang-orang Filistin dua ratus orang laki-laki, dan Daud datang dengan kulup mereka kepada raja dan menyerahkannya kepada raja dengan sempurna agar ia menjadi menantunya, maka Saul memberikan Mikhal putrinya kepadanya sebagai istri.”

Dan orang-orang ateis mengejek mahar pengganti ini, dan mereka berkata: Apakah Saul ingin membuat gelang dari kulup-kulup ini dan memberikannya kepada putrinya sebagai mas kawin, ataukah tujuannya adalah sesuatu yang lain. Tetapi saya memotong pandangan dari ejekan mereka dan berkata: Ketika Daud ‘alaihissalam memberontak terhadap Saul, Saul memberikan Mikhal kepada Palti bin Lais yang berasal dari Galim, sebagaimana disebutkan dengan jelas di akhir Bab Dua puluh lima dari kitab tersebut. Dan Daud ‘alaihissalam menikahi enam wanita lain: Ahinoam orang Yizreel (1), Abigail (2), dan bersama keduanya putri Talmai raja Gesur (3), Hagit (4), Abital (5), dan Eglah (6) – sebagaimana disebutkan dengan jelas dalam Bab Ketiga dari Kitab Samuel Kedua. Dan dengan adanya enam wanita ini, kecintaan Mikhal tidak hilang dari hatinya yang mulia, meskipun ia berada di ranjang orang lain. Oleh karena itu ketika Saul terbunuh, Daud meminta dari Isyboset bin Saul istrinya Mikhal, dan berkata kepadanya: “Kembalikan kepadaku istriku Mikhal yang telah aku pinang dengan seratus kulup dari kulup orang-orang Filistin.” Maka Isyboset mengambilnya secara paksa dari Palti bin Lais dan mengirimnya kepada Daud, maka Palti ini datang menangis di belakangnya sampai Bahurim kemudian kembali, sebagaimana disebutkan dengan jelas dalam bab tersebut. Setelah Mikhal sampai kepada Daud ‘alaihissalam sekali lagi, ia menjadi istrinya, dan lengkaplah jumlah istri menjadi tujuh. Kemudian Daud mengambil wanita-wanita lain dan gundik-gundik yang tidak disebutkan jumlahnya dalam kitab-kitab suci mereka. Ayat ketiga belas dari Bab Kelima dari Kitab Samuel Kedua demikian: “Dan Daud mengambil lagi istri-istri dan gundik-gundik dari Yerusalem setelah ia datang dari Hebron, dan lahir bagi Daud lagi anak-anak laki-laki dan perempuan.”

Kemudian ia berzina dengan istri Uria dan membunuh suaminya dengan tipu daya, kemudian mengambilnya. Maka Allah menegurnya atas zina ini sebagaimana engkau telah ketahui di awal fasal ini. Dan Daud ‘alaihissalam, meskipun bersalah dalam zina dan pernikahan dengan wanita tersebut, namun ia tidak bermaksiat dalam menikahi sejumlah besar wanita lainnya, jika tidak tentu Allah menegurnya atas pernikahan mereka sebagaimana Dia menegurnya atas pernikahan dengan istri Uria. Allah bahkan menampakkan keridaan-Nya atas pernikahan ini, dan menisbahkan pemberian mereka kepada diri-Nya dan berkata: “Dan jika ini sedikit, Aku akan menambah seperti mereka dan seperti mereka.” Dan firman Allah ta’ala mengenai Daud ‘alaihissalam melalui lisan Nabi Natan ‘alaihissalam dalam ayat kedelapan dari Bab Kedua belas dari Kitab Samuel Kedua, dalam terjemahan Arab yang dicetak tahun 1822, tahun 1831, dan tahun 1844 di London berdasarkan edisi yang dicetak di Roma Agung tahun 1671 demikian: “Dan Aku telah memberikan kepadamu rumah tuanmu dan istri-istri tuanmu berbaring di pangkuanmu, dan Aku telah memberikan kepadamu kaum Israel dan Yehuda, dan jika ini sedikit maka Aku akan menambahkan seperti mereka dan seperti mereka.” Maka ucapan-Nya “telah memberikan” dalam bentuk orang pertama di dua tempat, dan ucapan-Nya “jika ini sedikit maka Aku akan menambahkan seperti mereka dan seperti mereka” menunjukkan apa yang saya katakan. Dan dalam terjemahan Arab yang dicetak tahun 1811, kalimat terakhir demikian: “Maka jika padamu ini sedikit, seharusnya kamu berkata maka Aku akan menambah seperti mereka dan seperti mereka.” Dan ia menikah di akhir usianya dengan seorang gadis perawan lain bernama Abisag orang Sunem yang sangat cantik, sebagaimana disebutkan dengan jelas dalam Bab Pertama dari Kitab Raja-raja Pertama.

Dan karena Sulaiman ‘alaihissalam menikahi seribu wanita, tujuh ratus dari mereka adalah merdeka dari putri-putri para sultan dan tiga ratus budak. Dan ia murtad karena godaan mereka di akhir usianya dan membangun kuil-kuil untuk berhala-berhala, sebagaimana disebutkan dengan jelas dalam Bab Kesebelas dari Kitab Raja-raja Pertama.

Dan tidak dipahami dari satu tempat pun dari tempat-tempat dalam Taurat, keharaman menikahi lebih dari satu wanita. Dan seandainya itu haram, tentu Musa ‘alaihissalam menyebutkan dengan jelas keharamannya, sebagaimana ia menyebutkan dengan jelas berbagai hal yang haram lainnya dan menekankan dalam menampakkan pengharamannya. Bahkan kebolehannya dipahami dari beberapa tempat. Karena engkau telah mengetahui dalam jawaban tuduhan pertama bahwa para gadis yang ada dari harta rampasan orang Midian adalah tiga puluh dua ribu dan dibagikan kepada Bani Israil, baik mereka yang memiliki istri maupun yang tidak memilikinya, dan tidak terdapat di dalamnya pengkhususan bagi orang bujangan.

Dan dalam Bab Dua puluh satu dari Kitab Ulangan demikian: 10 “Dan apabila kamu keluar untuk berperang dengan musuh-musuhmu dan Tuhan Allahmu menyerahkan mereka ke tanganmu dan kamu menawan mereka,” 11 “dan kamu melihat di antara para tawanan seorang wanita yang cantik dan kamu mencintainya, dan kamu ingin mengambilnya sebagai istrimu,” 12 “maka masukkanlah ia ke rumahmu dan ia akan mencukur rambutnya dan memotong kuku-kukunya,” 13 “dan ia akan melepaskan pakaian yang ia kenakan ketika ditawan dan ia akan duduk di rumahmu dan menangisi ayah dan ibunya selama satu bulan, kemudian kamu masuk kepadanya dan tidur bersamanya dan ia akan menjadi istrimu,” 14 “maka jika setelah itu jiwamu tidak menyukainya, lepaskanlah ia dengan bebas dan kamu tidak dapat menjualnya dengan harga dan tidak boleh memaksanya karena kamu telah menghinakannya,” 15 “Dan jika seorang laki-laki memiliki dua istri, yang satu dicintai dan yang lain dibenci, dan keduanya memiliki anak-anak laki-laki darinya dan anak sulung adalah dari yang dibenci,” 16 “dan ia ingin membagi rezekinya di antara anak-anaknya, maka ia tidak dapat menjadikan anak dari yang dicintai sebagai anak sulung dan mendahulukannya atas anak dari yang dibenci,” 17 “tetapi ia harus mengakui anak dari yang dibenci bahwa dialah anak sulung dan memberikan kepadanya dari semua yang ia miliki dua kali lipat karena dialah anak pertamanya dan oleh karena itu hak kesulungan wajib.” Maka ucapan-Nya “dan kamu melihat di antara para tawanan” dan seterusnya, tidak khusus bagi orang yang tidak memiliki istri bahkan lebih umum, baik ia memiliki istri atau tidak memilikinya, dan tidak terdapat di dalamnya penyebutan dengan jelas juga bahwa hukum ini khusus untuk satu wanita tawanan saja. Bahkan yang jelas adalah bahwa jika orang yang diajak bicara melihat lebih dari satu, dan ia ingin mengambil mereka sebagai istri-istri, itu diperbolehkan baginya. Maka diperbolehkan bagi setiap orang Israel mengambil istri-istri yang banyak. Dan petunjuk dari ucapan-Nya “Dan jika seorang laki-laki memiliki dua istri, yang satu dicintai dan yang lain dibenci” dan seterusnya terhadap apa yang kami klaim adalah jelas dan tidak memerlukan penjelasan. Maka terbukti bahwa banyaknya istri tidak diharamkan dalam syariat Musa, oleh karena itu Gideon, Daud, dan lainnya dari orang-orang saleh umat Musa mengambil istri-istri banyak.

Perkara Kedua, yang benar dalam kisah Zainab radiyallahu ‘anha adalah bahwa ia adalah putri bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ia berada di sisi maula-nya Zaid bin Haritsah radiyallahu ‘anhu, kemudian Zaid menceraikannya, dan ketika masa iddahnya telah habis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahinya.

Dan saya mengutip beberapa ayat dari Surah Al-Ahzab yang berkaitan dengan kisah ini beserta penjelasan dari Tafsir Kabir, dan ini demikian: “Dan (ingatlah) ketika kamu berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah” yaitu Zaid, Allah telah memberi nikmat kepadanya dengan Islam “dan telah kamu beri nikmat kepadanya” dengan pembebasan dan kemerdekaan “‘Tahanlah terus istrimu”. Zaid berniat menceraikan Zainab maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: Tahanlah, yaitu jangan ceraikan dia “dan bertakwalah kepada Allah”, dikatakan dalam hal talak dan dikatakan dalam hal keluhan dari Zainab karena sesungguhnya Zaid berkata tentangnya bahwa ia sombong kepadanya karena nasab dan ketidaksetaraan “padahal kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya”, yaitu bahwa engkau ingin menikahi Zainab “dan kamu takut kepada manusia”, yaitu mereka akan berkata ia mengambil istri orang lain atau anak “padahal Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti.” (Surah Al-Ahzab: 37) Bukan isyarat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam takut kepada manusia dan tidak takut kepada Allah, tetapi maknanya adalah Allah lebih berhak untuk engkau takuti Dia sendiri dan tidak takut kepada siapapun selain-Nya, sedangkan engkau takut kepada-Nya dan takut pula kepada manusia, maka jadikanlah ketakutan hanya untuk-Nya saja sebagaimana Allah ta’ala berfirman: “Orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah dan mereka takut kepada-Nya dan mereka tidak takut kepada seorangpun kecuali kepada Allah.” Kemudian Allah ta’ala berfirman: “Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan kamu dengan dia”, yaitu ketika Zaid menceraikannya dan masa iddahnya telah habis. Dan itu karena istri selama masih dalam nikah suami, ia memenuhi kebutuhannya, dan ia memerlukan kepadanya maka belum selesai keperluannya terhadapnya secara sempurna dan belum merasa cukup. Demikian pula jika ia dalam masa iddah, masih ada hubungan dengannya karena kemungkinan rahim terisi, maka belum selesai keperluannya terhadapnya. Adapun jika ia telah dicerai dan masa iddahnya telah habis, ia merasa cukup darinya, dan tidak ada lagi hubungan dengannya maka selesailah keperluan terhadapnya. Dan ini sesuai dengan apa yang ada dalam syariat karena sesungguhnya menikahi istri orang lain atau wanita yang dalam iddah tidak diperbolehkan, maka oleh karena itu difirmankan: ketika telah mengakhiri.

Demikian pula firman-Nya: “supaya tidak ada keberatan atas orang-orang mukmin untuk (menikahi) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya terhadap istrinya”, yaitu apabila mereka telah menceraikan mereka dan masa iddah mereka telah habis. Dan di dalamnya ada isyarat bahwa pernikahan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah untuk memenuhi syahwat Nabi ‘alaihissalam tetapi untuk menjelaskan syariat dengan perbuatannya, karena sesungguhnya syariat dapat dipelajari dari perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. “Dan adalah ketetapan Allah pasti terlaksana,” yaitu pasti yang telah Dia tetapkan akan terjadi. Kemudian dijelaskan bahwa pernikahannya ‘alaihissalam dengannya, meskipun ia adalah penjelasan syariat yang mengandung manfaat, adalah bebas dari mafsadat (keburukan), selesai ucapannya dengan lafaznya.

Maka jelaslah bahwa Zainab radiyallahu ‘anha adalah sombong kepada Zaid karena nasab dan ketidaksetaraan, dan perkara ini adalah sebab ketiadaan kecintaan di antara keduanya, maka Zaid radiyallahu ‘anhu ingin menceraikannya, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencegahnya, tetapi pada akhirnya ia menceraikannya. Ketika masa iddahnya habis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahinya untuk menjelaskan syariat, bukan untuk memenuhi syahwat. Dan sebelum turunnya hukum, ia menyembunyikan perkara ini karena kebiasaan orang Arab, dan tidak ada masalah dalam hal itu sebagaimana akan engkau ketahui dalam Perkara Ketiga, insya Allah ta’ala. Dan riwayat yang terdapat dalam Al-Baidhawi adalah lemah menurut para ahli hadits yang teliti, sebagaimana disebutkan dengan jelas olehnya, seorang ahli hadits yang teliti, Syaikh Abdul Haq Ad-Dihlawi dalam sebagian karya-karyanya. Dan dalam Syarh Al-Mawaqif: “Dan apa yang dikatakan bahwa ia mencintainya ketika melihatnya, maka tidak wajib menjaga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari hal seperti itu,” selesai.

Perkara Ketiga, bahwa perkara-perkara syariat tidak wajib sama dalam semua syariat, atau sesuai dengan kebiasaan kaum dan pendapat mereka. Adapun yang pertama maka engkau telah mengetahui dengan sangat jelas dalam Bab Ketiga, dan engkau telah mengetahui di dalamnya bahwa Sarah istri Ibrahim ‘alaihissalam adalah saudara kandung perempuannya secara terang-terangan, dan bahwa Yakub ‘alaihissalam mengumpulkan dua saudara perempuan, dan bahwa Imran ayah Musa ‘alaihissalam menikahi bibinya, dan ketiga pernikahan ini diharamkan dalam syariat Musa, Isa, dan Muhammad, dan dalam tingkatan zina, terutama nikah dengan saudara kandung perempuan dan bibi. Dan pernikahan-pernikahan ini adalah yang terburuk dari hal-hal buruk menurut ulama orang-orang musyrik Hindu, maka mereka mencela dengan celaan yang keras dan mengejek mereka yang menikah ini dengan sejelek-jeleknya ejekan, dan menisbahkan anak-anak mereka kepada jenis zina yang paling keras.

Dan dalam pasal kelima dari Injil Lukas demikian: 29 “Dan orang-orang yang bersandar bersama dia adalah orang banyak dari pemungut cukai dan yang lain-lain” 30 “Maka bersungut-sungutlah ahli-ahli kitab mereka dan orang-orang Farisi kepada murid-muridnya dengan berkata: Mengapa kamu makan dan minum dengan pemungut cukai dan orang-orang berdosa” 33 “Dan mereka berkata: Mengapa murid-murid Yahya berpuasa banyak dan mempersembahkan permohonan dan demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-muridmu makan dan minum, maka ahli-ahli kitab dan orang-orang Farisi yang termasuk golongan terbesar dan termulia kaum Yahudi mencela murid-murid Nabi Isa alaihissalam bahwa mereka makan dan minum dengan orang-orang berdosa dan pemungut cukai dan bahwa mereka tidak berpuasa”.

Dan dalam pasal kelima belas dari Injil Lukas demikian: 1 “Dan semua pemungut cukai dan orang-orang berdosa mendekat kepadanya untuk mendengarkan dia” 2 “Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli kitab dengan berkata: Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama mereka” maka orang-orang Farisi mencela Nabi Isa alaihissalam bahwa dia makan dengan orang-orang berdosa dan menerima mereka.

Dan dalam pasal kesebelas dari Kitab Perbuatan Rasul-rasul: 2 “Dan ketika Petrus naik ke Yerusalem, orang-orang dari golongan sunat membantahnya” 3 “Dengan berkata: Sesungguhnya engkau masuk kepada orang-orang yang berkulup dan makan bersama mereka”.

Dan dalam pasal keenam dari Injil Markus demikian: 1 “Dan berkumpullah kepadanya orang-orang Farisi dan sebagian dari ahli-ahli kitab yang datang dari Yerusalem” 2 “Dan ketika mereka melihat sebagian dari murid-muridnya makan roti dengan tangan yang najis yaitu tidak dibasuh, mereka mencela” 3 “Karena orang-orang Farisi dan semua orang Yahudi jika mereka tidak membasuh tangan mereka dengan teliti tidak makan, dengan berpegang teguh pada tradisi para tua-tua” 4 “Dan dari pasar jika mereka tidak mandi tidak makan, dan hal-hal lain yang banyak yang mereka terima untuk dipegang teguh dari membasuh cawan dan kendi, dan bejana tembaga, dan tempat tidur” 5 “Kemudian orang-orang Farisi dan ahli-ahli kitab bertanya kepadanya: Mengapa murid-muridmu tidak berjalan menurut tradisi para tua-tua tetapi makan roti dengan tangan yang tidak dibasuh”. Dan dalam agama Brahmana India, dan selain mereka dari kaum-kaum musyrikin India, ada ketegasan-ketegasan yang sangat besar, dan menurut mereka jika salah seorang dari mereka makan dengan orang Islam atau Yahudi dan Nasrani keluar dari agamanya, dan menikahi istri anak angkat setelah dicerai, adalah jelek menurut musyrikin Arab. Dan ketika Zaid bin Haritsah radiallahu anhu adalah anak angkat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, maka Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam juga takut pada awalnya dari celaan orang-orang awam musyrikin dalam menikahi Zainab radiallahu anha, maka ketika Allah memerintahkan dia, dia menikahinya untuk menjelaskan syariat, dan tidak peduli dengan adat istiadat musyrikin.

(Perkara keempat) bahwa para pencela dari ulama Protestan, tidak malu dan tidak melihat kepada barang dagangan kitab-kitab suci mereka dari perselisihan-perselisihan, dan kesalahan-kesalahan, dan hukum-hukum yang telah diketahui sebagiannya dalam Bab Pertama, dan Pasal Kedua dan Ketiga dari Bab Kelima. Dan dari dosa-dosa para nabi dan keluarga mereka dan sahabat-sahabat mereka yang telah engkau ketahui di awal pasal ini. Dan saya ingin tidak meninggalkan tempat ini juga kosong dari menyebut beberapa perkara yang tercantum dalam Taurat, walaupun telah diperoleh bagi yang melihat pengetahuan tentang perkara-perkara yang banyak pada yang telah lalu:

1 – Dalam pasal ketiga puluh dari Kitab Kejadian demikian: 37 “Maka Yakub mengambil tongkat-tongkat yang hijau dari pohon hawar, dan badam, dan dari pohon platanus, dan mengupas putihnya sehingga hijaunya tampak padanya maka tampaklah tongkat-tongkat yang dikupas itu berbelang-belang dan putih” 38 “Dan ditancapkan tongkat-tongkat itu di tempat-tempat minum air supaya apabila datang kambing domba untuk minum, kambing domba itu birahi melihat tongkat-tongkat itu, dan dalam melihatnya mengandung” 39 “Dan terjadilah bahwa dalam panas birahi, domba-domba betina melihat tongkat-tongkat itu, dan melahirkan anak yang berbelang-belang dan berbintik-bintik berlainan warna” 40 “Dan Yakub memisahkan kawanan itu, dan menaruh ranting-ranting itu di tempat-tempat minum di hadapan domba-domba jantan, maka yang putih dan yang hitam semuanya untuk Laban, dan sisanya untuk Yakub, dan kawanan-kawanan itu terpisah satu sama lain” 41 “Maka terjadilah pada setiap tahun apa yang mengandung dari kambing domba pertama kali, Yakub meletakkan ranting-ranting di hadapan kambing domba di tempat-tempat minum supaya kambing domba itu birahi melihat tongkat-tongkat itu” 42 “Dan apa yang mengandung darinya terakhir tidak meletakkannya, maka jadilah anak kambing domba yang terakhir untuk Laban, dan yang pertama untuk Yakub” 43 “Maka menjadi kayalah orang itu sangat-sangat, dan menjadi baginya hewan-hewan ternak yang banyak, dan budak-budak perempuan, dan budak-budak laki-laki, dan unta, dan keledai”.

Dan ini juga aneh, karena anak-anak menurut kebiasaan yang berjalan, kebanyakan adalah serupa warna-warna asal-usul mereka, adapun kenyataan mereka serupa dengan apa yang mereka lihat dari tongkat-tongkat dan selainnya, maka tidak akan dibayangkan seorang pun dari orang-orang berakal sama sekali, jika tidak, maka lazim bahwa anak-anak yang dilahirkan di musim semi semuanya hijau.

2- Dalam pasal ketiga belas dari Kitab Imamat demikian: 46 “Dan jika ada pada pakaian atau pada kain penyakit kusta baik kain itu dari wol atau dari linen” 47 “Pada lungsin atau pada pakan atau pada kulit atau pada hasil kulit” 48 “Maka jika penyakit itu putih atau merah pada pakaian atau pada kulit pada lungsin atau pada pakan, atau pada semua kulit-kulit hasil kulit maka itu adalah penyakit kusta maka hendaklah memperlihatkannya” 49 “Maka hendaklah imam melihat kepada penyakit itu dan mengurung imam itu tujuh hari” 50 “Dan melihat kepadanya pada hari ketujuh maka jika dilihatnya ia telah berjalan pada pakaian atau pada lungsin atau pakan atau pada kulit atau pada semua kulit yang dibuat untuk pekerjaan maka itu adalah penyakit kusta yang pahit dan ia najis” 51 “Maka hendaklah imam membakar pakaian atau lungsin atau gulungan wol atau linen atau semua kulit dari kulit yang ada padanya penyakit karena sesungguhnya itu kusta maka hendaklah membakarnya dengan api” 52 “Dan jika imam melihat bahwa penyakit itu tidak menyebar pada kain atau pada lungsin atau pada pakan atau pada semua kulit dari kulit-kulit” 53 “Maka hendaklah imam memerintahkan maka hendaklah dicuci apa yang padanya penyakit itu, dan mengurung imam itu tujuh hari yang lain” 54 “Dan imam melihat kepada penyakit itu setelah mereka mencucinya maka jika tidak berubah warnanya, dan penyakit itu tidak berubah maka sesungguhnya itu buruk, bakarlah ia dengan api karena sesungguhnya itu penyakit pada bagian depannya atau pada bagian belakangnya” 55 “Dan jika imam melihat bahwa ia telah membaik setelah dicuci maka hendaklah imam memerintahkan maka hendaklah disobek dari pakaian atau dari kulit atau dari lungsin atau dari pakan” 56 “Maka jika dilihat juga pada pakaian atau pada lungsin atau pada pakan atau pada semua kulit-kulit hasil kulit semua yang digunakan dari kulit-kulit, maka buanglah ia ke dalam api karena sesungguhnya penyakit itu telah banyak padanya” 57 “Dan semua pakaian atau lungsin atau pakan atau kulit yang hilang darinya jika dicuci, maka hendaklah dicuci dua kali maka ia menjadi suci” 58 “Inilah hukum kusta pada pakaian wol atau linen atau lungsin atau pakan atau semua kulit-kulit hasil kulit untuk menyucikannya atau menajiskannya”. Maka lihatlah kepada hukum-hukum ini karena sesungguhnya ia buah-buah khayalan, pantaskah membakar kulit-kulit dan pakaian-pakaian dengan waswas-waswas seperti ini.

3- Dalam pasal keempat belas dari Kitab Imamat demikian: 34 “Apabila kamu masuk tanah Kanaan yang Aku berikan kepadamu sebagai warisan jika ada penyakit kusta di rumah” 35 “Hendaklah pemilik rumah memberitahu imam dan berkata kepadanya: Sesungguhnya tampak di rumahku penyakit seperti kusta” 36 “Maka imam memerintahkan mereka maka hendaklah mengosongkan rumah sebelum imam masuk rumah untuk melihat kepadanya supaya tidak menjadi najis semua yang ada di rumah kemudian masuklah imam untuk melihat penyakit rumah itu” 37 “Maka jika penyakit itu pada dinding-dinding rumah berupa sisik-sisik kuning atau merah dan penampakannya lebih gelap dari dinding” 38 “Maka hendaklah imam keluar ke luar dari rumah, dan menutup pintunya, dan mengurung rumah itu tujuh hari” 39 “Kemudian kembali pada hari ketujuh maka melihat, maka jika dilihatnya penyakit itu telah menyebar di dinding-dinding rumah” 40 “Maka hendaklah imam memerintahkan dengan batu-batu yang padanya penyakit itu maka hendaklah dicabut, dan dibuang ke luar dari kampung di tempat yang najis” 41 “Dan hendaklah dikupas rumah itu dari dalam dengan berkeliling, dan hendaklah dibuang tanah yang dikupas ke luar dari kampung di tempat yang najis” 42 “Hendaklah dimasukkan batu-batu yang lain di tempat batu-batu itu, dan hendaklah diambil tanah selain itu dan dicat dengannya dan diplester” 43 “Maka jika penyakit itu menyebar, dan banyak di rumah setelah rumah itu dikupas dan diplester” 44 “Maka hendaklah imam masuk dan melihat jika penyakit itu telah menyebar di rumah, maka hendaklah diketahui bahwa di rumah itu ada kusta yang pahit dan ia najis” 45 “Dan pada saat itu juga hendaklah mereka merobohkannya, dan membuang batu-batunya, dan kayunya, dan plesternya seluruhnya ke luar dari kampung di tempat yang najis” 46 “Dan barangsiapa masuk rumah itu dan ia sedang dikurung maka ia menjadi najis sampai malam” 47 “Dan barangsiapa tidur di dalamnya atau makan di dalamnya sesuatu maka hendaklah mencuci pakaiannya” 48 “Dan jika imam masuk, dan melihat kusta tidak menyebar di rumah setelah diplester kedua kalinya maka hendaklah imam menyucikannya karena sesungguhnya ia telah sembuh dari penyakitnya”.

Maka hukum-hukum ini juga dari buah-buah khayalan, apakah dirobohkan rumah-rumah dengan khayalan-khayalan seperti ini, yang lebih lemah dari sarang laba-laba, apakah dipercaya oleh orang-orang berakal Eropa bahwa kain, atau kulit, atau rumah, itu berkusta yang bisa dibakar atau dirobohkan.

4- Dalam pasal kelima belas dari Kitab Imamat demikian: 12 “Dan setiap bejana dari tanah liat yang disentuhnya oleh orang yang menetes benihnya maka hendaklah dipecahkan, dan jika bejana dari kayu atau tembaga maka hendaklah dicuci dengan air” 16 “Dan siapa saja laki-laki yang junub atau keluar darinya junub hendaklah mencuci tubuhnya semuanya dengan air, dan menjadi najis sampai malam” 23 “Dan barangsiapa menyentuh kain yang diduduki oleh seorang perempuan, dan ia sedang haid hendaklah mencuci pakaiannya, dan mandi dengan air, dan menjadi najis sampai malam” 24 “Dan jika berbaring bersamanya seorang laki-laki maka mengenainya dari haidnya maka sesungguhnya ia menjadi junub tujuh hari, dan semua tempat tidur yang ditiduri maka sesungguhnya ia menjadi najis”.

Maka pada hukum pertama berkenaan dengan bejana tanah liat adalah menyia-nyiakan harta, dan jelas bahwa tidak menular sesuatu dengan hanya menyentuhnya dan walaupun dibayangkan menularnya sesuatu padanya, maka mengapa tidak cukup padanya dengan mencucinya dengan air, sebagaimana dicukupkan pada bejana kayu, dan tembaga. Dan pada hukum kedua apa makna ia najis sampai malam setelah mencuci tubuh semuanya dengan air. Dan pada hukum ketiga juga ada permasalahan karena jelas bahwa tidak menular sesuatu dengan hanya menyentuh kain, yang diduduki oleh perempuan yang haid di tubuh yang menyentuh, dan jika dibayangkan menularnya sesuatu, adalah cukup membasuh anggota yang dengannya menyentuh kain itu, dan jika dibayangkan menularnya sesuatu dengan hanya menyentuh ke seluruh tubuhnya yang lain, maka apa makna ia najis sampai malam, setelah mencuci pakaian-pakaian, dan tubuh semuanya, dan yang aneh bahwa laki-laki jika berjimak, atau mimpi basah, dan menjadi junub, tidak wajib baginya membasuh pakaian-pakaian tetapi cukup membasuh tubuh. Dan di sini dengan hanya menyentuh kain wajib membasuh pakaian-pakaian juga. Dan hukum keempat lebih aneh dari yang tiga karena sesungguhnya laki-laki dengan hanya terkena sesuatu dari haid dengan apa menjadi hukumnya hukum perempuan haid, maka sebagaimana dia menjadi najis sampai tujuh hari maka dia juga menjadi najis sampai tujuh hari, dan dalam hukum-hukum perempuan haid dan yang istihadhah juga, ada ketegasan-ketegasan yang aneh yang disebutkan dalam pasal ini. Dan dengan melihat hukum-hukum ini kita dapati orang-orang Nasrani semuanya adalah orang-orang yang paling najis karena sesungguhnya mereka tidak memperhatikannya sama sekali.

5- Dalam pasal keenam belas dari Kitab Imamat demikian: 7 “Kemudian hendaklah mengambil dua ekor kambing jantan muda dan mendirikannya di hadapan Tuhan yang disembelih di pintu kemah waktu” 8 “Dan hendaklah mengundi atas keduanya dua undian, satu undian untuk Tuhan dan undian yang lain untuk Azazil” 9 “Dan hendaklah Harun mendekatkan kambing jantan muda yang terkena undiannya untuk Tuhan dan menjadikannya korban sebagai ganti dosa” 10 “Dan kambing jantan muda yang jatuh undian Azazil hendaklah berdiri hidup di hadapan Tuhan untuk memohon ampun atasnya dan melepaskannya untuk Azazil ke padang pasir”.

Dan hukum ini juga aneh, dan apa makna korban untuk Azazil dan melepaskannya ke padang pasir, dan tidak ada keraguan bahwa itu untuk kurban bagi selain Allah, dan saya melihat musyrikin India sesungguhnya mereka melepaskan lembu-lembu jantan atas nama-nama tuhan-tuhan mereka, tetapi mereka melepaskannya di pasar-pasar bukan di padang pasir sampai mati kelaparan dan kehausan.

6- Dalam pasal kedua puluh lima dari Kitab Ulangan demikian: 5 “Apabila tinggal bersaudara bersama-sama maka mati salah seorang dari mereka dan tidak ada baginya anak maka jangan menikah istri orang yang mati dengan laki-laki orang asing, tetapi hendaklah saudaranya mengambilnya dan menegakkan benih saudaranya” 6 “Dan anak sulung yang ada darinya maka hendaklah menamakannya dengan nama saudaranya supaya tidak batal namanya dari Israel” 7 “Maka jika tidak rela bahwa mengambil istri saudaranya yang menjadi haknya menurut hukum maka hendaklah perempuan itu pergi ke pintu kampung kepada para tua-tua dan berkata kepada mereka bahwa saudara suamiku tidak mau menegakkan nama saudaranya di Israel dan tidak mau mengambilku sebagai istri baginya” 8 “Dan pada saat itu juga hendaklah mereka memanggilnya dan bertanya kepadanya maka jika menjawab dan berkata: Aku tidak mau menikahinya” 9 “Maka hendaklah perempuan itu mendekat darinya di hadapan para tua-tua dan melepas sandal dari kakinya dan meludah di mukanya dan berkata: Demikianlah diperbuat kepada setiap laki-laki yang tidak memakmurkan rumah saudaranya” 10 “Dan hendaklah dinamakan namanya di Israel rumah yang terlepas sandalnya”.

Dan hukum ini juga aneh, karena istri orang yang mati, boleh jadi buta sebelah, atau buta, atau pincang, atau buruk rupa jelek wajah, atau tidak suci, atau cacat dengan cacat yang lain, maka bagaimana rela dengannya laki-laki itu, dan penegakan benih saudaranya ini juga aneh, dan yang lebih aneh darinya bahwa ulama Protestan meninggalkan hukum yang besar kedudukannya ini dan berkata: “Tidak halal bagi laki-laki bahwa menikahi istri saudaranya”. Sebagaimana disebutkan dengan jelas dalam tabel kekerabatan dan nasab, dari kitab doa umum, dan selainnya dari upacara-upacara gereja dan tata caranya, sesuai penggunaan gereja Inggris dan Irlandia yang dicetak tahun 1840 di Calcutta, padahal penjelasan perempuan-perempuan yang haram, tidak terdapat dalam Injil, dan mereka tidak mengambilnya kecuali dari Taurat.

(Perkara kelima) bahwa orang yang zuhud, jika sebagian besar perhatiannya adalah kesewenang-wenangan, ia menentang dengan keberatan-keberatan seperti keberatan-keberatan mereka terhadap Nabi Isa alaihissalam dan para Hawariyyin.

Dalam pasal ketujuh dari Injil Lukas demikian: 33 “Datang Yahya Pembaptis tidak makan roti dan tidak minum anggur maka kamu berkata padanya ada setan” 34 “Dan datang anak manusia makan dan minum maka kamu berkata: Inilah manusia yang doyan makan dan peminum anggur pecinta pemungut cukai dan orang-orang berdosa” 36 “Dan bertanya kepadanya seorang dari orang-orang Farisi supaya makan bersamanya maka masuklah ke rumah orang Farisi itu dan bersandar” 37 “Dan tiba-tiba seorang perempuan di kota itu adalah perempuan berdosa ketika dia mengetahui bahwa dia bersandar di rumah orang Farisi itu datang dengan botol minyak wangi” 38 “Dan berdiri di kaki-kakinya dari belakangnya dengan menangis dan mulai membasahi kaki-kakinya dengan air mata dan dia menyekanya dengan rambut kepalanya dan mencium kaki-kakinya dan mengurapi keduanya dengan minyak wangi” 39 “Maka ketika melihat orang Farisi yang mengundangnya itu berbicara dalam dirinya dengan berkata: Seandainya orang ini nabi tentulah dia mengetahui siapa perempuan ini yang menyentuhnya dan apa dia sesungguhnya dia perempuan berdosa” 44 “Kemudian berpaling kepada perempuan itu dan berkata kepada Simeon: Perhatikanlah perempuan ini sesungguhnya aku masuk rumahmu dan air untuk kakiku tidak engkau beri dan adapun dia maka sesungguhnya telah membasuh kakiku dengan air mata dan menyekanya dengan rambut kepalanya” 45 “Ciuman tidak engkau cium aku dan adapun dia maka sejak masuk tidak berhenti mencium kakiku” 46 “Dengan minyak tidak engkau urapi kepalaku dan adapun dia maka sesungguhnya telah mengurapi dengan minyak wangi kakiku” 47 “Oleh karena itu aku berkata: Sesungguhnya telah diampuni dosa-dosanya yang banyak karena sesungguhnya dia mencintai banyak dan yang diampuni baginya sedikit mencintai sedikit” 48 “Kemudian berkata kepadanya: Diampuni bagimu dosa-dosamu” 49 “Maka mulailah orang-orang yang bersandar bersamanya berkata dalam diri mereka: Siapa ini yang mengampuni dosa-dosa juga” 50 “Maka berkata kepada perempuan itu: Imanmu telah menyelamatkanmu pergilah dengan selamat”.

Dan dalam pasal kesebelas dari Injil Yohanes demikian: 1 “Dan adalah seorang manusia yang sakit dan dia adalah Lazarus dari Betania kampung Maria dan Marta saudaranya” 2 “Dan adalah Maria yang Lazarus saudaranya adalah dia yang mengurapi Tuhan dengan minyak wangi dan menyeka kaki-kakinya dengan rambutnya” 5 “Dan adalah Yesus mencintai Marta dan saudaranya dan Lazarus”.

Maka Maryam yang dikasihi ini adalah orang yang telah mengurapi dan mengusap kaki Nabi Isa alaihissalam.

Dan dalam Bab ketiga belas dari Injil Yohanes: 21 “Ketika Yesus mengatakan hal ini, ia gelisah dalam roh dan bersaksi serta berkata: Sesungguhnya, sesungguhnya Aku berkata kepadamu bahwa seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku” 22 “Maka para murid saling memandang satu sama lain, bingung tentang siapa yang dimaksudkan” 23 “Dan bersandar di pangkuan Yesus seorang dari murid-muridnya yang Yesus kasihi” 24 “Maka Simon Petrus memberi isyarat kepadanya untuk bertanya siapa gerangan yang dimaksudkan” 25 “Lalu ia bersandar pada dada Yesus dan berkata kepadanya: Ya Tuan, siapakah dia”. Dan disebutkan tentang murid itu, dalam ayat kedua puluh enam dari Bab kesembilan belas, dan ayat kedua dari Bab kedua puluh, dan ayat ketujuh dan ayat kedua puluh dari Bab kedua puluh satu dari Injil Yohanes, bahwa Yesus mengasihinya.

Dan dalam Bab kedelapan dari Injil Lukas demikian: 1 “Dan setelah itu ia berjalan di kota dan desa memberitakan dan menyampaikan kabar gembira tentang Kerajaan Allah dan bersamanya kedua belas murid” 2 “Dan beberapa perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat dan penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena yang telah keluar darinya tujuh setan” 3 “Dan Yohana istri Khuza bendahara Herodes dan Susana dan banyak perempuan lain yang melayani dia dengan harta mereka”. Dan jelas bahwa arak adalah ibu dari segala kejahatan dan keji di sisi Allah dan sebab kesesatan dan kekafiran dan kebinasaan, dan tidak pantas meminumnya bagi orang-orang yang bertakwa, dan menghilangkan akal adalah sifat khasnya yang melekat, baik yang meminumnya nabi atau bukan nabi, dan karena itu Allah mengharamkan meminumnya bagi Harun dan anak-anaknya jika mereka hendak memasuki kemah pertemuan untuk pelayanan dan menjadikannya sebab kematian dan menjadikan keharamannya perjanjian abadi dengan mereka.

Dalam Bab kesepuluh dari Kitab Imamat demikian: 8 “Dan Tuhan berkata kepada Harun” 9 “Jangan minum anggur atau sesuatu yang memabukkan lainnya, tidak kamu dan tidak pula anak-anakmu jika kamu hendak memasuki kemah pertemuan supaya kamu tidak mati, dan ini akan menjadi perjanjian bagimu selama-lamanya dalam angkatan-angkatanmu”. Dan karena itu malaikat Tuhan melarang istri Manoah dari meminum anggur dan meminum setiap yang memabukkan saat kehamilannya, agar anaknya menjadi dari orang-orang yang bertakwa, dan tidak menjalar keburukan minuman keras pada anak yang saleh ini, dan menekankan juga kepada suaminya, dalam bab ini dalam Bab ketiga belas dari Kitab Hakim-Hakim demikian: 4 “Jagalah dirimu dari meminum anggur dan yang memabukkan dan janganlah memakan sesuatu yang najis” 13 “Maka malaikat Tuhan berkata kepada Manoah: Hendaklah ia berhati-hati dari semua yang telah kukatakan kepada istrimu” 14 “Dan janganlah memakan sesuatu yang keluar dari pohon anggur dan janganlah meminum anggur atau yang memabukkan dan janganlah memakan sesuatu yang najis dan hendaklah ia menjaga semua yang telah kuperintahkan kepadanya dan melakukan apa yang telah kukatakan kepadanya”. Dan karena itu ketika malaikat memberi kabar gembira kepada Zakaria tentang kelahiran Nabi Yahya alaihimassalam, ia menjelaskan dari sifat-sifat ketakwaan Yahya bahwa ia tidak akan meminum anggur atau yang memabukkan lainnya. Ayat kelima belas dari Bab pertama dari Injil Lukas demikian: “Karena ia akan menjadi besar di hadapan Tuhan dan anggur serta yang memabukkan tidak akan diminumnya”. Dan karena itu Nabi Yesaya alaihissalam mencela peminum yang memabukkan dan bersaksi bahwa para nabi dan imam-imam tersesat karena meminum anggur dan minuman keras.

Ayat kedua puluh dua dari Bab kelima dari Kitab Yesaya demikian: “Celakalah bagi orang-orang kuat di antara kamu dalam meminum anggur dan orang-orang yang mampu mencampur minuman keras”.

Dan ayat ketujuh dari Bab kedua puluh delapan dari kitabnya demikian: “Dan mereka ini juga tidak mengerti karena anggur dan tersesat dari minuman keras, imam dan nabi tidak mengetahui karena minuman keras, tenggelam dalam anggur, tersesat dari minuman keras, tidak mengetahui penglihatan dan tidak memahami hukum”.

Dan sungguh engkau telah mengetahui di awal fasal ini bahwa Nabi Nuh alaihissalam meminum anggur dan hilang akalnya dan menjadi telanjang. Dan bahwa Nabi Luth alaihissalam meminum anggur dan hilang akalnya dan melakukan terhadap kedua putrinya apa yang dilakukannya, sehingga tidak terdengar yang semisalnya dari orang-orang yang tergila-gila meminumnya.

Dan dalam Bab ketiga belas dari Injil Yohanes demikian: “Bangun dari perjamuan makan dan menanggalkan pakaian-pakaiannya dan mengambil handuk dan mengikatkannya. Kemudian menuangkan air dalam bejana dan mulai membasuh kaki para murid dan mengeringkannya dengan handuk yang ia ikatkan”.

Dan berkata seorang yang cerdas, pintar, bijak, penunggang arena kefasihan, semoga Allah memperpanjang umurnya, sebagai sanggahan demikian: “Ini memberi kesan bahwa Nabi Isa alaihissalam pada waktu itu telah tersebar padanya pengaruh anggur sehingga ia tidak mengetahui apa yang dilakukannya, karena membasuh kaki tidak mengharuskan menanggalkan pakaian”. Berakhir ucapannya dengan lafaznya. Dan berkata Nabi Sulaiman yang bijaksana alaihissalam dalam mencela minuman dalam kitabnya Kitab Amsal dalam Bab kedua puluh tiga demikian: 31 “Janganlah memandang anggur ketika ia menguning dan ketika warnanya berkilau dalam gelas dan masuk dengan lezat” 32 “Dan pada akhir urusannya ia menyengat seperti ular dan seperti raja ular-ular ia menyebarkan racunnya”.

Demikian juga percampuran perempuan-perempuan muda asing dengan laki-laki pemuda adalah bencana yang keras tidak diharapkan terpelihara, terutama jika laki-laki itu adalah pemuda bujangan peminum anggur, dan perempuan itu pelacur yang dikasihi dan ia berkeliling bersamanya dan melayaninya dengan hartanya dan dirinya. Dan sungguh engkau telah mengetahui keadaan Nabi Daud alaihissalam bahwa satu pandangan kepada perempuan asing membawanya kepada apa yang membawanya, padahal ia banyak istri dan telah melewati lima puluh tahun. Demikian juga sungguh engkau telah mengetahui keadaan Nabi Sulaiman alaihissalam bahwa perempuan-perempuan telah menghilangkan akalnya dan menjadikannya murtad penyembah berhala di masa tuanya, setelah ia adalah nabi yang saleh di masa mudanya, dan setelah ia mendapat pengalaman sempurna dari keadaan ayahnya dan ibunya, dan dari keadaan saudaranya Amnon dan Tamar, dan dari keadaan pendahulunya seperti Ruben dan Yehuda, terutama dari keadaan dirinya sendiri. Ia menekankan dalam bab ini penekanan yang tegas dalam Kitab Amsal maka ia berkata:

Dalam Bab kelima: “Janganlah mendengarkan tipu daya perempuan” 3 “Karena bibir perempuan asing meneteskan madu dan tenggorokannya lebih lembut dari minyak” 4 “Kemudian akibatnya pahit seperti empedu dan tajam seperti pedang bermata dua” 5 “Kedua kakinya menuruni kematian dan langkahnya menuju ke neraka” 6 “Engkau berjalan di jalan ular karena jalannya sesat tidak terpahami” 7 “Dan sekarang hai anakku dengarkanlah aku dan janganlah menjauh dari perkataan mulutku, jadikanlah jalanmu jauh darinya dan janganlah mendekati pintu-pintu rumahnya” 20 “Mengapa engkau disesatkan hai anakku oleh perempuan asing dan memeluk perempuan lain”.

Kemudian ia berkata dalam Bab keenam: 24 “Untuk menjagamu dari perempuan yang rela dan dari kelembutan lidah orang asing, janganlah hatimu menginginkan kecantikannya dan janganlah engkau ditangkap oleh kedipan matanya” 26 “Karena harga pelacur adalah satu roti dan istri orang itu menangkap jiwa yang mulia” 27 “Dapatkah seorang laki-laki menyembunyikan api dalam pangkuannya dan pakaiannya tidak terbakar” 28 “Atau berjalan di atas bara dan kakinya tidak terbakar” 29 “Demikianlah orang yang masuk kepada perempuan asing, ia tidak bebas jika menyentuhnya”.

Kemudian ia berkata dalam Bab ketujuh: 24 “Maka sekarang hai anakku dengarkanlah aku dan perhatikanlah perkataan mulutku” 25 “Janganlah hatimu cenderung ke jalannya dan janganlah tersesat di jalan-jalannya” 26 “Karena ia telah menjatuhkan banyak orang yang terluka dan ia telah membunuh setiap orang yang kuat” 28 “Rumahnya adalah jalan-jalan neraka yang menurun ke ruang-ruang kematian”.

Kemudian ia berkata dalam Bab kedua puluh tiga: 33 “Matamu akan memandang perempuan-perempuan asing dan hatimu berbicara hal-hal yang bengkok” 34 “Dan engkau akan seperti orang yang tidur di tengah laut dan seperti juru mudi yang tidur saat kemudi berputar”. Demikian juga percampuran dengan anak-anak muda adalah bencana bahkan lebih menakutkan daripada percampuran dengan perempuan dan lebih keji sebagaimana disaksikan oleh orang-orang yang berpengalaman, dan jika engkau mengetahui ini, aku katakan bahwa Nabi Isa alaihissalam ketika ia adalah peminum anggur, hingga orang-orang sezamannya mengatakan bahwa ia pemakan dan peminum anggur, dan ia adalah pemuda bujangan, maka ketika Maria membasahi kakinya dengan air matanya dan tidak berhenti menciumnya sejak ia masuk, dan ia mengusapnya dengan rambut kepalanya, dan ia pada waktu itu adalah pelacur yang terkenal. Maka bagaimana Nabi Isa alaihissalam melupakan keadaan pendahulunya, Yehuda dan Nabi Daud dan Nabi Sulaiman alaihimassalam, dan bagaimana ia melupakan perkataan Nabi Sulaiman alaihissalam, dan bagaimana ia tidak mengetahui bahwa harganya adalah sebesar satu roti, dan bahwa orang yang menyentuhnya tidak akan bebas, sebagaimana tidak mungkin seorang laki-laki menyembunyikan api dalam pangkuannya dan pakaiannya tidak terbakar, atau berjalan di atas bara api dan kakinya tidak terbakar. Maka bagaimana ia membolehkan baginya hal-hal ini, hingga orang Farisi keberatan padanya, dan bagaimana dapat dibayangkan bahwa hal-hal ini bukan dari tuntutan nafsu-nafsu jiwa, dan bagaimana ia mengampuni kesalahan-kesalahannya dan dosa-dosanya atas perbuatan ini. Apakah hal-hal ini pantas bagi Zat Allah Yang Maha Adil lagi Maha Suci.

Dan karena itu berkata orang cerdas yang disebutkan sebelumnya: “Dan sungguh ia pada waktu itu adalah pelacur yang diperbolehkan, maka apakah pantas sekarang bagi salah seorang uskup Nasrani, jika ia menjadi tamu di rumah salah seorang kenalannya, bahwa ia mengizinkan perempuan buruk pelacur untuk membasuh kakinya di hadapan orang banyak, tanpa ia menunjukkan tanda-tanda taubat sebelumnya, tidak secara sembunyi-sembunyi dan tidak secara terang-terangan”. Berakhir ucapannya.

Dan ia mengasihi Maria, dan ia berkeliling bersama kedua belas muridnya dan bersama mereka perempuan-perempuan banyak yang melayaninya dengan harta mereka. Maka bagaimana dapat dibayangkan bahwa kaki mereka tidak tergelincir dengan percampuran yang keras ini, sebagaimana tergelincir kaki Ruben hingga ia berzina dengan istri ayahnya, dan kaki Yehuda hingga ia berzina dengan menantunya, dan kaki Nabi Daud alaihissalam hingga ia berzina dengan istri Uria, dan kaki Amnon hingga ia berzina dengan saudara perempuannya.

Dan karena itu berkata orang cerdas yang disebutkan sebelumnya: “Dan yang lebih aneh darinya adalah apa yang disebutkan Lukas bahwa Isa dan murid-muridnya berkeliling di desa-desa dan bersama mereka perempuan-perempuan, di antara mereka Maria ini yang urusannya terkenal dengan pelacuran dan zina, dan engkau mengetahui bahwa tidak mungkin bagi setiap orang di negeri-negeri Timur, dan terutama di desa-desa, untuk bermalam sendirian di tempat khusus. Maka pasti orang-orang saleh ini bermalam bersama perempuan-perempuan saleh itu bersama-sama”. Berakhir ucapannya dengan lafaznya.

Dan kemungkinan tergelincirnya kaki para hawari lebih kuat, karena mereka tidak sempurna dalam iman sebelum kenaikan Nabi Isa Almasih alaihissalam, sebagaimana diakui oleh ulama mereka. Maka tidak disangka bagi mereka perlindungan dari zina, tidakkah engkau melihat bahwa para uskup dan diakon dari golongan Katolik tidak menikah dan mengklaim bahwa urusan ini adalah kesucian, dan mereka melakukan apa yang tidak dilakukan oleh orang fasik kaya dari ahli dunia, seakan-akan gereja-gereja mereka adalah rumah-rumah pelacur-pelacur pezina.

Dalam halaman 144 dan 145 dari Kitab Tiga Belas Surat, dalam Surat kedua demikian: “Santo Bernardus berkata dalam khotbah nomor 66 tentang Kidung Agung: ‘Mereka mencabut dari gereja pernikahan yang terhormat dan tempat tidur yang tanpa najis maka mereka memenuhinya dengan zina di tempat-tempat tidur dengan laki-laki dan ibu-ibu dan saudara perempuan dan dengan segala jenis kenajisan’.

Dan Uskup Pelagius dari Silva di negeri Portugal tahun 1300 berkata: Semoga saja kaum klerikus tidak pernah bernazar kesucian, terutama klerikus Spanyol, karena anak-anak jemaat di sana jauh lebih banyak jumlahnya daripada anak-anak imam.

Dan Yohanes Uskup Salzburg di abad kelima belas menulis: ‘Bahwa ia menemukan pendeta-pendeta yang sedikit tidak terbiasa dengan kenajisan yang berlipat ganda dengan perempuan, dan bahwa biara-biara para biarawati kotor seperti rumah-rumah khusus untuk zina’. Berakhir ucapannya dengan lafaznya secara ringkas.

Dan kesaksian orang-orang terdahulu mereka ini cukup tentang perlindungan pendeta-pendeta ini yang mereka klaim, maka tidak perlu aku menambah pada ini, bahkan aku meninggalkan menyebut mereka dan aku katakan: seperti mereka adalah keadaan fakir-fakir musyrik India yang mengklaim perlindungan, dan mereka memahami pernikahan bahwa ia adalah aib yang paling keras bagi kemiskinan dan jalan mereka, dan mereka adalah orang-orang paling cabul dan paling fasik, tidak didapat bagi para pangeran yang fasik apa yang didapat bagi mereka.

Dan aku teringat sebuah kisah: bahwa salah seorang musafir ketika sampai ke sebuah desa dari desa-desa India, ia melihat seorang gadis remaja datang dari desa, maka ia bertanya kepadanya: Hai gadis, apakah engkau dari anak-anak desa atau dari menantunya? Maka gadis nakal ini menjawab: Wahai penanya, sesungguhnya aku dari anak-anak desa, tetapi aku lebih baik daripada menantunya dalam memenuhi syahwat, aku mendapat apa yang tidak didapat oleh salah seorang dari mereka dalam mimpi dan tidur. Maka orang-orang yang bertelanjang ini mempunyai bagian besar dari yang menikah, maka menurut orang-orang yang mengingkari adalah Nabi Isa alaihissalam tidak membutuhkan pernikahan sama sekali, dan murid-muridnya tidak membutuhkan baik pernikahan sama sekali atau banyak istri seperti para diakon dan pendeta dari golongan Katolik, dan seperti fakir-fakir musyrik India. Demikian juga kecintaan Nabi Isa alaihissalam kepada muridnya adalah tempat tuduhan di sisi orang-orang yang diuji dengan keburukan yang keji ini.

Dan karena itu berkata orang cerdas yang disebutkan sebelumnya, atas perkataan penulis Injil keempat yaitu, “maka ia bersandar pada dada Yesus”, demikian: “Seperti perempuan yang berusaha sesuatu dari kekasihnya maka ia bermanja-manja kepadanya”. Berakhir ucapannya dengan lafaznya.

Dan ketahuilah bahwa aku tidak menulis dalam urusan kelima ini, aku menulisnya sebagai sanggahan, jika tidak maka sesungguhnya aku berlepas diri dari semisalnya penjelasan-penjelasan ini. Dan aku tidak berkeyakinan sesuatu darinya tentang Nabi Isa alaihissalam dan tidak tentang para hawarinya yang mulia, sebagaimana aku nyatakan dalam pendahuluan kitab dan tempat-tempat yang banyak.

(Urusan Keenam) Dalam Tafsir Jalalain dalam Surah At-Tahrim demikian: “Dari iman adalah mengharamkan hamba sahaya”. Berakhir. Maka perkataan Nabi shallallahu alaihi wasallam “aku haramkan Mariyah atas diriku” adalah sumpah dengan makna ini.

(Urusan Ketujuh) Jika Nabi berkata: Aku tidak akan melakukan urusan ini kemudian melakukannya, karena ia adalah boleh dari asalnya, atau datang kepadanya hukum Allah, tidak dikatakan bahwa ia berdosa, bahkan dalam keadaan kedua jika ia tidak melakukannya ia akan menjadi durhaka sama sekali. Dan menurut mereka terdapat semisalnya tentang Allah dalam kitab-kitab Perjanjian Lama, apalagi tentang para nabi sebagaimana engkau ketahui dengan sangat jelas, dalam contoh-contoh bagian kedua dari Bab ketiga, dan dalam jawaban syubhat kelima dari Fasal keempat dari Bab kelima. Dan terdapat dalam Perjanjian Baru tentang Nabi Isa alaihissalam, dalam Bab kelima belas dari Injil Matius, bahwa seorang perempuan Kanaan memohon pertolongan untuk kesembuhan putrinya, maka Nabi Isa alaihissalam menolak, lalu ia menjawab dengan jawaban yang baik yang dipandang baik oleh Nabi Isa alaihissalam, dan ia berdoa untuk putrinya maka ia sembuh. Dan dalam Bab kedua dari Injil Yohanes bahwa ibu Nabi Isa alaihissalam meminta darinya dalam pesta pernikahan Kana di Galilea, agar ia mengubah air menjadi anggur, dan ia berkata: “Apa urusanku denganmu hai perempuan, belum tiba saatku”, kemudian ia mengubahnya.

PERKARA KEDELAPAN

Tidak mengapa jika para wali Allah dikhususkan dengan kekhususan-kekhususan tertentu. Tidakkah engkau melihat bahwa Harun dan anak-anaknya telah dikhususkan dengan banyak perkara, seperti pelayanan kemah kesaksian dan apa yang berkaitan dengannya, dan perkara-perkara ini tidak diperbolehkan bagi bani Lawi yang lain, apalagi bagi selain mereka dari bani Israel.

Jika engkau telah memahami delapan perkara tersebut, maka akan jelas bagimu jawaban atas tuduhan mereka dengan lima cara. Namun aku sangat heran dengan orang-orang yang membandel ini, bahwa jika mereka melihat dalam syariat orang lain suatu perkara yang tidak baik menurut pendapat mereka, mereka berkata bahwa perkara ini tidak mungkin datang dari sisi Allah Yang Maha Suci, Maha Bijaksana, dan Maha Adil, atau mereka berkata bahwa ini tidak layak dengan kedudukan kenabian. Namun jika ditemukan perkara yang lebih buruk darinya dalam syariat mereka, maka itu datang dari sisi Allah atau layak dengan kedudukan kenabian.

Perintah Allah kepada Yehezkiel alaihissalam untuk memikul dosa bani Israel dan bani Yehuda atas dirinya sendiri, dan untuk memakan roti yang dilumuri dengan kotoran manusia selama tiga ratus sembilan puluh hari. Demikian pula perintah Allah kepada Yesaya alaihissalam untuk berjalan dengan aurat besar terbuka dan telanjang di antara wanita dan laki-laki selama tiga tahun, padahal ia dalam keadaan berakal. Demikian pula perintah-Nya kepada Hosea untuk mengambil istri pezina dan anak-anak zina bagi dirinya, dan untuk jatuh cinta kepada wanita jahat yang dicintai suaminya. Semua ini menurut mereka adalah perkara-perkara dari sisi Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Suci, dan layak dengan kedudukan para nabi yang suci ini.

Namun pembolehan menikahi Zainab setelah perceraian dari suaminya dan selesainya masa iddahnya tidak mungkin datang dari sisi Allah, dan tidak layak dengan kedudukan kenabian Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Demikian pula tidak gugur dari derajat kenabian Yakub alaihissalam yang merupakan anak sulung Allah menurut nash Taurat, karena ia jatuh cinta kepada Rahel, melayani ayahnya selama empat belas tahun, mengambil empat istri, dan mengumpulkan dua saudara perempuan. Demikian pula tidak gugur darinya Daud, anak sulung Allah yang lain menurut nash Zabur, karena mengambil banyak istri dan banyak budak wanita, sebelum ia berzina dengan istri Uria. Bahkan semua wanita ini dengan pemberian dan keridhaan Allah, dan Daud alaihissalam layak untuk dikatakan Allah tentangnya: “Jika itu sedikit bagimu, seharusnya engkau berkata maka Aku akan menambah seperti mereka.” Dan tidak keluar teguran kepadanya tentang memperbanyak istri, melainkan karena ia berzina dengan istri orang lain, membunuh orang lain itu dengan tipu daya, dan mengambil wanita itu.

Demikian pula tidak gugur darinya Sulaiman alaihissalam, yang merupakan anak Allah menurut kesaksian kitab-kitab suci mereka, karena mengambil seribu wanita dari istri-istri dan budak-budak wanita, dan murtad di akhir umurnya serta menyembah berhala. Bahkan ia tetap dalam kenabian dan tiga kitabnya, yaitu Amsal, Pengkhotbah, dan Kidung Agung, adalah kitab-kitab ilahi. Demikian pula tidak gugur Luth darinya, karena berzina dengan dua putrinya. Demikian pula tidak gugur darinya anak tunggal Allah dan para rasulnya yang mulia, karena cinta kepada perbuatan keji, sebagian murid, dan berjalan-jalan dengan wanita-wanita di desa-desa negeri timur. Bahkan mereka juga tidak dituduh dengan sesuatu meskipun dengan pergaulan yang sangat erat ini dan karena mereka peminum khamr dan para pemuda.

Namun Muhammad shallallahu alaihi wasallam gugur dari derajat kenabian karena banyaknya istri, menikahi Zainab, dan menghalalkan budak wanitanya setelah mengharamkannya. Barangkali sumber perkara-perkara ini adalah bahwa Allah ketika merupakan Esa yang hakiki, tidak ada kebanyakan dalam Zat-Nya dengan cara apapun menurut umat Islam, maka Zat-Nya Yang Maha Suci tidak memuat perkara yang tidak sesuai. Sedangkan menurut mereka, ketika Zat-Nya mencakup tiga oknum yang masing-masing memiliki semua sifat ketuhanan, dan masing-masing berbeda dari yang lain dengan perbedaan hakiki, maka memuat perkara yang tidak sesuai. Karena perbedaan hakiki tidak mungkin terlepas dari kebanyakan, bahkan pasti mengharuskannya meskipun mereka tidak mengakuinya secara lahiriah, sebagaimana engkau ketahui dalam bab tiga puluh empat, dan tiga lebih banyak dari satu.

Maka barangkali tuhan mereka menurut sangkaan mereka lebih kuat dari tuhan umat Islam. Demikian pula ketika perlindungan dari dosa apapun, bahkan syirik dan penyembahan anak lembu dan berhala, zina, pencurian, dusta bahkan dalam menyampaikan wahyu dan dosa-dosa lainnya, bukan syarat untuk kenabian menurut mereka, maka wilayah kenabian menurut mereka lebih luas dari wilayahnya menurut umat Islam. Atau barangkali sumbernya adalah bahwa Yakub, Daud, Sulaiman, dan Isa ketika mereka adalah anak-anak Allah, maka mereka boleh berbuat di kerajaan ayah mereka apa yang mereka kehendaki, berbeda dengan Muhammad shallallahu alaihi wasallam, karena ia adalah hamba Allah anak hamba Allah, maka tidak boleh baginya berbuat di kerajaan pemilik dan tuannya apa yang ia kehendaki. Kami berlindung kepada Allah dari fanatisme yang batil dan sewenang-wenang, serta dari keras kepala dan tidak adil.

TUDUHAN KEEMPAT

Bahwa Muhammad shallallahu alaihi wasallam berdosa, dan setiap orang yang berdosa tidak sah menjadi pemberi syafaat bagi orang-orang berdosa lainnya. Adapun premis minor, karena terdapat:

Dalam Surah Al-Mu’min (Ghafir): “Maka bersabarlah, sesungguhnya janji Allah itu benar dan mohonlah ampun untuk dosamu dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.” (QS. Ghafir: 55)

Dan dalam Surah Muhammad: “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19)

Dan dalam Surah Al-Fath: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang.” (QS. Al-Fath: 1-2)

Dan dalam hadits: “Maka ampunilah bagiku apa yang telah aku lakukan dan apa yang akan aku lakukan, apa yang aku rahasiakan dan apa yang aku tampakkan, dan apa yang Engkau lebih mengetahuinya dariku. Engkau Yang Maha Mendahulukan dan Engkau Yang Maha Mengakhirkan, tidak ada tuhan selain Engkau.” Dan semacamnya dari hadits-hadits lain.

JAWABANNYA: Bahwa premis minor dan premis mayor keduanya tidak benar, maka hasilnya pasti dusta. Dan aku akan menyiapkan lima perkara untuk menjelaskan kebatilan keduanya:

PERKARA PERTAMA

Bahwa Allah adalah Rabb dan Pencipta, dan semua makhluk adalah yang diatur dan diciptakan. Maka semua yang keluar dari hadlirat Rabb Yang Pencipta terhadap hamba yang diatur dan diciptakan, berupa khitab, teguran, dan kemuliaan, adalah pada tempatnya dan sesuai dengan kepemilikan dan penciptaan. Demikian pula semua yang keluar dari para hamba berupa doa dan permohonan kepada-Nya, juga pada tempatnya, dan sesuai dengan penciptaan dan penghambaan. Para nabi adalah hamba-hamba Allah yang ikhlas, maka mereka lebih berhak daripada yang lain. Membawa kepada makna hakiki di setiap tempat, dari tempat-tempat semacam ini, dalam kalam Allah dan dalam doa-doa para nabi serta permohonan mereka, adalah kesalahan dan kesesatan. Bukti-buktinya banyak dalam kitab-kitab Perjanjian Lama dan Baru, terutama Zabur. Dan aku akan mengutip sebagian darinya sebagai contoh:

[1] Dalam bab kesepuluh dari Injil Markus, dan bab kedelapan belas dari Injil Lukas demikian: 17 “Dan ketika Ia sedang akan berangkat, datanglah seorang berlari dan menyembah-Nya, lalu bertanya kepada-Nya: ‘Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?’ 18 Jawab Yesus: ‘Mengapa kamu menyebut Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.'” Selesai dengan ungkapan Markus. Maka Isa alaihissalam mengakui bahwa aku bukan orang baik dan tidak ada yang baik kecuali Allah saja.

[2] Dalam Zabur kedua puluh dua demikian: 1 “Allahku, Allahku, lihatlah mengapa Engkau meninggalkan aku, menjauhkan keselamatanku dengan perkataan kebodohanku.” 2 “Allahku, pada siang hari aku berseru kepada-Mu tetapi Engkau tidak menjawabku, dan pada malam hari tetapi Engkau tidak mempedulikanku.” Dan karena ayat-ayat Zabur ini kembali kepada Isa alaihissalam menurut sangkaan ahli Trinitas, maka yang mengatakannya menurut mereka adalah Isa alaihissalam.

[3] Ayat keempat puluh enam dari bab kedua puluh tujuh dari Injil Matius demikian: “Dan kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: ‘Eli, Eli, lama sabakhtani?’ Artinya: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

[4] Dalam bab pertama dari Injil Markus demikian: 4 “Demikianlah Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan memberitakan baptisan tobat untuk pengampunan dosa.” 5 “Dan datanglah kepadanya seluruh penduduk Yudea dan Yerusalem dan mereka dibaptis olehnya di sungai Yordan sambil mengaku dosa mereka.” 9 “Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes.”

Dan baptisan ini adalah baptisan tobat untuk pengampunan dosa, sebagaimana Markus menyatakan dalam ayat keempat dan kelima. Dan ayat ketiga dari bab ketiga dari Injil Lukas demikian: “Lalu ia menjalani seluruh daerah Yordan dan menyerukan baptisan tobat untuk pengampunan dosa.” Dan dalam ayat kesebelas dari bab ketiga dari Injil Matius demikian: “Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan” dst. Dan dalam ayat kedua puluh empat dari bab ketiga belas dari Kisah Para Rasul demikian: “Sebelum kedatangan Yesus, Yohanes telah memberitakan baptisan tobat kepada seluruh bangsa Israel.” Dan ayat keempat dari bab kesembilan belas dari Kisah Para Rasul demikian: “Jawab Paulus: ‘Yohanes membaptis dengan baptisan tobat'” dst.

Maka semua ayat ini menunjukkan bahwa baptisan ini adalah baptisan tobat untuk pengampunan dosa. Jika pembaptisan Isa oleh Yahya alaihimassalam diterima, maka harus diterima pula pengakuannya terhadap dosa dan tobat darinya, karena hakikat baptisan ini tidak lain adalah itu.

Dan dalam bab keenam dari Injil Matius dalam doa yang diajarkan Isa alaihissalam kepada murid-muridnya demikian: “Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami. Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.”

Dan yang jelas bahwa Isa alaihissalam berdoa dengan doa yang ia ajarkan kepada murid-muridnya, dan tidak terbukti dari satu tempat pun dalam Injil bahwa ia tidak berdoa dengan doa ini. Dan engkau akan mengetahui dalam perkara kedua bahwa ia banyak berdoa, maka harus ia berdoa dengan “ampunilah kami akan kesalahan kami” berkali-kali hingga mencapai ribuan.

Dan perlindungan dari dosa, meskipun bukan dari syarat kenabian menurut ahli Trinitas, namun mereka mengklaimnya terhadap Isa alaihissalam dengan mempertimbangkan kemanusiaan juga. Dan Isa alaihissalam dengan pertimbangan ini juga menurut mereka adalah orang baik dan diterima oleh Allah, bukan ditinggalkan. Maka kalimat-kalimat ini:

[1] Mengapa kamu menyebut Aku baik, dst. [2] Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku. [3] Menjauhkan keselamatanku dengan perkataan kebodohanku. [4] Pada siang hari aku berseru kepada-Mu tetapi Engkau tidak menjawabku. [5] Kata-kata tobat dan pengakuan dosa saat pembaptisan. [6] Ampunilah kami akan kesalahan kami. Tidak dibawa kepada makna hakiki yang lahiriah menurut ahli Trinitas, karena jika tidak maka akan mengharuskan bahwa ia bukan orang baik, dan ditinggalkan oleh Allah jauh dari keselamatan karena perkataan kebodohan, tidak dikabulkan doanya, berdosa dan bersalah. Maka harus dikatakan bahwa permohonan-permohonan ini sesuai dengan penciptaan dan pengaturan dengan mempertimbangkan kemanusiaan.

Dan dalam Zabur kelima puluh tiga demikian: 3 “Allah memandang dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat apakah ada yang berakal atau yang mencari Allah.” 4 “Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.”

Dan dalam bab kelima puluh sembilan dari kitab Yesaya demikian: 9 “Sebab itu keadilan menjauh dari pada kami, dan kebenaran tidak menjumpai kami. Kami mengharapkan terang, tetapi lihat, yang ada adalah kegelapan, kami mengharapkan sinar, tetapi kami berjalan dalam gelap.” 12 “Karena pelanggaran kami banyak di hadapan-Mu dan dosa kami menjawab kami, karena kejahatan kami bersama kami dan kami mengetahui kesalahan kami.” 13 “Bahwa kami berbuat dosa dan berdusta terhadap Allah, dan berpaling ke belakang sehingga tidak berjalan mengikuti Allah kami, berbicara tentang kezaliman dan pelanggaran, mengandung dan berbicara dari hati dengan perkataan dusta.”

Dan dalam bab keenam puluh empat dari kitab Yesaya demikian: 6 “Dan kami sekalian menjadi seperti najis, dan segala amal saleh kami seperti kain kotor, dan kami sekalian menjadi layu seperti daun, dan kesalahan kami seperti angin menerbangkan kami.” 7 “Tidak ada yang berseru kepada nama-Mu dan bangkit memegang-Mu, Engkau menyembunyikan wajah-Mu dari kami dan membiarkan kami dalam kekuasaan kesalahan kami.” Dan tidak diragukan bahwa banyak orang saleh ada pada zaman Daud alaihissalam, seperti Nabi Natan dan lainnya. Jika kita anggap mereka tidak ma’shum menurut sangkaan ahli Trinitas, maka tidak diragukan bahwa mereka bukan yang dimaksud oleh ayat keempat dari Zabur yang disebutkan juga. Dan dalam ungkapan Yesaya alaihissalam terdapat shighat berbicara dengan orang lain, dan Yesaya serta nabi-nabi lain di zamannya dan orang-orang saleh di masanya, meskipun tidak ma’shum namun mereka bukan yang dimaksud dengan sifat-sifat yang disebutkan dalam dua ungkapan itu secara pasti juga. Maka ungkapan Zabur dan kedua ungkapan ini tidak dibawa kepada makna hakiki yang lahiriah, melainkan harus kembali kepada bahwa permohonan-permohonan itu sesuai dengan penghambaan. Demikian pula yang terdapat dalam bab kesembilan dari kitab Daniel, bab ketiga dan kelima dari Ratapan Yeremia, dan bab keempat dari Surat Petrus yang pertama.

PERKARA KEDUA

Bahwa perbuatan para nabi seringkali untuk mengajarkan umat, agar mereka mencontohnya. Dan mereka tidak membutuhkan perbuatan-perbuatan ini untuk diri mereka sendiri.

Dalam bab keempat dari Injil Matius, bahwa Isa alaihissalam berpuasa empat puluh hari atau empat puluh malam. Dan ayat ketiga puluh lima dari bab pertama dari Injil Markus demikian: “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” Dan ayat keenam belas dari bab kelima dari Injil Lukas demikian: “Pada waktu itu Yesus pergi ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.”

Dan karena penyatuan Almasih dengan Zat Allah menurut sangkaan ahli Trinitas, maka ia tidak membutuhkan beban-beban berat ini. Maka harus perbuatan-perbuatan ini untuk tujuan mengajar.

(Perkara Ketiga) bahwa lafal-lafal yang digunakan dalam kitab-kitab syariat, seperti salat, zakat, puasa, haji, nikah, talak, dan lain-lain, wajib diartikan menurut makna syariatnya selama tidak ada penghalang untuk itu. Dan lafal dosa dalam istilah syariat ini, apabila digunakan untuk para nabi, bermakna kekeliruan (zalah). Yaitu suatu istilah untuk menyebut bahwa seorang yang maksum bermaksud melakukan ibadah atau perkara yang mubah, namun tanpa sengaja dan tanpa disadari terjatuh dalam dosa karena berdekatan antara ibadah atau perkara mubah tersebut dengan dosa ini. Sebagaimana orang yang sedang berjalan, tujuannya adalah menempuh jalan, tetapi kakinya bisa tergelincir atau tersandung karena lumpur atau batu yang ada di jalan tersebut. Atau bermakna meninggalkan yang lebih utama.

(Perkara Keempat) bahwa terjadinya majaz (kiasan) dalam kalam Allah dan kalam para nabi sangatlah banyak, sebagaimana telah Anda ketahui dengan sangat jelas dalam pendahuluan Bab Keempat. Dan Anda juga telah mengetahui dalam jawaban syubhat keempat dari Pasal Keempat Bab Kelima, bahwa penghapusan mudhaf (kata yang diidhafahkan) banyak terjadi dalam kitab-kitab suci mereka.

(Perkara Kelima) bahwa doa terkadang dimaksudkan semata-mata sebagai ibadah, seperti dalam firman Allah Ta’ala: “Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui rasul-rasul-Mu” (Surah Ali Imran: 194), karena memberikan hal tersebut adalah wajib, namun demikian kita diperintahkan untuk memintanya. Seperti firman Allah Ta’ala: “Ya Tuhanku, berilah keputusan dengan benar” (Surah Al-Anbiya: 112), padahal kita mengetahui bahwa Dia tidak memberikan keputusan kecuali dengan kebenaran.

Apabila Anda telah memahami kelima perkara ini, maka saya katakan bahwa istighfar adalah meminta ampunan, dan ghufran (ampunan) adalah menutup keburukan. Penutupan ini dapat dibayangkan dalam dua wajah:

Pertama: dengan memberikan perlindungan darinya, karena siapa yang dilindungi maka telah ditutupi dari keburukan hawa nafsu.

Kedua: dengan menutup setelah terjadinya.

Maka ghufran (ampunan) dalam dua ayat pertama adalah dengan wajah pertama, dalam hal Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dan pada ayat kedua dengan wajah kedua dalam hal orang-orang mukmin dan mukminat. Berkata Imam Agung Fakhruddin Ar-Razi rahimahullah dalam tafsir ayat kedua demikian:

(Dalam ayat ini terdapat kehalusan, yaitu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam memiliki tiga keadaan: keadaan dengan Allah, keadaan dengan dirinya sendiri, dan keadaan dengan selain dirinya. Adapun dengan Allah maka tauhid, adapun dengan dirinya sendiri maka “mohon ampunlah untuk dosamu” dan mintalah perlindungan dari Allah, adapun dengan orang-orang mukmin maka mohonlah ampunan untuk mereka, dan mintalah ampunan untuk mereka dari Allah) selesai perkataan beliau dengan lafal aslinya.

Atau yang dimaksud dari perintah beristighfar dalam dua ayat tersebut adalah semata-mata sebagai ibadah, seperti dalam firman Allah Ta’ala: “Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui rasul-rasul-Mu” dan seperti firman-Nya: “Ya Tuhanku, berilah keputusan dengan benar” sebagaimana telah Anda ketahui dalam Perkara Kelima.

Atau yang dimaksud dari perintah ini adalah agar istighfar menjadi sunnah bagi umatnya, maka istighfar beliau shallallahu alaihi wasallam adalah untuk mengajarkan kepada umat. Dalam Tafsir Jalalain di bagian akhir tafsir ayat kedua demikian: (Dikatakan kepadanya demikian padahal ia maksum agar umatnya meneladaninya) selesai.

Atau bahwa mudhaf dalam dua ayat tersebut terhapus. Maka takdirnya dalam ayat pertama: (Maka bersabarlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampun untuk dosa umatmu) ayat tersebut. Dan dalam ayat kedua: (Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan melainkan Allah, dan mohonlah ampunan untuk dosa keluargamu dan untuk dosa orang-orang mukmin dan mukminat yang bukan dari keluargamu, maka tidak ada yang aneh dalam penyebutan orang-orang mukmin dan mukminat). Dan telah Anda ketahui dalam Perkara Keempat, bahwa penghapusan mudhaf banyak dan umum terjadi dalam kitab-kitab mereka. Atau yang dimaksud dengan dosa dalam dua ayat tersebut adalah kekeliruan atau meninggalkan yang lebih utama. Dan saya telah mendengar dari para sahabat, bahwa sebagian ulama Protestan yang telah mencapai usia pikun, menentang penjelasan ini dalam sebagian karangannya yang baru dan berkata: Andaikan tidak tampak dari Muhammad shallallahu alaihi wasallam dosa-dosa kecuali meninggalkan yang lebih utama, maka meninggalkan yang lebih utama juga adalah dosa menurut apa yang dihukumi oleh kalam Allah yaitu Taurat dan Injil, sehingga Muhammad shallallahu alaihi wasallam berdosa.

Yakobus berkata dalam ayat ketujuh belas dari Bab Keempat suratnya demikian: (Siapa yang tahu berbuat baik tetapi tidak melakukannya, maka itu adalah dosa baginya) selesai.

Saya katakan: Ini adalah akibat dari pikun karena usia, karena tidak diragukan bahwa meninggalkan minum khamr adalah baik, bahkan Allah memuji Yahya alaihissalam atas hal ini, dan para nabi mengatakan tentangnya apa yang mereka katakan. Demikian pula tidak diragukan bahwa tidak mengizinkan perbuatan keji yang diperbolehkan berupa perbuatan berlebihan dalam membasuh kaki dan mengusapnya dengan rambut kepalanya di hadapan banyak orang adalah baik. Demikian pula meninggalkan pergaulan yang berlebihan dengan wanita-wanita asing yang muda, dan berkeliling bersama mereka di desa-desa timur adalah baik, terutama jika laki-laki yang bergaul itu adalah pemuda yang belum menikah. Dan Isa alaihissalam tidak melakukan perkara-perkara baik ini, hingga orang-orang yang menentang mencela beliau sebagaimana Anda ketahui dalam jawaban celaan ketiga, maka menurut pendapatnya, tuhannya juga berdosa. Selain itu, orang yang menentang ini menambahkan lafal Taurat untuk menyesatkan orang awam, dan hukum ini tidak terdapat dalam Taurat, dan ia tidak mengutip dalil untuk ini kecuali dari surat Yakobus yang tidak ilhamiyah (diilhami), menurut penelitian para ulama terkemuka dari golongan Protestan, terutama menurut penelitian imam dan panutan mereka Luther, sebagaimana Anda ketahui dalam Pasal Keempat dari Bab Pertama. Maka perkataan Yakobus menurut para ulama ini bukanlah hujjah, sehingga keberatannya lemah tanpa keraguan.

Adapun ayat ketiga, maka mudhafnya terhapus, atau yang dimaksud dengan dosa adalah meninggalkan yang lebih utama, atau yang dimaksud dengan ghufran adalah perlindungan.

Dan berkata Imam As-Subki dan Ibnu Athiyyah: bahwa yang dimaksud dari ayat ini bukanlah menetapkan terjadinya dosa dan ampunannya, melainkan yang dimaksud darinya adalah mengagungkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan memuliakannya saja. Karena Allah menampakkan pengagungan dan kebaikan-Nya di awal surah ini, maka Dia memberi kabar gembira pertama dengan kemenangan yang nyata, kemudian menjadikan tujuan dari kemenangan ini adalah ampunan, penyempurnaan nikmat, petunjuk kepada jalan yang lurus, dan pemberian pertolongan yang mulia. Maka andai diandaikan terjadinya dosa, hal itu akan merusak keindahan kalam, karena yang dikehendaki adalah penghormatan dan pengagungan. Sebagaimana seorang tuan ketika ridha kepada hambanya berkata terkadang untuk memuliakan dan menampakkan ridha-nya: Aku maafkan kesalahan-kesalahanmu yang terdahulu dan yang akan datang, dan aku tidak akan menghukummu atasnya, meskipun tidak terjadi kesalahan dari hamba ini.

Adapun doa yang disebutkan dalam hadis, maka penjelasannya adalah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, karena beliau adalah makhluk yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah dan paling sempurna pengetahuannya tentang-Nya, dan keadaan beliau ketika hatinya bersih dari memperhatikan selain Tuhannya, menghadap kepada-Nya secara totalitas adalah keadaan beliau yang paling tinggi dibandingkan dengan yang lain, maka beliau melihat kesibukannya dengan selain-Nya, meskipun itu merupakan kebutuhan, sebagai kekurangan dan penurunan dari kesempurnaan beliau yang tinggi, maka beliau memohon ampun kepada Allah dari hal tersebut untuk mencari maqam yang paling tinggi, sehingga kesibukan yang bersifat kebutuhan ini juga menurut beliau seperti dosa yang harus dimintakan ampun dibandingkan dengan keadaan beliau yang paling tinggi, atau terjadinya doa seperti ini karena tuntutan penghambaan. Sebagaimana Isa alaihissalam juga karena tuntutan penghambaan, menafikan kebaikan dari dirinya sendiri, dan mengakui dosa-dosa ketika pembaptisan, dan berdoa berkali-kali dengan ampunilah kami dosa-dosa kami, dan mengucapkan kalimat-kalimat ini: 1 “Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkan aku” 2 “dan menjauhkan dariku keselamatan dengan perkataan kebodohanku” 3 “Tuhanku, di siang hari aku berdoa kepada-Mu tetapi Engkau tidak mengabulkan untukku” atau doa ini untuk ibadah semata-mata sebagaimana Anda ketahui dalam Perkara Kelima 4 atau untuk mengajarkan kepada umat 5 dan bahwa dosa yang disebutkan di dalamnya bermakna kekeliruan, dan meninggalkan yang lebih utama, sebagaimana Anda ketahui dalam Perkara Ketiga. Dan dalam setiap keadaan tidak ada keberatan apa pun, dan kelima penjelasan ini berlaku semuanya atau sebagiannya dalam hadis-hadis yang serupa dengan hadis yang disebutkan. Dan apabila tidak terbukti dari ayat-ayat dan hadis-hadis yang disebutkan yang dijadikan dalil oleh orang yang menentang, bahwa Muhammad shallallahu alaihi wasallam berdosa, maka terbukti dustanya premis minor.

Adapun dustanya premis mayor, karena keumumannya tidak dapat diterima, karena orang yang menentang membuktikannya dengan pandangan ahli trinitas, atau dengan dalil naqli.

Jika yang pertama, maka pandangan mereka ini tidak berlaku bagi kami, sebagaimana tidak berlaku kebanyakan pandangan mereka sebagaimana Anda ketahui dalam Pasal Kedua dari Bab Kelima.

Dan jika yang kedua, maka mereka harus menjelaskan dalil tersebut, dan kami akan meneliti premis-premisnya, dan mana mungkin mereka melakukan itu, dan tidak ada yang mustahil bahwa Allah mengampuni dosa-dosa seseorang tanpa perantara, kemudian menerima syafaatnya untuk orang lain. Selain itu, kejelekan dosa secara akal selama belum diampuni, tetapi jika sudah diampuni maka tidak tersisa kejelekannya dengan cara apa pun. Dan telah ditemukan penegasan dalam ayat ketiga yang mereka kutip dengan prasangka buruk mereka, untuk menetapkan dosa dengan firman: “Agar Allah mengampuni bagimu dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang” (Surah Al-Fath: 2). Maka jika dosa-dosa Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang terdahulu maupun yang akan datang telah diampuni di dunia ini, maka tidak ada lagi yang menghalangi beliau menjadi pemberi syafaat bagi orang lain di akhirat.

Dan jika yang ketiga, maka jelas salah, tidakkah Anda lihat bahwa ketika Bani Israil menyembah anak lembu, Allah berkehendak untuk membinasakan semuanya, maka Musa alaihissalam memberi syafaat untuk mereka, lalu Allah menerima syafaatnya, dan tidak membinasakan. Sebagaimana disebutkan secara jelas dalam Bab Tiga Puluh Dua dari Kitab Keluaran. Kemudian Tuhan berkata kepada Musa: Pergilah engkau dan Bani Israil ke tanah Kanaan dan Aku tidak pergi bersama kalian, maka Musa memberi syafaat dan Allah menerima syafaatnya, dan berkata: Aku akan pergi bersamamu. Sebagaimana disebutkan secara jelas dalam Bab Tiga Puluh Tiga dari Kitab Keluaran. Kemudian ketika mereka durhaka, Allah berkehendak sekali lagi untuk membinasakan mereka, maka Musa dan Harun alaihimassalam memberi syafaat dan Allah menerima syafaat keduanya. Kemudian ketika mereka durhaka sekali lagi, Allah mengirimkan kepada mereka ular-ular yang menyengat mereka, maka mereka datang kepada Musa meminta syafaat, lalu ia memberi syafaat untuk mereka dan Allah menerima syafaatnya, sebagaimana disebutkan secara jelas dalam Bab Enam Belas dan Bab Dua Puluh Satu dari Kitab Bilangan. Maka tidak ada kemustahilan secara akal maupun naqli bahwa Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah pemberi syafaat bagi orang-orang yang berdosa. Ya Allah, bangkitkanlah beliau pada maqam terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya, dan anugerahkanlah kepada kami syafaatnya pada hari kiamat. Dan jadilah ini sebagai penutup bab. Dan saya telah memulai menyusun kitab ini pada hari keenam belas bulan Rajab yang telah berlalu tahun seribu dua ratus delapan puluh dari hijrah Sayyid para nabi dan rasul shallallahu alaihi wa ala alihi wa ashhabihi ajmain, dan selesai darinya pada akhir Dzulhijjah tahun tersebut, dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Dan menjadi tarikh penyelesaiannya (Taiidu al-Haq bi Rahmatillah 1280).

Maka aku berlindung kepada Allah dari orang yang dengki yang tidak memperoleh dari majelis-majelis kecuali celaan dan kehinaan, dan tidak memperoleh dari malaikat kecuali laknat dan kebencian, dan tidak memperoleh dari makhluk kecuali kesedihan dan kegelisahan, dan tidak memperoleh ketika nazak kecuali kesulitan dan kengerian, dan tidak memperoleh ketika di Mahsyar kecuali kehinaan dan azab. Dan aku serahkan urusanku kepada Yang Maha Lembut lagi Maha Mengetahui, sesungguhnya Dia sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. Dan aku berkata dengan merendah diri dan penuh harap:

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi kaum yang kafir.” (Surah Al-Baqarah: 286)

 

 

Facebook Comments Box

Penulis : Muhammad Rahmatullah bin Khalil al-Rahman al-Kairanawi al-Utsmani al-Hindi al-Hanafi

Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.

Artikel Terjkait

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT
Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya
Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat
Kewajiban dan Keutamaan Taubat
Keutamaan Tauhid
Keutamaan Puasa Sunnah
Keutamaan Puasa Asyura (Yaitu hari kesepuluh dari bulan Muharram)
Keutamaan Mengajarkan Ilmu dan Menyeru Manusia kepada Kebaikan
Berita ini 2 kali dibaca

Artikel Terjkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 03:47 WIB

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:41 WIB

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:40 WIB

Keutamaan Puasa Sunnah

Artikel Terbaru

Akidah

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:47 WIB

Fatwa Ulama

Akibat Dosa Menyebabkan Bencana Alam – Faedah 10

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:45 WIB

Dakwah

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Jan 2026 - 15:41 WIB