FIKIH DAKWAH KEPADA ALLAH
NASIHAT, BIMBINGAN, MENGAJAK PADA KEBAIKAN DAN MENCEGAH KEMUNGKARAN
BAB EMPAT
METODE PENYAMPAIAN MISI SARANA, MEDIA, DAN INSTRUMENNYA
Terdiri dari Tujuh Pasal:
- Pasal Pertama: Bimbingan Langsung dan Bimbingan Tidak Langsung.
- Pasal Kedua: Hambatan-Hambatan dalam Bimbingan dan Metode Penanganannya.
- Pasal Ketiga: Metode Penjelasan dan Pendekatannya (Hikmah – Nasihat yang Baik – Perdebatan dengan Cara yang Terbaik).
- Pasal Keempat: Media Penyampaian Penjelasan (Pidato, Pelajaran, Kuliah, Percakapan dan Dialog, Majelis Tanya Jawab, Buku, Artikel, Puisi, Cerita, Pertunjukan)
- Pasal Kelima: Alat-Alat Komunikasi dan Tanggung Jawab Pembawa risalah terhadapnya.
- Pasal Keenam: Metode Ketuhanan untuk Kebijakan Bijaksana yang Diarahkan kepada Rasul ﷺ dan Pembawa risalahnya Risalah dari Umatnya.
- Pasal Ketujuh: Masyarakat Islam dan Kemungkaran: Perlindungan dan Perubahan.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
PASAL PERTAMA
Bimbingan Langsung dan Bimbingan Tidak Langsung
Pendahuluan Umum dan Delapan Pernyataan tentang Sarana Bimbingan Tidak Langsung:
- Pendahuluan Umum tentang Definisi Bimbingan Langsung dan Bimbingan Tidak Langsung serta Penjelasan Kewajiban Pembawa risalah terhadapnya.
- Pernyataan Pertama: Penjelasan Verbal Tidak Langsung.
- Pernyataan Kedua: Keteladanan yang Baik.
- Pernyataan Ketiga: Lingkungan dan Pergaulan yang Saleh.
- Pernyataan Keempat: Cerita yang Bermanfaat dan Pertunjukan yang Berguna.
- Pernyataan Kelima: Membaca Bebas dan Pengaruhnya.
- Pernyataan Keenam: Irama dan Nyanyian dengan Cara Islami dalam Bentuk dan Isi.
- Pernyataan Ketujuh: Memasukkan Penjelasan Islam dalam Berbagai Ilmu pada Kesempatan yang Sesuai.
- Pernyataan Kedelapan: Siaran Sampingan yang Bermanfaat pada Kesempatan yang Tepat.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
PENDAHULUAN UMUM DEFINISI
Tentang Definisi Bimbingan Langsung dan Bimbingan Tidak Langsung serta Penjelasan Kewajiban Pembawa risalah terhadapnya
Terdapat dua jalur utama dalam menunaikan dua misi:
- Misi Petunjuk dengan mengajak kepada iman kepada Allah dan Islam, serta mengajak untuk mengikuti jalanNya, dengan tindak lanjut mengingatkan, menasihati, dan membimbing.
- Misi Perbaikan dan Perlindungan melalui nasihat, bimbingan, perintah, dan larangan, dengan tindak lanjut mengingatkan.
Kedua jalur utama tersebut adalah:
- Jalur Bimbingan Langsung
- Jalur Bimbingan Tidak Langsung
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Pertama – Jalur Bimbingan Langsung:
Dilakukan dengan menghadapi mereka yang akan diberi dakwah, diingatkan, atau diperbaiki dan dilindungi, dengan tujuan utama secara langsung, tanpa kiasan, penyembunyian, atau terselubung dalam gagasan dan siasat verbal yang menunjuk melalui perumpamaan, metafora, implikasi pemikiran, isyarat, sindiran, atau perumpamaan yang dianalogikan.
Contoh-contoh Bimbingan Langsung:
- Seorang pendakwah berkata kepada non-Muslim yang diajak: “Saya mengajak Anda, saudara sebangsaku, untuk beriman kepada Allah Yang Maha Esa yang tidak memiliki sekutu. Dialah Pencipta Tunggal, Tuhan Tunggal dalam segala wujud, yang memiliki kekuasaan atas penciptaan dan perintah, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Saya mengajak Anda untuk menyembah-Nya semata, karena tidak ada yang memberi manfaat atau mudharat dalam wujud selain Dia.”
Kemudian dia menegakkan bukti-bukti atas apa yang diajak.
- Seorang pendakwah berkata kepada non-Muslim: “Saya mengajak Anda, saudara sebangsaku, untuk masuk Islam, mengikuti apa yang datang dariNya, dan menempuh jalan lurus agar Anda selamat dari siksa-Nya dan memperoleh kebahagiaan abadi di surga kenikmatan pada hari pembalasan.
Wahai saudara sebangsaku, sesungguhnya Allah Yang Mulia telah menciptakan kita di dunia untuk menguji kita dengan iman kepada-Nya, kepada apa yang diturunkan kepada para rasul-Nya, dengan Islam yang menyerahkan diri dan mentaati-Nya, serta berkomitmen mengikuti jalan lurus yang diturunkan kepada para rasul-Nya, dan penutup mereka adalah Muhammad bin Abdullah, semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau dan seluruh nabi serta rasul.
Barangsiapa beriman, berserah diri kepada Allah, menyatakan kepatuhan dan ketaatan, serta membuktikan kepeduliannya pada jalan Allah, maka dia akan selamat, bahagia, dan memperoleh surga kenikmatan pada hari pembalasan.
Namun barangsiapa tidak berserah diri dan tidak menyatakan kepatuhan dan ketaatan, maka dia telah menghadapkan dirinya pada siksa abadi di neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.
Dan barangsiapa yang berserah diri dan menyatakan kepatuhan dan ketaatan dengan jujur, namun tetap melakukan dosa dan pelanggaran, maka dia akan mendapatkan siksa sesuai dengan kadar dosa dan pelanggarannya. Kemudian nasibnya akan berakhir di surga kenikmatan.
Selanjutnya dia menegakkan bukti atas apa yang diajak.
- Seorang pembawa risalah perbaikan dan perlindungan dalam masyarakat Islam berkata kepada orang yang akan diberi nasihat, bimbingan, perintah, dan larangan:
“Wahai saudaraku muslim: Bertakwalah kepada Allah, takutilah siksa-Nya, tinggalkanlah dosa-dosa yang sedang kau lakukan. Dirikan shalat, tunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan pergilah haji ke Baitullah jika mampu. Jangan membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, jangan berbuat zalim kepada siapapun, jangan memakan harta orang lain dengan cara batil, jangan mencuri, jangan berzina, dan jangan melakukan perbuatan keji apa pun.”
Dengan cara ini, dia memberikan nasihat, bimbingan, perintah, dan larangan, serta menggunakan dalil dari Al-Quran dan Sunnah, dan memberikan bukti berupa pelajaran dari kisah sejarah.
Contoh-contoh ini dan yang serupa adalah bentuk bimbingan langsung yang tidak berbelit-belit dan tidak tersembunyi.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Tempat dan Keadaan Bimbingan Langsung:
Bimbingan langsung pada dasarnya adalah metode utama dalam berbicara, dan memiliki porsi terbesar dalam setiap pembicaraan. Ini adalah salah satu metode bimbingan verbal yang digunakan dalam Al-Quran Mulia.
Dan metode pengarahan langsung adalah metode yang bermanfaat dalam pendidikan, dan dalam beberapa khutbah nasihat umum, halaqah pengajaran dan nasihat umum, nasihat ayah kepada anaknya, guru pendidik kepada muridnya yang patuh, nasihat pemimpin kaum kepada orang-orang yang taat kepadanya, dan yang merespon perintah serta larangannya, dan sejenisnya.
Di antara keadaan-keadaan dimana gaya langsung yang terbuka lebih berkesan dalam jiwa, lebih berpengaruh padanya, lebih bermanfaat dan lebih berdaya guna, atau lebih tepat, adalah keadaan-keadaan berikut:
- Berbicara kepada mereka yang sulit memahami dengan cara tidak langsung, seperti anak-anak atau mereka yang lemah dalam berpikir.
- Ketika lawan bicara dalam keadaan emosional yang kehilangan ketenangan dan kejernihan berpikir. Dalam keadaan seperti ini, orang hanya menyukai pembicaraan yang langsung menunjuk pada tujuan.
- Saat menjelaskan kebenaran-kebenaran besar akidah, seperti masalah keimanan, yang mengharuskan pengungkapan langsung dan terang-terangan, misalnya: Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah, Beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk dari Allah Yang Mulia.
- Saat menjelaskan pilar-pilar Islam, hukum, dan syariatnya, yang memerlukan pengungkapan langsung dan terang-terangan.
- Saat menjelaskan hakikat berbagai ilmu, yang hanya dapat dijelaskan secara eksplisit.
- Saat menjelaskan prinsip-prinsip yang dinyatakan dalam slogan, yang memerlukan pengungkapan langsung yang menunjuk pada makna dengan jelas.
- Saat menulis teks perundang-undangan atau kodifikasi, yang harus menggunakan gaya langsung dan terang-terangan, agar tidak ada kemungkinan penafsiran yang menyimpang dari maksud sebenarnya.
- Saat mengungkapkan putusan hukum, yang juga memerlukan gaya langsung dan terang-terangan.
- Dalam sebagian besar situasi berdoa kepada Allah, seperti: “Ya Rabb, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukilah aku, luruskan aku, sehatkan aku, dan berilah aku rezeki yang halal, baik, dan berkah.”
Seperti doa Musa dalam surat Al-A’raf: “Ya Rabb, ampunilah aku dan saudaraku, dan masukkanlah kami ke dalam rahmat-Mu, dan Engkau adalah Maha Pengasih di antara para pengasih.”
- Dalam sebagian besar bentuk pengajaran materi ilmu.
- Pada puncak ekspresi emosional.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Dampak Negatif Bimbingan Langsung:
Bimbingan langsung kadang-kadang dapat menjadi metode yang merugikan dan menjauhkan, sehingga harus dihindari dan diganti dengan salah satu alternatif metode bimbingan tidak langsung.
Keadaan-keadaan di mana bimbingan langsung dapat merugikan:
- Mengatakan kepada orang yang diajak beriman: “Kamu adalah kafir, penjahat, sesat, terkutuk, diusir dari rahmat Allah di dunia dan akhirat, dan akan tetap begitu jika tidak beriman, tidak masuk Islam, dan tidak peduli untuk mengikuti jalan Allah yang lurus.”
- Mengatakan kepada orang yang diketahui melakukan dosa besar saat memberi nasihat: “Kamu pezina, pencuri, penjahat, sesat! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan perbuatanmu, atau Allah akan menurunkan siksa yang pedih padamu.”
Metode seperti ini bertentangan dengan cara Rasulullah ﷺ dalam memberi nasihat dan bimbingan. Beliau memiliki adab yang tinggi ketika ada yang melakukan kesalahan. Jika ada perbuatan yang tidak berkenan di hatinya, beliau akan berkata: “Mengapa ada orang-orang yang melakukan begini dan begitu,” tanpa secara langsung menghadapi pelaku dengan menyebut dosanya, agar tidak mempermalukannya dan membuatnya lari.
- Mengatakan kepada seseorang yang memiliki cacat fisik, misalnya, ketika Anda ingin menasihatinya agar menutupi cacatnya dengan kemuliaan, akhlak baik, dan perilaku yang lurus: “Kamu buta, juling, cacat, pincang, jelek rupanya! Tutupi cacatmu dengan kemuliaan, akhlak baik, dan keteguhanmu.”
- Selalu menggunakan gaya perintah dan larangan tanpa memberikan pendahuluan umum dan nasihat tidak langsung yang mempersiapkan jiwa untuk menerima perintah dan larangan dengan baik.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Kedua – Jalur Bimbingan Tidak Langsung:
Dilakukan dengan memberi petunjuk kepada mereka yang akan didakwahi, diingatkan, atau akan diperbaiki dan dilindungi melalui sarana yang tidak terang-terangan, yang mana tujuan utamanya tidak tampak jelas dalam lahirnya, melainkan datang secara tersembunyi, menyembunyikan diri dalam gagasan, tipu bahasa, cerita, atau perbuatan, yang menunjukkan melalui perumpamaan, konsekuensi pemikiran, isyarat, sindiran, atau perumpamaan yang dapat dianalogikan, kepada maksud utama, atau dapat diambil petunjuk tentang maksud bimbingan.
Seperti kiasan, ungkapan tidak langsung (misalnya: “Aku akan menyanyi untukmu, dengarkanlah wahai tetangga”), penceritaan kisah, atau mengarahkan untuk membacanya, atau mempertunjukkan adegan dengan pementasan jika memungkinkan tanpa melakukan kemaksiatan, keteladanan baik yang menimbulkan kekaguman, terjun dalam lingkungan saleh, pergaulan dan pertemanan, pembicaraan seseorang tentang dirinya, atau pembicaraannya tentang yang tidak hadir, siaran selingan, dan memasukkan ide yang dimaksud di sela-sela gagasan lain yang tampaknya adalah tujuan utama, bukan apa yang disisipkan atau dikaitkan dengannya.
Jalur bimbingan tidak langsung adalah jalur pengajaran, nasihat dan bimbingan, pendidikan, pengingat, dan pelajaran praktis yang Allah penuhi dalam wujud materi, dan Allah mengingatkan padanya dalam kitab yang diturunkan kepada rasul-Nya.
Di antara peringatan padanya adalah pembebananNya kepada hamba-hambaNya untuk memikirkan penciptaan langit dan bumi, dan diri mereka sendiri, agar ayat-ayatNya yang tak terhitung menunjukkan mereka kepada sifat-sifat agung dan nama-nama indahNya, dan bahwa Dia Esa dalam ketuhananNya dan esensiNya.
Dan Allah Yang Mulia mengutus seekor gagak kepada Qabil setelah dia membunuh saudaranya Habil, dan bingung bagaimana menyembunyikan aibnya, seekor gagak yang mencari di bumi, untuk menguburkannya sehingga dia belajar dari gagak itu cara menguburkan saudaranya yang terbunuh. Allah Yang Mulia berfirman dalam surat Al-Maidah:
﴿فَبَعَثَ اللّٰهُ غُرَابًا يَّبْحَثُ فِى الْاَرْضِ لِيُرِيَهٗ كَيْفَ يُوَارِيْ سَوْءَةَ اَخِيْهِ ۗ قَالَ يٰوَيْلَتٰٓى اَعَجَزْتُ اَنْ اَكُوْنَ مِثْلَ هٰذَا الْغُرَابِ فَاُوَارِيَ سَوْءَةَ اَخِيْۚ فَاَصْبَحَ مِنَ النّٰدِمِيْنَ ۛ ٣١ ﴾
“Maka Allah mengutus seekor gagak yang menggali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya bagaimana dia (Qabil) harus menutupi aib saudaranya. Dia (Qabil) berkata: ‘Celaka aku, mengapa aku tidak mampu menjadi seperti gagak ini sehingga dapat menutupi aib saudaraku?’ Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang menyesal.”
Dan Allah Yang Mulia menjelaskan bahwa Dia membiarkan bahtera Nuh tetap ada sepeninggalnya, agar menjadi tanda bagi yang mau mengambil pelajaran. Dia berfirman dalam surat Al-Qamar:
﴿وَلَقَدْ تَّرَكْنٰهَآ اٰيَةً فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ ١٥ فَكَيْفَ كَانَ عَذَابِيْ وَنُذُرِ ١٦ ﴾
“Dan sungguh, Kami telah meninggalkannya sebagai suatu tanda. Maka adakah yang mau mengambil pelajaran? Maka bagaimanakah azab-Ku dan peringatan-peringatan-Ku?”
Dan Allah Yang Mulia menjelaskan bahwa angin yang diutusNya membawa peringatan bagi manusia, yang di dalamnya terdapat permintaan maaf dan peringatan. Allah Yang Mulia berfirman dalam surat Al-Mursalat tentang angin:
﴿وَالْمُرْسَلٰتِ عُرْفًاۙ ١ فَالْعٰصِفٰتِ عَصْفًاۙ ٢ وَّالنّٰشِرٰتِ نَشْرًاۙ ٣ فَالْفٰرِقٰتِ فَرْقًاۙ ٤ فَالْمُلْقِيٰتِ ذِكْرًاۙ ٥ عُذْرًا اَوْ نُذْرًاۙ ٦ ﴾
“Demi (malaikat-malaikat) yang diutus, lalu bertiup dengan lembut, dan yang menyebarkan (benih) dengan luas, lalu memisah-misahkan, lalu membawa peringatan sebagai alasan atau peringatan.”
Dan Allah Yang Mulia menjadikan jalur bimbingan tidak langsung tersedia bagi seluruh makhluk-Nya, baik yang kecil maupun besar, pembaca, pelajar, dan lainnya, bahkan hingga binatang yang tidak memiliki lisan yang berbicara atau akal yang berpikir. Mereka diberi kemampuan untuk mengarahkan diri menuju jalan hidup dan penghidupannya.
Allah Yang Mulia berfirman dalam surat An-Nahl:
﴿وَاَوْحٰى رَبُّكَ اِلَى النَّحْلِ اَنِ اتَّخِذِيْ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوْتًا وَّمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُوْنَۙ ٦٨ ثُمَّ كُلِيْ مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسْلُكِيْ سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًاۗ يَخْرُجُ مِنْۢ بُطُوْنِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗ ۖفِيْهِ شِفَاۤءٌ لِّلنَّاسِۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ ٦٩ ﴾
“Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah: ‘Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon, dan di tempat-tempat yang mereka bangun. Kemudian makanlah dari segala macam buah-buahan, lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan bagimu.’ Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir.”
Artinya: Dan Allah mengilhami (lebah) dengan sarana bimbingan tidak langsung.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Kelebihan Jalur Bimbingan Tidak Langsung:
Dan untuk metode pengarahan tidak langsung memiliki banyak keunggulan, di antaranya adalah sebagai berikut:
- Seperti telah dijelaskan, ini adalah cara yang dapat dimanfaatkan oleh semua makhluk hidup dan yang memiliki kesadaran, sesuai dengan kemampuan dan kecerdasan mereka, termasuk hewan-hewan rendah dalam tingkatan kesadaran.
- Seseorang merasa bahwa apa yang dia peroleh adalah hasil temuan dan pemikirannya sendiri, tanpa ada yang memaksakan padanya. Dia berpikir dan mendapatkan pengetahuan dengan kebebasan, dan tidak merasa dipaksa atau diperintah, serta tidak merasa menerima sesuatu dari orang yang lebih tinggi dengan kelebihan ilmu, pengalaman, atau kecerdasan.
- Mereka yang menggunakan jalur bimbingan tidak langsung akan menghindari benturan dan mampu melewati berbagai hambatan psikologis.
Tetapi hambatan-hambatan ini dapat dihindari, dan masuk ke dalam jiwa melalui jalan-jalan dan jalur-jalur lain yang tidak dihadang oleh hambatan-hambatan penghalang ini. Di antara jalan dan jalur yang paling penting adalah terowongan yang melaluinya dapat masuk konten-konten pemikiran yang dimaksudkan untuk pengarahan, tanpa dihadang oleh hambatan-hambatan yang ada pada jalur pengarahan langsung, atau masuk dengan terbungkus dalam pembungkus yang tidak ditemukan oleh hambatan-hambatan tersebut sesuatu yang bertentangan dengannya sehingga menghalanginya, atau menyusup ke dalam jiwa dengan penyusupan yang halus, yang membuat seseorang merasa bahwa dialah yang berpikir sendiri, dialah yang memilih dengan kemauan bebasnya, dan tidak menerima pemikiran ataupun perintah dan larangan dari siapapun, serta tidak dipaksa untuk bekerja oleh siapapun.
Dia menipu atau menipu dirinya sendiri dengan mengabaikannya untuk memuaskan keangkuhannya, jika dia adalah orang yang sombong, kemudian dia berjalan dengan segenap kekuatan dan semangatnya di jalan yang mendorongnya dengan cara tidak langsungnya, dan tetap dalam semangatnya yang membara, dia membayangkan dalam hati nuraninya bahwa dia berjalan di jalannya dengan sepenuhnya pilihan sendiri, tanpa dipengaruhi oleh pengaruh di luar dirinya.
Setan-setan manusia dan jin telah memanfaatkan cara pengarahan tidak langsung ini untuk menyesatkan banyak makhluk.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Kewajiban Pembawa Risalah:
Seorang pembawa risalah harus menjadi ahli dalam jiwa manusia, dan menggunakan cara langsung jika itu adalah cara yang paling tepat dan paling cocok untuk mencapai tujuan, dan menggunakan cara tidak langsung dengan berbagai caranya, memilih diantaranya yang dianggap paling bermanfaat, dan paling dekat untuk mencapai tujuan, tanpa terhalang oleh rintangan psikologis, dengan harapan kinerjanya dalam menyampaikan risalah akan memiliki pengaruh besar dan manfaat yang luar biasa.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Dalam pernyataan-pernyataan berikut dari bab ini terdapat penjelasan tentang sekelompok cara pengarahan[1] tidak langsung yang berguna, yaitu:
- Pernyataan verbal tidak langsung.
- Teladan yang baik.
- Lingkungan dan teman yang saleh.
- Cerita yang bermanfaat dan pertunjukan dramatis.
- Membaca bebas dan pengaruhnya.
- Nyanyian dan nasyid dengan cara Islami dalam bentuk dan isi.
- Memasukkan pernyataan Islam dalam berbagai ilmu pada kesempatan yang sesuai.
- Keputusan insidental yang bermanfaat pada kesempatan yang sesuai.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
PERNYATAAN PERTAMA
Cara-cara Pengarahan Tidak Langsung
Pernyataan Verbal Tidak Langsung
Pernyataan verbal langsung adalah pernyataan di mana makna yang dimaksud ditunjukkan melalui kata yang telah ditetapkan untuk itu dalam bahasa, atau melalui kata yang menunjukkannya dalam penggunaan umum yang berlaku, atau melalui kata yang menunjukkannya secara terminologis di antara ahli suatu ilmu atau seni, atau yang menunjukkannya dalam terminologi syariah.
Adapun pernyataan verbal tidak langsung adalah pernyataan yang menggunakan perumpamaan dan metafora, atau alegori, atau kiasan, atau sindiran, atau isyarat, atau alusi, atau konten wacana dengan konsep yang sesuai atau konsep yang bertentangan, dan sebagainya yang cukup dengan petunjuk hubungan logis, dan di dalamnya makna yang dimaksud tidak ditunjukkan melalui kata-kata yang diucapkan.
Maka pernyataan verbal tidak langsung adalah yang datang secara tersembunyi, atau terselubung dengan topeng-topeng tebal, atau topeng-topeng dengan ketebalan sedang, atau topeng-topeng tipis yang memberikan keindahan, dan tidak menghalangi pandangan bagi orang yang mencarinya dengan pandangan biasa.
Dengan penelitian dan perbandingan, kita perhatikan bahwa kadar penyembunyian, dan tingkatan lapisan penutup, serta ketebalan dalam pernyataan verbal tidak langsung, berbeda-beda. Kita juga perhatikan bahwa apa yang sangat tersembunyi bagi sebagian orang tidak demikian bagi yang lain yang memiliki kecerdasan dan kepintaran.
Di antara penutup verbal yang tidak terlalu tebal, yang dapat dipahami oleh orang dengan kecerdasan rata-rata atau di bawahnya dengan mudah tentang apa yang ada di baliknya, adalah penutup-penutup perumpamaan, metafora, beberapa alegori, dan kiasan yang banyak beredar di antara orang-orang, serta sindiran yang sedikit mengandung hubungan logis.
Lapisan penutup bertambah seiring dengan semakin jauhnya perumpamaan, semakin jauhnya alegori, semakin jauhnya kiasan, dan semakin banyaknya rangkaian hubungan logis.
Makna yang ditunjukkan melalui pernyataan verbal tidak langsung, memiliki empat tingkatan:
Tingkat Pertama:
Makna yang dekat dan mudah dipahami, tidak memerlukan penelusuran implikasi intelektual yang rumit.
Contoh: Untuk menunjukkan seseorang yang tinggi, kita berkata: “Dia tidak bisa masuk pintu kecuali menundukkan kepala atau membungkukkan badannya.”
Contoh lain dari Al-Quran (Surah Al-Baqarah/2: 195):
﴿… وَاَحْسِنُوْا ۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ ١٩٥ ﴾
“… Dan berbuatlah baik, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.”
Maksudnya: Allah akan memberi mereka pahala atas kebaikan mereka dan memasukkan mereka ke dalam surga kenikmatan, karena siapa pun yang dicintai Allah akan dimuliakan dan dimasukkan ke dalam rahmat-Nya. Ini adalah konsekuensi dari cinta.
Dan firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam Surah Al-Isra / 17 (halaman 50 pewahyuan) tentang kewajiban berbakti kepada orangtua:
﴿ فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا ٢٣ ﴾
“Maka janganlah sekali-kali engkau mengatakan “cih” kepada keduanya, dan janganlah engkau membentak mereka, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.”
Maksudnya: Jangan mengatakan kepada keduanya sesuatu yang lebih buruk dari kata “cih”, dan jangan melakukan tindakan yang lebih buruk darinya. Ini dipahami dengan jelas melalui konsekuensi logis, karena siapa yang dilarang melakukan keburukan ringan, maka dia juga dilarang melakukan keburukan yang lebih berat, sesuai dengan konsekuensi logika.
Tingkat Kedua:
Makna yang memiliki jarak sedang, dapat dipahami oleh pikiran tanpa pemikiran mendalam, dan dapat dipindahkan melalui implikasi ucapan tanpa kesulitan berpikir.
Contohnya: Kiasan tentang banyaknya menjamu tamu di kalangan Badui, seseorang berkata: “Si Fulan banyak abunya” – artinya: dia seorang tamu yang murah hati. Karena banyaknya abu bagi mereka menandakan banyaknya api yang dinyalakan, banyaknya api yang dinyalakan menandakan banyaknya memasak, dan banyaknya memasak menunjukkan banyaknya tamu sesuai kebiasaan.
Tingkat Ketiga:
Makna yang jauh, karena banyaknya implikasi intelektual, atau implikasi tersebut membutuhkan kedalaman berpikir agar pikiran dapat memahaminya. Pada umumnya, hanya orang cerdas dan ilmuwan yang dapat memahaminya.
Dapat kita contohkan dengan perkataan Ibrahim ‘alaihis salam ketika menolak menyembah berhala dan segala sesuatu di bumi, dan mulai mencari Tuhannya di langit, sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla ceritakan dalam Surah Al-An’am / 6:
﴿فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ الَّيْلُ رَاٰ كَوْكَبًا ۗقَالَ هٰذَا رَبِّيْۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَآ اُحِبُّ الْاٰفِلِيْنَ ٧٦ ﴾
“Ketika malam telah menutupinya, dia melihat sebuah bintang. Dia berkata: ‘Inilah Tuhanku.’ Namun ketika bintang itu terbenam, dia berkata: ‘Aku tidak menyukai yang terbenam.'”
Maksudnya: Hilangnya bintang adalah fenomena yang terjadi, dan sifat terjadinya tidak mungkin menjadi sifat Tuhan Pencipta Yang Maha Agung. Bintang tidak layak untuk dijadikan Tuhan, maka aku tidak suka menyembah mereka yang terbenam, yang tidak seorang pun di antara mereka layak menjadi Tuhan Pencipta. Aku hanya mencintai penyembahan Tuhanku Yang Sebenarnya, yang tidak mengalami perubahan.
Kalimat “Aku tidak menyukai yang terbenam” dalam konteks pembicaraan tentang Tuhan Pencipta, bagi mereka yang berpikir, memperhatikan, dan cerdas dalam perenungan, akan memunculkan semua implikasi intelektual dan logis ini.
Tingkat Keempat:
Makna yang ditangkap samar-samar, atau hanya dicium sekilas, yang membutuhkan kepekaan rasa yang halus, dan kemampuan memahami perasaan jiwa di balik ekspresi lisan.
Mungkin tidak ada implikasi pemikiran yang jelas yang menunjukkannya, tetapi isyaratnya bisa berasal dari konteks keadaan, atau dari pernyataan sesuatu dan tidak menyebutkan padanannya atau lawannya, dengan adanya dorongan untuk melakukan pernyataan tersebut.
Kecerdasan dan kekuatan intuisi digunakan dalam bidang ini untuk menemukan makna-makna yang bergejolak dalam jiwa yang tidak diungkapkan oleh lisan, karena suatu alasan, seperti rasa malu, kesombongan, kesucian, ketakutan, atau alasan lainnya.
Kita dapat memberikan contoh untuk tingkat keempat ini dengan contoh-contoh berikut:
1 – Perkataan Musa ‘alaihis salam setelah memberi minum kedua anak perempuan bapak tua yang saleh di dekat air Madyan, kemudian pergi ke tempat teduh, sebagaimana diceritakan Allah ‘Azza wa Jalla dalam Surah Al-Qashash (28:24):
﴿فَسَقٰى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلّٰىٓ اِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ اِنِّيْ لِمَآ اَنْزَلْتَ اِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ ٢٤ ﴾
“Maka dia memberi minum kepada keduanya, kemudian dia kembali ke tempat teduh seraya berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.'”
Tampaknya Musa ‘alaihis salam dengan malu isyaratkan kebutuhannya akan istri dengan isyarat halus yang hanya diketahui dari konteks keadaan. Dia menggunakan kata kerja lampau “turunkan” dengan keyakinan bahwa Tuhannya akan mengabulkan doanya, dan kebutuhannya akan segera terpenuhi.
2 – Perkataan Ayub ‘alaihis salam setelah sakit berkepanjangan selama delapan belas tahun: “Ya Tuhan, setan telah menimpaku dengan kelelahan dan penderitaan.” Allah ‘Azza wa Jalla menjelaskan doanya dalam Surah Shad (38:41):
﴿وَاذْكُرْ عَبْدَنَآ اَيُّوْبَۘ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الشَّيْطٰنُ بِنُصْبٍ وَّعَذَابٍۗ ٤١ ﴾
“Dan ingatlah hamba Kami Ayub ketika dia berdoa kepada Tuhannya, ‘Sesungguhnya setan telah menimpaku dengan kelelahan dan penderitaan.'”
“Dengan kelelahan dan penderitaan” berarti dengan keletihan, cobaan, dan penderitaan fisik dan mental. Dalam doanya ini, dia dengan malu-malu mengisyaratkan permintaan kesembuhan, dengan menjelaskan pengaruh bisikan setan dalam dirinya akibat lamanya penyakit. Bisikan-bisikan ini telah menambah penderitaan fisiknya dan menyiksa jiwanya.
3 – Perkataan istri ‘Imran ketika melahirkan anak perempuan yang telah dia bernazarkan untuk dikhususkan di Baitul Maqdis, dan dia mengharapkan anak laki-laki, namun lahirlah anak perempuan yang diberinya nama Maryam: “Ya Tuhan, sesungguhnya aku melahirkannya perempuan” – “Dan tidaklah laki-laki seperti perempuan”.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam Surah Ali ‘Imran (3:35-36):
﴿اِذْ قَالَتِ امْرَاَتُ عِمْرٰنَ رَبِّ اِنِّيْ نَذَرْتُ لَكَ مَا فِيْ بَطْنِيْ مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّيْ ۚ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ ٣٥ فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ اِنِّيْ وَضَعْتُهَآ اُنْثٰىۗ وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْۗ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْاُنْثٰى ۚ وَاِنِّيْ سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَاِنِّيْٓ اُعِيْذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ ٣٦ ﴾
“(Ingatlah), ketika istri ‘Imran berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu apa yang ada dalam kandunganku untuk dikhususkan (menjadi hamba) maka terimalah (nazar) dariku. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’ Maka ketika dia melahirkannya, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan.’ Dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya, dan anak laki-laki tidaklah sama dengan anak perempuan. ‘Sesungguhnya aku memberinya nama Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya dan anak keturunannya dari setan yang terkutuk.'”
Dia (istri ‘Imran) mengisyaratkan dengan perkataannya, dengan bantuan konteks keadaan, perasaan kekhawatiran yang memenuhi hatinya saat itu, dan bertanya-tanya dalam dirinya apakah Allah ‘Azza wa Jalla akan menerima anak perempuan ini untuk memenuhi nazarnya sebagai pengganti anak laki-laki yang semula ada dalam pikirannya, tanpa menjadikan hal itu sebagai syarat dalam ungkapan nazarnya.
Maka Allah pun menjawab doanya: “Tuhannya menerimanya dengan penerimaan yang baik dan menumbuhkannya dengan pertumbuhan yang baik…”
4 – Perkataan Dzun Nun (‘Yunus’) ‘alaihis salam ketika berada dalam perut ikan, dalam doanya kepada Tuhannya: “Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam Surah Al-Anbiya’ (21:87-88):
﴿وَذَا النُّوْنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنْ لَّنْ نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنْ لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ ۚ ٨٧ فَاسْتَجَبْنَا لَهٗۙ وَنَجَّيْنٰهُ مِنَ الْغَمِّۗ وَكَذٰلِكَ نُـْۨجِى الْمُؤْمِنِيْنَ ٨٨ ﴾
“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun, ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (memberi kesempatan), maka dia berdoa dalam kegelapan, ‘Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.’ Maka Kami pun memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kesedihan. Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.”
Doa Dzun Nun adalah tauhid, tasbih, dan pengakuan dosa, namun dia dengan sangat malu-malu dari sisi yang tersembunyi mengisyaratkan permintaan untuk diselamatkan.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Contoh-contoh umum:
1 – Perumpamaan seseorang dengan singa menandakan dia seorang yang pemberani adalah petunjuk langsung, tetapi ekspresi ini menunjukkan keberaniannya ketika kita beralih dari perumpamaan ke tujuannya, dan memahami tujuan ini secara intelektual.
2 – Jika kita berkata: “Seseorang adalah perpustakaan besar”, ini menjadi bukti bahwa dia memiliki ilmu yang luas dan pengetahuan yang mendalam, namun dengan petunjuk tidak langsung. Hal ini memerlukan perpindahan dari perumpamaan yang mendalam kepada tujuan dari perumpamaan mendalam tersebut. Dengan perpindahan ini, kita memahami secara intelektual bahwa dia memiliki ilmu yang melimpah dan pengetahuan yang luas.
Ketika ekspresi menggunakan gaya metafora, kepadatan penutup akan lebih banyak, dan langkah perpindahannya pun lebih banyak.
3 – Jika kita berkata: “Si Fulan memiliki istana yang sangat besar”, ini akan menunjukkan secara tidak langsung tentang kekayaannya atau kedudukan tingginya di antara kaumnya.
Petunjuk ini dapat kita capai setelah melakukan beberapa langkah berpikir di balik kata-kata, dan memahami melalui implikasi pemikiran bahwa jika dia tidak kaya atau tidak memiliki kedudukan tinggi di antara kaumnya, dia tidak akan mampu membangun istana yang begitu besar.
Ekspresi ini pun menjadi kiasan yang menunjukkan makna tersebut tanpa kata-kata yang menunjukkannya secara langsung, dan demikianlah halnya dengan semua kiasan.
4 – Firman Allah ‘Azza wa Jalla dengan gaya metafora kiasan, berbicara kepada anak dalam Surah Al-Isra’ (17:24):
﴿وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ ٢٤ ﴾
“Dan rendahkanlah dirimu kepada keduanya dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah, ‘Ya Tuhanku, kasihanilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku sewaktu kecil.'”
Di dalamnya terdapat petunjuk tentang wajibnya seorang anak merendahkan diri kepada orangtuanya, namun petunjuk ini tidak dipahami secara langsung, melainkan setelah melakukan analisis mendalam terhadap metafora kiasan ini. Ekspresi ini termasuk pernyataan verbal tidak langsung yang disampaikan dengan gaya estetis yang indah.
5 – Firman Allah ‘Azza wa Jalla dengan gaya majaz mursal, menggambarkan golongan munafik dalam Surah Al-Baqarah (2:19):
﴿… يَجْعَلُوْنَ اَصَابِعَهُمْ فِيْٓ اٰذَانِهِمْ مِّنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِۗ وَاللّٰهُ مُحِيْطٌۢ بِالْكٰفِرِيْنَ ١٩ ﴾
“Mereka memasukkan jari-jari mereka ke dalam telinga mereka dari suara petir, karena takut mati. Allah meliputi orang-orang yang kafir.”
Di dalamnya terdapat petunjuk tentang kuatnya tekanan pada lubang telinga dengan ujung jari, untuk menghalangi suara petir karena takut mati. Penggunaan kata “jari” sebagai ganti “ujung jari” mengisyaratkan keinginan mereka yang kuat untuk memasukkan seluruh jari ke dalam telinga jika memungkinkan, agar dapat sepenuhnya menghalangi suara petir.
Namun, petunjuk ini tidak dipahami secara langsung dari kata-kata, melainkan setelah analisis mendalam terhadap majaz mursal ini dan perpindahan dari makna literal ke tujuan penggunaannya. Ini termasuk pernyataan verbal tidak langsung.
6 – Firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam Surah Ar-Ra’d (13:17):
﴿اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَسَالَتْ اَوْدِيَةٌ ۢ بِقَدَرِهَا … ١٧ ﴾
“Dia menurunkan air dari langit, maka mengalir lembah-lembah menurut ukurannya.”
Di dalamnya terdapat penyandaran aliran kepada lembah, padahal sebenarnya air yang mengalir. Dengan perenungan, kita menyadari bahwa tujuannya adalah menggambarkan bahwa orang yang melihat air banjir memenuhi lembah akan merasa seolah-olah seluruh lembah ikut mengalir bersama air.
Namun, petunjuk ini tidak dipahami secara langsung dari kata-kata, melainkan setelah analisis mendalam terhadap majaz dalam penyandaran ini dan perpindahan dari makna literal ke tujuan penggunaannya. Ini termasuk pernyataan verbal tidak langsung.
Dengan pola ini, setiap pernyataan verbal tidak langsung dapat dianalisis, sepanjang berada dalam gaya bahasa terpuji menurut para pakar retorika.
Pernyataan verbal tidak langsung adalah pernyataan yang mengungkapkan suatu ide agar dipahami bersamaan dengan ide lain, atau agar dipahami arah ekspresi yang tidak tampak secara jelas, melalui implikasi pemikiran yang dekat, agak dekat, jauh, atau sangat jauh.
Makna lain ini dimaksudkan pembicara untuk diisyaratkan dari sisi yang tidak jelas, dan tidak ingin mengungkapkannya dengan cara langsung, dengan tujuan estetika bahasa, tujuan pendidikan, menyembunyikan maksud dari selain yang dituju, dan berbagai tujuan lain yang dimaksud para pembicara.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Tujuan-tujuan penggunaan pernyataan verbal tidak langsung:
Dengan mempertimbangkan bahwa pernyataan verbal tidak langsung menunjukkan kecerdasan penggunanya, kemampuannya menggunakan seni ekspresi, dan ruang luas untuk kreativitas sastra para penulis genius, pakar retorika, dan penyair, ini adalah wilayah tak terbatas untuk mencapai berbagai tujuan. Tujuan utamanya mencakup beberapa hal:
Tujuan Pertama: sasaran pembicaraan yang memiliki kedudukan tinggi di komunitasnya biasanya tidak menyukai diarahkan dengan pernyataan langsung dalam pengajaran, ajakan pada kebenaran dan kebaikan, nasihat dan petunjuk, atau perintah untuk berbuat baik dan mencegah kemungkaran. Dengan demikian, lebih berpeluang mendapat respons jika menggunakan pernyataan verbal tidak langsung untuk membimbingnya.
Tujuan Kedua: sasaran pembicaraan yang memiliki jiwa yang terserang penyakit kesombongan, enggan menerima pengajaran langsung, ajakan langsung, nasihat langsung, serta perintah dan larangan.
Maka yang lebih diharapkan untuk mendapatkan responsnya adalah dengan menggunakan pernyataan verbal tidak langsung, dengan harapan ia dapat memperoleh manfaat dari apa yang dia simpulkan sendiri dari konsekuensi-konsekuensinya dan petunjuk-petunjuk jauhnya.
Tujuan Ketiga: untuk menunjukkan penghargaan terhadap kecerdasan sasaran pembicaraan dan tingginya kedudukan sosialnya. Memberi isyarat bahwa dia termasuk orang yang cukup dengan sinyal pembicaraan, kiasan, dan simbol-simbol jauh, serta menandakan dia tidak memerlukan pernyataan langsung.
Tujuan Keempat: Memuaskan rasa sastra pada orang yang dituju oleh pembicaraan, karena dia termasuk orang-orang yang menikmati ucapan sastra tinggi yang memiliki makna-makna indah tidak langsung, dan mereka menyukainya dalam jiwa mereka dan merasa senang diajak bicara dengannya, dan mereka tidak peduli dengan ucapan yang memiliki makna-makna langsung yang tidak mengandung maksud-maksud dengan makna tidak langsung.
Tujuan Kelima: Menghindari menghadapi lawan bicara dengan kritik langsung, atau celaan, atau kecaman.
Tujuan Keenam: Menyembunyikan maksud dari khalayak pendengar, dan memberi isyarat hanya kepada lawan bicara melalui simbol, untuk tujuan politis, militer, pendidikan, atau lainnya.
Seperti yang terjadi dalam Perang Khandaq, ketika Rasulullah ﷺ mendengar bahwa Bani Quraizhah telah melanggar perjanjian, maka dia mengirim delegasi dari kaum Anshar yang terdiri dari pemimpin Aus dan Khazraj kepada Ka’ab bin Asad Al-Quraizhiy, pemimpin Yahudi Bani Quraizhah, untuk menyelidiki berita tersebut. Dia berkata kepada mereka: “Pergilah hingga kalian melihat, apakah benar apa yang sampai kepada kami tentang orang-orang ini atau tidak? Jika memang benar, singgungkanlah kepadaku dengan sindiran yang dapat aku pahami, dan jangan terang-terangan menyebutkan anggota tubuh mereka.”
Demikianlah mereka melakukannya ketika mereka mengetahui bahwa Bani Quraizhah memang benar-benar melanggar perjanjian. Setelah kembali kepada Rasulullah ﷺ, mereka mengucapkan salam, kemudian berkata: “Adhal dan Al-Qarah.” Rasulullah ﷺ pun memahami maksud mereka, dan mengetahui bahwa kaum itu telah berkhianat sebagaimana Adhal dan Al-Qarah berkhianat terhadap para sahabat di Ar-Raji’.
Tujuan Ketujuh: Mencapai makna-makna melalui implikasi intelektual yang mungkin tidak memiliki kata-kata yang menunjukkannya secara langsung.
Tujuan Kedelapan: Memperindah ucapan agar lebih berpengaruh dalam jiwa lawan bicara.
Tujuan Kesembilan: Gaya tidak langsung dapat mendekatkan atau memperkenalkan ide yang samar, atau menghadirkannya disertai dengan argumen yang meyakinkan.
Tujuan Kesepuluh: Memungkinkan untuk mengelak dari maksud makna ketika dalam situasi yang memalukan, yaitu apabila maksud tersebut akan menyakiti lawan bicara atau menyakiti orang lain dari kalangan saingan, musuh, atau selainnya.
Dalam banyak keadaan, berbicara dengan orang-orang menggunakan pernyataan verbal tidak langsung adalah yang paling efektif dan paling bermanfaat, karena lebih menyentuh jiwa mereka, lebih memuaskan keangkuhan mereka, atau lebih sesuai dengan kondisi mereka.
Namun, tidak boleh semua pembicaraan dilakukan dengan gaya pernyataan verbal tidak langsung, karena asal dalam pembicaraan adalah gaya langsung, yang bagaikan roti yang dimakan dengan berbagai hidangan.
Gaya tidak langsung hendaknya tidak terlalu banyak menambah pembicaraan, sehingga tidak kehilangan kaidah dan pilar dasarnya, dan hendaknya berada dalam aliran pembicaraan aslinya, sesuai dengan tujuan, dan sesuai dengan hiasan yang dengannya para gadis cantik biasa berhias.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
PERNYATAAN KEDUA
Cara-Cara Pengarahan Tidak Langsung
Teladan yang Baik
-1-
Naluri Peniruan
Generasi muda pada dasarnya tumbuh dengan kemampuan untuk meniru gerakan, tindakan, dan perilakunya dalam kehidupan melalui imitasi dan peniruan.
Anak – baik laki-laki maupun perempuan – pada awal hidupnya meniru orang tuanya dalam setiap gerakan, tindakan, dan perilaku mereka, sehingga dia memperoleh apa yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari, dan segala sesuatu yang menarik baginya dalam hal ilmu dan perilaku.
Peniruan adalah cara tercepat dan termudah untuk belajar secara praktis.
Ketika anak mulai membedakan, anak laki-laki mulai meniru ayahnya dalam gerakan, pakaian, dan perilakunya, dan anak perempuan mulai meniru ibunya dalam gerakan, pakaian, dan perilakunya.
Kemudian, generasi muda laki-laki mungkin memperhatikan seseorang di lingkungan laki-laki yang menimbulkan kekaguman baginya atau orang lain di lingkungannya karena perilaknya yang baik, lebih dari ayahnya, seperti gurunya, kepala sekolah, imam masjid, atau yang lainnya, lalu berusaha untuk menirunya dengan harapan menarik perhatian orang.
Begitu pula generasi muda perempuan mungkin memperhatikan seseorang di lingkungan perempuan yang menimbulkan kekaguman karena penampilannya dan perilakunya, lebih dari ibunya, seperti guru, kepala sekolah, atau salah satu wanita di rumahnya, lalu berusaha menirunya dengan harapan mendapatkan pujian orang.
Jika lingkungan adalah lingkungan di mana pengagungan penyanyi, penari, aktor, dan mereka yang menyimpang dari jalan Allah yang lurus, serta sejenisnya, maka generasi muda di sana akan berusaha untuk mencari sosok yang mereka anggap sebagai model teladan untuk ditiru, diikuti perilaku dan pilihannya, betapapun buruk dan menyesatkannya.
Dan manusia terus berupaya meniru mereka yang unggul dan cerdas, yang merasa dalam dirinya memiliki kesiapan untuk meniru dan meneladani mereka.
Seseorang yang memiliki minat menulis puisi, kagum pada puisi beberapa penyair terkenal yang dibicarakan orang, sehingga dia berusaha menulis puisi dengan metode dan gaya mereka.
Seseorang yang memiliki minat menulis prosa, kagum pada tulisan beberapa penulis besar yang dibicarakan orang, sehingga dia berusaha berlatih menulis dengan metode dan cara mereka.
Seseorang yang ingin menjadi pembicara, kagum pada beberapa orator terkenal yang dibicarakan orang, sehingga dia berusaha berlatih pidato dengan metode dan cara mereka.
Seseorang dengan kemampuan fisik olahraga, kagum pada beberapa atlet yang sesuai dengan bakatnya, sehingga dia berusaha berlatih olahraga dengan metode dan cara mereka, dan bersungguh-sungguh berlatih dengan keras, berharap dapat menjadi juara atau setidaknya memiliki prestasi.
Sebagian generasi muda meniru seorang ahli ibadah yang ditunjuk dengan jari, dan sebagian lagi meniru seorang pemimpin dalam berpakaian, berjalan, potongan rambut, dan gaya kumisnya.
Dari sinilah muncul peniruan dalam mode di antara bangsa-bangsa.
Adapun bidang kompetisi dan prestasi dalam kesempurnaan, peniruan di dalamnya terpuji, karena ia adalah cara termudah dan tercepat untuk belajar secara praktis.
Bersama dengan dorongan peniruan alami, terdapat pula dorongan iri hati terhadap yang ditiru, keinginan untuk berkompetisi dan mengalahkannya.
Terkadang seseorang meniru sejumlah orang dalam karakteristik mereka agar dapat mengumpulkan keistimewaan tersebut jika mampu.
-2-
Alasan Pengaruh Teladan
Pengaruh teladan pada manusia disebabkan oleh beberapa alasan, di antaranya:
Alasan Pertama:
Keinginan manusia untuk belajar apa yang bermanfaat dalam hidupnya dengan mudah, cepat, dan ringan. Apa yang dipelajari manusia melalui pengamatan dan peniruan dalam satu hari, mungkin tidak dapat dipelajari melalui penjelasan verbal selama satu bulan penuh atau lebih.
Karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Ambillah dariku tata cara hajimu” dan berkenaan dengan shalat: “Shalatlah sebagaimana kalian melihatku shalat”.
Kita amati bahwa semua profesi diperoleh dengan meniru para ahli di dalamnya, demikian pula bahasa diperoleh melalui peniruan sejak masa kanak-kanak dini, begitu pula berbagai fenomena perilaku dan kebiasaan masyarakat tempat manusia hidup.
Tindakan, kebiasaan, tradisi, dan berbagai jenis perilaku yang diperoleh manusia melalui peniruan dari lingkungannya, berakar hingga menjadi bagian dari dirinya, sehingga menjadi sangat sulit baginya untuk meninggalkannya, bahkan jika itu adalah kebiasaan dan tradisi yang tidak baik.
Karena itu, ketika argumen rasional mengalahkan kaum musyrik di zaman dahulu bahwa kemusyrikan yang mereka lakukan adalah hal yang batil tanpa kebaikan, dan menghadapkan mereka pada siksa Allah yang kekal, mereka beralasan untuk bersikeras melanjutkan kemusyrikan dan perbuatan tidak baik mereka dengan berkata: “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami mengikuti jejak mereka.”
Allah dalam surat Az-Zukhruf ayat 43 (versi mushaf) atau ayat 63 (versi turun) berbicara tentang mereka dalam dialog dengan Rasul-Nya:
﴿وَكَذٰلِكَ مَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِيْ قَرْيَةٍ مِّنْ نَّذِيْرٍۙ اِلَّا قَالَ مُتْرَفُوْهَآ ۙاِنَّا وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا عَلٰٓى اُمَّةٍ وَّاِنَّا عَلٰٓى اٰثٰرِهِمْ مُّقْتَدُوْنَ ٢٣ ﴾
“Dan demikianlah Kami tidak mengutus seorang pemberi peringatan pun di suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami mengikuti jejak mereka.'”
“Atas umat” berarti: atas agama, tradisi, cara, dan keyakinan. Kata “umat” digunakan dengan makna-makna ini.
Alasan Kedua:
Fitrah manusia untuk meniru orang lain saat melakukan sesuatu yang tidak ia kuasai, yang telah dijelaskan pada paragraf pertama.
Alasan Ketiga:
Model manusia yang menimbulkan kekaguman memberikan pengaruh yang kuat pada banyak orang. Pengaruh ini membangkitkan dorongan meniru dan mencontoh, dengan meneladani model unggul yang mengagumkan mereka, terutama jika banyak lidah memuji model tersebut, mengagungkan sifat, perilaku, cara hidup, atau pemikiran mereka.
Karena itu, kita temui banyak orang mengambil mereka yang memiliki kedudukan nyata atau palsu sebagai teladan dalam perbuatan, perkataan, konsep, dan keyakinan. Mereka membayangkan kebenaran dan kebaikan sesuai apa yang mereka miliki, dan tidak menilai kedudukan berdasarkan kebenaran dan kebaikan yang sesungguhnya.
Dari peniruan mereka terhadap tokoh berkedudukan adalah memberi nama anak mereka dengan nama-nama tokoh tersebut, dengan perasaan kebanggaan nama yang diperoleh dari kemuliaan yang dinamai, berharap anak-anak mereka kelak memiliki kedudukan seperti mereka.
Dari sinilah terjadi pengaruh bangsa-bangsa penjajah terhadap bangsa-bangsa yang dijajah. Bangsa-bangsa yang dijajah memandang bangsa penjajah dengan kekaguman dan rasa hormat, meskipun membenci dan murka akan kekuasaan mereka. Karena pandangan kagum dan hormat ini, mereka berusaha meniru, dengan perasaan bahwa dengan meniru, mereka dapat menyamai kekuatan, menjadi setara, kemudian berupaya unggul dan mendahului.
Alasan Keempat:
Peniruan adalah bentuk pengejaran yang mengandung makna persaingan yang disukai manusia, yang memuaskan egonya, berbeda dengan belajar melalui penjelasan verbal, nasihat, arahan, perintah, dan larangan.
-3-
Pemanfaatan Pembawa Kejahatan terhadap Dorongan Peniruan pada Manusia
Ketika teladan adalah contoh buruk, pengaruh peniruan dan mencontoh menjadi pengaruh merusak, dan jalan pintas mudah bagi para peniru untuk mencapai tingkat keburukan yang dialami teladan buruk mereka.
Para pembawa kejahatan dan setan-setan kerusakan di bumi telah mengetahui pengaruh model-model terpuji dan diagungkan di antara manusia, dan pengaruh ini mendorong mereka untuk meneladani dan menjadikannya panutan.
Karena itu, mereka mulai menciptakan contoh manusia dengan konsep dan keyakinan batil, serta perbuatan sesat, rusak, dan merusak. Mereka membungkus contoh-contoh manusia buatan ini dengan warna dan tampilan menipu, menyorotnya dengan publikasi media, dan menyebarkan ungkapan pujian di antara manusia untuk membangkitkan kekaguman, sehingga menjadi teladan yang akan ditiru.
Di antara contoh-contoh manusia buatan ini adalah tokoh-tokoh ilmiah dengan aliran merusak dan pendapat batil yang dihiasi. Para perusak di bumi telah mengelilingi mereka dengan lingkaran pengagungan dan kekaguman, agar banyak orang mengambil mereka sebagai teladan, mengikuti pendapat dan aliran mereka.
Contoh lainnya adalah bintang seni, kecantikan, keanggunan, dan nyanyian, dari pria dan wanita yang fasik, agar menjadi teladan bagi banyak orang, yang akan ditiru dalam penampilan dan berbagai perilaku mereka, bahkan dalam hal-hal remeh.
Selain mereka, masih banyak contoh lain yang dipenuhi oleh berbagai media, teladan yang akan ditiru generasi muda, dengan segala keburukan, kejahatan, kerusakan, dan penghancuran di dalamnya.
Tidak tersembunyi bahwa promosi dan penyajian contoh-contoh ini di berbagai media dan perangkat, disertai pujian terang-terangan atau tersembunyi, menempatkan materi berbahaya di hadapan banyak orang untuk menggoda dan membangkitkan kekaguman mereka.
Dengan kekaguman, lahirlah keinginan meniru dan meneladani, sehingga contoh-contoh ini menjadi teladan favorit yang akan diikuti langkahnya, baik oleh pria, wanita, pemuda, dan pemudi.
Tidak diragukan bahwa manusia akan merasa mudah meniru, meskipun itu berarti mengikuti, pada saat yang sama sulit menerima nasihat, arahan, dan beban, karena peniruan mengandung makna persaingan yang disukai manusia, yang memuaskan egonya, berbeda dengan perintah dan larangan.
Tidak tersembunyi bahwa wanita lebih mudah tergoda daripada pria. Mereka lebih cepat mengikuti dorongan peniruan dan mengikuti mereka yang dijadikan teladan. Dari sinilah dengan cepat menyebar di antara mereka mode terbaru dan jenis perilaku yang disajikan melalui teladan terkenal dalam seni dan keanggunan, atau dalam hal apa pun yang lidah-lidah kagumi.
-4-
Kewajiban Kaum Muslim Secara Umum dan Pembawa Risalah Secara Khusus
Ketika teladan adalah contoh yang baik, maka pengaruh peniruan dan mencontoh akan menjadi pengaruh yang bermanfaat, dan jalan mudah bagi para peniru untuk mencapai tingkat kesempurnaan yang dicapai oleh teladan mereka yang baik, dengan syarat para peniru memiliki bakat alami dan keinginan yang tulus untuk mencapai tingkat tersebut. Jika tidak, cukuplah bagi mereka untuk bersungguh-sungguh menaiki tangga kesempurnaan yang mereka cari, dan Allah memberikan kepada setiap orang sesuai dengan kesungguhan dan kemampuannya.
Allah telah mengutus seorang rasul di setiap umat, dan menjadikannya teladan yang saleh dan contoh terbaik bagi mereka. Dia juga menjadikan para nabi di antara umat-umat terdahulu setelah para rasul agar menjadi teladan saleh dan contoh baik bagi mereka dan generasi setelahnya. Dia menjadikan mereka sebagai model manusia hidup yang sempurna, yang mengaplikasikan apa yang mereka serukan berupa iman, akhlak, dan perbuatan lahir batin, sehingga mereka terpuji di langit dan bumi, menimbulkan kekaguman dan rasa hormat.
Para sahabat dan pengikut setia mereka mengikuti dan mendapat petunjuk dari mereka, dan mereka yang mengikuti dengan baik menjadi teladan saleh dan model hidup yang ditiru.
Kemudian Allah memilih untuk risalah terakhir sebaik-baik para nabi dan rasul, yang paling sempurna sifat dan perilaku lahir batinnya. Dia menjadi model ideal manusia sempurna dan teladan terbaik bagi para pengikut beriman yang saleh, bertakwa, berbuat baik, dan orang-orang saleh setelahnya.
Karena itu, Allah menjelaskan kepada orang-orang beriman bahwa Rasul-Nya Muhammad adalah teladan yang baik bagi mereka, bagi mereka yang mengharapkan Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Ahzab:
﴿لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ ٢١ ﴾
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
Allah memilih umat Islam secara keseluruhan, bukan setiap individu, dan menjadikannya sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia. Hal ini terlihat jelas pada generasi terbaik pada zaman Rasul, di mana para sahabat pilihan menjadi contoh hidup dari prinsip, hukum, akhlak, dan etika Islam, dan menjadi teladan baik bagi yang lain.
Senantiasa ada sekelompok orang, sedikit atau banyak, dari umat Muhammad ﷺ sepanjang zaman yang menghiasi diri dengan sifat-sifat Islam yang menjadikan mereka teladan baik bagi orang-orang bertakwa dan manusia secara keseluruhan.
Karena pilihan ilahi, umat Islam berkewajiban menjadikan masyarakatnya secara umum sebagai model yang saleh dan teladan baik bagi seluruh manusia, dengan berpegang teguh pada syariat dan hukum Islam serta berakhlak dengan akhlak Islam. Jika hal ini terwujud, keadaan mereka akan lebih jelas dari sekadar perkataan yang mengajak masuk Islam.
Adapun pembawa risalah petunjuk, atau risalah perbaikan dan perlindungan, mereka berkewajiban agar setiap individu menjadi model saleh dan teladan baik bagi seluruh mukmin yang bertakwa. Mereka harus mampu naik di atas tingkat ketakwaan dan mencapai tingkat kebaikan, atau tingkat ihsan dalam iman, akhlak, perbuatan, dan pergaulan mereka dengan manusia. Mereka harus menghiasi diri dengan sifat-sifat hamba Allah Yang Maha Pengasih, karena mereka adalah pemimpin bagi orang-orang bertakwa.
Tidak berguna dalam hal ini adalah berpura-pura dan mencari perhatian orang. Pakaian riya akan transparan dan memperlihatkan apa yang ada di baliknya, dan pelakunya pasti akan terbongkar suatu hari nanti. Kebenaran akan terungkap, dan orang akan mengetahui bahwa dia selama ini hanya menipu dengan penampilannya untuk tujuan duniawi.
Barangsiapa menyembunyikan niat buruknya, Allah akan menutupinya. Barangsiapa menyembunyikan dosa dari manusia, Allah akan menutupinya terlebih dahulu agar dia bertobat. Namun jika dia tidak bertobat dan terus mengulangi dosanya, Allah akan mengungkapkannya.
Sangat disayangkan bahwa realitas mayoritas muslim saat ini justru menjauhkan orang dari Islam karena tidak konsisten menjalankan syariat, hukum, akhlak, dan etikanya.
Dan sungguh disayangkan juga bahwa kebanyakan keadaan para dai dan penasihat pembimbing, para pembawa pesan hidayah atau pesan perbaikan dan perlindungan, tidak berkomitmen dengan apa yang mereka serukan kepada manusia, atau bahwa banyak di antara mereka adalah orang-orang yang riya’ pencari dunia yang berpura-pura dalam keadaan baik, dan dengan pakaian kesempurnaan, padahal mereka berlawanan dengan itu dalam apa yang mereka sembunyikan dari mata orang banyak dari perilaku mereka, sehingga mereka tidak mewujudkan sifat-sifat orang yang bertakwa, apalagi menjadi orang-orang yang baik atau berbuat kebaikan.
-5-
Pentingnya Pendidikan melalui Teladan yang Baik
Mengingat pentingnya pendidikan melalui teladan baik, Allah memerintahkan Rasul-Nya Muhammad untuk meneladani petunjuk para rasul sebelumnya, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-An’am:
﴿اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ فَبِهُدٰىهُمُ اقْتَدِهْۗ قُلْ لَّآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًاۗ اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٰى لِلْعٰلَمِيْنَ ࣖ ٩٠ ﴾
“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: ‘Aku tidak meminta upah kepadamu untuk (menyampaikan)nya. Al-Quran itu tidak lain adalah peringatan untuk seluruh umat.'”
Dan Allah berfirman kepadanya (Nabi Muhammad) dalam surat Al-Ahqaf:
﴿فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ اُولُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَّهُمْ ۗ…﴾
“Maka bersabarlah engkau sebagaimana kesabaran para rasul yang memiliki keteguhan…”
Dan dalam surat Al-Mumtahanah, Allah menyapa Rasul-Nya dan para mukmin:
﴿قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗۚ …﴾
“Sesungguhnya telah ada teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya…”
Dan ketika Allah Yang Maha Perkasa menjadikan istri-istri Nabi SAW sebagai teladan yang baik bagi para wanita Muslim, Dia mempertegas aturan hukuman dengan melipatgandakannya jika salah satu dari mereka melakukan perbuatan keji yang nyata, agar mereka berhati-hati dan menjauhkan diri dari mendekati tempat-tempat yang dapat menggelincirkan ke dalam perbuatan keji. Dengan demikian Allah menyucikan mereka dengan penyucian yang besar. Sebagaimana Allah juga menjadikan bagi mereka jika mereka taat (yaitu: menaati dan tunduk serta beribadah kepada Allah) dan mengerjakan amal saleh, pahala yang dilipatgandakan.
Allah Yang Maha Perkasa berfirman dalam surat (Al-Ahzab/33 dalam mushaf/90 urutan turunnya):
﴿يٰنِسَاۤءَ النَّبِيِّ مَنْ يَّأْتِ مِنْكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ يُّضٰعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِۗ وَكَانَ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرًا ۔ ٣٠ ۞ وَمَنْ يَّقْنُتْ مِنْكُنَّ لِلّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَتَعْمَلْ صَالِحًا نُّؤْتِهَآ اَجْرَهَا مَرَّتَيْنِۙ وَاَعْتَدْنَا لَهَا رِزْقًا كَرِيْمًا ٣١ يٰنِسَاۤءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَاَحَدٍ مِّنَ النِّسَاۤءِ اِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِيْ فِيْ قَلْبِهٖ مَرَضٌ وَّقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوْفًاۚ ٣٢ وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْاُوْلٰى وَاَقِمْنَ الصَّلٰوةَ وَاٰتِيْنَ الزَّكٰوةَ وَاَطِعْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاِنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًاۚ ٣٣ وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلٰى فِيْ بُيُوْتِكُنَّ مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ وَالْحِكْمَةِۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ لَطِيْفًا خَبِيْرًا ࣖ ٣٤ ﴾
“Wahai istri-istri Nabi, siapa di antara kalian yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipatgandakan siksaan untuknya dua kali lipat. Dan hal itu mudah bagi Allah. Dan siapa di antara kalian yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal saleh, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezeki yang mulia. Wahai istri-istri Nabi, kalian tidak seperti wanita-wanita yang lain, jika kalian bertakwa. Maka janganlah kalian tunduk (melemah-lembutkan suara) dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, wahai ahlul bait, dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya. Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumah kalian dari ayat-ayat Allah dan hikmah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.”
“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, wahai ahlul bait, dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya”: yaitu Allah tidak bermaksud dengan arahan kewajiban-kewajiban yang diperkuat ini, dan ancaman yang diperkuat, dan harapan akan pahala yang dilipatgandakan, kecuali perhatian kepada kalian, agar kalian bertakwa kepada Allah dengan pilihan kalian, sehingga Allah menghilangkan dari kalian dengan itu kotoran-kotoran maksiat dan perbuatan-perbuatan keji, wahai keluarga Rasul, dan untuk menyucikan kalian dengan itu penyucian yang lebih dari yang lain hingga kalian menjadi teladan bagi para wanita muslimah. Karena sifat yang diikuti (teladan) itu harus lebih tinggi derajatnya dari yang mengikuti.
Sesungguhnya teladan yang baik adalah fungsi kepemimpinan bagi kaum muslimin dan muslimah, dan siapa yang menduduki posisi imam maka ia harus berkomitmen dengan kewajiban-kewajiban posisi ini. Dan jika ia melalaikannya, ia akan dicopot darinya, dan jika ia melakukan maksiat-maksiat yang melanggar hak-hak tingkatan orang-orang yang bertakwa, azabnya akan dilipatgandakan, sebagaimana terdapat dalam peringatan kepada hamba-hamba Ar-Rahman yang merupakan para imam orang-orang yang bertakwa agar mereka tidak jatuh ke dalam dosa-dosa besar syirik atau pembunuhan atau zina.
Dan kita memahami dari ini bahwa para wanita pembawa pesan hidayah, atau pesan nasihat dan bimbingan serta amar makruf nahi mungkar, hendaknya meneladani istri-istri Rasul dalam kuatnya komitmen mereka, agar mereka menjadi teladan yang baik bagi para wanita muslimah, dan sebaiknya mereka seperti suami-suami mereka dalam membawa pesan di antara para wanita dan memiliki kualifikasi untuk hal itu.
Penutup:
Teladan yang baik dan menakjubkan akan tampak dalam diri seorang dai yang bijak, penasehat, pemimpin, dan dalam bentuk masyarakat yang menampilkan model ideal masyarakat utama.
Teladan yang baik dan menakjubkan dalam kedua bentuknya menarik jiwa dan hati untuk meniru dan mengikuti, dengan kebaikan perilaku individu dan sosialnya, dan dengan menjalani kehidupan yang diridhai, tenang, mapan, aman, dan bahagia. Hal ini menyiapkan kemampuan berpikir orang lain untuk meyakini kebenaran dan keselamatan prinsip-prinsip yang diyakini oleh teladan ini, serta keteguhan metode yang dijalaninya, sehingga mempengaruhi keadaannya secara tidak langsung.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
BAGIAN KETIGA
Metode Bimbingan Tidak Langsung
Lingkungan dan Pergaulan yang Baik
-1-
Pendahuluan
Lingkungan dianggap sebagai salah satu sarana bimbingan tidak langsung yang paling berbahaya dan terbesar. Konsep-konsep lingkungan sosial, adat istiadat, kebiasaan, kecintaan dan ketidaksukaannya, stimulus dan penghambatnya, serta cita-citanya menyebar ke semua generasi muda di dalamnya atau mereka yang bergaul dengannya, meresap ke dalam diri mereka, sebagaimana air meresap ke dalam tanah ketika berdekatan. Mereka menyerap dan menyimpannya dalam diri mereka sendiri dengan cara yang sangat alami, tanpa menyadari bahwa mereka melakukannya, terutama jika anggota lingkungan bertemu dalam hubungan pertemanan dan pergaulan yang baik, saling bekerja sama, bersaudara, dan penuh cinta.
Dengan pengecualian beberapa individu langka yang memiliki keadaan khusus yang jarang terjadi.
-2-
Sebab-sebab Pengaruh Lingkungan Sosial
Pengaruh lingkungan sosial terhadap mereka yang tumbuh di dalamnya atau bergaul dengannya dalam waktu yang lama disebabkan oleh beberapa alasan, di antaranya:
Alasan Pertama: “Dorongan Alami Manusia untuk Bergaul dengan Sesamanya”.
Manusia diciptakan sejak awal sebagai makhluk sosial. Ia dimulai dengan kombinasi dari ibu dan ayahnya, dan merupakan keturunan yang berasal dari kombinasi-kombinasi sebelumnya, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Hujurat ayat 49:
﴿يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ١٣ ﴾
“Wahai manusia, sungguh Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”
Ia mewarisi dorongan sosial yang ada pada leluhurnya, sejak Allah menempatkan Adam dan istrinya di surga, dan meletakkan rasa kasih sayang dan belas kasihan di antara laki-laki dan perempuan.
Alasan Kedua: “Dorongan yang Diperoleh dari Pertumbuhan”
Setiap individu tumbuh dalam lingkungan orangtua yang memberikan kasih sayang, kelembutan, cinta, dan apa yang dibutuhkan untuk kehidupannya pada masa pertumbuhan. Kemudian ia menemukan dirinya dalam keluarga yang lebih luas, dengan saudara-saudara, dan sebagainya, dan menemukan keakraban serta banyak hal yang disukainya dalam kehidupan seperti bermain, bersenang-senang, dan berbagai kenikmatan hidup.
Kemudian ia menemukan dirinya dalam masyarakat yang lebih luas, sehingga dalam dirinya tumbuh cinta akan pergaulan manusia dan keakraban dengannya. Ia terus menyukai pergaulan, mencintainya, dan membenci keterasingan. Ia merasa nyaman dalam pergaulan karena menemukan ketenangan jiwanya, kepentingannya, dan rasa amannya di dalamnya. Ia mengungkapkan pergaulan sebagai ekspresi perasaan kasih dan sayang yang telah digariskan padanya, yang mendorongnya untuk mengungkapkannya, dan karena ia menemukan dalam pergaulan pemenuhan banyak keinginannya, termasuk partisipasi dalam kegiatan, persaingan, dan keinginan untuk dihargai.
Allah Yang Maha Mulia telah menjelaskan fitrah keinginan masing-masing pasangan suami-istri untuk saling mencintai dan menyayangi, sebagaimana firman-Nya dalam surat Ar-Rum ayat 30:
﴿وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ ٢١ ﴾
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”
Dan firman Allah dalam surat Al-A’raf:
﴿۞ هُوَ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ اِلَيْهَاۚ…﴾
“Allah-lah Yang menciptakan kamu dari satu diri, dan dari padanya Dia menciptakan istrinya agar dia merasa tenteram kepadanya.”
Allah juga menjelaskan cinta manusia terhadap keturunan, yang menjadi tanggungan keluarga – sel terkecil dalam masyarakat – sebagaimana dalam surat Ali Imran:
﴿زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ ١٤ ﴾
“Dijadikan indah (pada pandangan) manusia cinta kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”
Alasan Ketiga: Keinginan manusia untuk memperoleh ilmu pengetahuan, pengetahuan, keterampilan praktis dan industri, yang dicapai oleh orang lain, dan ini tidak dapat terjadi kecuali dengan perkumpulan manusia.
Merupakan hal yang jelas bahwa salah satu manfaat perkumpulan manusia adalah bahwa orang-orang saling memperoleh dari satu sama lain ilmu pengetahuan dan pengetahuan yang telah mereka capai, dan pengalaman serta keterampilan praktis kehidupan yang telah mereka peroleh, serta pengalaman dan keterampilan industri, dan lain sebagainya dari jenis-jenis perilaku berperadaban.
Dan karena manusia secara fitrah mencintai pengetahuan tentang apa yang bermanfaat baginya dalam kehidupannya, dan mencintai perolehan pengalaman dan keterampilan yang telah diperoleh oleh orang lain, maka fitrah ini pasti mendorongnya untuk berkeinginan berkumpul dengan orang-orang yang darinya ia memperoleh hal-hal ini, dan untuk saling bertukar pertemuan persaudaraan, persahabatan, dan kasih sayang, serta saling bertukar pemberian ilmu pengetahuan, pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan.
Alasan Keempat: “Ketidakmampuan manusia untuk memenuhi sendiri semua yang dibutuhkannya dalam hidupnya, oleh karena itu ia bersemangat untuk bergabung dalam masyarakat manusia di mana individu-individunya saling bertukar produk-produk spesialisasi mereka.”
Manusia sendirian tidak mampu memenuhi semua kebutuhannya. Oleh karena itu, ia sangat antusias untuk bergabung dalam masyarakat di mana setiap anggota saling bertukar produk dari keahlian mereka. Seorang individu tidak mungkin menjadi petani, penggiling, pemanggang roti, juru masak, penenun, penjahit, pembangun, dokter, dan insinyur sekaligus. Setiap orang memiliki satu spesialisasi dari berbagai spesialisasi yang ada dalam masyarakat. Mereka memberikan keahliannya kepada mereka yang membutuhkan dan menerima keahlian dari orang lain sesuai kebutuhannya.
Dan inilah yang membuat individu terdorong untuk menjadi salah satu anggota masyarakat yang tidak bisa ia lepaskan, sehingga ia terikat dengannya dengan ikatan kepentingan timbal balik, yang darinya muncul hubungan-hubungan dan ikatan-ikatan sosial, emosional, sentimental, dan kepentingan.
Penyendiran adalah penyimpangan sementara yang mungkin dialami sebagian orang karena alasan psikologis yang tidak sehat, dan bukan merupakan fenomena yang sehat.
-3-
Adaptasi Manusia dengan Lingkungan Sosialnya
Berdasarkan alasan-alasan yang telah disebutkan sebelumnya, kita melihat bahwa manusia – dalam perilaku alamiahnya – ketika berada dalam suatu lingkungan sosial, secara spontan akan mencoba menyesuaikan diri, mengubah kebiasaan dan pola perilakunya agar dapat hidup harmonis dan selaras dengan masyarakat manusia di sekitarnya. Hal ini dilakukannya untuk menghindari perasaan terisolasi secara psikologis yang tidak disukainya secara alamiah. Jika ia terus tidak selaras dengan lingkungan tempatnya berada, ia akan menjadi objek keheranan dan penolakan dari mitra sosialnya.
Hal ini terjadi kecuali jika ia memiliki niat khusus sebelumnya, yang didukung oleh pemikiran dan keyakinan yang kuat melawan lingkungan tempatnya berada, terhadap konsep dan pola perilaku lingkungannya, atau terhadap individu-individu di dalamnya. Ini adalah sesuatu yang mendorong kaum Yahudi pada umumnya untuk tidak melebur atau larut dalam lingkungan di mana mereka berada, yang dibantu dengan membentuk pemukiman khusus di setiap negara atau lingkungan di mana mereka tinggal.
Orang-orang dipermudah untuk cepat berubah menyesuaikan diri karena mereka memiliki naluri bawaan untuk meniru dan mengikuti orang lain, karena berbagai alasan yang membuat mereka merasa nyaman, seperti rasa kagum, kekaguman, atau kadang-kadang keinginan untuk mengejek atau menghina orang lain atas cacat fisik atau moral melalui peniruan, yang kemudian menjadi kebiasaan karena pengulangan.
Peniruan bisa menjadi refleks otomatis tanpa kesadaran nyata, seperti bayangan yang tercermin di cermin. Kita bisa melihat hal serupa pada beberapa orang yang bergerak dengan tangan dan otot wajah mirip dengan gerakan para pekerja di depan mereka dalam berbagai pekerjaan industri atau seni, seperti tukang besi, tukang kayu, atau pelukis.
Kita bisa mengatakan bahwa peniruan dalam perbuatan dan perkataan merupakan salah satu reaksi alami manusia terhadap apa yang mereka saksikan yang tidak termasuk praktik biasa mereka.
Kita telah mengetahui sebelumnya bahwa naluri meniru adalah naluri yang bermanfaat bagi manusia jika bergerak dalam lingkup kebaikan, kebajikan, dan perbuatan saleh, atau diarahkan untuk mengadopsi sesuatu yang bermanfaat tanpa bahaya, dosa, atau kesalahan.
Naluri bermanfaat ini, jika diarahkan dengan baik, akan memudahkan manusia mempelajari kebajikan, keterampilan industri, dan seni dengan cepat. Ia akan memudahkannya mengadopsi dengan cepat pekerjaan-pekerjaan tingkat tinggi yang sebelumnya hanya dapat dicapai generasi terdahulu setelah melalui banyak pengembangan, pengujian, percobaan, dan perbaikan yang akhirnya mengarah pada pemilihan yang terbaik dan terindah.
Naluri ini memudahkan manusia melakukan perbuatan baik yang sulit bagi dirinya sendiri dan bertentangan dengan hasrat dan keinginannya, karena ia melihat orang-orang sederajat di lingkungannya melakukannya dengan mudah dan ringan, disertai keinginan hati dan jiwa yang didorong oleh harapan akan pahala yang berlimpah dan hasil yang terpuji.
Peniruan dalam lingkungan sosial untuk pekerjaan yang diamati dapat mengkayakan proses belajar dalam hitungan menit, menggantikan penjelasan verbal panjang yang mungkin membutuhkan jam, hari, atau bahkan beberapa bulan.
Sifat naluri ini, seperti naluri lain yang telah Allah fitrahkan pada manusia, dapat dimanfaatkan untuk kebaikan dan dapat pula disalahgunakan untuk kejahatan. Mereka yang memiliki wawasan pemikiran, petunjuk agama Ilahi, dan kehendak sadar yang bertanggung jawab atas pembentukan perilaku, adalah yang mampu mengendalikan naluri dari penyimpangan dan melampaui batas kebenaran, kebaikan, dan kebajikan.
-4-
Keharusan Mempersiapkan Lingkungan Islam yang Baik
Mengingat lingkungan sosial manusia merupakan salah satu sarana bimbingan tidak langsung yang paling berbahaya, paling besar, dan paling berpengaruh bagi mereka yang hidup di dalamnya dan merasa menjadi bagian darinya, maka menjadi kewajiban umat Islam, terutama para pembawa risalah – baik yang spesialis maupun non-spesialis – untuk memberikan perhatian serius dalam mempersiapkan lingkungan Islam yang baik, terdiri dari individu, keluarga, dan kelompok yang saleh, sehingga lingkungan ini memiliki tekanan sosial yang mengelilingi mereka yang hidup di dalamnya dengan keanggotaan yang sejati.
Setiap kali seorang petunjuk baru tertarik pada iman dengan dasar akidah Islam yang benar, dan jalur Islam yang lurus terbuka baginya, serta jiwanya tertarik pada keindahan perilaku Islam, para pendakwah pemberi petunjuk akan membimbingnya ke dalam lingkungan yang sesuai dengan keadaannya, dalam lingkungan yang telah mereka persiapkan secara islami, sadar, dan bijaksana.
Pendidikan Islam Muhammad dalam metodologi pendidikannya sangat bergantung pada penyiapan lingkungan Islam yang baik. Mereka fokus membentuk masyarakat Muslim pertama melalui petunjuk dakwah, nasihat, arahan, perintah berbuat baik, mencegah kemungkaran, dan melalui teladan terbaik serta pendidikan bijak dalam komitmen pada hukum, syariat, akhlak, dan etika Islam.
Masyarakat ideal ini menjadi inti dan lingkungan baik untuk membimbing setiap orang yang masuk ke dalamnya. Mereka dengan cepat mengubah orang dari kondisi sebelum Islam melalui proses peniruan, keinginan untuk beradaptasi, metode pendidikan, bimbingan, persuasi, motivasi, dan berbagai bentuk pendidikan lainnya.
Demikianlah keadaan lingkungan Islam Muhammad awal, di mana mereka yang mendapat petunjuk iman akan menemukan diri mereka berputar dan berbaur dalam pusaran masyarakat Islam yang bekerja sama saling terkait dalam kebajikan dan ketakwaan, mengikuti jalan Allah dan Rasul-Nya.
Mereka akan merasakan diri mereka dipimpin dan memimpin, sejalan dengan gerakan masyarakat yang harmonis dalam pemikiran, keyakinan, perilaku, keinginan, dan harapan – kecuali mereka yang masuk dengan kemunafikan atau keislaman tanpa iman, yang akan menemukan diri mereka menghadapi hambatan dan pertentangan, berbeda dalam keinginan, dan tidak melebur secara nyata dengan masyarakat.
Mengikuti teladan masyarakat ideal pertama (sahabat) dan meneladani pendirinya yang ma’shum (terjaga dari kesalahan-yaitu Nabi Muhammad), para ulama Muslim bersama murid-murid mereka dan semua yang berkumpul di sekitar mereka telah mempersiapkan lingkungan Islam yang memiliki kekhasan tersendiri dalam gerakan kehidupan, akhlak, perilaku, dan interaksi yang ditandai dengan kebaikan, kebajikan, komitmen pada kewajiban, menjauhi hal-hal yang diharamkan Islam, serta kerja sama, saling mencintai, dan pendekatan sosial. Mereka bergerak dalam lingkungan besar seperti kelompok burung yang terbang bersama di udara atau kelompok ikan yang berenang bersama di air.
-5-
Serangan Pemikiran melalui Lingkungan
Para perusak di muka bumi mengetahui kekuatan pengaruh lingkungan dalam membentuk manusia secara pemikiran, psikologis, dan perilaku. Mereka memberikan perhatian luar biasa untuk memanfaatkan lingkungan kecil dan besar guna mencapai tujuan mereka membentuk generasi masyarakat Islam yang mereka serang sesuai kehendak mereka.
Serangan ini sangat beragam, dengan berbagai bentuk inovatif, memasuki setiap lokasi kecil dan besar di mana lingkungan dapat terbentuk. Karenanya, diperlukan tindakan balasan serupa dengan tindakan para penyerbu di berbagai lingkungan.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
BAGIAN KEEMPAT
Metode Bimbingan Tidak Langsung
Cerita Bermanfaat dan Pertunjukan Representatif yang Berguna
-1-
Cerita Bermanfaat
Cerita adalah salah satu seni penyampaian naratif tidak langsung, yang bertumpu pada kisah peristiwa berurutan dan saling terkait dengan awal dan akhir temporal, dengan konteksnya. Peristiwa-peristiwa ini berkisar pada satu pusat (seorang tokoh, keluarga, sekelompok orang, suatu bangsa, atau bagian peristiwa alam, baik kecil maupun besar).
Karena bimbingannya tidak langsung, cerita memiliki pengaruh kuat dalam pemikiran dan jiwa, mendorong peniruan dalam perkataan, perbuatan, akhlak, dan berbagai jenis perilaku, jika kisah tersebut membangkitkan kekaguman dalam diri pendengar atau pembacanya, dan pelajarannya menyentuh respon positif.
Cerita umumnya masuk ke dalam jiwa tanpa izin, karena ia menceritakan – walau hanya dalam imajinasi – peristiwa yang terjadi dalam realitas. Jiwa manusia memiliki fitrah mencintai pengetahuan tentang peristiwa yang terjadi, bagaimana terjadinya, kesudahan, dan akibat yang menyebabkannya, untuk diambil pelajaran dan nasihat.
Cerita menyajikan gagasan, perbuatan, akhlak, dan berbagai jenis perilaku psikologis dan tampak sebagai hal-hal nyata, bukan sekadar nasihat dari pemikiran abstrak yang terlepas dari realitas kehidupan manusia. Cerita disenangi jiwa karena selaras dengan gerak imajinasi, menyertainya, dan bahkan mendukung serta memberi makan imajinasi sesuai pandangan dan ambisi imajinatifnya, terutama jika berisi hal-hal aneh dan langka.
Cerita pada umumnya tidak menemui hambatan psikologis, kecuali jika orang yang dituju memiliki perasaan penolakan khusus terhadap penyampai atau pewaris cerita. Dapat diamati bahwa semua orang menyukai mendengar cerita atau menyaksikan peristiwanya dalam realitas atau pertunjukan.
Kita melihat anak-anak kecil dengan naluri mereka sangat terikat pada orang yang menceritakan kisah kepada mereka, bahkan jika kisah itu khayali atau mitos. Mereka sangat terikat pada menonton film kartun dan terpengaruh olehnya, meskipun sebagian besar bersifat imajinatif.
Mengingat pengaruh cerita pada jiwa manusia dan cinta orang pada cerita di berbagai tingkatan dan usia, kita mendapati bahwa berbagai masyarakat, bahkan yang paling primitif sekalipun, mengandalkan cerita dalam pengajaran, pendidikan, pembinaan, dan bimbingan, bahkan tanpa memiliki sastra tertulis.
Orang-orang semakin meluas dalam penggunaan cerita setelah memiliki sastra tertulis yang diwariskan antar generasi. Hal ini semakin berkembang ketika mereka menyadari nilai pengaruh bimbingan tidak langsung, dan tumbuh secara besar ketika para sastrawan dan kritikus sampai pada pemahaman sastra cerita, seni, dan gaya yang mempengaruhi.
Cerita yang dibangun dengan baik secara artistik dapat mencapai tingkat pengaruh yang membuat pembaca dan pendengar, terutama anak-anak dan remaja, terbenam sangat dalam dalam peristiwa cerita. Mereka bereaksi dengan tokoh-tokohnya dalam keterlibatan emosional yang sangat kuat, sampai kesedihan bisa mencapai tingkat yang memunculkan air mata, dan kemarahan bisa mencapai tingkat yang mendorong pembelaan imajiner dalam gerakan yang tidak sadar.
Pembaca atau pendengar cerita mungkin memosisikan diri sebagai tokoh cerita, seolah peristiwa berlangsung dalam dirinya sendiri, sampai lupa akan realitasnya dan melupakan bahwa ia sedang membaca cerita lama atau cerita buatan, bahkan cerita mitos yang sama sekali tidak mewakili realitas.
Sering kali pembaca menyadari sejak awal bahwa ia membaca cerita yang diciptakan penulis dari imajinasinya.
Mengingat pengaruh edukatif dan bimbingan cerita, kita mendapati metode dakwah kepada jalan Allah, nasihat, dan arahan telah memberikan perhatian luar biasa pada cerita, dengan menonjolkan momen-momen pelajaran dan nasihat.
Al-Quran dengan keajaiban bahasanya dan Sunnah Nabi yang suci dengan keindahannya telah menggunakan cerita dalam dakwah kepada jalan Allah, nasihat, arahan menuju kebaikan dan meninggalkan kejahatan dalam proporsi besar, dengan cara artistik sastra yang sangat mempengaruhi.
Tidak tersembunyi bagi pembaca Al-Quran betapa kitab agung ini memuat cerita-cerita menakjubkan yang berisi bimbingan tidak langsung dalam keimanan, pemikiran, akhlak, praktis, dan nasihat bermanfaat yang sangat berpengaruh.
Pembaca hadits Rasulullah akan menemukan cerita-cerita indah yang mengarahkan pada isu-isu keimanan, keikhlasan, cinta dan benci karena Allah, amal saleh, dalam upaya mencari ridha Allah dan surga kenikmatan.
Tanggung Jawab Pembawa Risalah:
Bagi pembawa risalah dakwah ke jalan Tuhannya dengan hikmah dan nasihat yang baik, atau risalah pembinaan dan petunjuk, serta menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, hendaklah memperhatikan penggunaan seni bercerita dari ragam penyampaian persuasif tidak langsung, mengikuti metode Al-Quran yang mulia dan Sunnah Rasul yang agung, mengingat cerita memiliki pengaruh mendalam pada jiwa, bersifat meyakinkan, mendidik, dan mengarahkan, serta mengandung pelajaran dan nasihat yang agung. Namun, ia harus memilih cerita-cerita yang shahih, dan dapat memanfaatkan kisah para nabi dan rasul beserta kaumnya yang terdapat dalam Al-Quran dan Sunnah, kisah-kisah dalam hadits Rasulullah ﷺ, riwayat hidup para sahabat mulia dan pengikut mereka yang baik, serta riwayat hidup para ulama yang jujur dan saleh, serta pahlawan-pahlawan beriman yang berjaya.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
-2-
Pementasan Representatif yang Bermanfaat
Pementasan adalah seni penyampaian tidak langsung secara verbal dan gerak, salah satu ragam penyampaian naratif, yang bertumpu pada penyajian peristiwa cerita atau bagian-bagiannya melalui contoh-contoh kemanusiaan dengan pengiring yang menyerupai apa yang terjadi dalam cerita sesungguhnya, dengan membawakan tokoh-tokoh yang memerankan karakter cerita, mengenakan pakaian seperti mereka, dan bertindak sebagaimana tindakan mereka, sehingga mereka memeragakan perbuatan, gerakan, ucapan, perasaan, dan segala tindakan yang pernah dilakukan dalam cerita, dengan mengikuti tahapan waktu peristiwa, dalam konteks, lingkungan, peristiwa, dan benda-benda yang ada di dalamnya atau menyertainya.
Pementasan memiliki syarat-syarat teknis yang dikenal di kalangan ahli seni ini, yang dipelajari di institusi khusus. Ada yang diterima dan tidak bertentangan dengan syariat Islam, ada pula yang ditolak dan tidak diizinkan dalam Islam, bahkan dalam kondisi keringanan sekalipun.
Apabila telah terpenuhi syarat-syarat teknis yang diperbolehkan secara syariat, tersedia tokoh-tokoh yang mampu melakukan pementasan dengan baik tanpa kekakuan atau kejanggalan, dan tersedia pementasan yang memenuhi persyaratan teknis yang berpengaruh, maka sangat dianjurkan menggunakan pementasan sebagai sarana menyampaikan risalah dakwah atau risalah pembinaan dan petunjuk. Namun demikian, hingga saat ini belum muncul pementasan-pementasan Islami yang layak untuk keperluan tersebut. Dan meskipun telah tersedia kemampuan teknis yang baik serta persiapan pementasan yang sukses dan berpengaruh positif bagi penonton, kita dapat mengatakan: ada baiknya para pembawa risalah memasukkan pementasan dalam cara penyampaian persuasif tidak langsung mereka.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
PERNYATAAN KELIMA
Metode Pengarahan Tidak Langsung
Membaca Bebas dan Pengaruhnya
-1-
Alasan Pengaruh Membaca Bebas
Ketika seseorang duduk sendirian dan mengambil sebuah buku, surat kabar, majalah, atau cetakan atau naskah apa pun, dia merasa memiliki kebebasan penuh untuk membaca atau tidak membaca, dan juga memiliki kebebasan penuh untuk menerima atau menolak apa yang dibacanya. Dia tidak merasakan dorongan psikologis untuk menentang atau menolak karena kesombongan terhadap orang yang darinya dia belajar, atau keinginan untuk unggul darinya, atau takut tampak bodoh di hadapannya atau teman-temannya. Hal-hal semacam ini sering terjadi dalam pertemuan langsung.
Orang yang membaca sendiri dari sebuah buku atau sejenisnya secara bebas, jika tidak menerima beberapa ide yang pertama kali dibacanya, hal itu mungkin tidak akan mencegahnya untuk melanjutkan membaca, terutama jika apa yang dibacanya memiliki gaya penulisan yang baik, bahasa yang indah, mudah dipahami, dan alur pikiran yang logis.
Alasan mengapa dia mungkin tidak berhenti membaca meskipun tidak setuju dengan beberapa gagasan adalah karena ketika suhu permusuhan meningkat, dia tidak menemukan lawan yang bisa dihadapi dan dilawan, sehingga amarah segera mereda. Mungkin hanya akan terwujud dalam bentuk pukulan ringan di buku atau di tanah, coret-coretan di buku, atau beberapa cacian verbal.
Kemudian dia melanjutkan membaca karena rasa ingin tahu, atau tertarik oleh gagasan-gagasan bagus yang membuatnya kagum dan ingin melengkapi pembahasannya. Atau timbul keinginan untuk menyelesaikan penelitian dan memahami seluruh aspeknya. Seringkali, permasalahan yang awalnya menimbulkan keberatan dapat terselesaikan ketika dia menemukan jawaban atas pertanyaannya melalui penjelasan penulis tentang berbagai aspek topik tersebut dan bukti-bukti yang diajukan.
Karena alasan inilah, pembaca dapat memanfaatkan pengetahuan, nasihat, dan berbagai bentuk petunjuk yang bijak, jika buku tersebut mengandung hal-hal semacam itu. Dia akan menyerap pemikiran, ide, dan konsep yang mungkin tidak akan diterimanya jika disampaikan secara langsung oleh seorang pendakwah yang mengajak kepada petunjuk, penasihat, atau orang yang menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Justru dia akan menerimanya dan mendapatkan manfaat yang besar, karena tidak ada halangan psikologis yang menghalangi sejak awal.
Dengan cara yang sama, penyimpangan pemikiran, keyakinan, dan psikologis, serta pembangkit hawa nafsu dan syahwat yang menyimpang dari kebenaran, kebaikan, dan kebajikan, dapat merembes masuk ke dalam jiwa dan mempengaruhinya, terutama jika disajikan dengan seni dan sastra yang indah, dan mengenakan kebohongan, fitnah, dan klaim palsu dengan pakaian kebenaran yang didukung oleh bukti ilmu pengetahuan teoritis dan empiris.
Inilah sifat membaca bebas, sementara situasinya mungkin sangat berbeda jika penulis buku sendiri yang datang dan menyampaikan apa yang ditulisnya secara langsung. Ketika dia mulai berbicara, sebagian orang yang diajak bicara merasa dia menduduki posisi di atas mereka, dan menempatkan dirinya di antara mereka pada posisi guru yang tinggi dan sombong, atau pemilik otoritas yang memberi perintah, larangan, dan nasihat.
Bagi mereka yang memiliki perasaan demikian dan memiliki jiwa yang sombong, akan bangkit dalam diri mereka faktor kesombongan dan penolakan untuk tampak bodoh. Hal ini menciptakan penghalang yang menghalangi pusat penerimaan pengetahuan mereka, dan membuat mereka enggan menerima apa yang disampaikan oleh pembawa risalah petunjuk yang mengajak di jalan Tuhannya, atau pembawa risalah nasihat dan bimbingan, serta perintah kepada kebaikan dan pencegahan kemungkaran.
Dari penolakan ini dapat timbul keinginan untuk menghadapi pembawa risalah, memboikot, mengganggu, meremehkan pendapatnya, mengkritik, mencari-cari kesalahan, membuat tidak nyaman dengan pertanyaan, dan berbagai upaya lain untuk membungkam.
-2-
Pemanfaatan Kerusakan oleh Para Perusak
Para perusak di muka bumi mengetahui kekuatan pengaruh membaca bebas dalam menyampaikan ide, arahan, aliran, dan konsep yang mereka inginkan ke dalam jiwa para pembaca, tanpa hambatan dalam sebagian besar keadaan.
Karena itu, mereka memberikan perhatian luar biasa untuk menggunakan metode ini dalam skala luas, mempermudah alat-alatnya, memperbaikinya, dan membuatnya melimpah, serta menjadikannya terjangkau setiap pembaca. Mereka memuat metode yang berpengaruh ini dengan ribuan tipu daya artistik, sastra, dan intelektual yang menarik jiwa, memuaskan hawa nafsu, syahwat, dan selera estetika, menghibur indra, menggelitik naluri, menggerakkan ambisi, memanfaatkan ketakutan, dan mewujudkan khayalan menjadi kenyataan dalam jiwa pembaca melalui kebohongan dan kedustaan.
Tentara mereka yang banyak dan tersebar di seluruh penjuru bumi, terdiri dari penulis cerita, penulis prosa dan puisi dalam berbagai cabang sastra dan ilmu sosial, jurnalis dari berbagai spesialisasi, penulis berita politik dan sosial, pembuat propaganda berbagai macam, dan lainnya, mendorong gelombang produksi mereka dalam rencana yang ditujukan untuk menyerbu pikiran, jiwa, hati, dan perasaan manusia serta mengarahkan kehendak mereka.
Produksi yang melimpah ini mengambil berbagai jalurnya menuju penerbit di seluruh dunia, dan percetakan melemparkan jutaan cetakan, untuk berada dalam jangkauan tangan para pembaca, di berbagai bangsa di muka bumi.
Publikasi ini bergerak untuk menyerbu pemikiran, akal, hati, dan jiwa, ketika generasi yang haus akan pengetahuan atau menikmati seni dan sastra berbondong-bondong mendatanginya, dan menjadi penyebab kerusakan yang meluas dalam masyarakat manusia.
-3-
Kewajiban Umat Islam
Di sini, setiap orang yang memiliki pemikiran Islam yang murni dapat melihat bahwa umat Islam dibebani untuk menyampaikan risalah Rasulullah ﷺ kepada seluruh umat manusia, dan menjalankan fungsinya di dalam masyarakat Islam, yaitu mencurahkan segala upaya dalam menggunakan metode membaca bebas di antara berbagai metode lain yang harus mereka tempuh.
Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya:
1 – Mendidik generasi muslim untuk mencintai membaca sampai pada tingkat kecanduan, dan menghabiskan beberapa jam setiap hari untuk membaca tanpa jenuh dan bosan. Cinta membaca dapat diperoleh melalui pendidikan, pelatihan, bergaul dengan para pembaca, mengikuti apa yang mereka baca, dan mendorong mereka untuk mengungkapkan apa yang mereka pahami dari bacaannya.
2 – Mendorong para ilmuwan, pemikir, dan penulis muslim secara finansial, psikologis, dan sosial untuk menulis risalah, penelitian, artikel, buletin, dan karya tulis dengan berbagai cara mendorong agar banyak muslim yang berbakat dapat menyampaikan kata-kata yang bermanfaat dan berpengaruh, serta konsep-konsep Islam yang benar kepada berbagai pembaca sesuai minat mereka yang beragam.
3 – Mendorong buku, risalah, koran, majalah, dan buletin bertema Islam yang bermanfaat, bebas dari distorsi, pemalsuan, kesalahan, dan fanatisme, dengan mempromosikan, menerbitkan, dan mendistribusikannya dalam area seluas mungkin, dan memudahkan sampainya ke pembaca di setiap tempat di bumi, terutama di negara dan wilayah yang penduduknya tidak mampu membeli buku bermanfaat karena kemiskinan dan kebutuhan mereka.
Sungguh baik jika sebagian risalah bermanfaat yang menjelaskan pokok-pokok agama, rukun Islam, syariat, hukum, akhlak, dan adabnya dapat sampai secara gratis ke pusat-pusat Islam penting di seluruh negara di dunia.
Saya tidak ingin lupa menegaskan bahwa mengeluarkan harta untuk tujuan ini adalah bentuk jihad di jalan Allah, karena jihad dengan kata-kata Islam yang bermanfaat berada di garis depan jihad di jalan Allah.
4 – Mendirikan perpustakaan umum, dan menarik pembaca ke dalamnya dengan hal-hal yang menarik minat mereka yang diperbolehkan, serta memudahkan cara membaca mereka di dalamnya. Ini dilengkapi dengan pembimbing yang mahir mengarahkan pengunjung untuk membaca hal-hal yang bermanfaat sesuai tingkat dan kemampuan mereka, dengan memudahkan peminjaman buku untuk periode tertentu.
5 – Mendirikan perpustakaan komersial di setiap jalan, lingkungan, dan desa, dan menjadikannya pusat penyinaran yang dikunjungi para pencari ilmu dan sastra, dengan perhatian pemiliknya mengarahkan pengunjung dengan cara-cara yang lembut dan berpengaruh kepada buku, risalah, dan terbitan bertema Islam yang bermanfaat.
6 – Melengkapi lembaga dan fasilitas umum dan swasta yang dikunjungi berbagai banyak orang dan tempat yang mereka tinggali lama, seperti tempat ibadah, sekolah dan ruang kelasnya, klub sastra dan olahraga, rumah sakit, dan hotel, dengan perpustakaan kecil yang sesuai dengan keadaan pengunjung dan pemakainya. Perpustakaan ini berisi buku-buku Islam yang bermanfaat, mudah dijangkau, dan mudah dibaca serta diambil manfaatnya.
7 – Mencetak buku dan risalah kecil yang berisi gagasan yang ingin disebarkan dan diyakinkan, dalam jumlah besar, dengan harga murah, dan ukuran saku, agar cetakan ini dan gagasannya tersebar ke jumlah orang yang sebanyak-banyaknya.
8 – Mengadakan kompetisi dengan hadiah uang seputar informasi yang terdapat dalam buku-buku tertentu, yang memuat gagasan, konsep, dan pengetahuan Islam penting, sebagai strategi mengarahkan dan meyakinkan orang dengan ide Islam.
Dan lain sebagainya dari hal-hal bermanfaat dalam menyebarkan pemikiran Islam, dalam rangka menunaikan kewajiban dakwah kepada Allah, memberi nasihat, petunjuk, menyuruh kepada kebaikan, dan mencegah kemungkaran.
Para pembawa risalah petunjuk atau misi perbaikan dan perlindungan dapat menggunakan metode membaca bebas untuk menyebarkan pengetahuan Ketuhanan yang benar, dan menyajikan ajaran Islam, sistemnya, akhlak, dan konsepnya dengan berbagai cara dan metode ilmiah yang mudah dan dekat dengan basis sosial yang luas, serta cara dan metode sastra yang luwes, memikat, dan berpengaruh pada jiwa dan pikiran, yang diterima banyak orang dan sesuai dengan warna sastra serta tingkat pemikiran masing-masing orang.
Dalam pertarungan pemikiran global, pemikiran Islam pasti akan menang, karena ia adalah kebenaran yang tidak diragukan, dan karena Allah ﷻ telah menjanjikan kepada kaum muslim akan mengangkat agama-Nya yang benar di atas segala agama, meskipun orang musyrik dan orang kafir membencinya.
Sebagaimana firman Allah ﷻ dalam Surah At-Taubah ayat 33:
﴿هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ ٣٣ ﴾
“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar untuk mengalahkannya atas segala agama, meskipun orang-orang musyrik membencinya.”
Tentang topik ini akan dilanjutkan di Bab Keempat – “Sarana Penyampaian Retorika” dalam bagian ini dengan judul Sarana Keenam, jadi akan baik untuk merujuk ke sana guna melengkapi apa yang berkaitan dengan topik ini.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
PERNYATAAN KEENAM
Metode Pengarahan Tidak Langsung
Nyanyian dan Nasyid Dengan Cara Islami dalam Bentuk dan Isi
-1-
Kecenderungan dan Pengaruh Alami
Allah ﷻ telah menciptakan jiwa manusia dengan fitrah mencintai nyanyian dan nasyid, serta menyukai lantunan suara merdu dan terpengaruh bahagia dengan ekspresi yang melegakan jiwa, melalui kata-kata yang disertai suara indah, melodi yang baik, dan pertunjukan musikal[2] yang selaras, tanpa disharmoni, dan sesuai dengan keadaan jiwa serta makna kata.
Ketika manusia tidak memiliki suara bagus yang segar, atau kemampuan melodi vokal yang indah dan pertunjukan musikal yang selaras, dia akan bahagia dan senang mendengar dari orang lain apa yang ingin dia ungkapkan sendiri. Jika dia mendengar suara indah dalam nyanyian yang indah, musik yang selaras cocok dengan kata-kata yang mengekspresikan keadaan jiwanya, maka gerak jiwanya akan terbangun dan dia akan terpengaruh secara besar sesuai dengan potensi tersembunyi dalam dirinya.
Dia mungkin terpengaruh oleh suara saja, bahkan tanpa disertai kata-kata yang mengekspresikan keadaan jiwanya. Alasannya adalah bahwa nada suara memiliki pengaruh berbeda pada jiwa. Sebagian cocok dengan keadaan sedih, sebagian cocok dengan keadaan gembira, sebagian membangkitkan keberanian dan keteguhan, dan seterusnya dari berbagai keadaan jiwa, suara-suara yang membangkitkannya dan mempengaruhinya.
Mayoritas orang dalam kondisi damai dan perang, suka dan duka, kegembiraan dan kesedihan, ketika mengingat prestasi dan kehormatan, dalam ekspresi penyesalan dan kepedihan, atau ketika mengungkapkan kerinduan dan kesedihan, atau dalam berbagai perasaan psikologis lainnya, akan mengulang apa yang sesuai dengan keadaan mereka dari nasyid dan nyanyian yang sebelumnya mereka anggap indah dan akrab, yang pernah mereka rasakan keindahan ungkapannya melalui suara, melodi, dan kata-kata yang sesuai dengan keadaan jiwa pribadi, keagamaan, atau nasional mereka, atau kerinduan dan kesedihan, atau penderitaan dan kesedihan, atau kegembiraan dan kesenangan, atau kemuliaan dan kepahlawanan, atau keberanian dan pengorbanan, atau keutamaan dan kebaikan, atau lainnya.
Perkataan yang dibawa oleh suara indah, atau melodi indah dalam pertunjukan musikal yang selaras, melewati telinga dengan cara yang membahagiakan ke dalam sebagian besar jiwa tanpa pemeriksaan intelektual, terutama jika mengandung kata-kata yang dalam maknanya terkait dengan perasaan, gejolak, keinginan, tuntutan, ambisi, ketakutan, konsep, atau keyakinan yang menguasai jiwa mereka.
Betapa banyak perkataan emosional yang dangkal dan remeh, yang dibawa ke jiwa banyak orang oleh suara, melodi, dan musik indah, yang melewati telinga mereka masuk ke dalam jiwa tanpa kritik intelektual, kemudian menempel di dalamnya, dan akhirnya menjadi ucapan yang diulang-ulang lidah tanpa keberatan, seolah-olah merupakan ungkapan terindah dan termulia.
-2-
Pemanfaatan Para Perusak terhadap Nasyid dan Musik
Para perusak di muka bumi mengetahui pengaruh musik, nasyid, dan nyanyian terhadap jiwa banyak orang, yang dapat mencapai tahap memanipulasi pemahaman mental dan konsep pemikiran mereka.
Mereka segera menguasai para penyanyi pria dan wanita, pencipta melodi, dan penulis lirik nasyid dan nyanyian emosional, nasionalis, patriotik, kritis, komedi, dan yang membangkitkan hawa nafsu tanpa ikatan agama dan moral, serta mendorong untuk meninggalkan kendali kebajikan dan jatuh ke dalam lumpur kehinaan.
Mereka bekerja untuk merekrut siapa pun yang dapat mereka rekrut dengan berbagai rayuan keuangan dan lainnya, untuk mengarahkan musik, nasyid, nyanyian, dan melodi yang mereka hasilkan guna melayani tujuan invasi pemikiran, psikologis, dan perilaku yang mereka lakukan melawan Islam dan umat Islam.
Betapa banyak nasyid yang tersebar luas yang mendorong kefasikan, kemaksiatan, pembebasan dari akhlak mulia, kendali kesucian, dan merendahkan syariat, hukum, dan etika agama. Betapa banyak nasyid yang menyebarkan semangat kedaerahan dan kesukuan yang bertentangan dengan prinsip dan konsep persatuan Islam.
Betapa banyak nasyid yang diulang-ulang oleh mulut remaja dan dewasa, yang mengandung pengagungan prinsip sosial, ekonomi, atau politik, atau filsafat yang bertentangan dengan prinsip, hukum, syariat, dan keyakinan Islam.
Betapa banyak nasyid dan nyanyian yang memuliakan para pemimpin buatan yang mengkhianati bangsa dan negara mereka, yang diangkat musuh Islam ke posisi kepemimpinan melalui permainan dan tipu daya politik dan media sebagai imbalan atas pengkhianatan mereka yang di dalamnya mereka menjual diri, rakyat, dan negara mereka, dan mengerahkan seluruh kekuatan mereka untuk mencapai tujuan musuh mereka.
Generasi mengulang nasyid-nasyid ini secara membabi buta, mengira bahwa kandungan pemikirannya adalah hal-hal yang sudah diterima, yang tidak menerima keberatan atau kritik. Para perusak di muka bumi telah mencapai banyak tujuan mereka melalui metode pengarahan tidak langsung ini.
-3-
Pandangan Islam terhadap Penggunaan Cara Ini
Berdasarkan apa yang saya pahami dari pernyataan Rasul ﷺ dan pemahaman syariat Islam secara umum, saya berpendapat bahwa tidak ada halangan dalam Islam untuk menggunakan nasyid dan nyanyian guna berdakwah kepada Islam, meneguhkan akidah dan konsep-konsepnya, memberi nasihat dan petunjuk, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, mendorong ketaatan pada syariat, aturan, hukum, akhlak, dan adab Islam, membanggakan dan mengagungkan kejayaan kaum Muslim serta sejarah cemerlang mereka, dan mengajak meneladani generasi salaf (pendahulu) yang saleh.
Demikian pula nyanyian-nyanyian doa dan permohonan kepada Allah, shalawat dan salam kepada Rasul-Nya, menceritakan akhlak dan perjuangannya, serta memuji kelebihan yang dianugerahkan Allah kepadanya. Begitu pula nyanyian semangat yang mendorong jihad di jalan Allah, berkorban dengan harta dan jiwa untuk meninggikan kalimat Allah, menolong agama-Nya, menegakkan keadilan di muka bumi, dan melawan kezaliman, kebatilan, dan kerusakan.
Semua ini dengan syarat tidak berlebihan dalam nasyid dan nyanyian, nyanyian tidak menjadi tujuan itu sendiri, terhindar dari kelunakan dan kemolekan, tidak disertai alat musik yang diharamkan, lafal-lafalnya bebas dari pelanggaran agama, dan tidak mengandung ungkapan metafora yang dapat menimbulkan pemahaman tidak pantas tentang keagungan Allah, Rasul-Nya, atau syariat Islam.
Contoh yang tidak diperbolehkan adalah ungkapan berbentuk kiasan tentang kebahagiaan dengan menyerupai minum khamer, serta ungkapan bernuansa syahwat sebagai kiasan cinta kepada Allah atau Rasul-Nya. Hal-hal seperti ini dahulu sering digunakan para pelaku maksiat, kemudian disalahpahami oleh orang-orang bodoh, hingga menjadi tradisi dangkal yang dimasukkan ke dalam agama tanpa dasar, serta menimbulkan bid’ah yang tidak memiliki landasan.
Tinjauan Terhadap Dalil-Dalil:
Alangkah baiknya kita melihat dalil-dalil yang membolehkan nyanyian dan lantunan, dengan syarat-syarat yang telah disebutkan sebelumnya.
1- Nabi Daud pernah bernyanyi dengan seruling-serulingnya yang indah. Seruling-seruling tersebut berisi kalimat-kalimat munajat kepada Allah, doa untuknya, pengagungan keagungan dan sifat-sifat-Nya yang agung, pujian dan kesyukuran, serta peringatan akan tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta.
2- Diketahui bahwa orang Arab biasa bernyanyi dengan syair pada masa mudanya, dan ketika membacakannya mereka terpesona serta merasakan pengaruh penggerak dalam jiwanya. Mereka juga sering menyanyikan nyanyian dan bait-bait puisi saat bekerja untuk membangkitkan semangat dan menggairahkan jiwa. Mereka melakukan hal serupa pada saat perang untuk membangkitkan semangat tempur dan mendorong semangat berperang. Mereka juga melakukan hal yang sama pada saat perayaan dan menyambut tamu dengan penuh kegembiraan.
Kebiasaan ini berlanjut setelah diutusnya Rasulullah ﷺ dan setelah kemunculan Islam. Rasulullah ﷺ membiarkan kaum Muslim melakukannya dan tidak mengingkarinya.
3- Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, beliau disambut dengan nyanyian terkenal:
“Telah terbit bulan purnama di atas kami dari lembah Wada'”
Para gadis dari Bani Najjar menyambut beliau dengan menyanyikan:
“Kami adalah gadis-gadis dari Bani Najjar, betapa baiknya Muhammad sang tetangga”
Rasulullah ﷺ tidak mengingkari sedikit pun dari tindakan mereka.
4- Saat pembangunan Masjid Rasulullah di Madinah, kaum Muslim pun bersenandung sambil membangun dengan berkata:
“Tidak ada kehidupan kecuali kehidupan akhirat, ya Allah kasihi Anshar dan Muhajirin”
Kemudian Rasulullah ﷺ menjawab: “Tidak ada kehidupan kecuali kehidupan akhirat, kasihanilah Muhajirin dan Anshar.”
5- Hadis Riwayat Muslim dari Anas bin Malik, bahwa Nabi ﷺ pada Perang Ahzab bersabda:
“Ya Allah, tidak ada kehidupan kecuali kehidupan akhirat, maka ampunilah Anshar dan Muhajirin”
Pada Perang Hunain, Rasulullah ﷺ berulang kali mengucapkan:
“Aku adalah Nabi, bukan pendusta, sesungguhnya aku anak Abdul Muthalib”
Dalam Perang Khaibar, penyair Muslim Amir bin Al-Akwa’ membimbing para Muslim dengan nyanyian:
“Ya Allah, tanpa Engkau kami tidak akan mendapat petunjuk, tidak bersedekah, dan tidak shalat. Ampunilah kami, korbankan kami dalam ketaatan kepada-Mu. Turunkan ketenangan kepada kami, teguhkan kaki kami saat bertemu musuh. Jika mereka menyerang kami di pagi hari, kami akan menyambut dengan teriakan”
Amir terbunuh akibat luka di lututnya.
6- Dalam riwayat Muslim lainnya, ketika pulang dari Khaibar, Salamah bin Al-Akwa’ meminta izin Rasulullah untuk melantunkan syair. Umar bin Khathab berkata: “Aku tahu apa yang akan kau ucapkan.”
Salamah melantunkan: “Demi Allah, tanpa Engkau kami tidak mendapat petunjuk, tidak bersedekah, dan tidak shalat”
Rasulullah menyambung: “Turunkan ketenangan kepada kami, teguhkan kaki kami saat bertemu musuh yang telah melampaui batas”
7- Dalam riwayat Muslim dari Al-Bara’, Rasulullah ﷺ memindahkan tanah pada Perang Ahzab sambil berkata: “Demi Allah, tanpa Engkau kami tidak mendapat petunjuk, tidak bersedekah, dan tidak shalat. Turunkan ketenangan kepada kami menghadapi mereka yang menentang kami”
8- Dalam suatu riwayat Muslim dari Jundab bin Sufyan, saat jari Rasulullah berdarah, beliau berkata: “Engkau hanyalah jari yang berdarah di jalan Allah, apa yang telah engkau alami?”
Adapun tentang menghiasi suara dalam membaca Al-Quran, telah ditetapkan dalam hadis shahih bahwa Rasulullah ﷺ mendorong untuk melakukannya.
9 – Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ad-Darimi meriwayatkan dengan sanad shahih dari Al-Bara’ bin ‘Azib, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
“Hiasilah Al-Quran dengan suara-suara kalian.”
10 – Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah dan lainnya dari Sa’d, Abu Lubabah bin Abdul Mundzir, Ibnu Abbas, dan Aisyah, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
“Bukan golongan kami orang yang tidak memperhiasi (membaca) Al-Quran.”
11 – Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
“Allah tidak pernah mengizinkan sesuatu sebagaimana Dia mengizinkan seorang nabi yang memiliki suara indah, membaca Al-Quran dengan merdu, dan memperdengarkannya.”
(Maksud “mengizinkan” di sini adalah mendengarkan dan memperhatikan)
12 – Sahabat Abu Musa Abdullah bin Qais Al-Asy’ari memiliki suara yang indah dan sangat memperhatikan tartil (bacaan) Al-Quran, serta memperhiasi suaranya. Sekelompok sahabat Rasulullah suka duduk mendengarkannya membaca Al-Quran.
Umar r.a. sering berkata kepadanya: “Engkau menyejukkan kerinduan kami kepada Rabb kami, wahai Abu Musa.” Kemudian Abu Musa akan membaca Al-Quran, dan Umar duduk khusyuk di sampingnya, disertai sekelompok Muslim lainnya.
Suatu malam, Abu Musa tahajud di Masjid Nabawi membaca Al-Quran dengan suara indahnya. Rasulullah ﷺ duduk di pintu kamarnya, mendengarkan dan memperhatikan. Keesokan harinya, beliau bersabda kepada Abu Musa:
“Seandainya engkau melihatku tadi malam ketika mendengarkan bacaanmu! Engkau telah diberi seruling dari seruling keluarga Daud.”
Rasulullah ﷺ juga bersabda kepada para sahabat:
“Sesungguhnya Abdullah bin Qais telah diberi seruling dari seruling keluarga Daud.”
Pada suatu malam, Nabi ﷺ bersama Ummul Mukminin Aisyah r.a. melewati Abu Musa yang sedang membaca Al-Quran di rumahnya. Mereka berhenti sejenak mendengarkan bacaannya, kemudian melanjutkan perjalanan.
Rasulullah ﷺ kemudian berkata kepada Abu Musa:
“Wahai Abu Musa, tadi malam aku melewatimu bersama Aisyah, engkau sedang membaca di rumahmu. Kami berhenti mendengarkanmu.”
Abu Musa menjawab: “Sungguh, ya Rasulullah, seandainya aku tahu, aku akan membacanya lebih indah lagi untukmu.”
(Catatan: “Tahbir” berarti memperindah atau menghiasi bacaan dengan suara)
Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata: “Wahai Rasulullah, maukah engkau kagum pada Abu Musa? Dia telah duduk di rumahnya dan berkumpul orang-orang di sekelilingnya, lalu dia mulai membaca Al-Quran kepada mereka.”
Rasulullah ﷺ bertanya: “Apakah engkau sanggup mendudukkanku di suatu tempat di mana tidak seorang pun dari mereka melihatku?”
Laki-laki itu menjawab: “Ya.” Maka Rasulullah ﷺ keluar, dan laki-laki itu mendudukkannya di tempat yang tidak terlihat orang lain.
Kemudian Rasulullah mendengar bacaan Abu Musa dan bersabda:
“Dia membaca pada seruling dari seruling keluarga Daud.”
Penutup:
Karena suara yang indah memiliki pengaruh yang kuat dalam jiwa, maka sudah seharusnya diperhatikan dan dijadikan sarana untuk memengaruhi kebaikan yang bermanfaat, selama agama telah membolehkan mendengarkannya dan menggunakannya dalam setiap hal yang tidak bermaksiat kepada Allah.
Syaratnya adalah tidak menjadikannya tujuan itu sendiri, dan tidak keluar dari fungsinya sebagai sarana menuju hal yang diridhai atau dalam rangka ketaatan kepada Allah. Bahkan penggunaan suara indah yang dibolehkan untuk didengar dapat menjadi amalan yang diberkahi dan mendapat pahala bagi yang menggunakannya.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
PERNYATAAN KETUJUH
Metode Bimbingan Tidak Langsung
Memasukkan Pernyataan Islami Menjaga Ilmu-Ilmu yang Berbeda dalam Kesempatan yang Sesuai
-1-
Yang Diperlukan dalam Peluang yang Tersedia
Pembawa risalah harus menjadikan tugas utamanya dalam hidup adalah menunaikan fungsi misinya semaksimal mungkin.
Dia dituntut untuk memanfaatkan setiap kesempatan yang datang dalam hidupnya, di mana dia melihat bahwa dia dapat melakukan sesuatu dari misinya dengan cara yang diharapkan membawa manfaat, dengan bijaksana, disertai kelembutan, dan dengan metode yang spontan, tidak menakutkan, tidak kasar, dan tidak keras.
Metode terbaik adalah yang dilakukan dengan cara tidak langsung, dan tidak secara khusus ditujukan dengan label dakwah kepada Allah, nasihat dan bimbingan, atau menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
-2-
Memanfaatkan Kesempatan dalam Berbagai Ilmu
Kesempatan yang tersedia bagi Pembawa risalah selama penelitian dalam berbagai disiplin ilmu, bahkan yang murni ilmiah sekalipun, sangatlah banyak. Hal ini karena tidak ada satu ilmu pun melainkan memiliki hubungan dengan Sang Pencipta Yang Mulia, yang pasti mengandung manifestasi atau jejak dari sifat-sifat-Nya, sistem-Nya, ilmu dan kekuasaan-Nya, atau konsep dan isu yang terkait dengan pemahaman agama yang dipilih Allah untuk hamba-hamba-Nya.
Pembawa risalah dapat memanfaatkan kesempatan yang tersedia dalam berbagai ilmu dan menyampaikan sebagian isi misinya sambil menjelaskan masalah ilmu yang sedang dibahasnya. Namun, ini membutuhkan keterampilan luar biasa, kecerdasan yang cemerlang, dan intuisi yang tajam, terutama dalam ilmu-ilmu dengan spesialisasi murni.
Contoh:
1 – Dalam ilmu matematika murni, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk menjelaskan bahwa yang Ada Abadi itu satu dalam zat dan sifat-Nya, dan darinya terbit berbagai macam dalam seluruh alam semesta. Setiap jenis, kategori, dan golongan makhluk terdiri dari sepasang, dan Allah menjadikannya demikian agar Dia sendiri yang memiliki keesaan di antara segala sesuatu yang diciptakan-Nya.
Dapat pula dimanfaatkan perbandingan antara prinsip-prinsip matematika dan fenomena ciptaan Allah di alam semesta, yang dibangun di atas prinsip-prinsip yang merupakan bagian dari ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu.
Dan dimungkinkan untuk memanfaatkan beberapa kesempatan dalam bilangan untuk menjelaskan bahwa zat-zat yang jamak mustahil secara akal untuk menjadi satu zat. Tuhan Pencipta secara akal harus Esa tanpa sekutu, dan Tuhan yang disembah harus menjadi Tuhan Yang Esa tanpa sekutu.
Dan seterusnya yang membutuhkan keterampilan luar biasa dan kecerdasan yang tajam.
2 – Dalam ilmu kimia dan fisika terdapat banyak kesempatan yang tersedia bagi Pembawa risalah, dan dia dapat memanfaatkannya untuk menjelaskan keterampilan Pencipta dalam sistem-sistem-Nya di alam semesta, dan untuk menjelaskan kesamaan antara sistem alam materi yang tunduk pada pembentukan paksa, dan sistem agama yang mengatur tindakan manusia yang bersifat pilihan, di mana mereka ditempatkan dalam kehidupan dunia sebagai tempat ujian.
Pembawa risalah dapat mengekstrak banyak persamaan, seperti kesamaan antara sujud paksa pada makhluk-makhluk yang tidak memiliki pilihan dan sujud sukarela pada hamba-hamba yang diuji dan memiliki pilihan dalam kehidupan mereka, dan seperti kesamaan antara pertarungan air yang turun dari langit dan busa tanah yang mengambang di atas aliran air kemudian menjadi sampah di akhir pertarungan, dengan pertarungan antara kebenaran dan kebatilan, antara mereka yang benar dan mereka yang batil, di mana kebatilan akan lenyap di akhir pertarungan.
3 – Dalam ilmu-ilmu biologi, anatomi, dan kedokteran manusia, terdapat banyak kesempatan yang tersedia bagi Pembawa risalah, dan dia dapat memanfaatkannya untuk melayani pemikiran Islam, dalam prinsip-prinsip dan cabang-cabangnya.
4 – Adapun ilmu-ilmu kemanusiaan, hubungannya dengan masalah-masalah cabang Islam sangatlah erat, karena kesamaan banyak topik mereka, dan karena hukum-hukum fikih Islam sering kali membahas hal-hal yang dibahas oleh hukum-hukum ilmu-ilmu ini, baik yang bertentangan maupun yang sepakat, dan penelitinya dituntut untuk menghadirkan hukum-hukum syariat Islam dan konsep-konsepnya yang terkait dengan masalah-masalahnya.
5 – Adapun sastra prosa dan puisi, dan topik-topik seni keindahan yang berbeda, memiliki medan yang sangat luas untuk menyajikan pemikiran Islam di dalamnya. Topik-topik dan gagasan-gagasan Islam dapat disajikan dalam balutan sastra, dan contoh-contoh serta bukti-bukti untuk topik-topik sastra, retorika, dan estetika dapat dikutip dari teks-teks yang memiliki orientasi Islam, dakwah kepada Allah, nasihat dan bimbingan, serta perintah untuk melakukan kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Dan seterusnya.
-3-
Eksploitasi Perusak terhadap Ilmu, Sastra, dan Seni
Sering kali para perusak di muka bumi dan para penyesat memasukkan pemikiran, pendapat, tafsiran filosofis, konsep yang melayani hawa nafsu, keinginan, dan kepentingan pribadi mereka, serta aliran politis, sosial, dan ekonomi buatan mereka, dan penyesatan mereka yang terkait dengan berbagai jenis perilaku manusia dalam berbagai ilmu dan seni, bahkan yang bersifat murni sekalipun.
Tujuan mereka memasukkan hal tersebut ke sela-sela ilmu dan seni yang berbeda adalah agar dapat menyelinap ke dalam pikiran, jiwa, dan hati dengan cara tidak langsung. Dengan cara penyelundupan ini, mereka dapat menghindari pengawasan pemikiran kritis yang peduli untuk mengungkap kepalsuan dan menyelidiki kebenaran.
Alasan di balik hal ini adalah bahwa pikiran dan jiwa pada saat itu berada di bawah pengaruh hal-hal yang mengalihkan:
(a) Mereka mungkin sibuk dengan kesenangan sastra dan seni sehingga tidak dapat mengungkap kepalsuan muatan pemikiran, dengan tipu daya bahwa sastra atau seni hanya peduli dengan keindahan sastra atau artistik, bukan dengan kebenaran muatan pemikiran.
(b) Atau mereka mungkin yakin bahwa penelitian ilmiah bersifat objektif, mengandalkan bukti-bukti rasional, atau eksperimen dan observasi, serta mencatat hasil dengan kejujuran deskriptif yang jujur, yang menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi di alam, berdasarkan apa yang diamati dan dialami.
Karena kesibukan dengan kesenangan atau kepercayaan pada penelitian ilmiah yang objektif, hal-hal yang diselundupkan masuk dengan cara yang dikaburkan, dengan cara tidak langsung, sehingga tidak menghadapi kritik pemikiran yang diperlukan. Mereka menempel di dalam jiwa tanpa menemui rintangan yang menyelidiki dan mengungkap kepalsuan mereka.
Dengan pengulangan, mereka menjadi familiar, dan dengan kebiasaan, keberatan terhadapnya menjadi ringan. Dengan berlalunya waktu dan berjalannya hari-hari, mereka menjadi konsep tradisional yang tidak ditolak, seperti tradisi-tradisi lain yang dilupakan orang untuk menentangnya, betapapun batil atau rusak mereka, dan betapapun sebelumnya mereka adalah hal-hal yang aneh dan tidak disukai.
Dengan cara penyelundupan ini, kepercayaan-kepercayaan yang rusak, penafsiran filosofis yang batil, dan aliran-aliran politik, sosial, dan ekonomi yang berbeda telah masuk ke dalam sastra, seni, ilmu-ilmu intelektual, dan ilmu-ilmu deskriptif, sesuai dengan hawa nafsu penulis dan para pemimpinnya, baik itu yang politis atau lainnya dari para pembawa kesesatan di muka bumi, dan setan-setan fitnah, kerusakan, dan pengrusakan.
Contoh-contoh:
1 – Dalam ilmu-ilmu intelektual dan ilmu-ilmu alam, interpretasi materialis ateis telah masuk secara sembunyi-sembunyi, dan filsafat eksistensialis ateis telah masuk, padahal interpretasi-interpretasi ini asing dari sifat ilmu-ilmu tersebut dan tidak tunduk pada metode-metodenya.
2 – Dalam psikologi, interpretasi-interpretasi ateis dan penjelasan yang menyesatkan yang mendorong pada kebebasan dan pelepasan diri dari kendali kesucian, serta dari kemuliaan akhlak, telah masuk, padahal hal-hal ini tidak ada hubungannya dengan ilmu-ilmu deskriptif yang menggambarkan realitas alamiah.
3 – Demikian pula terjadi dalam biologi, sosiologi, dan berbagai ilmu kemanusiaan, serta dalam sastra dan seni, di mana ide-ide dan pendapat yang berbeda yang mengajak pada ateisme dan kekafiran kepada Allah, serta pada segala kejahatan dan kerusakan di muka bumi, kebebasan, dan pelepasan diri dari keutamaan akhlak dan kemuliaan perilaku telah masuk.
Di antara contohnya adalah cerita-cerita dan drama Jean-Paul Sartre, puisi beberapa nasrani Lebanon dan lainnya, cerita-cerita Ihsan Abdel Qaddus, cerita dan drama para nasionalis, sosialis, komunis, dan sekularis, serta puisi dan prosa para ateis modern, hingga kepalsuan yang banyak diselundupkan dalam ensiklopedia ilmiah Barat dan Timur yang memusuhi Islam.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
PERNYATAAN KEDELAPAN
Metode Bimbingan Tidak Langsung
Penyebaran Insidental yang Bermanfaat pada Kesempatan yang Sesuai
-1-
Definisi
Penyebaran insidental adalah pernyataan lisan yang datang secara spontan, tanpa persiapan sebelumnya, tanpa maksud yang direncanakan, dan yang diajak bicara tidak merasa bahwa alur pembicaraan dimaksudkan untuk dirinya sendiri dalam topik utama yang sedang dibicarakan.
Dalam pembicaraan, hal ini mirip dengan sinyal dalam benda-benda, di mana sinyal adalah apa yang dilakukan wanita cantik dengan menampakkan sebagian kecantikannya dan segera menyembunyikannya, agar yang melihat terkesan, dan dia melakukannya dengan cara yang membuat yang melihat merasa bahwa itu adalah gerakan yang tidak disengaja.
Orang-orang cerdas dan cepat tanggap, dengan intuisi yang tajam dan pemikiran yang cepat, memanfaatkan momen terlemah dalam percakapan biasa di majlis untuk menyebarkan beberapa pikiran mereka secara insidental, tanpa membuat mereka yang diajak bicara merasa bahwa pikiran-pikiran ini disampaikan dalam kerangka rencana yang telah disusun sebelumnya. Sebaliknya, pikiran-pikiran itu seolah-olah muncul begitu saja dalam alur pikiran mereka, dan mereka mengemukakannya tanpa perhatian atau kepedulian khusus, dan tanpa keras kepala untuk mengarahkannya guna menyampaikannya kepada orang lain atau meyakinkan mereka.
Penyebaran insidental bisa berupa penyimpangan dari kesempatan yang kebetulan, komentar tentang ide yang lewat, derivasi dari sebuah kata atau kalimat, atau pengembangan dari suatu isu umum, dan sebagainya.
Metode ini memiliki pengaruh besar terhadap pemikiran sebagian orang, terutama mereka yang pikiran yang muncul dalam penyebaran insidental sesuai dengan hasrat dan keinginan dalam diri mereka. Mereka merasa bahwa yang mengatakannya melepaskannya secara spontan dan tanpa sengaja.
Ketika sesuatu datang dengan spontanitas yang tidak disengaja, sangat bermanfaat untuk segera menangkapnya dan menyimpannya. Barang siapa yang menangkapnya dan menyimpannya, pada akhirnya akan menjadi penyeru dan penyebarnya.
-2-
Yang Diperlukan dari Pembawa risalah Sehubungan dengan Metode Ini
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, Pembawa risalah dituntut untuk memanfaatkan setiap kesempatan dan momen yang lewat dalam hidupnya, di mana dia melihat bahwa dia dapat menunaikan sebagian misinya dengan cara yang diharapkan membawa manfaat, dengan bijaksana, disertai kelembutan, dengan gaya spontan yang tidak menakutkan, tidak kasar, tidak dingin, dan tidak menjijikkan.
Betapa banyak kesempatan yang tersedia dalam percakapan di majlis-majlis orang untuk penyebaran insidental yang dapat berpengaruh lebih dari metode penyampaian lainnya, karena ia dapat menyelinap ke dalam jiwa sebagian orang tanpa menemui hambatan apa pun.
Ide-ide Islam adalah ide paling kaya yang dapat dimanfaatkan kesempatannya dalam percakapan untuk disebarkan secara insidental.
-3-
Eksploitasi Para Perusak terhadap Metode Penyebaran Insidental
Para perusak di muka bumi dan pembawa kejahatan serta kesesatan telah mengetahui pengaruh penyebaran insidental terhadap jiwa banyak orang. Mereka menjadikannya salah satu metode besar mereka untuk merusak dan menyesatkan. Orang-orang cerdas di antara mereka memanfaatkan momen terlemah untuk penyebaran insidental tanpa membuat yang diajak bicara merasa bahwa mereka memiliki tujuan tersembunyi dalam pemikiran mereka. Mereka mengintai kesempatan yang sesuai untuk dimanfaatkan.
Contoh:
Misalnya, majlis sedang terlibat dalam kritik keras terhadap sebagian orang yang disebut sebagai tokoh agama dalam perilaku pribadinya, atau cara yang menjijikkan, atau penampilannya yang kurang elegan, atau dalam eksploitasi para politisi atau pemilik uang terhadapnya.
Beberapa peserta majlis yang jahat memanfaatkan keadaan ini, dengan melepaskan pernyataan seperti: “Beginilah tokoh agama” atau “Sifat konsep keagamaan membentuk orang-orang seperti ini”, dan sebagainya. Kemudian mereka segera mundur dari pembahasan insidental ini, dengan tetap menjaga agar peserta lain melanjutkan pembicaraan mereka sebelumnya.
Betapa besarnya pengaruh kata-kata semacam ini terhadap beberapa jiwa.
Guru sekuler atau ateis dapat memanfaatkan penyebaran insidental dengan memanfaatkan kesempatan yang lewat saat pelajaran, atau bahkan menciptakan kesempatan sendiri untuk dimanfaatkan. Misalnya, dia akan melemparkan pernyataan yang memuji Darwin dan pendapatnya serta mendukung gagasan evolusi mandiri, atau pernyataan yang mendukung pandangan Freud tentang penindasan seksual dan perlunya menyebarkan ide kebebasannya, atau pernyataan yang berisi pandangan Durkheim dalam sosiologi.
Atau misalnya seorang guru Kristen yang berbicara kepada murid-muridnya yang Muslim tentang sifat para pendeta gereja dan biarawan serta biarawati, mengecam mereka karena kebobrokan dan perampasan uang, kemudian berkata: “Beginilah semua tokoh agama yang berdagang dengan agama untuk mencapai kepentingan pribadinya sendiri.”
Anak-anak Muslim menerima pernyataan ini dan sejenisnya dengan polos, kemudian menyebarkannya secara umum pada ulama Muslim, dan mereka membenci agama serta semua pendakwah, penasihat, pengarah, dan mereka yang menyuruh kepada kebaikan serta mencegah kemungkaran.
Padahal guru Kristen ini fanatik terhadap kekristenan, dan menghormati serta mengagungkan para pendeta, biarawan, dan semua tokoh gereja Kristen. Namun dia hendak menghasut ulama Muslim melalui metode penyebaran insidental sebagai salah satu cara bimbingan tidak langsung.
BAB KEDUA
Hambatan-Hambatan yang Menghalangi Bimbingan dan Metode Penanganannya
Bab ini terdiri dari pendahuluan dan lima belas pernyataan yang terbagi menjadi tiga bagian:
Bagian Pertama
Hambatan yang Bersumber dari Pembawa risalah (Enam Hambatan)
Pernyataan Pertama: 1 – Hambatan Kepentingan Pribadi Duniawi pada Pembawa risalah
Pernyataan Kedua: 2 – Hambatan Kesombongan dan Kecongkakan Pembawa risalah terhadap Dirinya Sendiri
Pernyataan Ketiga: 3 – Hambatan Perilaku Menjijikkan yang Menolak Indra
Pernyataan Keempat: 4 – Hambatan Buruknya Akhlak Pembawa risalah
Pernyataan Kelima: 5 – Hambatan tidak Dipercayai dan Tidak Dihormati oleh Mereka yang Misi Disampaikan
Pernyataan Keenam: 6 – Hambatan Pembawa risalah yang Tidak Disukai karena Dirinya Sendiri atau Kelompoknya
Bagian Kedua
Hambatan yang Bersumber dari Penerima Misi (Enam Hambatan)
Pernyataan Ketujuh: 1 – Hambatan Kesombongan dan Kecongkakan Penerima Misi terhadap Dirinya Sendiri
Pernyataan Kedelapan: 2 – Hambatan Perasaan Penerima Misi Kehilangan Kebebasan Berpikir atau Bertindak
Pernyataan Kesembilan: 3 – Hambatan Pemikiran, Konsep, Kepercayaan, dan Kebiasaan Terdahulu
Pernyataan Kesepuluh: 4 – Hambatan Peniruan Buta
Pernyataan Kesebelas: 5 – Hambatan Kedengkian
Pernyataan Kedua Belas: 6 – Hambatan Hawa Nafsu dan Keinginan dari Perhiasan Kehidupan Dunia
Bagian Ketiga
Hambatan yang Bersumber dari Lingkungan antara Pembawa dan Penerima Misi (Tiga Hambatan)
Pernyataan Ketiga Belas: 1 – Hambatan Bisikan dan Godaan Setan
Pernyataan Keempat Belas: 2 – Hambatan Perbuatan Para Penyesat dan Pasukan Invasi Pemikiran Perusak
Pernyataan Kelima Belas: 3 – Hambatan Tidak Tersedianya Media Komunikasi yang Berpengaruh
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Pendahuluan
Pandangan Umum
Terdapat hambatan-hambatan yang menghalangi penerimaan apa yang disampaikan oleh pembawa risalah petunjuk, atau misi perlindungan dan perbaikan. Hambatan-hambatan ini berdiri di depan pusat respons mereka yang dituju, menjadi penghalang yang membuat mereka menolak atau tidak menerima prinsip-prinsip untuk dipahami dan diyakini, serta keutamaan-keutamaan perilaku psikologis dan fisik yang diminta untuk dilaksanakan dalam kehidupan praktis mereka.
Dengan analisis mendalam, dapat ditemukan bahwa hambatan-hambatan tersebut terbagi menjadi tiga bagian:
Bagian Pertama: Hambatan yang Bersumber dari Pembawa risalah Terdapat enam hambatan yang jelas:
- Kepentingan pribadi duniawi pada pembawa risalah.
- Kesombongan pembawa risalah dan kekaguman terhadap diri sendiri.
- Perilaku-perilaku pembawa risalah yang menolak indra.
- Buruknya akhlak pembawa risalah, seperti kikir, mudah marah, kasar, keras hati, egoisme berlebihan, kejam, kekerasan, dan suka menguasai.
- Pembawa risalah tidak dipercaya dan tidak dihormati oleh mereka yang misi disampaikan.
- Pembawa risalah tidak disukai karena dirinya sendiri, keluarganya, sukunya, afiliasi partainya, atau hal lainnya.
Bagian Kedua: Hambatan yang Bersumber dari Penerima Risalah Terdapat enam hambatan yang jelas:
- Kesombongan penerima misi dan kekaguman terhadap diri sendiri.
- Perasaan penerima misi kehilangan kebebasan berpikir atau bertindak.
- Pemikiran, konsep, kepercayaan, dan kebiasaan terdahulu.
- Peniruan buta.
- Kedengkian.
- Hawa nafsu dan keinginan dari perhiasan kehidupan dunia.
Bagian Ketiga: Hambatan yang Bersumber dari Lingkungan antara Pembawa dan Penerima Misi Terdapat tiga hambatan yang jelas:
- Bisikan dan godaan setan.
- Perbuatan para penyesat dan pasukan invasi pemikiran perusak.
- Tidak tersedianya media komunikasi yang berpengaruh.
Dalam pernyataan-pernyataan selanjutnya akan dibahas penjelasan rinci tentang hambatan-hambatan dari ketiga bagian ini.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
PENJELASAN HAMBATAN BAGIAN PERTAMA
Hambatan yang Bersumber dari Pembawa risalah Terdiri dari enam hambatan
Pernyataan Pertama
Dari Hambatan-Hambatan yang Menghalangi
-1-
Hambatan Kepentingan Pribadi Duniawi pada Pembawa risalah
Salah satu hambatan yang menghalangi bimbingan yang dilakukan pembawa risalah adalah adanya kepentingan pribadi duniawi yang ingin dicapainya di antara mereka yang misi disampaikan, atau mereka menjadi sarana untuk mencapainya pada orang lain.
Tuduhan terhadap pembawa risalah memiliki kepentingan pribadi duniawi dalam menjalankan misinya, jika tuduhan ini memiliki tanda dan bukti yang menguatkan kebenarannya, biasanya akan menimbulkan hambatan dalam diri mereka. Salah satu reaksinya adalah menolak untuk merespons dakwahnya, dan berpaling dari menerima nasihat serta bimbingannya, tanpa mempertimbangkan apa yang diajak atau dinasihatinya dengan neraca akal, logika, dan ilmiah, dan tanpa memikirkan kebenaran dan kelayakan tindakan yang diajak untuk dilakukan, atau kerusakannya, serta tanpa menyelidiki kebaikan atau kejelekan, manfaat atau mudharatnya.
Hambatan ini akan hilang ketika mereka yakin bahwa pembawa risalah ikhlas dalam dakwah, nasihat, bimbingan, perintah kepada kebaikan, dan larangan dari kemungkaran. Bahwa dia tidak memiliki tujuan pribadi duniawi yang membuatnya berusaha meyakinkan mereka tentang kebenaran apa yang diajak atau dinasihatinya, kecuali mencari ridha Allah Yang Maha Mulia dan berharap pahala-Nya, serta peduli kepada mereka didorong oleh semangat persaudaraan, kasih sayang, atau kepedulian terhadap kepentingan umum dan kebahagiaan umat yang dia bagian darinya.
Hambatan ini tidak akan ada sama sekali ketika pemikiran misinya menyusup sedemikian rupa sehingga penerimanya mengira dialah yang menciptakannya, dan bahwa dialah yang berkehendak melakukan tindakan yang dinasihati pembawa risalah, tanpa ada yang mendikte.
Hambatan ini juga tidak akan ada ketika ide atau tindakan terkait dengan hawa nafsu, keinginan, atau kepentingan segera yang jelas. Sebabnya adalah karena manisnya menikmati hawa nafsu, atau manisnya memuaskan keinginan, atau tamak akan mendapatkan kepentingan atau manfaat segera, akan mematikan pusat kewaspadaan dalam jiwa yang mengarahkan sinyal tuduhan dengan perasaan halus, sebelum alat penelitian ilmiah dalam diri manusia bergerak untuk menyelidiki kebenaran dan mengukur hal yang datang dengan ukuran logika sehat dan pengetahuan sebelumnya.
Para pembawa kesesatan, kejahatan, kerusakan, dan pengrusakan di muka bumi memiliki banyak sekali tipu daya untuk menyembunyikan kepentingan pribadi mereka agar tidak tersandung hambatan ini. Di antara tipu daya terpenting mereka adalah:
Membuat orang terperangkap melalui naluri, hawa nafsu, keinginan, dan apa yang mereka lihat sebagai kepentingan segera dari perhiasan kehidupan dunia.
Pandangan Pendidikan Islam:
Rintangan ini telah disingkirkan dan dihadapi oleh risalah-risalah ilahi untuk manusia, dengan membebaskan semua rasul dari kepentingan pribadi yang terkait dengan mereka yang mereka ajak kepada Allah. Hal ini menunjukkan bahwa para penerus risalah mereka juga berkewajiban untuk membebaskan diri dari kepentingan pribadi duniawi yang terkait dengan mereka yang menyampaikan risalah di antara mereka.
Dakwah para rasul adalah dakwah kepada Allah, bukan kepada diri mereka sendiri. Mereka tidak meminta imbalan dari manusia atas apa yang mereka lakukan untuk kebaikan manusia, pengorbanan mereka untuk umat mereka, dan mereka yang mengikuti mereka dengan iman, serta bimbingan, petunjuk, pendidikan, dan kepedulian akan keselamatan mereka.
Motivasi mereka semata-mata adalah mencari ridha Allah Yang Maha Mulia, dan menginginkan kebaikan bagi manusia dengan rasa belas kasih dan simpati. Mereka mencari pahala dari Allah yang telah mengutus mereka.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Pernyataan Kedua
Dari Rintangan-rintangan yang Menghalangi
-1-
Rintangan kesombongan pembawa risalah dan kekagumannya pada diri sendiri.
Kesombongan dan kekaguman pada diri sendiri adalah salah satu sifat terburuk yang membuat orang menolak menerima dakwah dai kepada jalan Tuhannya, atau menerima nasihat, bimbingan, pengajaran, perintah, dan larangan karena kesombongannya, kekagumannya pada diri sendiri, dan menganggap diri lebih tinggi dari mereka yang menyampaikan risalah di antara mereka.
Kesombongannya, kekagumannya pada diri sendiri, dan sikapnya yang merendahkan orang lain akan membuka cacat dirinya di mata mereka yang teliti dan mengamati. Mereka akan meremehkannya, menganggapnya rendah, dan memberikan tatapan penghinaan dan pengabaian sebagai hukuman atas kesombongannya. Mereka melihatnya sebagai orang yang sombong namun sebenarnya hina, dan membesarkan diri padahal sebenarnya kecil.
Dia pun terjebak dalam kontradiksi antara apa yang diinginkannya untuk dirinya sendiri berupa ketinggian di atas orang lain, dan apa yang orang lain berikan berupa penghinaan dan pengabaian. Akibatnya, dia tidak akan dekat dengan mereka dan mereka pun tidak akan dekat dengannya.
Manusia, sesuai dengan sifat psikologis yang mereka miliki, membenci orang-orang yang sombong dan kagum pada diri sendiri yang merendahkan mereka. Sebaliknya, mereka mencintai, menghargai, dan mengagungkan orang-orang yang rendah hati, yang ramah, yang dapat bergaul dan membuat orang lain nyaman.
Orang yang rendah hati akan menutupi kekurangannya, dan orang lain jarang melihat selain kelebihannya. Karena itu, mereka akan memuliakan, mencintai, dan mendekatinya. Dia pun akan mendekati mereka karena menemukan keramahan, penghargaan akan akhlaknya, pujian, dan keinginan untuk bersosialisasi dengannya.
-2-
Kewajiban Pembawa Risalah
Bagi para pembawa risalah dakwah kepada Allah, atau risalah nasihat dan bimbingan, serta perintah kebaikan dan pencegahan kemungkaran, hendaklah mereka menghiasi diri dengan akhlak rendah hati, lemah lembut, dan merendahkan diri kepada para pengikut yang mendengarkan petunjuk, nasihat, dan bimbingan mereka, serta menjadi teladan yang baik bagi manusia melalui kerendahan hati mereka.
Jika mereka melakukan hal itu, mereka akan lebih mampu menguasai jiwa dan hati manusia, lebih menarik untuk menghadiri majelis mereka, merasa nyaman di dalamnya, mendengarkan dakwah, nasihat, dan bimbingan mereka, serta mematuhi perintah mereka untuk berbuat baik dan larangan mereka dari kemungkaran.
Mereka harus berhati-hati sekali agar jiwa mereka tidak terbawa pada kesombongan dan merendahkan orang lain, baik karena kelebihan ilmu, akal, atau kecerdasan, kelebihan takwa, kebaikan, atau perbuatan baik, atau merasa tinggi diri karena hal-hal yang biasa dibanggakan manusia seperti harta, kedudukan, keluarga, kekuasaan, atau yang lainnya.
Kesombongan dan sikap merendahkan ini adalah bisikan setan yang akan merusak jiwa dan hati mereka, merusak pekerjaan dan aktivitas mereka. Ia akan menciptakan penghalang yang buruk antara mereka dan manusia, dan membuat risalah petunjuk, perbaikan, dan pembinaan yang mereka bawa menjadi tidak berpengaruh.
Para dai harus menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai teladan utama dalam kerendahan hati, kelembutan, kasih sayang, dan rendah hati kepada orang-orang beriman. Beliau adalah sosok yang sangat rendah hati, lembut, dan merendahkan diri kepada pengikutnya yang beriman. Beliau tidak merendahkan orang miskin atau lemah di antara manusia, dan tidak merasa tinggi hati terhadap hamba-hamba Allah, meskipun memiliki kepribadian yang berwibawa.
Siapa pun yang melihatnya seketika akan terpesona, dan siapa pun yang bergaul dengannya akan mencintainya. Inilah yang membuat beliau memiliki pengaruh yang mengagumkan terhadap manusia. Beliau menggabungkan sifat-sifat kebesaran yang sebenarnya dengan kerendahan hati yang luar biasa, kelembutan, dan kasih sayang. Allah mengangkat derajatnya di hati dan jiwa manusia, sehingga orang-orang beriman mencintainya melebihi ayah, ibu, dan anak-anak mereka, bahkan melebihi diri mereka sendiri.
Berikut adalah beberapa riwayat tentang akhlak Rasulullah:
- Diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibnu Abbas dengan sanad shahih: “Rasulullah ﷺ biasa duduk di atas tanah, makan di atas tanah, memerah susu kambing sendiri, dan memenuhi undangan seorang budak untuk makan roti gandum.”
Beliau duduk di atas tanah tanpa alas, makan tanpa meja, memerah susu kambing dengan meletakkan kaki di antara kaki kambing, dan menerima undangan seorang budak untuk makan roti gandum. Semua ini menunjukkan kerendahan hatinya dan kesediaannya ikut serta dalam pekerjaan yang dilakukan orang biasa.
- Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Aisyah dengan sanad hasan: “Rasulullah ﷺ menjahit pakaiannya sendiri, memperbaiki sandal, dan melakukan pekerjaan rumah sebagaimana lelaki lakukan di rumah mereka.”
Ini pun merupakan bukti nyata dari kerendahan hati beliau.
- Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Anas dengan sanad shahih: “Rasulullah ﷺ menyembelih kurban dengan tangannya sendiri.”
- Diriwayatkan oleh Al-Hakim dari Anas dengan sanad shahih: “Rasulullah ﷺ tidak pernah membiarkan seseorang naik di belakangnya, meletakkan makanannya di atas tanah, memenuhi undangan seorang budak, dan menunggangi keledai.”
- Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dari Anas dengan sanad hasan: “Rasulullah ﷺ mengunjungi para sahabat Anshar, mengucapkan salam kepada anak-anak mereka, dan mengusap kepala mereka.”
- Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan Al-Hakim dari Ibnu Abi Aufa, dan diriwayatkan Al-Hakim dari Abu Said dengan sanad shahih: “Rasulullah ﷺ sering berdzikir, jarang berbicara sia-sia, memperpanjang shalat, mempersingkat khutbah, dan tidak merasa malu atau sombong untuk berjalan bersama janda, orang miskin, atau budak hingga kebutuhannya terpenuhi.”
Ini adalah bukti-bukti kerendahan hati beliau.
-3-
Dorongan untuk Rendah Hati dan Peringatan terhadap Kesombongan
Para peneliti dalam ajaran Islam memiliki banyak dalil dan bukti yang mewajibkan para pembawa risalah dan seluruh muslim untuk menghiasi diri dengan kebajikan rendah hati, meninggalkan kesombongan dan keakuan, serta segala manifestasinya dalam perilaku dan perasaan, di antaranya:
- Diriwayatkan oleh Muslim, Imam Ahmad, dan At-Tirmidzi dari Abu Hurairah: “Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah akan mengangkatnya.”
Maksudnya: Siapa pun yang merendahkan diri demi mencari ridha Allah, pasti akan diangkat derajatnya oleh Allah.
Dalam riwayat Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah juga: “Barangsiapa merendahkan diri karena Allah, Allah akan mengangkatnya.”
- Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, dari Abdullah bin Umar, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa merasa besar dalam dirinya dan berjalan dengan congkak, dia akan menemui Allah dalam keadaan Allah murka padanya.”
- Diriwayatkan oleh Muslim dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat atom pun.”
Seorang lelaki bertanya: “Sesungguhnya seorang lelaki ingin pakaiannya dan sandalnya bagus.”
Rasulullah ﷺ menjawab: “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.”
“Menolak kebenaran” berarti melampaui batas kebenaran dan keluar dari jalur keseimbangan, yang memiliki banyak manifestasi dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan, seperti: sikap angkuh, sombong, berlebihan dalam kegembiraan, enggan menerima kebenaran, meremehkan nikmat, dan melampaui batas.
“Merendahkan manusia” berarti menghinakan, merendahkan, menganggap remeh, dan tidak membalas kebaikan dengan rasa syukur.
- Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman dari Umar ra, saat berada di atas mimbar: “Wahai manusia, rendahkanlah diri kalian. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Barangsiapa merendahkan diri karena Allah, Allah akan mengangkatnya. Ia akan kecil dalam pandangannya sendiri namun besar di mata manusia. Dan barangsiapa yang sombong, Allah akan merendahkannya, sehingga ia kecil di mata manusia, sampai-sampai ia lebih hina dari seekor anjing atau babi.'”
- Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dengan sanad hasan dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku cintai dan paling dekat denganku di hari Kiamat adalah mereka yang paling baik akhlaknya. Dan sesungguhnya yang paling aku benci dan paling jauh dariku di hari Kiamat adalah para pengoceh, pembual, dan orang-orang sombong.”
Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kami sudah paham tentang para pengoceh dan pembual, tapi apa maksud ‘orang-orang yang sombong’?”
Beliau menjawab: “Mereka yang suka membesarkan diri.”
“Para pembual” adalah mereka yang berbicara dengan penuh mulut, membuat-buat perkataan dengan gaya yang dibuat-buat, disertai sikap sombong dan merendahkan orang lain, yang merupakan salah satu manifestasi kesombongan.
- Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah berfirman: ‘Keagungan adalah pakaian-Ku, dan kebesaran adalah selendang-Ku. Barangsiapa yang mencoba merebut salah satunya, Aku akan melemparkannya ke dalam neraka.'”
- Diriwayatkan oleh Muslim dari Iyadh, Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian rendah hati, sehingga tidak seorang pun berbuat zalim kepada yang lain, dan tidak seorang pun membanggakan diri atas yang lain.”
- Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Haritsah bin Wahb, Rasulullah ﷺ bersabda: “Maukah kalian kuberitahu tentang penghuni neraka? Yaitu setiap orang yang kasar, pembual, dan sombong.”
“Kasar” di sini berarti orang yang keras dan suka bertengkar dengan cara yang batil.
“Al-Jawwah” memiliki beberapa makna:
- Yang mengumpulkan dan mencegah
- Atau orang yang angkuh dan sombong
- Atau orang yang berdosa
- Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Salamah bin Al-Akwa’, Rasulullah ﷺ bersabda: “Seorang lelaki senantiasa akan membesarkan dirinya sampai dicatat sebagai salah seorang dari para penindas, lalu akan menimpa dirinya apa yang menimpa mereka.”
Maksudnya: Seseorang akan terus membesarkan diri, menjadi sombong, congkak, dan meninggi di atas makhluk Allah, hingga kesombongannya membawanya menjadi salah seorang penindas di muka bumi, maka Allah akan menghancurkannya.
- Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi: “Orang-orang sombong akan dikumpulkan pada hari Kiamat sebesar semut, dalam bentuk manusia, diselimuti kehinaan dari segala penjuru, dihalau ke penjara di neraka Jahanam yang bernama ‘Baulus’, dengan api yang menyala-nyala di atasnya, dan mereka akan diberi minum dari air yang diperas dari penduduk neraka, yaitu lumpur kebinasaan.”
“Api yang menyala-nyala” berarti api yang paling hebat nyalanya. “Kebinasaan” berarti kegilaan dan kerusakan akal.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Pernyataan Ketiga
Dari Rintangan-rintangan yang Menghalangi
-3-
Rintangan berupa keburukan-keburukan yang menimbulkan jijik pada indra
Adalah naluri manusia untuk merasa jijik dan lari dari hal-hal yang ditolak oleh indra mereka.
Pemandangan buruk pada benda, tubuh, pakaian, kotoran, dan najis akan dibenci orang untuk dilihat. Jika mereka melewatinya, mereka akan berpaling. Jika mereka tahu tempat tersebut ada, mereka akan menjauh. Jika terpaksa melihatnya, mereka akan melihat dengan perasaan jijik, muak, dan segera pergi.
Bau busuk yang tersebar di suatu tempat akan membuat orang segera menjauh, menutup hidung, atau menutupinya dengan kain atau sapu tangan untuk mengurangi baunya, hingga mereka sampai di tempat yang tidak terjangkau bau busuk tersebut.
Suara buruk yang menyakitkan telinga, jika terdengar di suatu tempat, akan membuat para pendengar terganggu. Mereka akan menutup telinga, mengeluh, menyatakan ketidaknyamanannya, dan meminta agar dimatikan. Bahkan mungkin mereka akan meninggalkan tempat itu karena merasa muak, sampai mereka jauh dari jangkauan suara buruk tersebut.
Rasa yang tidak enak dan pahit akan membuat selera makan orang lari, dan mereka tidak ingin memasukkan apa pun ke dalam mulut mereka.
Sesuatu yang menyentuh dengan menyakitkan akan membuat orang menjauh, tidak ingin mendekati, dan takut menyentuhnya dengan bagian tubuh mereka.
Yang Diharapkan dari Pembawa Risalah:
Karena pembawa risalah diharapkan menggunakan cara-cara yang diperbolehkan untuk menarik indra manusia agar mereka merasa nyaman dengan pertemuannya dan mau mendengarkan dakwah, nasihat, wasiat, perintah, dan larangannya, maka ia harus memperhatikan keindahan penampilannya tanpa berlebihan atau sombong, menjaga kebersihan pakaiannya, memelihara aroma tubuhnya, memperhalus suaranya, memperlemah tuturan kata-katanya, dan memastikan tidak ada sesuatu yang membuat orang yang duduk di dekatnya merasa jijik, baik dari segi visual, suara, bau, atau sentuhan.
Ia harus memilih tempat dan majelis yang membuat badan merasa nyaman, jiwa merasa tenteram, dan ingin berlama-lama di dalamnya. Tempat pertemuan diharapkan berventilasi baik, bersuhu nyaman, tidak berbau tidak sedap, dan sebaiknya beraroma wangi yang sesuai dengan berbagai karakter, seperti semilir bunga musim semi. Beberapa catatan penting: beberapa parfum bisa menyebabkan sakit kepala bagi sebagian orang, sehingga mereka akan merasa tidak nyaman.
Rasulullah ﷺ adalah teladan utama dalam keindahan sikap, kebersihan yang konsisten, perhatian pada minyak wangi, sering berwudhu dan mandi, pergaulan yang lembut, pembicaraan yang manis, dan kemampuan membuat orang merasa nyaman. Beliau memiliki daya tarik luar biasa untuk hati, jiwa, dan indra. Suaranya yang menyenangkan cepat meresap ke dalam hati. Beliau termasuk orang yang paling suka tersenyum, namun hanya tersenyum tipis, dan tidak pernah menolak pemberian minyak wangi.
Kesalahpahaman tentang Kesederhanaan dan Kekumuhan:
Sebagian pembawa risalah nasihat dan bimbingan kadang meremehkan pentingnya menjaga penampilan, pakaian, dan kebersihan, meskipun mereka mampu melakukannya. Mereka mengira hal itu adalah bentuk zuhud (tidak terikat pada dunia), padahal sebenarnya penampilan kumuh adalah hal yang menjauhkan orang.
Kesederhanaan sejati adalah mengurangi konsumsi makanan dan minuman, tidak serakah mengumpulkan harta, dermawan di jalan Allah, bukan dengan berpakaian buruk atau tidak peduli kebersihan. Kesederhanaan tidak berarti mengabaikan keindahan dan cara menarik hati manusia.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Pernyataan Keempat
Rintangan-rintangan yang Menghalangi
-4-
Rintangan Buruknya Akhlak Pembawa Risalah
Buruknya akhlak seseorang akan membuatnya dibenci, terisolasi dari orang lain, tidak bisa bergaul dan tidak disukai. Buruk akhlak adalah sifat yang bertentangan secara total dengan tuntutan bagi pembawa risalah dakwah ke jalan Allah, atau pembawa risalah nasihat, bimbingan, perbaikan, serta perintah kebaikan dan pencegahan kemungkaran.
Siapa pun yang tidak mampu bergaul dengan manusia dengan akhlak yang baik, tidak sepantasnya menjalankan misinya di antara mereka. Buruknya akhlak akan merusak dampak dakwahnya, nasihatnya, dan bimbingannya, serta justru memberikan pengaruh yang berlawanan dengan apa yang ia dakwahkan atau nasihatkan.
Jika seseorang memiliki kemampuan retorika yang baik dan mempengaruhi, namun buruk akhlaknya, sebaiknya ia tidak langsung berinteraksi dengan manusia. Misalnya, berbicara melalui radio, televisi, atau hanya pada satu pertemuan terbatas. Kemudian segera kembali ke pengasingan diri, tanpa dibiarkan terlalu lama di antara manusia agar buruknya akhlak tidak terungkap dan perilakunya yang menjijikkan tidak menimbulkan kesan bertentangan dengan ucapannya.
Tidak ada ruang di sini untuk menjelaskan secara detail keburukan akhlak yang harus ditinggalkan pembawa risalah, karena topik akhlak telah dibahas dalam banyak karya besar. Mereka disarankan untuk merujuk pada karya-karya tersebut.[3]
Pada bab sebelumnya telah dipaparkan secara rinci sifat-sifat mulia yang harus dimiliki pembawa risalah petunjuk atau perbaikan. Dari sana dapat dipahami akhlak buruk yang bertentangan dan harus ditinggalkan.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Pernyataan Kelima
Dari Halangan-Halangan yang Menghalangi
Halangan berupa pembawa risalah yang tidak dipercaya dan tidak dihormati oleh mereka yang akan disampaikan risalahnya
-1-
Penjelasan Halangan
Salah satu halangan yang menghalangi yang membuat jiwa manusia menolak apa yang ingin disampaikan pembawa risalah kepada mereka adalah ketika pembawa risalah tidak dipercaya atau tidak dihormati. Halangan ini semakin kuat dan besar ketika seseorang semakin direndahkan dan dihinakan dalam pikiran mereka, dan ketika kepercayaan mereka terhadapnya dalam hal ilmu, pemikiran, perilaku, ketulusan, dan kejujurannya dalam menyampaikan risalah pun runtuh.
Bagi para pemimpin perencana dan pengawas yang mengelola dakwah kepada Allah dan jalan yang lurus, atau pekerjaan memberi nasihat, petunjuk, perbaikan, menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, mereka harus memilih orang-orang yang berkualifikasi untuk membawa risalah, yang dapat dipercaya oleh mereka yang ditugaskan untuk menyampaikan risalah di antara mereka, dan yang dihormati.
Bagi siapa pun yang ingin maju untuk membawa risalah, ia harus mempersiapkan dirinya dengan baik, sehingga dapat memperoleh kepercayaan dan penghormatan dari mereka yang akan disampaikan risalahnya.
-2-
Sifat-Sifat yang Dapat Memperoleh Kepercayaan dan Penghormatan Orang
Di antara sifat-sifat penting yang dapat memperoleh kepercayaan dan penghormatan pembawa risalah adalah sebagai berikut:
Sifat Pertama: Penguasaan ilmiah terhadap masalah-masalah yang didakwahkan, dinasihati, diberi petunjuk, diperintahkan atau dilarang.
Dan memiliki pengalaman yang cukup berdasarkan pengalaman panjang dalam menggunakan sarana yang bermanfaat dan berpengaruh terhadap orang lain dalam dakwah, nasihat, petunjuk, menyuruh kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan pengajaran.
Sifat Kedua: Bertabiat dengan sifat kejujuran, amanah, dan ketulusan dalam setiap pengajaran yang diajarkan, nasihat yang diberikan, petunjuk yang dibimbing, atau pekerjaan yang diarahkan. Jika ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahuinya atau yang terlupakan, ia mengatakan: “Saya tidak tahu” atau “Saya lupa hukum masalah ini”.
Sifat Ketiga: Kemampuan berpikir yang sesuai yang menunjukkan kelayakannya untuk melaksanakan tugasnya dengan baik.
Sifat Keempat: Kesabaran dalam menghadapi mereka yang akan disampaikan risalahnya, hingga ia memperoleh kepercayaan dan penghormatan mereka.
Sesungguhnya kepercayaan dan penghormatan tidak diperoleh kecuali setelah ujian panjang dan pengalaman berulang dalam berbagai keadaan.
Sifat Kelima: Ketaatan pembawa risalah kepada apa yang didakwahkan, dinasihati, atau diberi petunjuk.
Hikmah Allah dalam Memilih Rasul-Rasul-Nya:
Dan di antara hikmah Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung untuk menghindari halangan ini, adalah Dia memilih rasul-rasul-Nya dari kalangan yang memiliki kepercayaan dan penghormatan di antara kaumnya, baik dari segi akhlak, kecerdasan, maupun keturunan.
Para rasul yang mendapat salam dan rahmat Allah telah menjadi orang-orang termulia di antara kaumnya dalam hal keturunan, terbaik akhlaknya, dan paling cerdas serta berakal, di samping memiliki kemampuan berbicara yang fasih, kemampuan berdebat dan menjelaskan, serta daya tarik pribadi yang mempengaruhi (seperti keindahan wajah, postur tubuh yang baik, senyum yang manis, tatapan mata yang memesona dan menembus hati, kedermawanan, kemurahan, pengampunan, rahmat dan pertolongan, ilmu dan hikmah, ketepatan pendapat, kemampuan manajerial yang disukai banyak orang, dan lain-lain dari sifat-sifat mulia dan kebaikan perangai).
Tidak diragukan lagi bahwa sifat-sifat ini akan memaksakan rasa hormat, pengagungan, dan kepercayaan pada orang lain, dan akan memaksakan rasa cinta yang mendalam dan ketundukan penuh pada para pengikut yang telah menerima ajakan.
-4-
Apa yang Dibutuhkan oleh Pembawa Risalah yang Belum Memperoleh Kepercayaan dan Penghormatan
Pembawa risalah yang belum memperoleh kepercayaan dan penghormatan dari mereka yang akan disampaikan risalahnya harus mengambil berbagai metode yang berhasil sebelum melaksanakan misinya di antara mereka, untuk memperoleh penghormatan dan kepercayaan mereka.
Namun hal ini mungkin membutuhkan kesabaran yang panjang, pekerjaan yang berat, dan memaksakan diri untuk berperilaku dengan keutamaan akhlak dan kebaikan perangai, sehingga melalui ujian panjang dan pengalaman berulang, orang-orang akan mengetahui bahwa ia layak dihormati dan dipercaya.
Ketika hal itu terbukti, mereka akan mempercayainya, dan secara bertahap ia akan naik di mata mereka hingga mencapai kedudukan orang-orang yang mereka hormati dan hargai, baik dalam ilmu, pendapat, nasihat, atau keutamaan lainnya.
Pada saat itu, mereka tidak akan merasa keberatan dalam diri mereka jika ia memerintah atau melarang mereka, atau membebani mereka dengan tugas apa pun meskipun berat, untuk menaatinya dengan penghargaan, cinta, dan antusias untuk patuh, mengikuti, dan melaksanakan apa yang ditugaskan dengan sebaik-baiknya.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Pernyataan Keenam
Halangan-Halangan yang Menghalangi
Halangan Kebencian terhadap Pribadi Pembawa Risalah
-1-
Penjelasan Halangan Ini
Di antara halangan-halangan yang menghalangi apa yang disampaikan pembawa risalah adalah jika ia dibenci atau tidak disukai oleh mereka yang ingin disampaikan risalahnya, karena alasan kepribadian, kebangsaan, kesukuan, atau hal lain yang menimbulkan permusuhan antar manusia.
Seseorang yang dibenci tidak akan diterima banyak hal dari mereka yang membencinya, meskipun itu adalah petunjuk, manfaat, dan kebaikan mereka, karena kebencian dalam diri mereka akan berdiri sebagai halangan yang menghalangi masuknya apa pun yang datang dari dirinya.
Oleh karena itu, kaidah pendidikan Islam mewajibkan penggunaan cara-cara bijaksana untuk menghindari atau melewati halangan ini dengan cara-cara yang diizinkan secara syariat, dengan tujuan menyampaikan isi risalah Islam kepada semua orang, baik yang mencintai maupun yang membenci, dengan keinginan menyelamatkan mereka dari azab Allah dan memperoleh kebahagiaan abadi di hari kemudian.
-2-
Metode Mengatasi Halangan Kebencian terhadap Pribadi Pembawa Risalah
Jika memungkinkan untuk memilih pembawa risalah dakwah, atau misi pendidikan, nasihat, petunjuk, menyuruh kepada kebaikan, dan mencegah kemungkaran dari orang-orang yang dicintai atau tidak dibenci oleh individu atau kelompok yang akan disampaikan misinya, maka ini adalah cara bijak yang dipersyaratkan oleh kebijakan yang berpotensi sukses.
Tetapi ketika ada kebutuhan mendesak bahwa pembawa pesan dibenci oleh mereka yang di antara mereka ia melaksanakan tugas pesannya, maka sebelum memulai pekerjaannya dalam menyampaikan pesannya, ia harus mempersiapkan diri dengan cara yang menghilangkan kebencian dan ketidaksukaan dari hati mereka, dan dengan cara yang menghancurkan permusuhan mereka, serta memperoleh persahabatan dan kasih sayang mereka, sedikit demi sedikit, dimulai dengan beberapa individu, kemudian memperluas hubungan sosial yang bersahabat, sampai ia memiliki pendukung di antara mereka yang menyukainya, yang mendukung dan menolongnya, dan kemudian ia dapat melaksanakan tugas-tugas pesannya secara umum.
Metode-metode untuk menghancurkan halangan kebencian meliputi:
- Berbagai bentuk penghormatan dan layanan yang diberikan pembawa risalah.
- Hubungan sosial yang baik yang dapat menaklukkan hati.
- Kelembutan dalam pergaulan, kelunakan berbicara, dan kebaikan dalam interaksi.
- Mengabaikan kebencian mereka, memaafkan penghinaan, dan memberi kesan bahwa ia tidak mengingat atau tidak mengetahui permusuhan sebelumnya yang merupakan sebab kebencian mereka kepadanya.
- Meminta maaf atas tuduhan atau kritik yang menjadi sebab permusuhan, atau menjelaskan bahwa ia tidak bertanggung jawab, atau mengakui kesalahan dengan penuh penyesalan dan siap memberikan kompensasi.
Dalam semua hal ini, lebih baik dilakukan secara tidak langsung, tanpa penekanan yang jelas, dan sebisa mungkin dengan cara yang halus dan implisit.
Ketika pembawa risalah merasa permusuhan mulai mereda dan mulai memperoleh kepercayaan, serta mulai dicintai oleh sebagian hati mereka, barulah ia melaksanakan misinya dengan cara bertahap, lembut, tanpa kekerasan dan dominasi. Kemudian secara perlahan ia akan meningkatkan aktivitasnya seiring dengan bertambahnya penerimaan mereka.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
PENJELASAN HALANGAN BAGIAN KEDUA
Halangan yang Bersumber dari Mereka yang Disampaikan Risalah
(Enam Halangan)
Pernyataan Ketujuh
Dari Halangan-Halangan yang Menghalangi
-1-
Halangan Kesombongan dan Kecintaan pada Diri Sendiri
-1-
Pendahuluan
Halangan kesombongan dan kecintaan pada diri sendiri adalah salah satu halangan berbahaya yang menghalangi, yang membuat seseorang menolak untuk belajar dari para pengajar, menolak arahan dari para pengarah, nasihat dari para pemberi nasihat, apalagi menolak perintah dan larangan dari mereka yang berwenang, baik para pendidik maupun pemegang otoritas.
Sikap pembawa risalah (pengajar, pengarah, pemberi nasihat, pendidik, penyuruh kepada kebaikan dan pencegah kemungkaran) mungkin terlihat bagi yang menerimanya sebagai sikap orang yang unggul, yang memiliki kelebihan ilmu, pengalaman, akal, kedudukan, ketakwaan, kebaikan, atau kemurahan hati, dan hal ini sangat dibenci oleh orang yang sombong dan mencintai diri sendiri serta sulit untuk diterimanya.
Karena alasan ini, terbentuk dalam dirinya halangan yang sangat besar yang menolak segala sesuatu yang ditujukan kepadanya tanpa berpikir, memeriksa, atau mempertimbangkan, meskipun hal itu mengandung manfaat dan kebaikan baginya, baik dalam jangka pendek maupun panjang.
Halangan kesombongan dan kecintaannya pada diri sendiri menutupi pandangannya sesuai dengan besarnya, bahkan bisa sepenuhnya membutakan pemahamannya. Oleh karena itu, ia menolak sebelum berpikir, padahal jika ia berpikir, mungkin ia tidak akan menolak, bahkan mungkin akan menerima dan berterima kasih.
-2-
Metode Menghindari Halangan Kesombongan dan Kecintaan pada Diri Sendiri bagi Mereka yang Disampaikan Risalah
Halangan kesombongan dan kecintaan pada diri sendiri dapat dihindari dan dihadapi dengan cara bijaksana sebagai berikut:
- Memperlakukan orang yang bersangkutan dengan penghormatan
- Arahan yang tersembunyi dan tersamar
- Memberi nasihat secara rahasia
- Mengarahkan nasihat, pengajaran, atau pendidikan secara umum tanpa terlihat bahwa yang bersangkutan adalah sasaran utama
- Pengajaran dan bimbingan melalui penyampaian tidak langsung yang tidak menunjukkan superioritas
- Kerendahan hati pemberi nasihat, pengajar, atau pemberi tugas
- Memberi kesempatan kepada yang bersangkutan untuk menemukan apa yang diinginkan sendiri, baik berupa pengetahuan maupun tindakan
- Membuka ruang diskusi dan perdebatan dengan orang lain di hadapannya tentang topik yang ingin disampaikan kepadanya, agar ia ikut mendengarkan dan berpikir tanpa merasa dirinya adalah sasaran utama
- Mematahkan halangan kesombongan dan kecintaannya pada diri sendiri dengan memuaskan dorongan lain yang kuat dalam dirinya, seperti cinta pada uang, makanan, atau pujian dan penghargaan
- Menempatkannya dalam lingkungan yang dapat mempengaruhinya melalui peniruan, imitasi, dan rasa persaingan, sehingga ia merasa terintegrasi dan ikut berpartisipasi
Tidak perlu diragukan lagi bahwa partisipasi umum memiliki pengaruh kuat dalam meruntuhkan kecenderungan kesombongan individual dan mengurangi rasa kagum pada diri sendiri.
Bahkan orang yang paling sombong sekalipun dapat dengan mudah ikut berpartisipasi dalam menunjukkan kepatuhan, kesetiaan, dan ketaatannya kepada kekuatan atau otoritas, namun jika ia sendirian, ia akan menolak dan bersikap sombong.
- Salah satu cara adalah dengan memanfaatkan orang yang dapat menghancurkan kesombongannya tanpa ia sadari, sehingga ketika halangan kesombongannya telah runtuh di suatu tempat, ia akan lebih mudah menerima pengajaran, bimbingan, nasihat, petunjuk, perintah, dan larangan
- Meletakkan buku di hadapannya untuk dibaca, tanpa membuatnya merasa bahwa hal itu ditujukan secara khusus, atau menyampaikan ide atau nasihat dalam khotbah, ceramah, pelajaran umum, atau media lain yang menyampaikan apa yang ingin disampaikan kepadanya, tanpa membuatnya merasa sebagai sasaran utama sehingga jiwanya tidak menolak dan tidak berpaling dari kebenaran, kebaikan, dan kebajikan karena kesombongan dan kecintaan pada diri sendiri.
-3-
Pendidikan dalam Keutamaan Akhlak
Selain menggunakan berbagai metode untuk menghindari halangan kesombongan dan kecintaan pada diri sendiri, sangat baik untuk menggunakan sarana pendidikan akhlak yang didasarkan pada prinsip keimanan, persuasi, motivasi dan intimidasi, menghubungkan manusia mukmin dengan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, mencari ridha Allah, merendahkan nilai dunia dan isinya, meruntuhkan ilusi kesombongan dan kecintaan pada diri sendiri, menjelaskan bahayanya, mengagungkan nilai kerendahan hati dan kemuliaan akhlak, menjelaskan manfaatnya jangka pendek dan panjang, serta mengungkap sisi kelemahan dan kebodohan manusia. Kesombongan dan kecintaan seseorang pada diri sendiri sebenarnya tidak memiliki dasar yang dapat membenarkannya dalam hakikat sifat dan dirinya.
Betapa banyak orang yang direndahkan atau dipandang remeh, padahal sebenarnya dia memiliki pemikiran yang lebih jernih, dan memiliki kualifikasi yang membuatnya layak menjadi salah satu orang besar, baik dalam ilmu maupun karakteristik lainnya.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Pernyataan Kedelapan
Dari Halangan-Halangan yang Menghalangi
-2-
Halangan Perasaan Terhambat Kebebasan Berpikir, Bertindak, dan Berkehendak
-1-
Kebebasan Kehendak: Salah Satu Unsur Fitrah Manusia
Manusia pada dasarnya memiliki kehendak bebas, yang dengannya ia ingin memilih keyakinan yang ia percayai, atau tindakan yang ia lakukan dalam perilaku psikologis atau fisiknya. Berdasarkan fitrahnya ini, ia menolak paksaan dan tekanan untuk meyakini suatu pemikiran yang tidak ia inginkan, atau melakukan suatu tindakan yang tidak ia kehendaki.
Berdasarkan fitrahnya ini, ia mencintai kebebasan berpikir dan bertindak, tanpa paksaan dan tekanan yang tidak ia sukai. Jika ia meyakini suatu pemikiran dan melihat bahwa keimanannya akan memberi manfaat atau mewujudkan apa yang ia inginkan baik dalam jangka pendek maupun panjang, ia akan meyakininya, meskipun pemikiran itu belum mencapai kebenaran ilmiah.
Demikian pula, jika ia yakin suatu tindakan akan mewujudkan apa yang ia inginkan, dan tidak ada dorongan lain yang bertentangan yang mencegahnya, maka kehendaknya akan terarah untuk melakukannya, dengan keinginan mewujudkan apa yang ia cintai atau inginkan, sehingga ia akan melakukannya sesuai dengan kemampuan dan kekuatan dorongan untuk mewujudkan apa yang diharapkan.
Namun ketika manusia merasa bahwa pemikiran atau tuntutan pekerjaan dibebankan kepadanya secara paksa tanpa memiliki pilihan untuk menerima atau menolak, maka ia akan merasa ada halangan yang berdiri dalam dirinya. Halangan ini dapat membuatnya enggan menerima pemikiran atau merespons perintah untuk melakukan atau tidak melakukan suatu pekerjaan, sebelum ia berpikir tentang kebenaran, kelayakan, dan manfaat atau kerusakannya.
Ketika ia merasa bahwa nasihat yang ditujukan kepadanya dicampuri dengan kewajiban, paksaan, dan tekanan, maka dalam dirinya dapat tumbuh halangan semacam ini.
Namun, halangan semacam ini tidak akan muncul sama sekali ketika pemikiran itu menyelinap dengan cara sedemikian rupa sehingga manusia menganggap dialah pemilik pemikiran dan kehendaknya sendiri untuk melakukan pekerjaan, tanpa ada yang memaksanya, atau ketika ia merasa bebas untuk menerima atau menolak pemikiran dan merespons untuk melakukan pekerjaan atau tidak.
Ketika dorongan bersifat internal dan berasal dari dalam diri manusia, maka ia tidak akan menemukan halangan psikologis apa pun, kecuali halangan ketidakpercayaan diri jika memang ia memiliki halangan tersebut.
Halangan perasaan terhambat kebebasan berpikir atau bertindak dapat hilang dengan kepercayaan penuh kepada pemberi ide atau perintah, cinta yang melahirkan kecintaan pada apa yang menyenangkannya, rasa kagum dan penghormatan, keyakinan mendalam bahwa orang tersebut berhak memerintah, melarang, dan memaksakan kehendaknya, serta perasaan bahwa kepentingannya menuntut ketaatan dan kepatuhan, sambil tetap merasa bebas untuk menerima atau menolak, terutama ketika tuntutan, kebutuhan, dan keinginan jangka pendek atau panjangnya terkait dengan menerima pemikiran atau melaksanakan tugas.
-2-
Pendekatan Ketuhanan untuk Menghindari Halangan Ini
Hambatan perasaan dengan dirampasnya kebebasan memilih dalam keyakinan dan tindakan, telah dihindari oleh pesan-pesan ilahi dan pendidikan Islam, dengan menyatakan bahwa prinsip umum dalam agama Allah bagi manusia adalah tidak ada paksaan dalam agama dan bahwa manusia memiliki kehendak bebas, dengan mana ia memilih dalam kehidupannya yang Allah tempatkan sebagai ujian apa yang ia inginkan dari keyakinan atau ibadah. Dia bebas dalam pemikirannya, bebas untuk meyakini apa yang ia inginkan, percaya pada apa yang ia inginkan, dan bebas untuk menyembah apa yang ia inginkan. Namun, setelah itu ia harus menanggung konsekuensi dari pilihan buruknya yang menyusahkan dirinya, jika ia meyakini selain kebenaran, atau menyembah selain yang berhak disembah. Sebagaimana ia juga dapat memperoleh hasil yang membahagiakan dirinya sebagai hasil dari pilihan baiknya, jika ia meyakini kebenaran dan beriman padanya, meyakini kebatilan yang salah dan menjauh darinya, atau menyembah Yang berhak disembah saja tanpa menyekutukan-Nya dengan siapapun.
Pendidikan Islam telah membantu pemikiran manusia untuk mencapai pengetahuan tentang rukun-rukun kebenaran, yang harus ia imani dalam agama Allah untuk manusia, melalui cara-cara persuasif dengan metode logika rasional dan bukti ilmiah, untuk menghasilkan motivasi internal yang mencerahkan kehendaknya tentang prinsip-prinsip yang ia pilih untuk diimani.
Dan termasuk dalam cara-cara persuasif ini adalah penggunaan metode tidak langsung dan metode langsung.
Pendidikan Islam telah menempatkan pikiran dan jiwa manusia di hadapan pernyataan janji dan ancaman ilahi. Barangsiapa yang memilih untuk beriman kepada kebenaran yang dibawa oleh agama Allah untuk manusia, dan menyembah Allah saja, ia akan memperoleh pahala berupa keabadian di surga kenikmatan pada hari pembalasan. Dan barangsiapa yang memilih untuk beriman kepada kebatilan yang bertentangan dengan apa yang dibawa oleh agama Allah untuk manusia, atau menyembah selain Allah, ia akan menjadi penghuni neraka yang kekal di dalamnya pada hari pembalasan. Dan barangsiapa yang memilih untuk beriman kepada kebenaran ilahi, tetapi bermaksiat kepada Allah dalam perintah atau larangan-Nya, ia berhak mendapatkan hukuman dengan adil sesuai dengan besarnya dosa yang ia peroleh dalam hidupnya.
Kebebasan kehendak adalah kebebasan untuk memilih, bukan kebebasan tanpa batas, karena kebebasan ini diikuti dengan tanggung jawab, perhitungan, dan balasan, baik berupa pahala atau hukuman.
Kebebasan ini dalam masalah agama serupa dengan kebebasan manusia dalam melanggar hukum alam. Manusia bebas dan mampu memasukkan tangannya ke dalam api, tetapi ia harus menanggung akibat dari pilihannya yaitu tangannya akan terbakar. Perbedaannya adalah bahwa hukuman melanggar hukum-hukum agama memiliki jeda waktu antara tindakan pelanggaran dan hukumannya, yang memungkinkan manusia untuk memperbaiki dengan bertobat, menyesal, dan memohon ampunan, sehingga ia dapat menghindari hukuman. Sedangkan hukuman melanggar hukum alam biasanya adalah hukuman langsung terhadap tindakan pelanggaran tersebut.
-3-
Teks-teks Al-Quran tentang Kebebasan yang Terkait dengan Tanggung Jawab dan Diikuti dengan Pertanggungjawaban, Perhitungan, dan Balasan
Kebenaran agama yang telah dijelaskan dalam dua paragraf sebelumnya telah dipaparkan dalam tujuh belas ayat dari Al-Qur’an, dalam sebuah metode pendidikan yang bijak. Ayat pertama turun di surat ketiga yang diturunkan pada tahap Makkah dari risalah Muhammad, dan ayat terakhir turun di surat Al-Insan yang merupakan surat dari pertengahan wahyu di Madinah, dengan urutan turunnya ke-98, dan saya akan meninjau ayat-ayat tersebut sesuai urutan turunnya dengan penuh perenungan.
Teks Pertama:
Firman Allah dalam Surat Al-Muzzammil (73/Makkah/Urutan Turun ke-3):
﴿اِنَّ هٰذِهٖ تَذْكِرَةٌ ۚ فَمَنْ شَاۤءَ اتَّخَذَ اِلٰى رَبِّهٖ سَبِيْلًا ࣖ ١٩ ﴾
“Sesungguhnya ini adalah peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, dia dapat mengambil jalan kepada Tuhannya.”
“Peringatan” (Tadhkirah) berarti pengingat yang kekal dengan apa yang dikandung dalam ayatnya berupa penjelasan, ajakan kepada Islam, nasihat, dan petunjuk.
Asal kata “peringatan” dalam bahasa adalah media yang mengingatkan. Karena risalah Islam mengandung teks-teks yang Allah tetapkan untuk tetap terjaga, maka ia membawa sifat penjelasan, petunjuk, nasihat, arahan, dan pengingatan secara terus-menerus.
Dalam ayat ini terdapat penjelasan bahwa risalah ini adalah risalah penjelasan, petunjuk, nasihat, arahan, dan pengingatan yang berkelanjutan. Ini bukan risalah paksaan atau kewajiban. Barangsiapa yang menghendaki dengan kehendak bebas yang dianugerahkan Allah untuk memilih kebebasan keselamatan jiwanya, dia dapat mengambil jalan menuju ridha Tuhannya. Barangsiapa yang tidak menghendaki, dia akan mendapatkan hukuman dan siksa, dan dia sendirilah yang menanggung konsekuensi penolakan terhadap kebenaran dan menolak jalan petunjuk.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Teks Kedua:
Firman Allah dalam Surat Al-Muddatsir (74/Makkah/Urutan Turun ke-4) tentang mereka yang berpaling dari mendengarkan ajakan Rasul dan penjelasan Al-Qur’an yang merupakan peringatan intelektual dan bukan paksaan:
﴿فَمَا لَهُمْ عَنِ التَّذْكِرَةِ مُعْرِضِيْنَۙ ٤٩ كَاَنَّهُمْ حُمُرٌ مُّسْتَنْفِرَةٌۙ ٥٠ فَرَّتْ مِنْ قَسْوَرَةٍۗ ٥١ بَلْ يُرِيْدُ كُلُّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ اَنْ يُّؤْتٰى صُحُفًا مُّنَشَّرَةًۙ ٥٢ كَلَّاۗ بَلْ لَّا يَخَافُوْنَ الْاٰخِرَةَۗ ٥٣ كَلَّآ اِنَّهٗ تَذْكِرَةٌ ۚ ٥٤ فَمَنْ شَاۤءَ ذَكَرَهٗۗ ٥٥ ﴾
“Mengapa mereka berpaling dari peringatan bagaikan keledai liar yang lari dari singa? Setiap orang dari mereka ingin diberi lembaran-lembaran yang terhampar. Tidak! Mereka tidak takut pada hari akhirat. Tidak! Sesungguhnya ini adalah peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki akan mengingat.”
Penjelasan: “Kalla” (tidak!) adalah kata teguran yang mengandung makna celaan dan kecaman.
“Sesungguhnya ini adalah peringatan” berarti Al-Qur’an adalah peringatan yang kekal dengan segala penjelasan, petunjuk, nasihat, arahan, dorongan, dan ancaman.
Frasa “Mengapa mereka berpaling dari peringatan” adalah pertanyaan pengingkaran yang menimbulkan kekagetan.
“Keledai” merujuk pada keledai liar.
“Yang lari dari singa” menggambarkan keadaan mereka yang ketakutan dan lari dengan sangat keras.
“Singa” (Qaswarah) adalah sebutan untuk binatang buas yang merampas mangsanya dengan paksa.
Istilah “Qaswarah” juga digunakan untuk pemburu pemanah, dan jamaknya adalah “Qaswarah”. Para pemanah pemburu yang memburu hewan liar dengan panah mereka, yang menangkapnya dengan paksa, disebut dengan istilah “Qaswarah”.
Dalam teks ini terdapat kekaguman terhadap keadaan mereka yang berpaling dari Al-Qur’an dan lari dari pengaruh intelektualnya yang kuat, dengan segala keindahan retorika, makna-makna kokoh, dan kebenaran yang tidak dapat didekati kebatilan, serta cahaya yang cemerlang dan petunjuk yang memaksa bagi mereka yang menyerahkan diri kepadanya. Mereka digambarkan seperti keledai liar yang diserang oleh singa atau segerombolan singa untuk diterkam, sehingga mereka ketakutan luar biasa dan lari tanpa menoleh ke belakang.
Jelas bahwa tujuan perumpamaan ini adalah untuk menimbulkan rasa jijik terhadap sikap berpaling dari petunjuk Al-Qur’an, dengan menjelek-jelekkan dan mencela mereka yang berpaling. Mereka digambarkan sebagai keledai liar, padahal dimungkinkan untuk menggambarkan mereka dengan sapi atau rusa, tetapi keledai dikenal orang sebagai binatang yang bodoh dan dungu, sehingga perumpamaan dengan keledai lebih mengandung celaan terhadap sikap lari dari peringatan intelektual yang tidak memiliki kekuatan materi untuk memaksa.
Ide pokok perumpamaan dalam teks ini adalah menjelaskan bahwa ajakan kepada Islam dan apa yang ada dalam Al-Qur’an adalah ajakan untuk mengingat kembali kebenaran-kebenaran ilmiah yang bersifat fitrah dalam pikiran dan kesadaran manusia, serta kebenaran ilmiah yang diturunkan dari Yang Maha Mengetahui lagi Bijaksana. Manusia diminta untuk pertama kali mengetahuinya, kemudian senantiasa mengingatnya pada saat-saat yang membutuhkan pengingatan, agar menjadi pengarah kehendak dan berbagai macam perilaku mereka.
Setiap manusia bebas setelah dipaparkan peringatan ini untuk meresponnya – baik menerima dan beriman atau menolak dan kafir. Jadi ini bukanlah pengejaran pemaksa yang kejam yang mengejar mangsanya untuk diterkam atau ditangkap, sebagaimana dilakukan singa atau para pemburu pemanah.
Manusia yang berpikir cerdas tidak akan lari dari pemaparan peringatan intelektual kepadanya, bahkan ia akan menerima pemaparan dan bersedia mendiskusikannya. Setelah itu, ia bebas untuk menerimanya atau menolaknya.
Teks ini dengan jelas menunjukkan bahwa ajakan kepada Islam adalah tawaran pilihan bagi non-muslim, bukan paksaan atau tekanan. Barangsiapa yang menghendaki akan menerima dan masuk Islam, meletakkan rukun iman dan Islam serta penjelasan Al-Qur’an dalam ingatannya untuk diikuti.
Teks ini juga menjelaskan dua penyebab psikologis mereka yang berpaling:
Pertama: Kesombongan untuk mengikuti Rasul, karena setiap orang dari mereka ingin diturunkan kepadanya lembaran-lembaran dari Allah.
Kedua: Pengingkaran mereka terhadap kebangkitan, perhitungan, dan pembalasan di hari pembalasan. Mereka tidak takut akan siksa Allah di akhirat.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Teks Ketiga:
Firman Allah dalam Surat At-Takwir (81/Makkah/Urutan Turun ke-7) tentang Al-Qur’an yang mulia:
﴿اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَۙ ٢٧ لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّسْتَقِيْمَۗ ٢٨ ﴾
“Ini tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam, bagi siapa di antara kalian yang menghendaki untuk lurus.”
Teks ini menjelaskan bahwa Al-Qur’an hanyalah peringatan yang ditujukan kepada seluruh alam yang berada dalam posisi ujian dan pembebanan. Barangsiapa yang merespon ajakannya, merenungkannya, menjadikannya peringatan, dan memanfaatkan petunjuk serta penunjuk jalan lurus Allah, maka dialah yang menghendaki dengan kehendak bebas untuk lurus di jalan Allah, dan tidak ingin menyimpang atau berjalan di jalan sesat yang akan menarik mereka ke dalamnya setan, hawa nafsu, dan syahwat yang menyimpang dari kebenaran, kebaikan, dan keutamaan yang diridhai Allah.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Teks Keempat:
Firman Allah dalam Surat Abasa (80/Makkah/Urutan Turun ke-24) tentang pendidikan Allah kepada Rasul-Nya sehubungan dengan pengabaiannya terhadap Abdullah bin Umm Maktum yang buta, yang datang untuk bertanya tentang beberapa masalah agama, ketika Nabi sedang sibuk mengajak pemuka kaumnya masuk Islam:
﴿كَلَّآ اِنَّهَا تَذْكِرَةٌ ۚ ١١ فَمَنْ شَاۤءَ ذَكَرَهٗ ۘ ١٢ ﴾
“Tidak! Sesungguhnya ini adalah peringatan, maka barangsiapa menghendaki, dia akan mengingat.”
Artinya: Wahai Muhammad, risalahmu adalah risalah penjelasan, petunjuk, dan peringatan, bukan risalah untuk memaksa orang dari kekufuran menuju iman sehingga kau mencurahkan perhatian besar untuk mengajak orang kafir dan mengabaikan pencari pengetahuan agama yang berharap untuk diingatkan atau merasa takut. Tugasmu adalah sebagai pemberi peringatan, bukan pemberi paksaan atau pengubah. Respon terhadap ajakan harus berdasarkan kehendak bebas yang diajak, pilihannya untuk beriman kepada kebenaran, dan menempuh jalan petunjuk, bukan dengan paksaan dan tekanan.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Teks Kelima:
Firman Allah tentang Nabi Syu’aib dan kaumnya dalam Surat Al-A’raf (7/Madinah/Urutan Turun ke-39): Para pemuka yang sombong dari kaumnya berkata:
﴿۞ قَالَ الْمَلَاُ الَّذِيْنَ اسْتَكْبَرُوْا مِنْ قَوْمِهٖ لَنُخْرِجَنَّكَ يٰشُعَيْبُ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَكَ مِنْ قَرْيَتِنَآ اَوْ لَتَعُوْدُنَّ فِيْ مِلَّتِنَاۗ قَالَ اَوَلَوْ كُنَّا كٰرِهِيْنَ ٨٨ ﴾
“Kami akan mengusirmu wahai Syu’aib, beserta orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kalian kembali kepada agama kami.” Syu’aib menjawab: “Meskipun kami tidak suka?”
Dalam teks ini terdapat contoh pemaksaan yang dilakukan oleh kaum kafir terhadap orang-orang beriman, dengan tujuan agar mereka meninggalkan agama Ilahi dan kembali kepada keyakinan sebelumnya, serta masuk ke dalam agama para pemaksa. Ini adalah kebiasaan para pemimpin kaum kafir sepanjang masa di setiap zaman. Mereka memaksa orang-orang untuk masuk ke dalam agama, keyakinan, mazhab, dan cara hidup mereka, atau mereka akan mendapatkan berbagai macam penganiayaan dan penyiksaan.
Berbeda dengan risalah-risalah Ilahi yang disampaikan kepada manusia, yang merupakan ajakan, bujukan, dan petunjuk melalui pilihan, disertai peringatan akan akibat buruk dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa bagi mereka yang menolak dan tidak menerima, serta kabar gembira akan kebahagiaan abadi di sisi Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Pengampun bagi mereka yang mendengar, taat, dan menerima dengan kehendak bebas, tanpa paksaan atau tekanan.
Masalah akidah dan pengadopsian mazhab keagamaan tidak mungkin terjadi dengan kebencian dan paksaan, melainkan dengan keinginan dari dalam diri dan pilihan bebas.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Teks Keenam:
Firman Allah dalam Surat Thaha (20/Makkah/Urutan Turun ke-45) dalam dialog dengan Rasul-Nya Muhammad:
﴿طٰهٰ ۚ ١ مَآ اَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْاٰنَ لِتَشْقٰٓى ۙ ٢ اِلَّا تَذْكِرَةً لِّمَنْ يَّخْشٰى ۙ ٣ ﴾
“Thaha, Kami tidak menurunkan Al-Qur’an kepadamu untuk menyusahkanmu, melainkan sebagai peringatan bagi yang takut.”
Ketika semangat Rasulullah untuk membawa keimanan kepada kaumnya semakin menguat, hingga kekufuran mereka membuatnya sedih, dan penolakan orang yang berpaling darinya terasa berat baginya, serta kemunduran orang yang mundur, dan berpaling serta kafirnya orang yang berpaling dan kafir, dan rasa kasihnya kepada mereka membuatnya gelisah, menyakiti hatinya dan membuatnya menderita karena jatuh dalam kesulitan dan rasa sakit, Allah menurunkan nash ini kepadanya, menjelaskan padanya fungsi risalahnya, dengan menurunkan Al-Qur’an kepadanya, dan bahwa Allah Yang Maha Agung tidak menurunkan Al-Qur’an kepadanya dan memberinya tanggung jawab untuk menyampaikannya agar ia menyiksa dirinya dengan penderitaan demi orang-orang yang tidak merespons dakwahnya.
Allah menjelaskan kepada Rasul-Nya dengan gaya bahasa yang halus bahwa Dia menurunkan Al-Qur’an hanyalah sebagai peringatan bagi mereka yang takut kepada Allah dan takut akan hukuman-Nya. Mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai peringatan pasti akan terarahkan jiwanya untuk menginginkan pahala Allah yang agung di hari pembalasan, beserta kebaikan dan ketenangan hati di dunia.
Jadi maknanya: Kami tidak menurunkan Al-Qur’an kepadamu agar engkau menderita dengan kesedihan dan rasa sakit demi orang-orang yang kafir dan tidak merespons, Kami tidak menurunkannya kepadamu kecuali sebagai peringatan bagi orang yang takut.
Yakni: Janganlah engkau, wahai Muhammad, menanggung beban orang-orang yang memilih kekufuran untuk diri mereka sendiri setelah diperingatkan, dan setelah kebenaran dijelaskan kepada mereka, dan janganlah engkau menyiksa dirimu demi mereka.
Kita memperhatikan dalam teks ini arahan langsung kepada Rasul, untuk mendidiknya dengan lembut, tentang tugasnya dalam risalahnya, dan juga sebagai arahan untuk semua pendakwah kepada Allah dari umatnya setelahnya.
Dan kita juga memperhatikan adanya sindiran tidak langsung kepada orang-orang kafir yang berpaling, dan mereka yang mundur dan menolak untuk merespons seruan kebenaran.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Teks Ketujuh:
Firman Allah dalam Surat Yunus (10/Makkah/Urutan Turun ke-51):
﴿وَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ لَاٰمَنَ مَنْ فِى الْاَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيْعًاۗ اَفَاَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتّٰى يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ ٩٩ ﴾
“Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya. Maka apakah engkau akan memaksa manusia agar mereka beriman?”
Ayat ini menunjukkan bahwa kasih sayang Rasulullah kepada kaumnya sangat besar, dan keinginannya agar mereka beriman untuk selamat dari azab Allah dan meraih kenikmatan abadi sangatlah mendalam. Rasa sedih di hatinya karena mereka sungguh sangat besar sehingga dia tidak mampu menahan emosinya. Maka Allah menurunkan ayat ini, yang mengandung metode pendidikan berupa bujukan yang disertai teguran.
Maknanya: Seandainya Tuhanmu, wahai Muhammad, menghendaki untuk memaksa manusia beriman, tentu Dia akan mencabut kebebasan mereka dan menjadikan mereka terpaksa, sehingga semua orang di bumi akan beriman, atau Dia akan mengambil cara-cara yang membuat mereka terpaksa beriman.
Tetapi hal ini bertentangan dengan hikmah ujian dalam kondisi kehidupan dunia, dan hikmah membiarkan manusia untuk pilihan bebas mereka.
Jika Tuhanmu yang mampu membuat mereka semua terpaksa beriman tidak melakukan hal itu, karena Dia berkehendak menjadikan mereka memiliki pilihan, untuk menguji mereka dalam apa yang telah Dia berikan kepada mereka, apakah engkau wahai Muhammad dan setiap orang yang menyeru kepada Allah dari umatmu akan memaksa manusia hingga mereka beriman, padahal itu adalah perkara yang tidak Allah pilih untuk diri-Nya sendiri, meskipun Dia memiliki kekuasaan penuh atasnya.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Teks Kedelapan:
Firman Allah dalam Surat Hud (11/Madinah/Urutan Turun ke-52), menjelaskan contoh dakwah para rasul terdahulu kepada kaumnya, yang patut diteladani, yang merupakan petikan dari dakwah Nuh kepada kaumnya:
﴿قَالَ يٰقَوْمِ اَرَءَيْتُمْ اِنْ كُنْتُ عَلٰى بَيِّنَةٍ مِّنْ رَّبِّيْ وَاٰتٰىنِيْ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِهٖ فَعُمِّيَتْ عَلَيْكُمْۗ اَنُلْزِمُكُمُوْهَا وَاَنْتُمْ لَهَا كٰرِهُوْنَ ٢٨ ﴾
“Dia berkata: ‘Wahai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan Dia memberi rahmat kepadaku dari sisi-Nya? Maka apakah aku akan memaksamu, sedang kamu tidak menyukainya?'”
Dalam ayat ini terdapat penjelasan sebagian dialog Nuh dengan kaumnya, tentang kebebasan manusia memilih iman atau kufur, dan bahwa seorang rasul tidak memiliki wewenang untuk memaksa manusia beriman, setelah Allah memberikan mereka kebebasan memilih untuk menguji mereka dan membebani mereka tanggung jawab atas pilihan mereka. Mereka akan menanggung konsekuensi pilihan mereka di sisi Tuhan mereka jika memilih kekufuran atas keimanan, kesesatan atas petunjuk, dan kegelapan atas cahaya.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Teks Kesembilan:
Firman Allah dalam Surat Az-Zumar (39/Madinah/Urutan Turun ke-59), yang ditujukan kepada Rasul-Nya Muhammad dan berlaku pula bagi setiap pengajak di jalan Tuhannya dari umatnya:
﴿قُلْ اِنِّيْٓ اُمِرْتُ اَنْ اَعْبُدَ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَ ١١ وَاُمِرْتُ لِاَنْ اَكُوْنَ اَوَّلَ الْمُسْلِمِيْنَ ١٢ قُلْ اِنِّيْٓ اَخَافُ اِنْ عَصَيْتُ رَبِّيْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ ١٣ قُلِ اللّٰهَ اَعْبُدُ مُخْلِصًا لَّهٗ دِيْنِيْۚ ١٤ فَاعْبُدُوْا مَا شِئْتُمْ مِّنْ دُوْنِهٖۗ قُلْ اِنَّ الْخٰسِرِيْنَ الَّذِيْنَ خَسِرُوْٓا اَنْفُسَهُمْ وَاَهْلِيْهِمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ اَلَا ذٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِيْنُ ١٥ ﴾
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah dengan ikhlas, dan aku diperintahkan untuk menjadi orang pertama yang berserah diri. Katakanlah: Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku, akan mendapat azab hari yang besar. Katakanlah: Allah-lah yang aku sembah dengan ikhlas. Maka sembahlah apa yang kamu kehendaki selain Dia.’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya orang-orang yang rugi adalah mereka yang merugikan diri dan keluarganya pada hari kiamat. Ingatlah, itulah kerugian yang nyata.'”
Dalam teks ini terdapat pengajaran dari Allah tentang beberapa metode dialog yang meyakinkan untuk orang-orang kafir musyrik, yang menyembah tuhan-tuhan selain Allah Azza wa Jalla, dan ini adalah dialog mengenai topik yang merupakan salah satu topik agama yang paling penting, yaitu topik ibadah.
Dalam pengajaran ini datang perintah kepada Rasul untuk berkata kepada orang-orang musyrik:
“Sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya, sehingga aku tidak menyekutukan siapapun dalam ibadah kepada-Nya… Dan aku diperintahkan dengan kewajiban-kewajiban agama yang dengannya aku menyembah Tuhanku sebelum orang lain, agar aku menjadi orang muslim pertama yang taat kepada perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya.”
Dan dalam pengajaran ini juga terdapat perintah kepada Rasul untuk berkata kepada orang-orang musyrik juga:
“Sesungguhnya aku takut jika aku mendurhakai Tuhanku dengan tidak menyembah-Nya, atau aku menyekutukan dalam ibadah kepada-Nya sesembahan selain-Nya, akan siksa hari yang besar, yaitu siksa hari pembalasan.”
Dan agar dia (Rasul) berkata kepada mereka, mengumumkan metode ibadahnya yang dia pilih untuk dirinya sendiri, dan menjelaskan kepada mereka bahwa mereka bebas memilih apa yang mereka inginkan dari sesembahan yang mereka sembah: “Hanya Allah yang aku sembah dengan mengikhlaskan agamaku kepada-Nya, maka aku tidak menyekutukan siapapun dalam ibadah kepada-Nya.”
“Maka sembahlah apa yang kalian kehendaki selain-Nya dari tuhan-tuhan, karena kalian berhak memilih dalam hidup kalian apa yang kalian inginkan, berupa keimanan atau kekufuran, tauhid atau syirik, karena kalian di kehidupan dunia dalam perjalanan ujian, dibekali dengan apa yang kalian inginkan, dan kalian harus menanggung hasil pilihan kalian.”
Dan agar dia berkata kepada mereka, terakhir, sebagai peringatan dan pemberi kabar: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi adalah mereka yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarga mereka pada hari kiamat. Ketahuilah, itulah kerugian yang nyata.” Artinya: barangsiapa yang kafir lalu menyembah selain Allah atau menyekutukan dalam ibadahnya tuhan selain-Nya, dia merugikan dirinya dan keluarganya pada hari kiamat, karena dia akan menjadi penghuni neraka, kekal di dalamnya selamanya. Ketahuilah, itulah kerugian yang nyata.
“Ala”: kata untuk memberikan peringatan dengan keras, karena membuat diri seseorang terpapar pada kerugian yang nyata ini membutuhkan peringatan ini, agar ia sadar dari kelalaiannya atau ketidaksadarannya.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Teks Kesepuluh:
Firman Allah dalam Surat Fussilat (41/Madinah/Urutan Turun ke-61):
﴿اِنَّ الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِنَا لَا يَخْفَوْنَ عَلَيْنَاۗ اَفَمَنْ يُّلْقٰى فِى النَّارِ خَيْرٌ اَمَّنْ يَّأْتِيْٓ اٰمِنًا يَّوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗاِعْمَلُوْا مَا شِئْتُمْ ۙاِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ ٤٠ ﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang menyimpang dari ayat-ayat Kami, tidak tersembunyi dari Kami. Maka apakah orang yang dilemparkan ke dalam neraka itu lebih baik ataukah orang yang datang dengan aman pada hari kiamat? Lakukanlah apa yang kamu kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
“Menyimpang dari ayat-ayat Kami” berarti menyimpang dari kebenaran dengan aniaya dan kesesatan, baik ayat-ayat penjelasan, ayat-ayat semesta, ayat-ayat mukjizat, maupun ayat-ayat pembalasan.
Di ayat ini, Allah Yang Maha Mulia berbicara tentang para ateis yang zalim, yang menyimpang dari agama-Nya yang benar, yang meragukan dan mempertanyakan ayat-ayat-Nya. Dia menegaskan bahwa mereka tidak tersembunyi dari-Nya, dan memperingatkan mereka akan dilemparkan ke neraka di hari Kiamat jika mereka terus bertahan dalam kekafiran mereka, sementara Dia memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman dengan keamanan.
Setelah penjelasan ini, Dia langsung berbicara kepada para ateis, dengan mengatakan: “Berbuatlah apa yang kamu kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
Dalam hal ini, Dia memberi mereka pilihan untuk melakukan apa pun yang mereka inginkan. Namun, ini bukanlah izin mutlak, melainkan ujian. Pilihan ini disertai ancaman hukuman jika mereka memilih sesuatu yang tidak dikehendaki dalam perjalanan ujian mereka.
Allah membebani mereka dengan tanggung jawab atas kehendak mereka dan menjelaskan bahwa akibat dari kekafiran dan kesyirikan mereka adalah siksa yang pedih di hari Kiamat di dalam api neraka Jahanam.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Teks kedua belas:
Firman Allah dalam Surah Al-Ghasyiyah (88/ayat 6, turun ke-68) yang ditujukan kepada Rasul-Nya Muhammad ﷺ, dan berlaku pula bagi setiap pengajak menuju jalan Tuhannya dari umatnya:
﴿فَذَكِّرْۗ اِنَّمَآ اَنْتَ مُذَكِّرٌۙ ٢١ لَّسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍۙ ٢٢ ﴾
“Maka berilah peringatan, sesungguhnya kamu hanyalah pemberi peringatan, dan kamu bukanlah pengawas atas mereka.”
Ayat ini turun setelah perjalanan panjang dakwah Rasulullah ﷺ kepada kaumnya, di mana beliau telah menjelaskan prinsip-prinsip agama yang berkaitan dengan iman, akhlak, dan ibadah. Beliau menegaskan bahwa ibadah hanya sah dilakukan kepada Allah semata, dan telah menegakkan berbagai argumen dan bukti.
Tidak tersisa baginya kecuali mengingatkan mereka yang telah menerima dakwah namun masih kafir. Ketika telah sampai pada tahap ini, tugasnya hanyalah mengingatkan, bukan memaksa mereka untuk beriman dan masuk Islam dengan paksaan. Hal ini tidak benar karena bertentangan dengan kedudukan mereka di dunia sebagai makhluk yang sedang diuji. Ujian kehendak mengharuskan mereka diberi kebebasan untuk memilih apa yang mereka kehendaki selama masa ujian.
Allah berfirman kepada Rasul-Nya: “Maka berilah peringatan” – artinya, tugasmu hanyalah mengingatkan tentang apa yang telah kamu sampaikan kepada mereka.
“Sesungguhnya kamu hanyalah pemberi peringatan” – maksudnya, kamu tidak lain hanya seorang pemberi peringatan kepada mereka yang telah kamu hadapi sejak awal dakwah hingga turunnya Surah Al-Ghasyiyah. Kamu telah memberikan penjelasan yang cukup dan memadai bagi mereka yang ingin beriman kepada kebenaran dan istiqamah di jalan Tuhannya.
“Kamu tidak berkuasa atas mereka” – artinya: Kamu tidak dituntut dan tidak diizinkan untuk menguasai mereka dengan kekuasaan pemaksa yang mengharuskan mereka beriman dan masuk Islam. Mereka dituntut untuk beriman dan masuk Islam dengan pilihan dan kehendak bebas mereka sendiri, setelah kebenaran dijelaskan kepada mereka dengan ayat-ayat yang jelas. Barangsiapa menolak menerima seruan kebenaran, maka dia harus menanggung konsekuensi kehendaknya sendiri di hadapan Tuhannya, yang memilih jalan kesesatan, menyimpang dari jalan yang lurus, jalan Allah Yang Maha Perkasa Lagi Maha Bijaksana.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Teks kedua belas:
Firman Allah dalam Surah Al-Kahfi (18/ayat 69, turun ke-70) yang ditujukan kepada Rasul-Nya, dan berlaku pula bagi setiap pengajak menuju jalan Tuhannya dari umatnya:
﴿وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّكُمْۗ فَمَنْ شَاۤءَ فَلْيُؤْمِنْ وَّمَنْ شَاۤءَ فَلْيَكْفُرْۚ اِنَّآ اَعْتَدْنَا لِلظّٰلِمِيْنَ نَارًاۙ اَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَاۗ وَاِنْ يَّسْتَغِيْثُوْا يُغَاثُوْا بِمَاۤءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِى الْوُجُوْهَۗ بِئْسَ الشَّرَابُۗ وَسَاۤءَتْ مُرْتَفَقًا ٢٩ ﴾
“Dan katakanlah: Kebenaran (datang) dari Tuhanmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah dia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah dia kafir. Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang-orang zalim, yang gerbang-gerbangnya mengelilingi mereka. Dan jika mereka meminta pertolongan, mereka akan ditolong dengan air seperti besi cair yang menghanguskan wajah. Seburuk-buruk minuman dan tempat berlindung.”
“Dan katakanlah: Kebenaran dari Tuhanmu” – artinya: Wahai para pengajak kepada agama Allah dan jalan yang lurus, katakanlah dengan tenang, tanpa emosi, tanpa kemarahan, dan tanpa penguat: Kebenaran yang kamu ajak mereka untuk beriman dan mengamalkannya adalah dari Tuhan kalian, bukan dari diriku sendiri. Aku hanyalah seorang penyampai.
“Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah dia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah dia kafir” – artinya: Barangsiapa yang dengan kehendak bebasnya, setelah menerima kebenaran Ilahi, ingin beriman, maka hendaklah dia beriman untuk mendapatkan pahala yang besar di sisi Tuhannya. Dan barangsiapa yang dengan kehendak bebasnya ingin kafir, maka biarlah dia kafir. Namun, dia harus menanggung akibat yang telah Allah sediakan bagi orang-orang zalim. Maka Alloh berfirman:
﴿.. اِنَّآ اَعْتَدْنَا لِلظّٰلِمِيْنَ نَارًاۙ اَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَاۗ وَاِنْ يَّسْتَغِيْثُوْا يُغَاثُوْا بِمَاۤءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِى الْوُجُوْهَۗ بِئْسَ الشَّرَابُۗ وَسَاۤءَتْ مُرْتَفَقًا ٢٩ ﴾
Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang-orang zalim, yang gerbang-gerbangnya mengelilingi mereka. Dan jika mereka meminta pertolongan, mereka akan ditolong dengan air seperti besi cair yang menghanguskan wajah. Seburuk-buruk minuman dan tempat berlindung.
Penjelasan tambahan:
- “Surādiq” berarti tenda atau dinding asap, yang di sini merujuk pada dinding api neraka.
- “Muhl” adalah cairan hitam seperti timah cair, nanah, atau darah yang mendidih.
- Ayat ini menggambarkan siksa neraka yang pedih, di mana air yang mereka minum akan sangat panas seperti logam cair yang membakar wajah.
- “Sā’at murtafaqan” berarti seburuk-buruk tempat berlindung atau tempat beristirahat.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Teks ketiga belas:
Firman Allah dalam Surah An-Nahl (16/ayat 106, turun ke-70):
﴿مَنْ كَفَرَ بِاللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ اِيْمَانِهٖٓ اِلَّا مَنْ اُكْرِهَ وَقَلْبُهٗ مُطْمَىِٕنٌّۢ بِالْاِيْمَانِ وَلٰكِنْ مَّنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللّٰهِ ۗوَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ ١٠٦ ﴾
“Barangsiapa yang kafir kepada Allah setelah beriman, kecuali yang dipaksa sedang hatinya tetap tenang dalam keimanan, tetapi siapa yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah akan menimpa mereka dan bagi mereka azab yang besar.”
Ayat ini menunjukkan bahwa pemaksaan tidak dapat diterima dalam agama. Pemaksaan tidak mengeluarkan seseorang dari agama jika dia secara lahiriah mengucapkan kekafiran, sementara hatinya tetap tenang dalam keimanan.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Teks keempat belas:
Firman Allah dalam Surah Al-Haqqah (69/ayat 38-52, turun ke-78):
﴿فَلَآ اُقْسِمُ بِمَا تُبْصِرُوْنَۙ ٣٨ وَمَا لَا تُبْصِرُوْنَۙ ٣٩ اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ ٤٠ وَّمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍۗ قَلِيْلًا مَّا تُؤْمِنُوْنَۙ ٤١ وَلَا بِقَوْلِ كَاهِنٍۗ قَلِيْلًا مَّا تَذَكَّرُوْنَۗ ٤٢ تَنْزِيْلٌ مِّنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَ ٤٣ وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْاَقَاوِيْلِۙ ٤٤ لَاَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِيْنِۙ ٤٥ ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِيْنَۖ ٤٦ فَمَا مِنْكُمْ مِّنْ اَحَدٍ عَنْهُ حٰجِزِيْنَۙ ٤٧ وَاِنَّهٗ لَتَذْكِرَةٌ لِّلْمُتَّقِيْنَ ٤٨ ﴾
“Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat dan apa yang tidak kamu lihat. Sesungguhnya Al-Quran ini adalah perkataan seorang utusan yang mulia. Dan bukan perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman. Dan bukan pula perkataan seorang dukun. Sedikit sekali kamu ingat. (Al-Quran) adalah wahyu dari Tuhan semesta alam. Dan seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami, niscaya Kami pegang dia pada tangan kanannya, kemudian Kami potong urat nadinya, maka sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami) dari (siksa) itu. Dan sesungguhnya (Al-Quran) ini adalah peringatan bagi orang-orang yang bertakwa.”
“Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat dan apa yang tidak kamu lihat” – artinya: Tidak ada gunanya bersumpah dengan ayat-ayat-Ku yang kamu lihat dan tidak lihat, karena kalian telah mencapai tingkat kekerasan hati yang sangat buruk. Yang dimaksud adalah kelompok pembangkang dari kaum musyrikin Mekah.
Apa yang telah diturunkan sebelumnya dari Al-Qur’an sudah cukup untuk menghapuskan setiap bekas keraguan di dalamnya, dan agar kalian menyadari bahwa ia bukanlah perkataan seorang penyair, dan bukan perkataan seorang dukun. Tetapi sedikit sekali kalian yang beriman kepada kebenaran yang bertentangan dengan hawa nafsu kalian dan tradisi-tradisi kalian yang buta, dan sedikit sekali kalian yang mengambil pelajaran dari peringatan-peringatan yang mengingatkan kalian tentang sunnah Allah dalam menghukum orang-orang yang mengingkari dan keras kepala yang tetap bersikeras dalam kebatilan.
“Ini adalah wahyu dari Tuhan semesta alam” – artinya: Al-Quran yang dibacakan Muhammad adalah wahyu dari Tuhan seluruh alam, Tuhan kalian dan Tuhan para leluhur kalian. Ketahuilah hal ini.
“Seandainya dia mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami” – maksudnya: Jika dia berbohong atas nama Kami, meskipun Kami telah memberinya dukungan dengan mukjizat, Kami tidak akan membiarkannya hidup. Kami akan menangkapnya, kemudian memutus urat nadinya.
“Urat nadi” (al-watin): Pembuluh darah yang terkait dengan jantung, jika terputus maka orang itu akan mati.
“Dan sesungguhnya (Al-Quran) ini adalah peringatan bagi orang-orang yang bertakwa” – artinya: Al-Quran adalah peringatan yang senantiasa bermanfaat bagi mereka yang bertakwa, yaitu mereka yang bertakwa kepada Tuhan mereka, lalu beriman dan berserah diri.
Allah menjelaskan bahwa Al-Quran adalah peringatan yang memberikan kebebasan memilih kepada yang menerimanya.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Teks kelima belas:
Firman Allah dalam Surah An-Naba’ (78/ayat 39-40, turun ke-80) dalam konteks pembicaraan tentang Hari Pembalasan:
﴿ذٰلِكَ الْيَوْمُ الْحَقُّۚ فَمَنْ شَاۤءَ اتَّخَذَ اِلٰى رَبِّهٖ مَاٰبًا ٣٩ اِنَّآ اَنْذَرْنٰكُمْ عَذَابًا قَرِيْبًا ەۙ يَّوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُوْلُ الْكٰفِرُ يٰلَيْتَنِيْ كُنْتُ تُرٰبًا ࣖ ٤٠ ﴾
“Itulah hari yang benar, maka barangsiapa yang menghendaki, dia dapat kembali kepada Tuhannya. Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kamu dari siksa yang dekat, pada hari ketika manusia melihat apa yang telah diperbuat tangannya, dan orang kafir berkata: ‘Seandainya aku dahulu hanyalah tanah.'”
Allah menegaskan dalam teks ini bahwa manusia memiliki kehendak bebas untuk memilih tempat kembali yang baik di sisi Tuhan mereka pada Hari Pembalasan, di mana mereka akan bahagia dan selamat. Mereka menempuh jalan lurus Allah untuk mencapainya.
Artinya: Barangsiapa yang menghendaki, dia dapat mengambil jalan untuk meraih ridha Tuhannya melalui iman dan amal saleh, sehingga mendapatkan tempat kembali yang baik di sisi-Nya.
Bagi mereka yang tidak memilih jalan itu, mereka akan mendapatkan azab pada Hari Pembalasan yang dekat. Pada saat itu, rasa waktu antara kematian dan kebangkitan akan lenyap, dan orang kafir akan berangan-angan menjadi tanah agar tidak dibangkitkan, atau dikatakan kepadanya sebagaimana dikatakan kepada binatang setelah dibangkitkan dan ditegakkan keadilan: “Jadilah tanah.”
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Teks keenam belas:
Firman Allah dalam Surah Al-Baqarah (2/ayat 256, turun ke-87), yang merupakan surah pertama yang diturunkan di Madinah:
﴿لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗوَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ ٢٥٦ ﴾
“Tidak ada paksaan dalam agama. Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang teguh pada tali yang kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Allah menjelaskan dalam ayat ini suatu prinsip universal yang berlaku menyeluruh, tanpa pengecualian, penghapusan, atau perubahan bagi mereka yang diletakkan dalam posisi ujian. Prinsip itu adalah: agama adalah pilihan bagi yang diuji, dan tidak mungkin ada paksaan di dalamnya. Hati nurani, yang merupakan pusat keimanan, tidak dapat dipaksa kecuali dengan paksaan Ilahi yang mencabut kebebasan kehendaknya – yang bertentangan dengan posisi ujian. Cara-cara paksaan fisik yang dimiliki manusia hanya akan menciptakan munafik, bukan mukmin. Dan orang munafik lebih buruk keadaannya daripada orang kafir yang terang-terangan.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Teks ketujuh belas:
Firman Allah dalam Surah Al-Insan (76/ayat 29-31, turun ke-98):
﴿اِنَّ هٰذِهٖ تَذْكِرَةٌ ۚ فَمَنْ شَاۤءَ اتَّخَذَ اِلٰى رَبِّهٖ سَبِيْلًا ٢٩ وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۖ ٣٠ يُّدْخِلُ مَنْ يَّشَاۤءُ فِيْ رَحْمَتِهٖۗ وَالظّٰلِمِيْنَ اَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا اَلِيْمًا ࣖ ٣١ ﴾
“Sesungguhnya ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, dia dapat mengambil jalan kepada Tuhannya. Dan kamu tidak menghendaki kecuali jika Allah menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dia memasukkan siapa yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya, dan bagi orang-orang zalim telah disediakan-Nya azab yang pedih.”
Dalam teks ini, Allah menjelaskan tentang kebebasan kehendak manusia dalam iman dan kekafiran, amal saleh dan amal buruk, dengan cara yang serupa dengan teks pertama yang membahas topik ini dalam Surah Al-Muzammil (salah satu surah ketiga yang diturunkan dalam Al-Quran Mulia):
“Sesungguhnya ini adalah peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, dia dapat mengambil jalan kepada Tuhannya.”
Di antara kedua teks tersebut, diturunkan 15 teks yang masing-masing melengkapi tema tersebut secara komprehensif, dengan memperhatikan konteks dan relevansi setiap teks dalam surahnya.
Allah mengakhiri pembahasan ini dengan firman: “Dan kamu tidak menghendaki kecuali jika Allah menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dia memasukkan siapa yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya, dan bagi orang-orang zalim telah disediakan-Nya azab yang pedih.”
Artinya: Tidak ada kehendak bagi kalian kecuali jika Allah memberikan kalian perangkat kehendak bebas, yang dengannya kalian dapat memilih jalan keselamatan dan kebahagiaan, atau jalan kebinasaan dan kesengsaraan. Hal ini terjadi hanya jika Allah memberdayakan kalian untuk menggunakannya pada setiap kehendak parsial.
Namun, Allah tidak meletakkan kalian dalam posisi ujian kecuali setelah memberikan perangkat ini dan syarat-syarat pembebanan lainnya. Oleh karena itu, kalian bertanggung jawab sepenuhnya atas kehendak dan perbuatan kalian. Karena itu, Allah memasukkan siapa yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya, yaitu surganya. Diketahui bahwa kehendak-Nya tidak terpisah dari kebijaksanaan-Nya. Adapun orang-orang zalim, Allah telah menyediakan azab yang pedih bagi mereka dengan keadilan-Nya di alam siksa-Nya.
Dengan demikian, tema tersebut menjadi lengkap, dan teks-teks telah menjalankan peran pendidikannya sesuai dengan tahapan waktu dan kebutuhan dinamika dakwah serta konsekuensi pendidikannya.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
PERNYATAAN KESEMBILAN
Hambatan-Hambatan yang Menghalangi
-3-
Hambatan Pikiran, Konsep, Kepercayaan, dan Kebiasaan Terdahulu
-1-
Analisis Penjelasan:
Salah satu hambatan psikologis yang menghalangi penerimaan dakwah, nasihat, dan bimbingan adalah kecenderungan membela pikiran, konsep, kepercayaan, dan kebiasaan terdahulu bagi mereka yang diajak dalam misi dakwah atau nasihat dan petunjuk menuju yang lebih baik.
Akar/Sebab psikologis hambatan ini:
Pikiran, konsep, kepercayaan, dan kebiasaan terdahulu yang telah mengakar dianggap sebagai bagian integral dari diri sendiri dalam perasaan batinnya, bahkan sampai ke kedalaman jiwanya. Hal ini dianggap sebagai bagian dari identitas yang dibanggakan, dijaga, dan dibela dari setiap pihak yang bertentangan atau berbeda.
Secara refleks, seseorang akan menolak melepaskan sebagian dari pikiran, konsep, kepercayaan, dan kebiasaan terdahulunya yang telah berakar dalam dirinya, sama halnya dengan tidak akan melepaskan bagian dari tubuhnya kecuali dalam keadaan darurat, misalnya untuk menyelamatkan bagian tubuh lainnya dari kehancuran.
Perasaan batin ini dalam diri manusia pada umumnya tidak didasarkan pada bukti rasional atau dalil ilmiah, melainkan pada generalisasi yang salah dan fanatisme tanpa wawasan. Betapa banyak pikiran, konsep, dan kepercayaan terdahulu dalam pikiran atau perasaan manusia yang merupakan perkara batil.
Betapa banyak kebiasaan yang telah mengakar dalam perilaku yang merupakan kebiasaan buruk yang harus dihapuskan, diperbaiki, atau diubah.
Namun, inilah kondisi sebagian besar orang, bahkan para ilmuwan dan cendekiawan, yang berakar dari sifat individualistis di balik perasaan, disertai kesombongan manusia untuk menerima tuduhan bahwa dirinya pernah memiliki konsep yang salah, meyakini, dan mengamalkannya dalam satu periode hidupnya. Dia enggan merasa bahwa dirinya pernah memiliki keyakinan atau perilaku yang rusak, karena menganggap hal itu sebagai penghinaan terhadap martabatnya dan cercaan terhadap bagian dari dirinya yang telah dijalaninya sepanjang masa.
Ini adalah salah satu penyebab timbulnya penyakit fanatisme diri, dalam batas individualisme personal atau kolektif.
Dari individualisme kolektif muncul hal-hal berikut: fanatisme mazhab, fanatisme partai, fanatisme nasional dan etnis, dan sejenisnya.
Karena itu, sangatlah sulit untuk mencabut pikiran, konsep, kepercayaan, dan kebiasaan yang telah mengakar pada banyak orang, meskipun batil, rusak, atau buruk, untuk membebaskan jiwa mereka darinya dan menanamkan alternatif kebenaran, kebaikan, kebajikan, atau keindahan.
Maka bagi pembawa risalah dakwah atau nasihat dan bimbingan, hendaklah mempersiapkan diri untuk menghadapi hambatan ini pada orang yang dituju, dan bersabar dengan kesabaran yang panjang untuk melewatinya, membebaskan jiwa dari hal-hal batil atau rusak atau buruk, dan mempersiapkannya untuk menerima penanaman alternatif yang benar, baik, bermanfaat, atau indah.
Untuk melewati hambatan ini, diperlukan penggunaan metode bijak yang efektif, kesabaran yang panjang, dan pendekatan bertahap yang sangat lambat.
-2-
Beberapa Metode untuk Melewati Hambatan
Saya akan mengarahkan perhatian pada sekelompok metode bijak yang paling efektif untuk melewati hambatan pikiran, konsep, kepercayaan, dan kebiasaan terdahulu. Pembawa risalah hendaknya memilih metode yang sesuai dengan kondisi orang yang dituju:
1 – Kesabaran panjang dalam membangun kepercayaan melalui akhlak, ilmu, kekuatan akal, pemahaman mendalam, kemampuan bernalar, dan kekuatan argumentasi.
2 – Menggunakan pendekatan tidak langsung atau langsung yang halus untuk meruntuhkan pikiran, konsep, kepercayaan, dan kebiasaan terdahulu secara bertahap. Mulailah dari akar pemikiran, kemudian berkembang ke prinsip dasarnya, lalu cabangnya, dan akhirnya konsekuensinya dalam kebiasaan dan jenis perilaku.
3 – Menggunakan metode persuasi ilmiah dan logis untuk mengungkap kekeliruannya yang ingin dicabut atau diubah.
Baik untuk meminta beberapa alasan yang mungkin menjadi penyebab terjadinya kesalahan dan penyimpangan, dengan menjelaskan bahwa orang yang berakal, bijaksana, dan adil harus memperbaikinya dan kembali kepada kebenaran, karena kebenaran lebih berhak untuk diikuti.
Dan strategi pencabutan praktik-praktik yang batil, rusak, atau buruk akan terus berlanjut, hingga lahan jiwa benar-benar atau sebagian terbebaskan darinya.
4 – Kelembutan Dalam menanamkan alternatif-alternatif yang ingin ditanamkan, dimulai dari akar-akar dasar, kemudian yang terdekat, dan seterusnya.
5 – Perhatian terhadap fokus pada logika kebenaran, argumen dan bukti, percobaan ilmiah, mengukur hasil tindakan, dan meletakkan semua pemikiran pada posisi kritik, sesuai dengan cara Al-Qur’an yang jelas dalam firman Allah dalam surat (Saba’/ 34 mushaf / 58 turun): “… Dan sesungguhnya kami atau kalian berada di atas petunjuk atau dalam kesesatan yang nyata.”
6 – Meyakinkan akan perlunya pembebasan dari pengaruh emosional yang tidak ada hubungannya dengan membuktikan atau menolak pengetahuan, dan tidak ada hubungannya dengan menentukan kebenaran dan kebatilan serta membedakan keduanya, seperti pemikiran yang sesuai dengan mazhab, atau yang dipegang oleh partai, atau didukung oleh kelompok tertentu, dan seperti pemikiran yang dikatakan oleh para leluhur.
Dan salah satu ikatan kepada individu yang tidak ma’shum (terjaga dari kesalahan) oleh Allah adalah pernyataan jahiliyah yang mengajak pada superioritas etnis, suku, kebangsaan, partai, atau mazhab yang mengharuskan menerima ide tertentu meskipun batil, karena ikatan kepada kelompok tidak benar kecuali jika yang bergabung dengannya berkomitmen pada semua ide, konsep, keyakinan, dan perintah serta larangan para pemimpin dan tokohnya.
Inilah keburukan jahiliyah yang membuat penyair jahiliyah berkata: “Aku hanyalah dari Ghaziyah, jika sesat aku ikut sesat, dan jika mendapat petunjuk aku pun ikut mendapat petunjuk.”
7 – Menjauh dari membangkitkan nafsu keakuan pribadi – keluarga – etnis – suku – kebangsaan – rasial – dan sejenisnya.
8 – Dalam kondisi keras kepala dan keras hati pada kebatilan, serangan yang cepat mungkin baik untuk mengungkap kebatilan ide, konsep, keyakinan, dan kebiasaan yang dipegang oleh penerima risalah, dan menjelaskan kebodohan mereka yang mempertahankannya, agar mereka mengalami kekalahan intelektual di medan perdebatan logis dengan argumen, bukti, dan bukti ilmiah.
Namun dalam keadaan biasa, perlu menggunakan pendekatan dengan kelembutan dan hikmah, menjauh dari apa yang menimbulkan kekerasan dan kemarahan, dan metode terakhir ini tidak baik kecuali dalam beberapa kondisi, dan ketika bijaksana untuk menghadapi orang yang keras kepala dengan merendahkan, mencap dengan kebekuan, mengikuti hawa nafsu, dan kebutaan terhadap kebenaran, serta lebih menyukai kegelapan daripada cahaya dan kesesatan daripada petunjuk.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
PERNYATAAN KESEPULUH
Hambatan-Hambatan
-4-
Hambatan Taqlid Buta
-1-
Penyakit fanatisme buruk melahirkan penyakit taqlid (peniruan) buta.
1 – Kelompok manusia kuno dengan keluarga, suku, bangsa, dan rakyatnya melihat bahwa kepentingan mereka hanya dapat tercapai melalui kerja sama bersama, dan di antara kepentingan mereka adalah menyerang satu sama lain dengan kezaliman dan agresi, serta saling berperang untuk memenangkan kekuasaan dan kedaulatan.
Karena itu, mereka melihat bahwa perlindungan mereka dari serangan musuh, pesaing, dan para pengintai hanya dapat terwujud jika anggota mereka saling mendukung melawan musuh atau lawan mereka, atau melawan mereka yang berniat zalim dan agresi untuk merampas harta mereka atau memaksakan kekuasaan mereka.
2 – Konflik-konflik yang zalim pun muncul antara suku dan bangsa, serta berbagai kelompok dan aliansi kuno, dengan sebagian besar dorongan munculnya adalah kezaliman, permusuhan, dan invasi agresi.
3 – Dari sinilah muncul loyalitas dan identitas suku, etnis, dan ras, yang tidak didasarkan pada prinsip kebenaran, kebaikan, dan kebajikan, melainkan semata-mata pada kelompok dan saling mendukung walau dengan cara zalim dan agresi. Muncullah fanatisme yang bermula dari fanatisme kepada para leluhur, kemudian meluas menjadi fanatisme etnis, ras, bahasa, dan wilayah.
4 – Dengan fanatisme, individu mendukung pemimpin kelompok atau komunitasnya, serta mendukung ide, prinsip, dan konsep mereka, meskipun batil, zalim, atau membawa keburukan dan kerugian bagi masyarakat manusia.
5 – Dengan fanatisme, kelompok-kelompok dengan loyalitas berbeda saling berperang dengan kezaliman dan agresi, menumpahkan darah, merusak tanaman dan keturunan, serta menyebarkan kerusakan di muka bumi.
6 – Kemudian muncul loyalitas partai dan mazhab dalam masyarakat manusia, serta fanatisme terhadap prinsip-prinsip partai dan ide mazhab, meskipun batil, serupa dengan fanatisme suku, etnis, dan ras kuno.
7 – Terdapat pula loyalitas intelektual terhadap orang-orang yang dipercaya masyarakat akan ilmu, kemampuan intelektual, atau kebijaksanaan mereka dalam bertindak. Mereka meniru secara buta, meskipun apa yang dilakukan pemimpin mereka – baik dalam pemikiran maupun tindakan – adalah batil, rusak, atau membawa keburukan dan kerugian.
Mengagungkan individu dapat menyebabkan sebagian besar orang terperangkap dalam delusi akan kesucian mereka dari kesalahan, dan ini adalah batil.
Seluruh jenis fanatisme adalah penyakit yang menjijikkan:
Kesimpulannya, bagi para pemikir dan yang adil, nyatalah bahwa semua fanatisme adalah penyakit berbahaya dari penyakit sosial, karena loyalitas di dalamnya tidak didasarkan pada kaidah kebenaran, kebaikan, dan kebajikan, melainkan pada prinsip saling mendukung meskipun dengan cara batil, zalim, dan agresi.
Penyakit fanatisme dapat menyebar dan mengakar dalam jiwa manusia, hingga kita mendapati sebagian cendekiawan ilmuwan fanatik terhadap kesalahan mazhab, dan sebagian intelektual yang mengajak kepada kebenaran menjadi fanatik terhadap kesalahan partai, dengan fanatisme yang dibenci, yang membuat mereka menolak mendengarkan penjelasan yang menyajikan kebenaran yang berbeda dengan apa yang mereka fanatikkan, betapapun disertai dengan bukti dan dalil yang tegas.
Alasan mereka menolak adalah semata-mata karena bertentangan dengan mazhab mereka atau kepemimpinan partai mereka.
Segala dalih yang diajukan oleh para fanatikus partai dan mazhab untuk menjadikan fanatisme partai atau mazhab dapat diterima, atau sebagai sesuatu yang tidak tercela, adalah dalih yang ditolak dalam timbangan Islam yang benar. Allah Yang Maha Mulia tidak menerima sedikitpun dari dalih-dalih tersebut, dan tidak akan memaafkan mereka yang berpegang pada kebatilan dengan dalih-dalih itu.
Semua agama dan mazhab batil yang Allah jadikan pengikutnya sebagai penghuni neraka abadi, dalih-dalih mereka untuk mengikuti dan menjalankannya adalah buah dari pohon fanatisme yang jahat.
Taqlid (peniruan) buta adalah buah dari fanatisme:
Penyakit taqlid buta tumbuh secara otomatis dari penyakit fanatisme, atau dapat dikatakan taqlid buta berkembang di atas tanah fanatisme dan loyalitas individual serta kolektif yang timbul dari kepentingan timbal balik antara manusia, atau yang timbul dari kepercayaan penuh kepada beberapa pemimpin, tokoh, ulama, atau pemikir. Kepercayaan ini melahirkan penyerahan mutlak tanpa perenungan, penelitian, atau pemikiran.
Salah satu manifestasi fanatisme yang buruk adalah taqlid buta, dengan mematuhi ide, konsep, keyakinan, kebiasaan, dan jenis perilaku yang dianut oleh kelompok yang menjadi identitasnya, atau yang dianut oleh orang-orang yang dipercayainya.
Orang yang fanatik akan mendukung hal-hal yang dia tiru secara buta dengan segenap kekuatan, membela mereka, dan berupaya meyakinkannya dengan dalih-dalih lemah dan pernyataan-pernyataan yang direkayasa, meskipun batil dan bukti-bukti tegas menunjukkan kebatilan mereka, serta bahwa kebenaran ada pada apa yang bertentangan atau menentang mereka.
Sifat ini adalah salah satu sifat terburuk yang dimiliki banyak orang, dan semakin buruk ketika dimiliki oleh para ilmuwan yang seharusnya netral dan mencari kebenaran, menerima kebenaran di mana pun mereka menemukannya, dan mendukungnya di mana pun mereka menemukannya, meskipun bertentangan dengan kelompok partai, mazhab, atau kaum yang mereka ikuti.
Jenis taqlid buta yang paling berbahaya karena dorongan fanatisme yang tercela adalah peniruan dalam hal-hal yang bertentangan dengan kebenaran yang diperintahkan Allah dalam agama yang benar, baik dalam keyakinan maupun amal.
Karena itu, dalam Al-Quran terdapat kecaman dan celaan keras terhadap mereka yang meniru secara buta orang tua dan leluhur mereka dalam keyakinan, ibadah, dan perilaku yang bertentangan dengan kebenaran, kebaikan, dan kebajikan yang diperintahkan Allah dan dilarang kebalikannya.
Allah Yang Maha Mulia menetapkan bahwa para peniru dalam kekafiran, kefasikan, dan kejahatannya adalah kafir atau fasik dan jahat seperti para pemimpin yang mereka ikuti dalam keyakinan, konsep, kebiasaan, dan perbuatan mereka.
Allah Yang Maha Mulia menegaskan bahwa para peniru secara buta tidak memiliki alasan untuk meniru tanpa pandangan yang jelas, dan mereka harus menanggung konsekuensi fanatisme tanpa hak, serta peniruan dalam kebatilan, kesesatan, dosa, dan agresi dengan siksa yang pedih bersama para pemimpin mereka pada Hari Pembalasan di dalam api neraka Jahannam.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
-2-
Petunjuk Al-Quran tentang Taqlid Buta
Teks Pertama:
Firman Allah dalam Surah Al-A’raf (7/39 wahyu):
﴿وَاِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً قَالُوْا وَجَدْنَا عَلَيْهَآ اٰبَاۤءَنَا وَاللّٰهُ اَمَرَنَا بِهَاۗ قُلْ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاۤءِۗ اَتَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ ٢٨ ﴾
“Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: ‘Kami mendapati nenek moyang kami melakukannya, dan Allah memerintahkan kami melakukannya.’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan perbuatan keji. Apakah kalian mengatakan tentang Allah apa yang tidak kalian ketahui?'”
Mereka menggunakan dua dalih untuk perbuatan keji mereka:
Pertama: Mereka mendapati nenek moyang mereka melakukannya, sehingga mereka meniru secara buta, yakin bahwa para leluhur mereka tidak akan melakukan kejahatan dan keburukan.
Kedua: Bahwa Allah memerintahkan mereka melakukannya – yang merupakan tuduhan palsu terhadap Allah. Allah tidak memerintahkan perbuatan keji. Jika mereka yang membuat-buat tuduhan telah mengklaim bahwa Allah memerintahkan perbuatan keji, mereka harus menyadari dengan akal mereka bahwa Allah tidak memerintahkan perbuatan keji, karena perintah berbuat keji bertentangan dengan hikmah, sedangkan Allah Maha Bijaksana tidak akan memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan hikmah-Nya.
Dan pernyataan ini dari mereka adalah ucapan tentang Allah tanpa pengetahuan, dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban atasnya di hadapan Tuhan mereka, sebagaimana mereka juga akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan keji yang mereka lakukan.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Teks Kedua:
Firman Allah Azza wa Jalla dalam Surah Al-A’raf/7 mushaf/39 turun) mengenai kaum ‘Ad, umat Nabi Hud AS, dan keberpegang-teguhan mereka pada kemusyrikan yang dilakukan oleh nenek moyang mereka, dan bagaimana mereka berbicara kepada rasul mereka dengan bersikeras pada kemusyrikan mereka, dan tantangan mereka kepada rasul mereka untuk mendatangkan kepada mereka apa yang dia janjikan berupa kehancuran yang menyeluruh:
﴿قَالُوْٓا اَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللّٰهَ وَحْدَهٗ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ اٰبَاۤؤُنَاۚ فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ اِنْ كُنْتَ مِنَ الصّٰدِقِيْنَ ٧٠ قَالَ قَدْ وَقَعَ عَلَيْكُمْ مِّنْ رَّبِّكُمْ رِجْسٌ وَّغَضَبٌۗ اَتُجَادِلُوْنَنِيْ فِيْٓ اَسْمَاۤءٍ سَمَّيْتُمُوْهَآ اَنْتُمْ وَاٰبَاۤؤُكُمْ مَّا نَزَّلَ اللّٰهُ بِهَا مِنْ سُلْطٰنٍۗ فَانْتَظِرُوْٓا اِنِّيْ مَعَكُمْ مِّنَ الْمُنْتَظِرِيْنَ ٧١ ﴾
“Mereka berkata: ‘Apakah engkau datang kepada kami agar kami menyembah Allah Yang Maha Esa dan meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyang kami? Datangkanlah kepada kami azab yang engkau ancamkan jika engkau termasuk orang-orang yang benar. Nabi Hud menjawab: “Sesungguhnya telah turun azab dan murka dari Tuhan kalian. Apakah kalian hendak membantahku tentang nama-nama yang kalian dan nenek moyang kalian membuat-buatnya tanpa dasar dari Allah? Tunggulah, sesungguhnya aku pun menunggu bersama kalian.”
Dan tidak bermanfaat bagi mereka alasan mereka bahwa mereka mengikuti apa yang dilakukan oleh nenek moyang mereka dalam menyembah berhala. Allah mengirimkan kepada mereka angin yang sangat dingin dan kencang yang menghancurkan mereka, dan Allah menyelamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat dari-Nya, sedangkan keputusan siksa telah ditetapkan atas orang-orang yang tidak beriman kepada kebenaran yang didukung oleh bukti-bukti yang jelas dan argumen yang meyakinkan.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Teks Ketiga:
Firman Allah dalam Surah Asy-Syu’ara tentang Nabi Ibrahim dan perdebatannya dengan kaumnya mengenai berhala-berhala yang mereka sembah:
﴿وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ اِبْرٰهِيْمَ ۘ ٦٩ اِذْ قَالَ لِاَبِيْهِ وَقَوْمِهٖ مَا تَعْبُدُوْنَ ٧٠ قَالُوْا نَعْبُدُ اَصْنَامًا فَنَظَلُّ لَهَا عٰكِفِيْنَ ٧١ قَالَ هَلْ يَسْمَعُوْنَكُمْ اِذْ تَدْعُوْنَ ۙ ٧٢ اَوْ يَنْفَعُوْنَكُمْ اَوْ يَضُرُّوْنَ ٧٣ قَالُوْا بَلْ وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا كَذٰلِكَ يَفْعَلُوْنَ ٧٤ قَالَ اَفَرَءَيْتُمْ مَّا كُنْتُمْ تَعْبُدُوْنَ ۙ ٧٥ اَنْتُمْ وَاٰبَاۤؤُكُمُ الْاَقْدَمُوْنَ ۙ ٧٦ فَاِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِّيْٓ اِلَّا رَبَّ الْعٰلَمِيْنَ ۙ ٧٧ ﴾
“Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: ‘Apa yang kalian sembah?’ Mereka menjawab: ‘Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.’ Dia (Ibrahim) berkata: ‘Apakah mereka mendengar ketika kalian berdoa? Atau dapat memberi manfaat atau mudarat kepada kalian?’ Mereka menjawab: ‘Tetapi kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian.’ Dia (Ibrahim) berkata: ‘Maka apakah kalian telah melihat apa yang selalu kalian sembah, kalian dan nenek moyang kalian yang terdahulu? Sesungguhnya mereka (semua yang kalian sembah) itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam.'”
Ibrahim membantah mereka dengan bukti-bukti yang kuat, namun mereka tetap bersikeras mengikuti jejak nenek moyang melalui taqlid buta, sehingga dalih dan fanatisme mereka tidak akan berguna di hadapan Tuhan mereka.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Teks Keempat:
Firman Allah dalam Surah Yunus tentang Firaun dan pembesar-pembesarnya yang menolak kebenaran yang dibawa Musa dan Harun:
﴿فَلَمَّا جَاۤءَهُمُ الْحَقُّ مِنْ عِنْدِنَا قَالُوْٓا اِنَّ هٰذَا لَسِحْرٌ مُّبِيْنٌ ٧٦ قَالَ مُوْسٰٓى اَتَقُوْلُوْنَ لِلْحَقِّ لَمَّا جَاۤءَكُمْ ۗ اَسِحْرٌ هٰذَاۗ وَلَا يُفْلِحُ السّٰحِرُوْنَ ٧٧ قَالُوْٓا اَجِئْتَنَا لِتَلْفِتَنَا عَمَّا وَجَدْنَا عَلَيْهِ اٰبَاۤءَنَا وَتَكُوْنَ لَكُمَا الْكِبْرِيَاۤءُ فِى الْاَرْضِۗ وَمَا نَحْنُ لَكُمَا بِمُؤْمِنِيْنَ ٧٨ ﴾
“Maka ketika datang kepada mereka kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata: ‘Sesungguhnya ini benar-benar adalah sihir yang nyata.’ Musa berkata: ‘Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran ketika ia datang kepadamu, sihirkah ini? Padahal para penyihir itu tidaklah beruntung.’ Mereka berkata: ‘Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? Kami tidak akan beriman kepada kamu berdua.'”
Mereka dengan tegas menolak untuk meninggalkan kemusyrikan nenek moyang, bersikeras pada kebatilan mereka dengan fanatisme dan taqlid buta. Akibatnya, Allah membinasakan mereka dengan menenggelamkan mereka, dan di hari kiamat mereka akan mendapatkan siksa api neraka.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Teks Kelima:
Firman Allah dalam Surah Hud (Urutan mushaf 11/Urutan turun 52) tentang kaum Tsamud (kaumnya Nabi Shalih):
﴿۞ وَاِلٰى ثَمُوْدَ اَخَاهُمْ صٰلِحًا ۘ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ ۗهُوَ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا فَاسْتَغْفِرُوْهُ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ ۗاِنَّ رَبِّيْ قَرِيْبٌ مُّجِيْبٌ ٦١ قَالُوْا يٰصٰلِحُ قَدْ كُنْتَ فِيْنَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هٰذَآ اَتَنْهٰىنَآ اَنْ نَّعْبُدَ مَا يَعْبُدُ اٰبَاۤؤُنَا وَاِنَّنَا لَفِيْ شَكٍّ مِّمَّا تَدْعُوْنَآ اِلَيْهِ مُرِيْبٍ ٦٢ ﴾
“Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Shalih. Dia berkata: ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi dan menjadikanmu pemakmurnya. Maka mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku dekat (rahmat-Nya) dan memperkenankan (doa hamba-Nya).’ Mereka berkata: ‘Wahai Shalih! Sesungguhnya engkau sebelum ini adalah seorang yang diharapkan di antara kami. Apakah engkau melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh nenek moyang kami? Dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap apa yang engkau serukan kepada kami.'”
Mereka menolak dakwah Rasul mereka dan bersikeras pada kemusyrikan nenek moyang melalui fanatisme dan taqlid buta. Akibatnya, Allah membinasakan mereka dengan satu teriakan dahsyat dan tidak menerima dalih-dalih batil mereka yang didasarkan pada fanatisme dan taqlid buta.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Teks Keenam:
Firman Allah dalam Surah Hud tentang Madyan (kaumnya Nabi Syuaib) dan tanggapan mereka terhadap dakwahnya untuk menyembah Allah satu-satunya serta meninggalkan kemusyrikan, kezaliman, dan agresi:
﴿قَالُوْا يٰشُعَيْبُ اَصَلٰوتُكَ تَأْمُرُكَ اَنْ نَّتْرُكَ مَا يَعْبُدُ اٰبَاۤؤُنَآ اَوْ اَنْ نَّفْعَلَ فِيْٓ اَمْوَالِنَا مَا نَشٰۤؤُا ۗاِنَّكَ لَاَنْتَ الْحَلِيْمُ الرَّشِيْدُ ٨٧ ﴾
“Mereka berkata kepada Syuaib: “Apakah shalatmu memerintahkanmu agar kami meninggalkan apa yang disembah nenek moyang kami, atau agar kami berbuat sesuka hati dalam harta kami? Sesungguhnya engkau adalah orang yang sangat bijak.”
Nasib mereka sama dengan orang-orang yang dibinasakan sebelumnya. Dalih-dalih batil mereka yang didasarkan pada fanatisme dan taqlid buta tidak akan berguna di sisi Allah.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Teks Ketujuh:
Firman Allah dalam Surah Ash-Shaffat menjelaskan siksa orang-orang zalim di neraka, menegaskan bahwa taqlid buta adalah penyebab kesesatan mereka yang mengantarkan mereka pada siksaan abadi:
﴿اِنَّهُمْ اَلْفَوْا اٰبَاۤءَهُمْ ضَاۤلِّيْنَۙ ٦٩ فَهُمْ عَلٰٓى اٰثٰرِهِمْ يُهْرَعُوْنَ ٧٠ وَلَقَدْ ضَلَّ قَبْلَهُمْ اَكْثَرُ الْاَوَّلِيْنَۙ ٧١ وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا فِيْهِمْ مُّنْذِرِيْنَ ٧٢ ﴾
“Sesungguhnya mereka mendapati nenek moyang mereka dalam kesesatan, lalu mereka bersegera mengikuti jejak mereka. Sesungguhnya telah sesat sebelum mereka kebanyakan orang-orang terdahulu. Dan sesungguhnya Kami telah mengutus para pemberi peringatan.”
Dalam ayat ini terdapat ancaman bagi orang-musyrik dan kafir setelah diutusnya Nabi Muhammad, bahwa kesesatan mereka karena taqlid buta akan membuat mereka menjadi orang-orang yang disiksa di neraka selamanya.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Teks Kedelapan:
Firman Allah dalam Surah Luqman:
﴿اَلَمْ تَرَوْا اَنَّ اللّٰهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ وَاَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهٗ ظَاهِرَةً وَّبَاطِنَةً ۗوَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُّجَادِلُ فِى اللّٰهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَّلَا هُدًى وَّلَا كِتٰبٍ مُّنِيْرٍ ٢٠ وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّبِعُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ قَالُوْا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ اٰبَاۤءَنَاۗ اَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطٰنُ يَدْعُوْهُمْ اِلٰى عَذَابِ السَّعِيْرِ ٢١ ﴾
“Di antara manusia ada yang membantah tentang Allah tanpa ilmu, petunjuk, dan kitab yang memberi penjelasan. Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah,’ mereka berkata: ‘Tidak, kami akan mengikuti apa yang kami dapati nenek moyang kami lakukan.’ Meskipun setan mengajak mereka ke siksa api neraka?”
Ini adalah teks pertama -yang menghadapi secara tidak langsung- orang-orang musyrik yang diajak Nabi Muhammad untuk bertauhid, namun mereka menolak dan berkata akan mengikuti apa yang dilakukan nenek moyang mereka.
Ayat ini menggunakan gaya pertanyaan yang mengandung kekaguman dan penolakan, yang mencela mereka karena berpegang pada kemusyrikan nenek moyang melalui fanatisme dan taqlid buta, bahkan jika setan sekalipun yang mengajak mereka menuju siksa neraka.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Teks Kesembilan:
Firman Allah dalam Surah Saba’ tentang orang-orang musyrik yang diajak oleh Rasulullah:
﴿وَاِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِمْ اٰيٰتُنَا بَيِّنٰتٍ قَالُوْا مَا هٰذَآ اِلَّا رَجُلٌ يُّرِيْدُ اَنْ يَّصُدَّكُمْ عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ اٰبَاۤؤُكُمْ ۚوَقَالُوْا مَا هٰذَآ اِلَّآ اِفْكٌ مُّفْتَرًىۗ وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاۤءَهُمْۙ اِنْ هٰذَآ اِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ ٤٣ ﴾
“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata: ‘Ini tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang ingin menghalangi kalian dari apa yang disembah nenek moyang kalian.’ Dan mereka berkata: ‘Ini tidak lain hanyalah kebohongan belaka.’ Dan orang-orang kafir berkata tentang kebenaran ketika datang kepada mereka: ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.'”
Teks ini menggambarkan pernyataan para pemimpin musyrik yang mereka sampaikan kepada pengikut mereka, membangkitkan fanatisme dan taqlid buta melalui pernyataan: “Ini hanyalah seorang laki-laki yang ingin menghalangi kalian dari apa yang disembah nenek moyang kalian.”
Allah telah mengajarkan kepada Rasul-Nya dan setiap pendakwah di jalannya suatu metode persuasi yang lembut, sebagaimana tertera dalam ayat 46 surah tersebut.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Teks Kesepuluh:
Firman Allah dalam Surah Az-Zukhruf tentang orang-musyrik di zaman dakwah terakhir:
﴿بَلْ قَالُوْٓا اِنَّا وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا عَلٰٓى اُمَّةٍ وَّاِنَّا عَلٰٓى اٰثٰرِهِمْ مُّهْتَدُوْنَ ٢٢ وَكَذٰلِكَ مَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِيْ قَرْيَةٍ مِّنْ نَّذِيْرٍۙ اِلَّا قَالَ مُتْرَفُوْهَآ ۙاِنَّا وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا عَلٰٓى اُمَّةٍ وَّاِنَّا عَلٰٓى اٰثٰرِهِمْ مُّقْتَدُوْنَ ٢٣ ۞ قٰلَ اَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِاَهْدٰى مِمَّا وَجَدْتُّمْ عَلَيْهِ اٰبَاۤءَكُمْۗ قَالُوْٓا اِنَّا بِمَآ اُرْسِلْتُمْ بِهٖ كٰفِرُوْنَ ٢٤ فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ ࣖ ٢٥ ﴾
Bahkan, mereka berkata, “Sesungguhnya kami telah mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama dan kami hanya mengikuti jejak mereka.” Demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Nabi Muhammad) ke suatu negeri. Orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata, “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (agama) dan kami hanya mencontoh jejak mereka.”Dia (pemberi peringatan) berkata, “Masihkah kamu (mengikuti jejak nenek moyangmu), sekalipun aku membawa (agama) yang lebih baik panduannya daripada apa yang kamu peroleh dari nenek moyangmu itu?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami (tetap) mengingkari kerasulanmu.”Lalu kami membinasakan mereka. Maka, perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (kebenaran).
“Ummat” di sini berarti jalan atau agama menurut persepsi mereka.
Teks ini mengungkapkan sikap para musyrik yang menghadapi dakwah akhir dengan penolakan dan keengganan, menggunakan dalih fanatisme kepada leluhur serta mengikuti apa yang mereka lakukan dalam kemusyrikan. Mereka mengklaim bahwa nenek moyang mereka adalah orang-orang berakal, bijak, dan mendapat petunjuk, sehingga dengan mengikuti jejak mereka, mereka pun menganggap diri mendapat petunjuk.
Kemudian Allah menyertakan pernyataan serupa dari para pemimpin musyrik umat-umat terdahulu, yang menyambut dakwah para rasul dengan cara yang sama seperti para musyrik yang menyambut dakwah Rasul terakhir, Muhammad ﷺ. Para pemimpin mereka berkata kepada para rasul: “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami akan mengikuti jejak mereka.” Mereka diikuti oleh para pengikut yang meniru dan fanatik terhadap kelompok mereka.
Ungkapan “muhhtadun” (mendapat petunjuk) dalam ayat 22 secara implikasi logis menunjukkan bahwa para musyrik kontemporer mengatakan: “Dan sesungguhnya kami mengikuti jejak mereka, kami mendapat petunjuk.” Mereka menganggap petunjuk sebagai konsekuensi langsung dari pengikutan.
Sementara ungkapan “muqtadun” (mengikuti) dalam ayat 23, berdasarkan konteks pertentangan dengan ayat 22, menunjukkan bahwa para musyrik terdahulu pun mengatakan hal serupa: “Dan sesungguhnya kami mengikuti jejak mereka, kami mendapat petunjuk.”
Teks menegaskan bahwa setiap rasul kepada kaumnya selalu menentang pernyataan kaum musyrik dengan pertanyaan: “Apakah kalian akan tetap mempertahankan sikap fanatisme dan peniruan buta kalian, meskipun aku datang membawa petunjuk yang lebih baik dari apa yang kalian temui sebelumnya?!!”
Kaum musyrik pun membalas dengan sikap fanatisme, peniruan buta, keras kepala pada kebatilan, dan mengikuti hawa nafsu dengan berkata: “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kalian sampaikan.”
Dalam penutup teks, dijelaskan bahwa Allah telah membalas kaum musyrik terdahulu dan tidak menerima dalih mereka. Hal ini mengandung ancaman bagi mereka yang datang kemudian dengan nasib serupa.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Teks Kesebelas:
Firman Allah dalam Surah Al-Anbiya’ yang menceritakan kisah Ibrahim dan kaumnya tentang berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah:
﴿ ۞ وَلَقَدْ اٰتَيْنَآ اِبْرٰهِيْمَ رُشْدَهٗ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهٖ عٰلِمِيْنَ ٥١ اِذْ قَالَ لِاَبِيْهِ وَقَوْمِهٖ مَا هٰذِهِ التَّمَاثِيْلُ الَّتِيْٓ اَنْتُمْ لَهَا عٰكِفُوْنَ ٥٢ قَالُوْا وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا لَهَا عٰبِدِيْنَ ٥٣ قَالَ لَقَدْ كُنْتُمْ اَنْتُمْ وَاٰبَاۤؤُكُمْ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ ٥٤ ﴾
“Sungguh, Kami benar-benar telah menganugerahkan kepada Ibrahim petunjuk sebelum (Musa dan Harun) dan Kami telah mengetahui dirinya. (Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) berkata kepada bapaknya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?” Mereka menjawab, “Kami mendapati nenek moyang kami menjadi para penyembahnya” Dia (Ibrahim) berkata, “Sungguh, kamu dan nenek moyang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.”
Kisah berlanjut hingga ayat ke-70.
Teks menjelaskan bahwa kisah ini merupakan perdebatan dengan kaum musyrik pada masa turunnya Al-Quran dan generasi setelahnya. Di dalamnya terdapat pengajaran bagi Rasul dan para dai tentang cara berdebat dengan kaum musyrik mengenai berhala mereka.
Teks menegaskan bahwa kekalahan pemikiran akan menimpa mereka yang fanatik dan meniru kebatilan, dan pada akhirnya kemenangan akan berpihak pada kebenaran dan mereka yang berpegang teguh padanya.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Teks Kedua Belas:
Firman Allah Azza wa Jalla dalam Surah Al-Baqarah/2 mushaf/87 turun) yang merupakan surah yang diturunkan di Madinah setelah hijrah, mengenai orang-orang yang menjadikan tandingan-tandingan (sekutu-sekutu) bagi Allah selain Allah:
﴿ وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّبِعُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ قَالُوْا بَلْ نَتَّبِعُ مَآ اَلْفَيْنَا عَلَيْهِ اٰبَاۤءَنَا ۗ اَوَلَوْ كَانَ اٰبَاۤؤُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ شَيْـًٔا وَّلَا يَهْتَدُوْنَ ١٧٠ ﴾
“Apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab, “Tidak. Kami tetap mengikuti kebiasaan yang kami dapati pada nenek moyang kami.” Apakah (mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka (itu) tidak mengerti apa pun dan tidak mendapat petunjuk?”
Teks ini menggambarkan tanggapan orang-orang musyrik yang keras kepala dan yang mengikuti leluhur mereka secara buta, terhadap seruan kebenaran. Ketika seseorang memanggil mereka dan berkata: “Ikutilah apa yang telah Allah turunkan kepada Rasul-Nya,” mereka menjawab bahwa mereka tidak akan mengikuti apa yang diajak, karena mereka tidak percaya, melainkan akan mengikuti apa yang mereka warisi dari leluhur mereka, yaitu menyembah berhala, percaya kepada berhala, dan mengikuti adat istiadat serta tradisi leluhur mereka.
Dalam teks ini, ungkapan bertingkat dalam mengkritik, memberi pelajaran, dan menegur, di mana Allah berfirman tentang mereka dengan tidak langsung:
“Apakah mereka akan tetap (pada pendiriannya) meskipun leluhur mereka tidak memahami apa pun dan tidak mendapat petunjuk?” Artinya, apakah mereka bersikeras mengikuti apa yang diwarisi leluhur mereka, padahal leluhur mereka tidak memahami apa pun dari pengetahuan yang benar, tidak dapat mengendalikan diri dari mengikuti hawa nafsu yang menyimpang, dan tidak mendapatkan petunjuk menuju jalan keselamatan dan keberhasilan dalam hidup mereka.
Maknanya adalah, barang siapa bersikeras dengan cara yang demikian dengan fanatisme dan peniruan buta, tidak memiliki akal untuk berpikir dan tidak memiliki pandangan untuk melihat kebenaran dan mendapatkan keselamatan serta kebahagiaan, maka ia akan membuat dirinya menjadi penghuni neraka untuk selama-lamanya.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Teks Ketiga Belas:
Firman Allah dalam Surat Al-Maidah (5/112 Mushaf, masa turun terakhir periode Madinah):
﴿…وَّلٰكِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا يَفْتَرُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَۗ وَاَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ ١٠٣ وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ تَعَالَوْا اِلٰى مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَاِلَى الرَّسُوْلِ قَالُوْا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ اٰبَاۤءَنَا ۗ اَوَلَوْ كَانَ اٰبَاۤؤُهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔا وَّلَا يَهْتَدُوْنَ ١٠٤ ﴾
“… Namun orang-orang yang kafir mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak berpikir. Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Marilah (ikuti) apa yang telah diturunkan Allah dan (ikuti) Rasul-Nya,’ mereka berkata, ‘Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati dari ayah-ayah kami.’ Apakah (mereka akan tetap demikian) kendati ayah-ayah mereka tidak mengetahui apa-apa dan tidak mendapat petunjuk?”
Maka teks ini adalah wahyu terakhir yang turun dalam tahapan-tahapan penjelasan mengenai topik ini, dan ini mirip dengan teks yang turun di awal periode Madinah. Hanya saja, teks ini dari surah (Al-Maidah) disebutkan di dalamnya:
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah kepada apa yang diturunkan Allah dan kepada Rasul…'”
Maka di dalamnya terdapat tambahan ide ajakan untuk mengikuti Rasul, bersama dengan mengikuti apa yang diturunkan Allah. Dan di dalamnya terdapat ungkapan “mereka tidak mengetahui” sebagai pengganti “mereka tidak menggunakan akal”, sehingga kedua teks ini saling melengkapi dalam menyampaikan makna-makna yang ingin dijelaskan.
Dan teks terakhir ini cukup dengan mengulang ungkapan celaan, cercaan, dan teguran keras atas kekeraskepalaan dalam taklid buta dengan fanatisme yang tercela, yang tidak ada akal dan kebijaksanaan di dalamnya.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
-3-
Metode Mengatasi Taqlid Buta
Pembawa risalah harus menangani peniruan buta pada mereka yang menerima risalahnya dengan berbagai cara yang mungkin, dimulai dari cara yang paling ringan, paling mudah, dan paling jauh dari konfrontasi langsung. Kemudian secara bertahap naik dari yang paling ringan ke yang lebih ringan, kemudian ke yang lebih berat, dan akhirnya ke yang paling berat diantara teknik pengarahan tidak langsung.
Jika cara-cara tidak langsung tidak berhasil, beralih ke cara-cara langsung, dengan bertahap dari yang paling ringan ke yang lebih berat, naik secara perlahan. Apabila sasaran risalah sudah mulai menerima kebenaran, berhentilah pada tingkatan di mana mereka sudah mulai menerima, dan jangan melampaui batas itu.
Dan sudah seharusnya selalu berpegang pada kelembutan dan kasih sayang, kecuali dalam keadaan darurat yang sangat mendesak. Harus bertahap dalam pendekatan, berhiaskan kesabaran, keluasan dada, memaafkan segala penghinaan dengan pengampunan, pemberian maaf, dan penghormatan.
Hal ini ditunjukkan oleh metodologi ayat-ayat Al-Quran yang telah kita tinjau pada paragraf sebelumnya, di mana kita melihat pendekatan bertahap yang tercermin dalam tahapan turunnya wahyu, mulai dari awal periode Mekah hingga akhir periode Madinah, sepanjang sejarah dakwah Rasulullah ﷺ kepada kaumnya.
Beberapa metode bermanfaat untuk mengatasi penyakit peniruan buta adalah:
Metode Pertama:
Meyakinkan bahwa Islam dibangun di atas kebenaran, dan mengajak kepada kebenaran di mana pun ia berada. Islam tidak condong kepada ras, warna kulit, suku, atau kelompok tertentu sambil mengabaikan yang lain. Dalam prinsip, ajaran, dan instruksinya, Islam tidak membedakan antara bangsa, suku, dan ras.
Meyakinkan bahwa fanatisme tanpa alasan adalah penyakit sosial yang bertentangan dengan keutamaan akhlak yang dianjurkan Islam untuk dimiliki dan dipatuhi.
Dan meyakinkan bahwa Islam menetapkan bahwa setiap orang yang berakal bertanggung jawab di hadapan Allah untuk menegakkan kebenaran, membatalkan kebatilan, menolong orang yang dizalimi, mencegah tangan orang yang zalim, dan menegakkan keadilan semampu yang dia bisa lakukan untuk itu.
Metode Kedua:
Mengambil langkah-langkah untuk membentuk opini publik yang sepakat mengutuk penyakit fanatisme tanpa alasan dan perlunya masyarakat manusia membebaskan diri darinya. Mengecam praktik bangsa-bangsa primitif dan biadab yang telah terserang penyakit fanatisme tanpa alasan terhadap suku, bangsa, dan kelompoknya sendiri, yang telah menjauhkan mereka dari kebenaran dan jalan petunjuk serta kebijaksanaan.
Metode Ketiga:
Meyakinkan bahwa peniruan buta adalah salah satu produk busuk dari penyakit fanatisme tercela, yang dibangun atas saling mendukung sekalipun dengan kebatilan, kezaliman, agresi, dosa, penganiayaan, dan tirani.
Metode Keempat:
Menyajikan perkara-perkara kebenaran yang dibawa Islam disertai dengan bukti-bukti dan argumentasi yang logis.
Metode Kelima:
Menjelaskan kepada para peniru buta bahwa warisan-warisan suatu bangsa berakar dalam jiwa secara tidak sadar, tidak melalui pengkajian intelektual. Karena itu harus berjuang panjang untuk membebaskan diri darinya. Barangsiapa berjuang melawan dirinya sendiri hingga mampu membebaskan diri dari warisan-warisan batil, ia akan mendapatkan pahala besar di sisi Tuhannya, serta kemuliaan di antara manusia jika berhasil meninggalkan kebatilan dan mencapai tingkatan kebenaran yang mulia dengan kehendak yang kuat dan tegas.
Metode Keenam:
Berpegang pada kebijaksanaan yang diajarkan Allah kepada kita untuk dikatakan kepada mereka yang berbeda dan dalam kesesatan nyata, sebagaimana dalam Surat Saba’ (34/58 masa turun): “… Sesungguhnya kami atau kalian berada di atas petunjuk atau dalam kesesatan yang nyata.”
Dan dengan pernyataan ini, pembawa risalah Islam meletakkan konsep-konsep Islam dan konsep-konsep yang bertentangan dengannya dari para penentang di atas meja pembahasan, dengan posisi yang setara, dengan syarat bahwa setiap kelompok harus melepaskan diri dari pemikiran-pemikiran sebelumnya, dan agar melihat pada pokok pembahasan dengan pandangan yang bebas dari faktor-faktor apa pun yang berada di luar pencarian untuk sampai pada kebenaran.
Maka apa yang ditunjukkan oleh bukti-bukti yang benar atau dalil-dalil yang pasti bahwa itulah kebenaran, kedua kelompok harus mengakui dan berkomitmen padanya tanpa memperhatikan bahwa ia telah menang atau kalah dalam bidang pembahasan. Sebaliknya, kedua pihak telah bekerja sama dalam penelitian untuk mencapai kebenaran, dengan tujuan berpegang teguh padanya.
Maka orang yang berpegang teguh pada kebenaran adalah pemenang atas kebatilan, kecenderungan jiwa, dan godaan setan yang mengajak kepadanya.
Dan dengan komitmen kedua kelompok terhadap kebenaran yang ditemukan melalui penelitian yang bebas dan jujur, mereka bersama-sama menjadi pemenang atas pihak ketiga, yaitu setan yang selalu bekerja untuk memperdayakan dengan kebatilan, dan menyesatkan dari kebenaran, kebaikan, kearifan, dan petunjuk.
Metode Ketujuh:
Ketika cara-cara lembut sebelumnya tidak bermanfaat, mungkin berguna untuk menggunakan sarana-sarana media, untuk mengecam orang-orang yang fanatik dalam kebatilan, yang melakukan taklid buta, dan mengungkap kebodohan mereka, kekurangan akal mereka, dan keikutsertaan mereka terhadap hawa nafsu, serta menjelaskan kerusakan prinsip-prinsip mereka, konsep-konsep mereka, pendapat-pendapat mereka, keyakinan-keyakinan mereka dan perilaku-perilaku mereka, juga kerusakan dalil-dalil mereka, dan membantahnya dengan argumen-argumen yang kuat dan bukti-bukti ilmiah.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
PERNYATAAN KESEBELAS
Hambatan Penghalang
-5-
Hambatan Kedengkian dari Penerima Risalah
-1-
Dampak Penyakit Kedengkian dalam Jiwa dan Perilaku
Penyakit kedengkian adalah penyakit yang menghalangi orang Yahudi mengikuti Nabi Muhammad ﷺ, padahal mereka mengetahui bahwa dialah Rasul terakhir yang dijanjikan dalam kitab mereka. Mereka mengenalnya dengan ciri-ciri khusus yang disebutkan dalam kitab mereka, sama seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri.
Allah berfirman tentang mereka dalam Surat Al-An’am (6/55 masa turun, yang termasuk periode Madinah yang digabung dengan surat Mekah):
﴿اَلَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَعْرِفُوْنَهٗ كَمَا يَعْرِفُوْنَ اَبْنَاۤءَهُمْۘ اَلَّذِيْنَ خَسِرُوْٓا اَنْفُسَهُمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ ࣖ ٢٠ ﴾
“Mereka yang Kami berikan kitab, mengenalnya (Muhammad) sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Mereka yang telah merugikan diri mereka sendiri, maka mereka tidak akan beriman.”
Dan Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah (2/87 masa turun):
﴿اَلَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَعْرِفُوْنَهٗ كَمَا يَعْرِفُوْنَ اَبْنَاۤءَهُمْ ۗ وَاِنَّ فَرِيْقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُوْنَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ ١٤٦ ﴾
“Mereka yang Kami berikan kitab, mengenalnya sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Sesungguhnya segolongan dari mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.”
Dan Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah (2/87 masa turun) saat membicarakan Bani Israil:
﴿وَلَمَّا جَاۤءَهُمْ كِتٰبٌ مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْۙ وَكَانُوْا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُوْنَ عَلَى الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۚ فَلَمَّا جَاۤءَهُمْ مَّا عَرَفُوْا كَفَرُوْا بِهٖ ۖ فَلَعْنَةُ اللّٰهِ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ ٨٩ بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهٖٓ اَنْفُسَهُمْ اَنْ يَّكْفُرُوْا بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ بَغْيًا اَنْ يُّنَزِّلَ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ عَلٰى مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ ۚ فَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ عَلٰى غَضَبٍۗ وَلِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابٌ مُّهِيْنٌ ٩٠ ﴾
“Dan ketika datang kepada mereka kitab dari sisi Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa meminta kemenangan atas orang-orang yang kafir. Maka ketika datang kepada mereka apa yang mereka kenal, mereka ingkari. Maka laknat Allah atas orang-orang kafir. Mereka telah menjual diri mereka sendiri dengan mengingkari apa yang diturunkan Allah, karena kedengkian bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Maka mereka mendapat murka di atas murka, dan bagi orang-orang kafir tersedia azab yang menghinakan.”
“Karena kedengkian” berarti: Mereka melampaui batas hingga kekafiran yang membuat mereka kekal dalam siksa Allah.
Penyakit kedengkian dan kesombongan adalah dua penyakit yang membuat Iblis—yang dilaknat—membangkang perintah Tuhannya untuk sujud kepada Adam as. Ia membandel dan keras kepala meskipun telah dihadapkan pada pemeriksaan dan penyelidikan tiga kali, sebagaimana ditunjukkan dalam tiga ayat Al-Quran yang membahas penyidikan Allah kepadanya tentang alasan penolakan perintah Tuhannya. Ia mengingkari hak ilahiah Allah dan tidak mengakui kesalahannya, bahkan menuduh Tuhannya tidak berhak memerintahkannya sujud kepada Adam, dengan klaim bahwa dirinya lebih baik dari Adam karena Allah menciptakannya dari api sedangkan Adam dari tanah.
Kedengkian adalah penyakit berbahaya yang menyingkirkan penderitanya dari menerima kebenaran dan merespons ajakan pembawa risalah. Ia membuatnya bersikeras pada kebatilan, membangkang, dan mempertaruhkan dirinya pada siksa abadi di neraka Jahanam.
Kedengkian adalah penghalang jiwa yang tersembunyi pada sebagian orang. Ia adalah penghalang jahat yang membuat si pendengki menolak apa pun yang datang dari yang diirinya, sekalipun itu benar, baik, dan membawa manfaat besar baginya. Sebagian sastrawan penyair telah menggambarkan kedengkian sebagai api yang menyiksa dan membakar penderitanya dari dalam.
Penghalang kedengkian mirip dengan kesombongan dan kecongkakan. Ia menutupi pandangan penderitanya sesuai dengan besarnya, sehingga ia tidak berusaha memikirkan apa pun yang disampaikan orang yang diirinya, baik ajakan, petunjuk kebenaran, penjelasan, pengajaran, arahan, pendidikan, perintah kebaikan, atau larangan kemunkaran. Ia menolaknya secara otomatis tanpa membiarkannya masuk ke wilayah pemikirannya.
-2-
Cara Mengatasi atau Menghindari Penghalang Penyakit Kedengkian
Pembawa risalah Islam yang bijak dapat melewati atau menghindari penghalang kedengkian yang diamati pada penerima risalahnya dengan berbagai metode bijaksana, di antaranya:
Metode Pertama: Memuaskan perasaan si pendengki dengan hal-hal yang disukai dan diinginkannya sesuai izin Allah. Hal ini dapat secara perlahan menghancurkan penghalang kedengkian dalam dirinya.
Metode Kedua: Menggunakan teknik pengarahan tidak langsung.
Metode Ketiga: Membentuk opini publik seputar apa yang ingin disampaikan kepada si pendengki. Dengan opini publik yang berjalan ke arah tertentu, penghalang kedengkian yang ditujukan terhadap pembawa risalah, keluarganya, sukunya, atau kelompoknya akan runtuh.
Metode Keempat: Memperlakukan si pendengki dengan penghormatan, pendekatan yang ramah, mengabaikan kedengkiannya, dan memaafkan perbuatan buruknya.
Metode Kelima: Memberi kesempatan kepada si pendengki untuk menemukan sendiri apa yang dimaksud, baik berupa pengetahuan maupun tindakan.
Metode Keenam: Membuka pintu diskusi dan perdebatan dengan orang lain di hadapannya, tentang topik yang ingin ia yakini atau arahkan, agar ia ikut mendengar dan berpikir, tanpa merasa bahwa dialah yang dimaksud untuk menerima risalah.
Metode Ketujuh: Menempatkannya dalam lingkungan yang dapat mempengaruhinya melalui peniruan, imitasi, dan rasa saing, di mana ia dapat berintegrasi dan merasa ikut berpartisipasi, tanpa membiarkan api kedengkian menyala dalam dirinya.
Metode Kedelapan: Menugaskan seseorang yang tidak diirihi untuk menyampaikan risalah yang ingin disampaikan kepadanya.
Dan seterusnya, berbagai metode yang dapat melewati atau menghindari penghalang kedengkian.
Pembawa risalah yang bijak tidak akan kehabisan cara untuk menemukan metode yang bermanfaat untuk menyampaikan risalahnya kepada orang yang dianggap dengki, tanpa benturan dengan penghalang kedengkian yang menghalangi penjelasan, risalah, dan nasihatnya untuk sampai ke pikiran dan jiwanya.
Dan bagi mereka yang tidak berhasil dengan cara-cara bijak dan lembut, hingga cara-cara keras di tahap terakhir penanganannya, maka hendaklah berpaling darinya dan tidak menyia-nyiakan waktu serta usaha.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
PERNYATAAN KEDUA BELAS
Penghalang-Penghalang
Penghalang Hawa Nafsu dan Syahwat dari Kenikmatan Hidup Dunia pada Penerima Risalah
-1-
Penjelasan Penghalang Ini
Di antara penghalang yang menghalangi pembawa risalah adalah apa yang disampaikannya bertentangan dengan hawa nafsu dan syahwat orang yang ingin disampaikan risalahnya.
Diketahui dalam tabiat jiwa bahwa ia berada di bawah pengaruh hawa nafsu dan syahwatnya dari kenikmatan hidup dunia. Banyak hawa nafsu dan syahwat jiwa masuk dalam daftar hal-hal yang diharamkan dalam agama karena membawa keburukan dan bahaya individual serta sosial, dan karena ketaatan pada tuntutannya berarti mendurhakai Allah, mengundang murka dan amarah-Nya, serta layak menerima hukuman-Nya.
Diketahui bahwa membebaskan diri dari kekuasaan hawa nafsu dan syahwat sangat sulit bagi mereka yang berada di bawah pengaruhnya.
Karena itu, pembawa risalah hendaknya mengambil cara-cara yang diizinkan secara syariat yang dianggap berguna untuk melewati, menghindari, atau memperkecil penghalang ini, serta membatasinya hanya pada hal-hal yang tidak diharamkan Allah dari keinginan jiwa dan tuntutan hawa nafsu, bagi mereka yang di antara mereka ia menyampaikan risalahnya.
Pada paragraf berikutnya akan dipaparkan sejumlah cara untuk ini.
-2-
Cara Menangani Penghalang Hawa Nafsu dan Syahwat
Di antara cara menangani penghalang ini adalah:
1 – Menggunakan cara-cara persuasif yang membuat penerima risalah percaya bahwa apa yang ditawarkan berupa ajakan, pengajaran, nasihat, atau bimbingan lebih baik baginya, lebih membahagiakan, dan lebih menyenangkan bagi dirinya, baik segera maupun nanti, dibandingkan apa yang selama ini ia pegang yang memuaskan hawa nafsu dan syahwatnya, serta kebiasaan-kebiasaan yang sudah melekat dalam perilakunya.
2 – Mengambil cara-cara tidak langsung, seperti:
- Menampilkan teladan yang baik
- Menenggelamkannya dalam lingkungan yang komitmen hidupnya sesuai perilaku Islam
- Paparan umum yang tidak ditujukan secara khusus
- Dan lain sebagainya dari metode pengarahan tidak langsung
3 – Menyenangkan jiwa penerima risalah dengan hal-hal yang disukai dan diingini dari kenikmatan hidup dunia yang dihalalkan Allah, sebagai pengganti keburukan yang selama ini ia dalami.
4 – Menggantungkan cita-citanya pada kenikmatan abadi yang disediakan Allah bagi orang-orang bertakwa di surga.
5 – Memindahkannya dari lingkungannya yang menariknya pada keterganyutan dalam tuntutan hawa nafsu dan syahwatnya ke tempat lain yang baik, dan lingkungan yang membantu jiwanya.
6 – Melatihnya untuk taat kepada Allah sehingga ia merasakan manisnya ketaatan dan kemudian terikat padanya.
Dan lain sebagainya dari cara-cara yang pembawa risalah anggap bermanfaat dalam menangani penghalang ini.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
BAGIAN KETIGA PENJELASAN
Penghalang-Penghalang Bagian Ketiga Penghalang yang Sebabnya Ada di Antara Pembawa Risalah dan Penerima Risalah
PERNYATAAN KETIGA BELAS
Penghalang dari Penghalang-Penghalang yang Menghalangi
-1-
Penghalang Bisikan dan Rayuan Setan
-1-
Penjelasan Penghalang Ini
Bisikan setan: Pembicaraan rahasia yang langsung menyentuh pusat kesadaran dalam jiwa, dan tidak disyaratkan datang melalui alat pendengaran, karena setan mengalir seperti darah dalam tubuh manusia.
Bukhari, Muslim, dan lainnya meriwayatkan dari Anas dan Shafiyah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya setan mengalir dalam diri anak Adam seperti mengalirnya darah.”
Asal makna bisikan adalah suara yang samar.
Setan membisikkan ke dalam dada manusia untuk menggoda dan menipu serta menyesatkannya. Ia menggunakan pembangkitan keragu-raguan, membangkitkan hawa nafsu dan syahwat untuk menggoda dan menipu.
Rayuan setan: Membuat tamak pada kebatilan, menghiasi dan memperindah dengan bisikan apa yang diajak manusia, membuatnya dicintai, menggodanya, dan memudahkannya.
Setelah Allah mengusir Iblis dan memutuskan kesesatannya secara mutlak, ia membenci Adam, istrinya, dan keturunannya. Ia meminta kepada Tuhannya untuk ditangguhkan hingga Hari Pembalasan. Allah memberikannya tangguh hingga waktu kebinasaan makhluk hidup, hingga hari kebangkitan.
Setelah mendapat janji ini, ia mengumumkan keputusannya untuk bekerja menyesatkan keturunan mereka dan memikul beban penyesatan ini. Barangsiapa yang menaatinya dan mengikuti jejaknya, akan dibawanya pada kemaksiatan dan dosa sesuai kadar ketaatannya yang bisa membawanya pada kekalnya siksa api neraka.
Barangsiapa yang tidak menaatinya, Allah akan melindunginya dari terwujudnya maksud setan yang hendak menenggelamkannya dalam lumpur kejahatan, kubangan kerusakan, dan siksa yang pedih.
Iblis telah membuat rencana kerja untuk menyesatkan dan menggoda, dengan bisikan, rayuan, dan godaan. Dia berkata kepada Tuhannya, menjelaskan rencananya sebagaimana Allah telah beritahukan dalam Surah Al-A’raf (7/39 wahyu):
﴿قَالَ فَبِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ١٦ ثُمَّ لَاٰتِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَاۤىِٕلِهِمْۗ وَلَا تَجِدُ اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ ١٧ قَالَ اخْرُجْ مِنْهَا مَذْءُوْمًا مَّدْحُوْرًا ۗ لَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ لَاَمْلَـَٔنَّ جَهَنَّمَ مِنْكُمْ اَجْمَعِيْنَ ١٨ ﴾
“Dia (Iblis) berkata: ‘Karena Engkau telah menyesatkanku, aku akan menghadang mereka di jalan-Mu yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.'”
“Maka karena Engkau telah menyesatkanku”: Artinya: karena Engkau telah menetapkan kesesatan atasku, dan memutuskan keputusan mengenai diriku sejak sekarang, dan menjadikan aku termasuk penduduk neraka.
“Aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus”: Artinya: aku akan duduk mengintai mereka di jalan-Mu yang lurus, yaitu semua yang tercakup dalam agama berupa penjelasan-penjelasan yang berkaitan dengan kebenaran-kebenaran ilmiah yang wajib diimani, amalan-amalan hati dan jiwa serta hal-hal yang harus ditinggalkan, dan amalan-amalan fisik yang tampak serta hal-hal yang harus ditinggalkan yang di dalamnya wajib menaati Allah.
“Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.”
Iblis menjelaskan dengan ini rencana gerakannya untuk menyesatkan, bahwa ia akan bekerja untuk mengalihkan anak-anak Adam dari memulai perjalanan di atas jalan Allah dari depan mereka dengan menghalangi dan mendorong mereka, dan dari belakang mereka dengan kejahatan dan menarik mereka agar mereka tidak memasukinya. Jika ada di antara mereka yang berjalan di jalan Allah, maka ia akan bekerja untuk mengeluarkan mereka darinya dari arah kanan, dengan penyimpangan ke jalan-jalan yang bercabang hingga kesesatan, dan dari arah kiri juga dengan penyimpangan ke jalan-jalan yang bercabang hingga kesesatan.
Dan setan dalam mencegah manusia dari menempuh jalan Allah yang lurus, atau mengeluarkan mereka darinya, tidak perlu bekerja dari atas mereka, dan tidak perlu bekerja dari bawah mereka. Dia hanya perlu mendorong mereka agar tidak menempuh jalan tersebut dari depan mereka, dan menarik mereka dari belakang mereka sehingga mereka tidak menempuhnya. Jika mereka telah menempuhnya, maka rencananya terbatas pada mencegah mereka dari melanjutkan perjalanan, dan cara untuk itu adalah mengeluarkan mereka dari jalan tersebut dari arah kanan dan dari arah kiri.
Tidak ada jalan menyimpang ke atas atau ke bawah, karena ketinggian di atas jalur lurus adalah bagian dari jalur itu sendiri. Demikian pula, jika terdapat jalur di bawahnya yang sejajar, maka ia juga merupakan bagian dari jalur lurus.
Dengan demikian, kita tidak memerlukan penafsiran ijtihadi yang disebutkan sebagian ahli takwil tentang arah atas, karena Iblis tidak mengatakan “dari atas mereka”.
Pemikir dapat mengambil manfaat dari analisis sebelumnya melalui hadis sahih yang menggambarkan jalan lurus Allah, diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Allah membuat perumpamaan sebuah jalan lurus yang memiliki dua sisi dengan tembok, di dalamnya terdapat pintu-pintu terbuka, dan di atas pintu-pintu tersebut terdapat tirai yang diturunkan. Di depan jalan tersebut terdapat seorang penyeru yang berkata: ‘Tetaplah di jalan yang lurus dan jangan menyimpang.’ Dan di atasnya terdapat penyeru lain yang berseru setiap kali seorang hamba hendak membuka salah satu pintu, ‘Celakalah engkau, jangan membukanya! Sesungguhnya jika engkau membukanya, engkau akan masuk ke dalamnya.'”
Kemudian beliau menafsirkannya dan memberitahu:
“Bahwa jalan (shirath) itu adalah Islam, dan bahwa pintu-pintu itu adalah hal-hal yang diharamkan Allah, dan bahwa tirai-tirai yang terbentang adalah batasan-batasan Allah, dan bahwa penyeru di atas jalan itu adalah Al-Qur’an, dan bahwa penyeru dari atasnya adalah nasihat Allah di dalam hati setiap orang mukmin.”
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Razin dengan sanad yang shahih.
“Dan engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur”: Artinya, setelah melaksanakan program penyesatan, engkau tidak akan menemukan sebagian besar anak Adam bersyukur, bahkan dalam derajat syukur terendah dengan keimanan dan pengakuan ketaatan. Sebaliknya, engkau akan menemukan kebanyakan mereka adalah orang-orang kafir.
Iblis mengecualikan hamba-hamba Allah yang murni (al-Mukhlisin) dengan kasrah pada huruf lam, dan al-Mukhlasin dengan fathah pada huruf lam, sebagaimana disebutkan dalam Surah Sad (38/38 wahyu), di mana Iblis berkata:
﴿قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ ٨٢ اِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ ٨٣ ﴾
“Demi kemuliaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang murni.”
Penjelasan:
- Al-Mukhlisin (dengan kasrah lam): Bacaan Ibnu Katsir, Abu Amr, Yakub, dan Ibnu Amir, bermakna mereka yang benar-benar ikhlas dalam keimanan dan keislaman mereka.
- Al-Mukhlasin (dengan fathah lam): Bacaan para qari lainnya, bermakna mereka yang dipilih Allah dari hamba-Nya dan dilindungi dari godaan setan, seperti para nabi.
Dalam rencana penyesatannya, Iblis menggunakan pendekatan bertahap – meluncurkan manusia perlahan-lahan ke dalam kedalaman dosa, bukan dengan cara “lompatan” dari satu ekstrem ke ekstrem lain (seperti jatuh dari puncak gunung ke dasar lembah). Metodenya adalah menurunkan mereka yang tertipu oleh bisikan dan tipu dayanya perlahan-lahan ke dalam lubang-lubang maksiat dan dosa, sampai ke kedalaman terburuk kekafiran dan kemunafikan.
Ungkapan “menurunkan” (at-tadliyah) menjelaskan apa yang dilakukan Iblis terhadap kedua orangtua kita, Adam dan Hawa. Allah berfirman dalam Surah Al-A’raf:
﴿وَقَاسَمَهُمَآ اِنِّيْ لَكُمَا لَمِنَ النّٰصِحِيْنَۙ ٢١ فَدَلّٰىهُمَا بِغُرُوْرٍۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْءٰتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفٰنِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَّرَقِ الْجَنَّةِۗ وَنَادٰىهُمَا رَبُّهُمَآ اَلَمْ اَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَاَقُلْ لَّكُمَآ اِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ٢٢ ﴾
“Dan dia (Iblis) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku adalah penasehat kalian yang sejati.’ Maka dia menipu keduanya dengan tipu daya. Ketika mereka telah mencicipi buah pohon itu, tampaklah aurat mereka dan keduanya mulai menutupinya dengan daun-daun surga. Dan Tuhan mereka memanggil: ‘Bukankah Aku telah melarang kalian dari pohon itu dan mengatakan bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi kalian?'”
Agar manusia tidak menjadi mangsa setan dengan strategi penurunan bertahap yang licik, Allah memperingatkan mereka untuk tidak mengikuti langkah-langkahnya dalam beberapa ayat Al-Quran yang membahas berbagai tema:
- Pada tahap turunnya wahyu Mekah, dalam konteks tuduhan syirik terhadap Allah, Allah berfirman dalam Surah Al-An’am:
﴿… كُلُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌۙ ١٤٢ ﴾
“Makanlah dari rezeki yang Allah berikan dan jangan mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya dia adalah musuh yang nyata bagi kalian.”
Maksudnya: Jangan mengikuti langkah setan dengan membuat tuduhan palsu tentang hukum yang tidak diharamkan Allah.
- Pada awal tahap turunnya wahyu Madinah, Allah berbicara kepada seluruh manusia dalam Surah Al-Baqarah:
﴿يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ١٦٨ اِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوْۤءِ وَالْفَحْشَاۤءِ وَاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ ١٦٩ ﴾
“Wahai manusia! Makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal dan baik, dan jangan mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya dia adalah musuh yang nyata bagi kalian. Dia hanya memerintahkan kejahatan, kekejian, dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kalian ketahui.”
Ayat ini menjelaskan bahwa mengikuti langkah-langkah setan meliputi:
- Mentaatinya dalam hal melakukan kejahatan, yang dimulai dari dosa-dosa kecil, pelanggaran, dan bertahap pada dosa-dosa besar.
- Mentaatinya dalam hal kekejian, yaitu dosa-dosa besar yang meluas, yang memiliki dampak buruk yang besar dan merusak.
- Mentaatinya dalam hal membuat-buat tuduhan terhadap agama Allah, dengan mengubah hukum syariat-Nya, baik dalam kebenaran ilmiah keyakinan, maupun dalam aturan perilaku internal atau eksternal.
Setan dengan langkah-langkah penurunannya memulai dari dosa-dosa ringan dan terkecil, kemudian memindahkan mereka yang dia sesatkan dan tipu sedikit demi sedikit menuju dosa-dosa yang semakin berat hingga sampai pada kesyirikan, yang tidak ada yang lebih buruk dan rendah darinya seperti atheisme dengan menolak keberadaan Pencipta, dan kemunafikan.
- Allah berbicara kepada orang-orang beriman dalam Surah Al-Baqarah dalam konteks menjelaskan potensi perselisihan di antara mereka yang dapat mendorong sebagian pihak untuk berjuang dengan mengorbankan diri demi keridaan Allah untuk memperbaiki kerusakan yang tersebar di masyarakat Islam, disebabkan oleh para penguasa zalim yang merusak:
﴿يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ٢٠٨ فَاِنْ زَلَلْتُمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَتْكُمُ الْبَيِّنٰتُ فَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ ٢٠٩ ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam kedamaian secara menyeluruh, dan jangan mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya dia adalah musuh yang nyata bagi kalian. Jika kalian tergelincir setelah datangnya bukti-bukti yang nyata, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Teks ini menunjukkan kewajiban bagi semua kelompok Muslim yang beriman untuk menyelesaikan konflik di antara mereka secara damai, dan berusaha memperbaiki kerusakan melalui cara-cara damai. Alasan-alasan yang ada mungkin membuat peperangan untuk memperbaiki kerusakan diizinkan pada awalnya, namun setan memanfaatkannya dan menggoda dengan langkah-langkah liciknya hingga pertempuran di antara umat Muslim berubah menjadi sesuatu yang lebih buruk, lebih berbahaya, dan lebih merusak daripada kerusakan yang ingin diperangi oleh para pembaharu terhadap para tiran yang merusak.
Orang-orang yang pada awalnya mencari perbaikan bisa saja tergelincir karena menuruti nafsu dan hawa nafsu mereka. Allah mengancam mereka dengan kemuliaan-Nya yang tak terkalahkan, yang dengan kebijaksanaan-Nya Dia memberi kemenangan kepada siapa yang Dia kehendaki. Inilah yang ditunjukkan oleh firman Allah dalam teks:
“Maka jika kamu tergelincir setelah datang kepadamu bukti-bukti yang nyata, ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
- Dan dalam rangka menjelaskan peristiwa Ifk (tuduhan dusta terhadap Aisyah) serta pelajaran, rekomendasi, dan hukum-hukum yang berkaitan dengannya, Allah berfirman kepada orang-orang yang beriman dalam Surah An-Nur (24: 102 dalam urutan mushaf, 10 dalam urutan turunnya), dengan firman-Nya:
﴿۞ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ وَمَنْ يَّتَّبِعْ خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ فَاِنَّهٗ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ مَا زَكٰى مِنْكُمْ مِّنْ اَحَدٍ اَبَدًاۙ وَّلٰكِنَّ اللّٰهَ يُزَكِّيْ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ ٢١ ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia memerintahkan perbuatan keji dan mungkar. Seandainya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian, niscaya tidak ada seorang pun di antara kalian yang bersih selamanya. Akan tetapi Allah membersihkan siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Menyebarkan tuduhan zina adalah medan luas di mana setan dengan langkah-langkah liciknya akan membawa kepada kerusakan besar dalam masyarakat Islam. Karena itu, Allah memperingatkan orang-orang beriman untuk tidak mengikuti langkah-langkahnya, dalam ayat-ayat yang turun terkait peristiwa fitnah terhadap Umm al-Mu’minin Aisyah, yang Al-Quran kemudian membersihkan namanya dan menyatakan kesuciannya.
Dan Iblis, semoga laknat Allah atasnya, mengetahui titik-titik kelemahan pada diri manusia. Ia melihat bahwa pintu syubhat (kerancuan pemahaman) dapat terbuka menuju berbagai jalan yang menggiring manusia ke lembah kesyirikan kepada Allah. Dan tidak ada dosa yang lebih besar daripada syirik di antara berbagai bentuk kekufuran.
Ia juga melihat bahwa pintu hawa nafsu dan syahwat dapat terbuka menuju berbagai jalan yang sangat banyak, yang menyeret manusia ke lembah maksiat dan dosa, lalu kepada kejahatan besar, kemudian kezaliman, permusuhan, kesewenang-wenangan, dan kedurhakaan, hingga akhirnya terjerumus ke dalam kesyirikan—yang merupakan bentuk kekufuran paling besar.
Di samping itu, Iblis juga memperhatikan strategi yang telah ia rancang untuk menyesatkan dan menggoda manusia. Ia pun yakin akan keberhasilan rencananya dan merasa tenang bahwa ia akan menunggangi kebanyakan anak Adam, mengendalikan mereka seperti binatang ternak dengan meletakkan tali kendali di mulut mereka dan menariknya dari dagu mereka, lalu menggiring mereka dengan cambuknya menuju tingkatan-tingkatan azab yang pedih di neraka Jahannam. Maka Iblis berkata kepada Tuhannya, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah عزّ وجلّ dalam Surah Al-Isra’ (17: 50 dalam urutan mushaf, 50 dalam urutan turunnya):
﴿وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ قَالَ ءَاَسْجُدُ لِمَنْ خَلَقْتَ طِيْنًاۚ ٦١ قَالَ اَرَاَيْتَكَ هٰذَا الَّذِيْ كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَىِٕنْ اَخَّرْتَنِ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ لَاَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهٗٓ اِلَّا قَلِيْلًا ٦٢ قَالَ اذْهَبْ فَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ فَاِنَّ جَهَنَّمَ جَزَاۤؤُكُمْ جَزَاۤءً مَّوْفُوْرًا ٦٣ وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَاَجْلِبْ عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِ وَعِدْهُمْۗ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطٰنُ اِلَّا غُرُوْرًا ٦٤ اِنَّ عِبَادِيْ لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطٰنٌۗ وَكَفٰى بِرَبِّكَ وَكِيْلًا ٦٥ ﴾
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kalian kepada Adam!’ Mereka pun sujud, kecuali Iblis. Dia berkata: ‘Apakah aku akan sujud kepada yang Engkau ciptakan dari tanah?’ Allah berfirman: ‘Apakah pendapatmu tentang (makhluk) ini yang Engkau muliakan atas diriku? Jika Engkau memberi penangguhan kepadaku sampai hari Kiamat, niscaya aku akan dapat menguasai keturunannya, kecuali sedikit.’ Allah berfirman: ‘Pergilah! Barangsiapa di antara mereka yang mengikutimu, maka sesungguhnya neraka adalah balasan kalian, sebagai balasan yang sepenuhnya. Goyahkanlah siapa yang engkau sanggup di antara mereka dengan suaramu, kerahkanlah pasukan berkuda dan pasukanmu, campurilah mereka dalam harta dan anak-anak, dan beri janjilah mereka.’ Dan setan tidak menjanjikan mereka melainkan tipuan belaka. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau tidak mempunyai kekuasaan atas mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai Pelindung.'”
“لأَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ” artinya: Aku sungguh akan memikat keturunannya dan menguasai mereka, dan aku akan menuntun mereka dari rahang mereka seperti hewan dituntun, atau aku akan menggiring mereka dari rahang mereka. Dalam bahasa dikatakan: menuntun hewan, yaitu ketika meletakkan tali di rahang bawahnya untuk menuntunnya.
“واستَفْزِزُ” artinya: Goncangkan mereka dengan hal-hal yang menakutkan dan menggentarkan, dan keluarkan mereka. Dalam bahasa dikatakan: menggoncangkannya, ketika mengganggunya dengan hal-hal menakutkan dan mengeluarkannya, atau ketika memperdayanya hingga menjatuhkannya ke dalam kebinasaan.
“وأجْلِبْ عَلَيْهِم” artinya: Ancamlah mereka dengan kejahatan dengan mengumpulkan pasukanmu terhadap mereka. Dalam bahasa dikatakan: Seseorang mengancam orang lain ketika mengancamnya dengan kejahatan, dan mengumpulkan pasukan terhadapnya.
“بِخَيْلِكَ” artinya: Dengan pasukanmu yang berkuda, para penunggang kuda.
“ورَجْلِكَ” artinya: Dengan pasukanmu yang berjalan kaki, “rajl” adalah nama kumpulan untuk pejalan kaki, atau bentuk jamak dari “rajil”, yaitu orang yang berjalan, kebalikan dari penunggang.
Maka Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kemampuan kepada iblis untuk melakukan apa yang dia bisa dalam menyesatkan manusia, dengan meringankan (menggoda) siapa saja yang meresponsnya dengan cara berikut:
- Dengan suara, yaitu dengan perkataan, bisikan, dan penggunaan media suara dalam penyiaran.
- Dengan menakut-nakuti, menggunakan ancaman kejahatan dan penampilan yang membangkitkan ketakutan.
- Dengan berpartisipasi dalam harta dan anak-anak jika mereka tidak berlindung dengan nama Allah dan memohon perlindungan-Nya. Setan berpartisipasi dalam makanan seseorang jika dia tidak menyebut nama Allah atasnya, dan bermain-main dengan anak-anak manusia untuk membesarkan mereka dengan pendidikan yang rusak dan lepas kendali, jika orang tua mereka tidak melindungi mereka dengan memohon perlindungan Allah dari setan dan tidak mengawasi pendidikan mereka dengan pendidikan Islam yang baik.
- Dengan menjanjikan apa yang disukai manusia, tetapi setan adalah pendusta dalam semua janjinya kepada manusia, “Dan tidaklah setan menjanjikan kepada mereka kecuali tipuan belaka.”
Dan setelah Allah memberikan kemampuan kepada iblis untuk menyesatkan dalam batasan-batasan yang telah dijelaskan-Nya, Allah memberitahukan kepadanya bahwa hamba-hamba-Nya yang beriman tidak akan dapat dikuasai olehnya, karena mereka berlindung kepada Tuhan mereka dan bertawakal kepada-Nya. Allah melindungi dan menjaga mereka dari pengaruh godaan, bisikan, tipu daya, ancaman, dan janji-janjinya. Allah berfirman kepadanya: “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau tidak memiliki kekuasaan atas mereka, dan cukuplah Tuhanmu sebagai Penjaga.”
Artinya: Sesungguhnya hamba-hamba-Ku yang beriman kepada-Ku, berlindung kepada-Ku, dan bertawakal kepada-Ku, engkau tidak akan memiliki kekuasaan atas mereka, karena Aku melindungi mereka dengan penjagaan dan keagungan-Ku. Dan cukuplah Aku sebagai penjaga yang melindungi dan menjaga.
Allah ‘Azza wa Jalla telah mengarahkan peringatan-Nya kepada seluruh manusia, sejak masa Adam ‘alaihissalam, dan berlanjut dalam semua risalah-Nya hingga penutupnya yaitu risalah Muhammad, tentang iblis, keturunannya, dan semua pasukannya, dan menjelaskan kepada mereka bahwa iblis adalah musuh yang nyata bagi mereka.
Di antara peringatan-peringatan tersebut adalah:
1 – Firman Allah ‘Azza wa Jalla yang menjelaskan wasiat-Nya kepada Bani Adam yang pertama, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-A’raf/7 (urutan mushaf)/39 (urutan turun):
﴿يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطٰنُ كَمَآ اَخْرَجَ اَبَوَيْكُمْ مِّنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءٰتِهِمَا ۗاِنَّهٗ يَرٰىكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهٗ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْۗ اِنَّا جَعَلْنَا الشَّيٰطِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ لِلَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ ٢٧ ﴾
“Wahai anak-anak Adam! Janganlah sekali-kali kamu tertipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.”
2 – Dan firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam Surah Al-Kahfi/18 (urutan mushaf)/50 (urutan turun):
﴿وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ اَمْرِ رَبِّهٖۗ اَفَتَتَّخِذُوْنَهٗ وَذُرِّيَّتَهٗٓ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِيْ وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّۗ بِئْسَ لِلظّٰلِمِيْنَ بَدَلًا ٥٠ ﴾
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka dia mendurhakai perintah Tuhannya. Pantaskah kamu menjadikan dia dan keturunannya sebagai pemimpin selain Aku, padahal mereka adalah musuhmu? Sangat buruklah (iblis itu) sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang zalim.”
-2-
Cara-cara Mengatasi Tipu Daya Setan dalam Menyesatkan dan Menggoda
Dengan menelusuri Al-Qur’an dan Sunnah untuk menemukan cara-cara mengatasi tipu daya setan dalam menyesatkan dan menggoda, peneliti yang tekun akan menemukan cara-cara berikut:
1 – Menggunakan metode meyakinkan dengan dasar-dasar keimanan kepada Allah dan hari akhir, dan bahwa perjalanan kehidupan dunia adalah perjalanan ujian, dan bahwa akhirat adalah tempat perhitungan dan keputusan pengadilan serta pelaksanaan balasan yang terbaik, dan bahwa balasan itu akan diberikan dengan adil di neraka Jahannam bagi yang berbuat buruk, dan dengan karunia di surga kenikmatan bagi yang berbuat baik.
2 – Menggunakan metode meyakinkan tentang permusuhan setan dan keturunannya terhadap Bani Adam, dan bahwa setan untuk setiap manusia mengalir dalam dirinya seperti aliran darah, sehingga ia membisikkan ke dalam dirinya, dalam bentuk pikiran, gagasan, dorongan hawa nafsu, syahwat, dan keinginan yang dilarang.
Dengan terus mengingatkan kisah dikeluarkannya kedua orang tua kita, Adam dan Hawa, dari surga, karena setan mempengaruhi mereka hingga melanggar perintah Allah, ketika dia membisikkan dan memperindah serta mengiming-imingi mereka dengan kebatilan, dan memasukkan ke dalam hati mereka kepercayaan pada kekuatan sebab-sebab itu sendiri melalui klaimnya bahwa pohon terlarang itu mengandung zat yang memberikan keabadian kepada makhluk hidup, dan ini adalah cabang dari kesyirikan. Mereka menerima perkataan penyesatannya, lalu memakan dari pohon itu dengan mendurhakai Tuhan mereka, sehingga Allah mengeluarkan mereka dari apa yang mereka nikmati ke dunia, ketika Allah ‘Azza wa Jalla menghukum mereka dengan pengusiran ini.
3 – Arahan untuk berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari bisikan-bisikan setan dan rayuannya, setiap kali dia membisikkan dalam jiwa, atau menggoda, atau menghasut nafsu atau keinginan.
4 – Peringatan berulang-ulang agar tidak mengikuti langkah-langkahnya yang merendahkan, yang menurunkan dengan tipuan, ke dalam sumur pelanggaran, dosa, dan kedurhakaan hingga ke dasar kemaksiatan dan kekufuran.
5 – Terus menyajikan pernyataan-pernyataan peringatan dalam teks Al-Qur’an dan Sunnah tentang setan dan fitnahnya.
6 – Perhatian pada penjelasan tentang jalan-jalan setan, jeratnya, dan pintu masuknya ke dalam jiwa, serta tipu daya yang dia lakukan terhadap semua lapisan masyarakat, semua tingkatan, semua segmen sosial, dan semua spesialisasi mereka, bahkan para ulama agama, fuqaha, orang-orang saleh, ahli ibadah, dan para zahid.
Karena setan memiliki satu atau beberapa pintu masuk ke dalam jiwa setiap manusia yang tidak dijaga oleh penjagaan Allah ‘Azza wa Jalla, di mana setan menipu mereka melalui pintu-pintu itu. Dan sebagian manusia memiliki jiwa dengan batas-batas terbuka, tidak dikelilingi oleh tembok atau penghalang, sehingga setan-setan bermain di dalam jiwa mereka sesuka hati, menggoda, memikat, dan menyesatkan mereka dari segala arah.
Akan baik bagi pembawa risalah untuk memanfaatkan, ketika menggunakan metode ini, kitab “Ighāthatul Lahfān min Mashāyidi Shaytān” (Pertolongan bagi yang Gelisah dari Jerat-jerat Setan) karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, dan kitab-kitab serupa.
7 – Meyakinkan bahwa tipu daya setan adalah tipu daya yang lemah selama tidak berpadu dengan pembantu yang kuat berupa hawa nafsu yang melampaui batas, syahwat dan keinginan duniawi, serta faktor-faktor penyimpangan dari jalan Allah yang lurus, seperti kesombongan, kedengkian, dan emosi buta.
Meyakinkan bahwa kekuasaan setan terbatas pada orang-orang yang menjadikannya pemimpin, dan pada orang-orang yang menyekutukannya dengan Allah, dengan menggunakan bukti teks-teks Al-Qur’an yang menunjukkan hal ini.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam Surah An-Nahl/16 (urutan mushaf)/70 (urutan turun) sebagai seruan untuk setiap orang beriman dengan gaya seruan individual:
﴿فَاِذَا قَرَأْتَ الْقُرْاٰنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ ٩٨ اِنَّهٗ لَيْسَ لَهٗ سُلْطٰنٌ عَلَى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ ٩٩ اِنَّمَا سُلْطٰنُهٗ عَلَى الَّذِيْنَ يَتَوَلَّوْنَهٗ وَالَّذِيْنَ هُمْ بِهٖ مُشْرِكُوْنَ ࣖ ١٠٠ ﴾
“Apabila kamu membaca Al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Sesungguhnya dia tidak memiliki kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya hanyalah atas orang-orang yang menjadikannya pemimpin dan orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.”
Ayat ini menunjukkan bahwa kekuasaan setan terbatas pada dua kelompok manusia:
Kelompok pertama: Mereka yang menjadikannya pemimpin, yaitu yang meminta pertolongannya, bersaudara dengannya, dan mencari bantuan darinya seperti para penyihir dan dukun.
Kelompok kedua: Mereka yang mempersekutukan setan dengan Allah, seperti orang-orang yang menyembah setan, dan sebagian dari mereka mengklaim bahwa setan adalah malaikat.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam Surah Al-Hijr/15 (urutan mushaf)/54 (urutan turun) menceritakan dialog antara-Nya dan iblis:
﴿قَالَ رَبِّ بِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِى الْاَرْضِ وَلَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ ٣٩ اِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ ٤٠ قَالَ هٰذَا صِرَاطٌ عَلَيَّ مُسْتَقِيْمٌ ٤١ اِنَّ عِبَادِيْ لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطٰنٌ اِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِيْنَ ٤٢ وَاِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ ٤٣ ﴾
“Iblis berkata: ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan (hal-hal yang durhaka) terasa indah bagi mereka di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas di antara mereka.’ Allah berfirman: ‘Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban-Ku (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang dijanjikan untuk mereka semuanya.'”
“Al-Mukhlisin” (dengan kasrah pada huruf lam) adalah bacaan Ibnu Katsir, Abu ‘Amr, Ibnu ‘Amir, dan Ya’qub.
“Al-Mukhlashin” (dengan fathah pada huruf lam) adalah bacaan sisa dari sepuluh imam qira’at.
Antara kedua bacaan tersebut terdapat kesempurnaan makna, sebagaimana telah dijelaskan dalam ayat dari Surah Shad.
Dalam dialog ini, iblis menambahkan ke detail rencananya cara menghiasi di bumi, yaitu menghiasi kemaksiatan, penyimpangan, dan kesesatan dalam pemikiran dan perilaku.
“Bimā aghwaytanī” artinya: Dengan keputusan-Mu bahwa aku sesat sebagai hasil perhitungan dan keputusan atas diriku.
“Hādhā sirātun ‘alayya mustaqīm”: Allah ‘Azza wa Jalla berkata kepada iblis: “Ini adalah jalan agama-Ku yang Aku pilih untuk hamba-hamba-Ku, Aku bertanggung jawab untuk menjelaskannya kepada mereka dan menyampaikannya kepada mereka melalui rasul-rasul-Ku, dan itu adalah jalan yang lurus, tidak ada kebengkokan di dalamnya.”
“Illā manit-taba’aka minal-ghāwīn”: Pengikut setan dari “orang-orang yang sesat” adalah dua kelompok yang telah dijelaskan dalam ayat sebelumnya dari Surah An-Nahl: “orang-orang yang menjadikannya pemimpin dan orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.”
8 – Penjelasan bahwa setan akan berlepas diri pada hari kiamat dari orang-orang yang dia sesatkan di dunia, menerangkan bahwa dia tidak memiliki kekuasaan atas mereka, dan bahwa dia hanya mengajak mereka untuk mengikuti jalan kesesatan dan penyimpangan, lalu mereka merespons ajakannya dan mengikutinya.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam Surah Ibrahim/14 (urutan mushaf)/72 (urutan turun):
﴿وَقَالَ الشَّيْطٰنُ لَمَّا قُضِيَ الْاَمْرُ اِنَّ اللّٰهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُّكُمْ فَاَخْلَفْتُكُمْۗ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِّنْ سُلْطٰنٍ اِلَّآ اَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِيْ ۚفَلَا تَلُوْمُوْنِيْ وَلُوْمُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ مَآ اَنَا۠ بِمُصْرِخِكُمْ وَمَآ اَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّۗ اِنِّيْ كَفَرْتُ بِمَآ اَشْرَكْتُمُوْنِ مِنْ قَبْلُ ۗاِنَّ الظّٰلِمِيْنَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ٢٢ ﴾
“Dan setan berkata ketika perkara (hisab) telah diselesaikan, ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku tidak dapat menolongmu, dan kamu pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.’ Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.”
“Mā anā bimuṣrikhikum wa mā antum bimuṣrikhiyya”: Artinya: Aku tidak dapat menolongmu untuk membebaskanmu dari azab Allah, dan kamu pun tidak dapat menolongku untuk membebaskanku dari azab Allah.
Dalam bahasa dikatakan: “Aṣrakhahu”, yaitu ketika dia menolongnya sebagai respons terhadap teriakannya.
9 – Menampilkan kisah-kisah umat terdahulu yang tergoda oleh setan sehingga mereka tersesat, lalu Allah menurunkan hukuman yang disegerakan kepada mereka di dunia, agar dapat diambil pelajaran darinya, seperti:
Firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam Surah Saba’/34 (urutan mushaf)/58 (urutan turun):
﴿وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ اِبْلِيْسُ ظَنَّهٗ فَاتَّبَعُوْهُ اِلَّا فَرِيْقًا مِّنَ الْمُؤْمِنِيْنَ ٢٠ وَمَا كَانَ لَهٗ عَلَيْهِمْ مِّنْ سُلْطَانٍ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يُّؤْمِنُ بِالْاٰخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِيْ شَكٍّ ۗوَرَبُّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيْظٌ ࣖ ٢١ ﴾
“Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian orang-orang yang beriman. Dan tidak ada kekuasaan iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu.”
Dan firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam Surah Al-Anfal/8 (urutan mushaf)/88 (urutan turun) tentang kaum musyrik Mekah dalam perang Badar Kubra:
﴿وَاِذْ زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطٰنُ اَعْمَالَهُمْ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ الْيَوْمَ مِنَ النَّاسِ وَاِنِّيْ جَارٌ لَّكُمْۚ فَلَمَّا تَرَاۤءَتِ الْفِئَتٰنِ نَكَصَ عَلٰى عَقِبَيْهِ وَقَالَ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّنْكُمْ اِنِّيْٓ اَرٰى مَا لَا تَرَوْنَ اِنِّيْٓ اَخَافُ اللّٰهَ ۗوَاللّٰهُ شَدِيْدُ الْعِقَابِ ࣖ ٤٨ ﴾
“Dan (ingatlah) ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: ‘Tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkan kamu pada hari ini, dan sesungguhnya aku adalah pelindungmu.’ Maka tatkala kedua pasukan telah dapat melihat (satu sama lain), setan itu berbalik ke belakang seraya berkata: ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu; sesungguhnya aku dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya aku takut kepada Allah.’ Dan Allah sangat keras siksaan-Nya.”
“Nakaṣa ‘alā ‘aqibayhi”: Artinya: Dia mundur ke belakang melarikan diri.
Ath-Thabrani meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abbas yang berkata: Iblis datang pada hari perang Badar, bersama pasukan setan bersamanya, benderanya dalam bentuk seorang laki-laki dari Bani Mudlij, dalam bentuk Suraqah bin Malik bin Ju’syum.
Setan berkata kepada kaum musyrik: “Tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkan kamu pada hari ini, dan sesungguhnya aku adalah pelindungmu.”
Ketika pasukan berbaris, Rasulullah ﷺ mengambil segenggam debu, lalu melemparkannya ke wajah kaum musyrik, maka mereka berbalik mundur.
Jibril menghampiri iblis, ketika iblis melihatnya, dan tangannya sedang berada dalam genggaman seorang musyrik, iblis menarik tangannya dan melarikan diri bersama pengikutnya.
Orang musyrik itu berkata: “Wahai Suraqah, kau mengklaim bahwa kau adalah pelindung kami?”
Iblis menjawab: “Sesungguhnya aku dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya aku takut kepada Allah. Dan Allah sangat keras siksaan-Nya.” Itu terjadi ketika dia melihat para malaikat.
Dan Allah menurunkan firman-Nya: “Dan (ingatlah) ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka…” sampai akhir ayat.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
PERNYATAAN KEEMPAT BELAS
Hambatan-Hambatan Yang Menghalangi
-2-
Hambatan Perbuatan Para Penyesat dan Tentara Invasi Pemikiran yang Merusak
– 1 –
Penjelasan Hambatan
Negara-negara kafir semuanya bersatu menyerang bangsa-bangsa Islam untuk menyesatkan, menggoda, dan mengeluarkan mereka dari agama mereka, menghancurkan seluruh struktur pemikiran mereka, memecah belah persatuan mereka, mencerai-beraikan kesatuan mereka, memutus hubungan di antara mereka, dan menciptakan konflik material dan spiritual di antara mereka, menghancurkan mereka menjadi bagian-bagian yang sangat kecil agar tidak tersisa kekuatan yang solid dan kuat, serta menghapus mereka dari jajaran bangsa-bangsa, atau menguasai mereka sepenuhnya dengan perbudakan, penghinaan, dan penindasan.
Inilah yang kami sebut pada sepertiga terakhir abad ke-14 Hijriah dengan istilah “Invasi Pemikiran” (Ghazw al-Fikr).
Musuh-musuh Islam dan kaum muslimin telah mengerahkan banyak pasukan untuk mencapai tujuan ini, yang tersebar di seluruh penjuru bumi, di semua negara di lima benua, terutama di negara-negara Muslim. Mereka mendirikan lembaga-lembaga dengan organisasi yang rapi, kekuatan besar, dan dana berlimpah. Mereka menggunakan banyak orang bayaran dan kaum munafik yang bersembunyi di dalam masyarakat Islam, dan menyusup ke pusat-pusat kekuatan intelektual, ekonomi, sosial, politik, dan lainnya sebagai pengendali dan pengarah.
Mereka membentuk dari diri mereka sendiri dan dari struktur pemikiran yang mereka bangun di bidang pendidikan dan berbagai media informasi, serta dari sistem-sistem yang berhasil mereka sebarkan dan paksakan di sebagian besar negara dunia Islam, hambatan-hambatan besar yang menghalangi pengarahan para pembawa risalah dakwah kepada Allah, serta misi perlindungan, perbaikan, dan pendidikan, melalui pengajaran, nasihat, bimbingan, serta amar makruf nahi mungkar.
Para penyeru jahanam, yang rusak dan merusak, telah menyebar di dalam masyarakat Islam, mereka berdiri di pintu-pintu neraka, menawarkan kepada manusia komoditas hawa nafsu dan syahwat, disertai sarana bujukan dan penipuan intelektual, serta doktrin-doktrin pemikiran palsu yang datang dari bangsa-bangsa kafir. Mereka mengajak generasi muda dan tua dari umat Islam yang agung kepada mereka. Barangsiapa yang memenuhi ajakan mereka karena tertarik dengan apa yang diinginkan jiwa, mereka akan menuntunnya ke tempat kesesatan dan kesengsaraannya, sehingga merekalah penyebab terlemparnya dia ke dalam neraka.
Banyak hal telah terbukti dari apa yang diberitakan oleh Rasulullah ﷺ dalam hadits yang diriwayatkan oleh Hudzaifah bin Al-Yaman mengenai berita-berita masa depan tentang umat Islam ini.
Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Hudzaifah bin Al-Yaman, ia berkata: “Orang-orang bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepadanya tentang kejahatan karena takut hal itu akan menimpaku.”
Maka aku bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami dahulu berada dalam kejahiliyahan dan kejahatan, lalu Allah mendatangkan kebaikan ini kepada kami. Apakah setelah kebaikan ini akan ada kejahatan?”
Beliau menjawab: “Ya.”
Aku bertanya: “Apakah setelah kejahatan itu akan ada kebaikan?”
Beliau menjawab: “Ya, tetapi di dalamnya ada dakhan (1).”
Aku bertanya: “Apa dakhan-nya?”
Beliau menjawab: “Suatu kaum yang memberi petunjuk tanpa petunjukku, engkau mengenal sebagian dari mereka dan mengingkari sebagian lainnya.”
Aku bertanya: “Apakah setelah kebaikan itu akan ada kejahatan?”
Beliau menjawab: “Ya, para penyeru yang berdiri di pintu-pintu neraka Jahannam. Barangsiapa yang memenuhi ajakan mereka, mereka akan melemparkannya ke dalamnya.”
Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, gambarkan mereka kepada kami.”
Beliau menjawab: “Mereka berasal dari kulit kita (2), dan berbicara dengan bahasa kita.”
Aku bertanya: “Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku mengalami hal itu?”
Beliau menjawab: “Tetaplah bersama jama’ah kaum muslimin dan imam mereka.”
Aku bertanya: “Bagaimana jika tidak ada jama’ah dan tidak ada imam bagi mereka?”
Beliau menjawab: “Jauhilah semua kelompok itu, meskipun engkau harus menggigit akar pohon hingga kematian menjemputmu dalam keadaan seperti itu.”
(1) Dakhan: kerusakan dalam jiwa dan hati yang bertentangan dengan penampilan luar. (2) Jildat asy-syai’ berarti tampilan luarnya, yakni secara lahiriah mereka Muslim, tetapi secara batiniah mereka berseberangan.
Aku berkata: Kaum muslimin belum sampai pada kondisi yang ditunjukkan oleh paragraf terakhir dari hadits ini. Masih ada kelompok-kelompok Muslim yang di dalamnya terdapat kebaikan yang tercampur dengan dakhan berupa kecintaan terhadap dunia dan usaha untuk mendapatkannya.
Ini adalah gambaran umum tentang hambatan perbuatan para penyesat dan tentara invasi pemikiran yang merusak, baik yang nyata maupun yang tersembunyi. Adapun penjelasan rinci tentang hambatan ini yang mencakup rencana-rencana para penjajah, aktivitas mereka, bidang-bidang mereka, tipu daya mereka, kedok mereka, dan perbuatan-perbuatan mereka, serta apa yang mereka gunakan untuk menjajah umat Islam dalam bidang pemikiran, psikologis, dan perilaku, dengan tujuan menghancurkan akidah, akhlak, ibadah, sistem, dan semua bentuk pengetahuan dan perilaku Islam, maka hal ini tidak cukup ruang dalam buku ini.
Namun, pembawa risalah dapat menemukan penjelasan terperinci dan luas tanpa investigasi mendalam dalam rangkaian buku “Musuh-musuh Islam” yang Allah telah bukakan bagiku, dan sampai saat ini terdiri dari tujuh karya:
- “Tipu Daya Yahudi Sepanjang Sejarah”
- “Pertarungan dengan Kaum Ateis Hingga Tulang”
- “Tiga Sayap Tipu Daya dan Ketersembunyiannya: Studi tentang Misionaris, Orientalisme, dan Kolonialisme”
- “Invasi ke Jantung: Studi tentang Invasi Pemikiran dalam Bidang Pendidikan Sistematis dan Pendidikan Umum”
- “Tipu Daya Merah: Studi tentang Komunisme, Negara Adidayanya, dan Kejahatannya”
- “Penyingkap Kepalsuan dalam Aliran Pemikiran Kontemporer”
- “Fenomena Kemunafikan dan Kejahatan Kaum Munafik dalam Sejarah”
-2-
Cara Mengatasi Hambatan Ini
Untuk hambatan berbahaya yang tersebar luas ini, tidak ada cara untuk mengatasinya di tangan para pembawa risalah dakwah kepada Allah, atau risalah perlindungan dan perbaikan melalui pendidikan, nasihat, bimbingan, amar makruf dan nahi mungkar, kecuali cara-cara yang diikuti oleh Rasulullah ﷺ pada periode Mekah dengan bimbingan dari Allah dan arahan yang bijaksana, dari sejarah risalahnya, dengan kebutuhan untuk mengembangkan metode dan alat, mengikuti perkembangan yang telah dicapai manusia dalam metode dan alatnya, dan dengan kebutuhan untuk terus mengungkap tipu daya musuh-musuh Islam, membongkar rencana mereka, menelanjangi tujuan mereka, menyingkirkan topeng dari wajah mereka yang sebenarnya, dan mengungkap kepalsuan ide-ide, konsep, aliran, dan seruan mereka, serta menggunakan semua metode penjelasan dan semua sarana media yang tersedia, yang dapat dimanfaatkan oleh pembawa risalah.
Para pembawa risalah selalu dituntut untuk waspada terhadap apa yang ada di balik penampilan, mengamati dengan baik berbagai perkara, bijaksana, sabar, lapang dada, menahan penderitaan, berjuang dengan Al-Quran dan Sunnah semampu mereka, dan juga berjuang dengan argumen yang kuat dan bukti ilmiah yang valid.
Mereka juga dituntut untuk memiliki harapan panjang, prasangka baik, dan tidak membiarkan keputusasaan merasuki hati mereka, betapapun kecilnya hasil dari upaya mereka.
Hendaklah mereka mengetahui bahwa mereka tidak bertanggung jawab atas transformasi dan perubahan dalam realitas, tetapi mereka bertanggung jawab di hadapan Allah untuk melaksanakan kewajiban penyampaian, pengajaran, nasihat, bimbingan, amar makruf dan nahi mungkar, meskipun mereka tidak melihat pengaruh nyata dari perjuangan mereka dalam masyarakat tempat mereka berjuang.
Mereka harus meneladani para rasul Allah dalam perjuangan mereka di tengah umat mereka, karena di antara para rasul ada yang tidak direspon oleh kaumnya kecuali beberapa individu yang dapat dihitung.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
PERNYATAAN KELIMA BELAS
Hambatan-Hambatan yang Menghalangi
-3-
Hambatan Tidak Tersedianya Sarana Komunikasi Media yang Efektif
Sarana komunikasi media baik cetak, audio, dan visual di dunia saat ini telah mampu menyampaikan setiap kata, suara, dan gambar kepada siapa saja yang ingin membaca, mendengar, atau menonton.
Namun, sebagian besar sarana komunikasi media di dunia berada di bawah kendali para pencinta duniawi dan promotor kepentingan mereka, serta di bawah kendali para penyesat di bumi dan pihak-pihak yang berkepentingan dengan invasi pemikiran melawan Islam dan umat Islam di belahan timur dan barat dunia.
Sedangkan para pembawa risalah Islam dari kalangan pendakwah dan pembaharu hanya memiliki sebagian sangat kecil dari sarana komunikasi global dibandingkan dengan yang dimiliki oleh para penyesat dan perusak di muka bumi.
Dengan adanya hambatan ini di hadapan para pembawa risalah Islam, mereka harus selalu bekerja dengan kaidah: “Kemampuan yang ada tidak gugur karena adanya kesulitan.”
Setiap orang dari mereka harus menggunakan apa pun yang mampu mereka gunakan dari berbagai sarana komunikasi media, dengan mencurahkan upaya maksimal, ikhlas dalam pekerjaan mereka, dan Allah akan memberkahi perjuangan mereka serta melipatgandakan buah langsung dari kerja mereka dan dampak jangka panjangnya.
Orang-orang yang mampu dari umat Islam harus bekerja sama dan saling mendukung, hingga mereka menyediakan bagi para pembawa risalah apa yang mampu mereka sediakan berupa sarana komunikasi media cetak, audio, dan visual untuk menyampaikan firman Allah, dan menyebarkan syariat Islam, hukum-hukumnya, ajaran-ajarannya, akhlaknya, adabnya, dan seluruh kebaikannya kepada seluruh manusia. Allah akan memberi mereka pahala yang berlimpah atas hal itu, dan menjadikan mereka dengan niat baik dan amal saleh mereka sebagai bagian dari pasukan pejuang di jalan Allah untuk menyampaikan agama-Nya kepada manusia.
Seorang pembawa risalah yang bijaksana, berakal, ikhlas, dan jujur dalam membawa risalah, yang mengharapkan ridha Allah dan surga, bukan kepentingan duniawi dan keinginan untuk meninggikan diri di bumi, dapat menjadi seorang yang ramah, lembut, baik dalam mengarahkan, baik dalam memberi nasihat dan bimbingan, baik dalam memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, tidak menghadapi dengan kekerasan dan tidak bertabrakan dengan mereka yang dilihatnya tidak berpegang pada hukum dan syariat Islam, karena dia berakal, dewasa, bijaksana, sangat mengasihi manusia dan sangat bersemangat untuk memberi petunjuk kepada mereka.
Dia juga dapat berhijrah di jalan Allah sebagai pendakwah, pemberi nasihat, dan pembimbing, sesuai dengan firman Allah Yang Maha Mulia dalam Surah An-Nisa/4 [Mushaf: 92, urutan turun: 100]:
﴿۞ وَمَنْ يُّهَاجِرْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يَجِدْ فِى الْاَرْضِ مُرٰغَمًا كَثِيْرًا وَّسَعَةً ۗوَمَنْ يَّخْرُجْ مِنْۢ بَيْتِهٖ مُهَاجِرًا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ اَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗوَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا ࣖ ١٠٠ ﴾
“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat tujuan), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Dia juga dapat mengadopsi pendekatan pendidikan yang tidak menimbulkan kekhawatiran bagi siapa pun terhadap keamanan atau kepentingan manusia di mana pun di bumi, karena risalahnya adalah risalah para nabi dan rasul yang bijaksana dan berakal dalam membawa risalah mereka dan menyampaikannya kepada manusia.
Allah Yang Maha Mulia memberkahi orang-orang yang ikhlas, dan melipatgandakan hasil langsung dari pekerjaan mereka serta dampak jangka panjangnya.
Sesuai kemampuan dan dengan kebijaksanaan, dia menunaikan kewajiban risalah ilahinya.
Dalam sejarah para pembawa risalah Islam, sebelumnya ada sekelompok di antara mereka yang dipenjarakan oleh para penguasa yang zalim, namun mereka tidak berhenti melanjutkan penyampaian risalah mereka. Yusuf menyampaikan dakwah ilahinya saat berada dalam penjara.
Dalam biografi Syamsul A’immah Muhammad bin Ahmad bin Sahl As-Sarakhsi, yang wafat pada tahun 483 H, dari penduduk Sarakh di Khurasan, yang merupakan salah satu ulama fiqih Hanafi terkemuka, disebutkan bahwa dia mendiktekan kepada murid-muridnya kitabnya “Al-Mabsut” yang terdiri dari tiga puluh jilid, sementara dia dipenjara di sumur, di Uzjand (di Farghana), dan penyebab penahanannya adalah sebuah kata nasihat yang dia berikan kepada Khaqan.
Dalam biografi Syaikh Said Nursi, pendiri Jamaah Nur di Turki, disebutkan bahwa dia telah dipenjara lebih dari sekali pada masa Mustafa Kemal Ataturk karena perlawanannya terhadap kekufuran dan sekularisme. Dia menulis surat-surat kepada murid-muridnya dari perenungan dan ingatannya, yang kemudian mereka sebarkan dalam bentuk manuskrip melalui cara-cara rahasia, dan mereka belajar darinya apa yang ingin dia jelaskan kepada mereka tentang urusan-urusan Islam.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
BAB KETIGA
Metodologi Penjelasan dan Jalur-Jalurnya
Hikmah – Nasihat yang Baik – dan Perdebatan dengan Cara yang Terbaik
Memuat lima paragraf:
Paragraf Pertama: Pandangan umum tentang jalur-jalur metodologi dakwah penjelasan.
Paragraf Kedua: Penjelasan tentang jalur hikmah dalam dakwah dan uraian tentang unsur-unsurnya.
Paragraf Ketiga: Penjelasan tentang jalur nasihat yang baik dan uraian tentang unsur-unsurnya.
Paragraf Keempat: Penjelasan tentang jalur perdebatan dengan cara yang terbaik dan kaidah-kaidah umumnya.
Paragraf Kelima: Contoh-contoh dari petunjuk-petunjuk perdebatan Al-Qur’an.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
SEGMEN PERTAMA
Pandangan Umum terhadap Jalan-Jalan
Metodologi Dakwah Penjelasan
-1-
Definisi Umum Jalan-Jalan
Allah Yang Maha Perkasa telah menggambarkan bagi para dai – termasuk para pemberi nasihat, pembimbing, dan orang-orang yang menyuruh kepada kebaikan serta mencegah kemungkaran – sebuah metodologi untuk dakwah penjelasan menuju jalan-Nya yang memiliki tiga jalan utama dengan berbagai sarana:
- Jalan pertama: Dakwah penjelasan dengan hikmah.
- Jalan kedua: Dakwah penjelasan dengan nasihat yang baik.
- Jalan ketiga: Dakwah penjelasan dengan perdebatan dengan cara yang terbaik.
Allah Azza wa Jalla berfirman dalam Surah An-Nahl/16 (mushaf/70 turun):
﴿اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ …﴾
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang terbaik.”
Maka kita harus menemukan batasan dan unsur-unsur dari ketiga jalan ini, dan bagaimana cara menempuhnya dengan baik.
Adapun jalan Allah Azza wa Jalla adalah agama-Nya yang Dia ridhai bagi hamba-hamba-Nya berupa akidah, akhlak, perilaku batin, dan perilaku lahir. Jalan Allah bagi hamba-hamba-Nya adalah bijaksana, tidak ada kebengkokan dan rintangan di dalamnya, melainkan jalan yang lurus, jelas, dan terang, yang mengarah pada tujuan terpuji di mana terdapat kebahagiaan manusia.
Huruf “ba” dalam (بِالْحِكْمَةِ/dengan hikmah) menunjukkan jalan-jalan dakwah dan sarana-sarana yang digunakan di dalamnya.
Untuk membedakan ketiga jalan tersebut dan menjelaskan batasan masing-masing, kita mulai dengan mengidentifikasi apa yang jelas di antaranya, yaitu perdebatan (jidal), karena ini adalah sarana yang jelas berbeda dari dua sarana lainnya: dakwah dengan hikmah dan dakwah dengan nasihat yang baik. Perdebatan adalah dialog antara dua pihak, yang mencakup klaim dari satu pihak, keberatan dari pihak lain, argumentasi untuk meyakinkan, kritik terhadap bukti, penolakan kritik, dan hal-hal lain yang merupakan dasar dari diskusi dialektis. Dalam tahapan perdebatan dengan cara yang terbaik, mungkin juga digunakan sarana hikmah dan nasihat yang baik, dan ini tidak mempengaruhi konsep perdebatan yang memiliki batasan yang jelas.
Kita masih perlu menjelaskan batasan dari dua jalan: hikmah dan nasihat yang baik. Di sini, tampak bagi kita bahwa memahami batasan nasihat yang baik lebih mudah karena berpusat pada dorongan dan peringatan. Ketika kita memahami unsur-unsur nasihat yang baik, kita dapat memahami bahwa area yang tersisa adalah area di mana hikmah diperlukan.
Dengan merujuk pada penjelasan para ahli bahasa dan mufasir tentang nasihat (mau’izhah), kita menemukan dalam penjelasan mereka bahwa nasihat untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu yang disertai dengan hal yang membangkitkan keinginan atau ketakutan dalam jiwa, bertujuan agar orang mendapat manfaat dari nasihat dan mengikuti petunjuknya baik dalam bentuk tindakan maupun penghindaran. Ibnu Sayyidah, salah satu imam bahasa mengatakan:
“Al-wa’zh (nasihat): Adalah mengingatkan seseorang dengan hal-hal yang melunakkan hatinya berupa pahala atau hukuman.”
Namun Allah Azza wa Jalla membatasi nasihat ini dengan syarat harus “baik”, yaitu: baik dalam metode penyampaiannya. Kebaikan dalam metode penyampaian bertentangan dengan kekasaran, kekerasan, perkataan kasar, dan kata-kata mencela, serta hal-hal lain yang ditolak oleh tabiat dan tidak dapat ditanggung untuk didengar atau diterima.
Jika kita mengidentifikasi nasihat yang baik dan memahami bahwa itu adalah dorongan dengan akibat yang baik dan kebahagiaan abadi bagi mereka yang mengikuti jalan Tuhannya, serta peringatan tentang akibat buruk, kesengsaraan dan penderitaan bagi mereka yang menolak untuk mengikuti jalan Tuhannya — dengan syarat hal ini disampaikan dengan gaya yang baik, indah, dan dapat diterima yang tidak ditolak oleh tabiat — maka kita dapat melihat area dakwah yang tersisa dengan perenungan dan perhatian, dan menemukan bahwa hikmah dalam berdakwah kepada jalan Allah adalah pendekatan dakwah yang bijaksana dan berpengaruh tanpa menggunakan metode dorongan dan peringatan, serta tanpa metode perdebatan.
Di sini, kita harus melihat metode Ilahi untuk kebijaksanaan yang Allah perintahkan kepada Rasul-Nya Muhammad dan setiap pendakwah di umatnya, serta Dia perintahkan kepada beberapa rasul sebelumnya. Kita juga harus melihat pendekatan dakwah bijaksana yang diikuti oleh Rasulullah Muhammad ﷺ dalam dakwahnya, dan diikuti oleh para rasul sebelumnya dalam dakwah mereka kepada agama Allah dan mengikuti jalan-Nya yang lurus di kalangan kaum mereka.
Dengan memeriksa definisi umum hikmah menurut para ahli bahasa, dan dalam keseluruhan perkataan para pensyarah tentang hikmah, kita sampai pada definisi berikut:
Hikmah: Menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang diwajibkan oleh akal, atau diungkapkan oleh pengalaman, dan dengannya tercapai tujuan yang dimaksud dengan biaya paling rendah dan waktu paling singkat yang mungkin.
Jika kita merenungkan metode Ilahi untuk pendekatan dakwah yang bijaksana, dan definisi umum hikmah, kita dapat mengecualikan dari hikmah dan mengeluarkan dari batasannya segala yang bertentangan dengannya dan tidak sesuai dengan sifat-sifatnya, termasuk:
-2-
Hal-hal yang Bertentangan dengan Hikmah dalam Dakwah ke Jalan Allah
- Mencela dan mencaci, karena secara akal jelas bertentangan dengan hikmah, sebab hal itu menyebabkan penolakan dan menghancurkan jembatan komunikasi antara pembawa risalah dan yang dituju.
- Sikap kasar dan keras dalam perkataan, gerakan, dan perbuatan, karena semua itu menyebabkan penolakan.
- Mengarahkan perintah dan larangan yang keras yang seperti keputusan militer yang diarahkan untuk dilaksanakan tanpa keberatan, atau jika tidak, hukuman dari otoritas akan diterapkan.
- Setiap perkataan kasar dan ucapan buruk yang menyebabkan penolakan.
- Memuji diri sendiri sebagai pembawa risalah, dan memuji tindakan, perkataan, dan sifat-sifatnya sendiri, karena hal ini menunjukkan kecenderungan kesombongan dalam dirinya, dan menggunakan risalah yang dia sampaikan untuk mendapatkan kepemimpinan di antara orang-orang.
- Perhatian pembawa risalah untuk memenangkan dirinya sendiri, dan menunjukkan kemampuannya untuk mempengaruhi dan meyakinkan, serta mengalahkan para penentang, karena hal ini menunjukkan bahwa dia tertipu oleh dirinya sendiri dan memiliki kepentingan pribadi duniawi.
- Terlalu banyak menjejalkan informasi dalam satu majelis dakwah, karena orang yang dituju risalah tersebut – ketika terlalu banyak informasi disampaikan kepadanya – pikirannya akan berpaling dari mengikutinya, dan dia tidak mampu menangkapnya untuk diingat.
- Mempermalukan para pelaku maksiat dengan menyebut nama mereka, dan menyebutkan keburukan mereka serta perincian maksiat mereka, karena hal ini bertentangan dengan kebijakan Rasulullah, dan tidak membantu risalah yang dibawanya.
- Menasihati orang-orang tertentu secara terbuka, karena ini lebih merupakan penghinaan daripada nasihat.
- Bersikap superior terhadap orang yang dituju risalah dengan ilmu, kecerdasan, atau status sosial, dan membuat mereka merasa bodoh, kurang cerdas, atau rendah status sosialnya, karena semua itu mengandung penghinaan yang menyebabkan penolakan.
- Menggunakan metode mengejek dan mencemooh orang yang dituju risalah, karena pendekatan ini cenderung membuat mereka bermusuhan dan menjauh, bukan melunakkan dan membujuk mereka untuk merespons.
- Berargumen dengan pernyataan palsu, riwayat yang dibuat-buat, dan masalah yang salah, karena membela kebenaran tidak bisa dilakukan kecuali dengan kebenaran. Orang yang dituju risalah, ketika menemukan bahwa buktinya salah, akan berpaling dari pokok masalah dan tidak akan repot-repot mencari kebenarannya dengan bukti yang valid.
- Berargumen dengan hal-hal yang tidak relevan dengan topik pembahasan yang tidak cocok sebagai bukti, meskipun hal tersebut benar secara intrinsik, karena menunjukkan ketidaklogisan pemikiran penyampai risalah.
- Berbicara kepada orang yang dituju risalah dengan bahasa yang melebihi pemahamannya atau konten intelektual yang terlalu tinggi, karena dia tidak akan memahaminya sehingga tidak mendapat manfaat atau merespons.
- Berbicara kepada orang yang dituju risalah dengan bahasa di bawah tingkat intelektualnya, atau dengan gaya di bawah status sosialnya, karena komunikasi seperti ini mungkin terasa merendahkan dan meremehkan mereka, sehingga mereka marah, menolak, dan tidak mau merespons apa yang disampaikan meskipun itu benar.
- Kontradiksi dalam pernyataan pembawa risalah dalam satu majelis atau beberapa majelis, karena hal ini menimbulkan keraguan tentang kejujuran atau pengetahuannya.
- Membalas keburukan dengan yang lebih buruk atau setara, karena ini bertentangan dengan kebijakan para rasul dengan kaum mereka, dan bertentangan dengan petunjuk Ilahi.
- Cerita dan kisah khayal serta legenda yang tidak terbukti kebenarannya, karena hal ini menunjukkan bahwa persoalan yang dinasihati tidak memiliki bukti valid yang mendukungnya. Jika itu adalah kebenaran, maka tidak akan membutuhkan dukungan dari khayalan dan legenda.
- Setiap perkataan yang lemah, tidak jelas, dan tidak dimengerti, karena jelas bertentangan dengan hikmah.
- Fokus pada penyampaian topik yang tidak bernilai dan tidak penting dalam dasar-dasar Islam atau hukum syariat, terutama ketika menyampaikan risalah di hadapan masyarakat umum.
- Penjelasan yang kosong dari hal-hal yang menarik jiwa untuk mendengarkan dan memperhatikan, seperti perkataan kering yang tidak memiliki keindahan sastra, keindahan estetika, atau stimulasi intelektual atau emosional.
- Mengarahkan seluruh perhatian pada satu kelompok atau lebih dari orang-orang yang dituju dakwah, dan mengabaikan orang lain yang hadir.
-3-
Penjelasan Al-Quran Terkait Ketiga Jalan Ini
Ketiga jalan ini: dakwah penjelasan dengan hikmah, dakwah penjelasan dengan nasihat yang baik, dan dakwah penjelasan dengan perdebatan dengan cara yang terbaik, adalah jalan yang ditempuh oleh penjelasan dakwah Al-Quran. Hal ini dapat dipahami oleh setiap orang yang mengikuti ayat-ayat dan surah-surah Al-Quran dengan perenungan yang baik, dan juga ditunjukkan oleh firman Allah Azza wa Jalla dalam Surah Al-Isra/17 (mushaf/50 turun):
﴿اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا كَبِيْرًاۙ ٩ وَّاَنَّ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِ اَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا اَلِيْمًا ࣖ ١٠ ﴾
“Sesungguhnya Al-Quran ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar, dan bahwa orang yang tidak beriman kepada akhirat, Kami sediakan bagi mereka azab yang pedih.”
Jalan hikmah ditunjukkan dari teks ini dengan: “memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus.”
Jalan nasihat yang baik (= dorongan dan peringatan) ditunjukkan oleh sisa teks tersebut.
Adapun jalan perdebatan dengan cara yang terbaik, kita menemukannya dalam banyak petunjuk perdebatan yang terkandung dalam Al-Quran yang Mulia.
Allah telah memerintahkannya dalam firman-Nya dalam Surah An-Nahl/16 (mushaf/70 turun):
﴿… وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ .. ١٢٥ ﴾
“…dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang terbaik.”
-4-
Aspek Internal Jiwa Manusia dan Pengaruh-pengaruhnya
Ketika menganalisis jiwa manusia dan mengamati pengaruh-pengaruh padanya, kita memahami bahwa jiwa dipengaruhi oleh faktor-faktor yang menembus tiga aspek di dalamnya. Jika salah satu dari aspek ini terpengaruh sesuai dengan yang diinginkan, maka keyakinan akan persoalan yang dimaksudkan untuk diyakini oleh manusia akan tercapai.
Pertama – Aspek akal:
Allah Azza wa Jalla telah menganugerahkan manusia kemampuan intelektual dan mental yang dengannya mereka memahami hakikat segala sesuatu. Jika mereka memahaminya dan tidak ada pertentangan dari hawa nafsu dan syahwat terhadap apa yang mereka pahami, mereka akan meyakininya dan bertindak sesuai dengannya.
Pemahaman tentang hakikat segala sesuatu meliputi membedakan antara kebenaran dan kebatilan, kebaikan dan kejahatan, yang baik dan yang rusak, yang utama dan yang kurang utama, serta yang terbaik dari kemungkinan-kemungkinan yang tersedia untuk dipilih dan yang di bawahnya dalam tingkat kebaikan hingga tingkat yang paling rendah.
Memasuki jiwa manusia untuk mempengaruhinya melalui aspek ini dilakukan dengan berbagai sarana intelektual dan ilmiah, yang kembali kepada tiga prinsip dasar:
Prinsip pertama: Penalaran logis yang sesuai dengan apa yang telah Allah fitrahkan pada pemahaman pikiran dan akal, berupa hakikat dan ukuran, dan ilmu logika membantu untuk mengetahuinya.[4]
Termasuk dalam penalaran logis adalah memahami sebab-sebab secara mental ketika menyaksikan akibat-akibatnya, atau memahaminya secara rasional, dan memahami konsekuensi-konsekuensi intelektual dan rasional melalui pemahaman tentang apa yang mewajibkannya.
Prinsip kedua: Persepsi indrawi langsung dan pengalaman yang mengarah kepadanya, baik persepsi melalui indra lahiriah maupun indra batiniah, seperti perasaan cinta dan benci, kenikmatan dan rasa sakit, kepuasan dan ketidakpuasan.
Prinsip ketiga: Berita yang benar, yaitu berita yang diakui oleh akal bahwa wajib menerimanya sebagai berita yang benar.
Dan di antara berita yang benar adalah berita wahyu yang disampaikan oleh rasul yang didukung dengan mukjizat luar biasa yang disertai dengan tantangan.[5]
Kedua – Aspek emosional:
Allah telah menganugerahkan manusia di dalam jiwanya pusat emosional yang dapat menembus ke dalam hatinya. Ketika pusat ini terpengaruh oleh apa yang menariknya, manusia akan terdorong ke arahnya dan cenderung padanya dengan perasaan bahagia yang kuat, yang mungkin tidak dapat dianalisis secara intelektual. Ketika terpengaruh oleh apa yang membuatnya menolak, manusia akan menjauhinya dan membencinya dengan perasaan jijik yang kuat yang mungkin tidak dapat dianalisis secara intelektual.
Memasuki jiwa manusia untuk mempengaruhi aspek ini dilakukan dengan sarana-sarana yang membangkitkan emosi, seperti emosi terhadap keluarga dan kerabat, emosi terhadap kaum, emosi terhadap tanah dan negara, emosi terhadap tradisi dan kebiasaan yang disukai dan mengakar dalam jiwa, termasuk emosi religius dan keimanan, meskipun untuk agama tradisional yang salah.
Ketiga – Aspek yang di dalamnya terdapat poros kerakusan terhadap hal-hal yang dicintai jiwa dan ketakutan terhadap hal-hal yang dibencinya:
Dalam struktur internal jiwa manusia terdapat mekanisme yang mencakup dua poros:
- Poros kerakusan terhadap apa yang dicintai manusia untuk dirinya sendiri, atau untuk siapa atau apa yang dia cintai, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Seputar poros ini berputar lingkaran hawa nafsu, syahwat, dan kenikmatan.
- Poros ketakutan terhadap apa yang dibenci manusia untuk dirinya sendiri, atau untuk siapa atau apa yang dia cintai, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Seputar poros ini berputar lingkaran penderitaan, hal-hal yang dibenci, dan hal-hal yang bertentangan dengan hawa nafsu, syahwat, dan kenikmatan.
Memasuki jiwa manusia untuk mempengaruhi aspek ini dilakukan dengan mendorong manusia terhadap apa yang dicintai dan diinginkan jiwanya berupa kenikmatan, perhiasan, dan kemuliaan, baik yang segera di kehidupan dunia, atau yang ditunda hingga hari pembalasan. Dan dilakukan dengan menakut-nakuti manusia dari apa yang dibenci dan ditolak jiwanya berupa rasa sakit dan berbagai jenis siksaan, serta kerugian dari hal-hal yang dicintainya, baik yang segera di kehidupan dunia, atau yang ditunda hingga hari pembalasan.
Puncak Pengaruh:
Puncak pengaruh terhadap manusia terjadi dengan mengepungnya melalui tiga pilar jiwanya. Pengepungan ini telah termuat dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang mulia. Allah ‘Azza wa Jalla menggambarkan Al-Qur’an sebagai petunjuk kepada jalan yang paling lurus, dan dengan sarana petunjuk ini terjadilah pengepungan pilar pertama dari pilar-pilar jiwa manusia.
Allah ‘Azza wa Jalla juga menggambarkan Al-Qur’an sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. Dengan kabar gembira dan peringatan inilah terjadi pengepungan pilar ketiga dari pilar-pilar jiwanya, karena keduanya bergantung pada pengaruh terhadap dua sumbu harapan dan ketakutan.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam Surah Al-Isra’ (17 dalam mushaf/50 urutan turunnya):
﴿اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا كَبِيْرًاۙ ٩ وَّاَنَّ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِ اَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا اَلِيْمًا ࣖ ١٠ ﴾
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar, dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, Kami sediakan bagi mereka azab yang pedih.”
Dalam Al-Qur’an juga terdapat upaya membangkitkan sentimen kebangsaan bagi orang Arab terhadap bahasa mereka. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada Rasul-Nya tentang Al-Qur’an dalam Surah Az-Zukhruf (43 dalam mushaf/63 urutan turunnya):
﴿فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِيْٓ اُوْحِيَ اِلَيْكَ ۚاِنَّكَ عَلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ ٤٣ وَاِنَّهٗ لَذِكْرٌ لَّكَ وَلِقَوْمِكَ ۚوَسَوْفَ تُسْـَٔلُوْنَ ٤٤ ﴾
“Maka berpegang teguhlah kepada apa yang diwahyukan kepadamu; sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu…”
Artinya: Sesungguhnya Al-Qur’an yang diturunkan kepadamu dalam bahasa Arab adalah kemuliaan besar bagimu sebagai orang Arab, dan kemuliaan besar bagi kaummu, bangsa Arab, karena diturunkan dalam bahasa mereka yang mereka cintai dengan kuat. Mereka membanggakannya sebagai kitab agung yang mukjizat.
Allah mengajarkan Rasul-Nya untuk menarik simpati melalui hubungan kekerabatan antara beliau dan orang-orang yang memusuhinya dengan permusuhan yang keras di Mekah. Tidak ada rumah dari rumah-rumah Mekah yang terhormat kecuali beliau memiliki hubungan kekerabatan dengannya, baik dekat atau jauh. Maka Allah menurunkan firman-Nya dalam Surah Asy-Syura (42 dalam mushaf/62 urutan turunnya):
﴿… قُلْ لَّآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًا اِلَّا الْمَوَدَّةَ فِى الْقُرْبٰىۗ…﴾
“…Katakanlah (Muhammad): ‘Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan…'”
Artinya: Aku tidak meminta upah kepada kalian atas apa yang aku bawa kepada kalian sehingga kalian lari dariku, memusuhiku, dan memerangiku. Tetapi aku meminta kepada kalian untuk memperlakukanku sesuai dengan hubungan kekerabatan antara aku dan kalian, sehingga kalian menahan gangguan dan permusuhan kalian terhadapku, dan mengalihkan permusuhan kalian dariku. Ini bukan termasuk upah sama sekali, tetapi merupakan pintu untuk membangkitkan pilar kedua dari pilar-pilar jiwa mereka, dan menarik simpati mereka untuk menahan gangguan dan permusuhan mereka terhadapnya.
Huruf pengecualian dalam teks ini adalah huruf “pengecualian” dalam arti “tetapi”. Surah ini turun di Mekah, tetapi teks ini diturunkan di Madinah. Tujuan dari menarik simpati orang-orang musyrik Mekah adalah untuk mengalihkan mereka dari permusuhan terhadap Rasul, merencanakan tipu daya terhadapnya, dan memeranginya.
Makna ini dalam tafsir firman Allah: “kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan” adalah makna yang shahih dari Ibnu Abbas sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan lainnya[6], dan ini adalah makna yang sesuai dengan apa yang datang sebelum dan sesudahnya dalam surah.
Ibnu Abbas ditanya tentang firman Allah: “kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan”, lalu Sa’id bin Jubair berkata: “Kekerabatan keluarga Muhammad.” Ibnu Abbas berkata: “Engkau tergesa-gesa. Sesungguhnya Nabi Allah tidaklah ada suku dari suku-suku Quraisy kecuali beliau memiliki hubungan kekerabatan dengan mereka. Jadi maksudnya adalah: ‘Kecuali kalian menyambung apa yang ada di antara aku dan kalian berupa hubungan kekerabatan.'”
-5-
Hikmah Pembawa Risalah dalam Bidang Ini
Yang paling sempurna dan paling diharapkan untuk mempengaruhi kedalaman manusia adalah dengan mengepungnya dari semua pilar jiwanya yang dalam: intelektual, emosional, dan dua sumbu harapan dan ketakutannya.
Selalu lebih baik untuk memberikannya dosis pengaruh sesuai dengan kesiapan yang ada dalam pilar-pilar jiwanya yang dalam untuk dipengaruhi.
Pilar yang menjadi yang terbesar dalam jiwanya haruslah diberikan perhatian terbesar, sesuai dengan tingkat kemampuannya untuk merespons.
- Di antara manusia ada yang rasional dan intelektual. Bagi mereka, tepat untuk mengintensifkan upaya mempengaruhi pikiran dan akal mereka dengan bukti-bukti yang mereka yakini, tanpa mengabaikan pilar-pilar jiwa lainnya, sesuai dengan rangsangan dan pengaruh pendukung yang dibutuhkan.
- Di antara manusia ada yang emosional. Bagi mereka, tepat untuk mengintensifkan upaya mempengaruhi emosi mereka dengan apa yang berpengaruh padanya, tanpa mengabaikan pilar-pilar jiwa lainnya sesuai dengan rangsangan dan pengaruh dasar atau pendukung yang dibutuhkan.
- Di antara manusia ada yang menjadi tawanan ambisi dan ketakutan mereka. Bagi mereka, tepat untuk mengintensifkan upaya mempengaruhi sumbu-sumbu ambisi dan ketakutan dalam jiwa mereka, tanpa mengabaikan pilar-pilar jiwa lainnya, sesuai dengan rangsangan dan pengaruh dasar atau pendukung yang dibutuhkan.
Meskipun demikian, selalu penting untuk memperhatikan akumulasi konsep-konsep intelektual dan rasional, karena ini adalah dasar yang kokoh dan tetap untuk membangun keyakinan yang tidak goyah. Untuk alasan ini, Al-Qur’an yang mulia memberikan perhatian terbesar untuk membangun iman. Petunjuk kepada jalan yang paling lurus adalah fungsi utama Al-Qur’an, dan penyajian bukti-bukti intelektual tentang kebenaran iman berada di garis depan dari apa yang menjadi perhatian Al-Qur’an untuk menjelaskan dan mengarahkan.
Pada paragraf-paragraf berikut terdapat penjelasan dan perincian lebih lanjut.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
SEGMEN KEDUA
Penjelasan tentang Pendekatan Hikmah dalam Dakwah dan Uraian tentang Beberapa Elemen-elemennya
Dari penjelasan sebelumnya, kita memahami bahwa hikmah dalam berdakwah ke jalan Allah, atau dalam memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, mewajibkan kebijaksanaan dalam mengatur pendekatan kepada orang yang menerima risalah untuk meyakinkannya dengan cara terindah dan termudah, dan untuk membuatnya menerima apa yang dia diajak kepadanya, atau dinasihati tentangnya, dan merespons dengan sukarela dan pilihan sendiri, bukan dengan terpaksa dan menolak dari hatinya dengan enggan.
Pada saat itulah pembawa risalah dapat menggenggam kendali jiwanya, dan mengarahkannya dengan mudah dan lancar untuk menerima apa yang dia ajak atau nasihatkan kepadanya, dan berkomitmen padanya karena iman terhadapnya. Kemudian ia mengikuti instruksi dan kewajiban praktisnya dalam kehidupannya, baik yang berkaitan dengan tindakan batin jiwa, maupun tindakan jasmaniah yang tampak, baik yang diminta untuk dilakukan maupun yang diminta untuk ditinggalkan.
Kebijaksanaan dalam mengatur pendekatan kepada orang yang menerima risalah memerlukan pengamatan terhadap karakteristik intelektual, psikologis, moral, dan sosialnya, serta mengamati kondisinya saat risalah disampaikan kepadanya. Kemudian memilih cara-cara yang paling bijaksana dan paling menjanjikan untuk mencapai tujuan pengaruh yang bermanfaat terhadap pikirannya dan jiwanya.
Dengan memisahkan pendekatan dakwah atau nasihat dengan hikmah dari pendekatan nasihat yang baik (mau’idzah hasanah) yang berpusat pada motivasi dan peringatan, dan dari pendekatan debat dengan cara yang terbaik, kita melihat bahwa hikmah adalah perilaku retoris dalam dakwah dan nasihat yang berputar dalam orbit yang bertujuan untuk meyakinkan orang yang menerima risalah secara intelektual tentang kebenaran isi risalah yang disampaikan kepadanya.
Keyakinan intelektual dalam dakwah ke jalan Allah dilakukan dengan menyajikan fakta-fakta prinsip Islam secara jelas, terang, dan mudah untuk dibayangkan dan dipahami, dimulai dari akar-akarnya, dan secara bertahap naik ke cabang-cabangnya. Hal ini disertai dengan bukti-bukti demonstratif yang kuat, yang bersaksi bahwa ini adalah kebenaran yang tidak diragukan, dan dihiasi dengan gaya retorika yang indah yang menyenangkan jiwa orang yang menerima ajakan, sehingga terbuka untuk pemikiran dan perenungan atas konten intelektual, dengan perasaan gembira dan menikmati keindahan gaya yang mendorong untuk melihat kebenaran konten intelektual.
Ketika jiwa terbuka, dan pintu-pintu pemikiran terbuka untuk menerima dan memahami, dan tidak ada kecenderungan di dalam jiwa yang menentang masalah yang diajukan untuk dipikirkan, dilihat dengan baik, dan dipahami dengan benar, maka pengirim risalah dapat memasukkan risalahnya ke dalam kedalaman jiwa, hingga ke pusat hati dan nurani.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Beberapa Elemen Hikmah dalam Pernyataan Dakwah:
- Perkataan yang Lembut:
Dari syarat-syarat utama pernyataan yang digunakan untuk menyampaikan risalah adalah menggunakan perkataan yang lembut, ramah, dan sopan, yang menyenangkan untuk didengar, dan menarik jiwa dan hati. Perkataan yang lembut untuk pendengaran, jiwa, dan pikiran orang yang menerima risalah adalah apa yang diperintahkan Allah ‘Azza wa Jalla kepada Musa dan saudaranya Harun ‘alaihima salam, ketika Dia menugaskan mereka untuk pergi kepada Fir’aun yang melampaui batas, untuk mengajaknya ke jalan Tuhannya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam Surah Thaha (20 dalam mushaf/45 urutan turunnya) dalam menceritakan firman-Nya kepada mereka berdua:
﴿اِذْهَبَآ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰىۚ ٤٣ فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى ٤٤ ﴾
“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.”
- Memperhatikan Kedudukan Sosial dari Orang yang Menerima Risalah:
Salah satu syarat pernyataan yang bijaksana ini adalah memperhatikan kedudukan sosial yang dimiliki oleh orang yang menerima risalah. Jika dia memiliki kedudukan kepemimpinan di antara kaumnya, dan kebiasaannya dalam berbicara dengannya adalah memperpanjang pendahuluan yang bersifat penghormatan sebelum menyebutkan maksud utama, maka termasuk hikmah untuk memperhatikan gaya ini sebelum mengajaknya atau menasihatinya. Inilah yang Allah ‘Azza wa Jalla wasiatkan kepada Musa ‘alaihis salam, dalam apa yang Allah ajarkan untuk dikatakan kepada Fir’aun yang melampaui batas. Allah Ta’ala berfirman dalam Surah An-Nazi’at (79 dalam mushaf/81 urutan turunnya) dalam menceritakan apa yang disampaikan kepada Musa ketika Allah memanggilnya di lembah suci Thuwa:
﴿اِذْهَبْ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰىۖ ١٧ فَقُلْ هَلْ لَّكَ اِلٰٓى اَنْ تَزَكّٰىۙ ١٨ وَاَهْدِيَكَ اِلٰى رَبِّكَ فَتَخْشٰىۚ ١٩ ﴾
“Pergilah kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka katakanlah (kepadanya): ‘Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri (dari kesesatan) dan engkau akan kubimbing kepada Tuhanmu agar engkau takut?'”
Kita perhatikan dalam ungkapan pengajaran ini bahwa ia mencakup beberapa kata yang merupakan bentuk kelembutan dan penghormatan sebelum menyampaikan maksud utama:
- “Hal” (adakah) adalah kata tanya yang mengandung makna penawaran pilihan, bukan perintah yang mengikat.
- “Laka” (bagimu/untukmu) terdiri dari dua kata: yang pertama adalah kata depan, dan yang kedua adalah kata ganti orang kedua. Sebenarnya kedua kata ini bisa dihilangkan, tetapi kelembutan dengan memperpanjang pendahuluan yang bersifat penghormatan menuntut keduanya.
- “Ila an” (kepada untuk) terdiri dari dua kata: yang pertama adalah kata depan, dan yang kedua adalah partikel yang membuat kata kerja present tense menjadi subjunctive, dan ditafsirkan bersama kata kerja present tense sebagai masdar (kata benda verbal). Kedua kata ini juga bisa dihilangkan, tetapi kelembutan dengan memperpanjang pendahuluan yang bersifat penghormatan menuntutnya.
- “Tazakka” (membersihkan diri) di sini mulai menampilkan maksud utama, namun demikian, telah terjadi penyingkatan dan pengurangan dalam lafaznya, karena bentuk asli kata kerjanya adalah “tatazakka”, lalu salah satu dari dua huruf ta dihilangkan untuk meringkas.
Sementara itu, pada bagian pendahuluan presentasi telah terjadi perpanjangan untuk menghormati lawan bicara dengan memperhatikan kedudukannya di antara kaumnya, dan apa yang biasa dia harapkan ketika berbicara dengannya. Musa ‘alaihis salam bisa saja langsung memerintahkan kepadanya dengan mengatakan: “Tazakka” (bersihkan dirimu) atau “Hal tatazakka” (maukah engkau membersihkan diri?), tetapi dalam ucapan seperti ini ada unsur yang membuat marah dan menjauhkan, karena ini tidak sesuai dengan apa yang biasa dia dapatkan dalam pembicaraan. Ini bertentangan dengan hikmah.
Musa juga bisa saja mengatakan kepadanya: “Hal laka an tatazakka” (adakah keinginanmu untuk membersihkan diri?), tetapi yang lebih bijaksana untuk Fir’aun dan orang-orang sepertinya adalah memperpanjang pendahuluan presentasi, sehingga sesuai dengan apa yang biasa dia dapatkan dari pendahuluan ketika orang-orang berbicara dengannya. Pendahuluan yang paling bijaksana yang sesuai untuk mengajaknya membersihkan diri adalah apa yang datang dalam pengajaran Ilahi kepada Musa: “Hal laka ila an tazakka” (Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri?).
- Pernyataan yang Disertai dengan Bukti atau Argumen yang Benar dan Dapat Diterima:
Jika masalah yang disajikan dalam pernyataan dakwah adalah masalah kebenaran yang ingin diyakinkan, maka termasuk hikmah agar pernyataan ini disertai dengan bukti atau argumen yang benar dan dapat diterima yang meyakinkan orang yang menerima risalah tentang kebenaran dan keabsahan masalah yang disajikan di dalamnya.
Kita menemukan dalam Al-Qur’an Al-Hakim komitmen terhadap elemen ini dari unsur-unsur dakwah dengan hikmah, di mana Al-Qur’an menyajikan satu masalah atau beberapa masalah dari kebenaran-kebenaran iman, kemudian mengikutinya di dalam surah dengan argumen-argumen dan bukti-bukti yang menunjukkan kebenarannya, dan bahwa itu adalah masalah-masalah kebenaran. Ini terlihat dalam banyak surah Al-Qur’an (lihat: Surah Al-Furqan, Surah Ar-Ra’d, dan lainnya).
Jika masalah yang dipaparkan dalam pernyataan tersebut termasuk masalah kebatilan, yang hendak diyakinkan tentang kebatilannya dan kerusakannya, maka merupakan suatu kebijaksanaan bahwa pernyataan ini disertai dengan bukti atau hujjah yang benar dan dapat diterima, yang meyakinkan orang yang dituju oleh risalah tersebut tentang kebatilan masalah yang ia pegang dan terpikat oleh kebenarannya, dan bahwa tidak pantas bagi orang yang berakal untuk meyakininya dan berpegang teguh padanya.
Dan kita menemukan dalam Al-Qur’an yang komitmen terhadap unsur ini dari unsur-unsur dakwah dengan hikmah, di mana ia memaparkan keyakinan kaum musyrikin dan seluruh orang kafir, dan menjelaskan dengan bukti-bukti dan argumen-argumen akal dan lainnya tentang kebatilannya dan kerusakannya, dan bahwa tidak pantas bagi orang yang berakal sehat untuk meyakininya dan berpegang teguh padanya.
- Penjelasan yang disertai dengan bukti atas keutamaan apa yang ada dalam agama dibandingkan kemungkinan-kemungkinan lain:
Jika diajukan usulan-usulan yang bertentangan dengan apa yang telah Allah pilih untuk hamba-hamba-Nya berupa hukum-hukum agama, atau cara penyampaiannya kepada manusia, atau hal-hal lain dari ketentuan-Nya Yang Maha Agung, maka termasuk hikmah dalam penjelasan dakwah adalah menjelaskan dan menafsirkan aspek kebijaksanaan dari pilihan Ilahi, untuk meyakinkan bahwa pilihan Ilahi adalah yang paling bijaksana dari semua kemungkinan yang dapat dibayangkan oleh akal.
Al-Qur’an telah mengajarkan kepada kita unsur ini dari unsur-unsur dakwah ke jalan Allah, dan contoh dari hal ini adalah ketika kaum musyrikin keberatan terhadap turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur, dan mereka berkata sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Furqan/25 mushaf/42 turun:
﴿… لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْاٰنُ جُمْلَةً وَّاحِدَةً ۛ … ٣٢ ﴾
“Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja…”
Artinya: Mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan kepada Muhammad sekaligus dan tidak diturunkan secara bertahap. Maka Allah ‘Azza wa Jalla menanggapi keberatan mereka terhadap pilihan Ilahi ini dengan penjelasan aspek-aspek hikmahnya, yang diringkas menjadi tiga aspek:
- Pertama: Untuk meneguhkan hati Rasul.
- Kedua: Untuk mengajarkan kepada umat Islam pengajaran yang bertahap untuk menghafalnya dan merenungkannya dengan baik.
- Ketiga: Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dan keberatan-keberatan yang diajukan mengenai pilihan Ilahi.
Maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
﴿… كَذٰلِكَ ۛ لِنُثَبِّتَ بِهٖ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنٰهُ تَرْتِيْلًا ٣٢ وَلَا يَأْتُوْنَكَ بِمَثَلٍ اِلَّا جِئْنٰكَ بِالْحَقِّ وَاَحْسَنَ تَفْسِيْرًا ۗ ٣٣ ﴾
“…Demikianlah (Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur) agar Kami memperteguh hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar). Dan mereka (orang-orang kafir) tidak datang kepadamu dengan sebuah perumpamaan (tuduhan), melainkan Kami datangkan kepadamu kebenaran dan penjelasan yang terbaik.”
- Memulai dengan akar-akar permasalahan dan beralih darinya kepada cabang-cabang secara bertahap:
Termasuk hikmah untuk meyakinkan tentang masalah dakwah adalah memulai dengan pokok-pokok dan akar-akar pemikirannya, dan tidak disibukkan dengan meyakinkan cabang-cabang sebelum meyakinkan pokok-pokoknya, atau pengetahuan pembawa risalah bahwa orang yang sedang diyakinkan sebenarnya sudah yakin dan menerima pokok-pokok dan akar-akarnya.
Setelah memastikan bahwa orang yang didakwahi menerima prinsip dasar, maka beralih dengannya kepada apa yang langsung terkait dengannya, kemudian kepada cabang-cabang selanjutnya, dan begitu seterusnya hingga cabang-cabang yang jauh dengan metode bertahap pada tangga masalah yang disajikan untuk diyakini.
Setiap masalah pemikiran dari cabang-cabang pengetahuan yang benar memiliki akar yang kembali kepadanya, dan terkait dengannya seperti keterkaitan batang pohon dan cabang-cabangnya dengan akarnya, karena ia berasal darinya dan bercabang darinya. Mudah untuk meyakinkan tentang akar-akar pemikiran, karena pada umumnya merupakan prinsip-prinsip dasar yang diterima karena kejelasannya, atau sangat dekat dengan prinsip-prinsip dasar yang jelas dan diterima, maka penalaran terhadapnya dengan dalil-dalil yang termasuk aksioma yang diterima tidak memerlukan lebih dari satu langkah pemikiran, atau dua langkah, atau beberapa langkah.
Adapun cabang-cabang yang jauh, banyak perdebatan di sekitarnya, dan terkadang kebenaran tercampur dengan kebatilan padanya, dan ada ruang yang luas untuk menghindar dari kewajiban menerima kebenaran.
Dan ketika akar-akar dan beberapa pokok sudah benar pada orang yang dituju oleh risalah tersebut, dan penyimpangan dari kebenaran tampak pada cabang dari cabang-cabang, maka kebijaksanaan dalam meyakinkan menuntut kembali ke tempat-tempat penyebab yang mengakibatkan penyimpangan ini, dan tidak bermanfaat menangani tempat penyimpangan dari kebenaran dan kebenaran, tanpa kembali ke tempat penyebab yang mengakibatkan penyimpangan ini dengan penelusuran yang teliti ke arah pokok-pokok dan akar-akar, karena penyebab-penyebab harus ditangani dari tempat-tempat di mana ia dimulai.
Dan di sini kita perhatikan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla menangani orang-orang munafik yang meragukan kebenaran Rasul Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika muncul dalam pikiran mereka bahwa Al-Qur’an yang dia katakan kepada mereka tentangnya: bahwa itu turun dari sisi Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, adalah karangan Muhammad, dengan merujuk mereka kepada Al-Qur’an itu sendiri agar mereka merenungkannya. Jika mereka merenungkannya dengan seksama, dengan pandangan, kesadaran, dan ketelitian, pasti mereka akan sampai pada kesimpulan bahwa itu tidak mungkin dari selain Allah. Maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam konteks pembicaraan tentang sekelompok orang munafik dalam surat An-Nisa’/4 mushaf/92 turun:
﴿اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ ۗ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللّٰهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلَافًا كَثِيْرًا ٨٢ ﴾
“Maka tidakkah mereka menghayati (mendalami) Al-Qur’an? Sekiranya (Al-Qur’an) itu bukan dari Allah, tentulah mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya.”
Dia mendorong mereka dengan gaya pembicaraan tentang orang ketiga agar merenungkan Al-Qur’an untuk mengetahui bahwa itu adalah firman Allah, dan turun dari sisi-Nya dengan benar dan jujur, dengan peringatan bahwa jika Al-Qur’an itu dari selain Allah, tentu mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya, yaitu: pertentangan antara Al-Qur’an dengan kenyataan dan kebenaran, dan pertentangan antara sebagian teks-teksnya dengan sebagian lainnya.
Dan dalam dorongan ini terdapat pengembalian mereka kepada tempat penyebab dari kaidah keimanan yang belum sempurna dalam hati mereka, karena mereka belum beriman bahwa Al-Qur’an adalah firman yang diturunkan dari sisi Allah, sehingga mereka beriman bahwa penyampai Al-Qur’an dari Allah adalah benar-benar rasul yang diutus Allah kepada mereka dengan benar dan jujur.
Maka Allah memberikan kepada mereka bukti demonstratif bahwa Al-Qur’an tidak mungkin kecuali diturunkan dari sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Jika kebenaran ini jelas bagi mereka, akan mudah bagi mereka untuk beriman bahwa Muhammad adalah benar-benar Rasulullah dengan sebenarnya.
Tetapi pemahaman mereka terhadap bukti demonstratif ini menuntut mereka untuk bersungguh-sungguh dalam merenungkan Al-Qur’an, dan memahami petunjuk-petunjuknya. Jika mereka melakukan itu, mereka akan menyadari bahwa Al-Qur’an sesuai dengan kebenaran dan kenyataan dalam semua masalahnya dan mereka akan menyadari bahwa turunnya secara berangsur-angsur tidak mempengaruhi kesatuannya dan keterpaduan kebenaran di dalamnya, dan mereka akan menyadari bahwa jika itu buatan manusia, dan karangan serta hasil karya manusia, tentu mereka akan menemukan pertentangan antara Al-Qur’an dengan kebenaran dan kenyataan, dan mereka akan menemukan pertentangan-pertentangan antara sebagian teks-teksnya yang turun lebih dahulu dengan sebagian teks-teksnya yang turun kemudian, terutama yang di antaranya terdapat jarak waktu bertahun-tahun.
Jika mereka merenungkannya dengan adil dan lepas dari penolakan sebelumnya, mereka akan sampai pada keyakinan bahwa itu adalah kitab dari sisi Allah, dan ketika mereka sampai pada kebenaran ini, mereka akan secara otomatis beralih pada keyakinan bahwa Muhammad adalah benar-benar Rasulullah.
Kemudian jika mereka memiliki keinginan untuk mengakui kebenaran, mereka akan beriman, dan jujur dalam keislaman mereka, dan terbebas dari kotoran kemunafikan, atau dari kotoran keraguan dan kebimbangan.
Dengan metode peyakinan Ilahi ini, Allah ‘Azza wa Jalla mengajarkan kepada kita bahwa pengobatan harus dilakukan dengan kembali ke tempat-tempat penyebab dalam pokok-pokok atau akar-akar atau lainnya, dan bahwa pengobatan dari cabang-cabang tidak bermanfaat dengan adanya kerusakan yang sebelumnya turun ke pokok-pokok dan akar-akar.
Dan contoh kembali ke tempat penyebab adalah mengembalikan orang yang menyekutukan Allah dalam ibadahnya, kepada peyakinannya bahwa Allah tidak memiliki sekutu dalam rububiyah-Nya, dan siapa yang tidak memiliki sekutu dalam rububiyah-Nya, secara akal tidak benar bahwa ia memiliki sekutu dalam uluhiyah, karena ibadah dalam keberadaan adalah hak Rabb semata, maka tidak ada yang disembah selain-Nya kecuali dengan perintah dari-Nya, atau dengan izin dari-Nya, tetapi Allah ‘Azza wa Jalla tidak mengizinkan penyembahan selain-Nya kepada siapapun, maka siapa yang menyembah bersama Allah seseorang, maka ia telah menjadikan sekutu dalam uluhiyah-Nya yang satu, dan ini termasuk kekufuran kepada Allah.
Dan peyakinan bahwa pembuatan undang-undang dan hukum-hukum legislatif yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah, tanpa perasaan bermaksiat kepada Allah dalam hal itu, adalah termasuk menyekutukan Allah ‘Azza wa Jalla dalam karakteristik uluhiyah-Nya, yaitu: dalam keberadaan-Nya sebagai Tuhan yang disembah tanpa sekutu, haruslah kembali kepada makna rububiyah dan tauhidnya, kemudian kepada makna uluhiyah dan tauhidnya, dan bahwa di antara karakteristiknya adalah ketaatan kepada Allah dalam hukum-hukum legislatif yang Dia turunkan kepada hamba-hamba-Nya, dan bahwa pembuatan undang-undang dan hukum-hukum legislatif yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah dan syariat-Nya, bisa jadi merupakan penyekutuan Allah ‘Azza wa Jalla dalam karakteristik uluhiyah-Nya dan kekufuran kepada-Nya, terutama jika disertai dengan keyakinan bahwa hukum-hukum buatan manusia lebih baik dan lebih adil dari hukum-hukum Allah, atau bisa jadi termasuk dosa-dosa besar, jika pembuatannya atau penerimaannya disertai dengan perasaan berdosa dan pembangkangan, mengikuti hawa nafsu atau merespon syahwat dan keinginan-keinginan pribadi jiwa, dengan mengakui dosa dan melakukan maksiat yang termasuk maksiat terbesar setelah syirik kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
- Mempertimbangkan tingkat intelektual orang yang dituju oleh risalah:
Diketahui bahwa manusia tidak berada pada satu tingkat intelektual yang sama, melainkan mereka berada pada berbagai tingkatan yang berbeda dan derajat kemampuan pemahaman yang bervariasi. Di antara mereka ada yang cerdas luar biasa, dan ada pula yang di bawah itu menurun hingga tingkat orang-orang yang bodoh dan lemah akal serta pemikiran.
Diketahui bahwa apa yang cocok dari ide-ide dan metode penjelasan bagi orang-orang cerdas dan berpengaruh pada mereka, dan diharapkan respons mereka, mungkin tidak cocok bagi orang-orang dengan kecerdasan rata-rata, dan tentu tidak cocok bagi orang-orang bodoh dan lemah akal.
Dan apa yang cocok bagi orang-orang dewasa yang matang dan berpengalaman yang telah diuji oleh kehidupan, tidak cocok bagi pemuda yang sedang tumbuh yang masih merangkak dalam pengalaman hidup.
Maka pembawa risalah harus menjadi orang yang cerdik yang memahami tingkat kecerdasan orang yang dia ajak bicara, sehingga dia menyajikan dari masalah-masalah risalahnya apa yang sesuai dengannya, dan sesuai dengan tingkat kecerdasannya, kemampuan pemahamannya, dan tingkat pengalamannya.
Adapun untuk khalayak umum yang mencakup berbagai tingkatan yang berbeda dan bervariasi, pidato atau pembicaraannya kepada mereka haruslah bervariasi dalam berbagai tingkatan yang berbeda dan bervariasi, sehingga setiap kelompok dari mereka dapat mengambil dari perkataannya apa yang bermanfaat bagi mereka, berpengaruh pada mereka, dan meyakinkan mereka.
- Mempertimbangkan tingkat keilmuan orang yang dituju oleh risalah:
Masalah-masalah pemikiran dan metode penjelasan yang digunakan untuk berbicara dengan para ulama, berbeda dari masalah-masalah pemikiran dan metode penjelasan yang digunakan untuk berbicara dengan orang awam, karena setiap golongan memiliki apa yang sesuai dengannya dan berpengaruh padanya dan meyakinkannya dari masalah-masalah pemikiran dan metode penjelasan.
Maka pembawa risalah dakwah kepada Allah atau risalah amar ma’ruf nahi munkar harus pandai dalam berbicara dengan setiap orang yang memiliki tingkat keilmuan sesuai dengan yang cocok baginya, dan sesuai dengan spesialisasinya jika memungkinkan, agar perkataannya memiliki pengaruh yang bermanfaat dan berguna dalam pemikiran dan jiwanya.
- Mempertimbangkan aspek-aspek emosional yang dituntut oleh hubungan dan relasi sosial:
Hubungan pembawa risalah dengan orang-orang yang dia tujukan risalahnya sangat beragam, dan dia perlu memanfaatkan pengaruh-pengaruh emosional antara dirinya dan orang yang dia tujukan risalahnya.
Dalam dakwahnya kepada ayahnya, dia memanfaatkan metode dakwah Ibrahim ‘alaihis salam kepada ayahnya, di mana dia berbicara kepadanya dengan kerendahan hati seorang anak kepada ayahnya: “Wahai ayahku…”
Dan seperti ayah, kakek, saudara laki-laki yang lebih tua, paman dari pihak ayah, paman dari pihak ibu, dan semacamnya.
Dan dalam dakwahnya kepada anaknya, dia memanfaatkan nasihat Luqman kepada anaknya, di mana dia berbicara kepadanya dengan kasih sayang seorang ayah, rahmat dan kelembutan: “Wahai anakku.”
Dan seperti anak, adik, keponakan dari saudara laki-laki, keponakan dari saudara perempuan, dan semacamnya.
Dan dalam dakwahnya kepada teman dan rekannya, dia memanfaatkan dakwah Yusuf ‘alaihis salam kepada dua temannya di penjara, dalam ucapannya kepada keduanya: “Wahai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” (Yusuf).
Dan dia memanfaatkan kisah dua orang sahabat yang Allah jadikan sebagai perumpamaan dalam surat Al-Kahfi/18 mushaf/69 turun:
Adapun salah satu dari keduanya, dia membanggakan diri kepada temannya bahwa dia lebih banyak hartanya dan lebih mulia keturunannya dan dia mengumumkan kekafirannya terhadap hari kiamat, dan dia memiliki dua kebun dan dia sangat mengagumi dan terpesona dengan keduanya dan merasa bahwa keduanya akan abadi untuk waktu yang lama.
﴿قَالَ لَهٗ صَاحِبُهٗ وَهُوَ يُحَاوِرُهٗٓ اَكَفَرْتَ بِالَّذِيْ خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُّطْفَةٍ ثُمَّ سَوّٰىكَ رَجُلًاۗ ٣٧ لٰكِنَّا۠ هُوَ اللّٰهُ رَبِّيْ وَلَآ اُشْرِكُ بِرَبِّيْٓ اَحَدًا ٣٨ وَلَوْلَآ اِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۙ لَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ ۚاِنْ تَرَنِ اَنَا۠ اَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَّوَلَدًاۚ ٣٩ فَعَسٰى رَبِّيْٓ اَنْ يُّؤْتِيَنِ خَيْرًا مِّنْ جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِّنَ السَّمَاۤءِ فَتُصْبِحَ صَعِيْدًا زَلَقًاۙ ٤٠ اَوْ يُصْبِحَ مَاۤؤُهَا غَوْرًا فَلَنْ تَسْتَطِيْعَ لَهٗ طَلَبًا ٤١ ﴾
Temannya berkata kepadanya sambil berdialog dengannya: “Apakah engkau kafir kepada (Allah) yang menciptakanmu dari tanah, kemudian dari setetes mani, lalu Dia menjadikanmu seorang laki-laki yang sempurna?
Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak menyekutukan Tuhanku dengan sesuatu pun. Dan mengapa engkau tidak mengatakan ketika memasuki kebunmu: ‘Masya Allah, la quwwata illa billah’ (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekalipun engkau anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Tuhanku akan memberikan kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini), dan Dia mengirimkan petir dari langit ke kebunmu, hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin, atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka engkau tidak akan dapat menemukannya lagi.”
Dan dalam dakwah kepada keluarga dan kerabat, dia memanfaatkan kebijakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan keluarga dan kerabat dekatnya.
Dan dalam dakwahnya kepada kaumnya, dia memanfaatkan dakwah para rasul kepada kaum mereka, di mana mereka berkata kepada mereka: “Wahai kaum kami.”
- Mempertimbangkan kondisi psikologis orang yang dituju oleh risalah:
Setiap manusia memiliki kondisi yang berbeda satu sama lain, dan setiap kondisi psikologis dari kondisi-kondisi manusia memiliki penjelasan bijaksana yang sesuai dengannya.
Kondisi psikologis manusia dalam keadaan sakit berbeda dari kondisinya ketika dia sehat dan sejahtera.
Dan kondisi psikologisnya ketika dia kaya berbeda dari kondisi psikologisnya ketika dia miskin dan kebutuhan mendesaknya.
Keadaan psikologisnya di pemakaman berbeda dengan keadaan psikologisnya saat pesta. Keadaan psikologisnya saat memiliki kedudukan dan kehormatan berbeda dengan keadaannya saat lemah dan hina. Keadaannya saat marah berbeda dengan keadaannya saat puas dan lapang dada. Keadaannya saat serius berbeda dengan keadaannya saat bercanda, tertawa, dan bermain. Dan masih banyak keadaan psikologis lainnya, dan untuk setiap keadaan psikologis pada manusia, dengan karakteristik lainnya, ada gaya pemikiran dan ungkapan yang sesuai. Pembawa risalah yang bijaksana memilih gaya pemikiran dan ungkapan yang sesuai dengan keadaan orang yang dituju risalahnya, dan dengan itu tercapailah kefasihan dan kebijaksanaannya.
- Bertahap dalam berdakwah dari pokok-pokok ke cabang-cabang:
Memulai dengan cabang-cabang permasalahan, dan cabang-cabang hukum syariat yang berkaitan dengan perilaku, dalam berdakwah kepada non-muslim sebelum menetapkan pokok-pokok adalah bertentangan dengan kebijaksanaan tahapan yang merupakan sunnatullah dalam penurunan ayat-ayat Al-Qur’an yang mulia, dan bertentangan dengan apa yang diperintahkan Rasulullah ﷺ kepada Mu’adz bin Jabal ketika mengutusnya sebagai pendakwah ke Yaman.
- Memilih topik-topik yang sesuai dengan situasi sosial dan peristiwa lokal dan global, karena jiwa-jiwa akan siap untuk mengikutinya, dan berpartisipasi dalam pemikiran dan memanfaatkannya dalam pengarahan pada tujuan penting yang ingin diyakinkan, baik itu tentang masalah keimanan, dasar-dasar Islam, cabang-cabang utamanya, atau lainnya.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
SEGMEN KETIGA
Penjelasan tentang metode nasihat yang baik dan elemen-elemennya
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa nasihat secara umum adalah saran untuk melakukan atau meninggalkan suatu tindakan psikologis atau fisik, jika disertai dengan apa yang membangkitkan keinginan atau ketakutan dalam jiwa, untuk memanfaatkan nasihat dan mengikuti apa yang ditunjukkannya, baik melakukan atau meninggalkan.
Nasihat berputar dalam orbit dorongan di sekitar poros harapan dalam jiwa, dan berputar dalam orbit ancaman di sekitar poros ketakutan dalam jiwa.
Adapun nasihat yang baik, kebaikannya terletak pada kontennya yang didasarkan pada kebenaran, kebaikan, dan nasihat yang bermanfaat, menjelaskan konsekuensi dengan jujur, dan dalam gaya penyampaiannya yang tidak membuat jiwa lari menjauh. Kebaikan dalam gaya penyampaian bertentangan dengan kekasaran, kekerasan, dan kekasaran dalam perkataan, dan bertentangan dengan caci maki, umpatan, dan kata-kata yang menyakitkan dan merendahkan, hingga banyak hal yang telah dijelaskan sebelumnya dalam hal-hal yang bertentangan dengan kebijaksanaan dalam berdakwah ke jalan Allah. Segala sesuatu yang membuat tabiat menjauh, tidak tahan mendengarkan, dan tidak menerima dari nasihat-nasihat tersebut berada di luar lingkaran nasihat yang baik.
Dan termasuk kebaikan dalam gaya penyampaian adalah perhatian terhadap keindahan sastra, yang telah diingatkan oleh ilmu-ilmu retorika, dan dipuji oleh buku-buku sastra.
Adapun memberikan dorongan sebagai salah satu pilar nasihat yang baik dilakukan dengan menjelaskan akibat yang terpuji yang diinginkan oleh jiwa, bagi orang yang merespons terhadap apa yang diserukan oleh nasihat yang baik.
Dan akibat yang terpuji karena mengikuti jalan Allah adalah memperoleh kebahagiaan jiwa dalam kehidupan dunia, dan keselamatannya dari banyak kejahatan dan rasa sakit yang menyiksa dan menyakitinya, serta memperoleh kebahagiaan akhirat dalam keabadian di surga kenikmatan sebagaimana yang Allah Azza wa Jalla gambarkan dalam kitab-Nya, yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia.
Adapun memberikan ancaman sebagai salah satu pilar nasihat yang baik dilakukan dengan menjelaskan akibat buruk yang dibenci dan dijauhi oleh jiwa, bagi orang yang tidak merespons terhadap apa yang diserukan oleh nasihat yang baik.
Dan akibat buruk karena tidak mengikuti jalan Allah, atau menyimpang darinya, adalah menerima hukuman-hukuman ilahi yang disegerakan atau ditangguhkan yang menyakitkan sesuai dengan pernyataan-pernyataan yang datang dalam bentuk ancaman dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, dan yang paling berat adalah keabadian di neraka Jahannam dengan siksaan yang sangat menyakitkan atas kekufuran dengan kesyirikan dan hal-hal yang lebih berat dari itu, dan atas kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh para penindas dan pelaku kejahatan.
Penjelasan analitis tentang poros-poros jiwa:
Adalah tepat bagi saya untuk menyajikan penjelasan analitis yang ditunjukkan oleh sarana-sarana pendidikan Al-Qur’an untuk jiwa manusia.
Manusia berdasarkan fitrah yang Allah ciptakan padanya memiliki tiga pengarah internal yang merupakan faktor yang memengaruhi dalam mengarahkan kehendaknya untuk memilih perilaku tertentu bersama dengan gerakan pilihan-pilihannya dalam perjalanan hidupnya, yaitu sebagai berikut:
Pengarah pertama: Pikiran manusia yang sadar, yang mampu memahami hakikat perkara-perkara yang penting baginya dalam kehidupan, dan mampu melihatnya melalui perenungan, pengamatan, dan pemikiran.
Pemikiran adalah alat yang mampu belajar dan memperoleh pengetahuan, dan merupakan alat luar biasa yang membedakan manusia dari spesies hewan lainnya. Metode dakwah pertama, yaitu metode kebijaksanaan, bertanggung jawab untuk menyampaikan kebenaran yang ingin diyakinkan kepada sasaran ini, yaitu pemikiran yang sadar.
Dakwah dengan kebijaksanaan berputar di orbit sekitar poros pemikiran sadar, untuk memilih cara yang mempengaruhinya secara positif dan bermanfaat, dan meyakinkannya, agar kemudian melakukan fungsi internalnya dalam mengarahkan kehendak untuk memilih perilaku yang mewujudkan apa yang diyakini baik, bermanfaat, serta menguntungkan bagi manusia baik segera maupun di kemudian hari.
Pengarah kedua: Keinginan akan apa yang diinginkan jiwa, berupa kebahagiaan, kesenangan, kegembiraan, dan kenikmatan dari manfaat, keuntungan, dan laba baik cepat maupun lambat.
Kebijakan targhib (memberi motivasi) yang merupakan salah satu pilar nasihat yang baik, berputar pada poros pengarah internal ini, yaitu (keinginan). Kebijakan ini bertanggung jawab untuk memilih cara yang mempengaruhinya secara positif dan bermanfaat untuk membangkitkan dan merangsangnya sehingga mengarahkan kehendak untuk memilih perilaku yang sesuai yang mengarah pada tempat di mana apa yang diinginkan jiwa dapat diwujudkan.
Pengarah ketiga: Ketakutan akan apa yang dibenci jiwa berupa kesulitan, kesedihan, duka, rasa sakit, kerugian, dan kehilangan baik segera maupun di kemudian hari.
Kebijakan tarhib (memberi peringatan) yang merupakan salah satu pilar nasihat yang baik, berputar pada poros pengarah internal ini, yaitu (ketakutan). Kebijakan ini bertanggung jawab untuk memilih cara yang mempengaruhinya secara positif dan bermanfaat untuk membangkitkan dan merangsangnya sehingga mengarahkan kehendak untuk memilih perilaku yang mengontrol jiwa, menjauhkan dan mencegahnya dari mengarah atau mendekati lokasi di mana dikhawatirkan akan terjadi hal-hal yang dibenci oleh jiwa, dengan harapan selamat dari keburukan dan penderitaannya.
Sarana-sarana targhib dan tarhib berbasis penjelasan:
Baik targhib maupun tarhib dalam dakwah ke jalan Allah, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, dilakukan dengan sarana penjelasan yang terdapat dalam Al-Qur’an yang mulia, kemudian dalam sunnah yang sahih dan terbukti, dengan syarat teks-teks penjelasan yang mencakup targhib dan tarhib disajikan dengan penjelasan yang sesuai dengan keadaan mereka yang dituju risalah tersebut, dan dirangkum dalam sarana penjelasan berikut:
Sarana pertama: Janji pahala yang besar baik yang diberikan segera maupun yang ditangguhkan hingga hari pembalasan, dan ancaman yang tegas berupa hukuman yang menyakitkan baik segera maupun yang ditangguhkan hingga hari pembalasan. Teks-teks tentang janji dan ancaman dalam Al-Qur’an dan sunnah sangat banyak, dan pembawa risalah harus membacakannya, merenungkannya dengan baik, dan menjelaskannya dengan cara yang berpengaruh.
Sarana kedua: Menampilkan contoh-contoh dan bukti-bukti sejarah yang telah menjadi ketetapan Allah dalam memberikan pahala dan hukuman dari kisah-kisah umat terdahulu dan apa yang terjadi pada mereka, seperti kisah-kisah para rasul terdahulu dan kaum mereka, serta apa yang dialami oleh orang-orang yang beriman kepada mereka berupa pertolongan Allah, dan apa yang dialami oleh orang-orang yang kafir, mendustakan rasul-rasul Tuhan mereka, berbuat kejahatan dan merusak di muka bumi, berupa azab yang menghancurkan mereka, penghancuran tempat tinggal, negeri, dan harta benda mereka. Kitab Allah ‘Azza wa Jalla dan Sunnah Rasul berisi banyak sekali kisah-kisah umat terdahulu, dan pembawa risalah harus memanfaatkannya, menyajikannya dengan baik, merenungkan teks-teks yang memuat kisah tersebut, dan mengekstrak detail, pelajaran, dan hikmah yang terkandung di dalamnya.
Sarana ketiga: Menampilkan gambaran-gambaran hari kiamat, dan apa yang ada pada hari pembalasan berupa kenikmatan bagi orang-orang beriman yang mengerjakan amal saleh di surga-surga yang penuh kenikmatan, dan apa yang ada berupa azab bagi orang-orang kafir di neraka Jahanam, bagi para pelaku kejahatan, kezaliman, kesewenang-wenangan, permusuhan, kefasikan, dan kemaksiatan.
Kitab Allah ‘Azza wa Jalla dan Sunnah Rasulullah ﷺ berisi banyak sekali gambaran-gambaran ini, dan pembawa risalah harus memanfaatkannya, menyajikannya dengan baik, merenungkan teks-teks yang memuat gambaran tersebut, dan mengekstrak detail dan pengertian yang dapat menawan jiwa dan menguasai perasaan.
Fitrah jiwa manusia terhadap keinginan dan ketakutan:
Perlu diperhatikan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla telah menciptakan jiwa manusia dengan fitrah berupa keinginan yang kuat untuk mencari apa yang dapat memberikan kenikmatan, manfaat, keuntungan, atau sesuatu yang dicintai dan diinginkannya seperti kedudukan, kekuasaan yang besar, dan kenikmatan yang melimpah, serta hal-hal lain yang memuaskan dorongan jiwa, hawa nafsu, dan syahwatnya. Juga dengan keinginan yang kuat untuk menjauhi apa yang dapat menyebabkan rasa sakit, bahaya, kerugian, atau sesuatu yang dibenci dan dijauhinya, seperti azab, kehinaan, penghinaan, kenistaan, dan hal-hal lain yang bertentangan dengan hawa nafsu dan syahwatnya.
Yang diinginkan adalah menyampaikan kepada orang yang didakwahi keyakinan akan kebenaran janji yang ditangguhkan berupa pahala yang sangat besar atas usaha yang dilakukannya dengan menanggung kesulitan saat ini atau menentang syahwat atau hawa nafsu, dari keinginan-keinginan duniawi yang nilainya kecil dibandingkan dengan apa yang dijanjikan, serta keyakinan akan kebenaran ancaman atas kemaksiatan dan pelanggaran terhadap perintah dan larangan.
Jika dia yakin akan kebenaran janji dan ancaman, dan tidak kehilangan keseimbangan jiwa karena gejolak emosional yang membutakan pandangannya dan mengganggu keseimbangannya, maka adalah sifat alami dari dorongan fitrahnya bahwa poros keinginan akan bergerak dalam dirinya, mengarahkan kehendaknya dengan dorongan kuat untuk berusaha sungguh-sungguh di jalan yang mewujudkan baginya kebaikan besar yang dijanjikan, dan bahwa poros ketakutan akan bergerak dalam dirinya, mengarahkan kehendaknya dengan dorongan kuat untuk menjauhi dengan keras jalan-jalan yang membawanya kepada apa yang dibencinya berupa azab yang menyakitkan, kerugian, atau bahaya yang ditakuti, dari segala keburukan yang terkandung dalam ancaman atas pelanggaran, kemaksiatan, dan menempuh jalan-jalan kesesatan.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
SEGMEN KEEMPAT
Penjelasan Metode Perdebatan dengan Cara yang Terbaik
-1-
Penjelasan Umum:
Terkadang diperlukan untuk meyakinkan tentang kebenaran yang disampaikan oleh pendakwah ke jalan Tuhannya, dengan menggunakan cara berdebat.
Perdebatan yang diizinkan atau diperintahkan dalam Al-Qur’an memiliki syarat, aturan, dan prinsip yang harus diikuti, untuk menjaganya agar tidak berubah menjadi perdebatan yang jauh dari pencarian kebenaran, atau menjadi perselisihan egois, saling mencaci, saling menipu, dan sebagainya yang merusak hati, menghasut jiwa, menimbulkan fanatisme, dan tidak mengarah pada kebenaran.
Perdebatan adalah dialog verbal di mana masing-masing pihak yang berdialog memahami sudut pandang pihak lain, dan masing-masing pihak menyajikan bukti-bukti yang menguatkan pendiriannya pada sudut pandangnya, kemudian mulai melihat kebenaran melalui kritik dan keberatan yang diarahkan pihak lain terhadap bukti-buktinya, atau melalui bukti-bukti yang menjelaskan kepadanya beberapa poin yang sebelumnya tidak jelas baginya.
Tujuan perdebatan pada dasarnya adalah kerja sama kedua belah pihak yang berdialog untuk mengenal dan mencapai kebenaran, dengan masing-masing pihak menjelaskan kepada rekannya area-area yang tidak jelas baginya, dan yang tersembunyi darinya ketika ia mulai mencari kebenaran. Ini terjadi ketika salah satu dari mereka tidak berdiri di atas kebenaran yang jelas secara pasti dan tidak bisa dibantah. Namun dalam kasus ini, tujuan perdebatan adalah agar orang yang berdiri di atas kebenaran menjelaskan kepada pihak lain yang berdebat dengannya, dan membimbingnya melalui cara-cara penalaran yang benar, untuk menyampaikan dengan lembut hingga ia melihat wajah kebenaran yang bersinar.
Ini dilakukan dengan menggunakan dialog yang bebas dari fanatisme, tanpa kekerasan dan emosi, dan berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip umum dialog, di mana masing-masing pihak yang berdialog bertujuan untuk mencapai kebenaran, seolah-olah ia tidak mengetahuinya, dengan pikiran dan jiwa yang kosong dari keterikatan sebelumnya pada sudut pandang tertentu, dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Ini untuk menjauhkan diri dari semua suasana fanatisme dan egoisme, yang mengalihkan jiwa dan pikiran dari memahami kebenaran dan menerimanya, meskipun kebenaran itu telah terungkap dengan jelas dan gamblang.
-2-
Perdebatan dengan Cara yang Terbaik adalah Salah Satu Metode Dakwah ke Jalan Allah
Mengingat perdebatan dalam realitas manusia merupakan salah satu cara yang digunakan untuk menyebarkan dan meyakinkan orang tentang pemikiran, dan manusia adalah makhluk yang paling suka berdebat, dan perdebatan adalah senjatanya untuk mempertahankan pemikirannya, maka Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkannya, untuk membela agama-Nya, menyebarkannya di antara manusia, dan meyakinkan orang tentangnya. Namun, Allah membatasinya agar dilakukan dengan cara yang terbaik, sebagaimana Dia memerintahkan perang untuk menghentikan serangan orang-orang kafir, dan memastikan penyampaian kebenaran dasar-dasar agama-Nya kepada seluruh manusia.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada Nabi-Nya dan kepada setiap pendakwah ke jalan Tuhannya dari umatnya dalam surah (An-Nahl/16 dalam mushaf/70 urutan turunnya):
﴿… وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ …﴾
“…dan bantahlah mereka dengan cara yang terbaik…”
Dan Allah ‘Azza wa Jalla menyeru kepada orang-orang beriman dalam surah (Al-‘Ankabut/29 dalam mushaf/85 urutan turunnya) dengan firman-Nya:
﴿۞ وَلَا تُجَادِلُوْٓا اَهْلَ الْكِتٰبِ اِلَّا بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۖ اِلَّا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ وَقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا بِالَّذِيْٓ اُنْزِلَ اِلَيْنَا وَاُنْزِلَ اِلَيْكُمْ وَاِلٰهُنَا وَاِلٰهُكُمْ وَاحِدٌ وَّنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ ٤٦ ﴾
“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, kecuali dengan cara yang terbaik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka…”
Artinya: Jika orang-orang yang berdebat dengan kalian menggunakan cara-cara yang tidak santun dalam berbicara, maka tetaplah kalian menggunakan setiap ucapan yang santun, dan tempuhlah setiap cara yang terbaik dan paling utama.
Ungkapan “dengan cara yang terbaik” mencakup dalam keumumannya metode-metode intelektual dan verbal. Dengan ini, menjadi jelas bagi kita bahwa yang diminta dari seorang pendakwah Muslim adalah agar dalam perdebatannya berada dalam kondisi yang lebih tinggi dan lebih baik secara terus-menerus daripada kondisi orang yang berdebat dengannya, dalam hal adab, kesantunan, ucapan, dan pemikiran.
Namun, Allah mengecualikan keadaan orang-orang yang zalim dari Ahli Kitab dalam perdebatan dengan mereka, seperti jika mereka secara terang-terangan menghina orang-orang beriman yang berdebat dengan mereka secara zalim dan memusuhi. Maka Allah membolehkan orang-orang beriman untuk membalas mereka dengan adil. Ini dipahami dari teks-teks yang mengizinkan pembalasan kejahatan dengan yang serupa, meskipun Allah ‘Azza wa Jalla mendorong untuk memaafkan kejahatan karena itu lebih efektif untuk mencapai tujuan pendakwah dan melayani prinsip-prinsip Islam.
Di antaranya adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam surah An-Nisa’/4 dalam mushaf/92 urutan turunnya):
﴿۞ لَا يُحِبُّ اللّٰهُ الْجَهْرَ بِالسُّوْۤءِ مِنَ الْقَوْلِ اِلَّا مَنْ ظُلِمَ ۗ وَكَانَ اللّٰهُ سَمِيْعًا عَلِيْمًا ١٤٨ اِنْ تُبْدُوْا خَيْرًا اَوْ تُخْفُوْهُ اَوْ تَعْفُوْا عَنْ سُوْۤءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيْرًا ١٤٩ ﴾
“Allah tidak menyukai perkataan buruk, (yang diucapkan) secara terus terang kecuali oleh orang yang dizalimi. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Jika kamu menyatakan sesuatu kebajikan, menyembunyikannya atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sungguh, Allah Maha Pemaaf, Maha Kuasa.”
Allah ‘Azza wa Jalla telah memberikan kepada Ibrahim ‘alaihissalam kekuatan hujjah (argumentasi) dan kemampuan berdebat dengan cara yang terbaik untuk menegakkan kebenaran. Ini terungkap bagi kita melalui metode-metode debatnya yang Allah ceritakan sebagian kepada kita dalam kitab-Nya, dan Allah memuji kekuatan argumentasinya dengan firman-Nya dalam surah (Al-An’am/6 dalam mushaf/55 urutan turunnya):
﴿وَتِلْكَ حُجَّتُنَآ اٰتَيْنٰهَآ اِبْرٰهِيْمَ عَلٰى قَوْمِهٖۗ نَرْفَعُ دَرَجٰتٍ مَّنْ نَّشَاۤءُۗ اِنَّ رَبَّكَ حَكِيْمٌ عَلِيْمٌ ٨٣ ﴾
“Dan itulah hujjah (alasan) Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan derajat siapa yang Kami kehendaki. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana, Maha Mengetahui.”
Allah ‘Azza wa Jalla juga memberikan kepada Nuh ‘alaihissalam kesabaran yang panjang dalam berdebat dengan orang-orang kafir, untuk meyakinkan mereka tentang kebenaran yang dibawanya dari Allah, sampai mereka merasa tertekan dengan kekuatan argumentasinya dan kesabarannya yang panjang dalam berdebat, sehingga mereka berkata kepadanya: “Wahai Nuh, sungguh engkau telah berbantah dengan kami, dan telah memperbanyak bantahanmu kepada kami.” Ini yang diceritakan Allah kepada kita dengan firman-Nya dalam surah (Hud/11 dalam mushaf/52 urutan turunnya):
﴿قَالُوْا يٰنُوْحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَاَ كْثَرْتَ جِدَالَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ اِنْ كُنْتَ مِنَ الصّٰدِقِيْنَ ٣٢ قَالَ اِنَّمَا يَأْتِيْكُمْ بِهِ اللّٰهُ اِنْ شَاۤءَ وَمَآ اَنْتُمْ بِمُعْجِزِيْنَ ٣٣ ﴾
“Mereka berkata: ‘Wahai Nuh! Sungguh, engkau telah berbantah dengan kami, dan telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang engkau ancamkan, jika engkau termasuk orang yang benar.’ Dia (Nuh) menjawab: ‘Hanya Allah yang akan mendatangkan azab kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu tidak akan dapat melepaskan diri.'”
- Maka berdebat untuk menemukan kebenaran atau untuk meyakinkan tentang kebenaran adalah tindakan yang terpuji, dan terkadang menjadi kewajiban untuk menolong agama Allah dan menghancurkan kebatilan, seperti berperang di jalan Allah ‘Azza wa Jalla.
- Adapun berdebat untuk membela diri dan keinginan untuk merasa superior dan menang, ini adalah tindakan yang tercela, dan bisa menjadi haram jika di dalamnya ada pengaburan kebenaran atau penyesatan pihak lain yang berdebat.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
-3-
Kaidah-Kaidah Umum Perdebatan Yang Baik
Setelah kita mengetahui makna berdebat dengan cara yang terbaik, dan mengetahui tujuannya dalam metodologi Islam, ada baiknya kita melihat aturan-aturan umumnya yang ditunjukkan Islam dalam petunjuk-petunjuknya.
Melalui perenungan teks-teks Islam, aplikasi dialektika Al-Quran, dan prinsip-prinsip logika dasar, dapat disimpulkan aturan-aturan berikut:
Aturan Pertama:
Kedua belah pihak dalam dialog dialektis tentang topik tertentu harus meninggalkan sikap fanatik terhadap pandangan mereka sebelumnya, dan menyatakan kesiapan umum untuk mencari kebenaran, dan menerimanya ketika muncul, baik itu pandangan mereka sebelumnya, pandangan lawan bicara mereka dalam perdebatan, atau pandangan lain selain keduanya.
Allah Yang Maha Kuasa telah mengarahkan kita dalam Kitab-Nya untuk mengambil aturan ini, ketika Dia mengajarkan Rasulullah ﷺ, dan setiap penyeru kepada jalan Tuhannya dari umatnya, dalam surat (Saba’/34 dalam mushaf/58 urutan turunnya) untuk mengatakan kepada para pembantah mereka dari kalangan musyrikin dan semua yang menentang:
﴿۞ …وَاِنَّآ اَوْ اِيَّاكُمْ لَعَلٰى هُدًى اَوْ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ ٢٤ ﴾
“…Dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata.”
Dalam hal ini ada puncak pelepasan diri dari fanatisme terhadap pendapat sebelumnya, dan kesempurnaan pernyataan keinginan untuk mencari kebenaran di manapun adanya.
Dan karena topik pengajaran dialektis yang ayat ini membahasnya adalah tentang tauhid kepada Allah dalam rububiyah dan uluhiyah-Nya, atau menyekutukan-Nya – dan keduanya adalah hal yang bertolak belakang, tidak ada titik temu di antara keduanya dalam keadaan apapun, dan keduanya berputar sekitar prinsip agung dari prinsip-prinsip akidah Islam – maka menjadi jelas bahwa petunjuk ada pada salah satunya karena ia adalah kebenaran, dan kesesatan yang nyata ada pada yang lainnya karena ia adalah kebatilan, dan karena inilah pernyataan pelepasan diri dari fanatisme terhadap pendapat sebelumnya mencakup pengakuan terhadap kenyataan ini.
Aturan Kedua:
Kedua belah pihak dalam dialog dialektis harus berpegang pada perkataan yang sopan, jauh dari segala celaan atau penghinaan, atau ejekan atau cemoohan, atau merendahkan sudut pandang yang dipertahankan atau dibela oleh lawan bicara mereka. Allah Yang Maha Kuasa telah mengarahkan kita untuk berpegang pada aturan ini dalam beberapa teks Al-Quran, termasuk yang berikut:
1 – Firman Allah Yang Maha Kuasa dalam surat (An-Nahl/16 mushaf/70 urutan turunnya):
﴿… وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ … ﴾
“…Dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang terbaik…”
2 – Dan firman Allah Yang Maha Kuasa kepada orang-orang beriman dalam surat (Al-Ankabut/29 mushaf/85 urutan turunnya):
﴿۞ وَلَا تُجَادِلُوْٓا اَهْلَ الْكِتٰبِ اِلَّا بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۖ اِلَّا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ …٤٦ ﴾
“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang terbaik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka…”
Jelas bahwa petunjuk untuk menggunakan cara yang terbaik mencakup segala sesuatu yang berkaitan dengan perdebatan dan yang terhubung dengannya, menyertainya dan menemaninya, dari perkataan, pemikiran, dan perbuatan.
Seorang mukmin muslim dituntut untuk berkomitmen dalam perdebatannya, untuk membuktikan kebenaran yang ia imani, dan meyakinkan orang-orang dengannya, dengan cara yang terbaik dari semua cara yang diambil orang dalam perdebatan mereka.
Oleh karena itu, termasuk akhlak dan adab seorang muslim dengan lawan-lawan agamanya dan yang berbeda keyakinan dengannya, terlebih lagi dengan saudara-saudara sesama mukmin, adalah ia tidak menempuh jalan-jalan mencaci dan memaki, mencela dan melaknat, mengejek dan mencemooh, mengolok-olok dan menghinakan, berkata kotor dan keji.
3 – Dan firman Allah Yang Maha Kuasa kepada orang-orang yang beriman dalam surat (Al-An’am/6 mushaf/55 urutan turunnya):
﴿وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ … ﴾
“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.”
Artinya: Janganlah kamu memaki tuhan-tuhan orang musyrik sehingga mereka memaki Allah dengan permusuhan tanpa ilmu sebagai balasan terhadap apa yang telah kamu lakukan. Larangan di sini adalah larangan pengharaman, dan dari larangan dalam masalah ini diambil kaidah menutup jalan (sadd adz-dzara’i’), maka apa yang menjadi sebab terjadinya perbuatan haram adalah juga haram, meskipun pada dasarnya perbuatan itu sendiri dibolehkan. Memaki berhala-berhala orang musyrik di antara orang-orang mukmin tanpa sepengetahuan orang-orang musyrik tidaklah haram, tetapi haram jika salah seorang dari kaum musyrik hadir, karena hal itu mungkin akan mendorong orang musyrik tersebut untuk memaki Allah Yang Maha Kuasa.
4 – Dan firman Allah Yang Maha Kuasa dalam surat (Al-Humazah/104 mushaf/32 urutan turunnya):
﴿وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍۙ ١ ﴾
“Celakalah bagi setiap pengumpat lagi pencela.”
Al-Humazah Al-Lumazah: Orang yang suka mencela, yang mencari-cari kesalahan orang lain dan menghinanya dengan perkataan atau perbuatan isyarat yang tersembunyi, yang dapat dimengerti oleh orang yang cerdas.
Al-Wail (Celaka): Adalah azab yang keras, dan nama sebuah lembah di neraka Jahannam.
5 – Imam Tirmidzi dan Baihaqi meriwayatkan dalam Syu’ab al-Iman, dari Ibnu Mas’ud berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Bukanlah seorang mukmin orang yang suka mencela, melaknat, berkata kotor, dan tidak sopan.”
Aturan Ketiga:
Berpegang pada metode logika yang benar dalam dialog dialektis, dan tidak melakukan manipulasi, menggunakan kesalahan logika, bersandar pada kebohongan dan riwayat-riwayat yang lemah, serta khayalan dan dongeng yang tidak terbukti kebenarannya.
Aturan yang sangat penting ini ditunjukkan oleh keumuman perintah Ilahi agar perdebatan dilakukan dengan cara yang terbaik.
Di antara komitmen terhadap metode logika yang benar adalah sebagai berikut:
- Pertama: Menyajikan bukti-bukti yang memperkuat atau menjadi penguat bagi pernyataan yang diajukan.
- Kedua: Membuktikan kebenaran penukilan untuk hal-hal yang diambil dari riwayat.
Dari sinilah para ulama dalam seni adab penelitian dan perdebatan mengambil kaidah terkenal mereka yang mengatakan: “Jika engkau menukil, maka pastikan kesahihannya, dan jika engkau mengklaim, maka datangkan buktinya.”
Perdebatan-perdebatan dalam Al-Quran telah mengajarkan kita untuk mengandalkan metode dan prinsip-prinsip logika dalam perdebatan kita mengajak ke jalan Allah, dan membela kebenaran yang datang kepada kita dari Allah Yang Maha Kuasa. Dalam teks-teks berikut terdapat petunjuk-petunjuk yang jelas tentang pengajaran ini:
1 – Firman Allah Yang Maha Kuasa dalam surat (An-Naml/27 mushaf/48 urutan turunnya):
﴿اَمَّنْ يَّبْدَؤُا الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيْدُهٗ وَمَنْ يَّرْزُقُكُمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِۗ ءَاِلٰهٌ مَّعَ اللّٰهِ ۗقُلْ هَاتُوْا بُرْهَانَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ٦٤ ﴾
“Bukankah Dia (Allah) yang menciptakan (makhluk) dari permulaan, kemudian mengulanginya (lagi), dan yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Katakanlah: ‘Tunjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu adalah orang yang benar’.”
Jalan logis dalam pengajaran dialektika ini dimulai dengan mengajukan pertanyaan kepada orang-orang musyrik mengenai isu-isu terpenting yang berkaitan dengan tauhid rububiyah Allah Yang Maha Kuasa, yaitu tentang penciptaan awal dan pengulangan ciptaan, serta pemberian rezeki kepada manusia dari langit dan bumi.
Pertanyaan ini bertujuan untuk mendapatkan pengakuan dari mereka yang ditanya, meskipun setelah beberapa tahap dialog dialektis, bahwa Allah Yang Maha Kuasa adalah Yang memulai penciptaan kemudian mengulanginya, dan Dia-lah yang memberi rezeki kepada manusia dari langit dan bumi.
Jika kebenaran ini telah ditetapkan dan mereka yang ditanya mengakui tauhid rububiyah Allah Yang Maha Kuasa, maka konsekuensi pemikiran yang tak terhindarkan adalah kewajiban untuk menyatukan tauhid uluhiyah hanya kepada Allah, sehingga tidak boleh menyembah siapapun selain Allah, karena ibadah adalah hak Tuhan Yang Maha Pencipta dan Pemberi Rezeki semata.
Maka pembantah (yang berdialog) membangun argumennya berdasarkan pengakuan mereka yang ditanya tentang tauhid rububiyah Allah Yang Maha Kuasa, membawa mereka dengan bukti akal ke isu kedua, yaitu tauhid uluhiyah Allah Ta’ala, dan meyakinkan mereka bahwa ibadah secara logis tidak boleh ditujukan kecuali kepada Yang Maha Pencipta dan Pemberi Rezeki, Yang menghidupkan dan mematikan. Di sinilah dikatakan kepada mereka: “Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)?” dengan gaya bahasa pertanyaan yang mengejutkan karena meninggalkan kebenaran yang jelas dan gamblang.
Jika mereka berkata: “Kami menyembah tuhan-tuhan kami atas perintah Allah atau dengan izin-Nya, dan penyembahan kami kepada mereka mendekatkan kami kepada Allah, karena itu adalah salah satu unsur yang mendekatkan kami kepada-Nya dari amal saleh.”
Maka pembantah yang beriman dan bertauhid harus menuntut mereka untuk memberikan bukti atas apa yang mereka klaim, sesuai dengan prinsip-prinsip logika dalam berdebat dengan cara yang terbaik. Di sinilah posisi kalimat: “Katakanlah: ‘Tunjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu adalah orang yang benar'” yang muncul dalam pengajaran yang ringkas.
“Jika kamu adalah orang yang benar”: artinya, benar dalam klaim bahwa Allah memerintahkan atau mengizinkan kalian untuk menyembah tuhan-tuhan kalian selain Dia.
Bukti dalam klaim semacam ini mencakup bukti akal dan bukti tekstual yang sahih dari salah satu rasul Allah.
Tetapi mereka tidak memiliki bukti apa pun yang memperbolehkan mereka untuk mengambil tuhan yang mereka sembah selain Allah, sehingga mereka terbukti salah dan menurut prinsip-prinsip perdebatan mereka harus mengakui kebenaran.
2 – Dan firman Allah Yang Maha Kuasa dalam surat (Al-Anbiya/21 mushaf/73 urutan turunnya):
﴿اَمِ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖٓ اٰلِهَةً ۗقُلْ هَاتُوْا بُرْهَانَكُمْۚ هٰذَا ذِكْرُ مَنْ مَّعِيَ وَذِكْرُ مَنْ قَبْلِيْۗ بَلْ اَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَۙ الْحَقَّ فَهُمْ مُّعْرِضُوْنَ ٢٤ ﴾
“Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)? Katakanlah: ‘Tunjukkanlah bukti kebenaranmu! Ini adalah peringatan bagi orang-orang yang bersamaku, dan peringatan bagi orang-orang sebelumku’. Sebenarnya kebanyakan mereka tidak mengetahui yang hak, karena itu mereka berpaling.”
Maka dalam teks pengajaran ini, orang-orang musyrik dituntut untuk menunjukkan bukti pengambilan tuhan-tuhan selain Allah, yang mencakup bukti akal dan bukti tekstual (naqli). Bukti akal telah dijelaskan sebelumnya dalam ayat An-Naml, dan mereka tidak mampu mendatangkan bukti tekstual selama periode panjang sejak turunnya surat (An-Naml) hingga turunnya surat (Al-Anbiya).
Karena mereka tidak mampu mendatangkan bukti tekstual, maka tepatlah bagi Rasulullah untuk mengatakan kepada mereka: “Bukti tekstual yang datang kepadaku dari Allah dalam Al-Quran membuktikan bahwa semua rasul Allah sebelumnya telah berkata kepada kaum mereka: ‘Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia.'”
3 – Dan firman Allah Yang Maha Kuasa dalam surat (Al-Baqarah/2 mushaf/87 urutan turunnya):
﴿وَقَالُوْا لَنْ يَّدْخُلَ الْجَنَّةَ اِلَّا مَنْ كَانَ هُوْدًا اَوْ نَصٰرٰى ۗ تِلْكَ اَمَانِيُّهُمْ ۗ قُلْ هَاتُوْا بُرْهَانَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ١١١ ﴾
“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: ‘Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani.’ Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: ‘Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.'”
Dalam ayat ini, Allah memerintahkan Rasul-Nya dan setiap penyeru kepada jalan Tuhannya dari umatnya untuk menuntut orang-orang yang mengklaim bahwa tidak akan masuk surga kecuali orang-orang Yahudi atau Nasrani untuk menunjukkan bukti tekstual mereka atas apa yang mereka klaim.
4 – Dan firman Allah Yang Maha Kuasa dalam surat (Ali Imran/3 mushaf/89 urutan turunnya):
﴿۞ كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلًّا لِّبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اِلَّا مَا حَرَّمَ اِسْرَاۤءِيْلُ عَلٰى نَفْسِهٖ مِنْ قَبْلِ اَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرٰىةُ ۗ قُلْ فَأْتُوْا بِالتَّوْرٰىةِ فَاتْلُوْهَآ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ٩٣ ﴾
“Semua makanan halal bagi Bani Israel kecuali makanan yang diharamkan oleh Israel (Ya’qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah: ‘Bawalah Taurat itu, lalu bacalah jika kamu orang-orang yang benar.'”
Hal ini karena orang-orang Yahudi mulai mengkritik Rasulullah ﷺ karena beliau memakan daging unta dan meminum susunya, padahal beliau menyatakan bahwa beliau mengikuti agama Ibrahim AS. Mereka mengklaim bahwa daging unta diharamkan dalam agama Ibrahim.
Maka Rasulullah ﷺ berkata kepada mereka: “Itu halal bagi Ibrahim, maka kami juga menghalalkannya.” Kemudian orang-orang Yahudi berkata: “Itu selalu diharamkan dalam agama Ibrahim dan Nuh AS.” Maka turunlah firman Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk meminta mereka menunjukkan bukti yang sahih atas klaim mereka, yaitu dalam firman-Nya: “Katakanlah: ‘Bawalah Taurat itu, lalu bacalah jika kamu orang-orang yang benar.'”
Aturan Keempat:
Agar pendebat tidak terikat dalam satu pun pemikiran dengan sesuatu yang bertentangan dengan klaim yang dia coba buktikan. Jika dia terikat dengan sesuatu yang demikian, maka dia seperti seseorang yang menghukumi dirinya sendiri bahwa klaimnya tertolak dari sudut pandangnya sendiri.
Di antara contoh gugurnya klaim seorang pendebat karena dia terikat dengan sesuatu yang bertentangan dengan klaimnya dan menerimanya: argumen sebagian orang yang mengingkari kerasulan Muhammad ﷺ karena beliau adalah “manusia”, dan klaim mereka bahwa pemilihan untuk menjadi rasul tidak diberikan kepada manusia, melainkan hanya untuk malaikat, atau dengan syarat bahwa bersama rasul dari kalangan manusia ada malaikat yang dapat dilihat. Dalam keberatan mereka terhadap kemanusiaan beliau, mereka berkata sebagaimana disebutkan dalam surat (Al-Furqan/25 mushaf/42 urutan turunnya):
﴿… مَالِ هٰذَا الرَّسُوْلِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِيْ فِى الْاَسْوَاقِۗ … ﴾
“…Mengapa rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar?”
Padahal mereka percaya pada kerasulan banyak rasul sebelumnya seperti Ibrahim, Musa, dan Isa AS, dan menurut pandangan mereka para rasul ini adalah manusia dan bukan malaikat. Karena itu, Allah Yang Maha Kuasa menggugurkan klaim mereka dengan firman-Nya dalam surat (Al-Furqan/25 mushaf/42 urutan turunnya):
﴿وَمَآ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ اِلَّآ اِنَّهُمْ لَيَأْكُلُوْنَ الطَّعَامَ وَيَمْشُوْنَ فِى الْاَسْوَاقِۗ… ٢٠ ﴾
“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.”
Aturan Kelima:
Tidak boleh ada pertentangan dalam klaim atau bukti yang diajukan oleh pendebat, artinya: sebagian ucapannya tidak boleh meniadakan bagian lainnya. Jika demikian, maka ucapannya dengan sendirinya menjadi gugur.
Di antara contohnya adalah perkataan orang-orang kafir ketika mereka melihat tanda-tanda yang menakjubkan turun kepada Rasulullah: “Ini adalah sihir yang berkelanjutan” jika yang dimaksud adalah keberlanjutan waktu, bukan bahwa sihir itu kuat dan hebat. Dalam klaim bahwa itu adalah sihir dan bahwa itu berkelanjutan secara temporal, terdapat pertentangan dan inkonsistensi yang jelas yang tidak layak mendapat bantahan. Hal ini karena sifat sihir sebagaimana mereka ketahui adalah tidak permanen, sedangkan sifat hal-hal yang permanen adalah bukan sihir. Adapun sesuatu menjadi sihir dan berkelanjutan sekaligus, ini adalah penggabungan aneh antara dua hal yang bertentangan yang tidak dapat disatukan.
Serupa dengan itu adalah perkataan Fir’aun tentang Musa ketika dia datang kepadanya dengan bukti yang jelas berupa argumen yang meyakinkan dan tanda-tanda yang menakjubkan: “Dia seorang penyihir atau orang gila.” Allah ﷻ berfirman dalam Surat Adz-Dzariyat/51 (mushaf/67 turun):
﴿وَفِيْ مُوْسٰىٓ اِذْ اَرْسَلْنٰهُ اِلٰى فِرْعَوْنَ بِسُلْطٰنٍ مُّبِيْنٍ ٣٨ فَتَوَلّٰى بِرُكْنِهٖ وَقَالَ سٰحِرٌ اَوْ مَجْنُوْنٌ ٣٩ ﴾
“Dan pada Musa (terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami mengutusnya kepada Fir’aun dengan membawa bukti yang nyata. Maka dia (Fir’aun) berpaling dengan kekuatannya, dan berkata, ‘Dia seorang penyihir atau orang gila.'”
Kedua hal ini hampir bertentangan satu sama lain. Secara logis tidak masuk akal bahwa satu orang dengan sifat-sifat yang sama bisa diragukan antara menjadi penyihir atau orang gila, karena seorang penyihir biasanya memiliki kecerdasan, kepintaran, dan kelicikan yang tinggi, dan ini bertentangan sepenuhnya dengan kegilaan. Jadi, bagaimana mungkin dalam pikiran Fir’aun bisa ada keraguan antara Musa sebagai penyihir atau orang gila?
Dalam perkataannya ini terdapat inkonsistensi yang jelas yang menggugurkannya dari pertimbangan dalam dialog dialektis, sehingga tidak layak mendapat jawaban. Hal ini menunjukkan bahwa Fir’aun menghindar dari logika kebenaran dan melontarkan ungkapan yang menyesatkan orang-orang di sekitarnya agar tidak terungkap kekalahannya oleh argumen Musa, atau dia beralih ke topik keberanian Musa di istana Fir’aun, menjelaskannya sebagai tindakan penyihir yang mengandalkan kekuatan sihirnya, atau tindakan orang gila yang tidak mempertimbangkan konsekuensi. Ini juga merupakan pengalihan dari logika argumen yang disampaikan Musa AS ke topik lain yaitu topik hukumannya.
Aturan Keenam:
Bukti yang diajukan oleh pendebat tidak boleh hanya mengulang klaim dasar. Jika demikian, maka itu bukan bukti, melainkan hanya pengulangan klaim dalam bentuk lain, dan kegagalan ini dalam perdebatan adalah hal yang jelas. Namun, hal ini mungkin tersembunyi dari pihak lain jika pendebat menggunakan keahliannya dalam mengubah kata-kata, menghiasinya, memberikan premis untuk itu, dan membangun cabang-cabang yang diklaim darinya. Padahal, hal tersebut tidak lebih dari trik palsu yang tidak digunakan oleh pencari kebenaran.
Aturan Ketujuh:
Tidak boleh mencela bukti-bukti pendebat kecuali dalam batas prinsip-prinsip logika, atau kaidah-kaidah yang telah disepakati oleh kedua pihak yang berdialog.
Aturan Kedelapan:
Menyatakan penerimaan terhadap masalah-masalah dan hal-hal yang merupakan hal-hal mendasar yang telah disepakati, atau hal-hal yang telah disepakati oleh kedua pihak yang berdialog untuk diterima.
Adapun bersikeras mengingkari hal-hal yang telah disepakati merupakan kesombongan yang buruk, dan perdebatan yang menyimpang dari prinsip-prinsip dialog dan perdebatan yang sehat, dan bukan merupakan sikap pencari kebenaran.
Aturan Kesembilan:
Menerima hasil-hasil yang ditunjukkan oleh bukti-bukti yang pasti atau bukti-bukti yang lebih kuat, jika topiknya termasuk yang cukup dengan bukti yang lebih kuat.
Jika tidak, perdebatan menjadi sia-sia yang tidak pantas dilakukan oleh orang-orang berakal.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
SEGMEN KELIMA
Contoh-contoh dari Petunjuk Dialektis Al-Qur’an
Contoh Pertama:
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam Surat Al-Maidah/5 (mushaf/112 turun):
﴿وَقَالَتِ الْيَهُوْدُ وَالنَّصٰرٰى نَحْنُ اَبْنٰۤؤُا اللّٰهِ وَاَحِبَّاۤؤُهٗ ۗ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوْبِكُمْ ۗ بَلْ اَنْتُمْ بَشَرٌ مِّمَّنْ خَلَقَۗ يَغْفِرُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَلِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖوَاِلَيْهِ الْمَصِيْرُ ١٨ ﴾
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: ‘Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.’ Katakanlah: ‘Mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?’ Tidak, kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang Dia ciptakan. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa yang Dia kehendaki. Dan milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya. Dan kepada-Nya lah tempat kembali.”
Dalam ayat ini terdapat pengajaran dialektis mengenai salah satu masalah keyakinan Yahudi dan Nasrani yang batil, dan urutan langkah-langkah dialog dialektis ini adalah sebagai berikut:
Penuduh: (dari kalangan Yahudi atau Nasrani berkata: “Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-Nya,” artinya: Allah tidak akan memasukkan kami ke dalam neraka Jahanam pada hari kiamat, meskipun kami melakukan dosa, kesalahan, dan kejahatan dalam kehidupan dunia).
Penyanggah: (dari kalangan orang beriman Muslim mengajukan pertanyaan yang membatalkan klaim penuduh, dengan berkata: “Mengapa Allah menyiksa kalian karena dosa-dosa kalian di dunia sebagaimana kalian mengalami beberapa hukuman duniawi? Jika kalian benar-benar anak-anak Allah dan kekasih-Nya, tentu kalian tidak akan mengalami hukuman-hukuman ini di kehidupan dunia.”
Penuduh: Tidak menemukan jawaban yang benar untuk menolak keberatan ini yang membuktikan kebalikan dari klaimnya, dan jika dia memberikan sesuatu, mungkin bisa dibantah. 649
Penyanggah: Bahkan kalian adalah manusia yang Allah ciptakan dari ciptaan-Nya, dan Allah Yang Maha Kuasa mengampuni siapa yang Dia kehendaki jika hikmah-Nya menuntut untuk mengampuninya, dan Dia tidak mengampuni orang yang mati dalam keadaan kafir, dan Dia menyiksa siapa yang Dia kehendaki jika hikmah-Nya menuntut untuk menyiksanya.
Tidak ada makhluk di seluruh alam yang menjadi anak Allah, tetapi semua selain Allah adalah milik-Nya “Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya.”
Adapun kehidupan dunia bagi seluruh manusia adalah perjalanan ujian, dan setelah ujian akan ada perhitungan dan balasan pada hari pembalasan di mana manusia dibangkitkan dan kembali kepada Tuhan mereka untuk membalas apa yang telah mereka lakukan dalam perjalanan ujian mereka “Dan kepada-Nya-lah tempat kembali.”
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Contoh Kedua:
Allah Yang Maha Kuasa berfirman dalam surah Al-Maidah juga:
﴿لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَۗ قُلْ فَمَنْ يَّمْلِكُ مِنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا اِنْ اَرَادَ اَنْ يُّهْلِكَ الْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَاُمَّهٗ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا ۗوَلِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۗ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ١٧ ﴾
“Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam.’ Katakanlah (Muhammad), ‘Siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al-Masih putra Maryam beserta ibunya dan seluruh (manusia) yang berada di bumi?’ Dan milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Dalam ayat ini terdapat pengajaran dialektis tentang salah satu masalah keyakinan Nasrani terhadap Isa ‘alaihissalam, dengan urutan sebagai berikut:
Penuduh: Berkata: Sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya adalah Isa bin Maryam, yang menjelma dalam sosok Isa, kemudian melepaskan diri dari personifikasi.
Penyanggah: (Orang beriman Muslim mengajukan pertanyaan yang membatalkan klaim tersebut dengan berkata: Bukankah Isa ‘alaihissalam makan dan minum dan mengalami kondisi yang dialami oleh manusia lainnya, termasuk kebinasaan dengan kematian biasa atau lainnya?
Penuduh: Ya, dia memang makan dan minum dan mengalami kondisi yang dialami oleh manusia, termasuk kebinasaan dengan kematian biasa atau lainnya.
Penyanggah: Mengajukan pertanyaan yang menegaskan pembatalan klaim dengan berkata: “Apakah ada seseorang yang mampu menolak kehendak Allah jika Allah ingin membinasakan Al-Masih putra Maryam dengan kematian biasa atau cara lainnya, dan membinasakan ibunya serta seluruh manusia? Artinya: bagaimana mungkin dia adalah Allah padahal dia bisa dibinasakan seperti manusia lain di bumi?”
Jika penuduh menjawab: “Tidak ada yang mampu melakukannya,” maka dia telah terikat untuk membuktikan bahwa Allah bukanlah Al-Masih Isa bin Maryam, dan perdebatan pun berakhir.
Dan jika dia berkelit dan tidak mengakui, maka penyanggah dapat memaksanya dan mempersempitnya hingga dia terputus argumennya, karena orang-orang Nasrani mengklaim bahwa Isa dicari dan mati, kemudian bangkit dari antara orang mati kemudian kembali.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Contoh Ketiga:
Allah Yang Maha Kuasa berfirman dalam surah Al-Baqarah/2 mushaf/87 turun):
﴿اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْ حَاۤجَّ اِبْرٰهٖمَ فِيْ رَبِّهٖٓ اَنْ اٰتٰىهُ اللّٰهُ الْمُلْكَ ۘ اِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّيَ الَّذِيْ يُحْيٖ وَيُمِيْتُۙ قَالَ اَنَا۠ اُحْيٖ وَاُمِيْتُ ۗ قَالَ اِبْرٰهٖمُ فَاِنَّ اللّٰهَ يَأْتِيْ بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِيْ كَفَرَ ۗوَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَۚ ٢٥٨ ﴾
“Tidakkah kamu memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim mengenai Tuhannya, karena Allah telah memberinya kerajaan (kekuasaan). Ketika Ibrahim berkata, ‘Tuhanku adalah Yang menghidupkan dan mematikan.’ Dia (Namrud) berkata, ‘Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata, ‘Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat.’ Maka bingunglah orang yang kafir itu. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.”
Dalam ayat ini terdapat kisah dialog dialektis yang terjadi antara Rasulullah Ibrahim ‘alaihissalam dan Namrud raja Irak kuno pada masanya, dan dalam kisah dialog ini terdapat pengajaran dialektis bagi umat Islam terutama para da’i di antara mereka.
Dialog dialektis ini berlangsung sesuai urutan berikut:
Penuduh: (Ibrahim ‘alaihissalam mengajak Namrud untuk beriman kepada Allah dan menyembah-Nya saja, dan menyebutkan kepadanya bahwa dia adalah Rasul Allah, Tuhannya, Tuhan segala sesuatu.
Penyanggah: (Namrud): “Bukankah aku, sebagai raja negeri, adalah tuhanmu?”
Ibrahim ‘alaihissalam: “Engkau bukanlah tuhanku, engkau hanyalah raja dan penguasa negeri.”
Namrud: “Lalu siapa Tuhanmu?”
Ibrahim: “Tuhanku adalah Yang menghidupkan dan mematikan.”
Namrud: “Aku menghidupkan dan mematikan,” dan dia membuktikan klaimnya ini dengan menghadirkan dua orang dari penjara, lalu membunuh salah satunya dan memaafkan yang lain, dengan ini dia memberikan ilusi bahwa dia memiliki sifat ketuhanan ini selama dia mampu menghidupkan dan mematikan.
Ibrahim: Dia tidak ingin masuk ke dalam perdebatan yang akan mengungkap kesalahan yang dibuat oleh Namrud, di mana Namrud menjadikan pembunuhan sebagai “kematian” dan pengampunan bagi orang yang seharusnya mati sebagai “menghidupkan”. Keduanya tidak dimaksudkan dalam argumen asli Ibrahim AS, karena yang dia maksud adalah menciptakan kehidupan dalam materi yang tidak hidup, dan mencabut kehidupan ini dengan sungguh-sungguh, bukan pencabutan melalui sebab-sebab yang Allah jadikan sebagai penyebab kematian yang terjadi dengan penciptaan dan kekuasaan Allah, dan ini adalah sesuatu yang tersedia bagi Namrud dan yang lainnya.
Namun Ibrahim memilih untuk beralih ke perbuatan lain dari sifat ketuhanan yang tidak bisa Namrud manipulasi, maka dia berkata kepadanya: “Sesungguhnya Allah, Tuhan segala sesuatu, Dialah yang mendatangkan matahari dari timur, maka datangkanlah dia dari barat jika kamu adalah tuhan yang menciptakan.”
Artinya: Di antara sifat-sifat Allah Sang Pencipta, Tuhan segala sesuatu, adalah bahwa Dia menjadikan sistem alam semesta di mana matahari datang dari arah timur, bukan dari arah barat. Dan siapa yang memiliki sifat ketuhanan di alam semesta pasti mampu membuatnya datang dari barat. Jika kamu adalah tuhan seperti yang kamu klaim, maka datangkanlah matahari dari barat.
Namrud: Dia terdiam karena tidak mampu memberikan bukti praktis yang membuktikan kemampuannya untuk mendatangkan matahari dari barat.
Terdiam: Artinya, dia terkejut dan bungkam kebingungan.
Dengan demikian berakhirlah perdebatan yang didasarkan pada dialog pemikiran dan penalaran dengan argumen logis yang benar.
Namun setelah itu, Namrud beralih ke tindakan kekerasan fisik untuk menghentikan Ibrahim dari dakwahnya, dia memerintahkan untuk membakarnya di hadapan orang banyak dari kaumnya, namun Allah menghinakan Namrud dan menyelamatkan Nabi dan Rasul-Nya, Ibrahim.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Contoh Keempat:
Allah Yang Maha Kuasa berfirman dalam Surah Al-An’am/6 (Mushaf/55 turun):
﴿وَمَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖٓ اِذْ قَالُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ عَلٰى بَشَرٍ مِّنْ شَيْءٍۗ قُلْ مَنْ اَنْزَلَ الْكِتٰبَ الَّذِيْ جَاۤءَ بِهٖ مُوْسٰى نُوْرًا وَّهُدًى لِّلنَّاسِ تَجْعَلُوْنَهٗ قَرَاطِيْسَ تُبْدُوْنَهَا وَتُخْفُوْنَ كَثِيْرًاۚ وَعُلِّمْتُمْ مَّا لَمْ تَعْلَمُوْٓا اَنْتُمْ وَلَآ اٰبَاۤؤُكُمْ ۗقُلِ اللّٰهُ ۙثُمَّ ذَرْهُمْ فِيْ خَوْضِهِمْ يَلْعَبُوْنَ ٩١ ﴾
“Dan mereka tidak menghargai Allah sebagaimana mestinya ketika mereka berkata, ‘Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia.’ Katakanlah (Muhammad), ‘Siapakah yang menurunkan Kitab (Taurat) yang dibawa Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, yang kamu jadikan lembaran-lembaran kertas, yang kamu perlihatkan (sebagiannya) dan banyak yang kamu sembunyikan, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang tidak kamu ketahui, baik kamu maupun nenek moyangmu?’ Katakanlah, ‘Allah-lah (yang menurunkannya),’ kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.”
Dalam ayat ini, Allah Yang Maha Kuasa mengajarkan kepada Rasul-Nya Muhammad ﷺ, dan kepada setiap pendakwah umatnya, bagaimana berdebat dengan sekelompok orang Yahudi yang mengklaim bahwa Allah tidak menurunkan apapun kepada manusia, dengan tujuan menyimpulkan bahwa Al-Qur’an bukanlah wahyu dari Allah. Susunan dialog perdebatan ini berlangsung sebagai berikut:
Penuduh (orang Yahudi) berkata untuk menolak kerasulan Muhammad ﷺ dan menolak beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan Allah kepadanya: “Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia.”
Ini adalah klaim yang jika benar akan membuktikan bahwa Al-Qur’an bukanlah wahyu dari Allah dan Muhammad bukanlah seorang rasul.
Pembantah (orang beriman Muslim yang menyeru kepada jalan Tuhannya) mengajukan pertanyaan yang jawabannya akan membatalkan klaim tersebut, dengan berkata: “Siapakah yang menurunkan Kitab yang dibawa Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, yaitu Taurat, yang ada pada kalian, yang kalian tulis dalam lembaran-lembaran yang beragam dan dibagi menjadi bagian-bagian, yang sebagiannya kalian perlihatkan dan banyak yang kalian sembunyikan untuk kepentingan kalian sendiri, dan melalui kitab ini kalian telah diajarkan ilmu-ilmu agama yang sebelumnya tidak diketahui oleh kalian dan nenek moyang kalian?”
Penuduh: Ia akan mengakui bahwa kitab yang dibawa Musa diturunkan dari Allah, dengan demikian klaimnya gugur, atau ia akan berkelit dengan kebatilan dan pada saat itulah pendakwah kepada Allah dapat mendesaknya hingga ia terputus dan keluar kalah dari arena perdebatan, sombong dan jatuh di mata para penonton.
Di sinilah orang beriman yang menyeru kepada jalan Tuhannya mengumumkan sebagaimana Allah ajarkan: Yang menurunkan kitab yang dibawa Musa, dan menurunkan kitab yang dibawa Muhammad AS, kemudian ia membiarkan orang-orang Yahudi yang kafir bermain-main dalam kesesatan mereka.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Contoh Kelima:
Allah Yang Maha Kuasa berfirman dalam Surah Al-Mu’minun/23 (Mushaf/74 turun) mengajarkan kepada Rasul-Nya dan setiap pendakwah dari umatnya yang menyeru kepada jalan Tuhan mereka:
﴿قُلْ لِّمَنِ الْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهَآ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ٨٤ سَيَقُوْلُوْنَ لِلّٰهِ ۗقُلْ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ ٨٥ قُلْ مَنْ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ ٨٦ سَيَقُوْلُوْنَ لِلّٰهِ ۗقُلْ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ ٨٧ قُلْ مَنْۢ بِيَدِهٖ مَلَكُوْتُ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُوَ يُجِيْرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ٨٨ سَيَقُوْلُوْنَ لِلّٰهِ ۗقُلْ فَاَنّٰى تُسْحَرُوْنَ ٨٩ بَلْ اَتَيْنٰهُمْ بِالْحَقِّ وَاِنَّهُمْ لَكٰذِبُوْنَ ٩٠ مَا اتَّخَذَ اللّٰهُ مِنْ وَّلَدٍ وَّمَا كَانَ مَعَهٗ مِنْ اِلٰهٍ اِذًا لَّذَهَبَ كُلُّ اِلٰهٍۢ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يَصِفُوْنَ ۙ ٩١ عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ ࣖ ٩٢ ﴾
“Katakanlah (Muhammad), ‘Milik siapakah bumi dan semua yang ada di dalamnya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Milik Allah.’ Katakanlah, ‘Maka mengapa kamu tidak ingat?’ Katakanlah, ‘Siapakah Tuhan yang memiliki langit yang tujuh dan Tuhan yang memiliki Arasy yang agung?’ Mereka akan menjawab, ‘Milik Allah.’ Katakanlah, ‘Maka mengapa kamu tidak bertakwa?’ Katakanlah, ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan segala sesuatu, Dia melindungi, dan tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Milik Allah.’ Katakanlah, ‘Lalu mengapa kamu terpedaya?’ Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, tetapi mereka adalah pendusta. Allah tidak mempunyai anak, dan tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau tidak, tentu masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan, Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”
Dalam teks ini terdapat pengajaran dialektis yang Allah ajarkan kepada Rasul-Nya dan setiap pendakwah dari umatnya yang menyeru kepada jalan Tuhan mereka. Teks ini mencakup beberapa putaran perdebatan dengan kaum musyrikin yang mengambil tuhan-tuhan selain Allah, yang mereka sembah dengan harapan dapat mendatangkan manfaat dan menolak bahaya dalam urusan dunia mereka. Setiap putaran dari perdebatan ini bergantung pada pengajuan pertanyaan dan penerimaan jawaban atasnya, kemudian dilanjutkan sesuai dengan jawaban yang diberikan oleh kaum musyrikin yang ditanya.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Putaran Pertama:
Penuduh (kaum musyrikin): Mereka yang mengklaim bahwa Allah memiliki sekutu dalam ketuhanan-Nya.
Pembantah (pendakwah ke jalan Allah): Mengajukan pertanyaan terkait konsekuensi bahwa Allah Yang Maha Kuasa adalah Tuhan yang tidak memiliki sekutu dalam rububiyah-Nya (ketuhanan-Nya) atas bumi dan apa yang ada di dalamnya, dengan berkata: “Katakanlah (Muhammad), ‘Milik siapakah bumi dan semua yang ada di dalamnya, jika kamu mengetahui?'”
Konsekuensi dari rububiyah Allah atas bumi dan apa yang ada di dalamnya adalah bahwa bumi dan apa yang ada di dalamnya adalah milik-Nya Yang Maha Agung.
Artinya: Kepada siapa kepemilikan bumi dan apa yang ada di dalamnya kembali? Dialah yang mengatur kerajaan-Nya dan menjalankan urusan-Nya sesuai dengan hikmah-Nya, termasuk memberi dan menahan, mendatangkan mudarat dan manfaat, kehidupan dan kematian?
Penuduh (kaum musyrikin): “Ini adalah milik tuhan-tuhan yang kami persembahkan kurban kepadanya, yang kami panggil, yang kami berlindung dan kami berlindung kepadanya.”
Pembantah (pendakwah ke jalan Tuhannya): “Bagaimana bumi dan siapa yang ada di dalamnya bisa menjadi milik tuhan-tuhan yang kalian ambil selain Allah, padahal kalian beriman bahwa Allah-lah yang menciptakannya, dan Dia-lah yang menciptakan kalian, sebagaimana yang telah disebutkan dalam pengakuan-pengakuan kalian sebelumnya yang kami dengar dari kalian dalam banyak majelis?!”
Penuduh (kaum musyrikin): “Sesungguhnya Allah sang Pencipta telah mendelegasikan tuhan-tuhan ini dalam urusan bumi dan apa yang ada di dalamnya, maka itu menjadi milik mereka melalui pendelegasian.”
Pembantah: “Apakah kalian memiliki bukti logis, atau bukti tekstual berita dari Allah, atau bukti empiris yang membuktikan apa yang kalian klaim? Jika kalian memiliki sesuatu dari itu, maka tunjukkanlah bukti kalian.”
Di sinilah kaum musyrikin berhenti, karena mereka tidak memiliki bukti logis, tidak memiliki bukti tekstual berita dari Allah Yang Maha Kuasa, dan tidak memiliki bukti empiris yang dapat mereka buktikan dengan yakin. Namun mereka mungkin berdalih dengan perkataan-perkataan tentang pengalaman-pengalaman yang terjadi pada sebagian dari mereka, yang termasuk cerita-cerita yang tidak memiliki dasar untuk bertahan menghadapi kritik ilmiah.
Dan pendakwah ke jalan Allah tidak akan kesulitan untuk menjatuhkan dalih-dalih mereka dengan kritik dan bantahan, serta menyajikan apa yang menunjukkan ketidaklayakan dalih tersebut untuk menjadi argumen yang dapat diandalkan oleh para pemikir.
Kemudian pendakwah ke jalan Allah pada akhir putaran yang bisa panjang atau pendek dapat mewajibkan kaum musyrikin, atau mengambil pengakuan mereka bahwa bumi dan apa yang ada di dalamnya hanya milik Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan hanya Dia sendiri yang mengatur kerajaan-Nya, dan bertindak di dalamnya sesuai dengan hikmah-Nya yang dilingkupi oleh pengetahuan-Nya dan rahmat-Nya yang meliputi segala sesuatu.
Dan dalam keadaan mereka mengakui kebenaran, mereka berkata: “Allah.”
Tetapi pengakuan ini tidak terjadi secara otomatis setelah pertanyaan, melainkan datang setelah pengepungan pemikiran dalam perdebatan intelektual ilmiah yang bergantung pada bukti-bukti demonstratif, untuk ini Allah Yang Maha Kuasa berfirman:
“Mereka akan menjawab: Allah.”
Artinya: mereka akan berkata di masa depan setelah berdebat dengan cara yang terbaik dan pengepungan pemikiran dan persuasi: “Bumi dan siapa yang ada di dalamnya adalah milik Allah, dan tidak ada seorangpun selain-Nya yang memiliki apa pun dari itu, atau memiliki kekuasaan di dalamnya.”
Dan ketika mereka sampai pada pengakuan ini dan menyatakannya, pendakwah ke jalan Allah mengarahkan nasihatnya kepada mereka, mendorong mereka untuk mengingat.
Artinya: agar mereka selalu menyimpan dalam ingatan mereka bahwa bumi dan siapa yang ada di dalamnya dalam hal kepemilikan, pengaturan, pengelolaan menyeluruh, dan kekuasaan penuh adalah milik Allah semata. Jika mereka selalu menyimpan hal ini dalam ingatan mereka, mereka akan mendapati diri mereka menyembah Allah semata, menggugurkan dari diri mereka tuhan-tuhan yang tidak memiliki kekuasaan apa pun. Maka dalam pengajaran ini Allah Ta’ala berfirman:
“Katakanlah, ‘Maka mengapa kamu tidak ingat?'” Dan dalam bacaan mayoritas pembaca (Al-Qur’an): “Maka mengapa kamu tidak ingat?” Pertanyaan di sini bermakna dorongan dan motivasi untuk mengingat kebenaran ini yang telah mereka capai pemahamannya dan telah mereka akui. Peringatan ini dari waktu ke waktu seharusnya mendorong untuk selalu membuang kesyirikan dan menyembah Allah semata yang tidak memiliki sekutu.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Putaran Kedua:
Pembantah (pendakwah ke jalan Tuhannya): Mengajukan pertanyaan tentang Tuhan langit yang tujuh dan Tuhan ‘Arsy yang agung, dengan berkata kepada kaum musyrikin sebagaimana dalam pengajaran dialektis Al-Qur’an:
“Siapakah Tuhan langit yang tujuh dan Tuhan ‘Arsy yang agung?”
Artinya: Siapakah yang memiliki urusan pengawasan operasi pengelolaan dan pengaturan terhadap perubahan-perubahan berkelanjutan di langit yang tujuh dan di ‘Arsy yang agung?
Inilah yang ditunjukkan oleh kata “Rabb” karena “Rabb” pada asalnya adalah masdar (kata benda) seperti tarbiyah (pendidikan). Tarbiyah adalah menciptakan sesuatu tahap demi tahap hingga mencapai kesempurnaan, kemudian kata “Rabb” dipinjam dari bentuk masdar menjadi isim fa’il (kata yang menunjukkan pelaku), yaitu “murabbi” (pendidik). Dan karena tarbiyah yang hakiki adalah milik Allah Yang Maha Kuasa, karena Dialah yang menciptakan segala sesuatu dan membentuknya tahap demi tahap, maka yang paling berhak disebut bahwa Dia adalah “Rabb bagi segala sesuatu”, yaitu: Pencipta, Pembentuk yang selalu memberikan anugerah tarbiyah kepada siapa dan apa yang Dia didik, dan Dia selalu mengawasi semuanya, dan meliputi semuanya dengan ilmu, kekuasaan, dan penguasaan.
Maka “Rabb” bukanlah sekadar pencipta yang menciptakan makhluk-Nya, kemudian menyerahkan pengaturan urusan mereka setelah penciptaan kepada tuhan-tuhan selain-Nya. Sesungguhnya “Rabb” adalah yang terus-menerus memberikan tarbiyah, dan Dia yang menguasai urusan makhluk-Nya secara terus-menerus, dan bagi-Nya seluruh urusan mereka tanpa pengecualian.
Adapun kaum musyrikin, mereka beriman sesuai pengakuan mereka bahwa Allah adalah Pencipta, tetapi mereka tidak beriman bahwa Allah adalah “Rabb” yang mengatur, menguasai, dan mengurus segala hal yang Dia ciptakan secara terus-menerus, dan di tangan-Nya seluruh urusan.
Penuduh (kaum musyrikin): Mereka berhenti dan tidak mengakui bahwa Allah adalah Tuhan langit yang tujuh dan Tuhan ‘Arsy yang agung sesuai dengan pengertian yang telah dijelaskan sebelumnya. Mereka mungkin berkata: “Sesungguhnya urusan pengelolaan langit yang tujuh dan urusan ‘Arsy yang agung adalah milik berbagai tuhan di langit, yang Allah telah mendelegasikan kepada mereka untuk mengatur urusannya, atau mereka adalah sekutu-sekutu Allah dalam pengaturan dan kekuasaan. Merekalah yang mengatur urusan benda-benda dan makhluk hidup di dalamnya, dan dengan perintah dan kekuasaan merekalah peristiwa-peristiwa terjadi.”
Dan seperti yang terjadi pada putaran pertama, pendakwah kepada Allah melanjutkan perdebatannya hingga ia berhasil mengambil pengakuan dari kaum musyrikin bahwa: pengaturan urusan langit yang tujuh dan urusan ‘Arsy yang agung hanyalah dilakukan oleh seorang pendidik yang mengawasi setiap hal kecil dan besar, yaitu Allah semata yang tidak memiliki sekutu dalam rububiyah-Nya.
Dan hal ini tidak dapat dicapai kecuali setelah pengepungan pemikiran dan perjuangan panjang, dalam perdebatan intelektual ilmiah, oleh karena itu Allah Yang Maha Kuasa berfirman dalam pengajaran:
“Mereka akan menjawab: Allah.”
Maka Yang Maha Suci dan Maha Tinggi menjelaskan bahwa perkataan mereka ini tidak terjadi secara otomatis dari keyakinan yang sudah ada pada mereka, tetapi mereka mengatakannya setelah waktu yang diungkapkan oleh huruf Sin yang menunjukkan masa depan dekat. Dan pasti ada perdebatan intelektual ilmiah antara pertanyaan dan pengakuan masa depan yang dibangkitkan oleh pendakwah kepada Allah, dan ia menyajikan argumen dan bukti, sampai ia mencapai persuasi yang diharapkan, dan mengambil pengakuan kaum musyrikin bahwa semua unsur rububiyah adalah milik Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Dan ketika ia mengambil pengakuan ini dari mereka, baik baginya untuk mengarahkan kepada mereka dengan gaya pertanyaan yang mendorong bercampur dengan teguran, ucapannya kepada mereka: “Maka mengapa kamu tidak bertakwa?” sebagaimana datang dalam pengajaran. Artinya: Tidakkah kalian memiliki akal untuk membuang sekutu-sekutu kalian, dan benar-benar mentauhidkan Allah, dengan semua unsur rububiyah-Nya, dan semua unsur ketuhanan-Nya, sehingga kalian tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, dan tidak menyembah selain-Nya, agar kalian bertakwa dari azab-Nya.
Dan pertanyaan dalam ungkapan “Maka mengapa kamu tidak bertakwa?” mengandung makna mencela dan makna dorongan untuk berpikir dengan pemahaman yang benar, dan berpikir dengan mengendalikan diri dari mengikuti hawa nafsu dan tradisi buta, dengan kehendak yang sadar dan tegas, sehingga mereka melindungi diri mereka dari azab yang besar yang telah Tuhan siapkan bagi kaum musyrikin.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Putaran Ketiga
Penentang: (Sang penyeru ke jalan Tuhannya mengajukan pertanyaan tentang siapa yang memiliki kendali penuh atas segala sesuatu di alam semesta dan memiliki hak untuk memerintah dan melarang, lalu dia berkata kepada kaum musyrikin sebagaimana disebutkan dalam ajaran dialektika Al-Qur’an:
Siapakah yang memiliki kekuasaan atas segala sesuatu, yang memberi perlindungan dan tidak ada yang dapat melindungi dari-Nya, jika kalian mengetahui?? Yaitu: kepada siapakah kalian menisbatkan pengendalian atas kerajaan yang mencakup segala sesuatu di alam semesta, yang memiliki kemuliaan dan kekuasaan, keagungan serta hak untuk memerintah dan melarang tanpa ada yang menentang, tanpa ada yang setara, tanpa ada yang bersaing, dan tanpa ada sekutu? “Malakut” adalah bentuk intensif dari kata “mulk” yang berarti kekuasaan, kemuliaan, dan kemampuan untuk mengendalikan secara penuh dan menyeluruh, dan pemiliknya memiliki hak untuk memerintah dan melarang, seperti: “rahabut” dari kata “rahbah” (ketakutan), dan “rahamut” dari kata “rahmah” (kasih sayang), ini adalah bentuk-bentuk khusus yang mengandung makna intensif untuk menunjukkan kesempurnaan makna yang ditunjukkannya).
“Dan Dia yang melindungi dan tidak ada yang dapat memberi perlindungan dari-Nya”, yaitu: siapa pun yang meminta perlindungan kepada-Nya, maka Dia akan mencukupinya, menolak (bahaya) darinya dan melindunginya. Adapun orang yang Allah kehendaki keburukan untuknya, maka dia tidak akan mendapatkan siapa pun setelah Allah yang dapat melindunginya, mencukupinya, menjaganya, atau menolak (bahaya) darinya.
Kaum musyrikin berhenti, mereka tidak mengakui bahwa hanya Allah yang memiliki kekuasaan atas segala sesuatu, dan Dia melindungi dan tidak ada yang dapat melindungi dari-Nya, karena mereka meyakini bahwa tuhan-tuhan mereka selain Allah memiliki kekuasaan untuk mengatur peristiwa-peristiwa alam semesta dan pengaturannya, atau memiliki kendali atas sebagiannya, dan mereka meyakini bahwa tuhan-tuhan itu memiliki hukum, kekuasaan, perintah dan larangan, karena itulah mereka menyembahnya dan mendekatkan diri kepadanya dengan berbagai persembahan.
Dan di sinilah sang penentang yang menyeru kepada Allah menemukan dalam perkataan kaum musyrikin sesuatu yang dapat dia gunakan untuk menuntut mereka memberikan bukti atas apa yang mereka klaim.
Dan kaum musyrikin tidak menemukan bukti sahih apa pun yang dapat diterima akal untuk membuktikan apa yang mereka klaim. Dan sang penyeru kepada Allah dengan mudah dapat menjatuhkan semua dalih mereka, dan mengepung mereka dengan bukti-bukti yang nyata.
Maka barangsiapa di antara kaum musyrikin yang mampu melepaskan diri dari khayalan-khayalannya, setelah dikepung dengan argumen logis-ilmiah, dan setelah mencapai keyakinan yang cukup pada tauhid yang benar, maka dia akan berkata sebagaimana disebutkan dalam ajaran: “Milik Allah”. Artinya: Milik Allah-lah kekuasaan atas segala sesuatu dan Dia-lah yang melindungi dan tidak ada yang dapat memberi perlindungan dari-Nya.
Dan dalam teks, pengungkapan pengakuan ini pada akhirnya dinyatakan dengan ungkapan: “Mereka akan mengatakan milik Allah”.
Maka Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung menerangkan bahwa pengakuan mereka ini tidaklah terjadi secara spontan dari keyakinan yang sudah ada, tetapi mereka mengatakannya setelah waktu yang diungkapkan dengan huruf “sin” yang menunjukkan masa depan yang dekat.
Dan di antara pertanyaan yang diajukan oleh “penyeru kepada Allah” dan pengakuan yang akan datang di masa depan, terdapat perdebatan dengan cara yang terbaik yang didasarkan pada prinsip-prinsip logis-ilmiah yang dibangkitkan oleh “penyeru kepada Allah” yang bekerja untuk membatalkan keyakinan kaum musyrikin.
Dan ketika kaum musyrikin sampai pada pengakuan ini, maka baik bagi penyeru ke jalan Tuhannya untuk mengarahkan kepada mereka dengan gaya pertanyaan yang mengandung keheranan, lalu dia berkata kepada mereka sebagaimana disebutkan dalam ajaran: “Maka bagaimana kamu bisa tersihir?” Artinya: bagaimana kamu bisa tunduk pada pengaruh sihir para setan terhadapmu melalui khayalan, bisikan dan tipu daya pemikiran yang batil, lalu kamu mengikuti mereka, sehingga kamu menyembah tuhan-tuhan selain Allah, dan kamu percaya bahwa mereka adalah sekutu-sekutu Allah dalam beberapa karakteristik ketuhanan-Nya, hukum-Nya dan kekuasaan-Nya, padahal Allah saja yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu, dan Dia-lah yang melindungi dan tidak ada yang dapat memberi perlindungan dari-Nya?!
Dan setelah dialog dialektis ini menyelesaikan unsur-unsurnya dalam tiga babaknya, dan telah didahului dalam tahap-tahap pewahyuan Al-Qur’an beberapa dialog dialektis, yang terkandung dalam bagian-bagian wahyu Al-Qur’an yang mulia yang diturunkan sebelum teks ini dari surah (Al-Mu’minun/23 dalam mushaf/74 urutan turun), Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung berfirman di akhir pengajaran:
﴿بَلْ اَتَيْنٰهُمْ بِالْحَقِّ وَاِنَّهُمْ لَكٰذِبُوْنَ ٩٠ ﴾
“Bahkan Kami telah mendatangkan kepada mereka kebenaran, dan sesungguhnya mereka benar-benar pendusta.”
Artinya: Urusan ini tidak seperti yang diklaim oleh kaum musyrikin, bahkan Kami telah mendatangkan kepada mereka melalui apa yang Kami utus dengan Rasul Muhammad berupa kebenaran, dan sesungguhnya mereka dalam kemusyrikan mereka dan dalam tuduhan-tuduhan mereka terhadap Rasul dan terhadap Al-Qur’an benar-benar pendusta.
Tetapi kebenaran itu adalah:
﴿مَا اتَّخَذَ اللّٰهُ مِنْ وَّلَدٍ وَّمَا كَانَ مَعَهٗ مِنْ اِلٰهٍ اِذًا لَّذَهَبَ كُلُّ اِلٰهٍۢ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يَصِفُوْنَ ۙ ٩١ عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ ࣖ ٩٢ ﴾
“Allah tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada Tuhan beserta-Nya, masing-masing Tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan, Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”
Artinya:
- Allah tidak mengambil anak seperti yang diklaim oleh orang-orang kafir.
- Dan tidak ada beserta-Nya tuhan yang berhak disembah dan tidak akan pernah ada sebagaimana yang mereka klaim. Seandainya ada beserta-Nya tuhan yang memiliki hak ketuhanan (yaitu: untuk disembah selain Allah), tentu dia akan memiliki bagian bersama Allah dalam ketuhanan-Nya, kekuasaan-Nya, dan kemuliaan-Nya di alam semesta, berdasarkan hubungan logis antara ketuhanan dan kekuasaan.
Jika tuhan-tuhan yang mereka sembah selain Allah memiliki ketuhanan yang sejati, tentu mereka akan berbagi dengan Allah dalam ketuhanan-Nya, dan jika mereka berbagi dengan Allah dalam ketuhanan-Nya: “Kalau begitu, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain.”
Karena ini adalah apa yang pasti akan terjadi jika tuhan-tuhan dan penguasa-penguasa itu berbilang, dengan apa yang mereka miliki berupa dominasi, kekuasaan, dan kemuliaan di alam semesta, serta kemampuan untuk melaksanakan apa yang mereka inginkan. Tetapi tidak ada satupun dari hal itu yang terjadi, bahkan seluruh alam semesta tunduk pada satu sistem dan satu kekuasaan.
Jadi: tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan tidak ada penguasa kecuali Allah. Jadi: tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah.
Dan sesungguhnya menjadikan tuhan-tuhan yang disembah selain Allah mengharuskan keyakinan bahwa tuhan-tuhan ini adalah sekutu-sekutu bagi Allah dalam ketuhanan-Nya, padahal Allah telah menyucikan diri-Nya dari hal itu dan Maha Tinggi dengan ketinggian yang besar. Maka Allah Yang Maha Mulia dan Agung berfirman di akhir teks:
“Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan. Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”
Artinya: penyucian bagi Allah sebagaimana Dia menyucikan diri-Nya dari apa yang disifatkan oleh kaum musyrikin berupa sekutu-sekutu bagi Allah Yang Maha Mulia dan Agung. Dia adalah Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, maka Maha Tinggi, Maha Agung, dan Maha Luhur Dia dari apa yang dipersekutukan oleh semua kaum musyrikin.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Penutup:
Ajaran-ajaran dialektika Al-Qur’an menunjukkan bahwa seorang penyeru ke jalan Tuhannya harus memulai dengan mengenali posisi pemikiran yang dianut oleh mereka yang diajak, dan menetapkan apa yang dia temukan sebagai kebenaran, kemudian beralih ke yang lainnya secara bertahap.
Dan setiap kali dia berhasil memindahkan orang yang diajak ke posisi baru, dia menetapkannya di sana, dan menganggapnya sebagai posisi baru untuk beralih darinya ke yang lain.
Dan begitu seterusnya sampai dia mencapai keyakinan dengan semua unsur keimanan, lalu keislaman.
Dan demikian pula seharusnya kondisi orang yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, di mana dia harus memulai dari yang paling penting, kemudian yang penting, kemudian yang di bawahnya, langkah demi langkah secara bertahap. Dan inilah yang diwajibkan oleh kebijaksanaan dalam dakwah kepada Allah, dan dalam memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Alhamdulillah, selesai terjemah jilid 4.
[1] Saya memilih untuk menganggapnya sebagai cara-cara untuk membedakannya dari metode, karena metode adalah jalan yang jelas, sedangkan cara (sabīl) adalah jalan, baik itu sempit atau luas, dan berlaku untuk jalan di darat, udara, laut, materi, dan non-materi, seperti firman Allah: “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah bahwa ambillah jalan Tuhanmu yang mudah.”
[2]Musik: Ilmu yang mengungkap jenis-jenis suara, nada, tingkatan, dan interval ritmenya. Ini seperti ilmu arudh (prosodi) untuk puisi. Musik bukanlah alat musik itu sendiri, melainkan alat musik adalah instrumen untuknya. Dimungkinkan untuk mempelajari ilmu musik tanpa menggunakan instrumen buatan yang diharamkan.
[3] Disarankan untuk merujuk pada buku “Akhlak Islamiyah wa Ususuha” yang terdiri dari dua jilid besar.
[4] Lihatlah kitab Dhawābiṭ al-Maʿrifah wa Uṣūl al-Istidlāl wa al-Munāẓarah karya penulis.
[5] Rujuklah dalam hal ini kepada muqaddimah kitab Al-ʿAqīdah al-Islāmiyyah wa Ususuha karya penulis, serta apa yang disebutkan dalam pembahasan tentang Mu’jizat di dalamnya.
[6] Lihat Tafsir Ibnu Katsir.
29. FIKIH DAKWAH JILID 04 (TERAKHIR)
Penulis : Abdurrahman Hasan Habannakah Al-Maidani
Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.







