24- WAKTU BERBUKA KETIKA MATAHARI TENGGELAM
HADITS ABDULLOH BIN ABI AUFA:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى أَوْفَى – رضى الله عنه – قَالَ:
كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى سَفَرٍ ، وَهُوَ صَائِمٌ، فَلَمَّا غَرَبَتِ الشَّمْسُ قَالَ لِبَعْضِ الْقَوْمِ
« يَا فُلاَنُ قُمْ ، فَاجْدَحْ لَنَا! » فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ ، لَوْ أَمْسَيْتَ .
قَالَ « انْزِلْ ، فَاجْدَحْ لَنَا! » . قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ فَلَوْ أَمْسَيْتَ .
قَالَ « انْزِلْ ، فَاجْدَحْ لَنَا! » . قَالَ إِنَّ عَلَيْكَ نَهَارًا .
قَالَ « انْزِلْ ، فَاجْدَحْ لَنَا! » . فَنَزَلَ فَجَدَحَ لَهُمْ ،
فَشَرِبَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم –
ثُمَّ قَالَ « إِذَا رَأَيْتُمُ اللَّيْلَ قَدْ أَقْبَلَ مِنْ هَا هُنَا ، فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ »
Dari ‘Abdullah bin Abu Aufa radliallahu ‘anhu, dia berkata:
“Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu perjalanan dan beliau berpuasa (Romadhon).
Ketika matahari terbenam, beliau berkata kepada sebagian rombongan:
“Wahai Fulan (Bilal), berdirilah dan siapkanlah minuman buat kita!”.
Orang yang disuruh itu berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika anda menunggu hingga sore?”.
Beliau berkata lagi: “Turunlah dan siapkan minuman buat kita!”.
Orang itu berkata, lagi: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika anda menunggu hingga sore?”.
Beliau berkata lagi: “Turunlah dan siapkan minuman buat kita!”.
Orang itu berkata, lagi: “Sekarang masih siang!”.
Beliau berkata lagi: “Turunlah dan siapkan minuman buat kita!”.
Maka orang itu turun lalu menyiapkan minuman buat mereka.
Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam minum, kemudian berkata:
“Apabila kalian telah melihat malam sudah datang dari arah sana (timur-pen), maka orang yang puasa sudah boleh berbuka.”
(HR. Bukhori, no. 1955; Muslim, no. 1103, dengan riwayat: Romadhon; Abu Dawud, no. 2352, dengan penyebutan nama Bilal)
FAWAID HADITS:
Ada beberapa faedah yang bisa kita ambil dari hadits ini, antara lain:
1- Boleh berpuasa Romadhon di waktu safar (pergi ke luar kota).
Dan boleh tidak berpuasa, namun diganti dengan qodho’ (puasa di hari lain).
2- Sunnah menyegerakan berbuka puasa ketika melihat matahari telah tenggelam.
Walaupun jadwal sholat maghrib belum masuk, atau belum dikumandangkan adzan.
Karena Nabi memerintahkan berbuka ketika matahari sudah terbenam, sebelum memerintahkan adzan.
3- Syaikh Al-‘Utsaimin rohimahulloh (wafat th 1421 H) berkata:
بَعْضُ الْجُهَلَاءِ يَرَى الشَّمْسَ غَابَتْ بِعَيْنِهِ وَلَكِنَّهُ لَا يُفْطِرُ، لِمَاذَا؟ يَقُوْلُ: مَا أُذِّنَ،
وَالْعِبْرَةُ بِغُرُوْبِ الشَّمْسِ وَلَيْسَتْ بِالْأَذَانِ
“Sebagian orang bodoh melihat dengan matanya matahari sudah tenggelam, tetapi dia belum berbuka, kenapa?
Dia berkata, “Belum dikumandangkan adzan!”.
Padahal ukurannya adalah tenggelamnya matahari, bukan dengan adzan”. (Lihat: Fathu Dzil Jalal wal Ikrom, 3/193)
4- Ketika tidak melihat langsung matahari tenggelam atau ketika mendung, bisa menanti adzan atau melihat jadwal sholat maghrib.
5- Berbuka puasa sebelum sholat maghrib.
Berbuka bisa dengan makan korma atau minum air, tidak harus langsung dengan makan besar.
6- Kesabaran Nabi kepada sahabat.
Beliau memberikan perintah sampai 4 kali dengan tanpa kemarahan.
7- Nabi memberikan perintah disertai dengan penjelasan hikmah.
Yaitu perintah berbuka karena sudah masuk waktunya.
8- Beribadah kepada Alloh dengan tuntunan Nabi, bukan dengan adat kebiasaan, akal, perasaan, atau kebodohan.
Inilah sedikit penjelasan tentang hadits yang agung ini.
Semoga Alloh selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.
Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju ridho dan sorga-Nya yang penuh kebaikan.
Penulis : Ustadz Muslim Atsari Hafidzahullah Ta'ala
Sumber Berita: Grup Whatsapp Majlis Quran Hadits Ikhwan







