Dari Abu Ayyub Al-Anshori _radhiyallahu anhu_, Bahwasanya Rasulullah _shalallahu alaihi wa sallam_ bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ؛ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudia ia ikuti dengan puasa Syawal 6 hari, seperti halnya ia puasa selama 1 tahun lamanya“ [HR. Muslim]
📝 *Faidah*
- Hadits ini memberikan motivasi kepada kita agar semangat di dalam menjalankan puasa 6 hari di bulan Syawal.
- Hadits ini menunjukkan akan hukum puasa 6 hari di bulan Syawal adalah sunnah.
- Hadits ini menunjukkan bahwa puasa 6 hari di bulan Syawal tidak harus dilakukan 6 hari secara terus menerus akan tetapi waktunya luas selama masih masuk di bulan Syawal.
- Khusus untuk puasa tanggal 1Syawal terdapat larangan khusus puasa pada hari ied.
- Dzohir hadits ini bahwa keutamaan tersebut diperoleh bagi yang menyempurnakan puasa sunnah Syawal selama 6 hari.
_Wallahu a’lam_
Nasehat yang begitu indah dari Imam Al-Qorofi. Beliau rahimahullah berkata:
قال الله تعالى: (وأتموا الحج والعمرة لله)
ولم يقل في الصلاة وغيرها: لله، لأنهما مما يكثر الرياء فيهما جداً، ويدل على ذلك الاستقراء، حتى إن كثيرًا من الحجاج لا يكاد يسمع حديثًا في شيء من ذلك إلا ذكر ما اتفق له أو لغيره في حجه، فلما كانا مظنة الرياء قيل فيهما: لله، اعتناء بالإخلاص. (الذخيرة 174/3)
Allah Ta’ala berfirman: “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah: 196)
Namun, Allah tidak menyebutkan “karena Allah” dalam perintah shalat dan ibadah lainnya, karena haji dan umrah adalah ibadah yang sangat rentan riya’ (pamer). Hal ini terbukti dari pengamatan, di mana banyak jamaah haji yang hampir setiap kali mendengar pembicaraan tentang haji, mereka langsung menceritakan pengalaman mereka atau orang lain saat berhaji. Karena kedua ibadah ini rawan riya’, maka disebutkan khusus “karena Allah” sebagai penekanan akan pentingnya ikhlas. (Adz-Dzakhirah, 3/174)
——
Mari tata niat dg baik dan jaga jangan sampai salah niat..
22/12/25 11.19 – Sunaryo Hadi Nugroho: 🌿 *Jika Hari Raya Bertepatan dengan Hari Jumat*
🌿 Ibnu Taimiyah _rahimahullah_ berkata:
من شهد العيد سقطت عنه الجمعة، لكن على الإمام أن يقيم الجمعة ليشهدها من شاء شهودها، ومن لم يشهد العيد. وهذا هو المأثور عن النبي ﷺ وأصحابه: كعمر، وعثمان، وابن مسعود، وابن عباس، وابن الزبير وغيرهم. ولا يعرف عن الصحابة في ذلك خلاف. (مجموع الفتاوى 24/211، وينظر: المغني 2/265)
_”Barangsiapa yang menghadiri shalat Id, maka gugurlah kewajiban Jumat baginya. Namun, imam tetap harus menyelenggarakan shalat Jumat agar dapat dihadiri oleh siapa saja yang ingin menghadirinya, termasuk mereka yang tidak menghadiri shalat Id. Inilah riwayatkan dari Nabi ﷺ dan para sahabatnya, seperti Umar, Utsman, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, dan lainnya. Tidak diketahui adanya perselisihan di antara para sahabat dalam hal ini.”_ (Majmu’ Fatawa 24/211, lihat juga: Al-Mughni 2/265)
Penulis : Muh. Rujib Abdullah







