FIKIH DAKWAH JILID 02

Kamis, 8 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

FIKIH DAKWAH KEPADA ALLAH

NASIHAT, BIMBINGAN, MENGAJAK PADA KEBAIKAN DAN MENCEGAH KEMUNGKARAN

BAB KEDUA

SIFAT-SIFAT YANG HARUS DIMILIKI OLEH PARA PEMBAWA RISALAH

 

Yang terdiri dari enam pasal:

  1. Pasal Pertama: Kewajiban pembawa risalah untuk memiliki sifat sabar dan tidak gelisah, serta tidak berputus asa meskipun menghadapi kesulitan yang berat dan hasil dari usaha-usaha baiknya tampak lemah.
  2. Pasal Kedua: Kewajiban pembawa risalah untuk memiliki sifat tidak terikat kepentingan pribadi di antara orang-orang yang dia sampaikan risalahnya.
  3. Pasal Ketiga: Kewajiban pembawa risalah untuk memiliki akhlak mulia dan perilaku yang baik, serta menerapkan apa yang dia serukan dari keutamaan-keutamaan Islam dan hukum-hukumnya.
  4. Pasal Keempat: Kewajiban pembawa risalah untuk memiliki sifat-sifat yang Allah Azza wa Jalla sebutkan sebagai sifat-sifat hamba-hamba Ar-Rahman, agar menjadi teladan yang baik.
  5. Pasal Kelima: Kewajiban pembawa risalah untuk memiliki kemampuan dalam menjelaskan.
  6. Pasal Keenam: Kewajiban pembawa risalah untuk memiliki kemampuan ilmiah.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

PASAL PERTAMA

Kewajiban Pembawa Risalah untuk Memiliki Sifat Sabar, Tidak Gelisah dan Putus Asa Meskipun Menghadapi Kesulitan yang Berat dan Melihat hasil dari Usaha-usaha Baiknya Tampak Melemah

 

Di dalamnya terdapat empat pernyataan:

  1. Pernyataan Pertama: Nilai akhlak sabar dan kewajiban pembawa risalah untuk memilikinya.
  2. Pernyataan Kedua: Teks-teks Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat perintah untuk bersabar bagi para pembawa risalah dari umat Muhammad.
  3. Pernyataan Ketiga: Teks-teks Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat perintah untuk bersabar kepada Rasulullah ﷺ, dan diikuti oleh para pembawa risalahnya dari umatnya.
  4. Pernyataan Keempat: Contoh-contoh dari perjalanan hidup Rasulullah ﷺ dalam hal kesabaran.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

PERNYATAAN PERTAMA

Nilai Akhlak Penyabar dan Kewajiban Pembawa Risalah untuk Memilikinya

 

Sabar adalah akhlak jiwa yang bersifat fitrah ataupun akhlak yang bisa diperoleh dengan usaha, yang memiliki dampak berupa kemampuan untuk tekun dalam amalan-amalan lahir maupun batin, dan kemampuan untuk menanggung kesulitan-kesulitan jiwa dan fisik, yang bertentangan dengan hawa nafsu, syahwat dan keinginan-keinginannya dalam melakukan apa yang tidak disukai untuk dilakukan, atau meninggalkan apa yang disukai untuk dilakukan.

Sabar adalah akhlak yang memungkinkan orang yang memilikinya dan menempatkannya pada tempat yang sesuai untuk meraih hasil-hasil terbaik yang ingin diperolehnya, dari amalan-amalan lahir maupun batin yang dilakukannya.

Sabar termasuk sifat-sifat jiwa yang paling agung yang memiliki pengaruh pada perilaku batin dan lahir, dan memiliki nilai yang berharga, yang dimiliki oleh orang-orang berakal yang memiliki kemauan kuat, dan jiwa-jiwa yang tinggi lagi suci.

Sabar adalah salah satu sifat Allah Yang Maha Agung, di antara nama-nama-Nya Yang Maha Suci dan Maha Tinggi adalah “Ash-Shabur” (Yang Maha Sabar). Dia mencintai orang-orang yang sabar, Dia bersama orang-orang yang sabar, dan Dia memberi kabar gembira kepada orang-orang yang sabar dengan hasil-hasil yang mereka sukai dan dengan pahala yang besar di sisi-Nya. Hal ini disebutkan dalam teks-teks Al-Qur’an: “Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar” – “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” – “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” – “Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” dan teks-teks lainnya.

Di antara dua pihak yang berselisih atau pihak yang bersaing yang memiliki kekuatan yang setara atau hampir setara, yang paling berpeluang untuk meraih apa yang diinginkannya adalah yang paling sabar di antara keduanya.

Orang yang tidak memiliki akhlak sabar akan terkena kebosanan dan kejenuhan, lalu kegelisahan, dan akhirnya terkena penyakit putus asa dan meninggalkan pekerjaan yang sedang dijalaninya. Banyak orang yang terkena penyakit putus asa lalu meninggalkan pekerjaannya, seandainya dia bersabar walau sebentar, niscaya dia akan meraih apa yang ingin dicapainya, atau bahkan lebih dari apa yang ingin dicapainya.

Dan orang yang paling membutuhkan untuk memiliki sifat sabar adalah mereka yang membawa misi dakwah kepada Allah, ke jalan-Nya yang lurus, memberikan nasihat dan bimbingan, mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran, serta mengemban tugas-tugasnya.

Rasa bosan, jenuh dan gelisah membuat pembawa misi putus asa akan manfaat pelaksanaan misinya, sehingga ia berhenti melaksanakannya atau meremehkan dalam menjalankannya. Terkadang ia memilih mengasingkan diri dari orang lain dan menyendiri, bahkan mungkin ia akan mendapati dirinya bersama keluarganya setelah beberapa waktu – lama atau sebentar – terbawa arus pengaruh lingkungan tempat ia tinggal, dan mengompromikan sebagian prinsip yang ia dakwahkan, atau komitmen perilakunya terhadap apa yang padahal ia dahulu serukan atau yang ia perintahkan dan larang.

Maka pembawa misi jika tidak membawa misinya secara praktis dan aktif, melaksanakan fungsi dan tugasnya, berjuang untuknya, peduli untuk menyampaikan pesannya, menjelaskan, menerangkan, mengajak, mengingatkan atau memerintah dan melarang, dengan harapan mempengaruhi orang lain, meluruskan yang menyimpang, dan mewujudkan perbaikan yang diharapkan, maka ia akan secara otomatis berubah menjadi pembela pasif, lalu menjadi pengamat tanpa pembelaan sama sekali, kemudian menjadi terpengaruh sedikit demi sedikit, hingga akhirnya mungkin menjadi pengikut yang hanya mengikuti arus, terpengaruh tekanan lingkungan yang tidak mampu ia hadapi dengan teguh dan sabar dalam menjalankan fungsi misinya dalam dakwah, pelurusan dan perbaikan.

Di sini kita perhatikan bahwa hikmah Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung menghendaki untuk memerintahkan para Rasul-Nya – semoga shalawat dan salam tercurah kepada mereka – dan para da’i kepada-Nya serta orang-orang yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran setelah mereka untuk bersabar dalam menjalankan fungsi dan tugas misi mereka dalam berdakwah ke jalan Tuhan mereka, dan dalam mengajak kepada kebaikan serta mencegah kemungkaran.

Dan dalam Al-Qur’an yang mulia terdapat perintah untuk bersabar dalam berbagai kesempatan, mencakup berbagai aspek dari masalah yang dihadapi para da’i, dan setiap masalah membutuhkan kesabaran dari pembawa misi, dan hikmah Ilahi menghendaki agar diarahkan kepadanya perintah untuk bersabar menghadapinya, agar ia tidak bertindak yang bertentangan dengan tuntutan misinya.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

PERNYATAAN KEDUA

Teks-teks Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat arahan perintah bersabar bagi para pembawa misi risalah dakwah dari umat Muhammad

 

Dari penelusuran teks-teks perintah sabar dalam Al-Qur’an yang mulia, ditemukan lima teks yang diturunkan pada periode Madinah dari sejarah dakwah Rasulullah Muhammad ﷺ. Teks-teks ini digabungkan ke dalam surah-surah yang diturunkan pada periode Makkah, dan ditempatkan pada posisi yang sesuai secara pemikiran. Khithab (perintah) di dalamnya ditujukan kepada Rasulullah ﷺ, sebagai orang mukmin dan muslim pertama dari umat ini.

Orang yang merenungkan prosedur yang indah ini akan memperhatikan bahwa tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa meskipun Rasulullah Muhammad telah memiliki kesabaran yang diperintahkan dalam teks-teks ini, para pembawa misinya dari umatnya membutuhkan arahan ini dalam fase-fase yang serupa dengan yang dilalui Rasulullah ﷺ, di mana beliau menghiasi diri dengan keutamaan akhlak sabar.

Maka kita memahami dari prosedur ini bahwa yang dimaksud dengan arahan dalam teks-teks ini adalah para pembawa misi Rasulullah dari umatnya.

Ini termasuk keindahan prosedur dalam Al-Qur’an yang mulia di mana terdapat dua tuntutan: tuntutan pemikiran dan tuntutan waktu. Baik bagi orang yang merenungkan secara hati-hati dalam memahami Al-Qur’an dan melihat prosedurnya dengan seksama untuk menemukan tujuan-tujuan yang mendalam dari gaya-gaya penjelasannya.

Mari kita perhatikan dengan seksama lima teks yang ditemukan melalui penelusuran, yang diturunkan pada masa Madinah dan digabungkan ke dalam surah-surah Makkiyah:

Teks Pertama:

Firman Allah Yang Maha Mulia dalam Surat Al-Qalam/68 (urutan mushaf/2 urutan turun) sebagai khithab kepada Rasul-Nya, dan yang dimaksud adalah setiap pendakwah ke jalan Tuhannya dan penyeru kebaikan serta pencegah kemungkaran dari umatnya, dan pemberi nasihat dan petunjuk:

﴿فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوْتِۘ اِذْ نَادٰى وَهُوَ مَكْظُوْمٌۗ ٤٨ لَوْلَآ اَنْ تَدٰرَكَهٗ نِعْمَةٌ مِّنْ رَّبِّهٖ لَنُبِذَ بِالْعَرَاۤءِ وَهُوَ مَذْمُوْمٌ ٤٩ فَاجْتَبٰىهُ رَبُّهٗ فَجَعَلَهٗ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ ٥٠ ﴾ ( القلم/68: 48-50)

“Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah engkau seperti (Yunus) orang yang berada dalam (perut) ikan ketika dia berdoa dengan hati yang sedih. Sekiranya tidak ada nikmat dari Tuhannya yang telah mencapainya, pastilah dia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh.”

“Seperti orang yang berada dalam (perut) ikan”: yaitu seperti Yunus ‘alaihissalam, ketika ia meninggalkan kaumnya penduduk Ninawa dalam keadaan marah, karena mereka mendustakannya dan menolak menerima dakwahnya sebelum Allah mengizinkannya untuk itu, dan ia tidak bersabar melanjutkan dakwahnya kepada mereka hingga datang perintah dari Allah tentang apa yang harus ia lakukan.

“Ketika dia berdoa dengan hati yang sedih”: yaitu ingatlah ketika ia berdoa memanggil Tuhannya saat berada dalam perut ikan dengan berkata: “Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim” sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Anbiya/21.

“Dengan hati yang sedih”: yaitu menahan amarahnya terhadap kaumnya yang menolak dakwahnya, dan mengakui kesalahannya karena meninggalkan mereka sebelum Allah mengizinkannya.

﴿فَلَوْلَآ اَنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِيْنَ ۙ ١٤٣ لَلَبِثَ فِيْ بَطْنِهٖٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَۚ ١٤٤ ﴾ ( الصّٰۤفّٰت/37: 143-144)

“Kalau sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berzikir (bertasbih), niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari kebangkitan.” sebagaimana disebutkan dalam surat Ash-Shaffat/37.

“Sekiranya tidak ada nikmat dari Tuhannya yang telah mencapainya, pastilah dia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela.” Namun nikmat itu telah mencapainya sehingga ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan sakit tapi tidak tercela, dan Allah menumbuhkan untuknya pohon dari jenis labu, menyembuhkannya, memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh dan mengutusnya kembali kepada kaumnya lalu mereka beriman kepadanya.

Dalam teks ini terdapat isyarat ancaman kepada pembawa misi dakwah kepada Allah dan penyeru kebaikan serta pencegah kemungkaran, jika ia merasa jenuh, putus asa dan meninggalkan tugasnya, bahwa Allah akan menghukumnya dengan hukuman yang sesuai.

Kita telah mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ telah memiliki kesabaran yang dituntut dalam teks ini, selama fase dakwah ketika surat Al-Qalam diturunkan dan Allah telah menyifatinya dengan akhlak yang agung, maka sabar terhadap ketetapan Allah adalah salah satu unsur dari akhlak yang agung ini.

Sesungguhnya pembawa misi risalah dakwah dari umatnya ﷺ yang layak membawanya, dituntut untuk bersabar dalam menjalankan tugasnya, tanpa merasa jenuh atau putus asa dan berhenti melakukan dakwah kepada Allah dan menyeru kebaikan serta mencegah kemungkaran dengan tergesa-gesa dan marah. Bahkan setiap kali ia putus asa terhadap orang yang didakwahi yang keras kepala setelah kebenaran jelas baginya namun tetap bersikeras dalam kekufuran, ia beralih kepada yang lain yang belum sampai pada tingkat keras kepala dan bersikeras dalam kekufuran. Peralihan ini adalah salah satu unsur kontinuitas dalam menjalankan tugas-tugas misi ilahi ini.

Berdasarkan pemahaman ini, makna “Maka bersabarlah engkau terhadap ketetapan Tuhanmu” adalah: Bersabarlah dengan terus menjalankan tugas-tugas misimu sambil menunggu ketetapan Tuhanmu terhadap orang-orang yang keras kepala dan bersikeras dalam kekufuran setelah kebenaran jelas bagi mereka, karena Allah memiliki hikmah dalam ketetapan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya, atau bersabarlah dengan berserah diri kepada ketetapan Tuhanmu.

Namun, melanjutkan pengarahan dakwah kepada orang-orang tertentu tunduk pada kaidah: “Maka berilah peringatan jika peringatan itu bermanfaat” yaitu: jika sebagian orang telah sampai pada kondisi yang benar-benar putus asa dan peringatan tidak lagi bermanfaat baginya berdasarkan pengalaman yang panjang, maka lebih baik mengarahkan upaya dakwah dan peringatan kepada orang lain yang belum sampai pada kondisi yang putus asa, dan akan datang insya Allah penjelasan lebih rinci tentang kaidah ini.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

Teks Kedua:

Firman Allah Yang Maha Mulia kepada Rasul-Nya dalam surat Al-Muzzammil/73 (urutan mushaf/3 urutan turun) sebagai khithab kepada Rasul-Nya, dan yang dimaksud adalah setiap pendakwah ke jalan Tuhannya dan penyeru kebaikan serta pencegah kemungkaran dari umatnya:

﴿وَاصْبِرْ عَلٰى مَا يَقُوْلُوْنَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيْلًا ١٠ وَذَرْنِيْ وَالْمُكَذِّبِيْنَ اُولِى النَّعْمَةِ وَمَهِّلْهُمْ قَلِيْلًا ١١ ﴾ ( المزّمّل/73: 10-11)

“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik. Dan biarkanlah Aku (yang menghadapi) orang-orang yang mendustakan, yang memiliki kemewahan dan berilah mereka penangguhan sebentar.”

Sungguh Rasulullah ﷺ telah mewujudkan kandungan arahan ilahi ini saat turunnya surat Al-Muzzammil, maka Allah menunda penurunannya hingga periode Madinah, untuk menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah setiap pembawa misi Rasulullah dari umatnya.

Hal ini karena setiap pendakwah ke jalan Tuhannya dan penyeru kebaikan serta pencegah kemungkaran, pasti akan menghadapi sejak awal pelaksanaan tugas misinya; kata-kata yang menyakitkan dan tuduhan-tuduhan palsu dari sebagian orang yang ia tujukan dakwah atau peringatannya. Yang dituntut darinya dalam kondisi ini adalah bersabar atas apa yang mereka katakan tentangnya berupa kata-kata yang menyakitkan dirinya, dan tidak membalasnya dengan yang serupa.

Dan ketika ia tidak mampu menahan menghadapi mereka saat mereka mengatakan apa yang menyakitkannya, maka ia bisa meninggalkan mereka dengan cara yang baik.

Meninggalkan dengan cara yang baik dilakukan dengan menjauh dari mereka untuk sementara, tidak membalas perkataan mereka dengan yang serupa, dan sibuk dengan yang lain untuk beberapa waktu. Hingga ketika ia merasa mereka telah berhenti dari perkataan mereka, ia kembali mendakwahi mereka dan mengarahkan nasihat serta peringatan kepada mereka, untuk menunjukkan bahwa ia telah meninggalkan mereka sementara agar tidak membuat mereka berani menghinanya dan agar tidak membalas keburukan mereka dengan yang serupa.

Meninggalkan dengan cara yang baik untuk sementara tidak lebih dari menunjukkan bahwa mereka telah berbuat buruk kepadanya, namun ia tidak membalas keburukan mereka dengan yang serupa. Cara berinteraksi seperti ini membuat orang-orang yang memiliki fitrah yang sehat merasakan keagungannya, kebaikan akhlaknya, dan kemuliaan karakternya.

Allah Yang Maha Mulia memerintahkan pembawa misi risalah dari umatnya ﷺ untuk menyerahkan kepadaNya urusan orang-orang kafir yang mendustakan agama yang memiliki kenikmatan (yaitu: yang memiliki kemewahan dan kehidupan yang baik karena banyaknya harta yang mereka miliki). Maka janganlah ia mengambil cara-cara konfrontasi keras dan benturan dengan mereka, namun ia harus menambah dalam memperlakukan mereka dengan memberi tangguh, perpanjangan waktu, kesabaran dan kelapangan dada.

Allah telah memerintahkan pembawa misi risalah dari umatnya ﷺ untuk bersabar atas apa yang dikatakan tentangnya, dan meninggalkan dengan cara yang baik jika keadaan menuntut itu, dan dengan memberi tangguh, perpanjangan waktu dan kelapangan dada, karena kebijakan ini adalah yang paling tepat dan bermanfaat untuk menegakkan hujjah, menyebarkan dakwah, mewujudkan perbaikan yang diharapkan, dan menyampaikan agama Allah kepada manusia dengan cara yang paling sempurna dan utuh.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

Teks Ketiga:

Firman Allah Yang Maha Mulia dalam surat Thaha/20 (urutan mushaf/45 urutan turun) sebagai khithab kepada Rasul-Nya, dan yang dimaksud adalah setiap pendakwah ke jalan Tuhannya dan penyeru kebaikan serta pencegah kemungkaran dari umatnya:

﴿فَاصْبِرْ عَلٰى مَا يَقُوْلُوْنَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوْبِهَا ۚوَمِنْ اٰنَاۤئِ الَّيْلِ فَسَبِّحْ وَاَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضٰى ١٣٠ وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ اِلٰى مَا مَتَّعْنَا بِهٖٓ اَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ەۙ لِنَفْتِنَهُمْ فِيْهِ ۗوَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى ١٣١ ﴾ ( طٰهٰ/20: 130-131)

“Maka bersabarlah engkau atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam; dan bertasbihlah (pula) pada waktu-waktu malam dan pada ujung-ujung siang, agar engkau merasa tenang. Dan janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia, untuk Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.”

Sungguh Rasulullah ﷺ telah menghiasi dirinya dengan apa yang dituntut darinya dalam teks ini, karena Allah telah menurunkan kepadanya sebelum surat Thaha empat teks di mana Allah memerintahkannya untuk bersabar: pertama dalam surat Al-Muddatstsir/74 (urutan mushaf/4 urutan turun), kemudian dalam surat Qaf/50 (urutan mushaf/34 urutan turun) dan memerintahkannya untuk bertasbih sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam dan pada waktu malam dan setelah sujud, kemudian dalam surat Shad/38 (urutan mushaf/38 urutan turun), lalu dalam surat Al-Furqan/25 (urutan mushaf/42 urutan turun).

Rasulullah ﷺ saat turunnya surat Thaha/20 (urutan mushaf/45 urutan turun) tidak memerlukan arahan perintah untuk bersabar, bertasbih dengan memuji Tuhannya, dan tidak mengarahkan pandangannya kepada kenikmatan hidup dunia yang diberikan kepada sebagian hamba-Nya. Namun, para da’i dari umatnya yang berada dalam fase seperti saat turunnya surat Thaha membutuhkan arahan ini, maka Allah Yang Maha Mulia menurunkannya pada periode Madinah dan menggabungkannya dengan surat Thaha yang diturunkan pada pertengahan periode Makkah.

Setiap pendakwah ke jalan Tuhannya dituntut untuk bersabar setiap kali menghadapi apa yang menyakiti dan menyusahkannya dari orang-orang yang ia dakwahi, dan dituntut untuk menggunakan obat yang membantunya, hingga Allah memalingkan darinya tekanan-tekanan psikologis yang dapat menghabiskan energi kesabarannya, yaitu bertasbih dengan memuji Tuhannya:

  • Sebelum terbit matahari.
  • Sebelum terbenam matahari.
  • Pada waktu-waktu malam, yaitu: pada jam-jam tengah malam.
  • Dan pada ujung-ujung siang yaitu pada waktu shalat Zhuhur dan Ashar, yang terletak pada dua sendi hari yang memiliki dua ujung.

Setiap pendakwah ke jalan Tuhannya dituntut untuk tidak mengarahkan pandangannya dengan hawa nafsu, syahwat atau keinginan kuat kepada sesuatu dari kenikmatan hidup dunia, yang Allah berikan kepada berbagai golongan hamba-Nya. Rasulullah ﷺ telah memiliki akhlak mulia ini, sehingga bukan dia yang dimaksud dengan arahan ini, ketika penurunan teks ditunda hingga periode Madinah, untuk menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah para pembawa misi risalah dari umatnya ﷺ.

Maka Allah berfirman kepada setiap pembawa misi Rasulullah dari umatnya:

﴿وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ اِلٰى مَا مَتَّعْنَا بِهٖٓ اَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ەۙ لِنَفْتِنَهُمْ فِيْهِ ۗوَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى ١٣١ ﴾ ( طٰهٰ/20: 131-131)

“Dan janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia, untuk Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.”

“Mengarahkan pandangan” adalah kiasan tentang kecenderungan jiwa dan hasratnya, dan ini adalah hal yang merusak jiwa pendakwah ke jalan Tuhannya, dan menjadikannya sebagai pencari dunia, dan perhiasan kehidupan dunia mungkin menggodanya sehingga ia menyimpang dari kebenaran dalam pemikiran atau perilakunya.

“Kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka”: yaitu kepada sesuatu dari perhiasan kehidupan dunia yang Kami berikan sebagai kesenangan sementara dan segera kepada berbagai golongan manusia. Dan “kenikmatan” adalah sesuatu yang dimanfaatkan sementara dan akan hilang.

Allah menyebut semua perhiasan kehidupan dunia sebagai “bunga” karena ia seperti bunga yang menggoda namun cepat layu.

“Untuk Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu”: yaitu untuk Kami uji mereka dengannya selama perjalanan ujian mereka dalam kehidupan dunia. Namun rizki Tuhanmu yang kekal di akhirat wahai pendakwah ke jalan-Nya lebih baik dan lebih abadi.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

Teks Keempat:

Firman Allah Yang Maha Mulia dalam surat An-Nahl/16 (urutan mushaf/70 urutan turun) sebagai khithab kepada Rasul-Nya, dan yang dimaksud adalah setiap pendakwah ke jalan Tuhannya dan penyeru kebaikan serta pencegah kemungkaran dari umatnya:

﴿وَاِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوْا بِمِثْلِ مَا عُوْقِبْتُمْ بِهٖۗ وَلَىِٕنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصّٰبِرِيْنَ ١٢٦ وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ اِلَّا بِاللّٰهِ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِيْ ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُوْنَ ١٢٧ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَّالَّذِيْنَ هُمْ مُّحْسِنُوْنَ ࣖ ۔ ١٢٨ ﴾ ( النحل/16: 126-128)

“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Dan bersabarlah (Muhammad) dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah dan janganlah engkau bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan jangan (pula) bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Sungguh Rasulullah ﷺ telah memiliki sifat kandungan arahan ilahi ini saat turunnya surat An-Nahl, maka Allah Yang Maha Mulia menunda penurunannya hingga periode Madinah, untuk menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah setiap pembawa misi Rasulullah dari umatnya ﷺ.

Sesungguhnya pendakwah ke jalan Tuhannya mungkin menghadapi gangguan praktis dari sebagian orang yang ia dakwahi kepada kebenaran, kebaikan dan petunjuk, dan kepada meninggalkan kebatilan, keburukan dan kesesatan yang mereka berada di dalamnya, dan ia mungkin mendapati dalam dirinya kemampuan untuk membalas dendam.

Di sinilah Allah Yang Maha Mulia mengendalikan jiwa pendakwah yang mampu membalas dendam, dan membatasinya dengan batasan membalas gangguan hanya dengan yang serupa tanpa tambahan (sifat adil), dan menjelaskan bahwa yang lebih utama dari itu adalah sabar, memaafkan dan toleransi (sifat ihsan), maka Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَاِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوْا بِمِثْلِ مَا عُوْقِبْتُمْ بِهٖۗ وَلَىِٕنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصّٰبِرِيْنَ ١٢٦ ﴾ ( النحل/16: 126-126)

“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.”

Dalam ayat ini digunakan huruf “in” (jika) yang menunjukkan keraguan akan terjadinya apa yang dimasukinya, atau meminimalkannya, dalam firman Allah Ta’ala: “Dan jika kamu memberikan balasan” untuk menunjukkan bahwa pembalasan ini diizinkan dalam prinsip keadilan, namun kebijakan yang bijak dalam dakwah kepada Allah menuntut untuk menjauhkan pembalasan, atau sangat meminimalkan terjadinya, dan bahwa toleransi, memaafkan dan sabar atas gangguan lebih baik bagi orang-orang yang sabar, karena kebijakan ini lebih bermanfaat dan tepat untuk mewujudkan tujuan-tujuan dakwah kepada Allah.

Maknanya: dan jika kalian membalas – sebagai kemungkinan yang terpilih walaupun kami lebih suka kalian menjauhinya – maka balaslah dengan serupa apa yang ditimpakan kepada kalian dari orang-orang yang kalian dakwahi. Allah menyebut gangguan yang diarahkan oleh para penolak dakwah kebenaran kepada para da’i ke jalan Tuhan mereka sebagai “siksaan” mengikuti pemahaman mereka yang batil, karena mereka memandang bahwa apa yang mereka timpakan kepada para da’i berupa gangguan atau siksaan adalah hukuman bagi mereka atas penentangan mereka terhadap apa yang dianut oleh kaum mereka berupa keyakinan, sistem atau hukum yang berlaku dari aturan manusia, atau adat istiadat dan tradisi yang diwarisi.

Setelah ini, Allah Yang Maha Kuasa menjelaskan bahwa bersabar atas gangguan adalah lebih baik daripada membalas dendam. Allah berfirman:

“Dan sungguh jika kamu bersabar, itu lebih baik bagi orang-orang yang sabar.”

Artinya: Jika kalian bersabar atas gangguan dan memaafkan meski mampu membalas, itu lebih baik bagi kalian.

Dalam ayat ini digunakan kata “orang-orang yang sabar” (الصابرين) sebagai kata benda yang jelas menggantikan kata ganti, untuk menunjukkan bahwa kebaikan yang mereka dapatkan adalah karena kesabaran mereka.

Setelah petunjuk umum ini untuk semua yang berdakwah di jalan Tuhan mereka, Allah memberikan arahan individual kepada masing-masing dari mereka dengan firman-Nya:

﴿وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ اِلَّا بِاللّٰهِ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِيْ ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُوْنَ ١٢٧ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَّالَّذِيْنَ هُمْ مُّحْسِنُوْنَ ࣖ ۔ ١٢٨ ﴾ ( النحل/16: 127-128)

“Dan bersabarlah, dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah, dan janganlah engkau bersedih hati terhadap mereka dan jangan pula bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Dalam arahan individual ini kepada pembawa dakwah ke jalan Allah dan penegak amar ma’ruf nahi munkar terdapat empat perkara:

Perkara pertama: Perintah yang membimbing dan memotivasi untuk bersabar atas gangguan dan tidak membalas walaupun dengan unsur keadilan, serta penjelasan bahwa kesabaran ini hanya bisa dicapai dengan pertolongan Allah. Ini ditunjukkan oleh firman Allah: “Dan bersabarlah, dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah.”

Perkara Kedua: Larangan yang membimbing dan memotivasi kepada pembawa risalah agar tidak bersedih atas orang yang menolak dakwahnya dan mereka lebih memilih jalan kesesatan dan keburukan.

Perkara ini mampu menangani apa yang menimpa jiwa sebagian da’i berupa kepedulian dan kasih sayang terhadap kerabat, teman, atau kaum mereka. Ketika mereka mendapati penolakan terhadap kebenaran dengan keras kepala dan lebih memilih kebatilan, mereka bersedih karena yakin bahwa orang-orang tersebut akan menuju azab Allah di neraka Jahannam. Maka Allah berfirman kepada yang berdakwah di jalan-Nya: “Dan janganlah engkau bersedih hati terhadap mereka.”

Artinya: Mereka memang pantas mendapat hukuman Allah dengan adil karena apa yang mereka pilih sendiri berupa kejahatan, dosa dan kesesatan. Allah akan menghukum mereka atas pilihan mereka sendiri, dan Dia Maha Pengasih. Maka mereka tidak pantas ditangisi oleh siapapun dari hamba Allah, meskipun itu kerabat terdekat mereka.

Allah telah menyampaikan hal ini kepada pendakwah sebagaimana yang disampaikan kepada Rasul-Nya dalam ayat 70 dari Surat An-Naml (27 dalam mushaf/48 turun).

﴿ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُنْ فِيْ ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُوْنَ ٧٠ ﴾ ( النمل/27: 70)

  1. Janganlah engkau bersedih terhadap mereka dan janganlah merasa sempit (hati) terhadap upaya tipu daya mereka.

Perkara Ketiga: Larangan yang membimbing dan memotivasi kepada pembawa risalah agar tidak merasa sempit dada terhadap tipu daya musuh-musuh dakwahnya yang bertujuan menghalanginya, mencegahnya melaksanakan dakwah, memalingkannya ke jalan mereka, atau menyingkirkan dia dan para pengikutnya yang mendukungnya dengan pembunuhan, pemenjaraan atau cara lainnya. Maka Allah berfirman kepada yang berdakwah di jalan-Nya: “Dan jangan pula bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan.”

“Kesempitan” Kesempitan memiliki makna tekanan mental yang menekan dan mempersempit jalannya, dan itulah yang dimaksud di sini. Ini juga bisa berarti kesulitan dan kemiskinan.

Perasaan seseorang terhadap tipu daya musuh-musuhnya yang ingin mencelakakannya menimbulkan kesempitan dalam dirinya.

Dalam larangan Allah kepada pendakwah agar tidak berada dalam kesempitan karena tipu daya musuh-musuh dakwahnya, terdapat isyarat tersirat bahwa Allah Yang Maha Tinggi akan menggagalkan tipu daya mereka, mengembalikannya kepada mereka sendiri, dan menolong para wali-Nya, sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Anfal (8):

﴿وَاِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِيُثْبِتُوْكَ اَوْ يَقْتُلُوْكَ اَوْ يُخْرِجُوْكَۗ وَيَمْكُرُوْنَ وَيَمْكُرُ اللّٰهُ ۗوَاللّٰهُ خَيْرُ الْمٰكِرِيْنَ ٣٠ ﴾ ( الانفال/8: 30-30)

“Mereka membuat tipu daya dan Allah membuat tipu daya pula, dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.”

Ini adalah ayat Makkiyah yang ditambahkan ke surat Madaniyah.

Allah menyampaikan larangan yang bersifat petunjuk dan motivasi ini sebagaimana Dia menyampaikan hal serupa kepada Rasul-Nya dalam ayat 70 dari Surat An-Naml (27 dalam mushaf/48 urutan turun).

Perkara Keempat: Penjelasan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla bersama para wali-Nya sebagai penolong dan pemberi kemenangan, baik mereka termasuk orang-orang bertakwa yang membalas dengan balasan sepadan, maupun orang-orang yang berbuat ihsan dan bersabar. Allah berfirman:

﴿اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَّالَّذِيْنَ هُمْ مُّحْسِنُوْنَ ࣖ ۔ ١٢٨ ﴾ ( النحل/16: 128-128)

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Kebersamaan Allah dengan mereka adalah kebersamaan dalam bentuk pertolongan, perlindungan, kemenangan, dan penggagalan tipu daya musuh-musuh mereka yang kafir dan berbuat kejahatan.

Perlu diperhatikan bahwa teks Madani ini ditempatkan setelah ayat Makkiyah di mana Allah menjelaskan kepada Rasul-Nya dan kepada para pembawa risalah setelahnya ﷺ tentang kaidah-kaidah utama dan umum untuk metodologi dakwah ke jalan Allah, yaitu firman-Nya Yang Maha Mulia:

﴿اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ ١٢٥ ﴾ ( النحل/16: 125-125)

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang terbaik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Hikmah dalam hal ini adalah bahwa pendakwah ke jalan Tuhan dalam lingkup masyarakat kafir yang menentang pasti akan menghadapi berbagai situasi yang memerlukan petunjuk tentang apa yang seharusnya dilakukan dalam menghadapinya. Maka datanglah teks Madani ini sebagai pemberi petunjuk dan pengajaran.

Adapun analisis tentang apa yang terdapat dalam ayat (125) ini memiliki tempat lain dalam kitab ini.

Demikianlah telah jelas bagi kita dari keempat teks Madani ini, yang ditempatkan dalam surah-surah Makkiyah, bahwa ia ditujukan kepada para pembawa risalah dakwah ke jalan Tuhan mereka, dan orang-orang yang memerintahkan kebaikan serta mencegah kemungkaran dari umat Muhammad ﷺ, meskipun secara lahiriah khitab (seruan) ditujukan kepada Rasul. Sebab seruan kepadanya memperhatikan bahwa beliau adalah orang pertama dari kalangan mukmin dan muslim, pendakwah pertama ke jalan Allah, orang pertama yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, dan imam mereka semua. Dan seruan kepada imam adalah seruan untuk semua yang mengikutinya.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

Teks Kelima:

Firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam Surat Al-Kahfi (18 dalam mushaf/69 urutan turun):

﴿وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ وَلَا تَعْدُ عَيْنٰكَ عَنْهُمْۚ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَلَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ وَكَانَ اَمْرُهٗ فُرُطًا ٢٨ ﴾ ( الكهف/18: 28-28)

“Dan bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka di pagi dan petang hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.”

Ayat ini diturunkan pada periode Madinah dan digabungkan ke dalam surah yang termasuk akhir dari wahyu periode Mekah, untuk menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan khitab di dalamnya adalah para pemimpin dakwah yang mengawasi pendidikan, pengajaran, dan penyucian para dai untuk mempersiapkan dan membekali mereka dalam menjalankan misi dakwah ke jalan Allah serta amar ma’ruf nahi munkar. Meskipun Rasulullah ﷺ telah mewujudkan petunjuk yang ada di dalamnya, namun periode ketika Surat Al-Kahfi diturunkan adalah periode di mana telah muncul para pemimpin pendidik dari kalangan sahabat Rasulullah ﷺ, dan mereka membutuhkan petunjuk yang ada di dalamnya, begitu juga semua orang yang mencapai tingkatan seperti mereka setelahnya. Para sahabat ini mengikuti teladan Rasulullah, namun pentingnya topik ini memerlukan turunnya Al-Qur’an yang dibacakan, maka terjadilah pengaturan yang indah ini.

Sesungguhnya ulama agama seharusnya menjadi seorang alim, dai, pemberi petunjuk, dan pendidik, mengikuti teladan Rasulullah ﷺ. Dia bertanggung jawab atas pendidikan para dai kepada Allah dan orang-orang yang memerintahkan kebaikan serta mencegah kemungkaran. Pendidikan ini menuntutnya untuk mengawasi orang-orang yang dia ajar dan sucikan dengan pengawasan yang berkesinambungan pagi dan petang, hingga mereka menjadi layak untuk menjalankan tugas mulia ini.

Karena pengawasan pendidikan dan pengajaran yang berkesinambungan ini memerlukan upaya besar, dengan ketekunan yang teratur tanpa putus, dan ini tidak akan terwujud kecuali dengan kesabaran yang besar, Allah menurunkan ayat ini berbicara kepada Rasul-Nya, yang dimaksudkan untuk para imam dai yang menjadi pendidik dan pengajar dari umatnya juga. Khitab di dalamnya datang dengan gaya bicara individual, untuk menyadarkan setiap individu dari mereka bahwa dia dituntut dengan khitab khusus untuk mewujudkan apa yang ada dalam petunjuk yang tercakup dalam ayat tersebut.

“Dan bersabarlah engkau” artinya bersabarlah wahai orang alim dengan apa yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, yang bertanggung jawab atas persiapan para dai kepada Allah dan orang-orang yang memerintahkan kebaikan serta mencegah kemungkaran, dengan membawa dirimu untuk menanggung kesulitan-kesulitan pengajaran, pendidikan, dan penyucian, bersama orang-orang yang beribadah kepada Tuhan mereka dengan mempersiapkan diri mereka, agar menjadi para dai kepada agama Allah, dan orang-orang yang memerintahkan kebaikan serta mencegah kemungkaran.

“Bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka” artinya: bersama orang-orang yang beribadah kepada Tuhan mereka dengan mempelajari ilmu-ilmu agama, dan mempersiapkan diri mereka untuk menjadi dai yang berkualitas.

Kata “doa” di sini bermakna ibadah, dan sebaik-baik ibadah adalah mempelajari ilmu-ilmu agama, menjalankan misi dakwah kepada Allah, dan mempersiapkan diri untuk tugas yang agung ini.

“Di pagi dan petang hari” artinya: di awal dan akhir hari.

“Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka” artinya: janganlah matamu melewatkan pengawasan dan supervisi terhadap mereka agar kendali kepemimpinan mereka tidak lepas dari tanganmu karena kelalaianmu terhadap mereka dan mengabaikan pengawasan mereka.

“Karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia” artinya: engkau melewatkan pengawasan dan supervisi terhadap mereka, dan lalai dari mereka karena menginginkan perhiasan kehidupan dunia berupa harta, kedudukan, syahwat dan sejenisnya.

“Dan janganlah engkau mengikuti orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami” artinya: janganlah engkau mengikuti orang yang menghambatmu atau menyeretmu ke dalam perangkap hawa nafsu dan syahwat, karena Kami telah mendapati hatinya lalai dari mengingat Kami, dan ketika dia lalai dari mengingat Allah, dia menjadi penganjur untuk menghambat pendidikan, pengajaran, dan penyucian para dai.

“Dan dia mengikuti hawa nafsunya dan keadaannya sudah melewati batas” artinya di antara tanda-tanda kelalaiannya dari mengingat Allah adalah bahwa dia mengikuti hawa nafsunya dalam perkataan dan perbuatannya. Dan urusannya dalam kehidupan serta perilaku batin dan lahirnya telah melampaui batas perintah dan larangan Allah dengan kemaksiatan dan pelanggaran.

“Furut” adalah segala perkara yang melampaui batas kebenaran, kebaikan, dan petunjuk.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

PERNYATAAN KETIGA

Teks-teks Al-Qur’an yang di dalamnya diperhatikan pengarahan perintah untuk bersabar, kepada Rasul dan para pembawa risalahnya dari umatnya.

 

PENDAHULUAN:

Al-Qur’an yang mulia mencakup sekitar dua puluh teks yang berisi pengarahan perintah untuk bersabar dalam bidang dakwah ke jalan Allah kepada Rasulullah ﷺ, dan diikutkan dengannya para pembawa risalahnya setelahnya.

Teks-teks ini datang dalam berbagai kesempatan yang mencakup berbagai aspek dari masalah-masalah yang dihadapi pembawa risalah dakwah kepada Allah dan amar ma’ruf nahi munkar, dan setiap masalah membutuhkan kesabaran dari pembawa risalah.

Hikmah Ilahi menuntut agar diarahkan kepadanya perintah untuk bersabar dalam menghadapinya agar dia tidak bertindak dengan cara yang bertentangan dengan tuntutan risalahnya.

Dan mengingat kewajiban mendidik para dai ke jalan Allah, orang-orang yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran tentang keutamaan akhlak sabar dalam berbagai masalah yang mereka hadapi, dan berbagai situasi di mana Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk bersabar, dan diikuti oleh setiap pembawa risalahnya setelahnya, maka saya memandang baik untuk mengikuti teks-teks ini sesuai urutan turunnya, disertai dengan pandangan-pandangan tadabbur yang membimbing para pembawa risalah Rasulullah ﷺ kepada apa yang seharusnya mereka komitmen dalam hal kesabaran, dalam berbagai situasi yang mereka hadapi dalam perjalanan mereka menjalankan tugas-tugas risalah mereka.

Pandangan Tadabbur terhadap Teks-teks sesuai Tahapan Dakwah:

1- Allah ‘Azza wa Jalla memulai kenabian Rasul-Nya dengan mewahyukan awal Surat Al-‘Alaq, surat pertama yang diturunkan dari Al-Qur’an yang mulia, dan beliau tidak diperintahkan di dalamnya untuk mengajak manusia kepada iman dan Islam.

Namun turunnya surat itu dan pelaksanaan tugas Rasul sesuai keimanan dan keislamannya dalam perkara shalatnya, serta berkaitan dengan bacaannya terhadap apa yang diturunkan kepadanya, adalah sebagai penjelasan pendahuluan bahwa beliau adalah nabi yang Allah wahyukan kepadanya Al-Qur’an yang dibacakan.

Maka beliau menghadapi gangguan dari sebagian kaumnya, dengan gangguan tersebut dimaksudkan untuk mencegahnya dari shalat pribadinya, ketika beliau mulai shalat kepada Tuhannya sendirian berbeda dengan cara kaumnya, maka Allah menurunkan kepadanya sisa surat tersebut.

۞ ۞ ۞ ۞

2- Para pembesar Quraisy membicarakan kenabiannya, sebagian mereka mengingkari bahwa dia adalah nabi yang diberi wahyu, lalu menuduhnya gila, maka Allah menurunkan kepadanya Surat Al-Qalam (68) surat kedua yang diturunkan kepadanya.

Dan Allah menurunkan padanya apa yang menguatkannya, dan pujian kepadanya bahwa dia benar-benar memiliki akhlak yang agung, dan menjelaskan kepadanya bahwa orang yang menentangnya dari kaumnya dan menuduhnya gila, mereka melakukan hal itu karena dorongan hasad, dan Allah mengarahkan celaan keras tertuju kepada orang yang memimpin hal itu, disertai penyampaian dalil-dalil yang meyakinkan, yang berdasarkan hujjah-hujjah akal yang jelas, dan pemberian peringatan dengan azab yang pedih pada hari pembalasan.

۞ ۞ ۞ ۞

3- Hikmah pendidikan menuntut agar Allah mempersiapkan Rasul-Nya untuk menjalankan fungsi dakwah dan peringatan dengan persiapan mental yang sesuai untuk tugas agung yang akan dia emban, maka Allah menurunkan kepadanya Surat Al-Muzzammil (73) surat ketiga yang diturunkan dari Al-Qur’an yang mulia. Di dalamnya Allah memberi tugas kepadanya untuk bangun malam kecuali sedikit untuk beribadah kepada Tuhannya, dan memberi tugas kepadanya untuk mengingat nama Tuhannya, dan mengkhususkan diri sepenuhnya untuk-Nya, yaitu: fokus sepenuhnya untuk beribadah kepada Tuhannya, dan memberi tugas kepadanya untuk menjadikan-Nya sebagai wakil dalam semua urusannya.

Allah tidak memerintahkannya pada tahap ini untuk mengatakan kepada kaumnya: “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian.”

Namun Allah ‘Azza wa Jalla memperingatkan manusia dalam surat ini dari azab-Nya, dan berbicara kepada mereka secara langsung dengan firman-Nya:

﴿اِنَّآ اَرْسَلْنَآ اِلَيْكُمْ رَسُوْلًا ەۙ شَاهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَآ اَرْسَلْنَآ اِلٰى فِرْعَوْنَ رَسُوْلًا ۗ ١٥ فَعَصٰى فِرْعَوْنُ الرَّسُوْلَ فَاَخَذْنٰهُ اَخْذًا وَّبِيْلًاۚ ١٦ ﴾ ( المزّمّل/73: 15-16)

“Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kalian seorang Rasul, yang menjadi saksi terhadap kalian, sebagaimana Kami telah mengutus kepada Fir’aun seorang Rasul. Maka Fir’aun mendurhakai Rasul itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat.”

Maka Allah menjelaskan kepada mereka akibat yang dialami oleh Fir’aun ketika dia mendustakan rasul Tuhannya, dan memperingatkan mereka dalam surat itu akibat jika mereka kafir dengan azab yang pedih pada hari pembalasan.

Persiapan mental yang Allah siapkan untuk Rasul-Nya membuatnya menanggung kekhawatiran yang besar, dan dengan kekhawatiran besar untuk menjalankan urusan yang besar, tubuh manusia mengalami gejala dingin yang membuatnya perlu berselimut dengan penutup yang memberinya kehangatan, dan inilah yang dirasakan oleh Rasul, sehingga beliau berkata “Selimuti aku, selimuti aku,” sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat sejarah.

۞ ۞ ۞ ۞

4- Setelah Allah mempersiapkan Rasul-Nya untuk menjalankan tugasnya yang agung dengan persiapan mental yang sesuai, Allah menurunkan kepadanya Surat Al-Muddatstsir (74), surat keempat yang diturunkan dari Al-Qur’an yang mulia, Allah berfirman kepadanya:

﴿يٰٓاَيُّهَا الْمُدَّثِّرُۙ ١ قُمْ فَاَنْذِرْۖ ٢ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْۖ ٣ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْۖ ٤ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْۖ ٥ وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُۖ ٦ وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْۗ ٧ ﴾ ( المدّثّر/74: 1-7)

“Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.”

Artinya: Lepaskanlah selimutmu karena masa persiapan telah selesai, dan laksanakanlah dakwah ke jalan Tuhanmu sesuai tahapannya, menyampaikan dan meyakinkan serta memberi kabar gembira dengan pahala Allah yang besar pada hari pembalasan, hingga tahap terakhirnya yaitu memberi peringatan dengan azab Allah yang disegerakan dan yang ditangguhkan sampai hari pembalasan, hal ini ditunjukkan oleh firman Allah: “Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan!”

Dan Allah mengajarkan kepadanya ﷺ dasar-dasar umum yang besar dari agama yang dia ﷺ harus komitmen dengannya dan berdakwah kepadanya, yaitu:

  1. Mengagungkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam zat-Nya dan sifat-Nya, dan ini mengharuskan pengesaan Allah dalam rububiyah dan uluhiyah-Nya, maka Allah berfirman: “Dan Tuhanmu agungkanlah!” Dan pengesaan Allah dalam uluhiyah-Nya mengharuskan mengesakan-Nya dalam ibadah dan ini mencakup semua hukum agama.
  2. Bersuci dari kotoran dan noda, maka Allah berfirman kepadanya: “Dan pakaianmu bersihkanlah” dan ini mengharuskan penyucian tubuh, dan penyucian pakaian dan badan dari kotoran, najis, dan noda materi, menunjukkan kewajiban penyucian jiwa dari najis-najis maknawi terlebih lagi.
  3. Menjauhi semua keberhalaan dan kesyirikan serta hal-hal yang mendekatkan kepadanya dalam keyakinan dan perilaku, maka Allah berfirman kepadanya: “Dan perbuatan dosa tinggalkanlah” artinya: khususkan ar-rujz (yaitu syirik) dengan penghindaran yang sempurna, jangan mendekati sedikitpun darinya sama sekali, dan serulah untuk menghindarinya dalam risalahmu.

Dan Tuhannya membimbingnya kepada apa yang dapat menarik hati orang-orang yang dia dakwahi dalam perjalanan dakwahnya, dan kepada apa yang dapat melindungi dirinya dari kelemahan dan kebosanan, maka Allah menjelaskan kepadanya dua keutamaan akhlak:

  • Keutamaan pertama: Memberi hanya untuk mencari keridhaan Allah, tanpa mengharapkan keuntungan duniawi dari manusia, maka Allah berfirman kepadanya: “Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.”

Al-Mann: Memberikan pemberian yang baik. Artinya: Berikanlah pemberian yang baik dari apa yang kamu miliki dari tubuh, jiwa, dan hartamu dengan pemberian yang tidak dimaksudkan untuk mencari keuntungan dari manusia. Maknanya: Berikanlah pemberianmu tanpa mengharapkan balasan yang banyak dari manusia.

Ini menunjukkan bahwa seorang dai ke jalan Tuhannya hendaknya menjadi orang yang murah hati dan suka memberi, agar dapat menguasai perasaan jiwa dengan cinta, dan agar pemberiannya tidak menjadi sarana untuk mendapatkan pemberian yang banyak dari manusia, karena siapa yang mengharapkan pemberian banyak dari manusia melalui pemberiannya kepada mereka, manusia akan zuhud darinya, karena mereka melihatnya sebagai pedagang yang mencari keuntungan dari apa yang dia berikan.

  • Keutamaan kedua: Sabar untuk mencari keridhaan Allah, maka Allah berfirman kepadanya: “Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.”

Artinya: Dan untuk mencari keridhaan Tuhanmu dan pahala-Nya yang besar, bersabarlah atas apa yang kamu hadapi dari orang-orang yang kamu dakwahi ke jalan Tuhanmu, baik berupa penolakan, berpaling, atau gangguan dengan perkataan atau perbuatan mereka. Ini adalah arahan pertama dari Allah kepada Rasul-Nya untuk bersabar atas apa yang akan dia hadapi dari kaumnya berupa hal-hal yang menyakitkan, saat dia menjalankan risalah yang Allah bebankan kepadanya.

۞ ۞ ۞ ۞

5- Rasulullah ﷺ menjalankan tugas-tugas risalahnya sebagaimana Allah perintahkan, dan dia benar-benar menghadapi tuduhan-tuduhan dan perkataan-perkataan yang menyakitkan yang mempengaruhi jiwanya. Maka Allah menurunkan kepadanya firman-Nya dalam Surat Qaf (50 dalam mushaf/34 urutan turun):

﴿فَاصْبِرْ عَلٰى مَا يَقُوْلُوْنَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوْبِ ۚ ٣٩ وَمِنَ الَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَاَدْبَارَ السُّجُوْدِ ٤٠ ﴾ ( ق/50: 39-40)

“Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). Dan bertasbihlah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari dan sesudah shalat.”

Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk bersabar, dan menjelaskan kepadanya obat yang dapat membantunya, agar Allah menghilangkan darinya tekanan-tekanan mental yang biasanya menghabiskan energi kesabaran dalam jiwa manusia, yaitu dengan fokus beribadah mengingat Tuhannya dan bertasbih memuji-Nya pada waktu-waktu berikut:

  • Sebelum terbit matahari, waktu ini berlanjut sampai terbitnya matahari.
  • Sebelum terbenam matahari, waktu ini dari mulai matahari menguning sampai terbenamnya.
  • Di waktu malam, ini pada satu waktu atau beberapa waktu antara shalat Maghrib dan Isya, dan antara shalat Isya dan terbit fajar.
  • Setelah setiap shalat.

Pengajaran yang diarahkan kepada Rasulullah ﷺ ini juga diarahkan kepada semua dai kepada Allah dari umatnya, yang akan menghadapi dalam perjalanan dakwah mereka hal-hal yang dapat menghabiskan energi kesabaran mereka. Bertasbih memuji Allah dengan ucapan “Subhanallah wa bihamdihi” dan sejenisnya pada waktu-waktu yang Allah tunjukkan untuk bertasbih akan menambah energi kesabaran dalam jiwa dengan limpahan pertolongan dan bantuan Allah.

۞ ۞ ۞ ۞

6- Kemudian Rasulullah ﷺ menghadapi tuduhan bahwa dia adalah tukang sihir pendusta dan bahwa dia memiliki tujuan duniawi khusus dari dakwahnya, dan bahwa tauhid yang dia serukan adalah perkara yang dia ada-adakan sendiri, karena agama terakhir yaitu Nasrani memiliki akidah trinitas dan pengagungan berhala. Maka Allah menurunkan kepadanya dalam Surat Shad (38 dalam mushaf/38 urutan turun) firman-Nya:

﴿اِصْبِرْ عَلٰى مَا يَقُوْلُوْنَ ….. ﴾ ( ص/38: 17-17)

“Bersabarlah atas apa yang mereka katakan…”

Allah memberi isyarat tersirat kepada Rasul-Nya bahwa para rasul sebelumnya telah diuji dengan ujian-ujian berat lalu mereka bersabar atas apa yang Allah uji mereka dengannya. Allah menyebutkan Daud, Sulaiman, dan Ayyub, menjelaskan apa yang mereka diuji dengannya, dan menyebutkan Ibrahim, Ishaq, Ya’qub, Ismail, Ilyasa’, dan Dzulkifli, dalam isyarat tersirat bahwa mereka diuji lalu bersabar, tanpa menyebutkan hal ini secara eksplisit.

۞ ۞ ۞ ۞

7- Kemudian Rasul menghadapi tuduhan bahwa beliau memalsukan Al-Qur’an atas nama Tuhannya, bahwa orang lain membantunya dalam hal itu, dan bahwa beliau mengambilnya dari dongeng-dongeng orang terdahulu.

Para pemuka musyrikin Mekah meragukan kenabian beliau karena beliau makan makanan dan berjalan di pasar-pasar untuk mencari rezeki.

Mereka mengusulkan agar diturunkan malaikat dari langit bersamanya sebagai pemberi peringatan, untuk bersaksi bahwa beliau benar dalam risalahnya.

Mereka juga mengusulkan agar diberikan harta karun dari langit, atau agar beliau memiliki kebun di Mekah untuk makan darinya, karena Allah yang telah memilihnya sebagai nabi dan rasul – sebagaimana yang dia klaim – mampu memberikan hal itu kepadanya.

Mereka berkata kepada orang-orang yang beriman kepadanya: “Kalian hanya mengikuti seorang laki-laki yang tersihir.”

Tampaknya beberapa sahabat Rasulullah ﷺ berkeinginan untuk memenuhi sebagian tuntutan orang-orang kafir dengan harapan mereka akan beriman. Namun Allah mengetahui bahwa mereka hanya keras kepala dan menentang. Seandainya permintaan mereka dipenuhi, mereka tetap tidak akan beriman. Maka Allah menurunkan firman-Nya dalam surah Al-Furqan ayat 20:

﴿ …وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً ۗ اَتَصْبِرُوْنَۚ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيْرًا ࣖ ۔ ٢٠ ﴾ ( الفرقان/25: 20-20)

“Dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat.”

Allah menjelaskan kepada Rasul-Nya dan seluruh umatnya bahwa di antara ketentuan-Nya dalam kehidupan dunia, sebagai bagian dari hukum penciptaan umum (sunnatullah), adalah bahwa sebagian manusia menjadi ujian bagi sebagian yang lain. Artinya, Allah menguji manusia satu sama lain melalui berlakunya sunnatullah di alam semesta-Nya. Gangguan orang-orang kafir terhadap Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya adalah salah satu bentuk ujian ilahi bagi hamba-hamba-Nya.

Allah menjelaskan bahwa keberhasilan dalam ujian ilahi ini dapat dicapai melalui kesabaran. Allah berfirman dalam bentuk pertanyaan yang memotivasi: “Maukah kamu bersabar?” Artinya, jika kalian bersabar, kalian akan berhasil dan menang. Jika tidak bersabar, kalian tidak akan mengubah kenyataan sedikitpun, akan kehilangan pahala orang-orang yang sabar, dan akan terkena derita orang-orang yang gelisah.

۞ ۞ ۞ ۞

8- Para pemimpin kaum musyrikin terus bersikeras dengan tuduhan mereka bahwa Rasul adalah tukang sihir yang nyata, mengingat pengaruhnya dengan Al-Qur’an dan dakwahnya yang bijaksana, serta bertambahnya jumlah orang yang beriman kepadanya dan apa yang dibawanya dari Tuhannya. Pada pertengahan periode Mekah, para pemimpin musyrikin mengusulkan kepadanya untuk membawa Al-Qur’an selain yang diturunkan Allah kepadanya, atau mengubahnya sesuai dengan keinginan mereka. Mungkin Rasul terpikir untuk meminta kepada Tuhannya mengakhiri masa penangguhan mereka dan memutuskan untuk menghukum mereka, maka Allah menurunkan firman-Nya dalam surah Yunus ayat 108-109:

﴿قُلْ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَكُمُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّكُمْ ۚفَمَنِ اهْتَدٰى فَاِنَّمَا يَهْتَدِيْ لِنَفْسِهٖ ۚوَمَنْ ضَلَّ فَاِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚوَمَآ اَنَا۠ عَلَيْكُمْ بِوَكِيْلٍۗ ١٠٨ وَاتَّبِعْ مَا يُوْحٰىٓ اِلَيْكَ وَاصْبِرْ حَتّٰى يَحْكُمَ اللّٰهُ ۚوَهُوَ خَيْرُ الْحٰكِمِيْنَ ࣖ ١٠٩ ﴾ ( يونس/10: 108-109)

“Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu kebenaran dari Tuhanmu. Siapa yang berbuat benar, maka (kebenaran itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu untuk dirinya sendiri, dan aku bukanlah pemelihara bagimu.’ Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan. Dan Dia adalah hakim yang terbaik.”

Dengan ini Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk menyampaikan kepada seluruh manusia bahwa telah datang kebenaran dari Tuhan mereka, bahwa siapa yang mendapat petunjuk maka hanya dia sendiri yang mendapat manfaat dari petunjuk itu, dan siapa yang sesat maka hanya dia sendiri yang merugi karena kesesatannya. Allah memerintahkannya untuk menjelaskan kepada mereka bahwa dia bukanlah pemelihara atas mereka, dalam arti tidak ditugaskan untuk memberi petunjuk dengan paksaan dan tekanan, seperti seorang penjaga kawanan domba.

Allah memerintahkannya untuk mengikuti apa yang diwahyukan kepadanya, dan tidak mempedulikan perkataan orang-orang musyrik yang memintanya: “Datangkanlah Al-Qur’an selain ini atau gantilah.”

Dan akhirnya Allah memerintahkannya untuk bersabar hingga Allah memberikan keputusan terhadap orang-orang yang tetap dalam kekufuran mereka. Dia adalah sebaik-baik pemberi keputusan, maka janganlah meminta kepada Tuhanmu untuk mempercepat kebinasaan mereka, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui tentang hamba-hamba-Nya.

۞ ۞ ۞ ۞

9 – Kemudian Allah menunjukkan kepada Rasul-Nya sepenggal kisah Nuh dan kesabarannya terhadap kaumnya, dalam surah Hud (11 dalam mushaf, 52 urutan turun) dan berfirman kepadanya setelah itu:

﴿تِلْكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الْغَيْبِ نُوْحِيْهَآ اِلَيْكَ ۚمَا كُنْتَ تَعْلَمُهَآ اَنْتَ وَلَا قَوْمُكَ مِنْ قَبْلِ هٰذَاۚ فَاصْبِرْۚ اِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِيْنَ ࣖ ٤٩ ﴾ ( هود/11: 49-49)

“Itulah berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu. Tidak pernah engkau mengetahuinya dan tidak pula kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah, sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”

Yaitu: Teladanilah Nuh, dan bersabarlah sebagaimana dia bersabar menghadapi kaumnya.

Kesabaran di sini termasuk tingkat kesabaran yang wajib, karena firman Allah setelahnya: “Sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” Karena derajat takwa menuntut melakukan kewajiban dan meninggalkan yang haram.

Dan Allah juga berfirman kepadanya: “Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.”

Kesabaran yang diperintahkan dalam ayat ini termasuk kesabaran yang dianjurkan, karena firman Allah setelahnya: “Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.” Karena derajat ihsan adalah tingkatan yang dicapai oleh orang-orang yang memperluas diri dalam melakukan hal-hal yang diridhai Allah dari amalan-amalan sunnah yang baik.

۞ ۞ ۞ ۞

10 – Kemudian makin keras nada pendidikan Allah terhadap Rasul-Nya dalam mengarahkannya untuk bersabar atas apa yang dia hadapi dari pembesar-pembesar kaumnya berupa pendustaan, gangguan dan penindasan terhadap para sahabatnya. Allah menyertakan janji kemenangan dan menjelaskan bahwa banyak rasul sebelumnya yang telah didustakan dan disakiti, lalu mereka bersabar hingga datang pertolongan Allah kepada mereka. Maka Allah menurunkan firman-Nya dalam surah Al-An’am (6 dalam mushaf, 55 urutan turun):

﴿وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوْا عَلٰى مَا كُذِّبُوْا وَاُوْذُوْا حَتّٰٓى اَتٰىهُمْ نَصْرُنَا ۚوَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمٰتِ اللّٰهِ ۚوَلَقَدْ جَاۤءَكَ مِنْ نَّبَإِ۟ى الْمُرْسَلِيْنَ ٣٤ وَاِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكَ اِعْرَاضُهُمْ فَاِنِ اسْتَطَعْتَ اَنْ تَبْتَغِيَ نَفَقًا فِى الْاَرْضِ اَوْ سُلَّمًا فِى السَّمَاۤءِ فَتَأْتِيَهُمْ بِاٰيَةٍ ۗوَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَمَعَهُمْ عَلَى الْهُدٰى فَلَا تَكُوْنَنَّ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ ٣٥ ﴾ ( الانعام/6: 34-35)

“Dan sungguh, rasul-rasul sebelum engkau telah didustakan, lalu mereka bersabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Dan tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat (ketetapan) Allah. Dan sungguh, telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu. Dan jika keberpalingan mereka terasa berat bagimu, maka sekiranya engkau dapat membuat lubang di bumi atau tangga ke langit lalu engkau dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka, (maka buatlah). Dan jika Allah menghendaki, tentu Dia menjadikan mereka semua mengikuti petunjuk, maka janganlah engkau termasuk orang-orang yang bodoh.”

Dan tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat Allah: Artinya tidak ada yang dapat mengubah ketetapan Allah yang bersifat penciptaan termasuk sunnahNya dalam menguji sebagian hamba-Nya dengan sebagian yang lain, termasuk ujian para rasul-Nya dengan pendustaan orang-orang kafir dan gangguan mereka, untuk menguji tingkat kesabaran mereka, dan tidak ada yang dapat mengubah ketetapan Allah yang bersifat perintah dan pembalasan.

Tampaknya Rasul berharap agar Allah menunjukkan beberapa tanda keajaiban yang diminta oleh pembesar-pembesar kaum musyrikin, dengan harapan mereka akan beriman. Namun Allah mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang yang keras kepala dan pembangkang, dan bahwa menunjukkan keajaiban yang mereka minta tidak akan mengubah sikap mereka sedikitpun, bahkan akan menambah kekeraskepalaan, pembangkangan, dan keinginan mereka dalam meminta mukjizat. Pada saat itu, hikmah menuntut pembinasaan mereka secara menyeluruh, maka Allah berfirman kepadanya:

“Dan jika keberpalingan mereka terasa berat bagimu, maka sekiranya engkau dapat membuat lubang di bumi atau tangga ke langit lalu engkau dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka…”

Artinya: Jika engkau mampu melakukan itu, maka lakukanlah. Namun dia tidak akan mampu melakukannya kecuali jika Allah memberikan kemampuan kepadanya. Ini adalah pengajaran dengan gaya melemahkan, dengan tujuan mendidik para pembawa risalahnya setelahnya.

Dalam ungkapan “keberpalingan mereka” ada isyarat bahwa mereka secara keseluruhan masih dalam tahap di mana sebagian kelompok dari mereka sesekali memberikan respon, dan belum sampai pada tahap keberpalingan total yang membuat keadaan mereka menjadi putus asa.

“Dan jika Allah menghendaki, tentu Dia menjadikan mereka semua mengikuti petunjuk”: Artinya jika Allah menghendaki untuk memberi mereka hidayah secara paksa, tentu Dia akan mencabut kehendak bebas mereka dan mengumpulkan mereka dalam petunjuk, tetapi Allah berkehendak untuk menguji mereka sehingga memberi mereka kehendak bebas. Yang dituntut dari mereka adalah mendapatkan petunjuk dengan pilihan bebas mereka, bukan dengan paksaan.

Maka ketahuilah kebenaran ini dan bertindaklah selalu untuk berusaha sesuai dengannya.

۞ ۞ ۞ ۞

11 – Kemudian jiwa-jiwa para sahabat Rasulullah ﷺ sangat mengharapkan pertolongan Allah, maka Allah menurunkan dalam surah Ghafir (40 dalam mushaf, 60 urutan turun) firman-Nya:

﴿اِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُوْمُ الْاَشْهَادُۙ ٥١ ﴾ ( غافر/40: 51-51)

“Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tampilnya para saksi.”

Dan setelah tiga ayat, Allah berfirman kepada Rasul-Nya dan setiap pembawa risalah-Nya dari umatnya:

﴿فَاصْبِرْ اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ وَّاسْتَغْفِرْ لِذَنْۢبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْاِبْكَارِ ٥٥ ﴾ ( غافر/40: 55-55)

“Maka bersabarlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampun untuk dosamu dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.”

Allah menjanjikan kepada Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman dengan kemenangan di dunia dan kemenangan pada hari tampilnya para saksi, yaitu mereka yang bersaksi untuk atau atas hamba-hamba tentang apa yang terjadi dari mereka, menjelaskan bahwa kemenangan itu adalah benar tanpa keraguan.

Allah memerintahkan secara individual kepada Rasulullah ﷺ dan setiap pembawa risalahnya dari umatnya untuk bersabar, memohon ampun atas dosanya, dan bertasbih dengan memuji Tuhannya di waktu petang dan pagi.

Tampaknya yang dimaksud dengan arahan ini adalah pembawa risalah Rasul dari umatnya, dan khitab datang dalam bentuk tunggal dimulai dengan Rasulullah ﷺ mengingat bahwa beliau adalah yang pertama dari orang-orang mukmin muslim yang berdakwah dan beliau pemimpin mereka, dan arahan khitab secara otomatis beralih kepada setiap penerus pembawa risalah Rasul dari umatnya ﷺ, karena keadaan para sahabat Rasulullah ﷺ pada sepertiga terakhir periode Mekah menuntut arahan yang tegas ini.

Dan setelah dua puluh ayat dari surah yang sama, Allah berfirman:

﴿فَاصْبِرْ اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ ۚفَاِمَّا نُرِيَنَّكَ بَعْضَ الَّذِيْ نَعِدُهُمْ اَوْ نَتَوَفَّيَنَّكَ فَاِلَيْنَا يُرْجَعُوْنَ ٧٧ ﴾ ( غافر/40: 77-77)

“Maka bersabarlah, sesungguhnya janji Allah itu benar. Jika Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari (azab) yang Kami ancamkan kepada mereka, atau Kami wafatkan engkau, namun kepada Kami jugalah mereka akan dikembalikan.”

Tampaknya jiwa Rasulullah ﷺ berharap agar Allah menunjukkan mukjizat besar yang akan menjadi sebab hidayah bagi banyak pembesar kaumnya. Maka Allah berfirman kepadanya:

﴿وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّنْ قَبْلِكَ مِنْهُمْ مَّنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَّنْ لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ ۗوَمَا كَانَ لِرَسُوْلٍ اَنْ يَّأْتِيَ بِاٰيَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۚفَاِذَا جَاۤءَ اَمْرُ اللّٰهِ قُضِيَ بِالْحَقِّ وَخَسِرَ هُنَالِكَ الْمُبْطِلُوْنَ ࣖ ٧٨ ﴾ ( غافر/40: 78-78)

“Dan sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul sebelum engkau, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antaranya ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Dan tidak ada seorang rasul pun yang akan mendatangkan suatu mukjizat kecuali dengan izin Allah. Maka apabila telah datang perintah Allah, (akan) ditetapkan (hukum) dengan benar; dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil.”

Artinya: Ketika Allah memberikan mukjizat besar kepada Rasul-Nya sebagai jawaban atas permintaan kaumnya, kemudian kaumnya tetap bersikeras dalam pembangkangan dan kekufuran, maka kehendak Allah Yang Maha Bijaksana menetapkan untuk membinasakan kaum tersebut sebagaimana yang terjadi pada kaum Tsamud ketika mereka tetap dalam kekufuran setelah mukjizat unta.

۞ ۞ ۞ ۞

12 – Setelah Allah menjelaskan kepada Rasul-Nya bahwa hikmah menuntut untuk tidak menunjukkan mukjizat besar kepadanya, agar kaumnya tidak terpapar kebinasaan total jika mereka tetap dalam kekufuran setelah mukjizat itu, tampaknya Rasul memiliki pemikiran untuk mempercepat hukuman bagi yang berhak dihukum dari kaumnya, tanpa meminta apapun dari Tuhannya tentang hal itu. Maka Allah menurunkan firman-Nya dalam surah Al-Ahqaf (46 dalam mushaf, 66 urutan turun):

﴿فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ اُولُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَّهُمْ ۗ كَاَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوْعَدُوْنَۙ لَمْ يَلْبَثُوْٓا اِلَّا سَاعَةً مِّنْ نَّهَارٍ ۗ بَلٰغٌ ۚفَهَلْ يُهْلَكُ اِلَّا الْقَوْمُ الْفٰسِقُوْنَ ࣖ ٣٥ ﴾ ( الاحقاف/46: 35-35)

“Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati dan janganlah engkau meminta agar azab disegerakan untuk mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Tugasmu) hanya menyampaikan. Maka tidak dibinasakan kecuali kaum yang fasik.”

Artinya: Janganlah engkau meminta agar disegerakan kebinasaan mereka di dunia, karena azab yang dijanjikan pasti akan datang. Pada hari kiamat, ketika mereka melihat azab, mereka akan merasa seolah-olah tidak tinggal antara kematian dan kebangkitan kecuali sesaat dari siang hari. Dan Allah mengumumkan di akhir ayat sebuah pengumuman umum untuk semua orang beriman untuk memutus keinginan jiwa mereka akan kebinasaan kelompok-kelompok orang kafir. Allah menjelaskan dalam pengumuman ini bahwa kebinasaan total suatu kaum hanya terjadi ketika kefasikan mereka telah menjadi hal yang umum dan menyeluruh, dan perbaikan individu-individu dari mereka telah menjadi sesuatu yang putus asa, maka Allah berfirman: “(Tugasmu) hanya menyampaikan. Maka tidak dibinasakan kecuali kaum yang fasik.” Artinya: Selama mereka belum mencapai titik terendah ini, maka mereka tidak akan dibinasakan dengan kebinasaan yang umum dan menyeluruh.

۞ ۞ ۞ ۞

13 – Kemudian Allah menjelaskan dakwah para rasul terdahulu kepada kaum mereka, dialog mereka, dan pernyataan kesabaran mereka atas gangguan kaum mereka, agar para dai dari umat ini dapat meneladani mereka. Allah berfirman dalam surah Ibrahim (14 dalam mushaf, 72 urutan turun):

﴿اَلَمْ يَأْتِكُمْ نَبَؤُا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ قَوْمِ نُوْحٍ وَّعَادٍ وَّثَمُوْدَ ەۗ وَالَّذِيْنَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ ۗ لَا يَعْلَمُهُمْ اِلَّا اللّٰهُ ۗجَاۤءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنٰتِ فَرَدُّوْٓا اَيْدِيَهُمْ فِيْٓ اَفْوَاهِهِمْ وَقَالُوْٓا اِنَّا كَفَرْنَا بِمَآ اُرْسِلْتُمْ بِهٖ وَاِنَّا لَفِيْ شَكٍّ مِّمَّا تَدْعُوْنَنَآ اِلَيْهِ مُرِيْبٍ ٩ ۞ قَالَتْ رُسُلُهُمْ اَفِى اللّٰهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ يَدْعُوْكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُمْ مِّنْ ذُنُوْبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّىۗ قَالُوْٓا اِنْ اَنْتُمْ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُنَا ۗ تُرِيْدُوْنَ اَنْ تَصُدُّوْنَا عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ اٰبَاۤؤُنَا فَأْتُوْنَا بِسُلْطٰنٍ مُّبِيْنٍ ١٠ قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ اِنْ نَّحْنُ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَمُنُّ عَلٰى مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖۗ وَمَا كَانَ لَنَآ اَنْ نَّأْتِيَكُمْ بِسُلْطٰنٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ ١١ وَمَا لَنَآ اَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى اللّٰهِ وَقَدْ هَدٰىنَا سُبُلَنَاۗ وَلَنَصْبِرَنَّ عَلٰى مَآ اٰذَيْتُمُوْنَاۗ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُوْنَ ࣖ ١٢ وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِرُسُلِهِمْ لَنُخْرِجَنَّكُمْ مِّنْ اَرْضِنَآ اَوْ لَتَعُوْدُنَّ فِيْ مِلَّتِنَاۗ فَاَوْحٰٓى اِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ لَنُهْلِكَنَّ الظّٰلِمِيْنَ ۗ  ١٣ وَلَنُسْكِنَنَّكُمُ الْاَرْضَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ ۗذٰلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِيْ وَخَافَ وَعِيْدِ ١٤ وَاسْتَفْتَحُوْا وَخَابَ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيْدٍۙ ١٥ ﴾ ( ابرٰهيم/14: 9-15)

“Belum sampaikah kepadamu berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud dan orang-orang setelah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka selain Allah. Rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, namun mereka menutupkan tangannya ke mulutnya dan berkata, ‘Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya dan kami benar-benar dalam keraguan yang meresahkan terhadap apa yang kamu serukan kepada kami.’ Rasul-rasul mereka berkata, ‘Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan (azab)mu sampai waktu yang ditentukan?’ Mereka berkata, ‘Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu ingin menghalang-halangi kami dari apa yang disembah oleh nenek moyang kami, maka datangkanlah kepada kami bukti yang nyata.’ Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka, ‘Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak pantas bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal. Dan mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah, sedangkan Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh akan bersabar terhadap gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal berserah diri.’ Dan orang-orang kafir berkata kepada rasul-rasul mereka, ‘Kami pasti akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami.’ Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka, ‘Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zalim itu, dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri itu setelah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut kepada-Ku dan takut kepada ancaman-Ku.’ Dan mereka memohon kemenangan (kepada Allah) dan binasalah semua orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala.”

Dalam teks ini terdapat paparan menyeluruh tentang metodologi para rasul dalam mendakwahi kaum mereka ke jalan Tuhan mereka, perdebatan mereka dengan cara yang terbaik, kesabaran mereka atas gangguan yang mereka terima karena menyampaikan risalah Tuhan mereka, dan penjelasan bahwa para penguasa zalim dari kaum-kaum tersebut mengancam para rasul dengan pengusiran dari negeri mereka jika tidak kembali ke agama kaum mereka.

Dan akhirnya Allah menolong para rasul-Nya dengan kemenangan dan membinasakan musuh-musuh mereka yang kafir dan zalim. Jelas dari teks ini ada arahan untuk meneladani para rasul terdahulu dalam dakwah mereka, dialog dan perdebatan mereka, dan pernyataan kesabaran mereka atas gangguan setiap penguasa yang keras kepala.

Ini adalah salah satu metode pendidikan dengan teladan yang baik, dan diketahui bahwa para rasul adalah contoh paling sempurna untuk diteladani dalam tugas-tugas risalah mereka.

۞ ۞ ۞ ۞

14 – Kemudian Allah menjelaskan bahwa Dia menjadikan dari Bani Israel sekelompok dai yang menyeru ke jalan Tuhan mereka, memberi petunjuk kepada manusia dengan perintah-Nya, ketika mereka bersabar dengan kesabaran yang dibangun di atas dasar keyakinan pada ayat-ayat Allah.

Dalam hal ini terdapat dorongan bagi kaum terpilih umat Muhammad ﷺ untuk meyakini ayat-ayat Allah dan bersabar hingga Allah menjadikan di antara mereka para pemimpin yang memberi petunjuk kepada manusia dengan berpegang pada perintah Allah dalam metodologi dakwah mereka ke jalan Tuhan mereka. Allah berfirman dalam surah As-Sajdah (32 dalam mushaf, 75 urutan turun):

﴿وَلَقَدْ اٰتَيْنَا مُوْسَى الْكِتٰبَ فَلَا تَكُنْ فِيْ مِرْيَةٍ مِّنْ لِّقَاۤىِٕهٖ وَجَعَلْنٰهُ هُدًى لِّبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَۚ ٢٣ وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ اَىِٕمَّةً يَّهْدُوْنَ بِاَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوْاۗ وَكَانُوْا بِاٰيٰتِنَا يُوْقِنُوْنَ ٢٤ ﴾ ( السّجدة/32: 23-24)

“Dan sungguh, Kami telah memberikan Kitab (Taurat) kepada Musa, maka janganlah engkau ragu-ragu untuk menemuinya dan Kami jadikan (Taurat) itu petunjuk bagi Bani Israel. Dan Kami jadikan di antara mereka pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar dan meyakini ayat-ayat Kami.”

Artinya: Sungguh Kami telah memberikan kitab Taurat kepada Musa, maka janganlah engkau ragu untuk bertemu Musa – dan ini telah terjadi pada malam Isra’ Mi’raj – dan Kami jadikan Musa dan Taurat sebagai petunjuk bagi Bani Israel, dan Kami jadikan dari Bani Israel para pemimpin dakwah ke agama Allah yang memberi petunjuk dengan perintah Tuhan mereka, ketika mereka bersabar atas apa yang menimpa mereka di jalan Allah, dan mereka meyakini ayat-ayat Tuhan mereka. Maknanya: Maka bersabarlah wahai umat Muhammad, dan yakinilah ayat-ayat Tuhan kalian, hingga Allah menjadikan dari kalian para pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Tuhan mereka.

۞ ۞ ۞ ۞

15 – Kemudian Allah mengarahkan Rasul-Nya untuk bersabar atas ketetapan Tuhannya, dan menjelaskan bahwa dia dijaga dengan penjagaan-Nya, dilindungi dengan pengawasan-Nya, dan menegaskan kepadanya keharusan menggunakan obat tasbih dengan memuji Tuhannya pada setiap gerakan berdiri yang dia lakukan, seperti bangun dari tidur atau duduk atau berbaring atau berhenti dari perjalanan, dan pada waktu-waktu malam yaitu jam-jamnya, dan pada waktu sahur ketika bintang-bintang mulai menghilang menuju terbenam. Allah meminta beliau untuk membiarkan orang-orang kafir yang keras kepala hingga mereka menemui hari di mana mereka akan pingsan, baik dengan kematian pada ajal mereka, atau dengan dibunuh oleh tangan orang-orang beriman, atau dengan cara lain. Allah berfirman kepada Rasul-Nya dalam surah At-Tur (52 dalam mushaf, 76 urutan turun):

﴿فَذَرْهُمْ حَتّٰى يُلٰقُوْا يَوْمَهُمُ الَّذِيْ فِيْهِ يُصْعَقُوْنَۙ ٤٥ يَوْمَ لَا يُغْنِيْ عَنْهُمْ كَيْدُهُمْ شَيْـًٔا وَّلَا هُمْ يُنْصَرُوْنَۗ ٤٦ وَاِنَّ لِلَّذِيْنَ ظَلَمُوْا عَذَابًا دُوْنَ ذٰلِكَ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ ٤٧ وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَاِنَّكَ بِاَعْيُنِنَا وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِيْنَ تَقُوْمُۙ ٤٨ وَمِنَ الَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَاِدْبَارَ النُّجُوْمِ ࣖ ٤٩ ﴾ ( الطور/52: 45-49)

“Maka biarkanlah mereka hingga mereka menemui hari (yang dijanjikan kepada) mereka yang pada hari itu mereka dibinasakan, (yaitu) hari (ketika) usaha mereka tidak berguna sedikit pun dan mereka tidak akan diberi pertolongan. Dan sesungguhnya untuk orang-orang yang zalim ada azab selain itu. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Dan bersabarlah engkau (Muhammad) menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika engkau bangun, dan bertasbihlah kepada-Nya pada sebagian malam dan (juga) ketika bintang-bintang terbenam.”

Ditambahkan obat tasbih dalam teks ini pada waktu-waktu yang belum disebutkan dalam teks-teks yang turun sebelumnya, yaitu pada setiap gerakan berdiri, dan pada waktu sahur saat bintang-bintang menghilang. Arahan yang terkandung dalam teks ini juga ditujukan kepada para pemimpin dakwah dari umat Muhammad ﷺ. Maka pembawa risalah Rasulullah ﷺ dalam dakwah ke jalan Allah dan amar ma’ruf nahi munkar harus bersabar dalam melaksanakan tugas-tugas risalahnya, membiarkan urusan orang-orang yang didakwahi yang keras kepala kepada ketetapan Tuhannya, dan membiarkan mereka hingga menemui hari di mana mereka akan dibinasakan. Pada hari kiamat, tipu daya mereka tidak akan berguna sedikitpun dan mereka tidak akan ditolong. Selain itu, mereka akan mendapat azab lain di kehidupan dunia yang akan datang kepada mereka, dan kebanyakan mereka tidak mengetahui bahwa itu adalah hukuman Allah untuk mereka.

۞ ۞ ۞ ۞

16 – Kemudian Allah mengarahkan Rasul-Nya dan setiap dai ke jalan Tuhan-Nya dari umatnya untuk bersabar dengan sabar yang indah terhadap orang-orang yang memandang azab Allah sebagai sesuatu yang jauh.

Sabar yang indah adalah kesabaran yang disertai dengan kelembutan dan membalas gangguan orang-orang yang didakwahi dengan maaf, ampunan, dan kebaikan melalui pemberian dan kata-kata yang baik, sebagai sarana untuk melunakkan hati.

Dalam konteks pembicaraan tentang pertanyaan penanya tentang azab yang akan terjadi, yang tidak ada yang dapat menolaknya bagi orang-orang kafir, dan penanya ini memandangnya jauh karena melihatnya sebagai ancaman yang ditunda pelaksanaannya hingga hari kiamat, Allah berfirman kepada Rasul-Nya dalam surah Al-Ma’arij (70 dalam mushaf, 79 urutan turun):

﴿فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيْلًا ٥ اِنَّهُمْ يَرَوْنَهٗ بَعِيْدًاۙ ٦ وَّنَرٰىهُ قَرِيْبًاۗ ٧ يَوْمَ تَكُوْنُ السَّمَاۤءُ كَالْمُهْلِۙ ٨ وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِۙ ٩ وَلَا يَسْـَٔلُ حَمِيْمٌ حَمِيْمًاۚ ١٠ ﴾ ( المعارج/70: 5-10)

“Maka bersabarlah engkau (Muhammad) dengan sabar yang baik. Sungguh, mereka memandang (azab) itu jauh (mustahil), sedangkan Kami memandangnya dekat, pada hari ketika langit menjadi seperti cairan tembaga, dan gunung-gunung seperti bulu (yang beterbangan), dan tidak ada seorang teman karib pun menanyakan temannya.”

“Kal-muhl”: Seperti logam yang meleleh, dan tampaknya seperti tembaga yang meleleh karena disebutkan bahwa langit pada hari itu akan seperti mawar merah.

“Kal-‘ihn”: Seperti wol yang diuraikan dengan berbagai warna.

“Hamimun hamiman”: Hamim adalah kerabat dekat yang engkau cintai dan dia mencintaimu.

۞ ۞ ۞ ۞

17 – Kemudian Allah mengisyaratkan bahwa orang-orang musyrik terus menuntut Rasulullah ﷺ untuk mendatangkan kepada mereka tanda material dari tanda-tanda mukjizat material yang luar biasa, dan tampaknya sekelompok sahabat Rasulullah ﷺ berharap Allah akan menunjukkan kepada Rasul-Nya tanda-tanda material menakjubkan yang dituntut oleh orang-orang musyrik, dengan harapan orang-orang yang bersikeras dalam kekufuran mereka akan menerima dakwah Rasulullah ﷺ. Maka Allah menjelaskan kepada mereka bahwa keadaan orang-orang yang menuntut tanda-tanda material yang menakjubkan ini adalah orang-orang yang berlebihan, mereka tidak siap untuk beriman meskipun Rasul mendatangkan apa yang mereka minta, karena hati mereka terkunci dan tersegel karena keras kepala mereka dan kegigihan mereka dalam kekufuran, dan mengikuti hawa nafsu dan syahwat mereka dari perhiasan kehidupan dunia, sehingga hati mereka tidak menerima kebenaran dan tidak puas dengan tanda-tanda yang luar biasa.

Tidak ada yang harus dilakukan oleh Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya kecuali bersabar sampai Allah mewujudkan janji-Nya untuk menolong mereka, dan menurunkan kekalahan atau kematian kepada musuh-musuh mereka. Maka Allah Yang Maha Mulia menurunkan firman-Nya dalam surah (Ar-Rum/30 dalam mushaf/84 urutan turun):

﴿وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِيْ هٰذَا الْقُرْاٰنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍۗ وَلَىِٕنْ جِئْتَهُمْ بِاٰيَةٍ لَّيَقُوْلَنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِنْ اَنْتُمْ اِلَّا مُبْطِلُوْنَ ٥٨ كَذٰلِكَ يَطْبَعُ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ٥٩ فَاصْبِرْ اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ وَّلَا يَسْتَخِفَّنَّكَ الَّذِيْنَ لَا يُوْقِنُوْنَ ࣖ ٦٠ ﴾ ( الرّوم/30: 58-60)

“Dan sungguh, jika engkau datang kepada mereka dengan suatu tanda (mukjizat), pastilah orang-orang kafir itu akan berkata, ‘Kamu tidak lain hanyalah orang-orang yang membuat kepalsuan.’ Demikianlah Allah mengunci hati orang-orang yang tidak mengetahui. Maka bersabarlah engkau (Muhammad), sungguh, janji Allah itu benar dan janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan engkau.”

Artinya: Jika engkau mendatangi orang-orang yang keras kepala dan bandel ini dengan tanda mukjizat yang nyata sesuai permintaan mereka, orang-orang kafir di antara mereka akan berkata kepada Rasul dan orang-orang beriman bersamanya “Kalian hanyalah pembuat kebatilan, dan tanda yang dibawa Muhammad ini hanyalah perbuatan sihir.”

Mereka tidak meminta tanda untuk meyakini kebenaran, karena bukti-bukti yang nyata telah menampakkan wajah kebenaran yang bersinar kepada mereka. Namun mereka tetap bersikeras menolak dan tidak merespons seruan kebenaran, tidak bersedia membuka kunci hati mereka untuk beriman pada kebenaran yang membantah pemikiran mereka dengan bukti-bukti logis.

Diantara fenomena hukum ketetapan Allah dalam penciptaan yang telah Allah fitrahkan pada jiwa manusia adalah bahwa siapa yang menolak kebenaran karena mengikuti hawa nafsu, syahwat dan keinginan duniawi, dan bersikeras memasang tirai penghalang antara bukti-bukti kebenaran dengan pusat pemikiran yang sehat dan penerima ilmu yang benar dalam perangkat pengetahuan yang Allah anugerahkan padanya, maka pasti hatinya akan tetap terkunci dari masuknya kebaikan, dan akan dicap dengan stempel kuncinya, sebagai tanda ketidaksiapannya menerima seruan kebenaran dan ketidakmampuannya menerima pengetahuan dan ilmu yang bertentangan dengan hawa nafsu, syahwat dan keinginan duniawi mereka.

Dengan keinginan batin yang dalam yang menguasai kehendak mereka, mereka tidak ingin mengetahui kebenaran-kebenaran yang bertentangan dengan hawa nafsu, syahwat dan keinginan duniawi ini. Karena itulah hati mereka terkunci, tersegel kuncinya, dan tercap segel kuncinya, sebagai pertanda bahwa hati itu telah menjadi tidak dapat dibuka lagi. Semua ini sebagai kiasan yang didasarkan pada penyerupaan hati dengan rumah-rumah yang memiliki pintu yang terkunci dan ditutup dengan tanah liat, kemudian distempel di atas tanah liat tersebut.

Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah dalam teks:

﴿كَذٰلِكَ يَطْبَعُ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ٥٩ ﴾ ( الرّوم/30: 59-59)

“Demikianlah Allah mengunci hati orang-orang yang tidak mengetahui.”

Artinya: Orang-orang yang tidak ingin mengetahui sebagian kebenaran karena bertentangan dengan hawa nafsu, syahwat dan keinginan jiwa mereka terhadap kehidupan dunia, maka berlaku pada mereka hukum sebab-akibat dari Allah bahwa hati mereka terkunci dan tersegel kuncinya, sehingga tidak menerima kebenaran dan tidak meresponnya. Keadaan mereka seperti orang yang bermaksiat dengan memasukkan tangannya ke dalam api, maka Allah akan membakarnya, dan seperti orang yang bermaksiat dengan meminum khamar atas kemauannya sendiri, maka Allah akan menjalankan hukum kecanduan padanya beserta penyakit-penyakit yang ditimbulkannya, begitu pula keadaan para pengguna narkoba atas kemauan mereka sendiri.

۞ ۞ ۞ ۞

18 – Akhirnya, Allah menurunkan di pertengahan periode Madinah dalam sejarah dakwah Rasulullah ﷺ firman-Nya dalam surah Al-Insan/76 (dalam mushaf)/98 (urutan turun) sebagai seruan kepada Rasul-Nya dan mencakup setiap pembawa risalah dari umatnya:

﴿اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْاٰنَ تَنْزِيْلًاۚ ٢٣ فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعْ مِنْهُمْ اٰثِمًا اَوْ كَفُوْرًاۚ ٢٤ وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًاۚ ٢٥ وَمِنَ الَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهٗ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيْلًا ٢٦ ﴾ ( الانسان/76: 23-26)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Quran kepadamu (Muhammad) secara berangsur-angsur. Maka bersabarlah untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah engkau ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka. Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang, dan pada sebagian malam, maka bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.”

Teks ini merupakan teks penutup dalam petunjuk Allah kepada Rasul-Nya tentang keutamaan akhlak sabar dalam medan perjuangan berdakwah ke jalan Tuhannya.

Dan Allah menjelaskan di dalamnya bahwa Rasul dan para pembawa risalah dari umatnya menghadapi berbagai ujian dalam kehidupan dunia sebagai bagian dari ketetapan dalam qadha dan qadar Allah. Yang dituntut dalam ujian ini adalah kesabaran dalam menjalankan tugas-tugas risalah hingga tercapai hukum Allah bagi orang-orang yang didakwahi.

Allah memperingatkan di dalamnya dari menaati setiap pendosa yang mengajak untuk meninggalkan tugas-tugas risalah atau keluar dari apa yang diperintahkan Allah atau memenuhi tuntutan yang tidak diizinkan Allah, seperti menghalalkan apa yang diharamkan Allah, atau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, atau meremehkan sebagian syariat Islam dan hukum-hukumnya.

Allah juga memperingatkan di dalamnya dari menaati setiap orang kafir, yaitu pendosa yang dosanya mencapai tingkat kekufuran terhadap apa yang wajib diimani. Orang kafir ini telah keluar sepenuhnya dari iman dan Islam.

Allah menegaskan di dalamnya keharusan menggunakan obat berupa dzikir kepada Allah, bertasbih dan bersujud kepada-Nya pada waktu-waktu siang dan malam. Allah berfirman: “Dan sebutlah nama Tuhanmu pada waktu pagi dan petang, dan pada malam hari bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada malam yang panjang.”

“Dan pada malam hari bersujudlah kepada-Nya”: yakni jadikanlah dirimu rutin melakukan shalat di tengah malam.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

 

PERNYATAAN KEEMPAT

Contoh-contoh dari sirah Rasulullah dalam kesabaran

 

1 – Bukhari dan lainnya meriwayatkan dari Khabbab, ia berkata: “Kami mendatangi Rasulullah ﷺ yang sedang berbantal selendangnya di bawah naungan Ka’bah. Kami mengadukan keadaan kami kepadanya dan berkata: ‘Tidakkah engkau meminta pertolongan untuk kami? Tidakkah engkau berdoa kepada Allah untuk kami?’ Beliau duduk dengan wajah memerah dan berkata:

‘Sungguh, orang-orang sebelum kalian, seseorang dari mereka digali lubang di tanah untuknya, kemudian dibawakan gergaji lalu diletakkan di atas kepalanya, lalu tubuhnya dibelah menjadi dua, namun itu tidak memalingkannya dari agamanya. Dan ada yang disisir dengan sisir besi hingga dagingnya terkelupas dari tulangnya, namun itu tidak memalingkannya dari agamanya. Demi Allah, Allah pasti akan menyempurnakan urusan ini, hingga seorang penunggang unta bisa berjalan dari Shan’a ke Hadhramaut tanpa takut kepada siapapun kecuali kepada Allah dan serigala yang mengancam kambingnya, tetapi kalian terlalu tergesa-gesa.'”

2 – Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Urwah bin Zubair, bahwa Aisyah menceritakan bahwa ia bertanya kepada Rasulullah ﷺ: “Pernahkah engkau mengalami hari yang lebih berat daripada hari Uhud?” Beliau menjawab: “Sungguh aku telah mengalami dari kaummu apa yang telah aku alami, dan yang paling berat yang aku alami dari mereka adalah pada hari Aqabah, ketika aku menawarkan diriku kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kulal, namun ia tidak memenuhi keinginanku. Maka aku pergi dalam keadaan sedih, dan aku tidak sadar hingga sampai di Qarnuts Tsa’alib. Aku mengangkat kepalaku dan tiba-tiba ada awan yang menaungi diriku. Aku melihat, ternyata di dalamnya ada Jibril. Ia memanggilku dan berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan penolakan mereka terhadapmu. Allah telah mengutus Malaikat Gunung kepadamu agar engkau memerintahkannya sesuai kehendakmu terhadap mereka.’ Malaikat Gunung memanggilku dan memberi salam kepadaku, kemudian berkata: ‘Wahai Muhammad, Allah telah mengutusku, sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu kepadamu. Aku adalah Malaikat Gunung, Tuhanmu mengutusku kepadamu agar engkau memerintahkanku sekehendakmu. Jika engkau mau, aku bisa menimpakan dua gunung kepada mereka.'”

Maka Nabi ﷺ menjawab: “Bahkan aku berharap Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”

3 – Apa yang dialami Rasulullah ﷺ ketika beliau pergi ke Thaif mencari pertolongan dan perlindungan dari Tsaqif dari kaumnya.

Beliau pergi sendirian ke sana. Ketika sampai di Thaif, beliau mendatangi para pemimpin dan pembesar Tsaqif. Beliau duduk bersama mereka dan mengajak mereka kepada Allah, berbicara tentang tujuan kedatangannya untuk mendapat pertolongan mereka dalam menyebarkan Islam dan mendukungnya menghadapi penentangan kaumnya. Namun mereka tidak merespons. Beliau meminta mereka merahasiakan kedatangannya ketika putus asa dari mereka, tapi mereka tidak melakukannya. Bahkan mereka menghasut orang-orang bodoh dan budak-budak mereka untuk mencaci dan berteriak kepada beliau hingga orang-orang berkumpul mengelilinginya. Mereka memaksa beliau berlindung ke kebun milik Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin Rabi’ah yang ada di sana namun keduanya tidak menolongnya. Orang-orang bodoh Tsaqif yang mengikutinya pun kembali.

Ketika telah tenang, beliau berdoa kepada Tuhannya:

“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku dan ketidakberdayaanku di hadapan manusia, wahai Yang Maha Penyayang. Engkau adalah Tuhan orang-orang yang lemah, dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapa Engkau serahkan diriku? Kepada orang jauh yang berwajah masam kepadaku, ataukah kepada musuh yang Engkau kuasakan atas urusanku? Jika Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli. Namun perlindungan-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menerangi kegelapan dan memperbaiki urusan dunia dan akhirat, dari turunnya murka-Mu atau datangnya kemurkaan-Mu. Kepada-Mu lah aku mengadu hingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Mu.”

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

 

 

PASAL KEDUA

Kewajiban Pembawa Risalah untuk Memiliki Sifat Ketidakberpihakan dari Kepentingan Pribadi terhadap Orang-orang yang Dituju Risalahnya

 

Di dalamnya ada tiga pernyataan:

  1. Pernyataan Pertama: Pandangan Analitis
  2. Pernyataan Kedua: Penjelasan Al-Quran tentang ketidakberpihakan para Rasul dari kepentingan pribadi duniawi terhadap kaum mereka, dan hal ini juga berlaku bagi seluruh pembawa risalah mereka.
  3. Pernyataan Ketiga: Kehidupan para pembawa risalah yang mengabdikan diri padanya.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

PERNYATAAN PERTAMA

Pandangan Analitis

 

◙ Di antara hal pertama yang dituntut dari pembawa risalah dakwah ke jalan Tuhannya, nasihat, bimbingan, amar ma’ruf dan nahi munkar, adalah bahwa ia harus bebas dari kepentingan pribadi terhadap orang-orang yang dituju risalahnya, seperti upah materi yang ia minta dari mereka atas penyampaian risalahnya, atau pernikahan yang ia inginkan, atau kepemimpinan, kedudukan, jabatan, kekuasaan, kerajaan, atau keinginan untuk meninggikan diri atas pengikut dan mencari kemenangan melalui mereka untuk meninggikan diri di muka bumi atas manusia, atau apapun dari tuntutan kehidupan dunia yang ia harapkan untuk dicapai, diraih, dan dinikmati kelezatan dan kebaikannya baik jasmani maupun rohani.

◙ Sesungguhnya dakwah ke jalan Allah adalah ajakan untuk mengubah keyakinan-keyakinan terdahulu yang telah mengakar dalam dalam jiwa orang-orang yang didakwahi melalui tradisi yang diwarisi dari bapak dan kakek mereka, dan melalui praktik-praktik yang telah lama dilakukan sesuai tuntutannya dari perilaku psikologis dan fisik yang nampak, hingga menjadi seperti bagian dari eksistensi jiwa setiap dari mereka. Mereka mempertahankannya seperti mempertahankan diri mereka sendiri, dan menolak mengubahnya seperti menolak mengubah diri mereka sendiri.

Risalah amar ma’ruf nahi munkar mencakup tuntutan untuk menahan hawa nafsu dan kecintaannya, serta melakukan apa yang berat baginya dan menanggung apa yang dibencinya.

Ketika orang-orang yang didakwahi atau yang dituju dengan amar ma’ruf nahi munkar merasa bahwa pembawa dan penyampai risalah memiliki kepentingan pribadi dari pelaksanaan tugas risalahnya – walau setelah beberapa waktu – maka mereka akan menolak apa yang diarahkan kepada mereka secara spontan tanpa sadar, dan tanpa disertai diskusi pemikiran atau pertimbangan terhadap apa yang dinasihatinya, dan mereka berpaling darinya meskipun dalil-dalil yang disampaikan benar, valid dan jelas seperti jelasnya matahari di siang hari.

◙ Sesungguhnya bergandengannya dakwah pendakwah ke jalan Tuhannya dengan kepentingan pribadi yang ia upayakan dari orang-orang yang didakwahinya, demikian juga risalah amar ma’ruf nahi munkar, akan membangun penghalang yang keras dan tebal antara dia dan orang-orang yang dituju risalahnya. Penghalang keras dan tebal ini menutupi hati dan jiwa mereka dari penjelasan yang ia sampaikan meskipun itu kebenaran yang jelas, dan dari nasihat yang ia berikan meskipun di dalamnya ada kebaikan dan petunjuk bagi mereka serta kebaikan dunia dan akhirat mereka, dan menutupi mereka dari apa yang ia perintahkan berupa kebaikan dan yang ia larang berupa kemungkaran.

Karena itu kita dapati para dai yang mencari kepentingan pribadi duniawi melalui dakwah mereka kepada orang-orang yang mereka dakwahi ke jalan Tuhan mereka memiliki pengaruh yang sangat lemah. Hal ini karena orang-orang yang didakwahi melihat bahwa para dai tersebut tidak ikhlas dalam dakwah mereka, dan mereka meyakini bahwa mereka ingin mewujudkan kepentingan pribadi duniawi dari balik dakwah yang mereka lakukan.

Dan serupa dengan keadaan para dai adalah keadaan orang-orang yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Setiap kali pelaksanaan risalah mereka terkait dengan pencapaian kepentingan pribadi duniawi dari orang-orang yang mereka tujukan perintah, larangan dan nasihat mereka – meskipun mereka menghiasi upaya mencapai kepentingan pribadi duniawi ini dengan dalih bahwa itu adalah hak mereka atas kaum muslimin, sebagai imbalan atas pengabdian mereka mempelajari ilmu agama, melaksanakan kewajiban mengajarkan urusan agama kepada kaum muslimin, dan menjaga masyarakat Islam dari penyimpangan dari jalan Allah dan penyebaran kerusakan di dalamnya, dimana mereka menjalankan fungsi mengingatkan individu dan kelompoknya akan kewajiban agama mereka, dan memerintahkan kebaikan serta mencegah kemungkaran.

Jiwa manusia jarang mempercayai nasihat orang-orang yang memiliki kepentingan pribadi yang terkait dengan arahan nasihat mereka kecuali jika mereka pada dasarnya adalah konsultan yang dibayar untuk memberikan nasihat ini, seperti dokter yang dikonsultasikan dengan bayaran untuk memberikan saran kesehatan atau pengobatan kepada pasien.

Selain itu, keinginan pembawa risalah dakwah kepada Allah, atau risalah amar ma’ruf nahi munkar menjadi lemah dalam melaksanakan risalahnya sebagaimana yang dituntut dalam agama, ketika kebutuhan hidup atau kepentingan dunianya terkait dengan orang-orang yang ia sampaikan risalah Tuhannya kepada mereka. Ia jarang menemukan keberanian yang cukup untuk menasihati mereka dengan apa yang bertentangan dengan hawa nafsu mereka, atau memerintahkan mereka dengan kebaikan yang ia lihat mereka tidak siap melakukannya, atau melarang mereka dari kemungkaran yang ia lihat mereka tidak siap menghindari atau meninggalkannya. Ia khawatir jika mengarahkan nasihat, perintah, larangan dan menunjukkan penolakannya terhadap perbuatan mereka akan membuat mereka marah sehingga mencegah darinya kebutuhan hidupnya, atau menghalangi kepentingan dunianya yang mereka wujudkan untuknya baik oleh diri mereka sendiri atau kekuasaan mereka.

Betapa banyak pembawa risalah dakwah ke agama Allah atau risalah amar ma’ruf nahi munkar yang jatuh ke dalam lumpur basa-basi kemudian mengikuti orang-orang yang kepentingan dunia mereka terkait dengan mereka, dari orang-orang yang menyampaikan risalah di antara mereka. Mereka menutup mata dari dosa-dosa besar dan maksiat-maksiat besar mereka, bahkan terkadang ikut serta di dalamnya. Terkadang sebagian dari mereka berani berfatwa dengan selain apa yang Allah turunkan untuk menyenangkan dan mengambil hati penguasa yang fasik atau zalim atau kafir agar menjaga kepentingan dunianya yang terwujud melaluinya, atau untuk menambahnya.

◙ Sesungguhnya orang yang dituju dengan dakwah ke jalan Tuhannya, atau dituju dengan amar ma’ruf nahi munkar, ketika tertanam dalam jiwanya tuduhan terhadap pembawa risalah bahwa ia memiliki kepentingan pribadi dari orang yang ia tujukan isi risalahnya kepadanya, seringkali timbul dalam jiwanya penghalang keras dan tebal berupa reaksi spontan menolak nasihat yang disampaikan kepadanya, tanpa memikirkan kebenarannya atau ketidakbenarannya, dan tanpa meneliti unsur-unsurnya, meskipun itu adalah kebenaran, kebaikan dan membawa manfaat yang besar.

Namun penghalang keras ini hancur dan menjadi seperti gundukan pasir yang berterbangan ketika orang yang dituju risalah menyadari bahwa pembawa risalah ikhlas dalam nasihatnya, tidak memiliki kepentingan khusus dari orang-orang yang ia tujukan nasihat atau perintah kebaikan dan larangan kemungkarannya, dan bahwa motivasinya adalah keridhaan Allah dan keinginan kebaikan untuk manusia dengan rasa kasih sayang dan kepedulian kepada mereka, serta semangat untuk menyelamatkan mereka dari kesengsaraan dunia dan azab akhirat, dan agar mereka meraih kebahagiaan dunia dan kenikmatan akhirat.

◙ Dan untuk membebaskan para Rasul dari tuduhan memiliki kepentingan pribadi dari orang-orang yang mereka dakwahi kepada agama Allah yang benar, agar tuduhan ini tidak menjadi alasan untuk menolak dakwah mereka ke jalan Tuhan mereka, Allah memerintahkan para Rasul-Nya untuk melepaskan diri dari kepentingan pribadi duniawi terhadap kaum mereka, dan untuk mengumumkan secara jelas dan tegas di antara manusia bahwa mereka tidak meminta upah apapun dari kaum mereka atas penyampaian risalah Tuhan mereka, sedikit atau banyak, material atau moral.

Hal ini juga berlaku bagi para dai yang mengikuti para Rasul dengan baik, dan semua yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran serta para pemberi nasihat dan pembimbing.

◙ Di antara bahaya terbesar dalam dakwah ke jalan Allah, amar ma’ruf nahi munkar, dan semua amal islami lainnya adalah menggunakannya sebagai sarana untuk mendapatkan harta, kedudukan, kekuasaan dan jabatan tinggi, atau keinginan lain dari tuntutan kehidupan dunia dan kelezatannya serta syahwatnya, seperti kecintaan untuk menguasai pengikut, pendukung, murid, penggemar dan pencinta, serta memanfaatkan mereka untuk tuntutan nafsu dan memuaskan syahwat keagungan dan kesombongan di muka bumi.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

PERNYATAAN KEDUA

Penjelasan Al-Quran Tentang Pembebasan Para Rasul dari Kepentingan Pribadi Duniawi terhadap Kaum Mereka dan Hal Ini Berlaku bagi Seluruh Pembawa Risalah Mereka

 

Penelitian terhadap apa yang ada dalam Al-Quran tentang pembebasan Allah terhadap para Rasul-Nya dan pembebasan diri mereka dari kepentingan pribadi duniawi terhadap orang-orang yang mereka sampaikan risalah Tuhan mereka kepadanya menunjukkan dua belas nash, yang semuanya turun selama periode Mekah dari dakwah Rasulullah ﷺ, dimulai dari awalnya yaitu yang turun dalam surat Al-Qalam (68 mushaf/2 turun) kemudian pada kesempatan-kesempatan yang sesuai selama periode ini, hingga menjelang akhirnya yaitu yang turun dalam surat Ath-Thur (52 mushaf/76 turun).

Sebaiknya kita merenungkan nash-nash ini sesuai tahapan turunnya, agar kita memahami tingkat perhatian dalam kebijakan dakwah ke jalan Allah dan amar ma’ruf nahi munkar tentang kewajiban pembawa dakwah ke jalan Tuhannya untuk membebaskan diri dari setiap kepentingan pribadi duniawi terhadap orang-orang yang didakwahi, agar tuduhan adanya kepentingan pribadi tidak menjadi penghalang yang menghalangi jiwa manusia dari menerima penjelasan dakwah dan mendapat petunjuk dengan cahaya hidayah Ilahi, dan agar mereka tidak menjadikan kepentingan para Rasul Allah pada mereka sebagai alasan untuk menolak dakwah mereka, dan dalih untuk tidak menerima apa yang mereka dakwahkan berupa kebenaran, kebaikan dan petunjuk.

 

 

Berikut ini adalah perenungan singkat terhadap nash-nash tersebut:

Nash Pertama:

Dalam surat Al-Qalam (68 mushaf/2 turun), Allah memaparkan melalui pertanyaan pengingkaran serangkaian kemungkinan yang jika salah satunya ada dalam kenyataan, maka kaum musyrik Mekah akan memiliki alasan untuk tidak menerima dakwah Rasulullah ﷺ. Namun tidak satu pun dari kemungkinan-kemungkinan ini ada dalam kenyataan, sehingga mereka tidak memiliki alasan untuk tidak menerima dakwahnya yang merupakan ajakan kepada kebenaran, kebaikan, akhlak mulia dan perilaku terpuji.

Di antara kemungkinan-kemungkinan itu adalah Rasulullah ﷺ meminta upah atas perjuangannya dalam berdakwah kepada mereka, menasihati, mengajar dan membimbing mereka kepada apa yang membawa kebahagiaan dunia dan akhirat mereka. Allah berfirman dalam surat ini sebagai teguran kepada mereka yang tidak menerima dakwahnya:

﴿اَمْ تَسْـَٔلُهُمْ اَجْرًا فَهُمْ مِّنْ مَّغْرَمٍ مُّثْقَلُوْنَۚ ٤٦ ﴾ ( القلم/68: 46-46)

“Ataukah engkau meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan hutang?”

“Ataukah engkau meminta upah”: yakni apakah engkau meminta suatu upah material atau moral dari mereka?!

“Sehingga mereka dibebani dengan hutang”: yakni mereka dibebani dengan beban upah yang merupakan kerugian bagi mereka. Al-Maghram dan Al-Gharamah adalah kerugian dalam harta, jiwa atau hal lain yang manusia memiliki bagian di dalamnya seperti keluarga, anak dan pendukung.

Nash ini adalah yang pertama kali diturunkan dalam topik ini, dan datang dengan gaya bahasa yang menunjukkan keheranan atas penolakan mereka terhadap dakwah Rasul yang merupakan dakwah kebenaran dan kebaikan, padahal beliau tidak meminta upah atas nasihat dan petunjuk ke jalan Allah yang beliau berikan kepada mereka. Beliau tidak memiliki kepentingan pribadi dalam hal ini baik material maupun moral. Dalam gaya bahasa pertanyaan yang menunjukkan keheranan atas penolakan mereka ini terdapat pengingkaran terhadap mereka.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

Nash Kedua:

Kemudian Allah menurunkan dalam surat Shad (38 mushaf/38 turun) arahan kepada Rasulullah ﷺ yang memerintahkannya untuk mengatakan kepada kaumnya: “Aku tidak meminta upah atas hal ini”, mengumumkan perkataan ini kepada mereka, untuk meyakinkan mereka bahwa beliau tidak mencari kepentingan duniawi dari orang-orang yang menerima dakwahnya, dan untuk memotong alasan mereka bahwa beliau mencari kepentingan duniawi dari mereka, baik harta, kepemimpinan, kerajaan, atau lainnya, dan untuk menolak tawaran-tawaran duniawi yang mereka ajukan dengan syarat beliau meninggalkan dakwahnya.

Allah berfirman dalam surat ini kepada Rasul-Nya:

﴿قُلْ مَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍ وَّمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُتَكَلِّفِيْنَ ٨٦ اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَ ٨٧ ﴾ ( ص/38: 86-87)

“Katakanlah: ‘Aku tidak meminta upah sedikit pun kepadamu atas dakwahku dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mengada-ada. Al-Quran ini tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam.'”

“Katakanlah: Aku tidak meminta upah sedikit pun kepadamu”: Yakni katakanlah wahai Muhammad, aku tidak meminta upah apapun atas dakwahku kepada kalian dan perjuanganku dalam menasihati kalian, baik material atau moral sekecil apapun, karena upahku aku ambil dari Tuhanku yang mengutusku.

Arahan ini dituntut dari semua dai ke jalan Allah dari umat Rasulullah ﷺ, karena ini bukan kekhususan Rasul, melainkan tuntutan pada setiap dakwah ke agama Allah.

“Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mengada-ada”: Yakni aku bukan termasuk orang-orang yang membuat-buat perkara yang kalian kenal dari urusanku, hingga aku dituduh berdusta atas nama Allah dan membuat-buat apa yang tidak Allah turunkan kepadaku. Akhlakku telah kalian kenal, dan keadaanku tidak tersembunyi dari kalian. Aku telah hidup di antara kalian dalam waktu yang kalian ketahui kejujuran, kesucian, amanah dan semangatku dalam berpegang pada kebenaran dan tidak menyimpang dari akhlak mulia dan perilaku terpuji.

“Ini tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam: yaitu, apa yang saya sampaikan kepada kalian dan saya mengajak kalian untuk mengikutinya bukanlah hanya untuk kalian saja tanpa orang lain, melainkan ini adalah pesan untuk seluruh alam, seluruh umat manusia. Mereka harus memahami dan merenungkan maknanya, dan hendaknya ini menjadi pengingat yang terus-menerus bagi mereka, yang mereka ingat pada setiap kesempatan yang tepat agar mereka dapat mengamalkan perintah, larangan, dan nasihat di dalamnya, serta memahami ilmu yang terkandung di dalamnya.

Dan karena ini adalah peringatan untuk semua manusia, maka tidaklah pantas bagi kalian untuk meragukan tujuan Rasul kalian dan menuduhnya memiliki kepentingan pribadi dalam apa yang ia serukan kepada kalian.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

Teks Ketiga:

Kemudian Allah Yang Maha Perkasa menurunkan kepada Rasul-Nya dalam surat (Al-Furqan/25) sebagai penegasan atas apa yang telah disebutkan dalam surat (Shad), dengan tambahan pengecualian bagi siapa yang ingin mengambil jalan menuju keridhaan Tuhannya, dengan memberikan hadiah atau pelayanan atau manfaat duniawi kepada Rasulullah ﷺ, bukan sebagai upah atas tugas-tugas kerasulannya, tetapi bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan apa yang Allah sukai dari hamba-Nya berupa berbagai bentuk pemberian yang ditujukan untuk mencari ridha-Nya.

Allah berfirman: “Katakanlah (Muhammad), ‘Aku tidak meminta upah apapun kepada kalian atas seruanku kecuali bagi siapa yang ingin mengambil jalan kepada Tuhannya.'”

Maksudnya: Katakanlah wahai Muhammad, “Aku tidak meminta kepada kalian wahai orang-orang beriman atas pengajaran, nasihat, kepedulian, kasih sayang, dan perjuanganku untuk kalian berupa upah material atau non-material sekecil apapun, karena upahku ada pada Tuhanku yang telah mengutusku dan memberiku tugas-tugas kerasulan dan kepemimpinan atas kalian.” Ini juga berlaku bagi setiap orang yang menyeru kepada jalan Allah dari umatnya.

“Kecuali orang yang ingin mengambil jalan menuju Tuhannya”: yaitu, saya tidak menerima apapun dari urusan dunia dari kalian kecuali sesuatu yang dimaksudkan oleh pemberinya untuk mengambil jalan menuju keridhaan Tuhannya. Dia memberikannya karena Allah dan mencari keridhaan-Nya, bukan sebagai imbalan yang dia berikan kepada saya. Maka pahalaku ada pada Tuhanku, dan pahala kalian atas apa yang kalian persembahkan ada pada Tuhan kalian. Atau kita menganggap “kecuali” setara dengan “tetapi” sebagai kata pengecualian seperti yang biasa disebut: pengecualian terputus. Artinya: tetapi barangsiapa yang ingin mengambil jalan menuju keridhaan Tuhannya, maka Rasul boleh menerima apa yang diberikan kepadanya berupa penghormatan atau pelayanan.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

Teks Keempat:

Kemudian Allah Yang Maha Perkasa menurunkan dalam surat Asy-Syu’ara (26 dalam mushaf/47 urutan turun) yang menunjukkan bahwa kebijakan membebaskan pendakwah dari kepentingan duniawi pribadi adalah salah satu prinsip utama yang Allah wajibkan atas para rasul-Nya terdahulu. Setiap dari Nuh, Hud, Shalih, Luth, dan Syu’aib alaihim salam telah berkata kepada kaumnya:

﴿وَمَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍۚ اِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلٰى رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۚ ١٠٩ ﴾ ( الشعراۤء/26: 109-109)

“Dan aku tidak meminta upah kepadamu atas ajakan itu, upahku hanyalah dari Tuhan semesta alam.”

Hal ini dijelaskan dalam ayat-ayat (109-127-145-164-180) dari surat tersebut. Maka para da’i ke jalan Allah hendaknya mengikuti teladan para rasul Allah alaihim salam dalam hal ini.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

Teks Kelima:

Kemudian Allah menurunkan dalam surat Yunus (10 dalam mushaf/51 urutan turun) penjelasan tentang perkataan yang diucapkan Nuh kepada kaumnya setelah dia tinggal bersama mereka untuk waktu yang lama, mengajak mereka ke jalan Allah. Dia menjelaskan kepada mereka bahwa dia tidak meminta upah material atau moral sehingga permintaan ini menjadi alasan bagi mereka untuk berpaling dari dakwahnya dan tidak meresponnya. Dia juga menjelaskan bahwa dalam hal penerapan Islam yang merupakan perilaku lahiriah dari keimanan dalam agama Allah, dia adalah salah satu yang menerapkannya. Allah memerintahkannya untuk menjadi salah satu muslim yang menerapkan hukum-hukum Islam dalam perilaku batin dan lahirnya.

Allah berfirman mengisahkan apa yang dikatakan Nuh kepada kaumnya:

﴿فَاِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَمَا سَاَلْتُكُمْ مِّنْ اَجْرٍۗ اِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ ۙوَاُمِرْتُ اَنْ اَكُوْنَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ٧٢ ﴾ ( يونس/10: 72-72)

“Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun darimu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah, dan aku diperintahkan untuk menjadi golongan orang muslim.”

“Jika kamu berpaling”: yaitu jika kamu menjauh dan tidak merespon dakwahku.

“Aku tidak meminta upah sedikitpun darimu”: artinya, tidak ada dariku sesuatu yang bisa kamu jadikan alasan untuk menolak dakwahku, karena aku tidak pernah meminta upah material atau moral untuk diriku sendiri. Sebaliknya, aku hanyalah penyampai risalah Tuhanku kepada kalian, dan mengajak kalian kepada kebenaran, petunjuk, dan apa yang membawa keselamatan dan kebahagiaan bagi kalian.

“Upahku tidak lain hanyalah dari Allah”: artinya upahku atas pelaksanaan tugas-tugas kerasulanku di antara kalian hanyalah dari Allah yang telah mengutusku untuk menyampaikan risalah-Nya kepada kalian, mengajak kalian kepada keselamatan dan kebahagiaan kalian, dan menjelaskan kepada kalian tentang kebenaran, kebaikan, petunjuk dan jalan Allah yang lurus.

“Dan aku diperintahkan untuk menjadi golongan orang muslim”: artinya keadaanku dalam hubungannya dengan isi risalahku sama seperti keadaan seorang muslim yang beriman, dituntut untuk melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, dan tidak ada pengecualian khusus untukku sebagai pertimbangan bahwa aku pembawa risalah Tuhanku kepada kalian.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

 

 

Teks Keenam:

Kemudian Allah Yang Maha Perkasa menurunkan dalam surat Hud (11 dalam mushaf/52 urutan turun) penjelasan tentang perkataan ketiga yang diucapkan Nuh kepada kaumnya. Dia menjelaskan kepada mereka bahwa dia tidak meminta harta untuk menyampaikan risalah Tuhannya, mengajarkan urusan agama mereka, dan terus mengingatkan mereka. Dia secara khusus menyebutkan jenis upah berupa harta, karena dia melihat mereka adalah orang-orang kikir yang sangat menjaga harta mereka dan khawatir jika mereka beriman dan mengikutinya, dia akan membebani mereka dengan tanggungan harta untuk dirinya. Allah berfirman mengisahkan perkataan yang diucapkan Nuh kepada kaumnya:

﴿وَيٰقَوْمِ لَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مَالًاۗ اِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ وَمَآ اَنَا۠ بِطَارِدِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ اِنَّهُمْ مُّلٰقُوْا رَبِّهِمْ وَلٰكِنِّيْٓ اَرٰىكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُوْنَ ٢٩ ﴾ ( هود/11: 29-29)

“Wahai kaumku, aku tidak meminta harta kepada kalian untuk ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah, dan aku tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan menemui Tuhan mereka, tetapi aku melihat kalian adalah kaum yang bodoh.”

“Dan aku tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan menemui Tuhan mereka”: Ini menunjukkan bahwa para pemuka yang kafir dari kaumnya meminta dia untuk mengusir orang-orang beriman dari kalangan fakir, lemah dan terpinggirkan, yang mereka sebut sebagai orang-orang hina. Dia menolak permintaan mereka dan menjelaskan bahwa mereka adalah manusia seperti yang lain yang dituntut untuk beriman dan berislam, dan mereka akan menemui Tuhan mereka untuk dihisab dan diberi balasan atas iman dan amal yang mereka lakukan di dunia. Dia diutus kepada mereka sebagaimana dia diutus kepada yang lain dari berbagai lapisan masyarakat.

“Tetapi aku melihat kalian adalah kaum yang bodoh”: Artinya, meskipun telah lama bergaul dengan kalian, sering mengajar dan mengingatkan kalian, dan berdebat dengan kalian menggunakan dalil-dalil yang meyakinkan, aku melihat kalian tidak mau belajar, tidak mau yakin dan tidak mau merespon. Bahkan aku melihat kalian terus menambah kebodohan di atas kebodohan, dengan menambahkan pemahaman-pemahaman baru yang batil kepada pemahaman-pemahaman batil sebelumnya. Ini ditunjukkan oleh kata kerja present tense “tajhalun” (bodoh) yang menunjukkan pengulangan dan pembaruan.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

Teks Ketujuh:

Dan dalam surat Hud juga, Allah menurunkan penjelasan tentang perkataan yang diucapkan Hud kepada kaumnya. Allah berfirman mengisahkan perkataannya:

﴿…. يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ ۗاِنْ اَنْتُمْ اِلَّا مُفْتَرُوْنَ ٥٠ يٰقَوْمِ لَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًا ۗاِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلَى الَّذِيْ فَطَرَنِيْ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ ٥١ ﴾ ( هود/11: 50-51)

“Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan kebohongan. Wahai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu untuk ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Yang menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan?”

Ini adalah perkataan kedua yang diucapkan Hud kepada kaumnya ‘Ad tentang topik ini. Namun dalam perkataan ini dia menambahkan “Maka tidakkah kamu memikirkan?”, mengingkari ketiadaan pemikiran ilmiah dan kehendak mereka. Dia juga menambahkan penjelasan bahwa upahnya ada pada Yang menciptakannya, yaitu Allah yang mengutusnya.

“Kamu hanyalah mengada-adakan kebohongan”: Artinya kalian hanya membuat-buat kebohongan terhadap kebenaran, ketika kalian menjadikan tuhan-tuhan selain Allah yang kalian sembah selain-Nya.

“Upahku tidak lain hanyalah dari Yang menciptakanku”: Artinya upahku atas apa yang aku lakukan dalam menyampaikan risalah Tuhanku kepada kalian, mengajak kalian dan berjuang memberi petunjuk, mengajar dan menasihati kalian, hanyalah dari Yang menciptakanku dari ketiadaan.

“Maka tidakkah kamu memikirkan?!!”: Ini adalah pertanyaan pengingkaran yang diajukan Hud kepada kaumnya ‘Ad, karena mereka tidak menggunakan akal untuk memahami kebenaran dengan alat-alat berpikir yang mereka miliki secara ilmiah, dan tidak mengendalikan diri mereka dari mengikuti hawa nafsu dan syahwat mereka secara sadar.

Hud mengingkari dengan keras keadaan mereka yang tidak menggunakan akal, karena mereka tidak melakukan apa yang diperlukan untuk memahami apa yang dijelaskan kepada mereka, dan untuk mengendalikan diri mereka dari mengikuti hawa nafsu dan syahwat yang menuntun mereka kepada kesengsaraan.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

Teks Kedelapan:

Kemudian Allah menurunkan dalam surat Yusuf (12 dalam mushaf/53 urutan turun) sebuah khitab kepada Rasul-Nya Muhammad ﷺ, yang bersaksi bahwa dia telah berpegang pada wasiat Allah yang mewasiatkan kepadanya untuk tidak meminta upah dari kaumnya atas apa yang dia lakukan demi keselamatan dan kebahagiaan mereka dengan memberi petunjuk kepada kebenaran, kebaikan dan keutamaan. Allah menjelaskan kepadanya bahwa kebanyakan manusia tidak akan memilih jalan keimanan untuk diri mereka sendiri meskipun dia sangat menginginkan keimanan mereka karena kasih sayang dan harapan akan keselamatan dan kebahagiaan mereka. Maka dia harus membatasi harapannya pada kenyataan ini dengan semua yang diajak ke jalan Tuhannya, dan tidak menggantungkan harapannya pada keimanan semua manusia, atau kebanyakan mereka, atau setengah dari mereka. Karena kebanyakan mereka akan memilih jalan kekufuran untuk diri mereka, di mana mereka menemukan pemenuhan hawa nafsu, syahwat dan keinginan mereka dari perhiasan kehidupan dunia. Allah berfirman kepada Rasul-Nya:

﴿وَمَآ اَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِيْنَ ١٠٣ وَمَا تَسْـَٔلُهُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍۗ اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَ ࣖ ١٠٤ ﴾ ( يوسف/12: 103-104)

“Dan kebanyakan manusia tidak akan beriman walaupun engkau sangat menginginkannya. Dan engkau tidak meminta upah kepada mereka (atas bimbinganmu); Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam.”

Maka para da’i harus selalu mengingat kebenaran ini dari kenyataan masyarakat manusia, dan tidak menggantungkan harapan mereka bahwa kebanyakan manusia atau setengah dari mereka akan beralih kepada keimanan dan amal saleh. Mereka harus selalu memperhatikan bahwa iman adalah tindakan yang disengaja dan dipilih yang pusatnya adalah hati, bukan paksaan, dan bahwa tugas pendakwah ke jalan Tuhannya hanyalah menyampaikan, mengajar, mengingatkan, meyakinkan, memberi kabar gembira, memberi peringatan dan berjuang dalam semua itu.

Maka siapa yang merespon berarti telah memilih jalan keselamatan dan kebahagiaan abadi untuk dirinya, dan siapa yang menolak berarti telah memilih kesenangan hidup dunia yang pendek dan fana dibanding kenikmatan yang kekal, mengingkari akhirat atau berpaling dari memikirkannya dan merenungkan bukti-buktinya, serta bukti-bukti keimanan kepada Allah dan sifat-sifat-Nya.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

Teks Kesembilan:

Kemudian Allah menurunkan dalam surat Al-An’am (6 dalam mushaf/55 urutan turun) penjelasan yang memerintahkan Rasul-Nya untuk mengikuti petunjuk para rasul terdahulu dalam membebaskan diri dari kepentingan pribadi terhadap orang-orang yang didakwahi, dan yang dimaksud adalah para da’i umatnya. Allah telah bersaksi bahwa dia tidak meminta upah dari kaumnya atas dakwah dan perjuangannya untuk mereka. Allah berfirman menunjuk kepada para rasul terdahulu:

﴿اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ فَبِهُدٰىهُمُ اقْتَدِهْۗ قُلْ لَّآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًاۗ اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٰى لِلْعٰلَمِيْنَ ࣖ ٩٠ ﴾ ( الانعام/6: 90-90)

“Mereka itulah yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah (Muhammad): ‘Aku tidak meminta upah kepadamu atas (dakwah)ku; ini tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam.'”

Teks ini menambahkan penjelasan bahwa semua rasul sebelum Muhammad ﷺ telah menjadikan pembebasan diri dari kepentingan pribadi duniawi di hadapan kaum mereka, dan setiap dari mereka berkata kepada kaumnya: “Aku tidak meminta upah darimu atas ini.”

Karena Allah telah bersaksi untuk Rasul-Nya Muhammad dalam teks sebelumnya yang ada dalam surat Yusuf bahwa dia telah mewujudkan isi dari tugas ini, maka kita harus memahami bahwa yang dimaksud dengan arahan dalam surat Al-An’am adalah untuk seluruh para da’i dari umat Muhammad, untuk memberitahu mereka bahwa semua rasul terdahulu telah menjadikan ini sebagai petunjuk mereka, dan bahwa mereka diberi tugas mengikuti tugas Rasul Muhammad ﷺ untuk membebaskan diri dalam dakwah mereka ke agama Allah dari setiap kepentingan pribadi terhadap orang yang mereka dakwahi.

Maka para da’i, jika mereka jujur dalam dakwah mereka, tidak boleh meminta upah dari manusia atas dakwah mereka ke jalan Allah, dan tidak boleh menggantungkan harapan mereka pada keuntungan material duniawi yang mereka peroleh dari perjuangan mereka dalam menyampaikan agama Allah kepada manusia, meyakinkan mereka tentangnya, mengajarkan syariat dan hukum-hukumnya, dan mengingatkan mereka sesuai kebutuhan peringatan.

Barangsiapa yang menggantungkan harapannya pada upah, keuntungan dan kepentingan duniawi dari dakwahnya, dia tidak ikhlas kepada Allah di dalamnya, dan termasuk pencari dunia yang menjadikan agama sebagai tangga untuk mencapai kepentingan duniawi mereka.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

Teks Kesepuluh:

Kemudian Allah menurunkan kepada Rasul-Nya dalam surat Saba’ (34 dalam mushaf/58 urutan turun) penjelasan yang mengarahkannya untuk berdebat dengan kaumnya bahwa dia bukan orang yang memiliki kepentingan pribadi di antara mereka, ketika dia mengajak mereka kepada agama Allah karena dia tidak meminta dari mereka upah apapun atas dakwah, penyampaian, pengajaran dan nasihatnya. Allah berfirman di dalamnya sebagai khitab kepada Rasul-Nya:

﴿قُلْ مَا سَاَلْتُكُمْ مِّنْ اَجْرٍ فَهُوَ لَكُمْۗ اِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ ۚوَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ ٤٧ ﴾ ( سبأ/34: 47-47)

“Katakanlah: ‘Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Menyaksikan segala sesuatu.'”

“Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu”: Artinya, jika kalian mengklaim bahwa aku menginginkan upah untuk diriku dari kalian dari tuntutan kehidupan dunia dari dakwahku, atau kalian mengklaim bahwa aku meminta upah dari kalian atas perjuanganku demi keselamatan dan kebahagiaan kalian, maka sebutkanlah, sampai aku jelaskan kepada kalian bahwa jika kalian menemukannya padaku maka ambillah karena itu untuk kalian. Ini seperti melemahkan yang mencakup penafian adanya upah dengan cara yang paling tegas.

Ini seperti perkataan orang yang dituduh menyimpan harta orang lain di rumahnya: “Periksalah rumahku, jika kalian menemukan sesuatu di dalamnya dari apa yang kalian klaim ada di dalamnya maka ambillah.” Dia mengatakan ini sebagai tantangan kepada mereka, karena dia tahu bahwa tidak ada di rumahnya sesuatu dari apa yang mereka klaim.

Atau apa yang aku minta dari kalian berupa iman dan amal saleh yang menghasilkan pahala di sisi Allah adalah untuk kalian, aku tidak mendapat bagian darinya. Adapun pahalaku atas perjuanganku untuk kalian adalah dari Allah, kalian tidak menanggung apapun darinya, dan pahalaku di sisi Tuhanku tidak mengurangi sedikitpun dari pahala orang-orang yang beriman dan beramal saleh karena merespon dakwahku.

“Dan Dia Maha Menyaksikan segala sesuatu”: Artinya Allah Yang Maha Perkasa adalah saksi yang hadir, mengetahui keadaanku dan keadaan kalian, tidak ada yang tersembunyi dari urusan kita dari-Nya. Dia Yang Maha Tinggi mengetahui bahwa aku tidak meminta upah dari kalian, dan tidak mendapatkan upah untuk diriku dari orang-orang yang beriman, pahalaku hanyalah dari Allah.

“Syahid”: Artinya hadir, mengetahui, memahami secara sempurna segala sesuatu.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

Teks Kesebelas:

Kemudian Allah menurunkan dalam surat Asy-Syura (42 dalam mushaf/62 urutan turun) kepada Rasul-Nya firman-Nya:

﴿ قُلْ لَّآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًا اِلَّا الْمَوَدَّةَ فِى الْقُرْبٰىۗ ﴾ ( الشورى/42: 23-23)

“Katakanlah: ‘Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan…'”

Allah memberi petunjuk dengan penjelasan ini kepada Rasul-Nya untuk mengecualikan dari keumuman apa yang diduga sebagai upah yaitu khusus sebagai kasih sayang dalam kekeluargaan.

Ini adalah teks Madani yang ditambahkan ke surat Makkiyah untuk menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah kaum musyrik Makkah, kerabat Rasul yang memusuhi dan mengusirnya dari negerinya dan memeranginya. Maka urutannya secara pemikiran sesuai dengan urutan surat yang ditambahkan kepadanya.

Tampaknya Allah mengarahkan Rasul-Nya untuk mengatakan perkataan ini kepada para pembesar musyrik Makkah setelah mereka sangat memusuhinya, mengusirnya dan memeranginya. Dengan ini dia meminta belas kasihan mereka agar berhenti memusuhi dan memeranginya.

Artinya: “Balaslah nasihat dan perjuanganku demi keselamatan dan kebahagiaan kalian, perlakuan baikku kepada kalian, dan kesabaranku atas gangguan kalian, dengan kasih sayang yang dituntut oleh kekerabatanku dengan kalian, karena kalian adalah keluarga dan kerabatku. Jika kalian menganggap memperlakukanku dengan kasih sayang yang dituntut oleh kekerabatanku dengan kalian sebagai upah, maka termasuk kebaikan budi untuk membalas dengan kasih sayang ini, meskipun sebenarnya ini bukan termasuk upah atas dakwah dan perjuanganku, tetapi ini adalah salah satu tuntutan kekerabatan antara kerabat. Apakah pantas dengan kebaikan budi yang kalian yakini bahwa kalian memusuhiku, mengusirku dari negeriku dan memerangiku padahal kalian adalah kerabatku?”

Sesungguhnya aku menginginkan keselamatan dan kebahagiaan kalian karena kasih sayang dengan dorongan kemanusiaan umum, dan karena kalian adalah keluarga dan kerabatku. Maka minimal balaslah aku dengan kasih sayang dalam kekerabatan, hentikan gangguan kalian dariku, dan biarkan aku berusaha menyebarkan dakwahku di antara manusia. Jika aku mencapai harapanku ini akan menjadi kebaikan dan kemuliaan bagi kalian, jika tidak maka cukuplah bagi kalian bahwa kalian menjaga kasih sayang dalam kekerabatan dan tidak merusaknya dengan menyakitiku, memerangiku dan menindas orang yang beriman kepadaku.

Ini adalah makna yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas dalam tafsir ayat ini.

Ini adalah makna yang paling kuat untuk teks ini menurut yang tampak bagiku, karena ini adalah teks Madani yang ditambahkan ke surat Makkiyah. Isinya adalah petunjuk kepada Rasul ﷺ untuk meminta belas kasihan kaumnya yang musyrik di Makkah, dengan membangkitkan perasaan kekerabatan antara dia dan mereka, agar mereka beriman kepadanya, atau setidaknya menghentikan gangguan dan peperangan mereka terhadapnya, serta penindasan mereka terhadap orang-orang yang beriman kepadanya. Dan tidak tampak darinya – menurut pendapatku, Allah lebih mengetahui – perintah kepada Rasul untuk mengatakan perkataan ini kepada orang-orang yang beriman kepadanya, sehingga dibawa kepada kasih sayang kerabatnya dari ahlul bait.

Posisi teks ini secara pemikiran adalah dalam apa yang ada dalam surat Asy-Syura, dan turunnya diakhirkan agar penyampaiannya kepada kaum musyrik Makkah pada waktu Rasul telah sampai pada pembangunan negara Islam yang memiliki wilayah yang terlindungi dan tentara yang kuat.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

Teks Kedua Belas:

Akhirnya Allah Yang Maha Kuasa menurunkan wahyu kepada Rasul-Nya tentang hal ini dalam surah At-Thur (52 dalam mushaf, 76 dalam urutan turunnya), firman Allah yang ditujukan kepada Rasul-Nya:

﴿اَمْ تَسْـَٔلُهُمْ اَجْرًا فَهُمْ مِّنْ مَّغْرَمٍ مُّثْقَلُوْنَۗ ٤٠ ﴾ ( الطور/52: 40-40)

“Ataukah engkau (Muhammad) meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan utang?”

Allah Yang Maha Kuasa mengakhiri pembahasan topik ini menjelang berakhirnya periode Mekah dari dakwah Rasulullah ﷺ, dengan ungkapan yang serupa dengan awal pembahasan topik ini di awal periode Mekah dalam surah Al-Qalam (68 dalam mushaf, 2 dalam urutan turunnya).

Penutup ini seperti kunci yang melengkapi pasangannya di awal, dan dengan semua teks ini topik tersebut menjadi lengkap dari segala sisi. Terlihat dinamika bimbingan pendidikan dalam tahapan waktunya selama periode Mekah dari dakwah Rasulullah, dan dalam teks Madinah yang ditambahkan ke surah Asy-Syura (yang merupakan surah Mekah).

Segala puji bagi Allah atas taufik dan pertolongan-Nya.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

PERNYATAAN KETIGA

Penghidupan Para Pembawa Risalah yang Mengabdikan Diri

 

Setelah para pembawa risalah dakwah ke agama Allah, nasihat, bimbingan, amar ma’ruf dan nahi munkar dilarang menerima upah dari orang-orang yang mereka sampaikan risalah, perlu dipertimbangkan cara-cara lain bagi mereka untuk memperoleh rezeki dan penghidupan untuk kebutuhan hidup mereka dan keluarga mereka.

Dengan melihat konsep-konsep Islam, ajaran-ajaran dan hukum-hukumnya, kita dapat memperhatikan hal-hal berikut:

Pertama: Setiap mukmin muslim yang mampu melaksanakan dakwah ke jalan Allah pada tingkat tertentu, memberikan nasihat, bimbingan, amar ma’ruf dan nahi munkar, wajib melaksanakannya sesuai kemampuannya sambil menjalankan pekerjaan pribadinya untuk mencari nafkah bagi dirinya dan keluarganya. Ini dilakukan di antara orang-orang yang berinteraksi dengannya, pada waktu-waktu tertentu yang dia sisihkan setiap hari atau setiap minggu untuk menjalankan risalahnya yang dia mampu lakukan di masyarakatnya.

Sebagaimana dia juga harus menyisihkan waktu untuk shalat wajibnya, makan, minum, tidur dan kebutuhan alamiahnya, serta untuk memberi ketenangan kepada keluarganya dan mengasuh keluarganya dengan pendidikan, pengajaran dan kasih sayang.

Begitulah banyak ahli fikih dalam agama dan ulama syariat Islam dengan berbagai spesialisasi mereka memiliki pekerjaan untuk mencari nafkah seperti perdagangan, industri dan pertanian. Meski demikian, mereka tetap menjalankan risalah mereka selama bekerja dan pada waktu-waktu yang mereka khususkan untuk itu di pagi hari, setelah shalat Ashar, dan antara Maghrib dan Isya, bahkan mungkin lebih dari itu. Mereka ini memberi manfaat yang besar di banyak kota dan desa di negara-negara Islam.

Kelompok pembawa risalah ini adalah kelompok yang tidak sepenuhnya mengabdikan diri untuk itu. Mereka mencari nafkah dari pekerjaan mereka seperti orang-orang lain pada umumnya. Berlaku bagi mereka hukum-hukum umum yang mencakup seluruh masyarakat. Jika pekerjaan mencari nafkah yang dilakukan oleh salah seorang dari kelompok ini tidak mencukupi kebutuhannya dan kebutuhan keluarganya, maka dia berhak menerima dari dana zakat sebagaimana hak fakir miskin pada umumnya, dan diberi sesuai yang mencukupi kebutuhan hidupnya dan orang-orang yang menjadi tanggungannya.

Kedua: Adapun para pembawa risalah yang mampu dan mengabdikan diri sepenuhnya untuk itu, dan tidak memiliki pekerjaan untuk mencari nafkah, maka hukum mereka sama dengan hukum para mujahid di jalan Allah. Karena risalah dakwah ke agama Allah, nasihat, bimbingan, amar ma’ruf dan nahi munkar termasuk dalam keumuman jihad di jalan Allah.

Adapun dakwah ke agama Allah adalah jihad dengan jiwa untuk menyampaikan agama dan meyakinkan dengannya, serta meninggikan kalimat Allah di muka bumi. Dalam pemahaman teks-teks Al-Quran, ini adalah tahap pertama jihad di jalan Allah dengan jiwa.

Sedangkan amar ma’ruf dan nahi munkar adalah tugas yang terus-menerus ada untuk menjaga masyarakat Islam dari penyimpangan dari agama Allah dan menjauhnya mereka dari komitmen terhadap batasan-batasannya. Dengan pengertian ini ia adalah termasuk jihad di jalan Allah. Maka penyampaian agama dan pengingatan terhadapnya, serta penjagaan masyarakat Islam dari penyimpangan darinya, semua itu tercakup dalam istilah “fi sabilillah” dan masuk dalam keumuman “jihad”. Maka semua itu termasuk jihad di jalan Allah.

Dan ketika para mujahidin di jalan Allah termasuk dalam delapan golongan yang berhak menerima zakat, maka mereka yang mengabdikan diri untuk salah satu atau kedua misi ini pasti termasuk dalam kategori fi sabilillah (di jalan Allah) dari delapan golongan yang dijelaskan dalam firman Allah Yang Maha Kuasa dalam Surah At-Taubah (9):

﴿۞ اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَاۤءِ وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْعٰمِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِى الرِّقَابِ وَالْغٰرِمِيْنَ وَفِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَابْنِ السَّبِيْلِۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ ٦٠ ﴾ ( التوبة/9: 60-60)

“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (muallaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berhutang, untuk jalan Allah, dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”

Maka lembaga zakat harus menjamin kehidupan mereka sesuai dengan tingkat kebutuhannya, agar kebutuhan hidup mereka tidak bergantung pada orang-orang yang mereka beri petunjuk atau tugas misi mereka. Yang terbaik di antara mereka adalah mereka yang memiliki sumber penghasilan sendiri untuk hidup, kemudian secara sukarela melaksanakan misi dakwah kepada Allah atau misi amar ma’ruf nahi munkar.

Jika otoritas administratif (pemerintah) tidak menjamin kehidupan mereka dari dana zakat atau dari kas negara Islam sesuai dengan tingkat kebutuhan mereka – karena kerusakan kondisi umum, kerusakan sistem administratif, atau penyimpangan penguasa dari jalan Allah – maka komunitas Muslim harus membentuk asosiasi atau lembaga khusus untuk:

  1. Mendukung para pembawa misi dakwah ke jalan Allah atau misi amar ma’ruf nahi munkar.
  2. Mempersiapkan (regenerasi) mereka yang diharapkan memenuhi syarat untuk membawa kedua atau salah satu dari misi ini.

Lembaga-lembaga ini dapat mendanai kas mereka dari dana zakat, sedekah umum, wakaf, bantuan negara, dan berbagai investasi yang diperbolehkan. Status mereka dalam hal ini sama dengan pendanaan para pejuang di jalan Allah jika diperlukan.

Ketika mengutus seorang dai yang berkualifikasi untuk berdakwah kepada agama Allah dan menugaskannya untuk fokus pada dakwah ini, lembaga tersebut harus menjamin kehidupannya dan keluarganya sesuai dengan status sosialnya dan kondisi negara tempat ia diutus.

Sama halnya ketika menugaskan seseorang yang berkualifikasi untuk amar ma’ruf nahi munkar untuk fokus melaksanakan misi mulia ini di suatu negeri atau wilayah, lembaga tersebut harus menjamin kehidupannya dan keluarganya sesuai dengan status sosialnya dan kondisi negeri atau wilayah tempat ia melaksanakan misinya.

Dalam hal ini, perlu diperhatikan kesetaraan mereka dengan para pekerja dan pegawai negara.

Oleh karena itu, pembawa misi dakwah ke agama Allah atau pembawa misi amar ma’ruf nahi munkar tidak boleh mengulurkan tangan meminta sedekah dari para dermawan dan pemberian dari para donatur dengan tujuan mengumpulkan kekayaan untuk menyaingi orang-orang kaya. Namun, tidak dilarang bagi mereka untuk memiliki pekerjaan yang halal seperti pertanian, perdagangan, industri atau lainnya, dengan syarat hal tersebut tidak mengorbankan waktu yang seharusnya digunakan untuk melaksanakan misi yang ditugaskan kepadanya oleh asosiasi atau lembaga khusus mengingat ia ditugaskan untuk fokus pada misinya.

Dan kita tidak boleh melupakan upaya besar yang dilakukan oleh asosiasi dan lembaga Kristenisasi (=pemurtadan) di dunia, dan dana sangat besar yang mereka kumpulkan dari negara-negara, bank-bank dan masyarakat Kristen, serta pajak yang dikenakan gereja pada setiap individu untuk mendanai proyek-proyek kristenisasi mereka dan mempersiapkan para misionaris dalam jumlah sangat besar, yang mereka sebarkan ke seluruh dunia, terutama di negara-negara Muslim, dan mereka mendukung sasaran mereka dengan segala kebutuhan finansial untuk menjalankan misi mereka.

Bukankah mengherankan bahwa para pembawa misi kesesatan di dunia lebih banyak berkorban, lebih terorganisir, dan lebih bersemangat dalam menjalankan misi penyesatan mereka, dibandingkan orang-orang yang mengaku Islam yang benar?!!

Ya, ini sungguh mengherankan secara lahiriah, namun ini adalah fenomena alami dari kekacauan pemikiran dan kekacauan jiwa yang dialami umat Islam, dan fenomena alami karena Islam kebanyakan dari mereka hanyalah Islam tradisional turunan, bukan keanggotaan sukarela berdasarkan pemahaman sadar akan Islam secara komprehensif. Penyebabnya adalah kurangnya orang-orang yang berkualifikasi dalam jumlah memadai untuk kedua misi: misi dakwah kepada Allah dan misi amar ma’ruf nahi munkar, beserta nasihat dan bimbingan dalam masing-masing misi tersebut.

 

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

BAB KETIGA

Kewajiban Pembawa Misi untuk Menghiasi Diri dengan Akhlak Mulia dan Perangai yang Baik, serta Menerapkan Apa yang Ia Dakwahkan

 

TERDIRI DARI DUA PEMBAHASAN:

  1. Pembahasan Pertama: Analisis dan Perincian
  2. Pembahasan Kedua: Contoh-contoh dari Akhlak dan Perilaku Mulia Rasulullah

 

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

PERNYATAAN PERTAMA

Analisis dan Perincian

 

-1- Penjelasan Analitis Umum

Setiap mukmin muslim dituntut untuk menghiasi diri dengan akhlak mulia dan perangai yang baik, karena sebaik-baik muslim adalah yang terbaik akhlaknya, yang ramah, yang mengasihi dan dikasihi, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih dari perkataan Rasulullah.

Namun, menghiasi diri dengan akhlak mulia dan perangai yang baik tampak sangat penting bagi para pembawa misi dakwah kepada Allah, atau misi amar ma’ruf nahi munkar serta nasihat dan bimbingan.

Karena seseorang yang tidak memiliki akhlak mulia dan perangai terpuji tidak layak untuk membawa kedua misi ini atau salah satunya saja, dan tidak layak untuk berhadapan dan bergaul dengan orang-orang dalam rangka menyampaikan misinya di tengah mereka.

Sesungguhnya pembawa misi yang bertujuan memperbaiki kerusakan dan meluruskan penyimpangan manusia, serta mengubah kebiasaan buruk, pemahaman yang salah, dan keinginan serta nafsu yang berbahaya dan buruk mereka, harus memiliki sifat-sifat akhlak terpuji yang dapat menguasai jiwa dan hati serta mengendalikannya, dan menuntunnya kepada kebenaran, kebaikan dan keutamaan, serta menentang hawa nafsu dan syahwat yang berbahaya, tradisi buta, dan meninggalkan semua akhlak dan perbuatan yang mengandung maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Seorang pembawa misi yang profesional hendaknya menghiasi diri dengan tingkat tinggi akhlak mulia dan perangai yang baik seperti:

  • Kejujuran dan amanah.
  • Kesabaran dan lapang dada.
  • Kesucian diri.
  • Tidak berambisi terhadap perhiasan dunia yang Allah berikan kepada hamba-Nya.
  • Kedermawanan dan kerendahan hati.
  • Kelembutan.
  • Pergaulan dan interaksi yang baik dengan manusia serta lemah lembut kepada mereka.
  • Keberanian yang bijaksana.
  • Perasaan cinta dan kasih sayang kepada manusia, baik kecil maupun besar, yang lemah maupun yang berstatus tinggi, yang miskin maupun yang kaya.

Disini saya tidak bermaksud menjelaskan tentang akhlak mulia dan perangai yang baik serta keutamaannya, dan kehinaan lawannya, karena saya telah menulis buku komprehensif tentang akhlak dalam dua jilid berjudul: “Akhlak Islam dan Dasarnya”. Pembawa misi sebaiknya merujuk ke buku tersebut dan buku-buku berharga lainnya tentang akhlak Islam yang berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Namun, yang perlu ditekankan di sini adalah pentingnya bagi seseorang yang membawa pesan dakwah kepada Allah, atau pesan untuk mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran, serta memberikan nasihat dan bimbingan, untuk memiliki akhlak yang mulia dan sifat-sifat yang terpuji.

Tidak diragukan lagi bahwa orang yang menghiasi diri dengan tingkat tinggi akhlak mulia dan perangai baik yang telah disebutkan sebagian darinya, memiliki alat untuk mempengaruhi manusia dan menarik hati mereka untuk menerima dan merespons darinya, yang tidak dimiliki oleh orang yang rendah tingkat akhlak mulia dan perangai baiknya.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

Adapun orang yang tidak memiliki akhlak mulia dan perangai yang baik, pengaruhnya terhadap manusia justru sebaliknya. Dengan akhlak buruknya, ia membuat orang lari darinya, menjauh darinya, menjauhi majelisnya, dan tidak peduli dengan perkataan dan nasihatnya, meskipun ia termasuk orang yang paling berilmu, fasih dan baik penjelasannya.

Orang seperti ini tidak layak untuk bergaul dengan manusia dan mendakwahkan agama Allah kepada mereka, atau memerintahkan mereka kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Jika ia memiliki ilmu yang bermanfaat, perkataan yang baik dan penjelasan yang berpengaruh, maka pimpinan administratif yang mengkoordinasikan dan mendistribusikan pekerjaan kepada orang-orang yang berkompeten dari wanita dan pria sesuai kemampuan, spesialisasi dan bakat alami mereka yang dianugerahkan Allah, hendaknya memanfaatkannya dalam tulisan atau khutbah yang disampaikannya lalu ia kembali ke tempat pengasingannya setelah itu, atau ceramah melalui radio, agar tidak berinteraksi langsung dengan orang yang menjadi sasaran ceramahnya. Sebaiknya orang-orang tidak berhubungan dengannya kecuali melalui surat tertulis dan melalui editor yang menyaring komunikasi masuk dan keluar darinya.

Bagaimana mungkin orang-orang menerima nasihat seorang pembohong yang mereka kenal kebohongannya, atau terungkap kebohongannya dalam interaksi dengan mereka dan dalam berita yang mudah mereka ketahui kebenarannya?!!

Bagaimana mungkin orang-orang merespons bimbingan dan arahan dari seorang pengkhianat yang tidak amanah?!!

Bagaimana mungkin orang-orang sabar menerima dari orang yang pemarah, sempit dada, dan kasar yang berbicara kepada mereka dengan bahasa kemarahan, cercaan dan menyakiti dengan perkataannya?!!

Bagaimana mungkin orang-orang percaya kepada orang yang berjiwa rendah dan tidak menjaga kesucian diri, lalu menerima dakwah, nasihat, atau perintah dan larangannya?!!

Bagaimana mungkin orang-orang menerima nasihat orang yang dengki yang berambisi terhadap apa yang Allah berikan kepada mereka berupa perhiasan kehidupan dunia seperti harta, wanita, keturunan, kedudukan, kekuasaan atau lainnya?!!

Bagaimana mungkin orang-orang sabar menemani orang yang kasar dan keras hati yang membuat jiwa lari dari pertemuan dengannya, berkumpul bersamanya, dan mendengarkan pembicaraannya?!!

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

Namun, betapa sering kita melihat seorang dai kepada Allah, atau orang yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, yang memiliki sedikit ilmu dan penjelasan yang lemah, tetapi orang-orang berkumpul mengelilinginya dan mencintainya, serta terpengaruh oleh nasihat dan peringatannya, karena dia:

  • Jujur dan amanah.
  • Penyayang dan penyabar.
  • Lapang dada.
  • Menjaga kesucian diri.
  • Dermawan.
  • Rendah hati dan lemah lembut.
  • Baik dalam pergaulan dan interaksi.
  • Berani dengan bijaksana dalam mencari ridha Allah.
  • Bebas dari penyakit hasad dan ambisi terhadap perhiasan dunia yang Allah berikan kepada sebagian hamba-Nya.
  • Tidak menyimpan dendam dan kebencian karena keluhuran jiwanya dan kesucian hatinya.

Maka pembawa misi perbaikan harus unggul dalam sifat-sifat akhlak mulia yang berpengaruh baik pada jiwa dan menyatukan hati pada kebenaran, kebaikan dan petunjuk, bersama dengan kelayakan ilmiah dan intelektual yang sesuai untuk melaksanakan tingkat tugas dari misinya yang ia jalankan di tengah masyarakat.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

 

 

-2- PENJELASAN TERPERINCI

Pertama – Pentingnya Terbebas dari Ambisi terhadap Apa yang Allah Berikan kepada Manusia:

Mengingat tersembunyinya dan pentingnya pembawa salah satu atau kedua misi ini terbebas dari ambisi terhadap perhiasan dunia yang Allah berikan kepada manusia, agar tidak timbul dalam jiwanya keinginan nafsu dan angan-angan yang menimbulkan penyakit hasad, Allah ‘Azza wa Jalla menyeru Rasul-Nya dengan seruan yang tampaknya ditujukan kepada umatnya, terutama para dai kepada Allah, orang-orang yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Allah berfirman dalam surat Thaha:

﴿وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ اِلٰى مَا مَتَّعْنَا بِهٖٓ اَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ەۙ لِنَفْتِنَهُمْ فِيْهِ ۗوَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى ١٣١ ﴾ ( طٰهٰ/20: 131-131)

“Dan janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada apa yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia, agar Kami uji mereka dengan itu. Dan karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.”

Ayat ini beserta ayat sebelumnya diturunkan di Madinah dan ditambahkan ke surat Thaha yang merupakan surat pertengahan periode Makkah, untuk menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah pengarahan kepada umat Rasulullah ﷺ, terutama para pembawa misi dakwah kepada Allah atau misi amar ma’ruf nahi munkar, ketika mereka berada dalam kondisi seperti kondisi Rasulullah ﷺ pada pertengahan periode Makkah saat surat Thaha diturunkan. Saat itu Rasulullah ﷺ dalam keadaan lemah, miskin dan tertindas oleh para pembesar kaumnya di Makkah, sementara para pembesar itu adalah para pemimpin yang kuat dan berkuasa di sana. Namun Rasulullah ﷺ tidak berambisi terhadap perhiasan dunia yang mereka miliki. Bahkan ketika ditawarkan gunung-gunung Makkah menjadi emas untuknya, beliau menolak. Seandainya beliau menerima tawaran itu, tentu beliau akan menjadi orang yang paling mulia, berkuasa dan kuat di bumi, dan memiliki perhiasan dunia yang tidak dimiliki siapapun selainnya, namun beliau tidak memilih hal itu untuk dirinya dari dunia.

Adapun di Madinah, beliau adalah pemimpin yang ditaati dan penguasa yang dibela dengan harta dan jiwa. Seandainya beliau ingin menikmati apa yang beliau kehendaki, tentu beliau bisa melakukannya. Maka keadaannya di sana tidak membuat orang mengira bahwa beliau akan mengarahkan pandangannya kepada perhiasan kehidupan saat itu.

Maka turunnya arahan ini kepada beliau pada masa Madinah sangat jelas bahwa yang dimaksud adalah umatnya, terutama para pembawa misinya.

Dan karena Rasul adalah pemimpin umatnya dan wakil mereka dalam menerima perintah, larangan dan arahan Allah, maka Allah menyerunya dengan bentuk tunggal, agar setiap pembawa misinya merasakan seruan individual ini sebagaimana Allah menyeru Rasul. Namun Rasulullah ﷺ telah mewujudkan kandungan seruan dalam nash ini sebelum diturunkan kepadanya, ini menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah setiap individu dari umatnya, terutama para pembawa misi dakwah ke agama Allah, amar ma’ruf nahi munkar, serta nasihat dan bimbingan.

“Dan janganlah engkau tujukan pandanganmu”: Ungkapan “menujukan pandangan” adalah kiasan dari keinginan dan angan-angan jiwa. Karena orang yang melihat sesuatu lalu menyukainya, menginginkannya dan mengangan-angankannya untuk dirinya, maka pandangannya akan terpaku padanya. Dengan terpakunya pandangan, keinginan dan angan-angan jiwa terus bermunculan. Keinginan ini terdorong dengan berulangnya pandangan dan melepaskan energi tersembunyi melalui garis pandangan mata, seolah-olah kedua mata itu sendiri memanjang ke arah sesuatu yang disukai jiwa, lalu diinginkan dan diangan-angankan. Di sinilah penyakit hasad muncul dalam jiwa, dan dari sinilah bisa terjadi ‘ain (mata hasad), jika orang yang berangan-angan memiliki keinginan hasad dan memiliki kekuatan tersembunyi yang mempengaruhi orang yang dihasadi atau benda-benda yang dimilikinya.

Maka seorang mukmin harus menundukkan pandangannya dari apa yang Allah berikan kepada sebagian hamba-Nya berupa perhiasan kehidupan dunia, agar jiwanya tidak terkait dengannya lalu mengangan-angankannya untuk dirinya sehingga timbul penyakit hasad yang buruk. Jika penyakit ini timbul dalam jiwa dengan panasnya keinginan dan angan-angan, maka di antara dampaknya adalah goresan yang melukai wajah iman yang sehat dalam hati, sehingga orang yang hasad meragukan hikmah Allah dalam pemberian dan pencegahan-Nya. Setan jiwa memanfaatkan keraguan ini, lalu menggerakkan kekuatan buruk yang berbahaya dan menyakitkan di dalamnya, sehingga sebagian kekuatan tersembunyi ini terlepas darinya, dan terkadang ia ikut terlepas bersamanya, lalu terjadilah dengan izin dan pengetahuan Allah ‘ain dalam berbagai tingkatan.

“Kepada apa yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka”: Yakni kepada sesuatu yang Kami berikan kepada bermacam-macam kelompok, jamaah dan individu dari manusia berupa kesenangan dunia. Segala yang ada di dunia adalah kesenangan, dan kesenangan adalah segala yang dimanfaatkan sementara dan akan fana dan hilang.

“Bunga kehidupan dunia”: Yakni keadaan apa yang Kami berikan kepada mereka sebagai bunga kehidupan dunia. Allah menyerupakan segala yang ada di dunia dari perhiasannya yang disukai jiwa dengan bunga, karena bunga yang mekar di pohon sebelum menjadi buah memiliki perhiasan, keindahan, dan daya tarik, namun sangat pendek umurnya dan cepat layu. Seperti itulah segala yang ada di dunia dibandingkan dengan yang ada di akhirat.

“Agar Kami uji mereka dengan itu”: Yakni agar Kami menguji mereka atau menyiksa orang-orang kafir mereka dengan apa yang Kami berikan berupa perhiasan kehidupan dunia yang seperti bunga yang cepat layu dan pendek umurnya.

“Dan karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal”: Yakni karunia Tuhanmu yang Dia siapkan di negeri kenikmatan pada hari pembalasan bagi orang yang beriman dan beramal saleh serta tidak berambisi terhadap apa yang Allah berikan kepada sebagian hamba-Nya berupa bunga kehidupan dunia adalah lebih baik dari segala kesenangan dan perhiasan dunia, dan lebih kekal dalam berbagai jenis, macam dan bentuk, karena negeri kenikmatan adalah negeri yang kekal, sedangkan kehidupan dunia adalah negeri yang fana dan penuh kesulitan.

Maka setiap pembawa misi dakwah kepada Allah atau misi nasihat, bimbingan dan amar ma’ruf nahi munkar harus sangat berhati-hati dari mengarahkan pandangan kepada apa yang Allah berikan kepada orang lain berupa bunga kehidupan dunia dengan hasrat, keinginan dan angan-angan. Karena ini akan mengotori kejernihan jiwanya dan merusaknya, serta mengalihkan jalannya dari mencari ridha Allah dalam menjalankan misinya menjadi berusaha mendapatkan apa yang diinginkan dari bunga kehidupan dunia. Ini membuatnya siap untuk melepaskan misinya atau menggunakannya tidak pada tempatnya jika ditawarkan godaan yang ia inginkan dan angan-angankan. Saat itulah setan-setan manusia dan jin akan memanfaatkannya untuk menyelewengkan agama, mempermainkan konsep-konsepnya, dan memperindah perbuatan orang-orang yang membuat kerusakan, penjahat dan orang-orang fasik di bumi, kemudian bergabung dengan mereka dalam apa yang mereka lakukan.

Betapa banyak orang-orang pembawa misi dakwah kepada Allah atau misi amar ma’ruf nahi munkar yang diuji dengan penyakit ini, sehingga mereka menjadi keburukan, bahaya dan bencana bagi misi yang mereka bawa.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

Kedua – Pentingnya Terbebas dari Kekasaran dan Kekerasan Hati:

Mengingat pentingnya pembawa salah satu atau kedua misi terbebas dari sifat kasar (yaitu: keras dalam perkataan dan buruk akhlaknya) dan keras hati (yaitu: kejam tanpa kasih sayang) serta kurangnya perhatian banyak orang untuk menjaga diri dari keduanya… Allah memuji Rasul-Nya Muhammad ﷺ bahwa beliau memiliki akhlak yang agung, dan ini terjadi pada awal periode Makkah. Kemudian Allah memujinya pada awal periode Madinah bahwa beliau tidak kasar dan tidak keras hati untuk mengarahkan umatnya terutama para pembawa misinya agar mengikuti teladannya dan menghiasi diri dengan akhlak dan perilakunya dalam dakwah kepada agama Tuhannya dan dalam memimpin umatnya.

Adapun pujian Allah atas akhlak agungnya di awal periode Makkah terdapat dalam firman-Nya dalam surat Al-Qalam:

﴿نۤ ۚوَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَۙ ١ مَآ اَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُوْنٍ ٢ وَاِنَّ لَكَ لَاَجْرًا غَيْرَ مَمْنُوْنٍۚ ٣ وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ ٤ ﴾ ( القلم/68: 1-4)

“Nun. Demi pena dan apa yang mereka tulis, dengan nikmat Tuhanmu engkau (Muhammad) bukanlah orang gila. Dan sesungguhnya engkau pasti mendapat pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.”

Yakni: Sungguh engkau berada pada tingkat tinggi dengan akhlak agung yang engkau jalankan dalam hidupmu. Sunnah Nabawiyah telah menunjukkan kepada kita banyak contoh menakjubkan dari perilaku agungnya dan sifat-sifat uniknya yang mengungkapkan akhlak agungnya yang menguasai hati para sahabatnya, dan bahkan menguasai kekaguman para musuh dan orang-orang kafir terhadap dirinya dan misinya.

Sedangkan pujian Allah kepada Rasul-Nya bahwa dia bukanlah orang yang kasar dan keras hati, dan seandainya dia kasar dan keras hati, para sahabatnya akan pergi meninggalkannya, kita dapat menemukannya dalam firman Allah Yang Maha Kuasa dalam Surah Ali Imran 3 (Mushaf) / 89 (turun)[1] sebagai seruan kepada Rasul-Nya:

 

﴿فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ ١٥٩ ﴾ ( اٰل عمران/3: 159-159)

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.”

Dalam ayat ini terdapat pujian dari Allah kepada Rasul-Nya bahwa dia bukanlah orang yang kasar dan keras hati, dan penjelasan bahwa seandainya dia kasar dan keras hati, para sahabatnya akan pergi meninggalkannya. Ini merupakan petunjuk secara tidak langsung kepada setiap orang yang mengemban tugas memimpin orang-orang bertakwa, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, sebagai teladan yang baik bagi mereka, agar tidak menjadi orang yang kasar, buruk akhlaknya dan keras kepala, dan tidak menjadi orang yang keras hati tanpa kasih sayang. Karena siapa yang demikian, orang-orang yang terpengaruh dengan penjelasan agamanya akan lari darinya dan bubar dari sekelilingnya, sehingga dia menjadi tidak diminati dan tidak berpengaruh dalam dakwahnya, dalam memerintahkan kebaikan, mencegah kemungkaran, maupun dalam nasihat dan bimbingannya.

Sifat-sifat yang harus dimiliki oleh pemimpin orang-orang mukmin yang bertakwa yang membuat mereka bergabung dengannya, berkumpul di sekelilingnya, dan meneladaninya dengan penuh cinta, penghargaan dan dukungan, serta mematuhinya ketika dia memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, lebih utama lagi harus dimiliki oleh pendakwah ke agama Allah yang mengajak non-Muslim untuk masuk Islam dengan kejujuran, komitmen, dan kebaikan dalam mengikuti dan beramal.

Karena orang yang kasar dan buruk akhlaknya, atau keras hati, tidak layak sejak awal untuk menjadi pendakwah bagi siapapun dari non-Muslim ke agama Allah, karena dia akan membuat mereka lari dari agama pada tanda pertama keburukan akhlak dan kekasaran yang mereka lihat padanya, dan mereka akan menjauhinya ketika menyadari bahwa dia keras hati, tidak memiliki kasih sayang dan hampa dari perasaan mulia, sehingga mereka tidak akan mendengarkannya dan tidak akan menyimak perkataan dan nasihatnya.

“Maka berkat rahmat Allah engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka”: Artinya, karena rahmat yang besar yang telah Allah fitrahkan padamu, engkau bersikap lemah lembut, wahai Muhammad, kepada orang-orang yang mengikutimu dalam perkataan dan perbuatanmu, dan engkau penyayang terhadap mereka, lembut dalam mengatur mereka, dan penuh kasih sayang kepada mereka.

Huruf “ma” ditambahkan antara kata depan dan kata yang diawalinya untuk penekanan, dan untuk menunjukkan keagungan sifat rahmat yang Allah fitrahkan padanya, karena di dalam hatinya terdapat rahmat yang besar dan agung.

“Dan sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”: Artinya, engkau tidak kasar dan tidak keras, wahai Muhammad, oleh karena itu orang-orang yang beriman kepadamu dan mengikutimu tidak meninggalkanmu, bahkan mereka tetap berada di sekelilingmu, berkumpul bersamamu dengan penuh cinta, penghormatan, penghargaan dan dukungan kepadamu dan kepada semua yang engkau bawa kepada mereka, serta taat kepada perintah dan laranganmu.

Al-Fazh (الفظ): adalah orang yang memiliki perkataan kasar yang menyakiti dan membuat orang lari. Dalam bahasa Arab dikatakan: “rajulun fazh dzu fazhazhah” (رجل فظ ذو فظاظة) jika seseorang kasar dan keras dalam perkataannya, berbicara kepada orang lain dengan cara yang menyakiti jiwa mereka. Al-Fazh juga berarti orang yang buruk akhlaknya dan keras dalam tabiat dan pergaulannya.

Al-Ghalizh (الغليظ): adalah orang yang tidak memiliki kelembutan dalam akhlak dan tabiatnya, atau dalam perkataan atau perbuatannya. Dan kekerasan hati adalah kiasan untuk kosongnya hati dari rasa kasih sayang, atau kasih sayangnya sedikit dibandingkan dengan apa yang diharapkan dari orang sepertinya.

Asal kata Al-Ghalazh dalam berbagai hal menunjukkan padatnya partikel-partikel dan besarnya ketebalannya, sehingga dengan demikian menjadi keras dan tidak lembut. Dan sesuatu yang keras tidak memiliki kelembaban atau sedikit, sehingga tidak mengeluarkan atau tidak dapat diperas, atau rembesannya sangat sedikit. Maka hati yang keras tidak merembeskan kasih sayang, atau rembesannya sangat sedikit dan kecil.

Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia telah memuji Rasul-Nya, Muhammad ﷺ, sebagai sosok yang memiliki kasih sayang yang agung. Hal ini terlihat jelas dalam perlakuan beliau terhadap orang-orang yang mengikutinya dari kalangan orang-orang beriman, dengan kelembutan dalam perkataan, perbuatan, dan perasaannya. Beliau bersikap lemah lembut, penuh belas kasih, dan kasih sayang terhadap mereka. Allah berfirman kepada beliau dengan gaya bahasa tidak langsung, sebagai petunjuk bagi setiap penyeru ke jalan Tuhan dari umatnya, atau bagi yang memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran, serta memberikan nasihat dan bimbingan:

“Dan sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)

Maksudnya: Sesungguhnya engkau, wahai Rasulullah, bukanlah orang yang kasar, bahkan tidak sedikit pun dari tingkat kekasaran. Engkau juga bukan orang yang berhati keras, bahkan tidak sedikit pun ada dari tingkat kekerasan hati. Sebaliknya, engkau adalah sosok yang lembut, baik dalam pergaulan, santun dalam perkataan dan perbuatan, memiliki akhlak yang agung, dan hati yang penuh kasih sayang. Hati beliau dipenuhi dengan keinginan untuk memberi dan menolong, serta melimpahkan belas kasih kepada hamba-hamba Allah. Seandainya engkau bersikap kasar dan berhati keras, niscaya tidak akan berkumpul di sekelilingmu orang-orang yang begitu banyak, yang mencintaimu, memuliakanmu, mendukungmu, membelamu, dan bahkan rela berkorban dengan harta dan jiwa mereka untukmu. Seandainya mereka berkumpul di sekelilingmu semata-mata karena kagum dengan kefasihanmu, kebenaran prinsip-prinsipmu, dan sikap lemah lembut serta akhlak muliamu yang bertentangan dengan watak asli hatimu, niscaya mereka akan menjauh darimu ketika waktu telah berlalu lama. Sebab, pasti akan datang suatu hari di mana kepura-puraanmu dalam menyatukan hati mereka akan runtuh. Kepura-puraan yang dipaksakan, yang bertentangan dengan watak asli hati, tidak akan bertahan lama.

Dari pesan ini, yang ditujukan kepada Rasulullah, juga terkandung pesan bagi para pembawa risalahnya. Maksudnya: Wahai para penyeru kepada Allah, wahai para penyeru kebaikan dan pencegah kemungkaran, teladanilah Rasul kalian, Muhammad ﷺ. Bersikaplah lembut kepada manusia dalam perkataan dan perbuatan kalian. Janganlah ada di antara kalian yang bersikap kasar atau keras dalam menghadapi, berbicara, atau memperlakukan hamba-hamba Allah, meskipun kalian mengingkari penyimpangan mereka dari kebenaran dan jalan Allah dalam pemikiran, perkataan, atau perbuatan mereka.

Karena kelembutan dalam berbicara merupakan salah satu kewajiban dalam dakwah menyeru kepada agama Allah, sebab ia termasuk sarana yang efektif dan tidak menimbulkan kebencian, Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia memerintahkan Musa dan Harun—keduanya adalah nabi yang diutus oleh Allah—untuk berbicara kepada Fir’aun dengan kata-kata yang lembut. Dengan gaya bicara yang lembut, mereka berharap dapat menyampaikan kebenaran kepadanya dan menakut-nakutinya dengan azab Allah, sehingga ia dapat terpengaruh, mengingat prinsip-prinsip kebenaran yang telah Allah tanamkan dalam fitrah akal manusia, lalu beriman. Atau, setidaknya, ia merasa takut akan hukuman dan azab Allah karena perasaan takut dalam dirinya terhadap nasibnya di hadapan Allah. Allah Yang Maha Perkasa berfirman dalam Surah Thaha (20 dalam urutan mushaf, 45 dalam urutan turunnya wahyu), menceritakan pesan yang disampaikan kepada Musa ketika Dia memanggilnya di lembah suci Thuwa, dan menjelaskan kepadanya bahwa Dia telah memilihnya sebagai rasul, serta menjadikan saudaranya, Harun, sebagai pembantunya:

“Pergilah engkau dan saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku. Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 43-44)

“Pergilah engkau dan saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku”: Maksudnya, pergilah kalian berdua dengan membawa ayat-ayat-Ku yang jelas, mukjizat, dan yang mengandung hukuman.

“Dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku”: Maksudnya, janganlah kalian berdua menjadi lemah atau malas dalam beribadah kepada-Ku, baik dengan hati, pikiran, maupun lisan kalian. Janganlah kalian menjadi lemah atau merasa lelah. Mengingat Allah mencakup bertasbih dan memuji-Nya, merenungkan sifat-sifat-Nya yang agung dan nama-nama-Nya yang indah, merenungkan nikmat-nikmat-Nya dan tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta, serta merenungkan ayat-ayat-Nya yang diturunkan dan memahami makna serta pesan-pesannya. Termasuk juga mengajak orang untuk beriman kepada-Nya dan kepada apa yang diturunkan kepada Rasul-Nya, disertai dengan penjelasan dan keterangan.

Dalam bahasa Arab, dikatakan: “وَنَى يَنِي” (wana yanī) yang artinya “lemah, malas, atau merasa lelah.”

“Sesungguhnya dia telah melampaui batas”: Maksudnya, Fir’aun telah melampaui batas dalam kezaliman, kesombongan, kekafiran, dan kefasikan.

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lembut”: Maksudnya, berbicaralah kalian berdua kepadanya dengan lembut saat menyerunya untuk beriman dan meninggalkan apa yang dia yakini, seperti klaim ketuhanan dan penyembahan berhala selain Allah.

“Mudah-mudahan ia ingat atau takut”: Maksudnya, dengan dakwah yang disampaikan dengan kata-kata lembut, kalian berharap agar dia mengingat apa yang telah tertanam dalam fitrah akalnya, yaitu prinsip-prinsip kebenaran dan keimanan. Atau, setidaknya, dia mengambil pelajaran sehingga takut akan hukuman dan azab Allah, karena perasaan takut dalam dirinya terhadap nasibnya di hadapan Sang Pencipta. Juga, karena ingatannya akan kisah-kisah para penguasa sombong sebelumnya yang telah dihancurkan oleh Allah, seperti kaum ‘Ad, Tsamud, dan kaum Nabi Nuh—semoga keselamatan atasnya.

Setelah Allah memuji Rasul-Nya, Muhammad ﷺ, karena beliau sangat penyayang kepada orang-orang beriman, dan setelah menjelaskan bahwa seandainya beliau bersikap kasar dan berhati keras, niscaya orang-orang akan menjauh darinya, Allah memberikan petunjuk kepada orang-orang beriman, terutama para pembawa risalahnya, agar tidak ada seorang pun di antara mereka yang bersikap kasar atau berhati keras. Kemudian, Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk memaafkan orang-orang yang berbuat salah di antara orang-orang beriman, memohonkan ampunan bagi mereka yang berdosa, dan membuat mereka merasa bahwa mereka adalah mitra dalam urusan negara Islam dan kepentingan umum umat Islam. Beliau diperintahkan untuk bermusyawarah dengan mereka dalam urusan-urusan penting, dan memutuskan berdasarkan apa yang terlihat sebagai kemaslahatan bagi umat Islam setelah bermusyawarah. Setelah memutuskan, beliau diperintahkan untuk bertawakal kepada Allah dalam melaksanakannya, karena Allah mencintai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya, dan Dia akan memberikan pertolongan kepada mereka. Allah Yang Maha Perkasa berfirman kepada beliau dalam ayat yang sedang kita renungkan dari Surah Ali Imran:

“Maka maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali Imran: 159)

Maksudnya: Karena engkau, wahai Muhammad, memiliki sifat penyayang terhadap orang-orang beriman dengan kasih sayang yang bersifat fitrah dan bijaksana dari Tuhanmu, dan kasih sayang ini membuatmu bersikap lembut terhadap mereka, serta membebaskanmu dari sifat kasar dan berhati keras, maka jadikanlah tiga sifat penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yang bijaksana dan arif dalam kepemimpinan dan kebijakannya sebagai manifestasi dari kasih sayangmu terhadap mereka dalam perlakuanmu terhadap mereka:

Sifat Pertama: “Maka maafkanlah mereka”

Artinya: Jika ada di antara mereka yang berbuat salah kepadamu, baik dalam perkataan maupun perbuatan, maafkanlah dia. Jangan menghukumnya atas kesalahannya, jangan pula menegurnya, dan jangan biarkan kesalahannya itu memengaruhi perlakuanmu terhadapnya. Sifat ini akan membuatmu menguasai hati mereka.

Maaf adalah tingkat tertinggi dari ampunan, karena ampunan hanya menutupi dosa sementara bekasnya masih ada, sedangkan maaf menghapus bekas dosa tersebut setelah menutupinya. Seperti seorang petani yang menanam benih dan menutupinya dengan tanah, tetapi bekasnya masih terlihat. Angin kemudian menyapu tanah itu sehingga bekasnya hilang.

Sifat Kedua: “Dan mohonkanlah ampunan untuk mereka”

Artinya: Mintalah kepada Allah agar mengampuni dosa-dosa dan kesalahan mereka yang berkaitan dengan-Nya. Jika ada di antara mereka yang datang kepadamu dengan membawa dosa dan memintamu untuk memohonkan ampunan baginya, maka mohonkanlah ampunan untuknya. Doa Rasul untuk umatnya adalah mustajab (dikabulkan). Sifat ini akan semakin menguatkan penguasaanmu atas hati mereka dan membuat orang-orang beriman dari kalangan sahabat Rasul merasa bahwa kesalahan mereka terhadap Tuhan telah dihapus, sehingga tidak ada lagi bekasnya, karena Rasul telah memohonkan ampunan untuk mereka.

Sifat Ketiga: “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu”

Artinya: Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan-urusan yang menjadi tanggung jawabmu sebagai pemimpin. Pemimpin umat adalah orang yang mengatur dan mengelola urusan umum mereka, sebagai seorang pemimpin yang memiliki kekuasaan, yang memutuskan urusan mereka, memerintah, dan mengeluarkan perintah serta keputusan baik dalam keadaan damai maupun perang.

Meskipun Rasulullah adalah pemimpin umatnya dan penanggung jawab urusan umum mereka, serta didukung dan dibimbing oleh wahyu, Allah memerintahkannya untuk bermusyawarah dengan orang-orang yang layak diajak musyawarah dari umatnya. Hal ini agar beliau menjadi teladan dalam hal ini bagi para pemimpin, penguasa, dan penanggung jawab urusan umat Islam setelahnya.

Musyawarah lebih memungkinkan untuk melihat suatu masalah dari segala sisi, mengurangi kemungkinan kesalahan dalam keputusan yang akan diambil, serta memberikan penghormatan dan penghargaan kepada para peserta musyawarah, membuat mereka merasa sebagai mitra dalam urusan tersebut, dan bahwa keputusan pemimpin mereka diambil setelah bermusyawarah, bukan secara sepihak atau berdasarkan hawa nafsu pribadi.

Setelah bermusyawarah dan mempertimbangkan berbagai pendapat, serta memilih pendapat yang paling bermanfaat dan tepat bagi umat Islam secara umum, Rasul kemudian memutuskan keputusan yang sesuai, mengeluarkannya, dan memerintahkan untuk melaksanakannya. Pada saat itu, beliau harus bertawakal kepada Allah dan melakukan segala yang diperlukan untuk melaksanakan keputusan dan perintah yang telah dikeluarkannya.

Sebagai penjelasan atas hal ini,

Allah berfirman kepada Rasul-Nya:

“Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

Artinya: Jika engkau telah memutuskan setelah bermusyawarah untuk melaksanakan suatu urusan umat Islam, baik dalam keadaan damai maupun perang, maka bekerjalah untuk melaksanakannya sambil bertawakal kepada Allah. Allah akan memberimu pertolongan dan bimbingan-Nya, karena Dia mencintai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya sambil melakukan segala upaya yang diperlukan untuk melaksanakannya.

Apa yang Allah perintahkan kepada Rasul-Nya sebagai pemimpin umat dan penanggung jawab urusan mereka juga menjadi kewajiban bagi setiap pemimpin dari kalangan orang-orang bertakwa yang memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran, serta bagi setiap pemimpin umat Islam yang memimpin dan mengatur urusan umum mereka. Namun, pendapat mayoritas dalam musyawarah mengikat bagi selain Rasul, menurut pendapatku[2], berdasarkan firman Allah:

“Sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka.” (QS. Asy-Syura: 38)

Oleh karena itu, seorang yang membawa misi dakwah kepada Allah atau misi amar ma’ruf nahi munkar harus menghiasi dirinya dengan akhlak dan sifat-sifat yang Allah puji pada Rasul-Nya, serta yang Allah perintahkan kepadanya. Barangsiapa yang menghiasi dirinya dengan sifat-sifat tersebut, maka ia akan lebih sukses dan lebih tepat dalam melaksanakan misi yang diembannya.

Ia juga harus bersikap ramah dan bersahabat dengan semua orang, serta tidak memandang orang yang berbeda pendapat dengannya, betapapun tinggi kedudukannya, dengan wajah masam, cemberut, atau perasaan jijik.

Ia harus pandai berbicara, bijaksana dalam bergaul, baik dalam pergaulan, dan suka menolong. Ia harus mengutamakan kepentingan orang lain seolah-olah itu adalah kepentingannya sendiri, dengan tujuan untuk menarik hati manusia agar mencintai komitmen Islam, amal Islami, serta mencintai para dai yang menyeru kepada Allah, para penyeru kebaikan, pencegah kemungkaran, pemberi nasihat, dan pembimbing.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

PERNYATAAN KEDUA

Contoh-contoh dari Akhlak dan Sirah Agung Rasulullah

 

Dalam pembahasan ini, saya akan menyajikan beberapa contoh dari hadis-hadis yang berkaitan dengan sirah mulia dan akhlak agung yang dimiliki oleh Rasulullah Muhammad ﷺ. Hal ini agar para pembawa misi dakwah kepada agama Allah, serta para penyeru kebaikan dan pencegah kemungkaran, dapat menjadikannya sebagai teladan yang mereka ikuti, meneladani Rasul mereka yang agung, sehingga mereka layak menjadi pemimpin orang-orang bertakwa dalam akhlak dan perilaku mulia mereka.

Contoh Pertama:

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia pernah berperang bersama Nabi ﷺ di wilayah Najd. Ketika Rasulullah ﷺ pulang, beliau pulang bersama mereka. Ketika tiba waktu siang (qailulah), mereka sampai di sebuah lembah yang banyak ditumbuhi pohon berduri. Rasulullah ﷺ pun berhenti dan turun dari kendaraannya. Para sahabat berpencar mencari tempat berteduh di bawah pohon-pohon, sementara Rasulullah ﷺ beristirahat di bawah sebuah pohon samurah (sejenis pohon besar). Beliau menggantungkan pedangnya di pohon itu, lalu kami pun tidur sebentar.

Tiba-tiba Rasulullah ﷺ memanggil kami, dan kami melihat seorang Arab badui berdiri di dekat beliau. Rasulullah ﷺ bersabda: “Orang ini telah menghunus pedangku saat aku tidur. Aku terbangun, dan pedang itu sudah berada di tangannya dalam keadaan terhunus (siap digunakan). Ia berkata: ‘Siapa yang bisa melindungimu dariku?’ Aku menjawab: ‘Allah,’ sebanyak tiga kali. Namun, beliau tidak menghukum orang itu dan hanya duduk saja.”

Penjelasan Istilah:

  1. Qailulah: Waktu istirahat di siang hari.
  2. ‘Idhah: Pohon-pohon berduri.
  3. Samurah: Sejenis pohon besar.
  4. Ikhtarattha as-saif: Menghunus pedang dari sarungnya.
  5. Shalitan: Pedang yang terhunus dan siap digunakan.

Dalam riwayat lain dari Jabir, disebutkan bahwa orang musyrik itu berkata kepada Rasulullah ﷺ: “Apakah kamu takut kepadaku?” Rasulullah ﷺ menjawab: “Tidak.” Orang itu bertanya lagi: “Lalu siapa yang bisa melindungimu dariku?” Rasulullah ﷺ menjawab: “Allah.”

Dalam riwayat lain, pedang itu jatuh dari tangan orang tersebut. Rasulullah ﷺ mengambil pedang itu dan berkata kepada orang badui itu: “Siapa yang bisa melindungimu dariku sekarang?” Orang itu menjawab: “Jadilah orang yang paling baik dalam memperlakukan orang lain.” Rasulullah ﷺ kemudian bertanya: “Maukah kamu bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah?” Orang itu menjawab: “Tidak, tapi aku berjanji tidak akan memerangimu dan tidak akan bergabung dengan orang-orang yang memerangimu.” Rasulullah ﷺ kemudian melepaskannya. Orang itu pun kembali kepada kaumnya dan berkata: “Aku datang dari sisi manusia terbaik!”

Contoh Kedua:

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Sahl bin Sa’d, bahwa seorang wanita datang kepada Nabi ﷺ membawa sehelai burdah (selimut) yang dia tenun sendiri. Wanita itu berkata: “Aku menenunnya dengan tanganku sendiri untuk memberikannya kepadamu.”

Nabi ﷺ menerimanya karena membutuhkannya. Kemudian, beliau keluar menemui kami dengan mengenakan burdah itu sebagai sarungnya. Seorang sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, berikanlah burdah itu kepadaku. Alangkah indahnya!” Rasulullah ﷺ menjawab: “Baiklah.”

Beliau kemudian duduk di majelis, lalu kembali dan melipat burdah itu, kemudian mengirimkannya kepada sahabat tersebut. Orang-orang berkata kepada sahabat itu: “Kamu tidak berbuat baik. Rasulullah memakainya karena membutuhkannya, lalu kamu memintanya, padahal kamu tahu beliau tidak pernah menolak permintaan.” Sahabat itu menjawab: “Demi Allah, aku tidak memintanya untuk memakainya, tapi agar burdah itu menjadi kafanku.” Sahl bin Sa’d berkata: “Burdah itu benar-benar menjadi kafannya.”

Contoh Ketiga:

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Aku berjalan bersama Rasulullah , dan beliau mengenakan burdah Najran yang tebal di pinggirnya. Tiba-tiba seorang Arab badui mendatangi beliau dan menarik burdah itu dengan keras. Aku melihat bekas tarikan itu di pundak Rasulullah karena kerasnya tarikan tersebut. Kemudian, orang itu berkata: ‘Wahai Muhammad, berikanlah kepadaku sebagian harta Allah yang ada padamu.’ Rasulullah menoleh kepadanya, tersenyum, dan memerintahkan agar orang itu diberi sesuatu.”

Penjelasan Kata:

  1. “Dengan burdah yang ditenun”: yaitu: dengan kain selimut yang memiliki rumbai.
  2. “Al-Burd”: adalah selimut atau kain bergaris yang digunakan untuk menyelimuti (tubuh).
  3. “Al-‘Aatiq”: adalah bagian antara bahu dan leher, dan “mankib” adalah tempat pertemuan antara kepala lengan atas dan bahu.

Contoh Keempat:

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:
“Tidaklah Rasulullah dimintai sesuatu atas nama Islam, kecuali beliau memberikannya. Pernah ada seorang lelaki datang kepada beliau, dan beliau memberikannya kambing yang memenuhi lembah antara dua gunung. Lelaki itu pun kembali kepada kaumnya dan berkata: ‘Wahai kaumku, masuklah Islam! Sesungguhnya Muhammad memberi seperti orang yang tidak takut miskin.’
Ada orang yang masuk Islam hanya karena menginginkan dunia, tetapi tidak lama kemudian, Islam menjadi lebih dicintainya daripada dunia dan segala isinya.”

Contoh Kelima:

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Jubair bin Muth’im, bahwa ketika dia sedang berjalan bersama Rasulullah ﷺ dalam perjalanan pulang dari Perang Hunain, orang-orang Arab badui mendatangi beliau dan meminta-minta hingga memaksanya untuk berhenti di dekat sebuah pohon samurah (sejenis pohon). Salah seorang dari mereka menarik selendang beliau dengan kasar. Rasulullah ﷺ kemudian berhenti dan berkata: “Berikanlah selendangku. Seandainya aku memiliki harta sebanyak pohon-pohon berduri ini, niscaya aku akan membagikannya kepada kalian. Kalian tidak akan menemukan aku sebagai orang yang pelit, pendusta, atau penakut.”

Penjelasan Istilah:

  • Samurah: Sejenis pohon yang tumbuh di padang pasir.
  • Al-‘Idhah: Pohon-pohon berduri.

 

Contoh Keenam:

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Ada orang yang berkata: ‘Wahai Rasulullah, doakanlah keburukan untuk orang-orang musyrik!’ Rasulullah ﷺ menjawab: ‘Aku tidak diutus sebagai pelaknat, melainkan aku diutus sebagai rahmat.'”

Contoh Ketujuh:

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: “Wahai Rasulullah, apakah ada hari yang lebih berat bagimu daripada hari Perang Uhud?” Rasulullah ﷺ menjawab: ‘Aku telah mengalami banyak hal dari kaummu, tetapi yang paling berat adalah hari di ‘Aqabah, ketika aku menawarkan diriku kepada Ibnu Abd Yalil bin Kalal, tetapi dia tidak menerima ajakanku. Aku pun pergi dalam keadaan sedih. Aku tidak sadar kecuali ketika sampai di Qarn ats-Tsa’alib[3]. Aku mengangkat kepalaku, dan tiba-tiba ada awan yang menaungiku. Aku melihat ke dalamnya, dan ternyata ada Jibril. Dia memanggilku dan berkata: “Allah telah mendengar ucapan kaummu dan penolakan mereka terhadapmu. Dia telah mengutus malaikat pengatur gunung untuk memenuhi perintahmu.”

Malaikat pengatur gunung itu memanggilku, mengucapkan salam, lalu berkata: ‘Wahai Muhammad, Allah telah mendengar ucapan kaummu. Aku adalah malaikat pengatur gunung, dan Tuhanmu telah mengutusku untuk memenuhi perintahmu. Jika engkau mau, aku akan menghimpitkan dua gunung ini kepada mereka.’

Rasulullah ﷺ menjawab: ‘Tidak, aku berharap Allah akan mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.'”

Penjelasan Istilah:

  • Qarn ats-Tsa’alib: Sebuah tempat di dekat Mekah, juga dikenal sebagai Qarn al-Manazil, tempat miqat bagi orang yang datang dari Thaif.
  • Al-Akhsyabain: Dua gunung di Mekah.

Contoh Kedelapan:

Diriwayatkan bahwa seorang Arab badui datang kepada Rasulullah ﷺ meminta sesuatu, dan Rasulullah memberikannya. Kemudian, beliau bertanya: “Apakah aku telah berbuat baik kepadamu?” Orang itu menjawab: “Tidak, dan engkau tidak berbuat indah.”

Para sahabat marah dan bangkit untuk menghukumnya dengan keras, tetapi Rasulullah ﷺ memberi isyarat agar mereka menahan diri. Beliau kemudian masuk ke rumahnya dan mengirimkan tambahan hadiah kepada orang itu. Setelah itu, beliau bertanya lagi: “Apakah aku telah berbuat baik kepadamu?”
Orang itu menjawab: “Ya, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dari keluarga dan kerabatmu.” Rasulullah ﷺ berkata: ‘Kamu telah mengatakan apa yang kamu katakan, dan itu membuat para sahabatku tidak suka. Jika kamu mau, katakanlah di hadapan mereka apa yang telah kamu katakan kepadaku, agar hilang rasa tidak suka mereka terhadapmu.’ Orang itu pun setuju.

Keesokan harinya, orang Arab badui itu datang lagi. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang Arab badui ini telah mengatakan apa yang dia katakan, lalu kami memberinya tambahan, dan dia mengaku telah puas. Benarkah demikian?”
Orang itu menjawab: “Ya, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dari keluarga dan kerabatmu.”

Kemudian, Rasulullah ﷺ bersabda: “Perumpamaanku dan perumpamaan orang ini seperti seorang lelaki yang untanya kabur. Orang-orang mengejarnya, tetapi mereka hanya membuat untanya semakin lari. Pemilik unta itu pun berkata kepada mereka: ‘Biarkan aku dengan untaku, karena aku lebih lembut dan lebih tahu cara menanganinya.’ Lalu dia menghadap untanya, mengambil sedikit rumput dari tanah, dan menariknya hingga unta itu kembali dan duduk. Kemudian, dia memasang pelana dan menaikinya. Seandainya aku membiarkan kalian saat orang itu mengatakan apa yang dia katakan, lalu kalian membunuhnya, niscaya dia akan masuk neraka.”

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

BAB KEEMPAT

Kewajiban Bagi Pembawa Risalah untuk Menghiasi Diri dengan Sifat-Sifat yang Disebutkan Allah sebagai Sifat-Sifat Hamba Ar-Rahman Agar Menjadi Teladan yang Baik

 

Dalam bab ini terdapat dua pernyataan:

Pernyataan Pertama: Pendahuluan analitis umum yang menjelaskan syarat-syarat yang merupakan landasan dasar bagi setiap penyeru kebaikan atau pemberi nasihat.

Pernyataan Kedua: Sifat-sifat yang harus dimiliki oleh calon pemimpin orang-orang bertakwa.

 

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

PERNYATAAN PERTAMA

-1-

Pendahuluan Analitis Umum

 

Setiap orang yang memikul tanggung jawab menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar, nasihat, dan bimbingan, atau misi dakwah kepada agama Allah, khususnya dari kalangan ahli atau spesialis dalam menjalankan salah satu atau kedua misi ini, harus menjadi teladan yang baik bagi orang-orang yang menjadi sasaran misinya. Ia juga harus menghiasi dirinya dengan sifat-sifat yang membuatnya layak menjadi pemimpin bagi orang-orang bertakwa.

Seorang yang membawa misi nasihat, bimbingan, amar ma’ruf, dan nahi munkar dari kalangan ahli menempatkan dirinya sebagai pemimpin bagi orang-orang yang menjadi sasaran misinya. Setiap muslim yang beriman termasuk dalam golongan orang-orang bertakwa, karena ia memiliki tingkat ketakwaan tertentu. Seseorang yang menempatkan dirinya sebagai pemimpin bagi orang-orang bertakwa, yang memerintahkan kebaikan, melarang kemungkaran, memberikan nasihat, dan bimbingan, harus meningkatkan sifat-sifat perilakunya hingga melampaui tingkat ketakwaan tertinggi. Ia harus menjadi teladan yang baik bagi orang-orang bertakwa, bahkan berusaha untuk mencapai tingkat kebaikan yang lebih tinggi, sehingga setidaknya sebagian perbuatannya termasuk dalam golongan orang-orang yang berbuat baik (muhsinin).

Demikian pula, seorang dai spesialis yang membawa misi dakwah kepada agama Allah bagi non-muslim, atau mereka yang dianggap sebagai non-muslim, dan menempatkan dirinya pada posisi sebagai dai ahli, harus memiliki akhlak, perilaku, dan metode dakwah yang layak dijadikan teladan. Setidaknya, ia harus menjadi pemimpin bagi orang-orang bertakwa dengan tambahan kualifikasi intelektual, psikologis, ilmiah, dan kemampuan retorika yang diperlukan untuk misi dakwah kepada non-muslim secara spesialis.

 

-2-

Syarat-Syarat Dasar bagi Setiap Penyeru Kebaikan atau Pemberi Nasihat dan Bimbingan

 

Seorang pembawa misi dakwah kepada Allah, atau misi nasihat, bimbingan, amar ma’ruf, dan nahi munkar, tidak akan menjadi teladan yang baik kecuali jika ia:

  1. Beriman kepada apa yang ia serukan atau nasihatkan.
  2. Mengamalkan dalam perilaku psikis dan fisiknya apa yang ia serukan atau nasihatkan.
  3. Memiliki pengetahuan yang mendalam tentang apa yang ia serukan, nasihatkan, atau bimbingkan.

Tiga syarat dasar ini harus dipenuhi oleh setiap penyeru kebaikan, pemberi nasihat, atau pembimbing:

  1. Syarat iman kepada apa yang ia serukan, nasihatkan, atau bimbingkan.
  2. Syarat pengamalan terhadap apa yang ia serukan, nasihatkan, atau bimbingkan.
  3. Syarat ilmu dan pemahaman tentang apa yang ia serukan, nasihatkan, atau bimbingkan.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

Syarat Pertama: Beriman kepada apa yang ia serukan, nasihatkan, atau bimbingkan.

Sudah jelas bahwa syarat ini adalah syarat alami yang harus dipenuhi oleh setiap penyeru kepada suatu masalah atau prinsip tertentu. Jika tidak, maka ia adalah seorang munafik atau pendusta, atau memiliki kepentingan pribadi dalam menjalankan dakwahnya. Keadaannya seperti penduduk suatu kota yang muadzin masjid besarnya yang memiliki suara merdu telah meninggal. Mereka tidak menemukan seorang muslim yang memiliki suara merdu untuk menjadi muadzin, sehingga mereka menyewa seorang non-muslim yang suaranya mereka sukai untuk mengumandangkan azan. Namun, orang itu tidak mampu mengucapkan dalam azannya: “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah,” karena ia tidak beriman dengan kandungan dua syahadat tersebut. Akhirnya, ia hanya berkata: “Aku bersaksi bahwa muslim di kota ini bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa mereka bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Karena syarat ini adalah syarat logis yang alami, maka bijaksanalah Allah menjelaskan bahwa para rasul-Nya adalah orang-orang yang beriman kepada apa yang mereka serukan untuk diimani, atau termasuk orang-orang yang pertama beriman jika mereka memang yang pertama beriman kepada apa yang mereka serukan. Terkadang, ada di antara kaum mereka yang lebih dahulu beriman, mengingat apa yang mereka serukan didasarkan pada risalah sebelumnya, sehingga masih ada sisa-sisa orang yang beriman di antara kaum tersebut, atau mereka adalah rasul pengikut seperti Harun bersama Musa.

Dalam Al-Qur’an Al-Karim, kita menemukan bukti-bukti tentang kebenaran ini, di antaranya adalah:

  1. Firman Allah dalam Surah Al-Baqarah (2 dalam urutan mushaf, 87 dalam urutan turunnya wahyu):

“Rasul telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, dan begitu pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. Mereka berkata: ‘Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.’ Dan mereka berkata: ‘Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat kembali.'”

  1. Ketika Musa—semoga keselamatan atasnya—adalah orang pertama yang beriman dengan keimanan gaib yang sempurna, ia berkata setelah sadar dari pingsannya saat bermunajat kepada Tuhannya:

“Mahasuci Engkau, aku bertaubat kepada-Mu dan aku adalah orang yang pertama beriman.”

Sebagaimana Allah menjelaskan hal ini dalam firman-Nya dalam Surah Al-A’raf (7 dalam urutan mushaf, 39 dalam urutan turunnya wahyu):

“Dan ketika Musa datang pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman kepadanya, Musa berkata: ‘Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.’ Allah berfirman: ‘Kamu tidak akan dapat melihat-Ku, tetapi lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap di tempatnya, niscaya kamu dapat melihat-Ku.’ Ketika Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, Dia menjadikannya hancur luluh, dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata: ‘Mahasuci Engkau, aku bertaubat kepada-Mu dan aku adalah orang yang pertama beriman.'”

  1. Ketika Ibrahim—semoga keselamatan atasnya—bertanya kepada Tuhannya: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman kepadanya: “Apakah kamu belum beriman?” Ibrahim menjawab: “Tentu saja (aku telah beriman), tetapi agar hatiku tenang.” (Lihat Surah Al-Baqarah, ayat 260).

Setiap orang yang mengajak kepada Allah, baik dia seorang rasul atau pengikut dari para rasul, harus termasuk orang-orang beriman yang memenuhi syarat iman yang benar dan tulus. Dan ini adalah syarat pertama dari syarat-syarat yang diperlukan baginya.

 

Syarat Kedua: Melaksanakan secara nyata apa yang ia serukan, nasihatkan, atau bimbingkan.

Ketaatan seorang penyeru dalam perilakunya untuk melaksanakan apa yang ia serukan, serta ketaatan seorang pemberi nasihat dan pembimbing yang memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran untuk melakukan apa yang ia perintahkan dan meninggalkan apa yang ia larang, adalah syarat dasar dalam pandangan masyarakat untuk menerima apa yang ia serukan, perintahkan, atau larang. Sangat sedikit orang yang memisahkan antara seruan seorang penyeru atau nasihat seorang pemberi nasihat dengan perilaku pribadinya.

Seseorang yang perilakunya bertentangan dengan apa yang ia serukan, perintahkan, atau larang, ibarat orang yang berkata kepada masyarakat dengan bahasa tubuhnya: “Apa yang aku nasihatkan kepada kalian tidak memiliki nilai yang sebenarnya. Jika itu memiliki nilai yang sebenarnya, tentu aku akan menjadi orang yang konsisten dalam mengamalkan apa yang aku nasihatkan kepada kalian.”

Oleh karena itu, Allah berfirman kepada Rasul-Nya dalam Surah Hud (11 dalam urutan mushaf, 52 dalam urutan turunnya wahyu):

﴿فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ ١١٢ وَلَا تَرْكَنُوْٓا اِلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُۙ وَمَا لَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ مِنْ اَوْلِيَاۤءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُوْنَ ١١٣ ﴾

“Maka istiqamahlah (berteguh hatilah) sebagaimana engkau telah diperintahkan, begitu pula orang-orang yang telah bertaubat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, nanti kamu akan disentuh api neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagimu selain Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.”

Allah juga berfirman kepada Rasul-Nya dalam Surah Asy-Syura (42 dalam urutan mushaf, 62 dalam urutan turunnya wahyu) setelah menyebutkan bahwa Dia telah menetapkan bagi umat ini agama yang telah Dia wasiatkan kepada para rasul sebelumnya dan yang Dia wasiatkan kepada Rasul-Nya:

﴿فَلِذٰلِكَ فَادْعُ ۚوَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَۚ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْۚ …..١٥ ﴾

“Oleh karena itu, serulah (mereka kepada agama ini) dan beristiqamahlah sebagaimana engkau telah diperintahkan, dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka…”

Karena ketaatan pada jalan yang lurus dalam pelaksanaan praktis adalah Islam yang implementatif, yang menyatakan ketaatan dan penyerahan diri kepada Allah dalam perintah dan larangan-Nya, Allah berfirman kepada Rasul-Nya dalam Surah Al-An’am (6 dalam urutan mushaf, 55 dalam urutan turunnya wahyu):

﴿قُلْ اِنَّنِيْ هَدٰىنِيْ رَبِّيْٓ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ ەۚ دِيْنًا قِيَمًا مِّلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًاۚ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ١٦١ قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ ١٦٢ لَا شَرِيْكَ لَهٗ ۚوَبِذٰلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ ١٦٣ ﴾

“Dan katakanlah: ‘Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang lurus, agama Ibrahim yang lurus. Dan dia bukanlah termasuk orang-orang musyrik.’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama berserah diri (muslim).'”

“Aku adalah orang yang pertama berserah diri (muslim)”: Maksudnya, aku adalah orang yang pertama mengumandangkan penyerahan diri dan ketaatanku kepada Allah, serta orang yang pertama melaksanakan hukum-hukum Islam dan menerapkan perintah serta larangan Allah dalam perilaku psikis dan fisikku.

Nuh—semoga keselamatan atasnya—berkata kepada kaumnya, sebagaimana disebutkan dalam Surah Yunus (10 dalam urutan mushaf, 51 dalam urutan turunnya wahyu):

﴿…….. ۙوَاُمِرْتُ اَنْ اَكُوْنَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ٧٢ ﴾

“…Dan aku diperintahkan agar termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim).”
Maksudnya, termasuk orang-orang yang melaksanakan hukum-hukum agama. Tidak ada pengecualian khusus bagiku dalam pelaksanaannya.

Allah juga menjelaskan keutamaan orang yang menyerukan keadilan dan berada di jalan yang lurus dalam perilaku lahir dan batinnya, serta menyatakan bahwa ia adalah sebaik-baik manusia. Allah berfirman dalam Surah An-Nahl (16 dalam urutan mushaf, 70 dalam urutan turunnya wahyu):

﴿وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا رَّجُلَيْنِ اَحَدُهُمَآ اَبْكَمُ لَا يَقْدِرُ عَلٰى شَيْءٍ وَّهُوَ كَلٌّ عَلٰى مَوْلٰىهُ ۗ اَيْنَمَا يُوَجِّهْهُّ لَا يَأْتِ بِخَيْرٍ ۖهَلْ يَسْتَوِيْ هُوَۙ وَمَنْ يَّأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَهُوَ عَلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ ࣖ ٧٦ ﴾

“Dan Allah membuat perumpamaan dua orang laki-laki, yang seorang bisu tidak dapat berbuat sesuatu pun dan dia menjadi beban bagi penanggungnya, ke mana pun dia disuruh, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada di jalan yang lurus?”

Dari ini, kita memahami bahwa orang bisu yang tidak mampu melakukan apa pun memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada orang yang menyeru kepada kesesatan atau memerintahkan kezaliman dan ketidakadilan. Ia juga lebih tinggi kedudukannya daripada orang yang hanya menyerukan keadilan dengan lisannya, tetapi menyimpang dari jalan yang lurus dalam perbuatannya. Dengan demikian, manusia terbagi menjadi empat golongan:

  1. Penyeru kepada kesesatan yang memerintahkan kezaliman dan ketidakadilan.
  2. Penyeru kepada petunjuk yang memerintahkan keadilan tetapi tidak mengamalkannya.
  3. Orang bisu yang tidak mampu melakukan apa pun dan menjadi beban bagi penanggungnya. Ia dimaafkan karena kekurangan yang telah menjadi takdirnya, dan ia lebih tinggi kedudukannya daripada dua golongan pertama.
  4. Penyeru kepada petunjuk yang memerintahkan keadilan dan berada di jalan yang lurus. Ia memiliki kelayakan yang sempurna, dan ini adalah golongan yang paling mulia.

Dalam ringkasan ungkapan Al-Qur’an, pembagian ini disajikan secara dua bagian, karena dua golongan pertama jelas tertolak berdasarkan akal sehat, dan dapat dipahami dengan merenungkannya.

Oleh karena itu, seorang pembawa misi dakwah kepada Allah, atau misi nasihat, bimbingan, amar ma’ruf, dan nahi munkar, harus mengamalkan dalam perilakunya apa yang ia serukan atau nasihatkan. Allah mencela ulama Yahudi yang memerintahkan orang lain untuk berbuat baik tetapi melupakan diri mereka sendiri. Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah (2 dalam urutan mushaf, 87 dalam urutan turunnya wahyu), menyeru kepada ulama Bani Israil:

﴿۞ اَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ اَنْفُسَكُمْ وَاَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتٰبَ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ ٤٤ ﴾

“Mengapa kamu menyuruh orang lain untuk berbuat kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?”

“Tidakkah kamu mengerti?”: Pertanyaan ini bersifat teguran dan celaan, mengandung makna kecaman dan peringatan.

Rasulullah ﷺ menulis surat kepada dua raja Oman, yang dikirim melalui Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu. Surat itu berbunyi:

بسم الله الرحمن الرحيم

Dari Muhammad bin Abdullah kepada Ja’far dan Abd, putra-putra Al-Julanda.
Salam sejahtera bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk. Amma ba’du: Aku menyeru kalian berdua dengan seruan Islam. Masuklah Islam, niscaya kalian akan selamat. Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada seluruh manusia, untuk memberi peringatan kepada orang yang masih hidup dan agar keputusan (azab) ditetapkan atas orang-orang kafir. Jika kalian berdua menerima Islam, aku akan mengangkat kalian sebagai pemimpin. Namun, jika kalian menolak untuk mengakui Islam, maka kekuasaan kalian akan lenyap, pasukan berkuda akan menyerbu wilayah kalian, dan kenabianku akan mengalahkan kerajaan kalian.

Surat ini ditulis oleh Ubay bin Ka’b dan diberi cap.

Setelah dialog panjang antara Amr bin Ash dan kedua raja bersaudara itu, mereka pun masuk Islam. Dalam beberapa riwayat tentang keislaman raja Oman, Ja’far, disebutkan bahwa dia berkata: “Demi Allah, yang membimbingku kepada Nabi yang ummi ini adalah karena beliau tidak pernah memerintahkan kebaikan kecuali beliau adalah orang pertama yang melakukannya, dan tidak pernah melarang keburukan kecuali beliau adalah orang pertama yang meninggalkannya. Beliau menang tetapi tidak sombong, kalah tetapi tidak marah, menepati janji, dan memenuhi janji.”

Raja Oman menyimpulkan kebenaran Rasulullah ﷺ dari kesesuaian antara apa yang beliau serukan dengan perilakunya, sehingga dia pun memenuhi seruan beliau, sebagaimana disebutkan dalam riwayat ini.

 

Syarat Ketiga: Memiliki pengetahuan yang jelas tentang apa yang ia serukan atau nasihatkan.

Al-Bashirah (pengetahuan yang jelas) adalah ilmu yang terang dan jelas tentang apa yang ia serukan atau nasihatkan. Ia bagi hati dan pikiran ibarat penglihatan bagi hal-hal yang kasat mata. Syarat ini juga merupakan syarat alami dan logis. Seseorang yang tidak memiliki pengetahuan yang jelas tentang apa yang ia serukan atau nasihatkan, bisa jadi menyeru kepada kebatilan sambil mengira itu kebenaran, memerintahkan kemungkaran sambil mengira itu kebaikan, atau melarang kebaikan sambil mengira itu kemungkaran.

Sebagai peringatan tentang syarat ini, Allah berfirman kepada Rasul-Nya dalam Surah Yusuf (12 dalam urutan mushaf, 53 dalam urutan turunnya wahyu):

﴿قُلْ هٰذِهٖ سَبِيْلِيْٓ اَدْعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ ۗعَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَا۠ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ ۗوَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ١٠٨ ﴾

“Dan katakanlah: ‘Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan pengetahuan yang jelas. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.'”

Ayat ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ menyeru kepada Allah dengan pengetahuan yang sempurna tentang apa yang beliau serukan, yaitu ilmu yang terang dan jelas tanpa keraguan. Beliau menguasai pengetahuan ini sepenuhnya, sebagaimana disebutkan dalam frasa عَلَى بَصِيرَةٍ (dengan pengetahuan yang jelas).

Ayat ini juga menunjukkan bahwa siapa pun yang mengikuti Rasulullah ﷺ turut serta dalam dakwah kepada Allah dengan pengetahuan yang jelas. Ini mengisyaratkan dua hal:

  1. Setiap orang yang mampu memiliki pengetahuan tentang dasar-dasar keimanan wajib berusaha mengambil sebab-sebab ilmu hingga ia memilikinya.
  2. Siapa pun yang memiliki pengetahuan ini wajib berkontribusi sesuai kemampuannya dalam dakwah kepada Allah di berbagai bidang kehidupannya.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

 

 

PERNYATAAN KEDUA

Tinjauan Umum tentang Sifat-Sifat Calon Pemimpin Orang-Orang Bertakwa

 

Dalam Al-Qur’an Al-Karim, dijelaskan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh calon pemimpin orang-orang bertakwa. Ia harus termasuk dalam golongan hamba-hamba Ar-Rahman (hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih) dan menghiasi dirinya dengan sifat-sifat hamba-hamba Ar-Rahman, yang di antaranya adalah doa mereka kepada Tuhan agar dijadikan pemimpin bagi orang-orang bertakwa.

Hamba-hamba Ar-Rahman yang layak menjadi pemimpin orang-orang bertakwa harus memenuhi dua hal:

-1- Memenuhi Seluruh Hak Tingkat Ketakwaan: Mereka harus memenuhi semua hak yang terkait dengan tingkat ketakwaan dengan cara menjalankan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan. Jika terjadi kesalahan, mereka harus segera memperbaiki diri dengan cara yang dapat menghapus atau menebus kesalahan tersebut, seperti mengikuti perbuatan buruk dengan perbuatan baik. Mengganti dengan amalan sunnah dan ibadah tambahan. Memohon ampunan (istighfar), bertaubat, dan menyesali kesalahan.

Dengan memenuhi hak-hak tingkat ketakwaan ini, mereka akan mencapai tingkat tertinggi dalam golongan orang-orang bertakwa.

-2- Meningkatkan Diri di Atas Tingkat Ketakwaan dengan Amal Saleh: Mereka harus meningkatkan diri di atas tingkat ketakwaan dengan melakukan amal-amal saleh yang termasuk dalam tingkat al-birr (kebajikan) atau tingkat al-ihsan (kesempurnaan).

Amal Kebajikan (al-Birr): Amal kebajikan mencakup perluasan dalam kebaikan, seperti: Melakukan sunnah-sunnah dan amalan yang dianjurkan (mandub). Ibadah tambahan (nawafil) dan amal kebaikan yang dilakukan secara sukarela, bukan karena kewajiban.

Amal Kesempurnaan (al-Ihsan): Amal kesempurnaan melibatkan peningkatan kualitas amal saleh karena kesadaran yang kuat akan pengawasan Allah ﷻ saat melakukan amal tersebut. Seolah-olah pelaku amal melihat Allah ﷻ saat melakukannya. Ia selalu merasa bahwa Allah ﷻ melihatnya setiap saat, baik dalam gerakan lahiriah maupun batiniah, bahkan dalam pikiran, perasaan, dan gerak-gerik hatinya.

Dalam Al-Qur’an Al-Karim, ketika menjelaskan sifat-sifat hamba-hamba Ar-Rahman (hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih) yang layak menjadi pemimpin bagi orang-orang bertakwa, disebutkan sifat-sifat yang diperlukan yang termasuk dalam hak-hak tingkat al-birr (kebajikan) atau tingkat al-ihsan (kesempurnaan). Juga disebutkan beberapa sifat penting yang termasuk dalam hak-hak tingkat ketakwaan, untuk menegaskan bahwa peningkatan menuju kedudukan hamba-hamba Ar-Rahman melalui amal kebajikan dan kesempurnaan, yang dengannya seorang hamba yang beriman naik ke tingkat orang-orang yang berbuat baik (al-abrar) dan orang-orang yang berbuat ihsan, harus dilakukan setelah mencapai peningkatan dalam tingkat ketakwaan. Memenuhi hak-hak tingkat yang lebih rendah adalah syarat alami untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi.

Tingkat ketakwaan memiliki banyak tingkatan yang dimulai dengan keimanan yang benar, kemudian naik hingga tingkat melaksanakan semua kewajiban dan meninggalkan semua yang diharamkan. Seseorang tidak akan turun dari tingkat tertinggi ketakwaan kecuali jika ia melalaikan sebagian hak-haknya, namun ia segera memperbaiki diri dengan cara menebus, menghapus, atau mengganti kesalahan tersebut, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Tingkat al-abrar (orang-orang yang berbuat baik) juga memiliki banyak tingkatan. Peningkatan dalam tingkat ini dilakukan dengan memperluas amal kebaikan yang disyariatkan secara sukarela, yang dengannya seorang hamba mendekatkan diri kepada Tuhannya dengan melakukan apa yang diridhai-Nya.

Tingkat al-muhsinin (orang-orang yang berbuat ihsan) juga memiliki banyak tingkatan. Peningkatan dalam tingkat ini diukur berdasarkan pencapaian kesempurnaan (ihsan) dalam amal-amal yang termasuk dalam tingkat ketakwaan dan tingkat kebajikan. Kesempurnaan dalam amal telah dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ dalam hadis sahih: “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya.” Penjelasan tentang hal ini telah disebutkan sebelumnya.

Segala sesuatu yang diwajibkan bagi orang-orang bertakwa juga diwajibkan bagi hamba-hamba Ar-Rahman yang layak menjadi pemimpin bagi orang-orang bertakwa. Setelah itu, mereka juga harus memenuhi sifat-sifat lain yang disebutkan oleh Allah ﷻ sebagai ciri-ciri hamba-hamba Ar-Rahman, yang termasuk dalam tingkat kebajikan atau tingkat kesempurnaan.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

Tinjauan Detail tentang Sifat-Sifat Calon Pemimpin Orang-Orang Bertakwa

 

Sifat-sifat yang disebutkan oleh Allah ﷻ untuk hamba-hamba Ar-Rahman (hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih) yang layak menjadi pemimpin bagi orang-orang bertakwa terbagi menjadi dua bagian:

  1. Sifat-Sifat yang Berkaitan dengan Kedalaman Jiwa: Sifat-sifat ini berhubungan dengan kondisi batin, keimanan, dan niat yang mendasari setiap tindakan.
  2. Sifat-Sifat yang Tercermin dalam Perilaku Lahiriah: Sifat-sifat ini terlihat dalam tindakan, ucapan, dan interaksi sehari-hari dengan orang lain.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

-1- Sifat-sifat yang mendalam dan tertanam dalam jiwa terdiri dari tiga hal:

Sifat Pertama: Keimanan yang Benar, Tulus, dan Terus Berkembang kepada Ar-Rahman

Keimanan ini merupakan bagian dari tuntutan tingkat ketakwaan. Namun, keimanan yang melebihi batas minimal ini termasuk dalam tingkat al-birr (kebajikan) atau al-ihsan (kesempurnaan). Seorang calon pemimpin yang termasuk dalam golongan hamba-hamba Ar-Rahman dan pemimpin orang-orang bertakwa harus memiliki keimanan yang melebihi tuntutan dasar tingkat ketakwaan.

Pandangan yang benar adalah bahwa keimanan dapat bertambah dan berkurang. Ada kadar minimal keimanan yang menjadi tuntutan tingkat ketakwaan. Jika keimanan meningkat, ia memasuki tingkat kebajikan (al-birr) dan bahkan tingkat kesempurnaan (al-ihsan).

Sifat Kedua: Ketulusan dalam Bertawakal kepada Ar-Rahman disertai dengan Melakukan Sebab-Sebab yang Diperintahkan Allah

Sifat ini memiliki tingkatan rendah yang termasuk dalam hak-hak tingkat ketakwaan, sedangkan tingkatan tinggi termasuk dalam hak-hak tingkat kebajikan atau kesempurnaan. Seorang calon pemimpin yang termasuk dalam golongan hamba-hamba Ar-Rahman dan pemimpin orang-orang bertakwa harus memiliki tawakal pada tingkat yang tinggi.

Allah ﷻ berfirman dalam Surah Al-Mulk (67 dalam urutan mushaf, 77 dalam urutan turunnya wahyu), sebagai petunjuk bagi Rasul-Nya dan setiap penyeru kepada Allah dalam menghadapi orang-orang kafir yang membantah:

﴿قُلْ هُوَ الرَّحْمٰنُ اٰمَنَّا بِهٖ وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْنَاۚ فَسَتَعْلَمُوْنَ مَنْ هُوَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ ٢٩ ﴾

“Dan katakanlah: ‘Dialah Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih), kami beriman kepada-Nya dan hanya kepada-Nya kami bertawakal. Kelak kamu akan tahu siapa yang berada dalam kesesatan yang nyata.'”

Maksudnya, kami beriman kepada-Nya dengan keimanan yang besar dan terus berkembang, serta bertawakal kepada-Nya dengan tawakal yang kuat dan tidak goyah.

Sifat Ketiga: Rasa Takut kepada Ar-Rahman dalam Keadaan Tersembunyi (Tidak Terlihat)

Sifat ini adalah buah dari keimanan yang kuat, yang tercermin dalam pemikiran dan perasaan yang memengaruhi gerak hati dan jiwa.

Dampak dari rasa takut kepada Ar-Rahman dalam keadaan tersembunyi adalah bahwa seorang hamba yang beriman akan selalu kembali kepada Allah dengan taubat dan penyesalan, serta mengikuti keburukan dengan kebaikan setiap kali melakukan maksiat atau pelanggaran. Ia juga akan menjaga dirinya untuk tetap berada dalam batasan-batasan Allah, melaksanakan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya.

Allah ﷻ berfirman dalam Surah Qaf (50 dalam urutan mushaf, 34 dalam urutan turunnya wahyu):

﴿وَاُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِيْنَ غَيْرَ بَعِيْدٍ ٣١ هٰذَا مَا تُوْعَدُوْنَ لِكُلِّ اَوَّابٍ حَفِيْظٍۚ ٣٢ مَنْ خَشِيَ الرَّحْمٰنَ بِالْغَيْبِ وَجَاۤءَ بِقَلْبٍ مُّنِيْبٍۙ ٣٣ ﴾

“Dan surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa, tidak jauh. Inilah yang dijanjikan kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) dan memelihara (dirinya). Yaitu orang yang takut kepada Ar-Rahman dalam keadaan tersembunyi dan datang dengan hati yang bertobat.”

Seorang yang selalu kembali kepada Allah (awwab) dan menjaga dirinya (hafizh) tidak akan turun dari tingkat tertinggi orang-orang bertakwa. Ia juga termasuk orang yang rajin melakukan amalan sunnah dan terkadang mencapai tingkat kesempurnaan (ihsan). Dengan demikian, ia termasuk dalam golongan hamba-hamba Ar-Rahman yang berada pada tingkat kebajikan (al-birr) dan kesempurnaan (al-ihsan).

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

-2- Sifat-Sifat Lahiriah Hamba-Hamba Ar-Rahman yang Layak Menjadi Pemimpin Orang-Orang Bertakwa

Sifat-sifat lahiriah hamba-hamba Ar-Rahman yang layak menjadi pemimpin orang-orang bertakwa terdiri dari dua belas sifat, yang dijelaskan dalam Surah Al-Furqan (25 dalam urutan mushaf, 42 dalam urutan turunnya wahyu). Beberapa sifat ini termasuk dalam hak-hak tingkat ketakwaan, sementara yang lain termasuk dalam hak-hak tingkat kebajikan (al-birr) atau kesempurnaan (al-ihsan). Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, memenuhi hak-hak tingkat yang lebih rendah adalah syarat alami untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi.

Berikut adalah daftar rinci sifat-sifat tersebut tanpa penjelasan mendalam, karena saya telah membahasnya secara terperinci dalam karya terpisah berjudul “Sifat-Sifat Hamba Ar-Rahman dalam Al-Qur’an: Studi dalam Metode Tafsir Tematik” dan dalam buku saya “Tadabbur Surah Al-Furqan dalam Kesatuan Tema”. Oleh karena itu, saya merujuk pembaca kepada kedua karya tersebut dan tidak perlu mengulang penjelasannya di sini.

Sifat Pertama: Mereka Berjalan di Bumi dengan Rendah Hati

Maksudnya, mereka berjalan di bumi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dengan ringan, lembut, tenang, dan penuh wibawa. Mereka tidak berjalan dengan kasar, sombong, angkuh, atau dengan gaya yang menunjukkan kesombongan dan keangkuhan. Mereka tidak berusaha menimbulkan kerusakan di bumi atau mencari keunggulan dan keuntungan duniawi yang fana. Mereka tidak mencari penghidupan dengan tergesa-gesa, melainkan dengan berjalan rendah hati dan lembut.

Dalam analisis, kita dapat melihat bahwa beberapa perilaku yang bertentangan dengan sifat ini bertentangan dengan hak-hak tingkat ketakwaan, seperti gaya berjalan orang-orang sombong, angkuh, atau mereka yang berusaha menimbulkan kerusakan di bumi, serta gaya berjalan orang-orang fasik dan durhaka. Gaya-gaya berjalan seperti itu dilarang dan bertentangan dengan ketakwaan.

Di sisi lain, beberapa perilaku yang bertentangan dengan sifat ini bertentangan dengan hak-hak tingkat kebajikan. Misalnya, berjalan tergesa-gesa di pasar dengan semangat yang berlebihan untuk mencari penghidupan duniawi tidak bertentangan dengan keadaan orang-orang bertakwa, tetapi bertentangan dengan keadaan orang-orang yang berbuat baik (al-abrar) dan orang-orang yang berbuat ihsan (al-muhsinin).

Oleh karena itu, kesempurnaan dalam sifat ini termasuk dalam hak-hak tingkat kebajikan atau kesempurnaan, dan kesempurnaan ini adalah salah satu sifat hamba-hamba Ar-Rahman yang layak menjadi pemimpin orang-orang bertakwa.

Sifat Kedua: Ketika Dihina oleh Orang-Orang Bodoh, Mereka Mengucapkan “Salam”

Maksudnya, ketika orang-orang bodoh berbicara kepada mereka dengan kebodohan dan kebodohan yang memancing kemarahan, mereka menjawab dengan mengucapkan “salam” (kedamaian). Mereka meninggalkan majelis orang-orang bodoh dengan mengumumkan kedamaian dan tidak membalas kebodohan dengan kebodohan yang serupa. Sebaliknya, mereka mengendalikan diri dengan kesabaran, kelembutan, dan kelapangan dada.

Sifat ini termasuk dalam hak-hak tingkat kebajikan atau kesempurnaan, karena membalas kejahatan dengan kejahatan serupa tidak bertentangan dengan hak-hak tingkat ketakwaan, karena itu adalah bagian dari keadilan. Namun, hal itu tidak termasuk dalam sifat hamba-hamba Ar-Rahman yang layak menjadi pemimpin orang-orang bertakwa.

Mereka memutuskan jalan fitnah dan kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang bodoh, serta memadamkan percikan api pertama yang, jika dibalas dengan cara yang sama, dapat menjadi api besar yang mengarah pada pertikaian besar dan kerusakan yang luas.

Sifat Ketiga: Mereka Menghabiskan Malam dengan Bersujud dan Berdiri untuk Tuhan Mereka

Maksudnya, mereka menyisihkan sebagian malam mereka untuk beribadah kepada Tuhan mereka. Mereka banyak bersujud dan berdiri dalam shalat malam (tahajud) hanya untuk Allah semata. Mereka mengingat Allah ﷻ dengan lisan, hati, dan pikiran. Mereka memuji-Nya, mensucikan-Nya, dan memohon kepada-Nya dengan rasa takut dan harap. Mereka takut akan azab-Nya dan mengharapkan pahala-Nya.

Sifat ini termasuk dalam hak-hak tingkat kebajikan (al-birr) atau kesempurnaan (al-ihsan), karena shalat malam dan menghidupkan malam dengan ibadah seperti shalat dan zikir adalah amalan sunnah (nawafil), bukan kewajiban. Oleh karena itu, ini adalah salah satu sifat hamba-hamba Ar-Rahman yang layak menjadi pemimpin orang-orang bertakwa.

Sifat Keempat: Mereka Berdoa kepada Tuhan Mereka dengan Mengulang Doa: “Ya Tuhan Kami, Jauhkanlah Kami dari Azab Jahanam”

Maksudnya, mereka memohon kepada Allah agar diberi taufik untuk melaksanakan kewajiban dan meninggalkan yang haram, serta memohon ampunan atas dosa-dosa mereka agar terlindung dari azab neraka Jahanam.

Sifat ini tampaknya termasuk dalam hak-hak tingkat ketakwaan, karena cukup bagi seorang mukmin untuk memenuhi hak-hak tingkat ini agar terlindung dari azab neraka. Namun, karena semua hak tingkat ketakwaan adalah bagian dari sifat hamba-hamba Ar-Rahman, dan memenuhi hak tingkat yang lebih rendah adalah syarat untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi, sifat ini juga relevan.

Sifat Kelima: Mereka Tidak Berlebihan dan Tidak Kikir dalam Berinfak

Maksudnya, mereka berinfak dengan cara yang seimbang. Mereka tidak berlebihan dalam mengeluarkan harta untuk diri mereka sendiri dan keluarga mereka, tetapi juga tidak kikir padahal mereka mampu memberikan kelapangan. Ini menunjukkan kebijaksanaan dan pengelolaan ekonomi yang baik.

Sifat ini termasuk dalam hak-hak tingkat kebajikan atau kesempurnaan, karena berlebihan dalam hal-hal yang diperbolehkan (mubah) selama tidak sampai pada tingkat pemborosan (tabdzir) yang merupakan ciri saudara-saudara setan, mungkin tidak bertentangan dengan kewajiban ketakwaan. Namun, kebijaksanaan ekonomi dalam berinfak adalah salah satu sifat hamba-hamba Ar-Rahman yang layak menjadi pemimpin orang-orang bertakwa.

Sifat Keenam: Mereka Tidak Menyembah Tuhan Selain Allah

Maksudnya, mereka tidak memohon dalam doa mereka selain kepada Allah, dan mereka tidak menyembah dalam ibadah mereka kecuali hanya kepada Allah semata. Mereka tidak menyekutukan-Nya dalam ibadah.

Sifat ini adalah hak pertama tingkat ketakwaan. Pelanggaran terhadap sifat ini merusak keimanan dan memasukkan seseorang ke dalam kekafiran, karena Allah ﷻ tidak mengampuni dosa syirik, tetapi mengampuni dosa-dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.

Sifat Ketujuh: Mereka Tidak Membunuh Jiwa yang Diharamkan Allah Kecuali dengan Alasan yang Benar

Sifat ini termasuk dalam hak-hak besar tingkat ketakwaan. Membunuh jiwa yang diharamkan Allah untuk dibunuh adalah dosa besar yang sangat serius. Kita telah mengetahui bahwa semua hak tingkat ketakwaan adalah bagian dari sifat hamba-hamba Ar-Rahman yang layak menjadi pemimpin orang-orang bertakwa.

Penyebutan sifat ini dalam konteks hamba-hamba Ar-Rahman mengisyaratkan bahwa para pemimpin orang-orang bertakwa mungkin menghadapi tekanan penguasa atau lainnya yang membuat mereka melanggar sifat ini. Misalnya, mereka mungkin memberikan fatwa yang menghalalkan darah seorang penentang penguasa meskipun penentangan tersebut tidak layak dihukum mati. Fatwa seperti itu membuat mereka ikut serta dalam pembunuhan yang diharamkan oleh Allah, hanya untuk menuruti keinginan penguasa atau karena takut kehilangan jabatan mereka.

Mereka juga mungkin tergoda oleh kekuasaan yang mereka miliki sehingga membunuh pesaing mereka tanpa alasan yang benar, hanya untuk mempertahankan kekuasaan mereka.

 

 

Sifat Kedelapan: Mereka Tidak Berzina

Sifat ini juga termasuk dalam hak-hak besar tingkat ketakwaan. Setiap hak tingkat ketakwaan adalah bagian dari sifat hamba-hamba Ar-Rahman yang layak menjadi pemimpin orang-orang bertakwa.

Penyebutan sifat ini dalam konteks hamba-hamba Ar-Rahman mengisyaratkan bahwa para pemimpin orang-orang bertakwa, dalam posisi mereka, mungkin menghadapi godaan kuat dari beberapa wanita yang dapat meruntuhkan ketahanan mereka sehingga mereka terjerumus dalam perzinaan. Oleh karena itu, penting untuk mengingatkan mereka tentang hal ini.

Kita juga tahu bahwa para pemimpin kesesatan memiliki tipu daya yang besar untuk menyesatkan para pemimpin orang-orang bertakwa, agar mereka mengikuti atau menutup mata terhadap kesalahan mereka.

Sifat Kesembilan: Mereka Tidak Memberikan Kesaksian Palsu

Maksudnya, mereka tidak memberikan kesaksian dusta. “Az-Zur” berarti kebohongan dan kebatilan. Mereka juga tidak menghadiri majelis di mana kebatilan yang tidak disyariatkan terjadi, seperti transaksi riba atau pembagian yang tidak adil, untuk menjadi saksi atas hal tersebut.

Sifat ini termasuk dalam hak-hak besar tingkat ketakwaan. Penyebutannya dalam konteks sifat hamba-hamba Ar-Rahman yang layak menjadi pemimpin orang-orang bertakwa mengisyaratkan bahwa para pemimpin tersebut, dalam posisi mereka sebagai hakim atau pemberi fatwa, mungkin menghadapi godaan kuat yang membuat mereka tergelincir untuk memberikan kesaksian palsu, menerima kesaksian palsu yang mereka ketahui kebatilannya, atau menghadiri majelis yang mengandung kebatilan untuk menjadi saksi. Oleh karena itu, penting untuk mengingatkan mereka tentang sifat ini.

Sifat Kesepuluh: Ketika Melewati Perbuatan Sia-Sia, Mereka Melewatinya dengan Mulia

“Al-Laghw” adalah segala sesuatu yang seharusnya diabaikan dan ditinggalkan karena tidak memberikan manfaat duniawi maupun ukhrawi.

Hamba-hamba Ar-Rahman yang layak menjadi pemimpin orang-orang bertakwa, ketika melewati hal-hal yang sia-sia, mereka melakukannya dengan menjaga kemuliaan diri mereka. Mereka menghormati diri mereka sendiri dengan tidak menyia-nyiakan waktu dalam hal yang sia-sia, baik itu berupa ucapan maupun perbuatan. Mereka menyadari nilai waktu dan memahami bahwa waktu yang berlalu adalah modal utama mereka dalam kehidupan ini. Mereka diberi oleh Allah kekuatan fisik, pikiran, dan jiwa. Jika mereka membiarkan waktu mereka terbuang dalam hal yang sia-sia, mereka telah menyia-nyiakan modal mereka, dan mereka tahu bahwa kerugian tersebut tidak dapat diganti.

Sifat ini termasuk dalam hak-hak tingkat kebajikan (al-birr) atau kesempurnaan (al-ihsan), karena hal-hal sia-sia yang tidak menyebabkan ditinggalkannya kewajiban atau dilakukannya yang haram tidak bertentangan dengan hak-hak tingkat ketakwaan. Namun, hamba-hamba Ar-Rahman yang layak menjadi pemimpin orang-orang bertakwa menjauhi pemborosan waktu dalam hal yang sia-sia. Ketika mereka melewatinya, mereka melakukannya dengan cepat dan tidak berlama-lama, karena mereka sangat menghargai waktu mereka dan tidak ingin menyia-nyiakannya tanpa manfaat bagi akhirat atau dunia mereka.

Sifat Kesebelas: Ketika Diingatkan dengan Ayat-Ayat Tuhan Mereka, Mereka Tidak Bersikap Seperti Orang Tuli dan Buta

Maksudnya, ketika mereka diingatkan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka mengingat dan merenungkannya. Mereka bersujud kepada Allah, memuji-Nya, dan mensucikan-Nya tanpa kesombongan. Mereka hadir secara mental dengan memahami makna ayat-ayat Allah yang diingatkan kepada mereka. Mereka tidak bersujud secara formal seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang lalai dan munafik, di mana hati dan jiwa mereka kosong, pikiran mereka teralihkan oleh urusan duniawi, kesenangan, dan keinginan mereka. Mereka seperti orang buta terhadap ayat-ayat Allah yang terlihat dan seperti orang tuli terhadap ayat-ayat Allah yang dibacakan.

Sebaliknya, hamba-hamba Ar-Rahman yang layak menjadi pemimpin orang-orang bertakwa, ketika diingatkan dengan ayat-ayat Allah, mereka bersujud dengan penuh kesadaran, mendengar, melihat, dan merenungkan.

Sifat ini, pada tingkat yang tinggi, termasuk dalam hak-hak tingkat kebajikan (al-birr) atau kesempurnaan (al-ihsan).

Sifat Kedua Belas: Mereka Berdoa kepada Tuhan Mereka dengan Mengatakan, “Ya Tuhan Kami, Anugerahkanlah kepada Kami Pasangan dan Keturunan yang Menyenangkan Hati, dan Jadikanlah Kami Pemimpin bagi Orang-Orang Bertakwa.”

Hamba-hamba Ar-Rahman yang layak menjadi pemimpin orang-orang bertakwa sangat memperhatikan doa mereka kepada Tuhan, yang terdiri dari dua bagian:

  1. Bagian Pertama:Mereka memohon kepada Allah agar memberikan pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk mata bagi mereka. Ini berkaitan dengan kehidupan dunia mereka, tetapi juga memiliki dampak hingga akhirat. Pasangan dan keturunan tersebut akan menjadi penyejuk mata di akhirat jika mereka termasuk orang-orang bertakwa, berbuat baik (al-abrar), atau berbuat ihsan (al-muhsinin).
  2. Bagian Kedua:Mereka memohon agar Allah menjadikan mereka pemimpin bagi orang-orang bertakwa. Ini berkaitan dengan akhirat mereka, yaitu agar Allah membantu dan memberi taufik kepada mereka untuk memenuhi hak-hak tingkat ketakwaan, melakukan amal kebajikan, dan mencapai kesempurnaan, sehingga mereka layak menjadi pemimpin yang dapat diteladani dalam ucapan, perbuatan, dan akhlak mereka. Mereka juga memohon agar Allah menerima amal mereka dengan ikhlas.

Bagi para ahli yang memikul tanggung jawab menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar atau dakwah kepada agama Allah, mereka harus menghiasi diri dengan sifat-sifat yang disebutkan oleh Allah ﷻ untuk hamba-hamba Ar-Rahman. Mereka telah menempatkan diri sebagai penasihat dan pembimbing melalui ucapan dan perbuatan mereka.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

 

 

BAB KELIMA

Kewajiban Bagi Pembawa Risalah untuk Memiliki Kemampuan Berbicara yang Efektif (Al-Bayan)

 

Bab ini terdiri dari tiga bagian:

  1. Fungsi Al-Bayan dalam Kehidupan Manusia.
  2. Ucapan Memiliki Banyak Wajah dan Gaya yang Berbeda.
  3. Al-Bayan yang Diperlukan dari Pembawa Risalah, yang Mencakup Sifat-Sifat yang Harus Dimiliki oleh Seorang Dai agar Memiliki Kemampuan Berbicara yang Efektif dan Bermanfaat.

 

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

-1-

Fungsi Al-Bayan dalam Kehidupan Manusia

 

Al-Bayan, yang dilakukan melalui kata-kata yang diucapkan oleh lisan atau ditulis oleh pena, adalah salah satu nikmat Allah yang agung bagi manusia. Allah menjadikannya sebagai sarana termudah dan terluas untuk mengekspresikan pikiran, gambaran mental, makna abstrak, serta perasaan dan emosi yang tampak maupun tersembunyi.

Al-Bayan melalui kata-kata ibarat jembatan yang menghubungkan apa yang ada dalam pikiran atau jiwa pembicara kepada pikiran atau jiwa pendengar atau pembaca. Meskipun jarak ruang dan waktu memisahkan mereka, pendengar atau pembaca dapat memahami maksud pembicara atau penulis selama mereka menguasai bahasa yang digunakan. Ini berlaku bahkan jika pembicara atau penulis berada di tempat yang sangat jauh atau hidup di zaman yang berbeda.

Sarana ekspresif ini, baik yang diucapkan maupun ditulis, adalah salah satu sarana terpenting dan terluas untuk menyampaikan pesan seorang dai kepada orang yang dituju, serta menyampaikan pesan amar ma’ruf nahi munkar, nasihat, dan bimbingan kepada mereka yang menjadi sasaran.

Allah ﷻ telah menganugerahkan nikmat besar kepada manusia dengan mengajarkannya Al-Bayan, karena Al-Bayan—baik yang diucapkan maupun ditulis—memainkan peran penting dalam menyebarkan ilmu pengetahuan, mendokumentasikannya, serta mengungkapkan apa yang tersembunyi dalam jiwa, pikiran, perasaan, dan emosi manusia yang ingin mereka sampaikan kepada orang lain untuk tujuan tertentu dalam kehidupan.

Allah ﷻ berfirman dalam Surah Ar-Rahman (55 dalam urutan mushaf, 97 dalam urutan turunnya wahyu):

﴿اَلرَّحْمٰنُۙ ١ عَلَّمَ الْقُرْاٰنَۗ ٢ خَلَقَ الْاِنْسَانَۙ ٣ عَلَّمَهُ الْبَيَانَ ٤ ﴾

“Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih), Yang telah mengajarkan Al-Qur’an, menciptakan manusia, dan mengajarkannya Al-Bayan (kemampuan berbicara).”

Allah ﷻ juga telah menganugerahkan nikmat kepada manusia dengan membimbingnya untuk menulis simbol-simbol yang mewakili ucapan melalui pena. Pena menjadi salah satu sarana terhormat untuk mencatat ilmu pengetahuan dan menyebarkannya dari generasi ke generasi. Allah ﷻ berfirman dalam Surah Al-‘Alaq (96 dalam urutan mushaf, 1 dalam urutan turunnya wahyu), yang ditujukan kepada Rasulullah Muhammad ﷺ dan setiap individu dari umatnya:

﴿اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ١ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ ٢ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ ٣ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ ٤ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ ٥ ﴾

“Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajarkan (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Al-Bayan (kemampuan berbicara) adalah sarana yang digunakan Allah untuk berkomunikasi dengan hamba-hamba-Nya melalui para rasul-Nya. Komunikasi ini mencakup unsur-unsur persuasi, dan nasihat yang baik dengan memberikan kabar gembira (targhib) dan peringatan (tarhib). Unsur-unsur Al-Bayan ini disampaikan dalam gaya percakapan, di mana Allah ﷻ sebagai Pembicara dan hamba-Nya sebagai pendengar. Hamba tersebut diciptakan oleh Tuhan dan hidup dengan karunia-Nya, yang terus-menerus diberikan kepadanya, meskipun ia mungkin ingkar, kafir, atau lari dari ketaatan kepada-Nya.

Karena unsur-unsur Al-Bayan ini disampaikan dalam gaya percakapan, yang merupakan sarana terbaik dan termulia untuk menyampaikan pesan kepada makhluk yang ditempatkan oleh Penciptanya di dunia ini sebagai ujian, dan diberi kebebasan untuk beriman atau kafir, taat atau durhaka, maka sangat tepat jika Allah ﷻ menyebut firman-Nya yang mengandung pesan-pesan ini sebagai “hadits” (percakapan) dengan hamba-hamba-Nya. Hal ini disebutkan dalam sekitar sepuluh ayat Al-Qur’an, di antaranya adalah:

-1- Firman Allah dalam Surah Al-Qalam (68 dalam urutan mushaf, 2 dalam urutan turunnya wahyu), yang ditujukan kepada Rasul-Nya:

﴿فَذَرْنِيْ وَمَنْ يُّكَذِّبُ بِهٰذَا الْحَدِيْثِۗ سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُوْنَۙ ٤٤ وَاُمْلِيْ لَهُمْۗ اِنَّ كَيْدِيْ مَتِيْنٌ ٤٥ ﴾

“Maka serahkanlah (wahai Muhammad) kepada-Ku orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al-Qur’an). Nanti Kami akan menarik mereka secara bertahap (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku sangat kuat.”

Maksudnya, biarkan Aku bersama orang-orang yang mendustakan Al-Qur’an, baik sekarang maupun di masa depan. Al-Qur’an ini diturunkan dengan gaya percakapan seorang penyeru, pengajar, penasihat, dan pembimbing yang menyampaikan persuasi dengan hikmah, serta nasihat yang baik yang mencakup kabar gembira dan peringatan.

Allah akan menarik mereka secara bertahap dalam keadaan mereka yang tenggelam dalam harta, kenikmatan, dan kekuatan, tanpa mereka sadari bahwa mereka sedang ditarik menuju kebinasaan.

Allah memberi mereka tangguh dengan memperpanjang masa ujian mereka, sehingga tidak ada lagi alasan yang dapat mereka gunakan pada hari perhitungan dan pembalasan.

Rencana Allah yang akan ditimpakan kepada mereka pada hari Dia menurunkan azab-Nya yang keras dan kuat, yang tidak dapat mereka lawan.

-2- Firman Allah dalam Surah An-Najm (53), Mushaf/23 Nuzul, sebagai teguran kepada orang-orang yang mengingkari bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah. Mereka mengungkapkan pengingkaran mereka dengan gaya yang memancing tawa mereka:

﴿اَفَمِنْ هٰذَا الْحَدِيْثِ تَعْجَبُوْنَۙ ٥٩ وَتَضْحَكُوْنَ وَلَا تَبْكُوْنَۙ ٦٠ وَاَنْتُمْ سٰمِدُوْنَ ٦١ ﴾

“Apakah kalian merasa heran dan tertawa karena ucapan ini, sementara kalian tidak menangis? Padahal, kalian dalam keadaan lalai.”

Maksudnya, yang sebenarnya patut diherankan dan ditertawakan adalah keadaan kalian sendiri. Kalian merasa heran dan tertawa mendengar ucapan yang ditujukan kepada kalian dalam ayat-ayat Al-Qur’an, padahal ia mengandung kebenaran, argumentasi, petunjuk, nasihat, kabar gembira, dan peringatan yang membawa kebaikan besar bagi kalian di dunia dan akhirat.

“Samidun” artinya: orang yang lalai, bermain-main, lengah, sibuk dengan nyanyian, sombong, angkuh, keras kepala, tidak terpengaruh, bodoh, dan bingung.

Semua makna ini dimaksudkan karena yang diajak bicara adalah kelompok-kelompok dengan keadaan yang berbeda-beda, dan setiap orang di antara mereka memiliki sifat-sifat tersebut.

-3- Firman Allah di akhir Surah Al-Mursalat (77), Mushaf/33 Nuzul, yang mengandung pernyataan-pernyataan persuasif dan peringatan yang mencabut hati orang-orang yang berakal:

﴿فَبِاَيِّ حَدِيْثٍۢ بَعْدَهٗ يُؤْمِنُوْنَ ࣖ ۔ ٥٠ ﴾

“Maka kepada perkataan mana lagi mereka akan beriman setelah (Al-Qur’an)?”

Ungkapan ini juga muncul dalam Surah Al-A’raf (7), Mushaf/39 Nuzul, ayat 185.

-4- Firman Allah dalam Surah Az-Zumar (39), Mushaf/59 Nuzul:

﴿اَللّٰهُ نَزَّلَ اَحْسَنَ الْحَدِيْثِ كِتٰبًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَۙ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُوْدُ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ۚ ثُمَّ تَلِيْنُ جُلُوْدُهُمْ وَقُلُوْبُهُمْ اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ هُدَى اللّٰهِ يَهْدِيْ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَمَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ هَادٍ ٢٣ ﴾

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpin pun.”

Allah ﷻ menggambarkan kitab-Nya, Al-Qur’an, sebagai “perkataan yang paling baik.”

Selain itu, terdapat banyak teks lain yang menggambarkan firman Allah kepada hamba-hamba-Nya melalui Al-Qur’an sebagai jenis “ucapan” (hadits), karena Allah ﷻ menurunkannya dengan gaya percakapan, bukan dengan gaya keputusan otoriter, pengumuman militer, cacian agresif, peringatan perang, atau sejenisnya. Dalam “ucapan” ini terdapat penghormatan besar bagi yang dituju, dari Tuhan Yang Maha Mulia.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

-2-

Ucapan memiliki banyak wajah dan berbagai gaya.

 

Makna yang sama, meskipun benar dan tidak diragukan, dapat diungkapkan dengan berbagai cara dan gaya yang berbeda-beda. Ada yang baik, lembut, dan dapat diterima, ada juga yang kurang baik, bahkan sampai pada tingkat yang paling buruk, menjijikkan, dan tercela.

Misalnya, Anda bisa mengatakan tentang seseorang yang memiliki satu mata: “Dia buta sebelah,” atau “Salah satu matanya buta.” Anda juga bisa mengatakan: “Dia melihat dengan satu mata,” atau Anda bisa berkata kepadanya: “Semoga Allah menjaga mata Anda yang masih bisa melihat.” Atau Anda bisa berkata: “Anda melihat dengan mata Anda yang masih bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh orang yang memiliki dua mata.” Atau Anda bisa berkata: “Jagalah mata Anda yang sehat, karena itu adalah warisan penglihatan Anda.” Atau Anda bisa berkata: “Jika kedua mata Anda sehat, Anda akan menunjukkan keajaiban kepada kami.”

Seorang sastrawan mungkin akan berkata: “Wajahmu seperti langit di siang hari,” maksudnya: hanya ada satu mata yang kuat penglihatannya, seperti matahari.

Dan masih banyak lagi ungkapan-ungkapan yang tak terhitung jumlahnya.

Dan Anda bisa mengatakan: “Pelayan datang kepadaku dengan gelas yang setengah kosong, lalu aku memandang bagian yang kosong itu.”
Atau Anda bisa mengatakan: “Pelayan datang kepadaku dengan gelas yang telah diisi setengahnya, lalu aku memandang bagian yang terisi.”

Seorang mahasiswa pascasarjana mempresentasikan makalahnya di hadapan dosen dan rekan-rekannya. Dosen yang bijak tidak ingin menyakiti perasaan penulis makalah dengan kritik yang keras, sehingga dia berkata: “Anda mendapatkan satu pahala,” secara implisit merujuk pada sabda Nabi Muhammad: “Jika seorang mujtahid berusaha keras dan benar, dia mendapatkan dua pahala. Jika dia berusaha keras tetapi salah, dia mendapatkan satu pahala.”

Seorang raja memanggil seorang penafsir mimpi dan berkata: “Aku bermimpi semua gigiku jatuh dari mulutku. Apa tafsiran mimpi ini menurutmu?” Penafsir itu dengan polos menjawab: “Semua anggota keluarga Anda yang tinggal di rumah Anda akan meninggal. Gigi melambangkan keluarga dan kerabat, sedangkan mulut melambangkan rumah yang menyatukan mereka.”
Raja marah dan memerintahkan agar penafsir itu dipenjara dan dipukul. Kemudian, raja memanggil penafsir lain dan menceritakan mimpinya, menanyakan tafsirannya.

Penafsir kedua berkata: “Wahai Tuanku, umur Anda akan lebih panjang daripada semua anggota keluarga yang tinggal di rumah Anda.”
Raja pun gembira dan memberinya sekantong emas, lalu mengizinkannya pergi. Kemudian raja berkata kepada para pengawalnya: “Tafsiran mimpi ini sebenarnya tidak berbeda dengan tafsiran penafsir pertama. Hanya saja, gaya bahasa mereka yang berbeda. Yang pertama membuatku sedih karena memberitahukan kematian keluargaku, sehingga dia pantas dipenjara dan dipukul. Sedangkan yang kedua membuatku senang karena memberitahukan umurku yang panjang, sehingga dia pantas dipuji dan diberi hadiah.”

Orang yang menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat mungkar bisa berbicara kepada para pendosa, pelanggar, dan orang yang merusak diri sendiri dengan berkata: “Wahai sekalian pendosa, pembohong, pengkhianat, dan pemakan harta orang lain dengan cara yang batil! Sesungguhnya kalian akan menerima azab Allah di dunia dan akhirat, kecuali jika kalian bertaubat kepada Pencipta kalian dan menghentikan perbuatan dosa kalian.”

Dan dia bisa berbicara kepada mereka dengan berkata: “Wahai orang-orang yang beriman dan telah berbaiat kepada Islam, Allah Yang Maha Agung dalam perintah dan larangan-Nya. Jauhilah zina, dusta, khianat, dan memakan harta orang lain dengan cara yang batil, karena itu adalah jalan menuju kehancuran. Mengapa ada orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar ini? Tidakkah mereka takut akan azab Allah yang disegerakan di dunia dan azab-Nya yang pedih yang ditunda hingga hari kiamat?!!”

Jadi, gaya bahasa pertama bersifat menakut-nakuti, sedangkan gaya bahasa kedua bersifat menarik dan berpengaruh.

Dari contoh-contoh ini, kami mengingatkan Anda bahwa ucapan memiliki berbagai wajah dan gaya penyampaian yang berbeda:

  1. Ada ucapan yang mudah dipahami dan jelas, ada yang sulit dan sangat padat serta tidak jelas, dan ada yang berada di antara keduanya. Dalam hal ini, ada tingkatan-tingkatan yang berbeda. Ada ucapan yang indah dan disukai oleh jiwa, dan ada yang tidak sampai pada tingkat itu, bahkan sampai pada tingkat ucapan yang buruk dan menakut-nakuti, yang membuat jiwa merasa jijik dan tabiat merasa muak.
  2. Ucapan memiliki tingkat keindahan dan keburukan yang bervariasi dan banyak tingkatan.
  3. Ada ucapan yang lembut, ramah, halus, dan menyentuh hati serta jiwa. Dalam hal ini, ada tingkatan-tingkatan yang berbeda. Dan ada ucapan yang kasar, kering, dan menyakitkan, yang melukai dan memicu kemarahan. Dalam hal ini, ada tingkatan-tingkatan yang menurun.
  4. Ada ucapan yang dihiasi dengan unsur-unsur keindahan sastra, dan dalam hal ini, ada tingkatan-tingkatan yang berbeda. Dan ada ucapan yang sama sekali tidak memiliki unsur keindahan.
  5. Ada ucapan yang strukturnya baik tetapi membosankan, dan ada ucapan yang rumit, lemah dalam penyusunannya, namun tetap mematuhi aturan bahasa yang fasih dan jelas.
  6. Ada ucapan yang menyampaikan makna secara langsung, dan ada yang menyampaikannya secara tidak langsung, seperti makna yang ditutupi dengan lapisan tipis atau tebal, atau disampaikan secara tersembunyi. Bahkan, bisa mencapai tingkat ketidakjelasan atau simbolisme jika lapisan pemikiran terlalu banyak atau jarak penyampaiannya terlalu jauh.[4]

Dan yang terbaik adalah selalu memilih gaya ucapan yang paling berpengaruh, bermanfaat, dan berguna bagi orang yang menjadi sasaran pembicaraan, atau yang dimaksudkan dalam ucapan tersebut, meskipun tidak disampaikan secara langsung.

Pembawa Pesan Dakwah kepada Allah, atau pesan nasihat, bimbingan, amar ma’ruf, dan nahi mungkar, wajib mematuhi hal ini agar pesannya dapat disampaikan dengan baik.

Tujuannya adalah agar pesan tersebut bermanfaat dan tidak menimbulkan efek negatif atau menjauhkan orang dari tujuan yang diharapkan dari penyampaian pesan tersebut.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

 

 

-3-

Keterangan yang Diperlukan dari Pembawa Pesan

Pembawa pesan dakwah kepada Allah, atau pesan amar ma’ruf, nahi mungkar, nasihat, dan bimbingan, dituntut untuk memiliki beberapa sifat dalam penyampaiannya:

Sifat Pertama:

Harus berusaha untuk memberikan pengaruh yang bermanfaat pada jiwa dan pikiran orang yang menjadi sasaran pesannya. Dia tidak boleh memilih gaya bahasa yang sulit dipahami atau tidak bisa dicerna maknanya. Juga tidak boleh memilih gaya bahasa yang justru menjauhkan orang dari agama dan jalan-Nya yang lurus. Sebaliknya, dia harus memilih gaya bahasa yang mudah dipahami, bisa dicerna maknanya, dan menarik hati serta jiwa pendengarnya. Ini termasuk memilih kata-kata yang lembut, nasihat yang baik, yang dapat menyentuh kedalaman jiwa. Ucapan yang menyentuh jiwa adalah yang mengandung kelembutan, keindahan, kebijaksanaan, dan menghormati martabat orang yang diajak bicara. Sedangkan ucapan yang kasar, buruk, merendahkan, dan tidak memenuhi syarat kebijaksanaan, tidak mungkin bisa menjadi ucapan yang efektif.

Sifat Kedua:

Harus menyampaikan pesannya dengan penuh rasa kasih sayang dan belas kasihan kepada orang yang menjadi sasaran pesannya. Dia harus memiliki keinginan kuat untuk kebahagiaan dan keselamatan mereka dari azab Allah, baik yang disegerakan maupun yang ditunda, serta berharap mereka meraih surga kenikmatan pada hari kiamat. Ini adalah bentuk mengikuti teladan Rasul yang penuh kasih sayang.

Dia harus selalu membayangkan bahwa dia membawa pesan yang sama dengan yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ, yang merupakan tugas terbesar. Allah ﷻ telah mengutus Rasul-Nya sebagai rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Anbiya (21:107):

﴿وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ ١٠٧ ﴾

“Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”

Sifat Ketiga:

Harus selalu membayangkan bahwa dia ditugaskan untuk meneladani Rasulullah ﷺ dalam menyampaikan pesannya. Rasulullah ﷺ tidak menyampaikan pesannya berdasarkan dorongan hawa nafsu atau keinginan pribadi, melainkan dengan gaya bahasa yang diperintahkan atau diizinkan oleh Allah. Gaya bahasa yang diperintahkan oleh Allah dapat ditemukan dalam teks-teks Al-Qur’an yang diawali dengan firman-Nya: “Katakanlah (Qul)” dan sejenisnya.

Adapun gaya bahasa yang diizinkan oleh Allah dapat dilihat dari sirah (perjalanan hidup) Rasulullah dalam dakwahnya, serta dalam amar ma’ruf dan nahi mungkar. Sirah ini mengungkapkan apa yang diizinkan oleh Allah, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Ahzab (33:45-46):

﴿يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ اِنَّآ اَرْسَلْنٰكَ شَاهِدًا وَّمُبَشِّرًا وَّنَذِيْرًاۙ ٤٥ وَّدَاعِيًا اِلَى اللّٰهِ بِاِذْنِهٖ وَسِرَاجًا مُّنِيْرًا ٤٦ ﴾

“Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, dan penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya, serta sebagai pelita yang menerangi.”

Yang menjadi bukti dalam ayat ini adalah firman-Nya: “Dan penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya.” Adapun asal mula kewajiban Rasulullah untuk berdakwah kepada Allah telah diperintahkan secara wajib dalam beberapa teks, seperti:

  • “Bangkitlah dan berilah peringatan!”
  • “Dan serulah kepada Tuhanmu.”
  • “Maka untuk itu serulah (manusia) dan berpegang teguhlah sebagaimana yang diperintahkan kepadamu.”
  • “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik.”

Allah juga mengajarkan kepada Rasulullah apa yang harus dikatakan kepada umatnya, baik dalam hal makna maupun gaya bahasa, yang diperintahkan secara wajib, sunnah, atau sebagai bimbingan. Kemudian, Allah mengizinkan Rasulullah untuk berijtihad dalam memilih gaya bahasa yang dianggapnya sesuai dengan hikmah dan nasihat yang baik, dalam dakwah yang tidak memiliki tuntutan khusus dari Allah mengenai gaya bahasa tertentu.

Dengan mempelajari dakwah Rasulullah ﷺ dalam sirah dan sunnah yang sahih, kita dapat menemukan berbagai bentuk hikmah dan nasihat yang baik yang diizinkan oleh Allah, agar dapat diteladani oleh para pembawa pesan setelahnya.

Para dai setelah Rasulullah ﷺ wajib mengikuti metode dakwah yang bersumber dari Allah, serta apa yang diizinkan oleh Allah kepada Rasulullah dan diungkapkan melalui sirah dan sunnah beliau, semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya.

Sifat Keempat:

Harus selalu membayangkan bahwa dia seperti seorang ayah yang bijaksana dalam mendidik orang-orang yang menjadi sasaran pesannya. Dia harus memperlakukan mereka dengan motivasi kasih sayang seorang ayah, bukan karena dorongan kemarahan atau keinginan balas dendam jika pesannya tidak diterima.

Seorang pendidik tidak boleh marah pada sebuah kesempatan dalam menjalankan tugas pendidikannya, betapapun sulitnya orang yang dia didik. Siapa pun yang marah karena dirinya sendiri, akan berusaha membalas dendam, bukan mendidik. Sedangkan orang yang marah karena Allah dalam dakwah, pendidikan, nasihat, amar ma’ruf, dan nahi mungkar, akan tetap berpegang pada apa yang diizinkan oleh Allah, karena dia tidak bekerja untuk dirinya sendiri, melainkan untuk mencari keridhaan dan ketaatan kepada Tuhannya.

Sejak saat pembawa pesan melampaui batas yang diizinkan oleh Allah, tindakannya akan didasarkan pada kemarahan dan balas dendam untuk membela harga dirinya, atau karena kebodohan dan kelalaian terhadap tugas-tugas risalah yang dia sampaikan.

Sifat Kelima:

Harus selalu membayangkan bahwa dia seperti seorang dokter yang merawat pasiennya dengan penuh belas kasihan, nasihat, kebijaksanaan, dan kehati-hatian agar mereka tidak binasa, serta menjaga masyarakat dari penyebaran penyakit.

Seorang dokter biasanya akan bersikap lembut dan sabar terhadap pasien yang dirawatnya, meskipun pasien tersebut menolak atau menyakiti hatinya. Dia tidak akan menganggap pasiennya sebagai musuh yang harus diperangi atau dihina, melainkan selalu membuat pasiennya merasa bahwa dia bekerja untuk kebaikan pasien tersebut, karena rasa kasih sayang dan belas kasihan, untuk menyelamatkannya dari penyakit yang menimpanya, serta melindungi masyarakat dari penyebaran penyakit tersebut.

Jika kondisi pasien mengharuskan perlakuan paksa dalam beberapa kasus, dokter harus membuat pasiennya memahami bahwa penggunaan cara paksa ini semata-mata karena kondisi psikologis pasien, dan bahwa kesehatannya bergantung pada penggunaan obat yang mungkin ditolaknya. Contohnya adalah perawatan paksa bagi pecandu narkoba, meskipun mereka menolak metode pengobatan tersebut.

Pembawa pesan dakwah kepada Allah atau pesan amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah seperti dokter yang merawat orang-orang yang menyimpang dari agama Allah dan jalan-Nya yang lurus. Oleh karena itu, dia harus:

  • Berjalan di atas jalan Allah dalam merawat mereka.
  • Melakukan apa yang diperintahkan atau diizinkan oleh Allah.
  • Menjauhi apa yang dilarang oleh Allah.
  • Selalu fokus pada perbaikan, pembinaan, dan meninggikan kalimat Allah.
  • Mengawasi dirinya sendiri agar tidak tercemari oleh keinginan untuk membela diri, merasa superior, atau ingin mengungguli orang lain dengan pesan yang dia sampaikan.

Sifat Keenam:

Harus memahami gaya bahasa yang efektif, sopan, dan berpengaruh. Dia harus belajar bagaimana menyampaikan pesannya kepada orang-orang, baik secara individu maupun kelompok, sesuai dengan tingkat pemikiran, budaya, sosial, dan kondisi psikologis mereka. Baik dalam keadaan damai atau perang, sehat atau sakit, kaya atau miskin, aktif atau malas, dan berbagai kondisi lainnya.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa dalam setiap masyarakat, orang-orang memiliki tingkat yang berbeda-beda dalam hal ilmu, pemahaman, kecerdasan, dan status sosial. Setiap tingkat memerlukan gaya dan tingkat pembicaraan yang sesuai. Tidak tepat jika semua orang diajak bicara dengan satu gaya atau satu konten pemikiran yang sama.

  • Pembicaraan dengan para ulamaberbeda dengan pembicaraan dengan orang awam.
  • Pembicaraan dengan orang-orang cerdas dan bijaksanaberbeda dengan pembicaraan dengan orang yang memiliki kecerdasan rata-rata atau yang kurang cerdas.
  • Pembicaraan dengan raja, pemimpin, atau tokoh masyarakatberbeda dengan pembicaraan dengan orang biasa.
  • Pembicaraan dengan orang sakitberbeda dengan pembicaraan dengan orang sehat.

Orang kaya memiliki gaya pembicaraan yang khusus, sementara orang miskin memerlukan gaya pembicaraan yang sesuai dengan kondisi mereka. Pembicaraan dalam keadaan damai berbeda dengan pembicaraan dalam keadaan perang, dan seterusnya, sesuai dengan berbagai kondisi manusia yang berbeda.

Oleh karena itu, pembawa pesan harus melatih dirinya secara intensif dalam menggunakan berbagai gaya berbicara, menempatkan setiap gaya pada posisi yang sesuai, dan memilih gaya bahasa yang paling bermanfaat untuk situasi pengarahan di mana dia menyampaikan pesannya. Pelatihan ini sebaiknya dilakukan sebelum dia memikul tanggung jawab khusus dalam dakwah kepada agama Allah atau dalam amar ma’ruf dan nahi mungkar, dan pelatihan ini harus dilakukan selama dia masih dalam proses spesialisasi.

Akan lebih baik jika dia menjadi seorang yang fasih, sopan, dan halus dalam tutur katanya, serta memiliki keberanian moral yang bijaksana. Hal ini dapat dicapai jika dia memiliki bakat alami, dengan banyak membaca karya-karya sastra yang berharga, puisi-puisi indah dari para penyair, serta berlatih menulis, berbicara, berpidato, dan memberikan kuliah, baik secara spontan maupun tertulis. Selain itu, dia juga harus banyak merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an yang mulia dan memahami sabda-sabda Rasulullah ﷺ yang agung.

Dia juga harus memiliki sejumlah hafalan Al-Qur’an yang relevan dengan topik-topik yang dia sampaikan dalam menjalankan misinya, serta banyak menghafal hadis-hadis Rasulullah ﷺ yang dapat digunakan sebagai referensi dalam kesempatan yang tepat. Hafalan-hafalan ini akan membantunya mencapai tingkat kefasihan yang lebih tinggi dan memiliki pengaruh yang lebih besar, terutama jika dia mampu menggali makna-makna yang mendalam dan menyajikannya dengan koherensi pemikiran di sekitar topik yang kompleks, dalam pandangan yang holistik tentang topik-topik yang dia sampaikan.

Mungkin juga sangat bermanfaat jika dia memiliki koleksi puisi-puisi indah dari para penyair besar, yang dapat digunakan sebagai referensi dalam topik-topik yang dia sampaikan. Selain itu, dia juga perlu memiliki koleksi prosa dari para ulama dan pemikir besar sepanjang sejarah manusia, serta hikmah dan kata-kata mutiara yang dapat digunakan sebagai referensi. Dia juga harus memiliki wawasan yang luas tentang perkembangan ilmu pengetahuan yang valid dan terpercaya, karena ini akan mendukung misinya dan meningkatkan nilai penyampaiannya.

Insya Allah, akan dijelaskan lebih detail tentang beberapa persyaratan ini bagi pembawa pesan ketika membahas kualifikasi ilmiahnya. Penyebutan di sini hanya dalam konteks kualifikasi penyampaian, karena situasi menuntutnya.

Sangat bermanfaat untuk menguasai keterampilan berbicara dengan berlatih menulis topik-topik yang relevan dengan pesannya, mempersiapkan diri untuk berbicara di depan orang-orang, dan mempresentasikannya kepada orang-orang yang berpengalaman. Dia harus mendengarkan kritik mereka, serta kritik dari rekan-rekan sejawat, tanpa marah. Dia harus lebih senang menerima kritik daripada pujian, dan terus memperbaiki serta menyempurnakan tulisannya agar memahami perbedaan antara berbagai tingkat pembicaraan tentang satu topik.

Dia harus menghindari kerumitan, ekspresi yang lemah, pengulangan yang berlebihan, dan penjelasan yang membosankan. Dia harus sering menggunakan gaya tidak langsung dalam pengarahannya, serta menggunakan ringkasan di awal dan akhir pembicaraannya. Dia harus selalu ingat bahwa kebenaran yang bertentangan dengan keinginan dan hawa nafsu manusia terasa pahit, sehingga perlu dibungkus dengan sesuatu yang membuatnya terlihat indah dan terasa manis. Saya telah menjelaskan fungsi kefasihan dan pentingnya menyesuaikan gaya berbicara dengan kondisi pendengar dalam buku saya “Prinsip-prinsip dalam Sastra dan Dakwah” dan “Balaghah Arabiyah”, dan sebaiknya merujuk kepada kedua buku tersebut.

Sifat Ketujuh:

Harus memahami karakteristik jiwa manusia, perbedaan sifat psikologis antara individu, dan perubahan kondisi psikologis tersebut. Dia harus memahami perbedaan individu dan mengetahui gaya berbicara yang sesuai dengan setiap sifat psikologis dan kondisi tertentu, sehingga dapat memilih jenis penyampaian yang sesuai dengan kondisi psikologis orang yang diajak bicara atau yang menjadi sasaran pesannya.

Penutup:
Untuk mencapai kelayakan komunikasi yang memadai, perlu melatih mereka yang dipersiapkan untuk memikul risalah agar mahir dalam berkhutbah, berceramah, berbicara, berdialog, serta menguasai berbagai sarana komunikasi yang efektif dan persuasif.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

BAB KEENAM

Kewajiban Pembawa Risalah Memiliki Kelayakan Ilmiah

 

Bab ini terdiri dari pendahuluan dan dua bagian:

  1. Penjelasan tentang pentingnya memiliki kelayakan ilmiah bagi pembawa risalah.
  2. Unsur-unsur kelayakan ilmiah yang dibutuhkan pada tingkat keahlian khusus.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

 

 

Pendahuluan

 

Kelayakan ilmiah yang dibahas dalam bab ini, khususnya bagi mereka yang memegang peran kepemimpinan dalam menyampaikan dakwah agama Allah atau menjalankan amar ma’ruf nahi munkar, bukanlah sekadar hasil dari studi perguruan tinggi yang terbatas pada kurikulum empat hingga enam tahun. Gelar akademis saja tidak serta-merta melahirkan seorang dai atau penyeru kebenaran yang memiliki tingkat keahlian dan kelayakan ilmiah yang memadai.

Saya semakin tidak yakin bahwa pendidikan perguruan tinggi yang terikat oleh sistem akademis mampu mencetak individu yang benar-benar layak memikul salah satu dari dua risalah ini secara kepemimpinan yang benar. Kecuali jika individu tersebut memiliki pengalaman belajar khusus kepada ulama Muslim dengan metode tradisional mereka, serta memiliki minat dan ketekunan luar biasa yang memungkinkan mereka mencapai tingkat kompetensi yang baik atau bahkan sangat baik.

Oleh karena itu, bab ini lebih merupakan sebuah panduan umum yang ditujukan bagi mereka yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi di berbagai bidang untuk melengkapi diri mereka melalui studi mandiri yang terintegrasi dengan bidang studi atau pekerjaan mereka. Dengan demikian, mereka dapat menjadi pembawa salah satu dari dua risalah tersebut, termasuk dalam kategori pemimpin dengan keahlian tinggi di bidangnya.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

 

 

-1-

Penjelasan tentang Pentingnya Memiliki Kelayakan Ilmiah

 

Setiap orang yang menyeru kepada suatu perkara atau memberikan nasihat terkait suatu isu — baik aktivitasnya berada pada tingkatan rendah, menengah, maupun pada tingkat keahlian khusus — harus memiliki pengetahuan tentang apa yang diserukannya atau dinasihatkannya, serta memahami hal-hal yang bertentangan dengan itu. Dengan demikian, ia memiliki kemampuan untuk meyakinkan orang lain terhadap perkara yang diserukannya atau nasihat yang diberikannya.

Seorang dai yang menyeru kepada agama Allah dan seseorang yang menjalankan amar ma’ruf nahi munkar, meskipun bukan termasuk golongan pemimpin yang memiliki keahlian khusus dalam memikul salah satu atau kedua risalah tersebut, tetap wajib memiliki pengetahuan yang pasti tentang apa yang ia serukan, perintah kebaikan yang ia sampaikan, maupun larangan terhadap kemungkaran yang ia tegakkan. Selain itu, ia juga harus memahami metode yang tepat untuk digunakan. Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan berikut:

-1- Agar tidak menyeru kepada kebatilan yang dikira sebagai kebenaran.
Jika hal ini terjadi, maka bahayanya terhadap agama akan lebih besar daripada bahaya orang-orang yang diam atau bahkan musuh-musuh agama. Terlebih lagi, jika ia menjadi panutan dalam kebatilan yang diserukannya melalui perilaku pribadinya.

-2- Agar tidak menggunakan metode yang justru membuat orang lain menjauh. Cara yang kasar atau tidak tepat sering kali membawa dampak negatif yang lebih besar daripada manfaatnya.

-3- Agar tidak memberikan dalil yang salah atau keliru saat menyeru atau menasihati. Jika orang yang diajak atau dinasihati menyadari bahwa dalil yang digunakan tidak benar, maka seluruh perkara yang disampaikan akan jatuh dari pandangannya, meskipun pada hakikatnya perkara tersebut adalah kebenaran. Hal ini terjadi karena orang yang belum meyakini suatu perkara biasanya tidak akan bersusah payah mencari dalil yang benar. Hanya sedikit orang yang mau melanjutkan pencarian dalil yang sahih setelah mengetahui kesalahan dalam argumen yang pertama.

-4- Agar tidak memberikan fatwa tanpa ilmu ketika ditanya tentang suatu persoalan. Memberikan fatwa tanpa pengetahuan dapat menyebabkan dirinya tersesat dan menyesatkan orang lain.

Dai yang paling berbahaya adalah mereka yang bodoh namun dijadikan pemimpin oleh masyarakat untuk memikul tugas dakwah menyeru kepada Allah atau menjalankan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka inilah yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ dalam hadits yang sahih.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abdullah bin Amr bin Ash رضي الله عنهما, ia berkata: Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba, tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama beserta ilmunya. Hingga ketika tidak tersisa seorang alim pun, manusia pun mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Mereka ditanya, lalu berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan orang lain.” (HR. Bukhari, no. 7307)

Dalam riwayat lain yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, dan lainnya, Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari manusia secara langsung, tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak ada lagi orang alim yang tersisa, manusia mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Ketika mereka ditanya, mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka tersesat dan menyesatkan orang lain.”

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

-2-

Unsur-Unsur Kelayakan Ilmiah yang Dibutuhkan pada Tingkat Keahlian Khusus

 

Secara umum, seorang dai atau pelaku amar ma’ruf nahi munkar pada tingkat keahlian khusus harus memiliki kompetensi ilmiah yang mencakup delapan bidang ilmu berikut:

  1. Ilmu yang Berkaitan dengan Alat untuk Penelitian, Pemahaman, dan Penyampaian yang Efektif:

Ilmu ini mencakup kemampuan menganalisis, memahami, menjelaskan, meyakinkan, dan memengaruhi orang lain secara edukatif.

  1. Ilmu yang Mencakup Pokok-Pokok Agama dan Cabang-Cabangnya Serta Hal-Hal yang Bertentangan Dengannya:

Dai harus memahami akidah Islam, syariat, dan akhlak, sekaligus mengenali penyimpangan yang bertentangan dengan ajaran agama.

  1. Pengetahuan yang Memadai tentang Ilmu Alam yang Berdasarkan Fakta atau Bukti yang Kuat:

Pengetahuan ini membantu memahami teks-teks keagamaan yang membahas alam semesta dan membuktikan bahwa ajaran Islam adalah kebenaran dari Allah. Selain itu, pengetahuan ini memperkuat keyakinan bahwa syariat Allah adalah jalan hidup yang paling lurus dan aturan moralnya lebih sempurna dibandingkan aturan buatan manusia.

  1. Penelitian yang Mengungkap Kepalsuan Aliran Pemikiran Kontemporer dari Barat dan Timur:

Dai perlu memahami dan membantah penyimpangan ideologi modern yang bertentangan dengan kebenaran dan jalan lurus Allah. Hal ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa ajaran Islam lebih baik bagi kebahagiaan, keamanan, stabilitas, dan kemajuan peradaban manusia.

  1. Penelitian tentang Strategi Serangan Pemikiran terhadap Kaum Muslimin:

Dai harus mengetahui cara-cara yang digunakan oleh musuh-musuh Islam dari kalangan manusia dan jin untuk memalingkan manusia dari kebenaran dan syariat Allah. Mereka perlu memahami tipu daya yang digunakan untuk merusak pemikiran, memicu hawa nafsu, dan menggoda manusia dengan gemerlap dunia demi kepentingan pribadi pihak-pihak tertentu. Tujuan dari serangan ini adalah untuk mengeksploitasi, memperbudak, dan merendahkan manusia melalui kekuatan atau tipu daya.

 

 

 

  1. Kemampuan Berbicara dengan Bahasa Kaum yang Dihadapi:

Seorang dai harus mampu berbicara dengan bahasa masyarakat tempat ia menyampaikan dakwah, terutama jika bahasa mereka berbeda dengan bahasa ibu yang dipelajarinya sejak kecil.

  1. Mengikuti Perkembangan Ilmu dan Budaya Kontemporer:

Dai perlu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, budaya, dan peristiwa dunia, termasuk realitas umat Islam masa kini. Hal ini berguna untuk menyampaikan dakwah dengan cara yang paling efektif sesuai dengan kemampuan dan potensi fitrahnya.

  1. Memiliki Pengetahuan yang Memadai tentang Sejarah dan Geografi Dunia:
    Dai harus memahami sejarah umat manusia dan geografi dunia, baik kuno maupun modern, terutama sejarah umat Islam yang dimulai dari sirah Nabi Muhammad ﷺ, kehidupan para sahabat yang mulia, dan generasi tabi’in yang mengikuti jejak mereka dengan baik. Selain itu, penting pula memahami geografi dunia Islam, termasuk periode-periode ekspansi dan kemundurannya.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

 

 

Penjelasan Terperinci Tiap Bidang Ilmu

 

Bagian Pertama: Ilmu yang Berkaitan dengan Alat untuk Penelitian, Pemahaman, dan Penyampaian

Bagian ini mencakup beberapa cabang ilmu, di antaranya:

Pertama: Ilmu Bahasa Arab

Allah menurunkan Al-Qur’an dengan bahasa Arab yang fasih, dan Rasulullah ﷺ menyampaikan hadis-hadisnya dalam bahasa Arab yang fasih pula. Para sahabat dan tabi’in meriwayatkan hadis-hadis tersebut dalam bahasa Arab yang fasih, dan semua itu dibukukan dalam kitab-kitab sunnah.

Karena Al-Qur’an dan sunnah merupakan sumber ajaran Islam yang wadah bahasanya adalah bahasa Arab yang fasih, seorang peneliti tidak akan mampu mentadabburi Al-Qur’an dan memahami makna hadis Nabi dengan benar kecuali jika ia menguasai bahasa Arab dengan baik.

Para ulama Islam telah mencurahkan usaha besar untuk merumuskan kaidah-kaidah tata bahasa Arab (nahwu), ilmu sharaf, makna berbagai bentuk kata, susunan kalimat, serta gaya bahasa baik yang hakiki maupun majazi. Semua kaidah ini disusun ke dalam berbagai cabang ilmu bahasa.

Selain itu, para ulama telah mengumpulkan dan mencatat kosakata bahasa Arab beserta maknanya dalam kamus-kamus yang luas dan komprehensif.

 

 

Empat Ilmu Hasil Usaha Besar Para Ulama Bahasa Arab:

  1. Ilmu Nahwu:
    • Ilmu tata bahasa yang disusun melalui usaha para imam besar bahasa Arab. Ilmu ini bertujuan untuk memahami susunan kalimat secara benar dan sesuai kaidah.
  2. Ilmu Sharaf:
    • Ilmu yang mempelajari perubahan bentuk kata dan struktur kata dalam bahasa Arab. Ilmu ini berkembang sejajar dengan ilmu nahwu.
  3. Ilmu Balaghah:
    • Ilmu yang mempelajari keindahan bahasa, termasuk gaya bahasa, majas, dan penyampaian makna yang tepat. Ilmu ini sangat penting untuk mentadabburi Al-Qur’an dan hadis dengan pemahaman yang mendalam.
  4. Ilmu Ma‘ani Mufradat al-Lughah al-‘Arabiyyah (Makna Kosakata Bahasa Arab):
    • Ilmu yang memuat makna-makna kosakata bahasa Arab yang tercatat dalam berbagai kamus. Pengetahuan ini mempermudah pemahaman makna lafaz-lafaz dalam Al-Qur’an dan hadis.

Penguasaan keempat ilmu ini, minimal melalui kemampuan menelaah dan merujuk kitab-kitabnya, serta hafalan yang cukup untuk pemahaman sehari-hari, adalah syarat esensial bagi seorang dai atau penyeru kebaikan yang berada pada tingkat keahlian khusus.

Selain itu, kurikulum pendidikan untuk mencetak dai tingkat ahli harus mencakup pembelajaran intensif yang mencakup teori dan praktik, sehingga lidah mereka terlatih berbicara sesuai kaidah bahasa Arab dengan sedikit kesalahan atau kekeliruan.

Kedua: Ilmu Ushul Fiqih

Para ulama sepanjang sejarah penelitian terhadap Al-Qur’an dan sunnah, terutama para ahli fikih yang menggali hukum-hukum dari keduanya, menemukan kebutuhan yang sangat mendesak untuk merumuskan kaidah-kaidah umum yang menjadi pedoman dalam memahami dan menggali makna yang terkandung di dalamnya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Kaidah-kaidah ini mencakup pemahaman terhadap makna dan hukum yang bisa diketahui melalui dalil aqli (penalaran logis), serta makna dan hukum yang dipahami melalui analogi (qiyas), yaitu menghubungkan perkara yang tidak disebutkan secara eksplisit dalam nash dengan perkara yang disebutkan secara langsung.

Para ulama telah menyusun kaidah-kaidah umum ini dalam ilmu yang disebut ‘Ilmu Ushul al-Fiqh. Ilmu ini membantu memahami nash-nash syariat dan menggali hukum-hukum agama secara keseluruhan dengan pemahaman mendalam yang melampaui tingkat pemahaman fiqih biasa. Bukan hanya untuk memahami hukum fiqih yang tercatat dalam kitab-kitab fikih, tetapi juga mencakup pemahaman terhadap:

  • Akidah (Aqidah Islamiyah dan pokok-pokok keimanan)
  • Akhlak (Etika dan moralitas)
  • Adab (Tata krama dan sopan santun)
  • Ilmu Jiwa (Masalah yang berkaitan dengan psikologi)
  • Ilmu Sosial (Masalah sosial dan kemasyarakatan)
  • Ilmu Alam dan Logika (Masalah sains dan logika)
  • Filsafat dan Ilmu Lainnya yang berkaitan dengan kehidupan manusia

Penguasaan ilmu ini menjadi salah satu syarat penting bagi seorang dai atau penyeru kebaikan pada tingkat keahlian khusus. Dengan ilmu ini, ia mampu memahami Al-Qur’an dan sunnah dengan benar serta mampu menggali makna dan hukum, baik yang disebutkan secara eksplisit maupun yang dipahami secara tidak langsung.

Ketiga: Ilmu Manthiq (Logika)

Pemikiran manusia sepanjang sejarahnya yang panjang telah berhasil menemukan pedoman-pedoman logis yang membantu pemikir untuk melindungi pikirannya dari kesalahan dalam memahami banyak realitas yang merupakan akar pemikiran dan asas-asas umumnya. Para ilmuwan telah menyepakati untuk menamai ilmu ini sebagai ilmu logika, yang merupakan premis-premis akal yang disepakati oleh pikiran, yang dulunya disebut sebagai ilmu filsafat. Dalam ilmu filsafat itu telah bercampur antara kebenaran-kebenaran intelektual dan matematis dengan pandangan-pandangan spekulatif psikologis, kosmologis, dan humanistis yang mengandung banyak kebatilan, banyak kesesatan, dan pendapat-pendapat yang sebagiannya benar, sebagiannya dapat diterima dalam penelitian ilmiah yang berkembang, dan sebagiannya seperti awal dari semua penelitian manusia, di mana hasil pemikiran bercampur dengan hasil hawa nafsu, keinginan jiwa, dan khurafat orang-orang yang menyimpang.

Adapun ilmu logika yang telah dipisahkan oleh ilmuwan Muslim dari seluruh filsafat kuno lainnya, ia merupakan timbangan dan pedoman akal fitri yang telah Allah fitrahkan pada akal manusia.

Saya berpendapat bahwa pemikiran manusia telah sampai kepada pedoman ini sebelum Islam melalui petunjuk yang Allah turunkan kepada para rasul-Nya terdahulu.

Kebenarannya telah diverifikasi setelah Islam oleh sejumlah besar ilmuwan Muslim yang meneliti di berbagai bidang pemikiran dengan bimbingan dari asas-asas akal yang terdapat dalam Al-Qur’an yang mulia, serta perdebatan dan diskusi yang didasarkan pada prinsip-prinsip, timbangan, dan pedoman akal. Allah telah membukakan jalan bagi saya untuk memudahkan ilmu ini dan melengkapi banyak permasalahannya dengan berbagai contoh, termasuk contoh-contoh dari Al-Qur’an dan hadits dalam buku berjudul: “Pedoman Pengetahuan dan Asas-asas Penalaran dan Diskusi”.

Seorang pembawa risalah yang spesialis sudah sepatutnya memiliki pengetahuan yang memadai tentang pedoman-pedoman dan timbangan akal yang tercakup dalam ilmu logika, karena hal itu membantunya melindungi dari kesalahan berpikir dalam setiap penelitian yang dia siapkan atau sajikan, dan dalam setiap perdebatan, diskusi, dan pembahasan yang dia hadapi.

Orang yang tidak memiliki perlindungan ini akan sering terpapar kesalahan dalam pemikirannya, dan dia menganggap kesalahan sebagai kebenaran, kebatilan sebagai kebenaran, dan mungkin dia akan bersikeras membela kesalahannya dan mempertahankannya dengan sekuat tenaga.

Jika orang-orang yang dia sampaikan risalahnya di antara mereka menemukan bahwa dia keliru dengan kesalahan yang jelas, dan bahwa pemahamannya bertentangan dengan asas-asas pemikiran yang benar serta timbangan dan pedomannya yang disepakati oleh akal, walaupun hanya dalam beberapa masalah, dan dia tetap bersikeras menganggap benar pemahaman-pemahamannya yang salah, maka rasa hormat mereka terhadapnya akan hilang, kata-katanya tidak lagi berpengaruh pada mereka, mereka akan menjauhinya, berpaling darinya, dan memisahkannya dalam hati mereka dari posisi di mana dia menempatkan dirinya sebagai pemimpin, yaitu pemimpin dakwah kepada agama Allah, atau pemimpin dalam memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran serta memberi nasihat dan bimbingan.

Keempat: Ilmu Adab al-Baḥṡ wa al-Munāarah (Etika Penelitian dan Perdebatan)

Para ulama Muslim telah menyusun aturan-aturan perdebatan dan diskusi ilmiah yang mengatur tata cara, langkah-langkah, dan tahapan yang harus diikuti oleh kedua pihak yang berdebat. Tujuan dari aturan ini adalah:

  • Menjaga Fokus pada Topik: Agar kedua belah pihak tidak keluar dari pokok bahasan yang sedang dibahas.
  • Menghindari Pertengkaran: Mencegah perdebatan berubah menjadi pertengkaran, saling mencela, atau sengaja membuat kekacauan dan kesalahan logika.
  • Mencapai Tujuan Pencarian Kebenaran: Perdebatan yang teratur dan terarah akan membawa kepada penemuan kebenaran dan membuat audiens lebih mudah diyakinkan akan kebenaran yang disampaikan.

Dengan memahami ilmu ini, seorang da’i dapat menyampaikan dakwah dan membela kebenaran dengan cara yang santun dan efektif. Perdebatan yang dilakukan dengan adab yang baik akan menarik hati orang lain dan membuat pesan dakwah lebih mudah diterima.Bottom of Form

  • Ilmu Adab al-Baḥṡ wa al-Munāẓarah (Etika Penelitian dan Perdebatan) disebut demikian oleh para ulama karena tujuannya adalah menjaga akhlak dan metode yang benar dalam diskusi.
  • Seorang da’i atau pembawa risalah Islam perlu memahami ilmu ini karena saat menyampaikan dakwah, ia mungkin akan menghadapi orang-orang yang suka berdebat dan mempertanyakan ajaran yang disampaikan.
  • Tanpa memahami kaidah-kaidah ini, seorang da’i bisa:
    • Gagal mengendalikan jalannya perdebatan sehingga keluar dari pokok bahasan.
    • Terjebak dalam jebakan lawan debat yang sengaja membawa diskusi ke arah yang penuh syubhat dan kekacauan logika.
    • Terpeleset ke dalam kesalahan berpikir atau menerima argumen yang keliru tanpa disadari.

Penulis juga menegaskan bahwa inti dari ilmu ini telah ia ringkas dan permudah dalam bukunya: awābi al-Ma‘rifah wa Uūl al-Istidlāl wa al-Munāarah” (Kaedah-Kaedah Pengetahuan dan Prinsip-Prinsip Berargumentasi dan Berdebat), berkat pertolongan Allah.

 

 

Kelima: ‘Ulūm al-Nafs, al-Ijtimā‘, wa al-Tarbiyah (Ilmu Psikologi, Sosiologi, dan Pendidikan)

Kajian-kajian psikologi, baik secara teoretis maupun eksperimental, telah berhasil mengungkap banyak hal penting tentang sifat-sifat jiwa manusia, dorongan-dorongannya, serta cara memengaruhinya.

Sebagian besar penemuan ini tidak bertentangan dengan ajaran, akidah, syariat, dan hukum-hukum Islam. Bahkan, jika diteliti secara mendalam dalam nash-nash Islam, akan ditemukan banyak isyarat yang sejalan dengan hasil penelitian tersebut.

Ilmu Psikologi, Sosiologi, dan Pendidikan sangat bermanfaat bagi pembawa risalah Islam, karena mereka berinteraksi dengan manusia yang memiliki karakter dan perbedaan individu yang beragam. Memahami sifat, dorongan, dan cara memengaruhi jiwa manusia akan memudahkan mereka dalam menyampaikan dakwah dengan baik dan efektif.

Namun, perlu kehati-hatian, sebab ilmu psikologi modern umumnya dikembangkan oleh para peneliti yang: Tidak mengenal ajaran Islam, sehingga tidak terikat dengan tuntunan agama. Kadang menggunakan metode yang bertentangan dengan ajaran Islam. Ada di antara mereka yang memiliki tujuan merusak moral manusia, seperti ajaran Freud dan para pengikutnya yang terpengaruh ideologi Yahudi, yang mendorong pelepasan hawa nafsu dari ikatan agama, moral, dan norma sosial.

Oleh karena itu, seorang da’i harus: Memahami aspek-aspek psikologi yang benar dan sesuai dengan fitrah manusia. Mampu memengaruhi hati manusia menuju kebaikan, kebajikan, dan keridhaan Allah. Menggunakan pengetahuan ini untuk menarik hati manusia dan memperbaiki hubungan di antara mereka.

Begitu juga dengan Ilmu Sosiologi dan Ilmu Pendidikan yang memiliki banyak manfaat dalam memengaruhi individu maupun masyarakat. Akan tetapi, pengetahuan ini harus: Disaring dari pemikiran dan perilaku yang bertentangan dengan ajaran Islam. Disajikan dalam bentuk yang sejalan dengan prinsip-prinsip Islam, baik dari segi pemikiran maupun perilaku lahir dan batin.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

Bagian Kedua: Ilmu-Ilmu yang Membahas Pokok-Pokok dan Cabang-Cabang Agama

Bagian ini mencakup materi-materi keilmuan berikut:

  1. Ilmu Akidah Islam

Akidah adalah fondasi utama agama yang terdiri dari iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhir, dan takdir baik maupun buruk dari Allah.

Setiap rukun iman memiliki dasar pemikiran dan keterangan dari Allah yang perlu dipahami secara mendalam.

Ulama Islam telah menyusun karya-karya khusus yang menjelaskan dalil-dalil rukun iman, membantah syubhat para penentang, serta menguraikan berbagai rincian akidah. Dahulu ilmu ini disebut Ilmu Tauhid karena fokus utamanya adalah keesaan Allah, yang menjadi pokok perbedaan dengan akidah kaum musyrikin.

Di era modern, istilah ini berkembang menjadi Ilmu Akidah Islam karena cakupannya yang luas, mencakup semua pembahasan tentang iman dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Ilmu ini wajib dipelajari secara mendalam oleh para dai, muhtasib (pelaksana amar ma’ruf nahi munkar), dan para penasihat, sedangkan setiap muslim wajib memahaminya secara umum karena ia adalah pondasi agama.

  1. Ilmu Akhlak Islam

Dapat diamati pada tahap-tahap awal turunnya Al-Qur’an dan penjelasan-penjelasan kenabian awal, bahwa Islam sangat memperhatikan kemuliaan akhlak dan kebaikan perilaku individu dan sosial. Karena di atasnyalah bergantung langkah awal menuju keimanan yang benar dan tulus, serta perilaku mulia yang disepakati oleh akal dan jiwa. Dan di atasnyalah bergantung kepentingan-kepentingan kehidupan sosial manusia yang bahagia, karena ia merupakan ikatan hubungan sosial antar manusia.

Posisi akhlak mulia dalam Islam berada pada tingkatan kedua setelah posisi keimanan.

Oleh karena itu, seorang pembawa risalah yang spesialis harus memiliki bekal yang luas tentang ilmu akhlak Islam, agar dia dapat mengarahkan perhatiannya untuk mengajak kepadanya bersamaan dengan ajakan kepada keimanan, dan agar dia menjadi teladan yang baik dalam hal itu, serta mendidik orang-orang yang meresponsnya dengan cara-cara pendidikan yang berpengaruh dan bermanfaat.

  1. Ilmu Fiqih tentang Ibadah dan Muamalah:

Pada masa awal setelah Rasulullah ﷺ wafat, masyarakat umum bertanya kepada para sahabat, tabi’in, dan ulama mereka tentang hukum-hukum agama, baik yang berkaitan dengan ibadah seperti salat, zakat, puasa, haji, dan umrah, maupun tentang muamalah yang mencakup seluruh sistem kehidupan Islam. Mereka memandang bahwa menjalankan setiap hukum Islam adalah bentuk ibadah.

Kemudian muncullah para imam yang ahli dalam menggali hukum-hukum tersebut. Ijtihad mereka dalam bidang ibadah dan muamalah mulai dibukukan dalam karya-karya fiqih. Di antara para ulama tersebut adalah empat imam mujtahid dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah:

  • Abu Hanifah an-Nu’man
  • Malik bin Anas
  • Muhammad bin Idris asy-Syafi’i
  • Ahmad bin Hanbal

Pendapat dan ijtihad mereka terdokumentasi secara lengkap dan memiliki banyak pengikut dari kalangan ulama besar yang kemudian menyusun kitab-kitab yang terstruktur berdasarkan bab-bab fiqih ibadah dan muamalah.

Selain mereka, terdapat pula ulama lainnya yang pendapatnya tidak terdokumentasikan secara lengkap, seperti al-Awza’i, Sufyan ats-Tsauri, dan Abu Tsaur. Sementara itu, di kalangan Syi’ah Zaidiyah yang mengikuti ajaran Zaid bin Ali (Zainul Abidin), cucu dari al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, muncul mazhab yang terdokumentasi dengan baik. Selain mereka, muncul pula ulama dan mazhab lainnya.

Seorang pembawa risalah dakwah yang ahli wajib menguasai pokok-pokok hukum fiqih ibadah dan muamalah yang perlu ia sampaikan kepada umat yang menjadi objek dakwahnya. Ia juga harus memiliki kemampuan untuk menelaah berbagai persoalan fiqih yang ditanyakan kepadanya dalam berbagai bidang hukum Islam.

Tidak ada larangan jika ia mempelajari fiqih melalui salah satu mazhab yang diakui oleh mayoritas ulama Muslim, asalkan ia juga memahami dalil-dalil yang digunakan serta mengetahui ijtihad dan dalil dari mazhab-mazhab lainnya. Hal ini bertujuan agar ia tidak terjebak dalam fanatisme mazhab yang dapat memicu perpecahan di antara kaum Muslimin dan menjadikan mereka terkotak-kotak dalam kelompok-kelompok yang saling bertentangan.

Namun, yang lebih utama bagi para pembawa risalah dakwah adalah mempelajari fiqih langsung dari Al-Qur’an dan Sunnah, dengan pendekatan yang menghubungkan setiap hukum dengan dalil syar’inya, sekaligus mempelajari ijtihad para imam mazhab. Hal ini dapat dilakukan apabila tersedia sistem pendidikan yang terorganisir dengan baik berdasarkan bab-bab fiqih yang menjadi landasan dalam penyusunan mazhab-mazhab tersebut.

  1. Studi Al-Qur’an:

Studi ini mencakup hal-hal berikut:

  1. Menguasai bacaan seluruh Al-Qur’an dengan tajwid yang benar.
  2. Menghafal minimal lima juz, termasuk juz ke-30, dan yang lebih utama adalah menghafal seluruh Al-Qur’an.
  3. Memahami tafsir seluruh Al-Qur’an dalam bentuk penjelasan kosakata dan makna kalimatnya. Selain itu, mempelajari tafsir minimal lima juz secara mendalam dengan pendekatan “Manhaj Wahdatul Maudhu’” (pendekatan tematik per surah), di mana setiap surah dipahami sebagai satu kesatuan tema. Selain itu, mempelajari beberapa topik Al-Qur’an dengan metode tafsir tematik yang menghimpun ayat-ayat dari seluruh Al-Qur’an yang berkaitan dengan satu topik tertentu, lalu dipelajari secara komprehensif. Contohnya adalah topik tentang iman dan orang-orang beriman, kekufuran dan orang-orang kafir, kemunafikan dan orang-orang munafik, serta ketakwaan dan orang-orang bertakwa. Contoh lain adalah mempelajari kisah para nabi dan kaum mereka, seperti kisah Nabi Nuh ‘alaihissalam dan kaumnya.
  4. Mempelajari satu kitab yang luas dan diakui dalam bidang ‘Ulum Al-Qur’an (ilmu-ilmu Al-Qur’an), seperti kitab “Al-Burhan fi ‘Ulum Al-Qur’an” karya Imam Badruddin Muhammad bin Abdullah az-Zarkasyi (745-794 H).
  5. Mempelajari sebuah kitab yang membahas syubhat (keraguan) yang dilontarkan oleh para orientalis terhadap Al-Qur’an dan mempelajari bagaimana membantah kekeliruan mereka secara kokoh dan ilmiah.
  6. Mempelajari sebuah kitab yang menonjolkan aspek sastra dalam Al-Qur’an, seperti kitab “Amtsal Al-Qur’an” (Perumpamaan dalam Al-Qur’an) dan “Shuwar min Adabihi Ar-Rafi’” (Potret Sastra Tinggi dalam Al-Qur’an).
  1. Studi Hadis:

Studi ini mencakup hal-hal berikut:

  1. Mengenal kitab-kitab induk hadis (Ummahatul Kutub) yang memuat hadis Nabi, di antaranya:
    • Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim
    • Sunan Abi Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An-Nasa’i, dan Sunan Ibnu Majah
    • Musnad Imam Ahmad bin Hanbal
    • Al-Mustadrak karya Al-Hakim
    • Shahih Ibnu Hibban
    • Tiga Mu’jam karya Ath-Thabrani: Al-Kabir, Al-Awsath, dan As-Shaghir
    • Al-Mushannaf karya Abdurrazzaq Ash-Shan’ani

Selain itu, perlu memahami karakteristik masing-masing kitab dan mengenal biografi penulisnya.

  1. Mempelajari ilmu hadis, termasuk sejarah penulisannya, serta mempelajari syubhat (keraguan) yang dilontarkan para orientalis terhadap hadis dan cara membantahnya secara ilmiah dan terstruktur.
  2. Menghafal minimal 200 hadis terpilih yang membahas berbagai tema, terutama yang berkaitan dengan dakwah dan akhlak, dari hadis-hadis yang shahih atau hasan. Setiap hadis perlu dipahami maknanya secara mendalam.
  3. Mempelajari minimal jilid pertama dari kitab Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani.
  4. Mempelajari bagian tertentu dari Syarh An-Nawawi ‘ala Shahih Muslim, khususnya bab-bab yang tidak dibahas dalam jilid pertama Fathul Bari.
  5. Memahami kitab-kitab tentang biografi perawi hadis (kutub tarajim ar-ruwat) dan mempelajari cara memeriksa nama-nama perawi dalam kitab-kitab tersebut.
  6. Mengkaji nilai sastra hadis Nabi dengan mempelajari pilihan hadis yang menonjolkan keindahan bahasa, gaya penyampaian, dan makna mendalam yang terkandung di dalamnya.

Bagian Ketiga: Studi Ilmu Alam dan Sains:

Bagian ini mencakup pengetahuan yang setidaknya setara dengan kurikulum sekolah menengah atas di bidang sains, meliputi:

  • Fisika
  • Kimia
  • Matematika
  • Biologi
  • Geologi
  • Astronomi
  • Ilmu Komputer

Sesungguhnya seorang pembawa risalah yang spesialis dalam melaksanakan fungsinya, tidak tepat jika ia jauh dari pengetahuan tentang ilmu-ilmu alam di zamannya, dan mengisolasi dirinya hanya pada ilmu-ilmu agama, ilmu bahasa Arab, serta ilmu-ilmu pendukung untuk memahami teks Al-Quran dan Sunnah, karena alasan-alasan berikut:

1- Karena firman Allah yang diturunkan kepada para rasul-Nya (ayat-ayat Quraniyah) dan kata-kata penciptaan-Nya yang terwujud dalam apa yang telah Allah ciptakan dan yang terus terwujud dalam segala sesuatu yang Dia ciptakan di alam semesta, serta apa yang Dia jalankan di dalamnya dalam berbagai fenomena, tidak mungkin saling bertentangan, tidak mungkin saling bertabrakan, dan harus dipahami sebagai sesuatu yang selaras dalam hal-hal yang berkaitan dengan masalah yang sama, atau saling melengkapi dalam hal-hal yang tidak berkaitan dengan masalah yang sama. Kebenaran dari masing-masing harus memperkuat kebenaran dari bagian yang lain, jika keduanya berkaitan dengan subjek yang sama atau masalah yang sama.

2- Karena pembawa risalah berinteraksi dengan berbagai kelompok manusia yang berbeda, dan di antara mereka terdapat orang-orang terpelajar yang mengikuti kurikulum pendidikan yang sengaja dipisahkan, dengan perencanaan licik dari negara-negara sekuler dan institusi-institusi yang memusuhi Islam, dari ilmu agama yang benar. Di dalam kurikulum tersebut disisipkan pemikiran-pemikiran dan pendapat-pendapat filosofis yang bertentangan dengan dasar-dasar agama, dan disajikan seolah-olah itu adalah kebenaran seperti fakta-fakta eksperimental lainnya yang terkandung dalam ilmu-ilmu ini, atau kebenaran teoritis yang memiliki bukti akal yang benar, atau bukti yang dapat diterima dengan kuat.

Orang yang tidak memahami ilmu-ilmu ini tidak mampu berdiskusi tentang hal-hal yang ditetapkan di dalamnya meskipun hal-hal tersebut adalah kebatilan, dan tidak mampu meyakinkan bahwa penafsiran filosofis yang disisipkan di dalamnya tidak memiliki nilai ilmiah, karena tidak didasarkan pada bukti akal atau bukti eksperimental.

Karena itu, ia harus memiliki pengetahuan tentang ilmu-ilmu ini dan konsep-konsep utamanya, setidaknya pada tingkat yang tidak kurang dari tingkat kurikulum sekolah menengah atas jurusan ilmiah. Namun, saat mempelajari ilmu-ilmu ini, ia harus memiliki wawasan tentang penafsiran dan penjelasan filosofis yang disisipkan di dalamnya yang tidak didasarkan pada bukti akal, dan pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan dasar-dasar agama, konsep-konsepnya, hukum-hukumnya, dan pesan-pesannya. Ia juga harus memiliki argumen-argumen yang kuat atau bukti-bukti yang cukup untuk meyakinkan, yang mengungkap bahwa pemikiran-pemikiran tersebut adalah batil, atau menyimpang dari jalan yang lurus yang membawa kebahagiaan dunia dan akhirat bagi orang yang mengikutinya, dan mengungkap bahwa itu hanyalah pendapat-pendapat yang tidak memiliki hubungan sama sekali dengan elemen-elemen dasar dari ilmu-ilmu tersebut.

Ia juga harus mengikuti perkembangan gerakan ilmu pengetahuan di dunia, karena banyak hal yang dahulu diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan di semua negara Barat dan Timur sebagai fakta ilmiah, sekarang dalam ketetapan ilmu kontemporer telah menjadi teori-teori yang dapat dimodifikasi dan diubah, atau hipotesis-hipotesis yang sama sekali tidak dapat diandalkan, seperti pendapat-pendapat Darwin tentang evolusi diri benda-benda dan makhluk hidup.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

Bagian Keempat: Penelitian yang mengungkap kepalsuan mazhab-mazhab pemikiran kontemporer yang datang ke negeri-negeri Muslim dari negara-negara kafir dan rakyatnya.

Berikut ini adalah penjelasan singkat mengenainya.

Akibat berbagai faktor internal dan eksternal, umat Islam mengalami kemunduran dalam berbagai bidang kehidupan, dan buta huruf menyebar dalam berbagai cabang ilmu agama maupun ilmu alam.

Sementara itu, bangsa-bangsa non-Muslim di Barat dan kemudian di Timur mengalami kemajuan dalam ilmu pengetahuan alam semesta, yang dengannya mereka memajukan peradaban material mereka, dengan memanfaatkan apa yang telah dicapai umat Islam pada masa kejayaan ilmiah dan peradaban mereka sebelum masa kemunduran yang menimpa mereka.

Seiring dengan kemajuan bangsa-bangsa non-Muslim dalam ilmu pengetahuan alam semesta, muncul di tengah-tengah mereka berbagai mazhab pemikiran kontemporer yang didasarkan pada penyangkalan terhadap Sang Pencipta yang Maha Mulia dan tidak mempercayai-Nya, atau pada pemisahan agama dan ajarannya dari urusan alam semesta dan perilaku manusia, serta memisahkan ajaran yang dibawa para rasul ‘alaihimussalam dari seluruh urusan kehidupan duniawi mereka.

Di balik munculnya berbagai mazhab pemikiran kontemporer tersebut terdapat tipu daya kaum Yahudi dan rencana mereka yang bertujuan memerangi agama, akhlak, serta sistem sosial yang menyatukan masyarakat manusia dalam ikatan yang kokoh.

Ketika kolonialisme Barat menjajah negeri-negeri Muslim—yang saat itu telah melemah dan terpecah belah akibat jauhnya mereka dari prinsip-prinsip Islam dan jalan lurusnya—kolonialisme itu membawa serta ilmu pengetahuan alam semesta yang di dalamnya terselip berbagai kebatilan. Bersama kolonialisme itu pula, merambah berbagai mazhab pemikiran kontemporer di bidang filsafat, sosial, ekonomi, politik, psikologi, sastra, dan lain sebagainya.

Umat Islam pernah mengalami rasa rendah diri akibat keterbelakangan dan kemunduran yang menimpa mereka. Akibatnya, mereka terpesona oleh apa yang datang dari Barat, kemudian juga oleh apa yang datang dari Timur. Banyak orang yang ingin mempelajari ilmu-ilmu alam yang memajukan peradaban material justru menelan mentah-mentah berbagai kepalsuan dan mazhab-mazhab pemikiran kontemporer yang menyertainya. Sebagian dari pemikiran itu meruntuhkan agama dari akarnya, sementara sebagian lainnya menghancurkan sistem, syariat, hukum, dan wasiat-wasiatnya.

Kemudian, muncul kesadaran Islam yang mulai tumbuh kembali di benak banyak pemikir Muslim, baik yang belajar melalui kurikulum Barat maupun yang mempelajari ilmu-ilmu agama dan prinsip-prinsip pemikiran serta keilmuannya. Mereka pun mulai menyerukan pentingnya memisahkan kebatilan yang terselip dalam ilmu pengetahuan dari hakikat ilmu itu sendiri, serta memperingatkan bahaya mazhab-mazhab pemikiran kontemporer, mengkritiknya, dan mengungkap kepalsuannya.[5]

Oleh karena itu, seorang pembawa risalah yang memiliki keahlian harus memahami berbagai mazhab tersebut dan mampu menjelaskan kepalsuan yang ada di dalamnya. Ia juga harus dapat meyakinkan orang-orang yang terpesona oleh pemikiran tersebut—baik dari kalangan Muslim maupun non-Muslim—bahwa kebenaran yang dibawa Islam adalah jalan terbaik untuk membahagiakan manusia dan memajukan peradaban mereka secara benar.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

Bagian Kelima: Penelitian yang mengungkap sarana dan metode serangan pemikiran yang dialami umat Islam dari para musuh Islam.

Berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai hal tersebut.

Meskipun umat Islam telah mencapai kondisi keterbelakangan sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, serta buta huruf menyebar di kalangan mereka, namun kebanggaan mereka terhadap masa lalu, keimanan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad ﷺ, serta keterikatan mereka kepada Al-Qur’an—dengan keyakinan bahwa tidak ada kebatilan yang dapat mendatanginya, baik dari depan maupun dari belakang—telah menjadikan mereka berada dalam benteng psikologis yang sangat kokoh, sehingga sangat sulit untuk ditembus dan dihancurkan dari dalam, kecuali dengan berbagai sebab dan melalui beragam cara setan yang licik, yang mengandalkan tipu daya serta mengenakan berbagai topeng yang menipu dan penuh kepalsuan.

Inilah yang dilakukan oleh para musuh Islam untuk menyebarkan konsep-konsep batil mereka di tengah umat Islam, menggantikan hukum fikih Islam dengan undang-undang buatan manusia, serta mempromosikan perilaku yang menyimpang dari jalan lurus Allah. Mereka memasuki negeri-negeri Muslim bersama dengan pasukan kolonial mereka melalui penjajahan material yang terang-terangan maupun penjajahan tersembunyi yang tidak tampak secara langsung.

Allah Yang Maha Mulia telah mempersiapkan sekelompok pemikir Islam untuk membongkar tipu daya para musuh Islam, beserta berbagai sarana dan metode mereka yang bertujuan mengeluarkan umat Islam dari agama mereka—baik secara total maupun parsial—serta menjauhkan mereka dari benteng pemikiran, keyakinan, mentalitas, dan perilaku mereka, hingga mereka menjadi tunduk pada penjajahan Barat yang kafir terhadap agama Islam.

Awalnya, pembongkaran tipu daya ini hanya terbatas pada artikel-artikel yang tersebar di koran dan majalah, serta beberapa bab dalam buku-buku tertentu. Belum ada karya tulis yang secara sistematis menjelaskan dasar-dasar serangan pemikiran ini, berikut metode, rencana, langkah-langkah, tahapan, sarana, teknik, tipu daya, dan elemen-elemennya. Selain itu, umat Islam juga belum memiliki catatan sejarah yang memantau pergerakan serangan pemikiran ini—baik yang dilakukan melalui upaya licik yang dipelopori oleh kaum Yahudi, maupun yang dijalankan oleh para misionaris Kristen, orientalis, penjajah, ateis komunis, atau pihak lainnya.

Kemudian, Allah mengilhami sejumlah kaum Muslimin yang memiliki kecemburuan terhadap agama ini dan memegang otoritas administratif. Mereka merespons permintaan para pemikir, intelektual, dan penulis dari beberapa universitas dengan memasukkan mata kuliah “Al-Ghazw al-Fikri” (serangan pemikiran) ke dalam kurikulum di beberapa fakultas universitas.

Saya termasuk salah seorang yang terlibat dalam inisiatif ini di Universitas Umm Al-Qura di Makkah al-Mukarramah. Saya ditugaskan untuk mengajar mata kuliah ini, setelah sebelumnya saya telah menulis beberapa artikel harian mengenai topik ini yang disiarkan melalui Radio Riyadh setelah siaran berita pukul 22.15 malam dalam program berjudul “A‘dâ’ al-Islâm” (Musuh-Musuh Islam), yang berlangsung selama lebih dari tiga tahun berturut-turut.

Kemudian, saya mendokumentasikan penelitian ini dan berbagai kajian lainnya ke dalam buku-buku yang disusun berdasarkan prinsip klasifikasi, kodifikasi, dan penyusunan berbentuk diagram pohon[6]. Selain itu, penulis-penulis lain juga menghasilkan karya-karya tentang serangan pemikiran yang layak untuk diajarkan dan dipelajari. Dengan demikian, mata kuliah ini telah menjadi cabang ilmu tersendiri, berkat anugerah dan taufik dari Allah.

Oleh karena itu, seorang pembawa risalah yang memiliki keahlian, serta setiap Muslim yang beriman dan terpelajar, harus memahami isi kajian ini agar dapat memperingatkan umat Islam dari tipu daya musuh-musuh Islam di setiap bidang kehidupan.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

Bagian Keenam: Kemampuan Berbicara dengan Bahasa Kaum yang Dihadapi oleh Pembawa Risalah, Jika Bahasa Mereka Berbeda dengan Bahasa Ibu yang Dipelajarinya Sejak Kecil

Islam adalah agama yang diturunkan Allah Yang Maha Mulia sebagai penutup dari seluruh risalah-Nya untuk umat manusia. Dia menjadikan Islam sebagai agama bagi seluruh umat manusia hingga akhir kehidupan di muka bumi. Allah mengutus Rasul-Nya, Muhammad ﷺ, untuk seluruh manusia dan memerintahkannya agar menyampaikan kebenaran ini kepada mereka semua. Firman-Nya dalam Surah Al-A’raf ayat 158:

﴿قُلْ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ جَمِيْعًا ۨالَّذِيْ لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ يُحْيٖ وَيُمِيْتُ….. ﴾

“Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua, (Dialah) yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tidak ada Tuhan selain Dia yang menghidupkan dan mematikan…’”

Kemudian Allah berbicara kepada seluruh manusia di kelanjutan ayat ini dengan firman-Nya:

﴿…….. فَاٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهِ النَّبِيِّ الْاُمِّيِّ الَّذِيْ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَكَلِمٰتِهٖ وَاتَّبِعُوْهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ ١٥٨ ﴾

“Maka berimanlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya, dan ikutilah dia agar kalian mendapat petunjuk.”

Karena kaum Muslimin bertanggung jawab di hadapan Allah untuk menyampaikan agama ini kepada seluruh manusia—sebagaimana telah dijelaskan dalam bab pertama buku ini—maka para pembawa risalah dakwah Islam berkewajiban menyampaikan agama ini dengan cara yang dapat dipahami oleh setiap kaum dalam bahasa mereka masing-masing. Penyampaian ini tidak akan terwujud kecuali sang penyampai mempelajari bahasa khusus setiap kaum yang didakwahinya (jika ia belum menguasainya), sehingga ia mampu berbicara, menjelaskan, dan meyakinkan mereka dengan bahasa tersebut.

Tujuan ini dapat dicapai dengan cara mendatangkan sekelompok orang dari setiap kaum, kemudian mengajarkan mereka bahasa Arab. Jika mereka memeluk Islam dan istiqamah dalam agamanya, maka dipilihlah orang-orang terbaik di antara mereka untuk menjadi para dai yang memiliki tingkat keahlian khusus. Mereka bertugas menyampaikan agama ini dan menyeru masyarakat dalam bahasa mereka masing-masing.

Sebab, sesuatu yang menjadi syarat bagi terlaksananya kewajiban, maka memenuhinya pun menjadi kewajiban—berdasarkan logika akal yang jelas.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

Bagian Ketujuh: Mengikuti Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Budaya Kontemporer, Memantau Peristiwa Kemanusiaan, Karakteristik Masyarakat, serta Kondisi Umat Islam Masa Kini di Berbagai Negara Dunia

Hal ini penting agar pembawa risalah dapat melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya sesuai kemampuan dan potensi fitrahnya.

Sudah menjadi hal yang diketahui secara umum bahwa ilmu pengetahuan dan budaya terus berkembang secara berkesinambungan. Selalu ada hal-hal baru yang perlu diketahui oleh pembawa risalah dakwah kepada Allah, maupun mereka yang bertugas menjalankan amar makruf nahi mungkar, memberikan nasihat, dan bimbingan.

Demikian pula halnya dengan berbagai peristiwa kemanusiaan dan perkembangan masyarakat dunia yang senantiasa menghadirkan hal-hal baru yang bermanfaat bagi pembawa risalah dalam menjalankan tugasnya.

Perkembangan media informasi modern telah mempermudah proses pemantauan yang bermanfaat ini. Di antara peristiwa kemanusiaan yang paling penting untuk diikuti adalah yang berkaitan dengan kondisi umat Islam saat ini, baik mereka yang menjadi mayoritas di negara tempat tinggalnya maupun yang hidup sebagai minoritas. Tidaklah layak bagi seorang pembawa risalah untuk tidak mengetahui kondisi tersebut.

Bagian ini bukanlah sebuah mata pelajaran yang dipelajari melalui buku, melainkan memerlukan pemantauan secara berkelanjutan sepanjang perjalanan hidup.

Sebaiknya terdapat sebuah lembaga Islam atau divisi khusus di dalamnya yang secara rutin—baik bulanan maupun mingguan—menyediakan ringkasan terstruktur mengenai perkembangan terbaru dan peristiwa kemanusiaan, termasuk kondisi umat Islam saat ini. Hal ini bertujuan agar kaum Muslimin, terutama para pembawa risalah, dapat mengikuti informasi tersebut dengan upaya dan waktu seminimal mungkin. Dengan demikian, mereka dapat menghemat banyak waktu dari harus mengikuti media massa yang dipenuhi dengan banyak informasi yang tidak bermanfaat dan hanya sedikit yang bernilai, yang memerlukan upaya besar, kesabaran yang panjang, serta kemampuan membedakan antara kebenaran dan kebatilan untuk dapat memilih informasi yang benar-benar bermanfaat.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

Bagian Kedelapan: Pemahaman yang Memadai tentang Sejarah Umat Manusia dan Geografi Dunia, Khususnya Sejarah Umat Islam dan Geografi Dunia Islam

Seorang da’i yang mengajak manusia kepada agama Allah membutuhkan pengetahuan tentang sejarah umat manusia dan berbagai peristiwa kehancuran serta azab yang menimpa kaum dan bangsa terdahulu akibat pendustaan mereka terhadap para rasul Allah, kefasikan, kedurhakaan, kezaliman, dan keangkuhan mereka.

Di antara bagian terpenting dari kajian sejarah ini adalah kisah para nabi bersama umat mereka, karena kisah-kisah tersebut sarat dengan pelajaran yang sangat relevan bagi dakwah kepada agama Allah. Kisah-kisah itu juga menunjukkan bahwa semua risalah ilahi memiliki kesamaan dalam pokok-pokok keimanan, akhlak, dan ibadah.

Seorang da’i juga memerlukan pengetahuan tentang geografi dunia kuno untuk mengetahui lokasi tempat tinggal kaum-kaum yang dibinasakan akibat kekufuran dan kezaliman mereka. Pengetahuan ini dapat diperoleh secara langsung melalui kunjungan ke lokasi-lokasi tersebut atau melalui gambar dan ilustrasi. Hal ini akan memperdalam pemahaman dan pelajaran yang dapat diambil dari kehancuran umat-umat terdahulu.

Karena pentingnya mengetahui sejarah umat-umat yang binasa dan melihat secara langsung bekas-bekas negeri mereka, Allah Ta’ala memerintahkan manusia dalam Al-Qur’an untuk melakukan perjalanan di muka bumi agar dapat menyaksikan tanda-tanda kebinasaan tersebut dan mengambil pelajaran dari akibat kejahatan dan pendustaan mereka terhadap para rasul Allah.

Di antara perintah tersebut adalah firman Allah Ta’ala dalam Surah An-Naml (27:69):

﴿قُلْ سِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِيْنَ ٦٩ ﴾

“Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Berjalanlah di muka bumi, lalu perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa.’”

Demikian pula dalam Surah Al-An’am (6:11), Allah Ta’ala berfirman:

﴿قُلْ سِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ ثُمَّ انْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ ١١ ﴾

“Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul Allah).’”

Tambahan Makna dari Ayat-Ayat tentang Perjalanan di Muka Bumi

Dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang memerintahkan manusia untuk berjalan di muka bumi dan memperhatikan akibat dari pendustaan umat terdahulu, terdapat beberapa pelajaran penting yang disampaikan melalui perbedaan penggunaan kata sambung (huruf ‘athf). Berikut rinciannya:

Pertama: Gagasan penelitian dan eksplorasi untuk akhirnya mengamati jejak-jejak orang-orang yang telah dibinasakan terdahulu. Hal ini ditunjukkan oleh penggunaan kata penghubung “kemudian” (ثم), berbeda dengan yang terdapat dalam surat An-Naml yang menggunakan kata penghubung “maka” (فَ): “maka perhatikanlah” (فَانظُرُوا), yang menunjukkan jejak-jejak yang terlihat jelas dan tidak memerlukan penelitian, eksplorasi, atau penggalian.

Kedua: Gagasan pendustaan terhadap rasul-rasul Allah dan pendustaan terhadap apa yang mereka bawa dari Allah. Mereka adalah para penjahat yang mencapai tingkat kejahatan tertinggi karena mendustakan apa yang datang kepada mereka dari Allah melalui lisan para rasul-Nya. Allah berfirman:

﴿ ثُمَّ انْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ ١١ ﴾

Kemudian Allah menyapa para pendusta secara langsung dengan menurunkan firman-Nya Yang Maha Mulia dalam surat An-Nahl (16 dalam mushaf/70 urutan turunnya):

﴿ فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ ٣٦ ﴾

“Maka berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.”

Selanjutnya, teks yang diturunkan dalam ayat 42 dari surat Ar-Rum (30 dalam mushaf/84 urutan turunnya) menambahkan gagasan bahwa kebanyakan orang-orang yang dibinasakan terdahulu adalah orang-orang musyrik.

Lalu teks yang diturunkan dalam ayat 137 dari surat Ali Imran (3 dalam mushaf/89 urutan turunnya) menambahkan gagasan bahwa pembinasaan para pendusta adalah salah satu sunnatullah terhadap hamba-Nya. Dengan demikian, teks-teks tersebut saling melengkapi dalam penunjukan maknanya.

Selain memahami sejarah umat-umat terdahulu, seorang da’i juga perlu mempelajari sejarah umat Islam, dimulai dari sirah Rasulullah ﷺ, kehidupan para sahabat yang mulia, generasi tabi’in, dan orang-orang saleh yang mengikuti mereka dengan baik. Pengetahuan ini memberikan teladan yang nyata dalam hal ilmu, akhlak, ketakwaan, kezuhudan, dan jihad di jalan Allah.

Pengisahan tentang keteladanan mereka mampu menggugah hati yang bersih untuk mengikuti jejak kehidupan para pendahulu yang saleh. Selain itu, memaparkan sejarah kejayaan umat Islam dapat membangkitkan rasa bangga dan percaya diri pada generasi penerus, memperkuat keterikatan mereka dengan umat yang mulia ini, dan menanamkan semangat untuk mempertahankan prinsip-prinsip yang menjadi kunci kejayaan umat Islam di masa lalu.

Memahami geografi bumi tempat hidup bangsa dan umat manusia di masa lalu, serta yang dihuni oleh bangsa dan umat manusia di masa kini, memiliki kaitan erat dengan studi sejarah manusia. Studi ini sangat bermanfaat bagi para da’i yang menyeru kepada agama Allah, para penyeru kebaikan, pencegah kemungkaran, serta para penasihat dan pembimbing.

Sangat penting untuk mempelajari geografi negara dan bangsa-bangsa Islam pada berbagai fase perkembangannya, baik saat mengalami perluasan wilayah melalui penaklukan dan masuknya berbagai bangsa ke dalam Islam, maupun saat mengalami kemunduran dan keterbelakangan yang berakibat pada kekalahan dalam peperangan melawan para penyerang dari kalangan tentara salib, penyembah berhala, dan kaum ateis.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

 

Alhamdulillah, selesai jilid ke-02.

[1] Surah Ali Imran adalah surah ketiga yang diturunkan pada periode Madinah: (Al-Baqarah – Al-Anfal – Ali Imran).

[2] Lihat apa yang telah saya tulis tentang hal ini dalam buku Kawasyif Zuyuf fil Madzahib al-Fikriyyah al-Mu’ashirah (Kritik terhadap Pemikiran Kontemporer) pada pembahasan tentang sistem pemerintahan dalam Islam.

[3] Qarn ath-Tha’alib adalah salah satu miqat (tempat dimulainya ihram) bagi orang yang datang ke Mekah dari arah Thaif. Tempat ini juga dikenal dengan nama Qarn al-Manazil.

[4] Sebaiknya pembaca merujuk kepada buku saya “Prinsip-prinsip dalam Sastra dan Dakwah”, di mana saya telah menjelaskan berbagai gaya ucapan secara rinci yang bermanfaat bagi pembawa pesan dakwah kepada Allah, atau pesan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Selain itu, merujuk juga kepada buku saya “Balaghah Arabiyah”.

[5] Dalam pembahasan ini dapat merujuk pada kitab: Kawâsyif Zuyûf fî al-Madzâhib al-Fikriyyah al-Mu’ashirah (Pengungkapan Kepalsuan dalam Mazhab-Mazhab Pemikiran Moderen). Dan kitab: al-Madzâhib al-Fikriyyah al-Mu’ashirah (Mazhab-Mazhab Pemikiran Moderen) oleh Prof. Muhammad Quthb.

[6] Lihat kumpulan buku dengan judul “A‘dâ’ al-Islâm” (Musuh-Musuh Islam) karya penulis.

27. FIKIH DAKWAH JILID 02 (1)

Facebook Comments Box

Penulis : Abdurrahman Hasan Habannakah Al-Maidani

Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.

Artikel Terjkait

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT
Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya
Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat
Kewajiban dan Keutamaan Taubat
Keutamaan Tauhid
Keutamaan Puasa Sunnah
Keutamaan Puasa Asyura (Yaitu hari kesepuluh dari bulan Muharram)
Keutamaan Mengajarkan Ilmu dan Menyeru Manusia kepada Kebaikan
Berita ini 0 kali dibaca

Artikel Terjkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 03:47 WIB

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:41 WIB

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:40 WIB

Keutamaan Puasa Sunnah

Artikel Terbaru

Akidah

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:47 WIB

Fatwa Ulama

Akibat Dosa Menyebabkan Bencana Alam – Faedah 10

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:45 WIB

Dakwah

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Jan 2026 - 15:41 WIB