قال ابن الجوزي: ”
١-من صحب السلطان بغير تأدب بأهل ذلك الشأن لم يأمن أن يكون حتفه فِي سقطه من سقطات اللسان.
٢-ومن لم يتأدب بعلمه بآداب العلماء لم يأمن أن يكون حتفه في بعض أَوديَة ضلال الآراء.
٣-ومن تعبد من غير مداخلة لأولياء الله لم يَأْمَن أَن يتبع السبل فَتفرق به عن سَبِيل الله”.
التذكرة في الوعظ٢٧٥
Ibnu al-Jauzi berkata:
“Barangsiapa yang menyertai penguasa (sultan) tanpa beradab dengan adab-adab ahli dalam urusan itu, ia tidak akan aman dari kehancuran dirinya karena ketergelinciran lidah.”
“Barangsiapa yang tidak beradab dengan ilmunya menggunakan adab-adab para ulama, ia tidak akan aman dari kehancuran dirinya di sebagian lembah kesesatan pendapat.”
“Barangsiapa yang beribadah tanpa bergaul dengan para wali Allah, ia tidak akan aman dari mengikuti jalan-jalan (lain) sehingga ia dijauhkan dari jalan Allah.”
(At-Tadzkirah fil Wa’z 275)
قال ابن الجوزي: “أحْوج النَّاس إِلَى صُحْبَة المعلمين ثَلَاثة رجال
١-رجل يطْلب أن يكون من وزراء السلاطين .
٢-وَرجل يطْلب الْعلم ليصير بِهِ من أَئِمَّة الدّين.
٣-وَرجل يطْلب الْعِبَادَة ليتوصل بهَا إِلَى مقامات المقربين”.
التذكرة في الوعظ٢٧٥
Ibnu al-Jauzi berkata:
“Manusia yang paling membutuhkan persahabatan (bimbingan) dari para pengajar (guru) ada tiga jenis:
Seorang yang bercita-cita menjadi menteri para penguasa.
Seorang yang mencari ilmu agar dengannya ia menjadi imam (pemimpin) agama.
Seorang yang mencari ibadah agar dengannya ia sampai ke maqam (kedudukan) kaum muqarrabin (orang-orang yang didekatkan kepada Allah).”
(At-Tadzkirah fil Wa’z 275)
قال ابن الجوزي: “ثلاثة من المحرومين حسرتهم أوجع حسرات المتحسرين:
١- عبد كَانَ يَرْجُو الْوفَاة على الْإِسْلَام فأدركه عند الْمَوْت سوء الخاتمة
٢- وَعبد كَانَ يَرْجُو التَّوْبَة وهو مصر على الْخَطِيئَة
٣- وَعبد يَرْجُو اللحاق بأولياء الله فحرمته الْمَقَادِير بُلُوغ مَا رجا”
التذكرة في الوعظ٢٥٤
Ibnu al-Jauzi berkata:
“Tiga golongan dari orang-orang yang terhalang, penyesalan mereka adalah penyesalan yang paling menyakitkan dari orang-orang yang menyesal:
Seorang hamba yang berharap meninggal dalam keadaan Islam, namun ia mendapati su’ul khatimah (akhir yang buruk) saat kematian menjemputnya.
Seorang hamba yang berharap taubat, padahal ia terus-menerus dalam dosa.
Seorang hamba yang berharap menyusul (berkumpul dengan) para wali Allah, namun takdir menghalanginya mencapai apa yang ia harapkan.”
(At-Tadzkirah fil Wa’z 254)
قال ابن الجوزي: “إِذا نزل بك أَمر من الله
١-فَاسْتعْمل الرِّضَا،
٢-فَإِن لم تَجِد إِلَى الرِّضَا سَبِيل فَاسْتعْمل الصَّبْر،
٣-فَإِن لم تَجِد فَعَلَيْك بالتحمل”
التذكرة في الوعظ ص٢١٣
Ibnu al-Jauzi berkata:
“Apabila suatu urusan (ketentuan) dari Allah menimpamu:
Maka gunakanlah kerelaan (ridha).
Jika kamu tidak menemukan jalan menuju ridha, maka gunakanlah kesabaran (shabr).
Jika kamu tidak menemukan (jalan untuk bersabar), maka kamu wajib menahan diri (tahammul).”
(At-Tadzkirah fil Wa’z hlm. 213)
قال ابن الجوزي:
“عَلامَة إِعْرَاض الله عَن العَبْد أَن يشْغلهُ بِمَا لَا يعنيه”
التذكرة في الوعظ ص٢١٣
Ibnu al-Jauzi berkata:
“Tanda berpalingnya Allah dari seorang hamba adalah Ia menyibukkannya dengan hal yang tidak bermanfaat baginya.”
(At-Tadzkirah fil Wa’z hlm. 213)
قال ابن الجوزي:
“حرَام ع�







