🟢 Allah Ta’ala berfirman:
{ مَن كَانَ یُرِیدُ ٱلۡحَیَوٰةَ ٱلدُّنۡیَا وَزِینَتَهَا نُوَفِّ إِلَیۡهِمۡ أَعۡمَـٰلَهُمۡ فِیهَا وَهُمۡ فِیهَا لَا یُبۡخَسُونَ }
{ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ ٱلَّذِینَ لَیۡسَ لَهُمۡ فِی ٱلۡـَٔاخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا۟ فِیهَا وَبَـٰطِلࣱ مَّا كَانُوا۟ یَعۡمَلُونَ }
_”Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali Neraka dan lenyaplah apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.”_ (QS. Hud: 15-16)
🟢 Dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
(( إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَِى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ ))
_”Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin dia dapatkan atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang dia tuju.”_ (Muttafaqun ‘alaih)
🟢 Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إنَّ أوَّلَ الناسِ يُقْضَى يومَ القيامةِ عليه رجلٌ اسْتُشْهِدَ ، فأُتِيَ بهِ ، فعَرَّفَهُ نِعَمَهُ ، فعَرَفَها ، قال : فما عمِلْتَ فيها ؟ قال : قاتَلْتُ فِيكَ حتى اسْتُشْهِدْتُ، قال : كذبْتَ ، ولكنَّكَ قاتَلْتَ لِيُقالَ جِريءٌ ، فقدْ قِيلَ ، ثمَّ أُمِرَ بهِ فسُحِبَ على وجْهِهِ حتَّى أُلْقِيَ في النارِ ، ورجلٌ تعلَّمَ العِلْمَ وعلَّمَهُ ، وقَرَأَ القُرآنَ ، فأُتِيَ بهِ فعَرَّفَهُ نِعمَهُ ، فعَرَفَها ، قال : فما عمِلْتَ فيها ؟ قال : تعلَّمْتُ العِلْمَ وعلَّمْتُهُ ، وقَرَأْتُ فِيكَ القُرآنَ ، قال : كذبْتَ، ولكنَّكَ تعلَّمْتَ العِلْمَ لِيُقالَ عالِمٌ ، وقرأْتَ القُرآنَ لِيُقالَ : هو قارِئٌ فقدْ قِيلَ ، ثمَّ أُمِرَ بهِ فسُحِبَ على وجْهِهِ حتى أُلْقِيَ في النارِ ، ورجُلٌ وسَّعَ اللهُ عليْهِ ، وأعْطاهُ من أصنافِ المالِ كُلِّهِ ، فأُتِيَ بهِ فعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فعَرَفَها ، قال : فمَا عمِلْتَ فيها ؟ قال : ما تركْتُ من سبيلٍ تُحِبُّ أنْ يُنفَقَ فيها إلَّا أنفقْتُ فيها لكَ ، قال : كذبْتَ، ولكنَّكَ فعلْتَ لِيُقالَ : هوَ جَوَادٌ ، فقدْ قِيلَ، ثمَّ أُمِرَ بهِ فسُحِبَ على وجْهِهِ ، ثمَّ أُلْقِيَ في النارِ
_”Sesungguhnya manusia yang pertama diadili pada hari Kiamat adalah seorang lelaki yang mati syahid. Dia didatangkan lalu diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya maka dia pun mengakuinya. Allah berfirman: ‘Apa yang telah engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab: ‘Aku berperang demi Engkau sampai aku mati syahid.’ Allah berfirman: ‘Engkau dusta! Akan tetapi engkau berperang supaya dikatakan: Pemberani! Dan itu sudah diucapkan.’ Kemudian diperintahkan agar dia diseret atas wajahnya sampai dilemparkan ke dalam Neraka. Dan (seorang lelaki) yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya, serta membaca Al-Qur’an. Dia didatangkan lalu diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya maka dia pun mengakuinya. Allah berfirman: ‘Apa yang telah engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab: ‘Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya, dan aku membaca Al-Qur’an demi Engkau.’ Allah berfirman: ‘Engkau dusta! Akan tetapi engkau mempelajari ilmu supaya dikatakan: Alim (orang yang berilmu)! Dan engkau membaca Al-Qur’an supaya dikatakan: Dia adalah Qari’ (pembaca Al-Qur’an yang baik)! Dan itu sudah diucapkan.’ Kemudian diperintahkan agar dia diseret atas wajahnya sampai dilemparkan ke dalam Neraka. Dan (seorang lelaki) yang Allah lapangkan rezekinya dan memberikan semua jenis harta kepadanya. Dia didatangkan lalu diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya maka dia pun mengakuinya. Allah berfirman: ‘Apa yang telah engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab: ‘Tidak ada satu jalan pun yang Engkau sukai untuk berinfak di dalamnya, melainkan aku telah berinfak di jalan itu demi Engkau.’ Allah berfirman: ‘Engkau dusta! Akan tetapi engkau berbuat demikian supaya dikatakan: Dia dermawan! Dan itu sudah diucapkan.’ Kemudian diperintahkan agar dia diseret atas wajahnya lalu dilemparkan ke dalam Neraka.”_ (HR. Muslim)
💡 *Penjelasan:*
Niat adalah dasar suatu amal. Amal seseorang diterima atau ditolak tergantung pada niat pelakunya. Barangsiapa mengerjakan suatu amal dengan ikhlas karena Allah Ta’ala dan mengharap pahala akhirat, serta amalnya sesuai dengan Sunnah, maka amalnya diterima. Dan barangsiapa yang meniatkan selain Allah, atau tidak ikhlas dalam amalnya karena menyekutukan Allah dengan selain-Nya, maka amalnya tertolak dan menjadi bencana baginya.
📚 *Faidah-faidah:*
- Di antara syarat diterimanya amal adalah ikhlas, yaitu berniat mengharap wajah Allah Ta’ala.
- Pentingnya ikhlas, karena amal tanpanya akan menjadi bencana bagi pelakunya.
- Baiknya bentuk amal secara lahiriah tidaklah cukup untuk diterima.
- Wajibnya meluruskan niat dalam setiap amal dan bersungguh-sungguh dalam hal itu.
Footnote:
(1)Mukhtashar Minhajul Qashidin hal. 35. Jamii’ul ‘Ulum wal Hikam.
Sumber: _Ad-durus Al-Yaumiyah min As-Sunani wal Al-Ahkam Asy-syariyah_
Diterjemahkan oleh: Muh. Rujib Abdullah
Penulis : Muh. Rujib Abdullah







