Himpunan Biografi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Selama Tujuh Abad (Disertai Pelengkap Himpunan)

Kamis, 8 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Himpunan Biografi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Selama Tujuh Abad (Disertai Pelengkap Himpunan)

ٱلْجَامِعُ لِسِيرَةِ شَيْخِ ٱلْإِسْلَامِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ خِلَالَ سَبْعَةِ قُرُونٍ، مُضَمًّا إِلَيْهِ تَكْمِلَةُ ٱلْجَامِعِ 

Pendahuluan Cetakan Kelima

Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam atas Rasul-Nya dan orang-orang yang menjadi pengikutnya.

Setelah itu, ini adalah cetakan baru untuk buku ini yang telah lewat sekitar dua puluh tahun sejak penulisannya, dan ia baru dalam segala makna yang terkandung dalam kata ini..

Baru dari segi kandungannya karena telah ditambahkan kepadanya (Pelengkap Himpunan) yang dicetak secara terpisah beberapa tahun sebelumnya, maka sangat tepat jika keduanya digabungkan dalam satu buku setelah berpisah bertahun-tahun, dengan menambahkan dua biografi baru untuk Al-Fairuzabadi dan Al-Lucknowi.

Dan baru dari segi pencocokan manuskrip-manuskrip beberapa buku, seperti Ad-Durrah Al-Yatimiyyah karya Adz-Dzahabi dengan naskah Azh-Zhahiriyyah, dan risalah Ibnu Murri dengan naskah Al-Quds dan lainnya.

Dan baru dari segi perbaikan apa yang luput dalam cetakan-cetakan sebelumnya, berupa kesalahan atau salah baca, atau penambahan catatan pelengkap atau penjelasan atau semacamnya.

Dan semua itu memerlukan penyesuaian, perbaikan, dan penambahan yang beragam dalam pendahuluan buku, catatan-catatannya, rujukan-rujukannya, dan indeks-indeksnya, serta penggabungan pendahuluan Himpunan dan Pelengkap dalam satu tempat.

Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Dan ditulis oleh

Dr. Ali bin Muhammad Al-Imran

24 Rajab 1439 H

 

 

Pengantar

Fadhilatu Syaikh Al-Allamah Bakr bin Abdullah Abu Zaid

Ketua Majma’ Fiqih Islam, dan Anggota Hai’ah Kibaril Ulama

 

Segala puji bagi Allah semata, dan shalawat serta salam atas siapa yang tidak ada nabi sesudahnya, Nabi dan Rasul kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam, serta keluarga dan sahabatnya.

Amma ba’du: Ini adalah sisa kebaikan dari apa yang ditinggalkan orang-orang terdahulu sepanjang sekitar tujuh abad dari tahun 661 hingga tahun 1300, memuat tujuh puluh lima halaman yang cemerlang dari halaman-halaman orang-orang yang berbakti, yang ditulis dalam tujuh puluh lima buku dari buku-buku biografi, sejarah, dan berita-berita, mencakup lebih dari tujuh ratus halaman, ditulis oleh lima puluh lima ulama dari ulama Islam dari berbagai negeri, Arab dan non-Arab, Syam dan Irak, Mesir, Hijaz, dan Yaman, timur dan barat, dengan perbedaan madzhab Islam mereka, dan keragaman aliran akidah mereka, masing-masing sesuai dengan kemampuannya, dan sejauh ilmunya, dan kesungguhannya dalam menyusun bukunya, semuanya tentang biografi Syaikhul Islam, Al-Imam Al-Hujjah, Pembaharu Jalan yang Benar, Pewaris Ilmu Kenabian, Penolong Sunnah, Penghancur Bid’ah, Mujtahid Mutlaq, yang terkenal dengan Syaikhul Islam, dan dengan Ibnu Taimiyah, dan dengan keduanya, dan dengan Imam Dunia di zamannya, salah satu orang cerdas dunia dan orang-orang istimewa dalam hafalan, ilmu, dan amal, yang dianugerahi sebelum mencapai tiga puluh tahun dari umurnya dengan halaman-halaman penuh sifat-sifat terpuji dalam ilmunya dan amalnya, ijtihadnya, pembaharuannya, dan jihadnya, imannya dan kesabarannya, ketaqwaannya, zuhudnya, wara’nya, keberaniannya, kedermawanannya, amar ma’ruf nahi munkarnya, dan pengagungan terhadap hal-hal yang dimuliakan Allah, yang bergelar Taqiyyuddin, dan berkunyah Abu Al-Abbas, Ahmad putra Syaikh Al-Imam Al-Mufti Syihabuddin Abu Al-Mahasin Abdul Halim, putra Syaikh Al-Imam Syaikhul Islam Majduddin Abu Al-Barakat Abdus Salam bin Abu Muhammad Abdullah bin Abu Al-Qasim Al-Khadhir bin Muhammad bin Taimiyah bin Al-Khadhir bin Ali bin Abdullah, An-Numairi secara nasab, Al-Harrani tempat kelahiran, kemudian Ad-Dimasyqi tempat dibesarkan dan dikuburkan, Al-Hanbali secara madzhab, kemudian menjadi mujtahid, terkenal dengan Ibnu Taimiyah, Pembaharu. Yang lahir pada hari Senin 10/3/661, wafat pada malam Senin 20/11/728, berusia enam puluh tujuh tahun delapan bulan sepuluh hari – rahmat Allah Ta’ala atasnya -.

Berlanjutnya penulisan halaman-halaman yang diberkahi ini dari hari kelahirannya hingga hari wafatnya sebagai berikut sesuai urutan wafat mereka:

1 – Risalah muridnya Ibnu Syaikh Al-Khazzamiin Al-Hanbali yang wafat tahun 711 Hijriah – semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmatinya – berisi wasiat kepada para pengikut Syaikh untuk teguh dalam membela Sunnah, dan bahwa membela Syaikh dan mempertahankannya adalah menghidupkan Sunnah, padahal muridnya ini lebih tua darinya.

Ia memulainya dengan wasiat bertakwa, dan bahwa seorang hamba harus memiliki waktu dari malam atau siang hari untuk bersendirian dengan Tuhannya, karena di dalamnya terdapat pembersihan karat-karat hati yang Allah Maha Mengetahuinya, dan bahwa menjaga waktu khusus ini berbeda dengan waktu-waktu salat wajib, karena waktunya mungkin datang tiba-tiba pada hamba dan hatinya, sehingga menariknya dari menghadap kepada Allah, namun waktu khusus ini jika hamba menyambutnya dengan sengaja, ia akan mengetahui seberapa besar pengaruhnya terhadap waktu-waktu salatnya.

Kemudian ia mengarahkan perhatian untuk bertemu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam Sunnahnya dan mengamalkannya, dan apa yang diperoleh dengan itu berupa pengaruh rahmat Allah pada hati berupa rasa takut dan kejujuran.

Dan bahwa wajib menyeimbangkan antara tiga perkara: kemaslahatan duniawi, keutamaan ilmiah, dan kecenderungan hati.

Kemudian ia menguraikan panjang lebar – semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmatinya – dalam bersyukur atas nikmat yang Allah berikan berupa kemunculan Syaikhul Islam di garis depan barisan para pembuat bid’ah dalam agama: para ahli fikih, sufi, Jahmiyyah, Hululliyyah, kezaliman para penguasa dan tentara, dan para pelaku bid’ah dalam ibadah… dan ia berwasiat kepada mereka untuk bersabar, karena cobaan telah melanda seluruh bumi, dan para pengikut Syaikh pembaharu ini seperti titik putih di kulit hitam. Dan tidak akan diketahui kedudukan orang ini kecuali oleh orang yang mengetahui hakikat apa yang dibawa oleh Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Demi Allah kemudian demi Allah, sesungguhnya tidak ada di zamannya orang yang dapat menjelaskan Sunnah-Sunnah Nabi Muhammad dari perkataan dan perbuatannya kecuali orang ini, dan ia bukanlah orang yang maksum.

Kemudian ia menyebutkan sikap pembelaan terhadap Syaikhul Islam – semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmatinya – sambil menyandarkan pada orang yang menulis sebuah catatan dalam menghitung aib-aib Syaikh dengan menyamarkannya melalui penyebutan beberapa keutamaan, agar tampak keadilannya, sehingga menimbulkan keresahan di hati para penuntut ilmu terhadap Syaikh dan ilmunya, dan ia menyebutkan – semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmatinya – bahwa ini tidak terjadi kecuali karena perubahan akal atau pemahaman atau kejujuran atau lanjutnya usia, dan ia menjelaskan hal ini dengan apa yang wajib diperhatikan, dan ini termasuk perhatian yang berharga.

Di antara perhatian berharga juga adalah apa yang disebutkannya bahwa tidak ada seorang pun yang memiliki sesuatu dalam dirinya terhadap orang lain kecuali ia akan menemukan beberapa hal padanya, namun ketika diteliti dengan cermat kita dapati hal-hal itu adalah permasalahan parsial yang tenggelam dalam lautan ilmu, amal, dan keutamaannya, dan kemasuman hanya untuk para nabi Allah dan rasul-Nya, dan kesempurnaan hanya untuk Allah semata.

Secara keseluruhan, risalah ini dibuat oleh muridnya Al-Wasithi, dan aku tidak melihatnya dalam pembelaan terhadap Syaikhul Islam dan wasiat tentangnya, para muridnya, dan buku-bukunya, serta kewaspadaan terhadap tipu daya musuh-musuhnya kecuali sebagai inti mutiara dari “Kumpulan” ini, karena di dalamnya terdapat ketajaman wawasan, kebaikan pembelaan, dan penentangan terhadap penentang dengan hujah, maka semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas, Amin.

2 – Apa yang ditulis oleh muridnya Al-Ghayyani Al-Hanbali – semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmatinya – mencakup banyak sikap jihad Syaikhul Islam – semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmatinya – yang ia lakukan sendiri dalam menghancurkan batu-batu dan simbol-simbol paganisme yang dijadikan gantungan oleh orang awam, dan menghilangkan banyak bid’ah dan kesesatan, yaitu di Damaskus: tiang yang dicat di Pintu Kecil, di Masjid Al-Kaff, batu Masjid An-Naranj, berhala di dekat Masjid An-Naranj, tiang lain yang dicat, dan apa yang dinamakan jejak kaki Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan pemberian makan kacang dari hidangan Al-Khalil, dan tangan kanannya dalam hal itu adalah saudaranya Syarafuddin – semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmatinya.

Dan di Mesir: penjelasannya tentang makam Husain, dan penyingkapan keadaan Bani Ubaid bahwa mereka adalah Bathiniyyah, kemudian perdebatannya dengan tiga orang rahib Sha’id saat ia berada di ruang pengadilan, dan kedatangan Syaikh Ad-Dibahi dari Syam ke Mesir untuk mendamaikan antara Syaikh dan Al-Munbiji.

3 – Risalah muridnya Ibnu Murri Al-Hanbali – semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmatinya – mirip dengan risalah Ibnu Syaikh Al-Khazzamiin, namun ia menonjol dengan wasiat tentang ilmu Syaikh dan buku-bukunya serta penjagaannya pada murid-murid terkemukanya, dan agar dikumpulkan ucapannya satu sama lain meskipun berulang dengan pemeriksaan dan memperbanyak salinannya. Dan ia berwasiat tentang muridnya Abu Abdillah bin Rusyayyiq, karena ia adalah gudang harta buku-buku Ibnu Taimiyyah, dan ia kurang mampu secara finansial, maka hendaklah mereka membantunya agar ia dapat meluangkan waktu untuk mengumpulkan dan menyalinnya, namun Ibnu Rusyayyiq wafat tahun 749 Hijriah – semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmatinya – dengan tanggungan utang, dan itu menjadi tanggungan orang yang lalai dalam membantunya dan menutupi kebutuhannya – semoga Allah memaafkan semua.

Dan ia berwasiat tentang bantahan Syaikh terhadap akidah para filosof, dan menjelaskan salinan-salinannya, dan agar dirujuk dalam buku-bukunya juga kepada Al-Mizzi, Ibnu Qayyim, dan Syarafuddin, dan ia berkata: “Demi Allah – insya Allah – sungguh Allah akan membangkitkan untuk membela ucapan ini, menyebarkannya, membukukannya, memahaminya, mengeluarkan maksud-maksudnya, dan mengagumi keajaiban-keajaibannya yang aneh, laki-laki yang hingga sekarang masih dalam tulang sulbi ayah-ayah mereka…” Akhir kutipan. Dan hal itu telah terwujud – alhamdulillah – maka sumpah Ibnu Murri menjadi kenyataan, buku-buku Syaikhul Islam dikumpulkan, dan para ulama menyibukkan diri dengannya dan tahkiknya, sebagaimana dikumpulkan masalah-masalah Imam Ahmad dengan larangannya untuk menulis darinya. Dan contoh-contoh seperti itu banyak dan itu termasuk dukungan Allah untuk agama ini dan hamba-hamba-Nya yang jujur.

4 – Dan sezamannya An-Nuwairi Asy-Syafi’i dalam: “Nihayatul Arab” menyampaikan sebab pemenjaraan Syaikhul Islam di Mesir dari penyaksian dan penglihatan langsung, kemudian penangkapan-penangkapannya di Damaskus dan sebab-sebabnya secara terperinci.

5 – Dan kata-kata muridnya di Kairo Ibnu Sayyid An-Nas Al-Maliki dalam jawaban-jawabannya, di dalamnya bahwa Abul Hajjaj Al-Mizzi membawanya untuk bertemu Ibnu Taimiyyah, ketika ia melihatnya ternyata melebihi deskripsinya, dan ia mulai menggambarkan porsi ilmunya dengan ungkapan yang sangat baik, dan penjelasan sikap orang-orang terhadapnya, dan pengaduan musuh-musuhnya kepada penguasa terhadapnya, dan kemenangannya atas mereka.

6 – Dan menerjemahkannya sezamannya Al-Jazari Asy-Syafi’i, terjemahan sedang yang menonjol dengan apa yang terjadi padanya dan beberapa muridnya berupa pemenjaraan dan cobaan karena fatwa tentang bepergian khusus.

7 – Dan menerjemahkannya muridnya Al-Birzali Asy-Syafi’i, dan menonjol dengan apa yang terjadi pada Syaikhul Islam berupa sikap-sikap jihad melawan Tartar dan lainnya, dan apa yang terjadi padanya dari musuh-musuhnya berupa perdebatan, catatan, pemenjaraan, penyiksaan, dan sebab-sebabnya.

8 – Dan menerjemahkannya sezamannya Ad-Dawadari, mirip dengan yang ada pada An-Nuwairi, Al-Jazari, dan Al-Birzali.

9 – Risalah sezamannya Ibnu Hamid Asy-Syafi’i kepada Abu Abdillah bin Rusyayyiq, ia mengungkapkan kekagumannya terhadap buku-buku imam dunia, dan pembahasannya dalam bantahan terhadap kelompok-kelompok, dan bahwa ketika ia haji tahun 728 Hijriah ia bertekad pergi ke Damaskus, namun ketika sampai kepadanya berita wafatnya maka ia kembali ke rumahnya di Kufah, dan meminta dalam suratnya daftar karya-karya Syaikh dan apa yang memungkinkan darinya.

10 – Dan sezamannya Abdul Baqi Al-Yamani Asy-Syafi’i, menghiasinya dengan kelebihan yang Allah khususkan padanya dari segi ilmu dan amal, dan bahwa Ibnu Hazm mengalami apa yang dialami Syaikh persis sama.

11 – Riwayat hidupnya oleh muridnya Ibnu Abdil Hadi Al-Hanbali – dari keluarga Qudamah – adalah terjemahan yang paling lengkap materinya, dan ia merujuk di dalamnya kepada rekannya Adz-Dzahabi.

12 – Muridnya Adz-Dzahabi Asy-Syafi’i, menerjemahkannya dalam sembilan buku, yang utama adalah terjemahannya dalam: “Dzail Tarikhul Islam” dan ia menonjol dengan pembelaan terhadapnya.

13 – Muridnya Ibnu Rusyayyiq Al-Maghribi Al-Maliki, mengkhususkan risalah dalam menyebutkan karya-karya gurunya yang sampai kepadanya. Dan “Kumpulan” ini telah mengambil manfaat dalam pendahuluannya untuk membuktikan penisbatannya kepadanya, dan kesalahan orang yang menisbatkannya yang tercetak kepada Ibnul Qayyim, dengan apa yang diikuti oleh orang-orang masa kini, termasuk penulis pendahuluan ini.

14 – Muridnya Ibnu Fadhlillah Al-Umari Asy-Syafi’i bukan Al-Hanbali, melampaui dengan panjangnya, dan pembelaan terhadapnya, dan menyampaikannya dengan gaya sajak menurut cara surat-menyurat yang indah, dengan penambahan informasi yang akurat.

15 – Muridnya Ibnul Wardi Asy-Syafi’i, menonjol dengan panjangnya, dan pembelaan terhadap gurunya, dan penambahan penting.

16 – Muridnya Al-Wadi Asysi Al-Maliki, menerjemahkannya dalam programnya dengan beberapa baris, menggabungkan antara pujian kepadanya, dan mengikuti musuh-musuhnya bahwa ia mengikuti fatwa yang jarang.

17 – Muridnya Ibnul Qayyim Al-Hanbali, menulis dalam Nunniyyah pokok-pokok bukunya, dan menyebutkan kelebihannya.

18 – Muridnya di Kairo Mughlathi Al-Hanafi, meminta izin darinya lalu ia memberikan izin, dan menyebutkannya, dan berkata: karena tersebarnya ilmunya maka tidak perlu pengenalan keadaannya.

19 – Muridnya Ash-Shafadi Asy-Syafi’i, menerjemahkannya dalam dua bukunya, dan menonjol dengan empat hal: panjangnya, dan pembelaan terhadapnya, dan penambahan informasi baru yang ia ceritakan dari rekannya Imam Syamsuddin Ibnul Qayyim, dan aneh bahwa terjemahan-terjemahan ini dengan banyaknya tidak banyak menyebutkan Ibnul Qayyim di dalamnya padahal ia sangat khusus dengan gurunya. Dan penyajian Ash-Shafadi dengan gaya sajak dan surat-menyurat.

20 – Muridnya Ibnu Syakir Al-Kutbi Asy-Syafi’i, menerjemahkannya dalam dua buku: “Fawatul Wafayat” dan “Uyunut Tawarikh”, ia bergantung dalam yang pertama pada “Al-Wafi bil Wafayat” karya Ash-Shafadi, dan yang kedua secara ringkas.

21 – Sezamannya Al-Yafi’i Al-Yamani Asy-Syafi’i, terjemahan ringkas. Dan untuknya di dalamnya mengikuti musuh-musuh Syaikhul Islam dalam mencacatnya.

22 – Sezamannya Al-Fayyumi Asy-Syafi’i penulis: “Al-Mishbahul Munir” menerjemahkannya secara ringkas.

23 – Muridnya Ibnu Katsir Asy-Syafi’i. Menyebutkannya dalam peristiwa tiga puluh dua tahun dalam sejarahnya dari kelahirannya tahun 661 Hijriah hingga wafatnya tahun 728 Hijriah dan penuh dengan kejadian dan peristiwa hidupnya, dan barangsiapa membaca berita wafatnya akan menangis tersedu – semoga Allah merahmati semua.

24 – Sezamannya Al-Malik Ar-Rasuli Asy-Syafi’i, menerjemahkannya secara ringkas, memuji di dalamnya ilmu-ilmu, kebaikan, dan sifat-sifatnya serta menggambarkan pemakamannya.

25 – Murid dari murid-muridnya dan sezaman dengan guru ayahnya Ibnu Habib Asy-Syafi’i, menerjemahkannya dalam dua buku menghiasinya dengan sifat-sifat yang indah, dan penyanjungan terhadap berbagai ilmu. Dan keduanya adalah dua terjemahan ringkas, salah satunya disalin dari yang lain.

26 – Sezamannya Ibnu Bathuthah Al-Maliki menyinggung penyebutannya dalam perjalanannya dengan apa yang dikritik terhadapnya, dan diragukan penisbatannya kepadanya.

27 – Murid dari murid-muridnya Ibnu Rajab Al-Hanbali. Menerjemahkannya dengan terjemahan panjang yang penuh, bersaing di dalamnya dengan Ibnu Abdil Hadi.

28 – Menerjemahkannya sejarawan Al-Khazraji Asy-Syafi’i Al-Yamani secara ringkas, di dalamnya pujian terhadap Syaikh dan ilmu-ilmunya, dan mirip dengan terjemahan Al-Malik Ar-Rasuli, dan seakan salah satunya dinukil dari yang lain.

29 – Murid dari murid-muridnya At-Taqi Al-Fasi Al-Maliki. Terjemahan ringkas.

30 – Murid dari murid-muridnya Ibnu Nashiriddin Asy-Syafi’i. Terjemahan yang baik yang menonjol dengan pembelaan terhadapnya.

31 – Murid dari murid-muridnya dan pembela mazhabnya Al-Maqrizi Asy-Syafi’i. Untuknya terjemahan panjang, penuh dengan kejadian dan peristiwa dalam “Al-Muqaffa Al-Kabir”, dan ringkas dalam “Al-Khithat”, dan “As-Suluk”.

32 – Dan menerjemahkannya Ibnu Nashirillah Al-Hanbali dalam ringkasannya untuk dzail Ibnu Rajab dengan teksnya dari Ibnu Rajab, sesuai dengan syaratnya dalam pendahuluannya dalam beberapa terjemahan.

33 – Murid dari murid-muridnya Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i. Menerjemahkannya secara panjang dalam “Ad-Durar”. Dan dalam pujiannya terhadap Ar-Raddul Wafir secara ringkas yang menonjol dengan pembelaan terhadapnya; dan apa yang menyinggung Syaikhul Islam ia di dalamnya sebagai perawi dan bukan pembicara.

34 – Murid dari murid-muridnya Al-Aini Al-Hanafi. Menerjemahkannya secara ringkas dalam “Iqdil Juman”.

Dan dalam pujiannya terhadap Ar-Raddul Wafir sebagai pembelaan terhadapnya.

35 – Murid dari murid-muridnya Al-Bulqini Asy-Syafi’i, dalam pujiannya terhadap Ar-Raddul Wafir secara ringkas sebagai pembelaan terhadapnya.

36 – Dan menerjemahkannya Ibnu Taghri Birdi Al-Hanafi dalam tiga dari bukunya dengan terjemahan ringkas.

37 – Dan menerjemahkannya Ibnu Muflih Al-Hanbali. Terjemahan yang baik.

38 – Menerjemahkannya Al-Haradhi Al-Yamani Asy-Syafi’i secara ringkas, mengikuti di dalamnya Al-Yafi’i Al-Yamani, kecuali bahwa ia membantahnya dengan nukilan kata-kata salah satu ulama Yaman yang adil.

39 – Dan At-Tunusi Al-Maliki dalam dua baris, sebagaimana kebiasaan dalam bukunya.

40 – Dan As-Suyuthi Asy-Syafi’i dalam beberapa baris, sebagaimana kebiasaan dalam bukunya.

41 – Dan menerjemahkannya Ibnu Sibath, dengan menyebutkan berita wafatnya – semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmatinya – dan ia adalah penganut Druze.

42 – Dan An-Nu’aimi Asy-Syafi’i dalam tiga halaman.

43 – Dan Al-Ulaimi Al-Hanbali terjemahan panjang dalam “Al-Manhajul Ahmad”, dan ringkas dalam “Ad-Durrul Munadhdhad”. Mirip dengan Ibnu Rajab.

44 – Dan Ad-Dawudi Asy-Syafi’i terjemahan ringkas.

45 – Dan Ba Makhramah Asy-Syafi’i Al-Yamani, ringkas, dinukil dari Al-Yafi’i Al-Yamani.

46 – Dan Al-Adawi Asy-Syafi’i terjemahan ringkas.

47 – Dan Ibnul Imad Al-Hanbali terjemahan panjang.

48 – Dan Al-Maknasi Al-Maliki dengan baris-baris Al-Wadi Asysi.

49 – Dan Al-Ghazzi Asy-Syafi’i dengan tiga baris.

50 – Dan Ad-Dahlawi Al-Hanafi ahli hadits dengan risalah khusus bernama “Manaqib Ibnu Taimiyyah” dan di dalamnya pengumuman loyalitasnya terhadap keselamatan akidahnya.

51 – Dan Yasin Al-Mushili Asy-Syafi’i, terjemahan ringkas.

52 – Dan Asy-Syaukani ahli hadits. Menerjemahkannya dengan terjemahan panjang yang menonjol dengan penyebutan kebaikan-kebaikannya dan pembelaan terhadapnya.

53 – Dan Al-Kasymiri ahli hadits, terjemahan lengkap yang panjang.

54 – Dan Shiddiq ahli hadits menerjemahkannya dalam dua buku “Abjadil Ulum”, dan “At-Tajul Mukallal” secara panjang di keduanya, mengisi terjemahannya dengan pembelaan terhadapnya.

55 – Al-Alusi Al-Hanafi menerjemahkannya dengan terjemahan panjang yang menonjol dengan pembelaan terhadapnya.

Dan terjemahan-terjemahan ini pada Asy-Syaukani, Al-Kasymiri, Shiddiq, dan Al-Alusi, lengkap dengan nukilan-nukilan pilihan dari Adz-Dzahabi, Ibnu Abdil Hadi, dan lainnya, dan tidak ada di dalamnya yang ditambahkan pada yang sebelumnya meskipun panjang.

Dari paparan ini terlihat hal-hal berikut:

1 – Bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah dibiografikan oleh tujuh belas ulama dari murid-murid dan sahabat-sahabatnya, dan ini merupakan kelebihan yang jarang dimiliki oleh ulama lain, dan ini adalah sumber paling terpercaya dalam materi biografi, dan menyaingi biografi pribadi dalam hal pertimbangan dan dokumentasi.

2 – Dan dibiografikan oleh sepuluh orang dari ulama sezamannya yang terlewatkan untuk bertemu dengannya.

3 – Dan dibiografikan dalam kitab-kitab tingkatan ahli tafsir, ahli hadits, dan fuqaha Hanabilah sesuai dengan kedudukannya dalam ilmu-ilmu ini.

4 – Dan dalam kitab-kitab biografi umum, dibiografikan oleh ulama empat mazhab: empat dari Hanafiyah, dan tujuh dari Malikiyah, dan dua puluh delapan dari Syafi’iyah, dan sebelas dari Hanabilah.

5 – Dan di antara mereka ada yang membiografikannya dalam lebih dari satu kitab, yaitu Ash-Shafadi, Ibnu Syakir Al-Kutubi, Ibnu Habib, Ibnu Hajar, Al-‘Ulaimi, dan Shiddiq masing-masing dari mereka membiografikannya dalam dua kitab miliknya. Dan Al-Maqrizi dan Ibnu Taghri Birdi masing-masing dari keduanya membiografikannya dalam tiga kitab miliknya, dan Adz-Dzahabi membiografikannya dalam sembilan kitab miliknya.

6 – Dan biografi-biografi ini ada yang berupa biografi panjang yang luas dan sarat dengan informasi yaitu dua puluh tiga biografi yang sebagian besarnya dari murid-muridnya, dan yang paling lengkap secara mutlak adalah biografi muridnya Ibnu Abdul Hadi, dan tidak ada yang menyainginya kecuali Ibnu Rajab rahimahumullaahu jami’an dan Ibnu Katsir dalam kitab sejarahnya, dan ketiga biografi ini adalah biografi-biografi terbaiknya.

7 – Dan di antara mereka ada yang biografinya mencakup berbagai sisi, dan di antara mereka ada yang biografinya menonjol dalam menyebutkan peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian seperti pada para imam: Ibnu Katsir, An-Nuwairi, Al-Birzali, dan Al-Maqrizi rahimahumullahu ta’ala.

8 – Dan di antara mereka ada yang biografinya pada sisi tertentu saja, seperti Ibnu Rusyaiq dalam menyebutkan karya-karyanya, dan Al-Ghiyani dalam jihadnya dalam menghancurkan batu-batu dan lainnya dari fenomena-fenomena paganisme.

9 – Dan di antaranya ada yang penulisnya menyusunnya dengan gaya sajak dan prosa, yaitu dalam jawaban Ibnu Sayyid An-Nas dalam biografinya, Ibnu Fadhlillah, dan Ash-Shafadi, tetapi Ibnu Fadhlillah memiliki keutamaan penjelasan dan ketundukan kata-kata, demikian juga dalam dua kitab Ibnu Habib meskipun keduanya ringkas.

10 – Dan di antaranya ada biografi-biografi ringkas, bahkan sebagiannya seperti telegram dalam beberapa baris, sesuai dengan metode pengarang dalam kitabnya.

11 – Dan semua biografi ini menunjukkan riwayat hidup yang harum dan suci, dan dalam beberapa biografi terdapat noda padanya – meski singkat – pancaran dari kejahatan batil yang menurun pada musuh-musuhnya, yang berat bagi mereka untuk tunduk pada dalil, maka dia menyerang mereka dengan pukulan kanan. Seperti perkataan yang dicatat oleh muridnya Al-Afaqi Al-Wadi Asy yaitu bahwa dia menunggangi fatwa yang aneh, dan diikuti dalam kecelakaan ini oleh orang sezamannya Al-Yafi’i, kemudian Al-Maknasi tanpa atribusi, dan ini adalah perkataan usang yang segera jatuh di medan orang yang mengatakannya, dan menjadi apa yang dia hukumi sebagai aneh kemarin adalah fatwa dan keputusan hukum yang dianut hari ini, seperti: talak tiga dengan satu lafaz, dan bersumpah dengannya, dan bahwa yang disyariatkan adalah ziarah kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan safar khusus menujunya, dan demikianlah wallahu a’lam.

Dan dari riwayat hidup yang komprehensif dan penuh ini dalam “Kumpulan” ini dapat diambil manfaat hal-hal berikut:

Perkara Pertama: Mengetahui informasi-informasi baku yang disajikan untuk setiap tokoh yang dibiografikan, meskipun para penulis biografi berbeda-beda dalamnya, masing-masing sesuai dengan apa yang Allah karuniakan kepadanya. Dan yang baik disebutkan di sini:

1 – Bahwa penyebutan nasabnya delapan bapak seperti yang telah disebutkan dari penyebutan muridnya Ibnu Abdul Hadi selain yang lainnya.

2 – Nisbatnya “An-Numairi” dari manfaat murid dari murid-muridnya Ibnu Nashiruddin, dan diikuti dalam hal itu oleh Al-Adawi dalam: “Az-Ziyarat”.

3 – Dan “Taimiyah” adalah gelar untuk kakeknya Muhammad, dan dia adalah yang kelima dari bapak-bapaknya, dan dalam penjelasannya ada dua pendapat yang masyhur.

4 – Dan “Al-Harrani” nisbat kepada kota yang terkenal di Jazirah antara Syam dan Irak, dan bukan yang dekat Damaskus dan bukan yang di Turki, dan bukan yang dekat Halab.

5 – Dan sifatnya rahimahullahu ta’ala: berkulit putih, hitam kepala dan jenggotnya dengan sedikit uban pada jenggot, rambut kepalanya sampai cuping telinganya, sedang tingginya dari para laki-laki, lebar jarak antara kedua bahunya, putih kedua matanya, suara keras fasih cepat membaca, datang kepadanya ketajaman kemudian dia mengalahkannya dengan kelembutan dan pemaafan, seakan kedua matanya dua lisan yang berbicara, jika mulai berbicara maka ungkapan berdesak-desakan di mulutnya.

6 – Tidak mewarisi ilmu dari jalur jauh, melainkan tumbuh dalam rumah ilmu di antaranya adalah ayahnya dan kakeknya Al-Majd.

7 – Ibunya: Syaikhah yang shalihah Sitt An-Ni’am binti Abdurrahman bin Ali bin Abdus Al-Harraniyah yang wafat di Damaskus tahun 716. Dan lahir untuknya sembilan anak laki-laki, dan tidak dikaruniai anak perempuan sama sekali, di antara mereka tiga saudara kandung Syaikhul Islam dan dia adalah yang paling tua dari mereka, dan Zainuddin Abdurrahman, dan Syarafuddin Abdullah, dan dari saudara-saudaranya seibu Badruddin Qasim bin Muhammad bin Khalid yang wafat di Damaskus tahun 717.

8 – Keluarga Taimiyah bercabang menjadi dua dahan: keluarga Abdullah dan keluarga Muhammad, dan Syaikhul Islam dari keluarga Abdullah, dan telah dihitung silsilah mereka dalam: “Al-Madkhal Al-Mufashshal: 1/532-536” dan dijelaskan keberadaan keluarga Taimiyah sampai akhir abad ketiga belas Hijriyah.

9 – Biografi-biografi sepakat bahwa Syaikh hijrah bersama ayahnya dan keluarganya dari Harran ke Damaskus selama tahun 667 dan Syaikh berusia tujuh tahun, dan itu karena kezaliman Tatar.

10 – Tumbuh rahimahullahu ta’ala dalam pemeliharaan diri yang sempurna dan kesucian dan ketakwaan dan ekonomis dalam makanan dan pakaian, berbakti kepada kedua orang tuanya bertakwa wara’ beribadah zuhud banyak puasa dan shalat malam.

11 – Belajar dari lebih dari dua ratus syaikh, semuanya dari Damaskus, dan sebagian besar dari mereka Hanabilah, dan permulaan mendengarnya dari Ibnu Abdul Daim di Damaskus, dan dia berusia tujuh tahun, dan jumlah yang disebutkan namanya dari mereka dalam “Kumpulan” ini adalah tiga puluh enam syaikh.

12 – Permulaan-permulaan dalam hidupnya yang menunjukkan kecerdasan dini:

  • Belajar khat dan hisab di Kuttab.
  • Menghafal Al-Qur’an ketika masih kecil.
  • Menguasai ilmu-ilmu dari tafsir dan hadits dan fikih dan ushul dan bahasa Arab dan sejarah dan aljabar dan muqabalah dan mantiq dan hai’ah dan ilmu ahli Kitabain dan agama-agama lain, dan ilmu ahli bid’ah, dan lainnya dan dia berusia belasan tahun, sampai-sampai dia menguasai bahasa Arab dalam beberapa hari, dan memahami kitab Sibawaih dalam beberapa hari, dan dalam hadits mendengar Musnad berkali-kali dan tidak dicatat padanya kesalahan bahasa yang disepakati, dan keperhatiannya pada tafsir adalah perhatian total yang tidak ada bandingannya.
  • Berdebat dan berdalil ketika belum baligh.
  • Berfatwa pada usia tujuh belas tahun yaitu tahun 677.
  • Mengajar pada usia dua puluh satu tahun yaitu tahun 681 setelah wafatnya ayahnya di Madrasah As-Sukkariyah, dan menjabat sebagai syaikhnya pada hari Senin 2/1/683.
  • Memulai pelajaran tafsir di Masjid Al-Umawi pada 10/2/691 yaitu ketika berusia tiga puluh tahun, dan berlanjut selama bertahun-tahun.
  • Haji satu kali tahun 692 yaitu usianya 31 tahun, dan setelah kembali dari haji kepemimpinan dalam ilmu dan agama menjadi miliknya.
  • Menyebarkan ilmu di: Damaskus, dan Mesir, dan Kairo, dan Iskandariah, dan di penjara-penjaranya, dan di Tsughr.
  • Mengajar di Madrasah Hanabilah pada hari Rabu 17/8/695.
  • Perjalanan pertamanya ke Mesir di Kairo dan Iskandariah dua kali tahun 700, kemudian kembali ke Damaskus, kemudian kembali ke Mesir tahun 704, dan tinggalnya di sana sekitar tujuh tahun tujuh Jumat yaitu sampai tahun 712 berpindah-pindah di sebagian besarnya antara penjara-penjara Kairo dan Iskandariah.
  • Mulai menulis ketika berusia tujuh belas tahun.

Dan demikianlah dari permulaan-permulaan dini yang menunjukkan kecerdasannya, dan kesiapannya untuk ijtihad dan tajdid dan kepemimpinan dalam ilmu dan agama.

Perkara Kedua: Mengetahui titik-titik kekuatan dalam biografinya:

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan, bersemangatlah pada apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu lemah.”

Dan barangsiapa melihat biografi Syaikhul Islam rahimahullahu ta’ala akan menemukan bahwa Allah Subhanahu telah menganugerahinya sebab-sebab kekuatan yang dibangun di atasnya kubah kemenangan yaitu: keteguhan, dan rajin berzikir kepada Allah Ta’ala, dan taat kepada Allah dan taat kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan persatuan dengan para pendukung Islam dan Sunnah, dan kesabaran, dan Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Surah Al-Anfal: 45-46).

Dan di antara manifestasi kekuatan pada Syaikhul Islam rahimahullahu ta’ala:

  • Apa yang Allah karuniakan kepadanya dari kekuatan tubuh dan ketepaannya, dan kekuatan penyampaian dalam suaranya, karena dia bersuara keras, menguasai hati para pendengarnya.
  • Kekuatan hafalan karena telah membuat para cendekiawan takjub dengan itu, dan jarang menghafal sesuatu lalu melupakannya, dan dia menghafal “Al-Muhalla” karya Ibnu Hazm dan menghafalnya dengan baik, dan permulaan hafalannya dari hadits adalah: “Al-Jam’ baina Ash-Shahihain” karya Al-Humaidi, dan sedikit yang menghafal apa yang dia hafal dari hadits beserta sanadnya, dengan kuatnya menghadirkannya saat memberikan dalil.
  • Kekuatannya dalam kecerdasan yang luar biasa, dan kelancaran pikirannya, dan cepatnya pemahaman; dan karena itu dikatakan tentangnya: “Seakan kedua matanya dua lisan yang berbicara”.
  • Tanggal-tanggal yang memiliki makna atas kekuatan dan kecerdasan dininya:
  • Berdebat ketika belum baligh, dan hadir di madrasah-madrasah dan majelis-majelis di masa kecilnya lalu berbicara dan berdebat dan membungkam orang-orang besar dan datang dengan apa yang membuat tokoh-tokoh negeri dalam ilmu bingung, dan tidak diketahui bahwa dia berdebat dengan seseorang lalu terputus bersamanya.
  • Berfatwa pada usia tujuh belas tahun, yaitu tahun 677, dan Asy-Syaraf Ahmad bin Ni’mah Al-Maqdisi Al-Hanbali yang wafat tahun 694 adalah yang mengizinkannya berfatwa dan dia bangga dengan itu.
  • Mulai menulis ketika berusia tujuh belas tahun yaitu tahun 677.
  • Mengajar ketika berusia dua puluh satu tahun, yaitu tahun 681.
  • Dan permulaan pelajarannya setelah wafat ayahnya di madrasah hadits As-Sukkariyah, dan menjabat sebagai syaikhnya pada hari Senin 2/1/683.
  • Memulai pelajaran tafsir pada 10/2/691 yaitu usianya tiga puluh tahun, dan berlanjut selama bertahun-tahun dan telah terikat baginya kepemimpinan dalam tafsir dan ilmu-ilmu Al-Qur’an Al-Karim, dan telah memusatkan perhatian padanya secara total sampai meraih tongkat estafet, dan dikatakan: bahwa dia menyusun tafsir panjang yang datang di dalamnya dengan hal aneh mengagumkan.
  • Kekuatannya dalam menuntut dan menerima dan mengambil dari para syaikh, sampai berkeliling di Damaskus kepada lebih dari dua ratus syaikh.
  • Kekuatannya dalam penelitian dan bacaan dan muthala’ah, maka hampir jiwanya tidak puas dari ilmu, dan tidak puas dari muthala’ah, dan tidak bosan dari kesibukan, dan tidak lelah dari penelitian.
  • Kekuatannya dalam mengendalikan diri dan menguasainya dari kelezatan dunia, maka tidak ada kelezatan baginya kecuali dalam menyebarkan ilmu dan membukukannya dan mengamalkannya.

Dan kekuatan ini memiliki manifestasi:

  • Penolakannya terhadap pemberian-pemberian.
  • Kepuasannya dengan apa yang dimilikinya dari gaji yang mencukupi kebutuhannya di tangan saudaranya Asy-Syaraf dan dialah yang mengurus urusan-urusan dan kepentingan-kepentingannya.
  • Tidak menikah dan tidak berselir sama sekali bukan tidak suka kepada sunnah ini, tetapi dia terbebani pundaknya dengan beban-beban ilmu dan dakwah dan jihad.

Kekuatan dalam Berbagai Aspek Kehidupannya

  • Kekuatannya dalam sikap jihadnya, peperangan-peperangan Islam, dan menghancurkan kekuatan orang-orang murtad dan Bathiniyah, seperti dalam peristiwa Syaqhab, Kasrawan, dan sikapnya terhadap Ghazan, hingga keberaniannya dilukiskan seperti “keberanian Khalid bin Walid”.
  • Kekuatannya dalam menjalani kehidupan yang serius dan tidak mengenal main-main, apalagi akhlak yang rendah seperti ghibah (menggunjing) dan namimah (mengadu domba). Beliau rahimahullah sangat menjaga diri dari ghibah dan namimah, dan tidak diketahui kesalahannya dalam hal itu sama sekali. Majelis-majelisnya dipenuhi dengan kebaikan, sehingga orang-orang yang suka menggunjing tidak berani mendatanginya.
  • Kekuatannya dalam bersikap kepada para penguasa, dalam memberi nasihat, memerintahkan kebaikan, dan melarang kemungkaran.
  • Kekuatannya dalam beribadah, menghambakan diri kepada Allah, dan terus-menerus berdzikir serta melaksanakan wirid-wirid. Tidak ada yang menyibukkannya dari hal ini dan tidak ada yang mengalihkannya.

Maka di manakah orang yang menampakkan kekuatan dalam kebenaran, namun ketika tiba waktu-waktu ibadah, anggota tubuhnya menjadi berat dan dia tertimpa kemalasan, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Asy-Syafi’i rahimahullah tentang keajaiban-keajaiban yang beliau saksikan, di antaranya: bahwa beliau melihat seorang penyanyi di Madinah yang mengajarkan nyanyian kepada para budak wanita, usianya 90 tahun dan dia berdiri, tetapi ketika tiba waktu shalat, dia shalat sambil duduk—kita berlindung kepada Allah dari kekurangan pahala—sebagaimana dalam “Thabaqat As-Subki” (2/99).

  • Kekuatannya dalam menggali makna-makna nash, mengalirkan sungai-sungai darinya, dan mengeluarkan harta karunnya. Ini saja sudah memberikan dorongan kepada penuntut ilmu untuk terus memperhatikan kitab-kitabnya dan membacanya berulang kali.
  • Kekuatannya dalam menulis karya: Beliau rahimahullah mulai menulis karya pada usia tujuh belas tahun, dan termasuk orang yang sangat jarang pada zamannya dalam banyaknya karya tulis. Tidak diketahui dalam Islam orang yang menulis karya sebanyak atau mendekati apa yang beliau tulis. Karya-karyanya diperkirakan mencapai lima ratus jilid, atau empat ribu karrasy (bundel kertas) atau lebih. Yang beliau tulis dalam satu hari dan satu malam mencapai empat karrasy. Beliau menulis karya-karyanya dari hafalan, dan memiliki pena yang sangat cepat dalam menulis, hampir menyamai kilat ketika menyambar, namun tulisan tangannya sangat rumit dan sulit dibaca. Karya-karyanya sangat cemerlang dengan hujah yang kuat, susunan dan pengaturan yang baik, tidak tercampur dengan kerancuan, melainkan bersih dari kesamaran dan syubhat. Banyak di antaranya masih berupa draft yang belum dibersihkan. Beliau memiliki karya khusus tentang satu masalah atau lebih.

Di antara karya-karyanya ada yang ditulis dalam satu duduk, seperti: Al-Hamawiyyah yang ditulisnya antara waktu Zhuhur dan Ashar tahun 698 Hijriyah ketika beliau berusia tiga puluh delapan tahun. Beliau menulis beberapa kitab untuk penduduk berbagai negeri, memenuhi permintaan mereka, di antaranya: untuk penduduk Wasith: Al-Aqidah Al-Wasithiyyah, Al-Hamawiyyah untuk penduduk Hamah, Al-Marrakusyiyyah untuk penduduk Marrakesy, At-Tadmuriyyah untuk penduduk Tadmur, dan seterusnya.

Beliau menulis sebagian kitabnya ketika di penjara, di antaranya: di penjara Mesir: Ar-Radd ‘ala Al-Bakri, Ar-Radd ‘ala Al-Ikhna’i. Beliau menulis Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyyah ketika di Mesir, dan menulis karya yang tak terhitung jumlahnya di penjara benteng Damaskus.

Karena sebagian karya dan fatwanya, beliau mengalami berbagai ujian berupa penjara dan celaan yang tidak benar, seperti yang terjadi karena Al-Hamawiyyah, Al-Wasithiyyah, karena fatwanya tentang talak tiga, bersumpah dengan talak, fatwa tentang ziarah dan safar khusus, dan lain-lain.

Hal ini ditambah dengan apa yang terjadi pada beliau dalam sebagian masa penjaranya berupa pelarangan tinta dan pena, serta pengeluaran semua buku dan kertas yang beliau miliki.

Perkara Ketiga: Titik-Titik Kelemahan dalam Perjalanan Hidupnya Menurut Pandangan Para Pengamat:

  • Kelemahannya menurut pandangan para pencinta jabatan dan kekuasaan: Beliau ditawari jabatan-jabatan ilmiah namun menolaknya, dan berkata: orang lain bisa melaksanakannya, adapun menyebarkan ilmu, meluruskan akidah, dan mengembalikan manusia kepada Allah dan Rasul-Nya, itulah yang paling dibutuhkan manusia.

Maka ini adalah keutamaan yang mengabadikan namanya di seluruh dunia, sementara para pemegang jabatan dengan kemegahan mereka menghilang dengan apa yang mereka miliki dan apa yang menimpa mereka—semoga Allah memberi ampunan dan maghfirah-Nya kepada semua.

  • Kelemahannya menurut pandangan pencari harta: Beliau ditawari gaji dan pemberian, namun menolaknya, karena beliau rahimahullah mengetahui bahwa jika tangan sudah mengambil, maka perlawanan terhadap kebatilan akan melemah, dan kedudukan pemberi nasihat akan goyah. Maka hendaknya yang berkata “Aku layak untuk itu” mengambil pelajaran.
  • Beliau rahimahullah tidak menikah dan tidak mengambil budak wanita. Ini adalah kenikmatan yang tidak dilewatkan oleh kebanyakan orang dunia. Oleh karena itu tidak diketahui bahwa hal-hal semacam ini dibicarakan di hadapannya, sebagaimana perkataan sebagian salaf: “Jauhkan dari majelis kalian pembicaraan tentang perut dan kemaluan,” dan ini adalah akhlak yang luhur dan kemuliaan jiwa.

Perkara Keempat: Kepeloporan Ilmiah

Ini adalah salah satu keutamaan paling menonjol dalam kehidupan ilmiah dan amaliah Syaikhul Islam. Beliau memiliki kepeloporan dalam tajdid (pembaharuan) dalam mewujudkan tauhid setelah lama hilang, melindunginya, dan menjaga batas-batasnya dengan hal-hal yang detail hingga menjadi cahaya yang diikuti oleh para pembaharu.

Para musuh meresponnya dengan: tuduhan-tuduhan palsu terhadap Syaikh, seperti: tuduhan membenci Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—mana buktinya? Tuduhan bahwa beliau melarang ziarah kubur, padahal beliau hanya melarang yang bid’ah bukan yang syar’i. Tuduhan bahwa beliau melarang ziarah ke kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal beliau hanya melarang safar khusus untuknya. Tuduhan bahwa beliau bersekutu dengan orang Nasrani, padahal bagaimana mungkin, sementara beliau menulis “Al-Jawab Ash-Shahih liman Baddala Din Al-Masih”?

Dan kepeloporan tajdid dalam masalah-masalah fikih yang tidak terhitung banyaknya. Para musuh meresponnya dengan tuduhan bahwa beliau melanggar ijma’. Al-Allamah Burhanuddin Ibrahim bin murid Syaikhul Islam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah membela beliau dalam risalah yang bermanfaat berjudul: “Ikhtiyarat Syaikhil Islam Ibnu Taimiyyah”.

Dan kepeloporan tajdid dalam ilmu-ilmu mantiq dan filsafat, menghancurkan melalui bantahan-bantahannya terhadap mereka sejumlah teori dan kaidah mereka.

Perkara Kelima: Mengambil Pelajaran dan Hikmah

Dapat diambil pelajaran sebagai berikut:

1 – Syaikhul Islam rahimahullah tidak memperoleh kedudukan sebagai imam dalam ilmu dan agama kecuali dari dampak takwa, keyakinan, dan kesabaran dalam menghadapi kesulitan karena Allah. Oleh karena itu beliau berkata: “Dengan kesabaran dan keyakinan, seseorang akan meraih kepemimpinan dalam agama.”

2 – Di antara sebab-sebab terbesar meraih kemenangan dan pertolongan adalah zuhud terhadap jabatan dan kekuasaan, menahan diri dari kemegahannya. Sebagaimana Syaikhul Islam demikian, maka para imam Islam juga berada di jalan ini, di antaranya Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Oleh karena itu dikatakan dalam biografinya: “Dunia datang kepadanya namun dia menolaknya, dan jabatan-jabatan namun dia membencinya.”

Maka kasihan orang yang mendambakannya dan berkata: aku layak untuknya, dan merugi—demi Allah—orang yang membayar harganya di muka dengan melepaskan sebagian agamanya, bersikap lunak dengan mengorbankan ilmu dan keyakinannya. Setiap orang akan menghitung dirinya sendiri.

3 – Kesederhanaan adalah bagian dari iman, dan hemat dalam urusan penghidupan adalah fungsi ahli Islam. Demikianlah Syaikhul Islam rahimahullah menjauhi kemewahan dalam kehidupan dan mencari kenikmatan. Alangkah manisnya adab ini.

4 – Inilah “kesuksesan karena usaha sendiri, bukan karena keturunan”.

Sesungguhnya pemuda adalah yang berkata: ini aku… Bukan pemuda yang berkata: dulunya ayahku

Maka celaka bagi para pencinta “sistem kelas” yang bernyanyi dengan kemuliaan leluhur mereka padahal mereka telah merosot, dan mereka sombong kepada manusia dengan keluarga dan karib kerabat mereka padahal mereka telah kotor. Adapun yang menggabungkan dua kebaikan dan meraih dua keutamaan, maka itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki.

Demikianlah Syaikhul Islam rahimahullah, beliau tidak bersandar kepada dunia dan bernyanyi dengan nenek moyangnya dengan berkata: ayahku adalah mufti Hanabilah, kakekku Al-Majd adalah Syaikhul Islam… Namun beliau menempuh jalan ilmu dan iman hingga menjadi perhiasan bagi ahli Islam.

5 – Jiwanya hampir tidak pernah kenyang dari ilmu, tidak pernah puas dari membaca, tidak pernah bosan menyibukkan diri dengannya, dan tidak pernah lelah meneliti di dalamnya. Jarang beliau masuk dalam suatu ilmu kecuali dibukakan untuknya. Oleh karena itu Adz-Dzahabi berkata: “Aku tidak melihatnya kecuali dengan perut kitab (selalu membaca kitab).”

Dalam selain “Al-Jami'” ini, As-Sakhawi berkata dalam “Al-Jawahir wad-Durar: 1/117” dengan sanadnya dari Asy-Syams Ibnud-Dairi, ia berkata: Aku mendengar Alauddin Al-Basthami di Baitul Maqdis berkata ketika ditanya apakah engkau melihat Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah, maka dia berkata: Ya, aku bertanya: Bagaimana sifatnya, maka dia berkata: Apakah engkau melihat Qubbatus Shakhrah (Kubah Batu), aku berkata: Ya, dia berkata: Beliau seperti Qubbatus Shakhrah, dipenuhi kitab-kitab dan memiliki lisan yang berbicara.

Ini dengan keseriusan total dari urusan-urusan dunia, karena beliau tidak memiliki penghasilan kecuali yang sedikit, dan saudaranya Syarafuddin yang menjamin urusan-urusannya.

Ini memberi pelajaran berikut: yaitu tidak mungkin berkumpulnya dua hal yang berlawanan, sebagaimana:

Cinta kitab dan cinta melodi nyanyian… Di dalam hati seorang hamba tidak akan berkumpul

Maka cinta ilmu dan kesibukan hati serta badan dengan harta, mengumpulkannya, mengembangkannya, dan berlomba-lomba di dalamnya tidak akan berkumpul. Semakin engkau berikan ini dari usaha dan waktumu, maka akan hilang dari itu. Mari kita menangisi keadaan kita?

6 – Ketika beliau rahimahullah bepergian ke Mesir tahun 700 Hijriyah, beliau singgah di rumah paman muridnya Ibnu Fadhlillah Al-Umari. Perjalanannya untuk mendorong jihad. Diatur untuknya gaji dan pemberian-pemberian, namun beliau tidak menerima sedikitpun.

Apakah yang tertimpa ujian mengemis pada tingkat tinggi akan mengambil pelajaran, dan bersikap angkuh kepada kenalannya dan saudara-saudaranya, sedangkan para pembesar di antara mereka mengetahui bahwa dia dalam zahir: ditaati dan diikuti, namun dalam batin: hamba yang mengikuti, hina, dan taat.

Namun bumi tidak kosong dari orang-orang yang mengikuti jejak orang-orang saleh yang melepaskan diri dari keuntungan-keuntungan ini.

7 – Pelajaran dan hikmah dari gangguan yang beliau rahimahullah terima karena Allah Ta’ala:

Sesungguhnya seorang alim yang Allah bukakan untuknya warisan ilmu kenabian, dan melihat realita kehidupan lalu dia melihat dari kegelapan berpaling dari wahyu dan tanzil yang Allah sangat mengetahuinya: Hulul (paham kesatuan dengan Tuhan), Ittihad (paham manunggal), tarekat bid’ah, Jahmiyyah, Mu’tazilah, Asy’ariyyah, para muqallid yang fanatik, dan masing-masing melihat bahwa apa yang dia yakini adalah kebenaran, kemudian datanglah pembawa cahaya yang menentang ini dan itu, tidak diragukan akan memiliki lawan dan lawan-lawan, yang menyebabkan dia dipenjara terkadang, dikurung terkadang, didebat terkadang, dan diganggu dengan ujian-ujian lainnya, menghasut orang-orang bodoh, menyulut rakyat jelata, dan berbagai bentuk gangguan lainnya. Dari semua itu Syaikhul Islam rahimahullah telah mengalaminya. Barangsiapa melihat perjalanan hidup para pembaharu dan karya-karya yang ditulis secara khusus tentang gangguan terhadap mereka seperti kitab “Al-Mihan” karya Abu Al-Arab dan lainnya, tidak akan melihat seorang alim yang mengalami berbagai bentuk gangguan berupa penjara dan lainnya seperti Syaikhul Islam rahimahullah.

Cukup bagiku di sini mengambil dari “Al-Jami'” ini peristiwa-peristiwa penjaraannya dan pengekangan terhadapnya:

Ketika beliau rahimahullah mencapai usia tiga puluh dua tahun dan setelah kembali dari hajinya, mulailah beliau rahimahullah menghadapi penjara-penjara gelap, bencana penahanan, dan pengekangan: “tahanan rumah paksa”. Selama tiga puluh empat tahun, mulai dari tahun 693 Hijriyah hingga hari wafatnya di penjara Benteng Damaskus pada hari Senin 20 Dzulqa’dah 728 Hijriyah. Beliau dipenjara tujuh kali: empat kali di Mesir di Kairo dan Iskandariyah, dan tiga kali di Damaskus. Semuanya sekitar lima tahun. Semuanya juga karena pengaduan kepada penguasa dari musuh-musuhnya yang beliau tentang apa yang mereka yakini dalam akidah, perilaku, dan mazhab, dengan harapan beliau akan berhenti dari mereka, dan akan menghentikan lisan dan penanya dari apa yang mereka yakini, namun beliau tidak pernah kembali.

Ini adalah penjelasan masa-masa penjaraan beliau, sebab-sebabnya, dan dampaknya:

Penjara Pertama:

Di Damaskus tahun 693 Hijriyah selama waktu singkat, karena peristiwa Assaf An-Nashrani, yang disaksikan oleh sekelompok orang bahwa dia mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika berita ini sampai kepada Syaikhul Islam rahimahullah, beliau berkumpul bersama Syaikh Zainuddin Al-Faruqi (syaikh Darul Hadits), lalu mereka berdua menemui wakil Sultan di Damaskus, Izzuddin Aibak Al-Hamuwy. Wakil Sultan memerintahkan menghadirkan Assaf, maka Assaf datang bersama pelindungnya “Amir Al Ali”. Orang-orang melempari mereka berdua dengan batu. Karena ini, wakil Sultan memanggil kedua Syaikh: Ibnu Taimiyyah dan Al-Faruqi, lalu memukulnya di hadapannya, dan menahan mereka di Al-Adzrawiyyah. Kemudian wakil Sultan memanggil mereka berdua dan memuaskan hati mereka. Orang Nasrani itu mengaku masuk Islam, kemudian dibunuh dalam perjalanannya menuju Hijaz, dibunuh oleh anak saudaranya.

Setelah peristiwa ini, Syaikhul Islam menulis kitab: “Ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul” (Pedang Terhunus bagi Pencela Rasul), maka lihatlah dampak rahmat Allah. Dan dapat dipetik dari ini bahwa apabila muhtasib (pengawas kebaikan) menasihati dengan suatu perkara, namun tidak diterima darinya, dan ia mendapat sedikit gangguan dalam jalannya, maka hendaklah ia bersabar menghadapi hal itu dengan jiwa yang ridha, dan penegakannya terhadap kebenaran tidak akan luput dari dampak kebaikan.

Penjara Kedua:

Di Kairo selama satu tahun enam bulan sejak hari Jumat 26 Ramadhan tahun 705, ia dipenjara di menara selama beberapa hari, kemudian dipindahkan ke penjara bawah tanah di Benteng Jabal pada malam hari raya 1/10/705, bersamanya saudara-saudaranya Asy-Syaraf Abdullah dan Az-Zain Abdurrahman, dan berlangsung hingga hari Jumat 23/3/707. Pembantunya dan muridnya Ibrahim Al-Ghayani termasuk yang menemaninya dalam perjalanannya ini ke Mesir.

Sebabnya: Sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam peristiwa tahun 705 dalam majelis ketiga, maka lihatlah secara lengkap dari Jami’ ini (halaman 534-535).

Yaitu karena masalah Arasy, masalah kalam, dan masalah nuzul (turunnya Allah), dan di dalamnya terdapat sikap-sikap heroik dan kejujuran karena Allah yang memenuhi jiwa dengan iman dan kemuliaan dalam beramal.

Di antaranya yang terjadi adalah bahwa saudaranya, Asy-Syaraf, berdoa memohon kepada Allah agar menimpakan laknat kepada mereka ketika mereka keluar, namun Syaikh melarangnya dan berkata kepadanya: “Bahkan katakanlah: ‘Ya Allah, berilah mereka cahaya agar mereka mendapat petunjuk kepada kebenaran.'”

Demi Allah, betapa agungnya adab yang sempurna ini, betapa agungnya akhlak yang mulia ini, merendahkan diri, dan mencari kebenaran. Dan sungguh ini – demi Allah – adalah faedah yang setara dengan perjalanan panjang, dan dimana kondisi kita ini jika salah seorang kita diganggu sedikit saja, ia marah dan murka, serta melontarkan berbagai doa kepada musuhnya, maka Ya Allah jadikanlah bagi kami dan bagi siapa yang menyakiti kami karena-Mu, cahaya yang kami gunakan untuk mendapat petunjuk kepada kebenaran.

Penjara Ketiga:

Di Mesir selama beberapa hari saja, dimulai dari 3/10/707 karena pengaduan kepada penguasa oleh kaum sufi di Kairo; karena ia melarang istighatsah dan tawassul kepada makhluk, dan perkataannya tentang Ibnu Arabi. Maka digelar majelis untuknya dan hadirin berbeda pendapat antara membebaskannya dan menghukumnya, dan di pihak yang menghukum adalah Qadhi Al-Badr Ibnu Jama’ah.

Ketika itu ia diberi pilihan antara tiga perkara: kembali ke Damaskus, atau tetap di Iskandariyah dengan syarat-syarat, atau penjara. Maka ia memilih penjara. Namun sekelompok teman-temannya mendesak agar ia pergi bersama mereka ke Damaskus dan menerima syarat-syarat tersebut, maka ia setuju dan menunggang kuda pos pada malam 18/10/707.

Karena hal ini ia menulis kitabnya tentang istighatsah yang dikenal dengan nama: Ar-Rad ‘alal Bakri (Bantahan terhadap Al-Bakri).

Penjara Keempat:

Di Mesir di ruang tarsim sejak akhir bulan Syawal tahun 707 hingga awal tahun 708, yaitu selama lebih dari dua bulan.

Hal itu karena ketika ia memilih setelah penjara ketiga untuk bepergian ke Damaskus dengan syarat-syarat, mereka mengembalikannya dari pertengahan jalan pada malam keberangkatannya 18/10/707 atas saran Nashr Al-Munbiji Al-Hululi, yang menduduki posisi penting di sisi wali. Maka Syaikh dihadapkan kepada para qadhi Malikiyah, namun mereka berbeda pendapat. Ketika Syaikh melihat hal itu, ia berkata: “Aku akan masuk penjara dan mengikuti apa yang menurut kemaslahatan.” Maka orang-orang berdatangan kepadanya untuk berkunjung, belajar, dan meminta fatwa.

Di sana terjadi kisahnya dengan tiga rahib Nasrani, dan muridnya Al-Ghayani menceritakannya bersama peristiwa-peristiwa lain dalam sekitar sepuluh halaman, maka lihatlah dalam Jami’ ini (halaman 156-163).

Penjara Kelima:

Tarsim (pengasingan terkontrol) di Iskandariyah pada 1/3/709 hingga 8/10/709 tanpa pendamping bersamanya di bawah pengawasan wilayah. Dan ini adalah tipu daya lain dari Nashr Al-Munbiji dan Al-Jasyankir, yang menunggu untuk membunuhnya. Dalam kondisi ini, setelah beberapa hari datang kepadanya Syamsuddin bin Sa’duddin Al-Harrani dan memberitahunya bahwa mereka akan membuangnya ke Iskandariyah. Datang pula para syaikh Tadamriyyah dan memberitahunya tentang hal itu, mereka berkata kepadanya: “Semua ini mereka lakukan agar engkau menyetujui mereka, padahal mereka berupaya membunuhmu, atau membuangmu, atau memenjarakanmu.” Maka ia berkata kepada mereka: “Aku jika dibunuh akan menjadi syahid bagiku, dan jika dibuang akan menjadi hijrah bagiku. Seandainya mereka membuangku ke Siprus, aku akan mengajak penduduknya kepada Allah dan mereka akan memenuhi seruanku. Dan jika mereka memenjarakanku, hal itu akan menjadi tempat ibadahku. Aku seperti domba, bagaimanapun ia berbalik, ia berbalik di atas bulunya sendiri.” Maka mereka putus asa darinya dan pergi.

Tidak beberapa bulan kemudian Al-Malik An-Nashir Muhammad bin Qalawun berkuasa tahun 709, maka ia membebaskan Syaikh dan memanggilnya ke Kairo, dan membunuh Al-Jasyankir dengan pembunuhan yang sangat buruk, dan membawa Nashr Al-Munbiji yang kemudian meninggal di zawiyahnya. An-Nashir ingin membalas dendam kepada para qadhi dan fuqaha yang dulu memihak Al-Jasyankir, maka ia meminta fatwa kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Syaikh memahami maksudnya, lalu mulai memuji mereka dan menyanjung mereka, dan bahwa jika mereka meninggal, engkau tidak akan menemukan seperti mereka di negaramu. Adapun aku, maka mereka bebas dari pihakku.

Qadhi Ibnu Makhluf Al-Maliki berkata setelah itu: “Kami tidak pernah melihat orang yang lebih bertakwa dari Ibnu Taimiyah. Kami tidak menyisakan usaha apapun dalam mencelakakannya, namun ketika ia berkuasa atas kami, ia memaafkan kami.”

Kemudian Syaikh turun ke Kairo dan tinggal dekat dengan masyad (makam) Husain, dan orang-orang dari berbagai tingkatan berdatangan kepadanya, sementara ia berkata: “Aku menghalalkan (memaafkan) setiap orang yang menyakitiku,” dan “Siapa yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, maka Allah akan membalas dendam darinya.”

Ia mendapat pengagungan dan penghormatan yang panjang jika diceritakan, dan Ibnu Katsir menguraikannya pada tahun-tahun 709 hingga tahun 712. Dan berlangsung hingga ia tiba di Damaskus bersama Sultan untuk menghadapi Tartar pada 8/10/712, yaitu setelah berada di Mesir sekitar tujuh tahun, dipenjara dan diasingkan selama itu sebanyak empat kali, menghabiskan waktu sekitar dua setengah tahun, dan saudara-saudaranya bersamanya hingga ia kembali ke Damaskus.

Selama masa tinggalnya di Mesir ini, terjadi kebaikan yang banyak dan penyebaran ilmu yang besar. Di sana ia menulis sejumlah besar karyanya, di antaranya: “Minhajus Sunnatin Nabawiyyah”, “Al-Iman”, “Al-Istiqamah”, “Talbisul Jahmiyyah”, “Al-Fatawa Al-Mishriyyah” dan lain-lain yang disebutkan oleh Ibnu Rajab dalam biografinya.

Penjara Keenam:

Di Damaskus selama lima bulan dua puluh delapan hari, sejak hari Kamis 7/12/720 hingga hari Senin 10/1/721 karena masalah sumpah dengan talak. Ini menghasilkan kumpulan besar kitab, fatwa, dan bantahan yang lengkap, di antaranya: “Ar-Raddul Kabir ‘ala man I’taradha ‘alaihi fi Mas’alatil Halfi bith-Thalaq” (Bantahan Besar terhadap yang Menentangnya dalam Masalah Sumpah dengan Talak).

Penjara Ketujuh:

Di Damaskus selama dua tahun tiga bulan empat belas hari, dimulai dari hari Senin 6/8/726 hingga malam wafatnya – rahimahullahu ta’ala – malam Senin 20/11/728 karena masalah ziarah. Ini menghasilkan penulisan kitabnya: “Ar-Rad ‘alal Ikhna’i” (Bantahan terhadap Al-Ikhna’i).

Di dalamnya ia mendapat pembukaan ketuhanan (futuhat rabbaniyyah) berupa ilmu dan ibadah yang memukau akal, dan keluar darinya kitab-kitab, risalah-risalah, dan fatwa-fatwa yang sangat mengagumkan, padahal di akhir waktunya ia dilarang menggunakan pena, tinta, buku, dan kertas.

Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa jalan perbaikan itu berat dan panjang, serta penuh dengan bahaya, gangguan, dan kesulitan. Namun bukan berarti seseorang membebani dirinya dengan pertentangan, sementara ia tidak memiliki bekal ilmu, tidak kebal karena keikhlasan, tidak memiliki lisan kejujuran di tengah umat, kemudian berkata: Aku meneladani Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala!! Karena ini termasuk menghadapi ujian yang tidak tertahankan, dan memiliki dampak negatif terhadap perjalanan dakwah yang tidak tersembunyi, dan Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.

8 – Dari kehidupan Imam pembaharu ini dan dakwah perbaikannya, engkau mengetahui makna tajdid (pembaharuan), yaitu mengikuti jejak, menghidupkan sunnah-sunnah, mengikuti dalil, dan memperbaiki kondisi umat yang rapuh dengan mengembalikannya kepada Kitabullah dan Sunnah. Karena itulah dakwahnya dan karya-karyanya menjadi mercusuar bagi umat Islam. Dari sini engkau mengetahui kepalsuaan dakwah-dakwah pembaharuan kontemporer dari sebagian orang yang memiliki penyimpangan dalam pemikiran dan keyakinan. Dakwah tajdid dalam fikih, tajdid dalam ushul, tajdid dalam standar penerimaan sunnah, dan seterusnya dari dakwah-dakwah yang merusak agama dan merugikan kaum muslimin. Dan kepada Allah kita memohon pertolongan.

Setelah pemaparan ini yang saya tidak dapat tidak menyajikannya karena sangat terpengaruh oleh biografi Imam ini melalui membaca “Al-Jami’ li Sirah Syaikhil Islam Ibni Taimiyah rahimahullahu ta’ala”, saya katakan: Ini adalah orientasi yang diberkahi dalam penulisan dan pola yang indah dalam penyusunan, dengan mengekstrak biografi ulama terkenal yang berjasa dalam melayani ilmu dan agama dari kitab-kitab biografi umum, yang tercetak maupun yang masih manuskrip, mengumpulkannya, dan menyusunnya secara kronologis dalam satu buku, agar berada di hadapan peminat dalam satu tempat, sehingga menghemat usaha dan waktu, memberikan manfaat ilmu, dan kaum muslimin dapat menikmati berita-berita para imam mereka dan harum biografi mereka. Ulama yang merenungkan dapat menambahkan setiap informasi kepada sejenisnya, membandingkannya, melengkapi yang terlewat dari biografi satu ke yang lain, serta mengambil pelajaran, hikmah, dan petunjuk hidup dari baris-barisnya.

Ini adalah cabang baru dari cabang-cabang penulisan dalam “Ilmu Rijal” yang saya tidak mengetahuinya dalam kitab-kitab ulama terdahulu. Barangsiapa melihat kitab-kitab berbagai jenis ilmu seperti: “Abjad al-‘Ulum” dan asalnya, tidak akan melihat isyarat kepada orientasi penulisan ini. Hal ini ada pada sebagian ulama masa kita sebagaimana disebutkan oleh kedua penyusun – semoga Allah memberi pahala kepada mereka – dalam mukaddimah “Al-Jami'” ini, mengenai beberapa tokoh, namun tidak secara menyeluruh dan tidak mengikuti yang tercetak dan manuskrip, sehingga terjadi banyak kekurangan dalam pengumpulannya.

Mungkin model unggul ini di hadapanmu: “Al-Jami’…” adalah yang pertama dari jenisnya dalam penulisan dengan jalan ini:

Siapa bagiku yang seperti jalanmu yang manja Berjalan perlahan namun tiba di awal

Betapa aku sangat berharap hal itu, hingga Allah memberikan taufik kepada dua syaikh yang mulia, Syaikh Muhammad Uzair Syams dan Syaikh Ali bin Muhammad Al-‘Imran, maka mereka berdua mengumpulkan kitab ini. Mereka berhasil dalam memilih tokoh Al-Jami’ ini: “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,” dalam kualitas mengumpulkan biografi-biografi tambahan, dalam kebaikan pencetakan dan penerbitan, serta mukaddimahnya yang lengkap. Maka semoga Allah membalas usaha mereka dan memberi pahala kepada mereka atas petunjuk yang diberi taufik ini kepada kebaikan, dan yang menunjukkan kepada kebaikan seperti yang melakukannya.

Adapun biografi Imam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala dapat dipetik dari lima sumber yaitu:

Sumber Pertama: Kitab-kitab biografi dan riwayat hidup umum, dan “Al-Jami'” ini telah mencukupkan kita dari mencarinya.

Sumber Kedua: Kitab-kitab khusus tentang biografinya, yaitu lima belas kitab selama abad-abad yang disebutkan, sebagaimana dalam mukaddimah “Al-Jami'” ini. Sebagaimana biografinya oleh muridnya Ibnu Abdul Hadi dalam kitabnya: “Mukhtashar Thabaqat ‘Ulama’ al-Hadits” adalah biografi yang paling lengkap, maka kitabnya yang khusus: “Al-‘Uqudul Durriyyah…” dirujuk oleh kitab-kitab khusus lainnya. Saya berpendapat untuk mengedit ulang dan mencetak kembali: “Al-‘Uqudul Durriyyah…” dan ditambahkan kepadanya apa yang lebih darinya dari kitab-kitab biografi khusus yang disebutkan sebagai catatan kaki di tempat yang sesuai dari kitab ini, hingga mencukupkan darinya.

Sumber Ketiga: Mengumpulkan biografi otomatis melalui karya-karyanya, dan sebagian ulama utama telah ditugaskan untuk pekerjaan ini, dan sedang dalam tahap penyusunan setelah penelitian dan pengumpulan.

Sumber Keempat: Mengikuti biografinya dari kitab-kitab murid-muridnya seperti Ibnul Qayyim, Ibnu Abdul Hadi, Ibnu Muflih, Ash-Shafadi, Ibnul Wardi, dan lain-lain.

Sumber Kelima: Mengikuti biografinya melalui biografi para pendukung dan lawan-lawannya sejak tanggal kelahirannya tahun 661 hingga tanggal wafatnya tahun 728, bahkan hingga akhir abad kedelapan.

Dan dua sumber terakhir, keempat dan kelima, memerlukan orang yang bersemangat untuk mengekstraknya.

Setelah kelima sumber ini lengkap, saya berpandangan agar ulama yang Allah kehendaki meluangkan waktu untuk menyusun darinya satu biografi yang terdokumentasi, berurutan informasinya, mencakup semua yang ada dalam sumber-sumber ini dengan nama: “As-Sirah al-Jami’ah li Syaikhil Islam Ibni Taimiyah” rahimahullahu ta’ala – dan hal itu tidak sulit bagi Allah.

Penutup

Sebagai penutup, sesungguhnya “Al-Jami'” (kitab kumpulan) ini termasuk harta berharga yang mendidik jiwa dan menyirami pohon keimanan di dalamnya. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Semoga Allah melimpahkan salawat kepada Nabi dan Rasul kita Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, dan semoga Allah melimpahkan kesejahteraan.

Ditulis oleh

Bakr bin Abdullah Abu Zaid

3/3/1420

 

 

Pengantar Cetakan Kedua

Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya, dan salawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga hari pembalasan.

Amma ba’du; Kitab ini – “Al-Jami’ Lisirah Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah” (Kumpulan Biografi Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah) – telah mendapat sambutan yang baik dan mendapat kedudukan yang bagus di kalangan ahli ilmu, para pencinta Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah, serta para pengkaji karya-karyanya, kepribadiannya, dan ilmu-ilmunya.

Kami telah menyerukan dalam pengantar buku tersebut kepada para ahli ilmu dan peneliti untuk terus menyampaikan biografi Syaikh yang terlewat atau apa yang dilihat oleh para pembaca buku tersebut, yang dapat menutup kekurangannya dan memperbaiki cacatnya, sehingga mencapai tingkatan kesempurnaan dan kebenaran. Dan itu telah terwujud – segala puji bagi Allah – kami menerima sejumlah biografi yang terlewat, yaitu dari sumber-sumber berikut ini sesuai urutan kronologis:

  1. “Nuzhah al-‘Uyun fi Tarikh Thawa’if al-Qurun” (manuskrip). Karya al-Malik al-Afdhal Abbas bin Ali bin Dawud bin Rasul al-Yamani (778).
  2. “Al-‘Iqd al-Fakhir al-Hasan fi Thabaqat Akabir al-Yaman” (manuskrip). Karya sejarawan Syamsuddin Ali bin al-Hasan al-Khazraji al-Yamani (812).
  3. “Ghirbal al-Zaman fi Wafayat al-A’yan” (diterbitkan). Karya Allamah Yahya bin Abi Bakr bin Muhammad al-Haradhi al-Yamani (893).
  4. “Qiladah al-Nahr fi Wafayat A’yan al-Dahr” (manuskrip). Karya sejarawan Abdullah al-Thayyib bin Ahmad Ba Makhramah (947).
  5. “Al-Durr al-Maknun fi Ma’athir al-Madhi min al-Qurun” (manuskrip). Karya Syaikh Yasin bin Khairullah al-Mushili (setelah 1232).

Keberhasilan menemukan sumber-sumber di atas berkat saudara Profesor Ali al-Syarafi al-Yamani, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan.

Dan di antara yang kami peroleh juga adalah biografi Syaikh dari kitab:

  1. “Nuzul man Ittaqa bi Kasyf Ahwal al-Muntaqa” (diterbitkan). Karya Syaikh Abu al-Fath Abdul Rasyid bin Mahmud al-Kasymiri (1298).

Kitab ini selesai dicetak pada tahun 1297, di dalamnya ia menjelaskan keadaan “Al-Muntaqa” karya al-Majd Ibnu Taimiyah – kakek Syaikh al-Islam – kemudian ia memperluas pembahasan dengan membuat biografi sejumlah keluarga “Alu Taimiyah”, di antaranya adalah Syaikh rahimahullah yang biografinya diperpanjang dan diperbagus.

Keberhasilan mendapatkan kitab ini berkat Yang Mulia Syaikh Bakr Abu Zaid – semoga Allah menjaganya.

Dan kami memandang perlu untuk mencantumkan di sini:

  1. Contoh bacaan-bacaan Syaikh al-Islam rahimahullah kepada para syaikh, yaitu pada tahun 680 ketika usianya sembilan belas tahun. Sumber bacaan-bacaan ini adalah: “Mu’jam Sama’at al-Hafizh al-Birzali”. Kami menemukan sebagian kecil darinya, sekitar 10 lembar dengan tulisan tangan al-Birzali di Perpustakaan Zhahiriyah Damaskus.

Siapa yang mengetahui bacaan-bacaan ini akan mengetahui pentingnya yang sangat besar dalam biografi Syaikh… Dan di antaranya adalah: deskripsi al-Birzali – teman Ibnu Taimiyah – terhadapnya dengan sebutan “Imam” padahal ia masih dalam usia tersebut. Keberhasilan mendapatkannya berkat saudara kita Syaikh Ahmad al-Hajj.

Yang kami lakukan dalam cetakan ini adalah: Kami mengulangi pencocokan teks-teks kitab “Al-Bidayah wa al-Nihayah” dengan cetakan baru yang diterbitkan oleh Dr. Abdullah al-Turki, bekerja sama dengan Markaz al-Dirasat di Dar Hajar. Maka muncul bagi kami banyak perbedaan, penambahan di beberapa tempat, dan banyak perbaikan yang meluruskan banyak teks dalam kitab.

Demikian pula kami lakukan pada banyak sumber lainnya. Kami merujuk kepada berbagai cetakan dan mencocokkan teks-teksnya, sehingga kami mendapat manfaat darinya dalam memperbaiki buku.

Kami juga memberikan catatan pada sejumlah teks yang membutuhkan keterangan seperti dalam masalah membuka mushaf untuk mengambil fal (halaman 162), dan lainnya.

Di antara tambahan ilmiah dalam cetakan ini adalah: pembetulan penisbahan “Risalah Abdullah Ibnu Hamid – salah seorang ulama Syafi’iyah” karena risalah tersebut ditujukan kepada Abu Abdullah Ibnu Rasyiq (749) sekretaris Syaikh al-Islam, bukan kepada Abu Abdullah Ibnu Abdul Hadi penulis “Al-‘Uqud”. Kami menyebutkan rujukan hal itu di tempatnya ketika menyampaikan risalah Ibnu Hamid (halaman 285).

Persoalan Rujuknya Syaikh dari Akidahnya

Dan di sini ada persoalan yang perlu diluruskan, yaitu:

Apa yang menjadi keraguan bagi banyak orang, karena disebutkan dalam beberapa sumber bahwa Syaikh rahimahullah telah menulis sebuah kitab yang berisi akidah yang bertentangan dengan apa yang ia serukan dan ia fatwakannya sepanjang hidupnya, bahkan ia dipenjara karenanya. Maka kami katakan – untuk meluruskan persoalan ini dan membantah siapa yang dilanda oleh hawa nafsu dan syubhat:

Rujukan ini disebutkan oleh setiap dari:

  1. Muridnya Ibnu Abdul Hadi (744) sebagaimana dalam (Al-‘Uqud al-Durriyah: 251-252) yang dinukil dari al-Dzahabi.
  2. Al-Dzahabi (748) – muridnya – sebagaimana dinukil darinya oleh Ibnu Abdul Hadi (sebelumnya), dan berikut teksnya:

“…Dan terjadi banyak perkara, dan dikirimkan ke Syam surat dari Sultan yang mencela dirinya, maka dibacakan di masjid dan orang-orang merasa sedih untuknya. Kemudian ia tinggal satu setengah tahun (yaitu: tahun 707) dan dikeluarkan, dan ia menulis untuk mereka lafal-lafal yang mereka usulkan kepadanya, dan ia diancam serta ditakut-takuti dengan pembunuhan jika ia tidak menulisnya. Dan ia tinggal di Mesir mengajarkan ilmu dan banyak orang berkumpul di sisinya…” selesai.

  1. Ibnu al-Mu’allim (725) dalam “Najm al-Muhtadi wa Rajm al-Mu’tadi” (salinan Paris nomor 638) dan al-Nuwairi (733) dalam “Nihayah al-Arab – sebagaimana dalam Al-Jami’ 223-225”, dan di dalamnya disebutkan bahwa majelis ini terjadi setelah kedatangan Amir Husamuddin Muhanna (Rabi’ul Akhir/707) dan Syaikh dikeluarkan (hari Jumat 23 Rabi’ul Awwal 707).

Kemudian al-Nuwairi menyebutkan isi dari kitab yang menceritakan apa yang ada dalam majelis tersebut, dan bahwa ia (yaitu: Syaikh) menyebutkan bahwa ia Asy’ari, dan bahwa ia meletakkan kitab al-Asy’ari di atas kepalanya, dan bahwa ia rujuk dalam masalah (Arasy, Alquran, Nuzul, dan Istawa) dari madzhab beliau – madzhab Ahlussunnah – dan kitab itu bertanggal (25 Rabi’ul Awwal 707).

Kemudian diadakan majelis lain, dan ditulis di dalamnya seperti apa yang disebutkan sebelumnya pada (16 Rabi’ul Akhir 707) dan dipersaksikan atas dirinya.

  1. Adapun al-Birzali (739) – temannya – maka ia tidak menyebutkan dalam peristiwa tahun-tahun ini sesuatu pun (Al-Jami’: 256-258).
  2. Al-Dawadari (setelah 736) menyebutkan dalam “Kanz al-Durar – Al-Jami’: 284” bahwa mereka mengadakan majelis lain untuknya pada (14 Rabi’ul Akhir 707) setelah perginya Amir Husamuddin, dan tercapai kesepakatan untuk mengubah lafal-lafal dalam akidah dan majelis berakhir dengan baik.
  3. Ibnu Katsir (774) – muridnya – tidak menyebutkan dalam “Al-Bidayah wa al-Nihayah” sesuatu pun tentang perkara rujuknya tersebut.
  4. Ibnu Rajab (795) menyebutkan dalam “Al-Dzail – Al-Jami’: 592” seperti yang disebutkan oleh Ibnu Abdul Hadi dalam “Al-‘Uqud” lalu berkata: “Dan al-Dzahabi, al-Birzali, dan lainnya menyebutkan bahwa Syaikh menulis untuk mereka dengan tulisan tangannya secara umum dari perkataan dan lafal-lafal yang di dalamnya sebagian dari apa yang di dalamnya; ketika ia takut dan diancam dengan pembunuhan”. Dan ia tidak menyebutkan teks perkataan, dan tidak juga kitab tersebut.
  5. Al-Maqrizi (845) tidak menyebutkan dalam “Al-Muqaffa al-Kabir – Al-Jami’: 622-623” sesuatu pun dari berita rujukan dan tidak juga kitab tersebut.
  6. Al-Hafizh Ibnu Hajar (852) menyebutkan dalam “Al-Durar al-Kaminah – Al-Jami’: 650-651” seperti yang disebutkan al-Nuwairi dalam “Nihayah al-Arab” kemudian Ibnu Hajar menisbahkan apa yang ia nukil kepada “Tarikh al-Birzali”!
  7. Ibnu Taghri Birdi (874) menyebutkan dalam “Al-Manhal al-Shafi – Al-Jami’: 690” seperti yang disebutkan al-Hafizh Ibnu Hajar. Dan susunan nukilannya menunjukkan bahwa ia mengutip dari kitab karya Kamaluddin Ibnu al-Zamlakani – dan permusuhannya terhadap Syaikh sudah dikenal – yang di dalamnya terdapat biografi Syaikh, dan ia juga mengutip darinya dalam “Al-Nujum al-Zahirah – Al-Jami’: 693-694”.

Maka jelaslah dari paparan ini bahwa:

  1. Di antara para sejarawan ada yang tidak menyebutkan kisah tersebut dan tidak juga tulisan tersebut sama sekali.
  2. Di antara mereka ada yang hanya mengisyaratkannya saja tanpa merinci kitab yang ditulisnya, dengan menyebutkan apa yang menyertai penulisan tersebut berupa ketakutan dan ancaman pembunuhan.
  3. Di antara mereka ada yang merinci dan menyebutkan teks tulisan tersebut, namun tanpa menyebutkan apa yang menyertai hal itu berupa ancaman dan ketakutan pembunuhan!

Berdasarkan hal ini, kita dapat mengatakan: Bahwa Ibnu al-Mu’allim dan al-Nuwairi telah menyendiri di antara orang-orang sezaman dengan Syaikh dalam masalah rujuknya, dan susunan apa yang ditulisnya. Sebagian orang-orang belakangan mengikuti keduanya dalam hal itu. Oleh karena itu, terhadap persoalan ini dapat diambil salah satu dari sikap-sikap berikut:

  1. Mendustakan semua yang disebutkan para sejarawan secara umum dan terperinci, dan mengatakan: Bahwa tidak ada sesuatu pun dari itu yang terjadi.
  2. Menetapkan asal kisah tersebut, tanpa menetapkan adanya rujukan dari akidah, dan tidak juga tulisan yang di dalamnya terdapat pelanggaran terang-terangan terhadap apa yang diserukan Syaikh sebelum dan sesudah tanggal ini.
  3. Menetapkan semua yang hanya disebutkan oleh Ibnu al-Mu’allim dan al-Nuwairi dari rujukan dan penulisan.

Yang pertama: Penolakan mentah-mentah! Yang ketiga: Penetapan hal-hal yang menyendiri dan ganjil serta mendahulukannya dari yang lebih masyhur dan lebih banyak.

Dan yang tetap ketika dikritisi dan lebih kuat adalah: Sikap kedua: Bahwa Syaikh menulis untuk mereka ungkapan-ungkapan yang umum – setelah ancaman dan ketakutan – namun tidak ada di dalamnya rujukan dari akidahnya, dan tidak ada penganutan akidah yang batil, dan tidak ada kitab tentang semua itu. Hal ini karena beberapa sebab, yaitu:

  1. Bahwa kitab ini bertentangan dengan akidah Syaikh, yang ia serukan dan ia bela sepanjang hidupnya, sebelum kejadian ini dan sesudahnya.
  2. Bahwa tidak ada dalam tulisan-tulisan dan karya-karyanya jejak apa pun untuk rujukan ini, atau isyarat kepada kitab ini atau apa yang terkandung di dalamnya. Seandainya telah terjadi darinya sesuatu berupa penulisan untuk mereka tentang hal itu, seharusnya setelah kemenangannya atas musuh-musuhnya – setidaknya – dan penguasaannya atas mereka setelah kekalahan al-Jasyankir dan kembalinya al-Nashir, ia meminta kitab ini, atau menafikannya dari dirinya.
  3. Bahwa Syaikh rahimahullah telah mengalami banyak tekanan dalam banyak masalah sebelum dan sesudah tanggal ini, ia dipenjara karenanya dan dicela, namun tidak diketahui darinya bahwa ia rujuk dari sesuatu pun darinya. Bahkan paling jauh urusannya adalah ia diam dari berfatwa dengannya untuk waktu tertentu, kemudian kembali kepada hal itu dan berkata: Tidak cukup bagiku menyembunyikan ilmu, seperti dalam masalah talak (Al-‘Uqud 394). Lalu bagaimana ia menulis untuk mereka kali ini apa yang bertentangan dengan akidah Ahlussunnah, dan menetapkan madzhab ahli bid’ah?!

Urusan musuh-musuh di sisi Syaikh rahimahullah tidak lain seperti yang ia gambarkan sendiri ketika dikatakan kepadanya: Wahai tuanku, banyak orang berbicara tentangmu!

Maka ia berkata: Mereka tidak lain seperti lalat, dan ia mengangkat telapak tangannya ke mulutnya, dan meniupnya. (Al-‘Uqud 330).

Al-Dzahabi menggambarkan keteguhan Syaikh di hadapan musuh-musuhnya lalu berkata: “…Hingga bangkit menentangnya banyak ulama dari Mesir dan Syam bangkitan yang tidak ada yang melebihinya… Dan ia tetap teguh tidak berkompromi dan tidak berpihak, bahkan mengatakan kebenaran yang pahit yang dihasilkan ijtihadnya, ketajaman akalnya, dan luasnya pengetahuannya dalam Sunnah dan perkataan.”

Dan semua ini memberitahumu tentang sejauh mana kebenaran rujukan itu dan tulisan itu!!

  1. Dan di antara yang melemahkan kebohongan ini adalah: Bahwa sekelompok orang meminta kepada Syaikh agar mengatakan: Bahwa akidah ini yang ia tulis dan ia debatkan musuh-musuh karenanya adalah akidah Ahmad bin Hanbal – maksudnya: dan itu adalah madzhab yang diikuti maka tidak boleh diprotes.

Maka Syaikh tidak rela dengan ini, bahkan ia menyatakan dengan jelas bahwa ini adalah akidah Salafush Shalih seluruhnya, dan bukan kekhususan Ahmad dengan hal itu. (Al-‘Uqud 275, 300).

  1. Sesungguhnya paling jauh yang dapat dikatakan tentang penulisan Syaikh untuk mereka: Bahwa itu adalah penulisan umum dalam masalah-masalah akidah dengan apa yang tidak bertentangan dengan kebenaran dan kebenaran. Dan lihatlah contoh-contoh sebagian yang digunakan Syaikh dengan musuh-musuhnya untuk mengalahkan dan menyakiti mereka sementara dalam jiwa mereka ada apa yang ada, dalam (Al-‘Uqud 270, 275, 301). Dan musuh-musuh tidak mampu memaksanya untuk menulis lebih dari keumuman itu. Kemudian mereka menemukan bahwa tidak ada manfaatnya dalam menyebarkan tulisan itu tentang dirinya dengan cara yang ia tulis. Maka mereka memalsukan kata-kata atas namanya, kemudian memalsukan tanda tangannya, dan mempersaksikan sejumlah orang atasnya agar sempurna bagi mereka apa yang mereka inginkan.

Masalah kebohongan, ucapan palsu, dan pemalsuan terhadap Syaikh telah menjadi salah satu sifat paling terkenal dari musuh-musuhnya. Lihatlah hal itu di banyak tempat dalam (Al-‘Uqud 259, 264, 266, 269, 397-398).

Al-Birzali berkata di tempat pertama tentang musuh-musuhnya: “Dan mereka mengubah perkataan, dan mereka berdusta dengan kebohongan yang keji.”

Dan ia berkata di tempat kedua: “Dan berbeda nukilannya para penentang majelis, dan mereka mengubahnya, dan meletakkan perkataan Syaikh pada bukan tempatnya, dan Ibnu al-Wakil dan teman-temannya menyebarkan fitnah bahwa Syaikh telah rujuk dari akidahnya, maka Allah tempat memohon pertolongan.”

Dan Syaikh berkata – sendiri – di tempat ketiga: “Dan telah sampai kepadaku bahwa dipalsukan atasku surat kepada Amir Ruknuddin al-Jasyankir, yang berisi menyebut akidah yang diubah-ubah dan aku tidak mengetahui kebenarannya, namun aku tahu bahwa ini adalah dusta.”

Dan Syaikh berkata di tempat keempat: “Aku tahu bahwa sekelompok orang berdusta atasku, sebagaimana mereka telah berdusta atasku lebih dari sekali…”

Dan Ibnu Abdul Hadi berkata di tempat terakhir: “Dan besar fitnah terhadap Syaikh – yaitu dalam masalah safar – dan diubah-ubah atas namanya, dan dinukil darinya apa yang tidak ia katakan.” Sebagaimana tertangkap atas mereka kebohongan, pemalsuan, dan pengubahan perkataan di banyak tempat lainnya. Maka tidak aneh bahwa mereka memalsukan atas namanya kali ini apa yang mereka palsukan, dan mempersaksikan atasnya persaksian palsu.

  1. Dan di antara hal yang menguatkan kebohongan kisah palsu ini: bahwa buku yang mereka klaim ditulis pada tahun 707 Hijriah, bagaimana mungkin ini benar, padahal mereka menuntutnya pada tahun 708 Hijriah untuk menulis sesuatu dengan tulisan tangannya sendiri tentang masalah yang sama!!

Karena sesungguhnya ketika para syekh Tadmurah datang kepadanya sekitar tahun 708 Hijriah dan berkata: “Wahai tuan kami, mereka telah membebankan kepada kami perkataan yang harus kami sampaikan kepadamu, dan mereka telah menyumpah kami agar tidak ada yang mengetahuinya selain kami: bahwa engkau menyerah kepada mereka tentang masalah Arasy dan masalah Alquran, dan kami akan mengambil tulisan tanganmu tentang itu, kami akan menunjukkannya kepada Sultan dan berkata kepadanya: Ini adalah hal yang karena kami penjara Ibnu Taimiyah, ia telah kembali (dari pendapatnya), dan kami akan merobek kertas itu.”

Maka Syekh berkata kepada mereka: “Kalian mengajakku untuk menulis dengan tulisan tanganku sendiri bahwa tidak ada tuhan yang disembah di atas Arasy, dan tidak ada Alquran dalam mushaf-mushaf, dan tidak ada kalam Allah di bumi?!” Kemudian beliau memukul tanah dengan surbannya, dan berdiri tegak sambil mengangkat kepalanya ke langit, dan berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku persaksikan kepada-Mu bahwa mereka mengajakku untuk kufur kepada-Mu, kepada kitab-kitab-Mu, dan rasul-rasul-Mu, dan bahwa ini adalah sesuatu yang tidak akan aku lakukan…” Kemudian beliau mendoakan keburukan bagi mereka. Dan ketika mereka berkata kepadanya: Semua ini mereka lakukan agar engkau menyetujui mereka, dan mereka berkeinginan untuk membunuhmu, mengasingkanmu, atau memenjaramu, maka beliau berkata kepada mereka: “Aku jika dibunuh, itu akan menjadi syahid bagiku, dan jika mereka mengasingkanku, itu akan menjadi hijrah bagiku…” Maka mereka putus asa darinya dan pergi.

Seandainya mereka memiliki tulisan dengan tulisan tangannya tentang masalah-masalah tersebut – sebagaimana mereka klaim – mereka tidak akan meminta darinya untuk menulis bagi mereka tulisan tangan yang lain. Maka kita simpulkan bahwa tidak ada pada mereka pada kali pertama kecuali kebohongan, pemalsuan, dan penyelewengan.

Dan pada penutup muqaddimah ini, kami mengulangi ajakan untuk lebih banyak komunikasi, dengan berterima kasih dan mengakui keutamaan kepada setiap orang yang memberikan catatan atau manfaat, dan kami khususkan dengan menyebut dua guru yang mulia: Hasan al-Bar atas catatan-catatannya yang berharga, dan Khalid az-Zahrani atas apa yang dia curahkan dan upayanya dalam mendapatkan manfaat-manfaat tersebut dan lainnya. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna, semoga Allah memberi shalawat dan salam kepada hamba dan rasul-Nya Muhammad.

Ditulis oleh Ali bin Muhammad al-Imran dan Muhammad Azir Syams Pada 3 Syaban 1421 Hijriah Di Makkah al-Mukarramah – semoga Allah menjaganya

 

 

Muqaddimah Cetakan Pertama

Segala puji bagi Allah yang menciptakan segala sesuatu lalu menentukannya dengan sebaik-baiknya, shalawat dan salam atas orang yang Allah utus untuk seluruh alam sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan atas keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka pagi dan sore.

Amma ba’du; tidak tersembunyi bagi orang yang meneliti biografi para ulama, merenungkannya dan memeriksanya, kemudian ingin mengeluarkan dari mereka orang yang menggabungkan antara ilmu hingga menjadi salah seorang mujtahid yang teliti, dan antara amal hingga menjadi teladan bagi orang-orang yang beramal dan beribadah, maka sesungguhnya ia tidak akan keluar kecuali dengan sedikit dari yang banyak, dan langka dari yang melimpah. Dan tidak aneh, karena sesungguhnya mereka yang menggabungkan ujung-ujung keutamaan dan sifat-sifat kesempurnaan jarang ditemukan, sehingga ada di antara mereka pada masa yang berjauhan satu demi satu.

Dan tidak diragukan oleh setiap orang yang mengetahui bahwa Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam bin Taimiyah an-Numairi al-Harrani kemudian ad-Dimasyqi adalah salah satu dari para ulama yang teliti dan mujaddid tersebut, dan para pelopor pembaruan, yang menghabiskan umur mereka dalam ilmu dan pengajaran, jihad dan perbaikan, amar makruf dan nahi munkar. Tidak dikenal pada zamannya, bahkan sebelumnya berabad-abad – sebagaimana dinyatakan oleh lebih dari satu orang – yang lebih darinya dalam ilmu, amal, jihad, keberanian, kedermawanan, berjalan di atas kaidah Salaf, mematahkan ahli bidah, dan banyaknya karya tulis.

Ia menggabungkan dua kemuliaan dari ilmu dan amal Padahal jarang terwujud ilmu dan amal

Kami katakan: maka patutlah orang yang keadaannya seperti ini, dalam banyaknya kebaikan-kebaikannya, baiknya akhlak mulianya, agungnya kebanggaan-kebanggannya, berkesinambungannya sifat-sifat terpujinya, dan tingginya kedudukan-kedudukannya = untuk diteliti tentang kabarnya, dicari tentang jejaknya, dan digali tentang urusan dan keadaan serta biografinya, agar menjadi pelita untuk mendapat petunjuk, dan tanda untuk diteladani.

“Karena sesungguhnya orang yang datang kemudian, ketika ia mengetahui kabar orang-orang mulia yang mendahuluinya, atau mendengar bagaimana kesungguhan mereka dan perhatian mereka terhadap ilmu dan menuntutnya, maka jiwanya tertarik untuk meneladani mereka, dan termasuk dalam barisan mereka, dan mencapai keutamaan dan kemuliaan mereka… Maka sungguh mendorong… orang yang penakut ke medan perang adalah para ksatria yang ahli dalam pertempuran, dan penggembala (dengan nyanyiannya) membangkitkan kerinduan kafilah-kafilah, meskipun ia lalai dari makna apa yang ia bawakan.” Selesai.

Ketika kami ingin menempuh jalan ini, dan masuk dalam cara ini, tampak bagi kami berbagai cara dalam mengumpulkan materi biografi dan meliputi hal-hal yang berserakan darinya, mengumpulkan keberantakannya, kecuali bahwa cara kontemporer telah muncul bagi kami untuk mengemban tugas ini, yaitu: mengumpulkan biografi-biografinya yang tersebar di kitab-kitab sejarah, biografi, thabaqat dan sejenisnya, dan melacak itu semaksimal mungkin, kemudian menyusunnya berdasarkan urutan kronologis para penulisnya, dimulai dari masanya, dan berakhir pada akhir abad ketiga belas Hijriah (1300 H). Dan cara ini kami bukan orang pertama yang menciptakannya, dan bukan orang pertama yang menempuhnya, bahkan telah didahului oleh sejumlah orang kontemporer dalam studi mereka tentang beberapa tokoh, di antaranya:

  • Ibnu ar-Rawandi (298 H), ditulis tentangnya oleh Abdul Amir al-A’sam: “Tarikh Ibnu ar-Rawandi al-Mulhid” (cetakan Beirut 1975 M).
  • Studi tentang al-Hallaj (309 H), ditulisnya oleh orientalis Massignon (Paris 1914 M).
  • Al-Mutanabbi (354 H), ditulis tentangnya oleh Abdullah al-Juburi: “Al-Mutanabbi fi Atsar ad-Darsin” (cetakan Baghdad 1978 M).
  • Abu al-Ala al-Ma’arri (449 H), ditulis tentangnya oleh sekelompok peneliti: “Ta’rif al-Qudama bi Abi al-Ala” (cetakan Kairo 1944 M).
  • Ibnu Hazm al-Andalusi (456 H), ditulis tentangnya oleh Abu Abdurrahman Ibnu Aqil azh-Zhahiri: “Ibnu Hazm Khilal Alf Am” empat jilid (cetakan Dar al-Gharb al-Islami, 1401 H).
  • Al-Ghazali (505 H), ditulis tentangnya oleh Abdul Karim al-Utsman: “Sirah al-Ghazali wa Aqwal al-Mutaqaddimin fihi” (cetakan Damaskus 1961 M).
  • Ibnu Rusyd (595 H), dikumpulkan biografi-biografi terpentingnya oleh Georges Anawati dalam “Muallifat Ibnu Rusyd” (cetakan Kairo 1978 M).
  • Ibnu Khaldun (808 H), dikumpulkan biografi-biografi terpentingnya oleh Abdurrahman Badawi dalam “Muallifat Ibnu Khaldun” (cetakan Kairo 1961 M).

Sebagian peneliti juga memberikan perhatian kepada beberapa tokoh sehingga mereka membuat bibliografi, yang menunjukkan kepada penelitian-penelitian dan studi-studi yang ditulis tentangnya di masa modern, sebagaimana yang terjadi pada: (al-Farabi, Ibnu Sina, Abu Bakar Ibnul Arabi, dan al-Qadhi Iyadh), sebagaimana juga ditulis kitab-kitab khusus untuk menghitung karya-karya seorang ulama – dan biasanya dia termasuk orang yang banyak menulis – dan menjelaskan apa yang telah dicetak darinya dan apa yang masih dalam bentuk manuskrip, seperti: (al-Ghazali, Ibnul Jauzi, Ibnu Khaldun, as-Sakhawi, as-Suyuthi – berkali-kali).

Dan tidak tersembunyi apa manfaat dari karya-karya yang telah disebutkan ini bagi studi-studi yang muncul setelah itu tentang tokoh-tokoh ini.

Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah lebih layak untuk dilayani dengan studi-studi, biografi-biografi, dan statistik-statistik seperti ini; karena beliaulah ulama yang sebenarnya, dan imam yang sejati.

Di antara manusia ada yang disebut imam secara hakiki Dan banyak disebut dengan imam secara majazi Tetapi kapankah pagi tersembunyi jika ia muncul Dan terlepas dari malam yang gelap gulita hiasannya

Dan dengan banyaknya apa yang ditulis tentang beliau dari penelitian-penelitian, studi-studi, dan tahqiq-tahqiq = kecuali bahwa kami kehilangan – sayangnya – studi yang komprehensif dan menyeluruh yang telah kami singgung, maka tidak ada seorang pun – hingga saat ini – yang maju mengumpulkan apa yang tersebar di sumber-sumber kuno dalam biografi Syaikhul Islam. Maka kami mendapat kehormatan untuk melakukan tugas ini; segala puji bagi Allah atas taufik-Nya.

Dan tidak luput dari kami di sini untuk menyinggung apa yang dilakukan oleh Dr. Shalahudin al-Munajjid; karena ia telah menerbitkan sebuah kitab berjudul: “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: Sirahtuhu wa Akhbaruhu inda al-Muarrikhin” (cetakan Beirut 1976 M) yang di dalamnya ia mengumpulkan tujuh belas biografi dan menyusunnya secara kronologis. Dan dengan keterbatasannya pada jumlah biografi ini, ia jatuh pada sejumlah kesalahan yang tidak sedikit, yaitu:

1 – Bahwa ia memasukkan dalam nash-nash biografi ini apa yang bukan darinya; dalam “adz-Dzail ala Thabaqat al-Hanabilah” karya Ibnu Rajab (795 H) ia mengklaim adanya kekurangan di akhir biografi ketika menghitung pendapat-pendapat fiqih yang dianggap aneh dari Syekh, dan itu dengan mengandalkan tambahan yang terdapat dalam “Syadzarat adz-Dzahab” karya Ibnul Imad (1089 H) yang mengutip dari “Dzail Ibnu Rajab”!!

Dan ketika merujuk kepada naskah-naskah kitab (maksudnya: adz-Dzail) yang terverifikasi, kami tidak menemukan tambahan yang dimasukkan al-Munajjid dengan berdasarkan hanya pada dugaan!

2 – Bahwa ia menggugurkan dari sebagian sumber nash-nash penting, dan itu tampak jelas dalam dua kitab:

Pertama: kitab “A’yan al-Ashr wa A’wan an-Nashr” (manuskrip) karya ash-Shafadi (764 H). Di mana ia menghapus darinya apa yang setara dengan setengah biografi dengan alasan bahwa itu pengulangan dari apa yang ada dalam “al-Wafi bil Wafayat”, dan kenyataannya berbeda dengan itu. Dalam “al-A’yan” ada tambahan-tambahan banyak yang tidak ada dalam “al-Wafi”, di antaranya qasidah dhadiyah karya pengarang dalam meratapi Syaikhul Islam, yang tidak terdapat dalam sumber-sumber lain dan hanya ada di kitab ini.

Kedua: kitab “al-Bidayah wan Nihayah” karya Ibnu Katsir, karena ia menghapus darinya nash-nash penting, dan mungkin ia lalai darinya, di antaranya kisah Assaf an-Nashrani, yaitu yang setelahnya Syaikhul Islam mengarang kitabnya “ash-Sharim al-Maslul ala Syatim ar-Rasul”.

3 – Kesalahan baca dan penyelewengan yang terjadi dalam biografi-biografi, dan itu banyak!! Dan cukup pembaca membandingkan antara apa yang kami tetapkan dari “A’yan al-Ashr” karya ash-Shafadi, dengan antara apa yang ia terbitkan darinya. Dan ini satu contoh, dan cukup dari kalung apa yang melingkari leher.

Dan setelah itu; kitabnya tidak mengandung kecuali tujuh belas biografi – sebagaimana telah berlalu – maka luput darinya banyak dari apa yang ditulis oleh murid-murid Syaikhul Islam, dan yang sezaman dengannya, dan yang setelah mereka, dari apa yang memiliki kepentingan besar dalam mengungkap lebih banyak tentang apa yang berkaitan dengan biografi Syaikhul Islam dan jejak-jejaknya, sebagaimana akan Anda lihat terkumpul dalam kitab ini insya Allah. Maka jumlah apa yang tidak ia sebutkan dalam kitabnya yang ada dalam kumpulan kami ini lebih dari tujuh puluh kitab.

Pentingnya Jami’ ini:

Pekerjaan kami dalam kitab ini terangkum dalam mengumpulkan semua yang berkaitan dengan biografi Syaikhul Islam dalam sumber-sumber kuno; dari abad kedelapan hingga akhir abad ketiga belas, baik itu biografi dalam kitab, atau risalah dalam pujian kepada Syekh dan sanjungan kepadanya dan wasiat dengannya dan kerinduan untuk bertemu dengannya, atau memoar tentang kehidupannya, atau fihris karya-karyanya.

Dan adalah sandaran kami dalam pengumpulan ini pada penelitian dan pelacakan kitab-kitab sejarah dan biografi, dan fihris manuskrip-manuskrip, dan membolak-balik jilid demi jilid dari kitab-kitab yang tercetak dan yang masih manuskrip demi mendapatkan apa yang telah disebutkan yang ada hubungannya dengan biografinya. Dan kami curahkan dalam jalan ini upaya maksimal dengan harapan terlengkapinya materinya, dan tercapainya apa yang kami tuju dari manfaat-manfaat dan hasil-hasil, yang banyak dan yang terpenting adalah:

  • Bahwa ia menyajikan kepada peneliti daftar lengkap dengan semua biografi yang tersebar dalam sumber-sumber untuk imam ini, yang membebaskannya dari merujuk kepada puluhan kitab yang tercetak dan manuskrip, sehingga menghemat usaha dan waktu baginya.
  • Menerbitkan sejumlah biografi yang masih manuskrip, dan ia termasuk dari sumber-sumber penting dalam biografinya, dan telah mencapai jumlahnya: dua belas biografi.
  • Bahwa ia dengan menggabungkan kitab ini kepada biografi-biografi khusus untuk Syekh – dan yang terpenting adalah kitab Ibnu Abdul Hadi (744 H) “al-Uqud ad-Durriyah” – merepresentasikan biografi yang menyeluruh dan terpadu untuk Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang dapat dicukupi dengannya, dan tidak memerlukan pada umumnya dengannya kepada yang lain.
  • Bahwa pengumpulan ini menampakkan kepada kami kitab-kitab asli yang menyajikan kepada kami informasi yang terverifikasi dan komprehensif, dan menampakkan biografi-biografi lain yang tidak lebih dari ringkasan atau seleksi atau pengulangan atau penyelewengan dari apa yang ada dalam sumber-sumber asli.
  • Bahwa pengumpulan ini memberikan kepada peneliti kesempatan yang baik dan medan yang lebih luas untuk membandingkan antara sumber-sumber ini, dan mengungkap kadar pengutipan yang kemudian dari yang terdahulu, dan kemudian ia waspada untuk tidak mengandalkan sumber-sumber yang terlambat dalam penelitian-penelitian dan tahqiq-tahqiqnya sedapat mungkin.
  • Bahwa ia memberikan kepada peneliti – juga – kesempatan untuk menimbang informasi-informasi dalam biografi-biografi ini sehingga ia mengetahui yang terverifikasi darinya dan yang dipalsukan, dan apa yang diriwayatkan secara mujmal dalam satu sumber dan dirinci dalam sumber lain, dan seterusnya.
  • Bahwa ia memberikan kepada peneliti kesempatan untuk membentuk gambaran yang jujur dan terpadu tentang yang dibiografikan, dan bagaimana para sejarawan dan ulama itu memandang kepadanya dan kepada pendapat-pendapatnya; dengan perbedaan madzhab mereka, arah mereka, masa mereka, dan budaya mereka, dan mengapa perhatian kepadanya dan kepada pemikiran-pemikirannya dan kepada kitab-kitabnya kuat atau lemah dalam suatu periode atau tempat tertentu?
  • Bahwa kumpulan ini memungkinkan kami untuk mengkaji kitab-kitabnya dan jejak-jejaknya, dan memverifikasi penisbatannya kepadanya, dan menghitungnya dengan cermat.
  • Bahwa ia membetulkan banyak kesalahan-kesalahan dan kesalahan baca yang terjadi dalam banyak kitab karena berulangnya informasi dan kemiripannya.
  • Membetulkan penisbatan kitab “Muallifat Syaikhil Islam” yang dinisbatkan kepada Ibnul Qayyim.

Sebagaimana juga “al-Jami'” ini membetulkan kesalahan lama yang para peneliti mengikutinya, karena sejak Dr. Shalahudin al-Munajjid menerbitkan “Asma Muallifat Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah” yang dinisbatkan kepada Ibnul Qayyim al-Jauziyah (751 H) rahimahullah dalam “Majalah al-Majma’ al-Ilmi al-Arabi” di Damaskus (28/1953/371-395) = tidak ada seorang pun dari para peneliti yang meragukan kebenaran penisbatan ini kepada Ibnul Qayyim, bahkan mereka mengandalkannya dalam studi-studi mereka tentang Syaikhul Islam, atau tentang muridnya Ibnul Qayyim, dan itu sepanjang sekitar setengah abad dari waktu!!

Dan al-Munajjid dalam penerbitannya itu mengandalkan pada naskah tulisan tangan yang ada di Dar al-Kutub azh-Zhahiriyah dengan nomor (4675 – umum), dan ia dengan tulisan Syekh Jamil al-Azhm pemilik kitab: “Uqud al-Jauhar fi Tarajim man lahu Khamsun Mushannafan fa Mi’ah fa Aktsar”, ia menyalinnya tahun 1315 H.

Dan naskah ini tidak lebih dari penyelarasan dan penyusunan kitab asal dalam “Muallifat Syaikhil Islam”, dan kami condong bahwa Syekh Jamil al-Azhm telah menyelaraskannya agar menjadi materi yang ia kutip darinya dalam kitabnya yang telah disebutkan.

Dan kami pastikan bahwa ia penyelarasan setelah kami mendapatkan naskah lain dari kitab itu, di Dar al-Kutub azh-Zhahiriyah – juga – dengan nomor (11479), dan ia berupa “buku catatan beragam” dengan tulisan Syekh al-Allamah Thahir al-Jazairi rahimahullah yang ia tulis tahun 1318 H, awalnya: “Asma Muallifat Syaikhil Islam” (halaman 1-8), dan Syekh Thahir menulis setelah basmalah: “Yang tampak bahwa risalah ini untuk muridnya Ibnul Qayyim”.

Maka kami lakukan perbandingan antara naskah ini, dengan naskah al-Azhm – yang diandalkan al-Munajjid – maka kami dapati dalam naskah al-Jazairi tambahan-tambahan banyak, dalam muqaddimah, dan dalam menyebutkan sebagian kitab, dan dalam informasi tentang banyak kitab. Maka kami ketahui bahwa naskah al-Azhm tidak lebih dari penyelarasan untuk kitab asal.

Ini satu hal.

Perkara kedua: Kami menemukan Imam Ibnu Abdul Hadi (wafat tahun 744 Hijriah) dalam kitabnya “Al-Uqud Ad-Durriyah” telah mengutip beberapa teks dari risalah ini, dan menisbahkannya kepada Abu Abdillah bin Rusyaiq. Beliau berkata: “Syaikh Abu Abdillah bin Rusyaiq berkata—dan dia adalah salah seorang murid terdekat guru kami (Ibnu Taimiyah), paling banyak menulis kata-katanya dan paling bersemangat mengumpulkannya—: Syaikh rahimahullah telah menulis nukilan-nukilan dari para salaf secara terpisah tanpa disertai dalil-dalil pada seluruh Al-Quran, dan menulis di awalnya sebuah bagian besar dengan disertai dalil-dalil. Saya melihat ada surat-surat dan ayat-ayat yang beliau tafsirkan, dan beliau mengatakan pada sebagian ayat tersebut: ‘Saya menulis ini untuk pengingat,’ dan semacam itu.

Kemudian ketika beliau dipenjara di akhir usianya, saya menulis kepadanya agar beliau menulis tafsir seluruh Al-Quran yang disusun berdasarkan urutan surat. Maka beliau menulis jawaban: ‘Sesungguhnya Al-Quran ada yang jelas dengan sendirinya, dan ada yang telah dijelaskan oleh para mufassir dalam kitab-kitab lain; namun sebagian ayat tafsirnya sulit dipahami oleh sekelompok ulama, sehingga terkadang seseorang membaca beberapa kitab namun tafsirnya tidak jelas baginya, dan terkadang seorang penulis menulis tafsir suatu ayat, namun menafsirkan ayat yang serupa dengan tafsir yang berbeda. Maka saya bermaksud menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan dalil, karena itu lebih penting daripada yang lain, dan jika makna suatu ayat telah jelas, maka akan jelas pula makna ayat-ayat yang serupa dengannya.’

Dan beliau berkata: ‘Allah telah membukakan bagiku di benteng ini pada kesempatan ini pemahaman tentang makna-makna Al-Quran dan dasar-dasar ilmu dengan hal-hal yang banyak ulama meninggal dalam keadaan mengharapkannya, dan aku menyesal telah menyia-nyiakan sebagian besar waktuku pada selain memahami makna Al-Quran,’ atau semacam ini. Beliau mengirimkan kepada kami sedikit dari apa yang beliau tulis dalam jenis ini, dan masih tersisa banyak dalam keranjang hakim ketika para hakim mengeluarkan kitab-kitabnya dari tempat beliau, dan beliau wafat sementara kitab-kitab itu masih di tangan mereka hingga saat ini sekitar empat belas bundel. Kemudian Syaikh Abu Abdillah menyebutkan apa yang ia lihat dan dapatkan dari tafsir Syaikh.” Selesai.

Kami katakan: Teks ini seluruhnya ada dalam “Muallafat Ibnu Taimiyah” yang dinisbahkan kepada Ibnul Qayyim! Maka jelas dari ini bahwa kitab itu adalah karya Ibnu Rusyaiq, bukan karya Ibnul Qayyim.

Dan Ibnu Rusyaiq ini adalah: Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah bin Ahmad Sibth Ibnu Rusyaiq Al-Maliki, yang wafat tahun 749 Hijriah.

Dan Ibnu Rusyaiq—sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir—adalah: “Lebih mengenal tulisan tangan Syaikhul Islam daripada Syaikhul Islam sendiri. Jika ada sesuatu yang samar dari tulisan Syaikh, Abu Abdillah inilah yang mengeluarkannya. Dia cepat dalam menulis, baik, beragama, ahli ibadah, banyak membaca Al-Quran, baik shalatnya, memiliki keluarga dan memiliki hutang, semoga Allah merahmatinya dan mengampuninya, amin.” Selesai.

Dan sumber-sumber yang menyebutkan Ibnu Rusyaiq tidak memberi kita informasi yang cukup tentangnya, lebih dari apa yang diringkas oleh Ibnu Katsir, kecuali bahwa sumber-sumber sepakat bahwa Ibnu Rusyaiq ini adalah orang yang selalu menemani Syaikhul Islam, mengenal tulisannya, bahkan lebih mengenal daripada Syaikh sendiri, banyak menulis kata-katanya, tidak ada perbedaan di antara murid-murid Syaikh sendiri dalam hal-hal ini. Telah disebutkan perkataan Ibnu Abdul Hadi dan Ibnu Katsir, kemudian kami menemukan perkataan yang sangat penting dari Syaikh Syihabuddin Ibnu Murri Al-Hanbali dalam risalahnya yang ditujukan kepada para murid Syaikh—setelah wafatnya—yang berisi anjuran kepada mereka untuk memperhatikan kitab-kitab Syaikh dan merawatnya serta menyalinnya, dan meminta bantuan Syaikh Abu Abdillah

Ibnu Rusyaiq karena dialah yang paling mengetahui tentang masalah ini secara mutlak. Beliau berkata: “Maka jagalah Syaikh Abu Abdillah—semoga Allah membantunya—dan apa yang ada padanya dari simpanan dan harta berharga, dan tegakkanlah tugas penting yang mulia ini dengan sebanyak yang kalian mampu, meskipun kalian terkadang merasa terbebani dengan tuntutannya; karena dia telah menjadi satu-satunya di bidangnya, dan tidak ada yang bisa menggantikan posisinya dari seluruh jamaah secara mutlak.”

Dan beliau berkata: “Dan jika dikumpulkan karya-karya berharga yang banyak ini, dan disalin dari draft-draft apa yang belum disalin, dan diterima pendapat Abu Abdillah dalam semua itu; karena dia memiliki pandangan yang jelas tentang urusannya, dan dialah yang paling tahu di antara jamaah tentang tempat-tempat kemaslahatan yang terpisah yang telah terputus materinya.”

Dan beliau berkata: “Dan Syaikh Abu Abdillah—semoga Allah melindunginya—maka dia tanpa ragu adalah penghubung utama urusan besar ini, maka persiapkanlah dia dan hilangkanlah kesulitannya…” sampai akhir ucapannya, dan semuanya menjadi bukti atas apa yang kami sebutkan.

Maka terbukti dengan semua yang telah disebutkan bahwa “Muallafat Ibnu Taimiyah” adalah karya Abu Abdillah bin Rusyaiq bukan karya Ibnul Qayyim, maka para peneliti wajib membetulkan kesalahan ini, dan menisbahkan kitab dalam penelitian dan tahqiq mereka—tentang Ibnul Qayyim atau gurunya—kepada pengarang yang sebenarnya.

Namun yang disayangkan: bahwa naskah kedua dari kitab ini yang ditulis dengan tulisan tangan Syaikh Thahir Al-Jazairi, tidak mewakili kecuali setengah pertama dari risalah penting ini, dan tidak ada di dalamnya kecuali yang berkaitan dengan Al-Quran saja. Syaikh Thahir Al-Jazairi menulis di akhir naskah ini: “Selesai apa yang berkaitan dengan Kitab Mulia (Al-Quran), dan inilah yang kami ingin salin sekarang untuk keperluan tertentu. Ditulis pada malam 26 Ramadhan tahun 1318 Hijriah.”

Seandainya dia tidak hanya membatasi pada bagian ini saja, dan kami berharap dia tidak menghilangkan naskah asli yang disalin darinya, yang berada dalam sebuah majmu’ (kumpulan) yang disebutkan oleh Syaikh Thahir Al-Jazairi sendiri dalam “Daftar” ini dan dia berkata tentangnya (lembar 30b): “Dalam majmu’-majmu’ pada sebagian saudara kami.” Kemudian beliau menyebutkan isi sebagian majmu’, di antaranya: “Majmu’ Ketiga”, dan merinci isinya, yaitu sebagai berikut (31a-b):

  1. Al-Manaqilah bil-Auqaf, karya Ahmad bin Qudamah Al-Hanbali (2 karras).
  2. Risalah tentang Wakaf, karya Taqiyyuddin (Ibnu Taimiyah), awalnya: “Pasal tentang mengganti wakaf bahkan masjid-masjid dengan yang serupa atau yang lebih baik.” Akhirnya: “Dan sungguh dua anak Adam telah mendekatkan kurban.” Ditulis tahun 866 Hijriah dengan tulisan Abu Bakar bin Zaid Al-Jara’i.
  3. Risalah Al-Ihtijaj fi Bayan Al-Waqf karya Taqiyyuddin (Ibnu Taimiyah) juga, awalnya: “Masalah: Seorang wakif mewakafkan wakaf untuk anak-anaknya kemudian untuk…” (2 karras).
  4. Ditanya tentang sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Sesungguhnya Allah menyeru pada hari kiamat dengan suara yang didengar oleh yang jauh sebagaimana didengar oleh yang dekat; ‘Akulah Raja, Akulah yang Membalas'” dan hadits-hadits semacam itu, maka sebagian orang berkata: ‘Tidak ditetapkan sifat bagi Allah dengan hadits tunggal.’ Dijawab setelah hamdalah: “Dasar dalam bab ini adalah seseorang tidak boleh berbicara kecuali dengan ilmu…” (12 lembar).
  5. Risalah tentang nama-nama kitabnya. Dan kami telah menyalinnya, karras yang kurang sedikit.
  6. Al-Aqidah Al-Wasithiyah.
  7. Akidah Syaikh Muwaffaquddin (Ibnu Qudamah) (7 lembar).
  8. Ar-Risalah Al-Qubrushiyah, dikirim pada tahun 719 Hijriah, dan ditulis tahun 788 Hijriah.
  9. Risalah tentang ziarah Baitul Maqdis (6 lembar).
  10. Masalah: Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah… “Aku tidak ragu-ragu tentang sesuatu yang Aku lakukan seperti keragu-raguanku…” Dan setelahnya hadits Dajjal (6 lembar).
  11. Tentang para jamaah haji membawa senjata ketika datang ke Tabuk dan selainnya (4 lembar).
  12. Pasal tentang mencium benda mati dan mengusapnya (2 lembar).
  13. Kitab yang berisi ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tentang hadits Imran bin Hushain, yaitu Ar-Risalah Al-Arsyiyah.
  14. Risalah tentang beramal dengan tulisan, karya Alauddin Ibnu Muflih.
  15. Kitab Ahkam Athfal Al-Musyrikin, karya Muhammad Al-Munbiji dengan tulisannya.
  16. Kitab Shifatul Mufti wal Mustafti, karya Najmuddin Ibnu Hamdan Al-Harrani Al-Hanbali.

Dan kami telah banyak mencari majmu’ah berharga ini dalam katalog-katalog manuskrip, namun kami tidak menemukan penyebutannya, dan semoga Allah memberi taufik kepada salah seorang peneliti untuk menemukannya. Kami ingin menyebutkan seluruh isinya di sini agar dapat membantu dalam pencarian dan penelitian.

Dan hingga muncul naskah asli ini—yang disalin darinya oleh Syaikh Thahir Al-Jazairi dan Syaikh Jamil Al-Azhim—kami mendasarkan penerbitan kami pada naskah Syaikh Thahir hingga selesai, kemudian untuk sisanya kami mendasarkan pada naskah Syaikh Jamil Al-Azhim. Dan kami tidak mencantumkan perbedaan-perbedaan antara kedua naskah pada bagian yang sama, karena Syaikh Jamil Al-Azhim telah bertindak dalam penetapan judul-judul dengan tindakan yang besar, di mana beliau meringkas, merapikan, menyusun, dan menghapus—sebagaimana telah disebutkan—.

Adapun terbitan Dr. Shalahuddin Al-Munajjid, telah hilang darinya judul-judul lima kitab, dan banyak baris dari berbagai tempat dalam deskripsi kitab-kitab dan risalah. Dan di dalamnya banyak kesalahan pembacaan yang tidak ada tempat untuk menyebutkannya di sini, dan siapa yang menginginkannya hendaklah membandingkannya dengan aslinya yang ditulis dengan tulisan Syaikh Jamil Al-Azhim atau terbitan baru kami untuk risalah ini dalam majmu’ ini.

Sumber-sumber biografi Syaikhul Islam:

Sumber-sumber biografi seorang tokoh beragam dan banyak dengan berbagai pertimbangan; ilmiah, sosial, kedaerahan, dan madzhab.

Maka dibiografikan dalam biografi-biografi tersendiri; mengingat banyaknya murid yang selalu menemani baik dalam keadaan mukim maupun bepergian, dan banyaknya bahan biografi.

Dan dibiografikan dalam sejarah-sejarah umum mengingat pengaruhnya dalam jalannya peristiwa, aktivitas ilmiahnya, dan banyaknya karya tulisnya.

Dan dibiografikan dalam thabaqat fuqaha (tingkatan para fuqaha), karena sifatnya sebagai faqih, atau komitmennya pada madzhab tertentu, dan berulangnya biografinya dalam kitab-kitab yang khusus tentang ulama bidang tertentu mengingat sifatnya dalam bidang-bidang ilmu tersebut.

Dan sungguh Syaikhul Islam rahimahullah mendapat biografi dalam kitab-kitab yang banyak dengan berbagai jenisnya yang telah disebutkan, sejak sebelum wafatnya beberapa waktu, dan hingga penulisan baris-baris ini, dengan perbedaan bahan-bahan biografi tersebut dari segi panjang dan pendek, keaslian informasi, dan perhatian pada peristiwa-peristiwa penting.

Maka bagian paling lengkap dari kebaikan dalam biografi-biografi tersebut adalah untuk murid-murid Syaikhul Islam dan orang-orang sezamannya; seperti Al-Birzali, Ibnu Abdul Hadi, Adz-Dzahabi, Ibnu Fadhlillah, Al-Bazzar, Ibnul Wardi, Ash-Shafadi, dan Ibnu Katsir.

Dan sebagian biografi orang-orang sezamannya tidak lain adalah salinan dari biografi-biografi asli yang mendahuluinya; karena tidak dimaksudkan padanya lebih dari memenuhi syarat kitab, sebagaimana halnya dalam sejarah Ibnu Syakir, Al-Fayyumi, Abdul Baqi Al-Yamani, dan Al-Yafii.

Kecuali bahwa kitab-kitab ini memberi kita fakta-fakta tentang para penulis ini, dan sikap-sikap mereka terhadap Syaikhul Islam; karena mereka dari berbagai madzhab dan negeri, kemudian ia tidak kosong dari faidah baru yang ditambahkan oleh penulis biografi, karena mungkin ada di sungai apa yang tidak ada di laut.

Adapun biografi-biografi yang lebih belakangan dari masa Syaikhul Islam, yang paling menonjol adalah biografi Al-Hafizh Ibnu Rajab dalam “Dzailnya”, maka sungguh beliau memberi manfaat dan menunjukkan keahlian di dalamnya, demikian juga Ibnu Hajar membiografikannya dalam “Ad-Durar” dengan biografi panjang, demikian juga Al-Maqrizi dalam “Al-Muqaffa”, dan Al-Ulaimi dalam “Al-Manhaj”.

Dan demikianlah biografi-biografi berlanjut dengan cara yang sama dari abad kesebelas hingga akhir abad ketiga belas, kecuali yang berasal dari Asy-Syaukani (wafat tahun 1250 Hijriah), Al-Kasymiri (wafat tahun 1298 Hijriah), dan Al-Qannuji (wafat tahun 1307 Hijriah), maka karena perhatian mereka kepada Syaikh, biografinya dalam kitab-kitab mereka memiliki keindahan dan kemuliaan.

Dan kami telah melacak sumber-sumber biografi Syaikhul Islam, dan akan kami sebutkan semua yang kami dapatkan dari itu, baik yang berbentuk manuskrip atau tercetak atau hilang untuk keperluan pendataan, dan ia terbagi pada tiga bagian:

Pertama: Biografi-biografi tersendiri. Kedua: Takrif (pujian) dan risalah-risalah tersendiri tentang sebagian keadaan dan karya-karyanya. Ketiga: Sirah dan berita-beritanya dalam kitab-kitab sejarah, sirah, dan semacamnya.

(Peringatan): Apa yang termasuk dalam kumpulan kami ini kami letakkan tanda bintang (*) sebelumnya.

Bagian Pertama: Biografi Tersendiri

1 – Al-Uqud ad-Durriyyah min Manaqib Syaikhul Islam Ahmad bin Taimiyyah. Karya Al-Hafizh Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abdul Hadi (wafat tahun 744 Hijriah).

2 – Ad-Durrah al-Yatimiyyah fi Sirah Ibni Taimiyyah. Karya Al-Hafizh Muhammad bin Ahmad adz-Dzahabi (wafat tahun 748 Hijriah). Demikianlah disebutkan oleh Al-Baghdadi dalam “Idhah al-Maknun” jilid 1 halaman 462, dan “Hadiyyah al-Arifin” jilid 2 halaman 154, dan disebutkan oleh Dr. Basysyar Awwad dalam risalahnya “Adz-Dzahabi wa Manhajuhu fi Tarikh al-Islam” halaman 207, namun ia berkata: “Dan ini tentang keluarga Taimiyyah”! Dan ia merujuk pada dua kitab yang telah disebutkan! Padahal tidak ada di keduanya yang menunjukkan hal itu, bahkan di keduanya terdapat pernyataan tegas bahwa ia hanya bermaksud tentang Syaikhul Islam saja. Dan ini merupakan salah satu sumber Ibnu al-Wardi dalam “Tatimmah al-Mukhtashar” sebagaimana dinyatakan secara tegas di akhirnya. Dan lihat “Abjad al-Ulum” halaman 598. Dan kami telah menemukannya akhir-akhir ini dan memasukkannya dalam “Takmilah al-Jami'” kemudian dalam cetakan ini.

3 – Al-A’lam al-Aliyyah fi Manaqib Ibni Taimiyyah. Karya Al-Hafizh Umar bin Ali al-Bazzar (wafat tahun 749 Hijriah).

4 – Tarjamah Syaikhul Islam Ibni Taimiyyah. Karya Al-Hafizh Ismail bin Katsir ad-Dimasyqi Imaduddin (wafat tahun 774 Hijriah). Ia berkata dalam “Al-Bidayah wan-Nihayah” jilid 14 halaman 146: “Dan di antara yang wafat pada tahun tersebut – yakni tahun 728 – dari kalangan tokoh terkemuka: Syaikhul Islam Al-Allamah Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah – sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dalam peristiwa-peristiwa – dan kami akan membuat biografi tersendiri untuknya jika Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki.” Apakah ia benar-benar membuatnya tersendiri?

5 – Manaqib Ibni Taimiyyah. Karya Al-Allamah Al-Hasan bin Umar bin Al-Hasan bin Habib (wafat tahun 779 Hijriah).

6 – “Al-Kalam ala Bina’ Ibni at-Tadmuri Madrasah asy-Syaikh Taqiyuddin Ibni Taimiyyah bi al-Qassa’in”. Karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abi Bakr at-Tadmuri asy-Syafi’i (wafat tahun 787 Hijriah).

7 – Al-Qashidah at-Ta’iyyah fi Inkar Takfir al-Ala’ al-Bukhari li Ibni Taimiyyah. Karya Asy-Syaikh Umar bin Musa bin Al-Hasan al-Qurasyi Ibnu al-Himshi (wafat tahun 861 Hijriah) dalam seratus bait. Dan kami telah memasukkannya dalam “Takmilah al-Jami'” kemudian dalam cetakan “Al-Jami'” ini.

8 – Ar-Radd al-Wafir ala man Za’ama anna Man Samma Ibna Taimiyyah Syaikhal Islam Kafir. Karya Al-Hafizh Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi (wafat tahun 842 Hijriah). As-Sakhawi menyebutkan dalam “Al-Jawahir wad-Durar” jilid 3 halaman 1264 bahwa ini adalah biografi tersendiri, dan “Ar-Radd al-Wafir” telah dicetak dan beredar.

9 – Al-Ikhtiyarat al-Mardhiyyah fi Akhbar at-Taqiyy Ibni Taimiyyah. Karya Al-Allamah Muhammad bin Ali bin Thulun al-Hanafi (wafat tahun 953 Hijriah). Ia menyebutkannya dalam bukunya “Al-Fulk al-Masyḥun” halaman 74, dan berkata: “Dan ini dalam bentuk draft.”

10 – Asy-Syahadah az-Zakiyyah fi Tsana’ al-A’immah ala Ibni Taimiyyah. Karya Asy-Syaikh Mar’i al-Karmi al-Hanbali (wafat tahun 1033 Hijriah).

11 – Al-Kawakib ad-Durriyyah fi Manaqib Ibni Taimiyyah. Karya Asy-Syaikh Mar’i al-Karmi al-Hanbali (wafat tahun 1033 Hijriah).

12 – Ibnu Taimiyyah. Karya Asy-Syaikh Muhammad Raghib Pasya al-Hanafi (wafat tahun 1176 Hijriah).

13 – Al-Qaul al-Jaliyy fi Tarjamah asy-Syaikh Taqiyuddin Ibni Taimiyyah al-Hanbali. Karya Asy-Syaikh Muhammad bin Muhammad al-Maghribi at-Tafilati al-Hanafi (wafat tahun 1191 Hijriah).

14 – Al-Qaul al-Jaliyy fi Tarjamah Syaikhil Islam Ibni Taimiyyah al-Hanbali. Karya Asy-Syaikh Shafiyyuddin al-Hanafi al-Bukhari (wafat tahun 1200 Hijriah).

Dan di sini ada beberapa catatan:

Pertama: Di perpustakaan Syaikh Khalil al-Khalidi di Yerusalem nomor 42 garis miring 429 terdapat naskah dari kitab (Al-Uqud ad-Durriyyah) karya Ibnu Abdul Hadi, dan darinya terdapat salinan di Institut Manuskrip nomor (913) dengan judul (Al-Intishar fi Dzikri Ahwal Qami’ al-Mubtadi’in wa Akhir al-Mujtahidin Taqiyuddin Abu al-Abbas Ahmad bin Taimiyyah Taghammadhahullahu bi Rahmatihi) yang dinisbahkan kepada Asy-Syaikh Abdurrahman al-Maqdisi. Yang sebenarnya adalah bahwa ini adalah salinan dari Al-Uqud ad-Durriyyah, keliru orang yang menulis judul baru ini untuknya, dan keliru dalam menisbahkannya kepada Abdurrahman al-Maqdisi. Dan Dr. Muhammad al-Julaynd tertipu dengan ini lalu menerbitkan kitab dengan nama ini. Lihat untuk penjelasan lengkap tentang naskah dan kritik terhadap peneliti dalam muqaddimah tahqiq saya untuk kitab “Al-Uqud ad-Durriyyah” halaman 22, 23, 43 – 45.

Kedua: Di perpustakaan Masjidil Haram Makkah dengan nomor (2784), sebuah lembaran berjudul: “Tarjamah Ibni Taimiyyah”, dan ini adalah nukilan dari Asy-Syaikh Mar’i al-Hanbali dari kitabnya tentang “Al-Maudhu’at”, ia menyebutkan di dalamnya Syaikhul Islam dan memujinya.

Ketiga: Ada “Tarjamah li Syaikhil Islam” yang dilampirkan di akhir fatwanya: “Al-Jawahir al-Mudhiyyah”. (Manuskrip: Burdur, nomor (815 garis miring 2), ditulis tahun 790 Hijriah) Lihat: “Nawadir al-Makhthuthat fi Maktabat Turkiya” jilid 1 halaman 47 karya Ramadhan Syisyin.

Keempat: “Tarjamah Syaikhil Islam Ibni Taimiyyah” di Zhahiriyyah nomor (11471) (lembar 1 – 34 b) dengan tulisan Asy-Syaikh Thahir al-Jaza’iri dalam sebuah buku kumpulan yang beragam, lihat: “Fihris at-Tarikh” halaman 258.

Kelima: Dr. Syakir Mushthafa menyebutkan dalam bukunya “At-Tarikh al-Arabi wal-Mu’arrikhun” jilid 3 halaman 214 bahwa Adh-Dhiya’ al-Manawi – sezaman dengan Syaikhul Islam – (wafat tahun 746 Hijriah) memiliki biografi tersendiri untuk Asy-Syaikh, dan kami tidak menemukan ini dalam sumber-sumber biografinya! Dan ia juga menyebutkan: bahwa Ibnu Abdul Hadi meringkasnya!

Bagian Kedua: Pengantar Dan Risalah Tersendiri Tentang Sebagian Keadaan Dan Karya-Karyanya

1 – At-Tadzkirah wal-I’tibar wal-Intishar lil-Abrar. Karya Asy-Syaikh Ahmad bin Ibrahim bin Abdurrahman al-Wasithi al-Hanbali, yang dikenal dengan Ibnu Syaikh al-Hazzamin (wafat tahun 711 Hijriah).

2 – Risalah Ibnu Murri ila Talamidz Syaikhil Islam. Karya Asy-Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Murri Syihabuddin al-Hanbali (setelah tahun 730 Hijriah).

3 – Risalah dari Abdullah bin Hamid asy-Syafi’i kepada Abu Abdullah Ibnu Rusyayyiq, dalam memuji Syaikhul Islam.

4 – Risalah lain yang dikirim oleh Asy-Syaikh Qiwamuddin Abdullah bin Hamid asy-Syafi’i dari Irak kepada Al-Qadhi Zainuddin Ibnu Sa’duddin Sa’dullah bin Bukhaikh al-Harrani al-Hanbali dalam memuji Syaikhul Islam dan ilmu-ilmunya. Asal risalah ini dilampirkan di akhir kitab Al-Uqud ad-Durriyyah karya Ibnu Abdul Hadi – naskah Koprulu di Turki. Dan Ibnu Bukhaikh al-Hanbali (wafat tahun 749 Hijriah) adalah salah satu murid Syaikhul Islam, dan termasuk yang berguru kepadanya, dan membela ijtihad-ijtihad fiqihnya.

5 – Ajwibah Ibni Sayyid an-Nas al-Ya’muri ala Su’alat Ibni Aybak ad-Dimyathi. Karya Al-Allamah Abu al-Fath Ibnu Sayyid an-Nas al-Ya’muri asy-Syafi’i (wafat tahun 734 Hijriah).

6 – Namadhij min Qira’ah Syaikhil Islam ala Syuyukhihi min “Mu’jam Sama’at al-Birzali”. Karya Al-Hafizh Alamuddin al-Birzali (wafat tahun 739 Hijriah).

7 – Mu’allafat Ibni Taimiyyah. Karya Al-Hafizh Muhammad bin Ahmad bin Abdul Hadi al-Hanbali (wafat tahun 744 Hijriah). Ia berkata dalam “Al-Uqud ad-Durriyyah” halaman 107: “Dan saya akan bersungguh-sungguh jika Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki dalam mencatat apa yang saya mampu dari nama-nama karya-karyanya di tempat lain selain ini, dan saya akan menjelaskan apa yang ia tulis di antaranya di Mesir, dan apa yang ia karang di antaranya di Damaskus, dan apa yang ia kumpulkan saat ia di penjara, dan saya akan menyusunnya dengan susunan yang baik selain susunan ini dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kekuatan serta kehendak-Nya.” Apakah ia benar-benar menulisnya ataukah kematian mendahuluinya sebelum memenuhi janji itu?

8 – Al-Qabban fi Ashab at-Taqiyy Ibni Taimiyyah. Karya Al-Hafizh Muhammad bin Ahmad Syamsuddin adz-Dzahabi asy-Syafi’i (wafat tahun 748 Hijriah).

9 – Fashlun fima Qama bihi Ibnu Taimiyyah wa Tafarrada bihi. Karya pelayan Syaikhul Islam Ibrahim bin Ahmad al-Ghiyani (setelah tahun 730 Hijriah).

10 – Mu’allafat Syaikhil Islam Ibni Taimiyyah. Karya Asy-Syaikh Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah bin Ahmad Sibthu Ibni Rusyayyiq al-Maliki (wafat tahun 749 Hijriah).

11 – Fashlun fi Mubasysyirat Ra’aha ash-Shaliḥun li asy-Syaikh Taqiyuddin Ahmad Ibni Taimiyyah ba’da Mawtihi ila Rahmatillah, Yariwiha Muhammad bin Abbad asy-Syuja’i an Talamidz asy-Syaikh wa Mu’ashirihi. Bagian ini berisi kumpulan mimpi yang dilihat tentang Asy-Syaikh setelah wafatnya, di dalamnya terdapat bukti tentang baiknya akhir hidupnya dan tingginya kedudukannya. Dan kami memasukkannya di sini karena beberapa alasan:

1 – Bahwa para ulama membiasakan dalam kitab-kitab sejarah mereka untuk memasukkan dalam biografi sesuatu dari mimpi dan penglihatan yang dilihat untuk orang yang diterjemahkan biografinya.

2 – Bahwa ini diriwayatkan dari para sahabat Asy-Syaikh dan orang-orang yang dekat dengannya; seperti Asy-Syaikh Abu Abdullah Ibnu Rusyayyiq al-Maghribi (wafat tahun 749 Hijriah), dan ia adalah salah satu yang dekat dengan Syaikhul Islam, dan termasuk yang memiliki pengetahuan tentang tulisan Asy-Syaikh, sehingga jika ada yang sulit darinya, Ibnu Rusyayyiq mengeluarkannya – sebagaimana dikatakan Ibnu Katsir -, dan ia adalah penulis risalah “Mu’allafat Syaikhil Islam” yang kami terbitkan dalam “Al-Jami'” halaman 350 – 379 dan dahulu dinisbahkan kepada Ibnul Qayyim secara keliru. Dan jumlah mimpi yang diriwayatkan adalah dua belas, tujuh di antaranya untuk Ibnu Rusyayyiq, dan sisanya untuk selain dia dari orang-orang yang disebutkan nama-nama mereka dalam risalah.

12 – Taqrizh Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani asy-Syafi’i untuk Ar-Radd al-Wafir karya Ibnu Nashiruddin.

13 – Taqrizh Al-Allamah Mahmud Badruddin al-Aini al-Hanafi.

14 – Taqrizh Al-Allamah Shalih al-Balqini asy-Syafi’i.

Dan kami menganggap pengantar-pengantar ini sebagai biografi karena apa yang ada di dalamnya dari informasi tentang kehidupan Asy-Syaikh dan pembelaan terhadapnya. Dan kami mengambil dalil dengan ucapan Al-Qannuji dalam “Abjad al-Ulum” jilid 3 halaman 138: “Dan pengantar-pengantar yang ditunjukkan ini, semuanya berkedudukan sebagai biografi yang bermanfaat, dan ia menjelaskan tentang tingginya kedudukan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu dalam ilmu-ilmu dan pengetahuan.”

Bagian Ketiga: Riwayat Hidupnya Dan Berita-Beritanya Dalam Kitab-Kitab Sejarah, Biografi Dan Semacamnya

1 – Nihayah al-Arab fi Funun al-Adab. Karya Al-Allamah Syihabuddin Ahmad bin Abdul Wahhab an-Nuwairi (wafat tahun 733 Hijriah).

2 – Tarikh Hawadits az-Zaman wa Anba’ihi wa Wafayat al-Akabir wal-A’yan min Abna’ihi. Karya Syamsuddin Muhammad bin Ibrahim yang dikenal dengan Ibnul Jazari (wafat tahun 739 Hijriah).

3 – Mu’jam Syuyukh al-Birzali. Karya Al-Hafizh Al-Qasim bin Muhammad bin Yusuf al-Birzali (wafat tahun 739 Hijriah). Dan kami menetapkan dalam cetakan ini “Namudzaj min Qira’ah Ibni Taimiyyah ala Syuyukhihi” yang diambil dari riwayat-riwayat Al-Birzali kepada para guru pada tahun (680 Hijriah), dan usianya sembilan belas tahun. Dan sumber bacaan-bacaan ini adalah: “Mu’jam Sama’at al-Hafizh al-Birzali”, karena kami menemukan bagian kecil darinya, sekitar (10 lembar) dengan tulisan Al-Birzali di “Zhahiriyyah Damaskus”. Dan orang yang melihat bacaan-bacaan ini mengetahui pentingnya yang sangat besar dalam biografi Asy-Syaikh…, dan di antaranya: penggambaran Al-Birzali terhadap Ibnu Taimiyyah dengan sebutan Al-Imam padahal ia dalam usia ini.

4 – Al-Muqtafi. (Manuskrip) Juga karyanya. Dan ini adalah yang dikenal dengan Tarikh al-Birzali, dan ia adalah kelanjutan dari kitab “Ar-Raudhatain” karya Abu Syamah al-Maqdisi (wafat tahun 665 Hijriah), ia berhenti pada tahun (739 Hijriah) dan itu adalah tahun wafatnya. Dan di dalamnya terdapat materi yang banyak, banyak di antaranya dikutip oleh Ibnu Katsir dalam “Tarikhnya” dan meninggalkan yang lain, dan biografinya dalam kitab ini layak untuk dijadikan buku tersendiri.

5 – Dzail Mir’at az-Zaman, karya Quthbuddin Musa bin Muhammad al-Yunini al-Hanbali (wafat tahun 726 Hijriah). Dan ini adalah sejarah yang disusun berdasarkan tahun-tahun, dan bagian yang kami ambil manfaat darinya mengkaji periode antara (697 Hijriah – 711 Hijriah) dan itu adalah tahun-tahun yang penuh dengan peristiwa dalam kehidupan Syaikhul Islam. Dan di antara yang membedakan kitab ini adalah:

bahwa penulisnya sezaman dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, bahkan lebih tua darinya dalam hal usia karena kelahirannya pada tahun 640 Hijriyah, sehingga ia lebih tua dari Syaikhul Islam lebih dari dua puluh tahun. Dan usianya saat mencatat peristiwa-peristiwa ini berkisar antara lima puluh tujuh hingga tujuh puluh satu tahun, sehingga ia menyaksikan sendiri sebagian besar peristiwa-peristiwa ini, terutama yang terjadi di negeri Syam.

bahwa dalam kitab sejarahnya terdapat beberapa perincian yang tidak terdapat dalam kitab-kitab lainnya. Dan ini kembali kepada apa yang telah disebutkan sebelumnya. Meskipun demikian, tidak lepas dari beberapa catatan yang saya pandang perlu untuk saya komentari dalam teks.

6 – Kanzud Durar wa Jami’ul Ghurar. Karya Abu Bakar bin Abdullah bin Aibak Ad-Dawadari (setelah tahun 736).

7 – Luqthatul ‘Ajlan fi Mukhtashar Wafayatil A’yan. (manuskrip) Karya Al-Allamah Abdul Baqi bin Abdul Majid Al-Yamani Asy-Syafi’i (743).

8 – Mukhtashar Thabaqat ‘Ulamail Hadits. Karya Al-Hafizh Muhammad bin Ahmad bin Abdul Hadi Al-Hanbali (744).

9 – Ad-Durrah Al-Yatimiyyah fis Sirah At-Taimiyyah. Sekilas dari biografi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

10 – Dzail Tarikhil Islam. (manuskrip).

11 – Mu’jam Syuyukhidz Dzahabi.

12 – Tadzkiratul Huffazh.

13 – Dzailul ‘Ibar fi Khabari man ‘Abar.

14 – Duwwalul Islam.

15 – Al-I’lam bi Wafayatil A’lam.

16 – Al-Mu’in fi Thabaqatil Muhadditsin.

17 – Dzikru man Yu’tamadu Qauluhu fil Jarhi wat Ta’dil.

18 – Al-Mu’jamul Mukhtash bil Muhadditsin.

19 – Siyar A’lamin Nubala’.

20 – Tarjamah Mukhtasharah. Semuanya karya Al-Hafizh Muhammad bin Ahmad Adz-Dzahabi Asy-Syafi’i (748).

Dan terjemah ringkas ini dinukil oleh Syaikh Muhaddits Ahmad bin Muhammad Ibnu Al-Muhandis Al-Maqdisi Al-Hanbali (wafat 804 atau 803) dengan tulisan tangannya di belakang naskah tulisan tangan dari kitab “Al-Ijtima’ wal Iftiraq fil Aiman wath Thalaq” karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Dan ia mengatakan di akhirnya bahwa ia menukil dari tulisan tangan penulisnya.

Ibnu Al-Muhandis tidak menyebutkan dari kitab mana milik Adz-Dzahabi ia menukil, dan jelas bahwa itu adalah kitab yang disusun berdasarkan peristiwa tahun demi tahun, tetapi bukan “Duwwalul Islam” dan bukan “Al-‘Ibar” dan bukan “Dzail Tarikhil Islam”. Dan dari terjemah ini telah dinukil tanpa menyebutkan sumbernya oleh sejarawan Zainuddin Ibnul Wardi dalam “Tatimmatul Mukhtashar – dalam Al-Jami'” (hal. 402). Dan Ibnu Abdul Hadi dalam “Al-‘Uqud” (hal. 34).

21 – Barnamijul Wadi Asy. Karya Syaikh Muhammad bin Jabir Al-Wadi Asy Syamsuddin Al-Maliki (749).

22 – Masalikul Abshar fi Mamalikil Amshar. (manuskrip). Karya Al-Allamah Al-Munsyi Ahmad bin Yahya bin Fadhlillah Al-‘Umari Asy-Syafi’i (749).

23 – Tatimmat Al-Mukhtashar fi Akhbaril Basyar. Karya Al-Allamah Umar bin Al-Wardi Asy-Syafi’i (749).

24 – Sirah Syaikhil Islam Ibnu Taimiyyah, dari kitab-kitab muridnya Syamsuddin Muhammad bin Abi Bakar Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah Al-Hanbali (wafat 751).

Ibnul Qayyim sering menyebut gurunya dalam karya-karyanya, baik pilihan-pilihan fiqihnya dan faedah-faedah ilmiahnya, atau beberapa sisi dari kehidupannya, maka saya ambil tempat-tempat yang memuat faedah-faedah terkait biografi dan sikap-sikapnya.

Dan saya telah membagi apa yang disebutkan Ibnul Qayyim tentang gurunya menjadi tiga bagian utama dan di bawah setiap bagian terdapat judul-judul khusus:

1 – Kedudukan Syaikh dalam ilmu, dan sikap-sikapnya dalam berfatwa. 2 – Akhlak Syaikh dan sifat-sifatnya dan ibadahnya. 3 – Syaikh dan amar makruf nahi munkar.

Dan saya menisbatkan nukilan kepada kitab-kitab Ibnul Qayyim, dengan menyebutkan cetakan yang dinukil darinya di tempat pertama yang disebutkan kitab tersebut, seperti ini: “Jala’ul Afham” (hal. 500 – Dar ‘Alamil Fawa’id).

25 – An-Nuniyyah. Karya Imam Syamsuddin Muhammad bin Abi Bakar Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah Al-Hanbali (751).

26 – Al-Ishal li Kitab Ibnu Sulaim wa Ibni Nuqthah wal Ikmal. (manuskrip). Karya Al-Allamah ‘Ala’uddin Mughulthai Al-Hanafi (762).

27 – Al-Wafi bil Wafayat. Karya Al-Allamah Khalil bin Aibak Ash-Shafadi Shalahudin Asy-Syafi’i (764).

28 – A’yanul ‘Ashr wa A’wanun Nashr. (manuskrip) karyanya. Dan di dalamnya ia membuat biografi orang-orang sezamannya dari tahun 696 hingga 764 dengan ungkapan-ungkapan bersajak dari awal kitab hingga akhirnya, maka komitmennya terhadap itu menghilangkan banyak faedah, tetapi dalam biografinya tentang Syaikhul Islam ia menyebutkan beberapa informasi yang tidak terdapat dalam sumber-sumber lain, dan ia menyendiri dengan qasidah dhadiyyah dalam meratapi Syaikh.

Kemudian kitab ini dicetak terakhir kali oleh Dar Al-Fikr Al-Mu’ashir dalam enam jilid.

29 – Fawatul Wafayat. Karya Syaikh Muhammad bin Syakir Al-Kutubi Asy-Syafi’i (764).

30 – ‘Uyunut Tawarikh. (manuskrip) karyanya.

31 – Mir’atul Janan. Karya Syaikh Abu Muhammad Abdullah Al-Yafi’i Al-Yamani Asy-Syafi’i (768).

32 – Natsrul Jaman fi Tarajimil A’yan. (manuskrip). Karya Al-Allamah Ahmad bin Muhammad Al-Fayyumi Al-Muqri’ (771).

33 – Al-Bidayah wan Nihayah. Karya Al-Hafizh Abul Fida’ Isma’il bin Katsir Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i (774).

34 – Nuzhatul ‘Uyun fi Tarikh Thawa’ifil Qurun. (manuskrip). Karya Al-Malik Al-Afdhal Abbas bin Ali bin Dawud bin Rasul Asy-Syafi’i Al-Yamani (778).

35 – Durratil Aslak fi Daulatil Atrak. (manuskrip). Karya Syaikh Al-Hasan bin Umar bin Al-Hasan bin Habib Asy-Syafi’i (779).

36 – Tadzkiratun Nabih fi Ayyamil Manshur wa Banihi. Karyanya.

37 – Rihlah Ibnu Baththuthah yang disebut: Tuhfatun Nuzhzhar fi Ghara’ibil Amshar wa ‘Aja’ibil Asfar. Karya pengelana Muhammad bin Abdullah Ath-Thanji (779).

38 – Su’al wa Jawab fi Syaikhil Islam Ibnu Taimiyyah. Karya Syihabuddin Ahmad Ibnul Adzra’i Asy-Syafi’i (wafat 783).

39 – Adz-Dzail ‘ala Thabaqatil Hanabilah. Karya Al-Allamah Abdurrahman bin Syihabuddin Ahmad Ad-Dimasyqi yang dikenal dengan Ibnu Rajab Al-Hanbali (795).

40 – Al-‘Iqdil Fakhirul Hasan fi Thabaqat Akabiril Yaman. (manuskrip). Karya sejarawan Syamsuddin Ali bin Al-Hasan Al-Khazraji Asy-Syafi’i Al-Yamani (812).

41 – Tuhfatul Abihi fi man Nusiba ila Ghairi Abihi. Karya Majduddin Al-Fairuzabadi (817).

42 – Dzailut Taqyid li Ruwatil Sunani wal Masanid. Karya Al-Allamah Taqiyuddin Al-Fasi Al-Maliki (832).

43 – At-Tibyan li Badi’atil Bayan. (manuskrip). Karya Al-Hafizh Muhammad bin Abi Bakar bin Nashiruddin Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i (842).

44 – As-Suluk li Ma’rifati Duwwalil Muluk. Karya Al-Allamah Ahmad bin Ali Al-Maqrizi Taqiyuddin Asy-Syafi’i (845).

45 – Al-Muqaffa Al-Kabir, karyanya.

46 – Al-I’tibar bi Dzikril Khithath wal Atsar, karyanya.

47 – Mukhtashar Thabaqatil Hanabilah li Ibni Rajab. (manuskrip). Karya Al-Allamah Ahmad bin Nashrillah Al-Baghdadi Al-Hanbali (846).

48 – Ad-Durar Al-Kaminah fi A’yanil Mi’atits Tsaminah. Karya Al-Hafizh Ahmad bin Ali Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Asy-Syafi’i (852).

49 – ‘Iqdil Jaman. (manuskrip). Karya Al-Allamah Badruddin Mahmud Al-‘Aini Al-Hanafi (855).

50 – Asy-Syuhubul ‘Aliyyah fir Raddi ‘ala man Kaffara Ibna Taimiyyah. Nazham Qadhi Umar bin Musa bin Al-Hasan Al-Himshi Asy-Syafi’i (wafat 861).

Ini adalah qasidah dalam membela Syaikhul Islam rahimahullah yang ditulis penulisnya sebagai jawaban bagi yang meminta darinya syair tentang orang yang mencela Syaikhul Islam dan mengkafirkannya… maka ia menjawab dengannya, dan ia terdiri dari 97 bait.

Dan penyebab yang mendorong penulis untuk menggubah qasidah ini adalah peristiwa atau fitnah Al-‘Ala’ Al-Bukhari (wafat 841) ketika ia melontarkan perkataan dalam mengkafirkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah bahkan mengkafirkan siapa yang memberinya gelar “Syaikhul Islam”, maka para ulama dari berbagai negeri dan mazhab mereka bangkit untuk menanggapinya, dan di antara mereka adalah Hafizh negeri Syam Ibnu Nashiruddin Ad-Dimasyqi (wafat 842) dalam kitabnya “Ar-Raddul Wafir ‘ala man Za’ama anna man Samma Ibna Taimiyyah Syaikhal Islam… Kafir”. Kemudian di antara mereka adalah pemilik qasidah kami ini.

Dan penulis mengalami beberapa gangguan karena gubahan ini, dijelaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam “Inba’ul Ghumr” (peristiwa tahun 836) dan As-Sakhawi dalam biografinya dalam “Adh-Dhaw’ul Lami'”.

51 – Al-Manhalush Shafi wal Mustaufa ba’dal Wafi. Karya Al-Allamah Abul Mahasin Yusuf bin Taghri Bardi Al-Hanafi (874).

52 – Ad-Dalilus Syafi minal Manhalish Shafi, karyanya. Dan ini adalah ringkasan dari yang sebelumnya.

53 – An-Nujumuz Zahirah fi Muluki Mishr wal Qahirah. Karyanya.

54 – Al-Maqshidul Arsyad fi Dzikri Ash-habul Imam Ahmad. Karya Al-Allamah Burhanuddin Ibrahim bin Muflih Al-Hanbali (884).

55 – Dusturul A’lam. (manuskrip). Karya Syaikh Muhammad bin Umar bin ‘Azm Al-Makki Al-Maliki (891).

56 – Ghirbaluz Zaman fi Wafayatil A’yan. Karya Al-Allamah Yahya bin Abi Bakar bin Muhammad Al-Haradhi Asy-Syafi’i Al-Yamani (893).

57 – Thabaqatul Huffazh. Karya Al-Hafizh Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar As-Suyuthi Asy-Syafi’i (911).

58 – Tarikh Ibnu Sibath, yang disebut: Shidqul Akhbar. Karya Hamzah bin Ahmad Al-Gharbi (926).

59 – Ad-Daris fi Tarikhil Madaris. Karya Al-Allamah Abdul Qadir bin Muhammad An-Nu’aimi (927).

60 – Al-Manhajul Ahmad fi Dzikri Ash-habul Imam Ahmad. Karya Al-Allamah Mujīruddin Abdurrahman Al-‘Ulaimi Al-Hanbali (928).

61 – Ad-Durrul Munadhdhadh fi Dzikri Ash-habul Imam Ahmad, karyanya. Dan ini adalah ringkasan dari yang sebelumnya.

62 – Thabaqatul Mufassirin. Karya Al-Allamah Syamsuddin Muhammad bin Ali Ad-Dawudi Asy-Syafi’i (945).

63 – Qiladatun Nahr fi Wafayat A’yanid Dahr. (manuskrip). Karya sejarawan Abdullah Ath-Thayyib bin Ahmad Ba Makhramah (947).

64 – Az-Ziyarat. Karya Syaikh Muhammad Al-‘Adawi Az-Zukawi Asy-Syafi’i (1032).

65 – Azharur Riyadh fi Akhbari ‘Iyadh. Karya Syihabuddin Ahmad bin Muhammad Al-Maqqari At-Tilmsani Al-Maliki (wafat 1041).

Kitab ini tidak memuat biografi Syaikh, tetapi disebutkan Syaikh di dalamnya dalam faedah yang dinukil Al-Maqqari dari tafsir Al-Basili At-Tunisi dan lainnya, dan ia menyebutkan sejumlah berita dan kisah tentang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah yang berkisar antara dusta terhadap Syaikh atau kesalahan terhadapnya, yaitu:

  • Bahwa ia berkata tentang Qadhi ‘Iyadh: “Orang Maghribi ini berlebih-lebihan”.
  • Bahwa keadaannya terus dalam kemunculan hingga ia berdebat dengan keluarga As-Subki.
  • Pengulangan kebohongan Ibnu Baththuthah dalam penggambaran turunnya Rabb Jalla Syanuhu dengan turunnya dari mimbar tangga demi tangga.
  • Bahwa kedua putra Imam telah berdebat dengan Syaikh dan mengungguli dia.
  • Penisbatan dua bait kepadanya yang ia katakan dalam “Al-Mahshul” karya Ar-Razi, padahal bukan miliknya.

Dan saya telah mengomentari semua kebohongan ini dalam catatan kaki kitab. Maka penyebutan kitab ini di sini untuk menolak apa yang ada di dalamnya berupa kebohongan dan kepalsuan.

66 – Syadzaratudz Dzahab fi Akhbari man Dzahab. Karya Al-Allamah Abul Falah Abdul Hayy bin Al-‘Imad Al-Hanbali (1089).

67 – Durratun Hijal fi Ghurratu Asma’ir Rijal. Karya Syekh Abu al-Abbas Ahmad bin Muhammad al-Maknasi yang dikenal dengan Ibn al-Qadhi al-Maliki (1125).

68 – Hadaiqul In’am fi Fadha’ilisy Syam. Karya Abdurrahman bin Ibrahim ibn Abdurrazzaq ad-Dimasyqi asy-Syafi’i (wafat 1138). Di dalamnya terdapat biografi ringkas, yang ditunjukkan kepada saya oleh saudara saya Syekh Abdullah bin Salim al-Bathathi.

69 – Diwanul Islam. Karya Allamah Muhammad bin Abdurrahman al-Ghazzi asy-Syafi’i (1167).

70 – Risalah fid Dzabbi ‘an Ibni Taimiyyah. Karya Muhammad Badruddin asy-Syurunbabali asy-Syafi’i al-Azhari (wafat 1182). Terdiri dari tiga lembar, difotokopi dari Pusat Jum’ah al-Majid untuk Warisan di Dubai. Di pinggir halaman pertama risalah terdapat catatan panjang yang memenuhi keempat margin halaman dengan tulisan penyalin. Catatan ini milik pengarang risalah – menurut yang tampak – dan isinya: bahwa ia menemukan beberapa bantahan terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dari as-Subki dan lainnya, dan bahwa ia mengetahui celaan beliau terhadap para wali – menurutnya – seperti Ibnu Arabi dan asy-Syadzili, dan kritiknya terhadap aliran Asy’ariyah… dan bahwa ia – yaitu pemilik risalah – berlepas diri dari akidah-akidah ini. Dan mungkin dapat dipahami dari ini bahwa pengarang menarik kembali risalahnya tersebut, namun hal itu tidak tampak bagi saya; karena pengarang jika menginginkan hal itu pasti akan menyatakannya dengan jelas, dan ini tidak terjadi, atau ia akan memusnahkan ketiga lembar tersebut, karena itu lebih mudah daripada menulis catatan panjang di marginnya! Maka karena itu kami tetap memasukkannya dan menunjukkan apa yang ada di marginnya.

71 – Ad-Durrul Maknun fi Ma’atsiri Madhi minal Qurun. (Manuskrip). Karya Syekh Yasin bin Khairullah al-Mushili al-Khatib (setelah 1232).

72 – Al-Badru ath-Thali’ bi Mahasini Man Ba’dal Qarni as-Sabi’. Karya Imam Mujtahid Muhammad bin Ali asy-Syaukani al-Yamani (1250).

73 – Nuzulu Mani Ittaqa bi Kasyfi Ahwalil Muntaqa. Karya Allamah Abdurrasyid bin Mahmud al-Kasymiri (1298).

74 – At-Ta’liqatus Saniyyah ‘alal Fawa’idil Bahiyyah. Karya Allamah Abdul Hayy al-Laknawi (1304).

75 – At-Tajul Mukallal min Jawahiri Ma’atsiri ath-Thirazi al-Akhir wal Awwal. Karya Allamah Shiddiq bin Hasan bin Ali al-Qannauji (1307).

76 – Taqsharu Juyudil Ahrar min Tadzkar Junudil Abrar, karyanya dalam bahasa Persia.

77 – Ithafun Nubala’il Muttaqin bi Ihya’i Ma’atsiril Fuqaha’il Muhadditsinn, karyanya juga dalam bahasa Persia.

78 – Abjadil ‘Ulum, karyanya.

79 – Jala’ul ‘Ainaini fi Muhakamatil Ahmadain. Karya Syekh as-Sayyid Nu’man Khairuddin bin Mahmud al-Alusi al-Hanafi (1317).

Setelah paparan ini, masih tersisa dua jenis buku dan kajian:

Jenis pertama: Buku-buku yang di dalamnya terdapat informasi dan fragmen-fragmen yang berkaitan dengan kehidupan Syaikhul Islam, sebagian di antaranya ada dalam buku-buku Syekh sendiri, dan telah ada seorang penuntut ilmu yang mengumpulkannya, sebagaimana yang diberitahukan kepada kami oleh Syekh Bakr Abu Zaid.

Dan sebagian lagi tersebar dalam buku-buku para sahabatnya, murid-muridnya dan generasi setelah mereka, khususnya buku-buku Allamah Ibnu Qayyim, dan kami telah mengambil inisiatif mengumpulkan jenis ini sehingga kami mendapatkan kutipan-kutipan yang banyak dan nash-nash yang berharga, dan kami telah memasukkannya di sini pada mulanya, kemudian kami berpaling dari hal ini dan melihat bahwa hal itu perlu dikhususkan dalam penelitian tersendiri. Kemudian kami memandang perlu mengumpulkan perkataan Ibnu Qayyim tentang gurunya, maka kami menerbitkannya pertama kali dalam Takmilatul Jami’, kemudian kami gabungkan di sini.

Jenis kedua: Penelitian-penelitian dan kajian-kajian modern tentang Syaikhul Islam pada abad keempat belas dan kelima belas, kami tidak menyebutkan sesuatu pun darinya di sini, dan jumlahnya sangat banyak sehingga layak dikhususkan dalam penelitian tersendiri juga. Dan Profesor Badr al-Ghamidi telah mengumpulkan banyak darinya dalam risalah berjudul “Daftar Kajian tentang Ibnu Taimiyah dan Ilmu-ilmunya” yang menyebutkan 984 judul.

Metode Kerja:

Ide untuk mendata sumber-sumber biografi Syaikhul Islam yang mandiri maupun yang terdapat dalam buku-buku sejarah dan sejenisnya, baik yang berupa manuskrip maupun yang dicetak, adalah awal dan inti dari karya ini, dan itu terjadi lima tahun yang lalu. Ketika pengumpulan selesai, kami memandang perlu menyatukan biografi-biografi ini, agar berada dalam satu volume di hadapan pembaca, dan tidak tersembunyi manfaat besar dan pengaruh mulia dari hal itu – sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Pekerjaan kami dalam menetapkan nash-nash ini dirangkum dalam poin-poin berikut:

1 – Periode waktu biografi-biografi ini dimulai dari masa hidup Syaikhul Islam, di mana biografi pertama yang kami temukan adalah karya Ibnu Syaikh al-Hazzamin (711) – yaitu pada masa hidup Syekh – dan berakhir pada akhir abad ketiga belas Hijriah tahun (1300), dan biografi terakhir adalah karya Nu’man Khairuddin al-Alusi (1317) yaitu dalam bukunya “Jala’ul ‘Ainaini”, yang ia karang sebelum akhir abad pada tahun 1297.

2 – Kami tidak memasukkan dalam kumpulan kami ini biografi-biografi yang berdiri sendiri; karena ia dianggap mandiri seperti “al-‘Uqudud Durriyyah” karya Ibnu Abdul Hadi – yang merupakan yang terluas – dan “al-Kawakibud Durriyyah” karya Mar’i al-Karmi dan lain-lain sebagaimana telah dihitung sebelumnya.

3 – Kami memperhatikan dalam menetapkan nash-nash ini tanggal-tanggal wafat para pengarangnya, dan yang tidak jelas wafatnya; kami berijtihad menetapkannya di tempat yang sesuai.

4 – Kami menetapkan nash-nash ini secara lengkap tanpa penghapusan, penyingkatan atau perubahan, dan kami menunjukkan dalam catatan kaki sumber biografi ini baik yang dicetak maupun manuskrip, dengan menyebutkan tempat pencetakan dan tanggalnya, nomor manuskrip dan tempat keberadaannya.

Dan kami ketika menetapkan biografi-biografi ini seluruhnya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, benar dan salahnya, maka itu karena beberapa hal:

Pertama: Untuk mempelajarinya sehingga dapat diketahui yang adil dari yang dzalim, maka yang benar diambil dan tetap ada, sedangkan yang batil akan lenyap sia-sia.

Kedua: Untuk melihat apa yang dialami oleh para wali Allah, dan ulama Islam yang berjihad dari berbagai macam gangguan; dari penyiksaan, penjara, celaan, dan berbagai jenis ujian lainnya, kemudian apa yang mereka hadapi terhadap semua itu berupa kesabaran dan ridha, sebagaimana layaknya para rasul Allah yang mulia, Allah Taala berfirman: “Dan sesungguhnya telah didustakan rasul-rasul sebelum kamu, lalu mereka bersabar atas pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu.” (Surat al-An’am: 34).

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang yang paling utama, kemudian yang selanjutnya.”

Dan bahwa apa yang terjadi berupa ucapan terhadap mereka dengan kebatilan, hawa nafsu dan taklid; tidak lain adalah tambahan kebaikan bagi mereka dan peningkatan derajat mereka – insya Allah Ta’ala – dan bahwa hal itu tidak merugikan mereka di sisi Allah maupun di sisi manusia.

Dan bahwa siapa di antara mereka – yaitu para pencela – yang bertaklid dalam mencela dan mencerca kepada orang sebelumnya; maka kini telah jelas hakikat perkara, dan orang yang adil telah kembali dari cemaannya, sedangkan siapa yang tersisa dari generasi kemudian yang tetap mencela dan membenci; maka ia tidak lain adalah orang yang bid’ah dan mengikuti hawa nafsu pada umumnya, atau tidak mengetahui perkara-perkara yang jelas dan hakikatnya, maka berhak bagi Syekh untuk mengucapkan syair penyair:

Aku raih kemuliaan, tak peduli apa yang dirampas Tangan-tangan peristiwa dariku, karena ia yang kudapat

Dan ucapannya: Apa yang musuh katakan tentangku Sementara kehormatanku terjaga dan utuh

Dan ucapannya: Kulihat daftar karya-karyaku, namun tak tampak Oleh pandanganku di dalamnya apa yang mencoreng amal-amalku

Ketiga: Manfaat-manfaat lain yang telah kami sebutkan ketika membahas tentang manfaat karya ini (hal. 58-60).

5 – Kami mengoreksi semua biografi ini, dan kami melakukan pembandingan antara sebagian dengan sebagian lainnya ketika terjadi kesalahan tulis atau salah baca, itu untuk berharap sampai kepada nash yang lebih mendekati kebenaran, dan kami merujuk dalam proses itu kepada beberapa cetakan buku, dan buku-buku pembantu lainnya. Dan kami tidak menunjukkan kesalahan-kesalahan tersebut karena banyak dan umumnya tersebar, kecuali yang jarang untuk suatu tujuan, bahkan cetakan-cetakan yang ditahqiq pun tidak lepas dari banyak kesalahan baca!!

Adapun yang memiliki wajah dalam bahasa Arab atau makna; maka kami tidak mengubahnya, bahkan membiarkannya sebagaimana adanya, dengan menunjukkan hal itu.

6 – Kami berusaha semaksimal mungkin dalam mengoreksi namun masih tersisa dalam nash-nash beberapa ungkapan yang tidak lepas dari masalah, dan kami tidak menemukan kebenarannya, atau menentukan maknanya.

7 – Fokus tertuju pada poin-poin sebelumnya, maka kami tidak memperhatikan pemberian komentar pada nash-nash, kecuali saat ada kebutuhan mendesak, dan itu dengan ungkapan singkat yang cukup bagi orang yang adil.

8 – Kami lampirkan pada buku tiga indeks:

a – Indeks tematik terperinci dan teliti, dibagi dengan cermat menjadi paragraf-paragraf, sejak kelahiran Syaikhul Islam hingga wafatnya, dan kami sebutkan di bawah setiap paragraf tempat-tempat keberadaan dan pengulangannya dalam semua buku “Jami'” ini, sehingga memungkinkan pembaca atau peneliti untuk membuat biografi Syekh melalui indeks ini, yang memuat detail-detail paling halus dalam hidupnya.

b – Indeks buku-buku Syaikhul Islam yang disebutkan dalam nash-nash “Jami'” ini yang diurutkan menurut huruf hijaiyah.

c – Indeks buku-buku yang termuat dalam “Jami'” ini.

Sebagai penutup, kami memuji Allah atas taufik-Nya kepada kami untuk menyelesaikan karya ini, yang kami harap menjadi pelopor dalam bidangnya, yang dapat digunakan oleh setiap pelajar tentang Syaikhul Islam, atau peneliti tentang biografi para pembaharu agama yang agung.

Dan tidak terlewatkan bagi kami untuk menyampaikan terima kasih dan doa yang tulus kepada setiap orang yang berkontribusi dalam kesuksesan buku ini dan mereka banyak, dan kami khususkan menyebutkan di sini fadhilatus Syekh Allamah Bakr bin Abdullah Abu Zaid – semoga Allah memberinya taufik untuk keridhaan-Nya – karena beliau telah mengikuti pekerjaan ini sejak awal hingga selesai sempurna. Demikian pula Syekh Dr. Shalih bin Hamid ar-Rifa’i yang telah memberi kami beberapa biografi, jazakumullahu khairan kepada semuanya, dan semoga Allah mencatatkan itu dalam timbangan kebaikan mereka, sesungguhnya Dia adalah Pemelihara hal itu dan Yang Berkuasa atasnya.

Dan kami mengajak para pembaca dan peneliti untuk memberi kami masukan berupa saran-saran dan pendapat-pendapat mereka, atau dengan biografi-biografi Syekh yang luput dari kami, karena ilmu adalah ikatan persaudaraan di antara ahlinya, dan mukmin adalah cermin bagi saudaranya, dan semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada hamba dan Rasul-Nya Muhammad.

 

Ditulis oleh

Muhammad ‘Uzair Syams dan Ali bin Muhammad al-‘Imran

Di Makkah al-Mukarramah – semoga Allah menjaganya –

 

 

01 – At-Tadzkirah wal-I’tibar wal-Intishar lil-Abrar

(Peringatan, Pelajaran, dan Pembelaan untuk Orang-Orang yang Berbakti)

Karya Allamah Ahmad bin Ibrahim al-Wasithi yang dikenal dengan Ibn Syaikh al-Hazzamin (wafat tahun 711 H)

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Segala puji bagi Allah, Mahasuci Allah, dan segala puji bagi-Nya. Dia Mahasuci dalam ketinggian dan keagungan-Nya, Mahatinggi dalam sifat-sifat kesempurnaan-Nya, Mahatinggi dalam cahaya keesaan dan keindahan-Nya, dan Dia Mahapemurah dalam pemberian dan anugerah-Nya. Dia Mahaagung, tidak dapat disamakan dengan apa pun dari makhluk-Nya, dan tidak dapat dilingkupi, bahkan Dialah yang meliputi segala ciptaan-Nya. Dia tidak dapat dibayangkan oleh wahm, tidak dapat ditampung oleh benda-benda, dan hakikat zat-Nya tidak dapat dipahami oleh penglihatan batin maupun akal pikiran.

Segala puji bagi Allah yang menguatkan kebenaran dan menolongnya, yang menolak kebatilan dan menghancurkannya, yang memuliakan orang yang taat dan memperbaikinya, dan yang menghinakan orang yang melampaui batas serta membalasnya. Orang yang berbahagialah yang mendapat kedudukan mendekat pada kesucian-Nya dengan menjalankan beban mengikuti Rasul dalam bangunan dan fondasi agama ini, dan beruntunglah yang mendapat kecintaan-Nya di medan kedekatan-Nya dengan menyerahkan apa yang dicintainya dalam mencari-Nya dari hati dan perasaannya, serta tetap teguh dalam keraguan yang membingungkan sambil menanti hilangnya kesamaran itu. Mahasuci Dia dan segala puji bagi-Nya, dan bagi-Nya sifat yang paling tinggi, cahaya yang paling sempurna lagi agung, dan bukti yang nyata dalam syariat yang paling utama.

Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, yang keesaan-Nya telah disaksikan oleh fitrah manusia, yang ketuhanan-Nya telah diakui oleh orang-orang yang berakal dan berpikir, yang hukum-hukum-Nya tampak dalam ayat-ayat Al-Quran dan surah-surahnya, dan yang kekuasaan-Nya sempurna dalam turunnya takdir.

Dan aku bersaksi bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya, yang kenabiannya telah disaksikan oleh para pemberi kabar dan pendeta-pendeta, sehingga sebelum kemunculannya ia dinanti-nantikan, dan ketika diutus, mukjizat-mukjizatnya datang berturut-turut seperti merintihnya batang pohon kurma dan patuhnya pohon-pohon. Semoga shalawat Allah tercurah atasnya, atas keluarganya, dan para sahabatnya yang merupakan orang-orang yang memiliki ketakwaan dan kewaspadaan, serta ilmu yang bercahaya, merekalah teladan bagi pengikut atsar.

Amma ba’du (Selanjutnya):

Ini adalah risalah yang ditulis oleh hamba yang lemah yang mengharapkan rahmat Tuhannya dan ampunan-Nya, kemurahan dan anugerah-Nya: Ahmad bin Ibrahim al-Wasithi, semoga Allah memperlakukannya sesuai dengan apa yang layak bagi-Nya, karena Dialah yang berhak atas takwa dan ampunan. Kepada saudara-saudaraku di jalan Allah, para ulama terkemuka, para imam yang bertakwa, yang memiliki ilmu yang bermanfaat, hati yang khusyuk, dan cahaya yang bersinar, yang telah Allah kenakan pakaian mengikuti Rasul, dan aku berharap dari kemurahan-Nya agar Dia merealisasikan mereka dengan hakikat-hakikat kemanfaatan:

Tuan yang mulia lagi berilmu, yang utama dan kebanggaan para ahli hadits, pelita para ahli ibadah, yang menghadapkan diri kepada Rabb semesta alam, Taqiyuddin Abu Hafs Umar bin Abdullah bin Abdul Ahad bin Syuqair.

Dan Syaikh yang mulia, yang berilmu dan utama, yang saleh dan zahid, yang memiliki ilmu dan amal, yang mengenakan sifat-sifat terpuji yang paling indah, Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Abdul Ahad al-Amidi.

Dan Tuan saudaraku, yang berilmu dan utama, yang saleh dan zahid, yang bertakwa dan saleh, yang cahaya hatinya tampak jelas pada wajahnya, Syarafuddin Muhammad bin al-Munajja.

Dan Tuan saudaraku, ahli fiqih yang berilmu dan mulia, yang utama dan kebanggaan para ahli hadits, Zainuddin Abdul Rahman bin Mahmud bin Ubaidan al-Ba’labakki.

Dan Tuan saudaraku, yang berilmu dan utama, yang saleh dan zahid, yang memiliki akal yang matang dan amal yang saleh, ketenangan yang melimpah, dan keutamaan yang menyeluruh, Nuruddin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin ash-Shaigh.

Dan saudaranya, Tuan saudaraku, yang berilmu, bertakwa dan saleh, yang baik dan agamis, yang beramal dan terpercaya, yang amanah dan matang, yang memiliki sikap yang baik, dan agama yang kokoh dalam mengikuti sunnah-sunnah, Fakhruddin Muhammad.

Dan saudara yang mulia dan saleh, yang mencari jalan Tuhannya, yang menginginkan keridhaan dan kecintaan-Nya, yang berilmu dan utama, putra Syarafuddin Muhammad bin Sa’duddin Sa’dullah bin Bukhaikhin.

Dan lainnya dari orang-orang yang berlindung pada syaikh mereka dan syaikh kami, Tuan Imam, tokoh yang mulia, penghidup sunnah, penghancur bid’ah, penolong hadits, dan mufti berbagai kelompok, yang mengungkap hakikat-hakikat dan mengukuhkannya dengan ushul syar’i bagi pencari yang memahami, yang menggabungkan lahir dan batin, maka ia memutuskan dengan hak secara lahir sementara hatinya berada di tempat yang tinggi, teladan para khalifah rasyidin dan imam-imam yang mendapat petunjuk, yang jalan mereka telah hilang dari hati-hati dan dilupakan umat dari cara dan jalan mereka, maka Syaikh mengingatkan mereka tentang hal itu, sehingga ia menempuh jalan mereka yang telah usang, menghidupkan kembali cara mereka yang telah mati, dan menguasai kendali kaidah-kaidah mereka: Syaikh Imam Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Taimiyah, semoga Allah mengembalikan berkahnya, mengangkat derajatnya ke tingkatan yang tinggi, melanggengkan taufik dan bimbingan para tuan yang disebutkan di awal, dan memberikan bagian serta tambahan kepada mereka dengan berlimpah. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh wahai para saudara, semoga Allah menjadikan kita dan kalian termasuk orang-orang yang tetap teguh jiwanya dalam menghadapi ujian kebenaran, yang mengharapkan ridha Allah atas apa yang ia berikan dari dirinya dalam menegakkan agama-Nya, dan apa yang menimpanya dari hal tersebut, serta yang mengikuti jejak orang-orang yang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang tidak takut celaan orang yang mencela dalam urusan Allah, sehingga tidak membahayakan mereka orang yang mengecewakan mereka maupun yang menentang mereka, meskipun jumlah mereka sedikit di awal perkara, namun dengan itu, setiap dari mereka berjuang menegakkan agama Allah. Dan kami berharap dari kemurahan Allah Ta’ala agar Dia memberikan taufik kepada kami untuk beramal seperti mereka, menganugerahkan hati kami bagian dari keadaan mereka, dan memasukkan kami dalam barisan mereka, di bawah panji dan bendera mereka, bersama pemimpin dan imam mereka, sayyidul mursalin (pemimpin para rasul), imamul muttaqin (imam orang-orang yang bertakwa), Muhammad shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa ashhabihi ajma’in.

Aku mengingatkan kalian—semoga Allah merahmati kalian—tentang apa yang telah kalian ketahui, sebagai pengamalan firman Allah Ta’ala: “Dan berilah peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (Surah adh-Dhariyat: 55).

Dan aku mulai dari hal itu dengan mewasiatkan diriku dan kalian semua agar bertakwa kepada Allah, dan ini adalah wasiat Allah Ta’ala kepada kita dan kepada umat-umat sebelum kita, sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan berfirman dan berwasiat: “Dan sesungguhnya Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi Kitab sebelum kalian dan (juga) kepada kalian agar bertakwa kepada Allah” (Surah an-Nisa: 131).

Dan kalian telah mengetahui rincian takwa pada anggota badan dan hati, sesuai dengan waktu dan keadaan: dari perkataan, perbuatan, keinginan, dan niat-niat.

Dan sepatutnya bagi kita semua agar tidak puas dengan bentuk-bentuk amalan semata sampai kita menuntut hati kita di hadapan Allah Ta’ala dengan hakikat-hakikatnya; dan bersama itu, hendaklah kita memiliki keinginan yang tinggi, yang meraih tempat-tempat kedekatan, kecintaan dan cinta, maka orang yang berbahagialah yang mendapat bagian dari hal itu, dan Tuhannya dekat dengannya dalam setiap keadaan dengan kedekatan khusus, sehingga hamba mengenakan dari hal itu buah rasa takut dan pengagungan kepada Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung. Maka cinta dan rasa takut itu tetap dalam Kitab yang mulia dan Sunnah yang ma’tsur. Allah Ta’ala berfirman: “dengan kaum yang Dia cintai” (Surah al-Ma’idah: 54), “Dan orang-orang yang beriman lebih kuat cintanya kepada Allah” (Surah al-Baqarah: 165), dan Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama” (Surah Fathir: 28), dan dalam hadits: “Aku memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan cinta amal yang mendekatkan aku kepada cinta-Mu”, dan dalam hadits: “Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis, dan kalian akan keluar ke jalan-jalan sambil meratap kepada Allah”.

Dan diketahui bahwa manusia berbeda-beda dalam maqam cinta dan rasa takut, dalam maqam yang lebih tinggi dari maqam lainnya, dan bagian yang lebih mulia dari bagian lainnya, maka hendaklah keinginan salah seorang dari kita dari maqam cinta dan rasa takut adalah yang paling tinggi, dan jangan puas kecuali dengan puncak dan kemuliaannya, karena keinginan yang pendek akan puas dengan bagian yang paling mudah, sedangkan keinginan yang tinggi akan naik bersama nafas-nafas menuju kedekatan Sang Kekasih. Jangan sampai hal-hal yang lebih rendah dari keutamaan mengalihkan kita dari hal itu, dan orang yang berakal tidak akan puas dengan perkara yang kurang utama dari keadaan yang utama, dan hendaklah keinginan terbagi untuk meraih tingkatan-tingkatan yang lahir dan memperoleh maqam-maqam yang batin, karena tidak adil jika hanya berfokus pada yang lahir dan sibuk dari tujuan-tujuan tinggi yang memiliki cahaya-cahaya yang terang.

Dan hendaklah kita semua di antara malam dan siang memiliki waktu, di mana kita bersendirian dengan Rabb kita, Mahaagung nama-Nya dan Mahatinggi kesucian-Nya. Kita kumpulkan di hadapan-Nya dalam waktu itu kesibukan-kesibukan kita, dan kita buang dari hati kita urusan-urusan dunia, sehingga kita zuhud terhadap selain Allah satu jam dari siang. Dengan itu, manusia akan mengetahui keadaannya dengan Tuhannya. Maka barangsiapa yang memiliki keadaan dengan Tuhannya, akan bergerak dalam waktu itu ketetapan hatinya, dan bergembira karena cinta dan pengagungan rahasia-rahasianya, dan terbang ke tempat yang tinggi keluhan-keluhan dan hatinya. Dan waktu itu adalah contoh bagi keadaan hamba di kuburnya, ketika ia sendirian dari hartanya dan kecintaannya. Maka barangsiapa yang tidak mengosongkan hatinya untuk Allah satu jam dari siang, karena kesibukan-kesibukan dunia dan beban-beban yang menimpanya, maka ketahuilah bahwa ia tidak memiliki ikatan yang tinggi di sana, dan tidak ada bagian dari cinta maupun kecintaan, maka hendaklah ia menangisi dirinya, dan jangan ia rela kecuali dengan bagian dari kedekatan Tuhannya dan keakraban-Nya.

Maka jika waktu itu murni untuk Allah, memungkinkan pelaksanaan shalat lima waktu dengan pola yang sama dari kehadiran dan khusyuk, serta rasa takut kepada Rabb Yang Mahaagung dalam sujud dan ruku’.

Maka tidak sepatutnya bagi kita untuk pelit terhadap diri kita sendiri dalam sehari semalam dari dua puluh empat jam dengan satu jam saja untuk Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa, kita beribadah kepada-Nya dengan sebenar-benar ibadah, kemudian kita bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban dan tahajjud dengan cara itu dalam menjaganya, dan itulah jalan bagi kita semua insya Allah Ta’ala menuju kemenangan. Maka ahli fiqih jika tidak mendalam dalam ilmunya, ia akan mendapatkan bagian yang lahir, dan kehilangan bagian yang batin, karena hatinya bersifat kaku, dan jauh dalam ibadah dan tilawah dari kelembutan hati dan kulit, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Merinding karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah” (Surah az-Zumar: 23). Dan dengan itu ahli fiqih akan naik dari para fuqaha zaman kita, dan membedakan dirinya dari mereka. Maka fuqaha yang mendalam memiliki pandangan yang bercahaya, rasa yang benar, firasat yang jujur, ma’rifat yang sempurna, dan kesaksian terhadap orang lain tentang amal yang benar dan yang rusak. Dan barangsiapa yang tidak mendalam, tidak akan memiliki kekhususan ini, dan ia melihat sebagian hal dan tidak melihat sebagian lainnya.

Maka wajib bagi kita semua mencari kedalaman menuju kedekatan Yang Disembah, dan menemui-Nya dengan rasa yakin, agar kita beribadah kepada-Nya seolah-olah kita melihat-Nya, sebagaimana yang datang dalam hadits.

Dan itu setelah mendapat kehormatan di dunia ini dengan menemui Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam secara gaib dalam kegaiban, dan secara rahasia dalam kerahasiaan, dengan tekun mempelajari hari-harinya dan sunnah-sunnahnya serta mengikutinya, sehingga pandangan batin tetap tertuju kepadanya, melihatnya secara nyata dalam kegaiban, seolah-olah ia bersama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di masa-masanya, maka ia berjihad atas agamanya, dan memberikan apa yang ia mampu dari dirinya dalam menolongnya. Demikian pula barangsiapa yang menempuh jalan kedalaman, diharapkan baginya bahwa ia akan menemui Tuhannya dengan hatinya secara gaib dalam kegaiban, dan secara rahasia dalam kerahasiaan, sehingga hatinya dianugerahi bagian dari cinta dan rasa takut dan pengagungan, maka ia melihat hakikat-hakikat dengan hatinya dari balik tabir yang tipis, dan itulah yang disebut dengan kedalaman, dan sampai ke hatinya dari balik tabir itu apa yang meliputinya dari cahaya-cahaya keagungan dan kemuliaan, kemegahan dan kesempurnaan, sehingga ilmu yang diperoleh hamba menjadi bercahaya, dan tetap bersamanya kondisi lain yang lebih dari kondisi yang biasa berupa kegembiraan, keakraban, dan kekuatan dalam menyatakan dan menyembunyikan.

Maka tidak sepatutnya bagi kita untuk sibuk dari meraih anugerah yang mulia ini dengan kesibukan-kesibukan dunia dan kekhawatirannya, sehingga kita terputus dengan hal itu—sebagaimana telah disebutkan—dengan sesuatu yang kurang utama dari perkara penting yang utama. Maka jika kita menempuh jalan itu dalam waktu tertentu, dan Allah Ta’ala menganugerahkan kepada kita kedalaman, dan kita kukuh dalam kedalaman itu, maka hal-hal yang bersifat parsial dan duniawi ini tidak akan mempengaruhi kita lagi insya Allah Ta’ala. Dan hendaklah urusan salah seorang dari kita hari ini: menyeimbangkan antara kemaslahatan duniawi, keutamaan ilmiah, dan orientasi hati, dan jangan salah seorang dari kita puas dengan salah satu dari ketiga ini dengan meninggalkan dua yang lain, sehingga ia kehilangan yang dituju. Dan apabila ia bersungguh-sungguh dalam menyeimbangkan, maka insya Allah Ta’ala sejauh hamba mendapatkan bagian dari salah satunya, ia mendapatkan bagian dari yang lain, kemudian dengan kesabaran atas hal itu, bagian-bagian yang diperoleh akan terkumpul, sehingga menjadi tingkatan yang tinggi pada akhirnya insya Allah Ta’ala.

Demikian ini, meskipun kalian—semoga Allah menguatkan kalian—mengetahuinya, tetapi sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.

Pasal

Dan ketahuilah—semoga Allah menguatkan kalian—bahwa wajib bagi kalian untuk bersyukur kepada Rabb kalian Ta’ala di zaman ini, di mana Dia menjadikan kalian di antara semua penduduk zaman ini bagaikan bercak putih pada hewan hitam. Tetapi barangsiapa yang tidak bepergian ke berbagai negeri, dan tidak mengetahui keadaan manusia, ia tidak tahu kadar kesejahteraan yang ia miliki. Maka kalian insya Allah Ta’ala dalam hak umat yang pertama ini sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) menyuruh (berbuat) makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah” (Surah Ali ‘Imran: 110), dan sebagaimana firman Allah Ta’ala: “(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, niscaya mereka melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan” (Surah al-Hajj: 41).

Kalian telah menjadi, wahai saudara-saudaraku, di bawah panji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam insya Allah Ta’ala bersama syaikh dan imam kalian, syaikh kami dan imam kami yang disebutkan di awal, semoga Allah meridhainya. Kalian telah dibedakan dari seluruh penduduk bumi dari para fuqaha, fuqara, sufi, dan orang awam mereka dengan agama yang benar.

Dan kalian telah mengetahui apa yang telah diperbuat oleh manusia dari perbuatan-perbuatan baru, dalam kalangan fuqaha, fuqara, sufi, dan awam. Maka kalian hari ini dalam menghadapi kaum Jahmiyah dari kalangan fuqaha, kalian menolong Allah dan Rasul-Nya dalam menjaga dari Allah apa yang mereka sia-siakan dari agama Allah, kalian memperbaiki apa yang mereka rusak dari ta’thil (peniadaan) sifat-sifat Allah.

Dan kalian juga dalam menghadapi orang yang tidak mendalam dalam ilmunya dari kalangan fuqaha kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan hanya beku pada taqlid semata kepada para imam. Maka sesungguhnya kalian telah menolong Allah dan Rasul-Nya dalam mendalami ilmu sampai ke asal-usulnya dari Kitab dan Sunnah, dan menjadikan perkataan para imam sebagai pegangan untuk mendekatkan diri kepada mereka, bukan taqlid kepada mereka.

Dan kalian juga dalam menghadapi apa yang diperbuat oleh berbagai jenis fuqara dari Ahmadiyah dan Haririyah dengan menampakkan syiar tepuk tangan dan bersiul, serta persaudaraan dengan wanita dan anak-anak, dan berpaling dari agama Allah kepada dongeng-dongeng yang didustakan tentang syaikh-syaikh mereka, dan berpegang kepada syaikh-syaikh mereka serta taqlid kepada mereka dalam gerakan-gerakan mereka yang benar maupun yang salah, dan berpaling dari agama Allah yang diturunkan dari langit. Maka kalian dengan segala puji bagi Allah berjihad melawan golongan ini juga sebagaimana kalian berjihad melawan yang disebutkan sebelumnya. Kalian menjaga dari agama Allah apa yang mereka sia-siakan, dan kalian mengetahui apa yang mereka jahili, kalian meluruskan dari agama apa yang mereka bengkokkan, dan kalian memperbaiki darinya apa yang mereka rusak.

Dan kalian juga dalam menghadapi formalitas para sufi dan fuqaha, dan apa yang mereka perbuat dari resmian yang dibuat-buat, dan beban-beban bid’ah, seperti pencitraan dengan pakaian, menundukkan kepala, dan sajadah untuk mendapatkan rezeki dari gaji, mengenakan biqar, dan lengan baju yang luas di hadapan majlis pengajaran, merapikan kata-kata, dan berlari di hadapan pengajar dengan membungkuk, menjaga kedudukan, dan mencari rezeki dan aliran!!

Maka mereka ini mencampuradukkan dalam beribadah kepada Allah dengan selain-Nya, dan mengutuhkan selain-Nya, maka hati mereka menjadi rusak tanpa mereka sadari. Mereka berkumpul bukan untuk Allah, bahkan untuk gaji, dan mereka berpakaian untuk gaji, demikian pula dalam kebanyakan gerakan mereka mereka mengindahkan penguasa gaji. Maka mereka menyia-nyiakan banyak dari agama Allah dan mematikannya, dan kalian menjaga apa yang mereka sia-siakan, dan kalian meluruskan apa yang mereka bengkokkan.

Demikian pula kalian dalam menghadapi apa yang diperbuat oleh para zindiq dari kalangan fuqara dan sufi dari perkataan mereka tentang hulul (Allah menjelma dalam makhluk) dan ittihad (manunggalnya Allah dengan makhluk), dan mengutuhkan makhluk-makhluk. Seperti Yunusiyah, Arabiyah, Shadriyah, Sab’iniyah, Sa’diyah, dan Tilimsaniyah.

Maka semua golongan ini telah mengubah agama Allah Ta’ala dan membaliknya, dan berpaling dari syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Golongan Yunusiyah: mereka menganggap syekh mereka sebagai tuhan, menjadikannya sebagai perwujudan kebenaran, meremehkan ibadah-ibadah, menampakkan kesombongan dan kekuatan, kebodohan dan hal-hal yang mustahil, karena telah tertanam dalam batin mereka khayalan-khayalan yang rusak, dan kiblat mereka adalah Syekh Yunus.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Al-Quran yang mulia jauh dari mereka, mereka beriman dengan lisan mereka, namun kafir dengan perbuatan mereka.

Demikian pula golongan Ittihadiyah (Kesatuan Wujud), mereka menjadikan wujud sebagai perwujudan kebenaran, dengan anggapan bahwa yang bergerak di alam semesta adalah Allah sendiri, dan yang berbicara dalam diri manusia adalah Allah sendiri, dan di antara mereka ada yang tidak membedakan antara yang tampak dan tempat penampakan, sehingga mereka menjadikan perkara itu seperti ombak laut, tidak membedakan antara ombak dengan laut itu sendiri, bahkan salah seorang dari mereka beranggapan bahwa dialah Allah, lalu ia berbicara atas nama-Nya, kemudian melakukan apa yang ia inginkan dari perbuatan keji dan maksiat karena ia meyakini hilangnya dualitas, lalu siapa yang menyembah dan siapa yang disembah? Semuanya menjadi satu! Kami pernah bertemu dengan golongan ini di ribath-ribath dan zawiyah-zawiyah!

Maka kalian dengan segala puji bagi Allah berdiri menghadapi mereka juga, menolong Allah dan Rasul-Nya, membela agama-Nya, dan berusaha memperbaiki apa yang telah mereka rusak serta meluruskan apa yang telah mereka bengkokkan. Sesungguhnya mereka telah menghapus rupa agama dan mencabut bekasnya, sehingga tidak dikatakan: mereka merusak atau membengkokkan, bahkan mereka berlebihan dalam meruntuhkan agama dan menghapus bekasnya, dan tidak ada ketaatan yang lebih utama di sisi Allah daripada berjihad melawan mereka dengan segala kemampuan, menjelaskan mazhab mereka kepada orang khusus dan umum, demikian juga jihad terhadap setiap orang yang melenceng dalam agama Allah dan menyimpang dari batasan dan syariat-Nya, apapun yang terjadi dari fitnah dan perkataan, sebagaimana dikatakan:

Jika sang kekasih rida, aku tidak peduli… Apakah kaum tetap tinggal atau benar-benar pergi

Dan hanya kepada Allah tempat meminta pertolongan. Demikian pula kalian dengan segala puji bagi Allah berdiri berjihad melawan para penguasa dan tentara, memperbaiki apa yang telah mereka rusak dari kezaliman dan ketidakadilan, serta buruknya perilaku yang muncul dari kebodohan terhadap agama Allah dengan segala kemampuan, dan itu karena jauhnya masa dari agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena hari ini telah berlalu tujuh ratus tahun, maka kalian dengan segala puji bagi Allah memperbarui apa yang telah terhapus dari itu, bahkan Allah memperbarui melalui kalian dan syekh kalian insya Allah apa yang telah hilang dan terhapus dari itu.

Demikian pula kalian dengan segala puji bagi Allah berdiri di hadapan masyarakat umum, dari apa yang mereka ciptakan berupa pengagungan Maulid, Qalandas, Khamis al-Baidh, Sya’anin, mencium kubur dan batu, dan bertawasul di sisinya.

Dan diketahui bahwa semua itu adalah syiar kaum Nasrani dan masa jahiliah, dan sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus agar Allah ditauhidkan dan disembah sendirian, dan tidak ada yang dituhan bersama-Nya dari makhluk-makhluk-Nya, Allah Ta’ala mengutus beliau sebagai penghapus semua syariat, agama, dan hari raya, maka kalian dengan segala puji bagi Allah berdiri memperbaiki apa yang telah dirusak manusia dari itu.

Dan berdiri di hadapan orang-orang yang membela bid’ah-bid’ah ini dari kalangan fuqaha yang sesat, ahli tipu daya dan kezaliman terhadap wali-wali Allah, orang-orang yang bermaksud buruk, dan hati-hati yang berpaling dari menolong kebenaran.

Dan hamba yang lemah ini tidak menyebutkan berdirinya kalian di hadapan Tatar, Nasrani, Yahudi, Rafidhah, Mu’tazilah, Qadariyah, dan berbagai golongan ahli bid’ah dan kesesatan, karena manusia sepakat dalam mencela mereka, mereka tahu bahwa mereka berdiri menolak bid’ah mereka, namun tidak melaksanakan hak penolakan terhadap mereka sebagaimana kalian laksanakan, bahkan mereka tahu dan pengecut ketika bertemu sehingga tidak berjihad, dan celaan dalam rangka Allah menimpa mereka, demi menjaga kedudukan mereka, dan menjaga kepentingan mereka.

Kami telah mengembara ke berbagai negeri dan tidak melihat ada yang berdiri menegakkan agama Allah di hadapan orang-orang seperti ini – dengan sebenar-benarnya – selain kalian, maka kalian adalah orang-orang yang berdiri di hadapan mereka insya Allah, dengan berdirinya kalian menolong syekh kalian dan syekh kami – semoga Allah menguatkannya – dengan sebenar-benarnya, berbeda dengan orang-orang yang mengaku bahwa mereka berdiri dengan itu.

Maka bersabarlah wahai saudara-saudaraku atas apa yang Allah tetapkan bagi kalian di dalamnya, dari menolong agama-Nya dan meluruskan kebengkokannya serta menghinakan musuh-musuh-Nya, dan mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah celaan orang yang mencela menghalangi kalian dalam (menegakkan agama) Allah, dan sesungguhnya ini hanyalah hari-hari yang sedikit, dan agama akan ditolong, Allah telah menjamin penegakannya, dan pertolongan bagi siapa yang menegakkannya dari para wali-Nya, insya Allah secara zhahir dan bathin.

Dan keluarkanlah dalam apa yang kalian tegakkan di dalamnya segala kemampuan kalian dari jiwa dan harta, perbuatan dan perkataan, semoga kalian dilhakkan dengan itu kepada pendahulu kalian para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sungguh kalian telah mengetahui apa yang mereka hadapi dalam rangka Allah, sebagaimana Khubaib berkata ketika disalib di atas kayu.

Dan itu dalam rangka Ilah dan jika Dia berkehendak… Akan diberkati anggota tubuh dari mayat yang tercabik-cabik

Dan kalian telah mengetahui apa yang dihadapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari kesusahan dan kemiskinan di Syi’ib Bani Hasyim, dan apa yang dihadapi orang-orang terdahulu dari penyiksaan dan hijrah ke Habasyah, dan apa yang dihadapi Muhajirin dan Anshar di Uhud, di Bi’r Ma’unah, dalam perang melawan orang-orang murtad, dan dalam jihad di Syam dan Irak, dan selain itu.

Dan lihatlah bagaimana mereka mengorbankan jiwa dan harta mereka untuk Allah, karena cinta kepada-Nya, dan kerinduan kepada-Nya, demikian pula kalian – semoga Allah merahmati kalian – setiap orang dari kalian sesuai kemampuan dan kesanggupannya, dengan perbuatannya, dengan ucapannya, dengan tulisannya, dengan hatinya, dan dengan doanya. Semua itu adalah jihad. Aku berharap tidak akan kecewa siapa yang beramal untuk Allah dengan sesuatu dari itu, karena tidak ada kehidupan kecuali dalam itu, dan seandainya tidak ada di dalamnya kecuali bahwa tekad kalian – menyaingi ahli kesesatan – mengganggu mereka, kalian membenci mereka karena Allah, dan kalian menginginkan kelurusan mereka dalam agama Allah, dan itu termasuk jihad bathin insya Allah Ta’ala.

Pasal

Kemudian ketahuilah wahai saudara-saudaraku hakikat nikmat yang Allah anugerahkan kepada kalian dari berdirinya kalian dengan itu, dan ketahuilah jalan kalian menuju itu, dan bersyukurlah kepada Allah Ta’ala atasnya, yaitu bahwa Allah menegakkan untuk kalian dan untuk kami di zaman ini seperti tuan kami Syekh yang Allah membuka dengannya kunci-kunci hati, dan Allah menyingkap dengannya dari mata batin kebutaan syubhat dan kebingungan kesesatan, ketika akal telah tersesat di antara golongan-golongan ini, dan tidak terbimbing kepada hakikat agama Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan sungguh mengherankan bahwa setiap mereka mengaku bahwa ia berada di atas agama Rasul, hingga Allah menyingkap untuk kami dan untuk kalian dengan perantaraan lelaki ini tentang hakikat agamanya yang diturunkan-Nya dari langit dan diridhai-Nya untuk hamba-hamba-Nya.

Dan ketahuilah bahwa di berbagai penjuru dunia ada kaum yang menjalani umur mereka di antara golongan-golongan ini, mereka meyakini bahwa bid’ah-bid’ah itu adalah hakikat Islam, maka mereka tidak mengenal Islam kecuali seperti ini.

Maka bersyukurlah kepada Allah yang menegakkan untuk kalian di awal tujuh ratus tahun Hijriah orang yang menjelaskan kepada kalian tanda-tanda agama kalian, dan Allah membimbing kalian dengannya dan kami kepada jalan syariat-Nya, dan menjelaskan kepada kalian dengan cahaya Muhammadiyah ini kesesatan para abid dan penyimpangan mereka, maka kalian menjadi mengenal yang sesat dari yang lurus, dan yang benar dari yang sakit.

Dan aku berharap kalian adalah golongan yang ditolong, yang tidak dirugikan oleh orang yang menghinakan mereka dan tidak oleh orang yang menyelisihi mereka, dan mereka berada di Syam insya Allah Ta’ala.

Pasal

Kemudian jika kalian mengetahui itu, maka ketahuilah hakikat lelaki ini yang berada di tengah-tengah kalian dan kedudukannya, dan tidak mengetahui hakikat dan kedudukannya kecuali orang yang mengetahui agama Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan hakikat serta kedudukannya, maka barangsiapa agama Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam jatuh dari hatinya pada tempat yang layak, ia mengetahui apa yang dilakukan lelaki ini di tengah-tengah hamba-hamba Allah, meluruskan yang bengkok dari mereka, memperbaiki kerusakan mereka, mengumpulkan perpecahan mereka, dengan segenap kemampuannya, di zaman yang gelap, yang agama menyimpang di dalamnya, dan sunnah dilupakan, dan bid’ah menjadi kebiasaan, dan yang ma’ruf menjadi munkar, dan yang munkar menjadi ma’ruf, dan yang memegang agamanya seperti yang memegang bara api, maka sesungguhnya pahala orang yang berdiri menampakkan cahaya ini di dalam kegelapan-kegelapan ini tidak dapat digambarkan, dan bahayanya tidak diketahui, ini jika kalian mengenalnya dari sisi perkara syariat yang zhahir, maka di sini ada kaum yang mengenalnya dari sisi lain dari perkara bathin, dan dari penguasaannya kepada pengenalan nama-nama Allah Ta’ala dan sifat-sifat-Nya, dan keagungan Dzat-Nya, dan terhubungnya hatinya dengan sinar-sinar cahaya-Nya, dan mendapat bagian dari kekhususan-kekhususan-Nya dan cita rasa tertingginya, dan penguasaannya dari zhahir kepada bathin, dan dari syahadah kepada gaib, dan dari gaib kepada syahadah, dan dari alam khalq kepada alam amr, dan selain itu yang tidak mungkin dijelaskan dalam kitab.

Maka syekh kalian – semoga Allah menguatkan kalian – adalah orang yang mengetahui hukum-hukum Allah yang syariat, mengetahui hukum-hukum-Nya yang qadari, mengetahui hukum nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang dzati, dan orang yang mengenal seperti ini terkadang melihat dengan mata batinnya turunnya perintah di antara lapisan-lapisan langit dan bumi. Sebagaimana firman-Nya: “Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari bumi seperti itu, perintah turun di antara keduanya” (Ath-Thalaq: 12).

Maka manusia merasakan apa yang terjadi di alam syahadah, dan mereka ini mata batin mereka menatap kepada gaib, menunggu apa yang ditakdirkan, mereka merasakannya kadang-kadang ketika turun. Maka janganlah kalian meremehkan perkara orang-orang seperti ini dalam pergaulan mereka dengan makhluk; dan kesibukan waktu mereka dengan mereka, karena mereka sebagaimana diceritakan tentang Al-Junaid rahimahullah bahwa dikatakan kepadanya: “Berapa kali engkau menyeru kepada Allah Ta’ala di tengah makhluk? Maka ia berkata: Aku menyeru kepada makhluk di hadapan Allah”.

Maka takutlah kepada Allah dalam menjaga adab dengannya, dan tunduk kepada perintah-perintahnya, dan menjaga kehormatan-kehormatannya secara gaib dan terang-terangan, dan mencintai siapa yang ia cintai, dan menjauhi siapa yang ia benci atau mencela dan meremehkannya, dan menolak gibahnya, dan membela untuknya dalam kebenaran.

Dan ketahuilah – semoga Allah merahmati kalian – bahwa di sini ada yang telah bepergian ke berbagai wilayah, dan mengenal manusia dan cita rasa mereka serta mengawasi kebanyakan keadaan mereka, maka demi Allah, kemudian demi Allah, tidak pernah melihat di bawah langit seperti syekh kalian: ilmu, keadaan, akhlak, ittiba’, kemuliaan dan kelembutan dalam hak dirinya, dan berdiri dalam hak Allah ketika kehormatan-Nya dilanggar, orang yang paling jujur ikatan, dan paling sahih ilmu dan tekadnya, dan paling kukuh serta paling tinggi dalam membela kebenaran dan berdirinya tekad, dan paling dermawan tangannya, dan paling sempurna ittiba’-nya kepada Nabinya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kami tidak melihat di zaman kami ini orang yang tergambar darinya kenabian Muhammadiyah dan sunnahnya dari ucapan dan perbuatannya kecuali lelaki ini, sehingga hati yang sehat bersaksi bahwa inilah ittiba’ yang hakiki.

Dan setelah semua itu maka perkataan yang benar adalah kewajiban, maka kami tidak mengklaim di dalamnya ma’shum dari kesalahan, dan tidak mengklaim kesempurnaannya untuk tujuan akhir kekhususan yang dituntut, maka mungkin pada sebagian orang yang kurang ada kekhususan yang dituntut dan dimaksud, tidak sempurna kesempurnaan kecuali dengannya dan kekhususan itu pada selainnya lebih sempurna daripada yang ada padanya, dengan arti bahwa orang itu bersifat dengan hakikat-hakikatnya misalnya; karena menyendirinya tekad dan waktunya dengannya, dan tersebar pada syekh kami di dalamnya keutamaan-keutamaan penting agama dan lainnya, dan jika kita teliti akan kita dapati syekh kami lebih utama dari orang itu meskipun dengan berdirinya dengan kekhususan itu, dan kadar ini tidak diabaikan oleh orang yang adil dan mengetahui, dan seandainya bukan karena perkataan kebenaran adalah kewajiban, dan taasub kepada manusia adalah hawa nafsu, niscaya aku berpaling dari menyebut ini – tetapi wajib mengatakan kebenaran meskipun tidak menyenangkan atau menyenangkan – dan hanya kepada Allah tempat meminta pertolongan.

Jika kalian mengetahui itu – semoga Allah Ta’ala menguatkan kalian – maka jagalah hatinya, karena orang seperti ini mungkin dipanggil agung di kerajaan langit, dan berusahalah atas keridhaannya dengan segala kemampuan dan tarihlah keramahan dan cintanya kepada kalian dengan apa yang kalian mampu, karena orang seperti ini akan menjadi syahid, dan para syuhada di zaman ini adalah pengikut untuk orang sepertinya, maka jika kalian mendapatkan cintanya aku berharap untuk kalian dengan itu kekhususan yang aku rahasiakan dan tidak aku sebutkan, dan mungkin yang cerdas dari kalian memahaminya, dan mungkin jiwaku berkenan menyebutnya, agar aku tidak menyembunyikan dari kalian nasehatku.

Dan kekhususan itu: adalah agar kalian dikaruniai bagian dari bagiannya yang khusus Muhammadiyah dengan Allah Ta’ala, karena itu hanyalah mengalir dengan perantaraan cinta syekh kepada murid, dan menarik murid cinta syekh dengan kehalusan dengannya, dan menjaga hati dan khawatirnya, dan menarik keramahan dan cintanya, maka aku berharap dengan itu untuk kalian bagian dari apa yang antara ia dan Allah Ta’ala, selain dari apa yang kalian dapatkan dari zhahir ilmunya dan faidah-faidahnya serta pengaturannya, insya Allah Ta’ala.

Dan aku berharap kalian jika kalian membuka antara kalian dan Rabb kalian Ta’ala perbaikan muamalah dengan menjaga waktu itu dengan Allah Ta’ala dengan zuhud di dalamnya dari selain-Nya, dan memelihara hukum waktu itu dalam shalat lima waktu dan tahajjud bahwa akan terbuka untuk kalian pengenalan hakikat lelaki ini dan kedudukannya insya Allah Ta’ala.

Dan hanyalah aku menyebutkan menjaga waktu – meskipun dalam shalat lima waktu ada kecukupan jika hamba berdiri di dalamnya dengan hak Allah Ta’ala – dan itu karena shalat terkadang menyerang hamba sedang hatinya terambil dalam tarikan-tarikan yang zhahir, maka ia tidak mengetahui bagian hatinya dari Rabbnya maka jika ia mengetahui di dalamnya, maka bagi hamba ada waktu antara malam dan siang ia mengetahui di dalamnya bagian hatinya dari Rabbnya, maka jika datang shalat-shalat, ia mengetahui di dalamnya keadaannya dan pertambahannya serta kekurangannya berdasarkan keadaannya dengan Rabbnya di waktu itu, dan hanya kepada Allah tempat meminta pertolongan.

Pasal

Apabila kalian telah mengetahui kedudukan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah diturunkan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan telah mengetahui kedudukan hakikat-hakikat agama yang diungkapkan dengan penetrasi menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kedekatan dengan-Nya, kemudian kalian mengetahui terkumpulnya dua perkara tersebut pada diri seseorang yang tertentu, kemudian kalian mengetahui penyimpangan umat dari jalan yang lurus, dan berdirinya orang tertentu yang mengumpulkan antara lahir dan batin dalam menghadapi orang-orang yang menyimpang, menolong Allah Subhanahu wa Ta’ala dan agama-Nya, meluruskan kesesatan mereka, merapikan keadaan mereka yang berantakan, memperbaiki kerusakan mereka, kemudian kalian mendengar setelah itu cercaan dari orang yang mencela terhadapnya, baik dari sahabat-sahabatnya maupun dari orang lain, maka tidak akan tersembunyi bagi kalian apakah dia benar atau salah, insya Allah.

Buktinya adalah: bahwa orang yang benar mencari petunjuk dan kebenaran, dia menampakkan kepada orang yang mengingkari perbuatan yang diingkarinya tersebut, baik dengan pertanyaan atau permintaan keterangan dengan lemah lembut tentang kekurangan yang dilihatnya padanya atau sampai kepadanya berita tentangnya. Jika dia menemukan di sana ada ijtihad, pendapat, atau hujjah, dia puas dengan itu dan diam, tidak menyebarkannya kepada orang lain, kecuali disertai dengan penjelasan tentang ijtihad, pendapat, atau hujjah tersebut untuk menutup celah dengan itu.

Orang seperti ini adalah pencari petunjuk, yang mencintai, yang menasihati, mencari kebenaran, dan ingin meluruskan gurunya dari penyimpangannya dengan memberitahunya dan menyerahkan kepadanya, sebagaimana gurunya ingin meluruskannya. Sebagaimana dikatakan oleh salah satu khalifah yang rasyid—dan saya tidak ingat namanya—: “Jika aku bengkok maka luruskanlah aku.”

Ini adalah hak yang wajib antara guru dan murid, karena guru meminta ditegakkannya kebenaran pada dirinya agar dia bisa berdiri dengannya, kadang-kadang menuduh dirinya sendiri, dan mengetahui keadaannya dari orang lain, karena keadilan yang ada padanya, mencari kebenaran, dan kehati-hatian dari kebatilan, sebagaimana murid meminta hal itu dari gurunya berupa pelurusan dan perbaikan terhadap perbuatan dan perkataan yang rusak.

Di antara bukti-bukti orang yang benar adalah: dia adil dalam pujiannya, adil dalam celaannya, tidak dibawa oleh hawa nafsu—ketika mendapatkan yang diinginkan—untuk berlebihan dalam memuji, dan tidak dibawa oleh hawa nafsu—ketika tidak tercapai maksud—untuk melupakan keutamaan dan kebaikan, serta menghitung-hitung keburukan dan aib.

Orang yang benar dalam kedua keadaan marah dan ridha-nya tetap dalam memuji orang yang dipujinya dan yang diberi pujian kepadanya; tetap dalam mencela orang yang dicelanya dan dijatuhkannya.

Adapun orang yang membuat catatan dalam menghitung aib-aib orang yang berdiri dengan sifat-sifat sempurna ini di antara golongan-golongan dunia yang menyimpang ini, di zaman yang gelap ini, kemudian menyebutkan bersama itu sebagian keutamaannya, padahal dia tahu bahwa yang dimaksud bukanlah menyebutkan keutamaan, tetapi yang dimaksud adalah aib-aib tersebut, kemudian mengambil catatan itu dan membacakannya kepada sahabat-sahabatnya satu per satu secara sembunyi-sembunyi, menghentikan semangat mereka terhadap guru mereka dengan itu, dan memperlihatkan kepada mereka celaan terhadapnya, maka saya memohon petunjuk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berijtihad dengan pendapat saya tentang orang seperti ini, dan berkata untuk membela orang yang menolong agama Allah, di antara musuh-musuh Allah di awal tujuh ratus, karena sesungguhnya menolong orang seperti ini wajib atas setiap mukmin, sebagaimana dikatakan Waraqah bin Naufal: “Seandainya aku masih hidup pada harimu, sungguh aku akan menolongmu dengan pertolongan yang kuat.” Kemudian saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala perlindungan dalam apa yang saya katakan dari melampaui batas dan condong kepada hawa nafsu. Saya katakan: orang seperti ini—dan saya tidak menunjuk orang yang disebutkan secara spesifik—tidak lepas dari beberapa kemungkinan:

Pertama: dia berusia tua sehingga pendapatnya berubah karena usianya; bukan berarti dia bingung, tetapi dalam arti bahwa ketika usia sudah tua pemiliknya berijtihad untuk kebenaran, kemudian meletakkannya bukan pada tempatnya. Misalnya dia berijtihad bahwa mengingkari kemungkaran itu wajib, dan ini adalah kemungkaran, dan pelakunya telah terkenal di kalangan manusia, maka wajib atas saya memberitahukan kepada manusia apa yang terkenal pada mereka, dan tersembunyi baginya kerusakan-kerusakan dalam hal itu.

Di antaranya: melemahkan semangat para penuntut ilmu, padahal mereka terpaksa untuk mencintai guru mereka agar dapat mengambil ilmu darinya. Ketika hati mereka berubah terhadapnya dan melihat kekurangan padanya, mereka terhalang dari faedah-faedah lahir dan batinnya: dan dikhawatirkan atas mereka kebencian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala pertama, kemudian dari guru kedua.

Kerusakan kedua: apabila orang-orang bid’ah yang kami dan guru kami berdiri siang dan malam dengan berjihad dan menghadapi mereka untuk menolong kebenaran, mengetahui bahwa di antara sahabat-sahabat kami ada yang mencela pemimpin kaum dengan seperti ini, maka sesungguhnya mereka masuk dengan itu untuk melampiaskan dendam terhadap ahli kebenaran dan menjadikannya hujjah bagi mereka.

Kerusakan ketiga: menyamakan aib-aib dalam mengimbangi apa yang menenggelamkannya dan melebihinya dengan berlipat-lipat banyak dari kebaikan-kebaikan, karena sesungguhnya itu adalah kezaliman dan kebodohan.

Dan perkara kedua dari perkara-perkara yang mewajibkan hal itu adalah: berubahnya keadaan dan hatinya, dan rusaknya perilakunya karena dengki yang tersembunyi padanya, dan dia menyembunyikannya untuk beberapa waktu, lalu kedzaliman tersembunyi itu muncul dalam bentuk yang rupanya benar tetapi maknanya batil.

Pasal

Dan pada keseluruhannya—semoga Allah menguatkan kalian—apabila kalian melihat orang yang mencela sahabat kalian, maka periksalah dia dalam akalnya terlebih dahulu, kemudian dalam pemahamannya, kemudian dalam kejujurannya, kemudian dalam usianya. Apabila kalian menemukan kekacauan dalam akalnya, itu menunjukkan kepada kalian kebodohannya terhadap sahabat kalian, dan apa yang ia katakan tentangnya dan darinya, demikian juga sedikitnya pemahaman, demikian juga ketiadaan kejujuran atau kekurangannya, karena kurangnya pemahaman mengantarkan kepada kurangnya kejujuran sesuai dengan apa yang tersembunyi dari akalnya, demikian juga cacat dalam usia karena sesungguhnya menjadi tua padanya pendapat dan akal sebagaimana menjadi tua padanya kekuatan-kekuatan lahir yang inderawi. Maka tuduhulah orang seperti ini dan hati-hatilah darinya, dan berpalinglah darinya dengan berpaling untuk berdamai tanpa perdebatan dan tanpa permusuhan.

Dan sifat pengujian terhadap kebenaran persepsi seseorang, akalnya, dan pemahamannya adalah: kalian bertanya kepadanya tentang masalah suluk atau ilmiah. Apabila dia menjawabnya maka tunjukkanlah pada jawaban itu kesulitan yang terarah dengan pengarahan yang benar. Jika kalian melihat orang itu berputar ke kanan dan ke kiri, dan keluar dari makna tersebut kepada makna-makna yang keluar, dan cerita-cerita yang tidak ada dalam makna sampai orang yang bertanya lupa pertanyaannya, karena dia menjauhkannya darinya dengan perkataan yang tidak ada faedahnya, maka orang seperti ini jangan kalian andalkan celaannya dan jangan pula pujiannya, karena sesungguhnya dia kurang fitrahnya, banyak khayalannya, tidak tetap dalam mengusahakan pemahaman-pemahaman ilmiah, dan jangan kalian ingkari pengingkaran seperti ini, karena sesungguhnya telah terkenal berdirinya Dzul Khuwaishirah At-Tamimi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perkataannya kepadanya: “Berlakulah adil—karena engkau tidak adil—sesungguhnya ini adalah pembagian yang tidak dimaksudkan dengan wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala” atau yang semacam itu.

Terjadinya ini dan yang semisalnya termasuk sebagian mukjizat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya beliau bersabda: “Sungguh kalian akan mengikuti jejak orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta.” Dan meskipun itu tentang Yahudi dan Nasrani, namun ketika mereka menyimpang dari jalan yang benar, demikian juga akan ada dalam umat ini orang yang mengikuti jejak setiap orang yang menyimpang yang ada di dunia, baik yang terdahulu maupun yang kemudian, sejengkal demi sejengkal, sampai-sampai jika mereka masuk lubang biawak pun mereka akan memasukinya.

Ya Subhanallahil ‘Azhim! Di mana akal orang-orang ini? Apakah buta penglihatan dan mata hati mereka? Tidakkah mereka melihat apa yang manusia alami dari kebutaan dan kebingungan di zaman yang gelap gulita ini, yang telah dikuasai oleh orang-orang kafir sebagian besar dunia? Dan telah tersisa wilayah sempit ini, di dalamnya orang-orang beriman mencium aroma Islam? Dan di wilayah sempit ini dari kegelapan-kegelapan dari ulama buruk dan penyeru-penyeru kepada kebatilan dan penegakannya, dan menolak kebenaran dan ahlinya yang tidak dapat dihitung dalam sebuah kitab, kemudian sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah merahmati umat ini dengan menegakkan seorang laki-laki yang kuat semangatnya, lemah susunan tubuhnya, telah membagi dirinya dan semangatnya dalam kemaslahatan dunia, dan perbaikan kerusakan mereka, dan berdiri dengan urusan-urusan mereka dan keperluan-keperluan mereka, di samping apa yang dia tegakkan untuk menolak bid’ah dan kesesatan, dan mengumpulkan bahan-bahan ilmu kenabian yang dapat memperbaiki kerusakan dunia dengan itu, dan mengembalikan mereka kepada agama pertama yang kuno sesuai kemampuannya!! Kalau tidak, di mana hakikat agama yang kuno?

Maka dia dengan semua ini berdiri dengan keseluruhan itu sendirian, dan dia menyendiri di antara orang-orang zamannya, sedikit penolongnya, banyak yang mengecewakan dan yang mendengkinya, dan yang bergembira dengan musibahnya!!

Maka orang seperti ini di zaman ini, dan berdirinya dengan urusan besar yang berbahaya ini di dalamnya, apakah dikatakan kepadanya: mengapa engkau membantah Ahmadiyyah? Mengapa engkau tidak adil dalam pembagian? Mengapa engkau masuk kepada para penguasa? Mengapa engkau mendekatkan si Fulan dan si Fulan?

Tidakkah hamba malu kepada Allah? Dia menyebutkan sebagian kecil seperti ini dalam mengimbangi beban berat ini? Dan seandainya orang itu dituntut tentang sebagian kecil ini, akan ditemukan padanya nash-nash yang shahih, maksud-maksud yang shahih, dan niat-niat yang shahih!! Yang tersembunyi dari orang-orang yang lemah akalnya, bahkan dari orang-orang sempurna di antara mereka, sampai mereka mendengarnya.

Adapun bantahannya terhadap golongan tertentu wahai orang yang berlebihan dan tersesat, yang tidak tahu apa yang dia katakan, apakah tegak agama Muhammad bin Abdullah yang diturunkan dari langit, kecuali dengan celaan terhadap mereka? Dan bagaimana kebenaran muncul jika tidak dilemahkan kebatilan? Tidak mengatakan seperti ini kecuali orang yang tersesat, atau orang tua, atau pendengki. Demikian juga pembagian untuk orang tersebut, dalam hal itu ada ijtihad yang shahih, dan pandangan kepada kemaslahatan-kemaslahatan yang tersusun dengan memberi kepada suatu kaum tanpa kaum lain, sebagaimana Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan para budak yang dimerdekakan dengan seratus ekor unta, dan merampas kaum Anshar! Sampai dikatakan oleh mereka orang-orang muda mereka sesuatu dalam hal itu, bukan orang-orang yang berakal di antara mereka, dan dalam hal itu berdiri Dzul Khuwaishirah dan berkata apa yang dikatakannya! Adapun masuknya kepada para penguasa, seandainya tidak ada, bagaimana para penguasa mencium aroma agama kuno yang murni? Dan seandainya pemeriksa memeriksa, niscaya dia menemukan cara yang ada pada mereka dari aroma agama, dan pengetahuan tentang orang-orang munafik, sesungguhnya mereka mengambilnya dari sahabat kalian. Adapun mendekatkan si Fulan dan si Fulan, karena kemaslahatan batin, seandainya dia memeriksa tentangnya dengan insaf niscaya dia menemukan di sana apa yang dia lihat bahwa itu dari kemaslahatan, dan kami anggap bahwa engkau benar dalam hal itu, karena kami tidak meyakini kemasuman kecuali pada para nabi, dan kesalahan berjalan pada selain mereka. Apakah disebutkan kesalahan seperti ini dalam mengimbangi apa yang telah disebutkan dari urusan-urusan besar yang sangat besar? Tidak menyebutkan seperti ini dalam catatan dan menghitung-hitungnya, kemudian berkeliling dengannya kepada satu per satu, seolah-olah dia mengatakan sesuatu, kecuali orang yang kami mohon kepada Allah keselamatan dalam akalnya, dan penutup kebaikan atas amalnya, dan agar Dia mengembalikannya dari penyimpangannya kepada jalan yang benar, sehingga tidak tersisa kelompoknya mencacinya dengan ilmunya dan penulisannya, dari kalangan orang-orang yang berakal dan berpikiran. Dan kami memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, dari kesalahan dan kekeliruan, dalam perkataan dan perbuatan, dan segala puji bagi Allah semata, dan semoga shalawat Allah tercurah kepada penghulu kami Muhammad dan keluarganya serta sahabat-sahabatnya dan semoga kesejahteraan dilimpahkan.

 

 

02 – Pasal Mengenai Tindakan Ibnu Taimiyah yang Menyendiri dan Membedakannya, Yaitu dalam Menghancurkan Batu-batu

Karya Pelayan Syaikhul Islam: Ibrahim bin Ahmad Al-Ghiyani

Segala puji bagi Allah yang menciptakan langit dan bumi serta menjadikan kegelapan dan cahaya, kemudian orang-orang yang kafir mempersekutukan Tuhan mereka dengan yang lain (Surah Al-An’am: 1). Dan mereka mengambil selain Allah sembahan-sembahan yang tidak dapat menciptakan sesuatu pun, bahkan mereka sendiri diciptakan (Surah Al-Furqan: 3). Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab, “Tidak, bahkan kami hanya mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Apakah mereka akan mengikuti juga meskipun bapak-bapak mereka itu tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk (Surah Al-Baqarah: 170). Bahkan mereka berkata, “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka” (Surah Az-Zukhruf: 22).

Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada Muhammad, hamba dan rasul-Nya, sebaik-baik makhluk dan yang paling mulia di sisi Allah, yang terpilih dan terpercaya, dengan shalawat yang kekal selama hari-hari, masa dan tahun-tahun berlangsung.

Amma ba’du, inilah sebuah pasal mengenai tindakan yang dilakukan oleh Syaikh Imam Allamah Syaikhul Islam Taqiyuddin Abu Al-Abbas Ahmad Ibnu Taimiyah semoga Allah meridhainya, yang menyendiri dalam tindakan itu tanpa ada ulama lain semoga Allah meridhai mereka yang hidup sebelumnya maupun di zamannya. Tindakan itu adalah menghancurkan batu-batu yang dikunjungi orang-orang, mereka mengharapkan berkah darinya, menciumnya, membuat nazar untuknya, mengoleskannya dengan wewangian khaluq, memohon pemenuhan kebutuhan mereka di sana, dan meyakini bahwa di dalamnya atau padanya terdapat rahasia, serta bahwa barang siapa yang berbuat buruk kepadanya dengan perkataan atau perbuatan akan tertimpa bencana pada dirinya.

Maka Syaikh mulai mencela batu-batu itu, melarang orang-orang mendatanginya, atau melakukan sesuatu yang disebutkan tadi di sana, atau berbaik sangka kepadanya.

Lalu sebagian orang berkata kepadanya: Sesungguhnya telah datang hadits bahwa Ummu Salamah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca surah Wat Tini Waz Zaitun, maka ia mengambil buah tin dan zaitun, mengikatnya dan menggantungkannya sebagai jimat. Setiap kali ada orang yang sakit datang kepadanya, ia meletakkannya padanya lalu ia sembuh dari sakitnya itu. Hal itu sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bertanya kepadanya tentang itu. Ia berkata: Aku mendengarmu membaca Wat Tini Waz Zaitun, maka aku berkata: Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca itu kecuali di dalamnya ada rahasia atau manfaat, maka aku membuat buah tin dan zaitun sebagai jimatku, dan aku berbaik sangka kepadanya, lalu aku memberikan manfaat dengan itu kepada orang-orang. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: Seandainya salah seorang di antara kalian berbaik sangka kepada sebuah batu, niscaya Allah memberikan manfaat kepadanya dengannya.

Maka Syaikh berkata: Hadits ini seluruhnya dari awal hingga akhir adalah kebohongan yang diada-adakan, dan kebohongan yang dibuat-buat atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Ummu Salamah semoga Allah meridhainya. Adapun yang shahih dan tetap dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam apa yang beliau riwayatkan dari Tuhannya Azza wa Jalla, bahwasanya Allah berfirman: Aku menurut prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia berdoa kepada-Ku… (hadits). Dan: Aku menurut prasangka hamba-Ku kepada-Ku, maka hendaklah ia berprasangka baik kepada-Ku. Dan beliau bersabda: Janganlah salah seorang di antara kalian mati kecuali ia berbaik sangka kepada Allah yang telah menyendiri dalam menciptakannya, dan mewujudkannya dari ketiadaan dan dahulu ia tidak ada apa-apa, dan di tangan-Nya bahaya dan manfaatnya, sebagaimana yang dikatakan oleh imam dan teladan kita Ibrahim Khalilurrahman: Yang telah menciptakanku, maka Dialah yang memberi petunjuk kepadaku (78) Dan yang memberi makan dan minum kepadaku (79) Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku (80) Dan yang akan mematikanku kemudian menghidupkanku kembali (81) Dan yang aku ingin agar Dia mengampuni kesalahanku pada hari pembalasan (Surah Asy-Syu’ara: 78-82). Maka Tuhan yang Maha Agung, Maha Besar, Maha Tinggi inilah, yang di tangan-Nya kerajaan segala sesuatu, hamba harus berbaik sangka kepada-Nya, bukan berbaik sangka kepada batu-batu. Sesungguhnya orang-orang kafir berbaik sangka kepada batu-batu maka itu memasukkan mereka ke dalam neraka. Allah Ta’ala berfirman tentang batu-batu dan orang-orang yang berbaik sangka kepadanya hingga menyembahnya selain Allah: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu (Surah At-Tahrim: 6). Dan Allah berfirman: Sesungguhnya kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah adalah umpan neraka Jahanam, kalian pasti masuk ke dalamnya (Surah Al-Anbiya: 98). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan untuk beristinja dari air kencing dengan tiga batu, beliau tidak mengatakan berbaik sangkalah kepada batu-batu itu, tetapi beliau bersabda: Beristinjalah dengan batu-batu itu dari air kencing. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menghancurkan batu-batu yang diberi sangka baik hingga disembah di sekitar Baitullah dan membakarnya dengan api.

Sampailah kepada Syaikh bahwa semua bid’ah yang disebutkan itu dengan sengaja dilakukan orang-orang di tiang yang diberi wewangian yang berada di dalam Pintu Kecil yang di dekat Darb An-Nafidaniyin. Maka ia bangkit dan berangkat, memohon petunjuk kepada Allah dalam perjalanan untuk menghancurkannya. Saudaranya, Syaikh Imam Qudwah Syarafuddin Abdullah Ibnu Taimiyah menceritakan kepadaku, ia berkata: Kami berangkat untuk menghancurkannya. Orang-orang mendengar bahwa Syaikh akan keluar untuk menghancurkan tiang yang diberi wewangian itu, maka berkumpullah bersama kami orang banyak. Ia berkata: Ketika kami berangkat menuju ke sana, dan tersebarlah di negeri: Ibnu Taimiyah keluar untuk menghancurkan tiang yang diberi wewangian itu, berteriaklah setan di negeri itu, dan bergemuruh orang-orang dengan perkataan yang berbeda-beda, ada yang berkata: “Mata air Fijah tidak akan lagi muncul,” ada yang berkata: “Tidak akan turun hujan dan tidak akan berbuah pohon,” ada yang berkata: “Ibnu Taimiyah tidak akan beruntung lagi setelah ia menghadapi ini,” dan setiap orang mengatakan sesuatu yang lain dari ini.

Syaikh Syarafuddin berkata: Ketika kami sampai di dekatnya, sebagian besar orang telah berbalik meninggalkan kami, khawatir mereka akan tertimpa bencana pada diri mereka, atau terputus sebab kehancurannya sebagian kebaikan. Ia berkata: Kami maju ke arahnya, dan kami berseru kepada para tukang batu: “Seranglah patung ini!” Maka tidak ada satu pun dari mereka yang berani mendekatinya. Ia berkata: Maka aku dan Syaikh mengambil beliung dari mereka, dan kami memukulnya, dan kami berkata: Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap. Sesungguhnya kebatilan itu adalah sesuatu yang pasti lenyap (Surah Al-Isra: 81). Dan kami berkata: Jika ada seseorang yang terkena sesuatu darinya, kami berdua yang menjadi tebusannya. Lalu orang-orang mengikuti kami memukulnya hingga kami menghancurkannya. Kami menemukan di belakangnya dua patung batu yang dipahat dan dibentuk, tinggi setiap patung sekitar satu setengah jengkal.

Syaikh Syarafuddin berkata: Syaikh An-Nawawi berkata: “Ya Allah, tegakkanlah untuk agama-Mu seorang laki-laki yang menghancurkan tiang yang diberi wewangian itu, dan merobohkan kubur yang di Jirun.” Maka ini termasuk karamah Syaikh Muhyiddin yaitu An-Nawawi. Kami menghancurkannya dan segala puji bagi Allah, dan tidak menimpa orang-orang dari itu kecuali kebaikan. Segala puji bagi Allah semata.

Pasal

Telah sampai kepada Syaikh bahwa di masjid yang ada di belakang Qubbah Al-Lahm di Al-Alafin yang dikenal dengan nama Masjid Al-Kaff ada sebuah ubin hitam. Telah tersebar di kalangan orang-orang bahwa seseorang dari zaman dahulu melihat dalam mimpinya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau menceritakan kepadanya beberapa perkara, lalu ia berkata: Ya Rasulullah, jika aku menceritakan kepada orang-orang apa yang engkau ceritakan kepadaku, mereka tidak akan memercayaiku. Maka beliau berkata kepadanya: Ini telapak tangan kananku di ubin ini sebagai bukti atas kejujuranmu. Lalu beliau meletakkan telapak tangannya di sana, maka melesak masuk, dan tertinggal di sana bekas telapak tangan dan lima jari. Orang-orang berbondong-bondong kepadanya sebagaimana yang disebutkan, dengan nazar untuknya, mengharapkan berkah darinya, dan meminta hujan.

Hal itu sampai kepada Syaikh, maka ia pergi ke sana bersama kelompoknya dan saudaranya Syaikh Syarafuddin. Aku mendengarnya beberapa kali menceritakan, ia berkata: Ketika aku melihatnya aku berkata: Telapak tangan ini diukir, dibuat, dipalsukan. Sesungguhnya pemahat datang hendak membuatnya sebagai telapak tangan kanan tetapi ia membuatnya sebagai telapak tangan kiri. Maka jadinya terbalik, jari kelingking berada di tempat ibu jari, dan ibu jari di tempat jari kelingking. Maka ia menghancurkannya, dan tidak ada lagi bekas maupun jejaknya. Segala puji bagi Allah.

Pasal

Dan ada sebuah batu karang yang besar dan agung di tengah mihrab Masjid An-Naranj yang menjadi kiblat shalat dengan terpaksa. Di atasnya ada kain hitam yang tergantung dan pagar di sekelilingnya. Telah tersebar di kalangan orang-orang bahwa kepala Al-Husain ‘alaihissalam diletakkan di atasnya lalu batu itu terbelah untuknya, dan bahwa ketika batu itu terbelah sepenuhnya maka terjadilah Kiamat. Batu itu setiap tahun pada hari Asyura memiliki perayaan yang dihadiri orang-orang, dan mereka pada hari itu dan hari-hari lainnya mengharapkan berkah darinya, menciumnya, membuat nazar untuknya, mengoleskannya dengan khaluq, dan berdoa di sana.

Hal itu sampai kepada Syaikh, maka ia meminta tukang-tukang batu dari benteng, dan pergi ke sana bersama Syarafuddin dalam kelompok besar. Hal pertama yang ia lakukan adalah mencabut pagar dari sekelilingnya, dan merobek kain darinya lalu membuangnya. Ia berseru kepada para tukang batu: “Hantamlah!” Mereka mundur darinya, maka ia dan saudaranya Syarafuddin maju dan memukulnya dengan sepatunya dan berkata: “Jika ada seseorang yang terkena sesuatu darinya, kami yang akan terkena lebih dahulu.” Maka pada saat itu para tukang batu maju kepadanya, dan menggali di atasnya. Ternyata itu adalah kepala tiang besar yang telah digali untuknya dan ditancapkan di tempat itu. Mereka menghancurkannya, dan mengangkutnya dengan empat belas ekor binatang dan membakarnya menjadi kapur. Syaikh berkata: Sebagian Rafidhah membuat ini di tempat ini, dan menyebarkan di kalangan orang-orang bahwa kepala Al-Husain diletakkan di batu ini, agar orang-orang bodoh tersesat karenanya. Ia berkata: Rafidhah, kebiasaan mereka adalah merusak masjid-masjid dan membangun kuburan-kuburan serta mengagungkannya berbeda dengan masjid-masjid. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir (Surah At-Taubah: 18). Allah tidak berfirman: “kuburan-kuburan Allah.” Dan Allah berfirman: Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah (Surah Al-Jinn: 18). Allah tidak berfirman: “Dan sesungguhnya kuburan-kuburan itu kepunyaan Allah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Barang siapa membangun masjid untuk Allah walau sekecil tempat burung qathah bertelur, Allah membangunkan untuknya sebuah rumah di surga. Beliau tidak bersabda: Barang siapa membangun kuburan untuk Allah, Allah membangunkan untuknya sebuah rumah di surga.

Ia berbicara ketika duduk di tempat ini, dan mengatakan dari jenis ini banyak hal.

Dan ia berkata: Ziarah kubur ada yang syar’i yang diperintahkan, dan ada yang bid’ah yang dilarang. Adapun ziarah yang syar’i adalah yang diperintahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau ziarah ke kubur ibunya lalu bersabda: Aku meminta izin kepada Tuhanku untuk ziarah ke kubur ibuku maka Dia mengizinkanku, dan aku meminta izin kepada-Nya untuk memintakan ampunan untuknya tetapi Dia tidak mengizinkanku. Sesungguhnya aku dahulu melarang kalian dari ziarah kubur, maka ziarahlah kubur karena sesungguhnya ia mengingatkan kalian kepada akhirat. Maka orang kafir kubur nya diziarahi agar terkenang akhirat, dan tidak didoakan untuknya dan tidak dimintakan ampunan untuknya. Berbeda dengan orang mukmin, maka kuburnya diziarahi agar terkenang akhirat, dan didoakan untuknya, dimintakan ampunan untuknya, dimohonkan rahmat untuknya, dan dimohonkan kepada Allah segala kebaikan untuknya. Sesungguhnya ziarah kuburnya termasuk jenis shalat atasnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada para sahabatnya ketika ziarah kubur agar salah seorang mereka mengucapkan: Assalamu’alaikum ahlad diyar minal mu’minin wal muslimin, wa inna insya Allah bikum lahiqun, wa yarhamullahu minna wa minkumul mustaqdimin wal musta’khirin, wa nas’alullaha lana wa lakumul ‘afiyah. Allahumma la tahrimna ajrahum, wa la taftinna ba’dahum, waghfir lana wa lahum. Semua ini adalah hak orang mukmin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari Jumat dan malam Jumat karena sesungguhnya shalawat kalian kepadaku disampaikan kepadaku. Mereka berkata: Ya Rasulullah, bagaimana shalawat kami disampaikan kepadamu sedangkan engkau telah hancur? Beliau bersabda: Kalian berkata aku telah hancur? Mereka berkata: Ya. Beliau bersabda: Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bumi memakan daging para nabi. Ibnu Abdul Barr meriwayatkan hadits dan menshahihkannya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Tidaklah seorang mukmin melewati kubur seorang mukmin yang ia kenal di dunia lalu memberi salam kepadanya, kecuali Allah mengembalikan ruhnya hingga ia membalas salamnya.

Adapun ziarah bid’ah, yaitu kubur-kubur diziarahi untuk mengharapkan berkah darinya, atau berdoa di sana, atau meminta pertolongan kepada penghuninya, atau membuat nazar untuknya seperti minyak atau kain atau lilin atau uang, atau menyalakan lampu di sana, atau shalat di sana. Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang semua itu, beliau bersabda: Allah melaknat wanita-wanita yang sering ziarah kubur, dan orang-orang yang menjadikan kubur sebagai masjid dan menyalakan lampu di atasnya. Dan beliau bersabda: Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menjadikan kubur-kubur sebagai masjid, maka janganlah kalian menjadikan kubur-kubur sebagai masjid, sesungguhnya aku melarang kalian dari itu. Dan beliau bersabda: Sesungguhnya termasuk sejahat-jahat manusia adalah orang yang tertimpa Kiamat sedangkan mereka masih hidup, dan orang-orang yang menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid, beliau memperingatkan apa yang mereka lakukan. Aisyah semoga Allah meridhainya berkata: Seandainya bukan karena itu, niscaya kuburnya ditonjolkan, tetapi beliau tidak suka jika dijadikan masjid. Maka ziarah dengan cara ini adalah bid’ah yang dilarang.

Pasal

Dan ada di bawah penggilingan yang ada di arah kiblat Masjid An-Naranj di dalam air dekat hamparan penggilingan sebuah patung batu yang diagungkan dan dimintai hujan dengannya. Sebagian orang yang memiliki anak kecil yang sakit berkepanjangan, mereka datang dengannya hingga mencelupkannya di dekat patung itu di dalam air lalu sembuh, dan mereka meletakkan di dekat patung itu roti, manisan dan lain-lain. Maka Syaikh Syarafuddin, saudara Syaikh Taqiyuddin, pergi ke sana lalu menghancurkannya dan menyelamatkan anak-anak orang-orang darinya.

Dan ada sebuah tiang di kampung Al-Farma yang disebut: Tiang yang Diberi Wewangian, keadaannya seperti yang disebutkan, maka ia menghancurkannya dan menyelamatkan orang-orang darinya.

Pasal

Dan ada sekelompok tukang batu memiliki batu marmer yang telah mereka lapisi dengan timah, dan di tengah batu itu ada bekas telapak kaki. Mereka berkeliling dengannya di negeri-negeri, dan masuk dengan batu itu ke rumah-rumah para pembesar dan pedagang di pasar-pasar, dan mereka berkata kepada mereka: Ini bekas telapak kaki nabi kalian. Maka orang-orang menciumnya, mengharapkan berkah darinya, dan memberi mereka uang karena hal itu. Syaikh menangkap mereka, lalu menghancurkan batu itu, dan pemiliknya lari dari hadapan Syaikh karena takut ia akan mencelakai mereka.

Pasal

Suatu hari seseorang datang kepada Syaikh dengan roti kering, lalu berkata: “Wahai tuanku, aku membawa ini dari sadaqah Al-Khalil atas namamu.” Ia berkata kepadanya: “Aku tidak memerlukannya. Kebutuhanku adalah kepada agama yang dianut oleh Al-Khalil, dan mengikuti agama Al-Khalil yang Allah perintahkan kepada umat Muhammad untuk mengikutinya. Aku tidak memerlukan roti ini, dan Al-Khalil tidak melakukan ini, dan tidak memerintahkan kacang lentil ini, ia tidak memberi makan dan menjamu kecuali daging.” Allah Ta’ala berfirman: Lalu ia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (Surah Adz-Dzariyat: 26). Adapun kacang lentil, itu adalah kegemaran orang Yahudi. Abdullah bin Al-Mubarak semoga Allah meridhainya ditanya, dikatakan kepadanya: Datang hadits bahwa kacang lentil disucikan oleh tujuh puluh nabi. Ia berkata: “Tidak, bahkan tidak ada setengah nabi pun.”

Pasal

Ketika Syaikh berada di tanah Mesir, ia melarang mendatangi kuburan dan mengagungkannya, dan memerintahkan untuk mendatangi masjid-masjid dan mengagungkannya. Kuburan yang paling besar di Kairo adalah kuburan Al-Husain karena urusannya sangat besar. Sesungguhnya semua bid’ah dan kesesatan yang disebutkan dilakukan di sana dan berlipat ganda. Bahkan jika seseorang menebalkan sumpah terhadap orang yang bersumpah, ia menyumpahnya di kuburan Al-Husain. Syaikh melarang mereka dari itu dan mengingkarinya dengan hatinya dan lisannya, dan berkata: Sesungguhnya salaf dan orang-orang yang mengikuti mereka, ketika menyumpah seseorang dan menebalkan sumpah atasnya, mereka menyumpahnya di antara mihrab dan mimbar, dan tidak menyumpahnya di kubur atau bekas.

Ia berkata: Adapun Al-Husain semoga Allah meridhainya dan para pendahulunya dan melaknat pembunuhnya, kepalanya tidak dibawa ke Kairo. Sesungguhnya Kairo dibangun oleh Al-Malik Al-Mu’izz pada awal abad keempat, sedangkan Al-Husain ‘alaihissalam terbunuh pada hari Asyura tahun enam puluh satu. Jasad Al-Husain dikubur di tempat ia terbunuh. Al-Bukhari meriwayatkan dalam Tarikhnya: Bahwa kepala Al-Husain dibawa ke Madinah dan dikubur di sana di Baqi dekat kubur ibunya Fathimah semoga Allah meridhainya. Sebagian ulama berkata: Ia dibawa ke Damaskus dan dikubur di sana. Antara terbunuhnya Al-Husain dan pembangunan Kairo sekitar dua ratus lima puluh tahun. Sesungguhnya dari riwayat mutawatir bahwa Kairo dibangun setelah Baghdad, setelah Basrah, Kufah dan Wasith, mana mungkin ini sama dengan itu!

Penyusun kitab yang ia beri judul: Al-‘Alam Al-Masyhur fi Fadhli Al-Ayyam wash Syuhur, yang disusun untuk Al-Malik Al-Kamil rahimahullah, menyebutkan di dalamnya bahwa kuburan ini dibangun oleh Banu Ubaid, para zindiq penyeleweng penguasa Mesir pada akhir tahun lima puluh lima ratus. Allah meruntuhkan negara Banu Ubaid setelah mereka membangun kuburan ini sekitar empat belas tahun. Ini adalah kuburan kebohongan dan kedustaan, bukan kuburan Al-Husain.

Perkataan para ulama dalam mencela Banu Ubaid Al-Qaddah terkenal, dan dalam mencela mazhab mereka dan apa yang mereka anut. Syaikh Abu Hamid Al-Ghazali berkata: “Lahirnya mereka Rafidhah, dan batinnya kekufuran murni.”

Syekh Abu Amr Utsman bin Marzuq hidup pada masa Bani Ubaid di negeri Mesir. Beliau mengeluarkan fatwa bahwa sembelihannya Bani Ubaid tidak halal, pernikahan mereka tidak sah, dan tidak boleh salat di belakang mereka. Beliau sangat keras dalam urusan mereka.

Kabar tentang keadaan mereka dan paham yang mereka anut sampai kepada Nuruddin bin Zanki, maka ia bertanya kepada para ulama tentang hukum memerangi mereka dan merebut negeri dari tangan mereka. Para ulama mengeluarkan fatwa tentang hal itu, berita acara dituliskan, dan dihadapkan kepada para hakim. Maka Salahuddin dikirim dengan pasukan besar untuk memerangi mereka dan merebut negeri dari tangan mereka.

Sebagian orang bodoh mengira bahwa Bani Ubaid adalah bangsawan keturunan Fatimah dan mereka orang-orang saleh. Padahal mereka adalah kaum zindik mulhid Qaramitah Bathiniyyah dan Isma’iliyyah dan Nushairiyyah. Dari mereka paham Rafidhah menyebar ke Syam, sebelum itu paham Rafidhah tidak dikenal di Syam. Sisa-sisa mereka masih ada di negeri Mesir sampai hari ini.

Istana mereka berada di antara dua istana. Mereka menyerukan: “Siapa yang melaknat dan mencaci, akan diberi satu dinar dan satu irdab.” Suatu ketika ada seseorang dari mereka yang melaknat Aisyah, lalu ada orang dari Maghrib yang mengingkarinya. Mereka saling berselisih sampai mengadukan kepada penguasa. Penguasa bertanya kepadanya: “Mengapa kamu mengingkari dia?” Orang Maghrib itu menjawab: “Istri kakek saya bernama Aisyah, dia yang merawat dan berbuat baik kepada saya. Ketika saya mendengar dia melaknatnya, saya tidak rela.” Penguasa berkata: “Dia tidak melaknat istri kakekmu, dia melaknat istri kakekku.” Orang Maghrib itu berkata: “Itu urusanmu dengannya!”

Saya melihat seorang laki-laki dari penduduk Kaherah datang kepada Syekh di Kaherah setelah dia datang dari Iskandariah. Dia berkata: “Ayah saya menceritakan kepadaku dari kakeknya bahwa makam ini dibangun oleh Bani Ubaid, dan kepala Husain tidak sampai ke negeri Mesir. Tetapi terjadi suatu peristiwa kepadaku. Ketika saya masih kecil, saya berlari di atas atap makam ini, dan saya tidak menghormatinya karena apa yang ayah saya ceritakan tentangnya. Suatu malam ketika saya tidur, saya melihat seorang wanita tua bermata biru dan berambut beruban, bersamanya ada belenggu. Dia memasangnya di kakiku dan berkata: ‘Apakah kamu bertobat dan tidak akan lagi berlari di atas atap makam?’ Saya berkata: ‘Tobat, tobat, saya tidak akan mengulanginya.’ Maka saya terbangun dalam keadaan ketakutan.”

Syekh berkata: “Ini juga menjadi bukti bagiku atas kebenaran apa yang aku katakan. Sesungguhnya itu adalah setan penghuni tempat ini, yang memperindahnya di mata manusia. Demikian pula ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam mengutus Khalid bin Walid radhiyallahu anhu untuk menebang (Al-Uzza), Nabi bertanya kepadanya: ‘Ketika kamu menebang Al-Uzza, apa yang kamu lihat keluar?’ Khalid menjawab: ‘Keluar darinya seorang wanita tua beruban yang melarikan diri ke arah Yaman.’ Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Itulah setan Al-Uzza.’” Saya mendengar Syekh menceritakan ini kepada orang-orang lebih dari satu kali.

Pasal Tentang Mengungkap Keadaan Bani Ubaid

Saya mendengar Syekh menceritakan lebih dari satu kali dalam majelisnya, beliau berkata: Suatu hari saya mengunjungi rumah sakit Manshuri, lalu beberapa orang datang kepadaku dan berkata: “Bersedekahlah dan kunjungi rumah sakit lama.” Saya pergi bersama mereka untuk mengunjunginya. Mereka berkata kepadaku: “Tidakkah kamu akan mengunjungi makam para khalifah?” —maksudnya Bani Ubaid. Saya pergi bersama mereka ke makam mereka, dan kutemukan makam mereka menghadap ke arah utara. Syekh berbicara tentang mereka dan mazhab mereka. Para hadirin berkata: “Kami meyakini bahwa mereka adalah orang-orang saleh, karena jika kuda kami sakit kolik, kami membawa kuda itu ke makam mereka dan sembuh. Seandainya mereka bukan orang saleh, hewan tidak akan sembuh dari kolik di makam mereka.”

Saya berkata: “Ini juga menjadi bukti atas kebenaran apa yang aku katakan tentang mereka. Sesungguhnya kolik berasal dari rasa dingin yang menimpa hewan. Jika hewan dibawa ke makam orang Yahudi dan Nasrani di Syam, atau ke makam orang-orang munafik seperti kaum Qaramitah, Isma’iliyyah, dan Nushairiyyah, maka hewan-hewan itu jika mendengar suara orang-orang yang disiksa dalam kubur mereka akan ketakutan sehingga timbul panas yang menghilangkan kolik yang menimpanya.

Nabi shallallahu alaihi wasallam suatu hari sedang mengendarai bagalnya, lalu bagal itu mengelak sampai hampir menjatuhkan beliau dari punggungnya. Mereka bertanya: ‘Apa yang terjadi dengannya ya Rasulullah?’ Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya dia mendengar suara orang-orang Yahudi yang disiksa dalam kubur mereka.’ Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya mereka disiksa dalam kubur mereka dengan siksaan yang didengar oleh hewan.’ Mengapa pemilik hewan tidak membawa hewan mereka ke makam Asy-Syafi’i atau makam Asyhab? Karena di makam mereka turun rahmat.” Syekh berbicara banyak tentang jenis ini yang tidak terhitung, dan ini sebagian darinya.

Pasal

Ketika Syekh berada di ruang tarsim, tiga orang pendeta dari Sa’id masuk menemuinya. Beliau berdebat dengan mereka dan menegakkan hujjah bahwa mereka adalah orang kafir dan tidak berada di atas agama Ibrahim dan Almasih. Mereka berkata kepadanya: “Kami melakukan seperti apa yang kalian lakukan. Kalian berkata dengan Sayyidah Nafisah, sedangkan kami berkata dengan Sayyidah Maryam. Kami dan kalian telah sepakat bahwa Almasih dan Maryam lebih utama dari Husain dan Nafisah. Kalian meminta pertolongan kepada orang-orang saleh sebelum kalian, kami pun demikian.”

Syekh berkata kepada mereka: “Sesungguhnya siapa yang melakukan itu, padanya ada kemiripan dengan kalian. Ini bukan agama Ibrahim yang beliau anut. Sesungguhnya agama yang dianut Ibrahim adalah: kita tidak menyembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada tandingan bagi-Nya, tidak ada istri bagi-Nya, tidak ada anak bagi-Nya. Kita tidak menyekutukan-Nya dengan malaikat, matahari, bulan, bintang. Kita tidak menyekutukan-Nya dengan nabi dari para nabi atau orang saleh. ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi melainkan akan datang kepada Yang Maha Pengasih sebagai seorang hamba.’ (Surah Maryam: 93). Sesungguhnya perkara-perkara yang tidak mampu dilakukan oleh selain Allah tidak boleh diminta kepada selain-Nya, seperti menurunkan hujan, menumbuhkan tanaman, menghilangkan kesusahan, memberi petunjuk dari kesesatan, dan mengampuni dosa. Tidak ada seorang pun dari seluruh makhluk yang mampu melakukan itu, hanya Allah yang mampu.

Para nabi alaihimush shalatu wassalam, kita beriman kepada mereka, kita mengagungkan mereka, kita menghormati mereka, kita mengikuti mereka, kita membenarkan mereka dalam semua yang mereka bawa, dan kita menaati mereka sebagaimana yang dikatakan oleh Nuh, Saleh, Hud, dan Syu’aib: ‘(Yaitu) sembahlah Allah dan bertakwalah kepada-Nya’ (Surah Nuh: 3). Mereka menjadikan ibadah dan takwa hanya kepada Allah, sedangkan ketaatan kepada mereka. Sesungguhnya ketaatan kepada mereka adalah bagian dari ketaatan kepada Allah. Seandainya seseorang kafir kepada seorang nabi dari para nabi dan beriman kepada semua nabi yang lain, imannya tidak bermanfaat sampai dia beriman kepada nabi tersebut. Demikian pula jika seseorang beriman kepada semua kitab dan mendustakan satu kitab, dia adalah kafir sampai dia beriman kepada kitab tersebut. Demikian pula malaikat dan hari akhir.”

Ketika mereka mendengar itu darinya, mereka berkata: “Agama yang engkau sebutkan lebih baik daripada agama yang kami dan orang-orang ini anut.” Kemudian mereka pergi dari sisinya.

Pasal

Ketika Syekh berada di ruang tarsim, Syekh yang arif dan teladan Syamsuddin Ad-Dabahi telah datang dari Syam ke Mesir untuk mendamaikan antara Syekh dengan Syekh Nashr Al-Minbaji. Dia menulis sebuah kertas yang berisi: “Tukang nempel pada Allah, Muhammad bin Ad-Dabahi, memohon kepada dua syekh yang saleh —Syekhul Masyaikh Abu Al-Fath Nashr Al-Minbaji dan Syaikhul Islam Ahmad bin Taimiyyah— agar mereka bersepakat untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya sesuai kemampuan mereka.” Dia menyebutkan hal-hal yang harus mereka laksanakan sesuai kemampuan dan disepakati bersama. Kertas itu sampai kepada Syekh, maka beliau berkata: “Saya setuju dengan itu.” Lalu dia pergi dengan kertas itu kepada Syekh Nashr dan menemukan di sisinya para masyaikh At-Tadamirah: Abu Bakar dan Syekh Ibrahim, putra-putra Barwan. Syekh Nashr bangkit dari tempat duduknya dan mendudukkan Syekh Syamsuddin di tempatnya serta sangat mengagungkannya. Dia memberitahukan kepadanya tentang kertas itu. Syekh Nashr berkata: “Wahai tuanku, mengapa engkau menulis kepada Syekh seperti ini, padahal belum terdengar banyak pembicaraan dari kami?” Syamsuddin berkata: “Tulislah bahwa engkau setuju dengan itu.” Syekh Nashr berkata: “Jika Syekh menulis, saya akan menulis.” Syamsuddin berkata: “Allah menjadi saksi atas apa yang engkau katakan?” Dia menjawab: “Ya.” Maka dia mengirim kertas itu kepada Syekh. Syekh menulis: “Saya setuju dengan itu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Yang menulis Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam bin Taimiyyah.” Utusan membawa kertas itu kepadanya. Syekh Syamsuddin berkata kepadanya: “Tulislah bersama Syekh seperti apa yang engkau katakan dan janjikan kepada Allah.” Syekh Nashr berkata: “Saya tidak akan menulis apa pun lagi.” Syamsuddin berkata kepadanya: “Aku memusuhi engkau karena Allah,” lalu membuka kepalanya dan berkata: “Kemudian kita bermubahilah, kemudian kita bermubahilah,” lalu bangkit dan turun dari sisinya.

Syekh Nashr mengirim kepada wali kota agar menggerebek rumah Ibnu Taimiyyah, menangkap para sahabatnya, dan memasukkan mereka ke penjara. Wali mengirim wakilnya untuk menggerebek rumah. Tujuan mereka adalah menangkap Syarafuddin, saudara Syekh, tetapi dia dilarikan dari atas atap. Mereka menangkap para sahabat Syekh dan membawa mereka kepada wali, lalu memasukkan mereka ke ruangan di rumahnya. Mereka melarang orang-orang masuk menemui Syekh. Setelah beberapa hari, wali itu dipecat. Maka dia melepaskan jamaah itu. Zainuddin, saudara Syekh, tertinggal di sisinya. Lalu Syekh Nashr mengirim surat kepada Qadhi Ibnu Makhluf, maka Zainuddin ditangkap dan dipenjara bersama Syekh di ruang tarsim. Pada hari-hari itu, budak Zainuddin mencuri kain miliknya berupa kain naftah, marwazi, dan lainnya, lalu pergi membawanya. Zainuddin jatuh sakit dan meminta pemandian. Maka sipir penjara dan pembantu Syekh —Ibrahim bin Ahmad Al-Ghayani— pergi kepada qadhi. Pembantu Syekh berkata: “Jika dia ada dalam penjara Anda, tuliskanlah surat penahanan untuknya. Jika dia tidak ada dalam penjara Anda, mengapa Anda memerintahkan tentang dia?” Qadhi berkata: “Dia tidak ada dalam penjaraku. Saya mendengar bahwa dia ingin melayani saudaranya. Saya tidak menghalalkan mencegahnya.” Pembantu Syekh berkata: “Saudaranya adalah pedagang yang sendirian membutuhkan sepuluh orang untuk melayaninya. Sedangkan Syekh, saya yang melayaninya. Wakil sultan dan lainnya telah berkata bahwa mereka tidak memerintahkan pemenjaraan Zainuddin. Syekh berfatwa bahwa kain yang dicuri milik Zainuddin menjadi tanggungan Anda. Sipir penjara berkata: ‘Dia tidak ada dalam penjaraku,’ tetapi kami tidak membiarkannya keluar.” Qadhi berkata: “Jika besok engkau turun ke rumahku, datanglah kepada saya bersama sipir penjara.”

Ibrahim berkata: Kemudian kami menceritakan hal itu kepada Syekh, maka beliau berkata kepada Zainuddin: “Berdirilah dan keluarlah. Qadhi ini telah berlepas diri dari perkaramu.” Sipir penjara berkata: “Sampai dia pergi kepada qadhi seperti yang kalian lihat.” Syekh berkata: “Sesungguhnya orang-orang zalim dan pembantu-pembantu orang zalim akan dimasukkan pada hari kiamat dalam peti-peti dari api, kemudian dilemparkan ke dalam neraka Jahim. Allah berfirman: ‘Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman-teman mereka dan apa yang dahulu mereka sembah selain Allah, maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka Jahim.’ (Surah Ash-Shaffat: 22-23).” Sipir penjara berkata: “Saya tidak berani mengatakan ini kepadanya.” Kemudian qadhi memerintahkan agar Zainuddin keluar. Syekh berkata: “Dia tidak perlu keluar lagi.” Qadhi mengirim anaknya Muhibbuddin untuk memintanya berkali-kali sampai akhirnya dia keluar.

Pada hari-hari itu, para masyaikh At-Tadamirah —Ibrahim dan Abu Bakar— datang kepada Syekh dan berkata kepadanya: “Kami telah bertemu dengan orang-orang yang mengadukanmu. Mereka berkata: ‘Kami sudah bosan dengan dia, dan orang-orang melaknat kami karena dia. Kami telah berkata: Kami telah mengambilnya dengan hukum syariat secara lahir. Maka hendaklah dia melihat sesuatu yang tidak akan menjadi penolakan bagi kami dan baginya, lalu menuliskannya untuk kami agar kami dan dia sepakat tentang hal itu.'” Ketika mereka mengatakan itu kepadanya, beliau berkata kepada mereka: “Saya lapang dada dan tidak gelisah. Mereka di luar penjara, mengapa mereka gelisah?” Lalu beliau menulis: “Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya Allah meridhai untuk kalian tiga hal: bahwa kalian menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, bahwa kalian berpegang teguh pada tali Allah semuanya dan tidak berpecah belah, dan bahwa kalian menasihati orang yang Allah jadikan pemimpin urusan kalian.’ Diriwayatkan oleh Muslim.” Mereka keluar dari sisinya dengan kesepakatan itu.

Setelah beberapa hari, mereka datang kepadanya dan berkata: “Mereka telah membaca kertas itu dan berkata: ‘Orang ini pandai berdebat dan bersikeras, hatinya tidak takut kepada para penguasa. Dia telah bertemu dengan Ghazan, raja Tatar, dan para pembesar negaranya, tetapi tidak takut kepada mereka. Jika dia bertemu dengan sultan dan pemerintahan, lalu membacakan kitab “Al-Fushush” yang menjadi sebab fitnah di hadapan mereka, mereka akan membunuh kami atau memecatkan kami dari jabatan, dan akan dikatakan tentang kami bahwa dia tidak keluar dari penjara kecuali setelah kalian menerima apa yang dia syaratkan kepada kalian. Kirimkanlah kalian, syaratkanlah kepadanya apa yang kalian inginkan. Jika dia tidak menerimanya, kalian sudah berlepas diri darinya.'”

Ketika para masyaikh At-Tadamirah memberitahukan hal itu kepadanya, mereka berkata: “Wahai tuanku, mereka telah membebankan kepada kami suatu ucapan untuk kami katakan kepadamu, dan mereka telah menyumpah kami bahwa hal itu tidak akan diketahui oleh orang lain: bahwa engkau turun dari pendapatmu tentang masalah Arsy dan masalah Al-Quran, dan kami mengambil tulisan tanganmu tentang itu. Kami akan memperlihatkannya kepada sultan dan berkata kepadanya: ‘Inilah yang kami penjara Ibnu Taimiyyah karenanya, dia telah kembali darinya,’ dan kami akan merobek kertas itu.”

Syekh berkata kepada mereka: “Kalian menyuruhku untuk menulis dengan tanganku bahwa tidak ada tuhan di atas Arsy yang disembah, tidak ada Al-Quran dalam mushaf-mushaf, dan tidak ada kalam Allah di bumi?” Lalu beliau melempar sorbannya ke tanah, berdiri tegak, mengangkat kepalanya ke langit, dan berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku menyaksikan-Mu bahwa mereka menyuruhku untuk kafir kepada-Mu, kepada kitab-kitab-Mu, dan rasul-rasul-Mu. Dan bahwa hal ini tidak akan kulakukan. Ya Allah, turunkanlah kemurkaan-Mu yang tidak Engkau tolak dari kaum yang berdosa kepada mereka. Anak panah Allah telah mengenai mereka. Demi Allah, negara Baibars akan dibalik, yang di bawahnya menjadi di atasnya. Orang yang paling mulia di dalamnya akan menjadi yang paling hina. Allah akan membalas yang besar dan yang kecil. Betapa aku marah kepada mereka, tetapi aku tidak berdoa melawan mereka.”

Saya dan Syarafuddin bin Sa’duddin berkata: “Syaikhul Islam Al-Anshari dihadapkan kepada pedang empat belas kali, tidak dikatakan kepadanya: ‘Setujulah dengan kami,’ melainkan ‘Diamlah.’ Tetapi dia berkata: ‘Aku akan dibunuh dan tidak boleh bagiku untuk diam dari orang yang menyelisihiku.'”

Syekh telah diam tentang mereka di Damaskus, dan tidak terjadi sesuatu dari ini. Tetapi mereka melampaui batas dalam mencaci dan mencela kami. Tidak ada yang lebih merugikannya daripada para sahabatnya sendiri. Kemudian mereka keluar dari sisinya.

Setelah itu, datang kepada Syekh seorang laki-laki yang disebut Syekh Ali Al-Farra yang memiliki mimpi-mimpi luar biasa. Dia berkata: “Saya melihat dalam mimpiku seolah-olah laut telah meluap sampai air masuk ke semua gang-gang kota. Airnya hitam seperti ter dan mendidih seperti panci di atas api. Syekh mengendarai kapal dan bersama beliau naik sekelompok kecil orang. Beliau berkata: ‘Selamatkanlah diri! Selamatkanlah diri!’ Kapal itu keluar dari Bab Sa’adah sampai tiba di Bab Al-Luq. Tiba-tiba sultan Sanqar mengendarai gajah, di belakangnya mengendarai Qadhi Ibnu Makhluf dan Syekh Nashr. Saya berkata: ‘Wahai tuanku, bagaimana kami berbuat agar keluar dari kekeruhan ini yang kami alami ke laut yang jernih, sedangkan gajah ini ada di jalan kami?’ Engkau membaca: ‘Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?’ (Surah Al-Fiil: 1) sampai akhir surah. Dan aku tidak menjumpai kapal itu kecuali sudah berada di laut yang besar.”

Setelah beberapa hari, Syamsuddin bin Sa’duddin Al-Harrani datang kepada Syekh dan memberitahukan bahwa mereka akan membuangnya ke Iskandariah. Para masyaikh At-Tadamirah datang dan memberitahukan hal itu kepadanya. Mereka berkata kepadanya: “Semua ini mereka lakukan agar engkau menyetujui mereka. Mereka berkeinginan untuk membunuhmu, membuangmu, atau memenjarakanmu.” Syekh berkata kepada mereka: “Jika aku dibunuh, itu adalah kesyahidan bagiku. Jika aku dibuang, itu adalah hijrah bagiku. Seandainya mereka membuangku ke Qubrus, aku akan menyeru penduduknya kepada Allah dan mereka akan menjawab seruanku. Jika mereka memenjarakanku, itu akan menjadi tempat ibadahku. Aku seperti kambing, bagaimanapun aku dibalik, aku terbolak-balik di atas wol.” Mereka putus asa darinya dan pergi.

Setelah itu, pada waktu salat Maghrib, datang wakil wali kota Badruddin Al-Muhibb bin Imaduddin bin Al-Afif bersama sekelompok orang. Dia berkata: “Wahai tuanku, dengan nama Allah.” Syekh berkata kepadanya: “Ke mana?” Dia menjawab: “Ke Iskandariah, sultan telah memerintahkan hal itu sekarang juga.” Syekh berkata kepadanya: “Seandainya kalian memberitahuku tentang hal itu agar aku bersiap-siap untuk perjalanan dan membawa bekal.” Dia berkata: “Sudah aku perintahkan untukmu dan para sahabatmu apa yang cukup bagimu.” Syekh berkata: “Aku malam ini tidak akan bepergian.” Dia berkata: “Aku tidak bisa menyelisihi perintah sultan.” Syekh berkata: “Apakah engkau membawa perintah untuk membuatku marah?” Dia menjawab: “Tidak.” Lalu dia berdiri dan keluar dari sisi Syekh. Sipir penjara mengunci pintu penjara dan pergi.

Ketika tiba hari kedua, datanglah Abdul Karim, keponakan Syekh Nashr, dan dia bersumpah bahwa Syekh Nashr tidak mengetahui hal ini, lalu ia pergi.

Ketika waktu setelah shalat Ashar, aku berdiri sambil menangis. Syekh berkata kepadaku: “Jangan menangis, ujian ini tidak akan berlangsung lama lagi.” Lalu aku berkata kepadanya: “Apakah aku membukakan mushaf untukmu?” Dia menjawab: “Bukalah.” Maka muncullah firman Allah Taala: “Dan bersabarlah. Kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah. Dan janganlah engkau bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan jangan (pula) bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Surah An-Nahl: 127-128). Lalu ia berkata: “Bukalah di tempat lain.” Maka muncullah firman Allah Taala: “Mereka melakukan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya mereka, sedang mereka tidak menyadarinya.” (Surah An-Naml: 50) sampai akhirnya. Lalu dia berkata: “Bukalah yang lain.” Maka muncullah firman Allah Taala: “Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya…” (Surah Al-Fath: 29) sampai akhirnya.

Setelah kami menunaikan shalat Maghrib, beliau terus berdoa dengan doa orang yang sedang susah, dan Allah menurunkan kepadanya cahaya, kecemerlangan, dan keadaan yang sangat luar biasa. Aku memberi isyarat kepada para tahanan, seolah wajahnya adalah lilin yang dipoles seperti pengantin, hingga ketika malam tiba, datanglah wakil wali dan berkata: “Dengan nama Allah.” Mereka pun berpamitan kepadanya sambil menangis dan mendoakan kejahatan kepada mereka dengan doa yang berbeda-beda, yang paling ringan adalah memohon agar Allah mencabut nikmat dari mereka.

Ia naik kendaraan di pintu penjara. Seseorang berkata kepadanya: “Wahai tuanku, ini adalah maqam kesabaran.” Lalu ia menjawab: “Bahkan ini adalah maqam pujian dan syukur. Demi Allah, sungguh telah turun ke hatiku kegembiraan dan kesenangan yang jika dibagikan kepada penduduk Syam dan Mesir, akan berlebih dari mereka. Seandainya aku memiliki emas di tempat ini dan menginfakkannya, itu tidak akan cukup membayar sepersepuluh dari nikmat yang sedang aku rasakan ini.”

Ia keluar dari pintu Saadah, dan kami naik perahu ke seberang. Kami bertemu dengan seorang amir bernama Badruddin Thabr, amir sepuluh yang memimpin seratus orang. Ia melarang kami melakukan perjalanan bersama Syekh dan berkata: “Aku tidak memiliki surat perintah bahwa ada orang yang boleh ikut bersama Syekh.” Syekh berkata: “Wahai Ibrahim, turunlah ke Syam dan katakan kepada para sahabat kami: Demi Al-Quran – tiga kali – ujian ini tidak akan berlangsung lama lagi dan akan segera terungkap melebihi apa yang ada di dalam jiwa, dan Allah akan membalikkan kerajaan Baibars, menjadikan yang atas menjadi bawah, dan sungguh Allah akan menjadikan orang yang paling mulia di dalamnya menjadi orang yang paling hina.”

Ketika kami kembali setelah berpamitan dengannya, pada malam itu laut pecah, air surut, roti dan lainnya menjadi mahal, tidak ada yang tersisa untuk ditakuti, dan orang-orang terus melaknat mereka dan berkata: “Mereka menenggelamkan Ibnu Taimiyah di laut, ia tidak akan muncul lagi.” Lalu muncullah sekelompok pembesar dan orang-orang saleh Iskandariah yang menemui Syekh, dan ia tinggal di menara hijau hingga Sultan An-Nashir datang dari Al-Karak, Baibars melarikan diri dari kesultanan dan mengirim orang untuk memanggilnya dengan hormat.

03 – Dzail Mir’atul Zaman Karya Quthbuddin Musa bin Muhammad Al-Yunini Al-Hanbali (wafat tahun 726 Hijriah)

(Tahun 699 Hijriah)

Ia berkata: “Mereka berkumpul (yaitu penduduk Damaskus) pada hari ini (Ahad kedua bulan Rabiulakhir) di Masyhadnya Ali, dan bermusyawarah tentang urusan keluar menemui Raja Mahmud Ghazan dan meminta jaminan keamanan untuk penduduk negeri. Hadir dari para fuqaha: Qadhi Al-Qudhah yang pada hari itu adalah khatib masjid, Badruddin bin Jamaah, Syekh Zainuddin Al-Faruqi, Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah…” dan ia menyebutkan banyak ulama. Kemudian ia berkata: “Dan banyak kelompok dari para qari, fuqaha, dan orang-orang adil.” (1/254).

Dan pada tahun itu juga, ia berkata: “Penduduk negeri telah mendengar apa yang menimpa saudara-saudara mereka, maka hal itu berat bagi mereka. Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah dan sekelompok orang pergi menemui Syekh Al-Masyayikh yang turun di Al-Adiliyah dan mengadukan keadaan kepadanya. Maka keluarlah ia kepada mereka pada hari Selasa siang hari, dan ia menjumpai mereka antara waktu Zhuhur dan Ashar, lalu ia menolak (serangan) dari mereka. Tentara Tatar mendengar kedatangannya dan kedatangan orang-orang yang berjalan bersamanya, maka mereka melarikan diri…”

Ia berkata: “Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah berjalan menemui orang yang diharapkan manfaat atau syafaatnya. Ia pergi menemui Al-Muallim Sulaiman Al-Hindi, dan Syekh Al-Masyayikh Nizhamuddin Mahmud bin Ali Asy-Syaibani, dan Saifuddin Qabjaq. Kemudian ia keluar pada hari Kamis tanggal dua puluh bulan tersebut menuju perkemahan Sultan yang mereka sebut Al-Urdu – yang berada di Tell Rahith. Ia masuk menemuinya tetapi tidak diizinkan untuk memberitahukan apa yang terjadi, melainkan hanya diizinkan untuk mendoakan beliau dan segera pergi. Dikatakan bahwa ia sakit kakinya dan pikirannya sedang sibuk, dan jika ia mengetahui hal itu, ia pasti akan membunuh sekelompok orang Mongol, dan dengan itu akan terjadi fitnah dan perpecahan, dan akibatnya akan menimpa penduduk negeri dan semacam itu. Maka ia bertemu dengan dua orang menteri, Saaduddin dan Rasyiduddin, dan berbicara dengan mereka. Disebutkan bahwa sekelompok komandan besar hingga sekarang belum menerima sesuatu pun dari harta Damaskus, dan mereka harus dipuaskan. Diperintahkan untuk menghadirkan sekelompok orang yang ditawan, dan ditetapkan pemeriksaan terhadap para tawanan di dalam pasukan.

Syekh Taqiyuddin dan orang-orang yang bersamanya masuk pada malam Sabtu ke negeri. Ketika pada siang hari Sabtu, urusan menjadi sangat sulit bagi orang-orang dan menyempit dengan sangat hingga batasnya. Desas-desus banyak beredar, dikatakan bahwa urusan telah sampai ke negeri, dan apa yang ada di dalamnya telah disimpan khusus untuk orang Mongol. Sultan telah menulis jaminan keamanan kepada Arjuwasy, tetapi ia tidak memperhatikan hal itu. Mereka akan masuk tanpa dapat dicegah karena benteng itu, dan akan terjadi di negeri apa yang terjadi di gunung. Dikatakan bahwa siapa yang tidak keluar dari negeri maka darahnya di lehernya sendiri, dan siapa yang ingin keluar maka keluarlah menuju Jabal Ash-Shalihiyah, dan yang lebih baik adalah para orang saleh dan ulama keluar dari negeri. Orang-orang sangat ketakutan dengan perkataan ini, dan sebagian besar perkataan itu dinisbatkan kepada Syekh Al-Masyayikh. Kemudian ia membawa barang-barangnya dan keluar dari Al-Adiliyah. Orang-orang yakin dengan hal itu dan berkata: “Seandainya berita itu tidak benar, ia tidak akan keluar dengan tergesa-gesa.” Ketika sore hari yang disebutkan tadi, ia kembali dengan sebagian barang-barangnya, dan para kelompok dan pembesar kembali kepadanya, dan berkata: “Jika Sultan menetapkan untuk mengenakan sesuatu yang tertentu atas negeri, kami akan berusaha mengeluarkannya, dan itu akan menjadi seperti pembelian untuk negeri, dan Sultan akan memberi anugerah kepada kami dengan membebaskan kaum muslimin.” (1/272-274).

Dan ia berkata: “Syekh, Imam Alamuddin Ibnul Birzali bercerita kepadaku, ia berkata: Pada hari Kamis tanggal dua puluh lima, aku bertemu dengan Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, dan ia menyebutkan pertemuannya dengan Amir Qutluwasyah. Ia berkata: Qutluwasyah menyebutkan kepadaku bahwa ia adalah dari keturunan Jengis Khan, dan bahwa ia berkulit kuning tanpa sehelai rambut pun di wajahnya, berusia sekitar lima puluh tahun. Ia menyebutkan kepada mereka bahwa Allah mengakhiri kerasulan dengan Muhammad, dan bahwa Jengis Khan kakeknya adalah raja bumi, dan setiap orang yang keluar dari ketaatannya dan ketaatan keturunannya adalah pemberontak.

Ia menyebutkan pertemuannya dengan Raja Ghazan dan dengan dua menteri Saaduddin dan Rasyiduddin Wazir Ath-Thabib, dan Asy-Syarif Quthbuddin pengawas perbendaharaan, dan sekretarisnya Shadruddin, dan dengan An-Najib Al-Kahhal Yahudi, dan dengan Syekh Al-Masyayikh Nizhamuddin Mahmud, dan dengan Ashiluddin Ibnu An-Nashir Ath-Thusi pengawas wakaf.

Ia menyebutkan bahwa ia melihat di sisi Qutluwasyah penguasa Sisi, dan ia berambut pirang lebat. Bersama mereka ada sekelompok kecil yang tertimpa kehinaan dan kejahatan. Ia menyebutkan bahwa perjalanan Qutluwasyah adalah pada Zhuhur hari Selasa tanggal dua puluh tiga bulan tersebut, dan pertemuannya dengannya mengenai para tawanan adalah hari Ahad tanggal sebelas, dan ia bermalam pada malam Senin di Al-Munaiba bersama qadhi Hanbali dan Hanafi, karena mereka akan pergi ke benteng dengan pesan. Ia menyebutkan bahwa mereka menulis dalam semua surat dan farmanya: Dengan kekuatan Allah Taala dan berkah agama Muhammadiyah.

Ia menyebutkan bahwa ia bertemu dengan salah seorang dari mereka, dan tampak darinya shalat dan ketenangan. Ia bertanya kepadanya: “Apa sebab keluarmu dan memerangi kaum muslimin?” Ia berkata: “Syekh kami memfatwakan kami untuk menghancurkan Syam dan mengambil harta mereka karena mereka tidak shalat kecuali dengan upah, tidak belajar fiqih kecuali dengan upah, dan selain itu. Ia berkata: Jika kalian melakukan itu kepada mereka, mereka akan kembali kepada Allah dan bertawakkal kepada-Nya!”

Ia menyebutkan bahwa Wajibuddin Ibnu Munajja dan Ibnul Quthainah masing-masing kehilangan seratus lima puluh ribu dirham. Wajih Ibnu Munajja menyebutkan bahwa yang dibawa ke perbendaharaan Qazan adalah tiga juta enam ratus ribu dirham, selain yang habis dari tuduhan-tuduhan kepada mereka, penyitaan, dan pengambilan untuk para amir, menteri, dan lainnya lainnya, sehingga Ash-Shafi As-Sinjari mengambil untuk dirinya sendiri bagiannya lebih dari delapan puluh ribu dirham, dan untuk Amir Ismail dua ratus ribu, dan untuk dua menteri sekitar empat ratus ribu dirham, dan lainnya. Tidak ada seorang pun dalam kelompok itu kecuali yang menguras dan memungut. Jumlah yang kami sebutkan ini di luar apa yang mereka sita dari orang-orang yang dituntut dan dicari, dan kelompok lain yang tidak mungkin disebutkan, mereka mendapatkan sebesar yang disebutkan dan lebih, kami memohon kesehatan kepada Allah. (1/291-294).

Ia berkata: Dan pada hari Senin tanggal dua puluh delapan bulan tersebut, masuk ke benteng khatib Badruddin dan Syekh Taqiyuddin, bersama mereka wakil Amir Yahya dan orang-orang dari pihaknya. Orang-orang membicarakan perdamaian yang akan terjadi antara wakil benteng dan wakil-wakil Qazan, dan tidak diketahui apa yang terjadi di antara mereka.

Kemudian masuk bulan Rajab yang diberkahi pada malam Rabu, dan khatib Badruddin dan Taqiyuddin Ibnu Taimiyah masuk menemui Arjuwasy dan Qabjaq, berusaha dalam urusan perdamaian antara mereka dan menenangkan keadaan negeri, tetapi urusan perdamaian antara mereka tidak tercapai.

Dan pada hari Kamis tanggal dua bulan tersebut, para pembesar dari qadhi, ulama, dan pemimpin dipanggil dengan surat-surat yang memiliki tanda Qabjaq ke rumahnya. Hadir sekelompok dari mereka, lalu mereka bersumpah untuk negara Mahmudiyah dengan ketulusan dan tidak berpura-pura dan lainnya.

Dan pada hari Kamis juga, Syekh Taqiyuddin pergi ke perkemahan Bulay mengenai para tawanan dan pembebasan mereka. Bersamanya ada banyak sekali tawanan. Ia tinggal tiga malam dan berbicara dengannya tentang urusan Yazid bin Muawiyah, dan apakah wajib mencintainya atau membencinya. Taqiyuddin berkata kepadanya: “Kami tidak mencintainya dan tidak membencinya.” Ia berkata: “Apakah wajib melaknatinya?” Syekh mengetahui bahwa ia memiliki loyalitas, maka ia berbicara kepadanya dengan apa yang menenangkan hatinya. Ia berkata kepadanya: “Orang-orang Damaskus ini yang membunuh Husain.” Syekh berkata kepadanya: “Tidak ada dari penduduk Syam yang hadir dalam pembunuhan Husain. Husain dibunuh di tanah Karbala di Irak.” Ia berkata: “Benar, dan Bani Umayyah adalah khalifah dunia, dan mereka suka tinggal di Syam, dan ini adalah negeri para nabi dan orang-orang saleh.” Maka amarahnya kepada penduduk Syam reda. Ia menyebutkan bahwa asal-usulnya adalah muslim dari penduduk Khurasan, dan terjadi antara dia dan Syekh banyak pembahasan dan percakapan. (1/299-300).

Ia berkata: Dan pada pagi hari Jumat yang disebutkan, Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah berkeliling Damaskus ke tempat-tempat kedai arak yang baru didirikan. Ia menumpahkan arak, memecahkan tempayan, merobek wadah-wadah, dan memberikan takzir kepada para penjual arak bersama kelompoknya, semoga Allah membalasnya.

Dan orang-orang terus pada malam-malam ini bermalam di atas tembok, kemudian mereka menampakkan persiapan yang baik dan kesiapan. Syekh Taqiyuddin dan para sahabatnya berjalan kepada orang-orang, Syekh membacakan kepada mereka surah-surah tentang peperangan dan ayat-ayat jihad, hadits-hadits tentang ghazwah, ribath, dan penjagaan, dan mendorong mereka serta memotivasi mereka. (1/302)

(Tahun 702 Hijriah)

Ia berkata: Dan pada tahun itu di bulan Jumadal Ula, sampai ke tangan wakil kesultanan di Damaskus sebuah surat kepadanya, yang bentuknya seperti nasihat untuk kebaikannya atas nama Quthuz – dari mamluk Amir Saifuddin Qabjaq – dan di dalamnya: Bahwa Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah dan Qadhi Syamsuddin Ibnul Hariri berkorespondensi dengan Qabjaq dan memilihnya untuk menjadi wakil kerajaan, dan mereka bekerja melawan Amir, dan bahwa Kamaluddin Ibnul Aththar dan Kamaluddin Ibnu Az-Zamlakani, kedua sekretaris Daraj, melaporkan berita-berita Amir, dan bahwa sekelompok amir bersama mereka dalam perkara ini, hingga mereka menyebutkan sekelompok mamluk Amir dan orang-orang dekatnya, dan memasukkan mereka dalam hal itu, dan menyebutkan tentang mereka selain itu.

Ketika Amir membaca surat ini dan memahaminya, ia mengetahui kebatilannya, dan merahasiakannya kepada sebagian penulis, dan meminta pengenalan terhadap yang menyampaikannya. Mereka bersungguh-sungguh dalam hal itu, hingga pikiran dan dugaan jatuh kepada seorang fakir yang dikenal dengan Al-Yaafuri, yang sebelumnya telah dinisbatkan kepadanya keusilan dan pemalsuan. Ia ditangkap, dan ditemukan padanya draf surat yang disebutkan itu. Ia dipukul dan mengakui terhadap orang lain yang dikenal dengan Ahmad Al-Qubbari, yang juga sebelumnya telah dinisbatkan kepadanya pemalsuan dan campur tangan dalam apa yang bukan urusannya. Yang lain juga dipukul, dan ia mengaku serta menyebutkan sekelompok pembesar yang memang merekalah yang mendorong mereka untuk melakukan hal itu. Tujuan mereka adalah mengacaukan pikiran Amir dari orang-orang dekatnya dan berusaha membinasakan orang-orang yang disebutkan dalam surat. Perkara itu terungkap kepada Amir dan ia mengetahui urusan di dalamnya dengan pengetahuan yang memuaskan, dan mereka ditinggalkan dalam penjara.

Ketika tiba hari Senin awal Jumadal Akhir pagi hari, mereka mengambil orang-orang yang disebutkan dan penulis, dan mereka diarak keliling Damaskus dan diumumkan tentang mereka: “Ini balasan bagi siapa yang berbicara tentang apa yang bukan urusannya dan menuduh para pembesar.” Setelah itu mereka sampai ke pasar kuda, dan dua orang dari mereka dipenggal yaitu dua fakir: Al-Yaafuri dan Ahmad Al-Qubbari, dan mereka digantung di kayu. Yang ketiga yaitu At-Taj An-Nasikh Ibnul Manadili dipotong tangan kanannya dan dibawa ke rumah sakit. (2/684-685)

Ia berkata: Kemudian pasukan yang telah berkumpul di Hamah dari tentaranya dan tentara Halab dan tentara benteng-benteng mundur ke Himsh. Keluar bersama mereka banyak orang dari Hamah, dan mereka meninggalkan keluarga dan harta mereka. Mereka mengalami kesulitan besar dan kesusahan yang sangat, dan mereka sampai ke Himsh tetapi tidak melihat tempat tinggal di sana karena takut musuh yang terhina akan menyerang mereka mendadak. Mereka mundur dari Himsh dan tidak menemukan tempat yang cocok untuk pasukan. Mereka sampai ke Al-Marj pada hari Ahad tanggal dua puluh lima bulan tersebut. Mereka menyebutkan bahwa Tatar telah melewati Himsh menuju Qara, kemudian kembali ke Himsh. Mereka menyebutkan bahwa sekelompok dari mereka sampai Baalbek kemudian kembali, dan itu dalam bentuk perampasan, main-main, dan kerusakan.

Orang-orang pada pagi hari Ahad yang disebutkan berada dalam urusan yang besar karena dekatnya musuh dan keterlambatan Sultan dan mayoritas pasukan. Mereka mulai dan bergerak untuk melarikan diri. Mereka menyebutkan bahwa pasukan yang telah berkumpul di Al-Marj dan Damaskus tidak memiliki kemampuan untuk menghadapinya, dan jalan mereka hanyalah mundur dari mereka dua marhalah. Negeri dijaga ketat. Ketika siang meninggi, para amir berkumpul di Maidan dan bersumpah untuk menghadapi mereka, dan mereka memberikan keberanian kepada diri mereka sendiri. Diumumkan di negeri: bahwa tidak boleh ada yang melarikan diri dan tidak boleh ada yang bepergian. Maka orang-orang tenang. Para qadhi duduk di masjid dan mengambil sumpah dari sekelompok fuqaha dan rakyat untuk hadir dalam perang.

Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah pergi ke arah pasukan yang datang dari Hamah, dan ia menjumpai mereka di Al-Quthaifah dan Al-Marj. Ia bertemu dengan mereka dan memberitahukan kepada mereka apa yang telah disepakati oleh pendapat para amir di Damaskus. Mereka menyetujui hal itu.

Pada hari Rabu tanggal dua puluh delapan bulan Syaban, orang-orang menjadi sangat panik. Seluruh desa dan kota mengungsi. Orang-orang berdesakan di pintu-pintu gerbang Damaskus, dan banyak orang masuk ke benteng. Rumah-rumah dan jalan-jalan dipenuhi orang, terjadi pertengkaran, dan hati-hati menjadi gelisah. Hal ini karena sekelompok tentara menuju ke Kuswa dan sekitarnya. Orang-orang mulai membicarakan bahwa mereka ingin menyusul Sultan dan sisa pasukan. Ini berarti meninggalkan Kuswa. Mereka berkata: “Tidak ada apa-apa di sana sama sekali,” dan mereka heran dengan apa yang telah Allah lakukan terhadap tentara ini hingga lenyap dalam sekejap, meninggalkan negeri dan penduduknya di belakang mereka. Orang-orang menjadi cemas karenanya. Sebagian orang mengatakan bahwa tujuannya adalah mencari tempat untuk pertempuran yang lebih baik daripada Marj, karena di sana terdapat banyak tanaman hijau dan air. Hanya Allah yang mengetahui kebenaran keadaan sebenarnya.

Mereka menyebutkan bahwa pasukan Tatar mendekat hingga sekelompok dari mereka sampai ke Qutaifah. Ada yang mengatakan seluruh tentara ditinggalkan di jembatan-jembatan di selatan Damaskus. Orang-orang menjadi tenang antara waktu Zuhur dan Asar. Setelah waktu Asar, orang-orang mulai membicarakan kepergian mereka dari sana. Sebagian orang berkata: “Orang-orang Mesir telah mulai pergi dan orang-orang Syam pasti akan mengikuti mereka.” Orang-orang menjadi panik. Syekh Taqiyyuddin berada di kota, sedangkan para qadi telah keluar bersama pasukan.

Orang-orang bermalam pada malam Kamis. Pada awal malam mereka melihat api unggun dan tenda-tenda mereka, tetapi pada akhir malam tidak ada jejak mereka. Pada pagi hari Kamis, keadaan semakin memburuk dan kota menjadi kacau. Pintu-pintu gerbang ditutup, orang-orang berdesakan di benteng. Mereka yang mampu melarikan diri, dan yang tidak mampu tetap tinggal. Syekh Taqiyyuddin pergi pagi-pagi ke arah mereka. Pintu Nashr dibuka untuknya dengan susah payah. Dia mendapat banyak celaan dari orang-orang karena datang pada saat kepanikan. Kota tidak memiliki penguasa dan orang-orang menjadi kacau. Harga-harga melambung tinggi. Kemudian orang-orang terkurung, tidak ada yang berani keluar ke kebunnya, ladangnya, atau rumahnya. Keluar para perampok dan pencuri ke kebun-kebun memetik aprikot sebelum waktunya, begitu juga kacang, gandum dan jelai yang masih berbulir, selada, bawang putih, bawang merah, dan tanaman lainnya. Orang-orang dalam kebingungan, terputus dari berita kaum Muslim. Jalan dari Damaskus ke Kuswa terputus dalam satu jam. Yang satu kembali dalam keadaan terluka, yang lain dirampok. Ketakutan melanda kota dan seluruh perkampungan dikosongkan. Orang-orang hanya bisa naik ke menara-menara masjid untuk melihat-lihat. Kadang mereka berkata: “Kami melihat kegelapan dan debu dari arah Marj,” maka orang-orang takut dan yakin bahwa Tatar telah mengepung mereka. Mereka melihat ke arah Kuswa dan berkata: “Tidak ada apa-apa sama sekali di sana.” Mereka heran dengan apa yang Allah lakukan terhadap tentara ini hingga lenyap dalam sekejap padahal mereka banyak dan memiliki perlengkapan, senjata, pakaian, dan penampilan yang baik. Kemudian mereka berkata: “Mereka tidak memiliki orang yang menyatukan mereka dalam satu urusan, karena itulah terjadi kegagalan, penakutan, dan perpecahan.” Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali). (2/689-691)

Dia berkata: Setelah Zuhur, surat Sultan dibacakan kepada penguasa benteng yang memberitahukan tentang berkumpulnya pasukan pada siang hari Sabtu di Syaqhab. Setelah Asar, dibacakan catatan dari wakil Sultan, Amir Jamaluddin Aqusy al-Afram, yang isinya lebih jelas daripada surat Sultan. Isinya: bahwa pertempuran terjadi sejak Asar hari Sabtu hingga jam kedua hari Ahad, bahwa pedang bekerja di leher-leher mereka siang dan malam, bahwa mereka melarikan diri, sebagian dari mereka berlindung di bukit-bukit dan perbukitan, dan bahwa tidak ada yang selamat dari mereka kecuali sedikit. Maka petang itu hati orang-orang menjadi tenang. Mereka bergembira dengan peristiwa besar ini dan kemenangan yang diberkahi. Berita gembira ditabuh di benteng sejak awal hari tersebut. Setelah Zuhur, diumumkan di benteng untuk mengeluarkan orang-orang yang masuk karena kepanikan, karena Sultan akan turun ke sana.

Orang-orang mulai memindahkan barang-barang dan keperluan mereka. Antara Zuhur dan Asar juga turun hujan yang sangat deras. Pada hari Senin tanggal empat, Syekh Taqiyyuddin Ibnu Taimiyah dan sahabat-sahabatnya tiba pada pagi hari. Orang-orang memberi selamat dan bersalaman dengan mereka. Banyak orang keluar dari kota menuju tempat pertempuran untuk melihat-lihat dan mencari keuntungan. Wakil Syam dan tentara Syam datang bersama dan menuju ke arah Marj. Diumumkan: tidak boleh ada seorang pun dari mereka yang bermalam di kota, barangsiapa yang bermalam akan digantung. Alasannya adalah untuk mengejar cepat orang-orang yang melarikan diri. Diumumkan: barangsiapa yang ingin mendapat keuntungan dan berperang, hendaklah keluar ke Tsaniyah karena di sana ada sekelompok dari mereka. (2/695-696)

Dia berkata: Pada tahun tersebut (tahun 702), meninggal Syekh ahli hadits dan ahli fikih Najmuddin Musa bin Ibrahim bin Yahya asy-Syaqrawi al-Hanbali di Qasiun dan dimakamkan di sana keesokan harinya. Dia adalah orang yang memiliki keutamaan, mendengar dari Hafizh Dhiyauddin dan dari banyak orang lainnya. Dia banyak mempelajari keutamaan-keutamaan dan memiliki syair yang bagus. Di antaranya adalah syair yang dia gunakan untuk memuji guru kami, Syekh Taqiyyuddin Abul Abbas Ahmad Ibnu Taimiyah al-Harrani, semoga Allah merahmatinya:

  1. Sesungguhnya pembangun kemuliaan adalah keluarga Yang Allah berikan perhatian dalam rumah mereka
  2. Selalu ada imam di rumah mereka Yang berkata dengan keadilan dalam kepemimpinan
  3. Ahmad adalah Ahmad kedudukannya Dalam ilmu, keutamaan, dan pengetahuan
  4. Ambillah ilmu hadits berupa teks Yang disandarkan dengan pemindahan dan periwayatan
  5. Dia adalah imam untuk setiap keutamaan Yang Allah jaga dengan perlindungan

(2/734-735)

(Tahun 703)

Dia berkata: Pada pagi hari Senin tanggal dua belas bulan tersebut, Shadruddin tiba dengan pos kilat ke Damaskus. Sekelompok orang menyambutnya. Dia hadir di hadapan wakil Sultan di istana, kemudian meninggalkannya menuju Masjid Jami setelah Zuhur. Pintu Dar al-Khithabah dibuka untuknya, lalu dia masuk. Para pemberi selamat hadir: muazin, pembaca Al-Quran, dan orang-orang dari berbagai lapisan. Ketika waktu Asar tiba, dia shalat mengimami orang-orang di Maqsurah. Diketahui dari kekuatan jiwa dan semangatnya bahwa dia tidak akan meninggalkan satupun jabatan yang pernah dia pegang dan yang pernah dia laksanakan. Dia akan merebut kembali Asy-Syamiyah al-Juwwaniyah dari Kamaluddin Ibnu az-Zamlakani, dan Al-Adz-Rrawiyah dari Qadhi Jalaluddin. Orang-orang berbeda pendapat tentang urusannya. Ada kelompok yang memilihnya, dan ada kelompok yang tidak memilihnya. Mereka menjadi dua kelompok. Sekelompok orang sepakat untuk menentangnya bersama Syekh Taqiyyuddin Ibnu Taimiyah. Mereka berkumpul di al-Kallasah setelah Zuhur pada hari Rabu tanggal empat belas bulan tersebut. Mereka adalah orang banyak, dan mereka menuju ke Qasr al-Ablaq menemui wakil Sultan. Di antara mereka adalah Qadhi al-Qudhah Najmuddin Ibnu Shashra, Ibnu al-Hariri, Kamaluddin Ibnu asy-Syurisyi, Qadhi Jalaluddin al-Qazwini, Syekh Muhammad bin Qawwam, Syekh Ali al-Kurdi, Alauddin Ibnu al-Attar, Taqiyyuddin Ibnu Taimiyah, sekelompok fuqaha dan fakir, sebagian besar pedagang, dan orang-orang yang sangat banyak. Setiap orang dari mereka dikenal karena keshalihan, semangat, dan kekuatan jiwanya. Ketika mereka hadir di hadapan wakil Sultan, dia memuliakan dan menghormati mereka. Dia memenuhi permintaan mereka untuk merujuk kepada Sultan mengenai penunjukan ini dan memberitahu bahwa itu tidak pada tempatnya. Shadruddin dilarang untuk mengimami dan berkhutbah sampai datang jawaban Sultan tentang apa yang akan dijalankan kaum Muslim.

Dia memerintahkan agar surat-surat ditulis tentang hal itu, dan menetapkan bahwa dia tetap dalam jabatan sebagai wakil Syekh Zainuddin sebagaimana semula. Maka Syekh Abu Bakar al-Jazari mulai mengimami shalat Isya malam Kamis, dan yang berkhutbah adalah Qadhi Tajuddin al-Ja’bari. Jubah kehormatan telah disiapkan untuk khatib dan dibawa malam Kamis kepada wakil Sultan. Orang-orang berbicara dengan wakil Sultan tentang urusan Shadruddin yang disebutkan tadi mengenai permintaannya untuk melaksanakan apa yang ada dalam tawkilnya dari madrasah-madrasah di dalamnya. Itu pada pagi hari Ahad tanggal dua puluh delapan bulan tersebut, yaitu Madrasah asy-Syamiyah al-Barraniyah, asy-Syamiyah al-Juwwaniyah, Dar al-Hadits, dan al-Adz-Rrawiyah.

Ketika tiba hari kedua puluh satu bulan Rabiul Akhir, pos kilat datang membawa jawaban dari Sultan bahwa yang harus mereka jalankan dalam urusannya adalah hukum syariat yang mulia, dan bahwa jika kaum Muslim tidak memilihnya untuk berkhutbah dan mengimami, maka dia tidak boleh diangkat atas mereka. Tetapi mereka harus sepakat pada orang yang mereka anggap layak untuk itu, maka dialah yang akan diangkat. Urusan Dar al-Hadits dan asy-Syamiyah harus mengikuti ketentuan syarat wakif dan tidak boleh menyimpang darinya. Dalam surat-surat itu: bahwa kami tidak akan mengangkat kecuali orang yang termasuk dalam golongan orang-orang dekat, termasuk ulama, dan memiliki sifat-sifat yang baik. (2/764-766)

(Tahun 704)

Dia berkata: Pada tahun tersebut, hari Senin tanggal enam belas bulan Rajab, Syekh Taqiyyuddin Ibnu Taimiyah dan kelompoknya hadir di Masjid an-Naranj di samping mushalla. Hadir bersama mereka para tukang batu, dan mereka memotong batu yang orang-orang ziarahi. Mereka menyebutkan bahwa batu itu adalah sebab dibangunnya masjid dan datangnya nazar-nazar. Orang-orang memiliki banyak keyakinan tentangnya. (2/814)

Dia berkata: Pada tahun tersebut, pada bulan Dzulhijjah, Syekh Taqiyyuddin Ibnu Taimiyah berangkat ke Jabaliyah, bersamanya Amir Bahauddin Qaraqusyi. Mereka adalah orang-orang Jardiyun dan Kasrawaniyun, karena untuk perbaikan dan agar mereka datang untuk taat. Sebelum Syekh Taqiyyuddin berangkat, Sayyid Syarif Zainuddin Ibnu Adnan telah pergi kepada mereka. Dia pergi beberapa hari dan kembali tanpa tercapai kesepakatan. Maka pasukan dikerahkan dan orang-orang dikumpulkan dari seluruh negeri Syam. Terus berdatangan pasukan dari setiap penjuru sampai akhir bulan, sebagaimana akan disebutkan pada awal tahun tujuh ratus lima, insya Allah. (2/818-819)

(Tahun 705)

Dia berkata: Pada awal bulan Rajab, mereka memerintahkan orang-orang untuk berpuasa untuk shalat istisqa. Orang-orang keluar pada hari Kamis tanggal tiga bulan tersebut ke Lapangan Mizzah. Mimbar dibawa ke sana. Wakil Sultan keluar bersama seluruh amir, qadhi, ulama, fuqaha, pembaca Al-Quran, kaum sufi, dan masyarakat umum berjalan kaki ke sana sesuai dengan tata cara yang disyariatkan. Khatib Syarafuddin al-Fazari berkhutbah dengan khutbah yang bagus, dan khutbahnya semakin bagus dengan penyampaiannya, kefasihannya, dan gramatikanya. Itu adalah perkumpulan yang sangat besar. Setelah istisqa, Taqiyyuddin Ibnu Taimiyah dan Shadruddin Ibnu al-Wakil berdamai. Mereka bertemu, berdamai, dan saling menegur dengan lembut. (2/845)

Dia berkata: Pada hari Senin tanggal delapan Rajab, para qadhi dan fuqaha dipanggil, termasuk di antaranya Syekh Taqiyyuddin Ibnu Taimiyah, ke hadapan wakil Sultan di Qasr al-Ablaq. Ketika mereka berkumpul di hadapannya, dia meminta Taqiyyuddin untuk menjelaskan secara spesifik tentang akidahnya. Dia mendiktekan sebagiannya, kemudian menghadirkan “Akidah Wasithiyah”-nya. Akidah itu dibacakan dalam majelis dan dibahas di dalamnya. Masih ada tempat-tempat lain untuk majelis berikutnya.

Kemudian mereka berkumpul pada hari Jumat tanggal dua belas Rajab. Majelis juga dihadiri Syekh Shafiyyuddin al-Hindi. Mereka membahas dengannya dan menanyakan kepadanya tentang tempat-tempat di luar akidah. Mereka membuat Syekh Shafiyyuddin berbicara dengannya, kemudian mereka berpaling darinya. Mereka sepakat pada Syekh Kamaluddin Ibnu az-Zamlakani untuk berhadapan dan membahas dengannya tanpa kelonggaran, dan mereka ridha dengan itu. Urusan antara mereka berakhir dengan Taqiyyuddin mempersaksikan atas dirinya sendiri kepada yang hadir bahwa dia bermadzhab Syafii dan meyakini apa yang diyakini Imam asy-Syafii, semoga Allah meridhainya. Mereka ridha darinya dengan perkataan ini, dan masing-masing pulang ke rumahnya. Setelah itu terjadi perkataan yang ngawur dari para pengikut Syekh Taqiyyuddin Ibnu Taimiyah. Mereka berkata: “Kebenaran telah muncul bersama syekh kami Taqiyyuddin.” Maka salah seorang dari mereka dihadapkan kepada Qadhi Jalaluddin asy-Syafii di al-Adiliyah, lalu dia ditampar dan diperintahkan untuk diberi takzir. Dia diberi syafaat. Demikian juga Hanafi melakukan hal yang sama kepada dua orang lainnya.

Ketika tiba hari Senin, tanggal dua puluh dua bulan Rajab, Jamal al-Mizzi sang ahli hadits membacakan satu bab tentang bantahan terhadap kaum Jahmiyyah dari kitab “Perbuatan Para Hamba” karya Bukhari. Ia membacakan hal itu di bawah pepohonan dalam majelis umum yang diselenggarakan untuk membaca kitab “Bukhari”. Sebagian para ahli fikih yang hadir menjadi marah dan berkata: Kami yang dimaksud dengan pengkafiran ini. Mereka melaporkannya kepada Hakim Agung Najm al-Din Ibnu Shashra al-Syafi’i, maka ia memanggil al-Mizzi dan memerintahkan untuk menahannya. Berita ini sampai kepada Taqi al-Din Ibnu Taimiyyah, maka ia bangkit bersama para pengikutnya menuju penjara dan mengeluarkan al-Mizzi dari sana. Hakim Agung naik menghadap Amir, dan Taqi al-Din pun naik juga, sehingga bertemu antara dia dengan Hakim Najm al-Din. Taqi al-Din bersikap keras kepada Hakim Najm al-Din, dan menyebutkan wakilnya Jalal al-Din, dan bahwa ia telah menyakiti para pengikutnya karena ketidakhadiran wakil Sultan yang sedang berburu, dan terjadi berbagai perkara yang panjang penjelasannya. Maka wakil Kesultanan, Amir Jamal al-Din al-Afram, memerintahkan agar diumumkan di Damaskus dan sekitarnya dengan perintah Sultan: Barangsiapa berbicara tentang keyakinan, maka halal harta dan darahnya serta rumahnya akan dijarah. Tujuan wakil Sultan adalah meredakan fitnah.

Ketika tiba hari Selasa, akhir bulan Rajab, mereka mengumpulkan para hakim dan ahli fikih, dan diadakan majelis lain di lapangan dengan dihadiri wakil Sultan. Mereka berdebat panjang tentang masalah keyakinan. Shadr al-Din Ibnu al-Wakil mengeluarkan perkataan tentang makna huruf dan lainnya, maka Ibnu al-Zamalkani mengingkarinya. Kamal al-Din berkata kepada Hakim Agung Najm al-Din Ibnu Shashra: Apakah Anda tidak mendengar apa yang ia katakan? Namun ia seperti berpura-pura tidak tahu agar fitnah mereda. Kamal al-Din berkata: Apa yang menimpa kaum Syafi’iyyah tidaklah sedikit, Anda menjadi pemimpin mereka, sebagai sindiran terhadap apa yang ia tuduhkan kepada Shadr al-Din. Hakim Agung Najm al-Din mengira perkataan itu ditujukan kepadanya, maka ia berkata: Saksikanlah bahwa saya telah memberhentikan diri saya sendiri. Ia pun bangkit dari majelis. Amir Rukn al-Din Baibars al-‘Ala’i dan ‘Ala’ al-Din Aidughdi Shuqair menyusulnya dan mengembalikannya ke majelis. Terjadi banyak pembicaraan tentang hal itu.

Setelah itu, para amir melantiknya kembali sebagai hakim, dan hakim Hanafi memutuskan sahnya pelantikan itu, hakim Maliki mengesahkannya, dan ia menerima pelantikan di hadapan Amir dengan hadirnya amir-amir. Ketika ia turun ke rumahnya, para pengikutnya mencela dia, dan ia khawatir terhadap dirinya serta melihat bahwa pelantikan itu tidak sah. Maka ia naik ke makam mereka di kaki Gunung Qasiyun dan tinggal di sana serta bersikeras untuk mengundurkan diri. Keadaan pun tertunda. Setelah beberapa hari, Amir memerintahkan para wakilnya untuk menjalankan tugas sampai datang jawaban dari Sultan.

Adapun Hakim Jalal al-Din, ia menjalankan tugas, sedangkan Taj al-Din al-Ja’bari tidak menjalankan tugas hakim. Ketika tiba tanggal delapan belas bulan Sya’ban, datang seorang kurir dari Mesir membawa dua surat: surat untuk Amir dan surat untuk Hakim Agung tentang kembalinya ia ke jabatannya. Dalam surat itu mereka berkata: Kami gembira dengan kesepakatan pendapat para ulama terhadap keyakinan Syaikh. Maka hakim mulai menjalankan tugas pada hari Kamis, awal bulan Ramadhan, dan persoalan pun mereda.

Ketika tiba hari Senin, tanggal lima bulan Ramadhan, datang kurir dari Sultan yang dikenal dengan al-‘Umari ke Damaskus untuk memanggil Hakim Agung Najm al-Din Ibnu Shashra dan Taqi al-Din Ibnu Taimiyyah. Mereka berkata: Beritahukan kepada kami apa yang terjadi pada zaman Jaghan tahun enam ratus sembilan puluh delapan berkaitan dengan keyakinan Ibnu Taimiyyah dan adanya pengingkaran terhadapnya, dan tuliskan untuk mereka salinan dua keyakinan yang pertama dan yang terakhir. Mereka memanggil Hakim Jalal al-Din al-Hanafi dan menanyakan kepadanya tentang apa yang terjadi di masanya. Ia berkata: Dilaporkan kepada kami suatu perkataan yang ia katakan, maka kami memanggilnya dan ia menjawabnya. Demikian juga Hakim Jalal al-Din al-Qazwini, ia menghadirkan keyakinan yang pernah dihadirkan di zaman saudaranya, dan terjadi apa yang telah disebutkan sebelumnya. Mereka berbicara dengan Amir agar mengirim surat tentang urusan mereka, dan ia menyetujuinya.

Ketika tiba hari Sabtu, tanggal sepuluh Ramadhan, datang budak Amir dengan pos kilat dari Mesir dan memberitahu bahwa permintaan akan Ibnu Taimiyyah sangat banyak, dan bahwa hakim telah sangat gencar dalam perkaranya, dan bahwa Amir Rukn al-Din al-Jasyankar bersamanya dalam urusan ini. Ia menyampaikan banyak hal tentang kaum Hanabilah yang terjadi di negeri Mesir, dan bahwa sebagian dari mereka telah dihukum ta’zir, dan bahwa terjadi perdebatan antara hakim Hanbali dan Maliki. Ketika Amir mendengar perkataannya, tekadnya luntur untuk mengirim surat demi mereka. Kurir al-‘Umari hadir dan berkata kepadanya: Engkau harus mengirim mereka bersamaku, atau menulis jawaban atas surat itu. Ketika pagi hari Ahad, tanggal sebelas bulan Ramadhan, Syams al-Din Muhammad al-Mahmandar datang kepada Taqi al-Din Ibnu Taimiyyah dan berkata kepadanya: Amir telah memerintahkan agar Anda dan hakim berangkat besok. Ia menjawab dengan mendengar dan taat. Ia pergi kepada hakim dan memberitahunya, dan mereka mulai mempersiapkan keperluan mereka. Mereka berangkat pada hari Senin, tanggal dua belas bulan Ramadhan. Hakim berangkat pada jam lima siang, dan Taqi al-Din pada jam delapan, dan bersamanya kedua saudaranya: Syaikh Syaraf al-Din Abdullah dan Zain al-Din Abdurrahman, serta dari para pengikutnya: Syaraf al-Din Ibnu Manja, Taqi al-Din Abu Hafsh Ibnu Shuqair, Fakhr al-Din dan ‘Ala’ al-Din anak-anak al-Sha’igh, Syams al-Din al-Tadmuri dan lainnya. Pada hari Jumat, tanggal tujuh Syawal, pos kilat tiba di Damaskus dan memberitahu tentang kedatangan Hakim Najm al-Din dan Taqi al-Din ke Kairo pada hari Kamis, tanggal dua belas Ramadhan.

Pada hari Jumat, tanggal dua puluh tiga, diadakan majelis untuknya di rumah wakil Sultan di Benteng al-Qahir, dihadiri para hakim, ulama, ahli fikih, para amir, dan Amir Rukn al-Din al-Jasyankar setelah shalat Jumat.

Hakim Syams al-Din Ibnu ‘Adlan al-Syafi’i berbicara dan mengajukan gugatan syar’i terhadap Taqi al-Din Ibnu Taimiyyah.

Ia memuji Allah Ta’ala dan ingin berbicara tentang hal itu, dan ingin memasukkan masalah keyakinan setelah ceramahnya.

Dikatakan kepadanya: Telah diajukan gugatan syar’i terhadapmu, jawablah.

Ia ingin mengulang pujian dan menyebutkan dalil-dalil dan hujjah, namun tidak diizinkan, dan dikatakan kepadanya: Jawablah. Ia diam, maka didesak, dan perkataan itu diulang kepadanya berkali-kali.

Ia berkata kepada mereka: Di hadapan siapa gugatan ini?

Dikatakan kepadanya: Di hadapan Hakim Agung Zain al-Din al-Maliki. Ia berkata: Dia adalah musuhku dan musuh mazhabku. Sepertinya ia berkata buruk terhadap hakim… Urusan pun memanjang, dan ia tidak menambah perkataan kepada mereka selain ini…

Maka hakim Maliki memutuskan untuk menyeretnya keluar dari majelis dan memerintahkan untuk menahannya bersama kedua saudaranya Syaraf al-Din dan Zain al-Din. Mereka ditahan di salah satu menara benteng. Dikatakan: Sebagian budak para amir masuk menemui mereka membawa manisan, dan sekelompok amir datang menemuinya. Hal ini sampai kepada hakim, maka ia naik dan bertemu dengan para amir tentang urusannya, dan berkata: Harus diperketat jika ia tidak menerima, jika tidak, maka telah terbukti kekufurannya dan wajib dibunuh. Maka mereka memindahkan dia dan kedua saudaranya ke penjara bawah tanah di Benteng al-Jabal pada malam Idul Fitri.

Setelah Taqi al-Din Ibnu Taimiyyah bangkit dari majelis yang disebutkan, Hakim Agung Badr al-Din Ibnu Jama’ah berbicara tentang masalah Al-Qur’an Mulia dan sesuatu dari keyakinan Imam Syafi’i semoga Allah meridhainya. Dikatakan kepada Hakim Agung Syams al-Din al-Hanafi al-Saruji: Apa pendapat Anda tentang hal itu? Ia berkata: Demikianlah pendapat dan keyakinan saya. Setelahnya mereka berkata kepada Hakim Agung Syaraf al-Din al-Hanbali: Apa yang Anda katakan? Ia terbata-bata. Syaikh Syams al-Din al-Qarawi al-Maliki berkata kepadanya: Perbaharui keislamanmu atau kami akan menyamakan Anda dengannya. Saya mencintaimu dan menasihatimu. Ia pun malu, lalu Hakim Agung Badr al-Din Ibnu Jama’ah mentalqinkan apa yang harus ia katakan, maka ia mengucapkan apa yang ditalqinkan kepadanya, dan majelis pun bubar. Datang surat dari Syaikh ‘Ala’ al-Din al-Qunawi kepada Hakim Jalal al-Din al-Qazwini memberitahu tentang hal itu. Setelah itu datang surat dari Fakhr al-Din al-Ma’aiki kepada Syaikh Kamal al-Din Ibnu al-Zamalkani tentang hal itu, dan memberitahu bahwa Sultan memerintahkan pemberhentian sejumlah pejabat Damaskus yang akan disebutkan namanya.

Ia berkata: Hakim Agung menunjukkan surat-surat kepada Amir, maka ia memerintahkan untuk membacakannya. Mereka telah merencanakan untuk mengumpulkan kaum Hanabilah, dan mengumpulkan mereka di mihrab khutbah di masjid. Setelah shalat, para hakim hadir bersama Amir Rukn al-Din al-‘Ala’i ke mihrab. Dibacakan surat pengangkatan Hakim Najm al-Din dengan kelangsungan jabatannya sebagai hakim, hakim militer, pengawas wakaf dan penambahan gaji.

Setelahnya dibacakan surat yang berkaitan dengan penyelisihan Taqi al-Din Ibnu Taimiyyah dalam keyakinannya dan kewajiban para hakim khususnya kaum Hanabilah, dan di dalamnya terdapat ancaman keras berupa pemberhentian dari jabatan, penjara, penyitaan harta dan nyawa.

Sebagian dari salinan surat itu:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Segala puji bagi Allah yang Maha Suci dari sesuatu yang serupa dan sepadan, dan Maha Tinggi dari sesuatu yang menyerupai, maka Dia berfirman: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar” (Asy-Syura: 11). Kami memuji-Nya karena telah memberi kami ilham untuk mengamal dengan sunnah dan kitab, dan menghilangkan di masa kami sebab-sebab keraguan dan kebimbangan. Kami bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, kesaksian orang yang mengharap dengan keikhlasannya balasan dan tempat kembali yang baik, dan mensucikan Penciptanya dari berada di suatu arah dengan firman-Nya: “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Al-Hadid: 4).

Kami bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang telah menunjukkan jalan keselamatan bagi siapa yang menempuh jalan keridhaannya, dan memerintahkan untuk berpikir tentang tanda-tanda kekuasaan Allah, serta melarang berpikir tentang Zat-Nya. Semoga Allah melimpahkan shalawat atas Nabi Muhammad dan keluarganya serta para sahabatnya yang dengannya tinggi panji iman dan terangkat, dan dengannya kokoh pondasi agama yang lurus yang disyariatkan, dan dengannya padam perkataan orang yang menyimpang dari kebenaran dan condong kepada bid’ah. Amma ba’du:

Sesungguhnya keyakinan-keyakinan syar’i, dan kaidah-kaidah Islam yang dijaga, dan rukun-rukun iman yang tinggi, dan mazhab-mazhab agama yang diridhai, adalah fondasi yang dibangun atasnya, dan tempat kembali yang dirujuk setiap orang kepadanya, dan jalan yang barangsiapa menempuhnya maka ia telah menang dengan kemenangan yang besar, dan barangsiapa menyimpang darinya maka ia telah pantas mendapat azab yang pedih. Karena itu wajib dilaksanakan hukum-hukumnya, dan dikuatkan kelangsungannya, serta dijaga keyakinan umat ini dari perselisihan.

Dan banyak perkataan dari jenis dan sejenisnya. Setelah pembacaan, mereka menghadirkan kaum Hanabilah kepada Hakim Agung al-Maliki, dengan hadirnya rekan-rekannya para hakim Syafi’i, Hanafi, dan Taqi al-Din al-Hanbali. Mereka ditanya tentang apa yang mereka yakini. Mereka berkata: Kami meyakini apa yang diyakini Imam Syafi’i Muhammad bin Idris semoga Allah meridhainya, yaitu perkataannya: Saya beriman kepada Allah dan apa yang datang dari Allah sesuai maksud Allah, dan saya beriman kepada Rasul Allah dan apa yang datang dari Rasul Allah sesuai maksud Rasul Allah. Setiap orang dari mereka mengucapkan perkataan ini. Kemudian para hakim bangkit. Hakim Hanbali pergi ke menara barat, hakim Maliki ke rumahnya, hakim Syafi’i pergi ke Hakim Syams al-Din al-Hariri untuk berduka dengannya karena pemecatannya. Mereka menyebutkan tentangnya—dan Allah Maha Mengetahui—bahwa dialah yang berusaha memecatnya. Syams al-Din al-Hanafi al-Azra’i duduk untuk mengadili di maqam Ibnu ‘Arwah, dan orang-orang memberikan selamat kepadanya dengan pakaian kehormatan.

Ia berkata: Menyebutkan sebab-sebab yang menyebabkan fitnah terhadap Syaikh Taqi al-Din dan kaum Hanabilah.

Terjadi bahwa sebagian pengikutnya mendatangkan untuknya pada tahun tujuh ratus tiga… setiap kelompok menurut mazhab mereka.

Juga di dalamnya: Bahwa semua orang yang berada di negeri Mesir dari hakim, syaikh, fakir, ulama, orang awam, dan orang bodoh bersatu melawan Syaikh Taqi al-Din al-Hanbali, kecuali Hakim Syams al-Din al-Hanafi karena ia membela dia, dan Hakim Agung Badr al-Din Ibnu Jama’ah diam. Selain keduanya, semua orang membebaskan lidah mereka terhadapnya.

Kesimpulan perkara adalah bahwa terjadi di Kairo terhadap kaum Hanabilah dari gangguan, penghinaan, dan hukuman yang sangat besar sebelum pemanggilan Syaikh Taqi al-Din, setelah kedatangannya dan penahanannya. Mereka semua dipaksa untuk menarik kembali keyakinan mereka dan dipaksa mengatakan: Al-Qur’an adalah makna yang berdiri pada diri, dan bahwa apa yang ada dalam mushaf adalah ungkapan darinya, dan bahwa apa yang ada dalam mushaf, dihafal dalam dada, dan dibaca dengan lisan adalah makhluk, dan yang qadim adalah yang berdiri pada diri. Mereka dipaksa untuk menafikan masalah sifat al-‘uluw (ketinggian Allah) dan menyatakannya secara tegas, dan bahwa semua hadits tentang sifat tidak dijalankan sesuai zhahirnya dengan cara apa pun. Dihukum terhadap mereka jika tidak mengatakan hal itu dengan tuduhan tajsim (penyerupaan Allah dengan makhluk). Terjadi terhadap mereka banyak gangguan. Hakim mereka Syaraf al-Din sedikit ilmunya, maka ia tidak tahu bagaimana menjawab dan ragu-ragu. Ketiga rekannya memberitahunya bahwa apa yang diajukan dan diwajibkan kepadanya adalah yang benar, maka ia menyetujui mereka.

Kemudian ia memaksa sekelompok pengikutnya untuk menerima pernyataan ini dan mengambil tulisan tangan mereka.

Dan termasuk orang yang berbicara dalam masalah akidah adalah Qadhi Zainuddin al-Maliki sebagai pembelaan terhadap Syekh Nashr al-Manbajiyi, dan sebagai perlawanan terhadap dua rekannya, Syarafuddin al-Hanbali dan seorang syekh Maliki yang dikenal dengan nama Syarafuddin al-Qarawi, dan membantu mereka sekelompok orang dari kalangan Syafi’iyah dan lainnya. Mereka telah sepakat dengan Amir Ruknuddin Baibars al-Manshuri yang dikenal dengan al-Utsmani dan para pengatur negara untuk melemahkan pendapat ini yang diyakini oleh kalangan Hanabilah, dan bahwa itu adalah bid’ah. Mereka menetapkan hal itu bersamanya, sehingga dia berdiri membela mereka dengan sepenuh-penuhnya, dan tidak memungkinkan seorang pun untuk menentangnya atau melakukan sesuatu yang bertentangan dengannya, maka tercapailah tujuan yang mereka kehendaki dalam hal itu.

Dan saya membaca dalam sebagian surat yang diterima bahwa telah terjadi pada kalangan Hanabilah sesuatu yang membuat manusia tidak mampu mengungkapkannya, dan dalam sebagian surat lainnya: “Dan sungguh telah terjadi pada kelompok Hanbaliyah sesuatu yang belum pernah terjadi yang serupa dengannya.” (2/859-860)

Dia berkata: Dan pada tahun itu, pada hari terakhir bulan Ramadhan, malam hari raya, Amir Saifuddin Sallar dengan jabatannya menghadirkan di benteng Kairo tiga orang qadhi yaitu Syafi’i, Maliki, dan Hanafi, dan dari kalangan fuqaha: al-Baji, al-Jazari, dan al-Namrawi, dan membicarakan tentang mengeluarkan Taqiyuddin Ibnu Taimiyah. Maka mereka sepakat bahwa harus disyaratkan kepadanya beberapa hal dan dia harus diwajibkan untuk kembali dari sebagian akidahnya. Lalu mereka mengutus kepadanya orang yang menghadirkannya agar mereka berbicara dengannya tentang hal itu, namun dia tidak menjawab untuk hadir. Dan utusan kepadanya diulang dalam hal itu sebanyak enam kali, dan dia tetap pada pendirian untuk tidak hadir pada waktu ini. Maka majelis menjadi panjang bagi mereka, dan mereka pulang tanpa hasil apa pun.

Dan pada tanggal dua puluh delapan Dzulhijjah, wakil Sultan di Damaskus mengabarkan tentang tiba surat dari Ibnu Taimiyah, dan memberitahukan hal itu kepada sekelompok orang yang hadir di majelisnya. Kemudian dia memujinya dan berkata: Saya tidak pernah melihat orang sepertinya, dan tidak ada yang lebih pemberani darinya. Dia menyebutkan keadaannya di dalam penjara dalam hal tawajjuh kepada Allah Ta’ala, dan bahwa dia tidak menerima sesuatu pun dari pakaian sultani dan tidak dari pemberian-pemberian sultani, dan tidak ternoda dengan sesuatu pun dari hal itu.

Dan pada tahun itu, pada hari Kamis tanggal dua puluh tujuh Dzulhijjah, kedua saudara Syekh Taqiyuddin dipanggil, yaitu Syarafuddin Abdullah dan Zainuddin Abdurrahman ke majelis wakil Sultan Amir Saifuddin Sallar, dan hadir Qadhi al-Qudhah Zainuddin al-Maliki. Terjadi pembicaraan yang panjang di antara mereka, dan mereka berdua dikembalikan ke tempat mereka setelah Syarafuddin berdiskusi dengan qadhi dan mengungguli dia dalam penukilan dan pengetahuan, dan menyalahkannya dalam beberapa tempat di mana dia mengklaim adanya ijmak.

Dan pada hari Jumat setelah hari pertama, Syarafuddin dihadirkan sendirian dan hadir Qadhi Syamsuddin Ibnu Adlan di majelis wakil Sultan Saifuddin Sallar dan berbicara dengannya. Maka dia mengungguli dia tetapi tidak ada yang membantunya. Dan dikatakan: Sungguh tampak dari wakil Sultan sikap fanatik terhadap Syekh dan saudara-saudaranya, wallahu a’lam. (2/1125-1127)

(Tahun 706)

Dia berkata: Dan pada tahun itu pada awal bulan Rabiul Awal, tiba Amir Husamuddin Muhanna bin Amir Syarafuddin Isa bin Muhanna ke Damaskus, dan menuju ke Kairo. Dia tiba di sana pada tanggal sembilan belas bulan itu, dan bertemu dengan Sultan lalu Sultan memuliakannya dan mengenakan pakaian kebesaran kepadanya dan menambah kemuliaannya. Dia berbicara dengan Sultan tentang urusan Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, maka Sultan mengabulkan permintaannya tentang hal itu. Dia sendiri hadir ke pintu penjara menemui Syekh Taqiyuddin, lalu mengeluarkannya pada hari Jumat tanggal dua puluh tiga Rabiul Awal ke rumah Amir Saifuddin Sallar di benteng. Hadir beberapa fuqaha, dan terjadi diskusi yang panjang di antara mereka, dan shalat Jumat terlewatkan di antara mereka. Kemudian mereka berkumpul sampai Maghrib dan urusan belum selesai. Kemudian mereka berkumpul dengan perintah Sultan pada hari Ahad tanggal dua puluh lima bulan itu sepanjang hari. Hadir sekelompok orang lebih banyak dari yang pertama. Hadir Syekh Najmuddin Ibnu ar-Rif’ah, Alauddin al-Baji, Fakhruddin Ibnu Binti Abi Sa’d, Syamsuddin al-Jazari al-Khatib, Izzuddin an-Namrawi, Syamsuddin Ibnu Adlan, menantu al-Maliki, dan sekelompok fuqaha. Para qadhi tidak hadir, mereka dipanggil dan meminta maaf dengan alasan sakit, dan sebagian dari mereka mengikuti teman-temannya. Wakil Sultan menerima udzur mereka dan tidak membebankan mereka untuk hadir setelah Sultan memerintahkan kehadiran mereka. Majelis bubar dengan baik. Dan Syekh Taqiyuddin bermalam di rumah wakil Sultan.

Dia menulis surat dengan tangannya sendiri ke Damaskus pada pagi Senin tanggal dua puluh enam bulan itu yang berisi tentang keluarnya dalam kebaikan dan kemuliaan, dan bahwa dia tinggal di rumah Ibnu Syuqair di Kairo, dan bahwa Amir Saifuddin Sallar memerintahkan untuk menunda kepergiannya dari Amir Husamuddin Muhanna beberapa hari. Muhanna tiba di Damaskus pada hari Kamis tanggal enam Rabiulakhir dan tinggal tiga hari lalu berangkat.

Dan pada pagi hari Kamis tanggal dua puluh Rabiulakhir, tiba dari Syekh Taqiyuddin sebuah surat tertanggal malam Jumat tanggal empat belas Rabiulakhir. Dia menyebutkan di dalamnya bahwa diadakan untuknya majelis ketiga di Madrasah Shalihiyah di Kairo setelah keberangkatan Muhanna pada hari Kamis tanggal enam bulan itu. Terjadi kesepakatan tentang mengubah lafazh-lafazh dalam akidah, dan majelis bubar dengan banyak kebaikan, dan bahwa dia dalam keadaan sehat, dan bahwa dalam penundaan kepergiangannya ada manfaat dan kemaslahatan. (2/1168-1169)

Dia berkata: Dan pada sepuluh hari tengah bulan Syawal, berkumpul Syekh Ibnu Atha’ as-Sakandari dan syekh khanqah serta semua kaum sufi, mereka lebih dari lima ratus orang. Mereka naik ke benteng. Ketika mereka sampai di sana, ada sekelompok orang dari pemilik keahlian dan perdagangan, lalu mereka bercampur dengan mereka, maka jadilah dari keseluruhan mereka kumpulan yang besar. Ketika pihak negara melihat hal itu, dipanggillah dari tokoh-tokoh mereka sekitar sepuluh orang. Dikatakan: Apa keinginan kalian? Mereka berkata: Sesungguhnya Taqiyuddin Ibnu Taimiyah berbicara tentang para masyayikh, dan dia berkata: Tidak boleh beristighatsah dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam. Mereka meminta agar diadakan majelis untuk mereka dan untuknya. Maka urusan itu dikembalikan kepada Qadhi al-Qudhah Badruddin Ibnu Jama’ah asy-Syafi’i, lalu dia menyerahkannya kepada Qadhi Nuruddin al-Maliki az-Zawawi. Maka keadaan mengharuskan pembuangan dia ke Syam, lalu dia berangkat dengan pos, kemudian dikembalikan dan dipenjara di penjara hakim pada tanggal delapan belas Syawal, semoga Allah memperlakukannya dengan kelembutan-Nya. (2/1174-1175)

Dia berkata: Dan pada tahun itu … meninggal dunia ash-Shahib yang besar, pemimpin yang alim, sempurna lagi tunggal, Tajuddin Muhammad bin ash-Shahib Fakhruddin Muhammad bin ash-Shahib al-Kabir al-Wazir Bahauddin Ali bin Muhammad bin Salim al-Mishri … yang dikenal dengan Ibnu Hinna rahimahullahu Ta’ala … Shalat jenazahnya dipimpin pertama kali oleh Syekh saudara al-Marjani, dan kedua kalinya oleh Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah. Jenazahnya sangat dihadiri orang. (2/1183-1184)

(Tahun 709)

Dia berkata: Dan pada tahun itu pada akhir bulan Shafar, mereka membuang Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah dari Kairo ke Iskandariah bersama seorang amir muqaddam, dan tidak diizinkan seorang pun dari kelompoknya untuk bepergian bersamanya. Kabar tentangnya sampai ke Damaskus setelah sepuluh hari. Keberangkatannya dari Kairo adalah malam Jumat, dan kedatangannya di Iskandariah adalah hari Ahad. Dia masuk dari pintu kecil ke rumah Sultan, dan dipindahkan pada malam hari ke sebuah menara di timur negeri. (2/1244)

Dia berkata: Dan pada tanggal delapan Syawal, Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah dipanggil dari Iskandariah lalu tiba di Kairo tanggal delapan belas bulan itu dan bertemu dengan Sultan pada hari Jumat tanggal dua puluh empat bulan itu. Sultan memuliakannya dan menemuinya di majelis yang dihadiri para qadhi Mesir dan Syam serta para fuqaha. Dia memperbaiki hubungan antara dia dan mereka. Kemudian dia tinggal di Kairo dan menempati tempat dekat makam Husain bin Ali radiyallahu anhum. Orang-orang berdatangan kepadanya, para amir, tentara, dan sekelompok fuqaha. Sebagian dari mereka meminta maaf kepadanya dan melepaskan diri dari apa yang terjadi darinya. (2/1259)

 

 

04 – Surat dari Syekh Ahmad bin Muhammad bin Murri al-Hanbali (setelah tahun 728) kepada murid-murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Dan janganlah [kalian melupakan penjelasan-penjelasan] guru kita yang cerdik dan kritis [terhadap makna-makna] firman Allah Tabaraka wa Ta’ala dalam menjelaskan empat hikmah yang Allah Subhanahu titipkan dalam kekalahan pasukan Rasul pada hari Uhud, yaitu firman-Nya: “Dan agar Allah mengetahui orang-orang yang beriman dan agar Dia menjadikan sebagian dari kamu sebagai syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman dan membinasakan orang-orang kafir.” (Surah Ali Imran: 140-141).

Maka janganlah kalian mengabaikan perkara pemikiran yang shalih dalam makna-makna mulia ini dan lainnya. Janganlah kalian bersedih karena apa yang telah terjadi, karena sesungguhnya Allah itu Hidup tidak akan mati, dan Dia Subhanahu yang menjamin pertolongan agama dan ahlinya, yang menguji hamba-hamba-Nya dengan apa yang Dia timpakan kepada mereka, Yang Maha Mengetahui seluruh kemaslahatan mereka, Yang Maha Penyayang kepada mereka, dan Yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki kepada jalan yang lurus. Tidak akan binasa di sisi Allah kecuali orang yang memang akan binasa, dan orang yang berbahagia adalah yang melaksanakan kewajibannya hingga wafatnya. Barangsiapa menginginkan pahala yang besar dan sempurna, nasihat kepada manusia, penyebaran ilmu imam ini yang telah direnggut dari antara kita oleh takdir kematian, dan khawatir akan hilangnya banyak ilmu-ilmunya yang tersebar dan unggul seiring bergantinya malam dan siang, maka jalan baginya adalah: bersungguh-sungguh dengan keras untuk menulis karya-karyanya yang kecil dan besar sebagaimana aslinya tanpa ada perubahan dan tanpa pengurangan di dalamnya, meskipun ditemukan di dalamnya banyak pengulangan, meneliti dan memperbanyak salinan-salinannya dan menyebarkannya, mengumpulkan yang serupa dan mirip dalam satu tempat, memanfaatkan kehidupan orang yang masih tersisa dari para saudara besar, seolah-olah kita semua sudah kehilangan sepenuhnya dan telah tiba waktunya. Cukuplah bagi kita apa yang ada [pada kita atas kelalaian kita] berupa penyesalan yang besar.

Maka demi wajah Allah wahai para saudara, janganlah kalian memperlakukan waktu sekarang dengan apa yang kalian perlakukan pada waktu yang [telah berlalu, karena kehidupannya] rahimahullah wa radhiyallahu anhu dahulu masih diharapkan untuk mengganti [yang tertinggal] yang telah lewat, dan menyempurnakan tujuan dan akhir-akhir. Maka manfaatkanlah pencapaian setiap perkara penting pada waktunya tanpa malas dan tanpa bosan, tanpa kesibukan lain dan tanpa kikir. Karena perkara penting yang besar ini adalah sesuatu yang paling berhak [dikeluarkan] untuk mendapatkannya harta yang banyak. Kalian telah mengetahui bahaya bermalas-malasan dan menunda-nunda, dan bahwa hal itu termasuk penghalang terbesar dari kemaslahatan dunia dan akhirat.

Maka jagalah Syekh Abu Abdullah – semoga Allah membantunya – dan apa yang ada padanya dari simpanan dan hal-hal berharga. Tegakkanlah dia untuk perkara penting yang mulia ini dengan sebanyak yang kalian mampu meskipun kalian kadang merasa sakit dari tuntutannya; karena dia telah menjadi tunggal dalam bidangnya, dan tidak ada yang menggantikan kedudukannya dari seluruh kelompok secara mutlak. Semua keadaan dalam kehidupan pasti ada gangguan dan kesulitan, maka hitunglah bantuan kepadanya sebagai amal di sisi Allah Ta’ala, dan bangkitlah dengan keseluruhan biayanya. Karena kesulitan itu akan hilang, dan kebaikan itu harus dimanfaatkan. Maka tulislah apa yang ada padanya dan biarlah dia menulis apa yang ada pada kalian.

Dan saya menitipkan kepada Allah agama-Nya dan apa yang ada pada-Nya, dan saya berwasiat kepadanya juga dengan kesabaran dan bermuamalah dengan Allah Subhanahu dalam apa yang dia hadapi, dan meskipun para saudara mengurangi haknya. Hendaklah dia meminta bagiannya dari Allah Ta’ala dengan bertawakal kepada-Nya dalam mewujudkan yang terkandung, dan bersikap proporsional dalam permintaan, karena apa yang telah ditakdirkan untuknya pasti [akan terjadi].

Dan sesungguhnya di antara yang saya dorong semangat kalian yang shalih untuk melakukannya adalah: mendapatkan lembaran-lembaran [«Bantahan terhadap akidah-akidah] kaum filsuf» karena tidak ada dalam kehidupan karya ini salinan [lengkap] selain salinan yang dengan tulisan tangan saya, dan dahulu berada di gudang sebelah utara madrasah guru kami. Syekh Syarafuddin – rahimahullah Ta’ala – mengabarkan kepada saya bahwa dia menyimpan kumpulan itu di tempat yang kokoh. Dia sangat bakhil kepada saya untuk mengirimkan lembaran-lembaran ini waktu keberangkatan dari Syam, wa la quwwata illa billah. Lembaran keempat darinya diambil oleh Abu Abdullah dari tangan saya dan ada padanya. Salinan asli yang dengan tulisan tangan Syekh adalah dalam ukuran besar, dan dahulu juga ada di sana. Telah tersisa dari akhir salinan saya kurang dari satu lembar. Maka sampaikanlah hal itu kepada Abu Abdullah, agar dia melengkapi salinan itu hingga sampai pada ucapannya: “Maka ini satu bab, dan itu bab lain, wallahu a’lam bish-shawab.”

Dan untuk ath-Thawasi terdapat salinan dengan tulisan tangan Kayis, maka sempurnakanlah, karena ia adalah karya yang tidak ada tandingannya, dan tidak ada yang dapat meruntuhkan para filsuf sepertinya.

Dan kepada Allah kita memohon pertolongan untuk mengumpulkan kemaslahatan-kemaslahatan agung ini setelah bercerai-berai, dan kita berlindung kepada Allah dari penghalang-penghalang yang muncul dan bencana-bencana yang ditimbulkannya, karena kehilangan itu sulit, puncak kelalaian itu buruk, dan memanfaatkan kesempatan adalah salah satu urusan terpenting dan paling menyeluruh untuk kemaslahatan dunia dan akhirat, dan tidak memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu, (surat an-Ankabut: 43) dan akan menyesal orang-orang yang lalai dalam mengusahakan sisa-sisa urusan sempurna ini serta orang-orang yang menunda-nunda, sebagaimana menyesalnya orang-orang yang berandai-andai dengan panjangnya umur sang Syaikh dan orang-orang yang tertipu.

Dan urusan-urusan yang telah saya isyaratkan dalam lembaran-lembaran ringan ini adalah pintu-pintu nasihat yang paling berharga dan paling asasi sepengetahuan saya, karena yang telah pergi telah berlalu, dan waktu adalah pedang yang terhunus, dan setiap orang yang pergi setelahnya dari para pembesar saudara-saudara tidak ada penggantinya, dan zaman dalam kemunduran, dan keburukan-keburukan dalam pertambahan.

Dan jika dikumpulkan karya-karya mulia yang banyak ini, dan dipindahkan dari draft-draft yang belum dipindahkan, dan diterima pendapat Abu Abdullah dalam hal itu; karena dia mengetahui urusannya dengan baik, dan dia adalah orang yang paling tahu dalam jamaah tentang tempat-tempat kemaslahatan tunggal yang telah terputus sumbernya, dan dibandingkan setiap yang ditulis dengan yang paling saleh dalam jamaah, dengan salinan yang paling baik, atau dengan salinan asli, dan dikonsultasikan Syaikh kami al-Hafizh Jamaluddin yang merupakan sisa kebaikan karena kepercayaannya dan pengalamannya dan belas kasihannya dan semangatnya terhadap munculnya bahan-bahan baik ini dalam keberadaan, dan karena luasnya ilmunya dan penguasaannya terhadap banyak maksud-maksud Syaikh kami sang penyusun. Dan dikonsultasikan kedua Syaikh yang saleh, para ulama yang mulia lagi teliti: Syarafuddin al-Qadhi dan Syamsuddin bin Abi Bakr, karena keduanya adalah yang paling ahli dalam jamaah secara mutlak dalam metode-metode akal dan lainnya, dan paling hafal dalam pembahasan-pembahasan ushul, dalam hal-hal yang meragukan dari maksud-maksud, karena takut dari kesalahan baca dan perubahan sebagian makna, dan dikonsultasikan selain mereka dari para pembesar jamaah juga, maka di dalam itu ada kebaikan yang banyak, dan penggalian yang besar, insya Allah Taala.

Dan Syaikh Abu Abdullah semoga Allah menjaganya, dia tanpa ragu adalah penghubung sistem urusan sempurna ini, maka bantulah dia dan hilangkan kesulitannya, dan satukan tekadnya, dan manfaatkanlah sisa hidupnya, dan terimalah nasihat saya dalam hal yang saya yakini dari semua ini, sebagaimana saya meyakini bahwa memanfaatkan waktu-waktu Syaikh dan mengumpulkannya untuk penulisan dan kesempurnaan dan pencocokan adalah lebih baik daripada menghabiskannya dalam sekadar percakapan yang menyenangkan dan persahabatan semata, dan jiwa-jiwa telah lalai banyak dalam keadaan itu. Dan Allah Yang Dimohon agar melindunginya dari bahaya kehilangan sempurna yang tidak ada gantinya dalam kondisi apa pun, sesungguhnya Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Maha Pemurah lagi Maha Mulia.

Maka jika Allah Taala memudahkan dan menolong dalam urusan-urusan besar ini, maka insya Allah Taala karya-karya Syaikh kami akan menjadi simpanan yang baik untuk Islam dan pemeluknya, dan perbendaharaan besar bagi siapa yang menyusun darinya dan mengutip, dan membela manhaj Salaf berdasarkan kaidah-kaidahnya dan menggali dan meringkas hingga akhir zaman insya Allah Taala; Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Allah tidak henti-hentinya menanam dalam agama ini tumbuhan yang dipergunakan-Nya dalam ketaatan kepada Allah”, dan beliau bersabda: “Tidak henti-hentinya segolongan dari umatku yang tampak di atas kebenaran, tidak merugikan mereka orang yang menghinakan mereka dan tidak pula orang yang menyelisihi mereka hingga datang hari Kiamat”. Dan Allah Subhanahu berfirman dalam kitab-Nya: “Dan Dia menciptakan apa yang tidak kalian ketahui” (surat an-Nahl: 8). Dan sebagaimana Syaikh telah mengambil manfaat dari perkataan para Imam sebelumnya maka demikian pula akan mengambil manfaat dari perkataannya orang-orang setelahnya insya Allah Taala.

Maka ikutilah perintah Allah, dan tujulah ridha Allah dengan mengumpulkan semua yang kalian mampu dari jenis-jenis karya besar, [dan pecahan-pecahan masalah] kecil, dan dari salinan-salinan fatwa yang tersebar, dan seluruh perkataannya yang telah dipenuhi, dan alhamdulillah, dengan faedah-faedah dan hal-hal langka dan unik, maka bangkitkanlah semangat-semangat, dan keluarkanlah harta-harta yang banyak dalam pencapaian tujuan besar ini yang tidak ada tandingannya, maka inilah yang wajib bagi kita dari sisi sebab-sebab, dan kesempurnaan pada Rabb semua rabb dan Penyebab semua sebab dan Pembuka semua pintu, Yang menegakkan agama-Nya, dan menolong kitab-Nya dan sunnah Nabi-Nya secara terus-menerus, dan menetapkan siapa yang Dia pilih untuk itu dari jenis-jenis khusus dan umum, dan setiap orang akan diberi balasan pada hari Kiamat sesuai amalnya, dan Rabbmu tidak menganiaya.

Dan telah diketahui bahwa Imam Ahmad bin Hanbal melarang pada masa hidupnya dari penulisan perkataannya agar hati terkumpul pada sumber asli yang agung, dan ketika dia wafat para sahabatnya mengusahakan kembali urusan besar itu, maka mereka memindahkan ilmunya dan menjelaskan maksud-maksudnya, dan menyiarkan faedah-faedahnya, maka menang metodenya, dan diikuti jejak-jejaknya karena hal itu, dan keberadaan adalah dengan sifat ini sejak dahulu dan sekarang.

Maka janganlah kalian berputus asa dari penerimaan hati-hati yang dekat dan jauh terhadap perkataan Syaikh kami, karena sesungguhnya alhamdulillah ia diterima dengan suka maupun terpaksa, dan di mana puncak-puncak penerimaan hati-hati yang selamat terhadap kalimat-kalimatnya, dan pengikutan semangat-semangat yang tajam terhadap pembahasan-pembahasan dan tarjih-tarjihnya, dan demi Allah insya Allah sungguh akan membangkitkan Allah Subhanahu untuk menolong perkataan ini dan menyebarkannya dan mendokumentasikannya dan memahaminya, dan menggali maksud-maksudnya dan mengagumi keajaiban-keajaibannya dan keunikan-keunikannya, orang-orang yang hingga sekarang masih dalam tulang punggung ayah-ayah mereka. Dan ini adalah sunnah Allah yang berlaku pada hamba-hamba-Nya dan negeri-negeri-Nya, dan yang telah terjadi dari urusan-urusan ini dalam alam tidak dapat dihitung jumlahnya kecuali oleh Allah Taala.

Dan dari yang diketahui bahwa al-Bukhari dengan keagungan kedudukannya diusir sebagai orang buangan, kemudian meninggal setelah itu sebagai orang asing, dan Allah Subhanahu menggantinya tentang hal itu dengan apa yang tidak terlintas dalam pikirannya, dan tidak pernah melintas dalam khayalnya, dari kecenderungan semangat-semangat pada kitabnya, dan kuatnya perhatian padanya, dan mendahulukannya atas semua kitab-kitab sunnah, dan itu karena kesempurnaan keshahihannya, dan keagungan kedudukannya, dan baiknya susunannya dan penyusunannya, dan baiknya niat penyusunnya, dan selain itu dari sebab-sebab.

Dan kami berharap bahwa karya-karya Syaikh kami Abul Abbas akan mendapat dari warisan ini bagian yang banyak insya Allah Taala, [karena dia telah membangun] keseluruhan urusan-urusannya di atas Kitabullah dan Sunnah, dan nash-nash para Imam [Salaf umat. Dan dia bermaksud] menetapkan kebenaran dengan segala kesungguhannya dan menolak kebatilan [dengan segala yang mampu dia lakukan], tidak takut menyelisihi siapa pun dari manusia dalam menolong manhaj ini, [dan menjelaskan] hakikat ini.

Dan telah diketahui bahwa kitab-kitabnya memiliki kekhususan dan manfaat dan kebenaran, dan perluasan dan tahqiq, dan kesempurnaan dan kekamilan, dan kemudahan ungkapan-ungkapan, dan pengumpulan pecahan-pecahan yang berserakan, dan pernyataan dalam tempat-tempat sempit bab-bab dengan hakikat-hakikat pemisah perkataan, yang tidak dimiliki oleh kebanyakan penyusun, dalam bab-bab masalah ushulul din, dan lainnya dari masalah-masalah para muhaqqiq, karena dia menjadikan nukilan shahih sebagai asalnya dan sandarannya dalam semua yang dibangun di atasnya, kemudian dikuatkan dengan hal-hal akal yang benar yang sesuai dengan itu dan dengan lainnya, dan bersungguh-sungguh untuk menolak semua yang bertentangan dengan itu dari syubhat-syubhat rasional, dan berkomitmen untuk memecahkan setiap syubhat kalam dan falsafah sebagaimana telah saya isyaratkan sebelumnya tentang hal itu, dan berkomitmen juga mengumpulkan antara shahihul manqul (nukilan yang shahih) dan shahrihul ma’qul (yang rasional yang jelas), dan memutuskan bahwa anggapan dua dalil qath’i yang saling bertentangan adalah mustahil jika keduanya akal atau satu akal dan satu nukilan, dia berkata: karena dalil adalah yang wajib tetapnya yang ditunjukkan, maka bisa jadi tidak keduanya qath’i, atau bisa jadi tidak yang ditunjukkan keduanya saling bertentangan. Dan berdasarkan maksud mulia ini dibangun perkataannya yang kukuh, dan pembagian-pembagiannya yang mengagumkan yang menyeluruh lagi murni dalam awal kaidahnya yang besar lagi cemerlang yang dia susun dalam [menolak “pertentangan] akal dengan nukilan”. Maka adalah maksud-maksud dan tahqiq-tahqiqnya dalam [bab besar] ini sangat menakjubkan dari keajaiban-keajaiban yang ada.

Dan dia biasa berkata: tidak terbayangkan [bahwa dua hadits bertentangan] yang shahih selamanya kecuali bahwa hadits kedua menasakh yang pertama. Dia berkata: dan Imam Ahmad bin Hanbal pada zamannya menyatakan [hal itu, dan berkomitmen] menetapkannya, dan saya pada zaman saya berkomitmen hukum kaidah ini [juga], dan bangkit dengan jawaban tentang semua yang bertentangan dengannya.

Dan dia rahimahullah wa radhiyallahu anhu membela Syari’ah dan melindungi benteng agama dengan segala yang mampu dia lakukan, dan dia sebagaimana diketahui dari keadaannya tidak takut dalam bab ini akan celaan orang yang mencela, dan tidak surut dari apa yang dia yakini, dan tidak henti-hentinya atas hal itu hingga dia memenuhi kewajiban, dan bertemu Rabbnya, maka semoga Allah menyucikan ruhnya, dan menerangi kuburannya, dan menolong maksud-maksudnya, dan menguatkan kaidah-kaidahnya, dan Allah Subhanahu mengetahui baiknya niat, dan benarnya ilmu-ilmunya dan kuatnya dalilnya, dan Dialah penolong kebenaran dan pemeluknya, walau setelah beberapa waktu.

Dan semua yang terjadi dari urusan-urusan ini di dalamnya ada petunjuk insya Allah atas [menyeluruhnya urusannya, dan tampaknya] perkataan ilmu-ilmu cemerlang ini lebih banyak daripada yang di dalamnya ada petunjuk pada kebalikan dari itu, dan tidak ada daya kecuali dengan pertolongan Allah, namun hal-hal yang dimampukan memerlukan sebab-sebabnya yang diketahui, dan karena itu adalah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan beliau dalam gubuk pada hari Badar bersungguh-sungguh meminta pertolongan kepada Allah yang merupakan sebab terbesar kemenangan pada hari itu, setelah Allah Taala memberitahukan kepadanya – sebelum itu – kejelasan tempat-tempat jatuhnya kaum. Dan ketika Abu Bakar menyarankannya dari belakangnya dengan berkata kepadanya: “Wahai Rasulullah, begini permohonanmu kepada Rabbmu, maka sesungguhnya Dia akan menepati apa yang dijanjikan-Nya kepadamu”, beliau tidak meninggalkan permohonan pertolongannya kepada Rabbnya, karena ilmunya bahwa urusan-urusan yang dimampukan harus terjadi dengan sebab-sebabnya yang wajib untuknya, yang dikenal dengannya. Dan pembenaran hal itu adalah apa yang diturunkan Subhanahu dalam memutuskan urusan ini, dan menetapkan kaidah ini, yaitu firman-Nya Taala: (Ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu Allah memperkenankan bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”. Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (surat al-Anfal: 9-10) karena Dia Subhanahu telah menjelaskan hukum sebab-sebab yang mendahului dan yang mengikuti, dan mengembalikan urusan kepada hakikat-hakikat tauhid, dengan firman-Nya: “Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah” dan ini adalah puncak tujuan-tujuan bab ini, dan mengikuti hukum-hukum tetap ini dengan sifat yang dikuatkan ini, adalah tanpa ragu tingkatan tertinggi penghambaan, dan paling bermanfaat dan paling mulia dalam hak seluruh manusia. Maka perbanyaklah penggunaan urusan mulia ini, dan cukuplah Allah bagi kita dan Dia sebaik-baik wakil.

Segala puji bagi Allah semata, dan semoga Allah melimpahkan shalawat kepada sebaik-baik makhluk-Nya Muhammad dan keluarganya, dan salam-Nya atas semua orang-orang shalih.

Disebutkan di akhir naskah: “Dipindahkan dari tulisan tangan pengucapnya Syaikh al-Imam Syihabuddin semoga Allah menjaganya dan memberi manfaat dengannya. Selesai menyalinnya pada siang hari Jumat yang jatuh pada tanggal empat Dzulqa’dah al-Haram oleh penulisnya Muhammad al-Majdzub di Miran al-Hasha, dimulai setelah shalat Jumat pada harinya dan diselesaikan bersamaan dengan adzan Ashar”.

 

 

05 – Nihayatul Arab fi Fununil Adab

Karya Ulama Syihabuddin Ahmad bin Abdul Wahhab An-Nuwairi (wafat tahun 733 H)

Penyebutan Berangkatnya Pasukan-pasukan Syam ke Negeri Kasrawan, Pemusnahan Penduduknya dan Penaklukan Wilayahnya

Penduduk pegunungan Kasrawan telah banyak jumlahnya dan melampaui batas, kekuatan mereka semakin menguat, dan mereka menyerang pasukan Nashiri ketika pasukan tersebut kalah pada tahun 699 H. Urusan mereka dibiarkan berlarut-larut dan terlupakan sehingga kedurhakaan mereka bertambah dan mereka menampakkan pembangkangan dari ketaatan. Mereka merasa bangga dengan gunung-gunung mereka yang kokoh, pasukan mereka yang banyak, dan bahwa tidak mungkin ada yang bisa mencapai mereka. Maka dikirimkan kepada mereka Asy-Syarif Zainuddin Ibnu Adlan, kemudian setelahnya pada bulan Dzulhijjah tahun 704 H berangkat Asy-Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah dan Al-Amir Bahaauddin Qaraqus Azh-Zhahiri. Keduanya berunding dengan mereka tentang kembali kepada ketaatan namun mereka tidak menyanggupinya. Maka kemudian diperintahkan untuk mengirim pasukan kepada mereka dari setiap penjuru dan wilayah dari wilayah-wilayah Syam. Berangkatlah wakil Sultan Al-Amir Jamaluddin Aqusy Al-Afram dari Damaskus dengan seluruh pasukan pada hari Senin tanggal 2 Muharram dengan mengumpulkan orang banyak dari para prajurit, dikatakan bahwa terkumpul dari prajurit kaki sekitar 50.000 orang. Mereka menuju ke pegunungan Kasrawan dan Jard. Berangkat pula Al-Amir Saifuddin Asandamur dengan pasukan Futuhat dari arah yang berbatasan dengan negeri Tripoli.

Ia pernah dituduh bersekongkol dengan mereka, maka dikirimkan surat kepadanya tentang hal itu. Ia pun membulatkan tekad dan ingin melakukan dalam perkara ini sesuatu yang menghapus jejak tuduhan buruk yang terjadi. Ia mendaki ke pegunungan Kasrawan dari jalan yang paling sulit. Pasukan-pasukan berkumpul menyerang mereka sehingga terbunuh dari mereka banyak orang, persatuan mereka hancur berantakan dan mereka bercerai-berai ke negeri-negeri. Al-Amir Saifuddin Asandamur mempekerjakan sekelompok dari mereka di Tripoli dengan gaji dan tunjangan dari harta-harta kerajaan, dan menamai mereka pasukan Kasrawan. Mereka tetap seperti itu bertahun-tahun dan sebagian dari mereka diberi tanah garapan dari pasukan berkuda Tripoli. Sisanya berpencar ke negeri-negeri, urusan mereka sirna dan nama mereka tidak terdengar lagi. Wakil Sultan kembali ke Damaskus pada tanggal 14 Safar tahun tersebut dan pegunungan Kasrawan dan Jard diberikan sebagai tanah garapan kepada sekelompok amir-amir Turkoman dan lainnya, di antaranya: Al-Amir Alauddin bin Ma’bad Al-Ba’labaki, Izzuddin Khattab, dan Saifuddin Buktumur Al-Husami. Mereka diberi pasukan berkendang dan berangkat untuk memakmurkan tanah garapan mereka dan menjaga pelabuhan laut dari arah Beirut.

Pada tahun ini terjadi fitnah di Damaskus antara sekelompok fakir Ahmadiyyah dengan Asy-Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah. Yaitu ketika mereka berkumpul pada hari Sabtu tanggal 9 Jumadil Ula di hadapan wakil Sultan, dan hadir Asy-Syaikh Taqiyuddin. Mereka meminta darinya agar menyerahkan keadaan mereka kepada mereka, dan bahwa Taqiyuddin tidak menentang mereka dan tidak mengingkari perbuatan mereka. Mereka ingin menampakkan sesuatu dari yang mereka lakukan, maka Asy-Syaikh berkata kepada mereka: “Sesungguhnya mengikuti syariat tidak boleh keluar darinya, dan tidak dibenarkan seseorang atas pelanggaran terhadapnya. Bid’ah-bid’ah yang kalian lakukan seperti masuk api dan mengeluarkan busa dari tenggorokan, itu memiliki tipuan-tipuan.” Ia menyebutkan hal tersebut dan berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang ingin masuk api, maka hendaklah ia membasuh tubuhnya di pemandian kemudian menggosoknya dengan cuka kemudian masuk setelah itu, jika ia mampu masuk maka aku akan masuk bersamanya. Jika ia masuk setelah itu ia tidak akan kembali, bahkan itu adalah perbuatan Dajjal.” Maka putuslah ketegasan mereka dan majelis dibubarkan dengan kesepakatan bahwa mereka melepaskan kalung-kalung besi dari leher mereka, dan bahwa barangsiapa di antara mereka yang keluar dari Al-Quran dan Sunnah akan dihadapi dengan apa yang pantas baginya. Majelis tersebut dicatat beserta apa yang terjadi di dalamnya dan apa yang difatwakan oleh para fakir Ahmadiyyah Rifa’iyyah, dan Asy-Syaikh mengarang sebuah kitab kecil yang berkaitan dengan kelompok ini dan perbuatan-perbuatan mereka.

Penyebutan Peristiwa Asy-Syaikh Taqiyuddin Ahmad Ibnu Taimiyyah, dan Apa yang Terjadi pada Kelompok Hanabilah, Penahanan Taqiyuddin, dan Kabarnya hingga Akhirnya Ia Dibebaskan

Peristiwa ini yang akan kami sebutkan terjadi pada tahun 705 H dan berakhir pada akhir tahun 709 H. Terjadinya memiliki sebab-sebab dan alasan-alasan serta kejadian-kejadian yang terjadi di Kairo dan Damaskus. Kami memandang untuk menyebutkan kejadian ini dan menjelaskan sebab-sebabnya dari awal terjadinya hingga akhirnya dan tidak memotongnya dengan yang lain, meskipun berlalu satu tahun dan masuk tahun lain.

Sebab yang menggerakkan kejadian ini yang mewajibkan pemanggilan Asy-Syaikh Taqiyuddin yang disebutkan ke Negeri Mesir, maka aku telah mengetahuinya sejak awalnya yaitu: bahwa sebagian mahasiswa bernama Abdurrahman Al-Ainusi tinggal di Madrasah Nashiriyyah yang telah disebutkan di Kairo dan aku berada di sana. Di sana pula Qadhi Al-Qudhah Zainuddin Al-Maliki dan lainnya. Terjadilah pertemuanku dengan Qadhi Syamsuddin Muhammad bin Adlan Al-Kinani Al-Qurasyiy Asy-Syafi’i di rumahku di madrasah tersebut pada salah satu malam, dan ia juga penghuni madrasah dan pengajar di sana. Maka hadirlah Abdurrahman tersebut kepada kami membawa sebuah fatwa yang telah dijawab oleh Asy-Syaikh Taqiyuddin. Ia mengeluarkannya dari tangannya dan mulai menyebutkan Asy-Syaikh Taqiyuddin dan keluasan ungkapannya dan ilmunya. Ia berkata: “Ini dari fatwa-fatwanya,” dan ia tidak bermaksud – sebagaimana yang tampak – untuk mencelakakan tetapi ia bermaksud – wallahu a’lam – untuk menyebarkan keutamaannya. Maka Qadhi Syamsuddin Ibnu Adlan mengambilnya darinya dan membacanya, ternyata isinya:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Apa yang tuan-tuan fuqaha pemimpin agama katakan – semoga Allah meridhai mereka semua – agar mereka menjelaskan apa yang wajib bagi manusia untuk diyakini dan dengannya ia menjadi muslim dengan ungkapan yang paling jelas dan paling terang, tentang apakah yang ada dalam mushaf-mushaf itu adalah Kalam Allah yang qadim ataukah ia ungkapan tentangnya bukan zatnya? Dan apakah ia hadits atau qadim? Dan apakah firman-Nya Ta’ala: “Ar-Rahman bersemayam di atas ‘Arsy” (Thaha: 5) itu adalah istiwak hakiki atau tidak? Dan apakah Kalam Allah Azza wa Jalla dengan huruf dan suara ataukah Kalam-Nya adalah sifat yang berdiri yang tidak berpisah? Dan apakah jika manusia menjalankan Al-Quran pada zhahirnya tanpa menta’wilkan sesuatu pun darinya dan ia berkata: Aku beriman dengannya sebagaimana diturunkan; apakah cukup baginya dalam keyakinan ataukah wajib atasnya ta’wil? Dan bahwa penanya adalah seorang laki-laki yang bingung tidak mengetahui sesuatu pun dan pertanyaannya dengan jawaban yang lembut agar ia meniru yang mengatakannya. Berilah fatwa semoga kalian diberi pahala semoga Allah merahmati kalian.

Maka Asy-Syaikh Taqiyuddin menjawab dengan redaksinya:

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Yang wajib atas manusia untuk diyakini dalam hal itu dan lainnya adalah apa yang ditunjukkan oleh Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya dan disepakati oleh salaf kaum mukminin yang Allah memuji orang yang mengikuti mereka dan mencela orang yang mengikuti selain jalan mereka, yaitu bahwa Al-Quran yang Allah turunkan kepada Muhammad hamba-Nya dan Rasul-Nya adalah Kalam Allah dan bahwa ia diturunkan tidak makhluk, dari-Nya dimulai dan kepada-Nya akan kembali, dan bahwa ia adalah Al-Quran yang mulia dalam Kitab yang terpelihara yang tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan, dan bahwa ia adalah Al-Quran yang agung dalam Lauh Mahfuzh, dan bahwa ia dalam Ummul Kitab di sisi Allah Ta’ala yang dijaga, dan bahwa ia dalam dada-dada sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Mintailah hafalan Al-Quran karena sesungguhnya ia lebih mudah hilang dari dada orang-orang daripada unta dari ikatannya,” dan beliau bersabda: “Dada yang tidak ada di dalamnya sesuatu dari Al-Quran seperti rumah yang roboh,” dan bahwa apa yang ada di antara dua lembaran mushaf yang ditulis oleh para sahabat adalah Kalam Allah sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Jangan kalian bepergian dengan Al-Quran ke negeri musuh karena takut tangan-tangan mereka menyentuhnya.”

Maka kalimat ini cukup bagi seorang muslim dalam bab ini. Adapun perincian apa yang terjadi dalam hal itu dari perselisihan maka banyak, di antaranya ada yang kedua pengungkapan keliru, dan yang benar ada dalam perincian. Di antaranya ada yang bersama setiap orang yang berselisih ada jenis dari kebenaran dan setiap orang dari mereka mengingkari kebenaran temannya, dan ini termasuk perpecahan dan perselisihan yang Allah cela dan melarang darinya. Maka Allah berfirman: “Dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang Kitab benar-benar dalam perpecahan yang jauh” (Al-Baqarah: 176), dan Dia berfirman: “Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas” (Ali Imran: 105), dan Dia berfirman: “Dan berpeganglah kalian semua pada tali Allah dan janganlah kalian berpecah-belah” (Ali Imran: 103), dan Dia berfirman: “dari kebenaran dengan seizin-Nya dan Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus (213) Ataukah kalian mengira” (Al-Baqarah: 213). Maka yang wajib atas seorang muslim adalah berpegang pada Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Sunnah khalifah-khalifahnya yang mendapat petunjuk dan orang-orang yang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Dan apa yang diperselisihkan oleh umat dan mereka berpecah di dalamnya, jika ia mampu memutuskan perselisihan dengan ilmu dan keadilan, jika tidak maka berpeganglah pada kalimat-kalimat yang tetap dengan nash dan ijma’, dan berpalinglah dari orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan menjadi golongan-golongan, karena sesungguhnya tempat-tempat perpecahan dan perselisihan kebanyakannya keluar dari mengikuti prasangka dan apa yang diinginkan jiwa-jiwa padahal telah datang kepada mereka petunjuk dari Tuhan mereka. Dan sungguh aku telah memperluas pembicaraan tentang jenis masalah-masalah ini dengan penjelasan apa yang menjadi pegangan salaf umat yang disepakati oleh akal dan dalil, dan penjelasan apa yang masuk dalam bab ini dari kesamaan dan kesamaran dan kesalahan di tempat-tempat yang beragam, tetapi aku sebutkan di sini kalimat ringkas sesuai dengan keadaan penanya. Yang wajib adalah memerintahkan orang awam dengan kalimat-kalimat yang tetap dengan nash dan ijma’, dan mencegah mereka dari masuk dalam perincian yang menimbulkan perpecahan dan perselisihan di antara mereka, karena sesungguhnya perpecahan dan perselisihan termasuk perkara terbesar yang Allah dan Rasul-Nya melarang darinya.

Adapun perincian yang ringkas maka kami katakan: Barangsiapa yang berkeyakinan bahwa tinta yang ada dalam mushaf dan suara-suara hamba adalah qadim azali, maka ini orang yang sesat keliru menyelisihi Al-Quran dan Sunnah dan ijma’ salaf terdahulu dan seluruh ulama kaum muslimin. Tidak pernah seorang pun dari ulama kaum muslimin mengatakan bahwa itu qadim, tidak dari kalangan sahabat-sahabat Imam Ahmad dan tidak dari yang lain. Dan barangsiapa yang menukil keqadiman itu dari salah seorang ulama sahabat-sahabat Imam Ahmad dan sejenisnya, maka ia keliru dalam nukilan ini atau sengaja berdusta. Bahkan yang dinash oleh Imam Ahmad dan kebanyakan imam-imam sahabatnya adalah membid’ahkan orang yang berkata: Lafazhku dengan Al-Quran tidak makhluk, sebagaimana mereka mengkafirkan orang yang berkata: Lafazh dengan Al-Quran makhluk. Dan sungguh telah mengarang Abu Bakar Al-Marrudzi – sahabat Imam Ahmad yang paling khusus dengannya – tentang hal itu sebuah risalah besar yang panjang, dan dinukil darinya oleh Abu Bakar Al-Khallal dalam “Kitab As-Sunnah” yang ia kumpulkan di dalamnya perkataan Imam Ahmad dan lainnya dari imam-imam Sunnah dalam bab-bab keyakinan. Sebagian ahli hadits ketika itu mengucapkan perkataan bahwa “lafazhku dengan Al-Quran tidak makhluk” maka sampailah hal itu kepada Imam Ahmad lalu ia mengingkari hal itu dengan sangat keras dan membid’ahkan orang yang berkata demikian, dan ia memberitahukan bahwa tidak seorang pun dari ulama yang mengatakan demikian, maka bagaimana dengan orang yang mengira bahwa suara hamba itu qadim? Dan lebih buruk dari itu adalah orang yang mengisahkan dari sebagian ulama: bahwa tinta yang ada dalam mushaf itu qadim. Dan semua imam-imam sahabat Imam Ahmad dan lainnya mengingkari hal itu. Dan aku tidak mengetahui bahwa ada ulama yang menukil hal itu kecuali apa yang sampai kepada kami dari sebagian orang-orang bodoh dari kalangan Kurdi dan sejenisnya. Dan sungguh Allah Ta’ala telah membedakan dalam Kitab-Nya antara kalam dan tinta, maka Dia berfirman: “Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh akan habis lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu pula” (Al-Kahfi: 109). Maka ini adalah kesalahan dari sisi ini. Demikian juga orang yang mengira bahwa Al-Quran terpelihara dalam dada-dada, sebagaimana Allah diketahui dengan hati-hati, dan bahwa ia dibaca dengan lisan-lisan, sebagaimana Allah disebutkan dengan lisan-lisan, dan bahwa ia tertulis dalam mushaf, sebagaimana Allah tertulis dalam mushaf, dan ia menjadikan ketetapan Al-Quran dalam dada-dada dan lisan-lisan dan mushaf-mushaf seperti ketetapan Dzat Allah di tempat-tempat ini, maka ini juga keliru dalam hal itu, karena sesungguhnya perbedaan antara ketetapan benda-benda dalam mushaf dan ketetapan kalam di dalamnya jelas terang. Karena sesungguhnya benda-benda memiliki empat tingkatan: tingkatan dalam benda-benda, dan tingkatan dalam pikiran-pikiran, dan tingkatan dalam lisan, dan tingkatan dalam tulisan. Maka ilmu sesuai dengan benda, dan lafazh sesuai dengan ilmu, dan tulisan sesuai dengan lafazh.

Maka jika dikatakan: Sesungguhnya benda dalam kitab sebagaimana dalam firman-Nya: “Dan segala sesuatu yang mereka perbuat tercatat dalam kitab-kitab” (Al-Qamar: 52) maka sungguh diketahui bahwa yang ada dalam kitab-kitab hanyalah tulisan yang sesuai dengan lafazh yang sesuai dengan ilmu, maka antara benda-benda dan mushaf ada dua tingkatan yaitu lafazh dan tulisan. Adapun kalam itu sendiri maka tidak ada antara ia dan lembaran selain keduanya, bahkan kalam itu sendiri dijadikan dalam kitab, meskipun antara huruf yang diucapkan dan huruf yang ditulis ada perbedaan dari sisi lain. Kecuali jika dimaksudkan bahwa yang ada dalam mushaf adalah penyebutannya dan berita tentangnya, seperti firman-Nya Ta’ala: “Dan sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam (192) Dia dibawa turun oleh Ar-Ruhul Amin (193)” [sampai firman-Nya:] “Dan sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar tersebut dalam Kitab-Kitab orang-orang dahulu (196) Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya” (Asy-Syu’ara: 192-197). Maka yang ada dalam kitab-kitab orang terdahulu bukanlah Al-Quran itu sendiri yang diturunkan kepada Muhammad.

Sesungguhnya Al-Quran ini tidak diturunkan kepada siapa pun sebelumnya, tetapi di dalam kitab-kitab orang terdahulu telah disebutkan tentang Al-Quran dan beritanya, sebagaimana di dalamnya terdapat penyebutan tentang Muhammad dan beritanya. Sebagaimana perbuatan-perbuatan para hamba ada di dalam kitab-kitab tersebut, seperti yang difirmankan Allah: “Dan segala sesuatu yang mereka kerjakan (tercatat) dalam kitab-kitab.” (Al-Qamar: 52). Maka wajib membedakan antara keberadaan hal-hal ini di dalam kitab-kitab dan antara keberadaan kalam itu sendiri di dalam kitab-kitab, sebagaimana Allah berfirman: “Sesungguhnya ia benar-benar Al-Quran yang mulia, (77) dalam Kitab yang terpelihara” (Al-Waqi’ah: 77-78), dan Allah berfirman: “Dalam lembaran-lembaran yang disucikan, (2) di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus (benar). (3)” (Al-Bayyinah: 2-3).

Barangsiapa yang mengatakan bahwa tinta itu qadim (azali), maka ia telah salah. Dan barangsiapa yang mengatakan bahwa tidak ada kalam Allah di dalam mushaf, melainkan hanya tinta yang merupakan ungkapan tentang kalam Allah, maka ia juga telah salah. Bahkan Al-Quran ada di dalam mushaf, sebagaimana kalam lainnya ada di dalam lembaran-lembaran, sebagaimana yang telah disepakati oleh umat dan sebagaimana fitrah kaum muslimin. Karena setiap tingkatan memiliki hukum yang khusus baginya. Dan keberadaan kalam dari kitab bukanlah seperti keberadaan sifat pada yang bersifat, seperti keberadaan ilmu dan kehidupan pada tempatnya, sehingga dikatakan bahwa sifat Allah menempati selain-Nya atau berpisah dari-Nya. Juga keberadaannya tidak seperti dalil murni, seperti keberadaan alam yang menunjukkan kepada Pencipta yang Maha Tinggi, sehingga dikatakan tidak ada di dalamnya kecuali apa yang menjadi tanda atas kalam Allah. Bahkan ia adalah bagian yang lain.

Barangsiapa yang tidak memberikan hak kepada setiap tingkatan dalam penggunaan kata keterangan tempat, sehingga ia membedakan antara keberadaan benda di dalam ruang dan di dalam tempat, keberadaan aksiden pada benda, dan bayangan di cermin, dan membedakan antara melihat sesuatu dengan mata dalam keadaan terjaga dan melihatnya dengan hati dalam keadaan terjaga maupun tidur, dan semacamnya, maka perkaranya akan menjadi kacau.

Demikian pula pertanyaan orang yang bertanya tentang apa yang ada di dalam mushaf, apakah ia baru atau qadim (azali)? Ini adalah pertanyaan yang masih global. Karena lafaz “qadim” (azali) pertama-tama bukanlah sesuatu yang diriwayatkan dari para salaf. Adapun yang mereka sepakati adalah bahwa Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan, dan ia adalah kalam Allah di mana pun dibaca dan di mana pun ditulis. Ia adalah satu Al-Quran dan satu kalam meskipun beragam bentuk yang dengannya ia dibaca dan ditulis, dari suara-suara para hamba dan tinta mereka. Karena kalam adalah kalam dari orang yang mengucapkannya sebagai pembuat pertama, bukan kalam dari orang yang menyampaikannya sebagai penyampai. Jika kita mendengar seorang perawi hadits meriwayatkan perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya”, maka kita mengatakan: Ini adalah kalam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lafaznya dan maknanya, meskipun kita mengetahui bahwa suara itu adalah suara penyampai, bukan suara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikianlah setiap orang yang menyampaikan kalam orang lain, baik dalam bentuk syair maupun prosa.

Dan kita, ketika mengatakan: Ini adalah kalam Allah, untuk apa yang kita dengar dari pembaca yang membaca dari mushaf, maka isyaratnya tertuju kepada kalam dari sisi keberadaannya itu sendiri dengan mengabaikan apa yang menyertai penyampaiannya dari suara penyampai dan tinta penulis. Maka barangsiapa yang mengatakan: Suara pembaca dan tinta penulis adalah kalam Allah yang tidak diciptakan, maka ia telah salah. Dan inilah perbedaan yang telah dijelaskan oleh Imam Ahmad kepada orang yang bertanya kepadanya ketika ia membaca: “Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa” (Al-Ikhlas: 1), lalu ia bertanya: Apakah ini kalam Allah yang tidak diciptakan? Maka ia menjawab: Ya. Lalu orang yang bertanya itu menyampaikan dari Imam Ahmad bahwa ia berkata: “Lafazku dengan Al-Quran tidak diciptakan.” Maka Ahmad memanggilnya dan menegurnya dengan keras dan meminta agar ia dihukum dan dita’zir, seraya berkata: Apakah aku berkata kepadamu: Lafazku dengan Al-Quran tidak diciptakan? Maka orang itu berkata: Tidak, tetapi engkau berkata kepadaku ketika aku membaca: “Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa”: Ini adalah kalam Allah yang tidak diciptakan. Maka Ahmad berkata: Lalu mengapa engkau meriwayatkan dariku apa yang tidak aku katakan?!

Imam Ahmad telah menjelaskan bahwa orang yang berkata—ketika mendengar dari para penyampai dan pembaca—: Ini adalah kalam Allah, maka isyaratnya tertuju kepada hakikat yang telah difirmankan oleh Allah, meskipun kita hanya mendengarnya melalui penyampaian penyampai, gerakannya, dan suaranya. Jika ia menunjuk kepada sesuatu dari sifat-sifat makhluk, lafaznya atau suaranya atau perbuatannya, dan mengatakan: Ini tidak diciptakan, maka ia telah sesat dan salah.

Maka yang wajib dikatakan adalah: Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan, dan Al-Quran ada di dalam mushaf-mushaf sebagaimana kalam lainnya ada di dalam lembaran-lembaran. Dan tidak boleh dikatakan bahwa sesuatu dari tinta dan kertas itu tidak diciptakan, bahkan semua kertas dan tinta di dunia ini adalah makhluk. Juga dikatakan: Al-Quran yang ada di dalam mushaf adalah kalam Allah yang tidak diciptakan, dan Al-Quran yang dibaca oleh kaum muslimin adalah kalam Allah yang tidak diciptakan.

Jawaban ini akan semakin jelas dengan pembahasan pada masalah kedua, yaitu perkataannya: Apakah kalam Allah itu dengan huruf dan suara atau tidak? Sesungguhnya menjawab secara mutlak dalam masalah ini, baik dengan penafian maupun penetapan, adalah salah. Dan ini termasuk bid’ah yang muncul setelah abad ketiga, ketika sebagian kelompok mutakallimin dari kalangan yang menetapkan sifat mengatakan: Sesungguhnya kalam Allah yang diturunkan-Nya kepada para nabi-Nya seperti Taurat, Injil, dan Al-Quran, dan yang tidak diturunkan-Nya, serta kalimat-kalimat yang dengannya Dia mewujudkan segala sesuatu yang ada, dan kalimat-kalimat yang mengandung perintah, larangan, dan berita-Nya, tidaklah lain kecuali hanya makna tunggal, yaitu sifat tunggal yang berdiri pada Allah. Jika diungkapkan dengan bahasa Ibrani maka ia menjadi Taurat, dan jika diungkapkan dengan bahasa Arab maka ia menjadi Al-Quran. Dan bahwa perintah, larangan, dan berita adalah sifat-sifat baginya, bukan bagian-bagiannya. Dan bahwa huruf-huruf Al-Quran itu diciptakan, Allah menciptakannya dan Dia tidak berbicara dengannya dan ia bukan kalam-Nya, karena kalam-Nya tidak mungkin dengan huruf dan suara.

Mereka ditentang oleh kelompok lain dari kalangan yang menetapkan sifat, maka mereka berkata: Bahkan Al-Quran adalah huruf-huruf dan suara-suara. Dan sebagian orang mengira bahwa yang mereka maksud dengan huruf adalah tinta dan dengan suara adalah suara para hamba. Dan ini tidak dikatakan oleh seorang ulama pun.

Pendapat yang benar yang dianut oleh salaf umat seperti Imam Ahmad dan Al-Bukhari penulis kitab “Shahih” dalam kitabnya “Khalqu Af’alil ‘Ibad” dan lainnya, serta para imam sebelum dan sesudah mereka, adalah mengikuti nash-nash yang tetap dan ijma’ salaf umat. Yaitu bahwa Al-Quran seluruhnya adalah kalam Allah Ta’ala, huruf-hurufnya dan maknanya, tidak ada sesuatu dari itu yang merupakan kalam selain-Nya, tetapi Dia menurunkannya kepada para rasul-Nya. Al-Quran bukanlah nama untuk makna semata dan bukan untuk huruf semata, tetapi untuk keduanya secara bersama-sama. Demikian pula kalam lainnya bukanlah hanya huruf dan bukan hanya makna, tetapi keduanya secara bersama-sama. Sebagaimana manusia yang berbicara dan berkata-kata bukanlah hanya ruh dan bukan hanya jasad, tetapi keduanya secara bersama-sama.

Dan bahwa Allah Ta’ala berbicara dengan suara sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih, dan itu bukanlah suara para hamba, bukan suara pembaca dan bukan lainnya. Karena Allah tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, tidak dalam zat-Nya, tidak dalam sifat-sifat-Nya, dan tidak dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Sebagaimana ilmu-Nya, qudrat-Nya, dan kehidupan-Nya tidak menyerupai ilmu makhluk, qudratnya, dan kehidupannya, maka demikian pula kalam-Nya tidak menyerupai kalam makhluk, tidak maknanya menyerupai makna makhluk, dan tidak huruf-hurufnya menyerupai huruf-hurufnya, serta suara Rabb tidak menyerupai suara hamba. Maka barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka ia telah menyeleweng dalam nama-nama-Nya dan ayat-ayat-Nya. Dan barangsiapa yang mengingkari apa yang telah Dia sifatkan untuk diri-Nya, maka ia telah menyeleweng dalam nama-nama-Nya dan ayat-ayat-Nya.

Aku telah menjelaskan dalam jawaban yang panjang tingkatan-tingkatan mazhab penduduk bumi dalam hal itu, dan bahwa para filosof mengklaim bahwa kalam Allah tidak memiliki wujud kecuali dalam jiwa para nabi, makna-makna melimpah kepada mereka dari Akal Aktif lalu menjadi huruf-huruf dalam jiwa mereka, sebagaimana malaikat-malaikat Allah menurut mereka adalah apa yang terjadi dalam jiwa para nabi berupa gambaran-gambaran cahaya. Dan ini termasuk jenis perkataan filosof Quraisy Al-Walid bin Al-Mughirah: “Ini tidak lain hanyalah perkataan” (Al-Muddatstsir: 25). Maka hakikat perkataan mereka adalah bahwa Al-Quran adalah karya Rasul, tetapi ia adalah kalam yang mulia yang keluar dari jiwa yang suci. Dan mereka ini adalah orang-orang Shabiin, maka kaum Jahmiyyah menjauh dari mereka lalu berkata: Sesungguhnya Allah tidak berbicara dan tidak akan berbicara dan tidak berdiri pada-Nya kalam apa pun, melainkan kalam-Nya adalah apa yang Dia ciptakan dari udara atau selainnya. Maka sebagian dari itu diambil oleh sebagian kelompok mutakallimin yang menetapkan sifat, lalu mereka berkata: Bahkan separuhnya yaitu makna adalah kalam Allah, dan separuhnya yaitu huruf-huruf bukanlah kalam Allah, tetapi ia adalah makhluk dari makhluk-Nya.

Dan telah terjadi perselisihan di kalangan Sifatiyyah yang mengatakan bahwa Al-Quran tidak diciptakan, apakah dikatakan: Ia qadim (azali), tidak berzal dan tidak berkaitan dengan kehendak? Ataukah dikatakan: Dia berbicara jika Dia kehendaki dan diam jika Dia kehendaki? Menjadi dua pendapat yang masyhur dalam hal itu, dan demikian pula dalam hal pendengaran, penglihatan, dan semacamnya, yang disebutkan oleh Al-Harits Al-Muhasibi dari Ahlus Sunnah, dan disebutkan oleh Abu Bakar Abdul Aziz dari Ahlus Sunnah dari kalangan pengikut Ahmad dan lainnya.

Demikian pula perselisihan antara ahli hadits, kaum sufi, kelompok-kelompok fuqaha dari kalangan Malikiyyah, Syafi’iyyah, dan Hanafiyyah, bahkan antara kelompok-kelompok mutakallimin dan filosof dalam jenis bab ini. Dan ini bukan tempat untuk memperluas pembahasan pasal itu.

Adapun pertanyaannya tentang firman Allah: “(Yang) Maha Pengasih, Yang bersemayam di atas ‘Arasy” (Thaha: 5), maka ia adalah benar yang telah diberitakan oleh Allah. Dan Ahlus Sunnah sepakat atas apa yang dikatakan oleh Rabi’ah bin Abu Abdurrahman, Malik bin Anas, dan para imam lainnya bahwa: Istawa itu diketahui, kaifiyyahnya (bagaimananya) tidak diketahui, beriman kepadanya wajib, dan bertanya tentang kaifiyyahnya adalah bid’ah. Maka barangsiapa yang mengklaim bahwa Allah membutuhkan ‘Arasy yang menopang-Nya, atau bahwa Dia terkurung dalam langit yang menaungi-Nya, atau bahwa Dia terkurung dalam sesuatu dari makhluk-makhluk-Nya, atau bahwa Dia dikelilingi oleh sisi dari sisi-sisi ciptaan-Nya, maka ia salah dan sesat. Dan barangsiapa yang mengatakan: Tidak ada Rabb di atas ‘Arasy, dan tidak ada Pencipta di atas langit-langit, bahkan tidak ada di sana kecuali ketiadaan murni dan penafian semata, maka ia adalah mu’aththil (pengingkar) yang mengingkari Rabb semesta alam, menyerupai Fir’aun yang berkata: “Wahai Haman, buatkanlah bagiku bangunan yang tinggi agar aku sampai ke pintu-pintu, (36) yaitu pintu-pintu langit, agar aku dapat melihat Tuhan Musa, dan sungguh aku memandangnya seorang pendusta” (Ghafir: 36-37).

Bahkan Ahlus Sunnah wal Hadits dan salaf umat sepakat bahwa Allah berada di atas langit-langit-Nya, di atas ‘Arasy-Nya, terpisah dari makhluk-makhluk-Nya. Tidak ada dalam zat-Nya sesuatu dari makhluk-makhluk-Nya dan tidak ada dalam makhluk-makhluk-Nya sesuatu dari zat-Nya. Atas dasar itu adalah nash-nash Kitab dan Sunnah, ijma’ salaf umat dan para imam Sunnah, bahkan atas dasar itu semua orang beriman dari kalangan yang terdahulu dan yang kemudian. Dan Ahlus Sunnah dan salaf umat sepakat bahwa barangsiapa yang menta’wilkan “istawa” dengan makna “istawla” (menguasai) atau dengan makna lain yang menafikan bahwa Allah berada di atas langit-langit, maka ia adalah Jahmi yang sesat dan menyesatkan.

Adapun pertanyaannya tentang menjalankan Al-Quran sesuai zahirnya, maka jika ia beriman dengan apa yang telah Allah sifatkan untuk diri-Nya dan apa yang telah disifatkan oleh Rasul-Nya untuk-Nya tanpa tahrifat (penyelewengan) dan tanpa takyif (menetapkan bentuknya), maka ia telah mengikuti jalan orang-orang beriman. Adapun lafaz “zahir” dalam istilah para ulama belakangan telah menjadi musytarak (memiliki banyak arti). Jika yang dimaksud dengan menjalankannya sesuai zahir yang merupakan kekhususan makhluk, sehingga menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka ini adalah kesesatan. Bahkan wajib memutuskan bahwa Allah tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, tidak dalam zat-Nya, tidak dalam sifat-sifat-Nya, dan tidak dalam perbuatan-perbuatan-Nya.

Bahkan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Tidak ada di dunia dari apa yang ada di akhirat kecuali nama-namanya. Maksudnya bahwa janji Allah di surga berupa emas, sutra, khamar, dan susu berbeda secara hakiki dengan hakikat-hakikat hal-hal ini yang ada di dunia. Maka Allah Ta’ala lebih jauh dari penyerupaan dengan makhluk-makhluk-Nya dengan apa yang tidak dapat dicapai oleh para hamba, karena hakikat-Nya tidak seperti hakikat sesuatu dari makhluk-Nya.

Adapun jika yang dimaksud dengan menjalankannya sesuai zahir yang merupakan zahir dalam istilah salaf umat, sehingga tidak menyelewengkan kalimat dari tempat-tempatnya dan tidak menyeleweng dalam nama-nama Allah Ta’ala, dan tidak menafsirkan Al-Quran dan hadits dengan apa yang menyelisihi tafsir salaf umat dan Ahlus Sunnah, bahkan menjalankan itu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh nash-nash dan yang sesuai dengan dalil-dalil Kitab dan Sunnah serta disepakati oleh salaf umat, maka ini adalah benar dalam hal itu dan inilah yang haq. Dan ini adalah ringkasan yang tidak mungkin tempat ini memuat perinciannya. Wallahu a’lam (dan Allah lebih mengetahui).

Ketika Hakim Syamsuddin Ibnu Adlan mengetahui fatwa ini, ia mengingkari beberapa bagian darinya, dan menunjukkannya kepada Hakim Zainuddin Al-Maliki. Maka Ketua Hakim berkata: “Saya perlu membuktikan terlebih dahulu di hadapan saya bahwa ini adalah tulisan tangan Taqiyuddin yang disebutkan. Jika hal itu terbukti, saya akan mengambil tindakan yang sesuai.” Dan majelis pada malam itu diakhiri dengan kesimpulan ini.

Kemudian sekelompok orang bersaksi di hadapan Ketua Hakim bahwa jawaban yang disebutkan itu adalah tulisan tangan Taqiyuddin yang dimaksud, maka hal itu terbukti di hadapannya, dan ia mempersaksikan hal tersebut pada dirinya sendiri pada bulan Syaban tahun tersebut. Ketua Hakim Zainuddin bertemu dengan para amir dan memberitahu mereka tentang apa yang ia ingkari dari fatwa-fatwanya. Maka diperintahkanlah untuk memanggilnya ke Pintu-pintu Istana Kesultanan dan surat perintah dikirimkan untuk hal tersebut. Namun wakil Sultan di Suriah, Amir Jamaluddin, menunda pengirimannya. Kebetulan Amir Saifuddin At-Tunqus Al-Jamali, Kepala Rumah Tangga wakil Sultan di Suriah, tiba di Pintu-pintu Istana Kesultanan pada bulan yang disebutkan untuk beberapa urusan penting, dan Sultan tuannya memiliki beberapa properti di Suriah yang perlu ia buktikan di hadapan Ketua Hakim Zainuddin Al-Maliki. Maka ia bertemu dengan saya terkait hal itu, dan saya masuk menemui Ketua Hakim dan memberitahunya tentang kedudukan Saifuddin yang disebutkan dan posisinya di antara para pemimpin negara, serta kedudukan tuannya. Saya meminta izin darinya untuk mengizinkan masuk dan memuliakannya ketika ia masuk menemuinya. Maka ia mengizinkannya masuk. Ketika ia masuk menemuinya, ia mengabaikannya dan tidak peduli dengan kedatangannya, dan berbicara kepadanya dengan kata-kata kasar. Di antara apa yang ia katakan kepadanya saat masuk adalah: “Apakah kamu Kepala Rumah Tangga Jamaluddin?” Ia menjawab: “Ya.” Ia berkata: “Semoga Allah tidak memutihkan wajahnya.” Dan ia memberinya pesan untuk tuannya seraya berkata: “Katakan kepadanya dari saya: Kamu tahu bagaimana keadaanmu dulu, dan bahwa saya membelimu untuk Sultan Al-Malik Al-Manshur, dan kamu berada dalam keadaan kesulitan dalam pasukan dan komandonmu. Kemudian Allah Taala menganugerahkan kepadamu nikmat-Nya dan melimpahkan kepadamu apa yang ada padamu sekarang, dan menaikkanmu ke jajaran raja-raja besar dan kamu dijuluki Raja Para Amir. Kemudian kamu membela seorang lelaki yang kupanggil karena adanya hak dari hak-hak Allah atasnya. Demi Allah, jika kamu tidak mengirimkannya, Allah Taala pasti akan menyegerakan kehancuranmu…” dan seterusnya dari apa yang ia katakan pada saat kepergiannya. Maka Amir Saifuddin At-Tunqus berjanji bahwa ketika ia tiba di Damaskus, Ibnu Taimiyah tidak akan menginap di sana dan ia akan mengirimkannya kepadanya.

Kemudian Ketua Hakim tidak puas dengan itu sampai ia bertemu dengan para amir dan memperbarui pembicaraan dengan mereka tentang urusan Taqiyuddin. Hal ini mengakibatkan pengiriman Amir Husamuddin Lajin Al-Umari, salah satu penjaga pintu di Pintu-pintu Istana Kesultanan, ke Damaskus dengan surat resmi kesultanan untuk memanggilnya. Maka ia berangkat dan tiba di sana pada tanggal lima bulan Ramadan.

Inilah sebab yang mengharuskan pemanggilannya dan beban yang dipikul Ketua Hakim Zainuddin Al-Maliki terhadapnya. Saya menceritakannya dari pengamatan dan pengetahuan langsung.

Kebetulan dalam periode ini terjadi beberapa peristiwa di Damaskus, yang akan kami sampaikan secara ringkas sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Ibrahim Al-Jazari dalam “Sejarahnya” untuk mengumpulkan ujung-ujung peristiwa ini, sebab-sebabnya di Mesir dan Suriah, yaitu bahwa ketika tiba hari Senin tanggal delapan bulan Rajab, diselenggarakan majelis di hadapan wakil Sultan di Damaskus yang dihadiri para hakim, ulama, dan Syaikh Taqiyuddin yang disebutkan. Ia ditanya tentang akidahnya, maka ia mendiktekan sebagian darinya, kemudian ia menghadirkan akidahnya “Al-Wasithiyyah” yang dibacakan di majelis dan terjadi pembahasan pada beberapa bagiannya. Beberapa bagian ditunda untuk majelis berikutnya. Kemudian mereka berkumpul pada hari Jumat tanggal dua belas bulan tersebut, dan terjadi pembahasan. Ia ditanya tentang bagian-bagian di luar akidah tersebut, dan Syaikh Shafiuddin Al-Hindi ditugaskan untuk berdialog dengannya. Kemudian beralih darinya kepada Syaikh Kamaluddin Ibnu Az-Zamlakani, yang berdebat dengannya tanpa kompromi. Maka Syaikh Taqiyuddin mempersaksikan pada dirinya sendiri di hadapan yang hadir di majelis bahwa ia bermadzhab Syafii dan meyakini apa yang diyakini oleh Imam Asy-Syafii. Maka terjadilah kesepakatan darinya dan tentang dirinya dengan pernyataan ini dan majelis diakhiri.

Kemudian setelah itu terjadi perkataan dari sebagian pengikut Syaikh Taqiyuddin yang mengatakan: “Kebenaran telah muncul bersama guru kami.” Maka Syaikh Kamaluddin Al-Qazwini, wakil Ketua Hakim Najmuddin, memanggil salah seorang dari mereka ke Madrasah Al-Adiliyyah dan memberi hukuman ta’zir kepadanya. Dan Ketua Hakim Hanafi melakukan hal yang sama terhadap dua orang pengikutnya. Ketika tiba hari Senin tanggal dua puluh dua bulan tersebut, Syaikh Jamaluddin Al-Mizzi membacakan sebuah bab dalam bantahan terhadap Jahmiyyah dari kitab “Perbuatan-perbuatan Hamba” dari kitab Bukhari. Hal itu terjadi di Masjid Umawi di bawah burung elang dalam majelis umum yang diadakan untuk pembacaan “Shahih Bukhari”. Maka sebagian fuqaha yang hadir marah dan berkata: “Kami yang dituju dengan pengkafiran ini.” Maka sampailah kepada Ketua Hakim Najmuddin Asy-Syafii apa yang ia katakan, lalu ia memanggilnya dan memerintahkan penahanannya. Kabar ini sampai kepada Ibnu Taimiyah, maka ia berdiri dengan bertelanjang kaki dan diikuti oleh pengikut-pengikutnya, dan mengeluarkannya dari penjara. Maka hakim itu marah dan pergi menemui wakil Sultan. Ia bertemu dengan Taqiyuddin, dan Taqiyuddin bertindak keras terhadapnya dan menyebutkan wakilnya Jalaluddin dan bahwa ia telah menyakiti pengikut-pengikutnya. Maka wakil Sultan memerintahkan pengumuman di kota untuk berhenti dari akidah-akidah dan membahasnya, dan barang siapa berbicara tentang hal itu, darahnya halal ditumpahkan dan hartanya dirampas.

Ia bermaksud dengan itu untuk menenangkan fitnah ini. Kemudian diadakan majelis pada hari kedua, hari Selasa akhir bulan Rajab di Istana Al-Ablaq dengan kehadiran wakil Sultan, para hakim, dan para fuqaha. Terjadi pembahasan tentang masalah akidah dan pembahasannya panjang. Maka terjadilah perkataan dari Syaikh Shadaruddin tentang makna huruf-huruf. Syaikh Kamaluddin Ibnu Az-Zamlakani mengingkarinya. Maka Shadaruddin mengingkari perkataan tersebut. Kamaluddin berkata kepada Ketua Hakim Najmuddin bin Shashri: “Apakah kamu tidak mendengar apa yang ia katakan?” Maka ia berpura-pura tidak menjawabnya agar fitnah mereda. Ibnu Az-Zamlakani berkata: “Yang terjadi pada kaum Syafiiyyah hanyalah sedikit ketika kamu menjadi pemimpin mereka.” Ia bermaksud dengan itu Ibnu Al-Wakil – menurut dugaannya. Maka Ketua Hakim mengira bahwa ia bermaksud mengatakan hal itu kepadanya, lalu ia mempersaksikan terhadapnya bahwa ia telah memecat dirinya sendiri dari jabatan hakim dan berdiri dari majelis. Wakil Sultan memerintahkan agar ia kembali. Maka Amir Ruknuddin Baibars Al-Alai Al-Hajib dan para amir lainnya menyusulnya dan mengembalikannya ke majelis. Terjadi banyak percakapan, kemudian wakil Sultan mengangkatnya sebagai hakim, dan Ketua Hakim Hanafi memutuskan sahnya pengangkatannya dan hakim Maliki mengesahkannya. Ketika ia sampai di rumahnya, ia berhenti dari memutuskan perkara dan mengajukan permintaan kepada wakil Sultan tentang urusannya. Maka datanglah jawaban kesultanan yang memintanya untuk melanjutkan jabatan hakim pada tanggal dua puluh delapan bulan Syaban.

Kemudian Amir Husamuddin Lajin Al-Umari tiba pada tanggal lima bulan Ramadan dengan panggilan untuk Ketua Hakim Najmuddin dan Taqiyuddin Ibnu Taimiyah. Surat resmi kesultanan berisi perintah untuk melaporkan apa yang terjadi dari urusan Taqiyuddin yang disebutkan pada tahun enam ratus sembilan puluh delapan karena akidahnya, dan agar ditulis salinan dari dua akidah, yang pertama dan kedua. Wakil Sultan ingin membelanya dan menulis untuk kepentingannya. Namun budaknya Saifuddin At-Tunqus tiba dari negeri Mesir dan memberitahu tentang keadaan yang semakin berat terhadapnya dan tindakan Amir Ruknuddin Baibars Al-Jasyankir, dan menyebutkan kepadanya perkataan Ketua Hakim Zainuddin. Maka pada saat itu ia memerintahkan untuk mengirimnya bersama Ketua Hakim Najmuddin. Maka mereka berdua berangkat pada hari Senin tanggal dua belas bulan Ramadan. Hakim Najmuddin berangkat pada pukul lima siang dan Taqiyuddin berangkat pada pukul sembilan dengan ditemani sekelompok pengikutnya, di antaranya Taqiyuddin bin Syuqair, Zainuddin bin Zainuddin bin Munajja, Syamsuddin At-Tadmuri, Fakhruddin dan Alauddin anak-anak Syarafuddin Ash-Shaigh, Ibnu Bukhaiikh, Syarafuddin Abdullah saudara Syaikh tersebut. Mereka tiba di Kairo pada hari Kamis tanggal dua puluh dua bulan Ramadan. Diadakan majelis di Dar An-Niyabah di Benteng Jabal yang dihadiri oleh Amir Ruknuddin Baibars Al-Jasyankir dan para amir lainnya, para hakim dan ulama, yaitu setelah shalat Jumat tanggal dua puluh tiga bulan tersebut. Maka Hakim Syamsuddin Muhammad bin Adlan mengajukan gugatan syar’i terhadap Taqiyuddin tentang akidahnya di hadapan Ketua Hakim Zainuddin dalam majelis, dan menuntutnya untuk menjawab. Maka Taqiyuddin berdiri dan berkata: “Alhamdulillah,” dan ia ingin menyebutkan khutbah dan nasihat, dan menyebutkan akidahnya dalam hal itu. Namun dikatakan kepadanya: “Jawablah apa yang digugat kepadamu dan tinggalkan ini, kami tidak memerlukan apa yang kamu katakan.” Maka ia ingin mengulangi perkataan dalam khutbah tetapi dicegah dan dituntut untuk menjawab. Ia berkata: “Di hadapan siapa gugatan terhadap saya?” Dikatakan kepadanya: “Di hadapan Ketua Hakim Zainuddin Al-Maliki.” Ia berkata: “Ia adalah musuhku dan musuh madzhabku.” Namun tidak ada tanggapan terhadap perkataannya. Ketika ia tidak memberikan jawaban, Ketua Hakim Zainuddin memerintahkan penahanannya karena penolakan menjawab. Maka ia dikeluarkan dari majelis dan ditahan bersama kedua saudaranya Syarafuddin Abdullah dan Abdurrahman. Mereka dipenjarakan di menara. Kemudian sebagian orang mengunjunginya, hal ini sampai kepada Ketua Hakim Zainuddin, maka ia memerintahkan untuk memperketat pengawasan terhadapnya. Ia dipindahkan ke sumur pada malam Idul Fitri. Ditulis surat resmi kesultanan dan dikirim ke Damaskus tentang urusan Taqiyuddin dan kaum Hanabilah, salinannya:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah yang Maha Suci dari yang serupa dan sebanding, dan Maha Tinggi dari yang setara, maka firman-Nya Yang Mulia: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar” (Asy-Syura: 11). Kami memuji-Nya atas ilham-Nya kepada kami untuk beramal dengan Sunnah dan Kitab, dan mengangkat di masa kami penyebab-penyebab keraguan dan kebimbangan. Kami bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, kesaksian orang yang mengharapkan dengan keikhlasannya balasan dan tempat kembali yang baik, dan mensucikan Penciptanya dari penempatan di suatu arah karena firman-Nya Yang Mulia: “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Al-Hadid: 4). Kami bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, yang menunjukkan jalan keselamatan bagi siapa yang menempuh jalan keridaan-Nya, dan memerintahkan untuk merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah, dan melarang untuk merenungkan zat-Nya. Shalawat Allah atasnya dan atas keluarganya dan para sahabatnya yang dengannya tinggilah suar iman dan terangkat, dan Allah kokohkan dengan mereka fondasi-fondasi agama yang lurus yang disyariatkan, dan padamkan dengan mereka perkataan orang yang menyimpang dari kebenaran dan condong kepada bid’ah. Setelah itu: Sesungguhnya akidah syar’i, kaidah-kaidah Islam yang dijaga, rukun-rukun iman yang tinggi, dan madzhab-madzhab agama yang diridhai adalah fondasi yang dibangun di atasnya, tempat berlindung yang setiap orang kembali kepadanya, dan jalan yang siapa menempuhnya maka ia telah beruntung dengan keberuntungan yang besar, dan siapa yang menyimpang darinya maka ia telah berhak mendapat azab yang pedih. Oleh karena itu wajib agar hukum-hukumnya dilaksanakan dan kelangsungannya diperkuat, dan akidah umat ini dijaga dari perpecahan, dan kaidah-kaidah umat dihiasi dengan persatuan, dan pedang-pedang bid’ah diselubungkan, dan apa yang terkumpul dari kelompok-kelompoknya dipisahkan. Dan adalah Taqiyuddin Ibnu Taimiyah dalam periode ini telah melepaskan lidah penanya, dan membentangkan tali kalimatnya, dan berbicara dalam masalah-masalah zat dan sifat, dan menyatakan dalam ucapannya hal-hal yang mungkar, dan berbicara tentang apa yang tidak dibicarakan oleh para sahabat dan tabiin, dan mengucapkan apa yang dihindari oleh salaf shalih, dan mendatangkan dalam hal itu apa yang diingkari oleh imam-imam Islam, dan disepakati keberatannya oleh ijma ulama dan hakim. Dan ia menyebarkan fatwa-fatwanya di negeri-negeri yang menggoyahkan akal orang awam, dan dalam hal itu ia menyelisihi ulama zamannya dan fuqaha Suriah dan Mesirnya, dan ia mengirim surat-suratnya ke setiap tempat, dan ia menamakan fatwa-fatwanya dengan nama-nama yang tidak diturunkan Allah untuk itu suatu keterangan.

Ketika sampai kepada kami hal itu dan apa yang ditempuh oleh para muridnya dari masalah-masalah ini dan mereka nyatakan, dari keadaan-keadaan ini dan mereka sebarkan, dan kami mengetahui bahwa ia telah meremehkan kaumnya maka mereka mentaatinya, sehingga sampai kepada kami bahwa mereka menyatakan secara terang-terangan tentang Allah dengan huruf, suara, dan penjisiman. Kami bangkit karena Allah Taala dengan khawatir terhadap berita besar ini, dan kami ingkari bid’ah ini, dan kami tidak suka jika tersebar tentang orang yang berada di wilayah kami reputasi ini. Kami benci apa yang diucapkan oleh para pembuat kebatilan dan kami membaca firman-Nya: “Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan” (Al-Mu’minun: 91). Sesungguhnya Dia, Maha Agung keagungan-Nya, Maha Suci dari yang setara dan sebanding: “Pandangan-pandangan tidak dapat menjangkau-Nya, sedang Dia dapat menjangkau segala pandangan, dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (Al-An’am: 103). Dan terdahulunya perintah kami untuk memanggil Ibnu Taimiyah yang disebutkan ke pintu istana kami ketika fatwa-fatwanya menyebar di Suriah dan Mesir, dan ia menyatakan di dalamnya dengan kata-kata yang tidak didengar oleh orang yang berakal kecuali ia membaca: “Sungguh, kamu telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar” (Al-Kahfi: 74). Ketika ia tiba kepada kami, kami memerintahkan untuk mengumpulkan para pemilik keputusan dan ikatan, dan para pemilik tahqiq dan kritik, dan hadir para hakim Islam dan hakim manusia, dan ulama agama, dan fuqaha kaum muslimin. Diadakan untuknya majelis syar’i dalam kumpulan para imam dan jama’ah. Maka tebuktilah pada saat itu terhadapnya semua yang dinisbatkan kepadanya berdasarkan tulisan tangannya yang menunjukkan keyakinannya yang mungkar. Kumpulan itu diakhiri sedang mereka mengingkari akidahnya, dan mereka menyiksanya dengan apa yang disaksikan penanya terhadapnya sambil membaca: “Kesaksian mereka akan dicatat dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban” (Az-Zukhruf: 19). Dan sampai kepada kami bahwa ia telah diminta bertaubat sebelumnya, dan syariat yang mulia mengakhirkannya ketika ia melakukan hal itu dan maju. Kemudian ia kembali setelah larangannya, dan larangan-larangan itu tidak masuk ke pendengarannya. Ketika hal itu terbukti di majelis hukum yang mulia Maliki, syariat yang mulia memutuskan bahwa orang yang disebutkan ini harus dipenjarakan dan dicegah dari bertindak dan muncul. Perintah kami ini memerintahkan agar tidak ada seorang pun yang menempuh apa yang ditempuh oleh orang yang disebutkan dari jalan-jalan ini, dan melarang untuk menyerupainya dalam meyakini seperti ini atau menjadi pengikutnya dalam perkataan ini, dan pendengar kata-kata ini, atau mengikuti jejaknya dalam tajsim, atau mengucapkan tentang arah keninggian secara khusus seperti yang ia ucapkan, atau berbicara seseorang tentang suara atau huruf, atau memperluas ucapan tentang zat atau sifat, atau mengucapkan tajsim, atau menyimpang dari jalan kebenaran yang lurus, atau keluar dari pendapat para imam, atau menyendiri dari ulama umat, atau menempatkan Allah di suatu arah, atau mengarah kepada di mana atau bagaimana. Maka tidak ada bagi orang yang meyakini kumpulan ini di sisi kami kecuali pedang. Maka hendaklah setiap orang berhenti pada batas ini, dan bagi Allah urusan sebelum dan sesudah. Dan hendaklah setiap orang dari kaum Hanabilah untuk kembali dari apa yang diingkari oleh para imam dari akidah ini, atau keluar dari hal-hal yang meragukan yang keras ini, dan berpegang teguh dengan apa yang Allah Taala perintahkan yaitu berpegang teguh dengan madzhab-madzhab ahli iman yang terpuji. Sesungguhnya barang siapa keluar dari perintah Allah Taala maka ia telah tersesat jalan yang lurus, dan tidak ada baginya selain penjara yang panjang tanpa tempat menetap dan tempat istirahat.

Kami telah memerintahkan agar diumumkan di Damaskus yang terjaga dan wilayah-wilayah Syam serta daerah-daerah tersebut dengan larangan keras, peringatan, dan ancaman bagi siapa saja yang mengikuti Ibnu Taimiyah dalam perkara yang telah kami jelaskan. Barang siapa mengikutinya dalam hal itu, kami biarkan dia di tempatnya seperti itu, kami halalkan dan tempatkan dia di mata umat sebagaimana kami telah menempatkannya. Dan barang siapa yang bersikeras membela dan tidak mau menerima, kami perintahkan untuk memecat mereka dari madrasah-madrasah dan jabatan-jabatan mereka serta menurunkan mereka dari kedudukan-kedudukan mereka, dan tidak boleh ada bagi mereka di negeri kami hak menghukum, tidak peradilan, tidak menjadi imam, tidak menjadi saksi, tidak memegang wilayah, tidak memiliki pangkat, dan tidak boleh tinggal. Sesungguhnya kami telah menghilangkan dakwah orang yang membuat bid’ah ini dari negeri, dan kami telah membatalkan akidahnya yang telah menyesatkan banyak hamba atau hampir menyesatkan. Dan hendaklah dibuat risalah-risalah syar’i terhadap kaum Hanabilah tentang kembali dari hal itu, dan dikirimkan kepada kami setelah ditetapkan oleh para qadhi di kerajaan-kerajaan. Dan sungguh kami telah memberi alasan dan memperingatkan, dan kami telah berlaku adil ketika kami memberi peringatan. Dan hendaklah perintah kami ini dibacakan di atas mimbar-mimbar, agar menjadi pelajaran dan pencegahan yang paling efektif, dan pelarangan serta perintah yang paling terpuji. Dan yang menjadi sandaran adalah tulisan mulia di atasnya. Ditulis pada tanggal dua puluh delapan bulan Ramadhan tahun tujuh ratus lima.

Ketika contoh surat ini sampai ke Damaskus, dibacakan di atas mimbar-mimbar sebagaimana yang diperintahkan di dalamnya dan diumumkan serta disebarluaskan. Adapun Qadhi Al-Qudhat Najmuddin Ibnu Shashari, ia diperlakukan dengan penghormatan dan diberi pakaian kehormatan dan tinggal di Darul Hadits Al-Kamiliyah di ruang pengajaran di sana. Sultan memberinya izin untuk menghukum di Kaherah, maka ia menetapkan banyak surat-surat dan duduk penulis-penulis peradilan di hadapannya, dan dikeluarkan putusan-putusannya dan aku menjadi saksi atasnya dalam sebagiannya. Kemudian ia kembali ke Damaskus dengan kuda pos, dan kedatangannya ke sana adalah pada hari Jumat tanggal enam Dzulqa’dah. Dan di tengah-tengah peristiwa ini dalam rentang masa tersebut, kaum Hanabilah di Kaherah mengalami peristiwa-peristiwa dengan Qadhi Al-Qudhat Zainuddin Al-Maliki di mana sebagian tokoh-tokoh mereka dihina dan sebagian yang lain ditahan serta didera.

Dan termasuk orang yang bersikap fanatik terhadap Taqiyuddin Ibnu Taimiyah dalam peristiwa ini di Syam adalah Qadhi Al-Qudhat Syamsuddin Muhammad Ibnul Hariri Al-Hanafi, dan ia membuat risalah baginya tentang kebaikan yang ada padanya, dan menuliskan di bagian atasnya dengan tulisan tangannya tiga belas baris yang di antaranya menyatakan: Bahwa sejak tiga ratus tahun tidak ada orang yang melihat orang seperti dia. Dan Qadhi Al-Qudhat Zainuddin Al-Maliki memperlihatkan kepadaku risalah ini, dan ia marah karenanya serta berusaha untuk memecat Qadhi Al-Qudhat Hanafiyah di Damaskus Syamsuddin Ibnul Hariri. Maka ia dipecat dan jabatan Qadhi Al-Qudhat Hanafiyah di Damaskus diserahkan setelahnya kepada Qadhi Al-Qudhat Syamsuddin Muhammad bin Ibrahim Al-Azra’i Al-Hanafi, pengajar di Madrasah Asy-Syabliyah. Surat pengangkatannya sampai ke Damaskus pada tanggal dua Dzulqa’dah.

Adapun Taqiyuddin, ia terus berada di penjara di Benteng Gunung sampai Amir Husamuddin Muhanna datang ke pintu-pintu Kesultanan pada bulan Rabiul Awal tahun tujuh ratus tujuh. Ia meminta Sultan tentang perkaranya dan memberi syafaat untuknya. Maka Sultan memerintahkan untuk mengeluarkannya, lalu ia dikeluarkan pada hari Jumat tanggal dua puluh tiga bulan tersebut. Ia dihadirkan ke Darul Niyabah di Benteng Gunung dan terjadi pembahasan dengan sebagian fuqaha. Kemudian berkumpul sejumlah ulama terkemuka dan para qadhi tidak hadir karena Qadhi Al-Qudhat Zainuddin Al-Maliki sedang sakit keras, dan qadhi yang lain tidak hadir. Terjadilah pembahasan dan ditulis tulisan tangannya serta disaksikan atasnya dan ditulis dalam bentuk risalah majelis yang isinya:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Bersaksi orang-orang yang meletakkan tulisan tangannya di akhirnya bahwa ketika diadakan majelis untuk Taqiyuddin Ahmad Ibnu Taimiyah Al-Harrani Al-Hanbali di hadapan Yang Mulia Yang Tinggi Yang Maulawi Yang Berderajat Tinggi Yang Berilmu Yang Adil Saifuddin Malik Al-Umara Sallar Al-Maliki An-Nashiri, wakil Kesultanan Yang Agung—semoga Allah melimpahkan naungan-Nya—dan hadir di dalamnya sejumlah tuan-tuan ulama yang mulia, ahli fatwa di negeri Mesir, karena apa yang dinukil darinya dan ditemukan dengan tulisan tangannya yang telah dikenali sebelum itu mengenai perkara-perkara yang berkaitan dengan akidahnya bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala berbicara dengan suara dan bahwa istiwak (bersemayam) itu sesuai hakikatnya dan lain-lain yang menyalahi Ahlul Haq, majelis berakhir setelah terjadi pembahasan-pembahasan dengannya agar ia kembali dari akidahnya dalam hal itu sampai ia berkata di hadapan saksi-saksi: Saya adalah Asy’ari. Dan ia mengangkat kitab Asy’ariyah di atas kepalanya dan disaksikan atasnya dengan apa yang ia tulis dengan tulisan tangannya yang bunyinya: Segala puji bagi Allah. Yang saya yakini adalah bahwa Al-Quran adalah makna yang berdiri dengan dzat Allah, dan ia adalah sifat dari sifat-sifat dzat-Nya yang qadim lagi azali dan tidak diciptakan dan bukan huruf dan bukan suara. Ditulis oleh: Ahmad Ibnu Taimiyah. Dan yang saya yakini dari firman-Nya: “Ar-Rahman bersemayam di atas Arsy” (Surah Thaha: 5) adalah bahwa itu sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama, bahwa itu bukan menurut hakikat dan zhahirnya, dan aku tidak mengetahui hakikat maksudnya, bahkan tidak ada yang mengetahui itu kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ditulis oleh Ahmad Ibnu Taimiyah.

Dan perkataan tentang nuzul (turun) adalah seperti perkataan tentang istiwak. Saya mengatakan padanya apa yang saya katakan padanya, dan saya tidak mengetahui hakikat maksudnya, bahkan tidak ada yang mengetahui itu kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan bukan menurut hakikat dan zhahirnya. Ditulis oleh: Ahmad Ibnu Taimiyah. Dan itu pada hari Ahad tanggal dua puluh lima bulan Rabiul Awal tahun tujuh ratus tujuh.

Ini adalah bentuk apa yang ia tulis dengan tulisan tangannya. Dan disaksikan juga atasnya bahwa ia bertaubat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari apa yang bertentangan dengan akidah ini dalam empat masalah yang disebutkan dengan tulisan tangannya, dan ia mengucapkan dua kalimat syahadat yang diagungkan, dan disaksikan juga atasnya dengan kerelaan dan pilihan sendiri dalam hal itu. Dan semua itu terjadi di Benteng Gunung yang terjaga di negeri Mesir—semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjaganya—dengan tarikh hari Ahad tanggal dua puluh lima bulan Rabiul Awal tahun tujuh ratus tujuh. Dan bersaksi atasnya dalam risalah ini sejumlah tokoh-tokoh mufti dan para saksi yang adil. Dan ia dibebaskan dan tinggal di Kaherah di Dar Syuqair. Kemudian diadakan majelis ketiga untuknya di Madrasah Ash-Shalihiyah di Kaherah pada hari Kamis tanggal enam belas bulan Rabiulakhir, dan ia menulis dengan tulisan tangannya seperti yang sebelumnya dan terjadi persaksian atasnya juga. Dan keadaan tenang untuk beberapa waktu. Kemudian berkumpul sejumlah syaikh dan kaum sufi bersama Syaikh Tajuddin Ibnu Atha’illah sekitar lima ratus orang dan diikuti banyak sekali kaum awam, dan mereka naik ke Benteng Gunung pada pertengahan bulan Syawal tahun itu. Syaikh yang disebutkan dan tokoh-tokoh para syaikh bertemu dengan wakil Sultan dan berkata: Sesungguhnya Taqiyuddin berbicara tentang para syaikh tharekat dan bahwa ia berkata: Tidak boleh beristighatsah (meminta pertolongan) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka urusan diserahkan kepada Qadhi Al-Qudhat Badruddin Ibnu Jama’ah Asy-Syafi’i. Dan keadaan mengharuskan diperintahkan untuk membuangnya ke Syam dengan kuda pos, maka ia berangkat. Dan Qadhi Al-Qudhat Zainuddin Al-Maliki pada waktu itu dalam keadaan sakit keras dan hampir meninggal. Berita itu sampai kepadanya setelah sadar dari pingsan yang terjadi padanya, maka ia mengirim kepada Amir Saifuddin Sallar dan memintanya untuk mengembalikannya. Maka ia memerintahkan untuk mengembalikannya ke Kaherah, lalu pos berangkat dan mengembalikannya dari kota Bilbais. Ia sampai sedangkan Qadhi Al-Qudhat Zainuddin dikuasai penyakit. Maka ia mengirim kepada wakilnya Al-Qadhi Nuruddin Az-Zawawi, lalu ia menghadirkannya ke majelis Qadhi Al-Qudhat Badruddin dan dibuat gugatan atasnya dalam perkara akidahnya dan apa yang terjadi darinya. Maka Syaikh Syarafuddin Ibnu Ash-Shabuni bersaksi atasnya, dan dikatakan bahwa Syaikh Alauddin Al-Qunawi bersaksi atasnya. Maka ia ditahan di penjara Al-Hakim di kawasan Ad-Dailam, dan itu pada tanggal delapan belas Syawal tahun tujuh ratus tujuh. Ia terus berada di sana sampai akhir Safar tahun tujuh ratus sembilan. Maka dilaporkan tentang dia bahwa sejumlah orang datang kepadanya di penjara dan ia memberi nasihat kepada mereka dan berbicara di tengah nasihatnya dengan apa yang menyerupai perkataannya yang terdahulu. Maka diperintahkan untuk memindahkannya ke Benteng Iskandariyah dan menahannya di sana. Ia dikirim ke Benteng pada tarikh ini dan dipenjara di menara timur dan terus berada di sana sampai kembalinya Dinasti Nashiriyah untuk ketiga kalinya. Ia berbicara dengan Sultan pada hari Sabtu tanggal delapan belas Syawal tahun tujuh ratus sembilan. Sultan menghormat dan mengumpulkan para qadhi serta mendamaikan antara dia dengan Qadhi Al-Qudhat Zainuddin Al-Maliki. Qadhi Al-Qudhat mensyaratkan kepadanya agar bertaubat dari apa yang telah dibicarakan sebelumnya dan bertaubat darinya serta tidak mengulanginya. Maka Sultan berkata: Ia telah bertaubat. Dan majelis berakhir dengan baik. Syaikh Taqiyuddin tinggal di Kaherah di salah satu ruangan, dan orang-orang terus datang kepadanya sampai Sultan berangkat ke Syam pada tahun tujuh ratus dua belas. Ia berangkat dengan niat berperang, dan tinggal di Damaskus sampai kami menulis tulisan-tulisan ini pada tahun tujuh ratus dua puluh lima. Dan ia mengalami peristiwa-peristiwa di Damaskus dalam rentang masa ini yang akan kami sebutkan di tempat-tempatnya jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala menghendaki. Dan marilah kita kembali kepada kelanjutan kisah peristiwa-peristiwa pada tahun tujuh ratus lima.

Penyebutan Penahanan Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah

Dan pada tahun ini—pada hari Senin tanggal enam Sya’ban—ditahan Syaikh Taqiyuddin Ahmad Ibnu Taimiyah di Benteng Damaskus yang terjaga, sesuai perintah resmi Kesultanan. Dan ditahan bersamanya saudaranya Zainuddin Abdurrahman, dan ia dilarang memberi fatwa dan dikunjungi orang.

Adapun sebabnya adalah: Bahwa ia memberi fatwa bahwa tidak boleh ziarah ke makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak juga ke makam Ibrahim Khalilullah, tidak juga ke makam-makam nabi-nabi dan orang-orang shalih yang lain. Dan salah seorang sahabatnya yaitu Syamsuddin Muhammad bin Abi Bakr, imam Madrasah Al-Jauziyah pada tahun ini berangkat untuk ziarah ke Baitul Maqdis. Maka ia naik mimbar di tanah suci Baitul Maqdis dan memberi nasihat kepada orang-orang serta menyebutkan masalah ini di tengah nasihatnya, dan berkata: Inilah aku dari sini akan kembali dan tidak akan ziarah ke Khalil. Dan ia datang ke Nablus dan mengadakan majelis nasihat serta mengulangi perkataannya dan berkata: Dan tidak diziarahi makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak diziarahi kecuali masjidnya. Maka penduduk Nablus bermaksud membunuhnya, namun penguasanya menghalangi mereka. Dan penduduk Baitul Maqdis, penduduk Nablus, dan Damaskus menulis tentang apa yang terjadi darinya. Maka Qadhi Al-Qudhat Syarafuddin Al-Maliki memanggilnya, namun ia bersembunyi darinya. Dan ia buru-buru menemui Qadhi Al-Qudhat Syamsuddin Muhammad bin Muslim Al-Hanbali, qadhi kaum Hanabilah, dan bertaubat di hadapannya. Ia menerima taubatnya dan menjaga darahnya serta tidak menghukumnya.

Maka bangkit para fuqaha di Damaskus karena itu dan berbicara tentang Syaikh Taqiyuddin. Mereka menulis fatwa yang berisi apa yang keluar darinya, dan menyebutkan masalah ini dan lainnya. Para ulama memberi fatwa tentang kekufurannya! Dan fatwa itu disampaikan kepada wakil Kesultanan di Syam, Amir Saifuddin Tankiz. Ia melaporkan kepada Sultan tentang hal itu. Maka Sultan bersidang pada hari Selasa tanggal dua puluh sembilan bulan Rajab di lapangan yang berada di bawah Benteng Gunung. Ia menghadirkan para qadhi dan ulama serta menyampaikan kepada mereka apa yang datang tentang perkaranya dari Damaskus. Maka Qadhi Al-Qudhat Badruddin Muhammad bin Jama’ah Asy-Syafi’i memberi saran untuk menahan Taqiyuddin yang disebutkan. Maka diperintahkan untuk menahannya dan melarangnya memberi fatwa, dan melarang orang-orang bertemu dengannya, dan bahwa dihukum orang yang berada dalam akidahnya, dan dikirim pos tentang hal itu. Maka pos sampai ke Damaskus pada hari Senin tanggal enam Sya’ban, lalu ia ditahan. Dan surat Kesultanan dibacakan setelah shalat Jumat tanggal sepuluh bulan tersebut di mimbar Masjid Damaskus.

Kemudian Qadhi Al-Qudhat Al-Qazwini memanggil sejumlah sahabat Taqiyuddin pada hari Jumat tanggal dua puluh empat bulan tersebut ke Madrasah Al-Adiliyah, dan mereka telah ditahan di penjara peradilan. Maka digugat Al-Imad Isma’il, menantu Syaikh Jamaluddin Al-Mizzi, bahwa ia berkata: Sesungguhnya Taurat dan Injil tidak diubah, dan keduanya seperti yang diturunkan. Maka ia mengingkarinya, namun disaksikan atasnya tentang hal itu. Maka ia dipukul dengan cambuk dan diarak serta dilepaskan.

Dan digugat Abdullah Al-Iskandari, dan Ash-Shalah Al-Kutbi, dan lain-lain dengan perkara-perkara yang keluar dari mereka. Hal itu terbukti atas mereka, maka mereka dipukul dengan cambuk dan diarak di negeri.

Dan dipanggil Asy-Syamsi, imam Madrasah Al-Jauziyah, dan ditanyakan tentang apa yang keluar darinya dalam majelis nasihatnya di Baitul Maqdis dan Nablus. Ia mengingkari hal itu, namun bersaksi atasnya orang yang hadir di kedua majelisnya dengan apa yang ia ucapkan dari orang-orang yang berangkat dari saksi-saksi adil Damaskus untuk ziarah ke Baitul Maqdis. Hal itu terbukti atasnya, maka ia dipukul dengan cambuk dan diarak dengan keledai di Damaskus dan Ash-Shalihiyah, dan dibelenggu serta ditahan di Benteng Damaskus. Ia terus dalam tahanan sampai hari Selasa tanggal dua puluh Dzulhijjah tahun delapan ratus dua puluh delapan. Ia dibebaskan pada hari ini dan datang kepada Qadhi Al-Qudhat Asy-Syafi’i. Ia mensyaratkan kepadanya beberapa syarat, maka ia memenuhinya, dan ia dilepaskan.

Dan pada tahun itu di hari Senin tanggal sembilan belas Jumadil Akhirah datang surat keputusan resmi kesultanan ke Damaskus yang berisi larangan bagi Syekh Taqiyuddin Ahmad Ibnu Taimiyah untuk menulis sama sekali baik dalam penulisan karya maupun fatwa. Maka diambil semua buku, kertas, tinta dan pena yang ada padanya dan dititipkan kepada pengelola Benteng Damaskus. Semuanya berada di sana sampai awal bulan Rajab, kemudian pengelola tersebut mengirimkannya kepada Qadlil Qudlat Alauddin. Lalu ia menyimpan buku-buku tersebut di perpustakaan Madrasah Adiliyah karena perpustakaan itu kosong. Adapun kertas-kertas yang ditulis tangannya sendiri dari karya-karyanya sekitar empat belas ikat, maka para hakim dan ahli fikih memeriksanya dan dibagi-bagikan di antara mereka.

Adapun penyebabnya adalah ditemukannya jawaban dari beliau atas bantahan yang diajukan kepadanya oleh Qadlil Qudlat Taqiyuddin Al-Maliki. Maka hal itu dilaporkan kepada Sultan, lalu Sultan meminta pendapat Qadlil Qudlat, dan ia menyarankan hal itu, maka Sultan memerintahkannya. Maka sejak saat itu Syekh beralih dari menulis kepada membaca Al-Quran.

Dan pada tahun itu di sepertiga terakhir malam Senin yang paginya bertepatan dengan tanggal dua puluh Dzulqaidah terjadilah wafatnya Syekh yang alim dan wara Taqiyuddin Ahmad bin Syekh Syihabuddin Abul Mahasin Abdul Halim bin Syekh Majduddin Abul Barakat Abdussalam bin Abdullah bin Abul Qasim bin Muhammad Ibnu Taimiyah Al-Harrani kemudian Ad-Dimasyqi di tempat penahanannya di Damaskus. Beliau sakit selama tujuh belas hari. Setelah dilarang menulis dan mengarang, beliau tekun membaca kitab Allah Taala. Dikatakan bahwa beliau membaca delapan puluh kali khatam, dan membaca dari khatam kedelapan puluh satu sampai Surah Ar-Rahman, dan khatam tersebut disempurnakan oleh sahabat-sahabatnya yang masuk menemui beliau saat beliau dimandikan dan dikafani. Yang memandikan beliau bersama pemandikan adalah Syekh Tajuddin Al-Faruqi dan Syekh Syamsuddin bin Idris. Dan dishalatkan atasnya di beberapa tempat. Pertama dishalatkan di Benteng Damaskus dan yang mengimami shalat atas beliau adalah Syekh Muhammad bin Tamam Ash-Shalihi Al-Hanbali. Kemudian jenazah dibawa ke Masjid Umawi dan diletakkan pada awal waktu jam kelima. Masjid penuh sesak dengan manusia, dan pasar-pasar kota ditutup. Shalat dilaksanakan atas beliau setelah shalat Zhuhur. Kemudian jenazah diangkat dan dikeluarkan dari Pintu Al-Faraj. Manusia berdesak-desakan hingga mereka berpencar di pintu-pintu kota. Dan dishalatkan atas beliau setelah shalat Zhuhur, kemudian diangkat dan mereka keluar dari Pintu An-Nashr, Pintu Al-Faradis dan Pintu Al-Jabiyah. Pasar kuda penuh sesak dengan manusia. Dishalatkan atas beliau untuk ketiga kalinya dan yang mengimami shalat atas beliau adalah saudaranya Syekh Zainuddin Abdurrahman. Jenazah dibawa ke pemakaman kaum Sufi, lalu dikuburkan menjelang waktu Ashar karena padatnya manusia yang mendatanginya.

Kelahiran beliau di Harran pada hari Senin tanggal sepuluh bulan Rabiul Awal tahun enam ratus enam puluh satu. Beliau datang bersama ayahnya ketika masih kecil dan belajar kepadanya serta mendengar dari sejumlah para syekh. Beliau adalah seorang syekh yang hafal, sangat cerdas dan baik dalam berpikir spontan. Beliau memiliki banyak karya tulis, sebagian telah tersebar dan sebagian belum tersebar. Kemashuran beliau dalam ilmu mencukupkan untuk tidak perlu memperpanjang tulisan tentangnya. Ilmu beliau lebih unggul daripada akalnya. Sungguh telah kami sebutkan sebelumnya dari berita dan peristiwa-peristiwa beliau yang mencukupkan untuk tidak perlu diulang. Masa penahanan beliau dari hari Senin tanggal enam Syaban tahun tujuh ratus dua puluh enam sampai wafatnya adalah dua tahun tiga bulan empat belas hari, semoga Allah Taala merahmatinya. Ketika beliau wafat, saudaranya Syekh Zainuddin Abdurrahman dibebaskan pada hari Ahad tanggal dua puluh enam Dzulqaidah. Ia telah ditahan bersamanya, maka ketika beliau wafat ia keluar setiap hari ke makam saudaranya dan kembali pada sore hari untuk bermalam di Benteng Damaskus, sampai wakil Sultan datang dari berburu, lalu ia membebaskannya.

 

 

06 – Jawaban-Jawaban Ibnu Sayyid An-Nas Al-Yamari atas Pertanyaan-Pertanyaan Ibnu Aibak Ad-Dimyathi

Karya Al-Allamah Abul Fath Ibnu Sayyid An-Nas Al-Yamari (734)

[Ibnu Sayyid An-Nas berkata, setelah pujiannya kepada Al-Mizzi:] Dan beliaulah yang mendorong saya untuk menemui Syekh Al-Imam Syaikhul Islam: Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah.

Maka saya mendapati beliau sebagai orang yang memperoleh bagian dari ilmu dan hampir menguasai sunah dan atsar dalam hafalan. Jika beliau berbicara dalam tafsir maka beliau adalah pembawa benderanya, atau berfatwa dalam fikih maka beliau mencapai tujuannya, atau berdiskusi tentang hadits maka beliau adalah pemilik ilmu dan pemilik riwayannya, atau hadir dalam pembahasan tentang aliran dan agama-agama maka tidak terlihat yang lebih luas dari alirannya dalam hal itu dan tidak lebih tinggi dari penguasaannya. Beliau unggul dalam setiap bidang di atas orang-orang sejenis beliau, dan mata yang melihatnya tidak pernah melihat yang seperti beliau, dan mata beliau tidak melihat yang seperti dirinya sendiri. Beliau berbicara dalam tafsir maka hadir di majelisnya orang banyak yang sangat ramai, dan mereka datang dari lautan ilmunya yang segar manis, dan mereka merumput dari musim semi keutamaan beliau di taman dan sungai, sampai datang kepadanya penyakit hasad dari penduduk negerinya, dan orang-orang yang memiliki pandangan di antara mereka fokus pada apa yang dikritik atas beliau dalam akidah Hanbalinyanya. Mereka menghafal darinya dalam hal itu perkataan yang mereka perluas celaan kepadanya karenanya, dan mereka arahkan panah untuk membidahkannya. Mereka mengklaim bahwa beliau menyelisihi jalan mereka dan memecah kelompok mereka, maka beliau bertengkar dengan mereka dan mereka bertengkar dengan beliau, sebagian memutus hubungan dengan beliau dan mereka memutuskan hubungan dengannya. Kemudian beliau bertengkar dengan kelompok lain yang menisbatkan diri dari kemiskinan kepada jalan tertentu, dan mereka mengklaim bahwa mereka berada pada hakikat batiniah yang paling halus dan paling jelas. Maka beliau mengungkap jalan-jalan tersebut dan menyebutkan baginya – menurut klaimnya – keburukan-keburukan. Maka kembali kepada kelompok pertama dari orang-orang yang bertengkar dengannya, dan meminta bantuan kepada orang-orang yang memiliki dendam kepadanya dari orang-orang yang memutus hubungan dengannya. Mereka menyampaikan urusannya kepada para penguasa, dan setiap dari mereka menjalankan pikirannya untuk mengkafirkan beliau. Maka mereka menyusun catatan-catatan dan menggerakkan orang-orang bodoh untuk membawa catatan tersebut ke hadapan para pembesar, dan mereka berusaha untuk memindahkannya ke pusat kerajaan di negeri Mesir. Maka beliau dipindahkan, dan dimasukkan ke penjara saat kedatangannya dan ditahan. Mereka mengadakan majelis-majelis untuk menumpahkan darahnya, dan mereka mengumpulkan orang-orang dari penghuni zawiyah dan penghuni madrasah, dari orang yang berpura-pura dalam pertengkaran dan licik dalam penipuan, dan dari orang yang terang-terangan dengan pengkafiran dan berjuang dengan pemutusan hubungan, mereka menghendaki beliau merasakan derita kematian, “Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan oleh hati mereka dan apa yang mereka nyatakan” (Surah Al-Qashash ayat 69).

Dan orang yang terang-terangan mengkafirkan beliau tidak lebih buruk keadaannya daripada yang licik, dan sungguh telah datang kepadanya kalajengking tipu daya mereka maka Allah mengembalikan tipu daya setiap orang ke lehernya sendiri, dan menyelamatkan beliau sebagaimana Dia menyelamatkan orang yang dipilihnya dan Allah berkuasa atas urusannya.

Kemudian setelah itu beliau tidak terlepas dari fitnah demi fitnah, dan tidak berpindah sepanjang umurnya dari satu ujian kecuali ke ujian lainnya, sampai urusan beliau diserahkan kepada salah seorang hakim maka ia melaksanakan apa yang ia laksanakan berupa penahanan beliau, dan beliau tidak berhenti di penjara tersebut sampai saat kepergiannya kepada Tuhannya Taala dan kepindahannya. Dan kepada Allah dikembalikan semua urusan, dan Dia Maha Melihat pengkhianatan mata dan apa yang disembunyikan dada.

Dan hari beliau adalah hari yang disaksikan, jalan menjadi sempit dengan jenazahnya, dan kaum muslimin datang dari setiap penjuru yang jauh, mereka mencari berkah dengan menyaksikan beliau di hari berdirinya para saksi, dan mereka berpegang pada usungannya sampai mereka mematahkan kayu-kayu tersebut!! Dan itu terjadi pada malam dua puluh Dzulqaidah tahun tujuh ratus dua puluh delapan di Benteng Damaskus yang terjaga. Kelahiran beliau di Harran pada tanggal sepuluh bulan Rabiul Awal tahun enam ratus enam puluh satu – semoga Allah merahmatinya dan kami -. Saya membaca kepada Syekh Al-Imam pembawa bendera ilmu-ilmu dan pencapai tujuan pemahaman; Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam bin Taimiyah semoga Allah merahmatinya di Kairo – ketika beliau datang kepada kami – saya berkata: Telah mengabarkan kalian Syekh Al-Imam Zainuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdul Daim bin Nimah Al-Maqdisi.

Ha. Abul Fath berkata: Dan telah mengabarkan kami dua syekh Abu Faraj Abdul Lathif secara ijazah, dan saudaranya Abu Al-Izz Abdul Aziz secara mendengar beberapa kali, mereka berkata: Telah mengabarkan kami Abu Faraj Abdul Munim bin Abdul Wahhab bin Sad bin Shadaqah bin Kulaib.

Ibnu Abdul Daim dan Abdul Lathif berkata: secara mendengar, dan Abdul Aziz berkata: secara ijazah. Ia berkata: Telah mengabarkan kami Abul Qasim Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Bayan Ar-Razzaz secara dibacakan kepadanya dan saya mendengar, ia berkata: Telah mengabarkan kami Abu Al-Hasan Muhammad bin Muhammad bin Makhlad, ia berkata: Telah mengabarkan kami Abu Ali Ismail bin Muhammad bin Ismail Ash-Shaffar, telah menceritakan kepada kami Abu Ali Al-Hasan bin Arafah Al-Abdi, telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ayyasy dari Buhair bin Sad Al-Kalai dari Khalid bin Midan dari Katsir bin Murrah Al-Hadlrami dari Uqbah bin Amir Al-Juhani, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Orang yang mengeraskan bacaan Al-Quran seperti orang yang mengeraskan sedekah, dan orang yang merahasiakan bacaan Al-Quran seperti orang yang merahasiakan sedekah.”

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam bab Shalat dari Abu Bakr bin Abi Syaibah, dan At-Tirmidzi dari Ibnu Arafah keduanya dari Ismail bin Ayyasy, dan ia berkata: hasan gharib. Maka sampai kepada kami sanad yang tinggi yang sejajar dengan At-Tirmidzi, dan badal untuk Abu Dawud.

 

 

07 – Sejarah Peristiwa-Peristiwa Zaman dan Berita-Beritanya serta Wafat Para Pembesar dan Tokoh dari Anak-Anaknya

Karya Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad bin Ibrahim Al-Jazari Al-Qurasyi (739)

Pada hari Senin tanggal enam Syaban (tahun 726) datang surat dari Mesir ke Damaskus dan bersamanya ada surat keputusan kesultanan agar menahan Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah. Setelah shalat Ashar hadir Nashiruddin musyid awqaf, dan Amir Badruddin (Amir Masud) Ibnul Khathir Al-Hajib ke tempat Syekh dan memberitahukan kepadanya gambaran keadaan. Maka beliau menunjukkan bahwa dalam hal ini ada kebaikan yang banyak, dan mereka membawakan beliau kendaraan, lalu beliau naik bersama mereka ke Benteng Damaskus. Maka dikosongkan untuk beliau sebuah rumah yang mengalir kepadanya air, dan dalam surat keputusan tersebut disebutkan bahwa harus bersama beliau seorang anak atau saudara dan pembantu yang melayaninya, dan akan diberikan kepada mereka kecukupan. Maka beliau memilih saudaranya Zainuddin Abdurrahman untuk tinggal bersamanya untuk melayaninya. Adapun penyebabnya adalah bahwa beliau telah berfatwa dengan sebuah fatwa dan menyebutkan di dalamnya (bahwa) tidak boleh mengadakan perjalanan kecuali ke tiga masjid. Hadits yang masyhur. Dan bahwa ziarah ke makam para nabi alaihimus salam tidak boleh mengadakan perjalanan khusus ke sana seperti makam bapak kita Ibrahim Al-Khalil dan Nabi alaihis salam dan selain mereka dari para nabi dan orang-orang shalih shallallahu alaihim ajmain.

Dan terjadi bahwa Asy-Syams Muhammad imam Al-Jauziyah melakukan perjalanan ke Yerusalem yang mulia dan naik di Al-Haram ke atas mimbar dan memberi nasihat. Dalam nasihatnya ia menyebutkan masalah ini dan berkata: Saya di sini akan kembali dan tidak akan berziarah ke Al-Khalil karena itu adalah sikap tidak hormat kepadanya shallallahu alaihi wasallam. Dan ia datang ke Nablus dan diadakan untuknya majelis nasihat dan ia menyebutkan masalah yang sama persis hingga ia berkata: dan tidak diziarahi makam Nabi shallallahu alaihi wasallam kecuali masjidnya. Maka orang-orang bangkit menentangnya, dan yang melindunginya dari mereka adalah wali Nablus Saifuddin Bahadur. Penduduk Yerusalem dan Nablus menulis ke Damaskus memberitahukan mereka gambaran apa yang terjadi darinya. Maka Qadli Al-Maliki memanggilnya, dan ia bersikap ramah kepadanya dan naik ke Ash-Shalihiyah ke Qadli Al-Hanbali dan bertaubat di tangannya serta masuk Islam. Maka Qadli menerima taubatnya dan memutuskan keislamannya dan melindungi darahnya dan tidak memberikan hukuman takzir karena Syekh. Maka sejak saat itu para ahli fikih Syafiiyah dan Malikiyah bangkit dan menulis fatwa terhadap Syekh Taqiyuddin bin Taimiyah karena beliau adalah orang pertama yang berbicara tentang masalah ini dan lainnya. Maka menulis di atasnya Syekh Al-Imam Burhanuddin (Abu Ishaq Ibrahim bin Syekh Tajuddin Abdurrahman Al-Fazari Asy-Syafii) sekitar empat puluh baris tentang banyak hal yang beliau katakan dan fatwa beliau dengannya, dan akhir perkataan adalah fatwa mengkafirkan beliau. Dan Syihabuddin bin Jahbal Asy-Syafii menyetujuinya dan menulis di bawah tulisannya, demikian juga Ash-Shadr Al-Maliki dan selain mereka. Fatwa dibawa ke wakil Sultan, maka ia ingin mengadakan majelis untuk mereka dan mengumpulkan para hakim dan ulama dalam hal itu. Maka ia melihat bahwa urusan akan meluas pembahasannya dan harus memberitahukan Sultan. Maka ia mengambil fatwa dan memasukkannya dalam laporan, dan mengirimkannya kepada Sultan, semoga Allah memuliakan pertolongannya. Maka Sultan mengumpulkan para hakim untuk hal itu, dan Qadli Al-Maliki tidak hadir karena ia sedang sakit. Ketika dibacakan kepada mereka, Qadlil Qudlat Badruddin bin Jamaah mengambilnya dan menulis di belakangnya: Orang yang mengatakan perkataan ini adalah orang yang sesat menyesatkan dan ahli bidah. Dan Hanafi dan Hanbali menyetujui. Maka Amir Bahadur berkata kepada Qadlil Qudlat Badruddin: Apa pendapatmu tentang urusannya? Maka ia berkata: Dipenjara, karena ia termasuk ulama dan telah berfatwa. Maka maula kita An-Nashir, semoga Allah memuliakan pertolongannya berkata: Demikian juga yang ada dalam hatiku untuk kulakukan kepadanya. Maka ia menulis kepada wakil Sultan tentang apa yang telah diputuskan dari memenjarakannya. Dan pada (hari) Jumat tanggal sepuluh Syaban setelah (shalat) Jumat dibacakan surat Sultan di podium dalam pembicaraannya.

Pada hari Jumat tanggal dua puluh empat bulan Syakban, hakim agung Jalaluddin mengadakan sidang setelah salat di Madrasah Adiliyah, dan mereka menghadirkan sekelompok pengikut Taqiyuddin Ibnu Taimiyah yang ditahan di penjara syariat. Imaduddin Ismail, menantu Jamaluddin al-Mizzi, dituntut karena mengatakan bahwa Taurat dan Injil tidak diubah dan masih dalam keadaan asli sebagaimana diturunkan. Para saksi bersaksi terhadapnya, dan hal itu terbukti di hadapannya, maka ia dihukum cambuk di majelis dengan tongkat, lalu diarak keliling kota sambil diserukan: “Ini balasan bagi siapa yang mengatakan bahwa Taurat dan Injil tidak diubah.” Setelah itu mereka melepaskannya.

Abdullah al-Iskandari dihadirkan dan dituntut karena mengatakan tentang muazin-muazin masjid: “Mereka adalah orang-orang kafir,” atau “Mereka kafir” karena mereka mengucapkan di menara: “Wahai Rasulullah, engkau adalah perantaraku,” dan hal-hal lain semacam ini. Ia menyebutkan bahwa ia telah mengakui hal itu dan hal lainnya di hadapan hakim agung Syamsuddin al-Hanbali, dan bahwa ia telah masuk Islam di tangannya, dan hakim itu menerima tobatnya, menyelamatkan darahnya, dan mempertahankan jabatan-jabatannya serta kedua istrinya. Maka mereka pergi menemui hakim al-Hanbali untuk menanyakan hal tersebut.

Setelah itu dihadirkan Salahuddin al-Kutubi yang dituntut karena mengatakan: “Tidak ada perbedaan antara batu-batu Saqqayah Jirun dan batu-batu Shakhrah Baitul Maqdis.” Ia menyangkal, namun ada saksi-saksi yang bersaksi terhadapnya.

Setelah mereka, dihadirkan imam al-Jauziyah, Syamsuddin Muhammad bin Abi Bakar, yang membuat fitnah sejak awal. Ia dituntut mengenai dua majelis yang dibuatnya di Baitul Maqdis dan Nablus, namun ia menyangkal. Yang membuatnya terjepit adalah bahwa sekelompok ahli fikih dan orang-orang terpercaya dari Damaskus telah bepergian, di antaranya pengajar Madrasah Tarkhaniyah Hanafiyah dan lainnya. Mereka menghadiri majelisnya di Nablus. Ia menyangkal, lalu mereka bersaksi atas apa yang dikatakannya, dan hal itu terbukti. Hakim al-Hanbali datang kepada penguasa para amir dan berkata: “Aku telah memutuskan keislaman mereka dan mereka dizalimi dengan penahanan mereka.” Para hakim berselisih dengannya, dan terjadilah berbagai perkara yang panjang penjelasannya. Para pengikut mazhab Maliki membawa imam al-Jauziyah ke penjara mereka. Maka hakim al-Hanbali segera pergi menemui hakim agung Jalaluddin meminta agar menyerahkan para Muslim kepadanya dan tidak menyerahkan mereka kepada hakim Maliki. Jalaluddin kembali menghukum cambuk Abdullah al-Iskandari di atas keledai tanpa dibalik, demikian juga Salahuddin al-Kutubi, dan orang lain yang tidak sopan, dan berkata: “Siapa pun yang mengatakan sesuatu tentang Ibnu Taimiyah, maka ia pendusta dan akan kupukul dengan sandal.” Mereka semua dipukul dengan tongkat di punggung mereka di atas keledai-keledai dan dikembalikan ke penjara. Setelah mereka, imam al-Jauziyah dihadirkan dan dihukum cambuk di hadapannya di Madrasah Adiliyah dengan tongkat, kemudian dibawa naik keledai dan diarak keliling kota. Mereka pergi dengannya ke Salihiyah, dan pada akhir siang hari dikembalikan ke penjara. Mereka memberitahu wakil sultan tentang apa yang telah mereka lakukan. Setelah itu, Nasiruddin, pengawas wakaf, hadir dan menyerahkan imam al-Jauziyah dan membawanya ke benteng, lalu orang tersebut ditahan dengan dibelenggu, dan yang lainnya dibebaskan, dan perkara itu pun mereda.

Pada tanggal sembilan bulan Dzulqaidah, wakil sultan tiba di Damaskus dari perburuan, dan ia mengirim Chamberlain Badruddin al-Khatir kepada Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah di penjara dua kali, namun tidak diketahui apa yang terjadi. Pada hari Kamis tanggal sebelas bulan Dzulqaidah, wakil sultan mengirim hakim Jamaluddin Yusuf bin Jumlah asy-Syafii, wakil hakim al-Aziz, dan Nasiruddin, pengawas wakaf, kepada Syekh Taqiyuddin bin Taimiyah. Mereka menanyakan kepadanya tentang fatwa-fatwanya dan apa yang diyakininya. Maka ia menulis dengan tulisan tangannya delapan puluh baris tentang fatwa-fatwanya, apa yang diyakininya, dan hal-hal lainnya. Penguasa para amir mengirimkannya dalam laporannya kepada sultan, semoga Allah memuliakan kemenangannya.

Pada hari Senin tanggal sembilan belas bulan Jumadil Akhir tahun tujuh ratus dua puluh delapan, keputusan sultan tiba yang melarang Syekh Taqiyuddin bin Taimiyah untuk menulis atau mengarang. Maka datanglah orang yang mengambil semua yang ada padanya berupa buku, kertas, tinta, dan pena, dan semuanya ditinggalkan di tempat kepala benteng. Pada awal bulan Rajab, kepala benteng mengirimkannya kepada hakim agung Alauddin al-Qunawi asy-Syafii, lalu ia menempatkan buku-buku tersebut di perpustakaan Adiliyah karena sebagian besarnya adalah pinjaman yang ada pada Syekh. Adapun gulungan-gulungan yang dengan tulisan tangannya dan karangannya, mereka menelitinya untuk menanggapi apa yang ia katakan yang bertentangan dengan ijmak (konsensus).

Sebab hal tersebut adalah bahwa ia membantah hakim agung Taqiyuddin al-Ikhna’i al-Maliki di negeri Mesir dalam sebuah buku yang telah ia karang tentang ziarah, dan terjadilah peristiwa yang panjang penjelasan dan perinciannya. Hal itu memiliki kebaikan besar baginya karena ia menyibukkan diri dengan salat dan membaca Alquran hingga ia wafat, semoga Allah rahmat Taala melimpahkan rahmat kepadanya dan kepada kami.

Pada hari Ahad tanggal dua puluh enam bulan Dzulqaidah tahun tujuh ratus dua puluh delapan, Syekh Zainuddin Abdurrahman, saudara Syekh Taqiyuddin bin Taimiyah, dibebaskan. Setelah kematian saudaranya, setiap malam ia pergi bermalam di benteng karena ketidakhadiran wakil sultan yang sedang berburu. Ketika ia hadir, ia dibebaskan.

Pada malam Senin tanggal dua puluh bulan Dzulqaidah tahun tujuh ratus dua puluh delapan, wafatlah Syekh, Imam, Alim, Amal, Allamah, Zahid, Abid, Wara’, Khusyuk, Nasik, Qudwah, Arif, Muhaqiq, Syaikhul Islam Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad bin Syekh, Imam, Alim, Mufti Syihabuddin Abul Mahasin Abdul Halim bin Syekh, Imam, Syaikhul Islam Majduddin Abul Barakat Abdus Salam bin Abdullah bin Abi al-Qasim bin Muhammad bin Taimiyah al-Harrani kemudian ad-Dimasyqi, di benteng Damaskus, di ruangan tempat ia ditahan, pada sepertiga akhir malam. Ia sakit demam selama tujuh belas hari. Demikianlah yang diberitahukan kepadaku oleh saudaranya, Syekh Zainuddin Abdurrahman. Ia menyebutkan kepadaku bahwa sejak dilarang menulis dan mengarang pada hari Senin tanggal sembilan belas bulan Jumadil Akhir tahun ini, ia telah membaca delapan puluh satu kali khatam Alquran. Tersisa dari khatam terakhir dari Surah ar-Rahman hingga al-Hamdu (al-Fatihah). Para sahabatnya yang masuk menemuinya untuk melihatnya sebelum dimandikan hingga selesai dimandikan dan dikafankan, menyelesaikan khatam yang penuh berkah itu, insya Allah Taala.

Yang memandikannya bersama pemandian jenazah adalah Syekh Salih Tajuddin Mahmud al-Fariqi dan Syekh Syamsuddin Ibnu ar-Razir, khatib Masjid Karimuddin. Mereka memandikan dan mengafaninya. Yang mengimami salat jenazahnya adalah Syekh Salih Muhammad bin Tamam as-Salihi al-Hanbali. Semua orang yang ada di benteng Damaskus menyalatkannya. Kemudian jenazah diangkat dan dikeluarkan menuju Masjid Damaskus, dan jenazah diletakkan pada awal waktu Ashar. Masjid telah penuh sesak dengan orang-orang. Semua pasar Damaskus ditutup dan tidak ada toko yang terbuka kecuali milik orang Nasrani, karena orang-orang Yahudi sedang dalam perayaan Kemah.

Adapun toko-toko para pedagang kain, pedagang sutera, pedagang kain katun, semua pemilik alat tenun dan penenun serta pengrajin, semua pemilik kerajinan, penghuni tanah sewa di luar Damaskus, dan penduduk Salihiyah seluruhnya hadir ke masjid yang makmur untuk menyalatkannya. Masjid lebih penuh daripada hari Jumat, karena penduduk Salihiyah dari penghuni tanah sewa pada hari Jumat salat di masjid-masjid mereka, namun pada hari ini mereka hadir ke masjid seluruhnya. Bahkan orang yang tidak biasa salat hadir untuk menyalatkannya. Yang menyalatkannya adalah hakim agung Syekh Alauddin al-Qunawi asy-Syafii setelah salat Zuhur di masjid. Kemudian para amir, chamberlain, dan para naqib hadir dengan tongkat dan pentungan di sekeliling kerandanya. Para Turki dari kalangan amir dan komandan mengangkatnya di atas kepala mereka untuk mencari berkah darinya, sementara para tentara memukul orang-orang. Jika tidak demikian, mereka tidak akan bisa sampai ke kuburnya karena begitu padatnya kerumunan dan orang-orang yang mencari berkah darinya.

Lorong Babu al-Barid telah rusak, dan hal itu menyulitkan orang-orang. Mereka mengangkat dan mengeluarkannya dari Pintu al-Faraj, dan sebagian orang dari Pintu al-Faradis, Pintu an-Nasr, dan Pintu al-Jabiyah karena banyaknya orang. Kerumunan memanjang hingga Pasar Kuda dan memenuhinya. Saudaranya Zainuddin Abdurrahman menyalatkannya. Kemudian ia diangkat dari Pasar Kuda dan dilewatkan di bawah benteng yang terjaga. Demi Allah Yang Agung, sungguh aku melihat orang-orang duduk di jalan, kanan dan kiri, laki-laki dan perempuan bercampur seolah-olah mereka menunggu lewatnya sultan. Di antara mereka ada yang menangis, ada yang meratap dan berteriak, ada yang bersedih hati, dan ada yang hanya menonton. Ketika sampai di pemakaman para sufi, aku melihatnya telah penuh sesak dengan orang-orang. Mereka telah menggali kuburnya di samping saudaranya, Syekh Syarafuddin. Saudaranya Zainuddin hadir dan di sekelilingnya ada para naqib yang melindunginya dari orang-orang, hingga ia menyaksikan kubur sebelum penempatan saudaranya. Prosesi jenazah tertunda hingga mendekati waktu Ashar sampai ia dimasukkan ke dalam kuburnya, dilahidkan, ditimbun, dan dilaikan (dibacakan talqin). Setelah itu orang-orang pulang satu per satu dengan penuh penyesalan atasnya.

Sejak aku hadir di masjid yang makmur, aku mulai membaca Qul Huwallahu Ahad (Surah al-Ikhlas). Aku membacanya hingga ia dikuburkan dan aku pulang dari kuburnya sebanyak seribu seratus sebelas kali, Qul Huwallahu Ahad, al-Mu’awwidzatain (dua surah pelindung), Fatihatul Kitab, dan Ayat Kursi. Aku persembahkan pahala semua itu kepadanya, dan aku memohon kepada Allah Taala untuknya ampunan, tebusan, dan keridaan. Aku sampai di rumahku saat azan Ashar. Setelah kepulanganku, mereka menceritakan bahwa salah seorang amir menghadirkan tenda besar yang didirikan di atas kuburnya, dan sekelompok pembaca Alquran hadir dan mengkhatamkan Alquran di atas kuburnya. Bahwa ia menghadirkan untuk mereka makanan yang banyak dan lainnya. Mereka hadir pada pagi hari dan dibacakan banyak khataman di kuburnya, di Salihiyah, dan di rumah-rumah sahabatnya, dan pahalanya dipersembahkan kepadanya. Orang-orang berdatangan ke kuburnya selama berhari-hari. Mereka melihat banyak mimpi baik tentangnya yang tidak aku catat.

Kelahirannya adalah hari Senin tanggal sepuluh bulan Rabiul Awal tahun enam ratus enam puluh satu di Harran. Ia datang bersama ayahnya ke Damaskus ketika masih kecil, dan belajar kepadanya serta mendengar darinya. Ia juga mendengar dari Syekh Syamsuddin Ibnu Abi Umar, dari Syamsuddin Ibnu Atha, dari Syamsuddin bin Allan, Ibnu Abi al-Yusr, Ibnu Abd, Ibnu Abdul Daim, Ibnu al-Bukhari, Ibnu al-Wasithi, Ibnu ash-Shairafi, Ibnu al-Miqdad, al-Harawi, Ibnu Asakir, dan banyak kelompok lainnya. Sekelompok orang memberinya ijazah, dan ia banyak membaca sendiri, menuntut hadis, menulis thabaqat, dan tekun mendengar selama bertahun-tahun. Ia mempelajari ilmu-ilmu dari ayahnya dan yang lainnya, dan memperoleh pada awal waktunya apa yang tidak diperoleh orang lain dalam bertahun-tahun. Ia memiliki kecerdasan yang luar biasa dan pemahaman yang baik. Ia memiliki kemampuan yang bagus dalam tafsir, fikih, ushul, nahwu, bahasa, dan khilafiyah, dan ia adalah imam yang mahir dalam hal itu. Adapun ilmu hadis, ia mengetahui hadis yang sahih dan yang lemah, menyebutkan para perawi, yang adil dan yang lemah di antara mereka, dan ia adalah imam yang menonjol dalam hal itu. Dalam kebanyakan ilmu, ia memiliki keunggulan yang tinggi. Ia mengarang banyak karangan dalam berbagai ilmu. Ilmunya lebih banyak daripada akalnya. Ia banyak berdzikir, berpuasa, salat, dan beribadah. Di antara dzikirnya, ia selalu mengucapkan: “Wahai Yang Mahahidup, Wahai Yang Mahakekal, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan, tiada tuhan selain Engkau, Wahai Zat Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan,” kemudian ia menatap ke langit hingga ia benar-benar hilang (tenggelam dalam dzikir). Ia termasuk keajaiban dan keanehan zaman.

Ia hidup selama enam puluh tujuh tahun, delapan bulan, dan sembilan hari. Ia keluar dari perut ibunya pada hari Senin dan ditahan sekarang pada hari Senin tanggal enam bulan Syakban tahun tujuh ratus dua puluh enam. Maka lama penahanannya adalah dua tahun, tiga bulan, dan lima belas hari. Antara dia dan saudaranya, Syekh Syarafuddin Abdullah, adalah satu tahun, enam bulan, dan empat hari, karena ia wafat pada tanggal empat belas bulan Jumadil Ula tahun tujuh ratus dua puluh tujuh. Semoga Allah Taala merahmati mereka dan kami serta seluruh kaum Muslimin.

Syaikhul Islam, Mufti umat manusia, hafiz pada masanya, muhaddis pada zamannya, memiliki kedudukan tinggi dalam ilmu-ilmu, salih, zahid, wara’, qanaah, taqwa, penegak kebenaran, penyuruh kebaikan, pencegah kemungkaran, tidak takut celaan orang yang mencela dalam urusan Allah. Ia memiliki fatwa-fatwa yang terkenal dan karangan-karangan yang terpuji. Tidak ada pada masanya yang lebih hafal darinya, tidak ada dalam nukilan tafsir dan pendapat para ulama di dalamnya, tidak ada dalam hadis dan perbedaan para sahabat darinya, dan tidak ada dalam fikih dan perbedaan para fuqaha darinya.

 

 

08 – Al-Muqtafi li Tarikh Abi Syamah

Karya: Alamuddin Al-Qasim bin Muhammad Al-Birzali (739)

Pada hari Sabtu pertengahan bulan Rabiul Akhir (tahun 699), mereka mulai menjarah Ash-Shalihiyah dan melakukan kerusakan dan perampokan di sana. Mereka mendobrak pintu-pintu, mencabut jendela-jendela, dan mengambil permadani-permadani masjid. Mereka memperoleh banyak sekali gandum, persediaan, bahan makanan, dan buku-buku di Ash-Shalihiyah. Penduduk mengungsi ke biara Hanabilah dari berbagai penjuru Ash-Shalihiyah. Pasukan Tatar mengepungnya pada hari Selasa tanggal 18 Rabiul Akhir, lalu masuk ke dalamnya, menjarah dan menawan orang-orang. Pada hari Selasa ini, antara waktu Zuhur dan Asar, Syaikh Al-Masyayikh yang telah disebutkan dan sekelompok orang keluar menghadapi mereka. Mereka berhasil mengejar dan mengusir mereka, sehingga pasukan Tatar melarikan diri di hadapan mereka dan menuju ke desa Al-Mazzah lalu menjarah dan menawan penduduk. Kemudian mereka menuju Daraya, penduduknya masuk ke dalam masjid, tetapi mereka mengepung masjid tersebut, masuk ke dalamnya, menjarah, menawan, dan juga membunuh.

Pada hari Kamis tanggal 20 bulan Rabiul Akhir, sekelompok orang termasuk Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah pergi menemui raja Tatar yang berkemah di Tall Rahith di Al-Marj. Dia masuk menemuinya dan ingin mengadukan apa yang terjadi tetapi tidak diizinkan. Menteri Saaduddin dan Musyirud Daulah Ar-Rasyid mengisyaratkan agar tidak berbicara kepada raja tentang hal itu karena akan menimbulkan masalah bagi mereka, dan mereka akan mengurus perbaikan masalah tersebut. Namun pasukan Mongol harus dipuaskan karena di antara mereka ada kelompok yang belum mendapat apa-apa sampai saat ini. Syaikh Taqiyuddin dan rombongannya kembali ke kota pada malam Sabtu tanggal 22 bulan Rabiul Akhir. (hal. 55).

Pada hari Kamis tanggal 2 Rajab (tahun 699), para pembesar dari kalangan qadhi, ulama, dan pemimpin dipanggil dengan surat-surat yang bertanda tangan Amir Saifuddin Qabchaq ke rumahnya. Sekelompok orang yang hadir bersumpah setia kepada Daulah Mahmudiyah untuk memberikan nasihat dan tidak bersikap munafik, dan sebagainya. Pada hari Kamis tersebut, Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah pergi ke perkemahan Bulay untuk urusan para tawanan dan membebaskan mereka. Bersama mereka ada banyak tawanan. Dia tinggal selama tiga malam. (hal. 84).

Pada pagi Jumat yang disebutkan [tanggal 17 Rajab tahun 699], Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah berkeliling Damaskus mendatangi kedai-kedai khamar yang baru dibuka. Dia menumpahkan khamar, memecahkan bejana-bejana, merobek wadah-wadah, dan memberi hukuman ta’zir kepada para penjual khamar bersama kelompoknya. Malam-malam itu penduduk terus menjaga di atas tembok-tembok dan menunjukkan perlengkapan yang bagus serta ketahanan. Syaikh Taqiyuddin dan para sahabatnya berjalan di antara orang-orang dan Syaikh membacakan kepada mereka surat-surat tentang peperangan, ayat-ayat jihad, hadits-hadits tentang ghazwah, ribath, dan penjagaan, serta mendorong dan memotivasi mereka. Pagi Sabtu tanggal 18 Rajab diumumkan perintah untuk menghias kota sambil tetap menjaga tembok, lalu penduduk mulai menghias. (hal. 88).

Bulan Safar (tahun 700) dimulai dan berita telah datang tentang maksud Tatar menyerang negeri. Penduduk Damaskus sibuk dengan urusan melarikan diri ke Mesir, Al-Karak, dan tempat-tempat lain. Desas-desus bersahut-sahutan, kepanikan meluap, dada-dada sesak, biaya sewa kendaraan melonjak tinggi. Harga sewa mahmal (tandu) sampai Mesir mencapai 500 dirham, harga unta mencapai 1000 dirham, dan harga keledai 500 dirham. Orang-orang menjual barang-barang mereka dengan harga murah, baik perhiasan, tembaga, maupun kain. Pikiran kacau, orang-orang bingung, dan hati-hati terpecah. Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah duduk di tempatnya di masjid pada hari Senin tanggal 2 Safar menafsirkan ayat-ayat jihad, mendorong orang-orang untuk menghadapi musuh, berjihad, dan berinfak di jalan Allah. Dia menjelaskan kewajiban memerangi mereka, mengurangi jumlah mereka, melemahkan urusan mereka, mencela orang yang bermaksud melarikan diri, dan mendorongnya untuk menginfakkan sejumlah yang akan dikeluarkannya untuk ghazwah tersebut. Dia terus mengadakan majelis selama beberapa hari berturut-turut. (hal. 122).

Bulan Jumadal Ula (tahun 700) dimulai dan orang-orang dalam ketakutan, kekhawatiran, kecemasan, dan kesulitan. Para pejabat dada mereka sesak dan berharap dapat melarikan diri serta diberi izin untuk itu. Orang-orang takut karena pasukan dan sultan tidak datang. Siapa yang belum mencari cara sebelumnya, sekarang bangkit dan berusaha, menjual dan menggadaikan. Orang-orang mengalami kesulitan yang sangat berat dan berkata: “Mana pasukan? Bukankah ini bukan sikap orang yang berniat datang?! Mereka telah meninggalkan Syam dan hanya akan berperang untuk membela Mesir,” dan semacamnya. Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah keluar pada awal Jumadal Ula ke Al-Marj menuju perkemahan. Dia bertemu dengan wakil sultan, menenangkan dan menguatkannya. Dia tinggal bersamanya sampai pagi Ahad tanggal 3 bulan tersebut, lalu berpamitan dan berkuda cepat dengan kuda pos mengejar pasukan Mesir. Dia baru menyusul mereka setelah mereka masuk Kairo. (hal. 131).

Pada pagi Senin tanggal 25 Jumadal Ula, surat Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah sampai ke Damaskus, yang isinya bahwa dia masuk Kairo dengan pos dalam tujuh atau delapan hari, kedatangannya pada hari Senin tanggal 11 Jumadal Ula. Dia bertemu dengan semua pemimpin negara dan menyampaikan kepada mereka kebutuhan kaum muslimin akan bantuan dan pertolongan. Karena dirinya, semangat bangkit dan diumumkan perang, sekelompok orang disiapkan, dan tekad menguat. Dia tinggal di benteng. Pada siang hari Rabu tanggal 27 Jumadal Ula, Syaikh Taqiyuddin yang disebutkan tiba di Damaskus dengan kuda pos setelah tinggal di benteng Kairo selama delapan hari. Dia berbicara dengan sultan, wakil, menteri, dan para amir besar yang memiliki wewenang tentang urusan jihad, mengalahkan musuh yang terkutuk ini, mengalahkan dan menguasainya, memperbaiki urusan tentara, menguatkan yang lemah, memperhatikan gaji mereka, berlaku adil dalam hal itu. Dia memerintahkan mereka untuk menginfakkan kelebihan harta mereka dalam perjuangan ini dan membacakan kepada mereka ayat tentang penimbunan harta, dan firman Allah: “Mengapa kalian, apabila dikatakan kepada kalian ‘Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah,’ kalian merasa berat dan ingin tinggal di bumi?” ayat-ayat selanjutnya (Surah At-Taubah: 38). Keberangkatannya dari Mesir adalah pada hari Selasa tanggal 19 Jumadal Ula. (hal. 134).

Pada bulan Jumadal Ula (tahun 702), wakil sultan Amir Jamaluddin Al-Afram menerima surat kepadanya berupa nasihat atas nama Qutuz, salah satu mamluk Amir Saifuddin Qabchaq. Isinya bahwa Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah dan Qadhi Syamsuddin Ibnul Hariri berkorespondensi dengan Qabchaq, memilihnya untuk jabatan wakil raja, dan bekerja untuk urusan tersebut. Juga bahwa Shadrul Kamalhuddin Ibnu Al-Attar dan Syaikh Kamaluddin Ibnu Az-Zamlakani memberi informasi tentang berita-berita amir, dan bahwa sekelompok amir bersama mereka dalam urusan ini. Mereka menyebutkan sekelompok mamluk amir dan orang-orang dekatnya dan melibatkan mereka dalam hal itu. Ketika amir membaca surat ini dan memahaminya, dia tahu bahwa itu palsu. Dia merahasiakannya kepada salah satu penulis dan meminta untuk mengetahui siapa yang melakukannya. Dia berusaha keras sehingga terkaan dan dugaan jatuh pada seorang fakir yang dikenal dengan nama Al-Ya’furi yang sebelumnya pernah dituduh melakukan hal berlebihan dan pemalsuan. Dia ditangkap dan ditemukan padanya draft surat tersebut. Dia dipukul lalu mengaku tentang orang lain yang dikenal dengan nama Ahmad Al-Qabbari yang juga pernah dituduh melakukan pemalsuan dan ikut campur dalam urusan yang bukan urusannya. Yang lain dipukul dan mengaku serta menyebutkan sekelompok pembesar yang memberi mereka saran untuk melakukan itu. Tujuan mereka adalah mengganggu pikiran amir terhadap orang-orang dekatnya dan berusaha membinasakan orang-orang yang disebutkan dalam surat. Urusan ini menjadi jelas bagi amir dan dia mengetahui dalangnya dengan jelas. Kedua fakir tersebut diberi hukuman ta’zir pada awal Jumadal Akhirah, kemudian setelah ta’zir diperintahkan untuk membelah dan menggantung mereka pada hari yang sama. Demikian juga Tajuddin Ibnu Al-Manadili, penulis sejarah, diberi hukuman ta’zir pada tanggal yang sama, tangan kanannya dipotong karena dia yang menulis surat untuk mereka berdua, dan tulisan tangannya dikenal. (hal. 191-192).

Orang-orang Damaskus bangun pada hari Ahad yang disebutkan (25 Syakban tahun 702) dalam keadaan genting karena musuh sudah dekat dan sultan serta mayoritas pasukan masih tertunda. Mereka mulai bergerak untuk mengungsi. Disebutkan bahwa pasukan yang berkumpul di Al-Marj dan Damaskus tidak mampu menghadapi musuh ini, jalan mereka hanya mundur satu tahap demi satu tahap. Kota menjadi kacau. Ketika siang menjelang, para amir berkumpul di lapangan dan bersumpah untuk menghadapi mereka. Mereka menguatkan diri dan diumumkan di kota agar tidak ada yang mengungsi atau bepergian. Orang-orang pun tenang. Para qadhi duduk di masjid dan mengambil sumpah dari sekelompok fuqaha dan rakyat untuk hadir dalam perang. Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah pergi ke arah pasukan yang datang dari Hamah. Dia menyusul mereka di Al-Qutaifah dan Al-Marj, bertemu dengan mereka, dan memberitahukan apa yang disepakati para amir di Damaskus. Mereka menyetujui hal itu.

Pada hari Rabu tanggal 28 Syakban, orang-orang menjadi sangat kacau dan semua penduduk desa dan perkotaan mengungsi. Orang-orang berdesak-desakan di pintu-pintu kota dan banyak orang masuk ke benteng. Rumah-rumah dan jalan-jalan penuh sesak, terjadi perselisihan dalam hal itu, dan hati-hati resah karena sekelompok pasukan pergi ke Al-Kaswah dan sekitarnya. Orang-orang berkata bahwa mereka ingin menyusul sultan dan sisa pasukan, dan ini berarti meninggalkan kota dan penghuninya di belakang mereka. Orang-orang gelisah karenanya. Ada yang mengatakan maksudnya adalah memilih tempat untuk pertempuran yang lebih baik dari Al-Marj karena di sana banyak lubang dan air.

Disebutkan bahwa Tatar berada jauh sampai disebutkan bahwa sekelompok dari mereka sampai ke Al-Qutaifah, ada yang mengatakan mereka di Qara. Seluruh pasukan berkemah di jembatan-jembatan selatan Damaskus, sehingga orang-orang tenang antara Zuhur dan Asar. Setelah Asar, orang-orang mulai membicarakan kepergian mereka dari sana. Ada yang mengatakan aku bersama mereka dan mereka tetap tidak berubah dari sana sama sekali, ada yang mengatakan orang Mesir sudah mulai berangkat dan orang Syam pasti mengikuti mereka. Orang-orang resah. Syaikh Taqiyuddin ada di kota, sedangkan para qadhi telah dikeluarkan bersama pasukan. Orang-orang bermalam di malam Kamis. Di awal malam mereka melihat api dan kemah-kemah mereka, di akhir malam tidak melihat bekas mereka sama sekali. Orang-orang bangun pagi Kamis dalam keadaan sangat genting, kota kacau, pintu-pintu ditutup, orang-orang berdesakan di benteng, siapa yang bisa melarikan diri. Syaikh Taqiyuddin keluar pagi ke arah mereka, pintu An-Nashr dibukakan untuknya dengan susah payah, dan dia mendapat celaan dari orang-orang karena dia termasuk yang mencegah pengungsian. Kota tidak ada pengurusnya dan orang-orang seperti massa. Harga melambung tinggi sampai roti tiga lembar dijual satu dirham. Orang-orang terkurung, tidak ada yang berani keluar ke kebunnya, ladangnya, atau rumahnya. Para perampok dan pencuri keluar ke kebun-kebun memotong buah-buahan sebelum waktunya, demikian juga tanaman dan sayuran. Orang-orang dalam kebingungan, terhalangi dari roti tentara, dan jalan ke Al-Kaswah terputus dalam satu jam saja. Ada yang kembali dalam keadaan terluka, ada yang dirampok. Kekhawatiran tampak di kota dan sekitarnya. (hal. 198-199).

Pada hari Senin tanggal 4, orang-orang datang dari Al-Kaswah dan Syaikh Taqiyuddin serta sahabat-sahabatnya masuk pagi hari. Orang-orang mengucapkan selamat kepada mereka dan mendoakan mereka. Banyak sekali orang keluar dari kota ke tempat pertempuran untuk melihat-lihat dan mencari keuntungan. Wakil Syam Amir Jamaluddin Al-Afram dan pasukan Syam tiba dan menuju ke arah Al-Marj. Diumumkan bahwa tidak boleh ada yang bermalam di kota kecuali akan digantung, disebutkan itu untuk mempercepat mengejar yang melarikan diri. Diumumkan siapa yang ingin berperang silakan keluar ke… (hal. 202).

Pada malam Ahad tanggal empat bulan Rajab (tahun 704), pejuang Ibrahim al-Qattan pemilik jubah besar dibawa menghadap Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah. Rambut keriting dan kumis yang menjurai serta kuku-kukunya dipotong, dan ia diperintahkan untuk meninggalkan teriakan, perbuatan keji dan memakan sesuatu yang merusak akal, serta meninggalkan pemakaian jubah besar. Jubah itu diambil dan disobek menjadi potongan-potongan yang banyak, di dalamnya terdapat kain permadani dan kain sulaman.

Pada hari Sabtu tanggal tujuh belas bulan Rajab, Syekh Muhammad al-Khabbaz al-Balasi dibawa menghadap Syekh Taqiyuddin juga. Ia bertobat di hadapannya dan dipersaksikan atasnya untuk meninggalkan hal-hal yang diharamkan dan menjauhinya, dan bahwa ia tidak akan bergaul dengan ahli dzimmah dan tidak akan berbicara tentang tafsir mimpi atau tentang sesuatu dari ilmu-ilmu tanpa pengetahuan, dan dibuatkan dokumen syar’i tentang hal itu. (hal. 245).

Pada hari Senin tanggal dua puluh enam bulan Rajab (tahun 704), Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah hadir bersama sekelompok orang di Masjid an-Naranj di samping mushalla. Hadir bersama mereka sebagian tukang batu dan mereka memotong batu besar yang ada di sana dan memindahkannya, sehingga orang-orang merasa lega dari ziarah ke sesuatu yang tidak memiliki dasar dan keyakinan terhadapnya tanpa landasan syar’i. (hal. 246).

Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah menuju Jabaliyah, Jardiyyun dan Kisrawaniyyun dan menemaninya Amir Qaraqush pada awal bulan Dzulhijjah (tahun 704). Kemudian setelah mereka menuju ke daerah tersebut, Syarif Zainuddin Ibnu Adnan pergi pada pertengahan bulan Dzulhijjah. (hal. 253).

Pada hari Sabtu tanggal sembilan bulan Jumadal Ula (705), sekelompok orang dari Ahmadiyah ar-Rifa’iyah berkumpul di hadapan wakil sultan di istana. Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah hadir dan mereka meminta agar keadaan mereka diserahkan kepada mereka, dan agar Syekh Taqiyuddin tidak menentang mereka atau mengingkari mereka. Mereka ingin menunjukkan sesuatu dari apa yang mereka lakukan, maka Syekh bangkit menghadapi mereka dan berbicara tentang mengikuti syariat dan bahwa tidak boleh bagi siapa pun untuk keluar darinya dengan perkataan maupun perbuatan. Beliau menyebutkan bahwa mereka memiliki trik yang mereka gunakan untuk masuk ke dalam api dan mengeluarkan buih dari tenggorokan. Beliau berkata kepada mereka: Barangsiapa ingin masuk ke dalam api, hendaknya ia membasuh tubuhnya di pemandian, kemudian mengoleskannya dengan cuka lalu masuk, dan seandainya ia masuk, hal itu tidak perlu diperhatikan, bahkan itu adalah jenis perbuatan dajjal menurut kami. Mereka adalah kelompok yang besar, dan Syekh Shalih syekh al-Munaybi’ berkata: Keadaan kami laku di hadapan Tatar, tidak laku di hadapan syariat. Majelis diakhiri dengan kesepakatan bahwa mereka akan melepas kalung-kalung besi, dan bahwa barangsiapa yang keluar dari Kitab Allah dan Sunnah, akan dipenggal lehernya. Kalimat ini diingat oleh para hadirin dari kalangan para amir, pembesar dan tokoh-tokoh negara. Syekh menulis setelah peristiwa ini sebuah karya tentang keadaan Ahmadiyah dan awal mereka serta asal-usul jalan mereka, menyebutkan syekh mereka dan apa yang ada dalam jalan mereka dari kebaikan dan keburukan, serta menjelaskan perkara dalam hal itu. (hal. 263 – 264).

Pada hari Senin tanggal delapan bulan Rajab (tahun 705), para qadhi dan fuqaha dipanggil, dan Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah dipanggil ke istana ke majelis wakil sultan. Ketika mereka berkumpul di hadapannya, ia bertanya kepada Syekh Taqiyuddin secara khusus tentang akidah. Maka Syekh menghadirkan akidahnya “al-Wasithiyah” dan dibacakan di majelis, dan dibahas di dalamnya. Beberapa masalah ditunda ke majelis lain, kemudian mereka berkumpul pada hari Jumat setelah shalat tanggal dua belas bulan Rajab tersebut. Majelis ini juga dihadiri oleh Syekh Shafiyuddin al-Hindi. Mereka berdebat dengannya dan menanyakan kepadanya tentang hal-hal yang tidak ada dalam akidah. Mereka menjadikan Syekh Shafiyuddin berbicara dengannya, kemudian mereka sepakat pada Syekh Kamaluddin Ibnu az-Zamlakani. Ia berdebat dengannya dan membahas dengannya tanpa toleransi. Mereka puas dengan Syekh Kamaluddin dan mengagungkannya serta memujinya dan memuji pembahasannya dan keutamaannya. Mereka keluar dari sana dan perkara telah selesai, dan Syekh Taqiyuddin kembali ke rumahnya. Yang mendorong Amir untuk perbuatan ini adalah surat yang sampai kepadanya dari Mesir dalam makna ini, dan penyebabnya adalah Qadhi Zainuddin al-Maliki qadhi negeri Mesir dan Syekh Nasr al-Munbiji. Setelah itu, sebagian qadhi di Damaskus menegur seseorang dari orang-orang yang berlindung kepada Syekh Taqiyuddin. Sekelompok orang diminta kemudian dilepaskan, dan terjadi kegaduhan di negeri. Amir wakil sultan telah keluar untuk berburu dan tidak hadir sekitar seminggu kemudian hadir.

Pada hari Senin tanggal dua puluh dua bulan Rajab, ahli hadits Jamaluddin al-Mizzi membaca bab dalam bantahan terhadap Jahmiyah dari kitab “Af’al al-‘Ibad” karya al-Bukhari. Pembacaannya untuk hal itu adalah dalam majelis yang diadakan untuk membaca Shahih di bawah burung elang. Beberapa fuqaha yang hadir marah karenanya dan berkata: Kami yang dimaksud dengan ini. Mereka mengangkat perkara itu kepada qadhi al-qudhat asy-Syafi’i. Ia memanggilnya dan memerintahkan untuk menahannya. Berita itu sampai kepada Syekh Taqiyuddin, maka ia sedih karenanya dan mengeluarkannya dari tahanan dengan dirinya sendiri. Ia keluar ke istana dan bertemu dengan qadhi al-qudhat di sana. Syekh Taqiyuddin membela al-Mizzi dan memujinya. Qadhi al-qudhat marah dan mengembalikan al-Mizzi ke tahanannya di al-Qaushiyah dan ia tinggal beberapa hari. Syekh Taqiyuddin menyebutkan apa yang terjadi saat ketidakhadiran Amir terhadap sebagian sahabatnya berupa gangguan, maka Amir memerintahkan untuk diumumkan di negeri bahwa barangsiapa berbicara tentang akidah, maka halal harta dan darahnya, dan dirampas rumah dan tokonya. Amir bermaksud menenangkan orang-orang dengan hal itu. (hal. 266).

Pada hari Selasa tanggal tujuh bulan Sya’ban, majelis ketiga diadakan untuk Syekh Taqiyuddin di istana dan kelompok orang puas dengan akidah tersebut. Pada hari ini, qadhi al-qudhat Najmuddin Ibnu Shashri mengundurkan diri dari jabatan hakim karena perkataannya yang didengar dari sebagian hadirin. Pada tanggal dua puluh enam bulan Sya’ban, surat Sultan tiba kepada qadhi al-qudhat untuk mengembalikannya ke jabatan hakim, dan di dalamnya: Sesungguhnya kami telah memerintahkan untuk mengadakan majelis untuk Syekh Taqiyuddin dan telah sampai kepada kami apa yang diadakan untuknya dari majelis-majelis dan bahwa ia berada di atas madzhab Salaf, dan kami tidak bermaksud dengan itu kecuali membebaskan wilayahnya. (hal. 268).

Pada hari Senin tanggal lima bulan Ramadhan (tahun 705), surat Sultan tiba untuk menyelidiki apa yang terjadi pada Syekh Taqiyuddin dalam masa jabatan Jaaghan dan dalam masa jabatan Qadhi Imamuddin, serta untuk menghadirkannya dan menghadirkan qadhi al-qudhat ke negeri Mesir. Maka wakil sultan memanggil sekelompok fuqaha dan menuliskan apa yang mereka sebutkan tentang yang terjadi di masa-masa Jaaghan.

Pada hari Senin tanggal dua belas bulan Ramadhan, qadhi al-qudhat dan Syekh Taqiyuddin berangkat dengan pos, dan Syekh Taqiyuddin memasuki kota Gaza pada hari Sabtu dan mengadakan majelis di masjidnya. Mereka berdua tiba bersama-sama di Kairo pada hari Kamis tanggal dua puluh dua bulan Ramadhan. Majelis diadakan untuk Syekh Taqiyuddin di benteng dan ia ingin berbicara tetapi tidak diizinkan untuk berdebat dan berbicara sesuai kebiasaannya. Ia ditahan di menara beberapa hari kemudian dipindahkan ke penjara bawah tanah pada malam Idul Fitri bersama saudaranya.

Qadhi al-qudhat Najmuddin dimuliakan dan diperbarui pengangkatannya, dikenakan pakaian kehormatan dan berangkat ke Damaskus. Ia tiba pada hari Jumat tanggal enam bulan Dzulqa’dah, dan pengangkatannya dibacakan di mimbar khutbah pada hari Jumat tanggal tiga belas bulan Dzulqa’dah. Dibacakan setelahnya surat yang tiba bersamanya dan di dalamnya tentang penyelewengan Syekh Taqiyuddin dalam akidah dan mewajibkan orang-orang untuk hal itu, khususnya ahli madzhabnya, dan ancaman dengan pemecatan dan penahanan. Di dalamnya bahwa hal itu diumumkan di negeri-negeri Syam. Telah diumumkan sebelum shalat Jumat di masjid dan pasar-pasar. Tiba kabar-kabar tentang banyaknya orang-orang yang fanatik di negeri Mesir terhadap Syekh Taqiyuddin dan bahwa terjadi gangguan yang banyak terhadap Hanabilah. Taqiyuddin Abdul Ghani Ibnu asy-Syekh Syamsuddin al-Hanbali ditahan dan mereka semua diwajibkan untuk kembali dari akidah mereka tentang Quran dan sifat-sifat. Para qadhi menyarankan kepada rekan mereka qadhi al-qudhat Syarafuddin al-Harrani al-Hanbali untuk menyetujui kelompok, dan ia adalah orang yang sedikit ilmunya maka ia menyetujui dan mewajibkan sekelompok dari ahli madzhabnya untuk hal itu serta mengambil tulisan tangan mereka. Terjadi perkara yang tidak pernah terjadi pada Hanabilah sepertinya. Hal itu karena usaha Amir Ruknuddin al-Jasyankir dalam perkara tersebut dengan upaya Qadhi al-Maliki dan al-Qarawi al-Maliki dan sekelompok dari Syafi’iyah. (hal. 270).

Pada akhir bulan Ramadhan (706), Amir Saifuddin Salar menghadirkan tiga qadhi yaitu asy-Syafi’i, al-Maliki dan al-Hanafi, dan dari kalangan fuqaha al-Baji, al-Jazari dan an-Namrawi. Ia berbicara tentang mengeluarkan Syekh Taqiyuddin dari tahanan. Mereka sepakat bahwa hal-hal disyaratkan kepadanya dan ia diwajibkan untuk kembali dari sebagian akidah. Mereka mengirim kepadanya orang untuk menghadirkannya agar mereka berbicara dengannya tentang hal itu, tetapi ia tidak menjawab untuk hadir. Utusan kepadanya diulang dalam hal itu enam kali dan ia tetap pada tidak hadir pada waktu ini. Majelis menjadi panjang bagi mereka dan mereka pulang tanpa sesuatu pun. (hal. 297).

Pada tanggal dua puluh delapan bulan Dzulhijjah, Syekh Tajuddin Mahmud bin Abdul Karim bin Mahmud al-Faruqi tiba dari negeri Mesir. Ia telah berangkat untuk ziarah kepada Syekh Taqiyuddin dan berjuang untuk membantunya. Ia tinggal beberapa waktu kemudian kembali dan perkara tetap pada keadaannya. Pada hari ini, wakil sultan diberitahu tentang tibanya surat kepadanya dari Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah dari penjara bawah tanah. Hal itu diberitahukan kepada sekelompok orang yang hadir di majelisnya dan ia memujinya, dan berkata: Aku tidak melihat sepertinya dan tidak ada yang lebih berani darinya. Ia menyebutkan tentang keadaannya di penjara berupa tawajjuh kepada Allah Ta’ala dan bahwa ia tidak menerima sesuatu pun dari pakaian kesultanan, atau dari pemberian kesultanan, dan tidak ternoda dengan sesuatu dari hal itu. (hal. 305).

Pada hari Kamis tanggal dua puluh tujuh bulan Dzulhijjah, dua saudara Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah yaitu Syarafuddin Abdullah dan Zainuddin Abdurrahman diminta dari tahanan ke majelis wakil sultan. Qadhi Zainuddin al-Maliki hadir dan terjadi pembicaraan yang banyak di antara mereka dan mereka berdua dikembalikan ke tempat mereka. (hal. 306).

Qadhi al-qudhat Badruddin bertemu dengan Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah di rumah al-Auhadi di benteng pada pagi Jumat tanggal empat belas bulan Shafar (tahun 707). Mereka berpisah sebelum shalat dan pembicaraan di antara mereka panjang. (hal. 311).

Pada awal bulan Rabi’ul Awwal, Amir Husamuddin Muhanna bin Isa tiba di Damaskus dan menuju ke Kairo. Ia tiba pada tanggal sembilan belas bulan tersebut dan hadir sendiri ke penjara kepada Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah lalu mengeluarkannya setelah meminta izin dalam hal itu. Ia keluar pada hari Jumat tanggal dua puluh tiga bulan tersebut ke rumah wakil sultan di benteng. Sebagian fuqaha hadir dan terjadi debat yang banyak di antara mereka. Shalat Jumat memisahkan di antara mereka, kemudian mereka berkumpul hingga Maghrib dan perkara tidak selesai. Kemudian mereka berkumpul dengan perintah Sultan pada hari Ahad tanggal dua puluh lima bulan tersebut sepanjang hari. Sekelompok orang hadir lebih banyak dari yang pertama. Hadir Najmuddin Ibnu ar-Rif’ah, Alauddin al-Baji, Fakhruddin Ibnu Binti Abi Sa’d, Izzuddin an-Namrawi, Syamsuddin Ibnu Adlan, menantu al-Maliki dan sekelompok dari fuqaha. Para qadhi tidak hadir dan mereka dipanggil. Sebagian dari mereka meminta maaf karena sakit dan sebagian mengikuti rekan-rekannya. Wakil sultan menerima uzur mereka dan tidak membebani mereka untuk hadir setelah Sultan memerintahkan kehadiran mereka. Majelis selesai dengan baik. Syekh bermalam di tempat wakil sultan. Surat ditulis ke Damaskus pada pagi Senin tanggal dua puluh enam bulan tersebut yang berisi tentang keluarnya, dan bahwa ia tinggal di rumah Ibnu Syuqair di Kairo, dan bahwa Amir Saifuddin Salar memerintahkan untuk menunda kepergiannya dari Amir Muhanna beberapa hari agar orang-orang melihat keutamaannya dan mereka dapat berkumpul dengannya. Muhanna tiba di Damaskus pada hari Kamis tanggal enam bulan Rabi’ul Akhir. Ia tinggal tiga hari dan berangkat. Kemudian majelis ketiga diadakan untuk Syekh Taqiyuddin pada hari Kamis tanggal enam bulan Rabi’ul Akhir di Madrasah ash-Shalihiyah di Kairo. (hal. 312 – 313).

Pada bulan Syawwal, syekh kaum sufi di Kairo yaitu Karimuddin al-Amili dan Ibnu Atha’ dan sekelompok sekitar lima ratus orang mengadu tentang Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah dan perkataannya tentang Ibnu ‘Arabi dan yang lainnya kepada negara. Mereka mengembalikan perkara dalam hal itu kepada hakim asy-Syafi’i. Majelis diadakan untuknya dan Ibnu Atha’ mengadu kepadanya tentang hal-hal tetapi tidak terbukti sesuatu pun darinya. Namun ia mengakui bahwa ia berkata: Tidak boleh meminta pertolongan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan istighatsah dalam makna ibadah, tetapi bertawassul dengannya. Sebagian hadirin berkata: Tidak ada sesuatu dalam hal ini. Qadhi al-qudhat Badruddin berpendapat bahwa ini adalah buruknya adab dan menegurnya tentang hal itu. Maka hadir surat kepada Qadhi agar ia melakukan bersamanya apa yang dituntut oleh syariat dalam hal itu. Qadhi berkata: Sungguh aku telah mengatakan kepadanya apa yang dikatakan kepada orang sepertinya. Kemudian sesungguhnya negara memberinya pilihan antara beberapa hal yaitu tinggal di Damaskus atau Iskandariyah dengan syarat-syarat atau tahanan. Ia memilih tahanan. Maka sekelompok orang masuk kepadanya untuk bepergian ke Damaskus dengan berkomitmen pada apa yang disyaratkan. Ia menjawab mereka, maka mereka menaikkannya pada kuda pos pada malam tanggal delapan belas bulan Syawwal. Kemudian dikirim setelahnya esok harinya pos lain lalu mengembalikannya. Ia hadir di hadapan qadhi al-qudhat dengan hadirnya sekelompok fuqaha. Sebagian dari mereka berkata kepadanya: Negara tidak rela kecuali dengan tahanan. Qadhi al-qudhat berkata: Dan di dalamnya ada kemaslahatan baginya. Ia mewakili Syamsuddin at-Tunisi al-Maliki dan mengizinkan kepadanya untuk memutuskan hukum atasnya dengan tahanan, tetapi ia menolak dan berkata: Tidak terbukti atasnya sesuatu. Ia mengizinkan kepada Nuruddin az-Zawawi al-Maliki, maka ia bingung. Syekh berkata: Aku akan pergi ke tahanan dan mengikuti apa yang dituntut oleh kemaslahatan. Nuruddin yang diberi izin dalam hukum berkata: Maka hendaknya di tempat yang layak untuknya. Dikatakan kepadanya: Negara tidak rela kecuali dengan nama tahanan. Maka ia dikirim ke tahanan Qadhi dan didudukkan di tempat yang diduduki di dalamnya Qadhi Taqiyuddin Ibnu Binti al-‘Izz ketika ia ditahan. Diizinkan bahwa ada bersamanya yang melayaninya. Semua hal itu adalah dengan isyarat Syekh Nasr al-Munbiji dan kewibawaannya di negara. Syekh tetap di tahanan, dimintai fatwa, orang-orang mendatanginya dan mengunjunginya, dan datang kepadanya fatwa-fatwa yang sulit dari para amir dan tokoh-tokoh orang. (hal. 334 – 335).

 

 

09 – Contoh Bacaan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah kepada Para Gurunya

Diambil dari Catatan al-Birzali tentang Majlis Simaknya kepada Para Syaikhnya pada Tahun 680 Hijriah

Al-Birzali berkata (225a):

Aku mendengar dari Ibnu ad-Daraji kitab “al-Buyu'” karya Ibnu Abi Ashim—yang terdiri dari dua juzuk—dengan ijazahnya dari ash-Shaidalani dari al-Haddad dari Abu Nuaim dari Ahmad bin Bandar asy-Syar’ar darinya, dengan bacaan Taqiyuddin Ibnu Taimiyah dari wakaf adh-Dhiya’ dengan tulisan tangannya, pada hari Jumat, tanggal dua belas Jumadal Ula di Masjid Damaskus. Ditulis oleh Ibnu al-Birzali.

Al-Birzali berkata (225b):

Aku mendengar dari Ibnu ad-Daraji kitab “al-Muhibbin ma’al Mahbubin” karya Abu Nuaim dengan ijazahnya dari ash-Shaidalani dari al-Haddad dari Abu Nuaim dari Ahmad bin Bandar asy-Syar’ar darinya, dengan bacaan Taqiyuddin Ibnu Taimiyah dari wakaf adh-Dhiya’ pada hari Jumat, tanggal lima Jumadal Ula di Masjid Damaskus. Ditulis oleh Ibnu al-Birzali.

Al-Birzali berkata (225b):

Dan aku mendengar pada tanggal ini (hari Sabtu tanggal dua puluh tujuh Jumadal Ula) kepada Syaikh Fakhruddin Ali bin Ahmad bin Abdul Wahid sebuah juzuk yang berisi “Fawaid Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam” dengan ijazahnya dari al-Laban, dengan ijazahnya dari asy-Syairawi dengan simaknya dari Abu Said bin Syazan ash-Shairafi dengan simaknya langsung dari lafaz al-Asham darinya, awalnya: “Maafkanlah orang-orang yang memiliki kehormatan atas kesalahan mereka”, dan akhirnya: “Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tiba, Abu Bakar dan Bilal menderita demam”, dan itu dengan bacaan Taqiyuddin Ibnu Taimiyah dari naskahnya di as-Sumaisathiyyah… al-Mas’udi di Masjid al-Muzhaffari. Ditulis oleh Ibnu al-Birzali.

Al-Birzali berkata (226a):

Dan aku mendengar kepada Ibnu Syaiban Majlis Pertama dari “Amali adh-Dhabbi” dengan simaknya dari Ibnu Thabarzad, dari al-Anmathi dari Ibnu al-Baghawi darinya dari naskahku, dengan bacaan Taqiyuddin Ibnu Taimiyah pada hari Sabtu tanggal dua puluh tujuh Jumadal Ula di tokonya di ash-Shalihiyyah. Ditulis oleh Ibnu al-Birzali.

Al-Birzali berkata (226b):

Dan aku mendengar kepada Ibnu Syaiban sebuah juzuk yang berisi empat majlis dari “Amali Abi Bakar al-Khatib” yang ia imlakan di Damaskus—yaitu juzuk kelima—dengan simaknya dari Ibnu Thabarzad dari Abu Manshur bin Khairun darinya dengan bacaan Taqiyuddin Ibnu Taimiyah pada hari Sabtu tanggal dua puluh tujuh Jumadal Ula, di tokonya di kaki Gunung Qasiyun. Ditulis oleh Ibnu al-Birzali.

Al-Birzali berkata (227a):

Dan aku mendengar kepada Ibnu Allan juzuk pertama dari hadits “Abi Hafsh al-Kinani” dengan simaknya dari Ibnu Mula’ib dan ijazahnya dari Ibnu al-Akhdar dan Ibnu Shirma dengan simak mereka dari al-Armawi, dari Jabir bin Yasin darinya dengan bacaan Taqiyuddin Ibnu Taimiyah pada sepuluh hari pertengahan Jumadal Ula di Darul Hadits al-Asyrafiyyah di Damaskus. Ditulis oleh Ibnu al-Birzali.

Al-Birzali berkata (228a):

Dan aku mendengar kepada Ibnu Allan juzuk pertama dari “Fawaid al-Iyad” kompilasi al-Baihaqi dengan ijazahnya dari Manshur bin al-Furawi dengan simaknya dari kakeknya darinya, dengan bacaan Taqiyuddin Ibnu Taimiyah pada hari Jumat tanggal sepuluh Jumadal Akhirah, di rumahnya di Darb al-Baqsamathi di Damaskus. Ditulis oleh Ibnu al-Birzali.

Al-Birzali berkata (228a):

Dan aku mendengar kepadanya (Ibnu ad-Daraji) pada tanggal ini (hari Jumat tanggal sepuluh Jumadal Akhirah) dan tempat ini (di Masjid Damaskus) sebuah juzuk yang berisi dari “Awali Abi Bakar al-Qabab” dengan ijazahnya dari Abu Zur’ah Ubaidullah bin Muhammad bin al-Laftuani, dengan simaknya dari Abu Bakar bin Abi Dzar ash-Shalhani dengan simaknya dari Abu Thahir bin Abdurrahim darinya, awalnya: “Sungguh telah turun pada hari wafatnya Sa’d bin Mu’adz…” dan akhirnya: “Barangsiapa menzalimi orang yang memiliki perjanjian maka aku adalah pembantahnya…” dari wakaf Ibnu al-Jauhari dengan bacaan Taqiyuddin Ibnu Taimiyah. Ditulis oleh Ibnu al-Birzali.

Al-Birzali berkata (231a):

Dan aku mendengar kepadanya (Syamsuddin Ibnu Allan) sebuah juzuk yang berisi “Fadhail Rajab” karya Abdul Aziz al-Kinani, dengan ijazahnya dari al-Khusyu’i, dengan simaknya dari Jamaluddin al-Islam, dengan simaknya darinya, dengan bacaan Taqiyuddin Ibnu Taimiyah pada hari Jumat pertengahan bulan Rajab di rumahnya di Darb al-Baqsamathi di Damaskus. Ditulis oleh Ibnu al-Birzali.

Dan ia berkata:

Dan aku mendengarnya kepadanya dengan bacaan, tanggal, dan tempat yang sama empat hadits dari sebuah juzuk dari “Hadits Abi Muslim al-Katib”, dengan ijazahnya dari al-Qasim bin Asakir, dengan ijazahnya dari Abu Sahl Muhammad bin Ibrahim bin Sa’dun al-Ashbahani, dengan simaknya dari Abu al-Fadhl Abdurrahman bin Ahmad bin al-Hasan ar-Razi dengan simaknya darinya, dari naskahku, yaitu dengan tulisan Ibnu al-Jauzi. Ditulis oleh Ibnu al-Birzali.

Al-Birzali berkata (231b):

Dan aku mendengar kepada Syaikh al-Imam… “al-Qana’ah” karya Abu Bakar bin as-Sunni dengan simaknya dari Ibnu Rawahah, dan ijazahnya dari Ibnu ash-Shaiqal, dengan simaknya dari… Ahmad bin Musa bin Mardawaih, dengan simaknya dari Abu al-Qasim Ali bin Umar bin Ishaq al-Hamadzani darinya dari naskah wakaf Ibnu… dengan bacaan al-Imam Taqiyuddin Ibnu Taimiyah pada hari Ahad tanggal tujuh belas Rajab di Masjid Damaskus. Ditulis oleh Ibnu al-Birzali.

Al-Birzali berkata (231b):

Dan aku mendengar kepada Sitt al-Arab binti Yahya bin Qayimaz al-Kindiyyah dengan bacaan Taqiyuddin Ibnu Taimiyah sebuah juzuk yang berisi “Nuskhah Khalid bin Mirdas as-Sarraj” dengan simaknya dari… dengan simaknya dari Abu al-Fath Abdullah bin Muhammad bin al-Baidawi, dari Ibnu an-Nuqur, dari Ibnu al-Jarrah al-Wazir, dari al-Baghawi darinya dari naskahku pada sore hari Sabtu tanggal dua puluh tiga Rajab di rumahnya di Damaskus. Ditulis oleh Ibnu al-Birzali.

Al-Birzali berkata (231b):

Dan aku mendengar kepadanya (al-Khatib Badruddin bin Abdul Lathif bin Muhammad bin Muhammad Ibnu al-Mughairak khatib Hamah) dengan bacaan Taqiyuddin Ibnu Taimiyah sebuah juzuk yang berisi “Bughyatul Murtad lil Hadits al-Ali ash-Shahih al-Isnad” dari… dari “Musnad asy-Syafi’i” dari Ibnu… dari Abu Zur’ah, dan itu benar dari naskahku pada hari Jumat tanggal dua puluh sembilan Rajab di al-Madrasah at-Taqawiyyah di Damaskus. Ditulis oleh Ibnu al-Birzali.

Al-Birzali berkata (231b):

Dan aku mendengar kepada Sitt al-Arab al-Kindiyyah Majlis Ketiga dari “Amali al-Qadhi Abi Ya’la bin al-Farra”, dengan kehadirannya kepada al-Kindi, dengan simaknya dari al-Qadhi Abu Bakar al-Anshari dan darinya, dengan bacaan Taqiyuddin Ibnu Taimiyah pada sore hari Sabtu, tanggal dua puluh tiga Rajab di rumahnya di Damaskus. Ditulis oleh Ibnu al-Birzali.

Al-Birzali berkata (231b):

Dan aku mendengar kepada Syaikh Taqiyuddin Ibnu Muzayyiz dan putranya Tajuddin Ahmad “al-Arba’in al-Baldaniyyah” karya Ibnu Asakir, dengan simak yang pertama dan ijazah yang kedua dari Abu al-Muzhaffar Abdul Mun’im bin Muhammad bin Muhammad bin Hamzah bin Abi al-Mudha, dengan simaknya darinya.

Dan dengan simak yang pertama dari an-Nafis Muhammad bin al-Husain bin Rawahah, dengan ijazahnya darinya, dengan bacaan Taqiyuddin Ibnu Taimiyah dalam dua majlis, hari Sabtu dan hari Ahad tanggal tujuh belas Rajab yang diberkahi atas kaum muslimin di Masjid Damaskus.

Dan ia berkata (231b):

Dan aku mendengar kepada Syaikh Jamaluddin Ahmad bin Abi Bakar bin Sulaiman bin al-Hamawi “Juz’ Thalut bin Abbad ash-Shairafi” dengan simaknya dari Ibnu Mandawaih dari Nashr al-Barmaki dari Ibnu an-Nuqur dari Ibnu Hibban dari al-Baghawi darinya, dengan bacaan Taqiyuddin Ibnu Taimiyah pada hari Jumat tanggal dua puluh sembilan Rajab di Masjid Damaskus.

Dan ia berkata (232a):

Dan aku mendengar kepada Syaikh Abu Ishaq Ibrahim bin Ismail bin ad-Daraji, dan Najmuddin Abu al-Ma’ali Abdul Ali bin Abdul Malik bin Abdul Kafi ar-Rab’i kitab “as-Sunan” dari Imam asy-Syafi’i radhiyallahu anhu riwayat Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam darinya, dan di dalamnya ada sesuatu dari riwayatnya dari selain dia… dan benar dengan bacaan Taqiyuddin Ibnu Taimiyah pada hari Jumat awal Rajab di Masjid Damaskus.

Dan ia berkata (234a):

Dan aku mendengar kepada Syaikh Rasyiduddin Muhammad bin Abi Bakar bin Muhammad bin Sulaiman al-Amiri kitab “al-Amtsal wal Istisyhaadat” karya Abu Abdurrahman as-Sulami dengan simaknya dari Ibnu al-Harastani dengan ijazahnya dari tiga syaikh: Abu al-As’ad, dan Abdurrazzaq cucu Abu al-Qasim al-Qusyairi, dan Abu al-Khair Jami’ bin Abi Nashr bin Abi Ishaq ash-Shufi dengan simak mereka dari Abu Said Muhammad bin Abdul Aziz ash-Shaffar darinya, dan itu dengan bacaan al-Imam Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, dari naskah Ibnu Sunj pada hari Ahad tanggal dua Sya’ban di al-Madrasah al-Mujahidiyyah di Damaskus.

Kemudian aku mendengar kitab “al-Amtsal wal Istisyhad” karya as-Sulami yang disebutkan sekali lagi pada hari Kamis tanggal enam Sya’ban di madrasah yang disebutkan kepada Syaikh Kamaluddin Abdurrahman bin Ahmad bin Abbas al-Aqusi dengan kehadirannya kepada Ibnu al-Harastani pada kali ketiga, dengan sanadnya di atas, dengan bacaan Taqiyuddin Ibnu Taimiyah dari naskah Ibnu Sunj.

Dan ia juga berkata:

Dan aku mendengar kepada Kamaluddin Abdurrahman bin Ahmad bin Abbas al-Aqusi sebuah juzuk yang berisi “Muntakhab min al-Juz’ ar-Rabi’ min Mu’jam Abi Said bin al-A’rabi” dengan simaknya dari Abu Nashr Muhammad bin Abdullah bin asy-Syirazi dengan simaknya dari adh-Dhiya’ bin Abi al-Husain Hibatullah bin al-Hasan bin Asakir dengan ijazahnya dari al-Khila’i dari Ibnu an-Nahhas darinya dari naskahku dan di dalamnya empat belas hadits, dan itu dengan bacaan Taqiyuddin Ibnu Taimiyah pada hari Senin tanggal tiga Sya’ban.

Dan aku mendengar kepadanya dengan bacaan dan tanggal tersebut sebuah majlis dari “Amali… ats-Tsalatsah” dan akhirnya di atas tanah, dengan simaknya dari Ibnu al-Harastani dengan ijazahnya pada kali kedua… dan Abdul Mun’im al-Qusyairi bin Abi Bakar as-Saqafi, dan al-Muwaffaq bin Said, dan Abu Bakar as-Sab’i, dan Abu Nashr al-Hardhi, dan Mas’ud as-Sijzi dengan simak mereka dari Abu Bakar ash-Shairafi darinya, dan itu di al-Madrasah al-Mujahidiyyah di Damaskus.

Dan ia berkata (234b):

Dan aku mendengar kepada Ummu al-Khair Sitt al-Arab binti Yahya bin Qayimaz al-Kindiyyah seluruh “al-Mi’ah al-Muntaqah” dari juzuk pertama dan kedua dari hadits Qutaibah, yaitu muwafaqat kecuali lima hadits terakhir darinya karena itu adalah abdal, dengan ijazahnya dari Abu Ruh dari al-Fadhili dari Muhallim dari al-Khalil as-Sijzi dari as-Sarraj darinya dengan bacaan Taqiyuddin Ibnu Taimiyah pada hari Selasa tanggal empat Sya’ban di rumahnya di Damaskus.

(Dan sebelum ini):

Dan aku mendengar kepada Ibnu ad-Daraji empat hadits dari awali… pada hari Jumat tanggal dua puluh satu Sya’ban… dengan bacaan Taqiyuddin Ibnu Taimiyah.

 

 

 

10 – Harta Terpendam dari Mutiara-Mutiara dan Kumpulan Keistimewaan

Karya Abu Bakar bin Abdullah bin Aibak ad-Dawadari (setelah tahun 736 H)

Penyebutan Peristiwa-Peristiwa Sulit yang Terjadi di Damaskus

Ketika keadaan telah benar-benar pasti bagi penduduk Damaskus, ketakutan mereka semakin bertambah, desas-desus bertebaran, dan pendapat-pendapat berbeda. Di antara mereka ada yang berkata: Sesungguhnya Ghazan adalah seorang Muslim, dan mayoritas pasukannya juga demikian, dan mereka tidak mengejar kaum Muslimin yang melarikan diri, dan setelah pertempuran selesai mereka tidak membunuh seorang pun. Perkataan tentang hal itu pun banyak beredar. Ketika hari Sabtu tiba, hari keempat setelah pertempuran, terjadi teriakan hebat di kota, dan wanita-wanita keluar dengan tidak berjilbab ketika sampai kepada mereka berita bahwa Tatar telah memasuki kota. Namun hal itu tidak menimbulkan keributan, dan mereda dalam waktu singkat, tetapi setelah pada hari itu meninggal di pintu-pintu gerbang Damaskus sejumlah orang sekitar dua puluh jiwa, di antaranya seorang yang bernama an-Najm al-Muhaddits al-Baghdadi. Hal itu terjadi karena besarnya penumpukan di pintu-pintu gerbang. Pada malam Sabtu telah keluar dari kota sekelompok tokoh masyarakat dan pembesar kota, yaitu Qadhi al-Qudhat Imam ad-Din, al-Qadhi Jamal ad-Din al-Maliki, Taj ad-Din bin asy-Syirazi, Wali kota dan Wali pedalaman serta Muhtasib bersama kelompok besar dari rakyat biasa, dan mereka menuju ke negeri Mesir. Pada malam Kamis, mereka membakar penjara, pintu penjara Bab ash-Shaghir, dan keluar darinya sekitar dua ratus lima puluh orang, dan mereka menuju ke Bab al-Jabiyah dan memecahkan gembok-gembok dan membuka pintu serta keluar. Orang-orang pada hari Ahad tidak tahu apa yang sedang mereka alami, dan apa yang harus mereka lakukan. Orang-orang berkumpul pada hari itu di Masyhad Ali, dan mereka bermusyawarah tentang urusan keluar menemui Ghazan. Yang berkumpul pada hari itu adalah orang-orang terkemuka, yaitu: al-Qadhi Badr ad-Din Ibnu Jama’ah, asy-Syaikh Zain ad-Din al-Faruqi, asy-Syaikh Taqi ad-Din Ibnu Taimiyah, Qadhi al-Qudhat Najm ad-Din bin Shashri, ash-Shahib Fakhr ad-Din bin asy-Syirji, al-Qadhi Izz ad-Din bin az-Zaki, asy-Syaikh Wajih ad-Din bin Munjja, ash-Shadr Izz ad-Din bin al-Qalanisi, Amin ad-Din bin Syuqair al-Harrani, asy-Syarif Zain ad-Din bin Adnan, asy-Syaikh Najm ad-Din bin Abi ath-Thayyib, Nashir ad-Din Abdul Salam, ash-Shahib Syihab ad-Din bin al-Hanafi, al-Qadhi Syams ad-Din Ibnu al-Hariri, asy-Syaikh ash-Shalih Syams ad-Din Qawwam an-Nabulusi, dan kelompok besar dari para qari, fuqaha, dan orang-orang adil, dan mereka sepakat pendapat untuk keluar menemui Ghazan. Ketika hari Senin siang tiba, mereka melaksanakan shalat Zhuhur dan menghadap kepada Allah Azza wa Jalla dan keluar untuk mengupayakan kebaikan negeri. (9/18-19).

Kemudian sesungguhnya Tatar naik ke Jabal ash-Shalihiyah, dan melakukan di sana perbuatan-perbuatan buruk yang panjang penjelasannya, yang badan-badan bergidik karena dahsyatnya mendengarnya. Maka keluarlah asy-Syaikh Taqi ad-Din Ibnu Taimiyah menemui Syaikh asy-Syuyukh bersama sekelompok penduduk kota, dan mereka mengadu kepadanya tentang keadaan itu. Maka ia keluar kepada mereka pada hari Selasa tengah hari. Ketika sampai kepada Tatar yang berada di Jabal ash-Shalihiyah berita kedatangan Syaikh asy-Syuyukh, mereka lari setelah merusak semua tempat tinggalnya dan merampas semua hartanya dan menawan wanita-wanita keluarganya dan anak-anak mereka serta putri-putri mereka, dan terjadi kepada mereka peristiwa-peristiwa besar yang tidak tertahankan mendengarnya, aku tidak menyebutkan semua itu. (9/28).

Dan asy-Syaikh Alam ad-Din al-Birzali bercerita, ia berkata: Aku bertemu pada hari Kamis tanggal dua puluh lima bulan itu dengan asy-Syaikh Taqi ad-Din Ibnu Taimiyah, lalu ia menyebutkan bahwa ia bertemu dengan Baha ad-Din Qutlusyah, dan ia menyebutkan kepadanya bahwa ia adalah dari keturunan besar Jengkis Khan, dan jenggot Qutlusyah lebat dan tidak ada sehelai rambut pun di wajahnya sama sekali, dan bahwa usianya pada masa itu adalah lima puluh dua tahun, dan bahwa ia menyebutkan kepadanya bahwa Allah Azza wa Jalla menutup kerasulan dengan Muhammad shalallahu alaihi wasallam, dan bahwa Jengkis Khan kakeknya adalah seorang Muslim, dan setiap orang yang keluar dari keturunannya adalah Muslim, dan siapa yang keluar dari ketaatannya maka ia adalah pemberontak, dan ia juga menyebutkan pertemuannya dengan Raja Ghazan, dan Wazir Sa’d ad-Din, dan Rasyid ad-Daulah wazir yang dokter, dan juga dengan asy-Syarif Quthb ad-Din pengawas perbendaharaan, dan al-Katib Shadr ad-Din, dan an-Najib al-Kahhal al-Yahudi, dan Syaikh asy-Syuyukh Nizam ad-Din Mahmud, dan Ashil ad-Din bin an-Nashir ath-Thusi pengawas wakaf, dan mereka ini adalah tokoh-tokoh negara Raja Ghazan, dan ia juga menyebutkan bahwa ia melihat di tempat Qutlusyah penguasa Sis yang terkutuk, dan ia berambut pirang bermata biru berjenggot lebat dan bersamanya sekelompok orang Armenia yang tampak padanya kehinaan dan kerendahan. Dan kepergian Qutlusyah adalah siang hari Selasa tanggal dua puluh tiga bulan itu. Dan penyebab pertemuan asy-Syaikh Taqi ad-Din dengan orang-orang ini adalah para tawanan, dan ia berkata: Sesungguhnya mereka menulis dalam semua farman mereka dengan kekuatan Allah dan dengan ikatan agama Muhammadiyah! Dan ia menyebutkan bahwa ia bertemu dengan seseorang dari mereka yang di dalamnya ada agama dan ketenangan dan shalat yang baik, maka ia bertanya kepadanya: Apa sebab keluarmu dan memerangi kaum Muslimin sedangkan engkau seperti yang aku lihat darimu? Maka ia berkata: Guru kami memfatwakan kepada kami untuk merusak Syam dan mengambil harta mereka, karena mereka tidak shalat kecuali dengan upah, dan tidak azan kecuali untuk itu, dan tidak belajar fikih kecuali dengan sejenisnya. (9/32-33).

Dan pada sepuluh hari terakhir bulan yang disebutkan, turun juga sekelompok orang dari benteng dan membunuh sekelompok Tatar dan terjadi kekacauan besar, dan ditangkap sekelompok orang dari mereka yang dikaitkan dengan berjalan bersama Tatar, dan dipungut juga pungutan lain untuk Bulay komandan Tatar. Dan masuk al-Khatib Badr ad-Din bin Jama’ah dan asy-Syaikh Ibnu Taimiyah ke benteng dan mengupayakan perdamaian antara Arjuwasy dan wakil-wakil Tatar. Namun Arjuwasy tidak menyetujui hal itu, dan keadaan terus seperti itu hingga awal bulan Rajab.

Dan pada tanggal dua bulan itu, Qibjaq memanggil tokoh-tokoh kota dan mengambil sumpah mereka untuk negara terpuji dengan nasihat dan tanpa kemunafikan.

Dan pada hari Kamis, asy-Syaikh Taqi ad-Din Ibnu Taimiyah pergi ke perkemahan Bulay komandan Tatar untuk meminta pembebasan para tawanan, dan mereka adalah banyak sekali. Dan Bulay berbicara tentang urusan Yazid bin Muawiyah dengan asy-Syaikh, dan bertanya kepadanya: Apakah boleh melaknatinya atau tidak? Maka asy-Syaikh memahami bahwa di dalamnya ada kecintaan, lalu ia berbicara dengannya dengan apa yang sesuai dengan hatinya tanpa sesuatu yang dibenci. Maka ia berkata: Orang-orang Damaskus ini adalah pembunuh Husain bin Ali semoga shalawat Allah tercurah kepadanya. Maka asy-Syaikh berkata kepadanya: Sesungguhnya tidak ada dari penduduk Damaskus yang hadir dalam pembunuhan Husain, dan pembunuhan atas dirinya semoga salam tercurah kepadanya adalah di tanah Karbala dari Irak. Maka ia berkata: Benar, dan mereka Bani Umayyah adalah khalifah-khalifah dunia, dan mereka suka tinggal di Syam. Maka asy-Syaikh berkata: Dan apa yang harus dari itu dalam pembunuhan Husain, dan Syam ini tidak berhenti menjadi negeri yang diberkahi dan tempat para wali dan orang-orang shalih setelah para nabi semoga shalawat Allah tercurah kepada mereka. Dan ia terus bersamanya hingga amarahnya kepada penduduk Syam mereda. Kemudian ia menyebutkan kepada asy-Syaikh bahwa asal-usulnya adalah Muslim dari penduduk Khurasan. Dan terjadi antara dia dan asy-Syaikh pembicaraan yang banyak. (9/35-36).

Penyebutan Peristiwa asy-Syaikh Taqi ad-Din Ibnu Taimiyah

Dan hal itu adalah ketika hari Senin tanggal delapan bulan Rajab dari tahun yang disebutkan ini, para qadhi dan fuqaha serta asy-Syaikh Taqi ad-Din Ibnu Taimiyah dipanggil ke majelis Amir Jamal ad-Din al-Afram wakil Syam yang terlindungi di Damaskus, dan pertemuan mereka adalah di istana al-Ablaq. Kemudian mereka menanyai asy-Syaikh Taqi ad-Din Ibnu Taimiyah tentang akidahnya.

Maka ia mendiktekan sebagiannya. Kemudian dihadirkan akidahnya “al-Wasithiyah” dan dibacakan dalam majelis yang disebutkan, dan dibahas di dalamnya dan ditunda darinya beberapa tempat ke majelis lain. Kemudian mereka berkumpul pada hari Jumat tanggal delapan belas bulan yang disebutkan. Dan hadir dalam majelis juga Shafi ad-Din al-Hindi. Dan mereka berdebat dengan asy-Syaikh Taqi ad-Din dan menanyainya tentang tempat-tempat di luar akidah. Dan asy-Syaikh Shafi ad-Din mulai berbicara dengannya dengan pembicaraan yang banyak. Kemudian mereka kembali darinya dan sepakat bahwa Kamal ad-Din bin az-Zamalkani yang akan berdebat dengannya tanpa toleransi, dan semua menyetujui hal itu. Dan urusan terpisah di antara mereka bahwa ia bersaksi atas dirinya sendiri di hadapan yang hadir bahwa ia bermadzhab Syafii, ia meyakini apa yang diyakini oleh Imam asy-Syafii radhiyallahu anhu, dan mereka menerima darinya perkataan ini, dan mereka bubar dengan itu.

Maka pada saat itu terjadi dari para sahabat asy-Syaikh Taqi ad-Din pembicaraan yang banyak dan mereka berkata: Kebenaran telah muncul bersama guru kami, maka mereka memanggil salah seorang dari mereka ke tempat al-Qadhi Jalal ad-Din asy-Syafii di al-Adiliyah, lalu ia menamparnya dan memerintahkan untuk menghukumnya, maka mereka memberi syafaat untuknya. Dan demikian juga Hanafi melakukan kepada yang lain dan yang lain dari para sahabat asy-Syaikh Taqi ad-Din.

Kemudian ketika hari Senin tanggal dua puluh dua bulan itu, al-Jamal al-Mizzi al-Muhaddits membacakan bab dalam bantahan terhadap Jahmiyah dari kitab “Af’al al-Ibad” karangan al-Bukhari radhiyallahu anhu, ia membaca itu dalam majelis umum di bawah burung elang. Maka marah sebagian fuqaha yang hadir dan berkata: Tidak dibacakan bab ini kecuali dan kami yang dimaksud dengan pengkafiran ini, ia berkata: Maka mereka membawanya kepada Qadhi al-Qudhat asy-Syafii, lalu ia memerintahkan untuk menahannya. Maka sampai kepada asy-Syaikh Taqi ad-Din hal itu, maka ia berdiri dengan bertelanjang kaki bersama sekelompok sahabatnya, dan mengeluarkan orang yang disebutkan dari penahanan. Maka pada saat itu berkumpul al-Qadhi dengan raja para amir, dan demikian juga asy-Syaikh Taqi ad-Din dan para naqib di tempat raja para amir, dan Taqi ad-Din menyerang al-Qadhi, dan menyebutkan wakilnya Jalal ad-Din dan bahwa ia menyakiti para sahabatnya karena ketidakhadiran wakil sultan dalam berburu. Ketika wakil sultan hadir, ia memerintahkan untuk memanggil setiap orang yang banyak perkataannya dari kedua kelompok, dan memerintahkan untuk menahan mereka, dan diserukan di kota dengan keputusan sultan: Siapa yang berbicara tentang akidah maka halal hartanya dan darahnya dan dirampok rumahnya dan dilecehkan keluarganya. Dan wakil sultan bermaksud dengan itu memadamkan fitnah yang menyala.

Kemudian ketika akhir bulan Rajab, para qadhi dan fuqaha berkumpul dan mengadakan majelis di lapangan dengan hadirnya raja para amir dan membahas tentang akidah. Maka terjadi dari asy-Syaikh Shadr ad-Din bin al-Wakil pembicaraan tentang makna huruf-huruf dan lainnya. Maka Kamal ad-Din Ibnu az-Zamalkani mengingkari atasnya perkataan tentang itu. Kemudian ia berkata kepada al-Qadhi Najm ad-Din bin Shashri Qadhi al-Qudhat: Tidakkah engkau mendengar apa yang ia katakan? Maka seakan-akan Najm ad-Din berpura-pura tidak tahu tentang itu demi memadamkan kejahatan. Maka Kamal ad-Din bin az-Zamalkani berkata: Apa yang terjadi kepada Syafiiyah itu sedikit karena engkau adalah pemimpinnya, isyarat kepada apa yang telah diklaim oleh Shadr ad-Din bin al-Wakil. Maka al-Qadhi Najm ad-Din menyangka bahwa pembicaraan itu untuknya, maka ia berkata: Saksikanlah bahwa aku telah mengundurkan diriku! Dan ia berdiri dari majelis lalu Hajib Amir Rukn ad-Din Baibars al-Alai dan Ala ad-Din Aidghadi bin Syuqair menyusulnya dan mengembalikannya ke majelis. Dan terjadi pembicaraan yang banyak setelah itu yang panjang penjelasannya. Kemudian sesungguhnya raja para amir memberikan kepadanya jabatan hakim, dan al-Qadhi Hanafi memutuskan tentang itu dan sahnya pengangkatan, dan Maliki melaksanakannya dan ia menerima pengangkatan dengan hadirnya raja para amir. Ketika ia kembali ke rumahnya, para sahabatnya mencela dia. Dan ia khawatir atas dirinya dan melihat bahwa pengangkatan tidak sah, maka ia kembali naik ke makamnya di kaki Gunung Qasiyun, maka ia tinggal di sana dan bertekad untuk mengundurkan diri.

Ketika tiga hari kemudian, raja para amir memerintahkan kepada para wakilnya untuk menjalankan tugas sampai tiba jawaban dari tuan kami Sultan. Adapun wakilnya Jalal ad-Din maka ia menjalankan jabatan hakim, dan adapun Taj ad-Din maka ia menolak. Ketika tanggal dua puluh delapan bulan Syaban yang dimuliakan tiba, datang kurir dari Pintu-Pintu Tinggi semoga Allah meninggikannya dengan membawa dua surat, surat untuk raja para amir dan surat untuk al-Qadhi Najm ad-Din tentang kembalinya ke jabatan hakim yang mulia. Dan isi surat dalam salah satu bagiannya mengatakan: Kami telah gembira dengan kesepakatan pendapat para ulama tentang akidah asy-Syaikh Taqi ad-Din. Maka al-Qadhi Najm ad-Din menjalankan tugas pada hari Kamis awal bulan Ramadhan yang diagungkan, dan fitnahpun mereda.

Ketika tanggal lima Ramadhan tiba, datang dari Pintu-Pintu Tinggi kurir, yaitu Amir Husam ad-Din Lajin al-Umari memanggil al-Qadhi Najm ad-Din bin Shashri dan asy-Syaikh Taqi ad-Din Ibnu Taimiyah dan Kamal ad-Din bin az-Zamalkani. Dan dalam perintah yang datang mengatakan: Dan beritahukan kepada kami apa yang terjadi pada zaman Jaghan pada tahun enam ratus sembilan puluh delapan karena akidah Ibnu Taimiyah – dan di dalamnya pengingkaran besar kepadanya – dan agar kalian menulis bentuk dua akidah: yang pertama dan yang kedua. – Maka pada saat itu mereka memanggil al-Qadhi Jalal ad-Din al-Hanafi dan menanyainya tentang apa yang terjadi pada zamannya. Maka ia berkata: Dilaporkan kepadaku darinya pembicaraan, dan kami menanyainya lalu ia menjawab tentangnya. Dan demikian juga al-Qadhi Jalal ad-Din asy-Syafii ketika dipanggil menghadirkan salinan akidah yang telah dihadirkan pada zaman saudaranya. Kemudian mereka berbicara dengan raja para amir agar ia menulis surat karena mereka dan menutup pintu ini, maka ia menjawab untuk itu.

Ketika hari Sabtu tanggal sepuluh Ramadhan yang diagungkan tiba, datang budak raja para amir dengan kurir yang ditolong, dan memberitahukan bahwa panggilan atas asy-Syaikh Taqi ad-Din sangat mendesak, dan bahwa al-Qadhi Zain ad-Din bin Makhluf al-Maliki telah berdiri dalam urusan ini dengan sangat kuat, dan bahwa Amir Rukn ad-Din Baibars al-Jasyankir bersamanya dalam urusan ini, dan memberitahukan tentang hal-hal yang banyak yang terjadi dari apa yang terjadi di Mesir terhadap Hanabilah, dan bahwa sebagian mereka dihina, dan bahwa al-Qadhi Maliki dan Hanbali terjadi di antara mereka pembicaraan yang banyak. Ketika para amir mendengar itu, ia kembali dari menulis surat karena mereka dan memerintahkan untuk mempersiapkan mereka ke Pintu-Pintu Tinggi dan mereka berangkat. Ketika hari Jumat tanggal tujuh bulan Syawal tiba, datang kurir, dan memberitahukan bahwa kedatangan al-Qadhi Najm ad-Din dan asy-Syaikh Taqi ad-Din ke negeri Mesir adalah pada hari Kamis tanggal dua puluh dua Ramadhan yang diagungkan dari tahun yang disebutkan ini. (9/133-136).

Penyebutan Apa yang Terjadi pada Syekh Taqiyuddin di Mesir yang Terpelihara

Hal itu adalah ketika beliau tiba pada tarikh yang disebutkan tersebut, diadakanlah majelis untuknya di rumah perwakilan dengan hadirnya Amir Saifuddin Sallar, dan mereka menghadirkan para ulama dan imam para hakim yang empat, serta hadir juga Amir Ruknuddin Baibars. Lalu berbicaralah Qadhi Syarafuddin bin Adlan asy-Syafi’i, dan ia mengajukan gugatan syar’i terhadap Syekh Taqiyuddin mengenai perkara akidahnya. Maka ketika itu berdirilah Syekh Taqiyuddin dan memuji Allah Ta’ala serta menyanjung-Nya dan terbata-bata. Kemudian ia ingin menyebut Allah dan menyebutkan akidahnya dalam pembicaraan yang panjang. Lalu mereka berkata kepadanya: “Wahai Syekh, apa yang engkau katakan itu sudah diketahui, dan tidak perlu memperpanjang, sedangkan engkau telah digugat oleh qadhi ini dengan gugatan syar’i, jawablah!” Maka ia mengulangi ucapannya dalam hamdalah dan menghindari jawaban, sehingga tidak memungkinkan untuk melanjutkan puji-pujiannya. Lalu ia berkata: “Di hadapan siapa gugatan ini?” Mereka berkata: “Di hadapan Qadhi Zainuddin al-Maliki.” Maka ia berkata: “Musuhku dan musuh mazhabku.” Mereka mengulangi perkataan kepadanya berkali-kali, namun ia tidak menambah apa-apa dan perkara itu pun berlangsung lama. Maka ketika itu Qadhi al-Maliki memutuskan untuk menahannya karena menolak memberikan jawaban. Lalu Syekh berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku cintai daripada apa yang mereka serukan kepadaku” (Yusuf: 33). Maka mereka mengangkatnya dari majelis dan menahannya, dan saudara-saudaranya juga dipenjarakan di salah satu menara benteng.

Kemudian sampailah berita kepada Qadhi bahwa sekelompok amir sering mendatanginya dan membawakan untuknya makanan-makanan lezat. Maka Qadhi naik dan bertemu dengan Amir Ruknuddin mengenai perkaranya dan berkata: “Ini wajib diperketat penjagaannya jika tidak dibunuh, kalau tidak demikian maka kekufurannya sudah terbukti.” Maka mereka memindahkannya beserta saudara-saudaranya pada malam hari raya Idul Fitri ke penjara bawah tanah di benteng.

Dan setelah Ibn Taimiyah berdiri dari majelis, Qadhi al-Qudhat Badruddin Ibn Jama’ah telah berbicara tentang masalah-masalah Al-Quran yang agung dan sesuatu dari akidah Imam asy-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu. Lalu dikatakan kepada Qadhi al-Qudhat al-Hanafi: “Apa pendapatmu?” Ia berkata: “Demikianlah aku berkeyakinan.” Lalu dikatakan kepada Qadhi al-Qudhat Syarafuddin al-Hanbali: “Apa pendapatmu?” Maka ia terbata-bata. Lalu Syekh Syamsuddin al-Qarawi al-Maliki berkata kepadanya: “Bangkitlah, perbaharui keislamanmu! Kalau tidak, mereka akan menyusulkanmu kepada Ibn Taimiyah, dan aku menyayangimu dan menasihatimu.” Maka ia malu. Lalu Qadhi Badruddin bin Jama’ah mentalqinkan perkataan kepadanya, maka ia mengucapkan seperti perkataannya, dan persoalan pun selesai.

Kemudian ditulislah surat ke Damaskus yang berisi bahwa Maulana Sultan – semoga Allah abadikan kerajaannya – telah memerintahkan: bahwa barangsiapa yang berkeyakinan dengan akidah Ibn Taimiyah maka halal harta dan darahnya. Dan setelah shalat Jumat, hadirlah para qadhi semuanya di maqshurah (tempat khutbah) di Masjid Damaskus, bersama mereka Amir Ruknuddin Baibars al-‘Alai, amir hajib Syam pada waktu itu. Dan mereka mengumpulkan semua kaum Hanabilah, serta dihadirkanlah surat pengangkatan Qadhi al-Qudhat Najmuddin bin Shashri dengan keberlanjutannya dalam jabatan qadhi, qadhi militer, pengawas wakaf beserta penambahan gaji, dan dibacakan oleh Zainuddin Abu Bakar. Dan dibacakan setelahnya salinan surat yang tiba mengenai hal yang berkaitan dengan penyelisihan akidah Syekh Taqiyuddin Ibn Taimiyah dan kewajiban orang-orang atas hal itu, khususnya kaum Hanabilah. Maka inilah salinannya:

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji bagi Allah yang Maha Suci dari yang serupa dan yang setara, dan Maha Tinggi dari yang sepadan. “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar” (asy-Syura: 11).

Kami memuji-Nya karena telah mengilhamkan kepada kami untuk mengamalkan Sunnah dan Kitab, dan mengangkat di masa kami sebab-sebab keraguan dan kebimbangan.

Dan kami bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, kesaksian dari orang yang mengharapkan dengan keikhlasannya akibat dan tempat kembali yang baik.

Dan kami mensucikan Sang Pencipta dari pembatasan pada arah karena firman-Nya: “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (al-Hadid: 4).

Dan kami bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya yang telah menjelaskan jalan-jalan keselamatan bagi siapa yang menempuh jalan keridlaan-Nya, dan memerintahkan untuk berpikir tentang tanda-tanda kekuasaan Allah serta melarang berpikir tentang zat-Nya.

Semoga Allah melimpahkan shalawat atas beliau sallallahu ‘alaihi wa sallam dan atas keluarganya serta sahabat-sahabatnya yang dengannya Allah meninggikan menara iman dan mengangkat, dan Allah dengan mereka memantapkan kaidah-kaidah agama yang lurus yang disyariatkan, maka Allah memadamkan dengan mereka perkataan orang yang menyimpang dari kebenaran dan condong kepada bid’ah.

Amma ba’du: Sesungguhnya akidah-akidah syar’i, dan kaidah-kaidah Islam yang dipelihara, dan rukun-rukun Islam yang tinggi, serta mazhab-mazhab agama yang berlalu, adalah fondasi yang iman dibangun di atasnya, dan harapan yang setiap orang kembali kepadanya, dan jalan yang barangsiapa menempuhnya: “maka sungguh ia beruntung dengan kemenangan yang agung” (al-Ahzab: 71), dan barangsiapa yang menyimpang darinya maka ia telah layak mendapat azab yang pedih. Maka karena itulah wajib dilaksanakan hukum-hukumnya dan diperkuat kekuatannya, dan dijaga akidah umat ini dari perselisihan, dan ditimbang kaidah-kaidah umat dengan persatuan, dan dipadamkan gejolak-gejolak bid’ah, dan dipisahkan dari kekuatannya apa yang terkumpul.

Dan adalah at-Taqi Ibn Taimiyah pada masa ini telah melepaskan lidah penanya, dan mengulurkan kendali kalimatnya, dan berbicara dalam masalah-masalah zat dan sifat-sifat, dan menetapkan dalam pembicaraannya tentang perkara-perkara yang mungkar, dan berbicara tentang apa yang didiamkan oleh para sahabat dan tabi’in, dan mengucapkan apa yang disembunyikan oleh salaf shalih, dan datang dalam hal itu dengan apa yang diingkari oleh para imam Islam, dan kesepakatan terbentuk atas penyelisihannya kesepakatan para ulama dan hakim, dan ia menyebarkan dari fatwa-fatwanya di negeri-negeri apa yang meremehkan akal-akal orang awam, maka ia menyelisihi dalam hal itu para ulama zamannya, dan para imam negerinya Syam dan Mesir, dan mengirim surat-suratnya ke setiap tempat, dan menamai fatwa-fatwanya dengan nama-nama: “Allah tidak menurunkan bukti untuk itu” (Yusuf: 40).

Dan ketika hal itu sampai kepada kami, dan apa yang mereka dan para muridnya tempuh dari jalan-jalan ini, dan mereka tampakkan dari keadaan-keadaan ini dan mereka sebarkan, dan kami mengetahui bahwa ia: “lalu ia mengecoh kaumnya, maka mereka pun menaatinya” (az-Zukhruf: 54) hingga sampai kepada kami bahwa mereka menyatakan secara terang-terangan mengenai Allah tentang huruf dan suara serta tajsim (penyerupaan dengan makhluk), maka kami bangkit karena Allah Ta’ala dengan sangat mengagungkan berita besar ini. Maka kami mengingkari bid’ah ini, dan kami enggan mendengar tentang orang yang berada di kerajaan kami reputasi ini. Dan kami membenci apa yang diucapkan oleh orang-orang yang batil, dan kami membaca firman-Nya: “Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan” (ash-Shaffat: 159) karena sesungguhnya Dia yang Maha Agung keagungan-Nya Maha Suci dari yang setara dan yang sepadan. “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan, dan Dialah Yang Maha Halus, Maha Mengetahui” (al-An’am: 103).

Dan terbitlah perintah kami dengan memanggil at-Taqi Ibn Taimiyah yang disebutkan ke pintu-pintu kami ketika fatwa-fatwanya tersebar di Syam dan Mesir, dan ia menyatakannya dengan lafaz-lafaz yang tidaklah mendengarnya orang yang berakal melainkan membaca: “Sungguh, engkau telah datang dengan sesuatu yang sangat mungkar” (al-Kahf: 74). Dan ketika ia tiba kepada kami, berkumpullah para ahli ikatan dan simpulan, dan para ahli verifikasi dan kritik, dan hadir para qadhi Islam, dan para hakim manusia, dan para ulama agama, dan para fuqaha kaum muslimin, dan diadakan untuknya majelis syariat, dalam kumpulan dari para imam dan jamaah, maka tetaplah ketika itu atas dirinya, semua apa yang dinisbatkan kepadanya, dengan bukti tulisan tangannya, yang menunjukkan keyakinannya, dan majelis itu pun bubar, sedangkan mereka terhadap akidahnya mengingkari, dan mereka mengambilnya dengan apa yang dipersaksikan oleh penanya atas dirinya: “Akan ditulis persaksian mereka dan mereka akan ditanya” (az-Zukhruf: 19).

Dan sampai kepada kami bahwa ia telah diminta bertaubat pada masa sebelumnya, dan syariat yang mulia mengakhirkannya ketika ia terpapar kepada hal itu dan maju. Kemudian ia kembali setelah penolakannya dan pencegahannya, dan tidak masuk larangan-larangan itu ke telinganya.

Maka ketika hal itu terbukti di majelis hukum yang mulia al-Maliki, syariat yang mulia memutuskan bahwa dipenjara orang yang disebutkan ini, dan dicegah dari bertindak dan menampakkan diri.

Dan perintah kami ini memerintahkan agar tidak seorang pun menempuh apa yang ditempuh orang yang disebutkan dari jalan-jalan ini, dan melarang menyerupainya dalam berkeyakinan seperti itu, atau menjadi pengikutnya dalam perkataan ini, atau menjadi pendengar bagi lafaz-lafaz ini, atau berjalan dalam tajsim seperti jalannya, atau mengucapkan arah bagi ketinggian, mengkhususkan salah satunya sebagaimana ia ucapkan, atau seorang pun berbicara tentang suara atau huruf, atau meluaskan pembicaraan dalam zat atau sifat, atau melepaskan lisannya dengan tajsim, atau menyimpang dari jalan kebenaran yang lurus, atau keluar dari pendapat umat, atau menyendiri dari para ulama imam, atau membatasi Allah Ta’ala dalam arah, atau terpapar kepada di mana dan bagaimana, maka tidak ada bagi siapa yang berkeyakinan ini semua di sisi kami selain pedang.

Maka hendaklah setiap orang berhenti pada batas ini, “maka bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudahnya”, maka hendaklah setiap orang dari kaum Hanabilah kembali dari apa yang diingkari para imam dari akidah ini, dan keluar dari kesamaran-kesamaran yang keras ini, dan berpegang teguh dengan apa yang Allah perintahkan yaitu berpegang teguh dengan mazhab-mazhab ahli iman yang terpuji, karena sesungguhnya barangsiapa keluar dari perintah Allah Ta’ala maka sungguh ia telah sesat dari jalan yang lurus dan tidak ada baginya dari kami selain penjara yang panjang sebagai tempat peristirahatan.

Dan apabila mereka bersikeras pada penolakan, dan menolak kecuali pembelaan, maka tidak ada bagi mereka di sisi kami hukum dan tidak qadhi dan tidak imamah, dan kami tidak mengizinkan bagi mereka di negeri kami kesaksian dan tidak jabatan dan tidak tinggal, dan kami memerintahkan untuk menjatuhkan mereka dari tingkatan-tingkatan mereka, dan mengeluarkan mereka dari jabatan-jabatan mereka. Dan kami telah memperingatkan dan memohon maaf, dan kami telah berlaku adil ketika kami memperingatkan.

Maka hendaklah dibacakan perintah kami ini di atas mimbar-mimbar, agar menjadi pencegah yang paling agung dan pelarang serta pemerintah yang paling adil. Dan hendaklah disampaikan kepada yang tidak hadir oleh yang hadir.

Dan tulisan yang mulia di atasnya, adalah hujah dengan isi yang dikandungnya.

Dan ditulis perintah ini beberapa salinan, dan dikirim ke seluruh kerajaan-kerajaan Islam. Dan yang memimpin pembacaan perintah yang tiba di Damaskus ini adalah Qadhi Syamsuddin Muhammad bin Syihabuddin Mahmud al-Muwaqqi’, dan disampaikan darinya oleh Ibn Shabih sang muazin. Dan mereka menghadirkan kaum Hanabilah setelah itu, dan mereka mengakui di hadapan Qadhi al-Qudhat Jamaluddin al-Maliki bahwa mereka semua berkeyakinan dengan apa yang diyakini oleh Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu, yaitu perkataannya: Aku beriman kepada Allah dan apa yang datang dari Allah tentang siapa yang beriman kepada Allah, dan aku beriman kepada Rasulullah dan apa yang datang dari Rasulullah tentang maksud Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Penyebutan Sebab yang Mengakibatkan Fitnah-Fitnah yang Disebutkan

Hal itu adalah bahwa sebagian sahabat Syekh Taqiyuddin Ibn Taimiyah menghadirkan untuk Syekh sebuah kitab dari karya Syekh Muhyiddin Ibn ‘Arabi yang bernama Fushush al-Hikam, dan itu pada tahun tujuh ratus tiga. Lalu Syekh Taqiyuddin membacanya, maka ia melihat di dalamnya masalah-masalah yang menyelisihi keyakinannya. Maka ia mulai melaknat Ibn ‘Arabi dan mencaci para sahabatnya yang berkeyakinan dengan keyakinannya. Kemudian Syekh Taqiyuddin beritikaf pada bulan Ramadhan dan mengarang bantahannya dan menamainya an-Nushush ‘ala al-Fushush, dan ia jelaskan di dalamnya kesalahan yang disebutkan oleh Ibn ‘Arabi. Dan sampai kepadanya bahwa Syekh asy-Syuyukh Karimuddin syekh khanqah Sa’id as-Su’ada di Kaherah yang terpelihara memiliki kesibukan dengan karya-karya Ibn ‘Arabi, dan bahwa ia mengagungkannya dengan pengagungan yang besar, demikian juga Syekh Nashr al-Manbiji. Kemudian Syekh Taqiyuddin mengarang dua kitab yang di dalamnya pengingkaran yang banyak terhadap tulisan Ibn ‘Arabi, dan melaknatnya di dalamnya secara terang-terangan serta melaknat siapa yang mengatakan dengan perkataannya, dan mengirimkan satu kitab kepada Syekh Nashr al-Manbiji dan yang lain kepada Syekh Karimuddin. Maka ketika Syekh Nashr menelaahnya, terjadilah pada dirinya dari hal itu perkara yang besar, dan ia merasakan kesedihan yang sangat mendalam dan terjadi padanya pengingkaran yang keras.

Syekh Nasr sebagaimana telah disebutkan sebelumnya memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Amir Ruknuddin Baibars Al-Jasyankir. Dan Baibars tidak melakukan sesuatu apa pun kecuali dengan berkonsultasi dengannya dalam semua tindakannya. Seluruh hakim dari kalangan qadhi dan amir serta para pejabat sering datang kepada Syekh Nasr karena kedudukannya di sisi Baibars Al-Jasyankir. Kemudian Qadhi Zainuddin bin Makhluf Al-Maliki menghadap kepadanya setelah Syekh Nasr membaca surat Syekh Taqiyuddin, lalu qadhi tersebut diperlihatkan surat yang disebutkan itu. Qadhi berkata kepadanya: “Perlihatkan surat itu kepada Amir Ruknuddin dan diskusikan dengannya apa yang engkau inginkan, dan aku mendukungmu dalam hal ini. Dan wajibkanlah Amir Ruknuddin untuk memanggilnya ke Mesir dan menanyakan tentang akidahnya. Karena telah sampai kepadaku bahwa dia telah merusak akal pikiran banyak orang, dan dia mengatakan tentang tajsim (penyerupaan Allah dengan makhluk), sedangkan menurut kami siapa saja yang berkeyakinan seperti ini maka dia kafir dan wajib dibunuh.” Ketika Amir Ruknuddin Baibars Al-Jasyankir hadir di tempat Syekh Nasr sesuai kebiasaannya, dibicarakanlah tentang Ibnu Taimiyyah dan masalah akidahnya, dan bahwa dia telah merusak akal pikiran banyak orang, di antaranya adalah wakil Syam dan para amir besar Syam. Demi kemaslahatan perlu memanggil dia ke istana dan meminta keterangannya tentang akidahnya, dan dibacakan di hadapan para ulama di Mesir dari empat mazhab. Jika mereka setuju dengannya maka tidak apa-apa, jika tidak maka mereka memintanya bertobat dan kembali agar semua orang yang telah terpengaruh olehnya kembali dari mazhab dan keyakinannya. Kemudian dia menyebutkan kesalahan-kesalahan lain sehingga menghasut Baibars untuk memanggilnya.

Kemudian setelah itu terjadi fitnah terhadap kaum Hanabilah di kota Balbis. Lalu keadaan berpindah ke Kairo, dan terjadi penghinaan terhadap sebagian kaum Hanabilah dan sejumlah dari mereka ditahan. Dan terjadi fitnah besar antara kaum Asy’ariyyah dan Hanabilah di Syam, sedangkan wakil sedang pergi berburu. Ketika dia kembali, dia memerintahkan untuk mendamaikan mereka, dan menetapkan setiap kelompok pada keadaannya. Dan terjadi juga di Kairo hal-hal yang buruk terhadap kaum Hanabilah, dan mereka dipaksa untuk kembali dari akidahnya dan mengatakan bahwa Al-Quran Al-Azhim adalah makna yang ada pada diri (Allah), dan bahwa apa yang ada dalam mushaf adalah ungkapan darinya, dan bahwa apa yang ada dalam mushaf itu ada, terhafal dalam dada dan dibaca dengan lisan adalah makhluk, sedangkan yang qadim (azali) adalah yang ada pada diri (Allah). Dan mereka dipaksa untuk menafikan masalah keberadaan Allah di atas (uluw) dan menjelaskan hal itu, dan bahwa semua hadits sifat tidak boleh dijalankan pada zhahirnya dengan cara apa pun. Dan mereka mengalami segala keburukan. Dan Qadhi Syarafuddin Al-Hanbali memiliki pengetahuan yang sedikit dalam ilmu, dan tidak tahu bagaimana harus menjawab. Dan orang yang paling besar membicarakan mereka dan memaksa mereka dengan hal itu adalah Qadhi Zainuddin Al-Maliki rahimahullah, sebagai pembelaan terhadap Syekh Nasr pada waktu itu. Dan Qadhi Zainuddin adalah seorang ulama yang baik dan fakih yang bagus radhiyallahu anhu, yang menguasai empat mazhab. Demikian juga sejumlah ulama Syafi’iyyah mendukungnya. Maka ini adalah sebab asal dari fitnah-fitnah yang disebutkan, dan akan datang penyebutan sisa peristiwa yang terjadi pada Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah pada tahun 706 H insya Allah ta’ala. (9/143-145).

Penyebutan Tahun 706 H

Pada tahun ini di hari terakhir bulan Ramadhan yang mulia, Amir Saifuddin Sallar menghadirkan para qadhi tiga mazhab yaitu Syafi’i, Maliki, dan Hanafi, serta dari kalangan fuqaha Al-Baji, Al-Jazari, dan An-Namrawi, dan berbicara dengan mereka tentang mengeluarkan Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah. Mereka sepakat untuk mensyaratkan beberapa hal kepadanya dan mewajibkannya kembali dari akidahnya. Maka mereka mengutus orang untuk menghadapkan dia agar berbicara dengannya tentang hal itu. Namun dia tidak mau hadir, dan utusan datang kepadanya enam kali, sedangkan dia tetap pada pendiriannya untuk tidak hadir, dan majlis menjadi panjang, lalu mereka bubar tanpa hasil apa pun. (9/146).

Pada tahun ini dalam sepuluh hari pertama bulan Rabiul Awal, datang Amir Husamuddin Muhanna bin Amir Syarafuddin Isa bin Muhanna ke istana, dan bertemu dengan Sultan yang agung, dan dia mendapat sambutan dan pemberian yang banyak. Dan dia berbicara kepada Sultan tentang urusan Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah, maka Sultan mengabulkan permintaannya untuk membebaskannya. Amir Husamuddin Muhanna sendiri pergi ke penjara, dan mengeluarkannya pada hari Jumat tanggal 23 Rabiul Awal, dan dibawa ke rumah wakil di hadapan Amir Saifuddin Sallar dan dihadirkan untuknya sebagian fuqaha. Dan terjadi pembicaraan panjang dan pembahasan yang banyak yang kitab ini terlalu sempit untuk menyebutkan sebagiannya. Dan waktu shalat Jumat sudah dekat maka mereka berpisah. Kemudian mereka berkumpul dan berdiskusi sampai Maghrib dan tidak ada keputusan. Kemudian mereka berkumpul pada hari Ahad tanggal 25 bulan itu, dan hadir sejumlah fuqaha yang lain, hadir Syekh Najmuddin bin Rif’ah, dan Alauddin Al-Baji, dan Fakhruddin bin Abi Sa’d, dan Syamsuddin Al-Khatib Al-Jazari, dan Izzuddin An-Namrawi, dan Syamsuddin Adlan, dan menantu Al-Maliki, dan kelompok lain yang panjang jika disebutkan. Dan para qadhi tidak hadir, mereka dipanggil namun mereka berhalangan. Dan wakil Sultan menerima uzur mereka, dan tidak memaksa mereka untuk hadir. Dan mereka berdiskusi pada hari itu di majlis Amir Saifuddin Sallar, dan majlis berakhir dengan baik. Dan Syekh Taqiyuddin menginap di tempat wakil Sultan, dan menulis dengan tangannya surat ke Damaskus yang berisi tentang keluarnya dia dari penjara. Dan dia tinggal setelah itu di rumah Ibnu Syuqair di Kairo. Dan wakil Sultan memerintahkan untuk menunda keberangkatannya bersama Muhanna karena ada maslahat dalam hal itu.

Dan pada hari Jumat tanggal 14 Rabiuts Tsani, diadakan untuknya majlis lain di Madrasah Ash-Shalihiyyah setelah shalat. Dan Muhanna sudah berangkat, dan mereka berdiskusi dengannya. Dan terjadi kesepakatan untuk mengubah lafazh-lafazh dalam akidah, dan majlis berakhir dengan baik. Dan dia menetap setelah itu di Kairo, dan orang-orang berkumpul dengannya dan berbondong-bondong datang kepadanya, dan terus demikian sampai dia berangkat pada tahun 712 H. Dan dia menetap sampai dia wafat rahimahullah ta’ala pada tanggal yang akan disebutkan nanti. (9/150-151).

Dan pada tahun ini wafat Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah, rahimahullah ta’ala. (9/349).

 

 

11 – Surat dari Abdullah bin Hamid salah satu ulama Syafi’iyyah kepada Abu Abdullah (Ibnu Rusyaiq) dalam memuji Syaikhul Islam

Bismillahirrahmanirrahim

Dari hamba yang paling kecil Abdullah bin Hamid kepada Syekh, Imam yang alim lagi beramal, teladan bagi orang-orang utama dan mulia, perhiasan majlis dan pertemuan, pembela agama Allah, dan yang melindungi sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan yang berpegang pada tali Allah, Syekh yang mulia dan terhormat Abu Abdullah, semoga Allah melimpahkan nikmat-Nya kepadanya, dan menguatkan lisan dan penanya dengan ketepatan kebenaran, dan mengumpulkan untuknya dua kebahagiaan, dan mengangkat derajatnya di dua negeri dengan karunia dan rahmat-Nya.

Salam sejahtera dan rahmat Allah serta berkah-Nya untukmu. Amma ba’du, sesungguhnya aku memuji kepada engkau Allah yang tidak ada tuhan selain Dia. Kemudian sampai kepadaku suratmu sedangkan aku sangat rindu kepadamu, dan aku tidak henti-hentinya bertanya dan menanyakan kepada yang datang dan pergi tentang berita, yang menyenangkan untuk didengar dan menggembirakan apa yang menggembirakan darinya. Dan tidak tertundanya suratku selama ini karena bosan atau cacat dalam persahabatan, dan bukan karena meremehkan hak persaudaraan. Maha suci Allah bahwa persaudaraan karena Allah dicampuri dengan keterasingan. Dan aku tidak henti-hentinya menghibur diri setelah wafatnya Syekh Imam—imam dunia radhiyallahu anhu—dengan berita tentang murid-muridnya, saudara-saudaranya, kerabat-kerabatnya, kaumnya, dan orang-orang yang dekat dengannya, karena kecintaan yang pasti dalam diriku yang tidak dapat ditolak oleh sesuatu apa pun, khususnya setelah aku mengetahui pembahasan-pembahasannya dan dalil-dalilnya yang menggoncangkan tiang-tiang orang-orang batil, dan tidak tegak di lapangannya sofistik para filosof, dan tidak bertahan di gelanggang-gelanggannya langkah para ahli bidah dari kalangan mutakallimin.

Dan aku sebelum mengetahui pembahasan imam dunia rahimahullah telah membaca karya-karya ulama terdahulu, dan mengetahui pendapat-pendapat ulama belakangan dari ahli filsafat dan para pemikir ahli Islam. Maka aku melihat di dalamnya perhiasan-perhiasan dan kebatilan serta keraguan yang membuat seorang muslim yang lemah dalam Islam enggan terlintas dalam benaknya, apalagi yang kuat dalam agama. Maka hatiku menjadi lelah dan aku sedih dengan apa yang dikatakan oleh para tokoh berupa pendapat-pendapat yang lemah dan pandangan-pandangan yang rapuh, yang tidak diyakini kebolehannya oleh individu-individu umat. Dan aku mencari sunnah yang murni dalam karya-karya para mutakallimin dari pengikut Imam Ahmad rahimahullah khususnya, karena mereka terkenal dengan berpegang pada nash-nash imam mereka dalam ushul akidah namun aku tidak menemukan pada mereka apa yang mencukupi. Dan aku melihat mereka bertentangan ketika mereka menetapkan ushul-ushul yang mengharuskan kebalikan dari apa yang mereka yakini, atau mereka meyakini kebalikan dari tuntutan dalil-dalil mereka. Ketika aku mengumpulkan antara pendapat-pendapat Mu’tazilah dan Asy’ariyyah, Hanabilah Baghdad dan Karramiyyah Khurasan, aku melihat bahwa ijma’ para mutakallimin ini dalam satu masalah adalah pada yang menyelisihi dalil akal dan naql. Maka itu menyedihkanku, dan aku terus bersedih dengan kesedihan yang tidak diketahui hakikatnya kecuali oleh Allah, sehingga aku menderita dari menghadapi urusan-urusan ini sesuatu yang besar yang tidak dapat aku jelaskan yang paling ringan sekalipun. Dan aku berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bermohon kepada-Nya, dan lari kepada zhahir-zhahir nash, dan meninggalkan makul-makul yang berbeda-beda, dan takwil-takwil yang dibuat-buat sehingga fitrah menolak menerimanya. Kemudian fitrahku berpegang pada kebenaran yang jelas dalam masalah-masalah pokok, tanpa berani terang-terangan menyatakannya secara ucapan dan menetapkan keyakinan atasnya, karena aku tidak melihatnya diriwayatkan dari para imam dan salaf terdahulu, sampai Allah Subhanahu menakdirkan, jatuhnya karya Syekh Imam—imam dunia—di tanganku, menjelang peristiwa terakhirnya dengan sedikit. Maka aku menemukan di dalamnya apa yang membuatku takjub dari keselarasan fitrahku dengan apa yang ada di dalamnya, dan menisbatkan kebenaran kepada imam-imam sunnah dan salaf umat, dengan kesesuaian antara makul dan manqul! Maka aku terpana karena itu, gembira dengan kebenaran, dan senang dengan menemukan barang hilang yang tidak ada gantinya jika hilang. Maka menjadilah kecintaan kepada orang ini rahimahullah kecintaan yang pasti, yang tidak mampu dijelaskan oleh ungkapan-ungkapan meskipun panjang lebar. Dan ketika aku berniat untuk hijrah menemuinya, sampai kepadaku kabar penahanannya, dan aku tertimpa musibah yang membuat aku terduduk lemah.

Dan ketika aku berhaji tahun 728 H aku menetapkan tekad untuk pergi ke Damaskus agar dapat bertemu dengannya, dengan memberikan apa saja yang mungkin dari jiwa dan harta untuk membebaskannya. Maka sampai kepadaku kabar wafatnya—rahimahullah ta’ala—ketika kembali ke Irak, menjelang sampai ke Kufah. Dan aku bersedih atasnya dengan kesedihan yang tidak dirasakan saudara atas saudaranya—dan aku mohon ampun kepada Allah—bahkan tidak pula orang tua yang kehilangan anaknya. Dan tidak pernah masuk ke dalam hatiku kesedihan atas kematian seorang pun dari anak, kerabat, dan saudara-saudara seperti yang aku rasakan atasnya—rahimahullah ta’ala—dan tidak pernah aku membayangkannya dalam diriku dan tidak pernah menggambarkannya dalam hatiku kecuali terbarui bagiku kesedihan lama yang seolah-olah baru. Demi Allah tidaklah aku menulisnya kecuali air mataku berjatuhan ketika mengingatnya, menyesal atas perpisahan dengannya dan tidak bertemunya. Maka sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali. Maka tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Dan tidaklah saya uraikan penjelasan singkat ini tentang kecintaan kepada Syekh—semoga rahmat Allah ta’ala tercurah kepadanya—kecuali agar terbukti bahwa saya jauh dari kejenuhan yang disangkakan, namun karena janji mulia dari Anda untuk mengirimkan daftar karya-karya Syekh radhiyallahu ‘anhu telah tertunda, saya menduga bahwa penghentian itu merupakan bentuk taqiyyah (kehati-hatian), atau karena alasan yang tidak memungkinkan saya untuk menanyakannya, maka saya diam dari permintaan itu karena khawatir akan menimbulkan bahaya bagi seseorang—wa al-‘iyadzu billahi (semoga Allah melindungi)—karena saya, mengingat kondisi-kondisi yang telah terkenal itu. Jika Anda berkenan memberikan sesuatu dari karya-karya Syekh—rahimahullahu ta’ala—maka bagi Anda pahala di sisi Allah ta’ala atas kami dengan hal itu, karena betapa miripnya perkataan orang ini dengan emas murni yang telah disaring! Dan memang terdapat dalam perkataan orang lain berbagai kecurangan, dan keserupaan yang disamarkan dengan emas yang tidak tersembunyi bagi pencari kebenaran yang sungguh-sungguh dan tanpa hawa nafsu. Saya tidak henti-hentinya heran terhadap orang-orang yang mengaku mencintai sikap adil dalam penelitian, yang mencela para penganut taqlid (pengikut mazhab). Pemikiran-pemikiran rasional yang mereka klaim sebagai landasan teragung dan terjelas mereka, bagaimana mereka bisa menyimpang dari kebenaran yang telah dijelaskannya dan menyingkap tabir kebenaran itu? Padahal seharusnya para penuntut ilmu berangkat kepadanya dari berbagai penjuru untuk menyaksikan keajaiban. Betapa miripnya keadaan orang-orang yang menyimpang darinya dari kalangan yang mengaku sebagai ahli ilmu, pencari kebenaran sejati yang mereka gagal temukan, dengan keadaan kaum yang hampir mati kehausan dan keringat di sebagian padang pasir. Ketika mereka hampir binasa, terlihatlah oleh mereka tepian sungai seperti Furat atau Dajlah atau seperti Nil, namun ketika menyaksikan itu mereka menyangkanya fatamorgana bukan air minum, maka mereka berpaling darinya sambil mundur, dan leher mereka putus karena haus dan kehausan!! Maka keputusan hanya milik Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. Adapun pengiriman kitab-kitab untuk dicocokan dari salah satu pihak, maka di dalamnya terdapat kesulitan! Dan Anda memahami alasan untuk panjang lebar.

Inilah yang saya sebutkan tentang keadaan saya dengan Syekh bagaikan setetes air dari lautan. Jika Anda berkenan menyampaikan salam kepada sahabat-sahabat Syekh dan kerabat-kerabatnya—yang tua dan yang muda—maka itu akan menjadi tambahan dari kebaikan Anda sebelumnya. Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, dan Anda berada dalam perlindungan dan pemeliharaan Allah. Walhamdulillahi wahdah, wa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammad, wa alihi wa sallama tasliman katsiran.

 

 

12 – Laqthah al-‘Ajlan fi Mukhtashar Wafayat al-A’yan

Karya al-‘Allamah ‘Abdul Baqi bin ‘Abdul Majid al-Yamani (743)

Al-Hafizh Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah, Abul ‘Abbas Ahmad bin ‘Abdul Halim bin ‘Abdus Salam bin ‘Abdullah bin Taimiyyah al-Harrani ad-Dimasyqi.

Syekh ilmu-ilmu Islam, dan pondasi kaidah-kaidah agama, dan keturunan para ulama hadits-hadits Nabawi, menghimpun ilmu ma’qul (rasional) dan manqul (naqli), dan membantah para filsuf ahli hikmah dalam hal yang berkaitan dengan ma’qul, jika berbicara dalam suatu masalah maka ceritakanlah tentang lautan tanpa keberatan, dan jika melanjutkan dalam suatu makna dari berbagai makna, hampir-hampir pendengarnya tidak dapat mengatakan keluar darinya, dengan kefasihan lisan, dan kebalagahan yang menguasai kendali penjelasan.

Adapun zuhud terhadap dunia, dan menolak kemegahannya, maka kepadanyalah batas puncaknya, dan padanyalah terdapat kesudahan dalam hal ini, semua orang yang menyaksikan pengetahuannya, dan membuktikan kebaikan-kebaikannya, sepakat: bahwa ia adalah tenunan tunggal zamannya, dan unik pada masanya dalam ilmu dan kemuliaannya.

Ia memiliki penguasaan atas mazhab-mazhab Islam, dan penguasaan jalur-jalur halal dan haram, dan pengetahuan tentang Taurat dan Injil.

Kesimpulannya; zaman tidak pernah menghasilkan orang sepertinya, ungkapan terlalu pendek untuk menyebutkan sifat-sifatnya secara terperinci, karena itu lisan ilmu menyebutkannya secara global, dan seandainya diuraikan rinciannya maka akan memuat beban demi beban.

Ia selalu unggul hingga orang yang iri kepadanya berkata: baginya jalan menuju kemuliaan yang dipersingkat.

Allah mengkhususkannya dengan keistimewaan-keistimewaan ini disertai kemuliaan yang menganggap remeh dunia bagi yang mendatanginya dan menganggap kecil kimirah merah bagi yang mencarinya, dengan memerintahkan kebaikan, dan menolong orang yang tertindas, dan mengikuti sunnah para sahabat, dan menelusuri jejak para ahli taubat, tidak mewarisi ilmu dari kelemahan, bahkan rumahnya adalah mahkota bagi bulan-bulan ilmu.

Dan al-Hafizh Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman adz-Dzahabi ad-Dimasyqi menyebutkan bahwa karya-karyanya melebihi lima ratus jilid.

Ia lahir pada tahun enam puluh dan enam ratus di Harran, dan wafat pada tahun dua puluh delapan dan tujuh ratus di Damaskus di bentengnya, karena perkara-perkara yang terjadi antara dia dan para ulama zamannya dan diadakan untuknya majelis-majelis tentang masalah-masalah ushul dan furu’ yang banyak, dan akhirnya diputuskan bahwa dibangunkan untuknya tempat di benteng dan dicegah darinya orang yang ingin sampai kepadanya, dan ia berkecimpung setelah itu pada penulisan dan memperbanyaknya, dikatakan: bahwa ia meletakkan tafsir yang panjang yang di dalamnya ia mendatangkan hal yang aneh dan mengagumkan.

Dan sungguh telah mendahuluinya dari sebelumnya al-Imam Abu Muhammad ‘Ali bin Hazm dalam apa yang terjadi padanya persis sama, semoga Allah memaafkan semuanya, dan mengampuni mereka, sesungguhnya Dia adalah Wali yang mengabulkan.

 

 

13 – Mukhtashar Thabaqat ‘Ulama’ al-Hadits Karya al-‘Allamah Muhammad bin Ahmad bin ‘Abdul Hadi al-Hanbali (744)

Ibnu Taimiyyah

Syekh kami al-Imam ar-Rabbani, imam para imam, dan mufti umat, dan lautan ilmu, sayyid para hafizh, dan ksatria makna dan lafazh, yang unik pada zamannya, dan pemimpin masa, Syekhul Islam, teladan manusia, ‘allamah zaman, dan tarjuman al-Qur’an, pemimpin para zahid, dan satu-satunya ahli ibadah, pembantah para ahli bid’ah, dan terakhir para mujtahid, asy-Syekh Taqiyuddin; Abul ‘Abbas, Ahmad bin asy-Syekh al-Imam Syihabuddin Abil Mahasin ‘Abdul Halim bin asy-Syekh al-Imam Syekhul Islam Majduddin Abil Barakat ‘Abdus Salam bin Abi Muhammad ‘Abdullah bin Abil Qasim al-Khadhir bin Muhammad bin al-Khadhir bin ‘Ali bin ‘Abdullah al-Harrani; penghuni Damaskus, dan pemilik karya-karya yang belum pernah ada yang mendahuluinya.

Dikatakan: bahwa kakeknya Muhammad bin al-Khadhir berhaji—dan ia memiliki istri yang hamil—melalui jalan Taima’, maka ia melihat di sana seorang budak perempuan kecil yang keluar dari kemah, maka ketika kembali ke Harran ia mendapati istrinya telah melahirkan seorang anak perempuan, maka ketika melihatnya ia berkata: ya Taimiyyah, ya Taimiyyah, maka ia dijuluki dengan itu.

Dan Ibnun Najjar berkata: disebutkan kepada kami bahwa Muhammad ini ibunya bernama Taimiyyah, dan ia adalah seorang penceramah wanita, maka dinisbatkan kepadanya, dan dikenal dengannya.

Syekh kami lahir di Harran pada hari Senin tanggal sepuluh—dan dikatakan dua belas—Rabi’ul Awwal tahun enam puluh satu dan enam ratus. Dan ia datang bersama ayah dan keluarganya ke Damaskus ketika masih kecil, dan mereka telah keluar dari Harran sebagai pengungsi karena kezhaliman Tatar, maka mereka berjalan pada malam hari dan bersama mereka kitab-kitab di atas kereta karena tidak adanya hewan tunggangan; musuh hampir menyusul mereka, dan kereta berhenti, maka mereka berdoa kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya sehingga mereka selamat, dan mereka datang ke Damaskus pada pertengahan tahun enam puluh tujuh lalu mereka mendengar dari asy-Syekh Zainuddin Ahmad bin ‘Abdul Da’im bin Ni’mah al-Maqdisi Juz’ Ibni ‘Arfah, dan selain itu.

Kemudian syekh kami mendengar banyak dari: Ibnu Abil Yusr, dan al-Kamal bin ‘Abd, dan asy-Syekh Syamsuddin al-Hanbali, dan al-Qadhi Syamsuddin bin ‘Atha’ al-Hanafi, dan asy-Syekh Jamaluddin bin ash-Shairafi, dan Majduddin bin ‘Asakir, dan an-Najib al-Miqdad, dan Ibnu Abil Khair, dan Ibnu ‘Allan, dan Abu Bakar al-Harawi, dan al-Kamal ‘Abdur Rahim, dan Fakhruddin bin al-Bukhari, dan Ibnu Syaiban, dan asy-Syaraf bin al-Qawwas, dan Zainab binti Makki, dan banyak orang lainnya.

Dan guru-gurunya yang ia dengar darinya lebih dari dua ratus syekh.

Dan ia mendengar Musnad al-Imam Ahmad berkali-kali, dan Mu’jam ath-Thabarani al-Kabir, dan kitab-kitab besar, dan ajza’, dan menaruh perhatian pada hadits, dan membaca sendiri yang banyak, dan tekun mendengar selama bertahun-tahun, dan membaca al-Ghailaniyyat dalam satu majelis, dan menyalin serta memilih, menulis thabaq dan atsbat, dan belajar khat dan hisab di sekolah, dan belajar ilmu-ilmu, dan menghafal al-Qur’an, dan berkecimpung dalam fiqih, dan membaca beberapa hari dalam bahasa Arab kepada Ibnu ‘Abdul Qawi kemudian memahaminya, dan mulai merenungkan Kitab Sibawayh hingga memahaminya, dan mahir dalam nahwu, dan berkecimpung dalam tafsir dengan sungguh-sungguh hingga meraih tongkat kepemimpinan di dalamnya, dan menguasai ushul fiqih, dan selain itu, semua ini sementara ia masih berusia belasan tahun, maka para tokoh takjub dari kecerdasan, kelancaran pikiran, kekuatan hafalan, dan kecepatan pemahamannya.

Ia tumbuh dalam kesucian penuh, dan kesucian serta ketakwaan, dan hemat dalam pakaian dan makanan, dan tidak berhenti demikian sebagai khalaf shalih yang salafi, berbakti kepada kedua orang tuanya, bertakwa, wara’, beribadah sebagai zahid, banyak puasa dan shalat, banyak berdzikir kepada Allah ta’ala dalam setiap perkara dan pada setiap keadaan, kembali kepada Allah ta’ala dalam semua keadaan dan peristiwa, berhenti pada batas-batas Allah ta’ala dan perintah serta larangan-Nya, memerintahkan kebaikan, melarang kemungkaran, jiwanya hampir tidak pernah kenyang dari ilmu, dan tidak pernah puas dari membaca, dan tidak bosan dari belajar, dan tidak lelah dari penelitian, dan jarang masuk dalam suatu ilmu dari berbagai ilmu, dalam bab dari bab-babnya kecuali terbuka baginya dari bab itu berbagai pintu, dan dapat memperbaiki hal-hal dalam ilmu itu atas para ahlinya yang mahir.

Dan ia menghadiri madrasah-madrasah dan majelis-majelis di masa kecilnya, lalu berbicara dan berdebat, dan mengalahkan orang-orang besar, dan mendatangkan apa yang membuat para tokoh negeri dalam ilmu takjub, dan berfatwa ketika berusia sekitar tujuh belas tahun, dan mulai menghimpun dan menulis sejak waktu itu.

Dan ayahnya wafat—dan ia termasuk ulama besar Hanabilah dan para imam mereka—maka ia mengajar menggantikannya dengan jabatan-jabatannya; dan usianya dua puluh satu tahun, dan masyhur urusannya, dan jauh gaungnya di seluruh dunia, dan mulai menafsirkan Kitab Mulia pada hari-hari Jumat di atas kursi dari hafalannya, maka ia menyampaikan apa yang dikatakannya tanpa berhenti dan tersandung, dan demikian pula ia menyampaikan pelajaran dengan tenang dan suara yang keras yang fasih.

Dan ia berhaji pada tahun sembilan puluh satu ketika berusia tiga puluh tahun, dan kembali sedangkan imamah dalam ilmu, amal, zuhud, wara’, keberanian, kemuliaan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, keagungan, kewibawaan, amar ma’ruf, nahi munkar, telah sampai kepadanya, dengan kejujuran dan amanah serta iffah dan kesucian, dan niat yang baik dan keikhlasan, dan memohon kepada Allah, dan ketakutan yang kuat kepada-Nya, dan senantiasa muraqabah kepada-Nya, dan berpegang pada atsar, dan berdakwah kepada Allah, dan akhlak yang baik, dan memberi manfaat kepada makhluk dan berbuat baik kepada mereka.

Dan ia rahimahullah adalah pedang terhunus atas para penentang, dan duri di tenggorokan ahli hawa nafsu dan ahli bid’ah, dan imam yang berdiri dengan penjelasan kebenaran dan pertolongan agama, terdengar sebutannya di berbagai negeri, dan masa tidak menghasilkan yang sepertinya.

Dan syekh kami al-Hafizh Abul Hajjaj berkata: saya tidak pernah melihat yang sepertinya, dan ia pun tidak pernah melihat yang seperti dirinya, dan saya tidak pernah melihat seorang pun yang lebih mengetahui Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, dan tidak pernah ada yang lebih mengikutinya daripada dia.

Dan al-‘Allamah Kamaluddin bin az-Zamlakani berkata: ia jika ditanya tentang suatu bidang ilmu, maka orang yang melihat dan mendengar mengira bahwa ia tidak mengetahui selain bidang itu, dan memutuskan bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahuinya sepertinya, dan para fuqaha dari berbagai kelompok jika duduk bersamanya memperoleh manfaat dalam mazhab mereka darinya apa yang belum mereka ketahui sebelum itu, dan tidak diketahui bahwa ia berdebat dengan seseorang lalu terputus (kalah) bersamanya, dan tidak berbicara dalam suatu ilmu dari berbagai ilmu—baik itu termasuk ilmu syariat atau lainnya—kecuali ia mengungguli ahlinya dan orang-orang yang dinisbatkan kepadanya, dan ia memiliki tangan yang panjang dalam kebaikan penulisan, dan bagusnya ungkapan, dan penyusunan dan pembagian dan penjelasan, dan terjadi masalah furu’iyah dalam pembagian yang terjadi perbedaan di dalamnya antara para mufti pada masa itu; maka ia menulis di dalamnya satu jilid besar, dan demikian pula terjadi masalah dalam satu had dari berbagai had; maka ia menulis di dalamnya juga satu jilid besar, dan tidak keluar dalam setiap satunya dari masalah itu, dan tidak memanjangkan dengan pencampuran pembicaraan dan masuk dalam sesuatu dan keluar dari sesuatu, dan mendatangkan dalam setiap satunya dengan apa yang tidak pernah terlintas dalam pikiran dan khayalan, dan terkumpul padanya syarat-syarat ijtihad dengan sempurna.

Dan saya membaca dengan tulisan Syekh Kamaluddin juga pada kitab Raf’ul Malam ‘anil A’immah Al-A’lam karya guru kami: karya tulis Syekh Imam yang alim, ulama yang paling unggul, hafizh mujtahid, zahid yang beribadah, teladan, imam para imam, teladan umat, tanda para ulama, pewaris para nabi, akhir para mujtahidin, paling unggul di antara ulama agama, berkah Islam, hujjah para ulama terkemuka, bukti para ahli kalam, penumpas para ahli bidah, penghidup sunnah, dan orang yang dengannya Allah memberikan karunia besar kepada kami, dan dengannya ditegakkan hujjah atas musuh-musuh-Nya, dan dengan berkah serta bimbingannya jalan yang lurus menjadi jelas, Taqiyuddin Abu Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam Ibnu Taimiyah Al-Harrani, semoga Allah meninggikan mercu suaranya, dan dengannya Allah meneguhkan rukun-rukun agama.

Apa yang dikatakan para pendeskripsi tentang dirinya … sedangkan sifat-sifatnya terlalu agung untuk dihitung Dia adalah hujjah Allah yang menguasai … dia di antara kami adalah keajaiban zaman Dia adalah tanda yang nyata dalam penciptaan … cahayanya melebihi fajar

Dan pujian ini untuknya ketika usianya sekitar tiga puluh tahun, dan banyak guru-gurunya yang memujinya, serta para ulama besar di zamannya seperti Syekh Syamsuddin Ibnu Abi Umar, dan Syekh Tajuddin Al-Fazari, dan Ibnu Munajja, dan Ibnu Abdul Qawi, dan Qadhi Al-Khuwaiyyi, dan Ibnul Daqiq Al-Eid, dan Ibnu An-Nahhas, dan lain-lain.

Dan Syekh Imaduddin Al-Wasithi berkata – dan dia termasuk orang saleh yang arif – dan dia menyebutnya: Dia adalah guru kami, imam yang mulia, umat yang bersemangat, penghidup sunnah, penumpas bidah, penolong hadits, mufti kelompok-kelompok, yang memisahkan hakikat-hakikat dan mendasarkannya dengan dasar-dasar syariat bagi pencari yang mendalam, yang menggabungkan antara lahir dan batin, maka dia memutuskan dengan kebenaran secara lahir sedangkan hatinya tinggal di tempat yang tinggi, contoh khalifah yang mendapat petunjuk, dan imam-imam yang mendapat hidayah, Syekh Imam Taqiyuddin Abu Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam Ibnu Taimiyah, semoga Allah mengembalikan berkahnya, dan mengangkat derajatnya ke tingkatan yang tinggi.

Kemudian dia berkata dalam sebagian perkataannya: Demi Allah kemudian demi Allah kemudian demi Allah, saya tidak melihat di bawah hamparan langit seperti dirinya dalam ilmu dan amal dan keadaan dan akhlak dan kemuliaan dan kesabaran dalam hal dirinya sendiri, dan tegaknya dalam hak Allah ketika dilanggar kehormatan-kehormatan-Nya.

Kemudian dia memperpanjang pujian untuknya.

Dan Syekh Alamuddin berkata dalam Mu’jam Syuyukhihi: Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam bin Abdullah bin Abu Qasim bin Muhammad bin Taimiyah Al-Harrani Syekh Taqiyuddin Abu Abbas, imam yang disepakati keutamaan dan kemuliaan serta agamanya, dia membaca fikih dan menguasainya, bahasa Arab dan ushul, dan mahir dalam ilmu tafsir dan hadits, dan dia adalah imam yang tidak tersaingi dalam segala hal, dan mencapai derajat ijtihad, dan terkumpul padanya syarat-syarat para mujtahid. Dan jika dia menyebut tafsir maka orang-orang terpukau dari banyaknya hafalannya, dan baiknya penyampaiannya, dan memberikan setiap pendapat apa yang layak dimilikinya dari penguatan dan pelemahan dan pembatalan, dan pendalaman dalam setiap ilmu, para hadirin mendapati keajaiban, ini dengan keterputusannya kepada zuhud dan ibadah, dan kesibukan dengan Allah Ta’ala, dan keterlepasan dari sebab-sebab dunia, dan mengajak makhluk kepada Allah Ta’ala, dan dia duduk pada setiap pagi Jumat di hadapan orang-orang menafsirkan Al-Quran yang agung, maka bermanfaat dengan majelisnya dan berkah doanya, dan kesucian nafasnya, dan ketulusan niatnya, dan bersihnya lahir dan batinnya, dan kesesuaian perkataannya dengan amalnya, dan bertobat kepada Allah orang banyak, dan dia menjalani satu jalan yaitu memilih kefakiran, dan sedikitnya dari dunia, dan mengembalikan apa yang dibukakan untuknya. Dan Alamuddin berkata di tempat lain: Saya melihat dalam ijazah untuk Ibnu Asy-Syahrzuri Al-Maushili tulisan Syekh Taqiyuddin, dan telah menulis di bawahnya Syekh Syamsuddin Adz-Dzahabi: Ini tulisan guru kami imam, syaikhul Islam, yang tunggal di zamannya, lautan ilmu, Taqiyuddin. Kelahirannya sepuluh Rabiul Awal tahun enam ratus enam puluh satu, dan dia membaca Al-Quran dan fikih, dan berdebat dan beralasan dan dia belum baligh, dan menguasai ilmu dan tafsir, dan berfatwa dan mengajar dan usianya sekitar dua puluh tahun, dan menyusun karya-karya tulis, dan menjadi salah satu ulama besar di masa hidup guru-gurunya, dan dia memiliki karya-karya besar yang telah beredar dengan pengendara-pengendara, dan barangkali karya-karya tulisnya pada waktu ini mencapai empat ribu kurras atau lebih, dan dia menafsirkan Kitab Allah Ta’ala selama bertahun-tahun dari dadanya pada hari-hari Jumat, dan dia sangat cerdas, dan pendengaran haditsnya banyak, dan guru-gurunya lebih dari dua ratus guru, dan pengetahuannya dalam tafsir mencapai puncaknya, dan hafalannya untuk hadits dan para perawinya dan keshahihan serta kelemahannya maka tidak ada yang menyamainya dalam hal itu, adapun penukilan fikinya dan madzhab-madzhab para sahabat dan tabiin – selain empat madzhab – maka tidak ada yang setara dengannya, adapun pengetahuannya tentang agama-agama dan aliran-aliran dan ushul dan kalam maka saya tidak mengetahui ada yang setara dengannya, dan dia mengetahui bagian yang baik dari bahasa, dan bahasa Arabnya sangat kuat, dan pengetahuannya tentang sejarah dan sirah maka sangat mengagumkan, adapun keberaniannya dan jihadnya dan keberaniannya maka perkara yang melampaui deskripsi dan melebihi penyifatan, dan dia salah satu orang yang dermawan dan murah hati yang dijadikan perumpamaan, dan padanya ada zuhud dan qanaah dengan yang sedikit dalam makanan dan pakaian.

Dan Adz-Dzahabi berkata di tempat lain: Dia adalah tanda dalam kecerdasan dan kecepatan pemahaman, pemimpin dalam pengetahuan Kitab dan Sunnah dan perbedaan pendapat, lautan dalam penukilan, dia pada zamannya adalah satu-satunya di masanya dalam ilmu dan zuhud dan keberanian dan kedermawanan, dan menyuruh kebaikan, dan melarang kemungkaran, dan banyaknya karya tulis. Sampai dia berkata: Jika disebutkan tafsir maka dia pemimpin benderanya, dan jika dihitung para fuqaha maka dia mujtahid mutlak mereka, dan jika hadir para hafizh dia berbicara dan mereka diam, dan dia menyebutkan dan mereka terperanjat, dan dia kaya dan mereka miskin, dan jika disebutkan ahli kalam maka dia yang tunggal mereka, dan kepadanya rujukan mereka, dan jika muncul Ibnu Sina memimpin para filosof maka dia mengalahkan mereka dan membuat mereka bingung, dan membuka tabir mereka, dan menyingkap aib mereka, dan dia memiliki tangan yang panjang dalam pengetahuan bahasa Arab dan sharaf dan bahasa, dan dia lebih besar dari kata-kataku mendeskripsikannya, dan penaku memberitahukan tentang kedudukannya, maka sesungguhnya sirahnya dan ilmu-ilmunya dan pengetahuannya dan ujian-ujiannya dan perpindahannya kemungkinan dirangkai dalam dua jilid.

Dan dia berkata di tempat lain: Dan dia memiliki pengetahuan sempurna tentang para perawi, dan jarh dan ta’dil mereka dan tingkatan mereka, dan pengetahuan tentang cabang-cabang hadits, dan dengan yang tinggi dan rendah, dan dengan yang shahih dan sakit, dengan hafalannya untuk matan-matannya yang dia terpisah dengannya, maka tidak ada seorang pun pada masa itu yang mencapai derajatnya atau mendekatinya, dan dia adalah keajaiban dalam menghadirkan, dan mengeluarkan hujjah-hujjah darinya, dan kepadanya puncak dalam menyandarkannya kepada kitab-kitab enam dan Musnad sehingga benar atasnya jika dikatakan: “Setiap hadits yang tidak diketahui Ibnu Taimiyah maka itu bukan hadits”; tetapi pengetahuan menyeluruh milik Allah, namun dia mengambil darinya dari lautan, dan selain dia dari para imam mengambil dari saluran air, adapun tafsir maka diserahkan kepadanya, dan dia dalam menghadirkan ayat-ayat dari Al-Quran – waktu menegakkan dalil dengannya atas masalah – memiliki kekuatan yang mengagumkan, dan jika pembaca Al-Quran melihatnya maka terkagum-kagum padanya, dan karena besarnya kepemimpinannya dalam tafsir dan besarnya pengetahuannya dia menjelaskan kesalahan banyak pendapat para mufassir, dan melemahkan banyak pendapat, dan menguatkan satu pendapat yang sesuai dengan apa yang ditunjukkan Al-Quran dan hadits, dan dia menulis dalam sehari semalam dari tafsir, atau dari fikih, atau dari dua dasar, atau dari bantahan terhadap para filosof dan orang-orang terdahulu sekitar empat kurras atau lebih, dan saya tidak jauh bahwa karya-karya tulisnya sampai sekarang mencapai lima ratus jilid, dan dia dalam lebih dari satu masalah memiliki karya tulis tersendiri dalam satu jilid.

Kemudian dia menyebut sebagian karya-karya tulisnya dan berkata: Dan di antaranya kitab tentang kesesuaian antara yang rasional dan yang nukilan dalam dua jilid.

Saya berkata: Kitab ini – yaitu kitab Dar’u Ta’arudh Al-Aql wan-Naql – dalam empat jilid besar, dan sebagian naskah dengannya dalam lebih banyak.

Dan di antara karya-karya tulisnya: kitab Bayan Talbis Al-Jahmiyyah fi Ta’sis Bida’ihim Al-Kalamiyyah dalam enam jilid, dan sebagian naskah dengannya dalam lebih banyak, dan kitab Jawab Al-I’tiradhat Al-Mishriyyah ‘ala Al-Futya Al-Hamawiyyah dalam beberapa jilid, dan demikian juga kitab Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyyah fi Naqd Kalam Asy-Syi’ah wal Qadariyyah, dan kitab dalam bantahan terhadap orang Nasrani yang dia namakan Al-Jawab Ash-Shahih liman Baddala Din Al-Masih, dan di antara karya-karya tulisnya juga kitab Al-Istiqamah dalam dua jilid, dan kitab tentang ujiannya di Mesir dalam dua jilid, dan kitab Al-Iman dalam satu jilid, dan kitab Tanbih Ar-Rajul Al-Aqil ‘ala Tamwih Al-Mujadil fil Jadal Al-Bathil dalam satu jilid, dan kitab Ar-Radd ‘ala Ahli Kisrawan Ar-Rafidhah dalam dua jilid, dan kitab dalam bantahan terhadap mantiq, dan kitab tentang al-wasilah, dan kitab tentang al-istighasah, dan kitab Bayan Ad-Dalil ‘ala Butlan At-Tahlil, dan kitab Ash-Sharim Al-Maslul ‘ala Syatim Ar-Rasul, dan kitab Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim Mukhalafah Ashab Al-Jahim, dan kitab At-Tahrir fi Mas’alah Hafir, dan kitab Raf’ Al-Malam ‘an Al-A’immah Al-A’lam, dan kitab As-Siyasah Asy-Syar’iyyah fi Ishlah Ar-Ra’i war-Ra’iyyah, dan kitab Tafdhil Shalih An-Nas ‘ala Sa’ir Al-Ajnas, dan kitab At-Tuhfah Al-Iraqiyyah fil A’mal Al-Qalbiyyah, dan kitab Al-Furqan bayna Awliya’ Ar-Rahman wa Awliya’ Asy-Syaithan, dan kitab Al-Masa’il Al-Iskandariyyah fir Radd ‘ala Al-Malahidah wal Ittihadiyyah dan dikenal dengan As-Sab’iniyyah. Dan jumlah nama-nama karya-karya tulisnya membutuhkan banyak lembaran, dan untuk menyebutnya ada tempat lain, dan dia memiliki dari karya-karya tulis dan fatwa-fatwa dan kaidah-kaidah dan jawaban-jawaban dan risalah-risalah dan catatan-catatan apa yang tidak terhitung dan tidak terbatas, dan saya tidak mengetahui seorang pun dari orang-orang terdahulu maupun orang-orang kemudian yang mengumpulkan seperti apa yang dia kumpulkan, dan tidak menyusun seperti apa yang dia susun, dan tidak mendekati itu; dengan bahwa karya-karya tulisnya dia menulisnya dari hafalannya, dan dia menulis banyak darinya dalam penjara dan tidak ada padanya apa yang dia butuhkan dan rujuk dari kitab-kitab.

Dan Syekh Fathuddin bin Sayyid An-Nas berkata – setelah dia menyebut tarjamah guru kami hafizh Abu Al-Hajjaj yang telah disebutkan sebelumnya -: Dan dialah yang mendorong saya untuk melihat Syekh Imam syaikhul Islam Taqiyuddin Abu Abbas Ahmad bin Abdul Halim Ibnu Taimiyah; maka saya mendapatinya termasuk orang yang mendapatkan dari ilmu-ilmu bagian, dan hampir menguasai sunnah-sunnah dan atsar-atsar hafalan, jika dia berbicara dalam tafsir maka dia pembawa benderanya, atau berfatwa dalam fikih maka dia yang mencapai puncaknya, atau menyebutkan hadits maka dia pemilik ilmunya dan yang memiliki perawinya, atau hadir dengan agama-agama dan aliran-aliran maka tidak terlihat lebih luas dari alirannya dalam itu, dan tidak lebih tinggi dari pengetahuannya, dia unggul dalam setiap cabang atas anak-anak jenisnya, dan tidak dilihat mata orang yang melihatnya seperti dirinya, dan tidak melihat matanya seperti dirinya sendiri, dia berbicara dalam tafsir maka menghadiri majelisnya orang yang banyak sekali, dan mereka mengambil dari lautan ilmunya yang manis dan jernih, dan mereka merumput dari musim semi keutamaannya dalam taman dan danau.

Sampai merayap kepadanya dari penduduk negerinya penyakit dengki, dan orang-orang nazhar dari mereka fokus pada apa yang dikritik atasnya dari perkara-perkara akidah, maka mereka menghafalkan darinya dalam hal itu perkataan, mereka meluaskan untuknya karena itu celaan, dan mereka mengarahkan untuk membidahkannya anak panah, dan mereka mengklaim bahwa dia menyelisihi jalan mereka, dan memecah kelompok mereka, maka dia berselisih dengan mereka dan mereka berselisih dengannya, dan dia memutuskan sebagian mereka dan mereka memutuskannya, kemudian dia berselisih dengan kelompok lain yang menisbatkan diri dari kefakiran kepada jalan, dan mereka mengklaim bahwa mereka atas batin yang paling halus darinya dan hakikat yang paling jelas, maka dia membuka jalan-jalan itu, dan menyebutkan untuknya – menurut klaimnya – bencana-bencana, maka kembali kepada kelompok pertama dari orang-orang yang berselisih dengannya, dan meminta bantuan dengan orang-orang yang memiliki dendam kepadanya dari orang-orang yang memutuskannya, maka mereka menyampaikan kepada para penguasa perkaranya, dan setiap dari mereka menggunakan dalam kekafirannya pemikirannya, maka mereka menyusun berita acara, dan mereka menggerakkan orang-orang bodoh untuk berjalan dengannya di antara orang-orang besar, dan mereka berusaha dalam memindahkannya ke kehadiran kerajaan di negeri Mesir, maka dia dipindahkan dan dimasukkan penjara saat kedatangannya dan ditangkap, dan mereka mengadakan majelis-majelis untuk menumpahkan darahnya, dan mereka mengumpulkan untuk itu orang-orang dari penghuni zawiyah dan penghuni madrasah, dari yang berpura-pura dalam perselisihan yang menipu dalam penipuan, dan dari yang terang-terangan dengan pengkafiran yang berperang dengan pemutusan, mereka menawarkan kepadanya fitnah yang dijaga {Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan oleh dada mereka dan apa yang mereka nyatakan} (Al-Qashash: 69).

Dan orang yang terang-terangan dengan kekufurannya tidaklah lebih buruk keadaannya daripada orang yang licik, dan sungguh telah menjalar kepadanya kalajengking-kalajengking tipu dayanya, maka Allah membalikkan tipu daya masing-masing ke tenggorokannya sendiri, dan menyelamatkannya melalui tangan orang yang telah dipilih-Nya, dan Allah berkuasa atas urusan-Nya, kemudian setelah itu tidak luput dari fitnah demi fitnah, dan sepanjang umurnya tidak berpindah dari satu cobaan melainkan ke cobaan yang lain, hingga akhirnya urusannya diserahkan kepada sebagian hakim lalu ia menangani penahanannya, dan ia tetap berada di penjara itu sampai saat kepergiannya menuju rahmat Allah Taala dan perpindahannya, dan kepada Allah dikembalikan segala urusan, dan Dia-lah Yang Maha Melihat pandangan yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh dada-dada, dan harinya itu (hari wafatnya) adalah hari yang disaksikan, jalan menjadi sempit karena jenazahnya, dan kaum muslimin datang kepadanya dari setiap penjuru yang jauh, mereka mengambil berkah dengan menyaksikannya pada hari berdirinya para saksi, dan mereka berpegang teguh pada keranganya hingga mereka mematahkan kayu-kayu tersebut!

Kemudian ia menyebutkan hari wafat dan kelahirannya, kemudian berkata: Dan aku membaca kepada Syaikh Imam pembawa panji ilmu-ilmu pengetahuan, dan pencapai puncak pemahaman, Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Taimiyah rahimahullah di Kairo – ketika ia datang kepada kami -, kemudian ia menyebutkan sebuah hadits dari Juz Ibnu Arafah.

Aku (perawi) berkata: Syaikh kami mendiktekan masalah yang dikenal dengan Al-Hamawiyah pada tahun enam ratus sembilan puluh delapan dalam satu majlis antara waktu Zhuhur dan Ashar, dan itu adalah jawaban atas pertanyaan yang datang dari Hamah tentang sifat-sifat Allah, dan terjadi baginya karena itu sebuah cobaan, dan Allah menolongnya dan menghinakan musuh-musuhnya, dan apa yang terjadi padanya setelah itu sampai saat wafatnya berupa berbagai peristiwa dan cobaan dan perpindahan memerlukan beberapa jilid, dan itu seperti keikutsertaannya dalam perang melawan Ghazan pada tahun tujuh ratus sembilan, dan memikul beban urusan dengan dirinya sendiri, dan pertemuannya dengan raja dan dengan Khatlusyah dan dengan Bulay, dan keberaniannya dan ketegasannya terhadap Mongol, dan jihadnya yang besar, dan perbuatan baiknya, dari menginfakkan harta, dan memberi makan, dan mengubur mayat-mayat, kemudian kepergiannya setelah itu setahun kemudian ke negeri Mesir, dan perjalanannya dengan pos ke sana dalam waktu satu minggu ketika Tatar datang ke pinggiran negeri, dan keadaan menjadi genting di negeri Syam, dan pertemuannya dengan para pemuka negara, dan permintaan bantuannya kepada mereka, dan dorongannya kepada mereka untuk berjihad, dan pemberitahuannya kepada mereka tentang apa yang telah Allah sediakan bagi para mujahidin berupa pahala, dan pernyataan mereka kepadanya tentang alasan kembalinya mereka, dan pengagungan mereka kepadanya, dan kunjungan para pembesar kepadanya, dan pertemuan Ibnu Daqiq Al-Id dengannya, dan mendengarkan perkataannya, dan pujiannya yang sangat besar kepadanya, kemudian kepergiannya setelah beberapa hari ke Damaskus dan kesibukannya dengan perhatian untuk jihad melawan Tatar, dan dorongannya kepada para amir tentang hal itu, hingga datang berita tentang kepergian mereka, kemudian keikutsertaannya dalam peristiwa Syaqhab yang terkenal pada tahun tujuh ratus dua, dan pertemuannya dengan khalifah dan sultan, dan para pemilik otoritas mengambil dan memberi keputusan, dan para pembesar amir dan dorongannya kepada mereka untuk berjihad, dan nasihatnya kepada mereka, dan apa yang tampak dalam peristiwa ini dari karamahnya dan dikabulkannya doanya, dan jihadnya yang besar, dan kekuatan imannya, dan kekuatan nasihatnya untuk Islam, dan kelebihan keberaniannya, kemudian kepergiannya setelah itu di akhir tahun tujuh ratus empat untuk memerangi orang-orang Kisrawan dan berjihad melawan mereka, dan memusnahkan mereka, kemudian perdebatannya dengan para penentang pada tahun tujuh ratus lima dalam majlis-majlis yang diadakan untuknya dengan hadirnya wakil sultan Al-Afram, dan kemenangannya atas mereka dengan hujjah dan keterangan, dan kembalinya mereka kepada perkataannya dengan sukarela maupun terpaksa, kemudian kepergiannya setelah itu pada tahun yang disebutkan ke negeri Mesir bersama qadhi

Syafiiyah, dan diadakan majlis untuknya ketika kedatangannya dengan kehadiran para qadhi dan pembesar negara, kemudian penahanannya di sumur di Benteng Gunung, dan bersamanya kedua saudaranya selama satu setengah tahun, kemudian keluarnya setelah itu, dan diadakan majlis-majlis untuknya dan untuk musuh-musuhnya dan kemenangannya atas mereka, kemudian pengajaran ilmu dan penyebaran dan penyiarannya, kemudian diadakan majlis untuknya pada bulan Syawal tahun tujuh ratus tujuh karena perkataannya tentang kaum Ittihadiyah dan celaan atasnya kepada mereka, kemudian perintah untuk mengusirnya ke Syam dengan pos, kemudian pengembaliannya dari satu perjalanan dan penahanannya di penjara para qadhi selama satu setengah tahun, dan pengajarannya kepada penghuni penjara tentang apa yang mereka butuhkan dari urusan agama, kemudian pengeluarannya darinya, dan kepergiannya ke Iskandariah, dan menempatkannya di menara yang bagus darinya selama delapan bulan, siapa saja yang mau boleh masuk menemuinya, kemudian kepergiannya ke Mesir, dan pertemuannya dengan sultan dalam majlis yang penuh dengan para qadhi dan para pembesar amir, dan penghormatannya yang besar kepadanya, dan konsultasinya kepadanya tentang membunuh sebagian musuhnya, dan penolakan Syaikh dari hal itu, dan menjadikan setiap orang yang menyakitinya dalam keadaan halal kemudian tinggalnya di Kairo, dan kembalinya kepada penyebaran ilmu dan memberikan manfaat kepada makhluk, dan apa yang terjadi setelah itu dari kasus Al-Bakri dan lainnya, kemudian kepergiannya setelah itu ke Syam bersama tentara Mesir menuju peperangan setelah ketidakhadirannya dari Damaskus selama tujuh tahun dan tujuh Jumat, dan kepergiannya dalam perjalanannya ke Baitul Maqdis, kemudian kebersamaannya setelah itu di Damaskus untuk menyebarkan ilmu, dan menulis kitab-kitab, dan memberi fatwa kepada makhluk, hingga ia berbicara tentang masalah sumpah dengan talak, maka sebagian qadhi menyarankan kepadanya untuk meninggalkan fatwa dengannya pada tahun tujuh ratus delapan belas; maka ia menerima sarannya, kemudian datang surat sultan setelah beberapa hari dengan larangan dari fatwa tentangnya, kemudian Syaikh kembali kepada berfatwa dengannya dan berkata: Tidak boleh bagiku menyembunyikan ilmu.

Dan ia tetap seperti itu beberapa waktu hingga mereka menahannya di benteng selama lima bulan dan delapan belas hari, kemudian dikeluarkan, dan kembali kepada kebiasaannya dari berbagai kesibukan dan mengajar ilmu, dan tidak berhenti seperti itu hingga mereka menemukan baginya sebuah jawaban yang berkaitan dengan masalah bepergian jauh ke kubur para nabi dan orang-orang saleh, yang telah ia jawab sekitar dua puluh tahun; dan besar perkara tersebut, dan datang keputusan sultan pada bulan Syaban tahun tujuh ratus dua puluh enam dengan menempatkannya di benteng; maka dikosongkan untuknya sebuah ruangan yang bagus, dan dialirkan ke sana air, dan ia tinggal di sana dan bersamanya saudaranya melayaninya, dan ia menghadap dalam masa ini kepada ibadah dan tilawah dan penulisan kitab-kitab, dan bantahan terhadap para penentang, dan ia menulis tafsir Al-Quran Al-Azhim sejumlah besar yang mengandung manfaat-manfaat yang mulia, dan ketelitian yang halus, dan makna-makna yang lembut, dan menjelaskan banyak tempat yang menjadi masalah bagi banyak mufassir, dan ia menulis dalam masalah yang ia ditahan karenanya beberapa jilid, dan muncul sebagian dari apa yang ia tulis dan tersebar, dan berakhir perkaranya hingga ia dilarang dari menulis dan membaca, dan mereka mengeluarkan apa yang ada padanya dari kitab-kitab, dan mereka tidak meninggalkan padanya tinta maupun pena maupun kertas, dan ia menulis setelah itu dengan arang berkata: Sesungguhnya pengeluaran kitab-kitab darinya adalah termasuk nikmat yang paling besar.

Dan ia tetap beberapa bulan dalam keadaan itu, dan menghadap kepada tilawah dan ibadah dan tahajjud hingga datang kepadanya keyakinan (kematian), maka tidak mengejutkan manusia kecuali berita kematiannya, dan mereka tidak mengetahui sakitnya, dan ia telah sakit selama dua puluh hari, maka makhluk menyesalinya, dan hadir kumpulan besar, maka diizinkan mereka untuk masuk, dan duduk sekelompok orang di sisinya sebelum dimandikan, dan mereka membaca Al-Quran, dan mengambil berkah dengan melihatnya dan menciumnya, kemudian mereka pulang, dan hadir sekelompok wanita lalu mereka melakukan seperti itu, kemudian mereka pulang, dan dibatasi kepada orang yang memandikannya dan membantu atasnya dalam memandikannya, maka ketika selesai dari itu ia dikeluarkan dan telah berkumpul manusia di benteng dan jalan menuju Masjid Damaskus, dan penuh masjid dan halaman dan Kallasah dan Pintu Barid dan Pintu Jam sampai ke Labadin dan Fawwarah, dan hadir jenazah pada jam keempat dari siang hari atau sekitar itu, dan diletakkan di masjid, dan tentara menjaganya dari manusia karena kepadatan yang sangat, dan dishalatkan atasnya pertama di benteng, yang mengimami shalat atasnya Syaikh Muhammad bin Tamam, kemudian dishalatkan atasnya di Masjid Damaskus setelah shalat Zhuhur, dan diangkat dari Pintu Barid, dan sangat padat kerumunan, dan orang-orang melemparkan ke atas kerangjanya sapu tangan mereka dan sorban mereka untuk mengambil berkah! Dan menjadi kerangka di atas kepala-kepala, kadang maju dan kadang mundur, dan keluar manusia dari masjid dari pintu-pintunya semuanya karena kepadatan yang sangat, dan setiap pintu lebih padat dari yang lain, kemudian keluar manusia dari pintu-pintu negeri semuanya karena kepadatan yang sangat, tetapi yang paling banyak dari empat pintu adalah Pintu Faraj yang dikeluarkan darinya jenazah, dan dari Pintu Faradis dan Pintu Nashr dan Pintu Jabiyah, dan besar perkara di pasar kuda, dan yang mengimami shalat atasnya di sana saudaranya Zainuddin, dan diangkat ke pemakaman kaum sufi; maka ia dikubur di samping saudaranya Imam Syarafuddin – rahimahullah -, dan penguburannya waktu Ashar atau sedikit sebelumnya, dan orang-orang menutup toko-toko mereka, dan tidak ada yang tidak hadir, kecuali sekelompok kecil, atau orang yang tidak mampu karena kepadatan, dan hadir dari kalangan laki-laki dan perempuan lebih dari dua ratus ribu orang, dan minum sekelompok orang air

yang tersisa dari memandikannya, dan membagi sekelompok orang sisa daun bidara yang dimandikan dengannya, dan dikatakan bahwa tutup kepala yang ada di kepalanya dibayar untuknya lima puluh seratus dirham, dan dikatakan bahwa benang yang di dalamnya ada raksa yang di lehernya karena kutu dibayar untuknya seratus lima puluh dirham, dan terjadi dalam jenazah suara dan tangisan yang besar, dan permohonan yang banyak, dan waktu yang disaksikan, dan diselesaikan untuknya khataman yang banyak di Shalihiyah dan negeri, dan orang-orang datang ke kuburnya berhari-hari yang banyak malam dan siang, dan dilihat untuknya mimpi-mimpi yang banyak yang baik, dan meratapi dirinya sekelompok orang dengan qasidah-qasidah yang banyak.

Dan wafatnya adalah malam Senin dua puluh Dzulqadah tahun tujuh ratus dua puluh delapan, rahimahullah wa radhiyallahu anhu, wa atsabahul jannata birahmatih (semoga Allah merahmatinya dan meridhainya, dan memberinya pahala Surga dengan rahmat-Nya).

Imam Adz-Dzahabi (748 H)

Daftar Karya Tentang Ibnu Taimiyah:

  1. Ad-Durrah al-Yatimiyah fi As-Sirah At-Taimiyah
  2. Dzail Tarikh Al-Islam
  3. Mu’jam Asy-Syuyukh
  4. Tadzkirah Al-Huffazh
  5. Dzail Al-‘Ibar
  6. Duwal Al-Islam
  7. Al-I’lam bi Wafayat Al-A’lam
  8. Al-Mu’in fi Thabaqat Al-Muhadditsiin
  9. Dzikr Man Yu’tamad Qauluhu fi Al-Jarh wa At-Ta’dil
  10. Al-Mu’jam Al-Mukhtash
  11. Terjemah ringkas, dinukil oleh Ibnu Al-Muhandis

 

 

Sekilas Biografi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

14  – Ad-Durrah Al-Yatimiyah fi As-Sirah At-Taimiyah

Segala puji bagi Allah semata.

Ini adalah sekilas biografi Syaikhul Islam Taqiyuddin Ibnu Taimiyah semoga Allah meridainya, dari karya yang disusun oleh Syaikh, Imam, Allamah, Hafizh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz-Dzahabi Asy-Syafi’i, semoga Allah Ta’ala meliputi keduanya dengan rahmat dan ridha-Nya. Beliau berkata:

Ibnu Taimiyah

Taqiyuddin, Imam Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam bin Abdullah bin Abu Al-Qasim Al-Khidr bin Muhammad bin Al-Khidr bin Ali bin Abdullah bin Taimiyah. Imam yang ahli, lautan ilmu, tokoh yang unik, Syaikhul Islam, keajaiban zaman, Taqiyuddin Abu Al-Abbas Ahmad, Al-Harrani Al-Hanbali, yang tinggal di Damaskus. Beliau lahir di Harran pada hari Senin tanggal sepuluh Rabiul Awal tahun 661 H. Ayahnya hijrah bersamanya dan saudara-saudaranya ke Syam ketika terjadi kezaliman Tatar. Mereka berjalan di malam hari dengan membawa buku-buku di atas kereta karena tidak ada hewan tunggangan. Musuh hampir menyusul mereka dan kereta berhenti. Maka ayahnya berdoa kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya, lalu mereka selamat.

Mereka tiba di Damaskus pada pertengahan tahun 667 H, dan mendengar dari Az-Zain bin Abdul Daim kitab Nuskhah Ibnu ‘Arafah dan lainnya. Kemudian guru kami mendengar banyak hadits dari Ibnu Abi Al-Yusr, Al-Kamal Ibnu ‘Abd, Al-Majd Ibnu Asakir – para sahabat Al-Khusyu’i –, dari Al-Jamal Yahya Ibnu Ash-Shairafi, Ahmad bin Abi Al-Khair Salamah, Al-Qasim Al-Irbili, Asy-Syaikh Syamsuddin Abdurrahman bin Abi Umar, Abu Al-Ghanaim Ibnu ‘Allan, dan banyak lainnya.

Beliau mendengar Musnad Ahmad beberapa kali, kitab-kitab besar dan ajza’ (juz-juz hadits), sangat memperhatikan ilmu hadits, menyalin banyak hadits, belajar menulis dan berhitung di kuttab (tempat belajar), menghafal Al-Quran, kemudian fokus pada ilmu fikih. Beliau belajar bahasa Arab beberapa hari kepada Ibnu Abdul Qawi, lalu memahaminya, dan mulai mempelajari Kitab Sibawaihi hingga memahaminya dan menguasai ilmu nahwu.

Beliau sangat fokus pada tafsir secara total, hingga meraih posisi terdepan di dalamnya, menguasai ushul fikih dan lainnya. Semua ini beliau raih sementara usia beliau belum mencapai belasan tahun lebih. Para ulama terkagum-kagum dengan kecerdasan luar biasanya, kejernihan pikirannya, kekuatan hafalannya, dan kecepatan pemahamannya.

Beliau tumbuh dengan menjaga diri secara sempurna, kesucian, beribadah kepada Allah, tekun beribadah, sederhana dalam pakaian dan makanan.

Beliau hadir di madrasah-madrasah dan majelis-majelis sejak kecil, berbicara, berdebat, mengalahkan orang-orang besar, dan mengemukakan hal-hal yang membuat para tokoh negeri di bidang ilmu tercengang. Beliau berfatwa ketika berusia sembilan belas tahun, bahkan kurang. Beliau mulai mengumpulkan dan menulis karya sejak saat itu, dan sangat giat belajar.

Ayahnya wafat – dan beliau termasuk tokoh besar ulama Hanabilah dan imam-imam mereka – lalu beliau mengajar menggantikan posisi ayahnya ketika berusia dua puluh satu tahun. Namanya menjadi terkenal dan beritanya tersebar ke seluruh dunia. Beliau mulai menafsirkan Al-Quran Al-Karim pada hari-hari Jumat di mimbar dari hafalannya. Beliau menyampaikan majelis tanpa terbata-bata. Demikian pula beliau menyampaikan pelajaran dengan tenang dan suara yang lantang dan fasih. Beliau berbicara dalam majelis lebih dari dua kurrasy atau kurang. Beliau menulis fatwa dengan segera beberapa lembar dengan tulisan cepat yang sangat ringkas dan rumit.

Saya membaca dengan tulisan guru kami Allamah Kamaluddin, tokoh ulama Syafi’iyah tentang Ibnu Taimiyah: “Jika beliau ditanya tentang satu cabang ilmu, orang yang melihat dan mendengar mengira bahwa beliau tidak mengetahui selain cabang ilmu itu, dan meyakini bahwa tidak ada yang mengetahuinya seperti beliau. Para fuqaha dari berbagai kelompok jika duduk bersamanya, mereka mendapat manfaat darinya dalam madzhab mereka berbagai hal.” Beliau berkata: “Tidak diketahui bahwa beliau berdebat dengan seseorang lalu kalah, dan tidak berbicara dalam satu ilmu pun – baik dari ilmu-ilmu syariat maupun lainnya – kecuali beliau mengungguli ahlinya. Terkumpul pada dirinya syarat-syarat ijtihad secara sempurna sebagaimana mestinya.”

Saya berkata: Beliau memiliki pengetahuan sempurna tentang para perawi, jarh wa ta’dil mereka, thabaqat mereka, dan pengetahuan tentang berbagai cabang ilmu hadits, tentang sanad tinggi dan rendah, tentang hadits shahih dan lemah, bersama hafalannya terhadap matan-matan hadits yang beliau kuasai secara unik. Tidak ada seorang pun di masa ini yang mencapai derajatnya atau mendekatinya. Beliau luar biasa dalam mengingat dan mengeluarkan dalil-dalil dari hafalan, dan kepada beliaulah puncak dalam menisbatkan hadits kepada Kutub As-Sittah (Enam Kitab Hadits) dan Musnad, sehingga benar jika dikatakan: “Setiap hadits yang tidak diketahui Ibnu Taimiyah, maka itu bukan hadits.” Tetapi kesempurnaan hanya milik Allah. Namun beliau menggali ilmu hadits dari lautan, sementara imam-imam lainnya menggali dari anak sungai.

Adapun ilmu tafsir, maka beliau memiliki otoritas penuh di dalamnya. Beliau memiliki kemampuan luar biasa dalam mengingat ayat-ayat dari Al-Quran ketika hendak menegakkan dalil dengannya atas suatu masalah. Jika ahli qira’at melihatnya, mereka akan tercengang. Karena kepemimpinannya yang sangat tinggi dalam tafsir dan luasnya pengetahuannya, beliau menjelaskan kesalahan banyak pendapat para mufassir, melemahkan banyak pendapat, dan menguatkan satu pendapat yang sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh Al-Quran dan hadits. Beliau menulis dalam satu hari satu malam dari tafsir, atau dari fikih, atau dari dua ushul, atau dari bantahan terhadap para filosof dan orang-orang terdahulu sekitar empat kurrasy atau lebih. Tidak mustahil karya-karya beliau hingga sekarang mencapai lima ratus jilid. Beliau memiliki karya khusus tentang berbagai masalah dalam satu jilid; seperti masalah tahlil, masalah Hufair, masalah orang yang mencaci Rasul, masalah “Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim” tentang celaan bid’ah. Beliau memiliki karya dalam membantah Ibnu Al-Muthahhar Ar-Rafidhi dalam tiga jilid besar, karya dalam membantah Ta’sis At-Taqdis karya Ar-Razi dalam tujuh jilid, kitab dalam membantah mantiq (logika), kitab Al-Muwafaqah baina Al-Ma’qul wa Al-Manqul dalam dua jilid. Para sahabatnya telah mengumpulkan dari fatwa-fatwanya sekitar enam jilid besar. Beliau memiliki pengetahuan luas dalam mengetahui madzhab-madzhab para sahabat dan tabiin. Jarang beliau berbicara dalam satu masalah kecuali menyebutkan di dalamnya madzhab-madzhab Imam yang Empat. Beliau menyelisihi yang empat dalam masalah-masalah yang dikenal, dan menulis karya tentangnya, serta berdalil dengan Al-Quran dan Sunnah.

Beliau memiliki karya yang beliau beri nama: “As-Siyasah Asy-Syar’iyah fi Ishlah Ar-Ra’i wa Ar-Ra’iyah”, dan kitab “Raf’ Al-Malam ‘an Al-A’immah Al-A’lam”.

Ketika beliau ditahan di Iskandariyah, penguasa Sabtah meminta kepada beliau agar memberikan ijazah riwayat-riwayatnya kepadanya dan menyebutkan nama-nama beberapa di antaranya. Maka beliau menulis dalam sepuluh lembar sejumlah riwayat itu beserta sanad-sanadnya dari hafalannya, di mana seorang muhaddits besar pun tidak mampu melakukan sebagiannya.

Beliau sekarang sudah beberapa tahun tidak berfatwa dengan madzhab tertentu, tetapi dengan apa yang ditegakkan dalilnya menurut beliau. Sungguh beliau telah menolong sunnah yang murni dan jalan salaf, dan berdalil untuknya dengan bukti-bukti, premis-premis, dan hal-hal yang belum pernah didahului. Beliau mengeluarkan ungkapan-ungkapan yang orang-orang terdahulu dan belakangan tidak berani dan takut, tetapi beliau berani melakukannya, hingga banyak ulama dari Mesir dan Syam bangkit menentangnya dengan penentangan yang sangat keras, membid’ahkannya, berdebat dengannya, dan memusuhinya. Namun beliau teguh tidak bersikap manis dan tidak berkompromi, bahkan mengatakan kebenaran yang pahit yang ditunjukkan oleh ijtihadnya, ketajaman pikirannya, dan luasnya lingkarannya dalam sunnah-sunnah dan pendapat-pendapat, bersama apa yang terkenal dari beliau berupa wara’, kesempurnaan pemikiran, kecepatan pemahaman, takut kepada Allah, dan pengagungan terhadap kehormatan-kehormatan Allah. Maka terjadilah di antara beliau dan mereka serangan-serangan perang dan pertempuran-pertempuran di Syam dan Mesir. Berapa kali mereka memanah beliau dari satu busur, lalu Allah menyelamatkannya, karena beliau selalu berdoa, banyak memohon pertolongan, kuat tawakalnya, teguh pendirian, memiliki wirid dan dzikir yang rutin beliau lakukan dengan cara tertentu dan fokus penuh.

Di sisi lain, beliau memiliki orang-orang yang mencintai dari kalangan ulama dan orang-orang shalih, dari kalangan tentara dan para amir, dari kalangan pedagang dan para pembesar. Semua orang awam mencintai beliau, karena beliau berdiri untuk memberi manfaat kepada mereka siang dan malam dengan lisan dan penanya.

Adapun keberaniannya, maka dengannya ditetapkan perumpamaan, dan sebagian darinya para pahlawan besar menjadikannya contoh. Sungguh Allah tegakkan beliau pada peristiwa Ghazan. Beliau memikul beban perkara itu sendiri, berdiri dan duduk, naik dan keluar, bertemu dengan raja dua kali, dengan Khatlusyah, dan dengan Bulai. Qafqaq takjub dengan keberaniannya dan keberaniannya terhadap Mongol.

Beliau memiliki ketegasan yang kuat yang muncul dalam perdebatan, hingga seolah-olah beliau singa yang siap berperang.

Dan dia lebih besar dari harus ditunjukkan sifat-sifatnya oleh orang seperti saya; seandainya aku disumpah di antara Rukun dan Maqam, niscaya aku akan bersumpah bahwa aku tidak pernah melihat dengan mataku orang sepertinya, dan demi Allah dia sendiri tidak pernah melihat orang seperti dirinya dalam ilmu.

Padanya ada sedikit diplomasi dan umumnya tidak ada kesabaran, dan Allah mengampuninya.

Dia seorang fakir tidak memiliki harta, dan pakaiannya – seperti salah seorang ahli fikih -: farrajiyah (jubah panjang), dalaq (sejenis pakaian), dan sorban, yang nilainya tiga puluh dirham, dan sandal yang murah harganya.

Rambutnya dipotong pendek, padanya ada kewibawaan, uban sedikit, jenggotnya bulat, kulitnya putih seperti warna gandum, tingginya sedang, lebar antara kedua bahunya, seakan-akan kedua matanya dua lisan yang berbicara.

Dia mengimami salat bagi manusia dengan salat yang ruku dan sujudnya tidak lebih panjang. Kadang dia berdiri untuk orang yang datang dari safar atau yang tidak hadir darinya, dan ketika datang kadang mereka berdiri untuknya, dan semuanya sama di sisinya; karena dia kosong dari adat istiadat ini, dan tidak pernah membungkuk kepada seorang pun, melainkan hanya memberi salam dan berjabat tangan dan tersenyum, dan kadang dia memuliakan teman duduknya sekali, dan merendahkannya dalam berdialog berkali-kali.

Dan ketika dia menyusun al-Masalah al-Hamawiyah tentang sifat-sifat Allah pada tahun enam ratus sembilan puluh delapan, mereka berkomplot terhadapnya, dan berakhir keadaan mereka sampai mereka berkeliling dengannya di atas tongkat dari pihak Qadi Hanafi, dan diumumkan tentangnya bahwa tidak boleh dimintai fatwa, kemudian sekelompok lain bangkit menolongnya, dan Allah menyelamatkan.

Ketika pada tahun tujuh ratus lima datang perintah dari Mesir agar ditanyakan tentang akidahnya, maka dikumpulkan untuknya para qadi dan ulama di majelis wakil Damaskus al-Afram, lalu dia berkata: Aku dahulu pernah ditanya tentang akidah Sunnah, maka aku menjawab tentangnya dalam satu juz sejak beberapa tahun, dan meminta diambilkan dari rumahnya, lalu dihadirkan dan dibacakannya, maka mereka mendebatnya dalam dua atau tiga tempat darinya, dan majelis berlangsung lama, lalu mereka bangkit dan berkumpul dua kali lagi untuk menyelesaikan juz itu, dan mereka mempersoalkannya, kemudian terjadi kesepakatan bahwa ini adalah akidah salafi yang baik, dan sebagian mereka mengatakan itu dengan terpaksa.

Dan orang-orang Mesir telah berusaha dalam urusan Syaikh, dan mereka memenuhi Amir Rukn al-Din al-Syasyankir – yang menjadi sultan – terhadapnya, maka dia dipanggil ke Mesir dengan pos kilat, pada hari kedua masuknya dikumpulkan untuknya para qadi dan ahli fikih di benteng Mesir, dan Ibnu Adlan tampil sebagai lawannya, dan menggugat atasnya di hadapan Qadi Ibnu Makhluf al-Maliki: bahwa orang ini mengatakan: bahwa Allah berbicara dengan Al-Quran dengan huruf dan suara, dan bahwa Dia Yang Maha Tinggi di atas Arasy dengan Dzat-Nya, dan bahwa Allah dapat ditunjuk dengan isyarat indrawi, dan dia berkata: Aku meminta hukuman atasnya karena itu.

Maka Qadi berkata: Apa katamu wahai ahli fikih? Lalu dia memuji Allah dan menyanjung-Nya.

Maka dikatakan kepadanya: Cepatlah, kami tidak menghadirkanmu untuk berkhutbah.

Maka dia berkata: Aku dicegah dari memuji Allah?!

Maka Qadi berkata: Jawablah karena kamu sudah memuji Allah. Lalu dia diam, maka dia mendesaknya.

Maka dia berkata: Siapakah yang mengadili atasaku? Lalu mereka menunjukkan kepadanya kepada Qadi Ibnu Makhluf.

Maka dia berkata: Kamu adalah lawanku, bagaimana kamu mengadiliku?! Dan dia marah dan gelisah, dan menyunyikan Qadi.

Maka Syaikh dan kedua saudaranya diangkat, dan mereka dipenjara di sumur di benteng Jabal, dan terjadi urusan yang panjang, dan ditulis ke Syam surat sultan untuk mencelanya, lalu dibacakan di masjid Damaskus, dan manusia berduka karenanya.

Kemudian dia tinggal satu setengah tahun dan dikeluarkan, dan ditulis untuk mereka kata-kata yang mereka usulkan kepadanya, dan dia diancam dan diintimidasi dengan pembunuhan jika tidak menulisnya.

Maka dia tinggal di Mesir mengajarkan ilmu dan berkumpul orang banyak di sisinya, sampai dia berbicara tentang kaum Ittihadi yang mengatakan dengan kesatuan wujud, maka sufi dan fakir berkomplot terhadapnya, dan berusaha terhadapnya, dan bahwa dia berbicara tentang pilihan wali, maka diadakan untuknya majelis, kemudian mereka mengeluarkannya dengan pos kilat, kemudian mereka mengembalikannya pada satu jarak dari Mesir, dan mereka melihat kemaslahatan mereka dalam menahannya, maka mereka memenjarakannya di penjara para qadi selama satu setengah tahun, lalu para sahabatnya mulai masuk kepadanya secara rahasia, kemudian mereka terang-terangan, maka negara mengeluarkannya dengan pos kilat ke Iskandariah, dan dipenjara di menara darinya, dan tersiar kabar bahwa dia dibunuh, dan bahwa dia tenggelam berkali-kali.

Ketika Sultan kembali dari Karak, dan memusnahkan para lawannya, dia bersegera menghadirkan Syaikh ke Kairo dengan dimuliakan, dan bertemu dengannya, dan berbincang dengannya dan berbisik bersamanya dengan hadirnya para qadi dan pembesar, dan menambah dalam memuliakan, kemudian turun dan tinggal di rumah, dan bertemu setelah itu dengan Sultan, dan Syaikh bukan termasuk orang-orang negara, dan tidak menempuh bersama mereka adat istiadat tersebut, maka Sultan tidak kembali bertemu dengannya. Ketika Sultan datang untuk mengusir musuh dari Rahabah, Syaikh datang ke Damaskus tahun dua belas.

Kemudian terjadi untuknya urusan dan cobaan antara naik dan turun dan pasarnya menjadi lesu, dan dia masuk dalam masalah-masalah besar yang tidak dapat ditanggung oleh akal anak zamannya dan tidak ilmu mereka, seperti masalah takfir dalam bersumpah dalam talak, dan masalah bahwa talak tiga tidak jatuh kecuali satu, dan bahwa talak dalam haid tidak jatuh, dan dia menyusun tentang itu karangan yang mungkin mencapai empat puluh lembar, maka dia dicegah karena itu dari berfatwa, dan dia mengatur dirinya dengan pengaturan yang menakjubkan, dan menyendiri dengan pendapatnya, dan mudah-mudahan itu menjadi penghapus dosa baginya, maka Allah mengokohkannya dengan ruh dari-Nya dan memberinya taufik untuk keridaan-Nya.

Dan dia sekarang menyampaikan pelajaran, dan mengajarkan ilmu, dan tidak berfatwa kecuali dengan lisannya, dan dia berkata: Tidak boleh bagiku untuk menyembunyikan ilmu. Dan dia memiliki keberanian dan kejantanan dan kekuatan jiwa yang membawanya masuk dalam urusan yang sulit, dan Allah menolak darinya. Dan dia memiliki syair yang sedikit biasa, dan tidak menikah dan tidak memiliki budak, dan tidak ada baginya dari gaji kecuali sesuatu yang sedikit, dan saudaranya yang mengurus kepentingannya, dan tidak meminta dari mereka makan siang dan makan malam pada kebanyakan waktu.

Dan aku tidak melihat di dunia yang lebih mulia darinya, dan tidak lebih kosong darinya dari dinar dan dirham, bahkan tidak menyebutnya, dan aku tidak mengira itu berputar di benaknya. Dan padanya ada kemuliaan dan berdiri bersama para sahabatnya, dan usaha dalam kepentingan mereka. Dan dia adalah warna yang menakjubkan, dan berita yang aneh.

Dan yang aku sebutkan ini dari sirahnya adalah secara sederhana, sedangkan di sekitarnya ada orang-orang dari para ahli keutamaan yang berkeyakinan padanya dan pada ilmunya dan zuhudnya dan agamanya dan berdirinya dalam menolong Islam dengan segala cara berlipat ganda dari apa yang aku sampaikan. Dan ada orang-orang dari para lawannya yang berkeyakinan padanya dan pada ilmunya, tetapi mereka berkata: padanya ada kecerobohan dan ketergesa-gesaan dan keras dan cinta kepemimpinan. Dan ada orang-orang – manusia telah mengetahui sedikitnya kebaikan mereka dan banyaknya hawa nafsu mereka – yang mencela darinya dengan celaan dan pengkafiran, dan mereka adalah ahli kalam, atau dari sufi Ittihadi, atau dari para syaikh zawkarah (tukang pamer), atau dari orang yang telah dia bicarakan tentang mereka lalu dia mencela keras dan berlebihan, maka Allah mencukupinya kejahatan dirinya. Dan kebanyakan celaannya terhadap para ahli keutamaan atau para ahli zuhud adalah benar, dan dalam sebagiannya dia adalah mujtahid.

Dan mazhabnya adalah meluaskan udzur bagi makhluk, dan tidak mengkafirkan seorang pun kecuali setelah tegaknya dalil dan hujjah atasnya, dan dia berkata: Perkataan ini adalah kufur dan kesesatan, dan pemiliknya adalah mujtahid yang bodoh yang belum tegak atasnya hujjah Allah, dan mungkin dia kembali darinya atau bertaubat kepada Allah. Dan dia berkata: Imannya telah tetap baginya dengan yakin maka kami tidak mengeluarkannya darinya kecuali dengan yakin, adapun orang yang mengenal kebenaran dan membangkangnya dan menyimpang darinya maka dia kafir terlaknat seperti iblis, sedangkan siapa yang selamat dari kesalahan dalam ushul dan furu?!

Dan dia berkata tentang tokoh ahli kalam dan para filosof: Mereka ini tidak mengenal Islam dan tidak apa yang dibawa oleh Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Dan dia berkata tentang banyak keadaan para syaikh: Bahwa itu adalah syaitani atau nafsi, maka dilihat dalam mengikuti Syaikh Al-Kitab dan Sunnah, dan dalam akhlaknya dan ketakwaannya dan ilmunya, jika demikian maka keadaannya benar dan kashafnya adalah rahmani, dan sebagian mereka memiliki penglihatan dari jin maka mereka memberitahukan hal-hal gaib untuk menyesatkannya, dan dia memiliki dalam itu karangan-karangan yang banyak, dan di sisinya dalam itu kisah-kisah tentang jenis ini dan jenis itu, seandainya dikumpulkan akan mencapai jilid-jilid, dan itu dari yang paling menakjubkan. Dan sungguh telah disembuhkan dari sawan jin lebih dari satu orang dengan hanya mengancam jin, dan terjadi untuknya dalam itu warna-warna dan pasal-pasal, dan tidak melakukan lebih dari membaca ayat-ayat, dan berkata: Jika kamu tidak berhenti dari orang yang tersawan ini atau yang tersawan perempuan ini maka kami akan bertindak bersamamu dengan hukum syariat, dan jika tidak kami akan bertindak bersamamu dengan apa yang memuaskan Allah dan Rasul-Nya.

Dan sungguh aku telah mendengar darinya Juz Ibnu Arafah berkali-kali, dan ahli hadits Amin al-Din al-Wani mengeluarkan untuknya empat puluh hadits dari empat puluh syaikh.

Dan sungguh dia telah haji pada tahun sembilan puluh satu, dan membaca sendirinya banyak hadits; dan membaca al-Gailaniyat dalam satu majelis, dan dari yang didengarnya Mujam al-Tabarani al-Akbar mendengarnya dari al-Burhan al-Daraji dengan izazahnya dari Abu Jafar al-Shaidlani dan yang lainnya.

Kemudian mereka mendapatkan untuknya masalah safar untuk ziarah kubur para nabi, dan bahwa safar dan mengikat perjalanan untuk itu dilarang darinya; karena sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: Tidak boleh mengikat perjalanan kecuali ke tiga masjid dengan pengakuannya bahwa ziarah tanpa mengikat perjalanan adalah mendekatkan diri, maka mereka memburuk-burukkannya dan meminta fatwa atasnya, dan menulis tentangnya jamaah bahwa diwajibkan dari pencegahannya bayangan pengurangan terhadap kenabian; maka kafir dengan itu, dan beberapa orang berfatwa bahwa dia salah dalam itu kesalahan mujtahidin yang diampuni bagi mereka, dan sekelompok orang menyetujuinya, dan perkara menjadi besar; dan dikembalikan ke ruang di benteng maka dia tinggal di sana dua puluh beberapa bulan.

Dan berakhir urusan sampai dia dicegah dari menulis dan membaca, dan mereka tidak meninggalkan di sisinya lembaran dan tidak tinta, dan dia tinggal beberapa bulan atas itu; maka dia menghadap kepada tilawah, dan tinggal mengkhatamkan dalam tiga hari dan lebih, dan bertahajud dan beribadah kepada Tuhannya, sampai datang kepadanya keyakinan (kematian).

Dan aku bergembira untuknya dengan penutup ini; karena dia tidak ada kelezatan di sisinya yang menyamai penulisan ilmu dan penyusunannya maka dicegah tujuan yang paling enak – rahimahullah – maka tidak mengejutkan manusia kecuali kabar kematiannya, dan mereka tidak tahu dengan sakitnya, maka manusia menyesal atasnya, dan kerabatnya dan orang-orang dekatnya masuk kepadanya, dan orang banyak berdesakan di pintu benteng dan di masjid, sampai tinggal seperti salat Jumat sama atau lebih ramai, maka mensalatinya di benteng Ibnu Tammam, dan di masjid Umawi khatib, dan di luar negeri saudaranya Zain al-Din, dan kumpulannya sangat banyak sampai batas tertinggi, orang banyak mengiringinya dari empat pintu negeri, dan diangkat di atas kepala, dan diperkirakan orang banyak dengan enam puluh ribu, dan para wanita yang di jalan dengan lima belas ribu, dan banyak tangisan dan penyesalan atasnya, dan dimakamkan di makam sufi di samping saudaranya Imam Syaraf al-Din Abdullah.

Dan orang-orang ramai mengunjungi kuburnya, dan terlihat baginya beberapa mimpi yang baik, dan sejumlah orang meratapnya. Wafatnya terjadi di tengah malam Senin tanggal dua puluh Dzulqaidah tahun tujuh ratus dua puluh delapan, semoga Allah mengampuninya amin, dan ia hidup selama enam puluh tujuh tahun dan beberapa bulan.

Dan ia berambut hitam di kepala, sedikit uban di jenggotnya, berbadan sedang dari kalangan laki-laki, bersuara keras, berkulit putih, bermata lebar, sederhana dalam pakaian dan sorbannya, selalu memotong rambutnya, dan tidak berubah padanya sesuatu dari inderanya kecuali bahwa salah satu matanya berkurang sedikit cahayanya.

Semoga Allah merahmatinya dan meridhainya, dan ridha kepada kami dengan berkahnya, dan mengampuni kami dengan kebaikan dan kemuliaan-Nya, amin.

 

 

15 – Dzail Tarikh al-Islam

Ibnu Taimiyah

Sang Syaikh, Imam, Alim, Mufassir, Ahli Fikih, Mujtahid, Hafizh, Ahli Hadits, Syaikhul Islam, keajaiban zaman, pemilik karya-karya yang cemerlang dan kecerdasan yang luar biasa, Taqiyuddin, Abu al-Abbas, Ahmad, putra ahli ilmu dan mufti Syihabuddin Abdul Halim, putra Imam Syaikhul Islam Majduddin Abu al-Barakat Abdus Salam pengarang kitab “Al-Ahkam”, putra Abdullah putra Abu al-Qasim al-Harrani, Ibnu Taimiyah, dan ini adalah gelar untuk kakek moyangnya.

Kelahirannya pada tanggal sepuluh Rabiul Awwal tahun enam ratus enam puluh satu di Harran, dan ayahnya serta kerabatnya berpindah dengannya ke Damaskus pada tahun enam puluh tujuh ketika kejahatan Tatar; mereka melarikan diri di malam hari sambil membawa anak-anak dan buku-buku di atas kereta; karena musuh tidak meninggalkan hewan di negeri itu kecuali sapi-sapi pembajak, dan sapi-sapi itu kelelahan karena beratnya kereta, dan kereta berhenti, dan mereka takut musuh akan menyusul mereka, maka mereka berlindung kepada Allah, lalu sapi-sapi itu berjalan dengan kereta, dan Allah Taala memberikan pertolongan, hingga mereka mundur ke wilayah Islam.

Maka ia mendengar dari: Ibnu Abdul Daim, dan Ibnu Abi al-Yusr, dan al-Kamal Ibnu Abd, dan Ibnu Abi al-Khair, dan Ibnu ash-Shairafi, dan Syaikh Syamsuddin, dan al-Qasim al-Irbili, dan Ibnu Allan, dan banyak orang lainnya, dan banyak meriwayatkan dan memperbanyak.

Dan ia membaca sendiri dari sekelompok orang dan memilih, dan menyalin beberapa juz, dan “Sunan Abi Dawud”, dan melihat dalam ilmu rijal dan ilal. Dan ia menjadi salah satu imam kritik, dan salah satu ulama hadits, dengan religiusitas dan kemuliaan, dan ketenaran, dan kesucian.

Kemudian ia menekuni fikih dan hal-hal rinci serta kaidah-kaidahnya dan dalil-dalilnya, dan ijma’ dan perbedaan pendapat; hingga menjadi keajaiban jika ia menyebutkan suatu masalah dari masalah-masalah khilafiyah, kemudian ia memberikan dalil dan melakukan tarjih dan berijtihad, dan ia berhak untuk itu, karena syarat-syarat ijtihad telah terkumpul padanya; karena aku tidak melihat seorang pun yang lebih cepat dalam mengambil ayat-ayat yang menunjukkan suatu masalah yang ia sampaikan daripadanya, dan tidak ada yang lebih kuat hafalan terhadap matan-matan hadits, dan menyandarkannya kepada Shahih atau kepada Musnad, atau kepada kitab-kitab Sunan daripadanya; seolah-olah Kitab dan Sunnah ada di depan matanya, dan di ujung lidahnya, dengan ungkapan yang fasih, dan mata yang terbuka, dan kemampuan membungkam lawan. Dan ia adalah tanda dari tanda-tanda Allah Taala dalam tafsir, dan keluasan di dalamnya, mungkin ia tetap dalam menafsirkan suatu ayat satu atau dua majelis.

Adapun mengenai pokok-pokok agama, dan pengetahuannya, dan pengetahuan tentang keadaan Khawarij dan Rafidhah dan Muktazilah dan berbagai jenis ahli bidah; maka tidak ada yang bisa menandinginya dalam hal itu, dan tidak ada yang bisa mengejar kedudukannya.

Ini dengan apa yang ada padanya berupa kedermawanan yang aku tidak pernah menyaksikan sepertinya sama sekali, dan keberanian yang luar biasa yang dijadikan perumpamaan, dan kekosongan dari kelezatan diri berupa pakaian yang indah, dan makanan yang enak, dan kenyamanan duniawi.

Dan sungguh telah berjalan kafilah-kafilah dengan karya-karyanya dalam berbagai bidang ilmu dan warna, mungkin karya tulis dan fatwa-fatwanya dalam ushul, dan furu’, dan zuhud, dan tafsir, dan tawakal, dan keikhlasan, dan lain-lain mencapai tiga ratus jilid, bahkan lebih.

Dan ia adalah orang yang berkata dengan kebenaran, yang melarang dari kemungkaran, tidak mengambilnya dalam urusan Allah celaan orang yang mencela, memiliki kekuasaan dan keberanian, dan tidak pandai-pandai bergaul dengan lawan. Dan siapa yang bergaul dengannya dan mengenalnya; mungkin menganggapku kurang dalam menggambarkannya, dan siapa yang memusuhinya dan menentangnya; menganggapku berlebihan tentangnya, dan tidak demikian keadaannya. Dengan aku tidak meyakini padanya kemaksuman, sama sekali tidak! Karena ia dengan keluasan ilmunya, dan keberanian yang luar biasa, dan kecerdasan otaknya, dan pengagungannya terhadap kehormatan agama, adalah manusia dari manusia, yang menimpanya ketajaman dalam pembahasan, dan kemarahan dan kekerasan terhadap lawan; yang menanam baginya permusuhan dalam jiwa-jiwa, dan keengganan darinya.

Kalau tidak demi Allah seandainya ia bersikap lembut kepada lawan, dan berlaku lemah lembut kepada mereka, dan menjaga pergaulan dan kebaikan berbicara; niscaya ia menjadi kata sepakat; karena tokoh-tokoh mereka dan imam-imam mereka tunduk kepada ilmu dan fikihnnya, mengakui ketajaman dan kecerdasannya, membenarkan jarangnya kesalahannya.

Aku tidak bermaksud beberapa ulama yang slogan dan hal yang selalu mereka ucapkan adalah meremehkannya, dan merendahkan keutamaannya, dan membencinya, hingga mereka menganggapnya bodoh dan mengkafirkannya dan mencela darinya, tanpa mereka melihat dalam karya-karyanya, dan tidak memahami perkataannya, dan tidak ada bagi mereka bagian sempurna dari keluasan dalam pengetahuan, dan yang alim di antara mereka ada yang bersikap adil kepadanya dan menjawabnya dengan ilmu.

Dan jalan akal adalah diam dari apa yang terjadi di antara para sejawat – semoga Allah merahmati semua.

Dan aku lebih kecil dari bahwa perkataanku menjelaskan kedudukannya, atau penaku menerangkan beritanya; maka para sahabatnya dan musuh-musuhnya tunduk kepada ilmunya, mengakui cepatnya pemahamannya, dan bahwa ia adalah lautan yang tidak ada pantainya, dan harta yang tidak ada bandingannya, dan bahwa kedermawanannya seperti Hatim, dan keberaniannya seperti Khalid.

Tetapi mereka mungkin mengingkari akhlak dan perbuatan-perbuatannya; yang bersikap adil di antaranya diberi pahala, dan yang bersikap sedang di antaranya dimaafkan, dan yang zalim di antaranya berbuat dosa, dan yang berlebihan tertipu, dan kepada Allah kembali segala urusan. Dan setiap orang diambil dari perkataannya dan ditinggalkan, dan kesempurnaan untuk para rasul, dan hujjah ada dalam ijma’. Maka semoga Allah merahmati orang yang berbicara tentang para ulama dengan ilmu, atau diam dengan kebijaksanaan, dan masuk dalam celah-celah perkataan mereka dengan tenang dan pemahaman, kemudian memintakan ampun untuk mereka, dan melapangkan ruang maaf, kalau tidak; maka ia tidak tahu, dan tidak tahu bahwa ia tidak tahu. Dan jika engkau memaafkan para imam besar dalam masalah-masalah rumit mereka, dan tidak memaafkan Ibnu Taimiyah dalam pendapat-pendapat tunggalnya; maka sungguh engkau telah mengakui terhadap dirimu sendiri dengan hawa nafsu dan tidak adil!

Dan jika engkau berkata: Aku tidak memaafkannya, karena ia kafir, musuh Allah Taala dan Rasul-Nya! Berkata kepadamu banyak orang dari ahli ilmu dan agama: Demi Allah kami tidak mengetahuinya kecuali sebagai mukmin yang menjaga shalat, dan wudhu, dan puasa Ramadhan, mengagungkan syariat lahir dan batin. Tidak didatangi dari buruknya pemahaman, bahkan ia memiliki kecerdasan yang luar biasa, dan tidak dari kurangnya ilmu, karena ia adalah lautan yang bergelombang, mengetahui Kitab dan Sunnah, tidak ada bandingannya dalam hal itu. Dan ia tidak bermain-main dengan agama; seandainya demikian; niscaya ia paling cepat kepada menyenangkan lawan-lawannya, dan menyetujui mereka, dan munafik kepada mereka.

Dan ia tidak menyendiri dengan masalah-masalah karena keinginan, dan tidak memberi fatwa dengan apa saja, bahkan masalah-masalah tunggalnya ia berdalil untuknya dengan Al-Quran atau dengan Hadits atau dengan Qiyas, dan membuktikannya dan berdebat untuknya, dan memindahkan di dalamnya khilaf, dan memperpanjang pembahasan; mengikuti siapa yang mendahuluinya dari para imam, maka jika ia telah salah di dalamnya; maka baginya pahala mujtahid dari para ulama, dan jika ia telah benar; maka baginya dua pahala.

Dan sesungguhnya celaan dan kebencian untuk salah satu dari dua orang: orang yang memberi fatwa dalam suatu masalah dengan hawa nafsu dan tidak memberikan hujjah, dan orang yang berbicara dalam suatu masalah tanpa ragi dari ilmu dan tidak keluasan dalam nukilan; maka kita berlindung kepada Allah dari hawa nafsu dan kebodohan.

Dan tidak diragukan bahwa tidak ada pertimbangan dengan celaan musuh-musuh sang alim; karena hawa nafsu dan kemarahan membawa mereka kepada tidak adil dan menyerangnya. Dan tidak ada pertimbangan dengan pujian orang-orang khususnya dan yang berlebihan padanya; karena kecintaan membawa mereka kepada menutupi kekurangannya, bahkan mereka mungkin menganggapnya sebagai kebaikan. Dan sesungguhnya yang menjadi pertimbangan adalah ahli wara’ dan takwa dari kedua pihak, yang berbicara dengan adil, dan berdiri untuk Allah walaupun terhadap diri mereka sendiri dan ayah-ayah mereka.

Maka orang ini aku tidak mengharapkan atas apa yang aku katakan tentangnya dunia atau harta atau kedudukan dengan cara apa pun sama sekali, dengan pengetahuanku yang sempurna tentangnya, tetapi tidak mungkin bagiku dalam agamaku dan akalku untuk menyembunyikan kebaikan-kebaikannya, dan mengubur keutamaan-keutamaannya, dan menampakkan dosa-dosa baginya yang terampuni dalam keluasan kemuliaan Allah Taala dan maaf-Nya, tenggelam dalam lautan ilmu dan kedermawanannya, maka Allah mengampuninya, dan ridha kepadanya, dan merahmati kami ketika kami menuju kepada apa yang ia tuju.

Dengan aku menyelisihinya dalam masalah-masalah ushul dan furu’, telah aku kemukakan tadi bahwa kesalahannya di dalamnya terampuni, bahkan mungkin Allah Taala memberinya pahala di dalamnya atas baiknya niatnya, dan mencurahkan kemampuannya, dan Allah yang dijanjikan. Dengan aku sungguh telah disakiti karena perkataanku tentangnya dari para sahabatnya dan lawan-lawannya; maka cukuplah bagiku Allah!

Dan Syaikh itu berkulit putih, berambut hitam di kepala dan jenggot, sedikit uban, rambutnya sampai cuping telinganya, seolah-olah dua matanya adalah dua lidah yang berbicara, berbadan sedang dari kalangan laki-laki, jauh jarak antara kedua bahunya, bersuara keras, fasih, cepat membaca. Menimpanya ketajaman, kemudian ia mengalahkannya dengan kelembutan dan maaf, dan kepadanya adalah puncak dalam keberanian yang luar biasa, dan kedermawanan, dan kekuatan kecerdasan. Dan aku tidak melihat sepertinya dalam permohonannya dan meminta pertolongan kepada Allah Taala, dan banyaknya tawajjuhnya. Dan aku telah lelah di antara kedua kelompok: maka aku menurut orang yang mencintainya kurang, dan menurut musuhnya berlebihan banyak, sama sekali tidak demi Allah!

Meninggal Ibnu Taimiyah menuju rahmat Allah Taala dalam tahanan di benteng Damaskus, di ruangan di dalamnya, setelah sakit beberapa hari, pada malam Senin, tanggal dua puluh Dzulqaidah, tahun tujuh ratus dua puluh delapan.

Dan dishalatkan atasnya di Masjid Damaskus setelah Zhuhur, dan penuh masjid dengan orang-orang yang menshalatkan seperti kondisi hari Jumat, hingga naik orang-orang untuk mengiringinya dari empat pintu negeri, dan paling sedikit yang dikatakan dalam jumlah yang menyaksikannya lima puluh ribu, dan dikatakan lebih dari itu, dan diangkat di atas kepala-kepala ke pekuburan para sufi, dan dikubur di samping saudaranya Imam Syarafuddin, semoga Allah Taala merahmati keduanya dan kami dan kaum muslimin.

 

 

16 – Mu’jam asy-Syuyukh

Ibnu Taimiyah

Ahmad putra Abdul Halim putra Abdus Salam putra Abdullah putra Abu al-Qasim Ibnu Taimiyah, syaikh kami Imam Taqiyuddin Abu al-Abbas al-Harrani. Unik pada zamannya dalam ilmu dan pengetahuan dan kecerdasan dan hafalan dan kedermawanan dan zuhud, dan keberanian yang luar biasa dan banyak karya tulis dan Allah memperbaikinya dan membimbingnya, maka kami dengan hamdalah bukan dari orang yang berlebihan padanya, dan tidak menjauhi darinya, tidak terlihat sempurna para imam tabiin dan pengikut mereka, maka aku tidak melihatnya kecuali di dalam perut kitab.

Lahir syaikh kami pada tanggal sepuluh Rabiul Awwal tahun enam ratus enam puluh satu di Harran, dan mereka berpindah ke Damaskus tahun enam puluh tujuh. Maka ia mendengar dari Ibnu Abdul Daim dan Ibnu Abi al-Yusr, dan banyak orang lainnya, dan memerhatikan periwayatan, dan mendengar kitab-kitab dan “al-Musnad” dan “al-Mu’jam al-Kabir”. Aku mendengar sejumlah dari karya-karyanya, dan juz Ibnu Arafah, dan lain-lain.

Dan wafatnya pada tanggal dua puluh bulan Dzulqaidah, tahun tujuh ratus dua puluh delapan, dipenjara di ruangan dari benteng Damaskus, dan mengiringinya umat-umat yang tidak terhitung ke pekuburan para sufi, dan tidak meninggalkan setelahnya sepertinya dalam ilmu, dan tidak yang mendekatinya.

 

 

17 – Tazkiratul Huffazh

Ibnu Taimiyah

Syaikh, Imam, Allamah, Hafizh, Pengkritik, Mujtahid, Mufassir yang cemerlang, Syaikhul Islam, pemimpin para zahid, keajaiban zaman, Taqiyuddin Abu Abbas Ahmad putra Mufti Syihabuddin Abdul Halim putra Imam Mujtahid Syaikhul Islam Majduddin Abdul Salam bin Abdullah bin Abul Qasim Al-Harrani. Salah seorang tokoh besar.

Lahir pada bulan Rabiul Awal tahun enam ratus enam puluh satu, dan datang bersama keluarganya tahun tujuh. Ia mendengar hadits dari Ibnu Abdid Daim, Ibnu Abul Yusr, Al-Kamal bin Abd, Ibnu Ash-Shairafi, Ibnu Abil Khair, dan banyak ulama lainnya. Ia sangat memperhatikan hadits, menyalin juzuk-juzuk, berkeliling menemui para syaikh, mentakhrij, menyeleksi hadits, dan menguasai ilmu rijal hadits, ilal hadits, dan fiqh hadits, ilmu-ilmu Islam, ilmu kalam, dan lain-lain.

Ia adalah lautan ilmu, termasuk orang-orang cerdas yang terhitung, zahid yang jarang ada, pemberani yang besar, dan dermawan yang mulia. Orang yang setuju maupun yang menentangnya memujinya, karya-karyanya tersebar ke mana-mana, mungkin tiga ratus jilid.

Ia meriwayatkan hadits di Damaskus, Mesir, dan perbatasan. Ia pernah diuji dan disakiti beberapa kali, dan dipenjara di benteng Mesir, Kairo, Iskandariah, dan di benteng Damaskus dua kali. Dan di sanalah ia wafat pada tanggal dua puluh Dzulqadah tahun tujuh ratus dua puluh delapan, dalam tahanan di sebuah ruangan. Kemudian jenazahnya dipersiapkan dan dibawa keluar ke Masjid Negara, dihadiri oleh kaum yang tak terhitung jumlahnya, diperkirakan enam puluh ribu orang. Ia dikebumikan di samping saudaranya, Imam Syarafuddin Abdullah, di pemakaman kaum sufi, semoga Allah Taala merahmati keduanya.

Ada mimpi-mimpi baik tentangnya, dan ia diratapi dengan beberapa qasidah. Ia memiliki fatwa-fatwa yang aneh yang membuat ia diserang karenanya, namun fatwa-fatwa itu tenggelam dalam lautan ilmunya. Semoga Allah Taala memaafkannya dan meridhainya. Sungguh aku tidak melihat orang seperti dia. Setiap orang dari umat ini, pendapatnya ada yang diambil dan ada yang ditinggalkan. Lalu apa?

Ahmad bin Abdul Halim Al-Hafizh memberitahukan kepada kami berulang kali, dan Muhammad bin Ahmad bin Utsman, Ibnu Farah, Ibnu Abil Fath, dan banyak lainnya berkata: Ahmad bin Abdud Daim memberitahukan kepada kami, Abdul Munim bin Kulaib memberitahukan kepada kami.

Dan Ahmad bin Salamah memberitahukan kepada kami dari Ibnu Kulaib, Ali bin Bayan memberitahukan kepada kami, Muhammad bin Muhammad memberitahukan kepada kami, Ismail Ibnu Ash-Shaffar memberitahukan kepada kami, Al-Hasan bin Arafah menceritakan kepada kami, Khalaf bin Khalifah menceritakan kepada kami, dari Humaid Al-A’raj, dari Abdullah bin Al-Harits, dari Ibnu Mas’ud semoga Allah meridhainya, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa alihi wa sallam bersada kepadaku: “Sesungguhnya engkau melihat burung di surga lalu engkau menginginkannya, maka burung itu jatuh di hadapanmu dalam keadaan sudah dipanggang.”

 

 

18 – Dzail Al-Ibar

Ia berkata dalam wafat tahun 728:

Dan wafat di benteng Damaskus pada malam Senin tanggal dua puluh Dzulqadah: Syaikhul Islam Taqiyuddin Ahmad bin Abdul Halim bin Abdul Salam bin Abdullah Ibnu Taimiyah Al-Harrani dalam tahanan. Ia dilarang menggunakan tinta dan kertas lima bulan sebelum wafatnya. Kelahirannya pada tanggal sepuluh Rabiul Awal hari Senin tahun enam ratus enam puluh satu di Harran. Ia mendengar hadits dari Ibnu Abdid Daim, Ibnu Abul Yusr, dan beberapa lainnya. Ia menguasai tafsir, hadits, khilafiyah, dan ushul, dan ia sangat cerdas.

Karya-karyanya lebih dari dua ratus jilid. Ia memiliki pendapat-pendapat yang aneh, yang karenanya ia diserang. Ia adalah pemimpin dalam kedermawanan dan keberanian, qanaah dengan yang sedikit, dishalatkan olehnya sekitar lima puluh ribu orang dan jenazahnya diangkat di atas kepala-kepala.

19 – Duwalul Islam

Pada bulan Dzulqadah tahun tujuh ratus dua puluh delapan, wafat di benteng Syaikhul Islam Taqiyuddin Ahmad bin Abdul Halim Ibnu Taimiyah Al-Harrani, pada usia enam puluh tujuh tahun lebih beberapa bulan, dan dishalatkan olehnya kaum yang paling sedikit diperkirakan enam puluh ribu orang, dan tidak ada yang meninggal setelahnya yang mendekati derajatnya dalam ilmu dan keutamaan.

20 – Al-I’lam Biwafayatil A’lam

Dan Syaikh masa itu Taqiyuddin Ibnu Taimiyah pada bulan Dzulqadah tahun 728.

21 – Al-Mu’in Fi Thabaqatil Muhaddtsin

(Ia menyebutnya dalam thabaqah terakhir) lalu berkata:

Al-Hafizh, Allamah, Qudwah, Syaikhul Islam, Taqiyuddin, Ahmad bin Al-Halim bin Abdul Salam bin Abdullah bin Taimiyah Al-Harrani.

22 – Dzikru Man Yu’tamadu Qauluhu Fil Jarhi Wat Ta’dil

(Ia menyebutnya dalam thabaqah kedua puluh dua) lalu berkata:

Dan Al-Hafizh Al-Alam, Syaikhul Islam, Taqiyuddin, Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdul Salam Al-Harrani, Ibnu Taimiyah.

23 – Al-Mu’jamul Mukhtash

Ahmad bin Abdul Halim bin Abdul Salam bin Abdullah bin Abul Qasim Ibnu Taimiyah, Imam Allamah Hafizh Hujjah keunikan zaman lautan ilmu Taqiyuddin Abul Abbas Al-Harrani kemudian Ad-Dimasyqi.

Lahir di Harran pada bulan Rabiul Awal tahun enam ratus enam puluh satu.

Ia datang ke Damaskus bersama ayahnya, Mufti Syihabuddin, lalu mendengar hadits dari Ibnu Abdid Daim, Ibnu Abul Yusr, Al-Majd bin Asakir, dan banyak mendengar dari shahabat-shahabat Hanbal dan Ibnu Thabarzad dan orang-orang setelah mereka, menyalin, membaca, dan menyeleksi, menguasai ilmu-ilmu atsar dan sunan, mengajar, memberi fatwa, menafsirkan, dan menulis karya-karya yang indah, memiliki pendapat tersendiri dalam beberapa masalah sehingga ia diserang karenanya, namun ia manusia yang memiliki dosa dan kesalahan, meski demikian demi Allah mataku tidak melihat orang seperti dia dan ia sendiri tidak melihat orang seperti dirinya. Ia adalah imam yang sangat menguasai ilmu-ilmu agama, sehat akalnya, cepat memahami, lancar pemahamannya, banyak kebaikannya, terkenal sangat berani dan dermawan, tidak tertarik pada syahwat makan, pakaian, dan jima’, tidak ada kenikmatan baginya selain menyebarkan ilmu, menuliskannya, dan mengamalkan apa yang dikandungnya.

Al-Ya’mari menyebutnya dalam “Jawabat Sualat Abul Abbas Ibnu Ad-Dimyathi Al-Hafizh” lalu berkata: “Kudapati ia termasuk orang yang mendapat bagian dari ilmu-ilmu, dan hampir menghafal seluruh sunan dan atsar, jika berbicara tentang tafsir maka ia pembawa benderanya, atau berfatwa dalam fiqh maka ia mencapai puncaknya, atau berdiskusi tentang hadits maka ia pemilik ilmunya dan yang meriwayatkannya, atau berbicara tentang aliran dan agama maka tidak terlihat yang lebih luas dari alirannya dan tidak lebih tinggi dari pengetahuannya, ia unggul dalam setiap bidang atas anak-anak sebangsanya, mataku tidak melihat orang seperti dia dan matanya tidak melihat orang seperti dirinya.”

Kataku: Ia telah dipenjara beberapa kali agar ia berhenti dari para penentangnya dan menahan lidah dan penanya, namun ia tidak kembali dan tidak menghiraukan nasihat siapapun hingga ia wafat dalam tahanan di benteng Damaskus pada tanggal dua puluh Dzulqadah tahun tujuh ratus dua puluh delapan.

Dan dishalatkan olehnya kaum yang tidak terhitung jumlahnya hingga pemakaman kaum sufi, semoga Allah mengampuninya dan merahmatinya, amin.

Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim Al-Hafizh menceritakan kepada kami tahun enam ratus sembilan puluh lima, dan Ahmad bin Farah, Muhammad bin Abil Fath, Muhammad bin Abdul Wali, Muhammad bin Ahmad bin Utsman Al-Imam, Ali bin Ibrahim, Abdul Hamid bin Hassan, Ibrahim bin Yahya, Ali bin Muhammad bin Ghalib, Jibril Al-Faqih dan beberapa lainnya berkata: Ibnu Abdud Daim memberitahukan kepada kami, Ibnu Kulaib memberitahukan kepada kami.

Dan memberitahukan kepadaku dari Ibnu Kulaib: Ahmad bin Salamah, Ahmad bin Abdul Salam dan Al-Khadhir bin Hammuyah bahwa Ali bin Bayan memberitahukan kepada mereka, ia berkata: Muhammad bin Muhammad memberitahukan kepada kami, Ismail bin Muhammad memberitahukan kepada kami, Ibnu Arafah menceritakan kepada kami, Al-Mubarak bin Said Ats-Tsauri menceritakan kepada kami dari Musa Al-Juhani dari Mush’ab bin Tsaur dari Sa’d ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Apakah salah seorang dari kalian terhalangi untuk bertakbir di akhir setiap shalat sepuluh kali, bertasbih sepuluh kali, dan bertahmid sepuluh kali, maka itu dalam lima shalat seratus lima puluh dengan lisan dan seribu lima ratus dalam timbangan, dan ketika ia menuju tempat tidurnya bertakbir tiga puluh empat, bertahmid tiga puluh tiga, dan bertasbih tiga puluh tiga, maka itu seratus dengan lisan dan seribu dalam timbangan.” Kemudian bersabda: “Maka siapakah di antara kalian yang mengerjakan dalam sehari semalam dua ribu lima ratus kejelekan?”

An-Nasa’i meriwayatkannya dalam “Al-Yaum wal Lailah” dari Zakariya Al-Khayyath dari Al-Hasan bin Arafah. Maka sampai kepada kami sebagai badal dengan tinggi dua derajat.

 

 

24 – Terjemah Ringkas yang dinukil oleh Ibnu Al-Muhandis

Adz-Dzahabi berkata: Pada tahun ini (tahun tujuh ratus dua puluh delapan) pada malam Senin tanggal dua puluh Sya’ban wafat Syaikh Imam Allamah Hafizh Zahid Qudwah, Syaikhul Islam Abul Abbas Ahmad putra Mufti Syihabuddin Abdul Halim bin Syaikhul Islam Majduddin Abul Barakah Abdul Salam bin Abdullah bin Abul Qasim Ibnu Taimiyah Al-Harrani kemudian Ad-Dimasyqi dalam tahanan di benteng.

Ia dimandikan dan dikafani, lalu dibawa keluar dan telah berkumpul khalayak ramai di jalan-jalan, dan penuh Masjid, Kallasah, dan toko-toko seperti hari Jumat atau lebih banyak.

Dishalatkan pertama kali di benteng oleh Syaikh Muhammad bin Tamam, kemudian di Masjid Damaskus setelah dzuhur, dan hebatlah kerumunannya, orang-orang melemparkan sapu tangan mereka ke atasnya untuk mencari berkah, orang-orang berbaris di bawah keranda, khalayak ramai mengiringinya dalam cuaca panas dari pintu-pintu negeri, dan kebanyakan mereka dari pintu Al-Faraj bersama jenazah. Dan hebatlah perkara itu di pasar kuda, dan saudaranya memimpin shalat di sana. Dan menyebar orang-orang dan para wanita di atas atap-atap hingga ke arah kiblat pemakaman kaum sufi. Maka ia dikebumikan di samping saudaranya Syaikh Abdullah.

Dan diperkirakan para wanita lima belas ribu, adapun laki-laki diperkirakan enam puluh ribu atau lebih hingga dua ratus ribu.

Dan banyak tangisan di sekelilingnya, dan dikhatamkan untuknya beberapa khataman, dan orang-orang berdatangan untuk berziarah ke kuburnya beberapa hari, dan terlihat untuknya mimpi-mimpi yang baik, dan diratapinya oleh beberapa orang.

Kelahirannya di Harran tanggal sepuluh Rabiul Awal tahun enam ratus enam puluh satu. Ia mencari hadits dan membaca banyak.

Dan kudapati dengan tulisan Syaikh Kamaluddin Az-Zamalkani: Bahwa terkumpul padanya syarat-syarat ijtihad secara sempurna.

Ia adalah keajaiban dalam kecerdasan dan cepatnya pemahaman, lautan dalam hal nukilan, pemimpin dalam pengetahuan Al-Quran dan Sunnah, ia di zamannya keunikan masanya dalam ilmu, kezuhudan, keberanian, kedermawanan, memerintahkan yang makruf dan melarang yang mungkar, dan banyaknya karya-karya… dari karya-karyanya. Dan mataku tidak melihat orang seperti dia dan ia tidak melihat orang seperti dirinya. Ia adalah…

Semoga Allah merahmatinya dan meridhainya.

Dinukil dari tulisan penulisnya: Ahmad bin Al-Muhandis Al-Maqdisi semoga Allah memaafkannya dengan karunia-Nya.

 

 

25 – Surat yang dikirim Syaikh Qiwamuddin Abdullah bin Hamid Asy-Syafi’i dari Irak kepada Qadhi Zainuddin Ibnu Sa’duddin Sa’dullah Ibnu Bukhaikh Al-Harrani Al-Hanbali di Syam yang terlindungi

semoga Allah merahmati mereka semua

Ini naskah surat yang dikirim Syaikh Qiwamuddin Abdullah bin Hamid Asy-Syafi’i dari Irak kepada Qadhi Zainuddin Ibnu Sa’duddin Sa’dullah bin Bukhaikh Al-Harrani Al-Hanbali di Syam yang terlindungi. Ia berkata:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Katakanlah: “Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih,” salam sejahtera atas kalian dan rahmat Allah serta berkah-Nya, semoga Allah Taala melanggengkan kemantapan hadhrat yang tinggi, pemimpin, alim, fadhil, kamil, hakim yang adil, wara’, suci, Rabbani, meninggikan kemuliaan dan melanggengkan naungannya dan menjaga kejayaannya, dan selamanya lembaga yang terpelihara dan majelisnya yang tinggi menjadi muara pilihan dan kemuliaan, sumber keutamaan, pusat bulan-bulan harapan, dan tempat perolehan, tempat turunnya pengharapan yang dipanjangkan dengan kebahagiaan dan penerimaan untuk memberi kepada yang mengharap dan menguntungkan yang bertanya.

Dan selamanya Islam dan ahli Islam naik ke puncak tertinggi kenaikan dengan dukungan kemuliaan yang tinggi dan hadhrat yang tinggi dari kelanggengan kehormatan dan kekal, dan tambahan bagi ketinggian, kemuliaan, kegembiraan, dan cahaya, karena dalam itu ada pengangkatan pendukung dan penumpasan penentang, tipu daya musuh-musuh yang menyimpang, dan penguatan ketinggian pilar agama, maka Dia Maha Suci mendengar panggilan dan mengabulkan doa.

Adapun kerinduan kepada kemuliaan akhlak tersebut, yang harum penyebarannya memenuhi cakrawala, apalagi negeri Irak; maka sempit untuk menggambarkan yang paling mudahnya ungkapan, bagaimana mampu mengutarakan tentang yang paling banyaknya isyarat!

Dan orang-orang yang keluar dari sumber hadhrat yang tinggi yang suci lagi bersih walaupun mereka panjang lebar dalam penggambaran maka mereka terbatas, atau mereka banyak dalam penyifatan maka mereka singkat, dan siapakah yang menghitung pasir Dahna’ atau menghitung bintang-bintang langit?

Dan sesungguhnya yang keluar dengan ketidakmampuannya dalam menghitung dan menghitung, maka puncak usaha orang yang sedikit bahwa ia tidak henti-hentinya basah lidahnya dengan banyak pujian, basah hatinya dengan banyak kesetiaan, asyik dengan menyebarkan kebaikan dan ihsan, gembira dengan menyaksikan mata mutiara kemanfaatan yang dipetik dari arus kefasihan dan penjelasan, yang mengalahkan mata mutiara-mutiara dan emas murni, yang diperebutkan sejenisnya karena berharganya nilai dan harga, maka yang tetap di majelis yang mulia dengan berbagai kemanfaatan diberi maka berbahagia, dan yang dijauhkan dari tempat yang mulia tertipu berjauhan seperti yang ditinggalkan yang duduk, maka seandainya kebahagiaan singgah kepada yang berharap yang rindu ini, maka membersihkan debu perpisahan, dan menjauhkan kemalangan kerinduan dengan duduk beberapa saat pertemuan.

Jika Allah Subhanahu menjadikan hal itu berdasarkan akibat-akibat yang terpuji dan menggembirakan serta pilihan-pilihan yang dikehendaki dan menetap, untuk mengambil dari faedah-faedah tersebut yang merupakan perhiasan paling berharga dari segi kadar dan harganya, dan mengumpulkan dari faedah-faedah tersebut yang tidak ada seorang pun yang memperoleh manfaat merasa cukup tanpanya, maka hal itu adalah puncak kecukupan dan akhir dari harapan di sini, dan Allah Subhanahu atas hal itu Maha Kuasa, dan tidak pernah berhenti layak dan pantas untuk mengabulkan.

Kemudian sesungguhnya cinta karena Allah merupakan salah satu tali ikatan iman yang paling kuat, dan termasuk hal yang paling mendekatkan orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Pengasih, sebagaimana hal itu telah tetap dari semulia makhluk dan pilihan hamba yang benar. Pola ini meskipun sudah langka di zaman-zaman ini, dan tempat-tempat serta negeri-negeri kosong dari para pengamalnya, namun dalam umat ini—alhamdulillah Ta’ala—masih ada sisanya, dan sebagaimana dikatakan: di sudut-sudut ada hal tersembunyi.

Dan kecintaan bisa terjadi melalui kabar dan pendengaran, dan bukanlah syaratnya harus bertemu dan berkumpul, bahkan sebagian besar kecintaan tidak ada kecuali melalui perantaraan saling mendengar dan berita-berita, dan dikuatkan dengan berita berturut-turut tentang kebaikan peninggalan dan menyaksikan jejak-jejak, dan tidaklah mata-mata melihat semua wujud yang dicintai, bagaimana mungkin sedangkan mata sekarang terhalang dari Raja Yang Maha Pemberi Agama, kemudian para malaikat dan rasul yang mulia semoga atas mereka semua dilimpahkan shalawat dan salam yang sempurna, dan para pengikut rasul sejak zaman Adam dan seterusnya hingga hari-hari ini, mereka memiliki cinta yang sangat kuat di dalam hati yang tidak memerlukan penjelasan atau perincian.

Dan jika kecintaan tidak mensyaratkan penglihatan di dalamnya, dan ketiadaan penglihatan tidak mengurangi bagian darinya, maka tidak mengherankan jika seseorang mengaku cinta karena Allah—insya Allah—kepada sebagian wali-wali Allah, meskipun tidak ada saling berkunjung di antara keduanya, dan hari-hari tidak merangkai keduanya dalam rangkaian percakapan. Namun penyebabnya adalah pemindahan kemuliaan-kemuliaan yang jarang di zaman ini kecuali pada individu-individu tertentu, dan hampir tidak ditemukan di dalamnya kecuali pada orang-orang yang sedikit. Dan jika pendengaran merasakan sebagian orang istimewa di sebagian tempat, jiwa-jiwa bergembira untuk bertemu dengannya, dan hati-hati bersorak-sorai karena mengharapkan kasih sayangnya dan persaudaraannya.

Dan tidak pernah berhenti peninggalan-peninggalan dari hadrat yang tinggi dan kebanggaan-kebanggaan dari kedudukan yang tunggal menyebarkan harumnya di berbagai penjuru, dan rombongan-rombongan datang karenanya ke Irak, hingga hati merespons panggilan peninggalan-peninggalan tersebut, dan mengikat jari kelingking kepadanya, dan menjadi ragu-ragu dalam menyampaikan kasih sayang yang kokoh itu kepada hadrat yang tinggi seperti orang yang maju satu kaki dan mundur kaki yang lain, hingga dia memohon petunjuk kepada Allah Subhanahu dalam penyampaian ini dengan bersungguh-sungguh, hingga terpilihlah baginya bahwa pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki oleh tuannya tentang makna ini lebih utama dan lebih layak, dan menetaplah dalam jiwa bahwa menunda perkara ini setelah hati-hati saling mengenal adalah sejenis kekeringan atau berpaling dari apa yang datang dalam Sunnah yang cemerlang: “Jika salah seorang dari kalian mencintai saudaranya maka hendaklah dia memberitahukan kepadanya”, sebagaimana dari Sunnah: bahwa barang siapa memiliki tetangga maka hendaklah dia memuliakan.

Adapun apa yang ditakuti dalam hal ini dari tuduhan buruk sopan santun, mengapa berani memulai surat-menyurat sebelum bertemu dan bersahabat? Maka ini selain tidak memiliki dasar, ia akan berujung pada pemutusan hubungan dan tertutupnya pintu persaudaraan, bahkan sebagaimana menyebarkan salam disyariatkan ketika bertemu, maka bisa digantikan dengan surat-menyurat ketika berjauhan, dan inilah yang benar-benar terjadi, dan tidak ada yang membantah hal ini.

Kemudian sesungguhnya orang yang merindukan pertemuan dengan orang yang tidak mampu menemuinya untuk memulai dengan kunjungan dan salam terpaksa menggunakan puncak pena jika tidak mampu menggunakan kaki. Dan kapan pun dikatakan: bahwa dalam memulai dengan surat membebani orang yang dituju surat dengan membalas jawaban, dan hal itu tidak seperti membalas salam kepada orang yang memberi salam, karena itu adalah kalimat ringan yang tidak berat bagi pembicara, adapun surat-menyurat maka memerlukan jawaban-jawaban yang mungkin di dalamnya ada beban dan penderitaan.

Maka dikatakan: jika kasih sayang benar dan hati-hati lapang, maka tersingkirlah beban-beban yang memberatkan, maka barang siapa dimudahkan baginya untuk membalas jawaban dia berbuat baik dan membalas, dan tidak membawa ketidakbalasan pada penolakan dan berpaling, bahkan tingkatan pertama persaudaraan adalah membebaskan dari beban yang tidak dimudahkan oleh takdir, dan membawa perbuatan-perbuatan dan peninggalan-peninggalan pada tempat yang terbaik, dan orang berakal tidak mengeluarkan kesempurnaan dari perbuatan orang sempurna.

Adapun pendahuluan yang buruk maka melekat pada hati-hati yang berkarat kecuali hadrat yang tinggi! Dan seandainya diandaikan bahwa dalam permulaan ini ada jenis dari buruk sopan santun, maka tidak lepas dari kerinduan yang mengalahkan, dan penunaian hak yang telah wajib, hingga sesungguhnya perampas tidak dicela jika berinisiatif memulai dengan mengembalikan yang dirampas meskipun dia berbuat buruk ketika merampas, maka celaan apa atas orang yang merindukan ahli kebenaran dan orang-orang yang menegakkannya menurut kemampuan di zaman ini, jika dia mengirimkan salam kepada hadrat mereka, dan memulai percakapan tanpa meminta izin? Hanya saja ahli kebenaran telah sedikit, dan pencari mereka sedikit dengan sedikitnya mereka, dan barang siapa ditemukan dari mereka dimanfaatkan pertemuannya dan diminta persaudaraannya, jika pertemuan sulit maka doa di belakang tanpa sepengetahuannya, dan melipat batin pada loyalitas kepada mereka dan ketulusan kepada mereka, agar Allah Ta’ala mengetahui keikhlasan dalam loyalitas kepada wali-waliNya yang sezaman, mengikuti loyalitas kepada para salaf yang telah berlalu dan lenyap.

Dan yang dimohon dari Allah Ta’ala agar Dia memperbanyak jumlah wali-wali yang mulia, para ahli kesungguhan dan usaha keras, para pemilik perjuangan dan jihad, para pencinta kebenaran, para penasehat bagi makhluk, para penyabar terhadap gangguan manusia, yang termasuk dalam barisan orang-orang yang berhati-hati dan cerdas.

Dan sungguh Allah Subhanahu telah menganugerahkan kepada ahli zaman ini nikmat yang agung yang kebanyakan mereka tidak menghargai kadarnya, dan tidak melaksanakan syukur kepada Allah karenanya, Dia menegakkan bagi mereka seorang ulama di awal seratus tahun ini dan ulama yang bagaimana! Dugaan kuat bahwa para ahli ilmu tidak mengenalnya dan jauh dari Allah bahwa mereka mengenalnya dengan sebenar-benarnya pengenalan lalu membencinya.

Dan orang miskin penulis baris-baris ini tidak pernah mengkaji perkataan-perkataannya, dan tidak mengenal keadaannya kecuali dekat dengan penahanannya, dan andai saja sebelum itu dengan waktu yang lama, dan tipu daya apa setelah hilangnya tipu daya, tetapi pada Allah ada penggantinya, dan pada keberadaan kalian ada penghiburan dari orang yang telah lalu.

Dan ketika sampai ke sini sebagian karya-karyanya, dan mengetahui dasar-dasar ucapannya, dan mempertimbangkan kaidah-kaidah pendasarannya dalam penelitian-penelitiannya dan perdebatan-perdebatannya, dia melihat demi Allah sesuatu yang membuatnya terpesona, dan menyaksikan perkara yang membuatnya bingung! Dan tidak pernah dia meyakini bahwa penelitian dan penjelasan seperti ini bisa ada dalam kekuatan manusia! Dan tidak ada yang menyerupainya kecuali orang yang dirugikan yang mencari pembalasan dari semua golongan yang menyelisihi agama Islam, tidak peduli dengan banyaknya jumlah mereka, dan tidak goyah bahwa bantuan mereka mengikuti, dan tidak gentar dengan banyaknya kumpulan mereka, dan tidak takut dengan ancaman mereka atau gertakan mereka dari pengikut mereka atau yang diikuti mereka.

Jika dia berdebat dengan para filosof, dia mengalahkan mereka, dan jika dia menentang para ahli kalam, dia memutuskan mereka, dan jika dia menyaingi para ahli bid’ah, dia mencerai-beraikan mereka, dan jika dia melawan para atheis, dia mencerai-beraikan mereka, dia berputar-putar di medan-medan perdebatan dan debat seperti putaran kesatria pemberani yang gagah berani, dan berlari ketika berhadapan dan pertarungan maka tidak ada yang menyamai dalam perlombaan dan pertandingan, maka dia adalah kesatria yang bangkit dan pemberani yang meledak, dia membalas dendam untuk agama Allah dari orang yang menyelisihinya, dan menolong perkataan Allah dari orang yang membuat mustahil maknanya atau memutarbalikkannya. Dia mendirikan pendasaran-pendasaran yang lurus, dan meratakan kaidah-kaidah yang benar, tidak terbantahkan hujahnya jika dia memulai menegakkan hujah-hujah dan bukti-bukti, dan tidak sulit baginya memecahkan syubhat jika dia menempuh jalan yang terang dalam menolong agama.

Dia mencabut bid’ah-bid’ah para ahli bid’ah dari agama kaum Muslim seperti mencabut rambut dari adonan, dan mengeluarkan syubhat-syubhat para atheis yang tersembunyi di mata para pemikir, dan menyulitkan para pemberdebat, pengeluarannya seperti orang yang menjadikan besi gembok dari kunci-kuncinya, dan yang terkunci dari kerumitannya, di jarinya dan penjelasannya lebih lunak dari tanah liat.

Sungguh dia telah memakai pedang-pedang dalil-dalil akal, dan memegang tombak-tombak bukti-bukti naql, dan menunggangi kuda Sunnah-Sunnah Nabi, dan memikul di pundaknya panji-panji Muhammad, dan menjauhi panji-panji kesesatan yang membela dengan fanatik dan berperang dengan kesukuan, dia menyeru dengan suara paling keras: wahai ahli agama Islam dan pemilik syariat Nabi Muhammad, dan para pencari Sunnah yang putih bersih, barang siapa di antara kalian yang hatinya terbakar oleh syubhat-syubhat, dan hatinya disesatkan oleh keraguan-keraguan, dan kakinya tergelincir oleh golongan-golongan yang menyesatkan, dan disesatkan olehnya di jalan-jalan yang membinasakan, maka kemari kemari, ayo buruan buruan, maka sesungguhnya padaku ada pemecahan apa yang menjadi rumit, dan pengobatan penyakit yang sulit.

Ini agama Allah yang tidak ada debu padanya, apalagi kotoran atau kegelapan. Ini agama Islam yang dipuji dengan kesempurnaan dan kelengkapan. Inilah agama yang dilalui oleh para salaf yang mulia dan para imam negeri yang terkenal. Jika kalian meragukan perkataanku atau meyakini kelemahan pada pedangku, maka ini saksi-saksi dari yang adil dari yang dinukilkan dan yang dipikirkan, tidak ada keraguan dan tidak ada kebohongan, dan tidak ada kegelapan dan tidak ada kekelaman dan tidak ada kegelapan, tiru Al-Quran dan jangan meniru aku, dan ikutilah pandangan mata jika kalian mengikutiku.

Dan dengan demikian maka manusia seperti bingung atau zalim yang mengingkari kecuali apa yang Allah kehendaki dari yang sedikit, seperti satu-satu dari generasi.

Maka tidak lama kecuali dia dipanggil oleh Allah lalu dia memenuhinya, maka ridha Allah atasnya dan membuatnya ridha, tetapi dia meninggalkan di dalam hati dari sedih perpisahannya bara-bara api dan bara api yang bagaimana, dan penyesalan yang diikuti oleh penyesalan-penyesalan.

Dan orang miskin yang terhalang dari hadratnya ini, yang terkejut di dalamnya dengan musibahnya, atas sedikitnya jumlah hari-hari mengenalnya, tidaklah seperti dia kecuali sebagaimana dikatakan: tidak memberi salam hingga berpamitan. Maka dia tidak berhenti merasakan ketenangan dan kenyamanan jika hembusan angin dari Syam berhembus, dan bau dari Damaskus lewat, dan dia terhibur dengan keberadaan orang-orang yang menyertainya dan sezaman, dan merindukan saudara-saudara yang mengambil darinya baik yang sedikit maupun yang banyak.

Dan hadrat yang tinggi alhamdulillah adalah lautan yang dalam yang tidak tercapai dasarnya, dan tidak berakhir ke pantainya orang yang tampak baginya tanda-tandanya, sungguh telah dikhususkan dengan anugerah-anugerah agung dari berbagai cabang ilmu dan pemberian-pemberian yang banyak yang diakui oleh para musuh, dan dia memiliki kekhususan besar dengan imam dunia rahimahullah, dan kemuliaan-kemuliaannya kepada para penerima manfaat dan para pelajar dan kebaikannya kepada mereka cukup kemasyhurannya dari penjelasan, dengan apa yang telah mendahului dari anugerah dan perincian keutamaan-keutamaan dan kebaikan-kebaikan yang mewajibkan kokohnya kasih sayang, yang tidak muat dalam kitab. Maka jazakumullah atas Islam dan kaum Muslim dengan balasan terbaik, dan balasanNya tidak ada yang menyamainya dari berbagai hal.

Adapun apa yang disebutkan tentang keadaan imam dunia rahimahullah dan melapangkan masaNya, maka tidak lain hanyalah setetes dari lautan yang diliputi batin, dan dalil-dalil yang memperkenalkan keadaannya sebagaimana seharusnya adalah kesaksian fitrah sebelum mengkaji penelitian-penelitian dasar yang dia dasarkan, dan penolakan batin sangat terhadap penyimpangan-penyimpangan nash yang ada di tangan para pemikir, dan terbakarnya batin atas apa yang terjadi dalam agama Islam dari penggantian, dan sangat perhatian dengan mengkaji perkataan golongan-golongan, dan penyaksian kekacauan besar dalam konsekuensi-konsekuensi kaidah yang mereka dirikan dalam pokok-pokok masalah.

Dan jiwa tidak rela dengan menyelisihi zhahir-zhahir nash, kemudian para pemikir besar yang terlambat dari yang masyhur cenderung untuk mentakwilnya, dan menggabungkan antara mengagungkan mereka dan mengagungkan zhahir-zhahir nash menempatkan dalam kesusahan besar dan kesedihan yang tetap.

Dan rusaknya jalan-jalan ilmu kalam fitrah menyaksikannya dari segi global, dan kekuatan sendirian tidak bangkit untuk menjelaskan itu dari segi rinci, dan fitrah karena pengetahuannya dengan kebenaran kaidah-kaidah agama Islam dan kokohnya dasarnya, meyakini bahwa di balik kaidah-kaidah para mutakallimin ada dasar-dasar yang diridhai selain pendasaran-pendasaran istilah ini, dan mencari dalam kitab-kitab namun tidak menemukan sesuatu yang menguatkannya untuk mengubah kaidah-kaidah yang disepakati itu.

Dan orang miskin ini bekerja keras siang malamnya untuk mendirikan pendasaran-pendasaran yang tidak rusak jika diterapkan pada yang dinukilkan dia mendapati kekuatannya tidak bangkit dengan itu ungkapannya karena tidak adanya jalan yang menghentikan, maka tidak ada tipu daya di sana kecuali berlindung kepada Allah Ta’ala, dan berdiri dengan nash-nash zhahir dan batin, dan berkata dengan berdirinya perbuatan-perbuatan ikhtiyari pada Pencipta alam semesta—Maha Agung kebesaranNya—dari segi global, dan tidak pernah dia menemukan dalam fitrahnya selain ini.

Dan pendapat-pendapat para ahli kalam mengenai hal itu sudah terkenal dan metode-metode mereka sudah diketahui, dan aku tidak henti-hentinya berada dalam kesulitan yang sangat besar karena kebimbangan antara mengagungkan para tokoh terkenal dari para pemimpin ahli pikir, dan antara mengagungkan nash-nash dan fitrah, padahal menggabungkan dua hal yang berlawanan adalah mustahil. Namun di antara kemurahan Allah Subhanahu dan karunia-Nya yang agung adalah: bahwa pikiran tidak pernah berhenti dari merenungkan nash-nash, dan mencermati makna lafaz-lafaz secara mendalam, sehingga tidak ada satu huruf pun ketika membaca yang luput dari perenungan maknanya dan mencari petunjuk darinya.

Dan dada sangat sesak dengan takwil, karena jauhnya dari fitrah dan dari makna yang dikenal dalam bahasa yang berlaku di antara manusia, dan hati seperti dijanjikan dengan kaidah-kaidah yang benar, lurus, baik yang dinukil maupun yang dipikirkan, selain kaidah-kaidah yang telah disepakati ini, dengan yakin terhadap kebenaran agama Allah, dan kebenaran apa yang dibawa para rasul dari Allah, dan hal ini dalam batin seperti sesuatu yang pasti yang tidak bisa tidak akan ditemukan pada suatu waktu.

Maka ketika Allah Taala menakdirkan sesuatu yang menyerupai kelapangan setelah kesempitan, yaitu dari mempelajari sebagian pembahasan imam dunia rahimahullah, maka hal itu seperti barang hilang yang tidak tersembunyi bagi orang yang mencarinya ketika ia menemukannya, dan khususnya jika ia termasuk yang paling berharga yang dicari. Maka demi Allah yang tidak ada tuhan selain-Nya, pada saat menemukan hal itu, akal hampir-hampir kehilangan kesadaran karena kegembiraan dan kebahagiaan. Dan siapa yang mampu mengungkapkan keadaan ini dengan pena atau lisan?! Dan ini termasuk perkara-perkara yang tidak diketahui kecuali dengan merasakan dan mengalaminya, jika tidak, maka seandainya dikatakan tentang makna ini sebanyak apapun yang dikatakan, maka orang yang mengatakannya akan dianggap kurang atau berlebihan.

Dan pencari barang hilang yang pemiliknya mengetahuinya dengan baik, tidak memerlukan penemunya untuk merenungkan lama dan bersusah payah banyak untuk mengenalinya setelah menemukannya, maka tidaklah tercela orang yang mencintai penduduk negeri yang dari sana keluar imam yang agung ini, apalagi orang-orang yang dekat dengannya yang dikaruniai kenikmatan.

Dan tidak sepatutnya heran dengan panjangnya surat ini dan uraiannya, maka demi Allah sesungguhnya ini sedikit dari yang banyak! Dan jarang sekali disebutkan imam ini kecuali air mata bercucuran, dan tetesan air mata mengalir, dan hal ini telah menjadi kebiasaan yang tidak bisa ditolak apa yang datang darinya, dan seandainya tidak karena keyakinan kepada Allah Yang Maha Agung, dan menghibur diri dengan mereka yang telah wafat dari kalangan para rasul dan pengikut-pengikut mereka dan pengikut-pengikut para pengikut mereka dan seterusnya, niscaya jiwa akan hancur berkeping-keping karena kehilangan orang seperti ini di masa yang jauh dari kenabian dengan penuh penyesalan. Maka sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Dan segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

Dan semoga Allah Taala memberikan manfaat kepada Islam dan ahli Islam dengan kehadiran yang mulia dan para pencintanya, dan memperpanjang keberadaannya, dan membaguskan akhirnya, dan menutup dengan kebaikan amal-amalnya, maka Dia Subhanahu adalah penolong kami dan sebaik-baik Pelindung.

Semua saudara dan orang-orang yang berlindung kepada sisi yang mulia menyampaikan salam yang sempurna dan doa yang berlimpah dan kerinduan yang sangat. Dan sisi yang mulia dalam pemeliharaan Allah Taala dan penjagaan-Nya.

 

 

26 – Nama-Nama Karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Oleh Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah bin Ahmad yang dikenal dengan Ibnu Rusyaiq Al-Maghribi (749)

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Amma baadu; sesungguhnya sekelompok orang dari para pencinta Sunnah dan ilmu meminta kepadaku agar aku menyebutkan apa yang telah dikarang oleh Syaikh, Imam, Allamah, Hafizh, yang tunggal di zamannya, yang unik di masanya: Taqiyuddin Abu al-Abbas Ahmad Ibnu Taimiyah semoga Allah meridhainya; maka aku menyebutkan kepada mereka bahwa aku tidak mampu menghitungnya dan menghitungnya, karena beberapa alasan yang telah aku sampaikan kepada sebagian mereka, dan akan aku sebutkan insyaallah nanti.

Maka kebanyakan mereka berkata: Harus disebutkan apa yang engkau ketahui, dan apa yang tidak bisa diraih semuanya tidak boleh ditinggalkan semuanya; maka wajib bagiku memenuhi permintaan mereka, dan inilah aku menyebutkan apa yang Allah mudahkan bagiku darinya, dan jika orang yang menemukan apa yang aku tulis menemukan tambahan maka hendaklah dia melampirkannya, dan Allah-lah tempat meminta pertolongan.

Maka di antara itu adalah apa yang ia karang dalam tafsir Al-Quran Al-Aziz selain yang ia kumpulkan dari pendapat-pendapat para mufassir Salaf yang menyebutkan sanad-sanad dalam kitab-kitab mereka, maka ia menulis tentang seluruh Al-Quran apa yang memungkinkan baginya dari nukilan-nukilan dari Salaf dan itu sesuatu yang banyak.

Dan ia berkata kepadaku suatu kali: Aku menemukan sekitar dua puluh lima tafsir yang bersanad. Dan ia berkata kepadaku suatu kali: Kadang aku mempelajari tentang satu ayat sekitar seratus tafsir, kemudian aku memohon kepada Allah pemahaman dan berkata: Ya Pengajar Ibrahim. Dan ia menyebutkan kisah Muadz bin Jabal, dan ucapannya kepada Malik bin Yukhamir ketika ia menangis saat kematiannya, dan berkata: Aku tidak menangis karena dunia yang biasa aku peroleh darimu, tetapi aku menangis karena ilmu dan iman yang dulu aku pelajari darimu, maka ia berkata: Sesungguhnya ilmu dan iman tempatnya ada, siapa yang mencarinya akan menemukannya, maka carilah ilmu pada empat orang dan ia menyebutkan mereka, maka ia berkata: Pada Abu Darda, dan Abdullah bin Masud, dan Salman Al-Farisi, dan Abdullah bin Salam, maka jika ilmu tidak ada padamu pada mereka ini; maka ilmu tidak ada di bumi, maka mintalah ilmu dari Pengajar Ibrahim.

  • Maka Syaikh menulis nukilan-nukilan Salaf secara terpisah tanpa dalil-dalil, tentang seluruh Al-Quran.
  • Dan ia menulis di awalnya bagian yang besar dengan dalil-dalil.
  • Dan aku melihat surat-surat dan ayat-ayat yang ia tafsirkan dan ia berkata dalam sebagiannya: Aku menulisnya untuk mengingat, dan semacam itu.

Kemudian ketika ia dipenjara di akhir umurnya, aku menuliskan kepadanya: Agar ia menulis tentang seluruh Al-Quran yang tersusun menurut surat-surat, maka ia menulis berkata: Sesungguhnya Al-Quran di dalamnya ada yang jelas pada dirinya sendiri, dan di dalamnya ada yang dijelaskan oleh para mufassir dalam bukan satu kitab; tetapi sebagian ayat-ayat menjadi masalah bagi sekelompok ulama, maka kadang seseorang mempelajari tentangnya beberapa kitab dan tidak jelas baginya tafsirnya, dan kadang penulis yang satu menulis tentang satu ayat tafsir dan tafsir yang serupa dengannya dengan yang lain, maka aku bermaksud menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan dalil; karena itu lebih penting dari yang lainnya, dan jika jelas makna satu ayat maka jelas makna-makna yang serupa dengannya.

Dan ia berkata: Sungguh Allah telah membukakan bagiku di benteng ini dalam masa ini dari makna-makna Al-Quran, dan dari pokok-pokok ilmu dengan hal-hal yang banyak ulama meninggal [menginginkannya], dan aku menyesal karena menyia-nyiakan kebanyakan waktuku dalam selain makna-makna Al-Quran, atau semacam ini, dan ia mengirim sesuatu yang banyak dari apa yang ia tulis dari jenis ini, dan masih ada sesuatu yang banyak dalam keranjang penilaian pada para hakim ketika mereka mengeluarkan kitab-kitabnya dari sisinya, dan ia wafat dan kitab-kitab itu ada pada mereka sampai waktu ini sekitar empat belas berkas.

1 – Maka yang aku lihat dari tafsir

  • Tentang istiadhah dan basmalah beberapa lembar.
  • Kaidah Al-Fatihah; tentang nama-nama yang ada di dalamnya, dan tentang firman-Nya: Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. (Al-Fatihah: 5)

Dalam Surat Al-Baqarah:

  • Bagian besar dalam tafsir awalnya.
  • Dan dalam tafsir firman-Nya: Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api (ayat 17) sekitar dua puluh lembar.
  • Dan tentang firman-Nya: Kecuali orang yang menjadikan dirinya bodoh (ayat 130) sekitar satu kuras.
  • Dan tentang firman-Nya: (148) Dan dari mana saja kamu keluar maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam (ayat 149).
  • Dan tentang firman-Nya: Maka siapa yang telah menikmati umrah sampai ke (ayat 196), sekitar dua puluh lembar.
  • Dan tentang firman-Nya: Maka barangsiapa dalam keadaan terpaksa bukan karena menginginkannya dan tidak melampaui batas (ayat 173).
  • Dan tentang firman-Nya: Dan para ibu menyusui anak-anaknya (ayat 233), sekitar tiga puluh lembar.
  • Dan tentang Ayat Kursi, dalam dua tempat, sekitar dua puluh lembar.
  • Dan tentang firman-Nya: Dan di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir” (ayat 8), sekitar tiga puluh lembar.
  • Dan tentang firman-Nya: Wahai manusia, sembahlah Rabbmu (ayat 21), dan dinamakan “Al-Ubudiyah” sekitar tujuh puluh lembar.
  • Dan tentang ayat-ayat riba, dan ia berbicara di dalamnya tentang riba fadhl, sekitar tiga puluh lembar.

Dalam Surat Ali Imran:

  • Tentang firman-Nya: Dan tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah (ayat 7), sekitar satu jilid.
  • Dan tentang firman-Nya: Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan kecuali Dia (ayat 18), sekitar enam puluh lembar.
  • Dan tentang firman-Nya: Darinya ada ayat-ayat muhkamat (ayat 7).
  • Dan tentang firman-Nya: Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama mereka orang-orang Rabbani yang banyak (ayat 146), sekitar sepuluh lembar.

Dalam Surat An-Nisa:

  • Tentang firman-Nya: Apa saja kebaikan yang menimpamu dari Allah (ayat 79), sekitar seratus lembar.
  • Dan tentang firman-Nya: Dan apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan (ayat 86).
  • Dan tentang firman-Nya: Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja (ayat 93).

Dalam Surat Al-Maidah:

  • Tentang firman-Nya: Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat (ayat 6), sekitar tiga puluh lembar.
  • Dan dalam tafsir surat dan seluruh makna-maknanya, dan semacam itu, satu jilid kecil.

Dalam Surat Al-Anam:

  • Tentang firman-Nya: (75) Maka ketika malam telah gelap (ayat 76).
  • Dan firman-Nya: (80) Dan bagaimana aku takut kepada apa (ayat 81).
  • Dan firman-Nya: Ia berkata: Aku tidak suka (ayat 76).
  • Dan firman-Nya: Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan (ayat 103).

Dalam Surat Al-Araf:

  • Tentang firman-Nya: Dan ingatlah ketika Rabbmu mengeluarkan dari tulang belakang anak Adam (ayat 172), tiga kaidah, lebih dari tujuh puluh lembar.
  • Dan tentang firman-Nya: Sungguh kami akan mengusir kamu wahai Syuaib (ayat 88).
  • Dan firman-Nya: Dan Musa memilih kaumnya (ayat 155).

Dalam Surat Al-Anfal:

  • Tentang firman-Nya: Wahai Nabi, cukuplah Allah bagimu (ayat 64).

Dalam Surat Taubah:

  • Tentang firman-Nya: Maha Penyayang (5) Dan jika seorang di antara (ayat 6), ia menafsirkannya beberapa kali dalam kaidah-kaidah yang banyak.
  • Dan tentang firman-Nya: Atas kalian seorang pun maka sempurnakanlah (ayat 4).
  • Dan tentang firman-Nya: Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir (ayat 60).
  • Dan tentang firman-Nya: Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ayat 122).

Dalam Surat Yunus alaihissalam:

  • Tentang firman-Nya: Dan tidaklah mengikuti orang-orang yang menyeru selain Allah sekutu-sekutu (ayat 66).
  • Dan tentang firman-Nya: Kecuali kaum Yunus ketika mereka beriman (ayat 98).

Dalam Surat Hud alaihissalam:

  • Tentang firman-Nya: Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi (ayat 1).
  • Dan tentang firman-Nya: Maka apakah orang yang berada di atas bukti yang nyata dari Rabbnya dan diikuti oleh saksi dari-Nya (ayat 17).
  • Dan tentang firman-Nya: Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi kecuali apa yang dikehendaki Rabbmu (ayat 107, 108), dan ia berbicara tentang pengecualian ini.
  • Dan dalam penjaranya yang terakhir ia membuat kaidah dalam menolak orang yang mengatakan dengan fananya surga dan neraka, sekitar dua puluh lembar.
  • Dan tentang firman-Nya: Dan mereka senantiasa berselisih (118) Kecuali orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu dan untuk itulah Dia menciptakan mereka (ayat 118, 119) dan pembicaraan tentang lam ini.

Dalam Surat Yusuf alaihissalam:

  • Ia menafsirkannya atau kebanyakannya, dan berbicara tentang makna-maknanya, di Mesir dalam penjara bawah tanah, sekitar dua jilid.
  • Dan tentang firman-Nya: Dan aku tidak membebaskan diriku (ayat 53), dan menjelaskan bahwa itu dari ucapan wanita tersebut.
  • Dan tentang firman-Nya: Dan sesungguhnya wanita itu telah bermaksud kepadanya dan Yusuf pun bermaksud kepadanya seandainya dia tidak melihat bukti dari Rabbnya (ayat 24).
  • Dan firman-Nya: Hingga apabila para rasul telah putus asa (ayat 110).
  • Dan firman-Nya: Katakanlah: Inilah jalanku, aku menyeru kepada Allah dengan hujjah yang nyata (ayat 108).

Dalam Surat Ar-Rad:

  • Tentang firman-Nya: Dan guruh bertasbih dengan memuji-Nya (ayat 13).
  • Dan tentang firman-Nya: Maka apakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itu benar sama dengan orang yang buta (ayat 19).

Dalam Surat Al-Hijr:

  • Tentang firman-Nya: Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu tujuh dari yang dibaca berulang-ulang (ayat 87).
  • Dan tentang firman-Nya: Ini adalah jalan yang lurus kepada-Ku (ayat 41), dan ayat-ayat yang serupa dengan ayat ini seperti firman-Nya: (11) Sesungguhnya kepada Kami (Al-Lail: 12) dan firman-Nya: Sesungguhnya Rabbku berada di atas jalan yang lurus (Hud: 56).

Dalam Surat An-Nahl:

  • Ayat-ayat pertama, Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi kaum yang berpikir (ayat 11), Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berakal (ayat 12) ayat-ayat.
  • Dan tentang firman-Nya: Allah membuat perumpamaan seorang hamba sahaya yang dimiliki (ayat 75).
  • Dan tentang firman-Nya: Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata (ayat 103).

Dalam Surat Al-Anbiya alaihimussalam:

  • Tentang firman-Nya: Tidak ada tuhan kecuali Engkau, Maha Suci Engkau (ayat 87), dalam satu jilid kecil, dan ini adalah doa Dzun Nun.
  • Dan tentang firman-Nya: Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah (ayat 98), dan bantahan Ibnuz Zibraa, dan jawabannya.

Dalam Surat Al-Hajj:

  • Tentang firman-Nya: Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu dari seorang rasul pun dan tidak pula seorang nabi (ayat 52), dan ia berbicara tentang lafaz takwil, sekitar satu kuras.
  • Dan tentang firman-Nya: Yang demikian itu dan barangsiapa membalas dengan seimbang dengan apa yang dibalas kepadanya kemudian (ayat 60), beberapa lembar.

Dalam Surat An-Nur:

  • Ia menafsirkan kebanyakannya dalam satu jilid kecil.
  • Dan tentang firman-Nya: Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan sebagian dari pandangan mereka (ayat 30), lima lembar.
  • Dan tentang firman-Nya: Pezina laki-laki tidak menikah kecuali dengan pezina perempuan (ayat 3) dalam dua kaidah.

Dalam Surat Al-Qashash:

  • Tentang mertua Musa, apakah dia Syuaib atau yang lain, dalam satu kuras.
  • Dan tentang firman-Nya: Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku (ayat 78).
  • Dan tentang firman-Nya Taala: Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri di (ayat 83), dua kali.

Dalam Surat Al-Ankabut:

  • Firman-Nya: Alif Lam Mim (1) Apakah manusia mengira (ayat 1, 2).
  • Dan firman-Nya: Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar (ayat 45).
  • Dan tentang firman-Nya: Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab kecuali dengan cara yang paling baik (ayat 46).

Dalam Surat Luqman:

  • Tentang firman-Nya: Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang besar (ayat 13).

Dalam Surat Alif Lam Mim (1) Tanzil As-Sajdah:

  • Dan Kami jadikan di antara mereka pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar (ayat 24).

Dalam Surat Al-Ahzab:

  • Firman-Nya: Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah atas kalian (ayat 9), dan kisah Khandaq.

Dan dalam surah Saba’:

  • Katakanlah: “Kamu tidak akan ditanya tentang dosa yang kami kerjakan dan kami tidak akan ditanya tentang apa yang kamu kerjakan” [ayat: 25].

Dan dalam surah Fathir:

  • Kemudian Kami wariskan Al-Kitab itu kepada hamba-hamba Kami yang Kami pilih [ayat: 32].
  • Dan dalam firman-Nya: Dan orang-orang yang kafir bagi mereka neraka Jahannam, mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati [Fathir: 36].

Dan dalam surah Ghafir:

  • Firman-Nya: (14) Yang Maha Tinggi [ayat: 15].
  • Dan dalam firman-Nya di akhir surah: Maka tidakkah mereka berjalan di muka bumi [ayat: 82].

Dan dalam surah Asy-Syura:

  • Firman-Nya: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia [ayat: 11], sekitar lima puluh lembar.

Dan dalam surah Az-Zukhruf:

  • Firman-Nya: Katakanlah: “Jika Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah orang yang pertama-tama menyembah (anak itu)” [ayat: 81].

Dan dalam surah Ad-Dukhan dan surah Al-Jatsiyah:

  • Dan sungguh Kami telah memilih mereka dengan berdasarkan ilmu (Kami) [ayat: 32].
  • Dan firman-Nya: Dan Allah telah menyesatkannya berdasarkan ilmu [ayat: 23].

Surah Al-Hujurat:

  • Ia menafsirkannya dalam beberapa belas lembar.

Surah Adz-Dzariyat:

  • Firman-Nya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku [ayat: 56], ia menafsirkannya dua kali, salah satunya dalam sekitar tujuh puluh lembar.

Surah Al-Waqi’ah:

  • Firman-Nya: Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan [ayat: 83].

Surah Al-Mujadilah:

  • Firman-Nya: Tidaklah ada pembicaraan rahasia antara tiga orang [ayat: 7], ia menafsirkannya beberapa kali, dan membahas tentang ma’iyyah (kebersamaan Allah) dalam semua tempat kemunculannya.

Surah Al-Mumtahanah:

  • Apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman berhijrah, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka [ayat: 10].

Surah Sabbihisma Rabbikal A’la:

  • Ia menafsirkannya dalam satu jilid ringkas.

Surah Al-Fajr:

  • Ia menafsirkannya dan membahas beberapa kali tentang firman-Nya: Iram yang mempunyai tiang-tiang (yang tinggi) [ayat: 7].
  • Dan firman-Nya: Dan malam yang sepuluh [ayat: 2], dan menjelaskan bahwa ia memiliki dua puluh keutamaan.

Surah: La Uqsimu:

  • Ia menafsirkannya secara lengkap, dan membahas firman-Nya: Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan) [ayat: 10].

[Surah Asy-Syams]:

  • Dan membahas firman-Nya: Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya [ayat: 8].

Surah Iqra’ Bismi Rabbika:

  • Ia menafsirkannya, dan menjelaskan bahwa ia adalah surah pertama yang diturunkan, dan menjelaskan bahwa ia mencakup pokok-pokok agama, dalam satu jilid ringkas.

Surah: Yakun Alladziina Kafaru Min:

  • Ia menafsirkannya secara lengkap.

Surah Qul Ya Ayyuhal Kafirun:

  • Ia menafsirkannya dalam sekitar tiga puluh lembar.

Surah Tabbat:

  • Ia menafsirkannya dalam sekitar sepuluh lembar.

Mu’awwidzatain (dua surah pelindung):

  • Ia menafsirkannya beberapa kali dalam sekitar lima puluh lembar.

Qul Huwallahu Ahad:

  • Ia menafsirkannya dalam satu jilid.
  • Dan membahas dalam satu jilid ringkas tentang kedudukannya yang setara dengan sepertiga Al-Qur’an, dan keutamaan sebagian Al-Qur’an atas sebagian yang lain.
  • Dan ia memiliki kaidah-kaidah dalam tafsir secara global, ia membahas di dalamnya tentang karya-karya tulis, dan tentang para mufassir, apa yang bersambung dan tidak bersambung, siapa yang dapat diandalkan dan siapa yang tidak dapat diandalkan, saya melihat darinya sekitar satu jilid besar.
  • Dan ia menulis kaidah besar dalam pengertian ini.
  • Dan ia memiliki jawaban tentang tafsir Al-Baghawi, Al-Qurthubi, dan Az-Zamakhsyari; mana yang lebih utama?
  • Dan ia memiliki kaidah tentang keutamaan-keutamaan Al-Qur’an.
  • Dan kaidah tentang sumpah-sumpah dalam Al-Qur’an.
  • Dan kaidah tentang perumpamaan-perumpamaan dalam Al-Qur’an.

Selesai apa yang berkaitan dengan Al-Kitab Al-Aziz.

2 – Dan di antara yang ia tulis dalam bidang ushul (pokok-pokok agama) baik yang dimulai sendiri atau menjawab penentang atau penanya

  • Kitab Al-Iman. Satu jilid.
  • Kitab Al-Istiqamah. Dua jilid.
  • Kitab Jawabul I’tiradhatil Mishriyyah ‘alal Fatwal Hamawiyyah. Empat jilid.
  • Kitab Jawaban terhadap apa yang dikemukakan Kamaluddin Asy-Syurisyi terhadap kitabnya Ta’arudhul ‘Aql wan Naql.
  • Kitab Bayanut Talbiisil Jahmiyyah fi Ta’siisi Bida’ihimil Kalamiyyah. Enam jilid.
  • Kitab Dar’u Ta’arudhil ‘Aql wan Naql. Empat jilid.
  • Minhajus Sunnatin Nabawiyyah fi Naqdhi Kalamisy Syi’ah wal Qadariyyah. Empat jilid.
  • Al-Jawabush Shahih liman Baddalad Dinal Masih. Dua jilid.
  • Syarh Awwalil Muhashshal. Satu jilid.
  • Kitab Ar-Raddu ‘ala Ahlil Kasrawan Ar-Rafidhah. Dua jilid.
  • Al-Halakwuniyyah. Yaitu jawaban pertanyaan yang datang atas nama Hulagu raja Tatar. Satu jilid.
  • Kitab tentang Al-Wasilah. Satu jilid.
  • Kitab dalam Ar-Raddu ‘alal Bakri fil Istighatsah. Satu jilid.
  • Syarh atas awal kitab Al-Ghaznawi dalam pokok-pokok agama. Satu jilid ringkas.
  • Kitab dalam Ar-Raddu ‘alal Manthiq. Satu jilid besar.
  • Syarh ‘Aqidatul Ashfahani. Satu jilid.
  • Syarh Masail fil Arba’in lir Razi. Dua jilid.
  • Al-Masailul Iskandariyyah. Ia membantah di dalamnya Ibnu Sab’in dan lainnya. Satu jilid.
  • Kitab tentang cobaan yang dialaminya di Mesir. Dua jilid. Dan ia membahas di dalamnya tentang kalam nafsi dan membatalkannya dari sekitar delapan puluh segi.
  • Kitab Al-Kalam ‘ala Iradatir Rabb wa Qudratihi. Sekitar seratus lembar.

3 – Kaidah-kaidah dan fatwa-fatwa

  • Al-Kilaniyyah, yaitu jawaban dalam masalah Al-Qur’an. Satu jilid ringkas.
  • Qawa’id dalam menetapkan hari kiamat, dan bantahan terhadap Ibnu Sina dalam risalahnya Al-Adhhawiyyah. Sekitar satu jilid.
  • Tahqiqul Itsbat fil Asma’ wash Shifat: At-Tadmuriyyah. Ia membahas di dalamnya tentang hakikat penggabungan antara takdir dan syariat.
  • Al-Fatwal Hamawiyyah. Enam puluh lembar. Ia menulisnya antara Zhuhur dan Ashar.
  • Al-Marrakusyiyyah. Yaitu fatwa tentang sifat-sifat. Lima puluh lembar.
  • Fatwa dalam masalah ketinggian (Allah). Sekitar lima puluh lembar.
  • Fatwa yang mencakup sifat-sifat kesempurnaan yang menjadi hak Rabb Subhanahu. Sekitar enam puluh lembar.
  • Al-Wasithiyyah. Yaitu fatwa tentang akidah golongan yang selamat. Sekitar tiga puluh lembar.
  • Jawaban dalam ta’lil masalah perbuatan. Sekitar enam puluh lembar.
  • Jawaban dalam masalah Al-Qur’an yang datang dari Mesir. Sekitar tujuh puluh lembar.
  • Al-Ba’labakiyyah. Ia membahas di dalamnya tentang perbedaan pendapat manusia dalam kalam. Sekitar dua puluh lembar.
  • Al-Qadiriyyah. Yaitu masalah tentang Al-Qur’an. Sekitar sepuluh lembar.
  • Jawaban masalah tentang Al-Qur’an; apakah ia huruf dan suara atau tidak. Sekitar tiga puluh lembar.
  • Al-Azhariyyah. Beberapa puluh lembar.
  • Al-Baghdadiyyah. Yaitu masalah tentang Al-Qur’an.
  • Masail tentang bentuk dan titik.
  • Kitab Ibthalu Qaulil Falasifah bi Itsbatil Jawahiril ‘Aqliyyah.
  • Kitab Ibthalu Qaulil Falasifah bi Qidamil ‘Alam. Satu jilid besar.
  • Qa’idah dalam membatalkan perkataan para filsuf bahwa dari yang satu tidak keluar kecuali yang satu.
  • Qa’idah tentang qadlaya wahmiyyah.
  • Qa’idah tentang apa yang terbatas dan apa yang tidak terbatas.
  • Jawaban tentang azam untuk berbuat maksiat apakah hamba dihukum karenanya. Sekitar dua puluh lembar.
  • Qa’idah bahwa menyelisihi Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tidak terjadi kecuali karena prasangka dan mengikuti hawa nafsu.
  • Qa’idah bahwa iman dan tauhid mencakup kemaslahatan dunia dan akhirat.
  • Qa’idah dalam menetapkan karamah para wali. Dua puluh lembar.
  • Qa’idah bahwa keajaiban yang melanggar kebiasaan tidak menunjukkan kewalian.
  • Qa’idah tentang kesabaran dan syukur. Sekitar enam puluh lembar.
  • Qa’idah tentang ridha. Satu jilid ringkas.
  • Qa’idah bahwa setiap ayat yang dijadikan hujah oleh ahli bid’ah, di dalamnya terdapat dalil atas rusaknya perkataannya.
  • Qa’idah bahwa setiap dalil akal yang dijadikan hujah oleh ahli bid’ah, di dalamnya terdapat dalil atas batalnya perkataannya. Seratus lembar.
  • Qa’idah tentang keutamaan orang-orang shalih manusia atas seluruh jenis makhluk.
  • Qa’idah tentang khalwat (menyendiri), dan perbedaan antara khalwat syar’i dan bid’i.
  • Qa’idah tentang memakai khirqah dan para quthub dan semacamnya.
  • Ash-Sha’idiyyah. Yaitu qa’idah yang berkaitan dengan taubat.
  • Qa’idah tentang fakir dan sufi mana yang lebih utama.
  • Qa’idah tentang cinta Allah kepada hamba dan cinta hamba kepada Allah. Satu jilid ringkas.
  • At-Tuhfatul ‘Iraqiyyah. Sekitar enam puluh lembar.
  • Qa’idah tentang ikhlas dan tawakal. Sekitar lima puluh lembar.
  • Qa’idah tentang Asy-Syuyukhul Ahmadiyyah. Sekitar lima puluh lembar.
  • Qa’idah tentang pengharaman sima’ (nyanyian). Sekitar dua puluh lembar.
  • Tahrimush Shima’. Satu jilid.
  • Komentarnya terhadap Futuhul Ghaib karya Sayyidi Abdul Qadir Al-Kilani.
  • Qa’idah dalam menjelaskan Asmaul Husna.
  • Qa’idah tentang sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Akan terpecah umatku menjadi tujuh puluh tiga golongan”.
  • Qa’idah tentang istighfar dan penjelasannya.
  • Qa’idah bahwa syariat dan hakikat saling berkaitan.
  • Qa’idah tentang khullah dan mahabbah dan mana yang lebih utama. Satu jilid.
  • Qa’idah tentang Al-‘Ilmul Muhkam. Satu jilid.
  • Qawa’id tentang khilafah Ash-Shiddiq. Satu jilid.
  • Risalah tentang urusan Yazid apakah ia dicela atau tidak.
  • Risalah tentang Al-Khidhir apakah ia mati atau masih hidup.
  • Risalah tentang hujah Jahmiyyah dan Nashara dengan kalimat.
  • Risalah tentang orang yang berazam melakukan yang haram kemudian ia meninggal.
  • Risalah bahwa Ismail alaihissalam adalah yang disembelih.
  • Risalah tentang dzauq dan wajd yang disebutkan oleh kaum sufi.
  • Risalah tentang sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa berkata: aku lebih baik dari Yunus bin Matta, maka ia telah berdusta”.
  • Risalah tentang kesibukan dengan Kalam Allah dan nama-nama-Nya dan dzikir kepada-Nya, mana yang lebih utama.
  • Risalah tentang menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan, apa yang membantu hal itu.
  • Al-Irbiliyyah. Yaitu risalah tentang istawa dan nuzul apakah ia hakikat atau tidak.
  • Risalah dalam masalah zawal dan perbedaan waktunya karena perbedaan negeri. Satu jilid ringkas.
  • Risalah tentang liqa’ (perjumpaan) dan apa yang disebutkan tentangnya dalam Al-Qur’an dan lainnya. Sekitar dua puluh lembar.
  • Risalah tentang kedekatan Rabb dari orang yang beribadah kepada-Nya dan berdoa kepada-Nya. Satu jilid ringkas.
  • Risalah tentang istawa dan pembatalan perkataan orang yang mentakwilkannya dengan istila’ (menguasai) dari sekitar dua puluh segi.
  • Kitab tentang dua kalimat syahadat dan apa yang mengikuti hal itu. Satu jilid.
  • Risalah tentang ishmah para nabi alaihimush shalatu wassalam apakah dari dosa-dosa kecil. Dan apakah orang yang menentang dalam membolehkan dosa-dosa kecil atas mereka menjadi kafir? Sekitar tiga puluh lembar.
  • Risalah tentang istitha’ah (kemampuan) apakah bersamaan dengan perbuatan atau sebelumnya.
  • Risalah tentang mata dan hati serta keadaan-keadaannya.
  • Risalah apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum kerasulan adalah nabi, dan apakah yang menemaninya saat itu dinamakan sahabat.
  • Risalah apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum wahyu terikat dengan syariat dari para nabi sebelumnya.
  • Risalah tentang kekafiran Fir’aun.
  • Risalah tentang Dzul Faqar apakah ia pedang milik Ali radhiyallahu ‘anhu.
  • Risalah tentang wajibnya keadilan atas setiap orang dalam setiap keadaan.
  • Risalah tentang keutamaan salaf atas khalaf dalam ilmu.
  • Kitab tentang iman apakah bertambah dan berkurang. Satu jilid.
  • Risalah tentang hak Allah dan hak Rasul-Nya dan hak-hak hamba-hamba-Nya dan apa yang terjadi dalam hal itu dari kelalaian.
  • Risalah bahwa awal mula ilmu ketuhanan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah wahyu, dan pada pengikutnya adalah iman.
  • Risalah bahwa setiap pujian dan celaan terhadap perkataan dan perbuatan harus dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.
  • Risalah tentang akidah Asy’ariyyah dan akidah Al-Maturidi dan lainnya dari kalangan Hanafiyyah. Sekitar lima puluh lembar.
  • Al-Wasithiyyah. Yaitu akidah.
  • Al-Haufiyyah. Yaitu akidah juga. Sekitar dua puluh lembar.
  • Risalah tentang Arsy dan alam apakah berbentuk bulat atau tidak?
  • Risalah tentang Al-Khullah dan Al-Imkanul ‘Am.
  • Syarh risalah Ibnu Abdus dalam pokok-pokok agama.
  • Kaidah tentang kekhususan setiap umat, dan kekhususan umat ini.
  • Kaidah tentang al-Kulliyat (hal-hal universal). Satu jilid ringkas.
  • Kitab tentang tauhid para filsuf berdasarkan sistem Ibnu Sina. Satu jilid ringkas.
  • Risalah dalam menjawab Muhyiddin al-Ashfahani. Sekitar enam puluh lembar.
  • Al-Furqan baina Auliya ar-Rahman wa Auliya asy-Syaithan (Pembeda antara Wali-wali Allah yang Maha Pengasih dan wali-wali setan). Satu jilid ringkas.
  • Risalah tentang perbedaan antara nash yang boleh ditakwil dan yang tidak boleh ditakwil. Sekitar dua puluh lembar.
  • Kaidah tentang al-fana dan al-istihlam. Sekitar tiga puluh lembar.
  • Kaidah tentang ilmu dan hilm (kelembutan). Sekitar dua puluh lembar.
  • Kaidah tentang qishash (pembalasan) dari kezaliman dengan doa dan lainnya. Satu jilid.
  • Kaidah tentang tazkiyatun nufus (penyucian jiwa). Sekitar tiga puluh lembar.
  • Kaidah tentang perkataan Ibnu al-Arif dalam tasawuf. Satu karasa.
  • Kaidah tentang hak Allah dan hak hamba-hamba-Nya. Beberapa belas lembar.
  • Kaidah tentang zuhud dan wara. Sekitar tiga puluh lembar.
  • Kaidah tentang iman dan tauhid, serta penjelasan kesesatan orang yang sesat dalam pokok ini.
  • Kaidah tentang penyakit-penyakit hati dan penyembuhannya. Sekitar empat puluh lembar.
  • Kaidah tentang siyahah (perjalanan) dan maknanya dalam umat ini.
  • Kaidah tentang khullah (kekasihan) Ibrahim alaihissalam dan bahwa beliau adalah imam mutlak.
  • Kaidah tentang orang yang diuji dalam jalan Allah dan bersabar.
  • Risalah tentang pemisahan antara Allah Subhanahu dan makhluk-Nya. Sekitar empat puluh lembar.
  • Kaidah tentang ash-shafh al-jamil (pemaafan yang baik), al-hajr al-jamil (hijrah yang baik), dan ash-shabr al-jamil (kesabaran yang baik).
  • Kaidah tentang keterkaitan iman dengan ihtisab (mengharap pahala).
  • Risalah tentang sabda: “Aku diperintahkan untuk berbicara kepada manusia sesuai kadar akal mereka” apakah ini dari perkataan Nabi shallallahu alaihi wasallam.
  • Kaidah dalam bantahan terhadap ahli ittihad (paham kesatuan wujud). Ini adalah jawaban kepada ath-Thufi. Dalam satu jilid ringkas.
  • Risalah tentang ushul ad-din (pokok-pokok agama) untuk al-Adawiyah. Sekitar empat puluh lembar.
  • Risalah tentang ushul untuk penduduk Jilan. Sekitar lima puluh lembar.
  • Risalah untuk penduduk Qubrus yang berisi kaidah-kaidah agama mengenai ushul, sekitar tiga puluh lembar.
  • Kaidah tentang hal-hal yang berkaitan dengan wasilah kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan menunaikan hak-hak wajib kepadanya atas umatnya di setiap zaman dan tempat, serta penjelasan kekhususannya yang membedakannya dari seluruh alam, dan penjelasan keutamaan umatnya atas seluruh umat.
  • Kaidah yang berkaitan dengan kesabaran yang terpuji dan yang tercela.
  • Kaidah yang berkaitan dengan rahmat Allah dalam mengutus Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan bahwa pengutusan beliau adalah nikmat yang paling agung.
  • Kaidah tentang syukur kepada Allah.
  • Risalah tentang keadaan al-Hallaj, dan menolak perdebatan yang terjadi dengannya.
  • Kaidah tentang umrah Makkiyah dan apakah yang lebih utama bagi orang yang mukim dan penduduk Makkah adalah berumrah atau thawaf. Sekitar empat puluh lembar.
  • Kaidah tentang pembahasan al-Mursyidah.
  • Kaidah tentang perkataan al-Junaid ketika ditanya tentang tauhid lalu beliau berkata: “Memisahkan yang baharu dari yang qadim.”
  • Kaidah tentang tawakal dan ikhlas. Sekitar empat puluh lembar.
  • Kaidah tentang tasbih, tahmid, dan tahlil.
  • Kaidah tentang bahwa Allah Taala menciptakan makhluk hanya untuk beribadah kepada-Nya.
  • Kaidah tentang tauhid asy-syahadah.
  • Al-Qawaid al-Khamsah (Lima Kaidah).
  • Kaidah tentang Qadariyah dan bahwa mereka terbagi tiga golongan: Majusiyah, Syirkiyah, dan Iblisiyah.
  • Kaidah dalam menjelaskan metode al-Quran dalam dakwah dan petunjuk kenabian serta apa yang ada di antara metode tersebut dengan metode kalam dan metode sufi.
  • Kaidah tentang wasiat Luqman kepada anaknya.
  • Kaidah tentang tasbih makhluk dari benda-benda mati dan lainnya, apakah dengan lisan al-hal atau tidak.
  • Kaidah tentang siyahah (perjalanan) dan uzlah (pengasingan diri), serta tentang kefakiran dan tasawuf. Apakah keduanya nama syar’i.
  • Kaidah tentang masyaikh ilmu dan masyaikh fuqara, mana yang lebih utama.
  • Kaidah tentang seseorang disiksa karena dosa orang lain.
  • Risalah tentang al-Abbas dan Bilal, siapa yang lebih utama.
  • Risalah untuk penduduk Tadmur.
  • Kaidah tentang bahwa yang mengumpulkan kebaikan adalah keadilan, dan kejahatan adalah kezaliman. Serta tingkatan dosa di dunia.
  • Kaidah tentang keutamaan sepuluh hari Dzulhijjah. Dan menyebutkan sekitar dua puluh keutamaan.
  • Kaidah tentang risalah Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada jin dan manusia.
  • Kaidah tentang kembalinya bidah kepada cabang dari cabang-cabang kekufuran.
  • Kaidah tentang ijma. Dan ini memiliki tiga bagian.
  • Risalah tentang orang yang mengatakan bahwa sebagian masyaikh menghidupkan orang mati.
  • Syarah al-Umdah. Dalam empat jilid.
  • Syarah al-Muharrar.
  • Ash-Sharim al-Maslul ala Syatim ar-Rasul (Pedang Terhunus atas Pencela Rasul).
  • Iqtidha ash-Shirath al-Mustaqim fi ar-Radd ala Ashhab al-Jahim (Mengikuti Jalan yang Lurus dalam Membantah Penghuni Neraka).
  • At-Tahrir fi Mas’alah al-Khidhr (Penjelasan dalam Masalah Khidir). Satu jilid.
  • Daf’ al-Malam an al-A’immah al-A’lam (Menolak Celaan dari Para Imam yang Agung). Satu jilid ringkas.
  • Kaidah tentang apa yang disangka sebagai pertentangan antara nash dan ijma.

4 – Kitab-Kitab Fikih

  • Kaidah tentang kembalinya orang yang tertipu kepada orang yang menipunya.
  • Kaidah tentang sunnah dan bidah, dan bahwa setiap bidah adalah kesesatan.
  • As-Siyasah asy-Syar’iyyah li Ishlah ar-Ra’i wa ar-Ra’iyyah (Politik Syariat untuk Memperbaiki Pemimpin dan Rakyat).
  • Risalah tentang keutamaan imam yang empat, dan apa yang membedakan setiap imam dalam keutamaan.
  • Kaidah tentang kadar kaffarah dalam sumpah. Sekitar lima puluh lembar.
  • Kaidah tentang lafaz haqiqah dan majaz, dan pembahasan dengan al-Amidi. Sekitar delapan puluh lembar.
  • Risalah tentang sembelihan Ahli Kitab.
  • Risalah tentang firman-Nya: “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya” (An-Najm ayat 39).
  • Risalah tentang menghadiahkan pahala kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam.
  • Risalah tentang sabda: “Sebagaimana Engkau telah bershalawat atas Ibrahim” dan bahwa yang diserupakan dengannya (musyabbah bih) lebih tinggi dari yang menyerupakan (musyabbah).
  • Risalah jawaban masalah-masalah Ashfahan.
  • Risalah jawaban masalah-masalah Andalus.
  • Risalah jawaban pertanyaan ar-Rahbah.
  • Risalah jawaban masalah-masalah ash-Shalt.
  • Risalah tentang tanah mati jika dihidupkan lalu kembali mati apakah boleh dimiliki lagi.
  • Risalah tentang larangan mengikuti hari raya orang Nasrani.
  • Kaidah tentang sucinya tanah dengan matahari dan angin.
  • Kaidah tentang masalah-masalah nazar dan dhaman (jaminan).
  • Kaidah tentang cairan-cairan dan air serta hukum-hukumnya sekitar enam puluh lembar.
  • Kaidah tentang cairan-cairan dan bangkai jika jatuh ke dalamnya. Sekitar dua puluh lembar.
  • Kaidah tentang wakaf, syarat-syarat wakaf, dan dalam menggantinya dengan yang lebih baik, serta menjualnya ketika tidak bisa dimanfaatkan.
  • Kaidah tentang keutamaan mazhab Ahmad, dan menyebutkan kebaikan-kebaikannya. Dalam satu jilid.
  • Kaidah tentang bahwa jenis perbuatan yang diperintahkan lebih utama dari jenis meninggalkan yang dilarang. Dalam satu jilid ringkas.
  • Kaidah tentang sucinya kencing hewan yang boleh dimakan dagingnya. Sekitar tujuh puluh lembar. Dari tiga puluh hujjah.
  • Kaidah tentang perjanjian damai dengan orang kafir yang mutlak dan yang terbatas.
  • Kaidah tentang darah syahid dan tinta ulama.
  • Kaidah tentang wajibnya menyebut nama Allah atas sembelihan dan buruan.
  • Kaidah tentang bahwa setiap amal saleh dasarnya adalah mengikuti Nabi shallallahu alaihi wasallam.
  • Kaidah tentang keutamaan mazhab penduduk Madinah. Sekitar lima puluh lembar.
  • Kaidah tentang pembatal-pembatal wudhu.
  • Kaidah tentang ijtihad dan taqlid.
  • Kaidah tentang jihad dan anjuran kepadanya.
  • Kaidah tentang orang yang salah dalam ijtihad apakah berdosa, dan apakah yang benar hanya satu.
  • Kaidah tentang apa yang halal dan haram dari makanan.
  • Kaidah tentang keumuman nash untuk hukum-hukum.
  • Kaidah tentang thawaf haid.
  • Kaidah tentang apa yang disyariatkan Allah dengan lafaz umum, apakah disyariatkan dengan lafaz khusus.
  • Kaidah tentang permainan catur.
  • Kaidah tentang pembatal-pembatal puasa.
  • Kaidah tentang perjalanan yang dibolehkan di dalamnya qashar dan berbuka.
  • Kaidah tentang jamak antara dua shalat.
  • Kaidah tentang apa yang disyaratkan untuknya bersuci.
  • Kaidah tentang waktu-waktu shalat.
  • Kaidah tentang gereja-gereja, dan mana yang boleh dirobohkan darinya. Dalam satu jilid.
  • Keumuman nash dalam fardhu-fardhu.
  • Kaidah tentang taqlid mazhab tertentu apakah wajib atas orang awam atau tidak.
  • Kaidah tentang mencukur kepala apakah boleh selain dalam manasik haji.
  • Kaidah tentang apa yang halal dan haram karena nasab, perkawinan, dan persusuan.
  • Kaidah tentang kakek, apakah boleh memaksa gadis dalam pernikahan.
  • Kaidah tentang mengeraskan bacaan basmalah.
  • Kaidah tentang membaca al-Quran di belakang imam.
  • Kaidah tentang orang yang berangkat pagi dan lebih pagi, serta mandi dan memandikan.
  • Kaidah tentang celaan terhadap waswas.
  • Kaidah tentang minuman nabiz dan yang memabukkan.
  • Kaidah tentang sabda beliau alaihish shalatu wassalam: “Kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah.”
  • Kaidah tentang hisbah (pengawasan).
  • Kaidah tentang al-Mas’alah as-Surujiyyah.
  • Kaidah tentang penyelesaian lingkaran. Dan masalah-masalah aljabar dan muqabalah.

5 – Beliau Memiliki Wasiat-wasiat, di Antaranya

  • Wasiat untuk Ibnu al-Muhajiri.
  • Wasiat untuk at-Tujibi.
  • Wasiat untuk Abu al-Qasim Yusuf as-Sabti.

6 – Beliau Memiliki Ijazah-ijazah, di Antaranya

  • Ijazah untuk penduduk Sabtah, beliau menyebutkan di dalamnya yang beliau dengar.
  • Ijazah yang beliau tulis untuk sebagian penduduk Tabriz.
  • Ijazah untuk penduduk Gharnathah.
  • Ijazah untuk penduduk Ashfahan.

7 – Beliau Memiliki Surat-surat yang Berisi Ilmu-ilmu

  • Ar-Risalah al-Madaniyyah.
  • Ar-Risalah al-Mishriyyah.
  • Surat yang beliau tulis kepada penduduk Baghdad.
  • Surat kepada penduduk Basrah.
  • Surat yang beliau tulis kepada Qadhi as-Saruji al-Hanafi.
  • Ar-Risalah al-Adawiyyah yang beliau tulis kepada rumah Syaikh Adi bin Musafir.
  • Surat yang beliau tulis kepada rumah Syaikh Jakir.
  • Surat yang beliau tulis kepada penguasa Qubrus dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan kaum muslimin.
  • Surat kepada Bahrain dan raja-raja Arab.
  • Surat untuk penduduk Irak.
  • Surat kepada raja Mesir.
  • Surat kepada raja Hamah.
  • Risalah al-Arsy.
  • Risalah Taksir al-Ahjar (Memecah Batu-batu).
  • Risalah tentang al-Mas’alah al-Harfiyyah.
  • Risalah tentang penetapan keberadaan jiwa setelah kematian.
  • Syarah doa Abu Bakar radhiyallahu anhu.
  • Ad-Durr al-Mantsur fi Ziyarah al-Qubur (Mutiara Bertaburan tentang Ziarah Kubur).
  • Syarah al-Aqidah al-Ashfahaniyyah.
  • Al-Furqan baina al-Haqq wa al-Bathil (Pembeda antara Kebenaran dan Kebatilan). Enam puluh lembar.
  • Risalah tentang pemaparan agama-agama saat kematian.
  • Risalah tentang perbandingan antara orang kaya yang bersyukur dan orang miskin yang sabar.

Selesai kitab “Daftar Karya Imam Ahmad bin Taimiyah” radhiyallahu anhu.

 

 

27 – Pasal Tentang Kabar Gembira yang Dilihat oleh Orang-Orang Saleh untuk Syekh Taqiyuddin Ahmad Ibnu Taimiyah Setelah Wafatnya, Semoga Allah Merahmatinya

Diriwayatkan dari Abu Abdillah Ibnu Rusyaiq dan lainnya

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

Allah Ta’ala berfirman: “Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (Yunus: 62-64)

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak tersisa setelahku dari kenabian kecuali mubasysyirat (kabar gembira).” Maka dikatakan: Wahai Rasulullah, apakah mubasysyirat itu? Beliau bersabda: “Mimpi yang saleh yang dilihat oleh seorang mukmin atau dilihat untuknya.”

Syekh Abu Abdillah Muhammad bin Rusyaiq Al-Maghribi Al-Maliki mengabarkan kepadaku bahwa Alauddin bin Aidughdi—dari sahabat-sahabat Syekh Taqiyuddin—melihat dalam mimpi sang Syekh sebelum wafatnya beberapa waktu, dan bahwa hari Kiamat telah terjadi, dan manusia berkumpul, dan turun dari langit seperti bungkusan. Maka dikatakan: Apa ini? Mereka berkata: Ini adalah pembebasan Ibnu Taimiyah dari neraka.

Dan Abu Abdillah yang telah disebutkan juga mengabarkan kepadaku: bahwa Saifuddin Taqsaba, budak Al-Bubakri—dan dia orang yang terpercaya—melihat dalam tidurnya bahwa hari Kiamat telah terjadi dan manusia berada dalam urusan yang besar, dan ada yang berkata: Telah wafat tiang Islam. Maka dia berkata kepada seseorang: Hari Kiamat telah terjadi. Maka orang itu berkata: Jika telah wafat tiang Islam, mengherankan kah terjadinya hari Kiamat! Dan aku mendengarnya dari ucapan orang yang disebutkan tadi.

Dan Abu Abdillah mengabarkan kepadaku: bahwa seorang lelaki saleh melihat sang Syekh dalam tidurnya, lalu bertanya: Apa yang Allah perbuat terhadapmu? Dia berkata: Dia mengampuniku dan mengampuni siapa yang menshalatkan jenazahku.

Dan dia juga mengabarkan kepadaku: bahwa seorang lelaki terpercaya mengabarkan kepadanya bahwa dia melihat sang Syekh dalam tidurnya, lalu berkata: Wahai Sayyidi, bukankah engkau sudah wafat? Maka dia berkata: Dan aku hidup. Allah Ta’ala berfirman: “Bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhan mereka dengan mendapat rezeki.” Dan dia membaca ayat tersebut (Ali Imran: 169).

Dan Abu Abdillah mengabarkan kepadaku: bahwa seorang lelaki saleh mengabarkan kepadanya bahwa dia… kematian… tanpa dia mengetahui tentang kematiannya, bahwa sang Syekh berada di suatu tempat dan burung-burung besar turun dari langit kepadanya kemudian naik.

Dan Abu Abdillah mengabarkan kepadaku: bahwa seorang lelaki saleh dari penduduk Maidan Al-Hasha melihat pada malam wafatnya sang Syekh bahwa di langit ada pelita-pelita besar yang banyak, dan tidak ada tali yang memegangnya, kemudian dia melihat tiang yang besar dan bercahaya dari bumi hingga ke langit, cahayanya telah menutupi dari bumi hingga langit dan sekitarnya. Ketika pagi tiba dikatakan: Sang Syekh telah wafat. Maka terlintas dalam hatinya bahwa mimpi itu untuknya, dan itu terjadi tengah malam pada waktu wafatnya.

Dan dia juga menceritakan kepada kami: bahwa seorang wanita salehah melihat bahwa seorang lelaki sedang tidur di bumi dan telah turun kepadanya dari langit cahaya yang menutupinya dan terangkat, dan setiap kali terangkat, cahaya itu semakin kuat hingga naik ke langit.

Dan seorang lelaki saleh melihat sang Syekh setelah wafatnya lalu bertanya kepadanya: Apa yang Allah perbuat terhadapmu? Dan dia bersumpah kepadanya. Maka dia berkata: Semua kebaikan. Dan dia mengungkapkan dengan ungkapan-ungkapan fasih tentang makna-makna ini, dan di atas kepalanya ada mahkota sutera seperti yang dipakai para pemimpin. Maka dia berkata: Ini sutera dan engkau dulu melarangnya? Maka dia berkata: Allah Ta’ala memakainya kepadaku karena kesabaranku atas penjara. Ibnu Nuruddin Ibnu Ash-Shaigh menceritakannya kepadaku.

Seorang lelaki saleh melihat pada malam wafatnya sang Syekh bahwa dia berada di sebuah rumah dan di dalamnya ada wanita cantik yang memakai mutiara dan semacamnya dan punggungnya menghadapnya, dan di sana ada wanita tua, dan sang Syekh membawa sesuatu dan dia naik dengannya di tangga. Maka dia bertanya kepada wanita itu tentang apa yang dibawanya? Maka dia berkata: Ini gandumnya, dia ingin menggilingnya untuk mencukupi kebutuhannya. Maka siapa yang memiliki gandum menggiling dan mencukupi kebutuhannya, dan siapa yang tidak memiliki sesuatu tidak akan tercukupi dengan apapun. Atau sebagaimana yang dia katakan. Orang-orang terpercaya menceritakannya kepadaku.

Dan seorang lelaki terpercaya di antara sahabat kami seperti Syekh Syamsuddin Muhammad bin Ruzaiz dan lainnya melihat bahwa seorang lelaki Nasrani sedang pergi. Maka orang Muslim berkata kepadanya: Ke mana? Maka dia berkata: Kepada Al-Masih ‘alaihissalam. Maka dia berkata: Aku lebih berhak dengannya. Maka dia pergi bersamanya kepadanya. Lalu dia melihatnya dalam keadaan yang baik. Maka orang yang melihat berkata dalam hatinya: Seandainya aku melihat Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga aku melihatnya dan melihat kedudukannya di sisi Al-Masih ‘alaihissalam. Maka datanglah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu Al-Masih ‘alaihissalam berdiri dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di tempatnya, dan beliau dalam keadaan yang sangat megah, wajahnya bagus dan penampilannya bagus. Maka Al-Masih ‘alaihissalam mencium tangannya dan kepalanya dan duduk di sampingnya. Dan orang yang melihat bertanya: Apa yang engkau bawa? Maka dia berkata: Kurma basah. Maka beliau mengambilnya darinya dan memberikannya kepada Al-Masih. Dia berkata: Maka aku berkata kepada orang Nasrani: Lihatlah pengagungan nabimu terhadap Nabi kami. Maka dia berkata: Ya. Ketika mereka dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba datang sekelompok orang dari belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan sang Syekh duduk di antara mereka atau di depan mereka. Ketika mereka mendekat, sang Syekh maju dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan berkata: Selamat datang wahai Ahmad. Kemudian beliau memberikan kurma basah kepadanya. Ketika mereka dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba datang sekelompok orang dari hadapan mereka, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menoleh kepada mereka. Maka Syekh Taqiyuddin berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka ini dari umatmu. Maka beliau berkata: Tidak, jika mereka dari umatku, mereka akan berada di atas apa yang engkau berada di atasnya.

Shalahuddin Yusuf bin almarhum Alauddin bin saudara Ash-Shahib Taqiyuddin bin Muhajir At-Tikritiy menceritakan kepadaku: bahwa dia melihat sang Syekh setelah wafatnya satu malam, dan dia berdiri di pintu madrasahnya di Al-Qassa’in, dan dia setelah berdiri berjalan-jalan. Maka orang yang melihat menundukkan kepalanya untuk mencium kakinya, namun dia mencegahnya dari itu, dan berkata kepadanya: Bagaimana keadaan sang Syekh yang saleh? Maka dia berkata kepadanya: Bagaimana keadaan orang yang berpisah denganmu dan melihat hari yang menakutkan ini—yaitu hari pemakamannya? Maka sang Syekh berkata kepadanya: Bukankah itu hari yang cemerlang? Maka dia berkata kepadanya: Wahai Sayyidi, tidak pernah terlihat yang seperti itu sama sekali, dan musuh-musuhmu dan orang yang mencintaimu sepakat bahwa mereka tidak pernah melihat yang sepertinya. Maka dia tersenyum dan meletakkan tangannya di bahunya dan menggoyangkannya dan berkata: Wahai fulan, tahukah engkau hari yang lebih cemerlang darinya? Maka dia berkata kepadanya: Tidak demi Allah. Maka dia berkata: Hari masuknya ruh ke Firdaus. Maka dia berkata: Apakah engkau melihat kerumunan yang banyak ini? Maka dia berkata: Ya. Maka dia berkata kepadanya: Berlipat ganda dari mereka ini dari para malaikat di depan ruh dengan lilin menuju Firdaus. Maka dia merasa cemas karena perkataan itu. Kemudian dia berkata: Tidak ada yang dimanjakan kecuali ruh dan tidak ada yang diazab kecuali ruh. Maka dia terbangun dengan ketakutan kemudian berteriak.

Wanita salehah Ummu Umar Syahla’ binti Ibrahim bin Shalih Al-Muqawwim mengabarkan kepada kami: bahwa dia melihat pada malam Kamis tanggal delapan Dzulhijjah tahun tujuh ratus dua puluh delapan: seolah-olah Syekh Taqiyuddin Ahmad Ibnu Taimiyah berada di Baitul Maqdis dan dia berdiri memberikan nasihat, dan kebanyakan yang ada di sana adalah wanita, dan bahwa dia bertanya kepada ibunya—yang telah wafat sebelum itu—: Siapa ini? Maka dia berkata: Wahai anakku, ini adalah Ibnu Taimiyah. Dia berkata: Maka aku datang kepadanya dan memintanya untuk mengulurkan tangannya di atas tanganku, dan sebelum itu beberapa tahun tangannya tidak bisa menutup jari-jarinya dan tidak bisa mencapai telapak tangannya. Dia berkata: Maka dia mengusapkan tangannya di atas tanganku. Dia berkata: Maka aku terbangun dan tangannya sehat dan selamat. Dan anak-anakku datang mendengar suaraku dan aku berkata: Wahai kekasih-kekasih Allah, wahai para lelaki Allah. Dan dia memperlihatkan kepada kami telapak tangannya bagaimana keadaannya, dan kami melihat telapak tangannya dan jari-jarinya dalam keadaan sehat, dan dia membuka dan menutupnya dan kami melihat tanpa kesulitan.

Dan dia adalah wanita dari orang-orang terpandang, ucapannya menunjukkan bahwa dia bukan termasuk orang yang berbohong dan tidak menghendaki itu sebagai akhlak, dan penampilannya tidak menunjukkan hal itu, dan sekelompok orang memujinya dan memuji agamanya.

Dan dia mengabarkan kepada kami tentang itu di rumah salah seorang pemimpin di Damaskus pada hari Ahad tanggal delapan belas Dzulhijjah tahun tujuh ratus dua puluh delapan, dan mendengar ucapannya sekelompok orang, yaitu:

Syekh Imaduddin Ismail bin Katsir Asy-Syafi’i, menantu Syekh Jamaluddin Al-Mizzi. Dan Syekh Nuruddin Ali bin Muhammad bin Abdul Ghaffar Asy-Syafi’i yang dinisbahkan kepada Abu Muslim Al-Khurasani. Dan Syekh Zainuddin Umar bin Qasim bin Muhammad bin Khalid Al-Hanbali. Dan Alauddin Ali bin Abdullah yang dikenal dengan Ibnu Baduwah. Dan Amir Shalahuddin Yusuf bin Ali bin Yusuf At-Tikriti. Dan Muhammad bin Abbad Asy-Syuja’i, semoga Allah memaafkannya.

 

 

28 – Masalik al-Absar fi Mamalik al-Amsar

Karya Allamah Ahmad bin Yahya Ibnu Fadlullah al-Umari (749 H)

Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Abi al-Qasim al-Harrani, sang alim, hafidz, hujjah, mujtahid, mufassir, Syaikhul Islam yang langka di zamannya, pemimpin para zahid, Taqiyuddin Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah.

Ia adalah lautan dari sisi manapun engkau datang kepadanya, dan bulan purnama dari arah manapun engkau mendatanginya. Para leluhurnya berlari untuk mencapai kemuliaan yang tidak pernah mereka puaskan, dan tidak berhenti sebagai pelari yang kelelahan yang beristirahat dari kelelahannya, dalam pencarian yang tidak puas dengan tujuan akhir, dan tidak berakhir dengan batasan. Ia menyusu dari buah dada ilmu sejak disapih, dan wajah fajar terbit untuk menyamainya lalu ditampar, dan memotong malam dan siang terus-menerus, dan mengambil ilmu dan amal sebagai dua sahabat, hingga membuat para pendahulu lupa dengan petunjuknya, dan menjauhkan para pengganti dari mencapai kejauhan jaraknya.

Allah mematangkan satu urusan yang terus dijagaNya … Dua pedangnya berjalan di dalamnya: pedang dan pena

Dengan semangat yang jejak telapak kakinya di Pleiades … Dan tekad yang tidak mengenal lelah dalam kebiasaannya

Padahal ia dari keluarga yang melahirkan para ulama di masa lampau, dan menunda kematian para pembesar selama bulan-bulan yang terkenal, maka ia menghidupkan kembali jejak keluarganya yang lama ketika telah terhapus, dan memetik dari cabangnya yang segar apa yang ia tanam, dan menjadi tanda di dalam keutamaannya kecuali bahwa ia adalah tanda penjagaan. Kesulitan menghadangnya maka ia singkirkan, dan lautan menentangnya maka ia dangkalkan, kemudian ia menjadi umat sendirian, dan sendiri hingga turun ke liang lahatnya. Ia merendahkan setiap orang besar dari para sejawat, dan memadamkan setiap yang lama dari penghuni halaman, dan tidak ada dari mereka kecuali yang lari darinya seperti larinya burung unta, dan mengecil di hadapannya seperti kecilnya penghutang.

Tidaklah sebagian manusia kecuali seperti … Sebagian kerikil dengan permata merah

Ia datang di zaman yang dipenuhi para ulama, penuh dengan bintang-bintang langit, berombak di kedua sisinya lautan-lautan yang luas, dan terbang di antara kedua cakrawalanya burung-burung rajawali yang hitam, dan bersinar di majelisnya bulan-bulan yang gelap, dan dada-dada tombak, dan bangkit pasukan barisan, dan mengaum singa-singa hutan, kecuali bahwa fajarnya memudarkan bintang-bintang itu, dan lautannya menenggelamkan awan-awan itu, maka tombaknya yang kecokelatan menaungi bukit-bukit itu, dan kelebihannya mengatasi binatang-binatang buas itu, kemudian barisan dipersenjatai untuknya maka ia hancurkan barisan-barisan mereka, dan kekang hidung mereka, dan telanlah kolam mereka yang tenang oleh sungai-sungai kecilnya, dan cabut gunung yang menjulang batu-batu besarnya, dan padamkan nafas mereka anginnya, dan redupkan percikan api mereka pelita-pelitanya.

Ia maju sebagai penunggang di depan mereka sebagai imam … Dan seandainya tidak ada ia, mereka tidak akan menunggang di belakang

Maka ia kumpulkan berbagai mazhab yang berserakan, dan berbagai pendapat yang tersebar, dan ia pindahkan dari para imam ijmak dan siapa saja selain mereka mazhab-mazhab mereka yang berbeda dan menghadirkannya, dan menggambarkan bentuk-bentuk mereka yang telah hilang dan menghadirkannya, seandainya Abu Hanifah merasakan zamannya dan menguasai urusannya niscaya ia mendekatkan masanya kepadanya, atau Malik niscaya ia jalankan kuda Asyhabnya di belakangnya meskipun tersandung, atau asy-Syafii niscaya ia berkata: andai ini adalah anak hamba sahaya bagi ibuku dan andai aku adalah ayahnya, atau asy-Syaibani putra Hanbali niscaya ia tidak menyalahkan kedua pipinya jika menjadi uban karena sangat kagum, bahkan Dawud azh-Zhahiri dan Sinan al-Bathini niscaya keduanya mengira pembuktiannya dari apa yang ia serukan, dan Ibnu Hazm dan asy-Syahristani niscaya masing-masing dari mereka menghimpun penyebutannya sebagai umat dalam golongannya, dan al-Hakim an-Naisaburi dan al-Hafizh as-Silafi niscaya yang ini menambahkannya pada istidraknya dan yang ini pada perjalanannya.

Fatwa-fatwa datang kepadanya dan ia tidak menolaknya, dan menghadap kepadanya maka ia menjawabnya dengan jawaban-jawaban seolah-olah ia sedang duduk untuknya mempersiapkannya.

Selamanya di ujung lidah jawabannya … Seolah-olah itu lontaran dari hujan

Ia pergi pagi hari dengan dahi yang memukul musuhnya … Dan pulang sore hari mengakui sebagai yang hina yang bersalah

Sungguh telah bersatu melawannya kelompok-kelompok musuh maka mereka terjerumus ketika jantan untanya meraung, dan terkalahkan ketika lebahnya berdengung untuk mengumpulkan madu. Ia diangkat kepada penguasa berkali-kali dan dituduh dengan dosa-dosa besar, dan lingkaran-lingkaran mengincarnya, dan diusahakan agar ia ditangkap karena kejahatan, dan dengki kepadanya orang yang tidak mencapai usahanya dan banyak maka curiga, dan mengadu dan tidak lebih dari bahwa ia menggunjing.

Dan diusir dari negerinya suatu kali ke Mesir kemudian ke Alexandria, dan suatu kali ke penjara benteng di Damaskus, dan di semuanya ia disimpan di dalam penjara-penjara, dan disengat oleh malaikat kematian, dan ia tetap menulis lembaran-lembarannya di atas ilmu, dan menyimpan hadiah-hadiahnya, dan tidak ada antara dia dan sesuatu kecuali menulisnya, dan menghiasinya meskipun hanya satu orang yang mendengar dan memberinya, hingga ujung-ujung negeri meminta petunjuk dari kemuliaannya, dan celah-celah wilayah memandang kehormatannya, hingga terakhir kali mencabut nyawanya dari penjaranya burung kematian, dan menariknya ke jurang kemalangan.

Dan sebelum kematiannya ia telah dicegah dari tinta dan pena, dan dicap di hatinya darinya stempel kepedihan, maka itu adalah awal penyakitnya dan munculnya gejalanya, hingga turun ke padang kuburan, dan meninggalkan tulang belakang mimbar, maka ia mati atau lebih tepatnya ia hidup, dan diketahui kadarnya karena seperti dia tidak pernah terlihat.

Dan hari pemakamannya adalah hari yang disaksikan, negeri sempit dengannya beserta luarnya, dan teringat dengannya awal dan akhir musibah, dan tidak ada yang lebih besar darinya sejak ratusan tahun jenazah yang diangkat di atas leher, dan terinjak dalam kerumunannya tumit-tumit, dan berjalan terangkat di atas kepala-kepala, diikuti oleh jiwa-jiwa, dipandu air mata, dan diikuti helaan nafas, dan berkata kepadanya umat-umat: jangan hilang dari yang gaib, dan untuk pena-penanya yang bermanfaat: jangan Allah jauhkan kalian dari pohon-pohon.

Dan dalam masa apa yang diambil darinya dalam ucapannya dan dilemparkan ke dalam lubang penahannya, tidak dingin dahaganya dengan mempertemukan antara dia dan lawan-lawannya dengan perdebatan, dan penelitian di mana mata-mata memandang, bahkan hakim berinisiatif maka menghukum dengan menahannya, atau mencegahnya dari berfatwa, atau dengan hal-hal dari jenis cobaan ini, tidak setelah menegakkan bukti dan tidak mendahului tuntutan, dan tidak munculnya hujjah dengan dalil, dan tidak jelasnya jalan untuk harapan, dan ia menemukan untuk ini apa yang tidak bisa dihilangkan bahaya keluhannya, dan tidak memadamkan api penyakitnya.

Dan setiap orang yang meraih kemuliaan itu didenki

Seperti madunya si cantik yang berkata untuk wajahnya … Dengan dengki dan kebencian sesungguhnya itu buruk

Semua ini karena keunggulannya dalam keutamaan di mana para setara tertinggal, dan bersinarnya seperti pelita ketika pendapat-pendapat gelap, dan keberdirian nya dalam menolak hujjah Tatar, dan menyerangnya, dan pedang-pedang mereka mengalir deras gelombang serangan, hingga ia duduk kepada Sultan Mahmud Ghazan di mana singa-singa berkumpul di hutan mereka, dan jantung-jantung jatuh ke dalam tubuh mereka, dan api menemukan kelemahan dalam menyalanya, dan pedang-pedang takut dalam ketajamannya, takut dari singa pembunuh itu, dan Namrudz yang angkuh itu, dan ajal yang tidak bisa ditolak dengan tipu daya orang yang menipu, maka ia duduk kepadanya dan mengisyaratkan dengan tangannya ke dadanya, dan menghadapinya dan menolak ke lehernya, dan meminta darinya doa, maka ia angkat kedua tangannya dan berdoa, doa orang yang adil kebanyakannya atasnya, dan Ghazan mengamini doanya dan ia menghadap kepadanya. Kemudian setelah pertemuan buruk ini, dan pertengkaran terang-terangan, ia lebih besar di dada Ghazan dan Mongol dari setiap orang yang naik bersamanya kepada mereka, dan mereka adalah para pendahulu ulama di masa itu, dan orang-orang yang berhak untuk ketinggian derajat.

Ini dengan apa yang ia miliki dari jihad di jalan Allah yang tidak membuatnya takut di dalamnya jejak tombak, dan tidak membuatnya sedih di dalamnya tingginya tangisan, medan-medan perang yang ia saksikan, dan kelompok-kelompok serangan yang ia bergaul dengannya, dan kilatan-kilatan pedang yang ia hadapi, dan sempit-sempitnya tombak yang menghimpunnya, dan jenis-jenis musuh yang keras yang ia masuki bersamanya gelombang-gelombang, dan menanggung buah-buahnya yang berbeda, dan memotong perdebatannya lisannya yang kuat, dan pertempurannya ketajaman tombaknya, ia berdiri dengannya dan bersabarnya, dan diuji dengan yang kecilnya dan menanggung yang besarnya, dan ahli bid’ah yang ia berdiri dalam melawannya, dan berusaha dalam menurunkan puncaknya, dan menyelisihi agama-agama yang ia jelaskan salah takwilnya, dan lemahnya alasannya, dan diamkan dengung lalat di hidung kepala mereka dengan kesesatan, hingga mereka tidur di tempat tidur ketundukan, dan berdiri dengan kaki mereka berjatuhan untuk jatuh, dengan dalil-dalil yang lebih tajam dari pedang, dan lebih lengkap dari langit-langit, dan lebih jelas dari belahan fajar, dan lebih mengumpulkan dari belahan tombak.

Jika ia melompat di wajah kesulitan maka robek … Di atas pundaknya baju besi dan bertebaran besi rantai

Kecuali bahwa takdir yang mendahului menjatuhkannya dalam kesalahan masalah-masalah, dan salah kesalahan yang tidak aman darinya dengan banyaknya pembicara, dan aku kira – dan Allah mengampuninya – dipercepat baginya di dunia pembalasan, dan diambil bagiannya dari cobaan umumnya dan khusus untuknya, dan itu karena menurunkan derajat sebagian pendahulu ulama, dan merobohkan banyak kaidah dari hukum-hukum orang terdahulu, dan sedikit penghormatan untuk pembesar-pembesar, dan banyak mengkafirkan orang-orang fakir, dan merendahkan kebanyakan pendapat, dan mendekatkan orang-orang bodoh awam dan orang-orang yang suka bertengkar, dan apa yang ia fatwakan terakhir dalam dua masalah ziarah dan talak, dan menyebarkannya hingga berbicara di dalamnya orang yang tidak punya agama dan tidak punya akhlak, maka ditimpakan sumbu-sumbu musuh atas pelitanya, dan dilepaskan tangan-tangan permusuhan dalam keteledorannya, dan menyuapi api mereka daun-daunnya, dan menunjukkan kepada kelompok mereka pemborosannya, maka tidak berhenti hingga ia mati kehormatannya dirampok, dan kehormatannya dihadiahkan, dan sifat-sifatnya retak, dan tulang-tulangnya tidak berkumpul, dan mungkin ini untuk kebaikan yang dikehendaki baginya, dan disiapkan baginya untuk baiknya tempat kembalinya.

Dan kesengajaannya untuk menyelisihi, dan menuju dengan selain jalan para pendahulu, dan penguatannya untuk masalah-masalah yang lemah, dan merobohkannya dari kepala-kepala yang tinggi, mengubah kedudukannya dari pikiran penguasa, dan menyebabkan baginya pengasingan dari tanah air, dan menembusnya anak panah lidah-lidah yang tajam, dan tombak-tombak celaan di tangan setiap yang melemparinya, maka karena ini tidak berhenti dikeruhkan atasnya sepanjang masanya, hampir tidak terbuka darinya sisi-sisi kesulitannya.

Ini dengan apa yang ia kumpulkan dari kehati-hatian, dan kepada apa yang ada padanya dari kemuliaan, dan apa yang ia raih dengan seluruh wujud dalam kedermawanan, datang kepadanya emas dan perak yang banyak dan kuda-kuda yang bagus dan binatang ternak dan tanaman, maka ia hibahkan semuanya, dan ia letakkan kepada orang-orang yang membutuhkan di tempatnya, tidak mengambil darinya sesuatu kecuali untuk menghibahkannya, dan tidak menyimpannya kecuali untuk menghabiskannya semuanya di jalan kebajikan, dan jalan orang-orang yang rendah hati bukan orang-orang yang sombong. Tidak condong kepadanya cinta syahwat, dan tidak dicintakan kepadanya dari tiga dunia selain shalat.

Dan sungguh raja-raja Jenghis Khan bersaing atasnya, dan mengarahkan utusan-utusan rahasianya kepadanya, dan mengirim bersungguh-sungguh dalam memintanya, maka diperdebatkan atasnya untuk urusan-urusan yang paling besar darinya takut pertobatannya, dan tidak berhenti atas ini dan semacamnya hingga ajalnya merobohkannya, dan pembawa kabar gembira surga datang mempercepatinya, maka ia pindah kepada Allah dan prasangka dengannya bahwa Dia tidak mempermalukan nya.

Ia lahir di Harran hari Senin tanggal sepuluh Rabiul Awal tahun enam ratus enam puluh satu, dan datang bersama ayahnya dan keluarganya ke Damaskus dan ia masih kecil, maka ia mendengar dari Ibnu Abdul Daim dan sekelompoknya, kemudian mencari sendirinya dengan membaca dan mendengar dari banyak orang, dan membaca sendirinya kitab-kitab, dan menulis catatan-catatan dan bukti-bukti, dan terus-menerus mendengar bertahun-tahun, dan bersungguh-sungguh dalam ilmu-ilmu.

Dan ia adalah orang yang paling cerdas, banyak hafalan sedikit lupa, hampir tidak ada yang ia hafal lalu lupakannya. Dan ia adalah imam dalam tafsir dan ilmu-ilmu Quran, mengetahui fiqh dan perbedaan fuqaha dan dua ushul dan nahwu dan apa yang berkaitan dengannya, dan bahasa dan mantiq dan ilmu astronomi dan aljabar dan muqabalah, dan ilmu hitung, dan ilmu ahli dua kitab dan ahli bid’ah, dan selain itu dari ilmu-ilmu naqliyah dan aqliyah. Dan tidak ada orang yang berbicara dengannya dalam satu bidang dari bidang-bidang kecuali mengira bahwa bidang itu adalah bidangnya. Dan ia adalah penghafal hadits, membedakan antara shahihnya dan lemahnya, mengetahui perawinya mendalami dari itu.

Dan ia memiliki karya tulis yang banyak dan ta’liq yang bermanfaat dan fatwa-fatwa yang mendalam dalam furu’ dan ushul, sempurna darinya sejumlah dalam fiqh dan hadits dan menolak bid’ah dengan Kitab dan Sunnah, seperti: kitab ash-Sharim al-Maslul ‘ala Muntaqis ar-Rasul, dan kitab Tabthil at-Tahlil, dan kitab Iqtidha ash-Shirath al-Mustaqim, dan kitab Ta’sis at-Taqdis dalam dua puluh jilid, dan kitab ar-Radd ‘ala Thawa’if asy-Syi’ah empat jilid, dan kitab Raf’ al-Malam ‘an al-A’immah al-A’lam, dan kitab as-Siyasah asy-Syar’iyyah, dan kitab at-Tashawwuf, dan kitab al-Kalim ath-Thayyib, dan kitab al-Manasik fi al-Hajj. Dan ia adalah orang yang paling mengetahui tentang sejarah, dan banyak dari karya tulisnya masih kasar belum dibersihkan.

Dan ayahnya meninggal dan ia masih pemuda, maka ia diberi jabatan syeikhul hadits di Dar al-Hadits as-Sukriyah, dan hadir kepadanya jamaah dari para tokoh, maka mereka berterima kasih atas ilmunya, dan memuji atasnya dan atas keutamaan-keutamaannya dan ilmu-ilmunya, hingga Syeikh Ibrahim ar-Raqi berkata:

Syeikh Taqiyuddin diambil darinya dan ditiru dalam ilmu-ilmu, maka jika panjang umurnya ia akan memenuhi bumi dengan ilmu, dan ia di atas kebenaran, dan pasti orang-orang memusuhinya, maka sesungguhnya ia pewaris ilmu kenabian.

Dan Ibnuz Zamlakani berkata: Sungguh telah diberi Ibnu Taimiyah tangan panjang dalam baiknya penulisan dan bagusnya ungkapan dan susunan dan pembagian dan penjelasan, dan sungguh Allah telah melunakkan baginya ilmu-ilmu sebagaimana melunakkan untuk Nabi Dawud besi. Kemudian ia menulis di atas sebagian karya tulis Ibnu Taimiyah dari syairnya bait-bait ini:

Apa yang dikatakan para penggambar tentangnya … Sedang sifat-sifatnya mulia dari dihitung

Ia adalah hujjah Allah yang mengalahkan … Ia di antara kita keajaiban zaman

Ia adalah tanda yang nyata dalam makhluk … Cahayanya melebihi fajar

Kemudian setan menimbulkan perselisihan di antara keduanya, dan hawa nafsu menguasai Ibnu Az-Zamlakani, sehingga ia berpihak kepadanya bersama orang-orang yang berpihak.

Ketika ia bepergian dengan pos cepat ke Kairo pada tahun tujuh ratus, ia menginap di rumah pamanku Ash-Shahib Syarafuddin semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya, dan ia mendorong untuk berjihad di jalan Allah, dan berbicara dengan keras, dan ditetapkan untuknya tunjangan setiap hari berupa satu dinar dan mahfiyah, dan didatangkan kepadanya sebuah bungkusan kain, namun ia tidak menerima sedikitpun dari itu.

Al-Qadhi Abu Al-Fath Ibnu Daqiq Al-Eid berkata: Ketika saya bertemu dengan Ibnu Taimiyah, saya melihat seorang lelaki yang semua ilmu ada di hadapan matanya, ia mengambil apa yang ia inginkan dan meninggalkan apa yang ia inginkan.

Syaikh kami yang alim, syaikh para ahli nahwu Abu Hayyan hadir di hadapannya dan berkata: Mataku tidak pernah melihat orang seperti dia. Kemudian Abu Hayyan memujinya secara spontan dalam majelis dengan perkataannya:

Ketika kami mendatangi Taqiyyuddin, tampaklah bagi kami… seorang dai kepada Allah yang sendirian tanpa pembantu Pada wajahnya dari tanda-tanda orang yang menemani… sebaik-baik makhluk, cahaya yang bulan pun kalah darinya Seorang ulama yang zamannya diliputi olehnya ulama… lautan yang mutiara-mutiara bertebaran dari ombaknya Ibnu Taimiyah bangkit membela syariat kami… seperti pembelaan pemimpin Taim ketika Mudhar membangkang Ia menampakkan kebenaran ketika jejaknya terhapus… dan memadamkan kejahatan ketika percikannya beterbangan Kami mendengar tentang seorang ulama yang akan datang, maka inilah… engkau adalah imam yang telah dinanti-nantikan

Saya katakan: Kemudian terjadi pembicaraan di antara keduanya yang di dalamnya disebutkan nama Sibawaih, maka Ibnu Taimiyah tergesa-gesa dalam perkataannya yang membuat Abu Hayyan membencinya, dan memutuskan hubungan dengannya karena hal itu, kemudian kebanyakan orang kembali mencela dia, dan menjadikan itu sebagai dosa yang tidak terampuni baginya.

Ketika Ghazan tiba di Damaskus, Ibnu Taimiyah keluar menemuinya bersama sekelompok orang-orang saleh Damaskus, di antaranya adalah teladan Asy-Syaikh Muhammad bin Qawam. Ketika mereka masuk menemui Ghazan, di antara perkataan Ibnu Taimiyah kepada penerjemah adalah: Katakan kepada Khan: Engkau mengaku sebagai muslim dan bersamamu ada qadhi, imam, syaikh, dan muazin sesuai yang sampai kepada kami, lalu engkau memerangi kami, padahal ayahmu dan kakekmu Hulagu adalah kafir dan tidak melakukan apa yang engkau lakukan, mereka berjanji lalu menepati, sedangkan engkau berjanji lalu berkhianat, dan berkata namun tidak menepati. Dan terjadilah dengannya bersama Ghazan, Qutlushyah, dan Bulay berbagai urusan dan peristiwa, ia bangkit dalam semuanya karena Allah, dan mengatakan kebenaran dan tidak takut kecuali kepada Allah.

Qadhi Al-Qudhah Abu Al-Abbas Ibnu Shashri mengabarkan kepada kami bahwa ketika mereka hadir di majelis Ghazan, makanan dihidangkan kepada mereka, maka mereka makan darinya kecuali Ibnu Taimiyah. Lalu dikatakan kepadanya: Mengapa engkau tidak makan? Ia menjawab: Bagaimana aku makan dari makanan kalian padahal semuanya dari apa yang kalian rampas dari kambing-kambing manusia, dan kalian masak dengan apa yang kalian potong dari pohon-pohon manusia. Kemudian Ghazan meminta doa darinya, maka ia berkata dalam doanya: Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa ia berperang hanya agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi dan jihad di jalan-Mu, maka kuatkanlah ia dan tolonglah ia, dan jika untuk kerajaan, dunia, dan bermegah-megahan, maka lakukanlah dan perbuatlah padanya. Ia mendoakan keburukan padanya sedangkan Ghazan mengaminkan doanya dan kami mengumpulkan pakaian kami karena takut ia dibunuh sehingga darahnya memercik. Kemudian ketika kami keluar, kami berkata kepadanya: Engkau hampir membinasakan kami bersamamu dan kami tidak akan menemanimu dari sini. Ia berkata: Dan aku pun tidak akan menemani kalian. Maka kami pergi sebagai kelompok dan ia tertinggal bersama orang-orang khusus yang bersamanya, lalu para khan dan amir mendengar kabar, mereka datang kepadanya dari segala penjuru, dan mereka saling menyusul untuk mendapatkan berkah dengan melihatnya, adapun ia tidak tiba kecuali dengan sekitar tiga ratus penunggang kuda dalam rombongannya, sedangkan kami, sekelompok orang keluar menyerang kami dan merampasi kami. Dan ia tidak membiarkan para penentangnya mencapai keinginan mereka untuk menyakitinya, dan berkata: Apa urusanku dengannya?

Qadhi Al-Qudhah Abu Abdullah Ibnu Al-Hariri berkata: Jika Ibnu Taimiyah bukan Syaikhul Islam, lalu siapa?

Kemudian setelah itu kedudukan Ibnu Taimiyah menguat di Syam hingga ia mencukur kepala-kepala dan melaksanakan hukuman had serta memerintahkan pemotongan dan pembunuhan. Kemudian muncul Asy-Syaikh Nashr Al-Manbiji dan menguasai para pemangku kekuasaan di Kairo, dan urusannya tersebar luas, maka dikatakan kepada Ibnu Taimiyah: Sesungguhnya ia penganut ittihad dan ia mendukung mazhab Ibnu Arabi dan Ibnu Sabiin. Maka ia menulis kepadanya sekitar tiga ratus baris mengingkarinya. Lalu Nashr Al-Manbiji berbicara dengan para qadhi Mesir tentang urusannya dan berkata: Ini adalah pembuat bidah, dan aku khawatir atas manusia dari keburukannya. Maka para qadhi memandang baik kepada para amir untuk memanggilnya ke Kairo dan mengadakan majelis untuknya. Maka diadakan untuknya majelis di Damaskus, namun Nashr Al-Manbiji tidak rela dan berkata kepada Ibnu Makhluf: Katakan kepada para amir: Sesungguhnya orang ini ditakutkan bahayanya terhadap negara, sebagaimana yang terjadi pada Ibnu Tumarat di negeri Maghrib. Maka ia dipanggil oleh Al-Afram, wakil Damaskus, lalu diadakan untuknya majelis kedua dan ketiga, karena masalah aqidah Hamawiyah, kemudian perkara tersebut mereda hingga masa Al-Jasyankar. Lalu Asy-Syaikh Nashr meyakinkannya bahwa Ibnu Taimiyah akan mengeluarkan mereka dari kekuasaan dan mendirikan yang lain, maka ia dipanggil ke negeri Mesir. Wakil Syam menolak dan berkata: Sungguh telah diadakan untuknya dua majelis dengan kehadiranku dan kehadiran para qadhi dan fuqaha, dan tidak tampak darinya sesuatu. Maka utusan berkata kepada wakil Damaskus: Aku menasihatimu, dan telah dikatakan bahwa ia mengumpulkan orang-orang kepadamu dan mengadakan baiat untuk mereka. Ia panik karenanya, dan mengirimnya ke Kairo pada bulan Ramadhan tahun tujuh ratus lima, dan menulis bersamanya surat kepada Sultan, dan menulis bersamanya berita acara yang berisi tanda tangan sekelompok qadhi dan para tokoh saleh dan ulama dengan gambaran apa yang terjadi di dua majelis tersebut, dan bahwa tidak terbukti atasnya sesuatu di keduanya, dan tidak dilarang dari memberi fatwa. Namun tidak dihiraukan sedikitpun dari itu, dan ia dipenjara di Iskandariah untuk beberapa waktu kemudian kembali ke Damaskus.

Diceritakan dari keberaniannya dalam peperangan, peristiwa Syaqhab dan peristiwa Kisrawan, hal-hal yang tidak pernah didengar kecuali dari para ksatria tangguh dan pahlawan pertempuran dan penunggang perang, terkadang ia langsung terlibat dalam pertempuran, dan terkadang ia memotivasi untuk berperang. Ia naik pos cepat menemui Mahna bin Isa dan memanggilnya untuk jihad, dan naik setelahnya menemui Sultan dan menggerakkannya, dan berhadapan dengan perkataan keras terhadap para amir dan tentaranya. Ketika Sultan tiba di Syaqhab, ia menemuinya hingga ke Qarn Al-Harrah, dan terus menyemangatinya dan menenangkannya. Ketika Sultan melihat banyaknya Tatar ia berkata: Wahai Khalid bin Walid! Ia berkata kepadanya: Jangan berkata demikian, tetapi katakanlah wahai Allah, dan mintalah pertolongan kepada Allah Tuhanmu, dan Esakan Dia dan Esakan Dia niscaya engkau ditolong, dan katakanlah: Wahai pemilik hari pembalasan, hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Kemudian ia terus menghadap terkadang kepada Khalifah dan terkadang kepada Sultan dan menenangkan mereka dan menguatkan hati mereka hingga datanglah pertolongan Allah dan kemenangan.

Diceritakan bahwa ia berkata kepada Sultan: Bertahanlah maka engkau akan menang. Seorang amir berkata kepadanya: Katakanlah insya Allah. Ia berkata: Insya Allah sebagai penegasan bukan penggantungan. Maka terjadilah sebagaimana ia katakan.

Abu Hafsh Umar bin Ali bin Musa Al-Bazzar Al-Baghdadi menceritakan, ia berkata: Asy-Syaikh Al-Muqri Taqiyyuddin Abdullah bin Ahmad bin Said menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku sakit di Damaskus dengan sakit yang keras, lalu Ibnu Taimiyah datang kepadaku dan duduk di dekat kepalaku sedang aku sedang berat karena demam dan penyakit. Ia mendoakan untukku, kemudian berkata: Bangunlah, kesembuhan telah datang. Tidak lama setelah ia berdiri dan meninggalkanku, tiba-tiba kesembuhan datang, dan aku sembuh pada saat itu juga.

Saya katakan: Dan datang kepadanya dari harta setiap tahun apa yang hampir tidak terhitung, lalu ia menginfakkan semuanya ribuan dan ratusan, tidak menyentuh darinya satu dirham pun dengan tangannya, dan tidak menginfakkannya untuk kebutuannya. Ia menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, melakukan hak-hak manusia, dan merangkul hati, dan tidak menisbatkan kepada siapapun yang membahas di hadapannya suatu mazhab, dan tidak mengingat bagi siapapun yang berbicara di hadapannya suatu kesalahan, dan tidak menginginkan makanan, dan tidak menolak sesuatu darinya, tetapi ia bersama apa yang ada, tidak cemberut wajahnya, dan tidak keruh kebersihannya, dan tidak bosan maafnya.

Akhir urusannya adalah ia berbicara dalam masalah ziarah dan talak, maka ia ditangkap dan dipenjara di benteng Damaskus dalam sebuah ruangan, lalu ia wafat di sana pada tanggal dua puluh Dzulqaidah tahun tujuh ratus dua puluh delapan. Sejumlah besar orang hadir ke benteng, dan sebagian mereka diizinkan masuk, dan ia dimandikan dan dishalatkan di benteng, kemudian diangkat di atas jari-jari kaki orang-orang ke masjid Damaskus pada waktu dhuha, dan dishalatkan atasnya, dan dimakamkan di pemakaman kaum sufi, dan tidak sampai ke kuburnya kecuali pada waktu ashar. Orang-orang keluar dari semua pintu kota, dan mereka adalah makhluk yang tidak terhitung kecuali oleh Allah, dan diperkirakan laki-laki enam puluh ribu dan perempuan lima ribu wanita, dan dikatakan lebih dari itu. Dan dilihat untuknya mimpi-mimpi yang baik. Dan ia diratapi oleh kelompok-kelompok manusia di Syam, Mesir, Irak, Hijaz, dan orang Arab dari Alu Fadhl, rahmat Allah atasnya.

Dan aku meratapi dia dengan qasidah untukku, yaitu:

Apakah demikian dengan kegelapan tertutup bulan… dan ditahan awan hingga hilang hujan? Apakah demikian dicegah matahari yang menerangi dari… manfaat bumi terkadang sehingga ia tertutup? Apakah demikian masa itu malam selamanya selamanya… maka tidak dikenali di waktu-waktunya waktu subuh? Apakah demikian pedang tidak menembus tempat-tempat memukulnya… padahal pedang dalam membunuh tidak ada kelemahan dalam tekadnya? Apakah demikian busur dilemparkan ke padang dan tidak… membidik panah-panah dan tidak ada kekurangan dalam jangkauannya? Apakah demikian ditinggalkan laut yang luas dan tidak… dihiraukan, padahal di cangkangnya ada mutiara-mutiara? Apakah demikian dengan Taqiyyuddin telah bermain-main… tangan-tangan musuh dan menimpa kepadanya kerusakan? Apakah kepada Ibnu Taimiyah dilemparkan panah-panah gangguan… dari manusia dan berdarah taring dan cakar? Melampaui orang-orang terdahulu dalam ibadah yang panjang, tidak… menimpanya kebosanan di dalamnya dan tidak keluh kesah Dan tidak ada yang seperti dia setelah para sahabat dalam… ilmu yang besar dan zuhud yang tidak ada bandingannya Jalan yang ia jalani sebelum ia berjalan di atasnya… berjalan di atasnya Abu Bakar Ash-Shiddiq atau Umar Tunggal dalam mazhab-mazhab dalam pendapat empat… mereka datang mengikuti jejak orang-orang terdahulu dan berinisiatif Ketika mereka membangun sebelum dia mazhab-mazhab mereka yang tinggi… ia membangun dan memakmurkan darinya seperti apa yang mereka makmurkan Seperti para imam telah menghidupkan zaman-zaman mereka… seolah-olah ia ada di antara mereka dan ia yang dinantikan Jika mereka semua diangkat sebagai mubtada’… maka haknya juga diangkat karena ia khabar Apakah orang seperti dia di antara kalian mendapat pengabaian… hingga tersia-sia baginya dengan sengaja darah yang tidak berharga Ia menjadi angan-angan bagi selain kalian… menimpanya dari kalian peristiwa-peristiwa dan perubahan Demi Allah seandainya ia di tanah selain kalian… pasti dari kalian di pintu-pintunya ada rombongan Seperti Ibnu Taimiyah dilupakan di penjara… hingga ia mati dan tidak terkabul penglihatannya Seperti Ibnu Taimiyah rela musuh-musuhnya… dengan penjaraannya dan bagi kalian dalam penjaranya ada alasan Seperti Ibnu Taimiyah di penjara ditahan… dan penjara seperti sarung sedangkan ia pedang yang tajam yang terkenal Seperti Ibnu Taimiyah dilempar dengan segala gangguan… dan tidak dibersihkan kotoran darinya dan tidak dipandang Seperti Ibnu Taimiyah layu taman-tamannya… dan tidak dipetik dari cabang-cabangnya bunga Seperti Ibnu Taimiyah matahari terbenam sia-sia… dan tidak kasihan padanya sore dan pagi Seperti Ibnu Taimiyah pergi dan tidak harum… dengannya minyak wangi yang harum, ketiak dan pakaian Seperti Ibnu Taimiyah pergi dan tidak minum… baginya pedang-pedang dan tombak-tombak yang tajam Dan tidak berlomba baginya kuda-kuda yang ditandai… wajah-wajah ksatria-ksatrianya tanda-tanda putih dan keringat Dan tidak mengelilinginya para pahlawan dalam lingkaran… seolah-olah mereka bintang-bintang di tengahnya bulan Dan tidak cemberut perang di arahnya… suatu hari dan tertawa di sudut-sudutnya kemenangan Hingga tegak agama ini dari kemiringan… dan lurus atas jalannya manusia Tetapi demikianlah para salaf yang berbakti tidak berhenti… habis kesabaran mereka dengan kesungguhan dan mereka sabar Teladanilah para nabi yang suci berapa sampai… pada mereka bahaya kaum-kaum dan berapa mereka dijauhi Pada Yusuf dalam masuk penjara ada kemuliaan… bagi siapa yang mengalami apa yang ia terima dan bersabar Tidak pernah mereka diabaikan selamanya tetapi diberi tangguh untuk waktu… dan Allah mengikuti dengan dukungan dan menolong Apakah hilang mata air yang jernih dan tidak hilang dahaga… dengannya orang-orang yang haus dan tersisa lumpur yang keruh? Ia pergi dengan terpuji dan tidak menempel padanya noda… dan mereka semua bernoda di antara manusia atau cacat Gunung dari kesabaran yang tidak naik ke puncaknya… seolah-olah gunung dari batu-batunya adalah batu Lautan dari ilmu telah melimpah sisanya… maka surut lautan-lautan besar dan mereka tidak menyadari Semoga aku tahu apakah di antara orang-orang yang iri kepadanya… ada yang seperti dia di semua kaum jika disebutkan Apakah di antara mereka untuk hadits Rasul ada seorang… yang membedakan keasliannya atau diriwayatkan untuknya berita? Apakah di antara mereka ada yang menggabungkan penelitian dalam pandangan… atau seperti dia yang menggabungkan penelitian dan pandangan? Mengapa kalian tidak mengumpulkan untuknya dari kaum kalian majelis… seperti perbuatan Firaun dengan Musa untuk kalian ambil pelajaran? Katakan kepada mereka: Ia berkata ini maka bahaskah bersamanya… di hadapan kami dan lihatlah orang-orang bodoh apakah mereka mampu? Ia melemparkan kebatilan-kebatilan sebagai sihir yang memukau… lalu kebenaran menelan apa yang mereka katakan dan apa yang mereka sihir Seandainya mereka seperti rombongan dari majelis itu… hingga menjadi bagi kalian dalam urusan mereka pelajaran Dan seandainya mereka tunduk kepada kebenaran seperti mereka… maka beriman mereka semua setelah mereka kafir Berapa lamanya mereka menjauh darinya dengan menjauhi… dan seandainya mereka bermanfaat dalam penghinaan atau menolak Apakah di antara mereka ada yang bersuara dengan kebenaran perkataannya… atau menerjang medan perang dan perang berkobar? Ia melempar ke dada Ghazan secara langsung… panah-panahnya dari doa, pertolongannya adalah takdir Pada pertempuran Rahith dan musuh-musuh telah menguasai… Syam dan terbang kejahatan dan percikan api Dan membelah di padang pedang-pedang yang dilepaskan… kelompok-kelompok semuanya atau sebagian mereka Tatar Ini sedangkan musuh-musuhnya di rumah-rumah yang paling berani dari mereka… seperti wanita-wanita di bayang-bayang pintu tersembunyi Dan setelahnya Kisrawan dan gunung-gunung telah… ia dirikan gunung-gunungnya padahal gunung itu terbelah Dan dipanen kaum dengan pedang-pedang dengan kesungguhan mereka… dan berapa lama mereka berbuat kesombongan dan tidak sombong Mereka berkata: Kami menguburkannya, kami berkata: Sesungguhnya itu mengherankan… benarkah bintang yang bercahaya telah mereka kuburkan? Dan tidak hilang makna darinya yang menyala… dan hanya hilang jasad-jasad dan rupa-rupa Tidak menangisinya dengan penyesalan orang yang tidak menumpahkan darah… mengalir dengannya hujan lebat yang turun dan mencurah Malang atasmu wahai Abu Al-Abbas berapa kemuliaan… ketika engkau pergi, pergi dari umurnya umur Disiram tanahmu dari hujan Wasmi siraman… dan dihiasi tempat tinggalmu tetes yang semuanya tetes Dan tidak berhenti baginya kilat yang menggodanya… manis bibir di kelopak matanya bidadari Untuk kehilangan orang sepertimu wahai orang yang tidak ada bandingannya… berduka mihrab-mihrab dan ayat-ayat dan surat-surat Wahai pewaris dari ilmu-ilmu para nabi larangan… engkau wariskan hatiku api yang menyalakan pikirannya api Wahai yang satu aku tidak mengecualikan dengannya seorang pun… dari manusia dan tidak menyisakan dan tidak mengecualikan Wahai yang mengetahui riwayat-riwayat fiqih semuanya… apakah tentangmu dijaga kesalahan-kesalahan sebagaimana mereka sebutkan? Wahai pembasmi bidah-bidah yang menjauhinya… penduduk zaman, dan ini orang-orang Badui dan orang-orang kota Dan pemberi petunjuk kelompok yang sesat jalan mereka… dari jalan maka tidak bingung mereka dan tidak begadang Tidakkah engkau bagi Nashara dan Yahudi bersama… yang mendebat, dan mereka dalam penelitian telah terkurung Dan berapa pemuda bodoh yang tertipu engkau jelaskan kepadanya… petunjuk perkataan maka hilang kebodohan dan tipuan Tidak mereka ingkari darimu kecuali bahwa mereka tidak tahu… besarnya kedudukanmu tetapi membantu takdir Mereka berkata bahwa engkau telah salah dalam satu masalah… dan mungkin saja, maka mengapa tidak darimu dimaafkan? Engkau salah di masa atau salah satu… bukankah engkau telah bagus dalam ketepatan-ketepatan maka engkau dimaafkan? Dan siapa yang pada kebenaran menjadi mujtahid… baginya pahala atas dua keadaan, bukan dosa Tidakkah engkau dengan hadits-hadits Nabi ketika… ditanya engkau mengenal apa yang engkau datangi dan apa yang engkau tinggalkan? Jauh darimu dari syubhat di dalamnya dan dari syubhat… keduanya darimu tidak tersisa baginya bekas Kewajibanmu dalam penelitian bahwa engkau tampakkan rahasia-rahasianya… dan bukan kewajibanmu jika tidak paham sapi-sapi Engkau persembahkan kepada Allah apa yang engkau persembahkan dari amal… dan bukan kewajibanmu tentang mereka, mereka cela engkau atau mereka syukuri Apakah ada sepertimu yang tersembunyi darinya petunjuk… sedangkan dari langitmu tampak bintang-bintang yang bercahaya Dan bagaimana engkau takut dari sesuatu engkau tergelincir dengannya… engkau yang bertakwa maka apa ketakutan dan kewaspadaan?

 

 

29 – Kelanjutan Ringkasan tentang Berita Manusia

Karya Ulama Umar bin Muzaffar Ibnu Wardi (wafat tahun 749 H)

Pada tahun tersebut, di malam Senin tanggal dua puluh Dzulqa’dah, wafat Syaikhul Islam Taqiyuddin Abu Abbas, Ahmad bin al-Mufti Syihabuddin Abdul Halim bin Syaikhul Islam Majduddin Abul Barakat Abdussalam bin Abdullah bin Abi Qasim bin Taimiyah al-Harrani al-Hanbali dalam keadaan ditahan di Benteng Damaskus. Beliau dimandikan, dikafani, lalu dikeluarkan. Pertama kali dishalatkan di benteng oleh Syaikh Muhammad bin Tamam, kemudian di Masjid Damaskus setelah shalat Dzuhur. Jenazah dikeluarkan dari Pintu al-Faraj, dan terjadi penuhnya orang-orang di Pasar al-Khail. Yang mengimami shalat jenazah di sana adalah saudaranya. Orang-orang melemparkan sapu tangan dan sorban mereka ke atas jenazah untuk mencari berkah! Orang-orang berdesak-desakan di bawah usungan jenazahnya. Jumlah wanita diperkirakan lima belas ribu, adapun laki-laki, dikatakan berjumlah dua ratus ribu orang. Tangisan atas kepergiannya sangat banyak. Beberapa khataman al-Quran dilaksanakan untuknya. Orang-orang terus berziarah ke makamnya selama beberapa hari. Ada mimpi-mimpi baik yang dilihat tentangnya, dan beberapa orang menulis syair ratapan untuknya.

Saya berkata: Saya juga menulis syair ratapan untuknya dengan huruf Tha sebagai rima; syair tersebut tersebar dan terkenal, diminta oleh para cendekiawan dan ulama dari berbagai negeri, yaitu:

Sekelompok orang yang melampaui batas menyerang kehormatannya… mereka hanya mengambil butiran-butiran bertebaran dari mutiara perkataannya Taqiyuddin Ahmad adalah sebaik-baik ulama besar… dengannya masalah-masalah yang rumit dapat dijahit dan diselesaikan Ia wafat dalam keadaan dipenjara sendirian… dan ia tidak tertarik kepada dunia Andai mereka hadir ketika ia meninggal, tentu mereka akan mendapati… malaikat-malaikat surga mengelilinginya Ia meninggal dengan tidak ada yang setara… dan tidak ada yang sepadan dengannya sejak dilahirkan Seorang pemuda yang menjadi unik dalam ilmunya… dan penyelesaian berbagai masalah bergantung padanya Ia menyeru manusia kepada ketakwaan… dan melarang kelompok yang berbuat maksiat dan menyimpang Bahkan jin pun bercerai-berai karena kekuatannya… dengan nasihat yang bagaikan cambuk bagi hati-hati Wahai Allah, betapa banyak yang dikandung liang kubur… dan wahai Allah, betapa banyak yang ditutupi ubin Mereka iri kepadanya karena tidak mampu meraih… keutamaan-keutamaannya, maka mereka merencanakan dan menyimpang Mereka malas mengikuti jalannya… tetapi mereka bersemangat menyakitinya Mutiara yang tersimpan dalam kerang adalah suatu kehormatan… dan penjara bagi sang Syaikh adalah sesuatu yang membanggakan Ia meneladani keluarga Hasyimi (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam)… mereka mengecap kematian dan tidak pernah patuh kepada penguasa zalim Keturunan Taimiyah adalah orang-orang yang cemerlang… bintang-bintang ilmu yang telah mengalami kejatuhan Tetapi wahai penyesalan bagi para penjaranya… karena dengannya keraguan kesyirikan dihilangkan Dan wahai kegembiraan orang-orang Yahudi dengan apa yang kalian lakukan… karena musuh senang dengan kerusakan yang menimpa lawannya Tidakkah ada di antara kalian seorang yang bijaksana… yang melihat penjara sang Imam lalu marah karenanya Seorang imam yang tidak mengharapkan jabatan… dan tidak ada wakaf atau ribath yang diberikan kepadanya Ia tidak bersaing dengan kalian dalam mencari harta… dan tidak pernah diketahui bercampur-baur dengan kalian Lalu mengapa kalian memenjarakannya dan membuatnya marah… bukankah sudah disyaratkan pembalasan atas penyakitannya Penjara sang Syaikh tidak diridhai oleh orang sepertiku… karena di dalamnya terdapat penurunan derajat bagi orang-orang seperti kalian Demi Allah, seandainya bukan karena menyimpan rahasiaku… dan takut akan keburukan, niscaya ikatan persatuan akan terurai Dan aku akan mengatakan apa yang ada dalam diriku, tetapi… tidak baik berlaku keras kepada para ahli ilmu Tidak ada seorang pun yang menyeru kepada keadilan… dan setiap orang terlibat dalam hawa nafsunya Akan terungkap tujuan kalian wahai para penjaranya… dan kami akan memberitahu kalian ketika shirath (jembatan di akhirat) didirikan Inilah ia telah meninggal dari kalian dan kalian merasa lega… maka berbuatlah apa yang kalian inginkan Buatlah kesepakatan dan ikatannya tanpa ada bantahan… atas kalian, dan tergulung sudah permadani itu

Aku pernah bertemu dengannya—semoga Allah Taala merahmatinya—di Damaskus pada tahun tujuh ratus lima belas di masjidnya di al-Qashsha’in. Aku berdiskusi di hadapannya tentang fikih, tafsir, dan nahwu. Perkataanku membuatnya kagum dan ia mencium dahiku. Aku berharap keberkahan dari hal itu. Ia menceritakan kepadaku tentang peristiwanya yang terkenal di Jabal Kisrawan. Aku begadang bersamanya satu malam, dan aku melihat keberanian, kedermawanan, dan kecintaannya kepada para ahli ilmu, terutama yang dari luar negeri, dalam jumlah yang banyak. Aku shalat tarawih di belakangnya pada bulan Ramadhan, dan aku melihat kekhusyukan dalam bacaannya. Aku melihat dalam shalatnya kelembutan hati yang menyentuh relung-relung hati.

Kelahirannya—semoga Allah merahmatinya dan merahmati kami karena beliau—di Harran pada hari Senin tanggal sepuluh Rabiul Awal tahun enam ratus enam puluh satu Hijriyah. Ayahnya berhijrah bersamanya dan saudara-saudaranya ke Syam karena kezaliman Tartar. Syaikh Taqiyuddin menaruh perhatian pada hadits, menyalin banyak hadits, belajar menulis dan berhitung di kuttab (sekolah dasar), menghafal al-Quran, kemudian mempelajari fikih. Ia belajar bahasa Arab beberapa hari kepada Ibnu Abdul Qawi, lalu ia memahaminya. Ia mulai merenungkan Kitab Sibawaih hingga memahaminya dan mahir dalam nahwu. Ia menaruh perhatian penuh pada tafsir hingga unggul di bidang itu. Ia menguasai ushul fikih. Semua ini terjadi ketika ia masih berusia belasan tahun. Para cendekiawan terpukau dengan kecerdasan, kelancaran pemikiran, kekuatan hafalan, dan pemahamannya yang luar biasa. Ia tumbuh dalam kesucian penuh, kesederhanaan, ibadah, dan sikap hemat dalam pakaian dan makanan.

Ia sejak kecil menghadiri majelis-majelis ilmu dan berbagai pertemuan, lalu berdebat dan mengalahkan orang-orang yang lebih tua, serta mengemukakan hal-hal yang membuat mereka terheran-heran. Ia berfatwa ketika usianya kurang dari sembilan belas tahun. Ia mulai menulis dan mengarang. Ayahnya wafat ketika ia berusia dua puluh satu tahun. Namanya tersebar di seluruh dunia hingga namanya terkenal ke segala penjuru. Ia mulai menafsirkan Kitab Mulia (al-Quran) pada hari-hari Jumat di kursi dari hafalannya, sehingga ia menyampaikan majelis tanpa tergagap-gagap. Demikian pula pelajarannya disampaikan dengan tenang dan suara yang keras dan fasih. Dalam satu majelis ia dapat menyampaikan lebih dari dua kurrash (satuan ukuran tulisan), dan ia dapat menulis fatwa langsung di tempat dalam beberapa lembar dengan tulisan cepat yang sangat ringkas dan sulit dibaca.

Syaikh ulama Kamaluddin bin az-Zamlakani, pakar ilmu mazhab Syafi’i, menulis tentang Ibnu Taimiyah: “Apabila ia ditanya tentang salah satu cabang ilmu, orang yang melihat dan mendengar akan mengira bahwa ia tidak mengetahui cabang ilmu lain selain itu, dan meyakini bahwa tidak ada yang menguasainya seperti dia. Para fuqaha dari berbagai kelompok, apabila berkumpul dengannya, mereka memperoleh manfaat dari beliau tentang mazhab mereka. Tidak diketahui bahwa ia pernah berdebat dengan seseorang lalu kalah, dan tidaklah ia berbicara dalam ilmu apa pun, baik dari ilmu-ilmu syariat maupun lainnya, melainkan ia mengungguli para ahlinya. Terkumpul padanya syarat-syarat ijtihad secara sempurna.” Demikian perkataannya.

Beliau memiliki pengetahuan yang sempurna tentang perawi hadits, kritik dan pengakuan mereka, serta tingkatan-tingkatan mereka, dan pengetahuan tentang berbagai cabang hadits, tentang sanad yang tinggi dan rendah, yang shahih dan yang cacat, bersama hafalannya terhadap matan-matannya yang ia tersendiri dalam hal itu. Ia mengagumkan dalam mengingat dan mengeluarkan hujjah-hujjah darinya. Ia adalah puncak dalam merujukkannya kepada Kutub as-Sittah (enam kitab hadits) dan Musnad, sehingga dapat dikatakan tentangnya: “Setiap hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah, maka itu bukan hadits.” Tetapi penguasaan penuh hanya milik Allah. Namun ia menimba dari lautan, sedangkan imam-imam lainnya menimba dari sungai-sungai kecil. Adapun dalam tafsir, ia telah menguasainya. Ia memiliki kekuatan yang mengagumkan dalam mengingat ayat-ayat untuk dijadikan dalil. Karena kepemimpinannya yang luar biasa dalam tafsir dan luasnya pengetahuannya, ia menunjukkan kesalahan banyak pendapat para mufassir. Ia dapat menulis dalam sehari semalam tentang tafsir, atau tentang fikih, atau tentang ushul, atau tentang bantahan terhadap para filosof dan orang-orang terdahulu sekitar empat kurrash. Dikatakan: tidak jauh kemungkinannya bahwa karya-karyanya hingga saat ini mencapai lima ratus jilid.

Ia memiliki karya tersendiri dalam berbagai masalah, seperti masalah tahlil (nikah muhallil) dan lainnya. Ia memiliki karya dalam membantah Ibnu Muthahhar al-Alim al-Hilli dalam tiga jilid besar, karya dalam membantah kitab “Ta’sis at-Taqdis” karya ar-Razi dalam tujuh jilid, kitab dalam membantah logika, kitab “al-Muwafaqah baina al-Ma’qul wal-Manqul” (Keserasian antara Akal dan Nukilan) dalam dua jilid. Para muridnya telah mengumpulkan fatwa-fatwanya dalam enam jilid besar. Ia memiliki pengetahuan yang luas dalam mazhab-mazhab para sahabat dan tabi’in. Jarang ia berbicara dalam suatu masalah kecuali ia menyebutkan di dalamnya mazhab-mazhab yang empat. Ia telah menyelisihi mazhab yang empat dalam masalah-masalah yang diketahui, dan ia menulis tentangnya serta berdalil dengan al-Quran dan as-Sunnah.

Qadhi al-Munsyi Syihabuddin Abu Abbas Ahmad bin Fadhlillah berkata dalam biografinya: “Sang Syaikh duduk menghadap Sultan Mahmud Ghazan, di tempat singa-singa bersembunyi di rumpun-rumpun mereka, di tempat hati-hati berjatuhan ke dalam tubuh-tubuh mereka, api menjadi dingin dalam kobaran apinya, dan pedang-pedang gentar dalam keganagannya, karena takut kepada singa yang mengancam itu, Namrudz yang sombong itu, ajal yang tidak dapat ditolak dengan tipu daya orang yang licik. Ia duduk menghadapnya dan menunjuk dengan tangannya ke dadanya, berhadapan dengannya dan menusuk ke arahnya. Ia meminta doa darinya, maka ia mengangkat tangannya dan berdoa dengan doa yang adil, kebanyakannya adalah doa atas penguasa itu, dan Ghazan mengamini doanya.

Ia memiliki karya yang diberi judul “As-Siyasah asy-Syar’iyyah fi Ishlah ar-Ra’i war-Ra’iyyah” (Politik Syariat dalam Memperbaiki Penguasa dan Rakyat), dan kitab “Raf’ul Malam ‘an al-Aimmah al-A’lam” (Menghilangkan Celaan dari Para Imam Besar). Ia selama beberapa tahun tidak berfatwa dengan mazhab tertentu, melainkan dengan apa yang ditegakkan dalil menurutnya. Sungguh ia telah menolong Sunnah yang murni dan jalan salaf, berdalil untuknya dengan bukti-bukti, premis-premis, dan perkara-perkara yang belum pernah didahului orang lain. Ia mengeluarkan ungkapan-ungkapan yang orang-orang terdahulu dan kemudian menghindar darinya dan takut, tetapi ia berani mengemukakannya, hingga banyak ulama dari Mesir dan Syam bangkit menentangnya dengan penentangan yang sangat keras, mengklaim bid’ah atasnya, berdebat dengannya, dan menentangnya dengan keras. Namun ia tetap teguh, tidak berkompromi dan tidak basa-basi, melainkan mengatakan kebenaran pahit yang diperoleh dari ijtihadnya, ketajaman pikirannya, dan luasnya pengetahuannya tentang sunnah dan pendapat-pendapat. Terjadilah antara beliau dan mereka pertempuran-pertempuran pemikiran dan peristiwa-peristiwa di Syam dan Mesir.

Ia sangat mengagungkan kehormatan Allah, terus-menerus bermunajat, banyak meminta pertolongan, kuat dalam tawakal, teguh jiwanya. Ia memiliki wirid-wirid dan dzikir-dzikir yang terus ia lakukan. Di sisi lain, ia memiliki para pencinta dari kalangan ulama, orang-orang saleh, tentara, amir-amir, pedagang, pembesar-pembesar, dan seluruh rakyat biasa mencintainya. Keberaniannya menjadi perumpamaan dan dengan sebagiannya para pahlawan besar meneladani. Sungguh Allah telah menegakkan beliau pada masa Ghazan. Ia memikul beban perkara dengan dirinya sendiri, bertemu dengan sang raja dua kali, dengan Khatlu Syah dan dengan Bulai. Qibjaq kagum dengan keberaniannya dan kegigihannya menghadapi bangsa Mongol.

Ibnu az-Zamlakani menulis pada sebagian karya Ibnu Taimiyah bait-bait ini:

Apa yang akan dikatakan oleh para pendeskripsi tentangnya… sifat-sifatnya terlalu agung untuk dihitung Ia adalah hujjah Allah yang mengalahkan… ia di antara kita adalah keajaiban zaman Ia adalah mukjizat yang nyata di antara makhluk… cahaya-cahayanya melebihi fajar

Ketika Ibnu Taimiyah bepergian dengan pos cepat ke Kairo pada tahun tujuh ratus Hijriyah dan mendorong jihad, ditetapkan baginya tunjangan setiap hari sebesar satu dinar dan hadiah. Datang kepadanya satu bungkusan kain, tetapi ia tidak menerima sedikitpun darinya. Qadhi Abu al-Fath bin Daqiq al-‘Id berkata: “Ketika aku bertemu dengan Ibnu Taimiyah, aku melihat seorang laki-laki yang semua ilmu berada di antara kedua matanya, mengambil apa yang ia kehendaki dan meninggalkan apa yang ia kehendaki.” Hadir padanya syaikh para ahli nahwu Abu Hayyan dan berkata: “Mataku tidak pernah melihat orang seperti dia.” Ia mengatakan tentang beliau secara spontan beberapa bait, di antaranya:

Ibnu Taimiyah bangkit dalam menolong syariat kita… berdiri seperti pemimpin Bani Taim ketika Mudhar membangkang Ia menampakkan kebenaran ketika jejak-jejaknya hilang… dan ia memadamkan kejahatan ketika percikan-percikannya berterbangan Kami diceritakan tentang seorang ulama besar yang akan datang, maka ini dia… engkau adalah imam yang telah ditunggu-tunggu

Dan ketika Sultan tiba di Syaqhab dan Khalifah menyambutnya hingga Qarn al-Harrah, ia terus menguatkan keduanya. Ketika Sultan melihat banyaknya pasukan Tatar, ia berkata: “Wahai Khalid bin Walid!” Ia (Ibnu Taimiyah) berkata: “Katakanlah: Wahai Penguasa hari pembalasan, hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan” (Al-Fatihah: 4-5). Dan ia berkata kepada Sultan: “Tetaplah, karena engkau pasti menang.” Maka salah seorang panglima berkata kepadanya: “Katakanlah: Insya Allah.” Maka ia berkata: “Insya Allah sebagai penegasan, bukan sebagai syarat.” Dan terjadilah sebagaimana yang ia katakan. Selesai secara ringkas.

Dan ia adalah sosok yang lebih besar daripada orang sepertiku untuk menunjukkan sifat-sifatnya. Seandainya aku bersumpah di antara Rukun dan Maqam, pasti akan aku bersumpah: bahwa aku tidak pernah melihat dengan mataku orang seperti dia, dan dia pun tidak pernah melihat orang seperti dirinya sendiri dalam hal ilmu. Padanya terdapat sedikit sikap kompromi dan biasanya kurang sabar. Ia bukan termasuk orang-orang pemerintahan dan tidak menempuh cara-cara mereka. Ia membantu musuh-musuhnya menentang dirinya sendiri dengan masuk ke dalam masalah-masalah besar yang tidak dapat dicerna oleh akal orang-orang di zaman kita dan ilmu mereka, seperti masalah: mengkafirkan orang yang bersumpah dengan talak, dan masalah: bahwa talak tiga tidak jatuh kecuali satu kali, dan bahwa talak dalam keadaan haid tidak jatuh. Ia mengatur dirinya dengan cara yang mengherankan, sehingga ia dipenjara beberapa kali di Mesir, Damaskus, dan Iskandariah. Ia mengalami pasang surut dan berpegang teguh pada pendapatnya. Semoga hal itu menjadi penghapus dosa baginya. Berapa kali ia mengalami kesulitan karena kekuatan jiwanya, dan Allah menyelamatkannya.

Ia memiliki syair yang biasa-biasa saja. Ia tidak menikah dan tidak memiliki budak, dan tidak memiliki gaji kecuali sedikit. Saudaranya yang mengurus keperluannya. Ia tidak meminta makan siang atau makan malam dari mereka pada umumnya. Dunia tidak menjadi perhatiannya. Ia biasa mengatakan tentang banyak keadaan para syaikh bahwa itu adalah pengaruh setan atau hawa nafsu. Maka ia meneliti apakah syaikh itu mengikuti Al-Quran dan Sunnah. Jika demikian, maka keadaannya benar dan kashafnya (penyingkapan batinnya) pada umumnya adalah rabbani, meskipun ia tidak maksum. Ia memiliki beberapa karya tulis tentang hal itu yang mencapai beberapa jilid, yang sangat mengagumkan. Berapa banyak orang yang sembuh dari “kerasukan jin” hanya dengan ancamannya kepada jin tersebut. Banyak peristiwa terjadi dalam hal itu. Ia tidak melakukan lebih dari sekadar membaca ayat-ayat dan berkata: “Jika kamu tidak meninggalkan orang yang kerasukan ini, kalau tidak kita akan memberlakukan hukum syariat terhadapmu, atau kita akan melakukan apa yang diridhai Allah dan Rasul-Nya.”

Pada akhirnya mereka mendapatkan celah terhadapnya dalam masalah perjalanan untuk ziarah ke makam para nabi, dan bahwa perjalanan serta menempuh perjalanan jauh untuk itu dilarang karena sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Tidak boleh mengadakan perjalanan kecuali ke tiga masjid.” Dengan pengakuannya bahwa ziarah tanpa menempuh perjalanan jauh adalah ibadah yang mendekatkan diri (kepada Allah), maka mereka mencela dia dengan hal itu. Beberapa orang menulis tentangnya bahwa dari larangannya itu terdapat indikasi merendahkan kenabian, sehingga ia kafir karenanya.

Beberapa orang memberi fatwa bahwa ia salah dengan kesalahan para mujtahid yang diampuni. Sekelompok orang menyetujuinya dan persoalan itu menjadi besar. Maka ia dikembalikan ke sebuah ruangan di Benteng. Ia tinggal di sana dua puluh sekian bulan. Urusannya berakhir dengan dicegah dari menulis dan membaca. Mereka tidak meninggalkan kertas atau tinta di sisinya. Ia tetap beberapa bulan dalam keadaan demikian. Ia kemudian banyak membaca Al-Quran, salat malam, dan beribadah hingga datang kematiannya. Orang-orang tidak terkejut kecuali dengan berita wafatnya, dan mereka tidak mengetahui sakitnya. Orang-orang berdesak-desakan di pintu Benteng dan di masjid dengan kepadatan seperti salat Jumat bahkan lebih. Orang-orang mengiringi jenazahnya dari empat pintu kota dan ia diusung di atas kepala-kepala. Ia hidup selama enam puluh tujuh tahun dan beberapa bulan. Ia berambut hitam dengan sedikit uban di jenggot, tinggi sedang, bersuara lantang, berkulit putih, dan bermatai lebar.

Aku (pengarang) berkata: Suatu kali seseorang mencela Ibnu Taimiyah di hadapan Ketua Hakim Kamaluddin Ibnu al-Zamlakani ketika ia berada di Halab dan aku hadir. Maka Kamaluddin berkata: “Dan siapakah yang seperti Syaikh Taqiyuddin dalam kezuhudan, kesabaran, keberaniannya, kedermawanannya, dan ilmu-ilmunya?! Demi Allah, seandainya ia tidak mengkritik para Salaf, niscaya ia akan menyaingi mereka. Ini adalah ringkasan dari biografi Syaikh, sebagian besarnya dari “al-Durrah al-Yatimah fi al-Sirah al-Taimiyyah” karya Imam Hafizh Syamsuddin Muhammad al-Dzahabi. Wallahu a’lam.

 

 

30 – Program Ibnu Jabir al-Wadi Asyyi

Karya Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Jabir al-Wadi Asyyi (749 H)

Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam bin Abdullah bin Abi al-Qasim bin Muhammad bin Taimiyah.

Mufti Syam, ahli haditsnya, hafiznya. Ia mengambil fatwa-fatwa yang ganjil dan mengklaim bahwa ia adalah mujtahid yang benar.

Ia mendengar hadits dari Ibnu Abdul Daim, Ibnu Abi al-Yusr, Ibnu Abi al-Khair, Ibnu Atha, Fakhruddin bin Asakir, Fakhruddin bin al-Bukhari, dan lain-lain. Ia memiliki karya-karya tulis.

Kelahirannya di Harran pada hari Senin tanggal sepuluh Rabiul Awal tahun enam ratus enam puluh satu Hijriah.

 

 

31 – Sirah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Dari kitab-kitab muridnya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (751 H)

  1. Kedudukan Syaikh dalam Ilmu, dan Sikap-sikapnya dalam Berfatwa.
  2. Akhlak Syaikh, Sifat-sifatnya, dan Ibadahnya.
  3. Sikap-sikapnya dalam Amar Ma’ruf Nahi Munkar.
  4. Al-Kafiyah asy-Syafiyah.
  1. Kedudukan Syaikh dalam Ilmu, dan Sikap-sikapnya dalam Berfatwa

Kedudukannya dalam Fikih Mazhab:

Ibnu Qayyim berkata: “Tidak ada dua orang alim yang bersikap adil yang berbeda pendapat bahwa pilihan-pilihan (pendapat) Syaikhul Islam tidak lebih rendah dari pilihan-pilihan Ibnu Aqil dan Abu al-Khaththab, bahkan Syaikh mereka Abu Ya’la. Jika pilihan-pilihan mereka dan orang-orang semacam mereka adalah pendapat-pendapat yang boleh difatwakan dalam Islam dan digunakan oleh para hakim untuk memutuskan perkara, maka pilihan-pilihan Syaikhul Islam setara dengan mereka jika tidak lebih unggul. Dan kepada Allah kita memohon pertolongan dan kepada-Nya kita bertawakal.”

Dan ia berkata di tempat lain: “Derajat terendah dari pilihan-pilihannya adalah menjadi pendapat dalam mazhab. Mustahil bahwa pilihan Ibnu Aqil, Abu al-Khaththab, dan Syaikh Abu Muhammad menjadi pendapat-pendapat yang boleh difatwakan, sedangkan pilihan-pilihan Syaikhul Islam tidak mencapai tingkatan ini.”

Ilmunya tentang Bahasa:

Dan ia berkata: “Suatu hari aku berkata kepada guru kami Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah, semoga Allah menguduskan ruhnya: Ibnu Jinni berkata: ‘Aku pernah beberapa waktu, jika ada lafaz yang datang kepadaku, aku mengambil maknanya dari huruf-hurufnya sendiri, sifat-sifatnya, bunyinya, dan cara susunannya, kemudian aku memeriksanya, ternyata memang seperti yang aku duga atau mendekatinya.’ Maka ia berkata kepadaku, semoga Allah merahmatimya: ‘Dan ini sering terjadi padaku.'”

Wawasan Syaikhul Islam:

Ibnu Qayyim berkata dalam pembicaraannya tentang ijma (kesepakatan) para rasul alaihimush shalatu was salam dalam menetapkan sifat al-Fauqiyyah (di atas) bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Dan demikian pula Abu al-Abbas juga telah menyampaikan… ijma mereka, pembimbing petunjuk al-Harrani (Ibnu Taimiyah)

Dan ia memiliki wawasan yang tidak dimiliki sebelumnya… oleh orang lain selain dia dari ahli kalam dan ahli bahasa

Jabatan-jabatan Syaikh:

Ibnu Qayyim menyebutkan bahwa Syaikh memegang jabatan mengajar di madrasah Ibnu al-Hanbali.

Sikap-sikap Syaikh dalam Berfatwa:

Ibnu Qayyim menyebutkan bahwa termasuk pemahaman fikih seorang mufti dan nasihatnya, jika orang yang meminta fatwa bertanya tentang sesuatu lalu ia melarangnya darinya, sedangkan kebutuhannya mendesak untuk hal itu, maka hendaknya ia menunjukkan kepadanya apa yang menjadi pengganti darinya. Kemudian ia berkata: “Dan aku melihat guru kami, semoga Allah menguduskan ruhnya, sangat berhati-hati dalam hal itu dalam fatwa-fatwanya sebisa mungkin. Dan barangsiapa yang merenungkan fatwa-fatwanya, akan mendapati hal itu jelas di dalamnya.”

Dan Ibnu Qayyim berkata dalam pembicaraannya tentang mufti, dan bahwa ia harus memahami hakikat pertanyaan dan bentuknya, dan bahwa sebagian orang yang meminta fatwa mungkin merumuskan pertanyaan dalam bentuk yang dihias agar diberi fatwa yang sesuai dengan kehendaknya…

Ia berkata: “Dan aku akan menyebutkan untukmu contoh dari hal ini yang terjadi di zaman kami, yaitu bahwa Sultan memerintahkan agar Ahlul Dzimmah (non-Muslim yang hidup di bawah pemerintahan Islam) diwajibkan mengubah sorban mereka, dan agar berbeda dengan warna sorban kaum Muslimin. Maka mereka sangat keberatan dengan hal itu dan menganggapnya berat. Dalam hal itu terdapat berbagai maslahat, memuliakan Islam, dan menghinakan orang-orang kafir yang menyenangkan hati kaum Muslimin. Maka setan membisikkan kepada lidah-lidah wali-walinya dan saudara-saudaranya untuk merumuskan sebuah fatwa yang mereka gunakan untuk menghilangkan pembedaan ini, yaitu: Apa pendapat para ulama mengenai sekelompok Ahlul Dzimmah yang diwajibkan mengenakan pakaian selain pakaian mereka yang biasa, dan penampilan selain penampilan mereka yang lazim? Maka terjadilah bagi mereka kerugian besar di jalan-jalan dan padang pasir. Orang-orang bodoh dan orang awam menjadi berani kepada mereka karena hal itu, dan menyakiti mereka dengan sangat. Maka mereka mengharapkan dengan itu untuk menghinakan mereka dan menyerang mereka. Apakah boleh bagi imam mengembalikan mereka ke penampilan pertama mereka, dan mengembalikan mereka kepada apa yang mereka kenakan sebelumnya dengan tetap ada tanda pembeda yang mereka dikenal dengannya? Apakah dalam hal itu ada penyelisihan terhadap syariat atau tidak?

Maka sebagian orang yang dicegah dari taufik dan terhalang dari jalan yang benar menjawab mereka dengan membolehkan hal itu, dan bahwa imam boleh mengembalikan mereka kepada apa yang mereka kenakan sebelumnya.

Guru kami berkata: Maka fatwa itu datang kepadaku. Aku berkata: ‘Tidak boleh mengembalikan mereka kepada apa yang mereka kenakan sebelumnya, dan wajib membiarkan mereka tetap pada penampilan yang membedakan mereka dari kaum Muslimin.’ Maka mereka pergi, kemudian mengubah fatwa itu, lalu datang dengannya dalam bentuk lain. Aku berkata: ‘Tidak boleh mengembalikan mereka.’ Maka mereka pergi, kemudian datang dengannya dalam bentuk lain. Aku berkata: ‘Ini adalah masalah yang sama meskipun keluar dalam beberapa bentuk.’ Kemudian ia pergi kepada Sultan dan berbicara di hadapannya dengan kata-kata yang mengherankan orang-orang yang hadir. Maka semua orang sepakat untuk membiarkan mereka tetap, dan segala puji bagi Allah.”

Dan Ibnu Qayyim menyebutkan bahwa sebagian orang tidak meminta fatwa karena agama, tetapi meminta fatwa untuk mencapai tujuannya dengan cara apa pun yang terjadi. Kemudian ia berkata: “Guru kami, semoga Allah merahmatinya, suatu kali berkata: ‘Aku memiliki pilihan antara memberi fatwa kepada orang-orang ini atau meninggalkan mereka. Karena mereka tidak meminta fatwa untuk agama, tetapi untuk mencapai tujuan-tujuan mereka bagaimanapun caranya. Seandainya mereka mendapatkannya pada orang lain selain aku, mereka tidak akan datang kepadaku. Berbeda dengan orang yang bertanya tentang agamanya.’

Dan sungguh Allah Ta’ala telah berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam tentang orang yang datang kepadanya untuk berhukum karena tujuannya, bukan karena komitmen kepada agama Nabi shallallahu alaihi wasallam dari Ahlul Kitab: ‘Maka jika mereka datang kepadamu, putuskanlah (perkara itu) di antara mereka, atau berpalinglah dari mereka. Jika kamu berpaling dari mereka, maka mereka tidak akan membahayakanmu sedikit pun’ (Al-Maidah: 42). Maka orang-orang ini karena tidak berkomitmen kepada agamanya, maka tidak diwajibkan baginya untuk memutuskan perkara di antara mereka. Wallahu Ta’ala a’lam.”

Berbuka untuk Menguatkan Diri dalam Jihad

Ibnu Qayyim berkata: “Syaikh kami Ibnu Taimiyah membolehkan berbuka puasa untuk menguatkan diri dalam jihad dan beliau melakukannya, serta memfatwakan hal itu ketika musuh menyerang Damaskus pada bulan Ramadhan. Sebagian ahli fikih mengingkarinya dan berkata: Ini bukan perjalanan jauh. Maka Syaikh berkata: Ini adalah berbuka untuk menguatkan diri dalam jihad melawan musuh, dan ini lebih utama daripada berbuka untuk perjalanan dua hari yang mubah atau bahkan maksiat. Kaum Muslimin jika memerangi musuh mereka dalam keadaan berpuasa, mereka tidak mampu mengalahkan musuh, dan bisa jadi puasa melemahkan mereka dalam berperang, sehingga musuh dapat menguasai tanah Islam. Adakah seorang ahli fikih meragukan bahwa berbuka dalam kondisi ini lebih utama daripada berbukanya orang yang bersafar? Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada Perang Pembebasan Mekkah memerintahkan mereka untuk berbuka agar kuat menghadapi musuh, beliau menjelaskan alasannya adalah untuk kekuatan melawan musuh, bukan karena bepergian, dan Allah Yang Maha Mengetahui.”

Fikih Fatwa

  1. Ibnu Qayyim berkata: “Syaikh kami Abu Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah ditanya oleh seorang syaikh yang berkata: Saya melarikan diri dari tuan saya ketika masih kecil, hingga sekarang saya tidak mendapat kabar tentangnya, dan saya adalah budak. Saya takut kepada Allah Azza wa Jalla, dan saya ingin membebaskan kewajiban saya dari hak tuan saya atas diri saya. Saya telah bertanya kepada beberapa mufti, mereka berkata kepadaku: Pergilah dan duduklah di penjara. Maka syaikh kami tertawa!

Beliau berkata: Sedekahkan nilai harga dirimu—yang paling tinggi—atas nama tuanmu, dan tidak perlu bagimu duduk di penjara dengan sia-sia tanpa ada manfaat, dan itu akan merugikanmu, serta menghambat kepentinganmu. Tidak ada manfaat bagi tuanmu dalam hal ini, tidak juga bagimu, tidak juga bagi kaum Muslimin, atau kata-kata semacam itu, dan Allah Yang Maha Mengetahui.”

  1. Ibnu Qayyim berkata: “Saya mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: Saya dan beberapa sahabat melewati sekelompok orang pada masa Tatar, mereka sedang minum khamr. Orang yang bersama saya mengingkari mereka, maka saya mengingkari dia (yang mengingkari itu), dan saya katakan kepadanya: Sesungguhnya Allah mengharamkan khamr karena ia menghalangi dari mengingat Allah dan dari shalat, sedangkan orang-orang ini, khamr menghalangi mereka dari membunuh jiwa, menculik keturunan, dan mengambil harta. Maka biarkan mereka.”

Melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Mimpi dan Meminta Fatwanya

Ibnu Qayyim berkata: “Syaikh kami berkata: Kadang-kadang saya bingung tentang keadaan orang yang saya shalati jenazahnya, apakah dia mukmin atau munafik? Maka saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mimpi, dan saya bertanya kepadanya tentang beberapa masalah, di antaranya masalah ini. Beliau bersabda: Wahai Ahmad, syaratnya, syaratnya. Atau beliau bersabda: Gantungkan doa dengan syarat.

Kemurahan Syaikhul Islam dalam Ilmu

Ibnu Qayyim berkata: “Di antara kemurahan dalam ilmu adalah bahwa ketika penanya bertanya kepadamu tentang suatu masalah, kamu menjawabnya dengan lengkap dan memuaskan, bukan jawabanmu hanya sekadar menghilangkan kebutuhan, seperti yang dilakukan sebagian orang yang menulis jawaban fatwa: ‘Ya’ atau ‘Tidak’ saja. Sungguh saya menyaksikan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam hal ini sesuatu yang mengagumkan. Beliau jika ditanya tentang masalah hukum, beliau menyebutkan dalam jawabannya madzhab-madzhab Imam yang Empat—jika memungkinkan—dan titik perbedaan pendapat, pentarjihan pendapat, serta menyebutkan hal-hal yang terkait dengan masalah tersebut yang mungkin lebih bermanfaat bagi penanya daripada pertanyaannya sendiri, sehingga kebahagiaannya dengan hal-hal terkait dan konsekuensinya itu lebih besar daripada kebahagiaannya dengan pertanyaannya. Inilah fatwa-fatwanya rahimahullah yang ada di tengah-tengah manusia, barangsiapa ingin mengetahuinya akan melihat hal itu.

Termasuk kemurahan seseorang dalam ilmu adalah bahwa dia tidak hanya membatasi pada pertanyaan penanya, tetapi menyebutkan kepadanya hal-hal yang serupa, hal-hal terkait, dan sumbernya, sehingga memuaskannya dan mencukupinya.

Para Sahabat radhiyallahu ‘anhum bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang orang yang berwudhu dengan air laut? Maka beliau bersabda: Air laut itu suci airnya, halal bangkainya. Beliau menjawab pertanyaan mereka, dan memberikan kepada mereka apa yang mungkin mereka pada beberapa waktu lebih membutuhkannya daripada yang mereka tanyakan.

Mereka jika bertanya kepadanya tentang hukum, beliau mengingatkan mereka pada illah dan hikmahnya, seperti ketika mereka bertanya tentang menjual buah basah dengan buah kering? Beliau bersabda: Apakah buah basah berkurang jika kering? Mereka menjawab: Ya. Beliau bersabda: Kalau begitu tidak boleh. Dan tidak tersembunyi bagi beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkurangnya buah basah ketika kering, tetapi beliau mengingatkan mereka pada illah hukum. Dan ini sangat banyak dalam jawaban-jawaban beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti sabda beliau: Jika engkau menjual buah kepada saudaramu, lalu terkena bencana, tidak halal bagimu mengambil sesuatu dari harta saudaramu, mengapa salah seorang dari kalian mengambil harta saudaranya tanpa hak? Dan dalam riwayat lain: Bagaimana pendapatmu jika Allah mencegah buah, mengapa salah seorang dari kalian mengambil harta saudaranya tanpa hak? Beliau menyebutkan secara jelas illah yang karena illah tersebut haram mewajibkannya membayar harga, yaitu Allah mencegah buah yang tidak ada andil pembeli dalam hal itu.

Para musuhnya—maksudnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah—mencela beliau karena hal itu, dan mereka berkata: Penanya bertanya kepadanya tentang jalan ke Mesir—misalnya—maka beliau menyebutkan kepadanya beserta jalan itu juga jalan ke Mekkah, Madinah, Khurasan, Irak, India, dan apa kebutuhan penanya dengan itu?

Demi umur Allah, itu bukan cacat, tetapi cacatnya adalah kebodohan dan kesombongan. Ini adalah tempat peribahasa yang terkenal:

Mereka menjulukinya asam padahal ia manis … seperti orang yang tidak sampai ke buah anggur

  1. Akhlak Syaikh, Sifat-sifatnya, dan Ibadahnya

Keadaan Syaikh dalam Sedekah dan Infak

Ibnu Qayyim berkata: “Saya menyaksikan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah jika keluar menuju shalat Jumat, beliau mengambil apa yang ada di rumah berupa roti atau lainnya, lalu bersedekah dengannya dalam perjalanannya secara sembunyi-sembunyi. Saya mendengarnya berkata: Jika Allah memerintahkan kita bersedekah sebelum bermunajat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka sedekah sebelum bermunajat dengan Allah Ta’ala lebih utama dan lebih berhak dengan keutamaan.”

Ibnu Qayyim berkata di tempat lain: “Penghapusan kewajiban sedekah sebelum bermunajat dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menghilangkan hukumnya sama sekali, tetapi dinasakh kewajiban dan tetap disunahkan serta dianjurkan, beserta apa yang diketahui dari isyarat dan petunjuknya, yaitu bahwa jika disunahkan sedekah sebelum bermunajat dengan makhluk, maka disunnahkannya sebelum bermunajat dengan Allah saat shalat dan doa lebih utama. Sebagian salafus shalih bersedekah sebelum shalat dan doa jika memungkinkan baginya, dan mengambil kesimpulan dari keutamaan ini.

Saya melihat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah melakukannya dan berusaha melakukannya semampu beliau, dan saya berbicara dengannya tentang hal itu, maka beliau menyebutkan kepada saya isyarat dan petunjuk ini.”

Keadaan Syaikh dalam Dzikir dan Doa

Ibnu Qayyim berkata: “Saya menyaksikan Syaikhul Islam rahimahullah jika masalah-masalah membuatnya lelah dan sulit baginya, beliau lari darinya kepada taubat, istighfar, meminta pertolongan kepada Allah, berlindung kepada-Nya, memohon agar diberi petunjuk yang benar dari sisi-Nya, dan meminta pembukaan dari perbendaharaan rahmat-Nya. Tidak lama kemudian pertolongan Ilahi datang berturut-turut kepadanya dengan deras, dan kemenangan-kemenangan Ilahi mendekat kepadanya, dimulai dengan yang mana saja.”

Ibnu Qayyim berkata: “Pantas bagi seorang mufti untuk memperbanyak doa dengan hadits shahih: Ya Allah, Rabb Jibril, Mikail, dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Engkau yang memutuskan di antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang mereka perselisihkan. Tunjukilah aku kepada kebenaran dalam apa yang diperselisihkan dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.

Syaikh kami banyak berdoa dengan itu, dan beliau jika masalah-masalah sulit baginya berkata: Wahai Pengajar Ibrahim, ajarkanlah aku, dan memperbanyak meminta pertolongan dengan itu, meneladani Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika beliau berkata kepada Malik bin Yukhamir As-Suksakiy saat kematiannya—dan beliau melihatnya menangis—maka berkata: Demi Allah, aku tidak menangis atas dunia yang biasa aku dapatkan darimu, tetapi aku menangis atas ilmu dan iman yang biasa aku pelajari darimu. Maka Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata: Sesungguhnya ilmu dan iman tempatnya ada, barangsiapa mencarinya akan menemukannya. Carilah ilmu pada empat orang: pada Uwaimir Abu Darda, pada Abdullah bin Mas’ud, Abu Musa Al-Asy’ari—dan menyebutkan yang keempat—jika empat orang ini tidak mampu, maka seluruh penduduk bumi lebih tidak mampu lagi, maka berpeganglah dengan Pengajar Ibrahim shallallahu ‘alaihi.”

Ibnu Qayyim menyebutkan pembacaan Ayat Kursi setelah shalat, kemudian berkata: “Dan sampai kepadaku dari syaikh kami Abu Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah bahwa beliau berkata: Aku tidak pernah meninggalkannya setelah setiap shalat.”

Ibnu Qayyim berkata: “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah jika urusan menjadi sangat berat baginya, beliau membaca ayat-ayat ketenangan. Saya mendengarnya berkata dalam peristiwa besar yang terjadi padanya dalam sakitnya, yang akal tidak mampu memikulnya—dari peperangan dengan roh-roh syaithaniyah yang menampakkan diri padanya ketika itu dalam keadaan kekuatan yang lemah—beliau berkata: Ketika urusan menjadi sangat berat bagiku, aku katakan kepada kerabat-kerabatku dan orang-orang di sekitarku: Bacalah ayat-ayat ketenangan. Beliau berkata: Kemudian keadaan itu hilang dariku, dan aku duduk dan tidak ada keluhan padaku.”

Ibnu Qayyim berkata: “Saya mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: Barangsiapa menjaga membaca: Ya Hayyu Ya Qayyum, laa ilaaha illa anta (Wahai Yang Mahahidup, Wahai Yang Maha Berdiri Sendiri, tiada Tuhan selain Engkau) setiap hari—antara sunnah Fajar dan shalat Fajar—empat puluh kali, Allah akan menghidupkan dengannya hatinya.”

Ibnu Qayyim berkata: “Saya hadir bersama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah suatu kali, beliau shalat Fajar, kemudian duduk berdzikir kepada Allah Ta’ala hingga mendekati pertengahan siang. Kemudian beliau menoleh kepadaku dan berkata: Ini sarapanku, dan jika aku tidak sarapan dengan sarapan ini, kekuatanku akan jatuh. Atau kata-kata yang mendekati ini.

Beliau berkata kepadaku suatu kali: Aku tidak meninggalkan dzikir kecuali dengan niat mengistirahatkan diriku dan melepaskan kelelahanku, agar aku siap dengan istirahat itu untuk dzikir yang lain. Atau kata-kata yang bermakna seperti ini.”

Ibnu Qayyim berkata: “Beliau—yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah—berkata dalam sujudnya—saat beliau dipenjara—: Allahumma a’inni ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatika (Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu) sekehendak Allah.”

Ibnu Qayyim berkata dalam pembahasan faedah dzikir: “Sesungguhnya dzikir memberikan kepada yang berdzikir kekuatan, sehingga dia melakukan dengan dzikir apa yang tidak mampu dilakukannya tanpa dzikir. Saya menyaksikan dari kekuatan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam berjalannya, perkataannya, keberaniannya, dan tulisannya sesuatu yang mengagumkan. Beliau menulis dalam satu hari dari karya tulis apa yang dapat ditulis oleh penyalin dalam seminggu atau lebih. Tentara menyaksikan dari kekuatannya dalam perang sesuatu yang luar biasa.”

Ibnu Qayyim berkata: “Yunus bin Ubaid berkata: Tidak ada seorang pun yang berada di atas kendaraan yang sulit, lalu dia berkata di telinganya: Maka apakah mereka mencari agama selain agama Allah, padahal kepada-Nya berserah diri siapa saja yang di langit dan di bumi, baik dengan sukarela maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nyalah mereka dikembalikan (Ali Imran: 83) kecuali kendaraan itu akan berhenti dengan izin Allah Ta’ala.

Syaikh kami rahimahullah berkata: Kami telah melakukan itu dan memang demikian.”

Membalas Kejahatan dengan Kebaikan

Ibnu Qayyim menyebutkan membalas kejahatan dengan kebaikan kemudian berkata: “Barangsiapa ingin memahami derajat ini sebagaimana mestinya, hendaklah melihat kepada sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan manusia, dia akan mendapatinya persis seperti ini. Kesempurnaan derajat ini tidak dimiliki oleh seorang pun selain beliau, kemudian bagi para pewaris darinya sesuai dengan bagian mereka dari warisan.

Saya tidak pernah melihat seorang pun yang mengumpulkan sifat-sifat ini seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Sebagian sahabat beliau yang besar berkata: Aku berharap aku bagi sahabat-sahabatku seperti dia bagi musuh-musuh dan lawan-lawannya. Saya tidak pernah melihatnya mendoakan keburukan bagi seorang pun dari mereka, dan beliau mendoakan mereka.

Suatu hari saya datang kepadanya memberi kabar gembira dengan kematian musuh terbesarnya dan yang paling keras permusuhan dan gangguannya kepada beliau, maka beliau memarahiku dan memperlakukan saya dengan buruk dan mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi raji’un, kemudian beliau bangun pada waktu itu juga ke rumah keluarganya dan menta’ziahkan mereka. Beliau berkata: Sesungguhnya aku bagi kalian menggantikan dia, dan tidak akan ada urusan kalian yang membutuhkan bantuan kecuali aku akan membantu kalian di dalamnya. Dan kata-kata semacam ini. Mereka senang dengannya, mendoakan beliau, dan mengagungkan sikap ini darinya. Maka semoga Allah merahmatinya dan meridhainya.”

Ketawaduannya dan Merendahkan Dirinya

Ibnu Qayyim berkata: “Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi orang yang jujur selain merealisasikan kemiskinan, kefakiran, kehinaan, dan bahwa dia bukan apa-apa, dan bahwa dia termasuk orang yang belum benar keislamannya sehingga mengaku kehormatan di dalamnya.

Sungguh saya menyaksikan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah tentang hal itu sesuatu yang tidak saya saksikan dari yang lain. Beliau sering berkata: Aku tidak punya apa-apa, tidak ada dariku apa-apa, dan tidak ada pada diriku apa-apa.

Beliau sering mengutip syair ini:

Aku si pengemis dan anak si pengemis … demikian juga ayahku dan kakekku

Jika dipuji di hadapannya, beliau berkata: Demi Allah, sesungguhnya sampai sekarang aku memperbarui keislamanku setiap waktu, dan aku belum benar-benar masuk Islam dengan baik.

Beliau mengirim kepadaku di akhir umurnya sebuah kaidah tafsir dengan tulisan tangannya, dan di baliknya ada beberapa bait syair dengan tulisan tangannya dari karangannya:

Aku adalah fakir kepada Rabb seluruh makhluk … Aku adalah orang miskin dalam segala keadaanku

dan dia melanjutkan setelahnya dengan beberapa bait syair yang akan datang secara lengkap.

Firasat Syekh:

Ibnu Qayyim berkata: “Sungguh aku telah menyaksikan dari firasat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah hal-hal yang menakjubkan, dan apa yang tidak aku saksikan darinya lebih besar dan lebih besar lagi, dan peristiwa-peristiwa firasatnya memerlukan kitab yang tebal:

  • Dia memberitahu sahabat-sahabatnya tentang masuknya Tartar ke Syam pada tahun 699 H, dan bahwa pasukan kaum muslimin akan kalah, dan bahwa Damaskus tidak akan mengalami pembunuhan massal, dan tidak pula penawanan massal, dan bahwa sasaran pasukan dan kekerasannya adalah pada harta benda, dan ini sebelum Tartar berniat untuk bergerak.
  • Kemudian dia memberitahu orang-orang dan para panglima pada tahun 702 H – ketika Tartar bergerak dan menuju Syam – bahwa kekalahan dan kehancuran ada pada mereka, dan bahwa kemenangan dan pertolongan bagi kaum muslimin, dan dia bersumpah atas hal itu lebih dari tujuh puluh kali sumpah, lalu dikatakan kepadanya: Katakan ‘Insya Allah,’ maka dia berkata: ‘Insya Allah sebagai penegasan bukan pengandaian.’

Dan aku mendengarnya mengatakan hal itu,” katanya: “Ketika mereka banyak mendesakku, aku katakan: Jangan terlalu banyak, Allah Taala telah menulis di Lauh Mahfuzh: bahwa mereka kalah pada serangan ini, dan bahwa kemenangan bagi pasukan Islam.” Katanya: “Dan aku memberi makan kepada sebagian panglima dan tentara manisnya kemenangan sebelum mereka keluar untuk menghadapi musuh.”

  • Dan firasat parsialnya selama kedua peristiwa ini seperti hujan.
  • Dan ketika dia dipanggil ke negeri Mesir dan hendak dibunuh – setelah panci-panci dimasak untuknya, dan urusan-urusan dibalik untuknya – sahabat-sahabatnya berkumpul untuk mengucapkan selamat tinggal kepadanya, dan mereka berkata: Telah datang surat-surat secara berturut-turut bahwa kaum itu akan membunuhmu. Maka dia berkata: Demi Allah mereka tidak akan sampai pada hal itu selamanya. Mereka berkata: Apakah engkau akan dipenjara? Dia berkata: Ya, dan penjaraku akan panjang, kemudian aku akan keluar dan berbicara tentang Sunnah di hadapan orang banyak. Aku mendengarnya mengatakan hal itu.

Dan ketika musuhnya yang dijuluki al-Jasyankir menjadi raja, mereka memberitahunya tentang hal itu, dan berkata: Sekarang dia telah mencapai keinginannya darimu. Maka dia bersujud syukur kepada Allah dan memperpanjangnya, lalu ditanyakan kepadanya: Apa sebab sujud ini? Maka dia berkata: Ini permulaan kehinaannya dan berpisahnya kehormatannya dari sekarang, dan dekatnya lenyapnya urusannya. Lalu ditanyakan kepadanya: Kapan ini? Maka dia berkata: Kuda-kuda tentara tidak akan diikat pada al-Qirt hingga kerajaannya terbalik. Maka terjadilah urusan itu seperti apa yang dia kabarkan. Aku mendengar hal itu darinya dan tentangnya.

  • Dan dia berkata suatu kali: Sahabat-sahabatku dan lainnya masuk menemuiku, lalu aku melihat di wajah dan mata mereka hal-hal dan aku tidak menyebutkannya kepada mereka. Lalu aku katakan kepadanya – atau yang lainnya –: Seandainya engkau memberitahu mereka? Maka dia berkata: Apakah kalian ingin aku menjadi peramal seperti peramal para penguasa?!
  • Dan aku katakan kepadanya suatu hari: Seandainya engkau memperlakukan kami dengan hal itu, akan lebih mendorong kepada istiqamah dan kebaikan. Maka dia berkata: Kalian tidak akan sabar bersamaku atas hal itu satu Jumat. Atau dia berkata: satu bulan.
  • Dan dia memberitahuku lebih dari satu kali tentang urusan-urusan batin yang berkaitan denganku dari apa yang aku tekadkan, dan lidahku tidak mengucapkannya.
  • Dan dia memberitahuku tentang beberapa peristiwa besar yang akan terjadi di masa depan, dan dia tidak menentukan waktunya, dan aku telah melihat sebagiannya, dan aku menunggu sisanya.
  • Dan apa yang disaksikan oleh sahabat-sahabat besarnya dari hal itu berlipat-lipat ganda dari apa yang aku saksikan, wallahu a’lam.”

Keadaan Syekh dengan Sahabat dan Murid-muridnya:

Ibnu Qayyim berkata: “Sungguh telah menceritakan kepadaku orang yang aku percayai bahwa seekor semut keluar dari rumahnya, lalu dia menemukan belahan belalang, lalu dia mencoba membawanya tetapi tidak sanggup, maka dia pergi dan datang bersamanya dengan para penolong yang membawanya bersamanya,” katanya: “Maka aku angkat hal itu dari tanah, lalu dia berkeliling di tempatnya tetapi tidak menemukannya, maka mereka pergi dan meninggalkannya,” katanya: “Maka aku letakkan hal itu, lalu dia kembali mencoba membawanya tetapi tidak sanggup, maka dia pergi dan datang dengan mereka, lalu aku angkat hal itu, lalu dia berkeliling, tetapi tidak menemukannya, maka mereka pergi.” Katanya: “Dia melakukan hal itu berulang kali, maka ketika pada kali terakhir semut-semut itu berbaris melingkar, dan menempatkannya di tengah-tengah mereka dan memotongnya anggota demi anggota.

Syekh kami berkata – dan aku telah menceritakan kisah ini kepadanya –: Semut-semut ini difitrahkan oleh Allah Subhanahu atas kejelekan dusta dan hukuman bagi pendusta.

Ibnu Qayyim berkata: “Tidak diragukan lagi bahwa kekuasaan cinta atas hati lebih besar dari kekuasaan orang yang menundukkan badan, maka di manakah orang yang menundukkan hatimu dan rohmu dibanding orang yang menundukkan badanmu? Dan karena itu para raja dan penguasa takjub dari penundukan mereka terhadap makhluk, dan penundukan orang yang dicintai kepada mereka dan kehinaan mereka kepadanya, maka ketika orang yang dicintai menyergap pencintanya, dan melihatnya secara tiba-tiba = hati merasakan serangan kekuasaannya atasnya, maka dia mengalami ketakutan dan gentar.

Dan aku bertanya suatu hari kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah quddisa Allahu ruhahu tentang masalah ini, lalu aku menyebutkan jawaban ini, maka dia tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa.”

Ibnu Qayyim berkata:

“Wahai kaum, demi Allah Yang Maha Agung, nasihat … dari orang yang peduli dan saudara bagi kalian yang menolong

Aku telah mencoba semua ini dan jatuh dalam … jaring-jaring itu dan aku adalah yang bersayap

Hingga Allah menakdirkan untukku dengan karunia-Nya … orang yang tanganku dan lisanku tidak dapat membalasnya

Seorang alim yang datang dari tanah Harran maka wahai … selamat datang bagi yang datang dari Harran

Maka Allah membalasnya dengan apa yang pantas baginya … dari surga tempat kembali bersama keridhaan

Tangannya mengambil tanganku dan berjalan tidak berhenti … hingga memperlihatkanku terbitnya iman”

Keadaan Syekh dalam Cobaan Khusus dan Umum:

Ibnu Qayyim berkata: “Dan termasuk kejahatan takwil adalah apa yang terjadi dalam Islam dari peristiwa-peristiwa setelah wafatnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hingga hari kita ini …” – kemudian dia menyebutkan sejumlah dari hal itu hingga dia berkata –: “Dan tidak terjadi pada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah apa yang terjadi dari musuh-musuhnya berupa penjara, dan permintaan untuk membunuhnya lebih dari dua puluh kali = kecuali karena takwil.”

Ibnu Qayyim berkata: “Ketika ditakdirkan pada kaki tentang pendahuluan Salman, naiklah dia dengan dalil taufik dari jalan bapak-bapaknya dalam Majusi, maka dia maju berdebat dengan bapaknya dalam agama syirik, maka ketika dia mengalahkannya dengan hujjah tidak ada baginya jawaban kecuali belenggu, dan ini jawaban yang digunakan oleh ahli batil dari hari mereka mengubahnya, dan dengan itu Firaun menjawab Musa: ‘Sungguh jika kamu menyembah tuhan selain aku, aku akan menjadikanmu salah seorang yang dipenjarakan’ (Asy-Syu’ara: 29), dan dengan itu kaum Jahmiyyah menjawab Imam Ahmad ketika mereka menampakkan cambuk kepadanya, dan dengan itu ahli bidah menjawab Syaikhul Islam ketika mereka memasukkannya ke penjara, dan inilah kami mengikuti jejak.”

Ibnu Qayyim berkata: “Dan aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah quddisa Allahu ruhahu berkata: Sesungguhnya di dunia ada surga, barangsiapa tidak memasukinya tidak akan masuk surga akhirat. Dan dia berkata kepadaku suatu kali: Apa yang diperbuat musuh-musuhku terhadapku? Aku surgaku dan kebunku ada di dadaku, ke mana pun aku pergi ia bersamaku tidak meninggalkanku, sesungguhnya penjaraku adalah khalwat, pembunuhanku adalah syahid, dan pengusiranku dari negeriku adalah perjalanan.

Dan dia berkata di penjaranya di benteng: Seandainya aku memberikan kepada mereka emas memenuhi benteng ini tidak akan menyamai di sisiku syukur nikmat ini. Atau dia berkata: tidak akan memberi balasan kepada mereka atas apa yang mereka sebabkan untukku berupa kebaikan. Dan yang seperti ini.

Dan dia berkata dalam sujudnya – sementara dia dipenjara –: ‘Ya Allah bantulah aku atas dzikir-Mu dan syukur-Mu dan ibadah yang baik kepada-Mu’ sesuka Allah.

Dan dia berkata kepadaku suatu kali: Orang yang dipenjara adalah yang hatinya terpenjara dari Tuhannya Ta’ala, dan orang yang tertawan adalah yang ditawan oleh hawa nafsunya.

Dan ketika dia dimasukkan ke benteng dan berada di dalam temboknya, dia melihat kepadanya dan berkata: ‘(yaitu) suatu dinding yang mempunyai pintu, di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada azab. Mereka berseru kepada mereka’ (Al-Hadid: 13).

Dan demi Allah aku tidak melihat seorang pun yang lebih nikmat kehidupannya darinya sama sekali, dengan apa yang ada padanya dari kesempitan hidup, dan berseberangan dengan kemewahan dan kenikmatan, bahkan lawannya, dan dengan apa yang ada padanya dari penjara dan ancaman dan isu, dan dia dengan hal itu termasuk orang yang paling nikmat kehidupannya, dan paling lapang dadanya, dan paling kuat hatinya, dan paling gembira jiwanya, terlihatlah kesegaran kenikmatan pada wajahnya.

Dan kami jika ketakutan kami bertambah berat, dan prasangka kami buruk dan bumi menjadi sempit bagi kami = kami datang kepadanya, maka tidak lain hanyalah kami melihatnya dan mendengar ucapannya, maka hilanglah semua itu dan berubah menjadi kelapangan dan kekuatan dan keyakinan dan ketentraman.

Maka Maha Suci yang menyaksikan hamba-hamba-Nya surga-Nya sebelum perjumpaan dengan-Nya, dan membukakan untuk mereka pintu-pintunya di negeri amal, maka datang kepada mereka dari roh dan anginnya dan kebaikannya apa yang menguras kekuatan mereka untuk mencarinya dan berlomba kepadanya.”

Keadaan Syekh dalam Sakitnya dan Pengobatannya terhadap Orang Sakit:

Ibnu Qayyim berkata: “Dan menceritakan kepadaku syekh kami, dia berkata: Aku mulai sakit, lalu dokter berkata kepadaku: Sesungguhnya muthala’ahmu dan pembicaraanmu dalam ilmu menambah penyakit. Maka aku katakan kepadanya: Aku tidak sabar atas hal itu, dan aku mengadukan engkau kepada ilmumu, bukankah jiwa jika bergembira dan senang maka kuat tabi’atnya, lalu menolak penyakit? Maka dia berkata: Benar. Lalu aku katakan kepadanya: Maka sesungguhnya jiwaku senang dengan ilmu, maka kuat dengannya tabi’atnya, maka aku mendapat kelegaan. Maka dia berkata: Ini di luar pengobatan kami. Atau seperti itu.”

Ibnu Qayyim berkata: “Dan adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah jika urusan berat atasnya: membaca ayat-ayat sakinah.

Dan aku mendengarnya berkata dalam peristiwa besar yang terjadi padanya dalam sakitnya, yang akal-akal tidak sanggup memikulnya – dari peperangan roh-roh syaitaniyyah, yang tampak baginya pada waktu itu dalam keadaan lemahnya kekuatan – dia berkata: Maka ketika urusan berat atasku, aku katakan kepada kerabat-kerabatku dan yang di sekitarku: Bacalah ayat-ayat sakinah. Katanya: Kemudian lepas dariku keadaan itu, dan aku duduk dan tidak ada padaku keluhan.”

Ibnu Qayyim berkata: “Dan aku menyaksikan syekh kami mengirim kepada orang yang kerasukan seseorang yang berbicara dengan roh yang ada padanya, dan berkata: Syekh berkata kepadamu: Keluarlah, karena ini tidak halal bagimu, maka siuman orang yang kerasukan itu. Dan kadang dia berbicara dengannya sendiri, dan kadang roh itu bandel maka dia mengeluarkannya dengan pukulan, maka siuman orang yang kerasukan itu dan tidak merasakan sakit, dan sungguh kami dan lainnya menyaksikan dari hal itu berulang kali.

Dan dia sering membaca di telinga orang yang kerasukan: ‘Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?’ (Al-Mu’minun: 115).

Dan dia menceritakan kepadaku bahwa dia membacanya suatu kali di telinga orang yang kerasukan, maka roh itu berkata: Ya, dan memanjangkan suaranya dengannya. Katanya: Maka aku ambil tongkat untuknya, dan aku pukul dia dengannya pada urat lehernya hingga lelah kedua tanganku dari memukul, dan tidak ragu orang-orang yang hadir bahwa dia akan mati karena pukulan itu, maka di tengah pukulan itu dia berkata: Aku mencintainya. Maka aku katakan kepadanya: Dia tidak mencintaimu. Dia berkata: Aku ingin berhaji dengannya. Maka aku katakan kepadanya: Dia tidak ingin berhaji bersamamu. Maka dia berkata: Aku meninggalkannya sebagai penghormatan untukmu. Katanya: Aku katakan: Tidak, tetapi ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Dia berkata: Maka aku keluar darinya. Katanya: Maka duduk orang yang kerasukan itu menoleh kanan dan kiri. Dan dia berkata: Apa yang membawaku ke hadapan Syekh? Mereka berkata kepadanya: Dan pukulan ini semua? Maka dia berkata: Dan atas hal apa Syekh memukulku dan aku tidak berdosa?! Dan dia tidak merasa sama sekali bahwa dia terkena pukulan.

Dan dia mengobati dengan Ayat Kursi, dan dia memerintahkan dengan banyak membacanya orang yang kerasukan dan yang mengobatinya dengannya, dan dengan membaca al-Mu’awwidzatain.”

Dan dia menyebutkan mimisan, kemudian berkata: “Adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menulis di dahinya: ‘Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan air pun dikeringkan dan perintah pun diselesaikan’ (Hud: 44). Dan aku mendengarnya berkata: Aku menulisnya untuk lebih dari satu orang maka sembuh. Dan dia berkata: Dan tidak boleh menulisnya dengan darah orang yang mimisan, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang jahil, karena darah najis, maka tidak boleh ditulis dengannya kalam Allah Ta’ala.”

Keadaan Syekh dengan Ahli Zamannya:

Ibnu Qayyim berkata: “Dan sungguh sebagian muqallidin mengingkari Syaikhul Islam dalam pengajarannya di madrasah Ibnu al-Hanbali, dan itu wakaf untuk kaum Hanabilah, dan mujtahid bukan dari mereka, maka dia berkata: Hanyalah aku mengambil apa yang aku ambil darinya atas pengetahuanku dengan madzhab Ahmad, bukan atas taqlid-ku kepadanya.

Dan adalah mustahil kaum mutaakhirin ini berada pada madzhab para imam selain sahabat-sahabat mereka yang tidak taqlid kepada mereka, maka orang yang paling mengikuti Malik adalah Ibnu Wahb dan kelompoknya dari yang menetapkan hujjah dan tunduk kepada dalil di mana pun, dan demikian pula Abu Yusuf dan Muhammad paling mengikuti Abu Hanifah dari para muqallidin kepadanya dengan banyaknya perselisihan mereka berdua dengannya, dan demikian pula al-Bukhari dan Muslim dan Abu Dawud dan al-Atsram dan kelompok ini dari sahabat Ahmad paling mengikutinya dari para muqallidin murni yang bersandar kepadanya. Dan berdasarkan ini maka wakaf untuk pengikut para imam ahli hujjah dan ilmu lebih berhak dengannya dari para muqallidin dalam hakikat perkara.”

Ibn al-Qayyim menyebutkan masalah orang yang bangkrut (muflis) jika utang-utangnya telah menghabiskan seluruh hartanya, maka apakah sah pemberiannya (secara cuma-cuma) sebelum dilakukan penyitaan terhadap harta yang merugikan para pemberi utang? Dan ia menyebutkan dalam masalah ini ada dua pendapat: mazhab Malik dan Ibnu Taimiyah berpendapat tidak sah, sedangkan tiga imam lainnya berpendapat sah. Kemudian ia berkata: “Dan aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menceritakan tentang sebagian ulama di zamannya dari kalangan pengikut Ahmad bahwa ia mengingkari mazhab ini dan melemahkannya (yaitu pendapat tentang ketidaksahan), hingga ia diuji dengan seorang yang berutang yang memberikan hartanya secara cuma-cuma sebelum dilakukan penyitaan terhadapnya, lalu ia berkata: Demi Allah, mazhab Malik adalah yang benar dalam masalah ini.”

Ibn al-Qayyim berkata: “Di zaman kami ada seorang laki-laki yang ditunjuk untuk berfatwa, dan ia menjadi pemimpin dalam mazhabnya, dan wakil sultan mengirim kepadanya untuk meminta fatwa, lalu ia menulis: boleh begini, atau sah begini, atau terjadi (akadnya) dengan syaratnya. Maka wakil sultan mengirim kepadanya dengan mengatakan: Datang kepada kami fatwa-fatwa darimu yang isinya: boleh, atau terjadi, atau sah dengan syaratnya, sedangkan kami tidak mengetahui syaratnya, maka engkau harus menjelaskan syaratnya, atau jangan menulis seperti itu.

Dan aku mendengar guru kami berkata: Setiap orang pandai berfatwa dengan syarat ini, karena masalah apa pun yang datang kepadanya ia menulis di dalamnya: boleh dengan syaratnya, atau sah dengan syaratnya, atau diterima dengan syaratnya, dan semacamnya. Dan ini bukan ilmu, dan tidak memberi manfaat sama sekali selain membingungkan penanya dan membuatnya gelisah.”

Dan Ibn al-Qayyim berkata: “Aku mendengar guru kami berkata: Aku mendengar sebagian amir berkata tentang sebagian mufti di kalangan orang-orang zamannya: Mereka memiliki dalam satu masalah tiga pendapat, yang pertama: kebolehan, yang kedua: larangan, dan yang ketiga: perincian. Maka kebolehan untuk mereka, dan larangan untuk selain mereka, dan atas itulah praktiknya.”

Ibn al-Qayyim berkata: “Dan aku mendengar guru kami rahimahullahu taala berkata: Aku menghadiri akad majlis di hadapan wakil sultan dalam masalah wakaf yang telah difatwakan oleh qadhi negeri dengan dua jawaban yang berbeda. Lalu ia membacakan jawabannya yang sesuai dengan kebenaran, maka sebagian yang hadir mengeluarkan jawaban pertamanya dan berkata: Ini jawabanmu yang bertentangan dengan ini, bagaimana engkau menulis dua jawaban yang bertentangan dalam satu kejadian yang sama?! Maka hakim itu terdiam, lalu aku berkata: Ini dari ilmu dan agamanya, ia berfatwa pertama kali dengan sesuatu, kemudian menjadi jelas baginya kebenaran maka ia kembali kepadanya, sebagaimana imamnya berfatwa dengan suatu pendapat, kemudian menjadi jelas baginya yang bertentangan dengannya lalu ia kembali kepadanya, dan hal itu tidak mencela ilmu dan agamanya, demikian pula seluruh imam-imam. Maka qadhi itu senang dengan hal itu dan lega.”

Ibn al-Qayyim berkata: “Dan aku mendengar guru kami yang alim Ibnu Taimiyah quddisa allahu ruhahu berkata: Kami berada di hadapan wakil kesultanan dan aku di sampingnya, lalu sebagian yang hadir mengklaim bahwa ia memiliki titipan dariku, dan meminta agar aku duduk bersamanya dan disumpah. Maka aku berkata kepada qadhi Malikiyah (dan ia hadir): Apakah gugatan ini layak dan didengarkan? Ia menjawab: Tidak. Aku berkata: Lalu apa pendapat mazhabmu dalam hal seperti itu? Ia berkata: Takzir penggugat. Aku berkata: Maka hukumlah dengan mazhabmu. Maka penggugat itu diusir dan dikeluarkan.”

Dan Ibn al-Qayyim menyebutkan bahwa orang-orang yang bergaul itu beraneka ragam, dan ia menyebutkan di antaranya orang yang pergaulannya adalah panas demam bagi jiwa, yaitu orang yang berat, dibenci, dungu, yang tidak pandai berbicara sehingga memberi manfaat kepadamu, dan tidak pandai menyimak sehingga mendapat manfaat darimu, dan tidak mengenal dirinya sehingga menempatkannya pada tingkatannya. Sampai ia berkata: Dan aku melihat suatu hari di sisi guru kami quddisa allahu ruhahu seorang laki-laki dari jenis ini, dan guru itu menahannya, dan sungguh telah lemah kemampuannya untuk menahannya, maka ia menoleh kepadaku dan berkata: Duduk bersama orang berat adalah panas demam berkala. Kemudian ia berkata: Tetapi jiwa-jiwa kami telah terbiasa dengan demam, maka menjadi kebiasaan bagi mereka. Atau seperti yang ia katakan.”

Sikapnya dalam Amar Makruf dan Nahi Munkar

Pembelaannya terhadap Islam dan membela Islam, serta menangkal ahli bidah dan hawa nafsu:

Ibn al-Qayyim berkata: “Dan asal setiap bencana di dunia, sebagaimana yang dikatakan Muhammad asy-Syahrastani, adalah dari pertentangan nash dengan akal, dan mendahulukan hawa nafsu atas syariat. Dan manusia sampai hari ini berada dalam keburukan pertentangan ini dan keburukan akibatnya. Maka kepada Allah kami mengadu dan dengan-Nya kami meminta pertolongan.

Kemudian keluarlah dengan syaikh yang terlambat ini yang mempertentangkan antara akal dan naql hal-hal yang tidak dikenal sebelumnya: tarian al-Umaidi, hakikat-hakikat Ibnu Arabi, keraguan-keraguan ar-Razi, dan berkembanglah pasar filsafat, mantiq, dan ilmu-ilmu musuh-musuh para rasul yang mereka gembirakan ketika datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan bukti-bukti yang nyata, dan menjadi kekuasaan dan dakwah bagi pemilik ilmu-ilmu ini.

Kemudian Allah melihat kepada hamba-hamba-Nya dan membela kitab-Nya dan agama-Nya, dan mengangkat pasukan yang memerangi raja-raja mereka dengan pedang dan tombak, dan pasukan yang memerangi ulama-ulama mereka dengan hujjah dan bukti. Kemudian munculah yang muncul dari mereka di awal abad kedelapan, maka Allah mengangkat untuk agama-Nya Syaikhul Islam Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah quddisa allahu ruhahu, lalu ia memerangi mereka sepanjang hidupnya dengan tangan, hati, dan lisan. Dan ia membuka kebatilan mereka kepada manusia, dan menjelaskan tipuan dan penipuan mereka, dan menghadapi mereka dengan jelas makqul (yang masuk akal) dan shahih manqul (yang diriwayatkan dengan benar), dan menyembuhkan dan disembuhkan. Dan ia menjelaskan pertentangan mereka dan perpisahan mereka dengan hukum akal yang dengan itu mereka berdalil dan kepada itu mereka berdakwah, dan bahwa mereka adalah orang yang paling meninggalkan hukum dan keputusan-keputusannya. Maka tidak ada wahyu dan tidak ada akal! Maka ia menjatuhkan mereka dalam lubang mereka, dan melempar mereka dengan anak panah mereka, dan menjelaskan bahwa makqul mereka yang benar adalah pelayan bagi nash-nash para nabi yang menyaksikan kesahihannya baginya. Dan rincian kalimat global ini terdapat dalam kitab-kitab beliau.”

Dan Ibn al-Qayyim berkata:

Dan untuk apa pula adalah lawan kalian Syaikh keberadaan yang alim al-Harrani

Aku maksudkan Abu al-Abbas penolong sunnah al- Mukhtar penumpas sunnah setan

Demi Allah tidaklah dosa beliau sesuatu selain Pemurniannya terhadap hakikat iman

Ketika ia memurnikan tauhid dari syirik demikian Pemurniannya terhadap wahyu dari kedustaan

Perdebatannya dengan Jabariyah:

Dan Ibn al-Qayyim menyebutkan Jabariyah, kemudian berkata: “Dan guru kami Syaikhul Islam quddisa allahu ruhahu mengabarkan kepadaku bahwa ia mencela sebagian kelompok ini karena mencintai apa yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Lalu orang yang dicela itu berkata kepadanya: Kecintaan adalah api yang membakar dari hati segala sesuatu selain kehendak yang dicintai, dan semua yang ada di alam ini adalah kehendak-Nya, maka hal apa yang aku benci dari-Nya? Syaikh berkata: Maka aku berkata kepadanya: Jika Dia telah murka kepada suatu kaum dan melaknat mereka dan mencela mereka dan marah kepada mereka, lalu engkau mewalikan mereka dan mencintai mereka dan mencintai perbuatan-perbuatan mereka dan meridhainya, apakah engkau menjadi wali-Nya atau musuh-Nya? Ia berkata: Maka orang Jabari itu terdiam, dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.”

Menghancurkan berhala-berhala:

Ibn al-Qayyim berkata: “Dan sungguh ada banyak berhala di Damaskus, maka Allah memudahkan penghancurannya dengan tangan Syaikhul Islam dan hizbullah para muwahhid, seperti tiang yang dilumuri (al-amud al-mukhalaq), dan berhala yang ada di masjid an-Naranj dari tempat shalat yang disembah oleh orang-orang jahil, dan berhala yang ada di bawah penggilingan yang di dekat pekuburan orang-orang Nasrani yang dikunjungi orang-orang untuk bertabarruk dengannya. Dan ada patung berhala di sungai al-Qaluth yang mereka bernadzar kepadanya dan bertabarruk dengannya. Dan Allah memotong berhala yang ada di dekat ar-Ruhbah yang dinyalakan lampu di sisinya dan orang-orang musyrik bertabarruk dengannya. Dan itu adalah tiang panjang di atasnya ada batu seperti bola. Dan di dekat masjid Darb al-Hajar ada berhala yang telah dibangun di atasnya masjid kecil, yang disembah oleh orang-orang musyrik. Allah memudahkan penghancurannya.”

Pengingkaran terhadap orang yang melontarkan “hukum Allah” dalam masalah-masalah ijtihad:

Ibn al-Qayyim berkata: “Dan aku mendengar Syaikhul Islam berkata: Aku menghadiri majelis yang di dalamnya ada para qadhi dan lain-lain, maka terjadi perkara hukum yang dihukumi oleh salah satu dari mereka dengan pendapat Zufar. Maka aku berkata kepadanya: Apa hukum ini? Ia berkata: Ini adalah hukum Allah. Maka aku berkata kepadanya: Apakah pendapat Zufar sudah menjadi hukum Allah yang dengan itu Dia menghukumi dan mewajibkan kepada umat?! Katakanlah: Ini adalah hukum Zufar, dan jangan katakan: Ini adalah hukum Allah. Atau semacam perkataan ini.”

Pengingkarannya terhadap fatwa orang yang tidak memahami ucapan para fuqaha:

Ibn al-Qayyim berkata: “Terjadi pada sebagian orang yang menempatkan dirinya untuk berfatwa di kalangan orang-orang zaman kami: Apa yang dikatakan para fuqaha yang mulia tentang seorang laki-laki yang mewakafkan kepada ahlul dzimmah, apakah sah dan terikat hak penerimaan dengan statusnya dari mereka? Maka ia menjawab dengan keabsahan wakaf, dan terikatnya hak penerimaan dengan sifat itu. Dan ia berkata: Demikianlah yang dikatakan para ulama kami: Dan sah wakaf kepada ahlul dzimmah.

Maka guru kami mengingkari hal itu dengan sangat keras, dan berkata: Maksud para fuqaha dengan itu adalah bahwa statusnya sebagai ahlul dzimmah bukanlah penghalang dari keabsahan wakaf kepadanya karena kekerabatan atau penunjukan tertentu. Dan bukan maksud mereka bahwa kekafiran kepada Allah dan Rasul-Nya, dan penyembahan salib, dan perkataan mereka bahwa al-Masih adalah anak Allah adalah syarat untuk mendapatkan hak wakaf, sehingga barang siapa beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengikuti agama Islam tidak halal baginya mengambil dari wakaf setelah itu. Maka menjadi halal mengambilnya disyaratkan dengan pendustaan Allah dan Rasul-Nya, dan kekafiran terhadap agama Islam. Maka ada perbedaan antara status dzimmah sebagai penghalang dari keabsahan wakaf dan antara statusnya sebagai sebab. Maka kasar tabiat mufti ini, dan tebal pemahamannya, dan tebal penghalangnya dari itu sehingga tidak membedakan.”

Pembongkarannya terhadap kitab yang dipalsukan oleh orang-orang Yahudi:

Dan Ibn al-Qayyim menyebutkan orang-orang Yahudi, dan berkata: “Maka ketika Umar mengusir mereka ke Syam, berubah akad itu yang memuat pengakuan mereka di tanah Khaibar, dan menjadi bagi mereka hukum seperti ahlul kitab yang lain. Dan ketika pada sebagian masa kekuasaan yang tersembunyi di dalamnya sunnah dan tanda-tandanya, dan sebagian dari mereka menampakkan sebuah kitab yang telah mereka tua-kan dan palsukan, dan di dalamnya bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam menghapuskan jizyah dari orang-orang Yahudi Khaibar. Dan di dalamnya: kesaksian Ali bin Abi Thalib, dan Saad bin Muadz, dan sekelompok shahabat radhiyallahu anhum. Maka laku hal itu pada orang yang tidak tahu sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan peperangan-peperangannya dan sirah-sirahnya, dan mereka mengira bahkan meyakini keabsahannya. Maka mereka berjalan atas hukum kitab palsu ini, sampai dilemparkan kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah quddisa allahu ruhahu dan diminta darinya agar membantu pelaksanaannya dan beramal dengannya. Maka ia meludahinya, dan menunjukkan kedustaannya dengan sepuluh sisi:

Di antaranya: bahwa di dalamnya ada kesaksian Saad bin Muadz, sedangkan Saad wafat sebelum Khaibar secara pasti.

Dan di antaranya: bahwa dalam kitab itu ia menghapuskan jizyah dari mereka, sedangkan jizyah belum turun, dan para shahabat tidak mengenalnya ketika itu, karena turunnya adalah pada tahun Tabuk setelah Khaibar tiga tahun.

Dan di antaranya: bahwa ia menghapuskan dari mereka kulf (beban) dan sukhr (kerja paksa), dan ini mustahil. Karena tidak ada di zamannya kulf dan sukhr yang diambil dari mereka dan tidak dari yang lain. Dan sungguh Allah melindunginya dan melindungi para shahabatnya dari mengambil kulf dan sukhr. Dan itu hanyalah dari buatan raja-raja yang zalim, dan berlangsung urusan atasnya.

Dan di antaranya: bahwa kitab ini tidak disebutkan oleh seorang pun dari ahli ilmu dengan berbagai macam mereka. Maka tidak disebutkan oleh seorang pun dari ahli maghazi dan sirah, dan tidak oleh seorang pun dari ahli hadits dan sunnah, dan tidak oleh seorang pun dari ahli fiqh dan fatwa, dan tidak oleh seorang pun dari ahli tafsir. Dan mereka tidak menampakkannya di zaman salaf, karena pengetahuan mereka bahwa jika mereka memalsukan seperti itu akan diketahui kedustaannya dan kebatilannya. Maka ketika mereka meremehkan sebagian kekuasaan pada waktu fitnah dan tersembunyinya sebagian sunnah, mereka memalsukannya dan menua-kannya dan menampakkannya. Dan membantu mereka dalam hal itu ketamakan sebagian pengkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan tidak berlanjut bagi mereka hal itu sampai Allah membuka urusannya, dan khalifah-khalifah para rasul menjelaskan kebatilannya dan kedustaannya.”

Dan Ibn al-Qayyim menyebutkan peristiwa ini dengan susunan lain dari ucapan Syaikhul Islam sendiri, ia berkata:

“Maka ketika Umar radhiyallahu anhu mengusir mereka ke Syam, mereka menyangka bahwa mereka akan terus dibebaskan darinya, maka mereka memalsukan sebuah kitab yang memuat bahwa Rasulullah menghapuskannya dari mereka secara keseluruhan. Dan sungguh al-Khatib dan al-Qadhi dan lain-lain telah menyusun dalam pembatalan kitab itu karya-karya, mereka menyebutkan di dalamnya sisi-sisi yang menunjukkan bahwa yang ada di tangan mereka itu palsu dan batil.

Guru kami berkata: Dan ketika tahun tujuh ratus satu, sekelompok dari orang-orang Yahudi Damaskus menghadirkan perjanjian-perjanjian yang mereka klaim bahwa itu kuno, dan semuanya dengan tulisan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Dan mereka telah menutupnya dengan apa yang menunjukkan pengagungannya. Dan telah laku pada para penguasa dari waktu yang lama, maka terhapuslah jizyah dari mereka karena itu dan di tangan mereka ada tanda tangan para wali. Maka ketika aku melihatnya, jelas dalam dirinya apa yang menunjukkan kedustaannya dari banyak sisi:

Di antaranya: perbedaan tulisan-tulisan dengan perbedaan yang sangat besar dalam susunan huruf-huruf yang diketahui dengannya bahwa itu tidak keluar dari satu penulis. Dan semuanya menafikan bahwa itu tulisan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu.

Dan di antaranya: bahwa di dalamnya ada kesalahan bahasa yang menyalahi bahasa Arab yang tidak boleh dinisbatkan sepertinya kepada Ali radhiyallahu anhu dan tidak kepada yang lain.

Dan di antaranya: perkataan yang tidak boleh dinisbatkan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam hak orang-orang Yahudi, seperti perkataannya: bahwa mereka diperlakukan dengan pengagungan dan penghormatan. Dan perkataannya: Assalamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Dan perkataannya: Ahsanallahu bikum al-jaza (Allah memberikan balasan terbaik kepada kalian). Dan perkataannya: Dan atasnya untuk memuliakan orang baik kalian dan memaafkan orang jahat kalian. Dan selainnya.

Dan di antaranya: bahwa dalam kitab itu penghapusan kharaj dari mereka dengan statusnya di tanah Hijaz. Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak pernah menetapkan kharaj sama sekali. Dan tanah Hijaz tidak ada kharaj di dalamnya sama sekali. Dan kharaj adalah urusan yang wajib atas kaum muslimin, bagaimana dihapuskan dari ahlul dzimmah?!

Dan di antaranya: bahwa dalam sebagiannya penghapusan kulf dan sukhr dari mereka. Dan ini adalah yang dilakukan oleh raja-raja yang terlambat, tidak disyariatkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para khalifahnya.

Dan dalam sebagiannya: bahwa bersaksi di hadapannya Abdullah bin Salam, dan Kaab bin Malik, dan lain-lain dari ahbar (pendeta) Yahudi. Dan Kaab bin Malik bukan dari ahbar Yahudi, maka mereka menyangka bahwa ia adalah Kaab al-Ahbar, dan itu bukan dari shahabat. Dan ia masuk Islam pada masa Umar radhiyallahu anhu.

Dan di antaranya: bahwa lafazh perkataan dan susunannya bukan dari jenis perkataan Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Dan di antaranya: bahwa di dalamnya terdapat kepanjangan dan tambahan yang tidak menyerupai perjanjian-perjanjian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan di dalamnya terdapat aspek-aspek lain yang beragam, seperti bahwa perjanjian-perjanjian ini tidak disebutkan oleh seorang pun dari para ulama terdahulu sebelum Ibnu Syuraih, dan mereka tidak menyebutkan bahwa perjanjian-perjanjian itu diajukan kepada salah seorang dari para penguasa sehingga mereka mengamalkannya, dan hal seperti itu termasuk yang wajib tersebar dan diriwayatkan.

Saya (Ibnu Qayyim) berkata: Dan di antaranya bahwa ini tidak diriwaykan oleh seorang pun dari para penyusun kitab-kitab sirah dan sejarah, dan tidak diriwayatkan oleh seorang pun dari ahli hadits maupun selain mereka sama sekali, dan ini hanya dikenal dari pihak orang-orang Yahudi, dan dari mereka bermula dan kepada mereka kembali.

Pengingkarannya terhadap orang yang berfatwa padahal bukan ahlinya:

Dan Ibnu Qayyim menyebutkan tentang orang yang memberi fatwa kepada manusia padahal dia bukan ahli untuk itu, kemudian dia berkata: “Dan guru kami radhiyallahu ‘anhu sangat keras dalam mengingkari orang-orang ini, maka saya mendengarnya berkata: Seseorang dari orang-orang ini berkata kepadaku: Apakah engkau dijadikan muhtasib (pengawas) atas fatwa? Maka aku berkata kepadanya: Apakah ada muhtasib untuk para tukang roti dan tukang masak, tetapi tidak ada muhtasib untuk fatwa?!”

Nasihat dan bimbingan Syaikh:

— Cacat jiwa dan bagaimana menolaknya:

Ibnu Qayyim menyebutkan cacat-cacat yang ada pada jiwa dan bagaimana cara menghadapinya, kemudian berkata: “Dan suatu hari saya bertanya kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah tentang masalah ini, yaitu memotong cacat-cacat dan kesibukan dengan membersihkan dan menyucikan jalan-jalan? Maka beliau berkata kepadaku dengan ringkasan ucapannya: Jiwa itu seperti bathus—yaitu sumur kotoran—setiap kali engkau menggalinya maka akan muncul dan keluar, tetapi jika engkau mampu menutupnya, melintasinya, dan melewatinya maka lakukanlah, dan janganlah sibuk menggalinya, karena engkau tidak akan sampai ke dasarnya, dan setiap kali engkau menggali sesuatu maka akan muncul yang lainnya.

Maka saya berkata: Saya bertanya tentang masalah ini kepada sebagian syaikh, maka dia berkata kepadaku: Perumpamaan cacat-cacat jiwa seperti perumpamaan ular dan kalajengking yang ada di jalan musafir, maka jika dia sibuk memeriksa jalan dari hal-hal itu dan sibuk membunuhnya, dia akan terputus dan tidak akan mungkin bisa melakukan perjalanan sama sekali, tetapi hendaknya semangat dan cita-citamu adalah berjalan dan berpaling darinya, dan tidak memperhatikannya, maka jika muncul padamu sesuatu di antaranya yang menghalangimu dari perjalanan maka bunuhlah dia, kemudian lanjutkanlah perjalananmu.

Maka Syaikhul Islam menganggap baik hal itu sekali, dan memuji orang yang mengatakannya.”

Dan dia berkata: “Dan Syaikhul Islam radhiyallahu ‘anhu berkata kepadaku ketika saya terus mengajukan pertanyaan demi pertanyaan: Janganlah engkau jadikan hatimu untuk pertanyaan-pertanyaan dan syubhat-syubhat seperti spons yang menyerapnya, sehingga tidak memancarkan kecuali dengannya, tetapi jadikanlah dia seperti kaca yang padat, syubhat-syubhat lewat di luarnya dan tidak menetap di dalamnya, sehingga dia melihatnya dengan kejernihannya, dan menolaknya dengan kekerasannya, jika tidak maka jika hatimu menyerap setiap syubhat yang lewat padanya maka akan menjadi tempat bagi syubhat-syubhat. Atau seperti itu yang beliau katakan.

Maka saya tidak mengetahui bahwa saya mendapat manfaat dari suatu nasihat dalam menolak syubhat-syubhat seperti manfaat saya dengan hal itu.”

— Berpindah dari madzhab:

Ibnu Qayyim berkata: “Dan sungguh saya mendengar guru kami rahimahullah berkata: Seseorang dari para fuqaha dari kalangan Hanafiyyah datang kepadaku lalu berkata: Aku meminta nasihatmu dalam suatu perkara. Aku berkata: Dan apa itu? Dia berkata: Aku ingin berpindah dari madzhabku. Aku berkata kepadanya: Mengapa? Dia berkata: Karena aku melihat hadits-hadits shahih yang banyak menyelisihinya, dan aku meminta nasihat dalam hal ini kepada sebagian imam-imam dari kalangan pengikut Asy-Syafi’i maka dia berkata kepadaku: Sekalipun engkau kembali dari madzhabmu, hal itu tidak akan menghilangkan madzhab itu, dan sungguh madzhab-madzhab telah mapan, dan kembalinya engkau tidak bermanfaat. Dan sebagian syaikh-syaikh tasawuf menasihati kepadaku dengan bersikap fakir kepada Allah dan memohon kepadaNya dan meminta petunjuk kepada apa yang Dia cintai dan ridhai, maka apa yang engkau sarankan kepadaku?

Beliau berkata: Maka aku berkata kepadanya: Jadikanlah madzhab itu tiga bagian: Bagian yang kebenaran di dalamnya jelas dan terang sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah, maka putuskanlah dengannya dan engkau tenang jiwanya dan lapang dadanya.

Dan bagian yang lemah dan penyelisihnya memiliki dalil, maka janganlah engkau berfatwa dengannya dan jangan memutuskan dengannya dan tolaklah dia darimu.

Dan bagian dari masalah-masalah ijtihad yang dalil-dalilnya saling tarik-menarik, maka jika engkau mau berfattwa dengannya, dan jika engkau mau menolaknya darimu. Maka dia berkata: Jazakallahu khairan. Atau seperti itu yang beliau katakan.”

— Meminta pertolongan kepada Allah:

Ibnu Qayyim menyebutkan berlindung kepada Allah dari syaithan yang terkutuk, kemudian berkata: “Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah—quddisa Allahu ruhahu—berkata kepadaku suatu hari: Jika anjing kambing menyerangmu maka janganlah engkau sibuk memerangi dan menangkisnya, dan hendaklah engkau (mendatangi) penggembala maka mintalah pertolongan kepadanya, maka dia yang akan mengusir anjing darimu.”

— Hemat dalam perkara mubah:

Ibnu Qayyim berkata: Dan suatu hari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah—quddisa Allahu ruhahu—berkata kepadaku dalam sesuatu dari perkara mubah: “Ini menafikan tingkatan-tingkatan yang tinggi, meskipun meninggalkannya bukan syarat dalam keselamatan. Atau seperti ini dari ucapan.”

— Menunjukkan kepada siapa yang memberi fatwa:

Dan Ibnu Qayyim menyebutkan bahwa seorang alim harus berhati-hati dalam menunjukkan orang yang meminta fatwa kepada selainnya, dan berkata: “Guru kami—quddisa Allahu ruhahu—sangat menghindari hal itu, dan suatu kali aku menunjukkan dengan kehadirannya kepada seorang mufti atau madzhab, maka beliau membentakku, dan berkata: Apa urusanmu dengannya? Tinggalkanlah dia. Maka aku memahami dari ucapannya: Sesungguhnya engkau akan menanggung apa yang mungkin terjadi padanya dari dosa dan bagi orang yang dia beri fatwa.”

Orang yang melihat Syaikh setelah wafatnya

Ibnu Qayyim berkata: “Dan sungguh menceritakan kepadaku lebih dari satu orang yang tidak condong kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah bahwa dia melihatnya setelah kematiannya dan bertanya kepadanya tentang sesuatu yang menjadi masalah baginya dari masalah-masalah faraid dan lainnya maka beliau menjawabnya dengan jawaban yang benar.”

Ibnu Qayyim berkata: “Dan buah ridha adalah: Kegembiraan dan kebahagiaan dengan Rabb tabaraka wa ta’ala.

Dan saya melihat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah—quddisa Allahu ruhahu—dalam mimpi, dan seolah-olah saya menyebutkan sesuatu kepadanya dari amal-amal hati, dan saya mulai mengagungkannya dan manfaatnya—saya tidak mengingatnya sekarang—, maka beliau berkata: Adapun aku maka jalanku adalah: Kegembiraan dengan Allah dan kebahagiaan denganNya. Atau seperti ini dari ungkapan.

Dan begitulah keadaannya dalam kehidupan, hal itu tampak pada lahirnya, dan keadaannya menyerukan hal itu.”

Syair

Dan kami sebutkan di sini bait-bait syair yang ditegaskan oleh Ibnu Qayyim bahwa Syaikh mengatakannya, atau sering mengutipnya.

Ibnu Qayyim berkata: “Dan sebagian kerabat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menceritakan kepadaku, dia berkata: Beliau di awal keadaannya terkadang keluar ke padang pasir, menyendiri dari manusia, karena kuatnya apa yang datang padanya, maka suatu hari saya mengikutinya, maka ketika dia berada di padang pasir dia menghela napas panjang, kemudian beliau mengutip ucapan penyair—dan itu adalah Majnun Laila dari qashidahnya yang panjang—:

Dan aku keluar dari antara rumah-rumah semoga aku Berbicara tentangmu dengan hati dalam kesendirian dengan rahasia

Dan dia berkata: “Dan saya mendengar Syaikhul Islam Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah—quddisa Allahu ruhahu—berkata: Bagaimana bisa diminta dalil atas Dia yang menjadi dalil atas segala sesuatu? Dan beliau sering mengutip bait ini:

Dan tidak benar dalam pikiran sesuatu pun Jika siang membutuhkan dalil

Ibnu Qayyim berkata: “Dan beliau—yaitu Syaikhul Islam—sering mengutip bait ini:

Aku si pengemis dan anak pengemis Dan begitulah ayahku dan kakekku

Ibnu Qayyim berkata: “Dan radhiyallahu ‘an Syaikhina ketika beliau berkata:

Jika mencintai para sahabat itu nashibi (permusuhan) Maka sesungguhnya aku—sebagaimana mereka sangka—seorang nashibi Dan jika tidak mencintai Ahlul Bait itu rafidhi (penolakan) Maka semoga penolakan tidak pernah meninggalkan sisiku

Dan Ibnu Qayyim berkata: “Dan quddisa Allahu ruha sang penyair ketika berkata—dan dia adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah—:

Jika mencintai sahabat-sahabat Muhammad itu nashibi Maka biarlah dua umat (manusia dan jin) menyaksikan bahwa aku seorang nashibi

Ibnu Qayyim berkata: “Dan beliau mengirimkan kepadaku di akhir umurnya sebuah kaidah dalam tafsir dengan tulisan tangannya, dan di belakangnya ada bait-bait dengan tulisan tangannya dari syairnya:

Aku yang fakir kepada Rabb segala makhluk Aku yang miskin dalam keseluruhan keadaanku Aku yang zalim terhadap diriku dan dia (diri) zalim terhadapku Dan kebaikan jika datang kepada kami dari sisiNya yang datang Aku tidak mampu bagi diriku menarik suatu manfaat Dan tidak bagiku dari diri menolak bahaya-bahaya Dan tidak ada bagiku selain Dia maulana yang mengaturku Dan tidak ada pemberi syafaat ketika kesalahan-kesalahanku mengelilingi Kecuali dengan izin dari Ar-Rahman Pencipta kami Kepada pemberi syafaat sebagaimana telah datang dalam ayat-ayat Dan aku tidak memiliki sesuatu pun selain Dia sama sekali Dan tidak menjadi sekutu aku dalam sebagian zarrah Dan tidak ada penolong bagiNya agar Dia meminta bantuan padanya Sebagaimana terjadi bagi para pemilik kekuasaan Dan kefakiran bagiku sifat zat yang melekat selamanya Sebagaimana kekayaan selamanya sifat bagi zatNya Dan ini keadaan seluruh makhluk semuanya Dan semuanya pada sisiNya adalah hamba bagiNya yang datang Maka barangsiapa mencari tujuan dari selain Penciptanya Maka dialah orang yang bodoh, zalim, musyrik lagi durhaka Dan segala puji bagi Allah sepenuh alam seluruhnya Apa yang ada darinya, dan apa yang setelahnya datang

 

 

32 – Al-Kafiyah Ash-Shafiyah

Karya Ulama Syamsuddin Muhammad bin Abi Bakr yang Dikenal dengan Ibnu Qayyim (751 H)

Dan jika engkau ingin melihat tempat-tempat tewasnya orang-orang yang telah berlalu dari golongan yang menonaktifkan sifat-sifat Allah dan kekufuran

Dan engkau melihat mereka sebagai tawanan yang hina keadaan mereka, tangan mereka dibelenggu hingga ke dagu

Dan engkau melihat mereka di bawah tombak-tombak sebagai sasaran, tidak ada di antara mereka seorang penunggang kuda yang pemberani

Dan engkau melihat mereka di bawah pedang-pedang yang menyerang mereka dari kiri mereka dan dari kanan

Dan engkau melihat mereka terlepas dari dua wahyu dan akal sehat serta tuntunan Al-Quran

Dan engkau melihat mereka demi Allah menjadi bahan tertawaan yang mengejek, padahal mereka sering mengejek keimanan

Sungguh telah sunyi dari mereka dataran yang Allah Yang Maha Perkasa tambahkan kesunyiannya sepanjang masa

Dan kosong rumah-rumah mereka dan bercerai-berai persatuan mereka, tidak ada di antara mereka dua orang yang bersatu

Allah telah kosongkan hati-hati mereka dari setiap pengetahuan dan dari keimanan

Ketika mereka mengosongkan Ar-Rahman dari sifat-sifat-Nya dan Arasy mereka kosongkan dari Ar-Rahman

Bahkan mereka mengosongkan-Nya dari sifat berbicara dan dari sifat-sifat kesempurnaan-Nya dengan kejahilan dan kebohongan

Maka bacalah karya-karya tulis Imam yang sebenarnya, syaikh alam semesta yang alim lagi rabbani

Maksudku Abul Abbas Ahmad, lautan yang meliputi seluruh teluk-teluk

Dan bacalah kitab “Daarul Ta’arudh bainal Aql wan Naql” yang tidak ada tandingannya yang kedua di alam semesta

Dan demikian pula “Minhajus Sunnah” miliknya dalam bantahannya terhadap perkataan Rafidhah pengikut setan

Dan demikian pula ahli Mutazilah maka sesungguhnya dia telah membinasakan mereka dalam lubang orang pengecut

Dan demikian pula At-Taasis, “Naqdhu At-Taasis”-nya menjadi keajaiban bagi ulama yang rabbani

Dan demikian pula “Jawaban-jawabannya untuk Mesir” dalam enam jilid yang ditulis tebal

Dan demikian juga “Jawaban untuk Nasrani” di dalamnya apa yang menyembuhkan dada-dada dan ia dua jilid

Dan demikian pula “Syarah Aqidah Al-Ashbahani” penafsir Al-Mahshul dengan syarah yang jelas

Di dalamnya “An-Nubuwwat” yang penetapannya dalam tingkat paling sempurna penjelasan dan keterangannya

Demi Allah, tidak ada bagi ahli kalam tandingannya selamanya dan kitab-kitab mereka ada di setiap tempat

Dan demikian pula baru terjadinya alam atas dan bawah, di dalamnya penjelasan yang paling sempurna

Dan demikian pula “Qawaid Al-Istiqamah” sesungguhnya ia dua jilid yang besar di antara kita

Dan aku membaca kebanyakannya kepadanya maka ia menambahiku demi Allah dalam ilmu dan dalam keimanan

Ini seandainya aku menyangka bahwa ia meninggal sebelumku maka ini adalah keadaannya

Dan demikian pula tauhid para filosof yang tauhid mereka adalah puncak kekufuran

Satu jilid yang ringan di dalamnya “bantahan terhadap pokok-pokok mereka” dengan hakikat yang masuk akal dan dalil

Dan demikian pula “Tis’iniyyah” di dalamnya untuknya bantahan terhadap orang yang berkata dengan jiwa

Sembilan puluh wajah yang menjelaskan kebatilannya, maksudku kalam jiwa yang tunggal itu

Dan demikian “Qawaidnya yang Besar” dan sesungguhnya ia lebih dari dua ratus menurut hitungan

Syairku tidak cukup untuk menghitungnya maka aku sebutkan dengan beberapa isyarat untuk penjelasan

Dan demikian pula “Surat-suratnya” ke negeri-negeri dan pelosok-pelosok dan sahabat-sahabat dan saudara-saudara

Ia tersebar di manusia, diketahui, dibeli dengan harga yang mahal

Dan demikian pula “Fatwa-fatwanya” maka beritahu aku orang yang senantiasa mengelilinginya

Sampai kepada apa yang aku temukan darinya sejumlah hari-hari dari sebulan tanpa kurang

Satu jilid yang sama dengan setiap hari, dan yang telah luput dariku darinya tanpa hitungan

Ini dan “Tafsir” tidak kurang dari sepuluh jilid besar, bukan yang kurang

Dan demikian pula “Al-Mafarid” yang dalam setiap masalah maka satu jilid yang jelas keterangannya

Antara sepuluh atau bertambah dua kali lipatnya, ia seperti bintang-bintang bagi orang yang berjalan yang bingung

Dan baginya kedudukan-kedudukan yang terkenal di dunia, dia tegakkan untuk Allah bukan pengecut

Dia menolong Allah dan agama-Nya dan kitab-Nya dan Rasul-Nya dengan pedang dan dalil

Dia menampakkan aib-aib mereka dan menjelaskan kejahilan mereka dan menunjukkan pertentangan mereka di setiap zaman

Dan dia jadikan mereka demi Allah di bawah sandal-sandal ahli haq setelah pakaian-pakaian mahkota

Dan dia jadikan mereka di bawah tempat yang paling rendah padahal mereka adalah tokoh-tokoh negeri

Dan di antara keajaiban bahwa dia dengan senjata mereka membinasakan mereka ke bawah tempat yang paling rendah

Ubun-ubun kami berada di tangan mereka maka tidak ada dari kami untuk mereka kecuali tawanan yang hina

Maka ubun-ubun mereka menjadi di tangan kami maka mereka tidak menemui kami kecuali dengan tali pengaman

Dan raja-raja mereka menjadi budak-budak untuk penolong-penolong Rasul dengan nikmat Ar-Rahman

Dan datang tentara-tentara mereka yang mereka berbangga dengan mereka, patuh kepada pasukan-pasukan keimanan

Mengetahui ini orang yang memiliki berita tentang apa yang telah dikatakan dalam Tuhan-nya dua golongan

Dan ketiadaan menyengsarakan kami dan tidak ada kalian di sana, maka kehadirannya dan ketidakhadirannya sama

 

 

33 – Al-Ishal Li Kitab Ibnu Sulaym Wa Ibnu Nuqthah Wal Ikmal

Karya Ulama Mughlathay bin Qilij Al-Mishri (wafat 762 H)

Guru kami Imam tanpa keraguan Taqiyuddin Ahmad bin Abdul Halim Ibnu Taimiyyah, yang penyebutannya merata di seluruh negeri, dan ilmunya tersebar di seluruh kota, maka karena itu kami tidak perlu memperkenalkan keadaannya.

Aku melihatnya di Kairo, dan dia memberiku ijazah secara lisan di sana, dan aku mendatanginya untuk minta diri, dan aku minta wasiat dan doa kepadanya maka dia berkata kepadaku: Wahai anak muda, kami meriwayatkan dalam kitab At-Tirmidzi dengan sanad yang tetap bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Ibnu Abbas: “Wahai anak muda, aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat, jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu, jagalah Allah niscaya kamu mendapati-Nya di hadapanmu, jika kamu meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika kamu meminta pertolongan maka mintalah pertolongan kepada Allah, dan ketahuilah bahwa umat seandainya berkumpul untuk memberimu manfaat dengan sesuatu, mereka tidak akan memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tulis untukmu, dan seandainya mereka berkumpul untuk mencelakaimu dengan sesuatu, mereka tidak akan mencelakaimu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tulis atasmu. Telah diangkat pena-pena, dan telah kering lembaran-lembaran.”

Demikian dia sebutkan tanpa sanad, dan aku tidak meriwayatkan darinya hadits yang dia gantungkan sanadnya selain ini, dan dia meriwayatkannya dari Abul Hasan bin Al-Bukhari secara mendengar, memberitahu kami Ibnu Thabarzad, memberitahu kami Al-Karukhi, memberitahu kami Abu Al-Fath Al-Harawi, memberitahu kami Abu Amir Al-Azdi dan Abu Nashr At-Tiryaqi dan Abu Bakr Al-Ghurji mereka berkata: memberitahu kami Abu Muhammad Al-Jarrahi, memberitahu kami Abul Abbas Al-Mahbubi, memberitahu kami At-Tirmidzi, menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Musa, menceritakan kepada kami Ibnul Mubarak, memberitahu kami Laits bin Sa’d dan Ibnu Lahi’ah dari Qays bin Al-Hajjaj. Dan menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman, memberitahu kami Abul Walid, menceritakan kepada kami Laits bin Sa’d, menceritakan kepadaku Qays bin Al-Hajjaj, maknanya satu, dari Hanasy Ash-Shan’ani dari Ibnu Abbas, lalu dia sebutkan, dan dia berkata: ini hadits hasan shahih.

Dan sungguh sampai kepada kami hadits ini lebih tinggi dari jalurnya dengan tiga tingkat, maka seakan-akan aku dari segi bilangan mendengarnya dari Al-Karukhi, dan wafatnya pada tahun delapan empat puluh delapan dan lima ratus. Memberitahu kami Abu Al-Fath Yunus Al-Asqalani dengan bacaan kepadanya dan aku mendengar, memberitahu kami Ibnul Jumayzi dan lainnya dari As-Silafi memberitahu kami Abu Al-A’la Muhammad bin Abdul Jabbar bin Muhammad Ad-Dhabbi Al-Farsani, menceritakan kepada kami Abdullah Al-Jammal, dari Abdullah bin Ja’far bin Faris, dari Yunus bin Habib, memberitahu kami Abul Walid At-Thayalisi, lalu dia sebutkan.

ULAMA: KHALIL BIN AIBAK ASH-SHAFADI (764 H)

34 – A’yan Al-Ashr wa A’wan An-Nashr

Al-Wafi bil Wafayat A’yan Al-Ashr wa A’wan An-Nashr

Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Abul Qasim.

Syaikh Imam ulama yang sangat alim, mufassir, ahli hadits, mujtahid, hafizh, Syaikhul Islam, keajaiban zaman, yang unik di masanya, Taqiyuddin Abul Abbas putra Syaikh Syihabuddin putra Imam Majduddin Abul Barakat Ibnu Taimiyyah.

Dia mendengar dari Ibnu Abdul Da’im, dan Ibnu Abul Yusr, dan Al-Kamal Ibnu Abd, dan Ibnu Abil Khair, dan Ibnush Shairafi, dan Asy-Syaikh Syamsuddin, dan Al-Qasim Al-Irbili, dan Ibnu Allan, dan banyak orang. Dan dia bersungguh-sungguh dan memperbanyak, dan dia membaca sendiri kepada sejumlah orang, dan mengambil pilihan, dan menyalin beberapa juz, dan Sunan Abu Dawud. Dan dia melihat dalam rijal dan ilal, dan menjadi salah satu imam kritik dan dari ulama hadits, dengan ketakwaan dan ketaatan.

Kemudian dia menghadap kepada fikih dan kehalusannya, dan menyelami pembahasannya.

Dia dipindahkan oleh ayahnya dari Harran ke Damaskus tahun enam puluh tujuh dan enam ratus, dan Taimiyyah adalah gelar untuk kakek moyangnya.

Dia bermadzhab kepada Imam Ahmad bin Hanbal, maka tidak ada seorang pun dalam madzhabnya yang lebih terkenal dan tidak lebih mulia. Dan dia berdebat dan berjuang melawan lawan-lawannya yang berani, dan dia berdebat dengan musuh-musuhnya di tengah medan pertempurannya, dan dia melapangkan kesempitan pembahasan dengan dalil-dalil yang memutuskan, dan dia menolong pendapat-pendapatnya dalam kegelapan keraguan dengan bukti-bukti yang terang. Seakan-akan sunnah di ujung lisannya, dan ilmu-ilmu hadits tersalur dalam khazanah jiwanya, dan pendapat-pendapat ulama terpampang di depan penglihatannya. Aku tidak melihat, aku dan selain aku seperti hafalannya, dan tidak seperti kecepatannya kepada dalil-dalil dan kecepatan menghadirkannya, dan tidak seperti penyandarannya hadits kepada asalnya yang di dalamnya titik peredarannya. Adapun ilmu dua pokok fikih dan kalam, dan pemahaman dan penyampaian, maka dia adalah keajaiban bagi yang mendengarnya, mukjizat bagi yang menghitung apa yang dia datangkan atau yang mengumpulkannya.

Dia menurunkan cabang-cabang ke tempatnya dari pokok-pokoknya, dan dia mengembalikan qiyas-qiyas kepada sumber-sumbernya dari hasil yang dikumpulkan.

Adapun aliran-aliran dan madzhab-madzhab, dan perkataan-perkataan para pemilik bid’ah yang pertama, dan pengetahuan tentang para pemilik madzhab, dan apa yang mereka khususkan dengannya dari pembukaan-pembukaan dan pemberian-pemberian; maka dia dalam itu adalah lautan yang bergelombang, dan anak panah yang menembus dengan sama tidak melenceng.

Adapun madzhab yang empat maka kepadanya dalam itu isyarat, dan atas apa yang dia nukil, peliputan dan perputaran.

Adapun nukilan madzhab salaf, dan apa yang terjadi setelah mereka dari khalaf; maka itu adalah keahliannya, dan dia dalam waktu perang adalah perisainya, jarang lawannya yang menghadapinya dan bangkit terpotong, atau lepas darinya pembantahnya kecuali dia mengeluh dari rasa sakit dan kelelahan.

Adapun tafsir maka tangannya di dalamnya panjang, dan uraiannya di dalamnya menjadikan mata-mata kepadanya juling.

Kecuali bahwa dia menyendiri dengan masalah-masalah yang aneh, dan dia menguatkan di dalamnya pendapat-pendapat yang lemah menurut jumhur yang tercela, hampir dari itu dia jatuh dalam jurang, dan selamat darinya karena apa yang ada padanya dari niat yang diharapkan. Dan Allah mengetahui maksudnya dan apa yang lebih kuat dari dalil-dalil di sisinya.

Dan tidak ada sesuatu yang menghancurkannya seperti masalah ziarah, dan tidak ada serangan yang dilancarkan terhadapnya seperti itu. Dia masuk ke benteng sebagai tahanan, dan temannya mengabaikannya dan menjauh darinya. Dia tidak keluar dari sana kecuali di atas tandu, dan tidak naik darinya kecuali menuju tanah yang gersang. Dia bertemu dengan Yang Maha Lembut lagi Maha Mengetahui, dan pergi dengan pujian atas dirinya seperti tersebar wangi-wangian.

Dia memiliki pena yang menyaingi kilat ketika berkilau, dan hujan ketika bercucuran. Dia mendikte satu masalah dengan apa yang dikehendakinya langsung tanpa rencana, dan menulis dua atau tiga kuras dalam satu kali duduk. Ketajaman pikirannya tidak pernah lemah atau tumpul.

Dia telah berhias dengan “Al-Muhalla” dan mengambil alih dari taklid apa yang diambil alihnya. Seandainya dia mau, dia akan mengutipnya dari hafalan, dan mendatangkan semua cacian dan celaan yang ada di dalamnya!!

Dia menyia-nyiakan waktu dalam membantah orang-orang Nasrani dan Rafidhah (Syiah), dan siapa yang menentang agama atau menolaknya. Seandainya dia fokus untuk mensyarah Bukhari atau menafsirkan Al-Quran yang agung, niscaya dia akan mengikat leher ahli-ahli ilmu dengan mutiara kata-katanya yang teratur.

Sejak kecil dia sangat bersemangat dalam menuntut ilmu, bersungguh-sungguh dalam memperoleh dan berusaha keras. Dia tidak lebih menyukai kesibukan selain mencari ilmu, dan tidak melihat bahwa sejenak pun terbuang dalam kemalasan itu sia-sia. Dia tidak peduli dengan dirinya sendiri dan hilang dalam kenikmatan ilmu sehingga tidak sadar, tidak meminta makanan kecuali jika disajikan di hadapannya, dan tidak tertarik pada makanan atau minuman pada saat istirahatnya. Dikatakan bahwa ayahnya, saudaranya, keluarganya, dan orang-orang lain yang berlindung dalam naungannya memintanya untuk pergi bersama mereka pada hari Sabtu untuk berjalan-jalan, tetapi dia lari dari mereka dan tidak berpaling atau menoleh kepada mereka. Ketika mereka kembali di akhir siang, mereka menyalahkannya karena tidak ikut, meninggalkan untuk mengikuti mereka dan kesulitan yang ada dalam menyendiri. Dia berkata: “Kalian tidak bertambah sesuatu dan tidak ada yang baru, sedangkan aku telah menghafal jilid ini selama kalian pergi.” Buku itu adalah “Junnatu an-Nazhir wa Junnatu al-Munazhir” dan itu adalah jilid kecil yang terkenal. Tidak heran dia adalah pembajak di tanah ilmu pengetahuan dan dia adalah orang yang bercita-cita tinggi, dan ilmunya – seperti kata orang – masuk bersamanya ke dalam kamar mandi.

Ini belum termasuk kedermawanan yang membuat kilat tertawa padanya di atas awannya, dan kemurahan hati yang Hatim pantas menjadi batu di cincin segelnya, dan keberanian yang membuat singa lari darinya, dan ketegasan yang membuat Antarah mundur darinya. Dia masuk menemui Mahmud Ghazan dan berbicara kepadanya dengan kata-kata keras dengan tegas, dan membuatnya mendengar ucapan yang tidak dapat diterima oleh ayah dari anaknya.

Pada bulan Rabiul Awal tahun enam ratus sembilan puluh delapan, sekelompok ulama Syafi’iyah menentangnya dan mengingkari pembicaraannya tentang sifat-sifat Allah, dan mengambil fatwanya “Al-Hamawiyyah”, dan membantahnya dalam hal itu, serta mengadakan majelis untuknya. Al-Afram membelanya dan mereka tidak mencapai tujuan mereka terhadapnya. Diumumkan di Damaskus pembatalan akidah “Al-Hamawiyyah”. Maka Jaghan al-Musyid membelanya. Dia telah dilarang berbicara. Kemudian Qadhi al-Qudhat Imam ad-Din hadir di tempatnya, dan mereka berdiskusi dengannya, dan masalah berlangsung lama di antara mereka. Kemudian Qadhi Imam ad-Din dan saudaranya Jalal ad-Din kembali dan berkata: “Barangsiapa mengatakan sesuatu tentang Syaikh Taqi ad-Din, kami akan memberinya takzir.”

Kemudian dia dipanggil ke Mesir bersama Qadhi Najm ad-Din Ibn Shashri, dan mereka berangkat ke Mesir pada tanggal dua belas Ramadhan tahun tujuh ratus lima. Amir Saif ad-Din Salar membelanya, dan al-Jasyankir menyerangnya, dan mereka mengadakan majelis untuknya yang berakhir dengan penahanannya. Dia dipenjara di Khizanah al-Bunud, kemudian dipindahkan ke Iskandariyah pada bulan Safar tahun tujuh ratus sembilan, dan tidak seorang pun dari sahabatnya diizinkan untuk pergi bersamanya. Kemudian dia dibebaskan, dan tinggal di Kairo untuk waktu tertentu, kemudian ditahan lagi, kemudian dibebaskan pada tanggal delapan Syawal tahun tujuh ratus sembilan. An-Nashir mengeluarkannya ketika datang dari Karak, dan hadir di Damaskus.

Ketika tiba hari Selasa tanggal sembilan belas Ramadhan tahun tujuh ratus sembilan belas, para fuqaha dan qadhi dikumpulkan di tempat Amir Saif ad-Din Tankiz, dan surat Sultan dibacakan kepada mereka, dan di dalamnya ada bagian yang berkaitan dengan Syaikh Taqi ad-Din karena fatwanya dalam masalah talak, dan dia ditegur atas fatwanya setelah larangan, dan majelis berakhir dengan penguatan larangan.

Kemudian pada hari Kamis tanggal dua belas Rajab tahun tujuh ratus dua puluh, majelis diadakan untuknya di Dar as-Sa’adah, dan mereka mengulangi kepadanya tentang fatwa talak dan menyelidikinya dalam hal itu dan menegurnya karenanya. Kemudian dia dipenjara di benteng Damaskus, dan tinggal di sana hingga hari Senin hari Asyura tahun tujuh ratus dua puluh satu. Dia dikeluarkan dari benteng setelah Asar dengan surat perintah Sultan, dan pergi ke rumahnya. Masa penjaranya adalah lima bulan dan delapan belas hari.

Ketika tiba hari Senin setelah Asar tanggal enam Sya’ban tahun tujuh ratus dua puluh enam pada masa Qadhi al-Qudhat Jalal ad-Din al-Qazwini, mereka berbicara dengannya tentang masalah ziarah, dan ditulis mengenai hal itu ke Mesir. Maka datanglah perintah Sultan untuk menahannya di benteng. Dia tetap di sana hingga meninggal rahimahullah pada malam Senin tanggal dua puluh Dzulqa’dah tahun tujuh ratus dua puluh delapan, di benteng Damaskus, di ruangan tempat dia dipenjara.

Kelahirannya di Harran tahun enam ratus enam puluh satu.

Pertama kali saya bertemu dengannya adalah pada tahun tujuh ratus delapan belas atau tujuh belas dan dia berada di madrasahnya di al-Qasha’in di Damaskus yang terlindungi. Saya bertanya kepadanya tentang masalah yang sulit dalam tafsir, masalah yang sulit dalam i’rab (tata bahasa Arab), dan masalah yang sulit tentang yang mungkin dan yang wajib. Saya telah menyebutkan hal itu dalam biografinya dalam kitab sejarah saya yang besar.

Kemudian saya bertemu dengannya setelah itu beberapa kali, dan menghadiri pelajarannya di Hanabilah, dan saya melihat darinya:

Keajaiban dari keajaiban darat dan laut Dan jenis yang tunggal dan bentuk yang aneh

Dia sering membaca syair Ibnu Shardar:

Jiwa-jiwa mati karena penderitaannya Dan tidak mengadukan kepada yang menjenguknya apa yang ada padanya Dan tidak adil jiwa yang mengadukan Penderitaannya kepada selain kekasihnya

Dan juga membaca:

Barangsiapa tidak memimpin dan tidak menghirup di hidungnya Debu peperangan maka tidak akan memimpin pasukan

Saya melihatnya dalam mimpi setelah kematiannya – rahimahullah – seolah-olah dia di Masjid Bani Umayyah dan di tangan saya ada naskah akidah Ibnu Hazm adh-Dhahiri yang disebutkannya di awal kitab “Al-Muhalla” dan saya telah menulisnya dengan tulisan saya sendiri, dan menulis di akhirnya:

Dan ini adalah teks agama dan keyakinanku Dan yang lain tidak melihat ini diperbolehkan

Saya menunjukkannya kepada dia, dan dia merenungkannya dan melihatnya namun tidak berbicara apa pun.

Sebagian dari Karya-karyanya

“Kaidah tentang Isti’adzah”. “Kaidah tentang Basmalah”. “Kaidah tentang firman-Nya: Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Al-Fatihah: 5). Bagian besar dari awal Surah Al-Baqarah, dan tentang firman-Nya: Dan di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir” (Al-Baqarah: 8) sekitar tiga kuras. Dan tentang firman-Nya: Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api (Al-Baqarah: 17) sekitar dua kuras. Dan tentang firman-Nya: Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu (Al-Baqarah: 21) tujuh kuras. Dan tentang firman-Nya: Kecuali orang yang menjadikan dirinya bodoh (Al-Baqarah: 130) satu kuras. “Ayat Kursi” dua kuras, dan lain-lain dari Surah Al-Baqarah. Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat (Ali Imran: 7) hingga akhirnya sekitar satu jilid. Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia (Ali Imran: 18) enam kuras. Apa yang menimpamu berupa kebaikan (An-Nisa: 79) sepuluh kuras, dan lain-lain dari Surah Ali Imran. “Tafsir al-Ma’idah” satu jilid besar. Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak melaksanakan salat (Al-Ma’idah: 6) tiga kuras. Dan ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi anak Adam (Al-A’raf: 172) tujuh kuras kaidah. “Surah Yusuf” satu jilid besar. “Surah an-Nur” satu jilid kecil. “Surah Tabbat dan al-Mu’awwidzatain”. “Surah al-Kafirun”. “Surah al-Ikhlas” satu jilid. “Surah al-‘Alaq dan bahwa ia adalah surah pertama yang diturunkan yang mencakup prinsip-prinsip agama” satu jilid. “Surah Lam Yakun”. Dan lain-lain dari ayat-ayat yang terpisah.

Kitab-kitab Ushul

“Al-I’tiradhat al-Mishriyyah ‘ala al-Fatwa al-Hamawiyyah” empat jilid yang didiktekannya di penjara. “Bayanu Talbis al-Jahmiyyah fi Ta’sis Bida’ihim al-Kalamiyyah” dan kadang menyebutnya “Takhlish at-Talbis min Ta’sis at-Taqdis”. “Syarh Awal al-Muhasshal lir-Razi” mencapai tiga jilid. “Syarh beberapa belas masalah dari al-Arba’in karya Imam Fakhr ad-Din ar-Razi”. “Ta’arudh al-‘Aql wan-Naql” empat jilid. “Jawaban atas apa yang dikemukakan Kamal ad-Din Ibn asy-Syuraysi” satu jilid. “Al-Jawab ash-Shahih liman Baddala Din al-Masih”, tiga jilid. “Minhaj al-Istiqamah”. “Syarh ‘Aqidah al-Ashbahani” satu jilid. “Naqd al-I’tiradh ‘alaiha libadhil-Masyariqah” empat kuras. “Syarh Awal Kitab al-Ghaznawi” satu jilid. “Ar-Radd ‘ala al-Manthiq” satu jilid. “Radd lain” kecil. “Ar-Radd ‘ala al-Falasifah” beberapa jilid. “Kaidah dalam persoalan-persoalan wahmiyyah”. “Kaidah tentang apa yang terbatas dan apa yang tidak terbatas”. “Jawaban atas risalah Shafdiyyah”. “Jawaban dalam membantah perkataan para filosof: Sesungguhnya mukjizat para nabi adalah kekuatan jiwa”. “Itsbat al-Ma’ad dan bantahan terhadap Ibnu Sina”. “Syarh risalah Ibnu ‘Abdus tentang perkataan Imam Ahmad dalam ushul”. “Tsubut an-Nubuwwat secara akal dan naql serta mukjizat dan karamah” dua jilid. “Kaidah tentang kulliyyat” satu jilid kecil. “Ar-Risalah al-Qubrusiyyah”. “Risalah kepada penduduk Thabaristan dan Jilan tentang penciptaan roh, cahaya, dan imam-imam yang diteladani”. “Masalah bahwa apa yang ada di antara dua halaman adalah kalam Allah”. “Tahqiq kalam Allah kepada Musa shallallahu ‘alaihi wasallam”. “Apakah Jibril mendengar kalam Allah atau memindahkannya dari Lauh Mahfuzh”. “Ar-Risalah al-Ba’labakkiyyah”. “Al-Azhariyyah”. “Al-Qadiriyyah”. “Al-Baghdadiyyah”. “Jawaban tentang bentuk dan titik”. “Ibthalu al-Kalam an-Nafsani” membatalkannya dari sekitar delapan puluh segi. “Jawaban bagi orang yang bersumpah dengan talak tiga bahwa Al-Quran adalah huruf dan suara”. Dan dia memiliki dalam penetapan sifat-sifat dan penetapan ketinggian dan istawa’ beberapa jilid. “Al-Marrakusyiyyah”. “Sifat-sifat kesempurnaan dan kaidahnya”. “Jawaban-jawaban tentang keberadaan Allah yang terpisah dari makhluk-Nya”. “Jawaban tentang istawa’ dan pembatalan takwilnya dengan istila'”. “Jawaban bagi orang yang berkata tidak mungkin menggabungkan penetapan sifat-sifat pada zahirnya dengan penafian tasybih”. “Jawaban-jawaban tentang kenyataan Arsy dan langit-langit berbentuk bulat dan sebab orientasi hati menuju arah ketinggian”.

Jawaban tentang kesesuaian sesuatu berada di arah atas meskipun ia bukan substansi dan bukan aksiden, apakah hal itu rasional atau mustahil. Jawaban tentang apakah istawa dan nuzul adalah hakikat dan apakah konsekuensi mazahab adalah mazahab itu sendiri diberi nama al-Irbaliyyah. Masalah nuzul dan perbedaan waktunya berdasarkan perbedaan negeri dan terbit fajar satu jilid ringkas. Syarah hadis nuzul dalam lebih dari satu jilid. Penjelasan penyelesaian problematika Ibnu Hazm yang terdapat pada hadis. Kaidah tentang kedekatan Rabb kepada hamba-Nya yang beribadah dan berdoa kepada-Nya satu jilid. Pembahasan tentang kritik terhadap al-Mursyidah. Masalah-masalah Iskandariyyah dalam membantah kaum ittihad dan hulul. Apa yang terkandung dalam Fushush al-Hikam berupa kekufuran, ilhad, ittihad, dan hulul. Jawaban tentang perjumpaan dengan Allah. Jawaban tentang penglihatan para wanita terhadap Rabb mereka di surga. Risalah Madaniyyah tentang sifat-sifat naqliyah. al-Hilawuniyyah jawaban atas pertanyaan yang disampaikan melalui lisan raja Tatar satu jilid. Kaidah-kaidah dalam menetapkan takdir dan membantah kaum Qadariyyah dan Jabariyyah satu jilid. Bantahan terhadap kaum Rawafidh tentang imamah kepada Ibnu Muthahhar. Jawaban tentang baiknya kehendak Allah untuk menciptakan makhluk dan mewujudkan manusia, apakah karena ada sebab atau tanpa sebab. Syarah hadis berargumennya Adam terhadap Musa. Peringatan bagi orang lalai terhadap pengelabuan orang yang mendebat satu jilid. Puncak kesulitan dalam perbedaan akidah. Kitab al-Iman. Syarah hadis Jibril tentang Islam dan Iman. Tentang kesucian para nabi dalam apa yang mereka sampaikan. Masalah tentang akal dan ruh. Apakah orang-orang yang didekatkan ditanya oleh Munkar dan Nakir. Apakah ruh diazab bersama jasad di kubur dan apakah ruh berpisah dengan badan saat kematian atau tidak. Bantahan terhadap penduduk Kasrawan. Tentang keutamaan Abu Bakar dan Umar atas yang lain. Kaidah tentang keutamaan Muawiyah dan tentang putranya Yazid bahwa dia tidak boleh dicaci. Tentang keutamaan orang-orang saleh dari umat manusia atas seluruh jenis makhluk lainnya. Tentang kekafiran kaum Nushairiyyah. Tentang kebolehan memerangi kaum Rafidhah. Tentang kekalnya surga dan neraka atau kemusnahannya dan ini adalah karya terakhir yang disusun di benteng, dan telah dibantah oleh ulama besar Qadhi al-Qudhat Taqiyuddin as-Subki.

Kitab-kitab Ushul Fikih

Kaidah yang sebagian besarnya adalah pendapat para fuqaha dua jilid. Kaidah bahwa setiap pujian dan celaan terhadap perkataan tidak boleh kecuali dari Kitab dan Sunnah. Keumuman nash untuk hukum-hukum. Kaidah tentang ijma dan bahwa ia tiga macam. Jawaban tentang ijma dan khabar mutawatir. Kaidah bahwa khabar ahad memberikan keyakinan. Kaidah tentang cara beristidlal dan mengkritik hukum-hukum dengan nash dan ijma. Bantahan terhadap orang yang mengatakan bahwa dalil-dalil lafadz tidak memberikan keyakinan. Kaidah tentang apa yang disangka sebagai pertentangan antara nash dan ijma. Kritik terhadap Ibnu Hazm tentang ijma. Kaidah dalam menetapkan qiyas. Kaidah tentang ijtihad dan taqlid dalam hukum-hukum. Menghilangkan celaan dari para imam terkemuka. Kaidah tentang istihsan. Sifat keumuman dan kemutlakan. Kaidah-kaidah bahwa orang yang salah dalam berijtihad tidak berdosa. Apakah orang awam wajib mengikuti mazhab tertentu. Jawaban tentang meninggalkan taqlid bagi orang yang mengatakan mazhabku adalah mazhab Nabi shallallahu alaihi wasallam dan aku tidak memerlukan taqlid kepada yang empat. Jawaban bagi orang yang belajar fikih dalam suatu mazhab lalu menemukan hadis sahih, apakah dia mengamalkannya atau tidak. Jawaban tentang orang Hanafi yang bertaqlid kepada Syafii dalam mengumpulkan salat karena hujan dan witir. Membetulkan imam dalam salat. Keutamaan kaidah-kaidah mazhab Malik dan ahli Madinah. Keutamaan empat imam dan keistimewaan masing-masing dari mereka. Kaidah tentang keutamaan Imam Ahmad. Jawaban apakah Nabi shallallahu alaihi wasallam sebelum diutus adalah nabi. Jawaban apakah Nabi shallallahu alaihi wasallam dibebani dengan syariat sebelumnya. Kaidah-kaidah bahwa larangan menunjukkan kerusakan.

Kitab-kitab Fikih

Syarah al-Muharrar dalam mazhab Ahmad dan belum selesai dibuat naskah bersihnya. Syarah al-Umdah karya al-Muwaffaq empat jilid. Jawaban masalah-masalah yang datang dari Ashfahan. Jawaban masalah-masalah yang datang dari Andalus. Jawaban masalah-masalah yang datang dari Shalt. Jawaban masalah-masalah dari Baghdad. Masalah-masalah yang datang dari Zar. Empat puluh masalah yang diberi nama ad-Durrah al-Madhiyyah. al-Mardaniyyah. ath-Tharabulusiyyah. Kaidah tentang air dan cairan serta hukum-hukumnya. Cairan-cairan dan sentuhan najis terhadapnya. Kesucian air kencing hewan yang halal dagingnya. Kaidah tentang hadis dua qullah dan tidak dinaikkannya. Kaidah-kaidah tentang istinja dan bersucinya tanah dengan matahari dan angin. Kebolehan istinja meskipun ada air. Pembatal-pembatal wudhu. Kaidah-kaidah tentang tidak batalnya wudhu karena menyentuh perempuan. Membaca basmalah saat berwudhu. Kesalahan pendapat yang membolehkan mengusap dua kaki. Kebolehan mengusap khuf yang berlubang, kaos kaki, dan kain pembalut. Tentang orang yang tidak membayar upah pemandian umum. Keharaman masuk pemandian umum tanpa kain penutup. Tentang pemandian umum dan mandi. Celaan terhadap waswas. Kebolehan thawaf bagi wanita haid. Kemudahan ibadah bagi orang-orang yang dalam keadaan darurat dengan tayammum dan mengumpulkan dua salat karena uzur. Makruhnya melafadzkan niat dan keharaman mengeraskannya. Tentang basmalah apakah ia bagian dari surah. Tentang apa yang terjadi dari waswas dalam salat. al-Kalim ath-Thayyib tentang zikir-zikir. Makruhnya membentangkan sajadah orang yang salat sebelum kedatangannya. Tentang dua rakaat yang dilakukan sebelum Jumat. Tentang salat setelah adzan Jumat. Qunut dalam salat Subuh dan Witir. Membunuh orang yang meninggalkan salah satu dari lima rukun Islam dan kekufurannya. Mengumpulkan dua salat dalam safar. Tentang hal-hal yang berbeda hukumnya dalam safar dan mukim. Apakah ahli bidah boleh diimami dalam salat. Salat sebagian ahli mazhab di belakang sebagian yang lain. Salat-salat yang dibid’ahkan. Keharaman mendengarkan nyanyian. Keharaman seruling. Keharaman catur. Keharaman hasyisyah (ganja) dan wajibnya had padanya serta kenajisannya. Larangan ikut serta dalam hari raya Yahudi dan Nasrani, menyalakan api pada pertengahan Syaban, dan (membuat makanan dari) biji-bijian pada Asyura. Ukuran kafarat dalam sumpah. Tentang wanita yang ditalak tiga tidak halal kecuali dengan nikah suami kedua. Penjelasan talak yang mubah dan haram.

Tentang bersumpah dengan talak dan menjatuhkannya tiga. Jawaban bagi orang yang bersumpah tidak akan melakukan sesuatu menurut empat mazhab lalu menceraikan tiga kali dalam masa haid. Perbedaan yang jelas antara talak dan sumpah. Lamhah al-Mukhtathaf tentang perbedaan antara talak dan bersumpah. Bersumpah dengan talak termasuk sumpah secara hakikat. Kitab at-Tahqiq tentang perbedaan antara sumpah dan menceraikan. Talak bidah tidak jatuh. Masalah-masalah perbedaan antara bersumpah dengan talak dan menjatuhkannya, talak bidah, khulu, dan yang semisalnya diperkirakan lima belas jilid. Manasik haji beberapa. Tentang haji Nabi shallallahu alaihi wasallam. Tentang umrah Makkiyah. Tentang membeli senjata di Tabuk, minum serbuk gandum di Aqabah, makan kurma di Raudhah, apa yang dikenakan orang ihram, dan ziarah ke Khalil (Hebron) setelah haji. Dan ziarah ke Baitul Maqdis secara mutlak. Gunung Lebanon seperti gunung-gunung lainnya tidak ada di dalamnya rijal gaib dan tidak ada abdal. Semua sumpah kaum muslimin ada kafaratnya.

Kitab-kitab tentang Berbagai Jenis

Sebagian orang mengumpulkan fatwa-fatwanya di Mesir selama tujuh tahun dalam berbagai ilmu dan menjadi tiga puluh jilid. Pembahasan tentang batalnya futuwah yang disepakati di kalangan awam dan tidak memiliki dasar yang bersambung kepada Ali alaihi salam. Mengungkap keadaan para syeikh Ahmadiyyah dan keadaan mereka yang syaithaniyyah. Batalnya apa yang dikatakan oleh keluarga Syeikh Adiy. Bintang-bintang apakah memiliki pengaruh ketika berkonjungsi dan oposisi, gerhana matahari dan bulan, apakah boleh menerima perkataan peramal bintang tentangnya dan melihat hilal. Keharaman jenis-jenis ahli azimah dengan azimah-azimah yang ditandai, membuat orang sehat kesurupan, dan sifat cincin-cincin. Membatalkan alkimia dan mengharamkannya meskipun benar dan laku. Mengungkap keadaan al-Maraziqah. Kaidah tentang Ubaidiyyun (Fathimiyyun).

Dan dari syair Syeikh Taqiyuddin atas lisan para fakir yang tidak memiliki apa-apa dan yang lainnya:

Demi Allah kemiskinan kami bukan pilihan … Melainkan kemiskinan kami karena terpaksa Sekelompok orang kami semua pemalas … Dan makanan kami tidak ada standarnya Kau dengar dari kami jika kami berkumpul … Hakikat yang semuanya omong kosong

Dan beliau memiliki qasidah-qasidah panjang yang merupakan jawaban atas masalah-masalah yang ditanyakan kepadanya dalam bentuk syair seperti masalah Yahudi, dan jawabannya tentang teka-teki yang dinazamkan oleh Syeikh Rasyiduddin al-Farqi, dan selain itu.

Dan memujinya sekelompok dari penduduk Mesir di antaranya Syihabuddin Ahmad ibn Muhammad al-Baghdadi yang dikenal dengan Ibnu al-Abradi al-Hanbali, dan Syeikh Syamsuddin ash-Shaigh, dan Saaduddin Abu Muhammad Saadullah ibn Abdul Ahad al-Harrani, dan lebih banyak dari itu, di antaranya perkataannya:

Sungguh jika mereka berdagang dengannya dan dia dalam penjara dan mereka mencari … Ridanya dan menunjukkan kelembutan dan kasih sayang Maka tidak heran jika musuh-musuh tunduk pada kekuatannya … Dan tidak aneh jika musuh takut akan serangannya Karena dari sifat pedang tajam bahwa dia … Ditakuti dan diharapkan baik tersarung maupun terhunus

Dan di antara yang memujinya di Mesir juga adalah guru kami ulama besar Abu Hayyan, namun dia berbalik darinya setelah itu, dan meninggal dalam keadaan berbalik. Dan untuk itu ada sebab-sebabnya, di antaranya: bahwa dia berkata kepadanya suatu hari: demikian kata Sibawayh, maka dia berkata: Sibawayh berbohong, maka dia berbalik darinya. Dan sungguh sebelumnya dia datang kepadanya dan majelis di sisinya penuh sesak dengan orang-orang, maka dia berkata memujinya secara spontan:

Ketika kami datang kepada Taqiyuddin terlihat bagi kami … Seorang yang menyeru kepada Allah sendirian yang tidak ada baginya tandingan Di wajahnya dari tanda orang-orang yang menemani … Sebaik-baik manusia cahaya yang di bawahnya bulan Seorang ulama yang sepanjang masa mengenakan ketinggian … Lautan yang bergelombang dari ombaknya mutiara-mutiara Ibnu Taimiyyah berdiri dalam menolong syariat kami … Seperti berdirinya pemimpin Taim ketika Mudhar membangkang Maka dia menampakkan kebenaran ketika jejak-jejaknya terhapus … Dan dia memadamkan kejahatan ketika percikannya berterbangan Kami berbicara tentang seorang ulama yang akan datang dan ini … Engkau adalah imam yang telah ditunggu-tunggu

Dan menulis Syeikh Kamaluddin Muhammad ibn Ali Ibnu az-Zamlakani rahimahullah taala pada sebagian karya tulisannya: Apa yang dikatakan para penulis tentang dia … Sedangkan sifat-sifatnya terlalu agung untuk dihitung Dia adalah hujjah Allah yang mengatasi … Dia di antara kami keajaiban zaman Dia adalah ayat yang nyata dalam makhluk … Cahaya-cahayanya melebihi fajar

Dan yang saya lihat adalah bahwa bait-bait syair ini ditulis oleh Syaikh Kamaluddin semasa hidup Syaikh Shadruddin Ibnul Wakil, karena dia menyelisihinya dan ingin mengalahkannya dengan Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, dan Allah lebih mengetahui.

Ketika beliau wafat—semoga Allah merahmatinya—beliau diratapi oleh sekelompok orang di antaranya: Syaikh Qasim bin Abdurrahman al-Muqri, Burhanuddin Ibrahim bin Syaikh Syihabuddin al-Ajami, Mahmud bin Ali bin Mahmud ad-Daqqi al-Baghdadi, Mujiruddin al-Khayyath ad-Dimasyqi, Syihabuddin Ahmad bin al-Karsyt, Zainuddin Umar bin al-Hussam, Muhammad bin Ahmad bin Abil Qasim al-Halabi ad-Dimasyqi al-Iskaf, Shafiuddin Abdul Mu’min bin Abdul Haq al-Baghdadi al-Hanbali, Jamaluddin Mahmud bin al-Atsir al-Halabi, Abdullah bin Khidhir bin Abdurrahman ar-Rumi al-Jazari yang dikenal dengan al-Mutayyam, Taqiyuddin Muhammad bin Sulaiman bin Abdullah bin Salim al-Ja’bari, Jamaluddin Abdul Shamad bin Ibrahim bin al-Khalil al-Khalili, Hasan bin Muhammad an-Nahwi al-Mardani, dan lainnya. Yang membacakan ijazah untuknya adalah Syaikh Alauddin Ali bin Ghanim:

Ulama besar mana yang telah pergi dan imam mana yang membuat umat Islam berduka cita karenanya Ibnu Taimiyah at-Taqi yang tunggal di zamannya yang menjadi perhiasan di negeri Syam Lautan ilmu yang telah surut setelah kedermawanannya mengalir dan merata dengan kebaikan Seorang zahid yang beribadah, menjaga diri di dunia- nya dari segala yang ada padanya dari harta benda Dia adalah gudang bagi setiap pencari ilmu dan bagi orang yang takut terjatuh dalam kemaksiatan Dan bagi orang yang datang mengadu tentang kefakir- an padanya lalu memperoleh segala keinginan Dia menguasai ilmu yang tak ada tandingannya dari ulama mana pun dan tidak ada yang menyamainya Tidak ada bandingannya di dunia dalam semua ilmu dan hukum-hukum Ulama di zamannya yang melampaui dengan ilmu- nya semua imam-imam terkemuka Dia tunggal dan unik dalam ilmunya mereka tidak meraih apa yang dia raih bahkan dalam mimpi Setiap orang di Damaskus meratapi dirinya dengan tangisan karena hebatnya kesedihan Manusia berduka karenanya di timur dan barat dan menjadi seperti anak-anak yatim karena kesedihan Seandainya tebusan dengan jiwa bermanfaat kami telah menebusnya dari serangan ajal Orang yang unik di mana manusia terkena musibah kare- nanya maka seluruh manusia dihibur karenanya Dan berat bagi mereka melihat dirinya yang hilang dengan terpaksa dalam tanah dan debu Tidak terlihat seperti harinya ketika dia dibawa di atas keranda menuju Darussalam Mereka membawanya di atas pundak menuju kubur- an dan hampir binasa karena berdesak-desakan Maka dia sekarang adalah tetangga Tuhan langit Yang Maha Pengasih lagi Maha Mengawasi lagi Maha Mengetahui Semoga Allah menguduskan rohnya dan menyirami kubur- an yang memuatnya dengan hujan lebat awan Sungguh dia adalah orang langka di antara anak zaman dan kebaikan di wajah-wajah hari

Dan juga membacakan ijazah untuknya Syaikh Zainuddin Umar bin al-Wardi asy-Syafi’i:

Hati manusia keras dan berat dan tidak ada semangat baginya menuju kemuliaan Apakah pernah bersemangat setelah wafatnya seorang ulama yang dari taburan permata ilmunya kita petik Taqiyuddin yang memiliki wara’ dan ilmu kain sobek dari masalah pelik dijahit dengannya Dia wafat dalam keadaan dipenjara sendirian dan tidak ada kebebasan baginya terhadap dunia Seandainya mereka hadir ketika dia meninggal mereka akan mendapati malaikat kenikmatan mengelilinginya Dia meninggal dengan tidak ada yang setara dengannya dan tidak akan dibedong orang yang menyerupainya Seorang pemuda yang menjadi unik dalam ilmunya dan pemecahan masalah-masalah sulit digantungkan padanya Dan dia takut dengan kekuatan Iblis dengan nasihat bagi hati-hati yang merupakan cambuk Demi Allah betapa yang telah diliputi liang kubur dan demi Allah betapa yang ditutupi tanah Dan pengurungan mutiara dalam kerang adalah kebanggaan dan bagi Syaikh dengan penjara adalah kegembiraan Bani Taimiyah dahulu ada lalu hilang bintang-bintang ilmu yang terkena kejatuhan Tetapi wahai penyesalan kami atasnya maka keraguan orang-orang mulhid dengannya dihilangkan Seorang imam yang tidak pernah menangani jabatan dan tidak ada wakaf padanya dan tidak ada ribath Dan tidak berbisnis dengan manusia dalam mencari harta dan tidak disibukkan oleh pergaulannya dengan manusia Seandainya mereka tidak memenjarakannya secara syar’i pasti karenanya kedudukan mereka akan merosot Sungguh tersembunyi bagiku di sini beberapa perkara dan tidak pantas bagiku terlibat di dalamnya Dan di sisi Allah seluruh makhluk berkumpul semuanya dan tergulung permadani ini

Dan saya sendiri juga meratapi beliau:

Sesungguhnya Ibnu Taimiyah ketika meninggal menjadi sempit bagi ahli ilmu luasnya ruang Bulan purnama mana yang telah dihapus oleh kematian dan lautan mana dalam tanah yang telah surut Dan keburukan mata mana yang terbuka dan kebaikan mata mana yang terpejam Wahai kesepian Sunnah setelahnya maka rumahnya yang makmur telah roboh Berapa banyak majelis yang adalah jerami dari ilmu lalu ketika dia datang menjadi taman Dan setiap pertemuan yang langitnya gelap kau lihat jika dia datang kepadanya menjadi terang Dan masalah rumit ketika malamnya gelap dia kembalikan menjadi siang petunjuk yang putih Jika dia membantah ketika membuktikan perkataannya maka katakanlah dia telah diusir atau ditolak Dan penelitiannya mengalir melimpah dan lawannya dalam waktu singkat habis Dia berharap bisa menelan ludahnya padahal dia telah membuatnya tersedak dengan kebenaran Dia membuatnya tersedak hingga dia tertunduk karena penyesalan tangannya telah digigit Dia tidak lain adalah singa yang bersembunyi yang telah menjadi baginya hutan pemahaman sebagai sarang Dan dia dengan pakaian ilmu di jubahnya dan lawannya telah memeluk bara kemarahan Maha Suci Yang menaklukkan hati manusia kepada perkataannya dengan patuh dan telah ditakdirkan Orang-orang telah sepakat atas kecintaan padanya dan tidak ada pertimbangan bagi yang membenci Dia adalah orang yang bersih dadanya yang telah menyerahkan urusan kepada Penciptanya dan telah mewakilkan Berapa kali dia mendorong pada kebaikan dan berapa orang yang tertidur dia bangunkan dari tidur dan berapa dia dorong Dan membuat kesesatan sakit ketika dia menampakkan kebenaran dan hati penyimpangan telah dia sakiti Dan membuat kebatilan dalam kegelapan ketika kilat cahayanya berkilat Dan dia menghindarkan dirinya dari dunia dan Allah dengan surga telah memberi ganti Maka tidak ada baginya keinginan dalam jabatan dan tekadnya dalam itu tidak terdorong Jika dunia menampakkan dirinya padanya dengan hiasan dari dirinya dia berpaling Seandainya dia melihat itu tidak luput darinya jabatan-jabatan yang sebagiannya adalah peradilan Dan setelah ini keputusannya berlaku dalam semua yang dia kehendaki dan ridhai Dengan dirinya dia berjihad dengan terang-terangan dan berapa kali dia taskan pedang dalam peperangan dan ditaskan Dan pada hari Ghazan ketika dia menguatkan dalam perkataan dan tidak melemah Dia membelah kegelapan orang Mongol yang berseri seperti air ketika merobek bendungan Dia berdebat bahkan bertempur dengan berpegang pada kebenaran hingga sungguh dia menggugurkan Dan tidak ada padanya kecuali bahwa dia menyelisihi beberapa hal seperti yang telah berlalu Mengikuti dalam itu dalil yang jelas dan bagi Allah dalam itu ada keputusan Dan setelah itu dia pergi kepada Tuhannya tidak berhutang dari kesenangan dan tidak berhutang Pujiannya tidak runtuh darinya bangunan dan sebutannya di antara manusia tidak berakhir Maka curahkanlah rahmat pada tanah yang dia bersemayam di dalamnya dan siramilah dengan awan ridha

Dan pada dasarnya, Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah adalah salah satu dari tiga orang yang saya temui di zaman mereka yang tidak ada yang seperti mereka, bahkan tidak ada sebelum mereka selama seratus tahun, dan mereka adalah: Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, Syaikh Taqiyuddin Ibnu Daqiq al-‘Ied, dan guru kami al-‘Allamah Taqiyuddin as-Subki, dan saya berkata tentang itu:

Tiga orang yang tidak ada yang keempat bagi mereka maka jangan ragu tentang itu Dan semua mereka dinisbatkan kepada ketakwaan yang gambaran orang yang menceritakan tidak mampu menjangkau mereka Jika engkau mau katakan: Ibnu Taimiyah dan Ibnu Daqiq al-‘Ied dan as-Subki

 

 

35 – Al-Wafi bil-Wafayat

Ulama Taqiyuddin Ibnu Taimiyah

Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Abi al-Qasim al-Harrani Ibnu Taimiyah, Asy-Syaikh, Al-Imam, Al-Alim, Al-Allamah, Ahli Tafsir, Ahli Fikih, Mujtahid, Hafizh, Ahli Hadits, Syaikhul Islam, keajaiban zamannya, pemilik karya tulis, kecerdasan, dan hafalan yang luar biasa, Taqiyuddin Abu al-Abbas putra seorang ulama mufti Syihabuddin, putra seorang imam Syaikhul Islam Majduddin Abu al-Barakat, penulis kitab Al-Ahkam.

Taimiyah adalah nama kakek moyangnya. Ia lahir di Harran pada tanggal sepuluh Rabiul Awal tahun 661 Hijriah. Ayahnya membawanya pindah ke Damaskus pada tahun 667 Hijriah dan ia wafat pada tahun 728 Hijriah.

Ia mendengar hadits dari Ibnu Abdul Daim, Ibnu Abi al-Yusr, Al-Kamal Ibnu Abd, Ibnu Abi al-Khair, Ibnu ash-Shairafi, Asy-Syaikh Syamsuddin, Al-Qasim al-Irbili, Ibnu Allan, dan banyak lainnya dengan lebih detail. Ia membaca sendiri kepada sejumlah ulama, memilih dan menyalin beberapa juz hadits dan Sunan Abu Dawud, mempelajari rijal dan ilal hadits, sehingga menjadi salah satu imam kritikus hadits dan ulama atsar dengan ketakwaan, ibadah, dzikir, kesucian diri, menjauhi urusan dunia, dan kedermawanan yang luar biasa. Kemudian ia mendalami fikih dengan detail-detailnya, menyelami pembahasannya, mempelajari dalil-dalil, kaidah-kaidah, hujah-hujahnya, ijma’ dan perbedaan pendapat hingga sangat menakjubkan ketika ia menyebutkan suatu masalah khilafiyah, berdalil, melakukan tarjih, dan berijtihad.

Ia pernah bercerita kepadaku bahwa suatu hari ia berkata kepada Asy-Syaikh Shadruddin Ibnu al-Wakil: “Wahai Shadruddin, aku lebih banyak meriwayatkan dalam madzhab Syafi’i daripada engkau,” atau seperti itu katanya.

Asy-Syaikh Syamsuddin berkata: “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih cepat mengambil ayat-ayat yang menunjukkan pada masalah yang ia kemukakan daripadanya, dan tidak ada yang lebih kuat hafalannya terhadap matan-matan hadits serta menyandarkannya kepada shahih, musnad, atau sunan, seakan-akan itu semua ada di depan matanya dan di ujung lidahnya dengan ungkapan yang fasih, manis, dan membungkam lawan. Ia adalah salah satu ayat dari ayat-ayat Allah Taala dalam tafsir dan keluasannya di dalamnya, mungkin ia tetap membahas tafsir satu ayat dalam satu atau dua majlis.”

Aku berkata: seseorang menceritakan kepadaku bahwa ia mendengarnya berkata: “Sesungguhnya aku telah menelaah seratus dua puluh kitab tafsir, aku menghafal dari semuanya yang shahih yang ada di dalamnya,” atau seperti itu katanya.

Asy-Syaikh Syamsuddin berkata: “Adapun tentang ushul ad-din dan pengetahuan tentang pendapat-pendapat Khawarij, Rafidhah, Mu’tazilah, dan ahli bid’ah, maka tidak ada yang menandinginya dalam hal itu. Ini semua dengan kedermawanan yang tidak pernah aku saksikan sepertinya sama sekali, keberanian yang luar biasa, dan meninggalkan kesenangan diri berupa pakaian bagus, makanan enak, dan kenyamanan duniawi.”

Aku berkata: diceritakan kepadaku tentangnya bahwa ibunya suatu hari memasak labu dan tidak merasakannya lebih dulu, ternyata pahit. Ketika ia merasakannya, ia membiarkannya begitu saja. Lalu ia datang kepadanya dan berkata: “Apakah ada makanan untukku?” Ibunya menjawab: “Tidak, kecuali aku memasak labu yang pahit.” Ia berkata: “Di mana?” Ibunya menunjukkan tempat masakan labu itu, lalu ia mengambilnya dan duduk memakannya sampai kenyang tanpa mengeluh sama sekali, atau seperti yang dikatakan.

Diceritakan kepadaku tentangnya bahwa seseorang atau sekelompok orang mengadu kepadanya tentang Qatlubak al-Kabir. Orang yang disebutkan itu sangat kejam dalam mengambil dan merampas harta orang, dan cerita-ceritanya dalam hal itu terkenal. Lalu ia berjalan menemuinya. Ketika masuk menemuinya dan berbicara dengannya tentang hal itu, Qatlubak berkata kepadanya: “Aku yang hendak datang kepadamu karena engkau orang alim yang zuhud,” menyindir ucapan mereka: “Jika amir berada di pintu faqir, maka sebaik-baik amir dan sebaik-baik faqir.” Ia berkata kepadanya: “Qatlubak! Jangan tunjukkan kepalsuan kepadaku. Musa lebih baik dariku dan Firaun lebih jahat daripadamu, namun Musa setiap hari datang ke pintu Firaun berkali-kali setiap hari dan menawarkan keimanan kepadanya,” atau seperti yang dikatakan.

Asy-Syaikh Syamsuddin Ibnu Qayyim al-Jauziyah menceritakan kepadaku, katanya: “Ia masih kecil berada di kediaman Bani al-Munja lalu berdiskusi dengan mereka. Mereka mengklaim sesuatu yang ia ingkari, lalu mereka menghadirkan referensi. Ketika ia membacanya, ia melemparkan jilid buku itu dari tangannya karena marah. Mereka berkata kepadanya: ‘Engkau hanya orang yang berani, melemparkan jilid buku dari tanganmu padahal itu adalah kitab ilmu.’ Ia dengan cepat berkata: ‘Mana yang lebih baik, aku atau Musa?’ Mereka menjawab: ‘Musa.’ Ia berkata: ‘Mana yang lebih baik, kitab ini atau lembaran mulia yang berisi sepuluh kalimat (Sepuluh Perintah)?’ Mereka menjawab: ‘Lembaran-lembaran itu.’ Ia berkata: ‘Sesungguhnya Musa ketika marah melemparkan lembaran-lembaran itu dari tangannya,'” atau seperti yang dikatakan.

Ia juga menceritakan kepadaku katanya: “Seseorang, aku lupa namanya, bertanya kepadanya: ‘Engkau mengklaim bahwa semua perbuatanmu sesuai Sunnah? Ini yang engkau lakukan kepada orang dengan menarik-narik telinga mereka, dari mana ini dalam Sunnah?’ Ia menjawab: ‘Hadits Ibnu Abbas dalam Shahihain,’ ia berkata: ‘Aku shalat di belakang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada malam hari. Ketika aku mengantuk, beliau memegang telingaku,’ atau seperti itu katanya.”

Asy-Syaikh Syamsuddin berkata: “Ia menulis karya dalam berbagai cabang ilmu, dan mungkin karya-karya tulisnya dan fatwa-fatwanya dalam ushul, furu’, zuhud, keyakinan, tawakal, ikhlas, dan lain-lain mencapai tiga ratus jilid. Ia adalah orang yang berkata dengan kebenaran, mencegah kemungkaran, memiliki kewibawaan dan keberanian, serta tidak pandai berdiplomasi. Masalah-masalah khususnya ia berdalil dengan Al-Quran dan Hadits atau dengan qiyas, lalu membuktikannya, berdebat tentangnya, meriwayatkan khilaf di dalamnya, dan memperpanjang pembahasan seperti para imam sebelumnya. Jika ia salah maka baginya satu pahala, dan jika ia benar maka baginya dua pahala. Ia berkulit putih, berambut dan berjenggot hitam dengan sedikit uban, rambutnya sampai cuping telinganya, seakan-akan kedua matanya adalah dua lidah yang berbicara, tinggi sedang, lebar bahu, bersuara keras, fasih lisan, cepat membaca, diliputi kemarahan namun ia mengalahkannya dengan kelembutan dan maaf. Ia wafat dalam penjara di Benteng Damaskus karena masalah ziarah kubur. Pemakamannya sangat besar, ia dimakamkan di pekuburan kaum Sufi. Shalat jenazahnya dipimpin oleh Asy-Syaikh Alauddin, Qadhi al-Qudhah al-Qunawi, dan tidak dishalatkan oleh Jamaluddin Ibnu Jumlah. Selesai ucapan Asy-Syaikh Syamsuddin.

Aku berkata: Semoga Allah merahmati mereka semua. Mereka sekarang telah melihat hakikat yang nyata tentang apa yang mereka perselisihkan. Aku tidak mengira ia melihat sepertinya dalam hafalan dan pengetahuan luas. Aku melihat bahwa materinya berasal dari ucapan Ibnu Hazm hingga keburukannya terhadap orang yang menyelisihinya. Ia sangat gemar mencela Ibnu Arabi Muhyiddin, Al-Afif at-Tilimsani, Ibnu Sab’in, dan lainnya dari mereka yang masuk dalam kelompok mereka. Kadang ia terang-terangan mencela Al-Ghazali dan berkata: “Ia adalah pelopor para filosof,” atau ia berkata itu tentang Imam Fakhruddin. Aku mendengarnya berkata: “Al-Ghazali dalam sebagian kitabnya berkata: ‘Roh itu termasuk urusan Tuhanku’ (Surah Al-Isra: 85), dan dalam sebagian lainnya ia menyelipkan ucapan para filosof dan pandangan mereka tentangnya.” Demikian juga Imam Fakhruddin ar-Razi, ia banyak meremehkannya. Ia sangat menyerang para fakir Ahmadiyah, Yunusiyah, Qarandiliyah, dan lainnya dari ahli bid’ah ini.

Diceritakan kepadaku bahwa salah seorang Ahmadiyah datang kepadanya dan mengatakan apa yang mereka katakan sesuai kebiasaan tentang masuk ke dalam tanur setelah tiga hari dinyalakan api di dalamnya. Ia berkata kepadanya: “Aku tidak membebanimu itu, tetapi biarkan aku meletakkan kain panas ini di janggutmu.” Fakir itu pun ketakutan dan bingung.

Aku berkata: Sesungguhnya Asy-Syaikh rahimahullahu taala mengambil ini dari ucapan salah seorang penyair tentang api yang diklaim oleh orang-orang Nasrani turun pada hari Sabtu Cahaya dari langit ke Qumamah di Baitul Maqdis:

“Sungguh pendeta mengklaim bahwa Tuhannya / menurunkan cahaya pagi ini atau besok Jika itu cahaya maka ia cahaya dan rahmat / dan jika itu api maka ia membakar setiap orang yang melampaui batas Pendeta itu mendekatkannya ke rambut janggutnya / jika tidak membakarnya maka potonglah tanganku.”

Aku mendengarnya berkata tentang Najmuddin al-Katib yang dikenal sebagai Dabiran (dengan fathah Dal dan kasrah Ba), ia adalah al-Katib penulis karya-karya bagus dalam logika, namun jika ia menyebutnya tidak berkata kecuali Dubiran (dengan dhammah Dal dan fathah Ba). Aku mendengarnya berkata Ibnu al-Munajjis, maksudnya Ibnu al-Muthahhar al-Hilli. Reputasinya di negeri-negeri jauh lebih besar, lebih terkenal daripada di Syam, khususnya negerinya Damaskus. Ia menulis surat kepada penguasa Siprus memerintahkannya untuk bersikap lembut kepada tawanan Muslim dan meringankan beban mereka, serta mengisahkan kepadanya ucapan-ucapan dari perkataan Al-Masih alaihis salam seperti perkataannya: “Barangsiapa menampar pipi kananmu maka palingkanlah pipi kirimu,” dan yang semacam itu. Dikatakan bahwa ia meringankan mereka dan membangun masjid untuk mereka seperti yang dikatakan.

Ia dipanggil ke Mesir pada masa Ruknuddin Baibars al-Jasyankir. Majelis diadakan untuknya tentang perkataan yang ia ucapkan, lalu perkaranya memanjang dan mereka memutuskan untuk memenjarakannya, maka ia dipenjara di Iskandariyah. Kemudian ketika Al-Malik an-Nashir datang dari Karak, sepertinya ia membebaskannya. Rakyat biasa di Mesir terus mengagungkannya hingga ia berbicara tentang Sayyidah Nafisah lalu mereka berpaling darinya. Aku melihatnya beberapa kali di Madrasah al-Qashsha’in dan di Hanbaliyah dekat Bab al-Faradis. Jika ia berbicara, ia menutup kedua matanya dan ungkapan berdesakan di lidahnya. Aku melihat keajaiban yang luar biasa, ulama yang tidak ada tandingannya dalam bidang-bidangnya dan tidak ada yang setara, ahli ilmu yang mengambil bagian dari segala sesuatu, panahnya mengenai sasaran, ahli debat yang jika bertempur dalam medan perdebatan ia melempar lawan dari pembahasannya dengan hari yang sulit:

“Aku melihat bulan purnama yang tidak terlihat bulan purnama sepertinya / dan aku berbicara dengan lautan yang tidak terlihat yang menyeberanginya berenang.”

Al-Maula Alauddin Ali bin al-Amidi mengabarkan kepadaku, ia adalah salah satu penulis besar ahli hisab. Ia berkata: “Aku masuk suatu hari kepadanya bersama Syamsuddin an-Nafis, petugas baitul mal, dan tidak ada pada masanya yang lebih pandai menulis daripadanya. Lalu Asy-Syaikh Taqiyuddin mulai bertanya kepadanya tentang tingkatan dan tentang apa yang ada antara fadhalkah dan ketetapan jumlah dari bab-bab, tentang fadhalkah kedua dan lawannya, tentang amalan istihqaq, tentang penutupan dan urutan, dan apa yang diminta dari petugas. Ia menjawab sebagian dan diam tentang sebagian, lalu ia meminta penjelasan untuk itu hingga ia menjelaskannya dan menjelaskan alasannya.” Ia berkata: “Ketika kami keluar dari tempatnya, an-Nafis berkata kepadaku: ‘Demi Allah, hari ini aku belajar darinya apa yang tidak aku ketahui sebelumnya.'” Selesai apa yang disebutkan Alauddin.

Aku bertanya kepadanya pada tahun 718 atau 717 Hijriah ketika ia di madrasahnya di al-Qashsha’in tentang firman Allah Taala: “Dan yang lain yang mutasyabihat” (Surah Ali Imran: 7). Aku berkata kepadanya: “Yang dikenal di kalangan ahli nahwu bahwa jamak tidak disifati kecuali dengan apa yang disifati dengannya mufrad dari jamak dengan mufrad dari sifat.” Ia berkata: “Demikianlah.” Aku berkata: “Apa mufrad dari mutasyabihat?” Ia berkata: “Mutasyabihah.” Aku berkata: “Bagaimana mungkin satu ayat dalam dirinya sendiri mutasyabihah, padahal kemiripan hanya terjadi antara dua ayat? Demikian juga firman Allah Taala: ‘Lalu ia mendapati di sana dua orang laki-laki yang berkelahi’ (Surah Al-Qashash: 15), bagaimana mungkin seorang laki-laki berkelahi dengan dirinya sendiri?” Ia mengalihkanku dari jawaban kepada pujian dan berkata: “Ini pemikiran yang bagus, dan seandainya engkau menemani aku selama satu tahun niscaya engkau akan mendapat manfaat.”

Aku bertanya kepadanya dalam majelis itu tentang tafsir firman Allah Taala: “Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan menjadikan darinya pasangannya” sampai firman-Nya: “tentang apa yang mereka persekutukan” (Surah Al-A’raf: 189-190). Ia menjawab dengan apa yang dikatakan para mufassir tentang itu, yaitu Adam dan Hawa, dan bahwa Hawa ketika hamil, Iblis datang kepadanya dalam rupa seorang laki-laki dan berkata: “Aku khawatir tentang yang ada di perutmu ini, jangan-jangan ia keluar dari duburmu atau merobek perutmu, dan apa yang membuatmu tahu mungkin ia adalah hewan atau anjing.” Ia terus dalam kecemasan hingga Iblis datang lagi kepadanya dan berkata: “Aku meminta kepada Allah Taala agar menjadikannya manusia yang sempurna, dan jika demikian namailah ia Abdul Harits,” dan nama Iblis di kalangan malaikat adalah Al-Harits. Maka itulah firman Allah Taala: “Maka tatkala Allah memberi kepada keduanya anak yang saleh, keduanya menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah terhadap anak yang dianugerahkan-Nya itu.” Ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Aku berkata kepadanya: “Ini rusak dari beberapa segi karena Allah Taala berfirman dalam ayat berikutnya: ‘Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan,’ maka ini menunjukkan bahwa kisah itu tentang sekelompok orang. Kedua, tidak ada penyebutan Iblis dalam pembicaraan. Ketiga, Allah Taala telah mengajarkan Adam semua nama, maka pastilah ia tahu bahwa nama Iblis adalah Al-Harits. Keempat, Allah Taala berfirman: ‘Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) apa yang tidak dapat menciptakan sesuatu pun sedangkan mereka sendiri diciptakan?’ (Surah Al-A’raf: 191), dan ini menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah berhala-berhala karena ‘ma’ adalah untuk yang tidak berakal, dan seandainya itu Iblis niscaya digunakan ‘man’ yang untuk yang berakal.”

Maka beliau rahimahullahu ta’ala berkata: sebagian mufassir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ayat ini adalah Qushay, karena dia menamai keempat putranya Abdu Manaf, Abdul Uzza, Abdu Qushay, dan Abdud Dar. Dan dhamir (kata ganti) dalam kata “yusyrikuun” kembali kepada dirinya dan anak-anaknya serta keturunannya yang menamai anak-anak mereka dengan nama-nama seperti ini dan yang semacamnya. Maka aku berkata kepadanya: ini juga pendapat yang rusak, karena Allah ta’ala berfirman: “Dia menciptakan kalian dari diri yang satu dan menjadikan darinya pasangannya” (Al-A’raf: 189). Dan tidak demikian kecuali Adam, karena Allah ta’ala menciptakan Hawa dari tulang rusuknya. Maka beliau rahimahullahu ta’ala berkata: yang dimaksud dengan ayat ini adalah bahwa pasangannya sejenis dengannya, orang Arab Quraisy. Maka aku tidak melihat ada gunanya memperpanjang pembicaraan dengannya.

Aku bertanya kepadanya dalam majelis tersebut tentang perkataan para mutakallimin mengenai al-wajib (yang wajib ada) dan al-mumkin (yang mungkin ada), karena mereka berkata: al-wajib adalah sesuatu yang keberadaannya tidak tergantung pada keberadaan yang mungkin, sedangkan al-mumkin adalah sesuatu yang keberadaannya tergantung pada keberadaan yang wajib. Beliau rahimahullahu ta’ala berkata: ini adalah perkataan yang lurus. Maka aku berkata: perkataan ini adalah persis sama dengan perkataan tentang illat (sebab) dan ma’lul (yang disebabkan). Maka beliau berkata: memang demikian, namun itu adalah illat yang tidak sempurna, dan tidak akan menjadi illat yang sempurna kecuali dengan bergabungnya iradat (kehendak Allah). Maka apabila iradat bergabung dengan wujud al-wajib, maka wujud al-mumkin menjadi pasti.

Kemudian aku bertemu dengannya setelah itu berkali-kali, dan beliau apabila melihatku berkata: bagaimana dengan pertanyaan-pertanyaanmu, bagaimana dengan jawaban-jawabanmu, bagaimana dengan keraguan-keraguanmu? Aku tahu bahwa kamu seperti periuk yang mendidih, mengatakan buq buq buq, yang atasnya menjadi bawah dan yang bawahnya menjadi atas. Tetaplah bersamaku, tetaplah bersamaku, kamu akan mendapat manfaat. Aku menghadiri pelajaran-pelajarannya dan aku mendapatkan di sela-sela perkataannya faidah-faidah yang tidak pernah aku dengar dari selainnya dan tidak pernah aku jumpai dalam kitab, rahimahullahu ta’ala.

Secara keseluruhan, aku tidak pernah melihat dan tidak akan melihat orang seperti beliau dalam hal pengetahuannya yang luas dan hafalannya. Sungguh benar apa yang kami dengar tentang para hafizh terdahulu. Dan cita-citanya sangat tinggi sampai batas terjauh, karena beliau sering kali melantunkan:

Jiwa-jiwa mati karena penderitaannya Dan tidak mengadukan kepada yang menjenguknya apa yang ada padanya Dan tidak adil jiwa yang mengadu Penderitaannya kepada selain kekasihnya

Dan beliau juga melantunkan:

Barangsiapa yang tidak memimpin dan tidak merasakan debu Pasukan di Kamis dalam hidungnya, maka dia tidak akan memimpin pasukan

Pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 698 (enam ratus sembilan puluh delapan), sekelompok ulama Syafi’iyyah menentangnya dan mengingkari perkataannya tentang sifat-sifat Allah. Mereka mengambil fatwanya yang bernama al-Hamawiyyah dan menolaknya. Mereka membuat majelis untuknya, namun al-Afram membela beliau dan mereka tidak mencapai tujuan mereka. Diumumkan di Damaskus pembatalan aqidah al-Hamawiyyah. Jaghan al-Musyid membela beliau, padahal beliau telah dilarang berbicara.

Kemudian beliau duduk seperti biasanya pada hari Jumat dan berbicara. Kemudian beliau menghadap kepada Qadhi al-Qudhah Imam ad-Din dan mereka berdiskusi dengannya. Permasalahan memanjang antara mereka. Kemudian al-Qadhi Imam ad-Din dan saudaranya Jalal ad-Din kembali dan berkata: barangsiapa yang mengatakan sesuatu tentang asy-Syaikh Taqiyuddin, maka kami akan memberi ta’zir kepadanya.

Kemudian beliau dipanggil ke Mesir bersama dengan al-Qadhi Najmuddin Ibnu Shashri. Al-Amir Saifuddin Salar membela beliau, sedangkan al-Amir Ruknuddin al-Jasyankir menekannya. Mereka membuat majelis untuknya yang berakhir dengan penahanannya. Maka beliau ditahan di Khizanah al-Bunud, kemudian dipindahkan ke Iskandariyah, kemudian dibebaskan dan tinggal di Kairo beberapa waktu. Kemudian ditahan lagi, kemudian dibebaskan dan kembali ke Damaskus.

Pada masa al-Qadhi Jalaluddin, mereka berdiskusi dengannya tentang masalah ziyarah (berkunjung ke makam). Perihal itu ditulis ke Mesir, lalu datang perintah Sultan untuk menahannya di benteng. Beliau tetap ditahan di sana sampai meninggal pada tahun 728 (tujuh ratus dua puluh delapan).

Aku melihat beliau setelah wafatnya rahimahullahu ta’ala dalam mimpi, seolah-olah beliau berada di Masjid Bani Umayyah. Di tanganku ada salinan aqidah Ibnu Hazm azh-Zhahiri yang disebutkan di awal kitab al-Muhalla. Aku telah menulisnya dengan tulisan tanganku dan menulis di akhirnya:

Inilah nash agamaku dan keyakinanku Dan selainku tidak melihat ini boleh

Aku menunjukkannya kepada beliau. Beliau memperhatikan dan melihatnya, namun tidak berbicara apa-apa.

Penyebutan Karya-Karyanya

Siapakah yang mampu menyebutkan semuanya! Kepunyaan Allah lah orang yang berkata:

Sesungguhnya pada ombak bagi orang yang tenggelam ada uzur Yang jelas bahwa dia tidak mampu menghitungnya

Namun aku akan menyebutkan yang mudah, karena sebenarnya karya-karyanya lebih banyak dari yang aku sebutkan dalam biografi ini. Mungkin sebagian sahabatnya mengetahuinya:

Kitab-Kitab Tafsir

  • Qaidah tentang Isti’adzah
  • Qaidah tentang Basmalah dan pembahasan mengeraskannya
  • Qaidah tentang firman Allah ta’ala: “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Al-Fatihah: 5), dan bagian besar dari awal surah Al-Baqarah
  • Tentang firman-Nya ta’ala: “Dan di antara manusia ada yang mengatakan: ‘Kami beriman kepada Allah dan hari akhir'” (Al-Baqarah: 8), sekitar tiga karras
  • Firman-Nya ta’ala: “Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api” (Al-Baqarah: 17), sekitar dua karras
  • “Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu” (Al-Baqarah: 21), tujuh karras
  • “Kecuali orang yang menjadikan dirinya bodoh” (Al-Baqarah: 130), satu karras
  • Ayat Kursi, dua karras, dan lain-lain dari surah Al-Baqarah
  • “Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat” (Ali Imran: 7) sampai akhirnya, sekitar satu jilid
  • “Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia” (Ali Imran: 18), enam karras
  • “Apa saja nikmat yang kamu peroleh” (An-Nisa: 79), sepuluh karras, dan lain-lain dari surah Ali Imran
  • Tafsir al-Ma’idah, satu jilid kecil
  • “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak melaksanakan salat” (Al-Ma’idah: 6), tiga karras
  • “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari (tulang belakang) anak cucu Adam” (Al-A’raf: 172), tujuh karras berisi qawa’id dan lain-lain
  • Surah Yusuf, satu jilid besar
  • Surah an-Nur, satu jilid kecil
  • Surah al-‘Alaq dan bahwa ia adalah surah pertama yang diturunkan yang memuat pokok-pokok agama, satu jilid
  • Surah Lam Yakun
  • Surah al-Kafirun
  • Surah Tabbat dan al-Mu’awwidzatain
  • Surah al-Ikhlas, satu jilid
  • Dan lain-lain dari ayat-ayat yang terpisah

Kitab-Kitab Ushul

  • al-I’tiradhaat al-Mishriyyah ‘ala al-Fatwa al-Hamawiyyah, empat jilid yang beliau dikte di penjara
  • Bantahan terhadap Ta’sis at-Taqdis yang diberi nama Bayaan Talbis al-Jahmiyyah fi Ta’sis Bida’ihim al-Kalamiyyah, atau kadang diberi nama Takhlish at-Talbis min Ta’sis at-Taqdis
  • Syarah awal kitab al-Muhasshal karya al-Imam Fakhruddin, mencapai tiga jilid
  • Syarah beberapa puluh masalah dari al-Arba’in karya al-Imam Fakhruddin
  • Ta’arudh al-‘Aql wan-Naql, empat jilid
  • Jawaban atas apa yang diajukan oleh Kamaluddin Ibnusy-Syaraisyi, satu jilid
  • al-Jawab ash-Shahih liman Baddala Din al-Masih, bantahan terhadap orang-orang Nasrani, tiga jilid
  • Minhaj al-Istiqamah
  • Syarah Aqidah al-Ashbahani, satu jilid
  • Naqd al-I’tiradh ‘alaiha li Ba’dh al-Masyariqah, empat karras
  • Syarah awal kitab al-Ghaznawi tentang ushul ad-din, satu jilid
  • ar-Radd ‘ala al-Manthiq, satu jilid
  • Radd yang lain, kecil
  • ar-Radd ‘ala al-Falasifah, beberapa jilid
  • Qaidah tentang qadhaaya wahmiyyah
  • Qaidah tentang apa yang terhingga dan apa yang tidak terhingga
  • Jawaban ar-Risalah ash-Shafadiyyah
  • Jawaban dalam membantah perkataan para filosof: bahwa mukjizat para nabi adalah kekuatan jiwa, satu jilid besar
  • Itsbat al-Ma’ad war-Radd ‘ala Ibni Sina
  • Syarah risalah Ibnu ‘Abdus tentang perkataan Imam Ahmad dalam ushul
  • Tsubut an-Nubuwwat ‘Aqlan wa Naqlan wal-Mu’jizaat wal-Karaamaat, dua jilid
  • Qaidah tentang al-Kulliyyat, satu jilid kecil
  • ar-Risalah al-Qubrushiyyah
  • Risalah kepada penduduk Thabaristan dan Jilan tentang penciptaan ruh, cahaya, dan para imam yang harus diikuti
  • Masalah apa yang ada di antara dua sampul dan Kalam Allah
  • Tahqiq Kalam Allah kepada Musa alaihissalam
  • Apakah Jibril mendengar Kalam Allah atau memindahkannya dari Lauhul Mahfuzh
  • ar-Risalah al-Ba’labakiyyah
  • ar-Risalah al-Azhariyyah
  • al-Qadiriyyah
  • al-Baghdadiyyah
  • Ajwibah asy-Syakl wan-Nuqth
  • Ibtal al-Kalam an-Nafsani, membatalkannya dari sekitar delapan puluh segi
  • Jawaban bagi orang yang bersumpah dengan talak tiga bahwa al-Quran adalah huruf dan suara
  • Dan beliau memiliki karya tentang penetapan sifat-sifat dan penetapan ketinggian dan istawa, beberapa jilid
  • al-Marrakusyiyyah
  • Shifat al-Kamal wadh-Dhabit fiha
  • Ajwibah tentang pemisahan Allah ta’ala dari makhluk-Nya
  • Jawaban tentang istawa dan pembatalan takwilnya dengan istila
  • Jawaban bagi yang berkata tidak mungkin menggabungkan antara penetapan sifat-sifat pada zhahirnya dengan penafian tasybih, setengah karras
  • Ajwibah tentang bahwa Arsy dan langit-langit itu bulat dan sebab hati-hati menuju arah atas
  • Jawaban apakah sesuatu berada di arah atas padahal bukan jauhar dan bukan ‘aradh itu ma’qul atau mustahil
  • Jawaban apakah istawa dan nuzul itu hakikat dan apakah lazim madzhab itu madzhab, diberi nama al-Irbiliyyah
  • Masalah nuzul dan perbedaan waktunya karena perbedaan negara dan matha’li, satu jilid kecil
  • Syarah hadits nuzul, lebih dari satu jilid
  • Bayaan penyelesaian masalah Ibnu Hazm yang berkaitan dengan hadits
  • Dua qaidah tentang kedekatan Rabb dari hamba yang beribadah dan berdoa kepada-Nya, satu jilid kecil
  • al-Kalam ‘ala Naqd al-Mursyidah
  • al-Masail al-Iskandariyyah dalam membantah orang-orang Ittihad dan Hulul
  • Apa yang terkandung dalam Fushush al-Hikam berupa kekufuran, ilhad, hulul, dan ittihad
  • Jawaban tentang liqa Allah
  • Jawaban tentang penglihatan para wanita terhadap Rabb mereka di surga
  • ar-Risalah al-Madaniyyah tentang penetapan sifat-sifat naqliyyah
  • al-Halaawuniyyah, jawaban pertanyaan yang datang atas lisan raja Tatar, satu jilid
  • Qawa’id tentang penetapan qadar dan bantahan terhadap Qadariyyah dan Jabariyyah, satu jilid
  • Bantahan terhadap Rafidhah tentang imamah atas Ibnu Muthahhir
  • Jawaban tentang kebaikan iradat Allah ta’ala untuk menciptakan makhluk dan menjadikan manusia, apakah untuk suatu hikmah atau tanpa hikmah
  • Syarah hadits: Maka Adam mengalahkan Musa
  • Kitab Tanbih ar-Rajul al-Ghafil ‘ala Tamwih al-Mujadil, satu jilid
  • Tanahi asy-Syada’id fi Ikhtilaf al-‘Aqa’id
  • Kitab al-Iman, satu jilid
  • Syarah hadits Jibril tentang iman dan Islam
  • Tentang ishmah para nabi dalam apa yang mereka sampaikan
  • Masalah tentang akal dan ruh
  • Tentang para muqarrabin, apakah mereka ditanya oleh Munkar dan Nakir
  • Apakah jasad diazab bersama ruh di kubur dan apakah ruh berpisah dari badan dengan kematian atau tidak
  • ar-Radd ‘ala Ahli Kasrawan, dua jilid
  • Tentang keutamaan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma atas selain keduanya
  • Qaidah tentang keutamaan Muawiyah dan tentang putranya Yazid bahwa dia tidak boleh dicaci
  • Tentang keutamaan orang-orang shalih dari manusia atas seluruh jenis makhluk
  • Mukhtashar tentang kekufuran an-Nushairiyyah
  • Tentang bolehnya memerangi Rafidhah
  • Karras tentang kekalnya surga dan neraka dan fananya keduanya, dan al-‘Allamah Qadhi al-Qudhah Taqiyuddin as-Subki membantahnya

Kitab-Kitab Ushul Fiqh

  • Qaidah yang kebanyakannya perkataan para fuqaha, dua jilid
  • Qaidah bahwa setiap pujian dan celaan dari perkataan dan perbuatan tidak ada kecuali dengan Kitab dan Sunnah
  • Syumul an-Nushush lil-Ahkam, satu jilid kecil
  • Qaidah tentang ijma’ dan bahwa ia tiga macam
  • Jawaban tentang ijma’ dan khabar mutawatir
  • Qaidah bahwa khabar wahid memberikan keyakinan
  • Qaidah tentang bagaimana cara mengoreksi hukum-hukum dengan nash dan ijma’
  • Tentang bantahan terhadap orang yang berkata bahwa dalil-dalil lafzhi tidak memberikan keyakinan, tiga karya
  • Qaidah tentang apa yang disangka dari pertentangan nash-nash dan ijma’
  • Muakhadzah kepada Ibnu Hazm tentang ijma’
  • Qaidah tentang taqrir qiyas
  • Qaidah tentang ijtihad dan taqlid dalam hukum-hukum, satu jilid
  • Raf’ul Malaam ‘anil A’immah al-A’laam
  • Qaidah tentang istihsan
  • Washf al-‘Umum wal-Ithlaq
  • Qawa’id tentang bahwa orang yang salah dalam ijtihad tidak berdosa, satu jilid
  • Apakah orang awam wajib meng-taqlid madzhab tertentu
  • Jawaban tentang meninggalkan taqlid bagi orang yang berkata madzhabku adalah madzhab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan aku tidak memerlukan taqlid kepada yang empat
  • Jawaban bagi orang yang belajar fiqh dalam suatu madzhab dan menemukan hadits shahih, apakah dia beramal dengannya atau tidak
  • Jawaban tentang orang Hanafi bertaqlid kepada Syafi’i dalam jama’ karena hujan dan witir
  • al-Fath ‘ala al-Imam dalam shalat
  • Tafdhil qawa’id madzhab Malik dan ahli Madinah
  • Tafdhil al-A’immah al-Arba’ah dan apa yang membedakan setiap mereka
  • Qaidah tentang keutamaan Imam Ahmad, satu jilid
  • Jawaban apakah Nabi ‘alaihissalam sebelum kerasulan adalah nabi
  • Jawaban apakah Nabi ‘alaihissalam dibebani syariat dari sebelumnya
  • Qawa’id bahwa larangan menunjukkan kerusakan

 

 

 

KITAB-KITAB FIKIH

Syarh al-Muharrar fi Madzhab Ahmad dan belum sempat dibersihkan. Syarh al-‘Umdah li Muwaffaq ad-Din empat jilid. Jawaban Masalah-masalah yang Datang dari Isfahan. Jawaban Masalah-masalah yang Datang dari Andalusia. Jawaban Masalah-masalah yang Datang dari ash-Shalt. Dan Masalah-masalah dari Baghdad. Masalah-masalah yang Datang dari Zar’. Masalah-masalah yang Datang dari ar-Rahbah. Empat Puluh Masalah yang Dijuluki ad-Durar al-Mudhi’ah fi Fatawa Ibnu Taimiyah. al-Mardaniyah. ath-Tharabulusiyah. Kaidah tentang Air-air dan Cairan-cairan serta Hukum-hukumnya. Cairan-cairan dan Pertemuannya dengan Najis. Kesucian Air Kencing Binatang yang Halal Dimakan Dagingnya. Kaidah tentang Hadits Qullatain dan Tidak Dinaikkannya. Kaidah-kaidah tentang Istijmar dan Penyucian Tanah dengan Matahari dan Angin. Kebolehan Istijmar Meski Ada Air. Pembatal-pembatal Wudhu. Kaidah-kaidah tentang Tidak Batalnya Wudhu dengan Menyentuh Wanita. Tasmiyah dalam Wudhu. Kesalahan Pendapat yang Membolehkan Mengusap Kedua Kaki. Kebolehan Mengusap Khuf yang Robek, Kaus Kaki, dan Pembalut. Tentang Orang yang Tidak Memberi Upah Pemandian Umum. Pengharaman Masuk Pemandian Umum Tanpa Kain Penutup. Tentang Pemandian Umum dan Mandi. Celaan terhadap Waswas. Kebolehan Thawaf Bagi Wanita Haidh. Kemudahan Ibadah bagi Orang-orang yang Memiliki Kesulitan dengan Tayammum dan Mengumpulkan Dua Shalat karena Uzur. Kemakruhan Melafazkan Niat dan Pengharaman Mengeraskannya. Kaidah tentang Isti’adzah. Kaidah tentang Basmalah Apakah Ia Bagian dari Surah. Tentang Apa yang Dialami Orang yang Shalat dari Waswas Apakah Membatalkan atau Tidak. al-Kalim ath-Thayyib tentang Dzikir-dzikir. Kemakruhan Menggelar Sajadah Orang yang Shalat Sebelum Ia Datang. Tentang Dua Rakaat yang Dikerjakan Sebelum Jumat. Tentang Shalat Setelah Adzan Jumat. Qunut dalam Subuh dan Witir. Membunuh Orang yang Meninggalkan Salah Satu Rukun Islam dan Kekufurannya satu jilid. Mengumpulkan Dua Shalat dalam Safar. Tentang Hal-hal yang Berbeda Hukumnya dalam Safar dan Mukim. Ahli Bidah Apakah Boleh Shalat di Belakang Mereka. Shalat Sebagian Ahli Madzhab di Belakang Sebagian yang Lain. Shalat-shalat yang Bid’ah. Pengharaman Sima’ (Musik). Pengharaman Seruling. Pengharaman Bermain Catur. Pengharaman Ganja dan Wajibnya Had Padanya serta Kenajisannya. Larangan Ikut Serta dalam Hari Raya Nasrani dan Yahudi serta Menyalakan Api pada Maulid, Pertengahan Sya’ban, dan Apa yang Dilakukan pada Asyura dari Biji-bijian.

Kaidah tentang Kadar Kaffarah dalam Sumpah lima kertas. Tentang Wanita yang Ditalak Tiga Tidak Halal Kecuali dengan Nikah Suami Kedua. Penjelasan Talak yang Mubah dan Haram. Tentang Bersumpah dengan Talak dan Menjatuhkannya Tiga. Jawaban bagi Orang yang Bersumpah Tidak Melakukan Sesuatu atas Empat Madzhab Kemudian Menceraikan Tiga dalam Haidh. al-Farq al-Mubin baina ath-Thalaq wa al-Yamin. Lamhah al-Mukhtathaf fi al-Farq baina ath-Thalaq wa al-Half. Bersumpah dengan Talak adalah Sumpah Hakikatnya. Kitab at-Tahqiq fi al-Farq baina al-Aiman wa at-Tathliq. Talak Bid’i Tidak Jatuh. Masalah-masalah Perbedaan antara Bersumpah dengan Talak dan Menjatuhkannya, Talak Bid’i, Khulu’, dan Semacamnya kira-kira lima belas jilid. Manasik Haji jumlahnya sekitar satu jilid. Tentang Haji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentang Umrah Makkiyah. Tentang Membeli Senjata di Tabuk, Minum Suwiq di Aqabah, Makan Kurma di Raudhah, Apa yang Dipakai Orang Ihram, dan Ziarah ke Khalil Setelah Haji. Ziarah Baitul Maqdis Secara Mutlak. Gunung Lebanon Seperti Gunung-gunung Lainnya, Tidak Ada di Dalamnya Rijal Ghaib atau Abdal. Semua Sumpah Kaum Muslimin yang Dapat Dikaffarahi.

KITAB-KITAB DALAM BERBAGAI JENIS

Sebagian orang mengumpulkan fatwa-fatwanya di Negeri Mesir selama ia tinggal di sana tujuh tahun dalam berbagai ilmu, maka terkumpul tiga puluh jilid. Pembahasan tentang Batalnya Futuwah yang Disepakati di Kalangan Awam dan Tidak Ada Dasarnya yang Bersambung kepada Ali ‘alaihi as-salam. Membuka Keadaan Para Syaikh Ahmadiyah dan Keadaan-keadaan Setan Mereka. Batalnya Apa yang Dikatakan Ahli Rumah Syaikh ‘Adi. Bintang-bintang Apakah Memiliki Pengaruh Ketika Ijtima’ dan Muqabalah, dan dalam Gerhana Apakah Diterima Perkataan Peramal tentangnya dan Ru’yah Hilal satu jilid. Pengharaman Cara-cara Para Tukang Tenung dengan Mantra-mantra Mu’jam, Membelah yang Sehat, dan Sifat Cincin-cincin. Pembatalan Kimia dan Pengharamannya Meskipun Benar dan Laku. Membuka Keadaan al-Maraziqah. Kaidah tentang Bani Ubaid.

Dan dari syair Syaikh Taqi ad-Din rahimahullah atas lisan para fakir yang telanjang ini dan lainnya:

Demi Allah, kefakiran kami bukanlah pilihan Sesungguhnya kefakiran kami adalah keterpaksaan Kami sekelompok orang yang semuanya pemalas Dan makanan kami tidak punya takaran Engkau mendengar dari kami jika kami berkumpul Hakikatnya semuanya omong kosong

Dan ia memiliki jawaban-jawaban pertanyaan yang ditanyakan kepadanya dalam bentuk syair, maka ia menjawabnya juga dalam bentuk syair, dan ini bukan tempat untuk menyebutkan itu.

Dan memujinya sekelompok orang dari para ahli zamannya, di antaranya Syihab ad-Din Ahmad bin Muhammad al-Baghdadi yang dikenal dengan Ibnu al-Abradi al-Hanbali, dan Syaikh Syams ad-Din Ibnu ash-Shaigh, dan Sa’d ad-Din Abu Muhammad Sa’dullah bin Abdul Ahad al-Harrani, dan lebih banyak dari itu, dan di antaranya:

Jika mereka berdagang dengannya ketika ia dalam penjara dan mencari Ridha-nya dan menampakkan kelembutan dan kasih sayang Maka tidak heran bahwa musuh-musuh tunduk pada kekuatannya Dan tidak aneh bahwa musuh takut pada serangannya Karena dari sifat pedang yang tajam bahwa ia Ditakuti dan diharapkan dalam sarung maupun terhunus

Dan ketika ia masuk ke Mesir, ia dipuji oleh ulama besar Abu Hayyan Atsir ad-Din dengan beberapa bait. Dan ketika ia wafat rahimahullah, ia diratapi oleh sekelompok orang di antaranya: Syaikh ‘Ala’ ad-Din ‘Ali bin Ghanim, dan Syaikh Qasim bin Abdur Rahman al-Muqri, dan Burhan ad-Din Ibrahim putra Syaikh Syihab ad-Din Ahmad bin Abdul Karim al-‘Ajami, dan Mahmud bin ‘Ali bin Mahmud bin Muqbil ad-Daquqi al-Baghdadi, dan Mujir ad-Din Ahmad bin al-Hasan al-Khayyath ad-Dimasyqi, dan Syihab ad-Din Ahmad bin al-Kursyt, dan Zain ad-Din ‘Umar bin al-Hussam, dan Syams ad-Din Muhammad bin Ahmad bin Abi al-Qasim al-Halabi ad-Dimasyqi ash-Shalihi al-Iskaf, dan Shafi ad-Din Abdul Mu’min bin Abdul Haqq al-Baghdadi al-Hanbali, dan Jamal ad-Din Mahmud bin al-Atsir al-Halabi, dan Abdullah bin Khidhir bin Abdur Rahman ar-Rumi al-Hariri yang dikenal dengan al-Mutayyam, dan Taqi ad-Din Abu Abdullah Muhammad bin Sulaiman bin Abdullah bin Salim al-Ja’bari, dan Jamal ad-Din Abdul Shamad bin Ibrahim bin al-Khalil bin Ibrahim bin al-Khalil al-Khalili, dan Hasan bin Muhammad an-Nahwi al-Mardani, dan Qadhi Zain ad-Din ‘Umar bin al-Wardi asy-Syafi’i dan lainnya. Dan di antara mereka ada yang meratapi dengan dua qasidah dan tiga, dan qasidah Syaikh ‘Ala’ ad-Din bin Ghanim:

Ulama mana yang berlalu dan imam mana Yang dengannya agama Islam berduka cita Ibnu Taimiyah at-Taqi yang unik pada zamannya Yang dulunya adalah permata di Syam Lautan ilmu yang surut setelah Pemberiannya melimpah dan merata dengan kebaikan Zahid yang beribadah, menjaga diri di dunia Dari semua harta benda yang ada di dalamnya Ia adalah harta bagi setiap pencari ilmu Dan bagi yang takut terlihat dalam keharaman Dan bagi yang mengadu datang mengeluh tentang kemiskinan Pada sisinya maka ia memperoleh segala keinginan

Ia meraih ilmu maka tidak ada yang setara dengannya Di dalamnya dari ulama maupun yang sejajar Tidak ada di dunia baginya seorang yang sebanding Dalam semua ilmu dan hukum-hukum Ulama di zamannya yang mengungguli dengan ilmu Semua imam-imam yang mulia Ia dalam ilmunya unik dan tunggal Mereka tidak mencapai apa yang ia capai dalam mimpi-mimpi Setiap orang di Damaskus meratapi dia Dengan tangisan karena hebatnya kesedihan Manusia berduka cita atas dirinya di Timur dan Barat Dan mereka menjadi dengan kesedihan seperti anak yatim Seandainya tebusan dengan ruh bermanfaat, kami telah Menebusnya dari serangan kematian Seorang yang unik, dengannya manusia tertimpa musibah Maka ditakziyahkan dalam dirinya semua makhluk Dan berat bagi mereka untuk melihatnya Hilang dengan terpaksa dalam tanah dan debu Tidak terlihat seperti harinya ketika ia berjalan Di atas keranda menuju Dar as-Salam Mereka membawanya di atas pundak menuju kubur Dan hampir saja mereka binasa karena desakan Maka sekarang ia tetangga Rabb langit-langit Yang Maha Pengasih, Maha Mengawasi, Maha Mengetahui Semoga Allah menguduskan ruhnya dan menyirami kubur Yang memuatnya dengan hujan yang lebat Sungguh ia adalah langka di antara anak-anak zaman Dan indah di wajah-wajah hari-hari

Dan menceritakan kepadaku dengan ijazah untuk dirinya Qadhi Zain ad-Din ‘Umar bin al-Wardi asy-Syafi’i dan dari tulisan tangannya aku salin:

Hati-hati manusia keras dan bengis Dan tidak ada bagi mereka semangat menuju kemuliaan Apakah pernah bersemangat setelah wafatnya ulama besar Bagi kita dari taburan permata-permatanya untuk dipungut Taqi ad-Din yang memiliki wara’ dan ilmu Masalah-masalah yang sulit dengannya dijahit Ia wafat sedang ia dipenjara sendirian Dan tidak ada baginya kepada dunia kelapangan Seandainya mereka menghadirinya ketika ia meninggal, mereka akan mendapati Malaikat-malaikat kenikmatan mengelilinginya

Ia menyelesaikan janji dan tidak ada baginya sebanding Dan tidak akan diselimuti kain seperti dirinya Seorang pemuda dalam ilmunya menjadi unik Dan penyelesaian masalah-masalah dengannya digantungkan Dan ia dahulu Iblis takut akan kekuatannya Karena nasihat untuk hati-hati adalah cambukan Maka demi Allah apa yang dikandung liang lahat Dan demi Allah apa yang ditutup oleh ubin Dan kurungan mutiara dalam kerang adalah kebanggaan Dan pada Syaikh dengan penjara adalah kebanggaan Bani Taimiyah dulunya ada lalu lenyap Bintang-bintang ilmu yang menimpa mereka kejatuhan Tetapi wahai penyesalan kita atas dirinya Maka keraguan orang-orang murtad dengannya terhapus Imam yang tidak pernah mengurusi wilayah Dan tidak berhenti padanya wakaf atau ribath Dan tidak bersaing dengan manusia dalam mengumpulkan harta Dan tidak menyibukkannya dengan manusia percampuran Seandainya mereka tidak memenjarakannya secara syar’i Pastilah dengannya untuk kedudukan mereka penurunan Sungguh tersembunyi dariku di sini beberapa perkara Maka tidak pantas bagiku ikut campur di dalamnya Dan di sisi Allah berkumpul semua makhluk Semuanya dan terlipatlah permadani ini

 

 

Al-Allamah Muhammad bin Syakir Al-Katbi (764 H)

  • Fawat Al-Wafayat
  • Uyun At-Tawarikh Fawat Al-Wafayat

36 – Fawat Al-Wafayat

Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah

Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Abi al-Qasim al-Harrani, Syekh, Imam, Allamah, Ahli Fikih, Mufassir, Hafizh, Ahli Hadits, Syaikhul Islam yang langka di zamannya, pemilik karya tulis dan kecerdasan luar biasa, Taqiyuddin Abu al-Abbas, putra seorang ulama mufti Syihabuddin, putra Imam Syaikhul Islam Majduddin Abu al-Barakat. Beliau lahir di Harran pada tanggal 10 Rabiul Awal tahun 661 H, kemudian ayahnya membawanya pindah ke Damaskus pada tahun 667 H, dan wafat pada tahun 728 H, semoga Allah merahmatinya.

Beliau mendengar hadits dari Ibnu Abdul Daim, Ibnu Abi al-Yusr, al-Kamal bin Abd, Syekh Syamsuddin, al-Qasim al-Irbili, Ibnu Allan, dan banyak lagi. Beliau membaca sendiri dan menyalin beberapa juz. Beliau menjadi salah satu imam dalam kritik hadits dan ulama ahli atsar, disertai dengan ketaatan beragama, dzikir, menjaga diri, dan menjauhkan diri dari harta dunia yang hina ini. Kemudian beliau mendalami fikih dan perinciannya, serta menyelami pembahasannya. Adapun mengenai ushul al-din (pokok-pokok agama) dan pengetahuan tentang pendapat-pendapat Khawarij, Rafidhah, Muktazilah, dan ahli bidah, tidak ada yang dapat menandinginya, ditambah dengan kedermawanan yang tidak pernah terlihat bandingannya, keberanian yang luar biasa, dan ketidakpedulian terhadap kenikmatan diri seperti pakaian yang indah, makanan yang lezat, dan kenyamanan duniawi.

Dikatakan: Bahwa ibunya pernah memasak labu untuknya, namun tidak mencicipinya terlebih dahulu dan ternyata pahit. Setelah mencicipinya, ia membiarkannya begitu saja. Ketika Syekh pulang ke rumah dan melihat masakan labu itu, beliau memakannya hingga kenyang tanpa mengeluh sedikitpun.

Dan diriwayatkan bahwa ada seseorang yang mengadu kepadanya tentang Qatlubak yang besar (seorang pejabat). Orang tersebut terkenal dengan kesombongannya, merampas harta orang-orang, dan kisah-kisahnya dalam hal itu sangat terkenal. Ketika Syekh menemuinya dan berbicara dengannya tentang hal itu, ia berkata: “Aku sendiri yang ingin datang kepadamu karena kamu adalah orang yang berilmu dan zuhud,” sambil mengejek. Syekh menjawab: “Jangan anggap aku seperti dirkawaun! Musa lebih baik dariku dan Firaun lebih jahat darimu, namun Musa setiap hari datang ke pintu Firaun beberapa kali dan mengajaknya beriman.”

Syekh Syamsuddin berkata: Beliau menulis dalam berbagai bidang, dan kemungkinan karya-karyanya mencapai tiga ratus jilid. Beliau adalah orang yang mengatakan kebenaran, melarang kemungkaran, memiliki wibawa dan keberanian, serta tidak pandai berdiplomasi. Beliau berkulit putih, berambut dan berjenggot hitam, sedikit beruban, rambutnya sampai ke cuping telinga, kedua matanya seperti dua lisan yang berbicara, postur tubuh sedang, suara keras, fasih berbicara, cepat membaca. Beliau wafat dalam keadaan dipenjara di benteng Damaskus karena masalah ziarah, dan pemakamannya sangat besar. Beliau dimakamkan di pemakaman kaum Sufi. Shalat jenazahnya dipimpin oleh Qadhi al-Qudhat Syekh Alauddin al-Qunawi. Demikian perkataan Syekh Syamsuddin adz-Dzahabi.

Karya-karya Beliau

Kitab-kitab Tafsir

“Qaidah tentang Isti’adzah”. “Qaidah tentang Basmalah dan Pembahasan tentang Mengeraskan Bacaannya”. “Qaidah tentang firman Allah Ta’ala: ‘Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan’ (Al-Fatihah: 5)”, dan bagian besar dari Surah Al-Baqarah tentang firman Allah Ta’ala: “Dan di antara manusia ada yang berkata: ‘Kami beriman kepada Allah dan hari akhir'” (Al-Baqarah: 8), tiga kurrash (lembar). Dan tentang firman-Nya: “Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api” (Al-Baqarah: 17), dua kurrash. Dan tentang firman-Nya: “Wahai manusia, sembahlah” (Al-Baqarah: 21), tujuh kurrash. “Kecuali orang yang menyia-nyiakan dirinya” (Al-Baqarah: 130), satu kurrash. “Ayat Kursi”, dua kurrash, dan tentang firman-Nya: “Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia” (Ali Imran: 18), enam kurrash; “Apa yang menimpamu dari kebaikan” (An-Nisa: 79), sepuluh kurrash, dan selain itu dari Surah Ali Imran. “Tafsir Al-Maidah”, satu jilid kecil. “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat” (Al-Maidah: 6), tiga kurrash. “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengambil (perjanjian) dari anak cucu Adam” (Al-A’raf: 172), tujuh kurrash. “Surah Yusuf”, satu jilid besar. “Surah An-Nur”, satu jilid kecil. “Surah Al-Alaq dan bahwa ia adalah surah pertama yang diturunkan”, satu jilid. “Surah Lam Yakun”. “Surah Al-Kafirun”. “Surah Tabbat dan Al-Mu’awwidzatain”, satu jilid. “Surah Al-Ikhlas”, satu jilid.

Kitab-kitab Ushul

“Al-I’tiradhat Al-Mishriyyah ala Al-Fatwa Al-Hamawiyyah”, empat jilid. “Apa yang Didiktekannya di Penjara sebagai Bantahan terhadap Ta’sis At-Taqdis”. “Syarah Awal Al-Muhasshal”, satu jilid. “Syarah Belasan Masalah dari Al-Arba’in karya Imam Fakhruddin”. “Ta’arudh Al-Aql wa An-Naql”, empat jilid. “Jawaban atas Apa yang Dikemukakan Kamaluddin Ibnu Asy-Syuraysi”, satu jilid. “Al-Jawab Ash-Shahih”, bantahan terhadap Nasrani, tiga jilid. “Minhaj Al-Istiqamah”. “Syarah Aqidah Al-Ashfahani”, satu jilid. “Syarah Awal Kitab Al-Ghaznawi dalam Ushul Ad-Din”, satu jilid. “Ar-Radd ‘ala Al-Manthiq”, satu jilid. “Bantahan Lain”, kecil. “Ar-Radd ‘ala Al-Falasifah”, empat jilid. “Qaidah tentang Pernyataan-pernyataan Wahm”, “Qaidah tentang Apa yang Terbatas dan Tidak Terbatas”, “Jawaban Risalah Ash-Shafadiyyah”. “Jawaban dalam Membantah Perkataan Para Filosof: Bahwa Mukjizat Para Nabi alaihimus salam adalah Kekuatan Jiwa”, satu jilid besar. “Penetapan Hari Kebangkitan dan Bantahan terhadap Ibnu Sina”. “Syarah Risalah Ibnu Abdus tentang Perkataan Imam Ahmad dalam Ushul”. “Penetapan Kenabian secara Akal dan Naql serta Mukjizat dan Karamah”, dua jilid. “Qaidah tentang Kulliyyat”, satu jilid kecil. “Ar-Risalah Al-Qubrushiyyah”. “Surat kepada Penduduk Thabaristan dan Gilan tentang Penciptaan Ruh dan Nur”. “Ar-Risalah Al-Ba’labakiyyah”. “Ar-Risalah Al-Azhariyyah”. “Al-Qadiriyyah”. “Al-Baghdadiyyah”. “Jawaban-jawaban tentang Bentuk dan Titik”. “Pembatalan Kalam Nafsi”, dibatalkan dari sekitar delapan puluh sisi. “Jawaban bagi yang Bersumpah dengan Thalaq Tiga bahwa Al-Quran adalah Huruf dan Suara”. “Penetapan Sifat-sifat, Ketinggian, dan Istiwa”, dua jilid. “Al-Marrakusyiyyah”. “Sifat-sifat Kesempurnaan dan Batasan di Dalamnya”. “Jawaban tentang Istiwa dan Pembatalan Takwilnya sebagai Penguasaan”. “Jawaban bagi yang Berkata: Tidak Mungkin Menggabungkan Penetapan Sifat pada Zhahirnya dengan Penafian Penyerupaan”. “Jawaban-jawaban bahwa Arsy dan Langit Berbentuk Bulat dan Sebab Hati Menuju ke Arah Atas”.

“Jawaban bahwa Sesuatu Berada di Arah Atas padahal Bukan Jawhar atau Aradh itu Masuk Akal atau Mustahil”. “Jawaban Apakah Istiwa dan Nuzul itu Hakikat? Dan Apakah Konsekuensi Madzhab adalah Madzhab” yang dinamai “Al-Irbaliyyah”. “Masalah Nuzul dan Perbedaan Waktunya karena Perbedaan Negara dan Tempat Terbit”, satu jilid kecil. “Syarah Hadits Nuzul”, satu jilid besar. “Penjelasan Solusi Permasalahan Ibnu Hazm yang Muncul pada Hadits”. “Qaidah tentang Kedekatan Rabb kepada Hamba yang Beribadah dan Berdoa kepada-Nya”, satu jilid. “Pembahasan tentang Bantahan Al-Mursyidah”. “Masalah-masalah Iskandaria dalam Membantah Ittihad dan Hulul”. “Apa yang Terkandung dalam Fushush Al-Hikam”. “Jawaban tentang Pertemuan dengan Allah”. “Jawaban tentang Penglihatan Wanita terhadap Rabb Mereka di Surga”. “Ar-Risalah Al-Madaniyyah dalam Penetapan Sifat-sifat Naqliyyah”. “Al-Halawuniyyah”. “Jawaban Pertanyaan yang Datang dari Raja Tatar”, satu jilid. “Qaidah-qaidah dalam Penetapan Qadar dan Bantahan terhadap Qadariyyah dan Jabariyyah”, satu jilid. “Bantahan terhadap Rafidhah dalam Imamah atas Ibnu Muthahhar”. “Jawaban tentang Kebaikan Kehendak Allah Ta’ala untuk Menciptakan Makhluk dan Membuat Manusia karena Illat atau Tanpa Illat”. Syarah hadits “Maka Adam mengalahkan Musa dalam berargumen”. “Tanbih Ar-Rajul Al-Ghafil ‘ala Tamwih Al-Mujadil”, satu jilid. “Tanahiy Asy-Syadaid fi Ikhtilaf Al-Aqa’id”, satu jilid. “Kitab Al-Iman”, satu jilid. “Syarah Hadits Jibril tentang Hadits Iman dan Islam”, satu jilid. “Ismah Para Nabi alaihimus salam dalam Apa yang Mereka Sampaikan”. “Masalah tentang Akal dan Ruh”. “Masalah tentang Muqarrabin: Apakah Munkar dan Nakir Menanyai Mereka”. “Masalah Apakah Jasad Diazab bersama Ruh di Kubur”. “Ar-Radd ‘ala Ahli Kasrawan”, dua jilid. “Tentang Keutamaan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu anhuma atas yang Lain”. “Qaidah tentang Keutamaan Muawiyah dan bahwa Putranya Yazid Tidak Boleh Dicaci”. “Tentang Keutamaan Orang-orang Saleh dari Manusia atas Semua Jenis Lainnya”. “Ringkasan tentang Kekufuran Nushairiyyah”. “Tentang Bolehnya Memerangi Rafidhah”, satu kurrash. “Tentang Kekalnya Surga dan Neraka serta Fananya Keduanya”, bantahan terhadap Maulana Qadhi al-Qudhat Taqiyuddin As-Subki semoga Allah memuliakannya.

Kitab-kitab Ushul Fikih

“Qaidah yang Kebanyakannya Pendapat Para Fuqaha”, dua jilid. “Qaidah bahwa Setiap Pujian dan Celaan dari Perkataan dan Perbuatan Hanya dengan Kitab dan Sunnah”. “Syumuliyyah Nash untuk Hukum-hukum”, satu jilid kecil. “Qaidah tentang Ijma dan bahwa Ia Ada Tiga Macam”. “Jawaban tentang Ijma dan Khabar Mutawatir”. “Qaidah tentang Cara Istidrak atas Hukum-hukum dengan Nash dan Ijma”. “Dalam Membantah yang Berkata bahwa Dalil-dalil Lafzhiyyah Tidak Memberi Keyakinan”, tiga kitab. “Qaidah tentang Dugaan Pertentangan antara Nash dan Ijma”. “Kritikan terhadap Ibnu Hazm dalam Ijma”. “Qaidah dalam Menetapkan Qiyas”. “Qaidah tentang Ijtihad dan Taqlid dalam Hukum-hukum”. “Raf’ul Malam ‘an Al-A’immah Al-A’lam”. “Qaidah tentang Istihsan”. “Sifat Umum dan Mutlak”. “Qaidah-qaidah bahwa yang Salah dalam Ijtihad Tidak Berdosa”. “Apakah Awam Wajib Mengikuti Madzhab Tertentu”. “Jawaban tentang Meninggalkan Taqlid”. “Bagi yang Berkata Madzhabku adalah Madzhab Nabi shallallahu alaihi wasallam dan Aku Tidak Perlu Mengikuti Empat (Imam)”. “Jawaban bagi yang Berfiqih dalam Madzhab dan Menemukan Hadits Shahih Apakah Beramal dengannya atau Tidak”. “Jawaban tentang Hanafi Mengikuti Syafii dalam Jama karena Hujan dan Witir”. “Fathu terhadap Imam dalam Shalat”. “Keutamaan Qaidah-qaidah Madzhab Malik dan Ahlul Madinah”. “Keutamaan Empat Imam dan Apa yang Membedakan Setiap Orang dari Mereka”. “Qaidah tentang Keutamaan Imam Ahmad”. “Jawaban Apakah Nabi shallallahu alaihi wasallam Sebelum Risalah adalah Nabi”. “Jawaban Apakah Nabi shallallahu alaihi wasallam Terbebani Syariat Sebelumnya”. “Qaidah-qaidah bahwa Larangan Menuntut Kerusakan”.

Kitab-kitab Fikih

“Syarah Al-Muharrar dalam Madzhab Ahmad”, dan belum dibersihkan. “Syarah Al-Umdah karya Muwaffaquddin”, empat jilid. “Jawaban Masalah-masalah yang Datang dari Ashfahan”. “Jawaban Masalah-masalah yang Datang dari Andalusia”. “Jawaban Masalah-masalah yang Datang dari Ash-Shalt”. “Masalah-masalah dari Baghdad”. “Masalah-masalah yang Datang dari Zar'”. “Masalah-masalah yang Datang dari Ar-Rahbah”. “Empat Puluh Masalah yang Dijuluki Ad-Durar Al-Madhiyyah fi Fatawa Ibnu Taimiyyah”. “Al-Mardaniyyah”. “Ath-Tharabulusiyyah”. “Qaidah tentang Air dan Cairan serta Hukumnya”. “Sucinya Kencing Binatang yang Halal Dimakan Dagingnya”. “Qaidah tentang Hadits Qullatain dan Tidak Diangkatnya”. “Qaidah-qaidah tentang Istijmar dan Menyucikan Tanah dengan Matahari dan Angin”. “Bolehnya Istijmar dengan Adanya Air”. “Pembatal-pembatal Wudhu”. “Qaidah-qaidah tentang Tidak Batalnya Wudhu dengan Menyentuh Wanita”. “Tasmiyyah pada Wudhu”. “Salah Pendapat tentang Bolehnya Mengusap Khuf”. “Bolehnya Mengusap Khuf yang Berlubang, Kaos Kaki, dan Pembalut”. “Bagi yang Tidak Memberi Upah Pemandian”. “Haramnya Masuk Pemandian Tanpa Kain Penutup”. “Tentang Pemandian dan Mandi”. “Celaan Waswas”. “Bolehnya Thawaf bagi Haidh”. “Memudahkan Ibadah bagi yang Memiliki Udzur dengan Tayamum dan Jama antara Dua Shalat karena Udzur”. “Makruhnya Melafazhkan Niat dan Haramnya Mengeraskannya”. “Al-Kalim Ath-Thayyib” tentang dzikir. “Makruhnya Menyiapkan Sajadah Sebelum Orang yang Shalat Datang”. “Tentang Dua Rakaat yang Dikerjakan Sebelum Jumat”, “Tentang Shalat Setelah Adzan Jumat”. “Qunut dalam Subuh dan Witir”. “Membunuh yang Meninggalkan Salah Satu Rukun dan Kekufurannya”. “Jama antara Dua Shalat dalam Safar”. “Tentang yang Berbeda Hukumnya antara Safar dan Mukim”. “Ahlul Bidah: Apakah Shalat di Belakang Mereka”. “Shalat Sebagian Ahli Madzhab di Belakang Sebagian yang Lain”. “Shalat-shalat yang Dibid’ahkan”. “Haramnya Sima'”. “Haramnya Syababah”. “Haramnya Bermain Catur”. “Haramnya Hasyisyah Qinbiyyah dan Wajibnya Had atasnya serta Kenajisannya”. “Larangan Ikut Serta dalam Hari Raya Nasrani dan Yahudi serta Menyalakan Api pada Maulid dan Pertengahan Syaban dan Apa yang Dilakukan pada Asyura dari Biji-bijian”. “Qaidah tentang Kadar Kafarah dalam Sumpah”. “Tentang Wanita yang Ditalak Tiga Tidak Halal Kecuali dengan Nikah Suami Kedua”. “Penjelasan Halal dan Haram dalam Thalaq”.

“Jawaban bagi yang Bersumpah Tidak Akan Melakukan Sesuatu atas Empat Madzhab Kemudian Mentalak Tiga Kali pada Saat Haidh”. “Al-Farq Al-Mubin baina Ath-Thalaq wa Al-Yamin”. “Lamhah Al-Mukhtathaf fi Al-Farq baina Ath-Thalaq wa Al-Hilf”. “Kitab At-Tahqiq fi Al-Farq baina Al-Aiman wa At-Tathliq”. “Thalaq Bid’i Tidak Jatuh”. “Masalah-masalah Perbedaan antara Thalaq Bid’i dan Khulu dan semacamnya”. “Manasik Haji”. “Tentang Haji Nabi shallallahu alaihi wasallam”. “Tentang Umrah Makkiyyah”. “Tentang Membeli Senjata di Tabuk dan Minum Sawiq di Aqabah dan Makan Kurma di Raudhah dan Apa yang Dipakai Orang yang Berihram serta Ziarah ke Khalil alaihis salam Setelah Haji”. “Ziarah Baitul Maqdis secara Mutlak”. “Gunung Lubnan seperti Gunung-gunung Lainnya, Tidak Ada di Dalamnya Rijal al-Ghaib dan Tidak Ada Abdal”. “Semua Sumpah Orang Muslim Dapat Dikaffarah”.

Buku-buku dalam Berbagai Macam Ilmu

Sebagian orang mengumpulkan fatwa-fatwanya di negeri Mesir selama ia menetap di sana tujuh tahun dalam berbagai ilmu, hasilnya menjadi tiga puluh jilid. “Pembahasan tentang Batalnya Fatwa yang Disepakati di Kalangan Awam dan Tidak Ada Dasarnya yang Bersambung kepada Ali radiyallahu ‘anhu”. “Membuka Keadaan Para Syekh Ahmadiyah dan Keadaan-keadaan Setan Mereka”. “Batalnya Apa yang Dikatakan Ahli Bait Syekh Adi”. “Bintang-bintang: Apakah Ada Pengaruhnya saat Konjungsi dan Oposisi, dan tentang Gerhana: Apakah Diterima Perkataan Ahli Nujum di dalamnya dan Ru’yatul Hilal”, satu jilid. “Pengharaman Berbagai Macam Sumpah Para Pengobat dengan Mantra-mantra Ajaib dan Kesurupan Orang Sehat serta Sifat Cincin-cincin”. “Membatalkan Ilmu Kimia dan Mengharamkannya Meski Benar dan Laku”.

Dan dari syair Syekh Taqiyyuddin rahimahullahu ta’ala dengan lisan para fakir yang telanjang:

Demi Allah, kefakiran kami bukan pilihan … Tetapi kefakiran kami adalah keterpaksaan Kelompok kami semuanya pemalas … Dan makanan kami tidak ada takarannya Kau mendengar dari kami jika berkumpul … Hakikat semuanya omong kosong

Dan ia memiliki jawaban-jawaban pertanyaan yang ditanyakan kepadanya dalam bentuk syair lalu ia menjawabnya dalam bentuk syair, dan ini bukan tempat menyebutkan hal itu, rahimahullahu ta’ala.

 

 

37 – ‘Uyun al-Tawarikh

Padanya (tahun 728) pada malam dua puluh dua Dzulqa’dah wafat Syekh Imam yang Alim Ahli Ibadah yang Zahid Abid Wara’ Khusyu’ Teladan Muhakkik, Syaikhul Islam Taqiyyuddin Ahmad ibn Syekh Imam yang Alim Syihabuddin Abdul Halim ibn Syekh Imam Syaikhul Islam Majduddin Abdussalam ibn Abdullah Ibn Taimiyah al-Harrani ad-Dimasyqi di Benteng Damaskus di ruangan tempat ia dipenjara, dan mereka memandikannya, mengafaninya, dan mengeluarkannya dari pintu benteng, dan menshalatkannya di pintu benteng adalah Syekh Muhammad ibn Tamam, kemudian mereka membawanya ke Masjid Bani Umayyah, dan ditutup semua pasar Damaskus, dan masjid penuh melebihi hari Jumat, dan hadir para amir dan para penjaga, dan mereka menshalatinya shalat Dzuhur, dan orang-orang membawanya di atas kepala mereka, dan mereka keluar dengannya dari Pintu Faraj, dan sebagian orang dari Pintu Faradis dan Pintu Nashr dan Pintu Jabiyah, dan orang-orang memanjang hingga Pasar Kuda sampai Pemakaman Sufi, dan ia dimakamkan di samping kubur saudaranya Syekh Abdullah. Dan orang-orang pulang dengan menyesalinya, dan mereka mengkhatamkan Al-Qur’an di atas kuburnya, dan mereka bermalam di atas kuburnya selama malam-malam yang banyak, dan terlihat untuknya mimpi-mimpi yang baik.

Dan kelahirannya tanggal sepuluh Rabi’ul Awal tahun enam ratus enam puluh satu di Harran, dan ia datang bersama ayahnya ke Damaskus, dan belajar kepada ayahnya, dan mendengar hadits dari Syekh Syamsuddin Ibn Abi Umar dan Ibn al-Allan dan Ibn Abi al-Yusr dan Ibn Abdul Da’im dan lain-lain, dan ia membaca sendiri, dan menulis thabaq, dan menyalin juz-juz, dan menetapi mendengar selama beberapa tahun, dan mendalami ilmu-ilmu, dan memperoleh dalam waktu paling cepat apa yang tidak diperoleh orang lain dalam tahun-tahun yang banyak. Dan ia memiliki kecerdasan luar biasa dan badi’ah yang baik, dan ia memiliki tangan yang panjang dalam ilmu-ilmu, dan mengarang karangan yang banyak dalam berbagai ilmu yang aku sebutkan dalam biografinya dalam kitab “Fawat al-Wafayat”. Dan ia banyak berdzikir dan berpuasa dan shalat dan ibadah, dan hidup enam puluh tujuh tahun dan delapan bulan dan sepuluh hari, rahimahullahu ta’ala.

38 – Mir’at al-Jinan

Karya Allamah Abu Muhammad Abdullah al-Yafi’i al-Yamani (767)

Padanya meninggal di Benteng Damaskus Syekh Hafizh yang Besar Taqiyyuddin Ahmad ibn Abdul Halim ibn Abdussalam ibn Abdullah Ibn Taimiyah dalam tahanan, dan ia dicegah sebelum wafatnya lima bulan dari tinta dan kertas. Dan kelahirannya pada tanggal sepuluh Rabi’ul Awal hari Senin tahun enam ratus enam puluh satu di Harran. Ia mendengar dari sekelompok orang dan mahir dalam menghafal hadits dan dua ushul, dan ia sangat cerdas. Dan karangannya dikatakan: lebih dari dua ratus jilid, dan ia memiliki masalah-masalah aneh yang diingkari kepadanya di dalamnya, dan ia dipenjara karena itu, yang berbeda dengan madzhab Ahlussunnah.

Dan yang paling buruk darinya adalah larangannya mengunjungi kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan celaannya terhadap para syekh sufi yang arif seperti Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali, dan Guru Imam Abul Qasim al-Qusyairi, dan Syekh Ibn al-Arif, dan Syekh Abul Hasan asy-Syadzili, dan banyak orang dari wali-wali Allah yang besar para pilihan yang baik.

Dan demikian juga apa yang telah diketahui dari madzhabnya seperti masalah talak dan lain-lain, dan demikian juga akidahnya tentang arah dan apa yang dinukil darinya di dalamnya dari perkataan-perkataan batil, dan selain itu dari apa yang dikenal dalam madzhabnya, dan sungguh aku telah melihat mimpi yang panjang di waktu yang diberkahi yang berkaitan sebagiannya dengan akidahnya dan menunjukkan kesalahannya di dalamnya, dan aku telah mendahulukan menyebutkannya pada tahun delapan ratus lima puluh delapan dalam biografi pemilik “al-Bayan”, maka barangsiapa ingin melihat hal itu hendaklah ia melihat di sana karena ia termasuk mimpi-mimpi yang lapang dengannya dada-dada dan tenteram dengannya hati orang yang melihatnya dan terbuka untuk menerima petunjuk dan cahaya!!

 

 

39 – Natsru al-Juman fi Tarajim al-A’yan

Karya Allamah Ahmad ibn Muhammad ibn Ali al-Fayyumi (770)

Padanya (tahun 728) pada sepertiga terakhir dari malam Senin yang pagi harinya adalah dua puluh Dzulqa’dah, adalah wafatnya Syekh Imam yang Alim Wara’ Zahid, Taqiyyuddin Ahmad ibn Syekh Imam Syihabuddin Abdul Halim ibn Syekh Majduddin Abul Barakat Abdussalam ibn Abdullah ibn Abul Qasim ibn Muhammad Ibn Taimiyah al-Harrani kemudian ad-Dimasyqi, di penahannya di Benteng Damaskus, dan masa sakitnya: tujuh belas hari, dan ketika ia dicegah dari menulis dan mengarang; ia tekun membaca kitab Allah yang Mulia, maka dikatakan: bahwa ia membaca delapan puluh khataman, dan ia membaca dari yang kedelapan puluh satu sampai Surah ar-Rahman, dan para sahabatnya yang masuk kepadanya menyempurnakannya saat memandikannya, dan mengafaninya.

Dan yang memandikannya bersama pemandi adalah Syekh Tajuddin al-Fariqi, dan dishalatkan untuknya di beberapa tempat, maka dishalatkan untuknya pertama di Benteng Damaskus, dan yang mengimami orang-orang dalam shalat untuknya adalah Syekh Muhammad ibn Tamam ash-Shalihi al-Hanbali, kemudian ia dibawa ke Masjid Umawi, dan jenazahnya diletakkan pada awal waktu kelima, dan masjid penuh dengan orang-orang, dan pasar-pasar kota ditutup, dan dishalatkan untuknya setelah shalat Dzuhur, kemudian ia dibawa dan dikeluarkan dari Pintu Faraj, dan orang-orang berdesakan hingga mereka berpencar di pintu-pintu, maka mereka keluar dari Pintu Istana, dan Pintu Faradis, dan Pintu Jabiyah, dan Pasar Kuda penuh dengan orang-orang, dan dishalatkan untuknya kali ketiga, dan yang mengimami orang-orang dalam shalat untuknya adalah saudaranya Syekh Zainuddin Abdurrahman, dan ia dibawa ke Pemakaman Sufi lalu dimakamkan di sana dekat waktu Ashar; karena desakan orang-orang kepadanya.

Dan kelahirannya di Harran pada hari Senin tanggal sepuluh Rabi’ul Awal tahun enam ratus enam puluh satu, dan ia datang bersama ayahnya dalam keadaan kecil usianya, dan belajar kepadanya dan mendengar dari sekelompok para syekh, dan ia adalah syekh hafizh, cerdas fitrahnya, baik badi’ahnya, dan ia memiliki karangan-karangan yang banyak darinya ada yang tampak, dan darinya ada yang tidak tampak. Dan ia memiliki penampilan dalam ilmu-ilmu, dan ketenaran dengannya yang cukup dari panjang lebar perkataan.

Aku mendengar dari lafazh Syekh Imam Allamah Ruknuddin Muhammad ibn al-Quwai’ berkata: “Wafat Ibn Taimiyah dan tidak meninggalkan di atas bumi sepertinya”. Dan cukuplah bagimu perkataan ini dari imam ini, mereka berkata: Dan ilmunya lebih kuat dari akalnya!

Dan sungguh telah terdahulu dari berita-beritanya dan kejadian-kejadiannya apa yang cukup dari pengulangan dan kepanjangan, dan masa penahannya dari hari Senin tanggal enam Sya’ban tahun tujuh ratus dua puluh enam, dan hingga waktu wafatnya: dua tahun dan tiga bulan dan empat belas hari – rahimahullahu ta’ala -.

Dan ketika ia wafat dibebaskan saudaranya Syekh Zainuddin Abdurrahman hari Ahad tanggal enam belas Dzulqa’dah, dan ia telah ditahan bersamanya, maka ketika ia meninggal ia keluar setiap hari dari tahanannya ke makam saudaranya, dan tinggal di sana hingga sore hari lalu kembali ke Benteng, dan bermalam di dalamnya, dan Naib sedang pergi berburu maka ketika ia kembali ke Damaskus ia membebaskannya – rahimahullahu ta’ala wa nafa’a bihi -.

 

 

40 – Al-Bidayah Wa An-Nihayah

Karya Allamah Abul Fida’ Isma’il ibn Katsir ad-Dimasyqi (774)

Tahun 661

Kelahiran Syekh Taqiyyuddin Ibn Taimiyah Syaikhul Islam:

Berkata Syekh Syamsuddin adz-Dzahabi: Dan pada tahun ini lahir guru kami Taqiyyuddin Abul Abbas Ahmad Ibn Syekh Syihabuddin Abdul Halim ibn Abul Qasim Ibn Taimiyah al-Harrani, di Harran. Hari Senin tanggal sepuluh Rabi’ul Awal dari tahun enam ratus enam puluh satu. (13/255). (17/451).

Tahun 666

Dan padanya lahir Syekh Syarafuddin Abdullah Ibn Taimiyah saudara Syekh Taqiyyuddin Ibn Taimiyah. (13/268). (17/480).

Tahun 667

Dan padanya keluar penduduk Harran darinya dan datang ke Syam. Dan di antara mereka ada guru kami yang Allamah Abul Abbas Ahmad Ibn Taimiyah bersama ayahnya, dan usianya enam tahun, dan kedua saudaranya Zainuddin Abdurrahman dan Syarafuddin Abdullah, dan keduanya lebih kecil darinya. (13/269). (17/483).

Tahun 682

Dan yang wafat padanya: Ibn Ja’wan yang Allamah Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad ibn Muhammad ibn Abbas Ibn Ja’wan al-Anshari ad-Dimasyqi, Ahli Hadits Fakih Syafi’i yang Mahir dalam Nahwu dan Bahasa.

Aku mendengar guru kami Taqiyyuddin Ibn Taimiyah, dan guru kami al-Hafizh Abul Hajjaj al-Mizzi, masing-masing dari keduanya berkata kepada yang lain: Orang ini membaca “Musnad Imam Ahmad” – dan keduanya mendengar – maka kami tidak mendapatkan kesalahan yang disepakati kepadanya, dan cukuplah dengan keduanya pujian atas orang ini, dan keduanya adalah keduanya!! (13/320), (17/590-591).

(Padanya) wafat Syekh Imam yang Alim Syihabuddin Abdul Halim ibn Syekh Imam yang Allamah Majduddin Abdussalam ibn Abdullah ibn Abul Qasim Ibn Taimiyah al-Harrani, ayah guru kami yang Allamah Taqiyyuddin Ibn Taimiyah, mufti kelompok-kelompok, pembeda antara kelompok-kelompok. Ia memiliki keutamaan yang baik, dan padanya faidah-faidah yang banyak, dan ia memiliki kursi di Masjid Damaskus ia berbicara di atasnya tanpa naskah, dan menjabat masyikhah Dar al-Hadits as-Sukkariyyah di al-Qasha’in, dan di sana adalah tempat tinggalnya. Kemudian mengajar anaknya Syekh Taqiyyuddin di sana setelahnya, pada tahun berikutnya sebagaimana akan datang. Dan dimakamkan di Pemakaman Sufi rahimahullah. (13/320). (17/592).

Tahun 683

Pada hari Senin, tanggal dua Muharram darinya, mengajar Syekh Imam yang Alim Allamah yang Berilmu Taqiyyuddin Abul Abbas Ahmad ibn Abdul Halim ibn Abdussalam Ibn Taimiyah al-Harrani, di Dar al-Hadits as-Sukkariyyah yang di al-Qasha’in. Dan hadir padanya Qadhi al-Qudhah Baha’uddin Ibn az-Zaki asy-Syafi’i, dan Syekh Tajuddin al-Fazari syekh Syafi’iyyah, dan Syekh Zainuddin Ibn al-Murhhil, dan Zainuddin ibn al-Munajja al-Hanbali. Dan itu adalah pengajaran yang mengagumkan dan meriah, dan sungguh Syekh Tajuddin al-Fazari menulisnya dengan tulisannya karena banyaknya faidah-faidahnya, dan banyaknya apa yang dianggap baik oleh yang hadir. Dan sungguh yang hadir telah berlebihan dalam terima kasih kepadanya atas kebaruan usianya dan kecilnya, karena usianya ketika itu dua puluh tahun dan dua tahun.

Kemudian Syekh Taqiyuddin yang telah disebutkan itu juga duduk pada hari Jumat tanggal sepuluh Safar di Masjid Umawi setelah salat Jumat di atas mimbar yang telah disiapkan untuknya untuk menafsirkan Alquran yang mulia. Maka ia memulai tafsirannya dari awal Alquran. Banyak sekali orang berkumpul di sisinya, sangat ramai dan berjubel. Karena banyaknya ilmu-ilmu beragam yang ia sampaikan dengan teliti, disertai sikap beragama, zuhud, dan ibadahnya, maka namanya tersebar di kalangan kafilah-kafilah perjalanan ke seluruh wilayah dan negeri. Hal itu terus berlanjut selama bertahun-tahun.

Tahun 692

Di antara orang yang menunaikan haji pada tahun ini adalah Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah rahimahullah. Amir mereka adalah Al-Basthi. Di Ma’an mereka ditimpa angin yang sangat kencang sehingga beberapa orang meninggal karenanya, dan angin itu mengangkat unta-unta dari tempatnya. Sorban-sorban beterbangan dari kepala, dan setiap orang sibuk dengan dirinya sendiri.

Tahun 693

(Peristiwa Assaf)

Orang ini berasal dari penduduk Suwaida, telah ada beberapa orang yang bersaksi bahwa ia mencela Nabi shallallahu alaihi wasallam. Assaf ini meminta perlindungan kepada Ibnu Ahmad bin Haji, amir Bani Ali. Maka Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah dan Syekh Zainuddin Al-Faruqi, syekh Dar Al-Hadits berkumpul. Mereka berdua menemui Amir Izzuddin Aibak Al-Hamawi, wakil sultan, lalu berbicara kepadanya tentang masalah Assaf, dan ia menyetujui keduanya. Ia lalu mengirim utusan untuk membawa Assaf. Keduanya keluar dari sisinya bersama banyak orang. Orang-orang melihat Assaf ketika ia datang bersama seorang Arab lalu mencaci dan memakinya. Arab Badui itu berkata: “Dia lebih baik dari kalian” – maksudnya si Nasrani itu – maka orang-orang melempari keduanya dengan batu. Assaf tertimpa dan jatuh dengan keras. Wakil sultan lalu mengirim utusan memanggil dua syekh: Ibnu Taimiyah dan Al-Faruqi, lalu memukulnya di hadapannya, dan memenjarakan keduanya di Al-Adzrawiyah. Nasrani itu dihadirkan lalu masuk Islam, dan dibuat majelis karena masalahnya, serta ditetapkan adanya permusuhan antara dia dengan para saksi, maka darahnya pun diselamatkan. Kemudian kedua syekh dipanggil dan ia meredakan keduanya lalu membebaskan mereka. Setelah itu, Nasrani tersebut pergi ke tanah Hijaz. Kebetulan ia terbunuh dekat kota Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dibunuh oleh anak saudaranya di sana.

Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah menyusun kitab dalam peristiwa ini yang berjudul Ash-Sharim Al-Maslul ala Sabb Ar-Rasul shallallahu alaihi wasallam.

Tahun 694

Wafat Syekh Imam, khatib, pengajar, dan mufti: Syarafuddin Abu Al-Abbas Ahmad bin Syekh Kamaluddin Ahmad bin Ni’mah bin Ahmad bin Ja’far bin Husain bin Hammad Al-Maqdisi Asy-Syafi’i. Ia menjabat sebagai hakim wakil, pengajar, dan khatib di Damaskus… dan ia memberi izin untuk berfatwa kepada beberapa orang alim di antaranya Syekh Imam Allamah Syaikhul Islam Abu Al-Abbas Ibnu Taimiyah. Ia berbangga dengan hal itu dan bergembira karenanya, dan berkata: “Aku yang memberi izin kepada Ibnu Taimiyah untuk berfatwa.”

Tahun 695

Pada hari Rabu tanggal tujuh belas Sya’ban, Syekh Imam Allamah Syaikhul Islam Taqiyuddin Ibnu Taimiyah Al-Harrani mengajar di Madrasah Hanabilah menggantikan Syekh Zainuddin Ibnu Al-Munjja yang telah wafat ke rahmat Allah. Ibnu Taimiyah turun dari halaqah Imaduddin Ibnu Al-Munjja untuk Syamsuddin Ibnu Al-Fakhr Al-Ba’labaki.

Tahun 697

Pada hari Jumat tanggal tujuh belas Syawal, Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah mengadakan pertemuan tentang jihad, dan memotivasi di dalamnya, ia memperbesar pahala para mujahidin. Itu adalah waktu yang disaksikan dan pertemuan yang agung.

Tahun 698

Terjadi pada akhir masa Lajin setelah keluarnya Qabqaq dari negeri, suatu cobaan bagi Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah. Beberapa fuqaha menentangnya dan ingin menghadirkannya ke majelis Qadhi Jalaluddin Al-Hanafi. Namun ia tidak hadir. Maka diumumkan di negeri tentang akidah yang pernah ditanyakan kepadanya oleh penduduk Hamah yang bernama Al-Hamawiyyah. Amir Saifuddin Jaghan membelanya. Dan ia mengirim utusan untuk mencari orang-orang yang menentangnya. Banyak dari mereka bersembunyi, dan beberapa orang yang mengumumkan tentang akidah itu dipukul, maka yang lain pun diam.

Pada hari Jumat, Syekh Taqiyuddin mengadakan pertemuan di masjid seperti biasanya, dan menafsirkan di dalamnya firman Allah Ta’ala: “Dan sungguh, engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Al-Qalam: 4). Kemudian ia bertemu dengan Qadhi Imamuddin Al-Qazwini pada pagi hari Sabtu, dan berkumpul di sisinya beberapa orang alim. Mereka membahas Al-Hamawiyyah, dan mendiskusikan dengannya beberapa bagian darinya. Ia menjawabnya dengan jawaban yang membungkam mereka setelah pembicaraan panjang.

Kemudian Syekh Taqiyuddin pergi setelah urusan selesai dan keadaan tenang. Qadhi Imamuddin memiliki pandangan baik dan maksud yang baik.

Tahun 699

Pada saat itu, Sultan Tatar telah menuju Damaskus setelah peperangan. Maka berkumpullah para pembesar negeri dan Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah di Masyhad Ali, dan mereka sepakat untuk pergi menemui Ghazan untuk menjemputnya dan meminta jaminan keamanan darinya bagi penduduk Damaskus.

Mereka berangkat pada hari Senin tanggal tiga Rabiul Akhir, dan bertemu dengannya di An-Nabk. Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah berbicara kepadanya dengan ucapan yang kuat dan keras yang di dalamnya terdapat kemaslahatan besar yang kembali manfaatnya kepada kaum muslimin, alhamdulillah.

Kaum muslimin masuk malam itu dari pihak Ghazan lalu turun di Al-Badhra’iyyah. Pintu-pintu kota ditutup kecuali pintu Tuma. Khatib berkhutbah di masjid pada hari Jumat, dan tidak menyebut nama sultan dalam khutbahnya. Setelah salat… datang perintah tentang jaminan keamanan dan diumumkan di negeri. Dibacakan pada hari Sabtu tanggal delapan bulan tersebut di maqsurah khutbah, dan ditaburkan sedikit emas dan perak.

Pada hari Senin tanggal sepuluh bulan itu, datang Amir Saifuddin Qabqaq Al-Mansuri lalu turun di lapangan. Pasukan Tatar mendekat, kerusakan bertambah di luar kota, beberapa orang terbunuh, harga-harga di kota melonjak tinggi, dan keadaan mereka menjadi sulit. Qabqaq mengirim utusan kepada wakil benteng untuk menyerahkannya kepada Tatar. Arjuwash menolak keras. Qabqaq mengumpulkan para pembesar negeri untuk berbicara kepadanya, namun ia tidak menyetujui mereka, dan berketetapan untuk tidak menyerahkannya kepada mereka selama masih ada mata yang berkedip. Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah mengirim utusan kepada wakil benteng mengatakan hal itu, maka tekadnya semakin kuat dan berkata kepadanya: “Seandainya tidak tersisa di dalamnya kecuali satu batu saja, maka jangan serahkan kepada mereka jika engkau mampu.” Dalam hal itu terdapat kemaslahatan besar bagi penduduk Syam karena Allah telah menjaga bagi mereka benteng dan tempat perlindungan ini yang Allah jadikan sebagai tempat berlindung bagi penduduk Syam yang senantiasa menjadi negeri aman dan sunnah, hingga turunnya Isa putra Maryam alaihissalam di dalamnya.

Ketika Biara Hanabilah diserang pada tanggal dua Jumadil Ula, mereka (Tatar) membunuh banyak laki-laki dan menawan banyak perempuan. Qadhi Al-Qudhat Taqiyuddin mengalami banyak penderitaan dari mereka. Dikatakan bahwa mereka membunuh dari penduduk Ash-Shalihiyyah sekitar empat ratus orang dan menawan sekitar empat ribu tawanan. Banyak kitab dirampas dari Ribath An-Nashiri, Adh-Dhiya’iyyah, dan khazanah Ibnu Al-Bazuri. Kitab-kitab itu dijual padahal tertulis di atasnya tulisan wakaf…

Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah keluar bersama beberapa sahabatnya pada hari Kamis tanggal dua puluh Rabiul Akhir menuju raja Tatar. Ia kembali setelah dua hari, dan tidak berhasil bertemu dengannya. Wazir Sa’duddin dan Ar-Rasyid Musyir Ad-Daulah Al-Maslamani putra seorang Yahudi menghalanginya…

Pada tanggal dua Rajab, Qabqaq memanggil para qadhi dan pembesar, lalu mengambil sumpah dari mereka untuk setia kepada negara Mahmudiyyah – yaitu Ghazan. Mereka bersumpah kepadanya. Pada hari ini Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah keluar menuju perkemahan Bulai dan bertemu dengannya, untuk membebaskan tawanan muslimin yang bersamanya. Ia berhasil menyelamatkan banyak dari mereka dari tangan mereka. Ia tinggal di sisinya selama tiga hari kemudian kembali.

Pada hari Jumat tanggal tujuh belas Rajab, khutbah dikembalikan di Masjid Damaskus untuk penguasa Mesir, Sultan An-Nashir Muhammad bin Qalawun. Orang-orang gembira dengan hal itu. Khutbah untuk Ghazan di Damaskus dan negeri-negeri Syam lainnya berlangsung selama seratus hari penuh. Pada pagi hari Jumat tersebut, Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah rahimahullah dan sahabat-sahabatnya berkeliling ke tempat-tempat penjualan khamar dan kedai-kedai minuman, lalu memecahkan wadah-wadah khamar, merobek tempat-tempatnya, dan menumpahkan khamar. Mereka memberi hukuman ta’zir kepada beberapa pemilik kedai yang menyediakan kemaksiatan ini. Orang-orang bergembira dengan hal itu.

Pada hari Jumat tanggal dua puluh Syawal, wakil sultan Jamaluddin Aqusy Al-Afram berkuda bersama pasukan Damaskus menuju gunung-gunung Jurd dan Kisrawan. Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah keluar bersamanya dengan banyak orang dari sukarelawan dan penduduk Hauran untuk memerangi penduduk daerah itu, karena rusaknya agama mereka, akidah mereka, kekufuran dan kesesatan mereka, dan apa yang mereka perbuat terhadap pasukan ketika Tatar mengalahkan mereka lalu mereka lari. Ketika pasukan melewati negeri mereka, mereka menyerang dan merampas mereka, mengambil senjata dan kuda-kuda mereka, serta membunuh banyak dari mereka.

Ketika mereka tiba di negeri mereka, para pemimpin mereka datang kepada Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah. Ia meminta mereka bertaubat dan menjelaskan kepada banyak dari mereka kebenaran. Dengan itu tercapai banyak kebaikan dan kemenangan besar atas orang-orang perusak tersebut. Mereka berkomitmen untuk mengembalikan apa yang mereka ambil dari harta pasukan, dan ditetapkan atas mereka harta yang banyak untuk dibawa ke Baitul Mal. Tanah dan ladang mereka dibagikan. Sebelum itu mereka tidak masuk dalam ketaatan pasukan, tidak berkomitmen pada hukum-hukum agama, tidak menjalankan agama yang benar, dan tidak mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya.

Tahun 700

Pada awal Safar datang kabar tentang maksud Tatar menyerang negeri Syam, dan bahwa mereka berniat masuk ke Mesir. Orang-orang gelisah karenanya, kelemahan mereka bertambah atas kelemahan mereka, akal dan pikiran mereka kacau, dan orang-orang mulai melarikan diri ke negeri Mesir, Al-Karak, Asy-Syubak, dan benteng-benteng yang kokoh. Biaya naik kapal ke Mesir mencapai lima ratus, unta dijual seharga seribu, dan keledai seharga lima ratus. Barang-barang, pakaian, dan hasil bumi dijual dengan harga termurah. Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah duduk pada tanggal dua Safar di majelisnya di masjid dan memotivasi orang-orang untuk berperang. Ia menjelaskan kepada mereka ayat-ayat dan hadits-hadits yang berkaitan dengan hal itu. Ia melarang terburu-buru melarikan diri, dan menganjurkan untuk menginfakkan harta dalam membela kaum muslimin, negeri mereka, dan harta mereka, dan bahwa apa yang diinfakkan untuk biaya melarikan diri, jika diinfakkan di jalan Allah akan lebih baik. Ia mewajibkan jihad melawan Tatar secara mutlak pada serangan ini. Ia mengadakan majelis-majelis tentang hal itu. Dan diumumkan di negeri-negeri: tidak ada seorang pun yang boleh bepergian kecuali dengan surat perintah dan dokumen. Maka orang-orang berhenti pergi, dan ketenangan mereka kembali.

Awal Jumadil Ula tiba dan orang-orang dalam keadaan sulit karena ketakutan, keterlambatan sultan, dan mendekatnya musuh, serta beratnya urusan dan keadaan. Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala keluar pada awal bulan ini – yaitu hari Sabtu – menuju wakil Syam dan pasukannya di Al-Marj. Ia menguatkan mereka, menguatkan semangat mereka, menenangkan hati mereka, dan menjanjikan mereka kemenangan dan keberhasilan atas musuh-musuh. Ia membacakan firman Allah Ta’ala: “Demikianlah. Dan barangsiapa membalas seimbang dengan perlakuan yang pernah ia terima, kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sungguh, Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun” (Al-Hajj: 60). Ia bermalam di sisi pasukan pada malam Ahad, kemudian kembali ke Damaskus. Wakil dan para amir memintanya untuk berkuda melalui pos cepat menuju Mesir untuk mendesak sultan agar segera datang.

Orang-orang fasik mengikuti Sultan. Sultan telah tiba di pesisir, namun mereka tidak dapat menyusulnya kecuali setelah ia kembali ke Kairo dan keadaan menjadi kacau. Namun ia mendesak mereka untuk mempersiapkan pasukan menuju Syam jika mereka menginginkannya. Ia berkata kepada mereka antara lain: “Jika kalian mengabaikan Syam dan perlindungannya, kami akan mengangkat seorang sultan yang akan melindunginya, menjaganya, dan memanfaatkannya di masa aman.”

Ia terus mendesak mereka hingga pasukan berangkat menuju Syam.

Kemudian ia berkata kepada mereka: “Seandainya kalian bukan penguasa Syam dan bukan rajanya, namun penduduknya meminta pertolongan kalian, maka wajib bagi kalian untuk menolong. Bagaimana mungkin kalian adalah penguasanya dan sultannya, mereka adalah rakyat kalian dan kalian bertanggung jawab atas mereka?”

Ia menguatkan semangat mereka, dan menjamin kemenangan bagi mereka kali ini. Maka mereka berangkat ke Syam. Ketika pasukan terus berdatangan ke Syam, orang-orang sangat bergembira, setelah sebelumnya mereka putus asa terhadap diri mereka sendiri, keluarga, dan harta mereka… (14/16). (17/737-738).

Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah kembali dari negeri Mesir pada tanggal 27 Jumadal Awal dengan pos kilat, setelah tinggal di benteng Mesir selama delapan hari. Ia bertemu dengan Sultan, Wazir, dan pembesar negara serta mendesak dan memotivasi mereka, maka mereka menyetujuinya. (14/17). (17/739).

Tahun 701

Pada bulan ini (Syawal) diadakan sidang untuk orang-orang Yahudi Khaibar, dan mereka diwajibkan membayar jizyah seperti orang-orang Yahudi lainnya. Mereka menunjukkan sebuah surat yang mereka klaim dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang membebaskan mereka dari jizyah. Ketika para fuqaha memeriksanya, ternyata surat tersebut palsu dan dibuat-buat; karena di dalamnya terdapat kata-kata yang lemah, tanggal yang kacau, dan kesalahan bahasa yang nyata. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah memeriksa mereka tentang hal itu, dan menjelaskan kepada mereka kesalahan dan kebohongan mereka, serta bahwa surat itu palsu dan dibuat-buat. Maka mereka kembali untuk membayar jizyah, dan takut jizyah tahun-tahun sebelumnya akan ditagih kepada mereka.

Penulis berkata: Aku sendiri telah melihat surat ini, dan di dalamnya terdapat kesaksian Sa’d bin Mu’adz pada tahun Khaibar. Padahal Sa’d telah wafat sekitar tiga tahun sebelumnya. Dan ada kesaksian Mu’awiyah bin Abi Sufyan, padahal ia belum masuk Islam saat itu, ia baru masuk Islam sekitar dua tahun setelahnya. Dan di dalamnya tertulis: “Ditulis oleh Ali bin Abu Thalib!!”

Ini adalah kesalahan bahasa yang tidak mungkin keluar dari Amirul Mukminin Ali. (14/20). (18/9).

Pada bulan ini (Syawal) sekelompok orang yang iri bangkit menentang Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, dan mengeluh bahwa ia menegakkan hukuman hudud, memberi ta’zir, dan mencukur kepala anak-anak. Ia juga berbicara tentang orang-orang yang mengeluhkan hal itu, dan menjelaskan kesalahan mereka. Kemudian keadaan mereda. (14/20). (18/10).

Tahun 702

Pada bulan Jumadal Ula, naib sultan mendapatkan sebuah surat palsu yang berisi bahwa Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, Qadhi Syamsuddin Ibnu al-Hariri, dan sekelompok amir serta orang-orang khusus yang berada di pintu istana sultan menjalin hubungan dengan Tatar dan berkorespondensi dengan mereka, serta ingin mengangkat Qibjaq sebagai penguasa Syam, dan bahwa Syekh Kamaluddin Ibnu az-Zamlakani memberitahu mereka tentang keadaan Amir Jamaluddin Aqusy al-Afram, demikian juga Kamaluddin Ibnu al-Attar. Ketika naib sultan membacanya, ia mengetahui bahwa ini adalah rekayasa. Maka ia menyelidiki pembuatnya, ternyata ia adalah seorang fakir yang tinggal di rumah yang berada di samping mihrab para sahabat, bernama al-Ya’furi, dan yang lainnya bernama Ahmad al-Fannari. Keduanya dikenal jahat dan suka mencampuri urusan orang. Ditemukan pula konsep surat ini pada mereka. Naib sultan memastikan hal itu, maka mereka diberi hukuman ta’zir yang berat. Kemudian mereka dieksekusi setelah itu pada awal Jumadal Akhir, dan tangan penulis yang menulis surat ini untuk mereka dipotong, yaitu at-Taj al-Manadili. (14/23). (18/18).

Pada tanggal 18 (Sya’ban) datang rombongan besar dari pasukan Mesir…

Kemudian setelah mereka datang rombongan lain… Maka hati-hati menjadi kuat dan banyak orang menjadi tenang. Namun orang-orang dalam ketakutan besar dari negeri Aleppo, Hamah, Homs dan daerah-daerah tersebut. Pasukan Aleppo dan Hamawi mundur ke Homs, kemudian mereka takut diserang Tatar maka mereka datang dan berkemah di al-Marj… Para qadhi duduk di masjid dan mengambil sumpah dari sekelompok fuqaha dan rakyat untuk berperang.

Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah pergi menemui pasukan yang datang dari Hamah, ia bertemu dengan mereka di al-Qutaifah, dan memberitahu mereka tentang sumpah yang telah diambil para amir dan orang-orang untuk menghadapi musuh, maka mereka menyetujuinya dan bersumpah bersama mereka. Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah bersumpah kepada para amir dan orang-orang: “Kalian pada kesempatan ini akan menang atas Tatar.” Para amir berkata kepadanya: “Katakan insya Allah.” Ia berkata: “Insya Allah sebagai penegasan, bukan pengandaian.” Ia menta’wilkan dalam hal itu beberapa hal dalam kitab Allah, di antaranya firman-Nya: “Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan apa yang dideritanya, kemudian dia dizalimi, pasti Allah akan menolongnya.” (QS. Al-Hajj: 60). (14/24-25). (18/22-23).

Orang-orang telah membicarakan tentang bagaimana cara memerangi Tatar ini termasuk dalam kategori apa? Karena mereka menampakkan Islam, dan mereka bukan pemberontak terhadap imam, karena mereka tidak pernah dalam ketaatan kepadanya pada suatu waktu kemudian menentangnya. Syekh Taqiyuddin berkata: Orang-orang ini termasuk jenis Khawarij yang keluar melawan Ali dan Mu’awiyah, dan mereka melihat bahwa mereka lebih berhak atas kekuasaan daripada keduanya. Dan orang-orang ini mengklaim bahwa mereka lebih berhak menegakkan kebenaran daripada kaum muslimin, dan mereka mencela kaum muslimin atas kemaksiatan dan kezaliman yang mereka lakukan, padahal mereka sendiri melakukan yang lebih besar berkali-kali lipat. Maka para ulama dan orang-orang memahami hal itu. Ia berkata kepada orang-orang: “Jika kalian melihatku di sisi sana dengan mushaf di atas kepalaku, bunuhlah aku.” Maka orang-orang menjadi berani dalam memerangi Tatar, hati dan niat mereka menjadi kuat, segala puji bagi Allah. (14/25). (18/23-24).

Ketika tiba hari Rabu tanggal 28 Sya’ban, pasukan Syam keluar dan berkemah di al-Jusurah dari arah al-Kiswah, bersama mereka para qadhi…

Ketika malam Kamis mereka bergerak menuju arah al-Kiswah…

Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah keluar pada pagi hari Kamis dari bulan tersebut dari Pintu Nasr dengan susah payah yang besar, bersamanya sekelompok orang untuk menyaksikan peperangan sendiri bersama orang-orang yang bersamanya. Orang-orang menyangka ia keluar melarikan diri, maka ia mendapat celaan dari sebagian orang dan mereka berkata: “Engkau melarang kami melarikan diri dan kini engkau sendiri melarikan diri dari negeri.” Ia tidak menjawab mereka. (14/25). (18/24).

Pada hari Senin tanggal empat bulan itu (Ramadhan) orang-orang kembali dari al-Kiswah ke Damaskus, dan mereka memberi kabar gembira kepada orang-orang dengan kemenangan.

Pada hari itu Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah masuk ke negeri bersama para sahabatnya dari jihad, maka orang-orang bergembira dengannya, mendoakan untuknya, dan mengucapkan selamat atas kebaikan yang Allah mudahkan melalui tangannya. Hal itu karena pasukan Syam menugaskannya untuk pergi menemui Sultan untuk mendesaknya agar segera menuju Damaskus, maka ia pergi menemuinya dan mendesaknya untuk datang ke Damaskus setelah ia hampir kembali ke Mesir. Ia datang bersamanya. Sultan memintanya untuk berdiri bersamanya dalam medan perang, maka Syekh berkata kepadanya: “Sunnah adalah seseorang berdiri di bawah bendera kaumnya. Dan kami dari pasukan Syam, kami tidak akan berdiri kecuali bersama mereka.” Ia memotivasi Sultan untuk berperang, dan memberinya kabar gembira kemenangan, dan ia bersumpah demi Allah yang tiada tuhan selain Dia bahwa kalian akan menang atas mereka pada kesempatan ini. Para amir berkata kepadanya: “Katakan insya Allah.” Ia berkata: “Insya Allah sebagai penegasan, bukan pengandaian.” Ia memberi fatwa kepada orang-orang untuk berbuka selama mereka berperang, dan ia sendiri juga berbuka. Ia berkeliling ke tenda-tenda dan para amir sambil makan sesuatu yang ada di tangannya, untuk mengajari mereka bahwa berbuka mereka agar kuat untuk berperang adalah lebih utama, maka orang-orang makan. Ia menta’wilkan untuk orang-orang Syam sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Sesungguhnya kalian akan menghadapi musuh besok, dan berbuka lebih menguatkan bagi kalian.” Beliau memerintahkan mereka untuk berbuka pada tahun Fathu Makkah. Sebagaimana dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri. (14/27). (18/27-28).

Dalam riwayat hidup Ibnu Daqiq al-‘Ied dikatakan: Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah pernah bertemu dengannya, maka Taqiyuddin Ibnu Daqiq al-‘Ied berkata kepadanya ketika melihat ilmu-ilmu itu darinya: “Aku tidak mengira akan tercipta lagi orang sepertimu.” (14/29). (28/30) dalam naskah (m).

Naib sultan Syam mengangkat untuk al-Baraniyah dan Dar al-Hadits Syekh Kamaluddin Ibnu asy-Syaraysyi, hal itu atas usul Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah. (14/30). (28/33).

Tahun 704

Pada bulan Rajab dihadapkan kepada Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah seorang syekh yang mengenakan jubah besar yang sangat lebar bernama al-Mujahid Ibrahim al-Qattan. Maka Syekh memerintahkan untuk memotong jubah itu, lalu orang-orang merebutnya dari segala penjuru, dan memotong-motongnya hingga tidak tersisa apa-apa. Ia memerintahkan untuk mencukur kepalanya yang berambut, memotong kuku-kukunya yang sangat panjang, dan memangkas kumisnya yang menjuntai menutupi mulutnya yang menyalahi sunnah. Ia meminta taubatnya dari perkataan keji, memakan yang tidak boleh dimakan dari yang haram dan apa yang mengubah akal seperti ganja dan lainnya.

Setelahnya dihadirkan Syekh Muhammad al-Khabbaz al-Balasi, maka ia juga diminta bertaubat dari memakan yang haram, dan bergaul dengan ahlu dzimmah. Dan ditulis atasnya catatan bahwa ia tidak boleh berbicara dalam takwil mimpi atau yang lainnya tentang apa yang tidak ia ketahui.

Pada bulan yang sama Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah pergi ke Masjid an-Naranj dan memerintahkan para sahabatnya yang bersama mereka tukang batu untuk memotong sebuah batu yang berada di sana di sungai Qalut yang diziarahi dan dinadzari. Maka ia memotongnya dan membebaskan kaum muslimin darinya dan dari kesyirikan dengannya. Maka ia menghilangkan dari kaum muslimin syubhat yang kejahatannya sangat besar. Dengan ini dan yang sepertinya ia dihasad, dan mereka menampakkan permusuhan kepadanya, demikian juga dengan perkataannya tentang Ibnu ‘Arabi dan pengikutnya, maka ia dihasad dan dimusuhi karena hal itu. Meski demikian ia tidak peduli dengan celaan orang yang mencela di jalan Allah, dan tidak ambil pusing, dan mereka tidak dapat menyakitinya dengan hal yang buruk. Yang paling banyak mereka dapatkan darinya adalah: penjara, meskipun ia tidak berhenti meneliti, baik di Mesir maupun di Syam. Tidak ada yang dapat mereka tujukan kepadanya yang mencemarkan nama baik, hanya saja mereka menangkapnya dan memenjarakannya dengan kekuasaan sebagaimana akan disebutkan. Kepada Allah kembalinya makhluk dan kepada-Nya perhitungan mereka. (14/36). (18/45-47).

Pada awal Dzulhijjah Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah berangkat, bersamanya sekelompok sahabatnya ke Jabal al-Jurd dan Kasrawaniyyun, bersamanya Naqib al-Asyraf Zainuddin bin ‘Adnan. Mereka meminta taubat dari banyak orang di antara mereka, dan mewajibkan mereka dengan syariat Islam, dan ia kembali dengan kuat dan menang. (14/37). (18/49).

Tahun 705

Pada tanggal dua (Muharram) naib sultan keluar dengan pasukan Syam yang tersisa bersamanya. Sebelumnya telah berangkat lebih dulu sebagian dari mereka bersama Ibnu Taimiyah pada tanggal dua Muharram. Mereka menuju negeri al-Jurd, ar-Rafdh dan at-Tayaminah. Maka naib sultan al-Afram sendiri keluar setelah keberangkatan Syekh untuk memerangi mereka, Allah memberi mereka kemenangan atas mereka, dan membinasakan banyak sekali orang dari mereka dan dari kelompok mereka yang sesat, dan menginjak banyak wilayah dari negeri mereka yang kebal. Naib sultan kembali ke Damaskus ditemani Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah dan pasukan. Dengan kesaksian Syekh dalam peperangan ini terjadi banyak kebaikan. Syekh menampakkan ilmu dan keberanian dalam peperangan ini, dan hati musuh-musuhnya dipenuhi dengan hasad dan kesedihan terhadapnya. (14/38). (18/50).

APA YANG TERJADI PADA SYEKH TAQIYUDDIN IBNU TAIMIYAH DENGAN KAUM AHMADIYAH DAN BAGAIMANA TIGA MAJELIS DIGELAR UNTUKNYA

Pada hari Sabtu tanggal sembilan Jumadal Ula, hadir sekelompok besar para fuqara Ahmadiyah kepada wakil Sultan di Istana al-Ablaq. Hadir pula Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah. Mereka meminta kepada wakil Sultan di hadapan para Amir agar Syekh Taqiyuddin menghentikan pengingkarannya terhadap mereka, dan agar membiarkan keadaan mereka. Maka Syekh berkata kepada mereka: “Ini tidak mungkin. Setiap orang harus tunduk di bawah Al-Quran dan Sunnah, baik perkataan maupun perbuatan. Dan barangsiapa yang keluar dari keduanya, maka wajib diingkari oleh setiap orang.” Mereka ingin melakukan sesuatu dari keadaan-keadaan setan yang mereka lakukan dalam majelis sama’ mereka. Maka Syekh berkata: “Keadaan-keadaan itu adalah keadaan-keadaan setan yang batil, dan kebanyakan keadaan kalian termasuk tipu muslihat dan kebohongan. Dan barangsiapa di antara kalian yang ingin masuk api, hendaklah ia masuk terlebih dahulu ke pemandian dan membasuh badannya dengan baik serta menggosoknya dengan cuka dan sabun, kemudian setelah itu barulah ia masuk ke dalam api jika ia orang yang jujur.”

Seandainya diandaikan bahwa seseorang dari ahli bid’ah masuk api setelah ia mandi, maka sesungguhnya hal itu tidak menunjukkan kesalehan dan keramahnya. Bahkan keadaannya termasuk keadaan para pendusta yang menyalahi syariat Muhammad. Jika pemiliknya berada di atas Sunnah, apalagi jika sebaliknya! Maka Syekh al-Munaibi’ Syekh Salih segera berkata: “Kami, keadaan kami hanya laku di hadapan Tatar, tidak laku di hadapan syariat.” Para hadirin mencatat kalimat tersebut darinya, dan pengingkaran terhadap mereka semakin banyak dari semua orang. Kemudian keadaan disepakati bahwa mereka melepaskan gelang-gelang besi dari leher mereka, dan bahwa barangsiapa yang keluar dari Al-Quran dan Sunnah akan dipenggal lehernya. Dan Syekh menyusun sebuah kitab tentang jalan kaum Ahmadiyah, dan menjelaskan di dalamnya kerusakan keadaan mereka, jalan-jalan mereka, dan khayalan-khayalan mereka, serta apa yang ada dalam jalan mereka dari yang diterima dan yang ditolak menurut Al-Quran dan Sunnah. Allah menampakkan Sunnah melalui tangannya dan memadamkan bid’ah mereka, dan bagi Allah segala puji dan karunia.

MAJELIS PERTAMA DARI TIGA MAJELIS UNTUK SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH

Pada hari Senin tanggal delapan Rajab, hadir para qadhi dan ulama, di antaranya Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, kepada wakil Sultan di istana. Dan dibacakanlah aqidah Syekh Taqiyuddin “al-Wasithiyyah”. Terjadi pembahasan di beberapa tempat darinya, dan beberapa tempat ditunda hingga majelis kedua. Maka mereka berkumpul pada hari Jumat setelah shalat tanggal dua belas bulan tersebut. Hadir Syekh Shafiuddin al-Hindi, dan ia berbicara dengan Syekh Taqiyuddin dengan pembicaraan yang panjang, namun kayuhannya berbenturan dengan lautan!! Kemudian mereka bersepakat bahwa Syekh Kamaluddin Ibnuz Zamlakani lah yang akan berargumentasi dengannya tanpa toleransi. Maka keduanya berdebat dalam hal itu, dan orang-orang memuji keutamaan Syekh Kamaluddin Ibnuz Zamlakani, ketajaman pikirannya, dan bagusnya perdebatannya ketika ia menandingi Ibnu Taimiyah dalam perdebatan dan berbicara dengannya. Kemudian keadaan berakhir dengan diterimanya aqidah tersebut, dan Syekh kembali ke rumahnya dengan dimuliakan dan dihormati.

Sampai kepadaku bahwa orang-orang awam membawakan lilin untuknya dari Bab an-Nashr hingga al-Qasha’in sesuai kebiasaan mereka dalam hal-hal semacam ini. Yang mendorong pertemuan-pertemuan ini adalah surat yang datang dari Sultan tentang hal itu. Yang mendorong pengirimannya adalah qadhi Malikiyah Ibnu Makhluf, Syekh Nashr al-Munbiji syekhnya al-Jasyankir, dan lainnya dari musuh-musuhnya. Hal itu karena Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah berbicara tentang al-Munbiji dan menisbahkannya kepada keyakinan Ibnu Arabi. Syekh Taqiyuddin memiliki sekelompok fuqaha yang iri kepadanya karena kedudukannya di hadapan pemerintahan, kesendirian dalam amar ma’ruf nahi munkar, ketaatan orang-orang kepadanya, kecintaan mereka kepadanya, banyaknya pengikutnya, keberpihakannya pada kebenaran, ilmu dan amalnya.

Kemudian terjadi kekacauan dan keributan besar di Damaskus karena ketidakhadiran wakil Sultan dalam berburu. Qadhi memanggil sekelompok sahabat Syekh dan mengadzab sebagian mereka.

Kemudian terjadi bahwa Syekh Jamaluddin al-Mizzi al-Hafizh membaca satu bab dalam bantahan terhadap Jahmiyah dari kitab “Af’alul ‘Ibad” karya al-Bukhari di bawah kubah an-Nasr setelah pembacaan majlis al-Bukhari karena istisqa’. Maka sebagian fuqaha yang hadir marah dan mengadukannya kepada Qadhi Syafi’i Ibnu Shashri. Ia adalah musuh Syekh, maka ia memenjarakan al-Mizzi. Hal itu sampai kepada Syekh Taqiyuddin, maka ia merasa sedih karenanya dan pergi ke penjara lalu mengeluarkannya dengan tangannya sendiri. Ia pergi ke istana dan menemui qadhi di sana, maka keduanya berselisih paham karena Syekh Jamaluddin al-Mizzi. Ibnu Shashri bersumpah bahwa ia harus mengembalikannya ke penjara atau ia akan mengundurkan diri. Maka wakil Sultan memerintahkan untuk mengembalikannya agar menenangkan hati qadhi. Maka ia menahannya di tempat tinggalnya di al-Qaushiyyah beberapa hari kemudian melepaskannya. Ketika wakil Sultan datang, Syekh Taqiyuddin menyebutkan kepadanya apa yang terjadi terhadapnya dan sahabat-sahabatnya saat ia tidak ada. Maka wakil Sultan merasa sedih karenanya, dan menyerukan di negeri: “Tidak boleh seorang pun berbicara tentang aqidah, dan barangsiapa berbicara tentang itu maka halal harta dan darahnya, dan dirampas rumah dan tokonya.” Maka keadaan pun tenang.

Aku telah melihat satu bab dari perkataan Syekh Taqiyuddin tentang bagaimana yang terjadi dalam tiga majelis ini dari perdebatan-perdebatan.

Kemudian majelis ketiga digelar pada tanggal tujuh Sya’ban di istana, dan jamaah berkumpul dengan ridha terhadap aqidah yang disebutkan. Pada hari ini Ibnu Shashri mengundurkan diri dari jabatan hakim karena perkataan yang didengarnya dari sebagian hadirin dalam majelis tersebut, yaitu Syekh Kamaluddin Ibnuz Zamlakani. Kemudian datang surat Sultan pada tanggal dua puluh enam Sya’ban yang isinya mengembalikan Ibnu Shashri ke jabatan qadhi. Hal itu atas isyarat al-Munbiji. Dalam surat itu: “Sesungguhnya kami telah memerintahkan untuk menggelar majelis bagi Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, dan telah sampai kepada kami majelis-majelis yang digelar untuknya, dan bahwa ia berada di atas madzhab Salaf, dan sesungguhnya kami menginginkan dengan itu pembersihan kedudukannya dari apa yang dinisbahkan kepadanya.” Kemudian datang surat lain pada tanggal lima Ramadhan hari Senin yang isinya pengungkapan tentang apa yang terjadi terhadap Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah pada masa Jaghan dan Qadhi Imamuddin al-Qazwini, dan bahwa ia dan Qadhi Ibnu Shashri harus dibawa ke Mesir. Maka keduanya berangkat dengan pos menuju negeri Mesir. Keluar bersama Syekh banyak sahabatnya, mereka menangis dan takut atasnya dari musuh-musuhnya. Wakil Sultan al-Afram menyarankan kepadanya untuk tidak pergi ke Mesir, dan berkata kepadanya: “Aku akan menulis surat kepada Sultan tentang itu dan memperbaiki perkara-perkara.” Maka Syekh menolak hal itu dan menyebutkan kepadanya bahwa dalam keberangkatannya ke Mesir terdapat kemaslahatan besar dan kemaslahatan-kemaslahatan yang banyak. Ketika ia berangkat ke Mesir, orang-orang berdesak-desakan untuk mengantarnya dan melihatnya, hingga mereka tersebar dari pintu rumahnya hingga dekat al-Jusurah, antara Damaskus dan al-Kaswah. Mereka antara yang menangis dan sedih, yang menonton dan berwisata, dan yang berdesakan berlebihan padanya. Ketika hari Sabtu, Syekh Taqiyuddin memasuki Gaza, maka ia mengadakan majelis besar di masjidnya. Kemudian keduanya melakukan perjalanan bersama ke Kairo dan hati-hati bergantung kepadanya dan bersamanya. Keduanya memasuki Mesir pada hari Senin tanggal dua puluh dua Ramadhan. Dikatakan bahwa keduanya memasuki Mesir pada hari Kamis.

Ketika hari Jumat setelah shalat, digelar majelis untuk Syekh Taqiyuddin di Benteng yang berkumpul di dalamnya para qadhi dan pembesar-pembesar negara. Ia ingin berbicara sesuai kebiasaannya, namun ia tidak diberi kesempatan untuk berdebat dan berbicara. Syamsuddin Ibnu ‘Adlan bangkit sebagai lawannya secara hisbah, dan menggugat atasnya di hadapan Ibnu Makhluf al-Maliki bahwa ia berkata: “Sesungguhnya Allah di atas ‘Arsy secara hakikat, dan bahwa Allah berbicara dengan huruf dan suara.” Maka qadhi memintanya untuk menjawab. Syekh mulai memuji Allah dan menyanjung-Nya. Maka dikatakan kepadanya: “Jawablah, kami tidak membawamu untuk berkhutbah.” Ia berkata: “Siapakah hakim atasku?” Dikatakan kepadanya: “Qadhi Maliki.” Maka Syekh berkata kepadanya: “Bagaimana engkau memutuskan atasku sedangkan engkau lawanku?” Maka ia marah dengan sangat marah dan geram. Digelar majelis atasnya, dan ia ditahan di menara beberapa hari. Kemudian dipindahkan darinya pada malam ‘Id ke penjara yang dikenal dengan al-Jubb, ia dan kedua saudaranya Syarafuddin Abdullah dan Zainuddin Abdurrahman.

Adapun Ibnu Shashri, maka diperbarui untuknya surat penunjukan jabatan qadhi atas isyarat al-Munbiji syekhnya al-Jasyankir hakim Mesir. Ia kembali ke Damaskus pada hari Jumat tanggal enam Dzulqa’dah dengan hati-hati yang membencinya dan jiwa-jiwa yang menjauh darinya. Surat pengangkatannya dibacakan di masjid. Setelahnya dibacakan surat yang isinya penghinaan terhadap Syekh Taqiyuddin dan penyalahannya dalam aqidah, dan bahwa hal itu diseru-serukan di negeri-negeri Syam. Pengikut madzhabnya diwajibkan untuk menyalahinya. Demikian pula terjadi di Mesir, al-Jasyankir bangkit atasnya beserta syekhnya Nashr al-Munbiji. Sekelompok besar fuqaha dan fuqara mendukung mereka. Terjadi fitnah-fitnah besar yang tersebar. Kami berlindung kepada Allah dari fitnah-fitnah! Terjadi penghinaan besar yang banyak terhadap Hanabilah di negeri Mesir. Hal itu karena qadhi mereka sedikit ilmunya dan rendah ilmunya, yaitu Syarafuddin al-Harrani. Karena itu, menimpa sahabat-sahabat mereka apa yang menimpa mereka, dan keadaan mereka menjadi seperti itu.

TAHUN 706

Tahun ini dimulai… dan Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah ditahan di al-Jubb dari Benteng Gunung.

Pada hari Ahad tanggal dua puluh Rabi’ul Akhir, datang pos dari Kairo… dan tiba bersama kurir pos juga surat yang isinya pemanggilan Syekh Kamaluddin Ibnuz Zamlakani ke Kairo. Maka ia khawatir karenanya, dan sahabat-sahabatnya takut atasnya, karena penisbahan dirinya kepada Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah. Maka wakil Sultan bersikap lembut kepadanya dan melindunginya hingga ia dibebaskan dari kehadiran ke Mesir, dan segala puji bagi Allah.

Pada malam ‘Idul Fitri, Amir Saifuddin Salar, wakil Mesir, menghadirkan tiga qadhi dan sekelompok fuqaha. Para qadhi adalah: Syafi’i, Maliki, dan Hanafi. Para fuqaha adalah al-Baji, al-Jazari, dan an-Namrawi. Mereka berbicara tentang pengeluaran Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah dari penjara. Sebagian hadirin mensyaratkan kepadanya syarat-syarat dalam hal itu, di antaranya bahwa ia berkomitmen untuk kembali dari sebagian aqidah. Mereka mengirim kepadanya agar hadir supaya mereka berbicara dengannya tentang hal itu. Maka ia menolak untuk hadir dan bersikeras. Utusan diulang kepadanya enam kali, maka ia bersikeras untuk tidak hadir, tidak memperhatikan mereka, dan tidak menjanjikan mereka sesuatu pun. Maka majelis mereka menjadi panjang. Maka mereka berpencar dan pulang tanpa mendapat pahala!!

Pada hari ke dua puluh delapan Dzulhijjah, wakil Sultan mengabarkan tentang sampainya surat dari Syekh Taqiyuddin dari penjara yang disebut al-Jubb. Maka ia mengirim untuk memanggilnya, maka didatangkanlah ia. Surat itu dibacakan kepada orang-orang. Ia memuji Syekh dan menyanjungnya serta ilmunya, keberagamaannya, keberanian, dan kezuhudannya. Ia berkata: “Aku tidak pernah melihat sepertinya. Dan sungguh ia adalah surat yang mengandung apa yang ia berada di atasnya dalam penjara dari tawajjuh kepada Allah, dan bahwa ia tidak menerima dari seorang pun sesuatu apapun, tidak dari nafaqah Sultani, tidak dari pakaian, tidak dari pemberian, tidak pula lainnya, dan tidak ternoda dengan sesuatu pun dari itu.”

Pada bulan ini, hari Kamis tanggal dua puluh tujuh, dipanggil dua saudara Syekh Taqiyuddin: Syarafuddin dan Zainuddin dari penjara ke majelis wakil Sultan Salar. Hadir wakil Sultan Ibnu Makhluf al-Maliki. Terjadi pembicaraan panjang di antara mereka. Maka Syarafuddin unggul dengan hujjah atas Qadhi Maliki dengan dalil naqli, dalil, dan pengetahuan. Ia menyalahkannya di tempat-tempat di mana ia mengklaim klaim-klaim batil. Pembicaraan dalam masalah ‘Arsy, masalah kalam, dan masalah nuzul.

Pada hari Jumat, dihadirkan Syarafuddin saudara Syekh Taqiyuddin sendirian dalam majelis wakil Sultan Salar. Hadir Ibnu ‘Adlan. Syekh Syarafuddin berbicara dengannya, berdebat dengannya, dan berdiskusi dengannya. Ia unggul atasnya juga.

TAHUN 707

Tahun ini dimulai… dan Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah ditahan di al-Jubb dari Benteng Gunung di Mesir.

Pada hari Jumat tanggal empat belas Safar, Qadhi al-Qudhat Badruddin Ibnu Jama’ah bertemu dengan Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah di rumah al-Auhadi dari Benteng Gunung. Pembicaraan di antara keduanya panjang, kemudian mereka berpisah sebelum shalat. Syekh Taqiyuddin bersikeras untuk tidak keluar dari penjara.

Ketika tiba hari Jumat tanggal dua puluh tiga Rabiul Awal, datanglah Amir Husamuddin Muhanna bin Isa, raja Arab, ke penjara sendiri, dan dia bersumpah kepada Syekh Taqiyuddin agar keluar menemuinya. Ketika Syekh keluar, Amir bersumpah kepadanya agar ikut bersamanya ke rumah Salar. Maka berkumpullah dengan Syekh beberapa orang fuqaha di rumah Salar dan terjadilah di antara mereka banyak perdebatan. Kemudian waktu salat memisahkan mereka. Setelah itu mereka berkumpul lagi hingga Maghrib dan Syekh Taqiyuddin bermalam di rumah Salar. Kemudian mereka berkumpul pada hari Ahad atas perintah Sultan sepanjang hari, dan tidak seorang pun dari para qadhi yang hadir, tetapi berkumpul dari kalangan fuqaha orang banyak, lebih banyak dari hari-hari sebelumnya, di antara mereka adalah Faqih Najmuddin Ibnu Rifa’ah dan Alauddin Al-Baji dan Fakhruddin Ibnu Bintu Abi Sa’d, dan Izzuddin An-Namrawi, dan Syamsuddin bin Adlan, dan sekelompok fuqaha. Mereka memanggil para qadhi tetapi mereka berhalangan dengan berbagai alasan, sebagian karena sakit, sebagian karena alasan lain, karena mereka mengetahui ilmu dan dalil-dalil yang dimiliki Ibnu Taimiyah, dan bahwa tidak seorang pun dari yang hadir mampu menghadapinya. Maka wakil Sultan menerima uzur mereka dan tidak mewajibkan mereka hadir setelah Sultan memerintahkan kehadiran mereka. Majelis itu bubar dengan baik, dan Syekh bermalam di tempat wakil Sultan. Kemudian datang Amir Husamuddin Muhanna ingin mengajak Syekh Taqiyuddin bersamanya ke Syam, tetapi Salar mengusulkan agar Syekh tinggal di Mesir di tempatnya supaya orang-orang melihat keutamaan dan ilmunya, dan orang-orang bisa mengambil manfaat darinya dan belajar kepadanya. Syekh menulis surat ke Syam yang berisi apa yang terjadi padanya.

Al-Birzali berkata: Pada bulan Syawal tahun itu, para sufi di Kairo mengadu kepada pemerintah tentang Syekh Taqiyuddin dan ucapannya tentang Ibnu Arabi dan yang lainnya. Maka pemerintah menyerahkan perkara itu kepada Qadhi Syafi’i. Maka diadakanlah majelis untuknya dan Ibnu Atha’ menuduhnya dengan beberapa hal yang tidak ada satupun yang terbukti terhadapnya. Namun dia berkata: “Tidak boleh meminta pertolongan kecuali kepada Allah, dan tidak boleh meminta pertolongan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam arti ibadah, tetapi boleh bertawassul dengan beliau dan meminta syafa’at beliau kepada Allah.” Sebagian yang hadir berkata: “Tidak ada masalah dalam hal ini baginya.” Tetapi Qadhi Badruddin bin Jama’ah berpendapat bahwa ini mengandung kurang adab. Maka datanglah surat kepada Qadhi agar dia melakukan terhadapnya apa yang diwajibkan syariat. Qadhi berkata: “Saya sudah mengatakan kepadanya apa yang harus dikatakan kepada orang sepertinya.”

Kemudian pemerintah memberinya pilihan di antara beberapa hal; apakah pergi ke Damaskus atau Iskandariyah dengan syarat-syarat tertentu atau dipenjara. Maka dia memilih penjara. Sekelompok orang datang kepadanya dan menyarankan perjalanan ke Damaskus dengan komitmen terhadap syarat yang ditetapkan. Maka dia menyetujui pilihan sahabat-sahabatnya untuk menyenangkan hati mereka. Dia menunggang kuda pos pada malam tanggal delapan belas Syawal. Kemudian mereka mengirim pos lain untuk menyusulnya keesokan harinya, lalu mereka mengembalikannya. Dia hadir di hadapan Qadhi Al-Qudhah Ibnu Jama’ah dan bersamanya sekelompok fuqaha. Sebagian dari mereka berkata kepadanya: “Sesungguhnya pemerintah tidak ridha kecuali dengan pemenjaraan.” Maka Qadhi berkata: “Dan di dalamnya ada maslahat baginya.” Dia menunjuk Syamsuddin At-Tunisi Al-Maliki sebagai wakilnya dan mengizinkannya untuk memutuskan hukuman penjara terhadapnya, tetapi dia menolak dan berkata: “Tidak terbukti sesuatu pun terhadapnya.” Maka dia memberi izin kepada Nuruddin Az-Zawawi Al-Maliki tetapi dia bingung. Ketika Syekh melihat keraguan mereka dalam memenjarakannya, dia berkata: “Saya akan pergi ke penjara dan mengikuti apa yang menjadi maslahat.” Maka Nuruddin Az-Zawawi berkata: “Dia harus di tempat yang layak untuk orang sepertinya.” Lalu dikatakan kepadanya: “Pemerintah tidak ridha kecuali dengan istilah penjara.” Maka dia dikirim ke penjara para qadhi, dan didudukkan di tempat yang sama di mana Taqiyuddin Ibnu Bintu Al-A’zz pernah duduk ketika dipenjara. Dia diberi izin agar ada orang yang melayaninya. Semua itu terjadi atas petunjuk Nashr Al-Munbiji karena pengaruhnya di pemerintahan, sebab dia telah menguasai akal Al-Jasyankir yang kemudian menjadi sultan, dan orang-orang lain dari pemerintahan, sedangkan Sultan tunduk kepadanya.

Syekh terus berada di penjara, orang-orang meminta fatwa darinya dan mengunjunginya, dan fatwa-fatwa sulit yang tidak mampu dijawab para fuqaha datang kepadanya dari para amir dan orang-orang terkemuka. Maka dia menulis jawaban berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah yang membuat akal takjub. Kemudian diadakan majelis untuk Syekh di Ash-Shaliiyyah setelah semua itu, dan Syekh turun ke Kairo di rumah Ibnu Syuqair. Orang-orang berbondong-bondong berkumpul dengannya siang dan malam. (14/47-48). (18/73-76).

Tahun 708

Dimulailah tahun itu… dan Syekh Taqiyuddin telah dikeluarkan dari penjara, dan orang-orang berbondong-bondong kepadanya untuk berkunjung, belajar, meminta fatwa, dan lain sebagainya. (14/49). (18/78).

Tahun 709

Pada malam akhir bulan Safar, Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah berangkat dari Kairo ke Iskandariyah bersama seorang amir komandan. Maka dia memasukkannya ke istana Sultan dan menempat-kannya di sebuah menara yang luas dan lapang. Orang-orang masuk mengunjunginya dan belajar berbagai ilmu. Kemudian setelah itu dia hadir di salat Jumat dan mengadakan majelis ilmu sesuai kebiasaannya di masjid-masjid. Kedatangannya ke Iskandariyah adalah pada hari Ahad, dan setelah sepuluh hari, kabar tentangnya sampai ke Damaskus. Maka orang-orang merasa sedih atasnya dan mereka khawatir terhadap bahaya Al-Jasyankir dan gurunya Nashr Al-Munbiji. Maka doa untuknya bertambah banyak. Itu karena mereka tidak mengizinkan seorang pun dari sahabat-sahabatnya keluar bersamanya ke Iskandariyah, maka hati pun menjadi sesak karenanya. Itu karena musuhnya Nashr Al-Munbiji telah menguasai keadaannya. Adapun sebab permusuhan itu adalah bahwa Syekh Taqiyuddin biasa mencela Al-Jasyankir dan gurunya Nashr Al-Munbiji, dan berkata: “Hari-harinya telah sirna dan kepemimpinannya telah berakhir, dan ajalnya sudah dekat,” dan dia berbicara tentang mereka dan tentang Ibnu Arabi serta para pengikutnya. Maka mereka ingin mengusirnya ke Iskandariyah seperti orang yang diasingkan, mudah-mudahan ada seseorang dari penduduknya yang berani terhadapnya lalu membunuhnya secara diam-diam sehingga mereka terbebas darinya. Tetapi itu tidak menambah orang-orang kecuali kecintaan kepadanya, kedekatan dengannya, mengambil manfaat darinya, belajar kepadanya, serta kasih sayang dan penghormatan kepadanya.

Datang surat dari saudaranya yang mengatakan di dalamnya: “Sesungguhnya saudara yang mulia telah turun di benteng yang terjaga dengan niat ribath. Sesungguhnya musuh-musuh Allah bermaksud dengan itu beberapa hal untuk menjebaknya dan menjebak Islam serta pemeluknya, dan itu menjadi karamah bagi kami. Mereka mengira bahwa itu akan menyebabkan kebinasaan Syekh, tetapi maksud buruk mereka berbalik kepada mereka dan terbalik dari segala sisi. Mereka menjadi dan tetap di sisi Allah dan di sisi hamba-hamba-Nya yang mengetahui dengan wajah yang hitam, mereka putus asa dan menyesal atas apa yang mereka lakukan. Penduduk benteng semua berpaling kepada saudara, memberikan perhatian kepadanya dan menghormatinya. Setiap waktu dia menyebarkan dari Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam apa yang menyejukkan mata orang-orang beriman. Itu menjadi duri di tenggorokan para musuh. Kebetulan dia menemukan di Iskandariyah Iblis yang telah bertelur dan menetas di sana serta menyesatkan kelompok-kelompok Sab’iniyyah dan Arabiyyah. Maka dengan kedatangannya, Allah memecah belah persatuan mereka, menghamburkan mereka dengan berantakan, membuka tabir mereka dan mempermalukan mereka. Dia meminta tobat dari banyak kelompok di antara mereka, dan salah seorang pemimpin mereka bertobat. Tetaplah di hati semua orang beriman dan khususnya mereka – dari amir, qadhi, faqih, mufti, syekh, dan jamaah mujtahidin, kecuali yang menyimpang dari orang-orang bodoh yang hina dengan kehinaan – kecintaan kepada Syekh, mengagungkannya, menerima ucapannya, dan kembali kepada perintah dan larangannya. Kalimah Allah tinggi di sana atas musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam. Mereka dilaknat secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, secara bathin dan lahir, di majelis-majelis orang dengan nama-nama khusus mereka. Itu menjadi bagi Nashr Al-Munbiji sesuatu yang melumpuhkannya, dan turunlah kepadanya ketakutan dan kehinaan yang tidak dapat digambarkan.” Dan dia menyebutkan ucapan yang panjang.

Intinya bahwa Syekh Taqiyuddin tinggal di benteng Iskandariyah selama delapan bulan, bertempat di menara yang luas, bagus, dan bersih yang memiliki dua jendela, satu ke arah laut dan yang lain ke arah kota. Siapa pun yang mau bisa masuk menemuinya, dan para pembesar, tokoh-tokoh, dan para fuqaha datang berkunjung kepadanya, belajar kepadanya dan mengambil manfaat darinya. Dia dalam kehidupan yang paling menyenangkan dan dada yang paling lapang.

Pada akhir Rabiul Akhir, Syekh Kamaluddin Ibnu Az-Zamlakani diberhentikan dari pengelolaan rumah sakit karena keberpihakannya kepada Ibnu Taimiyah atas petunjuk Al-Munbiji, dan digantikan oleh Syamsuddin Abdul Qadir bin Al-Hazhiri. (14/51-52). (18/83-85).

Pada bulan ini (Jumadal Akhirah), dia diberhentkan darinya (yaitu: kepemimpinan Sa’id As-Su’ada) Syekh Karimuddin Al-Amili; karena dia memberhentikan para saksi darinya maka mereka bangkit melawannya, dan menulis berita acara tentang dirinya dengan hal-hal yang mencela agama. Maka diperintahkan untuk memberhentikannya dari mereka, dan dia diperlakukan dengan melihat apa yang biasa dia perlakukan kepada orang. Di antara itu: tindakannya terhadap Syekh Al-Islam Ibnu Taimiyah, dan kebohongannya terhadapnya, dengan kebodohannya dan kurangnya ketakwaannya. Maka Allah segera memberikan balasan ini kepadanya melalui tangan para sahabat dan teman-temannya sebagai balasan yang setimpal. (18/86).

Syekh Alamuddin Al-Birzali berkata: Ketika Sultan masuk ke Mesir pada hari Idul Fitri, tidak ada perhatiannya kecuali meminta Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah dari Iskandariyah dengan terhormat, dimuliakan, dan diagungkan. Maka dia mengirim utusan kepadanya pada hari kedua bulan Syawal setelah kedatangannya sehari atau dua hari. Syekh Taqiyuddin datang menemui Sultan pada hari kedelapan bulan itu. Banyak orang dari Iskandariyah keluar bersama Syekh untuk mengantarnya. Dia bertemu dengan Sultan pada hari Jumat, maka Sultan memuliakannya, menyambutnya, dan berjalan menemuinya di majelis yang penuh, di dalamnya ada para qadhi Mesir dan Syam, dan Sultan memperbaiki hubungan antara dia dengan mereka. Syekh turun ke Kairo dan tinggal dekat makam Husain, dan orang-orang datang mengunjunginya, para amir, tentara, dan banyak sekali fuqaha dan para qadhi, di antara mereka ada yang meminta maaf kepadanya dan membebaskan diri dari apa yang terjadi darinya. Maka dia berkata: “Saya telah memaafkan setiap orang yang menyakiti saya.” Saya berkata: Qadhi Jamaluddin bin Al-Qalanisi telah mengabarkan kepada saya rincian majelis ini, dan apa yang terjadi di dalamnya dari penghormatan kepada Syekh Taqiyuddin, dan apa yang dia dapatkan dari ucapan terima kasih dan pujian dari Sultan. Demikian juga Qadhi Al-Qudhah Shadruddin Al-Hanafi mengabarkan hal itu kepada saya, tetapi kabar dari Ibnu Al-Qalanisi lebih terperinci, karena dia ketika itu adalah qadhi pasukan, dan keduanya hadir di majelis ini. Dia menyebutkan kepada saya: Bahwa Sultan ketika Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah datang kepadanya, dia berdiri untuk Syekh pertama kali melihatnya, dan berjalan menemuinya sampai ke ujung serambi dan mereka berpelukan di sana sejenak. Kemudian dia memegang tangannya lalu pergi bersamanya ke sebuah tempat yang memiliki jendela ke taman, maka mereka duduk sebentar berbincang-bincang. Kemudian dia datang dengan tangan Syekh di tangan Sultan. Maka Sultan duduk dan di sebelah kanannya Ibnu Jama’ah qadhi Mesir, dan di sebelah kirinya Ibnu Al-Khalili sang menteri, dan di bawahnya Ibnu Shashri, kemudian Shadruddin Ali Al-Hanafi. Syekh Taqiyuddin duduk di hadapan Sultan di ujung permadaninya. Menteri berbicara tentang mengembalikan Ahlul Dzimmah untuk memakai sorban putih dengan tanda-tanda mereka, dan bahwa mereka telah berkomitmen kepada negara dengan membayar seratus ribu setiap tahun, tambahan atas jizyah. Maka orang-orang diam, padahal di antara mereka ada para qadhi Mesir dan Syam dan para ulama besar dari penduduk Mesir dan Syam, di antara mereka Ibnu Az-Zamlakani. Ibnu Al-Qalanisi berkata: Dan saya di majelis Sultan di samping Ibnu Az-Zamlakani, maka tidak seorang pun dari ulama maupun para qadhi yang berbicara. Maka Sultan berkata kepada mereka: “Apa pendapat kalian?” meminta fatwa mereka dalam hal itu. Maka tidak seorang pun yang berbicara. Maka Syekh Taqiyuddin berlutut dan berbicara dengan Sultan tentang hal itu dengan ucapan yang keras, dan menolak apa yang dikatakan menteri dengan penolakan yang keras, dan dia terus mengangkat suaranya sedangkan Sultan mendiamkannya dengan lemah lembut, ramah, dan penghormatan. Syekh sangat kuat dalam ucapan dan berkata apa yang tidak ada seorang pun yang mampu melakukan yang sepertinya, atau yang mendekatinya, dan sangat keras dalam mencela siapa yang setuju dengan itu.

Dia berkata kepada Sultan: “Jauh darimu bahwa majelis pertama yang engkau duduki dalam kemegahan kerajaan engkau menolong di dalamnya Ahlul Dzimmah karena harta dunia yang fana. Ingatlah nikmat Allah padamu ketika Dia mengembalikan kerajaanmu kepadamu, dan mengalahkan musuhmu serta menolongmu atas musuh-musuhmu.” Maka disebutkan bahwa Al-Jasyankir-lah yang memperbarui hal itu kepada mereka. Maka dia berkata: “Dan apa yang dilakukan Al-Jasyankir adalah dari keputusanmu; karena dia hanyalah wakilmu.” Maka Sultan menyukai hal itu dan menetapkan mereka tetap pada itu, dan terjadi beberapa peristiwa yang panjang untuk disebutkan.

Sultan sudah lebih mengetahui tentang Syekh dari semua yang hadir, tentang ilmunya, agamanya, tindakannya untuk kebenaran, dan keberaniannya. Saya mendengar Syekh Taqiyuddin menyebutkan apa yang terjadi antara dia dengan Sultan dari ucapan ketika mereka berduaan di jendela tempat mereka duduk itu, dan bahwa Sultan meminta fatwa kepada Syekh tentang membunuh sebagian qadhi karena apa yang mereka bicarakan tentangnya, dan dia mengeluarkan fatwa sebagian dari mereka tentang pemberhentiannya dari kerajaan dan membaiat Al-Jasyankir, dan bahwa mereka telah bangkit melawanmu dan menyakitimu juga. Dia terus mendorongnya dengan itu agar memberinya fatwa untuk membunuh sebagian dari mereka. Itu karena kemarahannya kepada mereka disebabkan oleh apa yang mereka usahakan untuk memberhentikannya dan membaiat Al-Jasyankir. Maka Syekh memahami maksud Sultan lalu mulai mengagungkan para qadhi dan ulama, dan mengingkari bahwa salah seorang dari mereka akan mendapat keburukan. Dia berkata kepadanya: “Jika engkau membunuh orang-orang ini, engkau tidak akan menemukan setelah mereka yang seperti mereka.” Maka Sultan berkata kepadanya: “Sesungguhnya mereka telah menyakitimu dan ingin membunuhmu berkali-kali.” Maka Syekh berkata: “Siapa yang menyakiti saya maka dia saya maafkan, dan siapa yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam maka Allah yang akan membalasnya, dan saya tidak akan membalas untuk diri saya sendiri.” Dia terus berusaha padanya hingga Sultan bersabar terhadap mereka dan memaafkan.

Dia berkata: Qadhi Malikiyyah Ibnu Makhluf biasa berkata: “Kami tidak pernah melihat seperti Ibnu Taimiyah, kami menghasut melawannya tetapi kami tidak mampu mengalahkannya, dan dia mampu mengalahkan kami tetapi dia memaafkan kami dan membela kami.”

Kemudian Syekh setelah bertemu dengan Sultan turun ke Kairo dan kembali menyebarkan dan mengajarkan ilmu, dan orang-orang berbondong-bondong kepadanya dan datang kepadanya untuk belajar kepadanya dan meminta fatwa darinya, dan dia menjawab mereka dengan tulisan dan ucapan. Para fuqaha datang kepadanya meminta maaf atas apa yang terjadi dari mereka terhadapnya, maka dia berkata: “Saya telah memaafkan semuanya.” Syekh mengirim surat kepada keluarganya menyebutkan nikmat Allah yang dia rasakan dan kebaikan-Nya yang banyak, dan meminta dari mereka sejumlah kitab ilmunya, dan meminta bantuan dalam hal itu kepada Jamaluddin Al-Mizzi, karena dia tahu bagaimana mengeluarkan untuknya apa yang dia inginkan dari kitab-kitab yang dia tunjukkan. Dia berkata dalam surat ini: “Dan kebenaran semuanya dalam ketinggian, pertambahan, dan kemenangan, dan kebatilan dalam kerendahan, kejatuhan, dan kehancuran. Allah telah menghinakan leher para musuh, dan para pembesarnya meminta perdamaian yang panjang untuk digambarkan. Kami telah mensyaratkan kepada mereka syarat-syarat yang di dalamnya ada kemuliaan Islam dan Sunnah, dan di dalamnya ada penghancuran kebatilan dan bid’ah. Mereka telah menerima semua itu tetapi kami menolak menerima itu dari mereka, sampai terlihat dalam perbuatan. Kami tidak percaya kepada mereka dengan ucapan atau janji, dan kami tidak menerima permintaan mereka sampai syarat yang disyaratkan dilaksanakan, dan yang disebutkan dilakukan, dan terlihat dari kemuliaan Islam dan Sunnah untuk orang khusus dan umum apa yang akan menjadi kebaikan-kebaikan yang menghapus kejelekan mereka.” Dan dia menyebutkan ucapan panjang yang berisi apa yang terjadi dengannya bersama Sultan dalam menghancurkan Yahudi dan Nasrani serta menghinakan mereka, dan membiarkan mereka dalam kehinaan dan kerendahan yang mereka alami. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui. (14/51-57). (18/92-95).

Tahun 710 Hijriah

Tahun ini dimulai… dan Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah menetap di Mesir dalam keadaan diagungkan dan dimuliakan.

Tahun 711 Hijriah

Tahun ini dimulai dan para penguasa adalah mereka yang disebutkan pada tahun sebelumnya… dan al-Afram telah berpindah ke jabatan wakil Tarablus atas petunjuk Ibnu Taimiyah kepada Sultan mengenai hal itu. Pada bulan ini (Jumadal Ula) dibebankan kepada penduduk Damaskus seribu lima ratus pasukan berkuda. Dan untuk setiap pasukan berkuda lima ratus dirham, yang dipungut dari harta benda dan wakaf. Maka penduduk sangat menderita karenanya. Mereka mengadu kepada Khatib Jalaluddin al-Qazwini, lalu ia mengadu kepada para qadhi. Orang-orang berkumpul pada pagi hari Senin tanggal tiga belas bulan tersebut, dan mereka berbeda pendapat dalam pertemuan itu. Mereka membawa keluar bersama mereka Mushaf Utsmani dan peninggalan Nabi serta bendera-bendera Khalifah. Dan mereka berdiri di dalam iring-iringan. Ketika wakil Sultan melihat mereka, ia marah kepada mereka dan mencaci qadhi dan khatib. Dan ia memukul Majduddin at-Tunisi, dan menahan mereka, kemudian membebaskan mereka dengan jaminan dan tanggungan. Maka penduduk sangat menderita karenanya. Namun Allah tidak membiarkannya kecuali sepuluh hari, lalu datang keputusan tiba-tiba maka ia dipecat dan dipenjara. Maka penduduk sangat bergembira karenanya. Dan dikatakan bahwa Syekh Taqiyuddin ketika berita itu sampai kepadanya dari penduduk Syam, maka ia memberitahukan hal itu kepada Sultan, lalu Sultan segera mengutus orang yang menangkapnya dengan penangkapan yang buruk…

Tahun 712 Hijriah

Pada tanggal delapan Syawal dikumandangkan kabar gembira di Damaskus karena keberangkatan Sultan dari Mesir untuk menemui Tatar. Dan rombongan berangkat pada pertengahan Syawal dengan amir mereka Husamuddin Lajin ash-Shaghir yang dahulu menjabat wali darat. Dan pasukan Mesir yang ditolong datang secara bergelombang. Kedatangan Sultan dan masuknya ke Damaskus adalah hari Selasa tanggal tiga belas Syawal. Penduduk merayakan kedatangannya, maka ia singgah di benteng dan negeri telah dihias serta dikumandangkan kabar gembira. Kemudian ia pindah setelah dua malam itu ke istana dan shalat Jumat di masjid di tempat khusus, dan memberikan pakaian kehormatan kepada khatib. Ia duduk di balai pengadilan pada hari Senin, dan wazirnya Aminul Mulk datang pada hari Selasa tanggal dua puluh bulan tersebut. Dan bersama Sultan datang Syekh Imam alim lagi allamah Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad Ibnu Taimiyah ke Damaskus pada hari Rabu awal Dzulqadah. Ketiadaannya dari Damaskus adalah tujuh tahun penuh. Bersama beliau ada saudara-saudaranya dan sekelompok sahabat-sahabatnya. Dan banyak orang keluar untuk menjemputnya dan bergembira dengan kedatangannya, kesehatannya, dan perjumpaannya. Mereka sangat gembira dengan kedatangannya hingga banyak wanita juga keluar untuk melihatnya. Sultan telah membawanya bersamanya dari Mesir, maka ia keluar bersamanya dengan niat berperang. Ketika dipastikan tidak ada peperangan dan bahwa Tatar telah kembali ke negeri mereka, maka ia meninggalkan pasukan dari Gaza dan mengunjungi Yerusalem dan tinggal di sana beberapa hari. Kemudian ia bepergian melalui Ajlun dan negeri as-Sawad dan Zara’, dan tiba di Damaskus pada hari pertama Dzulqadah. Ia memasukinya dan mendapati Sultan telah pergi ke tanah Haram pada hari Kamis tanggal dua Dzulqadah bersama empat puluh amir dari orang-orang terdekatnya. Kemudian Syekh setelah sampai di Damaskus dan menetap di sana, senantiasa mengajar orang-orang dalam berbagai ilmu, menyebarkan ilmu, menyusun kitab-kitab, dan memberi fatwa kepada orang-orang dengan lisan dan tulisan yang panjang lebar, serta berijtihad dalam hukum-hukum syariat. Dalam sebagian hukum ia memberi fatwa sesuai dengan ijtihad yang mengantarkannya untuk sejalan dengan imam-imam mazhab yang empat. Dan dalam sebagian lagi ia memberi fatwa berbeda dengan mereka dan berbeda dengan yang masyhur dalam mazhab mereka. Ia memiliki pilihan-pilihan yang banyak dalam beberapa jilid yang ia berfatwa di dalamnya sesuai dengan ijtihadnya, dan ia memberikan dalil untuk itu dari Alquran dan Sunnah serta pendapat para sahabat dan salaf.

Tahun 714 Hijriah

Pada bulan Muharram Sultan memanggil menghadap ke hadapannya: fakih Nuruddin Ali al-Bakri, dan bermaksud membunuhnya. Para amir memberi syafaat untuknya, maka Sultan membuangnya dan melarangnya dari berbicara dalam fatwa dan ilmu. Ia telah melarikan diri ketika diminta oleh Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, maka ia melarikan diri dan bersembunyi. Dan juga ada yang memberi syafaat untuknya…

(Pada tahun ini) meninggal syekhah shalihah… Ummu Zainab Fathimah binti Abbas bin Abul Fath… (dan disebutkan keutamaannya), dan ia pernah menghadiri majelis Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah dan mendapat manfaat darinya…

Dan sungguh aku mendengar Syekh Taqiyuddin memujinya, menyifatinya dengan keutamaan dan ilmu, dan menyebutkan tentangnya bahwa ia menghafal banyak dari kitab al-Mughni atau sebagian besarnya, dan bahwa ia mempersiapkan diri untuk menghadapinya karena banyaknya pertanyaan-pertanyaannya, bagusnya pertanyaan-pertanyaannya, dan cepatnya pemahamannya.

Tahun 715 Hijriah

(Meninggal pada tahun ini) ahli hikmah yang pandai lagi cakap Bahauddin Abdul Sayyid… tabib… ia masuk Islam di tangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika ia menjelaskan kepadanya kebatilan agama mereka dan apa yang mereka yakini, dan apa yang mereka ubah dari kitab mereka serta yang mereka geser dari kalimat-kalimat dari tempatnya. Semoga Allah merahmatinya.

Tahun 716 Hijriah

Meninggal Syekh ash-Shadr Ibnul Wakil, yaitu allamah Abu Abdillah Muhammad bin Syekh Imam mufti kaum muslimin Zainuddin Umar bin Makki bin Abdul Shamad yang dikenal dengan Ibnul Marhil dan Ibnul Wakil, syekh Syafiiyah di zamannya… Ia memusuhi Syekh Ibnu Taimiyah dan berdebat dengannya di banyak forum dan majelis. Ia mengakui ilmu-ilmu yang cemerlang pada Syekh Taqiyuddin dan memujinya, tetapi ia berlebihan membela mazhabnya, kecenderungannya, dan hawa nafsunya, serta membela kelompoknya. Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memujinya dan ilmu-ilmunya serta keutamaannya, dan bersaksi tentang keislamannya ketika dikatakan kepadanya tentang perbuatan-perbuatannya yang buruk. Ia berkata: “Ia mencampuradukkan dirinya sendiri, mengikuti keinginan setan terhadapnya, condong kepada syahwat dan perdebatan…”

(Dan meninggal) syekhah shalihah Sittun Ni’am binti Abdurrahman bin Ali bin Abdus al-Harraniyah, ibunda Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah. Umurnya lebih dari sembilan puluh tahun. Ia termasuk wanita-wanita shalihah, melahirkan sembilan anak laki-laki. Dan tidak dikaruniai anak perempuan sama sekali. Ia meninggal pada hari Rabu tanggal dua puluh Syawal dan dimakamkan di ash-Shufiyah. Jenazahnya dihadiri oleh orang banyak dan jumlah yang sangat besar. Semoga Allah merahmatinya.

Tahun 717 Hijriah

Pada bulan Shafar dimulai pembangunan masjid yang didirikan oleh raja para amir Saifuddin Tankiz, wakil Syam, di luar pintu an-Nashr menghadap hakr as-Summaq di sungai Banyas di Damaskus. Para qadhi dan ulama ragu-ragu dalam menentukan arah kiblatnya. Maka masalahnya selesai berdasarkan apa yang dikatakan Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah pada hari Ahad tanggal dua puluh lima bulan tersebut. Dan mereka mulai membangunnya atas perintah Sultan dan bantuannya kepada wakilnya dalam hal itu.

Pada tanggal sembilan belas bulan ini (Syawal) Ibnu az-Zamlakani mengajar di al-Adzrawiyah menggantikan Ibnu Salam. Dan pada hari itu Syekh Syarafuddin Ibnu Taimiyah mengajar di al-Hanbaliyah atas izin saudaranya setelah wafatnya saudara mereka seibu, Badruddin Qasim bin Muhammad bin Khalid. Kemudian Syekh Syarafuddin bepergian untuk menunaikan haji. Dan Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah sendiri menghadiri pengajaran tersebut, dan dihadiri oleh orang banyak dari para pembesar dan lainnya hingga saudaranya kembali, dan setelah kembalinya juga.

Pada bulan Dzulqadah hari Ahad mengajar di ash-Shamshāmiyah… fakih Nuruddin Ali bin Abdun Nashir al-Maliki. Dan dihadiri oleh para qadhi dan pembesar. Di antara yang hadir adalah Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, dan ia mengenalnya dari Iskandariyah.

Tahun 718 Hijriah

Syekh Alamuddin berkata: Pada hari Kamis pertengahan Rabiul Awal bertemu Qadhi al-Qudhah Syamsuddin bin Muslim dengan Syekh Imam allamah Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, dan memberi nasihat kepadanya untuk meninggalkan fatwa dalam masalah sumpah dengan talak. Maka Syekh menerima nasihatnya dan menyetujui apa yang ia sarankan, memelihara perasaannya dan perasaan jamaah mufti.

Kemudian datang surat kilat pada awal Jumadal Ula dengan surat dari Sultan yang berisi larangan Syekh Taqiyuddin dari memberi fatwa dalam masalah sumpah dengan talak. Dan digelar majelis untuk itu. Dan selesailah perkara sesuai dengan keputusan Sultan. Dan diumumkan hal itu di negeri.

Sebelum datangnya surat perintah, telah bertemu dengan qadhi Ibnu Muslim al-Hanbali sekelompok mufti-mufti besar, dan mereka berkata kepadanya agar menasihati Syekh untuk meninggalkan fatwa dalam masalah talak. Maka Syekh mengetahui nasihatnya, dan bahwa ia hanya bermaksud dengan itu untuk menghindari timbulnya fitnah dan keburukan.

Tahun 719 Hijriah

Ketika tiba hari Selasa tanggal dua puluh sembilan bulan Ramadhan, berkumpul para qadhi dan para ulama terkemuka di tempat wakil Sultan di Darus Sa’adah. Dan dibacakan kepada mereka surat dari Sultan yang berisi larangan Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah dari memberi fatwa tentang masalah talak. Dan majelis selesai dengan penegasan larangan dari hal itu.

Tahun 720 Hijriah

Pada hari Kamis tanggal dua belas Rajab digelar majelis di Darus Sa’adah untuk Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah dengan kehadiran wakil Sultan. Dan berkumpul di sana para qadhi dan mufti dari berbagai mazhab. Dan Syekh hadir, dan mereka menegurnya karena kembali memberi fatwa tentang masalah talak. Kemudian Syekh dipenjara pada hari itu di benteng.

Tahun 721 Hijriah

Pada hari Asyura keluar Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah dari benteng dengan surat perintah Sultan dan pergi ke rumahnya. Dan masa tinggalnya adalah lima bulan dan delapan belas hari. Semoga Allah merahmatinya.

Tahun 725 Hijriah

Pada bulan (Rabiul Awal) dilarang Syihabuddin bin Murri al-Ba’labakki dari berbicara kepada orang-orang di Mesir dengan cara Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, dan ia dikenai hukuman oleh qadhi Maliki karena masalah istighatsah (meminta pertolongan kepada selain Allah).

Pada hari Rabu tanggal dua belas Syawal mengajar Syekh Syamsuddin Ibnu al-Isbahani di ar-Rawahiyah setelah Ibnu az-Zamlakani pergi ke Halab. Dan dihadiri oleh para qadhi dan pembesar. Dan di antara mereka adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Dan terjadi pada hari itu pembahasan tentang lafazh umum ketika dikhususkan, dan tentang pengecualian setelah penafian. Dan terjadi perdebatan dan panjang pembicaraan dalam majelis itu. Dan Syekh Taqiyuddin berbicara dengan ucapan yang membuat yang hadir terpukau.

Tahun 726

Pada hari Selasa, tanggal sebelas Rabiul Awal pagi hari, dipenggal leher Naashir bin Asy-Syarif Abu Al-Fadhl bin Ismail bin Al-Haiti di pasar kuda karena kekafirannya, meremehkan dan melecehkan ayat-ayat Allah, serta pertemanannya dengan para zindiq seperti An-Najm Ibnu Khallikan, Asy-Syams Muhammad Al-Bajirbaqiy, dan Ibnu Al-Mi’mar Al-Baghdadi. Setiap orang dari mereka memiliki kemerosotan moral dan kezindiqan yang terkenal di kalangan masyarakat…

Saya (penulis) berkata: Saya menyaksikan pembunuhannya. Syaikh kami yang alim, Abul Abbas Ibnu Taimiyyah hadir pada hari itu. Dia datang kepadanya dan menegurnya atas apa yang biasa dia lakukan sebelum dibunuh, kemudian lehernya dipenggal dan saya menyaksikan peristiwa itu. (14/127). (18/266).

Al-Birzali berkata: Pada hari Senin setelah Ashar tanggal enam Syakban, Syaikh, Imam yang alim dan sangat terpelajar Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah ditahan di benteng Damaskus. Datang kepadanya dari pihak wakil sultan Tankiz: pengawas wakaf dan Ibnu Al-Khathir salah seorang hajib (pengawal) di Damaskus, dan mereka memberitahukan kepadanya bahwa perintah sultan [Al-Malik An-Nashir] telah datang untuk itu, dan mereka membawa tunggangan untuk dia naiki. Dia menampakkan kegembiraan dan kebahagiaan atas hal itu, dan berkata: “Saya memang menantikan hal itu, dan di dalamnya terdapat banyak kebaikan dan kemaslahatan yang besar.” Mereka semua berkuda dari rumahnya menuju pintu benteng, dan sebuah ruangan dikosongkan untuknya, air dialirkan ke sana, dan dia diperintahkan untuk tinggal di sana. Saudaranya Zainuddin tinggal bersamanya untuk melayaninnya atas izin sultan, dan ditetapkan untuknya apa yang mencukupi kebutuhannya.

Al-Birzali berkata: Pada hari Jumat tanggal sepuluh bulan tersebut, dibacakan di Masjid Jami’ Damaskus surat keputusan sultan yang datang tentang penahanannya dan larangan berfatwa baginya. Peristiwa ini disebabkan oleh fatwa yang ditemukan dengan tulisan tangannya tentang larangan bepergian dan mengendarai kendaraan untuk berziarah ke kubur para nabi – alaihimush shalatu wassalam – dan kubur orang-orang saleh. Dia berkata: Pada hari Rabu pertengahan Syakban, Qadhi Al-Qudhat (ketua pengadilan) Syafi’i memerintahkan untuk memenjarakan sekelompok pengikut Syaikh Taqiyuddin di penjara pengadilan. Hal itu berdasarkan perintah wakil sultan dan izinnya kepadanya, sesuai dengan apa yang ditetapkan syariat dalam urusan mereka. Sekelompok dari mereka dita’zir di atas kendaraan, dan diumumkan tentang mereka, kemudian mereka dilepaskan. Kecuali Syamsuddin Muhammad Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah karena dia dipenjara di benteng. Kemudian persoalan mereda. (14/127-128). (18/267-268).

Pada hari Rabu tanggal sepuluh Dzulqa’dah, Burhanuddin Ibrahim bin Ahmad bin Hilal Az-Zar’iy Al-Hanbali mengajar di madrasah Hanbaliyah, menggantikan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Hadir di sana Qadhi Syafi’i dan sekelompok fuqaha, dan hal itu menyedihkan banyak pengikut Syaikh Taqiyuddin. Ibnu Al-Khathir Al-Hajib telah menemui Syaikh Taqiyuddin sebelum hari ini, bertemu dengannya dan menanyakan beberapa hal atas perintah wakil sultan. Kemudian hari Kamis, Qadhi Jamaluddin bin Jumlah dan Nashiruddin pengawas wakaf masuk menemuinya, dan menanyakan kepadanya tentang kandungan perkataannya dalam masalah ziarah. Maka dia menuliskan hal itu dalam sebuah gulungan, dan menulis di bawahnya Qadhi Syafi’iyah Damaskus: “Saya membandingkan jawaban atas pertanyaan ini yang tertulis dengan tulisan tangan Ibnu Taimiyyah, maka benar…” hingga dia berkata: “Dan yang menjadi inti adalah dia menjadikan ziarah kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan kubur para nabi shalawaatullahi wasalaamuhu ‘alaihim sebagai maksiat berdasarkan ijma’ secara pasti.”

Maka lihatlah sekarang penyelewengan ini terhadap Syaikhul Islam, karena jawabannya atas masalah ini tidak berisi larangan ziarah kubur para nabi dan orang-orang saleh, melainkan hanya menyebutkan dua pendapat tentang bepergian jauh dan safar hanya untuk berziarah kubur. Ziarah kubur tanpa bepergian jauh untuk itu adalah satu masalah, dan bepergian jauh hanya untuk ziarah adalah masalah lain. Syaikh tidak melarang ziarah yang tidak disertai dengan bepergian jauh, bahkan dia menganjurkannya dan mendorong kepadanya. Kitab-kitabnya dan buku-buku manasiknya menjadi saksi tentang hal itu. Dia tidak membahas tentang ziarah ini dalam sisi fatwa ini, dan tidak mengatakan bahwa itu maksiat, dan tidak meriwayatkan ijma’ tentang larangan darinya, dan dia bukan orang bodoh terhadap perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Berziarahlah kalian ke kubur, karena sesungguhnya hal itu mengingatkan kalian kepada akhirat.” Dan Allah Subhanahu tidak tersembunyi bagi-Nya sesuatu pun dan tidak tersembunyi bagi-Nya hal yang tersembunyi. “Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (Asy-Syu’ara: 227).

Tahun 727

[Wafat di tahun ini] Syaikh Kamaluddin Ibnu Az-Zamlakani… dan dia memiliki satu jilid besar dalam bantahan terhadap Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah dalam masalah thalaq… dan termasuk dari niatnya yang buruk jika dia kembali ke Syam sebagai penguasa: bahwa dia akan menyakiti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, maka Ibnu Taimiyyah berdo’a menentangnya, sehingga dia tidak mencapai cita-cita dan keinginannya, kemudian dia meninggal… (14/137). (18/286-288).

Tahun 728

(Wafatnya Syaikhul Islam Abul Abbas Taqiyuddin Ahmad Ibnu Taimiyyah quddisa Allahu ruuhahu)

Syaikh Alamuddin Al-Birzali berkata dalam Tarikhnya: Pada malam Senin tanggal dua puluh Dzulqa’dah, wafat Syaikh, Imam yang alim, ahli fiqih, hafizh, teladan, Syaikhul Islam Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad bin syaikh kami Imam yang alim, mufti Syihabuddin Abul Mahasin Abdul Halim bin Syaikh Imam Syaikhul Islam Majduddin Abul Barakaat Abdussalam bin Abdullah bin Abul Qasim Muhammad bin Al-Khidhr bin Muhammad bin Al-Khidhr bin Ali bin Abdullah Ibnu Taimiyyah Al-Harraniy kemudian Ad-Dimasyqiy, di benteng Damaskus di ruangan tempat dia dipenjara. Hadir banyak orang ke benteng, dan mereka diizinkan untuk masuk. Sekelompok orang duduk di sisinya sebelum dimandikan, mereka membaca Al-Quran dan mengambil berkah dengan melihatnya dan menciumnya, kemudian mereka pergi. Kemudian hadir sekelompok wanita dan melakukan hal yang sama, kemudian mereka pergi. Dan dibatasi pada orang yang memandikannya. Ketika selesai dimandikan, dia dikeluarkan. Dan orang-orang telah berkumpul di benteng dan di jalan menuju masjid. Masjid, halaman masjid, Al-Kallaasah, Baab Al-Barid, Baab As-Saa’aat sampai Al-Labbaadiin dan Al-Fawwarah penuh sesak. Jenazah hadir pada jam keempat siang atau sekitar itu, diletakkan di masjid, dan tentara menjaganya dari orang-orang karena padatnya kerumunan. Dishalatkan pertama kali di benteng, yang maju menshalatkan adalah Syaikh Muhammad bin Tammam. Kemudian dishalatkan lagi di Masjid Umawi setelah shalat Zhuhur. Orang-orang melemparkan saputangan, sorban, dan pakaian mereka ke atas kerandanya. Sandal-sandal hilang dari kaki orang-orang, juga terompah, saputangan, dan sorban, mereka tidak memperhatikannya karena sibuk memandang jenazah. Keranda berada di atas kepala-kepala, terkadang maju, terkadang mundur, terkadang berhenti sampai orang-orang lewat. Orang-orang keluar dari masjid melalui semua pintunya dengan kerumunan yang sangat padat. Setiap pintu lebih padat dari yang lain. Kemudian orang-orang keluar dari semua pintu kota karena padatnya kerumunan di sana, tetapi kerumunan terbesar adalah di empat pintu: Baab Al-Faraj tempat jenazah dikeluarkan, Baab Al-Faraadis, Baab An-Nashr, dan Baab Al-Jaabiyah.

Persoalan menjadi besar di pasar kuda, orang-orang berlipat ganda dan sangat banyak. Jenazah diletakkan di sana dan yang maju untuk shalat di sana adalah saudaranya Zainuddin Abdurrahman. Ketika shalat selesai, jenazah dibawa ke pemakaman Sufi, dikubur di samping saudaranya Syarafuddin Abdullah rahimahumallah.

Penguburannya sedikit sebelum Ashar, hal itu karena banyaknya orang yang datang dan menshalatkan jenazahnya dari penduduk kebun, penduduk Ghuthah, penduduk desa-desa dan lainnya. Orang-orang menutup toko-toko mereka, dan tidak ada yang tidak hadir kecuali yang tidak mampu hadir, sambil berdo’a rahmat dan do’a untuknya, dan bahwa seandainya dia mampu pasti tidak akan absen. Hadir wanita-wanita yang sangat banyak sehingga diperkirakan lima belas ribu wanita, selain yang berada di atap-atap dan lainnya, semuanya berdo’a rahmat dan menangis untuknya, demikian yang dikatakan. Adapun laki-laki diperkirakan enam puluh ribu sampai seratus ribu sampai lebih dari itu sampai dua ratus ribu. Sekelompok orang meminum air yang tersisa dari memandikannya, sekelompok orang membagi-bagi sisa daun bidara yang digunakan untuk memandikannya. Dibayar untuk benang yang berisi air raksa yang ada di lehernya karena kutu seratus lima puluh dirham, dan dikatakan: sesungguhnya peci yang ada di kepalanya dibayar lima ratus dirham. Terjadi tangisan dan ratapan yang keras di jenazah, permohonan, dan banyak orang mengkhatamkan Quran untuknya di Ash-Shaalihiyyah dan di kota. Orang-orang berdatangan ke kuburnya berhari-hari, siang dan malam, bermalam dan pagi di sana!! Banyak orang melihat mimpi baik tentangnya, dan sekelompok orang meratapnya dengan banyak qasidah.

Kelahirannya pada hari Senin tanggal sepuluh Rabiul Awal di Harran tahun enam ratus enam puluh satu. Dia datang bersama ayah dan keluarganya ke Damaskus ketika masih kecil. Dia mendengar hadits dari Ibnu Abdul Daa’im, Ibnu Abi Al-Yusr, Ibnu ‘Abd, Syaikh Syamsuddin Al-Hanbaliy, Syaikh Syamsuddin bin Atha’ Al-Hanafiy, Syaikh Jamaluddin Ibnu Ash-Shairfiy, Majduddin bin Asakir, Syaikh Jamaluddin Al-Baghdadiy, An-Najib bin Al-Miqdad, Ibnu Abi Al-Khair, Ibnu ‘Allan, Ibnu Abi Bakr Al-Harawiy, Al-Kamal Abdur Rahim, Al-Fakhri Ali, Ibnu Syaiban, Asy-Syaraf Ibnul Qawwas, Zainab binti Makki, dan banyak orang yang dia dengar hadits dari mereka. Dia membaca sendiri banyak hadits dan menuntut ilmu hadits, menulis thabaqat dan asbat (sertifikat sanad), tekun mendengar hadits sendiri bertahun-tahun lamanya, dan jarang ada sesuatu yang dia dengar kecuali dia hafalkan. Kemudian dia sibuk dengan ilmu-ilmu, dia cerdas dan banyak hafalannya. Dia menjadi imam dalam tafsir dan apa yang berkaitan dengannya, mengetahui fiqih, mengetahui perbedaan pendapat ulama, mengetahui ushul, furu’, nahwu, bahasa, dan ilmu-ilmu lain baik naqli maupun aqli. Tidak pernah dia kalah dalam majelis, tidak pernah seorang yang alim berbicara dengannya dalam suatu bidang ilmu kecuali dia mengira bahwa bidang ilmu itu adalah bidangnya, dan melihatnya mengetahui dan menguasainya. Adapun hadits, dia adalah pembawa benderanya, hafizhnya baik matan maupun isnad, membedakan antara yang shahih dan yang lemah, mengetahui rijal-rijalnya, sangat menguasai hal itu. Dia memiliki banyak karya tulis dan catatan-catatan yang bermanfaat dalam ushul dan furu’, sebagian telah selesai, dibuat rapi, ditulis darinya dan dibacakan kepadanya atau sebagiannya, dan sebagian besar belum dia selesaikan, dan sebagian telah selesai tetapi belum dirapi sampai sekarang. Banyak ulama zamannya memuji dia, ilmu-ilmunya, dan keutamaannya, seperti Qadhi Al-Khuwayyiy, Ibnu Daqiq Al-‘Eid, Ibnu An-Nahhas, Qadhi Hanafi qadhi qudhaat Mesir Ibnu Al-Haririy, Ibnu Az-Zamlakani dan lainnya. Saya menemukan dengan tulisan tangan Ibnu Az-Zamlakani bahwa dia berkata: Terkumpul padanya syarat-syarat ijtihad secara sempurna, dan bahwa dia memiliki kemampuan yang tinggi dalam bagusnya penulisan, bagusnya ungkapan, penyusunan, pembagian, dan penjelasan. Dan dia menulis tentang salah satu karya tulisnya bait-bait ini:

Apa yang bisa dikatakan orang-orang yang menggambarkannya Sifat-sifatnya terlalu mulia untuk dihitung Dia adalah hujjah Allah yang mengalahkan Dia di antara kita adalah keajaiban zaman Dia adalah tanda yang nyata dalam ciptaan Cahayanya melebihi fajar

Ini pujian kepadanya, dan umurnya saat itu sekitar tiga puluh tahun. Antara saya dan dia ada kasih sayang dan persahabatan sejak kecil, mendengar hadits dan menuntut ilmu sekitar lima puluh tahun. Dia memiliki banyak keutamaan, nama-nama karya tulisnya, riwayat hidupnya, apa yang terjadi antara dia dengan para fuqaha dan pemerintah, penahanannya beberapa kali, dan keadaan-keadaannya tidak mungkin disebutkan semuanya di tempat ini dan dalam kitab ini. Ketika dia meninggal, saya sedang tidak berada di Damaskus, di jalan menuju tanah suci Hijaz. Kemudian berita kematiannya sampai kepada kami setelah wafatnya lebih dari lima puluh hari ketika kami tiba di Tabuk, dan terjadi penyesalan atas kehilangannya rahimahullahu ta’ala. Demikian ucapannya di tempat ini dalam Tarikhnya.

Kemudian Syaikh Alamuddin menyebutkan dalam “Tarikhnya” setelah menyampaikan biografi ini, jenazah Abu Bakar bin Abi Daud dan keagungannya, serta jenazah Imam Ahmad di Baghdad dan kemasyhurannya. Imam Abu Utsman ash-Shabuni berkata: Aku mendengar Abu Abdurrahman ash-Shufi berkata: Aku menghadiri jenazah Abu al-Fath al-Qawwas az-Zahid bersama Syaikh Abu al-Hasan ad-Daruquthni. Ketika sampai pada kerumunan orang yang sangat banyak itu, beliau menghadap kepada kami dan berkata: Aku mendengar Abu Sahl bin Ziyad al-Qaththan berkata: Aku mendengar Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Katakanlah kepada ahli bid’ah: antara kami dan kalian adalah jenazah-jenazah.

Ia berkata: Tidak diragukan bahwa jenazah Ahmad bin Hanbal sangat mengagumkan dan besar, karena banyaknya penduduk negerinya dan berkumpulnya mereka untuk itu, dan penghormatan mereka kepadanya, dan bahwa pemerintahan mencintainya. Adapun Syaikh Taqiyuddin rahimahullah wafat di negerinya Damaskus, dan penduduknya tidak sampai sepersepuluh penduduk Baghdad pada masa itu dalam hal jumlah. Namun mereka berkumpul untuk jenazahnya dengan kumpulan seandainya seorang sultan yang berkuasa mengumpulkan mereka, dan dewan yang hadir, mereka tidak akan mencapai jumlah sebanyak ini yang berkumpul dalam jenazahnya dan mendatanginya. Ini padahal orang itu meninggal di benteng dalam keadaan dipenjara oleh sultan, dan banyak fuqaha menyebutkan tentang dirinya kepada orang-orang hal-hal yang banyak, yang membuat tabiat ahli agama-agama menjauh darinya, apalagi ahli Islam, dan beginilah jenazahnya.

Ia berkata: Sungguh wafatnya bertepatan pada waktu sahur malam Senin yang disebutkan itu. Muadzin benteng menyebutkan hal itu di atas menara di sana, dan penjaga-penjaga berbicara tentangnya di atas menara-menara. Ketika pagi tiba, orang-orang telah mendengar tentang musibah besar dan peristiwa dahsyat ini. Orang-orang segera berkumpul di sekitar benteng dari setiap tempat yang memungkinkan mereka datang darinya, bahkan dari Ghouthah dan Marj. Pedagang pasar tidak memasak apa pun, dan tidak membuka banyak toko yang biasanya dibuka pada awal siang hari sesuai kebiasaan. Wakil sultan Saifuddin Tankiz telah pergi berburu ke suatu tempat, sehingga pemerintahan bingung apa yang harus dilakukan. Sahabat Syamsuddin Ghubriyaal, wakil benteng, datang untuk menyampaikan ta’ziah kepadanya dan duduk bersamanya. Pintu benteng dan pintu aula dibuka untuk siapa saja yang masuk dari kalangan khusus, sahabat-sahabat, dan kekasih-kekasih. Berkumpullah di sisi Syaikh di aula orang-orang dari sahabat-sahabat terdekatnya dari pemerintahan dan lainnya dari penduduk kota dan Shalihiyah, lalu mereka duduk di sekelilingnya sambil menangis dan memuji.

Demi yang seperti Laila, seseorang membunuh dirinya sendiri

Dan aku termasuk yang hadir di sana bersama guru kami Hafizh Abu al-Hajjaj al-Mizzi rahimahullah. Aku membuka wajah Syaikh dan melihatnya serta menciumnya. Di kepalanya ada sorban dengan ekor yang tertancap, dan uban telah menutupinya lebih banyak daripada ketika kami berpisah dengannya. Saudaranya Zainuddin Abdurrahman memberitahu yang hadir bahwa dia dan Syaikh telah membaca delapan puluh khatam sejak masuk benteng dan memulai yang ke-delapan puluh satu, lalu mereka sampai di akhir surah Iqtarabat as-Sa’ah: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga-surga dan sungai-sungai. Di tempat yang bagus di sisi Raja Yang Mahakuasa.” (QS. al-Qamar: 54-55). Kemudian dua syaikh saleh yang baik, Abdullah bin al-Muhibb dan Abdullah az-Zar’i adh-Dharir -dan Syaikh rahimahullah menyukai bacaan mereka- memulai dari awal surah ar-Rahman hingga mengkhatamkan al-Quran dan aku hadir mendengar dan menyaksikan.

Kemudian mereka mulai memandikan Syaikh, dan aku keluar ke masjid di sana. Tidak ada yang tinggal bersamanya kecuali yang membantu memandikannya, di antaranya guru kami Hafizh al-Mizzi dan sekelompok ulama saleh yang baik, ahli ilmu dan iman. Belum selesai memandikannya hingga benteng telah penuh, dan orang-orang bergemuruh dengan tangisan, pujian, doa, dan permohonan rahmat. Kemudian mereka berjalan dengannya menuju masjid, melewati jalan Imadiyah menuju Adiliyah Besar, kemudian berbelok ke Bab an-Nathafaniyin, karena pasar Bab al-Barid telah diruntuhkan untuk diperbaiki. Mereka memasukkan jenazah ke Masjid Umawi, dan makhluk-makhluk di dalamnya di depan jenazah, di belakangnya, di kanan dan kirinya yang tidak dapat dihitung jumlahnya kecuali oleh Allah Ta’ala. Seseorang berteriak dengan keras: Beginilah jenazah imam-imam Sunnah! Orang-orang menangis dan bergemuruh ketika mendengar orang yang berteriak ini. Syaikh diletakkan di tempat jenazah yang berdekatan dengan Maqsurah. Orang-orang duduk karena banyaknya mereka dan kepadatan mereka tanpa membentuk shaf, tetapi berdesak-desakan, tidak ada yang bisa bergerak dari tubuh-tubuh kecuali dengan susah payah, memenuhi masjid dan di luar gang-gang dan pasar-pasar, dan itu sebelum adzan Zhuhur sebentar. Orang-orang datang dari setiap tempat, dan banyak orang berniat puasa karena mereka tidak sempat pada hari ini untuk makan atau minum. Orang-orang sangat banyak, tidak terbatas dan tidak dapat digambarkan. Ketika selesai adzan Zhuhur, shalat didirikan setelahnya di mimbar berbeda dengan kebiasaan. Ketika mereka selesai dari shalat, wakil khatib keluar karena khatib sedang berada di Mesir dan menjadi imam menshalatkannya, yaitu Syaikh Alauddin bin al-Kharrath. Kemudian orang-orang keluar dari setiap tempat, dari pintu-pintu masjid dan kota sebagaimana kami sebutkan, dan berkumpul di Suq al-Khail. Di antara orang-orang ada yang tergesa-gesa setelah shalat di masjid menuju makam-makam Sufiyah. Orang-orang dalam tangisan dan tahlil dengan pelan masing-masing sendirian, dalam pujian dan penyesalan. Para wanita di atas atap-atap dari sana hingga makam menangis, berdoa, dan berkata: Ini adalah ulama.

Singkatnya, itu adalah hari yang disaksikan, tidak pernah ada yang seperti itu di Damaskus kecuali mungkin pada masa Bani Umayyah ketika orang-orang sangat banyak dan kota itu menjadi pusat khilafah. Kemudian ia dikuburkan di samping saudaranya menjelang adzan Ashar tepatnya. Tidak ada yang dapat menghitung yang hadir di jenazah, dan perkiraan kasarnya adalah semua yang dapat hadir dari penduduk kota dan kawasan sekitarnya. Tidak ada yang tidak hadir dari orang-orang kecuali sedikit dari anak-anak kecil dan wanita terhormat. Aku tidak mengetahui seorang pun dari ahli ilmu kecuali sedikit yang tidak hadir di jenazahnya, dan mereka tiga orang: yaitu Ibnu Jumlah, ash-Shadr, dan al-Qahfazi. Mereka ini telah dikenal memusuhinya di hadapan orang-orang karena takut atas diri mereka sendiri, sehingga mereka tahu jika mereka keluar, mereka akan dibunuh dan dibinasakan oleh orang-orang. Guru kami Imam Allamah Burhanuddin al-Fazari datang berkali-kali ke kuburnya dalam tiga hari, demikian juga sekelompok ulama Syafi’iyah. Burhanuddin al-Fazari datang mengendarai keledainya dengan penuh keagungan dan kehormatan rahimahullah.

Banyak khatam dibuat untuknya, dan terlihat mimpi-mimpi yang cemerlang, baik, dan mengagumkan tentang dirinya. Ia diratapi dengan banyak syair dan qasidah yang sangat panjang. Telah dibuat banyak biografi untuknya, dan dikarang dalam hal itu oleh sekelompok orang-orang mulia dan lainnya. Kami akan merangkum dari keseluruhan itu biografi singkat dalam menyebutkan keutamaan-keutamaannya, keberanian, kemurahan hati, nasihat, kezuhudan, ibadah, ilmu-ilmunya yang beragam, banyak, dan bagus, sifat-sifatnya yang besar dan kecil, yang mencakup sebagian besar ilmu dan kekhususannya dalam pilihan-pilihan yang didukungnya dengan Kitab dan Sunnah serta ia berfatwa dengannya.

Singkatnya, ia rahimahullah termasuk ulama besar dan termasuk yang salah dan benar, tetapi kesalahannya dibandingkan dengan kebenarannya seperti titik di lautan yang dalam. Kesalahannya juga diampuni untuknya sebagaimana dalam Shahih Bukhari: “Apabila seorang hakim berijtihad lalu benar, maka baginya dua pahala, dan apabila berijtihad lalu salah, maka baginya satu pahala” maka ia mendapat pahala. Imam Malik bin Anas berkata: Setiap orang diambil perkataannya dan ditinggalkan kecuali penghuni kubur ini.

Kami akan membuat biografi tersendiri untuknya insya Allah Ta’ala.

 

 

41 – Nuzhah al-Uyun fi Tarikh Thawa’if al-Qurun

Karya al-Malik al-Afdhal Abbas bin Ali bin Daud bin Rasul (778)

Abu al-Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Syaikh al-Islam Majduddin Abu al-Barakat Abdus Salam bin Abdullah bin Abu al-Qasim bin Taimiyah.

Ulama masa, Syaikh al-Islam, sisa para mujtahid, Taqiyuddin al-Harrani kemudian ad-Dimasyqi al-Hanbali al-Hafizh al-Mufassir, pemilik karya-karya.

Lahir pada bulan Rabiul Awal tahun enam ratus enam puluh satu.

Ia mendengar dari banyak orang, dan unggul dalam fikih, khilaf, dan menguasai madzhab-madzhab. Ia mengetahui bahasa Arab, tafsir, ushul, dan syariat, cerdas luar biasa, berkata dengan kebenaran, melarang kemungkaran, berjihad di jalan Allah dengan diri, tangan, dan lisannya.

Ia dipenjara beberapa waktu kemudian dikeluarkan, kemudian dipenjara lagi kemudian dikeluarkan. Setelah itu ia berfatwa dan menulis, kemudian datang ke Damaskus lalu ditahan di benteng, dan mengalami kesulitan.

Ia dikenal dengan qana’ah, menjaga diri, kedermawanan, kemurahan, kecerdasan, akal, keberanian, keberanian maju, jihad, kezuhudan, sedikit istirahat dan kenikmatan. Tidak terlihat dalam hidupnya kecuali menulis, berdzikir, menghadap kepada Allah, menyebarkan ilmu, atau berbicara dengan faedah, sedikit tidur, tekun pada ilmu sejak tumbuh, sedikit makan, tidak pernah menikah dan tidak punya budak, dan tidak ada yang sempurna dari dunia seperti kesempurnaannya: Jauh sekali, zaman tidak akan datang dengan yang sepertinya … Sesungguhnya zaman dengan yang sepertinya sangat langka

Ia wafat pada malam Senin dua puluh Dzulqa’dah tahun tujuh ratus dua puluh delapan, dalam usia enam puluh delapan tahun, dan itu di benteng. Kemudian dikeluarkan dan disaksikan oleh makhluk yang tidak terhitung. Jenazahnya diantar dari empat pintu Damaskus: Bab al-Faraj dan dari sana dikeluarkan, Bab al-Faradis, Bab an-Nashr, dan Bab al-Jabiyah. Di pintu-pintu ini terjadi kepadatan total yang tidak dapat digambarkan dan tidak diketahui jumlahnya kecuali oleh Allah. Para wanita berada di atas atap-atap dan di jalan-jalan seperti masuknya rombongan. Ia diangkat di atas kepala-kepala. Orang-orang menshalatkannya di masjid seperti shalat Jumat persis. Ia dikuburkan di makam-makam Sufiyah di samping saudaranya. Kumpulan diperkirakan sembilan puluh ribu dan dikatakan dua ratus ribu. Tangisan, gemuruh, penyesalan atasnya, dan kesedihan sangat banyak. Banyak orang yang menahan diri untuk menshalatkannya karena alasan agama dan sesungguhnya amal itu tergantung niatnya. Ia diratapi dengan qasidah-qasidah yang bagus, dan terlihat mimpi-mimpi yang baik untuknya -rahimahullah dan semoga bermanfaat dengannya-.

 

 

Allamah al-Hasan bin Umar bin al-Hasan bin Habib (779)

  • Tadzkirah an-Nabih fi Ayyam al-Manshur wa Banihi
  • Durrah al-Aslak fi Daulah al-Atrak

42 – Tadzkirah an-Nabih fi Ayyam al-Manshur wa Banihi

Pada bulan Dzulqa’dah tahun itu, wafat Syaikh al-Islam Taqiyuddin Abu al-Abbas Ahmad bin Syaikh Syihabuddin, Abu al-Mahasin Abdul Halim bin Syaikh Majduddin, Abu al-Barakat Abdus Salam bin Abdullah bin Abu al-Qasim bin Muhammad bin Taimiyah al-Harrani al-Hanbali, dalam usia enam puluh tujuh tahun, di benteng Damaskus yang terjaga dalam tahanan. Jenazahnya diantar oleh orang banyak yang paling sedikit diperkirakan enam puluh ribu. Ia semoga Allah meliputi dengan rahmat-Nya, adalah awan yang menyeret ekornya pada pencari dan pendatang, dan lautan yang tidak keruh oleh ember-ember yang pergi dan datang, dan laut yang penuh dalam naqliyat, dan orang terpelajar yang berbalut jubah aqliyat, dan imam dalam pengetahuan Kitab dan Sunnah, dan orang yang gagah berani yang tidak condong pada manisnya pemberian, memiliki wara’ yang berlebih, dan zuhud yang cabangnya di taman ridha berbuah, dan kedermawanan dan keberanian, dan kemuliaan dan qana’ah, dan karya-karya yang terkenal, dan fatwa-fatwa yang benderanya terserak, dan pengetahuan yang sumbernya melimpah, dan menjauh dari dunia secara keseluruhan yang mencukupi, tidak peduli dengan kesegaran dan keelokan perhiasannya, dan tidak menoleh pada dirham dan dinarnya yang terukir. Ia menyuarakan kebenaran, dan berbicara dalam hal yang besar dan kecil.

Ia menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar, dan terus-menerus menegakkan kebenaran dan batasan, baik disyukuri atau tidak disyukuri. Terkumpul padanya syarat-syarat ijtihad, dan mencapai dari memetik buah cabang-cabang bidang ilmu puncak harapan.

Dan ia dalam ilmu-ilmu sehingga dihukumkan baginya … dalam setiap ilmu dengan kesempurnaan

Ia diratapi oleh banyak orang, dan Syaikh Zainuddin Umar bin al-Wardi berkata:

Kaum yang keji berbuat buruk pada kehormatannya … bagi mereka dari penyebaran permata tersebut mengambil

Taqiyuddin Ahmad sebaik-baik ulama … masalah-masalah rumit dengannya dijahit

Ia wafat dalam keadaan dipenjara sendirian … dan tidak ada baginya kepada dunia pelapangan

Seandainya mereka menghadirinya ketika wafat pasti mereka dapati … malaikat-malaikat kenikmatan dengannya mengelilingi

Ya Allah, apa yang diliputi kubur … dan ya Allah apa yang ditutupi hamparan

Mereka iri kepadanya karena mereka tidak mencapai … keutamaannya maka mereka berdusta dan melampaui batas

Mereka malas dari jalannya … tetapi dalam menyakitinya bagi mereka ada keaktifan

Dan penjara mutiara di dalam kerang adalah kehormatan … dan di sisi Syaikh dengan penjara kebanggaan

Dia mengikuti keluarga Hasyimi … maka mereka merasakan kematian dan tidak menjilat

Imam yang tidak pernah berharap wilayah … dan tidak ada wakaf atasnya dan tidak ada ribath

Dan tidak mengejar kalian dalam mencari harta … dan tidak dikenal baginya dengan kalian percampuran

Akan tampak maksud kalian wahai pemenjaranya … dan niat kalian ketika jembatan sirath dipasang

Maka dia telah mati dari kalian dan kalian tenang … maka berbuatlah apa yang kalian ingin berbuat

Dan halalkan dan ikatlah tanpa penolakan … atas kalian dan terlipatlah hamparan itu

Dari Syair Syekh Taqiyuddin bin Taimiyah

Berikut syair-syair yang diucapkan beliau mengenai sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Ada tiga perkara yang menyelamatkan dan tiga perkara yang membinasakan”:

Hendaklah engkau takut kepada Allah dalam keadaan tersembunyi dan terang-terangan Dan bersikap sederhana dalam berinfak, baik dalam kesulitan maupun kemudahan Dan berlaku adil ketika engkau marah maupun ketika ridha Maka ketiganya adalah penyelamat dari kejahatan

Dan hindarilah sifat kikir yang ditaati, dan janganlah Mengikuti hawa nafsu, sehingga engkau kembali dengan kerugian Dan jauhilah sikap kagum pada diri sendiri, sesungguhnya itu Penutup dari tiga perkara yang membinasakan di hari kiamat

Pujian Para Ulama kepada Syekh Taqiyuddin

Imam alim, Kamaluddin Muhammad bin Az-Zamlakani menulis pada salah satu kitabnya:

Apa yang dikatakan para pewasif tentang dirinya Padahal sifat-sifatnya terlalu agung untuk dihitung Ia adalah hujjah Allah yang mengalahkan Ia di antara kita adalah keajaiban zaman Ia adalah tanda bagi makhluk yang nyata Cahayanya melebihi fajar

Imam Abu Hayyan berkata dalam syairnya, di antaranya:

Ibnu Taimiyah berdiri untuk membela syariat kita Seperti berdirinya pemimpin Taim ketika Mudhar memberontak Maka ia menampakkan kebenaran ketika jejak-jejaknya telah terhapus Dan memadamkan kejahatan ketika percikan apinya beterbangan Kami dulu bercerita tentang seorang ulama besar yang akan datang kepada kami Engkaulah imam yang telah ditunggu-tunggu

Syekh Sa’duddin Sa’dullah bin Abdul Ahad bin Bukhiikh Al-Harrani berkata tentang beliau, di antara syairnya:

Cahayamu wahai Taqiyuddin lebih indah dan bercahaya Dan lebih bersinar dari matahari siang dan lebih masyhur Kemuliaanmu lebih tinggi untuk dibandingkan dengannya Dan lebih agung dari apa yang ada dalam jiwa dan lebih besar Wangi pujianmu bagaikan Andalusia yang memiliki aroma Lebih lezat dari misk yang harum dan lebih wangi Ilmumu mencakup semua jenis ilmu Dalil-dalilnya melemahkan lawan dan memukau Kesabaranmu demi Allah menghadapi gangguan Memberikanmu apa yang engkau harapkan dan engkau pilih Amar makrufmu telah menyucikan zaman kita Sehingga tidak tampak di hari-harimu yang cemerlang kemungkaran Andai saja aku tahu, sedangkan kebaikan-kebaikan sangat banyak Untuk sifat-sifatmu yang indah mana yang harus kusyukuri Dan apa yang mungkin dipuji seseorang dengan berlebihan Dengan pujian, dan apakah mutiara dapat dihadiahkan kepada lautan Maka tetaplah yakin kepada Allah dengan berpegang kepada-Nya Dan pendukungmu adalah syariat yang mulia dan suci Selamat dari segala bencana dalam naungan nikmat Dari Allah yang bersih penghuninya tidak keruh

 

 

43 – Dari Kitab Durratun Aslak fi Daulatin Atrak

Di dalamnya wafat Syaikhul Islam, Taqiyuddin, Abu Abbas, Ahmad bin Syekh Syihabuddin Abul Mahasin Abdul Halim bin Syekh Majduddin Abul Barakah Abdus Salam bin Abdullah bin Abul Qasim bin Muhammad bin Taimiyah Al-Harrani Al-Hanbali.

Bagaikan awan yang menjulurkan ekornya kepada para penuntut ilmu dan pendatang, bagaikan samudra yang tidak keruh oleh timba orang yang datang dan pergi, lautan yang luas dalam ilmu-ilmu naqli, dan ulama yang mahir dalam menjaga mutiara-mutiara ilmu aqli, imam dalam memahami Kitab dan Sunnah, dan tokoh yang tidak cenderung kepada manisnya pemberian.

Beliau memiliki sifat wara’ yang tinggi, zuhud yang cabangnya tumbuh di taman keridhaan, dermawan dan pemberani, mengasingkan diri dan qanaah, karya-karya yang masyhur, fatwa-fatwa yang bendera-benderanya tersebar, ilmu-ilmu yang bahan-bahannya memadai, dan berpaling dari dunia secara menyeluruh, tidak peduli dengan kecantikan dan keindahan perhiasannya, dan tidak menoleh kepada dirham dan dinarnya yang terukir.

Beliau bersuara lantang dengan kebenaran, berbicara dalam hal yang besar dan kecil, menyuruh pada kebaikan, melarang kemungkaran, dan terus-menerus menegakkan hudud baik disyukuri maupun tidak.

Terkumpul padanya syarat-syarat ijtihad, dan beliau mencapai puncak dalam memetik buah dari berbagai cabang ilmu.

Beliau dalam bidang ilmu berada pada posisi di mana keputusan diberikan kepadanya dalam setiap ilmu secara menyeluruh.

Dari syairnya mengenai sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Ada tiga perkara yang menyelamatkan dan tiga perkara yang membinasakan”:

Hendaklah engkau takut kepada Allah dalam keadaan tersembunyi dan terang-terangan Dan bersikap sedang dalam berinfak, baik dalam kesulitan maupun kemudahan Dan berlaku adil ketika engkau marah maupun ketika ridha Maka ketiganya adalah penyelamat dari kejahatan

Dan hindarilah sifat kikir yang ditaati, dan janganlah Mengikuti hawa nafsu, sehingga engkau kembali dengan kerugian Dan jauhilah sikap kagum pada diri sendiri, sesungguhnya itu Penutup dari tiga perkara yang membinasakan di hari kiamat

Qadhi Al-Qudhat, Kamaluddin Abul Ma’ali Muhammad bin Az-Zamlakani menulis pada salah satu karya beliau:

Apa yang dikatakan para pewasif tentang dirinya Padahal sifat-sifatnya terlalu agung untuk dihitung Ia adalah hujjah Allah yang mengalahkan Ia di antara kita adalah keajaiban zaman Ia adalah tanda bagi makhluk yang nyata Cahayanya melebihi fajar

Allamah Atsiruddin Abu Hayyan Al-Andalusi berkata tentang beliau, di antara syairnya:

Ibnu Taimiyah berdiri untuk membela syariat kita Seperti berdirinya pemimpin Taim ketika Mudhar memberontak Maka ia menampakkan kebenaran ketika jejak-jejaknya telah terhapus Dan memadamkan kejahatan ketika percikan apinya beterbangan Kami dulu bercerita tentang seorang ulama besar yang akan datang kepada kami Engkaulah imam yang telah ditunggu-tunggu

Syekh Sa’duddin Sa’dullah bin Abdul Ahad bin Bukhiikh berkata tentang beliau, di antara syairnya:

Cahayamu wahai Taqiyuddin lebih indah dan bercahaya Dan lebih bersinar dari matahari siang dan lebih masyhur Kemuliaanmu lebih tinggi untuk dibandingkan dengannya Dan lebih agung dari apa yang ada dalam jiwa dan lebih besar Wangi pujianmu bagaikan Andalusia yang memiliki aroma Lebih lezat dari misk yang harum dan lebih wangi Ilmumu mencakup semua jenis ilmu Dalil-dalilnya melemahkan lawan dan memukau Kesabaranmu demi Allah menghadapi gangguan Memberikanmu apa yang engkau harapkan dan engkau pilih Amar makrufmu telah menyucikan zaman kita Sehingga tidak tampak di hari-harimu yang cemerlang kemungkaran Andai saja aku tahu, sedangkan kebaikan-kebaikan sangat banyak Untuk sifat-sifatmu yang indah mana yang harus kusyukuri Dan apa yang mungkin dipuji seseorang dengan berlebihan Dengan pujian, dan apakah mutiara dapat dihadiahkan kepada lautan Maka tetaplah yakin kepada Allah dengan berpegang kepada-Nya Dan pendukungmu adalah syariat yang mulia dan suci Selamat dari segala bencana dalam naungan nikmat Dari Allah yang bersih kehidupannya tidak keruh

Imam Zainuddin Abu Hafs Umar bin Al-Wardi meratapi beliau dengan qasidah, di antaranya:

Sekelompok orang kasar telah menyerang kehormatannya Mereka mengambil dari taburan mutiara-mutiara Taqiyuddin Ahmad adalah sebaik-baik ulama Masalah-masalah rumit dijahit olehnya Ia wafat dalam keadaan dipenjara sendirian Dan tidak ada hubungannya dengan dunia Seandainya mereka hadir ketika ia meninggal, niscaya mereka dapati Malaikat-malaikat surga mengelilinginya Demi Allah, apa yang dikandung liang kubur Dan demi Allah, apa yang ditutupi tanah Mereka mendengkinya karena mereka tidak meraih Keistimewaan-keistimewaannya, maka mereka berkomplot dan menyimpang Dan mereka malas mengikuti jalan-jalannya Tetapi dalam menyakitinya mereka sangat bersemangat Dan kurungan mutiara dalam kerang adalah kebanggaan Dan bagi Syekh, penjara adalah kebahagiaan Ia mengikuti keluarga Hasyim Mereka merasakan kematian dan tidak mengeluh Seorang imam yang tidak mengharapkan jabatan Dan tidak ada wakaf untuknya dan tidak ada ribath Tidak bersaing dengan kalian dalam mengumpulkan harta Dan tidak pernah dikenal bercampur dengan kalian Akan nampak niat kalian wahai para penjaranya Dan niat kalian ketika shirath didirikan Nah, ia telah meninggal dari kalian dan kalian merasa lega Maka lakukan apa yang kalian ingin lakukan Dan halalkan dan ikatlah tanpa ada bantahan Atas kalian, dan telah terlipat permadani itu

Wafat beliau di benteng Damaskus dalam tahanan, pada usia enam puluh tujuh tahun, dan jenazahnya dihadiri oleh banyak orang, paling sedikit diperkirakan enam puluh ribu orang.

Beliau adalah di antara guru-guru ayahku dalam hadits, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadanya.

 

 

44 – Dari Kitab Tuhfatun Nuzzar fi Ghara’ibil Amshar wa Aja’ibil Asfar

Dikenal dengan nama Rihlah Ibnu Bathuthah Karya Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah Ath-Thanji Dikenal dengan Ibnu Bathuthah

Di Damaskus terdapat seorang dari ulama besar Hanabilah: Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, tokoh yang besar, berbicara dalam berbagai bidang ilmu, namun dalam akalnya ada sesuatu! Penduduk Damaskus sangat mengagungkannya, dan beliau memberi nasihat kepada mereka di atas mimbar. Suatu ketika beliau berbicara tentang sesuatu yang diingkari para fuqaha, dan mereka mengadukannya kepada Raja An-Nashir. Lalu Raja memerintahkan untuk membawa beliau ke Kairo, dan mengumpulkan para qadhi dan fuqaha di majelis Raja An-Nashir. Syarafuddin Az-Zawawi Al-Maliki berbicara dan berkata: Sesungguhnya orang ini berkata begini dan begitu, dan ia menghitung apa yang diingkari dari Ibnu Taimiyah, dan menghadirkan catatan-catatan tentang itu, dan meletakkannya di hadapan Qadhil Qudhat. Qadhil Qudhat berkata kepada Ibnu Taimiyah: Apa pendapatmu? Beliau berkata: Laa ilaaha illallah. Lalu diulang kepadanya, ia menjawab dengan ucapan yang sama. Maka Raja An-Nashir memerintahkan untuk memenjarakannya, lalu ia dipenjara beberapa tahun. Beliau menulis di penjara sebuah kitab tafsir Al-Quran yang diberi nama Al-Bahrul Muhith sekitar empat puluh jilid.

Kemudian ibunya menghadap Raja An-Nashir dan mengadukan kepadanya, lalu ia memerintahkan untuk membebaskannya, hingga terjadi lagi darinya hal serupa untuk kedua kalinya. Aku berada di Damaskus ketika itu, lalu aku menghadiri beliau pada hari Jumat ketika ia memberi nasihat kepada manusia di atas mimbar masjid dan mengingatkan mereka. Bagian dari ucapannya adalah bahwa beliau berkata: Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia seperti turunku ini, dan beliau turun satu anak tangga dari tangga mimbar. Seorang faqih Maliki yang dikenal dengan Ibnu Az-Zahrah menentangnya dan mengingkari apa yang dikatakannya. Maka orang awam bangkit kepada faqih ini dan memukulnya dengan tangan dan sandal, pukulan yang banyak hingga serbannya jatuh, dan tampak di kepalanya penutup kepala sutra. Mereka mengingkari pemakaiannya, dan membawanya ke rumah Izzuddin bin Muslim, qadhi Hanabilah. Lalu ia memerintahkan untuk memenjarakannya dan menta’zirnya setelah itu. Fuqaha Malikiyah dan Syafi’iyah mengingkari ta’zir itu, dan mengangkat perkara itu kepada Malik Al-Umara Saifuddin Tankiz—dan ia termasuk amir yang baik dan shalih—lalu ia menulis tentang itu kepada Raja An-Nashir dan menulis catatan syar’i terhadap Ibnu Taimiyah tentang perkara-perkara yang mungkar, di antaranya: bahwa orang yang mencerai dengan tiga dalam satu kalimat tidak wajib baginya kecuali satu talak, dan di antaranya: bahwa musafir yang berniat dengan safarnya ziarah ke kubur yang mulia tidak boleh mengqashar shalat, dan selain itu yang serupa dengannya. Dan mengirim catatan itu kepada Raja An-Nashir. Maka ia memerintahkan untuk memenjarakan Ibnu Taimiyah di benteng, lalu ia dipenjara di sana hingga meninggal di penjara.

 

 

45 – Tanya Jawab tentang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

oleh Syaikh Syihabuddin Ahmad Ibnu al-Adz’ra’i asy-Syafi’i (wafat 783 H)

Pertanyaan yang datang dari Halab asy-Syahba’ tentang Syaikhul Islam Taqiyuddin Ahmad Ibnu Taimiyah semoga Allah meridhainya, yaitu:

Apa pendapat para tuan ulama, para pemimpin agama semoga Allah meridhai mereka semua, tentang Syaikhul Islam Taqiyuddin Ibnu Taimiyah rahimahullah Ta’ala? Apakah beliau termasuk ahli ilmu dan agama yang patut diteladani atau tidak?

Jika kalian berpendapat bahwa beliau termasuk ahli ilmu dan agama, apakah boleh bagi orang yang tertipu untuk mengambil sesuatu secara taklid dan mencela ilmu serta keagamaannya? Dan apakah haram baginya mencela imam seperti ini tanpa memahami perkataannya? Dan apakah imam mendapat pahala karena menegur orang yang tertipu ini atau tidak? Berilah kami fatwa, semoga kalian mendapat pahala, semoga Allah meridhai kalian semua.

Maka dijawab oleh Syaikh Imam yang Alim lagi Allamah, manusia unik di zamannya dan tunggal di masanya, mufti kaum muslimin, yang menampakkan jejak-jejak para rasul, syaikh dunia dan agama: Syihabuddin Ahmad Ibnu al-Adz’ra’i asy-Syafi’i di Halab yang terjaga rahimahullah Ta’ala, beliau berkata setelah memuji Allah:

Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah rahimahullah Ta’ala adalah salah satu imam Islam yang terkemuka. Beliau rahimahullah Ta’ala adalah lautan dari lautan-lautan ilmu, dan gunung yang menjulang tinggi yang tidak ada dua orang pun dari ahli zaman yang berbeda pendapat tentangnya. Dan barangsiapa yang mengatakan selain itu, maka dia adalah orang bodoh atau orang yang membangkang yang bertaklid kepada orang seperti dirinya. Dan jika beliau menyelisihi manusia dalam beberapa masalah, maka urusannya kepada Allah Ta’ala.

Dan mencela ahli ilmu – terutama para tokoh besar mereka – termasuk dosa-dosa besar. Dan sungguh telah diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi rahimahullah Ta’ala dalam kitabnya “al-Jami’ fi Adabi ar-Rawi was-Sami'” dengan sanadnya dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma bahwa beliau berkata: “Barangsiapa menyakiti seorang faqih, maka sungguh dia telah menyakiti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan barangsiapa menyakiti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka sungguh dia telah menyakiti Allah Ta’ala.”

Dan sebagian ulama terdahulu telah berkata: “Daging para ulama beracun, dan kebiasaan Allah dalam membongkar aib orang-orang yang merendahkan mereka sudah diketahui. Dan barangsiapa mencela mereka, maka Allah akan mengujinya sebelum kematiannya dengan matinya hati. Maka hendaklah orang-orang yang melanggar perintahnya takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nur: 63)

Dan wali urusan kaum muslimin – semoga Allah Ta’ala menguatkannya – mendapat pahala karena menegur orang yang melampaui batas ini yang zalim terhadap dirinya dan terhadap orang lain. Dan seolah-olah orang miskin yang terperdaya ini tidak sampai kepadanya sabda Sayyidina Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Janganlah kalian mencela orang-orang yang telah mati karena sesungguhnya mereka telah sampai pada apa yang mereka kerjakan.” Dan selain itu dari peringatan tentang mencela kehormatan orang-orang biasa, apalagi para tokoh besar ulama? Dan seolah-olah tidak sampai kepadanya perkataan sebagian mereka kepada ar-Rabi’ bin Khutsaim: Kami tidak melihat engkau mencela seorang pun! Maka dia berkata: Aku tidak ridha terhadap diriku sendiri sehingga aku sempat dari mencela diriku untuk mencela orang lain.

Dan sebagian imam berkata: Aku sibuk dengan aib diriku sendiri dari aib manusia.

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui.

 

 

46 – adz-Dzail ‘ala Thabaqat al-Hanabilah

oleh al-Allamah Zainuddin Abu al-Faraj Abdurrahman bin Ahmad Ibnu Rajab al-Hanbali (795 H)

Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Abul Qasim al-Khadhir bin Muhammad Ibnu Taimiyah al-Harrani, kemudian ad-Dimasyqi, Imam ahli fiqih, mujtahid muhaddits, hafizh mufassir, ahli ushul yang zahid. Taqiyuddin Abu al-Abbas, Syaikhul Islam dan tanda para tanda, dan kemasyhurannya tidak perlu lagi diperpanjang dalam penyebutan dan perbanyakan tentang urusannya.

Beliau lahir pada hari Senin tanggal sepuluh Rabiul Awal tahun enam ratus enam puluh satu di Harran.

Ayahnya datang bersamanya dan saudara-saudaranya ke Damaskus, ketika Tatar menguasai negeri-negeri, pada tahun enam ratus enam puluh tujuh.

Maka Syaikh mendengar di sana dari Ibnu Abdul Daim, Ibnu Abul Yasr, Ibnu Abd, al-Majd Ibnu Asakir, Yahya bin ash-Shairafi al-Faqih, Ahmad bin Abul Khair al-Haddad, al-Qasim al-Irbili, Syaikh Syamsuddin bin Abi Umar, al-Muslim bin Allan, Ibrahim bin ad-Daraji dan banyak orang lainnya.

Dan beliau menaruh perhatian pada hadits. Dan beliau mendengar “al-Musnad” beberapa kali, dan kitab-kitab yang enam, dan Mu’jam ath-Thabrani al-Kabir, dan apa yang tidak terhitung dari kitab-kitab dan juz-juz. Dan beliau membaca sendiri, dan menulis dengan tulisan tangannya sejumlah juz, dan mengambil ilmu-ilmu sejak kecil. Maka beliau mengambil fiqih dan ushul dari ayahnya, dan dari Syaikh Syamsuddin bin Abi Umar, dan Syaikh Zainuddin Ibnu al-Manja. Dan beliau mahir dalam itu, dan berdebat. Dan beliau membaca bahasa Arab beberapa hari kepada Ibnu Abdul Qawi, kemudian mengambil kitab Sibawaih, lalu merenungkannya dan memahaminya. Dan beliau mengambil tafsir Al-Quran Al-Karim, maka beliau unggul di dalamnya, dan menguasai ushul fiqih, faraid, hisab, aljabar dan muqabalah, dan selain itu dari ilmu-ilmu, dan melihat ilmu kalam dan filsafat, dan unggul dalam itu atas ahlinya, dan membantah para pemimpin dan tokoh-tokoh besar mereka, dan mahir dalam keutamaan-keutamaan ini, dan memenuhi syarat untuk berfatwa dan mengajar, sementara beliau belum mencapai dua puluh tahun, dan berfatwa sebelum dua puluh tahun juga, dan Allah memberinya banyak kitab dan cepat menghafal, dan kuat memahami dan mengerti, dan lambat lupa, hingga lebih dari satu orang berkata: Sesungguhnya beliau tidak pernah menghafal sesuatu lalu melupakannya.

Kemudian ayahnya Syaikh Syihabuddin wafat, yang telah disebutkan sebelumnya, dan ketika itu usianya dua puluh satu tahun. Maka beliau menggantikan jabatan-jabatannya setelahnya, lalu mengajar di Darul Hadits as-Sukriyah pada awal tahun delapan ratus delapan puluh tiga.

Dan hadir pada majlisnya Qadhi al-Qudhat Bahauddin bin az-Zaki, dan Syaikh Tajuddin al-Fazari, dan Zainuddin bin al-Marhil, dan Syaikh Zainuddin bin al-Manja, dan jamaah, dan beliau menyampaikan pelajaran yang agung tentang basmalah. Dan itu masyhur di kalangan manusia, dan jamaah yang hadir mengagungkannya, dan memujinya dengan pujian yang banyak. Adz-Dzahabi berkata: Dan Syaikh Tajuddin al-Fazari sangat berlebihan dalam mengagungkan Syaikh Taqiyuddin, hingga beliau menggantungkan dengan tulisannya pelajaran beliau di as-Sukriyah.

Kemudian beliau duduk setelah itu menggantikan ayahnya di masjid di atas mimbar pada hari-hari Jumat, untuk menafsirkan Al-Quran yang agung, dan memulai dari awal Al-Quran. Maka beliau menyampaikan dari hafalannya dalam satu majlis sekitar dua atau lebih kurras, dan terus menafsirkan dalam Surah Nuh, selama beberapa tahun pada hari-hari Jumat.

Dan pada tahun sembilan puluh: beliau menyebutkan di atas mimbar pada suatu hari Jumat sesuatu dari sifat-sifat Allah, maka sebagian penentang bangkit, dan berusaha mencegahnya dari duduk, namun mereka tidak dapat melakukan itu.

Dan Qadhi al-Qudhat Syihabuddin al-Khuwayyi berkata: Aku atas keyakinan Syaikh Taqiyuddin, maka dia ditegur dalam hal itu. Maka dia berkata: Karena pikirannya benar, dan sumber-sumbernya banyak. Maka dia tidak mengatakan kecuali yang benar.

Dan Syaikh Syarafuddin al-Maqdisi berkata: Aku mengharapkan berkah dan doanya, dan dia temanku, dan saudaraku. Dan al-Birzali menyebutkan itu dalam “Tarikhnya”.

Dan Syaikh memulai mengumpulkan dan menulis, dari usia belum mencapai dua puluh tahun, dan tidak berhenti dalam ketinggian dan bertambahnya ilmu dan kedudukan hingga akhir umurnya.

Adz-Dzahabi berkata dalam “Mu’jam Syuyukhihi”: Ahmad bin Abdul Halim – dan beliau menyebutkan nasabnya – al-Harrani, kemudian ad-Dimasyqi, al-Hanbali Abu al-Abbas, Taqiyuddin, syaikh kami dan Syaikhul Islam, dan manusia unik di zamannya dalam ilmu dan pengetahuan, dan keberanian dan kecerdasan, dan pencerahan ilahi, dan kedermawanan dan nasihat untuk umat, dan menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Beliau mendengar hadits, dan memperbanyak sendiri pencarian hadits, dan menulis dan mentakhrij, dan melihat dalam rijal dan thabaqat, dan memperoleh apa yang tidak diperoleh orang lain. Dan beliau unggul dalam tafsir Al-Quran, dan menyelami makna-makna yang dalam dengan tabiat yang lancar, dan pikiran yang cenderung ke tempat-tempat yang sulit, dan mengeluarkan darinya hal-hal yang tidak pernah didahului. Dan beliau unggul dalam hadits dan menghafalnya, hingga sedikit orang yang menghafal apa yang beliau hafal dari hadits, dengan disandarkan kepada sumber-sumbernya dan para sahabatnya, dengan kuatnya menghadirkannya ketika mendirikan dalil. Dan beliau melampaui manusia dalam pengetahuan fiqih, dan perbedaan madzhab, dan fatwa-fatwa sahabat dan tabi’in, hingga jika beliau berfatwa tidak terikat dengan madzhab, melainkan dengan apa yang tegak dalilnya menurutnya. Dan beliau menguasai bahasa Arab ushul dan furu’, dan ta’lil dan perbedaan. Dan melihat dalam ilmu-ilmu aqliyah, dan mengetahui perkataan-perkataan ahli kalam, dan membantah mereka, dan menunjukkan kesalahan mereka, dan memperingatkan dari mereka dan menolong Sunnah dengan hujjah-hujjah yang paling jelas dan bukti-bukti yang paling cemerlang. Dan beliau disakiti di jalan Allah dari para penentang, dan ditakut-takuti dalam menolong Sunnah yang murni, hingga Allah meninggikan menaranya, dan mengumpulkan hati-hati ahli takwa atas kecintaan kepadanya dan berdoa untuknya, dan mengalahkan musuh-musuhnya, dan memberi petunjuk melalui beliau kepada orang-orang dari ahli agama-agama dan golongan-golongan, dan membentuk hati-hati raja-raja dan para pemimpin atas kepatuhan kepadanya pada umumnya, dan atas ketaatan kepadanya, dan menghidupkan melalui beliau Syam, bahkan Islam, setelah hampir runtuh, dengan penguatan pemilik kekuasaan ketika datang kelompok Tatar dan pembangkangan dalam kesombongan mereka, maka sangka-sangka dikira kepada Allah, dan bergoncang kaum mukmin, dan munafik menampakkan dan memperlihatkan wajahnya. Dan kebaikan-kebaikannya banyak, dan beliau lebih besar dari ditunjukkan tentang perjalanan hidupnya oleh orang seperti aku, maka andai aku bersumpah antara Rukun dan Maqam, niscaya aku bersumpah: bahwa aku tidak pernah melihat dengan mataku seperti beliau, dan bahwa beliau tidak pernah melihat seperti dirinya sendiri.

Dan sungguh aku telah membaca dengan tulisan Syaikh al-Allamah syaikh kami Kamaluddin bin az-Zamlakani, apa yang beliau tulis pada tahun beberapa dan sembilan puluh di bawah nama “Ibnu Taimiyah” bahwa jika beliau ditanya tentang satu bidang dari ilmu, maka orang yang melihat dan mendengar menyangka: bahwa beliau tidak mengetahui selain bidang itu, dan memutuskan bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahuinya seperti beliau. Dan para fuqaha dari berbagai golongan jika duduk bersamanya mendapat manfaat darinya dalam madzhab mereka hal-hal. Dan tidak diketahui bahwa beliau berdebat dengan seseorang lalu terputus dengannya, dan tidak berbicara dalam ilmu dari ilmu-ilmu – baik ilmu syariat atau lainnya – kecuali beliau melampaui di dalamnya ahlinya, dan terkumpul pada beliau syarat-syarat ijtihad dengan sempurna.

Dan adz-Dzahabi berkata dalam “Mu’jamul Mukhtash”-nya: Beliau adalah imam yang mendalam dalam ilmu-ilmu agama, benar pikirannya, cepat pemahamannya, lancar pengertiannya, banyak kebaikan-kebaikannya, dikenal dengan sangat pemberani dan dermawan, kosong dari syahwat makanan dan pakaian dan jimak, tidak ada kelezatan baginya selain menyebarkan ilmu dan menuliskannya. Dan beramal dengan isinya.

Aku berkata: Dan sungguh ditawarkan kepadanya jabatan Qadhi al-Qudhat sebelum tahun sembilan puluh, dan Masyikhat asy-Syuyukh, namun beliau tidak menerima sesuatu pun dari itu. Aku membaca itu dengan tulisan tangannya.

Adz-Dzahabi berkata, disebutkan oleh Abul Fath al-Ya’muri al-Hafizh – yaitu Ibnu Sayyidin Nas – dalam jawaban pertanyaan-pertanyaan Abul Abbas Ibnu ad-Damyathi al-Hafizh, maka beliau berkata: Aku mendapatinya termasuk orang yang mendapatkan dari ilmu-ilmu bagian. Dan hampir mencakup semua sunnah dan atsar dalam hafalan, jika dia berbicara dalam tafsir maka dia pembawa benderanya, dan jika berfatwa dalam fiqih maka dia mencapai tujuannya, atau menyebutkan hadits maka dia pemilik ilmunya dan yang memiliki riwayannya, atau hadir dalam nihal dan milal tidak terlihat lebih luas dari agamanya, dan tidak lebih tinggi dari pengetahuannya. Beliau unggul dalam setiap bidang atas anak-anak jenisnya, dan mata tidak melihat dari yang melihatnya seperti beliau, dan matanya tidak melihat seperti dirinya sendiri.

Dan sungguh adz-Dzahabi telah menulis dalam “Tarikhul Kabir”-nya untuk Syaikh biografi yang panjang, dan berkata di dalamnya: Dan beliau memiliki pengetahuan sempurna tentang rijal, dan jarh dan ta’dil mereka, dan thabaqat mereka, dan pengetahuan tentang cabang-cabang hadits, dan tentang yang tinggi dan rendah, dan yang shahih dan sakit, dengan hafalannya tentang matan-matannya, yang beliau sendiri tersendiri dengannya, maka tidak ada seorang pun di zaman ini yang mencapai derajatnya, dan tidak mendekatinya, dan beliau mengagumkan dalam menghadirkannya, dan mengeluarkan hujjah-hujjah darinya, dan kepadanya berakhir dalam mensandarkannya kepada kitab-kitab yang enam dan al-Musnad, hingga benar padanya dikatakan: setiap hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah maka bukan hadits.

Dan beliau berkata: Dan ketika beliau ditahan di Iskandariyah, pemilik Sabta meminta darinya agar memberikan ijazah untuk anak-anaknya, maka beliau menulis untuk mereka dalam itu sekitar enam ratus baris, di antaranya tujuh hadits dengan sanad-sanadnya, dan pembicaraan tentang keshahihannya dan makna-maknanya, dan penelitian dan amalan apa yang jika dilihat oleh muhaddits tunduk kepadanya dalam seni hadits. Dan menyebutkan sanad-sanadnya dalam beberapa kitab. Dan menunjukkan kepada yang tinggi. Beliau mengerjakan semua itu dari hafalannya, tanpa ada padanya tsabt atau orang yang dia rujuk kepadanya.

Dan sungguh beliau mengagumkan dalam pengetahuan ilmu hadits. Maka adapun hafalannya matan-matan ash-Shihah dan kebanyakan matan as-Sunan dan al-Musnad: maka aku tidak melihat orang yang mendekatinya dalam itu sama sekali.

Beliau berkata: Dan adapun tafsir maka diserahkan kepadanya. Dan baginya dari menghadirkan ayat-ayat dari Al-Quran – ketika mendirikan dalil dengannya pada masalah – kekuatan yang mengagumkan. Dan jika qari melihatnya bingung padanya. Dan karena sangat imamnya dalam tafsir, dan besarnya pengetahuannya, beliau menjelaskan kesalahan banyak dari perkataan-perkataan mufassirin, dan melemahkan perkataan-perkataan banyak, dan menolong satu perkataan, sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh Al-Quran dan hadits. Dan beliau menulis dalam sehari semalam dari tafsir, atau dari fiqih, atau dari dua ushul, atau dari bantahan terhadap para filosof dan orang-orang dahulu: sekitar empat kurras atau lebih.

Saya katakan: Sesungguhnya beliau telah menulis Al-Hamawiyyah dalam satu majlis duduk saja. Padahal kitab itu lebih panjang dari itu.

Dan beliau kadang-kadang menulis dalam sehari apa yang dapat dijilid menjadi satu jilid buku.

Beliau rahimahullah adalah orang yang unik di zamannya dalam memahami Al-Qur’an dan mengetahui hakikat-hakikat keimanan. Beliau memiliki kemampuan yang sangat tinggi dalam membahas tentang makrifat dan keadaan spiritual, serta membedakan antara yang sahih dan yang sakit, yang bengkok dan yang lurus dari hal-hal tersebut.

Ibnu Az-Zamlakani telah menulis dengan tulisan tangannya sendiri pada kitab Ibthalu at-Tahlil karya Syekh, berupa judul kitab dan nama Syekh, dan beliau memberikan biografi yang agung untuk Syekh, serta memuji beliau dengan pujian yang sangat besar.

Dan beliau juga menulis di bawah itu:

Apa yang dapat dikatakan para pendeskripsi tentang beliau … sifat-sifatnya terlalu agung untuk dihitung Dialah hujjah Allah yang mengalahkan … dialah di antara kita keajaiban zaman Dialah tanda yang nyata bagi makhluk … cahayanya melebihi fajar

Dan Syekh Atsir ad-Din Abu Hayyan al-Andalusi an-Nahwi—ketika Syekh masuk ke Mesir dan bertemu dengannya—dan dikatakan: bahwa Abu Hayyan tidak pernah mengucapkan syair-syair yang lebih baik dan lebih bagus daripada ini:

Ketika kami melihat Taqiyuddin muncul bagi kami … seorang da’i kepada Allah yang tunggal yang tidak ada bandingannya Di wajahnya dari tanda orang-orang yang menemani … sebaik-baik makhluk, cahaya yang bulan pun kalah darinya Seorang ulama yang zamannya berbalut ilmu darinya … lautan yang mutiara-mutiara berhamburan dari ombaknya Ibnu Taimiyah bangkit untuk menolong syariat kami … seperti bangkitnya pemimpin Bani Taim ketika kabilah Mudhar durhaka Maka dia menampakkan agama ketika jejak-jejaknya telah terhapus … dan memadamkan kejahatan ketika percikan apinya beterbangan Wahai yang berbicara tentang ilmu Kitab dengarkanlah … inilah imam yang telah ditunggu-tunggu

Adz-Dzahabi menceritakan dari Syekh: bahwa Syekh Taqiyuddin Ibnu Daqiq al-‘Ied berkata kepadanya—ketika bertemu dengannya dan mendengar perkataannya—: Aku tidak menyangka bahwa Allah masih menciptakan orang sepertimu.

Dan di antara yang ditemukan dalam sebuah kitab yang ditulis oleh al-‘Allamah Qadhi al-Qudhat Abu al-Hasan as-Subki kepada al-Hafizh Abu Abdillah adz-Dzahabi tentang urusan Syekh Taqiyuddin yang disebutkan: Adapun perkataan tuanku tentang Syekh, maka hamba benar-benar mengetahui kebesaran kedudukannya, melimpahnya ilmunya, keluasannya dalam ilmu-ilmu syar’i dan akal, kecerdasan dan ijtihadnya yang sangat tinggi, serta pencapaiannya dalam setiap hal tersebut pada tingkatan yang melampaui deskripsi. Dan hamba selalu mengatakan hal itu. Dan kedudukannya dalam diri hamba lebih besar dan lebih agung dari itu. Bersama dengan apa yang dikumpulkan Allah untuknya berupa kezuhudan, wara’, keberagamaan, pembelaan kebenaran, dan berdiri di dalamnya tidak untuk tujuan selain itu, dan berjalannya dia di atas jalan para Salaf, dan mengambil dari hal itu dengan pengambilan yang paling sempurna. Dan keanehan seperti dia di zaman ini, bahkan dari zaman-zaman sebelumnya.

Al-Hafizh Abu al-Hajjaj al-Mizzi sangat berlebihan dalam mengagungkan Syekh dan memujinya, hingga beliau berkata: Tidak terlihat seperti dia sejak empat ratus tahun.

Dan sampai kepadaku dari jalan yang sahih dari Ibnu az-Zamlakani: bahwa dia ditanya tentang Syekh maka dia berkata: Tidak terlihat sejak lima ratus tahun, atau empat ratus tahun—keraguan dari perawi. Dan dugaan kuatnya: bahwa dia berkata: sejak lima ratus tahun—yang lebih hafal darinya.

Demikian juga saudaranya Syekh Syarafuddin sangat berlebihan dalam mengagungkannya, demikian juga para syekh yang arif, seperti al-Qudwah Abu Abdillah Muhammad bin Qawam. Dan diriwayatkan dari beliau bahwa beliau berkata: Makrifat kami tidak masuk Islam kecuali melalui tangan Ibnu Taimiyah.

Dan Syekh ‘Imaduddin al-Wasithi sangat mengagungkannya, dan berguru kepadanya, meskipun dia lebih tua darinya. Dan beliau berkata: Sungguh dia telah mendekati maqam para imam besar, dan tegaknya dia dalam sebagian urusan seperti tegaknya para shiddiqin. Dan dia menulis surat kepada murid-murid khusus Syekh untuk mewasiatkan mereka agar mengagungkan dan menghormatinya, dan memberitahukan hak-haknya kepada mereka, dan menyebutkan di dalamnya: bahwa dia telah mengitari tokoh-tokoh negeri Islam, dan tidak melihat di dalamnya seperti Syekh dalam ilmu dan amal, keadaan dan akhlak serta ittiba’, kedermawanan dan kelembutan dalam urusan dirinya, dan berdirinya dia dalam hak Allah Ta’ala ketika kehormatan-Nya dilanggar. Dan beliau bersumpah atas hal itu dengan nama Allah tiga kali.

Kemudian beliau berkata: Orang yang paling benar keyakinannya, paling sahih ilmu dan tekadnya, paling tajam dan paling tinggi dalam membela kebenaran dan tegaknya, paling dermawan tangannya, dan paling sempurna mengikuti Nabi-nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami tidak melihat di zaman kami ini orang yang terpancar darinya kenabian Muhammad dan sunnah-sunnahnya dari perkataan dan perbuatannya kecuali orang ini, sehingga hati yang sehat bersaksi: bahwa inilah ittiba’ yang sejati.

Namun dia dan sekelompok murid-murid khususnya kadang-kadang mengingkari dari Syekh perkataannya terhadap sebagian imam-imam besar yang terkemuka, atau terhadap ahli khalwat dan uzlah dan semacam itu.

Dan Syekh rahimahullah tidak bermaksud dengan itu kecuali kebaikan, dan membela kebenaran insya Allah Ta’ala.

Dan kelompok-kelompok dari imam-imam ahli hadits, para hafizh dan para fuqaha mereka: adalah orang-orang yang mencintai Syekh dan mengagungkannya, namun mereka tidak menyukai dia untuk masuk terlalu dalam dengan ahli kalam dan para filosof, sebagaimana jalan para imam ahli hadits terdahulu, seperti asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Abu ‘Ubaid dan lainnya. Demikian juga banyak dari para ulama dari kalangan fuqaha, muhadditsun dan orang-orang salih membenci dia menyendiri dengan sebagian masalah-masalah langka yang diingkari oleh Salaf terhadap orang yang menyendiri dengannya, hingga sebagian qadhi yang adil dari sahabat-sahabat kami melarangnya dari berfatwa dengan sebagian dari hal itu.

Adz-Dzahabi berkata: Dan kebanyakan serangannya terhadap para orang-orang utama dan para zuhud adalah dengan benar, dan dalam sebagiannya dia adalah mujtahid, dan madzhab-nya adalah melapangkan uzur kepada makhluk, dan dia tidak mengkafirkan seorang pun kecuali setelah tegaknya hujjah atasnya.

Beliau berkata: Dan sungguh dia telah menolong Sunnah yang murni, dan jalan Salaf, dan berargumen untuknya dengan dalil-dalil dan muqaddimah-muqaddimah, dan hal-hal yang tidak didahului kepadanya, dan melontarkan ungkapan-ungkapan yang orang-orang terdahulu dan terkemudian mundur darinya dan takut, namun dia berani atasnya hingga bangkit atasnya banyak dari ulama Mesir dan Syam dengan bangkitan yang tidak ada lebih darinya, dan mereka membid’ahkannya dan berdebat dengannya dan membangkangnya, sementara dia teguh tidak berkompromi dan tidak berpihak, bahkan mengatakan kebenaran yang pahit yang dihasilkan ijtihadnya, dan ketajaman pikirannya, serta keluasan lingkarannya dalam sunnah-sunnah dan perkataan-perkataan, bersama dengan apa yang terkenal darinya berupa wara’, kesempurnaan pemikiran, kecepatan pemahaman, ketakwaan kepada Allah, dan pengagungan terhadap kehormatan-kehormatan Allah.

Maka terjadilah antara dia dan mereka peperangan-peperangan, dan kejadian-kejadian di Syam dan Mesir, dan berapa banyak kali mereka memanah dia dari satu busur, maka Allah menyelamatkannya, karena dia terus-menerus bermunajat, banyak meminta pertolongan dan meminta bantuan kepada-Nya, kuat tawakkalnya, teguh keberaniannya, memiliki wird-wird dan dzikir-dzikir yang dia lakukan terus-menerus dengan cara dan konsentrasi tertentu. Dan dia memiliki dari pihak lain para pencinta dari kalangan ulama dan orang-orang saleh, dan dari para tentara dan para amir, dan dari para pedagang dan orang-orang besar, dan seluruh rakyat umum mencintainya, karena dia berdiri untuk memberi manfaat kepada mereka siang dan malam, dengan lisannya dan penanya.

Adapun keberaniannya: maka dengannya dibuat perumpamaan, dan dengan sebagiannya para tokoh pahlawan meniru. Dan sungguh Allah Ta’ala menegakkannya pada kejadian Ghazan, dan dia memikul beban urusan itu dengan dirinya sendiri, dan berdiri dan duduk dan naik, masuk dan keluar, dan bertemu dengan raja—yaitu Ghazan—dua kali, dan dengan Quthluwsyah, dan dengan Bulay. Dan Qabchaq takjub dengan keberaniannya dan keberaniannya menghadapi Mongol.

Dan dia memiliki sifat keras yang kuat menimpanya dalam pembahasan, hingga seolah-olah dia adalah singa perang. Dan dia lebih besar dari orang seperti aku yang menerangkan sifat-sifatnya. Dan padanya ada sedikit diplomasi, dan kurangnya kehati-hatian pada umumnya, dan Allah mengampuninya. Dan dia memiliki keberanian dan ksatria, dan kekuatan jiwa yang memasukkannya ke dalam urusan-urusan yang sulit, maka Allah menangkis darinya. Dan dia memiliki puisi yang sedikit dan biasa-biasa saja. Dan dia tidak menikah, dan tidak bersuriah, dan tidak baginya dari gaji kecuali sesuatu yang sedikit. Dan saudaranya yang mengurus kepentingannya, dan dia tidak meminta dari mereka makan siang atau makan malam pada kebanyakan waktu.

Dan aku tidak melihat di dunia yang lebih mulia darinya, dan tidak lebih kosong darinya dari dinar dan dirham, tidak menyebutnya, dan aku tidak mengiranya berkeliling di pikirannya, dan padanya ada muru’ah, dan berdiri bersama sahabat-sahabatnya, dan berusaha dalam kepentingan-kepentingan mereka. Dan dia adalah fakir tidak memiliki harta. Dan pakaiannya seperti rata-rata fuqaha: farajiyyah, dalaq, dan sorban yang nilainya tiga puluh dirham, dan sepatu yang murah harganya. Dan rambutnya dipotong.

Dan dia sedang tingginya, lebar jarak antara dua bahunya, seolah-olah kedua matanya adalah dua lisan yang berbicara, dan dia shalat dengan manusia dengan shalat yang tidak lebih panjang dari ruku’ dan sujudnya. Dan kadang-kadang dia berdiri untuk orang yang datang dari bepergian atau yang tidak hadir darinya, dan ketika datang kadang-kadang mereka berdiri untuknya, semuanya sama saja padanya, seolah-olah dia kosong dari formalitas-formalitas ini dan tidak pernah membungkuk kepada seorang pun, melainkan hanya memberi salam dan bersalaman dan tersenyum. Dan kadang-kadang dia mengagungkan teman duduknya satu kali, dan menghinakannya dalam dialog berkali-kali.

Saya katakan: Dan Syekh pernah bepergian suatu kali dengan pos cepat ke negeri Mesir untuk mengerahkan Sultan ketika datangnya Tatar pada suatu tahun, dan membacakan kepada mereka ayat-ayat jihad, dan berkata: Jika kalian meninggalkan Syam dan menolong penduduknya serta membelanya, maka sesungguhnya Allah Ta’ala akan menegakkan bagi mereka orang yang menolong mereka selain kalian, dan akan mengganti kalian dengan selain kalian. Dan beliau membacakan firman Allah Ta’ala: “Dan jika kalian berpaling niscaya Dia akan mengganti (kalian) dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan seperti kalian” (Muhammad: 38), dan firman Allah Ta’ala: “Jika kalian tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah akan menyiksa kalian dengan siksa yang pedih dan mengganti kalian dengan kaum yang lain dan kalian tidak akan dapat memberi mudarat kepada-Nya sedikitpun” (at-Taubah: 39). Dan sampailah hal itu kepada Syekh Taqiyuddin Ibnu Daqiq al-‘Ied—dan dia adalah qadhi saat itu—maka dia menilai baik hal itu, dan dia mengagumi istinbath ini, dan takjub dari penghadapan Syekh kepada Sultan dengan ucapan seperti ini.

Adapun cobaan-cobaan Syekh: maka banyak, dan penjelasannya sangat panjang.

Dan dia pernah ditahan suatu kali oleh sebagian wakil Sultan di Syam sebentar, karena pembelaannya terhadap seorang Nasrani yang mencela Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ditahan bersamanya Syekh Zainuddin al-Faruqi, kemudian keduanya dibebaskan dengan terhormat.

Dan ketika beliau mengarang masalah al-Hamawiyyah tentang sifat-sifat: sekelompok orang mencela dengannya, dan diumumkan tentangnya di pasar-pasar dengan tongkat, dan bahwa dia tidak boleh dimintai fatwa, dari pihak sebagian qadhi Hanafiyyah. Kemudian sebagian penguasa membela Syekh, dan tidak ada wakil di negeri saat itu, dan penyeru dipukul dan sebagian dari yang bersamanya, dan urusannya mereda.

Kemudian dia diuji tahun tujuh ratus lima dengan pertanyaan tentang keyakinannya atas perintah Sultan, maka wakilnya mengumpulkan para qadhi dan ulama di istana, dan menghadirkan Syekh dan menanyakan tentang hal itu; maka Syekh mengirim orang yang menghadirkan dari rumahnya al-‘Aqidah al-Wasithiyyah lalu mereka membacanya dalam tiga majlis, dan meneliti dengannya, dan membahas dengannya, dan terjadilah kesepakatan setelah itu bahwa ini adalah akidah Sunni Salafi, maka di antara mereka ada yang mengatakan hal itu dengan sukarela, dan di antara mereka ada yang mengatakannya dengan terpaksa.

Dan setelah itu datang surat dari Sultan yang isinya: Sesungguhnya kami bermaksud membebaskan Syekh, dan telah jelas bagi kami bahwa dia di atas akidah Salaf.

Kemudian orang-orang Mesir merencanakan tipu daya dalam urusan Syekh, dan mereka melihat bahwa tidak mungkin berdebat dengannya, tetapi dibuatkan untuknya majlis, dan digugat, dan ditegakkan atasnya persaksian-persaksian. Dan yang bangkit dalam hal itu dari mereka adalah: Baibars al-Jasyankir, yang menjadi sultan setelah itu, dan Nashr al-Munbiji, dan Ibnu Makhluf qadhi Malikiyyah, maka Syekh dipanggil dengan pos cepat ke Kairo, dan dibuatkan untuknya pada hari kedua kedatangannya—yaitu dua puluh Ramadhan tahun tujuh ratus lima—majlis di benteng, dan digugat kepadanya di hadapan Ibnu Makhluf qadhi Malikiyyah, bahwa dia mengatakan: Sesungguhnya Allah berbicara dengan Al-Qur’an dengan huruf dan suara, dan bahwa Dia di atas Arsy dengan Dzat-Nya, dan bahwa ditunjuk kepada-Nya dengan isyarat indrawi.

Penggugat berkata: “Saya meminta dia dihukum dengan takzir yang berat – yang mengisyaratkan hukuman mati menurut mazhab Malik.” Maka Qadhi berkata: “Apa katamu wahai Faqih?” Maka dia memuji Allah dan menyanjung-Nya. Lalu dikatakan kepadanya: “Cepatlah, kamu tidak datang untuk berkhutbah.” Maka dia berkata: “Apakah aku dilarang memuji Allah Taala?” Qadhi berkata: “Jawablah, kamu sudah memuji Allah Taala.” Maka Syekh diam. Dia berkata: “Jawablah!” Maka Syekh berkata kepadanya: “Siapa yang menjadi hakim untukku?” Mereka menunjuk: Qadhi adalah hakimnya. Maka Syekh berkata kepada Ibnu Makhluf: “Engkau adalah lawanku, bagaimana engkau menghakimiku?” Dan dia marah. Maksudnya: aku dan engkau sedang berselisih dalam masalah-masalah ini, maka bagaimana salah satu pihak yang berselisih menghakimi pihak lainnya. Maka Syekh dikeluarkan bersama kedua saudaranya, kemudian Syekh dikembalikan, dan dia berkata: “Aku rela engkau menghakimiku.” Namun dia tidak diizinkan duduk. Dikatakan bahwa saudaranya Syekh Syarifuddin berdoa dengan bersungguh-sungguh, memohon kepada Allah agar mengazab mereka saat mereka keluar. Namun Syekh melarangnya dan berkata kepadanya: “Sebaliknya, katakanlah: Ya Allah, berikanlah kepada mereka cahaya yang membimbing mereka kepada kebenaran.”

Kemudian mereka dipenjara di menara beberapa hari, dan dipindahkan ke penjara bawah tanah pada malam Hari Raya Idul Fitri. Kemudian dikirimkan surat Sultan ke Syam yang berisi celaan terhadap Syekh, dan mewajibkan orang-orang – khususnya pengikut mazhabnya – untuk meninggalkan akidahnya, dengan ancaman pemecatan dan penjara. Hal itu diumumkan di masjid dan pasar-pasar. Kemudian surat itu dibacakan di teras masjid setelah Jumat, dan terjadi banyak gangguan terhadap para Hanbali di Kairo. Sebagian dari mereka dipenjara, dan sebagian lainnya diambil tulisan tangannya sebagai tanda kembali dari akidah tersebut. Qadhi mereka, Al-Harrani, adalah orang yang sedikit ilmunya.

Kemudian pada akhir bulan Ramadhan tahun 706 H: Salar – wakil Sultan di Mesir – menghadirkan para qadhi dan fuqaha, dan berbicara tentang pembebasan Syekh. Mereka sepakat bahwa harus disyaratkan beberapa hal kepadanya, dan dia harus berkomitmen untuk meninggalkan sebagian akidahnya. Maka mereka mengutus orang untuk menghadirkannya agar berbicara dengannya tentang hal itu. Namun dia tidak bersedia hadir. Utusan berulang kali datang kepadanya enam kali, namun dia tetap bersikeras tidak hadir. Majelis mereka pun berlangsung lama, maka mereka bubar tanpa hasil.

Kemudian pada akhir tahun ini sampailah surat dari Syekh kepada wakil kesultanan di Damaskus. Dia memberitahukan hal itu kepada sekelompok orang yang hadir di majelisnya, dan memuji Syekh. Dia berkata: “Aku tidak pernah melihat orang sepertinya, dan tidak ada yang lebih berani darinya.” Dia menyebutkan keadaan Syekh di penjara dalam tawajjuh kepada Allah Taala, dan bahwa dia tidak menerima sedikitpun pakaian atau gaji dari Sultan, dan tidak mengotori dirinya dengan hal-hal seperti itu.

Kemudian pada bulan Rabiul Awal tahun 707 H, Muhanna bin Isa, amir Arab, masuk ke Mesir, dan datang sendiri ke penjara serta mengeluarkan Syekh darinya setelah meminta izin untuk itu. Diselenggarakan beberapa majelis untuk Syekh yang dihadiri oleh para fuqaha besar, dan semuanya berakhir dengan baik.

Adz-Dzahabi, Al-Birzali dan yang lainnya menyebutkan: bahwa Syekh menulis untuk mereka dengan tulisan tangannya pernyataan ringkas dan kata-kata yang di dalamnya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, ketika dia takut dan diancam akan dibunuh. Kemudian dia dibebaskan dan menolak untuk pergi ke Damaskus. Dia tinggal di Kairo mengajarkan ilmu, berbicara di masjid-masjid dan majelis-majelis umum, dan banyak orang berkumpul padanya.

Kemudian pada bulan Syawal tahun tersebut: berkumpul sejumlah besar kaum Sufi, dan mereka mengadukan Syekh kepada hakim Syafii. Diselenggarakan majelis untuknya terkait ucapannya tentang Ibnu Arabi dan lainnya. Ibnu Atha menggugat dia dengan beberapa hal, namun tidak ada yang terbukti. Akan tetapi dia mengakui bahwa dia berkata: Tidak boleh meminta pertolongan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan pengertian ibadah, tetapi boleh bertawassul dengannya. Sebagian yang hadir berkata: Tidak ada masalah dalam hal ini.

Hakim Ibnu Jamaah berpendapat: bahwa ini adalah ketidaksopanan, dan dia menegurnya tentang hal itu. Lalu datang surat kepada Qadhi: agar dia bertindak sesuai dengan yang dituntut oleh syariat dalam hal itu. Qadhi berkata: “Aku telah mengatakan kepadanya apa yang seharusnya dikatakan kepada orang sepertinya.”

Kemudian pihak penguasa memberinya pilihan antara beberapa hal, yaitu tinggal di Damaskus, atau di Iskandariyah, dengan syarat-syarat tertentu, atau penjara. Maka dia memilih penjara. Para sahabatnya mendatanginya dan menyarankan agar dia pergi ke Damaskus dengan berkomitmen pada syarat yang ditetapkan kepadanya. Dia menyetujui mereka. Lalu mereka menaikkannya pada kuda pos, kemudian keesokan harinya dia dikembalikan. Dia hadir di hadapan Qadhi dengan dihadiri sekelompok fuqaha. Sebagian dari mereka berkata kepadanya: “Penguasa tidak rela kecuali dengan penjara.” Qadhi berkata: “Dan di dalamnya ada kemaslahatan untuknya.” Lalu dia menunjuk At-Tunisi Al-Maliki sebagai wakilnya dan mengizinkannya untuk menghukumnya dengan penjara. Namun dia menolak dan berkata: “Tidak ada yang terbukti atas dirinya.” Lalu dia mengizinkan Nuruddin Az-Zawawi Al-Maliki, namun dia bingung. Maka Syekh berkata: “Aku akan pergi ke penjara dan mengikuti apa yang dituntut oleh kemaslahatan.” Az-Zawawi yang disebutkan tadi berkata: “Hendaknya di tempat yang layak untuk orang sepertinya.” Dikatakan kepadanya: “Penguasa tidak rela kecuali dengan nama penjara.” Maka dia dikirim ke penjara Qadhi dan duduk di tempat yang pernah diduduki Qadhi Taqiyuddin Ibnu Bintu Al-Azz ketika dia dipenjara, dan diizinkan ada orang yang melayaninya. Semua itu atas petunjuk Nashr Al-Minbaji.

Syekh tetap di penjara memberikan fatwa dan orang-orang datang kepadanya, mengunjunginya, dan fatwa-fatwa yang rumit datang kepadanya dari para amir dan orang-orang terkemuka.

Para sahabatnya awalnya masuk kepadanya secara sembunyi-sembunyi, kemudian mereka mulai terang-terangan masuk menemuinya. Lalu mereka mengeluarkannya pada masa kesultanan Asy-Syasyankir yang bergelar Al-Muzhaffar, ke Iskandariyah dengan pos cepat, dan dia dipenjara di sana dalam menara yang bagus, terang, dan luas. Siapa yang dia kehendaki boleh masuk kepadanya, dan dia melarang siapa yang dia kehendaki, dan dia boleh keluar ke pemandian kapan saja dia mau. Dia dikeluarkan sendirian, dan musuh-musuhnya berkali-kali menyebarkan kabar burung tentang pembunuhannya dan penyebarannya. Hal itu membuat sedih para pencintanya di Syam dan tempat-tempat lain, dan banyak doa untuk dirinya. Dia tinggal di Iskandariyah selama masa kesultanan Al-Muzhaffar.

Ketika Al-Malik An-Nashir kembali ke kesultanan dan berkuasa penuh, menghancurkan Al-Muzhaffar, dan membawa gurunya Nashr Al-Minbaji, serta kemarahan Sultan terhadap para qadhi karena keterlibatan mereka dengan Al-Muzhaffar, dan memecat sebagian dari mereka: dia segera menghadirkan Syekh ke Kairo dengan penghormatan pada bulan Syawal tahun 709 H. Sultan menghormatinya dengan sangat, berdiri untuknya, dan menemuinya dalam majelis yang dihadiri oleh para qadhi Mesir dan Syam, para fuqaha, dan orang-orang terkemuka negara. Dan dia menambah penghormatan kepadanya melebihi mereka, terus berbicara dengannya dan meminta nasehatnya sebentar, dan memujinya di hadapan mereka dengan pujian yang banyak, serta mendamaikan antara dia dan mereka. Dikatakan: bahwa dia meminta nasehatnya tentang urusan mereka terhadapnya dalam masalah para qadhi, namun dia mengalihkannya dari hal itu, dan memuji mereka. Ibnu Makhluf berkata: “Kami tidak pernah melihat orang yang lebih bijak dari Ibnu Taimiyyah, kami berusaha membunuhnya. Namun ketika dia berkuasa atas kami, dia memaafkan kami.”

Dia bertemu dengan Sultan untuk kedua kalinya beberapa bulan kemudian. Syekh tinggal di Kairo, dan orang-orang datang kepadanya, para amir dan tentara, serta sekelompok fuqaha. Di antara mereka ada yang meminta maaf kepadanya dan melepaskan diri dari apa yang terjadi.

Adz-Dzahabi berkata: Pada bulan Syaban tahun 711 H: sampailah kabar bahwa Faqih Al-Bakri – salah satu orang yang membenci Syekh – menyendiri dengan Syekh di Mesir, menyerangnya, menarik lehernya, dan berkata: “Ikut denganku ke pengadilan, aku punya tuntutan terhadapmu.” Ketika orang-orang banyak berkumpul, dia melarikan diri. Lalu dia dicari oleh pihak penguasa, namun dia melarikan diri dan bersembunyi. Yang lain menyebutkan: bahwa karena hal itu terjadi fitnah, dan sekelompok orang ingin membalas dendam dari Al-Bakri namun Syekh tidak mengizinkan mereka melakukan hal itu.

Terjadi setelah beberapa waktu: bahwa Sultan bermaksud membunuh Al-Bakri, kemudian memerintahkan untuk memotong lidahnya karena banyaknya kelebihan dan keberaniannya. Kemudian ada yang memberi syafaat untuknya, maka dia diasingkan ke Sha’id, dan dilarang memberi fatwa dengan berbicara dalam ilmu. Syekh dalam masa ini mengajarkan ilmu dan duduk untuk orang-orang dalam majelis-majelis umum.

Dia datang ke Syam bersama saudara-saudaranya pada tahun 712 H dengan niat jihad, ketika Sultan datang untuk mengusir Tatar dari Syam. Maka dia keluar bersama pasukan, dan meninggalkan mereka dari Asqalan, serta berziarah ke Baitul Maqdis.

Kemudian dia masuk Damaskus setelah absen darinya lebih dari tujuh tahun, bersamanya kedua saudaranya dan sekelompok sahabatnya. Banyak orang keluar untuk menyambutnya, dan orang-orang senang dengan kedatangannya. Dia melanjutkan apa yang dia lakukan sebelumnya, yaitu mengajarkan ilmu, mengajar di madrasah As-Sukkariyyah, Al-Hanbaliyyah, memberi fatwa kepada orang-orang dan memberi manfaat kepada mereka.

Kemudian pada tahun 718 H: datang surat dari Sultan yang melarangnya memberi fatwa dalam masalah sumpah dengan talak dengan cara takfir. Diselenggarakan majelis untuknya di Darus Sa’adah, dan dia dilarang dari hal itu, serta diumumkan di negeri.

Kemudian pada tahun 719 H diselenggarakan majelis untuknya juga seperti majelis pertama, dan dibacakan surat Sultan yang melarangnya dari hal itu. Dia ditegur karena fatwanya setelah larangan tersebut, dan majelis diakhiri dengan penguatan larangan.

Kemudian setelah beberapa waktu diselenggarakan majelis ketiga untuknya karena hal itu, dia ditegur dan dipenjara di benteng. Kemudian dia dipenjara lagi karena hal itu untuk kedua kalinya. Dia dilarang memberi fatwa secara mutlak karena masalah ini, maka dia tinggal beberapa waktu memberi fatwa dengan lisannya, dan berkata: “Aku tidak bisa menyembunyikan ilmu.”

Pada akhirnya: mereka menjebaknya dalam masalah larangan bepergian ke kubur para nabi dan orang-orang saleh, dan mereka menuduhnya menghina para nabi, dan itu adalah kekufuran. Sekelompok ahli hawa nafsu memberi fatwa tentang hal itu, dan mereka berjumlah delapan belas orang, pemimpin mereka adalah Qadhi Al-Ikhna’i Al-Maliki. Para qadhi Mesir yang empat memberi fatwa untuk memenjarakannya, maka dia dipenjara di benteng Damaskus selama dua tahun lebih. Dan di sana dia meninggal rahimahullah taala.

Dia rahimahullah telah menjelaskan: bahwa apa yang dihukumkan atas dirinya adalah batil dengan ijmak kaum Muslimin dari banyak sekali segi. Sekelompok orang memberi fatwa bahwa dia salah dengan kesalahan mujtahid yang diampuni. Sekelompok ulama Baghdad dan yang lainnya menyetujuinya. Demikian juga kedua putra Abu Al-Walid, syekh mazhab Maliki di Damaskus, memberi fatwa: bahwa tidak ada alasan untuk keberatan atas apa yang dia katakan sama sekali, dan bahwa dia telah menyebutkan perbedaan pendapat ulama dalam masalah tersebut, dan menguatkan salah satu dari dua pendapat di dalamnya.

Dia tinggal beberapa waktu di benteng menulis ilmu dan mengarangnya, mengirim surat-surat kepada sahabat-sahabatnya, dan menyebutkan apa yang Allah bukakan kepadanya kali ini dari ilmu-ilmu yang agung dan keadaan-keadaan yang besar.

Dia berkata: “Allah telah membukakan kepadaku dalam benteng ini pada kali ini makna-makna Al-Quran dan dasar-dasar ilmu dengan hal-hal yang banyak ulama mengharapkannya. Dan aku menyesal telah menyia-nyiakan sebagian besar waktuku tidak untuk memahami makna Al-Quran.” Kemudian dia dilarang menulis, dan tidak ditinggalkan untuknya tinta maupun pena maupun kertas. Maka dia fokus pada tilawah, tahajjud, munajat, dan dzikir.

Syaikh kami Abu Abdullah Ibnu Al-Qayyim berkata: Aku mendengar syaikh kami Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah quddisa Allahu ruuhahuwa nawwara dlariihahuberkata: Sesungguhnya di dunia ada surga, barangsiapa tidak memasukinya maka dia tidak akan masuk surga akhirat. Dia berkata: Dan dia berkata kepadaku suatu ketika: Apa yang musuh-musuhku perbuat terhadapku? Surgaku dan tamanku ada di dadaku, ke mana pun aku pergi dia bersamaku, tidak akan meninggalkanku. Penjaraku adalah khalwat, pembunuhanku adalah syahid, dan pengusiranku dari negeriku adalah siyahah (perjalanan).

Ketika dia berada dalam penjara di benteng dia berkata: Seandainya aku memberikan isi benteng ini penuh dengan emas, tidak akan setara bagiku sebagai syukur atas nikmat ini – atau dia berkata: itu tidak akan membayar jasa mereka atas apa yang mereka sebabkan bagiku berupa kebaikan – dan semacam itu.

Dia berkata dalam sujudnya, sementara dia sedang dipenjara: “Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah yang baik kepada-Mu,” sebanyak yang Allah kehendaki.

Dia berkata suatu kali: Orang yang terpenjara adalah orang yang hatinya terpenjara dari Tuhannya, dan orang yang tertawan adalah orang yang hawa nafsunya menawannya. Ketika dia masuk ke benteng dan berada di dalam temboknya, dia memandangnya dan berkata: “dengan tembok yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari arah depan ada azab. Mereka menyeru mereka.” (Al-Hadid: 13).

Syaikh kami berkata: Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih nyaman hidupnya darinya sama sekali, dengan apa yang ada padanya berupa penjara, ancaman, dan kabar burung. Namun dengan semua itu dia adalah orang yang paling nyaman hidupnya, paling lapang dadanya, paling kuat hatinya, dan paling gembira jiwanya. Sinarnya kenikmatan terpancar di wajahnya. Ketika ketakutan kami sangat berat dan prasangka buruk kami bertambah, serta bumi terasa sempit bagi kami: kami datang kepadanya. Tidak lain hanya dengan melihatnya dan mendengar ucapannya, semua itu hilang dari kami, dan berubah menjadi kelapangan, kekuatan, keyakinan, dan ketenteraman. Maha Suci Allah yang menyaksikan hamba-hamba-Nya surganya sebelum bertemu dengan-Nya! Dan membukakan bagi mereka pintu-pintunya di dunia amal! Maka datang kepada mereka dari roh, angin, dan harum-harumnya yang membuat seluruh kekuatan mereka tersedot untuk mencarinya dan berlomba-lomba menuju kepadanya.

Adapun karya-karyanya rahimahullah: maka lebih terkenal untuk disebutkan, dan lebih dikenal untuk diingkari. Berjalan seperti matahari di berbagai negeri, dan memenuhi negara dan kota. Telah melampaui batas banyaknya, sehingga tidak mungkin bagi siapa pun menghitungnya, dan tempat ini tidak cukup untuk menghitung yang dikenal darinya, maupun menyebutkannya.

Mari kita sebutkan sebagian dari nama-nama karya besar: kitab Al-Iiman satu jilid, kitab Al-Istiqaamah dua jilid, Jawaabul Itiraadhaatil Mishriyyah alal Fatwal Hamawiyyah empat jilid, kitab Talbiisul Jahmiyyah fii Ta’siisi Bida’ihimul Kalaamiyyah dalam enam jilid besar, kitab Al-Mihnatul Mishriyyah dua jilid, Al-Masaa’ilul Iskandaraaniyyah satu jilid, Al-Fataawaa Al-Mishriyyah tujuh jilid.

Dan semua karya-karya ini selain kitab “Al-Iman” ditulisnya ketika berada di Mesir dalam kurun waktu tujuh tahun, yang dikarangnya di dalam penjara. Dan ia menulis bersamanya lebih dari seratus bundel kertas juga, yaitu kitab “Dar’u Ta’arudh al-‘Aql wa an-Naql” empat jilid besar. Dan jawaban atas apa yang dikemukakan oleh Syekh Kamaluddin Ibnu asy-Syarisyi terhadap kitab ini, sekitar satu jilid. Kitab “Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah fi Naqd Kalam asy-Syi’ah wa al-Qadariyyah” empat jilid. “Al-Jawab ash-Shahih liman Baddala Din al-Masih” dua jilid. “Syarh Awwal al-Muhasshal li ar-Razi” satu jilid. “Syarh Bidh’ata ‘Asyrata Mas’alatan min al-Arba’in li ar-Razi” dua jilid. “Ar-Radd ‘ala al-Manthiq” satu jilid besar. “Ar-Radd ‘ala al-Bakri fi Mas’alah al-Istighasah” satu jilid. “Ar-Radd ‘ala Ahl Kisrawan ar-Rawafidh” dua jilid. “Ash-Shafdiyyah”. “Jawab man Qala: Inna Mu’jizat al-Anbiya’ Quwa Nafsaniyyah” satu jilid. “Al-Hilawuniyyah” satu jilid. “Syarh ‘Aqidah al-Ashbahani” satu jilid. “Syarh al-‘Umdah” karya Syekh Muwaffaquddin. Ia menulis darinya sekitar empat jilid. “Ta’liquh ‘ala al-Muharrar” dalam fikih untuk kakeknya beberapa jilid. “Ash-Sharim al-Maslul ‘ala Syatim ar-Rasul” satu jilid. “Bayan ad-Dalil ‘ala Butlan at-Tahlil” satu jilid. “Iqtidha ash-Shirath al-Mustaqim fi Mukhalafah Ash-hab al-Jahim” satu jilid. “At-Tahrir fi Mas’alah Hufair” satu jilid. Dalam masalah pembagian, ditulisnya sebagai bantahan terhadap al-Khuwayyi dalam suatu peristiwa yang ia putuskan di dalamnya. “Ar-Radd al-Kabir ‘ala man I’taradha ‘alayhi fi Mas’alah al-Hilf bi ath-Thalaq” tiga jilid. Kitab “Tahqiq al-Furqan bayna at-Tathliq wa al-Ayman” satu jilid besar. “Ar-Radd ‘ala al-Ikhna’i fi Mas’alah az-Ziyarah” satu jilid.

Adapun kaidah-kaidah yang menengah dan kecil serta jawaban-jawaban fatwa: maka tidak mungkin dapat menghitungnya, karena banyaknya, penyebarannya, dan penyebarannya ke berbagai tempat. Di antara yang paling terkenal adalah “Al-Furqan bayna Awliya’ ar-Rahman wa Awliya’ asy-Syaithan” satu jilid kecil. “Al-Furqan bayna al-Haqq wa al-Bathal” satu jilid kecil. “Al-Furqan bayna ath-Thalaq wa al-Ayman” satu jilid kecil. “As-Siyasah asy-Syar’iyyah fi Ishlah ar-Ra’i wa ar-Ra’iyyah” satu jilid kecil. “Raf’u al-Malam ‘an al-A’immah al-A’lam” satu jilid kecil.

Penyebutan Beberapa Pendapat Khusus dan Keunikannya

Ia memilih hilangnya hadats dengan air-air yang diperas, seperti air mawar dan sejenisnya, dan memilih bolehnya mengusap sandal, kedua kaki, dan setiap yang memerlukan dalam melepasnya dari kaki dengan usaha menggunakan tangan atau kaki yang lain, maka menurutnya boleh mengusapnya bersama kedua kaki.

Dan ia memilih bahwa mengusap khuf tidak dibatasi waktunya ketika ada kebutuhan, seperti musafir dengan kuda pos dan sejenisnya, dan ia melakukan hal itu dalam perjalanannya ke negeri Mesir dengan kuda pos dan dibatasi waktunya ketika memungkinkan untuk melepas dan mudah.

Dan ia memilih bolehnya mengusap perban dan sejenisnya.

Dan ia memilih bolehnya tayammum karena khawatir kehabisan waktu bagi yang tidak uzur, seperti orang yang mengakhirkan shalat dengan sengaja hingga waktunya sempit.

Demikian juga orang yang khawatir kehabisan waktu Jumat dan dua Ied padahal ia berhadats. Adapun orang yang bangun atau ingat di akhir waktu shalat: maka ia bersuci dengan air dan shalat, karena waktu masih lapang baginya.

Dan ia memilih bahwa jika seorang wanita tidak dapat mandi di rumah, atau sulit baginya turun ke pemandian dan berulang-ulang: bahwa ia bertayammum dan shalat.

Dan ia memilih bahwa tidak ada batas minimal haid dan tidak ada maksimalnya, dan tidak ada batas minimal kesucian antara dua haid, dan tidak ada batas usia putus haid. Dan bahwa hal itu kembali kepada apa yang diketahui setiap wanita dari dirinya sendiri, dan ia memilih bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja: tidak wajib baginya qadha, dan tidak disyariatkan baginya, tetapi hendaknya ia memperbanyak shalat sunnah, dan bahwa qashar boleh dalam perjalanan pendek maupun panjang, dan bahwa sujud tilawah tidak disyaratkan untuknya bersuci.

Penyebutan Wafatnya

Syekh tinggal di benteng sejak Sya’ban tahun dua puluh enam sampai Dzulqa’dah tahun dua puluh delapan, kemudian ia sakit dua puluh beberapa hari, dan kebanyakan orang tidak mengetahui sakitnya, dan mereka tidak dikejutkan kecuali oleh kematiannya.

Dan wafatnya adalah pada waktu sahur malam Senin tanggal dua puluh Dzulqa’dah, tahun dua puluh delapan dan tujuh ratus.

Dan muadzin benteng menyebutnya di atas menara masjid, dan penjaga berbicara dengannya di menara-menara, maka orang-orang mendengar hal itu, dan sebagian mereka diberitahu dalam tidurnya, dan orang-orang berada di pagi hari, dan berkumpul di sekitar benteng hingga penduduk Ghuthah dan Marj, dan penduduk pasar tidak memasak sesuatu pun, dan mereka tidak membuka banyak toko yang biasanya dibuka awal siang. Dan pintu benteng dibuka. Dan wakil sultan sedang tidak ada di negeri, maka shahibuddin datang kepada wakil benteng, lalu ia menta’ziyahkannya dan duduk di sisinya, dan berkumpul di sisi Syekh di benteng banyak orang dari sahabat-sahabatnya, menangis dan memuji, dan saudara laki-lakinya Zainuddin Abdurrahman mengabarkan kepada mereka: bahwa ia dan Syekh telah mengkhatamkan sejak mereka masuk benteng delapan puluh kali khatam, dan memulai khatam yang kedelapan puluh satu, maka mereka sampai pada firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam taman-taman dan sungai-sungai. Di tempat kedudukan yang benar di sisi Raja Yang Mahakuasa” (Surat al-Qamar: 54-55).

Maka mulailah ketika itu dua Syekh saleh: Abdullah bin al-Muhibb ash-Shalihi, dan az-Zar’i yang buta – dan Syekh menyukai bacaan mereka – lalu mereka memulai dari Surat ar-Rahman hingga mengkhatamkan Al-Qur’an. Dan kaum laki-laki keluar, dan kaum wanita masuk dari kerabat-kerabat Syekh, lalu mereka menyaksikannya kemudian keluar, dan mereka membatasi pada orang yang memandikannya, dan membantu memandikannya, dan mereka adalah sekelompok dari pembesar-pembesar orang saleh dan ahli ilmu, seperti al-Mizzi dan lainnya, dan belum selesai dari memandikannya hingga benteng penuh dengan kaum laki-laki dan sekitarnya sampai ke masjid, lalu dishalatkan untuknya di halaman benteng: zahid dan teladan Muhammad bin Tamam. Dan orang-orang berteriak ketika itu dengan tangisan dan pujian, dan dengan doa dan rahmat.

Dan Syekh dikeluarkan ke Masjid Damaskus pada jam keempat atau sekitarnya. Dan sungguh telah penuh Masjid dan halamannya, dan al-Kalasah, dan Bab al-Barid, dan Bab as-Sa’at sampai al-Labadin dan al-Fawwarah. Dan perkumpulan itu lebih besar dari perkumpulan Jumat, dan Syekh diletakkan di tempat jenazah, yang berdekatan dengan maqsurah, dan tentara menjaga jenazah dari desakan, dan orang-orang duduk tidak bershaf, tetapi berdempetan, tidak ada seorang pun yang mampu duduk dan sujud kecuali dengan susah payah. Dan orang-orang sangat banyak yang tidak dapat digambarkan.

Maka ketika muadzin mengumandangkan azan Dzuhur, didirikan shalat di as-Suddah, berbeda dengan kebiasaan, dan mereka shalat Dzuhur, kemudian mereka shalat untuk Syekh. Dan imamnya adalah wakil khatib Alauddin Ibnu al-Kharrath karena tidak adanya al-Qazwini di negeri Mesir, kemudian mereka berjalan dengannya, dan orang-orang dalam tangisan dan doa dan pujian, dan tahlil dan kesedihan, dan kaum wanita di atas atap-atap dari sana sampai ke makam berdoa dan menangis juga. Dan itu adalah hari yang disaksikan, tidak pernah ada di Damaskus sepertinya, dan tidak ada yang tidak hadir dari penduduk negeri dan sekitarnya kecuali sedikit dari orang-orang lemah dan wanita-wanita yang berpurdah, dan berteriak seorang yang berteriak: Beginilah jenazah para imam ahli sunnah. Maka orang-orang menangis tangisan yang banyak ketika itu.

Dan dikeluarkan dari Bab al-Barid, dan desakan semakin keras, dan orang-orang melemparkan saputangan mereka dan sorban mereka ke usungannya, dan usungan itu berada di atas kepala-kepala, maju terkadang, dan mundur terkadang. Dan orang-orang keluar dari semua pintu Masjid dan semuanya penuh sesak. Kemudian dari semua pintu kota, tetapi yang paling banyak adalah dari Bab al-Faraj, dan darinya jenazah keluar, dan Bab al-Faradis, dan Bab an-Nashr, dan Bab al-Jabiyah, dan besar perkaranya di Suq al-Khail.

Dan saudaranya Zainuddin Abdurrahman yang maju dalam shalat untuknya di sana.

Dan ia dikubur pada waktu Ashar atau sedikit sebelumnya di samping saudaranya Syarafuddin Abdullah di makam-makam kaum Sufi, dan kaum laki-laki diperkirakan enam puluh ribu dan lebih, sampai dua ratus ribu, dan kaum wanita lima belas ribu, dan dengan itu tampak perkataan Imam Ahmad: “Antara kami dengan ahli bid’ah adalah hari jenazah”.

Dan dikhatamkan untuknya khatam-khatam yang banyak di ash-Shalihiyyah dan kota, dan orang-orang berdatangan untuk mengunjungi kuburnya berhari-hari yang banyak, malam dan siang, dan dilihat untuknya mimpi-mimpi yang banyak yang saleh. Dan meratapkannya banyak orang dari ulama dan penyair dengan qasidah-qasidah yang banyak dari negeri-negeri yang bermacam-macam, dan penjuru-penjuru yang berjauhan, dan kaum muslimin menyesalkan kehilangannya. Semoga Allah meridhainya dan merahmatinya, dan mengampuninya.

Dan dishalatkan untuknya shalat ghaib di kebanyakan negeri-negeri Islam yang dekat maupun jauh, bahkan di Yaman dan Cina. Dan orang-orang musafir mengabarkan: bahwa diteriakkan di ujung Cina untuk shalat untuknya hari Jumat “Shalat untuk penerjemah Al-Qur’an”.

Dan sungguh telah mengkhususkan untuknya al-Hafizh Abu Abdillah bin Abdul Hadi biografi dalam satu jilid, dan demikian juga Abu Hafsh Umar bin Ali al-Bazzar al-Baghdadi dalam beberapa kuras. Dan sesungguhnya kami menyebutnya di sini dengan cara ringkas yang pantas dengan biografi-biografi kitab ini.

Dan sungguh Syekh telah meriwayatkan hadits banyak. Dan mendengar darinya banyak orang dari para hafizh dan para imam dari hadits dan dari karya-karyanya, dan Ibnu al-Wani mengeluarkan untuknya empat puluh hadits yang diriwayatkannya.

 

 

47 – Kitab al-‘Aqd al-Fakhir al-Hasan fi Thabaqat Akabir al-Yaman

Karya sejarawan Syamsuddin Ali bin al-Hasan al-Khazraji al-Yamani (812)

Dan pada tahun dua puluh delapan: wafat Syaikhul Islam, ulama zaman, sisa orang-orang mujtahid, Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Syaikhul Islam Majduddin Abul Barakat Abdussalam bin Abdullah bin Abi al-Qasim bin Taimiyyah al-Harrani, kemudian ad-Dimasyqi, al-Hafizh al-Mufassir pemilik karya-karya.

Dan ia adalah seorang imam mujtahid, mengetahui bahasa Arab dan tafsir, dan ushul dan furu’, sangat cerdas, berbicara dengan kebenaran, menyuruh kepada kebaikan, melarang dari kemungkaran, dan ia disifati dengan qana’ah dan menjaga diri, dan kedermawanan dan kemurahan hati, dan keberanian dan keberanian maju, sedikit istirahat dan kenikmatan, sedikit tidur, tekun pada ilmu dan amal, sedikit makan, tidak pernah menikah selamanya dan tidak berselir.

Dan kelahirannya adalah: tanggal sepuluh Rabiul Awwal tahun enam puluh satu di Harran, dan ia ditahan di benteng Damaskus, setelah ia tinggal lima bulan terlarang dari tinta dan kertas.

Dan wafatnya adalah malam Senin tanggal dua puluh Dzulqa’dah, dan untuknya saat itu enam puluh delapan tahun, dan menghadirinya banyak orang yang tidak terhitung, dan dishalatkan untuknya di Masjid, dan dikubur di makam-makam kaum Sufi di samping saudaranya, dan menghadiri pemakamannya sekitar dua ratus ribu orang, dan sekelompok banyak orang tidak ikut menshalatinya karena beragama dan amal dengan niat. Semoga Allah mengembalikan kepada kami dari berkahnya.

 

 

48 – Tuhfah al-Adibiyyah fiman Nusiba ila Ghair Abihi

Karya Majduddin al-Fairuzabadi (817)

Ahmad bin Taimiyyah, itu adalah ibu salah seorang kakek-kakeknya yang jauh, dan ia adalah Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam bin Abi al-Qasim bin Muhammad bin Taimiyyah al-Harrani, al-Hafizh yang terkenal, yang tidak ada yang menyamai kedudukannya dalam hafalan seorang pun dari orang-orang belakangan.

49 – Dzail At-Taqyid Li Ma’rifati Ruwaat As-Sunan Wal Masaanid

Karya Taqiyuddin Muhammad bin Ahmad Al-Fasi (832 H)

Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Abi Al-Qasim, nama aslinya Al-Khidr bin Muhammad bin Al-Khidr bin Ali bin Abdullah Al-Harrani, kemudian Ad-Dimasyqi, Syekh Taqiyuddin Abu Al-Abbas putra Syekh Syihabuddin putra Syekh Majduddin, yang dikenal dengan nama Ibnu Taimiyah.

Ia mendengar dari Aminuddin Al-Qasim bin Abi Bakr Al-Irbili kitab Shahih Muslim, dan dari Syekh Tajuddin Al-Fazari, Ali bin Balban, dan Yusuf bin Abi Nashr Asy-Syiqari jilid pertama dari Shahih Bukhari naskah As-Sumaisathiyyah, dan jilid kedua darinya, dan jilid ketiga, dan jilid keempat, dan jilid keenam dengan pembacaan Ash-Shafi Al-Iraqi pada tahun 682 H.

Ia memiliki pengetahuan yang luas dalam tafsir, hadits, fikih, ushul, bahasa Arab, dan lain-lain, dikenal memiliki kemampuan ijtihad.

Ia wafat pada tahun 728 H dalam keadaan dipenjara di benteng Damaskus.

Ia mendengar dari Ibnu Abdul Daim, Ibnu Abi Al-Yusr, dan lainnya.

Dan ia meriwayatkan hadits, yang mendengar darinya adalah dua hafizh Al-Birzali dan Adz-Dzahabi.

50 – At-Tibyan Li Badi’ah Al-Bayan

Karya Al-Allamah Muhammad bin Nasiruddin Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i (842 H)

Kemudian pemuda Taimiyah dari Harran
Mereka menyebutkan ucapannya tentang makna-makna

Harrani: dinisbatkan kepada Harran, sebuah kota terkenal antara Mosul, Syam, dan Romawi, jaraknya dari Ar-Ruha sehari perjalanan, dan dari Ar-Raqqah dua hari. Dikatakan: dinamai Haran, saudara Nabi Ibrahim Khalilullah Alaihi Ash-Shalaatu Was-Salaam, ia adalah ayah Nabi Luth Alaihis Salaam, karena ia orang pertama yang membangunnya, kemudian di-arab-kan menjadi Harran. Sekelompok orang menyebutkan sebagaimana yang diriwayatkan Yaqut dalam Mu’jam Al-Buldan: bahwa ia adalah kota pertama yang dibangun di bumi setelah banjir besar. Ditaklukkan pada masa Umar Radhiyallahu Anhu oleh Iyadh bin Ghanim bin Zuhair Al-Fihri Radhiyallahu Anhu secara damai pada tahun 19 H. Anas bin Malik dan sebagian sahabat Radhiyallahu Anhum tinggal di sana. Dari kota ini muncul para imam, kebanyakan disebutkan oleh Abu Urubah Al-Harrani dalam sejarahnya, begitu juga Abu Ali Muhammad bin Sa’id Al-Harrani dalam sejarahnya, dan Abul Hasan Ali bin Al-Hasan bin Allan bin Abdur Rahman Al-Harrani.

Ucapanku: (disebutkan mereka) artinya: yang paling mengetahui mereka, (dan makna-makna) jamak dari makna, yaitu maksud dari ucapan. Dalam huruf Ha, Dzal, dan Kaf: simbol wafat Ibnu Taimiyah yang disebutkan tanpa perbedaan pendapat. Ia adalah: Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Abi Al-Qasim Al-Khidr bin Muhammad bin Al-Khidr bin Ibrahim bin Ali bin Abdullah An-Numairi Al-Harrani kemudian Ad-Dimasyqi, Abu Al-Abbas, Ibnu Taimiyah, imam Syaikhul Islam, guru para hafizh, bendera para imam yang terjaga, yang dijuluki Taqiyuddin.

Abu Abdullah bin Muhammad bin An-Najjar, sejarawan para muhaddits menyebutkan tentang (Taimiyah) yang terkenal dengannya bahwa nenek dari kakeknya Muhammad bin Al-Khidr adalah seorang penceramah wanita bernama Taimiyah, maka dinisbatkan kepadanya. Dan dikatakan: kakeknya tersebut pergi haji lalu melewati jalan Taima yang terkenal, maka keluarlah dari sebuah kemah seorang gadis kecil cantik, ketika ia kembali ia melihat istrinya yang sedang hamil telah melahirkan seorang anak perempuan, maka ia berkata kepadanya: Ya Taimiyah ya Taimiyah! Maka melekat padanya nama ini sebagai julukan yang disebutkan, dan menjadi tanda bagi keturunannya setelahnya yang terkenal. Dan barangsiapa yang menyangka bahwa ibu mereka dari Wadi At-Taim maka ia telah berbicara tanpa dasar, dan itu tidak benar sebagaimana yang dijadikan pegangan.

Abu Al-Abbas lahir di Harran pada hari Senin tanggal 10 Rabiul Awwal, dan dikatakan: tanggal 12-nya, dan pendapat pertama yang dipegang. Tahun 661 H, dan pertama kali ia mendengar dari Ibnu Abdul Daim pada tahun 667 H, kemudian ia unggul dalam tafsir, fikih, ushul fikih, dan bahasa Arab, dan usianya belum mencapai dua puluh tahun.

Kemudian ia mendengar dari banyak tokoh terkenal, di antaranya: Ismail bin Abi Al-Yusr, Yahya bin Abi Manshur Ash-Shairafi, dan Al-Muslim bin Allan.

Meriwayatkan darinya banyak orang di antaranya: Adz-Dzahabi, Al-Birzali, Abul Fath Ibnu Sayyid An-Nas, dan sejumlah guru-guru kami yang cerdas meriwayatkan dari kami darinya.

Adz-Dzahabi berkata dalam menghitung karya-karyanya yang bagus: Tidaklah jauh bahwa karya-karyanya hingga sekarang mencapai lima ratus jilid. Adz-Dzahabi dan banyak orang memujinya dengan pujian yang baik, di antaranya: Syekh Imaduddin Al-Wasithi sang arif, dan Al-Allamah Tajuddin Abdur Rahman Al-Fazari, dan Kamaluddin Abu Al-Ma’ali Muhammad bin Az-Zamlakani, dan Abul Fath Ibnu Daqiq Al-Eid. Dan cukuplah baginya dari pujian yang indah, ucapan guru para imam jarh dan ta’dil: Abul Hajjaj Al-Mizzi, hafizh yang mulia, ia berkata tentangnya: Aku tidak melihat orang sepertinya dan ia pun tidak melihat orang seperti dirinya, dan aku tidak melihat seorang pun yang lebih mengetahui kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, dan tidak ada yang lebih mengikuti keduanya daripadanya.

Dan mereka menyifatinya dengan ijtihad dan mencapai derajatnya, dan penguasaan dalam berbagai macam ilmu dan cabang-cabangnya: Ibnu Az-Zamlakani, Adz-Dzahabi, Al-Birzali, Ibnu Abdul Hadi dan lain-lain. Dan Adz-Dzahabi berkata – setelah mengisyaratkan sebagian dari apa yang ada padanya, dan apa yang ia miliki dari ilmu-ilmu dan yang ia kuasai: Dan ia lebih agung dari yang bisa aku kategorikan dengan ucapanku, dan penaku menunjukkan kedudukannya yang tinggi; karena riwayat hidupnya, ilmu-ilmunya, pengetahuannya, ujiannya, dan perpindahannya memerlukan penulisan dalam dua jilid.

Dan ia menyebutkan wafatnya dalam kitabnya Ad-Duwal Al-Islamiyyah, dan berkata: Dan banyak orang mengantarkannya yang paling sedikit diperkirakan enam puluh ribu, dan ia tidak meninggalkan setelahnya orang yang mendekatinya dalam ilmu dan keutamaan. Selesai. Dan dikatakan: yang menghadiri jenazahnya lebih dari dua ratus ribu orang, karena penduduk Damaskus menghadirinya kecuali segelintir orang, dan yang tidak mampu datang, dan di antara yang hadir ada tangisan yang hebat, dan permohonan kepada Allah Taazza Wa Jalla dan dzikir-dzikir. Dan orang-orang berdatangan ke kuburnya di Ash-Shufiyyah siang dan malam, dan dilihat untuknya mimpi-mimpi yang baik dan penting, dan sekelompok orang meratapi dia dengan qashidah-qashidah yang banyak.

Abdur Rahman As-Sulami berkata: Aku menghadiri jenazah Abul Fath Al-Qawas Az-Zahid bersama Syekh Abul Hasan Ad-Daraquthni, ketika melihat kerumunan yang banyak itu ia menoleh kepada kami dan berkata: Aku mendengar Abu Sahl bin Ziyad Al-Qaththan berkata: Aku mendengar putra Ahmad bin Hanbal berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Katakan kepada ahli bid’ah: antara kami dan kalian adalah jenazah-jenazah.

Guru kami hafizh yang besar Abu Bakr Muhammad bin Abdullah As-Sa’di mengabarkan kepada kami, ia berkata: Hafizh yang besar Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Adz-Dzahabi membacakan kepada kami untuk dirinya sendiri meratapi Syaikhul Islam Abu Al-Abbas Ibnu Taimiyah Rahmatullahi Ta’ala Alaihi:

Wahai kematian ambillah siapa yang engkau inginkan atau tinggalkan
Engkau telah menghapus jejak ilmu-ilmu dan ketakwaan

Engkau mengambil Syaikhul Islam dan terputuslah
Tali ketakwaan maka bergembira ahli bid’ah

Engkau sembunyikan lautan mufassir yang kokoh
Seorang alim yang taqwa menjauhi kenyang

Jika ia berhadits maka ia muslim yang terpercaya
Dan jika ia berdebat maka pemilik Al-Luma’

Dan jika ia mendalami nahwu seperti Sibawaihi ia paham
Dengan setiap makna dalam bidang yang ditemukan

Dan menjadi tinggi sanadnya hafalannya
Seperti Syu’bah atau Sa’id Adh-Dhab’i

Dan fikih padanya maka ia menjadi mujtahid
Dan memiliki jihad yang bebas dari ketakutan

Dan kedermawanannya yang seperti Hatim terkenal
Dan kezuhudannya seperti Al-Qadiri dalam ketamakan

Allah menempatkannya di surga dan tidak
Berhenti tinggi dalam pakaian yang paling indah

Bersama Malik dan Imam Ahmad dan An
Nu’man dan Asy-Syafi’i dan Al-Khal’i

Berlalu Ibnu Taimiyah dan janjinya
Dengan lawannya di hari tiupan kefanaan

 

 

Al-Allamah Ahmad bin Ali Al-Maqrizi (845 H)

  1. Al-Maqfa Al-Kabir
  2. Al-Mawa’izh Wal I’tibar Bi Dzikr Al-Khithath Wal Atsar
  3. As-Suluk Li Ma’rifati Duwal Al-Muluk

51 – Al-Maqfa Al-Kabir

Ibnu Taimiyah

Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Abi Al-Qasim bin Muhammad bin Taimiyah, Taqiyuddin, Abu Al-Abbas, yang dijuluki “Syaikhul Islam”, putra imam Syihabuddin Abul Mahasin, putra allamah Majduddin Abul Barakat, asal Harrani, tumbuh dan tinggal serta wafat di Damaskus.

Lahir di Harran pada hari Senin tanggal 10 Rabiul Awwal tahun 661 H. Dan datang bersama ayah dan keluarganya ke Damaskus pada tahun 667 H. Dan mendengar dari Ibnu Abdul Daim dan generasinya. Kemudian menuntut ilmu sendiri dengan membaca dan mendengar dari banyak orang, dan membaca sendiri kitab-kitab, menulis catatan dan daftar, dan terus menerus mendengar selama beberapa tahun hingga gurunya mencapai sekitar dua ratus guru. Dan ia mendalami ilmu-ilmu, dan ia termasuk orang yang paling cerdas, banyak hafalan, sedikit lupa, hampir tidak ada yang ia hafal lalu ia lupa, hingga ia menjadi imam dalam tafsir dan ilmu-ilmu Al-Quran, mengetahui fikih dan perbedaan pendapat para ulama, ahli dalam dua ushul, nahwu dan yang terkait dengannya, bahasa, mantiq, ilmu falak, aljabar dan muqabalah, ilmu hitung, ilmu ahli dua kitab dan ahli bid’ah, dan lain-lain dari ilmu-ilmu naqli dan aqli, hingga tidak ada orang cerdas yang berbicara dengannya dalam satu cabang ilmu kecuali ia menyangka bahwa cabang ilmu itu adalah bidangnya. Dan ia menjadi hafizh hadits, membedakan antara yang shahih dan yang lemah, mengetahui para perawinya dan illat-illatnya, menguasai hal itu, dengan penguasaan penuh dalam ilmu sejarah. Dan ayahnya wafat pada tanggal 27 Dzulhijjah tahun 682 H di Damaskus. Dan pada hari Senin tanggal 8 Muharram tahun 683 H, Syekh Taqiyuddin disebutkan untuk mengajar menggantikan ayahnya, di Dar Al-Hadits Al-Qasha’in, dan menghadirinya Qadhi Al-Qudhah Bahauddin, dan Syekh Tajuddin Al-Fazari, dan Zainuddin Ibnu Al-Marhal, dan Zainuddin Ibnu Al-Munja dan sekelompok orang. Dan pada hari Jumat tanggal 10 Shafar, ia duduk di Masjid Damaskus di atas mimbar untuk menafsirkan Al-Quran Al-Karim menggantikan ayahnya, dan memulai dari awal Al-Fatihah.

Dan pada hari Jumat tanggal 4 Rabiul Akhir tahun 690 H, ia menyebutkan di kursinya sesuatu tentang sifat-sifat, maka Nuruddin bin Mush’ab mencela dia, dan didukung oleh fakir yang bermazhab Najmuddin Muhammad Al-Hariri, dan Shadruddin Ibnu Al-Wakil, dan sekelompok orang. Dan mereka pergi kepada dua syekh Syarafuddin Al-Maqdisi dan Zainuddin Al-Farqani, dan melarangnya dari duduk namun ia tidak berhenti, dan ia duduk pada Jumat kedua. Dan Qadhi Al-Qudhah Syihabuddin Muhammad bin Ahmad Al-Khuwi hakim Damaskus berkata: Aku mengikuti akidah Syekh Taqiyuddin maka ia ditegur atas hal itu. Maka ia berkata: Karena pikirannya sehat, dan pengetahuannya banyak, maka ia tidak mengatakan kecuali yang benar.

Kemudian Qadhi Syarafuddin Al-Maqdisi berkata: Aku mengharapkan berkahnya dan doanya, dan ia adalah temanku dan saudaraku.

Dan bertemu dengannya Wajihuddin Ibnu Al-Munja, dan Zainuddin Al-Khathib, maka ia berlepas diri dari perkara itu, dan menegur anaknya Shadruddin, maka perkara itu tenang setelah itu.

Dan ia berangkat haji pada tahun 692 H dan kembali. Ketika tiba bulan Rajab tahun 693 H, ia dan Syekh Zainuddin Al-Farqi masuk menemui Amir Izzuddin Aibak Al-Hamawi, wakil Damaskus dan berbicara dengannya tentang perkara Nasrani yang menghina Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, maka ia mengabulkan permintaan mereka berdua untuk menghadirkannya, dan orang-orang keluar. Maka mereka melihat putra Ahmad bin Hajji yang melindungi Nasrani itu, maka mereka berbicara dengannya tentang perkaranya, dan bersamanya ada seorang Arab, maka ia berkata kepada orang-orang tentang Nasrani itu: Sesungguhnya ia lebih baik dari kalian! Maka mereka melemparinya dengan batu. Dan Assaf melarikan diri. Maka wakil menghadirkan ketika sampai kepadanya hal itu, Ibnu Taimiyah dan Al-Farqani dan membentak mereka berdua, dan memerintahkan mereka berdua dipukul, dan dipenjara di Al-Adzrawiyyah, dan dipukul beberapa dari rakyat biasa dan dipenjara dari mereka enam orang, dan dipukul wali negeri sekelompok orang dan digantung mereka. Dan wakil berusaha membuktikan permusuhan antara Nasrani dan antara yang bersaksi atasnya, untuk menyelamatkannya. Maka Nasrani itu takut akibat fitnah ini dan masuk Islam. Maka wakil mengadakan majelis padanya dihadiri Qadhi Al-Qudhah dan sekelompok dari Syafi’iyyah, dan mereka memfatwakan terjaganya darah Nasrani itu, setelah masuk Islam. Dan dipanggil Al-Farqani maka ia menyetujui mereka, dan dipanggil Ibnu Taimiyah dan ditenangkan hatinya dan dilepaskan.

Pada hari Rabu tanggal tujuh belas Syakban tahun enam ratus sembilan puluh lima, Ibnu Taimiyah mengajar di Madrasah Hanabilah menggantikan Zainuddin Ibnu Al-Manja. Pada bulan Rabiul Awal tahun enam ratus sembilan puluh delapan, sekelompok ulama Syafiiyah menentangnya karena ucapannya tentang sifat-sifat Allah. Fatwa Hamawiyahnya jatuh ke tangan mereka, lalu mereka membantahnya dan bersiap-siap untuk memusuhinya. Qadhi Jalaluddin Al-Hanafi juga mendukung mereka. Kemudian diperintahkan agar diumumkan tentang pembatalan Aqidah Hamawiyah, maka diumumkanlah hal itu. Amir Saifuddin Jaghan Al-Musyad membela Ibnu Taimiyah, memanggil orang-orang yang menentangnya, memukul penyeru pengumuman tersebut, dan sekelompok orang yang bersama mereka.

Pada hari Jumat tanggal tiga belasnya, Ibnu Taimiyah duduk seperti biasa dan berbicara tentang firman Allah Ta’ala: “Dan sungguh, engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Al-Qalam: 4). Keesokan harinya, Qadhi Al-Qudhah Imamuddin Al-Qazwini menghadiri majelisnya, Aqidah Hamawiyah dibacakan di hadapan para hadirin, dan dia diminta menjelaskan isinya. Lalu dia menjawab sesuai pendapatnya dan majelis dibubarkan, maka permasalahan pun mereda.

Pada bulan Rabiulakhir tahun enam ratus sembilan puluh sembilan, Ibnu Taimiyah keluar dari Damaskus bersama rombongan menuju Ghazan, penguasa Tatar, ketika ia datang ke Syam dan telah berkemah di Tell Rahith. Wazir Saaduddin tidak mengizinkannya bertemu Ghazan, maka dia kembali. Kemudian dia pergi kepadanya untuk kedua kalinya dan bertemu dengannya serta berbicara kepadanya dengan keras, namun Allah menahan tangan Ghazan darinya. Adapun yang terjadi adalah dia berkata kepada penerjemah Raja Ghazan: “Katakan kepada Al-Qan: Engkau mengaku sebagai Muslim, bersamamu ada qadhi, imam, syaikh, dan muazin menurut kabar yang sampai kepada kami, lalu engkau menyerang kami. Ayahmu dan kakekmu Hulagu adalah kafir, namun mereka tidak melakukan apa yang engkau lakukan, mereka membuat perjanjian dan menepatinya. Sedangkan engkau membuat perjanjian lalu mengkhianatinya, berkata tapi tidak menepatinya!” Dia terus dengan pembicaraan semacam ini, dan hadir pula para qadhi Damaskus dan tokoh-tokohnya. Ghazan menghidangkan makanan kepada mereka, lalu mereka makan kecuali Ibnu Taimiyah. Ditanyakan kepadanya: “Mengapa engkau tidak makan?”

Dia menjawab: “Bagaimana aku makan dari makanan kalian, padahal semuanya dari apa yang kalian rampas dari kambing-kambing orang dan kalian potong dari pohon-pohon milik orang?”

Kemudian Ghazan memintanya untuk berdoa. Dia berdoa: “Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa dia berperang semata-mata agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi, dan jihad di jalan-Mu, maka kuatkanlah dan tolonglah dia. Namun jika untuk kerajaan dan dunia serta kemegahan, maka perbuatlah dan lakukanlah kepadanya (hukuman)!” Dia mendoakan agar Ghazan dihukum, sedangkan Ghazan mengamini doanya, dan para qadhi Damaskus telah ketakutan akan dibunuh dan mengumpulkan pakaian mereka karena takut jika Ghazan menyerangnya sehingga darahnya mengenai mereka. Ketika mereka keluar, Qadhi Al-Qudhah Ibnu Ash-Shashri berkata kepada Ibnu Taimiyah: “Engkau hampir membinasakan kami bersamamu. Kami tidak akan menemanimu dari sini!”

Ibnu Taimiyah berkata: “Dan aku juga tidak akan menemani kalian!”

Maka mereka pergi berkelompok sedangkan Ibnu Taimiyah tertinggal bersama orang-orang khususnya. Tidak tersisa seorang pun dari para pengawal dan amir kecuali mereka mendatanginya dari setiap penjuru dan mengikutinya untuk mendapat berkah dengan melihatnya. Dia tiba di Damaskus dengan sekitar tiga ratus penunggang kuda di rombongannya, dan mereka masuk. Adapun para qadhi, sekelompok orang menyerang mereka dan menanggalkan pakaian mereka, sehingga mereka memasuki kota dalam keadaan telanjang.

Ketika Ghazan kembali ke negerinya, Ibnu Taimiyah menunggangi kuda pos menuju Muhanna bin Isa dan memanggilnya untuk berjihad. Setelahnya dia menunggangi kuda pos ke Kairo dan menggerakkan Sultan. Dia menghadapi para amir dan tentaranya dengan kata-kata keras. Ketika Sultan tiba di Syaqhab, Ibnu Taimiyah menemuinya dan terus mendorongnya serta meneguhkannya. Ketika Sultan melihat banyaknya pasukan Tatar, dia berkata: “Wahai Khalid bin Walid!”

Ibnu Taimiyah berkata kepadanya: “Jangan katakan ini. Tetapi katakanlah: Wahai Allah! Dan mintalah pertolongan kepada Allah Tuhanmu dan esakan Dia sendirian, niscaya engkau akan ditolong, dan katakanlah: Wahai Penguasa hari pembalasan, hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan!” Dia terus datang kadang kepada Khalifah Al-Mustakfi Billah, kadang kepada Raja An-Nashir Muhammad bin Qalawun dan menenangkan keduanya serta menguatkan hati mereka, hingga datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dia berkata kepada Sultan: “Engkau akan menang, maka tetaplah teguh!”

Salah seorang amir berkata kepadanya: “Katakanlah: Insya Allah!”

Dia berkata: “Insya Allah, secara pasti, bukan pengandaian!” Maka terjadilah seperti yang dia katakan.

Ketika khutbah di Masjid Damaskus dipulihkan untuk Raja An-Nashir Muhammad bin Qalawun—setelah kepergian Ghazan—pada hari Jumat tanggal tujuh belas bulan Rajab tahun tersebut, Ibnu Taimiyah berkeliling sendiri ke tempat-tempat penjualan khamar yang baru dibuka, menumpahkan khamarnya, memecahkan wadahnya, dan merobek kemasannya, serta memberikan hukuman takzir kepada para penjual khamar bersama kelompoknya. Orang-orang berjalan bersamanya, dan dia berkeliling ke berbagai kelompok, membacakan kepada mereka surah Al-Qital dan ayat-ayat tentang jihad serta hadits-hadits tentang perang, ribath, dan penjagaan, serta mendorong mereka untuk melakukan hal itu.

Ketika pasukan Tatar kembali ke Aleppo pada tahun tujuh ratus, dan orang-orang melarikan diri dari mereka—padahal pasukan telah keluar lalu kembali—Ibnu Taimiyah menunggangi kuda pos ke Mesir dan memasuki Benteng Jabal pada hari kedelapan sejak keberangkatannya dari Damaskus, yaitu pada bulan Jumadal Ula, dan mendorong jihad fi sabilillah serta berbicara keras. Dia bertemu dengan Sultan dan para pembesar negara. Dia ditempatkan di benteng dengan jatah setiap hari satu dinar dan mahfiyah, dan Sultan mengiriminya sepaket kain. Namun dia tidak menerima sedikitpun dari itu. Kemudian dia kembali ke Damaskus setelah mendorong pemerintahan untuk memerangi Tatar.

Pada awal bulan Dzulqadah tahun tujuh ratus satu, sekelompok orang menentangnya dan meminta Amir Aibak Al-Afram, wakil Damaskus, untuk melarangnya melakukan takzir dan menegakkan hudud. Dia telah mencukur kepala dan memukul sekelompok orang. Kemudian permasalahan pun mereda.

Pada bulan Rajab tahun tujuh ratus tiga, Ibnu Taimiyah menghadirkan Ibrahim Al-Qatthan pemilik jubah besar, memotong kukunya, rambutnya yang terpilin, dan kumisnya yang menjuntai, serta memerintahkannya untuk meninggalkan teriakan, perbuatan keji, makan ganja, meninggalkan pemakaian jubah besar, dan merobek jubahnya yang berisi banyak potongan kain dan barang-barang. Pada tanggal tujuh belas, dia menghadirkan Syaikh Muhammad Al-Balasi dan orang itu bertaubat di tangannya, dan dipersaksikan atasnya untuk meninggalkan hal-hal yang haram dan menjauhinya, dan bahwa dia tidak akan bergaul dengan Ahluz Zimmah (non-Muslim yang tinggal di negeri Islam) dan tidak akan berbicara tentang takwil mimpi atau tentang ilmu-ilmu apapun tanpa pengetahuan. Dan ditulis atasnya kesaksian tertulis tentang itu.

Pada hari Senin tanggal enam belasnya, Ibnu Taimiyah hadir bersama beberapa tukang batu, dan memotong batu yang berada di samping mushalla Damaskus hingga hilang, dan membebaskan orang-orang dari urusannya, karena batu itu dikunjungi dan orang-orang bernazar kepadanya serta mencari berkah dengannya. Pada bulan Muharram tahun tujuh ratus lima, dia pergi bersama Al-Afram ke Jabal Kasrawan dan menyerang penduduknya, dia mengikat pedang dan tempat anak panah di pinggangnya dan berfatwa tentang memerangi mereka, dan kembali setelah meraih kemenangan atas mereka.

Pada bulan Jumadal Ula, sekelompok fuqara Ahmadiyah Rifaiyah berkumpul di tempat Al-Afram, dan Ibnu Taimiyah hadir. Para fuqara ingin menunjukkan sesuatu dari keadaan mereka. Dia berkata: “Tidak diperbolehkan bagi siapapun keluar dari syariat dalam ucapan maupun perbuatan. Ini adalah trik yang mereka gunakan untuk masuk api dan mengeluarkan busa dari tenggorokan. Barangsiapa ingin masuk api, hendaklah dia membasuh tubuhnya di pemandian kemudian mengusapnya dengan cuka, setelah itu masuklah ke dalam api. Sekalipun dia masuk, tidak akan dipedulikan hal itu, bahkan itu adalah sejenis perbuatan Dajjal menurut kami.” Itu adalah perkumpulan besar. Syaikh yang shalih, Syaikh Al-Munaibi berkata: “Keadaan kami laku di kalangan Tatar, tapi tidak laku di kalangan Ahlusyariah.”

Majelis dibubarkan dengan kesepakatan bahwa mereka akan melepas kalung-kalung besi mereka, dan bahwa barangsiapa keluar dari Al-Quran dan As-Sunnah maka lehernya akan dipukul. Ibnu Taimiyah menulis setelah kejadian ini sebuah karya tentang keadaan kaum Ahmadiyah, awal mula urusan mereka, asal usul jalan mereka, dan apa yang ada pada mereka dari kebaikan dan keburukan.

Syaikh Nashruddin Al-Munbiji telah muncul di Mesir dan menguasai para pemimpin negara hingga urusannya tersebar. Dikatakan kepada Ibnu Taimiyah: “Dia adalah pengikut faham ittihad (penyatuan Allah dengan makhluk) dan dia membela mazhab Ibnu Arabi dan Ibnu Sabin.” Maka Ibnu Taimiyah menulis kepadanya sekitar tiga ratus baris mengingkarinya. Nashir Al-Munbiji berbicara dengan para qadhi Mesir tentang urusannya dan berkata: “Ini adalah orang yang bid’ah, dan aku khawatir atas orang-orang dari keburukannya!” Para qadhi menyarankan kepada para amir untuk memanggil Ibnu Taimiyah ke Kairo dan mengadakan majelis untuknya di Damaskus. Pada hari Senin tanggal delapan bulan Rajab, Ibnu Taimiyah dan para fuqaha dipanggil ke Istana Ablaq di tempat Al-Afram. Dia ditanya tentang aqidah, lalu dia menghadirkan Aqidah Wasithiyahnya dan dibacakan di majelis, dan dia diminta menjelaskan isinya, lalu dia menjawab sesuai pendapatnya dan majelis dibubarkan tanpa menyelesaikan pembacaannya. Kemudian mereka berkumpul pada hari Jumat tanggal dua belasnya setelah shalat, Syaikh Shafiuddin Al-Hindi hadir dan mereka mendirikannya untuk berdebat dengannya. Kemudian mereka mendirikan Syaikh Kamaluddin Ibnu Az-Zamlakani dan dia menantang serta berdebat dengannya tanpa keringanan, maka mereka puas dengan debatnya dan memuji keutamaannya lalu mereka bubar, dan urusan telah selesai.

Setelah itu terjadi bahwa salah seorang qadhi Damaskus memberikan takzir kepada seseorang dari sahabat-sahabat Ibnu Taimiyah dan memanggil sekelompok orang kemudian mereka dilepaskan, maka terjadi keributan di kota. Al-Afram telah keluar untuk berburu, maka pada hari Senin tanggal dua belas Rajab tersebut, Syaikh Jamaluddin Al-Mizzi membacakan sebuah bab dalam bantahan terhadap Jahmiyah dari kitab Afal Al-Ibad karya Al-Bukhari, di bawah kubah An-Nasr. Sebagian fuqaha marah karena hal itu dan berkata: “Kami yang dituju dengan ini!” Mereka mengangkat urusan ini kepada Qadhi Al-Qudhah Asy-Syafii. Dia memanggil Al-Mizzi dan menahannya. Ibnu Taimiyah bangkit dan mengeluarkan Al-Mizzi dari penjara sendiri, kemudian keluar ke istana dan bertemu di sana dengan Qadhi Al-Qudhah dan memuji Al-Mizzi. Qadhi marah dan mengembalikan Al-Mizzi ke penjara, maka dia tinggal beberapa hari. Al-Afram memerintahkan agar diumumkan di kota pelarangan berbicara tentang aqidah, dan barangsiapa berbicara tentangnya maka halal darah dan hartanya serta dirampas rumah dan tokonya.

Pada tanggal sembilan Syakban diadakan majelis ketiga di istana untuk Ibnu Taimiyah, para hadirin menerima aqidahnya, dan Qadhi Al-Qudhah Najmuddin memberhentikan dirinya sendiri karena ucapan yang dia dengar dari Ibnu Az-Zamlakani. Kemudian datang pengangkatannya kembali dari Mesir.

Nashir Al-Munbiji bangkit di Kairo dan berkata kepada Qadhi Al-Qudhah Zainuddin bin Makhluf Al-Maliki: “Katakan kepada para amir bahwa Ibnu Taimiyah berbahaya bagi negara, sebagaimana yang terjadi pada Ibnu Tumart di negeri Maghrib.” Maka dia menceritakan kepada mereka hingga mereka berprasangka buruk kepadanya. Datanglah surat Sultan untuk menghadirkan Ibnu Taimiyah dan menghadirkan Qadhi Al-Qudhah Najmuddin Ibnu Ash-Shashri ke Mesir. Al-Afram, wakil Damaskus, menolak dan berkata: “Telah diadakan untuknya dua majelis di hadapanku dan di hadapan para qadhi dan fuqaha, dan tidak terlihat sesuatu yang salah padanya.”

Utusan berkata kepadanya: “Aku adalah penasihatmu. Syaikh Nashir Al-Munbiji telah berkata bahwa dia mengumpulkan orang-orang di sekitarmu dan mengadakan bai’at untuk selain Sultan.”

Wakil ketakutan dan menangis karenanya.

Maka keduanya berangkat pada tanggal dua belas bulan Ramadhan dengan kuda pos. Ketika Ibnu Taimiyah memasuki kota Gaza, dia mengadakan majelis di masjidnya.

Dia menuju Benteng Jabal dan Al-Afram telah menulis bersamanya surat kepada Sultan, dan menulis bersamanya berita acara yang berisi tanda tangan beberapa qadhi dan tokoh besar para shalih dan ulama yang menjelaskan apa yang terjadi di dua majelis di Damaskus, dan bahwa tidak ada yang terbukti salah padanya dalam keduanya, dan dia tidak dilarang berfatwa. Namun hal itu tidak dipedulikan.

Ibnu Taimiyah bermaksud mengadakan majelis di benteng, dan ingin berbicara namun tidak diizinkan berbicara seperti biasanya, dan dia dipenjara di menara beberapa hari. Kemudian dipindahkan ke penjara bawah tanah pada malam Idul Fitri, dia beserta kedua saudaranya.

Qadhi Al-Qudhah Najmuddin dimuliakan dan diberi pakaian kehormatan, dan dikembalikan ke Damaskus dengan membawa surat yang dibacakan di Damaskus berisi tentang penyelisihan Ibnu Taimiyah dalam aqidah dan kewajiban orang-orang untuk menolaknya, khususnya pengikut mazhabnya, dengan ancaman pemecatan dan penjara. Dan hal itu diumumkan di negeri-negeri Syam. Banyak orang yang fanatik menentang Ibnu Taimiyah di Kairo, kaum Hanabilah disakiti, dan Taqiyuddin Abdul Ghani Ibnu Asy-Syaikh Syarafuddin Al-Hanbali dipenjara. Seluruh kaum Hanabilah dipaksa untuk kembali dari aqidah Ibnu Taimiyah, dan dia dicela. Para qadhi menyarankan kepada rekan mereka Qadhi Al-Qudhah Syarafuddin Abu Muhammad Abdul Ghani bin Yahya bin Muhammad Al-Harrani untuk menyetujui pendapat para hadirin, maka dia setuju dan memaksa sekelompok pengikut mazhabnya untuk itu dan mengambil tanda tangan mereka. Kaum Hanabilah mengalami penderitaan yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Semua itu terjadi karena usaha Amir Ruknuddin Baibars Al-Jasyankir, karena fanatik kepada Syaikh Nashir Al-Munbiji.

Pada awal bulan Rabiulawwal tahun tujuh ratus enam, Syarafuddin Muhammad bin Bukhikh Al-Harrani, salah seorang sahabat Ibnu Taimiyah, ditahan di Benteng Jabal, setelah dia bertemu dengan Amir Salar dan Amir Baibars dan berbicara di hadapan mereka dengan pembicaraan panjang. Dia tetap dalam penjara hingga tanggal enam Syakban, lalu Amir Salar membebaskannya.

Pada akhir bulan Ramadhan, Amir Salar mengumpulkan para qadhi kecuali yang Hanbali, Al-Jazari, dan An-Namrawi, dan membicarakan pengeluaran Ibnu Taimiyah. Para fuqaha dan qadhi berkata: “Dengan syarat dia memenuhi beberapa hal, di antaranya kembali dari sebagian aqidahnya.”

Mereka mengutus kepadanya agar hadir, namun dia tidak setuju untuk hadir, dan utusan datang kepadanya beberapa kali, sedangkan dia tetap pada pendiriannya untuk tidak hadir, maka mereka pulang tanpa hasil.

Pada tanggal delapan belas Dzulhijjah tahun itu, datang surat Ibnu Taimiyah dari penjara bawah tanah kepada Al-Afram memberitahukan keadaannya. Al-Afram memuji ilmunya dan keberaniannya dan berkata: “Dia tidak menerima sedikitpun dari pakaian Sultani atau dari para amir, dan tidak mengambil sesuatu, baik sedikit maupun banyak.”

Ketika pada bulan Safar tahun tujuh ratus tujuh, berkumpullah Qadhi Qudhat Badr al-Din Muhammad bin Jama’ah al-Syafi’i dengan Syaikh Taqi al-Din Ibnu Taimiyah di rumah Amir al-Auhadi pada pagi Jumat tanggal empat belas di Benteng Jabal. Perbincangan antara keduanya berlangsung lama, dan mereka berpisah sebelum shalat.

Pada bulan Syawal, Syaikh Karim al-Din al-Amili yang merupakan syaikh kaum sufi di Kairo, dan Ibnu ‘Atha’ beserta sekitar lima ratus orang mengadu kepada para amir negara tentang Ibnu Taimiyah dan perkataannya mengenai Ibnu al-‘Arabi al-Sufi dan lainnya. Mereka menyerahkan urusan tersebut kepada Ibnu Jama’ah. Maka diselenggarakanlah majelis untuknya, dan Ibnu ‘Atha’ menuduhnya dengan beberapa hal namun tidak ada yang terbukti. Akan tetapi ia mengakui bahwa ia berkata: Tidak boleh memohon pertolongan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan pengertian ibadah, tetapi boleh bertawasul dengannya. Maka sebagian yang hadir berkata: Tidak ada masalah dalam hal ini.

Ibnu Jama’ah berpendapat bahwa ini merupakan buruknya adab dan menegurnya keras tentang hal itu. Kemudian datanglah surat kepadanya agar ia melakukan terhadap Ibnu Taimiyah apa yang dikehendaki syariat dalam hal tersebut. Maka ia berkata: Saya telah mengatakan kepadanya apa yang seharusnya dikatakan kepada orang-orang sepertinya.

Namun mereka tidak puas dengan itu. Mereka memberi pilihan kepada Ibnu Taimiyah antara tinggal di Damaskus atau Iskandariah dengan syarat dipenjara, maka ia memilih penjara.

Sekelompok orang menemuinya dalam perjalanan ke Damaskus, dengan syarat mematuhi apa yang dipersyaratkan, maka ia menyanggupinya dan mengendarai kuda pos pada malam tanggal delapan belas Syawal dan berangkat. Maka keesokan harinya dikirimkan kuda pos lain yang mengembalikannya ke hadapan Ibnu Jama’ah, dan para fuqaha telah berkumpul. Sebagian dari mereka berkata: Negara tidak rela kecuali dengan penjara.

Maka Ibnu Jama’ah berkata: Dan di dalamnya ada kemaslahatan baginya. Lalu ia menunjuk Syams al-Din al-Tunisi al-Maliki sebagai wakilnya, dan mengizinkannya untuk memutuskan hukuman penjara baginya, namun ia menolak dan berkata: Tidak ada yang terbukti atas dirinya.

Lalu ia mengizinkan Nur al-Din al-Zawawi al-Maliki, namun ia bingung. Maka Ibnu Taimiyah berkata: Saya akan pergi ke penjara dan mengikuti apa yang dikehendaki kemaslahatan.

Maka al-Zawawi berkata: Hendaknya di tempat yang layak untuk orang sepertinya.

Dikatakan kepadanya: Negara tidak rela kecuali dengan penjara.

Maka ia dikirim ke penjara qadhi. Dan ia ditempatkan di tempat yang dahulu ditempati Qadhi Qudhat Taqi al-Din Ibnu Bint al-A’azz ketika dipenjara. Diizinkan baginya ada orang yang melayaninya. Semua ini atas saran Syaikh Nashr al-Munbiji.

Ia terus berada dalam penjara, memberikan fatwa, orang-orang mengunjunginya, dan datang kepadanya pertanyaan-pertanyaan fatwa yang aneh dan rumit dari para amir dan pembesar, sampai malam Rabu tanggal dua puluh Syawal. Saudara-saudaranya Zain al-Din dan Syaraf al-Din dipanggil, maka ditemukan Zain al-Din dan ia ditahan serta dipenjara bersama Syaikh Taqi al-Din.

Mereka tetap begitu sampai Muhanna bin ‘Isa amir Arab datang menemui Sultan. Ia masuk menemui Syaikh ketika ia di penjara, pada awal bulan Rabi’ul Awal tahun tujuh ratus sembilan, dan mengunjunginya serta mengeluarkannya setelah meminta izin untuk itu.

Maka ia keluar pada hari Jumat tanggal tiga belas ke Dar al-Niyabah di benteng. Para fuqaha hadir dan terjadi perdebatan besar antara mereka dengannya sampai waktu shalat. Kemudian mereka kembali berdebat hingga masuk malam, namun persoalan tidak selesai.

Kemudian mereka berkumpul dengan perintah Sultan pada hari Ahad tanggal lima belas sepanjang hari, dan hadir sebagian besar fuqaha, di antaranya Najm al-Din Ibnu al-Rif’ah, ‘Ala’ al-Din al-Taji, Fakhr al-Din Ibnu Bint Abi Sa’d, ‘Izz al-Din al-Nashrawi, dan Syams al-Din Ibnu ‘Adlan, tetapi para qadhi tidak hadir. Mereka dipanggil namun berhalangan. Majelis bubar, dan Ibnu Taimiyah bermalam di rumah Naib. Maka Amir Salar mengusulkan untuk menundanya beberapa hari agar orang-orang melihat keutamaannya dan berkumpul dengannya. Maka diadakan majelis lain untuknya di Madrasah Shalihiyah antara dua istana.

Kemudian ia dikeluarkan dari Kairo ke Iskandariah bersama seorang amir, dan tidak ada seorang pun dari kelompoknya yang diizinkan untuk bepergian bersamanya. Ia masuk ke sana pada malam hari dan dipenjara di menara. Kemudian sahabat-sahabatnya datang kepadanya dan berkumpul dengannya. Ia tinggal sampai tanggal delapan Syawal. Ia dipanggil lalu berangkat ke Kairo, dan bertemu dengan Sultan pada hari Jumat tanggal empat belas. Sultan memuliakannya dan menemuinya di majelis yang dihadiri para qadhi dan fuqaha, dan mendamaikan antara mereka dengannya.

Ia turun ke Kairo lalu tinggal di samping Masyhad Husaini. Para fuqaha, amir, tentara, dan berbagai kelompok masyarakat datang kepadanya.

Ketika pada sepuluh hari pertengahan bulan Rajab tahun tujuh ratus sebelas, salah seorang yang fanatik terhadapnya mendapatinya di tempat sepi, maka ia berbuat tidak sopan kepadanya. Sahabat-sahabatnya mengetahui hal itu maka banyak tentara datang kepadanya dan membicarakan untuk membelanya, namun ia menolak hal itu dan melarang mereka.

Kemudian ia keluar ke Damaskus bersama pasukan untuk berperang, menuju Baitul Maqdis dan berjalan melalui ‘Ajlun dan Zar’, lalu masuk Damaskus pada awal Dzulqa’dah – dan ia telah pergi lebih dari tujuh tahun – bersama kedua saudaranya dan sekelompok sahabatnya. Banyak orang keluar menemuinya, dan mereka sangat gembira dengan kedatangannya.

Pada hari Rabu tanggal dua puluh Syawal tahun tujuh ratus enam belas, wafatlah ibunya Sitt al-Ni’am binti Abdurrahman bin Ali bin ‘Abdus al-Harraniyah di Damaskus, dan dimakamkan di pemakaman kaum sufi. Kelahirannya sekitar tahun enam ratus dua puluh lima. Ia melahirkan sembilan anak laki-laki, dan tidak dikaruniai anak perempuan.

Pada hari Kamis pertengahan bulan Rabi’ul Akhir tahun tujuh ratus delapan belas, berkumpullah Qadhi Qudhat Syams al-Din al-Hanbali dengan Syaikh Taqi al-Din, dan menyarankan kepadanya untuk berhenti berfatwa dalam masalah sumpah dengan talak, maka ia menerima sarannya.

Ketika awal Jumadal Ula tahun itu, datanglah pos dari Mesir membawa perintah Sultan untuk melarangnya dari hal itu, dan di dalamnya tertulis: “Siapa yang berfatwa dengan itu akan dihukum.” Dan hal itu diumumkan di negeri.

Ketika hari Selasa tanggal sembilan belas bulan Ramadhan tahun tujuh ratus sembilan belas, para fuqaha dan qadhi dikumpulkan di hadapan Amir Tankiz Naib Syam, dan dibacakan kepada mereka surat Sultan, dan di dalamnya ada pasal yang berkaitan dengan Syaikh Taqi al-Din karena fatwanya dalam masalah talak. Maka ia ditegur tentang fatwanya setelah larangan, dan majelis bubar dengan penguatan larangan.

Kemudian diadakan majelis untuknya pada hari Kamis tanggal dua belas bulan Rajab tahun tujuh ratus dua puluh di Dar al-Sa’adah Damaskus, dan mereka mengulangi tentang fatwa talak dan mempertanyakannya serta menegurnya karenanya. Kemudian mereka memenjarakannya di benteng Damaskus maka ia tinggal di sana sampai hari Senin hari ‘Asyura tahun tujuh ratus dua puluh satu. Ia dikeluarkan setelah Ashar dengan perintah Sultan dan menuju rumahnya, maka masa penjaranya di benteng adalah lima bulan delapan belas hari.

Pada hari Senin setelah Ashar, tanggal enam Sya’ban tahun dua puluh enam, ia ditahan di benteng Damaskus setelah datang kepadanya Amir Badr al-Din Amir Mas’ud Ibnu al-Khathir al-Hajib, dengan perintah Sultan tentang hal itu, dan bersamanya kendaraan. Ia menampakkan kegembiraan dan berkata: Saya sudah menunggu hal itu, dan ini mengandung banyak kebaikan! Ia mengendarai kendaraan bersamanya ke benteng maka disediakan rumah untuknya, dan dialirkan air di dalamnya. Saudaranya Zain al-Din tinggal bersamanya melayaninya dengan izin Sultan, dan diputuskan untuk mencukupi kebutuhannya. Penyebab kejadian ini adalah fatwa yang ditemukan dengan tulisan tangannya tentang larangan bepergian dan mengendarai kendaraan untuk ziarah kubur para nabi dan orang-orang shalih, dan fatwa bahwa talak tiga dengan satu kalimat kembali menjadi satu.

Pada hari Rabu pertengahan Sya’ban, Qadhi Qudhat Jalal al-Din al-Qazwini memerintahkan untuk memenjarakan sekelompok sahabatnya di penjara Hukum. Hal itu atas saran Tankiz Naib Syam. Sekelompok orang dihukum di atas kendaraan dan diumumkan tentang mereka, kemudian mereka dibebaskan kecuali Syams al-Din Ibnu Qayyim al-Jauziyah, karena ia dipenjara di benteng.

Pada hari Senin tanggal sembilan belas Jumadal Akhir tahun tujuh ratus dua puluh delapan, dikeluarkan apa yang telah terkumpul di tempat Ibnu Taimiyah yang ditahan di benteng Damaskus berupa buku-buku, lembaran-lembaran, kertas-kertas, tinta dan pena, dan ia dilarang menulis dan membaca buku serta menyusun sesuatu dari ilmu sama sekali. Semuanya dibawa pada awal bulan Rajab dari benteng ke majelis hukum, lalu disimpan dalam lemari di Madrasah ‘Adiliyah dan jumlahnya lebih dari enam puluh jilid dan empat belas ikat lembaran. Maka para qadhi dan fuqaha melihatnya, dan tersebar di tangan mereka. Penyebab ini adalah ditemukannya jawabannya terhadap bantahan yang diajukan kepadanya oleh qadhi Maliki di negeri Mesir, yaitu Zain al-Din Ibnu Makhluf. Maka hal itu diberitahukan kepada Sultan lalu ia bermusyawarah dengan para qadhi dan mereka menyarankan hal ini.

Ia terus berada di benteng hingga wafat pada hari Senin tanggal dua puluh Dzulqa’dah tahun tujuh ratus dua puluh delapan. Maka datanglah orang banyak ke benteng, dan sebagian dari mereka diizinkan masuk. Ia dimandikan dan dishalatkan di benteng. Kemudian ia diusung dengan jari-jari tangan orang-orang, dan keranda jenazahnya dibawa dari benteng ke Masjid Umawi. Begitu adzan Dzuhur dikumandangkan, imam Syafi’i shalat tanpa menunggu shalat masyhad seperti biasanya. Kemudian dishalatkan atasnya, dan mereka menuju pemakaman kaum sufi dengannya. Mereka tidak sampai ke sana hingga adzan Ashar dikumandangkan. Sekelompok orang ingin keluar dari pintu al-Faraj atau pintu al-Nashr namun tidak mampu karena kepadatan orang. Ia diusung dengan tangan, kepala, dan jari-jari. Orang-orang melemparkan sorban mereka ke atas keranda jenazah lalu menariknya kembali untuk mencari berkah dengan hal itu! Diperkirakan yang menshalatkan jenazahnya dari kaum laki-laki berjumlah enam puluh ribu, dan lima ribu perempuan. Ada yang mengatakan lebih dari itu. Di lehernya ada benang yang dibuat dengan merkuri untuk mengusir kutu, lalu dibeli dengan harga mahal.

Ia menulis dengan tulisan tangannya berbagai karya tulis dan catatan-catatan bermanfaat, serta fatwa-fatwa yang lengkap, dalam bidang ushul, furu’, hadits, dan bantahan terhadap bid’ah dengan Al-Qur’an dan Sunnah, dalam jumlah yang sangat banyak mencapai beberapa beban unta. Di antara yang diselesaikan:

  • Kitab al-Sharim al-Maslul ‘ala Muntaqish al-Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam
  • Kitab Ibthil al-Tahlil
  • Kitab Iqtidha’ al-Shirath al-Mustaqim
  • Kitab dalam bantahan terhadap Ta’sis al-Taqdis karya al-Razi, dalam beberapa jilid
  • Kitab Bantahan terhadap Kelompok-kelompok Syi’ah, empat jilid
  • Kitab Daf’ al-Malam ‘an al-A’immah al-A’lam
  • Kitab al-Siyasah al-Syar’iyah
  • Kitab al-Tashawwuf
  • Kitab Manasik al-Hajj
  • Kitab al-Kalim al-Thayyib
  • Dan masalah-masalah yang sangat banyak yang menjadi beberapa jilid.

Sebagian besar karyanya masih berupa draft yang belum dibersihkan, dan sebagian besar yang ada di tangan orang-orang sekarang adalah sedikit dari yang banyak. Karena banyak yang terbakar, dan tidak ada daya kecuali dengan Allah.

Meskipun demikian, Qadhi al-Dzahabi berkata: Mungkin karya tulisnya pada waktu ini mencapai empat ribu lembar atau lebih. Ia menafsirkan Kitab Allah Ta’ala selama bertahun-tahun dari hafalan pada hari-hari Jumat.

Ketika ia menjabat sebagai syaikh Dar al-Hadits menggantikan ayahnya dan ia masih muda, dihadiri para pembesar dan mereka memujinya serta keutamaan dan ilmunya, Syaikh Ibrahim al-Raqqi berkata: Syaikh Taqi al-Din adalah orang yang diambil ilmu darinya dan diikuti dalam ilmu-ilmu. Jika umurnya panjang, ia akan memenuhi bumi dengan ilmu dan ia di atas kebenaran. Pasti orang-orang akan memusuhinya karena ia pewaris ilmu kenabian. Kamal al-Din Ibnu al-Zamlakani berkata: Sungguh Ibnu Taimiyah diberi keutamaan panjang dalam kebaikan penulisan dan keindahan ungkapan, penyusunan, pembagian, dan penjelasan. Allah telah melunakkan ilmu-ilmu baginya sebagaimana Allah melunakkan besi untuk Dawud. Kemudian ia menulis pada sebagian karangannya bait-bait ini dari syairnya:

Apa yang dikatakan para penggambar tentang dirinya Sifat-sifatnya terlalu mulia untuk dihitung Ia adalah hujjah Allah yang mengalahkan Ia di antara kita adalah keajaiban zaman Ia adalah ayat yang nyata dalam makhluk Cahayanya melebihi fajar

Kemudian syaitan menimbulkan perpecahan antara keduanya dan hawa nafsu menguasai Ibnu al-Zamlakani maka ia berpaling terhadapnya bersama yang berpaling.

Qadhi Qudhat Taqi al-Din Abu al-Fath Muhammad Ibnu Daqiq al-‘Id ketika bertemu dengannya saat kedatangannya ke Kairo pada tahun tujuh ratus berkata: Saya melihat seorang laki-laki yang semua ilmu berada di antara kedua matanya, ia mengambil apa yang ia inginkan dan meninggalkan apa yang ia inginkan.

Dan hadir di sisinya ulama besar Atsir ad-Din Abu Hayyan, lalu ia berkata tentangnya: “Mataku tidak pernah melihat orang sepertinya.” Dan ia memujinya dalam majelis dengan syairnya:

Ketika kami mendatangi Taqi ad-Din, nampak bagi kami Seorang dai kepada Allah, seorang yang tiada bandingannya Di wajahnya dari tanda-tanda orang yang menemani Sebaik-baik makhluk, cahaya yang melebihi bulan Seorang ulama besar yang dihiasi zaman dengan kemuliaan Lautan yang bergelombang dengan mutiara-mutiaranya Ibnu Taimiyah bangkit menegakkan syariat kami Seperti bangkitnya pemimpin Taim ketika Mudhar durhaka Maka ia menampakkan kebenaran ketika jejaknya telah hilang Dan memadamkan kejahatan ketika percikannya beterbangan Kami pernah mendengar tentang seorang ulama besar yang akan datang, dan inilah Engkau adalah imam yang telah lama ditunggu-tunggu

Kemudian terjadi pembicaraan di antara keduanya yang di dalamnya disebutkan Sibawayh. Ibnu Taimiyah tergesa-gesa dalam perkataannya tentangnya dengan ucapan yang membuat Abu Hayyan marah kepadanya dan memboikotnya karena hal itu. Kemudian kebanyakan orang kembali mencela Ibnu Taimiyah, dan menganggapnya sebagai dosa yang tidak terampuni.

Dan Qadhi al-Qudhah Najm ad-Din Abu al-Abbas Ibnu Shashri tidak membiarkan para pendebatnya mencapai tujuan mereka untuk mencelakakannya dan berkata: “Apa urusanku dengannya?”

Dan Abu Hafsh Umar bin Ali bin Musa al-Bazzar al-Baghdadi menceritakan, ia berkata: Syekh al-Muqri Taqi ad-Din Abdullah bin Ahmad bin Said menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku sakit keras di Damaskus, lalu Ibnu Taimiyah datang kepadaku dan duduk di kepalaku sementara aku terbaring karena demam dan penyakit. Lalu ia mendoakanku dan berkata: “Bangunlah, kesembuhan telah datang!” Tidak lama setelah ia berdiri dan meninggalkanku, tiba-tiba kesembuhan datang dan aku sembuh seketika itu.

Dan Imam yang Maha Agung, Hakim Pemimpin, Katib al-Asrar Syihab ad-Din Ahmad bin Yahya bin Fadhl Allah al-Umari berkata tentangnya: Ia adalah lautan dari manapun engkau mendatanginya, dan bulan purnama dari manapun engkau menghadapinya. Para leluhurnya berlari mengejar tujuan yang tidak ia puaskan dengannya, dan tidak berhenti lelah beristirahat dari usahanya, mengejar ilmu yang tidak rela dengan batasnya, dan tidak terpenuhi akhirnya. Ia menghisap puting susu ilmu sejak disapih, dan wajah pagi muncul untuk menyamainya lalu dipukul, dan memotong siang dan malam dengan tekun, dan menjadikan ilmu dan amal sebagai dua sahabat, hingga ia membuat generasi salaf terlupakan dengan petunjuknya, dan menjauhkan generasi khalaf dari mencapai batasnya:

Dan Allah memperkokoh urusan yang Dia jaga Berjalan dua pedangnya di dalamnya: pedang dan pena Dengan tekad yang jejak kakinya di bintang Pleiades Dan azam yang tidak mengenal lelah

Apalagi ia dari keluarga yang lahir darinya para ulama di masa lampau, dan muncul darinya para pembesar yang terkenal sepanjang bulan. Ia menghidupkan jejak keluarganya yang lama ketika telah sirna, dan memetik dari cabangnya yang basah apa yang telah ditanam. Dan ia menjadi ayat dalam keutamaannya, tetapi ia adalah ayat penjagaan. Kesulitan datang kepadanya lalu ia singkirkan, lautan menantangnya lalu ia dangkalkan, kemudian ia menjadi umat sendirian, dan seorang diri hingga turun ke liangnya, ia mengalahkan setiap orang besar dari para sebayanya, dan memadamkan setiap orang lama dari ahli kehancuran, dan tidak ada di antara mereka kecuali yang lari darinya seperti larinya burung unta, dan mengecil di hadapannya seperti kecilnya orang yang berhutang:

Sebagian manusia tidak lain kecuali seperti Sebagian kerikil dibanding yakut merah

Ia datang di zaman yang penuh dengan para ulama, dipenuhi dengan bintang-bintang langit, bergelombang di kedua sisinya lautan yang luas, dan terbang di antara kedua kutubnya burung elang yang kuat, dan terbit di majlis-majlisnya bulan-bulan yang gelap, dan dada-dada yang tajam, dan bergerak pasukan yang maju, dan meraung singa-singa hutan, kecuali bahwa paginya menggelapkan bintang-bintang itu, dan lautannya menenggelamkan awan-awan itu, maka tombaknya melampaui bukit-bukit itu, dan singanya menerkam singa-singa itu, kemudian pasukan disiapkan untuknya lalu ia hancurkan barisan mereka, dan patahkan hidung mereka, dan telanlah kolamnya yang tenang oleh sungai-sungai mereka, dan cabutlah gunungnya yang kokoh oleh batu-batu besar mereka, dan padamlah nafas mereka oleh anginnya, dan reduplah percikan api mereka oleh pelita-pelitanya:

Ia maju sebagai penunggang di antara mereka sebagai imam Dan seandainya bukan karena dia, mereka tidak akan menunggang di belakang

Maka ia mengumpulkan berbagai madzhab yang terpisah, dan madzhab-madzhab yang beragam, dan memindahkan dari para imam ijma’ dan selain mereka madzhab-madzhab mereka yang berbeda dan menghadirkannya, dan menampilkan gambaran mereka yang hilang dan menghadirkannya. Seandainya Abu Hanifah merasakan zamannya dan menguasai urusannya, ia akan mendekatkan masanya kepadanya dengan penuh penghormatan, atau Malik akan berlari di belakangnya dengan kudanya meski tertatih, atau asy-Syafii akan berkata: “Andai saja ini adalah anak ibunya,” atau “Andai saja aku menjadi ayahnya,” atau asy-Syaibani Ibnu Hanbal tidak akan mencela janggutnya jika menjadi beruban karena sangat kagum, bahkan Dawud azh-Zhahiri dan Sinan al-Bathini akan mengira penyelidikannya dari pengikutnya, dan Ibnu Hazm dan asy-Syahrastani masing-masing akan menghimpun penyebutannya sebagai umat dalam agama mereka, dan al-Hakim an-Naisaburi dan al-Hafizh as-Salafi akan menambahkan ini pada koreksinya dan yang itu pada perjalanannya.

Fatwa-fatwa datang kepadanya dan ia tidak menolaknya, dan datang kepadanya lalu ia jawab dengan jawaban seolah-olah ia telah duduk mempersiapkannya:

Selalu di ujung lidah jawabannya Seakan-akan itu adalah percikan dari hujan Ia pergi dengan mendebatnya dengan wajah bersih Dan pulang mengakui sebagai orang yang hina dan bersalah

Dan sesungguhnya kelompok musuh-musuh bersatu melawannya, lalu mereka terdiam ketika pejantan unta jantan ia aum, dan terbungkam ketika ia bersenandung untuk menghasilkan madu dari lebahnya. Dan ia dilaporkan kepada Sultan tidak hanya satu kali dan dituduh melakukan dosa-dosa besar, dan masa-masa sulit menimpanya, dan ia dicari untuk ditangkap karena kejahatan, dan ia dicemburui oleh orang yang tidak mencapai usahanya dan banyak lalu curiga, dan menggunjing sehingga tidak lebih dari menggibah.

Dan ia diusir dari negerinya terkadang ke Mesir kemudian ke Iskandariyah, dan terkadang ke penjara Benteng Damaskus, dan di semua itu ia ditempatkan di ruang-ruang bawah tanah penjara, dan disengat oleh penjaga kematian, sementara ia masih menulis lembaran-lembaran ilmu, dan menyimpan karya-karyanya, dan tidak ada antara dia dengan sesuatu kecuali ia menulisnya, dan menghiasinya dengannya meski hanya satu orang yang mendengar dan membuatnya senang, hingga ujung-ujung negeri meminta karyanya, dan wilayah-wilayah mencari kehormatannya, hingga burung elang kematian menyambarnya untuk terakhir kalinya dari penjaranya, dan bencana menariknya ke dalam lubang-lubangnya.

Dan sebelum kematiannya ia telah dilarang tinta dan pena, dan dicap di hatinya stempel penderitaan, maka itulah awal penyakitnya dan munculnya keadaannya, hingga ia turun ke padang pasir pemakaman, dan meninggalkan mimbar-mimbar, dan menempati halaman kuburannya tanpa takut, dan mendapatkan ketenangan hatinya dari yang mencela dan yang memaafkan. Maka ia mati, bahkan ia hidup, dan diketahui kedudukannya karena orang sepertinya tidak pernah terlihat.

Dan hari pemakamannya adalah hari yang sangat besar, negeri dan luarnya menjadi sempit karenanya, dan mengingatkan bencana-bencana awal dan akhir. Dan tidak pernah ada yang lebih besar darinya sejak ratusan tahun, jenazah yang diangkat di atas pundak, dan tumit terinjak dalam kesesakannya, dan berjalan diangkat di atas kepala, diikuti oleh jiwa-jiwa, didorong oleh air mata, dan diikuti oleh helaan nafas, dan umat berkata kepadanya: “Semoga engkau tidak hilang sebagai orang yang pergi,” dan untuk pena-penanya yang bermanfaat: “Semoga Allah tidak menjauhkan kalian dari pohon-pohon.”

Dan dalam jangka waktu apa yang dipermasalahkan darinya dalam ucapannya dan dibuang dalam lubang penahanannya, tidak mereda dahaganya dalam pertemuan antara dia dengan musuh-musuhnya dalam debat, dan penelitian di mana mata-mata mengawasi, bahkan hakim tergesa-gesa memutuskan penahanannya, dan mencegahnya dari berfatwa, atau dengan hal-hal dari jenis cobaan ini, tidak setelah penegakan bukti dan tidak didahului tuntutan, dan tidak munculnya hujjah dengan dalil, dan tidak jelasnya jalan untuk berharap. Dan ia mendapati untuk ini apa yang tidak dapat dihilangkan bahaya keluhannya, dan tidak dapat dipadamkan api permusuhannya:

Dan setiap orang yang meraih kemuliaan akan dicemburui

Seperti madunya si cantik berkata pada wajahnya Karena cemburu dan benci: Sesungguhnya itu buruk

Semua ini karena keunggulannya dalam keutamaan di mana para sebaya tertinggal, dan bercahayanya seperti pelita ketika pendapat-pendapat menjadi gelap, dan berdirinya dalam menolak hujjah Tatar, dan menerobosnya sementara pedang-pedang mereka mengalir seperti gelombang yang bergegas, hingga ia duduk kepada Sultan Mahmud Ghazan di tempat singa-singa bersembunyi di hutan mereka, dan jantung-jantung jatuh di dalam tubuh-tubuh mereka, dan api menemukan kelemahan dalam bara mereka, dan pedang-pedang takut dalam serangannya, takut dari singa yang mengintai itu, dan Namrudz yang sombong itu, dan ajal yang ditolak dengan tipu daya penipu. Maka ia duduk kepadanya dan menunjuk dengan tangannya ke dadanya, dan menghadapinya dan menusuk ke arahnya. Lalu ia meminta doa darinya, maka ia mengangkat tangannya dan berdoa dengan doa yang adil yang sebagian besarnya terhadapnya, dan Ghazan mengamini doanya dan ia menghadap kepadanya. Kemudian dengan penghadapan yang buruk ini, dan pertengkaran yang terus terang, ia menjadi lebih besar dalam dada Ghazan dan orang-orang Mongol dari semua orang yang naik bersamanya kepada mereka, dan mereka adalah pendahulu para ulama di masa itu, dan ahli kelayakan untuk kemuliaan kedudukan.

Ini dengan apa yang dimilikinya dari jihad di jalan Allah yang tidak membuatnya gentar dalam menghadapi tombak yang panjang, dan tidak membuatnya sedih di dalamnya meningkatnya tangisan, posisi-posisi perang yang ia hadapi, dan kelompok-kelompok pemukulan yang ia jalani, dan kilatan pedang yang menyeringai kepadanya, dan kesempitan tombak yang menghimpunnya, dan jenis-jenis lawan yang keras yang ia terobos bersamanya masalah-masalah besar, dan ia hadapi berbagai macam buah, dan terputuslah perdebatannya dengan kuatnya lisannya, dan pertarungannya dengan tajamnya tombaknya. Ia berdiri dengannya dan bersabar, dan dicoba dengan yang kecil-kecilnya dan menghadapi yang besar-besarnya. Dan ahli bidah yang ia berdiri dalam menolaknya, dan berjihad dalam merendahkan puncaknya, dan penentangan agama-agama di mana ia jelaskan kesalahan takwilnya, dan cacatnya penalarannya, dan membungkam dengungan lalat di dalam hidung kepala-kepala mereka dengan kesesatan, hingga mereka tidur di tempat tidur kepatuhan, dan mereka berdiri sementara kaki-kaki mereka berjatuhan untuk jatuh, dengan dalil-dalil yang lebih tajam dari pedang, dan lebih lengkap dari hujan deras, dan lebih jelas dari cahaya fajar, dan lebih menggempur dari serangan tombak:

Jika ia melompat menghadapi musibah, maka tersobeklah Di atas bahunya baju besi dan bertebaran mata rantainya

Kecuali bahwa pendahuluan takdir menjatuhkannya dalam celah-celah masalah, dan kesalahan yang tidak aman di dalamnya dengan banyaknya pembicara. Dan aku mengira – dan Allah mengampuninya – ia telah dipercepat untuknya di dunia pembalasan, dan diambil bagiannya dari cobaannya secara umum dan khusus untuknya. Dan itu karena ia merendahkan sebagian ulama salaf, dan merobohkan banyak kaidah dari hukum-hukum orang-orang terdahulu, dan sedikitnya penghormatan terhadap orang-orang besar, dan banyaknya pengkafiran terhadap orang-orang fakir, dan pelemahannya terhadap kebanyakan pendapat, dan pendekatan kepada orang-orang awam yang bodoh dan ahli perdebatan, dan apa yang ia fatwakan akhir-akhir ini tentang dua masalah ziarah dan talak, dan penyebarannya tentang keduanya hingga berbicara di dalamnya orang yang tidak memiliki agama dan akhlak. Maka sumbu musuh-musuh menguasai lidahnya, dan tangan-tangan permusuhan terlepas dalam kelalaiannya, dan ia umpankan api mereka dengan pelepah kurma, dan ia tunjukkan kepada musuh-musuhnya kehormatan, maka tidak berhenti hingga ia mati kehormatannya dirampok, dan pengaduannya diberikan, dan sifat-sifatnya retak, dan puing-puingnya tidak terkumpul. Dan mungkin ini untuk kebaikan yang ditakdirkan baginya, dan dituju untuknya dengan baiknya tempat kembali.

Dan adalah kesengajaannya untuk menentang, dan pencariannya selain jalan para salaf, dan penguatannya terhadap masalah-masalah yang lemah, dan perontokannya dari puncak-puncak kesempurnaan = mengubah kedudukannya dari pikiran Sultan, dan menyebabkan baginya pengasingan dari negara-negara, dan meluncurkan anak panah lidah-lidah yang tajam kepadanya, dan tombak-tombak celaan di tangan setiap orang yang mencela. Maka karena ini ia tidak berhenti terganggu sepanjang masa hidupnya, hampir tidak terlepas darinya sisi-sisi kesulitannya.

Ini dengan apa yang ia kumpulkan dari warak, dan apa yang ada padanya dari kemuliaan, dan apa yang ia kuasai dengan seluruh keberadaan dari kedermawanan: datang kepadanya harta emas dan perak yang berlimpah, kuda-kuda pilihan dan hewan ternak serta ladang, lalu ia berikan semuanya, dan ia letakkan kepada ahli kebutuhan pada tempatnya, ia tidak mengambil darinya sesuatu kecuali untuk memberikannya, dan tidak menyimpannya kecuali untuk memberikannya. Semuanya di jalan kebaikan, dan jalan ahli ketawaduan bukan ahli kesombongan.

Tidak condong kepadanya cinta syahwat, dan tidak dicintakan kepadanya dari tiga dunia kecuali shalat.

Dan sesungguhnya raja-raja Jenghis Khan bersaing untuk mendapatkannya, dan mengirimkan utusan-utusan rahasia kepadanya, dan mengirim dengan sungguh-sungguh dalam mencarinya. Lalu ia ditawar-tawarkan kepadanya untuk urusan yang paling besar di antaranya adalah takut dari pemberontakannya. Dan ia tetap seperti ini dan sejenisnya hingga ajalnya merobohkannya, dan pembawa kabar surga datang kepadanya memintanya bergegas. Maka ia berpindah kepada Allah dan prasangka terhadapnya bahwa Dia tidak akan mempermalukannya.

(Ia berkata) Dan diceritakan tentang keberaniannya dalam medan perang di peristiwa Syaqhab, dan peristiwa Kasrawan, apa yang tidak terdengar kecuali dari para pahlawan laki-laki, dan jagoan pertempuran, dan ahli perang. Terkadang ia langsung terjun ke medan perang dan terkadang ia menggerakkan untuk berperang.

(Ia berkata) Dan datang kepadanya dari harta setiap tahun apa yang hampir tidak dapat dihitung, lalu ia belanjakan semuanya ribuan dan ratusan, ia tidak menyentuh darinya satu dirham pun dan tidak membelanjakannya untuk keperluannya. Dan ia menjenguk orang sakit, dan mengiringi jenazah, dan melaksanakan hak-hak manusia, dan merangkul hati, dan tidak menisbatkan kepada orang yang berdebat di sisinya suatu madzhab, dan tidak mencatat untuk orang yang berbicara di sisinya suatu kesalahan, dan tidak mendambakan makanan dan tidak menolak sesuatu darinya, bahkan ia bersama apa yang ada, tidak bermuka masam, dan tidak keruh kejernihannya, dan tidak bosan memaafkannya. (Ia berkata) Dan terlihat baginya mimpi-mimpi yang saleh.

Dan ia diratapi oleh banyak kelompok orang di Syam, Mesir, Irak, Hijaz, dan orang-orang Arab dari Bani Fadhl.

(Ia berkata) Aku meratapi beliau dengan sebuah qasidah karanganku, yaitu:

  1. Apakah begini bulan purnama tertutup oleh kegelapan, dan hujan ditahan hingga lenyap curahan air?
  2. Apakah begini matahari yang menerangi terhalang dari manfaat bumi, sehingga ia pun tertutupi?
  3. Apakah begini masa selamanya malam belaka, hingga waktu subuh tak lagi dikenal?
  4. Apakah begini pedang yang tak lagi menghujam, padahal pedang dalam membunuh tidak ada kelemahan dalam tekadnya?
  5. Apakah begini busur dilempar begitu saja di tanah lapang, padahal lemparan panah tidak meleset dan jangkauannya tidak pendek?
  6. Apakah begini lautan luas ditinggalkan tanpa perhatian, padahal dalam kerangnya terdapat mutiara?
  7. Apakah begini terhadap Taqiyuddin telah bermain-main tangan musuh dan bahaya menghampirinya?
  8. Apakah kepada Ibnu Taimiyah dilemparkan anak panah menyakitkan dari manusia, dan taring serta kuku melukai?
  9. Ia melampaui orang-orang terdahulu dalam ibadah yang berkelanjutan, tidak ada kebosanan yang menyentuhnya dan tidak pula keluh kesah.
  10. Dan tidak ada yang sepertinya setelah para Sahabat dalam ilmu yang agung dan zuhud yang tidak ada tandingannya.
  11. Jalan yang ia tempuh sebelumnya telah dilalui oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq atau Umar.
  12. Ia menyendirikan mazhab-mazhab dalam empat pendapat, mereka datang mengikuti jejak dan bersegera.
  13. Ketika mereka membangun mazhab-mazhab mereka sebelumnya, ia pun membangun dan memakmurkan seperti yang mereka makmurkan.
  14. Seperti para imam, ia menghidupkan masa mereka, seakan-akan ia berada bersama mereka padahal ia ditunggu-tunggu.
  15. Jika mereka semua diangkat sebagai mubtada (subjek), maka haknya juga diangkat karena ia adalah khabar (predikat).
  16. Apakah orang sepertinya di antara kalian dibiarkan tersia-sia hingga darahnya tumpah dengan sengaja?
  17. Padahal ia adalah harapan bagi orang lain selain kalian, namun dari kalian menimpanya berbagai peristiwa dan perubahan.
  18. Demi Allah, seandainya ia berada di negeri selain negeri kalian, pasti di pintunya berkerumun rombongan dari kalian.
  19. Orang seperti Ibnu Taimiyah dilupakan di penjaranya hingga ia meninggal dan tidak ada yang dapat melihatnya.
  20. Orang seperti Ibnu Taimiyah, musuh-musuhnya rela dengan pemenjaraannya, namun bagi kalian dalam pemenjaraannya ada alasan.
  21. Orang seperti Ibnu Taimiyah dikurung dalam penjara, padahal penjara bagaikan sarung dan ia adalah pedang tajam yang masyhur.
  22. Orang seperti Ibnu Taimiyah dilempar dengan segala macam celaan, namun tidak ada yang membersihkan kotoran darinya dan tidak ada perhatian.
  23. Orang seperti Ibnu Taimiyah, taman-tamannya layu dan tidak ada yang memetik bunga dari cabang-cabangnya.
  24. Orang seperti Ibnu Taimiyah, matahari yang terbenam sia-sia, padahal sore dan pagi tidak lagi merindukannya.
  25. Orang seperti Ibnu Taimiyah pergi sementara minyak wanginya yang harum belum menyebar ke badan dan kepala!
  26. Orang seperti Ibnu Taimiyah pergi tanpa pedang-pedangnya berhasil meminum, dan tanpa tombak-tombak yang panjang.
  27. Dan tidak berlari untuknya kuda-kuda yang bertanda, dengan wajah-wajah ksatrianya yang bercahaya dan berbintang di dahi.
  28. Dan tidak mengelilinginya para pahlawan dalam lingkaran, seakan-akan mereka bintang-bintang dan di tengahnya bulan.
  29. Dan perang tidak bermuka masam di medan-medannya suatu hari, dan kemenangan tersenyum di penjurunya.
  30. Hingga tegak agama ini dari kemiringan dan manusia berjalan lurus di atas jalannya.
  31. Namun begitulah para salaf yang berbakti, mereka tidak henti-hentinya diuji dengan kesabaran, padahal mereka sabar.
  32. Teladanilah para Nabi yang suci, betapa banyak kerugian yang menimpa mereka dari kaum-kaum dan betapa banyak mereka dijauhi.
  33. Dalam kisah Yusuf ketika masuk penjara ada kemuliaan bagi siapa yang menanggung apa yang ia alami dan bersabar.
  34. Mereka tidak pernah diabaikan, namun mereka diberi tenggang waktu, dan Allah memberikan dukungan dan pertolongan.
  35. Apakah mata air yang jernih akan hilang sementara orang-orang yang kehausan belum minum darinya, dan yang tersisa hanya lumpur keruh?
  36. Ia pergi dengan terpuji dan tidak ada cacat yang melekat padanya, sementara mereka semua memiliki cacat di antara manusia atau noda.
  37. Gunung kesabaran yang puncak-puncaknya tidak dapat dicapai, seakan-akan gunung itu terbuat dari batu-batunya sendiri.
  38. Lautan ilmu yang telah meluap sisanya, maka surut lautan-lautan besar dan mereka tidak menyadari.
  39. Andai aku tahu apakah di antara orang-orang yang iri kepadanya ada yang sepertinya di seluruh kaum jika mereka disebutkan.
  40. Apakah di antara mereka ada seorang tentang hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam yang dapat membedakan kritik atau meriwayatkan berita untuknya?
  41. Apakah di antara mereka ada yang menguasai pembahasan dalam nalar atau sepertinya yang menguasai pembahasan dan nalar?
  42. Mengapa kalian tidak mengumpulkan untuknya dari kaum kalian suatu majelis seperti yang dilakukan Firaun terhadap Musa agar kalian mengambil pelajaran?
  43. Katakan kepada mereka: Ia berkata ini, maka bahaskah bersama dia di hadapan kami dan lihatlah apakah orang-orang bodoh mampu.
  44. Kebatilan-kebatilan dilemparkan sebagai sihir yang membuat kagum, maka kebenaran menelan apa yang mereka katakan dan apa yang mereka sihir.
  45. Andai mereka seperti rombongan dari majelis itu, agar menjadi pelajaran bagi kalian dalam urusannya.
  46. Dan andai mereka tunduk kepada kebenaran seperti mereka, maka mereka semua beriman setelah sebelumnya kafir.
  47. Betapa seringnya mereka menjauhinya dengan menjauh, andai mereka memberi manfaat dalam penindasan atau membantunya.
  48. Apakah di antara mereka ada yang bersuara tegas dengan kebenaran dalam perkataannya, atau yang terjun ke medan perang sementara perang berkecamuk?
  49. Ia melemparkan ke arah dada Ghazan secara langsung anak-anak panahnya dari doa, penolongnya adalah takdir.
  50. Di Marjah Rahit ketika musuh telah mengalahkan Syam dan kejahatan serta percikan api beterbangan.
  51. Dan ia membelah di padang sementara pedang-pedang terhunus, kelompok-kelompok yang semuanya atau sebagiannya adalah Tatar.
  52. Ini sementara musuh-musuhnya di rumah-rumah, yang paling berani di antara mereka seperti perempuan yang bersembunyi di balik pintu.
  53. Dan setelah itu Kisrawan dan gunung-gunung, ia mendirikan bukit-bukitnya sementara bukit itu pecah.
  54. Dan ia memanen kaum dengan pedang-pedang dengan sungguh-sungguh, padahal betapa seringnya mereka melampaui batas dan sombong.
  55. Mereka berkata: Kami menguburkannya. Kami berkata: Sungguh ini mengherankan, benarkah bintang yang terang mereka kubur?
  56. Padahal tidak akan hilang makna darinya yang menyala, yang hilang hanyalah jasad dan bentuk.
  57. Tidak ada yang menangisinya dengan penyesalan yang tidak menumpahkan darah yang mengalir deras seperti hujan yang turun dan mencurah.
  58. Duka citaku padanya, wahai Abu Abbas, betapa banyak kemuliaan ketika engkau wafat, wafalah dari umurnya umur.
  59. Semoga tanah kuburmu disiram hujan dari hujan musim, dan tempat tinggalmu dihiasi dengan curahan air yang semuanya hujan.
  60. Dan selamanya untuknya kilat yang menggodanya, manis bibirnya, di kelopak matanya bidadari.
  61. Karena kehilangan orang sepertimu, wahai orang yang tidak ada bandingannya, mihrab-mihrab, ayat-ayat, dan surah-surah bersedih.
  62. Wahai pewaris ilmu-ilmu para Nabi yang melarang, engkau mewariskan kepada hatiku api yang pikirannya menyalakan.
  63. Wahai orang yang satu-satunya, aku tidak mengecualikan dengannya seorang pun dari manusia, dan aku tidak menyisakan dan tidak pula menghilangkan.
  64. Wahai orang yang mengetahui semua riwayat fikih, apakah tentangmu mereka menjaga kesalahan-kesalahan sebagaimana mereka sebutkan?
  65. Wahai penghancur bid’ah-bid’ah yang dijauhi oleh orang-orang zaman, baik yang di pedalaman maupun perkotaan.
  66. Dan pembimbing kelompok yang sesat di jalan mereka dari jalan, maka mereka tidak bingung dan tidak begadang.
  67. Bukankah engkau menjadi pembantah bagi orang-orang Nasrani dan Yahudi sekaligus, sementara mereka dalam pembahasan telah terkurung?
  68. Dan betapa banyak pemuda bodoh yang sombong, engkau amankan untuknya petunjuk perkataan, maka hilang kebodohan dan kesombongan.
  69. Mereka tidak mengingkari darimu kecuali karena mereka bodoh akan keagungan kedudukanmu, namun takdir membantu.
  70. Mereka berkata bahwa engkau telah salah dalam satu masalah, dan boleh jadi memang demikian, mengapa darimu tidak dimaafkan?
  71. Engkau salah dalam masa atau keliru dalam satu hal, bukankah engkau telah benar dalam ketepatan-ketepatan sehingga dapat dimaafkan?
  72. Dan siapa yang sesungguhnya menjadi mujtahid, baginya pahala dalam dua keadaan, bukan dosa.
  73. Bukankah engkau dengan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika ditanya, engkau mengetahui apa yang engkau lakukan dan apa yang engkau tinggalkan?
  74. Mustahil bagimu dari kesamaran di dalamnya dan dari keraguan, keduanya darimu tidak tersisa bekas baginya.
  75. Kewajibanmu dalam pembahasan adalah menyingkap yang samar-samar, “dan bukan kewajibanmu jika sapi-sapi itu tidak memahami”
  76. Engkau telah mendahulukan kepada Allah apa yang engkau dahulukan dari amal, dan bukan urusanmu tentang mereka, apakah mereka mencela atau berterima kasih.
  77. Apakah ada orang sepertimu yang tersembunyi darinya petunjuk, sementara dari langitmu muncul bintang-bintang yang bersinar?
  78. Dan bagaimana engkau berhati-hati dari sesuatu yang engkau tergelincir dengannya, engkau adalah orang yang bertakwa, maka apa ketakutan dan kehati-hatian?

Dan berkata Zainuddin Umar bin Al-Wardi meratapi beliau:

  1. Telah berbuat terhadap kehormatannya suatu kaum yang jahat, bagi mereka dari sebaran mutiara adalah pemungutan.
  2. Taqiyuddin Ahmad adalah sebaik-baik ulama, masalah-masalah yang rumit dapat dijahit dengannya.
  3. Ia wafat sementara ia dipenjara sendirian, dan tidak ada baginya kelapangan ke dunia.
  4. Dan seandainya mereka menghadiri ketika ia meninggal, niscaya mereka mendapati malaikat-malaikat surga mengelilinginya.
  5. Demi Allah, apa yang dikandung liang lahat itu, dan demi Allah, apa yang ditutupi oleh ubin.
  6. Mereka mengirikannya karena mereka tidak mencapai kebaikan-kebaikannya, maka mereka pun membuat tipu daya dan bertindak zalim.
  7. Dan mereka malas dari jalan-jalannya, namun dalam mencelakakannya mereka punya semangat.
  8. Dan pemenjaraan mutiara dalam kerang adalah kebanggaan, dan bagi Syaikh dalam penjara ada kegembiraan.
  9. Dengan keluarga Hasyimi ia meneladani, karena mereka telah merasakan kematian dan tidak bersepakat.
  10. Seorang imam yang tidak mengharapkan kekuasaan, dan tidak ada wakaf untuknya dan tidak pula ribath.
  11. Dan ia tidak bersaing dengan kalian dalam mencari harta, dan tidak diketahui baginya campur tangan dengan kalian.
  12. Akan tampak maksud kalian wahai para pemenjaranya, dan niat kalian ketika shiratal mustaqim ditegakkan.
  13. Maka inilah ia telah meninggal dari kalian dan kalian merasa lega, maka lakukanlah apa yang kalian ingin lakukan.
  14. Dan buatlah ikatan dan lepaskanlah tanpa ada bantahan kepada kalian, dan terlipatlah permadani itu.

 

 

 

52 – Al-Mawa’iz wa al-I’tibar bi Dzikri al-Khithat wa al-Atsar (Pelajaran dan Peringatan dengan Menyebut Kawasan dan Peninggalan)

Penulis berkata setelah pembahasannya tentang Abu al-Hasan al-Asy’ari:

Tidak tersisa lagi mazhab yang menentangnya hari ini kecuali mazhab Hanabilah, para pengikut Imam Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal semoga Allah meridhoinya. Mereka berada di atas ajaran yang dipegang oleh para Salaf; mereka tidak berpendapat untuk menta’wil apa yang datang dari sifat-sifat Allah.

Hingga setelah tahun tujuh ratus Hijriyah, masyhurlah di Damaskus dan wilayah-wilayahnya Taqiyyuddin Abu al-Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Taimiyah al-Harrani. Ia tampil untuk membela mazhab Salaf, dan bersungguh-sungguh dalam menolak mazhab Asy’ariyah, serta terang-terangan mengingkari mereka, juga terhadap Rafidhah (Syiah) dan para Sufi. Maka manusia terbagi menjadi dua kelompok dalam menyikapinya:

Kelompok pertama mengikutinya, menyandarkan pada pendapat-pendapatnya, beramal dengan pandangannya, dan menganggap bahwa dia adalah Syaikhul Islam dan penjaga paling agung dari umat Islam.

Kelompok kedua membid’ahkannya dan menyesatkannya, mencela dia karena menetapkan sifat-sifat Allah, dan mengkritik beberapa masalahnya. Di antaranya ada yang memiliki pendahulu (dari ulama Salaf), dan di antaranya mereka mendakwa bahwa ia telah melanggar ijma’ dan tidak memiliki pendahulu dalam hal itu.

Terjadilah berbagai peristiwa besar antara dia dan mereka, dan perhitungan dia dan mereka adalah kepada Allah yang tidak tersembunyi bagi-Nya sesuatu pun di bumi dan tidak pula di langit. Hingga masa kita ini dia masih memiliki beberapa pengikut di Syam, dan sedikit di Mesir.

 

 

53 – As-Suluk li Ma’rifati Duwali al-Muluk (Jalan untuk Mengetahui Negara-negara Raja)

Dalam tahun ini meninggal dari tokoh-tokoh terkemuka: Syaikhul Islam Taqiyyuddin Abu al-Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Abi al-Qasim bin Muhammad bin Taimiyah al-Harrani, di Damaskus pada malam Senin dua puluh Dzulqa’dah, dalam penjara di benteng. Kelahirannya pada hari Senin sepuluh Rabiul Awal, tahun enam ratus enam puluh satu.

54 – Mukhtashar Dzail Thabaqat al-Hanabilah (Ringkasan Tambahan Tabaqat Hanabilah)

Karya Syaikh Ahmad bin Nashrullah al-Baghdadi al-Hanbali (846 H)

“Ahmad bin Abdul Halim …………………….. “.

(Peringatan): Kami tidak mencantumkan biografi di sini karena teksnya sama persis dari “Dzail Thabaqat al-Hanabilah” karya Ibnu Rajab, asal buku ini. Sang peringkas mencantumkannya sebagaimana dalam aslinya tanpa mengubah apa pun, dan penulis telah menyebutkan dalam muqaddimah ringkasannya ini bahwa sebagian biografi ia cantumkan sebagaimana aslinya = maka ini termasuk yang demikian.

 

 

Al-Hafizh Ahmad bin Ali Ibnu Hajar al-Asqalani (852 H)

  1. Ad-Durar al-Kaminah
  2. Taqdrizhnya untuk Ar-Raddu al-Wafir karya Ibnu Nashir ad-Din

55 – Ad-Durar al-Kaminah fi A’yan al-Mi’ah ats-Tsaminah (Mutiara Tersembunyi tentang Tokoh-tokoh Abad Kedelapan)

Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Abi al-Qasim bin Taimiyah al-Harrani kemudian ad-Dimasyqi al-Hanbali, Taqiyyuddin Abu al-Abbas bin Syihabuddin bin Majduddin.

Ia lahir pada sepuluh Rabiul Awal tahun 661 H dan dibawa oleh ayahnya dari Harran tahun 667 H. Ia mendengar hadits dari Ibnu Abdul Da’im, al-Qasim al-Irbili, al-Muslim bin Alnan, Ibnu Abi Umar, dan al-Fakhri serta yang lainnya. Ia membaca sendiri dan menyalin “Sunan Abi Dawud”, mengumpulkan juz-juz hadits, mempelajari rijal dan ilal, berfiqih, menguasai ilmu, menonjol, maju, menulis karya, mengajar, dan berfatwa. Ia melampaui teman-teman seangkatannya, dan menjadi keajaiban dalam kecepatan menghafal dan kekuatan pemahaman, penguasaan luas dalam ilmu naqli dan aqli, serta mengetahui mazhab-mazhab Salaf dan Khalaf.

Pertama kali mereka mengingkari dari pernyataannya adalah pada bulan Rabiul Awal tahun 698 H. Sekelompok fuqaha menentangnya karena Fatwa Hamawiyah. Mereka berdebat dengannya dan ia dilarang berbicara, kemudian hadir bersama Qadhi Imamuddin al-Qazwini yang membelanya. Dia dan saudaranya Jalaluddin berkata: Barangsiapa mengatakan sesuatu tentang Syaikh Taqiyyuddin maka kami akan memberi sanksi ta’zir kepadanya.

Kemudian ia dipanggil untuk kedua kalinya pada tahun 705 H ke Mesir. Baibars al-Jasyankir bersikap fanatik menentangnya dan Salar membelanya, kemudian akhirnya ia dipenjara di Khazanah al-Bunud beberapa waktu, lalu dipindahkan pada bulan Safar tahun 709 H ke Iskandariah, kemudian dibebaskan dan dikembalikan ke Kairo kemudian dikembalikan lagi ke Iskandariah, kemudian An-Nashir datang dari Karak lalu membebaskannya, dan ia sampai ke Damaskus pada akhir tahun 712 H. Sebab dari ujian ini adalah: bahwa surat perintah Sultan datang kepada wakil Sultan untuk mengujinya dalam akidahnya karena sampai kepadanya hal-hal yang diingkari dalam hal itu, maka dibuatlah majelis untuknya pada tanggal tujuh Rajab, dan ia ditanya tentang akidahnya, lalu ia mendiktekan sesuatu darinya kemudian mereka menghadirkan akidah yang dikenal dengan Wasithiyah lalu dibacakan sebagiannya, dan mereka membahas beberapa tempat kemudian mereka berkumpul pada tanggal dua belas bulannya, dan memutuskan Ash-Shafi al-Hindi berdebat dengannya, kemudian mereka mengundurkannya dan mendahulukan al-Kamal az-Zamlakani, kemudian masalah selesai dengan ia bersaksi atas dirinya bahwa ia beraqidah Syafi’i, maka pengikutnya menyebarkan bahwa ia menang, lalu lawannya marah dan mereka mengadukan salah seorang pengikut Ibnu Taimiyah kepada Jalaluddin al-Qazwini wakil hakim di al-Adiliyah maka ia memberinya sanksi ta’zir demikian juga yang dilakukan hakim Hanafi terhadap dua orang dari mereka.

Kemudian pada tanggal dua puluh Rajab, al-Mizzi membacakan satu bab dari kitab “Af’al al-Ibad” karya al-Bukhari di masjid, lalu sebagian ulama Syafi’iyah mendengarnya dan marah, mereka berkata: Kami yang dimaksud dengan ini, dan mereka mengadukannya kepada qadhi Syafi’i yang memerintahkan memenjarakannya, lalu sampai kepada Ibnu Taimiyah dan ia pergi ke penjara lalu mengeluarkannya dengan tangannya sendiri, sampailah kepada qadhi lalu ia naik ke benteng dan Ibnu Taimiyah menemuinya, lalu mereka bertengkar di hadapan wakil Sultan, dan Ibnu Taimiyah keras terhadap qadhi karena wakilnya Jalaluddin menyakiti para sahabatnya dalam ketidakhadiran wakil Sultan, maka wakil Sultan memerintahkan seseorang untuk mengumumkan: Barangsiapa berbicara dalam masalah akidah maka diperlakukan demikian kepadanya, dan maksudnya dengan itu adalah menenangkan fitnah.

Kemudian dibuatlah majelis untuk mereka pada akhir Rajab dan terjadi di dalamnya perdebatan antara Ibnu az-Zamlakani dan Ibnu al-Wakil, maka Ibnu az-Zamlakani berkata kepada Ibnu al-Wakil: Yang terjadi pada ulama Syafi’iyah masih sedikit hingga engkau menjadi pemimpin mereka, maka qadhi Najmuddin Ibnu Shashri menyangka bahwa ia yang dimaksud, maka ia memberhentikan dirinya dan pergi lalu para panglima membantunya, dan wakil Sultan mengangkatnya dan hakim Hanafi memutuskan sahnya pengangkatan, dan hakim Maliki mengesahkannya, maka ia kembali ke rumahnya dan mengetahui bahwa pengangkatan tidak sah, maka ia bersikeras untuk berhenti, lalu wakil Sultan memerintahkan wakilnya untuk menjalankan tugas hingga perintah Sultan datang. Kemudian datang kurir pada akhir Sya’ban dengan pengembaliannya, kemudian datang kurir pada tanggal lima Ramadhan dengan panggilan qadhi dan syaikh dan agar mereka mengirimkan laporan apa yang terjadi pada syaikh pada tahun 698 H. Kemudian datang budak wakil Sultan dan memberitahukan bahwa al-Jasyankir dan qadhi Maliki telah bergerak dalam mengingkari syaikh, dan bahwa perkara menjadi keras di Mesir terhadap Hanabilah hingga sebagian mereka ditampar.

Kemudian qadhi dan syaikh berangkat ke Kairo dan bersama mereka sekelompok orang, lalu mereka tiba pada sepuluh terakhir Ramadhan, dan dibuatlah majelis pada tanggal tiga belas bulannya setelah shalat Jum’at, maka diajukan gugatan terhadap Ibnu Taimiyah di hadapan hakim Maliki, lalu ia berkata: Ini musuhku, dan ia tidak menjawab gugatan, maka diulangi kepadanya lalu ia bersikeras, maka hakim Maliki memutuskan memenjarakannya, maka ia diangkat dari majelis dan dipenjara di menara, kemudian sampai kepada hakim Maliki bahwa orang-orang berdatangan kepadanya maka ia berkata: Wajib memperketat terhadapnya jika tidak dibunuh, jika tidak maka telah tetap kekufurannya, maka mereka memindahkannya pada malam Ied Fitri ke sumur, dan qadhi Syafi’i kembali ke jabatannya dan diumumkan di Damaskus: Barangsiapa berakidah akidah Ibnu Taimiyah maka halal darah dan hartanya khususnya Hanabilah, maka diumumkan demikian dan dibacakan surat perintah dan dibacakan oleh Ibnu asy-Syihab Mahmud di masjid, kemudian mereka mengumpulkan Hanabilah dari Shalihiyah dan lainnya dan mereka dipersaksikan atas diri mereka bahwa mereka berakidah Imam asy-Syafi’i, dan disebutkan anak Syaikh Jamaluddin Ibnu azh-Zhahiri dalam surat yang ia tulis untuk sebagian temannya di Damaskus bahwa semua yang ada di Mesir dari para qadhi, syaikh, fuqara, ulama, dan orang-orang khusus mencela Ibnu Taimiyah, kecuali hakim Hanafi karena ia fanatik membela dia, dan kecuali hakim Syafi’i karena ia diam tentang dia.

Dan yang paling besar berdiri menentangnya adalah Syaikh Nashr al-Munbiji karena telah sampai kepada Ibnu Taimiyah bahwa ia fanatik kepada Ibnu Arabi maka ia menulis kepadanya surat menegurnya tentang itu, maka ia tidak suka karena ia berlebihan dalam mencela Ibnu Arabi dan mengkafirkannya, maka ia pun mencela Ibnu Taimiyah dan menghasut dengannya kepada Baibars al-Jasyankir, dan Baibars berlebihan dalam mencintai Nashr dan mengagungkannya, dan qadhi Zainuddin Ibnu Makhluf qadhi Malikiyah bersama Syaikh Nashr berdiri dan berlebihan dalam menyakiti Hanabilah, dan kebetulan qadhi Hanabilah Syarafuddin al-Harrani sedikit ilmunya, maka ia bersegera menjawab mereka dalam masalah akidah dan mereka minta tulisan tangannya dengan itu, dan kebetulan qadhi Hanafiyah di Damaskus, yaitu Syamsuddin Ibnu al-Hariri membela Ibnu Taimiyah, dan menulis dalam haknya berita acara dengan pujian kepadanya dengan ilmu dan pemahaman, dan menulis di dalamnya dengan tulisan tangannya tiga belas baris di antaranya bahwa sejak tiga ratus tahun manusia tidak melihat sepertinya, maka sampai itu kepada Ibnu Makhluf lalu ia berusaha memberhentikan Ibnu al-Hariri, maka ia diberhentikan dan diganti dengan Syamsuddin al-Azra’i, kemudian al-Azra’i tidak lama diberhentikan pada tahun berikutnya.

Dan Salar fanatik membela Ibnu Taimiyah dan menghadirkan tiga qadhi: Syafi’i, Maliki, dan Hanafi dan berbicara dengan mereka dalam mengeluarkannya maka mereka sepakat bahwa mereka mensyaratkan kepadanya syarat-syarat, dan agar ia kembali dari sebagian akidahnya, maka mereka mengirim kepadanya beberapa kali lalu ia menolak hadir kepada mereka dan terus begitu, dan Ibnu Taimiyah tidak berhenti di sumur hingga Muhanna amir Al Fadhl memberi syafa’at untuknya maka ia dikeluarkan pada bulan Rabiul Awal tanggal dua puluh tiga bulannya, dan dihadirkan ke benteng, dan terjadi pembahasan dengan sebagian fuqaha, maka ditulislah atasnya berita acara bahwa ia berkata: Saya Asy’ari, kemudian ditemukan tulisan tangannya dengan teksnya: Yang saya yakini bahwa Al-Quran adalah makna yang berdiri dengan Dzat Allah, dan ia adalah sifat dari sifat-sifat Dzat-Nya yang Qadim, dan ia tidak makhluk, dan bukan huruf dan tidak pula suara, dan bahwa firman-Nya: “Ar-Rahman, di atas ‘Arsy bersemayam” (Thaha: 5) bukan pada zhahirnya, dan aku tidak mengetahui hakikat yang dimaksud dengannya, bahkan tidak mengetahuinya kecuali Allah, dan perkataan tentang Nuzul seperti perkataan tentang Istawa. Dan menulisnya Ahmad bin Taimiyah. Kemudian mereka mempersaksikan atasnya bahwa ia bertaubat dari apa yang bertentangan dengan itu dengan pilihan sendiri, dan itu pada tanggal lima belas Rabiul Awal tahun 707 H dan bersaksi atasnya dengan itu sejumlah besar dari ulama dan lainnya, dan keadaan menjadi tenang dan ia dibebaskan dan tinggal di Kairo.

Kemudian berkumpul sekelompok Sufi di tempat Tajuddin Ibnu Atha’, maka mereka naik pada sepuluh pertengahan Syawal ke benteng, dan mereka mengadu dari Ibnu Taimiyah bahwa ia berbicara dalam hak masyaikh thariqah, dan bahwa ia berkata: Tidak boleh meminta pertolongan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka keadaan mengharuskan bahwa ia diperintahkan untuk dikirim ke Syam, maka ia berangkat dengan kuda pos… dan semua itu sedangkan qadhi Zainuddin Ibnu Makhluf sibuk dengan dirinya sendiri dengan penyakit, dan ia telah mendekati kematian dan sampai kepadanya perjalanan Ibnu Taimiyah maka ia berkirim surat kepada wakil Sultan, maka ia dikembalikannya dari Bilbis dan diajukan gugatan atasnya di hadapan Ibnu Jama’ah, dan bersaksi atasnya Syarafuddin Ibnu ash-Shabuni, dan dikatakan bahwa Ala’uddin al-Qunawi juga bersaksi atasnya; maka ia ditahan di penjara Harat ad-Dailam pada tanggal delapan belas Syawal hingga akhir Safar tahun 709 H. Maka diceritakan darinya bahwa sekelompok orang berdatangan kepadanya, dan bahwa ia berbicara kepada mereka dalam sesuatu seperti yang terdahulu maka diperintahkan untuk memindahkannya ke Iskandariah, maka ia dipindahkan ke sana pada akhir Safar, dan perjalanannya bersama seorang amir muqaddam, dan tidak dimungkinkan seorang pun dari pihaknya untuk pergi bersamanya, dan ia dipenjara di menara timur, kemudian sebagian sahabatnya pergi kepadanya maka mereka tidak dicegah darinya, maka sekelompok dari mereka berangkat setelah sekelompok, dan tempatnya luas, maka manusia mulai masuk kepadanya dan membaca kepadanya dan berdiskusi dengannya. Aku membaca itu dalam “Tarikh al-Birzali”.

Maka ia tidak berhenti hingga an-Nashir kembali ke kesultanan lalu ia memberi syafa’at untuknya padanya, maka ia memerintahkan untuk menghadirkannya, maka ia bertemu dengannya pada tanggal delapan belas Syawal tahun sembilan, lalu ia memuliakan dia, dan mengumpulkan para qadhi dan mendamaikan antara dia dan qadhi Maliki, maka hakim Maliki mensyaratkan agar tidak mengulangi, maka Sultan berkata kepadanya: Ia telah bertaubat.

Dan ia menetap di Kairo, lalu orang-orang berdatangan kepadanya hingga ia berangkat bersama An-Nashir menuju Syam dengan niat berperang pada tahun 712, yaitu pada bulan Syawal. Ia tiba di Damaskus pada awal bulan Dzulqa’dah, sehingga masa kepergiannya dari kota itu lebih dari tujuh tahun. Orang banyak menyambutnya dengan gembira atas kedatangannya, dan ibunya ketika itu masih hidup.

Kemudian mereka menyerangnya pada bulan Ramadhan tahun 719 karena masalah talak, dan ia dilarang keras untuk berfatwa. Kemudian diadakan majelis lain untuknya pada bulan Rajab tahun 720. Lalu ia dipenjara di benteng, kemudian dibebaskan pada hari Asyura tahun 721.

Kemudian mereka menyerangnya lagi pada bulan Sya’ban tahun 726 karena masalah ziarah, dan ia ditahan di benteng. Ia tetap berada di sana hingga wafat pada malam Senin tanggal 20 Dzulqa’dah tahun 728. Ash-Shalah Ash-Shafadi berkata: Ia sering melantunkan syair:

Jiwa-jiwa mati karena penyakitnya Namun yang menjenguknya tidak mengetahui apa yang dideritanya Dan tidak adil bagi jiwa yang mengadu Penderitaannya kepada selain kekasihnya

Dan ia sering melantunkan:

Barangsiapa tidak memimpin dan tidak menginjak di hidungnya Debu pasukan kuda, maka ia tidak akan memimpin pasukan

Dan ia melantunkan atas nama para fakir:

Demi Allah, kefakiran kami bukan pilihan Melainkan kefakiran kami karena terpaksa Kami semua adalah kelompok orang-orang malas Dan makanan kami tidak ada takaran Kau dengar dari kami jika kami berkumpul Hakikatnya semua omong kosong

Dan ia merinci nama-nama karya tulisannya dalam tiga lembar besar, dan ia menyebutkan di dalamnya pujian dari ulama semasanya seperti Ibnu Az-Zamlakani sebelum ia berbalik memusuhinya, dan seperti Abu Hayyan demikian juga dan yang lainnya. Ia berkata: Yang meratapi kematiannya adalah Mahmud bin Ali Ad-Daquqi, Mujir Ad-Din Ibnu Al-Khayyath, Shafi Ad-Din Abdul Mu’min Al-Baghdadi, Jamal Ad-Din Ibnu Al-Atsir, Taqi Ad-Din Muhammad bin Sulaiman Al-Ja’bari, ‘Ala’ Ad-Din bin Ghanim, Syihab Ad-Din Ibnu Fadhlillah, Zain Ad-Din Ibnu Al-Wardi dan orang banyak lainnya, dan ia menyebutkan untuk dirinya sendiri sebuah ratapan dengan qafiyah huruf dhad.

Adz-Dzahabi berkata yang ringkasannya: Sangat mengherankan darinya jika ia menyebutkan suatu masalah dari masalah-masalah khilafiyah lalu beristidlal dan mentarjih, dan ia memang berhak berijtihad karena syarat-syaratnya terkumpul padanya.

Ia berkata: Aku tidak pernah melihat orang yang lebih cepat mengambil ayat-ayat yang menunjukkan suatu masalah yang ia kemukakan daripada dia, dan tidak ada yang lebih kuat hafalannya terhadap matan-matan hadits dan menisbatkannya daripada dia, seakan-akan Sunnah berada di depan matanya dan di ujung lidahnya dengan ungkapan yang indah dan pandangan yang terbuka. Ia adalah ayat dari ayat-ayat Allah dalam tafsir dan perluasannya. Adapun mengenai dasar-dasar agama dan pengetahuan tentang pendapat-pendapat para penentang, maka tidak ada yang menandinginya dalam hal itu. Ini semua dengan kemuliaan akhlak, keberanian, dan kekosongan dari kenikmatan jiwa yang ada padanya, dan barangkali fatwa-fatwanya dalam berbagai cabang ilmu mencapai tiga ratus jilid bahkan lebih. Ia adalah orang yang berkata benar, tidak takut celaan orang yang mencela dalam perkara Allah.

Kemudian ia berkata: Dan barangsiapa yang bergaul dan mengenalnya, mungkin akan menilai aku kurang dalam menggambarkannya, dan barangsiapa yang memusuhinya dan menentangnya mungkin akan menilai aku berlebihan terhadapnya. Aku telah disakiti oleh dua kelompok, dari para pengikutnya dan dari para penentangnya. Ia berkulit putih, rambutnya hitam dan jenggotnya hitam dengan sedikit uban, rambutnya sampai ke daun telinganya, seakan-akan kedua matanya adalah dua lisan yang berbicara, tingginya sedang, lebar jarak kedua bahunya, suaranya keras, fasih, cepat dalam membaca, kadang disertai sikap keras namun ia mengalahkannya dengan kesabaran.

Ia berkata: Aku tidak pernah melihat yang sepertinya dalam permohonan dan meminta pertolongan serta banyaknya tawajjuh kepada Allah. Aku tidak meyakini ia ma’shum, bahkan aku menyelisihinya dalam masalah-masalah pokok dan cabang. Sungguh ia dengan luasnya ilmunya, keberanian yang luar biasa, kecerdasan otaknya, dan pengagungannya terhadap kehormatan agama, tetaplah manusia biasa yang mempunyai sikap keras dalam berdebat, kemarahan dan kekasaran terhadap lawan, yang menumbuhkan permusuhan di dalam jiwa, kalau saja ia bersikap lembut kepada lawannya niscaya ia akan menjadi kata ijma’. Sesungguhnya para tokoh tunduk kepada ilmunya, mengakui ketajaman pikirannya, mengakui sedikitnya kesalahannya dan bahwa ia adalah lautan yang tidak ada pantainya, dan harta karun yang tidak ada tandingannya. Namun mereka mengingkari beberapa akhlak dan perbuatannya, dan setiap orang ada yang diambil dari perkataannya dan ada yang ditinggalkan.

Ia berkata: Ia sangat menjaga shalat dan puasa, mengagungkan syariat zahir dan batin, tidak disebabkan oleh buruknya pemahaman karena ia memiliki kecerdasan yang luar biasa, dan bukan karena sedikitnya ilmu karena ia adalah lautan yang berombak, dan ia tidak bermain-main dengan agama, tidak menyendiri dengan masalah-masalahnya karena keinginan, tidak melepaskan lidahnya begitu saja, bahkan ia berdalil dengan Al-Qur’an, hadits dan qiyas, ia berargumentasi dan berdebat seperti para imam yang mendahuluinya. Maka baginya satu pahala atas kesalahannya, dan dua pahala atas kebenarannya.

Hingga ia berkata: Ia sakit beberapa hari di benteng dengan penyakit yang parah hingga wafat pada malam Senin tanggal 20 Dzulqa’dah. Dishalatkan atasnya di masjid Damaskus dan banyaknya orang yang menghadiri jenazahnya menjadi perumpamaan, dan paling sedikit yang dikatakan tentang jumlah mereka adalah lima puluh ribu orang.

Asy-Syihab Ibnu Fadhlillah berkata: Ketika Ibnu Taimiyah datang dengan pos kuda ke Kairo pada tahun tujuh ratus, ia menginap di rumah pamanku Syaraf Ad-Din. Ia mendorong penguasa kerajaan untuk berjihad, maka ia mengucapkan kata-kata keras kepada Sultan dan para amir. Mereka mengalokasikan untuknya di tempat tinggalnya setiap hari satu dinar dan sekarung makanan, namun ia tidak menerima sedikitpun dari itu. Sultan mengiriminya sekantong kain tetapi ia mengembalikannya. Ia berkata: Kemudian guru kami Abu Hayyan menghadiri majlisnya lalu berkata: Mataku tidak pernah melihat seperti orang ini. Kemudian ia memujinya dengan beberapa bait yang ia sebutkan bahwa ia menggubahnya secara spontan dan membacakannya kepadanya:

Ketika Taqi Ad-Din datang kepada kami, tampaklah bagi kami Seorang da’i kepada Allah yang sendirian tiada pembantunya Di wajahnya dari tanda-tanda orang yang menemani Sebaik-baik makhluk, cahaya yang melebihi bulan Seorang ulama yang masanya diliputi kemuliaan darinya Lautan yang bergelombang dari ombaknya mutiara-mutiara Ibnu Taimiyah berdiri dalam menolong syariat kami Seperti berdirinya pemimpin Bani Taim ketika Mudhar membangkang Dan ia menampakkan kebenaran ketika jejak-jejaknya telah terhapus Dan memadamkan kejahatan ketika percikan api beterbangan Kami diceritakan tentang seorang ulama yang akan datang, maka Engkaulah Imam yang telah ditunggu-tunggu

Kemudian terjadi pembicaraan di antara keduanya lalu disebutlah Sibawaih, maka Ibnu Taimiyah mengucapkan kata-kata keras tentang Sibawaih, sehingga Abu Hayyan memusuhinya dan memutuskan hubungan dengannya karena itu. Kemudian ia kembali mencela Ibnu Taimiyah dan menjadikan itu sebagai dosa yang tidak terampuni. Ia berkata: Dan Ibnu Al-Muhibb berhaji tahun 734, lalu ia mendengar dari Abu Hayyan beberapa syair. Ia membacakan bait-bait ini kepadanya, maka Abu Hayyan berkata: Sungguh aku telah menghapusnya dari diwanku dan aku tidak mengingatnya dengan kebaikan. Maka ia bertanya kepadanya tentang sebabnya, lalu ia berkata: Aku berdebat dengannya dalam sesuatu dari bahasa Arab, lalu aku menyebutkan kepadanya perkataan Sibawaih, maka ia berkata: Sialan Sibawaih. Abu Hayyan berkata: Dan orang ini tidak layak untuk diajak bicara. Dan dikatakan bahwa Ibnu Taimiyah berkata kepadanya: Sibawaih bukanlah nabi nahwu, dan ia tidak ma’shum, bahkan ia salah dalam kitabnya di delapan puluh tempat yang tidak kau pahami. Maka itu menjadi sebab pemutusan hubungan Abu Hayyan dengannya dan penyebutan namanya dalam tafsirnya Al-Bahr dengan seburuk-buruknya, demikian juga dalam ringkasannya An-Nahr.

Syihab Ad-Din Ibnu Fadhlillah meratapi kematiannya dengan qashidah ra’iyyah yang indah, dan menuliskan biografi yang sangat lengkap untuknya yang akan dipindahkan dari Al-Masalik insya Allah. Dan Zain Ad-Din Ibnu Al-Wardi meratapi kematiannya dengan qashidah tha’iyyah yang bagus. Jamal Ad-Din As-Sarmari berkata dalam Amalinya: Dan termasuk keajaiban yang terjadi dalam hal hafalan dari orang-orang di zaman kami adalah bahwa Ibnu Taimiyah ketika membaca sebuah buku sekali, maka tercetak di benaknya dan ia memindahkannya dalam karya-karya tulisannya dengan lafazh dan maknanya. Al-Aqsyihri berkata dalam Rihlatnya tentang Ibnu Taimiyah: Mahir dalam fiqih, ushul fiqih, ushul ad-din, faraid, hisab dan cabang-cabang ilmu lainnya. Tidak ada satu cabang ilmupun kecuali ia memiliki keahlian yang tinggi di dalamnya, dan penanya serta lisannya hampir setara.

Ath-Thufi berkata: Aku mendengarnya berkata: Barangsiapa bertanya kepadaku untuk belajar, aku akan menjelaskan kepadanya, dan barangsiapa bertanya kepadaku untuk menyusahkan, aku akan membantahnya sehingga tidak lama ia akan terputus, maka aku cukup terhindar dari kesusahannya.

Dan ia menyebutkan karya-karya tulisannya dan berkata tentang kitabnya Ibthal Al-Hiyal: Sangat bermanfaat. Dan ia berbicara di atas mimbar dengan cara para mufassir disertai fiqih dan hadits, lalu ia menyebutkan dalam satu waktu dari Al-Kitab (Al-Qur’an), As-Sunnah, bahasa dan nadzar, apa yang tidak mampu dilakukan seseorang dalam beberapa majelis, seakan-akan ilmu-ilmu ini ada di depan matanya, ia mengambil darinya apa yang ia kehendaki dan meninggalkan. Dari sinilah para pengikutnya dinisbatkan berlebih-lebihan terhadapnya dan hal itu menimbulkan kesombongan pada dirinya, hingga ia angkuh terhadap sesama ulama. Ia merasa bahwa dirinya adalah mujtahid, maka ia mulai menolak pendapat ulama kecil dan besar, terdahulu dan terkini, hingga sampai kepada Umar dan ia menyalahkannya dalam sesuatu. Hal itu sampai kepada Asy-Syaikh Ibrahim Ar-Ruqqi, lalu ia mengingkarinya. Maka Ibnu Taimiyah mendatanginya dan meminta maaf serta beristighfar. Dan ia berkata tentang Ali: Ia salah dalam tujuh belas perkara yang menyelisihi nash Al-Kitab, di antaranya iddah wanita yang ditinggal mati suaminya adalah yang paling lama dari dua waktu. Dan karena fanatiknya terhadap madzhab Hanabilah, ia menyerang Asy’ariyah, hingga ia mencela Al-Ghazali, maka bangkitlah sekelompok orang atasnya yang hampir membunuhnya. Dan ketika Ghazan datang dengan pasukan Tatar ke Syam, ia keluar menemuinya dan berbicara kepadanya dengan kata-kata keras, maka Ghazan berniat membunuhnya kemudian ia selamat, dan tersebarlah urusannya sejak hari itu.

Dan terjadilah bahwa Asy-Syaikh Nashr Al-Manbiji telah maju dalam pemerintahan karena keyakinan Baibars Al-Jasyanikir kepadanya. Sampai kepadanya bahwa Ibnu Taimiyah menyerang Ibnu Al-Arabi karena ia meyakini bahwa ia lurus, dan bahwa yang dinisbatkan kepadanya tentang paham ittihad atau ilhad adalah dari kurangnya pemahaman orang yang mengingkarinya. Maka ia mengirim surat mengingkarinya dan menulis kepadanya surat panjang, dan menisbatkan ia serta pengikutnya kepada paham ittihad yang merupakan hakikat ilhad. Maka hal itu sangat berat bagi mereka. Dan sekelompok orang lain membantunya dan mencatat beberapa kata darinya dalam masalah akidah yang berubah yang keluar darinya dalam majelis-majelisnya dan fatwa-fatwanya. Mereka menyebutkan bahwa ia menyebut hadits nuzul, lalu ia turun dari mimbar dua anak tangga dan berkata: Seperti turunnya aku ini, maka ia dinisbatkan kepada paham tajsim. Dan penolakannya terhadap orang yang bertawassul dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau meminta pertolongan, maka ia dipanggil dari Damaskus pada bulan Ramadhan tahun 705, lalu terjadilah apa yang terjadi atasnya dan ia dipenjara berulang kali. Ia tetap dalam kondisi itu sekitar empat tahun atau lebih, dan ia dalam kondisi itu tetap mengajar dan berfatwa, hingga terjadilah bahwa Asy-Syaikh Nashr bangkit melawan Asy-Syaikh Karim Ad-Din Al-Amili, syaikh khanaqah Sa’id As-Su’ada, lalu ia mengeluarkannya dari khanaqah, dan melawan Syams Ad-Din Al-Jazari, lalu ia mengeluarkannya dari pengajaran di Asy-Syarifiyah. Dikatakan bahwa Al-Amili masuk khalwat di Mesir selama empat puluh hari, maka ia tidak keluar hingga hilang kekuasaan Baibars dan terpadamlah sebutan Nashr dan dibebaskan Ibnu Taimiyah ke Syam.

Dan manusia terpecah menjadi kelompok-kelompok tentangnya. Sebagian mereka menisbatkannya kepada paham tajsim karena apa yang ia sebutkan dalam Aqidah Al-Hamawiyah, Al-Wasithiyah dan yang lainnya tentang itu, seperti perkataannya: Sesungguhnya tangan, kaki, betis dan wajah adalah sifat-sifat yang hakiki bagi Allah, dan bahwa Dia istawa di atas Arsy dengan dzat-Nya. Maka dikatakan kepadanya: Hal itu mengharuskan pembatasan tempat dan pembagian. Maka ia berkata: Aku tidak menyerahkan bahwa pembatasan tempat dan pembagian adalah dari kekhususan benda-benda. Maka ia diharuskan bahwa ia berkata dengan pembatasan tempat pada dzat Allah. Sebagian mereka menisbatkannya kepada zindiq karena perkataannya: Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diminta pertolongan kepadanya, dan bahwa dalam hal itu terdapat pengurangan dan pencegahan dari pengagungan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan orang yang paling keras atasnya dalam hal itu adalah An-Nur Al-Bakri. Ketika diadakan majelis untuknya karena itu, sebagian yang hadir berkata: Ia harus dita’zir. Maka Al-Bakri berkata: Tidak ada makna bagi perkataan ini, karena jika itu adalah pengurangan maka ia harus dibunuh, dan jika itu bukan pengurangan maka ia tidak dita’zir. Sebagian mereka menisbatkannya kepada nifaq karena perkataannya tentang Ali yang telah disebutkan, dan karena perkataannya: Ia adalah orang yang kalah kemanapun ia pergi, dan bahwa ia berusaha untuk mendapatkan khilafah berulang kali namun tidak mendapatkannya, dan bahwa ia berperang untuk kepemimpinan bukan untuk agama. Dan karena perkataannya: Ia mencintai kepemimpinan, dan bahwa Utsman mencintai harta. Dan karena perkataannya: Abu Bakar masuk Islam dalam usia tua, tidak tahu apa yang ia katakan, dan Ali masuk Islam saat kecil sedangkan anak kecil tidak sah islamnya menurut suatu pendapat. Dan dengan perkataannya dalam kisah pinangan putri Abu Jahal dan apa yang ia sebutkan dari pujian terhadap… dan kisah Abu Al-Ash bin Ar-Rabi’ dan apa yang diambil dari pemahamannya, karena ia mengkritik keras dalam hal itu. Maka mereka mengharuskan ia munafik karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Dan tidak membencimu kecuali orang munafik.” Sekelompok orang menisbatkan bahwa ia berusaha untuk mendapatkan imamah kubra (kepemimpinan besar), karena ia sering menyebut Ibnu Tumart dan memujinya. Maka hal itu menjadi penguat bagi lamanya pemenjaraannya. Dan ia memiliki peristiwa-peristiwa yang terkenal. Dan jika ia dipaksa dan diharuskan, ia berkata: Aku tidak bermaksud ini, sesungguhnya aku bermaksud begini, lalu ia menyebutkan kemungkinan yang jauh.

Dia berkata: Dan dia termasuk orang paling cerdas di dunia dan memiliki hal-hal besar dalam hal itu, di antaranya: bahwa Muhammad bin Abi Bakr as-Sakakini membuat beberapa bait syair atas nama seorang dzimmi yang mengingkari takdir, yang awalnya:

Wahai para ulama agama, seorang dzimmi mengkritik agama kalian Ia bingung dengan dalil yang sangat besar Jika Tuhanku memutuskan kekufuranku menurut kalian Namun Dia tidak meridainya dariku, maka apa solusi bagiku

Maka Ibnu Taimiyyah membacanya lalu menyilangkan salah satu kakinya di atas kaki yang lain dan menjawab dalam majelis sebelum berdiri dengan seratus sembilan belas bait yang awalnya:

Pertanyaanmu wahai orang ini adalah pertanyaan orang yang membangkang Yang memusuhi Tuhan Arsy, Pencipta makhluk

Dan dia biasa berkata: Aku adalah orang paling fakir di dalam sangkar.

Dan syekh dari para guru kami, al-Hafizh Abu al-Fath al-Ya’muri berkata dalam biografi Ibnu Taimiyyah: Al-Mizzi mendorongku untuk bertemu dengan Syekh Imam Syaikhul Islam Taqiyuddin, maka aku mendapatinya termasuk orang yang telah meraih bagian dari ilmu pengetahuan dan hampir menguasai semua sunnah dan atsar hafalannya. Jika dia berbicara tentang tafsir maka dialah pembawa benderanya, jika dia berfatwa dalam fikih maka dialah yang mencapai tujuannya, jika dia membahas hadits maka dialah pemilik ilmunya dan pemegang riwayatnya, jika dia hadir dalam pembahasan agama-agama dan aliran-aliran maka tidak terlihat yang lebih luas dari alirannya dalam hal itu dan tidak ada yang lebih tinggi dari pemahamannya. Dia unggul dalam setiap bidang dari anak-anak bangsanya, dan mata yang melihatnya tidak pernah melihat yang seperti dia, dan matanya tidak pernah melihat yang seperti dirinya. Dia berbicara dalam tafsir maka hadir di majelisnya orang sangat banyak, mereka mengambil dari lautannya yang jernih yang segar, mereka merumput dari musim semi keutamaannya di taman dan sungai, hingga merayap kepadanya dari ahli negerinya penyakit dengki, dan orang-orang yang memandang di antara mereka fokus pada apa yang mereka kritik darinya tentang masalah-masalah akidah. Mereka menghafal darinya dalam hal itu ucapan-ucapan, mereka memperluas celaan kepadanya karena itu, mereka membidikkan panah untuk membid’ahkannya, dan mereka mengklaim bahwa dia menyelisihi jalan mereka dan memecah kelompok mereka. Maka dia berdebat dengan mereka dan mereka berdebat dengannya, sebagian memutuskan hubungan dengannya dan mereka memutuskan hubungan dengannya. Kemudian dia berdebat dengan kelompok lain yang berhubungan dengan kemiskinan pada suatu jalan, dan mereka mengklaim bahwa mereka berada pada batin yang paling tepat dan hakikat yang paling jelas. Maka dia mengungkap jalan-jalan itu dan menyebutkan baginya – menurut apa yang dia klaim – keburukan-keburukan. Maka kembali kepada kelompok pertama dari orang-orang yang mendebatnya, dan meminta bantuan kepada orang-orang yang memiliki kebencian kepadanya dari orang-orang yang memutuskan hubungan dengannya. Mereka menghubungkan urusan dengannya, dan setiap orang dari mereka menggunakan pikirannya untuk mengkafirkannya. Maka mereka menyusun risalah-risalah, dan menghasut orang-orang bodoh untuk berjuang dengannya di antara para pembesar, dan mereka berusaha untuk memindahkannya ke ibukota kerajaan di negeri Mesir, maka dia dipindahkan, dan dimasukkan ke penjara sesaat setelah kedatangannya dan ditahan. Mereka mengadakan majelis-majelis untuk menumpahkan darahnya, dan mereka mengumpulkan untuk itu orang-orang dari penghuni zawiyah dan penghuni madrasah, antara orang yang berpura-pura dalam perdebatan, orang yang menipu dengan penipuan, dan orang yang terang-terangan dengan pengkafiran yang berhadapan dengan pemutusan hubungan. Mereka menawarkan kepadanya ancaman kematian, dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan dada mereka dan apa yang mereka nyatakan.

Dan orang yang terang-terangan dengan kekufurannya tidak lebih buruk keadaannya daripada orang yang berpura-pura, dan kalajengking tipu dayanya telah merayap kepadanya. Maka Allah mengembalikan tipu daya setiap orang ke lehernya sendiri, dan menyelamatkannya melalui tangan orang yang dipilihNya, dan Allah menguasai urusanNya.

Kemudian dia tidak lepas setelah itu dari fitnah demi fitnah, dan tidak berpindah sepanjang umurnya dari cobaan ke cobaan, hingga dia menyerahkan urusannya kepada salah seorang hakim yang memegang tanggung jawab atas penahanannya, dan dia terus di penjaranya itu hingga waktu kepergiannya kepada rahmat Allah Ta’ala dan perpindahannya, dan kepada Allah dikembalikan semua urusan, dan Dia Yang mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang disembunyikan dada.

Dan hari itu merupakan hari yang disaksikan, jalan menjadi sempit dengan jenazahnya, dan kaum muslimin datang kepadanya dari setiap penjuru yang jauh, mereka mencari kedekatan dengan kehadirannya di hari ketika para saksi berdiri, dan mereka berpegang pada usungannya hingga mereka mematahkan tongkat-tongkat itu. Adz-Dzahabi berkata dalam biografinya di sebagian ijazah: Dia membaca Alquran dan fikih, berdebat dan berdalil dan dia masih di bawah umur baligh, dan unggul dalam ilmu dan tafsir, berfatwa dan mengajar dan dia masih di bawah usia dua puluh tahun, dan mengarang kitab-kitab, dan menjadi salah satu ulama besar di masa hidupnya para gurunya, dan karya-karyanya sekitar empat ribu juz atau lebih.

Dan dia berkata di tempat lain: Adapun penukilan fikih dan madzhab-madzhab Shahabat dan Tabi’in apalagi empat madzhab, maka tidak ada yang menyamainya dalam hal itu.

Dan di tempat lain: Dan dia memiliki kemampuan panjang dalam mengetahui pendapat-pendapat Salaf, dan jarang disebutkan suatu masalah kecuali dia menyebutkan di dalamnya madzhab-madzhab para Imam, dan dia telah menyelisihi empat Imam dalam beberapa masalah yang dia tulis tentangnya dan berdalil untuknya dengan Alquran dan Sunnah. Dan ketika dia ditahan di Iskandariyah, penguasa Sabta meminta kepadanya agar memberikan ijazah kepadanya untuk sebagian riwayat-riwayatnya, maka dia menulis untuknya sejumlah dari itu dalam sepuluh lembar dengan sanad-sanadnya dari hafalannya, di mana yang lain tidak mampu mengerjakan sebagiannya sekalipun orang terbesar. Dan dia menetap beberapa tahun tidak berfatwa dengan madzhab tertentu.

Dan dia berkata di tempat lain: Dia ahli dalam jalan Salaf, dan berdalil untuknya dengan dalil-dalil dan perkara-perkara yang tidak pernah didahului, dan dia mengungkapkan pernyataan-pernyataan yang orang lain enggan mengungkapkannya hingga berdiri atasnya banyak ulama di dua negeri (Kairo dan Damaskus), lalu mereka membid’ahkannya dan mendebatnya, sedangkan dia tetap teguh tidak berdiplomasi dan tidak berpihak, tetapi mengatakan kebenaran jika ijtihadnya menghantarkannya kepadanya dan ketajaman pikirannya serta luasnya wawasannya. Maka terjadi di antara mereka serangan-serangan perang dan pertempuran di Syam dan Mesir, dan mereka melemparkannya dari satu busur, kemudian Allah Ta’ala menyelamatkannya. Dan dia selalu memohon dengan khusyuk, banyak meminta pertolongan, kuat tawakkalnya, teguh hatinya, memiliki wirid-wirid dan dzikir-dzikir yang terus dia lakukan dengan cara tertentu dan dengan kebersamaan.

Dan Adz-Dzahabi menulis kepada As-Subki menegurnya karena ucapan yang keluar darinya tentang Ibnu Taimiyyah, lalu dia menjawabnya dan di antara jawabannya: Adapun ucapan tuanku tentang Syekh Taqiyuddin, maka hamba benar-benar yakin dengan kebesaran kedudukannya, luasnya lautan ilmunya, keluasannya dalam ilmu-ilmu naqliyah dan aqliyah, kecerdasan dan ijtihadnya yang luar biasa, dan pencapaiannya dalam setiap hal itu yang melampaui deskripsi, dan hamba selalu mengatakan itu, dan kedudukannya dalam diriku lebih besar dari itu dan lebih agung, dengan apa yang Allah kumpulkan untuknya berupa zuhud, wara’, agama, pembelaan kebenaran, dan berdirinya dalam hal itu tidak untuk tujuan selain itu, serta jalannya mengikuti jalan Salaf, dan mengambilnya dari itu dengan cara yang paling sempurna, serta keanehan orang seperti dia di zaman ini, bahkan dari zaman-zaman.

Dan saya membaca dengan tulisan al-Hafizh Shalahudin al-‘Ala’i dalam catatan guru dari para guru kami al-Hafizh Bahaauddin Abdullah bin Muhammad bin Khalil yang isinya: Dan Bahaauddin yang disebutkan mendengar dari dua syekh: syekh kami, tuan kami dan imam kami di antara kami dan Allah Ta’ala, syekh kebenaran yang berjalan dengan orang yang mengikutinya dengan sebaik-baik jalan, pemilik keutamaan-keutamaan yang banyak dan hujjah-hujjah yang mengalahkan yang diakui oleh semua umat bahwa usaha mereka untuk menghitungnya tidak mampu, dan Allah memberi manfaat kepada kami dengan ilmu-ilmunya yang mulia dan memberi manfaat kepada kami dengannya di dunia dan akhirat, dan dialah Syekh Imam Alim Rabbani dan Ulama Lautan Quthub Nurani, Imam para Imam, berkah umat, allamah para ulama, pewaris para nabi, terakhir para mujtahid, tunggal para ulama agama, Syaikhul Islam, hujjah para pembesar, teladan manusia, dalil para mutakallimin, penunduk ahli bid’ah, pedang para debat, lautan ilmu, perbendaharaan orang-orang yang mencari manfaat, penerjemah Alquran, keajaiban zaman, unik dalam masa dan waktu: Taqiyuddin Imam kaum muslimin, hujjah Allah atas seluruh alam, yang menyusul orang-orang shalih dan yang menyerupai orang-orang terdahulu, mufti kelompok-kelompok, penolong kebenaran, allamah petunjuk, sandaran para hafizh, penunggang makna dan lafazh, rukun syariat, pemilik ilmu-ilmu yang indah, Abul Abbas Ibnu Taimiyyah.

Dan saya membaca dengan tulisan Syekh Burhanuddin ahli hadits Aleppo, dia berkata: Saya bertemu dengan Syekh Syihabuddin al-Adzra’i tahun tujuh ratus tujuh puluh sembilan ketika saya hendak melakukan perjalanan ke Damaskus, lalu dia menulis untuk saya surat-surat kepada al-Yasaufi, al-Hasbani, Ibnu al-Jabi, Ibnu Maktum dan jamaah Syafi’iyyah saat itu, maka saya mendapat penghormatan dari mereka, dan dia menyebutkan kepada saya dalam majelis itu Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah dan memujinya, dan menyebutkan sesuatu dari karamahnya, dan menyebutkan bahwa dia hadir di jenazahnya, dan bahwa orang-orang keluar dari masjid dari setiap pintu, dan saya keluar dari pintu al-Barid lalu jatuh sepatuku dan saya tidak bisa mengambilnya kembali dan saya berjalan di atas dada orang-orang, kemudian ketika kami selesai dan kembali saya menemukan sepatu itu, hal itu dari berkah Syekh rahimahullah.

 

 

56 – Penghargaannya atas ar-Raddu al-Wafir

Segala puji bagi Allah, dan salam atas hamba-hambaNya yang dipilih.

Saya mempelajari karya tulis yang bermanfaat ini, dan kumpulan yang merupakan tujuan-tujuan yang dikumpulkan untuk hal itu. Maka saya mengetahui luasnya wawasan Imam yang mengarangnya dan kepenuhan ilmu-ilmu yang bermanfaat yang membesarkannya di antara para ulama dan memuliakannya.

Dan keimaman Syekh Taqiyuddin lebih terkenal dari matahari. Dan pemberian gelar Syaikhul Islam di masanya tetap hingga sekarang di lisan-lisan yang suci dan akan berlanjut besok seperti kemarin. Dan tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang tidak mengetahui kedudukannya atau menghindari keadilan. Betapa salahnya orang yang melakukan itu dan banyak kesalahannya. Maka Allah Ta’ala adalah yang dimohon agar menjaga kami dari kejahatan diri kami dan hasil lisan kami dengan karunia dan keutamaanNya.

Dan seandainya tidak ada dalil atas keimaman orang ini kecuali apa yang ditunjukkan oleh al-Hafizh yang terkenal Alamuddin al-Birzali dalam sejarahnya: bahwa tidak pernah ada dalam Islam orang yang berkumpul di jenazahnya ketika dia meninggal sebanyak yang berkumpul di jenazah Syekh Taqiyuddin. Dan dia menunjukkan bahwa jenazah Imam Ahmad sangat meriah dihadiri ratusan ribu orang. Namun seandainya di Damaskus ada makhluk sebanyak yang ada di Baghdad atau berlipat ganda dari itu, tidak akan tertinggal seorang pun dari mereka untuk menyaksikan jenazahnya. Dan juga semua yang ada di Baghdad kecuali yang sedikit meyakini keimaman Imam Ahmad. Dan penguasa Baghdad dan khalifah pada waktu itu sangat mencintainya dan menghormatinya. Berbeda dengan Ibnu Taimiyyah, penguasa negeri ketika dia meninggal sedang tidak ada. Dan kebanyakan ahli fikih di negeri itu telah bersikap fanatik terhadapnya hingga dia meninggal dipenjara di benteng. Dan dengan semua ini, tidak ada yang tidak hadir di jenazahnya dan mendoakannya serta bersimpati kepadanya kecuali tiga orang. Mereka tertinggal karena takut pada diri mereka dari masyarakat umum.

Dan dengan hadirnya kumpulan besar ini, tidak ada dorongan untuk itu kecuali keyakinan akan keimaman dan berkahnya, bukan karena dikumpulkan penguasa atau lainnya, dan telah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Kalian adalah saksi-saksi Allah di bumi.”

Dan sungguh telah berdiri melawan Syekh Taqiyuddin sekelompok ulama berulang kali karena hal-hal yang mereka ingkari darinya tentang ushul dan furu’, dan diadakan untuknya karena itu beberapa majelis di Kairo dan di Damaskus, dan tidak ada yang tercatat dari seorang pun dari mereka bahwa dia berfatwa tentang zindiqnya atau memutuskan bolehnya menumpahkan darahnya, dengan kerasnya orang-orang yang fanatik terhadapnya pada waktu itu dari penguasa negara, hingga dia dipenjara di Kairo kemudian di Iskandariyah, dan dengan semua itu semua mereka mengakui luasnya ilmunya dan banyaknya wara’ dan zuhudnya, dan menggambarkannya dengan kedermawanan dan keberanian, dan lain-lain dari berdirinya dalam menolong Islam dan berdakwah kepada Allah Ta’ala secara sembunyi dan terang-terangan.

Maka bagaimana tidak diingkari terhadap orang yang menyatakan: bahwa dia kafir? Bahkan yang menyatakan terhadap orang yang menamakannya Syaikhul Islam: kekafiran, padahal tidak ada dalam penamaannya dengan itu yang mengharuskan itu. Karena dia adalah syekh dalam Islam tanpa keraguan. Dan masalah-masalah yang diingkari terhadapnya, dia tidak mengatakannya karena keinginan. Dan tidak bersikeras pada pendapat dengannya setelah berdirinya dalil atasnya karena keras kepala, dan karya-karya tulisannya penuh dengan bantahan terhadap orang yang mengatakan tajsim dan berlepas diri darinya, dan dengan semua itu dia adalah manusia yang salah dan benar. Maka yang dia benar di dalamnya dan itu lebih banyak, diambil manfaat darinya dan didoakan rahmat untuknya karenanya, dan yang dia salah di dalamnya tidak ditiru di dalamnya, tetapi dia ma’dzur (dimaafkan), karena para imam masanya bersaksi untuknya bahwa alat-alat ijtihad terkumpul padanya. Hingga orang yang paling fanatik terhadapnya dan yang berdiri dalam menyampaikan keburukan kepadanya, yaitu Syekh Kamaluddin az-Zamlakani bersaksi untuknya dengan itu. Dan demikian Syekh Shadruddin Ibnu al-Wakil yang tidak ada yang bertahan dalam debat dengannya selain dia.

Dan di antara yang paling aneh adalah bahwa orang ini adalah orang yang paling besar berdiri melawan ahli bid’ah dari Rafidhah, Hululliyyah, dan Ittihaddiyyah, dan karya-karyanya dalam hal itu banyak dan terkenal, dan fatwa-fatwanya tentang mereka tidak dapat dihitung, maka betapa gembira mata mereka jika mereka mendengar tentang kekufurannya, dan betapa senangnya mereka jika mereka melihat dari ahli ilmu yang mengkafirkannya!!

Maka yang wajib atas orang yang mengenakan ilmu dan memiliki akal adalah merenungkan perkataan orang ini dari karya-karyanya yang terkenal, atau dari lisan orang yang dapat dipercaya dari ahli nukilan, lalu mengasingkan dari itu apa yang diingkari, lalu diperingatkan darinya dengan maksud nasihat, dan memujinya dengan keutamaan-keutamaannya dalam apa yang dia benar dari itu, seperti kebiasaan ulama lainnya.

Dan seandainya tidak ada manaqib untuk Syekh Taqiyuddin kecuali muridnya yang terkenal Syekh Syamsuddin Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, pemilik karya-karya bermanfaat yang tersebar, yang diambil manfaat darinya oleh yang setuju dan yang berbeda, maka itu sudah sangat menunjukkan kebesaran kedudukannya.

Maka bagaimana padahal telah bersaksi untuknya dengan keunggulan dalam ilmu-ilmu dan keistimewaan dalam yang diucapkan dan yang dipahami, para imam masanya dari Syafi’iyyah dan lainnya! Apalagi Hanabilah.

Maka orang yang menyatakan terhadapnya dengan semua hal ini: kekafiran, atau terhadap orang yang menamakannya Syaikhul Islam, tidak diperhatikan, dan tidak diandalkan dalam hal ini kepadanya, bahkan wajib mencegahnya dari itu, hingga dia kembali kepada kebenaran dan tunduk kepada yang benar.

Dan Allah yang mengatakan kebenaran dan Dia yang memberi petunjuk ke jalan yang lurus, dan cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung.

Yang mengatakan dan menulisnya adalah Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Asy-Syafi’i, semoga Allah mengampuninya, yaitu pada hari Jumat tanggal sembilan bulan Rabiul Awal tahun delapan ratus tiga puluh lima, dengan memuji Allah, bershalawat kepada Rasul-Nya Muhammad dan keluarganya serta mengucapkan salam.

Al-Allamah Badruddin Mahmud Al-Aini (855)

  1. Aqdudl Juman
  2. Penghargaannya terhadap Ar-Raddul Wafir karya Ibnu Nashiruddin

57 – Aqdul Juman

Ibnu Taimiyah

Beliau adalah Asy-Syaikh Al-Imam Al-Alim Al-Allamah Taqiyuddin Abu Al-Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Abul Qasim bin Muhammad bin Taimiyah Al-Harrani Al-Hanbali.

Beliau adalah seorang imam yang utama, cerdas, memiliki berbagai cabang ilmu, terutama ilmu hadits, tafsir, fikih, dan ushul (ushul fikih dan ushul din). Beliau adalah pedang yang tajam terhadap para ahli bidah, memiliki waktu-waktu yang baik dan masa-masa yang menyenangkan. Beliau berada pada kedudukan yang agung dalam hal wara’, kesederhanaan hidup, qanaah (merasa cukup), dan menjauhi harta dunia yang fana, serta memiliki karya-karya terkenal dalam berbagai cabang ilmu.

Beliau banyak berdzikir, berpuasa, shalat, dan beribadah. Beliau adalah orang yang menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Beliau memiliki semangat, keberanian, dan keberanian dalam bertindak. Terjadi banyak kisah berkenaan dengan masalah-masalah talak dan sebagainya, dan kami telah menyebutkan sebagiannya dalam tahun-tahun yang lalu. Akhirnya, beliau ditahan di benteng Damaskus dan wafat di sana pada sepertiga akhir malam Senin yang paginya jatuh pada tanggal dua puluh bulan Dzulqa’dah tahun tujuh ratus dua puluh delapan. Beliau sakit selama tujuh belas hari, dan dishalatkan di pintu benteng oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Tamam, kemudian dishalatkan di masjid, lalu dimakamkan di pemakaman para sufi di samping saudaranya Asy-Syaikh Syarafuddin. Kelahiran beliau pada tanggal sepuluh Rabiul Awal tahun enam ratus enam puluh satu di Harran, dan datang bersama ayahnya ke Damaskus, kemudian menimba ilmu dari banyak guru.

Ibnu Katsir berkata: Pada hari beliau wafat, semua pasar di Damaskus tutup, masjid penuh lebih dari hari Jumat, para amir dan hakim hadir dan mengusung jenazahnya di atas kepala mereka, dan keluar melalui Pintu Faraj, hingga sampai ke pemakaman para sufi. Mereka mengkhatamkan Al-Quran di kuburannya berkali-kali, dan para sahabatnya bermalam di kuburnya beberapa malam.

Qadlil Qudlat Kamaluddin bin Az-Zamlakani menulis pada salah satu karya beliau:

Apa yang akan dikatakan para pendeskripsi tentang beliau … sifat-sifatnya terlalu agung untuk dihitung Beliau adalah hujjah Allah yang mengalahkan … beliau di antara kita adalah keajaiban masa Beliau adalah ayat yang nyata bagi makhluk … cahayanya melebihi fajar

Dan tentang beliau, Al-Allamah Atsiruddin Abu Hayyan berkata dalam beberapa baitnya:

Ibnu Taimiyah bangkit dalam membela syariat kita … seperti pemimpin Bani Taim ketika Mudhar bermaksiat Beliau menampakkan kebenaran ketika jejaknya terhapus … dan memadamkan kejahatan ketika apinya berterbangan Kami diberitakan tentang seorang ulama yang akan datang, maka inilah … engkau adalah imam yang telah ditunggu-tunggu

Dan Al-Imam Zainuddin Umar Ibnul Wardi meratapi beliau dengan sebuah qasidah yang di antaranya:

Sekelompok orang yang buruk merusak kehormatannya … mereka mengambil butiran mutiara yang terserak Taqiyuddin Ahmad adalah sebaik-baik ulama … masalah-masalah rumit dijahit olehnya Beliau wafat dalam keadaan terpenjara sendirian … dan tidak ada keleluasaan baginya terhadap dunia Seandainya mereka hadir ketika beliau meninggal, pasti mereka mendapati … malaikat kenikmatan mengelilinginya Demi Allah, betapa (agungnya) yang dikandung liang lahat … dan demi Allah, betapa (mulianya) yang ditutupi tanah Mereka mendengkinya karena tidak mencapai … keutamaan-keutamaannya, maka mereka menipu dan berlebihan Mereka malas mengikuti jalannya … tetapi dalam menyakitinya mereka bersemangat Mutiara yang tersimpan dalam kerang adalah kebanggaan … dan bagi singa, penjara adalah kebahagiaan Beliau mengikuti keluarga Al-Hasyimi … mereka telah merasakan kematian dan tidak menghindar Seorang imam yang tidak mengharapkan jabatan … tidak ada wakaf untuknya dan tidak pula ribat Beliau tidak bersaing dengan kalian dalam mencari harta … dan tidak dikenal bercampur dengan kalian Akan tampak maksud kalian wahai para penjaranya … dan niat kalian ketika shirath ditegakkan Maka beliau telah wafat meninggalkan kalian dan kalian merasa lega … maka berbuatlah sesuka hati kalian Dan buatlah halal dan haruskanlah tanpa ada yang membantah … kalian, dan berakhirlah permadani itu

 

 

58 – Penghargaannya terhadap Ar-Raddul Wafir karya Ibnu Nashiruddin

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Sesungguhnya bunga yang paling harum yang terpancar dari kuncup lidah manusia, dan dzikir yang paling indah yang tercium harum darinya oleh pemahaman, adalah pujian kepada Yang mengalirkan air penjelas di batang lidah untuk memikul buah-buah makna dan penjelasan, dan menyingkap kabut keraguan dengan matahari hakikat, dan menjelaskan apa yang ada di dalam hati dengan bulan-bulan yang halus, dan mengayunkan tombak-tombak pemikiran dengan tangan-tangan cahaya mata batin dan penglihatan menuju celah ilmu-ilmu dan berita-berita, dan mencabut dari kita dengan angin kelembutan-Nya debu sangkaan dan keraguan, dan menetapkan bagi kita piagam kejujuran dalam perilaku, dan mengistirahatkan kita dalam menunggangi leher-leher perkataan dari kesalahan dan celaan, dan menjauhkan kita dari perkataan-perkataan yang tidak dapat dikatakan tentang tersandung, dan hal-hal mustahil yang mustahil untuk meminta maaf. Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada pemilik wahyu dan risalah, yang diciptakan dari tanah liat kefasihan dan keberanian, yang Engkau naikkan ke puncak Kerajaan dan Engkau beri Kitab, dan Engkau kaitkan dengan ketaatan dan kemaksiatannya pahala dan siksa, Muhammad Al-Mushthafa yang khusus mendapat syafaat pada hari perhitungan, dan kepada keluarganya yang menjadi singa di taman kenabian beliau, dan para sahabatnya yang bertakung dengan pedang-pedang pertolongan dalam dakwahnya, dan kepada para ulama umat yang menguatkan diri terhadap guncangan masa dan serangannya dengan mencabut lidah mereka dari mengarahkan anak panah celaan kepada sasaran fanatisme, dan mencabut tombak-tombak perdebatan mereka terhadap kehormatan jiwa-jiwa yang mulia. Oleh karena itu mereka menjadi bintang-bintang untuk petunjuk, dan bulan-bulan untuk diikuti. Maka sangat pantas mereka disebut sebagai guru-guru Islam dan penolong syariat-syariat sebaik-baik manusia.

Selanjutnya, sesungguhnya penulis kitab Ar-Raddul Wafir telah bersungguh-sungguh dalam karya yang indah dan cemerlang ini, dan telah menjelaskan dengan logikanya yang mengalir seperti sihir, bantahan terhadap orang yang berani mengkafirkan para ulama Islam dan para imam yang kokoh lagi terkenal, yang telah menempati tempat tinggal di taman-taman kenikmatan dan menghirup angin rahmat dari Tuhan Yang Maha Mulia. Barangsiapa mencela salah seorang dari mereka, atau memindahkan perkataan yang tidak benar yang dikatakan tentang mereka, maka seolah-olah dia meniup abu atau memetik dari duri qatad. Dan bagaimana mungkin halal bagi orang yang bernama Islam, atau yang memiliki tanda ilmu atau pemahaman atau pengajaran, untuk mengkafirkan orang yang hatinya bersih dari itu dan cerah, dan keyakinannya hampir tidak menggiring ke arah itu? Barangsiapa yang tidak terpantik api tabiatnya dalam puisi, maka dia akan terus mendapati yang manis terasa pahit seperti orang sakit. Dan pencela karena kebodohannya terhadap sesuatu menampakkan halaman permusuhannya, dan bertindak sembrono dalam perdebatannya. Dia tidak lain seperti kumbang yang dengan mencium bunga mawar mati karena hidungnya, dan seperti kelelawar yang terganggu dengan cahaya terang karena buruknya penglihatannya dan kelemahannya. Itu bukan sifat pengkritik yang baik dan tidak pula pertimbangan yang tepat. Mereka tidak lain adalah orang-orang bodoh, dan yang mengkafirkan dari mereka adalah Shalmah bin Qalmah, dan Hayyan bin Bayyan, dan Hayy bin Bayy, dan Dhall bin Dhall, dan Dhalal bin At-Talal.

Dan dari yang tersebar luas bahwa Asy-Syaikh Al-Imam Al-Alim Al-Allamah Taqiyuddin Ibnu Taimiyah adalah termasuk orang-orang utama yang mulia, dan termasuk bukti-bukti yang jelas dari orang-orang mulia, yang memiliki dari sastra jamuan-jamuan yang memberi makan ruh-ruh, dan dari pilihan perkataan baginya minuman yang menggerakkan tubuh-tubuh yang gembira, dan dari buah-buah matang pemikiran para ahli yang cemerlang, tabiatnya yang berbakat dalam seni, yang bersih dari noda kekasaran dan keburukan. Beliau adalah yang menyingkap dari wajah-wajah makna yang tertutup cadarnya, dan yang mengambil perawan-perawan bangunan dengan menyingkap jilbabnya. Beliau adalah pembela agama dari celaan orang-orang zindiq dan atheis, dan pengkritik riwayat-riwayat dari Nabi shallallahu alaihi wasallam pemimpin para rasul, dan dari atsar-atsar para sahabat dan tabiin. Barangsiapa berkata: Dia kafir!! Maka dialah yang kafir sebenarnya!! Dan barangsiapa menisbatkannya kepada zindiq!! Maka dialah yang zindiq!!

Bagaimana mungkin demikian padahal karya-karyanya telah beredar di berbagai penjuru, dan tidak ada di dalamnya sesuatu yang menunjukkan penyimpangan dan perpecahan? Dan pembahasannya tentang apa yang keluar darinya dalam masalah ziarah dan talak tidak lain adalah berdasarkan ijtihad yang diperbolehkan menurut kesepakatan. Dan mujtahid dalam kedua keadaan mendapat pahala dan ganjaran, dan tidak ada di dalamnya sesuatu yang dicela atau dicaci. Tetapi yang mendorong mereka kepada itu adalah kedengkian mereka yang nyata dan tipu daya mereka yang jelas. Dan cukuplah bagi orang yang dengki celaan di akhir surah Al-Falaq tentang terbakarnya dengan api. Dan barangsiapa mencela salah seorang dari mereka yang telah meninggal, atau memindahkan selain apa yang keluar dari mereka, maka seolah-olah dia melakukan hal yang mustahil dan layak mendapat hukuman yang buruk.

Beliau adalah imam yang utama, cerdas, bertakwa, suci, wara’, penunggang kuda dalam ilmu hadits dan tafsir, fikih dan kedua ushul (ushul fikih dan ushul din) dengan pembahasan dan penulisan, pedang yang tajam terhadap para ahli bidah, ulama yang menjalankan urusan-urusan agama, penyuruh kepada kebaikan dan pencegah kemungkaran. Memiliki semangat, keberanian dan keberanian dalam bertindak yang menakuti dan mencegah. Banyak berdzikir, berpuasa, shalat dan beribadah. Hidup sederhana dan qanaah, tanpa mencari tambahan. Memiliki waktu-waktu yang baik dan mulia, dan masa-masa yang menyenangkan dan indah, dengan menjauhi harta dunia yang hina. Memiliki karya-karya terkenal yang diterima, dan fatwa-fatwa yang tegas tanpa cacat.

Qadlil Qudlat Kamaluddin bin Az-Zamlakani rahimahullah ta’ala menulis pada salah satu karyanya:

Apa yang akan dikatakan para pendeskripsi tentang beliau … sifat-sifatnya terlalu agung untuk dihitung Beliau adalah hujjah Allah yang mengalahkan … beliau di antara kita adalah keajaiban masa

Dan telah diketahui biografi Ibnu Az-Zamlakani.

Dia adalah: Imam Abu al-Ma’ali Kamal ad-Din Muhammad putra Imam ‘Ala ad-Din Abu al-Hasan Ali bin Kamal ad-Din Abu Muhammad ‘Abd al-Wahid bin ‘Abd al-Karim bin Khalaf bin Nabhan al-Anshari, yang terkenal dengan sebutan Ibnu az-Zamlakani asy-Syafi’i. Beliau belajar ilmu nahwu dari Badr ad-Din bin Malik, ilmu fikih dari Syaikh Taj ad-Din ‘Abd ar-Rahman, dan ilmu ushul dari Qadhi al-Qudhah Baha ad-Din Ibnu az-Zaki.

Beliau adalah seorang yang sangat berpengetahuan luas, cepat menangkap, sangat cerdas dan tajam pikirannya. Semua orang sepakat tentang keutamaannya, dan kepemimpinan madzhab di zamannya berakhir padanya. Beliau menjabat sebagai qadhi Halab dan menetap di sana hingga dipanggil ke Mesir.

Beliau wafat di kota Bilbis pada hari Rabu tanggal enam belas Ramadhan tahun tujuh ratus dua puluh tujuh Hijriyah. Jenazahnya dibawa dari Bilbis ke al-Qarafah, dan dimakamkan dekat makam Qadhi al-Qudhah Imam ad-Din al-Qazwini, di samping kubah Imam asy-Syafi’i di luar Kairo, semoga Allah Ta’ala merahmati mereka. Beliau sempat dipanggil untuk menjabat sebagai qadhi Damaskus. Di antara syairnya:

Selain kalian tidak halal dan tidak manis di hatiku Sebagaimana hati ini dari cinta kalian tak pernah kosong Kalian lepaskan ikatan kesabaranku dan menghalalkan darahku Dan mengharamkan perjumpaanku, maka pembunuhan bagiku menjadi nikmat

Dan syair-syair lainnya.

Ketika beliau datang ke Halab sebagai hakim, beliau singgah di Masyhad al-Firdaus di luarnya, maka sastrawan Syams ad-Din Muhammad bin Yusuf ad-Dimasyqi berkata:

Wahai hakim para hakim, wahai orang yang dengannya Pangkatnya yang mulia menjadi terhormat Dan yang memberi minum asy-Syahba’ sejak menempatinya Lautan ilmu dan kedermawanan yang berlimpah Engkau singgah di al-Firdaus, maka bergembiralah dengannya Rumahmu di dunia dan di akhirat

Syaikh Jalal ad-Din al-Qalanisi juga menulis untuknya bait-bait serupa, begitu pula Syaikh Jamal ad-Din Ibnu Nabatah al-Mishri, kemudian beliau meratapi kepergiannya dengan sebuah qashidah yang panjang jika disebutkan di sini.

Bukankah kesaksian ulama besar ini cukup untuk imam ini, di mana dia menyebutnya: hujjah Allah dalam Islam, dan pernyataannya bahwa sifat-sifat terpujinya tidak mungkin dihitung, dan para pendeskripsi tidak mampu menghitung dan menuliskannya.

Jika demikian halnya, bagaimana tidak boleh menyebut: Syaikh al-Islam kepadanya? Atau mengarahkan penyebutan kepadanya? Dan bagaimana layak pengingkaran dari penentang yang licik dan dengki? Betapa aku ingin tahu apa pegangan pembangkang yang gegabah, bodoh dan terang-terangan ini, padahal telah diketahui bahwa kata asy-Syaikh memiliki dua makna; lughawi (bahasa) dan istilahi (istilah).

Makna lughawi-nya: asy-Syaikh adalah orang yang telah tampak padanya ketuaan.

Makna istilahi-nya: asy-Syaikh adalah orang yang layak untuk menjadi guru.

Kedua makna ini ada pada Imam yang disebutkan, dan tidak diragukan bahwa beliau adalah syaikh bagi sejumlah ulama Islam, dan bagi murid-murid dari fuqaha umat. Jika demikian halnya, bagaimana tidak disebut kepadanya: Syaikh al-Islam? Karena siapa yang menjadi syaikh kaum muslimin berarti syaikh bagi Islam. Telah ditegaskan penyebutan itu kepadanya oleh para qadhi al-qudhah yang alim, dan para ulama yang utama yang menjadi pilar-pilar Islam, yaitu mereka yang disebutkan oleh penulis kitab “ar-Radd al-Wafir” dalam risalahnya yang dia tulis dengan sangat baik dengan cara yang jelas. Kami merasa cukup dengan menyebutkannya tanpa mengulanginya, maka yang melihatnya akan merenungkannya, dan yang memandangnya akan menerimanya.

Adapun berbagai peristiwa imam ini sangat banyak dalam majelis-majelis yang beragam. Tidak muncul dalam hal itu bagi penentang-penentangnya dalam apa yang dituduhkan kepadanya sebuah bukti, selain gangguan-gangguan yang tertanam dalam hati dari buah kebencian. Kesimpulannya adalah bahwa beliau dipenjara dengan kezaliman dan permusuhan, dan tidak ada dalam hal itu apa yang dicela dan memalukan. Telah terjadi pada sejumlah besar para tabi’in besar, berupa pembunuhan, belenggu, penjara, dan penyiaran. Imam Abu Hanifah radhiyallahu ‘anhu dipenjara dan wafat di penjara, apakah ada seorang ulama pun yang berkata: bahwa beliau dipenjara dengan benar?

Imam Ahmad radhiyallahu ‘anhu dipenjara dan dibelenggu ketika mengucapkan perkataan yang benar.

Imam Malik radhiyallahu ‘anhu dipukul dengan cambuk, pukulan yang sangat menyakitkan.

Imam asy-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu dibawa dari Yaman ke Baghdad dengan belenggu dan pengawasan.

Tidaklah aneh bahwa terjadi pada imam ini apa yang terjadi pada para imam besar tersebut.

Penjara terakhirnya adalah di benteng Damaskus, dan beliau wafat di sana pada sepertiga akhir malam Senin yang fajarnya terbit pada tanggal dua puluh Dzulqa’dah tahun tujuh ratus dua puluh delapan Hijriyah. Sakitnya berlangsung tujuh belas hari. Dishalatkan atasnya di pintu benteng oleh Syaikh Muhammad bin Tamam, kemudian dishalatkan atasnya di Masjid Umawi, kemudian dimakamkan di makam para sufi di samping saudaranya Syaikh Syaraf ad-Din.

Kelahirannya pada tanggal sepuluh Rabi’ul Awwal tahun enam ratus enam puluh satu Hijriyah di Harran, dan datang bersama ayahnya ke Damaskus.

Waktu dishalatkan atasnya, masjid penuh melebihi hari Jumat. Hadir para panglima dan penjaga, mereka memikul jenazahnya di atas kepala mereka dan keluar dengannya dari Bab al-Faraj. Orang banyak memenuhi sampai makam para sufi, dan mereka mengkhatamkan Quran di atas kuburnya beberapa kali. Sahabat-sahabatnya bermalam di atas kuburnya beberapa malam. Imam Zain ad-Din ‘Umar Ibnu al-Wardi rahimahullah meratapi beliau dengan qashidah, di antaranya ucapannya:

Kaum yang bengis telah merusak kehormatannya Mereka mengambil dari tetesan permata-permatanya Taqiy ad-Din Ahmad sebaik-baik ulama Sobekan masalah-masalah rumit dijahit olehnya Dia wafat sementara dipenjara sendirian Dan tidak ada baginya kelapangan di dunia Andai mereka menghadirinya ketika meninggal, niscaya mereka mendapati Malaikat kenikmatan telah mengelilinginya Demi Allah, betapa liang lahad telah merangkum! Dan demi Allah, betapa ubin telah menutupi! Mereka iri padanya karena mereka tidak mencapai Keistimewaan-keistimewaannya, maka mereka menipu dan berlaku jahat Mereka malas mengikuti jalannya Tetapi dalam menyakitinya mereka punya semangat Mutiara yang tersimpan dalam kerang adalah kemuliaan Dan bagi Syaikh, di dalam penjara ada kebanggaan Dengan keluarga Hasyimi dia meneladani Karena mereka telah merasakan kematian dan tidak berkompromi Seorang imam yang tidak pernah mengharapkan kepemimpinan Dan tidak ada wakaf untuknya, tidak pula ribath Tidak bersaing dengan kalian dalam mencari harta Dan tidak diketahui darinya percampuran dengan kalian Akan terlihat niat kalian wahai pemenjaranya Dan tujuan kalian ketika jembatan Shirath didirikan Ini dia telah mati meninggalkan kalian dan kalian merasa lega Maka berikan apa yang kalian inginkan untuk diberikan Dan halalkanlah serta ikatlah tanpa ada penolakan Atas kalian, dan terlipatlah permadani itu

Imam Zain ad-Din ini adalah seorang ulama yang mahir dalam ilmu-ilmu, dan ahli dalam prosa dan puisi. Beliau memiliki syair-syair yang indah dan potongan-potongan yang istimewa. Beliau mahir dalam bahasa Arab, mengajar, mengulang, dan berfatwa. Beliau memiliki karya-karya yang bermanfaat, di antaranya: “Nazhm al-Hawi ash-Shaghir”.

Beliau wafat di Halab pada tahun tujuh ratus empat puluh sembilan Hijriyah.

Tentang beliau, Imam ulama allamah Athir ad-Din Abu Hayyan berkata:

Ibnu Taimiyah bangkit untuk menolong syariat kami Seperti berdirinya pemimpin Taim ketika Mudhar membangkang Maka dia menampakkan kebenaran ketika jejaknya terhapus Dan memadamkan kejahatan ketika percikan api beterbangan darinya Kami diberitakan tentang seorang ulama besar yang akan datang, maka inilah Engkau adalah imam yang telah ditunggu-tunggu

Jika imam ini dengan deskripsi ini dengan kesaksian ulama allamah ini, dan dengan kesaksian ulama-ulama besar lainnya, maka apa yang pantas dijatuhkan kepada orang yang menyebutnya: zindiq atau mencapnya dengan kekufuran? Tidaklah keluar ini kecuali dari orang bodoh yang jahil, atau orang gila sempurna.

Yang pertama: harus diberi ta’zir dengan ta’zir yang paling keras, dan dipublikasikan di majelis-majelis dengan publikasi paling keras, bahkan harus dipenjara selamanya hingga dia bertobat, atau kembali dari itu dengan tobat yang paling baik.

Yang kedua: harus diobati dengan rantai dan belenggu, dan pukulan keras tanpa batas. Semua ini dari kerusakan orang zaman ini, dan kelalaian para penguasa dalam menampakkan keadilan dan kebajikan, dan memotong akar para perusak, dan mencabut tuntas para pembuat makar, di mana seorang jahil yang mengaku sebagai alim berani mencela kehormatan ulama kaum muslimin, terutama mereka yang telah pergi kepada Allah dengan kebenaran, dan dengan kebenaran mereka adalah orang-orang yang adil.

Imam ini dengan keagungan kedudukannya dalam ilmu-ilmu, dinukil darinya dari lisan sangat banyak orang tentang karamah-karamah yang muncul darinya tanpa keraguan, dan jawaban-jawaban tegas ketika ditanya tentang masalah-masalah rumit, tanpa keraguan darinya dalam kondisi apa pun.

Di antara apa yang ditanyakan kepadanya ketika beliau berada di atas kursinya, memberikan nasihat kepada orang banyak dan majelis penuh dengan orangnya, tentang seorang laki-laki yang mengatakan: “Tidak ada kecuali Allah” dan berkata: “Allah berada di tempat”, apakah itu kekufuran atau keimanan?

Maka beliau menjawab dengan segera: Barang siapa berkata: bahwa Allah dengan Dzat-Nya di setiap tempat, maka dia menyelisihi al-Kitab, as-Sunnah, dan ijma’ kaum muslimin, bahkan dia menyelisihi tiga agama. Sang Pencipta Subhanahu wa Ta’ala terpisah dari makhluk-makhluk, tidak ada dalam makhluk-makhluk-Nya sesuatu dari Dzat-Nya, dan tidak ada dalam Dzat-Nya sesuatu dari makhluk-makhluk-Nya, bahkan Dia Maha Kaya dari mereka, terpisah dengan Diri-Nya dari mereka. Sungguh telah sepakat para imam dari kalangan sahabat dan tabi’in, imam-imam empat dan seluruh imam agama, bahwa firman Allah Ta’ala: “Dan Dia bersama kalian di mana pun kalian berada, dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan” (al-Hadid: 4) bukanlah maknanya bahwa Dia bercampur dengan makhluk-makhluk dan hadir di dalamnya, dan bukan bahwa Dia dengan Dzat-Nya di setiap tempat, tetapi Dia Subhanahu wa Ta’ala bersama setiap sesuatu dengan ilmu-Nya, kekuasaan-Nya, dan semisalnya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama hamba di mana pun dia berada, mendengar ucapannya, melihat perbuatannya, mengetahui rahasia dan bisikannya, mengawasi mereka, menguasai mereka. Bahkan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, semua itu adalah ciptaan Allah. Allah tidak hadir dalam sesuatu pun dari itu Subhanahu, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”, tidak dalam Dzat-Nya, tidak dalam sifat-sifat-Nya, dan tidak dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Bahkan Allah disifati dengan apa yang Dia sifati Diri-Nya sendiri, dan dengan apa yang Rasul-Nya sifati Dia, tanpa penentuan keadaan dan tanpa penyerupaan, dan tanpa penyimpangan dan tanpa penafian. Maka sifat-sifat-Nya tidak diserupakan dengan sifat-sifat makhluk-Nya. Madzhab Salaf: penetapan tanpa penyerupaan, dan pensucian tanpa penafian. Imam Malik radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya tentang firman Allah Ta’ala: “Ar-Rahman bersemayam di atas ‘Arsy” (Thaha: 5), maka beliau berkata: Al-Istawa (bersemayam) itu diketahui, keadaannya tidak diketahui, beriman kepadanya wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah.

Maka imam ini sebagaimana engkau lihat akidahnya, dan engkau mengungkap batinnya, bagaimana mungkin dinisbatkan kepadanya hulul dan ittihad, atau tajsim atau apa yang dianut oleh ahli ilhad?

Allah melindungi kami dan kalian dari penyimpangan, kesesatan, dan pembangkangan, dan membimbing kami ke jalan kebaikan dan petunjuk, sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan layak untuk mengabulkan.

Telah ditulis dengan indah oleh fakir kepada rahmat Rabbnya Yang Maha Kaya, Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad al-‘Aini, semoga Allah memperlakukannya dengan kelembutannya yang tersembunyi dan nyata. Pada tanggal dua belas Rabi’ul Awwal tahun delapan ratus tiga puluh lima Hijriyah di Kairo yang terpelihara.

 

 

59 – Penghargaan Ulama Shalih bin Umar Al-Balqini (868 H) untuk “Ar-Raddu Al-Wafir” karya Ibnu Nashir Ad-Din

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad, pemimpin para pemimpin, dari penduduk bumi dan langit, serta kepada keluarganya, para sahabatnya, dan pengikut-pengikutnya. Mudahkanlah, berikan kelembutan, dan akhirilah dengan kebaikan.

Saya telah membaca karya tulis yang komprehensif ini, pilihan yang indah bagi pendengar. Saya membacanya dengan teliti sesuai syarat-syarat yang ditetapkan oleh para pendiri, dan saya mendapatinya sebagai kalung yang tersusun rapi dengan mutiara, melampaui kalung-kalung permata, dan melebihi rangkaian emas. Aroma pujian bagi penulisnya tercium sepanjang masa, dan lisan hati berkata tentang karya ini: mendengar kabar tidaklah sama dengan melihat langsung. Bagaimana tidak, karya ini memuat kemuliaan seorang ulama di zamannya, yang melampaui rekan-rekannya, yang membela syariat Nabi pilihan dengan lisan dan pena, yang berjuang membela agama yang lurus. Betapa banyak hikmah yang telah ia ungkapkan, pemilik karya-karya yang masyhur dan tulisan-tulisan yang berharga, yang menyuarakan bantahan terhadap ahli bid’ah dan kesesatan, orang-orang yang mengatakan hulul (Allah bersemayam dalam makhluk) dan ittihad (bersatunya Allah dengan makhluk). Orang yang seperti ini, mengapa tidak diberi gelar Syeikh Al-Islam? Dan mengapa namanya tidak dikenal di kalangan ulama terkemuka?

Tidak ada harganya bagi orang yang mencela beliau dengan tuduhan yang tidak benar, atau menisbahkan kepadanya berdasarkan hawa nafsu semata dengan pendapat yang tidak layak. Beliau tidak dirugikan oleh perkataan orang yang hasad dan melampaui batas, orang yang mengingkari dan berbuat sewenang-wenang.

Cahaya matahari tidak terganggu meskipun memandangnya… mata-mata yang selalu buta sepanjang masa

Akan tetapi, hasad membawa pemiliknya untuk mengikuti hawa nafsunya, dan untuk berbicara tentang orang yang dihasadnya dengan apa yang ia temukan: Demi Allah, betapa adilnya hasad, ia memulai dengan pemiliknya lalu membunuhnya.

Betapa layaknya ulama ini dengan perkataan penyair:

Mereka hasad kepada pemuda ketika mereka tidak mencapai ilmunya… maka kaum itu adalah musuh-musuhnya dan lawannya

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jauhilah hasad, karena sesungguhnya hasad memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar” atau beliau bersabda: “rumput”. Allah melindungi kita dari hasad yang menutup pintu keadilan dan menghalangi sifat-sifat terpuji.

Bagaimana mungkin boleh mengkafirkan orang yang memberi gelar Syeikh Al-Islam kepada ulama ini, padahal madzhab kami mengatakan: barangsiapa mengkafirkan saudaranya sesama muslim tanpa takwil, maka ia telah kafir, karena ia menyebut Islam sebagai kekafiran.

Sungguh, Qadhi Al-Qudhah Tajuddin As-Subki rahimahullah ta’ala telah berbangga dalam biografi ayahnya Syeikh Taqiyuddin As-Subki dalam pujian para imam kepadanya, bahwa Al-Hafizh Al-Mizzi tidak pernah menulis dengan tulisan tangannya lafazh Syeikh Al-Islam kecuali untuk ayahnya, dan untuk Syeikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, dan untuk Syeikh Syamsuddin Ibnu Abi Umar.

Seandainya Ibnu Taimiyah tidak berada pada tingkatan tertinggi dalam ilmu dan amal, Ibnu As-Subki tidak akan memasangkan ayahnya bersamanya dalam kemuliaan ini. Dan seandainya Ibnu Taimiyah seorang pembid’ah atau zindiq, beliau tidak akan rela ayahnya menjadi pasangannya.

Memang, Syeikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah dinisbahkan kepada beberapa hal yang diingkari oleh orang-orang sezamannya, dan Syeikh Taqiyuddin As-Subki bangkit untuk membantahnya dalam dua masalah: ziarah dan perceraian, dan ia menulis karya tersendiri untuk masing-masingnya. Dan tidak ada dalam hal itu yang menunjukkan kekafiran atau kezindikannya sama sekali. Setiap orang dapat diambil perkataannya dan ditinggalkan kecuali penghuni kubur ini —maksudnya Nabi shallallahu alaihi wasallam— dan orang yang beruntung adalah yang kesalahannya dihitung dan kekeliruannya terbatas.

Kemudian, prasangka terhadap Syeikh Taqiyuddin bahwa tidak keluar darinya hal itu karena tergesa-gesa dan permusuhan —maha suci Allah— tetapi mungkin karena pendapat yang ia lihat dan ia tegakkan dengan dalil. Dan kami tidak menemukan hingga sekarang setelah penelusuran dan pemeriksaan pada sesuatu dari perkataannya yang menunjukkan kekafiran atau kezindikannya. Kami hanya menemukan bantahannya terhadap ahli bid’ah dan hawa nafsu, dan selain itu yang menunjukkan bahwa orang tersebut tidak bersalah dan tingginya kedudukannya dalam ilmu dan agama. Menghormati para ulama, orang besar, dan ahli keutamaan adalah wajib. Allah ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?'” (Surat Az-Zumar: 9). Dan shahih bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Bukan termasuk kami orang yang tidak menyayangi yang muda di antara kami dan tidak mengetahui kemuliaan yang tua di antara kami” dan dalam riwayat lain: “hak yang tua di antara kami”.

Bagaimana boleh berani melempar seorang ulama dengan kefasikan atau kekafiran padahal tidak ada hal itu padanya? Dan telah shahih bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang laki-laki melempar laki-laki lain dengan kefasikan atau kekafiran melainkan akan kembali kepadanya jika temannya tidak demikian”.

Kemudian bagaimana boleh berani mencela orang yang telah meninggal tanpa hak padahal mereka haram untuk dicela. Dan shahih bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian mencela orang-orang yang telah meninggal karena sesungguhnya mereka telah sampai kepada apa yang mereka kerjakan”.

Dan bagaimana boleh menyakiti mukmin tanpa hak sedangkan Allah ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang menyakiti mukmin laki-laki dan mukmin perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” (Surat Al-Ahzab: 58). Dan shahih bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan muhajir adalah orang yang berhijrah dari apa yang Allah larang”.

Maka yang wajib bagi orang yang berani melempar ulama ini dengan apa yang tidak ada padanya adalah kembali kepada Allah dan meninggalkan apa yang telah keluar darinya, agar memperoleh pahala yang besar dengan niat yang baik, meskipun ia mengetahui suatu perkara yang memungkinkan takwil tanpa dalil, dan jika benar di sisinya suatu perkara yang pasti darinya yang menuntut pengingkaran maka ingkarilah dengan niat memberi nasihat, dan jangan merendahkan kedudukan orang tersebut secara mutlak dengan kemasyhurannya dalam ilmu, keutamaan, karya-karya tulis, dan fatwa-fatwa yang telah tersebar luas. Allah menjaga kita dari kesalahan dan kekeliruan, dan melindungi kita dari penyimpangan dan ketergelinciran, amin. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

Dan ditulis pada hari yang diberkahi yang bertepatan dengan hari kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam, hari Senin, dua belas Rabiul Awwal, tahun delapan ratus tiga puluh lima.

Yang mengatakan dan menulisnya adalah hamba yang fakir kepada ampunan Rabbnya, Shalih bin Umar Al-Balqini Asy-Syafi’i, semoga Allah ta’ala melimpahkan kebaikan kepadanya.

 

 

Ulama Jamaluddin Yusuf bin Taghri Bardi (874 H)

Dari kitab:

  • Al-Manhal Ash-Shafi wal-Mustaufa ba’da Al-Wafi
  • Ad-Dalil Asy-Syafi
  • An-Nujum Az-Zahirah fi Muluk Mishr wal-Qahirah

60 – Al-Manhal Ash-Shafi wal-Mustaufa ba’da Al-Wafi

Ibnu Taimiyah

Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam bin Abdullah bin Abil Qasim Al-Khidhr bin Ali bin Abdullah, Syeikh Al-Islam Taqiyuddin Abul Abbas bin Abil Mahasin Syihabuddin bin Abil Barakat Majduddin Al-Harrani (asal dan kelahiran), Ad-Dimasyqi (tempat tinggal dan wafat), Al-Hanbali, yang dikenal dengan Ibnu Taimiyah, imam yang sangat berilmu, hafizh yang menjadi hujjah, satu-satunya di masanya, dan yang tunggal di zamannya.

Kelahirannya di Harran pada hari Senin, sepuluh Rabiul Awwal tahun enam ratus enam puluh satu. Dan ia datang ke Damaskus bersama ayahnya tahun enam ratus enam puluh sembilan. Ia mendengar hadits dari Ahmad bin Abdul Daim, Majduddin bin Asakir, Ibnu Abi Al-Yusr, dan banyak dari para sahabat Hanbal, Abu Hafsh Ibnu Tabarzad, dan yang lainnya. Dan ia membaca, belajar, memilih, dan cemerlang dalam ilmu-ilmu hadits. Kepemimpinan dalam madzhab Imam Ahmad bin Hanbal radhiyallahu anhu berakhir kepadanya. Ia mengajar, memberi fatwa, dan memimpin dalam memberikan pelajaran dan manfaat selama beberapa tahun. Ia menafsirkan dan menulis karya-karya yang bermanfaat. Ia memiliki ingatan yang benar, cerdas, imam yang mendalam dalam ilmu-ilmu agama, dikenal dengan kedermawanan, hemat dalam makanan dan pakaian. Ia adalah orang yang mengetahui fiqih dan perbedaan pendapat para ulama, ushul fiqih, nahwu, imam dalam tafsir dan hal-hal yang berkaitan dengannya, mengetahui bahasa, imam dalam ilmu rasional dan nakli, hafizh hadits, membedakan antara yang shahih dan yang lemah.

Sekelompok pembesar ulama di zamannya memujinya, seperti Syeikh Taqiyuddin Ibnu Daqiq Al-‘Id, Qadhi Syihabuddin Al-Khuwayi, dan Syeikh Syihabuddin Ibnu An-Nahhas. Qadhi Kamaluddin Ibnu Az-Zamlakani berkata: Terkumpul padanya syarat-syarat ijtihad dengan sempurna.

Kemudian terjadi padanya cobaan dalam masalah talak tiga, dan melakukan perjalanan ke kubur para nabi dan orang-orang shalih. Orang-orang didorong untuk menentangnya. Ia dipenjara beberapa kali di Kairo, Iskandariah, dan Damaskus. Diadakan majelis untuknya di Kairo dan Damaskus, meskipun ia mendapat penghormatan dari Sultan An-Nashir Muhammad bin Qalawun di beberapa tempat. Ia dibebaskan dan pergi ke Damaskus dan tinggal di sana hingga datang perintah resmi dari sultan pada bulan Sya’ban tahun tujuh ratus dua puluh enam agar ia ditahan di benteng Damaskus di ruangan yang bagus. Ia tinggal di sana beberapa waktu sibuk dengan menulis karya. Kemudian setelah beberapa waktu ia dilarang menulis dan membaca, dan mereka mengeluarkan buku-buku yang ada padanya, dan tidak meninggalkan padanya tinta, pena, maupun kertas.

Di antara yang terjadi padanya sebelum penahanannya adalah ia berdiskusi dengan sebagian fuqaha, lalu dibuatkan berita acara bahwa ia berkata: Aku adalah Asy’ari. Kemudian diambil tulisan tangannya dengan bunyi sebagai berikut: Aku meyakini bahwa Al-Qur’an adalah makna yang berdiri dengan dzat Allah dan ia adalah sifat dari sifat-sifat-Nya yang qadim, dan ia bukan makhluk, dan bukan huruf dan bukan suara. Dan bahwa firman-Nya: “Ar-Rahman di atas ‘Arsy beristawa” (Surat Thaha: 5) bukan pada lahirnya, dan aku tidak mengetahui hakikat yang dimaksud dengannya, bahkan tidak mengetahuinya kecuali Allah. Dan perkataan tentang nuzul (turun) seperti perkataan tentang istawa. Ditulis oleh Ahmad bin Taimiyah. Kemudian dipersaksikan padanya oleh sekelompok orang bahwa ia telah bertaubat dari apa yang bertentangan dengan itu dengan sukarela. Dan dipersaksikan atas hal itu oleh sekelompok ulama dan yang lainnya. Selesai.

Saya katakan: Ilmu Syeikh Taqiyuddin dan keutamaannya sudah diketahui, tidak perlu panjang lebar dalam menyebutkannya. Dan telah memujinya sekelompok pembesar ulama. Di antaranya adalah yang ditulis oleh Qadhi Kamaluddin Ibnu Az-Zamlakani pada kitab Raf’ul Malam ‘anil A’immah Al-A’lam karya Ibnu Taimiyah dengan lafazh: Karya tulis Syeikh, imam yang sangat berilmu, yang satu-satunya, hafizh mujtahid yang zahid dan ahli ibadah yang menjadi teladan, imam para imam, teladan umat, tanda para ulama, pewaris para nabi, terakhir para mujtahid, satu-satunya ulama agama, berkah Islam, hujjah orang-orang terkemuka, dalil para ahli kalam, yang menundukkan ahli bid’ah, penghidup sunnah, dan orang yang dengannya Allah memberikan nikmat yang besar kepada kami, dan tegak dengannya hujjah atas musuh-musuh-Nya, dan jelas dengan berkahnya dan petunjuknya jalan yang lurus, Taqiyuddin Ibnu Taimiyah. Kemudian ia berkata:

Apa yang dikatakan para penjelas tentangnya… dan sifat-sifatnya terlalu agung untuk dihitung
Ia adalah hujjah Allah yang menundukkan… ia di antara kami adalah keajaiban masa
Ia adalah tanda bagi makhluk yang jelas… cahayanya melebihi fajar

Selesai dengan ringkas. Dan ketika ia menulis hal itu untuknya, umurnya ketika itu sekitar tiga puluh tahun.

Syeikh Taqiyuddin yang disebutkan terus ditahan di benteng Damaskus hingga ia wafat di sana pada malam Senin, dua puluh Dzulqa’dah tahun tujuh ratus dua puluh delapan. Dan ia dikubur keesokan harinya di pemakaman para sufi. Jenazahnya dihadiri oleh orang banyak.

Al-Hafizh Abu Abdullah Adz-Dzahabi berkata: Yang mengantarkan jenazahnya sekitar lima puluh ribu orang, dan ia diangkat di atas kepala. Selesai.

Dan karya-karyanya lebih dari dua ratus karya. Syeikh Shalahudin Khalil bin Aibak telah mengumpulkannya dalam kitab sejarahnya Al-Wafi bil Wafayat, rahimahullah ta’ala.

 

 

61 – Ad-Dalil Asy-Syafi min Al-Manhal Ash-Shafi

Karya Abu Al-Mahasin bin Taghri Bardi (874 H)

Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Abul Qasim Al-Khidr bin Ali, Al-Hafizh Al-Hujjah Taqiyuddin Abu Al-Abbas Ibnu Taimiyah, Al-Harrani Ad-Dimasyqi Al-Hanbali, lahir di Harran pada hari Senin tanggal sepuluh bulan Rabiul Awal tahun enam ratus enam puluh satu Hijriah, dan wafat di Benteng Damaskus dalam keadaan ditahan di sana—pada malam Senin tanggal dua puluh Dzulqa’dah tahun tujuh ratus dua puluh delapan Hijriah, dan dimakamkan keesokan harinya.

62 – An-Nujum Az-Zahirah fi Muluk Mishir wal Qahirah

Karya Al-Allamah Jamaluddin Abu Al-Mahasin Yusuf bin Taghri Bardi (874 H)

Pada tahun tersebut (yaitu tahun tujuh ratus dua puluh delapan Hijriah) wafat: Syaikhul Islam, Taqiyuddin, Abu Al-Abbas, Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Abi Al-Qasim bin Muhammad bin Taimiyah, Al-Harrani Ad-Dimasyqi, Al-Hanbali di Damaskus, pada malam Senin tanggal dua puluh Dzulqa’dah di dalam penjaranya di Benteng Damaskus.

Kelahirannya pada hari Senin tanggal sepuluh Rabiul Awal tahun enam ratus enam puluh satu Hijriah, dan dia dipenjara di Benteng Damaskus karena beberapa perkara yang telah kami ceritakan di tempat lain.

Dia adalah imam zamannya tanpa ada yang menandingi dalam fikih, hadits, ushul, nahwu, bahasa, dan lain-lain.

Dia memiliki beberapa karya yang bermanfaat yang tempat ini terlalu sempit untuk menyebutkan sebagiannya.

Sejumlah ulama memujinya, seperti Syaikh Taqiyuddin bin Daqiq Al-‘Id, Al-Qadhi Syihabuddin Al-Khuwayi, dan Al-Qadhi Syihabuddin bin An-Nahhas.

Al-Qadhi Kamaluddin bin Az-Zamalakani yang disebutkan sebelumnya berkata: Syarat-syarat ijtihad terkumpul padanya secara sempurna. Kemudian terjadi beberapa cobaan padanya dalam masalah talak tiga, bepergian menuju makam para nabi dan orang-orang shalih, dan orang-orang digalakkan untuk menentangnya, dan dia dipenjara beberapa kali di Kairo, Iskandariah, dan Damaskus. Majelis-majelis pengadilan diadakan untuknya di Kairo dan Damaskus, meskipun dalam beberapa kesempatan dia mendapat penghormatan dari Raja An-Nashir Muhammad bin Qalawun, lalu dibebaskan, dan pergi ke Damaskus dan tinggal di sana, hingga datang surat perintah resmi pada tahun tujuh ratus dua puluh Hijriah, agar dia ditempatkan di Benteng Damaskus dalam sebuah ruangan, maka dia ditempatkan di ruangan yang bagus, dan tinggal di sana sambil sibuk menulis dan mengarang.

Kemudian setelah beberapa waktu dia dilarang menulis dan membaca, dan mereka mengeluarkan semua buku yang ada padanya, dan tidak meninggalkan tempat tinta, pena, maupun kertas padanya.

Kemudian Az-Zamalakani menyampaikan perkataan panjang yang lebih baik diabaikan.

63 – Asy-Syuhub Al-‘Aliyah

fi Ar-Radd ‘ala man Kaffara Ibnu Taimiyah (Bintang-Bintang Tinggi dalam Menjawab Orang yang Mengkafirkan Ibnu Taimiyah)

Syair Karya Al-Qadhi Umar bin Musa bin Al-Hasan Al-Himshi Asy-Syafi’i (777 – 861 H)

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Allah tempat memohon pertolongan Segala puji bagi Allah.

Disampaikan kepadaku di Damaskus ketika saya turun di Al-Yunisiyah dalam perjalanan menuju Tripoli pertanyaan yang dinadzamkan ini:

Apa pendapat ahli ilmu syariat dan kemuliaan … tentang orang yang mengkafirkan syaikh ilmu dan sastra Taqiyuddin Allah Penguasa Arasy ketenaran beliau … dengan Ibnu Taimiyah yang berasal dari Harran Dengan ilmunya yang mengumpulkan hafalan sunnah kami … dan membela darinya ahli penyimpangan dan keraguan Dan kezuhudan serta karangan-karangan yang telah diteliti … dan pemilik karamah, semangat dan kedekatan Apakah orang yang berfatwa tentang murtadnya dikafirkan … dan diminta bertobat dan apa yang dikatakan dalam kitab-kitab Apakah dibolehkan perkataan dalam mencela beliau … taklid pada selain dalam menolak orang yang fanatik Dan apa yang dikatakan tentang beliau dari para imam kami … dengan Syaikhul Islam kekafiran beliau tanpa keraguan Maka berikan fatwa wahai yang berilmu tentang musibah ini dengan apa … yang engkau ketahui dan jelaskan dengan syair yang jelas jawablah

Dia berkata: Maka aku menulis sebagian jawaban dan perjalanan menyegerakanku, dan aku mengabaikan itu sampai datang kepadaku di Tripoli berita kejadian tersebut, dan permintaan fatwa ulama Mesir, maka aku melihat sebagiannya, dan aku suka agar aku memiliki bagian bersama mereka, meskipun aku adalah yang paling sedikit ilmunya dan paling jarang, maka aku berkata:

Segala puji bagi Allah yang membimbing kami tanpa kesulitan … kepada kebenaran dengan sebaik-baik non-Arab dan Arab Atasnya shalawat dengan salam Pencipta kami … cukuplah tentang kemuliaan dalam kitab yang paling agung Ambillah jawaban dengan ringkas tersusun … seperti mutiara dari lautan yang cukup untuk pencari Dipakaikan permata dari orang yang setia kepada imam-imam kami … dan cahayanya memadamkan musuh-musuh dengan ketakutan Dalilnya ucapan sebaik-baik makhluk pemberi syafaat kami … kemudian qiyas dan ijma’ dari para sahabat Semerbak misk pujiannya dari pengulangan untuk pendengaran … seperti wangi dalam taburan dari kitab-kitab Baginya cahaya dan pengaruh bagi hati-hati baginya … urusan dari Allah dalam pembukaan dari tirai Dan rahasianya datang seperti pedang terhunus … berapa marid yang dilempar seperti pendengaran dengan bintang-bintang jatuh Akan selamat pada ucapanku setiap orang yang beramal … dalam ilmu, agama, keadilan, dan kedekatan Dan akan menang untuk hizb Allah kemudian untuk orang yang … telah menguatkan agama dengan takwa bersama pencarian

Ya, kami mengkafirkan orang yang berfatwa tentang kemurtadannya … tanpa takwil karena mengarah kepada kehancuran Dan shahih dari sunnah Nabi pilihan kita pemimpin kita … makna hadits Bukhari kemudian kitab-kitab Janganlah seseorang dari kalian melempar kepada sahabatnya … dengan kekafiran maka akan kafir meskipun tidak wajib murtad Dan dalam Quran dalil kami tidak mengkafirkan orang … atas dosa-dosa selain syirik dan menghina nabi Dan mereka sepakat dengan bolehnya kesaksian orang … yang memiliki bid’ah bukan penghalalkan dusta Kemudian qiyas yang jelas bahwa kami mengkafirkan orang … yang mengeluarkan dari agama kami seseorang tanpa sebab Untuk orang seperti ini yang dijadikan perumpamaan … dan terbang ketenaran beliau di cakrawala dengan awan

Dan “Syaikhul Islam” telah menamakannya orang yang paling berilmu dari kami … di zamannya dan diikuti oleh sekelompok generasi setelahnya Dan Az-Zamalakani dan Shadruddin ketika muncul … dan berdialog menyapa Syaikh dengan sopan Dan mereka berdua bersaksi baginya dengan hafalan dalam sunnah … dan tidak pernah dikafirkan sehari pun dari masa Dan di zamannya di Syam pada waktu itu … tujuh puluh mujtahid dari setiap orang pilihan Tidak diriwayatkan bahwa mereka yang menolak pendapatnya … berkata tentang mengkafirkannya atau menisbatkan dusta Bahkan ada yang memaafkan dengan melihat pada pemahamannya … dan yang berkata untuk kesalahan seperti kuda yang tersandung Siapa kami untuk membahas kehormatan orang yang paling berilmu dari kami … dan apa bagi kami dengan gang yang sempit perjalanan Dan jika dikatakan: hujahku adalah pengingkaran munkarnya … maka katakanlah: apakah baginya ada yang mendahului dalam perkataan orang mulia Dan jika itu adalah kesalahan atau kekeliruan yang terjadi … dengan ijtihad maka maaf Allah tersebar Jauh baginya Maha Suci Dia dari menyiksa orang yang … membela agama dalam menolak kepada salib Agama Nasrani dan agama Yahudi dan apa … yang mereka berlebih-lebihan tentang tritunggal dengan nama Bapa Ahli hulul dan ahli hawa kemudian muttahid … dan Rafidhah dan tajsim dan pemilik anjing

Dan lihatlah akidahnya dan pahami ungkapannya … dalam kitab-kitabnya maka engkau dapati dia sangat mengagumkan Dalam setiap bidang tangan yang panjang dan sirahnya … dalam zuhud seperti An-Nawawi sempurna kedudukannya Baginya bantahan atas ahli hawa dan pemilik bid’ah … dalam kitab-kitabnya yang tinggi nilai dan pidato-pidatonya Siapa yang berkata tentang beliau dengan tajsim dalam akidah … maka pendusta kembali dalam api dengan tergelincir Bahkan akidahku tentang beliau bahwa dia seorang laki-laki … seperti para wali dan siapa yang memusuhinya dalam perang Jika bukan ulama ahli wilayah dari … yang menjadi wali selain dengan pemberian dan tarikan Ilmu tanpa amal jatuh dengan pemiliknya … ke neraka Jahannam dengan pembawa kayu bakar Berapa banyak ulama tergelincir kakinya dalam seorang laki-laki … yang menjerumuskan dalam kehormatannya dengan celaan dan dusta Dan memuji orang yang tercela dengan bid’ahnya … dengan mencela syaikh ilmu-ilmu syariat dan sastra Tidak ada kata yang dia ucapkan kecuali bergidik karenanya … kulit dan meleleh karenanya hati yang terisak

Kami menangisi zaman yang kami lihat orang … yang berfatwa dengan kekafiran dan dia dalam kejahilan terhalang Serampangan perkataan tentang ahli ilmu sedang mereka … racun daging mereka telah dicoba maka bertobatlah Dari mereka yang sepakat bahwa dia lautan imam bagi kami … pembaharu agama di zaman yang bergejolak Dan bahwa dia hafizh Islam orang berilmunya … fatwa-fatwanya berjalan di cakrawala dan cabang-cabang Baginya karamah-karamah seperti bendera tersebar … diriwayatkan dan dibaca dan kehidupan bagi yang mendekat Baginya karangan-karangan menunjukkan kesendirian beliau … dengan hafalan, pemahaman, penguasaan, dan kitab-kitab Baginya majelis-majelis dan Sultan mendengarkan beliau … dan memutus lawan dengan tinggi terputus berdiri Dan berapa kali mereka melihat beliau shalat Subuh di Al-Umawi … dengan penjaranya, dan demikian di masjid yang bercahaya Dan jika engkau ingin dalil indrawi maka dia kemudian … ada bersaksi seperti matahari tidak terbenam Karangan-karangan yang agung kemudian ketenaran beliau … dan menjadikannya seperti yang bangga dengan keturunan Jenazah yang disaksikan tidak sepertinya mereka saksikan … setelah abad-abad yang dengan kebaikan dalam tanah Dan Ibnul Qayyim murid dan teman-temannya … dan sahabat-sahabatnya semuanya mengungguli para sahabat Apakah orang seperti ini bisa disifati dengan kekafiran … dengan perkataan orang yang mengaku berilmu dan tidak menjawab Tidakkah kami memiliki ghirah dalam kebenaran yang mengambil kami … dengan menghancurkan orang yang berani dengan kefasikan dan celaan Wahai malu musuh-musuh dengan dia mereka terbakar … terangkat dan kabar gembira mereka dalam rendah berdiri Wahai tawa Iblis dari kami ketika kami mengkafirkan beliau … tanpa murtad tidak sama sekali dan tidak ragu Cita-cita musuh kekafiran orang yang memadamkan dalil-dalil mereka … dengan cahayanya dan kelanggengan hiburan dan permainan Tidak diberi balasan Allah dengan kebaikan orang yang menolong mereka … dengan perkataan dan kitab-kitab dalam kelembutan dan kemarahan Mereka tidak memeriksa ilmu tidak mencium bau-baunya … ketika mereka mengkafirkan ulama Islam dengan fanatik Mereka fanatik dengan perkataan dalam mencela beliau … dan menanggung dosanya di kepala dan ekor Telah dihiasi untuk mereka oleh setan manusia mereka … memperindah dan kembali setelah mereka menang Maka dia berkata: Sesungguhnya aku berlepas diri perkataan tentang kemurtadannya … bahkan aku dalam darahnya bersama kalian seperti pemaksa Maka wahai para imam agama Allah apakah ada seorang … yang ridha dengan perkataan kekafiran ulama yang mulia Wajib pemeriksaan dan tuntutan atas seorang laki-laki … yang berfatwa dengan kekafiran bahwa dihadapkan kepada sebab Maka jika dia mendirikan dalil yang memutus mengherankan … maka itu atau ini kemungkinan di dalamnya maka minta bertobat Pertama maka kafirkan dia dan hukum karena dia mencela beliau … pengajaran beliau dengan cambuk atau dengan sastra Dan jika engkau meringankan dengan penjara maka pukullah baginya … waktu yang panjang hingga Syakban atau Rajab Untuk mencegah orang-orang seperti dia dan yang mendahului pada … perkataan beliau ikut-ikutan taklid teman Maka tidak membahayakan kami selain toleransi dalam … perkara seperti ini dan perkataan yang menasihati yang menyesal Jika kalian menolong Allah niscaya Dia akan menolong kalian dan mengalahkan mereka (QS. Muhammad: 7) … dan jika kalian memaafkan maka tidak ada celaan untuk yang mengikuti Tidak selamat kemuliaan yang paling tinggi untuk agama kami … hingga tertumpah darah atau pukulan pelaku Dan cegah kesaksiannya juga riwayatnya … maka jika lewat tahunnya dalam kebaikan maka berpindah Dan jika dia bersikeras untuk mengkafirkan beliau dan berkata … dengan kekafiran orang yang berkata: “Syaikhul Islam” maka minta Dengan majelis yang ramai dan rusakkan gambarannya … dan ulangi pukulan dengan pengulangan atau dia bertobat Tidak rugi nukilan untuk putra An-Nashiri dan bahkan … tepat dalam perkataan seperti emas murni dengan emas Dan putra Nashiruddin Allah hafizh kami … bagus dalam mengumpulkan dari yang dia sebut dalam kitab Dengan Syaikhul Islam maka lihatlah dalam karangannya … benar dan adil maka tidak mengingkarinya selain orang bodoh Atau pendengki yang buta darinya pandangannya … maka menjerumuskan dalam jurang yang mengarah kepada kehancuran Allah Maha Besar apakah engkau mengingkari keutamaan orang … yang berjalan keutamaannya seperti matahari tidak terbenam Alangkah baiknya aku ada di hari bencana beliau … hingga terlihat pertolongan yang benar sebagian yang wajib Dan telah cukup baginya oleh mereka bendera syariat kami … di Mesir ketika mereka menyaksikan karangan dengan gelar Maka Shalihul Waqt putra tinta orang yang paling berilmu dari kami … dan teman-teman dengan keadilan kebenaran tidak uban Dan ini jawaban hamba yang pendek Umar … Al-Himshi yang dinisbatkan kepada Bani Makhzum dengan keturunan Dia titik dari lautan-lautan ilmu pelayan mereka … cinta syair baginya dalam rangkaian yang bercabang Maka orang bersama orang yang dicintai Allah mengumpulkan mereka … di hari kembali dan selamat akan diberi syafaat seperti nabi Dan merahmati Allah orang yang sibuk dengan aibnya … dan cacat diri dari Islam dan usaha Dan apa bagi kami dan untuk orang yang telah mati dari dahulu … dan sempurna agama tanpa kekurangan dan celaan Dan apa bagi kami dan ushul agama telah sempurna … dan dalam furu’ kecukupan untuk pemilik keperluan Dengan ketenaran dan kebanggaan atau perdebatan … atau tujuan manfaat dan bukan mengkafirkan bapak yang baik

Dan jika engkau temukan cacat dalam apa yang kujawab … perbaiki dan tutupi kesalahanku penutup yang lari Siapa mencela dicela dan siapa salah dia salah dalam … perkataannya dengan sembarangan tidak jatuh untuk bodoh Dari mana dia tahu kekafiran dalam tersembunyi untuk orang … yang datang dengan masa depan dari yang berkata ini seperti anak kecil Dan jika ada padanya huruf dengan hujahnya … dari yang berkata semuanya untuk dia tahu untuk dihindari Dan kebenaran apa yang kukatakan dari pukulan dan tobatnya … jika tidak maka dia dalam orang-orang musyrik Arab Dan jika dunia ini telah berlalu … dan ini awal ayat-ayat dan bencana-bencana Dan sesungguhnya ini fitnah-fitnah dari setelahnya fitnah-fitnah … dan kejahilan dalam naik dan ilmu dalam turun Maka batin bumi lebih baik dari luarnya … dan tidak bagi pemilik keperluan dalam kehidupan dari keperluan Dan cukup bagi kami Allah dan ampunan mengumpulkan kami … maka maafkan dimaafkan dan sabar kemudian berhitung

Dan segala puji hanya bagi Allah semata, dan semoga Allah melimpahkan shalawat kepada junjungan kami Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.

Selesai dengan memuji Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada awal bulan Jumadil Ula tahun delapan ratus tiga puluh lima. Dan dinazamkan (disusun dalam bentuk syair) dalam satu malam dan setengah hari dengan mudah, dan segala puji bagi Allah.

Kemudian sang penyusun menulis dengan tulisan tangannya sendiri sebuah ijazah untuk penyalinnya yang sangat berilmu, yaitu Al-Khaidhari, bunyi teksnya:

“Segala puji bagi Allah, dan keselamatan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih.

Amma ba’du, sungguh telah membacakan kepadaku anak yang mulia, Syaikh yang utama Syamsuddin, cahaya para pelajar yang terpandang, Muhammad bin Syaikh yang saleh Syamsuddin Muhammad bin … bin Abdullah Al-Khaidhari, semoga Allah memberi manfaat kepadanya dan menolongnya, semoga Allah memberinya taufik dan menjaganya – keseluruhan qasidhah ini yang bernama ‘Asy-Syuhab Al-Iliyyah fi Ar-Radd ‘ala Man Kaffara Ibni Taimiyyah’ (Meteor-meteor Tinggi dalam Membantah Orang yang Mengkafirkan Ibnu Taimiyah) yang dinazamkan oleh penulisnya, dengan bacaan yang benar dan mu’rab, dan dia juga membacakan kepadaku beberapa hadits-hadits nabawi dan mendengarkan, dan kudapati dia termasuk orang yang menjaga hafalan sunnah nabawi dan kecintaan kepada Ahlus Sunnah, dan hal itu menunjukkan kepadaku akan kebaikannya dan agamanya dan bahwa dia kelak akan mencapai … ke tingkatan orang-orang yang taat kepada Allah dan yakin kepada-Nya. Dan aku telah mengizinkan agar dia meriwayatkannya dariku dan semua yang boleh bagiku meriwayatkannya dengan syarat-syaratnya yang mu’tabar. Dan Allah memberi taufik kepadanya dan kepada kami untuk ketaatan-ketaatan-Nya dan keridhaan-Nya, dan semoga Dia menuliskan kami dalam daftar orang-orang yang selamat, amin amin amin. Berkata demikian dan menuliskannya pada bulan Rajab tahun delapan ratus tiga puluh delapan: Fakir yang dikenal dengan kekurangan, Umar bin Musa bin Al-Hasan Al-Makhzumi Al-Himshi Asy-Syafi’i, pelayan syariat yang mulia.”

64 – Al-Maqshad Al-Arsyad fi Dzikri Ashhab Al-Imam Ahmad (Tujuan yang Paling Benar dalam Menyebut Para Pengikut Imam Ahmad)

Karya Ulama: Burhanuddin Ibrahim bin Muflih (884)

Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam bin Abu Al-Qasim Al-Khadhir bin Muhammad bin Taimiyah Al-Harrani, kemudian Ad-Dimasyqi, Imam yang faqih, mujtahid, hafizh, mufassir, zahid, Abu Al-Abbas Taqiyuddin, Syaikhul Islam, dan puncak para ulama besar. Lahir pada hari Senin tanggal sepuluh Rabi’ul Awwal tahun enam ratus enam puluh satu di Harran. Ayahnya beserta saudara-saudaranya membawanya ke Damaskus ketika Tatar menguasai negeri-negeri. Dan dia mendengar dari Ibnu Abdid Daim, dan Ibnu Abi Al-Yusr, dan Al-Majd bin Asakir, dan Al-Qasim Al-Irbili, dan Syaikh Syamsuddin bin Abi Umar, dan orang banyak, dia mendengar Musnad berkali-kali, dan Kutub As-Sittah (enam kitab hadits), dan Mu’jam Ath-Thabrani dan yang tidak terhitung banyaknya. Dan dia menulis dengan tulisan tangannya sendiri sejumlah juz, dan dia mempelajari ilmu-ilmu sejak kecilnya, dan mempelajari fiqih dan ushul dari ayahnya, dan dari Syaikh Syamsuddin bin Abi Umar, dan Syaikh Zainuddin Ibnu Al-Manja, dan dia mahir dalam itu dan berdebat serta mempelajari bahasa Arab kepada Ibnu Abdul Qawi, kemudian dia mempelajari Kitab Sibawaih lalu merenungkannya dan memahaminya, dan mempelajari tafsir Al-Quran Al-Azhim, maka dia unggul di dalamnya dan menguasai ilmu faraidh dan hisab, dan aljabar dan muqabalah serta selain itu dari ilmu-ilmu, dan mempelajari ilmu kalam dan filsafat dan unggul dalam itu atas ahlinya, dan membantah pemimpin-pemimpin mereka dan tokoh-tokoh besar mereka, dan memiliki kemampuan berfatwa dan mengajar sedangkan umurnya belum dua puluh tahun, dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberinya banyak kitab, dan cepat dalam menghafal, dan kuat dalam pemahaman dan kepahaman, dan dia lambat lupa hingga disebutkan oleh sekelompok orang bahwa dia tidak pernah menghafal sesuatu lalu melupakannya. Dan ayahnya Syaikh Syihabuddin wafat sedangkan umurnya ketika itu dua puluh satu tahun, maka dia melaksanakan tugas-tugasnya dan mengajar di Dar Al-Hadits As-Sukariyyah pada awal tahun delapan ratus delapan puluh tiga, dan hadir kepadanya Qadhi Al-Qudhah Bahaauddin bin Az-Zaki, dan Syaikh Tajuddin Al-Fazari, dan Syaikh Syihabuddin Ibnu Al-Mirhil, dan Syaikh Zainuddin Ibnu Al-Manja dan dia menyampaikan pelajaran yang agung tentang basmalah, dan orang-orang yang hadir memujinya dengan pujian yang banyak.

Al-Dzahabi berkata: Dan Syaikh Tajuddin Al-Fazari sangat berlebihan dalam memujinya sehingga dia mengutip dengan tulisan tangannya pelajarannya di As-Sukariyyah. Kemudian dia duduk menggantikan ayahnya di masjid untuk menafsirkan Al-Quran Al-Karim dan memulai dari awalnya, dan dia menyampaikan dari hafalannya dalam satu majelis sekitar dua kurrasah atau lebih, dan dia terus menafsirkan dalam Surah Nuh beberapa tahun, dan pada suatu waktu dia menyebut sesuatu tentang sifat-sifat pada suatu hari Jumat maka berdirilah sebagian orang yang menentang dan berusaha mencegahnya namun mereka tidak mampu melakukan itu.

Dan Qadhi Al-Qudhah Syihabuddin Al-Khuwayi berkata: Aku menganut keyakinan Syaikh Taqiyuddin, maka dia ditegur dalam hal itu, lalu dia berkata: Karena pikirannya sehat dan bahan-bahannya banyak, maka dia tidak mengatakan kecuali yang benar.

Dan dia adalah keajaiban zamannya dalam hafalan dan telah diriwayatkan bahwa sebagian syaikh Aleppo datang ke Damaskus untuk melihat hafalan Syaikh maka dia bertanya tentangnya lalu dikatakan sekarang dia akan hadir, maka ketika dia hadir dia menyebutkan kepadanya hadits-hadits lalu dia menghafalnya dari waktu itu juga, kemudian dia membacakan kepadanya beberapa sanad yang dipilihnya kemudian berkata: Bacakan ini maka dia melihatnya sebagaimana dia lakukan pertama kali, maka berdirilah Syaikh Aleppo itu sambil berkata: Jika pemuda ini hidup panjang pastilah akan ada baginya kedudukan yang besar karena ini tidak pernah dilihat sepertinya, dan Syaikh Syarafuddin berkata: Aku mengharapkan berkahnya dan doanya; dan dia adalah temanku dan saudaraku. Al-Birzali menyebutkan itu dalam tarikhnya. Kemudian dia mulai menyusun dan mengarang sejak usia dua puluh tahun, dan tidak berhenti dalam ketinggian dan pertambahan dalam ilmu dan kedudukan hingga akhir umurnya. Al-Hafizh Al-Mizzi berkata: Aku tidak pernah melihat sepertinya, dan dia pun tidak pernah melihat seperti dirinya sendiri. Dan Al-Dzahabi menyebutkannya dalam Mu’jam Syuyukhihi, dan menggambarkannya bahwa dia adalah Syaikhul Islam, dan yang tunggal di zamannya dalam ilmu dan pengetahuan dan keberanian dan kecerdasan dan nasihat untuk umat dan menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran dan selain itu dari sifat-sifat terpuji, dan akhlak-akhlak yang diridhai.

Dan Syaikh Kamaluddin Ibnuz Zamlakani berkata: Ibnu Taimiyah jika ditanya tentang suatu bidang ilmu, yang melihat dan mendengar menyangka bahwa dia tidak mengetahui selain bidang itu, dan memutuskan bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahuinya seperti dia, dan para fuqaha dari berbagai kelompok jika bergaul dengannya mereka mendapat manfaat darinya dalam madzhab-madzhab mereka beberapa hal, dan tidak diketahui bahwa dia berdebat dengan seseorang lalu terputus bersamanya, dan tidak berbicara dengannya dalam suatu ilmu dari ilmu-ilmu baik itu dari ilmu-ilmu syariat atau yang lainnya melainkan dia mengungguli ahlinya di dalamnya dan terkumpul padanya syarat-syarat ijtihad secara sempurna.

Syaikh Zainuddin bin Rajab berkata: Dan sungguh telah ditawarkan kepadanya jabatan qadhi Hanabilah sebelum sembilan puluh dan masyikhah asy-syuyukh maka dia tidak menerima sesuatu pun dari itu. Dan sungguh Ibnuz Zamlakani telah menulis dengan tulisan tangannya pada kitab Ibthal Al-Hiyal judul kitab, dan nama Syaikh dan memberinya tarjamah yang agung dan memujinya dengan sangat banyak dan menulis di bawahnya dengan tulisan tangannya:

Apa yang akan dikatakan para penggambar tentangnya Sedang sifat-sifatnya terlalu agung untuk dihitung Dia adalah hujjah Allah yang mengalahkan Dia di antara kita keajaiban zaman Dia adalah ayat bagi makhluk yang nyata Cahayanya melebihi fajar

Dan Al-Dzahabi meriwayatkan, dari Syaikh Taqiyuddin bin Daqiq Al-‘Id, bahwa dia berkata kepadanya ketika bertemu dengannya dan mendengar perkataannya: Aku tidak mengira bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala masih menciptakan sepertimu. Dan sungguh telah menulis ulama Qadhi Al-Qudhah Taqiyuddin As-Subki kepada Al-Hafizh Al-Dzahabi dalam urusan Syaikh Taqiyuddin: Maka hamba meyakini bahwa kedudukannya dan keluasan lautannya dan keluasannya dalam ilmu-ilmu syar’iyyah dan aqliyyah, dan kecerdasannya yang luar biasa dan ijtihadnya telah mencapai dari itu semua tingkat tertinggi yang melampaui penggambaran, dan hamba mengatakan itu selalu, dan kedudukannya dalam diriku lebih banyak dari itu dan lebih agung, bersama apa yang dikumpulkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala baginya dari kezuhudan dan kewaraan dan kedindanan dan pertolongan kebenaran dan berdiri di dalamnya tidak untuk tujuan selainnya, dan berjalannya di atas jalan salaf dan mengambilnya dari itu dengan pengambilan yang paling sempurna, dan keanehan orang sepertinya di zaman ini, bahkan dari zaman-zaman.

Dan Syaikh Atsir Ad-Din Abu Hayyan Al-Andalusi An-Nahwi ketika Syaikh masuk ke Mesir dan bertemu dengannya Abu Hayyan mengatakan bait-bait yang tidak pernah dia katakan lebih baik darinya dan tidak lebih fasih:

Ketika kami melihat Taqiyuddin tampak bagi kami Seorang penyeru kepada Allah yang tunggal tidak ada bandingannya Di wajahnya dari tanda orang-orang yang menemani Sebaik-baik makhluk cahaya yang bulan tidak menyamainya Ulama yang berselimutkan darinya zamannya kemuliaan Lautan yang berombak dari ombak-ombaknya mutiara Berdiri Ibnu Taimiyah dalam menolong syariatnya Kedudukan pemimpin Bani Taim ketika Mudhar membangkang Maka dia menampakkan kebenaran ketika jejak-jejaknya terhapus Dan memadamkan kemusyrikan ketika api percikannya beterbangan Wahai orang yang berbicara tentang ilmu Kitab dengarlah Ini adalah Imam yang telah ditunggu-tunggu

Adapun perdebatannya terhadap musuh-musuh dan mengalahkan mereka dan memotong mereka di hadapannya maka itu jelas, dan kitab-kitabnya yang dia karang maka lebih masyhur dari disebutkan dan diketahui karena telah beredar seperti beredarnya matahari di berbagai penjuru dan memenuhi negeri-negeri dan kota-kota, dan sungguh telah melampaui batas banyaknya maka tidak mungkin seseorang menghitungnya, dan tempat ini tidak cukup untuk menghitungnya. Dan baginya pilihan-pilihan yang aneh dikumpulkan oleh sebagian orang dalam satu jilid kecil. Dan terjadi padanya perkara-perkara dan keadaan-keadaan yang berdiri atasnya karena itu orang yang memusuhi dan yang dengki hingga keadaan sampai padanya bahwa dia ditempatkan di benteng Damaskus di tempat Abu Ad-Darda radhiyallahu anhu pada tahun dua puluh enam bulan Sya’ban hingga Dzulqa’dah tahun dua puluh delapan, kemudian dia sakit beberapa hari dan kebanyakan orang tidak mengetahui sakitnya. Dan dia wafat waktu sahur malam Senin dua puluh Dzulqa’dah tahun dua puluh delapan dan tujuh ratus. Dan muadzin benteng menyebutkannya di menara masjid, dan penjaga berbicara tentangnya dan orang-orang berkumpul, dan pasar-pasar yang biasa dibuka di awal siang tidak dibuka, dan berkumpul di sisinya makhluk yang banyak menangis dan memuji kebaikan, dan saudaranya Zainuddin Abdurrahman memberitahu mereka bahwa mereka berdua telah mengkhatamkan di benteng delapan puluh khatam, dan yang kedelapan puluh satu mereka berdua sampai di dalamnya pada firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman dan sungai-sungai. Dalam kedudukan yang benar di sisi Raja Yang Maha Kuasa” (Surah Al-Qamar: 54-55).

Dan sebagian kelompok memulai di sisinya dalam membaca dari Surah Ar-Rahman hingga mengkhatamkannya. Dan belum selesai dari memandikannya hingga sebagian besar benteng dipenuhi oleh laki-laki maka dishalatkan untuknya di balkon-balkonnya oleh Syaikh zahid Muhammad bin Tamam, dan orang-orang berbisik-bisik, kemudian mereka mengeluarkannya ke masjid Damaskus, dan sangat banyak orang berkumpul hingga dikatakan: Sesungguhnya itu melebihi semua kumpulan, kemudian dia ditempatkan di tempat jenazah-jenazah hingga shalat Zhuhur, kemudian menshalatkannya wakil khatib Ala’uddin Al-Kharrath karena ketidakhadiran Al-Qazwini, kemudian mereka mengeluarkannya dari pintu Al-Faraj, dan sangat banyak berdesakan dan orang-orang keluar dari kebanyakan pintu negeri, kemudian menshalatkannya saudaranya Zainuddin Abdurrahman di pasar kuda, dan dikuburkan waktu shalat Ashar di Ash-Shufiyyah di samping saudaranya Syarafuddin. Dan diperkirakan laki-lakinya enam puluh ribu dan lebih, dan perempuan-perempuan lima belas ribu, dan dengan itu tampak perkataan Imam: Antara kami dan mereka adalah jenazah-jenazah. Dan dikhatamkan untuknya khatam-khatam yang banyak, dan orang-orang datang bergantian ke kuburnya, dan dilihat baginya mimpi-mimpi yang baik, dan orang-orang menyesal atas kehilangannya radhiyallahu anhu.

65 – Daftar Tokoh dengan Pengetahuan Islam

Karya Muhammad bin Umar Ibnu Azam Al-Tamimi Al-Tunisi Al-Makki (891)

Ibnu Taimiyah (728) Al-Harrani Al-Hanbali, Syaikhul Islam dan pemilik banyak karya tulis, Abu Al-Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam.

66 – Ayakan Zaman dalam Wafat Para Tokoh

Karya Ulama Yahya bin Abi Bakar Al-Amiri Al-Hardi Al-Yamani (893)

Pada tahun tersebut (728), meninggal di benteng Damaskus dalam keadaan dipenjara Al-Hafizh Taqiyyuddin, yang dikenal dengan Ibnu Taimiyah, yaitu Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah. Dia dilarang menggunakan tinta dan kertas lima bulan sebelum wafatnya. Lahir di Harran tahun enam ratus enam puluh satu, menguasai hadits dan ilmu ushul, dan sangat cerdas. Dia menulis lebih dari dua ratus jilid buku, dan memiliki pandangan-pandangan aneh yang karena pandangan itu dia dipenjara karena menyelisihi mazhab Ahlus Sunnah. Di antaranya: larangannya untuk berziarah ke makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, pengingkarannya terhadap para syaikh sufi yang arif billah seperti Al-Ghazali, Al-Qusyairi, Ibnu Al-Arif, Al-Syadzili dan lainnya dari kalangan yang memverifikasi kedua ilmu tersebfatwa-fatwanya tentang perceraian, akidahnya tentang arah (jihat) dan lain-lain.

Al-Yafi’i berkata: Aku telah melihat mimpi tentangnya yang menunjukkan kesalahannya dalam akidahnya.

Faqih Husain berkata: Sesungguhnya dia hanya mengingkari orang-orang tertentu dalam masalah-masalah tertentu dengan tetap mengakui keutamaan mereka. Dia berkata: Akidahnya tentang jihat yang dimaksudkan adalah apa yang di atas alam semesta yaitu Allah Subhanahu Wata’ala, demikian yang kulihat dalam ucapannya. Dia berkata: Dalam biografi Al-Yafi’i tentangnya terdapat kelemahan, sedangkan Adz-Dzahabi membuat biografinya dengan sesuai dan selaras dengan keagungan, kepemimpinannya dan ilmu-ilmunya yang dia sendirian memilikinya.

67 – Thabaqat Al-Huffazh (Tingkatan Para Hafizh)

Karya Ulama Jalaluddin As-Suyuthi (911)

Ibnu Taimiyah

Syaikh, Imam, Ulama, Hafizh, Kritikus, Ahli Fikih, Mujtahid, Mufassir yang mahir, Syaikhul Islam, pemimpin para zahid, keajaiban zaman, Taqiyyuddin Abu Al-Abbas Ahmad bin Mufti Syihabuddin Abdul Halim bin Imam Mujtahid Syaikhul Islam Majduddin Abdus Salam bin Abdullah bin Abu Al-Qasim Al-Harrani, salah satu tokoh besar.

Lahir pada bulan Rabiul Awal tahun enam ratus enam puluh satu, mendengar hadits dari Ibnu Abi Al-Yasar, Ibnu Abdul Daim dan beberapa orang lainnya. Dia menaruh perhatian pada hadits, men-takhrij dan menyeleksinya. Menguasai ilmu rijal (tokoh perawi), ilal (cacat) hadits dan fiqihnya, serta ilmu-ilmu Islam, ilmu kalam dan lainnya. Dia adalah lautan ilmu, termasuk orang-orang cerdas yang terhitung, dan zahid yang tiada bandingannya.

Menulis tiga ratus jilid, diuji dan disakiti berkali-kali. Meninggal pada tanggal dua puluh Dzulqa’dah tahun tujuh ratus dua puluh delapan.

 

 

68 – Shidqul Akhbar

Karya Sejarawan Hamzah bin Ahmad Al-Gharbi yang dikenal dengan Ibnu Sabath (926)

Pada tahun ini, tanggal dua belas Dzulqa’dah, meninggal Syaikh Imam, Ulama yang Mengamalkan Ilmunya, Zahid, Ahli Ibadah, Wara’, Khusyu’, Teladan, Arif, Taqiyyuddin Ahmad putra Syaikh Imam Ulama Syihabuddin Abdul Halim putra Syaikh Imam Syaikhul Islam Majduddin Abu Al-Barakat Abdus Salam bin Abdullah Ibnu Taimiyah Al-Harrani Ad-Dimasyqi di benteng Damaskus di ruangan tempat dia dipenjara. Mereka memandikan, mengkafani, dan mengeluarkannya dari benteng. Dishalatkan di pintu benteng oleh Syaikh Muhammad bin Tamam, kemudian dibawa ke masjid. Seluruh pasar di Damaskus ditutup, masjid penuh melebihi hari Jumat. Para amir dan penjaga hadir, mereka menshalatinya dengan shalat Zhuhur. Manusia membawanya di atas kepala mereka dan mengeluarkannya dari benteng menuju Bab Al-Faraj, sebagian orang dari Bab Al-Faradis, dari Bab An-Nashr, dan dari Bab Al-Jabiyah. Orang-orang memenuhi hingga Suq Al-Khail sampai pemakaman Sufiyah. Dia dikuburkan di samping makam saudaranya Syaikh Syarafuddin. Orang-orang pulang dengan penuh penyesalan atas kepergiannya, dan mereka mengkhatamkan Al-Quran di atas kuburnya. Kelahirannya di Harran tanggal sepuluh Rabiul Awal tahun enam ratus enam puluh satu. Dia mendengar hadits, mendalami ilmu-ilmu, dan memperoleh dalam waktu sangat cepat apa yang tidak diperoleh orang lain kecuali dalam waktu bertahun-tahun, yaitu ilmu-ilmu yang beragam. Dia banyak berdzikir, puasa, shalat dan ibadah.

 

 

69 – Ad-Daris fi Tarikh Al-Madaris (Pelajar dalam Sejarah Sekolah-sekolah)

Karya Ulama Abdul Qadir bin Muhammad An-Nu’aimi (wafat 927 H)

Pada hari Senin, tanggal dua Muharram tahun itu: Syaikh Imam Ulama Allamah Taqiyyuddin Abu Al-Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Taimiyah Al-Harrani mengajar di Dar Al-Hadits As-Sukariyah yang berada di Al-Qasha’in. Hadir di sana Qadhi Al-Qudhat Bahauddin Yusuf bin Az-Zaki Asy-Syafi’i, Syaikh Tajuddin Al-Fazari syaikh Syafi’iyah, Syaikh Zainuddin bin Al-Mirhil, Syaikh Zainuddin Al-Munja Al-Hanbali. Pengajian itu mengagumkan dan penuh berkah – yaitu tentang Basmalah sebagaimana disebutkan Ibnu Muflih dalam Thabaqat-nya – dan telah disebutkan oleh Syaikh Tajuddin Al-Fazari dengan tulisannya karena banyaknya faidah dan banyaknya yang dipuji oleh para hadirin. Para hadirin sangat memujinya meskipun usianya masih muda dan kecil, karena pada saat itu usianya dua puluh dua tahun. Kemudian Syaikh Taqiyyuddin yang disebutkan juga duduk – yaitu menggantikan ayahnya di masjid sebagaimana disebutkan Ibnu Katsir – pada hari Jumat tanggal sepuluh Shafar di Masjid Umawi setelah shalat Jumat di atas mimbar yang telah disiapkan untuknya untuk menafsirkan Al-Quran Al-Karim. Dia memulai dari awal dalam tafsirnya, dan banyak sekali orang yang berkumpul di sisinya, karena banyaknya ilmu-ilmu beragam yang terverifikasi yang dia sampaikan beserta ketaatan, kezuhudan dan ibadahnya. Kabar tentangnya tersebar ke berbagai penjuru negeri dan wilayah. Dia terus melakukan hal itu selama bertahun-tahun. Ibnu Muflih menambahkan dalam Thabaqat-nya bahwa dia menyampaikan dari hafalannya dalam majelis sekitar dua kuras atau lebih, dan dia terus menafsirkan surat Nuh ‘alaihis salam selama beberapa tahun. Dia memperpanjang biografinya, dan kemasyhurannya tidak perlu diperpanjang dan diperluas dalam penyebutannya.

Lahir pada hari Senin tanggal sepuluh bulan Rabiul Awal tahun enam ratus enam puluh satu di Harran. Datang bersama keluarganya tahun enam ratus enam puluh tujuh ke Damaskus. Dia mendengar di sana dari Ibnu Abdul Daim, Al-Majd bin Asakir, Ibnu Abi Al-Khair, Al-Qasim Al-Irbili, Al-Muslim bin Allan, Ibrahim bin Ad-Darji, Ibnu Abi Al-Yasar dan banyak orang lainnya. Dia mendalami ilmu-ilmu sejak kecil, mengambil fikih dan ushul dari ayahnya, Syaikh Syamsuddin Ibnu Abi Umar dan Syaikh Syamsuddin bin Al-Munja, dan menguasai itu. Membaca bahasa Arab beberapa hari kepada Ibnu Abdul Qawi, kemudian mengambil Kitab Sibawayh dan merenungkannya lalu memahaminya. Mendalami tafsir Al-Quran Al-Karim dan unggul di dalamnya. Menguasai faraid, hisab, aljabar, muqabalah dan ilmu-ilmu lainnya. Melihat ilmu kalam dan unggul dalam hal itu atas para ahlinya, dan membantah para pemimpin mereka. Layak untuk berfatwa dan mengajar ketika belum genap dua puluh tahun. Allah Ta’ala membantunya dengan banyaknya kitab, cepatnya hafalan, kuatnya pemahaman dan lambatnya lupa. Sangat menaruh perhatian pada hadits, menyalin ajza’, berkeliling kepada para syaikh, men-takhrij, menyeleksi dan menguasai rijal dan ilal hadits.

Dia memiliki banyak kebaikan, tidak tertarik pada syahwat makanan, pakaian dan jimak. Tidak ada kesenangan baginya selain menyebarkan dan membukukan ilmu. Ditawarkan kepadanya jabatan qadhi al-qudhat sebelum tahun sembilan puluh dan masyikhah asy-syuyukh namun tidak menerima satupun dari itu. Diuji dan disakiti berkali-kali, dipenjara di benteng Mesir, Kairo, Iskandariyah dan benteng Damaskus dua kali. Menulis karya-karya bagus yang lebih masyhur daripada disebutkan, dan lebih dikenal daripada diingkari. Menyampaikan hadits di Damaskus, Mesir dan Tsaghr. Banyak orang mendengar darinya dari kalangan huffazh dan imam, baik hadits maupun karya-karyanya. Ibnu Al-Wani men-takhrij untuknya empat puluh hadits yang dia sampaikan. Hafizh Abu Abdullah bin Abdul Hadi membuat biografi khusus untuknya dalam satu jilid, demikian juga Abu Hafsh Al-Bazzar Al-Baghdadi dalam beberapa kuras.

Meninggal di Damaskus di benteng dalam tahanan, waktu sahur malam Senin tanggal dua puluh Dzulhijjah atau Dzulqa’dah tahun tujuh ratus dua puluh delapan. Kemudian dipersiapkan dan dikeluarkan ke masjid negeri. Jamaahnya lebih besar dari jamaah Jumat, laki-laki diperkirakan enam puluh ribu atau lebih, dan perempuan lima belas ribu. Dishalatkan oleh saudaranya Zainuddin Abdurrahman di Suq Al-Khail setelah jenazahnya keluar dari Bab Al-Faraj. Dikuburkan di pemakaman Sufiyah di samping saudaranya Asy-Syaraf yaitu Abdullah. Dilihat untuknya mimpi-mimpi yang baik.

Ulama Mujir Ad-Din Abdurrahman Al-Ulaimi Al-Hanbali (928)

  • Al-Manhaj Al-Ahmad fi Dzikri Ashhab Al-Imam Ahmad
  • Ad-Durr Al-Munadhdhad fi Dzikri Ashhab Al-Imam Ahmad

70 – Al-Manhaj Al-Ahmad fi Dzikri Ashhab Al-Imam Ahmad

Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abi Muhammad Abdullah bin Abi Al-Qasim Al-Khidhr bin Muhammad bin Al-Khidhr bin Ali bin Abdullah bin Taimiyah Al-Harrani.

Penduduk Damaskus, Syaikh Imam Ulama Muhaqqiq Hafizh Mujtahid Muhaddits Mufassir Teladan Zahid, keajaiban zaman, Syaikhul Islam, teladan umat, ulama zaman, Taqiyyuddin Abu Al-Abbas putra Syaikh Syihabuddin Abu Al-Mahasin putra Syaikhul Islam Majduddin Abu Al-Barakat pemilik karya-karya tulis yang tidak pernah ada yang mendahului yang sepertinya. Kemasyhurannya tidak perlu diperpanjang dan diperluas dalam penyebutannya.

Lahir pada hari Senin tanggal sepuluh Rabiul Awal tahun enam ratus enam puluh satu di Harran. Datang bersama ayah dan keluarganya ke Damaskus ketika masih kecil. Mereka keluar dari Harran berhijrah karena kezaliman Tatar dan penguasaan mereka atas negeri-negeri. Mereka berjalan di malam hari membawa kitab-kitab di atas gerobak karena tidak ada hewan tunggangan; hampir saja musuh menyusul mereka. Gerobak berhenti, mereka berdoa kepada Allah Ta’ala dan meminta pertolongan-Nya, lalu selamat, dan tiba di Damaskus pertengahan tahun enam ratus enam puluh tujuh.

Syaikh mendengar di sana dari sekelompok orang di antaranya: Syaikh Syamsuddin bin Abi Umar dan banyak orang lainnya. Menaruh perhatian pada hadits, mendengar Al-Musnad berkali-kali, Al-Kutub As-Sittah, Mu’jam Ath-Thabrani Al-Kabir dan tak terhitung kitab-kitab dan ajza’. Membaca sendiri, menulis dengan tulisannya sejumlah ajza’. Mendalami ilmu-ilmu sejak kecil, mengambil fikih dan ushul dari ayahnya, Syaikh Syamsuddin bin Abi Umar, dan Syaikh Zainuddin bin Al-Munja, dan menguasai itu serta berdebat. Membaca bahasa Arab beberapa hari kepada Ibnu Abdul Qawi, kemudian mengambil Kitab Sibawayh lalu merenungkannya dan memahaminya. Mendalami tafsir Al-Quran Al-Karim dan unggul di dalamnya. Menguasai ushul fikih, faraid, hisab, aljabar, muqabalah dan ilmu-ilmu lainnya. Melihat ilmu kalam dan filsafat, unggul dalam hal itu atas para ahlinya, membantah para pemimpin dan tokoh-tokoh mereka. Mahir dalam bidang-bidang ini, layak untuk berfatwa dan mengajar ketika belum genap dua puluh tahun. Berfatwa sebelum dua puluh tahun juga. Allah membantunya dengan banyaknya kitab, cepatnya hafalan, kuatnya pengelolaan dan pemahaman, serta lambatnya lupa.

Kemudian ayahnya wafat dan pada saat itu usianya adalah dua puluh satu tahun. Maka ia menjalankan tugas-tugas ayahnya sepeninggalnya dengan mengajar di Dar Al-Hadits Al-Sukkariyah pada awal tahun 683 Hijriyah. Hadir di majelis pengajarannya Qadhi Al-Qudhah Baha’uddin bin Al-Zaki, Syekh Tajuddin Al-Fazari, Zainuddin Al-Marhil, Syekh Zainuddin Ibnu Al-Manja dan sekelompok ulama. Ia menyampaikan pelajaran yang sangat agung tentang basmalah, yang terkenal di kalangan masyarakat, dan para hadirin mengagungkannya serta memberikan pujian yang banyak kepadanya. Kemudian ia duduk di masjid pada hari-hari Jumat untuk menafsirkan Al-Quran Al-Azhim. Syekh mulai mengumpulkan dan menyusun karya sebelum usia dua puluh tahun, dan tidak henti-hentinya bertambah tinggi dalam ilmu dan kedudukan. Allah memberikan kepadanya keberanian, kecerdasan, pencerahan ilahi, kedermawanan, nasihat, amar makruf nahi mungkar. Ia memiliki kekuatan hafalan yang luar biasa saat menghadirkan dalil, dan mengungguli manusia dalam memahami fikih, perbedaan mazhab, fatwa para sahabat dan tabiin, sehingga apabila ia berfatwa, ia tidak terikat pada satu mazhab, melainkan pada apa yang didukung oleh dalil menurutnya. Apabila ia ditanya tentang suatu bidang ilmu, yang melihat dan mendengarnya akan menyangka bahwa ia tidak mengetahui selain bidang tersebut, dan memutuskan bahwa tidak ada seorang pun yang menguasainya seperti dirinya. Para fuqaha dari berbagai kelompok apabila bergaul dengannya mendapatkan manfaat dalam mazhab mereka berbagai hal. Tidak diketahui bahwa ia pernah berdebat dengan seseorang lalu terputus (kalah). Ia tidak berbicara dalam suatu ilmu dari berbagai ilmu – baik dari ilmu syariat maupun lainnya – kecuali ia mengungguli para ahlinya. Terkumpul padanya syarat-syarat ijtihad secara sempurna. Ia adalah seorang imam yang mendalami ilmu, tidak terikat pada syahwat makanan, pakaian, dan bersetubuh, tidak ada kesenangan baginya selain menyebarkan ilmu, mendokumentasikannya, dan mengamalkannya. Jabatan qadhi al-qudhah ditawarkan kepadanya sebelum tahun 690 Hijriyah, demikian pula jabatan syekh asy-syuyukh, namun ia tidak menerima sedikitpun dari itu semua. Ia termasuk orang yang mendapatkan bagian dari berbagai ilmu, dan hampir menguasai seluruh hadits dan atsar dengan hafalan.

Jika ia berbicara tentang tafsir maka ia adalah pembawa benderanya, jika ia berfatwa dalam fikih maka ia mencapai puncaknya, jika ia bertukar pikiran tentang hadits maka ia adalah pemilik ilmunya dan yang meriwayatkannya, jika ia hadir membahas tentang aliran dan agama-agama maka tidak terlihat yang lebih luas dari alirannya dan tidak lebih tinggi dari pemahamannya. Ia unggul dalam setiap bidang dibanding orang-orang sejenis dengannya, mata yang melihatnya tidak pernah melihat orang seperti dirinya, dan matanya sendiri tidak pernah melihat orang seperti dirinya.

Ia memiliki pengetahuan sempurna tentang para perawi, kritik dan penilaian positif terhadap mereka, tingkatan-tingkatan mereka, dan pengetahuan tentang berbagai cabang ilmu hadits, tentang sanad yang tinggi dan rendah, yang shahih dan cacat, dengan hafalannya terhadap matan-matan hadits yang ia menyendiri dengannya, maka tidak ada seorangpun di masa itu yang mencapai derajatnya atau mendekatinya. Ia sangat mengagumkan dalam menghadirkan dalil, mengeluarkan hujjah darinya, dan kepadanyalah puncak dalam menisbatkan hadits kepada Kutub Al-Sittah dan Al-Musnad. Sungguh ia sangat mengagumkan dalam pengetahuan hadits, dan ia menulis dalam sehari semalam sekitar empat kuras atau lebih.

Ia menulis Al-Hamawiyah dalam satu dudukan, yang lebih banyak dari itu, dan ia menulis pada beberapa waktu dalam sehari apa yang dapat dijadikan satu jilid. Ia rahimahullah adalah orang yang unik di zamannya dalam memahami Al-Quran dan mengetahui hakikat-hakikat iman. Ia memiliki keunggulan panjang dalam pembahasan tentang makrifat dan ahwal serta membedakan antara yang shahih dan cacat, yang bengkok dan lurus. Telah menterjemahkannya Syekh Imam Allamah Qadhi yang cakap, kumpulan keutamaan Syihabuddin Abu Al-Abbas Ahmad bin Fadhlillah, sekretaris negara di Mesir dan Syam dalam kitab sejarahnya yang menyebutkan berbagai negeri dan apa yang ada di dalamnya dari tokoh-tokoh terkenal, ulama dan orang-orang terkemuka, lalu ia menyebutkan namanya kemudian berkata: Ia adalah samudra dari manapun engkau mendatanginya, dan bulan purnama dari manapun engkau melihatnya. Nenek moyangnya berlari menuju kedudukan tinggi yang tidak ia puaskan dengannya, dan tidak berhenti di situ sebagai pelari yang beristirahat dari kelelahannya, dalam pencarian yang tidak rela dengan batas akhir, dan tidak akan berakhir baginya. Ia menyusu dari buah dada ilmu sejak disapih, dan fajar merekah untuk menyamainya namun tertampar. Ia memotong malam dan siang dengan tekun, dan menjadikan ilmu dan amal sebagai dua teman, hingga ia membuat para pendahulu lupa dengan petunjuknya, dan membuat generasi selanjutnya jauh dari mencapai jangkauannya.

Dan Allah menjaga perkara yang dijaganya… pedangnya dan penanya berjalan di dalamnya sebagai pedang

Dengan keinginan yang tinggi di bintang Pleiades bekas telapak kakinya… dan tekad yang tidak biasa baginya rasa bosan

Padahal ia dari keluarga yang telah melahirkan ulama-ulama di masa lampau, dan bermunculan darinya orang-orang besar di bulan-bulan yang terkenal. Maka ia menghidupkan tanda-tanda keluarga lamanya ketika telah usang, dan memetik dari cabang ilmunya yang segar apa yang telah ditanam. Ia menjadi bukti dalam keutamaannya namun ia adalah bukti yang terjaga. Kesulitan-kesulitan menghadangnya namun ia menyingkirkannya, dan lautan-lautan menghadangnya namun ia menaklukkannya. Kemudian ia menjadi umat sendiri, sendirian hingga turun ke liang lahatnya. Ia mengalahkan setiap orang besar dari orang-orang sezamannya, dan memadamkan setiap orang lama dari ahli fana, dan tidak ada dari mereka kecuali yang lari darinya seperti larinya burung unta, dan merasa kecil di hadapannya seperti kecilnya penghutang.

Sebagian manusia tidak lain kecuali seperti… sebagian kerikil yakut merah

Ia datang di masa yang dipenuhi para ulama, penuh dengan bintang-bintang langit, bergelombang di kedua sisinya lautan-lautan yang luas, dan terbang di antara dua sayapnya elang-elang yang kuat, dan bersinar di majelisnya bulan-bulan yang gelap, dan dada-dada tombak, dan berkumpul pasukan yang kuat, dan mengaum singa-singa lembah. Akan tetapi paginya menghapuskan bintang-bintang itu, dan lautnya menenggelamkan awan-awan itu. Maka tombaknya melampaui lembah-lembah itu, dan singanya menerkam binatang-binatang buas itu. Kemudian pasukan dikerahkan untuknya namun ia menghancurkan barisan-barisan mereka, dan menundukkan hidung-hidung mereka. Genangan airnya yang tenang menelan sungai-sungai kecilnya, dan gunungnya yang kokoh mencabut batu-batu besarnya. Nafas-nafas mereka dipadamkan oleh anginnya, dan percikan-percikan api mereka dipadamkan oleh pelita-pelitanya:

Ia maju menunggang sebagai imam di antara mereka… dan seandainya bukan karena dia mereka tidak akan menunggang di belakang

Maka ia mengumpulkan berbagai mazhab yang tercerai-berai. Ia memindahkan dari para imam ijma dan selain mereka mazhab-mazhab mereka yang berbeda dan menghadirkannya, dan mewakili rupa-rupa mereka yang telah pergi dan menghadirkannya. Seandainya Abu Hanifah merasakan zamannya dan menguasai urusannya, ia akan mendekatkan masanya kepadanya mendekat, dan Malik akan memacu kuda al-Asyhabnya mengikutinya meskipun tersandung, atau Asy-Syafii akan berkata: Andai ini ada untuk Al-Umm sebagai anak dan andai aku menjadi ayahnya, atau Asy-Syaibani Ibnu Hanbal tidak akan dicela jenggotnya jika menjadi beruban darinya karena sangat kagum.

Bahkan Daud Azh-Zhahiri dan Sinan Al-Bathini akan menyangka pemikirannya dari pendukungnya, dan Ibnu Hazm dan Asy-Syahrastani, masing-masing dari mereka akan menghimpun penyebutannya sebagai satu umat dalam alirannya, dan Al-Hakim An-Naisaburi dan Al-Hafizh As-Salafi, yang ini akan menambahkannya ke Mustadraknya dan yang itu ke Rihlahnya. Fatwa-fatwa dikirimkan kepadanya dan ia tidak menolaknya, datang kepadanya lalu ia menjawabnya dengan jawaban-jawaban, seakan-akan ia duduk untuknya mempersiapkannya.

Senantiasa di ujung lisan jawabannya… seakan-akan itu adalah limpahan dari hujan

Ia berangkat debatnya dengan kening yang cerah… dan pulang mengakui dengan kehinaan orang yang bersalah

Sungguh telah bersatu melawannya kelompok-kelompok musuh, namun mereka terhina ketika ia menderu jantan untanya, dan mereka terbungkam ketika lebah-lebahnya berdengung untuk memetik madu. Ia dilaporkan kepada penguasa lebih dari satu kali, ia dilempar dengan dosa-dosa besar, dan mereka menunggu bencana menimpanya. Ia digunjingkan agar diambil karena kesalahan-kesalahan. Ia dihasut oleh orang yang tidak mencapai upayanya dan banyak yang curiga, dan menggunjing dan tidak lebih dari mengumpat. Ia digusur dari negerinya, terkadang ke Mesir, terkadang ke Iskandariyah, terkadang ke penjara benteng di Damaskus. Dalam semua itu ia ditempatkan di tenda-tenda penjara, dan disengatkan kepadanya taring-taring kematian. Sementara itu ia tetap atas ilmu yang menuliskan lembaran-lembarannya, dan menyimpan karya-karya berharganya. Tidak ada antara dia dengan sesuatu kecuali menuliskannya, dan menghiasinya meskipun didengar oleh satu orang saja dan menghiasinya, hingga ujung-ujung negeri meminta petunjuk ujungnya, dan tengah-tengah wilayah memandang kehormatannya. Hingga pada akhirnya ia dicabut terakhir kalinya dari penjaranya oleh burung elang kematian, dan ditarik ke jurangnya oleh lembah musibah. Sebelum wafatnya ia telah dilarang dari tinta dan pena, dan dicap pada hatinya dari itu cap penderitaan, dan itu adalah awal sakitnya dan munculnya penyakitnya, hingga ia turun ke padang pasir pemakaman, meninggalkan punggung-punggung mimbar, dan berada di halaman kuburannya dan tidak khawatir, dan mengambil kenyamanan hatinya dari yang mencela dan yang mengkritik.

Telah menulis Syekh Allamah Kamaluddin bin Az-Zamlakani dengan tulisan tangannya pada kitab Ibthal At-Tahlil karya Syekh terjemahan kitab, dan nama Syekh, dan menerjemahkannya dengan terjemahan yang agung, dan memujinya dengan pujian yang sangat besar. Ia juga menulis di bawah itu:

Apa yang dikatakan para pendeskripsi tentangnya… sifat-sifatnya terlalu agung untuk dihitung

Ia adalah hujjah Allah yang mengalahkan… ia di antara kita adalah keajaiban zaman

Ia adalah tanda yang nyata bagi makhluk… cahaya-cahayanya melebihi fajar

Dan untuk Syekh Atsir Addin Abu Hayyan Al-Andalusi An-Nahwi, ketika ia memasuki Mesir dan bertemu dengannya:

Ketika kami melihat Taqiyuddin bersinar bagi kami… seorang dai kepada Allah yang menyendiri yang tidak ada bandingannya

Di wajahnya dari tanda orang-orang yang menemani… sebaik makhluk adalah cahaya yang bulan di bawahnya

Seorang ulama besar yang zamannya mengenakan dari dirinya kehormatan… lautan yang terlempar dari ombaknya mutiara-mutiara

Ibnu Taimiyah berdiri dalam menolong syariat kami… berdirinya pemimpin Taim ketika Mudhar membangkang

Maka ia menampakkan agama ketika tanda-tandanya terhapus… dan memadamkan kesyirikan ketika percikannya beterbangan

Wahai yang berbicara tentang ilmu Al-Kitab dengarkanlah… inilah imam yang telah ditunggu-tunggu

Dan diceritakan oleh Adz-Dzahabi bahwa Syekh Taqiyuddin bin Daqiq Al-‘Id berkata kepada Syekh Taqiyuddin bin Taimiyah ketika bertemu dengannya dan mendengar perkataannya: Aku tidak menyangka bahwa masih diciptakan orang sepertimu.

Para syekh mengagungkannya dengan pengagungan yang sangat. Syekh Imaduddin Al-Wasithi berguru kepadanya meskipun ia lebih tua darinya. Ia berkata: Ia telah mendekati kedudukan para imam besar, dan berdirinya dalam beberapa perkara sesuai dengan berdirinya para shiddiqin.

Namun ia dan sekelompok khusus sahabat-sahabatnya terkadang mengingkari dari Syekh ucapannya tentang sebagian tokoh dari para ulama, atau tentang ahli khalwat dan uzlah dan semacam itu. Syekh rahimahullah tidak bermaksud dengan itu kecuali kebaikan dan membela kebenaran, insya Allah.

Kelompok-kelompok dari para imam ahli hadits, para hafizh dan fuqaha mereka mencintai Syekh dan mengagungkannya, namun mereka tidak menyukai untuk dirinya terlalu dalam berdebat dengan ahli kalam dan filsuf, sebagaimana itu adalah jalan para imam ahli hadits terdahulu, seperti Asy-Syafii, Ahmad, Ishaq dan Abu Ubaid. Demikian pula banyak dari para ulama dari fuqaha, muhadditsiin dan orang-orang shalih membenci untuk dirinya menyendiri dengan beberapa masalah yang menyimpang yang diingkari oleh salaf terhadap orang yang menyimpang dengannya, hingga sebagian qadhi yang adil dari sahabat-sahabat kami yaitu Qadhi Al-Qudhah Syamsuddin bin Muslim yang telah disebutkan sebelumnya, melarangnya dari berfatwa dengan sebagian itu sebagaimana telah disebutkan dalam terjemahnya. Kebanyakan kritiknya terhadap orang-orang yang utama dan yang bertakwa adalah benar, dan sebagiannya ia berijtihad di dalamnya, dan mazhabnya adalah meluaskan uzur kepada makhluk, dan ia tidak mengkafirkan seorangpun kecuali setelah tegaknya hujjah atasnya.

Sungguh telah bangkit melawan Syekh banyak dari ulama Mesir dan Syam dengan bangkitan yang tidak ada tambahan lagi, dan mereka membidahkannya, mendebatnya dan membantahnya. Sementara ia tetap teguh tidak berdiplomasi dan tidak berpihak, bahkan ia mengatakan apa yang dihasilkan oleh ijtihadnya, ketajaman pikirannya dan luasnya lingkarannya. Maka terjadi antara dirinya dan mereka peperangan-peperangan, dan pertempuran-pertempuran di Syam dan Mesir. Berapa banyak pertempuran di mana mereka melemparnya namun Allah menyelamatkannya, karena ia selalu berdoa dengan khusyuk, banyak memohon pertolongan, kuat tawakalnya. Ia memiliki kelompok yang mencintainya dari para ulama, orang-orang shalih, para tentara, para pemimpin, pedagang, pembesar dan orang awam.

Adapun keberaniannya maka dengan itu ditegakkan perumpamaan, dan dengan sebagiannya menyamai para pahlawan besar. Sungguh Allah telah mendirikannya dalam peristiwa Ghazan, dan ia menghadapi beban perkara dengan dirinya sendiri. Ia berdiri, duduk, naik, keluar, dan bertemu dengan raja Ghazan dua kali dan dengan Qutlughsyah dan Bulay. Qibchaq kagum dengan keberaniannya dan keteguhannya. Ia memiliki ketegasan yang kuat yang menyertainya dalam berdebat, hingga seakan ia adalah singa perang. Ia rahimahullah memiliki sedikit diplomasi, dan kurang tenang pada umumnya. Ia memiliki keberanian dan kemuliaan jiwa, kekuatan jiwa yang menjerumuskannya ke dalam perkara-perkara sulit, namun Allah membela dirinya. Ia memiliki sedikit syair, dan tidak menikah dan tidak memiliki budak perempuan, dan tidak ada dari gajinya kecuali sedikit. Ia murah hati, tidak peduli dengan dinar dan dirham. Padanya ada kemurahan hati dan berdiri bersama sahabat-sahabatnya, dan berusaha dalam kepentingan mereka, sementara ia adalah orang fakir yang tidak memiliki harta. Pakaiannya seperti kebanyakan fuqaha: farjiyah, jubah dan sorban yang nilainya tiga puluh dirham, dan sandal yang murah harganya. Rambutnya dipotong pendek. Ia berperawakan sedang, lebar jarak antara kedua bahunya. Seakan-akan kedua matanya adalah dua lisan yang berbicara. Ia shalat mengimami manusia dengan shalat yang tidak lebih panjang rukunya maupun sujudnya. Ia tidak pernah membungkuk kepada siapapun. Ia hanya memberi salam, berjabat tangan dan tersenyum.

Dia pernah sekali melakukan perjalanan dengan pos ke negeri Mesir untuk meminta bantuan kepada Sultan ketika datangnya serangan Tatar pada suatu tahun. Dia membacakan kepada mereka ayat-ayat tentang jihad dan berkata: “Jika kalian meninggalkan Syam dan tidak menolong penduduknya serta membelanya, maka sesungguhnya Allah Ta’ala akan menguatkan bagi mereka orang lain yang akan menolong mereka selain kalian, dan Allah akan mengganti kalian dengan orang lain.” Kemudian dia membaca firman Allah Ta’ala: “Dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu” (QS. Muhammad: 38).

Dan firman Allah Ta’ala: “Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah akan menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantiNya (kamu) dengan kaum yang lain” (QS. At-Taubah: 39).

Hal tersebut sampai kepada Syekh Taqiyuddin Ibnu Daqiq Al-‘Id—yang ketika itu menjabat sebagai hakim—maka dia menganggap baik hal itu, mengagumi istinbath (penggalian hukum)nya, dan takjub dengan keberanian Syekh dalam menghadapi Sultan dengan kata-kata seperti itu.

Adapun mengenai cobaan-cobaan Syekh: sangat banyak, dan penjelasannya akan panjang. Para sejarawan telah memindahkan dan mencatatnya. Suatu ketika dia pernah ditahan oleh salah seorang wakil Sultan di Syam untuk waktu singkat, karena sikapnya terhadap seorang Nasrani yang mencaci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ditahan bersamanya Syekh Zainuddin Al-Faruqi, kemudian keduanya dibebaskan dengan penuh penghormatan. Dia telah beberapa kali difitnah karena hadits-hadits sifat Allah.

Kemudian dia diuji pada tahun tujuh ratus lima dengan pertanyaan tentang akidahnya atas perintah Sultan. Maka wakilnya mengumpulkan para hakim dan ulama di istana, dan menghadirkan Syekh, serta menanyakan hal itu kepadanya. Lalu Syekh mengirim orang untuk mengambil dari rumahnya kitab Al-Aqidah Al-Wasithiyyah, maka mereka membacanya dalam tiga pertemuan. Mereka membahasnya dan berdiskusi dengannya. Setelah itu tercapai kesepakatan bahwa ini adalah akidah yang sesuai Sunnah dan Salaf. Di antara mereka ada yang mengatakan itu dengan sukarela, dan di antara mereka ada yang mengatakannya dengan terpaksa. Kemudian sekelompok orang dari Mesir bersikap fanatik, di antaranya Baibars Asy-Syasyanqir yang kemudian menjadi Sultan, dan lainnya dari kalangan fuqaha di antaranya Nashr Al-Munbiji dan Ibnu Makhluf hakim Malikiyyah. Syekh dipanggil dengan pos ke Kairo. Untuk dia diadakan pertemuan pada hari kedua kedatangannya—yaitu tanggal dua belas Ramadhan tahun tujuh ratus lima—di benteng. Dia dituntut dengan beberapa tuntutan di hadapan Ibnu Makhluf hakim Malikiyyah. Maka Syekh meminta Ibnu Makhluf sang hakim untuk mengundurkan diri. Tidak terbukti atasnya sesuatu yang mewajibkan ta’zir atau lainnya. Kemudian dia dan saudaranya Syarafuddin dipenjara di sebuah menara beberapa hari. Dikatakan: sesungguhnya saudaranya Syarafuddin berdoa dan memohon kepada Allah agar menghukum mereka, maka Syekh melarangnya dan berkata kepadanya: “Katakan saja: Ya Allah, berilah mereka cahaya agar mereka mendapat petunjuk.” Terjadi banyak gangguan terhadap kaum Hanabilah di Kairo. Syekh tetap di penjara, dan dia menghadap kepada Allah Ta’ala, tidak menerima apapun dari pakaian sultani, dan tidak ternoda dengan sesuatupun dari itu.

Kemudian pada Rabiul Awal tahun tujuh ratus tujuh, Syekh dikeluarkan dari penjara, dan diadakan untuknya pertemuan-pertemuan yang dihadiri para ulama besar. Pertemuan itu berakhir dengan baik. Kemudian dia dibebaskan dan menolak untuk datang ke Damaskus. Dia tinggal di Kairo mengajarkan ilmu dan berbicara di masjid-masjid dan pertemuan umum. Banyak orang berkumpul padanya. Kemudian terjadi perselisihan antara dia dengan sekelompok kaum Sufi. Diadakan pertemuan untuknya karena perkataannya tentang Ibnu Arabi. Dia dituntut dengan beberapa hal, namun tidak ada satupun yang terbukti. Maka dimintakan dari salah seorang hakim untuk memutuskan penahanan atasnya, namun putusan itu tidak beralasan. Lalu Syekh memilih untuk dipenjara, maka dia dikirim ke penjara hakim dan didudukkan di tempat yang pernah diduduki oleh hakim Taqiyuddin Ibnu Bintul A’azz ketika dia dipenjara.

Semua itu karena usaha Nashr Al-Munbiji. Syekh tetap di penjara, dimintai fatwa, orang-orang mendatanginya dan mengunjunginya. Fatwa-fatwa yang sulit datang kepadanya dari para amir dan orang-orang terkemuka. Kemudian mereka mengeluarkannya pada masa kekuasaan Baibars Asy-Syasyanqir yang bergelar Al-Muzhaffar ke Iskandariah dengan pos. Dia dipenjara di sana dalam menara yang bagus, luas, dan terang. Orang yang dia kehendaki bisa masuk menemuinya, dan dia melarang siapa yang dia kehendaki. Dia keluar ke pemandian bila dia mau. Dia tinggal di Iskandariah selama masa kekuasaan Al-Muzhaffar, yaitu sebelas bulan. Ketika kembali Al-Malik An-Nashir Muhammad bin Qalawun—dan kedatangannya ke Kairo serta duduknya di atas singgasana kerajaannya adalah setelah Ashar hari Rabu awal Syawal tahun tujuh ratus sembilan—dan dia berkuasa, serta membinasakan Al-Muzhaffar, dan syaikhnya Nashr Al-Munbiji padam, serta kemarahan Sultan sangat keras kepada para hakim karena keterlibatan mereka dengan Al-Muzhaffar dan memecat sebagian dari mereka, maka Sultan segera menghadirkan Syekh ke Kairo dengan penuh penghormatan pada Syawal tahun tujuh ratus sembilan. Dia menghormatinya dengan sangat dan berdiri menyambutnya di suatu pertemuan yang dihadiri hakim-hakim Mesir dan Syam, para fuqaha, dan pembesar-pembesar negara. Dia menambah penghormatan kepadanya. Dia terus berbicara dengannya dan meminta nasihatnya, serta memujinya di hadapan mereka dengan pujian yang banyak. Dia memperbaiki hubungan antara dia dan mereka. Dikatakan: sesungguhnya dia meminta nasihatnya dalam suatu urusan yang dia maksudkan terhadap para hakim, maka Syekh mengalihkannya dari itu dan memuji mereka. Dan sesungguhnya Ibnu Makhluf Al-Maliki berkata: “Kami tidak pernah melihat orang yang lebih bermaaf daripada Ibnu Taimiyyah. Kami berusaha untuk membunuhnya, namun ketika dia berkuasa atas kami, dia memaafkan.”

Syekh tinggal di Kairo, dan orang-orang berdatangan kepadanya, baik para amir, tentara, maupun sekelompok fuqaha. Di antara mereka ada yang meminta maaf kepadanya dan menyatakan tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Pada masa ini dia mengajarkan ilmu dan mengadakan pertemuan-pertemuan umum untuk orang banyak.

Kemudian dia datang ke Syam bersama kedua saudaranya pada tahun dua belas dengan niat jihad ketika Sultan datang untuk mengusir Tatar dari Syam. Maka dia keluar bersama pasukan, dan berpisah dari mereka di Asqalan serta mengunjungi Baitul Maqdis. Kemudian masuk ke Damaskus setelah kepergiannya selama lebih dari tujuh tahun, bersamanya kedua saudaranya dan sekelompok sahabatnya. Banyak orang keluar untuk menyambutnya, dan orang-orang gembira dengan kedatangannya. Dia melanjutkan seperti keadaannya semula dalam mengajarkan dan menyelenggarakan pengajian ilmu di Madrasah As-Sukkariyyah, Al-Hanbaliyyah, dan memberi fatwa kepada orang banyak.

Kemudian pada tahun delapan belas datang surat dari Sultan yang melarangnya dari berfatwa dalam masalah sumpah dengan talak dengan takfir. Diadakan untuknya pertemuan di Darus Sa’adah, dan dia dilarang dari itu.

Kemudian pada tahun sembilan belas diadakan untuknya pertemuan lagi seperti yang pertama dan berakhir dengan penegasan larangan. Kemudian diadakan untuknya pertemuan ketiga karena hal itu dan dia dipenjara di benteng. Kemudian dia dipenjara lagi karena hal itu sekali lagi, dan karena itu dia dilarang berfatwa secara mutlak. Maka dia tinggal beberapa waktu memberi fatwa dengan lisannya, dan berkata: “Tidak boleh bagiku menyembunyikan ilmu.” Di akhir urusan mereka berbicara dengannya tentang masalah larangan bepergian ke kuburan para Nabi dan orang-orang saleh. Empat hakim Mesir memberi fatwa untuk memenjarakannya, maka dia dipenjara di benteng Damaskus selama dua tahun dan beberapa bulan. Dan di sanalah dia meninggal rahimahullah.

Dia telah menjelaskan bahwa apa yang diputuskan atasnya adalah batil menurut ijma kaum muslimin dari banyak sekali segi. Sekelompok orang memberi fatwa bahwa dia salah dalam hal itu, kesalahan mujtahid yang diampuni bagi mereka. Sekelompok ulama Baghdad dan lainnya menyetujuinya. Demikian juga kedua putra Abu Al-Walid syekh Malikiyyah di Damaskus memberi fatwa bahwa tidak ada alasan untuk keberatan atasnya dalam apa yang dia katakan sama sekali, dan bahwa dia memindahkan khilaf para ulama dalam masalah itu, serta menguatkan salah satu dari dua pendapat di dalamnya. Dia tinggal beberapa waktu di benteng menulis ilmu dan menyusunnya, mengirim surat-surat kepada sahabat-sahabatnya, dan menyebutkan apa yang Allah bukakan kepadanya pada kali ini dari ilmu-ilmu yang agung dan keadaan-keadaan yang besar. Dia berkata: “Allah telah membukakan kepadaku di benteng ini pada kali ini dari makna-makna Al-Quran dan dari pokok-pokok ilmu hal-hal yang banyak ulama mati dalam keadaan mengharapkannya.” Kemudian dia dilarang dari menulis, dan tidak ditinggalkan padanya tinta, pena, maupun kertas. Maka dia menghadap pada tilawah, tahajud, dan dzikir. Dia berkata suatu kali: “Apa yang musuh-musuhku perbuat terhadapku? Surgaku dan kebunku ada di dadaku, ke manapun aku pergi maka dia bersamaku tidak pernah meninggalkanku. Penjaraku adalah kesendirian, pembunuhanku adalah kesyahidan, dan pengusiran diriku dari negeriku adalah perjalanan.” Dia berkata suatu kali: “Orang yang terpenjara adalah orang yang hatinya terpenjara dari Tuhannya, dan orang yang tertawan adalah orang yang tertawan oleh hawa nafsunya.”

Ketika dia masuk benteng dan berada di dalam temboknya, dia memandangnya dan berkata: “Maka dibuat dinding antara mereka yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari arah depan ada siksa. Mereka berseru kepada mereka” (QS. Al-Hadid: 13).

Dia dengan apa yang ada padanya dari penjara, ancaman, dan hasutan, namun dengan itu semua dia adalah manusia yang paling enak kehidupannya, paling lapang dadanya, paling kuat hatinya, dan paling gembira jiwanya—rahimahullah dan maaf baginya—.

Penyebutan sebagian kitab karangannya: Jumlahnya sangat banyak, tetapi kami sebutkan contoh dari nama-nama kitab karangan besar:

Kitab Al-Iman satu jilid. Al-Istiqamah dua jilid. Jawab Al-I’tiradhat Al-Mishriyyah ‘ala Al-Fatawa Al-Hamawiyyah empat jilid. Bayan Talbis Al-Jahmiyyah fi Ta’sis Bida’ihim Al-Kalamiyyah enam jilid besar. Kitab Al-Mihnah Al-Mishriyyah dua jilid. Al-Masa’il Al-Iskandariyyah satu jilid. Al-Fatawa Al-Mishriyyah tujuh jilid. Semua karangan ini selain kitab Al-Iman ditulis ketika dia di Mesir dalam waktu tujuh tahun, disusunnya di penjara, dan dia menulis bersamanya lebih dari seratus gulungan kertas juga.

Kitab Dar’u Ta’arudh Al-‘Aql wan-Naql empat jilid besar. Al-Jawab ‘amma Awradahu Asy-Syaikh Kamaluddin Asy-Syarisyi ‘ala Hadza Al-Kitab sekitar satu jilid.

Dan kitab Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyyah fi Naqdh Kalam Asy-Syi’ah wal-Qadariyyah empat jilid. Al-Jawab Ash-Shahih liman Baddala Din Al-Masih dua jilid. Syarh Awwal Al-Muhashshal karya Ar-Razi satu jilid. Syarh Bidh ‘Asyrata Mas’alatan min Al-Arba’in lir-Razi dua jilid. Ar-Raddu ‘ala Al-Manthiq satu jilid besar. Ar-Raddu ‘ala Al-Bakri fi Mas’alat Al-Istighasah satu jilid. Ar-Raddu ‘ala Ahl Kisrawan Ar-Rawafidh dua jilid. Ash-Shafadiyyah Jawab man Qala: Inna Mu’jizat Al-Anbiya’ Quwan Nafsaniyyah satu jilid. Al-Hilawuniyyah satu jilid. Syarh ‘Aqidat Al-Asbahani satu jilid. Syarh Al-‘Umdah lisy-Syaikh Muwaffaquddin ditulis empat jilid darinya. Ta’liqah ‘ala Al-Muharrar fil-Fiqh lijaddihi beberapa jilid. Ash-Sharim Al-Maslul ‘ala Syatim Ar-Rasul satu jilid. Bayan Ad-Dalil ‘ala Butlan At-Tahlil satu jilid. Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim fi Mukhalafat Ashab Al-Jahim satu jilid. At-Tahrir fi Mas’alat Hafir satu jilid dalam masalah dari pembagian, ditulisnya sebagai keberatan atas Al-Khuwaiyyi dalam suatu peristiwa yang dia putuskan di dalamnya. Ar-Raddu ‘ala man I’taradha ‘alaihi fi Mas’alat Al-Half bith-Thalaq tiga jilid. Kitab Tahqiq Al-Furqan baina At-Tathliq wal-Aiman satu jilid besar. Ar-Raddu ‘ala Al-Ikhna’i fi Mas’alat Az-Ziyarah satu jilid.

Adapun kaidah-kaidah menengah dan kecil serta jawaban-jawaban fatwa maka tidak mungkin disebutkan semuanya karena banyaknya, tersebar, dan berserakannya.

Di antara yang paling terkenal Al-Furqan baina Auliya’ Ar-Rahman wa Auliya’ Asy-Syaithan satu jilid tipis. Al-Furqan baina Al-Haqq wal-Bathal satu jilid tipis. Al-Furqan baina Ath-Thalaq wal-Aiman satu jilid tipis. As-Siyasah Asy-Syar’iyyah fi Ishlah Ar-Ra’i war-Ra’iyyah satu jilid tipis. Raf’ul-Malam ‘an Al-A’immah Al-A’lam satu jilid tipis.

Penyebutan contoh dari pendapat khusus dan keunikan-keunikannya:

  1. Dia memilih hilangnya hadats dengan air-air yang diperas, seperti air mawar dan semacamnya.
  2. Dia memilih bolehnya mengusap sandal, kedua telapak kaki, dan setiap yang memerlukan dalam melepasnya dari kaki berupa usaha dengan tangan atau dengan kaki yang lain, maka menurutnya boleh mengusapnya bersama kedua telapak kaki.
  • Beliau berpendapat bahwa mengusap khuf (sepatu kulit) tidak dibatasi waktu ketika ada kebutuhan seperti musafir yang menggunakan kuda pos dan semacamnya, dan beliau melakukan hal itu ketika perjalanan beliau ke negeri Mesir menggunakan kuda pos, dan dibatasi waktu ketika memungkinkan untuk melepasnya dan mudah untuk melakukannya.
  • Beliau berpendapat dibolehkannya mengusap perban dan semacamnya.
  • Beliau berpendapat bolehnya tayamum karena khawatir habisnya waktu bagi orang yang tidak uzur, seperti orang yang sengaja mengakhirkan shalat hingga waktunya sempit. Demikian pula orang yang khawatir terlewat shalat Jumat dan dua hari raya sedang dia berhadats. Adapun orang yang bangun atau teringat di akhir waktu shalat maka dia bersuci dengan air dan shalat karena waktu masih luas baginya.
  • Beliau berpendapat bahwa perempuan jika tidak mampu mandi di rumah dan sulit baginya turun ke pemandian umum dan berulang-ulang, maka dia boleh bertayamum dan shalat.
  • Beliau berpendapat bahwa tidak ada batasan minimal haid dan tidak ada batasan maksimalnya, tidak ada batasan minimal suci antara dua haid, dan tidak ada batasan usia menopause dari haid, dan bahwa hal itu dikembalikan kepada apa yang diketahui setiap perempuan dari dirinya sendiri.
  • Beliau berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja tidak wajib mengqadha dan tidak disyariatkan baginya, bahkan dia memperbanyak shalat sunah.
  • Dan bahwa mengqashar (meringkas) shalat boleh dalam perjalanan pendek maupun panjang.
  • Dan bahwa sujud tilawah tidak disyaratkan bersuci.

Dari syair Syaikh rahimahullah yang beliau gubah sendiri beberapa hari sebelum wafatnya:

Aku adalah orang yang fakir kepada Rabb pemilik langit-langit Aku adalah orang miskin dalam seluruh keadaanku Aku adalah orang yang zalim terhadap diriku dan ia (jiwa) menzalimiku Dan kebaikan jika datang kepada kami adalah dari sisi-Nya Aku tidak mampu bagi diriku mendatangkan manfaat Dan tidak pula dari jiwa dalam menolak kemudharatan Dan tidak ada bagiku selain-Nya seorang pelindung yang mengatur urusanku Dan tidak ada pemberi syafaat kepada Rabb seluruh makhluk Kecuali dengan izin dari Allah Yang Maha Pengasih, Pencipta kami Kepada pemberi syafaat sebagaimana telah datang dalam ayat-ayat Dan aku tidak memiliki sesuatu pun selain-Nya selamanya Dan aku bukan sekutu dalam sebagian zarrah Dan bukan pula penolong bagi-Nya agar aku membantunya Sebagaimana halnya para pemilik kekuasaan Dan kefakiran bagiku adalah sifat dzat yang melekat selamanya Sebagaimana kekayaan selamanya adalah sifat dzat bagi-Nya Dan ini adalah keadaan seluruh makhluk Dan semuanya di sisi-Nya adalah hamba yang datang kepada-Nya Maka barangsiapa mencari tujuan selain Penciptanya Maka dialah orang yang bodoh, zalim, musyrik lagi durhaka Dan segala puji bagi Allah yang memenuhi seluruh alam semesta Apa yang ada di dalamnya dan apa yang setelahnya akan datang

Dan bait-bait syair ini mengandung kebaikan akidah dan kepasrahan.

Penyebutan Wafatnya Rahimahullah

Syaikh berada di Benteng sejak bulan Syaban tahun enam dua puluh enam hingga Dzulqaidah tahun dua puluh delapan, kemudian beliau sakit selama dua puluh sekian hari, dan kebanyakan orang tidak mengetahui sakitnya, dan mereka tidak kaget kecuali dengan wafatnya. Wafat beliau adalah pada waktu sahur malam Senin, dua puluh Dzulqaidah tahun tujuh ratus dua puluh delapan. Muadzin Benteng menyebutkannya di menara masjid, dan para penjaga berbicara tentangnya di menara-menara, maka orang-orang saling mendengar tentang hal itu, dan sebagian mereka diberitahu tentangnya dalam tidurnya. Orang-orang menjadi pagi hari dan berkumpul di sekitar Benteng hingga penduduk Ghuthah dan Marj, dan penduduk pasar tidak memasak sesuatu pun, dan tidak membuka banyak dari toko-toko yang biasanya dibuka awal siang. Pintu Benteng dibuka dan wakil sultan sedang tidak ada di negeri, maka Penguasa datang kepada wakil Benteng, dan menyampaikan belasungkawa kepadanya, dan duduk bersamanya. Berkumpul di sisi Syaikh di Benteng orang banyak dari sahabat-sahabatnya, mereka menangis dan memuji. Saudaranya Zainuddin Abdurrahman memberitahu mereka bahwa dia dan Syaikh sejak masuk Benteng telah mengkhatamkan Al-Quran delapan puluh kali, dan memulai yang ke delapan puluh satu, maka mereka sampai pada firman Allah Taala: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat kedudukan yang benar di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.” (Al-Qamar: 54-55).

Kemudian mulailah dua Syaikh yang saleh: Abdullah bin Al-Muhibb As-Shalihi, dan Az-Zar’i yang buta—dan Syaikh sangat suka bacaan keduanya—maka keduanya memulai dari surah Ar-Rahman hingga mengkhatamkan Al-Quran. Laki-laki keluar, dan perempuan masuk dari kerabat Syaikh lalu melihatnya, kemudian mereka keluar dan hanya tinggal orang yang memandikannya dan membantu memandikannya. Mereka adalah sekelompok orang dari para ulama besar dan orang-orang saleh seperti Al-Mizzi dan lainnya. Belum selesai memandikannya hingga Benteng penuh dengan laki-laki dan sekitarnya hingga ke masjid. Shalat jenazah dipimpin di tangga-tangga Benteng oleh zahid dan teladan Muhammad bin Tamam, dan orang-orang ramai menangis dan memuji, berdoa dan memohon rahmat. Syaikh dikeluarkan menuju Masjid Damaskus pada jam empat atau sekitarnya, dan masjid telah penuh beserta halamannya, Al-Kalasah, Babu Al-Barid, dan Babu As-Sa’at hingga Al-Labadin dan Al-Fawwarah. Jumlah orang lebih banyak dari jamaah Jumat. Syaikh diletakkan di tempat jenazah yang dekat dengan mihrab, dan tentara menjaga jenazah dari desakan. Orang-orang duduk tanpa shaf, bahkan berdesak-desakan, tidak ada seorang pun yang mampu duduk atau sujud kecuali dengan susah payah. Orang sangat banyak dengan jumlah yang tidak dapat digambarkan. Ketika muadzin mengumandangkan azan Dzuhur, iqamah dikumandangkan di balkon, berbeda dari kebiasaan, dan mereka shalat Dzuhur, kemudian dishalatkan jenazah Syaikh. Imam adalah wakil khatib Alauddin bin Al-Kharrath karena ketidakhadiran Al-Qazwini di negeri Mesir. Kemudian mereka berjalan membawa beliau, dan orang-orang menangis, berdoa, memuji, bertahlil, dan menyesal. Para perempuan di atas atap dari sana hingga pemakaman berdoa dan menangis juga. Hari itu adalah hari yang disaksikan yang tidak pernah dialami di Damaskus sepertinya. Tidak ada yang tidak hadir dari penduduk negeri dan sekitarnya kecuali sedikit dari orang-orang lemah dan perempuan yang berpurdah. Seorang penyeru berseru: “Beginilah jenazah para imam Ahlus Sunnah.”

Maka orang-orang menangis dengan sangat pada saat itu. Beliau dikeluarkan dari Babu Al-Barid, dan desakan sangat keras. Orang-orang melemparkan sapu tangan dan sorban mereka di atas kerandanya. Keranda berada di atas kepala-kepala, kadang maju dan kadang mundur. Orang-orang keluar dari semua pintu masjid yang penuh sesak, kemudian dari semua pintu kota, tetapi yang paling banyak dari Babu Al-Faraj, dan dari sana jenazah keluar, Babu Al-Faradis, Babu An-Nashr, dan Babu Al-Jabiyah. Urusan menjadi besar di Suqu Al-Khail, dan yang memimpin shalat di sana adalah saudaranya Zainuddin Abdurrahman.

Beliau dimakamkan pada waktu Ashar atau sedikit sebelumnya di samping saudaranya Syarafuddin Abdullah di pemakaman kaum sufi. Laki-laki diperkirakan enam puluh ribu, atau lebih hingga dua ratus ribu, dan perempuan lima belas ribu. Dengan itu tampaklah ucapan Imam Ahmad radhiyallahu anhu: “Antara kami dan ahli bidah adalah hari jenazah.”

Dikhatamkan untuk beliau khataman yang banyak di Shalihi dan kota. Orang-orang berulang kali berziarah ke kuburnya berhari-hari, siang dan malam. Terlihat baginya mimpi-mimpi baik yang banyak. Banyak ulama dan penyair meratapi beliau dengan qasidah-qasidah banyak dari negeri-negeri yang berbeda dan daerah-daerah yang berjauhan. Kaum muslimin sangat menyesal atas kehilangannya—rahimahullah taala wa ghafara lahu. Dishalatkan ghaib untuknya di kebanyakan negeri Islam yang dekat dan jauh, bahkan di Yaman dan Tiongkok. Para musafir memberitakan bahwa diumumkan di ujung Tiongkok untuk shalat ghaib untuknya pada hari Jumat: “Shalatlah atas penerjemah Al-Quran.”

Syaikh, imam, ulama yang teliti dan pemeriksa yang cermat, lautan ilmu Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abdul Hadi bin Abdul Hamid Al-Maqdisi Al-Hanbali—radhiyallahu anhu wa ghafara lahu—telah mengkhususkan untuk Syaikh Taqiyuddin sebuah biografi dalam satu jilid.

Demikian juga Abu Hafsh Umar bin Ali Al-Bazzar Al-Baghdadi dalam beberapa kurasan.

Syaikh telah banyak meriwayatkan hadits dan banyak orang yang mendengar darinya dari para hafizh dan para imam hadits dan dari karya-karyanya.

Syaikh Al-Hafizh Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz-Dzahabi—rahimahullah taala—telah menggubah syair meratapi Syaikh Taqiyuddin radhiyallahu anhu:

Wahai maut, ambillah siapa yang engkau kehendaki atau tinggalkan Engkau telah menghapus gambaran ilmu dan warak Engkau hilangkan lautan, mufassir, gunung Ulama besar yang bertakwa, menjauhi kenyang Jika dia meriwayatkan hadits “maka ia Muslim” yang terpercaya Dan jika dia berdebat maka dia pemilik “Al-Luma'” Dan jika dia mengarungi nahwu “Sibawaih” dia memahami Dengan setiap makna dalam bidang yang ditemukan Dan dia menjadi tinggi sanad, hafizhnya Seperti Syu’bah atau Sa’id Adh-Dhab’i Dan fiqih padanya maka dia adalah mujtahid Dan pemilik jihad yang terbebas dari kegelisahan Dan kedermawanannya “Al-Hatimi” yang terkenal Dan zuhudnya “Al-Qadiri” dalam ketamakan Allah menempatkannya di surga dan tidak Berhenti tinggi dengan pakaian yang paling indah Bersama Malik dan Imam Ahmad dan An-Nu’man dan Asy-Syafi’i dan An-Nakha’i Telah pergi Ibnu Taimiyah dan janjinya Bersama lawannya di hari tiupan ketakutan

Beliau juga diratapi oleh Syaikh Zainuddin Umar bin Al-Wardi Asy-Syafi’i rahimahullah, beliau berkata:

Berbuat melampaui batas terhadap kehormatannya kaum yang lalai Bagi mereka dari taburan permata beliau adalah pengumpulan Taqiyuddin Ahmad sebaik-baik ulama Sobekan masalah-masalah rumit dengannya dijahit Dia wafat dalam keadaan dipenjara sendirian Dan tidak ada baginya kepada dunia kelapangan Seandainya mereka menghadirinya ketika dia meninggal, mereka akan menemukan Malaikat-malaikat kenikmatan mengelilinginya Dia meninggal dan tidak ada yang setara dengannya Dan tidak ada untuk yang serupa dengannya yang menyelimutinya Sendirian dalam kemurahan tangan dan ilmu Dan pemecahan masalah-masalah dengannya digantungkan Dan dia menyeru makhluk kepada takwa Dan melarang kelompok yang fasiq dan menyimpang Dan iblis takut akan serangannya Dengan nasihat untuk hati-hati yang adalah cambuk Demi Allah apa yang diliputi liang lahat Dan demi Allah apa yang ditutupi lantai Mereka iri kepadanya ketika mereka tidak mendapatkan Keutamaan-keutamaannya maka mereka telah menipu dan melampaui batas Dan mereka malas dari jalan-jalannya Tetapi dalam menyakitinya bagi mereka ada kegiatan Dan terkurungnya mutiara dalam kerang adalah kebanggaan Dan di sisi Syaikh dengan penjara adalah kegembiraan Dengan keluarga Al-Hasyimi dia mengikuti Maka mereka telah merasakan kematian dan tidak menyesuaikan diri Bani Taimiyah dahulu ada lalu pergi Bintang-bintang ilmu yang turun mengalami kejatuhan Tetapi wahai penyesalan para penjaranya Maka keraguan syirik dengannya dihilangkan Dan wahai kegembiraan orang-orang Yahudi dengan apa yang kalian lakukan Maka sesungguhnya lawan menyukainya kemalangan Tidakkah ada di antara kalian lelaki yang cerdas Yang melihat penjara imam lalu marah Seorang imam yang tidak mengharapkan kekuasaan Dan tidak ada wakaf untuknya dan tidak ada ribath Dan tidak berbagi dengan kalian dalam memperoleh harta Dan tidak pernah diketahui baginya dengan kalian percampuran Maka mengapa kalian penjarakan dia dan marah kepadanya Bukankah untuk pembalasan menyakitinya ada persyaratan Dan penjara Syaikh tidak aku ridhai seperti diriku Maka di dalamnya untuk ukuran seperti kalian ada penurunan Demi Allah seandainya bukan karena menyimpan rahasiku Dan takut kejahatan niscaya terurai ikatan Dan aku akan mengatakan apa yang ada padaku tetapi Dengan ahli ilmu tidaklah baik berlebih-lebihan Maka tidak ada seorang pun yang menyeru kepada keadilan Dan setiap dalam hawa nafsunya baginya ada keterlibatan Akan tampak niat kalian wahai para penjaranya Dan niat kalian ketika jembatan didirikan Maka inilah dia mati dari kalian dan kalian beristirahat Maka berbuatlah apa yang kalian ingin berbuat Dan halal dan ikatlah tanpa penolakan Atas kalian dan terlipatlah permadani itu

71 – Ad-Durr al-Mandud fi Dzikri Ash-hab al-Imam Ahmad

Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abu Muhammad Abdullah bin Abi al-Qasim al-Khadir bin Muhammad bin al-Khadir bin Ali bin Abdullah Ibnu Taimiyah al-Harrani.

Penduduk Damaskus, asy-Syaikh, al-Imam, al-‘Alim (yang berilmu), al-Muhaqiq (peneliti yang cermat), al-Hafizh (penghafal hadits), al-Mujtahid, al-Muhaddits (ahli hadits), al-Mufassir (ahli tafsir), al-Qudwah (teladan), az-Zahid (orang yang zuhud), keajaiban zaman, Syaikhul Islam, teladan umat manusia, ulama besar pada masanya, Taqiyyuddin, Abu al-Abbas, putra asy-Syaikh Syihabuddin Abi al-Mahasin, putra Syaikhul Islam Majduddin Abi al-Barakat, pemilik karya-karya tulis yang belum pernah ada yang mendahuluinya membuat yang serupa. Beliau lahir pada hari Senin tanggal sepuluh Rabiul Awwal tahun enam ratus enam puluh satu di Harran, dan datang bersama ayahnya dan keluarganya ke Damaskus dalam keadaan berhijrah karena kezaliman bangsa Tatar pada pertengahan tahun enam ratus enam puluh tujuh, dan menjadi sebagaimana yang masyhur tentang beliau.

Sebagian Nama Karya-Karya Besarnya yang Terkenal

Kitab “al-Iman” satu jilid, kitab “al-Istiqamah” dua jilid, “Jawab al-I’tiradhat al-Mishriyyah ‘ala al-Fatawa al-Hamawiyyah” empat jilid, “Bayan Talbis al-Jahmiyyah fi Ta’sis Bida’ihim al-Kalamiyyah” enam jilid besar, kitab “al-Mihnah al-Mishriyyah” dua jilid, “al-Masa’il al-Iskandariyyah” satu jilid, “al-Fatawa al-Mishriyyah” tujuh jilid. Dan semua karya ini selain kitab “al-Iman” ditulisnya ketika beliau berada di Mesir selama tujuh tahun, dikarangnya di dalam penjara. Dan beliau menulis bersamanya juga lebih dari seratus lembar kertas, kitab “Dar’u Ta’arudh al-‘Aql wa an-Naql” empat jilid besar, dan “al-Jawab ‘amma Awradahu asy-Syaikh Kamaluddin bin asy-Syarisy ‘ala Hadza al-Kitab” sekitar satu jilid, kitab “Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah fi Naqd Kalam asy-Syi’ah wa al-Qadariyyah” empat jilid, “al-Jawab ash-Shahih li man Baddala Din al-Masih” dua jilid, “Syarh Awwal al-Muhashshal” karya ar-Razi satu jilid, “Syarh Bid’ata ‘Asyrata Mas’alah min al-Arba’in” karya ar-Razi dua jilid, “ar-Radd ‘ala al-Manthiq” satu jilid besar, “ar-Radd ‘ala al-Bakri fi Mas’alah al-Istigatsah” satu jilid, “ar-Radd ‘ala Ahli Kasrawan ar-Rawafidh” dua jilid, “ash-Shafdiyyah Jawab man Qala: Inna Mu’jizat al-Anbiya’ Quwa Nafsaniyyah” satu jilid, “al-Hilawuniyyah” satu jilid, “Syarh ‘Aqidah al-Ashbahani” satu jilid, “Syarh al-‘Umdah” karya asy-Syaikh Muwaffaquddin, telah ditulis darinya empat jilid, “Ta’liqah ‘ala al-Muharrar fi al-Fiqh” karya kakeknya beberapa jilid, “ash-Sharim al-Maslul ‘ala Syatim ar-Rasul” satu jilid, “Bayan ad-Dalil ‘ala Buthlan at-Tahlil” satu jilid, “Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim fi Mukhalafah Ash-hab al-Jahim” satu jilid, “at-Tahrir fi Mas’alah Hafir” satu jilid dalam masalah pembagian, ditulisnya sebagai bantahan terhadap al-Khuwayi dalam peristiwa yang ia putuskan, “ar-Radd al-Kabir ‘ala man I’taradha ‘alaihi fi Mas’alah al-Hilf bi ath-Thalaq” tiga jilid, kitab “Tahqiq al-Furqan baina at-Tathliq wa al-Aiman” satu jilid besar, “ar-Radd ‘ala al-Ikhna’i fi Mas’alah az-Ziyarah” satu jilid. Adapun kaidah-kaidah menengah dan kecil serta jawaban-jawaban fatwa tidak mungkin tercakup semuanya karena banyaknya, penyebarannya, dan terseraknya, dan yang paling masyhur di antaranya “al-Furqan baina Auliya’ ar-Rahman wa Auliya’ asy-Syaithan” satu jilid kecil, “al-Furqan baina al-Haq wa al-Batil” satu jilid kecil, “al-Furqan baina ath-Thalaq wa al-Aiman” satu jilid kecil, “as-Siyasah asy-Syar’iyyah fi Ishlah ar-Ra’i wa ar-Ra’iyyah” satu jilid kecil, “Raf’ al-Malam ‘an al-A’immah wa al-A’lam” satu jilid kecil.

Dan telah terjadi pada asy-Syaikh banyak cobaan, dan dipenjara berkali-kali, kemudian pada akhir hidupnya dipenjara di benteng Damaskus pada masa pemerintahan al-Malik an-Nashir Muhammad Qalawun, maka beliau tinggal di benteng dari bulan Sya’ban tahun tujuh ratus dua puluh enam hingga Dzulqa’dah tahun tujuh ratus dua puluh delapan, kemudian sakit dua puluh beberapa hari dan kebanyakan orang tidak mengetahui sakitnya dan mereka tidak terkejut kecuali dengan kematiannya. Wafatnya adalah pada waktu sahur malam Senin dua puluh Dzulqa’dah tahun tujuh ratus dua puluh delapan, dan muadzin benteng menyebutkannya di menara masjid dan para penjaga membicarakannya di menara-menara, kemudian pada pagi hari itu beliau dimandikan dengan dihadiri sekelompok orang-orang besar yang saleh dan ahli ilmu seperti al-Mizzi dan lainnya, dan dishalatkan di tangga-tangga benteng oleh zahid dan teladan Muhammad bin Tamam, dan dikeluarkan ke masjid Damaskus dan kumpulan orang lebih besar dari kumpulan shalat Jumat, dan dishalatkan setelah shalat Zhuhur dan yang menjadi imam adalah wakil khutbah Alauddin bin al-Kharrath dan dikeluarkan dari pintu al-Barid, dan bertambah padat kerumunannya dan jenazah keluar dari pintu al-Faraj, dan perkaranya menjadi besar di pasar kuda, dan yang paling depan dalam menshalatkannya di sana adalah saudaranya Zainuddin Abdurrahman dan dimakamkan pada waktu Ashar atau sedikit sebelumnya di samping saudaranya Syarafuddin Abdullah di pemakaman kaum sufi, dan diperkirakan laki-laki enam puluh ribu dan lebih, hingga dua ratus ribu, dan perempuan lima belas ribu, semoga Allah merahmatinya dan mengampuninya, dan dishalatkan ghaib di kebanyakan negeri Islam yang dekat dan jauh, bahkan di Yaman dan Tiongkok, dan para musafir mengabarkan bahwa diumumkan di ujung Tiongkok untuk shalat ghaib untuknya pada hari Jumat: Shalat untuk penerjemah al-Quran – semoga Allah Ta’ala merahmatinya -.

 

 

72 – Thabaqat al-Mufassirin

Karya Allamah Syamsuddin Muhammad bin Ali bin Ahmad ad-Dawudi (945)

Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Abi al-Qasim al-Khadir bin Muhammad Ibnu Taimiyah al-Harrani kemudian ad-Dimasyqi al-Hanbali, al-Imam al-Allamah (ulama besar) al-Faqih (ahli fiqih) al-Mujtahid an-Naqid (pengkritik) al-Mufassir al-Bari’ (ahli tafsir yang cemerlang) al-Ushuli (ahli ushul) Syaikhul Islam ‘Alam az-Zuhhad (pemimpin para zahid), keajaiban zamannya, Taqiyyuddin Abu al-Abbas, putra al-Mufti Syihabuddin Abdul Halim, putra al-Imam al-Mujtahid Syaikhul Islam Majduddin, kemasyhurannya tidak perlu diperpanjang dalam menyebutnya, dan berlebihan dalam perkaranya.

Beliau lahir pada hari Senin tanggal sepuluh Rabiul Awwal tahun enam ratus enam puluh satu di Harran, dan ayahnya membawanya bersama saudara-saudaranya ke Damaskus, ketika bangsa Tatar menguasai negeri-negeri tahun enam ratus enam puluh tujuh. Maka beliau mendengar di sana dari Ibnu Abdid Daim, dan Ibnu Abi al-Yusr, dan al-Majd bin Asakir, dan Yahya bin ash-Shairafi al-Faqih, dan Ibnu Abi al-Khair al-Haddad, dan al-Qasim al-Irbili, dan asy-Syaikh Syamsuddin bin Abi Umar, dan al-Muslim bin Alwan, dan Ibrahim bin ad-Darji; dan banyak lainnya.

Dan beliau memperhatikan hadits, dan mendengar “al-Musnad” beberapa kali, dan al-Kutub as-Sittah (enam kitab), dan “Mu’jam ath-Thabrani al-Kabir”, dan yang tidak terhitung dari kitab-kitab dan juz-juz.

Dan membaca sendiri dan menulis dengan tulisan tangannya sejumlah juz-juz, dan menghadap pada ilmu-ilmu di masa kecilnya. Maka beliau mengambil fiqih dan ushul dari ayahnya, dan dari asy-Syaikh Syamsuddin bin Abi Umar, dan asy-Syaikh Zainuddin bin al-Munjja. Dan beliau mahir dalam hal itu.

Dan membaca dalam bahasa Arab beberapa hari kepada Ibnu Abdul Qawi, kemudian mengambil “Kitab Sibawaih”, maka merenungkannya dan memahaminya.

Dan menghadap pada tafsir al-Quran al-Karim, dan unggul di dalamnya, dan menguasai ushul fiqih dan faraid (waris) dan hisab (perhitungan) dan aljabar dan muqabalah, dan selain itu dari ilmu-ilmu, dan melihat ilmu kalam dan filsafat dan unggul dalam hal itu atas ahlinya, dan membantah pemimpin-pemimpin mereka dan tokoh-tokoh mereka, dan mahir dalam keutamaan-keutamaan ini.

Dan layak untuk berfatwa dan mengajar, sedangkan usianya kurang dari dua puluh tahun, dan berfatwa sebelum dua puluh tahun juga, dan Allah membantunya dengan banyaknya kitab-kitab dan cepatnya hafalan, dan kuatnya pemahaman dan penalaran, dan lambatnya lupa, hingga lebih dari satu orang berkata: bahwa beliau tidak pernah menghafal sesuatu lalu melupakannya, kemudian ayahnya wafat dan saat itu usianya dua puluh satu tahun. Maka beliau mengemban tugas-tugasnya setelahnya, dan mengajar di Dar al-Hadits as-Sukkariyyah pada awal tahun delapan puluh tiga.

Dan hadir padanya Qadhi al-Qudhat (kepala para qadhi) Bahauddin bin az-Zaki, dan asy-Syaikh Tajuddin al-Fazari, dan Zainuddin bin al-Marhil, dan asy-Syaikh Zainuddin bin al-Munji, dan kelompok, dan menyebutkan pelajaran yang agung tentang basmalah. Dan ini masyhur di antara manusia, dan jemaah yang hadir mengagungkannya, dan memujinya dengan pujian yang banyak.

Ad-Dzahabi berkata: Dan asy-Syaikh Tajuddin al-Fazari berlebihan dalam mengagungkannya, sehingga beliau menggantungkan dengan tulisan tangannya pelajarannya di as-Sukkariyyah, kemudian duduk setelah itu menggantikan ayahnya di masjid di atas mimbar pada hari-hari Jumat, untuk tafsir al-Quran al-Azhim, dan memulai dari awal al-Quran, dan beliau menyampaikan dari hafalannya dalam majelis sekitar dua kurasan atau lebih, dan tetap menafsirkan dalam surat Nuh alaihis salam, selama beberapa tahun pada hari-hari Jumat. Dan pada tahun sembilan puluh: menyebutkan di atas kursi pada hari Jumat sesuatu tentang sifat-sifat, maka beberapa orang yang menyelisihi berdiri, dan berusaha mencegahnya dari duduk, tetapi mereka tidak bisa melakukan itu.

Dan Qadhi al-Qudhat Syihabuddin bin al-Khuwayi berkata: Aku atas keyakinan asy-Syaikh Taqiyyuddin, maka ia dicela dalam hal itu. Maka ia berkata: Karena pikirannya benar, dan materinya banyak. Maka ia tidak mengatakan kecuali yang benar, maka asy-Syaikh Syarafuddin al-Maqdisi berkata: Aku mengharapkan berkahnya dan doanya, dan ia adalah temanku dan saudaraku, al-Birzali menyebutkan itu dalam “Tarikhnya”.

Dan asy-Syaikh memulai dalam mengumpulkan dan mengarang dari kurang dua puluh tahun, dan tidak berhenti dalam ketinggian dan pertambahan ilmu dan kedudukan hingga akhir umurnya.

Ad-Dzahabi berkata dalam “Mu’jam Syuiukhihi”: Unggul dalam tafsir al-Quran, dan menyelam dalam makna-maknanya yang halus dengan tabiat yang lancar, dan pikiran yang cenderung kepada tempat-tempat yang sulit, dan mengistinbathkan darinya hal-hal yang belum ada yang mendahuluinya. Dan unggul dalam hadits dan menghafalnya, maka sedikit orang yang menghafal apa yang beliau hafal yang dinisbahkan kepada asal-asalnya dan para sahabatnya, dengan kuatnya menghadirkan saat menegakkan dalil, dan mengungguli manusia dalam pengetahuan fiqih dan perbedaan madzhab-madzhab, dan fatwa-fatwa para sahabat dan tabi’in, sehingga apabila beliau berfatwa tidak mengikatkan diri dengan madzhab tetapi dengan apa yang berdiri dalilnya menurut beliau, dan menguasai bahasa Arab ushul dan furu’ dan ta’lil dan ikhtilaf, dan melihat dalam rasional, dan mengetahui pendapat-pendapat ahli kalam, dan membantah mereka, dan mengingatkan tentang kesalahan-kesalahan mereka, dan memperingatkan dari mereka, dan menolong sunnah dengan hujjah-hujjah yang paling jelas dan dalil-dalil yang paling cemerlang.

Dan disakiti karena Allah dari orang-orang yang menyelisihi, dan ditakuti dalam menolong sunnah yang murni, hingga Allah meninggikan menaranya, dan mengumpulkan hati-hati ahli takwa atas kecintaan kepadanya dan doa untuknya, dan menghinakan musuh-musuhnya, dan memberi petunjuk dengannya laki-laki dari ahli agama-agama dan aliran-aliran, dan menjadikan hati-hati raja-raja dan para pemimpin atas ketundukan kepadanya umumnya, dan atas ketaatannya, dan menghidupkan dengannya Syam, bahkan Islam, setelah hampir runtuh dengan penguatan pemimpin-pemimpin ketika kelompok Tatar dan pemberontakan datang dalam kesombongan mereka, maka sangka-sangka kepada Allah banyak, dan kaum mukminin digoncangkan, dan kemunafikan menampakkan diri dan menampakkan wajahnya, dan kebaikan-kebaikannya banyak, dan ia lebih besar dari ditegur tentang perjalanannya oleh sepertiku, maka seandainya aku bersumpah antara Rukun dan Maqam, niscaya aku bersumpah: bahwa aku tidak melihat dengan mataku seperti beliau, dan bahwa beliau tidak melihat seperti dirinya sendiri.

Ad-Dzahabi berkata: Dan sungguh aku telah membaca dengan tulisan guru kami al-Allamah Kamaluddin bin az-Zamlakani, apa yang ia tulis pada tahun beberapa dan sembilan puluh di bawah nama “Ibnu Taimiyah” adalah apabila ditanya tentang bidang ilmu, orang yang melihat dan mendengar menyangka: bahwa ia tidak mengetahui selain bidang itu, dan memutuskan bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahuinya seperti beliau.

Dan para fuqaha dari berbagai kelompok apabila bergaul dengan beliau mengambil manfaat dalam madzhab-madzhab mereka darinya hal-hal yang banyak, dan tidak diketahui bahwa beliau berdebat dengan seseorang lalu terputus bersamanya, dan tidak berbicara dalam ilmu dari ilmu-ilmu – baik dari ilmu syariat atau lainnya – kecuali mengungguli di dalamnya ahlinya, dan terkumpul padanya syarat-syarat ijtihad atas wajahnya.

Adapun karya-karya tulisnya semoga Allah merahmatinya maka lebih masyhur dari disebutkan, dan lebih dikenal dari diingkari. Berjalan seperti matahari di negeri-negeri, dan penuh dengannya negeri-negeri dan kota-kota, telah melampaui batas banyaknya, maka tidak mungkin seseorang menghitungnya, dan pembicaraan ini tidak muat, untuk menghitung yang dikenal darinya dan tidak menyebutnya. Dan telah mencapai tiga ratus jilid.

Dan menulis dengan tulisan tangannya dari karya-karya tulis dan catatan-catatan yang bermanfaat dan fatwa-fatwa yang lengkap dalam cabang-cabang dan ushul dan hadits dan bantahan bid’ah-bid’ah dengan al-Kitab dan as-Sunnah sesuatu yang banyak, mencapai beberapa beban, maka yang lengkap darinya “Kitab ash-Sharim al-Maslul ‘ala Muntaqish ar-Rasul”, dan “Kitab Ibtal at-Tahlil”, dan “Kitab Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim”, dan “Kitab ar-Radd ‘ala Ta’sis at-Taqdis” dalam beberapa jilid, dan “Kitab ar-Radd ‘ala Thawa’if asy-Syi’ah” empat jilid, dan “Kitab Raf’ al-Malam ‘an al-A’immah al-A’lam”, dan “Kitab as-Siyasah asy-Syar’iyyah”, dan “Kitab at-Tashawwuf”, dan “Kitab al-Kalim ath-Thayyib”, dan “Kitab Manasik al-Hajj”, dan selain itu.

Dan sungguh beliau diuji dan disakiti berulang kali dan meninggal pada waktu sahur malam Senin dua puluh Dzulqa’dah tahun tujuh ratus dua puluh delapan dalam keadaan ditahan di benteng Syam, dan sungguh pahalanya jatuh kepada Allah.

 

 

73 – Qiladat an-Nahr fi Wafayat A’yan ad-Dahr

Karya Sejarawan Abdullah bin Ahmad Bamakhramah (947)

Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah yang dikenal dengan Ibnu Taimiyah. Asy-Syaikh al-Hafizh al-Kabir (hafizh besar) Taqiyyuddin.

Beliau lahir pada hari Senin tanggal sepuluh Rabiul Awwal tahun enam ratus enam puluh satu di Harran, dan mendengar dari sekelompok, dan unggul dalam menghafal ilmu hadits dan dua ushul, dan adalah sangat cemerlang kecerdasannya, dikatakan: karya-karyanya lebih dari dua ratus jilid, dan beliau memiliki masalah-masalah yang aneh diingkari atas beliau di dalamnya, dan dipenjara karena hal-hal itu; karena berbeda dengan madzhab Ahlus Sunnah, dan yang paling jelek di antaranya adalah larangannya dari ziarah kubur Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan celaan beliau terhadap para masyaikh sufi yang arif; seperti Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali, dan al-Ustadz Abu al-Qasim al-Qusyairi, dan asy-Syaikh Abu al-Hasan asy-Syadzili, dan asy-Syaikh Ibnu al-Arif, dan lainnya, dan demikian juga apa yang diketahui dari madzhabnya seperti masalah thalaq dan lainnya, dan demikian juga akidahnya tentang jihat (arah), dan apa yang dinukil darinya di dalamnya.

Ditahan di benteng Damaskus, dan dicegah sebelum wafatnya lima bulan dari tinta dan kertas, dan wafat dalam keadaan ditahan tahun tujuh ratus dua puluh delapan.

 

 

74 – Kitab Az-Ziyarat

Oleh Qadhi Mahmud bin Muhammad Al-Adawi (1032)

Ibnu Taimiyah

Ulama besar Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah An-Numairi Al-Harrani, dinisbatkan kepada Harran, sebuah kota terkenal antara Mosul dan Syam. Jarak antara Harran dengan Ar-Raha adalah satu hari perjalanan, dan dengan Ar-Raqqah dua hari. Sekelompok orang menyebutkan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Yaqut dalam “Mu’jam Al-Buldan”, bahwa Harran adalah kota pertama yang dibangun di bumi setelah banjir besar.

Imam, guru para hafizh, dan puncak para imam yang waspada, ahli ushul, mufassir, mujtahid yang bergelar Taqiyuddin, putra dari ulama besar Syihabuddin, yang merupakan putra dari mujtahid Majduddin. Kemasyhurannya tidak perlu dijelaskan panjang lebar.

Beliau lahir di Harran pada hari Senin tanggal 10 Rabiul Awal tahun 661 Hijriah, dan tiba di Damaskus bersama keluarganya pada tahun 667 Hijriah. Beliau wafat di benteng Damaskus dalam tahanan—dikatakan karena masalah ziarah—pada malam Senin tanggal 20 Dzulqa’dah tahun 728 Hijriah. Pemakamannya sangat meriah, jumlah laki-laki diperkirakan 60 ribu orang, dan ada yang mengatakan 200 ribu orang, sedangkan perempuan sebanyak 15 ribu orang. Dengan demikian terbukti apa yang dikatakan Abu Abdurrahman As-Sulami: Saya menghadiri pemakaman Abu Al-Fath Al-Qawwas Az-Zahid bersama Syaikh Abu Al-Hasan Ad-Daraquthni. Ketika melihat kerumunan orang yang sangat banyak itu, beliau menoleh kepada kami dan berkata: Saya mendengar Abu Sahl bin Ziyad Al-Qaththan berkata: Sesungguhnya putra Ahmad bin Hanbal berkata: Saya mendengar ayah saya berkata: Katakanlah kepada ahli bid’ah: Antara kami dan kalian akan terlihat pada pemakaman.

Beliau dimakamkan di pekuburan para sufi, dan makamnya terkenal serta sering dikunjungi untuk berziarah.

 

 

75 – Azhar Ar-Riyadh fi Akhbar ‘Iyadh

Oleh Syihabuddin Ahmad bin Muhammad Al-Maqqari At-Tilmisani (1041)

Faidah: Dalam catatan Al-Basili tentang tafsir yang diambil dari ucapan gurunya Ibnu Arafah: Bahwa Taqiyuddin Ibnu Taimiyah berkata—ketika melihat kitab Asy-Syifa’ karya Qadhi ‘Iyadh—: Orang Maghribi ini berlebihan! Al-Basili berkata: Dan guru kami Ibnu Arafah rahimahullah ta’ala mengisyaratkan untuk menolaknya dengan syairnya:

Asy-Syifa’ karya ‘Iyadh tentang kesempurnaan Nabi kita, seperti orang yang menggambarkan cahaya matahari sambil menatap piringannya Maka tidak mengherankan jika ia dapat menyampaikan hakikat sifatnya, dan ketidakmampuannya menggambarkan hakikat dirinya Dan jika kau mau, ibaratkan ia menyebutkan tanda pada asal dalil yang jelas untuk menunjukkan kekurangannya Dan ini untuk ucapan yang dikatakan tentang orang yang menyimpang: ‘Iyadh berlebihan, maka aku bertobat dari dirinya sendiri untuk menghindarinya

Al-Basili yang disebutkan menisbatkan kepada Ibnu Taimiyah keyakinan tentang arah (jihat).

Seseorang menulis di pinggir catatan Al-Basili dengan teksnya: Saya melihat pertanyaan-pertanyaan Ibnu Taimiyah dalam kitab-kitab, maka jangan tanya tentang pengetahuannya dan kebaikan pengelolaannya. Paham tajsim (penyerupaan Allah dengan makhluk) dinisbatkan kepadanya oleh Abu Hayyan dalam Ayat Kursi. Abu Hayyan pernah memujinya dengan qasidah, kemudian memusuhinya; maka wajib berhati-hati dalam penukilannya karena itu. Dan keadaannya terus terkenal hingga ia berdebat dengan keluarga As-Subki, dan perdebatannya dengan mereka adalah bukti yang jelas atas keutamaannya. Dan ia telah memuji ‘Iyadh, maka tidak sahih darinya mencela, atau ia bermaksud bahwa hukuman mati tidak dikatakan oleh keempat imam kecuali Malik, dan karena itu hukum bab ini dikembalikan kepadanya di negeri-negeri timur. Selesai apa yang ada di catatan pinggir.

Saya katakan: Adapun ilmunya adalah perkara yang tidak dapat diingkari atau didustakan. Saya telah melihat buku yang memperkenalkan dirinya dan membela dirinya dari tuduhan tajsim dan ucapan-ucapan buruk lainnya yang dinisbatkan kepadanya. Disebutkan di dalamnya qasidah Abu Hayyan yang memujinya, pujian para tokoh besar kepadanya, dan hal-hal lain tentangnya. Persetujuan tentang itu ditulis oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar, Al-‘Aini, Al-Basathi dan lainnya. Salah seorang dari mereka berkata: Sesungguhnya masalah ziarah yang As-Subki bantah adalah tidak mewajibkan bid’ah baginya, dan puncaknya adalah bahwa ia salah di dalamnya, dan berserah diri dalam urusannya adalah yang paling selamat. Mereka ini mensucikannya dari keyakinan tentang arah, dan mereka lebih mengetahui keadaannya daripada yang lain, meskipun lebih dari satu orang Maghribi menyatakan sebaliknya, di antaranya Al-Hajj Ar-Rahhal Ibnu Baththuthah. Ia berkata dalam “Rihlatnya”: Saya menyaksikannya turun dari tangga dan berkata: Sesungguhnya Allah turun sebagaimana aku turun. Selesai. Kita berlindung kepada Allah dari ucapan ini! Hal ini juga dinyatakan oleh sebagian pendahulu kami yaitu Imam Qadhi Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad Al-Maqqari At-Tilmisani rahimahullah di awal perjalanannya yang bernama “Nazm Al-La’ali fi Suluk Al-Amali” ketika menyebut dua gurunya, putra-putra Imam At-Tilmisani… Abu Zaid Abdurrahman dan Abu Musa Isa, keduanya putra Muhammad bin Abdullah bin Al-Imam. Ia berkata: … Mereka juga bertemu Jalaluddin Al-Qazwini pengarang Al-Bayan, dan mendengar Shahih Al-Bukhari dari Al-Hajjar. Saya sendiri telah mendengarnya dari keduanya. Mereka berdebat dengan Taqiyuddin Ibnu Taimiyah dan menang atasnya, dan itu merupakan salah satu sebab ujiannya.

Ia memiliki pernyataan-pernyataan yang buruk, di antaranya menjalankan hadits tentang turunnya Allah sesuai zhahirnya, dan ucapannya di dalamnya: “Seperti turunnya aku ini”, dan ucapannya tentang orang yang bepergian ke Madinah dengan tidak berniat kecuali ziarah ke makam yang mulia: “Tidak boleh mengqashar shalat sampai ia berniat ke masjid, karena hadits: ‘Tidak boleh bepergian khusus…’.”

Ia sangat keras mengingkari Imam Fakhruddin. Guru kami Imam Abu Abdullah Al-Abili menceritakan kepada saya bahwa Abdullah bin Ibrahim Ar-Ruzmuri memberitahunya bahwa ia mendengar Ibnu Taimiyah membacakan untuk dirinya:

Yang mengumpulkan dalam ushul ad-din hasilnya, setelah pengumpulannya adalah ilmu tanpa agama Asal kesesatan dan kebohongan yang nyata, maka kebanyakan di dalamnya adalah wahyu setan-setan

Ia berkata: Dan di tangannya ada tongkat, lalu ia berkata: Demi Allah, seandainya aku melihatnya, pasti akan kupukul dengan tongkat ini seperti ini. Kemudian ia mengangkatnya dan meletakkannya.

 

 

76 – Syadzarat Adz-Dzahab fi Akhbar Man Dzahab

Oleh Ulama Besar Abu Al-Falah Abdul Hayy bin Al-‘Imad Al-Hanbali (1089)

Dan pada tahun ini (728), Syaikhul Islam Taqiyuddin Abu Al-Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam Ibnu Taimiyah Al-Harrani Al-Hanbali, bahkan mujtahid mutlak.

Beliau lahir di Harran pada hari Senin tanggal 10 Rabiul Awal tahun 661 Hijriah. Ayahnya membawanya bersama dua saudaranya ketika Tartar menguasai negeri itu, ke Damaskus pada tahun 667 Hijriah. Syaikh mendengar di sana dari Ibnu Abdul Da’im, Ibnu Abi Al-Yusr, Al-Majd Ibnu Asakir, Yahya bin Ash-Shairafi, Al-Qasim Al-Irbili, Syaikh Syamsuddin Ibnu Abi Umar, dan lainnya. Ia sangat memperhatikan hadits, dan mendengar “Al-Musnad” berkali-kali, kitab-kitab yang enam, “Mu’jam Ath-Thabrani Al-Kabir”, dan kitab-kitab serta juz-juz yang tidak terhitung. Ia membaca sendiri dan menulis dengan tangannya sejumlah juz. Ia mendalami ilmu-ilmu sejak kecil, mempelajari fikih dan ushul dari ayahnya, dari Syaikh Syamsuddin Ibnu Abi Umar, dan Syaikh Zainuddin Ibnu Al-Munja. Ia menguasainya dan berdebat. Ia belajar bahasa Arab dari Ibnu Abdul Qawi, kemudian mempelajari kitab Sibawaih dan memahaminya. Ia menekuni tafsir Al-Quran Al-Karim dan unggul di dalamnya. Ia menguasai ushul fikih, faraid, hisab, aljabar, muqabalah, dan ilmu-ilmu lainnya. Ia mempelajari ilmu kalam dan filsafat, dan unggul di dalamnya dibanding ahlinya. Ia membantah para pemimpin dan tokoh besar mereka. Ia mahir dalam berbagai keutamaan ini dan siap untuk berfatwa dan mengajar pada usia kurang dari 20 tahun. Ia juga berfatwa sebelum usia 20 tahun. Allah memberinya banyak kitab, cepat menghafal, kuat dalam pemahaman dan pengertian, serta lambat lupa, sehingga lebih dari satu orang berkata: Sesungguhnya ia tidak pernah menghafal sesuatu lalu melupakannya. Kemudian ayahnya wafat ketika ia berusia 21 tahun, maka ia menggantikan tugasnya setelahnya beberapa waktu. Ia mengajar di Dar Al-Hadits As-Sukariyyah yang berdekatan dengan Hammam Nuruddin Asy-Syahid di Al-Buzuriyyah pada awal tahun 683 Hijriah. Hadir padanya Qadhi Al-Qudhat Bahaauddin bin Az-Zaki, Syaikh Tajuddin Al-Fazari, Ibnu Al-Mirhal, Ibnu Al-Munja, dan jamaah. Ia menyampaikan pelajaran yang luar biasa tentang basmalah, sehingga membuat yang hadir terpukau, dan semuanya memujinya.

Adz-Dzahabi berkata: Syaikh Tajuddin Al-Fazari sangat berlebihan dalam mengagungkan Syaikh Taqiyuddin, sehingga ia mencatat dengan tulisannya sendiri pelajaran beliau di As-Sukariyyah.

Kemudian ia duduk menggantikan ayahnya di masjid pada mimbar pada hari-hari Jumat untuk menafsirkan Al-Quran Al-Azhim. Ia memulai dari awal Al-Quran, dan ia menyampaikan dalam majelis dari hafalannya sekitar dua kurasa atau lebih. Ia terus menafsirkan Surah Nuh selama beberapa tahun pada hari-hari Jumat.

Adz-Dzahabi berkata dalam “Mu’jam Syuyukhihi”: Guru kami, Syaikhul Islam, dan orang yang unik di zamannya dalam ilmu, pengetahuan, keberanian, kecerdasan, pencerahan ilahi, kedermawanan, nasihat untuk umat, amar ma’ruf dan nahi munkar.

Ia mendengar hadits dan banyak mencarinya sendiri. Ia menulis, mentakhrij, dan mempelajari para perawi dan thabaqat. Ia memperoleh apa yang tidak diperoleh orang lain. Ia unggul dalam tafsir Al-Quran dan menyelami makna-makna halusnya dengan bakat yang mengalir dan pemikiran tajam yang tertarik pada tempat-tempat yang sulit. Ia menggali darinya hal-hal yang belum pernah didahului. Ia unggul dalam hadits dan menghafalnya. Jarang ada yang menghafal hadits seperti yang ia hafal, lengkap dengan sanad-sanadnya dan para sahabatnya, dengan kemampuan luar biasa dalam menghadirkannya saat menegakkan dalil. Ia mengungguli orang-orang dalam pengetahuan fikih, perbedaan mazhab, dan fatwa-fatwa sahabat dan tabi’in, sehingga jika ia berfatwa, ia tidak terikat pada satu mazhab, tetapi pada apa yang didukung dalilnya menurutnya. Ia menguasai bahasa Arab, baik ushul, furu’, ta’lil, maupun perbedaan pendapat. Ia mempelajari ilmu-ilmu rasional dan mengetahui pendapat para mutakallimin. Ia membantah mereka, menunjukkan kesalahan mereka, dan memperingatkan. Ia menolong Sunnah dengan hujjah yang paling jelas dan dalil yang paling gemilang. Ia disakiti karena Allah oleh para penentang dan ditakuti dalam menolong Sunnah yang murni, hingga Allah meninggikan panji-panjinya dan menyatukan hati-hati ahli takwa untuk mencintainya dan berdoa untuknya. Allah mengalahkan musuh-musuhnya dan memberi petunjuk melalui beliau kepada orang-orang dari berbagai agama dan keyakinan. Allah jadikan hati para raja dan panglima tunduk kepadanya pada umumnya dan taat kepadanya. Allah menghidupkan melalui beliau Syam, bahkan Islam, setelah hampir runtuh, khususnya dalam peristiwa Tartar. Ia terlalu besar untuk dijelaskan perjalanannya oleh orang seperti saya. Andai aku bersumpah di antara Rukun dan Maqam, pasti akan aku bersumpah: Bahwa aku tidak pernah melihat dengan mataku orang sepertinya, dan bahwa ia tidak pernah melihat orang seperti dirinya. Selesai ucapan Adz-Dzahabi.

Syaikh Kamaluddin Ibnu Az-Zamlakani menulis di bawah nama “Ibnu Taimiyah”: Jika ia ditanya tentang suatu bidang ilmu, orang yang melihat dan mendengar menyangka bahwa ia tidak mengetahui selain bidang itu saja, dan memutuskan bahwa tidak ada yang mengetahuinya seperti dia. Para fuqaha dari berbagai kelompok, jika duduk bersamanya, mereka memperoleh dari beliau berbagai hal dalam mazhab mereka. Tidak diketahui bahwa ia berdebat dengan seseorang lalu kalah darinya. Ia tidak berbicara dalam suatu ilmu, baik ilmu syariat maupun lainnya, kecuali ia mengungguli ahlinya. Terkumpul padanya syarat-syarat ijtihad secara sempurna.

Al-Hafizh Ibnu Sayyid An-Nas menulis dalam “Jawab Su’alat Ad-Dimyathi” tentang Ibnu Taimiyah: Saya mendapatinya termasuk orang yang memperoleh bagian dari ilmu-ilmu dan hampir menguasai hadits-hadits dan atsar dalam hafalan. Jika ia berbicara dalam tafsir, maka ia adalah pembawa benderanya. Jika ia berfatwa dalam fikih, maka ia mencapai tujuannya. Jika ia berzikir dengan hadits, maka ia adalah pemilik ilmunya dan perawinya. Jika ia hadir dalam bahasan tentang kepercayaan dan agama-agama, tidak terlihat yang lebih luas dari keyakinannya dan tidak lebih tinggi dari pengetahuannya.

Ia unggul dalam setiap bidang dibanding sejenisnya. Mata yang melihatnya tidak pernah melihat sepertinya, dan matanya tidak pernah melihat seperti dirinya.

Adz-Dzahabi berkata dalam “Tarikhnya yang Besar” setelah biografi yang panjang: Sehingga dapat dikatakan dengan benar tentangnya: Setiap hadits yang tidak diketahui Ibnu Taimiyah, maka itu bukan hadits.

Ibnu Az-Zamlakani juga menulis biografinya secara panjang dan memujinya dengan pujian yang agung, dan menulis di bawahnya:

Apa yang dikatakan para penggambar tentangnya, sedangkan sifat-sifatnya terlalu agung untuk dihitung Ia adalah hujjah Allah yang menundukkan, ia di antara kita adalah keajaiban zaman Ia adalah mukjizat yang nyata bagi makhluk, cahayanya melebihi fajar

Untuk Syaikh Atsir Ad-Din Abu Hayyan An-Nahwi ketika Syaikh memasuki Mesir dan bertemu dengannya, maka Abu Hayyan membaca syair:

Ketika kami melihat Taqiyuddin muncul bagi kami, seorang da’i kepada Allah yang sendiri tanpa tandingan Pada wajahnya dari tanda orang-orang yang menemani sebaik-baik makhluk, cahaya yang melampaui bulan Ulama besar yang dipenuhi zamannya dengan ilmu, lautan yang bergelombang dengan mutiara-mutiara Ibnu Taimiyah bangkit dalam menolong syariat kami, seperti bangkitnya pemimpin Bani Taim ketika Bani Mudhar durhaka Maka ia menampakkan agama ketika jejak-jejaknya hilang, dan memadamkan kesyirikan ketika percikannya beterbangan Wahai yang menceritakan tentang ilmu Al-Kitab, dengarkanlah, inilah Imam yang telah ditunggu-tunggu

Ia mengisyaratkan dengan ini bahwa beliaulah mujaddid.

Di antara yang menyatakan hal itu adalah Syaikh Imaduddin Al-Wasithi, yang wafat sebelum Syaikh. Ia berkata tentang Syaikh setelah pujian yang panjang dan indah dengan redaksinya: Demi Allah, kemudian demi Allah, kemudian demi Allah, tidak pernah terlihat di bawah langit seperti syaikh kalian Ibnu Taimiyah, dalam ilmu, amal, keadaan, akhlak, ittiba’, kedermawanan, kelembutan, dan berdiri untuk membela hak Allah ketika kehormatan-Nya dilanggar. Orang yang paling jujur keyakinannya, paling benar ilmunya dan tekadnya, paling efektif dan paling tinggi dalam menolong kebenaran dan keberdirian semangatnya, paling dermawan tangannya, dan paling sempurna dalam mengikuti Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kami tidak melihat di zaman kami ini orang yang dapat menjelaskan kenabian Muhammad dan sunnahnya dari ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatannya kecuali orang ini. Hati yang sehat bersaksi bahwa inilah ittiba’ yang sebenarnya.

Syaikh Taqiyuddin Ibnu Daqiq Al-‘Id berkata, ketika ditanya tentang Ibnu Taimiyah setelah bertemu dengannya: Bagaimana Anda melihatnya? Ia menjawab: Saya melihat seorang laki-laki yang semua ilmu ada di hadapannya, ia mengambil apa yang ia mau darinya dan meninggalkan apa yang ia mau. Lalu dikatakan kepadanya: Lalu mengapa Anda tidak berdebat dengannya? Ia berkata: Karena ia suka berbicara dan saya suka diam.

Burhanuddin bin Muflih berkata dalam kitabnya Thabaqat: Allamah Taqiyuddin As-Subki menulis surat kepada Al-Hafizh Adz-Dzahabi tentang Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah: “Hambamu ini benar-benar mengetahui kedudukan beliau, luasnya ilmu beliau, dan kedalaman beliau dalam ilmu-ilmu syariat dan akal, serta kecerdasan dan kesungguhan beliau yang luar biasa, dan bahwa beliau telah mencapai derajat yang melampaui batas deskripsi. Hambamu selalu mengatakan hal itu, dan kedudukan beliau dalam hatiku lebih besar dan lebih agung dari itu, ditambah dengan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kepadanya berupa kezuhudan, kehati-hatian (wara’), ketaatan, pembelaan kebenaran, dan berjuang untuk kebenaran semata tanpa tujuan lain, serta mengikuti jalan Salaf, mengambil dari mereka dengan pengambilan yang sempurna, dan betapa langkanya orang seperti beliau di zaman ini, bahkan dari zaman-zaman sebelumnya.” Selesai.

Al-Allamah Al-Hafizh Ibnu Nashiruddin berkata dalam Syarh Badi’atihi setelah pujian yang indah dan pembicaraan yang panjang: Meriwayatkan darinya banyak orang, di antaranya Adz-Dzahabi, Al-Birzali, Abu Al-Fath bin Sayyid An-Nas, dan meriwayatkan kepada kami darinya sekelompok guru-guru kami yang cerdas.

Adz-Dzahabi berkata dalam menghitung karya-karyanya yang berkualitas: Dan tidak mustahil bahwa karya-karyanya hingga sekarang mencapai lima ratus jilid.

Adz-Dzahabi dan banyak orang memuji beliau dengan pujian yang terpuji, di antaranya Syaikh Imaduddin Al-Wasithi yang arif, Al-Allamah Tajuddin Abdurrahman Al-Fazari, Ibnu Az-Zamlakani, dan Abu Al-Fath Ibnu Daqiq Al-‘Id.

Cukup baginya dari pujian yang indah adalah perkataan guru para imam kritikus hadits Abu Al-Hajjaj Al-Mizzi, hafizh yang mulia, beliau berkata tentangnya: Aku tidak pernah melihat orang seperti beliau, dan beliau pun tidak pernah melihat orang seperti dirinya sendiri, dan aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih mengetahui Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta tidak ada yang lebih mengikuti keduanya melebihi beliau. Mereka yang menerjemahkan beliau dengan derajat ijtihad dan mencapainya, serta penguasaan dalam berbagai jenis ilmu dan bidang: Ibnu Az-Zamlakani, Adz-Dzahabi, Al-Birzali, Ibnu Abdul Hadi, dan lainnya.

Beliau tidak meninggalkan setelahnya orang yang mendekatinya dalam ilmu dan keutamaan. Selesai perkataan Ibnu Nashiruddin secara ringkas.

Syaikh yang arif billah Abu Abdullah Ibnu Qawwam biasa berkata: Tidaklah ma’rifat-ma’rifat kami berislam kecuali di tangan Ibnu Taimiyah.

Ibnu Rajab berkata: Para ulama, orang-orang saleh, tentara, para amir, pedagang, dan seluruh rakyat biasa mencintai beliau, karena beliau berdedikasi untuk memberi manfaat kepada mereka siang dan malam, dengan lisannya dan penanya.

Kemudian Ibnu Rajab dan lainnya berkata: Disebutkan sebagian dari pendapat-pendapat khusus dan keunikan beliau:

Beliau memilih hadats naik dengan air-air yang diperas seperti air mawar dan sejenisnya.

Pendapat bahwa cairan tidak menjadi najis dengan jatuhnya najis ke dalamnya kecuali jika berubah, baik sedikit maupun banyak.

Pendapat tentang bolehnya mengusap sandal dan kedua kaki dan semua yang memerlukan melepasnya dari kaki dengan memerlukan usaha dengan tangan atau dengan kaki yang lain, maka boleh mengusapnya bersama kedua kaki. Beliau memilih bahwa mengusap khuf tidak dibatasi waktu dengan adanya kebutuhan, seperti musafir dengan pos kuda dan sejenisnya, dan beliau melakukan hal itu dalam perjalanannya ke Mesir dengan kuda pos, dan dibatasi waktu ketika memungkinkan untuk melepas dan mudah.

Beliau memilih bolehnya mengusap perban dan sejenisnya.

Beliau memilih bolehnya tayamum karena khawatir terlewat waktu bagi orang yang tidak beruzur, seperti orang yang menunda shalat dengan sengaja hingga waktunya sempit. Begitu juga orang yang khawatir terlewat shalat Jumat dan dua hari raya sedang ia berhadats.

Beliau memilih bahwa wanita jika tidak memungkinkan baginya untuk mandi di rumah dan sulit baginya turun ke pemandian dan berulang kali, maka ia bertayamum dan shalat.

Beliau memilih bahwa tidak ada batas minimal haid dan tidak ada batas maksimalnya, tidak ada batas minimal suci di antara dua haid, tidak ada batas usia putus haid, dan bahwa hal itu kembali kepada apa yang diketahui setiap wanita dari dirinya sendiri.

Beliau memilih bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja tidak wajib mengqadha, dan tidak disyariatkan baginya, tetapi hendaknya memperbanyak shalat sunnah.

Dan bahwa qashar boleh dalam safar pendek maupun panjang, sebagaimana madzhab Zhahiriyah.

Beliau memilih pendapat bahwa gadis tidak perlu istibra’ meskipun sudah besar, sebagaimana pendapat Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu dan dipilih oleh Al-Bukhari pemilik kitab Shahih.

Pendapat bahwa sujud tilawah tidak disyaratkan wudhu, sebagaimana madzhab Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu dan pilihan Al-Bukhari. Pendapat bahwa siapa yang makan di bulan Ramadhan dengan meyakini bahwa masih malam padahal sudah siang, tidak ada qadha atas dirinya, sebagaimana shahih dari Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu, dan kepadanya pergi sebagian tabi’in dan sebagian fuqaha setelah mereka.

Pendapat tentang bolehnya perlombaan tanpa muhallil meskipun kedua peserta mengeluarkan (taruhan).

Pendapat istibra’ wanita yang dikhulu’ dengan satu haid, begitu juga wanita yang disetubuhi dengan syubhat, dan yang dicerai talak ketiga.

Pendapat tentang bolehnya menyetubuhi wanita musyrik dengan kepemilikan budak.

Bolehnya thawaf wanita haid, dan tidak ada sesuatu atasnya jika tidak memungkinkan baginya untuk thawaf dalam keadaan suci.

Pendapat tentang bolehnya menjual pokok dengan perasan, seperti zaitun dengan minyak, dan wijen dengan minyaknya.

Pendapat tentang bolehnya menjual apa yang dibuat dari perak untuk perhiasan dan lainnya seperti cincin dan sejenisnya dengan perak secara lebih (tidak sama), dan menjadikan yang lebih dari harga sebagai imbalan dari pembuatan dan perkataannya.

Di antara pendapat-pendapatnya yang terkenal dan masyhur yang terjadi karena fatwa tersebut berbagai cobaan dan keresahan adalah pendapatnya tentang takfir dalam bersumpah dengan talak, dan bahwa talak tiga tidak jatuh kecuali satu, dan bahwa talak yang haram tidak jatuh, dan beliau memiliki dalam hal itu karya-karya yang banyak yang tidak terbatas dan tidak terhitung.

Ibnu Rajab berkata: Syaikh ditahan di benteng dari bulan Sya’ban tahun 726 hingga Dzulqa’dah tahun 728, kemudian sakit dua puluh beberapa hari, dan kebanyakan orang tidak mengetahui sakitnya, dan mereka tidak terkejut kecuali dengan kematiannya. Wafatnya pada sahur malam Senin 20 Dzulqa’dah, disebutkan oleh muadzin benteng di atas menara masjid, dan dibicarakan oleh penjaga di menara-menara, lalu orang-orang mendengarnya, dan sebagian mereka mengetahuinya dalam mimpi, dan orang-orang berkumpul di sekitar benteng hingga penduduk Ghuthah dan Al-Marj, dan penduduk pasar tidak memasak, dan tidak membuka banyak toko, dan pintu benteng dibuka.

Berkumpul di sisi Syaikh banyak orang dari para sahabatnya menangis dan memuji, dan saudaranya Zainuddin Abdurrahman mengabarkan kepada mereka bahwa ia dan Syaikh sejak masuk benteng telah mengkhatamkan delapan puluh khatam, dan memulai yang kedelapan puluh satu, dan berakhir pada firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang layak di sisi Raja Yang Maha Kuasa” (Surah Al-Qamar: 54-55).

Maka memulai saat itu dua syaikh yang saleh Abdullah bin Al-Muhibb Ash-Shalihi, dan Az-Zar’i yang buta – dan Syaikh suka bacaan mereka – lalu mereka memulai dari Surah Ar-Rahman hingga mengkhatamkan Al-Quran.

Dan keluar dari sisinya orang yang hadir kecuali yang memandikannya dan membantu memandikannya, dan mereka adalah kelompok dari para pembesar orang-orang saleh dan ahli ilmu, seperti Al-Mizzi dan lainnya, dan belum selesai dari memandikannya hingga penuh benteng dan sekitarnya dengan laki-laki, lalu dishalatkan atasnya di tangga-tangga benteng oleh zahid yang dijadikan teladan Muhammad bin Tamam, dan orang-orang menangis keras saat itu, memuji, dan berdoa dengan rahmat.

Dan Syaikh dikeluarkan ke Masjid Damaskus, dan mereka menshalatkan atasnya shalat Zhuhur, dan hari itu adalah hari yang disaksikan yang tidak pernah dialami di Damaskus sepertinya, dan berseru seorang penyeru: Beginilah jenazah imam-imam Sunnah, maka orang-orang menangis dengan tangisan yang banyak, dan dikeluarkan dari pintu Al-Barid, dan berdesakan sangat hebat dan orang-orang melemparkan sapu tangan mereka ke atas kerandanya! Dan keranda berada di atas kepala-kepala, maju terkadang dan mundur terkadang lainnya, dan keluar jenazahnya dari pintu Al-Faraj, dan berdesakan orang-orang di semua pintu kota untuk keluar, dan besar urusannya di pasar kuda, dan mendahului menshalatkan atasnya di sana saudaranya Abdurrahman, dan dimakamkan waktu Ashar atau sebelumnya sedikit di samping saudaranya Syarafuddin Abdullah di pemakaman kaum sufi. Dan diperkirakan yang menghadiri jenazahnya dua ratus ribu orang, dan dari wanita lima belas ribu. Dan dikhatamkan untuknya khataman yang banyak, rahimahullah wa radhiya ‘anhu.

 

 

77 – Durrah Al-Hijal fi Ghurrah Asma’ Ar-Rijal karya Ibnu Al-Qadhi Al-Miknasi (1125)

Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam bin Abdullah bin Abi Al-Qasim bin Muhammad bin Taimiyah.

Mufti Syam, ahli haditsnya dan hafiznya.

Ia melakukan fatwa-fatwa yang janggal! Dan mengklaim bahwa ia mujtahid yang benar! Mendengar dari Ibnu Abdul Da’im, Ibnu Abi Al-Yusr, Ibnu Abi Al-Khair, Ibnu ‘Atha’, Ibnu ‘Asakir, Ibnu Al-Bukhari Fakhruddin, dan memiliki karya-karya tulis.

Kelahirannya tahun 661 di Harran, disebutkan oleh Ibnu Jabir dalam para gurunya.

78 – Hada’iq Al-In’am fi Fadha’il Asy-Syam karya Abdurrahman bin Ibrahim bin Abdurrazzaq Ad-Dimasyqi (1138)

Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam, dikenal dengan Ibnu Taimiyah Al-Hanbali, imam allamah hafizh yang teliti, Abu Al-Abbas Al-Harrani kemudian Ad-Dimasyqi.

Lahir tahun 661, dan brilian serta berfatwa dan mengajar, dan menyusun karya-karya yang indah dan banyak.

Imam Salahuddin Ash-Shafadi menyebutkan nama-namanya dalam tiga lembar besar, dan terjadi padanya banyak cobaan, hingga wafat dalam tahanan di benteng Damaskus pada Dzulqa’dah tahun 728, dan dilepas oleh umat yang tidak terhitung, dan dimakamkan di pemakaman kaum sufi, dan kuburnya dikenal diziarahi. Disebutkan oleh Ibnu Qadhi Syuhbah.

79 – Diwan Al-Islam

Syamsuddin Muhammad bin Abdurrahman Al-Ghazzi (1167)

Syaikh imam allamah yang luas ilmunya seperti lautan, syaikhul islam Taqiyuddin Abu Al-Abbas Ad-Dimasyqi Al-Hanbali, pemilik karya-karya banyak yang masyhur yang melebihi dua ratus jilid besar.

Wafat di Damaskus tahun 728.

80 – Risalah tentang Keutamaan Ibnu Taimiyah dan Pembelaan terhadapnya

Oleh Ulama Syah Wali Allah Ad-Dahlawi (wafat tahun 1176 H)

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Segala puji bagi Allah yang melimpahkan nikmat dan mengilhamkan hikmah, dan semoga Allah melimpahkan rahmat atas junjungan kami Muhammad, pemimpin bangsa Arab dan non-Arab, serta atas keluarga dan para sahabatnya yang memiliki cita-cita luhur.

Amma ba’du, maka berkata orang yang fakir Wali Allah bin Abdurrahim, semoga Allah Ta’ala memperlakukan keduanya dengan karunia-Nya yang agung: Telah datang sebuah surat yang mulia dari seorang tuan yang terhormat, yang senantiasa menjadi penolong bagi kebenaran dan agama, dalam penyelidikan tentang keadaan Syaikh Taqiyuddin Ahmad bin Taimiyah, semoga Allah Ta’ala memperlakukannya dengan karunia-Nya, dan apa yang seharusnya diyakini tentangnya. Maka wajib bagi saya untuk memenuhi perintahnya, meskipun saya jauh dari kemampuan untuk hal seperti itu.

Dan yang saya yakini, dan saya senang jika seluruh kaum muslimin meyakininya tentang para ulama Islam yang membawa Al-Kitab, As-Sunnah, dan fikih, yang membela akidah Ahlu Sunnah wal Hadits, adalah bahwa mereka adalah orang-orang yang adil dengan pentasbihan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika beliau bersabda: “Agama ini akan dibawa oleh orang-orang yang adil dari setiap generasi.” Dan jika sebagian dari mereka mengatakan sesuatu yang tidak diridhai oleh keyakinan ini, apabila perkataannya itu tidak tertolak dengan nash Al-Kitab, As-Sunnah, dan ijma’, dan perkataannya itu memungkinkan untuk diterima, dan ada ruang serta kelonggaran untuk membahasnya, baik perkataannya itu dalam ushul ad-din (pokok-pokok agama), atau dalam pembahasan fikih, atau dalam hakikat-hakikat yang bersifat wujdani (pengalaman spiritual). Dan berdasarkan prinsip inilah kami meyakini tentang Syaikh yang mulia Muhyiddin Muhammad bin Ali Ibnu Arabi, dan tentang Syaikh pembaharu Ahmad bin Abdul Ahad As-Sirhindi bahwa keduanya adalah dari golongan hamba-hamba Allah yang terpilih, dan kami tidak memperhatikan apa yang dikatakan tentang keduanya. Demikian pula Ibnu Taimiyah, karena sesungguhnya kami telah meyakini tentang keadaannya bahwa ia adalah seorang yang alim terhadap Kitabullah dan makna-maknanya secara bahasa dan syariat, hafal terhadap Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan atsar-atsar salaf, mengetahui makna-maknanya secara bahasa dan syariat, ahli dalam nahwu dan bahasa, pengkaji yang teliti terhadap mazhab Hanabilah dalam cabang-cabangnya dan pokok-pokoknya, unggul dalam kecerdasan, memiliki kemampuan berbicara dan kefasihan dalam membela akidah Ahlu Sunnah. Tidak diriwayatkan darinya kefasikan dan bid’ah, kecuali hal-hal ini yang diperketat atasnya karenanya, dan tidak ada satu pun darinya kecuali bersamanya dalilnya dari Al-Kitab, As-Sunnah, dan atsar salaf. Maka syaikh seperti ini sangat langka keberadaannya di dunia, dan siapakah yang sanggup menyamai kedudukannya dalam penjelasan dan pemaparannya? Dan orang-orang yang memperketat atasnya tidak mencapai sepersepuluh dari apa yang Allah Ta’ala berikan kepadanya, meskipun penyempitan mereka itu lahir dari ijtihad. Dan perselisihan para ulama dalam hal seperti itu tidaklah lain seperti perselisihan para sahabat di antara mereka, dan yang wajib dalam hal itu adalah menahan lisan kecuali dengan kebaikan.

Dan telah disebutkan bahwa ia berkata: Sesungguhnya Allah Ta’ala berada di atas Arasy. Dan yang benar adalah bahwa dalam masalah ini ada tiga tingkatan:

Pertama: Pembahasan tentang apa yang sah untuk ditetapkan bagi Allah secara tauqifi (berdasarkan nash) dan apa yang tidak sah secara tauqifi. Dan yang benar dalam tingkatan ini adalah bahwa Allah Ta’ala telah menetapkan bagi diri-Nya arah di atas (al-fauq), dan hadits-hadits yang menunjukkan hal itu sangat banyak, dan telah dinukil oleh At-Tirmidzi hal itu dari Imam Malik dan ulama semisal dengannya.

Kedua: Apakah akal membolehkan perkataan seperti ini sebagai hakikat atau mewajibkan membawanya kepada makna majaz? Dan yang benar dalam tingkatan ini adalah bahwa akal mewajibkan bahwa ia bukan pada makna zhahirnya dalam kenyataan.

Ketiga: Apakah wajib untuk men-takwilkannya atau boleh mendiamkannya pada makna zhahirnya tanpa menentukan maksud yang dimaksud? Dan yang benar dalam hal ini adalah bahwa tidak ada hadits yang shahih atau dhaif yang menetapkan bahwa wajib men-takwilkannya dan tidak pula bahwa tidak boleh menggunakan ungkapan-ungkapan seperti itu dari kalangan umat.

Abu Thahir mengabarkan kepadaku dari ayahnya bahwa ia berkata: Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata: Tidak dinukil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula dari para sahabat melalui jalur yang shahih tentang kewajiban mentakwilkan sesuatu dari itu, yaitu ayat-ayat mutasyabihat, dan tidak pula larangan menyebutkannya. Dan adalah mustahil bahwa Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menyampaikan apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya dan menurunkan kepadanya “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu” (QS. Al-Ma’idah: 3), kemudian meninggalkan bab ini tanpa membedakan apa yang boleh dinisbatkan kepada-Nya Ta’ala dan apa yang tidak boleh, dengan dorongan-Nya untuk menyampaikan kepada yang hadir kepada yang tidak hadir, sehingga mereka memindahkan perkataan-perkataannya, perbuatan-perbuatannya, keadaan-keadaannya, dan apa yang dilakukan di hadapannya. Maka hal itu menunjukkan bahwa mereka sepakat untuk beriman kepadanya dengan cara yang Allah Ta’ala kehendaki darinya dan mewajibkan mensucikan-Nya dari menyerupai makhluk dengan firman-Nya: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia” (QS. Asy-Syura: 11). Maka barangsiapa yang mewajibkan selain itu setelah mereka, maka sungguh ia telah menyelisihi jalan mereka. Selesai.

Dan inilah yang telah kami tahqiqkan, yaitu mazhab Syaikh Abu Al-Hasan Al-Asy’ari. Abu Thahir Al-Madani radiyallahu ‘anhu membacakan kepadaku dengan tulisan ayahnya bahwa Syaikh Abu Al-Hasan berkata dalam kitabnya: “Sesungguhnya aku berpegang pada mazhab Ahmad dalam masalah sifat-sifat dan bahwa Allah berada di atas Arasy.” Dan perkataan Ibnu Taimiyah terbawa pada tingkatan pertama dan ketiga. Dan jika kita kembali kepada pengalaman wujdani, maka tidak diragukan bahwa Allah Ta’ala memiliki kekhususan dengan Arasy sebagaimana sesungguhnya kita tidak menemukan ungkapan dalam tersingkapnya hal-hal yang didengar dan dilihat yang lebih fasih daripada pendengaran dan penglihatan. Dan Allah lebih mengetahui hakikat-hakikat perkara.

Dan telah disebutkan tentangnya bahwa ia melarang bepergian untuk ziarah ke makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan tidak diriwayatkan perkataannya itu dengan dalil yang sharih dan shahih, karena sesungguhnya ia tidak melarang ziarah secara mutlak, tetapi melarang bepergian untuk ziarah kubur dengan hadits “Janganlah kalian melakukan perjalanan khusus” dan dengan hadits “Janganlah kalian menjadikan kuburku sebagai tempat perayaan.” Maka apabila perkataannya memiliki kelonggaran ijtihad, tidak sepatutnya diperketat atasnya dengan penyempitan itu.

Dan telah disebutkan tentangnya bahwa ia mengingkari adanya Quthub, Ghauts, Khidir, dan orang yang diklaim oleh Syiah sebagai Al-Mahdi. Dan ia berhak untuk itu, karena sesungguhnya seorang Sunni selama ia berada pada syaratnya dalam meyakini apa yang tetap dengan Al-Kitab, As-Sunnah, dan ijma’, serta diam tentang apa yang tidak tetap dengannya, boleh baginya untuk tidak meyakini hal itu. Dan barangsiapa yang menetapkan hal itu dari kalangan sufi, maka sesungguhnya itu tidak tetap dari kitab dan sunnah, kecuali kasyf (penyingkapan spiritual), dan itu bukan termasuk dalil-dalil syariat. Dan yang saya pahami dari perkataannya adalah bahwa ia ingin mengatakan bahwa perkataan ini adalah bid’ah yang batil untuk diyakini dari sisi syariat karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.” Dan seandainya ia memutuskan dengan pengingkaran, ia tidak berhak untuk dikafirkan dan tidak difasiqkan juga. Dan di sini ada kehalusan, yaitu bahwa betapa banyak masalah yang tidak ditunjukkan oleh syariat, baik penafian maupun penetapan, tetapi ditunjukkan oleh akal seperti perkataan kita: Hasil dari perkalian sepuluh dengan sepuluh adalah seratus, atau kasyf dan pengalaman wujdani seperti perkataan kita: Mahabbah dzatiyah (cinta hakiki) itu tetap bagi orang-orang sempurna dari hamba-hamba Allah, yaitu kecenderungan wujud khusus kepada asal-usulnya yang mutlak dari batasan-batasan, seperti kecenderungan setiap unsur kepada tempatnya. Dan masalah-masalah ini benar dalam hakikatnya. Dan jika seseorang meyakini bahwa itu dari syariat, maka keyakinannya itu adalah keliru. Dan jika ia menempatkannya pada tempat yang tetap dengan syariat lalu mengingkari orang yang tidak mengatakan dengannya, atau berusaha menetapkannya atas orang-orang yang mengingkarinya seperti menetapkan perkara-perkara syariat, maka itu juga keliru.

Dan telah disebutkan tentangnya bahwa ia mengingkari keyakinan Syiah tentang imam yang tersembunyi menurut anggapan mereka. Dan ia berhak untuk mengingkari hal itu, bahkan seluruh Asy’ariyah pada pengingkaran ini, dan saya tidak mengetahui seorang pun yang mengatakan dengannya. Dan telah disebutkan tentangnya bahwa ia kurang sopan terhadap sayyidina Ali radiyallahu Ta’ala ‘anhu. Dan jauh ia dari itu. Dan sesungguhnya saya telah menelaah perkataannya dan menemukan sebagiannya dikemukakan dalam membantah Syiah dalam cercaan mereka terhadap tiga khalifah dengan perkara-perkara yang mereka bayangkan sebagai kekurangan sebagaimana disebutkan di akhir kitab At-Tajrid. Maka syaikh ini berdiri menghitung kepada mereka perkara-perkara yang mereka akui ada pada sayyidina Ali yang serupa dengannya, seakan-akan ia berkata: Perkara-perkara ini bukanlah kekurangan sebagaimana yang kalian bayangkan, karena yang serupa dengannya diriwayatkan dari sayyidina Ali, dan ia radiyallahu ‘anhu diridhai di sisi kami dan di sisi kalian, dan apa yang menjadi jawaban kalian tentang sayyidina Ali adalah jawaban kami tentang tiga khalifah radiyallahu ‘anhum. Dan ini termasuk kesempurnaan ilmunya dan kekuatan debatnya serta pengakuan terhadap keutamaan sayyidina Ali radiyallahu ‘anhu. Dan berdasarkan prinsip inilah keluar perkataan: “Diketahui bahwa pendapat jika bukan tercela… dst.” Dan perkataannya: “Sesungguhnya Al-Husain radiyallahu Ta’ala ‘anhu tidak diagungkan pengingkaran umat atas pembunuhannya sebagaimana diagungkan pengingkaran mereka atas pembunuhan Utsman radiyallahu ‘anhu.” Dan perkataannya: “Sesungguhnya keutamaan Abu Bakar… dst,” maknanya adalah menolak Syiah dalam cercaan mereka terhadap Ash-Shiddiq dengan mencegah Fadak dan bahwa itu adalah tindakan menyakiti Fathimah radiyallahu Ta’ala ‘anha, padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Menyakitiku orang yang menyakitinya.” Dan intinya adalah bahwa perkara-perkara seperti ini dikecualikan dari mutlak menyakiti karena ia termasuk yang disyariatkan oleh syariat.

Demikian pula perkataannya: “Adapun perbuatan yang menyakitiku…” Jauh ia dari mencela Ali dan Fathimah radiyallahu Ta’ala ‘anha, tetapi ia bersifat bantahan, seakan-akan ia berkata: Celaan kalian terhadap Abu Bakar adalah seperti apa yang difardukan dari celaan seseorang terhadap Ali dan Fathimah, dan jawaban kalian adalah jawaban kami juga. Dan sebagiannya dalam membantah Syiah dalam penetapan mereka keutamaan sayyidina Ali atas tiga khalifah sebagaimana disebutkan di akhir At-Tajrid juga. Maka syaikh ini berdiri menetapkan untuk tiga khalifah seperti apa yang mereka tetapkan untuk sayyidina Ali atau lebih utama darinya. Dan tidak ada dalam pentafdhilan (pengutamaan) itu tindakan kurang sopan, karena sesungguhnya pentafdhilan adalah mazhab Ahlu Sunnah seluruhnya. Jauh mereka dari bersikap kurang sopan terhadapnya radiyallahu Ta’ala ‘anhu. Adapun tafsir ayat ath-thahaarah (penyucian) dengan iradah tasyri’iyyah (kehendak syariat) bukan iradah takwiniyyah (kehendak penciptaan), maka itu benar, dan sepertinya “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS. Al-Baqarah: 185), dan “Dan Allah menghendaki agar Dia menerima taubatmu” (QS. An-Nisa’: 27), hingga ayat-ayat yang lain.

Dan sesudah itu, maka sesungguhnya aku mengingatkan Allah ‘Azza wa Jalla kepada setiap muslim dalam masalah ini dan sesamanya: Demi Allah, demi Allah, jangan sampai seorang pun dari kaum muslimin mencela seorang ulama yang berijtihad dalam perkara-perkara seperti ini. Inilah yang mudah bagiku dari jawaban, dan tidak membawaku kepada jawaban kecuali nasehat, dan Allah lebih mengetahui hakikat perkara.

 

 

81 – Pembelaan terhadap Ibnu Taimiyah

Oleh Muhammad Badruddin Asy-Syarnbabili Al-Azhari Asy-Syafi’i (wafat tahun 1182 H)

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Segala puji bagi Allah yang mengatakan kebenaran dan Dia memberi petunjuk jalan, dan mengalahkan dengan kekuasaan kesultanan-Nya pasukan kezhaliman dan menghancurkan kebatilan, dan shalawat serta salam atas pemberi petunjuk kepada kebenaran dan penyeru kepadanya, dan pejuang dengan kekuatan kegagahannya terhadap orang yang menyelisihinya dalam hal itu dan memusuhinya karenanya, dan atas keluarga serta sahabatnya yang mengorbankan jiwa mereka dalam menolongnya, dan mengalahkan orang-orang yang memusuhi itu dengan hujjahnya yang jelas dan buktinya yang terang.

Dan aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Yang Maha Tinggi dalam keesaan-Nya dari diserupakan dzat-Nya dengan dzat-dzat, Yang Maha Tinggi dalam ke-shamadiyahan-Nya dari sifat-sifat kekurangan dan kekurangan-kekurangan sifat. Maha Agung Tuhan kami bahwa diserupakan sifat-sifat-Nya dengan sifat-sifat, bahkan bagi-Nya sifat yang paling sempurna di bumi dan di langit.

Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, kekasih-Nya dan khalil-Nya, pemimpin orang yang baginya kepemimpinan dari Allah, dan imam ahli penghambaan dalam tingkatan-tingkatan ibadah. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam atasnya dan atas orang yang berhubungan dengannya selama dua arah berbeda dan dua masa bergantian.

Amma ba’du, maka sudah lama berdengung di telingaku dengungan lalat, dan mengitari mataku seakan-akan sayap burung gagak atau bayangan fatamorgana, berupa celaan yang mengerikan dan perkataan yang buruk terhadap imam para imam dan pemelihara umat ini, yang diakui oleh yang setuju dan yang berbeda atas keutamaan dan kemuliaan beliau, dan pendapat-pendapat telah sepakat dahulu dan sekarang atas kecerdasannya dan baiknya amalnya.

Yang akhlak-akhlaknya yang mulia menunjukkan padanya kebaikan niat dan hati, Imam mujtahid Taqiyuddin Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah.

Maka aku berkata: Tidak lepas celaan itu, apakah dari sisi akidah salafiyyah, atau dari sisi hukum-hukum fikih dan masalah-masalah cabang.

Jika dari sisi yang pertama, maka tidak ada celaan atasnya dalam hal itu. Dan hak jawaban bagi orang yang mencelanya atau mengkritiknya adalah dikatakan padanya: Salam.

Dan jika dari sisi yang kedua, maka aku tidak melihat seorang pun yang membid’ahkan atau menyesatkan atau memfasiqkan karena hal itu, dan tidak mengabaikan, karena masalah-masalah fikih dalil-dalilnya bersifat zhanni. Adapun perkara-perkara qath’i (pasti) maka keluar dari tempat ijtihad, dan dianggap orang yang menyelisihinya dari golongan kekafiran dan ilhad atau penyimpangan dan pertentangan.

Dan para ulama ini di masa dahulu dan sekarang berijtihad dan berdebat, dan aku tidak mendengar bahwa mereka dalam hal itu membid’ahkan dan menyesatkan, bahkan orang yang kebenaran tampak di tangannya diakui hal itu baginya dan dipegangi.

Dan puncak perkara adalah bahwa mujtahid keliru dan benar. Dan seandainya diterima ketidaklayakan ijtihad baginya, maka itu adalah pendapat baginya, dan ia tidak tercela, karena pilihan-pilihan dari ahli mazhab-mazhab yang diridhai lebih banyak dari yang terhitung atau tersembunyi kecuali bagi orang-orang yang fanatik.

Jika dikatakan: Sesungguhnya imam-imam yang utama dan pemimpin-pemimpin yang mulia telah menyebutkan celaan padanya, dan hal itu pasti menguranginya dan mencacatnya.

Aku katakan: Tidak diragukan terjadinya hal itu, tetapi tidak membahayakan setelah mengetahui apa yang ada di sana, karena sesungguhnya pencela-pencela ini adalah pengikut orang lain. Dan telah berdiri atasnya orang banyak dari ahli zamannya dan mengingkari atasnya dengan pengingkaran, dan membela untuk beliau para imam yang merupakan inti pembahasan, maka mereka berbicara dengan apa yang mereka yakini dan mengalahkan setiap penguasa yang keras kepala. Dan tidaklah dikatakan apa yang dikatakan padanya – para imam berkata – kecuali karena kesendirian dan tingginya derajatnya, dan ketidakpeduliannya dalam kebenaran terhadap siapa pun, maka sesungguhnya ia tidak berpihak di dalamnya dan tidak berkompromi sepanjang masa.

Dan sesungguhnya dengan kesaksian yang disebutkan, ia adalah pemelihara Sunnah dan juru bicara Al-Qur’an dan penolong agama Muhammad ini dengan sepenuh kemampuan. Maka janganlah tertipu dengan perkataan-perkataan itu, karena sebesar keutamaan akan terjadi permusuhan. Karena barangsiapa yang bodoh terhadap sesuatu maka ia memusuhinya, maka tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah. Kecuali seseorang yang berbuat adil dari dirinya sendiri dan meninggalkan perdebatan yang menyelisihi perkiraan dan watak anak-anak jenisnya. Dan hal itu sangat sedikit sekali dan hampir tidak ditemukan jalan kepadanya.

Dan sungguh telah terjadi bagi setiap imam dari para imam cobaan demi cobaan yang gelap, bahkan orang yang paling banyak ma’rifatnya adalah yang paling keras ujiannya sebagaimana disaksikan oleh ayat-ayat dan berita-berita, dan tidak tersembunyi bagi orang-orang yang memiliki pandangan yang jernih. Maka kebenaran telah jelas dan terang, dan bahwa Syaikh termasuk ahli ma’rifah, dan bahwa tidak mengingkari hal itu kecuali orang bodoh atau orang yang keras kepala yang binasa.

Jika dikatakan: Tidak ada jalan kepada itu, karena imam-imam mazhab kami, kepada merekalah sandaran, dan mereka telah mencela padanya dan menjelaskan tentang keburukan-keburukannya.

Saya berkata: Banyak sekali dari kalangan masyarakat yang menerima pandangannya tanpa ada penolakan, terutama seperti dua Hafizh yaitu as-Suyuthi dan gurunya, dua imam tersebut. Seandainya keduanya dibandingkan dengan ribuan orang lain, maka kritik seharusnya ditujukan kepada keduanya, karena keduanya lebih mengetahui tentang yang palsu dan yang asli.

Yang menjadi bukti atas apa yang kami katakan adalah: bahwa Imam yang kedua telah menegaskan dalam sebagian karya tulisannya mengenai makna-makna ini, beliau berkata: Tidak boleh bersandar dalam setiap bidang ilmu kecuali kepada para ahlinya, karena dengan demikian dapat diketahui kesalahan suatu pendapat dari kebenarannya. Maka seorang mufassir dari sisi dia adalah mufassir, tidak boleh bersandar kepadanya kecuali dalam bidang tafsir, demikian pula ahli hadits, ahli fikih, dan bidang-bidang lainnya, tanpa ada penolakan.

Dan para imam kritikus alhamdulillah sudah dikenal dan mereka dikenal sebagai orang-orang yang dapat membedakan yang buruk dari yang baik. Merekalah yang harus dijadikan sandaran dan dirujuk dalam hal-hal seperti ini. Dan masalah yang kita hadapi ini termasuk dari kategori ini, maka tidak boleh berprasangka di dalamnya. Allah Ta’ala telah berfirman: “Maka bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui” (Surat an-Nahl: 43).

Pada hakikatnya, tidak ada seorang pembicara pun yang terbebas dari fanatisme dan sikap fanatik jahiliyah. Jika tidak demikian, mengapa celaan-celaan seperti ini harus menimbulkan permasalahan ini? Dan kesalahan apa yang telah dilakukannya sehingga asy-Syihab Ibnu Hajar berkata tentangnya: Bahwa dia sesat dan menyesatkan, serta menyampaikan kata-kata yang kasar. Padahal dia sendiri telah memvonis Ibnu al-Muqri ketika mengkafirkan orang yang ragu-ragu dalam mengkafirkan kelompok Hatimiyah, bahwa dia telah berlebihan dalam fanatisme yang berlebihan dan sikap fanatik, padahal kedudukan Ibnu Taimiyah lebih tinggi darinya dan lebih besar puncak serta kedudukannya?! Maka dikatakan kepadanya apa yang dia katakan tentang Ibnu Taimiyah dan diperlakukan dengan cara yang sama seperti dia memperlakukan Ibnu Taimiyah.

Mengapa tidak menyesatkan orang-orang di antara kita yang dalam masalah talak tiga secara berurutan (ad-Dauriyah) berpendapat tidak jatuhnya talak tiga? Karena masalah itu lebih buruk dan lebih jelek dari pendapatnya tentang jatuhnya talak satu tanpa mempedulikan yang lain.

Juga dikatakan kepadanya: Mengapa engkau menerima kesaksian para imam seperti al-Yafi’i dan lainnya terhadap kelompok yang lain, namun tidak menerimanya untuk Ibnu Taimiyah?! Sesungguhnya menerima kesaksian mereka tentang Ibnu Taimiyah lebih utama dan lebih pantas. Kami tidak bersandar kecuali kepadanya karena dia termasuk orang yang diperhitungkan dan diperhatikan, tetapi kebenaran lebih berhak untuk diikuti. Dan jika kebenaran telah diketahui, maka ahlinya pun telah diketahui tanpa ada penolakan atau perselisihan.

Yang mengatakan hal ini dengan tergesa-gesa dan menulisnya dengan malu: Hamba yang fakir dari amal dan keyakinan, Muhammad Badruddin asy-Syafi’i al-Azhari, cucu asy-Syurnubabili, dengan memuji Allah, bershalawat, berserah diri, bertahmid, bertahlil, berserah diri, dan mewakilkan urusan. Segala puji bagi Allah semata, dan semoga shalawat tercurah kepada Nabi yang tidak ada nabi sesudahnya. Dia adalah tempat kami bergantung dan sebaik-baik pelindung. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.

82 – Kitab ad-Durr al-Maknun fi Ma’atsir al-Madhi min al-Qurun

Karya Syaikh Yasin bin Khairullah al-Khathib al-Mushili (setelah tahun 1232 H)

Dan pada tahun itu (tahun 728 H) wafat Taqiyuddin yang terkenal dengan sebutan Ibnu Taimiyah, putra mufti Abdul Halim bin Syaikhul Islam Abdul Salam, dalam keadaan ditahan di benteng Damaskus.

Ketika jenazahnya diusung, berkumpul sekitar dua ratus ribu laki-laki dan lima belas ribu perempuan.

Karya-karya tulisannya sangat banyak, sekitar lima ratus jilid. Di antaranya adalah kitab dalam membantah Ibnu al-Muthahhar ar-Rafidhi dalam tiga jilid, kitab dalam membantah Ta’sis at-Taqdis karya ar-Razi dalam tujuh jilid, kitab as-Siyasah asy-Syar’iyah fi Ishlah ar-Ra’i war-Ra’iyah, dan kitab Raf’ al-Malam ‘an al-A’immah al-A’lam.

 

 

83 – al-Badr ath-Thali’ bi Mahasin man Ba’d al-Qarn as-Sabi’

Karya al-‘Allamah Muhammad bin Ali asy-Syaukani (1250 H)

Ahmad bin Abdul Halim bin Abdul Salam bin Abdullah bin Abi al-Qasim bin Taimiyah al-Harrani ad-Dimasyqi al-Hanbali, Taqiyuddin Abu al-‘Abbas, Syaikhul Islam, Imam para Imam, Mujtahid Muthlaq. Lahir pada tahun 661 H enam ratus enam puluh satu Hijriyah. Ayahnya memindahkannya dari Harran pada tahun 667 H enam ratus enam puluh tujuh Hijriyah. Dia mendengar hadits dari Ibnu Abdul Da’im, al-Qasim al-Irbili, al-Muslim bin ‘Allan, Ibnu Abi ‘Umar, al-Fakhr, dan dari yang lainnya.

Ibnu Hajar berkata dalam ad-Durar: Dia belajar sendiri dan menyalin Sunan Abi Dawud, dan mengumpulkan banyak bagian hadits. Dia mempelajari rijal hadits dan ilal. Dia belajar fikih, menguasainya, maju, menulis karya, mengajar, berfatwa, melampaui para sejawatnya, dan menjadi keajaiban dalam kecepatan mengingat, kekuatan ingatan, keluasan dalam ilmu naqli dan aqli, serta pengetahuan tentang mazhab-mazhab salaf dan khalaf… Selesai.

Saya berkata: Saya tidak mengetahui setelah Ibnu Hazm orang seperti dia, dan saya tidak menyangka bahwa zaman antara masa kedua tokoh ini menghasilkan orang yang menyerupai keduanya atau mendekati keduanya.

adz-Dzahabi berkata dengan ringkasnya: Dia sangat mengagumkan ketika menyebutkan suatu masalah dari masalah-masalah khilafiyah. Saya tidak pernah melihat orang yang lebih cepat dalam mengambil ayat-ayat yang menunjukkan masalah yang dia kemukakan daripada dia, dan tidak ada yang lebih kuat dalam mengingat matan-matan hadits dan menisbahkannya daripada dia. Sunnah berada di depan matanya dan di ujung lidahnya dengan ungkapan yang indah. Dia adalah ayat dari ayat-ayat Allah dalam bidang tafsir dan keluasan di dalamnya. Adapun dalam bidang ushulul aqidah dan pengetahuan tentang pendapat-pendapat para penentang, maka tidak ada yang dapat menandinginya.

Ini, dengan apa yang ada padanya berupa kedermawanan dan keberanian, serta keterlepasan dari kelezatan duniawi. Mungkin fatwa-fatwanya dalam berbagai bidang mencapai tiga ratus jilid, bahkan lebih. Dia adalah orang yang menyatakan kebenaran, tidak takut celaan orang yang mencela karena Allah. Kemudian dia berkata: Dan barangsiapa yang bergaul dengannya dan mengenalnya mungkin akan mengatakan bahwa saya kurang dalam menilainya. Dan barangsiapa yang memusuhinya dan menentangnya mungkin akan mengatakan bahwa saya berlebihan tentang dia. Dan saya telah disakiti oleh kedua kelompok, dari pengikutnya dan dari musuh-musuhnya.

Dia berkulit putih, berambut dan berjenggot hitam, sedikit uban, rambutnya sampai ke daun telinganya, kedua matanya seperti dua lidah yang berbicara, tingginya sedang, lebar bahunya, suaranya keras, fasih, dan cepat dalam membaca. Kadang dia bersikap keras tetapi dia mengatasinya dengan kesabaran.

Dia berkata: Saya tidak pernah melihat orang sepertinya dalam permohonan dan meminta pertolongan kepada Allah serta banyaknya tawajjuh kepada-Nya. Dan saya tidak menganggapnya ma’shum, bahkan saya menentangnya dalam beberapa masalah ushul dan furu’. Karena dia dengan keluasan ilmunya, keberanian yang berlebihan, ketajaman pikirannya, dan pengagungannya terhadap kehormatan agama, adalah manusia biasa yang terkadang bersikap keras dalam berdebat, marah, dan menyerang lawan, yang menimbulkan permusuhan dalam jiwa-jiwa. Kalau bukan karena itu, dia akan menjadi kata sepakat, karena para ulama besar tunduk pada ilmunya, mengakui bahwa dia adalah lautan yang tidak ada pantainya, dan harta karun yang tidak ada bandingannya. Tetapi mereka mengkritik akhlak dan perbuatannya. Dan setiap orang, pendapatnya bisa diambil dan ditinggalkan. Dia berkata: Dia menjaga shalat dan puasa, mengagungkan syariat lahir dan batin, dia tidak dikritik karena pemahaman yang buruk, karena dia memiliki kecerdasan yang luar biasa, dan tidak karena kurangnya ilmu, karena dia adalah lautan yang menderu. Dia tidak bermain-main dengan agama, tidak menyendiri dengan masalah-masalah karena keinginan, dan tidak melepas lidahnya dengan sembarangan, tetapi dia berdalil dengan al-Qur’an, hadits, dan qiyas, memberi bukti dan berdebat seperti para imam sebelumnya. Maka dia mendapat pahala atas kesalahannya dan dua pahala atas kebenarannya. Selesai.

Meskipun demikian, terjadilah dengan dia dan orang-orang pada zamannya keguncangan dan gempa. Dia diuji berkali-kali dalam hidupnya. Terjadilah berbagai fitnah, dan orang-orang terbagi dua dalam urusannya: sebagian dari mereka mengurangi kedudukannya dari yang seharusnya, bahkan melemparinya dengan tuduhan-tuduhan besar. Dan sebagian lain berlebihan dalam memujinya, melampaui batas, dan fanatik kepadanya sebagaimana kelompok pertama fanatik menentangnya. Dan ini adalah kaidah yang berlaku pada setiap ulama yang mendalami ilmu pengetahuan, melampaui orang-orang semasanya, dan berpegang pada Kitab dan Sunnah. Maka tidak terelakkan dia akan diingkari oleh orang-orang yang kurang, dan terjadilah bersamanya ujian demi ujian. Kemudian urusannya menjadi yang paling tinggi dan pendapatnya yang paling utama, dan menjadi baginya karena guncangan-guncangan itu lisan kebenaran pada generasi-generasi berikutnya. Ilmunya memiliki kedudukan yang tidak dimiliki oleh yang lain. Demikianlah keadaan Imam ini, karena setelah kematiannya orang-orang mengetahui kedudukannya, dan semua lidah bersepakat memujinya kecuali orang yang tidak diperhitungkan. Karya-karya tulisannya tersebar dan pernyataan-pernyataannya terkenal.

Pertama kali yang diingkari oleh orang-orang semasanya pada bulan Rabiul Awal tahun 698 H, mereka mengingkari sesuatu dari perkataannya. Maka para fuqaha menentangnya dan berdebat dengannya, lalu dia dilarang berbicara. Kemudian dia dipanggil untuk kedua kalinya pada tahun 705 H ke Mesir, sebagian penguasa bersikap fanatik menentangnya, yaitu Baibars al-Jasyankir, dan penguasa lain membelanya yaitu Amir Salar. Kemudian keadaannya berakhir dengan dia dipenjara di penyimpanan bendera beberapa waktu, kemudian dipindahkan pada bulan Shafar tahun 709 H ke Iskandariyah. Kemudian dia dibebaskan dan dikembalikan ke Kairo, kemudian dikembalikan lagi ke Iskandariyah. Kemudian Sultan an-Nashir datang dari Karak dan membebaskannya, dan dia tiba di Damaskus pada akhir tahun 712 H. Penyebab ujian ini adalah perintah Sultan yang datang kepada wakil Sultan untuk mengujinya dalam aqidahnya karena dilaporkan kepadanya hal-hal yang diingkari dalam hal itu. Maka diadakanlah majelis untuknya pada tanggal tujuh Rajab, dia ditanya tentang aqidahnya, lalu dia mendiktekan sebagiannya. Kemudian mereka menghadirkan aqidah yang dikenal dengan al-Washithiyah dan dia membacakan sebagiannya. Mereka berdebat dalam beberapa tempat, kemudian mereka berkumpul pada tanggal dua belas dan memutuskan ash-Shafi al-Hindi berdebat dengannya. Kemudian mereka menundanya dan mendahulukan al-Kamal az-Zamlakani. Kemudian permasalahan berakhir dengan dia bersaksi atas dirinya bahwa dia beraqidah Syafi’i. Pengikutnya menyebarkan bahwa dia menang, maka para lawannya marah dan melaporkan salah seorang pengikut Ibnu Taimiyah kepada al-Jalal al-Qazwini, wakil hakim di al-‘Adiliyah, lalu dia mengadzabnya. Demikian pula hakim Hanafi melakukan hal yang sama terhadap dua orang pengikutnya.

Pada tanggal dua belas Rajab, al-Mizzi membacakan bagian dari kitab Af’al al-‘Ibad karya al-Bukhari di masjid, sebagian Syafi’iyah mendengarnya dan marah, berkata: Kami yang dimaksud dengan ini. Mereka melaporkannya kepada Qadhi Syafi’i, lalu dia memerintahkan memenjarakannya. Berita itu sampai kepada Ibnu Taimiyah, maka dia pergi ke penjara dan mengeluarkannya dengan tangannya sendiri. Berita itu sampai kepada Qadhi, maka dia naik ke benteng dan Ibnu Taimiyah menemuinya, lalu mereka bertengkar di hadapan wakil Sultan. Wakil Sultan memerintahkan untuk mengumumkan bahwa barangsiapa berbicara tentang aqidah akan dilakukan kepadanya begini dan begitu, dan dia bermaksud dengan itu menenangkan fitnah. Kemudian diadakan majelis untuknya pada akhir bulan Rajab, dan terjadi perdebatan dari Ibnu az-Zamlakani dan Ibnu al-Wakil. Ibnu az-Zamlakani berkata kepada Ibnu al-Wakil: Apa yang terjadi pada Syafi’iyah masih sedikit, karena engkau adalah pemimpin mereka. Qadhi Ibnu Shashri mengira bahwa dia menyinggungnya, maka dia mengundurkan diri. Kemudian datanglah utusan dari Sultan ke Damaskus agar mereka mengirimkan gambaran tentang apa yang terjadi pada tahun 698 H. Kemudian datanglah mamluk wakil Sultan dan mengabarkan bahwa Baibars dan Qadhi Maliki telah bangkit dalam mengingkari Ibnu Taimiyah, dan bahwa keadaan sudah sangat sulit bagi Hanabilah hingga sebagian dari mereka ditampar. Kemudian berangkatlah Qadhi Ibnu Shashri dan Ibnu Taimiyah bersama utusan ke Kairo, dan bersama mereka sekelompok orang. Mereka tiba pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dan diadakanlah majelis pada tanggal dua belas setelah shalat Jum’at. Lalu diajukan gugatan terhadap Ibnu Taimiyah di hadapan Qadhi Maliki. Dia berkata: Ini adalah musuhku, dan dia tidak menjawab gugatan itu. Gugatan diulang, tetapi dia tetap pada pendiriannya. Maka Qadhi Maliki memutuskan memenjarakannya. Dia diangkat dari majelis dan dipenjara di menara. Kemudian sampai kepada Qadhi Maliki bahwa orang-orang datang kepadanya. Maka dia berkata: Harus diperketat atasnya jika tidak dibunuh, jika tidak maka telah tetap kekufurannya. Maka mereka memindahkannya pada malam Hari Raya Fitri ke penjara bawah tanah.

Sungguh Ibnu Taimiyah rahimahullah telah berbuat baik dengan bersikukuh tidak menjawab di hadapan qadhi yang berani, bodoh, dan dungu itu. Seandainya dia menjawab, tidak mustahil putusan untuk menumpahkan darah Imam yang zaman bermurah hati dengannya ini, padahal zaman itu pelit dengan orang sepertinya. Apalagi qadhi ini dari kalangan Malikiyah yang bernama Ibnu Makhluf, karena dia termasuk setan-setan mereka yang berani menumpahkan darah kaum muslimin hanya dengan kebohongan dan kata-kata yang tidak dimaksudkan seperti apa yang mereka sangkakan. Cukuplah dengan perkataannya: Bahwa Imam ini telah layak dibunuh dan telah tetap kekufurannya di sisinya, padahal dia tidak sebanding dengan sehelai rambut Ibnu Taimiyah, bahkan tidak layak menjadi tali sandal Ibnu Taimiyah. Qadhi setan ini terus mencari kesempatan yang bisa dia gunakan untuk menumpahkan darah Imam ini, tetapi Allah menghalanginya darinya. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.

Kemudian setelah ini diumumkan di Damaskus: Barangsiapa yang beraqidah dengan aqidah Ibnu Taimiyah maka halal darah dan hartanya, khususnya Hanabilah. Maka diumumkanlah hal itu, dan dibacakan surat perintah itu, yang membacakannya adalah Ibnu asy-Syihab Mahmud di masjid. Kemudian mereka mengumpulkan Hanabilah dari ash-Shalihiyah dan lainnya, dan mereka bersaksi atas diri mereka sendiri bahwa mereka beraqidah Imam asy-Syafi’i. Yang paling keras menentang Ibnu Taimiyah adalah Syaikh Nashr al-Munbiji karena telah sampai kepada Ibnu Taimiyah bahwa dia fanatik kepada Ibnu al-‘Arabi, maka dia menulis surat kepadanya menegurnya tentang hal itu, tetapi dia tidak menyukainya karena dia berlebihan dalam mencela Ibnu al-‘Arabi dan mengkafirkannya. Maka dia pun mencela Ibnu Taimiyah dan menghasut Baibars yang sangat mencintai dan mengagungkan Nashr. Qadhi Maliki yang disebutkan sebelumnya bangkit bersama Syaikh Nashr dan berlebihan dalam menyakiti Hanabilah. Kebetulan qadhi Hanabilah memiliki ilmu yang sedikit, maka dia segera menjawab mereka dalam masalah aqidah dan mereka meminta tulisan tangannya tentang hal itu.

Kebetulan qadhi Hanafiyah di Damaskus yaitu Syamsuddin Ibnu al-Hariri membela Ibnu Taimiyah dan menulis berita acara dalam haknya dengan memujinya dalam ilmu dan pemahaman. Dia menulis dengan tulisan tangannya tiga belas baris, di antaranya bahwa sejak tiga ratus tahun yang lalu orang-orang tidak melihat orang sepertinya. Berita itu sampai kepada Ibnu Makhluf, maka dia berusaha memecat Ibnu al-Hariri, lalu dia dipecat dan digantikan oleh Syamsuddin al-Azra’i. Kemudian tidak lama kemudian al-Azra’i dipecat pada tahun berikutnya.

Dan Salar bersikap fanatik membela Ibnu Taimiyah, lalu menghadirkan tiga orang qadhi yaitu Syafi’i, Maliki, dan Hanafi, kemudian berbicara dengan mereka tentang pengeluarannya dari penjara. Mereka sepakat untuk mengajukan beberapa syarat kepadanya, dan bahwa ia harus mencabut sebagian dari keyakinannya. Maka mereka mengirim utusan kepadanya beberapa kali, namun ia menolak untuk menghadap mereka, dan tetap pada pendiriannya. Ibnu Taimiyah tetap berada di penjara hingga Muhanna, amir Al Fadhl, memberikan syafaat untuknya. Maka ia dikeluarkan pada tanggal 23 Rabi’ul Awal. Ia dibawa ke benteng dan terjadi perdebatan dengan sebagian fuqaha, lalu dibuatkan berita acara bahwa ia berkata: “Saya adalah Asy’ari.” Kemudian sekelompok sufi berkumpul di tempat Tajuddin bin Atha’, lalu mereka naik pada pertengahan bulan Syawal ke benteng dan mengadukan Ibnu Taimiyah bahwa ia telah berbicara mengenai para syaikh thariqah, dan bahwa ia berkata: “Tidak boleh meminta pertolongan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam.” Maka situasi mengharuskan untuk memerintahkan pemindahannya ke Syam. Ia berangkat dengan kuda pos, dan semua itu terjadi sementara Qadhi Zainuddin bin Makhluf sedang sakit parah dan hampir meninggal. Ketika kabar kepergian Ibnu Taimiyah sampai kepadanya, ia mengirim surat kepada wakil penguasa, maka Ibnu Taimiyah dikembalikan dari Nablus. Gugatan diajukan terhadapnya di hadapan Ibnu Jama’ah, dan Syarafuddin bin Ash-Shabuni bersaksi terhadapnya. Dikatakan bahwa ‘Ala’uddin Al-Qonawi juga bersaksi terhadapnya. Maka ia ditahan di penjara Harat Ad-Dailamah pada tanggal 18 Syawal hingga akhir bulan Shafar tahun 709 H. Kemudian dilaporkan bahwa ada sekelompok orang yang sering mendatanginya dan ia berbicara kepada mereka tentang hal-hal serupa dengan sebelumnya. Maka diperintahkan untuk memindahkannya ke Iskandariyah, dan ia dipindahkan ke sana pada akhir bulan Shafar. Kepergiannya bersama seorang panglima dan tidak ada seorang pun dari pihaknya yang diizinkan untuk ikut bersamanya. Ia dipenjara di menara timur. Kemudian sebagian muridnya mendatanginya dan mereka tidak dihalangi, maka berdatanganlah kelompok demi kelompok dari mereka. Tempatnya luas, sehingga orang-orang masuk menemuinya, membaca di hadapannya, dan berdiskusi dengannya.

Ia tetap demikian hingga An-Nashir kembali menjadi sultan. Orang-orang memberikan syafaat untuknya di hadapan sultan, maka sultan memerintahkan untuk menghadirkannya. Ia bertemu dengannya pada tanggal 18 Syawal tahun 709 H. Sultan memuliakannya dan mengumpulkan para qadhi, lalu mendamaikan antara dia dengan qadhi Maliki. Qadhi Maliki mensyaratkan agar ia tidak mengulangi perbuatannya. Sultan berkata kepadanya: “Ia sudah bertobat.” Ibnu Taimiyah menetap di Kairo dan orang-orang berdatangan kepadanya hingga ia berangkat bersama An-Nashir ke Syam dengan niat untuk berperang pada tahun 712 H. Ia tiba di Damaskus setelah meninggalkan kota itu lebih dari tujuh tahun. Banyak orang menyambutnya dengan gembira atas kedatangannya. Ibunya saat itu masih hidup. Kemudian mereka menentangnya pada bulan Ramadhan tahun 719 H karena pendapatnya bahwa talak tiga tanpa diselingi rujuk adalah seperti satu talak. Kemudian diselenggarakan majelis lain untuknya pada bulan Rajab tahun 720 H, lalu ia dipenjara di benteng, kemudian dikeluarkan pada hari Asyura tahun 721 H. Kemudian mereka menentangnya lagi pada bulan Sya’ban tahun 726 H karena masalah ziarah, dan ia ditahan di benteng. Ia tetap di sana hingga meninggal pada malam Senin, tanggal 20 Dzulqa’dah tahun 728 H di Masjid Damaskus. Jumlah orang yang menghadiri jenazahnya menjadi perumpamaan karena begitu banyaknya, dan paling sedikit disebutkan bahwa mereka berjumlah lima puluh ribu orang.

Ibnu Fadhlullah berkata: Ketika Ibnu Taimiyah datang dengan pos ke Kairo pada tahun 700 H, ia mendorong penduduk kerajaan untuk berjihad dan berbicara keras kepada sultan dan para panglima. Mereka mengalokasikan untuknya satu dinar dan makanan setiap hari, namun ia tidak menerimanya. Kemudian ia berkata: Guru kami Abu Hayyan menghadiri majelisnya dan berkata: “Mataku tidak pernah melihat orang seperti ini,” dan memujinya dengan beberapa bait syair yang ia katakan sebagai syair spontan, di antaranya:

Ketika Taqiyuddin datang kepada kami, muncul bagi kami Seorang da’i kepada Allah yang tunggal, tidak ada yang setara dengannya Pada wajahnya dari tanda-tanda orang yang menyertai Sebaik-baik makhluk, cahaya yang melebihi bulan

Ia berkata: Kemudian terjadi pembicaraan antara keduanya, lalu disebutkan tentang Sibawaih, dan Ibnu Taimiyah berbicara kasar tentang Sibawaih. Maka Abu Hayyan memusuhinya dan memutuskan hubungan dengannya, dan menjadikan hal itu sebagai dosa yang tidak terampuni. Ketika ditanya tentang sebabnya, ia berkata: “Aku berdebat dengannya dalam suatu masalah bahasa Arab, lalu aku menyebutkan perkataan Sibawaih. Ia berkata: ‘Sibawaih bukan nabi tata bahasa dan ia tidak ma’shum, bahkan ia salah dalam Al-Kitab di delapan puluh tempat! Kamu tidak memahaminya!’ Maka hal itu menjadi sebab pemutusan hubungannya dengannya, dan ia menyebutnya dengan buruk dalam tafsirnya Al-Bahr, demikian juga dalam ringkasannya An-Nahr. Sekelompok orang telah membuat biografinya dan berlebihan dalam memujinya, dan banyak penyair telah meratapi kematiannya.

Jamaluddin As-Sarmari berkata dalam Amalinya: “Di antara keajaiban zaman kita dalam hal hafalan adalah Ibnu Taimiyah. Ia membaca sebuah buku sekali dalam membaca, lalu terukir di pikirannya, dan ia memindahkannya ke dalam karya-karyanya dengan lafal dan maknanya.” Sebagian orang meriwayatkan dari dia bahwa ia berkata: “Barangsiapa bertanya kepadaku untuk memperoleh ilmu, aku akan menjelaskan kepadanya, dan barangsiapa bertanya kepadaku untuk mencari celah, aku akan melawannya, maka tidak lama ia akan terputus argumennya dan aku terhindar dari usahanya.” Ash-Shafadi telah membuat biografinya dan menyebutkan nama-nama karya tulisannya dalam tiga lembar besar. Di antara yang paling bermanfaat adalah: Kitabnya dalam pembatalan hiyal (tipu daya hukum), sungguh kitab yang sangat berharga, dan kitab Al-Minhaj fi Ar-Radd ‘ala Ar-Rawafidh (Metode dalam Bantahan terhadap Rafidhah) sangat bagus, seandainya ia tidak berlebihan dalam bantahannya hingga muncul ungkapan-ungkapan dan kata-kata yang di dalamnya terdapat unsur keberpihakan.

Sebagian orang menisbahkan kepadanya bahwa ia mencari kekuasaan, karena ia sering menyebut-nyebut Ibnu Tumart dan sejenisnya, maka hal itu menjadi sebab lamanya ia dipenjara. Ia memiliki kejadian-kejadian yang terkenal. Apabila ia dihadapkan dan dipaksa, ia berkata: “Aku tidak bermaksud ini, tetapi aku bermaksud begini,” lalu ia menyebutkan kemungkinan yang jauh. Dan barangkali hal itu—wallahu a’lam—karena ia mengatakan kebenaran secara terus terang, namun pikiran-pikiran menolaknya dan tabiat-tabiat menjauh darinya karena kurangnya pemahaman, maka ia mengalihkannya kepada kemungkinan lain untuk menghindari fitnah. Demikianlah seharusnya ulama yang sempurna bertindak: mengatakan kebenaran sebagaimana yang wajib atasnya, kemudian menolak kerusakan dengan cara yang mungkin.

Diriwayatkan dari dia bahwa ketika sampai kepadanya pertanyaan yang dibuat oleh As-Sakakini atas nama seorang Yahudi, yaitu:

Wahai para ulama agama, seorang dzimmi agama kalian Bingung menunjukkan kepadamu dengan hujjah yang paling besar Jika Tuhanku memutuskan kekufuranku menurut anggapan kalian Dan Dia tidak meridhainya dariku, maka apa jalan keluarku

Hingga akhirnya, maka Ibnu Taimiyah membaca bait-bait ini, lalu ia melipat salah satu kakinya di atas yang lain, dan menjawab di majelisnya sebelum berdiri dengan 119 bait, yang pertamanya:

Pertanyaanmu wahai orang ini adalah pertanyaan orang yang menentang Yang memusuhi Tuhan ‘Arsy, Tuhan semesta alam

Ibnu Sayyidun Nas Al-Ya’mari berkata dalam biografi Ibnu Taimiyah: Bahwa ia menonjol dalam setiap bidang atas anak-anak bangsanya, dan mata orang yang melihatnya tidak pernah melihat yang sepertinya, dan matanya tidak melihat yang seperti dirinya sendiri.

Adz-Dzahabi berkata dalam biografinya di sebagian ijazah: Ia membaca Al-Qur’an dan fiqih, berdebat dan berdalil saat belum baligh, dan mahir dalam ilmu-ilmu dan tafsir, serta berfatwa dan mengajar saat belum berusia dua puluh tahun. Ia menulis karya-karya dan menjadi salah seorang ulama besar di masa hidupnya para guru. Karya-karyanya sekitar empat ribu karrasa atau lebih.

Ia berkata: Adapun nukilan-nukilannya tentang fiqih dan mazhab para Sahabat dan Tabi’in, apalagi empat mazhab, maka tidak ada yang menyamainya. Ia berkata: Ia tidak menyebut suatu masalah kecuali ia menyebutkan di dalamnya mazhab-mazhab para imam. Ia telah menyelisihi empat imam dalam beberapa masalah, menulis tentangnya dan berargumen dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Sekelompok ulama besar dari zamannya dan setelah mereka telah memujinya. Mereka menggambarkannya dengan keistimewaan, dan melontarkan ungkapan-ungkapan besar dalam pujiannya, dan ia pantas untuk itu. Yang jelas bahwa seandainya ia selamat dari ujian yang menimpanya yang menghabiskan sebagian besar waktunya, yang mengotori pikirannya, yang mengacaukan pemahamannya, niscaya ia akan menghasilkan karya-karya dan ijtihad-ijtihad yang tidak dimiliki orang lain. Ash-Shafadi berkata: Ia sering membaca syair:

Jiwa-jiwa mati karena penyakitnya Dan orang yang menjenguknya tidak tahu apa penyakitnya Dan tidaklah adil jiwa yang mengadu Penderitaannya kepada selain pemiliknya

Di antara yang dibacakan untuknya atas nama fuqara:

Demi Allah, kefakiran kami bukanlah pilihan Sesungguhnya kefakiran kami adalah keterpaksaan Sekelompok kami semua pemalas Dan makanan kami tidak ada takaran Kamu mendengar dari kami jika kami berkumpul Hakikat yang semuanya omong kosong

 

 

84 – Nazal Man Ittaqa bi Kasyf Ahwal Al-Muntaqa

Karya ulama Abdurrasyid bin Mahmud Al-Kasymiri (1298 H)

Ia adalah: Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam bin Abdullah bin Al-Khadhir bin Muhammad bin Al-Khadhir bin Ali bin Abdullah bin Taimiyah Al-Harrani Taqiyuddin.

Guru kami, imam rabbani, pemimpin para imam, mufti umat, lautan ilmu, penghulu para hafizh, unik di zamannya, unggul di masanya, Syaikhul Islam, teladan manusia, ulama zaman, juru bicara Al-Qur’an, panji para zahid, ahli ibadah yang tunggal, pembantah ahli bid’ah, dan mujtahid terakhir, penghuni Damaskus, dan pemilik karya-karya tulis yang belum pernah ada yang mendahului sejenisnya.

Ia lahir di Harran pada hari Senin tanggal 10 bulan Rabi’ul Awal, dan ada yang mengatakan: tanggal 12 Rabi’ul Awal, tahun 661 H.

Ia datang bersama ayahnya dan keluarganya ke Damaskus saat masih kecil. Mereka keluar dari Harran sebagai pengungsi karena kezaliman Tatar. Mereka berjalan di malam hari membawa buku-buku di atas kereta karena tidak ada hewan tunggangan. Musuh hampir mengejar mereka, dan kereta berhenti. Maka mereka berdoa kepada Allah Ta’ala dan memohon pertolongan-Nya, lalu mereka selamat.

Mereka tiba di Damaskus pada pertengahan tahun 667 H. Ia mendengar dari Syaikh Zainuddin Ahmad bin Abdul Da’im bin Ni’mah Al-Maqdisi juz’ Ibnu ‘Arafah dan lain-lain. Ia mendengar banyak dari Ibnu Abi Al-Yusr, Al-Kamal Ibnu ‘Abd, Syaikh Syamsuddin Al-Hanbali, Qadhi Syamsuddin bin ‘Atha’ Al-Hanafi, Syaikh Jamaluddin Ash-Shairafi, Majduddin bin ‘Asakir, An-Najib Al-Miqdad, Ibnu Abi Al-Khair, Ibnu ‘Allan, Abu Bakr Al-Harawi, Al-Kamal Abdurrahim, Fakhruddin Ibnu Al-Bukhari, Ibnu Syaiban, Asy-Syaraf bin Al-Qawwas, Zainab binti Makki, dan banyak orang lainnya.

Guru-gurunya yang ia dengar darinya lebih dari dua ratus guru.

Ia mendengar Musnad Imam Ahmad beberapa kali, Mu’jam Ath-Thabrani Al-Kabir, kitab-kitab besar, dan juz-juz. Ia menaruh perhatian pada hadits, membaca sendiri banyak kitab, dan tekun mendengar selama bertahun-tahun. Ia membaca Al-Ghailaniyyat dalam satu majelis, menyalin dan memilih, menulis ath-thibaq dan al-atsbat. Ia belajar khat (kaligrafi) dan hisab (hitungan) di kuttab. Ia menekuni ilmu-ilmu, menghafal Al-Qur’an, menggeluti fiqih, membaca beberapa hari dalam bahasa Arab kepada Ibnu Abdul Qawi lalu memahaminya. Ia mulai merenungkan Kitab Sibawaih hingga memahaminya, dan mahir dalam nahwu (tata bahasa Arab). Ia menekuni tafsir secara total hingga menguasainya dengan sempurna. Ia menguasai ushul fiqih dan lain-lain, semua ini saat ia berusia belasan tahun. Para ulama terkagum-kagum dari kecerdasannya yang luar biasa, kemudahan pikirannya, kekuatan hafalannya, dan cepatnya pemahaman.

Ia tumbuh dalam kesucian yang sempurna, kesopanan, ketakwaan, sederhana dalam pakaian dan makanan, dan tetap demikian sebagai pengganti yang saleh, berbakti kepada kedua orang tuanya, taat, wara’, ahli ibadah, banyak puasa, banyak shalat malam, selalu berdzikir kepada Allah Ta’ala dalam setiap urusan dan di setiap keadaan, kembali kepada Allah Ta’ala dalam semua keadaan dan perkara, berhenti pada batas-batas Allah Ta’ala dan perintah-perintah serta larangan-larangan-Nya, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar. Jiwanya hampir tidak pernah puas dari ilmu, tidak pernah haus dari membaca, tidak pernah bosan dari menuntut ilmu, tidak pernah lelah dari berdiskusi, dan jarang sekali ia masuk dalam suatu ilmu dari ilmu-ilmu, dalam suatu bab dari bab-babnya, kecuali terbuka baginya dari bab itu beberapa bab, dan ia menemukan hal-hal dalam ilmu itu yang luput dari para ahlinya yang mahir.

Ia menghadiri majelis-majelis dan pertemuan-pertemuan di masa kecilnya, lalu berbicara dan berdebat, membungkam para tokoh, dan mengemukakan hal-hal yang membuat para tokoh ulama kota kebingungan karenanya. Ia berfatwa saat berusia sekitar tujuh belas tahun, dan mulai mengumpulkan dan menulis karya sejak waktu itu. Ayahnya meninggal—yang merupakan salah seorang tokoh Hanabilah dan para imamnya—dan ia mengajar menggantikannya dan menjalankan tugasnya saat berusia dua puluh satu tahun. Maka tersebarlah ketenaran nya, dan gaungnya tersebar ke seluruh dunia. Ia mulai menafsirkan Kitab Suci pada hari-hari Jumat di atas kursi dari hafalannya, dan ia menyampaikan apa yang dikatakannya tanpa berhenti atau terbata-bata. Demikian juga ia menyampaikan pelajaran-pelajaran dengan tenang dan suara yang lantang dan fasih.

Dan ia berhaji pada tahun sembilan puluh satu (Hijriah) ketika usianya tiga puluh tahun, lalu pulang dan kepemimpinan dalam ilmu telah sampai kepadanya, serta dalam amal, kezuhudan, kehati-hatian (wara’), keberanian, kedermawanan, kerendahan hati, kelembutan, kesabaran, keagungan, kewibawaan, amar ma’ruf, nahi munkar, bersama dengan kejujuran dan amanah, kesucian diri dan penjagaan kehormatan, kebaikan niat dan keikhlasan, ketaatan kepada Allah Ta’ala dan ketakutan yang sangat kepada-Nya, terus-menerus mengawasi diri untuk-Nya, berpegang teguh pada atsar (sunnah), menyeru kepada Allah Ta’ala, akhlak yang baik, memberikan manfaat kepada makhluk, dan berbuat baik kepada mereka.

Dan beliau semoga Allah merahmatinya adalah pedang terhunus bagi para penyelisih, dan duri di kerongkongan ahlul ahwa (orang-orang yang mengikuti hawa nafsu) dan para pembuat bid’ah, dan imam yang menegakkan kebenaran dan menolong agama, nama beliau terdengar di berbagai negeri, dan setiap masa mengharapkan orang seperti beliau.

Abu Al-Hajjaj berkata: Saya tidak pernah melihat orang sepertinya, dan ia tidak pernah melihat orang seperti dirinya sendiri, dan saya tidak pernah melihat seorang pun yang lebih mengetahui Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, atau lebih mengikuti keduanya daripada beliau.

Allama Kamaluddin Az-Zamlakani berkata: Ketika ia ditanya tentang suatu bidang ilmu, orang yang melihat dan mendengar mengira bahwa ia tidak mengetahui selain bidang itu, dan memutuskan bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui sepertinya, dan para fuqaha dari berbagai kelompok ketika duduk bersamanya mendapat manfaat dalam mazhab mereka dari beliau yang tidak mereka ketahui sebelumnya, dan tidak diketahui bahwa ia pernah berdebat dengan seseorang lalu terputus (kalah) dengannya, dan tidak pernah ia berbicara dalam suatu ilmu—baik ilmu syariat maupun lainnya—kecuali ia mengungguli ahlinya dan orang-orang yang dinisbatkan kepadanya, dan beliau memiliki kemampuan yang sangat tinggi dalam kebaikan penulisan, keindahan ungkapan, penyusunan, pembagian, dan penjelasan.

Dan terjadi suatu masalah cabang (furu’iyah) dalam pembagian aliran air yang terjadi perselisihan di antara para mufti pada masa itu; maka ia menulis tentangnya sebuah jilid besar, demikian juga terjadi suatu masalah tentang satu dari hudud (hukuman); maka ia juga menulis jilid besar, dan ia tidak keluar dalam setiap masalah dari pembahasan dan tidak memperpanjangnya dengan kalimat yang kacau dan masuk ke dalam sesuatu lalu keluar dari sesuatu, dan ia datang dalam setiap masalah dengan apa yang tidak pernah terjadi dalam pikiran dan khayalan, dan syarat-syarat ijtihad terkumpul padanya dengan sempurna.

Dan saya membaca dengan tulisan Syaikh Kamaluddin juga pada kitab “Raf’ul Malam ‘anil A’immah Al-A’lam” karya guru kami: karya tulis Syaikh Imam Alim Allama yang tiada bandingannya, Hafizh Mujtahid, Zahid Abid Teladan, Imam para Imam, Teladan Umat, Allamanya para Ulama, Pewaris para Nabi, Penutup para Mujtahid, Satu-satunya Ulama Agama, Keberkahan Islam, Hujjah para Alim, Bukti para Mutakallimin, Penunduk para Pembuat Bid’ah, Penghidup Sunnah, dan yang dengannya Allah memberikan nikmat besar kepada kami, dan hujjah tegak atas musuh-musuhnya, dan dengan berkah dan petunjuknya jalan yang benar menjadi jelas, Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam Ibnu Taimiyah Al-Harrani, semoga Allah Ta’ala meninggikan kedudukannya, dan menguatkan sendi-sendi agama darinya.

Apa yang bisa dikatakan para penggambar tentangnya … sifat-sifatnya terlalu agung untuk dihitung Ia adalah hujjah Allah yang mengatasi … ia di antara kami adalah keajaiban masa Ia adalah tanda yang nyata dalam ciptaan … cahayanya melebihi fajar

Dan ini pujian kepadanya ketika usianya sekitar tiga puluh tahun, dan telah memujinya banyak dari para gurunya, dan dari ulama besar masanya; seperti Syaikh Syamsuddin bin Abi Umar, dan Syaikh Tajuddin Al-Fazari, dan Ibnu Minja, dan Ibnu Abdul Qawi, dan Qadhi Al-Khuwayi, dan Ibnud Daqiqil Eid, dan Ibun Nahhas, dan lain-lain.

Dan Syaikh Imaduddin Al-Wasithi berkata—dan ia termasuk ulama yang arif—dan ia menyebutnya: Ia adalah guru kami, Sayyid Imam yang mulia, penunduk bid’ah, penolong hadits, mufti kelompok-kelompok, yang menembus hakikat dan mendasarkannya dengan dasar-dasar syariat bagi pencari yang merasakan, yang menggabungkan antara zhahir dan batin, dan ia memutuskan dengan kebenaran secara lahir sedangkan hatinya tinggal di tempat tinggi, contoh Khulafaur Rasyidin, dan Imam-Imam yang mendapat petunjuk, Syaikh Imam Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam Ibnu Taimiyah Al-Harrani semoga Allah mengembalikan kepada kami berkahnya, dan mengangkat derajatnya ke tingkatan-tingkatan yang tinggi.

Kemudian ia berkata dalam sela pembicaraannya: Demi Allah kemudian demi Allah, saya tidak pernah melihat di bawah permukaan langit orang sepertinya dalam ilmu, amal, keadaan, akhlak, pengikutan (sunnah), kedermawanan, kelembutan dalam hak dirinya, dan berdiri dalam hak Allah Ta’ala ketika kehormatan-Nya dilanggar.

Kemudian ia memperpanjang pujian kepadanya. Dan Syaikh Alamuddin berkata dalam “Mu’jam Syuyukhihi”: Taqiyuddin Abul Abbas, Imam yang disepakati keutamaan, kemuliaan dan agamanya, ia belajar fikih dan mahir di dalamnya dan dalam bahasa Arab dan ushul, dan ahli dalam ilmu tafsir dan hadits, dan ia adalah imam yang tidak dapat tersaingi debunya dalam segala hal, dan mencapai derajat ijtihad, dan syarat-syarat mujtahid terkumpul padanya. Dan ketika ia menyebut tafsir, orang-orang terkagum-kagum dari banyaknya hafalannya, dan kebaikan pemaparannya, dan memberi setiap pendapat apa yang layak dari tarjih, tadh’if dan pembatalan, dan menyelaminya dalam setiap bidang, hadirin merasa heran, ini bersama dengan ketekunannya pada kezuhudan dan ibadah, kesibukan dengan Allah Ta’ala, dan meninggalkan sebab-sebab dunia, dan menyeru makhluk kepada Allah Ta’ala, dan ia duduk setiap pagi Jumat di hadapan orang-orang menafsirkan Alquran Agung, maka banyak orang mendapat manfaat dari majlisnya dan berkah doanya, dan kesucian napasnya, dan kejujuran niatnya, dan kejernihan lahir dan batinnya, dan kesesuaian ucapannya dengan amalnya, banyak makhluk yang bertobat kepada Allah, dan berjalan di atas satu jalan yaitu memilih kefakiran, sedikitnya harta dunia, dan menolak apa yang dibukakan kepadanya.

Dan Alamuddin berkata di tempat lain: Saya melihat dalam ijazah untuk Ibnu Asy-Syahrazuri Al-Maushili tulisan Syaikh Taqiyuddin, dan Syaikh Imam Syamsuddin Adz-Dzahabi semoga Allah merahmatinya telah menulis di bawahnya: Ini tulisan guru kami Imam, Syaikhul Islam, orang unik masanya, lautan ilmu, Taqiyuddin. Kelahirannya tanggal sepuluh Rabiul Awal tahun enam ratus enam puluh satu, dan ia membaca Alquran dan fikih, dan berdebat serta berdalil ketika belum baligh, dan mahir dalam ilmu dan tafsir, dan berfatwa serta mengajar ketika berusia sekitar dua puluh tahun, dan membuat karya tulis, dan menjadi salah satu ulama besar di masa kehidupan para gurunya, dan ia memiliki karya tulis besar yang disebarkan oleh para pengendara, dan mungkin karya tulisnya pada waktu ini mencapai empat ribu karras (sekitar dua juta halaman) atau lebih, dan ia menafsirkan Kitabullah selama beberapa tahun dari hafalan pada hari-hari Jumat, dan ia sangat cerdas, dan riwayat haditsnya banyak, dan gurunya lebih dari dua ratus guru, dan pengetahuannya tentang tafsir mencapai puncaknya, dan hafalannya terhadap hadits dan para perawinya dan shahih dan cacatnya tidak ada yang menyamainya, adapun penguasaannya terhadap fikih dan mazhab-mazhab Sahabat dan Tabi’in—selain empat mazhab—maka tidak ada bandingannya, adapun pengetahuannya tentang agama-agama dan aliran-aliran dan ushul dan kalam maka saya tidak mengetahui bandingannya, dan ia memahami bagian yang baik dari bahasa, dan bahasa Arabnya sangat kuat, adapun pengetahuannya tentang sejarah dan sirah maka sangat mengherankan, adapun keberanian dan jihadnya dan keberaniannya maka suatu hal yang melampaui penggambaran dan melebihi deskripsi, dan ia salah satu orang dermawan yang sangat pemurah yang dijadikan perumpamaan dengannya, dan padanya ada kezuhudan dan qana’ah dengan yang sedikit dalam makanan dan pakaian.

Dan Adz-Dzahabi berkata di tempat lain: Ia adalah tanda dalam kecerdasan dan dalam kecepatan pemahaman, pemimpin dalam pengetahuan tentang Kitab dan Sunnah dan perselisihan, lautan dalam riwayat-riwayat, ia pada masanya adalah orang unik zamannya dalam ilmu, kezuhudan, keberanian, kedermawanan, dan amar ma’ruf, dan nahi munkar, dan banyaknya karya tulis.

Sampai ia berkata: Jika disebut tafsir maka ia pembawa benderanya, dan jika dihitung para fuqaha, maka ia mujtahid mutlak mereka, dan jika hadir para hafizh ia berbicara dan mereka terdiam, dan ia menguraikan dan mereka bingung, dan ia berkecukupan dan mereka miskin, dan jika disebut para mutakallimin maka ia orang unik mereka, dan kepada mereka tempat rujukan mereka, dan jika Ibnu Sina tampil mendahului para filsuf maka ia mengalahkan logika mereka, dan merobek tabir mereka, dan membuka aib mereka, dan ia memiliki kemampuan yang panjang dalam pengetahuan bahasa Arab, sharaf dan bahasa, dan ia lebih besar dari yang dapat digambarkan kalimatku, dan ditunjukkan kedudukannya oleh penaku, maka sesungguhnya riwayat hidupnya, ilmu-ilmunya, pengetahuannya, ujiannya dan perpindahannya dapat disusun dalam dua jilid.

Dan ia berkata di tempat lain: Ia memiliki pengetahuan penuh tentang para perawi, dan jarh dan ta’dil mereka dan tingkatan mereka, dan pengetahuan tentang berbagai cabang hadits, dan dengan yang tinggi dan yang rendah, dan dengan yang shahih dan yang cacat, bersama hafalannya terhadap matan-matannya yang ia sendirian di dalamnya, maka tidak ada seorang pun di masa ini yang mencapai derajatnya atau mendekatinya, dan ia mengagumkan dalam menghadirkan dan mengeluarkan hujjah darinya, dan kepadanya puncak dalam menisbatkan kepada Kutubussittah (enam kitab) dan Musnad sehingga benar dikatakan kepadanya: “Setiap hadits yang tidak diketahui Ibnu Taimiyah maka bukan hadits”; tetapi pengetahuan menyeluruh adalah milik Allah; namun ia mengambil darinya dari lautan, dan yang lain mengambil dari sungai-sungai kecil, adapun tafsir maka diserahkan kepadanya, dan ia dalam menghadirkan ayat-ayat dari Alquran—ketika menegakkan dalil dengannya atas masalah—[memiliki kekuatan yang mengagumkan], dan jika ahli qiraah melihatnya maka bingung padanya, dan karena luasnya keimanannya dalam tafsir dan besarnya pengetahuannya ia menjelaskan kesalahan banyak pendapat para mufassir, dan melemahkan banyak pendapat, dan menguatkan satu pendapat yang sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh Alquran dan Hadits, dan ia menulis dalam sehari semalam dari tafsir, atau dari fikih, atau dari dua ushul, atau dari bantahan terhadap para filsuf terdahulu sekitar empat karras atau lebih, dan tidak jauh bahwa karya tulisnya sampai sekarang mencapai lima ratus jilid, dan ia dalam lebih dari satu masalah memiliki karya tulis tersendiri.

Dan ia memiliki dari karya tulis berupa kaidah-kaidah, fatwa-fatwa, jawaban-jawaban, risalah-risalah dan ta’liq-ta’liq yang tidak terbatas dan tidak terukur, dan saya tidak mengetahui seorang pun dari orang terdahulu maupun orang kemudian yang mengumpulkan seperti apa yang ia kumpulkan, atau menulis seperti apa yang ia tulis, atau mendekati itu; dengan bahwa karya tulisnya ia menulis dari hafalannya, dan banyak darinya ia tulis di penjara dan tidak ada padanya apa yang ia butuhkan, dan ia rujuk dari kitab-kitab.

Dan Syaikh Fathuddin bin Sayyidun Nas berkata setelah menyebutkan biografi guru kami Al-Hafizh Abul Hajjaj Al-Mizzi semoga Allah meridhainya: Dan dialah yang mendorong saya untuk melihat Syaikh Imam Syaikhul Islam Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim Ibnu Taimiyah; maka saya mendapatinya dari orang yang mencapai bagian dari ilmu-ilmu, dan hampir menguasai semua sunnah dan atsar hafalan, jika ia berbicara dalam tafsir maka ia pembawa benderanya, atau berfatwa dalam fikih maka ia mencapai puncaknya, atau berdiskusi tentang hadits maka ia pemilik ilmunya dan pemegang benderanya, atau hadir dengan agama-agama dan aliran-aliran tidak terlihat lebih luas dari alirannya dalam itu, dan tidak lebih tinggi dari pengetahuannya, ia unggul dalam setiap bidang atas anak-anak jenisnya, dan tidak melihat mata yang melihatnya sepertinya, dan tidak melihat matanya seperti dirinya sendiri, ia berbicara dalam tafsir maka hadir majlisnya orang banyak, dan mereka mendatangi dari lautan ilmunya yang manis yang jernih, dan mereka merumput dari taman keutamaannya di taman dan sumber, sampai merayap kepadanya dari penduduk negerinya kedengkian, dan orang-orang pandangan dari mereka menukik dengan apa yang dikritik kepadanya dari perkara-perkara keyakinan, maka mereka menjaga darinya dalam itu ucapan, mereka meluaskan padanya karena itu celaan, dan mereka melepaskan untuk membid’ahkannya anak panah, dan mereka mengira bahwa ia menyelisihi jalan mereka, dan memisahkan kelompok mereka, maka ia memperdebatkan mereka dan mereka memperdebatkannya, dan memutuskan sebagian mereka dan mereka memutuskannya, kemudian memperdebatkannya kelompok lain yang dinisbatkan dari kefakiran kepada jalan, dan mereka mengira bahwa mereka atas batin yang paling teliti darinya dan hakikat yang paling jelas, maka ia membuka jalan-jalan itu, dan menyebut untuknya tempat-tempat hinaan dan tempat-tempat buruk,

Maka ia (Ibnu Taimiyah) menghadapi golongan pertama dari para penentangnya, dan meminta bantuan kepada orang-orang yang memiliki dendam kepadanya dari para pengucilnya. Mereka melaporkan urusannya kepada para penguasa, dan setiap orang dari mereka menggunakan pikirannya untuk menyatakan kekufurannya. Mereka menyusun notulensi, menghasut orang-orang bodoh untuk berusaha membawa perkaranya kepada para pembesar, dan berusaha memindahkannya ke ibu kota kerajaan di negeri Mesir. Maka ia dipindahkan dan dimasukkan ke penjara saat kedatangannya dan ditahan. Mereka mengadakan sidang-sidang untuk menumpahkan darahnya, dan mengumpulkan orang-orang dari penghuni zawiyah dan penghuni madrasah, ada yang munafik dalam persengketaan dan licik dalam penipuan, ada yang terang-terangan dengan takfir dan berhadapan langsung dalam pengucilan, mereka menginginkannya menghadapi tanda-tanda kematian. “Tuhanmu mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada mereka dan apa yang mereka nyatakan.” (Surat al-Qashash: 69). Orang yang terang-terangan dengan kekufurannya tidaklah lebih buruk keadaannya daripada yang munafik, sungguh telah merayap kepadanya kalajengking-kalajengking tipu dayanya. Maka Allah mengembalikan tipu daya setiap orang ke lehernya sendiri, dan menyelamatkannya melalui tangan orang yang telah dipilih-Nya, dan Allah berkuasa atas urusan-Nya. Kemudian ia tidak terlepas setelah itu dari fitnah demi fitnah, dan tidak berpindah sepanjang hidupnya dari ujian kecuali kepada ujian lain, hingga akhirnya urusannya diserahkan kepada salah seorang hakim yang mengambil alih penahanannya. Ia tetap di penjara itu hingga saat kepergiannya ke rahmat Allah dan pemindahannya, dan kepada Allah dikembalikan semua urusan, dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang tersembunyi di dalam dada. Hari itu adalah hari yang disaksikan, jalan menjadi sempit karena jenazahnya, dan kaum muslimin berdatangan dari setiap penjuru yang jauh, mereka meminta berkah dengan menyaksikannya pada hari berdirinya para saksi, dan berpegang teguh pada keretanya hingga mereka mematahkan tiang-tiang itu.

Ini adalah ucapan Ash-Shalah dalam kitab Fawat al-Wafayat, saya sebutkan di sini dengan lafazh aslinya.

Dan dalam kitab Thabaqat al-Hanabilah karya Zainuddin Abdurrahman bin Rajab ad-Dimasyqi:

Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Abi al-Qasim bin al-Khidhir bin Muhammad bin Taimiyah al-Harrani kemudian ad-Dimasyqi, imam ahli fiqih, mujtahid ahli hadits, hafizh ahli tafsir ahli ushul, zahid Taqiyuddin Abu al-Abbas Syaikhul Islam dan tanda pengetahuan, dan kemasyhurannya tidak memerlukan panjang lebar dalam menyebut dan menguraikan urusannya.

Ia lahir pada hari Senin tanggal 10 Rabiul Awwal tahun 661 H di Harran, dan dibawa oleh ayahnya bersama saudara-saudaranya ke Damaskus ketika Tatar menguasai negeri-negeri. Beliau mendengar hadits di sana dari Ibnu Abdud Daim, Ibnu Abi al-Yusr, Ibnu Abd, al-Majd bin Asakir, Yahya bin ash-Shairafi al-Faqih, Ahmad bin Abi al-Khair al-Haddad, al-Qasim al-Irbili, Syaikh Syamsuddin bin Abi Umar, al-Muslim bin Allan, Ibrahim bin ad-Daraji, dan banyak orang lainnya.

Ia memperhatikan ilmu hadits, mendengar al-Musnad berkali-kali, enam kitab hadits, Mu’jam ath-Thabarani al-Kabir, dan kitab-kitab serta juz-juz yang tak terhitung banyaknya. Ia membaca sendiri dan menulis dengan tangannya sejumlah juz. Ia menekuni ilmu-ilmu sejak kecil, mengambil ilmu fiqih dan ushul dari ayahnya, dari Syaikh Syamsuddin bin Abi Umar, dan Syaikh Zainuddin bin Manja, dan mahir dalam hal itu, berdebat, menekuni tafsir al-Quran al-Karim hingga unggul di dalamnya, menguasai ushul fiqih, ilmu faraid, ilmu hisab, aljabar, muqabalah, dan ilmu-ilmu lainnya.

Ia mempelajari ilmu kalam dan filsafat dan unggul dalam hal itu dibanding ahlinya, membantah tokoh-tokoh dan pemuka mereka, mahir dalam keutamaan-keutamaan ini, dan berkualifikasi untuk berfatwa dan mengajar ketika belum genap berusia dua puluh tahun, dan berfatwa sebelum berusia dua puluh tahun juga. Ia dibantu dengan banyaknya kitab, cepatnya hafalan, kuatnya pemahaman dan pengertian, dan lambatnya lupa, hingga lebih dari satu orang berkata: bahwa ia tidak pernah menghafal sesuatu lalu melupakannya.

Kemudian ayahnya Syaikh Syihabuddin wafat, dan ketika itu usianya dua puluh satu tahun, maka ia menggantikan jabatan-jabatan ayahnya setelahnya. Ia mengajar di Dar al-Hadits as-Sukariyah dan dihadiri oleh Qadhi al-Qudhah Bahaauddin bin az-Zaki, Syaikh Tajuddin al-Fazari, Zainuddin bin al-Murahhal, Syaikh Zainuddin bin Manja dan sekelompok orang.

Ia menyampaikan pelajaran yang agung tentang basmalah dan hal itu terkenal di antara manusia, dan para jamaah dan hadirin mengagungkannya, serta memujinya dengan banyak pujian.

Adz-Dzahabi berkata: Syaikh Tajuddin al-Fazari sangat berlebihan dalam mengagungkan Syaikh Taqiyuddin, hingga ia mencatat dengan tulisannya sendiri pelajarannya di as-Sukariyah.

Kemudian ia duduk setelah itu menggantikan ayahnya di masjid di atas mimbarnya pada hari-hari Jumat untuk menafsirkan al-Quran al-Karim, dan memulai dari awal al-Quran. Ia menyampaikan dari hafalannya dalam satu majelis sekitar dua karas atau lebih, dan terus menafsirkan Surat Nuh selama beberapa tahun pada hari-hari Jumat.

Pada tahun 690 H, ia menyebutkan pada hari Jumat sesuatu tentang sifat-sifat Allah, maka sebagian penentang bangkit dan berusaha mencegahnya dari duduk (mengajar), tetapi mereka tidak mampu melakukan itu.

Qadhi al-Qudhah Syihabuddin al-Khuwayi berkata: Saya menganut keyakinan Syaikh Taqiyuddin. Ia ditegur karena itu, lalu berkata: Karena pikirannya benar dan ilmunya banyak, maka ia tidak mengatakan kecuali yang benar.

Syaikh Syarafuddin al-Maqdisi berkata: Saya mengharapkan berkahnya dan doanya, dan ia adalah temanku dan saudaraku. Disebutkan oleh al-Barazali dalam Tarikhnya.

Adz-Dzahabi berkata dalam Mu’jam Syuyukhihi: Taqiyuddin adalah guru kami dan Syaikhul Islam, orang yang unik di zamannya dalam ilmu dan pengetahuan, keberanian, kecerdasan, kedermawanan, nasihat untuk umat, amar makruf dan nahi munkar. Ia mendengar hadits dan banyak berusaha sendiri dalam menuntutnya, menulis dan mempelajari rijal, thabaqat, dan memperoleh apa yang tidak diperoleh orang lain. Ia mengungguli manusia dalam pengetahuan fiqih, perbedaan madzhab, dan fatwa-fatwa para sahabat dan tabiin, hingga apabila ia berfatwa tidak terikat pada satu madzhab, melainkan pada apa yang menurutnya memiliki dalil. Ia mengetahui pendapat-pendapat ahli kalam, membantah mereka, menunjukkan kesalahan mereka, memperingatkan dari mereka, dan membela sunnah dengan hujah-hujah yang paling jelas dan bukti-bukti yang paling cemerlang. Ia disakiti karena Allah dari para penentang, dan ditakut-takuti dalam membela sunnah yang murni, hingga Allah meninggikan menarannya, mengumpulkan hati-hati ahli taqwa untuk mencintainya dan mendoakannya, mengalahkan musuh-musuhnya, dan memberi hidayah melaluinya kepada orang-orang dari ahli agama dan kelompok. Ia membuat hati raja-raja dan para penguasa tunduk kepadanya umumnya dan patuh kepadanya. Kebaikan-kebaikannya banyak, dan ia terlalu besar untuk disebutkan riwayat hidupnya oleh orang seperti saya. Seandainya saya bersumpah antara Rukun dan Maqam dan dengan talak seribu kali talak bahwa saya tidak pernah melihat dengan mata saya orang sepertinya, dan bahwa ia tidak pernah melihat orang seperti dirinya, niscaya saya tidak berdosa.

Hingga Ibnu Rajab berkata: Ia pernah ditawarkan jabatan Qadhi al-Qudhah sebelum tahun 690 H dan jabatan kepala hadits, tetapi ia tidak menerima satu pun dari itu. Saya membaca hal itu dengan tulisan Imam adz-Dzahabi.

Adz-Dzahabi telah menulis dalam Tarikhnya al-Kabir biografi yang panjang untuk Syaikh, dan berkata: Ia menulis dalam sehari semalam dari tafsir, atau dari fiqih, atau dari dua ushul, atau dari bantahan terhadap para filosof terdahulu sekitar empat karas atau lebih.

Saya berkata: Ia menulis al-Hamawiyah dalam satu duduk, dan itu lebih dari itu. Dan ia menulis pada sebagian waktu dalam sehari apa yang dibersihkan darinya satu jilid.

Ia, semoga Allah merahmatinya, adalah orang yang unik di zamannya dalam memahami al-Quran dan mengetahui hakikat-hakikat iman, dan memiliki kepanjangan tangan dalam berbicara tentang makrifat dan ahwal, membedakan antara yang shahih dan cacat, yang bengkok dan lurus.

Syaikh Atsir ad-Din Abu Hayyan al-Andalusi an-Nahwi ketika Syaikh masuk ke Mesir dan bertemu dengannya, dan dikatakan bahwa Abu Hayyan tidak pernah mengucapkan syair yang lebih baik dari ini:

Ketika kami melihat Taqiyuddin terlihat bagi kami Seorang penyeru kepada Allah yang tunggal, tiada tandingan baginya

Pada wajahnya dari tanda orang-orang yang menemani Sebaik-baik manusia, cahaya yang melebihi bulan

Seorang alim yang zamannya berpakaian darinya pakaian alim Lautan yang bergemuruh dari ombaknya mutiara-mutiara

Ibnu Taimiyah berdiri membela syariat kami Seperti berdirinya sayyid Taim ketika Mudhar durhaka

Maka ia menampakkan agama ketika jejaknya terhapus Dan memadamkan kejahatan ketika percikannya berterbangan

Wahai orang yang berbicara tentang ilmu Kitab, dengarkanlah Inilah imam yang telah ditunggu-tunggu

Adz-Dzahabi menceritakan dari Syaikh Taqiyuddin Ibnu Daqiq al-‘Ied, ia berkata kepadanya ketika bertemu dengannya dan mendengar perkataannya: Saya tidak mengira bahwa Allah masih menciptakan orang sepertimu.

Dan dari Ibnu az-Zamlakani bahwa ia ditanya tentang Syaikh, maka ia berkata: Kami tidak melihat sejak lima ratus tahun, atau empat ratus tahun – keragu-raguan dari perawi, dan sangkaan kuatnya ia berkata: sejak lima ratus tahun – orang yang lebih hafal darinya.

Ahli fiqih dan sastrawan yang alim Zainuddin Umar Ibnu al-Wardi berkata dalam Tarikhnya:

Sebagian orang pernah mencela Ibnu Taimiyah semoga Allah merahmatinya di hadapan Qadhi al-Qudhah Kamaluddin az-Zamlakani ketika ia di Halab dan saya hadir, maka Kamaluddin berkata: Siapa yang seperti Syaikh Taqiyuddin dalam kezuhudan, kesabaran, keberanian, kedermawanan, dan ilmu-ilmunya. Demi Allah, seandainya bukan karena ia menentang para salaf, niscaya ia akan bersaing dengan mereka dengan pundak.

Al-Qudwah Abu Abdullah Muhammad bin Qawwam berkata: Makrifat-makrifat kami tidak masuk Islam kecuali melalui tangan Ibnu Taimiyah.

Syaikh Imaduddin al-Wasithi sangat mengagungkannya dan menjadi muridnya, meskipun ia lebih tua darinya. Ia berkata: Ia hampir mencapai maqam para imam besar, dan berdirinya dalam sebagian urusan seperti berdirinya para shiddiqin.

Ia menulis surat kepada para sahabat khusus Syaikh, menasihati mereka untuk mengagungkan dan menghormatinya, memberitahu mereka hak-haknya, dan menyebutkan di dalamnya: bahwa ia telah mengelilingi kota-kota penting negeri Islam, dan tidak melihat di dalamnya orang seperti Syaikh dalam ilmu, amal, keadaan, akhlak, ittiba’, kedermawanan, kesabaran dalam urusan dirinya, dan berdiri dalam hak Allah Ta’ala ketika dilanggar kehormatan-Nya. Ia bersumpah atas hal itu dengan nama Allah tiga kali.

Kemudian ia berkata: Orang yang paling benar keyakinannya, paling shahih ilmu dan tekadnya, paling tajam dan paling tinggi dalam membela kebenaran dan berdiri untuknya, paling dermawan tangannya, dan paling sempurna ittiba’nya kepada Nabinya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kami tidak melihat di zaman kami ini orang yang menggambarkan kenabian Muhammad dan sunnahnya dari ucapan dan perbuatannya kecuali orang ini, sehingga hati yang sehat menyaksikan bahwa inilah ittiba’ yang sebenarnya.

Imam adz-Dzahabi berkata: Sungguh ia telah membela sunnah yang murni dan jalan salaf, berargumen untuknya dengan bukti-bukti, premis-premis, dan hal-hal yang tidak pernah didahului orang lain, dan mengucapkan ungkapan-ungkapan yang tidak berani diucapkan oleh orang-orang terdahulu dan terkemudian dan mereka takut, tetapi ia berani mengucapkannya hingga banyak ulama dari Mesir dan Syam bangkit menentangnya dengan penentangan yang luar biasa, membid’ahkannya, berdebat dengannya, dan membangkangnya. Ia tetap teguh, tidak berkompromi dan tidak berpihak, bahkan mengatakan kebenaran yang pahit yang dituntun kepadanya oleh ijtihadnya, ketajaman pikirannya, dan luasnya lingkup pengetahuannya dalam sunnah dan pendapat, dengan apa yang terkenal darinya berupa wara’, kesempurnaan pemikiran, cepatnya pemahaman, takut kepada Allah, dan pengagungan terhadap kehormatan-kehormatan Allah.

Maka terjadilah antara ia dan mereka pertempuran perang dan peristiwa-peristiwa di Syam dan Mesir. Berapa kali dalam satu kejadian mereka memanah dia dari satu busur, maka Allah menyelamatkannya, karena sesungguhnya ia selalu memohon, banyak meminta pertolongan, kuat tawakalnya, teguh jiwanya, memiliki wirid-wirid dan dzikir-dzikir yang ia rutin lakukan dengan cara dan totalitas tertentu. Ia memiliki pencinta dari kalangan ulama dan shalihun, dari prajurit dan penguasa, dari pedagang dan pembesar, dan seluruh rakyat biasa mencintainya karena ia berdiri memberi manfaat kepada mereka siang dan malam dengan lisannya dan penanya.

Adapun keberaniannya, maka dengannya ditetapkan perumpamaan, dan sebagiannya dijadikan contoh oleh para pahlawan besar.

Ia memiliki keberanian dan kepahlawanan, kekuatan jiwa yang menempatkannya dalam urusan-urusan sulit, maka Allah menolak darinya.

Ia memiliki sedikit syair yang biasa saja. Ia tidak menikah dan tidak memiliki budak. Ia tidak memiliki penghasilan kecuali sedikit. Saudaranya yang mengurus kepentingannya, dan ia tidak meminta darinya makan siang atau makan malam pada kebanyakan waktu.

Dan aku tidak pernah melihat di dunia ini orang yang lebih mulia darinya, dan tidak ada yang lebih lapang dadanya terhadap dinar dan dirham (harta), ia tidak menyebutnya, dan aku tidak menyangka hal itu terlintas dalam pikirannya. Padanya terdapat sifat muru’ah (kemuliaan akhlak), berdiri bersama para sahabatnya, dan berusaha dalam kepentingan mereka. Ia adalah orang fakir yang tidak memiliki harta, dan pakaiannya seperti pakaian kebanyakan fuqaha: jubah, baju panjang, dan sorban yang harganya sekitar tiga puluh dirham, alas kaki yang harganya murah, dan rambutnya dipotong pendek.

Ia bertubuh sedang, jaraknya lebar antara kedua bahu, seakan-akan kedua matanya adalah dua lisan yang berbicara. Ia mengimami shalat orang-orang dengan shalat yang tidak lebih panjang ruku’ maupun sujudnya. Terkadang ia berdiri untuk orang yang datang dari safar atau yang tidak hadir darinya, dan ketika ia datang terkadang mereka berdiri untuknya. Semua orang sama baginya, seakan-akan ia kosong dari formalitas-formalitas ini dan tidak pernah membungkuk kepada siapapun. Ia hanya memberi salam, berjabat tangan, dan tersenyum. Kadang ia memuliakan teman duduknya sekali, dan menghinanya dalam perdebatan berkali-kali.

Aku berkata: Syekh pernah bepergian dengan pos ke negeri Mesir untuk menggerakkan Sultan ketika datangnya Tartar pada suatu tahun. Ia membacakan kepada mereka ayat-ayat tentang jihad, dan berkata: “Jika kalian meninggalkan Syam, meninggalkan penolongan terhadap penduduknya dan pembelaan terhadap mereka, maka sesungguhnya Allah Ta’ala akan mengangkat bagi mereka selain kalian yang menolong mereka, dan Dia akan mengganti kalian.” Ia membaca firman Allah Ta’ala: “Dan jika kamu berpaling (dari jihad), niscaya Allah mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu” (Muhammad: 38), dan firman Allah Ta’ala: “Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, sedang kamu tidak dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun” (At-Taubah: 39).

Berita itu sampai kepada Syekh Taqiyuddin Ibnu Daqiq al-‘Ied – ia adalah qadhi (hakim) saat itu – maka ia menganggap baik hal itu, dan kagum dengan istinbath (penggalian hukum) ini, dan takjub terhadap keberanian Syekh dalam menghadapi Sultan dengan perkataan seperti ini.

Adapun cobaan-cobaan Syekh: sangat banyak, dan penjelasannya akan sangat panjang.

Ia pernah ditahan oleh salah satu wakil Sultan di Syam untuk waktu singkat, karena sikapnya terhadap seorang Nasrani yang mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ditahan bersamanya Syekh Zainuddin al-Faruqi, kemudian mereka berdua dilepaskan dengan terhormat.

Ketika ia menyusun masalah “al-Hamawiyyah” tentang sifat-sifat (Allah), sekelompok orang mencela karya itu, dan diumumkan di pasar-pasar dengan tongkat, dan bahwa ia tidak boleh dimintai fatwa, dari pihak sebagian qadhi Hanafiyyah. Kemudian sebagian penguasa membela Syekh, dan saat itu tidak ada wakil di negeri, dan penyeru dipukul lalu urusan mereda.

Kemudian ia diuji pada tahun tujuh ratus lima dengan pertanyaan tentang keyakinannya atas perintah Sultan. Wakilnya mengumpulkan para qadhi dan ulama di istana, dan menghadirkan Syekh, dan menanyakan tentang hal itu. Maka Syekh mengirim utusan dan membawa dari rumahnya “al-‘Aqidah al-Wasithiyyah”. Mereka membacanya dalam tiga majelis, membahas dengannya, dan meneliti bersamanya. Setelah itu terjadi kesepakatan bahwa ini adalah akidah Sunni Salafi. Di antara mereka ada yang mengatakan itu dengan sukarela, dan di antara mereka ada yang mengatakannya dengan terpaksa. Setelah itu datang surat dari Sultan yang isinya: “Sesungguhnya kami bermaksud (membuktikan) kebersihan nama Syekh, dan telah jelas bagi kami bahwa ia berada di atas akidah Salaf.”

Kemudian orang-orang Mesir merencanakan tipu muslihat dalam urusan Syekh, dan mereka berpendapat bahwa tidak mungkin berdebat dengannya, tetapi hendaknya dibentuk majelis untuknya, ia dituntut, dan saksi-saksi dihadirkan terhadapnya. Yang menggerakkan hal itu di antara mereka adalah: Baibars al-Jasyankir, yang kemudian menjadi sultan setelah itu, Nashr al-Munbiji, dan Ibnu Makhluf qadhi Malikiyyah. Maka Syekh diminta datang dengan pos ke Kairo, dan majelis dibentuk untuknya pada hari kedua kedatangannya – yaitu tanggal dua puluh dua Ramadhan tahun tujuh ratus lima – di benteng. Dituntut di hadapan Ibnu Makhluf bahwa ia mengatakan: Sesungguhnya Allah Ta’ala berbicara dengan al-Quran dengan huruf dan suara, dan bahwa Dia di atas Arsy dengan Dzat-Nya, dan bahwa Dia ditunjuk dengan isyarat inderawi.

Penuntut – yaitu Ibnu ‘Adlan – berkata: “Aku meminta ta’zir (hukuman) baginya atas itu, ta’zir yang keras” – ia mengisyaratkan pembunuhan menurut madzhab Malik. Maka qadhi berkata: “Apa yang kamu katakan wahai fuqaha?” Ia memuji Allah dan menyanjung-Nya. Dikatakan kepadanya: “Cepatlah, kamu tidak datang untuk berkhutbah.” Ia berkata: “Apakah aku dicegah dari memuji Allah Ta’ala?” Qadhi berkata: “Jawablah, kamu telah memuji Allah Ta’ala.” Maka Syekh diam. Ia berkata: “Jawablah.” Syekh berkata kepadanya: “Siapa hakim bagiku?” Mereka menunjuk kepada qadhi dan berkata: “Dialah hakimnya.” Maka Syekh berkata kepada Ibnu Makhluf: “Kamu adalah lawanku, bagaimana kamu menghakimiku?” Dan ia marah. Maksudnya: aku dan kamu adalah dua pihak yang bersengketa dalam masalah-masalah ini, bagaimana salah satu dari dua pihak yang bersengketa menghakimi yang lain dalam masalah tersebut. Maka Syekh berdiri bersama kedua saudaranya, kemudian Syekh dikembalikan, dan berkata: “Aku ridha kamu menghakimiku.” Tetapi ia tidak dapat duduk. Dikatakan: sesungguhnya saudaranya Syekh Syarafuddin berdoa, dan berdoa buruk terhadap mereka ketika keluar. Maka Syekh mencegahnya, dan berkata kepadanya: “Katakanlah: Ya Allah, berilah mereka cahaya yang dengan itu mereka mendapat petunjuk kepada kebenaran.” Kemudian mereka dipenjara di menara beberapa hari, dan dipindahkan ke penjara bawah tanah pada malam Idul Fitri. Kemudian dikirim surat Sultan ke Syam untuk menjelek-jelekkan Syekh, dan mewajibkan orang-orang – khususnya pengikut madzhabnya – untuk kembali dari akidahnya, dengan ancaman pemecatan dan penjara. Dan hal itu diumumkan di masjid dan pasar-pasar. Kemudian surat itu dibacakan di tangga masjid setelah Jumat, dan terjadi gangguan yang banyak terhadap Hanabilah di Kairo. Sebagian mereka dipenjara, dan diambil tulisan tangan sebagian mereka untuk kembali. Qadhi mereka al-Harrani adalah orang yang sedikit ilmunya.

Kemudian pada akhir Ramadhan tahun enam: Salar – wakil Kesultanan di Mesir – menghadirkan para qadhi dan fuqaha, dan berbicara tentang mengeluarkan Syekh. Mereka sepakat untuk mensyaratkan beberapa hal kepadanya, dan mewajibkannya untuk kembali dari sebagian akidah. Mereka mengutus kepadanya orang yang menghadirkannya, agar mereka berbicara dengannya tentang hal itu. Ia tidak mau datang, dan utusan kepadanya diulang berkali-kali, dan ia bersikukuh untuk tidak datang. Majelis mereka menjadi panjang, dan mereka bubar tanpa hasil.

Kemudian di akhir tahun ini sampai surat kepada wakil Kesultanan di Damaskus dari Syekh. Ia mengabarkan hal itu kepada sekelompok orang yang hadir di majelisnya, dan memuji Syekh, dan berkata: “Aku tidak pernah melihat sepertinya, dan tidak ada yang lebih berani darinya.” Ia menyebutkan keadaannya di penjara dalam menghadap kepada Allah Ta’ala, dan bahwa ia tidak menerima apapun dari pakaian sultani, tidak pula dari pemberian sultani, dan tidak menodai diri dengan sesuatu dari itu.

Kemudian pada Rabi’ul Awwal tahun tujuh ratus tujuh, Muhanna bin ‘Isa amir Arab masuk ke Mesir, dan datang sendiri ke penjara, dan mengeluarkan Syekh darinya, setelah meminta izin dalam hal itu. Majelis-majelis dibentuk untuk Syekh yang dihadiri oleh para fuqaha besar dan berakhir dengan baik.

Adz-Dzahabi, al-Birzali dan yang lain menyebutkan: bahwa Syekh menulis untuk mereka dengan tulisan tangannya secara ringkas dan kata-kata yang di dalamnya ada beberapa hal, ketika ia takut dan diancam dengan pembunuhan. Kemudian ia dilepaskan dan menolak untuk datang ke Damaskus. Ia tinggal di Kairo mengajarkan ilmu, berbicara di masjid-masjid dan majelis-majelis umum dan orang banyak berkumpul kepadanya.

Kemudian pada Syawal tahun yang disebutkan: berkumpul sekelompok besar dari kaum sufi, dan mereka mengadu tentang Syekh kepada hakim Syafi’i, dan majelis dibentuk untuknya karena perkataannya tentang Ibnu ‘Arabi dan yang lain. Ibnu ‘Atha’ menuntutnya dengan beberapa hal, dan tidak terbukti darinya sesuatupun. Tetapi ia mengakui bahwa ia berkata: Tidak boleh beristighatsah (meminta pertolongan) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam, istighatsah dalam makna ibadah, tetapi bertawassul dengannya. Sebagian yang hadir berkata: “Tidak ada sesuatu dalam hal ini.”

Hakim Ibnu Jama’ah berpendapat: bahwa ini adalah ketidaksopanan, dan ia menegur tentang hal itu. Kemudian datang surat kepada qadhi: bahwa ia beramal dengannya sesuai yang ditetapkan syariat dalam hal itu. Qadhi berkata: “Aku telah mengatakan kepadanya apa yang dikatakan kepada orang sepertinya.”

Kemudian negara memberinya pilihan antara beberapa hal, yaitu: tinggal di Damaskus atau di Iskandariah, dengan syarat-syarat, atau penjara. Ia memilih penjara. Para sahabatnya masuk kepadanya dalam perjalanan ke Damaskus, dengan berkomitmen pada apa yang disyaratkan kepadanya. Ia menjawab mereka. Mereka menaikkannya ke kuda pos, kemudian mengembalikannya keesokan harinya. Ia hadir di tempat qadhi dengan hadirnya sekelompok fuqaha. Sebagian mereka berkata kepadanya: “Negara tidak ridha kecuali dengan penjara.” Qadhi berkata: “Dan di dalamnya ada maslahat baginya.” Ia meminta at-Tunisi al-Maliki sebagai wakilnya, dan mengizinkannya untuk menghukuminya dengan penjara. Ia menolak, dan berkata: “Tidak terbukti atasnya sesuatu.” Ia mengizinkan Nuruddin az-Zawawi al-Maliki, ia bingung. Syekh berkata: “Aku akan pergi ke penjara, dan mengikuti apa yang ditetapkan maslahat.” Az-Zawawi yang disebutkan berkata: “Hendaknya di tempat yang layak untuk orang sepertinya.” Dikatakan kepadanya: “Negara tidak ridha kecuali dengan nama penjara.” Ia dikirim ke penjara qadhi dan didudukkan di tempat yang diduduki qadhi Taqiyuddin Ibnu Bint al-A’zz ketika ia dipenjara. Diizinkan ada orang yang melayaninya. Semua itu adalah dengan isyarat Nashr al-Munbiji.

Syekh tetap di penjara memberi fatwa dan orang-orang mendatanginya, dan menziarahinya. Fatwa-fatwa yang rumit datang kepadanya dari para amir dan pembesar-pembesar.

Para sahabatnya masuk kepadanya pada awalnya secara sembunyi-sembunyi, kemudian mereka mulai terang-terangan masuk kepadanya. Mereka mengeluarkannya dalam kesultanan asy-Syasyanker yang bergelar al-Muzhaffar, ke Iskandariah dengan pos, dan dipenjara di sana dalam menara yang bagus, terang, dan luas. Siapa yang mau masuk kepadanya, dan ia mencegah siapa yang mau, dan keluar ke pemandian umum jika mau. Ia dikeluarkan sendirian, dan musuh-musuh menyebarkan kabar tentang pembunuhannya dan penyebarannya berkali-kali. Hal itu menyempitkan dada para pencintanya di Syam dan lainnya, dan banyak doa untuknya. Ia tetap di Iskandariah selama masa kesultanan al-Muzhaffar.

Ketika al-Malik an-Nashir kembali ke kesultanan dan berkuasa, dan membinasakan al-Muzhaffar, dan membawa gurunya Nashr al-Munbiji, dan keras kemarahan Sultan terhadap para qadhi karena keterlibatan mereka dengan al-Muzhaffar, dan memecat sebagian mereka: ia segera menghadirkan Syekh ke Kairo dengan terhormat pada Syawal tahun tujuh ratus sembilan. Sultan memuliakannya dengan kemuliaan yang berlebihan, berdiri untuknya, dan menemuinya di majelis yang ramai, di dalamnya ada qadhi-qadhi Mesir dan Syam, para fuqaha dan pembesar-pembesar negara. Ia menambah kemuliaannya atas mereka, tetap berbicara dengannya dan meminta nasihatnya sebentar, dan memujinya dengan kehadiran mereka pujian yang banyak, dan mendamaikan antara dia dan mereka. Dikatakan: sesungguhnya ia meminta nasihatnya dalam urusan yang ia maksudkan terhadap para qadhi, ia memalingkannya dari itu, dan memuji mereka. Dan Ibnu al-Makhluf berkata: “Kami tidak pernah melihat yang lebih bijak dari Ibnu Taimiyyah, kami berusaha membunuhnya. Ketika ia berkuasa atas kami, ia memaafkan kami.”

Ia bertemu dengan Sultan kali lain setelah beberapa bulan. Syekh tinggal di Kairo, dan orang-orang berdatangan kepadanya, para amir dan tentara, dan sekelompok fuqaha, di antara mereka ada yang meminta maaf kepadanya dan melepaskan diri dari apa yang terjadi darinya. Adz-Dzahabi berkata: Pada Sya’ban tahun sebelas: sampai kabar bahwa fuqaha al-Bakri – salah satu pembenci Syekh – menyendiri dengan Syekh di Mesir, menyerangnya, menarik bajunya, dan berkata: “Hadap bersamaku ke pengadilan, aku punya tuntutan terhadapmu.” Ketika orang banyak, ia melarikan diri. Ia dicari dari pihak negara, ia lari dan bersembunyi.

Yang lain menyebutkan: bahwa fitnah terjadi karena hal itu, dan sekelompok orang ingin membalas al-Bakri tetapi Syekh tidak membolehkan mereka melakukan hal itu.

Terjadi setelah beberapa waktu: bahwa al-Bakri, Sultan bermaksud membunuhnya, kemudian memerintahkan untuk memotong lidahnya, karena banyaknya campur tangannya dan keberaniannya. Kemudian ada yang memberi syafaat untuknya, ia diasingkan ke pedalaman, dan dicegah dari fatwa dan berbicara dalam ilmu. Syekh dalam masa ini mengajarkan ilmu, dan duduk untuk orang-orang dalam majelis-majelis umum.

Kemudian ia datang ke Syam bersama saudara-saudaranya tahun dua belas dengan niat jihad, ketika Sultan datang untuk mengusir Tartar dari Syam. Ia keluar bersama pasukan, dan berpisah dengan mereka dari Asqalan, dan mengunjungi Baitul Maqdis.

Kemudian ia masuk Damaskus setelah tidak hadir darinya lebih dari tujuh tahun, bersamanya kedua saudaranya dan sekelompok sahabatnya. Orang banyak keluar untuk menjemputnya, dan orang-orang senang dengan kedatangannya. Ia terus seperti keadaannya semula, mengajarkan ilmu, mengajar di madrasah as-Sukkariyyah, dan al-Hanbaliyyah, memberi fatwa kepada orang-orang dan memberi manfaat kepada mereka.

Kemudian pada tahun delapan belas: datang surat dari Sultan yang melarangnya dari fatwa dalam masalah sumpah dengan talak dengan takfir. Majelis dibentuk untuknya di Dar as-Sa’adah, dan ia dicegah dari itu, dan hal itu diumumkan di negeri.

Kemudian pada tahun sembilan belas hijriah, diadakan untuknya majelis lagi seperti majelis pertama, dan dibacakan surat Sultan yang melarangnya dari hal itu, dan dia ditegur atas fatwanya setelah larangan itu, dan majelis dibubarkan dengan penegasan larangan.

Kemudian setelah beberapa waktu, diadakan untuknya majelis ketiga karena hal itu, dan dia ditegur lalu dipenjara di benteng. Kemudian dia dipenjara lagi karena hal itu sekali lagi. Dan karena hal itu dia dilarang berfatwa secara mutlak, maka dia tinggal beberapa waktu berfatwa dengan lisannya, dan berkata: Tidak pantas bagiku menyembunyikan ilmu.

Pada akhirnya, mereka membuat tipu daya terhadapnya dalam masalah larangan bepergian ke makam para nabi dan orang-orang saleh, dan mereka menuduhnya merendahkan para nabi, dan itu adalah kekufuran. Sekelompok orang yang mengikuti hawa nafsu berfatwa tentang hal itu, mereka berjumlah delapan belas orang, pemimpin mereka adalah Qadhi al-Ikhnai al-Maliki. Para qadhi Mesir yang empat berfatwa untuk memenjarakannya, maka dia dipenjara di benteng Damaskus selama dua tahun lebih. Dan di sana beliau wafat, semoga Allah merahmatinya dan meridhainya.

Beliau telah menjelaskan bahwa apa yang diputuskan terhadapnya itu batil dengan banyak sekali alasan, dan sekelompok ulama berfatwa bahwa dia keliru seperti kekeliruan para mujtahid yang diampuni, dan sekelompok ulama Baghdad menyetujuinya. Demikian juga kedua putra Abu al-Walid al-Maliki, syaikh Malikiyah di Damaskus, berfatwa bahwa tidak ada alasan untuk menentangnya dalam apa yang dia katakan sama sekali, dan bahwa dia telah mengutip khilaf para ulama dalam masalah itu, dan mentarjih salah satu dari dua pendapat di dalamnya.

Beliau tinggal beberapa waktu di benteng menyebarkan ilmu dan mengarangnya, mengirim surat-surat kepada para sahabatnya, dan menyebutkan apa yang telah Allah bukakan kepadanya pada kesempatan ini berupa ilmu-ilmu yang agung dan keadaan-keadaan yang besar. Beliau berkata: Sungguh Allah telah membukakan kepadaku dalam benteng ini pada kesempatan ini dari makna-makna al-Quran dan dari pokok-pokok ilmu dengan hal-hal yang banyak dari para ulama menginginkannya, dan aku menyesali penyia-nyiaan kebanyakan waktuku dalam selain makna-makna al-Quran. Kemudian beliau dilarang menulis, dan tidak dibiarkan ada tinta, pena, atau kertas padanya, maka beliau menghadap kepada tilawah, tahajjud, munajat, dan dzikir.

Adz-Dzahabi berkata dalam Tarikhnya yang besar: Ketika beliau ditahan di Iskandariyah, seorang dari Sabta meminta kepadanya agar memberikan ijazah untuk anak-anaknya, maka beliau menulis untuk mereka dalam hal itu sekitar enam ratus baris, di dalamnya terdapat tujuh hadits dengan sanad-sanadnya dan pembicaraan tentang kesahihan dan maknanya, penelitian dan kajian. Jika seorang ahli hadits melihatnya, dia akan tunduk kepadanya dalam ilmu hadits. Beliau menyebutkan sanad-sanadnya dalam beberapa kitab, dan menunjukkan sanad-sanad yang tinggi. Semua itu dilakukan dari hafalannya, tanpa ada tsabt atau sesuatu yang dapat dirujuknya.

Dalam kitab Fawat al-Wafayat disebutkan: Beliau dilarang menulis dan membaca, dan mereka mengeluarkan kitab-kitab yang ada padanya, dan tidak meninggalkan tinta, pena, atau kertas untuknya, dan beliau menulis setelah itu dengan arang. Beliau berkata: Sesungguhnya pengeluaran kitab-kitab dari padaku adalah di antara nikmat yang paling besar.

Al-Hafizh Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata: Beliau berkata kepadaku suatu kali: Apa yang musuh-musuhku perbuat terhadapku? Surgaku ada di hatiku, kebunku ada di dadaku, ke mana pun aku pergi maka ia bersamaku; tidak berpisah dariku. Penjaraanku adalah khalwah, pembunuhanku adalah syahadah, dan pengusiran ku dari negeriku adalah perjalanan.

Ketika beliau berada di penjara di benteng, beliau berkata: Seandainya aku mengeluarkan penuh benteng ini dengan emas, itu tidak sebanding di sisiku dengan syukur atas nikmat ini. Atau beliau berkata: Aku tidak membalas mereka atas apa yang mereka sebabkan untukku berupa kebaikan. Beliau berkata dalam sujudnya: Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan berbuat baik dalam beribadah kepada-Mu. Beliau berkata suatu kali: Orang yang terbelenggu adalah yang terkurung hatinya dari Tuhannya, dan yang tertawan adalah yang ditawan oleh hawa nafsunya.

Ketika beliau masuk ke benteng dan berada di dalam temboknya, beliau melihat kepadanya dan berkata: “(Yaitu) dengan tembok yang padanya ada pintu; bagian dalamnya mengandung rahmat dan bagian luarnya menghadap kepada azab. Mereka berseru kepada mereka…” (Al-Hadid: 13)

Guru kami berkata: Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih nikmat hidupnya daripadanya sama sekali, dengan apa yang ada padanya berupa penjara, ancaman, dan fitnah. Dengan semua itu, beliau adalah orang yang paling nikmat hidupnya, paling lapang dadanya, paling kuat hatinya, dan paling senang jiwanya. Kilauan nikmat terpancar di wajahnya. Jika ketakutan kami semakin keras, prasangka kami buruk, dan bumi terasa sempit bagi kami, kami mendatanginya. Tidak lain hanya dengan melihatnya dan mendengar perkataannya, semua itu hilang dari kami, dan berubah menjadi kelapangan, kekuatan, keyakinan, dan ketenangan.

Semua ini ada dalam kitab Thabaqat al-Hanabilah karya Ibnu Rajab.

Asy-Syihab Ibnu Fadhl Allah al-Umari berkata dalam kitab Masalik al-Abshar:

Di antara mereka adalah Ahmad bin Abdul Halim al-Harrani, al-Hafizh al-Hujjah.

Dia adalah lautan dari mana pun engkau mendatanginya, dan bulan purnama dari mana pun engkau melihatnya. Leluhurnya telah berlomba dalam kemuliaan yang dia tidak cukup dengannya, dan tidak berhenti pada batasnya sebagai pemenang yang beristirahat dari kelelahannya. Dia menyusu air susu ilmu sejak disapih, dan matahari pagi terbit untuk menyamainya lalu ditampar. Dia melewati siang dan malam dengan tekun, dan menjadikan ilmu dan amal sebagai dua sahabat, sehingga membuat generasi salaf terlupakan dengan hidayahnya, dan membuat generasi khalaf jauh dari mencapai jangkauannya.

Dia menghidupkan jejak rumahnya ketika telah lapuk, dan memetik dari cabang ilmunya yang basah apa yang ditanam, maka dia menjadi dalam keutamaannya sebuah ayat, tetapi dia adalah ayat penjagaan. Berbagai kesulitan menghadang padanya lalu dia singkirkan, berbagai lautan menentangnya lalu dia cerahkan. Dia menjadi satu umat sendiri, dan sendirian hingga turun ke liang lahadnya. Dia melemahkan setiap orang besar dari teman-teman sejawat, dan memadamkan setiap yang lama dari ahli fana. Tidak ada seorang pun dari mereka kecuali lari darinya seperti larinya burung unta, dan merasa kecil di hadapannya seperti kecilnya orang yang berhutang.

Dia datang di masa yang penuh dengan para ulama, dipenuhi dengan bintang-bintang langit, bergelombang di kedua sisinya lautan yang deras, dan beterbangan di antara kedua sayapnya elang-elang yang kuat, dan bersinar di majelisnya bulan-bulan yang gelap, dan dada-dada yang menonjol. Namun paginya mengaburkan bintang-bintang itu, dan lautannya meluap atas awan-awan itu, maka tombaknya menaungi dataran-dataran itu, dan singa jantannya muncul atas singa-singa itu. Kemudian pasukan dikumpulkan untuknya lalu dia hancurkan barisan mereka, dan dia taklukkan hidung mereka, dan kolamnya yang tenang menelan sungai-sungai kecil mereka, dan gunungnya yang tegak mencabut batu-batu besar mereka, dan nafas mereka padam anginnya, dan percikan api mereka padam lampu-lampunya. Dia mengutip dari para imam ijma dan selain mereka madzhab-madzhab mereka yang berbeda dan menghadirkannya, dan mewakili gambaran-gambaran mereka yang hilang dan menghadirkannya. Seandainya Abu Hanifah menyadari zamannya dan menguasai urusannya, niscaya dia mendekatkan zamannya kepadanya, atau Malik niscaya dia menjalankan kudanya di belakangnya meskipun tersandung, atau Asy-Syafii niscaya dia berkata: Andai ini adalah anak Ummu Walad untukku dan andai aku adalah saudaranya atau ayahnya, atau Asy-Syaibani Ibnu Hanbal niscaya dia tidak menyesali rambut pipinya jika pagi hari karena sangat kagum menjadi beruban. Bahkan Dawud azh-Zhahiri dan Sinan al-Bathini niscaya keduanya menyangka kebenaran penelitiannya dari penganutnya, dan Ibnu Hazm dan asy-Syahrastani niscaya masing-masing dari mereka menghimpun penyebutannya sebagai umat dalam mazhab mereka, dan al-Hakim an-Naisaburi dan al-Hafizh as-Salafi niscaya yang ini menambahkannya pada mustadrraknya dan yang ini pada perjalanannya.

Fatwa-fatwa datang kepadanya dan dia tidak menolaknya, dan mengalir kepadanya lalu dia menjawabnya dengan jawaban-jawaban seakan-akan dia duduk untuknya mempersiapkannya.

Sungguh kelompok-kelompok musuh bersatu melawannya lalu mereka terdiam ketika dia mengaum dengan kuat, dan mereka dikalahkan ketika lebahnya bersenandung untuk menghasilkan madu. Dia dituduh dengan dosa-dosa besar, dan bencana-bencana mengincarnya, dan upaya dilakukan terhadapnya agar dia diambil karena kejahatan-kejahatan. Dia dihasut oleh orang yang usahanya tidak tercapai dan banyak maka ragu, dan dia digunjing dan tidak lebih dari itu kecuali dia menggunjing.

Sebelum kematiannya, dia telah dilarang tinta dan pena, dan dicap di hatinya darinya stempel kesedihan, maka itu adalah awal sakitnya dan munculnya penyakitnya, hingga dia turun ke padang pasir pemakaman, dan meninggalkan tulang belakang mimbar-mimbar, dan menempati halaman makamnya tanpa takut, dan mengambil kenyamanan hatinya dari yang mencela dan yang mencari alasan. Dia wafat, atau lebih tepatnya dia hidup, dan diketahui kedudukannya karena orang sepertinya terlihat.

Hari pemakamannya adalah hari yang disaksikan, sempitlah karenanya bagian dalam kota dan luarnya, dan diingatlah karenanya awal-awal musibah dan akhir-akhirnya. Tidak pernah ada sejak ratusan tahun jenazah yang diangkat di atas pundak-pundak, dan tumit-tumit diinjak dalam kerumunannya. Dia berjalan terangkat di atas kepala-kepala, diikuti oleh jiwa-jiwa, didorong oleh air mata, dan diikuti oleh desahan-desahan.

Dalam masa-masa apa yang dia diserang dalam perkataannya dan dilemparkan dalam lubang penahannya, tidak terpuaskan dahaganya dengan pertemuan antara dia dan lawan-lawannya dalam perdebatan, dan penelitian di mana mata-mata memandang. Bahkan seorang hakim langsung memutuskan penahannya, atau melarangnya dari berfatwa, atau dengan hal-hal dari jenis bencana ini, tidak setelah penetapan bukti dan tidak didahului tuntutan, dan tidak munculnya hujjah dengan dalil, dan tidak jelasnya jalan untuk harapan.

Seperti madunya wanita cantik, mereka berkata kepada wajahnya … karena iri dan benci sesungguhnya dia itu buruk

Semua ini karena keunggulannya dalam keutamaan di mana teman-teman sejawat tertinggal, dan bersinarnya seperti lampu ketika pendapat-pendapat gelap, dan berdirinya dalam hujjah Tatar, dan menyerbu mereka, dan pedang-pedang mereka mengalir deras seperti gelombang yang cepat, hingga dia duduk kepada Sultan Mahmud Ghazan di mana singa-singa bersembunyi di sarang-sarang mereka, dan hati-hati jatuh di dalam-dalam tubuh mereka, dan api menemukan kelemahan dalam nyalanya, dan pedang-pedang takut dalam keinginannya, karena takut dari singa yang memangsa itu, dan Namrud yang sombong itu, dan ajal yang tidak dapat ditolak dengan tipu daya penipu. Dia duduk kepadanya dan mengisyaratkan dengan tangannya ke dadanya, dan menghadapinya dan mendorong ke arah dadanya, dan meminta darinya doa, maka dia mengangkat tangannya dan berdoa, doa orang yang adil kebanyakannya terhadapnya, dan Ghazan mengamini doanya dan dia menghadap kepadanya. Kemudian di atas pertemuan yang buruk ini, dan penghinaan yang terang-terangan, dia menjadi paling besar di dada Ghazan dan Mongol dari semua orang yang naik bersamanya kepada mereka, dan mereka adalah pendahulu para ulama di masa itu, dan orang-orang yang berhak atas kemuliaan kedudukan.

Ini dengan apa yang dia miliki dari jihad di jalan Allah yang tidak membuatnya takut dalam itu tusukan tombak, dan tidak membuatnya panik meningginya ratapan, medan-medan perang yang dia hadapi, dan berbagai jenis pukulan yang dia temui, dan kilatan pedang-pedang yang mengancamnya, dan jalan-jalan sempit tombak yang menghimpunnya, dan berbagai jenis musuh yang dia hadapi bersamanya gelombang-gelombang, dan dia memakannya berbagai buah, dan perdebatan yang memutuskan lidahnya yang kuat, dan pertarungan yang tajam tombaknya. Dia berdiri dengannya dan bersabar, dan diuji dengan yang kecil-kecil mereka dan menderita yang besar-besar mereka, dan ahli bid’ah yang dia berdiri dalam menolaknya, dan berusaha keras dalam menurunkan ketinggiannya, dan pertentangan terhadap agama-agama yang dia jelaskan kepada mereka kesalahan ta’wil, dan kesalahan penalaran, dan dia diamkan dengungan lalat di lubang hidung kepala-kepala mereka dengan kesesatan, hingga mereka tidur di tempat-tempat tidur kerendahan, dan mereka berdiri dan kaki-kaki mereka berjatuhan untuk terjatuh, dengan dalil-dalil yang lebih memutuskan dari pedang-pedang, dan lebih mengumpulkan dari langit-langit, dan lebih jelas dari cahaya fajar, dan lebih mengumpulkan dari belahan tombak.

Namun takdir yang mendahului menjatuhkannya dalam celah-celah masalah, dan kesalahan khilaf yang tidak aman padanya dengan banyak berkata orang yang berbicara. Itu karena penurunannya terhadap sebagian ulama salaf, dan pembongkarannya terhadap banyak kaidah dari hukum-hukum orang-orang terdahulu, dan kurangnya penghormatan terhadap orang-orang besar, dan banyak pengkafiran terhadap orang-orang fakir, dan menganggap salah sebagian besar pendapat, dan mendekatkan orang-orang jahil dari awam dan ahli perdebatan, dan apa yang dia fatwakan akhirnya dalam dua masalah ziarah dan talak, dan penyebarannya untuk keduanya hingga berbicara di dalamnya orang yang tidak punya agama dan tidak punya akhlak. Maka sumbu-sumbu musuh menguasai perkataannya, dan dia melepaskan tangan-tangan permusuhan dalam kekurangannya, dan dia suapi api mereka dengan pelepah-pelepahnya, dan dia perlihatkan kepada busur-busur mereka pemborosannya. Tidak henti-hentinya hingga dia wafat kehormatannya dirampok, dan keadaannya dihibahkan, dan sifat-sifatnya terpecah, dan rombongannya tidak berkumpul. Barangkali ini untuk kebaikan yang dikehendaki baginya, dan direncanakan untuknya untuk kebaikan tempat kembalinya.

Ini dengan apa yang dia kumpulkan dari wara’, dan apa yang dia miliki dengan seluruh wujud dari kedermawanan. Datang kepadanya harta berlimpah dari emas dan perak dan kuda-kuda pilihan dan hewan ternak dan ladang, maka dia hibahkan semuanya, dan dia letakkan pada orang-orang yang membutuhkan di tempatnya. Dia tidak mengambil darinya sesuatu kecuali untuk menghibahkannya, dan tidak menyimpannya kecuali untuk menghilangkannya semua di jalan kebaikan, dan jalan orang-orang yang tawadhu bukan orang-orang yang sombong. Dia tidak condong dengan kecintaan syahwat, dan tidak dicintakannya dari tiga dunia kecuali shalat-shalat.

Dia tidak henti-hentinya demikian hingga ajalnya menumbangkannya, dan pembawa kabar gembira surga datang kepadanya memintanya bersegera, maka dia berpindah kepada Allah dan prasangka padanya bahwa Dia tidak akan mempermalukannya.

Ketika Ghazan masuk Damaskus, Ibnu Taimiyah radhiyallahu anhu keluar kepadanya bersama sekelompok orang saleh dari mereka al-Qudwah asy-Syaikh Muhammad bin Qawwam. Ketika mereka masuk kepada Ghazan, di antara apa yang dikatakan Ibnu Taimiyah kepada penerjemah: Katakan kepada Khan: Engkau mengklaim bahwa engkau muslim dan bersamamu ada qadhi, imam, syaikh, dan muadzin menurut apa yang sampai kepada kami, lalu engkau menyerang kami. Sedangkan ayahmu dan kakekmu Hulagu adalah kafir dan mereka tidak melakukan apa yang engkau lakukan, mereka berjanji lalu menepati. Sedangkan engkau berjanji lalu mengkhianati, dan berkata lalu tidak menepati. Terjadilah baginya dengan Ghazan, Qutlughshah, dan Bulay berbagai urusan dan peristiwa, dia berdiri di dalamnya semua karena Allah, dan tidak takut kecuali kepada Allah.

Qadhi al-Qudhah Abu al-Abbas Ibnu Shashri mengabarkan kepada kami bahwa ketika mereka hadir di majelis Ghazan, dihidangkan untuk mereka makanan lalu mereka makan darinya kecuali Ibnu Taimiyah. Dikatakan kepadanya: Mengapa engkau tidak makan? Dia berkata: Bagaimana aku makan dari makanan kalian dan semuanya dari apa yang kalian rampas dari kambing-kambing orang, dan kalian masak dengan apa yang kalian potong dari pohon-pohon orang. Kemudian Ghazan meminta darinya doa, maka dia berkata: Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa sesungguhnya dia berperang agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi dan jihad di jalan-Mu maka kuatkanlah dia dan tolonglah dia. Dan jika untuk kerajaan dan dunia dan bermegah-megahan maka lakukanlah padanya dan perbuatlah. Dia berdoa melawannya dan Ghazan mengamini doanya dan kami mengumpulkan pakaian kami karena takut dia dibunuh lalu darahnya memercik. Kemudian ketika kami keluar, kami berkata kepadanya: Kau hampir membinasakan kami bersamamu dan kami tidak akan menemanimu dari sini. Dia berkata: Dan tidak juga aku menemani kalian. Maka kami pergi sebagai kelompok, dan dia tertinggal dengan orang-orang khusus yang bersamanya. Para pemimpin dan pembesar mendengar, maka mereka datang kepadanya dari setiap penjuru, dan mereka terus mengikutinya untuk bertabarruk dengan melihatnya. Adapun dia, tidak sampai kecuali dengan sekitar tiga ratus penunggang kuda di pelayannya. Adapun kami, keluar kepada kami sekelompok orang lalu mereka merampasi kami.

Qadhi al-Qudhah Abu Abdullah al-Hariri berkata: Jika bukan Ibnu Taimiyah Syaikhul Islam, lalu siapa?

Kemudian setelah itu Ibnu Taimiyah radhiyallahu anhu berkuasa di Syam hingga dia mencukur kepala-kepala, menjatuhkan hukuman had, memerintahkan pemotongan dan pembunuhan. Kemudian muncul asy-Syaikh Nashr al-Munbiji dan menguasai para penguasa negara di Kairo, dan urusannya tersebar dan menyebar. Dikatakan kepada Ibnu Taimiyah radhiyallahu anhu: Sesungguhnya Nashr ittihadi, dan sesungguhnya dia menolong madzhab Ibnu Arabi dan Ibnu Sabiin. Maka dia menulis kepadanya sekitar tiga ratus baris mengingkarinya. Maka Nashr al-Munbiji berbicara dengan para qadhi Mesir dalam urusannya, dan berkata: Ini orang yang bid’ah, dan aku takut kepada orang-orang dari kejahatannya. Maka para qadhi mempermudah kepada para pembesar memanggilnya ke Kairo, dan agar diadakan majelis untuknya. Maka diadakan untuknya majelis di Damaskus, maka Nashr al-Munbiji tidak ridha dan berkata kepada Ibnu Makhluf: Katakan kepada para pembesar: Sesungguhnya ini ditakutkan atas negara darinya, seperti yang terjadi pada Ibnu Tumart di negeri Maghrib. Maka dia dipanggil dari al-Afram, wakil Damaskus. Diadakan untuknya majelis kedua dan ketiga, karena al-Aqidah al-Hamawiyah. Kemudian masalah itu tenang sampai zaman al-Jasyankir, lalu asy-Syaikh meyakinkannya bahwa Ibnu Taimiyah akan mengeluarkan mereka dari kerajaan dan menetapkan selain mereka. Maka dia dipanggil ke Mesir, maka wakil Syam menolak, dan berkata: Sungguh telah diadakan untuknya dua majelis dengan kehadiranku dan dihadiri para qadhi dan fuqaha, dan tidak muncul padanya sesuatu. Maka utusan berkata kepada wakil Damaskus: Aku penasehat bagimu, dan telah dikatakan sesungguhnya dia mengumpulkan orang-orang padamu, dan mengadakan bai’ah untuk mereka. Maka dia panik dari itu, dan mengirimnya ke Kairo pada tahun lima, dan menulis bersamanya surat kepada Sultan, dan menulis bersamanya berita acara yang di dalamnya tanda tangan sekelompok dari para qadhi dan para pembesar saleh dan ulama dengan bentuk apa yang terjadi di dua majelis, dan bahwa tidak terbukti di dalamnya padanya sesuatu, dan tidak dilarang dari berfatwa. Maka tidak diperhatikan sesuatu dari itu, dan dia dipenjara di Iskandariyah beberapa waktu, kemudian kembali ke Damaskus.

Dan diriwayatkan tentang keberaniannya dalam medan perang, seperti peristiwa Syaqhab dan peristiwa Kisrawan, yang tidak pernah didengar kecuali dari para ksatria tangguh, pahlawan perang, dan pejuang ulung, terkadang ia langsung terjun bertempur, dan terkadang ia memberi semangat untuk berperang.

Ketika Sultan datang ke Syaqhab, ia menyambutnya hingga ke Qarn al-Harrah, dan terus memberinya semangat serta menguatkan hatinya. Ketika Sultan melihat banyaknya pasukan Tartar, ia berkata: “Ya Khalid bin Walid,” lalu Syaikh berkata kepadanya: “Jangan berkata demikian, tetapi katakanlah: Ya Allah, dan mohonlah pertolongan kepada Allah Tuhanmu, dan Esakan Dia, Esakan Dia, niscaya engkau akan ditolong, dan katakanlah: Ya Pemilik Hari Pembalasan, hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” Kemudian ia terus bergantian menghadap kepada Khalifah dan Sultan, menenangkan keduanya dan menguatkan hati mereka hingga datanglah pertolongan Allah dan kemenangan.

Dan diriwayatkan bahwa ia berkata kepada Sultan: “Berteguh hatilah, karena sesungguhnya engkau akan menang.” Lalu salah seorang panglima berkata kepadanya: “Katakanlah: Insya Allah.” Maka ia menjawab: “Insya Allah sebagai penegasan, bukan sebagai pengandaian.” Dan terjadilah sebagaimana yang ia katakan.

Syaikh Al-Muqri Abdullah bin Ahmad bin Said berkata: Aku sakit keras di Damaskus, lalu Ibnu Taimiyah radhiyallahu ‘anhu datang menjengukku dan duduk di dekat kepalaku sementara aku sedang terbaring karena demam dan penyakit. Ia mendoakan kesembuhan untukku, kemudian berkata: “Kesembuhan telah datang.” Dan tidak lama setelah ia berdiri dan meninggalkanku, tiba-tiba kesembuhan benar-benar datang, dan aku sembuh pada saat itu juga.

Dan ia menerima harta setiap tahunnya yang jumlahnya hampir tidak terhitung, lalu ia infakkan semuanya, ribuan dan ratusan, tidak menyentuh satu dirham pun dengan tangannya sendiri, dan tidak membelanjakannya untuk keperluannya sendiri. Ia biasa menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi hak-hak orang, dan merangkul hati orang-orang. Ia tidak menisbatkan kepada seseorang yang berdiskusi dengannya suatu mazhab, dan tidak mengingat-ingat kesalahan orang yang berbicara di hadapannya. Ia tidak menginginkan makanan tertentu, dan tidak menolak makanan apapun, ia makan apa yang tersedia, tidak terganggu kejernihannya, dan tidak bosan dengan pemberian maafnya.

Dan akhir kisahnya adalah bahwa ia berbicara tentang dua masalah: ziarah dan talak, lalu ia ditangkap dan dipenjara di benteng Damaskus dalam sebuah ruangan. Ia wafat di sana dan dishalatkan di benteng, kemudian diusung di atas jari-jari kaum lelaki menuju Masjid Damaskus pada waktu dhuha. Ia dishalatkan di sana, dan dimakamkan di pekuburan kaum sufi. Jenazahnya tidak sampai ke kubur kecuali pada waktu Ashar. Orang-orang keluar dari semua pintu kota, dan mereka adalah makhluk yang tidak terhitung kecuali oleh Allah Ta’ala. Diperkirakan kaum lelaki berjumlah enam puluh ribu dan kaum wanita lima ribu, dan dikatakan lebih dari itu. Banyak orang melihat mimpi baik tentangnya. Ia ditangisi oleh banyak orang dari kalangan Syam, Mesir, Irak, Hijaz, dan orang-orang Arab dari bani Fadhl.

Inilah yang dikemukakan oleh Syihabuddin Ahmad bin Yahya bin Muhammad Al-Kirmani Al-Umari Asy-Syafi’i yang dikenal dengan Ibnu Fadhlullah Ad-Dimasyqi dalam bukunya Masalik al-Abshar fi Akhbar Muluk al-Amsar.

Dan aku nukil dari Ithaf an-Nubala’ al-Muttaqin bi Ihya’ Ma’atsir al-Fuqaha’ wa al-Muhadditstin karya Sayyid Al-Badr Al-Kamil, ulama yang dikenal dengan menghidupkan ilmu-ilmu hingga Hari Kiamat, yang harum namanya di setiap Najd dan Tihamah, yang menegakkan beban iman kemudian istiqamah, yang menyerupai Salafus Shalih dalam sikap dan tanda, yang dimintakan berkah darinya ketika awan enggan menurunkan hujan, yang didahulukan dalam fiqih dan kecerdasannya atas Abu Ya’la dan Ibnu Qudamah, yaitu Sayyidina yang akan disebutkan namanya di akhir dengan penuh kecintaan dan kemuliaan, semoga Allah memberikan keberkahan pada malam dan siangnya, dan menjaganya dari bencana serta memberikan keselamatan.

Al-Hafizh Ibnu Rajab Ad-Dimasyqi berkata: Syaikh – yaitu Taqiyuddin Abu Al-Abbas – tinggal di benteng sejak bulan Sya’ban tahun 726 hingga bulan Dzulqa’dah tahun 728. Kemudian ia sakit selama dua puluh beberapa hari, dan kebanyakan orang tidak mengetahui sakitnya, mereka hanya terkejut dengan kematiannya.

Wafatnya adalah pada waktu sahur malam Senin, 20 Dzulqa’dah tahun 728.

Muadzin benteng menyebutkannya di menara masjid, dan para penjaga mengumumkannya di menara-menara. Orang-orang mendengar berita itu, dan sebagian dari mereka diberitahu dalam mimpinya. Orang-orang bangun pagi, dan berkumpul di sekitar benteng hingga penduduk Al-Ghuthah dan Al-Marj. Pedagang di pasar tidak memasak apa-apa, dan banyak toko yang biasanya dibuka di awal hari tidak dibuka.

Pintu benteng dibuka. Wakil Sultan sedang tidak berada di kota, maka Ash-Shahib datang kepada wakil benteng, memberikan ta’ziyah kepadanya dan duduk bersamanya. Banyak murid-murid Syaikh berkumpul di benteng, menangis dan memuji. Saudaranya, Zainuddin Abdurrahman, memberitahu mereka bahwa ia dan Syaikh telah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak delapan puluh kali sejak masuk benteng, dan memulai khatam yang kedelapan puluh satu. Mereka sampai pada firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang baik di sisi Raja Yang Mahakuasa.” (QS. Al-Qamar: 54-55). Kemudian dua syaikh shalih: Abdullah bin Al-Muhibb Ash-Shalihi dan Az-Zar’i yang buta – dan Syaikh menyukai bacaan mereka – memulai dari surah Ar-Rahman hingga mengkhatamkan Al-Qur’an. Kaum lelaki keluar, dan kaum wanita dari kerabat Syaikh masuk, melihatnya kemudian keluar. Yang tersisa hanya yang memandikannya dan membantu memandikannya, yaitu sekelompok orang dari kalangan shalih dan ahli ilmu yang besar, seperti Al-Mizzi dan lainnya. Belum selesai memandikannya hingga benteng penuh dengan kaum lelaki dan sekitarnya hingga ke masjid. Shalat jenazah dilaksanakan di halaman benteng oleh zahid teladan Muhammad bin Tamam. Orang-orang menangis dengan keras saat itu sambil memuji, berdoa, dan memohonkan rahmat.

Syaikh dikeluarkan menuju Masjid Damaskus pada jam keempat atau sekitarnya. Masjid telah penuh beserta halaman, Kallasah, Bab Al-Barid, Bab As-Sa’at hingga Al-Labadin dan Al-Fawwarah. Jumlah jamaah lebih besar dari jamaah Jumat. Jenazah Syaikh diletakkan di tempat jenazah yang dekat dengan maqsurah, dan prajurit menjaga jenazah dari desakan. Orang-orang duduk tidak dalam shaf, tetapi berdesakan, tidak ada yang bisa duduk dan sujud kecuali dengan susah payah. Orang-orang sangat banyak yang tidak dapat digambarkan.

Ketika muadzin mengumandangkan adzan Zhuhur, iqamah dikumandangkan di menara, berbeda dari kebiasaan, dan mereka shalat Zhuhur, kemudian menshalatkan Syaikh. Imam adalah wakil khatib Alauddin Ibnu Al-Kharrath karena Al-Qazwini sedang berada di negeri Mesir. Kemudian mereka berjalan membawa jenazahnya, dan orang-orang menangis, berdoa, bertahlil, dan menyesali, serta kaum wanita di atas atap-atap dari sana hingga pekuburan berdoa dan menangis juga. Itu adalah hari yang bersejarah, yang tidak pernah terjadi sebelumnya di Damaskus. Tidak ada yang tidak hadir dari penduduk kota dan sekitarnya kecuali sedikit dari orang-orang lemah dan wanita yang bersembunyi. Seseorang berteriak: “Beginilah jenazah Ahlus Sunnah.” Orang-orang menangis sangat keras saat itu.

Jenazah dikeluarkan dari Bab Al-Barid, dan desakan sangat keras. Orang-orang melemparkan sapu tangan dan sorban mereka ke atas usungan. Usungan berada di atas kepala, kadang maju dan kadang mundur. Orang-orang keluar dari semua pintu masjid dalam keadaan berdesakan. Kemudian dari semua pintu kota, tetapi yang terbanyak dari Bab Al-Faraj, dari sana jenazah keluar, dan Bab Al-Faradis, Bab An-Nashr, Bab Al-Jabiyah, dan sangat ramai di Suq Al-Khail.

Yang memimpin shalat jenazah di sana adalah saudaranya Zainuddin Abdurrahman.

Ia dimakamkan pada waktu Ashar atau sedikit sebelumnya di samping saudaranya Syarafuddin Abdullah di pekuburan kaum sufi. Diperkirakan kaum lelaki berjumlah enam puluh ribu atau lebih, hingga dua ratus ribu, dan kaum wanita lima belas ribu. Dengan itu terbukti perkataan Imam Ahmad bin Hanbal: “Antara kami dan ahli bid’ah adalah hari pemakaman.”

Banyak khataman dibacakan untuknya di Ash-Shalihiyah dan kota. Orang-orang terus berziarah ke kuburnya selama berhari-hari, siang dan malam. Banyak mimpi baik yang dilihat tentangnya. Banyak ulama dan penyair meratapkannya dengan qasidah-qasidah banyak dari berbagai negeri dan wilayah yang jauh. Kaum muslimin sangat menyesalkan kehilangannya. Radhiyallahu ‘anhu wa rahimahu wa ghafaralahu.

Shalat ghaib dilaksanakan untuknya di hampir semua negeri Islam yang dekat dan jauh, hingga di Yaman dan Cina. Para musafir memberitakan bahwa di ujung negeri Cina diumumkan untuk shalat jenazah untuknya pada hari Jumat: “Shalat untuk penerjemah Al-Qur’an.”

Al-Hafizh Abu Abdullah Muhammad bin Abdul Hadi telah membuat biografi khusus untuknya dalam satu jilid, demikian juga Abu Hafsh Umar bin Ali Al-Bazzar Al-Baghdadi dalam beberapa karasah.

Selesai apa yang dikatakan oleh Ibnu Rajab Al-Hafizh secara ringkas.

Sayyid Al-Badr dalam Ithaf berkata: Demikian juga Syaikh Mar’i dan menamainya: “Al-Kawakib ad-Durriyyah fi Manaqib Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah” dan ulama Sunnah lainnya.

Demikian juga Imam, hujjah, teladan Syamsuddin Muhammad Adz-Dzahabi, membuat biografi khusus untuknya dan menamainya “Ad-Durrah al-Yatimiyyah fi as-Sirah at-Taimiyyah” sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Al-Wardi dalam tarikhnya.

Demikian juga ulama Shafiyuddin Ahmad Al-Bukhari penghuni Nablus menamainya “Al-Qaul al-Jaliyy fi Manaqib Ibni Taimiyyah al-Hanbali”, dan diberikan pengantar oleh ulama mufti Yerusalem Muhammad At-Taflati dan muhaddits Syam Muhammad Al-Kazbari Asy-Syafi’i – radhiyallahu ‘anhu wa ‘anhum wa ‘anna -.

Dan ia berkata: Di antara karya-karyanya dalam tafsir:

Qaidah tentang isti’adzah. Dan qaidah tentang basmalah dan pembahasan mengeraskan bacaannya. Dan qaidah tentang “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” Dan tulisan besar dari surah Al-Baqarah tentang firman Allah Ta’ala: “Dan di antara manusia ada yang mengatakan: ‘Kami beriman kepada Allah dan hari akhir.'” (QS. Al-Baqarah: 8) tiga karasah. Dan tentang firman-Nya: “Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api.” (QS. Al-Baqarah: 17) dua karasah. Dan tentang firman Allah Ta’ala: “Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu.” (QS. Al-Baqarah: 21) tiga karasah. Dan tentang firman Allah Ta’ala: “Kecuali orang yang menjadikan dirinya bodoh.” (QS. Al-Baqarah: 130) satu karasah. Ayat Kursi dua karasah. Dan tentang firman-Nya: “Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia.” (QS. Ali Imran: 18) enam karasah. Dan tentang firman-Nya: “Apa yang menimpamu berupa kebaikan, maka dari Allah.” (QS. An-Nisa’: 79) sepuluh karasah. Dan selain itu dari surah Ali Imran. Tafsir Al-Ma’idah satu jilid. “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan shalat.” (QS. Al-Ma’idah: 6) tiga karasah. “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam.” (QS. Al-A’raf: 172) tujuh karasah. Surah Yusuf, satu jilid besar. Surah An-Nur, satu jilid besar. Surah Al-‘Alaq dan bahwa ia adalah surah pertama yang turun, satu jilid. Surah Lam Yakun. Surah Al-Kafirun. Surah Tabbat dan Al-Mu’awwidzatain, satu jilid. Surah Al-Ikhlas, satu jilid.

Di antara kitab-kitab ushul: Al-I’tiradhat al-Mishriyyah ‘ala al-Fatwa al-Hamawiyyah, empat jilid. Apa yang ia dikte di penjara sebagai sanggahan terhadap Ta’sis at-Taqdis. Syarah awal Al-Muhasshal, satu jilid. Syarah belasan masalah dari Al-Arba’in karya Imam Fakhruddin. Ta’arudh al-‘Aql wa an-Naql, empat jilid. Jawaban atas apa yang dikemukakan oleh Kamaluddin Ibnu Asy-Syuraisyi, satu jilid. Al-Jawab ash-Shahih, sanggahan kepada Nashrani, empat jilid. Minhaj al-Istiqamah. Syarah aqidah Al-Ashfahani, satu jilid. Syarah awal kitab Al-Ghaznawi tentang ushul ad-din, satu jilid. Ar-Radd ‘ala al-Manthiq, satu jilid. Sanggahan lain yang baik. Ar-Radd ‘ala al-Falasifah, empat jilid. Qaidah tentang qadlaya wahmiyyah. Qaidah tentang qiyas ma la yatanaha. Jawaban ar-Risalah ash-Shafdiyyah. Jawaban dalam menyanggah perkataan sebagian filosof bahwa mukjizat para nabi alaihimussalam adalah kekuatan jiwa, satu jilid besar. Itsbat al-Ma’ad dan sanggahan kepada Ibnu Sina. Syarah risalah Ibnu Abdus tentang perkataan Imam Ahmad radhiyallahu ‘anhu dalam ushul. Tsubut an-Nubuwwat secara akal dan naql serta mukjizat dan karamah, dua jilid. Qaidah tentang kulliyyat, satu jilid kecil. Ar-Risalah al-Qubrushiyyah. Risalah kepada penduduk Thabaristan dan Gilan tentang penciptaan ruh dan cahaya. Ar-Risalah al-Ba’labakiyyah. Al-Azhariyyah. Al-Qadiriyyah. Al-Baghdadiyyah. Jawaban tentang Al-Qur’an dan ucapan. Ibthaal al-Kalam an-Nafsani, membatalkannya dari delapan puluh segi. Jawaban orang yang bersumpah dengan talak tiga bahwa Al-Qur’an adalah huruf dan suara. Itsbat ash-Shifat wa al-‘Uluw wa al-Istiwa’, dua jilid. Al-Marrakusyiyyah. Shifat al-Kamal dan dlabit tentangnya. Jawaban tentang istiwa’ dan membatalkan takwilnya dengan istila’. Jawaban dari yang berkata: Tidak mungkin mengumpulkan antara menetapkan sifat-sifat sesuai zahirnya dengan menafikan tasybih. Jawaban tentang ‘arsy dan langit berbentuk bulat serta sebab hati mengarah ke atas. Jawaban apakah sesuatu berada di arah atas sementara ia bukan jauhar dan bukan ‘aradh itu masuk akal atau mustahil. Jawaban apakah istiwa’ dan nuzul itu hakiki? Dan apakah lazim mazhab adalah mazhab, ia namakan Al-Irbaliyyah. Masalah nuzul dan perbedaannya karena perbedaan waktunya dan perbedaan negeri serta matla’, satu jilid kecil. Syarah hadits nuzul, satu jilid besar.

Penjelasan penyelesaian permasalahan Ibnu Hazm yang muncul pada hadits. Kaidah tentang kedekatan Tuhan kepada hamba-Nya yang beribadah dan berdoa kepada-Nya, satu jilid. Pembahasan tentang bantahan al-Mursyidah. Masalah-masalah Iskandariyah dalam bantahan terhadap paham kesatuan (ittihad) dan hulul. Kandungan Fushush al-Hikam. Jawaban tentang perjumpaan dengan Allah. Jawaban tentang penglihatan para wanita terhadap Tuhan mereka di surga. Risalah Madaniyah dalam penetapan sifat-sifat naqli. Al-Halawuniyah. Jawaban pertanyaan yang disampaikan oleh raja Tatar, satu jilid. Kaidah-kaidah dalam penetapan takdir dan bantahan terhadap Qadariyah dan Jabariyah, satu jilid. Bantahan terhadap Rafidhah dan Imamiyah atas Ibnu Muthahar al-Hilli yang keji, empat jilid. Jawaban tentang hak kehendak Allah Taazza Wajalla untuk menciptakan makhluk dan membuat manusia, apakah karena illat atau tanpa illat. Penjelasan hadits “Maka Adam mengalahkan Musa dalam berargumentasi”. Peringatan orang yang lalai tentang tipu daya orang yang membantah, satu jilid. Melupakan kesulitan dalam perbedaan akidah, satu jilid. Kitab Iman, satu jilid. Penjelasan hadits Jibril tentang iman dan Islam, satu jilid. Keishmahan para nabi alaihimussalam dalam apa yang mereka sampaikan. Masalah tentang akal dan roh. Masalah tentang orang-orang yang didekatkan: apakah Munkar dan Nakir akan menanyai mereka. Masalah apakah jasad disiksa bersama roh di kubur. Bantahan terhadap penduduk Kisrawan, dua jilid. Tentang keutamaan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu anhuma atas yang lain. Kaidah keutamaan Muawiyah radhiyallahu anhu. Dan kaidah keutamaan orang-orang shalih dari manusia atas seluruh jenis makhluk. Ringkasan tentang kekufuran Nushairiyah. Tentang kebolehan memerangi Rafidhah, satu karasah. Tentang kekalnya surga dan neraka serta tentang fananya keduanya, dan Taqiyuddin as-Subki membantahnya dalam hal ini.

Di antara kitab-kitab ushul fikih: Kaidah yang kebanyakannya berisi perkataan para fuqaha, dua jilid. Kaidah bahwa setiap pujian dan celaan dari perkataan dan perbuatan tidak boleh kecuali dengan Kitab dan Sunnah. Keumuman nash-nash untuk hukum-hukum, satu jilid yang ringkas. Kaidah tentang ijma dan bahwa ijma terbagi menjadi tiga bagian. Jawaban tentang ijma dan khabar mutawatir. Kaidah tentang cara mengoreksi hukum-hukum dengan nash dan ijma. Bantahan terhadap orang yang berkata bahwa dalil-dalil lafzhi tidak memberikan keyakinan, tiga karya. Kaidah tentang apa yang disangka sebagai pertentangan antara nash dan ijma. Kritikan terhadap Ibnu Hazm dalam masalah ijma. Kaidah dalam penetapan qiyas. Kaidah tentang ijtihad dan taqlid dalam hukum-hukum. Raf’ul Malam ‘anil A’immah al-A’lam. Kaidah tentang istihsan. Dan tentang sifat umum, ilhaq, dan ithlaq. Kaidah bahwa orang yang salah dalam berijtihad tidak berdosa. Apakah orang awam wajib mengikuti mazhab tertentu. Jawaban tentang meninggalkan taqlid. Tentang orang yang berkata: mazhabku adalah mazhab Nabi shallallahu alaihi wasallam dan aku tidak perlu mengikuti yang empat. Jawaban tentang orang yang belajar fikih dalam satu mazhab lalu menemukan hadits shahih, apakah ia mengamalkannya atau tidak. Jawaban tentang taqlid orang Hanafi kepada Syafi’i dalam menjama’ shalat karena hujan dan witir. Membetulkan imam dalam shalat. Keutamaan kaidah-kaidah Malik dan penduduk Madinah. Keutamaan para imam yang empat dan apa yang menjadi keistimewaan setiap mereka. Kaidah tentang keutamaan Imam Ahmad. Jawaban apakah Nabi shallallahu alaihi wasallam sebelum kerasulan adalah nabi. Jawaban apakah Nabi shallallahu alaihi wasallam mengikuti syariat sebelumnya. Kaidah-kaidah bahwa larangan menunjukkan kerusakan.

Di antara kitab-kitab fikih: Penjelasan al-Muharrar dalam mazhab Ahmad radhiyallahu anhu, dan belum dibersihkan. Penjelasan al-Umdah karya Muwaffaquddin, empat jilid. Jawaban masalah-masalah yang datang dari Ashfahan. Jawaban masalah-masalah yang datang dari ash-Shalt. Masalah-masalah dari Baghdad. Masalah-masalah yang datang dari Zar’. Masalah-masalah yang datang dari Tharablus. Kaidah tentang air dan cairan serta hukum-hukumnya. Masalah-masalah yang datang dari ar-Rahbah. Empat puluh masalah yang diberi gelar ad-Durrah al-Madhiyyah fi Fatawa Ibnu Taimiyyah. Al-Mardaniyyah. Ath-Tharabulusiyyah. Kaidah tentang hadits dua qullah dan tidak menganggapnya marfu’. Kaidah-kaidah tentang istinjak dan bersuci tanah dengan matahari dan angin. Bolehnya istinja dengan batu walaupun ada air. Pembatal-pembatal wudhu. Kaidah-kaidah tentang tidak batalnya wudhu karena menyentuh wanita. Menyebut nama Allah pada wudhu. Kesalahan pendapat yang membolehkan masah pada khuf. Bolehnya masah pada khuf yang robek, kaus kaki, dan kain pembalut. Dan tentang orang yang tidak membayar upah pemandian. Haramnya wanita masuk pemandian tanpa kain penutup. Tentang pemandian dan mandi. Dan celaan terhadap waswas. Bolehnya tawaf bagi wanita haid. Kemudahan ibadah bagi orang-orang yang memiliki dharurat dengan tayammum dan menjama’ dua shalat karena uzur. Makruhnya melafazkan niat dan haramnya mengeraskannya. Al-Kalim ath-Thayyib tentang zikir-zikir. Makruhnya menyiapkan sajadah orang yang shalat sebelum kedatangannya. Tentang dua rakaat yang dikerjakan sebelum Jumat, tentang shalat setelah azan Jumat. Qunut pada Subuh dan Witir. Membunuh orang yang meninggalkan shalat lima waktu dan kekufurannya. Menjama’ dua shalat dalam safar. Tentang apa yang berbeda hukumnya antara safar dan mukim. Ahli bidah: apakah boleh shalat di belakang mereka. Shalat sebagian ahli mazhab di belakang sebagian yang lain. Shalat-shalat yang bid’ah. Haramnya mendengarkan musik. Haramnya seruling. Haramnya bermain catur. Haramnya ganja dan wajibnya hukuman hudud atasnya serta najisnya. Larangan turut serta dalam hari raya Nasrani dan Yahudi dan menyalakan api pada Maulid dan pertengahan Sya’ban dan apa yang dilakukan pada Asyura dari biji-bijian. Kaidah tentang kadar kaffarah dalam sumpah. Dan bahwa wanita yang ditalak tiga tidak halal kecuali dengan pernikahan suami kedua. Penjelasan halal dan haram dalam talak. Jawaban tentang orang yang bersumpah tidak melakukan sesuatu menurut empat mazhab lalu mentalak tiga kali dalam haid. Perbedaan yang jelas antara talak dan sumpah.

Lembaran singkat tentang perbedaan antara talak dan sumpah. Kitab Tahqiq tentang perbedaan antara sumpah dan talak. Talak bid’i tidak jatuh. Masalah-masalah perbedaan antara talak bid’i dan khulu’ dan semacamnya. Manasik haji. Tentang hajinya Nabi shallallahu alaihi wasallam. Tentang umrah Makkiyah. Tentang membeli senjata di Tabuk dan minum sawiq di Aqabah dan makan kurma di Raudhah dan apa yang dipakai orang yang berihram dan ziarah ke Nabi Ibrahim alaihissalam setelah haji. Ziarah Baitul Maqdis secara mutlak. Gunung Libanon seperti gunung-gunung lainnya, tidak ada di dalamnya orang-orang ghaib atau abdal. Semua sumpah kaum muslimin dapat dikaffarahkan.

Kitab-kitab dalam berbagai jenis: Sebagian orang mengumpulkan fatwa-fatwanya di negeri Mesir selama tinggal di sana tujuh tahun dalam berbagai ilmu, maka terkumpul tiga puluh jilid. Pembahasan tentang batalnya futuwah yang disepakati di kalangan awam, dan tidak ada dasarnya yang bersambung kepada Ali radhiyallahu anhu. Mengungkap keadaan para syaikh Ahmadiyyah dan keadaan mereka yang syaithaniyyah. Batalnya apa yang dikatakan oleh keluarga Syaikh Adi. Bintang-bintang: apakah ada pengaruhnya pada saat konjungsi dan oposisi, dan tentang gerhana: apakah diterima ucapan para peramal bintang tentangnya dan tentang melihat hilal, satu jilid. Haramnya jenis-jenis mantra para tukang sihir dengan mantra-mantra yang rumit dan menyihir orang sehat dan sifat-sifat cincin. Membatalkan kimia dan mengharamkannya meskipun benar dan laku. Dan kitab as-Siyasah asy-Syar’iyyah. Dan kitab Tasawuf. Dan kitab al-Istiqamah dalam dua jilid. Dan kitab Talbis al-Jahmiyyah fi Ta’sis Kalamihim al-Bid’iyyah dalam enam jilid. Dan kitab al-Mihnah al-Mishriyyah dalam dua jilid. Dan kitab al-Furqan baina Auliya ar-Rahman wa Auliya asy-Syaithan. Penjelasan dalil tentang batalnya tahlil. Bantahan terhadap al-Ikhna’i dalam masalah ziarah. Bersucinya air kencing hewan yang halal dimakan dagingnya. Ash-Sharim al-Maslul ‘ala Muntaqish ar-Rasul. Kitab Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim li Mukhalafah Ashhabul Jahim. Bantahan terhadap al-Bakri dalam masalah istighatsah. Tahrir dalam masalah Hafir, satu jilid. Dalam masalah pembagian yang ia tulis sebagai sanggahan terhadap al-Khuwayi dalam suatu kejadian yang ia hukumi. Al-Furqan bainal Haqq wal Batil. Inilah apa yang ada dalam al-Ithaf dengan sedikit pendahuluan, penangguhan, dan tambahan.

Dan Ibnu Fadhlullah ad-Dimasyqi menyebutkan: Dan ia adalah orang yang paling tahu tentang sejarah, dan banyak dari karya-karyanya yang belum dibersihkan.

Dan al-Hafizh Ibnu Rajab radhiyallahu anhu berkata: Adapun karya-karyanya, maka lebih terkenal dari untuk disebutkan, dan lebih dikenal dari untuk diingkari. Menyebar seperti matahari di berbagai negeri, dan negara-negara serta kota-kota penuh dengannya, dan telah melampaui batas banyak, sehingga tidak mungkin bagi siapapun menghitungnya, dan tempat ini tidak cukup untuk menghitung yang terkenal darinya atau menyebutkannya.

Dan ash-Shalah al-Kutubi berkata: Dan ia memiliki jawaban-jawaban dan pertanyaan-pertanyaan yang ia ditanya dengan prosa lalu dijawab dengan syair, dan ini bukan tempat untuk menyebutkan itu, dan ada hal-hal yang tidak sampai penyebutannya kepada kami, dan tidak pula nama-namanya kepada kami.

Di antara syairnya atas nama para fakir yang bertelanjang:

Demi Allah, kefakiran kami bukan pilihan … tetapi kefakiran kami karena terpaksa Kelompok kami semuanya pemalas … dan makanan kami tidak ada ukurannya Kau dengar dari kami jika berkumpul … hakikat yang semuanya gagal

Dan sebagian orang dalam meratapnya:

Taqiyuddin ketika mati dunia menjadi … bagimu berteriak dengan tangisan Dan engkau adalah lautan di atas bumi berjalan … lalu lautan itu kembali dari bawah tanah

Dan Faqih Adib Mu’arrikh Zainuddin Umar bin al-Wardi dalam Tarikhnya berkata: Sekelompok orang telah meratapnya dan aku meratapnya dengan ratapan dengan huruf tha’, lalu menyebar dan terkenal, maka para fadil dan ulama dari berbagai negeri memintanya dariku dan ini adalah:

Telah melampaui kehormatannya sekelompok orang jahat … bagi mereka dari taburan permata adalah pengumpulan Taqiyuddin Ahmad sebaik-baik ulama … masalah-masalah pelik dengannya dijahit Ia meninggal sedang ia dipenjara sendirian … dan tidak ada baginya kepada dunia kelapangan Dan seandainya mereka menghadirinya ketika meninggal sungguh mereka akan menemukan … malaikat kenikmatan dengannya telah mengitari Ia meninggal dan tidak ada baginya teman … dan tidak bagi yang sepertinya terbungkus bedong Pemuda dalam ilmunya menjadi unik … dan menyelesaikan masalah-masalah dengannya digantungkan Dan ia kepada takwa menyeru makhluk … dan melarang kelompok yang fasik dan menyimpang Dan jin berpencar dari kegagahannya … dengan nasihat untuk hati-hati yang adalah cambuk Demi Allah apa yang telah diliputi liang … dan demi Allah apa yang ditutupi ubin Mereka dengki kepadanya karena tidak dapat meraih … keutamaannya maka sungguh mereka merencanakan dan menyimpang Dan mereka malas dari jalannya … tetapi dalam menyakitinya bagi mereka ada semangat Dan penjara mutiara dalam kerang adalah kebanggaan … dan di sisi Syaikh dengan penjara ada kegembiraan

Dengan keluarga Bani Hasyim ia mengikuti … maka sungguh mereka merasakan kematian dan tidak kompromi Bani Taimiyyah adalah lalu mereka telah pergi … bintang-bintang ilmu yang menimpanya kejatuhan Tetapi wahai penyesalan para penjaranya … maka sungguh keraguan kesyirikan dengannya dihilangkan Dan wahai gembiranya orang-orang Yahudi dengan apa yang kalian perbuat … maka sungguh lawan senang dengan pemukulan Tidakkah ada di antara kalian seorang laki-laki yang bijak … yang melihat penjaraan imam lalu marah Imam yang tidak ada jabatan yang ia harapkan … dan tidak ada wakaf untuknya atau ribath Dan tidak bersaing dengan kalian dalam mengumpulkan harta … dan tidak pernah ada darinya dengan kalian percampuran Maka mengapa kalian memenjaranya dan mengganggunya … tidakkah untuk balasan menyakitinya ada persyaratan Dan penjara Syaikh tidak kuridhai sepertiku … maka di dalamnya untuk qadar seperti kalian ada penurunan Tidakkah demi Allah seandainya bukan menyembunyikan rahasiaku … dan takut kejahatan tidak terlepas ikatan Dan aku akan mengatakan apa yang ada padaku tetapi … dengan ahli ilmu tidak baik berlebihan Maka tidak ada seorang pun kepada keadilan menyeru … dan setiap dalam hawanya baginya ada keterjeratan Akan nampak tujuan kalian wahai para penjaranya … dan kami kabarkan kepada kalian jika didirikan shirath Maka inilah ia mati dari kalian dan kalian telah tenang … maka berbuatlah apa yang kalian inginkan untuk berbuat Dan halalkanlah dan ikatkanlah tanpa bantahan … atas kalian dan terlipatlah karpet itu

Telah selesai qasidah yang indah ini, yang sangat unggul dalam keahliannya. Aku tidak tahu apakah penyair-penyair Islam dan syariat pernah mengarang yang sepertinya! Kami telah mengakhiri biografi Syaikhul Islam dengan qasidah yang indah dan tersusun rapi ini, dan barangsiapa yang ingin mengetahui dan mengungkap secara sempurna apa yang dikatakan para ulama terkemuka dalam memuji Imam teladan ini, maka hendaklah ia meneliti kitab Ithaf an-Nubala karya Sayyid al-Badr al-Hadi ilaa Daaris Salam, karena sesungguhnya ia telah memenuhi kebutuhan dalam memaparkan pendapat-pendapat dan perkataan-perkataan, dan tidak ada yang berfatwa sementara di Madinah ada Imam Malik, maka semoga Allah membalas dengan sebaik-baik balasan karena ia telah memotong dengan penjelasannya lidah-lidah orang hina yang terjatuh dalam hasil cercaan dan celaan terhadap beliau.

Dan kesejahteraan bagi orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya, yang menyerahkan urusan kepada Allah Sang Raja Yang Maha Mengetahui, dan yang dadanya lapang dengan dzikir yang baik bagi orang-orang yang berbakti lagi mulia.

85 – at-Ta’liqat as-Sanniyyah ‘ala al-Fawa’id al-Bahiyyah

Karya Abdul Hayy al-Laknawi (1304 H)

Beliau adalah Abul Abbas Taqiyuddin Ahmad bin Syihabuddin Abdul Halim bin Majduddin Abdul Salam bin Ubaidillah bin Abdullah bin Abul Qasim bin Taimiyyah al-Harrani kemudian ad-Dimasyqi al-Hanbali, penulis Minhaj as-Sunnah dan karya-karya tulis lainnya yang luas dan bermanfaat serta karangan-karangan yang berfaedah. Ia lahir tahun 661 H dan ayahnya pindah bersamanya dari Harran tahun 667 H. Ia mendengar hadits dari Ibnu Abdul Daim dan al-Qasim al-Arbali dan lain-lainnya. Ia mendalami ilmu fiqih dan menguasainya serta maju dan menulis kitab, mengajar dan berfatwa, melampaui teman-temannya dan menjadi keajaiban dalam kecepatan mengingat dan kekuatan jiwa serta keluasan dalam ilmu manqul dan maqul dan mengetahui madzhab-madzhab salaf dan khalaf. Ia wafat dalam keadaan dipenjara pada bulan Dzulqa’dah tahun 728 H.

Demikian dalam ad-Durar al-Kaminah fi A’yan al-Mi’ah ats-Tsaminah karya al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani, dan di dalamnya terdapat keterangan panjang dalam menyebutkan apa yang terjadi padanya dari kebaikan dan fitnah yang menimpanya serta apa yang digambarkan tentang dirinya oleh para imam terkemuka dan ahli hadits yang mulia, maka hendaklah merujuk kepadanya. Aku telah membaca dari karangan-karangannya al-Fatwa al-Hamawiyyah dan al-Wasitiyyah dan risalah-risalahnya yang lain serta Minhaj as-Sunnah yang merupakan karangan terbesar beliau sebagai bantahan terhadap Minhaj al-Karamah karya al-Hilli asy-Syi’i. Tidak ada yang dikarang dalam bidangnya seperti itu, baik sebelumnya maupun sesudahnya.

Allammah Siddiq Hasan Khan al-Qannuji (1307 H)

86 – Kitab Abjad al-‘Ulum

Syaikhul Islam Taqiyuddin Abul Abbas, Ahmad bin al-Mufti Syihabuddin Abdul Halim bin Syaikhul Islam Majduddin Abul Barakat Abdul Salam bin Abdullah bin Abul Qasim bin Taimiyyah al-Harrani al-Hanbali.

Kelahirannya—semoga Allah merahmatinya dan merahmati kami karenanya—di Harran pada hari Senin tanggal sepuluh Rabiul Awal tahun 661 H. Ayahnya berhijrah bersamanya dan saudara-saudaranya ke Syam dari kezaliman Tatar. Syekh Taqiyuddin mencurahkan perhatiannya pada hadits, menyalin banyak, dan belajar menulis dan berhitung di sekolah, serta menghafal al-Quran. Kemudian ia menekuni fiqih, dan membaca beberapa hari tentang bahasa Arab kepada Ibnu Abdul Qawi, lalu memahaminya. Ia mulai merenungkan kitab Sibawaih hingga memahaminya, dan menguasai ilmu nahwu. Ia menekuni tafsir dengan sungguh-sungguh hingga unggul di dalamnya, dan menguasai ushul fiqih. Semua ini ketika ia masih berusia belasan tahun. Para ulama takjub dengan kecerdasan, kejernihan pikiran, kekuatan hafalan dan pemahamannya yang luar biasa. Ia tumbuh dalam kesucian sempurna, kesopanan, ibadah, dan kesederhanaan dalam pakaian dan makanan.

Ia menghadiri madrasah-madrasah dan majlis-majlis pada masa kecilnya, lalu berdebat dan membungkam orang-orang yang lebih tua, serta mengemukakan hal-hal yang membuat mereka heran. Ia mulai berfatwa ketika usianya kurang dari sembilan belas tahun, dan mulai menyusun dan menulis kitab. Ayahnya wafat ketika ia berusia dua puluh satu tahun. Namanya tersebar ke seluruh dunia dan ketenaran beliau memenuhi penjuru. Ia mulai menafsirkan al-Quran pada hari-hari Jumat di atas kursi dari hafalannya, tanpa terbata-bata. Demikian pula pengajarannya dengan tenang dan suara yang lantang dan fasih. Ia berbicara dalam satu majlis lebih dari dua karrash (setara beberapa halaman), dan menulis fatwa langsung beberapa lembar dengan tulisan cepat yang sangat ringkas dan sulit dibaca.

Syekh Allammah Kamaluddin bin az-Zamlakani, tokoh ulama Syafi’iyyah, menulis tentang Ibnu Taimiyyah: “Apabila ia ditanya tentang salah satu cabang ilmu, orang yang melihat dan mendengar akan mengira bahwa ia tidak mengetahui selain cabang ilmu itu saja, dan memutuskan bahwa tidak ada yang mengetahuinya seperti dirinya. Para fuqaha dari berbagai golongan apabila bergaul dengannya mendapatkan manfaat dari berbagai madzhabnya.”

Ia berkata: “Tidak diketahui bahwa ia berdebat dengan seseorang lalu terputus (kalah) darinya, dan tidaklah ia berbicara tentang suatu ilmu, baik ilmu syariat maupun lainnya, kecuali ia mengungguli ahlinya. Berkumpullah pada dirinya syarat-syarat ijtihad dengan sempurna.” Selesai perkataannya.

Ia memiliki pengetahuan sempurna tentang para perawi, jarh wa ta’dil mereka, dan tingkatan-tingkatan mereka, serta pengetahuan tentang berbagai cabang ilmu hadits, sanad yang tinggi dan rendah, hadits yang sahih dan yang cacat, dengan hafalan matan-matannya yang ia sendirian menguasainya. Ia sangat mengagumkan dalam mengingat dan mengeluarkan dalil-dalil darinya, dan kepada beliau puncak kemampuan dalam merujukkan kepada al-Kutub as-Sittah (enam kitab hadits) dan al-Musnad, sehingga benar jika dikatakan: “Setiap hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyyah, maka itu bukanlah hadits“, tetapi kemampuan menyeluruh hanya milik Allah, namun beliau mengambil darinya dari lautan, sedangkan imam-imam yang lain mengambil dari sungai-sungai kecil.

Adapun tafsir, maka beliau menjadi ahlinya, dan beliau memiliki kekuatan yang mengagumkan dalam mengingat ayat-ayat untuk berdalil. Karena keimamannya yang luar biasa dalam tafsir dan luasnya pengetahuannya, beliau menunjukkan kesalahan banyak perkataan para mufassir. Ia menulis dalam sehari semalam tentang tafsir, atau fiqih, atau kedua ushul (ushul fiqih dan ushul hadits), atau bantahan terhadap para filosof dan orang-orang terdahulu sekitar empat karrash. Tidak mustahil karangan-karangannya sampai sekarang mencapai lima ratus jilid. Beliau memiliki karangan tersendiri dalam berbagai masalah seperti masalah tahlil yang ia beri nama “Bayan ad-Dalil ‘ala Ibtal at-Tahlil” satu jilid dan lainnya.

Beliau memiliki karangan dalam bantahan terhadap Ibnu Muthahhar ar-Rafidhi al-Hilli dalam tiga jilid besar yang ia beri nama “Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah fi Naqd Kalam asy-Syi’ah wal-Qadariyyah”.

Dan karangan dalam bantahan terhadap Ta’sis at-Taqdis karya ar-Razi dalam tujuh jilid.

Dan kitab dalam bantahan terhadap ilmu mantiq, dan kitab al-Muwafaqah baina al-Ma’qul wal-Manqul dalam dua jilid. Sahabat-sahabatnya telah mengumpulkan dari fatwa-fatwanya enam jilid besar. Beliau memiliki keluasan dalam mengetahui madzhab-madzhab sahabat dan tabi’in. Jarang sekali ia berbicara dalam suatu masalah kecuali ia menyebutkan di dalamnya madzhab-madzhab yang empat. Beliau berbeda pendapat dengan empat madzhab dalam masalah-masalah yang terkenal, dan menulis tentangnya serta berdalil dengan al-Quran dan as-Sunnah.

Beliau memiliki karangan yang ia beri nama “as-Siyasah asy-Syar’iyyah fi Ishlah ar-Ra’i war-Ra’iyyah”. Dan kitab “Raf’ al-Malam ‘an al-A’immah al-A’lam”.

Beliau beberapa tahun tidak berfatwa dengan madzhab tertentu, melainkan dengan apa yang ditegakkan dalil menurutnya. Sungguh beliau telah menolong as-Sunnah yang murni dan jalan salaf, serta berdalil untuknya dengan bukti-bukti, muqaddimah-muqaddimah dan perkara-perkara yang tidak pernah didahului orang lain. Beliau mengeluarkan ungkapan-ungkapan yang orang-orang dahulu dan kemudian ragu untuk mengatakannya, dan mereka takut tetapi beliau berani melakukannya, hingga berdiri menentangnya banyak ulama Mesir dan Syam dengan penentangan yang sangat keras. Mereka membid’ahkan dan berdebat dengannya serta melawannya, sedangkan beliau tetap teguh, tidak kompromi dan tidak basa-basi, bahkan mengatakan kebenaran pahit yang dituntun oleh ijtihadnya, ketajaman pikirannya, dan luasnya lingkarannya dalam sunnah dan pendapat-pendapat.

Terjadilah antara beliau dan mereka pertempuran-pertempuran perang dan peristiwa-peristiwa di Syam dan Mesir.

Beliau sangat mengagungkan kehormatan Allah, selalu memohon, banyak meminta pertolongan, kuat dalam tawakal, teguh hati, memiliki wirid-wirid dan dzikir-dzikir yang ia lakukan terus-menerus. Di sisi lain, beliau memiliki para pecinta dari kalangan ulama, orang-orang saleh, tentara, para amir, para pedagang, orang-orang besar, dan seluruh rakyat biasa mencintainya. Dengan keberaniannya diumpamakan perumpamaan-perumpamaan dan sebagian dari mereka menyerupai para pahlawan besar. Sungguh Allah menegakkannya pada masa Ghazan dan beliau menanggung beban urusan dengan dirinya sendiri, bertemu dengan raja dua kali, dengan Khatlu Syah dan Bulay. Qabchaq kagum dengan keberaniannya dan keberaniannya terhadap Mongol.

Qadhi al-Munsyi’ Syihabuddin Abul Abbas Ahmad bin Fadhillah berkata dalam biografinya: “Syekh duduk kepada Sultan Mahmud Ghazan ketika singa-singa berkumpul di hutan-hutannya, hati-hati berjatuhan ke dalam tubuh-tubuhnya, api mendapati kelemahan dalam kobaran apinya dan pedang-pedang takut dalam kemarahannya karena takut kepada binatang buas yang mengintai ini dan Namrudz yang sombong, dan ajal yang tidak dapat ditolak dengan tipu daya orang yang menipu. Maka ia duduk kepadanya dan menunjuk dengan tangannya ke dadanya, menghadapinya dan menolak ke lehernya, dan meminta darinya doa. Maka ia mengangkat tangannya dan berdoa dengan doa yang adil yang kebanyakannya menentangnya, dan Ghazan mengaminkan doanya.”

Ibnu az-Zamlakani menulis pada sebagian karangan Ibnu Taimiyyah bait-bait ini:

Apa yang dikatakan orang-orang yang menggambarkan tentangnya Sifat-sifatnya mulia melebihi perhitungan Ia adalah hujjah Allah yang mengalahkan Ia di antara kita keajaiban zaman Ia adalah mukjizat yang nyata di kalangan makhluk Cahayanya melebihi cahaya fajar

Qadhi Abul Fath bin Daqiq al-‘Id berkata: “Ketika aku bertemu dengan Ibnu Taimiyyah, aku melihat seorang lelaki yang semua ilmu ada di antara dua matanya, ia mengambil apa yang ia inginkan dan meninggalkan apa yang ia inginkan.” Syekh ahli nahwu Abu Hayyan hadir di sisinya dan berkata: “Kedua mataku tidak pernah melihat yang seperti dirinya.” Dan ia berkata tentang beliau secara spontan beberapa bait, di antaranya:

Ibnu Taimiyyah berdiri dalam menolong syariat kita Sebagaimana berdirinya pemimpin Taim ketika Mudhar durhaka Maka ia menampakkan kebenaran ketika jejaknya terhapus Dan memadamkan kejahatan ketika percikan apinya beterbangan Kami menceritakan tentang seorang ulama yang akan datang, maka kau Adalah imam yang telah ditunggu-tunggu

Ibnu al-Wardi berkata dalam Tarikhnya setelah semua itu: “Ia lebih besar dari orang seperti aku yang menunjukkan sifat-sifatnya. Andai aku bersumpah antara Rukun dan Maqam, niscaya aku akan bersumpah: Aku tidak pernah melihat dengan mataku seperti dirinya dan ia pun tidak pernah melihat seperti dirinya sendiri dalam ilmu. Dalam dirinya ada sedikit diplomasi dan ketiadaan kesabaran pada umumnya. Ia bukanlah dari kalangan orang-orang negara dan tidak menempuh jalan-jalan mereka. Para musuhnya membantunya menyerang dirinya sendiri dengan masuknya ia ke dalam masalah-masalah besar yang tidak dapat ditanggung oleh akal anak-anak zaman kita dan ilmu-ilmu mereka, seperti masalah: pengkafiran dalam sumpah dengan talak, dan masalah: bahwa talak tiga tidak jatuh kecuali satu, dan bahwa talak pada waktu haid tidak jatuh.

Ia mengatur dirinya dengan pengaturan yang mengagumkan, maka ia dipenjara beberapa kali di Mesir, Damaskus dan Iskandariah. Ia naik dan turun, mandiri dengan pendapatnya, dan mudah-mudahan itu menjadi penghapus dosa baginya. Betapa banyak ia jatuh dalam kesulitan karena kekuatan jiwanya dan Allah menyelamatkannya. Beliau memiliki nazham (syair) sedang-sedang saja. Ia tidak menikah dan tidak memiliki budak. Ia tidak memiliki gaji kecuali sedikit. Saudaranya yang mengurus kepentingan-kepentingannya. Ia tidak meminta dari mereka makan siang atau makan malam pada umumnya. Dunia tidak ada dalam pikirannya. Ia berkata tentang banyak keadaan para syekh bahwa itu syaitani atau nafsani, maka dilihat dalam mengikuti syekh adalah al-Kitab dan as-Sunnah. Jika demikian, maka keadaannya benar dan kasyafnya Rahmani pada umumnya, dan ia tidaklah maksum. Beliau memiliki beberapa karangan tentang itu yang mencapai beberapa jilid, yang paling mengagumkan. Betapa banyak orang yang sembuh dari kerasukan jin hanya dengan ancamannya kepada jin itu. Terjadi padanya dalam hal itu berbagai kisah. Ia tidak melakukan lebih dari membaca ayat-ayat dan berkata: Jika kau tidak berhenti dari orang yang kerasukan ini, maka kami akan memberlakukan kepadamu hukum syariat, atau kami akan melakukan kepadamu apa yang diridhai Allah dan Rasul-Nya.

Di akhir urusan, mereka mendapatkan untuknya masalah perjalanan untuk ziarah kubur para nabi, dan bahwa perjalanan dan menempuh perjalanan untuk itu dilarang karenanya karena sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: Tidak boleh menempuh perjalanan kecuali ke tiga masjid. Dengan pengakuannya bahwa ziarah tanpa menempuh perjalanan adalah qurbah (ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah). Maka mereka mencela beliau karenanya. Beberapa orang menulis tentangnya bahwa dari pelarangannya terdapat nuansa meremehkan kenabian sehingga ia kafir karenanya.

Beberapa orang berfatwa bahwa beliau salah dengan kesalahan itu, kesalahan para mujtahid yang diampuni. Beberapa orang menyetujuinya dan masalah itu menjadi besar. Maka ia dikembalikan ke ruangan di benteng dan tinggal dua puluh sekian bulan. Urusan berakhir dengan ia dilarang menulis dan membaca. Mereka tidak meninggalkan padanya secarik kertas pun atau tinta. Ia tinggal beberapa bulan seperti itu, maka ia menghadap pada tilawah, tahajud dan ibadah hingga datang kepadanya kematian. Orang-orang tidak terkejut kecuali dengan kabar kematiannya dan mereka tidak tahu akan sakitnya. Orang-orang berdesak-desakan di pintu benteng dan di masjid seperti kerumunan shalat Jumat atau lebih. Orang banyak mengiringinya dari empat pintu negeri. Jenazahnya diangkat di atas kepala-kepala. Ia hidup enam puluh tujuh tahun dan beberapa bulan. Ia berambut hitam, sedikit beruban janggutnya, sedang tingginya, suaranya lantang, putih kulitnya, bermata lebar.

Saya berkata: Seseorang pernah mencela Ibnu Taimiyyah di hadapan Qadhi Ibnu az-Zamlakani ketika ia di Aleppo dan aku hadir. Maka ia berkata: “Dan siapa yang seperti Syekh Taqiyuddin dalam zuhud, kesabaran, keberanian, kedermawanan dan ilmu-ilmunya? Demi Allah, kalau bukan karena ia menentang para salaf, niscaya ia akan bersaing dengan mereka dengan pundak-pundaknya.” Ini adalah ringkasan biografi Syekh yang kebanyakannya dari ad-Durrah al-Yatimah fi as-Sirah at-Taimiyyah karya Imam al-Hafidz Syamsuddin Muhammad adz-Dzahabi rahimahullah.

Ibnu al-Wardi berkata: “Dan pada tahun itu, yaitu tahun 728 H, malam Senin tanggal dua puluh Dzulqa’dah, wafat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah radhiyallahu anhu dalam tahanan di benteng Damaskus. Ia dimandikan dan dikafani lalu dikeluarkan dan dishalatkan pertama kali di benteng oleh Syekh Muhammad bin Tamam, kemudian di Masjid Damaskus setelah zhuhur, dan dikeluarkan dari pintu al-Faraj. Kerumunan sangat padat di pasar al-Khail. Saudaranya menyalatinya di sana. Orang-orang melemparkan sapu tangan dan sorban mereka padanya untuk tabarruk! Orang-orang berdesak-desakan di bawah usungannya. Kaum wanita diperkirakan lima belas ribu, adapun laki-laki, dikatakan: mereka dua ratus ribu. Tangisan sangat banyak atas beliau. Beberapa khataman dilakukan untuknya. Orang-orang terus-menerus berziarah ke kuburnya beberapa hari. Beberapa mimpi baik terlihat tentang beliau. Beberapa orang meratsainya.”

Saya berkata: “Dan aku meratsainya dengan ratsaan dengan huruf tha, maka tersebar dan terkenal. Para ulama dan cendekiawan memintanya dariku dari berbagai negeri, dan ini dia:

Orang-orang jahat menganiaya kehormatannya Mereka mengambil dari mutiara yang berserakan Taqiyuddin Ahmad, sebaik-baik ulama Masalah-masalah yang rumit dijahit dengannya Ia wafat dalam keadaan dipenjara sendirian Dan tidak ada baginya kepada dunia kelapangan Dan kalau mereka menghadirinya ketika ia meninggal, niscaya mereka menemukan Malaikat-malaikat kenikmatan mengelilinginya Ia menyelesaikan ajalnya dan tidak ada baginya bandingan Dan tidak untuk yang sepertinya dibedong kain Pemuda yang dalam ilmunya menjadi unik Dan penyelesaian masalah-masalah bergantung padanya Dan ia menyeru kepada ketakwaan kepada makhluk Dan melarang kelompok yang fasik dan menyimpang Dan jin-jin berpencar karena kekuasaannya Dengan nasihat untuk hati-hati yang adalah cemeti Demi Allah apa yang diliputi liang lahat! Demi Allah apa yang ditutupi tanah! Mereka mendengkinya karena mereka tidak mendapat Kemuliaan-kemuliaannya, maka mereka menipu dan menyimpang Mereka malas dari jalan-jalannya Tetapi dalam menyakitinya mereka memiliki semangat Dan pemenjaraan mutiara dalam kerang adalah kebanggaan Dan bagi Syekh dengan penjara ada kebahagiaan Dengan keluarga Hasyimi ia meneladani Maka mereka merasakan kematian dan tidak mau berkompromi Bani Taimiyyah, mereka adalah Bintang-bintang ilmu yang tertimpa kejatuhan Tetapi wahai penyesalan orang-orang yang memenjarakannya Maka keraguan terhadap kemusyrikan dengannya dihilangkan Dan wahai kegembiraan Yahudi dengan apa yang kalian perbuat Maka sesungguhnya lawan senang dengan musibah Bukankah ada di antara kalian seorang lelaki yang bijak Yang melihat pemenjaraan Imam lalu marah Imam yang tidak mengharapkan kepemimpinan Dan tidak ada wakaf atasnya dan tidak ada riba Dan tidak ikut campur dengan kalian dalam mencari harta Dan tidak dikenal baginya dengan kalian percampuran Maka mengapa kalian memenjaranya dan menyakitinya Bukankah untuk balasan menyakitinya ada syarat Dan penjara Syekh tidak aku ridhai Karena di dalamnya bagi kadar seperti kalian ada penurunan Sungguh demi Allah kalau bukan karena menyimpan rahasiaku Dan ketakutan akan kejahatan, niscaya lepas ikatan Dan aku akan mengatakan apa yang ada padaku, tetapi Bagi ahli ilmu tidak baik berlebihan Maka tidak ada seorang pun yang menyeru kepada keadilan Dan setiap orang dalam hawa nafsunya memiliki ketergelinciran Akan nampak maksud kalian wahai orang-orang yang memenjaranya Dan niat kalian ketika jembatan didirikan Maka ia telah mati dari kalian dan kalian merasa lega Maka ambillah apa yang kalian ingin ambil Dan buatlah halal dan ikatlah tanpa ada yang membantah Atas kalian dan tergulung permadani itu

Saya pernah bertemu dengannya di Damaskus pada tahun 715 Hijriah di masjidnya di daerah Al-Qasha’in. Saya berdiskusi di hadapannya tentang fikih, tafsir, dan nahwu. Beliau kagum dengan pembicaraan saya dan menerima saya dengan baik, dan saya berharap mendapat berkah dari pertemuan itu. Beliau menceritakan kepada saya tentang peristiwanya yang terkenal di Gunung Kisrawan. Saya bermalam di tempatnya suatu malam, dan saya menyaksikan kemuliaan, kedermawanan, serta kecintaannya kepada para ulama, terutama yang datang dari luar kota. Saya salat Tarawih bersamanya di bulan Ramadan dan saya melihat beliau membaca Al-Quran dengan khusyu’, dan saya melihat dalam salatnya kelembutan yang menyentuh hati. Demikian akhir perkataan Imam Zainuddin Umar bin Al-Wardi yang wafat di Halab tahun 749 Hijriah, semoga Allah Ta’ala merahmatinya, dengan ungkapan beliau sendiri.

Saya telah menyebutkan biografi lengkap Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam bahasa Persia dalam kitab saya Ithaf al-Nubala’ al-Muttaqin. Beliau quddisa sirruhu memiliki banyak biografi yang baik yang telah dikumpulkan oleh banyak ulama yang mulia.

Di antaranya adalah kitab Al-Qaul al-Jali dalam biografi Syaikhul Islam Taqiyuddin Ibnu Taimiyah Al-Hanbali karya Sayyid Shafiyu al-Din Ahmad Al-Hanafi Al-Bukhari yang bermukim di Nablus rahimahullah, dan ini adalah sebuah karya kecil yang bagus. Kitab ini diberi pengantar oleh Syaikh Allamah Muhammad Al-Taflani, Mufti Hanafiyah di Yerusalem, dan pengantar dari Syaikh Abdurrahman Al-Syafi’i Al-Dimasyqi yang terkenal dengan Al-Kazbari.

Di antaranya juga kitab Al-Kawakib al-Durriyah fi Manaqib Syaikhil Islam Ibni Taimiyah karya Syaikh Imam Allamah Mar’i.

Di antaranya juga kitab Al-Raddu al-Wafir ‘ala Man Za’ama Anna Man Samma Ibna Taimiyah Syaikha al-Islam Kafir karya Syaikh Imam Al-Hafidz Abu Abdullah Muhammad bin Syamsuddin Abu Bakar bin Nasiruddin Al-Syafi’i Al-Dimasyqi. Kitab ini diberi pengantar oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani, penulis Fath al-Bari, dan pengantar dari Qadhi al-Qudhat Shalih bin Umar Al-Bulqini rahimahullah, dan pengantar dari Syaikh Imam Abdurrahman Al-Tafahni Al-Hanafi, dan pengantar dari Syaikh Allamah Syamsuddin Muhammad bin Ahmad Al-Basathi Al-Maliki, dan pengantar dari Al-Qadhi Al-Fahhamah Nuruddin Mahmud bin Ahmad Al-‘Aini Al-Hanafi, dan ini adalah pengantar terpanjang yang mereka tulis pada tahun 835 Hijriah. Juga ada pengantar dari Imam Allamah Qadhi Qudhah Al-Hanabilah di negeri Mesir, Abu Al-Abbas Ahmad bin Nashrullah bin Ahmad Al-Baghdadi kemudian Al-Mishri yang ditulisnya pada tahun 836 Hijriah di Shalihiyah Damaskus di Dar Al-Hadits Al-Asyrafiyah, dan pengantar dari muhaddits Halab Al-Hafidz Al-Imam Abu Al-Wafa Ibrahim bin Muhammad Al-Na’im Ridhwan bin Muhammad bin Yusuf Al-‘Uqbi Al-Mishri Al-Syafi’i. Kemudian kitab ini juga diberi pengantar oleh ulama lain dari berbagai negeri seperti Al-Qadhi Sirajuddin Al-Himshi Al-Syafi’i dan banyak lagi yang lainnya.

Pada abad kesembilan, muncul seseorang bernama Ala’uddin Muhammad Al-Bukhari di Damaskus yang fanatik terhadap Syaikh dan mengeluarkan fatwa tentang kekafiran beliau dan kekafiran siapa saja yang menyebutnya Syaikhul Islam. Maka Ibnu Nashiruddin menulis bantahan dalam kitab ini dan menghitung orang-orang yang menyebut beliau Syaikhul Islam dari para imam semua mazhab, termasuk di antaranya musuh-musuhnya seperti Al-Subki dan lainnya. Setelah selesai, beliau mengirimkannya ke Mesir dan diberi pengantar oleh para ulama yang telah disebutkan sebelumnya.

Di antara yang memuji Syaikhul Islam dengan qasidah-qasidah panjang yang bagus adalah Syaikh Allamah Ishaq bin Abu Bakar Al-Turki Al-Mishri, ahli fikih dan muhaddits Najmuddin Abu Al-Fadhl, yang awalnya:

Orang bodoh mencela cita-citaku mencapai kedudukan tinggi, aku melihatnya mengendarai kendaraan yang berbeda dengan kendaraanku

Hingga akhir qasidah yang sangat berharga.

Semua pengantar yang telah disebutkan ini merupakan biografi yang bermanfaat dan menunjukkan tingginya kedudukan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam berbagai ilmu pengetahuan.

Banyak sekali yang mengakui keutamaan dan pencapaiannya dalam tingkat ijtihad yang tak terhitung jumlahnya, di antaranya Al-Hafidz Al-Dzahabi, Al-Suyuthi, Al-Sakhawi, Al-Mizzi, Al-Hafidz Ibnu Katsir, Ibnu Daqiq Al-‘Id, Al-Hafidz Fathuddin Al-Ya’muri yang dikenal dengan Ibnu Sayyid Al-Nas, Al-Hafidz Alamuddin Al-Birzali dan selain mereka. Al-Hafidz Ibnu Hajar telah membuat biografinya dalam Ad-Durar al-Kaminah, dan Allamah Syihabuddin bin Fadhlullah Al-‘Umari dalam Masalik al-Abshar, dan Imam Allamah Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Thabaqat-nya, dan Allamah Ibnu Syakir dalam Tarikh-nya, dan Imam Al-‘Alim Al-Hafidz Syamsuddin Ibnu Abdul Hadi dalam Tadzkirat al-Huffadz dengan biografi yang sangat lengkap. Syaikh Al-Fadhil Shalahuddin Al-Kutubi menyebutkan dalam Fawat al-Wafayat dari karya-karya beliau berupa kitab-kitab yang sangat banyak sehingga tidak dapat dimuat di tempat ini.

Guru kami Allamah Al-Qadhi Muhammad bin Ali Al-Syaukani memujinya di akhir Syarh al-Shudur fi Tahrim Raf’i al-Qubur dan juga bersaksi tentang keutamaan, ilmu, luasnya wawasan, dan kesempurnaan wara’-nya. Bahkan musuh-musuhnya pun mengakui hal ini, di antaranya Syaikh Kamaluddin Al-Zamlakani, Syaikh Shadruddin bin Al-Wakil, dan Syaikh Abu Al-Hasan Taqiyuddin Al-Subki yang membantah pendapatnya dalam masalah ziarah.

Bantahan ini telah dibantah oleh penulis kitab Al-Sharim al-Munki ‘ala Nahri Ibni al-Subki. Insya Allah Ta’ala saya akan menyusun biografi lengkap yang mandiri tentang beliau dalam kitab khusus untuk itu, maka cukuplah sampai di sini saja.

87 – Mahkota yang Dihiasi dari Mutiara Warisan Generasi Akhir dan Pertama

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam Ibnu Taimiyah Al-Harrani Al-Dimasyqi Al-Hanbali, Taqiyuddin Abu Al-Abbas.

Al-Syaukani berkata dalam kitab Syarh al-Shudur fi Tahrim Raf’i al-Qubur: Beliau adalah imam yang menguasai mazhab-mazhab salaf dan khalaf umat ini. Selesai.

Ibnu Fadhlullah Al-‘Umari berkata dalam Masalik al-Abshar: Beliau adalah allamah, hafidz, mujtahid, hujjah, mufassir, Syaikhul Islam, keajaiban zaman, pemimpin para zahid.

Ibnu Rajab berkata: Beliau adalah imam faqih, mujtahid, muhaddits, mufassir, ushuli.

Al-Hafidz Syamsuddin bin Abdul Hadi berkata dalam Tadzkirat al-Huffadz: Beliau adalah guru kami, imam rabbani, imam para imam dan mufti umat, lautan ilmu, pemimpin para hafidz, pejuang dalam makna dan lafadz, satu-satunya di zamannya, tokoh terkemuka di masanya, Syaikhul Islam, teladan manusia, allamah zaman, penerjemah Al-Quran, pemimpin para zahid, yang tunggal di antara para ahli ibadah, penghancur para ahli bid’ah, allamah para mujtahid.

Dalam Al-Badr al-Thali’ disebutkan: Syaikhul Islam, imam para imam, mujtahid mutlak, lahir tahun 661 Hijriah.

Ibnu Hajar berkata dalam Ad-Durar: Beliau mempelajari ilmu rijal dan ilal, mendalami fikih, menguasai dan maju, menulis, mengajar dan memberi fatwa, melampaui para sejawatnya, menjadi keajaiban dalam kecepatan mengingat dan kekuatan pikiran, penguasaan yang luas dalam ilmu naqli dan aqli, serta mengetahui mazhab-mazhab salaf dan khalaf. Selesai.

Saya katakan: Saya tidak mengetahui setelah Ibnu Hazm ada yang sepertinya, dan saya tidak menyangka zaman telah menghasilkan antara masa kedua tokoh itu orang yang menyerupai atau mendekati mereka. Al-Dzahabi berkata ringkasannya: Sungguh menakjubkan darinya ketika menyebutkan suatu masalah khilafiyah dengan dalil dan tarjih. Sudah sepatutnya ia berijtihad karena terpenuhinya syarat-syaratnya. Saya tidak pernah melihat yang lebih cepat mengambil ayat-ayat yang menunjukkan masalah yang dibahasnya selain dia, dan tidak ada yang lebih kuat mengingat matan-matan dan menisbahkannya selain dia. Sunnah selalu di hadapan matanya dan di ujung lidahnya dengan ungkapan yang indah. Ia adalah tanda dari tanda-tanda Allah dalam tafsir dan penguasaan yang luas di dalamnya. Katanya: Mungkin fatwa-fatwanya dalam berbagai bidang mencapai tiga ratus jilid bahkan lebih. Ia adalah orang yang berani mengatakan kebenaran, tidak takut celaan orang yang mencela dalam urusan Allah.

Ia berkulit putih, rambutnya dan jenggotnya hitam dengan sedikit uban, rambutnya sampai ke cuping telinga, kedua matanya seperti dua lidah yang berbicara, tinggi sedang, bahu lebar, suara keras, fasih, cepat membaca, kadang pemarah tapi dapat mengendalikannya dengan kesabaran. Katanya: Saya tidak melihat sepertinya dalam ketundukan dan memohon pertolongan kepada Allah dan seringnya menghadap kepada-Nya. Saya tidak meyakini beliau ma’shum, bahkan saya berbeda pendapat dengannya dalam beberapa masalah ushul dan furu’. Karena ia adalah manusia biasa yang kadang panas dalam diskusi, marah, dan keras terhadap lawan, yang menimbulkan permusuhan dalam hati orang. Seandainya bukan karena itu, ia akan menjadi ijma’ (kesepakatan), karena tokoh-tokoh besar tunduk pada ilmunya dan mengakui bahwa ia lautan yang tidak ada pantainya dan harta yang tidak ada tandingannya. Namun mereka mencela beberapa akhlak dan perbuatannya. Setiap orang dapat diambil dan ditinggalkan perkataannya kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Al-Dzahabi berkata: Ia tidak main-main dengan agama dan tidak menyendiri dengan pendapat-pendapat karena keinginan pribadi, tidak berbicara sembarangan tetapi berdalil dengan Al-Quran, hadits, dan qiyas, serta memberikan bukti dan berdebat seperti para imam sebelumnya. Ia mendapat satu pahala atas kesalahannya dan dua pahala atas kebenaran. Selesai.

Al-Syaukani berkata: Dengan semua itu, terjadi keributan dan goncangan dengan orang-orang pada zamannya. Ia mengalami ujian berkali-kali dan dipenjara beberapa kali. Terjadilah fitnah yang banyak. Manusia terbagi dua dalam urusannya: sebagian menganggapnya tidak mencapai kedudukan yang layak bahkan menuduhnya dengan tuduhan-tuduhan besar, dan sebagian lagi berlebihan dalam memujinya dan melampaui batas serta fanatik kepadanya sebagaimana kelompok pertama fanatik menentangnya. Ini adalah kaidah yang berlaku pada setiap ulama yang mendalami ilmu pengetahuan, melampaui orang-orang sezamannya, dan berpegang pada Kitab dan Sunnah, maka pasti akan ditolak oleh orang-orang yang meremehkan, dan terjadi ujian demi ujian. Kemudian urusannya menjadi lebih tinggi dan perkataannya lebih diutamakan, serta dengan goncangan itu ia memiliki lisan yang jujur di kalangan generasi berikutnya. Ilmunya memiliki bagian yang tidak dimiliki orang lain. Demikianlah nasib imam ini. Setelah wafatnya, orang-orang mengenali kedudukannya dan sepakat memujinya kecuali orang yang tidak diperhitungkan. Karya-karyanya tersebar dan pendapat-pendapatnya terkenal. Selesai.

Banyak orang yang membuat biografinya, di antaranya Syihabuddin bin Fadhlullah Al-‘Umari dalam Masalik al-Abshar dan menulis biografi yang baik, panjang, luas, dan lengkap. Di antaranya Allamah Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Thabaqat-nya dan memujinya dengan banyak pujian. Di antaranya Ibnu Syakir penulis Fawat al-Wafayat. Di antaranya Syaikh Mar’i yang menamainya Al-Kawakib al-Durriyah fi Manaqib Syaikhil Islam Ibni Taimiyah. Di antaranya Al-Hafidz Ibnu Abdul Hadi yang membuat biografinya dalam satu jilid tersendiri. Di antaranya Abu Hafsh Umar bin Ali Al-Bazzar Al-Baghdadi yang menulis beberapa kuras dalam biografinya. Di antaranya Allamah Shafiyu al-Din Ahmad Al-Bukhari yang bermukim di Nablus dan menamainya Al-Qaul al-Jali, yang diberi pengantar oleh Allamah Mufti Yerusalem Muhammad Al-Taflalati, dan muhaddits Syam Muhammad Al-Kazbari Al-Syafi’i. Di antaranya Allamah Najmuddin Abu Al-Fadhl yang membacakan qasidah panjang yang bagus dalam pujian dan sanjungannya.

Ibnu Rajab rahimahullah Ta’ala berkata tentangnya: Syaikhul Islam dan puncak para ulama, kemasyhurannya tidak perlu diperpanjang dengan menyebutkan atau memperluas urusannya. Ia menaruh perhatian pada hadits, mendengar Al-Musnad berkali-kali, enam kitab hadits, Mu’jam al-Thabrani al-Kabir, dan kitab-kitab serta juz-juz yang tak terhitung. Ia membaca sendiri dan menulis dengan tangannya sejumlah juz. Ia fokus pada ilmu-ilmu sejak kecil, unggul dalam itu, membaca dalam ilmu bahasa Arab, fokus pada tafsir Al-Quran, menonjol di dalamnya, menguasai ushul fikih, faraid, hisab, mempelajari ilmu kalam dan filsafat, unggul dalam itu atas ahlinya, membantah tokoh-tokoh dan pemimpin mereka. Ia mahir dalam keutamaan-keutamaan ini, layak untuk berfatwa dan mengajar, belum genap usia dua puluh tahun. Ia berfatwa sebelum usia dua puluh juga, diperkuat dengan banyaknya kitab, cepatnya hafalan, kuatnya pemahaman dan pengetahuan, lambatnya lupa, hingga lebih dari satu orang mengatakan bahwa ia tidak pernah menghafalkan sesuatu lalu melupakannya.

Qadhi al-Qudhat Bahaul Din hadir di tempatnya, Syaikh Tajuddin Al-Fazari, Zainuddin bin Al-Marhil, Ibnu Al-Munjaa, dan jamaah lainnya. Ia menyampaikan pelajaran yang agung tentang basmalah – yang terkenal di kalangan orang – dan jamaah yang hadir mengagungkannya serta memujinya dengan banyak pujian.

Al-Dzahabi berkata: Al-Fazari sangat mengagungkannya. Ia menyebutkan sesuatu tentang sifat-sifat Allah di mimbar pada hari Jumat, maka bangkitlah sebagian penentang dan berusaha mencegahnya dari duduk di mimbar, tetapi mereka tidak mampu. Qadhi al-Qudhat Syihabuddin Al-Khuwayi berkata: Saya mengikuti akidah Syaikh Taqiyuddin. Ia ditegur dalam hal itu, maka ia berkata: Karena pikirannya benar dan materi ilmunya banyak, maka ia tidak berkata kecuali yang benar. Syaikh Syarafuddin Al-Maqdisi berkata: Saya mengharap berkah dan doanya, ia adalah sahabat dan saudaraku. Al-Birzali menyebutkan itu dalam Tarikh-nya. Ia terus dalam ketinggian dan bertambahnya ilmu serta kedudukan hingga akhir umurnya.

Adz-Dzahabi berkata: Guru kami dan gurunya Islam, orang yang unik di zamannya dalam hal ilmu dan pengetahuan, keberanian dan kecerdasan, pencerahan ilahi, kedermawanan dan nasihat untuk umat, memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran. Dia mendengar hadits, banyak mencarinya sendiri, menulis, meneliti para perawi dan tingkatan mereka, dan memperoleh apa yang tidak diperoleh orang lain. Dia unggul dalam tafsir Al-Quran, menyelami makna-makna halusnya dengan kemampuan alami yang lancar, dan pikirannya tertuju pada berbagai persoalan yang rumit, serta menggali darinya hal-hal yang belum pernah dicapai orang sebelumnya. Dia unggul dalam hadits dan hafalannya, jarang ada yang menghafal seperti yang dia hafal dari hadits beserta sanad-sanadnya, dengan kemampuannya yang kuat untuk menghadirkannya saat menegakkan dalil. Dia melampaui orang-orang dalam pengetahuan fiqih, perbedaan mazhab, dan fatwa-fatwa para sahabat dan tabiin, sehingga ketika dia berfatwa, dia tidak terikat pada satu mazhab, melainkan pada apa yang ditegakkan dalilnya menurut pandangannya. Dia menguasai bahasa Arab dalam ushul dan furu’, ta’lil dan perbedaan pendapat. Dia mempelajari ilmu-ilmu akal, mengenal pendapat-pendapat para mutakallimin, membantah mereka, menunjukkan kesalahan mereka, dan memperingatkan dari mereka. Dia membela Sunnah dengan hujjah-hujjah yang paling jelas dan bukti-bukti yang paling cemerlang. Dia disakiti di jalan Allah oleh para penentangnya, dan ditakut-takuti dalam membela Sunnah yang murni, hingga Allah meninggikan panji-panjinya, mengumpulkan hati-hati ahli takwa untuk mencintainya dan mendoakan untuknya, mengalahkan musuh-musuhnya, memberi hidayah melalui dia kepada orang-orang dari berbagai agama dan aliran, dan Allah mempengaruhi hati raja-raja dan para penguasa untuk umumnya tunduk kepadanya dan taat kepadanya. Allah menghidupkan melalui dia negeri Syam, bahkan Islam setelah hampir runtuh, dengan meneguhkan para pemimpin ketika pasukan Tatar dan kesombongan mereka datang dengan keangkuhan, orang-orang berprasangka buruk tentang Allah, orang-orang beriman diguncang hebat, dan kemunafikan menampakkan wajahnya. Kebaikan-kebaikannya sangat banyak, dan dia terlalu besar untuk diceritakan perjalanan hidupnya oleh orang seperti saya. Seandainya saya bersumpah di antara Rukun dan Maqam dengan seribu talak, bahwa saya tidak pernah melihat dengan mata kepala saya orang seperti dia, dan bahwa dia tidak pernah melihat orang seperti dirinya, maka saya tidak akan melanggar sumpah.

Saya telah membaca dengan tulisan tangan guru kami, ulama besar Kamaluddin bin Az-Zamalkani, apa yang dia tulis pada tahun sembilan puluhan di bawah nama “Ibnu Taimiyah”: Ketika dia ditanya tentang suatu bidang ilmu, orang yang melihat dan mendengar mengira bahwa dia tidak mengetahui selain itu, dan berkeyakinan bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahuinya seperti dia. Para fuqaha dari berbagai kelompok ketika berkumpul dengannya, mereka mendapatkan manfaat darinya dalam mazhab mereka. Tidak diketahui bahwa dia berdebat dengan seseorang lalu terputus bersamanya. Dia tidak berbicara dalam suatu ilmu – baik dari ilmu-ilmu syariat maupun lainnya – kecuali dia mengungguli ahlinya, dan terkumpul padanya syarat-syarat ijtihad secara sempurna.

Ibnu Rajab berkata: Saya katakan: Dia ditawari jabatan qadhi al-qudhah (ketua para hakim) dan syaikhul syuyukh namun tidak menerima satupun dari itu.

Ibnu Sayyid An-Nas memujinya dengan pujian yang sangat baik. Adz-Dzahabi menulis dalam “Tarikhnya yang besar” biografi yang panjang untuknya, dia berkata di dalamnya: Tidak ada seorang pun di masa ini yang mencapai derajatnya, bahkan mendekatinya pun tidak. Dia menakjubkan dalam kemampuan menghadirkan dan mengeluarkan hujjah-hujjah darinya, dan kepadanya puncak dalam merujukkan kepada Kutub As-Sittah dan Musnad, sehingga benar-benar dapat dikatakan tentangnya: “Setiap hadits yang tidak diketahui Ibnu Taimiyah, maka itu bukan hadits.” Dia berkata: Sungguh dia menakjubkan dalam pengetahuan ilmu hadits. Dia menulis “Al-Hamawiyah” dalam satu majlis, dan itu lebih dari yang disebutkan. Dia memiliki kemampuan yang tinggi dalam berbicara tentang ma’rifah dan ahwal, membedakan antara yang sahih dan yang cacat, yang bengkok dan yang lurus.

Ibnu Az-Zamalkani telah membuat biografi yang agung untuknya dan memujinya dengan pujian yang sangat besar. Abu Hayyan Al-Andalusi memujinya dengan syair yang bagus. Ibnu Daqiq Al-‘Id berkata kepadanya ketika bertemu dengannya dan mendengar perkataannya: Saya tidak mengira bahwa Allah masih menciptakan orang sepertimu.

Ibnu Rajab berkata: Di antara yang saya temukan dalam sebuah buku yang ditulis oleh ulama besar Abu Al-Hasan As-Subki kepada Al-Hafizh Adz-Dzahabi tentang urusannya: Adapun perkataan tuanku tentang Asy-Syaikh, maka hamba ini benar-benar mengakui kebesaran kedudukannya, kedalaman ilmunya, keluasannya dalam ilmu-ilmu syariat dan akal, ketajaman kecerdasannya dan ijtihad-nya, dan pencapaiannya dalam semua itu yang melampaui gambaran. Hamba selalu mengatakan itu, dan kedudukannya dalam diri saya lebih besar dan lebih agung dari itu, dengan apa yang Allah kumpulkan padanya dari kezuhudan, kehati-hatian, dan keberagamaan, serta pembelaan terhadap kebenaran dan berdiri untuknya tanpa tujuan selain itu, dan jalannya mengikuti jalan salaf, dan mengambil dari itu dengan cara yang paling sempurna, dan keunikan orang seperti dia di zaman ini, bahkan di berbagai zaman. Selesai.

Saya katakan: Abu Al-Hasan As-Subki – dia adalah As-Subki Al-Kabir – sebagaimana dinyatakan dengan jelas oleh Ibnu Muflih dalam kitab thabaqatnya. Sebagian orang bodoh berkata: Ilmunya melebihi akalnya – mereka menunjuk dengan itu kepada sedikitnya pemahamannya. Seakan-akan orang yang mengatakan ucapan ini tidak mengetahui apa yang dipuji oleh banyak sekali imam-imam besar tentangnya berupa kecerdasan, kekuatan pemahaman, pencapaiannya dalam ilmu-ilmu akal yang sangat tinggi, dan kezuhudan. Maka di mana ini dibandingkan dengan itu? Tetapi barangsiapa yang Allah butakan mata hatinya, maka dia melihat matahari itu gelap. Ini As-Subki yang memusuhinya dan membantahnya telah mengakui untuknya dalam suratnya ini dengan apa yang dia akui. Dan alangkah baiknya yang dikatakan: Dan apabila datang kepadamu celaan dari orang yang kurang, maka itu adalah kesaksian bagiku bahwa aku sempurna.

Al-Hafizh Al-Mizzi sangat berlebihan dalam mengagungkan Asy-Syaikh dan memujinya, hingga dia berkata: Tidak pernah terlihat orang seperti dia sejak empat ratus tahun. Ibnu Rajab berkata: Sampai kepada saya dari jalan yang sahih dari Ibnu Az-Zamalkani bahwa dia ditanya tentang Asy-Syaikh, lalu dia berkata: “Kami tidak melihat sejak lima ratus tahun atau empat ratus tahun – keragu-raguan dari perawi, dan prasangka kuatnya: bahwa dia berkata: sejak lima ratus tahun – orang yang lebih hafal darinya.” Demikian juga para syaikh yang ahli ma’rifah seperti Al-Qudwah Muhammad bin Qawam, dan diriwayatkan bahwa dia berkata: Ma’rifah kami tidak selamat kecuali dengan perantaraan Ibnu Taimiyah. Asy-Syaikh Imaduddin Al-Wasithi sangat mengagungkannya, dan berguru kepadanya, meskipun dia lebih tua darinya. Dia berkata: Dia telah mendekati kedudukan para imam besar, dan tegaknya dalam sebagian urusan sesuai dengan kedudukan orang-orang shiddiq.

Dia menulis surat kepada para sahabat khusus Asy-Syaikh dan mewasiatkan kepada mereka untuk mengagungkannya dan menghormatinya, memberitahu mereka tentang hak-haknya, dan menyebutkan di dalamnya: Bahwa dia telah berkeliling ke kota-kota besar negeri Islam dan tidak melihat di dalamnya orang seperti Asy-Syaikh dalam amal, ilmu, keadaan, akhlak, ittiba’, kedermawanan, kelembutan terhadap dirinya sendiri, dan berdiri untuk hak Allah ketika kemungkaran-Nya dilanggar. Dia bersumpah tentang itu dengan nama Allah tiga kali, kemudian berkata: Orang yang paling jujur akalnya, paling sahih ilmunya dan tekadnya, paling tajam dan tinggi dalam membela kebenaran dan berdiri untuknya, paling dermawan tangannya, dan paling sempurna dalam mengikuti Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami tidak melihat di zaman kami ini orang yang menampakkan kenabian Muhammad dan sunnah-sunnahnya dari ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatannya kecuali orang ini, sehingga hati yang sehat bersaksi bahwa inilah ittiba’ yang sejati.

Kelompok-kelompok dari para imam hadits, para hafizh mereka dan para fuqaha mereka: Mereka mencintai Asy-Syaikh dan mengagungkannya, namun mereka tidak menyukai dia mendalami bersama ahli kalam dan filosof, sebagaimana jalan para imam hadits terdahulu seperti Asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Abu Ubaid dan semisalnya. Demikian juga banyak dari para fuqaha dan lainnya tidak menyukai dia menyendiri dalam sebagian masalah-masalah syudzudz yang diingkari oleh salaf terhadap orang yang menyendiri dengan masalah tersebut.

Saya katakan: Pengingkaran ini dari mereka kepadanya adalah pengingkaran orang jahil kepada orang alim, dan seseorang adalah musuh terhadap apa yang dia jahili. Apa yang Syaikhul Islam sendirikan dari sebagian masalah telah ditetapkan oleh sejumlah ahli ilmu dengan dalil-dalil yang sahih, muhkam, dan tetap, dan mereka membela kedudukannya yang tinggi dari berbagai kritikan itu. Karena itu Adz-Dzahabi berkata: Kebanyakan kritikannya terhadap orang-orang fadhal dan para zahid adalah benar, dan sebagiannya dia adalah mujtahid, dan dia tidak mengkafirkan seorang pun kecuali setelah tegaknya hujjah kepadanya. Dia berkata: Sungguh dia telah membela Sunnah yang murni dan jalan salafiyah, dan berdalil dengan bukti-bukti dan premis-premis, serta hal-hal yang tidak pernah didahului kepadanya. Dia melontarkan ungkapan-ungkapan yang enggan dan takut dilakukan oleh orang-orang terdahulu dan kemudian, namun dia berani melakukannya hingga banyak ulama Mesir dan Syam bangkit menentangnya dengan penentangan yang tidak ada yang melebihinya. Mereka membid’ahkannya, berdebat dengannya, dan membangkang kepadanya, sedangkan dia tetap teguh tidak berkompromi dalam keadaan apapun dan tidak bersikap lunak, bahkan mengatakan kebenaran yang pahit yang dituntun kepadanya oleh ijtihadnya, ketajaman pikirannya, kekuatan akalnya, pemahamannya, dan keluasan lingkupnya dalam sunnah-sunnah dan pendapat-pendapat, dengan apa yang terkenal tentangnya berupa kehati-hatian, kesempurnaan pemikiran, kecepatan pemahaman, takut kepada Allah, dan pengagungan terhadap kehormatan-kehormatan Allah. Maka terjadilah antara dia dan mereka pertempuran-pertempuran dan peperangan-peperangan di Syam dan Mesir. Berapa kali mereka memanah dia dari satu busur, namun Allah menyelamatkannya, karena dia selalu bermunajat, banyak meminta pertolongan, kuat tawakkalnya, dan teguh keberaniannya. Dia memiliki di pihak lain orang-orang yang mencintainya dari kalangan ulama dan orang-orang saleh, dari kalangan tentara dan para penguasa, dari kalangan pedagang dan orang-orang besar, dan seluruh masyarakat awam mencintainya, karena dia berdiri untuk kepentingan mereka siang dan malam dengan lisannya dan penanya.

Adapun keberaniannya: Maka dengannya dijadikan perumpamaan, dan dengan sebagiannya para pembesar dan para pahlawan meneladani. Sungguh Allah menegakkannya dalam peristiwa Ghazan, dan dia mengambil tanggung jawab perkara itu sendiri, dia berdiri dan duduk, naik dan keluar, bertemu dengan raja dua kali, dan Qipchaq takjub dengan keberaniannya dan keberaniannya menghadapi Mongol. Dia memiliki ketegasan yang kuat yang menguasainya dalam perdebatan, hingga seolah-olah dia adalah singa perang. Dia terlalu besar untuk disebutkan sifat-sifatnya.

Dia memiliki sedikit syair yang sedang-sedang saja. Dia tidak menikah dan tidak memiliki budak perempuan, dan tidak memiliki penghasilan kecuali sedikit. Saudaranya yang mengurus kepentingannya, dan dia tidak meminta dari mereka makan pagi atau makan malam dalam kebanyakan waktu. Saya tidak melihat di dunia orang yang lebih mulia darinya dan lebih tidak peduli darinya terhadap dinar dan dirham, dia tidak menyebutnya dan saya kira itu tidak beredar dalam pikirannya. Pada dirinya ada muruwah (kemuliaan), berdiri bersama teman-temannya, dan berupaya untuk kepentingan mereka. Dia adalah orang fakir yang tidak memiliki harta. Pakaiannya seperti para fuqaha biasa, dan dia tidak pernah membungkuk kepada siapapun, melainkan hanya memberi salam, berjabat tangan, dan tersenyum.

Adapun ujian-ujiannya sangat banyak, dan penjelasannya sangat panjang, di antaranya: Dia diuji pada tahun 705 dengan pertanyaan tentang akidahnya – atas perintah Sultan – lalu wakilnya mengumpulkan para qadhi dan ulama di istana, dan menghadirkan dari rumahnya “Al-Aqidah Al-Wasithiyah”. Mereka membacanya dalam tiga majlis, meneliti dengannya dan berdebat dengannya, dan kesepakatan tercapai setelah itu bahwa ini adalah akidah sunni salafi, maka di antara mereka ada yang mengatakan itu dengan sukarela dan di antara mereka ada yang mengatakannya dengan terpaksa. Setelah itu datang surat dari Sultan yang isinya: Sesungguhnya kami hanya bermaksud membebaskan Asy-Syaikh, dan telah jelas bagi kami bahwa dia berada di atas akidah salaf.

Di akhir urusan: Mereka mengatur tipu daya terhadapnya dalam masalah larangan bepergian ke kubur-kubur para nabi dan orang-orang saleh, dan mereka menghukumnya dari itu dengan merendahkan para nabi dan itu adalah kekufuran. Sekelompok ahli hawa nafsu berfatwa tentang itu – mereka delapan belas orang – pemimpin mereka adalah Qadhi Al-Ikhna’i Al-Maliki. Dia dipenjara di benteng Damaskus selama dua tahun lebih dan di sana dia meninggal – rahimahullah ta’ala. Sejumlah ulama Baghdad sependapat dengannya, demikian juga kedua putra Abu Al-Walid – syaikh Malikiyah di Damaskus – berfatwa: Bahwa tidak ada alasan untuk keberatan kepadanya dalam apa yang dia katakan sama sekali, dan bahwa dia telah menukilkan perbedaan pendapat ulama dalam masalah tersebut, dan merajihkan salah satu dari dua pendapat.

Al-Hafizh Ibnu Qayyim berkata: Saya mendengar Ibnu Taimiyah—semoga Allah menguduskan ruhnya dan menerangi kuburannya—berkata di dalam penjara: “Sesungguhnya di dunia ini ada surga, barangsiapa tidak memasukinya maka ia tidak akan masuk surga akhirat.” Ia berkata: Dan ia pernah berkata kepadaku: “Apa yang dapat dilakukan musuh-musuhku terhadapku? Surgaku ada di hatiku, dan tamanku ada di dadaku. Ke manapun aku pergi ia bersamaku, tidak pernah meninggalkanku. Penjaraku adalah kesunyian, kematianku adalah syahid, dan pengusiranku dari negeriku adalah perjalanan.”

Dan ketika ia berada di penjara ia berkata: “Seandainya aku berikan emas sepenuh benteng ini tidak akan sebanding dengan rasa syukurku atas nikmat ini”—atau ia berkata: “tidak akan cukup untuk membalas apa yang telah mereka sebabkan bagiku dari kebaikan”—atau semacam itu.

Dan ia pernah berkata: “Orang yang terpenjara adalah orang yang hatinya terpenjara dari Rabbnya, dan orang yang tertawan adalah orang yang ditawan oleh hawa nafsunya.” Dan ketika ia masuk ke benteng dan berada di dalam temboknya, ia memandangnya dan berkata: “Dengan tembok yang padanya ada pintu, bagian dalamnya mengandung rahmat dan bagian luarnya dari arah depannya ada azab. Mereka berseru kepada mereka.” (QS. Al-Hadid: 13). Demikian kesimpulannya.

Ibnu Rajab berkata: Adapun karya-karyanya maka ia lebih masyhur daripada disebutkan dan lebih dikenal daripada diingkari, ia berjalan seperti matahari di berbagai negeri, dan negeri-negeri serta kota-kota dipenuhi olehnya. Ia telah melampaui batas banyaknya sehingga tidak mungkin seseorang menghitungnya, dan tempat ini tidak cukup untuk menghitung yang dikenal darinya atau menyebutkannya. Kemudian ia menyebutkan segelintir dari nama-nama karya besarnya, lalu menyebutkan bagian dari karya-karya tunggal dan langkanya, di antaranya: bahwa ia memilih hilangnya hadats dengan air yang diperas seperti air mawar dan sejenisnya.

Dan ia memilih bolehnya mengusap sandal dan kedua kaki, dan setiap apa yang memerlukan dalam melepasnya dari kaki dengan memperlakukannya dengan tangan atau dengan kaki yang lain, maka menurutnya boleh mengusapnya bersama kedua kaki.

Dan ia memilih bahwa mengusap khuf tidak dibatasi waktu ketika ada kebutuhan seperti musafir yang mengendarai pos dan sejenisnya, dan ia melakukan itu dalam perjalanannya ke negeri Mesir dengan kuda pos, dan dibatasi waktu ketika memungkinkan melepasnya dan mudah.

Dan ia memilih bolehnya mengusap perban dan sejenisnya, dan ia memilih bolehnya tayamum karena khawatir habis waktu bagi orang yang tidak uzur, seperti orang yang menunda salat dengan sengaja hingga waktunya menyempit, dan seperti orang yang khawatir kehilangan Jumat dan dua hari raya padahal ia berhadats, adapun orang yang bangun atau ingat di akhir waktu salat maka ia bersuci dengan air dan salat karena waktunya masih luas baginya.

Dan ia memilih bahwa wanita jika tidak memungkinkan baginya mandi di rumah dan sulit baginya turun ke pemandian dan berulang kali maka ia bertayamum dan salat.

Dan ia memilih bahwa tidak ada batas minimal haid dan maksimalnya, dan tidak ada batas minimal suci antara dua haid dan usia putus haid, dan bahwa itu kembali kepada apa yang diketahui setiap wanita dari dirinya sendiri.

Dan ia memilih bahwa orang yang meninggalkan salat dengan sengaja tidak wajib mengqadha dan tidak disyariatkan baginya, tetapi ia memperbanyak salat sunah, dan bahwa qashar boleh dalam safar pendek dan panjangnya, dan bahwa sujud tilawah tidak disyaratkan baginya bersuci.

Saya berkata: Dan masalah-masalah ini kebanyakannya dibuktikan di tempat-tempatnya dengan dalil-dalil sahih yang menunjukkannya, dan telah berpendapat dengannya para ulama dari dahulu hingga sekarang.

Kemudian Ibnu Rajab menyebutkan wafatnya semoga Allah merahmatinya dan berkata: Syaikh sakit di benteng selama dua puluh sekian hari, dan kebanyakan orang tidak mengetahui sakitnya, dan tidak mengejutkan mereka kecuali kematiannya, dan wafatnya adalah pada fajar hari Senin tanggal dua puluh Dzulqadah tahun 728 H. Muazin benteng menyebutkannya di atas menara masjid, dan penjaga membicarakannya di menara-menara, maka orang-orang mendengar tentang itu, dan sebagian mereka diberitahu dalam tidurnya. Dan orang-orang bangun pagi berkumpul di sekitar benteng hingga penduduk Ghouthah dan Marj, dan tidak ada yang memasak di pasar-pasar sesuatu pun, dan tidak membuka banyak toko yang biasanya dibuka di awal hari. Dan pintu benteng dibuka, berkumpullah orang banyak dari para sahabatnya menangis dan memuji, dan saudaranya mengabarkan bahwa sejak ia masuk benteng ia telah mengkhatamkan delapan puluh kali, dan berakhir pada firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam taman-taman dan sungai-sungai. Di tempat kedudukan yang benar di sisi Raja Yang Maha Kuasa.” (QS. Al-Qamar: 54-55).

Menshalatkannya adalah zahid teladan Muhammad bin Tamam, dan dikeluarkan ke masjid Damaskus, dan kerumunan orang lebih besar dari kerumunan Jumat, kemudian mereka berjalan dengannya, dan orang-orang menangis, memuji, bertahlil dan menyesal, dan para wanita di atas atap-atap, dan itu adalah hari yang disaksikan, tidak pernah terjadi di Damaskus yang seperti itu. Dan tidak ada yang tidak ikut dari penduduk negeri dan daerahnya kecuali orang-orang lemah dan wanita yang berpurdah. Dan berserulah yang berseru: “Beginilah jenazah Ahlus Sunnah.” Maka orang-orang menangis dengan tangisan yang banyak ketika itu. Dan bertambah kerumunan, dan orang-orang melemparkan sapu tangan dan sorban mereka ke keranda, dan keranda berada di atas kepala-kepala, maju terkadang dan mundur yang lain. Dan orang-orang keluar dari semua pintu-pintu kota, dan dikubur waktu ashar. Dan diperkirakan laki-laki enam puluh ribu sampai seratus ribu bahkan lebih, dan wanita lima belas ribu. Dan dengan itu tampak perkataan Imam Ahmad: “Antara kami dan ahli bid’ah adalah hari jenazah.” Dan dikhatatamkan untuknya khataman yang banyak di Shalihiyah dan kota, dan orang-orang datang ke ziarah kuburnya berhari-hari banyaknya, siang dan malam. Dilihat untuknya mimpi-mimpi baik yang banyak, dan meratapkannya banyak ulama dan penyair dengan syair-syair banyak dari berbagai negeri dan daerah-daerah yang berjauhan. Dan kaum muslimin menyesal atas kehilangannya, dan dishalatkan ghaib di kebanyakan negeri Islam yang dekat dan jauh, hingga di Yaman dan Cina. Dan para musafir mengabarkan bahwa diseru di ujung Cina untuk menshalatkannya pada hari Jumat: “Salat atas penerjemah Al-Quran.”

Ibnu Rajab berkata: Dan sungguh Al-Hafizh Muhammad bin Abdul Hadi telah mengkhususkan untuknya biografi dalam satu jilid, demikian juga Abu Hafsh Umar bin Ali Al-Baghdadi Al-Bazzar dalam beberapa kuras. Dan sesungguhnya kami menyebutkannya di sini secara ringkas, dan sungguh syaikh telah banyak memberitakan hadits, dan banyak orang mendengar darinya dari para hafizh dan imam hadits, dan Ibnul Wani mengeluarkan untuknya empat puluh hadits yang diriwayatkannya. Selesai.

Saya berkata: Dan sungguh aku meringkas biografi ini dari biografi ringkas yang disebutkan Ibnu Rajab dengan menambahkan beberapa lafazh padanya. Maka jika engkau ingin melihat keseluruhannya maka hendaklah engkau melihat jilid-jilid besar dan biografi-biografi lengkap yang ditulis para imam besar secara mandiri tersendiri. Dan Allah mengkhususkan rahmatNya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memasukkan siapa yang Dia kehendaki ke dalam rahmatNya.

Disebutkan dalam Ar-Raudhah Al-Ghanna: Ia lahir tahun 661 H, dan berfatwa, mengajar, dan menyusun karya-karya indah yang banyak. Dan terjadi padanya berbagai ujian hingga ia wafat dan dikubur di pemakaman kaum sufi. Selesai.

Dan Al-Muallim Butrus Al-Bustani berkata dalam Dairah Al-Ma’arif: Dan ia semoga Allah merahmatinya adalah pedang terhunus atas para penyelisih, dan duri di tenggorokan ahli hawa nafsu dan ahli bid’ah. Negeri-negeri dipenuhi dengan penyebutannya, dan masa-masa kikir dengan yang sepertinya. Dan ia memiliki karya-karya, tulisan-tulisan, kaidah-kaidah, fatwa-fatwa, jawaban-jawaban, risalah-risalah dan catatan yang banyak. Selesai. Dan ia menyebutkan segelintir darinya, kemudian berkata: Maka ketika penduduk negerinya melihat apa yang ia miliki dari ketenaran dan ketinggian kedudukan, merayaplah ke hati mereka iri hati. Dan tekun ahli perdebatan di antara mereka dengan apa yang dikritik padanya dari urusan akidah. Maka mereka menghafalkan tentang itu darinya perkataan, mereka meluaskan celaan terhadapnya, dan melepaskan panah untuk membid’ahkannya. Dan mereka mengklaim bahwa ia menyelisihi jalan mereka dan memecah kelompok mereka. Maka ia berdebat dengan mereka dan mereka berdebat dengannya, sebagian memutuskan hubungan dan mereka memutuskan hubungan dengannya. Kemudian berdebat dengannya kelompok lain yang menisbatkan diri dari kefakiran kepada jalan, dan mereka mengklaim bahwa mereka berada pada rahasia yang paling halus darinya dan hakikat yang paling jelas. Maka ia membuka jalan-jalan itu dan menyebutkan baginya—menurut klaimnya—kerusakan. Maka kembali kepada kelompok pertama yang berdebat dengannya dan meminta bantuan kepada pemilik dendam terhadapnya dari yang memutuskan hubungan dengannya. Maka mereka menyampaikan kepada para penguasa urusannya, dan setiap dari mereka menggunakan dalam kekufurannya pikirannya. Maka mereka menyusun berita acara dan menghasut para pemimpin kecil untuk berusaha dengannya di antara para pembesar. Ia berkata: Maka Allah mengembalikan tipu daya setiap orang ke tenggorokannya dan menyelamatkannya. Dan Allah menguasai urusanNya. Selesai kesimpulannya.

88 – Jala’ul Ainain fi Muhakamah Al-Ahmadain

Karya Syaikh Nu’man Khairuddin bin Mahmud Al-Alusi (1317 H)

Ia adalah Syaikhul Islam, hafizh umat manusia, mujtahid dalam hukum-hukum: Taqiyuddin Abu Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam bin Abdullah bin Abul Qasim bin Al-Khidhr bin Muhammad Ibnu Taimiyah Al-Harrani Al-Hanbali. Dan dalam Tarikh Irbil: bahwa kakeknya ditanya tentang nama Taimiyah, maka ia menjawab: Bahwa kakeknya haji dan istrinya hamil. Maka ketika berada di Taima’—sebuah daerah dekat Tabuk—ia melihat seorang budak perempuan cantik wajahnya telah keluar dari tenda. Maka ketika ia kembali ia menemukan istrinya telah melahirkan seorang bayi perempuan. Maka ketika mereka mengangkatnya kepadanya ia berkata: “Ya Taimiyah, ya Taimiyah,” maksudnya bahwa ia menyerupai yang ia lihat di Taima’. Maka dinamai dengannya. Selesai.

Dan sungguh ia lahir di Harran pada hari Senin tanggal sepuluh Rabiul Awal tahun enam ratus enam puluh satu. Dan ayahnya membawa ia dan kedua saudaranya ketika Tartar menguasai negeri-negeri ke Damaskus tahun enam ratus enam puluh tujuh.

Maka ia mengambil fikih dan ushul dari ayahnya, dan mendengar dari banyak orang, di antaranya Syaikh Syamsuddin, Syaikh Zainuddin bin Al-Munja, dan Al-Majd bin Asakir.

Dan ia membaca bahasa Arab dari Ibnu Abdul Qawi, kemudian mengambil kitab Sibawaihi lalu merenungkannya dan memahaminya.

Dan ia menaruh perhatian pada hadits, dan mendengar enam kitab dan Musnad berkali-kali.

Dan ia menghadapi tafsir Al-Quran Al-Karim lalu menguasainya, dan menguasai ushul fikih, faraid, hisab, aljabar dan muqabalah, dan selain itu dari seluruh ilmu. Dan ia melihat ilmu kalam dan filsafat, dan menguasai itu atas ahlinya, dan membantah pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar mereka. Dan ia mahir dalam keutamaan-keutamaan ini, dan layak untuk berfatwa dan mengajar sedangkan usianya belum mencapai dua puluh tahun. Dan ia minum banyak dalam ilmu hadits dan menghafalnya hingga mereka berkata: bahwa setiap hadits yang tidak diketahui Ibnu Taimiyah maka ia bukanlah hadits.

Dan Allah Ta’ala membantunya dengan banyaknya kitab, cepatnya hafalan, kuatnya pemahaman dan lambatnya lupa, hingga lebih dari satu orang berkata: bahwa ia tidak pernah menghafal sesuatu lalu melupakannya.

Dan ia mengarang dalam kebanyakan ilmu karangan-karangan yang banyak, dan menyusun karya-karya bermanfaat dalam tafsir, fikih, ushul, hadits, kalam dan bantahan terhadap kelompok-kelompok sesat dan ahli bid’ah. Dan ia memiliki fatwa-fatwa terperinci dan penyelesaian masalah-masalah rumit.

Dan di antara karya-karyanya yang mencapai tiga ratus karya: Tarudh Al-Aql wan-Naql empat jilid, Al-Jawab Ash-Shahih—bantahan terhadap Nasrani—empat jilid, Syarh Aqidah Al-Ashfahani satu jilid, Ar-Radd ‘alal Falasifah empat jilid, kitab Itsbat Al-Ma’ad dan bantahan terhadap Ibnu Sina, kitab Tsubut An-Nubuwwat Aqlan wa Naqlan wal Mu’jizat wal Karamat, kitab Itsbat Ash-Shifat satu jilid, kitab Al-Arsy, kitab Raf’ul Malam ‘anil A’immah Al-A’lam, kitab Ar-Radd ‘alal Imamiyah—bantahan terhadap Ibnul Muthahhir Al-Hilli—dua jilid besar, kitab Ar-Radd ‘alal Qadariyah, kitab Ar-Radd ‘alal Ittihadiyah wal Hululiyah, kitab Fi Fadha’il Abi Bakr wa Umar radhiyallahu anhuma ‘ala ghairihima, kitab Tafdlil Al-A’immah Al-Arba’ah, kitab Syarh Al-Umdah dalam fikih empat jilid, kitab Ad-Durrah Al-Mudhiyyah fi Fatawa Ibnu Taimiyah, kitab Al-Manasik Al-Kubra wash-Shughra, Ash-Sharim Al-Maslul ‘ala man Sabbar Rasul, kitab dalam Ath-Thalaq, kitab dalam Khalq Al-Af’al, Ar-Risalah Al-Baghdadiyah, kitab At-Tuhfah Al-Iraqiyah, kitab Ishlah Ar-Ra’i war Ra’iyah, kitab dalam Ar-Radd ‘ala Ta’sis At-Taqdis karya Ar-Razi—dalam tujuh jilid, kitab Fi Ar-Radd ‘alal Manthiq, kitab Al-Furqan, kitab Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyah, kitab Al-Istiqamah dua jilid, dan selain itu.

Adz-Dzahabi berkata: Tidaklah mustahil bahwa karya-karya beliau hingga saat ini mencapai lima ratus jilid. Beliau memberikan biografi panjang tentangnya dalam Mu’jam Syuyukhihi, di antaranya perkataan beliau: Guru kami dan Syaikhul Islam, orang yang unik di zamannya dalam hal ilmu, pengetahuan, keberanian, kecerdasan, pencerahan ilahi, kedermawanan, nasihat kepada umat, menyuruh berbuat baik dan mencegah kemungkaran. Beliau mendengar hadits dan banyak mengusahakan sendiri untuk mencarinya dan menulisnya, beliau mentakhrij hadits dan meneliti perawi dan thabaqat, serta memperoleh apa yang tidak diperoleh orang lain. Beliau unggul dalam menafsirkan Al-Quran, menyelami kedalaman makna-maknanya dengan pemahaman yang lancar dan pikiran yang tajam menuju tempat-tempat yang sulit, serta mengistinbathkan darinya hal-hal yang belum pernah didahului orang lain. Beliau unggul dalam hadits dan menghafalnya, jarang ada orang yang menghafal sebanyak yang beliau hafal dari hadits, dengan kuat dalam menghadirkannya ketika memerlukan dalil. Beliau melampaui orang-orang dalam mengetahui fiqih, perbedaan mazhab, dan fatwa-fatwa para sahabat dan tabiin. Beliau menguasai bahasa Arab baik ushul maupun furu’, melihat ilmu-ilmu aqliyah, mengetahui pendapat-pendapat para mutakallimin, merespons mereka, menunjukkan kesalahan mereka, dan memperingatkan dari mereka. Beliau menolong sunnah dengan hujjah-hujjah yang paling jelas dan bukti-bukti yang paling cemerlang. Beliau disakiti di jalan Allah Taala oleh para penentang, dan ditakuti dalam menolong sunnah yang terpelihara hingga Allah Taala meninggikan mercu suar beliau, mengumpulkan hati-hati ahli takwa untuk mencintainya dan mendoakan untuknya, mengalahkan musuh-musuhnya, memberi petunjuk melalui beliau kepada banyak orang dari berbagai agama dan aliran, dan Allah membangun hati para raja dan para pemimpin untuk tunduk kepadanya pada umumnya dan taat kepadanya. Allah menghidupkan dengan beliau negeri Syam, bahkan Islam setelah hampir runtuh, khususnya dalam peristiwa Tatar. Beliau lebih besar daripada orang seperti saya mengingatkan sirahnya. Seandainya saya bersumpah di antara Rukun dan Maqam bahwa saya tidak pernah melihat dengan mata saya orang seperti beliau, dan bahwa beliau tidak pernah melihat orang seperti dirinya sendiri, niscaya saya tidak akan melanggar sumpah itu. Selesai.

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata: Pada bulan Rajab tahun tujuh ratus empat, Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah pergi ke Masjid an-Naranj, dan memerintahkan para sahabat dan murid-muridnya untuk memotong batu yang berada di sana di Nahr Quluth yang diziarahi dan dinadzarkan, maka beliau memotongnya dan membebaskan kaum muslimin darinya dan dari kemusyrikan dengannya. Beliau menghilangkan dari kaum muslimin syubhat yang kejahatan mereka sangat besar. Dengan ini dan semisalnya, mereka menampakkan permusuhan kepadanya. Demikian juga dengan perkataannya tentang Ibnu Arabi dan para pengikutnya. Beliau dicemburui dan dimusuhi, namun meskipun demikian, beliau tidak mengambil celaan orang yang mencela di jalan Allah. Beliau tidak peduli dengan siapa yang memusuhinya dan mereka tidak sampai kepadanya dengan sesuatu yang merugikan. Paling banyak yang mereka dapatkan darinya adalah penjara, padahal beliau tidak berhenti dalam penelitian baik di Mesir maupun di Syam, dan mereka tidak berhasil mengarahkan sesuatu yang memalukan kepadanya. Sesungguhnya mereka mengambilnya dan memenjarakannya dengan kekuasaan sebagaimana akan dijelaskan. Selesai.

Dikatakan: Di antara sebab-sebab penjaraannya adalah ketakutan mereka bahwa mungkin beliau mengklaim dan meminta kepemimpinan, maka musuh-musuhnya menemukan jalan dari hal itu, lalu mereka membaguskan di hadapan para pemimpin untuk memenjarakan beliau, untuk menutup jalan-jalan tersebut.

Syaikh Kamaluddin az-Zamlakani menulis: Para fuqaha dari berbagai kelompok ketika mereka duduk bersamanya mendapatkan manfaat dalam mazhab mereka darinya. Tidak diketahui bahwa beliau bermunazarah dengan seseorang lalu beliau terputus dengannya. Tidak berbicara dalam suatu ilmu dari ilmu-ilmu baik ilmu syariat maupun lainnya melainkan beliau mengungguli ahlinya. Terkumpul pada beliau syarat-syarat ijtihad secara sempurna.

Penulis berkata: Saya melihat dalam kitab an-Natsru adz-Dzaaib fil Afrad wal Gharaaib, dari berbagai macam kitab al-Asybah wan Nazhair an-Nahwiyyah karya Imam as-Suyuthi rahimahullah berikut ini: Jawaban pertanyaan penanya tentang huruf “lau” untuk tuan dan guru kami, Imam yang berpengetahuan, yang tunggal, hafizh mujtahid zahid, abid qudwah, imam para imam, teladan umat, ulama tanda, pewaris para nabi, akhir para mujtahid, yang tunggal di antara ulama agama, berkah Islam, hujjah para pembesar, bukti bagi para mutakallimin, penunduk para ahli bidah, pemilik ilmu-ilmu yang tinggi dan cabang-cabang yang indah, penghidup sunnah, dan orang yang dengannya Allah Taala memberikan nikmat yang besar kepada kami, dan tegak dengannya atas musuh-musuhnya hujjah, dan jelas dengan berkah dan petunjuknya jalan yang terang: Taqiyuddin Abu al-Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam bin Abdullah bin Abi al-Qasim bin Muhammad bin Taimiyah al-Harrani, semoga Allah Taala meninggikan mercu suarnya dan mengukuhkan rukun-rukun agama.

Apa yang dikatakan para penjelas tentang beliau, sedangkan sifat-sifatnya mulia dari penghitungan Beliau adalah hujjah Allah yang mengalahkan, beliau di antara kami keajaiban zaman Beliau adalah tanda yang nyata dalam makhluk, cahaya-cahayanya melebihi fajar

Saya nukil biografi ini dari tulisan tangan ulama yang unik di zamannya dan tunggal di masanya: Syaikh Kamaluddin Ibnu az-Zamlakani. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Saya nukil dari tulisan tangan al-Hafizh Alamuddin al-Birzali, beliau berkata: Tuan dan guru kami, imam allamah, teladan hafizh zahid abid wara’ imam para imam, sebaik-baik umat, mufti kelompok-kelompok, allamah petunjuk, juru bicara Al-Quran, kebaikan zaman, sandaran para hafizh, penunggang makna dan lafazh, rukun syariat pemilik cabang-cabang yang indah, penolong sunnah, penunduk bidah: Taqiyuddin Abu al-Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam bin Abdullah bin Abi al-Qasim bin Muhammad bin Taimiyah al-Harrani, semoga Allah Taala melanggengkan berkahnya dan mengangkat derajatnya.

Segala puji bagi Allah yang mengajarkan Al-Quran, menciptakan manusia dan mengajarinya berbicara. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, yang jelas buktinya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, yang diutus kepada manusia dan jin, semoga Allah Taala bershalawat atas beliau, keluarganya, dan para sahabatnya, serta memberi salam dengan salam yang diridhai ar-Rahman. Engkau bertanya, semoga Allah Taala memberimu taufik, tentang makna huruf “lau” dan bagaimana ditakhrij perkataan Umar radhiyallahu Taala anhu: “Sebaik-baik hamba adalah Shuhaib, seandainya dia tidak takut kepada Allah niscaya dia tidak akan bermaksiat kepada-Nya” atas maknanya yang dikenal.

Engkau menyebutkan bahwa orang-orang bingung dalam hal itu, dan engkau meminta jawaban yang mengharuskan aku menulis dalam hal itu apa yang hadir di benakku saat ini, meskipun sudah lama sejak aku mendengar apa yang dikatakan orang-orang tentang hal itu, dan tidak hadir di benakku saat ini apa yang bisa kurujuk dalam hal itu, maka aku katakan… Selesai dengan huruf-hurufnya.

Kemudian Imam as-Suyuthi menyebutkan akhir jawaban hingga akhirnya, dan mengakui yang dibiografi atas biografinya. Jika engkau menginginkannya, maka kembalilah kepada al-Asybah wan Nazhair, karena di dalamnya ada penjelas penglihatan dan pemahaman.

Al-Hafizh Ibnu Sayyid an-Nas menulis: Aku mendapatinya termasuk orang yang meraih bagian dari ilmu-ilmu, dan hampir menguasai semua sunan dan atsar dalam hafalan. Jika berbicara dalam tafsir maka dia adalah pembawa benderanya, jika berfatwa dalam fiqih maka dia mencapai tujuannya, atau dalam hadits maka dia pemilik ilmunya dan yang meriwayatkannya. Jika hadir dalam milal dan nihal tidak terlihat yang lebih luas dari alirannya dan tidak lebih tinggi dari pemahamannya. Dia unggul dalam setiap ilmu atas anak-anak jenisnya, dan matanya tidak melihat orang seperti dirinya.

Ibnul Wardi berkata dalam tarihnya, dan dia sezaman dengannya dan melihatnya: Beliau memiliki pengetahuan sempurna tentang para perawi dan jarh dan ta’dil mereka serta thabaqat mereka, dan pengetahuan tentang cabang-cabang hadits dengan hafalan matan-matannya yang beliau sendirian menguasainya. Beliau menakjubkan dalam menghadirkan dan mengeluarkan hujjah-hujjah darinya. Kepada beliaulah batas akhir dalam menisbatkannya kepada al-Kutub as-Sittah dan al-Musnad, sehingga benar atas beliau jika dikatakan: setiap hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah maka bukan hadits. Tetapi penguasaan penuh hanya milik Allah Taala. Namun beliau menimba darinya dari lautan, sedangkan imam-imam lain menimba dari selokan-selokan. Adapun tafsir, maka diserahkan kepadanya. Beliau menulis dalam sehari semalam dari tafsir atau fiqih atau dua ushul atau respons terhadap para filosof sekitar empat karras.

Beliau memiliki karya-karya besar dalam banyak ilmu. Tidaklah mustahil bahwa karya-karyanya mencapai lima ratus jilid. Beliau memiliki kemampuan panjang dalam mengetahui mazhab para sahabat dan tabiin. Jarang beliau berbicara dalam suatu masalah kecuali beliau menyebutkan di dalamnya mazhab-mazhab yang empat. Beliau menyalahi yang empat dalam masalah-masalah yang dikenal dan menyusun tentangnya serta berdalil untuknya dengan Kitab dan Sunnah. Beliau tetap bertahun-tahun berfatwa dengan apa yang tegak dalil menurutnya.

Sungguh beliau menolong sunnah murni dan jalan salafiyah. Beliau senantiasa berdoa, banyak meminta pertolongan, kuat tawakalnya, teguh jiwanya. Beliau memiliki wirid dan zikir yang beliau jaga terus. Tidak berkompromi dan tidak berpihak, dicintai oleh para ulama, orang-orang shaleh, para pemimpin, para pedagang, dan orang-orang besar. Terjadi antara beliau dan sebagian orang sezamannya peristiwa-peristiwa di Mesir dan Syam karena beberapa masalah yang beliau fatwakan dengan apa yang tegak menurutnya dalil-dalil syariat. Beliau bertemu dengan Sultan Mahmud Ghazan si pembasmi dan pembunuh, dan berbicara dengannya dengan ucapan keras dan tidak takut kepadanya. Sultan meminta doa dari beliau, maka beliau mengangkat kedua tangannya dan berdoa dengan doa yang adil, kebanyakannya terhadapnya, dan Ghazan mengamini atas doanya. Selesai ringkasannya, dan beliau memperpanjang biografinya.

Allamah Syaikh Imaduddin al-Wasithi berkata tentang beliau setelah pujian panjang yang indah sebagai berikut: Demi Allah, kemudian demi Allah, tidak terlihat di bawah langit seperti guru kalian Ibnu Taimiyah dalam ilmu, amal, keadaan, akhlak, ittiba’, kemuliaan, kelembutan, dan berdiri di jalan Allah Taala ketika kehormatan-Nya dilanggar. Orang yang paling benar keyakinannya, paling sahih ilmunya dan azimatnya, paling tajam dan paling tinggi dalam menolong kebenaran dan berdirinya semangat, paling dermawan tangannya, dan paling sempurna ittiba’nya kepada Nabi Muhammad shallallahu Taala alaihi wasallam. Kami tidak melihat di zaman kami ini orang yang menjelaskan kenabian Muhammad dan sunnahnya dari ucapan dan perbuatannya kecuali lelaki ini. Hati yang sehat bersaksi bahwa ini adalah ittiba’ yang sesungguhnya. Selesai.

Dinukil dalam asy-Syadzarat dari Syaikh Taqiyuddin Ibnu Daqiq al-‘Ied, dan beliau ditanya tentang Syaikh Ibnu Taimiyah setelah pertemuan beliau dengannya, bagaimana engkau melihatnya? Beliau berkata: Aku melihat seorang lelaki yang semua ilmu berada di antara kedua matanya, mengambil apa yang dia inginkan darinya dan meninggalkan apa yang dia inginkan. Dikatakan kepada beliau: Mengapa kalian tidak berdebat? Beliau berkata: Karena dia suka berbicara dan aku suka diam.

Ibnu Muflih berkata dalam Thabaqatnya: Allamah Taqiyuddin as-Subki menulis kepada al-Hafizh adz-Dzahabi dalam urusan Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah sebagai berikut: Hamba mengetahui kedudukan beliau dan luasnya lautannya, keluasannya dalam ilmu-ilmu syar’i dan aqliyyah, kecerdasan dan ijtihadnya yang luar biasa, dan bahwa beliau mencapai dalam hal itu setiap pencapaian yang melampaui deskripsi. Hamba mengatakan hal itu senantiasa. Kedudukannya dalam diriku lebih besar dari itu dan lebih mulia, dengan apa yang Allah Taala kumpulkan untuk beliau berupa kezuhudan, wara’, agama, dan menolong kebenaran serta berdiri di dalamnya, tidak untuk tujuan selainnya, dan berjalannya atas jalan salaf, dan mengambilnya dari hal itu dengan pengambilan yang paling sempurna, dan keanehan yang sepertinya di zaman ini, bahkan dari zaman-zaman. Selesai.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani berkata dalam biografinya yang panjang: Sesungguhnya fitnah ketika berkecamuk terhadap Syaikh Ibnu Taimiyah dari sisi sebagian ucapan-ucapannya, Qadhi Hanafi berfanatik untuknya dan menolongnya. Qadhi Syafi’i diam dan tidak ada untuknya maupun atasnya. Yang paling besar di antara orang-orang yang bangkit atasnya adalah Syaikh Nashr bin al-Munbjji, karena telah sampai kepada Ibnu Taimiyah bahwa dia berfanatik untuk Ibnu Arabi, maka beliau menulis menegurnya tentang hal itu. Hal itu tidak menyenangkannya karena beliau berlebihan dalam merendahkan Ibnu Arabi dan mengkafirkannya, maka dia menjadi merendahkan Ibnu Taimiyah dan menghasut Baibars al-Jasyankir. Baibars berlebihan dalam mencintainya dan memuliakannya. Terjadi bahwa Qadhi Hanafiyyah di Damaskus yaitu Syamsuddin Ibnu al-Hariri menolong Syaikh Ibnu Taimiyah dan menulis dalam haknya berita acara dengan pujian atas beliau dengan ilmu dan pemahaman, dan menulis dengan tulisan tangannya tiga belas baris, di antaranya: bahwa sejak tiga ratus tahun orang-orang tidak melihat orang seperti beliau. Selesai.

Saya berkata: Dan akan datang insya Allah Ta’ala dalam kitab kami ini mengenai apa yang telah ditegaskan oleh Syaikh Ibnu Taimiyah kepada Syaikh Nashr bin Al-Munbaji, dan apa yang berkaitan dengan Qadhi As-Subki, semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka semua.

Dan Imam Al-Asqalani juga mengutip dari Al-Hafizh Adz-Dzahabi bahwa ia berkata: Ketika hadir di hadapan guru kami Abu Hayyan Al-Mufassir, maka ia berkata: Mataku belum pernah melihat orang seperti lelaki ini! Kemudian dia memujinya dengan beberapa bait syair yang ia sebutkan sebagai syair yang digubah secara spontan, dan ia melantunkannya kepadanya, yaitu:

Ketika Taqiyyuddin datang kepada kami, tampak bagi kami Seorang penyeru kepada Allah yang tunggal, tidak ada bandingannya Di wajahnya terdapat tanda-tanda orang-orang yang menemani Sebaik-baik makhluk, cahaya yang bulan pun kalah terangnya Seorang ulama besar yang masa hidupnya diselimuti kecemerlangan Lautan yang dari ombaknya bertebaran mutiara-mutiara Ibnu Taimiyah berdiri membela syariat kami Sebagaimana kedudukan pemimpin Bani Taim ketika Mudhar durhaka Dan ia menampakkan kebenaran ketika jejak-jejaknya telah terhapus Dan memadamkan kejahatan ketika apinya telah beterbangan

Wahai yang menceritakan tentang ilmu Al-Kitab, dengarkanlah Inilah imam yang telah ditunggu-tunggu

Beliau mengisyaratkan dengan ini bahwa ia adalah pembaharu – dan hal ini juga telah dinyatakan secara tegas oleh Al-Imad Al-Wasithi – kemudian terjadi pembicaraan antara keduanya, lalu disebutkan nama Sibawayh, maka Syaikh Ibnu Taimiyah berkata kasar tentang Sibawayh, sehingga Abu Hayyan memutuskan hubungan dengannya karena hal itu, kemudian kembali mencela beliau, dan menjadikan hal itu sebagai dosa yang tidak terampuni. Dan dikatakan: Bahwa Ibnu Taimiyah berkata kepadanya: Sibawayh bukanlah nabi tata bahasa dan bukan pula maksum, bahkan ia telah keliru dalam kitabnya “Al-Kitab” di delapan puluh tempat yang tidak engkau pahami. Maka hal itulah yang menjadi sebab pemutusan hubungannya dengannya. Dan ia menyebutkannya dalam tafsirnya “Al-Bahr” dengan segala keburukan, demikian pula dalam ringkasannya “An-Nahr”.

Dan para ulama madzhab yang sezaman dengannya serta yang lainnya telah membuat biografi beliau secara terperinci, dan memujinya dengan pujian yang baik, serta menyebutkan baginya berbagai karamah, dan keistiqamahan dalam ketaatan dan ibadah, serta menjauhi bid’ah, dan keteguhan dalam mengikuti sunnah dan jalan Salafus Shalih. Dan bahwa beliau tidak menikah hingga wafat.

Dan beliau berkulit putih, berambut dan berjanggut hitam, sedikit uban, rambutnya sampai ke cuping telinganya, kedua matanya bagaikan dua lidah yang berbicara, bertubuh sedang, lebar bahu, bersuara keras.

Dan telah menyebutkan sebagian pilihan ilmiahnya Al-Allamah Ibnu Rajab yang wafat tahun tujuh ratus sembilan puluh lima dalam kitabnya “Thabaqat”. Dan juga telah merinci riwayat hidup dan keadaannya serta pujian kepadanya. Dan beliau telah wafat pada tahun tujuh ratus dua puluh delapan, menjelang subuh malam Senin dua puluh Dzulqa’dah di dalam penjara, lalu dibawa ke masjid Damaskus dan dishalatkan, maka hari itu merupakan hari yang sangat bersejarah, yang tidak pernah terjadi sebelumnya di Damaskus. Dan orang-orang menangis dengan keras, dan mereka bertabarruk dengan air pemandian jenazahnya, dan terjadi desak-desakan yang sangat pada kerandasnya, dan dikuburkan di pemakaman kaum Sufi setelah dishalatkan berulang kali. Dan diperkirakan yang hadir pada pemakamannya sekitar dua ratus ribu orang, dan dari kaum wanita sekitar lima belas ribu. Dan dihatamkan untuknya banyak khataman Al-Quran. Dan diratapi dengan qasidah-qasidah yang fasih. Di antaranya adalah qasidah Syaikh Umar bin Al-Wardi, yaitu:

Suatu kaum yang jahat telah mengganggu kehormatannya Yang mengambil butiran mutiara yang berserakan darinya Taqiyyuddin Ahmad, sebaik-baik ulama besar Yang dengannya masalah-masalah pelik dapat diselesaikan Ia wafat dalam keadaan dipenjara sendirian Dan tidak ada baginya kelapangan dari dunia Seandainya mereka hadir ketika ia wafat, pasti mereka mendapati Malaikat-malaikat surga telah mengelilinginya Ia meninggal dan tidak ada yang setara dengannya Dan tidak ada yang sebanding dengannya yang dilahirkan Pemuda yang dalam ilmunya menjadi orang yang unik Dan penyelesaian masalah-masalah bergantung kepadanya Dan ia menyeru manusia kepada ketakwaan Dan melarang kelompok yang berbuat maksiat dan menyimpang Dan jin pun takut dari kekuasaannya Dengan nasihat untuk hati yang bagaikan cambuk Ya Allah, betapa liang lahad telah menampung Dan ya Allah, betapa hamparan telah menutupi Mereka mendengkinya karena tidak dapat mencapai Keistimewaannya, maka mereka berdaya upaya dan berbuat jahat Dan mereka malas dari jalannya Namun dalam menyakitinya mereka memiliki semangat Dan terpenjaranya mutiara dalam kerangnya adalah kebanggaan Dan menurut Syaikh, dalam penjara ada kegembiraan Ia mencontoh keluarga Al-Hasyimi Karena mereka telah merasakan kematian dan tidak berkompromi Bani Taimiyah adalah mereka yang telah pergi Bintang-bintang ilmu yang telah mengalami kejatuhan Tetapi wahai penyesalan para pemenjaranya Karena syirik telah dapat dilenyapkan dengannya Dan wahai kegembiraan Yahudi dengan apa yang kalian lakukan Karena lawan memang senang dengan kerusakan Tidakkah ada di antara kalian seorang yang bijaksana Yang melihat pemenjaraan imam lalu marah Seorang imam yang tidak pernah mengharapkan jabatan Dan tidak ada wakaf untuknya dan tidak ada ribath Dan ia tidak bersama kalian dalam mencari harta Dan tidak diketahui adanya percampuran dengannya terhadap kalian Lalu mengapa kalian memenjarakan dan menyakitinya Bukankah telah disyaratkan balasan atas gangguannya Dan pemenjaraan Syaikh tidak diridhai oleh orang sepertiku Karena di dalamnya ada penurunan martabat bagi orang seperti kalian Demi Allah, seandainya bukan karena merahasiakan rahasiaku Dan takut terhadap kejahatan, tidak akan terlepas ikatan Dan aku akan mengatakan apa yang ada padaku, tetapi Kepada ahli ilmu tidak baik berlaku keras Maka tidak ada seorang pun yang menyeru kepada keadilan Dan setiap orang tenggelam dalam hawa nafsunya Akan tampak niat kalian wahai para pemenjaranya Dan kami akan kabarkan kepada kalian ketika shirath didirikan Maka inilah ia telah wafat dari kalian dan kalian merasa lega Maka berbuatlah sesuka hati kalian apa yang kalian inginkan Dan halalkanlah dan ikatlah tanpa ada yang membantah Kalian, dan telah terlipat hamparan itu

Pembahasan tentang Ulama yang Diuji dan Disakiti

Saya berkata: Dan sejak dahulu manusia, khususnya para pembesar dan ulama, selalu diuji dalam agama Allah Ta’ala dan mereka bersabar. Dan para nabi Alaihimus Salam dahulu dibunuh, dan ahli kebaikan pada umat-umat terdahulu dibunuh dan dibakar, dan salah seorang dari mereka digergaji dengan gergaji sedangkan ia tetap teguh pada agamanya. Dan kalau bukan karena tidak ingin memperpanjang pembahasan, niscaya aku akan menyebutkan dari hal itu apa yang panjang.

Dan telah diracun Abu Bakar dan dibunuh Umar serta Utsman dan Ali, dan diracun Al-Hasan, dan dibunuh Al-Husain dan Ibnu Zubair, dan disalib Khubaib bin Adi, dan Al-Hajjaj membunuh Abdurrahman bin Abi Laila dan Sa’id bin Jubair dan yang lainnya. Dan dibunuh Zaid bin Ali.

Adapun yang dicambuk dari kalangan ulama besar maka banyak, di antaranya: Abdurrahman bin Abi Laila – Al-Hajjaj mencambuknya empat ratus kali kemudian membunuhnya.

Dan Sa’id bin Al-Musayyib – Abdul Malik bin Marwan mencambuknya seratus kali, dan menuangkan kepadanya seember air di hari yang dingin, dan memakainya jubah wol.

Dan Khubaib bin Abdullah bin Az-Zubair, Umar bin Abdul Aziz mencambuknya atas perintah Al-Walid seratus kali, dan itu karena ia meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: Apabila Bani Abi Al-Ash mencapai tiga puluh orang, mereka menjadikan hamba-hamba Allah sebagai pelayan, dan harta Allah sebagai harta rampasan. Maka Umar jika dikatakan kepadanya: Bergembiralah. Ia berkata: Bagaimana dengan Khubaib di jalan!?

Dan Abu Amr bin Al-Ala’, dicambuk Bani Umayyah lima ratus kali.

Dan Imam Musa Al-Kazhim – Harun memenjarakannya hingga ia meninggal.

Dan Imam Abu Hanifah – wafat di penjara setelah dicambuk. Dan dikatakan: dipaksa minum racun.

Dan Imam Malik bin Anas, Al-Manshur mencambuknya tujuh puluh kali terkait sumpah orang yang dipaksa, dan Malik berkata: Tidak wajib baginya bersumpah.

Dan Imam Ahmad, diuji dan dipenjara dan dicambuk pada masa Bani Abbas.

Dan bagi Syaikh Ibnu Taimiyah pada imam-imam ini ada teladan. Seandainya kami ingin memaparkan secara lengkap apa yang disebutkan oleh orang-orang sezamannya berupa pujian kepadanya, dan penjelasan riwayat hidup serta rincian keadaannya, niscaya akan membawa kami kepada kepanjangan, dan pena – tidak akan bosan – namun membosankan, dan cukuplah dari kalung apa yang melingkupi leher.

Fasal tentang Pembelaan terhadap Syaikh dari Apa yang Dinisbatkan Kepadanya, dan Pujian Para Ulama Muhaqiq Kemudian Kepadanya

Di antara mereka: Yang sangat cerdas pemilik ilmu-ilmu laduni, sufi para fuqaha, dan faqih para sufi: Syaikh Ibrahim bin Hasan Al-Kurani Al-Madani Asy-Syafi’i, yang wafat tahun seribu seratus satu; maka beliau telah berkata dalam kitabnya “Ifadhah Al-Allam fi Tahqiq Mas’alah Al-Kalam” dengan redaksinya: Dan dalam apa yang kami kutip dari nash-nashnya – maksudnya Ibnu Taimiyah – dan kami tegaskan dengan cara yang sesuai dengan Al-Kitab dan Sunnah dan akidah Salaf; mencukupi untuk menjelaskan keadaannya dalam akidahnya, dan pembersihan wilayahnya dari ucapan tentang tajsim, dan ucapan tentang arah dengan cara yang dilarang menurut setiap orang yang berakal yang adil.

Kemudian beliau berkata: Kemudian sesungguhnya Ibnul Qayyim meskipun menganut akidah gurunya sebagaimana menurut para pengkritik terhadap keduanya, maka pembersihan gurunya dari apa yang dinisbatkan kepadanya adalah juga pembersihan baginya, dan pembenaran akidahnya dan kesesuaiannya dengan Al-Kitab dan Sunnah dan akidah Salaf, adalah pembenaran bagi akidahnya dan kesesuaian.

Namun kami mengutip dari perkataannya apa yang menegaskan hal tersebut hingga akhir yang ia katakan, dari apa yang ia uraikan secara panjang lebar dan baik untuk menghilangkan kemusykilan.

(Dan di antara mereka) adalah Amirul Mukminin dalam bidang hadits, ulama besar Irak Syaikh Ali Afandi as-Suwaidi al-Baghdadi asy-Syafii; sesungguhnya ia telah menulis tentang ungkapan as-Subki dalam mengecam Syaikh Ibnu Taimiyah dengan bunyi sebagai berikut:

Tuduhan dari as-Subki ini memerlukan bukti, padahal nash-nash dari ulama terdahulu dan keadaan mereka menyelisihinya; dan jika seandainya diperbolehkan, bagaimana bisa dikatakan tentang haknya: “Sesungguhnya ia berpaling dari jalan yang lurus”; bagaimana bisa berpaling dari jalan yang lurus orang yang membatasi tawajuh hanya kepada Rabb Yang Mahatinggi? Maka tidak ada alasan bagi as-Subki untuk menolaknya dengan perkataan semacam ini, padahal Ibnu Taimiyah mengikuti jalan penutup para nabi shallallahu alaihi wa alaihi wa sallam. Selesai secara ringkas.

Dan telah mengutipnya darinya putranya yang alim Syaikh Muhammad al-Amin dalam syarah kitabnya al-‘Aqd ats-Tsamin dan membenarkannya.

(Dan di antara mereka) adalah guru kami dan tuan kami ayahanda semoga rahmat dan ridha Allah tercurah kepadanya, maka sesungguhnya ia berkata dalam risalah akidahnya dengan bunyi sebagai berikut: Sungguh aku telah melihat risalah karya Syaikh Ibnu Taimiyah, yang dianggap penting oleh madzhab Hanbali, dan aku membacanya semua, maka aku tidak melihat di dalamnya sesuatu pun dari apa yang ia dicela dan dituduhkan kepadanya dalam masalah akidah, kecuali apa yang kami sebutkan berupa kekerasannya dalam menolak takwil, dan berpegang teguh pada makna zhahir; bersama tafwidh dan berlebihan dalam tanzih, berlebihan yang dengannya dapat dipastikan bahwa ia tidak meyakini tajsim dan tidak tasybih; bahkan ia menegaskan hal itu dengan penegasan yang tidak ada kesamaran di dalamnya. Dan sungguh mengherankan orang yang meninggalkan pernyataan terang-terangannya dalam menafikan tasybih dan tajsim, dan mengambil konsekuensi logis perkataannya yang tidak ia katakan, dan tidak ia akui keharusan konsekuensi logis tersebut. Dan bagaimanapun juga ia sebagaimana yang dikatakan banyak guru tentang Syaikh Muhyiddin. Selesai.

Dan ia juga berkata dalam rihlahnya Nuzhah al-Albab ketika Syaikh al-Islam bertanya kepadanya di Konstantiniyah yang terlindungi tentang masalah mutasyabih dengan bunyi sebagai berikut: Kemudian pembicaraan berlanjut kepada Ibnu Taimiyah, lalu ia berkata: Sesungguhnya ia berpendapat tentang jismiyah; maka aku berkata: Jauh dari itu! Dan madzhabnya tentang orang yang mujassim adalah bahwa ia secara mutlak bukan muslim. Lalu ia berkata: Sesungguhnya ia mengatakan Arasy itu qadim secara jenis; maka aku berkata: Kami tidak menemukan bagi yang menisbatkannya kepadanya selain ad-Dawani suatu nukilan yang layak untuk didengarkan. Lalu ia berkata: Ia menyelisihi Imam yang Empat dalam sebagian masalah fikih; maka aku berkata: Syubhatnya dalam penyelisihan tersebut menurut zhahir kuat, dan baginya dalam sebagian hal itu ada pendahulu, sebagaimana diketahui oleh orang yang menelusuri madzhab-madzhab dan berhenti padanya, dan sungguh banyak ulama besar yang memujinya. Dan sungguh aku mendengar dari guruku bahwa ia melihat kitab dalam biografi orang yang diberi gelar Syaikh al-Islam. Lalu ia berkata: Sungguh allamah as-Subki telah mencelanya; maka aku berkata: Betapa banyak orang terhormat yang menjadi menangis karena celaan orang semasanya! Maka ah terhadap kebanyakan orang semasa. Mereka dengan tangan kezaliman mereka menjadi pemeras butiran-butiran hati. Selesai.

Kemudian ia menyebutkan apa yang dikatakan para ulama tentang mutasyabih, maka jika engkau menginginkannya kembalilah kepadanya.

(Dan di antara mereka) adalah ulama negeri Allah yang haram, dan tempat-tempat suci yang agung, al-Mulla Ali al-Harawi al-Qari; sesungguhnya ia memujinya, dan membebaskannya dari apa yang dinisbatkan kepadanya dalam syarahnya asy-Syamail dan yang lainnya dari karya-karyanya. (Dan di antara mereka) adalah Abu Abdullah Muhammad bin Jamaluddin Yusuf asy-Syafii al-Yafii al-Yamani.

(Dan di antara mereka) adalah guru kami as-Sayyid al-Allamah Abu ath-Thayyib al-Husaini al-Bukhari al-Qannauji, semoga Allah Ta’ala melapangkan masanya; maka sesungguhnya ia membuat biografi untuknya secara lengkap dalam kitabnya Ithaf an-Nubala al-Muttaqin dan Abjad al-‘Ulum dan memujinya dengan pujian yang mulia, dan menyebutkan perkataan ahli fatwa dari pemilik madzhab yang empat dalam memujinya; di antara mereka: al-Aini al-Hanafi, dan ia memperpanjangnya hingga beberapa lembar.

(Dan di antara mereka) banyak orang lainnya yang akan memperpanjang kitab dengan menyebutkan mereka; maka barangsiapa ingin mencakup sepenuhnya keharuman penyebaran mereka, hendaklah ia kembali kepada kitab-kitab tarikh dan thabaqat, karena sesungguhnya di dalamnya terdapat maksud-maksud yang terperinci.

 

Facebook Comments Box

Penulis : Ali bin Muhammad Al-Imran dan Muhammad Azir Syams

Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.

Artikel Terjkait

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT
Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya
Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat
Kewajiban dan Keutamaan Taubat
Keutamaan Tauhid
Keutamaan Puasa Sunnah
Keutamaan Puasa Asyura (Yaitu hari kesepuluh dari bulan Muharram)
Keutamaan Mengajarkan Ilmu dan Menyeru Manusia kepada Kebaikan
Berita ini 5 kali dibaca

Artikel Terjkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 03:47 WIB

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:41 WIB

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:40 WIB

Keutamaan Puasa Sunnah

Artikel Terbaru

Akidah

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:47 WIB

Fatwa Ulama

Akibat Dosa Menyebabkan Bencana Alam – Faedah 10

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:45 WIB

Dakwah

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Jan 2026 - 15:41 WIB