FAEDAH-FAEDAH YANG MENDIDIK DARI
ARBA’IN AN-NAWAWI
تَعْلِيقَاتٌ تَرْبَوِيَّةٌ عَلَى الْأَرْبَعِينَ النَّوَوِيَّةِ
HADITS PERTAMA
Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang dia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia atau untuk menikahi seorang wanita, maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah kepadanya.”
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Pentingnya niat yang baik dan besarnya keutamaannya, dimana seluruh amalan bergantung pada niat.
- Manusia berbeda-beda dalam hal diterima atau tidaknya amalan, serta besar kecilnya pahala berdasarkan perbedaan mereka dalam ketulusan niat, kebaikan atau kerusakannya, dan kesempurnaan atau kekurangannya.
- Pahala amalan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala terkait dengan niat yang baik, bukan sekedar perbuatan semata. Oleh karena itu, orang-orang munafik tidak mendapat manfaat dari amalan mereka karena hilang atau kurangnya niat yang baik.
- Manfaat niat dalam kaitannya dengan amalan:
- Membedakan ibadah dari kebiasaan: seperti membedakan mandi junub dari mandi untuk menyegarkan dan membersihkan diri.
- Membedakan antara ibadah satu dengan lainnya: seperti membedakan shalat Dzuhur dari shalat Ashar.
- Membedakan tujuan amalan apakah hanya untuk Allah semata atau tidak.
- Dengan niat yang baik, hal-hal yang mubah bisa berubah menjadi hal yang disukai (mustahab) yang mendapat pahala. Contohnya, seseorang yang duduk bersama orang lain dan berbincang tanpa kebatilan, dia akan mendapat pahala jika berniat untuk menghibur saudaranya sesama muslim dan membuat dia senang.
- Hadits ini menunjukkan kewajiban menjaga niat, memperhatikannya, dan merawatnya.
- Niat yang tulus harus sesuai dengan sunnah Nabi agar diterima di sisi Allah. Fudhail bin ‘Iyadh berkata tentang firman Allah “untuk menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya”, beliau mengatakan: “Yang paling ikhlas dan paling benar”. Dan berkata “Sesungguhnya amalan jika ikhlas tapi tidak benar tidak akan diterima, dan jika benar tapi tidak ikhlas juga tidak akan diterima, sampai amalan tersebut ikhlas dan benar. Yang ikhlas adalah yang hanya untuk Allah, dan yang benar adalah yang sesuai sunnah.”
- Niat yang tulus adalah perwujudan syahadat La ilaha illallah, dan sunnah Nabi yang menjadi landasan amalan adalah perwujudan syahadat Muhammad Rasulullah.
- Hadits ini hanya membahas tentang pentingnya niat, dan tidak bermaksud bahwa niat saja cukup tanpa amalan. Hal ini didukung oleh lafaz hadits dan sebab wurudnya (latar belakang munculnya hadits).
- Di antara metode pengajaran: menyebutkan kaidah kemudian memberikan contoh yang menjelaskannya. Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kaidah “Sesungguh-nya amalan tergantung pada niatnya” kemudian memberikan contoh yaitu “hijrah”.
- Ibnu Mubarak berkata: “Terkadang amalan besar menjadi kecil karena niat.” Hal ini terlihat dalam hadits dimana seseorang yang berhijrah telah melakukan salah satu amalan terbaik yaitu hijrah, namun amalannya menjadi kecil dan hilang pahalanya karena niat yang rusak.
- Penghalang terbesar dalam agama dan dunia adalah syahwat, oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkannya secara khusus dengan mengatakan “atau untuk menikahi seorang wanita” meskipun hal ini sudah termasuk dalam “untuk mendapatkan dunia”. Ini menunjukkan pentingnya berhati-hati terhadap hal tersebut secara khusus.
- Bisikan-bisikan, pikiran-pikiran, dan hal-hal yang mengganggu niat tidak akan mempengaruhinya selama tidak mengubah dasar niatnya. Niat yang rusak adalah niat yang dari awal dasarnya, munculnya, dan permulaannya bukan karena Allah, atau pelakunya mengubah niatnya setelah sebelumnya baik dan mengalihkannya dari asalnya. Oleh karena itu, disebutkan tentang niat yang rusak dan batil “barangsiapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia” dimana dasar niatnya adalah keinginan duniawi. Barangsiapa yang memahami prinsip ini akan selamat dari keraguan bisikan-bisikan dan pikiran-pikiran nafsu dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.
- Hadits ini menunjukkan bahwa mengikhlaskan niat kepada Allah dan menginginkan amalan hanya untuk Allah adalah hal yang mudah dicapai dengan izin Allah. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan hadits ini kepada orang Arab Badui di padang pasirnya, kepada orang awam dan orang yang tidak berilmu, dan tidak mengkhususkannya untuk sekelompok orang tertentu saja.
Namun yang sulit adalah membersihkan niat dari kotoran-kotoran, menyempurnakannya, menguatkannya, dan membuatnya tulus. Inilah tempat perbedaan tingkatan manusia dalam hal ini. Barangsiapa yang memahaminya, akan mudah baginya untuk mewujudkan dasar niat dan berusaha menyempurnakannya. Tidak seperti yang diyakini sebagian orang bahwa mewujudkan niat adalah hal yang sangat sulit dan hanya sedikit orang yang mampu melakukannya.
HADITS KEDUA
Dari Umar radhiallahu ‘anhu juga, ia berkata: Suatu hari ketika kami sedang duduk di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba muncul kepada kami seorang laki-laki yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tidak terlihat padanya bekas perjalanan, dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Hingga dia duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyandarkan lututnya kepada lutut beliau dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas pahanya.
Dia berkata: “Wahai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan menunaikan haji ke Baitullah jika engkau mampu mengadakan perjalanan kepadanya.” Orang itu berkata: “Engkau benar.” Maka kami heran kepadanya, dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkannya.
Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman?” Beliau menjawab: “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.” Dia berkata: “Engkau benar.”
Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Ihsan?” Beliau menjawab: “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” Dia berkata: “Engkau benar.”
Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Hari Kiamat?” Beliau menjawab: “Yang ditanya tentangnya tidak lebih mengetahui daripada yang bertanya.”
Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya?” Beliau menjawab: “Apabila seorang budak wanita melahirkan tuannya, dan engkau melihat orang-orang yang bertelanjang kaki, tidak berpakaian, miskin, dan penggembala domba berlomba-lomba dalam mendirikan bangunan.”
Kemudian orang itu pergi. Aku (Umar) terdiam beberapa saat, kemudian Nabi bertanya: “Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya tadi?” Aku menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya dia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.”
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Pentingnya hadits ini terletak pada penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang tingkatan-tingkatan agama, sebagaimana di akhir hadits beliau bersabda “Jibril datang kepada kalian untuk mengajarkan urusan agama kalian.”
- Di antara metode pengajaran adalah metode tanya jawab.
- Adab mencari ilmu harus didahulukan sebelum mencari ilmu itu sendiri, oleh karena itu Jibril beradab dalam cara duduknya sebelum bertanya.
- Menunjukkan adab seorang murid di hadapan gurunya, dan ini berperan dalam sejauh mana ia dapat mengambil manfaat dari gurunya.
- Berpakaian putih dan merawat rambut bukanlah termasuk kesombongan.
- Bertanya adalah kunci ilmu. Barangsiapa yang malu atau sombong untuk bertanya, dia tidak akan mendapatkan ilmu.
- Pentingnya menghadiri dan bersemangat dalam mengikuti majelis dzikir karena di dalamnya terdapat manfaat yang mungkin tidak didapatkan di tempat lain.
- Kewaspadaan dan perhatian dalam majelis ilmu membantu dalam menghafal dan menyebarkannya, oleh karena itu pertanyaan-pertanyaan beserta jawabannya dapat terhafal.
- Jika pertanyaannya bersifat umum, maka lebih baik jawaban dibatasi pada hal-hal yang paling penting. Pertanyaan tentang Islam dan karakteristiknya adalah pertanyaan umum yang mencakup semua amalan anggota badan, namun jawabannya dibatasi pada hal terpenting yaitu rukun-rukunnya.
- Ketika Islam dan Iman disebutkan dalam satu nash, maka Islam ditafsirkan sebagai amalan-amalan lahiriah, sedangkan Iman ditafsirkan sebagai amalan-amalan batiniah, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits ini.
- Agama tidak berada pada satu tingkatan saja, melainkan bertingkat-tingkat, yaitu Islam, kemudian Iman, kemudian Ihsan.
- Menanamkan semangat berkompetisi dan mendorong cita-cita tinggi ketika Nabi menyebutkan bahwa Ihsan memiliki dua tingkatan, salah satunya lebih sempurna dari yang lain.
- Ketika hati telah mencapai Iman, anggota tubuh akan tunduk pada amalan-amalan Islam. Oleh karena itu, para ulama ahli tahqiq mengatakan: “Setiap mukmin adalah muslim.” Mukmin yang dimaksud adalah orang yang telah mewujudkan iman batinnya, maka anggota tubuhnya akan tunduk untuk beramal.
- Muraqabatullah (merasa diawasi Allah) dalam ibadah adalah tingkatan Ihsan tertinggi, yaitu seseorang beribadah kepada Tuhannya seakan-akan dia melihat-Nya. Ini menghasilkan rasa takut, kejujuran, dan keikhlasan yang sangat besar.
- Jika tingkatan sebelumnya tidak tercapai, maka hendaknya seseorang menyadari bahwa Allah melihatnya dan melihat amalannya, yaitu dia beribadah kepada Tuhannya yang melihatnya.
- Rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala terwujud dalam beragamnya petunjuk-Nya kepada manusia, terkadang:
- Wahyu langsung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
- Terkadang mengutus Jibril ‘alaihissalam
- Terkadang dalam bentuk orang Arab Badui
- Terkadang dalam bentuk Dihyah Al-Kalbi radhiallahu ‘anhu, dan seterusnya.
- Dalil-dalil kewajiban shalat selalu menggunakan kata “tuqim” (mendirikan) dan bukan kata “tu’addi” (menunaikan) misalnya. Ini adalah hal yang disengaja karena tujuan dari shalat adalah menjadi shalat yang tidak ada kebengkokan di dalamnya, berdiri dengan semua rukun, kewajiban, dan sunnahnya hingga memberikan buahnya.
- Ucapan seseorang “Saya tidak tahu” tidak mengurangi kedudukannya.
- Jika seseorang ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahuinya, hendaknya dia tegas mengatakan “Saya tidak tahu” meskipun dalam majelis besar sebagaimana yang terjadi pada Umar radhiallahu ‘anhu. Dia tidak sendirian karena di awal hadits disebutkan “Ketika kami sedang duduk di sisi Nabi”, namun hal ini tidak menghalanginya untuk mengatakan “Saya tidak tahu”.
- Ahlus Sunnah wal Jama’ah memberikan kecintaan khusus kepada Jibril ‘alaihissalam di antara para malaikat mulia karena:
- Dia menyampaikan wahyu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam secara langsung “Ar-Ruhul Amin (Jibril) telah menurunkannya” (Asy-Syu’ara: 193).
- Pujian Allah kepadanya “Sesungguhnya ini adalah perkataan utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya”.
- Sikapnya bersama orang-orang beriman dalam peperangan melawan orang-orang kafir.
- Semangatnya dalam mengajarkan agama kepada kaum muslimin “Jibril datang kepada kalian untuk mengajarkan urusan agama kalian”.
- Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meskipun memiliki kedudukan yang agung, namun Allah tidak memberitahukan kepadanya apa yang Dia kehendaki dari perkara ghaib dan menyembunyikan darinya hal-hal yang dikhususkan bagi-Nya seperti pengetahuan tentang Hari Kiamat “Yang ditanya tentangnya tidak lebih mengetahui daripada yang bertanya”. Maka barangsiapa yang mengklaim bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahui perkara ghaib, apalagi bisa melakukan hal yang hanya Allah yang mampu melakukannya, sungguh dia telah berdusta dan mengada-ada.
HADITS KETIGA
Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Al-Khattab radhiallahu ‘anhuma, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan puasa Ramadhan.” [HR. Bukhari: 8, Muslim: 16]
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Pentingnya lima rukun ini dimana agama Islam dibangun di atasnya.
- Bahayanya bagi orang yang meremehkannya.
- Amalan-amalan Islam berbeda dari segi kepentingan syar’inya. Sebagiannya merupakan rukun bangunan yaitu yang lima ini, dan sebagiannya merupakan hal yang disukai (mustahab) yang menyempurnakan bangunan.
- Dua syahadat saling terkait satu sama lain, salah satunya tidak cukup tanpa yang lain sehingga keduanya menjadi satu rukun.
- Islam adalah agama yang sempurna, tidak menerima penambahan atau pengurangan, karena sabdanya “Islam dibangun”, maka bangunan itu telah sempurna.
- Amanah dan ketelitian para sahabat dalam meriwayatkan hadits. Dalam sebuah riwayat, seseorang berkata “Ramadhan dan haji”, maka Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu berkata “Haji ke Baitullah dan puasa Ramadhan, begitulah yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Jika mereka tidak mendahulukan satu kalimat sebelum yang lain padahal maknanya tidak berubah, bagaimana bisa dibayangkan mereka akan mengubah agama Allah dan menyembunyikannya?!
- Kemuliaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dimana beliau menggabungkan antara kedudukan sebagai hamba dan rasul (“hamba-Nya dan rasul-Nya”).
HADITS KEEMPAT
Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam – yang jujur dan terpercaya – menceritakan kepada kami: “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah (sperma), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama itu juga, lalu menjadi mudhghah (segumpal daging) selama itu juga. Kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara: rezekinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain-Nya, sesungguhnya ada seseorang di antara kalian yang mengerjakan amalan penghuni surga hingga jarak antara dia dan surga hanya sehasta, lalu takdir mendahuluinya sehingga ia mengerjakan amalan penghuni neraka dan ia pun memasukinya. Dan sesungguhnya ada seseorang yang mengerjakan amalan penghuni neraka hingga jarak antara dia dan neraka hanya sehasta, lalu takdir mendahuluinya sehingga ia mengerjakan amalan penghuni surga dan ia pun memasukinya.” [Diriwayatkan oleh Bukhari: 3208 dan Muslim: 2643]
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di hati para sahabatnya, di mana mereka memujinya dengan ungkapan pujian yang menunjukkan kecintaan “Yang jujur dan terpercaya”.
- Pemahaman Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu karena dia menggunakan kalimat yang sesuai dengan hadits tersebut yaitu “Yang jujur dan terpercaya”, karena isi hadits ini bersifat ghaib yang tidak dapat dilihat dan hanya dapat diketahui melalui wahyu.
- Keagungan dan kekuasaan Allah, dari setetes sperma diciptakan segumpal darah, kemudian segumpal daging, hingga menjadi manusia yang sempurna.
- Kasih sayang dan perlindungan Allah, di mana Dia menjaga sperma tersebut hingga menjadi segumpal darah, kemudian menjaganya dari segala yang dapat merusaknya hingga menjadi segumpal daging, lalu menjaganya dan memeliharanya hingga menjadi makhluk yang lain.
- Hadits ini merupakan obat untuk kesombongan, karena manusia yang menyombongkan diri terhadap perintah Tuhannya, awalnya hanyalah setetes sperma, dan tanpa Allah dia tidak akan menjadi segumpal darah, segumpal daging, atau daging. Maka bagaimana bisa dia sombong setelah itu?
- Dorongan agar hamba bersyukur kepada Tuhannya atas nikmat-nikmat-Nya yang tidak terhitung dan tidak terbatas. Siapa yang merenungkan nikmat-nikmat ini, itu akan menuntunnya untuk bersyukur kepada Tuhannya.
- Manusia dididik untuk merenung tentang dirinya sendiri, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 21)
- Berserah diri pada perkara-perkara ghaib yang telah ditetapkan dalam nash, sehingga kita beriman bahwa malaikat meniupkan ruh dan menulis kalimat-kalimat tersebut.
- Keagungan ilmu Allah yang memerintahkan malaikat untuk menulis empat kalimat, meskipun makhluk ini belum keluar dari perut ibunya. Maha Suci Allah yang mengetahui kapan dia akan keluar, apa yang akan dia kerjakan, berapa lama dia akan hidup, dan bagaimana akhir hidupnya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
- Memberikan ketenangan dan ketenteraman dalam masalah rezeki karena telah ditulis dan ditetapkan, sehingga seorang mukmin tidak bersedih atas hilangnya rezeki karena hal itu terjadi karena Allah tidak menuliskannya untuknya.
- Menumbuhkan keberanian dalam diri seorang Muslim karena ajal sudah ditentukan, tidak akan maju atau mundur satu saat pun, sebagaimana Ali radhiallahu ‘anhu berkata dalam syairnya yang bermakna: “Hari mana dari kematian yang aku lari, hari yang tidak ditakdirkan atau hari yang ditakdirkan? Hari yang tidak ditakdirkan aku tidak takut padanya, dan dari yang ditakdirkan tidak ada yang selamat.”
- Dorongan untuk berbakti kepada orang tua, khususnya ibu, karena semua proses yang disebutkan dalam hadits ini – dari nutfah, ‘alaqah, mudhghah, hingga pengiriman malaikat dan penulisannya – semuanya terjadi dalam rahim ibu “dikumpulkan dalam perut ibunya”.
- Ketaatan para malaikat kepada Tuhan mereka “maka diutuslah malaikat”.
- Menunjukkan bahwa yang terpenting adalah akhir kehidupan, maka jangan tertipu dengan amalan lahiriah sampai melihat bagaimana akhir hidupnya.
- Beriman kepada qadha dan qadar.
- Takut akan buruknya akhir kehidupan. Ibnu Rajab rahimahullah berkata: “Sebagian salaf berkata: ‘Tidak ada yang membuat mata menangis seperti ketetapan yang telah ditetapkan.’ Sufyan berkata kepada sebagian orang saleh: ‘Apakah ilmu Allah tentangmu pernah membuatmu menangis?’ Orang itu menjawab: ‘Itu membuatku tidak pernah bisa bergembira.’ Sufyan sangat gelisah tentang takdir awal dan akhir, dia menangis dan berkata: ‘Aku takut tertulis sebagai orang yang celaka dalam Ummul Kitab.’ Dia menangis dan berkata: ‘Aku takut keimananku dicabut saat kematian.’ Malik bin Dinar berdiri sepanjang malam memegang jenggotnya dan berkata: ‘Ya Rabb, Engkau telah mengetahui penghuni surga dan penghuni neraka, maka di manakah tempat Malik di antara kedua tempat itu?'”
- Hadits ini mendidik jiwa untuk takut terhadap nifaq (kemunafikan) baik yang kecil maupun yang besar, dan juga terhadap kekufuran.
- Menanamkan introspeksi diri dan perhatian terhadap urusan batin karena takut terjangkit maksiat tersembunyi yang mengarah pada akhir hidup yang buruk. Ibnu Rajab (rahimahullah) berkata: “Keburukan-keburukan tersembunyi bisa menyebabkan akhir hidup yang buruk.”
- Menunjukkan bahwa seseorang memiliki kehendak, kemauan dan pilihan karena amal disandarkan kepadanya dengan ungkapan “sesungguhnya seseorang di antara kalian beramal”, dan kehendak serta pilihan ini tidak keluar dari kehendak Allah yang meliputi segala sesuatu.
- Wajib memohon kepada Allah akan keteguhan dan agar hati tidak menyimpang dari petunjuk, sebagaimana keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang sering berdoa: “Ya Allah, Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami dalam ketaatan kepada-Mu.”
- Semangat dalam mengerjakan amalan ahli kebahagiaan dan istiqamah di atasnya, serta bersabar dan berjuang hingga meninggal dalam keadaan tersebut, karena setiap manusia dimudahkan untuk apa yang diciptakan untuknya.
- Hukum-hukum dunia bergantung pada amalan lahiriah tanpa melihat niat, maka siapa yang secara lahiriah menampakkan Islam dihukumi sebagai muslim, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “Sesungguhnya seseorang di antara kalian beramal dengan amalan ahli surga” dan “Sesungguhnya seseorang di antara kalian beramal dengan amalan ahli neraka.”
- Hikmah Allah dan berlakunya perintah-Nya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “hingga jarak antara dia dengannya hanya sehasta, lalu takdir mendahuluinya maka ia memasukinya.”
HADITS KELIMA
Dari Ummul Mukminin, Ummu Abdullah ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.” [Diriwayatkan oleh Bukhari: 2697 dan Muslim: 1718]
Dalam riwayat Muslim: “Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada perintah kami padanya, maka ia tertolak.”
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Kesempurnaan syariat sehingga tidak membutuhkan tambahan.
- Setiap amalan yang tidak sesuai dengan perintah syariat adalah tertolak.
- Seluruh urusan kehidupan harus berada di bawah hukum syariat, baik ibadah maupun muamalah, karena sabdanya “setiap urusan”.
- Siapa yang melakukan ibadah yang tidak diperintahkan oleh syariat, maka dia telah mengada-adakan dalam agama sesuatu yang bukan darinya.
- Hadits ini merupakan dasar dalam menolak semua bid’ah karena sabdanya “maka ia tertolak”.
- Bid’ah tidak memiliki dalil karena sabdanya “yang tidak ada perintah kami padanya”.
- Seorang mukmin tidak mengada-ada tetapi mengikuti (ittiba’).
- Bid’ah adalah mengada-adakan dalam agama sesuatu yang bukan darinya, berdasarkan awal hadits.
- Hadits ini merupakan dasar dalam mencari dalil dan mengikutinya setelah terbukti kebenarannya.
- Dalam urusan ibadah, akal tidak bisa menjadi hakim, tetapi harus ada dalil, dan inilah yang dimaksud dengan sabdanya “perintah kami”.
- Di dalamnya terdapat dorongan implisit untuk menuntut ilmu agar mengetahui perintah Allah dan dalilnya.
- Menunjukkan bahwa sumber semua bid’ah adalah kebodohan terhadap dalil-dalil.
HADITS KEENAM
Dari Abu Abdullah An-Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara-perkara yang syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Maka barangsiapa menjaga diri dari perkara syubhat, ia telah memelihara agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa terjatuh dalam perkara syubhat, ia telah terjatuh dalam perkara haram, seperti penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar daerah terlarang, hampir-hampir ia terjerumus ke dalamnya. Ketahuilah, setiap raja memiliki daerah terlarang. Ketahuilah, daerah terlarang Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya. Ketahuilah, dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.” [Diriwayatkan oleh Bukhari: 52 dan Muslim: 1599]
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Urusan-urusan syariat dan apa yang dihalalkan dan diharamkannya adalah jelas. Syariat Islam bukanlah agama yang samar yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang tertentu saja. Tidak, ia diturunkan dalam bahasa Arab yang jelas, dan ini secara garis besar bukan secara rinci.
- Halal yang murni itu jelas bagi siapa yang menginginkannya akan mengetahuinya.
- Haram yang murni itu jelas, tidak ada yang tidak mengetahuinya.
- Ada perkara-perkara yang syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia, maka harus berhati-hati.
- Di dalamnya terdapat keutamaan ilmu, di mana bagi orang yang berilmu semua perkara menjadi jelas baginya (halal, haram, dan syubhat).
- Manusia berbeda-beda dalam hal ilmu, bisa jadi suatu perkara mengandung syubhat bagi seseorang tapi jelas bagi yang lain.
- Siapa yang meninggalkan perkara syubhat, maka ia telah memelihara agamanya dari celaan dan kehormatannya dari pembicaraan orang.
- Dorongan agar manusia menjauhi tempat-tempat yang mencurigakan agar tidak membuka peluang bagi kehormatannya untuk dicela.
- Terjaganya agama dari cacat dan kehormatan dari pembicaraan adalah tujuan yang dimaksud dalam syariat, karena sabdanya “maka ia telah memelihara agama dan kehormatannya.”
- Hal-hal yang makruh dan terus-menerus melakukannya mengarah kepada yang haram, karena sabdanya “barangsiapa terjatuh dalam perkara syubhat, ia telah terjatuh dalam perkara haram.”
- Di antara metode pengajaran: memberikan perumpamaan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “seperti penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar daerah terlarang, hampir-hampir ia terjerumus ke dalamnya.”
- Syariat menjelaskan semua urusan kehidupan – halal, haram, dan syubhat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak wafat kecuali telah menjelaskan segala sesuatu.
- Batasan-batasan larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya atas manusia.
- Hadits ini menunjukkan bahwa lingkup halal lebih luas daripada lingkup haram dalam syariat Islam. Yang diharamkan hanya daerah terlarang, sedangkan selainnya halal.
- Kekuatan dan keagungan Allah, oleh karena itu Dia menetapkan daerah terlarang bagi diri-Nya. Daerah terlarang para raja sesuai dengan kekuatan mereka, dan Allah adalah Raja dari segala raja.
- Dengan baiknya hati, baiklah tubuh sehingga mengerjakan kebaikan dan berlomba dalam kebajikan. Ibnu Rajab berkata: “Baiknya gerakan hamba dengan anggota tubuhnya, menghindari yang haram dan menjaga diri dari syubhat.”
- Dengan rusaknya hati, rusaklah tubuh sehingga mengerjakan kemungkaran dan keburukan.
- Menunjukkan pentingnya hati dan bahwa ia adalah raja sedangkan anggota tubuh adalah tentara.
- Di dalamnya terdapat dorongan untuk mengawasi hati, memperbaikinya dan merawatnya, karena ia adalah organ terpenting dalam diri manusia.
- Menunjukkan bahwa hati bisa menjadi baik dan bisa menjadi rusak.
- Di dalamnya terdapat permakluman bagi orang berilmu yang keliru dalam masalah syubhat, karena sabdanya “dan di antara keduanya ada perkara-perkara syubhat yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia.” Maka siapa yang keliru dimaklumi karena perkaranya memang pada dasarnya syubhat.
- Menjaga diri dari syubhat berasal dari baiknya hati, oleh karena itu hati disebutkan dalam hadits.
- Terjatuh dalam syubhat kemudian dalam hal-hal yang haram berasal dari rusaknya hati.
- Menjaga kesucian agama lebih penting daripada menjaga kehormatan, oleh karena itu disebutkan lebih dahulu dalam hadits “maka ia telah memelihara agama dan kehormatannya.”
- Memakan yang halal murni dan bersemangat dalam hal itu memiliki pengaruh terhadap iman dan hati. Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya tentang apa yang dapat melunakkan hati, beliau menjawab: “Memakan yang halal.” Siapa yang merenungkan hadits ini akan mendapati di awalnya tentang halal dan haram dan di akhirnya tentang baik dan rusaknya hati.
- Hadits ini merupakan dasar dalam menutup jalan menuju keburukan (sadd adz-dzara’i), dan bahwa sebaiknya seseorang meninggalkan apa yang tidak mengapa untuk menghindari apa yang bermasalah.
- Hadits ini menegakkan bagi seorang mukmin pintu wara’ (kehati-hatian dalam agama), yaitu meninggalkan apa yang mungkin membahayakan di akhirat.
HADITS KETUJUH
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Dari radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Agama itu nasihat.” Kami bertanya: “Untuk siapa?” Beliau menjawab: “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin pada umumnya.” [Diriwayatkan oleh Muslim: 55]
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Redaksi hadits menunjukkan pentingnya hadits ini.
- Menyebarkan persaudaraan dalam masyarakat Islam yang dibangun atas dasar saling menasihati dan tidak saling menipu.
- Hadits ini menjelaskan bahwa nasihat dalam agama bersifat umum dan tidak terbatas pada penjelasan aib saja.
- Hadits ini mencakup semua hubungan yang melingkupi seseorang:
- Pertama: Dengan Tuhannya: mencakup hubungannya dengan Allah dan Rasul-Nya.
- Kedua: Dengan makhluk: mencakup hubungannya dengan para pemimpin dan kaum muslimin umum.
- Nasihat dalam pengertian syariat harus mencakup seluruh urusan kehidupan, baik ibadah maupun kebiasaan “untuk Allah, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin pada umumnya.”
- Mewajibkan kejujuran dalam interaksi seorang muslim dengan Tuhannya, dan kejujuran dalam interaksinya dengan makhluk.
- Mendidik muslim untuk memberikan setiap pemilik hak akan haknya tanpa melebihkan satu sisi atas yang lain – hak Allah, hak Rasul-Nya, hak para pemimpin, dan hak saudara-saudara muslimnya.
- Menghilangkan penipuan dalam semua bentuk dan detailnya, karena ini adalah konsekuensi dari nasihat.
- Menumbuhkan muraqabah (pengawasan diri) yang merupakan salah satu amalan hati yang paling mulia, di mana seseorang menjadi pemberi nasihat dalam keadaan tersembunyinya karena dia mengawasi Allah, karenanya dia tidak akan menipu meskipun tidak ada pengawas manusia.
- Hadits ini dalam redaksinya mengurutkan prioritas dimana dimulai dengan yang lebih penting kemudian yang penting “untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin pada umumnya.”
- Menunjukkan bahwa masyarakat Islam adalah masyarakat yang mempunyai urusan yang jelas, baik dalam hal interaksi, hubungan, maupun semua urusannya.
- Di antara bentuk nasihat terbesar bagi umat Islam adalah memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, karena membiarkan kemungkaran adalah bentuk penipuan yang bertentangan dengan nasihat yang diperintahkan dalam hadits.
HADITS KEDELAPAN
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka melakukan itu, maka darah dan harta mereka terlindungi dariku kecuali dengan hak Islam, dan perhitungan mereka ada pada Allah Ta’ala.” [Diriwayatkan oleh Bukhari: 25, dan Muslim: 22]
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Tugas para dai adalah menyampaikan dari Allah sebagaimana keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “Aku diperintahkan”, beliau diperintah oleh Tuhannya, bukan dari dirinya sendiri.
- Ketaatan kepada Allah Subhanahu, di mana Allah memerintahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau menaati perintah tersebut.
- Jihad disyariatkan untuk menegakkan agama Allah di bumi dan agar Allah disembah dan ditauhidkan, bukan sekadar untuk balas dendam atau untuk mencari keunggulan dan kekuasaan di bumi, tetapi “hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
- Karena tujuan jihad adalah agar manusia masuk Islam, maka sebelum jihad didahului dengan dakwah kepada Allah Subhanahu. Begitulah perjalanan hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para khalifah setelahnya. Mereka mengajak manusia (kepada Islam), jika menolak maka (ditawarkan) membayar jizyah, jika masih menolak barulah perang.
- Jihad tidak akan berhenti kecuali jika semua manusia masuk ke dalam agama Allah. Oleh karena itu, jihad yang syar’i akan terus berlangsung hingga hari kiamat karena orang-orang kafir akan tetap ada di bumi.
- Hadits ini menunjukkan bahwa hukum terhadap manusia di dunia didasarkan pada apa yang tampak tanpa melihat niat mereka. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menggantungkan perlindungan darah dan harta pada pengucapan syahadat, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, yang semuanya adalah perbuatan yang tampak, dan beliau tidak menyinggung tentang niat sama sekali.
- Pada dasarnya, jika seseorang mengucapkan dua kalimat syahadat, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat, maka ia adalah seorang muslim yang darah dan hartanya terlindungi kecuali dengan hak Islam.
- Islam memiliki ciri yang jelas dan tujuan yang spesifik. Siapa pun yang masuk Islam, mengucapkan dua kalimat syahadat, dan melaksanakan kewajibannya, maka ia menjadi seorang muslim. Islam bukanlah agama yang kabur dan tidak jelas tujuannya, bahkan orang awam yang kafir yang mengaku Muslim pun mengetahui batasan-batasan Islam secara umum.
- Jiwa dan harta adalah di antara hal-hal penting (dharuriyyat) yang Islam datang untuk melindunginya.
- Niat manusia kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang akan membalas mereka atasnya, sebagaimana Allah berfirman: “Pada hari dinampakkan segala rahasia” (Surah Ath-Thariq: 9), dan Nabi bersabda dalam hadits: “dan perhitungan mereka ada pada Allah”. Allah lebih mengetahui kejujuran orang yang jujur dan kemunafikan orang munafik, dan setiap orang akan dibalas sesuai niatnya di akhirat.
- Hadits ini memiliki kepentingan khusus pada masa fitnah. Jika kesulitan menyelimuti dan ujian mendekat, maka berpeganglah pada hadits ini karena di dalamnya terdapat keselamatan dengan izin Allah. Barangsiapa yang menampakkan keislamannya, maka diterimalah darinya, dan niatnya dikembalikan kepada Allah, serta perhitungannya ada pada Tuhannya.
- Merupakan dalil bagi madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwa perbuatan termasuk bagian dari iman, karena perlindungan (darah dan harta) bergantung pada pengucapan syahadat, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, yang semuanya merupakan amalan anggota badan.
- Besarnya (dosa) menyerang jiwa dan harta. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memiliki hak untuk menyerang jiwa dan harta selama pemiliknya telah melindungi dirinya, oleh karena itu beliau berkata: “mereka terlindungi dariku”, artinya aku tidak dapat menyerang mereka. Siapa pun yang menyerang setelah itu, sungguh ia telah menzalimi dirinya sendiri.
- Hadits ini menetapkan batasan untuk jihad ofensif ketika umat Islam memiliki kemampuan, yaitu dakwah kepada Allah.
- Merupakan bukti bahwa Islam tidak berusaha untuk mengejar kekuasaan, kepemilikan, dominasi, dan kesombongan. Seluruh bumi adalah milik Allah Subhanahu. Sebaliknya, Islam berusaha untuk tujuan yang agung dan mulia, yaitu masuknya manusia ke dalam agama Allah, ibadah mereka kepada-Nya, serta kerendahan dan ketundukan mereka kepada keagungan-Nya.
Semua ini berbeda dengan apa yang menjadi dasar masyarakat kafir di zaman kita ini, yang berperang untuk dominasi, kekuasaan, kekayaan, dan keduniawian. Hal ini menumbuhkan kebanggaan dan kemuliaan bagi umat Islam terhadap agama mereka.
HADITS KESEMBILAN
Dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Shakhr radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apa yang aku larang bagi kalian, maka jauhilah. Dan apa yang aku perintahkan kepada kalian, maka lakukanlah semampu kalian. Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah banyaknya pertanyaan mereka dan perselisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka.” [Diriwayatkan oleh Bukhari: 7288, dan Muslim: 1337]
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Syariat menjaga individu-individunya, karena Allah tidak melarang kecuali apa yang di dalamnya terdapat bahaya. Oleh karena itu, Allah memerintahkan untuk menjauhi semua larangan tanpa pengecualian.
- Kemudahan dan toleransi syariat, di mana dalam hal yang diperintahkan, Allah memerintahkan agar manusia melakukan apa yang mampu ia lakukan, bukan yang tidak mampu ia lakukan.
- Seorang muslim harus taat dengan meninggalkan larangan-larangan dan melakukan apa yang ia mampu dari perintah-perintah tanpa keras kepala, perdebatan, atau permusuhan dalam syariat.
- Ini menunjukkan bahwa lingkup larangan dalam syariat Islam lebih sedikit, oleh karena itu kita diperintahkan untuk menjauhi semuanya. Sedangkan perintah-perintah, karena banyaknya, manusia tidak mampu melaksanakan semuanya, maka ia melakukan apa yang ia mampu.
- Hadits ini menumbuhkan kecintaan kepada Allah, kecintaan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, dan kecintaan kepada agama-Nya, karena Allah tidak membebani kita di atas kemampuan kita dan tidak memerintahkan kita apa yang tidak kita mampu: “maka lakukanlah semampu kalian.”
- Hadits ini mendidik muslim untuk beramal dan meninggalkan perdebatan. Seorang muslim melakukan apa yang ia mampu dari perintah-perintah dan meninggalkan larangan-larangan, serta menghindari keras kepala dan banyak pertanyaan yang tidak bermanfaat.
- Perdebatan dalam agama Allah, banyaknya pertanyaan yang keras kepala, dan meninggalkan amal akan mengakibatkan kehancuran. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa penyebab kehancuran umat-umat terdahulu adalah banyaknya pertanyaan mereka dan perselisihan mereka dengan para nabi melalui perdebatan dan permusuhan.
- Kasih sayang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap umatnya dan kekhawatirannya terhadap mereka. Oleh karena itu, beliau sering menyebutkan sebab kehancuran umat-umat sebelum mereka untuk memperingatkan mereka, semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepadanya. Allah telah menyifatinya dengan firman-Nya: “Dia sangat penyayang dan penyantun terhadap orang-orang yang beriman” (Surah At-Taubah: 128).
- Di dalamnya terdapat penjelasan tentang kemuliaan umat ini atas umat-umat sebelumnya, karena umat ini berserah diri kepada perintah-perintah Allah, tidak bermusuhan dengan nabinya, dan tidak berselisih terhadapnya, berbeda dengan umat-umat sebelumnya sebagaimana dijelaskan dalam hadits.
- Larangan banyak bertanya yang tidak menghasilkan amal, tetapi hanya dijadikan alasan oleh pelakunya untuk bermalas-malasan dan kemalasan.
- Di dalamnya terdapat celaan terhadap perselisihan, khususnya dalam agama, karena sabdanya: “Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian… perselisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka.”
- Di dalamnya terdapat isyarat bahwa larangan-larangan tidak hanya ditinggalkan, tetapi seorang muslim diperintahkan untuk menjauhinya dan menjauhi sebab-sebab yang mengarah kepadanya sebelum itu agar tidak terjatuh ke dalamnya. Ini dapat dipahami dari kata “jauhilah”, karena artinya menjauh, berbeda dengan kata “tinggalkan” yang berarti melepaskan. Hal ini dikuatkan oleh firman Allah: “Dan janganlah kamu mendekati zina” (Surah Al-Isra’: 32), di mana Allah melarang mendekati zina, dan ini memerlukan menjauhi segala sesuatu yang mengarah kepadanya.
- Pada dasarnya, semua yang dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam harus ditinggalkan, baik itu larangan yang bersifat tanzih (mencegah dari yang tidak baik) dan makruh (dibenci), atau larangan yang bersifat tahrim (pengharaman).
- Pada dasarnya, semua perintah harus dilakukan semampu kita, baik itu perintah yang bersifat anjuran atau kewajiban.
- Hadits ini menumbuhkan dalam jiwa pengagungan terhadap larangan-larangan Allah, karena Allah melarang semua hal yang dilarang dan tidak meninggalkan satu pun dari itu. Jika larangan-larangan itu tidak agung, maka Allah tidak akan melarang dengan larangan yang tidak mengecualikan apa pun.
HADITS KESEPULUH
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan kepada orang-orang mukmin dengan apa yang diperintahkan juga kepada para rasul. Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh’ (QS. Al-Mu’minun: 51). Dan Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah’ (QS. Al-Baqarah: 172). Kemudian beliau menyebutkan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu, menengadahkan kedua tangannya ke langit (seraya berdoa): ‘Ya Rabb, Ya Rabb,’ sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” [Diriwayatkan oleh Muslim: 1015]
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Menetapkan sifat kesempurnaan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
- Di antara sifat Allah adalah bahwa Dia Maha Baik (Thayyib), dan artinya adalah “Suci, Maha Suci, terbebas dari segala kekurangan dan cacat.”
- Wajib memperhatikan perkataan dan perbuatan serta menghilangkan segala sesuatu yang mengotori dan mencacatkannya agar menjadi baik dan diterima oleh Allah.
- Allah tidak menerima amal kecuali yang bersih dan sempurna.
- Mendidik seorang muslim agar menjadi baik dalam hati, lisan, dan tubuhnya.
- Memakan yang halal dan mengerjakan amal saleh adalah perintah Allah kepada semua manusia, baik para nabi maupun selain mereka.
- Memakan yang halal membantu dalam mengerjakan amal saleh, oleh karena itu Allah menggabungkan keduanya.
- Memakan yang halal membantu dalam pengabulan doa, sebagaimana dipahami dari hadits ini.
- Memakan yang haram menghalangi pengabulan doa, sebagaimana tersebut dalam hadits: “maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?”
- Perjalanan dan kesulitannya adalah sebab pengabulan doa, berdasarkan zhahir hadits ini.
- Ketulusan dalam bermunajat, memohon dengan sungguh-sungguh, dan menunjukkan kebutuhan kepada Allah Subhanahu memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap terkabulnya doa. Ketika seorang musafir yang telah menempuh perjalanan jauh dan keadaannya kusut berdoa dengan sungguh-sungguh dan memohon dengan sangat, hal ini mempengaruhi terkabulnya doa.
- Mengangkat tangan adalah salah satu sunnah dalam berdoa, berdasarkan perkataan beliau “menengadahkan kedua tangannya ke langit,” dan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendukung hal ini.
- Di dalamnya terdapat penetapan sifat ‘Uluw (ketinggian) bagi Allah Subhanahu, berdasarkan perkataan beliau “menengadahkan kedua tangannya ke langit.”
- Di antara sunnah dalam berdoa adalah mengulang kata-kata seruan seperti “Ya Allah, Ya Allah,” “Ya Rabb, Ya Rabb,” “Ya Allah, Ya Allah,” kemudian meminta kebutuhannya, dan ini adalah salah satu bentuk kegigihan dalam memohon.
- Memakan yang haram menyebabkan terus-menerus berada di dalamnya. Siapa yang memakan yang haram dan terus melakukannya, maka setelah itu pakaiannya akan haram, minumannya akan haram, dan dia akan diberi makan dengan makanan yang haram.
- Syukur atas nikmat-nikmat dapat dilakukan dengan mengerjakan amal saleh. Allah berfirman kepada orang-orang mukmin: “dan bersyukurlah kepada Allah” (QS. Al-Baqarah: 172), dan Allah menjelaskan bentuk syukur untuk para rasul, Allah berfirman: “dan kerjakanlah amal yang saleh” (QS. Al-Mu’minun: 51), dan Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin apa yang diperintahkan kepada para rasul.
- Dalam hadits disebutkan empat hal terkait doa:
- Perjalanan: Ini adalah alasan untuk kerendahan hati sebagaimana telah dijelaskan.
- Terjadinya ketidakrapian dalam pakaian dan penampilan tanpa dibuat-buat atau disengaja, dan ini menunjukkan kesucian hati dari kesombongan.
- Mengangkat tangan ke langit: Ini menunjukkan permohonan dan meminta dari seorang hamba yang fakir kepada Tuhannya Yang Maha Kaya.
- Bersungguh-sungguh dengan mengulang kata-kata Rububiyyah (Ya Rabb): Ini menunjukkan ketulusan dalam berlindung kepada Allah.
Semua hal ini mempengaruhi terkabulnya doa, dan dasarnya adalah kerendahan hati dan ketundukan di hadapan Allah.
- Seorang mukmin harus menyadari nikmat Allah kepadanya dan karunia-Nya dalam memberikan rezeki. Oleh karena itu, Allah menyandarkan rezeki kepada diri-Nya dengan berfirman: “makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu” (QS. Al-Baqarah: 172).
- Kesempurnaan iman seseorang dan pencapaiannya pada tingkat kewalian tidak menggugurkan kewajiban dan meninggalkan amal, melainkan mewajibkan bersungguh-sungguh dalam beramal. Oleh karena itu, Allah memerintahkan para rasul – meskipun keimanan mereka sempurna dan tingkat kewalian mereka tinggi – untuk beramal, Allah berfirman: “Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh” (QS. Al-Mu’minun: 51).
- Penghasilan yang baik adalah penghasilan yang halal.
- Di antara kekayaan Allah Subhanahu yang tidak membutuhkan manusia adalah bahwa Dia tidak menerima kecuali yang baik dan suci, sebagaimana disebutkan dalam hadits lain: “Aku adalah Yang Maha Kaya yang tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya dan sekutunya.” Maka di antara kesempurnaan kekayaan-Nya adalah bahwa Dia tidak menerima apa yang tidak murni untuk-Nya Subhanahu.
HADITS KESEBELAS
Dari Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah dan kesayangannya, radhiallahu ‘anhuma, berkata: “Aku telah menghafal dari Rasulullah: ‘Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.'” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi: 2520, An-Nasa’i: 5711, dan At-Tirmidzi mengatakan: Hadits Hasan Shahih]
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Hadits ini merupakan dasar dalam meninggalkan perkara syubhat dan bersikap wara’.
- Halal yang murni, tidak boleh ditinggalkan karena wara’, sebab tidak ada keraguan di dalamnya.
- Haram yang murni, wajib ditinggalkan terlebih lagi karena keharamannya tidak diragukan lagi bahkan sudah pasti.
- Mendidik orang mukmin untuk meninggalkan keraguan dan tempat-tempat syubhat.
- Orang mukmin yang bertakwa tidak akan merasa tenang kecuali dengan yang halal murni, sedangkan orang yang jahat tidak merasa ragu dengan yang haram apalagi dengan syubhat.
- Hadits ini menjadi kaidah bagi orang yang bingung antara dua perkara, salah satunya dia ragu dan yang lain dia yakin, maka sebaiknya dia melakukan yang yakin.
- Hadits ini melengkapi makna hadits Nu’man bin Basyir sebelumnya, bahwa siapa yang jatuh dalam keraguan seperti penggembala yang menggembalakan di sekitar tanah larangan yang hampir memasuki area tersebut.
- Hadits ini berlaku umum dalam segala hal yang menimpa seorang muslim, bukan hanya dalam masalah makanan saja. Contohnya: jika seseorang ragu apakah boleh menjamak shalat atau tidak, apakah dia berhak menjamak atau tidak, dan dia ragu dalam menjamak, maka hendaknya dia tidak menjamak karena meninggalkan jamak tidak ada keraguan di dalamnya, dan begitu seterusnya.
HADITS KEDUA BELAS
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi – hadits hasan dan Ibnu Majah)
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Menunjukkan adanya perbedaan tingkatan manusia dalam Islam, dari baik ke yang lebih baik dan seterusnya.
- Mendorong manusia untuk meningkatkan kualitas keislamannya sesuai kemampuannya.
- Mengandung pelajaran untuk menjaga privasi orang lain, dengan menghentikan kecenderungan jiwa untuk mencari tahu dan menyelidiki urusan orang lain yang tidak ada hubungannya dengan dirinya.
- Manusia hendaknya fokus pada diri sendiri dan hal-hal yang berkaitan dengan perbaikan dirinya, serta meninggalkan urusan orang lain yang tidak ada hubungannya.
- Kesempurnaan Islam seseorang termasuk meninggalkan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat baginya (walaupun mubah).
- Mengandung pendidikan tentang cita-cita yang tinggi, dimana di awal hadits disebutkan “di antara kebaikan Islam seseorang”, seolah-olah mengatakan ada tingkatan-tingkatan tinggi dalam Islam yang dijelaskan agar manusia berlomba-lomba mencapainya.
- Mendidik manusia untuk fokus pada hal-hal yang bermanfaat dan meninggalkan yang tidak bermanfaat, karena hal yang tidak bermanfaat hanya akan menghasilkan kelelahan, membuang-buang umur, dan mengurangi kebaikan Islam.
- Meninggalkan perkataan yang tidak bermanfaat termasuk menjaga lisan dari kebatilan, sia-sia, dan hal-hal yang tidak berfaedah.
- Meninggalkan perbuatan yang tidak bermanfaat termasuk meninggalkan hal-hal yang haram, makruh, syubhat, dan hal-hal mubah yang berlebihan yang tidak mendekatkan kepada Allah, karena itu bukan hal yang menjadi perhatian dan kepedulian seorang mukmin.
- Mengandung pendidikan bagi muslim untuk menjaga waktunya daripada menyia-nyiakannya pada hal yang tidak bermanfaat, sehingga ia memanfaatkan setiap momennya dan tidak memiliki waktu untuk mencari tahu urusan orang lain.
- Ini adalah mukjizat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dimana beliau diberi jawami’ul kalim (ucapan singkat namun sarat makna), karena hadits ini mencela kesibukan dengan banyak urusan yang semuanya tercakup dalam kalimat singkat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
HADITS KETIGA BELAS
Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah sempurna iman seseorang dari kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (Diriwayatkan oleh Bukhari: 13, dan Muslim: 45)
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Hadits ini khusus membahas dan menentukan hubungan muslim dengan saudara-saudaranya.
- Menanamkan persaudaraan yang hakiki antara sesama muslim, baik dalam lafaznya dengan kata “saudaranya” maupun dalam maknanya.
- Mencintai kebaikan untuk orang lain adalah tanda kesempurnaan iman. Siapa yang mencintai kebaikan dan manfaat secara umum untuk seluruh muslim, maka telah sempurna imannya sesuai zhahir hadits.
- Mengharapkan keburukan bagi muslim yang lain adalah tanda kekurangan iman, maka hendaklah ia segera memperbaiki dirinya sebelum masalah membesar dan menyebar serta mendatangkan penyakit hasad, dengki, dan dendam.
- Di antara pengobatan sifat hasad ketika menyebar dalam masyarakat adalah seseorang mencintai kebaikan untuk orang lain sebagaimana ia mencintainya untuk dirinya sendiri.
- Hadits ini mendukung hadits Tamim Ad-Dari yang marfu’ “Agama adalah nasihat”, dan di antara bentuk nasihat untuk umat Islam secara umum adalah mengharapkan kebaikan untuk mereka.
- Di dalamnya terdapat penjelasan tentang keistimewaan dan kekhususan masyarakat Islam dibanding yang lainnya, yaitu: mencintai untuk orang lain seperti mencintai untuk dirinya sendiri.
- Menunjukkan bahwa keinginan kebaikan untuk diri sendiri adalah sifat alami dan tidak mengapa selama kebaikan tersebut mendekatkan kepada Allah, oleh karena itu dikatakan “apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri”.
- Mencintai kebaikan untuk orang lain adalah hal yang harus terus dilakukan manusia sepanjang hidupnya, ini dipahami dari bentuk kata kerja mudhari’ (present tense) “mencintai dan beriman” karena mudhari’ menunjukkan keadaan sekarang dan keberlanjutan di masa depan.
- Hadits ini mencakup semua orang beriman, maka wajib mencintai kebaikan untuk mereka bahkan untuk orang-orang yang memiliki permusuhan pribadi dan perselisihan duniawi denganmu, oleh karena itu lafaz hadits ini bersifat umum tanpa pengecualian.
- Hadits ini termasuk dalam bentuk kecintaan terhadap hidayah dan istiqamah atas perintah Allah bagi yang belum mendapat petunjuk dari kalangan pelaku maksiat, sehingga mengharapkan hidayah, kebaikan dan amal saleh untuk mereka.
- Menjadi dalil bagi mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah bahwa iman itu bertambah dan berkurang. Barangsiapa mencintai kebaikan untuk kaum muslimin, sempurnalah imannya, dan barangsiapa kehilangan sifat ini, berkuranglah imannya sesuai dengan kadar kehilangan sifat tersebut, sebagaimana dipahami dari hadits ini.
HADITS KEEMPAT BELAS
Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak halal darah seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga hal: orang yang telah menikah yang berzina, jiwa dengan jiwa (pembunuhan), dan orang yang meninggalkan agamanya yang memisahkan diri dari jamaahnya.” [Diriwayatkan oleh Bukhari: 6878, dan Muslim: 1676]
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Pada dasarnya darah seorang muslim terjaga.
- Darah seorang muslim tidak boleh dihalalkan karena syubhat (keraguan), tetapi harus dengan keyakinan penuh dalam hal zina yang dilakukan oleh orang yang sudah menikah, atau membunuh jiwa dengan sengaja tanpa syubhat, atau meninggalkan agama Islam.
- Pada dasarnya dalam masyarakat muslim, seseorang dianggap muslim sampai terbukti sebaliknya.
- Hadits ini tidak menunjukkan bahwa melakukan hal-hal ini saja membolehkan darahnya untuk siapa saja yang ingin menegakkan hukuman. Namun, hadits ini menetapkan kaidah tentang darah, adapun penerapannya adalah kembali pada hak pemimpin kaum muslimin atau yang mewakilinya, berdasarkan bukti perjalanan para sahabat dan salaf yang saleh. Tidak ada bukti bahwa salah satu dari mereka membunuh pezina yang sudah menikah atau seorang pembunuh, melainkan hal itu dikembalikan kepada pemimpin, agar tidak terjadi kekacauan dalam masyarakat Islam.
- Hadits ini menolak pengambilan keputusan berdasarkan tuduhan semata, tetapi harus dengan keyakinan yang tetap dan terpenuhinya syarat-syarat serta tidak adanya penghalang.
- Tiga hal yang disebutkan dalam hadits yang menghalalkan darah adalah:
- Zina setelah menikah
- Membunuh jiwa tanpa hak
- Murtad dari agama Allah
- Di dalamnya terdapat penjelasan tentang besarnya dosa-dosa ini secara khusus karena dikecualikan dari kaidah dan dihalalkan darah karenanya.
- Agama memerintahkan persatuan dan melarang perpecahan, oleh karena itu dikatakan: “orang yang meninggalkan agamanya yang memisahkan diri dari jamaah”, karena barangsiapa meninggalkan agamanya berarti telah memisahkan diri dari jamaah, karena agama adalah jamaah.
- Menjaga jiwa adalah salah satu dari lima kebutuhan dasar yang disyariatkan untuk dijaga.
- Hadits ini menyebutkan tiga dari lima dasar darurat dalam Islam:
- Menjaga kehormatan (“pezina yang sudah menikah”), di mana hukuman ini disyariatkan untuk menjaga kehormatan.
- Menjaga jiwa (“jiwa dibalas dengan jiwa”), di mana hukuman ini disyariatkan untuk menjaga nyawa.
- Menjaga agama (“orang yang meninggalkan agamanya dan memisahkan diri dari jamaah”), di mana hukuman ini disyariatkan untuk menjaga agama.
HADITS KELIMA BELAS
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata baik atau diam, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tetangganya.” [Diriwayatkan oleh Bukhari: 6018, dan Muslim: 47]
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Bukti bagi madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah bahwa amal perbuatan adalah bagian dari iman, oleh karena itu amal dikaitkan dengan iman kepada Allah dan hari akhir.
- Seorang mukmin tidak berbicara kecuali kebaikan atau diam dari hal yang sia-sia dan bahkan kebatilan.
- Di dalamnya terdapat petunjuk dan bimbingan tentang berbicara atau tidak, termasuk iman adalah berbicara jika ucapannya baik dan termasuk iman adalah diam jika diamnya lebih baik.
- Syariat sangat memperhatikan segala hal yang bermanfaat, bahkan dalam hal berbicara atau diam.
- Bukti kewajiban menjaga lisan bukan hanya dari yang haram tapi juga dari segala yang tidak bermanfaat walaupun statusnya mubah/boleh.
- Hadits ini mencakup hak-hak Allah dan hak-hak manusia:
- Berkata baik dan diam dari selainnya adalah hak Allah
- Memuliakan tamu dan tetangga adalah hak manusia Islam mendidik pengikutnya untuk menunaikan hak-hak dan keberagamannya.
- Menunjukkan bahwa berkata baik atau diam dari berkata/melakukan kejahatan dan memuliakan tetangga dan tamu adalah bagian dari iman.
- Islam memerangi sifat kikir, oleh karena itu kata “hendaklah memuliakan” diulang dua kali dalam hadits karena kikir mencakup berbagai sifat seperti cinta dunia, buruk sangka kepada Allah, dan pelit.
- Hadits ini mengajak kepada akhlak yang baik termasuk memuliakan tetangga.
- Memuliakan mencakup berbagai bentuk, di antaranya mencakup: kedamaian, berbuat baik, memberi, menghargai, menghormati, menjaga (kehormatan seseorang) ketika dia tidak hadir, menutupi aibnya, memberi nasihat, tidak menyakiti, mengunjungi, memaafkan, membantu keperluannya, membuat dia bahagia, dan menunaikan kewajibannya. Semua ini tercakup dalam kata “memuliakan”.
- Islam memperkuat ikatan antara pengikutnya, dimulai dari persaudaraan Islam, kemudian kekerabatan dan nasab, lalu tetangga, dan kemudian tamu. Ini bertujuan agar masyarakat Islam menjadi masyarakat yang kuat dari dalam, sulit untuk disusupi dan dipecah belah, baik dari fitnah setan yang ingin memisahkan mereka maupun fitnah musuh yang ingin menyusup ke dalam mereka.
- Islam mengaitkan semangat pengikutnya dengan hadiah terbesar yaitu tercapainya iman. Hadiah bagi orang yang berkata baik atau memuliakan tetangga dan tamunya bukanlah hadiah duniawi, karena semangat seorang mukmin lebih tinggi dari itu. Hadiahnya adalah “iman kepada Allah dan hari akhir”.
- Dalam mengaitkan manusia dengan iman kepada Allah dan hari akhir terdapat penanaman rasa pengawasan Allah dalam hati mereka.
- Berkata baik lebih utama daripada diam (untuk tidak mengatakan) kejahatan, karena perkataan baik memberikan manfaat kepada orang lain, berbeda dengan diam yang manfaatnya terbatas. Oleh karena itu – wallahu a’lam – hadits ini dimulai dengan “hendaklah ia berkata baik atau diam”.
HADITS KEENAM BELAS
Dari Abu Hurairah bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi: “Berilah aku wasiat.” Beliau bersabda: “Janganlah engkau marah.” Laki-laki itu mengulang-ulang permintaannya, (dan Nabi tetap) bersabda: “Janganlah engkau marah.” [Diriwayatkan oleh Bukhari: 6116]
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Seseorang hendaknya meminta wasiat dari orang yang ahli untuk itu, oleh karena itu laki-laki tersebut meminta wasiat dari Nabi.
- Bentuk pertanyaannya menunjukkan pentingnya hadits ini karena orang tersebut berinisiatif meminta wasiat. Kata wasiat sendiri mengandung nasihat yang lengkap dan bermanfaat. Dalam riwayat Tirmidzi disebutkan “Wahai Rasulullah, ajarilah aku sesuatu dan jangan terlalu banyak agar aku bisa mengingatnya.”
- Dalam memberi nasihat, hendaknya memilih kata-kata singkat yang sesuai dengan keadaan, karena itu lebih bermanfaat, sebagaimana yang dilakukan Nabi kepada laki-laki tersebut.
- Pengulangan pertanyaan dan jawaban menunjukkan bahayanya marah.
- Lafaz hadits bersifat mutlak dan tidak dibatasi – “Jangan marah” – dan tidak disebutkan hal-hal yang tidak boleh dimarahi. Tampaknya kemutlakan ini memang dimaksudkan agar mencakup semua urusan kehidupan, sehingga jangan marah kepada istri, anak-anak, dalam bermuamalah, kepada tetangga, dalam perdagangan, dan lain-lain.
- Dalam hadits ini terdapat ajakan untuk berakhlak baik, karena tidak ada yang merusak akhlak seperti kemarahan. Ditanyakan kepada Ibnu Mubarak: “Ringkaskan untuk kami akhlak yang baik dalam satu kata.” Dia menjawab: “Jangan marah.”
- Syariat mengajak agar seseorang mengendalikan emosinya sehingga berada di bawah kendali syariat, bahkan dalam keadaan marah di mana seseorang mungkin tidak bisa menguasai dirinya.
- Hadits ini menunjukkan bahwa kemarahan tidak menyelesaikan masalah dan tidak memudahkan urusan, bahkan menambah kerumitannya. Seandainya kemarahan itu solusi, tentu Nabi akan mewasiatkannya.
- Ucapan “Jangan marah” mengandung dua makna:
- Berjuanglah agar kemarahan tidak terjadi sama sekali.
- Kendalikan dirimu jika terjadi kemarahan agar tidak melakukan sesuatu yang akan kamu sesali. Makna yang tampak dari hadits mengarah pada makna pertama karena itu adalah langkah menuju makna kedua. Jika kemarahan tidak terjadi sama sekali, maka itu lebih baik.
- Hadits ini menunjukkan bahwa kemarahan bisa dihilangkan meskipun itu termasuk sifat dasar seseorang. Seandainya tidak mungkin dihilangkan, tentu Nabi ﷺ tidak akan melarangnya.
HADITS KETUJUH BELAS
Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus, dari Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik pada segala sesuatu. Maka jika kamu membunuh, berbuat baiklah dalam membunuh, dan jika kamu menyembelih, berbuat baiklah dalam menyembelih. Hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya dan menenangkan sembelihannya.” [Diriwayatkan oleh Muslim]
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Bukti rahmat Allah, karena itu Dia ﷻ mewajibkan berbuat baik pada segala sesuatu, dan ini menumbuhkan kecintaan kepada-Nya.
- Menunjukkan toleransi dan kemudahan syariat yang dibangun atas dasar berbuat baik dan kesempurnaan.
- Kata “kataba” (mewajibkan) menunjukkan kewajiban berbuat baik.
- Ihsan (berbuat baik) mengandung makna itqan (kesempurnaan). Berbuat baik dalam menyembelih berarti melakukannya dengan sempurna agar tidak berlangsung lama sehingga menyiksa hewan. Demikian juga berbuat baik dalam segala hal berarti melakukannya dengan sempurna sesuai dengan konteksnya.
- Wajib berbuat baik kepada hewan sembelihan dengan menajamkan pisau dan mempercepat prosesnya.
- Metode pengajaran: menyebutkan kaidah umum kemudian memberikan satu atau dua contoh. Kaidah dalam hadits ini adalah “Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik pada segala sesuatu”, dan dua contohnya adalah “jika kamu membunuh, berbuat baiklah dalam membunuh, dan jika kamu menyembelih, berbuat baiklah dalam menyembelih.”
HADITS KEDELAPAN BELAS
Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman Mu’adz bin Jabal, dari Rasulullah: “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapusnya, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” [Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dia berkata: Hadits Hasan]
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Hadits ini mengumpulkan tiga hak:
- Hak Allah dalam ucapan “Bertakwalah kepada Allah”
- Hak diri sendiri dalam ucapan “iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapusnya”
- Hak manusia dalam ucapan “bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik”
- Takwa kepada Allah tidak terikat oleh waktu tertentu dan tidak berhenti padanya, tetapi wajib bagi seorang mukmin di setiap saat.
- Ucapan “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada” menanamkan pengawasan Allah baik dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan.
- Syariat mengutamakan agar seseorang memiliki penghalang dan pencegah dari dalam dirinya yang menghalangi antara dirinya dan hal-hal yang diharamkan, yaitu “takwa kepada Allah”.
- Hadits ini menunjukkan bahwa takwa seseorang tidak menjamin dia terbebas dari kesalahan, namun orang yang bertakwa akan segera menyadarinya dan kembali kepada keadaan yang lebih baik dari sebelum dosa. Ini dipahami dari ucapan “iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapusnya” setelah ucapan “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada”.
- Menjelaskan rahmat Allah kepada hamba-Nya, dengan membuka pintu-pintu penghapus dosa, di antaranya istighfar dan melakukan kebaikan seperti dalam hadits ini.
- Di dalamnya terdapat dorongan untuk berjuang melawan hawa nafsu. Jika seseorang melakukan keburukan, hendaklah dia mengikutinya dengan kebaikan. Jika dia kembali berbuat dosa, dia kembali melakukan kebaikan, dan begitu seterusnya.
- Seseorang tidak boleh menyerah kepada dosa. Jika seseorang berbuat dosa, itu tidak berarti dia jatuh dan dijauhkan atau dia harus rela dengan keadaannya. Sebaliknya, dia harus berusaha membebaskan diri, berbuat baik, bertaubat dan kembali kepada Tuhannya. Dalam hal ini terdapat peningkatan semangat dan penguatan tekad.
- Keutamaan melakukan kebaikan dan amal saleh adalah mengangkat derajat dan menghapus kesalahan-kesalahan.
- Hadits ini mendidik seorang Muslim dalam hal khauf (rasa takut) dan raja’ (harapan). Takwa kepada Allah mendidik rasa takut dalam diri Muslim, dan dibukanya pintu taubat serta penghapusan dosa mendidik harapan dalam diri Muslim. Keduanya adalah dua kedudukan yang agung dari kedudukan-kedudukan amalan hati.
- Islam berusaha mendidik pengikutnya untuk menghilangkan permusuhan di antara mereka, dan inilah yang dimaksud dengan ucapan “bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik”.
- Takwa kepada Allah mencakup menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak manusia, oleh karena itu dalam hadits disebutkan “bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik”. Ibnu Rajab rahimahullah berkata: “Disebutkan secara khusus karena perlu penjelasan, sebab banyak orang mengira bahwa takwa hanya menunaikan hak-hak Allah tanpa hak-hak hamba-Nya, maka dijelaskan perintah untuk bergaul baik dengan manusia.”
- Mendidik jiwa untuk berinisiatif dalam bertindak dan tidak menjadi pengikut orang lain, oleh karena itu diperintahkan untuk berinisiatif dalam melakukan kebaikan dan berinisiatif dalam memperlakukan manusia dengan akhlak yang baik.
- Akhlak yang baik dalam syariat diberikan secara mutlak, baik orang berbuat baik kepadamu atau berbuat buruk. Oleh karena itu Nabi ﷺ tidak membatasinya hanya kepada orang yang berbuat baik kepadamu, tetapi menjadikannya umum dengan mengatakan “bergaullah dengan manusia”, yakni semuanya, baik yang berbuat baik maupun yang berbuat buruk.
- Berdasarkan petunjuk hadits ini, umat Islam lebih utama memiliki akhlak yang baik dibanding umat-umat lain, dan Ahlus Sunnah wal Jamaah secara khusus lebih utama dibanding kelompok-kelompok lain.
HADITS KESEMBILAN BELAS
Dari Abu Abbas Abdullah bin Abbas berkata: Suatu hari aku berada di belakang Nabi, beliau bersabda: “Wahai anak muda, aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwa jika seluruh umat berkumpul untuk memberimu manfaat, mereka tidak akan dapat memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan jika mereka berkumpul untuk membahayakanmu, mereka tidak akan dapat membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” [Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dia berkata: Hadits Hasan Shahih]
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Di dalamnya terdapat dorongan untuk bersikap rendah hati, karena Nabi ﷺ memboncengkan Ibnu Abbas di belakangnya dan tidak memonopoli kendaraan untuk dirinya sendiri.
- Menunjukkan kelembutan dan keramahan karena memilih Ibnu Abbas yang masih muda, bahkan berbicara dengannya di jalan dan memberinya wasiat. Allah benar dalam menyifati Nabi dengan firman-Nya: “Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS. Ali Imran: 159)
- Pentingnya mendidik anak-anak, dan ini jelas dari lahiriah haditsnya.
- Memilih kalimat-kalimat pendek dalam mengajar anak-anak agar lebih mudah dihafal.
- Memberikan ilmu kepada yang tua dan muda, tetapi sesuai dengan kemampuan penerimaan pelajar. Seseorang yang diberi ilmu oleh Allah tidak boleh menolak mengajarkannya kepada anak-anak atau orang yang lebih rendah darinya.
- Sebaiknya menyebutkan pendahuluan yang sesuai sebelum mengajar untuk membuat pendengar tertarik dengan apa yang akan disampaikan, sebagaimana yang dilakukan Nabi ﷺ dalam riwayat hadits ini ketika beliau berkata “Aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat yang Allah akan memberimu manfaat dengannya,” karena ketika Ibnu Abbas mendengar itu, dia mempertajam semangatnya untuk menghafalkan dan mengamalkannya.
- Memanfaatkan waktu dengan hal yang bermanfaat. Ketika Ibnu Abbas membonceng di belakang Nabi, beliau memanfaatkan waktu untuk mengajar atau mengingatkan.
- Di dalamnya terdapat perhatian terhadap masalah akidah, karena semua kalimat ini termasuk perkara akidah.
- Balasan sesuai dengan jenis amalan. Barangsiapa menjaga (hak-hak) Allah, Allah akan menjaganya. Barangsiapa memohon pertolongan kepada Allah, Allah akan menolongnya.
- Siapa yang mempelajari kalimat-kalimat ini akan mendapat manfaat dengan izin Allah, karena sabda Nabi ﷺ “Aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat yang Allah akan memberimu manfaat dengannya.” Ini menunjukkan pentingnya hadits ini.
- Hadits ini mendidik untuk bergantung kepada Allah, berpegang kepada-Nya, dan berharap kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya.
- Hadits ini menetapkan amalan-amalan hati seperti tawakkal, memohon pertolongan, ketergantungan, rasa takut, dan harapan karena itu adalah kehidupan manusia dan dasar akidah.
- Siapa yang ingin dijaga Allah dari hal-hal yang tidak disukai, kejahatan, dan bahaya, maka selain sebab-sebab material, manusia harus menjaga perintah-perintah Allah.
- Orang yang menjaga perintah-perintah Allah akan mendapat dua buah yang agung:
- Pertama: Allah akan menjaganya dari segala yang tidak disukai, sesuai jawaban syarat “niscaya Dia akan menjagamu”
- Kedua: Allah akan menolongnya dalam urusan-urusan masa depannya dan mendatangkan kebaikan untuknya, sesuai sabda “Jagalah Allah, niscaya engkau mendapati-Nya di hadapanmu”
- Di dalamnya terdapat penjelasan tentang kebersamaan Allah yang khusus dengan hamba-hamba-Nya yang beriman sebagaimana madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah. Kebersamaan khusus ini terdapat dalam kata-kata “di hadapanmu”, “di depanmu”, “menjagamu”, “mengenalmu dalam kesulitan”.
- Kebaikan dunia dan akhirat seseorang sesuai dengan kadar penjagaannya terhadap batasan-batasan Allah. Oleh karena itu, dalam hadits disebutkan “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu” secara mutlak, tidak dibatasi pada harta, anak, kesehatan, atau agama. Kemutlakan ini mencakup semua itu.
- Menetapkan nama Allah “Asy-Syakur” (Maha Mensyukuri), yang salah satu maknanya adalah Dia mensyukuri hamba atas amal-amalnya dengan pertama membantunya melakukannya, kedua menerimanya, lalu memberinya balasan di dunia dan akhirat. Di antara balasan di dunia adalah Allah menjaga hamba dan memudahkan segala kesulitannya, dan ini termasuk bentuk syukur Allah kepada hamba-Nya.
- Permohonan, permintaan, dan kebutuhan hanya ditujukan kepada Allah semata, karena Dia-lah yang memberi dan menahan. “Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah.”
- Perkataan “Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah” searti dengan firman-Nya “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah: 5), karena meminta adalah ibadah kepada Allah.
- Disebutkan secara khusus tentang meminta “Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah” karena meminta mencakup kedudukan-kedudukan yang tinggi, di antaranya: Kerendahan diri, merasa butuh, menghadap kepada-Nya, kelemahan, melepaskan diri dari daya dan upaya, menunjukkan kebutuhan kepada Yang Diminta, berbaik sangka kepada-Nya, menuduh diri sendiri kurang, dan mengetahui kemampuan diri bahwa ia tidak memiliki kuasa atas mudarat dan manfaat.
- Di antara kebaikan Allah adalah Dia memudahkan ibadah bagi seseorang, kemudian membantunya melakukannya, lalu memberinya balasan atasnya, sedangkan seseorang tidak memiliki daya dan upaya kecuali dengan bantuan Allah. Maka bagi-Nya segala karunia dari awal hingga akhir.
- Hadits ini menunjukkan bahwa seseorang itu lemah, tidak memiliki daya dan upaya untuk dirinya sendiri, bahkan untuk menolong dirinya sendiri dalam apa yang dia inginkan, dia tidak mampu kecuali dengan pertolongan Allah.
- Di antara tujuan hadits ini adalah menetapkan dua perkara agung:
- Pertama: Kebutuhan manusia kepada Tuhannya, bahwa dia tidak bisa lepas dari-Nya walau sekejap mata atau kurang dari itu, dan memutus harapan kepada makhluk.
- Kedua: Kekayaan Allah dari seluruh makhluk dan kesempurnaan-Nya dengan Dzat-Nya.
- Kalimat-kalimat yang dipelajari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma ini menumbuhkan kekuatan dan keberanian dalam jiwa. Siapa yang menggantungkan permintaannya hanya kepada Allah, meminta pertolongan hanya kepada-Nya, dan mengetahui bahwa apa yang menimpanya tidak akan meleset darinya dan apa yang meleset darinya tidak akan menimpanya, dia akan menjadi kuat dalam hujjahnya, dakwahnya, dan seluruh kehidupannya.
- Seorang mukmin yang jujur beribadah kepada Allah dalam segala keadaannya, baik dalam kemudahan maupun kesulitan. Oleh karena itu Nabi ﷺ berpesan kepada Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dengan berkata “Kenalilah Allah dalam kemudahan, niscaya Dia akan mengenalmu dalam kesulitan.” Tidak seperti keadaan orang-orang musyrik yang Allah katakan tentang mereka “Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)” (QS. Al-Ankabut: 65).
- Meminta pertolongan termasuk amalan hati yang wajib ditujukan kepada Allah. Barangsiapa yang mengarahkannya kepada selain Allah maka dia telah berbuat syirik dan akan dihinakan, karena siapa yang meminta pertolongan kepada selain Allah, Allah akan menyerahkannya kepada yang dimintai pertolongan tersebut sehingga tidak bisa memberi manfaat, bahkan membahayakannya karena hilangnya pertolongan Allah darinya. Oleh karena itu dikatakan “dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah.”
- Hadits ini menegaskan keimanan kepada qadha dan qadar, yang merupakan rukun keenam dari rukun iman.
- Perkataan “kecuali sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu” dan “kecuali sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu” tidak bertentangan dengan amal dan tidak menunjukkan untuk meninggalkan amal, dengan bukti awal hadits “Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah.” Meminta kepada Allah dan meminta pertolongan kepada-Nya adalah termasuk amal seseorang yang Allah akan memberinya balasan.
- Hadits ini mencakup amalan anggota badan dan amalan hati. Meminta dan berdoa termasuk amalan anggota badan, sedangkan meminta pertolongan termasuk amalan hati, dan kedua perkara ini termasuk rukun iman.
- Hadits ini menetapkan ridha terhadap takdir Allah, yang merupakan kedudukan lebih tinggi dari kedudukan sabar.
- Hadits ini menetapkan keyakinan kepada Allah dan perbuatan-perbuatan-Nya.
- Penetapan madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwa kehendak Allah-lah yang berlaku, dan kehendak hamba kembali kepada-Nya.
- Menumbuhkan keagungan Allah dalam hati orang-orang beriman. Siapa yang merenungkan kekuasaan-Nya yang mengagumkan dan kehendak-Nya yang berlaku, dan bahwa apa yang Dia kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi, dia akan mengetahui hal itu.
- Kemenangan bersama kesabaran, dan ini berlaku dalam semua urusan. Barangsiapa yang bersabar dan tabah dalam berjuang melawan nafsunya, berjihad melawan musuh, beribadah kepada Tuhannya, dan dalam kehidupannya, dia akan menang dengan izin Allah.
- Tergesa-gesa dan gelisah tidak akan mendatangkan kemenangan. Ini dipahami dari hadits karena hadits mengaitkan kemenangan dengan kesabaran.
- Ketika perkara menjadi berat dan kesulitan bertambah, serta semua pintu tertutup, maka dengan izin Allah ini menjadi tanda datangnya jalan keluar, sesuai dengan sabdanya “dan sesungguhnya jalan keluar itu bersama kesulitan.”
- Hadits ini mendidik jiwa untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah, jalan keluar-Nya, dan berbaik sangka kepada-Nya meskipun perkara menjadi berat, karena jalan keluar tidak datang kecuali setelah kesulitan.
- Perkataan “ketahuilah bahwa jalan keluar itu bersama kesulitan” bersifat umum dalam semua urusan kehidupan. Di dalamnya terdapat kabar gembira bagi siapa yang tertimpa kegelisahan dan kesedihan serta tertimpa berbagai kesusahan, bahwa jalan keluar dari Allah itu dekat.
- Ibnu Rajab rahimahullah berkata: “Di antara keindahan rahasia bergandengannya jalan keluar dengan kesulitan dan kemudahan dengan kesusahan adalah bahwa ketika kesulitan menjadi berat, besar, dan memuncak, serta hamba berputus asa dari penyelesaiannya dari sisi makhluk, maka hatinya akan bergantung kepada Allah semata, dan inilah hakikat tawakal.”
- Zhahir hadits menunjukkan bahwa keadaan dunia berputar antara kesulitan yang diikuti kemudahan, dan kesusahan yang diikuti jalan keluar, di mana Allah menciptakan dunia dengan kesusahan dan ketidakbersihan. Maka siapa yang mengetahui keadaannya tidak akan tenang kepadanya.
- Faedah-faedah dari hadits yang agung ini sangat banyak, oleh karena itu sebagian ulama berkata: “Aku merenungkan hadits ini lalu ia mengejutkanku dan hampir membuatku bingung. Maka betapa menyesalnya karena kebodohan terhadap hadits ini dan sedikitnya pemahaman terhadap maknanya.”
HADITS KEDUA PULUH
Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al-Anshari Al-Badri radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya di antara perkataan kenabian terdahulu yang masih dikenal orang adalah: Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.”
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Faedah Pertama: Yang menunjukkan pentingnya hadits ini adalah perkataan “Sesungguhnya di antara perkataan kenabian terdahulu yang masih dikenal orang”, di mana dapat diambil dua faedah:
- Pertama: Ini adalah perkataan para nabi terdahulu.
- Kedua: Tersebar di kalangan manusia dan berpindah dari generasi ke generasi hingga sampai kepada umat ini, dan manusia tidak akan menukilkan sesuatu selama generasi yang panjang kecuali sesuatu yang penting.
- Faedah Kedua: Hadits ini membimbing untuk mengontrol perilaku dan tindakan manusia.
- Mendidik jiwa Muslim dengan akhlak malu (haya’), sehingga rasa malu menjadi penghalang dari banyak perbuatan buruk.
- Dorongan untuk memiliki rasa malu dan peringatan akan hilangnya rasa malu telah diwariskan bahkan di kalangan umat-umat terdahulu.
- Siapa yang tidak memiliki rasa malu yang menghiasinya, ia akan terang-terangan melakukan keburukan dan kekejian.
- Tidak disebut rasa malu jika bertentangan dengan perkara syariat, karena yang mendorong rasa malu adalah Dia yang memerintahkan perkara tersebut sehingga keduanya tidak bertentangan.
HADITS KEDUA PULUH SATU
Dari Abu ‘Amr – ada yang mengatakan Abu ‘Amrah – Sufyan bin Abdullah radhiallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam suatu perkataan yang tidak aku tanyakan kepada seorangpun selainmu.’ Beliau bersabda: ‘Katakanlah, Aku beriman kepada Allah kemudian istiqamahlah.'” [Diriwayatkan oleh Muslim]
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Pentingnya hadits ini terlihat dari bentuk pertanyaannya “yang tidak aku tanyakan kepada seorangpun selainmu”, ini menunjukkan bahwa jawabannya akan mencakup dan lengkap.
- Menunjukkan semangat dalam mencari ilmu, ini terlihat jelas dari bentuk pertanyaannya yang menunjukkan kecintaan dan ketertarikan untuk mengetahui jawabannya.
- Seharusnya penuntut ilmu bersemangat untuk mengajukan pertanyaan singkat namun penting yang mencakup banyak faedah, dan inilah yang dilakukan oleh Sufyan bin Abdullah radhiallahu ‘anhu dalam pertanyaannya yang singkat namun penting, yang jawabannya mencakup banyak faedah.
- Pertanyaan adalah kunci ilmu, maka penuntut ilmu tidak boleh malu untuk bertanya.
- Penuntut ilmu harus cerdas dalam memilih pertanyaannya, terutama jika kesempatan untuk mendapat jawaban tidak selalu ada, oleh karena itu pertanyaan Sufyan radhiallahu ‘anhu termasuk jenis pertanyaan cerdas yang berbeda dari pertanyaan-pertanyaan orang pada umumnya.
- Ucapannya “Aku beriman kepada Allah kemudian istiqamahlah” sepadan dengan firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka tetap istiqamah” (QS. Al-Ahqaf: 13).
- Hadits ini mengumpulkan rukun-rukun iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah yaitu:
- Ucapan lisan: dalam sabdanya “Katakanlah, aku beriman kepada Allah”
- Keyakinan hati: dalam sabdanya “beriman kepada Allah”
- Amalan anggota badan: dalam sabdanya “istiqamahlah”
- Iman adalah perkataan yang dibenarkan dengan perbuatan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berhenti pada ucapan “Katakanlah, aku beriman kepada Allah” sampai beliau menambahkan wasiatnya kepada Sufyan radhiallahu ‘anhu dengan ucapan “kemudian istiqamahlah”, sehingga ucapan imannya dibenarkan dengan perbuatan dan amalan yang nyata.
- Ucapan “istiqamahlah” mengandung makna perjuangan, karena istiqamah di atas agama Allah tidak akan tercapai kecuali setelah kesungguhan, kesabaran, dan ketabahan.
- Manusia wajib istiqamah di atas agama Allah tanpa bengkok dan menyimpang, dan ini mencakup melakukan ketaatan dan meninggalkan larangan.
- Hadits ini termasuk mukjizat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena termasuk jawami’ al-kalim (ucapan singkat namun bermakna luas).
- Hadits ini mengumpulkan seluruh agama, karena istiqamah adalah melakukan seluruh ketaatan baik yang wajib maupun yang sunnah, dan meninggalkan seluruh larangan baik yang haram maupun yang makruh, dan inilah agama yang dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
- Istiqamah dalam Al-Qur’an dirangkaikan dengan istighfar dalam firman-Nya: “Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya” (QS. Fussilat: 6). Ini menunjukkan bahwa istiqamah yang hakiki dan sempurna tidak bisa dilakukan oleh setiap orang, “maka pasti ada kekurangan yang harus ditutupi dengan istighfar yang menuntut taubat dan kembali kepada istiqamah.”
- Hadits ini tidak membenarkan sekedar pengakuan iman dan penisbatan kepada manhaj Ahlus Sunnah selama tidak disertai istiqamah yang membenarkan, menjaga, dan membimbingnya – istiqamah dalam hati dan anggota badan. Jika tidak ada istiqamah maka sekedar penisbatan tidaklah cukup, sebagaimana dijelaskan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Sufyan radhiallahu ‘anhu.
HADITS KEDUA PULUH DUA
Dari Abu Abdullah Jabir bin Abdullah Al-Anshari radhiallahu ‘anhuma: Bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata: “Bagaimana pendapatmu jika aku melaksanakan shalat wajib, berpuasa Ramadhan, menghalalkan yang halal, dan mengharamkan yang haram, dan aku tidak menambah apa-apa selain itu, apakah aku akan masuk surga?” Beliau menjawab: “Ya.” [Diriwayatkan oleh Muslim]
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Manusia berbeda-beda dalam keimanan, ada yang bersemangat mencapai derajat tinggi, ada yang lebih rendah. Terkadang penanya bertanya kepada Rasulullah tentang amalan yang paling utama, terkadang yang di bawah itu. Ini menegaskan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwa iman itu bertambah dan berkurang dan pelakunya berbeda-beda tingkatannya.
- Penuntut ilmu hendaknya memperhatikan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada guru dan menghadirkan pikiran dan hatinya meskipun pertanyaan itu dari orang lain, karena pasti ada faedah di dalamnya.
- Boleh mencukupkan diri dengan kewajiban-kewajiban seperti shalat wajib, puasa Ramadhan, zakat dan lainnya, tetapi derajat yang tinggi adalah mengerjakan amalan-amalan sunnah juga.
- Di dalamnya terdapat keutamaan amalan-amalan wajib sampai tingkat bahwa siapa yang mencukupkan diri dengannya dan konsisten akan masuk surga dengan karunia dan rahmat Allah.
- Seorang alim harus memperhatikan keadaan manusia, tidak mewajibkan manusia pada satu keadaan dan mengabaikan perbedaan di antara mereka, tetapi harus membimbing dan mengarahkan sesuai keadaan penanya. Oleh karena itu penanya dalam hadits ini tidak ditegur oleh Nabi dan tidak diwajibkan amalan sunnah, tetapi beliau menerima darinya amalan wajib karena itu sesuai keadaannya. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa yang bertanya adalah seorang Arab Badui, dan tidak tersembunyi pentingnya memperhatikan keadaan orang-orang Badui.
- Termasuk pemahaman (fiqh) adalah seorang alim tidak membuat manusia putus asa dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
- Kemudahan syariat Islam bagi pemeluknya, tidak memberatkan mereka dan tidak menuntut mereka untuk berlebih-lebihan, mengasingkan diri, dan kerahiban, tetapi menerima dari mereka kesungguhan dalam amalan wajib, melakukan yang halal dan meninggalkan yang haram.
- Hadits ini adalah dalil bagi manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwa amalan termasuk bagian dari iman.
- Ucapan penanya “dan aku tidak menambah apa-apa selain itu” maksudnya adalah tidak mengerjakan amalan-amalan sunnah, tetapi mencukupkan diri dengan shalat wajib dan puasa Ramadhan saja. Bukan berarti tidak mengamalkan syariat selain shalat dan puasa, dengan bukti ucapannya “menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram”.
- Menghalalkan dan mengharamkan hanya hak Allah semata karena Dia-lah Yang Maha Bijaksana, bagi-Nya hukum dan Dia sebaik-baik pemberi hukum.
- Hadits ini menunjukkan bahwa menghalalkan yang halal adalah dengan meyakini kehalalannya baik melakukannya atau tidak, dan mengharamkan yang haram dengan meyakini keharamannya serta menjauhi dan meninggalkannya.
HADITS KEDUA PULUH TIGA
Dari Abu Malik Al-Harits bin ‘Ashim Al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bersuci adalah setengah iman, Alhamdulillah memenuhi timbangan, Subhanallah dan Alhamdulillah memenuhi apa yang ada antara langit dan bumi, shalat adalah cahaya, sedekah adalah bukti, sabar adalah sinar, Al-Qur’an adalah hujjah yang membelamu atau menentangmu, setiap manusia berangkat pagi lalu menjual dirinya, maka ia membebaskannya atau membinasakannya.”
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Di dalamnya terdapat keutamaan dan pentingnya wudhu karena itulah yang dimaksud dengan “bersuci” berdasarkan riwayat-riwayat hadits lainnya.
- Dalil bagi manhaj Ahlus Sunnah bahwa amalan termasuk bagian dari iman, di mana wudhu dianggap setengah iman.
- Bersuci dalam makna umumnya termasuk iman, mencakup wudhu, mandi, dan bersuci dari dosa-dosa, baik berdasarkan hadits ini atau hadits-hadits lainnya.
- Tidak akan menjaga wudhu kecuali orang mukmin yang merasa diawasi oleh Tuhannya, mengharap pahala shalatnya, bersemangat untuk memperhatikannya, oleh karena itu bersuci adalah setengah iman. Adapun orang yang meremehkannya akan luput dari keutamaan menyempurnakan wudhu, dan ini menunjukkan kedudukan shalat dalam hatinya.
- Di dalamnya terdapat keutamaan memuji Allah dan bahwa itu memenuhi timbangan hamba pada hari kiamat.
- Untuk meningkatkan semangat mukmin, seharusnya ia menggantungkan hatinya kepada akhirat, beratnya timbangan, dan surga karena ini adalah perkara-perkara yang dianggap penting baginya, oleh karena itu Nabi menegaskan bahwa tahmid memenuhi timbangan hamba.
- Tahmid lebih utama dari tasbih karena tahmid adalah menetapkan seluruh pujian bagi Allah, berbeda dengan tasbih yang merupakan penyucian Allah dari kekurangan dan aib. Oleh karena itu tahmid datang sendiri sementara tasbih umumnya datang bersama yang lain seperti tahmid, engkau mengatakan “Subhanallah wa bihamdihi”. Ini tidak berarti tasbih kurang, tetapi menunjukkan kesempurnaan tahmid.
- Hamdalah (Alhamdulillah) mengandung pengakuan terhadap karunia Allah dan pujian untuk-Nya, dan mencakup pengakuan kekurangan diri hamba karena ia tidak memiliki sesuatu yang patut dipuji dan disanjung karenanya.
- Di dalamnya terdapat keutamaan tasbih yang memenuhi apa yang ada antara langit dan bumi.
- Di dalamnya terdapat keutamaan shalat dan bahwa ia adalah cahaya bagi pelakunya di dunia dan akhirat.
- Ucapan “shalat adalah cahaya” menunjukkan bahwa sesuai kadar shalatnya, kesempurnaan dan kekhusyukannya, maka seperti itulah kekuatan cahaya tersebut. Kita memohon kepada Allah agar menyempurnakan cahaya kita. Siapa yang sempurna cahaya shalatnya, shalatnya akan mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar, menjadi penghalang dari neraka, dan Allah menerangi mata hatinya. Dan siapa yang kurang cahaya shalatnya, maka berkurang darinya sesuai kadar tersebut.
- Di dalamnya terdapat keutamaan sedekah dan bahwa ia adalah salah satu tanda iman.
- Jiwa secara alami mencintai harta, maka siapa yang menentang hawa nafsunya lalu berinfak dan bersedekah, itu menjadi bukti imannya, oleh karena itu beliau bersabda “sedekah adalah bukti”.
- Di dalamnya terdapat keutamaan sabar dan bahwa ia adalah sinar bagi seorang muslim.
- Ucapan “sabar adalah sinar” menunjukkan bahwa sabar harus ada panas dan pemaksaan diri karena sinar adalah cahaya yang mengandung panas, berbeda dengan cahaya yang hanya sekedar penerangan.
- Sabar dengan tiga jenisnya mengandung pengendalian diri dan kesulitan:
- Sabar dalam ketaatan kepada Allah.
- Sabar dari maksiat kepada Allah.
- Sabar atas takdir Allah.
- Sabar meskipun mengandung kesulitan dan kesusahan, namun akibatnya adalah cahaya dan kelapangan, ini adalah makna ucapan “sinar”, di dalamnya terdapat kabar gembira bagi orang yang sabar.
- Dalam beberapa naskah Shahih Muslim disebutkan “puasa adalah sinar” dan ini menunjukkan:
- Pertama: Kesulitan yang terjadi dalam puasa berupa panas dalam perut, lapar dan haus.
- Kedua: Keutamaan puasa dan bahwa ia adalah sinar bagi manusia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
- Keagungan Al-Quran yang menjadikannya salah satu dari dua hal yang tidak ada ketiganya, yaitu “menjadi hujjah bagimu atau melawanmu”. Siapa yang membacanya dan menegakkan batasannya, maka Al-Quran akan menjadi hujjah (penolong) baginya. Jika tidak, maka akan menjadi hujjah (yang melawannya) karena kejelasan, penjelasan, dan keselamatannya dari kerancuan dan kesalahan.
- Manusia di dunia berusaha dan beramal, baik untuk membebaskan diri mereka dari neraka atau untuk menjerumuskan diri ke dalamnya (dengan usaha dan amal keburukan).
- Keutamaan orang yang menjual dirinya kepada Allah dan membeli surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Inilah orang yang memerdekakan dirinya.
- Kerugian orang yang menyia-nyiakan perintah Allah dan melanggar larangan-Nya. Inilah orang yang membinasakan dan mencelakakan dirinya.
- Di dalamnya terdapat dorongan untuk beramal dan beribadah kepada Allah serta semangat untuk membebaskan diri dari neraka dalam sabdanya “maka ada yang menjual dirinya lalu memerdekakannya”. Adapun sekedar bermalas-malasan, lamban, lemah, dan berangan-angan tidak akan mendatangkan kebaikan.
- Hadits ini menjadi dalil bahwa seseorang memiliki kehendak dan pilihan, dengannya dia memilih memerdekakan diri dari neraka atau rela membinasakan dirinya.
- Hadits ini menjadi dalil bahwa amal perbuatan dinisbatkan kepada pelakunya. Dialah yang memerdekakan dirinya, dan dialah yang membinasakan dirinya. Ini adalah madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah.
- Ada kesesuaian yang jelas antara akhir hadits dengan awalnya. Setelah menyebutkan beberapa amal seperti bersuci, tahmid, tasbih, shalat, sedekah, sabar, dan Al-Quran, disebutkan bahwa siapa yang mengerjakan amal-amal ini, dia telah memerdekakan dirinya, dan siapa yang meninggalkan dan meremehkannya, dia telah membinasakan dirinya.
- Sabdanya “maka ada yang menjual dirinya lalu memerdekakan-nya” mendukung hadits lain yang berbunyi “nama yang paling benar adalah Harits dan Hammam” (yang berarti pembajak dan yang memiliki kemauan keras). Manusia harus membajak, beramal, memiliki kemauan dan kehendak yang dengannya dia bergerak. Setelah itu, bisa jadi usaha dan amalnya untuk memerdekakan dirinya, atau bisa jadi untuk membinasakan dirinya. Adapun adanya seseorang tanpa amal dan kehendak, itu tidak mungkin terjadi.
HADITS KEDUA PULUH EMPAT
Dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits qudsi yang diriwayatkan dari Allah ‘azza wa jalla bahwa Dia berfirman:
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharam-kan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.
Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku beri kalian petunjuk.
Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua lapar kecuali yang Aku beri makan, maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku beri kalian makan.
Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua telanjang kecuali yang Aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku beri kalian pakaian.
Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa siang dan malam, dan Aku mengampuni dosa-dosa semuanya, maka mohonlah ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni kalian.
Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan bisa mencapai kemudharatan-Ku sehingga memberi mudharat kepada-Ku, dan kalian tidak akan bisa mencapai kemanfaatan-Ku sehingga memberi manfaat kepada-Ku.
Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang pertama dan terakhir dari kalian, manusia dan jin kalian, memiliki hati yang paling jahat seperti hati salah seorang dari kalian, hal itu tidak akan mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun.
Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang pertama dan terakhir dari kalian, manusia dan jin kalian, berdiri di satu tempat lalu meminta kepada-Ku, kemudian Aku beri setiap orang permintaannya, hal itu tidak akan mengurangi apa yang ada di sisi-Ku kecuali seperti berkurangnya air laut ketika jarum dicelupkan ke dalamnya.
Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya itu adalah amal-amal kalian yang Aku catat untuk kalian kemudian Aku balas. Maka barangsiapa mendapatkan kebaikan hendaklah dia memuji Allah, dan barangsiapa mendapatkan selain itu maka janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri.”
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Hadits ini menanamkan dalam jiwa Muslim akan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan ini tampak jelas dalam semua lafaz hadits.
- Menumbuhkan rasa malu kepada Allah Subhanahu, karena meskipun Dia Maha Kaya secara sempurna dan Maha Agung, namun Dia memanggil hamba-hamba-Nya dengan panggilan yang lembut untuk berdoa, beribadah, dan memohon ampun kepada-Nya.
- Menambah kecintaan kepada Allah dalam hati orang-orang beriman. Barangsiapa yang tidak bertambah cintanya kepada Allah setelah hadits ini, hendaklah dia mencurigai hatinya, karena semua lafaz dan makna hadits ini menyuburkan dan menggerakkan rasa cinta dalam hati.
- Panggilan dalam firman-Nya “Wahai hamba-hamba-Ku” ditujukan kepada seluruh manusia – mukmin dan kafir, manusia dan jin, karena mereka semua adalah hamba Allah dalam pengertian penghambaan secara umum.
- Allah menyukai pujian, oleh karena itu Dia memuji diri-Nya dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya dengan nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang tinggi. Bahkan sifat-sifat yang dinafikan dari Allah seperti tidur, kantuk, dan mati mengandung pujian, karena Dia tidak tidur karena kesempurnaan-Nya, tidak mati karena sifat qayyum dan kehidupan-Nya. Hadits ini seluruhnya adalah pujian kepada Allah karena Dia memang layak dipuji.
- Menanamkan dalam jiwa mukmin rasa butuh kepada Allah, merendahkan diri kepada-Nya, kelemahan, dan kesempurnaan kebutuhan kepada-Nya.
- Menunjukkan bahwa Allah Maha Kaya dari seluruh makhluk-Nya, Dia kaya dengan Dzat-Nya.
- Madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa Allah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya meskipun Dia mampu melakukannya. Namun Dia mengharamkannya sebagai karunia, kemurahan, dan kemuliaan-Nya. Dia mampu melakukannya, sebab jika tidak mampu, tidak ada pujian dalam pengharaman kezaliman atas diri-Nya. Bagaimana mungkin Dia memuji diri-Nya dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukan-Nya?
- Hadits ini menunjukkan pengharaman kezaliman dalam segala bentuk dan jenisnya di antara manusia. Redaksi hadits menunjukkan peringatan darinya, di mana Allah menjadikannya haram atas diri-Nya kemudian mengharamkannya atas manusia. Maka apa balasan bagi yang melanggar setelah itu dan berbuat zalim?
- Di antara kezaliman yang diharamkan Allah adalah menyekutukan-Nya, berdoa kepada selain-Nya, berlindung kepada selain-Nya, melanggar larangan-Nya, dan melampaui batas-batas-Nya.
- Hadits ini menunjukkan bahwa hidayah ada di tangan Allah, Dia berikan kepada siapa yang dikehendaki dengan karunia-Nya, dan mencegahnya dari siapa yang dikehendaki dengan keadilan-Nya. Oleh karena itu Dia berfirman “maka mintalah petunjuk kepada-Ku” sehingga diminta dari sisi-Nya.
- Hadits ini menunjukkan bahwa manusia, jika bukan karena pertolongan Allah, pasti tersesat dan tidak memiliki petunjuk dan bimbingan bagi dirinya “Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua sesat”.
- Firman-Nya “kalian semua sesat kecuali yang Aku beri petunjuk” menunjukkan keutamaan para Rasul karena Allah memberi petunjuk manusia melalui mereka dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, menyampaikan agama Allah, petunjuk-Nya, dan cahaya-Nya.
- Hadits ini menunjukkan kebutuhan manusia akan hidayah di setiap saat kehidupannya. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Dosa-dosa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari jiwa dan dia membutuhkan hidayah setiap saat, dan kebutuhannya kepada hidayah lebih besar daripada kebutuhannya kepada makan dan minum.”
Beliau juga menjelaskan: “Oleh karena itu Allah memerintahkan kita untuk meminta petunjuk dengan firman-Nya ‘maka mintalah petunjuk kepada-Ku’. Adapun pertanyaan orang yang mengatakan bahwa Allah telah memberi mereka petunjuk kepada iman sehingga mereka tidak membutuhkan hidayah lagi, dan jawaban orang yang menjawab bahwa yang diminta adalah keberlangsungan hidayah, itu adalah perkataan orang yang tidak mengerti keadaan manusia dan apa yang diperintahkan kepadanya. Karena hakikat jalan yang lurus adalah: melakukan setiap waktu apa yang diperintahkan pada waktu itu dari ilmu dan amal, tidak melakukan apa yang dilarang, serta memiliki keinginan yang kuat untuk melakukan yang diperintahkan dan kebencian yang kuat untuk meninggalkan yang dilarang. Ilmu yang terperinci dan keinginan yang terperinci ini tidak mungkin didapatkan hamba dalam satu waktu, bahkan setiap waktu dia membutuhkan Allah untuk menjadikan dalam hatinya ilmu dan keinginan yang menuntunnya pada waktu itu.”
- Dalam hadits ini Allah memerintahkan untuk berdoa dan menjanjikan pengabulan. Dia berfirman “Mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku beri petunjuk”, “Mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku beri makan”, “Mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku beri pakaian”. Ini menanamkan dalam jiwa keyakinan akan janji Allah.
- Makanan dan rezeki secara umum semuanya dari Allah, tidak ada seorangpun yang memilikinya. Ini mewajibkan keyakinan terhadap pembagian Allah, ridha dengannya, dan meminta rezeki kepada Allah.
- Dalam firman-Nya “kalian semua lapar kecuali yang Aku beri makan” menunjukkan puncak kefakiran dan kebutuhan manusia, serta ketiadaan daya dan kekuatan tanpa Allah, di mana dia tidak mampu memberi makan dirinya apalagi memberinya petunjuk. Ini juga tampak dalam firman-Nya “kalian semua telanjang kecuali yang Aku beri pakaian” di mana manusia tidak mampu menutupi auratnya, Maha Suci Allah Yang Maha Kaya.
- Di dalamnya terdapat penjelasan tentang karunia Allah atas seluruh makhluk-Nya dan kemurahan-Nya kepada mereka dalam hal makanan, minuman, pakaian, dan petunjuk, dan tidak ada batas untuk itu, maka bagi-Nya segala puji.
- Mendidik untuk memikirkan kehidupan manusia itu sendiri, dalam makanan, minuman, dan pakaiannya. Siapa yang memikirkan bagaimana itu semua datang kepadanya? Dan siapa yang mengantarkannya? Hal itu akan menuntunnya kepada syukur dan pengakuan akan karunia Pemberi nikmat.
- Maha Suci Allah yang mengetahui seluruh kesalahan manusia dan menghitungnya, tidak ada yang luput dari-Nya dan tidak ada yang tersembunyi dari-Nya “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa siang dan malam”.
- Firman-Nya “berbuat dosa siang dan malam” menanamkan pengawasan Allah dalam hati Muslim karena Allah mengetahui dan menghitung dosa-dosanya. Siapa yang merasa diawasi Allah, dia akan mencegah nafsunya dari hawa nafsu.
- Di dalamnya terdapat keagungan kesantunan Allah di mana maksiat, dosa, dan kesalahan datang kepada-Nya dari makhluk siang dan malam, namun Dia tidak menyegerakan hukuman kepada mereka.
- Firman-Nya “dan Aku mengampuni dosa-dosa semuanya” menambah kedudukan harapan pada orang mukmin.
- Hadits ini menunjukkan keagungan Allah yang mutlak, ini tampak dalam firman-Nya “kalian tidak akan mencapai kemudharatan-Ku sehingga memberi mudharat kepada-Ku dan tidak akan mencapai kemanfaatan-Ku sehingga memberi manfaat kepada-Ku”.
- Allah tidak menganggap besar suatu dosa untuk mengampuninya jika pelakunya memohon ampun, walau itu syirik, karena firman-Nya “dan Aku mengampuni dosa-dosa semuanya”.
- Di dalamnya terdapat pendidikan bagi manusia untuk beristighfar, memperbanyak, dan melanggengkannya karena sangat membutuhkannya, sesuai firman-Nya “maka mohonlah ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni kalian”.
- Menunjukkan bahwa hamba membutuhkan Allah dalam urusan dunia seperti menghilangkan lapar, haus, dan pakaian, dan membutuhkan-Nya dalam urusan akhirat seperti hidayah dan pengampunan dosa.
- Ketaatan tidak bermanfaat kecuali bagi pelakunya, dan tidak membahayakan kecuali dirinya sendiri. Adapun Allah, ketaatan orang yang taat tidak memberi manfaat kepada-Nya dan maksiat orang yang bermaksiat tidak memberi mudarat kepada-Nya “Wahai hamba-hamba-Ku, kalian tidak akan mencapai kemudharatan-Ku sehingga memberi mudharat kepada-Ku dan tidak akan mencapai kemanfaatan-Ku sehingga memberi manfaat kepada-Ku”.
- Kemuliaan-Nya dalam memberi rezeki kepada seluruh makhluk, mendatangkan manfaat dan menolak bahaya, meskipun di antara mereka ada yang kafir, bermaksiat, dan yang taat namun kurang dalam ketaatannya.
- Firman-Nya “berdiri di satu tempat lalu meminta kepada-Ku, kemudian Aku beri setiap orang permintaannya, hal itu tidak akan mengurangi apa yang ada di sisi-Ku sedikitpun” searti dengan firman-Nya “Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami ada khazanahnya” (QS. Al-Hijr: 21).
- Pahala dan siksa didasarkan pada amal perbuatan, Allah mengampuni kesalahan-kesalahan dan memaafkan siapa yang Dia kehendaki, dan memasukkan ke surga siapa yang Dia kehendaki dengan karunia-Nya.
- Manusia harus mengembalikan sebab kebaikan yang menimpanya kepada Allah, dan sebab keburukan yang menimpanya kepada dirinya sendiri dan mencurigai dirinya dalam hal itu, sebagaimana firman-Nya “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri” (QS. An-Nisa: 79) dan dalam hadits ini “Sesungguhnya itu adalah amal-amal kalian”.
- Dalam firman-Nya “maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku beri petunjuk” bersama firman-Nya “sesungguhnya itu adalah amal-amal kalian” terdapat dasar madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam bab takdir bahwa hidayah ada di tangan Allah, Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan hamba memiliki takdir, pilihan, dan amalnya dinisbatkan kepadanya.
- Dalam hadits ini Allah menghitung semua amal sesuai firman-Nya “Aku menghitungnya untuk kalian”, maka kita memohon Allah untuk memaafkan kita.
- Hadits ini mengumpulkan tiga amalan hati:
- Pertama: Cinta, ini ada dalam semua lafaz hadits karena meningkatkan kecintaan kepada Allah.
- Kedua: Harap, ini dalam firman-Nya “dan Aku mengampuni dosa-dosa semuanya”.
- Ketiga: Takut, ini dalam firman-Nya “sesungguhnya itu adalah amal-amal kalian yang Aku hitung untuk kalian”.
- Masuk surga adalah dengan karunia dan rahmat Allah, bukan sekedar dengan amal. Oleh karena itu Dia berfirman dalam hadits “maka barangsiapa mendapatkan kebaikan hendaklah dia memuji Allah” yaitu memuji-Nya karena kebaikan itu dengan karunia Allah bukan sekedar dengan amal.
- Menanamkan dalam hati Muslim untuk menghisab diri dan amal-amalnya.
- Menunjukkan bahwa jin dibebani untuk beribadah kepada Allah seperti manusia, dan Allah akan menghisab mereka semuanya.
- Hadits ini mengumpulkan sejumlah besar amalan hati dan meningkatkannya seperti: tawakkal, meminta pertolongan, introspeksi diri, kejujuran, keikhlasan, ketergantungan, takut, cinta, harap… dan lainnya yang semuanya diperhatikan oleh hadits karena termasuk dalam komponen keimanan.
- Rezeki seluruh manusia, dunia, harta, dan segala yang ada di alam semesta tidak mengurangi sedikitpun apa yang ada di sisi Allah. Maha Suci Allah yang pemberian-Nya tidak mengurangi apa yang ada di sisi-Nya, sesuai firman-Nya “tidak akan mengurangi apa yang ada di sisi-Ku sedikitpun”.
- Ketakwaan dan kefasikan tempatnya di hati, oleh karena itu Dia berfirman “pada hati orang yang paling bertakwa di antara kalian” dan “pada hati orang yang paling fasik di antara kalian”. Maka manusia harus memperhatikan hatinya, menjaga keadaan dan ketakwaannya, serta menghilangkan penyakit-penyakitnya.
HADITS KEDUA PULUH LIMA
Dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu bahwa beberapa orang dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah pergi dengan pahala yang banyak. Mereka shalat seperti kami shalat, puasa seperti kami puasa, dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Beliau bersabda: “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian sesuatu untuk bersedekah? Sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, amar ma’ruf adalah sedekah, nahi munkar adalah sedekah, dan pada kemaluan salah seorang di antara kalian ada sedekah.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah jika salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya akan mendapat pahala?” Beliau menjawab: “Bagaimana pendapat kalian jika dia menyalurkannya pada yang haram, bukankah dia berdosa? Demikian pula jika dia menyalurkannya pada yang halal, dia mendapat pahala.” (HR. Muslim)
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Di dalam hadits terdapat anjuran berlomba-lomba dalam kebaikan dan berkompetisi di dalamnya, bukan dalam urusan dunia.
- Penjelasan tentang keadaan para sahabat dan ketinggian cita-cita mereka, serta apa yang menyibukkan dan terlintas dalam pikiran mereka, di mana perhatian terbesar salah seorang dari mereka adalah agar tidak ada yang mendahuluinya dalam kebaikan.
- Para sahabat bersedih jika salah seorang dari mereka tidak bisa melakukan suatu kebaikan, sebagaimana Allah menggambarkan mereka: “dan tidak pula atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu.’ Lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.” (At-Taubah: 92)
- Berprasangka baik kepada sesama Muslim, di mana para sahabat berkata tentang saudara-saudara mereka yang kaya “mereka pergi dengan pahala”. Mereka berprasangka baik bahwa Allah menerima sedekah mereka. Ini semua karena jernihnya hati mereka dari dengki, dendam, dan hasad.
- Siapa yang diberi kelebihan oleh Allah berupa harta atau lainnya, hendaklah dia menggunakannya dalam ketaatan kepada Allah. Jika tidak, maka dia tidak mengambil manfaat dari kelebihan tersebut. Para sahabat yang kaya menginfakkan apa yang Allah berikan kepada mereka sehingga mendahului yang lain yang tidak memiliki harta.
- Kompetisi dan perlombaan para sahabat bersih dari rasa dengki dan hasad, melainkan hanya berupa ghibthah (iri yang positif) atas apa yang Allah berikan kepada sebagian mereka. Oleh karena itu, mereka tidak mencela atau menghina atau berharap hilangnya apa yang ada pada orang lain.
- Hadits ini menunjukkan bahwa jika seseorang tidak mampu melakukan sesuatu, dia bisa beralih ke pintu kebaikan yang lain. Ketika para sahabat yang fakir tidak memiliki sesuatu untuk disedekahkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan kepada mereka pintu-pintu ibadah lain seperti tasbih, tahmid, dan lainnya.
- Pada dasarnya seorang Muslim hendaknya memperbanyak jenis ibadah dari shalat, puasa, infak, dan lainnya agar beruntung mendapat penerimaan dari Allah, karena dia tidak tahu amalan mana yang diterima.
- Menunjukkan keberagaman dan banyaknya cabang iman yang membuat seseorang sibuk sepanjang hidupnya dalam mengumpulkan dan mengikutinya.
- Semua jenis perbuatan baik adalah sedekah, dari dzikir kepada Allah, amar ma’ruf, nahi munkar, dan lainnya.
- Pemenuhan syahwat seseorang bernilai sedekah jika diniatkan karena Allah.
- Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan naluriah mengikuti hukum hubungan suami istri seperti: makan, minum, tidur, mencari rezeki halal, dan lainnya, semuanya mendapat pahala di sisi Allah bagi seorang Muslim.
- Di dalamnya terdapat penjelasan tentang kemuliaan Allah kepada hamba-hamba-Nya dalam membuka pintu-pintu kebaikan dan ibadah.
- Kemuliaan seorang Muslim di sisi Allah di mana bahkan dalam urusan fitrah dia mendapat pahala.
- Dalil bagi yang berhujjah dengan qiyas, yaitu mayoritas ulama, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengqiyaskan pahala hubungan suami istri dengan dosa perbuatan haram.
- Kesopanan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat di mana mereka menggunakan kiasan tentang syahwat. Nabi bersabda “dan pada salah seorang dari kalian ada sedekah” dan “menyalurkannya pada yang haram”, dan para sahabat berkata “memenuhi syahwatnya”. Mereka menggunakan kiasan dalam ungkapan-ungkapan seperti ini dan tidak berterus terang karena kesempurnaan kesopanan mereka.
- Sedekah bisa dilakukan tanpa harta sebagaimana jelas dalam hadits.
- Seorang ulama harus membuka dan menjelaskan berbagai pintu kebaikan kepada manusia agar setiap orang dapat melakukan apa yang mampu mereka lakukan. Untuk itu Nabi ﷺ menjelaskan kepada para sahabat berbagai pintu kebaikan yang meliputi sedekah, zikir, dan amar ma’ruf.
- Seorang ulama harus memudahkan orang dalam melakukan kebaikan dan tidak membuat penghalang antara mereka. Justru, hendaknya menjadikan perbuatan baik lebih dekat kepada mereka dari segala yang dekat, sebagaimana yang dilakukan Nabi ﷺ terhadap para sahabat yang fakir.
- Hadits ini mendidik jiwa Muslim untuk menjaga waktu. Selama tahlil, takbir, tahmid dan zikir secara umum adalah sedekah, bahkan setiap perbuatan baik adalah sedekah, hal ini membuat Muslim bersemangat untuk tidak menghabiskan waktunya kecuali dalam melakukan sedekah.
- Hadits ini memperbarui niat dalam hati orang beriman. Menggauli istri, menafkahi keluarga, dan mencari rezeki ditulis sebagai sedekah jika diniatkan dan diharapkan pahalanya dari Allah. Ini membuat orang beriman selalu memperbarui niatnya seiring berjalannya waktu.
HADITS KEDUA PULUH ENAM
Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap persendian manusia wajib bersedekah setiap hari matahari terbit: mendamaikan antara dua orang adalah sedekah, membantu seseorang dengan hewan tunggangannya dengan menaikkannya atau mengangkat barangnya adalah sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, setiap langkah menuju shalat adalah sedekah, dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Wajib bersyukur atas nikmat Allah yang ada pada diri manusia, karena sabda “setiap persendian manusia wajib bersedekah” artinya setiap tulang manusia perlu bersyukur kepada Allah dengan sedekah karena Dia telah menyusun dan menyempurnakannya.
- Memikirkan hal yang ada pada diri sendiri adalah sifat orang-orang beriman sebagaimana firman Allah “Dan pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (Adz-Dzariyat: 21)
- Sedekah terbaik adalah yang manfaatnya meluas seperti mendamaikan dua orang, membantu mengangkat barang saudara atau membantunya mengangkatnya, dan menyingkirkan gangguan dari jalan.
- Seorang Muslim tidak boleh meremehkan amalan apapun yang diniatkan karena Allah. Dalam hadits Abu Hurairah, sekedar mengangkat barang seseorang ke atas tunggangannya, membantunya dalam hal itu, dan menyingkirkan gangguan dari jalan dianggap sedekah, padahal ini adalah dua perbuatan yang mungkin diremehkan seseorang sebelum mendengar hadits ini.
- Hadits Abu Dzar sebelumnya kebanyakan menyebutkan amalan yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah seperti zikir, tahlil, tahmid, amar ma’ruf dan nahi munkar. Sedangkan hadits Abu Hurairah kebanyakan berkaitan dengan hubungan manusia dengan sesama Muslim dan masyarakatnya. Kedua hadits ini saling melengkapi.
- Mendidik jiwa untuk rendah hati, di mana seorang Muslim mengangkat barang saudaranya, menaikkannya ke atas tunggangannya, dan menyingkirkan gangguan. Semua ini mengusir kesombongan dari hati.
- Mendidik aspek persaudaraan antar Muslim dalam kerja sama, saling mendukung, dan persaudaraan mereka, seperti dalam sabdanya “membantu seseorang dengan hewan tunggangannya dengan menaikkannya atau mengangkat barangnya.”
- Bersyukur atas nikmat dilakukan dengan menggunakannya dalam ketaatan kepada Allah, sebagaimana Allah memerintahkan keluarga Daud: “Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur” (Saba’: 13).
- Di dalamnya terdapat keutamaan mendamaikan antar manusia dan hal itu menjadi sedekah bagi Muslim.
- Muslim itu baik, tidak keluar dari lisannya kecuali perkataan yang baik berupa salam, zikir, dakwah, Al-Qur’an dan lainnya, dan semua ini adalah sedekah.
- Di dalamnya terdapat keutamaan berjalan menuju shalat, terutama jika masjidnya jauh, karena setiap langkah adalah sedekah.
- Hadits ini mendorong Muslim untuk terus melakukan amal saleh setiap hari tanpa berhenti dan tidak bosan, seperti dalam sabdanya “setiap hari matahari terbit, mendamaikan… dan dia menyebutkan berbagai jenis amal saleh.”
- Hadits ini menunjukkan bahwa Muslim itu bermanfaat dan diberkahi dalam semua keadaannya. Jika sendirian dia berzikir kepada Allah sehingga mendapat sedekah, jika bertemu Muslim lain dia membantu dan mempergauli mereka dengan baik, dan jika di jalan dia menyingkirkan gangguan sehingga mendapat sedekah untuk semuanya.
- Manusia hendaknya memanfaatkan urusan kehidupan rutinnya untuk mendapatkan sedekah. Karena dalam kebutuhan hidup, manusia bergaul dengan orang lain, pergi mencari rezeki, dan bepergian, maka hendaknya dia melakukan amar ma’ruf nahi munkar, menyebarkan salam, menyingkirkan gangguan, membantu sesama Muslim, dan mengucapkan kata-kata yang baik. Semua itu Allah catat sebagai sedekah.
- Islam membiasakan Muslim untuk bertanggung jawab atas segala yang ada di sekitarnya. Dia bertanggung jawab atas saudaranya sesama Muslim dan kebutuhannya, bertanggung jawab atas jalan dengan menyingkirkan gangguannya, dan bertanggung jawab atas orang yang berselisih dengan berusaha mendamaikan mereka. Islam tidak mendidik manusia untuk egois dan hanya mencintai diri sendiri.
- Masyarakat Islam tidak rela dengan adanya perselisihan dan pertikaian antar anggotanya, justru mendamaikan mereka. Jika seseorang tidak mampu mendamaikan, dia mengajak yang lain, begitu seterusnya hingga barisan bersatu dan kesatuan tercapai. Oleh karena itu, mendamaikan antara dua orang dijadikan sedekah agar semua orang berpartisipasi dalam sedekah ini.
- Perkataan yang baik dalam pengertian umumnya adalah yang tidak mengandung gangguan bagi Muslim lainnya, sehingga mendapat pahala sedekah.
- Hadits ini menjadikan Muslim sebagai partisipan aktif dalam masalah masyarakatnya, baik dalam mendamaikan, kebersihan, atau memberikan layanan. Dia tidak lalai, menunda-nunda, malas, bergantung pada orang lain, atau mengasingkan diri dari lingkungannya.
HADITS KEDUA PULUH TUJUH
Dari An-Nawwas bin Sam’an, dari Nabi ﷺ bersabda: “Kebajikan adalah akhlak yang baik, dan dosa adalah sesuatu yang mengganjal dalam jiwamu dan kamu tidak suka jika orang lain mengetahuinya.” (HR. Muslim)
Dari Wabishah bin Ma’bad berkata: Aku mendatangi Rasulullah ﷺ, beliau bersabda: “Engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan?” Aku menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Mintalah fatwa dari hatimu. Kebajikan adalah sesuatu yang jiwa dan hati merasa tenang kepadanya. Dan dosa adalah sesuatu yang mengganjal dalam jiwa dan membuat ragu dalam dada, meskipun orang-orang memberi fatwa kepadamu.” (Hadits hasan diriwayatkan Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya dan Ad-Darimi dengan sanad yang hasan)
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Di dalamnya terdapat keutamaan akhlak yang baik dan itu adalah kebajikan.
- Akhlak berbeda dalam kebaikannya, semakin baik akhlak semakin besar kebajikannya.
- Kebajikan memiliki cahaya yang dikenali setiap orang, sedangkan dosa menyebabkan keraguan dan kecemasan.
- Syariat secara umum jelas dalam hal kebajikan dan dosa sehingga yang hak tidak tercampur dengan yang batil.
- Allah menciptakan hamba-Nya dengan fitrah mengenal kebenaran, merasa tenang dan menerimanya, serta menolak kebalikannya secara umum. Karena itu dalam hadits dikatakan “kebajikan adalah sesuatu yang jiwa merasa tenang kepadanya.”
- Menunjukkan bahwa jiwa merasa tenang dengan kebaikan dan kebajikan, karena itu baik untuknya dan kehidupannya.
- Di antara tanda-tanda kebajikan adalah jiwa merasa lega, tenang, dan mantap dengannya secara internal. Ini hanya tanda bukan dalil, namun secara umum jika termasuk kebajikan akan menyebabkan ketenangan hati nurani.
- Di antara tanda-tanda dosa adalah menyebabkan kesempitan dan kesusahan bagi jiwa.
- Kebajikan tidak malu dilakukan dalam kesendirian maupun di masyarakat umum, berbeda dengan dosa yang jika dilakukan dalam kesendirian menyebabkan kesempitan dan kesusahan, dan jika dilakukan terang-terangan membuat malu. Karena itu dikatakan tentang dosa “sesuatu yang mengganjal dalam dadamu dan kamu tidak suka jika orang-orang mengetahuinya” seperti dalam riwayat.
- Hadits ini merupakan dasar dalam bab wara’ (kehati-hatian).
- Kebajikan mencakup menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak makhluk. Ini ditunjukkan oleh perbedaan dua riwayat dalam menafsirkan kebajikan:
- Dalam riwayat pertama: “Kebajikan adalah akhlak yang baik” – ini menunaikan hak-hak makhluk.
- Dalam riwayat kedua: “Kebajikan adalah sesuatu yang jiwa merasa tenang kepadanya” – ini menunaikan hak-hak Allah, karena berkaitan antara manusia dengan Tuhannya.
- Menunjukkan bahwa manusia tidak boleh melakukan sesuatu hanya karena mengikuti orang lain, baik perbuatan itu halal atau haram. Sebaliknya, dia harus berhati-hati dan meminta fatwa dari ulama. Jika tidak menemukan, dia harus melihat tanda-tanda mana yang sesuai dengan perbuatan tersebut: tanda-tanda kebajikan atau dosa? Ini terkadang diketahui melalui manfaat dan mudarat yang ditimbulkannya.
- Menunjukkan bahwa manusia dalam fatwanya bisa keliru, namun tidak dihukumi berdosa atau dicela selama dia telah berusaha dan berijtihad. Karena itu dikatakan “meskipun orang-orang memberi fatwa kepadamu.”
- Ketaatan membawa kebahagiaan bagi mukmin karena termasuk kebajikan yang membuat jiwa tenang.
- Maksiat dan dosa membawa kesengsaraan bagi manusia karena termasuk dosa yang membuat ragu dalam dada dan menyebabkan kesempitan dan kesusahan.
- Menunjukkan bahwa memperbanyak amal kebajikan dan kebaikan menambah ketenangan, ketenteraman, dan kelapangan jiwa.
HADITS KEDUA PULUH DELAPAN
Dari Abu Najih Al-‘Irbadh bin Sariyah berkata: Rasulullah ﷺ memberi kami nasihat yang membuat hati bergetar dan mata berlinang. Kami berkata: “Wahai Rasulullah, seakan-akan ini nasihat perpisahan, maka berilah kami wasiat.” Beliau bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Sesungguhnya siapa yang hidup di antara kalian akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpeganglah pada sunnahku dan sunnah Khulafa Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah dengan gigi geraham. Dan jauhilah perkara-perkara baru, karena setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Manusia hendaknya mendengarkan nasihat dari waktu ke waktu karena bermanfaat bagi hati.
- Pemimpin, pelajar, dan ulama hendaknya memberi nasihat kepada manusia secara berkala sebagaimana yang dilakukan Nabi ﷺ kepada para sahabat.
- Nasihat harus fasih dan kuat untuk mencapai tujuannya. Karena itu, seseorang harus memilih kata-katanya dan memperbaiki maksudnya, semoga Allah memberi manfaat dengannya.
- Di dalamnya terdapat penjelasan hubungan hati dengan anggota tubuh. Ketika hati tersentuh dan khusyuk, mata terpengaruh sehingga berlinang dan menangis karena takut kepada Allah.
- Pemahaman mendalam sahabat Al-‘Irbadh bin Sariyah ketika mendahulukan ucapan “hati bergetar” sebelum “mata berlinang” karena hati adalah yang utama.
- Rasa takut para sahabat kepada Allah, sehingga ketika mendengar nasihat, mata mereka berlinang dan hati mereka bergetar.
- Menangis dalam majelis nasihat dan zikir ketika seseorang tidak bisa menahannya bukanlah riya, sebagaimana para sahabat RA menangis dalam hadits ini.
- Perkataan yang bermanfaat adalah yang meresap ke dalam hati sehingga mempengaruhinya karena kejujuran dan keikhlasan pemberi nasihat.
- Pemahaman dan kecerdasan para sahabat terhadap apa yang dikatakan Nabi, karena itu mereka berkata “Wahai Rasulullah, seakan-akan ini nasihat perpisahan.” Mereka memahami dari kata-kata tersebut bahwa ini adalah wasiat perpisahan. Pemahaman ini didapat dengan konsentrasi dan perhatian. Adapun kelalaian dan ketidakpedulian saat nasihat akan menghilangkan manfaat bagi orangnya.
- Disyariatkan bagi Muslim untuk meminta wasiat dari orang lain, dan wajib bagi yang lain untuk memberi nasihat dalam wasiatnya dan tidak menipunya.
- Manusia harus mencari ahli ilmu dan keutamaan serta meminta nasihat dari mereka karena nasihat dan wasiat mereka lebih baik dari yang lain.
- Wasiat terbesar secara mutlak adalah wasiat untuk bertakwa kepada Allah karena mencakup melakukan ketaatan dan meninggalkan larangan, yaitu agama secara keseluruhan.
- Menunjukkan wajibnya mendengar dan taat kepada pemimpin kaum muslimin, yang ditegaskan dengan ucapannya “meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak.”
- Mendengar dan taat kepada pemimpin kaum muslimin adalah bagian dari takwa kepada Allah, maka ditaati dalam rangka ibadah kepada Allah. Karena itu Nabi ﷺ menyebutkan mendengar dan taat setelah ucapannya “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah.”
- Batasan ketaatan kepada pemimpin kaum muslimin adalah dalam batas takwa kepada Allah, sebagaimana mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah. Batasan ini diambil dari hubungan antara sabda Nabi ﷺ “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah” dengan sabdanya “dan mendengar dan taat meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak.”
- Hadits ini mengatasi perpecahan dan pemisahan barisan dengan berkumpul dalam ketakwaan kepada Allah dan di bawah satu pemimpin.
- Hadits ini termasuk mukjizat Nabi ﷺ karena sabdanya “Sesungguhnya siapa yang hidup di antara kalian akan melihat perselisihan yang banyak” dan ini terjadi setelah wafatnya dengan munculnya perpecahan dan perselisihan.
- Semakin jauh dari risalah kenabian, semakin banyak perselisihan karena dominannya kebodohan, “Sesungguhnya siapa yang hidup di antara kalian akan melihat perselisihan yang banyak.”
- Hadits ini menyebutkan solusi untuk fitnah, perpecahan, dan perselisihan, yang diringkas dalam beberapa hal:
- Takwa kepada Allah (“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah”).
- Mendengar dan taat (“dan mendengar dan taat”).
- Berpegang pada sunnah (“maka berpeganglah pada sunnahku”).
- Menjauhi bid’ah (“dan jauhilah perkara-perkara baru”).
- Menunjukkan kehujjahan sunnah Khulafa Rasyidin karena Nabi ﷺ menegaskannya “maka berpeganglah pada sunnahku dan sunnah Khulafa Rasyidin yang mendapat petunjuk.”
- Di dalamnya terdapat tazkiyah (penyucian) untuk keempat khalifah karena sabdanya “Rasyidin (yang lurus) yang mendapat petunjuk.”
- Dalam hadits ini terdapat penekanan untuk berpegang pada sunnah, yaitu:
- Sabdanya “berpeganglah pada sunnahku”: ini perintah.
- Sabdanya “gigitlah”: kata menggigit menunjukkan berpegang dalam maknanya.
- Sabdanya “dengan gigi geraham”: yaitu gigi yang paling kuat, menunjukkan kuatnya pegangan.
- Dalam hadits ini terdapat penekanan untuk menjauhi bid’ah, yaitu:
- Sabdanya “jauhilah”: ini kata peringatan.
- Sabdanya “setiap”: ini kata yang bermakna umum dan ditambahkan pada kata setelahnya “bid’ah” sehingga berkumpul dua bentuk keumuman.
- Sabdanya “kesesatan”: ini sifat untuk semua bid’ah sebagai sesat, ini bentuk celaan dan peringatan.
- Di dalamnya terdapat penjelasan lengkap tentang definisi bid’ah karena disebutkan setelah sabdanya “berpeganglah pada sunnahku dan sunnah Khulafa,” menunjukkan bahwa semua yang bukan sunnah dari mereka adalah bid’ah.
- Di dalamnya terdapat penjelasan hukum semua bid’ah dan bahwa semuanya tidak diperbolehkan karena disifati semuanya dengan kesesatan.
- Bid’ah tidak ada yang baik selamanya karena merupakan kesesatan, maka jangan tertipu dengan orang yang memandangnya baik atau mengklaim ada maslahat yang tidak ada pada yang lainnya.
HADITS KEDUA PULUH SEMBILAN
Dari Mu’adz bin Jabal berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku amalan yang akan memasukkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka.” Beliau bersabda: “Engkau telah bertanya tentang perkara yang besar, dan sungguh ia mudah bagi orang yang Allah mudahkan baginya: Engkau menyembah Allah tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah.” Kemudian beliau bersabda: “Maukah aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, sedekah memadamkan kesalahan seperti air memadamkan api, dan shalat seseorang di tengah malam.” Kemudian beliau membaca: “(Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya)” hingga “(yang mereka kerjakan).” Kemudian beliau bersabda: “Maukah aku beritahukan kepadamu pokok perkara, tiangnya, dan puncaknya?” Aku berkata: “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.” Kemudian beliau bersabda: “Maukah aku beritahukan kepadamu penentu semua itu?” Aku berkata: “Ya, wahai Rasulullah.” Maka beliau memegang lisannya dan bersabda: “Tahanlah ini.” Aku berkata: “Wahai Nabi Allah, apakah kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita ucapkan?” Beliau bersabda: “Celaka ibumu wahai Mu’adz! Tidakkah manusia tersungkur di neraka di atas wajah mereka – atau beliau bersabda: di atas hidung mereka – melainkan karena hasil ucapan lisan mereka?” (HR. Tirmidzi dan dia berkata: Hadits hasan)
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Penekanan pentingnya bertanya dalam mencari ilmu, sebagaimana telah dijelaskan dalam hadits-hadits sebelumnya.
- Manusia boleh bertanya tentang apa yang dia inginkan meskipun itu perkara besar.
- Penuntut ilmu bertanya tentang hal-hal yang berkaitan dengan dirinya dari pertanyaan-pertanyaan yang bermanfaat, karena itu sahabat berkata “beritahukan kepadaku.”
- Pertanyaan diajukan untuk mengamalkan jawabannya, karena itu dia berkata “beritahukan kepadaku amalan yang akan memasukkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka.”
- Pengajar sebaiknya memuji penanya yang baik untuk mendorongnya bertanya, karena itu Nabi ﷺ ketika ditanya, beliau bersabda “Engkau telah bertanya tentang perkara yang besar.”
- Pengajar menggunakan beberapa metode dalam mendidik seperti:
- Dorongan (“Engkau telah bertanya tentang perkara yang besar”)
- Motivasi (“dan sungguh ia mudah bagi orang yang Allah mudahkan baginya” setelah menyebut “perkara besar”)
- Pentingnya hadits ini, terlihat dari bentuk pertanyaan “beritahukan kepadaku amalan yang akan memasukkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka” dan dari awal jawaban “Engkau telah bertanya tentang perkara yang besar.” Karena itu Imam Nawawi memasukkannya dalam Arbain karena mencakup banyak prinsip.
- Taufik semuanya di tangan Allah, dari-Nya diberikan kepada yang dikehendaki dan ditahan dari yang dikehendaki. Karena itu beliau bersabda “dan sungguh ia mudah bagi orang yang Allah mudahkan baginya.” Ini mewajibkan untuk berserah diri kepada-Nya, memohon kepada-Nya, dan berusaha dalam hal itu.
- Di antara keutamaan rukun Islam adalah memasukkan ke surga dan menjauhkan dari neraka.
- Hadits menunjukkan bahwa amal termasuk iman.
- Tafsir praktis dua kalimat syahadat adalah “menyembah Allah tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu” dengan mengarahkan semua jenis ibadah hanya kepada Allah.
- Di dalamnya terdapat penyebaran ilmu karena sabdanya “Maukah aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan…”
- Ulama hendaknya menambah jawaban jika melihat manfaat dalam hal itu, sebagaimana yang dilakukan Nabi ﷺ dalam hadits ini di mana beliau menambah jawaban.
- Da’i hendaknya memilih metode terbaik untuk menyebarkan kebaikan di antara manusia, menunjukkan mereka kepadanya, dan membuat mereka mencintainya. Rasulullah ﷺ bersabda “Maukah aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan?” menggabungkan beberapa metode seperti dorongan, motivasi, pertanyaan, dan ketertarikan.
- Di dalamnya terdapat keutamaan puasa dan bahwa ia adalah pelindung dari syahwat dan hal-hal haram serta pengobatan untuknya. Karena itu beliau bersabda “puasa adalah perisai” secara mutlak tanpa batasan.
- Di dalamnya terdapat keutamaan sedekah dan bahwa ia memadamkan kesalahan.
- Amal saleh menghapus amal buruk. Siapa yang tergelincir dalam melakukan hal haram, hendaknya mengikutinya dengan kebaikan.
- Nabi ﷺ menjadikan sedekah seperti air yang di dalamnya ada kehidupan dan pertumbuhan. Sedekah juga demikian, di dalamnya ada pertumbuhan harta dan penyucian bagi harta dan pemiliknya dari bahaya dosa.
- Nabi ﷺ menjadikan dosa seperti api yang membakar dan menghancurkan, begitu pula dosa terhadap pelakunya.
- Di dalamnya terdapat keutamaan shalat malam dibanding siang hari dan bahwa shalat malam dapat menghapus dosa.
- Seorang Muslim hendaknya memvariasikan ibadahnya antara shalat, puasa, sedekah dan amalan sunnah agar mendapatkan semua keutamaan yang disebutkan dalam hadits.
- Hadits ini menganjurkan untuk memperbanyak amalan rahasia yang hanya diketahui Allah seperti puasa, sedekah, dan shalat di tengah malam, karena hal itu lebih dekat kepada penerimaan, keikhlasan dan kejujuran.
- Di dalamnya terdapat penggunaan ayat Al-Quran sebagai dalil dalam pembicaraan sebagaimana yang dilakukan Nabi SAW.
- Sunnah menafsirkan Al-Quran, sebagaimana Nabi ﷺ menafsirkan ayat “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya” dengan shalat seseorang di tengah malam.
- Di dalamnya terdapat keutamaan shalat dan jihad dalam Islam, oleh karena itu keduanya menjadi tiang agama dan puncak tertingginya.
- Menunjukkan tingginya kedudukan jihad dan tingkatannya “Dan puncak tertingginya adalah jihad”. Karena bagian tertinggi dari sesuatu adalah punuknya dan puncak tertinggi dari punuk adalah puncaknya, begitu pula jihad.
- Di dalamnya terdapat penjelasan bahaya lisan bagi manusia.
- Di dalamnya terdapat keutamaan menahan lisan dari membicarakan hal yang tidak sepatutnya.
- Asal dari semua kebaikan adalah menahan lisan, berdasarkan sabdanya “Maukah aku beritahu tentang pokok dari semua itu?”
- Di antara metode pengajaran adalah dengan isyarat atau pengajaran langsung, sebagaimana Nabi ﷺ memegang lisannya dengan tangannya, dan dalam riwayat lain “beliau mengisyaratkan ke lisannya”.
- Menunjukkan bahwa kebanyakan sebab masuk neraka adalah karena lisan, maka wajib berhati-hati darinya.
- Syariat mendidik pengikutnya untuk beramal dan berbuat, bukan sekadar berbicara tanpa makna. Oleh karena itu, Nabi ﷺ menyebutkan di awal hadits banyak amalan iman dan mengakhiri hadits dengan peringatan tentang lisan dan maksud kerusakannya.
- Hadits ini mendidik Muslim untuk menghitung lisannya sebelum mengucapkan setiap ungkapan, apakah akan menuntunnya ke neraka atau tidak.
- Seorang alim memperhatikan perbedaan di antara murid-muridnya. Oleh karena itu, ketika penanya adalah Mu’adz bin Jabal – seorang penuntut ilmu yang dipersaksikan oleh Nabi ﷺ – beliau memberinya jawaban yang lebih banyak dan luas karena mengetahui kebutuhannya akan hal itu. Sedangkan ketika penanya adalah seorang badui misalnya, Nabi ﷺ memberinya jawaban yang sesuai dengannya. Ini termasuk pengetahuan tentang kondisi murid.
- Manusia pada hari kiamat akan menuai apa yang dia tanam di dunia. Ini diambil dari sabda beliau ﷺ “hasil panen lisan mereka”. Maka hendaklah seseorang menjaga tanamannya hari ini, merawatnya dan memperbaikinya agar panen pada hari kiamat menjadi buah yang matang.
HADITS KETIGA PULUH
Dari Abu Tsa’labah Al-Khusyani Jurtsum bin Nasyir, dari Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka janganlah kamu sia-siakan, dan telah menetapkan beberapa batasan, maka janganlah kamu melanggarnya, dan telah mengharamkan beberapa hal, maka janganlah kamu melanggarnya, dan Allah diam tentang beberapa hal sebagai rahmat bagi kamu, bukan karena lupa, maka janganlah kamu membahasnya.” (Hadits hasan riwayat Daruquthni dan lainnya)
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Hadits menunjukkan kesempurnaan syariat Islam dari segala sisi, sehingga sesuai untuk semua generasi sepanjang masa.
- Menunjukkan kemudahan syariat Islam, bahwa ia bebas dari hal-hal yang memberatkan, ringkasnya hanya kewajiban yang harus dilakukan dan larangan yang harus ditinggalkan.
- Menunjukkan bahwa kewajiban dan pengharaman semuanya dari Allah, jika Muslim menyadari ini, sulit baginya berbicara atas nama Allah tanpa ilmu.
- Menjelaskan rahmat Allah kepada hamba-Nya dengan firman-Nya “dan Allah diam tentang beberapa hal sebagai rahmat bagi kamu”.
- Mensucikan Allah dari sifat lupa dan segala sifat kekurangan.
- Larangan mencari-cari hal yang detail dan membebani diri dengan apa yang tidak diwajibkan Allah.
- Hal-hal yang mubah dalam syariat Islam jauh lebih banyak dari yang dilarang.
HADITS KETIGA PULUH SATU
Dari Abu Abbas Sahl bin Sa’d As-Sa’idi berkata: Seseorang datang kepada Nabi ﷺ dan berkata: “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku amalan yang jika aku melakukannya, Allah akan mencintaiku dan manusia akan mencintaiku.” Beliau bersabda: “Zuhudlah terhadap dunia, Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia, manusia akan mencintaimu.” (Hadits hasan riwayat Ibnu Majah dan lainnya)
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Seorang mukmin harus berusaha agar dicintai Allah dan manusia.
- Mencari cinta manusia tidak bertentangan dengan cinta Allah.
- Menunjukkan bahwa zuhud terhadap dunia mendatangkan cinta Allah.
- Menunjukkan bahwa zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia mendatangkan cinta manusia.
- Zuhud termasuk amalan hati sebagaimana dikatakan Imam Ahmad.
- Untuk mengetahui hakikat zuhud yang sebenarnya, lihatlah zuhud Nabi ﷺ.
- Zuhud terhadap apa yang ada pada manusia berarti tidak bergantung hati pada apa yang mereka miliki.
- Menunjukkan bahwa siapa yang terikat dengan dunia dan mengutamakannya tidak akan dicintai Allah.
- Menunjukkan bahwa manusia tidak menyukai orang yang meminta-minta apa yang mereka miliki.
- Siapa yang zuhud terhadap dunia akan bergantung pada apa yang ada di sisi Allah.
- Hadits ini menjelaskan hakikat manusia bahwa mereka mencintai apa yang mereka miliki dan membenci siapa yang meminta kepada mereka, mereka mencari kepentingan mereka meskipun mengorbankan agama orang lain dan tidak menunaikan hak-hak yang wajib. Ini kondisi mereka, maka bagaimana mungkin seseorang bergantung kepada mereka dan mengharapkan mereka serta mendahulukan ketaatan kepada mereka daripada ketaatan kepada Allah?!
HADITS KETIGA PULUH DUA
Dari Abu Sa’id – Sa’d bin Malik bin Sinan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak boleh membahayakan (diri sendiri) dan tidak boleh membahayakan (orang lain).” (Hadits hasan riwayat Ibnu Majah, Daruquthni dan lainnya)
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Bukti penghapusan kesulitan dalam syariat Islam.
- Menunjukkan kemudahan Islam dan hukum-hukumnya.
- Haram membahayakan orang lain dalam segala bentuk, karena itu kata “bahaya” dalam hadits disebutkan secara mutlak tanpa batasan.
- Hukum-hukum dan kewajiban-kewajiban dalam Islam tidak mengandung bahaya.
- Di antara tujuan Islam adalah mencegah bahaya sebelum terjadi dan menghilangkannya setelah terjadi.
- Mendidik jiwa untuk tidak mencintai diri sendiri dengan mengorbankan orang lain.
- Menunjukkan kepada Muslim untuk memperhatikan dan menghormati orang lain dalam semua urusan kehidupan.
- Menumbuhkan keakraban dan kasih sayang di antara kaum Muslim karena meniadakan semua bentuk bahaya.
- Hadits ini menjadi kaidah umum bahwa segala sesuatu yang mengandung bahaya adalah haram secara syariat.
HADITS KETIGA PULUH TIGA
Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Seandainya manusia diberi (hak/kebenaran) berdasarkan klaim pribadi mereka, niscaya orang-orang akan mengklaim harta dan darah suatu kaum, tetapi bukti wajib atas yang mendakwa sesuatu dan sumpah wajib atas yang mengingkari (tuduhan).” (Hadits hasan riwayat Baihaqi dan lainnya)
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Hadits menunjukkan bahwa hukum-hukum syariat memiliki alasan dan hikmah. Bukti ditetapkan dalam syariat agar orang-orang tidak mengklaim darah dan harta orang lain.
- Juga menunjukkan bahwa Allah Maha Bijaksana terhadap hamba-Nya, Maha Mengetahui tentang mereka, mensyariatkan bagi mereka hukum-hukum yang sesuai dengan mereka dan sesuai dengan tabiat mereka.
- Terdapat di antara manusia yang tidak memiliki penghalang dan ketakwaan sehingga mengklaim darah dan harta orang lain.
- Mendidik manusia tentang kewajiban memastikan kebenaran bahkan dalam perkara-perkara kecil.
- Hadits ini membatasi tuduhan terhadap orang lain dan penyebaran rumor dengan keharusan adanya bukti.
- Menunjukkan bahwa setiap klaim tanpa bukti tidak diterima.
- Pada dasarnya seorang Muslim bersih dari segala tuduhan dan kekurangan sampai ada bukti.
- Hakim memutuskan berdasarkan apa yang tampak dari bukti atau sumpah, dan tidak berdosa jika telah berusaha dan berijtihad meskipun berbeda dengan hakikat sebenarnya.
- Hadits ini menjadi dasar dalam bab peradilan.
- Syariat menyeimbangkan antara menjaga kehormatan Muslim dan menyampaikan hak-hak mereka.
- Syariat mendidik manusia untuk mengagungkan Allah dan merasa diawasi-Nya.
- Hadits mendidik Muslim untuk ridha dengan sumpah atas nama Allah.
HADITS KETIGA PULUH EMPAT
Dari Abu Sa’id Al-Khudri berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Hadits mendidik semua Muslim untuk memikul tanggung jawab terhadap masyarakatnya.
- Amar ma’ruf nahi munkar wajib atas semua orang sesuai kemampuan masing-masing.
- Mendidik masyarakat untuk menangani kesalahan yang mereka lihat dan tidak bersikap acuh.
- Menunjukkan bahwa kemungkaran bisa terjadi dalam masyarakat Islam tetapi tidak boleh dibiarkan menjadi hal biasa.
- Mengubah kemungkaran memiliki tingkatan berbeda, tidak hanya satu tingkatan.
- Jika seorang Muslim tidak mampu melakukan sesuatu, ia harus mencari cara lain yang ia mampu.
- Tingkatan dalam mengubah kemungkaran menunjukkan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuannya.
- Menunjukkan bahwa iman bisa bertambah dan berkurang, orang yang mengingkari dengan hati tidak sama dengan yang mampu mengubah kemungkaran.
- Kata “barangsiapa melihat” menunjukkan kemungkaran yang tampak dan jelas. Adapun yang disembunyikan, tidak boleh memata-matai kecuali ada bukti kuat.
- Kata “dengan hatinya” menunjukkan bahwa kemungkaran tidak boleh diridhai bahkan dalam hati yang hanya Allah yang tahu.
- Hadits menunjukkan bahwa hati memiliki amalan dalam iman, di antaranya mengingkari kemungkaran dan tidak meridhainya.
HADITS KETIGA PULUH LIMA
Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah kalian saling dengki, saling menipu, saling membenci, saling membelakangi, dan janganlah sebagian kalian membeli atas pembelian sebagian yang lain. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Muslim adalah saudara muslim, tidak menzaliminya, tidak menelantarkannya, tidak membohonginya, dan tidak merendahkannya. Takwa itu di sini – beliau menunjuk ke dadanya tiga kali. Cukuplah seseorang dari kejahatan bila ia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim)
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Hadits ini mendidik masyarakat Muslim tentang persaudaraan sejati.
- Persaudaraan syar’i yang sejati adalah yang tidak ada kebencian, dengki, dan pemutusan hubungan di dalamnya.
- Menunjukkan bahwa persaudaraan antar Muslim dan persatuan adalah tujuan syariat.
- Syariat mengharamkan segala yang merusak persaudaraan seperti dengki dan pemutusan hubungan.
- Urusan duniawi seperti jual beli dan pernikahan harus memperhatikan aspek persaudaraan.
- Menunjukkan kewajiban menasihati Muslim dan kejernihan hati untuknya.
- Haram menzalimi Muslim, menelantarkannya, membohonginya, dan merendahkannya.
- Mendidik jiwa tentang persaudaraan syar’i mengobati kesombongan.
- Timbangan dalam Islam adalah timbangan takwa, keutamaan berdasarkan takwa bukan urusan dunia.
- Tempat takwa ada di hati dan dampaknya tampak pada anggota tubuh, karena itu beliau menunjuk ke dadanya ketika menyebut takwa.
- Hadits menjelaskan bahaya merendahkan sesama Muslim karena bertentangan dengan kewajiban mencintainya dan termasuk kesombongan yang diharamkan Allah.
- Islam tidak menjadikan urusan dunia seperti harta dan kedudukan sebagai ukuran keutamaan antar Muslim.
- Menunjukkan bahwa orang yang diberi kenikmatan dunia tidak menunjukkan keutamaannya di sisi Allah.
- Haram menyerang Muslim baik hartanya, kehormatannya, atau jiwanya.
- Wajib menjaga kehormatan saudara Muslim saat ketidakhadirannya.
- Hadits mengharuskan menyampaikan manfaat kepada saudara Muslim.
- Takwa kepada Allah menuntut penjagaan hak-hak persaudaraan Islam.
HADITS KETIGA PULUH ENAM
Dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa melapangkan seorang mukmin dari kesulitan dunia, Allah akan melapangkannya dari kesulitan hari kiamat. Barangsiapa memberi kemudahan kepada orang yang kesulitan, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, Allah akan menutupinya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong hamba selama hamba itu menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh jalan mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan turun kepada mereka ketenangan, diliputi rahmat, dikelilingi malaikat, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya. Barangsiapa yang lambat amalnya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya.” (HR. Muslim)
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Hadits mendorong untuk bersegera melapangkan kesulitan, memberi kemudahan, dan menutupi (aib) sesama Muslim.
- Balasan sesuai dengan jenis amal.
- Kata “melapangkan” berarti meringankan, menunjukkan bahwa Muslim harus berusaha meringankan kesulitan sesama Muslim meskipun tidak menghilangkan kesulitan sepenuhnya.
- Ada riwayat yang menggunakan kata “melapangkan” dan “meringankan”, menunjukkan bahwa Muslim harus berusaha menghilangkan kesulitan atau minimal meringankannya.
- Barangsiapa melapangkan kesulitan seorang mukmin, Allah akan melapangkan kesulitannya di hari kiamat. Semakin banyak seseorang melapangkan kesulitan orang lain, semakin banyak Allah melapangkan kesulitannya.
- Hadits mengharuskan memperhatikan kebutuhan dan kesulitan sesama Muslim, sehingga seorang mukmin harus peka terhadap saudaranya.
- Mendidik masyarakat tentang kasih sayang dan persaudaraan, karena membantu yang membutuhkan termasuk iman.
- Di dalamnya terdapat keutamaan melapangkan kesulitan, memberi kemudahan, dan menutupi aib Muslim.
- Hadits ini merupakan penjelasan praktis dari sabda Nabi ﷺ “Allah menolong hamba selama hamba menolong saudaranya”.
- Siapa yang menginginkan pertolongan dan taufik Allah hendaknya menolong sesama Muslim.
- Hadits menjelaskan kehidupan masyarakat Muslim yang saling membantu, berbeda dengan masyarakat Barat saat ini.
- Di dalamnya terdapat dorongan untuk menuntut ilmu.
- Mendidik penuntut ilmu untuk menempuh jalan-jalan mencari ilmu, termasuk merantau.
- Menuntut ilmu syar’i mengantarkan ke surga karena ilmu yang bermanfaat menghasilkan amal saleh.
- Hadits mendorong untuk memilih teman yang baik untuk belajar Al-Quran bersama.
- Menganjurkan mengikuti majelis ilmu dan dzikir karena besarnya kebaikan di dalamnya.
- Menunjukkan bahwa masjid bukan hanya untuk shalat, tapi juga untuk majelis ilmu, dzikir, dan pembelajaran Al-Quran.
- Keutamaan majelis dzikir dan pembelajaran ilmu, di mana ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut mereka di antara makhluk yang ada di sisi-Nya.
- Metode yang benar dalam membaca dan menghafal Al-Qur’an adalah dengan membacanya kemudian mempelajarinya dan memahami maknanya. Oleh karena itu Nabi ﷺ bersabda “Mereka membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka.”
- Membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya menghadirkan ketenangan dan ketenteraman, sesuai dengan firman-Nya “Kecuali turun kepada mereka ketenangan.”
- Kecepatan dalam Islam diukur dengan amal, bukan dengan keturunan. Oleh karena itu Nabi ﷺ bersabda “Barangsiapa yang lambat dalam amalnya, tidak akan dipercepat oleh keturunannya.”
- Perbedaan derajat di antara umat Islam berdasarkan keturunan tidak diakui dalam syariat selamanya, tidak memajukan atau memundurkan seseorang di sisi Allah. Oleh karena itu, membanggakan keturunan termasuk perkara jahiliyah yang diharamkan Allah.
- Hadits ini menunjukkan bahwa seorang Muslim tidak boleh mengikuti kesalahan saudaranya sesama Muslim lalu menyebarkan dan mengumumkannya, tetapi justru harus menutupinya.
- Menunjukkan bahwa siapa yang mengingat Allah, Allah akan mengingatnya di kalangan tertinggi.
- Balasan Allah lebih besar dari amal hamba, dan ini merupakan karunia-Nya. Seorang hamba melakukan amal kecil, Allah menerimanya kemudian memberinya balasan yang lebih besar.
HADITS KETIGA PULUH TUJUH
Dari Ibnu Abbas, dari Rasulullah ﷺ dalam riwayat dari Tuhannya yang diberkati dan Maha Tinggi bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan dan keburukan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa berniat melakukan kebaikan namun tidak melakukannya, Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan sempurna. Jika ia berniat dan melakukannya, Allah mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat bahkan lebih banyak lagi. Dan jika ia berniat melakukan keburukan namun tidak melakukannya, Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan sempurna. Dan jika ia berniat dan melakukannya, Allah mencatatnya sebagai satu keburukan saja.” (HR. Bukhari dan Muslim)
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Di dalamnya terdapat dalil bagi madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah bahwa Allah telah menetapkan kebaikan dan keburukan atas manusia, menakdirkannya dan menghendakinya, sesuai firman-Nya “Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan.”
- Rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya.
- Di dalamnya terdapat dorongan untuk memiliki niat yang tulus dalam melakukan kebaikan. Barangsiapa berniat berbuat baik, Allah mencatatnya meskipun orang tersebut tidak melakukannya, sehingga seorang Muslim berada di antara amal saleh dan niat yang tulus.
- Amal saleh dilipatgandakan Allah menjadi sepuluh kebaikan, kemudian menjadi tujuh ratus kali lipat, kemudian menjadi kelipatan yang banyak.
- Niat berbuat baik dicatat Allah untuk pelakunya.
- Melakukan kebaikan setelah berniat lebih utama daripada sekedar berniat saja. Ada perbedaan antara satu kebaikan yang dicatat Allah sebagai satu kebaikan dengan kebaikan yang dilipatgandakan menjadi banyak.
- Di dalamnya terdapat kelembutan Allah kepada hamba-hamba-Nya sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi rahimahullah.
- Memberi motivasi adalah salah satu metode dakwah kepada Allah.
- Menumbuhkan sisi pengharapan dalam diri mukmin yang merupakan amalan hati, karena menimbulkan prasangka baik kepada Allah dan mendorong untuk beramal.
- Tidak ada pertentangan antara ketetapan Allah atas keburukan manusia dengan hukuman atasnya, sesuai firman-Nya “lalu ia melakukannya”. Perbuatan dinisbatkan kepada manusia sendiri dengan kehendak dan pilihannya, dan penjelasan Allah tentang keutamaan kebaikan dan apa yang Allah siapkan bagi yang berbuat baik sangatlah jelas. Maka siapa yang setelah itu meninggalkannya dan memilih keburukan dengan pilihannya sendiri, janganlah ia menyalahkan kecuali dirinya sendiri.
- Di dalamnya terdapat pengetahuan Allah atas niat manusia, terlebih lagi perbuatannya. Maha Suci Allah yang tidak ada yang tersembunyi dari-Nya.
- Menambah rasa malu pada mukmin karena Allah mengetahui rahasia bahkan perbuatan buruknya. Siapa yang mengingat ini, akan bertambah rasa malunya kepada Allah.
- Siapa yang memilih keburukan dan melakukannya setelah mengetahui hadits ini, sungguh ia telah melakukan kelalaian yang besar dan tegak hujjah atasnya.
- Menunjukkan kesempurnaan kekayaan Allah, karena Dia memberi balasan atas niat baik dan melipatgandakan kebaikan tanpa berkurang sedikitpun apa yang ada di sisi-Nya.
- Hadits ini mewajibkan syukur kepada Allah atas sifat-sifat-Nya yang agung, sebagaimana kata Imam Nawawi rahimahullah: “Maka bagi Allah segala puji dan karunia, Maha Suci Dia, tidak dapat dihitung pujian atas-Nya.”
- Allah mencatat kebaikan dan keburukan yang dilakukan manusia agar tegak hujjah atas dirinya sendiri dan terwujud kesempurnaan keadilan. Jangan mengira orang yang berbuat buruk dan melupakannya bahwa perbuatan itu telah hilang dan terlupakan, bahkan Allah telah mencatatnya dan menjaganya jika ia tidak segera bertaubat.
- Menumbuhkan rasa takut kepada Allah dalam diri Muslim sesuai firman-Nya “Barangsiapa berniat berbuat buruk lalu tidak melakukannya” yakni karena takut kepada Allah, dan rasa takut termasuk kedudukan hati.
- Di dalamnya terdapat keutamaan takut dan muraqabah kepada Allah. Siapa yang meninggalkan keburukan karena takut kepada Allah, dicatat baginya satu kebaikan. Inilah yang dihasilkan oleh rasa takut kepada Allah dan pengawasan-Nya.
- Manusia, meskipun telah jelas karunia Allah, terkadang dapat dikalahkan oleh hawa nafsu, diri, dan setan sehingga jatuh dalam dosa. Namun dari karunia dan rahmat Allah, Dia mencatatnya sebagai satu keburukan saja, dan jika ia bertaubat, Allah menerima taubatnya.
HADITS KETIGA PULUH DELAPAN
Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: ‘Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk memegang, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, pasti Aku beri, dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, pasti Aku lindungi.'” (HR. Bukhari)
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Di dalamnya terdapat ancaman keras bagi yang menyakiti hamba Allah yang jujur, di mana Allah mengancamnya dengan firman-Nya “maka Aku mengumumkan perang terhadapnya.”
- Di dalamnya terdapat dorongan agar seseorang menjadi wali Allah sehingga mendapatkan keutamaan ini.
- Menunjukkan kedudukan mukmin yang jujur di sisi Tuhannya, yaitu kedudukan yang tinggi di mana Allah membela jika ia disakiti.
- Kewalian Allah berbeda-beda sesuai dengan peningkatan iman dan takwa dalam hati, karena diambil dari kata “wali” yang berarti dekat. Tidak diragukan bahwa kedekatan kepada Allah berbeda sesuai dengan ketaatan. Maka dari itu, semakin seseorang bertambah imannya, kejujurannya, dan keikhlasannya, semakin tinggi derajat kewaliannya.
- Di dalamnya terdapat kecintaan Allah kepada wali-wali-Nya di mana Allah membela mereka jika diganggu.
- Menunjukkan besarnya murka Allah dan kerasnya murka-Nya karena kesempurnaan kekuatan-Nya.
- Menunjukkan bahwa berniat menyakiti orang-orang beriman adalah maksiat dan termasuk dosa besar karena Allah mengancamnya dengan perang.
- Hadits ini memberi ketenangan dan kenyamanan bagi mukmin karena Allah menjamin pembelaan untuknya. Yang dituntut darinya hanyalah menjaga dan meningkatkan imannya agar naik derajat kewaliannya. Maka mukmin ketika diuji sibuk menjaga dan meningkatkan imannya tanpa melihat musuhnya karena Allah telah menjamin pembelaan untuknya.
- Hadits ini menunjukkan bahwa amalan wajib lebih tinggi dari semua amalan sunnah, sesuai firman-Nya “Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya.”
- Firman-Nya “Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku… dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah” menjelaskan makna wali, yaitu orang yang melaksanakan kewajiban kemudian mengikutinya dengan amalan sunnah akan mendapat kewalian Allah. Semakin besar semangatnya dalam hal itu, semakin tinggi derajat kewaliannya hingga mencapai derajat yang disebutkan dalam hadits yaitu ihsan.
- Di dalamnya terdapat bantahan terhadap kaum sufi yang mengklaim bahwa wali adalah kedudukan yang jika seseorang mencapainya, gugurlah kewajiban-kewajiban darinya. Siapa yang merenungkan hadits ini akan mendapati bahwa orang yang mencapai derajat kewalian justru harus semakin menjaga kewajiban-kewajiban dan amalan sunnahnya.
- Allah mencintai ketaatan dan yang paling utama adalah kewajiban-kewajiban, sesuai firman-Nya “Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya.”
- Melaksanakan amalan sunnah membutuhkan kontinuitas, penjagaan, dan keistiqamahan agar seseorang naik ke derajat yang lebih sempurna. Oleh karena itu disebutkan kata “senantiasa” yang menunjukkan kontinuitas.
- Menunjukkan bahwa amalan sunnah adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah, tidak seperti pandangan sebagian orang saat ini yang menganggap bahwa meninggalkannya tidak berdosa. Mereka hanya melihat ada tidaknya dosa dan luput dari mereka bahwa amalan sunnah adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah.
- Amalan sunnah memiliki dua faedah yang disebutkan dalam hadits:
- Mendekatkan kepada Allah dalam kedudukan, oleh karena itu dikatakan “dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah”.
- Menghasilkan kecintaan Allah kepada hamba, sesuai firman-Nya “hingga Aku mencintainya”.
- Di dalamnya terdapat penetapan sifat cinta bagi Allah.
- Hadits ini membuka pintu bagi Muslim untuk mengerjakan amalan sunnah dan berbagai jenis ibadah semampunya, oleh karena itu disebutkan amalan sunnah secara umum tanpa batasan tertentu.
- Penghambaan kepada Allah adalah hakikat kewalian, oleh karena itu kata “hamba-Ku” diulang dua kali.
- Hadits ini mendidik Muslim untuk beramal saleh mencari kecintaan Allah sesuai firman-Nya “dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri”, dan inilah kondisi Muslim dalam hidupnya yang dihabiskan dalam ketaatan dan mencari keridhaan Allah.
- Di dalamnya terdapat kemuliaan Allah di mana Dia membantu mukmin dalam beramal saleh kemudian menerimanya dan mencintainya karenanya. Maka bagi-Nya karunia di awal dan akhir.
- Dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang taufik Allah yang sempurna bagi yang dicintai-Nya, sungguh ia telah meraih kesuksesan sepenuhnya.
- Buah-buah kecintaan Allah kepada hamba terwujud dalam beberapa hal:
- Allah memberinya taufik dalam pendengarannya sehingga ia tidak mendengar kecuali yang Allah cintai.
- Allah memberinya taufik dalam penglihatannya sehingga ia tidak melihat yang haram, bahkan menaati Allah dengan kedua matanya.
- Allah memberinya taufik dalam tangannya sehingga ia tidak bertindak kecuali dengan yang Allah cintai dan meninggalkan yang Allah larang.
- Allah memberinya taufik dalam kakinya sehingga tidak melangkah kecuali kepada yang Allah ridhai.
- Doanya dikabulkan, yang ditegaskan dengan huruf lam dan nun dalam kata “pasti Aku beri”.
- Allah melindunginya dari segala keburukan, yang ditegaskan dengan huruf lam dan nun dalam kata “pasti Aku lindungi”.
- Kita memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dari karunia-Nya.
- Ketika manusia melakukan ketaatan dan terus menerus melakukannya, hal itu akan mengeluarkan dari hatinya segala kecintaan selain kepada Allah.
- Dalam hadits ini terdapat pendidikan bagi ahli taat dan para wali bahwa ketaatan dan kejauhan dari keburukan yang mereka peroleh adalah karena karunia Allah yang mencintai mereka. Ini menghilangkan kesombongan dan kekaguman diri dari hati dan tidak memberi celah bagi setan.
- Hadits menunjukkan bahwa siapa yang jatuh dalam maksiat dan terus melakukannya, berkuranglah kecintaan Allah kepadanya, dan ini adalah keburukan maksiat.
- Firman-Nya “Jika ia meminta kepada-Ku, pasti Aku beri, dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, pasti Aku lindungi” adalah bantahan terhadap kaum ateis dan penganut paham hulul (penyatuan dengan Tuhan) yang memahami firman “Aku menjadi pendengarannya, penglihatannya, tangannya, dan kakinya” sebagai akidah hulul yang batil. Allah berfirman “jika ia meminta kepada-Ku” yang menetapkan adanya peminta yaitu hamba dan yang diminta yaitu Allah.
- Firman-Nya “Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar…” adalah penjelasan tentang kebersamaan khusus Allah dengan hamba-hamba mukmin dan wali-wali-Nya yang jujur.
- Hadits menunjukkan bahwa dasar dan asal ketaatan adalah kecintaan kepada Allah dalam hati. Siapa yang mencintai Allah akan menaati-Nya, jika kecintaannya menguat, bertambah ketaatannya.
- Hadits menunjukkan bahwa dasar dan asal maksiat adalah kecintaan kepada selain Allah berupa hawa nafsu, diri, atau dunia. Siapa yang mencintai selain Allah, berkurang ketaatannya kepada Allah sesuai kadar kecintaannya kepada selain-Nya. Jika bertambah kecintaannya kepada selain Allah, ia jatuh dalam syirik. Dari sini Nabi ﷺ bersabda “Celakalah hamba dinar” karena penghambaan kepadanya sesuai kadar kecintaannya kepadanya.
- Perkataan “dia membenci kematian” menunjukkan bahwa rasa cemas terhadap kematian dan ketidaksukaan terhadapnya bukanlah dosa, karena pembicaraan dalam hadits ini mengenai orang mukmin.
- Perkataan “Aku membenci untuk menyusahkannya” menunjukkan beratnya kematian dan sulitnya kedatangannya, oleh karena itu Allah menyebutnya “kesusahan” yaitu terjadi kesulitan padanya. Maka kita memohon kepada Allah agar meringankan sakratul maut bagi kita.
- Yang dimaksud dengan “keraguan” di sini adalah bahwa Allah telah menetapkan kematian atas seluruh manusia, dan orang mukmin membenci kematian karena ada kesulitan dan kesedihan di dalamnya. Allah telah menetapkannya atas manusia namun Dia membenci apa yang menyusahkan orang mukmin, maka hal ini disebut keraguan.
HADITS KETIGA PULUH SEMBILAN
Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah memaafkan untuk umatku kesalahan, lupa, dan apa yang dipaksa atas mereka.” (Hadits hasan riwayat Ibnu Majah dan Baihaqi)
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Di dalamnya terdapat kemuliaan Allah dan besarnya ampunan-Nya, di mana Dia memaafkan hal-hal tersebut.
- Zhahir lafaz hadits dalam kata “umatku” menunjukkan bahwa ini termasuk kekhususan umat Muhammad.
- Menunjukkan bahwa kesalahan, lupa, dan paksaan dimaafkan dan tidak ada dosa di dalamnya.
- Hadits ini mendukung firman Allah “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (Al-Baqarah: 286).
- Menunjukkan perbedaan antara kesalahan dan lupa:
- Kesalahan adalah: Seseorang bermaksud melakukan sesuatu namun perbuatannya mengenai sesuatu yang tidak dimaksudnya, seperti bermaksud membunuh orang kafir tetapi ternyata yang terbunuh adalah Muslim.
- Sedangkan lupa adalah: Seseorang mengingat sesuatu namun melupakannya saat melakukan perbuatan.
- Para ulama sepakat mengecualikan dari paksaan jika dipaksa membunuh Muslim, berdasarkan nash-nash lain, dan ini menunjukkan keagungan darah Muslim.
- Maksud kata “memaafkan” yaitu dari dosa, namun terkadang harus mengganti dan mengulangi perbuatan sesuai dengan perbuatannya. Misalnya siapa yang lupa wudhu dan shalat, tidak ada dosa baginya tetapi harus mengulangi shalatnya, dan seterusnya.
- Di dalamnya terdapat kemudahan syariat Islam dan kemudahan yang Allah berikan padanya.
HADITS KEEMPAT PULUH
Dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah ﷺ memegang pundakku dan bersabda: “Jadilah di dunia seakan-akan engkau orang asing atau pengembara.” Dan Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu pagi hari, dan jika engkau berada di pagi hari jangan menunggu sore hari. Manfaatkan sehatmu sebelum sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Bukhari)
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Hadits ini adalah dasar dalam memendekkan angan-angan di dunia.
- Hadits ini mengatur interaksi mukmin dengan dunia, agar memandangnya sebagai tempat lewat bukan tempat menetap.
- Menjelaskan kedudukan dunia bagi mukmin bahwa ia terlalu rendah untuk digantungi atau dicurahkan perhatian dan semangatnya, tetapi justru dimanfaatkan untuk ketaatan kepada Allah.
- Hadits ini tidak menunjukkan larangan mencari rezeki dan pengharaman kenikmatan dunia, berdasarkan perbuatan Nabi ﷺ yang mengucapkan wasiat ini dan para sahabatnya yang menerapkannya. Mereka berdagang, bekerja, dan menikmati yang halal, yang menunjukkan bahwa maksud hadits adalah tidak terikat hingga menghalangi dari ketaatan kepada Tuhannya.
- Hadits menunjukkan bahwa nasihat terkadang diberikan tanpa diminta, sebagaimana Nabi ﷺ memberikan nasihat ini kepada Ibnu Umar tanpa diminta, dan ini adalah sifat mukmin.
- Hadits ini mendidik Muslim agar menghilangkan dari pikirannya kekekalan di dunia ini sebagaimana kondisi orang asing yang melewati suatu negeri, ia menanamkan dalam pikirannya bahwa ia tidak akan menetap di sana.
- Sabdanya “orang asing” menunjukkan bahwa kita di dunia ini dalam perjalanan menuju akhirat.
- Konsekuensi keterasingan bagi orang asing meliputi:
- Tidak menetap di negeri yang dilaluinya, begitu juga mukmin tidak menetap di dunia.
- Puas dengan sedikit bekal, dan ini adalah kondisi mukmin yang bertakwa dengan kesenangan dunia di mana ia puas dengan sedikitnya.
- Orang asing tidak bersaing dengan penduduk negeri dalam urusan dunia, bangunan, harta, dan urusan mereka karena perhatiannya terkait dengan jalan di depannya. Begitu juga mukmin tidak bersaing dengan orang-orang dalam urusan dunia mereka, tetapi perhatiannya terkait dengan akhirat dan persiapan untuk apa yang ada di hadapannya.
- Siap untuk bepergian setiap saat, begitu juga mukmin siap untuk bertemu Tuhannya kapan pun Allah menghendaki.
- Orang asing tidak menyesal dan bersedih kehilangan sesuatu dari dunia orang-orang di negeri itu karena itu tidak penting baginya. Begitu juga mukmin tidak menyesal dan bersedih kehilangan sesuatu dari urusan dunia dengan kesedihan yang memutuskannya dari amal dan akhiratnya.
- Orang asing tidak tenang dan nyaman sampai keterasingannya berakhir dengan mencapai tujuannya. Mukmin tidak tenang dan nyaman sampai Allah dengan karunia-Nya menyampaikannya ke negeri kemuliaan-Nya.
- Orang asing menjadikan tinggalnya di negeri itu sebagai bantuan untuk menyelesaikan perjalanannya, ia berbekal air, makanan dan istirahat untuk melanjutkan perjalanannya. Begitu juga mukmin menjadikan dunia sebagai bantuan untuk perjalanannya ke akhirat dengan berbekal amal saleh yang membantunya dalam perjalanan.
- Ucapannya “orang asing atau pengembara” keduanya sama dalam hal tidak menetap, tidak bermukim, dan siap untuk pergi.
- Hadits ini mendidik mukmin untuk mengarah ke akhirat, memperhatikan dan bersiap untuknya.
- Hadits menjelaskan masa dunia dibanding akhirat bahwa ia seperti tinggalnya orang asing dalam keterasingannya dibanding menetapnya di negerinya, atau istirahatnya pengembara dibanding masa tinggalnya bersama keluarganya.
- Hadits menunjukkan dengan pemahamannya kerugian orang yang menjual agamanya untuk dunianya, karena ia menjual sesuatu yang fana dan sementara dengan sesuatu yang kekal dan abadi.
- Perkataan Ibnu Umar “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu pagi hari, dan jika engkau berada di pagi hari jangan menunggu sore hari” adalah tafsir hadits ini dan penerapan praktisnya.
- Hadits tidak menafikan mencari rezeki dan mengambil bekal dari dunia sebagaimana orang asing dalam keterasingannya tidak terputus dari mengambil bekal, makan, dan mencari rezeki.
- Sifat keterasingan dalam hadits menunjukkan dua hal: Pertama: Menafikan ujub, sombong, takabur dan bangga karena orang asing demikian. Kedua: Lafaznya mengesankan kerendahan dan ketundukan parsial. Kedua hal ini harus dimiliki mukmin sehingga ia menafikan kesombongan, ketakaburan dan kebanggaan, dan mengenakan pakaian penghambaan, kefakiran dan ketundukan kepada Allah.
HADITS KEEMPAT PULUH SATU
Dari Abu Muhammad Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang dari kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” (Hadits Hasan Shahih)
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Hadits menunjukkan bahwa orang yang menjadikan hawa nafsunya mengikuti agama dan syariat Allah telah menyempurnakan imannya.
- Menunjukkan bahwa hawa nafsu membutuhkan perjuangan untuk mengikuti syariat Allah.
- Ketaatan pada hawa nafsu dapat memalingkan dari agama Allah.
- Seorang mukmin menjadikan hawa nafsunya sesuai syariat, sedangkan orang yang imannya kurang terkadang mendahulukan ketaatan pada hawa nafsu, adapun orang munafik dan kafir mengubah syariat sesuai hawa nafsu dan keinginannya.
- Hadits ini mendidik muslim untuk mengevaluasi diri dan hawa nafsunya, apakah mengikuti syariat atau tidak.
- Menunjukkan bahayanya hawa nafsu, karena jika tidak mengikuti syariat maka akan mengurangi iman dan bisa berkurang ke tingkat yang sangat berbahaya.
- Muslim berserah diri pada perintah Allah, baik sesuai dengan hawa nafsunya atau tidak.
- Mukmin mencintai Allah dan perintah-Nya, mengagungkan larangan-Nya, ini makna menjadikan hawa nafsu mengikuti apa yang dibawa Nabi ﷺ.
- Hadits menunjukkan bahwa mukmin tidak mencari apa yang diinginkan hawa nafsunya, tapi mencari ketaatan pada Allah kemudian melakukannya.
- Mendidik jiwa untuk berjuang, karena hawa nafsu adalah harapan jiwa dan tujuannya, karenanya butuh usaha, perjuangan dan iman agar mengikuti syariat.
- Mendidik muslim untuk mencari syariat dan dalil walau bertentangan dengan hawa nafsunya. Mukmin mencari dalil, jika benar dia mengamalkannya walau jiwa dan hawa nafsunya menentang karena dia telah menjadikan hawa nafsunya mengikuti agama Allah.
HADITS KEEMPAT PULUH DUA
Dari Anas berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Allah Ta’ala berfirman: “Wahai anak Adam, selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampuni dosamu apa pun yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai awan langit kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, Aku akan mengampunimu. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan dosa-dosa sepenuh bumi kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun, niscaya Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sepenuh itu pula.” (HR. Tirmidzi)
FAEDAH-FAEDAH PENDIDIKAN:
- Hadits ini merupakan dasar dalam bab taubat dan dorongan untuk bertaubat.
- Mendidik muslim untuk berprasangka baik kepada Allah karena Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya.
- Di dalamnya terdapat kelembutan Allah dalam memanggil hamba-Nya dan kedekatan-Nya dengannya.
- Di dalamnya terdapat penjelasan tentang luasnya rahmat Allah dan besarnya ampunan-Nya.
- Menumbuhkan aspek pengharapan dalam hati orang beriman.
- Allah mengampuni segala sesuatu jika manusia bertaubat kepada-Nya, termasuk syirik.
- Menunjukkan bahwa Allah ketika memberi kepada hamba-Nya yang beriman dan mengampuninya, hal itu tidak mengurangi apa yang ada di sisi-Nya, sesuai firman-Nya “dan Aku tidak peduli”.
- Hadits ini menunjukkan bahwa doa harus disertai harapan kepada Allah bahwa Dia akan mengabulkan, mendengar, menolong dan memberi, oleh karena itu dalam hadits ini doa dikaitkan dengan harapan, Allah berfirman “Sesungguhnya selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku”.
- Hadits ini menunjukkan bahwa ketika seseorang terlibat dalam maksiat, dosa dan kesalahan, dia tidak boleh berhenti berdoa, bahkan dia sangat membutuhkan doa, seperti ditunjukkan dalam hadits “atas apa yang ada padamu”.
- Hadits ini menjelaskan sebab-sebab pengampunan dosa dan kesalahan, yaitu:
- Doa, sesuai firman-Nya “selama engkau berdoa kepada-Ku”.
- Berharap kepada Allah, sesuai firman-Nya “dan berharap kepada-Ku”.
- Istighfar di segala waktu, sesuai firman-Nya “kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, Aku akan mengampunimu”.
- Tauhid, sesuai firman-Nya “kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apapun”.
- Menunjukkan bahwa istighfar jika diterima Allah dan dikabulkan, maka Allah akan mengampuni pelakunya meskipun dosa-dosanya setinggi langit.
- Hadits ini membuka pintu harapan bagi orang yang berlebihan dalam maksiat terhadap dirinya. Oleh karena itu, semua lafaz hadits menunjukkan hal tersebut:
- Firman-Nya “atas apa yang ada padamu dan Aku tidak peduli”.
- Firman-Nya “sekalipun dosa-dosamu mencapai setinggi langit”.
- Firman-Nya “sekalipun engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi” Semua lafaz ini ditujukan kepada orang yang berlebihan dalam dosa, dan lebih-lebih lagi bagi yang lainnya.
- Islam tidak menekan dan menghancurkan jiwa, oleh karena itu menangani orang yang berdosa dan bersalah dengan membuka harapan dan pintu ampunan baginya.
- Hadits ini mendidik manusia dan semua orang untuk bergantung kepada Allah, berharap kepada-Nya, dan berserah diri di hadapan-Nya.
- Hadits ini menjelaskan kelemahan manusia dan banyaknya dosanya, serta keagungan Allah dan luasnya rahmat-Nya.
- Hadits ini menunjukkan bahwa manusia tidak bisa lepas dari Tuhannya sekejap mata pun, ia membutuhkan pertolongan-Nya, ampunan-Nya, taufik-Nya, dan petunjuk-Nya.
- Di dalamnya terdapat keutamaan tauhid di mana Allah mengampuni dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan pelakunya karena tauhid kepada Allah dan keikhlasan ibadah kepada-Nya yang ada dalam hatinya.
- Siapa yang merenungkan hadits ini akan mendapati bahwa ia mendidik aspek rasa malu kepada Allah. Ketika seorang mukmin merenungkan lafaz-lafaz hadits ini dan bahwa Allah memanggil hamba-hamba-Nya, dan membuka pintu ampunan bagi mereka meskipun merekalah yang membutuhkan-Nya, dan meskipun demikian mereka tetap berbuat dosa, tidak diragukan lagi bahwa hal itu akan menumbuhkan rasa malu kepada Allah SWT dalam diri seorang mukmin.
Alhamdulillah, selesai terjemah.
20-02-2025.
Beku, Kliwonan, Masaran, Sragen, Jawa Tengah.
21. Faedah-Faedah Yang Mendidik Dari Hadits Arba’in An-Nawawi
Penulis : Aqil bin Salim Asy-Syamri
Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.







