Ensiklopedia Ilmu Akidah – Imam Ahmad bin Hanbal
الجَامِعُ لِعُلُومِ الإِمَامِ أَحْمَدَ – العَقِيدَةُ
JILID 01/02
Bagian Akidah (1)
- Kitab Akidah Ahli Sunnah wal Jamaah secara Umum
- Kitab Iman
- Kitab Sifat-sifat Allah
- Kitab Al-Quran adalah Kalam Allah dan Bantahan terhadap Jahmiyah
Abu al-Qasim berkata: Harb bin Ismail telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ini adalah mazhab para imam ilmu, para ulama ahli hadits, dan Ahli Sunnah yang dikenal dengannya dan yang dijadikan teladan dalam hal ini. Aku telah menemui para ulama Ahli Irak, Hijaz, Syam, dan lainnya yang menganut akidah ini. Barangsiapa yang menyelisihi sesuatu dari mazhab-mazhab ini, atau mencela, atau mencacat orang yang mengatakannya, maka ia adalah ahli bidah yang keluar dari jamaah, menyimpang dari jalan Sunnah dan jalan kebenaran. Ini adalah mazhab Ahmad, Ishaq bin Ibrahim bin Makhlad, Abdullah bin Zubair al-Humaidi, Said bin Manshur, dan lain-lain dari orang-orang yang kami bergaul dengannya dan kami mengambil ilmu darinya.
Adapun perkataan mereka: Iman adalah perkataan, perbuatan, niat, dan berpegang teguh pada Sunnah. Iman bertambah dan berkurang. Pengecualian dalam iman adalah sunnah yang berjalan dari para ulama. Jika seseorang ditanya, “Apakah engkau beriman?”, maka ia menjawab: “Aku beriman insya Allah,” atau “Aku beriman, semoga,” atau ia berkata: “Aku beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya.”
Barangsiapa mengklaim bahwa iman hanya perkataan tanpa perbuatan, maka ia adalah Murjiah. Barangsiapa mengklaim bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan adalah syariat, maka ia adalah Murjiah. Jika ia mengklaim bahwa iman tidak bertambah dan tidak berkurang, maka ia adalah Murjiah. Jika ia berkata bahwa iman bertambah tapi tidak berkurang, maka ia telah mengatakan perkataan Murjiah. Barangsiapa yang tidak melakukan pengecualian dalam iman, maka ia adalah Murjiah. Barangsiapa mengklaim bahwa imannya seperti iman Jibril atau para malaikat, maka ia adalah Murjiah dan lebih buruk dari Murjiah, maka ia adalah pendusta. Barangsiapa mengklaim bahwa manusia tidak saling berbeda-beda dalam iman, maka ia telah berdusta. Barangsiapa mengklaim bahwa ma’rifat (pengetahuan) bermanfaat dalam hati meskipun tidak diucapkan dengannya, maka ia adalah Jahmiyah. Barangsiapa mengklaim bahwa ia beriman di sisi Allah dan imannya sempurna, maka ini adalah perkataan Murjiah yang paling keji dan paling buruk.
Takdir: kebaikannya dan keburukannya, sedikitnya dan banyaknya, yang zhahir dan yang batin, manisnya dan pahitnya, yang dicintai dan yang dibenci, baiknya dan buruknya, awalnya dan akhirnya, semuanya dari Allah Tabaraka wa Ta’ala, suatu ketetapan yang Dia tetapkan atas hamba-hamba-Nya, dan takdir yang Dia takdirkan kepada mereka. Tidak ada seorang pun dari mereka yang melampaui kehendak Allah, tidak ada yang melewati ketetapan-Nya. Bahkan, mereka semua akan sampai kepada apa yang Dia ciptakan untuk mereka, dan jatuh pada apa yang Dia takdirkan kepada mereka tanpa dapat dihindari. Dan itu adalah keadilan dari-Nya, Mahasuci Tuhan kami dan Mahatinggi.
Zina, pencurian, meminum khamr, membunuh jiwa, memakan harta haram, kesyirikan kepada Allah, semua dosa, dan semua kemaksiatan adalah dengan ketetapan dan takdir dari Allah tanpa ada hujjah bagi seorang pun dari makhluk terhadap Allah. Bahkan bagi Allah-lah hujjah yang sempurna atas makhluk-Nya. “Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, sedang mereka akan ditanya.” (Surat al-Anbiya: 23). Ilmu Allah berjalan pada makhluk-Nya dengan kehendak dari-Nya. Dia telah mengetahui dari Iblis dan selain dia dari orang-orang yang bermaksiat kepada-Nya -sejak Tuhan kami Tabaraka wa Ta’ala mulai dimaksiati hingga hari Kiamat tiba- akan kemaksiatan dan Dia ciptakan mereka untuk itu. Dia mengetahui ketaatan dari orang-orang yang taat kepada-Nya dan Dia ciptakan mereka untuk itu. Maka setiap orang beramal untuk apa ia diciptakan, dan akan sampai kepada apa yang telah ditetapkan kepadanya dan diketahui darinya. Tidak ada seorang pun dari mereka yang melampaui takdir Allah dan kehendak-Nya. Allah adalah Maha Kuasa berbuat apa yang Dia kehendaki.
Barangsiapa mengklaim bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala menghendaki bagi hamba-hamba-Nya yang bermaksiat kepada-Nya kebaikan dan ketaatan, dan bahwa para hamba menghendaki untuk diri mereka sendiri kejahatan dan kemaksiatan, lalu mereka beramal atas kehendak mereka, maka ia telah mengklaim bahwa kehendak para hamba lebih kuat dari kehendak Allah Tabaraka wa Ta’ala. Kebohongan apa yang lebih besar terhadap Allah dari ini?!
Barangsiapa mengklaim bahwa seorang dari makhluk akan sampai kepada selain apa yang ia diciptakan untuknya, maka ia telah menafikan kekuasaan Allah atas makhluk-Nya. Ini adalah kebohongan terhadap Allah dan dusta kepada-Nya. Barangsiapa mengklaim bahwa zina bukan dengan takdir, dikatakan kepadanya: Bagaimana menurutmu tentang perempuan ini yang hamil dari zina dan melahirkan anak, apakah Allah menghendaki untuk menciptakan anak ini? Apakah ini telah berjalan dalam ilmu-Nya yang terdahulu? Jika ia berkata: Tidak, maka ia telah mengklaim bahwa bersama Allah ada pencipta lain. Ini adalah perkataan yang menyerupai kesyirikan, bahkan ini adalah kesyirikan. Barangsiapa mengklaim bahwa pencurian, meminum khamr, dan memakan harta haram bukan dengan ketetapan dan takdir dari Allah, maka ia telah mengklaim bahwa manusia ini mampu memakan rezeki orang lain. Perkataan ini menyerupai perkataan Majusiyah dan Nashraniyah. Bahkan, ia memakan rezekinya dan Allah telah menetapkan untuknya agar ia memakannya dari cara yang ia makan.
Barangsiapa mengklaim bahwa membunuh jiwa bukan dengan takdir dari Allah, maka ia telah mengklaim bahwa orang yang terbunuh mati bukan pada ajalnya. Kekufuran apa terhadap Allah yang lebih jelas dari ini?! Bahkan, semua itu dengan ketetapan dari Allah dan takdir. Semua itu dengan kehendak-Nya pada makhluk-Nya dan pengaturan-Nya terhadap mereka, dan apa yang telah berjalan dalam ilmu-Nya yang terdahulu untuk mereka. Itu adalah kebenaran dan keadilan. Dia berbuat apa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mengakui ilmu (Allah), maka ia wajib mengakui takdir dan kehendak atas kehinaan dan kerendahan. Allah adalah Yang Memberi Mudarat, Yang Memberi Manfaat, Yang Menyesatkan, Yang Memberi Petunjuk. Maha Suci Allah, Sebaik-baik Pencipta.
Kami tidak bersaksi terhadap seorang pun dari ahli kiblat bahwa ia di Neraka karena dosa yang ia perbuat dan kemaksiatan besar yang ia lakukan, kecuali jika ada hadits tentang itu. Maka hadits itu diriwayatkan sebagaimana datang, sebagaimana diriwayatkan, dan dibenarkan, diterima, dan diketahui bahwa itu sebagaimana datang, dan kami tidak menetapkan kesaksian.
Kami tidak bersaksi terhadap seorang pun bahwa ia di Surga karena kebaikan amalnya atau kebaikan yang ia lakukan, kecuali jika ada hadits tentang itu. Maka hadits itu diriwayatkan sebagaimana datang, sebagaimana diriwayatkan, dibenarkan, diterima, dan diketahui bahwa itu sebagaimana datang, dan kami tidak menetapkan kesaksian.
Khilafah ada pada Quraisy selama masih ada dua orang dari manusia. Tidak ada hak bagi seorang pun dari manusia untuk merebut khilafah dari mereka, tidak boleh keluar (memberontak) terhadap mereka, dan tidak boleh mengakui khilafah untuk selain mereka hingga hari Kiamat.
Jihad terus berjalan dan tetap bersama para imam, baik mereka berbuat baik atau berbuat jahat. Tidak dibatalkan oleh kezaliman seorang yang zalim dan tidak pula oleh keadilan orang yang adil. Shalat Jumat, dua Hari Raya, dan haji bersama penguasa meskipun mereka tidak berbuat baik, tidak adil, dan tidak bertakwa. Pembayaran kharaj, shadaqah, usyur, fai’, dan ghanimah kepada para penguasa, baik mereka adil atau zalim.
Tunduk kepada orang yang Allah jadikan penguasa atasmu. Jangan mencabut tanganmu dari ketaatan, dan jangan keluar (memberontak) terhadapnya dengan pedangmu sampai Allah menjadikan bagimu jalan keluar. Jangan keluar terhadap penguasa, dengar dan taatlah, jangan merusak baiat. Barangsiapa melakukan itu, maka ia adalah ahli bidah yang menyelisihi dan memisahkan diri dari jamaah.
Jika penguasa memerintahkanmu dengan perkara yang bermaksiat kepada Allah, maka tidak boleh bagimu untuk menaatinya sama sekali. Tetapi tidak boleh bagimu untuk keluar (memberontak) terhadapnya dan tidak boleh menghalangi haknya.
Menahan diri dalam fitnah adalah sunnah yang berjalan dan wajib berpegang teguh padanya. Jika engkau diuji, maka kedepankanlah dirimu dan hartamu daripada agamamu. Jangan membantu fitnah dengan tangan atau lisan. Namun tahanlah tanganmu, lisanmu, dan hawa nafsumu. Allah adalah Penolong.
Menahan diri dari (menyakiti) ahli kiblat. Kami tidak mengkafirkan seorang pun dari mereka karena dosa, dan tidak mengeluarkannya dari Islam karena amal, kecuali jika ada hadits tentang itu. Maka hadits itu diriwayatkan sebagaimana datang dan sebagaimana diriwayatkan, dibenarkan, diterima, dan kami ketahui bahwa itu sebagaimana diriwayatkan, seperti meninggalkan shalat, meminum khamr, dan yang menyerupai itu, atau membuat bidah yang pelakunya dinisbatkan kepada kekufuran dan keluar dari Islam. Ikutilah atsar (hadits) dalam hal itu dan jangan melampauinya.
Aku tidak suka shalat di belakang ahli bidah, dan tidak shalat jenazah atas orang yang mati dari mereka. Dajjal akan keluar, tidak ada keraguan dalam hal itu dan tidak ada kebimbangan. Ia adalah pendusta yang paling besar.
Azab kubur adalah benar. Hamba akan ditanya tentang Tuhannya, tentang Nabinya, dan tentang agamanya. Ia akan melihat tempatnya di Surga atau Neraka.
Munkar dan Nakir adalah benar. Keduanya adalah penguji kubur. Kami memohon keteguhan kepada Allah.
Telaga Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah benar. Umatnya akan datang kepadanya. Telaga itu memiliki bejana-bejana yang mereka minum darinya.
Shirath adalah benar. Ia diletakkan di tengah-tengah Jahannam, maka manusia melewatinya. Surga ada di balik itu. Kami memohon keselamatan dan keberhasilan melewatinya kepada Allah.
Mizan adalah benar. Dengan mizan itu ditimbang kebaikan dan kejahatan sebagaimana Allah kehendaki untuk menimbangnya.
Sangkakala adalah benar. Israfil meniupnya, maka makhluk mati. Kemudian dia meniupnya lagi, maka mereka bangkit menghadap Tuhan semesta alam untuk hisab, keputusan, pahala, siksa, Surga, dan Neraka.
Lauh Mahfuzh adalah benar. Darinya disalin amal-amal para hamba, untuk apa yang telah terdahulu di dalamnya dari takdir-takdir dan ketetapan.
Qalam adalah benar. Allah menulis dengannya takdir segala sesuatu dan menghitungnya dalam catatan. Maha Suci Tuhan kami dan Mahatinggi.
Syafaat pada hari Kiamat adalah benar. Suatu kaum akan memberi syafaat kepada kaum lain, maka mereka tidak masuk ke Neraka. Suatu kaum akan keluar dari Neraka -setelah mereka memasukinya- dengan syafaat para pemberi syafaat. Suatu kaum akan keluar dari Neraka dengan rahmat Allah setelah Dia tinggalkan mereka di dalamnya sekehendak-Nya. Suatu kaum akan kekal di Neraka selamanya, dan mereka adalah ahli syirik, pendustaan, pengingkaran, dan kekufuran terhadap Allah.
Kematian akan disembelih pada hari Kiamat antara Surga dan Neraka. Sungguh telah diciptakan Surga dan apa yang ada di dalamnya, dan diciptakan Neraka dan apa yang ada di dalamnya. Allah menciptakan keduanya, kemudian menciptakan makhluk untuk keduanya. Keduanya tidak akan musnah dan tidak akan musnah (pula) siapa yang ada di dalamnya selamanya. Jika seorang ahli bidah zindik berdalil dengan firman Allah Tabaraka wa Ta’ala: “Segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya” (Surat al-Qashash: 88) dan yang serupa dengan ini, maka dikatakan kepadanya: Segala sesuatu yang Allah tuliskan atasnya kemusnahan dan kebinasaan akan binasa. Surga dan Neraka diciptakan untuk kekal, bukan untuk musnah dan bukan untuk binasa. Keduanya dari akhirat, bukan dari dunia. Bidadari tidak akan mati ketika hari Kiamat datang, tidak ketika sangkakala ditiup, dan tidak selamanya, karena Allah Tabaraka wa Ta’ala menciptakan mereka untuk kekal, bukan untuk musnah, dan tidak menulis kematian atas mereka. Barangsiapa berkata selain itu, maka ia adalah ahli bidah yang menyelisihi dan telah sesat dari jalan yang lurus.
Allah menciptakan tujuh langit, sebagiannya di atas sebagian yang lain, dan tujuh bumi, sebagiannya di bawah sebagian yang lain. Antara bumi yang paling atas dan langit dunia adalah perjalanan lima ratus tahun. Antara setiap langit ke langit lainnya adalah perjalanan lima ratus tahun. Air berada di atas langit yang ketujuh, dan Arsy ar-Rahman berada di atas air. Allah Tabaraka wa Ta’ala berada di atas Arsy. Kursi adalah tempat kedua kaki-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di tujuh langit, apa yang ada di tujuh bumi, apa yang ada di antara keduanya, apa yang ada di bawah keduanya, apa yang ada di bawah tanah, apa yang ada di dasar lautan, tempat tumbuh setiap rambut, setiap pohon, setiap tanaman, dan setiap tumbuhan, jatuhnya setiap daun, jumlah semua itu, jumlah kerikil, pasir, dan tanah, timbangan gunung-gunung, tetesan hujan, amal-amal para hamba, jejak-jejak mereka, ucapan mereka, napas mereka, bisikan mereka, dan apa yang dibisikkan oleh dada mereka. Dia mengetahui segala sesuatu. Tidak tersembunyi bagi-Nya sesuatu pun dari itu. Dia berada di atas Arsy di atas langit yang ketujuh. Di bawah-Nya ada hijab-hijab dari api, cahaya, kegelapan, dan apa yang Dia lebih mengetahuinya.
Jika seorang ahli bidah, penyelisih, atau zindik berdalil dengan firman Allah Tabaraka wa Ta’ala: “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (Surat Qaf: 16), dan dengan firman-Nya: “Dan Dia bersama kalian di mana pun kalian berada” (Surat al-Hadid: 4), dan dengan firman-Nya: “Tiada pembicaraan rahasia tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya” (Surat al-Mujadilah: 7), dan yang serupa dengan itu dari ayat-ayat mutasyabih al-Quran, maka katakanlah: Sesungguhnya yang dimaksud dengan itu adalah ilmu, karena Allah Tabaraka wa Ta’ala berada di atas Arsy di atas langit yang ketujuh yang paling tinggi. Dia mengetahui semua itu. Dia terpisah dari makhluk-Nya. Tidak ada tempat yang kosong dari ilmu-Nya.
Bagi Allah ada Arsy, dan bagi Arsy ada pembawa-pembawa yang memikulnya. Arsy memiliki batas, Allah lebih mengetahui batasnya. Allah berada di atas Arsy-Nya, Mahaagung ingatan kepada-Nya, dan Mahatinggi keagungan-Nya. Tidak ada ilah selain-Nya.
Allah Tabaraka wa Ta’ala Maha Mendengar tanpa keraguan, Maha Melihat tanpa kebimbangan, Maha Mengetahui tidak bodoh, Maha Mulia tidak kikir, Maha Penyantun tidak tergesa-gesa, Maha Memelihara tidak lupa, Maha Terjaga tidak lalai, Maha Mengawasi tidak lengah. Dia berbicara dan bergerak, mendengar dan melihat serta memandang, menahan dan melapangkan, bergembira, mencintai dan membenci serta benci, ridha dan murka, dan marah, merahmati dan memaafkan serta mengampuni, memberi dan menghalangi, dan turun setiap malam ke langit dunia bagaimana yang Dia kehendaki dan sebagaimana Dia kehendaki. “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Surat asy-Syura: 11). Hati para hamba berada di antara jari-jari ar-Rahman. Dia membolak-balikkannya sekehendak-Nya dan memasukkan ke dalamnya apa yang Dia kehendaki. Dia menciptakan Adam dengan tangan-Nya menurut rupa-Nya. Langit-langit dan bumi-bumi pada hari Kiamat berada dalam genggaman dan kepalan-Nya. Dia meletakkan kaki-Nya di Jahannam, maka ia menyusut. Dia mengeluarkan suatu kaum dari Neraka dengan tangan-Nya. Penduduk Surga memandang wajah-Nya, mereka mengunjungi-Nya, maka Dia memuliakan mereka. Dia menampakkan diri kepada mereka, maka Dia memberi mereka. Para hamba dihadapkan kepada-Nya pada hari pemisahan dan hari pembalasan. Dia sendiri yang menghisab mereka, tidak menyerahkan hal itu kepada selain-Nya. Mahaagung Tuhan kami dan Mahatinggi. Dia Mahakuasa atas apa yang Dia kehendaki.
Al-Quran adalah kalam Allah. Dia berfirman dengannya. Al-Quran bukan makhluk. Barangsiapa mengklaim bahwa al-Quran adalah makhluk, maka ia adalah Jahmiyah yang kafir. Barangsiapa mengklaim bahwa al-Quran adalah kalam Allah lalu berhenti (diam) dan tidak berkata “bukan makhluk”, maka ia lebih kafir dari yang pertama dan perkataannya lebih buruk. Barangsiapa mengklaim bahwa lafaz-lafaz kami dengan al-Quran dan bacaan kami terhadapnya adalah makhluk, sedangkan al-Quran adalah kalam Allah, maka ia adalah Jahmiyah yang buruk lagi ahli bidah.
Barangsiapa tidak mengkafirkan kaum-kaum ini dan tidak mengkafirkan seluruh Jahmiyah, maka ia seperti mereka. Allah berbicara kepada Musa dan menyerahkan Taurat dari tangan-Nya ke tangan Musa. Allah tidak berhenti berbicara dan Maha Mengetahui. Maha Suci Allah, Sebaik-baik Pencipta.
Dan mimpi itu dari Allah dan ia adalah benar jika orang yang melihatnya melihat sesuatu dalam tidurnya yang bukan merupakan mimpi yang campur aduk, lalu ia menceritakannya kepada orang yang berilmu dan jujur dalam menceritakannya, dan orang yang berilmu itu menafsirkannya sesuai dengan dasar penafsiran yang benar, dan tidak memutarbalikkannya, maka mimpi dan penafsiran itu pada saat itu adalah benar. Dan sungguh mimpi para Nabi adalah wahyu. Maka siapakah orang bodoh yang lebih bodoh daripada orang yang mencela mimpi, dan mengklaim bahwa mimpi itu tidak ada artinya, padahal telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Sesungguhnya mimpi orang mukmin adalah kalam yang dengannya Tuhan berbicara kepada hamba-Nya”, dan beliau bersabda: “Mimpi itu dari Allah”. Dan kepada Allah-lah pertolongan diminta.
Dan termasuk dari sunnah yang jelas, terang, tetap, dan dikenal adalah menyebutkan kebaikan para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam semuanya tanpa terkecuali, dan menahan diri dari menyebutkan keburukan mereka dan perselisihan yang terjadi di antara mereka. Maka barangsiapa mencela para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, atau salah seorang dari mereka, atau mencela mereka, atau menampakkan aib mereka, atau mencela salah seorang dari mereka baik sedikit atau banyak, atau kecil atau besar dari apa yang mengarah kepada kejelekan terhadap salah seorang dari mereka, maka ia adalah ahli bidah, Rafidhah yang jahat dan menyimpang. Allah tidak menerima sedekah maupun amalnya. Bahkan mencintai mereka adalah sunnah, berdoa untuk mereka adalah pendekatan diri kepada Allah, meneladani mereka adalah wasilah, dan mengambil jejak mereka adalah keutamaan.
Dan sebaik-baik umat setelah Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah Abu Bakar, dan sebaik-baik mereka setelah Abu Bakar adalah Umar, dan sebaik-baik mereka setelah Umar adalah Utsman. Dan sekelompok dari ahli ilmu dan ahli sunnah berkata: Dan sebaik-baik mereka setelah Utsman adalah Ali. Dan sekelompok orang berhenti pada Utsman. Dan mereka adalah para khalifah yang lurus lagi mendapat petunjuk. Kemudian para sahabat Muhammad setelah empat orang ini adalah sebaik-baik manusia. Tidak boleh bagi siapa pun untuk menyebutkan sesuatu dari keburukan mereka, dan tidak boleh mencela salah seorang dari mereka dengan aib, dan tidak boleh mengurangi atau menjelekan. Maka barangsiapa melakukan hal itu, maka yang wajib atas penguasa adalah mendidik dan menghukumnya. Tidak boleh baginya untuk memaafkan, bahkan ia harus menghukumnya kemudian memintanya bertaubat. Jika ia bertaubat maka diterima darinya, dan jika ia tidak bertaubat maka hukuman diulangi lagi kepadanya kemudian ia dipenjara selamanya sampai ia mati atau kembali. Maka inilah sunnah mengenai para sahabat Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
Dan diakui hak, keutamaan, dan kepeloporan bangsa Arab dan mereka dicintai karena hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Mencintai bangsa Arab adalah iman dan membenci mereka adalah nifaq”. Dan tidak berkata dengan perkataan Syu’ubiyyah dan orang-orang rendahan dari Mawali yang tidak mencintai bangsa Arab, dan tidak mengakui keutamaan mereka. Maka sesungguhnya perkataan mereka adalah bidah dan menyalahi.
Dan barangsiapa mengharamkan usaha dan perdagangan dan mencari harta dari jalannya yang halal, maka sungguh ia telah bodoh, salah, dan menyalahi. Bahkan usaha dari jalan-jalannya yang halal adalah halal, telah dihalalkan oleh Allah, Rasul-Nya, dan para ulama dari umat ini. Maka seseorang seharusnya berusaha untuk dirinya dan keluarganya, dan mencari karunia dari Tuhannya. Jika ia meninggalkan hal itu dengan anggapan bahwa ia tidak memandang usaha itu baik, maka ia menyalahi. Dan setiap orang lebih berhak atas hartanya yang diwarisi atau yang diperoleh, atau yang didapat atau yang diusahakan, tidak seperti yang dikatakan oleh para ahli kalam yang menyalahi.
Dan agama itu hanyalah Kitab Allah dan jejak-jejak serta sunnah-sunnah dan riwayat-riwayat yang shahih dari orang-orang yang terpercaya dengan berita-berita yang shahih, kuat, dikenal, dan masyhur, yang diriwayatkan oleh orang terpercaya pertama yang dikenal dari orang kedua yang terpercaya dan dikenal, yang membenarkan satu sama lain hingga sampai kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, atau para sahabat Nabi, atau Tabi’in, atau tabi’ut tabi’in, atau orang-orang setelah mereka dari para imam yang dikenal dan diteladani, yang berpegang teguh pada sunnah, dan terikat pada atsar, yang tidak dikenal dengan bidah, dan tidak dicela dengan kebohongan, dan tidak dituduh dengan menyalahi, dan mereka bukan ahli qiyas dan pendapat, karena qiyas dalam agama adalah batil, dan pendapat juga demikian bahkan lebih batil darinya. Dan ahli pendapat dan qiyas dalam agama adalah ahli bidah yang bodoh dan sesat, kecuali jika dalam hal itu ada atsar dari orang-orang terdahulu dari para imam yang terpercaya, maka mengambil dengan atsar adalah lebih utama.
Dan barangsiapa mengklaim bahwa ia tidak melihat taqlid, dan tidak meniru agama dari siapa pun, maka ini adalah perkataan orang fasiq yang ahli bidah, musuh Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam, musuh agama-Nya, Kitab-Nya, dan sunnah Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam. Sesungguhnya ia menginginkan dengan itu untuk membatalkan atsar, meninggalkan ilmu, memadamkan sunnah, dan menyendiri dengan pendapat, kalam, bidah, dan menyalahi. Maka atas orang yang berkata dengan perkataan ini adalah laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia. Maka ini adalah dari perkataan ahli bidah yang paling buruk, dan paling dekat kepada kesesatan dan kebinasaan, bahkan ia adalah kesesatan. Ia mengklaim bahwa ia tidak melihat taqlid padahal ia telah meniru agamanya dari Abu Hanifah, Bisyr al-Marisi, dan pengikut-pengikutnya. Maka musuh agama Allah mana yang lebih musuh daripada orang yang ingin memadamkan sunnah-sunnah, membatalkan atsar-atsar dan riwayat-riwayat, dan mengklaim bahwa ia tidak melihat taqlid padahal ia telah meniru agamanya dari orang-orang yang telah aku sebutkan, dan mereka adalah para imam kesesatan, pemimpin-pemimpin bidah, dan komandan-komandan orang yang menyalahi. Maka atas orang yang berkata dengan perkataan ini adalah kemurkaan Allah.
Maka inilah perkataan-perkataan yang telah aku gambarkan sebagai mazhab Ahli Sunnah wal Jama’ah, dan Atsar, dan para ahli riwayat, dan pembawa ilmu yang telah kami temui dan kami mengambil dari mereka hadits, dan belajar dari mereka sunnah-sunnah, dan mereka adalah para imam yang dikenal, terpercaya, ahli kejujuran dan amanah yang diteladani dan diambil darinya, dan mereka bukan ahli bidah dan tidak menyalahi, dan tidak mencampur aduk. Dan itu adalah perkataan para imam mereka, dan ulama mereka yang ada sebelum mereka. Maka berpeganglah dengan itu semoga Allah merahmati kalian, dan pelajarilah dan ajarkanlah. Dan kepada Allah-lah pertolongan diminta.
Dan bagi ahli bidah ada julukan-julukan, gelar-gelar, dan nama-nama yang tidak menyerupai nama-nama orang-orang saleh, para imam, dan para ulama dari umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
Maka di antara nama-nama mereka adalah Murji’ah: yaitu mereka yang mengklaim bahwa iman adalah perkataan tanpa amal, dan bahwa iman adalah perkataan, sedangkan amal-amal adalah syariat-syariat, dan bahwa iman itu terpisah, dan bahwa manusia tidak berbeda-beda dalam iman, dan bahwa iman mereka dengan iman para malaikat dan para Nabi adalah satu, dan bahwa iman tidak bertambah dan tidak berkurang, dan bahwa iman tidak ada pengecualian di dalamnya, dan bahwa barangsiapa beriman dengan lisannya walaupun ia belum beramal maka ia adalah mukmin secara hakiki, dan bahwa mereka adalah mukmin di sisi Allah tanpa pengecualian. Semua ini adalah perkataan Murji’ah dan ia adalah perkataan yang paling buruk, paling sesat, dan paling jauh dari petunjuk.
Dan Qadariyyah: yaitu mereka yang mengklaim bahwa kepada mereka ada kemampuan, kehendak, dan kekuatan, dan bahwa mereka menguasai untuk diri mereka sendiri kebaikan, kejahatan, bahaya, manfaat, ketaatan, kemaksiatan, petunjuk, dan kesesatan, dan bahwa para hamba beramal bermula dari diri mereka sendiri tanpa hal itu telah didahului dalam ilmu Allah. Dan perkataan mereka menyerupai perkataan Majusi dan Nashrani, dan ia adalah asal dari zindiq.
Dan Mu’tazilah: yaitu mereka berkata dengan perkataan Qadariyyah dan beragama dengan agama mereka, dan mereka mendustakan azab kubur, syafaat, dan Telaga, dan mereka tidak melihat shalat di belakang siapa pun dari ahli kiblat, dan tidak pula Jumat kecuali dari orang yang atas pendapat dan hawa nafsu mereka, dan mereka mengklaim bahwa amal-amal hamba tidak ada dalam Lauh Mahfuzh.
Dan Bakriyyah: yaitu mereka adalah Qadariyyah, dan mereka adalah ashhabul habbah wal qirath, dan ad-daniq. Mereka mengklaim bahwa barangsiapa mengambil sebutir, atau satu qirath, atau satu daniq yang haram maka ia kafir. Dan perkataan mereka menyerupai perkataan Khawarij.
Dan Jahmiyyah: musuh-musuh Allah: yaitu mereka yang mengklaim bahwa Al-Quran itu makhluk, dan bahwa Allah tidak berbicara kepada Musa, dan bahwa Allah tidak berbicara, dan tidak bisa dilihat, dan tidak diketahui tempat bagi Allah, dan tidak ada Arsy bagi Allah, dan tidak ada Kursi, dan perkataan-perkataan banyak yang aku benci menceritakannya. Dan mereka adalah kafir zindiq musuh-musuh Allah, maka berhati-hatilah terhadap mereka.
Dan Waqifah: yaitu mereka yang mengklaim bahwa kami berkata: Sesungguhnya Al-Quran adalah kalam Allah. Dan kami tidak berkata: tidak makhluk. Dan mereka adalah sejahat-jahat golongan dan paling buruk.
Dan Lafzhiyyah: yaitu mereka yang mengklaim bahwa kami berkata: Sesungguhnya Al-Quran adalah kalam Allah. Tetapi lafazh-lafazh kami dengan Al-Quran dan tilawah kami dan bacaan kami terhadapnya adalah makhluk. Dan mereka adalah Jahmiyyah yang kotor.
Dan Rafidhah: yaitu mereka yang berlepas diri dari para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam dan mencela mereka dan mengurangi mereka, dan mengkafirkan umat kecuali sejumlah kecil orang. Dan Rafidhah bukan dari Islam sedikitpun.
Dan Manshuriyyah: yaitu mereka adalah Rafidhah yang paling buruk dari Rawafidh. Dan mereka adalah orang-orang yang berkata: Barangsiapa membunuh empat puluh orang laki-laki dari orang-orang yang menyelisihi hawa nafsu mereka, ia masuk surga. Dan mereka adalah orang-orang yang mencekik manusia dan menghalalkan harta mereka. Dan mereka adalah orang-orang yang berkata: Jibril salah dalam menyampaikan risalah. Dan ini adalah kekufuran yang jelas yang tidak bercampur dengan iman. Maka kami berlindung kepada Allah darinya.
Dan Saba’iyyah: yaitu mereka adalah Rafidhah yang pendusta. Dan mereka dekat dengan yang telah aku sebutkan, menyalahi para imam.
Dan Rafidhah adalah yang paling buruk pengaruhnya dalam Islam daripada ahli kufur dan ahli perang. Dan satu golongan dari Rafidhah berkata: Ali berada di awan. Dan mereka berkata: Ali akan dibangkitkan sebelum hari kiamat. Dan semua ini adalah dusta, kepalsuan, dan kebohongan.
Dan Zaidiyyah: yaitu mereka adalah Rafidhah. Dan mereka adalah orang-orang yang berlepas diri dari Utsman, Thalhah, Zubair, dan Aisyah, dan mereka memandang wajib perang bersama setiap orang yang keluar dari keturunan Ali baik ia berbakti atau fasiq hingga ia menang atau dikalahkan.
Dan Khasyabiyyah: yaitu mereka yang berkata dengan perkataan Zaidiyyah.
Dan Syi’ah: yaitu mereka menurut anggapan mereka menisbatkan diri mencintai keluarga Muhammad di atas orang-orang lain, dan mereka dusta. Bahkan mereka khususnya adalah pembenci keluarga Muhammad di atas orang-orang lain. Sesungguhnya Syi’ah keluarga Muhammad adalah orang-orang yang bertakwa, Ahli Sunnah dan Atsar, siapa pun mereka dan di mana pun mereka, yang mencintai keluarga Muhammad dan semua sahabat Muhammad, dan tidak menyebutkan salah seorang dari mereka dengan keburukan, atau aib, atau kekurangan. Maka barangsiapa menyebutkan salah seorang dari sahabat Muhammad shallallahu alaihi wasallam dengan keburukan, atau mencela dengan aib, atau berlepas diri dari salah seorang dari mereka, atau mencela mereka, atau menampakkan celaan mereka dan menghina mereka, maka ia adalah Rafidhah yang menyalahi, jahat, dan sesat.
Adapun Khawarij: maka mereka keluar dari agama, berpisah dari millah, memberontak terhadap Islam, menyimpang dari jama’ah, sesat dari jalan petunjuk, keluar terhadap penguasa dan para imam, menghunus pedang terhadap umat, menghalalkan darah dan harta mereka, dan mengkafirkan orang yang menyelisihi mereka kecuali orang yang berkata dengan perkataan mereka, dan berada atas pendapat mereka, dan tetap bersama mereka di tempat kesesatan mereka. Dan mereka mencela para sahabat Muhammad dan mertua-mertuanya serta ipar-iparnya, dan berlepas diri dari mereka, dan melempar mereka dengan kekufuran dan hal-hal besar. Dan mereka memandang menyelisihi mereka dalam syariat-syariat agama dan sunnah-sunnah Islam. Dan mereka tidak beriman dengan azab kubur, dan tidak pula Telaga, dan tidak pula syafaat, dan mereka tidak mengeluarkan siapa pun dari ahli neraka. Dan mereka berkata: Barangsiapa berdusta satu kebohongan, atau melakukan dosa kecil atau besar dari dosa-dosa lalu ia mati tanpa taubat maka ia kafir, maka ia di neraka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan mereka berkata dengan perkataan Bakriyyah dalam sebutir dan qirath. Dan mereka adalah Qadariyyah, Jahmiyyah, Murji’ah, Rafidhah. Dan mereka tidak memandang jama’ah kecuali di belakang imam mereka. Dan mereka memandang mengakhirkan shalat dari waktunya, dan mereka memandang puasa sebelum melihat hilal, dan berbuka sebelum melihatnya. Dan mereka memandang nikah tanpa wali dan tanpa penguasa. Dan mereka memandang mut’ah dalam agama mereka. Dan mereka memandang satu dirham dengan dua dirham tunai adalah halal. Dan mereka tidak memandang shalat dengan khuf, dan tidak pula mengusap atasnya. Dan mereka tidak memandang ada ketaatan kepada penguasa atas mereka, dan tidak ada khilafah bagi Quraisy. Dan hal-hal besar yang mereka selisihi dengan Islam dan ahlinya. Maka cukuplah bagi suatu kaum dengan kesesatan bahwa ini adalah pendapat, mazhab, dan agama mereka. Dan mereka bukan dari Islam sedikitpun. Dan mereka adalah orang-orang yang keluar.
Dan di antara nama-nama Khawarij:
Haruriyyah, yaitu mereka adalah ahli Harura’.
Dan Azariqah: yaitu mereka adalah pengikut Nafi’ bin al-Azraq. Dan perkataan mereka adalah paling buruk perkataan dan paling jauh dari Islam dan Sunnah.
Dan Najdiyyah: yaitu mereka adalah pengikut Najdah bin Amir.
Dan Ibadhiyyah: yaitu mereka adalah pengikut Abdullah bin Ibadh.
Dan Shafriyyah: yaitu mereka adalah pengikut Dawud bin an-Nu’man ketika dikatakan kepadanya: Sesungguhnya engkau kosong dari ilmu.
Dan Buhaisiyyah, dan Maimuniyyah, dan Khazimiyyah; semua ini adalah Khawarij yang fasiq, menyalahi Sunnah, keluar dari millah, ahli bidah dan kesesatan. Dan mereka adalah perampok dan pemotong jalan yang telah kami kenal demikian.
Dan Syu’ubiyyah: yaitu mereka adalah ahli bidah yang berkata: Bangsa Arab dan Mawali menurut kami adalah satu, mereka tidak memandang hak bagi bangsa Arab, dan tidak mengakui keutamaan mereka, dan tidak mencintai mereka. Bahkan mereka membenci bangsa Arab, dan memendam dalam hati mereka kedengkian, iri, dan kebencian. Ini adalah perkataan buruk yang dibidahkan oleh seorang laki-laki dari penduduk Irak, dan diikuti sejumlah kecil orang, lalu ia dibunuh karenanya.
Dan Ashabur Ra’yi: yaitu mereka adalah ahli bidah yang sesat, musuh-musuh Sunnah dan Atsar. Mereka memandang agama dengan pendapat, qiyas, dan istihsan. Dan mereka menyelisihi atsar-atsar, membatalkan hadits, menolak Rasul, dan menjadikan Abu Hanifah dan orang yang berkata dengan perkataannya sebagai imam yang mereka beragama dengan agama mereka, dan berkata dengan perkataan mereka. Maka kesesatan mana yang lebih jelas daripada orang yang berkata dengan ini atau berada atas seperti ini, yang meninggalkan perkataan Rasul dan para sahabatnya dan mengikuti pendapat Abu Hanifah dan para pengikutnya. Maka cukuplah dengan ini sebagai kesesatan, kezhaliman, dan penolakan.
Dan al-walayah (loyalitas khusus) adalah bid’ah dan al-bara’ah (pernyataan berlepas diri) adalah bid’ah, dan mereka berkata: “Kami loyal kepada si fulan dan kami berlepas diri dari si fulan.” Dan perkataan ini adalah bid’ah maka berhati-hatilah darinya.
Dan barangsiapa yang mengatakan sesuatu dari perkataan-perkataan ini atau melihatnya benar, atau membenarkannya, atau menyetujuinya, atau menyukainya maka sungguh ia telah menyelisihi Sunnah, dan keluar dari jama’ah, dan meninggalkan atsar, dan berkata dengan perselisihan, dan masuk ke dalam bid’ah, dan tergelincir dari jalan yang benar, dan tidaklah taufiq kami kecuali dengan Allah, kepada-Nya kami bertawakkal, dan dengan-Nya kami memohon pertolongan, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.
Dan sungguh ahli hawa nafsu dan bid’ah serta perselisihan telah mengada-adakan nama-nama yang keji dan buruk lalu mereka menamai dengannya ahlus sunnah dengan maksud untuk mencela mereka dan menuduh mereka, dan menjelek-jelekkan mereka, dan meremehkan mereka di hadapan orang-orang bodoh dan jahil. Adapun Murji’ah maka sesungguhnya mereka menamakan ahlus sunnah sebagai orang-orang yang ragu-ragu, dan Murji’ah telah berdusta, bahkan mereka lebih pantas dengan keraguan dan pendustaan. Adapun Qadariyah maka sesungguhnya mereka menamakan ahlus sunnah dan penetap sifat sebagai Mujabbirah (orang yang percaya jabr/pemaksaan), dan Qadariyah telah berdusta, bahkan mereka lebih pantas dengan kedustaan dan perselisihan karena mereka menghilangkan kekuasaan Allah atas makhluk-Nya, dan mereka mengatakan tentang-Nya sesuatu yang tidak layak bagi-Nya, Maha Suci Dia dan Maha Tinggi.
Adapun Jahmiyah: maka sesungguhnya mereka menamakan ahlus sunnah sebagai Musyabbihah (orang yang menyerupakan), dan Jahmiyah musuh-musuh Allah telah berdusta, bahkan mereka lebih pantas dengan penyerupaan dan pendustaan, mereka telah mengada-adakan kedustaan atas Allah dan berkata tentang Allah dengan kebohongan dan kebatilan dan mereka kafir dalam perkataan mereka.
Adapun Rafidhah: maka sesungguhnya mereka menamakan ahlus sunnah sebagai Nashbiyah (pembenci keluarga Nabi), dan Rafidhah telah berdusta, bahkan mereka lebih pantas dengan nama ini karena mereka memusuhi para sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mencaci dan mencela mereka dan berkata tentang mereka bukan dengan kebenaran, dan menisbatkan kepada mereka bukan keadilan dengan dusta dan kezaliman, dan keberanian terhadap Allah dan meremehkan hak Rasul, dan Allah lebih berhak untuk mengubah dan membalas dari mereka.
Adapun Khawarij: maka sesungguhnya mereka menamakan ahli sunnah wal jama’ah sebagai Murji’ah, dan Khawarij telah berdusta, bahkan merekalah Murji’ah yang mengaku bahwa mereka memiliki iman lebih tinggi dari manusia lain dan barangsiapa yang menyelisihi mereka adalah kafir.
Adapun ashab ar-ra’y (pengikut pendapat akal) dan qiyas: maka sesungguhnya mereka menamakan ashab as-sunnah sebagai Nabitah (orang-orang yang tumbuh sendiri/penyeleweng), dan ashab ar-ra’y musuh-musuh Allah telah berdusta, bahkan merekalah Nabitah yang meninggalkan atsar Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan haditsnya dan berkata dengan pendapat akal, dan mengqiyaskan agama dengan istihsan, dan memutuskan hukum dengan menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah, dan mereka adalah ahli bid’ah yang bodoh dan sesat yang mencari dunia dengan kedustaan dan kebohongan. Maka Allah merahmati seorang hamba yang berkata dengan kebenaran, dan mengikuti atsar, dan berpegang teguh dengan Sunnah, dan meneladani orang-orang shalih, dan menjauhi ahli bid’ah dan meninggalkan duduk bersama mereka dan berbicara dengan mereka karena mengharap pahala dan mencari pendekatan kepada Allah dan memuliakan agama-Nya, dan tidaklah taufiq kami kecuali dengan Allah.
Ushul As-Sunnah (Pokok-Pokok Sunnah) Oleh Imam Ahmad Bin Hanbal
Abdus berkata: Saya mendengar Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal berkata: Pokok-pokok Sunnah menurut kami adalah: Berpegang teguh dengan apa yang ada pada sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan meneladani mereka, dan meninggalkan bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan, dan meninggalkan perdebatan dan duduk bersama ashab al-ahwa’ (pengikut hawa nafsu), dan meninggalkan perdebatan dan dialog polemik serta pertengkaran dalam agama.
Dan Sunnah menurut kami adalah atsar-atsar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Sunnah menafsirkan Al-Qur’an dan ia adalah dalil-dalil Al-Qur’an. Dan tidak ada qiyas dalam Sunnah, dan tidak diperbuat perumpamaan-perumpamaan untuknya, dan tidak dicapai dengan akal, dan tidak dengan hawa nafsu, ia hanyalah pengikutan dan meninggalkan hawa nafsu.
Dan termasuk Sunnah yang wajib yang barangsiapa meninggalkan darinya satu perkara, tidak mengatakannya dan tidak beriman dengannya maka ia bukan termasuk ahlus sunnah: Beriman kepada Qadar baik dan buruknya, dan membenarkan hadits-hadits tentangnya, dan beriman dengannya, tidak dikatakan: “Mengapa?” dan tidak “Bagaimana?” Ia hanyalah membenarkannya dan beriman dengannya.
Dan barangsiapa tidak mengetahui tafsir hadits dan akalnya tidak sampai kepadanya maka hal itu telah dicukupkan baginya dan telah ditetapkan baginya, maka wajib atasnya beriman dengannya dan menyerahkan kepadanya, seperti hadits Ash-Shadiq Al-Mashdhuq (yang benar lagi dibenarkan) dan apa yang serupa dengannya tentang Qadar. Dan seperti hadits-hadits Ru’yah (melihat Allah) semuanya, dan meskipun asing di telinga dan mengganjal bagi pendengar, maka hanya wajib atasnya beriman dengannya, dan tidak menolak darinya satu huruf pun, dan hadits-hadits lain yang ma’tsur dari orang-orang tsiqah.
Tidak berdebat dengan siapa pun dan tidak berdialog dengannya, dan tidak mempelajari jadal (dialektika), karena sesungguhnya pembicaraan tentang Qadar dan Ru’yah dan Al-Qur’an dan lainnya dari Sunnah-sunnah adalah makruh dan dilarang darinya, dan tidaklah menjadi pemiliknya -jika ia benar dalam perkataannya tentang Sunnah- termasuk ahli sunnah hingga ia meninggalkan jadal dan menyerahkan, dan beriman dengan atsar-atsar.
Dan Al-Qur’an adalah kalam Allah, dan bukan makhluk, dan jangan lemah untuk mengatakan: Bukan makhluk, karena sesungguhnya kalam Allah adalah dari-Nya dan tidak terpisah dari-Nya, dan tidak ada sesuatu pun dari-Nya yang makhluk, dan jauhilah berdebat dengan orang yang mengada-adakan sesuatu tentangnya dan orang yang berkata tentang lafazh dan lainnya, dan orang yang berhenti tentangnya lalu berkata: “Saya tidak tahu, apakah makhluk atau bukan makhluk?” Padahal ia hanyalah kalam Allah dan bukan makhluk.
Dan beriman dengan Ru’yah pada hari Kiamat sebagaimana diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari hadits-hadits yang shahih.
Dan sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah melihat Rabb-nya, dan bahwa itu ma’tsur dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara shahih. Diriwayatkan oleh Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, dan diriwayatkan oleh Al-Hakam bin Aban dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, dan diriwayatkan oleh Ali bin Zaid dari Yusuf bin Mihran dari Ibnu Abbas. Dan hadits menurut kami sesuai zhahirnya sebagaimana datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan pembicaraan tentangnya adalah bid’ah, tetapi kami beriman dengannya sebagaimana datang sesuai zhahirnya dan kami tidak berdebat tentangnya dengan siapa pun.
Dan beriman dengan Al-Mizan (timbangan) sebagaimana datang: “Seorang hamba ditimbang pada hari Kiamat maka ia tidak seberat sayap nyamuk.” Dan ditimbang amal-amal para hamba sebagaimana datang dalam atsar.
Dan beriman dengannya dan membenarkannya, dan berpaling dari orang yang menolak hal itu dan meninggalkan berdebat dengannya.
Dan bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala berbicara kepada para hamba pada hari Kiamat tidak ada penerjemah antara mereka dan antara-Nya, dan beriman dengannya dan membenarkannya.
Dan beriman dengan Al-Haudh (telaga), dan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki telaga pada hari Kiamat yang umatnya akan datang kepadanya, lebarnya sama dengan panjangnya perjalanan sebulan, bejana-bejananya sebanyak bintang di langit sebagaimana shahih kabar-kabar dari berbagai jalan.
Dan beriman dengan azab kubur, dan bahwa umat ini akan difitnah di kubur-kubur mereka dan ditanya tentang iman dan Islam dan siapa Rabb mereka? Dan siapa Nabi mereka? Dan mendatangi mereka Munkar dan Nakir bagaimana Allah kehendaki dan bagaimana Allah inginkan. Dan beriman dengannya dan membenarkannya.
Dan beriman dengan syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dengan kaum yang keluar dari Neraka setelah mereka terbakar dan menjadi arang, lalu diperintahkan dengan mereka ke sungai di pintu Surga sebagaimana datang dalam atsar, bagaimana Allah kehendaki, dan sebagaimana Dia kehendaki, ia hanyalah beriman dengannya dan membenarkannya, dan beriman bahwa Al-Masih Ad-Dajjal akan keluar tertulis di antara kedua matanya (kafir) dan hadits-hadits yang datang tentangnya, dan beriman bahwa hal itu akan terjadi, dan bahwa Isa bin Maryam akan turun lalu membunuhnya di pintu Ludd.
Dan iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang sebagaimana datang dalam khabar: “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”
Dan barangsiapa meninggalkan shalat maka sungguh ia telah kafir, dan tidak ada dari amal-amal sesuatu yang meninggalkannya adalah kufur kecuali shalat, barangsiapa meninggalkannya maka ia kafir, dan sungguh Allah telah menghalalkan membunuhnya.
Dan sebaik-baik umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, kemudian Umar bin Al-Khaththab, kemudian Utsman bin Affan. Kami mendahulukan tiga orang ini sebagaimana sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendahulukan mereka, mereka tidak berselisih dalam hal itu, kemudian setelah tiga orang ini adalah ashab asy-syura yang lima: Ali bin Abi Thalib, dan Thalhah, dan Az-Zubair, dan Abdurrahman bin Auf, dan Sa’d, semuanya layak untuk khilafah dan semuanya imam.
Dan kami berpendapat dengan hadits Ibnu Umar: “Kami biasa menghitung di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup dan para sahabatnya masih banyak: Abu Bakar dan Umar dan Utsman kemudian kami diam.”
Kemudian setelah ashab asy-syura adalah ahli Badar dari kalangan Muhajirin, kemudian ahli Badar dari kalangan Anshar dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sesuai kadar hijrah dan pendahuluan, yang pertama kemudian yang pertama.
Kemudian sebaik-baik manusia setelah mereka ini adalah: Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, generasi yang ia diutus di tengah-tengah mereka, setiap orang yang menemaninya setahun atau sebulan atau sehari atau satu jam atau melihatnya maka ia termasuk sahabatnya, ia memiliki persahabatan sesuai kadar ia menemaninya, dan keutamaannya bersamanya, dan mendengar darinya dan melihat kepadanya dengan sekali pandang, maka yang paling rendah persahabatannya adalah lebih utama dari generasi yang tidak melihatnya, sekalipun mereka menemui Allah dengan semua amal, adalah mereka yang menemani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan melihatnya dan mendengar darinya dan barangsiapa melihatnya dengan matanya dan beriman kepadanya sekalipun satu jam lebih utama dengan persahabatannya daripada Tabi’in sekalipun mereka beramal dengan semua amal kebaikan.
Dan mendengar dan taat kepada para imam, dan amirul mukminin yang baik dan yang jahat, dan barangsiapa yang memegang khilafah lalu orang-orang berkumpul atasnya dan ridha kepadanya, dan barangsiapa yang mengalahkan mereka dengan pedang hingga ia menjadi khalifah dan dinamai amirul mukminin.
Dan perang berlanjut bersama para pemimpin hingga hari Kiamat yang baik dan yang jahat, tidak ditinggalkan, dan pembagian fai’ dan penegakan hudud kepada para imam adalah berlanjut, tidak ada seorang pun yang boleh mencela mereka dan tidak melawan mereka.
Dan menyerahkan sedekah-sedekah kepada mereka boleh dan sah, barangsiapa menyerahkannya kepada mereka maka mencukupi darinya, baik ia baik atau jahat. Dan shalat Jum’at di belakangnya dan di belakang orang yang ia angkat adalah boleh dan sempurna dua rakaat, barangsiapa yang mengulanginya maka ia adalah mubtadi’ (pembuat bid’ah) yang meninggalkan atsar-atsar menyelisihi Sunnah, tidak ada baginya dari keutamaan Jum’at sedikitpun, jika ia tidak melihat shalat di belakang para imam dari siapa pun mereka: yang baik dan yang jahat dari mereka, maka Sunnah adalah engkau shalat bersama mereka dua rakaat, barangsiapa mengulanginya maka ia mubtadi’, dan beragama dengannya bahwa ia sempurna, dan jangan ada di dadamu dari hal itu keraguan.
Dan barangsiapa yang keluar melawan imam kaum muslimin, dan sungguh orang-orang telah berkumpul atasnya, dan mengakui khilafah baginya dengan cara apa pun, dengan ridha atau dengan kekuatan maka sungguh orang yang keluar ini telah memecah tongkat kaum muslimin, dan menyelisihi atsar-atsar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka jika mati orang yang keluar melawannya, ia mati dengan kematian jahiliyah.
Dan tidak halal memerangi penguasa, dan tidak keluar melawannya bagi seorang pun dari manusia, maka barangsiapa yang melakukan hal itu maka ia mubtadi’ atas bukan Sunnah dan jalan yang benar.
Dan memerangi perampok dan Khawarij boleh jika mereka menghadang seseorang dalam dirinya dan hartanya maka ia boleh memerangi untuk dirinya dan hartanya, dan mempertahankan darinya dengan semua yang ia mampu. Dan tidak boleh baginya jika mereka menyimpang darinya atau meninggalkannya untuk mengejar mereka, dan tidak mengikuti jejak mereka, tidak ada bagi seorang pun kecuali imam atau wali kaum muslimin, ia hanya boleh mempertahankan dirinya di tempatnya itu, dan berniat dengan sungguh-sungguhnya agar tidak membunuh seorang pun, maka jika ia membunuh dalam mempertahankan dirinya dalam pertempuran itu maka Allah menjauhkan orang yang terbunuh, dan jika ia terbunuh dalam keadaan itu dan ia mempertahankan dirinya dan hartanya maka aku berharap baginya kesyahidan, sebagaimana datang dalam hadits-hadits.
Dan seluruh atsar dalam hal ini: Ia hanya diperintahkan untuk memeranginya dan tidak diperintahkan untuk membunuhnya dan tidak mengikutinya dan tidak menghabisinya jika ia tertunduk atau ia terluka, dan jika menangkapnya sebagai tawanan maka tidak boleh baginya membunuhnya, dan tidak menegakkan had atasnya tetapi ia mengangkat perkaranya kepada orang yang Allah memberikan wewenang kepadanya lalu ia memutuskan hukum tentangnya.
Dan tidak bersaksi atas seorang pun dari ahli kiblat dengan amal yang ia ketahui dengan Surga dan tidak Neraka, ia berharap untuk orang shalih dan khawatir atasnya, dan khawatir atas orang yang berbuat dosa dan jahat dan berharap baginya rahmat Allah.
Dan barang siapa menemui Allah dengan dosa yang mewajibkan baginya neraka dalam keadaan bertobat dan tidak berkeras hati di dalamnya, maka sesungguhnya Allah Azza wa Jalla akan menerima tobatnya dan menerima tobat dari hamba-hamba-Nya serta memaafkan kesalahan-kesalahan.
Dan barang siapa menemui-Nya sedangkan telah ditegakkan padanya hukuman dosa tersebut di dunia, maka itu adalah penghapus dosanya sebagaimana datang berita dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan barang siapa menemui-Nya dalam keadaan berkeras hati tidak bertobat dari dosa-dosa yang telah mewajibkan hukuman baginya, maka urusannya terserah kepada Allah Azza wa Jalla, jika Dia menghendaki menyiksanya dan jika Dia menghendaki mengampuninya, dan barang siapa menemui-Nya dalam keadaan kafir, Dia akan menyiksanya dan tidak akan mengampuninya.
Dan hukuman rajam adalah hak atas orang yang berzina dan telah menikah (muhshan) apabila dia mengaku atau tegak atas dirinya bukti, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah merajam, dan para imam yang rasyidin telah merajam.
Dan barang siapa merendahkan salah seorang dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau membencinya karena suatu peristiwa yang terjadi darinya, atau menyebut keburukan-keburukannya, maka dia adalah ahli bid’ah hingga dia mendoakan rahmat bagi mereka semua, dan hatinya bersih terhadap mereka.
Dan kemunafikan adalah: kekafiran, yaitu kafir kepada Allah dan menyembah selain-Nya, serta menampakkan Islam secara terang-terangan seperti orang-orang munafik yang ada pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dan hadits-hadits ini yang datang “Tiga hal, barang siapa terdapat padanya maka dia adalah munafik”, ini adalah untuk penekanan keras, kami meriwayatkannya sebagaimana datang dan tidak menafsirkannya.
Dan sabda Nabi: “Janganlah kalian kembali sepeninggalku menjadi orang-orang kafir yang sesat, sebagian kalian memukul leher sebagian yang lain”.
Dan seperti: “Apabila dua orang muslim bertemu dengan pedang mereka, maka yang membunuh dan yang dibunuh di dalam neraka”. Dan seperti: “Mencela muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekafiran”.
Dan seperti: “Barang siapa berkata kepada saudaranya: wahai kafir, maka sesungguhnya salah satu dari keduanya terkena (tuduhan itu)”.
Dan seperti: “Kekafiran kepada Allah adalah melepaskan diri dari nasab meskipun kecil”.
Dan hadits-hadits yang semacam ini dari hadits-hadits yang telah shahih dan terpelihara, maka sesungguhnya kami menerimanya meskipun kami tidak mengetahui tafsirnya dan tidak berbicara tentangnya dan tidak berdebat tentangnya dan tidak menafsirkan hadits-hadits ini kecuali dengan yang serupa sebagaimana datang dan kami tidak menolaknya kecuali dengan yang lebih benar darinya.
Dan surga dan neraka telah diciptakan sebagaimana telah diciptakan sebagaimana datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Aku masuk surga lalu melihat istana” dan “Aku melihat (telaga) Kautsar”. Dan “Aku mengintip ke dalam surga lalu melihat penduduknya begini dan aku mengintip ke dalam neraka lalu melihat begini dan melihat begini”, maka barang siapa mengira bahwa keduanya belum diciptakan maka dia mendustakan Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan aku tidak mengira dia beriman kepada surga dan neraka.
Dan barang siapa meninggal dari ahlul qiblah (kaum muslimin) dalam keadaan bertauhid maka dishalatkan untuknya dan dimintakan ampunan untuknya dan tidak ditinggalkan shalat atasnya karena dosa yang diperbuatnya, baik kecil maupun besar, dan urusannya terserah kepada Allah Azza wa Jalla.
“Syarh Ushul al-I’tiqad” karya al-Lalaka’i 1/176-185 (317)
Al-Hasan bin Isma’il ar-Rab’i berkata: Ahmad bin Hanbal, imam ahlussunnah yang sabar dalam menghadapi cobaan, berkata kepadaku: Telah bersepakat sembilan puluh orang dari kalangan tabi’in, para imam kaum muslimin, para imam salaf, dan para fuqaha dari berbagai negeri bahwa Sunnah yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat di atasnya, yang pertama adalah: Ridha terhadap qadha Allah, berserah diri kepada perintah-Nya dan sabar terhadap hukum-Nya, mengambil apa yang diperintahkan Allah, dan berhenti dari apa yang dilarang-Nya, dan beriman kepada takdir baik dan buruknya, meninggalkan perdebatan dan pertengkaran dalam agama, mengusap kedua khuf, dan jihad bersama setiap khalifah, baik yang berbuat baik maupun yang berbuat jahat, dan menshalatkan orang yang meninggal dari ahlul qiblah, dan iman adalah perkataan dan perbuatan yang bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Dan Al-Qur’an adalah kalam Allah, diturunkan ke dalam hati Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak makhluk, dari mana pun dibaca, dan bersabar di bawah panji penguasa terhadap apa yang ada padanya dari keadilan atau kezaliman, dan tidak memberontak terhadap para penguasa dengan pedang meskipun mereka berbuat zalim, dan tidak mengkafirkan seseorang dari ahlut tauhid meskipun mereka melakukan dosa-dosa besar, dan menahan diri dari apa yang terjadi di antara para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan sebaik-baik manusia setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali bin abi Thalib sepupu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mendoakan rahmat kepada seluruh sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan istri-istri beliau dan para besannya, semoga Allah meridhai mereka semua, maka inilah Sunnah, lazimlah kalian dengannya niscaya kalian selamat, mengambilnya adalah petunjuk dan meninggalkannya adalah kesesatan.
“Thabaqat al-Hanabilah” 1/
Muhammad bin Habib al-Andarabi berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata: Sifat mukmin dari ahlussunnah wal jama’ah adalah: Orang yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, dan mengakui semua yang dibawa oleh para nabi dan rasul, dan meyakininya sesuai dengan apa yang tampak, dan tidak ragu dalam imannya, dan tidak mengkafirkan seseorang dari ahlut tauhid karena dosa, dan mewakilkan apa yang tidak diketahuinya dari urusan-urusan kepada Allah Azza wa Jalla, dan menyerahkan urusannya kepada Allah Azza wa Jalla, dan tidak memutuskan dengan dosa-dosa bahwa ada perlindungan dari sisi Allah, dan mengetahui bahwa segala sesuatu dengan qadha Allah dan qadar-Nya, kebaikan dan kejahatan semuanya, dan berharap bagi orang yang berbuat baik dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan khawatir terhadap orang yang berbuat jahat di antara mereka, dan tidak menempatkan seseorang dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di surga atau neraka, karena kebaikan yang diperbuatnya atau karena dosa yang diperbuatnya, hingga Allah Azza wa Jallamah yang menempatkan makhluk-Nya di mana Dia kehendaki, dan mengenal hak para salaf yang telah dipilih Allah untuk menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mendahulukan Abu Bakar, Umar, dan Utsman, dan mengenal hak Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’d bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail atas seluruh sahabat yang lain, karena sesungguhnya mereka adalah sembilan orang yang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Gunung Hira, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Diamlah wahai Hira, karena tidak ada di atasmu kecuali seorang nabi atau shiddiq atau syahid”.
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah yang kesepuluh dari mereka, dan mendoakan rahmat kepada seluruh sahabat Muhammad, baik yang kecil maupun yang besar, dan menceritakan keutamaan-keutamaan mereka, dan menahan diri dari apa yang terjadi di antara mereka, dan shalat Ied, khauf (ketakutan), Jumat, dan berjamaah bersama setiap pemimpin baik yang berbuat baik maupun yang berbuat jahat, dan mengusap kedua khuf dalam safar dan mukim, dan qashar dalam safar, dan Al-Qur’an adalah kalam Allah dan wahyu-Nya, dan bukan makhluk. Dan iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang. Dan jihad terus berjalan sejak Allah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam hingga pasukan terakhir yang memerangi Dajjal, tidak membahayakan mereka kezaliman orang yang zalim, dan jual beli adalah halal hingga hari kiamat, berdasarkan hukum Kitab dan Sunnah, dan takbir di atas jenazah empat kali, dan berdoa untuk para imam kaum muslimin agar shalih, dan jangan kamu memberontak terhadap mereka dengan pedangmu, dan jangan kamu berperang dalam fitnah, dan tinggallah di rumahmu, dan beriman kepada azab kubur, dan beriman kepada Munkar dan Nakir, dan beriman kepada telaga (Kautsar) dan syafaat, dan beriman bahwa penduduk surga akan melihat Rabb mereka Tabaraka wa Ta’ala, dan beriman bahwa orang-orang yang bertauhid akan keluar dari neraka setelah mereka terbakar hangus, sebagaimana datang hadits-hadits tentang perkara-perkara ini dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kami beriman dengan membenarkannya, dan tidak memberikan perumpamaan-perumpamaan untuknya, inilah yang telah disepakati oleh para ulama di seluruh penjuru.
“Thabaqat al-Hanabilah” 2/293-295
Muhammad bin ‘Auf al-Himshi berkata: Ahmad bin Hanbal mendiktekan kepadaku: Datang hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Barang siapa menemui Allah dengan dosa yang mewajibkan neraka baginya, dalam keadaan bertobat darinya tidak berkeras hati di dalamnya, maka sesungguhnya Allah akan menerima tobatnya, dan barang siapa menemui-Nya sedangkan telah ditegakkan padanya hukuman dosa tersebut di dunia maka itu adalah penghapus dosanya” sebagaimana datang hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan barang siapa menemui-Nya dalam keadaan berkeras hati tidak bertobat dari dosa-dosa yang telah mewajibkan hukuman baginya, maka urusannya terserah kepada Allah, jika Dia menghendaki menyiksanya dan jika Dia menghendaki mengampuninya, apabila dia wafat di atas Islam dan Sunnah, dan barang siapa merendahkan salah seorang dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau membencinya karena suatu peristiwa yang terjadi darinya, atau menyebut keburukan-keburukannya, maka dia adalah ahli bid’ah, keluar dari jama’ah hingga dia mendoakan rahmat kepada mereka semua, dan hatinya bersih terhadap mereka semuanya.
Dan kemunafikan adalah: kekafiran kepada Allah yaitu kafir kepada Allah dan menyembah selain-Nya dan menampakkan Islam secara terang-terangan seperti orang-orang munafik yang ada pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka barang siapa menampakkan kekafiran di antara mereka maka dia dibunuh dan bukan seperti hadits-hadits ini yang datang: “Tiga hal barang siapa terdapat padanya maka dia adalah munafik”, ini adalah untuk penekanan keras, dan diriwayatkan sebagaimana datang, tidak boleh bagi seseorang untuk menafsirkannya, dan sabda Nabi: “Janganlah kalian kembali sepeninggalku menjadi orang-orang kafir yang sebagian kalian memukul leher sebagian yang lain” dan seperti sabdanya: “Apabila dua orang muslim bertemu dengan pedang mereka maka yang membunuh dan yang dibunuh di dalam neraka” dan seperti sabdanya: “Mencela muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekafiran” dan seperti sabdanya: “Barang siapa berkata kepada saudaranya wahai kafir maka sesungguhnya salah satu dari keduanya terkena (tuduhan itu)” dan seperti sabdanya: “Kekafiran kepada Allah adalah: melepaskan diri dari nasab meskipun kecil” dan hadits-hadits yang semacam ini, dari hadits yang telah shahih dan terpelihara, maka sesungguhnya kami menerimanya, meskipun kami tidak mengetahui tafsirnya, dan tidak berbicara tentangnya, dan tidak berdebat tentangnya, dan tidak menafsirkannya, tetapi kami meriwayatkannya sebagaimana datang, kami beriman kepadanya, dan kami mengetahui bahwa itu adalah kebenaran, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, dan kami menerimanya dan tidak menolaknya.
Dan kami tidak meninggalkan shalat atas seseorang dari ahlul qiblah karena dosa yang diperbuatnya baik kecil maupun besar, kecuali jika dia termasuk ahli bid’ah yang telah dikeluarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari Islam; Qadariyah, Murji’ah, Rafidhah, Jahmiyah, maka beliau bersabda: “Jangan kalian shalat bersama mereka dan jangan kalian shalatkan mereka”, dan sebagaimana datang hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari hadits-hadits yang shahih: bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah melihat Rabbnya, maka sesungguhnya itu diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan oleh Qatadah, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas. Dan diriwayatkan oleh al-Hakam bin Aban al-‘Adani, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas. Dan diriwayatkan oleh Ali bin Zaid, dari Yusuf bin Mihran, dari Ibnu ‘Abbas; beriman kepada itu, dan membenarkannya, dan bahwa penduduk surga akan melihat Allah dengan jelas, dan bahwa para hamba akan ditimbang dengan amal-amal mereka, maka di antara mereka ada yang tidak seberat sayap nyamuk, dan bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala akan berbicara kepada para hamba, tidak ada antara-Nya dan mereka seorang penerjemah. Dan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki telaga yang bejana-bejananya lebih banyak dari jumlah bintang-bintang di langit.
Dan beriman kepada azab kubur dan fitnah kubur, hamba akan ditanya tentang iman dan Islam, dan siapa Rabbnya? Dan apa agamanya? Dan siapa nabinya? Dan tentang Munkar dan Nakir.
Dan beriman kepada syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, untuk kaum yang keluar dari neraka. Dan beriman kepada syafaat para pemberi syafaat, dan bahwa surga dan neraka telah diciptakan, sebagaimana datang berita dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Aku masuk surga lalu melihat di dalamnya istana”, dan “Aku melihat Kautsar”, dan “Aku mengintip ke dalam neraka lalu melihat kebanyakan penduduknya begini dan begini”, maka barang siapa mengira bahwa keduanya belum diciptakan maka dia mendustakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Al-Qur’an, kafir kepada surga dan neraka, dia diminta bertobat, jika dia bertobat maka baik, dan jika tidak maka dia dibunuh.
Dan bahwa apabila tidak tersisa bagi seseorang syafaat, Allah Ta’ala berfirman: Aku adalah Yang Maha Pengasih dari yang mengasihi. Maka Dia memasukkan telapak tangan-Nya ke dalam jahannam, lalu mengeluarkan darinya apa yang tidak terhitung jumlahnya selain-Nya, dan seandainya Dia menghendaki Dia akan mengeluarkan mereka semua.
Dan hadits Abdurrahman bin ‘Aisyin al-Hadhrami: “Maka Dia meletakkan telapak tangan-Nya di antara kedua pundakku, lalu aku merasakan kesegarannya di antara kedua dadaku”.
Dan Jahannam tidak berhenti mengatakan: “Apakah masih ada tambahannya?” sampai Tuhan Tabaroka wa Ta’ala mendatanginya, “lalu Dia meletakkan kaki-Nya ke dalamnya, maka ia pun mengerut, dan berkata: cukup, cukup, cukuplah bagiku, cukuplah bagiku” demikianlah datang kabar dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Dan kami tidak menempatkan seorang pun dari ahli kiblat di surga atau neraka kecuali orang yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersaksi untuknya dengan surga: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail.
Dan bahwa Adam alaihissalam diciptakan menurut rupa Ar-Rahman, sebagaimana datang kabar dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Dan sebagaimana sahih kabar dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Tidak ada hati melainkan berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman”, dan “kedua tangan-Nya adalah kanan”, beriman kepada hal itu. Maka barangsiapa tidak beriman kepada hal itu, dan tidak mengetahui bahwa itu adalah benar, sebagaimana yang dikatakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka ia adalah pendusta atas Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ia diminta bertobat, jika ia bertobat maka baik, dan jika tidak maka dibunuh; karena kabar telah sahih dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Bahwa Allah ketika menciptakan Adam memukul dengan tangan-Nya belah kanan Adam, kemudian memukul dengan tangan-Nya yang lain -dan kedua tangan-Nya adalah kanan- pada belah kiri Adam, lalu berfirman: yang pertama: dari ahli surga, dan yang lainnya: dari ahli neraka”.
Dan beriman kepada takdir baik dan buruknya. Dan iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, berkurang dengan sedikitnya amal, dan bertambah dengan banyaknya amal. Dan Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan, dari manapun ia didengar dan dibaca, daripadanya ia bermula, dan kepadanya ia kembali.
Dan sebaik-baik manusia setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah: Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali, maka aku berkata kepadanya: Wahai Abu Abdullah, sesungguhnya mereka berkata: Bahwa engkau berhenti pada Utsman? Maka ia menjawab: Mereka berdusta, demi Allah, atas diriku. Sesungguhnya aku hanya menceritakan kepada mereka hadits Ibnu Umar: Kami saling membandingkan di antara para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kami berkata: Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, maka hal itu sampai kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan beliau tidak mengingkarinya. Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak bersabda: Jangan kalian membandingkan setelah mereka bertiga antara seorang pun, tidak ada bagi seorang pun dalam hal itu hujjah, maka barangsiapa berhenti pada Utsman dan tidak menjadikan yang keempat Ali maka ia tidak mengikuti Sunnah wahai Abu Ja’far.
“Thabaqat Al-Hanabilah” 2/339-343
Ali berkata dari Ibnu Baththah: Telah menceritakan kepadaku Ali bin Ahmad Al-Muqri Al-Maraghi -di Maraghah- telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far bin Muhammad As-Sarnadbi, telah menceritakan kepadaku Ali bin Muhammad bin Musa Al-Hafizh -yang dikenal dengan Ibnu Al-Mu’addil- telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad At-Tamimi Az-Zarandi, ia berkata: Ketika rumit bagi Musaddad bin Musarhad bin Musarbal perkara fitnah, dan apa yang menimpa manusia dari perselisihan dalam takdir, dan Rafidhah, dan Mu’tazilah, dan penciptaan Al-Quran, dan Irja’, ia menulis kepada Ahmad bin Hanbal: Tuliskan kepadaku Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Maka ketika suratnya tiba kepada Ahmad bin Muhammad, ia menangis dan berkata: Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, orang Bashrah ini mengira bahwa ia telah menginfakkan untuk ilmu harta yang besar, sedangkan ia tidak mendapat petunjuk kepada Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka ia menulis kepadanya: Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillah yang menjadikan di setiap zaman sisa-sisa dari ahli ilmu yang menyeru orang yang sesat kepada petunjuk, dan melarangnya dari kebinasaan, mereka menghidupkan dengan Kitabullah Ta’ala orang-orang yang mati, dan dengan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ahli kejahilan dan kebinasaan, berapa banyak orang terbunuh oleh Iblis yang telah mereka hidupkan! Dan berapa banyak orang sesat yang tersesat yang telah mereka beri petunjuk! Maka betapa baiknya bekas-bekas mereka terhadap manusia, mereka menafikan dari agama Allah penyelewengan orang-orang yang berlebih-lebihan, dan pengakuan para pembuat kebatilan, dan takwil orang-orang sesat yang telah mengikatkan bendera-bendera bid’ah, dan melepaskan tali kekang fitnah, mereka berkata tentang Allah, dan dalam (urusan) Allah -Maha Tinggi Allah dari apa yang dikatakan orang-orang zalim dengan setinggi-tingginya- dan dalam Kitab-Nya tanpa ilmu, maka kami berlindung kepada Allah dari setiap fitnah yang menyesatkan, dan semoga Allah bershalawat kepada Muhammad.
Adapun setelahnya: Semoga Allah memberi taufik kepada kami dan kepada kalian untuk apa yang di dalamnya terdapat ketaatan-Nya, dan menjauhkan kami dan kalian dari apa yang di dalamnya terdapat kemurkaan-Nya, dan menjadikan kami dan kalian beramal dengan amal orang-orang yang mengenal-Nya, yang takut kepada-Nya, sesungguhnya Dia Yang dimintai hal itu. Aku wasiatkan kepada kalian dan kepada diriku dengan takwa kepada Allah Yang Maha Agung, dan berpegang teguh kepada Sunnah. Maka sungguh kalian telah mengetahui apa yang menimpa orang yang menyelisihinya, dan apa yang datang tentang orang yang mengikutinya, telah sampai kepada kami dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah memasukkan hamba ke surga dengan Sunnah yang ia berpegang teguh kepadanya” Maka aku perintahkan kalian agar tidak mengutamakan sesuatu pun atas Al-Quran, karena ia adalah kalam Allah, dan apa yang Allah bicarakan maka tidaklah diciptakan, dan apa yang diberitakan-Nya tentang umat-umat yang lampau maka tidak diciptakan, dan apa yang ada di Lauh Mahfuzh, dan apa yang ada di mushaf-mushaf dan bacaan manusia dan bagaimanapun ia dibaca dan bagaimanapun ia disifatkan, maka ia adalah kalam Allah yang tidak diciptakan, maka barangsiapa berkata: diciptakan, maka ia kafir kepada Allah Yang Maha Agung, dan barangsiapa tidak mengkafirkannya maka ia kafir. Kemudian setelah Kitabullah adalah Sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam dan hadits dari beliau, dan dari orang-orang yang mendapat petunjuk yaitu para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan membenarkan apa yang dibawa oleh para rasul, dan mengikuti Sunnah keselamatan, dan ia adalah yang dipindahkan oleh ahli ilmu secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Dan waspadalah terhadap pendapat Jahm; karena ia adalah pemilik pendapat, dan pembicaraan, dan perdebatan, maka sungguh telah sepakat orang-orang yang kami jumpai dari ahli ilmu bahwa Jahmiyyah terpecah menjadi tiga kelompok; maka berkata sekelompok dari mereka: Al-Quran adalah kalam Allah yang diciptakan. Dan berkata sekelompok: Al-Quran adalah kalam Allah. Dan diam, dan mereka adalah Waqifah yang terlaknat, dan berkata sebagian mereka: Lafal-lafal kami dengan Al-Quran adalah diciptakan. Maka semua mereka ini adalah Jahmiyyah kafir, mereka diminta bertobat, jika mereka bertobat maka baik dan jika tidak maka dibunuh. Dan telah sepakat orang-orang yang kami jumpai dari ahli ilmu: bahwa barangsiapa ini perkataan mereka jika ia tidak bertobat tidak boleh dinikahi, dan tidak sah keputusan hukumnya, dan tidak dimakan sembelihannya.
Dan iman adalah: perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, bertambahnya jika engkau berbuat baik dan berkurangnya jika engkau berbuat buruk, dan seorang keluar dari iman menuju Islam, dan tidak mengeluarkannya dari Islam sesuatu pun kecuali syirik kepada Allah Yang Maha Agung, atau menolak suatu kewajiban dari kewajiban-kewajiban Allah dengan mengingkarinya, maka jika ia meninggalkannya karena malas atau meremehkan maka ia dalam kehendak Allah, jika Dia menghendaki menyiksanya, dan jika Dia menghendaki memaafkannya.
Dan adapun Mu’tazilah yang terlaknat: Maka sungguh telah sepakat orang-orang yang kami jumpai dari ahli ilmu bahwa mereka mengkafirkan dengan dosa, dan barangsiapa dari mereka demikian maka sungguh ia mengira bahwa Adam adalah kafir, dan bahwa saudara-saudara Yusuf ketika mereka membohongi ayah mereka Ya’qub alaihissalam adalah orang-orang kafir, dan telah sepakat Mu’tazilah bahwa barangsiapa mencuri sebutir maka ia kafir, berpisah darinya istrinya, dan ia memulai lagi haji jika ia telah berhaji, maka mereka ini yang berkata dengan perkataan ini adalah kafir, tidak boleh dinikahi dan tidak diterima kesaksian mereka.
Dan adapun Rafidhah: Maka sungguh telah sepakat orang-orang yang kami jumpai dari ahli ilmu bahwa mereka berkata: Bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu lebih utama daripada Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu, dan bahwa keislaman Ali lebih dahulu daripada keislaman Abu Bakar maka barangsiapa mengira bahwa Ali bin Abi Thalib lebih utama daripada Abu Bakar maka sungguh ia telah menolak Kitab dan Sunnah, karena firman Allah Azza wa Jalla: “Muhammad adalah Rasulullah dan orang-orang yang bersamanya” (Surat Al-Fath: 29) maka Allah mendahulukan Abu Bakar, setelah Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Seandainya aku mengambil seorang khalil (kekasih) niscaya aku akan mengambil Abu Bakar sebagai khalil, tetapi Allah telah mengambil sahabat kalian sebagai khalil, dan tidak ada nabi setelahku” Maka barangsiapa mengira bahwa keislaman Ali lebih dahulu daripada keislaman Abu Bakar, maka sungguh ia telah berdusta; karena orang pertama yang masuk Islam adalah Abdullah bin Utsman Atiq bin Abi Quhafah, dan ia pada waktu itu berusia tiga puluh lima tahun, dan Ali berusia tujuh tahun, belum berlaku atasnya hukum-hukum dan kewajiban-kewajiban dan had-had.
Dan kami beriman kepada qadha dan qadar baik dan buruknya, dan manis dan pahitnya, dan bahwa Allah menciptakan surga sebelum makhluk, dan menciptakan untuk surga ahlinya, dan kenikmatan surga adalah kekal, dan barangsiapa mengira bahwa akan musnah dari surga sesuatu maka ia kafir, dan menciptakan neraka sebelum menciptakan makhluk, dan menciptakan untuk neraka ahlinya, dan siksanya kekal, dan bahwa ahli surga melihat Tuhan mereka pasti, dan bahwa Allah mengeluarkan kaum-kaum dari neraka dengan syafaat Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
Dan bahwa Allah berbicara kepada Musa alaihissalam, dan mengambil Ibrahim sebagai khalil.
Shirath adalah haq, dan mizan adalah haq, dan para nabi adalah haq, dan Isa bin Maryam adalah rasul Allah dan kalimat-Nya. Dan beriman kepada haudh dan syafaat, dan beriman kepada Munkar dan Nakir, dan siksa kubur, dan beriman kepada Malaikat Maut alaihissalam, bahwa ia mencabut nyawa-nyawa, kemudian dikembalikan ke dalam jasad-jasad di dalam kubur, maka mereka ditanya tentang iman dan tauhid, dan beriman kepada peniupan sangkakala, dan sangkakala adalah terompet yang ditiup di dalamnya oleh Israfil, dan bahwa kubur yang di Madinah adalah kubur Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersamanya Abu Bakar dan Umar, dan hati-hati para hamba berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman, dan Dajjal keluar di umat ini pasti, dan turun Isa bin Maryam lalu ia membunuhnya di pintu Lud.
Dan apa yang diingkari para ulama dari syubhat maka ia munkar, dan waspadalah terhadap bid’ah-bid’ah semuanya.
Dan tidak ada mata yang berkedip setelah Nabi shallallahu alaihi wasallam lebih baik daripada Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu, dan tidak setelah Abu Bakar ada mata yang berkedip lebih baik daripada Umar. Dan tidak setelah Umar ada mata yang berkedip lebih baik daripada Utsman, dan tidak setelah Utsman bin Affan ada mata yang berkedip lebih baik daripada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhum ajma’in.
Ahmad berkata: -Mereka demi Allah adalah khalifah-khalifah yang mendapat petunjuk yang diberi petunjuk- dan bahwa kami bersaksi untuk sepuluh orang dengan surga, dan mereka adalah Abu Bakar, dan Umar, dan Utsman, dan Ali, dan Thalhah, dan Zubair, dan Sa’ad, dan Sa’id, dan Abdurrahman bin Auf Az-Zuhri, dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, dan barangsiapa yang Nabi shallallahu alaihi wasallam bersaksi untuknya dengan surga maka kami bersaksi untuknya dengan surga.
Dan mengangkat kedua tangan dalam shalat adalah penambahan dalam kebaikan.
Dan mengeraskan amin ketika imam mengucapkan “dan bukan (jalan) orang-orang yang sesat” (Surat Al-Fatihah: 7) dan menshalatkan orang yang meninggal dari ahli kiblat ini dan perhitungan mereka kepada Allah Azza wa Jalla.
Dan keluar bersama setiap imam dalam peperangannya dan hajinya, dan shalat di belakang mereka shalat Jumat dan dua hari raya.
Dan menahan diri dari keburukan-keburukan sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, berbicaralah tentang keutamaan mereka dan diamlah tentang apa yang terjadi di antara mereka.
Dan jangan engkau bermusyawarah dengan seorang pun dari ahli bid’ah dalam agamamu, dan jangan engkau menemaninya dalam perjalananmu. Dan tidak ada nikah kecuali dengan wali, dan peminang, dan dua saksi yang adil, dan mut’ah adalah haram sampai hari kiamat, dan barangsiapa menceraikan tiga kali dalam satu lafadz maka sungguh ia telah jahil, dan haram atasnya istrinya, dan tidak halal baginya selama-lamanya sampai ia menikah dengan suami yang lain.
Dan takbir atas jenazah empat kali, maka jika ia bertakbir lima kali maka bertakbirlah bersamanya.
Ibnu Mas’ud berkata: Bertakbirlah sebagaimana imammu bertakbir. Ahmad berkata: Asy-Syafi’i menyelisihiku dan berkata: Jika ia menambah atas empat takbir maka ia mengulangi shalatnya, dan ia berdalil kepadaku bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam menshalatkan Najasyi, lalu ia bertakbir atasnya empat takbir.
Dan mengusap atas khuffain bagi musafir tiga hari dengan malam-malamnya, dan bagi mukim sehari semalam.
Dan jika engkau masuk masjid maka jangan engkau duduk sampai engkau shalat dua rakaat tahiyyatul masjid. Dan witir satu rakaat, dan iqamah satu-satu.
Cintailah ahli Sunnah atas apa yang ada pada mereka, semoga Allah mematikan kami dan kalian di atas Sunnah dan Jamaah, dan semoga Allah memberi rezeki kami dan kalian dalam mengikuti ilmu, dan memberi taufik kami dan kalian untuk apa yang Dia cintai dan Dia ridhai.
“Thabaqat Al-Hanabilah” 2/426-432
2 – Bab: Iman Itu Perkataan Dan Perbuatan
Salih berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Ja’far As-Suwaidi menceritakan kepadaku, dari Yahya bin Sulaim, dari Hisyam, dari Al-Hasan, ia berkata: Iman itu perkataan dan perbuatan.
“Sirah Al-Imam Ahmad” oleh Salih halaman 81.
Salih berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abdullah bin Yazid menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Lahi’ah menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Hubairah As-Saba’i, dari Ubaid bin Umair Al-Laitsi bahwa ia berkata: Iman itu bukan dengan angan-angan, tetapi iman adalah perkataan yang dipahami dan perbuatan yang dilakukan.
“Sirah Al-Imam” oleh Salih halaman 82.
Salih berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Ibnu Syammas menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Yahya bin Sulaim berkata: Iman itu perkataan dan perbuatan.
Dan diriwayatkan bahwa Ibnu Juraij berkata: Iman itu perkataan dan perbuatan.
“Sirah Al-Imam” halaman 82.
Salih berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Ibnu Syammas menceritakan kepada kami, ia berkata: Dan Fudhail bin ‘Iyadh ditanya -sementara aku mendengar- tentang iman, maka ia berkata: Iman menurut kami bagian dalamnya dan luarnya adalah pengakuan dengan lisan, penerimaan dengan hati, dan perbuatan.
“Sirah Al-Imam” halaman 82.
Salih berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Yahya bin Sa’id berkata: Iman itu perkataan dan perbuatan.
“Sirah Al-Imam” halaman 82.
Salih berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Salamah Al-Khuza’i menceritakan kepada kami, ia berkata: Malik, Syarik, Abu Bakar bin ‘Ayyasy, Abdul Aziz bin Abi Salamah, Hammad bin Salamah, dan Hammad bin Zaid berkata: Iman adalah pengetahuan, pengakuan, dan perbuatan.
“Sirah Al-Imam” halaman 82.
Salih berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Ibrahim bin Syammas menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Ibnu Al-Mubarak, Jarir bin Abdul Hamid, Yahya bin Sulaim, An-Nadhr bin Syumail, Baqiyyah bin Al-Walid, Abu Ishaq Al-Fazari, dan Isma’il bin ‘Ayyasy berkata: Iman itu perkataan dan perbuatan.
“Sirah Al-Imam” halaman 82.
Salih berkata: Ayahku ditanya -sementara aku hadir- tentang kaum yang tidak beramal dan berkata: Kami bertawakal! Ia berkata: Mereka ini ahli bid’ah.
“Masail Salih” (430)
Salih berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Suraij bin An-Nu’man menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Nafi’ mengabarkan kepadaku, ia berkata: Malik biasa berkata: Aku adalah mukmin, dan ia berkata: Iman itu perkataan dan perbuatan.
“Masail Salih” (839)
Abu Dawud berkata: Aku mendengar Ahmad berkata: Sampai kepadaku bahwa Malik bin Anas, Ibnu Juraij, dan Fudhail bin ‘Iyadh berkata: Iman itu perkataan dan perbuatan.
“Masail Abi Dawud” (1760).
Abu Dawud berkata: Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibrahim bin Syammas menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Baqiyyah bin Al-Walid dan Ibnu ‘Ayyasy, maka mereka berkata: Iman itu perkataan dan perbuatan.
“Masail Abi Dawud” (1766)
Abu Dawud berkata: Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibrahim bin Syammas menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Ishaq Al-Fazari, aku berkata: Iman itu perkataan dan perbuatan? Ia berkata: Ya.
Ia berkata: Dan aku mendengar Ibnu Al-Mubarak berkata: Iman itu perkataan dan perbuatan.
Abu Dawud berkata: Ahmad berkata: Dan Yahya berkata: Iman itu perkataan dan perbuatan.
“Masail Abi Dawud” (1768 – 1769)
Al-Maimuni berkata: Dan aku mendengar Abu Abdillah bin Hanbal berkata: Iman itu perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang. Mereka berkata kepadanya: Dan niat? Ia berkata: Niat itu didahulukan dalam masalah ini.
“Al-‘Ilal” riwayat Al-Marrudzi dan lainnya (424)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ibrahim bin Syammas menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Jarir bin Abdul Hamid berkata: Iman itu perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.
Dikatakan kepadanya: Bagaimana kamu berkata? Ia berkata: Aku berkata: Mukmin insya Allah.
Abu Abdurrahman berkata: Dan sungguh aku telah melihat Ibrahim dan tidak mendengar darinya di masa ayahku, ia sedang dipenjara.
“As-Sunnah” oleh Abdullah 1/315 (626)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku: Ibrahim berkata: Dan aku mendengar An-Nadhr bin Syumail berkata: Iman itu perkataan dan perbuatan, dan iman itu bertingkat-tingkat.
“As-Sunnah” oleh Abdullah 1/316 (632)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ibrahim berkata: Dan aku bertanya kepada Baqiyyah dan Ibnu ‘Ayyasy -yaitu Isma’il- maka mereka berkata: Iman itu perkataan dan perbuatan.
“As-Sunnah” oleh Abdullah 1/316 (634)
Abdullah berkata: Aku menemukan dalam kitab ayahku rahimahullah: Ia berkata: Aku diberitahu bahwa Fudhail bin ‘Iyadh membaca awal Surah Al-Anfal hingga sampai pada ayat: “Mereka itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Bagi mereka derajat-derajat (yang tinggi) di sisi Tuhan mereka, ampunan dan rezeki yang mulia” (Surah Al-Anfal: 4), kemudian ia berkata ketika selesai: Sesungguhnya ayat ini memberitahumu bahwa iman itu perkataan dan perbuatan, dan bahwa orang mukmin jika ia benar-benar mukmin maka ia termasuk penduduk surga, barangsiapa tidak bersaksi bahwa orang mukmin yang sebenarnya adalah penduduk surga maka ia ragu terhadap Kitab Allah Azza wa Jalla, mendustakannya, atau bodoh tidak mengetahui, maka barangsiapa berada pada sifat ini maka ia mukmin yang sebenarnya, sempurna imannya, dan tidak sempurna iman seseorang kecuali dengan amal, dan tidak akan sempurna iman seorang hamba dan tidak akan menjadi mukmin yang sebenarnya hingga ia mengutamakan agamanya atas syahwatnya, dan tidak akan binasa seorang hamba hingga ia mengutamakan syahwatnya atas agamanya.
Wahai orang bodoh, betapa jahilnya kamu! Kamu tidak ridha untuk berkata: Aku mukmin, hingga kamu berkata: Aku mukmin yang sebenarnya, sempurna imanku! Demi Allah kamu tidak akan menjadi mukmin yang sebenarnya, sempurna imanmu, hingga kamu menunaikan apa yang Allah Azza wa Jalla wajibkan atasmu, dan menjauhi apa yang Allah haramkan atasmu, dan ridha dengan apa yang Allah tetapkan untukmu, kemudian kamu takut bersama ini semua bahwa Allah tidak menerima darimu.
Dan Fudhail menggambarkan iman bahwa ia perkataan dan perbuatan, dan membaca ayat: “Padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata, dengan lurus, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus” (Surah Al-Bayyinah: 5). Maka sungguh Allah Azza wa Jalla menamakan agama yang lurus dengan perkataan dan perbuatan, adapun perkataan: pengakuan dengan tauhid, dan kesaksian bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan penyampaian, dan perbuatan: menunaikan kewajiban dan menjauhi yang haram, dan membaca ayat: “Dan ceritakanlah (Muhammad) di dalam Kitab (ini) tentang Ismail. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan ia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh keluarganya untuk (melaksanakan) shalat dan (menunaikan) zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya” (Surah Maryam: 54-55). Dan Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu tegakkanlah agama itu dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama itu dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya)” (Surah Asy-Syura: 13).
Maka agama: pembenaran dengan perbuatan sebagaimana Allah gambarkan, dan sebagaimana Dia perintahkan kepada para nabi dan rasul-Nya untuk menegakkannya, dan perpecahan di dalamnya: meninggalkan amal, dan memisahkan antara perkataan dan perbuatan.
Allah Azza wa Jalla berfirman: “Jika mereka bertobat, melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama” (Surah At-Taubah: 11). Maka tobat dari kesyirikan, Allah jadikan ia perkataan dan perbuatan, dengan melaksanakan shalat dan menunaikan zakat.
Dan para pengikut pendapat berkata: Bukan shalat, bukan zakat, dan bukan sesuatu dari kewajiban-kewajiban termasuk dari iman, suatu kebohongan atas Allah! Dan menyelisihi Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, seandainya perkataan itu sebagaimana mereka katakan, niscaya tidak akan berperang Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu terhadap orang-orang yang murtad.
Dan Al-Fudhail rahimahullah berkata: Ahli bid’ah berkata: Iman: pengakuan tanpa amal, dan iman itu satu, dan sesungguhnya manusia bertingkat-tingkat dengan amal, dan mereka tidak bertingkat-tingat dengan iman. Dan barangsiapa berkata demikian maka sungguh ia telah menyelisihi atsar dan menolak perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Iman itu tujuh puluh sekian cabang, yang paling utama adalah laa ilaaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu itu cabang dari iman”.
Dan tafsir orang yang berkata: Iman tidak bertingkat-tingkat, ia berkata: Sesungguhnya kewajiban-kewajiban bukan dari iman. Maka ahli bid’ah memisahkan amal dari iman, dan berkata: Sesungguhnya kewajiban-kewajiban Allah bukan dari iman. Dan barangsiapa berkata demikian maka sungguh ia telah membuat kebohongan yang sangat besar, aku khawatir ia menjadi orang yang mengingkari kewajiban-kewajiban, menolak perintah Allah Azza wa Jalla.
Dan Ahlus Sunnah berkata: Sesungguhnya Allah merangkaikan amal dengan iman, dan sesungguhnya kewajiban-kewajiban Allah termasuk dari iman, mereka berkata: “Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh”, maka ini disambungkan amal dengan iman. Dan Ahli Irja’ berkata: Sesungguhnya ia terputus tidak tersambung.
Dan Ahlus Sunnah berkata: “Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia beriman” (Surah An-Nisa: 124), maka ini tersambung.
Dan Ahli Irja’ berkata: Bahkan ia terputus.
Dan Ahlus Sunnah berkata: “Dan barangsiapa menghendaki akhirat dan berusaha ke arahnya dengan sungguh-sungguh sedang ia beriman” (Surah Al-Isra’: 19), maka ini tersambung, dan setiap sesuatu dalam Al-Qur’an yang serupa dengan itu, maka Ahlus Sunnah berkata: Ia tersambung, tergabung.
Dan Ahli Irja’ berkata: Ia terputus, terpisah. Dan seandainya perkara itu sebagaimana mereka katakan, niscaya orang yang bermaksiat dan melakukan kemaksiatan dan yang haram tidak ada jalan untuk menghukumnya, dan pengakuannya mencukupinya dari amal, maka betapa buruknya perkataan ini dan betapa jeleknya! Maka sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali.
Dan Fudhail berkata: Pokok iman menurut kami dan cabangnya setelah kesaksian dan tauhid, dan setelah kesaksian bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan penyampaian, dan setelah menunaikan kewajiban adalah kejujuran dalam berkata, menjaga amanah, meninggalkan pengkhianatan, menepati janji, menyambung silaturahmi, nasihat bagi seluruh kaum muslimin, dan kasih sayang kepada manusia secara umum.
Dikatakan kepadanya -yaitu Fudhail-: Ini dari pendapatmu kamu katakan atau kamu dengar?
Ia berkata: Bahkan kami maksudkan dan kami pelajari, dan seandainya aku tidak mengambilnya dari ahli fikih dan keutamaan, niscaya aku tidak akan berbicara dengannya.
Dan Fudhail berkata: Ahli Irja’ berkata: Iman adalah perkataan tanpa amal.
Dan Jahmiyyah berkata: Iman adalah pengetahuan tanpa perkataan dan tanpa amal.
Dan Ahlus Sunnah berkata: Iman adalah pengetahuan, perkataan, dan amal.
Maka barangsiapa berkata: Iman adalah perkataan dan amal, maka sungguh ia telah mengambil yang kokoh, dan barangsiapa berkata: Iman adalah perkataan tanpa amal, maka sungguh ia telah mengambil risiko; karena ia tidak tahu apakah pengakuannya diterima atau ditolak karena dosa-dosanya.
Dan ia berkata; yaitu Fudhail: Sungguh aku telah menjelaskan kepadamu kecuali jika kamu buta.
Dan Fudhail berkata: Seandainya seseorang berkata: Apakah kamu mukmin? Aku tidak akan berbicara dengannya selama aku hidup.
Dan ia berkata: Jika kamu berkata: Aku beriman kepada Allah, maka itu mencukupimu dari berkata: Aku mukmin, dan jika kamu berkata: Aku mukmin, itu tidak mencukupimu dari berkata: Aku beriman kepada Allah; karena aku beriman kepada Allah adalah perintah, Allah Azza wa Jalla berfirman: “Katakanlah: Kami beriman kepada Allah” (Surah Al-Baqarah: 136), dan perkataanmu: Aku mukmin adalah beban yang tidak membahayakanmu jika kamu tidak mengatakannya, dan tidak mengapa jika kamu mengatakannya dengan cara pengakuan, dan aku membencinya dengan cara tazkiyah (penyucian diri).
Dan Fudhail berkata: Aku mendengar Sufyan Ats-Tsauri berkata: Barangsiapa shalat menghadap kiblat ini maka ia menurut kami mukmin, dan manusia menurut kami mukmin dengan pengakuan, warisan, pernikahan, hukuman had, sembelihan, dan ibadah haji, dan bagi mereka ada dosa dan kesalahan, Allah yang menghisab mereka, jika Dia kehendaki menyiksa mereka dan jika Dia kehendaki mengampuni mereka, dan kami tidak tahu bagaimana mereka di sisi Allah Azza wa Jalla.
Dan Fudhail berkata: Aku mendengar Al-Mughirah Adh-Dhabbi berkata: Barangsiapa ragu dalam agamanya maka ia kafir, dan aku mukmin -insya Allah-. Fudhail berkata: Pengecualian (istitsna’) itu bukan keraguan.
Dan Fudhail berkata: Murji’ah setiap kali mendengar hadits yang di dalamnya ada ancaman, mereka berkata: Ini ancaman, dan sesungguhnya orang mukmin takut pada ancaman Allah dan peringatan-Nya dan ancaman-Nya dan janji-Nya yang keras, dan mengharapkan janji-Nya, dan sesungguhnya orang munafik tidak takut pada ancaman Allah, tidak pada peringatan-Nya, tidak pada ancaman-Nya, dan tidak pada janji-Nya yang keras, dan tidak mengharapkan janji-Nya. Dan Fudhail berkata: Amal-amal menggugurkan amal-amal, dan amal-amal menghalangi amal-amal.
“As-Sunnah” oleh Abdullah 1/374 – 377 (818)
Al-Khallal berkata: Manshur bin Al-Walid memberitahuku: Ja’far bin Muhammad berkata: Aku mendengar Abu Abdullah, dan seorang laki-laki dari Khurasan bertanya kepadanya lalu berkata: Sesungguhnya di tempat kami ada segolongan orang yang mengatakan: Iman adalah perkataan tanpa amal. Dan ada segolongan yang mengatakan: perkataan dan amal. Maka beliau berkata: Tidakkah mereka membaca dari Kitab Allah: “Dan mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus” (Al-Bayyinah: 5).
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/467 (1037)
Al-Khallal berkata: Muhammad bin Al-Mundzir bin Abdul Aziz memberitahu kami, dia berkata: Ahmad bin Al-Hasan At-Tirmidzi menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Abdullah mendiktekan kepada kami: Dari fulan bin fulan kepada fulan bin fulan, salam untukmu, sesungguhnya aku memuji Allah yang tidak ada tuhan selain Dia kepadamu, dan aku memohon kepada-Nya agar bershalawat kepada Muhammad hamba-Nya dan rasul-Nya.
Amma ba’du: Semoga Allah berbuat baik kepadamu dalam segala urusan, dan menyelamatkanmu serta kami dari segala keburukan dengan rahmat-Nya, suratmu telah sampai kepadaku, beserta apa yang kamu sampaikan di dalamnya, maka kami memohon kepada Allah taufik untuk kami dan untukmu dengan apa yang Dia cintai dan ridhai. Adapun mengenai yang kamu sebutkan tentang perkataan orang yang mengatakan: Sesungguhnya iman itu hanya perkataan? Ini adalah perkataan Ahlul Irja’, perkataan yang baru, tidak ada pada salaf kami dan orang yang kami ikuti, dan telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam yang menguatkan bahwa iman adalah perkataan dan amal, kemudian menyebutkan hadits Ibnu Abbas tentang utusan Abdul Qais, dan hadits Al-Hasan bin Musa, dia berkata: Ibnu Lahi’ah menceritakan kepada kami, dia berkata: Usamah bin Zaid menceritakan kepada kami, dari Ibnu Syihab, dari Hanzhalah bin Ali bin Al-Asqa’, bahwa Abu Bakar mengutus Khalid bin Al-Walid, dan memerintahkannya untuk memerangi manusia atas lima perkara, maka barangsiapa meninggalkan satu dari lima perkara maka perangilah dia karenanya sebagaimana kamu memerangi karena kelima-limanya: persaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan puasa Ramadhan.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/14-15 (1101)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi memberitahu kami, dia berkata: Abu Abdullah berkata kepadaku tentang Ibnu Abi Razmah Al-Marrudzi: Sampai kepadaku bahwa mereka bertanya kepadanya di Mekah tentang iman? Maka dia enggan mengatakan: Iman adalah perkataan dan amal, dan seandainya aku mengetahui hal ini darinya, aku tidak akan mengizinkannya masuk menemuiku.
Dan dia berkata kepadaku setelah dua atau tiga hari: Bagaimana keadaan Ibnu Abi Razmah?
Aku berkata: Tidak ada kabar darinya padaku, kamu berkata kepadaku: Aku tidak suka ada orang dari pihakku yang pergi kepadanya, maka aku tidak pergi kepadanya. Kemudian setelahnya, kami shalat Isya maka dia berkata: Pergilah kepadanya, sesungguhnya telah ada kehormatan antara kami dengannya (maka katakanlah) kepadanya: Sesungguhnya Ibnul Mubarak berkata: Iman itu berbeda-beda tingkatannya. Maka aku pergi kepadanya, lalu dia berkata: Sungguh aku telah berkata kepada mereka: Apabila aku kembali ke Irak dan bertemu Abu Abdullah, maka apa yang dia perintahkan kepadaku dari sesuatu, aku akan melaksanakannya. Kemudian dia datang, lalu berkata kepada Abu Abdullah: Berilah aku hujjah apabila aku kembali kepada penduduk Marw akan aku ceritakan kepada mereka, maka Abu Abdullah menandai hadits-hadits ini, dan berkata kepadaku: Berikan padanya.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/23 (1107)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Abdurrahman Ar-Raqqi menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-Hasan -yaitu: Abu Mulaih- menceritakan kepada kami, dari Az-Zuhri, dia berkata: Hisyam bin Abdul Malik berkata: Apakah sampai kepadamu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan seorang penyeru untuk menyeru: “Barangsiapa mengatakan: Tidak ada tuhan selain Allah maka baginya surga”?
Dia berkata: Aku berkata: Ya, dan itu sebelum turun kewajiban-kewajiban, kemudian turunlah kewajiban-kewajiban, maka selayaknya bagi manusia untuk mengerjakan apa yang Allah wajibkan kepada mereka.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/59 (1237)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi berkata: Abu Abdullah berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dia berkata: Salamah bin Nubait menceritakan kepada kami, dari Ad-Dhahhak bin Muzahim, dia berkata: Kami menyebutkan di hadapannya: “Barangsiapa mengatakan: Tidak ada tuhan selain Allah, dia masuk surga”.
Maka Ad-Dhahhak berkata: Ini sebelum ditetapkan hukum-hukum dan turun kewajiban-kewajiban.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/59 (1241)
Syahin bin As-Sumaidda’ berkata: Aku mendengar Abu Abdullah berkata: Iman adalah perkataan dan amal; perkataan dengan lisan, dan amal anggota badan.
“Thabaqat Al-Hanabilah” 1/461.
3 – Bab: Iman adalah Takut dan Harap
Ibnu Hani’ berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah: Apa pendapatmu tentang orang yang tidak takut atas dirinya dari kemunafikan? Dia berkata: Siapa yang merasa aman atas dirinya dari kemunafikan?!
“Masa’il Ibnu Hani'” (1963)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ubaid memberitahu kami, Al-Mas’udi memberitahu kami, dari ‘Aun bin Abdullah, dia berkata: Luqman berkata kepada anaknya: Berharapah kepada Allah Azza wa Jalla dengan harapan yang padanya kamu tidak merasa aman dari kemurkaan-Nya, dan takutlah kepada Allah dengan ketakutan yang padanya kamu tidak putus asa dari rahmat-Nya, dia berkata: Wahai ayahku, bagaimana aku mampu melakukan itu; sedangkan aku hanya memiliki satu hati? Dia berkata: Wahai anakku, sesungguhnya orang mukmin memiliki dua hati: hati yang dengannya dia berharap, dan hati yang dengannya dia takut.
“Az-Zuhd” hal. 132
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Bahz bin Asad menceritakan kepada kami, Ja’far bin Sulaiman menceritakan kepada kami, Ali bin Zaid menceritakan kepada kami, dari Mutharrif, dari Ka’ab, dia berkata: Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu anhu berkata kepadaku suatu hari ketika aku di sisinya: Wahai Ka’ab, buatlah kami takut. Dia berkata: Maka aku berkata: Wahai Amirul Mukminin, bukankah pada kalian ada Kitabullah dan hikmah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Dia berkata: Ya, tetapi wahai Ka’ab buatlah kami takut, dia berkata: Aku berkata: Wahai Amirul Mukminin, beramallah dengan amal seorang laki-laki, seandainya kamu datang pada hari kiamat dengan amal tujuh puluh nabi niscaya kamu akan meremehkan amalmu karena apa yang kamu lihat, dia berkata: Maka Umar termenung dan menunduk cukup lama, dia berkata: Kemudian dia sadar, dia berkata: Tambahilah kami wahai Ka’ab tambahilah kami. Dia berkata: Aku berkata: Wahai Amirul Mukminin, seandainya dibuka dari Jahannam sebesar lubang hidung lembu di timur, dan seorang laki-laki di barat, niscaya otaknya akan mendidih hingga mencair karena panasnya, dia berkata: Maka Umar termenung dan menunduk cukup lama, dia berkata: Kemudian dia sadar lalu berkata: Tambahilah kami wahai Ka’ab, dia berkata: Aku berkata: Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Jahannam akan menyemburkan hembusan pada hari kiamat, tidak ada malaikat yang didekatkan dan tidak pula nabi yang dipilih kecuali jatuh tersungkur di atas lututnya, dia berkata: Dan berkata: Ya Rabb jiwaku jiwaku, aku tidak memohon kepada-Mu hari ini kecuali jiwaku sendiri, dia berkata: Maka Umar termenung cukup lama, dia berkata: Aku berkata: Wahai Amirul Mukminin, bukankah kalian mendapati ini dalam Kitabullah? Dia berkata: Bagaimana? Dia berkata: Aku berkata: Firman Allah Subhanahu: “(Ingatlah) hari (ketika) tiap-tiap diri datang membela dirinya sendiri dan kepada tiap-tiap diri dibalas sepenuhnya apa yang telah dikerjakannya dan mereka tidak dirugikan” (An-Nahl: 111).
“Az-Zuhd” hal. 151
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Hasyim bin Al-Qasim menceritakan kepada kami, Abu Sa’id menceritakan kepada kami, Malik bin Mighwal menceritakan kepada kami, dari Mu’awiyah bin Qurrah bahwa dia duduk bersama seorang laki-laki dari tabi’in lalu mereka berbincang, dia berkata: Salah seorang dari mereka berkata: Sesungguhnya aku berharap dan takut, maka yang lain berkata: Barangsiapa berharap sesuatu dia akan mengejarnya, dan sesungguhnya barangsiapa takut dari sesuatu dia akan lari darinya, dan aku tidak menduga seorang laki-laki berharap sesuatu tetapi tidak mengejarnya, aku tidak menduga seorang laki-laki takut dari sesuatu tetapi tidak lari darinya.
“Az-Zuhd” hal. 352
Al-Khallal berkata: Dan Abu Bakar Al-Marrudzi memberitahu kami, dia berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Hasyim bin Al-Qasim menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-Faraj menceritakan kepada kami, dia berkata: Luqman menceritakan kepada kami, dari Al-Harits bin Mu’awiyah, dia berkata: Sesungguhnya aku duduk dalam sebuah majelis yang di dalamnya ada Abu Ad-Darda’, dan dia pada hari itu memperingatkan kami tentang Dajjal, maka aku berkata: Demi Allah, selain Dajjal lebih aku takuti dalam diriku daripada Dajjal.
Dia berkata: Apa yang lebih kamu takuti dalam dirimu daripada Dajjal?! Aku berkata: Sesungguhnya aku takut akan dirampas dariku imanku dan aku tidak tahu.
Dia berkata: Demi Allah ibumu wahai putra wanita Kindah! Apakah kamu melihat dalam manusia lima puluh orang yang takut seperti apa yang kamu takuti? Demi Allah ibumu wahai putra wanita Kindah! Apakah kamu melihat dalam manusia sepuluh orang yang takut seperti apa yang kamu takuti? Demi Allah ibumu wahai putra wanita Kindah! Apakah kamu melihat dalam manusia tiga orang yang takut seperti apa yang kamu takuti? Demi Allah tidak merasa aman seorang laki-laki sekali-kali akan dirampas darinya imannya kecuali dia dirampas, dan tidaklah dirampas darinya lalu dia dapati kehilangannya.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/22-23 (1106).
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Ismail menceritakan kepada kami, dia berkata: Ghalib menceritakan kepada kami, dari Bakr bin Abdullah, dia berkata: Seandainya aku sampai ke masjid ini dan dia penuh sesak dengan penghuninya, penuh dengan laki-laki, lalu dikatakan kepadaku: Siapakah di antara mereka yang paling baik? Niscaya aku akan berkata kepada penanya: Apakah kamu mengenal yang paling menasihati mereka? Maka jika dia mengenalnya, aku mengenal bahwa dialah yang paling baik dari mereka, dan seandainya aku sampai ke masjid dan dia penuh sesak dengan penghuninya, dipenuhi dengan laki-laki, lalu dikatakan kepadaku: Siapakah di antara mereka yang paling jahat? Niscaya aku akan berkata kepada penanya: Apakah kamu mengenal yang paling menipu mereka? Maka jika dia mengenalnya, aku mengenal bahwa dialah yang paling jahat dari mereka, dan aku tidak akan bersaksi atas yang paling baik dari mereka bahwa dia mukmin yang sempurna imannya, seandainya aku bersaksi niscaya aku bersaksi bahwa dia di surga, dan aku tidak akan bersaksi atas yang paling jahat dari mereka bahwa dia munafik yang lepas dari iman, seandainya aku bersaksi atasnya dengan itu, aku bersaksi bahwa dia di neraka, tetapi aku takut atas yang paling baik dari mereka, dan aku berharap untuk yang paling jahat dari mereka, maka apabila aku takut atas yang paling baik dari mereka, kira-kira berapa ketakutanku atas yang paling jahat dari mereka? Dan apabila aku berharap untuk yang paling jahat dari mereka, berapa harapanku untuk yang paling baik dari mereka? Beginilah sunnah.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/139 (1544)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Mu’ammal menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Hammad bin Zaid berkata: Ayyub berkata: Aku mendengar Al-Hasan berkata: Demi Allah, tidak ada di permukaan bumi seorang mukmin di pagi hari dan tidak pula di sore hari di atasnya seorang mukmin, kecuali dia takut kemunafikan atas dirinya, dan tidak merasa aman dari kemunafikan kecuali orang munafik.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/170 (1653)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Rauh bin ‘Ubadah menceritakan kepada kami, dia berkata: Hisyam menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Al-Hasan berkata: Demi Allah, tidak berlalu seorang mukmin dan tidak pula orang bertakwa kecuali dia takut kemunafikan, dan tidak merasa aman darinya kecuali orang munafik.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/171 (1656)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: ‘Affan menceritakan kepada kami, dia berkata: Abul Asyhab menceritakan kepada kami, dia berkata: Tharif bin Syihab menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku berkata kepada Al-Hasan: Sesungguhnya sekelompok orang mengklaim bahwa tidak ada kemunafikan, dan mereka tidak takut kemunafikan.
Maka Al-Hasan berkata: Demi Allah, seandainya aku mengetahui bahwa aku bebas dari kemunafikan itu lebih aku cintai daripada penuh bumi dengan emas.
Abu Ali berkata: Sesungguhnya penuh bumi: penuhnya.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/172 (1661)
4 – Bab: Iman Bertambah dan Berkurang, dan Makna dari Hal Tersebut
Ishaq bin Manshur berkata: Aku bertanya kepada Ishaq: Apakah iman memiliki batas akhir sehingga seseorang dapat mengatakan: imanku sempurna?
Dia berkata: Tidak; karena semua ketaatan adalah bagian dari iman, maka tidak mungkin untuk menyaksikan kesempurnaan iman bagi siapa pun kecuali bagi para nabi, atau orang yang disaksikan oleh para nabi akan masuk surga; karena para nabi meskipun mereka berdosa, sesungguhnya dosa tersebut telah diampuni sebelum mereka diciptakan.
“Masa’il al-Kausaj” (3351)
Ishaq bin Manshur berkata: Ahmad ditanya tentang iman? Maka dia berkata: Bertambah dan berkurang.
Aku berkata: Berkurang? Dia berkata: Berkurang.
“Masa’il al-Kausaj” (3363)
Ishaq bin Manshur berkata: Ishaq berkata: Iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, berkurang hingga tidak tersisa apa-apa darinya.
Ishaq bin Manshur berkata: Dan aku berpegang pada pendapat ini.
“Masa’il al-Kausaj” (3460)
Shalih berkata: Aku bertanya kepada ayahku tentang orang yang berkata: Iman bertambah dan berkurang, apa penambahan dan pengurangannya?
Maka dia berkata: Penambahannya adalah dengan amal, dan pengurangannya adalah dengan meninggalkan amal, seperti meninggalkan shalat, zakat, haji, dan menunaikan kewajiban-kewajiban, maka ini berkurang, dan bertambah dengan amal.
Dan dia berkata: Jika sebelum penambahannya itu sempurna, bagaimana yang sempurna dapat bertambah?! Maka sebagaimana ia bertambah, begitu pula ia berkurang. Dan dia berkata: Waki’ kadang-kadang berkata: Imannya Hajjaj seperti imannya Abu Bakar dan Umar?!
“Masa’il Shalih” (537)
Shalih berkata: Ayahku berkata: Aku mendengar Abu Nu’aim berkata: Aku mendengar Sufyan berkata: Iman bertambah dan berkurang.
Shalih berkata: Ayahku berkata: Dan aku mendengar Waki’ berkata: Aku mendengar Sufyan berkata: Iman bertambah dan berkurang.
“Sirah al-Imam” karya Shalih hal. 80, “Masa’il Shalih” (1352 – 1353).
Shalih berkata: Ayahku berkata: Iman adalah perkataan dan perbuatan, dan bertambah serta berkurang.
“Sirah al-Imam” karya Shalih hal.
Abu Dawud berkata: Aku mendengar Ahmad berkata: Iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, shalat, zakat, haji, dan kebaikan semuanya adalah bagian dari iman, dan kemaksiatan mengurangi iman.
Dan dia berkata: Aku mendengar Ahmad menyebut Ibnu ‘Uyainah lalu berkata: Aku mendengarnya berkata: Iman bertambah, dan dia tidak mencela orang yang berkata: berkurang.
Dan dia berkata: Aku mendengar Ahmad berkata: Aku mendengar Sufyan berkata: Tidak mencela orang yang berkata: Iman berkurang.
“Masa’il Abi Dawud” (1757 – 1759)
Dan Abu Dawud berkata: Aku mendengar Ahmad berkata: Yahya -yaitu: Ibnu Sa’id- menyetujui penambahan dan pengurangan, dan dia berpendapat -yaitu: perkataannya: Iman bertambah dan berkurang.
“Masa’il Abi Dawud” (1762)
Abu Dawud berkata: Ahmad menceritakan kepada kami, dia berkata: Ibrahim bin Syammas menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Jarir bin Abdul Hamid berkata: Iman adalah perkataan dan perbuatan, dan bertambah serta berkurang.
“Masa’il Abi Dawud” (1765)
Abu Dawud berkata: Ahmad menceritakan kepada kami, dia berkata: Suraij bin an-Nu’man menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdullah bin Nafi’ menceritakan kepada kami, dia berkata: Malik biasa berkata: Iman adalah perkataan dan perbuatan, dan bertambah serta berkurang.
“Masa’il Abi Dawud” (1767)
Ibnu Hani’ berkata: Aku mendengarnya berkata: Kami mendapati orang-orang dan mereka berkata: Iman adalah perkataan dan perbuatan, dan bertambah serta berkurang, dan niat yang jujur.
Ibnu Hani’ berkata: Aku mendengarnya berkata: Bukankah iman itu kurang lalu kemudian bertambah?!
“Masa’il Ibnu Hani'” (1894 – 1895)
Ibnu Hani’ berkata: Aku mendengar Abu Abdullah berkata: Aku mendengar Yahya bin Sa’id al-Qaththan berkata: Aku tidak mendapati seorang pun dari sahabat-sahabat kami, kecuali berpegang pada sunah kami tentang iman, dan mereka berkata: Iman bertambah dan berkurang.
“Masa’il Ibnu Hani'” (1898)
Ibnu Hani’ berkata: Aku mendengar Abu Abdullah menafsirkan ayat-ayat ini tentang iman: Dan mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus, dan supaya mereka melaksanakan shalat dan menunaikan zakat (Surah al-Bayyinah: 5) dan ayat ini: iman bersama iman mereka (Surah al-Fath: 4).
Ibnu Hani’ berkata: Dan dia ditanya tentang orang yang berkata: Iman adalah perkataan dan perbuatan.
Dia berkata: Jika datang dengan perkataan maka perkataan itu: Subhanallah, Alhamdulillah, dan Laa ilaaha illallah, dan sesungguhnya amal-amal itu berkurang dan bertambah, barang siapa berbuat buruk maka berkurang imannya, dan barang siapa berbuat baik maka bertambah imannya.
Ibnu Hani’ berkata: Aku bertanya kepadanya tentang iman dan pengurangannya. Dia berkata: Pengurangannya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: Tidaklah berzina seorang pezina ketika dia berzina sedangkan dia mukmin, dan tidak mencuri sedangkan dia mukmin.
“Masa’il Ibnu Hani'” (1905 – 1907)
Harb berkata: Aku mendengar Ishaq, dia berkata: Aku bertanya kepada Sufyan bin ‘Uyainah, lalu aku berkata: Apa pendapatmu tentang iman, apakah bertambah? Sufyan berkata: Apakah ada orang yang sanggup menolak hal ini padahal Allah Tabaraka wa Ta’ala telah berfirman: Dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk (Surah al-Kahfi: 13), iman bersama iman mereka (Surah al-Fath: 4), lalu dia membaca ayat-ayat yang dia jadikan hujah dan dia heran terhadap orang yang tidak berpendapat demikian. Lalu aku bertanya kepadanya: Apa itu iman, apakah perkataan dan perbuatan? Maka dia berkata: Ya, ia adalah perkataan dan perbuatan, dan siapa yang ragu tentang hal ini?!
“Masa’il Harb” hal. 369
Harb berkata: Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, dia berkata: Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Thalhah menceritakan kepada kami, dari Zubaid, dari Dzarr, dia berkata: Umar bin al-Khaththab biasa berkata kepada sahabat-sahabatnya: Marilah kita bertambah iman, lalu mereka berdzikir kepada Allah.
Ahmad menceritakan kepada kami dia berkata: Muhammad bin Fudlail menceritakan kepada kami, dia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, dari Syabak, dari Ibrahim, dari ‘Alqamah, bahwasanya dia berkata kepada sahabat-sahabatnya: Marilah kita bertambah iman, yaitu: bertambah pemahaman.
“Masa’il Harb” hal. 370
Harb berkata: Ahmad menceritakan kepada kami dia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Syarik, dari Hilal bin Humaid, dari Abdullah bin ‘Ukaim, dia berkata: Aku mendengar Ibnu Mas’ud berkata dalam doanya: Ya Allah, tambahkanlah kepada kami iman, keyakinan, dan pemahaman.
“Masa’il Harb” hal. 370.
Harb berkata: Ahmad menceritakan kepada kami, dia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya dia berkata: Tidaklah berkurang amanah seorang hamba sedikitpun kecuali berkurang imannya.
“Masa’il Harb” hal. 370.
Abdullah bin Ahmad berkata: Aku mendengar ayahku rahimahullah, dan dia ditanya tentang Irja’; maka dia berkata: Kami berkata: Iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, apabila berzina dan minum khamr maka berkurang imannya.
“as-Sunnah” karya Abdullah 1/ 307 (599).
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdul Shamad bin Hassan menceritakan kepada kami, Sufyan ats-Tsauri mengabarkan kepada kami, dari Yazid -yaitu: Ibnu Abi Ziyad- dari Mujahid dia berkata: Iman bertambah dan berkurang dan iman adalah perkataan dan perbuatan.
“as-Sunnah” karya Abdullah 1/ 311 (611)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Haitsam menceritakan kepada kami, Isma’il bin ‘Ayyasy mengabarkan kepada kami, dari Shafwan bin ‘Amr, dari Abdullah bin Rabi’ah al-Hadlrami, dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu bahwasanya dia biasa berkata: Iman bertambah dan berkurang.
“as-Sunnah” karya Abdullah 1/ 314 (622)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Haitsam bin Kharijah menceritakan kepada kami, Isma’il bin ‘Ayyasy mengabarkan kepada kami, dari Huraiz bin ‘Utsman, dari al-Harits bin Makhmur, dari Abu ad-Darda’ bahwasanya dia biasa berkata: Iman bertambah dan berkurang.
“as-Sunnah” karya Abdullah 1/ 314 (623)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ‘Affan bin Muslim menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Abu Ja’far al-Khathmi, dari ayahnya, dari kakeknya ‘Umair bin Habib bin Khumasyah; bahwasanya dia berkata: Iman bertambah dan berkurang.
Maka dikatakan kepadanya: Apa penambahan dan pengurangannya? Dia berkata: Apabila kita mengingat Allah dan takut kepada-Nya maka itulah penambahannya, dan apabila kita lalai dan lupa serta menyia-nyiakannya maka itulah pengurangannya.
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: ‘Affan berkata: Aku mendengar Hammad, dari ‘Umair bin Habib. Tidak ada di dalamnya dari ayahnya.
Lalu aku berkata kepadanya: Sesungguhnya engkau menceritakan kepadaku dari ayahnya dari kakeknya? Dia berkata: Aku mengira bahwasanya dari ayahnya dari kakeknya.
“as-Sunnah” karya Abdullah 1/ 315 (624, 625).
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, al-A’masy dan Mis’ar menceritakan kepada kami, dari Jami’ bin Syaddad, dari al-Aswad bin Hilal, dia berkata: Mu’adz berkata: Duduklah bersama kami supaya kita beriman sejenak.
“as-Sunnah” karya Abdullah 1/ 368 (796)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Isra’il menceritakan kepada kami, dari Abul Haitsam, dari Sa’id bin Jubair dia berkata: Tetapi agar hatiku tenang (Surah al-Baqarah: 260) dia berkata: Supaya bertambah imanku.
“as-Sunnah” karya Abdullah 1/ 369 (798)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Hammad bin Najih, Abu ‘Imran al-Jauni menceritakan kepada kami, dari Jundub, dia berkata: Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kami adalah para pemuda yang kuat lalu kami mempelajari iman, kemudian kami mempelajari al-Qur’an maka bertambahlah iman kami karenanya.
“as-Sunnah” karya Abdullah 1/ 369 (799), 1/ 379 (825)
Al-Khallal berkata: Musa bin Sahl mengabarkan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Ahmad al-Asadi menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibrahim bin Ya’qub menceritakan kepada kami, dari Ismail bin Sa’id ia berkata: Aku bertanya kepada Ahmad tentang orang yang berkata: Iman itu bertambah dan berkurang? Ia menjawab: Orang ini bebas dari paham Irja’.
As-Sunnah karya Al-Khallal 1/461 (1009)
Al-Khallal berkata: Al-Hasan bin al-Haitsam mengabarkan kepadaku, dari Muhammad bin Musa; bahwasanya ia mendengar Abu Abdillah berkata: Iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang; jika engkau melakukan kebaikan maka bertambah, dan jika engkau menyia-nyiakannya maka berkurang.
As-Sunnah karya Al-Khallal 1/461 (1013)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwazi mengabarkan kepada kami, bahwa Abu Abdillah ditanya: Ibnu al-Mubarak berkata: Bertambah dan tidak berkurang? Maka ia menjawab: Ia berkata: Iman itu berbeda-beda tingkatannya, dan Sufyan berkata: Berkurang hingga tidak tersisa sedikitpun darinya.
Al-Khallal berkata: Dan Abdullah bin Ahmad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Sufyan berkata: Abu Darda berkata: Iman itu seperti baju salah seorang dari kalian yang ia lepaskan.
As-Sunnah karya Al-Khallal 1/462 (1018-1019)
Al-Khallal berkata: Dan Sulaiman bin al-Asy’ats mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ishaq bin Rahawaih menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya bin Adam menceritakan kepada kami ia berkata: Abu Yusuf bersaksi di hadapan Syarik dengan sebuah kesaksian, maka Syarik berkata kepadanya: Pergilah. Dan ia menolak untuk menerima kesaksiannya.
Lalu dikatakan kepadanya: Engkau menolak kesaksiannya?! Maka ia berkata: Apakah aku menerima kesaksian seorang laki-laki yang berkata: Shalat bukan dari iman?!
As-Sunnah karya Al-Khallal 1/463 (1024)
Al-Khallal berkata: Dan Muhammad bin al-Husain mengabarkan kepadaku, bahwa al-Fadhl menceritakan kepada mereka, bahwasanya ia mendengar Abu Abdillah berkata: Sesungguhnya pertambahan dan pengurangan itu dalam perbuatan, bagaimana keadaannya jika ia membunuh jiwa? Bukankah ia telah mewajibkan neraka baginya, bagaimana keadaannya jika ia melakukan dosa-dosa besar?
As-Sunnah karya Al-Khallal 1/466 (1032)
Al-Khallal berkata: Ali bin al-Hasan bin Harun mengabarkan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Abi Harun menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Ja’far bin Ahmad bin Sam, dari Ahmad bin Hanbal ia berkata: Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata ketika kiblat dialihkan ke Baitullah: Bagaimana dengan shalat kami yang telah kami lakukan ke arahnya, maka Allah menurunkan “Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian” (Surah Al-Baqarah: 143). Aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata: Maka Allah menjadikan shalat mereka sebagai iman, maka shalat adalah dari iman.
As-Sunnah karya Al-Khallal 1/466 (1034)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwazi berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Allah Azza wa Jalla berfirman: “Jika mereka bertaubat, melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, maka mereka adalah saudara-saudara kalian seagama” (Surah At-Taubah: 11) dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat” (Surah Al-Baqarah: 43) dan ia berkata: Ini dari iman, kemudian Abu Abdillah berkata: Maka iman adalah perkataan dan perbuatan, dan ia berkata: Pertambahan dalam perbuatan, dan ia menyebutkan pengurangan jika berzina dan mencuri.
As-Sunnah karya Al-Khallal 1/466-467 (1035)
Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar al-Atsram menceritakan kepada kami, ia berkata: Dikatakan kepada Abu Abdillah: Bagaimana dengan perkataan: Iman bertambah dan berkurang?
Maka ia berkata: Hadits Nabi menunjukkan hal itu, sabdanya: “Keluarkanlah orang yang di dalam hatinya ada” sekian, “Keluarkanlah orang yang di dalam hatinya ada…” sekian, maka ini menunjukkan hal itu.
As-Sunnah karya Al-Khallal 1/468 (1041)
Al-Khallal berkata: Zakariya bin al-Farraj mengabarkan kepada kami, dari Ahmad bin al-Qasim, ia berkata: Aku berkata: Wahai Abu Abdillah, apakah engkau berkata: Iman bertambah dan berkurang? Ia berkata: Ya.
Aku berkata: Dan engkau berkata: Perkataan dan perbuatan? Ia berkata: Ya.
Aku berkata: Apakah hal itu dari makna ini, bahwa seorang laki-laki jika ia melakukan hal-hal yang dilarang ini maka ia lebih kurang daripada orang yang tidak melakukannya, dan orang ini lebih banyak imannya darinya?
Ia berkata: Ya, iman sebagiannya lebih banyak dari sebagian yang lain, demikianlah adanya.
Maka kami membicarakan tentang orang yang berkata: Iman bertambah dan berkurang, maka ia menyebutkan beberapa orang, kemudian ia berkata: Dan Malik bin Anas berkata: Bertambah dan berkurang, maka aku berkata kepadanya: Sesungguhnya Malik diriwayatkan dari dia bahwa ia berkata: Bertambah dan tidak berkurang.
Maka ia berkata: Tidak, telah diriwayatkan dari dia: Bertambah dan berkurang, Ibnu Nafi’ menceritakannya dari Malik.
Maka aku berkata kepadanya: Ibnu Nafi’ menceritakan dari Malik? Ia berkata: Ya.
Al-Khallal berkata: Abdullah bin Ahmad mengabarkan kepada kami ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku ia berkata: Aku mendengar Sufyan berkata: Iman adalah perkataan dan perbuatan, dan bertambah.
As-Sunnah karya Al-Khallal 1/468-469 (1043-1044)
Al-Khallal berkata: Maka Abdul Malik bin Abdul Hamid mengabarkan kepadaku; bahwasanya ia mendengar Abu Abdillah menyebutkan kitab tentang pertambahan, dan ia menyebutkan malu, dan ia menyebutkan perkataan Jarir, dan ia menyebutkan pengurangan “Keluar dari neraka orang yang di dalam hatinya ada sebesar biji”, dan sabdanya: “Tidaklah berzina seorang pezina”.
Dan ia berkata: Dan Muhammad bin Abi Harun mengabarkan kepadaku; bahwa Hubaisy bin Sindi menceritakan kepada mereka: Bahwa Abu Abdillah ditanya: Bagaimana kami berkata tentang sabda Nabi: “Tidaklah berzina seorang pezina ketika ia berzina sedang ia beriman”? Maka ia berkata: Ia sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda.
Maka dikatakan kepadanya: Sesungguhnya sekelompok orang berkata: Tidaklah akan berzina seorang pezina.
Maka ia berkata: Mereka ini pembohong, mereka mendengar ini dan mengaburkan kepada manusia!
As-Sunnah karya Al-Khallal 1/469-470 (1046-1047)
Dan Al-Khallal berkata: Dan Abu Bakar mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami ia berkata: Affan menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdul Aziz bin Muslim menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Ibrahim, dari Alqamah, dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar biji sawi dari kesombongan, dan tidak akan masuk neraka orang yang di dalam hatinya ada sebesar biji sawi dari iman”.
As-Sunnah karya Al-Khallal 2/31 (1138)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami ia berkata: Sufyan bin Uyainah menceritakan kepada kami, dari Manshur, dari Dzarr, dari Wa’il bin Mahanah ia berkata: Abdullah berkata: Aku tidak melihat orang yang kurang akal dan agamanya lebih menguasai laki-laki berakal daripada wanita.
Dan dikatakan: Apa kekurangan akalnya? Ia berkata: Dijadikan kesaksian dua wanita dengan satu laki-laki.
Dikatakan: Apa kekurangan agamanya? Ia berkata: Ia tinggal sekian dan sekian hari tidak shalat kepada Allah satu sujudpun.
As-Sunnah karya Al-Khallal 2/40 (1172)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Jarir bin Hazim menceritakan kepada kami, dari Isa bin Ashim al-Asadi; bahwa Umar bin Abdul Aziz menulis kepada Adi: Amma ba’du: Sesungguhnya Islam adalah syariat-syariat, batasan-batasan dan sunnah-sunnah, barangsiapa menyempurnakannya maka ia menyempurnakan iman, dan barangsiapa tidak menyempurnakannya maka ia tidak menyempurnakan iman, maka jika aku hidup aku akan menjelaskannya kepada kalian, dan jika aku mati maka demi Allah aku tidak bersemangat untuk menemani kalian.
As-Sunnah karya Al-Khallal 2/141-142 (1553)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami ia berkata: Yazid menceritakan kepada kami, ia berkata: Huraiz bin Utsman menceritakan kepada kami, ia berkata: Para syaikh kami menceritakan kepada kami -atau ia berkata: Sebagian syaikh kami- bahwa Abu Darda berkata: Sesungguhnya termasuk pemahaman seorang hamba adalah ia mengetahui apa yang bertambah dari imannya dan apa yang berkurang darinya, dan sesungguhnya termasuk pemahaman seorang hamba adalah ia mengetahui apakah ia bertambah ataukah berkurang, dan sesungguhnya termasuk pemahaman seorang hamba adalah ia mengetahui bisikan-bisikan syetan yang datang kepadanya.
As-Sunnah karya Al-Khallal 2/150 (1585)
Al-Qasim al-Baghdadi berkata: Aku mendengar Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal rahimahullah dan seorang laki-laki telah bertanya kepadanya tentang pertambahan dan pengurangannya -yakni iman.
Maka ia berkata: Bertambah hingga mencapai puncak langit yang tujuh, dan berkurang hingga menjadi paling bawah dari yang paling rendah tujuh.
Thabaqat al-Hanabilah 2/210
5 – Bab: Perbedaan Tingkatan Ahli Iman
Ishaq bin Manshur al-Kausaj berkata: Ahmad ditanya: Siapa yang engkau utamakan?
Ia berkata: Abu Bakar dan Umar dan Utsman, dan Ali radhiyallahu ‘anhu dalam hal para khalifah.
Masa’il al-Kausaj (3364)
Shalih berkata: Dan ayahku berkata: Iman itu berbeda-beda tingkatannya, sebagiannya lebih utama dari sebagian yang lain, bertambah dan berkurang, dan pertambahannya dalam perbuatan, dan pengurangannya dalam meninggalkan perbuatan; karena perkataan adalah pengakuan dengannya.
Masa’il Shalih (1198)
Abu Dawud berkata: Aku mendengar Ahmad, seorang laki-laki berkata kepadanya: Abu Bakar dan Umar dan Utsman dan Ali -yakni dalam urutan keutamaan, maka Ahmad berkata: Abu Bakar dan Umar dan Utsman, dan Ali dalam para khalifah -yakni: ia menghitung Ali dalam para khalifah.
Abu Dawud berkata: Muhammad bin Yahya bin Faris menceritakan kepada kami ia berkata: Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal, maka ia berkata: Abu Bakar dan Umar dan Utsman, dan seandainya ada yang berkata: Dan Ali, aku tidak akan menyalahkannya -yakni: dalam keutamaan.
Masa’il Abi Dawud (1794-1795)
Ibnu Hani’ berkata: Aku mendengar Abu Abdillah: Ibnu Abi Razmah bertanya: Apa yang ayahmu katakan dari Abdullah bin al-Mubarak tentang iman?
Ia berkata: Ia berkata: Iman itu berbeda-beda tingkatannya.
Abu Abdillah berkata: Sungguh mengherankan! Jika ia berkata kepada kalian: Bertambah dan berkurang kalian merajamnya, dan jika ia berkata: Berbeda-beda tingkatannya kalian membiarkannya?! Dan apakah ada sesuatu yang berbeda-beda tingkatannya kecuali di dalamnya ada pertambahan dan pengurangan?!
Masa’il Ibnu Hani’ (1722)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku ia berkata: Waki’ berkata: Apakah menurutmu iman Hajjaj bin Yusuf seperti iman Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhu?!
As-Sunnah karya Abdullah 1/310 (607)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari seorang laki-laki, dari Thawus ia berkata: Wahai penduduk Irak, kalian mengira bahwa Hajjaj itu mukmin?
Ia berkata: Dan Manshur berkata, dari Ibrahim: Cukuplah baginya kebutaan yang menutupi baginya perkara Hajjaj.
Maka Manshur berkata dari Ibrahim ia berkata: Dan Hajjaj disebutkan maka ia berkata: “Ketahuilah, laknat Allah atas orang-orang yang zalim” (Surah Hud: 18).
As-Sunnah karya Abdullah 1/327 (671)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku -dan aku membacakannya kepadanya- Mahdi bin Ja’far menceritakan kepada kami, Al-Walid bin Muslim menceritakan kepada kami ia berkata: Aku mendengar Abu Amr -yakni al-Auza’i- dan Malik dan Sa’id bin Abdul Aziz berkata: Tidak ada batas akhir bagi iman, ia selamanya dalam pertambahan, dan mereka mengingkari orang yang berkata: Sesungguhnya ia telah menyempurnakan iman, dan bahwa imannya seperti iman Jibril ‘alaihissalam.
As-Sunnah karya Abdullah 1/332-333 (687), 1/336 (737)
Abdullah berkata: Harun bin Ma’ruf menceritakan kepada kami -beberapa kali- Dhamrah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Syawdzab, dari Muhammad bin Juhadah, dari Salamah bin Kuhail, dari al-Huzail bin Syurahbil ia berkata: Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: Seandainya iman Abu Bakar ditimbang dengan iman penduduk bumi niscaya ia akan lebih berat.
Abdullah berkata: Aku mendengar ayahku menceritakan dari Harun lalu ia menyebutkan yang sepertinya.
As-Sunnah karya Abdullah 1/378 (821, 822)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ubaidullah bin Muhammad menceritakan kepada kami -yakni: at-Taimi- Abdul Aziz bin Muslim menceritakan kepada kami, dari Harb, dari al-Hasan ia berkata: Amir bin Abdullah memiliki majelis di masjid lalu ia meninggalkannya hingga kami mengira bahwa ia telah menyerupai ahli bid’ah, ia berkata: Maka kami mendatanginya lalu kami berkata kepadanya: Engkau memiliki majelis di masjid lalu engkau meninggalkannya, ia berkata: Ya, sesungguhnya ia adalah majelis yang banyak omong kosong dan kekacauan, ia berkata: Maka kami yakin bahwa ia telah menyerupai ahli bid’ah lalu kami berkata: Apa pendapatmu tentang mereka? Ia berkata: Dan apa yang dapat aku katakan tentang mereka! Aku melihat beberapa orang dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan aku menemani mereka lalu mereka menceritakan kepada kami bahwa sebaik-baik manusia imannya pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak menghisab dirinya di dunia, dan bahwa orang yang paling gembira pada hari kiamat adalah orang yang paling sedih di dunia, dan bahwa orang yang paling banyak tertawa pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak menangis di dunia, dan mereka menceritakan kepada kami bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala mewajibkan kewajiban-kewajiban, dan menetapkan sunnah-sunnah, dan membatasi batasan-batasan, maka barangsiapa mengamalkan kewajiban-kewajiban Allah dan sunnah-Nya, dan menjauhi batasan-batasan-Nya maka ia masuk surga tanpa hisab, dan barangsiapa mengamalkan kewajiban-kewajiban-Nya dan sunnah-Nya, kemudian ia takut akan batasan-batasan-Nya, kemudian ia bertaubat, kemudian ia melanggar, kemudian ia bertaubat maka ia menghadapi goncangan-goncangan dan kesulitan-kesulitan dan ketakutan-ketakutan, kemudian Allah memasukkannya ke surga, dan barangsiapa mengamalkan kewajiban-kewajiban Allah dan sunnah-Nya, dan melanggar batasan-batasan-Nya, kemudian ia mati dalam keadaan berkeras kepala atas hal itu, maka ia bertemu Allah sebagai muslim, jika Dia menghendaki Dia mengampuninya, dan jika Dia menghendaki Dia menyiksanya.
Az-Zuhd hal. 276
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Husain menceritakan kepada kami, Faraj menceritakan kepada kami, dari Asad bin Wida’ah ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya: Siapakah mukmin yang paling utama? Beliau bersabda: “Mukmin yang sedih hatinya tidak ada kedengkian dan iri hati di dalamnya” mereka berkata: Wahai Nabi Allah, kami tidak mengenal yang seperti itu di antara kami, maka siapakah mukmin yang paling utama setelah ini? Beliau bersabda: “Mukmin yang zuhud terhadap dunia yang menginginkan akhirat” mereka berkata: Wahai Nabi Allah, kami tidak mengenal yang seperti itu di antara kami kecuali Rafi’ bin Khudaij, maka siapakah mukmin yang paling utama setelah ini? Beliau bersabda: “Mukmin yang baik akhlaknya”.
Az-Zuhd hal. 475
Abu Bakar al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwazi mengabarkan kepada kami bahwa Abu Abdillah ditanya: Hajjaj bin Yusuf, apakah engkau berkata: Imannya seperti iman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia berkata: Tidak.
Dikatakan: Apakah imannya seperti Abu Bakar? Ia berkata: Tidak.
As-Sunnah karya Al-Khallal 1/465-466 (1031)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami ia berkata: Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Qais bin Muslim, dari Thariq bin Syihab ia berkata: Hudzaifah berkata: Sungguh seandainya aku mengetahui bahwa di antara kalian ada seorang laki-laki mukmin, itu lebih aku cintai daripada unta merah dan hitamnya. Maka mereka berkata: Tidak di Baharirah kami, tidak di Syam kami dan tidak di Irak kami ada padanya.
Ia berkata: Di antara kalian ada seorang laki-laki yang tidak takut dalam Allah celaan orang yang mencela, aku tidak mengetahuinya kecuali Umar bin al-Khaththab rahimahullah, maka bagaimana kalian jika ia telah meninggalkan kalian?!
As-Sunnah karya Al-Khallal 2/157 (1617)
Kemudian dia menangis hingga air matanya mengalir di janggutnya atau di bajunya.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/126 (1493)
Al-Khallal berkata: Abu Bakr berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Khalid bin Hayyan menceritakan kepada kami, dia berkata: Nashr bin Al-Mutsanna Al-Asyjaji menceritakan kepada kami, dia berkata: Suatu hari aku bersama Maimun, lalu dia melewati seorang gadis kecil yang sedang memukul rebana sambil berkata: “Apakah aku memiliki dosa besar dari ucapan yang aku katakan?!” Maka Maimun berkata: Apakah kalian melihat keimanan gadis ini seperti keimanan Maryam binti Imran semoga Allah melimpahkan shalawat kepadanya? Dan celaka bagi orang yang berkata: Imanku seperti iman Jibril alaihis salam.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/157 (1607)
Ibnu Bathah berkata: Ishaq bin Ahmad menceritakan kepada kami: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku membaca di hadapan ayahku: Mahdi bin Ja’far menceritakan kepada kalian, dia berkata: Al-Walid bin Muslim menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Abu Amru, Malik, dan Sa’id bin Abdul Aziz berkata: Iman tidak memiliki batas akhir, ia selamanya dalam keadaan bertambah.
Dan mereka berkata tentang orang yang mengatakan bahwa dia telah sempurna imannya dan bahwa imannya seperti iman Jibril, dia berkata: Al-Walid berkata: Sa’id bin Abdul Aziz berkata: Dan sesungguhnya jika dia mengatakan pernyataan ini, maka imannya seperti iman Iblis; karena dia mengakui keberadaan Tuhan tetapi kafir dalam amal, maka dia lebih dekat kepada itu daripada imannya seperti iman Jibril.
“Al-Ibanah” kitab Al-Iman 2/901 (1259)
6 – Bab: Perbedaan antara Islam dan Iman
Shalih berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Abu Salamah Al-Khuzaji menceritakan kepada kami, dia berkata: Malik, Syarik, Abu Bakr bin Ayyasy, Abdul Aziz bin Abi Salamah, Hammad bin Salamah, dan Hammad bin Zaid berkata: Iman adalah: pengetahuan, dan pengakuan adalah: amal, kecuali bahwa Hammad bin Zaid membedakan antara iman dan Islam, dan menjadikan Islam sebagai umum, dan iman sebagai khusus.
“Masa’il Shalih” (1351)
Shalih berkata: Dan ayahku ditanya—sementara aku menyaksikannya—tentang iman dan Islam, maka dia berkata: Ibnu Abi Dzi’b berkata: Islam adalah perkataan, dan iman adalah amal.
Dikatakan kepadanya: Apa yang engkau katakan?
Dia berkata: Islam berbeda dengan iman. Az-Zuhri berkata dalam hadits Amir bin Sa’d ketika laki-laki itu berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia mukmin.” Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Muslim.”
“Sirah Al-Imam” karya Shalih hlm. 77
Shalih berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, dia berkata: Ma’mar mengabarkan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Amir bin Sa’d bin Abi Waqqash, dari ayahnya, dia berkata: Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberikan kepada beberapa laki-laki dan tidak memberikan kepada seorang laki-laki di antara mereka.
Maka Sa’d berkata: “Wahai Nabi Allah, engkau memberikan kepada si fulan dan si fulan, dan tidak memberikan kepada si fulan sesuatu pun, padahal dia mukmin.” Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Atau muslim,” hingga Sa’d mengulanginya tiga kali, dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Atau muslim.” Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya aku memberikan kepada beberapa laki-laki, dan aku tinggalkan orang yang lebih aku cintai daripada mereka lalu tidak memberikannya sesuatu pun karena khawatir mereka akan tertelungkup di dalam neraka dengan wajah mereka.”
Dan Az-Zuhri berkata: Maka kami berpendapat bahwa Islam adalah kalimat, dan iman adalah amal.
“Sirah Al-Imam” karya Shalih hlm. 78
Shalih berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, dia berkata: Mu’awiyah bin Amru menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Al-Awza’i, dia berkata: Aku berkata kepada Az-Zuhri: Sesungguhnya mereka berkata: Jika dia bukan mukmin maka dia apa? Dia berkata: Maka dia mengingkari hal itu, dan tidak suka pertanyaanku tentangnya.
“Sirah Al-Imam” karya Shalih hlm. 79
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Mu’ammal menceritakan kepada kami, Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami, aku mendengar Hisyam berkata: Al-Hasan dan Muhammad berkata: Muslim. Dan mereka takut dengan mukmin.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/322 (658)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari Habib bin Asy-Syahid, Atha’ menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata: “Tidaklah berzina seorang pezina ketika dia berzina sedangkan dia mukmin, dan tidaklah mencuri seorang pencuri ketika dia mencuri sedangkan dia mukmin,” Atha’ berkata: Iman menjauh darinya.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/351 (754)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari Auf, dia berkata: Al-Hasan berkata: Iman menjauhinya selama dia seperti itu, maka jika dia kembali maka iman kembali kepadanya.
Dan dia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Sulaiman bin Harb menceritakan kepada kami, Jarir bin Hazim menceritakan kepada kami, dari Al-Fudail bin Yasar, dia berkata: Muhammad bin Ali berkata: Ini adalah Islam, dan ada lingkaran dengan lingkaran lain di tengahnya, dan ini adalah iman yang berada di tengahnya yang terbatas dalam Islam, dia berkata: Maka sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: “Tidaklah berzina seorang pezina ketika dia berzina sedangkan dia mukmin, dan tidaklah mencuri seorang pencuri ketika dia mencuri sedangkan dia mukmin, dan tidaklah minum khamr seorang peminum khamr ketika dia meminumnya sedangkan dia mukmin,” dia keluar dari iman menuju Islam dan tidak keluar dari Islam, maka jika dia bertaubat maka Allah menerima taubatnya. Dia berkata: Dia kembali kepada iman.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/352 (756-757)
Al-Khallal berkata: Abu Bakr Al-Marwadzi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Dikatakan kepada Abu Abdullah: Apakah engkau berkata: Kami adalah orang-orang mukmin? Dia berkata: Kami berkata: Kami adalah kaum muslimin.
Abu Bakr berkata: Dan aku berkata kepada Abu Abdullah: Apakah engkau berkata: Sesungguhnya kami mukmin? Dia berkata: Tidak, tetapi kami berkata: Sesungguhnya kami kaum muslimin.
Dan dia berkata: Dan Ali bin Isa mengabarkan kepadaku, bahwa dia mendengar Hanbal berkata: Aku mendengar Abu Abdullah, dan dia ditanya tentang iman dan Islam? Maka dia berkata: Iman berbeda dengan Islam.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/479 (1073-1074)
Al-Khallal berkata: Abdul Malik mengabarkan kepadaku, dia berkata: Aku berkata kepada Abu Abdullah: Apakah engkau membedakan antara iman dan Islam? Dia berkata: Ya, dan aku berkata: Muslim dan aku tidak membuat pengecualian.
Aku berkata: Dengan apa engkau berargumen? Dia berkata: Kebanyakan hadits menunjukkan hal ini, kemudian dia berkata: “Tidaklah berzina seorang pezina ketika dia berzina sedangkan dia mukmin, dan tidaklah mencuri seorang pencuri ketika dia mencuri sedangkan dia mukmin,” dan Allah Azza wa Jalla berfirman: “Orang-orang Arab Badui itu berkata: ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah: ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: Kami telah Islam.'” (Surat Al-Hujurat: 14).
Aku berkata: Dan dalam Kitabullah: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (15) Katakanlah: ‘Apakah kamu mengajarkan kepada Allah tentang agamamu, padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.’ (16) Mereka menganggap dirinya telah memberi nikmat kepadamu dengan keislamannya. Katakanlah: ‘Janganlah kamu menganggap keislamanmu sebagai nikmat kepadaku, bahkan Allah yang memberi nikmat kepadamu karena Dia telah memberimu petunjuk kepada keimanan jika kamu orang-orang yang benar.’ (17)” (Surat Al-Hujurat: 15-17). Dan aku berkata kepada Ibnu Hanbal: Dalam Kitabullah Azza wa Jalla juga ada ayat-ayat. Ibnu Hanbal berkata kepadaku: Dan Hammad bin Zaid membedakan antara iman dan Islam.
Dia berkata: Dan Abu Salamah Al-Khuzaji menceritakan kepada kami, dia berkata: Malik dan Syarik berkata, dan dia menyebutkan pendapat mereka, dan pendapat Hammad bin Zaid yang membedakan antara iman dan Islam.
Abdul Malik berkata: Ibnu Hanbal berkata kepadaku: Seorang laki-laki berkata kepadaku: Jika tidak datang kepada kami tentang iman kecuali ini, tentu sudah baik. Aku berkata kepada Abu Abdullah: Apakah engkau condong kepada zahir Al-Kitab bersama As-Sunan? Dia berkata: Ya.
Aku berkata: Maka jika Murji’ah berkata: Sesungguhnya Islam adalah perkataan?
Dia berkata: Mereka menjadikan semua ini satu, dan menjadikannya muslim dan mukmin sebagai satu hal yang sama seperti iman Jibril, dan sempurna imannya.
Aku berkata: Maka dari sinilah hujjah kami atas mereka? Dia berkata: Ya.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/479-480 (1077)
Al-Khallal berkata: Yusuf bin Abdullah menulis kepadaku bahwa Al-Hasan bin Ali bin Al-Hasan menceritakan kepada mereka bahwa dia bertanya kepada Abu Abdullah tentang iman yang lebih kuat atau Islam?
Dia berkata: Hadits Umar ini datang, dan hadits Sa’d lebih aku sukai.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/481 (1071)
Al-Khallal berkata: Ishmah bin Isham mengabarkan kepadaku, dia berkata: Hanbal menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Mu’awiyah bin Hisyam dan Abu Ahmad menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Alqamah bin Martsad, dari Sulaiman bin Buraidah, dari ayahnya, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan mereka ketika keluar ke kuburan, pembicara mereka berkata: “Assalamu alaikum ahlad diyar minal mu’minin wal muslimin, inna insya Allah bikum lahiqun.” (Keselamatan atas kalian wahai penghuni kubur dari kalangan mukmin dan muslimin, sesungguhnya insya Allah kami akan menyusul kalian).
Mu’awiyah bin Hisyam berkata: “Kalian adalah pendahulu kami dan kami adalah pengikut kalian, dan kami memohon kepada Allah untuk kami dan untuk kalian keselamatan.”
Dan aku mendengar Abu Abdullah berkata: Dalam hadits ini ada hujjah atas orang yang berkata: Iman adalah perkataan. Dari orang yang berkata: Aku mukmin, sabdanya: “dari kalangan mukmin dan muslimin,” maka dia membedakan mukmin dari muslim, menolak atas orang yang berkata: Aku mukmin yang sempurna.
Dan sabdanya: “Sesungguhnya insya Allah kami akan menyusul kalian,” sedangkan dia tahu bahwa dia akan mati, menguatkan perkataan orang yang berkata: Aku mukmin insya Allah, pengecualian dalam posisi ini.
Aku berkata kepada Abu Abdullah: Jika seseorang melakukan dosa zina atau mencuri, apakah imannya meninggalkannya? Dia berkata: Dia kurang imannya, maka dilepaskan darinya sebagaimana seorang laki-laki melepaskan bajunya, maka jika dia bertaubat dan kembali maka imannya kembali kepadanya.
Hanbal berkata: Dan aku mendengar Abu Abdullah, dan dia ditanya tentang sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam: “Tidaklah berzina seorang pezina ketika dia berzina sedangkan dia mukmin.”
Dia berkata: Begitulah hadits ini diriwayatkan, dan diriwayatkan dari Abu Ja’far dia berkata: “Tidaklah berzina seorang pezina ketika dia berzina sedangkan dia mukmin,” dia berkata: Dia keluar dari iman menuju Islam, maka iman terbatas dalam Islam, maka jika dia berzina dia keluar dari iman menuju Islam.
Dia berkata: Dan Az-Zuhri berkata dalam hadits Amir bin Sa’d: Laki-laki itu berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia mukmin. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Atau muslim.”
Az-Zuhri berkata: Maka kami berpendapat bahwa Islam adalah kalimat, dan iman adalah amal.
Aku berkata kepada Abu Abdullah: Apa yang engkau katakan? Dia berkata: Islam berbeda dengan iman.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/481-482 (1080)
Al-Khallal berkata: Dan Muhammad bin Ali mengabarkan kepada kami. Dan dia berkata: Al-Atsram Abu Bakr menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku berkata kepada Abu Abdullah: Apakah aku berkata: Ini muslim, padahal Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda: “Muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya”
dan aku tahu bahwa manusia tidak selamat darinya?
Maka dia menyebutkan hadits Ma’mar, dari Az-Zuhri, dia berkata: Maka kami berpendapat Islam adalah kalimat, dan iman adalah amal, dia berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepadaku, dari Ma’mar, dari Az-Zuhri.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/9-10 (1087)
Al-Khallal berkata: Dan Musa bin Sahl mengabarkan kepadaku, Muhammad bin Ahmad Al-Asadi menceritakan kepada kami, dia berkata: Ibrahim bin Ya’qub menceritakan kepada kami, dari Ismail bin Sa’id, dia berkata: Aku bertanya kepada Ahmad tentang Islam dan iman? Maka dia berkata: Iman adalah perkataan dan amal, dan Islam adalah pengakuan.
Dia berkata: Dan aku bertanya kepada Ahmad tentang orang yang berkata tentang yang dikatakan Jibril kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, ketika dia bertanya kepadanya tentang Islam, lalu dia berkata kepadanya: Maka jika aku melakukan itu apakah aku muslim? Maka dia berkata: Ya.
Maka seorang pembicara berkata: Maka jika mereka tidak melakukan apa yang Jibril katakan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam maka apakah mereka juga muslim? Maka dia berkata: Ini menentang hadits.
Dan Abu Bakr Al-Khallal berkata: Abu Bakr mengabarkan kepada kami, Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdullah bin Yazid menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdullah bin Lahi’ah menceritakan kepada kami, dia berkata: Bakr bin Amru Al-Ma’afiri menceritakan kepadaku, dari seorang laki-laki dari Himyar, dia berkata: Uqbah bin Amir Al-Juhani berkata: Sesungguhnya seorang laki-laki imannya terlepas sebagaimana pakaian wanita terlepas.
“As-Sirah” 2/88 (1352)
7 – Bab: Keutamaan Tauhid dan Rasa Takut dari Keburukan
Harb berkata: Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami dari Suhail bin Abi Shalih, dari Abdullah bin Dinar, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Iman itu terdiri dari tujuh puluh sekian cabang, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan yang paling tinggi adalah ucapan laa ilaaha illallah (tiada tuhan selain Allah).”
Harb berkata: Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Husyaim menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman bin Abdullah bin Dinar menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Iman itu tujuh puluh sembilan cabang, yang paling agung adalah ucapan laa ilaaha illallah, dan yang paling rendah adalah menghilangkan gangguan dari jalan manusia, dan malu adalah cabang dari iman.”
“Masail Harb” hlm. 368-369
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ibrahim bin Khalid menceritakan kepada kami, Rabbah menceritakan kepadaku, dari Ma’mar, dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, ia berkata: Perumpamaan iman adalah seperti pohon, akarnya adalah syahadat, batang dan daunnya demikian, dan buahnya adalah wara’, tidak ada kebaikan pada pohon yang tidak berbuah, dan tidak ada kebaikan pada manusia yang tidak memiliki wara’.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/316 (635)
Abdullah berkata: Ayahku mengabarkan kepadaku, Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Sulaiman bin Maisarah, dari Thariq bin Syihab, dari Salman, ia berkata: Seorang laki-laki masuk surga karena seekor lalat, dan seorang laki-laki masuk neraka karena seekor lalat. Mereka bertanya: Bagaimana itu? Ia berkata: Dua orang laki-laki melewati suatu kaum yang memiliki berhala, tidak ada seorang pun yang melewatinya kecuali harus mempersembahkan sesuatu kepadanya. Mereka berkata kepada salah satunya: Persembahkanlah sesuatu. Ia berkata: Tidak ada sesuatu padaku. Mereka berkata kepadanya: Persembahkanlah walau hanya seekor lalat. Maka ia mempersembahkan seekor lalat, lalu mereka melepaskannya. Ia berkata: Maka ia masuk neraka. Mereka berkata kepada yang lainnya: Persembahkanlah walau hanya seekor lalat. Ia berkata: Aku tidak akan mempersembahkan kepada siapa pun sesuatu selain kepada Allah Azza wa Jalla. Ia berkata: Maka mereka memenggal lehernya. Ia berkata: Maka ia masuk surga.
“Az-Zuhd” hlm. 22
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yazid menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abdurrahman bin Al-Mujabbar mengabarkan kepada kami, dari Zaid bin Aslam, dari Atha’ bin Yasar, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Nuh alaihissalam berkata kepada anaknya: Wahai anakku, sesungguhnya aku berwasiat kepadamu dengan wasiat dan aku batasi untukmu agar kamu tidak melupakannya; aku wasiatkan kepadamu dua perkara, dan aku larang kamu dari dua perkara; adapun dua perkara yang aku wasiatkan kepadamu, sesungguhnya aku melihat keduanya banyak masuk kepada Allah Azza wa Jalla, dan aku melihat Allah Azza wa Jalla bergembira dengan keduanya, dan shalih dari makhluk-Nya; ucapan: Subhanallahi wa bihamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya), karena ia adalah shalat makhluk, dan dengannya makhluk diberi rezeki, dan ucapan: Laa ilaaha illallah, wahdahu laa syarika lah (Tiada tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya), karena sesungguhnya langit dan bumi seandainya keduanya adalah cincin niscaya akan dipatahkannya, dan seandainya keduanya dalam satu timbangan niscaya akan lebih berat darinya. Adapun dua perkara yang aku larang kamu darinya adalah syirik dan kesombongan, jika kamu mampu menemui Allah dan tidak ada dalam hatimu sesuatu dari syirik, dan tidak ada kesombongan, maka lakukanlah.”
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdullah bin Yazid menceritakan kepada kami, Musa – yaitu Ibnu Ali – menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Sampai kepadaku bahwa Nuh alaihissalam berkata kepada anaknya Sam: Wahai anakku, jangan kamu masuk kubur sementara di hatimu ada seberat dzarrah syirik kepada Allah; karena sesungguhnya barangsiapa datang kepada Allah dalam keadaan musyrik maka tidak ada hujjah baginya. Wahai anakku, jangan kamu masuk kubur sementara di hatimu ada seberat dzarrah kesombongan; karena sesungguhnya keagungan adalah pakaian Allah, maka barangsiapa memperebutkan pakaian Allah, Dia akan murka kepadanya. Wahai anakku, jangan kamu masuk kubur sementara di hatimu ada seberat dzarrah putus asa; karena sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang yang sesat.
“Az-Zuhd” hlm. 67
Abdullah berkata: Aku membaca kepada ayahku: Affan menceritakan kepada kami, Sa’id bin Zaid menceritakan kepada kami, Ma’mar bin Rasyid menceritakan kepada kami, ia berkata: Dari Az-Zuhri, ia berkata: Umar bin Abdul Aziz mengabarkan kepadaku, dari ayahnya, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya tentang agama, mana yang paling utama?
Beliau bersabda: “Hanifiyyah yang mudah (toleran).”
“Az-Zuhd” hlm. 377
Al-Khallal berkata: Abu Bakr Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Hasyim bin Al-Qasim menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdul Hamid menceritakan kepada kami, ia berkata: Syahr menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Ghanam menceritakan kepada kami, dari hadits Mu’adz bin Jabal, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kepala perkara ini adalah kamu bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan sesungguhnya tegaknya perkara ini adalah mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan sesungguhnya puncak tertingginya adalah jihad di jalan Allah. Sesungguhnya aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Jika mereka melakukan itu, maka mereka telah berlindung dan terlindungi darah dan harta mereka kecuali dengan haknya, dan perhitungan mereka ada pada Allah.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/40 (1171)
8 – Iman Memiliki Cabang-cabang, dan Malu adalah Cabang Darinya
Harb berkata: Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan bin Uyainah menceritakan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Salim, dari ayahnya: Nabi shallallahu alaihi wasallam mendengar seorang laki-laki menasihati saudaranya tentang rasa malu, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Malu adalah bagian dari iman.”
“Masail Harb” hlm. 370
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, Malik menceritakan kepada kami, Az-Zuhri menceritakan kepada kami, dari Salim, dari ayahnya: Bahwa seorang laki-laki dari Anshar menasihati saudaranya tentang rasa malu, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Biarkanlah ia; karena sesungguhnya malu adalah bagian dari iman.”
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/362 (779)
Al-Khallal berkata: Abu Bakr Al-Marwazi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Salim, dari ayahnya: Nabi shallallahu alaihi wasallam mendengar seorang laki-laki menasihati saudaranya tentang rasa malu, maka beliau bersabda: “Malu adalah bagian dari iman.”
Al-Khallal berkata: Abdurrahman bin Abdullah bin Al-Hakam – imam masjid Tharsus – mengabarkan kepadaku, ia berkata: Hamid bin Ali menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Hanbal berkata kepadaku: Hadits ini keras terhadap kaum Murji’ah, dan menjadi hujjah atas mereka.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/23-24 (1108-1109)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Affan menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, Suhail bin Abi Shalih menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Dinar, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Iman itu tujuh puluh sekian pintu, yang paling utama adalah laa ilaaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu adalah cabang dari iman.” Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Suhail bin Abi Shalih, dari Abdullah bin Dinar, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Malu adalah cabang dari iman.”
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/331-332 (684-685)
Al-Khallal berkata: Abu Bakr Al-Marwazi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yazid menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Amru mengabarkan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Malu adalah bagian dari iman dan iman berada di surga, dan keburukan ucapan adalah bagian dari kekasaran dan kekasaran berada di neraka.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/25 (1115)
Al-Khallal berkata: Abdul Malik Al-Maimuni mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibnu Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Musa bin Dawud menceritakan kepada kami, ia berkata: Zuhair menceritakan kepada kami, dari Yahya bin Sa’id, dari An-Nu’man bin Murrah bahwa seorang laki-laki disebutkan di hadapan Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan rasa malunya, maka beliau bersabda: “Sesungguhnya iman memiliki cabang-cabang, dan sesungguhnya malu adalah cabang dari iman.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/36 (1158)
Al-Khallal berkata: Abu Bakr mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari An-Nu’man bin Murrah Al-Anshari, bahwa seorang laki-laki disebutkan di hadapan Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan rasa malunya, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya iman memiliki cabang-cabang, dan sesungguhnya malu adalah cabang dari iman.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/46 (1186)
Al-Khallal berkata: Abu Bakr mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Husyaim menceritakan kepada kami, dari Auf, dari Al-Hasan, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Malu adalah bagian dari iman, dan iman berada di surga.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/51 (1202)
9 – Bab: Rukun-rukun Islam adalah Bagian dari Iman
Al-Khallal berkata: Abdul Malik bin Abdul Hamid mengabarkan kepadaku, ia berkata: Abu Abdullah berkata: Jarir bin Abdullah adalah orang terakhir yang masuk Islam dari kalangan para sahabat Rasulullah, dan ia berkata: Aku membai’at Nabi untuk memberikan nasihat. Maka nasihat dan malu adalah bagian dari iman, dan tidakkah puasa dan shalat menjadi bagian dari iman?!
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/463-463 (1021)
Al-Khallal berkata: Ahmad bin Muhammad bin Al-Hajjaj Abu Bakr Al-Marwazi mengabarkan kepada kami: Abu Abdullah ditanya tentang iman, maka ia menyebutkan hadits delegasi Abdul Qais. Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari Syu’bah, ia berkata: Abu Jamrah menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Ibnu Abbas berkata: Sesungguhnya delegasi Abdul Qais ketika mereka datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau memerintahkan mereka dengan iman kepada Allah. Beliau bersabda: “Tahukah kalian apa itu iman?” Mereka berkata: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda: “Kesaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan memberikan seperlima dari ghanimah.”
Al-Khallal berkata: Muhammad bin Al-Mundzir bin Abdul Aziz mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Al-Hasan At-Tirmidzi menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah mendiktekan kepada kami: Dari fulan bin fulan kepada fulan bin fulan, salam untukmu, sesungguhnya aku memuji Allah kepadamu yang tidak ada tuhan selain Dia, dan aku meminta kepada-Nya agar Dia bershalawat kepada Muhammad hamba dan utusan-Nya. Amma ba’du: Semoga Allah berbuat baik kepadamu dalam semua urusan, dan menyelamatkanmu dan kami dari segala keburukan dengan rahmat-Nya. Suratmu sampai kepadaku, dan apa yang kamu sampaikan di dalamnya. Kami memohon kepada Allah taufik untuk kami dan untukmu dengan apa yang Dia cintai dan ridhai.
Adapun apa yang kamu sebutkan dari ucapan orang yang berkata: Sesungguhnya iman itu hanyalah ucapan. Ini adalah ucapan ahli irja’, ucapan yang baru dimunculkan, tidak seperti itu salaf kami dan orang yang kami teladani. Sungguh telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam yang menguatkan bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan. Kemudian ia menyebutkan hadits Ibnu Abbas tentang delegasi Abdul Qais, dan hadits Al-Hasan bin Musa, ia berkata: Ibnu Lahi’ah menceritakan kepada kami, ia berkata: Usamah bin Zaid menceritakan kepada kami, dari Ibnu Syihab, dari Hanzhalah bin Ali bin Al-Asqa’: Bahwa Abu Bakar mengutus Khalid bin Al-Walid, dan memerintahkannya untuk memerangi manusia atas lima perkara, maka barangsiapa meninggalkan satu dari lima perkara, perangilah ia atasnya sebagaimana kamu memerangi atas kelima perkara tersebut: Kesaksian bahwa tiada tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan.
Dan Miskin bin Bukair menceritakan kepada kami, ia berkata: Tsabit bin Ajlan menceritakan kepada kami, dari Sulaim Abu Amirah bahwa delegasi Al-Hamra’ datang kepada Utsman bin Affan untuk membai’atnya atas Islam, dan atas orang-orang di belakang mereka, maka ia membai’at mereka agar tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, dan agar mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa, dan meninggalkan hari raya Majusi. Ketika mereka berkata: Ya, maka ia membai’at mereka.
Dan disebutkan hadits Umar semoga Allah merahmatinya: Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.
Mereka adalah para imam petunjuk setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata kepada Khalid bin Walid apa yang ia katakan, dan Umar berkata tentang orang yang meninggalkan shalat apa yang ia katakan, dan Utsman -ketika ia mensyaratkan kepada mereka- apa yang ia katakan.
Ini yang sampai kepada kami bersama banyak hal lainnya yang datang melalui riwayat-riwayat dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan semoga Allah meridhai mereka, tentang orang yang meninggalkan shalat, orang yang meninggalkan zakat, haji dan umrah, sifat orang munafik, dalam banyak hal yang panjang untuk disebutkan, semuanya bertentangan dengan ahli Irja, barangkali dalam satu masalah ada sekian dan sekian hadits, maka jauhilah kalian agar kalian tidak tergelincir oleh orang-orang Murjiah dari urusan agama kalian, dan hendaklah hal itu dengan kelembutan dan meninggalkan perdebatan dengan mereka, hingga kalian sampai pada apa yang kalian inginkan dari itu.
Azhar menceritakan kepada kami, dari Ibnu Aun, ia berkata: Muhammad berkata: Mereka berpendapat selama ia masih di atas atsar, maka ia berada di atas jalan.
Dan ketahuilah bahwa meninggalkan pertengkaran dan perdebatan adalah jalan orang-orang terdahulu, dan mereka bukan orang-orang yang suka bertengkar dan berdebat, tetapi mereka adalah orang-orang yang tunduk dan beramal, kami memohon kepada Allah taufik untuk kami dan kalian dalam semua urusan kami untuk apa yang Dia cintai dan ridhai, dan agar Dia menyelamatkan kami dan kalian dari segala keburukan dengan rahmat-Nya, dan salam sejahtera untuk kalian.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/14-16 (1100-1102)
Al-Khallal berkata: Dan Abu Bakar memberitahu kami, ia berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Kamil dan Hasan bin Musa menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Syarik menceritakan kepada kami. Dan Hajjaj berkata: Syarik memberitahu kami, dari Abu Ishaq, dari Bara bin Azib, tentang firman-Nya: “Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian” (Surat Al-Baqarah: 143) ia berkata: shalat kalian menghadap Baitul Maqdis.
Al-Khallal berkata: Dan Abu Bakar memberitahu kami, ia berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki menceritakan kepada kami, ia berkata: Israil menceritakan kepada kami, dari Simak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas ia berkata: Ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam diarahkan ke Kakbah, mereka berkata: Ya Rasulullah, bagaimana dengan orang-orang yang telah meninggal sementara mereka shalat menghadap Baitul Maqdis? Maka Allah Tabaraka wa Taala menurunkan: “Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian” (Surat Al-Baqarah: 143).
“As-Sunnah” 2/32 (1142-1143)
Abu Bakar Al-Khallal berkata: Abu Bakar memberitahu kami, Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya menceritakan kepada kami, dari Ismail, ia berkata: Qais menceritakan kepada kami, ia berkata: Jarir bin Abdullah memberitahu aku, atau: aku mendengar Jarir, ia berkata: Aku berbaiat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan memberi nasihat kepada setiap Muslim.
Dan ia berkata: Abu Bakar memberitahu kami, ia berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Nuh menceritakan kepada kami, ia berkata: Ashim bin Muhammad dan Abu An-Nadhr menceritakan kepada kami, ia berkata: Ashim bin Muhammad menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Ibnu Umar, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Islam dibangun atas lima perkara: kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan puasa Ramadhan.”
Dan ia berkata: Abu Bakar memberitahu kami, ia berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Kamil menceritakan kepada kami, ia berkata: Hammad menceritakan kepada kami, dari Budail bin Maisarah Al-Aqili, dari Abdullah bin Syaqiq, dari seorang laki-laki dari Balqin ia berkata: Aku datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam sementara beliau di Wadi Al-Qura, lalu aku berkata: Ya Rasulullah, apa yang engkau perintahkan? Beliau bersabda: “Aku diperintahkan agar kalian menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/46 (1183-1185)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar memberitahu kami, ia berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Muammar menceritakan kepada kami, dari Az-Zuhri: Bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam mengambil dari seorang laki-laki yang masuk Islam, lalu beliau bersabda: “Engkau menegakkan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah dan berpuasa Ramadhan, dan sesungguhnya engkau tidak boleh melihat api orang musyrik kecuali engkau berperang dengannya.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/47 (1188)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar memberitahu kami, ia berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya bin Said menceritakan kepada kami, dari Ismail bin Abi Khalid, ia berkata: Amir menceritakan kepada kami, dari Muadz bin Jabal: Ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam mengutusnya ke Yaman; orang-orang berkumpul di sekitarnya, lalu ia memuji Allah, menyanjung-Nya, dan berkata: Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Rasulullah kepada kalian, agar kalian menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan jika kalian menaatiku aku akan membimbing kalian ke jalan petunjuk, ketahuilah sesungguhnya hanya ada Allah semata, dan surga dan neraka, tinggal menetap tanpa kepergian, kekal tanpa kematian, amma badu (adapun setelah itu).
Al-Khallal berkata: Abu Bakar memberitahu kami, ia berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya bin Said menceritakan kepada kami, dari Syubah, ia berkata: Abu Jamrah menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Ibnu Abbas berkata: Sesungguhnya delegasi Abdul Qais ketika mereka datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau memerintahkan mereka dengan iman kepada Allah Azza wa Jalla, beliau bersabda: “Tahukah kalian apa itu iman?”, mereka berkata: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda: “Kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan agar kalian memberikan seperlima dari harta rampasan.”
“As-Sunnah” 2/48 (1193-1194)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar memberitahu kami, ia berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Muammar menceritakan kepada kami, dari Abdul Karim Al-Jazari, dari Mujahid, bahwa Abu Dzar bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang iman; lalu beliau membacakan kepadanya ayat ini: “Bukanlah kebajikan bahwa kalian memalingkan wajah kalian” (Surat Al-Baqarah: 177) hingga beliau mengakhiri ayat.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar memberitahu kami, ia berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Hasyim bin Qasim menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Jafar -yaitu: Ar-Razi- menceritakan kepada kami dari Yunus, dari Hasan, dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengatakan: tidak ada tuhan selain Allah, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat, maka apabila mereka melakukan itu, mereka telah melindungi dari dariku darah mereka dan harta mereka kecuali dengan haknya, dan perhitungan mereka kepada Allah.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/50 (1999)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan bin Uyainah menceritakan kepada kami, dari Mujalid, dari Asy-Syabi, dari Jarir ia berkata: Aku berbaiat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, mendengar dan taat, serta memberi nasihat kepada setiap Muslim.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/51-52 (1206)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Jafar menceritakan kepada kami, ia berkata: Syubah menceritakan kepada kami, dari Manshur, ia berkata: Aku mendengar Abu Wail menceritakan, dari seorang laki-laki, dari Jarir bahwa ia berkata: Aku berbaiat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, memberi nasihat kepada setiap Muslim, dan berpisah dari orang musyrik.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Dan Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Jafar menceritakan kepada kami, ia berkata: Syubah menceritakan kepada kami, dari Sulaiman, dari Abu Wail, dari Jarir, ia berkata: Aku berbaiat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, memberi nasihat kepada setiap Muslim, dan berpisah dari orang musyrik, dan lafazh ini maknanya.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/79 (1315-1316)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki menceritakan kepada kami, ia berkata: Handzalah Al-Jumahi menceritakan kepada kami, dari Ikrimah bin Khalid, dari Ibnu Umar ia berkata: Rasulullah bersabda: “Islam dibangun atas lima perkara: kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan puasa Ramadhan.”
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Manshur, dari Salim, dari Yazid bin Bisyr, dari Ibnu Umar, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, seperti itu.
Lalu dikatakan kepada Ibnu Umar: Bagaimana dengan jihad? Ia berkata: Jihad itu baik, begitulah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menceritakan kepada kami.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/95 (1382-1383)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Jafar menceritakan kepada kami, dari Yunus, dari Hasan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengatakan tidak ada tuhan selain Allah, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat, maka apabila mereka melakukan itu, sungguh mereka telah melindungi darah mereka dan harta mereka kecuali dengan haknya dan perhitungan mereka kepada Allah.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/128 (1501)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku dan Israil dan Ali bin Shalih menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Shilah bin Zufar Al-Absi, dari Hudzaifah ia berkata: Islam itu delapan bagian: Islam satu bagian, shalat satu bagian, zakat satu bagian, haji satu bagian, Ramadhan satu bagian, jihad satu bagian, menyuruh kepada kebaikan satu bagian, mencegah kemungkaran satu bagian, dan sungguh celaka orang yang tidak memiliki bagian.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/142 (1554)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Jafar menceritakan kepada kami, ia berkata: Syubah menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, ia berkata: Aku mendengar Shilah bin Zufar menceritakan dari Hudzaifah ia berkata: Islam itu delapan bagian: shalat satu bagian, Islam satu bagian, zakat satu bagian, puasa Ramadhan satu bagian, haji ke Baitullah satu bagian, jihad di jalan Allah satu bagian, menyuruh kepada kebaikan satu bagian, mencegah kemungkaran satu bagian, dan sungguh celaka orang yang tidak memiliki bagian.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/143-144 (1557)
10 – Bab: Hukum Orang yang Meninggalkan Shalat
Abu Dawud berkata: Aku mendengar Ahmad berkata: Jika seseorang berkata: Aku tidak akan shalat, maka ia kafir.
“Masail Abi Dawud” (1761)
Ibnu Hani berkata: Kemudian ia berkata: Dan shalat di belakang setiap orang baik dan jahat? Ia berkata: Ya.
Ia berkata: Dan jihad bersama penguasa, dan sabar di bawah panji-panjinya, dan tidak keluar melawan penguasa dengan pedang atau tongkat, dan tidak mengkafirkan seseorang karena dosa? Abu Abdullah berkata: Diamlah? Barangsiapa meninggalkan shalat maka sungguh ia telah kafir.
“Masail Ibni Hani” (1875-1876)
Harb berkata: Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Zaid bin Hubab menceritakan kepada kami, ia berkata: Husain bin Waqid menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Buraidah menceritakan kepada kami, dari ayahnya ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Pembeda antara kami dan mereka adalah meninggalkan shalat, maka barangsiapa meninggalkannya maka sungguh ia telah kafir.”
“Masail Harb” hal. 375
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Al-Walid bin Muslim memberitahu kami, Abdul Aziz bin Ismail bin Ubaidillah memberitahu kami bahwa Sulaiman bin Habib menceritakan kepada mereka dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu anhu dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda: “Sungguh akan terurai ikatan-ikatan Islam satu per satu, setiap kali terurai satu ikatan maka manusia berpegang pada yang setelahnya, dan yang pertama terurai adalah hukum, dan yang terakhir adalah shalat.”
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/356 (764)
Abdullah berkata: Ayahku semoga Allah merahmatinya menceritakan kepadaku, Abdullah bin Walid Al-Adani memberitahu kami, Sufyan memberitahu kami, dari Al-Amasy, dari Abu Sufyan, dari Jabir radhiyallahu anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada antara seorang hamba dengan kekafiran kecuali meninggalkan shalat.”
Dan ia berkata: Ayahku semoga Allah merahmatinya menceritakan kepadaku, Waki memberitahu kami, dari Sufyan, dari Abu Az-Zubair, dari Jabir radhiyallahu anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Antara seorang hamba dengan kekafiran adalah meninggalkan shalat.”
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/357-358 (767-768)
Abdullah berkata: Ayahku semoga Allah merahmatinya menceritakan kepadaku, Hasyim bin Qasim memberitahu kami, Syaiban memberitahu kami, dari Laits, dari Atha, dari Jabir, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda: “Antara seseorang dengan kesyirikan adalah meninggalkan shalat, dan antara seseorang dengan kekafiran adalah meninggalkan shalat.”
Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Al-Walid bin Muslim memberitahu kami, aku mendengar Al-Auza’i, dari Qasim bin Mukhaimarah, ia berkata: Mereka menyia-nyiakan waktu-waktu dan tidak meninggalkannya, dan seandainya mereka meninggalkannya maka mereka akan menjadi orang kafir dengan meninggalkannya.
Dan dia berkata: Telah menceritakan kepada kami ayahku semoga Allah merahmatinya, menceritakan kepada kami Waki’ dan Abdurrahman, dari Sufyan, dari ‘Ashim, dari Zarr, dari Abdullah, ia berkata: Barangsiapa tidak salat maka tidak ada agama baginya.
Dan dia berkata: Telah menceritakan kepada kami ayahku, menceritakan kepada kami Waki’, menceritakan kepada kami Al-Mas’udi, dari Al-Qasim dan Al-Hasan bin Sa’d, keduanya berkata: Abdullah berkata: Meninggalkannya adalah kekufuran.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/358-359 (770-773)
Abdullah berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid Al-Muqri’ dari kitabnya, menceritakan kepada kami Sa’id -yakni Ibnu Abi Ayyub- telah menceritakan kepadaku Ka’b bin ‘Alqamah, dari ‘Isa bin Hilal Ash-Shadafi, dari Abdullah bin ‘Amr semoga Allah meridainya, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau suatu hari menyebutkan salat lalu bersabda: “Barangsiapa menjaganya, maka ia akan menjadi cahaya, bukti, dan keselamatan baginya pada hari kiamat. Dan barangsiapa tidak menjaganya, maka tidak akan ada cahaya, bukti, dan keselamatan baginya, serta ia akan datang pada hari kiamat bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.”
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/363 (782) Abdullah berkata: Aku bertanya kepada ayahku semoga Allah merahmatinya tentang meninggalkan salat dengan sengaja.
Ayahku berkata: Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Antara seorang hamba dengan kekufuran adalah meninggalkan salat.”
Ayahku berkata: Dan orang yang meninggalkannya tidak salat, sedangkan orang yang salat tidak pada waktunya, aku panggil dia tiga kali, jika ia salat maka baik, jika tidak maka aku penggal lehernya. Ia menurutku seperti orang murtad yang diminta bertaubat tiga kali, jika bertaubat maka baik, jika tidak maka dibunuh berdasarkan hadits Umar.
Abdullah berkata: Aku bertanya kepada ayahku tentang seorang laki-laki yang meninggalkan salat Ashar hingga matahari terbenam dengan sengaja. Ia berkata: Panggil dia untuk salat tiga kali, jika menolak maka penggal lehernya.
“Masa’il Abdullah” (191-192)
Abdullah berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Waki’, menceritakan kepada kami Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari Al-Miswar bin Makhramah, bahwa Ibnu Abbas masuk menemui Umar, dan pada suatu riwayat disebutkan: Aku masuk bersama Ibnu Abbas menemui Umar setelah ia tertikam, lalu ia berkata: Ya, tidak ada bagian dalam Islam bagi seseorang yang menyia-nyiakan salat. Maka ia salat sementara lukanya mengucurkan darah.
“Masa’il Abdullah” (191-193) Abu Bakar Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Waki’, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid, dari Shadaqah maula keluarga Az-Zubair, dari Abu Tsifal, dari Abu Bakar bin Huwaithib, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada iman bagi orang yang tidak salat.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/48-49 (1195)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin ‘Amru, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Ikrimah, dari Abu Abdullah Al-Filasthini, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abdul Aziz saudara Hudzaifah, dari Hudzaifah bin Al-Yaman, ia berkata: Yang pertama kali kalian hilangkan dari agama kalian adalah kekhusyu’an, dan yang terakhir kalian hilangkan dari agama kalian adalah salat. Sungguh akan salat wanita-wanita dalam keadaan haid, dan sungguh akan terlepas Islam ikatan demi ikatan, dan sungguh kalian akan menempuh jalan orang-orang sebelum kalian seperti sandal dengan sandal dan seperti bulu anak panah dengan bulu anak panah, kalian tidak akan meleset dari jalan mereka dan jalan mereka tidak akan meleset dari kalian, hingga tersisa dua golongan dari golongan-golongan yang banyak. Salah satunya berkata: Untuk apa salat lima waktu, sungguh telah sesat orang-orang sebelum kami, sesungguhnya hanya difirmankan: “Dan dirikanlah salat pada kedua ujung siang dan pada sebagian malam” (Surah Hud: 114), kalian tidak salat kecuali dua atau tiga salat saja. Dan golongan lain berkata: Sesungguhnya kami adalah orang-orang beriman kepada Allah seperti imannya malaikat, tidak ada di antara kami orang kafir dan munafik. Hak bagi Allah untuk menghimpun mereka bersama Dajjal.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdush-Shamad bin Abdul Warits, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Ikrimah bin ‘Ammar Al-Yamani, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Humaid Abu Abdullah, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abdul Aziz saudara Hudzaifah, bahwa Hudzaifah berkata: Yang pertama kali kalian hilangkan dari agama kalian adalah kekhusyu’an, lalu ia menyebutkan seperti maknanya, kecuali bahwa ia menyebutkan: Akan salat wanita-wanita dalam keadaan haid.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/72-73 (1292-1293)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Utsman, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Bayan, dari Qais bin Abi Hazim, ia berkata: Bilal melihat seorang laki-laki salat, ia berkata: Wahai pemilik salat, seandainya engkau mati niscaya engkau mati bukan atas agama Isa bin Maryam ‘alaihissalam.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Walid bin Muslim, ia berkata: Aku mendengar Al-Auza’i mengabarkan bahwa Umar bin Abdul Aziz telah memerintahkan pengawalnya jika ia keluar menemui mereka agar mereka tidak berdiri untuknya, dan jika mereka sedang duduk maka mereka memberikan tempat untuknya. Maka suatu hari ia keluar menemui mereka lalu mereka memberikan tempat untuknya, ia berkata: Siapa di antara kalian yang mengenal utusan kami ke Mesir?
Mereka berkata: Kami semua mengenalnya. Ia berkata: Maka hendaklah yang termuda di antara kalian mendatanginya.
Ia berkata: Maka seorang laki-laki dari mereka mendatanginya, lalu utusan itu berkata kepadanya: Jangan terburu-buru padaku hingga aku mengikat pakaianku. Ia berkata: Maka ia mendatanginya, lalu Umar semoga Allah merahmatinya berkata kepadanya: Sesungguhnya hari ini adalah hari Jumat, maka jangan keluar hingga engkau salat Jumat, karena sesungguhnya kami mengutusmu untuk urusan yang mendesak dari urusan kaum muslimin, maka janganlah terburu-burunya kami kepadamu membuatmu mengakhirkan salat dari waktunya, karena sesungguhnya engkau pasti akan salatnya. Dan sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menyebutkan suatu kaum, lalu berfirman: “Mereka menyia-nyiakan salat” (Surah Maryam: 59), dan penyia-nyiaan mereka terhadapnya bukanlah meninggalkannya, tetapi mereka menyia-nyiakan waktu-waktunya.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/80 (1318-1319)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Auf, dari Al-Hasan, ia berkata: Sampai kepadaku bahwa para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: Antara seorang hamba dengan berbuat syirik sehingga kafir adalah meninggalkan salat tanpa uzur.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/92 (1372)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al-Walid, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A’masy, dari Abu Sufyan, dari Jabir, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada antara seorang hamba dengan kekufuran kecuali meninggalkan salat.” Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin ‘Amru, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq, dari Al-A’masy, dari Abu Sufyan, dari Jabir, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Antara seorang hamba dengan kekufuran dan kesyirikan adalah meninggalkan salat.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/94 (1375-1376)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ibrahim, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Jurairi, dari Abdullah bin Syaqiq, ia berkata: Kami tidak mengetahui sesuatu dari amal-amal yang dikatakan: meninggalkannya adalah kekufuran, kecuali salat.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Ibnu Ishaq, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Aban bin Shalih, dari Mujahid bin Jubair Abu Al-Hajjaj, dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari, ia berkata: Aku bertanya kepadanya: Apa yang menjadi pembeda antara kekufuran dengan keimanan menurut kalian dari amal-amal pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Ia berkata: Salat.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/94 (1378-1379)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Walid bin Muslim, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Jabir, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abi Zakariya, bahwa Ummu Ad-Darda’ menceritakan kepadanya, bahwa ia mendengar Abu Ad-Darda’ berkata: Tidak ada iman bagi orang yang tidak salat, dan tidak ada salat bagi orang yang tidak berwudhu.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id, dari Al-Mas’udi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Sa’d, dari Abdurrahman bin Abdullah, ia berkata: Dikatakan kepada Abdullah: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla banyak menyebutkan salat: “Orang-orang yang tetap mengerjakan salatnya” (Surah Al-Ma’arij: 23), “Dan orang-orang yang memelihara salatnya” (Surah Al-Ma’arij: 34). Ia berkata: Itu adalah pada waktu-waktunya. Mereka berkata: Kami tidak menyangka kecuali meninggalkan salat. Ia berkata: Meninggalkannya adalah kekufuran.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya, dari Al-Mas’udi, dari Al-Qasim, ia berkata: Abdullah berkata: Kekufuran adalah meninggalkan salat.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/95-96 (1384-1386)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Zaid bin Wahb, ia berkata: Hudzaifah masuk masjid, lalu ia melihat seorang laki-laki, maka ia salat di dekat pintu-pintu Kindah, ia tidak menyempurnakan ruku’ dan tidak menyempurnakan sujud. Ketika ia selesai, Hudzaifah berkata kepadanya: Sudah berapa lama salatmu seperti ini?
Ia berkata: Sejak empat puluh tahun. Maka Hudzaifah berkata kepadanya: Engkau tidak salat sejak empat puluh tahun, dan seandainya engkau mati sementara salatmu seperti ini, niscaya engkau mati bukan atas fitrah yang Allah fitrahkan Muhammad dengannya. Kemudian ia menghadap kepadanya untuk mengajarinya, ia berkata: Sesungguhnya seseorang boleh meringankan salat, namun ia menyempurnakan ruku’ dan sujud.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/98 (1389)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdush-Shamad bin Abdul Warits, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Mahdi bin Maimun, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Washil Al-Ahdab, dari Abu Wa’il, dari Hudzaifah bahwa ia melihat seorang laki-laki salat tidak menyempurnakan ruku’nya dan tidak menyempurnakan sujudnya. Ketika ia selesai, ia memanggilnya lalu berkata: Sudah berapa lama engkau salat seperti ini?
Ia berkata: Aku salat seperti ini sejak sekian dan sekian. Ia berkata: Engkau tidak salat. Atau: Engkau tidak salat untuk Allah.
Mahdi berkata: Dan aku menduga ia berkata: Seandainya engkau mati, niscaya engkau mati bukan atas sunnah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/128 (1503)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman, dari Sufyan, dari Salamah bin Kuhail, dari Abu Az-Za’ra’, dari Abdullah, ia berkata: Yang pertama kali kalian hilangkan dari agama kalian adalah amanah, dan yang terakhir kalian hilangkan dari agama kalian adalah salat.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah, dari Ja’far, dari ayahnya, ia berkata: Seorang laki-laki masuk masjid sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk, lalu ia salat. Ia terus mematuk-matuk seperti mematuknya burung gagak, maka beliau bersabda: “Seandainya orang ini mati, niscaya ia mati bukan atas agama Muhammad.”
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair, dari Muhammad -yakni Ibnu Abi Ismail- dari Ma’qil Al-Khatsa’mi, ia berkata: Seorang laki-laki mendatangi Ali sementara ia berada di Rahabah, ia berkata: Wahai Amirul Mukminin, bagaimana pendapatmu tentang wanita yang tidak salat? Ia berkata: Barangsiapa tidak salat maka ia kafir. Ia berkata: Sesungguhnya ia istihadhah. Ia berkata: Maka hendaklah ia meninggalkan salat sepanjang masa haidnya, maka jika telah berlalu masa haidnya, hendaklah ia mandi setiap hari, dan mengambil kapas yang di dalamnya ada minyak samin atau minyak zaitun.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Khalaf bin Ayyub, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami (…) dari Bayan, dari Qais: Bahwa Bilal melihat seorang laki-laki salat lalu ia memburukkan salatnya, maka ia berkata: Wahai pemilik salat, seandainya engkau mati saat ini niscaya engkau mati bukan atas agama Isa ‘alaihissalam.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/98-99 (1391-1394)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, dia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Ya’la bin Atha’, dari Hassan bin Abi Wajzah, dari ayahnya, dari Abdullah bin Amr bahwa dia berkata: Aku berzina lebih aku sukai daripada aku minum khamar, karena sesungguhnya jika aku minum khamar maka aku akan meninggalkan shalat, dan barangsiapa meninggalkan shalat maka tidak ada agama baginya.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/99 (1395)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad -yaitu Ibnu Ishaq- menceritakan kepada kami dari Makhul bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Al-Fadhl bin Abbas ketika beliau menasihatinya: “Jangan kamu mempersekutukan Allah meskipun kamu dibunuh atau dibakar, dan jangan kamu meninggalkan shalat dengan sengaja, karena sesungguhnya barangsiapa meninggalkannya dengan sengaja maka sungguh telah lepas darinya jaminan Allah.”
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Ya’qub bin Ibrahim menceritakan kepada kami, dia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, dari Ibnu Ishaq dia berkata: Abdullah bin Abi Bakar menceritakan kepadaku, dan Yahya bin Sa’id bahwa mereka berdua menceritakan dari Sa’d bin Imarah -saudara Bani Sa’d bin Bakar, dan dia memiliki persahabatan dengan Nabi- bahwa seorang laki-laki berkata kepadanya: Berilah aku nasihat untuk diriku, semoga Allah merahmatimu. Dia berkata: Jika kamu berdiri untuk shalat maka sempurnakanlah wudhu; karena sesungguhnya tidak ada shalat bagi orang yang tidak berwudhu, dan tidak ada iman bagi orang yang tidak shalat, kemudian jika kamu shalat maka shalatlah seperti shalat orang yang berpamitan, dan tinggalkanlah mencari banyak kebutuhan; karena sesungguhnya itu adalah kefakiran yang hadir, dan kumpulkanlah rasa putus asa terhadap apa yang ada pada manusia; karena sesungguhnya itulah kekayaan, dan lihatlah apa yang kamu mintakan maaf darinya berupa perkataan dan perbuatan maka jauhilah.
“As-Sunnah” 2/99-100 (1396-1397)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Sulaiman bin Daud menceritakan kepada kami, dia berkata: Syu’bah mengabarkan kepada kami, dari Ya’la bin Atha’, dari Hassan bin Abi Wajzah, dari ayahnya, dari Abdullah bin Amr dia berkata: Aku berzina lebih aku sukai daripada aku minum khamar, karena sesungguhnya barangsiapa mabuk -yaitu meninggalkan shalat, dan barangsiapa meninggalkan shalat maka tidak ada agama baginya.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/134 (1523)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Amr, dia berkata: Ubaidah bin Sufyan Al-Hadhrami menceritakan kepadaku, dari Abul Ja’d Adh-Dhamri -dan dia memiliki persahabatan dengan Nabi- dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa meninggalkan tiga kali shalat Jumat dengan meremehkannya maka akan dicap pada hatinya.” Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Abdurrahman bin As’ad bin Zurarah, dari pamannya Yahya -dan dia memujinya dengan baik- dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa meninggalkan shalat Jumat tiga kali dengan meremehkannya tanpa uzur maka akan dicap pada hatinya, dan dijadikan hatinya sebagai hati orang munafik.”
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Auf, dari Sa’id bin Abil Hasan, dari Ibnu Abbas dia berkata: Barangsiapa meninggalkan empat kali shalat Jumat berturut-turut tanpa uzur maka sungguh dia telah membuang Islam ke belakang punggungnya.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/154-155 (1596-1598)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Ja’far dan Ruh menceritakan kepada kami, mereka berkata: Auf menceritakan kepada kami, dari Sa’id bin Abil Hasan dia berkata: Ibnu Abbas berkata: Barangsiapa meninggalkan shalat Jumat empat kali Jumat -dan Ruh tidak menyebutkan: Jumat berturut-turut- tanpa uzur maka sungguh dia telah membuang Islam ke belakang punggungnya.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Yahya menceritakan kepada kami, dari Auf dia berkata: Sa’id bin Abil Hasan menceritakan kepada kami, dari Ibnu Abbas dia berkata: Barangsiapa meninggalkan empat kali shalat Jumat tanpa uzur maka sungguh dia telah membuang Islam ke belakang punggungnya.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/156 (1602)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdul Malik bin Amr menceritakan kepada kami, dia berkata: Zuhair menceritakan kepada kami. Dan Ibnu Mahdi, dari Zuhair, dari Usaid -Ibnu Mahdi berkata: Ibnu Abi Usaid- dari Abdullah bin Abi Qatadah, dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa meninggalkan shalat Jumat tiga kali tanpa uzur -Ibnu Mahdi berkata: tanpa keperluan mendesak- maka akan dicap pada hatinya.” Ibnu Mahdi berkata: “Allah mencap pada hatinya.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/156 (1602)
Dan Ali bin Sa’id bertanya kepadanya tentang sabda Nabi: “Barangsiapa menipu kami maka dia bukan dari golongan kami.” Dia berkata: Untuk penekanan dan peringatan keras, dan aku tidak mengkafirkan seorangpun kecuali dengan meninggalkan shalat.
“Al-Furu'” 6/565
11 – Hukum Orang yang Meninggalkan Zakat dan Haji
Abdullah berkata: Ayahku semoga Allah merahmatinya menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Hasan bin Shalih menceritakan kepada kami, dari Mutharrif, dari Abu Ishaq, dari Abul Ahwash dia berkata: Abdullah berkata: Orang yang meninggalkan zakat bukanlah seorang muslim.
Dan dia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Isra’il menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Abul Ahwash, dia berkata: Abdullah berkata: Barangsiapa menegakkan shalat dan tidak menunaikan zakat maka tidak ada shalat baginya.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/373 (218-813)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Husyaim menceritakan kepada kami, dia berkata: Manshur mengabarkan kepada kami, dari Al-Hasan, dia berkata: Umar bin Al-Khaththab radiyallahu anhu berkata: Sungguh aku berniat untuk mengutus seseorang ke negeri-negeri ini, maka hendaklah mereka melihat kepada setiap laki-laki yang mampu yang tidak berhaji, lalu mereka memungut jizyah kepada mereka; mereka bukan muslim! Mereka bukan muslim!
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Husyaim menceritakan kepada kami, dia berkata: Daud bin Abi Hind menceritakan kepada kami, dia berkata: Sa’id bin Jubair menceritakan kepada kami, dia berkata: Umar bin Al-Khaththab radiyallahu anhu berkata: Seandainya manusia meninggalkan haji, niscaya kami akan memerangi mereka sebagaimana kami memerangi mereka mengenai shalat dan zakat.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Husyaim menceritakan kepada kami, dia berkata: Manshur menceritakan kepada kami, dari Al-Hakam, dari Adi bin Adi, dari Adh-Dhahhak bin Arzam dia berkata: Umar bin Al-Khaththab radiyallahu anhu berkata: Barangsiapa meninggal dalam keadaan mampu dan tidak berhaji maka biarlah dia mati jika dia mau sebagai Yahudi, dan jika dia mau sebagai Nasrani.
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Husyaim menceritakan kepada kami, dia berkata: Mughirah menceritakan kepada kami, dari Ibrahim, dari Al-Aswad, bahwa dia berkata kepada budaknya -yang dipanggil Miqlash: Demi Allah jika kamu mati dan tidak berhaji maka aku tidak akan menshalatimu.
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Abul Mu’alla, dari Sa’id bin Jubair dia berkata: Seandainya tetanggaku meninggal dan dia tidak berhaji padahal dia mampu, aku tidak akan menshalatinya.
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Mujahid bin Rumi dia berkata: Aku bertanya kepada Sa’id bin Jubair dan Abdurrahman bin Abi Laila dan Ibnu Maqil tentang seorang laki-laki yang meninggal dalam keadaan mampu dan tidak berhaji; Ibnu Abi Laila berkata: Sesungguhnya aku mengharapkan jika walinya berhaji untuknya.
Dan Sa’id bin Jubair berkata: Neraka, neraka.
Dan Abdullah bin Maqil berkata: Dia mati dalam keadaan bermaksiat kepada Allah. Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Laits, dari Ibnu Sabit dia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa meninggal dan tidak berhaji, tidak mencegahnya dari itu penyakit yang menahan, atau penguasa yang zalim, atau kebutuhan yang nyata, maka biarlah dia mati dalam keadaan apapun, jika dia mau sebagai Yahudi, dan jika dia mau sebagai Nasrani.”
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Mughirah dan Manshur, dari Ibrahim bahwa Al-Aswad berkata kepada budaknya yang dipanggil Miqlash -dia mampu-: Wahai Miqlash apakah kamu berhaji? Jika kamu tidak berhaji maka aku tidak akan menshalatimu.
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Isma’il menceritakan kepada kami, dari Laits, dari Abdurrahman bin Sabit, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa meninggal dan tidak berhaji satu kali haji, tidak mencegahnya dari itu kebutuhan yang nyata, atau penyakit yang menahan, atau penguasa yang zalim, maka biarlah dia mati dalam keadaan apapun, jika dia mau sebagai Yahudi, dan jika dia mau sebagai Nasrani.”
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, dia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Al-Hakam, dari Adi bin Adi, dari Adh-Dhahhak bin Abdurrahman bin Arzam, dari ayahnya, dari Umar dia berkata: Barangsiapa memiliki kemampuan lalu meninggal dan tidak berhaji maka biarlah dia mati jika dia mau sebagai Yahudi dan jika dia mau sebagai Nasrani.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/147-149 (1571-1580)
12 – Amalan Hati Termasuk Bagian dari Iman
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Fudhail menceritakan kepada kami, dari Dhirar -dia adalah Abu Sinan Asy-Syaibani- dari Sa’id bin Jubair dia berkata: Bertawakal kepada Allah adalah seluruh iman.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/361 (776)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Al-A’masy, dari Abi Zhibyan, dari Alqamah, dari Abdullah dia berkata: Kesabaran adalah separuh iman, dan keyakinan adalah seluruh iman.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/374 (817)
Al-Khallal berkata: Dan Abu Bakar mengabarkan kepada kami dia berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, dia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami. Dan Hajjaj berkata: Syu’bah menceritakan kepadaku. Dia berkata: Aku mendengar Qatadah bercerita, dari Anas bin Malik, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga dia mencintai untuk saudaranya atau tetangganya -dan Hajjaj tidak ragu tentang saudaranya- apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.”
Al-Khallal berkata: Dan Abu Bakar Al-Marwazi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Yazid menceritakan kepada kami, dia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dia berkata: Qatadah menceritakan kepada kami, dari Anas dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga dia mencintai untuk saudaranya atau tetangganya -Syu’bah ragu- apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/24 (1111-1112)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Hajjaj menceritakan kepada kami, dia berkata: Syarik menceritakan kepada kami, dari Abdul A’la Ats-Tsa’labi, dari Ibnu Hanifah, dia berkata: Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki taqiyah.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/40 (1170)
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Ruh menceritakan kepada kami, dia berkata: Asy’ats menceritakan kepada kami, dari Al-Hasan, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga dia membenci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana dia membenci untuk dilemparkan ke dalam api.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/54 (1221)
13 – Menolak Waswas adalah Iman yang Murni
Shalih berkata: Aku bertanya: Seorang laki-laki menceritakan pada dirinya dengan sesuatu yang jika dia diam maka dia khawatir bahwa dia telah berbuat syirik, dan agamanya hilang?
Dia berkata: Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Sesungguhnya Allah memaafkan umatku tentang apa yang diceritakan oleh diri mereka selama mereka tidak mengerjakannya atau mengucapkannya.” Maka jika dia menceritakan pada dirinya tentang sesuatu, hendaklah dia menolak itu dari dirinya.
“Masa’il Shalih” (1399)
Harb berkata: Aku mendengar Ishaq berkata tentang hadis Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya dan para tabi’in tentang waswas bahwa itu adalah iman yang murni atau iman yang jelas. Ishaq berkata: Jika dia menolak waswas dari dirinya maka penolakannya adalah iman yang murni dan bukan waswas yang merupakan iman yang murni, tetapi penolakannya, adapun waswas jika jatuh dalam hati lalu dia tidak menolaknya maka itulah kebinasaan.
Dia berkata: Adapun apa yang diriwayatkan dari sahabat-sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa mereka jika kehilangan waswas mereka menganggapnya kekurangan, bukanlah bahwa mereka menganggap kehilangan waswas sebagai kekurangan, tetapi mereka jika tertimpa itu maka mereka menolaknya dari diri mereka, maka jika tidak tertimpa kepada mereka itu maka mereka menganggapnya kekurangan; karena menolak itu menurut mereka adalah keutamaan menurut mereka. Atau sebagaimana dia katakan.
“Masa’il Harb” hal. 351
14 – Bersuci dan Mengingat Allah adalah Bagian dari Iman
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Said menceritakan kepada kami, dari Sufyan, Abu Ishaq menceritakan kepadaku, dari Ibnu Abi Laila Al-Kindi, ia berkata: Hajar bin Adi melihat anaknya meremehkan wudhu, maka ia berkata: Ambilkan catatan itu, ini adalah apa yang Ali radiyallahu ‘anhu ceritakan kepada kami bahwa wudhu adalah setengah dari iman.
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Yunus bin Abi Ishaq menceritakan kepada kami, dari Umair bin Qumaim, dari seorang budak Hajar Al-Kindi bahwa Hajar melihat anaknya keluar dari toilet dan tidak berwudhu, lalu ia berkata: Wahai budak, ambilkan aku catatan dari ceruk itu, aku mendengar Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu berkata: Bersuci adalah setengah dari iman.
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrahman menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Abi Laila Al-Kindi, dari Hajar bin Adi, Ali radiyallahu ‘anhu menceritakan kepada kami bahwa bersuci adalah separuh dari iman.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/369-370 (800-802) Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Said menceritakan kepada kami, dari Sufyan, Jami’ bin Syaddad menceritakan kepadaku, dari Al-Aswad bin Hilal, ia berkata: Mu’adz keluar bersama beberapa orang lalu berkata: Duduklah, kita beriman sejenak, kita mengingat Allah.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/378-379 (823)
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Jami’ bin Syaddad, dari Al-Aswad bin Hilal, ia berkata: Mu’adz bin Jabal berkata: Duduklah, kita beriman sejenak, yakni: kita mengingat Allah ‘azza wa jalla.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/151 (1587)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Affan menceritakan kepada kami, ia berkata: Aban menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya bin Abi Katsir menceritakan kepada kami, dari Abu Salam, dari Abu Malik Al-Asy’ari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bersuci adalah separuh dari iman, alhamdulillah memenuhi timbangan, dan subhanallah wallahu akbar memenuhi apa yang ada di antara langit dan bumi.”
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Yunus bin Abi Ishaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Jari bin Kulaib An-Nahdi, dari seorang laki-laki dari Bani Sulaim, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghitungnya di tanganku atau ia berkata di tangannya: “Tasbih adalah setengah timbangan, alhamdulillah memenuhinya, takbir memenuhi apa yang ada di antara langit dan bumi, puasa adalah setengah kesabaran, dan bersuci adalah setengah dari iman.”
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Jari bin Kulaib An-Nahdi, dari seorang laki-laki dari Bani Sulaim, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti itu.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/130-131 (1510-1512)
15 – Akhlak yang Baik adalah Kesempurnaan Iman
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdullah bin Yazid Al-Muqri menceritakan kepada kami, Said yaitu Ibnu Abi Ayyub menceritakan kepada kami, Ibnu Ajlan menceritakan kepadaku, dari Al-Qa’qa’ bin Hakim, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/348-349 (747)
Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ismail bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Khalid Al-Hadzdza’ menceritakan kepada kami, dari Abu Qilabah, dari Aisyah radiyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan paling lembut kepada keluarganya.”
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/362 (781)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya bin Said menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Amr menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Salamah menceritakan kepada kami, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik kepada istri-istri kalian.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/24-25 (1113)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ismail bin Ibrahim menceritakan kepada kami, ia berkata: Yunus menceritakan kepada kami, dari Al-Hasan, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya orang mukmin yang paling utama imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/51 (1204)
16 – Bab: Manisnya Iman
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi menceritakan kepada kami, Ayyub menceritakan kepada kami, dari Abu Qilabah, dari Anas radiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tiga perkara, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman: bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, ia mencintai seseorang tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan ia benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya darinya sebagaimana ia benci jika dinyalakan api lalu ia dilemparkan ke dalamnya.”
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/353 (759)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Abu Balj, dari Amr bin Maimun, dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa ingin merasakan rasa iman, hendaklah ia mencintai seseorang tidak mencintainya kecuali karena Allah.”
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/371 (804)
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Dawud menceritakan kepada kami, Syu’bah berkata: dari Abu Balj, ia berkata: Aku mendengar Amr bin Maimun menceritakan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa senang merasakan rasa iman, hendaklah ia mencintai hamba yang tidak mencintainya kecuali karena Allah.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/174 (1666)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i menceritakan kepadaku, ia berkata: Abdul Aziz yaitu Ad-Darawardi menceritakan kepada kami, dari Yazid yaitu Ibnul Had, dari Muhammad bin Ibrahim, dari Amir bin Sa’d, dari Abbas bin Abdul Muththalib, bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Telah merasakan rasa iman orang yang ridha dengan Allah sebagai Tuhan, dengan Islam sebagai agama, dan dengan Muhammad sebagai Rasul.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/53-54 (1217)
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Hajjaj menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Qatadah menceritakan dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tiga perkara, barangsiapa memilikinya maka ia merasakan rasa iman: orang yang mencintai seseorang tidak mencintainya kecuali karena Allah, orang yang Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, dan orang yang dilemparkan ke dalam api lebih ia sukai daripada kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya darinya.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/55 (1224)
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya menceritakan kepada kami, dari Humaid, dari Anas, ia berkata: Tiga perkara, barangsiapa memilikinya maka ia merasakan manisnya iman: orang yang Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, orang yang dilemparkan ke dalam api lalu terbakar lebih ia sukai daripada kembali kepada kekafiran, dan seorang laki-laki yang mencintai laki-laki lain tidak mencintainya kecuali karena Allah ‘azza wa jalla.
“As-Sunnah” 2/55 (1225)
17 – Bab Cinta Karena Allah dan Benci Karena Allah
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Kamil dan Yahya bin Said menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Zuhair menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Ishaq menceritakan kepada kami, dari Abul Ahwash, ia berkata: Abdullah berkata: Sesungguhnya iman itu adalah seorang laki-laki mencintai laki-laki lain padahal tidak ada hubungan kerabat dekat di antara keduanya dan tidak ada harta yang diberikannya kepadanya, tidak mencintainya kecuali karena Allah.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/51 (1205)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Rauh menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Qatadah, ia berkata: Aku mendengar Anas bin Malik menceritakan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga ia mencintai untuk orang lain apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri, dan hingga ia mencintai seseorang tidak mencintainya kecuali karena Allah.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/53 (1215)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, ia berkata: Harb bin Syaddad menceritakan kepada kami, dari Yahya bin Abi Katsir, bahwa Ya’isy bin Al-Walid menceritakan kepadanya, bahwa Az-Zubair bin Al-Awwam menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Telah merayap kepada kalian penyakit umat-umat sebelum kalian: hasad dan kebencian, dan kebencian itulah yang mencukur, aku tidak mengatakan mencukur rambut, tetapi mencukur agama. Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, atau demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku beritahu kalian tentang apa yang meneguhkan hal itu bagi kalian? Sebarkanlah salam di antara kalian.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/57 (1231)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Sulaiman, dari Dzakwan, dari Abu Said Al-Khudri, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Tidak membenci kaum Anshar seorang laki-laki yang beriman kepada Allah dan hari akhir.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/74 (1298)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/131 (1513)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Numair menceritakan kepada kami, dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Jika kalian mau, aku tunjukkan kepada kalian suatu perkara jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai.” Mereka berkata: Ya. Beliau bersabda: “Sebarkanlah salam di antara kalian.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/144 (1559)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Yazid menceritakan kepada kami, ia berkata: Said bin Abi Ayyub menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Marhum Abdurrahim bin Maimun menceritakan kepadaku, dari Sahl bin Mu’adz bin Anas Al-Juhani, dari ayahnya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa memberi karena Allah, menahan karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikahkan karena Allah, maka sungguh ia telah menyempurnakan iman.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/159 (1696)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ubaid menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Abu Shalih, dari Abdullah bin Dhamrah, ia berkata: Ka’ab berkata: Barangsiapa menegakkan shalat, menunaikan zakat, mendengar dan taat maka sungguh ia telah moderat, dan barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan karena Allah maka sungguh ia telah menyempurnakan iman.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/139 (1546)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Al-A’masy, dari Dzakwan, dari Abdullah bin Dhamrah, dari Ka’ab, ia berkata: Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan karena Allah, maka sungguh ia telah menyempurnakan iman.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwazi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman menceritakan kepada kami, ia berkata: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Ashim, dari Abu Shalih, dari Ka’ab, ia berkata: Barangsiapa yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, mendengar dan taat, maka sesungguhnya ia telah berada di pertengahan iman. Dan barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan karena Allah, maka sesungguhnya ia telah menyempurnakan iman.
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/161 (1619-1620)
Ibnu Battah berkata: Abu al-Husain menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Ubaidillah menceritakan kepada kami, ia berkata: al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Abu Shalih, dari Abdullah bin Dhamrah, ia berkata: Ka’ab berkata: Barangsiapa yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, mendengar dan taat, maka sesungguhnya ia telah berada di pertengahan iman. Dan barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan karena Allah, maka sesungguhnya ia telah menyempurnakan iman.
“Al-Ibanah” Kitab al-Iman 2/659 (580)
18 – Bab: Sifat-sifat Orang Mukmin
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Waki’ menceritakan kepada kami, Ali bin Shalih menceritakan kepada kami, dari Abu al-Muhallab, dari Ubaidullah bin Zuhr, dari Ali bin Yazid, dari al-Qasim, dari Abu Umamah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yakni Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Sesungguhnya wali-wali-Ku yang paling Aku iri padanya di sisi-Ku adalah seorang mukmin yang ringan bebannya, memiliki bagian dari shalat, berbakti dengan baik kepada Tuhannya, dan ia tersembunyi di tengah-tengah manusia; tidak ditunjuk dengan jari-jari, maka dipercepatlah kematiannya, sedikitlah warisannya, dan sedikitlah orang yang menangisinya.” Abu Abdurrahman Abdullah berkata: Aku bertanya kepada ayahku: Apa yang dimaksud dengan turatsuhu (warisannya)? Ia berkata: Mirasnya (peninggalannya).
“Az-Zuhd” halaman 17
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwazi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Hasan bin Musa menceritakan kepada kami, ia berkata: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Ali bin Zaid, dan Yunus bin Ubaid, dan Humaid, dari Anas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang mukmin adalah orang yang membuat manusia merasa aman darinya, dan orang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan keburukan. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak akan masuk surga seorang hamba yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.”
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/30 (1135)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwazi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Hasyim bin al-Qasim menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Ja’far ar-Razi menceritakan kepada kami, dari al-A’masy, dari Syaqiq bin Salamah, dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: Bukanlah orang mukmin itu pencela, pelaknat, pencaci, dan tidak pula kotor perkataannya.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Aswad bin ‘Amir menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar menceritakan kepada kami, dari al-Hasan bin ‘Amr, dari Muhammad bin Abdurrahman bin Yazid, dari ayahnya, dari Abdullah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya orang mukmin bukanlah pencela, bukan pelaknat, bukan pencaci, dan bukan pula orang yang kotor perkataannya.”
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/47-48 (1190-1119)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwazi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari Isma’il bin Abi Khalid, ia berkata: ‘Amir mengabarkan kepadaku, ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Abdullah bin ‘Amr, dan di sisinya ada beberapa orang, lalu ia melangkahi mereka untuk mendekatinya, maka mereka mencegahnya. Ia berkata: Biarkanlah dia. Maka ia mendekat hingga duduk di sisinya, lalu berkata: Beritahukanlah kepadaku tentang sesuatu yang engkau hafal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah ‘Azza wa Jalla.”
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/142-143 (1555)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwazi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami; dan Abdurrahman, dari Sufyan, maknanya satu, dari Abu Ishaq, dari Shilah bin Zufar, dari ‘Ammar, ia berkata: Tiga perkara, barangsiapa yang mengumpulkannya maka ia telah mengumpulkan iman: berlaku adil terhadap dirinya sendiri, berinfak dari kekurangan, dan menyebarkan salam kepada semua orang.
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/159 (1615)
19 – Bab: Orang Kafir Jika Masuk Islam Diperintahkan untuk Mandi
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwazi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin ‘Umar menceritakan kepada kami, dari Sa’id bin Abi Sa’id al-Maqburi, dari Abu Hurairah: bahwa Tsumamah bin Atsal, atau Atsalah, masuk Islam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bawalah dia ke kebun Bani Fulan, lalu perintahkanlah dia untuk mandi.”
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwazi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari al-Agharr, dari Khalifah bin Hushain, dari kakeknya Qais bin ‘Ashim bahwa ia masuk Islam, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkannya untuk mandi dengan air dan daun bidara.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwazi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari al-Agharr, dari Khalifah bin Hushain, dari kakeknya Qais bin ‘Ashim, ia berkata: Aku datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan aku hendak masuk Islam, lalu aku masuk Islam. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkanku untuk mandi, lalu aku mandi dengan air dan daun bidara.
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin ‘Umar menceritakan kepada kami, dari Sa’id bin Abi Sa’id al-Maqburi, dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan Tsumamah bin Atsal ketika ia masuk Islam untuk mandi dan shalat dua rakaat.
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami bahwa ia berkata: Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Ma’mar menceritakan kepada kami, dari az-Zuhri, ia berkata: Aku mendengarnya berkata tentang orang yang masuk Islam: dimulai dengan mandi.
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Hajjaj menceritakan kepada kami, ia berkata: Laits bin Sa’d menceritakan kepada kami, ia berkata: Sa’id menceritakan kepadaku bahwa ia mendengar Abu Hurairah berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim pasukan berkuda ke arah Najd, maka mereka membawa seorang laki-laki dari Bani Hanifah yang bernama Tsumamah bin Atsalah, pemimpin penduduk Yamamah. Lalu mereka mengikatnya pada salah satu tiang masjid. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar kepadanya dan berkata kepadanya: “Apa yang ada padamu wahai Tsumamah?” Ia berkata: Padaku wahai Muhammad ada kebaikan, jika engkau membunuh maka engkau membunuh orang yang ada darahnya (berharga), dan jika engkau berbuat baik maka engkau berbuat baik kepada orang yang berterima kasih, dan jika engkau menginginkan harta maka mintalah, niscaya engkau akan diberi apa yang engkau kehendaki. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membiarkannya hingga esok harinya, lalu ia berkata kepadanya seperti itu tiga kali. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Lepaskanlah Tsumamah.” Maka mereka membawanya pergi ke kebun kurma dekat masjid, lalu ia mandi, kemudian masuk ke masjid dan berkata: Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
“As-Sunnah” 2/175-176 (1667-1672)
20 – Bab: Ketaatan-ketaatan Lain yang Termasuk dalam Pengertian Iman dan Menambahnya
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Malik bin Anas berkata: Umar bin Abdul Aziz berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para penguasa sesudahnya telah menetapkan sunnah-sunnah. Mengambilnya adalah pembenaran terhadap Kitab Allah ‘Azza wa Jalla, penyempurnaan ketaatan kepada Allah, dan kekuatan atas agama Allah. Barangsiapa yang mengamalkannya dengan berpedoman padanya maka ia akan mendapat petunjuk, dan barangsiapa yang meminta pertolongan dengannya maka ia akan ditolong, dan barangsiapa yang menyelisihinya maka ia telah mengikuti jalan selain jalan orang-orang mukmin, dan Allah akan memalingkannya kepada apa yang ia palingkan.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/357 (766)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, Zuhair bin Muhammad menceritakan kepada kami, dari Shalih yaitu Ibnu Kaisan, bahwa Abdullah bin Abi Umamah mengabarkan kepadanya bahwa Abu Umamah mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kesederhanaan (dalam berpakaian) termasuk dari iman, kesederhanaan termasuk dari iman, kesederhanaan termasuk dari iman.”
Abdullah berkata: Ini adalah Abu Umamah al-Haritsi. Abdullah berkata: Aku bertanya kepada ayahku, aku berkata: Apa yang dimaksud dengan al-badadzah (kesederhanaan)? Ia berkata: Rendah hati dalam berpakaian.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/362 (780), “Az-Zuhd” halaman 12
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Abdullah bin Yazid menceritakan kepada kami, Sa’id bin Abi Ayyub menceritakan kepada kami, Abu Marhum Abdurrahim bin Maimun menceritakan kepadaku, dari Sahl bin Mu’adz bin Anas al-Juhani, dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang meninggalkan pakaian (mewah) padahal ia mampu memakainya, karena merendahkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk, hingga Dia memberikan pilihan kepadanya dari pakaian-pakaian iman mana yang ia kehendaki.”
“Az-Zuhd” halaman 49-50
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwazi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku melihat Abu Abdurrahim al-Jauzajani di sisi Abu Abdillah, dan Abu Abdillah pernah menyebutnya lalu berkata: Ayahnya adalah seorang Murji’ah, atau ia berkata: pengikut ra’yu. Adapun Abu Abdurrahim, maka ia memujinya, dan ia pernah menulis kepada Abu Abdillah dari Khurasan memintanya tentang iman.
Abu Bakar al-Marwazi berkata: Al-Husain bin Hamid an-Naisaburi menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdurrahim al-Jauzajani berkata: Aku menulis kepada Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal menanyakan kepadanya tentang apa yang menjadi hujah di negeri kami, suatu kaum dari Murji’ah dan lainnya dari ahli bid’ah. Ia berkata: Maka ia menjawabku dalam hal itu, semoga Allah meridhainya: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, semoga Allah berbuat baik kepada kami dan kepadamu dalam segala urusan, dan menyelamatkanmu dan kami dari setiap keburukan dengan rahmat-Nya.
Ia berkata: Al-Khallal mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Ubaidillah ath-Tharsusi berkata: Muhammad bin Hatim al-Maruzi menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Abdurrahim Muhammad bin Ahmad bin al-Jarrah al-Jauzajani menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Hanbal menulis kepadaku: Semoga Allah berbuat baik kepada kami dan kepadamu dalam segala urusan, dan menyelamatkanmu dan kami dari setiap keburukan dengan rahmat-Nya. Mereka berdua sepakat dari sini: Suratmu sampai kepadaku, engkau menyebutkan di dalamnya tentang apa yang disebutkan dari hujah orang yang berhujah dari kalangan Murji’ah. Ketahuilah semoga Allah merahmatimu bahwa perdebatan dalam agama bukanlah dari jalan Ahli Sunnah, dan bahwa takwil orang yang mentakwil al-Quran tanpa sunnah yang menunjukkan maknanya, atau makna apa yang dikehendaki oleh Allah ‘Azza wa Jalla, atau atsar. Al-Marwazi berkata: atau atsar dari para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, dan itu diketahui dengan apa yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau dari para sahabatnya, karena mereka menyaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan menyaksikan turunnya wahyu, dan apa yang diceritakan kepadanya oleh al-Quran, dan apa yang dimaksud dengannya, dan apa yang dikehendaki dengannya, dan apakah khusus atau umum.
Adapun orang yang mentakwilnya secara zahir tanpa dalil dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bukan salah seorang dari sahabatnya, maka ini adalah takwilnya ahli bid’ah; karena ayat kadang-kadang khusus dan hukumnya adalah hukum yang maaf (umum), dan zahirnya secara umum, namun sesungguhnya dimaksudkan untuk sesuatu yang tertentu, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah penjelas dari Kitab Allah ‘Azza wa Jalla dan apa yang dikehendaki, dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum lebih mengetahui tentang itu daripada kita karena mereka menyaksikan perkara itu dan apa yang dikehendaki dengan itu. Maka kadang-kadang ayat itu khusus, seperti firman-Nya: “Allah mensyariatkan (mewajibkan) kepadamu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu, (yaitu) bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan” (Surah An-Nisa: 11), dan zahirnya secara umum, dan bahwa siapa yang terkena sebutan anak maka baginya apa yang diwajibkan oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala. Maka datanglah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa tidak mewarisi orang muslim dari orang kafir, dan diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam namun tidak kuat (shahih) kecuali dari sahabat-sahabatnya bahwa mereka tidak mewariskan pembunuh. Maka adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam penjelas dari Kitab; bahwa ayat itu sesungguhnya dimaksudkan untuk orang muslim bukan untuk orang kafir. Dan barangsiapa yang membawanya kepada zahirnya maka ia terikat untuk mewariskan siapa yang terkena sebutan anak, baik kafir maupun pembunuh. Demikian pula hukum-hukum waris dari kedua orang tua dan selainnya, bersama ayat-ayat yang banyak yang akan memanjangkan surat. Dan sesungguhnya umat mengamalkan sunnah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan dari para sahabatnya, kecuali yang menolaknya dari ahli bid’ah dan Khawarij dan yang menyerupai mereka, maka sungguh engkau telah melihat kepada apa yang telah mereka keluarkan.
Adapun orang yang mengklaim bahwa iman adalah ikrar, maka apa yang ia katakan tentang ma’rifah (pengenalan)? Apakah ia memerlukan ma’rifah bersama ikrar? Dan apakah ia memerlukan untuk menjadi mushaqqiq (membenarkan) dengan apa yang ia ikrarkan?
Muhammad bin Hatim berkata: Dan apakah ia memerlukan untuk menjadi mushaqqiq dengan apa yang ia ketahui?
Jika ia mengklaim bahwa ia memerlukan ma’rifah bersama ikrar, maka sungguh ia telah mengklaim bahwa itu dari dua hal. Dan jika ia mengklaim bahwa ia memerlukan untuk berikrar dan membenarkan dengan apa yang ia ketahui, maka itu dari tiga hal. Jika ia mengingkari dan berkata: Tidak memerlukan ma’rifah dan tasdiq, maka sungguh ia telah mengatakan sesuatu yang besar. Demikian pula amal bersama hal-hal ini. Dan sungguh delegasi Abdul Qais bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang iman, maka beliau bersabda: “Kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan hendaklah kalian memberikan seperlima dari ghanimah.” Maka beliau menjadikan semua itu dari iman. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Malu adalah dari iman,” dan “Malu adalah cabang dari iman.”
Dan beliau bersabda: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”
Dan beliau bersabda: “Kesederhanaan adalah dari iman.”
Dan dia berkata: “Iman itu terdiri dari tujuh puluh beberapa cabang, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan yang paling tinggi adalah mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah (Tiada Tuhan selain Allah)” dengan hal-hal yang banyak di antaranya: “Keluarkan dari neraka orang yang di dalam hatinya terdapat iman seberat biji sawi, dan keluarkan dari neraka orang yang di dalam hatinya terdapat iman sebesar biji gandum”.
Dan apa yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai sifat orang munafik: “Tiga hal jika terdapat pada seseorang, maka dia adalah munafik”, dengan dalil-dalil yang banyak, dan apa yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang orang yang meninggalkan shalat. Dan dari para sahabatnya setelah beliau, kemudian apa yang digambarkan oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala di dalam kitab-Nya tentang bertambahnya iman di banyak tempat, seperti firman-Nya: “Dialah yang menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya bertambah keimanan mereka di samping keimanan mereka (yang telah ada)” (Surat Al-Fath: 4). Dan Allah berfirman: “Supaya orang-orang yang diberi kitab menjadi yakin dan supaya orang-orang yang beriman bertambah imannya” (Surat Al-Muddatstsir: 31). Dan Allah berfirman: “Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka” (Surat Al-Anfal: 2). Dan Allah berfirman: “Maka di antara mereka ada yang berkata: Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini? Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira” (Surat At-Taubah: 124).
Dan Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar” (Surat Al-Hujurat: 15). Dan Allah berfirman: “Kemudian jika mereka bertobat, melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka” (Surat At-Taubah: 5).
Dan Allah berfirman: “Kemudian jika mereka bertobat, melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama” (Surat At-Taubah: 11).
Dan Allah berfirman: “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus” (Surat Al-Bayyinah: 5).
Dan dia mesti mengatakan: Ini adalah mukmin dengan pengakuannya, dan jika dia mengakui zakat secara umum, namun tidak mengetahui bahwa setiap dua ratus dirham itu ada lima, bahwa dia mukmin, dan dia mesti mengatakan: Jika dia mengakui, kemudian mengikat sabuk di pinggangnya, dan shalat menghadap salib, dan mendatangi gereja-gereja dan sinagog-sinagog, dan melakukan semua perbuatan Ahli Kitab, kecuali bahwa dalam hal itu dia mengakui Allah, maka dia mesti menurut mereka adalah mukmin, dan hal-hal ini termasuk yang paling buruk dari konsekuensi yang mesti mereka terima. Jika mereka mengklaim bahwa mereka tidak menerima bertambahnya iman karena mereka tidak tahu apa pertambahannya, dan bahwa itu tidak terbatas, maka apa yang mereka katakan tentang para nabi Allah dan kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya, apakah mereka mengakui mereka secara umum dan mengklaim bahwa itu termasuk dari iman? Jika mereka mengatakan: Ya. Dikatakan: Apakah kalian menemukan mereka atau mengetahui jumlah mereka? Bukankah mereka hanya mengakui mereka secara umum kemudian berhenti pada jumlah mereka, maka demikian juga bertambahnya iman wahai saudaraku, maka berpegang teguhlah, dan jangan tertipu darinya dengan keraguan-keraguan, karena sesungguhnya kaum itu berada di jalan yang tidak benar. Al-Marrudzi berkata: Abu Ali berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdurrahim: Pada tahun berapa itu terjadi? Dia berkata: Pada tahun dua ratus dua puluh.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/16-20 (1103)
Al-Khallal berkata: Abu Bakr Al-Marrudzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Husyaim menceritakan kepada kami, dia berkata: Yunus menceritakan kepada kami, dari Al-Hasan. Dan Abu Hayyan, dari Asy-Sya’bi. Dan Mughirah, dari Ibrahim. Bahwa mereka biasa mengatakan tentang orang yang membunuh seorang mukmin, maka dia harus memerdekakan budak yang sudah baligh, dan memerdekakan anak kecil mencukupi dalam kafarat zhihar dan sumpah.
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Abu Hayyan, dari Asy-Sya’bi. Dan Hisyam, dari Al-Hasan, keduanya berkata: Apa yang ada dalam Al-Quran tentang budak maka tidak boleh, kecuali yang telah berpuasa dan shalat.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/52 (1208-1209)
Al-Khallal berkata: Abu Bakr Al-Marrudzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Ya’la bin Ubaid menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dia berkata: Salman Al-Khair berkata: Wahai anak ummu Hujiyyah, seandainya terputus-putus anggota badanmu, kamu tidak akan mencapai iman.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/139-140 (1547)
Al-Khallal berkata: Abu Bakr Al-Marrudzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Ibrahim, dari Alqamah, dari Abdullah, dia berkata: Tidak akan masuk surga seorang pun yang di dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji sawi, dan tidak akan masuk neraka seorang pun yang di dalam hatinya ada iman sebesar biji sawi.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/150 (1586)
Al-Khallal berkata: Abu Bakr Al-Marrudzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Manshur, dari Salim bin Abi Al-Ja’d, dari Ibnu Umar, dia berkata: Tidaklah seorang hamba mencapai hakikat iman hingga manusia menganggapnya bodoh dalam urusan agama mereka.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/159 (1614)
21 – Thiyarah (Merasa Sial) Termasuk Kesyirikan
Abu Dawud berkata: Aku mendengar Ahmad mengatakan tentang hadits: “Biarkanlah burung-burung pada tempatnya”, dia berkata: Salah seorang dari mereka -yaitu orang-orang Jahiliyyah- hendak melakukan suatu urusan, dia menerbangkan burung, yaitu: bertafattul (mengambil pertanda), jika datang dari kanannya, begini, dan jika datang dari kirinya dia mengatakan: begini, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Biarkanlah burung-burung” -yaitu: pada tempatnya, yaitu: sesungguhnya mereka tidak membahayakan kalian.
“Masail Abi Dawud” (1836)
Abdullah berkata: Aku bertanya kepada ayahku tentang anak burung yang diambil dari sarangnya, apakah boleh?
Dia berkata: Hadits: “Biarkanlah burung-burung pada tempatnya”, sebagian mereka berkata: Orang-orang Arab jika salah seorang dari mereka hendak keluar, menerbangkan burung, jika mengambil -yaitu: dalam perjalanan- dia mengambil darinya, sepertinya dari thiyarah.
“Masail Abdullah” (1614)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Ghailan menceritakan kepada kami, Al-Mufadhdhal -yaitu Ibnu Fadhalah- menceritakan kepada kami, Fadhalah menceritakan kepadaku, Ayyasy bin Abbas menceritakan kepadaku, dari Imran bin Abdurrahman Al-Qurasyi, dari Abu Kharrasy Al-Hudzali bahwa dia berkata: Aku mendengar Fadhalah bin Ubaid Al-Anshari berkata: Barangsiapa ditolak oleh thiyarah dari sesuatu maka sungguh dia telah mendekati kesyirikan.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/354-355 (762)
Dia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Salamah bin Kuhail, dari Isa Al-Asadi dari Zirr, dari Abdullah radiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Thiyarah itu termasuk kesyirikan, tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakal”.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/360 (775)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abdullah bin Ilatsah menceritakan kepadaku, dari Abdul Karim Al-Jazari, dari Ziyad bin Abi Maryam, dia berkata: Sa’d bin Malik keluar ke sebuah pasukan dari pasukan kaum muslimin, tiba-tiba ada rusa betina yang melahirkan, maka seorang laki-laki dari sahabatnya datang kepadanya lalu berkata kepadanya: Kembalilah kepada amir. Maka Sa’d berkata: Dari apa engkau merasa sial? Apakah dari tanduknya ketika ia datang, ataukah dari ekornya ketika ia pergi?! Berjalanlah, karena sesungguhnya thiyarah adalah kesyirikan.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/361 (777)
Al-Khallal berkata: Abu Bakr Al-Marrudzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Salamah bin Kuhail, dari Isa bin Ashim, dari Zirr bin Hubaisy, dari Abdullah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Thiyarah adalah kesyirikan, thiyarah adalah kesyirikan, tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakal”.
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Habib bin Abi Tsabit, dari Urwah bin Amir Al-Qurasyi, dia berkata: Thiyarah disebutkan di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda: “Yang paling baik darinya adalah fa’l (pertanda baik), dan tidak menolak seorang muslim, maka jika salah seorang dari kalian melihat dari itu apa yang dibenci, hendaklah dia mengucapkan: Ya Allah, tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Engkau, dan tidak ada yang menolak keburukan kecuali Engkau, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Mu”.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/109-902 (1404-1405)
22 – Apa yang Datang tentang Ruqyah (Jampi-jampi) dan Tamimah (Jimat)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Kamil menceritakan kepada kami, Zuhair menceritakan kepada kami, dari Amr bin Qais, dari Al-Minhal, dari Sair bin Ummi Abi Ubaidah, dari Abdullah, dia berkata: Tamimah, ruqyah dan tiwalah adalah kesyirikan.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/365 (790)
Dan dia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Amr bin Murrah, dari Yahya bin Al-Jazzar, dari keponakan Zainab, dari Zainab istri Abdullah, dari Abdullah radiyallahu ‘anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ruqyah, tamimah dan tiwalah adalah kesyirikan”.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/366 (792)
Al-Khallal berkata: Abu Bakr Al-Marrudzi berkata: Dan Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Hajjaj menceritakan kepada kami, dia berkata: Syarik menceritakan kepada kami, dari Hilal bin Humaid, dari Abdurrahman bin Abi Laila, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menggantungkan tamimah dan ikatan ruqyah maka dia berada pada cabang dari kesyirikan”.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/82 (1326)
Al-Khallal berkata: Abu Bakr Al-Marrudzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Ibrahim, dari Abu Ubaidah, dia berkata: Abdullah masuk ke tempat istrinya, lalu dia meraba dadanya, tiba-tiba di lehernya ada benang yang telah digantungkan, maka dia berkata: Apa ini? Maka dia berkata: Sesuatu yang diruqyah untukku di dalamnya dari demam. Maka dia mencabutnya, dan berkata: Sungguh keluarga Abdullah telah menjadi kaya dari kesyirikan.
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Abu Zhibyan, dia berkata: Hudzaifah masuk ke tempat seorang laki-laki dari suku Abs untuk menjenguknya, maka dia meraba lengannya, tiba-tiba di dalamnya ada benang, dia berkata: Apa ini? Dia berkata: Sesuatu yang diruqyah untukku di dalamnya. Maka dia memotongnya, dan berkata: Seandainya kamu mati sedangkan itu ada padamu, aku tidak akan menshalatimu.
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dia berkata: Utsman Asy-Syahham menceritakan kepadaku, dari Abul Hasan, dia berkata: Abul Hasan -yaitu Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu biasa mengatakan: Sesungguhnya banyak dari tamimah dan ruqyah ini adalah kesyirikan kepada Allah, maka jauhilah.
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Husyaim menceritakan kepada kami, dia berkata: Manshur mengabarkan kepada kami, dari Al-Hasan, dari Imran bin Hushain, bahwa dia melihat di tangan seorang laki-laki cincin dari kuningan, maka dia berkata: Apa ini? Dia berkata: Dari wahinah (kelemahan). Dia berkata: Maka dia berkata: Adapun itu tidak akan menambahimu kecuali kelemahan, dan seandainya kamu mati sedangkan kamu meyakini bahwa itu bermanfaat bagimu; sungguh kamu mati bukan di atas agama fitrah.
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdurrahman menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Al-A’masy, dari Abu Zhibyan; bahwa Hudzaifah masuk ke tempat seorang laki-laki untuk menjenguknya, maka dia melihatnya telah meletakkan di lengannya benang yang telah diruqyah di dalamnya, dia berkata: Maka dia berkata: Apa ini? Dia berkata: Dari demam. Maka dia berdiri dengan marah dan berkata: Seandainya kamu mati, aku tidak akan menshalatimu.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/162-163 (1623-1624)
23 – Tentang Peramal, Dukun, dan Sihir
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Ja’far yaitu Ibnu Barqan menceritakan kepada kami dari Maimun bin Mihran, dia berkata: Tiga perkara tinggalkanlah: mencela sahabat-sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, melihat bintang-bintang (astrologi), dan memperdebatkan takdir.
“Fadhail ash-Shahabah” 1/70-71 (19)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdurrahman menceritakan kepada kami, dia berkata: Hammad yaitu Ibnu Salamah menceritakan kepada kami dari Hakim al-Atsram, dari Abu Tamimah, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa mendatangi wanita yang sedang haid atau wanita di duburnya atau dukun lalu membenarkan perkataannya, maka dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan Allah kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam”.
“As-Sunnah” al-Khallal 2/62 (1251)
Al-Khallal berkata: Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdullah bin Numair menceritakan kepada kami, dia berkata: Hasan yaitu Ibnu Amru menceritakan kepada kami dari Fudhail, dari Ibrahim, dia berkata: Abdullah berkata: Barangsiapa mendatangi dukun atau tukang sihir lalu membenarkan perkataannya, maka dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan Allah.
Al-Khallal berkata: Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Yahya menceritakan kepada kami dari Sufyan, dia berkata: Sulaiman menceritakan kepada kami dari Ibrahim, dari Hammam bin al-Harits, dari Abdullah, dia berkata: Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal lalu membenarkan perkataannya, maka dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.
“As-Sunnah” al-Khallal 2/103 (1409)
Al-Khallal berkata: Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, dia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Salamah bin Kuhail, dari Hibbah al-Urani, dari Abdullah, dia berkata: Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal lalu membenarkan perkataannya, maka dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.
“As-Sunnah” al-Khallal 75/2-76 (1301-1302)
Al-Khallal berkata: Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Ismail menceritakan kepada kami, dia berkata: Yunus dan Sa’id bin Yazid menceritakan kepada kami dari Hasan, dia berkata: Ali berkata: Barangsiapa mendatangi peramal lalu membenarkan perkataannya, maka dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan Allah kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
“As-Sunnah” al-Khallal 2/76 (1304)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Rauh menceritakan kepada kami, dia berkata: Auf menceritakan kepada kami dari Khallas, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mendatangi peramal atau dukun lalu membenarkan perkataannya, maka dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad”.
“As-Sunnah” al-Khallal 2/100 (1398)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami dari Auf, dia berkata: Khallas menceritakan kepada kami dari Abu Hurairah, dan Hasan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal lalu membenarkan perkataannya, maka dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ‘alaihis salam”.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dia berkata: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami dari Hakim al-Atsram, dari Abu Tamimah al-Hujaimi, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mendatangi peramal atau dukun lalu membenarkan perkataannya, maka dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ‘alaihis salam”.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami dari Ubaidullah, dia berkata: Nafi’ mengabarkan kepadaku dari Shafiyyah, dari sebagian istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa mendatangi peramal atau dukun lalu membenarkan perkataannya, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari”.
“As-Sunnah” al-Khallal 2/100-101 (1400-1402)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami dari Abu Ishaq, dari Hubairah, dari Abdullah, dia berkata: Barangsiapa mendatangi tukang sihir atau dukun atau peramal lalu membenarkan perkataannya, maka dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ‘alaihis salam.
“As-Sunnah” al-Khallal 2/103 (1407), 2/124 (1484)
Al-Khallal berkata: Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Kamil menceritakan kepada kami, dia berkata: Hammad menceritakan kepada kami, dia berkata: Hakim al-Atsram menceritakan kepada kami dari Abu Tamimah al-Hujaimi, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mendatangi wanita yang sedang haid atau wanita di duburnya atau dukun lalu membenarkannya, maka dia telah berlepas diri dari apa yang diturunkan kepada Muhammad”.
“As-Sunnah” al-Khallal 2/107 (1427)
Al-Atsram berkata: Aku mendengar Abu Abdullah ditanya tentang seorang lelaki yang mengaku bahwa dia dapat membuka sihir, maka dia berkata: Sebagian orang telah memberikan keringanan dalam hal itu.
Dikatakan kepada Abu Abdullah: Sesungguhnya dia meletakkan air dalam panci dan menghilang di dalamnya dan melakukan begini begitu? Maka dia mengibaskan tangannya seperti orang yang mengingkari, dan berkata: Aku tidak tahu.
“Ma’unah Ulin Nuha” 11/99
24 – Mencela Muslim adalah Kefasikan dan Membunuhnya adalah Kekufuran
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Shafwan bin Isa menceritakan kepada kami, Tsaur bin Yazid menceritakan kepada kami dari Abu Aun, dari Abu Idris, dia berkata: Aku mendengar Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu berkata: Dan dia adalah orang yang sedikit meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap dosa mudah-mudahan Allah mengampuninya kecuali orang yang mati dalam keadaan kafir, atau orang yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja”.
“As-Sunnah” Abdullah 1/349-350 (749)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ dan Abdurrahman menceritakan kepada kami dari Sufyan, dari Zubaid, dari Abu Wail, dari Abdullah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mencela muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran”.
Dan dia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami dari Habib bin asy-Syahid, dan Hasan menceritakan kepada kami dari Abu al-Ahwash, dari Abdullah, dia berkata: Mencela muslim atau mukmin adalah kefasikan atau kefasikan, dan membunuhnya atau membunuhnya adalah kekufuran.
Dan dia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami dari at-Taimi, dari Abu Amru asy-Syaibani, dari Abdullah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Mencaci atau mencela muslim atau mukmin adalah kefasikan atau kefasikan, dan membunuhnya atau membunuhnya adalah kekufuran.
“As-Sunnah” Abdullah 1/363-364 (783-785)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwadzi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Yazid menceritakan kepada kami, dia berkata: Sa’id menceritakan kepada kami dari Qatadah, dari Hasan, dari Abu Musa al-Asy’ari, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Dua orang muslim mana saja yang saling berhadapan dengan pedang mereka lalu salah satunya membunuh temannya, maka keduanya di neraka”. Dikatakan: Wahai Rasulullah, ini si pembunuh, lalu bagaimana dengan yang terbunuh?! Beliau bersabda: “Sesungguhnya dia ingin membunuh temannya”.
“As-Sunnah” al-Khallal 2/48 (1192)
Al-Khallal berkata: Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, dia berkata: Ma’mar menceritakan kepada kami dari az-Zuhri, dari Atha’ bin Yazid al-Laitsi, dari Ubaidullah bin Adi bin al-Khiyar, bahwa al-Miqdad bin al-Aswad menceritakan kepadanya, dia berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku dan seorang lelaki musyrik berselisih, dia memukulku dan memotong tanganku, ketika aku mengayunkan pedang kepadanya untuk memukulnya dia berkata: Laa ilaaha illallah. Apakah aku membunuhnya atau membiarkannya? Beliau bersabda: “Tidak, tetapi kamu biarkan dia”. Dia berkata: Aku berkata: Meskipun dia memotong tanganku. Beliau bersabda: “Meskipun dia melakukan itu”. Maka aku mengulanginya dua atau tiga kali, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kamu membunuhnya setelah dia mengucapkan Laa ilaaha illallah, maka kamu seperti dia sebelum dia mengucapkannya, dan dia sepertimu sebelum kamu membunuhnya”.
Al-Khallal berkata: Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, dia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Manshur, dari Rib’i bin Hirasy, dari Abu Bakrah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sesungguhnya beliau bersabda: “Apabila dua muslim, salah satunya menyerang saudaranya dengan senjata, maka keduanya berada di tepi jurang neraka Jahannam, jika salah satunya membunuh temannya, maka keduanya masuk ke dalamnya bersama-sama”.
Al-Khallal berkata: Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Ismail bin Ibrahim menceritakan kepada kami dari Abdurrahman bin Ishaq, dari az-Zuhri, dari Atha’ bin Yazid, dari Ubaidullah bin Adi bin al-Khiyar, dari al-Miqdad bin Amru, dia berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seorang lelaki yang memukulku dengan pedang lalu memotong tanganku, kemudian dia berlindung dariku dengan pohon, lalu dia berkata: Laa ilaaha illallah. Apakah aku membunuhnya? Beliau bersabda: “Tidak”. Dia berkata: Maka aku mengulanginya dua atau tiga kali. Beliau bersabda: “Tidak; kecuali kamu seperti dia sebelum dia mengucapkan apa yang dia ucapkan, dan dia sepertimu sebelum kamu melakukan apa yang kamu lakukan”.
Al-Khallal berkata: Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dia berkata: Salamah bin Nubaith menceritakan kepada kami dari adh-Dhahhak tentang ayat: “Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja” (Surat An-Nisa: 93), dia berkata: Tidak ada yang menasakhnya sejak diturunkan.
Al-Khallal berkata: Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, dia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami dari al-Mughirah bin an-Nu’man, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja”, tidak ada yang menasakhnya.
“As-Sunnah” al-Khallal 2/57-58 (1232-1236)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwadzi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami dari Sufyan, dari Abu Hushin, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, dia berkata: Aku tidak mengetahui adanya taubat bagi pembunuh kecuali memohon ampunan.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dia berkata: Salamah bin Nubaith menceritakan kepada kami dari adh-Dhahhak bin Muzahim, dia berkata: Pembunuh mukmin tidak ada taubat baginya. Dan dia berkata: Aku bertaubat dari syirik lebih aku cintai daripada aku bertaubat dari membunuh mukmin.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami dari Mutharrif bin Tharif al-Haritsi, dari Abu as-Safar Sa’id bin Ahmad ats-Tsauri yaitu Tsaur Hamdan, dari Najiyah, dari Ibnu Abbas, dia berkata: Keduanya adalah dua perkara yang membingungkan: syirik dan pembunuhan.
“As-Sunnah” al-Khallal 2/59 (1238-1240)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Harun bin Sa’d Al-‘Ijli, dari Abu Ad-Dhuha, ia berkata: Aku berada di sisi Ibnu Umar di kemahnya, lalu seorang laki-laki bertanya kepadanya tentang seseorang yang membunuh orang mukmin dengan sengaja. Ibnu Umar membaca: “Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya” (Surat An-Nisa ayat 93), lalu perhatikanlah siapa yang kamu bunuh.
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Ibnu Najih, dari Kardam, seorang laki-laki datang kepada Ibnu Abbas, lalu bertanya kepadanya tentang seseorang yang membunuh orang mukmin dengan sengaja. Maka ia berkata: Apakah ia mampu untuk tidak mati? Ia menjawab: Tidak.
Ia berkata: Apakah ia mampu menghidupkannya? Ia menjawab: Tidak.
Ia berkata: Apakah ia mampu mencari lubang di bumi? Ia menjawab: Tidak.
Ia berkata: Lalu ia mendatangi Abu Hurairah dan Ibnu Umar, maka keduanya mengatakan kepadanya seperti itu.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/60 (1242-1243)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Numair menceritakan kepada kami, dari Ash-Shalt, dari Umar, dari Ibnu Mas’ud ia berkata: Mencaci orang mukmin adalah kefasikan, dan menyerangnya adalah kekufuran.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Ishaq menceritakan dari Abu Al-Ahwash, dari Abdullah bahwa ia berkata: Ketahuilah bahwa membunuh seorang muslim adalah kekufuran, dan mencacinya adalah kefasikan, tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot muslim lainnya lebih dari tiga hari.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ismail menceritakan kepada kami, ia berkata: Sulaiman At-Taimi menceritakan kepada kami, dari Abu Amr Asy-Syaibani ia berkata: Ibnu Mas’ud berkata: Mencaci – atau ia berkata: cacian – terhadap seorang muslim – atau ia berkata: mukmin – adalah kefasikan, dan memeranginya adalah kekufuran.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/73 (1294-1296)
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ismail menceritakan kepada kami, ia berkata: Ghalib menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Al-Hasan: Sesungguhnya engkau berkata tentang penduduk Babel: Barangsiapa terbunuh di antara mereka maka ke neraka, dan barangsiapa kembali dari mereka, ia kembali tanpa taubat? Ia berkata: Itu adalah hadits yang sampai kepada kami, maka kami mengatakannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian kembali setelahku menjadi kafir, sebagian kalian memukul leher sebagian yang lain”. Jika seorang laki-laki keluar bersama penduduk Babel, kemudian kembali dan menyesal, lalu berkata: Aku akan mendatangi Romawi dan bersiaga. Apakah engkau melarangnya dari itu? Ia berkata: Tidak.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/80-81 (1320)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ dan Abdurrahman menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Zubaid, dari Abu Wa’il, dari Abdullah ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mencaci seorang muslim adalah kefasikan, dan memeranginya adalah kekufuran”.
Abdurrahman berkata dalam haditsnya: Aku bertanya kepada Abu Wa’il: Apakah engkau mendengar Ibnu Mas’ud menceritakannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam? Ia berkata: Ya.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, Sufyan berkata: Aku bertanya kepada Zubaid: Apakah engkau mendengar dari Abu Wa’il? Ia berkata: Ya.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Ismail menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Abdullah, seperti itu.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/110-111 (1437-1439)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Husyaim menceritakan kepada kami, dari Ya’la bin Atha’, dari Mujahid ia berkata: Aku tidak hadir di sisi Ibnu Umar, lalu ketika aku datang, aku mendatanginya setelah itu, maka ia berkata kepadaku: Tahukah engkau bahwa manusia telah kafir setelahmu – maksudnya: sebagian mereka membunuh sebagian yang lain.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/111 (1441)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya menceritakan kepada kami, dari Syu’bah ia berkata: Zubaid menceritakan kepadaku, dari Abu Wa’il, dari Abdullah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ia bersabda: “Mencaci seorang muslim – atau: mukmin – adalah kefasikan, dan memeranginya adalah kekufuran”. Aku bertanya kepada Abu Wa’il: Apakah engkau mendengarnya dari Abdullah? Ia berkata: Ya.
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Manshur, dari Abu Wa’il, dari Abdullah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ia bersabda: “Mencaci seorang muslim adalah kefasikan, dan memeranginya adalah kekufuran”.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/111-112 (1443-1444)
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Ma’mar menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Umar bin Sa’d, ia berkata: Sa’d bin Abi Waqqash menceritakan kepada kami, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Memerangi seorang muslim adalah kekufuran, dan mencacinya adalah kefasikan, dan tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot saudaranya lebih dari tiga hari”.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/112 (1446)
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Numair menceritakan kepada kami, ia berkata: Fudhail – yaitu: Ibnu Ghazwan – menceritakan kepada kami, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada haji Wada’: “Janganlah kalian kembali setelahku menjadi kafir, sebagian kalian memukul leher sebagian yang lain”.
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waqid bin Muhammad bin Zaid menceritakan kepada kami, bahwa ia mendengar ayahnya menceritakan dari Abdullah bin Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa ia bersabda pada haji Wada’: “Celakalah kalian – atau ia berkata: kemalangan bagi kalian – janganlah kalian kembali setelahku menjadi kafir, sebagian kalian memukul leher sebagian yang lain”.
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, ia berkata: Qurrah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad menceritakan kepada kami, dari Abdurrahman bin Abi Bakrah, dari seorang laki-laki lain – ia di hatiku lebih utama dari Abdurrahman bin Abi Bakrah – dari Abu Bakrah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah kepada manusia di Mina, lalu bersabda: “Janganlah kalian kembali setelahku menjadi kafir, sebagian kalian memukul leher sebagian yang lain”.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/119-120 (1463-1465)
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Sulaiman, ia berkata: Aku mendengar Abu Ad-Dhuha menceritakan dari Masruq, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah kepada manusia pada haji Wada’, lalu bersabda: “Janganlah kalian kembali setelahku menjadi kafir, sebagian kalian memukul leher sebagian yang lain”.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah bin Ali bin Mudarrik menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Zur’ah bin Amr bin Jarir menceritakan dari Jarir, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata pada haji Wada’ kepada Jarir: “Mintalah manusia untuk diam”. Ia berkata: Dan ia bersabda: “Janganlah kalian kembali setelahku menjadi kafir, sebagian kalian memukul leher sebagian yang lain”.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/120-121 (1468-1469)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Israil dan Syarik menceritakan kepada kami, dari Simak bin Harb, dari Jabir bin Samurah, bahwa seorang laki-laki membunuh dirinya sendiri, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menshalatkannya.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/163 (1625)
25 – Larangan Berpaling dari Bapak-Bapak
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Hajjaj menceritakan kepada kami, Muhammad bin Thalhah menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Ma’mar, dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu ia berkata: Kekufuran kepada Allah adalah mengaku kepada nasab yang tidak dikenal, dan kekufuran kepada Allah adalah menyangkal nasab meskipun tipis.
Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdul A’la menceritakan kepada kami, dari Yunus, dari Al-Hasan, bahwa Abu Bakar radhiallahu ‘anhu berkata: Janganlah kalian berpaling dari bapak-bapak kalian, maka sesungguhnya itu adalah kekufuran dari kalian.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/350-351 (750-751)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Abdullah bin Yazid menceritakan kepada kami, Haiwah menceritakan kepada kami, Ja’far bin Rabi’ah Al-Qurasyi menceritakan kepada kami, ‘Arak bin Malik memberitahukan kepadanya, bahwa ia mendengar Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian berpaling dari bapak-bapak kalian, maka barangsiapa berpaling dari bapaknya, maka sesungguhnya itu adalah kekufuran”.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/360 (774)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Ma’mar menceritakan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari ‘Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Utbah, dari Ibnu Abbas, dari Umar bahwa ia berkata: Kami biasa membaca: “Dan janganlah kalian berpaling dari bapak-bapak kalian, maka sesungguhnya itu adalah kekufuran dari kalian. Atau: Sesungguhnya kekufuran dari kalian adalah kalian berpaling dari bapak-bapak kalian”.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/61-62 (1250)
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Husyaim menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Murrah, dari Abu Ma’mar ia berkata: Abu Bakar radhiallahu ‘anhu berkata: Kekufuran kepada Allah adalah melepaskan diri dari nasab meskipun tipis, kekufuran kepada Allah Azza wa Jalla adalah mengaku kepada nasab yang tidak dikenal.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/120 (1466)
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan ia berkata: Zakariya Al-‘Abdi menceritakan kepada kami, dari Abu Wa’il ia berkata: Aku mendengar Abdullah berkata: Kekufuran kepada Allah adalah melepaskan diri dari nasab meskipun tipis, kekufuran kepada Allah adalah jika mengaku nasab yang tidak dikenal.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/136 (1529)
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Zakariya – dari penduduk Rayy – ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Wa’il tentang seorang laki-laki yang mengubah nama ayahnya dalam diwan – Abdurrahman berkata: Atau semacam ini – ia berkata: Aku mendengar Abdullah – atau ia berkata: Abdullah berkata – Kekufuran kepada Allah Azza wa Jalla adalah orang yang mengaku kepada nasab yang tidak dikenal, dan kekufuran kepada Allah adalah orang yang melepaskan diri dari nasab meskipun tipis.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/136-137 (1533)
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Numair menceritakan kepada kami, ia berkata: Sa’d – yaitu: Ibnu Sa’id – menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Sa’id bin Al-Musayyab berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kekufuran adalah orang yang mengaku kepada selain nasabnya, atau meninggalkan sesuatu dari nasabnya meskipun kecil”.
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Rauh menceritakan kepada kami, ia berkata: Habib – yaitu: Ibnu Asy-Syahid – menceritakan kepada kami, dari Maimun bin Mihran, dari Abu ‘Adiy Al-Kindi, ia berkata: Umar bin Al-Khattab radhiallahu ‘anhu berkata: Wahai Zaid bin Tsabit, tidakkah engkau tahu bahwa kami dulu membaca di antara apa yang kami baca: “Janganlah kalian menyangkal bapak-bapak kalian; maka sesungguhnya itu adalah kekufuran?” Ia berkata: Benar.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/174 (1664-1665)
26 – Perkataan Seseorang kepada Saudaranya: Wahai Kafir
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marrudzi bercerita kepada kami: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Husain bin Muhammad menceritakan kepada kami, ia berkata: Yazid -yaitu Ibnu Atha’- menceritakan kepada kami, dari Mutharrif, dari Abu as-Safar, dari Mu’awiyah bin Suwaid bin Muqarrin, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa saja yang berkata kepada saudaranya: Wahai kafir, maka salah satu dari keduanya akan menanggungnya pada hari kiamat.”
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Hajjaj menceritakan kepada kami, ia berkata: Syarik menceritakan kepada kami, dari Ashim, dari Abu Wa’il, dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: Apabila seorang Muslim berkata kepada saudaranya: Engkau musuhku, maka salah satu dari keduanya telah keluar dari Islam.
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/70 (1283-1284)
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Dinar, ia berkata: Aku mendengar Ibnu Umar menceritakan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Apabila seseorang berkata kepada saudaranya: Wahai kafir, maka salah satu dari keduanya akan menanggungnya. Jika memang benar seperti yang ia katakan, (maka ia kafir), dan jika tidak, maka (kafir) akan kembali kepada yang lain.”
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Mu’awiyah bin Amr menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Ishaq menceritakan kepada kami, dari al-A’masy, dari Amarah bin Umair, dari Abdurrahman bin Yazid, ia berkata: Aku mendengar Abdullah: Apabila seseorang berkata kepada saudaranya: Engkau musuhku, maka salah satu dari keduanya telah kafir.
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Hasan bin Musa menceritakan kepada kami, ia berkata: Hammad menceritakan kepada kami, dari Abu al-Muhzim, ia berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata: Tidak akan berkumpul di surga dua orang: seorang yang berkata kepada saudaranya: Wahai kafir.
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Ismail, dari Qais, dari Abdullah: Apabila seseorang berkata kepada temannya: Engkau musuhku, maka salah satu dari keduanya telah keluar dari Islam.
Qais berkata: Maka Abu Juhaifah menceritakan kepadaku bahwa Abdullah berkata: Kecuali orang yang bertaubat.
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/122-123 (1475-1478)
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa saja yang berkata kepada saudaranya: Wahai kafir, maka salah satu dari keduanya akan menanggungnya.”
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Amr bin Murrah bahwa ia mendengar Abu Wa’il berkata: Aku mendengar Abdullah bin Mas’ud berkata: Apabila seseorang berkata kepada orang lain: Engkau musuhku, maka salah satu dari keduanya telah kafir terhadap Islam.
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/125 (9/148-1489)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, lalu ia berkata: Hammad bin Usamah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ubaidullah menceritakan kepada kami, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengkafirkan saudaranya, maka salah satu dari keduanya akan menanggungnya.”
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdush-Shamad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Husain menceritakan kepada kami, dari Ibnu Buraidah, ia berkata: Yahya bin Ya’mar menceritakan kepadaku bahwa Abu al-Aswad menceritakan kepadanya dari Abu Dzar bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seseorang menisbatkan dirinya kepada selain ayahnya padahal ia mengetahuinya, melainkan ia kafir. Dan barangsiapa mengaku sesuatu yang bukan miliknya, maka ia bukan termasuk golongan kami dan hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka. Dan barangsiapa menyeru seseorang dengan (panggilan) kafir, atau mengatakan: musuh Allah, padahal ia tidak demikian, melainkan (tuduhan itu) akan kembali kepadanya.”
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/127-128 (1504-1505)
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdush-Shamad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Husain menceritakan kepadaku, ia berkata: Ibnu Buraidah berkata: Yahya bin Ya’mar menceritakan kepadaku bahwa Abu al-Aswad menceritakan kepadanya dari Abu Dzar, bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak boleh seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan dan tidak boleh menuduhnya dengan kekafiran, melainkan (tuduhan itu) akan kembali kepadanya jika temannya tidak demikian.”
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/141 (1552)
27 – Dosa Peminum Khamr, Orang yang Menyebut-nyebut Pemberian, Durhaka kepada Orang Tua, dan Orang yang Sombong
Abdullah berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Manshur, dari Salim bin Abi al-Ja’d, dari Nubayt bin Syarith, dari Jaban, dari Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang menyebut-nyebut pemberian, orang yang durhaka (kepada orang tua), dan pecandu khamr.”
Abu Abdurrahman berkata: Nubayt bin Syarith adalah ayah dari Salamah bin Nubayt, dan Syu’bah cadel sehingga ia berkata: Syubayth bin Syarith.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/381 (829)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari an-Nu’man bin Salim, dari Nafi’ bin Jubair bin Muth’im, dari Abdullah bin Amr bahwa ia berkata: Barangsiapa minum khamr lalu mabuk karenanya, maka sholatnya tidak diterima selama empat puluh malam.
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/63-64 (1256)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Zubaid al-Iyami, dari Khaitsamah, ia berkata: Aku berada di samping Abdullah bin Amr, dan tidak ada orang antara aku dan dirinya, atau ia berkata: antara aku dan dirinya ada seseorang, lalu mereka menyebut-nyebut khamr, maka seakan-akan seseorang meremehkannya dan berkata: Itu bukan termasuk dosa-dosa besar. Maka Abdullah berkata: Demi Allah, tidaklah seseorang meminum khamr di pagi hari melainkan ia tetap dalam keadaan musyrik hingga sore.
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/64 (1258)
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ubaid menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Awwam menceritakan kepada kami, dari al-Musayyab bin Rafi’ al-Kahili, dari Abdullah bin Amr, ia berkata: Orang yang ketagihan khamr seperti penyembah Lata dan Uzza.
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/66 (1265)
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yazid menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ishaq menceritakan kepada kami, dari Yahya bin Abbad bin Abdullah bin az-Zubair, dari ayahnya, dari Aisyah. Ia berkata: Ketika aku berada di sisinya, tiba-tiba seorang laki-laki yang telah dicambuk karena khamr lewat di pintunya, maka aku mendengar keributan orang-orang, lalu ia berkata: Apa ini? Aku berkata: Seorang laki-laki yang tertangkap dalam keadaan mabuk karena khamr lalu dicambuk. Maka ia berkata: Subhanallah! Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah peminum itu ketika ia minum dalam keadaan mukmin -yakni khamr-, dan tidaklah pencuri itu ketika ia mencuri dalam keadaan mukmin, dan tidaklah perampas itu merampas rampasan yang berharga -dan ia pernah mengatakan: berharga- yang manusia mengangkat pandangan dan kepala mereka kepadanya dalam keadaan mukmin, maka jauhilah dan jauhilah.”
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yazid menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad -yaitu Ibnu Ishaq- menceritakan kepada kami, dari Yazid bin Abi Habib, dari Ba’jah -yaitu al-Juhani- dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan hadits yang serupa.
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/67-68 (1271-1272)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Fudhail bin Ghazwan menceritakan kepada kami, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Tidaklah ia meminum khamr ketika ia minum dalam keadaan mukmin.
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Hisyam menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Aisyah, ia berkata: Tidaklah peminum itu ketika ia minum dalam keadaan mukmin -yakni khamr.
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/68 (1274-1275)
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ dan Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami -maknanya satu- keduanya berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari al-Hakam, dari Mujahid, dari Abdullah bin Amr, ia berkata: Barangsiapa meminum khamr di pagi hari, ia tetap dalam keadaan musyrik, dan jika ia mabuk karenanya, maka sholatnya tidak diterima darinya selama empat puluh hari, maka jika ia meninggal dalam masa itu, ia meninggal sebagai kafir.
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Ashim bin Abi an-Nujud, dari Dzakwan Abu Shalih, dari Abdullah bin Amr, ia berkata: Pecandu khamr seperti orang yang menyembah Lata dan Uzza.
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Zubaid, dan Salamah bin Kuhail, dari Khaitsamah, dari Abdullah bin Amr, ia berkata: Barangsiapa meminum khamr di pagi hari, ia tetap dalam keadaan musyrik.
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/69 (1277-1279)
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi berkata: Dan Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ismail menceritakan kepada kami, dari Laits, dari Thalhah, ia berkata: Masruq berkata: Peminum khamr seperti penyembah Lata dan Uzza, peminum khamr seperti penyembah berhala.
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi berkata: Dan Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Abdurrahman menceritakan kepada kami, ia berkata: Laits menceritakan kepada kami, dari Thalhah, dari Masruq, ia berkata: Peminum khamr seperti penyembah berhala, dan peminum khamr seperti penyembah Lata dan Uzza.
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Zubaid dan al-A’masy, keduanya berkata: Abdurrahman menceritakan kepada kami. Dan aku mendengarnya suatu kali menyebut Salamah, dari Khaitsamah, dari Abdullah bin Amr tentang khamr, maka ia berkata: Tidaklah ia meminumnya di pagi hari melainkan ia dalam keadaan musyrik di sore hari, dan tidaklah ia meminumnya di sore hari melainkan ia dalam keadaan musyrik di pagi hari.
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/78-79 (1312-1314)
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Ashim, dari Abu Shalih, dari Abdullah bin Amr, ia berkata: Pecandu khamr seperti penyembah Lata dan Uzza.
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/79 (1317)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Ya’la bin Atha’, ia berkata: Aku mendengar Nafi’ bin Ashim menceritakan dari Abdullah bin Amr, ia berkata: Tidak akan masuk kandang suci orang yang sombong, orang yang menyebut-nyebut pemberian, dan orang yang durhaka.
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/132 (1514)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari al-Hakam, dari Salim bin Abi al-Ja’d bahwa Abdullah bin Amr berkata: Tidak akan masuk surga orang yang menyebut-nyebut pemberian, orang yang durhaka, dan pecandu.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Rauh bin Ubadah menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Hakam dan Yazid bin Abi Ziyad menceritakan kepada kami, dari Salim bin Abi al-Ja’d, dari Abdullah bin Amr, ia berkata: Tidak akan masuk surga orang yang menyebut-nyebut pemberian, orang yang durhaka, dan pecandu khamr.
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/133 (1516-1517)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Yazid bin Abi Ziyad, dari Mujahid, dari Abu Sa’id al-Khudri, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam -dan ia berkata pada kesempatan lain: Aku kira dari Abu Sa’id al-Khudri- bahwa beliau bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang menyebut-nyebut pemberian, orang yang durhaka, dan pecandu.”
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Rauh dan Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Auf menceritakan kepada kami, dari Ali bin Zaid, dari Sa’id bin al-Musayyab, ia berkata: Si fulan berkata: Barangsiapa bertemu Allah Azza wa Jalla sedangkan ia pecandu khamr, maka sesungguhnya ia bertemu Allah seperti penyembah berhala. Dan Abu Ja’far berkata: Penyembah.
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Rauh menceritakan kepada kami, ia berkata: Hisyam bin Abi Abdullah menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Abu al-Khalil, dari Mujahid Abu al-Hajjaj bahwa Nabi ‘alaihissalam bersabda: “Tiga orang tidak akan mencium bau surga, padahal sesungguhnya baunya dapat dicium dari jarak perjalanan lima ratus tahun: Orang yang durhaka kepada ayahnya, pecandu khamr, dan orang pelit yang menyebut-nyebut pemberian.”
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Yazid menceritakan kepada kami, ia berkata: Haiwah dan Ibnu Lahi’ah menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abu Shakhr menceritakan kepada kami; bahwa ia mendengar Yazid bin Abdullah bin Qusaith berkata: Aku mendengar Abu Shalih As-Samman berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata: Barangsiapa bermalam sementara di kandung kemihnya terdapat tujuh tetes khamar, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam.
Abu Shalih berkata: Maka kami sangat mengagungkan hal itu, lalu aku mendatangi Ibnu Abbas dan menceritakannya kepadanya, maka ia berkata: Abu Hurairah benar, jika ia mati dalam empat puluh malam itu, maka ia mati sebagai orang kafir kepada Allah.
Maka kami sangat mengagungkan hal itu, kemudian sampai kepada kami dari Ibnu Mas’ud bahwa ia ditanya tentang hal itu, maka ia berkata: Benar, barangsiapa meminumnya lalu bermalam sementara di kandung kemihnya terdapat tujuh tetes darinya, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam, dan barangsiapa meminumnya hingga kenyang karenanya, kemudian ia mati sementara itu masih di perutnya dan ia tidak bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla, maka ia bertemu Allah sebagaimana penyembah berhala.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/133-134 (1519-1522)
28 – Bab tentang Khianat dan Dusta
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Kamil menceritakan kepada kami, Zuhair menceritakan kepada kami, Abu Ishaq menceritakan kepada kami, dari Qais bin Abi Hazim ia berkata: Aku mendengar Abu Bakar Ash-Shiddiq semoga Allah meridhainya berkata: Bertakwalah kalian terhadap dusta, sesungguhnya dusta itu menjauhi iman.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/364 (786)
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari Isma’il dan Mujalid, keduanya berkata: Qais menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Bakar semoga Allah merahmatinya berkata: Jauhilah oleh kalian dusta, sesungguhnya dusta itu menjauhi iman.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/120 (1467)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Salamah bin Kuhail ia berkata: Aku mendengar Mush’ab bin Sa’d menceritakan dari ayahnya Sa’d bahwa orang Muslim itu diberi tabiat dengan segala tabiat kecuali khianat dan dusta.
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya menceritakan kepada kami, dari Sufyan, ia berkata: Salamah bin Kuhail menceritakan kepadaku, dari Mush’ab bin Sa’d, dari ayahnya ia berkata: Ia berkata: Orang mukmin itu diberi tabiat dengan segala akhlak kecuali khianat dan dusta.
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Mu’ammal, dari Fudhail, dari Abu Wa’il, dari Abdullah ia berkata: Orang Muslim itu diberi tabiat dengan segala tabiat kecuali khianat dan dusta.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/134-135 (1524-1526)
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Salamah, dari Mush’ab bin Sa’d, dari ayahnya ia berkata: Orang mukmin itu diberi tabiat dengan segala akhlak kecuali khianat dan dusta.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/135 (1528)
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Manshur, dari Malik bin Al-Harits, dari Abdullah ia berkata: Orang mukmin itu dilipat dengan segala sifat kecuali khianat dan dusta.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/136 (1530)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, ia berkata: Manshur menceritakan kepadaku, dari Malik bin Al-Harits, dari Abdurrahman bin Yazid, ia berkata: Abdullah berkata: Orang mukmin itu dilipat dengan segala akhlak kecuali khianat dan dusta.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/136 (1532)
29 – Bersumpah dengan Selain Allah
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Sa’id bin Ubaidah ia berkata: Aku bersama Ibnu Umar dalam sebuah halaqah, lalu ia mendengar seorang laki-laki di halaqah lain sedang berkata: Tidak, demi ayahku. Maka Ibnu Umar melemparkan kerikil kepadanya dan berkata: Sesungguhnya itu adalah sumpah Umar, lalu Nabi shallallahu alaihi wasallam melarangnya darinya, dan berkata: “Sesungguhnya itu adalah syirik.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/103 (1408)
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya menceritakan kepada kami, dari Mis’ar, ia berkata: Abdul Malik bin Maisarah menceritakan kepadaku, dari Al-Hasan bin Muhammad, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah Azza wa Jalla, maka ia bukan dari golongan kami.”
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Walid bin Tsa’labah Ath-Tha’i menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Bukan dari golongan kami orang yang bersumpah dengan amanah. Dan barangsiapa menghasut seseorang untuk meninggalkan istri atau budaknya, maka ia bukan dari golongan kami.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/118 (1456-1457)
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Zaid bin Al-Hubab menceritakan kepada kami, ia berkata: Husain menceritakan kepadaku, ia berkata: Abdullah bin Buraidah menceritakan kepadaku, dari ayahnya ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa bersumpah bahwa ia berlepas diri dari Islam, maka jika ia berdusta, maka ia sebagaimana yang ia katakan, dan jika ia jujur, maka ia tidak akan kembali kepada Islam dengan selamat.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/127 (1499)
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Yazid menceritakan kepada kami, ia berkata: Musa menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar ayahku menceritakan dari Abu Hurairah bahwa ia berkata: Aku tidak suka bersumpah bahwa aku benar-benar di sore hari sebagai orang kafir atau di pagi hari sebagai orang kafir.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/129 (1508)
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdul Malik bin Umair menceritakan kepada kami, ia berkata: Musa bin Ali menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Hurairah ia berkata: Aku tidak suka bersumpah sebagai orang kafir, dan tidak pula di pagi hari sebagai orang kafir, dan tidak pula di sore hari sebagai orang kafir.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/158 (1612)
30 – Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: Bukan dari Golongan Kami Orang yang Melakukan Begini dan Begitu
Abdullah berkata: Ayahku semoga Allah merahmatinya menceritakan kepadaku, Bisyr bin Al-Mufadhdhal menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Utsman yaitu Ibnu Khutsaim, dari Nafi’ bin Sarjas, dari Ubaid bin Umair ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Bukan dari golongan kami orang yang mencukur (rambut).”
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/356 (765)
Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Ibrahim, dari Sahm bin Minjab, dari Al-Qartsa’, ia berkata: Ketika Abu Musa sakit keras, istrinya berteriak, maka ia berkata kepadanya: Tidakkah engkau tahu apa yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam katakan? Maka ia berkata: Ya, kemudian ia diam, lalu ketika ia meninggal, dikatakan kepadanya: Apa yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam katakan? Maka ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melaknat orang yang mencukur, merobek, atau berteriak keras.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/367 (793)
Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Sufyan bin Uyainah menceritakan kepada kami, dari Al-‘Ala’, dari ayahnya, dari Abu Hurairah radiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melewati seorang laki-laki yang menjual makanan, lalu beliau bertanya: “Bagaimana engkau menjual?” Maka ia memberitahunya, lalu Allah mewahyukan kepadanya agar memasukkan tangannya ke dalamnya, maka ia memasukkan tangannya, ternyata itu basah, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Bukan dari golongan kami orang yang menipu.”
Abdullah berkata: Ayahku semoga Allah merahmatinya menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Zubaid, dari Ibrahim, dari Masruq, dari Abdullah radiallahu anhu ia berkata: Rasulullah bersabda: “Bukan dari golongan kami orang yang memukul pipi, merobek kerah, dan berdoa dengan doa jahiliyah.”
Ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, dari Sufyan seperti itu, dari Nabi dengan sanadnya.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/372-373 (809-811)
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Shafwan bin Isa menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Ajlan menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Kami tidak berdamai dengan mereka sejak kami memerangi mereka, maka barangsiapa meninggalkan sesuatu dari mereka karena takut kepada mereka, maka ia bukan dari golongan kami.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/82 (1327)
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Mu’adz bin Mu’adz menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Juraij menceritakan kepada kami, dari Maimun Abu Mughlis, dari Abu Najih, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mampu untuk menikah lalu tidak menikah, maka ia bukan dari golongan kami.”
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Hisyam bin Al-Qasim menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Ja’far menceritakan kepada kami, dari Ar-Rabi’ bin Anas dan Humaid, dari Anas bin Malik ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang dari merampok, dan bersabda: “Barangsiapa merampok, maka ia bukan dari golongan kami.”
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad yaitu Ibnu Ishaq menceritakan kepada kami, dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Bukan dari golongan kami orang yang tidak mengetahui hak orang yang lebih tua di antara kami dan tidak menyayangi yang lebih muda di antara kami.”
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan bin Uyainah menceritakan kepada kami, dari Al-‘Ala’, dari ayahnya, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melewati seorang laki-laki yang menjual makanan, lalu bertanya: “Bagaimana engkau menjual?” Maka ia memberitahunya, lalu diwahyukan kepadanya agar memasukkan tangannya ke dalamnya, maka ia memasukkan tangannya, ternyata itu basah, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Bukan dari golongan kami orang yang menipu.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/112-114 (1447-1450)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya menceritakan kepada kami, dari Yusuf bin Shuhaib, dari Habib bin Yasar, dari Zaid bin Arqam, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa tidak memotong kumisnya, maka ia bukan dari golongan kami.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/117 (1451)
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya menceritakan kepada kami, dari Ibnu Juraij ia berkata: Abu Mughlis menceritakan kepadaku, dari Abu Najih, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa mampu untuk menikah lalu tidak menikah, maka ia bukan dari golongan kami.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/117 (1455)
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari Ubaidillah, ia berkata: Nafi’ mengabarkan kepadaku, dari Abdullah dan Abdul A’la ia berkata: Ubaidillah bin Umar menceritakan kepada kami, dari Nafi’, dari Ibnu Umar ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengangkat senjata kepada kami, maka ia bukan dari golongan kami.”
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Bahz bin Asad Abu Al-Aswad menceritakan kepadaku, ia berkata: Ikrimah menceritakan kepada kami, dari Iyas bin Salamah, dari ayahnya ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menghunus senjata kepada kami, maka ia bukan dari golongan kami.”
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Adh-Dhahhak bin Makhlad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Ajlan menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengangkat senjata kepada kami, maka ia bukan dari golongan kami.”
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ubaid menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami. Dan Ibnu Numair, ia berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Murrah, dari Masruq, ia berkata: Abdullah berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Bukan dari golongan kami orang yang memukul pipi, merobek kerah, dan berdoa dengan doa jahiliyah.” Ia berkata: Dan Ibnu Numair berkata: “Atau merobek kerah, atau berdoa dengan doa jahiliyah.”
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Murrah, dari Masruq, dari Abdullah ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Bukan dari golongan kami orang yang menampar pipi, merobek kerah, dan berdoa dengan doa jahiliyah.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/118-119 (1458, 1462)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Hasyim bin Al-Qasim menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad yaitu Ibnu Rasyid menceritakan kepada kami, dari Sulaiman, dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa mengangkat senjata untuk melawan kami, maka dia bukan termasuk golongan kami, dan jangan menghadang kami di jalan.”
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Yahya bin Adam menceritakan kepada kami, dia berkata: Zuhair menceritakan kepada kami, dari Abu Az-Zubair, dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa merampas atau melakukan perampokan, maka dia bukan termasuk golongan kami.”
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, dia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Manshur, dari Ibrahim, dari Yazid bin Aus, dari Abu Musa bahwa dia pernah pingsan, lalu ibu dari anaknya menangisi dia. Ketika dia sadar, dia berkata kepadanya: Tidakkah kamu mendengar apa yang dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Dia berkata: Lalu aku bertanya kepadanya, maka dia berkata: Beliau bersabda: “Bukan termasuk golongan kami orang yang menampar pipi, mencukur rambut, dan merobek pakaian.”
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Ibnu Adam menceritakan kepada kami, dia berkata: Zuhair menceritakan kepada kami, dari Humaid Ath-Thawil, dari Al-Hasan, dari Imran bin Hushain, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa merampas suatu barang rampasan, maka dia bukan termasuk golongan kami.”
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Yahya bin Adam menceritakan kepada kami, dia berkata: Syarik menceritakan kepada kami, dari Yazid bin Abi Ziyad, dari Abdurrahman bin Abi Laila, dari Abu Musa, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Bukan termasuk golongan kami orang yang mencukur rambut, merobek pakaian, dan menampar pipi.”
As-Sunnah karya Al-Khallal 2/145-146 (1563-1567)
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, dia berkata: Jarir bin Hazim menceritakan kepada kami, dari Ya’la bin Hakim, dari Abu Labid, dia berkata: Kami berperang bersama Abdurrahman bin Samurah ke Kabul, lalu orang-orang mendapatkan kambing-kambing dan mereka merampasnya. Maka Abdurrahman memerintahkan penyeru untuk mengumumkan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa merampas suatu barang rampasan, maka dia bukan termasuk golongan kami.” Maka kembalikanlah kambing-kambing ini. Lalu mereka mengembalikannya, kemudian dia membaginya di antara mereka secara merata.
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Jarir menceritakan kepada kami, dari Qabus, dari ayahnya, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukan termasuk golongan kami orang yang merampas, atau merebut dengan paksa, atau mengacungkan senjata.”
As-Sunnah karya Al-Khallal 2/147 (1569-1570)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Hajjaj menceritakan kepada kami, dia berkata: Syarik menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Isa, dari Jami’ bin Umair atau Ibnu Sa’id, dari pamannya Abu Burdah bin Niyar, dia berkata: Aku pergi bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ke Baqi’ untuk shalat, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalam makanan kemudian mengeluarkannya, ternyata makanan itu dicampur atau dicampuradukkan. Maka beliau bersabda: “Bukan termasuk golongan kami orang yang menipu kami.”
As-Sunnah karya Al-Khallal 2/172 (1662)
31 – Larangan Pujian Dusta
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Sufyan bin Uyainah menceritakan kepada kami, dari Ayyub Ath-Tha’i – Abu Abdurrahman berkata: dia adalah Ayyub bin A’idz Al-Bakhtari – dari Qais bin Muslim, dari Thariq bin Syihab, dari Abdullah: Seseorang mendatangi orang lain yang tidak dapat menguasai bahaya maupun manfaat baginya dan bagi dirinya sendiri, lalu dia bersumpah kepadanya bahwa engkau begini dan begitu, padahal mungkin dia tidak mendapatkan sesuatu pun darinya, lalu dia pulang dan tidak ada dari agamanya sedikitpun. Kemudian Abdullah membaca: “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menganggap diri mereka suci? Sebenarnya Allah mensucikan siapa yang Dia kehendaki dan mereka tidak dianiaya sedikit pun. Perhatikanlah bagaimana mereka mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, dan cukuplah itu sebagai dosa yang nyata.” (Surat An-Nisa: 49-50)
As-Sunnah karya Abdullah 1/379 (824)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdurrahman menceritakan kepada kami, dia berkata: Sufyan dan Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Qais bin Muslim, dari Thariq bin Syihab, dia berkata: Abdullah berkata: Sesungguhnya seseorang keluar dari rumahnya bersama agamanya, lalu dia pulang dan tidak ada sedikit pun agamanya bersamanya. Dia menemui seseorang yang tidak dapat menguasai bahaya maupun manfaat bagi dirinya sendiri, lalu dia bersumpah kepadanya dengan nama Allah bahwa dia begini dan begitu, kemudian dia pulang tanpa mendapatkan sesuatu pun dari temannya, padahal dia telah memurkai Allah Azza wa Jalla kepadanya.
As-Sunnah karya Al-Khallal 2/125 (1487)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Ayyub Ath-Tha’i, dari Qais bin Muslim, dari Thariq bin Syihab, dari Abdullah, dia berkata: Seseorang mendatangi orang lain yang tidak dapat menguasai bahaya maupun manfaat baginya dan bagi dirinya sendiri, lalu dia bersumpah kepadanya bahwa engkau begini dan begitu, padahal mungkin dia tidak mendapatkan sesuatu pun darinya, lalu dia pulang dan tidak ada dari agamanya sedikitpun. Kemudian Abdullah membaca: “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menganggap diri mereka suci? Sebenarnya Allah mensucikan siapa yang Dia kehendaki dan mereka tidak dianiaya sedikit pun. Perhatikanlah bagaimana mereka mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, dan cukuplah itu sebagai dosa yang nyata.” (Surat An-Nisa: 49-50)
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Sulaiman bin Dawud menceritakan kepada kami, dia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dia berkata: Qais bin Muslim mengabarkan kepadaku, dia berkata: Aku mendengar Thariq bin Syihab menceritakan dari Abdullah, dia berkata: Sesungguhnya seseorang keluar dari rumahnya bersama agamanya, lalu dia menemui orang yang memiliki keperluan kepadanya, maka dia berkata: Sesungguhnya engkau begini dan begitu – memujinya – padahal mungkin dia tidak mendapatkan sesuatu pun dari keperluannya, lalu dia pulang dan Allah telah murka kepadanya, tidak ada sedikit pun agamanya bersamanya.
As-Sunnah karya Al-Khallal 2/140 (1549-1550)
32 – Larangan Menyerupai Orang-orang Kafir dan Ahli Kitab
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Al-Hakam bin Nafi’ mengabarkan kepada kami, Ismail bin Ayyasy menceritakan kepada kami, dari Aqil bin Mudarrik As-Sulami, dia berkata: Allah Azza wa Jalla mewahyukan kepada salah seorang nabi dari para nabi Bani Israil: Katakanlah kepada kaummu, janganlah mereka memakan makanan musuh-musuh-Ku, dan janganlah mereka meminum minuman musuh-musuh-Ku, dan janganlah mereka menyerupai bentuk musuh-musuh-Ku, maka mereka akan menjadi musuh-musuh-Ku sebagaimana mereka adalah musuh-musuh-Ku.
Az-Zuhd riwayat Abdullah hlm. 154
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Mu’adz bin Mu’adz menceritakan kepada kami, dia berkata: Ibnu Aun menceritakan kepada kami, dari Muhammad, dia berkata: Abdullah bin Utbah melihat seorang laki-laki yang mengenakan sesuatu dari pakaian orang Ajam, maka dia berkata: Hendaklah seseorang berhati-hati agar dia tidak menjadi Yahudi atau Nashrani sedangkan dia tidak menyadarinya.
As-Sunnah karya Al-Khallal 2/129 (1507), 2/154 (1595)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari Hisyam, dia berkata: Muhammad menceritakan kepada kami, dari Abu Ubaidah bin Hudzaifah, dari ayahnya, dia berkata: Hendaklah salah seorang di antara kalian berhati-hati agar dia tidak menjadi Yahudi atau Nashrani sedangkan dia tidak mengetahuinya.
As-Sunnah karya Al-Khallal 2/155 (1600)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, dia berkata: Sa’id yaitu Ibnu Abdurrahman menceritakan kepada kami, dari Muhammad, dia berkata: Abdullah bin Utbah berkata: Hendaklah salah seorang di antara kalian berhati-hati agar dia tidak menjadi Yahudi atau Nashrani sedangkan dia tidak menyadarinya. Muhammad berkata: Aku mengira dia mengambilnya dari ayat ini: “Dan barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka.” (Surat Al-Ma’idah: 51)
As-Sunnah karya Al-Khallal 2/156 (1603)
Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali mengabarkan kepadaku, dia berkata: Mahna menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku bertanya kepada Ahmad tentang menghadiri hari-hari raya ini yang ada di negeri kami di Syam seperti: Thur Tabut, dan Dair Ayyub dan yang serupa dengannya yang dihadiri oleh kaum muslimin. Mereka menyaksikan pasar-pasar dan membawa sapi, kambing, tepung, gandum, dan selain itu, hanya saja mereka masuk ke pasar-pasar untuk membeli dan tidak masuk kepada mereka dengan jual beli mereka. Dia berkata: Jika mereka tidak masuk kepada mereka dengan jual beli mereka, dan mereka hanya menyaksikan pasar, maka tidak mengapa.
Ahkam Ahlil Milal 1/121 (132)
Dia berkata dalam riwayat Abu Al-Harits: Aku tidak suka bagi seseorang untuk sengaja membuat kue manis dan daging karena perayaan Nairuz, karena itu termasuk gaya orang-orang Ajam, kecuali jika itu bertepatan dengan waktu yang biasa dia lakukan.
Al-Furu’ 5/309
Abu Muhammad Al-Kirmani yang bernama Harb berkata: Aku berkata kepada Ahmad: Sesungguhnya orang Persia memiliki hari-hari dan bulan-bulan yang mereka namakan dengan nama-nama yang tidak dikenal. Maka dia sangat membencinya dengan kebencian yang sangat. Dan dia meriwayatkan dari Mujahid tentang hal itu: Bahwa dia membenci untuk mengatakan: Azarmaah dan Dzimaah. Aku berkata: Bagaimana jika itu nama seseorang, apakah aku menamakannya dengannya? Maka dia membencinya.
Dan dia berkata: Aku bertanya kepada Ishaq, aku berkata: Penanggalan surat ditulis dengan bulan-bulan Persia, seperti: Azarmaah dan Dzimaah? Dia berkata: Jika tidak ada dalam nama-nama itu nama yang dibenci, maka aku berharap tidak mengapa.
Dia berkata: Dan Ibnu Al-Mubarak membenci Izdan untuk bersumpah dengannya. Dan dia berkata: Aku tidak aman bahwa itu disandarkan kepada sesuatu yang disembah. Dan demikian juga nama-nama Persia.
Dia berkata: Dan demikian juga nama-nama Arab, setiap sesuatu yang disandarkan.
Dia berkata: Dan aku bertanya kepada Ishaq pada kesempatan lain. Aku berkata: Seseorang belajar bulan-bulan Romawi dan Persia? Dia berkata: Setiap nama yang dikenal dalam bahasa mereka maka tidak mengapa.
Iqtidha Ash-Shirath Al-Mustaqim hlm. 199, Al-Adab Asy-Syar’iyyah 3/417
33 – Apa yang Datang tentang Amanah dan Janji
Dan Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdush-Shamad menceritakan kepada kami, Abu Hilal menceritakan kepada kami, Qatadah menceritakan kepada kami, Anas radiyallahu anhu menceritakan kepada kami, dia berkata: Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah kepada kami melainkan beliau bersabda: “Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji.”
As-Sunnah karya Abdullah 1/371 (805)
Al-Khallal berkata: Dan Abu Bakar mengabarkan kepada kami, dia berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Affan menceritakan kepada kami, dia berkata: Hammad menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-Mughirah menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Anas berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji.”
As-Sunnah karya Al-Khallal 2/30 (1136)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-Hasan bin Musa menceritakan kepada kami, dia berkata: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Humaid, dari Al-Hasan, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji.”
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Hasan menceritakan kepada kami, dia berkata: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dia berkata: Dan orang yang mendengar Anas bin Malik menyebutkan ini dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan kepadaku.
As-Sunnah karya Al-Khallal 2/54-55 (1222)
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Hisyam menyebutkan dari ayahnya, dari Umar bahwa ia berkata: Janganlah engkau tertipu oleh shalat dan puasa seseorang, siapa saja yang mau dapat berpuasa, ketahuilah tidak ada agama bagi orang yang tidak memiliki amanah.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/126 (1491)
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Rauh dan Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Auf menceritakan kepada kami, dari Qasamah bin Zuhair ia berkata: Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak memiliki janji.
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdul Malik bin Umair menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu al-Asyhab menceritakan kepada kami, dari Auf, dari Qasamah bin Zuhair, dari al-Asy’ari ia berkata: Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak memiliki janji.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/144 (1560-1561)
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Zaid bin Wahb, dari Hudzaifah ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menceritakan kepada kami dua hadits, aku telah melihat salah satunya dan aku menunggu yang lainnya, beliau menceritakan kepada kami: “Sesungguhnya amanah turun ke dalam akar hati orang-orang, kemudian turunlah Al-Quran maka mereka mempelajari dari Al-Quran dan mempelajari dari Sunnah”, kemudian beliau menceritakan kepada kami tentang pencabutan amanah, maka beliau bersabda: “Seseorang tidur sejenak lalu amanah dicabut dari hatinya, maka tersisalah bekasnya seperti bekas titik, dan seseorang tidur sejenak lalu amanah dicabut dari hatinya, maka tersisalah bekasnya seperti bekas lepuh seperti bara api yang kau gelindingkan di atas kakimu, kau melihatnya menonjol padahal tidak ada apa-apa di dalamnya”, kemudian Hudzaifah mengambil kerikil lalu menggelindingkannya di atas betisnya, ia berkata: “Maka pada pagi harinya manusia berjual beli, hampir tidak ada seorang pun yang menunaikan amanah hingga dikatakan: Sesungguhnya di Bani Fulan ada seorang laki-laki yang amanah, hingga dikatakan kepada seseorang: Alangkah gagah, cerdas, dan pandainya dia, padahal tidak ada di hatinya seberat biji sawi pun dari iman”, dan sungguh telah datang kepadaku suatu masa di mana aku tidak peduli siapa pun di antara kalian yang berjual beli denganku, karena jika dia muslim, Islamnya akan mengembalikannya kepadaku, dan jika dia Yahudi atau Nasrani, pemungut pajaknya akan mengembalikannya kepadaku, adapun hari ini aku tidak akan berjual beli dengan kalian kecuali dengan si Fulan dan si Fulan.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/151 (1588)
34 – Kemaksiatan menafikan kesempurnaan iman dan penggunaan lafaz kekufuran serta selainnya terhadap kemaksiatan
Shalih berkata: Ayahku berkata: Al-Hasan mendengar dari Ibnu Umar, Anas bin Malik, dan Ibnu Mughaffal. Dan sebagian mereka berkata: Imran bin Hushain menceritakan kepadaku. Dan sebagian mereka berkata: Abu Hurairah menceritakan kepada kami. Dan ia mendengar dari Amr bin Taghlib beberapa hadits dan ia termasuk sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dan sebagian mereka berkata: Ia mendengar dari Samurah bin Jundub, dan diriwayatkan dari Al-Hasan bahwa ia mendengar Aisyah dan ia berkata: Sesungguhnya Nabi kalian shallallahu alaihi wasallam berlepas diri dari orang yang memecah-belah agamanya.
“Masa’il Shalih” (634)
Ibnu Hani’ berkata: Aku berkata kepada Abu Abdullah: Apa pendapatmu tentang orang yang tidak takut kemunafikan pada dirinya? Ia berkata: Dan siapa yang merasa aman dari kemunafikan pada dirinya?!
“Masa’il Ibnu Hani'” (1963)
Abdullah berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, Ibnu Numair menceritakan kepada kami, Fudhail yaitu Ibnu Ghazwan menceritakan kepada kami, Utsman bin Abi Shafiyyah menceritakan kepadaku, ia berkata: Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma berkata kepada budak-budaknya, memanggil seorang budak demi seorang budak, ia berkata: Maukah aku menikahkanmu? Tidaklah seorang hamba berzina melainkan Allah mencabut darinya cahaya iman.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/352 (755)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Sufyan bin Uyainah menceritakan kepada kami, dari Ayyub, dari Abu Raja’ ia berkata: Aku mendengar Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata: Barangsiapa berpisah dari jemaah sejengkal lalu mati, maka kematiannya adalah kematian jahiliyyah.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/352 (758)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdul Malik bin Amr menceritakan kepada kami, Abbad bin Rasyid menceritakan kepada kami, dari Dawud bin Abi Hind, dari Abu Nadhrah, dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu anhu ia berkata: Sesungguhnya kalian melakukan perbuatan-perbuatan yang lebih halus dalam pandangan kalian daripada rambut, padahal kami menganggapnya di masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai perbuatan yang membinasakan.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/353 (760)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Bisyr bin al-Mufadhdhal menceritakan kepada kami, dari Manshur bin Abdurrahman, dari asy-Sya’bi, dari Jarir ia berkata: Siapa saja hamba yang melarikan diri dari tuannya maka sungguh ia telah kafir.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/354 (761), 1/372 (808)
Dan Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, Sulaiman memberitahukan kepadaku, dari Zaid bin Wahb, ia berkata: Abdullah berkata: Apabila datang dua orang laki-laki masuk dalam Islam, kemudian keduanya saling bermusuhan, maka salah satunya keluar hingga ia kembali. Maksudnya: yang zalim.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/364 (787)
Dan Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrahman menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Salamah bin Kuhail, dari Abu adh-Dhuha, dari Masruq, dari Abdullah. Dan ia berkata: dari Zubaid, dari Ibrahim, dari Masruq, dari Abdullah. Dan ia berkata: dan dari al-A’masy, dari Umarah, dari Abdurrahman bin Yazid, dari Abdullah ia berkata: Riba ada tujuh puluh sekian pintu, dan syirik seperti itu juga.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/366 (791), 1/373-374 (814-816)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, dari Zuhair, dari al-Ala’, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?” Mereka berkata: Orang yang bangkrut di antara kami wahai Rasulullah adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki harta. Beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan shalat, zakat, dan puasa, tetapi ia datang dalam keadaan telah mencela kehormatan orang ini, menuduh orang ini, memakan harta orang ini, dan memukul orang ini, maka ia duduk lalu orang ini mengambil dari kebaikannya, dan orang ini dari kebaikannya, maka jika kebaikannya habis sebelum dilunasi apa yang ada padanya dari kesalahan-kesalahan, diambillah dari kesalahan-kesalahan mereka lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka.”
“Az-Zuhd” karya Abdullah hal. 26
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Abdul Malik bin Umair menceritakan kepada kami, Abbad menceritakan kepada kami dari Al-Hasan ia berkata: Dikatakan kepada Samurah: Sesungguhnya anakmu tidak tidur malam ini. Ia berkata: Apakah dengan minum arak? Dikatakan: Dengan minum arak. Ia berkata: Seandainya ia mati, aku tidak akan menshalatkannya.
“Az-Zuhd” hal. 248
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Abi Dzi’b menceritakan kepada kami, dari al-Maqburi, dari Abu Syuraih al-Ka’bi bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman.” Mereka berkata: Apa itu wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Tetangga yang tidak aman dari bahaya tetangganya.” Maka mereka berkata: Wahai Rasulullah, apa bahayanya? Beliau bersabda: “Kejahatannya.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/53 (1216)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abu az-Zinad, dari al-A’raj, dari Abu Hurairah, ia menyampaikan hingga kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidaklah mencuri seseorang ketika ia mencuri sedang ia beriman, dan tidaklah meminum khamar seseorang ketika ia meminumnya sedang ia beriman, dan tidaklah berzina seseorang ketika ia berzina sedang ia beriman.”
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Mu’awiyah bin Amr menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Ishaq menceritakan kepada kami, dari al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidaklah berzina pezina ketika ia berzina sedang ia beriman, dan tidaklah mencuri pencuri ketika ia mencuri sedang ia beriman, dan tidaklah meminum khamar peminum khamar ketika ia meminumnya sedang ia beriman, dan taubat ditawarkan setelahnya.”
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Mu’awiyah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Ishaq menceritakan kepada kami, dari al-Auza’i, dari az-Zuhri, dari Abu Salamah dan Sa’id bin al-Musayyab dan Abu Bakar bin al-Harits, dari Abu Hurairah, seperti itu, kecuali bahwa ia menambahkan di dalamnya: “Tidaklah merampas seseorang rampasan yang terhormat yang kaum mukminin mengangkat pandangan mereka kepadanya sedang ia ketika merampasnya adalah mukmin.” Dan ia tidak menyebutkan dalam haditsnya tentang taubat.
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Mu’awiyah menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari al-Auza’i ia berkata: Dan aku telah berkata kepada az-Zuhri ketika ia menyebutkan hadits ini: “Tidaklah berzina pezina ketika ia berzina sedang ia beriman”: Sesungguhnya mereka berkata: Jika ia bukan mukmin, lalu apa dia? Ia berkata: Maka ia mengingkari hal itu, dan membenci pertanyaanku tentang hal itu.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/60-61 (1245-1248)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya bin Said menceritakan kepada kami, dari Habib asy-Syahid, ia berkata: Athaa menceritakan kepada kami, ia berkata: Saya mendengar Abu Hurairah berkata: “Tidak berzina seorang pezina ketika ia berzina dalam keadaan beriman, dan tidak mencuri seorang pencuri ketika ia mencuri dalam keadaan beriman.” Ia berkata: Athaa berkata: Iman menjauh darinya.
Al-Khallal berkata: Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Ma’mar menceritakan kepada kami, dari Hammam bin Munabbih, bahwa ia mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak mencuri seorang pencuri ketika ia mencuri dalam keadaan beriman, tidak berzina seorang pezina ketika ia berzina dalam keadaan beriman, tidak meminum khamr ketika ia meminumnya dalam keadaan beriman, dan demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak merampas salah seorang dari kalian rampasan yang berharga yang orang-orang beriman menengadahkan pandangan mereka kepadanya ketika ia merampasnya dalam keadaan beriman, dan tidak berkhianat salah seorang dari kalian ketika ia berkhianat dalam keadaan beriman, maka jauhilah dan jauhilah.”
Al-Khallal berkata: Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Ma’mar menceritakan kepada kami, dari Az-Zuhri dan Qatadah, dari seorang laki-laki, dari Ikrimah, dan dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, ia berkata: Saya kira dari Abu Hurairah, mereka semua meriwayatkannya secara marfu’ kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidak berzina seorang pezina ketika ia berzina dalam keadaan beriman, tidak meminum khamr ketika ia meminumnya dalam keadaan beriman, dan tidak merampas rampasan yang orang-orang menengadahkan pandangan mereka kepadanya dalam keadaan beriman.” Ibnu Thawus berkata: Ayahku berkata: Jika ia melakukan itu, iman hilang darinya. Ia berkata: Lalu ia berkata: Iman itu seperti bayangan dan semacam itu.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/65-66 (1261-1263)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya bin Said menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Firas, dari Mudrik bin Imarah, dari Ibnu Abi Aufa, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Tidak meminum khamr ketika ia meminumnya dalam keadaan beriman, tidak berzina ketika ia berzina dalam keadaan beriman, dan tidak merampas rampasan yang berharga -atau berlebihan- dalam keadaan beriman.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/66-67 (1267)
Al-Khallal berkata: Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yazid menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Amru menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak berzina seorang pezina ketika ia berzina dalam keadaan beriman, tidak mencuri seorang pencuri ketika ia mencuri dalam keadaan beriman, dan tidak merampas rampasan yang berharga yang orang-orang menengadahkan pandangan mereka kepadanya dalam keadaan beriman.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/67 (1270)
Al-Khallal berkata: Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Ibrahim As-Sakuni, dari seorang laki-laki, dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: Tidak berzina ketika ia berzina dalam keadaan beriman.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/68 (1276)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Numair menceritakan kepada kami, ia berkata: Hisyam -yaitu Ibnu Urwah- menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari Aisyah, ia berkata: Tidak berzina seorang hamba ketika ia berzina dalam keadaan beriman, tidak meminum khamr ketika ia meminumnya dalam keadaan beriman, dan tidak mencuri ketika ia mencuri dalam keadaan beriman.
Al-Khallal berkata: Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Affan menceritakan kepada kami, ia berkata: Hammam menceritakan kepada kami, ia berkata: Qatadah menceritakan kepada kami bahwa Umar bin Al-Khaththab rahimahullah berkata: Barangsiapa mengklaim bahwa ia beriman maka ia kafir, barangsiapa mengklaim bahwa ia di surga maka ia di neraka, dan barangsiapa mengklaim bahwa ia berilmu maka ia bodoh. Ia berkata: Lalu seorang laki-laki membantahnya dan berkata: Jika mereka pergi dengan kekuasaan maka bagi kami surga. Maka Umar berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengklaim bahwa ia di surga maka ia di neraka.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/69-70 (1281-1282)
Al-Khallal berkata: Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Habib, dari Abu Al-Bakhtari, ia berkata: Hudzaifah ditanya tentang firman-Nya: “Mereka menjadikan pendeta-pendeta dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah” (Surah At-Taubah: 31), apakah mereka menyembah mereka? Ia berkata: Tidak, tetapi jika mereka menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menghalalkannya, dan jika mereka mengharamkan sesuatu kepada mereka, mereka mengharamkannya.
Al-Khallal berkata: Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Sulaiman bin Maisarah, dari Thariq bin Syihab, ia berkata: Dikatakan kepada Hudzaifah: Apakah Bani Israil meninggalkan agama mereka dalam satu hari? Ia berkata: Tidak, tetapi mereka jika diperintahkan sesuatu meninggalkannya, dan jika dilarang dari sesuatu mengerjakannya, hingga mereka terlepas dari agama mereka sebagaimana seseorang terlepas dari bajunya.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/77-78 (1306-1307)
Al-Khallal berkata: Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Sulaiman bin Daud menceritakan kepada kami, ia berkata: Imran menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Abu Mijlaz, dari Jundab bin Abdullah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa terbunuh di bawah panji yang buta karena marah demi fanatisme kelompok dan berperang, maka kematiannya adalah kematian jahiliyyah.”
Al-Khallal berkata: Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Sulaiman, ia berkata: Saya mendengar Sulaiman menceritakan dari Jarir, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa tidak menyayangi manusia, Allah tidak akan menyayanginya.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/81 (1321-1322)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwadzi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Ashim bin Abi An-Nujud, dari Wail bin Rabi’ah, ia berkata: Ibnu Mas’ud berkata: Kesaksian palsu disamakan dengan syirik kepada Allah, kemudian ia membaca: “Maka jauhilah kekejian dari berhala-berhala dan jauhilah perkataan dusta” (Surah Al-Hajj: 30).
Ia berkata: Dan Abu Bakar menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Hajjaj menceritakan kepada kami, ia berkata: Syarik menceritakan kepada kami, dari Ashim, dari Abu Wail, dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: Riba memiliki enam puluh sekian pintu, dan syirik seperti itu.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/81-82 (1324-1325)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ubaid menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Dua hal pada manusia adalah kekufuran: meratapi mayit dan mencela nasab.”
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya bin Adam menceritakan kepada kami, ia berkata: Syarik menceritakan kepada kami, dari As-Suddi, dari Abu Adh-Dhuha, dari Masruq, ia berkata: Abdullah ditanya tentang suht. Ia berkata: Suap. Dikatakan kepadanya: Dalam keputusan hukum? Ia berkata: Itu adalah kekufuran. Ia berkata: Kemudian ia membaca: “Dan barangsiapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah maka mereka itulah orang-orang kafir” (Surah Al-Maidah: 44).
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Husyaim menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdul Malik bin Abi Sulaiman menceritakan kepada kami, dari Salamah bin Kuhail, dari Alqamah dan Al-Aswad, bahwa keduanya bertanya kepada Ibnu Mas’ud tentang suap. Ia berkata: Itu adalah suht. Keduanya berkata: Apakah dalam keputusan hukum demikian? Ia berkata: Itu adalah kekufuran. Kemudian ia membaca ayat ini: “Dan barangsiapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah maka mereka itulah orang-orang kafir” (Surah Al-Maidah: 44).
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/104 (1411-1412)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Manshur, dari Salim bin Abi Al-Ja’d, dari Masruq, dari Abdullah bahwa ia berkata: Kezaliman dalam keputusan hukum adalah kekufuran, dan suht adalah suap. Ia berkata: Lalu saya bertanya kepada Ibrahim, dan saya berkata: Apakah dalam perkataan Abdullah: Suht adalah suap? Ia berkata: Ya.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/107 (1426)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Ma’mar menceritakan kepada kami, dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, ia berkata: Ibnu Abbas ditanya tentang orang yang mendatangi istrinya dari duburnya. Ia berkata: Ini bertanya kepadaku tentang kekufuran.
Al-Khallal berkata: Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya bin Said menceritakan kepada kami, dari Sa’id, dari Qatadah, dari Uqbah bin Wassaj, dari Abu Ad-Darda, ia berkata: Tidakkah melakukan itu kecuali orang kafir?!
Al-Khallal berkata: Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ismail menceritakan kepada kami, dari Laits, dari Mujahid, ia berkata: Abu Hurairah berkata: Barangsiapa mendatangi wanita dan laki-laki di pantat mereka maka ia telah kafir.
Al-Khallal berkata: Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman berkata: Muhammad bin Muslim menceritakan kepadaku, dari Amru bin Qatadah, bahwa ia bertanya kepada Thawus tentang itu? Ia berkata: Itu adalah kekufuran, tahukah engkau apa permulaan kaum Luth? Sesungguhnya itu adalah perbuatan laki-laki dengan wanita, kemudian laki-laki melakukannya dengan laki-laki.
Al-Khallal berkata: Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdul Wahhab Al-Khaffaf menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Juraij menceritakan kepada kami, dari Ibrahim bin Abi Bakar bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Thawus tentang itu? Ia berkata: Ini bertanya kepadaku tentang kekufuran.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/107-108 (1428-1432)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Al-Hasan bin Ubaidillah, dari Asy-Sya’bi, dari Jarir, ia berkata: Setiap kesombongan terdapat kekufuran.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/117 (1454)
Al-Khallal berkata: Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Sulaiman At-Taimi, dari Kardus, ia berkata: Abdullah berkata: Syirik lebih tersembunyi daripada langkah semut.
Al-Khallal berkata: Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ dan Abdurrahman menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Zubaid, dari Ibrahim, dari Masruq, dari Abdullah, ia berkata: Riba memiliki tujuh puluh sekian pintu, dan syirik seperti itu.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/123 (1479-1480)
Al-Khallal berkata: Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Zubaid, dari Ibrahim, dari Masruq, dari Abdullah, ia berkata: Riba tujuh puluh tiga pintu, dan syirik seperti itu.
Al-Khallal berkata: Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Salamah bin Kuhail, dari Abu Adh-Dhuha, dari Masruq, dari Abdullah, ia berkata: Riba tujuh puluh tiga pintu, dan syirik seperti itu.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Numair menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Dua hal pada manusia adalah kekufuran bagi mereka: mencela nasab dan meratapi mayit.”
Al-Khallal berkata: Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia berkata: Dua hal pada manusia adalah kekufuran: mencela nasab dan meratapi mayit.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/127 (1495-1498)
Al-Khallal berkata: Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Hasan bin Musa menceritakan kepada kami, ia berkata: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Habib bin Asy-Syahid, dari Al-Hasan, ia berkata: Tidakkah kaum ini berpendapat bahwa ada amal-amal yang menggugurkan amal-amal lain, padahal Allah Azza wa Jalla berfirman: “Jangan kalian meninggikan suara kalian di atas suara Nabi” (Surah Al-Hujurat: 2) hingga firman-Nya: “supaya tidak terhapus amal-amal kalian sedangkan kalian tidak menyadari” (Surah Al-Hujurat: 2).
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/129 (1506)
Al-Khallal berkata: Al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ya’la bin Ubaid menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad -yaitu Ibnu Ishaq- menceritakan kepada kami dari Abu Ja’far, dari Ali bin Husain, ia berkata: Ditemukan bersama gagang pedang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebuah lembaran yang tertulis: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, manusia yang paling keras siksaannya di sisi Allah adalah pembunuh selain yang membunuhnya, pemukul selain yang memukulnya, dan barangsiapa mengingkari selain ahli nikmatnya maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan Allah, dan barangsiapa melindungi orang yang membuat bid’ah maka atasnya laknat Allah dan murka-Nya, tidak diterima darinya pada hari kiamat penebusan maupun ganti rugi.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/140-141 (1551)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Sa’id bin Hudzaifah, dari Hudzaifah, ia berkata: Barangsiapa memisahkan diri dari jamaah satu jengkal, maka sungguh ia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya.
As-Sunnah karya Al-Khallal 2/143 (1556)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya menceritakan kepada kami, dari Syu’bah, ia berkata: Abu Ishaq mengabarkan kepadaku, dari Sa’id bin Hudzaifah, dari Hudzaifah, ia berkata: Barangsiapa memisahkan diri dari jamaah satu jengkal, maka sungguh ia telah meninggalkan Islam.
As-Sunnah karya Al-Khallal 2/144 (1558)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Sulaiman bin Maisarah, dari Thariq bin Syihab, dari Abdullah, ia berkata: Apabila seseorang melakukan dosa, akan ditotolkan pada hatinya sebuah totolan hitam. Apabila ia melakukan dosa lagi, akan ditotolkan pada hatinya totolan hitam yang lain, hingga hatinya menjadi berwarna seperti kambing yang berbelang-belang.
As-Sunnah karya Al-Khallal 2/155 (1599)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Ibrahim, dari Abu Ma’mar, dari Hudzaifah, ia berkata: Sesungguhnya seseorang di waktu pagi masih memiliki penglihatan, namun di waktu sore ia tidak lagi dapat melihat sedikitpun.
As-Sunnah karya Al-Khallal 2/158 (1610)
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, ia berkata: Amru bin Ittab bin Hunain mendengar hadits dari Abu Ja’far, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Seandainya Allah menahan hujan dari manusia selama tujuh tahun kemudian menurunkannya, maka akan ada segolongan yang menjadi kafir karenanya dengan mengatakan: ‘Kita mendapat hujan karena bintang Al-Majdah.'”
As-Sunnah karya Al-Khallal 2/158-159 (1613)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Auza’i menceritakan kepada kami, dari Hassan bin Athiyyah, dari Abdullah bin Abi Zakariya, ia berkata: Telah sampai kepadaku bahwa apabila seseorang memamerkan sesuatu dari amalnya, maka Allah Azza wa Jalla akan menggugurkan apa yang telah ada sebelumnya.
As-Sunnah karya Al-Khallal 2/162 (1622)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari Yahya bin Sa’id, dari Muhammad bin Hibban, dari Abu Umrah, dari Zaid bin Khalid Al-Juhani bahwa seorang laki-laki dari Asja’ dari kalangan sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam meninggal dunia pada hari Khaibar, lalu hal itu disampaikan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, maka beliau bersabda: “Shalatkanlah sahabat kalian.” Maka wajah orang-orang berubah karena hal itu. Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya sahabat kalian telah berkhianat di jalan Allah.” Kami pun memeriksa barang-barangnya, lalu kami menemukan di dalamnya manik-manik dari manik-manik Yahudi yang tidak berharga dua dirham!
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Yahya bin Hibban, bahwa Abu Umrah -maula Zaid bin Khalid- mengabarkan kepadanya bahwa ia mendengar Zaid bin Khalid Al-Juhani menceritakan bahwa seorang laki-laki dari kaum muslimin meninggal dunia pada hari Khaibar, dan mereka menyebutkannya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, maka beliau bersabda: “Shalatkanlah sahabat kalian.” Maka wajah orang-orang berubah karena hal itu. Ketika beliau melihat keadaan mereka, beliau bersabda: “Sesungguhnya sahabat kalian telah berkhianat di jalan Allah.” Kami pun memeriksa barang-barangnya, lalu kami menemukan manik-manik dari manik-manik Yahudi, demi Allah tidak berharga dua dirham!
As-Sunnah karya Al-Khallal 2/163-164 (1626-1627)
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ dan Abdurrahman menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Sa’d bin Ibrahim, dari Umar bin Abi Salamah, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Berdebat tentang Al-Quran adalah kekufuran.”
As-Sunnah karya Al-Khallal 2/173 (1663)
Al-Fadhl bin Ziyad berkata: Ahmad berkata: Tidak ada jaminan bagi salah seorang dari kalian bahwa ia melihat suatu pandangan lalu amalnya menjadi gugur.
Fathul Bari karya Ibnu Rajab 1/140
35 – Bab: Tentang orang dari kalangan Ahli Kiblat yang masuk neraka, mereka tidak kekal di dalamnya
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, Ma’mar menceritakan kepada kami, dari Zaid bin Aslam, dari Atha’ bin Yasar, dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Akan keluar dari neraka orang yang di dalam hatinya ada iman seberat dzarrah.” Abu Sa’id berkata: Barangsiapa ragu, hendaklah ia membaca: “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya walaupun seberat dzarrah” (Surat An-Nisa ayat 40).
As-Sunnah karya Abdullah 1/367-368 (794)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Affan menceritakan kepada kami, ia berkata: Sa’id bin Zaid menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Sulaiman Al-Ashri menceritakan kepada kami, ia berkata: Uqbah bin Shahban menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Abu Bakrah, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Manusia akan digiring di atas Shirat pada hari Kiamat, lalu kedua sisi Shirat menjatuhkan mereka seperti kupu-kupu yang jatuh ke dalam api; maka Allah menyelamatkan dengan rahmat-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki.” Beliau bersabda: “Kemudian para malaikat, nabi-nabi, dan syuhada alaihimus salam diizinkan untuk memberi syafaat, maka mereka memberi syafaat dan mengeluarkan, dan memberi syafaat dan mengeluarkan, dan memberi syafaat dan mengeluarkan orang yang di dalam hatinya ada iman seberat dzarrah.”
As-Sunnah karya Al-Khallal 2/149 (1581)
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ismail menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ishaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Ubaidullah bin Al-Mughirah bin Mu’aiqib menceritakan kepadaku, dari Sulaiman bin Amru bin Ubaid Al-Atwari -salah satu dari Bani Laits- dan ia berada dalam asuhan Abu Sa’id Al-Khudri, ia berkata: Aku menyaksikan Abu Sa’id Al-Khudri berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Para nabi akan memberi syafaat kepada setiap orang yang bersyahadat bahwa tidak ada tuhan selain Allah dengan ikhlas, untuk mengeluarkan mereka dari neraka, kemudian Allah Azza wa Jalla memberi kasih sayang dengan rahmat-Nya kepada siapa yang ada di dalamnya, maka tidak ada seorang hamba pun yang tersisa di dalamnya yang di dalam hatinya ada iman seberat biji melainkan Dia mengeluarkannya dari neraka.”
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Abi Arubah menceritakan kepada kami, ia berkata: Qatadah menceritakan kepada kami, ia berkata: Anas bin Malik menceritakan kepada kami bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan: tidak ada tuhan selain Allah, dan di dalam hatinya ada kebaikan seberat sya’irah (biji jelai), kemudian akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan: tidak ada tuhan selain Allah, dan di dalam hatinya ada kebaikan seberat burrah (gandum), kemudian akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan: tidak ada tuhan selain Allah, dan di dalam hatinya ada kebaikan seberat dzarrah.”
As-Sunnah karya Al-Khallal 2/150-152 (1586-1590)
36 – Bab: Penjelasan tentang orang-orang munafik dan sifat-sifat mereka
Shalih berkata: Aku bertanya: Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Kebanyakan orang munafik dari umatku adalah para pembacanya (Al-Quran)”; apakah ini shahih? Beliau berkata: Allah Yang Maha Mengetahui, aku tidak tahu.
Masail Shalih (285)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ismail bin Ibrahim menceritakan kepada kami, dari Laits, dari Bilal, dari Syatir bin Syakl, dan dari Shilah bin Zufar, dan dari Sulaik bin Mishhal, mereka berkata: Hudzaifah keluar menemui kami, sedang kami sedang berbincang-bincang, maka ia berkata: Sesungguhnya kalian berbicara dengan ucapan yang kami anggap pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebagai kemunafikan.
As-Sunnah karya Abdullah 1/355-356 (763)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Tsabit bin Hurmuz Abu Al-Miqdam, dari Abu Yahya, ia berkata: Hudzaifah ditanya: Siapakah orang munafik? Ia berkata: Orang yang mendeskripsikan iman namun tidak mengamalkannya.
Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Mu’tamir bin Sulaiman menceritakan kepada kami, dari Abbad bin Abbad, ia berkata: Aku mendengar Abu Utsman berkata: Hudzaifah membuat orang munafik putus asa.
As-Sunnah karya Abdullah 2/371-372 (806-807)
Abdullah berkata: Dan aku menemukan dalam kitab ayahku rahimahullah, ia berkata: Aku diberitahu dari Fudail, dari Sulaiman -yaitu Al-A’masy- dari Amru bin Murrah, dari Abu Al-Bakhtari Ath-Tha’i, dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu anhu, ia berkata: Hati ada empat macam: hati yang bersih seakan-akan di dalamnya ada pelita yang bercahaya, itulah hati orang mukmin; hati yang tertutup, itulah hati orang kafir; hati yang berlapis-lapis, itulah hati orang munafik; dan hati yang di dalamnya ada iman dan kemunafikan, perumpamaan iman di dalamnya seperti pohon yang disiram air yang baik, dan perumpamaan kemunafikan di dalamnya seperti bisul yang diisi nanah dan darah, maka mana yang mengalahkannya maka ia akan menang.
As-Sunnah karya Abdullah 1/377-378 (820)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Al-A’masy dan Sufyan menceritakan kepada kami, dari Tsabit bin Hurmuz Abu Al-Miqdam, dari Abu Yahya, ia berkata: Hudzaifah radhiyallahu anhu ditanya: Siapakah orang munafik? Ia berkata: Orang yang mendeskripsikan Islam namun tidak mengamalkannya.
Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Sulaiman bin Dawud -yaitu Abu Dawud Ath-Thayalisi- menceritakan kepada kami, Imran -yaitu Al-Qaththan- menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Nashr bin Ashim Al-Laitsi, dari Mu’awiyah Al-Laitsi, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Manusia akan mengalami kekeringan, lalu Allah Tabaraka wa Ta’ala menurunkan kepada mereka rezeki dari rezeki-Nya, maka mereka menjadi musyrik di waktu pagi.” Lalu dikatakan kepadanya: Bagaimana itu wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Mereka mengatakan: ‘Kita mendapat hujan karena bintang ini dan itu.'”
Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Bahz menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, Abdullah bin Abdullah bin Jabr Al-Anshari menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Tanda kemunafikan adalah membenci Anshar, dan tanda keimanan adalah mencintai Anshar.”
As-Sunnah karya Abdullah 1/379-380 (826-828)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Ubaidah menceritakan kepada kami, dari Umar bin Nabhan, dari Yazid Ar-Rusyk, dari Abu Qilabah, ia berkata: Seorang penyeru akan menyeru pada hari Kiamat dari sisi Arasy: “Ketahuilah bahwa para wali Allah tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati” (Surat Yunus ayat 62), maka tidak ada seorang pun melainkan ia mengangkat kepalanya, lalu berkata: (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka senantiasa bertakwa) (Surat Yunus ayat 63), maka tidak ada seorang munafik pun melainkan ia menundukkan kepalanya.*
Az-Zuhd halaman 368
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Manshur, dari Abu Razin, dari Ar-Rabi’ bin Khaitham: “Maka hendaklah mereka tertawa sedikit” (yaitu) di dunia “dan hendaklah mereka menangis banyak” (Surat At-Taubah ayat 82) (yaitu) di akhirat.
Az-Zuhd halaman 410.
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu An-Nadr menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Auf Al-A’rabi, dia berkata: Di antara akhlak orang munafik adalah bahwa dia suka dipuji dan benci dicela. “Az-Zuhd” halaman 446
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Daud menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Auf Al-A’rabi, dia berkata: Wahb bin Munabbih berkata: Tanda orang munafik adalah dia benci dicela dan suka dipuji. “Az-Zuhd” halaman 447
Abu Bakar Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, dia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Sulaiman, dari Ibrahim, dari Abdurrahman bin Yazid, dari Abdullah bahwa dia berkata: Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka dia adalah munafik: Jika berkata dia berbohong, jika berjanji dia mengingkari, dan jika berjanji dia berkhianat.
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Zaid bin Wahb, dari Hudzaifah, dia berkata: Seorang laki-laki dari kaum munafik meninggal dunia, maka Hudzaifah tidak menyalatkannya. Lalu Umar berkata kepadanya: Apakah dia termasuk kaum itu? Dia berkata: Ya. Umar berkata: Demi Allah, apakah aku termasuk dari mereka? Dia berkata: Tidak, dan aku tidak akan memberitahu siapa pun setelahmu.
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Ismail menceritakan kepada kami, dia berkata: Ayyub menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Qilabah berkata: Aku tidak mendapati perumpamaan ahli bid’ah kecuali seperti kemunafikan; karena sesungguhnya Allah telah menyebutkan kemunafikan dengan perkataan yang berbeda-beda dan perbuatan yang berbeda-beda, dia berkata: Namun semua itu adalah kesesatan.
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, Mu’tamir menceritakan kepada kami, dari Laits, dari Nu’aim bin Abi Hind, dia berkata: Umar bin Al-Khaththab berkata: Barangsiapa berkata: Aku adalah mukmin, maka dia kafir, dan barangsiapa berkata: Dia adalah orang berilmu, maka dia jahil, dan barangsiapa berkata: Dia di surga, maka dia di neraka.
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Ibnu Numair menceritakan kepada kami, dia berkata: Ubaidillah yaitu Ibnu Umar menceritakan kepada kami, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan orang munafik adalah seperti kambing yang tersesat di antara dua kawanan domba, bingung ke sana sekali, dan ke sini sekali, tidak tahu yang mana yang harus diikuti.” “As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/71-72 (1287-1291)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, dia berkata: Auf menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Amr bin Hind Al-Jumali, dia berkata: Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berbiasa berkata: Sesungguhnya keimanan bermula dari titik putih di dalam hati, setiap kali keimanan bertambah maka bertambahlah keputihan itu, maka apabila keimanan sempurna, maka putihlah hati itu, dan sesungguhnya kemunafikan bermula dari titik hitam di dalam hati, setiap kali kemunafikan bertambah maka bertambahlah kehitaman itu, maka apabila kemunafikan sempurna, maka hitamlah hati itu seluruhnya, dan demi Allah, demi Allah, seandainya kalian membedah hati seorang mukmin niscaya kalian akan mendapatinya putih, dan seandainya kalian membedah hati seorang munafik niscaya kalian akan mendapatinya hitam. “As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/155-156 (1601)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Al-A’masy, dari Khaitsamah, dia berkata: Abdullah bin Amr berkata: Dan akan datang suatu zaman kepada manusia, mereka berkumpul di masjid-masjid mereka membaca Al-Qur’an, tidak ada di antara mereka seorang mukmin pun. “As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/158 (1609)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Jarir menceritakan kepada kami, dari Manshur, dari Abu Wa’il, dia berkata: Abdullah berkata: Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka dia adalah munafik: Barangsiapa berkata lalu berbohong, berjanji lalu mengingkari, dan diberi amanah lalu berkhianat, maka barangsiapa memiliki satu sifat dari ketiganya maka itu adalah sifat kemunafikan sampai dia meninggalkannya. “As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/164 (1629)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, dia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Manshur, dan Yahya dari Syu’bah, dia berkata: Manshur menceritakan kepadaku, dari Abu Wa’il, dari Abdullah, dia berkata: Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka dia adalah munafik, dan jika ada padanya satu sifat dari ketiganya maka ada padanya satu sifat kemunafikan sampai dia meninggalkannya: Jika berkata dia berbohong, jika berjanji dia mengingkari, dan jika diberi amanah dia berkhianat.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-Hasan bin Musa dan Bahz menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Ashim bin Bahdalah, dari Abu Wa’il, dari Ibnu Mas’ud bahwa dia berkata: Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka dia adalah munafik: Jika berkata dia berbohong, jika berjanji dia mengingkari, dan jika diberi amanah dia berkhianat. Dia berkata: Maka Abdullah bin Amr bin Al-Ash berkata, dia berkata Hasan: Dan jika berselisih dia berbuat jahat, dan jika berjanji dia berkhianat.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-Hasan menceritakan kepada kami, dia berkata: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Daud bin Abi Hind, dari Sa’id bin Al-Musayyab, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Dia berkata: Hammad bin Salamah meriwayatkan, dari Habib bin Asy-Syahid, dari Al-Hasan, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka dia adalah munafik meskipun dia berpuasa, shalat, dan mengaku bahwa dia muslim: Jika berkata dia berbohong, jika berjanji dia mengingkari, dan jika diberi amanah dia berkhianat.”
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-Hasan menceritakan kepada kami, dia berkata: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Habib bin Asy-Syahid, bahwa Al-Hasan berkata: Sesungguhnya kaum ketika mereka melihat kemunafikan ini mengalahkan keimanan, maka tidak ada perhatian bagi mereka selain kemunafikan.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Yahya bin Abi Bukair dan Sulaiman bin Daud menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Auf, dari Ibnu Munabbih.
Dan Abu Daud berkata, Wahb berkata: Tanda kemunafikan dan di antara akhlak kemunafikan adalah: Engkau benci dicela dan suka dipuji.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari Wa’il bin Daud, dia berkata: Ibrahim An-Nakha’i menceritakan kepadaku, dia berkata: Al-Asy’ari berkata: Sungguh aku shalat menghadap ke tiang lebih aku sukai daripada aku minum khamr. “As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/164-166 (1631-1636)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Imarah, dari Abdurrahman bin Yazid, dia berkata: Abdullah berkata: Ujilah orang munafik dengan tiga hal: Jika berkata dia berbohong, jika berjanji dia mengingkari, dan jika berjanji dia berkhianat. Kemudian dia membaca: “Dan di antara mereka ada orang yang berjanji kepada Allah: Sesungguhnya jika Allah memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya…” (QS. At-Taubah: 75) sampai firman-Nya: “Dan karena mereka berdusta.” (QS. At-Taubah: 77) “As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/167 (1640)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Al-A’masy, dari Abdullah bin Murrah, dari Masruq, dari Abdullah bin Amr, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Empat hal, barangsiapa memilikinya maka dia adalah munafik murni, dan jika ada padanya satu sifat dari keempatnya maka ada padanya satu sifat kemunafikan sampai dia meninggalkannya: Jika berjanji dia mengingkari, jika berkata dia berbohong, jika berselisih dia berbuat jahat, dan jika berjanji dia berkhianat.” “As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/167 (1642)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Abu Wa’il, dari Hudzaifah, dia berkata: Orang-orang munafik yang ada di antara kalian lebih jahat daripada orang-orang munafik yang ada pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Kami bertanya: Bagaimana itu wahai Abu Abdullah? Dia berkata: Sesungguhnya mereka (yang dulu) menyembunyikan kemunafikan mereka, sedangkan mereka (yang sekarang) menampakkannya.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Yazid menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Al-Asyhab menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-Hasan menceritakan kepada kami, dia berkata: Mereka berkata: Termasuk kemunafikan adalah perbedaan antara lisan dan hati, perbedaan antara yang tersembunyi dan yang terang-terangan, dan perbedaan antara masuk dan keluar.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Ibnu Harmalah, dia berkata: Aku mendengar Sa’id bin Al-Musayyab berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Pemisah antara kami dan orang-orang munafik adalah kehadiran di shalat Isya dan Subuh, mereka tidak mengumpulkan keduanya.”
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Husyaim menceritakan kepada kami, dari Al-Awwam, dari Hammad, dari Ibnu Mas’ud, dia berkata: Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Ibnu Mahdi menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Manshur, dari Hammad, dari Ibrahim, dari Abdullah, dia berkata: Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Jarir menceritakan kepada kami, dari Mughirah, dari Ibrahim, dia berkata: Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Dan Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Jarir menceritakan kepada kami, dari Laits, dari Muhammad bin Abdurrahman bin Yazid, dari ayahnya, dia berkata: Abdullah berkata: Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdurrahman menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Thalhah, dari Sa’id bin Ka’b Al-Muradi, dari Muhammad bin Abdurrahman bin Yazid, dari Ibnu Mas’ud, dia berkata: Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati sebagaimana air menumbuhkan tanaman, dan sesungguhnya dzikir menumbuhkan keimanan di dalam hati sebagaimana air menumbuhkan tanaman.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Bahz bin Asad menceritakan kepadaku, dia berkata: Ikrimah bin Ammar menceritakan kepada kami, dia berkata: Thaisalah bin Ali menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku melihat Abdullah bin Umar di pokok-pokok pohon arak pada hari Arafah, dia berkata: Dan di hadapannya ada seorang laki-laki dari penduduk Irak, lalu dia bertanya: Wahai Ibnu Umar, siapakah orang munafik itu?
Dia berkata: Orang munafik adalah orang yang jika berkata dia berbohong, jika berjanji dia tidak menepati, jika diberi amanah dia tidak menunaikan, dan serigala di malam hari serta ekor di siang hari. Dia bertanya: Wahai Ibnu Umar, siapakah orang mukmin itu? Dia berkata: Orang yang jika berkata dia jujur, jika berjanji dia menepati, jika diberi amanah dia menunaikan, orang yang mengenalnya maupun yang tidak mengenalnya merasa aman dari kejahatannya pada sore hari.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Ibnu Abi Adi menceritakan kepada kami, dari Yunus, dari Al-Hasan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka dia adalah munafik meskipun dia shalat, berpuasa, dan mengaku bahwa dia muslim: Jika berkata dia berbohong, jika berjanji dia mengingkari, dan jika diberi amanah dia berkhianat.” “As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/167-170 (1646-1652)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Amr bin Murrah, dari Abu Al-Bakhtari, dia berkata: Seorang laki-laki berkata: Ya Allah, binasakanlah orang-orang munafik. Maka Hudzaifah berkata: Seandainya mereka binasa, dari siapa kalian akan membalas dendam terhadap orang yang menyiksa kalian?
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Husyaim menceritakan kepada kami, dari Mughirah, dari Ibrahim, dia berkata: Dahulu dikatakan: Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati. “As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/170-171 (1654-1655)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdullah bin Numair menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-A’masy, dari Abdullah bin Murrah, dari Masruq, dari Abdullah bin Amr, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Empat hal, barangsiapa memilikinya maka dia adalah munafik murni, dan barangsiapa memiliki satu sifat dari keempatnya maka ada padanya sifat kemunafikan sampai dia meninggalkannya: Jika berkata dia berbohong, jika berjanji dia berkhianat, jika berjanji dia mengingkari, dan jika berselisih dia berbuat jahat.”
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Salam bin Miskin, dari seorang syekh mereka yang tidak ia sebutkan namanya, dari Abu Wa’il bahwa ia diundang ke sebuah walimah, lalu ia melihat orang-orang yang bermain (musik), maka ia keluar. Ia berkata: Aku mendengar Ibnu Mas’ud berkata: Nyanyian menumbuhkan kemunafikan sebagaimana air menumbuhkan sayur-sayuran.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Syu’bah, dari Al-Hakam, ia berkata: Ibrahim berkata: Abdullah berkata: Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati. Aku bertanya: Siapa yang menceritakan kepadamu? Ia berkata: Hammad. Syu’bah berkata: Lalu aku mendatangi Hammad, maka ia membenarkannya.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Habib bin Abu Tsabit, dari seorang anak laki-lakinya, dan ia menceritakan kepada kami dari Al-Hasan, dari Abu Miskin, dari Ibrahim, ia berkata: Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/171 (1658-1660)
37 – Bab: Tentang Orang yang Melakukan Dosa Maka Iman Meninggalkannya, Jika Ia Bertobat Maka Iman Kembali Kepadanya
Harb berkata: Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari Habib bin Asy-Syahid, ia berkata: Atha’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata: Tidaklah berzina seorang pezina ketika ia berzina sedangkan ia beriman, dan tidaklah mencuri seorang pencuri ketika ia mencuri sedangkan ia beriman.
Atha’ berkata: Iman menjauh darinya.
Harb berkata: Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya menceritakan kepada kami, dari Auf, ia berkata: Al-Hasan berkata: Iman menjauhinya selama ia dalam keadaan demikian, maka jika ia kembali, iman kembali kepadanya.
Harb berkata: Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya menceritakan kepada kami, ia berkata: Asy’ats menceritakan kepada kami, dari Al-Hasan, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Iman dicabut darinya, maka jika ia bertobat, iman dikembalikan kepadanya.”
“Masa’il Harb” hal. 376
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Awwam menceritakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Mudrik menceritakan kepada kami, dari Abu Zur’ah, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Iman itu suci, maka barangsiapa berzina, iman meninggalkannya, maka jika ia mencela dirinya dan kembali, iman kembali kepadanya.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/351 (753)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Ibrahim bin Muhajir, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata kepada para budaknya: Barangsiapa di antara kalian menghendaki pernikahan, maka kami akan menikahkannya, janganlah ada di antara kalian yang berzina kecuali Allah mencabut darinya cahaya iman, maka jika Allah menghendaki mengembalikannya kepadanya, Dia mengembalikannya, dan jika Dia menghendaki mencegahnya, Dia mencegahnya.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/65 (1260)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Sulaiman, dari Dzakwan, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Tidaklah berzina pezina ketika ia berzina sedangkan ia beriman, dan tidaklah mencuri ketika ia mencuri sedangkan ia beriman, dan tidaklah meminum khamar ketika ia meminumnya sedangkan ia beriman, dan tobat tersedia setelahnya.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/66 (1266)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Al-Fadhl bin Dhalham, dari Al-Hasan, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah meminum khamar ketika ia meminumnya sedangkan ia beriman, dicabut darinya cahaya iman sebagaimana salah seorang dari kalian melepas kemejanya, maka jika ia bertobat, Allah menerima tobatnya.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/68 (1273)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Sulaiman bin Harb menceritakan kepada kami, ia berkata: Jarir bin Hazim menceritakan kepada kami, dari Al-Fudhail bin Yasar, ia berkata: Muhammad bin Ali berkata: Ini Islam -dan ia menggambar lingkaran, dan di tengahnya ada yang lain- dan ini iman -untuk yang di tengah- terbatas dalam Islam. Ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah berzina pezina ketika ia berzina sedangkan ia beriman, dan tidaklah mencuri ketika ia mencuri sedangkan ia beriman, dan tidaklah meminum khamar ketika ia meminumnya sedangkan ia beriman.” Ia berkata: Ia keluar dari iman menuju Islam, dan tidak keluar dari Islam, maka jika ia bertobat, Allah menerima tobatnya. Ia berkata: Ia kembali kepada iman.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/69 (1280)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ismail menceritakan kepada kami, dari Laits, dari Mujahid, dari Abdullah bin Amr, ia berkata: Jika ia meminumnya dan tidak mabuk, tidak diterima shalatnya selama tujuh hari, maka jika ia meminumnya dan mabuk, tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari, maka jika ia mati, ia mati dalam keadaan kafir, maka jika ia bertobat, Allah menerima tobatnya, maka jika ia mengulangi, demikian pula tiga kali, maka jika ia bertobat, Allah menerima tobatnya, maka jika ia mengulangi, demikian pula tiga kali, maka jika ia bertobat, Allah menerima tobatnya, maka aku tidak tahu pada yang ketiga atau keempat, maka jika ia mengulangi, maka hak bagi Allah untuk memberinya minum dari thinatul khabal (lumpur busuk).
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/78 (1311)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, Ismail menceritakan kepada kami, ia berkata: Qais menceritakan kepadaku, dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: Apabila seseorang berkata kepada saudaranya: Engkau adalah musuhku, maka ia keluar dari Islam.
Ia berkata: Lalu Abu Juhaifah mengabarkan kepadaku bahwa ia berkata: Kecuali jika ia bertobat.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/135 (1527)
38 – Bab: Tentang Bahwa dari Kekufuran Ada Kufur yang Tidak Mengeluarkan dari Agama dan Demikian Pula Kezaliman dan Kefasikan
Abu Al-Fadhl Shalih berkata: Aku bertanya: Siapakah orang yang fasik dan durhaka di antara manusia?
Ia berkata: Ini adalah perkataan yang mengandung berbagai makna.
“Masa’il Shalih” (567, 948)
Ibnu Hani berkata: Dan aku bertanya kepadanya tentang hadits Thawus tentang perkataannya: Kufur yang tidak memindahkan dari agama? Abu Abdullah berkata: Ini hanya dalam ayat ini: “Dan barangsiapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (Surat Al-Ma’idah: 44).
“Masa’il Ibnu Hani” (2042)
Abu Bakar Al-Khallal berkata: Dan Abu Al-Harits berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah, dan Shalih berkata: Aku bertanya kepada ayahku tentang hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Tiga perkara, barangsiapa padanya ada tiga hal tersebut, maka ia adalah munafik…”
Ia berkata: Ini telah diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Abu Al-Harits menambahkan: Dan Abu Hurairah dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dan perkataan Abdullah, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan tentangnya.
Keduanya berkata secara bersama-sama dari Abu Abdullah, bahwa keduanya bertanya kepadanya tentang hadits Abu Bakar: “Kufur kepada Allah adalah melepaskan diri dari nasab meskipun sedikit, dan kufur kepada Allah adalah mengklaim nasab yang tidak diketahui.” Shalih berkata: Ia berkata: Ini telah diriwayatkan dari Abu Bakar, maka Allah yang lebih mengetahui. Abu Al-Harits berkata: Aku tidak tahu. Atau ia berkata: Aku tidak mengetahui, kami telah menulisnya. Demikianlah yang dikatakan Abu Al-Harits.
Abu Al-Harits berkata: Dan aku mendengar Abu Abdullah, dan ditanyakan kepadanya tentang hadits Abu Hurairah: “Barangsiapa mendatangi wanita pada duburnya”? Ia berkata: Ini telah diriwayatkan.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/8-9 (1086)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Ubaidillah, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Aku mendengar Umar berkata: Dahulu kami membaca: Janganlah kalian berpaling dari bapak-bapak kalian, karena itu adalah kekufuran pada kalian. Atau: Sesungguhnya kekufuran pada kalian adalah kalian berpaling dari bapak-bapak kalian.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/63 (1253)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Hajjaj menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Thalhah menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Ma’mar, dari Abu Bakar Ash-Shiddiq, ia berkata: Kufur kepada Allah adalah menisbatkan diri kepada nasab yang tidak diketahui, dan kufur kepada Allah adalah menafikan diri dari nasab meskipun sedikit.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/63 (1255)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Abdurrahman Ath-Thafawi menceritakan kepada kami, ia berkata: Laits menceritakan kepada kami, dari Mujahid, dari Abu Hurairah, ia berkata: Barangsiapa mendatangi seorang wanita pada duburnya atau seorang laki-laki, maka sungguh ia telah kafir.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/76 (1303)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdul Aziz Al-Ummi menceritakan kepada kami, ia berkata: Manshur bin Al-Mu’tamir menceritakan kepadaku, dari Salim, dari Abu Al-Ja’d, dari Masruq, ia berkata: Seorang laki-laki bertanya kepada Abdullah bin Mas’ud tentang suap, maka Ibnu Mas’ud berkata: Suap. Lalu laki-laki itu berkata: Suap dalam keputusan hukum? Ibnu Mas’ud berkata: Tidak, “Dan barangsiapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (Surat Al-Ma’idah: 44), “Dan barangsiapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim” (Surat Al-Ma’idah: 45), “Dan barangsiapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik” (Surat Al-Ma’idah: 47).
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Ma’mar, dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas: “Dan barangsiapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”, ia berkata: Itu adalah kekufuran dengannya, dan bukan seperti orang yang kafir kepada Allah dan para malaikat-Nya dan kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Zakariya menceritakan kepada kami, dari Amir, ia berkata: Diturunkan “orang-orang yang kafir” tentang orang-orang muslim, dan “orang-orang yang zalim” adalah tentang orang-orang Yahudi, dan “orang-orang yang fasik” tentang orang-orang Nasrani.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Manshur, dari Ibrahim, “Dan barangsiapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”, ia berkata: Diturunkan tentang Bani Israil, dan diridhai untuk kalian dengannya.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Ibnu Juraij, dari Atha’, ia berkata: Kufur di bawah kufur, dan kezaliman di bawah kezaliman, dan kefasikan di bawah kefasikan.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Sa’id Al-Makki, dari Thawus, ia berkata: Bukan kekufuran yang memindahkan dari agama.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan bin Uyainah menceritakan kepada kami, dari Hisyam bin Hujair, dari Thawus, ia berkata: Ibnu Abbas berkata: Bukan kekufuran yang kalian tuju. Sufyan berkata: Yaitu bukan kufur yang memindahkan dari agama, “Dan barangsiapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Ma’mar menceritakan kepada kami, dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, ia berkata: Ibnu Abbas ditanya tentang firman-Nya: “Dan barangsiapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”? Ia berkata: Itu adalah kekufuran dengannya. Ibnu Thawus berkata: Dan bukan seperti orang yang kafir kepada Allah dan para malaikat-Nya dan kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Manshur, dari Ibrahim: “Dan barangsiapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik”, “orang-orang yang zalim”, ia berkata: Diturunkan tentang Bani Israil, dan diridhai dengannya untuk mereka ini.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Ibnu Juraij, dari Atha’, ia berkata: Kufur di bawah kufur, dan kezaliman di bawah kezaliman, dan kefasikan di bawah kefasikan.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman menceritakan kepada kami, dari Habib bin Sulaim, ia berkata: Aku mendengar Al-Hasan berkata: Diturunkan tentang ahli kitab, bahwa mereka meninggalkan hukum-hukum Allah Azza wa Jalla semuanya.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Janab menceritakan kepada kami, dari Adh-Dhahhak: “Dan barangsiapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”, dan “orang-orang yang zalim”, dan “orang-orang yang fasik”, ia berkata: Ayat-ayat ini diturunkan tentang ahli kitab.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Habib bin Abi Tsabit, dari Abu al-Bakhtari, ia berkata: Ditanyakan kepada Hudzaifah: “Dan barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir” (Surah Al-Maidah ayat 44): apakah ini tentang Bani Israil? Maka Hudzaifah menjawab: Ya, akhirat adalah untuk kalian, wahai Bani Israil. Jika untuk kalian setiap kemanisan dan untuk mereka setiap kepahitan, sungguh kalian akan menempuh jalan mereka seukuran tali sandal.
Kitab “As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/104-107 (1413-1425)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan bin Uyainah menceritakan kepada kami, dari Abu az-Za’ra’, ia mendengarnya dari pamannya Abu al-Ahwash, ia mendengar Abdullah berkata: Mencaci maki seorang Muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekafiran.
Kitab “As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/111 (1440)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Manshur, dari Abu Wa’il, dari Abdullah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Mencaci maki seorang Muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekafiran.”
Kitab “As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/112 (1445)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Numair menceritakan kepada kami, ia berkata: al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Masruq, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah pada haji Wada’, maka beliau bersabda dalam khutbahnya: “Jangan sampai aku mendapati kalian kembali menjadi orang-orang kafir sepeninggalku, sebagian kalian memukul leher sebagian yang lain.”
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Wahb bin Jarir menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abdul Malik bin Umair menceritakan dari Abdurrahman bin Abdullah, dari ayahnya: bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jangan kalian kembali menjadi orang-orang kafir sepeninggalku, sebagian kalian memukul leher sebagian yang lain.”
Al-Khallal berkata: al-Marwadzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Affan bin Muslim menceritakan kepada kami, ia berkata: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Zaid menceritakan kepada kami, dari Abu Harrah ar-Raqasyi, dari pamannya, ia berkata: Aku memegang tali kekang unta Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada pertengahan hari-hari tasyriq, lalu ia menyebutkan khutbah beliau, beliau bersabda: “Jangan kalian kembali menjadi orang-orang kafir sepeninggalku, sebagian kalian memukul leher sebagian yang lain.”
Kitab “As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/121 (1471-1493)
Al-Khallal berkata: Musa bin Sahl mengabarkan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Ahmad al-Asadi menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Ya’qub menceritakan kepada kami, dari Isma’il bin Sa’id, ia berkata: Aku bertanya kepada Ahmad tentang orang yang bersikeras melakukan dosa-dosa besar dengan sekuat tenaganya, namun ia tidak meninggalkan shalat, zakat, puasa, haji, dan Jumat, apakah ia termasuk orang yang bersikeras ataukah orang yang kondisinya demikian?
Ia (Ahmad) berkata: Ia adalah orang yang bersikeras dalam hal seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Tidaklah seorang pezina berzina ketika ia berzina sedang ia adalah mukmin,” yaitu orang yang keluar dari iman dan jatuh dalam Islam, dan seperti sabdanya: “Dan tidak minum khamr ketika ia meminumnya sedang ia adalah mukmin, dan tidak mencuri ketika ia mencuri sedang ia adalah mukmin, dan tidak merampas rampasan…”, dan seperti perkataan Ibnu Abbas “Dan barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir” (Surah Al-Maidah ayat 44). Maka aku bertanya kepadanya: Lalu apa kekafiran ini? Ia berkata: Kekafiran yang tidak memindahkan dari agama, sebagiannya di atas sebagian yang lain, demikian pula kekafiran, hingga datang dari hal itu suatu perkara yang manusia tidak berselisih padanya.
Maka aku bertanya kepadanya: Bagaimana menurutmu jika ia takut dari sikapnya yang bersikeras, ia berniat bertobat dan memohon hal itu, namun tidak meninggalkan perbuatan itu? Ia berkata: Orang yang takut kondisinya lebih baik.
Kitab “Ahkam an-Nisa'” karya Al-Khallal (91)
(Isma’il bin Sa’id asy-Syalanji meriwayatkan dari Ahmad—dan ia menyebutkan perkataan Ibnu Abbas yang telah disebutkan sebelumnya—dan bertanya kepadanya: Apa kekafiran ini? Ahmad berkata: Ini adalah kekafiran yang tidak memindahkan dari agama, seperti iman sebagiannya tanpa sebagian yang lain, demikian pula kekafiran hingga datang dari hal itu suatu perkara yang tidak ada perselisihan padanya.
“Fathul Bari” karya Ibnu Rajab 1/139)
Hanbal meriwayatkan darinya: Kekafiran di bawah kekafiran, tidak mengeluarkan dari Islam.
“Ma’unah Uli an-Nuha” 11/80
39 – Bab Tentang Orang yang Ditanya: Apakah Engkau Mukmin? Dan Makruhnya Pertanyaan tentang Hal Itu
Shalih berkata: Ayahku berkata: Aku mendengar Sufyan bin Uyainah berkata: Jika ditanya: Apakah engkau mukmin? Jika ia mau, ia tidak menjawabnya, (ia berkata:) ia berkata: Pertanyaanmu kepadaku adalah bid’ah, dan aku tidak ragu dalam imanku, tidak mencela orang yang berkata: Iman itu berkurang jika ia berkata: Insya Allah. Itu tidak dimakruhkan, dan bukan termasuk dalam keraguan.
“Masa’il Shalih” (1354)
Abu Daud berkata: Ahmad berkata: Yahya dan Sufyan berkata: Diingkari bagi seseorang untuk berkata: Aku adalah mukmin.
“Masa’il Abi Daud” (1774)
Harb berkata: Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, ia berkata: al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Ibrahim, dari Alqamah, ia berkata: Seorang laki-laki dari golongan Khawarij berbicara di sisinya dengan perkataan yang ia benci, maka Alqamah berkata: “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat” (Surah Al-Ahzab ayat 58) ayat tersebut. Maka Khawarij itu berkata: Apakah engkau termasuk mereka? Ia berkata: Aku berharap.
“Masa’il Harb” hal. 372
Harb berkata: Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari al-Hasan bin Ubaidillah, dari Ibrahim, ia berkata: Jika dikatakan kepadamu: Apakah engkau mukmin? Maka katakanlah: Aku berharap.
Dan ia berkata: Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari al-Hasan bin Amr, dari Fudail bin Ibrahim, ia berkata: Jika engkau ditanya: Apakah engkau mukmin? Maka katakanlah: Aku beriman kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya serta rasul-rasul-Nya, maka mereka akan memanggilmu.
Dan ia berkata: Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman menceritakan kepada kami, ia berkata: Hasan bin Ayyasy menceritakan kepadaku, dari Mughirah, dari Ibrahim, ia berkata: Pertanyaan seseorang kepada orang lain: Apakah engkau mukmin? adalah bid’ah.
Dan ia berkata: Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Atha’ bin as-Sa’ib, dari Sa’id bin Jubair, ia berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Umar, aku berkata: Apakah aku harus mandi dari memandikan mayat? Ia berkata: Apakah ia mukmin? Ia berkata: Aku berkata: Aku berharap. Ia berkata: Ia berkata: Maka usaplah dengan orang mukmin dan jangan mandi darinya.
“Masa’il Harb” hal. 372
Dan Harb berkata: Aku mendengar Ishaq berkata: Jangan berkata kepada seseorang bahwa ia adalah mukmin dengan nama iman yang ada padanya, dan ia menyebutkan hal itu dari an-Nadhr bin Syumail.
Dan ia berkata: Aku mendengar Ishaq berkata, dan seorang laki-laki bertanya kepadanya, maka ia berkata: Orang yang berkata: Aku adalah mukmin sungguh-sungguh, maka ia adalah kafir sungguh-sungguh.
Harb berkata: Ishaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Mu’tamir mengabarkan kepada kami, dari Laits, dari temannya, dari al-Hasan, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berkata bahwa ia adalah mukmin sungguh-sungguh, maka ia adalah munafik sungguh-sungguh.”
“Masa’il Harb” hal. 374
Harb berkata: Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Yazid menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Lahi’ah menceritakan kepada kami, ia berkata: Bakar bin Amr al-Ma’afiri menceritakan kepadaku, dari seorang laki-laki, ia berkata: Uqbah bin Amir berkata: Sesungguhnya seseorang itu memiliki kelebihan iman sebagaimana pakaian wanita memiliki kelebihan.
“Masa’il Harb” hal. 375
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Sulaiman bin Daud menceritakan kepada kami, Khalid bin Abdurrahman bin Bukair as-Salami menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku berada di sisi Muhammad, dan di sisinya ada Ayyub, maka aku berkata kepadanya: Wahai Abu Bakar, ia berkata kepadaku: Apakah engkau mukmin? Apakah aku berkata: Mukmin? Maka Ayyub membentak aku, lalu Muhammad berkata: Apa salahnya jika engkau berkata: Aku beriman kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya dan kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya.
Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrahman menceritakan kepada kami, Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami, dari Yahya bin Atiq dan Habib bin asy-Syahid, dari Muhammad bin Sirin, ia berkata: Jika dikatakan kepadamu: Apakah engkau mukmin? Maka katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim dan Ismail dan Ishaq” (Surah Al-Baqarah ayat 136).
Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrahman menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepadaku, dari Mahall, ia berkata: Ibrahim berkata kepadaku: Jika dikatakan kepadamu: Apakah engkau mukmin? Maka katakanlah: Kami beriman kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya dan kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya.
Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrahman menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepadaku, dari Ma’mar, dari Ibnu Thawus, dari ayahnya dengan hadits yang serupa.
Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrahman menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepadaku, dari al-Husain bin Amr, dari Ibrahim, ia berkata: Jika dikatakan kepadamu: Apakah engkau mukmin? Maka katakanlah: Tidak ada tuhan selain Allah.
Kitab “As-Sunnah” karya Abdullah 1/320-321 (647-651)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, Salamah bin Kuhail menceritakan kepadaku, dari Ibrahim, dari Alqamah, ia berkata: Seorang laki-laki berkata di sisi Abdullah: Sesungguhnya aku mukmin. Ia berkata: Katakanlah: Sesungguhnya aku di surga! Tetapi kami beriman kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya dan kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya.
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Abu Wa’il, ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Abdullah lalu berkata: Wahai Abu Abdurrahman, aku bertemu dengan rombongan, lalu aku berkata: Siapakah kalian? Mereka berkata: Kami adalah orang-orang mukmin. Abdullah berkata: Mengapa mereka tidak berkata: Kami adalah penghuni surga?!
Kitab “As-Sunnah” karya Abdullah 1/322 (655-656)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, Ma’mar mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, ia berkata: Ia biasa jika dikatakan kepadanya: Apakah engkau mukmin? Ia berkata: Aku beriman kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya dan kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya, tidak menambah dari itu.
Kitab “As-Sunnah” karya Abdullah 1/323 (660)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Syu’bah menceritakan kepada kami, Mughirah menceritakan kepada kami, dari Abu Wa’il, ia berkata: Seorang laki-laki berkata di sisi Abdullah: Sesungguhnya aku mukmin. Ia berkata: Katakanlah: Sesungguhnya aku di surga!
Kitab “As-Sunnah” karya Abdullah 1/326 (668)
Al-Khallal berkata: Ahmad bin Ashram al-Muzani mengabarkan kepadaku bahwa Abu Abdullah ditanya: Jika seseorang bertanya kepadaku: Apakah engkau mukmin? Ia berkata: Pertanyaannya kepadamu adalah bid’ah, jangan ragu dalam imanmu, atau ia berkata: Kami tidak ragu dalam iman kami.
Al-Muzani berkata: Dan hafalanku bahwa Abu Abdullah berkata: Aku berkata sebagaimana yang dikatakan Thawus: Aku beriman kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya dan kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya.
Dan ia berkata: Yusuf bin Musa mengabarkan kepadaku bahwa Abu Abdullah ditanya tentang orang yang dikatakan kepadanya: Apakah engkau mukmin? Ia berkata: Pertanyaannya kepadamu adalah bid’ah, ia berkata: Insya Allah.
Kitab “As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/478 (1068-1069)
Al-Khallal berkata: Ahmad bin al-Hasan mengabarkan kepadaku bahwa ia bertanya kepada Abu Abdillah: Seseorang berkata kepadaku: Apakah engkau mukmin? Maka ia (Abu Abdillah) menjawab: Pertanyaannya kepadamu adalah bid’ah, dan katakanlah: Aku mukmin, insya Allah.
Aku bertanya: Apakah aku mengatakan: insya Allah? Ia menjawab: Jika engkau mengatakan: insya Allah dan aku berharap.
Dan ia berkata: Ismail bin Ishaq ats-Tsaqafi mengabarkan kepada kami, bahwa Abu Abdillah ditanya tentang seseorang yang bertanya kepadaku: Apakah engkau mukmin? Ia menjawab: Engkau mengatakan: Ya, insya Allah.
Kitab “as-Sunnah” karya al-Khallal 1/478 (1071-1072)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Asyhab menceritakan kepada kami, dari al-Hasan; bahwa seorang laki-laki berkata di hadapan Abdullah—yaitu: Ibnu Mas’ud—: Sesungguhnya aku mukmin. Lalu dikatakan kepada Ibnu Mas’ud: Wahai Ibnu Mas’ud, sesungguhnya orang ini mengklaim bahwa ia mukmin.
Ia berkata: Maka tanyakanlah kepadanya: Apakah ia di surga ataukah di neraka?! Maka mereka bertanya kepadanya, lalu ia menjawab: Allah lebih mengetahui.
Maka Abdullah berkata kepadanya: Mengapa engkau tidak mewakilkan yang pertama sebagaimana engkau mewakilkan yang terakhir.
Kitab “as-Sunnah” karya al-Khallal 2/86 (1342)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari seorang laki-laki, dari Ibrahim, ia berkata: Pertanyaan tentangnya adalah bid’ah, dan aku tidak ragu.
Kitab “as-Sunnah” karya al-Khallal 2/88 (1350)
Abu al-Husain Ishaq bin Ahmad al-Kadzi berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abdullah bin Maimun ar-Raqqi menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Husain—yaitu: Abu al-Mulaih—mengabarkan kepada kami, ia berkata: Seorang laki-laki bertanya kepada Maimun bin Mihran, ia berkata kepadaku: Apakah engkau mukmin? Ia menjawab: Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, dan kitab-kitab-Nya. Ia berkata: Ia tidak ridha dariku dengan hal itu. Ia berkata: Maka ia mengulanginya, lalu ia berkata: Ia tidak ridha! Maka ia mengulanginya lagi kepadanya kemudian biarkanlah ia dalam kemarahannya berkelana.
Kitab “al-Ibanah”, Kitab al-Iman 2/877 (1202)
Muhammad bin Ahmad al-Bashir berkata: Utsman bin Ahmad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Abdillah—yaitu: Ahmad bin Hanbal—menceritakan kepadaku, ia berkata: Mu’tamir menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Nu’aim bin Abi Hind, ia berkata: Umar berkata: Barangsiapa mengatakan: Aku mukmin, maka ia kafir, dan barangsiapa mengatakan: Ia berilmu, maka ia jahil, dan barangsiapa mengatakan: Ia di surga, maka ia di neraka.
Kitab “Syarh Ushul al-I’tiqad” 5/1047 (1777)
Ismail bin Sa’id berkata: Aku bertanya kepada Ahmad tentang orang yang berkata: Aku mukmin menurut diriku dari sisi hukum dan warisan, dan aku tidak mengetahui apa diriku di sisi Allah?
Ia menjawab: Ia bukan Murji’ah.
Kitab “Majmu’ al-Fatawa” 8/253
40 – Bab: Pengecualian dalam Iman
Shalih berkata: Ayahku berkata: Aku mendengar Yahya bin Sa’id berkata: Aku tidak mendapati seorang pun dari sahabat-sahabat kami dan tidak sampai kepadaku kecuali atas pengecualian. Dan Yahya memandang baik pengecualian dan berpendapat demikian.
Kitab “Masail Shalih” (1355)
Abu Dawud berkata: Aku mendengar Ahmad, seorang laki-laki berkata kepadanya: Dikatakan kepadaku: Apakah engkau mukmin? Maka aku menjawab: Ya, apakah ada sesuatu yang memberatkanku dalam hal itu? Bukankah manusia hanya mukmin dan kafir?
Maka Ahmad marah dan berkata: Ini adalah ucapan Irja’, Allah berfirman: Dan yang lain-lain lagi ditangguhkan untuk menunggu keputusan Allah (Surat at-Taubah: 106), siapakah mereka ini?! Kemudian Ahmad berkata: Bukankah iman itu ucapan dan perbuatan? Laki-laki itu menjawab: Benar. Ia berkata: Maka apakah kita datang dengan ucapan? Ia menjawab: Ya. Ia berkata: Maka apakah kita datang dengan perbuatan? Ia menjawab: Tidak. Ia berkata: Maka bagaimana engkau mencela bahwa kami mengatakan: insya Allah dan kami mengecualikan?!
Maka Ahmad bin Abi Siraj ar-Razi mengabarkan kepadaku: Bahwa Ahmad bin Hanbal menulis kepadanya dalam masalah ini: Sesungguhnya iman itu ucapan dan perbuatan, maka kita datang dengan ucapan dan tidak datang dengan perbuatan, maka kami mengecualikan dalam perbuatan.
Maka aku mendengar Ahmad, laki-laki ini berkata kepadanya: Apakah ada keburukan bagiku dalam hal ini jika aku mengatakan: Aku mukmin? Ahmad menjawab: Jangan engkau mengatakan: Aku mukmin hakiki, dan tidak pula secara mutlak, dan tidak pula di sisi Allah.
Kitab “Masail Abi Dawud” (1770)
Ibnu Hani’ berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang: Pengecualian dalam iman? Maka ia berkata: Pengecualian dalam perbuatan, semoga kita telah melakukan kekurangan, dan ucapan ini datang dengannya.
Dan ia berkata: Yahya bin Sa’id berkata: Aku tidak mendapati seorang pun, tidak Ibnu Aun, dan tidak yang lainnya kecuali ia mengecualikan dalam iman setelahnya.
Kitab “Masail Ibnu Hani'” (1893)
Ibnu Hani’ berkata: Dan aku mendengarnya berkata: Aku berpendapat dengan hadits Ibnu Mas’ud dalam pengecualian dalam iman; karena iman itu: ucapan dan perbuatan, dan ucapan perbuatan, maka kita telah datang dengan ucapan, dan kami khawatir bahwa kami telah melalaikan dalam perbuatan, maka aku senang bahwa kami mengecualikan dalam iman, kami mengatakan: Aku mukmin insya Allah Ta’ala.
Kitab “Masail Ibnu Hani'” (1896)
Harb berkata: Ahmad bin Hanbal ditanya: Apa yang engkau katakan tentang pengecualian dalam iman?
Ia menjawab: Kami berpendapat demikian.
Ditanyakan: Seseorang mengatakan: Aku mukmin insya Allah? Ia menjawab: Ya.
Dan ia berkata: Aku bertanya kepada Ishaq, aku berkata: Apakah engkau mengatakan: Aku mukmin insya Allah?
Ia menjawab: Ya.
Kitab “Masail Harb” hlm. 371
Abdullah berkata: Aku bertanya kepada ayahku tentang seorang laki-laki yang berkata: Iman itu ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang tetapi ia tidak mengecualikan, apakah ia Murji’ah? Ia menjawab: Aku berharap ia bukan Murji’ah.
Dan ia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Hujjah atas orang yang tidak mengecualikan: Ucapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada penghuni kubur “Dan sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian” Ayahku berkata: Abdurrahman bin Mahdi menceritakannya kepadaku, Zuhair bin Muhammad menceritakan kepada kami, dari Syarik bin Abi Namir, dari Atha’ bin Yasar bahwa Aisyah radhiyallahu anhuma berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar ketika malam Aisyah, lalu ia mengucapkan ucapan ini.
Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, Ibnu Abi Dzi’b mengabarkan kepada kami, dari Muhammad bin Amr bin Atha’, dari Dzakwan, dari Aisyah radhiyallahu anhuma bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Adapun fitnah kubur maka karena aku kalian akan diuji, dan tentang aku kalian akan ditanya” lalu ia menyebutkan hadits. “Dan dikatakan: Ini adalah tempatmu darinya”, “Dan dikatakan: Atas keyakinan engkau ada dan atasnya engkau mati, dan atasnya engkau akan dibangkitkan insya Allah”.
Dan Muhammad bin Amir berkata: Maka Sa’id bin Yasar menceritakan kepadaku, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu ia menyebutkan hadits ini seperti hadits Aisyah sama.
Ayahku berkata: Sesungguhnya kami menjadikan pengecualian atas perbuatan; karena ucapan telah kita datangkan dengannya.
Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Mu’awiyah bin Hasyim dan Abu Ahmad menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Alqamah bin Marsad, dari Sulaiman bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengajarkan mereka ketika mereka keluar ke pekuburan, maka yang mengucapkan dari mereka berkata: “Assalamu alaikum ahlal diyar minal mu’minin wal muslimin, wa inna insya Allah bikum lahiqun” (Salam sejahtera atas kalian penghuni tempat dari orang-orang mukmin dan muslim, dan sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian).
Kitab “as-Sunnah” karya Abdullah 1/308-309 (600-603)
Abdullah bin Ahmad berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ibrahim bin Syammas menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Jarir bin Abdul Hamid berkata: Iman itu ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, ditanyakan kepadanya: Bagaimana engkau mengatakan? Ia menjawab: Aku mengatakan: Mukmin insya Allah.
Abdullah berkata: Dan sungguh aku telah melihat Ibrahim dan tidak mendengar darinya pada hari-hari ayahku, ia sedang dipenjara.
Kitab “as-Sunnah” karya Abdullah 1/315 (626)
Dan Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ibrahim bin Syammas menceritakan kepada kami, dan al-Khalil an-Nahwi berkata: Jika aku mengatakan: Mukmin, maka apa yang tersisa?
Kitab “as-Sunnah” karya Abdullah 1/316 (633)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ali bin Bahr menceritakan kepada kami, aku mendengar Jarir bin Abdul Hamid berkata: Iman itu ucapan dan perbuatan. Dan adalah al-A’masy, Manshur, Mughirah, Laits, Atha’ bin as-Sa’ib, Ismail bin Abi Khalid, Amarah bin al-Qa’qa’, al-Ala’ bin al-Musayyab, Ibnu Syubrimah, Sufyan ats-Tsauri, Abu Yahya sahabat al-Hasan, dan Hamzah az-Zayyat, mereka mengatakan: Kami adalah orang-orang mukmin—insya Allah, dan mereka mencela orang yang tidak mengecualikan.
Kitab “as-Sunnah” karya Abdullah 1/335 (697)
Abdullah berkata: Aku membaca di hadapan ayahku rahimahullah: Mahdi bin Ja’far ar-Ramli menceritakan kepada kami, al-Walid—yaitu Ibnu Muslim—menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Amr—yaitu: al-Auza’i—, Malik bin Anas, dan Sa’id bin Abdul Aziz mengingkari bahwa seseorang mengatakan: Aku mukmin, dan mereka mengizinkan pengecualian bahwa aku mengatakan: Aku mukmin insya Allah.
Kitab “as-Sunnah” karya Abdullah 1/347 (744)
Abdullah berkata: Aku mendengar ayahku rahimahullah berkata: Aswad bin Salim berkata: Aku tidak meriwayatkan dari Alqamah sesuatu pun; karena ia berkata: Aku berharap aku menjadi mukmin. Shadaqah al-Marwazi berdebat dengannya di pintu Ibnu Ulayyah tentang seseorang yang mengatakan: Aku mukmin hakiki, Shadaqah mengingkarinya, dan kami semua mengingkari hal itu, dan Aswad berkata: Aku mukmin hakiki, dan ia menta’wilkan ayat ini Dan orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah, serta orang-orang yang memberi tempat dan memberi pertolongan, mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman (Surat al-Anfal: 74), maka ayahku berkata: Sesungguhnya ini hanya untuk orang yang memberi tempat dan memberi pertolongan, ini adalah sesuatu yang telah berlalu dan terputus, ini khusus untuk mereka.
Kitab “as-Sunnah” karya Abdullah 1/384 (832)
Al-Khallal berkata: Muhammad bin al-Hasan bin Harun mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang pengecualian dalam iman?
Maka ia berkata: Ya, pengecualian bukan dengan makna keraguan; karena ketakutan dan kehati-hatian terhadap perbuatan, dan sungguh Ibnu Mas’ud dan yang lainnya telah mengecualikan, dan ini adalah mazhab ats-Tsauri, Allah Azza wa Jalla berfirman: Sungguh kamu akan masuk ke Masjidil Haram insya Allah dalam keadaan aman (Surat al-Fath: 27), dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada para sahabatnya: “Sesungguhnya aku berharap bahwa aku adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian kepada Allah”.
Dan ia bersabda di al-Baqi’: “Atasnya kami akan dibangkitkan insya Allah”.
Dan ia berkata: Harb bin Ismail mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Ahmad berkata dalam salam kepada penghuni kubur bahwa ia bersabda: “Dan sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian”.
Dia berkata: Ini adalah dalil tentang pengecualian dalam iman, karena tidak ada keraguan bahwa mereka pasti akan menyusul, dan Allah Azza wa Jalla berfirman: “Sungguh, kamu akan masuk Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman” (Surah Al-Fath: 27), dan ini juga merupakan dalil, karena mereka pasti akan memasukinya.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/471-472 (1049-1050)
Al-Khallal berkata: Dan Muhammad bin Abi Harun memberitahukan kepadaku bahwa Hubaysy bin Sindi telah menceritakan kepada mereka tentang masalah ini. Abu Abdillah berkata: Perkataan Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika beliau berdiri di pekuburan, lalu bersabda: “Dan sesungguhnya kami, insya Allah, akan menyusul kalian”, padahal kematiannya telah diberitahukan kepada beliau bahwa beliau akan meninggal, dan dalam kisah penghuni kubur: “Dengan hal itu kamu hidup, dengan hal itu kamu mati, dan dengan hal itu kamu akan dibangkitkan, insya Allah”, dan dalam sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Sesungguhnya aku menyimpan doaku dan ia akan mencapai—insya Allah—orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun”. Dan dalam pertanyaan seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam: Salah seorang dari kami bangun dalam keadaan junub, apakah ia berpuasa? Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya aku melakukan hal itu kemudian aku berpuasa”, lalu dia berkata: Sesungguhnya engkau tidak seperti kami, engkau telah diampuni oleh Allah apa yang telah lalu dari dosamu. Maka beliau bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya aku sangat berharap bahwa aku adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian”, dan hal-hal seperti ini banyak dan sejenisnya berdasarkan keyakinan.
Dia berkata: Dan seorang syaikh masuk menemuinya lalu bertanya kepadanya tentang iman. Maka dia berkata: Perkataan dan perbuatan.
Lalu dia bertanya: Apakah bertambah? Maka dia berkata: Bertambah dan berkurang. Lalu dia bertanya: Apakah aku mengatakan: Saya mukmin insya Allah?
Dia berkata: Ya. Maka dia berkata: Sesungguhnya mereka berkata kepadaku bahwa engkau ragu-ragu. Dia berkata: Buruk apa yang mereka katakan. Kemudian dia keluar lalu berkata: Kembalikanlah dia. Maka dia berkata: Bukankah mereka mengatakan: Iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang? Dia berkata: Ya. Dia berkata: Mereka ini mengecualikan. Dia berkata kepadanya: Bagaimana wahai Abu Abdillah?! Dia berkata: Katakan kepada mereka: Kalian mengklaim bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan, maka perkataan telah kalian datangkan, dan perbuatan belum kalian datangkan, maka inilah pengecualian untuk perbuatan ini. Maka dikatakan kepadanya: Apakah mengecualikan dalam iman? Dia berkata: Ya, aku mengatakan: Saya mukmin insya Allah, aku mengecualikan dengan keyakinan bukan dengan keraguan. Kemudian dia berkata: Allah berfirman: “Sungguh, kamu akan masuk Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman” (Surah Al-Fath: 27), maka Dia Tabaraka wa Ta’ala telah mengetahui bahwa mereka akan masuk Masjidil Haram.
Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali memberitahukan kepadaku, dia berkata: Al-Atsram menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami dengan hadits Aisyah rahimahallah dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Sesungguhnya aku sangat berharap bahwa aku adalah orang yang paling takut kepada Allah”, maka dia berkata: Ini juga “berharap”, yaitu: ia adalah dalil tentang pengecualian dalam iman, yaitu: sesungguhnya beliau telah mengatakan: berharap, padahal beliau adalah orang yang paling takut kepada-Nya.
Al-Khallal berkata: Muhammad bin Al-Husain memberitahukan kepadaku bahwa Al-Fadhl telah menceritakan kepada mereka: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Sulaiman bin Harb membawa ini—yaitu pengecualian—kepada penerimaan, dia berkata: Kami beramal dan tidak tahu apakah diterima dari kami atau tidak.
Al-Khallal berkata: Dan Ahmad bin Muhammad bin Mathar memberitahukan kepadaku, dia berkata: Abu Thalib menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Kami tidak menemukan cara lain kecuali pengecualian, karena jika dia berkata: Saya mukmin, maka dia telah mendatangkan perkataan, maka pengecualian itu adalah untuk perbuatan bukan untuk perkataan.
Dan dia berkata: Al-Husain bin Al-Hasan memberitahukan kepadaku, dia berkata: Ibrahim bin Al-Harits menceritakan kepada kami bahwa dia mendengar Abu Abdillah berkata. Dan Muhammad bin Ali memberitahukan kepadaku, dia berkata: Abu Bakar Al-Atsram menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah—yaitu ketika dia berkata kepadanya: Pengecualian adalah karena kekhawatiran dan kehati-hatian.
Maka aku berkata kepadanya: Seolah-olah engkau tidak melihat masalah jika tidak mengecualikan? Maka dia berkata: Jika dia termasuk orang yang mengatakan: Iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, maka itu lebih mudah bagiku. Kemudian Abu Abdillah berkata: Sesungguhnya ada kaum yang hati mereka lemah untuk mengecualikan, seolah-olah heran kepada mereka.
Dan dia berkata: Muhammad bin Abdillah bin Ibrahim memberitahukan kepadaku bahwa ayahnya menceritakan kepadanya, dia berkata: Ahmad bin Al-Qasim menceritakan kepadaku. Dan Zakariya bin Al-Faraj memberitahukan kepadaku dari Ahmad bin Al-Qasim bahwa dia berkata kepada Abu Abdillah: Diriwayatkan dari Al-Auza’i bahwa dia berkata: Pengecualian dan meninggalkan pengecualian adalah sama, sebagaimana Allah berfirman: “Sungguh, kamu akan masuk Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman” (Surah Al-Fath: 27), maka ini bukan berdasarkan keraguan. Maka aku tidak melihat dia menyukai meninggalkan pengecualian, dan aku melihatnya lebih banyak pada pendapatnya.
Dan dia berkata: Dan Muhammad bin Musa memberitahukan kepadaku bahwa Hubaysy bin Sindi menceritakan kepada kami dari Abu Abdillah, dia berkata: Sampai kepadaku dari Abdurrahman bin Mahdi bahwa dia berkata: Awal Irja’ adalah meninggalkan pengecualian.
Dan dia berkata: Dan Hamid bin Ahmad memberitahukan kepadaku bahwa dia mendengar Al-Hasan bin Muhammad bin Al-Harits bahwa dia bertanya kepada Abu Abdillah: Apakah shahih perkataan Al-Harits bin Umairah bahwa Ibnu Mas’ud kembali dari pengecualian? Maka dia berkata: Tidak shahih, demikian pula para sahabatnya—yaitu tetap pada pengecualian. Kemudian dia berkata: Aku mendengar Hajjaj dari Syarik dari Al-A’masy dan Mughirah dari Abu Wa’il bahwa seorang penenun menyampaikan kepada dia perkataan Abdullah, dia berkata: Kekeliruan seorang alim—yaitu ketika dia berkata kepadanya: Jika mereka berkata: Sesungguhnya kami adalah mukmin, maka dia berkata: Mengapa kalian tidak bertanya kepada mereka apakah mereka di surga?
Dan Ahmad sangat mengingkari perkataanku: Dia kembali dari pengecualian dengan sangat keras, dan berkata: Demikian pula para sahabatnya mengatakan dengan pengecualian.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/472-476 (1054-1062)
Al-Khallal berkata: Dan Muhammad bin Abi Harun memberitahukan kepadaku bahwa Ishaq menceritakan kepada mereka, dia berkata: Dan aku mendengar Abu Abdillah ditanya tentang sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Dan sesungguhnya kami, insya Allah, akan menyusul kalian”. Pengecualian di sini jatuh pada apa? Dia berkata: Pada tempat, beliau tidak tahu apakah beliau akan dikubur di tempat yang sama dengan mereka atau di tempat lain.
Dan dia berkata: Dan Abdul Malik bin Abdul Hamid memberitahukan kepadaku bahwa dia bertanya kepada Abu Abdillah tentang perkataannya dan pendapatnya tentang: Mukmin insya Allah.
Dia berkata: Aku mengatakan: Mukmin insya Allah, dan mukmin semoga, karena dia tidak tahu bagaimana pelaksanaannya terhadap amal-amal yang telah diwajibkan atasnya atau tidak.
Dan dia berkata: Dan Al-Hasan bin Abdul Wahhab memberitahukan kepadaku, dia berkata: Abu Bakar bin Hammad Al-Muqri menceritakan kepada kami, dan sebagian teman-teman kami memberitahukan kepadaku, dia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Seandainya perkataannya seperti yang dikatakan Murji’ah bahwa iman adalah perkataan, kemudian mengecualikan setelah itu atas perkataan, maka ini jelek jika engkau mengatakan: Laa ilaaha illallah, tetapi pengecualian itu adalah atas perbuatan.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/477 (1065-1067)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, dia berkata: Seorang laki-laki menceritakan kepada kami—dan laki-laki itu adalah Ali—dari Jarir bin Abdul Hamid dari Mughirah dari Simak bin Salamah Ad-Dhabbi dari Abdurrahman bin Ishmah, dia berkata: Aku berada di sisi Aisyah rahimahallah, lalu utusan Mu’awiyah datang kepadanya dengan hadiah, lalu dia berkata: Amirul Mukminin mengirimkannya kepadamu. Maka dia berkata: Amirul Mukminin insya Allah, dan dia adalah amir kalian, dan dia menerima hadiah tersebut.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/39 (1168)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, dia berkata: Mu’awiyah bin Hisyam dan Abu Ahmad menceritakan kepada kami, dia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami dari Alqamah bin Marthad dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam biasa mengajarkan mereka jika mereka keluar ke pekuburan, maka beliau berkata: “Assalamu alaikum wahai penghuni tempat tinggal dari kalangan mukmin dan muslim, sesungguhnya kami—insya Allah—akan menyusul kalian”, Mu’awiyah bin Hisyam berkata: “Kalian mendahului kami, dan kami mengikuti kalian, dan kami memohon kepada Allah untuk kami dan untuk kalian kesejahteraan”.
Dan dia berkata: Abu Bakar memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, dia berkata: Affan menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdul Wahid bin Ziyad menceritakan kepada kami, dia berkata: Sa’id bin Katsir bin Ubaid menceritakan kepada kami, dia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku bahwa dia mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka haram bagiku darah mereka dan harta mereka, dan perhitungan mereka kepada Allah”.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/40-41 (1173-1174)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, dia berkata: Yazid menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Amr menceritakan kepada kami dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, dia berkata: Sesungguhnya mayit mendengar derap sandal mereka ketika mereka berpaling darinya pergi, maka jika dia mukmin, maka shalat berada di dekat kepalanya, dan puasa berada di sebelah kanannya, dan zakat berada di sebelah kirinya, dan perbuatan kebaikan berupa sedekah, kebaikan dan ihsan kepada manusia berada di dekat kakinya. Maka dia didatangi dari arah kepalanya, lalu shalat berkata: Tidak ada jalan masuk dari arahku. Kemudian dia didatangi dari sebelah kanannya, maka puasa berkata: Tidak ada jalan masuk dari arahku. Kemudian dia didatangi dari sebelah kirinya, maka zakat berkata: Tidak ada jalan masuk dari arahku. Kemudian dia didatangi dari arah kakinya, maka perbuatan kebaikan berupa sedekah, shalat, kebaikan dan ihsan kepada manusia berkata: Tidak ada jalan masuk dari arahku. Maka dikatakan kepadanya: Duduklah. Maka dia duduk, matahari telah dihadirkan untuknya, telah dihadirkan untuk terbenam. Maka dikatakan kepadanya: Beritahukan kepada kami tentang apa yang kami tanyakan kepadamu. Dia berkata: Maka dia berkata: Biarkanlah aku shalat. Mereka berkata: Sesungguhnya engkau akan melakukannya, beritahukan kepada kami tentang apa yang kami tanyakan kepadamu. Dia berkata: Apa yang kalian tanyakan? Dia berkata: Bagaimana menurutmu laki-laki ini yang berada di antara kalian, apa yang engkau katakan tentangnya? Dan apa yang engkau saksikan tentangnya? Dia berkata: Muhammad? Mereka berkata: Ya. Dia berkata: Aku bersaksi bahwa dia adalah utusan Allah shallallahu alaihi wasallam dan bahwa dia datang dengan kebenaran dari sisi Allah. Maka dikatakan kepadanya: Dengan hal itu kamu hidup, dengan hal itu kamu mati, dan dengan hal itu kamu akan dibangkitkan—insya Allah. Kemudian dibukakan untuknya pintu dari pintu-pintu surga, maka dikatakan kepadanya: Itulah tempatmu di dalamnya, dan apa yang telah Allah persiapkan untukmu di dalamnya. Maka bertambahlah kegembiraannya dan kegirangan. Kemudian dibukakan untuknya pintu dari pintu-pintu neraka, maka dikatakan kepadanya: Itulah tempatmu di dalamnya dan apa yang telah Allah persiapkan untukmu di dalamnya jika engkau bermaksiat kepada-Nya. Maka bertambahlah kegembiraannya dan kegirangan. Kemudian dilebarkan untuknya kuburnya tujuh puluh hasta, dan diterangi untuknya di dalamnya, dan dijadikan jiwanya dalam hembusan yang baik, dan ia adalah burung hijau yang bergantung di pohon surga, dan dikembalikan jasadnya kepada apa yang dimulai darinya yaitu tanah, dan itu adalah firman Allah Tabaraka wa Ta’ala: “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim, dan Allah melakukan apa yang Dia kehendaki” (Surah Ibrahim: 27).
Maka jika dia kafir, dia didatangi dari arah kepalanya maka tidak ditemukan sesuatu, kemudian dia didatangi dari sebelah kanannya maka tidak ditemukan sesuatu, kemudian dia didatangi dari sebelah kirinya maka tidak ditemukan sesuatu, kemudian dia didatangi dari arah kakinya maka tidak ditemukan sesuatu. Maka dikatakan: Duduklah. Maka dia duduk dalam keadaan takut dan ketakutan. Maka dikatakan kepadanya: Bagaimana menurutmu laki-laki ini yang berada di antara kalian? Apa yang engkau katakan tentangnya? Dan apa yang engkau saksikan tentangnya? Maka dia berkata: Laki-laki yang mana? Maka dikatakan: Laki-laki yang berada di antara kalian! Maka dia tidak dapat menemukan namanya, hingga dikatakan kepadanya: Muhammad! Maka dia berkata: Aku tidak tahu, aku mendengar manusia mengatakan perkataan maka aku katakan sebagaimana yang dikatakan manusia. Maka dikatakan kepadanya: Dengan hal itu kamu hidup, dengan hal itu kamu mati, dan dengan hal itu kamu akan dibangkitkan—insya Allah. Kemudian dibukakan untuknya pintu dari pintu-pintu neraka, maka dikatakan kepadanya: Itulah tempatmu di dalamnya dan apa yang telah Allah persiapkan untukmu di dalamnya. Maka bertambahlah penyesalannya dan kecelakaannya. Kemudian dibukakan untuknya pintu dari pintu-pintu surga, maka dikatakan kepadanya: Itulah tempatmu di dalamnya dan apa yang telah Allah persiapkan untukmu di dalamnya jika engkau menaati-Nya. Maka bertambahlah penyesalannya dan kecelakaannya. Kemudian disempitkan atasnya kuburnya, hingga rusuk-rusuknya saling bersilangan, dan itulah kehidupan yang sempit yang difirmankan oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala: “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (Surah Thaha: 124).
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/42-43 (1176)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, dia berkata: Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, dia berkata: Ibnu Abi Dzi’b menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Amr bin Atha’ dari Dzakwan dari Aisyah rahimahallah dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Adapun fitnah kubur, maka di dalamnya kalian akan diuji, dan tentang aku kalian akan ditanya. Maka jika laki-laki yang saleh didudukkan di kuburnya tanpa takut dan tanpa gentar, kemudian dikatakan kepadanya: Dalam apa kamu berada dalam Islam? Maka dikatakan kepadanya: Siapa laki-laki ini yang berada di antara kalian? Maka dia berkata: Muhammad utusan Allah shallallahu alaihi wasallam, dia datang kepada kami dengan bukti-bukti yang nyata dari sisi Allah, maka kami membenarkannya. Maka dibukakan untuknya bukaan ke arah neraka, lalu dia melihat ke dalamnya yang saling menghancurkan sebagiannya dengan sebagian yang lain. Maka dikatakan kepadanya: Lihatlah apa yang telah Allah lindungi untukmu. Kemudian dibukakan untuknya bukaan ke surga, lalu dia melihat keindahannya dan apa yang ada di dalamnya. Maka dikatakan kepadanya: Inilah tempatmu di dalamnya. Dan dikatakan kepadanya: Dengan keyakinan kamu berada, dengan hal itu kamu mati, dan dengan hal itu kamu akan dibangkitkan insya Allah.
Dan jika laki-laki yang buruk didudukkan di kuburnya dalam keadaan takut dan gentar, maka dikatakan kepadanya: Dalam apa kamu berada? Maka dia berkata: Aku tidak tahu. Maka dikatakan kepadanya: Siapa laki-laki ini yang berada di antara kalian? Maka dia berkata: Aku mendengar manusia mengatakan perkataan maka aku katakan sebagaimana yang mereka katakan. Maka dibukakan untuknya bukaan ke arah surga, lalu dia melihat keindahannya dan apa yang ada di dalamnya. Maka dikatakan kepadanya: Lihatlah apa yang telah Allah palingkan darimu. Kemudian dibukakan untuknya bukaan ke arah neraka, lalu dia melihat ke dalamnya yang saling menghancurkan sebagiannya dengan sebagian yang lain. Dan dikatakan: Inilah tempatmu di dalamnya, dengan keraguan kamu berada, dengan hal itu kamu mati, dan dengan hal itu kamu akan dibangkitkan insya Allah. Kemudian dia disiksa”.
Muhammad bin Amr berkata: Maka Sa’id bin Yasar menceritakan kepadaku dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu dia menyebutkan hadits kemudian mereka berdua sampai ke kubur, maka laki-laki yang saleh didudukkan, lalu dikatakan kepadanya, dan dia menjawab seperti dalam hadits Aisyah, dan laki-laki yang buruk didudukkan, lalu dikatakan kepadanya, dan dia menjawab seperti dalam hadits Aisyah sama persis.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, dia berkata: Rauh dan Abu Al-Mundzir menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Malik menceritakan kepada kami dari Abdullah bin Abdurrahman bin Ma’mar Al-Anshari dari Abu Yunus maula Aisyah dari Aisyah bahwa seorang laki-laki berkata: Wahai Rasulullah—sementara beliau berdiri di pintu—Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku bangun junub sedang aku ingin berpuasa? Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Dan aku bangun junub sedang aku ingin berpuasa kemudian aku mandi lalu aku berpuasa”. Laki-laki itu berkata: Sesungguhnya engkau tidak seperti kami, sesungguhnya engkau telah diampuni oleh Allah apa yang telah lalu dari dosamu dan apa yang akan datang. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam marah dan bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya aku sangat berharap bahwa aku adalah orang yang paling takut di antara kalian kepada Allah dan paling mengetahui apa yang aku takuti”. Abu Al-Mundzir berkata: “Dan paling mengetahui di antara kalian apa yang aku takuti”.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/43-44 (1179-1180)
Abu Bakar Al-Atsram berkata: Aku mendengar Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal ditanya tentang pengecualian dalam iman, apa yang engkau katakan tentangnya? Dia berkata: Adapun aku, maka aku tidak mencacinya. Abu Abdillah berkata: Jika dia mengatakan: Sesungguhnya iman adalah perkataan dan perbuatan, dan pengecualian adalah karena kekhawatiran dan kehati-hatian, bukan sebagaimana yang mereka katakan berdasarkan keraguan, bukankah engkau mengecualikan untuk perbuatan? Allah Azza wa Jalla berfirman: “Sungguh, kamu akan masuk Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman” (Surah Al-Fath: 27), maka ini adalah pengecualian tanpa keraguan, dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku sangat berharap bahwa aku adalah orang yang paling takut kepada Allah Azza wa Jalla di antara kalian”. Dia berkata: Semua ini adalah penguatan untuk pengecualian dalam iman.
“Asy-Syari’ah” karya Al-Ajurri hal. 118 (257)
Al-Fadhl bin Ziyad berkata: Dan aku mendengar Abu Abdillah berkata: Jika dia berkata: Saya mukmin—insya Allah—maka dia bukanlah orang yang ragu-ragu. Dikatakan kepadanya: Insya Allah, bukankah itu keraguan? Maka dia berkata: Ma’adzallah, bukankah Allah Azza wa Jalla telah berfirman: “Sungguh, kamu akan masuk Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman” (Surah Al-Fath: 27) dan dalam pengetahuan-Nya bahwa mereka akan memasukinya. Dan penghuni kubur jika dikatakan kepadanya: Dan dengan hal itu kamu akan dibangkitkan—insya Allah, maka keraguan apa di sini?! Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Dan sesungguhnya kami, insya Allah, akan menyusul kalian”.
“Asy-Syari’ah” karya Al-Ajurri hal. 119 (258)
Abu Bakar Al-Atsram berkata: Aku mendengar Abu Abdillah ditanya tentang pengecualian, maka dia berkata: Jika dia mengatakan: Iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, maka aku mengecualikan karena kekhawatiran dan kehati-hatian bukan sebagaimana yang mereka katakan berdasarkan keraguan, pengecualian itu hanyalah untuk perbuatan.
Al-Atsram berkata: Dikatakan kepada Abu Abdillah: Mereka mengklaim bahwa Sufyan berpendapat dengan pengecualian dalam iman. Maka dia berkata: Ini adalah madzhab Sufyan yang dikenal dengannya yaitu pengecualian.
Aku berkata kepada Abu Abdillah: Siapa yang meriwayatkannya dari Sufyan? Maka dia berkata: Setiap orang yang meriwayatkan dari Sufyan dalam hal ini meriwayatkan bahwa dia mengecualikan, dan Waki’ berkata dari Sufyan: Manusia menurut kami adalah mukmin dalam hukum dan warisan, dan kami tidak tahu apa kedudukan mereka di sisi Allah.
“Al-Ibanah” Kitab Al-Iman 2/875 (1199-1200)
Abu Bakar al-Marwadzi berkata: Ditanyakan kepada Abu Abdullah: Jika aku mengecualikan (menggunakan istitsna’) dalam imanku, apakah aku menjadi orang yang ragu? Ia menjawab: Tidak.
Kemudian dikatakan kepada Abu Abdullah: Apakah iman Hajjaj bin Yusuf sama dengan iman Abu Bakar? Ia menjawab: Tidak.
Dikatakan: Apakah imannya sama dengan iman Nabi shallallahu alaihi wasallam? Ia berkata: Maka orang-orang Murjiah mengatakan: Iman itu hanya perkataan.
“Al-Ibanah” tentang Iman 2/905 (1271).
Hanbal berkata: Aku mendengar Abu Abdullah Ahmad ditanya tentang iman, lalu ia berkata: Perkataan, perbuatan, dan niat.
Dikatakan kepadanya: Jika seseorang ditanya: Apakah engkau mukmin? Ia berkata: Ini adalah bid’ah. Dikatakan kepadanya: Lalu apa yang harus dijawab? Ia berkata: Ia mengatakan: Mukmin -insya Allah- kecuali ia harus mengecualikan dalam posisi ini.
Kemudian Abu Abdullah berkata: Dan iman itu bertambah dan berkurang, maka bertambahnya dengan amal, dan berkurangnya dengan meninggalkan amal. Allah berfirman agar mereka bertambah iman dengan iman mereka (Surat Al-Fath: 4) maka ia bertambah dan berkurang. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada penghuni kubur ketika mengunjungi mereka: “Dan sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian” maka beliau mengecualikan, padahal Nabi shallallahu alaihi wasallam telah mengetahui bahwa beliau akan meninggal namun beliau mengecualikannya.
“Syarh Ushul al-I’tiqad” 5/1057 (1798)
Isa bin Ja’far berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah tentang pengecualian dalam iman, lalu ia berkata: Aku berpendapat dengannya berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla: Sungguh kalian akan memasuki Masjidil Haram insya Allah dalam keadaan aman, kalian mencukur kepala kalian (Surat Al-Fath: 27). Allah telah mengetahui bahwa mereka akan masuk, namun mengecualikan, dan berdasarkan firman-Nya Azza wa Jalla: Masuklah ke Mesir insya Allah dalam keadaan aman (Surat Yusuf: 99). Dan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Salam sejahtera untuk kalian wahai penghuni pemakaman dari orang-orang mukmin dan muslimin, dan sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian” maka Nabi shallallahu alaihi wasallam telah mengetahui bahwa beliau akan menyusul mereka namun beliau mengecualikan.
“Thabaqat al-Hanabilah” 2/181
41 – Bab: Fitnah Murjiah dan Kemunculan Mereka serta Orang Pertama yang Berbicara tentang Hal Itu
Ibnu Hani berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah: Siapakah orang pertama yang berbicara tentang iman?
Ia berkata: Mereka mengatakan orang pertama yang berbicara tentangnya adalah Dzarr.
Ibnu Hani berkata: Ahmad rahimahullah berkata: Maka Syu’bah berkata: Aku berkata kepada Hammad bin Abi Sulaiman: Al-A’masy, Zubaid, dan Manshur ini telah menceritakan kepada kami, dari Abu Wa’il, dari Abdullah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Mencaci orang Muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran” lalu siapa di antara mereka yang tertuduh? Apakah al-A’masy tertuduh? Apakah Manshur tertuduh? Apakah Zubaid tertuduh? Ia berkata: Abu Wa’il yang tertuduh.
Aku bertanya kepada Abu Abdullah: Dan apa yang tertuduh dari Abu Wa’il?!
Ia berkata: Pendapatnya yang buruk -maksudnya: Hammad.
Aku mendengar Abu Abdullah berkata: Ibnu ‘Aun berkata: Hammad adalah dari kalangan kami, hingga ia mengada-adakan sesuatu.
Ibnu ‘Aun berkata: Ia mengada-adakan Irja’ (paham Murjiah).
“Masa’il Ibnu Hani” (1901-1902)
Harb berkata: Dan aku mendengar Ishaq juga berkata: Orang pertama yang berbicara tentang Irja’ konon adalah Hasan bin Muhammad bin al-Hanafiyyah, kemudian Murjiah berlebihan hingga menjadi pendapat mereka: Bahwa ada kaum yang mengatakan: Barangsiapa meninggalkan kewajiban-kewajiban, puasa Ramadan, zakat, haji, dan kebanyakan kewajiban tanpa mengingkarinya maka kami tidak mengkafirkannya, urusannya diserahkan kepada Allah setelahnya; karena ia mengikrarnya. Maka mereka inilah orang-orang Murjiah yang tidak diragukan lagi, kemudian mereka berbagai golongan: di antara mereka ada yang mengatakan: Kami adalah mukmin selamanya, dan tidak mengatakan: di sisi Allah, dan mereka berpendapat iman itu perkataan dan perbuatan, dan mereka inilah yang paling baik, dan ada kaum yang mengatakan: Iman itu perkataan dan dibenarkan dengan amal, dan amal bukan dari iman, tetapi amal itu kewajiban, sedangkan iman adalah perkataan, dan mereka mengatakan: Kebaikan-kebaikan kami diterima, dan kami adalah mukmin di sisi Allah, dan iman kami dengan iman Jibril adalah satu. Maka mereka inilah yang tentang mereka datang hadits bahwa mereka adalah Murjiah yang dilaknat di lisan para nabi.
“Masa’il Harb” hal. 377
Harb berkata: Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Bisyr menceritakan kepada kami, ia berkata: Sa’id bin Shalih menceritakan kepadaku, dari Hakim bin Jubair, ia berkata: Ibrahim berkata: Murjiah lebih aku khawatirkan terhadap umat Islam daripada sejumlah mereka dari kalangan Azariqah.
“Masa’il Harb” hal. 378.
Harb berkata: Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Qasim bin Habib menceritakan kepada kami, dari seorang laki-laki yang disebut: Nizar bin Hayyan, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas ia berkata: Dua golongan dari umat ini tidak memiliki bagian dalam Islam: Murjiah dan Qadariyah.
Dan ia berkata: Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Mu’awiyah bin ‘Amr menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Ishaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Awza’i berkata: Yahya dan Qatadah mengatakan: Tidak ada dari ahwa (hawa nafsu/bid’ah) yang lebih mereka khawatirkan daripada Irja’.
Dan ia berkata: Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Mu’ammal menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Sufyan berkata: Ibrahim berkata: Murjiah meninggalkan agama lebih tipis dari kain Sabiri.
Dan ia berkata: Ahmad menceritakan kepada kami, Abdullah bin Maimun Abu Abdurrahman ar-Raqqi menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Mulih mengabarkan kepada kami, ia berkata: Maimun ditanya tentang ucapan Murjiah, lalu ia berkata: Aku lebih tua dari itu.
Dan ia berkata: Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Abi al-Waddhah menceritakan kepadaku, dari al-‘Ala’ bin Abdullah bin Rafi’, bahwa Abu ‘Amr mendatangi Ibnu Jubair suatu hari untuk suatu keperluan, ia berkata: Lalu ia berkata: Tidak, hingga engkau memberitahuku pada agama apa engkau hari ini? Karena engkau tidak henti-hentinya mencari agama yang telah engkau sesatkan, tidakkah engkau malu dari pendapat yang engkau lebih tua darinya.
“Masa’il Harb” hal. 378-379
Harb berkata: Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu ‘Amr menceritakan kepada kami, ia berkata: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari ‘Atha’ bin as-Sa’ib, dari Zadzan dan Maisarah, keduanya berkata: Kami mendatangi Hasan bin Muhammad lalu kami berkata: Apa kitab yang telah engkau tulis ini -dan ia adalah orang yang mengeluarkan kitab Murjiah?
Zadzan berkata: Lalu ia berkata kepadaku: Wahai Abu ‘Amr, aku berharap aku mati sebelum aku mengeluarkan kitab ini.
“Masa’il Harb” hal. 379.
Abdullah berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, Abdullah bin Numair menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Sufyan, dan ia menyebut Murjiah, lalu ia berkata: Pendapat yang baru muncul, kami mendapati manusia atas selainnya.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/311 (610), 1/338 (710)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Hajjaj menceritakan kepada kami, Syarik mengabarkan kepada kami, dari al-A’masy dan Mughirah, dari Abu Wa’il bahwa seorang tukang tenun dari Murjiah sampai kepadanya ucapan Abdullah tentang iman, lalu ia berkata: Kekeliruan dari seorang yang berilmu.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/312 (615)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari ‘Atha’ bin as-Sa’ib, dari Sa’id bin Jubair ia berkata: Perumpamaan Murjiah seperti Shabi’in.
“As-Sunnah” karya Abdullah 2/311 (616), 1/338 (708)
Dan Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Mu’ammal menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Sa’id bin Shalih menceritakan kepada kami, ia berkata:
Ibrahim berkata: Sungguh bekas-bekas fitnah Murjiah lebih aku khawatirkan terhadap umat ini daripada fitnah Azariqah.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/312 (617)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yunus menceritakan kepada kami, Hammad menceritakan kepada kami, dari Ibnu ‘Aun ia berkata: Ibrahim mencela Dzarr atas ucapannya tentang Irja’.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/313 (619)
Abdullah berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, Mu’awiyah bin ‘Amr menceritakan kepada kami, Abu Ishaq menceritakan kepada kami, dari al-Awza’i ia berkata: Abu Sa’id al-Khudri mengatakan: Kesaksian adalah bid’ah, pembebasan adalah bid’ah, dan Irja’ adalah bid’ah.
Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Hasan bin Musa menceritakan kepada kami, Syarik menceritakan kepada kami, dari Ibnu Abi Laila, dari al-Hakam, dari Abu al-Bakhtari, aku berkata kepada Syarik: dari Ali radhiyallahu anhu lalu ia menyebutkannya, ia berkata: Irja’ adalah bid’ah, kesaksian adalah bid’ah, pembebasan adalah bid’ah.
Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu ‘Amir al-‘Aqadi menceritakan kepada kami, Abu Hilal menceritakan kepada kami, dari Qatadah ia berkata: Sesungguhnya Irja’ baru muncul setelah kekalahan Ibnu al-Asy’ats.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/338 (642-644)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Abdullah menceritakan kepada kami, Abdullah bin Habib menceritakan kepada kami, dari ibunya ia berkata: Aku mendengar Sa’id bin Jubair, dan ia menyebut Murjiah, lalu ia berkata: Yahudi.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/323 (661)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, al-Walid bin Muslim menceritakan kepada kami, Abu ‘Amr -yaitu: al-Awza’i- menceritakan kepada kami, dari Yahya bin Abi ‘Amr asy-Syaibani, dari Hudzaifah ia berkata: Sungguh aku mengetahui penganut dua agama, penganut dua agama itu di neraka: kaum yang mengatakan: Sesungguhnya iman hanya perkataan, dan kaum yang mengatakan: Apa urusannya shalat lima waktu dan sesungguhnya hanya dua shalat.
Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu ‘Amr -yaitu: adh-Dharir- menceritakan kepada kami, dari Hammad bin Salamah, dari ‘Atha’ bin as-Sa’ib ia berkata: Sa’id bin Jubair menyebut Murjiah, lalu ia membuat perumpamaan untuk mereka, ia berkata: Perumpamaan mereka seperti Shabi’in, sesungguhnya mereka mendatangi Yahudi lalu berkata: Apa agama kalian?
Mereka berkata: Yahudi. Mereka berkata: Apa kitab kalian? Mereka berkata: Taurat.
Mereka berkata: Siapa nabi kalian? Mereka berkata: Musa. Mereka berkata: Lalu apa untuk orang yang mengikuti kalian? Mereka berkata: Surga.
Kemudian mereka mendatangi Nasrani lalu berkata: Apa agama kalian? Mereka berkata: Nasrani. Mereka berkata: Apa kitab kalian? Mereka berkata: Injil. Mereka berkata: Siapa nabi kalian? Mereka berkata: Isa.
Kemudian mereka berkata: Lalu apa untuk orang yang mengikuti kalian? Mereka berkata: Surga. Mereka berkata: Maka kami beragama dengannya.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/323-324 (663-664)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Salamah bin Kuhail ia berkata: Kami berkumpul di al-Jamajim, Abu al-Bakhtari, Maisarah, Abu Shalih, Dhahhak al-Masyriqi, dan Bukair ath-Tha’i, maka mereka sepakat bahwa Irja’ adalah bid’ah, al-Walayah adalah bid’ah, al-Bara’ah adalah bid’ah, dan kesaksian adalah bid’ah.
Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdul Shamad menceritakan kepada kami, Yazid -yaitu: Ibnu Ibrahim- menceritakan kepada kami, dari al-Laits -yaitu: Ibnu Abi Sulaim- dari al-Hakam, dari Sa’id ath-Tha’i, dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu anhu bahwa ia berkata: Al-Walayah adalah bid’ah, Irja’ adalah bid’ah, dan kesaksian adalah bid’ah.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/326-327 (669-670)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Hasyim bin al-Qasim menceritakan kepada kami, dari Muhammad -yaitu Ibnu Thalhah- dari Salamah bin Kuhail ia berkata: Dzarr menjelaskan Irja’ dan ia adalah orang pertama yang berbicara tentangnya, kemudian ia berkata: Sungguh aku khawatir ini akan dijadikan agama, maka ketika kitab-kitab datang kepadanya dari berbagai penjuru ia berkata: Lalu aku mendengarnya berkata setelahnya: Dan apakah ada perkara selain ini.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/329 (677)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdullah bin Numair menceritakan kepada kami, dari Ja’far al-Ahmar, ia berkata: Manshur bin al-Mu’tamir berkata dalam sesuatu: Aku tidak mengatakan sebagaimana Murjiah yang sesat lagi bid’ah mengatakan.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/338 (707)
Abdullah berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, Abu ‘Amr -yaitu: adh-Dharir- menceritakan kepada kami, dari Hammad bin Salamah, dari ‘Atha’ bin as-Sa’ib ia berkata: Sa’id bin Jubair menyebut Murjiah ia berkata lalu ia membuat perumpamaan untuk mereka lalu berkata: Perumpamaan mereka seperti Shabi’in.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/346 (736)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Mu’ammal bin Isma’il menceritakan kepada kami, Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami, Muhammad bin Dzakwan -yaitu paman anak-anak Hammad- menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku berkata kepada Hammad: Apakah Ibrahim berpendapat dengan pendapat kalian tentang Irja’? Ia berkata: Tidak, ia ragu-ragu sepertimu.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/348 (746)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Khalid bin Hayyan Abu Yazid ar-Raqqi menceritakan kepada kami, Ma’qil bin ‘Ubaidillah al-‘Absi menceritakan kepada kami, ia berkata: Salim al-Afthas datang kepada kami dengan Irja’ lalu ia menawarkannya, ia berkata: Maka sahabat-sahabat kami menjauh darinya dengan penjauhan yang keras, dan yang paling keras adalah Maimun bin Mihran dan Abdul Karim bin Malik, adapun Abdul Karim maka ia berjanji kepada Allah Azza wa Jalla tidak akan berada satu atap rumah dengannya kecuali di masjid.
Ma’qil berkata: Maka aku berhaji lalu aku masuk menemui ‘Atha’ bin Abi Rabah bersama beberapa sahabatku, ia berkata: Tiba-tiba ia sedang membaca Surat Yusuf, ia berkata lalu aku mendengarnya membaca huruf ini: Sehingga apabila para rasul berputus asa dan mereka mengira bahwa mereka telah didustakan (Surat Yusuf: 110) dengan takhfif, ia berkata: Aku berkata sesungguhnya kami memiliki keperluan kepadamu maka berilah kesempatan untuk kami, lalu ia melakukannya, maka aku mengabarkan kepadanya bahwa ada kaum di tempat kami yang telah mengada-adakan sesuatu dan berbicara, dan mereka berkata: Sesungguhnya shalat dan zakat bukan dari agama.
Ia berkata: Lalu ia berkata: Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (Surat al-Bayyinah: 5) maka shalat dan zakat adalah dari agama.
Ia berkata: Lalu aku berkata kepadanya sesungguhnya mereka mengatakan: Tidak ada pertambahan dalam iman.
Ia berkata: Bukankah Allah telah berfirman maka menambah iman mereka (Surat at-Taubah: 124) maka apa iman yang menambah mereka ini?
Ia berkata aku berkata: Sesungguhnya mereka telah mengklaim dirimu, dan sampai kepadaku bahwa Dzarr masuk menemuimu bersama sahabat-sahabatnya lalu mereka menawarkan kepadamu pendapat mereka maka engkau menerimanya dan berkata ini adalah perkaranya.
Maka dia berkata: “Tidak, demi Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, tidaklah demikian itu” —dua kali atau tiga kali.
Dia berkata: Kemudian aku datang ke Madinah lalu aku duduk bersama Nafi. Aku berkata kepadanya: “Wahai Abu Abdillah, sesungguhnya aku memiliki suatu keperluan kepadamu.” Dia berkata: “Rahasia ataukah terang-terangan?”
Maka aku berkata: “Tidak, tetapi rahasia.” Dia berkata: “Banyak rahasia yang tidak ada kebaikan padanya.”
Maka aku berkata kepadanya: “Bukan dari yang demikian itu.” Ketika kami selesai salat Asar, dia berdiri dan memegang tanganku lalu keluar dari pintu kecil dan tidak menunggu orang yang berceramah.
Maka dia berkata: “Apa keperluanmu?” Dia (Maqil) berkata: Aku berkata: “Asingkan aku dari orang ini.”
Dia berkata: “Menyingkirlah wahai Amru.” Maka aku menyebutkan kepadanya awal ucapan mereka.
Maka dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi mereka dengan pedang hingga mereka mengucapkan tidak ada tuhan selain Allah. Maka apabila mereka mengucapkan tidak ada tuhan selain Allah, mereka telah melindungi darah dan harta mereka dariku kecuali dengan haknya, dan perhitungan mereka pada Allah.”
Dia berkata: Aku berkata: “Sesungguhnya mereka mengatakan: Kami mengakui bahwa salat itu wajib tetapi kami tidak salat, dan bahwa khamar itu haram tetapi kami meminumnya, dan bahwa menikahi ibu-ibu itu haram tetapi kami melakukannya.”
Dia berkata: Maka dia menarik tangannya dari tanganku lalu berkata: “Barangsiapa melakukan ini maka dia kafir.”
Maqil berkata: Kemudian aku bertemu dengan Az-Zuhri lalu aku mengabarkan kepadanya tentang ucapan mereka. Maka dia berkata: “Mahasuci Allah! Apakah manusia telah mengambil perselisihan ini?!” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah berzina seorang pezina ketika dia berzina sedangkan dia mukmin, dan tidaklah mencuri seorang pencuri ketika dia mencuri sedangkan dia mukmin, dan tidaklah minum khamar seorang peminum ketika dia meminumnya sedangkan dia mukmin.”
Maqil berkata: Kemudian aku bertemu Al-Hakam bin Utaibah. Dia berkata: Maka aku berkata: “Sesungguhnya Maimun dan Abdul Karim mendengar bahwa sekelompok orang dari golongan Murjiah masuk menemuimu lalu mereka menawarkan pendapat mereka kepadamu dan kamu menerima pendapat mereka.”
Dia berkata: “Apakah Maimun dan Abdul Karim menerima hal itu dariku?” Aku berkata: “Tidak.”
Dia berkata: “Maka datang kepadaku dua belas orang dari mereka sedangkan aku sakit. Mereka berkata: ‘Wahai Abu Muhammad, apakah sampai kepadamu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam didatangi seorang laki-laki dengan seorang budak perempuan yang hitam atau Habasyah, maka dia berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku wajib memerdekakan seorang budak yang mukmin, apakah engkau melihat budak ini mukmin?’ Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya: ‘Apakah kamu bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah?’ Dia berkata: ‘Ya.’ Beliau berkata: ‘Dan kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?’ Dia berkata: ‘Ya.’ Beliau berkata: ‘Dan kamu bersaksi bahwa surga itu benar dan neraka itu benar?’ Dia berkata: ‘Ya.’ Beliau berkata: ‘Apakah kamu bersaksi bahwa Allah membangkitkanmu setelah kematian?’ Dia berkata: ‘Ya.’ Beliau berkata: ‘Maka merdekakanlah dia karena sesungguhnya dia mukminah.'” Dia berkata: Maka mereka keluar sedangkan mereka menyandarkan diri kepadaku.
Maqil berkata: Kemudian aku duduk bersama Maimun bin Mihran. Maka dikatakan kepadanya: “Wahai Abu Ayyub, seandainya kamu membacakan untuk kami sebuah surat lalu kamu menafsirkannya?” Dia berkata: Maka dia membaca —atau dibacakan— “Apabila matahari digulung” hingga ketika sampai “yang ditaati, kemudian dapat dipercaya”, dia berkata: “Itu adalah Jibril semoga shalawat Allah untuknya, dan kecelakaan bagi orang yang mengatakan: Imannya seperti iman Jibril alaihissalam.”
As-Sunnah karya Abdullah 1/382-384 (831)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdurrahman menceritakan kepada kami, dia berkata: Sufyan menceritakan kepadaku dari Atha bin As-Saib, dia berkata: Said bin Jubair berkata kepada Dzarr: “Apa pendapat ini yang kamu ada-adakan sepeninggalku? Padahal Az-Zubair bin As-Saiqal sudah mencukupimu dengan Al-Quran!”
As-Sunnah karya Al-Khallal 2/89 (1354)
42 – Bab: Penyebutan golongan Murjiah, siapa mereka dan pendapat-pendapat mereka
Ishaq bin Manshur berkata: Aku berkata kepada Ahmad: “Jelaskan kepadaku tentang Murjiah.” Dia berkata: “Yang mengatakan: Iman itu ucapan.”
Masail Al-Kausaj (3396)
Shalih berkata: Ayahku berkata: Dan aku mendengar Waki berkata: Sufyan berkata: “Manusia menurut kami adalah mukmin dalam hukum-hukum dan warisan, dan kami berharap bahwa demikian, dan kami tidak tahu bagaimana keadaan kami di sisi Allah.”
Masail Shalih (1356)
Ibnu Hani berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah, atau dia ditanya tentang Qais bin Muslim. Maka dia berkata: “Sebagian orang berkata: Dia adalah Murjiah, dan aku tidak tahu apakah ini tetap atau tidak, dan dia tsiqah (terpercaya) dalam hadits.”
Dan dia berkata: “Adapun Misar maka aku tidak mendengar bahwa dia Murjiah, tetapi mereka mengatakan: Sesungguhnya dia tidak melakukan istitsna (pengecualian).”
Masail Ibnu Hani (2382)
Harb berkata: Dikatakan kepada Ahmad: “Apa makna hadits Nabi ‘Barangsiapa menipu kami maka dia bukan dari golongan kami’?” Maka dia tidak menjawabnya. Dikatakan: “Maka sesungguhnya sekelompok orang mengatakan: Barangsiapa menipu kami maka dia tidak seperti kami.” Maka dia mengingkarinya dan berkata: “Ini tafsir Misar dan Abdul Karim Abu Umayyah, ucapan golongan Murjiah.” Ahmad berkata: “Dan hal itu sampai kepada Abdurrahman bin Mahdi lalu dia mengingkarinya dan berkata: ‘Seandainya seseorang beramal dengan setiap kebaikan, apakah dia akan menjadi seperti Nabi shallallahu alaihi wasallam?!'”
Masail Harb hal. 354
Harb berkata: Ishaq ditanya tentang seseorang yang berkata: “Aku termasuk orang yang Allah tuliskan iman di dalam hatinya.” Dia berkata: “Apabila dia berkata: Aku tidak memerlukan ucapan, maka dia Jahmiyyah —menurutku dia berkata— dan apabila dia berkata: Aku memerlukan ucapan tanpa amal maka dia Murjiah.”
Masail Harb hal. 373
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Aku mendengar Sufyan bin Uyainah berkata: Sufyan Ats-Tsauri berkata kepadaku: “Tidakkah kamu mengatakan kepada Misar?” —yaitu tentang Al-Hilaliyyah —maksudnya dalam Irja. Dan Abu Nuaim berkata: Misar berkata: “Aku ragu terhadap segala sesuatu kecuali terhadap imanku.”
Al-Ilal riwayat Abdullah (2457), (3614)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki menceritakan kepada kami, Nafi bin Umar menceritakan kepada kami, dia berkata: Ibnu Abi Mulaikah berkata kepadaku: “Sesungguhnya Fahdan mengaku bahwa dia minum khamar, dan mereka mengaku bahwa imannya seperti iman Jibril dan Mikail!”
As-Sunnah karya Abdullah 1/370 (803)
Al-Khallal berkata: Dan Muhammad bin Abi Harun mengabarkan kepadaku, dan Muhammad bin Jafar bahwa Abu Al-Harits menceritakan kepada mereka: Bahwa dia berkata kepada Abu Abdullah: “Maka siapa yang mengatakan: Iman itu ucapan?”
Dia berkata: “Barangsiapa mengatakan: Iman itu ucapan, maka dia Murjiah.”
Dia berkata: Dan Abu Abdullah ditanya —sedangkan aku mendengar— tentang Irja, apa itu?
Dia berkata: “Barangsiapa mengatakan: Iman itu ucapan, maka dia Murjiah, dan Sunnah dalam hal itu adalah bahwa kamu berkata: Iman itu ucapan dan amal, bertambah dan berkurang.”
Dan aku mendengar Abu Abdullah berkata: Dikatakan kepada Ibnu Al-Mubarak: “Apakah kamu berpendapat Irja?”
Dia berkata: “Aku berkata: Iman itu ucapan dan amal, maka bagaimana aku menjadi Murjiah!”
Al-Husain bin Manshur berkata: Ahmad bin Hanbal berkata kepadaku: “Siapa di antara ulama yang mengatakan: Aku mukmin?”
Aku berkata: “Aku tidak mengetahui seorang laki-laki yang aku percayai.” Dia berkata: “Mengapa kita mengatakan sesuatu yang tidak dikatakan oleh seorang pun dari ahlul ilmi sebelum kita!”
As-Sunnah karya Al-Khallal 9/446 (964-965)
Al-Khallal berkata: Muhammad bin Al-Husain mengabarkan kepadaku: Bahwa Al-Fadhl menceritakan kepada mereka dalam masalah ini, dari Abu Abdullah, dan dia menambahkan: “Apakah Dia akan menyiksa mereka ataukah Dia akan menerima tobat mereka.” (QS At-Taubah: 106)
As-Sunnah karya Al-Khallal 1/447 (1/968)
Al-Khallal berkata: Abdullah bin Daud mengabarkan kepadaku, dia berkata: Ziyad bin Ayyub menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata: “Tidak menyenangkan kami bahwa kami mengatakan mukmin sejati, dan kami tidak mengkafirkan orang yang mengatakannya.”
As-Sunnah karya Al-Khallal 1/448 (975)
Al-Khallal berkata: Yusuf bin Musa mengabarkan kepadaku bahwa Abu Abdullah ditanya: “Apa itu Murjiah?” Dia berkata: “Yang mengatakan: Iman itu ucapan.”
Dikatakan: “Maka yang mengatakan: Iman itu bertambah dan tidak berkurang?” Dia berkata: “Aku tidak tahu apa ini.”
Dan dia berkata: Muhammad bin Ahmad bin Washil Al-Maqri mengabarkan kepadaku, bahwa Abu Abdullah ditanya tentang orang yang mengatakan: “Iman itu ucapan tanpa amal, dan ia bertambah dan tidak berkurang?” Dia berkata: “Ini ucapan golongan Murjiah.”
Al-Khallal berkata: Yusuf bin Abdullah Al-Iskafi menulis kepadaku menyebutkan bahwa Al-Hasan bin Ali bin Al-Husain Al-Iskafi menceritakan kepada mereka bahwa dia bertanya kepada Abu Abdullah tentang hadits: “Barangsiapa yang senang dengan kebaikannya dan sedih dengan keburukannya maka dia mukmin.” Abu Abdullah berkata: “Barangsiapa yang senang dengan keburukannya maka apa dia itu? Tanyakan kepada mereka!”
Al-Khallal berkata: Muhammad bin Musa dan Muhammad bin Ali mengabarkan kepadaku: Bahwa Hamdan bin Ali Al-Warraq menceritakan kepada mereka, dia berkata: Aku bertanya kepada Ahmad dan golongan Murjiah disebutkan di hadapannya, maka aku berkata kepadanya: “Sesungguhnya mereka mengatakan: Apabila seseorang mengenal Tuhannya dengan hatinya maka dia mukmin.” Maka dia berkata: “Murjiah tidak mengatakan ini, bahkan Jahmiyyah yang mengatakan ini. Murjiah mengatakan: Hingga dia mengucapkan dengan lisannya dan anggota tubuhnya beramal, dan Jahmiyyah mengatakan: Apabila dia mengenal Tuhannya dengan hatinya walaupun anggota tubuhnya tidak beramal, dan ini adalah kekafiran? Iblis sungguh telah mengenal Tuhannya, maka dia berkata: ‘Wahai Tuhanku, dengan sebab Engkau telah menyesatkan aku.’ (QS Al-Hijr: 39)” Aku berkata: “Maka Murjiah ketika mereka bersungguh-sungguh dan ini pendapat mereka?” Dia berkata: “Bala.”
Dan dia berkata: Muhammad bin Jafar mengabarkan kepadaku bahwa Abu Al-Harits berkata: Abu Abdullah berkata: “Syababah menyeru kepada Irja dan kami menulis darinya sebelum kami mengetahui bahwa dia mengatakan maqalah ini. Dia mengatakan: Iman itu ucapan dan amal, maka apabila dia mengucapkan maka sungguh dia telah beramal dengan lisannya. Ucapan yang buruk.”
Dan dia berkata: Abu Bakar Al-Atsram berkata: Aku mendengar Abu Abdullah, dan dikatakan kepadanya: “Syababah, apa yang dia katakan tentangnya?” Maka dia berkata: “Syababah menyeru kepada Irja.”
Dia berkata: Dan sungguh telah diriwayatkan dari Syababah ucapan yang lebih buruk dari ucapan-ucapan ini, aku tidak mendengar dari seorang pun seperti ini.
Dia berkata: Syababah berkata: “Apabila dia mengucapkan maka sungguh dia telah beramal.” Dia berkata: “Iman itu ucapan dan amal sebagaimana mereka katakan, maka apabila dia mengucapkan maka sungguh dia telah beramal dengan anggota tubuhnya —yaitu dengan lisannya, maka sungguh dia telah beramal dengan lisannya ketika dia berbicara.”
Kemudian Abu Abdullah berkata: “Ini ucapan yang buruk, aku tidak mendengar seorang pun mengatakannya dan tidak sampai kepadaku.”
As-Sunnah karya Al-Khallal 1/449-451 (977-982)
Dan dia berkata: Abu Bakar Al-Marwadzi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah berkata: Sufyan bin Uyainah berkata: Ats-Tsauri berkata kepadaku: “Ajak bicara Misar.”
Abu Abdullah berkata: “Misar ragu terhadap segala sesuatu kecuali terhadap iman.” Dia berkata: “Aku tidak ragu terhadap imanku.” Dia berkata: “Sufyan menginginkan darinya agar dia melakukan istitsna.”
Dan dia berkata: Muhammad bin Abdullah bin Ibrahim mengabarkan kepadaku, bahwa ayahnya menceritakan kepadanya, dia berkata: Ahmad bin Al-Qasim menceritakan kepadaku. Dan Zakariya bin Al-Faraj mengabarkan kepadaku, dari Ahmad bin Al-Qasim bahwa mereka menyebutkan kepada Abu Abdullah tentang orang yang mengatakan: “Sesungguhnya hanya ucapan, dan dia tidak melakukan istitsna.” Maka mereka menyebutkan Misar. Maka dikatakan kepadanya: “Wahai Abu Abdullah, apakah dia mengatakan dengan Irja?”
Dia berkata: “Sesungguhnya mereka menginginkan bahwa dia berkata: Aku ragu terhadap segala sesuatu kecuali terhadap imanku.” Dia berkata: “Aku mendengar Abu Nuaim berkata: Aku mendengarnya dari Misar, dan tidak meriwayatkan dari Misar selain ini.” Aku berkata: “Maka apa makna ucapannya: Aku ragu terhadap segala sesuatu? Dia bermaksud menguatkan ucapannya dalam meninggalkan istitsna —yaitu makna ucapannya: Aku ragu terhadap segala sesuatu, bukan yang kami ragukan seperti kematian atau surga atau neraka atau bangkit?” Maka dia berkata: “Mahasuci Allah! Dia tidak bermaksud jalan ini, sesungguhnya dia bermaksud —sejauh yang aku lihat— yaitu: Ragu dalam hadits dan dalam hal-hal yang gaib darinya, dan aku mendengarnya dari Ibnu Uyainah, dia berkata: Sufyan Ats-Tsauri berkata kepadaku: Jangan ajak bicara Misar tentang ini yang dia katakan. Dia berkata: Misar menurutnya bukan seperti yang lain, dan dia adalah lelaki yang saleh.”
As-Sunnah karya Al-Khallal 1/453-454 (983-984)
Al-Khallal berkata: Dan Musa bin Sahl mengabarkan kepadaku, dia berkata: Muhammad bin Ahmad Al-Asadi menceritakan kepada kami, dia berkata: Ibrahim bin Yaqub menceritakan kepada kami, dari Ismail bin Said: Aku bertanya kepada Ahmad: “Orang yang mengatakan: Aku mukmin menurut diriku dari sisi hukum dan warisan dan aku tidak mengetahui apa aku di sisi Allah Azza wa Jalla?” Dia berkata: “Ini bukan Murjiah.”
Dan Ismail bin Said berkata: Aku bertanya kepada Ahmad: “Apakah kamu takut bahwa kekafiran masuk kepada orang yang mengatakan: Iman itu ucapan tanpa amal?” Maka dia berkata: “Mereka tidak dikafirkan dengan itu.”
Al-Khallal berkata: Dan Abu Bakar Al-Marwadzi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Dikatakan kepada Abu Abdullah: “Murjiah mengatakan: Iman itu ucapan, maka apakah aku berdoa untuk mereka?” Dia berkata: “Berdoalah untuk mereka dengan kebaikan.”
As-Sunnah karya Al-Khallal 1/454 (987-989)
Al-Khallal berkata: Yusuf bin Abdullah menulis kepadaku bahwa Al-Hasan bin Ali bin Al-Hasan, bahwa Abu Abdullah berkata dalam hadits “Merdekakanlah dia karena sesungguhnya dia mukminah”. Dia berkata: “Malik tidak mengatakan: Sesungguhnya dia mukminah.”
Abu Abdullah berkata: Kemungkinan ini terjadi sebelum turunnya kewajiban-kewajiban.
Dan dia berkata: Muhammad bin Ali memberitahuku, ia berkata: Abu Bakar al-Atsram menceritakan kepadaku, bahwa ia berkata kepada Abu Abdullah tentang hadits yang diriwayatkan “Merdekakanlah dia karena sesungguhnya dia beriman”; ia berkata: Tidak semua orang meriwayatkannya dengan redaksi “sesungguhnya dia beriman”, mereka meriwayatkan: “Merdekakanlah dia”. Ia berkata: Malik mendengarnya dari syaikh ini, Hilal bin Ali, tidak menyebutkan: “sesungguhnya dia beriman”. Ia berkata: Dan sebagian mereka berkata: “sesungguhnya dia beriman”, maka ketika dia mengakui hal itu, hukumnya adalah hukum orang beriman. Inilah maknanya.
Dan dia berkata: Abdul Malik bin Abdul Hamid al-Maimuni memberitahuku, ia berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal suatu hari, dan ia menyebutkan hadits ini -yaitu: hadits budak perempuan yang dibawa kepada Rasulullah- lalu ia berkata: Mereka -yaitu: Murji’ah- berdalil dengannya, padahal hadits itu adalah hujjah terhadap mereka -yaitu: Murji’ah- mereka berkata: Iman adalah ucapan. Sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menerimanya sampai beliau bertanya: “Apakah kamu beriman kepada ini dan itu, apakah kamu beriman kepada ini dan itu”.
Dan dia berkata: Husain bin Hasan memberitahuku, ia berkata: Ibrahim bin Harits menceritakan kepadaku, bahwa ia bertanya kepada Abu Abdullah tentang perkataan Nabi: “Merdekakanlah dia karena sesungguhnya dia beriman”, maka Abu Abdullah berkata: Tidak semua orang meriwayatkannya dengan: “Merdekakanlah dia karena sesungguhnya dia beriman”, mereka meriwayatkan: “Merdekakanlah dia”. Adapun yang berkata: “sesungguhnya dia beriman” ketika dia mengakui hal itu, maka hukumnya adalah hukum orang beriman.
“As-Sunnah” karya al-Khallal 1/455-456 (990-993)
Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali memberitahuku, ia berkata: Mahna menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Ahmad berkata: Dan seorang laki-laki menyebutkan di hadapan Abdurrahman bin Mahdi perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Bukan dari golongan kami orang yang memukul pipinya, merobek baju, atau menyeru seruan jahiliyah”, lalu orang itu berkata: Sesungguhnya maknanya adalah bukan seperti kami. Maka Abdurrahman bin Mahdi berkata sambil mengingkari perkataan orang itu: Bagaimana pendapatmu jika ia melakukan semua amalan kebaikan, apakah ia akan seperti Rasulullah!
Dan dia berkata: Dan Zakaria bin Faraj memberitahuku, dari Ahmad bin Qasim, ia berkata: Abu Abdullah berkata: Sampai kepadaku bahwa Abdurrahman bin Mahdi ditanya: Sesungguhnya sebagian orang menafsirkan perkataannya: “Barangsiapa menipu kami maka dia bukan dari golongan kami”, ia berkata: Dikatakan kepada Abdurrahman bahwa mereka berkata: bukan dari golongan kami artinya: bukan seperti kami. Maka Abdurrahman berkata: Mahasuci Allah Yang Agung! Seandainya seseorang melakukan semua amalan kebaikan, apakah ia akan seperti Nabi! Tafsir ini tidak ada nilainya. Maka Abu Abdullah membenarkan perkataan Abdurrahman dan menganggapnya benar.
Dan dia berkata: Abu al-Mutsanna Mu’adz bin Mutsanna al-‘Anbari memberitahuku, bahwa Harun bin Abdullah al-Bazzar berkata: Abu Abdullah ditanya tentang perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa menipu kami maka dia bukan dari golongan kami”, lalu ia diam. Kemudian dikatakan kepadanya: bukan dari golongan kami artinya: bukan seperti kami. Maka ia mengingkarinya dan berkata: Ini diriwayatkan oleh Mis’ar, dari Abdul Karim Abu Umayyah. Kemudian ia berkata: Sufyan bin ‘Uyainah keliru dalam hal ini, ia berkata: dari Mis’ar, dari Habib, dari Hasan bin Muhammad. Kemudian Abu Abdullah berkata: Seandainya seseorang berpuasa dan shalat, apakah ia akan seperti Nabi! Kemudian ia berkata: Ini Murji’ah -maksudnya: bahwa ini adalah perkataan mereka: “bukan dari golongan kami” artinya: seperti kami-. Kemudian Abu Abdullah berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menipu kami maka dia bukan dari golongan kami”.
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menghasut istri seseorang atau budaknya maka dia bukan dari golongan kami”. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukan dari golongan kami orang yang memukul pipinya, merobek bajunya, dan menyeru dengan seruan jahiliyah”. Abu Thalib menceritakan kepada kami, bahwa ia mendengar Abu Abdullah berkata tentang perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa menipu kami maka dia bukan dari golongan kami”, sebagaimana hadits tersebut.
Sampai kepadaku dari Abdurrahman bin Mahdi bahwa dikatakan kepadanya tentang hal ini: Sesungguhnya mereka berkata: bukan dari golongan kami artinya: bukan seperti kami. Maka ia berkata: Seandainya mereka melakukan semua amalan kebaikan, mereka tidak akan seperti Nabi, tetapi ini seperti jahiliyah dan amalan mereka. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Barangsiapa membawa senjata kepada kami maka dia bukan dari golongan kami, dan barangsiapa menipu kami maka dia bukan dari golongan kami”. Tidakkah seseorang membawa senjata kepada Nabi kecuali bermaksud membunuhnya, dan tidakkah seseorang membawa senjata kepada seseorang kecuali ia bermaksud membunuhnya. Maka semua ini bukan perbuatan Islam, “barangsiapa membawa senjata”, “dan barangsiapa menipu kami”, “dan barangsiapa tidak mengasihi orang kecil kami”, dan semua ini adalah perbuatan jahiliyah. “Bukan dari golongan kami” artinya: bukan bersama kami, sebagaimana Nabi bersabda: “Bukan dari golongan kami”.
Dan dia berkata: Ahmad bin Husain menulis kepadaku, dan ia berkata: Bakar bin Muhammad menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari Abu Abdullah, dan ia bertanya kepadanya tentang hadits: “Barangsiapa menipu kami maka dia bukan dari golongan kami”, apa maknanya?
Ia berkata: Aku tidak tahu kecuali sebagaimana yang diriwayatkan, dan ia menyebutkan perkataan Abdurrahman, ia berkata: Apakah jika ia tidak menipu maka ia akan seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?!
Dan dia berkata: Musa bin Sahl memberitahuku, ia berkata: Muhammad bin Ahmad al-Asadi menceritakan kepadaku, ia berkata: Ibrahim bin Ya’qub menceritakan kepadaku, dari Ismail bin Sa’id: Aku bertanya kepada Ahmad tentang perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa menipu kami maka dia bukan dari golongan kami, dan barangsiapa membawa senjata kepada kami maka dia bukan dari golongan kami”. Ia berkata: Untuk penekanan dan penguatan, dan aku tidak mengkafirkan seorang pun kecuali karena meninggalkan shalat.
“As-Sunnah” karya al-Khallal 1/457-459 (995-1000)
Al-Khallal berkata: Ubaidullah bin Hanbal memberitahuku, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku -Hanbal bin Ishaq bin Hanbal berkata: Humaidi berkata: Dan aku diberitahu bahwa ada sekelompok orang yang berkata: Sesungguhnya orang yang mengakui shalat, zakat, puasa, dan haji, tetapi tidak melakukan satu pun dari hal itu sampai ia mati, atau ia shalat dengan menyandarkan punggungnya membelakangi kiblat sampai ia mati, maka ia adalah mukmin, selama ia tidak mengingkari, jika ia tahu bahwa meninggalkan hal itu dalam imannya, jika ia mengakui kewajiban-kewajiban dan menghadap kiblat.
Maka aku berkata: Ini adalah kekufuran kepada Allah yang nyata, dan menentang Kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, serta amalan kaum muslimin. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dengan ikhlas kepada-Nya, dan agar mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Surat Al-Bayyinah: 5).
Hanbal berkata: Abu Abdullah berkata, dan aku mendengarnya berkata: Barangsiapa berkata demikian, maka sungguh ia telah kafir kepada Allah, dan menolak perintah Allah, serta menolak apa yang dibawa oleh Rasul.
“As-Sunnah” karya al-Khallal 1/464-465 (1027)
43 – Bab: Mengapa Murji’ah dinamai dengan nama ini?
Abu Bakar al-Khallal berkata: Muhammad bin Yahya bin Khalid memberitahuku, ia berkata: Ishaq bin Rahawaih ditanya tentang Murji’ah: Mengapa mereka dinamai Murji’ah padahal mereka tidak mengakhirkan dosa-dosa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala? Maka ia berkata: Nadhr bin Syumail berkata: Sesungguhnya mereka dinamai dengan nama ini karena mereka berkata dengan kebalikannya, seperti Muhakkimah, padahal mereka berkata: Tidak ada hukum kecuali hukum Allah, dan seperti Qadariyah, padahal mereka berkata dengan kebalikan qadar. Dan seandainya seseorang mengingkari (…) tentu ia akan dinamai (…).
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/13 (1099)
44 – Bab: Permulaan iman bagaimana, dan bantahan terhadap Murji’ah
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Mu’ammal bin Ismail menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, ia berkata: Abbad bin Katsir menceritakan kepadaku, ia berkata: Umar bin […] berkata kepadaku: Tanyakan kepada Abu Hanifah tentang seorang laki-laki yang berkata: Aku tahu bahwa Ka’bah itu benar, dan bahwa ia adalah rumah Allah, tetapi aku tidak tahu apakah ia yang di Mekah atau yang di Khorasan? Apakah ia mukmin? Ia berkata: Mukmin.
Maka ia berkata kepadaku: Tanyakan kepadanya tentang seorang laki-laki yang berkata: Aku tahu bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam itu benar dan bahwa ia adalah rasul, tetapi aku tidak tahu apakah ia yang berada di Madinah ataukah Muhammad yang lain? Apakah ia mukmin? Ia berkata: Mukmin.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/194 (274)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Aswad bin ‘Amir menceritakan kepada kami, ia berkata: Ja’far al-Ahmar menceritakan kepada kami, dari Abu al-Juhaf, ia berkata: Sa’id bin Jubair berkata kepada Dzarr: Wahai Dzarr, mengapa aku melihatmu setiap hari memperbaharui agama?!
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/328 (673)
Al-Khallal berkata: Muhammad bin Abi Harun dan Muhammad bin Ja’far memberitahuku, bahwa Abu al-Harits menceritakan kepada mereka, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, aku berkata: Jika seseorang berkata: Tiada Tuhan selain Allah; apakah ia mukmin?
Ia berkata: Demikianlah permulaan iman, kemudian turunlah kewajiban-kewajiban: shalat, zakat, puasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah.
Dan dia berkata: Abu Yahya Zakaria bin Yahya an-Naqid memberitahuku, ia berkata: Abu Thalib menceritakan kepada kami bahwa ia bertanya kepada Abu Abdullah tentang seorang laki-laki yang mereka lihat sedang shalat di negeri musuh, apakah ia dibunuh?
Ia berkata: Tidak. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku dilarang membunuh orang-orang yang shalat”. Ia berkata: Dan ini menjadi bantahan terhadap Murji’ah, padahal ia telah shalat dan tidak mengucapkan: Tiada Tuhan selain Allah, maka ini menjadi bantahan terhadap mereka.
“As-Sunnah” karya al-Khallal 1/445 (955-956)
Abu Bakar al-Khallal berkata: Abdul Malik bin Abdul Hamid al-Maimuni memberitahuku bahwa ia bertanya kepada Abu Abdullah: Iman adalah ucapan, amalan, dan niat? Maka ia berkata kepadaku: Bagaimana mungkin tanpa niat? Ya, ucapan, amalan, dan niat, harus ada niat. Ia berkata kepadaku: Niat itu mendahului.
“As-Sunnah” karya al-Khallal 1/460 (1002)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwadzi memberitahu kami, ia berkata: Aku berkata kepada Abu Abdullah: Tentang ma’rifat (pengenalan) kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam hati, apakah ada perbedaan tingkat di dalamnya? Ia berkata: Ya.
Aku berkata: Dan bertambah? Ia berkata: Ya.
“As-Sunnah” karya al-Khallal 1/460 (1004)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Muhammad bin Ali memberitahu kami bahwa Ya’qub bin Bukhtan menceritakan kepada mereka, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah tentang ma’rifat dan ucapan, apakah bertambah dan berkurang?
Ia berkata: Tidak, kami sudah datang dengan ucapan dan ma’rifat, dan yang tersisa adalah amalan.
“As-Sunnah” karya al-Khallal 1/460 (1007)
Al-Khallal berkata: Dan Harb bin Ismail al-Kirmani memberitahuku, ia berkata: Ishaq -yaitu: Ibnu Rahawaih- menceritakan kepada kami, ia berkata: Mu’ammal bin Ismail menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan ats-Tsauri menceritakan kepada kami, ia berkata: Abbad menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku berkata kepada Abu Hanifah: Wahai Abu Hanifah, seorang laki-laki berkata: Aku tahu bahwa Ka’bah itu benar, tetapi aku tidak tahu apakah ia yang di Mekah atau yang di Khorasan? Apakah ia mukmin? Ia berkata: Ya.
Mu’ammal berkata: Tsauri berkata: Aku bersaksi bahwa ia di sisi Allah termasuk orang-orang kafir, sampai ia jelas bahwa ia adalah Ka’bah yang berdiri di tanah haram.
Ia berkata: Dan aku berkata: Seorang laki-laki berkata: Aku tahu bahwa Muhammad adalah nabi dan ia adalah rasul, tetapi aku tidak tahu apakah ia Muhammad yang berada di Madinah dari suku Quraisy ataukah Muhammad yang lain? Apakah ia mukmin? Ia berkata: Ya, ia mukmin. Mu’ammal berkata: Sufyan berkata: Ia di sisi Allah termasuk orang-orang kafir.
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/20 (1104)
Dan al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ismail menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu ‘Aun menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibrahim berkata: Sesungguhnya kaum itu tidak ada yang disimpan dari mereka sesuatu pun, maka disimpankan untuk kalian dengan keutamaan pada kalian!
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/138 (1542).
45 – Bab: Menjauhi Kaum Murji’ah
Ishaq bin Manshur berkata: Aku bertanya: Apakah kaum Murji’ah jika ia seorang pendakwa (yang menyeru bidahnya)? Beliau menjawab: Ya, demi Allah, ia harus dikucilkan dan dijauhi.
“Masail Al-Kausaj” (3384)
Abu Dawud berkata: Aku bertanya kepada Ahmad: Kami memiliki kerabat di Khurasan yang menganut paham Irja’ (faham Murji’ah), apakah kami boleh menulis surat kepada mereka di Khurasan dan menyampaikan salam?
Beliau menjawab: Subhanallah! Mengapa tidak menyampaikan salam kepada mereka?
Aku bertanya kepada Ahmad: Apakah kami boleh berbicara dengan mereka? Beliau menjawab: Ya, kecuali jika ia seorang pendakwa (yang menyeru bidahnya) dan berdebat mengenai hal itu.
“Masail Abi Dawud” (1785)
Harb berkata: Imam Ahmad berkata: Aku tidak suka seorang laki-laki bergaul dengan kaum Murji’ah.
“Masail Harb” hal. 379
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ismail menceritakan kepada kami, dari Ayyub, ia berkata: Said bin Jubair berkata tanpa ditanya dan tanpa menyebutkan hal itu kepadanya: Jangan engkau duduk bersama Thalq – maksudnya ia menganut paham Murji’ah.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/314 (621)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Mu’ammal menceritakan kepada kami, Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami, Ayyub menceritakan kepada kami, ia berkata: Said bin Jubair berkata kepadaku: Bukankah aku melihatmu bersama Thalq?
Ayyub berkata: Aku menjawab: Benar, memangnya kenapa dengan dia?
Said berkata: Jangan engkau duduk bersamanya karena ia seorang Murji’i.
Ayyub berkata: Aku tidak meminta nasehatnya mengenai hal itu, tetapi memang sudah seharusnya bagi seorang Muslim jika ia melihat dari saudaranya sesuatu yang tidak ia sukai, maka ia memerintahkan dan melarangnya.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/323 (659)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Aswad bin Amir menceritakan kepada kami, Syarik menceritakan kepada kami, dari Al-Mughirah, ia berkata: Ibrahim At-Taimi melewati Ibrahim An-Nakha’i lalu mengucapkan salam kepadanya tetapi ia tidak membalas salamnya.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/327 (672)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Aswad bin Amir menceritakan kepada kami, Ja’far bin Ziyad – yaitu Al-Ahmar – menceritakan kepada kami, dari Hamzah Az-Zayyat, dari Abu Al-Mukhtar, ia berkata: Dzarr mengadukan Said bin Jubair kepada Abu Al-Bakhtari Ath-Tha’i, ia berkata: Aku lewat dan mengucapkan salam kepadanya tetapi ia tidak membalas salamku.
Maka Abu Al-Bakhtari berkata kepada Said bin Jubair, lalu Said berkata: Sesungguhnya orang ini setiap hari membuat agama baru, tidak, demi Allah, aku tidak akan berbicara dengannya selamanya.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/328 (674)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Mu’adz bin Mu’adz menceritakan kepada kami, Ibnu ‘Aun menceritakan kepada kami, ia berkata: Kami sedang duduk di masjid Bani Adi, ia berkata: Di antara kami ada Abu As-Sawar Al-Adawi, lalu Ma’bad Al-Juhani masuk kepadanya dari salah satu pintu.
Maka Abu As-Sawar berkata: Mengapa orang ini masuk ke masjid kami? Jangan biarkan ia duduk bersama kami, jangan biarkan ia duduk bersama kita.
Sebagian kaum berkata: Sesungguhnya ia datang menemui kerabat perempuannya yang sedang beri’tikaf di kubah ini. Ia berkata: Maka ia datang dan menemuinya kemudian keluar dan pergi.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/381 (830)
Abu Bakar Al-Khallal berkata: Abdullah bin Ahmad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Sufyan berkata: Tidak ada seorang pun dari mereka yang suka untuk dikenal dengan itu atau menginginkannya. Maksudnya: Irja’ (paham Murji’ah).
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/35 (1152)
Al-Khallal berkata: Muhammad bin Abi Harun dan Muhammad bin Ja’far mengabarkan kepadaku bahwa Abu Al-Harits menceritakan kepada mereka bahwa Abu Abdullah berkata: Jika seorang Murji’i adalah pendakwa (yang menyeru bidahnya) maka jangan berbicara dengannya.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/35 (1154)
Al-Khallal berkata: Dan Muhammad bin Al-Husain mengabarkan kepadaku bahwa Al-Fadhl menceritakan kepada mereka bahwa Abu Abdullah berkata: Seorang Murji’i yang berdebat dari kalangan mereka, jangan berbicara dengannya.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/35 (1156)
46 – Bab: Shalat di Belakang Kaum Murji’ah
Abu Dawud berkata: Aku bertanya kepada Ahmad: Bolehkah shalat di belakang seorang Murji’i? Beliau menjawab: Jika ia seorang pendakwa (yang menyeru bidahnya) maka tidak boleh shalat di belakangnya.
“Masail Abi Dawud” (307)
Harb berkata: Aku mendengar Ahmad berkata: Tidak boleh shalat di belakang orang yang mengklaim bahwa iman hanya ucapan, jika ia seorang pendakwa (yang menyeru bidahnya).
Dan aku mendengar Ishaq berkata: Siapa yang berkata: Aku adalah mukmin, maka ia seorang Murji’i.
Aku bertanya: Bagaimana shalat di belakangnya? Beliau menjawab: Tidak boleh.
“Masail Harb” hal. 377
Al-Khallal berkata: Dan Muhammad bin Musa mengabarkan kepadaku bahwa Abu Al-Harits menceritakan kepada mereka, ia berkata: Abu Abdullah berkata: Tidak boleh shalat di belakang seorang Murji’i.
Dan ia berkata: Dan Abu Bakar Al-Marrudzi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah berkata: Seorang Murji’i jika ia berdebat maka tidak boleh shalat di belakangnya.
Dan ia berkata: Manshur bin Al-Walid mengabarkan kepadaku bahwa Ja’far bin Muhammad An-Nasa’i menceritakan kepada mereka, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah ditanya tentang seorang Murji’i yang dibacakan kepadanya sesuatu dari Al-Quran lalu ia menolaknya dengan penolakan yang keras. Beliau berkata: Jangan shalat di belakangnya.
Dan ia berkata: Dan Muhammad bin Ja’far mengabarkan kepadaku bahwa Abu Al-Harits menceritakan kepada mereka bahwa Abu Abdullah berkata: Tidak boleh shalat di belakang kaum Murji’ah. Maksudnya: untuk shalat jenazah.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/34 (1148-1151)
47 – Bab: Pernikahan dengan Kaum Murji’ah
Al-Khallal berkata: Ali bin Isa mengabarkan kepadaku bahwa Hanbal menceritakan kepada mereka, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah: Seorang laki-laki menikahkan putrinya dengan seorang laki-laki, dan ia tidak tahu, ternyata ia mengatakan perkataan buruk dari paham Irja’ (Murji’ah).
Maka beliau menjawab: Jika ia sangat fanatik terhadap hal itu dan menyeru kepadanya, aku berpendapat agar ia menceraikan putrinya dan tidak tinggal bersamanya.
Aku bertanya: Apakah sang ayah berdosa jika ia melakukan hal itu?
Beliau menjawab: Aku berharap ia tidak berdosa jika ia mengetahui hal itu darinya dan menjadi jelas baginya.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/36 (1157)
48 – Bab: Celaan terhadap Kaum Murji’ah
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Abdullah bin Numair menceritakan kepada kami, dari Ja’far Al-Ahmar, ia berkata: Manshur bin Al-Mu’tamir berkata mengenai sesuatu: Aku tidak mengatakan sebagaimana yang dikatakan kaum Murji’ah yang sesat lagi bid’ah.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/312 (613)
Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Hajjaj menceritakan kepada kami, aku mendengar Syarik menyebut kaum Murji’ah lalu berkata: Mereka adalah kaum yang paling jahat, dan cukuplah kaum Rafidhah sebagai orang jahat, tetapi kaum Murji’ah berdusta atas nama Allah Taala.
“As-Sunnah” 1/312 (314) dan “Al-‘Ilal” riwayat Abdullah (2472)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Syarik, dari Abi, dari Asy-Sya’bi, ia berkata: Sesungguhnya mereka dinamakan Ashabul Ahwa (pengikut hawa nafsu) karena mereka akan terjun ke dalam neraka.
Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ismail menceritakan kepada kami, Khalid menceritakan kepada kami, seorang laki-laki menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Qilabah melihatku sedang bersama Abdul Karim, maka ia berkata: Apa urusanmu dengan orang yang hina ini, orang yang hina.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/328 (675-676)
Abu Bakar Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ismail menceritakan kepada kami, ia berkata: Yunus menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Hasan biasa berkata: Penyakit paling buruk yang bercampur dengan hati. Maksudnya: hawa nafsu.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/138 (1543)
Muhammad bin Ibrahim Al-Busyanji berkata: Aku mendengar Ahmad berkata: Dekatkanlah diri kalian kepada Allah dengan membenci ahli Irja’ (kaum Murji’ah), karena sesungguhnya hal itu termasuk amalan yang paling kuat menurut kami.
“Thabaqat Al-Hanabilah” 2/226
49 – Celaan terhadap Ahli Bid’ah dan Ahli Hawa Nafsu serta Perintah Menjauhi Mereka
Ishaq bin Manshur berkata: Aku bertanya: Apakah pemboikotan itu tsabit dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?
Beliau menjawab: Itu tsabit dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Ishaq berkata: Dengan keras.
“Masail Al-Kausaj” (3484)
Ibnu Hani’ berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah tentang: seorang laki-laki yang berbid’ah, pendakwa yang menyeru kepada bid’ah, bolehkah duduk bersamanya? Beliau menjawab: Tidak boleh duduk bersamanya dan tidak boleh berbicara dengannya, semoga ia bertaubat.
“Masail Ibnu Hani'” (1855)
Al-Khallal berkata: Ubaidillah bin Hanbal mengabarkan kepadaku, ia berkata: Ayahku Hanbal bin Ishaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Salamah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Dan Abu Bakar bin Abi Syaibah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu ‘Ulayyah menceritakan kepada kami, dari Ayyub, dari Abu Qilabah, ia berkata: Jangan kalian duduk bersama ahli hawa nafsu – atau ia berkata: ahli perdebatan – karena sesungguhnya aku tidak aman mereka akan menenggelamkan kalian dalam kesesatan mereka atau membingungkan kalian tentang sebagian apa yang kalian ketahui.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/288 (1968)
Abu Bakar Al-Marrudzi berkata: Abu Abdullah mengetahui kedatangan seorang pelaku bid’ah, maka ia mengingkari kehadirannya dan menjauhinya, dan berkata: Sampai tampak darinya taubat dan penyesalan.
Dan Al-Marrudzi meriwayatkan, ia berkata: Yahya bin Ma’in datang kepada Abu Abdullah untuk menjenguknya, maka Abu Abdullah memalingkan wajahnya dan tidak berbicara dengannya, maka ia terus menjauhinya dan tidak berbicara dengannya. Dan Al-Marrudzi meriwayatkan darinya bahwa ia ditanya tentang seorang laki-laki yang temannya ini tidak disukai, dan Al-Marrudzi juga meriwayatkan, ia berkata: Terkadang seseorang masuk menemui Abu Abdullah, maka ia memejamkan matanya, dan terkadang seseorang dari mereka mengucapkan salam kepadanya tetapi ia tidak membalas salamnya.
Dan diriwayatkan, ia berkata: Aku mendengar Ya’qub Ad-Dauraqi berkata kepada Abu Abdullah: Apakah hari ini ada seseorang bersamamu yang menganut sikap ini yang engkau jalani, maksudnya: pemboikotan dan pengingkaran? Maka beliau menjawab: Bersama ku ada Abdul Wahhab.
“Ar-Riwayatain wal Wajhain/Masail Al-Aqidah” hal. 122-123
Al-Marrudzi berkata: Abu Abdullah menyebutkan Harits Al-Muhasibi, lalu berkata: Harits adalah asal bencana – maksudnya kejadian-kejadian pembicaraan Jahm – tidak ada bahaya kecuali Harits, kebanyakan orang yang bergaul dengannya sesat, kecuali Ibnul Allaf, karena sesungguhnya ia meninggal dalam keadaan terlindungi, waspadalah terhadap Harits dengan kewaspadaan yang sangat.
Aku bertanya: Sesungguhnya ada kaum yang pergi kepadanya? Beliau menjawab: Kita peringatkan mereka semoga saja mereka tidak mengetahui bid’ahnya.
Jika mereka menerima maka baik, jika tidak maka mereka harus diboikot, tidak ada taubat bagi Harits, ia bersaksi lalu mengingkarinya, sesungguhnya taubat itu hanya bagi orang yang mengakui.
“Thabaqat Al-Hanabilah” 1/150
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, ia berkata: Kuburan ahlus sunnah dari kalangan pelaku dosa besar adalah taman, dan kuburan ahli bid’ah dari kalangan zahid adalah lubang, orang-orang fasik dari ahlus sunnah adalah wali-wali Allah, dan zahid ahli bid’ah adalah musuh-musuh Allah.
Abdullah bin Muhammad bin Al-Fadhl Ash-Shaidawi berkata: Ahmad berkata kepadaku: Jika seorang laki-laki mengucapkan salam kepada pelaku bid’ah maka ia mencintainya, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian melakukannya maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.”
“Thabaqat Al-Hanabilah” 2/47, “Al-Adab Asy-Syar’iyyah” 1/251
Utsman bin Ismail bin Bakar As-Sukri berkata: Aku mendengar Abu Dawud As-Sijistani berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal: Aku melihat seorang laki-laki dari ahlus sunnah bersama seorang laki-laki dari ahli bid’ah, apakah aku meninggalkan pembicaraan dengannya?
Beliau menjawab: Tidak, atau beritahukan kepadanya bahwa orang yang engkau lihat bersamanya adalah pelaku bid’ah, jika ia meninggalkan pembicaraan dengannya maka berbicaralah dengannya, jika tidak maka samakan ia dengannya. Ibnu Mas’ud berkata: Seseorang itu sesuai dengan temannya.
“Thabaqat Al-Hanabilah” 1/429
Ibnu Harun Al-Hammal berkata: Aku mendengar Ahmad berkata: Jangan duduk bersama ahli kalam meskipun mereka membela sunnah.
“Thabaqat Al-Hanabilah” 2/405
Ismail bin Ishaq As-Sarraj berkata: Ahmad bin Hanbal suatu hari berkata kepadaku: Sampai kepadaku bahwa Al-Harits ini -yaitu Al-Muhasibi- sering mengunjungimu, maka bagaimana jika engkau menghadirkannya di rumahmu dan engkau dudukkan aku di tempat yang tidak terlihat olehnya sehingga aku bisa mendengar perkataannya? Maka aku berkata: Saya mendengar dan taat kepadamu wahai Abu Abdillah. Dan aku senang dengan permulaan ini dari Abu Abdillah, lalu aku mendatangi Al-Harits dan memintanya untuk datang kepada kami pada malam itu. Aku berkata: Dan mintalah teman-temanmu untuk hadir bersamamu. Maka dia berkata: Wahai Ismail, mereka banyak, maka jangan tambahkan untuk mereka selain roti kering dan kurma, dan perbanyak keduanya semampumu. Maka aku melakukan apa yang diperintahkannya, dan aku kembali kepada Abu Abdillah dan mengabarkannya. Maka dia hadir setelah maghrib dan naik ke loteng di rumah itu, dan bersungguh-sungguh dalam wiridnya hingga selesai. Al-Harits dan teman-temannya datang lalu mereka makan, kemudian mereka berdiri untuk shalat isya dan tidak shalat setelahnya, lalu mereka duduk di hadapan Al-Harits dan mereka diam, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara hingga mendekati tengah malam. Salah seorang dari mereka memulai dan bertanya kepada Al-Harits tentang suatu masalah, maka dia mulai berbicara dan teman-temannya mendengarkan seolah-olah ada burung di atas kepala mereka. Di antara mereka ada yang menangis, ada yang merintih, dan ada yang berteriak, sementara dia dalam pembicaraannya. Maka aku naik ke loteng untuk mengetahui keadaan Abu Abdillah, dan aku mendapatinya telah menangis hingga pingsan. Lalu aku kembali kepada mereka, dan keadaan mereka tetap seperti itu hingga pagi. Mereka berdiri dan berpencar. Maka aku naik ke tempat Abu Abdillah dan dia berubah keadaannya. Aku berkata: Bagaimana pendapatmu tentang orang-orang ini wahai Abu Abdillah? Maka dia berkata: Aku tidak mengetahui bahwa aku pernah melihat seperti orang-orang ini, dan tidak pernah mendengar dalam ilmu hakikat seperti perkataan laki-laki ini. Dan atas apa yang engkau sifatkan dari keadaan mereka, maka aku tidak melihat bagimu untuk menyahabati mereka. Kemudian dia berdiri dan keluar.
Abu Al-Qasim An-Nasrabadzi berkata: Sampai kepadaku bahwa Al-Harits Al-Muhasibi berbicara dalam sesuatu dari ilmu kalam, maka Ahmad bin Hanbal menjauhinya. Maka dia bersembunyi di sebuah rumah di Baghdad dan meninggal di sana, dan tidak ada yang menshalatinya kecuali empat orang.
“Manaqib Al-Imam Ahmad” karya Ibnu Al-Jauzi halaman 240-241
Muhammad bin Auf Al-Himshi berkata: Ahmad berkata: Di antara ahli bid’ah yang dikeluarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam dari Islam adalah Qadariyah, Murji’ah, Rafidhah, dan Jahmiyah, maka dia berkata: “Jangan shalat bersama mereka dan jangan shalati mereka.”
“Al-Furu'” 10/161
Ahmad bin Ashram meriwayatkan bahwa dia berkata kepada seorang laki-laki: Jauhilah duduk bersama orang-orang yang suka berselisih dan ilmu kalam.
Dan Ibnu Ashram meriwayatkan bahwa dia berkata kepada seorang laki-laki: Tidak pantas berdebat. Bertakwalah kepada Allah, dan tidak pantas engkau menonjolkan dirimu dan terkenal dengan ilmu kalam. Seandainya ini adalah kebaikan, niscaya para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam mendahului kita di dalamnya. Jika datang kepadamu orang yang meminta petunjuk, maka beri petunjuklah dia.
Dan Hanbal meriwayatkan dari dia: Wajib bagi kalian dengan sunnah dan hadits dan apa yang bermanfaat bagi kalian, dan jauhilah perdebatan dan adu argumen, karena sesungguhnya tidak akan beruntung orang yang mencintai ilmu kalam. Dan Abu Abdillah berkata kepadaku: Jangan duduk bersama mereka dan jangan berbicara dengan seorang pun dari mereka.
Dan dia juga berkata: Dan dia menyebut ahli bid’ah, lalu berkata: Aku tidak suka bagi seorang pun untuk duduk bersama mereka, bercampur dengan mereka, atau merasa nyaman dengan mereka. Dan setiap orang yang mencintai ilmu kalam, maka akhir urusannya tidak lain kecuali kepada bid’ah, karena ilmu kalam tidak mengajak kepada kebaikan. Wajib bagi kalian dengan sunnah dan fikih yang kalian ambil manfaatnya, dan tinggalkanlah perdebatan dan perkataan ahli bid’ah serta adu argumen. Kami mendapati manusia dan mereka tidak mengenal ini dan menjauhi ahli ilmu kalam.
“Al-Adab Asy-Syar’iyyah” 1/219
Ahmad berkata dalam riwayat Al-Fadhl, dan ditanyakan kepadanya: Apakah pantas bagi seseorang untuk tidak berbicara dengan siapa pun? Maka dia berkata: Ya, jika engkau mengetahui dari seseorang kemunafikan, maka jangan berbicara dengannya, karena Nabi shallallahu alaihi wasallam takut terhadap tiga orang yang ditinggalkan, maka beliau memerintahkan manusia untuk tidak berbicara dengan mereka.
Aku bertanya: Wahai Abu Abdillah, bagaimana dengan ahli hawa nafsu? Dia berkata: Adapun Jahmiyah dan Rafidhah, maka tidak.
Ditanyakan kepadanya: Bagaimana dengan Murji’ah? Dia berkata: Mereka lebih ringan, kecuali yang suka berselisih dari mereka, maka jangan berbicara dengannya.
Dan Al-Maimuni meriwayatkan dari Ahmad: Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang berbicara dengan tiga orang yang tertinggal di Madinah ketika beliau takut kemunafikan terhadap mereka, dan demikian juga setiap orang yang kami takuti terhadapnya.
Dan Al-Qasim bin Muhammad meriwayatkan dari dia: Sesungguhnya beliau menuduh mereka dengan kemunafikan, dan demikian juga siapa yang dituduh dengan kekufuran, tidak mengapa meninggalkan berbicara dengannya.
“Al-Adab Asy-Syar’iyyah” 1/248
50 – Larangan Berdebat dengan Ahli Bid’ah
Shalih berkata: Seorang laki-laki menulis surat kepada ayahku menanyakan tentang berdebat dengan ahli ilmu kalam dan duduk bersama mereka. Maka dia mendiktekan kepadaku jawabannya:
Semoga Allah memperbaiki akibat urusanmu, dan menolak darimu setiap yang dibenci dan ditakuti. Yang telah kami lapang dan kami dapati dari orang yang kami dapati dari ahli ilmu adalah bahwa mereka membenci ilmu kalam dan berdebat dengan ahli kesesatan. Sesungguhnya perkaranya adalah dalam penyerahan dan berakhir kepada apa yang ada dalam Kitab Allah Azza wa Jalla, tidak melampaui itu. Dan manusia tidak henti-hentinya membenci setiap hal yang baru, dari meletakkan kitab atau duduk bersama orang yang berbuat bid’ah, agar dia melemparkan kepadanya sebagian yang membingungkan dia dalam agamanya. Maka keselamatan insya Allah dalam meninggalkan duduk bersama mereka dan berdebat dengan mereka dalam bid’ah dan kesesatan mereka. Maka hendaklah seorang laki-laki bertakwa kepada Allah, dan hendaklah dia menuju kepada apa yang akan kembali kepadanya manfaatnya besok dari amal shalih yang dia dahulukan untuk dirinya, dan janganlah dia menjadi orang yang membuat suatu perkara. Jika dia keluar darinya, dia ingin hujjah untuknya, maka dia memikul dirinya dalam ujian di dalamnya, dan mencari hujjah untuk apa yang keluar darinya dengan hak atau batil, agar dia menghiasi dengannya bid’ah dan apa yang dia buat baru. Dan yang paling keras dari itu adalah jika dia telah meletakkannya dalam kitab, lalu diambil darinya, maka dia ingin menghiasi itu dengan yang hak dan batil meskipun jelas baginya kebenaran dalam selainnya. Kami memohon kepada Allah taufik untuk kami, untukmu, dan untuk seluruh kaum muslimin. Wassalamu’alaikum.
“Masa’il Shalih” (588)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Ishaq bin Ath-Thaba’ menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku melihat Malik bin Anas mencela perdebatan dan adu argumen dalam agama. Dia berkata: Apakah setiap kali ada laki-laki yang lebih pandai berdebat dari laki-laki lain, kami ingin menolak apa yang dibawa oleh Jibril kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam?
“Al-‘Ilal” riwayat Abdullah (1585)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Makhlad bin Yazid Al-Harrani mengabarkan kepada kami, dia berkata: Al-Auza’i menceritakan kepada kami, dari Abdul Wahid bin Qais, dari Abu Hurairah dia berkata: Penghapus dosa setiap pertengkaran adalah dua rakaat. Ayahku berkata: Tafsirnya: Laki-laki yang bertengkar dengan laki-laki, berselisih dengannya, shalat dua rakaat sebagai penghapusnya -yaitu: penghapus dosanya.
“Al-‘Ilal” riwayat Abdullah (5359)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Abu Mu’awiyah dan Waki’ menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Shalih bin Hayyan, Abu Mu’awiyah berkata: Al-Kabsi dari Hushain bin Uqbah, dari Ibnu Mas’ud dia berkata: Orang yang paling banyak kesalahannya -dan Waki’ berkata: dosanya- pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak berdebat dalam kebatilan.
“Az-Zuhd” 199
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ismail menceritakan kepada kami, dari Yunus dia berkata: Aku diberi kabar bahwa Umar bin Abdul Aziz berkata: Barangsiapa menjadikan agamanya ajang untuk berselisih, maka dia banyak berpindah-pindah.
“Az-Zuhd” riwayat Abdullah halaman 366
Al-Marrudzi berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Barangsiapa menggeluti ilmu kalam, dia tidak akan beruntung, dan barangsiapa menggeluti ilmu kalam, dia tidak akan lepas dari bid’ah.
“Thabaqat Al-Hanabilah” 1/149
Abu Al-Harits berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Barangsiapa mencintai ilmu kalam, maka tidak akan keluar dari hatinya.
“Thabaqat Al-Hanabilah” 1/178
Al-Abbas bin Ghalib berkata: Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal: Wahai Abu Abdillah, aku berada dalam majelis yang tidak ada di dalamnya yang mengenal sunnah selain aku, lalu berbicara seorang ahli bid’ah di dalamnya, apakah aku membantahnya?
Maka dia berkata: Jangan menonjolkan dirimu untuk ini. Kabarkan kepadanya tentang sunnah, dan jangan berselisih.
Maka aku mengulangi perkataan kepadanya, lalu dia berkata: Aku tidak melihatmu kecuali orang yang suka berselisih.
“Thabaqat Al-Hanabilah” 2/156
Abdullah berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Asy-Syafi’i memiliki jika telah tetap padanya suatu khabar, dia mengikutinya. Dan keistimewaan terbaik padanya adalah dia tidak suka ilmu kalam, sesungguhnya perhatiannya hanya kepada fikih.
“Al-Adab Asy-Syar’iyyah” 1/220
Hanbal berkata: Ahmad berkata: Sungguh kami dahulu memerintahkan untuk diam, maka ketika kami dipanggil untuk suatu perkara, tidak ada pilihan bagi kami kecuali menolak itu dan menjelaskan tentang urusannya apa yang menafikan darinya apa yang mereka katakan. Kemudian dia berdalil untuk itu dengan firman Allah Ta’ala: “Dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik” (An-Nahl: 125).
“Al-Adab Asy-Syar’iyyah” 1/227
51 – Peringatan dari Ahli Bid’ah
Abdullah berkata: Aku bertanya kepada ayahku: Apa pendapatmu tentang ahli hadits yang mendatangi seorang guru yang mungkin dia adalah Murji’ah, atau Syi’ah, atau padanya ada sesuatu yang menyelisihi sunnah, apakah pantas aku diam saja dan tidak memberi peringatan tentangnya, ataukah aku memberi peringatan tentangnya? Dia berkata: Jika dia mengajak kepada bid’ah, dan dia adalah pemimpin di dalamnya dan mengajak kepadanya, maka dia berkata: Ya, beri peringatan tentangnya.
“Masa’il Abdullah” (1591)
Al-Marrudzi berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah: Apakah engkau melihat bagi seseorang untuk menyibukkan diri dengan puasa dan shalat, dan diam tentang berbicara mengenai ahli bid’ah? Maka wajahnya muram, dan dia berkata: Jika dia berpuasa dan shalat serta mengasingkan diri dari manusia, bukankah itu hanya untuk dirinya sendiri?
Aku berkata: Ya. Dia berkata: Maka jika dia berbicara, maka itu untuknya dan untuk selainnya. Berbicara lebih utama.
“Thabaqat Al-Hanabilah” 3/400
Ibnu Al-Jauzi berkata: Muhammad bin Nashir mengabarkan kepada kami, dia berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar mengabarkan kepada kami, dia berkata: Abu Thalib Muhammad bin Ali Al-Baidhawi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Abu Umar bin Hayuwaih mengabarkan kepada kami, Abu Muzahim Musa bin Ubaidullah bin Yahya bin Khaqan berkata: Pamandaku Abu Ali Ubaidurrahman bin Yahya bin Khaqan berkata kepadaku: Al-Mutawakkil memerintahkan untuk bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang siapa yang ditugasi sebagai qadhi? Maka aku bertanya kepadanya. Abu Muzahim berkata: Lalu aku meminta pamanku untuk mengeluarkan jawabannya, maka dia mengirim kepadaku salinan, lalu aku menulisnya. Kemudian aku kembali kepada pamanku dan dia mengakui kepadaku kebenaran apa yang dia kirimkan.
Dan ini salinannya:
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Salinan catatan yang aku ajukan kepada Ahmad bin Muhammad bin Hanbal setelah aku bertanya kepadanya tentang apa yang ada di dalamnya, lalu dia menjawabku tentang itu dengan apa yang telah aku tulis, dan dia memerintahkan anaknya Abdullah untuk menandatanganinya di bawahnya dengan perintahnya, yang aku minta dia untuk menandatanganinya:
Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang Ahmad bin Rabbah, maka dia berkata tentangnya: Sesungguhnya dia adalah Jahmiyah yang dikenal dengan itu, dan sesungguhnya jika dia ditugasi sesuatu dari urusan kaum muslimin, maka itu akan menjadi bahaya bagi kaum muslimin karena apa yang dia anut dari mazhabnya dan bid’ahnya.
Dan aku bertanya kepadanya tentang Ibnu Al-Khalanjiy, maka dia berkata tentangnya juga seperti apa yang dia katakan tentang Ahmad bin Rabbah, dan dia menyebutkan bahwa dia adalah Jahmiyah yang dikenal dengan itu, dan bahwa dia termasuk orang yang paling jahat dari mereka dan paling besar bahayanya terhadap manusia. Dan aku bertanya kepadanya tentang Syu’aib bin Sahl, maka dia berkata tentangnya: Jahmiyah yang dikenal dengan itu.
Dan aku bertanya kepadanya tentang Ubaidullah bin Ahmad, maka dia berkata: Jahmiyah yang dikenal dengan itu.
Dan aku bertanya kepadanya tentang yang dikenal dengan Abu Syu’aib, maka dia berkata tentangnya: Sesungguhnya dia adalah Jahmiyah yang dikenal dengan itu.
Dan aku bertanya kepadanya tentang Muhammad bin Manshur qadhi Ahwaz, maka dia berkata tentangnya: Sesungguhnya dia bersama Abu Du’ad dan di pihaknya dan pekerjaannya, kecuali bahwa dia termasuk yang terbaik dari mereka dan aku tidak mengetahui pendapatnya.
Dan aku bertanya kepadanya tentang Ibnu Ali bin Al-Ja’d, maka dia berkata: Dia dikenal di kalangan manusia bahwa dia adalah Jahmiyah yang masyhur dengan itu, kemudian sampai kepadaku sekarang bahwa dia telah kembali dari itu.
Dan aku bertanya kepadanya tentang Al-Fath bin Sahl pemilik mazhalim Muhammad bin Abdullah di Baghdad, maka dia berkata: Jahmiyah yang dikenal dengan itu, dari sahabat-sahabat Bisyr Al-Marisi, dan tidak pantas ditugaskan sepertinya sesuatu dari urusan kaum muslimin karena bahaya yang ada dalam itu.
Dan aku bertanya kepadanya tentang Ibnu Ats-Tsalji, maka dia berkata: Ahli bid’ah pemilik hawa nafsu.
Dan aku bertanya kepadanya tentang Ibrahim bin ‘Itab, maka dia berkata: Aku tidak mengenalnya, kecuali bahwa dia termasuk sahabat-sahabat Bisyr Al-Marisi, maka seharusnya diwaspadai dan tidak didekati serta tidak ditugasi sesuatu dari urusan manusia.
Dan pada intinya bahwa ahli bid’ah dan hawa nafsu tidak pantas dimintai bantuan dalam sesuatu pun dari urusan kaum muslimin, karena sesungguhnya dalam itu ada bahaya terbesar terhadap agama, di samping apa yang menjadi pendapat Amirul Mukminin -semoga Allah memperpanjang umurnya- tentang berpegang teguh kepada sunnah dan menyelisihi ahli bid’ah.
Dan dengan perkataan Ahmad bin Muhammad bin Hanbal: Dan sungguh telah bertanya kepadaku Abdurrahman bin Yahya bin Khaqan tentang semua apa yang ada dalam kertas ini, dan aku menjawabnya dengan apa yang aku tulis dengannya. Dan aku sakit mata serta lemah badanku, maka aku tidak mampu menulis dengan tulisanku. Maka tanda tangan ini di bawah kertas ini adalah Abdullah anakku dengan perintahku dan di hadapanku. Dan aku memohon kepada Allah agar memperpanjang umur Amirul Mukminin, dan agar melanjutkan kesehatannya dan memberi baginya pertolongan dan taufik yang baik dengan anugerah dan kekuasaan-Nya.
“Manaqib Al-Imam Ahmad” karya Ibnu Al-Jauzi halaman 236-239
52 – Memenjarakan Ahli Bid’ah
Abdullah berkata: Aku bertanya kepada ayahku tentang seorang laki-laki yang berbuat bid’ah dan mengajak kepadanya, dan dia memiliki penyeru kepadanya. Apakah engkau melihat bahwa dia dipenjara?
Dia berkata: Ya. Aku melihat bahwa dia dipenjara dan bid’ahnya dicegah dari kaum muslimin.
“Masa’il Abdullah” (1590)
53 – Bab: Tentang Penetapan Sifat Allah Yang Maha Perkasa dengan Sifat Kemuliaan, Keagungan, dan Kebesaran
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, telah menceritakan kepada kami Ammar bin Muhammad (anak saudara perempuan Sufyan Ats-Tsauri), dari Atha’ (yaitu Ibnu As-Sa’ib), dari Al-Agharr Abu Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersada: “Allah Yang Maha Perkasa berfirman: Kebesaran adalah selendang-Ku, dan keagungan adalah sarung-Ku. Barangsiapa yang merebut sesuatu dari keduanya maka Aku akan melemparkannya ke dalam Neraka Jahannam.”
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam, telah menceritakan kepada kami Ibnul Mubarak, dari Ismail, dari Abu Shalih, dari Ikrimah, ia berkata: Para malaikat diciptakan dari cahaya kemuliaan, dan Iblis diciptakan dari api kemuliaan.
54 – Bab: Tentang Firman Allah Ta’ala: “Tidak mengantuk dan tidak tidur”
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Qatadah dan Al-Hasan tentang firman-Nya: “Tidak mengantuk dan tidak tidur” (Al-Baqarah: 255). Ia berkata: As-Sinah (mengantuk) adalah rasa kantuk yang ringan.
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yaman, telah menceritakan kepada kami Asy’ats, dari Ja’far (yaitu Ibnul Mughirah), dari Sa’id (yaitu Ibnu Jubair), ia berkata: Bani Israil bertanya kepada Musa ‘alaihis salam: Apakah Tuhanmu tidur? Maka ia berkata: Wahai Musa, ambillah dua gelas kaca, lalu isilah keduanya dengan air, kemudian shalatlah sementara keduanya di tanganmu, maka lihatlah apakah keduanya akan tetap stabil. Maka ia berdiri untuk shalat lalu mengantuk sehingga keduanya pecah. Maka Allah berfirman: Wahai Musa, sekiranya Aku tidur maka langit dan bumi akan hancur.
55 – Bab: Allah adalah Asy-Syafi (Yang Menyembuhkan)
Al-Fadhl bin Muhammad Asy-Sya’rani berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Abjar, dari Iyad bin Laqith, dari Abu Ramtsah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama ayahku, lalu ia melihat sesuatu (bisul) di punggungku, maka ia berkata: Wahai Rasulullah, bolehkah aku mengobatinya karena aku seorang tabib (dokter)? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau adalah Rafiq (yang lembut), dan Allah-lah Asy-Syafi (Yang Menyembuhkan).” Beliau bersabda: “Siapakah yang bersamamu ini?” Ia berkata: Aku menjawab: Anakku, sebagai saksi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketahuilah bahwa sesungguhnya ia tidak akan menanggung dosamu dan engkau tidak akan menanggung dosanya.”
56 – Bab: As-Salam (Yang Maha Sejahtera) adalah Salah Satu Nama Allah
Abu Dawud berkata: Aku bertanya kepada Ahmad: Bagaimana dengan orang-orang yang saling mencaci? Apakah aku mengucapkan salam kepada mereka?
Ia berkata: Mereka adalah kaum yang bodoh, dan As-Salam adalah nama dari nama-nama Allah.
Abu Dawud berkata: Aku bertanya kepada Ahmad: Apakah aku mengucapkan salam kepada laki-laki banci (mukhannats)?
Ia berkata: Aku tidak tahu, As-Salam adalah nama dari nama-nama Allah.
57 – Bab: Penetapan Sifat Ketinggian, Ke-atas-an, Bersemayam di atas Arasy, dan Bahwa Allah Subhanahu di Langit, serta Penetapan Kursi
Imam Ahmad berkata: Maka kami katakan kepada mereka: Mengapa kalian mengingkari bahwa Allah berada di atas Arasy, padahal Allah Ta’ala berfirman: “Ar-Rahman bersemayam di atas Arasy” (Thaha: 5).
Dan Allah berfirman: “Dia menciptakan langit dan bumi dalam enam hari kemudian Dia bersemayam di atas Arasy” (Al-A’raf: 54).
Maka mereka berkata: Dia berada di bawah bumi yang ketujuh, sebagaimana Dia berada di atas Arasy. Dia berada di atas Arasy, di langit-langit, di bumi, dan di setiap tempat. Tidak ada tempat yang kosong dari-Nya, dan Dia tidak berada di suatu tempat tanpa tempat yang lain. Kemudian mereka membaca ayat dari Al-Quran: “Dan Dialah Allah (yang disembah) di langit dan di bumi” (Al-An’am: 3).
Maka kami katakan: Sungguh kaum muslimin telah mengetahui tempat-tempat yang banyak yang tidak mengandung keagungan Tuhan sedikitpun. Maka mereka berkata: Tempat apa?
Maka kami katakan: Jasad-jasad kalian, perut kalian, perut babi, kakus, dan tempat-tempat yang kotor tidak mengandung keagungan Tuhan sedikitpun, padahal Allah telah mengabarkan bahwa Dia di langit.
Allah berfirman: “Apakah kamu merasa aman terhadap (Allah) yang di langit bahwa Dia akan membenamkan kamu ke dalam bumi” (Al-Mulk: 16).
“Atau apakah kamu merasa aman terhadap (Allah) yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan kepada kamu angin yang berbatu” (Al-Mulk: 17).
Dan Allah berfirman: “Kepada-Nya naik perkataan-perkataan yang baik” (Fathir: 10).
Dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan mengangkatmu kepada-Ku” (Ali Imran: 55).
Dan Allah berfirman: “Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya” (An-Nisa’: 158).
Dan Allah berfirman: “Dan kepunyaan-Nya siapa yang ada di langit dan di bumi dan siapa yang di sisi-Nya” (Al-Anbiya’: 19).
Dan Allah berfirman: “Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka” (An-Nahl: 50).
Dan Allah berfirman: “Yang mempunyai tempat-tempat yang tinggi” (Al-Ma’arij: 3).
Dan Allah berfirman: “Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung” (Al-Baqarah: 255).
Dan Allah berfirman: “Dan Dialah yang berkuasa di atas hamba-hamba-Nya” (Al-An’am: 18).
Inilah berita Allah; Dia mengabarkan kepada kita bahwa Dia di langit, dan kita dapati segala sesuatu yang lebih rendah dari-Nya tercela. Allah Jalla Tsana’uhu berfirman: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka” (An-Nisa’: 145).
“Dan orang-orang yang kafir berkata: Ya Tuhan kami, perlihatkanlah kepada kami kedua makhluk dari jin dan manusia yang telah menyesatkan kami, (agar) kami jadikan keduanya di bawah telapak kaki kami, supaya keduanya termasuk orang-orang yang paling rendah” (Fushshilat: 29).
Dan kami katakan kepada mereka: Bukankah kalian mengetahui bahwa Iblis berada di tempatnya dan setan-setan berada di tempat mereka, maka Allah tidak akan berkumpul bersama Iblis di satu tempat yang sama?! Adapun makna firman Allah Jalla Tsana’uhu: “Dan Dialah Allah (yang disembah) di langit dan di bumi” (Al-An’am: 3).
Kami katakan: Dia adalah Ilah (Tuhan yang disembah) bagi siapa yang di langit dan Ilah bagi siapa yang di bumi, dan Dia berada di atas Arasy, dan ilmu-Nya telah meliputi apa yang ada di bawah Arasy, dan tidak ada satu tempatpun yang kosong dari ilmu Allah, dan ilmu Allah tidak berada di suatu tempat tanpa tempat yang lain. Itulah makna firman Allah: “Supaya kamu mengetahui bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya meliputi segala sesuatu” (Ath-Thalaq: 12).
Dan sebagai perumpamaan dalam hal itu: Seandainya ada seorang laki-laki yang memegang gelas dari kaca yang bening, dan di dalamnya minuman yang bening, maka pandangan anak Adam telah meliputi gelas tersebut tanpa anak Adam berada di dalam gelas. Maka Allah – dan bagi-Nya perumpamaan yang tertinggi – telah meliputi seluruh makhluk-Nya, tanpa Dia berada dalam sesuatu dari makhluk-Nya.
Dan satu contoh lagi: Seandainya ada seorang laki-laki membangun sebuah rumah dengan seluruh fasilitasnya, kemudian ia menutup pintunya dan keluar darinya, maka anak Adam tidak akan tersamarkan baginya berapa banyak kamar di rumahnya, dan berapa luas setiap kamar, tanpa pemilik rumah berada di dalam rumah. Maka Allah – dan bagi-Nya perumpamaan yang tertinggi – telah meliputi seluruh makhluk-Nya, dan mengetahui bagaimana keadaannya dan apa hakikatnya, tanpa Dia berada dalam sesuatu yang Dia ciptakan.
Abu Dawud berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Suraij bin An-Nu’man, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Nafi’, ia berkata: Malik berkata: Allah Tabarakahu wa Ta’ala berada di langit, dan ilmu-Nya ada di setiap tempat, tidak ada tempat yang kosong dari ilmu-Nya.
Harb berkata: Aku bertanya kepada Ishaq: Apakah Arasy memiliki batas?
Ia berkata: Ya, memiliki batas. Dan ia menyebutkan dari Ibnul Mubarak, ia berkata: Dia berada di atas Arasy-Nya terpisah dari makhluk-Nya dengan batas.
Harb berkata: Telah menceritakan kepada kami Ishaq, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Jarir, dari Atha’ bin As-Sa’ib, dari Maisarah tentang firman Allah: “Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung Arasy Tuhanmu di atas (kepala) mereka” (Al-Haqqah: 17). Ia berkata: Kaki-kaki mereka berada di ujung-ujung (bumi), mereka tidak mampu mengangkat pandangan mereka karena pancaran cahaya.
Harb berkata: Ishaq membacakan: Sesungguhnya Allah Tabarakahu wa Ta’ala menggambarkan diri-Nya dalam Kitab-Nya dengan sifat-sifat yang membuat makhluk tidak perlu menggambarkan-Nya selain dengan apa yang Dia gambarkan untuk diri-Nya sendiri. Di antaranya adalah firman-Nya: “Datang kepada mereka Allah dalam naungan dari awan dan malaikat” (Al-Baqarah: 210), dan firman-Nya: “Dan kamu akan melihat malaikat-malaikat berkerumunan di sekeliling Arasy” (Az-Zumar: 75), dan ayat-ayat serupa yang menggambarkan Arasy. Dan telah tsabit riwayat-riwayat tentang Arasy, dan yang paling tinggi dan paling tsabit di dalamnya adalah firman Allah: “Ar-Rahman bersemayam di atas Arasy” (Thaha: 5).
Harb berkata: Dan Ishaq berkata tentang hadits Abu Razin Al-Uqaili: Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Di dalam kabut, tidak ada udara di atasnya dan tidak ada udara di bawahnya”, maknanya: Bahwa Allah berada di dalam kabut sebelum Dia menciptakan langit dan bumi, dan penafsirannya menurut para ulama: Bahwa Allah berada di dalam kabut, yaitu awan.
Abdullah berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, telah mengabarkan kepada kami Yazid bin Harun, telah mengabarkan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Ya’la bin Atha’, dari Waki’ bin Hudus, dari pamannya Abu Razin Al-Uqaili, ia berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, di manakah Tuhan kita Yang Maha Perkasa sebelum Dia menciptakan makhluk-Nya? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dia berada di dalam kabut, tidak ada udara di bawah-Nya dan tidak ada udara di atas-Nya, kemudian Dia menciptakan Arasy-Nya di atas air.”
Abdullah berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman, dari Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Abdullah bin Khalifah, dari Umar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Apabila Allah Tabarakahu wa Ta’ala bersemayam di atas Kursi, maka akan terdengar bagi-Nya bunyi berderit seperti deritnya pelana yang baru.
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan, dari Ammar Ad-Duhni, dari Muslim Al-Bathin, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Kursi adalah tempat kedua telapak kaki, dan Arasy tidak ada seorangpun yang dapat menentukan kadar ukurannya.
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, telah menceritakan kepada kami Waki’ dengan hadits Israil, dari Abu Ishaq, dari Abdullah bin Khalifah, dari Umar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Apabila Ar-Rabb (Tuhan) bersemayam di atas Kursi. Maka seorang laki-laki – ayahku menyebutkan namanya – merinding di sisi Waki’, lalu Waki’ marah dan berkata: Kami mendapati Al-A’masy dan Sufyan menceritakan hadits-hadits ini, mereka tidak mengingkarinya.
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, telah menceritakan kepada kami Abdush-Shamad, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Juhadah, dari Salamah bin Kuhail, dari Amarah bin Umair, dari Abu Musa, ia berkata: Kursi adalah tempat kedua telapak kaki, dan ia memiliki bunyi derit seperti deritnya pelana.
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, telah menceritakan kepada kami seorang laki-laki, telah menceritakan kepada kami Israil, dari As-Suddi, dari Abu Malik tentang firman-Nya: “Kursi-Nya meliputi langit dan bumi” (Al-Baqarah: 255). Ia berkata: Sesungguhnya batu karang yang berada di bawah bumi yang ketujuh dan ujung makhluk di pinggir-pinggirnya terdapat empat malaikat, setiap malaikat dari mereka memiliki empat wajah: wajah manusia, wajah singa, wajah burung elang, dan wajah sapi. Mereka berdiri di atasnya, telah mengelilingi bumi dan langit, dan kepala-kepala mereka berada di bawah Kursi, dan Kursi berada di bawah Arasy. Ia berkata: Dan Allah Tabarakahu wa Ta’ala meletakkan kedua telapak kaki-Nya di atas Kursi.
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdi dan Abu Sufyan (yaitu Al-Ma’mari), dari Sufyan, dari Laits, dari Mujahid, ia berkata: Tidaklah langit dan bumi di dalam Kursi kecuali seperti cincin di padang yang luas.
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdi, dari Sufyan, dari Imad Ad-Duhni, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Kursi adalah tempat kedua telapak kaki-Nya, dan Arasy tidak ada seorangpun yang dapat menentukan kadar ukurannya.
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, telah menceritakan kepada kami Abul Mughirah, telah menceritakan kepadaku Abdah binti Khalid bin Mi’dan, dari ayahnya Khalid bin Mi’dan bahwa ia pernah berkata: Sesungguhnya Ar-Rahman Subhanahu wa Ta’ala menjadi berat bagi para pemikul Arasy dari awal siang ketika orang-orang musyrik berdiri (melakukan kemaksiatan), hingga ketika para juru tasbih berdiri (beribadah) maka Allah meringankan beban para pemikul Arasy.
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Jabir, dari Abdullah bin Yahya, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang firman-Nya: “Langit (akan) terbelah karena-Nya” (Al-Muzzammil: 18). Ia berkata: Penuh dengan-Nya.
Dan dia berkata: ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Waki’ mendiktekan kepada kami di Baghdad, dari Sufyan, dari Ikrimah tentang “Langit terbelah karenanya” (Surat Al-Muzzammil: 18), dia berkata: dipenuhi olehnya.
Dan dia berkata: ayahku menceritakan kepadaku, Abdul Wahhab menceritakan kepada kami, dari Sa’id, dari Qatadah “Langit terbelah karenanya”. Dia berkata: dibebani olehnya.
“As-Sunnah” karya Abdullah 2/457 (1033-1035)
Abdullah berkata: ayahku menceritakan kepadaku, Mu’adz bin Hisyam menceritakan kepada kami di Mekah, ayahku menceritakan kepadaku, dari Qatadah, dari Katsir bin Abi Katsir, dari Abu ‘Iyadh, dari Abdullah bin Amru semoga Allah meridhainya, dia berkata: Sesungguhnya Arasy dilingkari oleh ular, dan sesungguhnya wahyu turun dalam rantai-rantai.
“As-Sunnah” karya Abdullah 2/474 (1081)
Al-Fadhl bin Ziyad berkata: aku mendengar Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal berkata: Malik bin Anas berkata: Allah ada di langit, dan ilmu-Nya ada di setiap tempat, tidak ada tempat yang kosong dari-Nya.
Maka aku berkata: siapa yang mengabarkan kepadamu dari Malik tentang hal ini? Dia berkata: aku mendengarnya dari Suraij bin An-Nu’man, dari Abdullah bin Nafi’.
“Asy-Syari’ah” karya Al-Ajurri hal. 240 (599)
Al-Atsram berkata: Muhammad bin Ibrahim Al-Qaisi menceritakan kepada kami, dia berkata: aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal: diriwayatkan tentang Ibnu Al-Mubarak, ditanyakan kepadanya: bagaimana kita mengenal Tuhan kita? Dia berkata: di langit yang ketujuh di atas Arasy-Nya dengan batas.
Imam Ahmad berkata: demikianlah menurut kami.
Dan Abu Bakar Al-Marwazi berkata: aku mendengar Abu Abdullah dan ditanyakan kepadanya: Ali bin Al-Hasan bin Syaqiq meriwayatkan dari Ibnu Al-Mubarak bahwa ditanyakan kepadanya: bagaimana kita mengenal Allah? Dia berkata: di atas Arasy dengan batas, maka dia berkata: hal itu sampai kepadaku darinya dan membuatnya kagum, kemudian Abu Abdullah berkata: “Tidakkah mereka menunggu selain Allah datang kepada mereka dalam naungan awan dan para malaikat” (Surat Al-Baqarah: 210), kemudian dia berkata “Dan Tuhanmu datang serta para malaikat berbaris-baris” (Surat Al-Fajr: 22).
Dan Yusuf bin Musa Al-Qathan berkata: ditanyakan kepada Abu Abdullah: apakah Allah Ta’ala di atas langit yang ketujuh di atas Arasy-Nya terpisah dari makhluk-Nya, dan kekuasaan serta ilmu-Nya ada di setiap tempat? Dia berkata: ya, di atas Arasy-Nya, tidak ada sesuatu pun yang kosong dari ilmu-Nya.
“Al-Ibanah” kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah 3/156-159 (113-115)
Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Hasan bin Musa Al-Asyiab menceritakan kepada kami, dia berkata: Hammad menceritakan kepada kami, dari Atha’ bin As-Sa’ib, dari Asy-Sya’bi, dia berkata: Sesungguhnya Allah Ta’ala telah memenuhi Arasy, hingga sungguh untuknya ada bunyi berderit seperti deritnya pelana baru.
“Al-Ibanah” kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah 3/176-177 (133)
Dan Humaid bin Ash-Shabbah bertanya kepada Ahmad bin Hanbal: berapa jaraknya antara kita dengan Arasy Tuhan kita? Dia berkata: do’a seorang muslim yang dijawab Allah do’anya.
“Al-Ibanah” kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah 3/187 (141)
Ibnu Syirawayh berkata: Ishaq bin Rahawaih menceritakan kepada kami, dia berkata: Ibrahim bin Al-Hakam bin Aban mengabarkan kepada kami, dari ayahnya, dari Ikrimah tentang firman-Nya: “Kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan mereka dan dari belakang mereka, dari kanan mereka dan dari kiri mereka” (Surat Al-A’raf: 17), dia berkata: Ibnu Abbas berkata: dia tidak mampu mengatakan: dari atas mereka, karena mengetahui bahwa Allah ada di atas mereka.
Dan Ibnu Syirawayh berkata: Ishaq menceritakan kepada kami, Bisyr bin Umar mengabarkan kepada kami, dia berkata: aku mendengar lebih dari satu mufassir berkata: “Ar-Rahman di atas Arasy bersemayam” (Surat Thaha: 5) naik tinggi.
“Syarh Ushul Al-I’tiqad” 3/439-440 (661-662)
Al-Khallal berkata: Al-Hasan bin Shalih Al-‘Athar mengabarkan kepada kami, Harun bin Ya’qub Al-Hasyimi menceritakan kepada kami, aku mendengar ayahku Ya’qub bin Al-Abbas berkata: kami berada di sisi Abu Abdullah, dia berkata: maka kami bertanya kepadanya tentang perkataan Ibnu Al-Mubarak. Ditanyakan kepadanya: bagaimana kita mengenal Tuhan kita? Dia berkata: di langit yang ketujuh, di atas Arasy-Nya, dengan batas, maka Imam Ahmad berkata: demikianlah di atas Arasy, bersemayam dengan batas.
Maka kami berkata kepadanya: apa makna perkataan Ibnu Al-Mubarak: dengan batas?
Dia berkata: aku tidak mengenalnya, tetapi untuk ini ada bukti-bukti dari Al-Qur’an di lima tempat: “Kepada-Nya naik perkataan yang baik” (Surat Fathir: 10), “Apakah kamu merasa aman terhadap (Allah) yang di langit” (Surat Al-Mulk: 16), “Malaikat-malaikat dan Ruh naik kepada-Nya” (Surat Al-Ma’arij: 4) dan Dia di atas Arasy, dan ilmu-Nya bersama segala sesuatu.
“Bayan Talbis Al-Jahmiyyah” 2/613-614
Hanbal berkata: Imam Ahmad berkata: kami beriman bahwa Allah Ta’ala di atas Arasy bagaimana Dia kehendaki, dan sebagaimana Dia kehendaki tanpa batas dan tanpa sifat yang dapat dicapai oleh pemberi sifat, atau dibatasi oleh siapa pun.
“Bayan Talbis Al-Jahmiyyah” 3/4-5
Al-Khallal berkata: Abdul Malik Al-Maimuni mengabarkan kepadaku bahwa dia bertanya kepada Abu Abdullah: apa pendapatmu tentang orang yang berkata: sesungguhnya Allah tidak berada di atas Arasy?
Dia berkata: semua perkataan mereka berputar pada kekufuran.
“Bayan Talbis Al-Jahmiyyah” 3/705-706
Al-Atsram berkata: aku berkata kepada Ahmad: diriwayatkan tentang Ibnu Al-Mubarak: kita mengenal Tuhan kita di langit yang ketujuh, di atas Arasy-Nya, dengan batas. Maka Imam Ahmad berkata: demikianlah menurut kami.
Abu Bakar bin Abi Dawud berkata: aku mendengar ayahku berkata: seorang laki-laki datang kepada Ahmad bin Hanbal lalu berkata kepadanya: apakah Allah Tabaraka wa Ta’ala memiliki batas? Dia berkata: ya, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Dan kamu melihat para malaikat berkeliling di sekitar Arasy” (Surat Az-Zumar: 75), Dia berfirman: mengelilingi.
“Bayan Talbis Al-Jahmiyyah” 3/733
Abdullah berkata: Harun bin Ma’ruf menceritakan kepada kami, Muhammad bin Fudhail menceritakan kepada kami, dari Laits, dari Mujahid tentang firman-Nya: “Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji” (Surat Al-Isra’: 79), dia berkata: Dia mendudukkannya di atas Arasy, maka aku menceritakan hal itu kepada ayahku semoga Allah merahmatinya, lalu dia berkata: tidak ada takdir bagiku untuk mendengarnya dari Ibnu Fudhail.
Al-Marwazi meriwayatkan cerita tentang turunnya dari Ibrahim bin Arafah, aku mendengar Ibnu Umair berkata: aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata: ini telah diterima oleh para ulama dengan penerimaan.
“Al-‘Uluw lil-‘Aliyy Al-‘Azhim” karya Adz-Dzahabi 2/1085-1086 (424-424-1), “Al-‘Arsy” 2/220 (191)
Abu Dawud Al-Khaffaf Sulaiman bin Dawud berkata: Ishaq bin Rahawaih berkata: Allah Ta’ala berfirman “Ar-Rahman di atas Arasy bersemayam” (Surat Thaha: 5), ijma’ ahli ilmu bahwa Dia di atas Arasy bersemayam, dan Dia mengetahui segala sesuatu di bawah bumi yang ketujuh.
“Al-‘Uluw” karya Adz-Dzahabi 2/1128 (451)
58 – Bab: Penetapan Sifat Turunnya Allah Ta’ala ke Langit Dunia
Ishaq bin Manshur berkata: aku berkata kepada Ahmad semoga Allah meridhainya: “Tuhan kami Tabaraka wa Ta’ala—nama-Nya—turun setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir ke langit dunia”, bukankah engkau berkata dengan hadits-hadits ini? Dan mereka—ahli surga—melihat Tuhan mereka, Azza wa Jalla, dan “Janganlah kalian menghina wajah karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menciptakan Adam menurut rupa-Nya”—yaitu: rupa Tuhan semesta alam—dan “Neraka mengadu kepada Tuhan-nya Azza wa Jalla, Allah meletakkan kaki-Nya di dalamnya”, dan bahwa Musa alaihissalam menampar malaikat maut alaihissalam.
Imam Ahmad berkata: semua ini shahih.
Ishaq berkata: semua ini shahih, dan tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang bid’ah, atau lemah pendapatnya.
“Masa’il Al-Kausaj” (3290)
Harb berkata: aku bertanya kepada Ishaq bin Ibrahim, aku berkata: hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Allah turun setiap malam ke langit dunia”?
Dia berkata: ya, Allah turun setiap malam ke langit dunia, sebagaimana Dia kehendaki, dan bagaimana Dia kehendaki, dan tidak ada sifat di dalamnya.
Dan Ishaq berkata: tidak boleh membahas urusan Allah sebagaimana boleh membahas perbuatan makhluk, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat dan mereka ditanya” (Surat Al-Anbiya’: 23), dan tidak boleh bagi siapa pun membayangkan terhadap Sang Pencipta dengan sifat-sifat dan perbuatan-Nya dengan bayangan apa yang boleh dipikirkan dan dilihat dalam urusan makhluk, dan itu karena mungkin Dia disifati dengan turun setiap malam ketika telah berlalu sepertiganya ke langit dunia sebagaimana Dia kehendaki, tidak ditanyakan bagaimana turun-Nya; karena Dia adalah Pencipta yang berbuat apa yang Dia kehendaki sebagaimana Dia kehendaki.
“Masa’il Harb” hal. 416
Abdullah berkata: ayahku menceritakan kepadaku, Abu Al-Mughirah Al-Khaulani menceritakan kepada kami, Al-Auza’i menceritakan kepada kami, Yahya bin Abi Katsir menceritakan kepada kami, dari Ikrimah, dia berkata: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla apabila Dia berkehendak menakut-nakuti hamba-hamba-Nya, Dia menampakkan sebagian dari diri-Nya ke bumi, maka pada saat itulah terjadi gempa, dan apabila Dia berkehendak menghancurkan suatu kaum, Dia menampakkan diri kepada mereka.
“As-Sunnah” karya Abdullah 2/470 (1069)
Abdullah berkata: ayahku menceritakan kepadaku, Sufyan bin ‘Uyainah menceritakan kepada kami, dari Amru—yaitu: Ibnu Dinar—dari Nafi’ bin Jubair, dari seorang laki-laki dari sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, dia berkata: “Apabila berlalu—dan dia berkata sekali lagi: apabila lewat—separuh malam pertama, Allah Azza wa Jalla turun ke langit dunia, Dia membuka pintunya, Dia berfirman: siapakah yang meminta kepada-Ku maka Aku memberinya? Siapakah yang berdoa kepada-Ku maka Aku mengabulkannya? Hingga terbit fajar.”
“As-Sunnah” karya Abdullah 2/511 (1197)
Ahmad bin Ali Al-Abbar menyebutkan dari Ali bin Khasyram bahwa Abdullah bin Thahir berkata kepada Ishaq bin Rahawaih: apa ini hadits-hadits yang diriwayatkan bahwa Allah Azza wa Jalla turun ke langit dunia, dan Allah naik dan turun?!
Dia berkata: maka Ishaq berkata kepadanya: apakah engkau berkata bahwa Allah berkuasa untuk turun dan naik tanpa bergerak? Dia berkata: ya. Dia berkata: maka mengapa engkau mengingkari?!
“Syarh Ushul Al-I’tiqad” karya Al-Lalaka’i 3/501 (774)
Hanbal berkata: aku bertanya kepada Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal tentang hadits-hadits yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia”, maka Abu Abdullah berkata: kami beriman dengannya dan membenarkannya, dan kami tidak menolak sesuatu pun darinya apabila sanad-sanadnya shahih, dan kami tidak menolak perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan kami mengetahui bahwa apa yang dibawa oleh Rasul adalah benar. Hingga aku berkata kepada Abu Abdullah: Allah turun ke langit dunia, dia berkata: aku berkata: turun-Nya dengan ilmu-Nya ataukah dengan apa?
Maka dia berkata kepadaku: diamlah tentang ini, apa urusanmu dengan ini, jalankanlah hadits sebagaimana diriwayatkan, tanpa bagaimana, ataupun tanpa batas, dengan apa yang dibawa oleh atsar-atsar dan dengan apa yang dibawa oleh Kitab, Allah berfirman: “Maka janganlah kamu membuat perumpamaan bagi Allah” (Surat An-Nahl: 74), Dia turun bagaimana Dia kehendaki; dengan ilmu dan kekuasaan-Nya, Dia meliputi segala sesuatu dengan ilmu, tidak ada pemberi sifat yang mencapai kadar-Nya, dan tidak ada pelarian yang jauh dari-Nya.
“Al-Ibanah” kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah 3/243 (184)
Imam Ahmad bin Sa’id bin Ibrahim bin Abdullah Ar-Ribathi berkata: aku menghadiri majelis Amir Abdullah bin Thahir pada suatu hari, dan Ishaq bin Ibrahim—yaitu: Ibnu Rahawaih—hadir, maka dia ditanya tentang hadits turun: apakah itu shahih? Dia berkata: ya.
Maka salah seorang panglima Abdullah berkata kepadanya: wahai Abu Ya’qub, apakah engkau mengklaim bahwa Allah turun setiap malam? Dia berkata: ya.
Dia berkata: bagaimana Dia turun? Maka Ishaq berkata kepadanya: tetapkan Dia di atas hingga aku menjelaskan kepadamu tentang turun, maka laki-laki itu berkata kepadanya: aku tetapkan Dia di atas.
Maka Ishaq berkata kepadanya: Allah berfirman: “Dan Tuhanmu datang serta para malaikat berbaris-baris” (Surat Al-Fajr: 22).
Maka Amir Abdullah bin Thahir berkata: wahai Abu Ya’qub, ini adalah hari kiamat! Maka Ishaq berkata: semoga Allah memuliakan Amir, dan siapa yang datang pada hari kiamat, siapa yang mencegah-Nya hari ini?!
“‘Aqidah As-Salaf Ashab Al-Hadits” hal. 48 (44)
Imam Ahmad bin Husain bin Hassan berkata: Ditanyakan kepada Abu Abdillah: Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia setiap malam. Ia menjawab: Ya.
Ditanyakan kepadanya: Dan di bulan Syaban sebagaimana yang datang dalam atsar? Ia menjawab: Ya.
Yusuf bin Musa berkata: Ditanyakan kepada Abu Abdillah: Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia bagaimana Dia kehendaki tanpa sifat tertentu? Ia menjawab: Ya.
Kitab “Ibthaal al-Ta’wiilaat” 1/260, Qadhi Faris berkata: Ishaq bin Rahawaih berkata: Suatu hari aku masuk menemui Abdullah bin Thahir, lalu ia berkata kepadaku: Wahai Abu Ya’qub, apakah engkau mengatakan bahwa Allah turun setiap malam? Maka aku katakan kepadanya: Apakah Dia berkuasa? Maka Abdullah diam.
Abu al-Abbas berkata: Orang terpercaya dari kalangan sahabat kami mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Ishaq bin Rahawaih berkata: Aku masuk menemui Abdullah bin Thahir, lalu ia berkata kepadaku: Wahai Abu Ya’qub, apakah engkau mengatakan bahwa Allah turun setiap malam?
Maka aku katakan: Wahai Amir, sesungguhnya Allah Ta’ala mengutus kepada kami seorang Nabi, yang dipindahkan kepada kami dari beliau kabar-kabar yang dengannya kami menghalalkan darah dan mengharamkannya, dengannya kami menghalalkan kemaluan dan mengharamkannya, dengannya kami membolehkan harta dan mengharamkannya. Jika ini shahih maka itu shahih, dan jika ini batal maka itu batal.
Ia berkata: Maka Abdullah diam.
Imam Ahmad bin Salamah berkata: Aku mendengar Ishaq bin Ibrahim al-Hanzhali berkata: Aku dan orang pembid’ah ini -maksudnya Ibrahim bin Abi Shalih- dikumpulkan dalam majelis Amir Abdullah bin Thahir. Amir bertanya kepadaku tentang hadits-hadits turun, lalu aku menyebutkannya secara berurutan. Maka Ibrahim berkata: Aku kafir terhadap Tuhan yang turun dari langit ke langit. Maka aku katakan: Aku beriman kepada Tuhan yang melakukan apa yang Dia kehendaki.
Ia berkata: Maka Abdullah ridha dengan ucapanku dan mengingkari Ibrahim. Inilah makna kisahnya.
Abu al-Abbas berkata: Aku mendengar Ishaq bin Ibrahim berkata: Suatu hari aku masuk menemui Thahir bin Abdullah bin Thahir dan di sisinya ada Manshur bin Thalhah. Ia berkata kepadaku: Wahai Abu Ya’qub, apakah Allah turun setiap malam? Maka aku katakan kepadanya: Apakah engkau beriman kepadanya? Maka Thahir berkata: Bukankah aku telah melarangmu dari Syaikh ini?! Apa yang membuatmu bertanya kepadanya tentang perkara seperti ini? Ishaq berkata: Maka aku katakan kepadanya: Jika engkau tidak beriman bahwa Tuhanmu melakukan apa yang Dia kehendaki, maka engkau tidak perlu bertanya kepadaku.
Abu Muhammad bin Hayyan Abu al-Syaikh al-Ashbahani berkata: Dan dalam apa yang diijazahkan kakekku kepadaku -maksudnya Mahmud bin al-Farah- ia berkata: Ishaq bin Rahawaih berkata: Ibnu Thahir bertanya kepadaku tentang hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam -maksudnya tentang turun- maka aku katakan kepadanya: Turun tanpa kaifiyat (cara).
Kitab “al-Asma wa al-Shifaat” 2/375-377 (950-953)
Ismail al-Tirmidzi berkata: Aku mendengar Ishaq bin Rahawaih berkata: Orang-orang Jahmiyyah berkumpul menemui Abdullah bin Thahir suatu hari lalu mereka berkata kepadanya: Wahai Amir, sesungguhnya engkau mendahulukan Ishaq, memuliakan dan mengagungkannya, padahal ia kafir yang mengklaim bahwa Allah turun ke langit dunia setiap malam dan Arsy menjadi kosong dari-Nya. Ia berkata: Maka Abdullah marah dan mengirim utusan kepadaku. Aku masuk menemuinya dan mengucapkan salam, namun ia tidak menjawab salamku karena marah dan tidak mempersilahkanku duduk. Kemudian ia mengangkat kepalanya dan berkata kepadaku: Celakalah engkau wahai Ishaq, apa yang mereka katakan ini?! Ia berkata: Aku katakan: Aku tidak tahu. Ia berkata: Engkau mengklaim bahwa Allah turun ke langit dunia setiap malam dan Arsy menjadi kosong dari-Nya? Maka aku katakan: Wahai Amir, bukan aku yang mengatakannya, tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengatakannya. Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Ayyasy, dari Ishaq, dari al-Agharr bin Muslim bahwa ia berkata: Aku bersaksi atas Abu Hurairah dan Abu Sa’id bahwa keduanya bersaksi atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Allah turun ke langit dunia setiap malam lalu berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku maka Aku akan mengabulkannya? Siapa yang meminta kepada-Ku maka Aku akan memberinya? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya.” Tetapi suruhlah mereka berdebat denganku. Ia berkata: Ketika aku menyebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepadanya, kemarahannya reda dan ia berkata kepadaku: Duduklah. Maka aku duduk. Lalu aku katakan: Suruhlah mereka wahai Amir untuk berdebat denganku. Ia berkata: Debatlah dengannya. Ia berkata: Maka aku katakan kepada mereka: Apakah Dia mampu turun dan Arsy tidak kosong dari-Nya ataukah tidak mampu? Ia berkata: Mereka diam dan menundukkan kepala mereka. Maka aku katakan: Wahai Amir, suruhlah mereka menjawab. Mereka diam. Maka ia berkata: Celakalah engkau wahai Ishaq!! Apa yang engkau tanyakan kepada mereka? Ia berkata: Aku katakan: Wahai Amir, katakan kepada mereka: Apakah Dia mampu turun dan Arsy tidak kosong dari-Nya ataukah tidak? Ia berkata: Apa ini? Aku katakan: Jika mereka mengklaim bahwa Dia tidak mampu turun kecuali Arsy kosong dari-Nya, maka mereka telah mengklaim bahwa Allah lemah seperti aku dan mereka, dan mereka telah kafir. Dan jika mereka mengklaim bahwa Dia mampu turun dan Arsy tidak kosong dari-Nya, maka Dia turun ke langit dunia bagaimana Dia kehendaki dan tidak ada tempat yang kosong dari-Nya.
Kitab “Majmu’ al-Fataawa” 5/387-389
Muhammad bin Hatim berkata: Aku mendengar Ishaq bin Ibrahim bin Makhlad berkata: Abdullah bin Thahir berkata kepadaku: Wahai Abu Ya’qub, hadits-hadits ini yang kalian riwayatkan tentang turun -maksudnya dan selainnya- apa itu?
Aku katakan: Wahai Amir, ini adalah hadits-hadits yang datang sebagaimana datangnya hukum-hukum, halal dan haram, yang diriwayatkan oleh para ulama, maka tidak boleh ditolak; ia sebagaimana yang datang tanpa kaifiyat (cara). Maka Abdullah berkata: Engkau benar, aku tidak mengetahui maknanya sampai sekarang.
Kitab “Majmu’ al-Fataawa” 5/389
59 – Bab: Penetapan Sifat Mendengar dan Melihat
Harb berkata: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim, telah mengabarkan kepada kami Jarir, dari al-A’masy, dari Tamim bin Salamah, dari Urwah, dari Aisyah bahwa ia berkata: Segala puji bagi Allah yang pendengaran-Nya meliputi semua suara. Sungguh Khawlah telah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengadukan suaminya, dan sebagian ucapannya samar bagiku, lalu Allah menurunkan: “Sungguh Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepada engkau (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar percakapan kalian berdua. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Surat al-Mujadilah: 1)
Kitab “Masaa’il Harb” hal. 410
Abdullah berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, ia berkata: Aku mendengar Ja’far bin Sulaiman menceritakan dari Abu Imran, ia berkata: Aku mendengarnya berkata: Tidaklah Allah memandang sesuatu melainkan Dia merahmatinya. Ia berkata: Dan ia bersumpah dengan mengatakan: Demi Allah, seandainya Allah memandang penduduk Neraka niscaya Dia merahmati mereka, tetapi Dia telah menetapkan bahwa Dia tidak akan memandang mereka.
Kitab “al-Sunnah” karya Abdullah 2/465 (1056)
Abdullah berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku rahimahullah, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id al-Qaththan, dari Ibnu Ajlan, ia berkata: Aku mendengar ayahku, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tiga orang yang Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan memandang mereka pada hari Kiamat: pemimpin yang pendusta, orang tua yang berzina, dan orang miskin yang sombong.”
Kitab “al-Sunnah” karya Abdullah 2/468 (1063)
Abdullah berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Syarik, dari Atha’ bin al-Sa’ib, dari Abu al-Dhuha, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu “Alif Laam Raa”: Aku Allah, Aku melihat.
Kitab “al-Sunnah” karya Abdullah 2/471 (1074)
Hanbal berkata: Ahmad mengingkari tasybih (penyerupaan), lalu berkata: Orang-orang musyabbihah mengatakan: penglihatan seperti penglihatanku, tangan seperti tanganku, dan kaki seperti kakiku. Dan barangsiapa mengatakan demikian maka ia telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Dan ia berkata dalam riwayat Yusuf bin Musa: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Surat asy-Syura: 11)
Kitab “Ibthaal al-Ta’wiilaat” 1/43
Al-Fadhl bin Ziyad berkata: Aku mendengar Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal berkata: Ishaq bin Ibrahim menguji orang-orang satu kali satu kali, dan menguji aku dua kali dua kali. Ia berkata kepadaku: Apa pendapatmu tentang al-Qur’an? Aku katakan: Kalam Allah yang tidak diciptakan. Maka ia membuatku berdiri lalu mendudukkanku di sudut kemudian bertanya kepadaku, kemudian mengembalikanku kedua kalinya lalu bertanya kepadaku. Aku katakan: al-Qur’an adalah kalam Allah yang tidak diciptakan. Maka ia membawaaku pada perkara tasybih. Aku katakan: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Surat asy-Syura: 11). Maka ia berkata kepadaku: Dan apa itu Maha Mendengar Maha Melihat? Maka aku katakan: Demikianlah Dia berfirman, Maha Mendengar Maha Melihat.
Kitab “Ibthaal al-Ta’wiilaat” 1/46
Hanbal berkata: Aku menunaikan haji pada tahun dua puluh satu dan aku melihat di Masjidil Haram kain penutup Ka’bah dari sutra, dan ia sedang dijahit di halaman masjid, dan telah ditulis pada lingkarannya “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. Ketika aku pulang, Abu Abdillah bertanya kepadaku tentang sebagian berita, maka aku mengabarkan hal itu kepadanya. Maka Abu Abdillah berkata: Allah membinasakan dia, orang jahat itu, ia sengaja mengubah Kitabullah -maksudnya Ibnu Abi Duad- yakni ia menghilangkan: “Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Surat asy-Syura: 11).
Kitab “Ibthaal al-Ta’wiilaat” 1/386
60 – Bab: Penetapan Sifat Datang dan Kedatangan
Abdullah bin Ahmad berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, dari Ma’mar, dari Qatadah dalam firman-Nya: “Mereka tidak menunggu-nunggu kecuali datangnya Allah kepada mereka dalam naungan awan dan malaikat” (Surat al-Baqarah: 210), ia berkata: Allah ‘Azza wa Jalla datang kepada mereka dalam naungan awan, dan para malaikat datang kepada mereka ketika kematian.
Kitab “al-Sunnah” karya Abdullah 2/504-505 (1170)
Hanbal berkata: Imam Ahmad berkata: Mereka berargumentasi kepadaku pada hari itu dengan firman-Nya: “Surat al-Baqarah akan datang pada hari Kiamat.. dan Surat Tabarak akan datang..”, dan aku katakan kepada mereka: Pahala. Allah Ta’ala berfirman: “Dan datanglah Tuhanmu sedangkan para malaikat berbaris-baris” (Surat al-Fajr: 22). Sesungguhnya yang datang adalah kekuasaan-Nya, dan sesungguhnya al-Qur’an adalah perumpamaan-perumpamaan, nasihat-nasihat dan peringatan.
Kitab “al-Rawiyatain wa al-Wajhain” Masalah Akidah hal. 55
Hanbal berkata: Imam Ahmad berkata dalam firman-Nya: “Dan datanglah Tuhanmu” (Surat al-Fajr: 22), ia berkata: Kekuasaan-Nya.
Dan Abu Thalib berkata: Imam Ahmad berkata dalam: “Mereka tidak menunggu-nunggu kecuali datangnya Allah kepada mereka dalam naungan awan dan malaikat” (Surat al-Baqarah: 210), “Dan datanglah Tuhanmu sedangkan para malaikat berbaris-baris” (Surat al-Fajr: 22): Barangsiapa mengatakan bahwa Allah tidak akan dilihat maka ia telah kafir.
Kitab “Ibthaal al-Ta’wiilaat” 1/132 (120-121)
Bab: Sifat Kalam
61 – Bab: Perdebatan Imam dengan Jahmiyyah dalam Penetapan Kalam
Imam Ahmad berkata: Maka kami katakan: Mengapa kalian mengingkarinya? Mereka berkata: Sesungguhnya Allah tidak berbicara dan tidak akan berbicara. Sesungguhnya Dia hanya menciptakan sesuatu yang mengekspresikan tentang Allah, dan menciptakan suara yang memperdengarkan. Dan mereka mengklaim bahwa kalam tidak mungkin kecuali dari rongga, lidah dan bibir.
Kami katakan: Apakah boleh bagi makhluk atau selain Allah mengatakan: “Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu” (Surat Thaha: 11-12)?! Atau mengatakan: “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku” (Surat Thaha: 14)? Barangsiapa mengklaim demikian, maka ia telah mengklaim bahwa selain Allah mengklaim ketuhanan, sebagaimana yang diklaim Jahm bahwa Allah menciptakan sesuatu yang mengatakan: “Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah Tuhan semesta alam” (Surat al-Qashash: 30). Padahal Allah yang Maha Agung berfirman: “Dan Allah berbicara kepada Musa dengan langsung” (Surat an-Nisa: 164).
Dan berfirman: “Dan ketika Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhannya berbicara (langsung) dengan dia” (Surat al-A’raf: 143).
Dan berfirman: “Sesungguhnya Aku telah memilihmu melebihi manusia lainnya (pada zamanmu) dengan membawa risalah-Ku dan dengan kalam-Ku” (Surat al-A’raf: 144). Ini adalah nash al-Qur’an.
Adapun perkataan mereka bahwa Allah tidak berbicara, bagaimana mereka menyikapi hadits al-A’masy, dari Khaitsamah, dari Adi bin Hatim al-Tha’i yang berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang pun dari kalian melainkan Tuhannya akan berbicara dengannya tanpa ada penerjemah antara dia dan-Nya”?!
Dan adapun perkataan mereka bahwa kalam tidak mungkin kecuali dari rongga, mulut, bibir dan lidah. Bukankah Allah berfirman kepada langit dan bumi: “Datanglah kalian berdua menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati” (Surat Fushshilat: 11)?! Apakah kalian mengira bahwa keduanya mengatakan dengan rongga, mulut, bibir, lidah dan peralatan?! Dan Allah berfirman: “Dan Kami tundukkan bersama Daud gunung-gunung yang bertasbih” (Surat al-Anbiya: 79). Apakah kalian mengira bahwa ia bertasbih dengan rongga, mulut, lidah dan bibir?! Dan anggota tubuh ketika bersaksi atas orang kafir, lalu mereka berkata: “Mengapa kalian bersaksi atas kami?” Mereka menjawab: “Allah yang memperkatakan segala sesuatu telah memperkatakan kami” (Surat Fushshilat: 21). Apakah kalian mengira bahwa ia berbicara dengan rongga, mulut dan lidah?!
Tetapi Allah memperkatakan ia bagaimana Dia kehendaki, dan demikian pula Allah berbicara bagaimana Dia kehendaki tanpa dengan rongga, mulut, bibir dan lidah.
Imam Ahmad rahimahullah berkata: Ketika hujjah menyumbatnya ia berkata: Sesungguhnya Allah berbicara kepada Musa kecuali bahwa kalam-Nya adalah selain diri-Nya. Maka kami katakan: Dan selain-Nya itu makhluk?! Ia berkata: Ya. Maka kami katakan: Ini seperti perkataan kalian yang pertama, hanya saja kalian menolak dari diri kalian celaan dengan apa yang kalian tampakkan.
Dan hadits az-Zuhri berkata: Ketika Musa mendengar kalam Tuhannya ia berkata: Wahai Tuhanku, apakah ini yang aku dengar adalah kalam-Mu? Dia berfirman: Ya wahai Musa, ia adalah kalam-Ku, sesungguhnya Aku berbicara kepadamu menurut kadar yang tubuhmu mampu, dan seandainya Aku berbicara kepadamu dengan lebih dari itu niscaya engkau mati.
Ia berkata: Ketika Musa kembali kepada kaumnya mereka berkata kepadanya: Sifatkanlah untuk kami kalam Tuhanmu. Ia berkata: Maha Suci Allah, apakah aku mampu menyifatkannya untuk kalian?! Mereka berkata: Maka serupakannya. Ia berkata: Apakah kalian pernah mendengar suara-suara petir yang datang dalam kemanisan paling manis yang pernah kalian dengar, maka ia seperti itu.
Kami bertanya kepada kaum Jahmiyah: Siapa yang berkata pada hari kiamat: “Wahai Isa putra Maryam, apakah engkau yang mengatakan kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?” (Surah Al-Maidah: 116)? Bukankah Allah yang mengatakannya?
Mereka berkata: Maka Allah adalah sesuatu, sehingga diungkapkan tentang Allah sebagaimana Dia adalah sesuatu yang berbicara kepada Musa.
Kami berkata: Lalu siapa yang berkata: “Maka sungguh Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan akan menanyai para rasul. Maka sungguh akan Kami kabarkan kepada mereka dengan ilmu (pengetahuan)” (Surah Al-A’raf: 6-7)? Bukankah Allah yang bertanya?
Mereka berkata: Semua ini hanyalah sesuatu yang mengungkapkan tentang Allah.
Kami berkata: Kalian telah membuat kebohongan besar terhadap Allah, ketika kalian mengklaim bahwa Dia tidak berbicara, maka kalian menyerupakan-Nya dengan berhala-berhala yang disembah selain Allah, karena berhala-berhala itu tidak berbicara, tidak bergerak, dan tidak berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Ketika hujah telah nyata atas mereka, mereka berkata: Sesungguhnya Allah berbicara, tetapi kalam-Nya adalah makhluk.
Kami berkata: Demikian pula anak-anak Adam, kalam mereka adalah makhluk, maka kalian telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya ketika kalian mengklaim bahwa kalam-Nya adalah makhluk. Maka menurut mazhab kalian, pernah ada suatu waktu Dia tidak berbicara hingga Dia menciptakan kemampuan berbicara. Demikian pula anak-anak Adam, mereka tidak berbicara hingga Allah menciptakan bagi mereka kalam. Kalian telah menggabungkan antara kekufuran dan penyerupaan, dan Maha Tinggi Allah dari sifat ini. Tetapi kami berkata: Sesungguhnya Allah senantiasa berbicara jika Dia menghendaki, dan kami tidak berkata: Dia tidak berbicara hingga Dia menciptakan kalam. Kami tidak berkata: Dia tidak mengetahui hingga Dia menciptakan ilmu lalu mengetahui. Kami tidak berkata: Dia tidak memiliki kekuasaan hingga Dia menciptakan bagi-Nya kekuasaan. Kami tidak berkata: Dia tidak memiliki cahaya hingga Dia menciptakan bagi-Nya cahaya. Kami tidak berkata: Dia tidak memiliki keagungan hingga Dia menciptakan bagi-Nya keagungan.
Kaum Jahmiyah berkata ketika kami menggambarkan Allah dengan sifat-sifat ini: Jika kalian mengklaim bahwa Allah dengan cahaya-Nya, dan Allah dengan kekuasaan-Nya, dan Allah dengan keagungan-Nya, maka kalian telah berkata seperti perkataan orang-orang Nasrani ketika mereka mengklaim bahwa Allah senantiasa dengan cahaya-Nya dan senantiasa dengan kekuasaan-Nya.
Kami berkata: Kami tidak berkata: Sesungguhnya Allah senantiasa dengan kekuasaan-Nya dan senantiasa dengan cahaya-Nya. Tetapi kami berkata: Senantiasa dengan kekuasaan-Nya dan cahaya-Nya, tidak dengan “kapan” Dia berkuasa dan tidak dengan “bagaimana” Dia berkuasa.
Mereka berkata: Kalian tidak akan pernah menjadi orang-orang yang bertauhid hingga kalian mengatakan: Allah ada dan tidak ada sesuatu.
Kami berkata: Kami berkata: Allah ada dan tidak ada sesuatu. Tetapi ketika kami mengatakan: Sesungguhnya Allah senantiasa dengan semua sifat-Nya, bukankah kami hanya menggambarkan Tuhan Yang Satu dengan semua sifat-Nya?
Kami membuat perumpamaan bagi mereka dalam hal itu dan berkata: Beritahukanlah kepada kami tentang pohon kurma ini, bukankah ia memiliki batang, pangkal pelepah, sabut, pelepah, lembaran daun, dan inti? Namanya adalah nama satu benda, dan disebut pohon kurma dengan semua sifatnya. Demikian pula Allah – dan bagi-Nya perumpamaan yang tertinggi – dengan semua sifat-Nya adalah Tuhan Yang Satu. Kami tidak berkata: Sesungguhnya pernah ada suatu waktu Dia tidak berkuasa hingga Dia menciptakan bagi-Nya kekuasaan, dan yang tidak memiliki kekuasaan adalah lemah. Kami tidak berkata: Pernah ada suatu waktu Dia tidak mengetahui hingga Dia menciptakan bagi-Nya ilmu lalu mengetahui, dan yang tidak mengetahui adalah bodoh. Tetapi kami berkata: Allah senantiasa Maha Mengetahui lagi Maha Berkuasa, tidak dengan “kapan” dan tidak dengan “bagaimana”. Dan Allah telah menamakan seorang laki-laki kafir yang bernama Al-Walid bin Al-Mughirah Al-Makhzumi, Allah berfirman: “Biarkanlah Aku (menghadapi) orang yang telah Aku ciptakan sendirian” (Surah Al-Muddatstsir: 11). Orang yang Allah namakan sendirian ini memiliki dua mata, dua telinga, lidah, dua bibir, dua tangan, dua kaki, dan banyak anggota tubuh. Allah menamainya sendirian dengan semua sifatnya. Demikian pula Allah – dan bagi-Nya perumpamaan yang tertinggi – Dia dengan semua sifat-Nya adalah Tuhan Yang Satu.
“Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyah wa Az-Zanadiqah” karya Imam Ahmad halaman 130-134
62 – Bab: Menetapkan Sifat Kalam bagi Allah Ta’ala
Ishaq bin Manshur berkata: Imam Ahmad berkata: Abdurrahman bin Mahdi berkata: Barangsiapa berkata: Sesungguhnya Allah tidak berbicara kepada Musa alaihissalam, maka ia diminta bertobat, jika ia bertobat (maka diterima), dan jika tidak maka ia dibunuh.
“Masail Al-Kausaj” (3421)
Abu Al-Fadhl Shalih berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Abdurrahman bin Mahdi – dan disebutkan di hadapannya Bisyr Al-Marisi – maka ia berkata: Barangsiapa mengklaim bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala tidak berbicara kepada Musa maka ia kafir, diminta bertobat, jika ia bertobat (diterima) dan jika tidak maka lehernya dipenggal.
“Sirah Al-Imam Ahmad” karya Shalih halaman 66
Shalih berkata: Ayahku berkata: Kami menulis ini dari kitab Ibnu Al-Asyhja’i, dari ayahnya, dari Sufyan, dari ‘Ubaid Al-Muktib, dari Fudhail bin ‘Amr, dari Asy-Sya’bi, dari Anas bin Malik yang berkata: Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau tertawa hingga gigi serinya terlihat, lalu berkata: “Tahukah kalian mengapa aku tertawa? Karena pembicaraan Rabb dengan hamba-Nya pada hari kiamat. Ia berkata: Ia berkata: Wahai Rabb! Bukankah Engkau melindungiku dari kezaliman? Ia berkata: Ia berkata: Ya. Ia berkata: Maka aku tidak akan membolehkan atasku saksi kecuali dari diriku sendiri. Ia berkata: Ia berkata: Cukuplah dirimu hari ini sebagai saksi atas dirimu, dan para malaikat penulis yang mulia. Ia berkata: Maka ia diberi meterai, lalu dikatakan kepada anggota-anggota tubuhnya: Berbicaralah, maka mereka berbicara tentang amal-amalnya, kemudian ia dibiarkan berbicara maka ia berkata: Jauhnya kalian dan celakalah kalian, karena kalian aku berdebat.”
“Masail Shalih” (709)
Harb berkata: Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Isma’il bin Abdul Karim menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdul Shamad bin Ma’qil menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Wahb bin Munabbih berkata: Allah berkata kepada Musa: Aku mendekatkanmu dan mendekatkanmu hingga engkau mendengar kalam-Ku, dan engkau berada di tempat yang paling dekat dengan-Ku. Maka berangkatlah dengan risalah-Ku, sesungguhnya engkau dalam pandangan dan pendengaran-Ku, dan bersamamu tangan-Ku dan penglihatan-Ku.
“Masail Harb” halaman 410
Abdullah berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, Surayj bin An-Nu’man menceritakan kepada kami, Abdullah bin Nafi’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Malik bin Anas berkata: Iman adalah perkataan dan perbuatan. Dan berkata Malik: Allah berbicara kepada Musa. Dan berkata Malik: Allah di langit dan ilmu-Nya di setiap tempat, tidak ada sesuatu yang kosong dari-Nya.
Abdullah berkata: Aku bertanya kepada ayahku rahimahullah tentang suatu kaum yang berkata: Ketika Allah berbicara kepada Musa, Dia tidak berbicara dengan suara. Dan ayahku berkata: Bahkan sesungguhnya Rabbmu berbicara dengan suara, hadits-hadits ini kami riwayatkan sebagaimana datangnya.
Abdullah berkata: Dan ayahku rahimahullah berkata: Hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tentang Rabbnya: “Apabila Allah ‘Azza wa Jalla berbicara, maka terdengar bagi-Nya suara seperti rantai yang diseret di atas batu licin.” Ayahku berkata: Dan kaum Jahmiyah mengingkari ini.
Dan ayahku berkata: Mereka adalah orang-orang kafir yang ingin menipu manusia. Barangsiapa mengklaim bahwa Allah ‘Azza wa Jalla tidak berbicara maka ia kafir. Ketahuilah bahwa kami meriwayatkan hadits-hadits ini sebagaimana datangnya.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/280-281 (532-534)
Abdullah berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, Abdurrahman bin Muhammad Al-Muharibi menceritakan kepada kami, dari Al-A’masy, dari Muslim, dari Masruq, dari Abdullah: Apabila Allah berbicara dengan wahyu, penduduk langit mendengar suara-Nya maka mereka sujud “hingga apabila telah dihilangkan rasa takut dari hati mereka” (Surah Saba: 23) – ia berkata: tenang dari hati mereka – penduduk langit memanggil: Apa yang Rabb kalian katakan? Mereka berkata: Yang hak. Ia berkata: Begini dan begitu.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/281 (536)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Sufyan menceritakan kepada kami dari ‘Amr yang mendengar Thawus, mendengar Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Adam dan Musa ‘alaihimassalam berdebat, maka Musa berkata: Wahai Adam, engkau adalah bapak kami yang mengecewakan kami dan mengeluarkan kami dari surga. Adam berkata: Wahai Musa, engkau adalah orang yang Allah pilih dengan kalam-Nya” – dan pada suatu kali berkata: “dengan risalah-Nya – dan menulis untukmu dengan tangan-Nya, apakah engkau mencela aku atas perkara yang Allah takdirkan untukku sebelum Dia menciptakanku empat puluh tahun? Ia berkata: Maka Adam mengalahkan Musa” tiga kali.
Dan ia berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, Ma’mar memberitahukan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, Ma’mar memberitahukan kepada kami, dari Ayyub, dari Ibnu Sirin, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
Dan ia berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, Muhammad bin Bisyr menceritakan kepada kami, Muhammad bin ‘Amr menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah bin Abdurrahman, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ayyub bin An-Najjar Al-Yamami menceritakan kepada kami, Yahya bin Abi Katsir menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah bin Abdurrahman, dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Adam dan Musa shalawaatullahi ‘alaihima berdebat, maka Musa berkata kepada Adam: Engkau adalah orang yang memasukkan keturunanmu ke neraka. Adam berkata: Wahai Musa, engkau adalah orang yang Allah ‘Azza wa Jalla pilih dengan risalah-Nya dan kalam-Nya, dan menurunkan kepadamu Taurat, apakah engkau mendapati bahwa aku diturunkan? Ia berkata: Ya. Maka Adam mengalahkannya.” Dan hadits dengan lafazh hadits Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan maknanya satu.
Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdul Muta’al bin Abdul Wahhab menceritakan kepada kami, Dhamrah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Syaudzab berkata: Allah mewahyukan kepada Musa ‘alaihissalam: Wahai Musa, tahukah engkau mengapa Aku memilihmu dengan kalam-Ku dan risalah-Ku? Ia berkata: Tidak, wahai Rabb. Ia berkata: Karena tidak ada seorang pun yang merendah diri kepada-Ku seperti kerendahan dirimu.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/287-289 (549-555)
Abdullah berkata: Aku membaca di hadapan ayahku rahimahullah, Al-Hasan bin Musa menceritakan kepada kami, Hammad menceritakan kepada kami, dari Tsabit Al-Bunani bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi…, lalu ia menyebutkan hadits panjang, ia berkata: Maka aku dibawa ke sebuah rumah, dan di tengahnya ada mimbar dari emas, dan engkau berada di atasnya, dan di sebelah kananmu ada seorang laki-laki, apabila ia berbicara orang-orang mendengarkan perkataannya. Ia berkata: “Adapun yang engkau lihat di sebelah kananku adalah Musa shalawaatullahi ‘alaihi, apabila ia berbicara orang-orang mendengarkan karena keutamaan Allah berbicara kepadanya.”
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/290 (557)
Abdullah berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, ‘Ali bin Abdullah menceritakan kepada kami, Muhammad bin ‘Amr bin Muqassim menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar ‘Atha’ bin Muslim, Wahb bin Munabbih menceritakan kepada kami, ia berkata: Musa ‘alaihissalam memiliki saudara perempuan yang disebut Maryam, maka ia berkata kepadanya: Wahai Musa, sesungguhnya engkau dulu menikah dengan keluarga Syu’aib dan engkau saat itu tidak memiliki apa-apa, kemudian engkau mencapai apa yang engkau capai, maka menikahlah dengan raja-raja Bani Israil. Ia berkata: Mengapa aku harus menikah dengan raja-raja Bani Israil? Demi Allah, aku tidak membutuhkan wanita sejak aku berbicara dengan Rabb-ku ‘Azza wa Jalla.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/292 (562)
Abu Thalib berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah tentang orang yang berkata: Sesungguhnya Allah tidak berbicara kepada Musa? Maka ia berkata: Ia diminta bertobat, jika ia bertobat (diterima) dan jika tidak maka lehernya dipenggal. Abu Abdullah berkata: Dan aku mendengar Abdurrahman bin Mahdi dalam masalah ini tepatnya berkata: Barangsiapa berkata: Sesungguhnya Allah tidak berbicara kepada Musa maka ia kafir, diminta bertobat, jika ia bertobat (diterima) dan jika tidak maka lehernya dipenggal.
“Kitab Asy-Syari’ah” karya Al-Ajurri halaman 250 (623)
Al-Marwazi dan Ishaq bin Ibrahim bin Abdurrahman berkata: Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Ismail bin Abdul Karim bin Ma’qil bin Munabbih menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdush-Shamad bin Ma’qil menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Wahb bin Munabbih berkata: Ketika kesusahan menimpa Musa alaihissalam dengan sangat berat, Tuhannya Azza wa Jalla berfirman kepadanya: Mendekatlah kepada-Ku. Maka Dia terus mendekatkannya hingga menguatkan punggungnya dengan batang pohon, lalu ia merasa tenang, dan gemetar itu hilang darinya, ia menggabungkan kedua tangannya di tongkat, dan menundukkan kepala dan lehernya, kemudian Tuhannya Tabaraka wa Ta’ala berfirman kepadanya: Sesungguhnya Aku telah menempatkanmu pada hari ini pada kedudukan yang tidak layak bagi seorang manusia pun setelahmu untuk berdiri pada kedudukanmu, Aku mendekatkanmu kepada-Ku hingga engkau mendengar perkataan-Ku, dan engkau berada pada tempat yang paling dekat dengan-Ku. Ia berkata: Dan disebutkan hadits tersebut.
“Asy-Syari’ah” halaman 271 (708)
Hanbal bin Ishaq berkata: Dan aku mendengar Abu Abdillah berkata: “Dan Allah berbicara kepada Musa dengan sebenar-benarnya berbicara” (Surat An-Nisa: 164); maka Dia menetapkan perkataan untuk Musa sebagai kemuliaan dari-Nya untuk Musa, kemudian Dia berfirman setelah perkataan-Nya: Dia “dengan sebenar-benarnya berbicara”.
Aku bertanya kepada Abu Abdillah: Apakah Dia berbicara kepada hamba-Nya pada hari kiamat?
Ia berkata: Ya, siapa yang akan memutuskan perkara di antara makhluk kecuali Allah?! Allah berbicara kepada hamba-Nya dan bertanya, Allah adalah Dzat yang berbicara, Allah senantiasa memerintahkan apa yang Dia kehendaki dan memutuskan, dan tidak ada yang setara dengan Allah, tidak ada yang serupa dengan-Nya, bagaimanapun Dia kehendaki, dan kapanpun Dia kehendaki.
“Al-Ibanah” karya Ibnu Battah, Kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah 2/321 (496)
Abu Al-Harits berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Apabila ia berkata: Sesungguhnya Allah tidak berbicara kepada Musa, maka sungguh ia telah kafir dengan firman Allah Ta’ala dalam kitab-Nya: “Dan Allah berbicara kepada Musa dengan sebenar-benarnya berbicara” (Surat An-Nisa: 164), sementara ia mengatakan: Dia tidak berbicara kepadanya, ia diminta bertaubat, jika ia bertaubat maka (baik), jika tidak maka lehernya dipancung, dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah ada seorang pun di antara kalian melainkan Allah akan berbicara kepadanya, tidak ada perantara antara dia dan Dia” maka barangsiapa mengklaim bahwa Allah bukan Dzat yang berbicara, sungguh ia telah menolak Al-Quran, dan barangsiapa menolak satu ayat dari Kitab Allah maka sungguh ia telah kafir.
“Al-Ibanah” karya Ibnu Battah, Kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah 2/321 (497)
Ya’qub bin Bukhtan berkata: Abu Abdillah ditanya tentang orang yang mengklaim bahwa Allah tidak berbicara dengan suara, ia berkata: Bahkan Dia berbicara Subhanahu dengan suara.
“Thabaqat Al-Hanabilah” 2/556. Imam Ahmad berkata dalam riwayat Hanbal: Allah senantiasa berbicara, Maha Mengetahui, Maha Pengampun.
Dan dalam “Al-Mihnah” riwayat Hanbal ketika Abdurrahman bin Ishaq hakim Al-Mu’tashim bertanya kepadanya lalu mencela, ia bertanya: Apa yang engkau katakan tentang Al-Quran? Ia berkata: Lalu aku berkata: Apa yang engkau katakan tentang ilmu? Maka ia diam.
Lalu aku berkata kepada Abdurrahman: Al-Quran termasuk ilmu Allah, dan barangsiapa mengklaim bahwa ilmu Allah makhluk maka sungguh ia telah kafir kepada Allah.
Ia berkata: Lalu aku bertanya kepada Abdurrahman dan ia tidak menjawabku dengan sesuatu pun, dan Abdurrahman berkata kepadaku: Adalah Allah ada sedangkan tidak ada Al-Quran.
Lalu aku berkata: Adalah Allah ada sedangkan tidak ada ilmu? Maka ia terdiam, dan seandainya ia mengklaim bahwa Allah ada sedangkan tidak ada ilmu, ia kafir kepada Allah.
Kemudian Abu Abdillah berkata: Allah senantiasa Maha Mengetahui, Maha Berbicara, Allah disembah dengan sifat-sifat-Nya yang tidak terbatas, dan tidak diketahui. Kecuali dengan apa yang Dia sifatkan tentang diri-Nya sendiri dan tidak menolak Al-Quran kepada yang mengetahuinya yaitu Allah maka Dia lebih mengetahuinya, dari-Nyalah ia bermula, dan kepada-Nyalah ia kembali.
Dan ia berkata di tempat lain: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Allah senantiasa berbicara, dan Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan. Dan dalam setiap sisi, dan Allah tidak disifati dengan sesuatu lebih banyak dari apa yang Dia sifatkan tentang diri-Nya sendiri.
“Majmu’ Al-Fatawa” 6/157
63 – Bab: Al-Ma’iyyah (Kebersamaan)
Imam Ahmad berkata: Mereka berkata: Sesungguhnya Allah bersama kami dan di dalam kami.
Lalu kami berkata: Allah Jalla Tsanauhu berfirman: “Tidakkah engkau perhatikan bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi”. Kemudian Dia berfirman: “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya” yaitu Allah: dengan ilmu-Nya “dan tidak (pembicaraan antara) lima orang melainkan Dia” yaitu Allah: dengan ilmu-Nya “yang keenamnya, dan tidak (pula) yang lebih sedikit dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia bersama mereka” yaitu: dengan ilmu-Nya pada mereka “di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. Dia membuka khabar dengan ilmu-Nya, dan menutup khabar dengan ilmu-Nya.
Dan dikatakan kepada Jahmiyyah: Sesungguhnya jika Allah bersama kami dengan kebesaran diri-Nya maka katakan kepadanya: Apakah Allah mengampuni kalian dalam hal antara Dia dan makhluk-Nya?
Jika ia berkata: Ya. Maka sungguh ia mengklaim bahwa Allah terpisah dari makhluk-Nya di bawah-Nya, dan jika ia berkata: Tidak. Maka kafir. Dan apabila engkau ingin mengetahui bahwa Jahmiyyah berdusta atas Allah ketika mereka mengklaim bahwa Allah di setiap tempat, dan tidak berada di suatu tempat tanpa tempat lain, maka katakan: Bukankah Allah ada sedangkan tidak ada sesuatu pun?
Maka ia akan berkata: Ya. Lalu katakan kepadanya: Ketika Dia menciptakan sesuatu, apakah Dia menciptakannya di dalam diri-Nya atau di luar dari diri-Nya, maka sesungguhnya ia akan berujung pada tiga perkataan yang tidak ada jalan baginya kecuali satu dari ketiganya:
Jika ia mengklaim bahwa Allah menciptakan makhluk di dalam diri-Nya maka kafir, ketika ia mengklaim bahwa jin, manusia, dan setan di dalam diri-Nya.
Dan jika ia berkata: Dia menciptakan mereka di luar dari diri-Nya kemudian masuk ke dalam mereka, maka ini juga kafir.
Dan Imam Ahmad berkata: Allah berfirman dalam Al-Quran: “Dan Dia bersama kalian”.
Dan ini memiliki beberapa sisi: Allah Jalla Tsanauhu berfirman kepada Musa: “Sesungguhnya Aku bersama kalian berdua” (Surat Thaha: 46). Maksudnya: Dalam membela kalian berdua.
Dan Dia berfirman: “Yang kedua dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika dia berkata kepada temannya: Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita” (Surat At-Taubah: 40). Maksudnya: Dalam membela kita.
Dan Dia berfirman: “Berapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Allah dan Allah bersama orang-orang yang sabar” (Surat Al-Baqarah: 249).
Maksudnya: Dalam pertolongan bagi mereka atas musuh mereka.
Dan Dia berfirman: “Maka janganlah kalian lemah dan (jangan pula) kalian menyeru kepada perdamaian, padahal kalian yang paling tinggi dan Allah bersama kalian dan Dia tidak akan mengurangi (pahala) amal-amal kalian” (Surat Muhammad: 35).
Dalam pertolongan bagi kalian atas musuh kalian.
Dan Dia berfirman: “Mereka bersembunyi dari manusia dan tidak bersembunyi dari Allah, padahal Dia bersama mereka” (Surat An-Nisa: 108). Maksudnya: Dengan ilmu-Nya pada mereka.
Dan Dia berfirman: “Maka tatkala kedua kelompok itu saling melihat, pengikut Musa berkata: Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul” (Surat Asy-Syu’ara: 61). Maksudnya: Dalam pertolongan atas Firaun.
Maka ketika hujjah tampak atas Jahmiyyah dengan apa yang mereka klaim atas Allah bahwa Dia bersama makhluk-Nya, ia berkata: Dia ada di setiap sesuatu tanpa bersentuhan dengan sesuatu, dan tidak terpisah darinya.
Lalu kami berkata: Jika Dia tidak terpisah, bukankah Dia bersentuhan?
Ia berkata: Tidak. Kami berkata: Lalu bagaimana bisa Dia ada di setiap sesuatu tanpa bersentuhan dengan sesuatu dan tidak terpisah? Maka ia tidak dapat menjawab dengan baik. Lalu ia berkata: Tanpa (bertanya) bagaimana. Maka ia menipu orang-orang bodoh dengan kalimat ini, dan memanipulasi mereka. Lalu kami berkata: Bukankah ketika hari kiamat, bukankah Dia hanya ada di surga, neraka, Arsy, dan udara.
Ia berkata: Ya. Lalu kami berkata: Maka di mana Tuhan kami berada?
Maka ia berkata: Dia berada di setiap sesuatu. Ketika ia mengklaim bahwa Dia masuk ke tempat yang najis, kotor, dan buruk.
Dan jika ia berkata: Dia menciptakan mereka di luar dari diri-Nya kemudian tidak masuk ke dalam mereka, ia kembali dari seluruh perkataannya, dan ini adalah perkataan Ahli Sunnah.
Jika engkau ingin mengetahui bahwa Jahmiyyah tidak mengakui ilmu Allah maka katakan kepadanya: Allah berfirman: “Dan mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari ilmu-Nya” (Surat Al-Baqarah: 255).
Dan Dia berfirman: “Tetapi Allah bersaksi tentang apa yang diturunkan-Nya kepadamu, Dia menurunkannya dengan ilmu-Nya” (Surat An-Nisa: 166).
Dan Dia berfirman: “Maka jika mereka tidak menerima (tantangan)mu, ketahuilah bahwa sesungguhnya (Al-Quran) itu diturunkan dengan ilmu Allah” (Surat Hud: 14)
Dan Dia berfirman: “Dan tiada keluar sesuatu buah pun dari kelopaknya dan tidak ada perempuan yang mengandung dan melahirkan melainkan dengan ilmu-Nya” (Surat Fushshilat: 47).
Maka dikatakan kepadanya: Apakah engkau mengakui ilmu Allah ini yang telah dijelaskan kepadamu dengan pemberitahuan dan dalil-dalil ataukah tidak? Jika ia berkata: Tidak ada ilmu bagi-Nya. Maka kafir.
Dan jika ia berkata: Allah memiliki ilmu yang baru. Maka kafir ketika ia mengklaim bahwa Allah pernah pada suatu waktu tidak mengetahui hingga Dia mengadakan ilmu untuk diri-Nya lalu Dia mengetahui.
Jika ia berkata: Allah memiliki ilmu dan ia tidak diciptakan dan tidak baru. Ia kembali dari seluruh perkataannya, dan berkata dengan perkataan Ahli Sunnah. (Sebagaimana ketika di dunia Dia ada di setiap sesuatu).
Lalu kami berkata: Sesungguhnya madzhab kalian adalah bahwa apa yang ada dari Allah di atas Arsy maka Dia di atas Arsy, dan apa yang ada dari Allah di surga maka Dia di surga, dan apa yang ada dari Allah di neraka maka Dia di neraka, dan apa yang ada dari Allah di udara maka Dia di udara.
Maka pada saat itu tampaklah kebohongan mereka atas Allah Jalla Tsanauhu.
Dan Jahmiyyah mengklaim bahwa Allah Jalla Tsanauhu dalam Al-Quran hanyalah nama yang diciptakan. Lalu kami berkata: Sebelum Dia menciptakan nama ini, apa nama-Nya? Mereka berkata: Tidak ada nama bagi-Nya.
Lalu kami berkata: Dan demikian pula sebelum Dia menciptakan ilmu, apakah Dia bodoh tidak mengetahui hingga Dia menciptakan ilmu untuk diri-Nya, dan tidak ada cahaya bagi-Nya hingga Dia menciptakan cahaya untuk diri-Nya, dan Dia ada tanpa kekuasaan bagi-Nya hingga Dia menciptakan kekuasaan untuk diri-Nya?! Maka orang yang keji itu mengetahui bahwa Allah telah mempermalukannya, dan menampakkan auratnya ketika ia mengklaim bahwa Allah Jalla Tsanauhu dalam Al-Quran hanyalah nama yang diciptakan.
Dan kami berkata kepada Jahmiyyah: Seandainya seorang laki-laki bersumpah dengan nama Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia dengan berdusta, ia tidak melanggar sumpah; karena ia bersumpah dengan sesuatu yang makhluk dan tidak bersumpah dengan Sang Pencipta, maka Allah mempermalukannya dalam hal ini.
Dan kami berkata kepadanya: Bukankah Nabi shallallahu alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan para khalifah setelah mereka, dan para hakim serta para qadhi, sesungguhnya mereka menyumpah manusia dengan nama Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia?! Maka mereka menurut madzhab kalian adalah salah, sesungguhnya sudah sepatutnya bagi Nabi shallallahu alaihi wasallam dan bagi yang setelahnya menurut madzhab kalian bahwa mereka menyumpah dengan Dzat yang nama-Nya Allah, dan apabila mereka bermaksud mengatakan: Tidak ada Tuhan selain Allah. Mereka mengatakan: Tidak ada Tuhan selain Dzat yang menciptakan Allah. Dan jika tidak demikian maka tidak sah tauhid mereka, maka Allah mempermalukannya dengan apa yang ia klaim berupa dusta atas Allah.
Tetapi kami berkata: Sesungguhnya Allah adalah Allah, dan Allah bukan nama, sesungguhnya nama-nama adalah sesuatu selain Allah; karena jika Allah tidak berbicara maka dengan apa Dia menciptakan makhluk?
Mereka berkata: Apakah ditemukan dari Allah bahwa Dia menciptakan makhluk dengan perkataan-Nya dan dengan kalam-Nya? Dan ketika Dia berfirman: “Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: Jadilah, maka jadilah ia” (Surat An-Nahl: 40). Lalu mereka berkata: Sesungguhnya makna “Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu” (Surat An-Nahl: 40): Menjadi. Kami berkata: Lalu mengapa kalian menyembunyikan (firman-Nya) mengatakan kepadanya? Lalu mereka berkata: Sesungguhnya makna setiap sesuatu dalam Al-Quran adalah makna-maknanya, dan Allah berfirman seperti perkataan orang Arab: Dinding berkata, dan pohon kurma berkata, lalu roboh, maka Jahmiyyah tidak mengatakan sesuatu pun.
Lalu kami berkata: Atas dasar ini kalian memberi fatwa? Mereka berkata: Ya.
Lalu kami berkata: Maka dengan apa Dia menciptakan makhluk jika Allah menurut madzhab kalian tidak berbicara?
Lalu mereka berkata: Dengan kekuasaan-Nya. Lalu kami berkata: Apakah itu sesuatu? Mereka berkata: Ya.
Lalu kami berkata: Apakah kekuasaan-Nya bersama benda-benda yang diciptakan? Mereka berkata: Ya.
Lalu kami berkata: Seakan-akan Dia menciptakan makhluk dengan makhluk, dan kalian menentang Al-Quran dan menyelisihinya ketika Allah Jalla Tsanauhu berfirman: “Dan Dia menciptakan segala sesuatu” (Surat Al-An’am: 101). Maka Allah mengabarkan kepada kami bahwa Dia menciptakan dan Dia berfirman: “Adakah pencipta selain Allah” (Surat Fathir: 3). Maka sesungguhnya tidak ada seorang pun yang menciptakan selain-Nya, dan kalian mengklaim bahwa Dia menciptakan makhluk dengan selain-Nya, maka Maha Tinggi Allah dari apa yang dikatakan Jahmiyyah setinggi-tingginya.
“Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah wa Az-Zanadiqah” karya Imam Ahmad halaman 138 – 144
Berkata Imam (Ahmad bin Hanbal): Dan kami bertanya kepada kaum Jahmiyah ketika mereka mengklaim bahwa Allah berada di setiap tempat, tidak ada tempat yang kosong dari-Nya. Maka kami bertanya: “Beritahukan kepada kami tentang firman Allah yang Maha Luhur pujian-Nya: ‘Maka ketika Tuhannya menampakkan diri kepada gunung’ (Surah Al-A’raf: 143). Mengapa Dia menampakkan diri kepada gunung jika menurut klaim kalian Dia ada di dalamnya?! Seandainya Dia berada di dalamnya sebagaimana klaim kalian, maka Dia tidak akan menampakkan diri kepada sesuatu yang Dia ada di dalamnya. Akan tetapi Allah yang Maha Luhur pujian-Nya berada di atas Arasy, dan Dia menampakkan diri kepada sesuatu yang Dia tidak berada di dalamnya, dan gunung melihat sesuatu yang belum pernah dilihatnya sebelum itu.”
Dan kami bertanya kepada Jahm: “Apakah Allah itu cahaya?” Maka dia menjawab: “Dia adalah cahaya semuanya.”
Maka kami berkata: “Allah berfirman: ‘Dan bumi bersinar dengan cahaya Tuhannya’ (Surah Az-Zumar: 69). Maka Allah yang Maha Luhur pujian-Nya telah mengabarkan bahwa bagi-Nya ada cahaya.”
Kami berkata: “Beritahukan kepada kami, ketika kalian mengklaim bahwa Allah ada di setiap tempat dan Dia adalah cahaya, mengapa rumah yang gelap tidak menjadi terang dengan cahaya yang ada di dalamnya, jika kalian mengklaim bahwa Allah ada di setiap tempat?! Dan bagaimana dengan pelita, jika dimasukkan ke dalam rumah maka rumah menjadi terang?!” Maka saat itulah tersingkaplah bagi manusia kebohongan mereka terhadap Allah Ta’ala. Maka semoga Allah merahmati orang yang berakal tentang Allah dan kembali dari perkataan yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah, dan berkata dengan perkataan para ulama, yaitu perkataan kaum Muhajirin dan Anshar, serta meninggalkan agama syaitan dan agama Jahm beserta pengikut-pengikutnya.
“Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyah Az-Zanadiqah” karya Imam Ahmad halaman 148-149
Berkata Abu Dawud: Telah menceritakan kepada kami Ahmad, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Nuh bin Maimun, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Bukair bin Ma’ruf, dari Muqatil bin Hayyan, dari Ad-Dhahhak tentang firman-Nya: “Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Dia yang keempatnya, dan tidak ada (pembicaraan antara) lima orang melainkan Dia yang keenamnya” (Surah Al-Mujadalah: 7), dia berkata: Dia berada di atas Arasy, dan ilmu-Nya bersama mereka.
“Masa’il Abi Dawud” (1698)
Berkata Harb: Aku bertanya kepada Ishaq bin Ibrahim, aku berkata: Firman Allah Tabaraka wa Ta’ala: “Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Dia yang keempatnya, dan tidak ada (pembicaraan antara) lima orang melainkan Dia yang keenamnya” (Surah Al-Mujadalah: 7), bagaimana pendapatmu tentangnya? Dia berkata: Di mana pun engkau berada, maka Dia lebih dekat kepadamu daripada urat leher, dan Dia terpisah dari makhluk-Nya.
“Masa’il Harb” halaman 412
Berkata Abdullah: Telah menceritakan kepadaku ayahku semoga Allah merahmatinya, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Suraij bin An-Nu’man, telah mengabarkan kepadaku Abdullah bin Nafi’, dia berkata: Malik bin Anas semoga Allah merahmatinya berkata: Barangsiapa berkata: Al-Quran itu makhluk, maka dia harus dipukul hingga sakit, dan dipenjara hingga mati. Dan berkata Malik semoga Allah merahmatinya: Allah berada di langit, dan ilmu-Nya ada di setiap tempat, tidak ada tempat yang kosong dari-Nya. Dan dia membaca ayat ini: “Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Dia yang keempatnya, dan tidak ada (pembicaraan antara) lima orang melainkan Dia yang keenamnya” (Surah Al-Mujadalah: 7). Dan dia mengagungkan perkataan tentang hal ini dan menganggapnya buruk.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/106-107 (11)
Berkata Abu Thalib: Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang seorang laki-laki yang berkata: Sesungguhnya Allah bersama kami, dan dia membaca ayat ini: “Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Dia yang keempatnya” (Surah Al-Mujadalah: 7). Abu Abdillah berkata: Orang ini telah menganut paham Jahmiyah, mereka mengambil akhir ayat dan meninggalkan awalnya: “Tidakkah engkau perhatikan bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Dia yang keempatnya” (Surah Al-Mujadalah: 7), ilmu-Nya bersama mereka.
Dan dia berkata tentang (surah Qaf): “Dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (Surah Qaf: 16), maka ilmu-Nya bersama mereka.
“Al-Ibanah” kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyah 3/159-160 (116)
Dan berkata Hanbal: Bahwa dia (Imam Ahmad) ditanya tentang firman-Nya: “Dan Dia bersama kalian di mana pun kalian berada” (Surah Al-Hadid: 4) dan firman-Nya: “Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Dia yang keempatnya” (Surah Al-Mujadalah: 7). Dia berkata: Ilmu-Nya: Dia Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Dan Tuhan kami berada di atas Arasy, tanpa batasan dan tanpa sifat. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi dengan ilmu-Nya.
“Syarh Ushul Al-I’tiqad” karya Al-Lalaka’i 3/446 (675)
Berkata Al-Marwazi: Aku berkata kepada Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal, sesungguhnya seorang laki-laki berkata: Aku berkata sebagaimana Allah berfirman: “Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Dia yang keempatnya” (Surah Al-Mujadalah: 7), aku berkata demikian dan tidak melampaui kepada yang lainnya. Maka Abu Abdillah berkata: Ini adalah perkataan kaum Jahmiyah.
Aku berkata: Lalu bagaimana kami harus berkata? Dia berkata: “Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Dia yang keempatnya, dan tidak ada (pembicaraan antara) lima orang melainkan Dia yang keenamnya” (Surah Al-Mujadalah: 7), ilmu-Nya ada di setiap tempat, dan ilmu-Nya bersama mereka. Kemudian dia berkata: Awal ayat menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah ilmu-Nya.
Berkata Hanbal: Aku berkata kepada Abu Abdillah: Apa makna firman-Nya “Dan Dia bersama kalian”, dan “Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Dia yang keempatnya” (Surah Al-Mujadalah: 7)? Dia berkata: Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, dan Tuhan kami berada di atas Arasy, tanpa batasan dan tanpa sifat.
“Kitab Al-‘Arsy” karya Adz-Dzahabi 2/245-246 (218-220)
64 – Bab: Penetapan Sifat Tertawa
Berkata Abdullah: Telah menceritakan kepadaku ayahku semoga Allah Ta’ala merahmatinya, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, telah mengabarkan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Ya’la bin ‘Atha’, dari Waki’ bin Hudus, dari pamannya Abu Razin -berkata Hasan: Al-‘Uqaili- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tertawa Tuhan kami Azza wa Jalla karena putus asanya hamba-hamba-Nya dan dekatnya perubahan (keadaan mereka).” Abu Razin berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, apakah Tuhan Yang Maha Agung Azza wa Jalla tertawa?! Beliau bersabda: “Ya.” Aku berkata: Kita tidak akan kehilangan kebaikan dari Tuhan yang tertawa. Berkata Hasan dalam haditsnya: Maka beliau bersabda: “Ya, kita tidak akan kehilangan kebaikan dari Tuhan yang tertawa.”
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/246 (452)
Berkata Abdullah: Telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah, dari Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang menyampaikannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tertawa kepada dua orang yang salah satunya membunuh yang lain kemudian keduanya masuk surga bersama-sama.” Beliau bersabda: “Dahulu ada orang kafir yang membunuh seorang muslim, kemudian orang kafir itu masuk Islam sebelum dia meninggal, lalu Allah memasukkan keduanya ke dalam surga.”
“As-Sunnah” karya Abdullah 2/463 (1050)
Berkata Abdullah: Telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, telah mengabarkan kepada kami Isma’il bin Abi Khalid, dari Ishaq bin Rasyid, dari seorang wanita Anshar yang bernama Asma’ binti Yazid bin Sakan, dia berkata: Ketika Sa’d bin Mu’adz wafat, ibunya menjerit. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada ibu Sa’d bin Mu’adz: “Semoga air matamu berhenti dan kesedihanmu hilang, karena sesungguhnya anakmu adalah orang pertama yang Allah Azza wa Jalla tertawa kepadanya dan Arasy bergetar karenanya.”
“As-Sunnah” karya Abdullah 2/464-465 (1055)
Berkata Al-Marwazi: Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang Abdullah At-Taimi. Dia berkata: Dia seorang yang jujur, dan aku telah menulis darinya beberapa hal tentang kisah-kisah peringatan. Tetapi diriwayatkan darinya bahwa dia menyebutkan hadits tentang tertawa lalu berkata: Seperti tanaman ketika tertawa (mekar). Dan ini adalah perkataan kaum Jahmiyah.
“Al-Ibanah” kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyah 3/111 (83)
Berkata Hanbal: Dia berkata: Allah tertawa, dan tidak diketahui bagaimana hal itu kecuali dengan membenarkan Rasul.
Dan dia berkata: Kaum musyabbihah (penyerupaan) berkata: Penglihatan seperti penglihatanku, tangan seperti tanganku, dan kaki seperti kakiku. Dan barangsiapa berkata demikian maka dia telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.
“Ibthol At-Ta’wilat” 1/45 (10), 1/217 (211)
65 – Apa yang Datang tentang Pijakan Allah
Berkata Abdullah: Telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah, dari Ibrahim bin Maisarah, dari Abu Suwaid, dari Umar bin Abdul Aziz semoga Allah merahmatinya, dia berkata: Wanita shalihah Khaulah binti Hakim radhiyallahu ‘anhuma menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar sambil menggendong salah satu dari dua cucu anak perempuannya, dan beliau bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya kalian sungguh pengecut dan kikir, namun kalian termasuk dari bunga-bunga Allah Azza wa Jalla, dan sesungguhnya pijakan Allah Azza wa Jalla yang terakhir adalah di Bauj (nama tempat).” Dan Sufyan berkata suatu kali: “Sesungguhnya kalian kikir dan sesungguhnya kalian…”
Dan dia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari ‘Amr bin Aus: Bahwa pijakan Allah Azza wa Jalla yang terakhir adalah di Bauj. Dikatakan kepada Sufyan: Apakah ‘Amr menyebutkannya dari seseorang? Dia berkata: Tidak. Berkata Sufyan: Dan Sa’id bin Jubair datang kepada saudara perempuannya -atau keluarganya- lalu memberi salam kepada mereka. Dia berkata: Dia menyambungkan dengan demikian dari ‘Amr bin Aus. Berkata Sufyan: Abu Hurairah berkata: Kalian bertanya kepadaku padahal di antara kalian ada ‘Amr bin Aus?!
“As-Sunnah” karya Abdullah 2/499-500 (1153-1154)
66 – Bab: Sesungguhnya Allah Menciptakan Adam Menurut Rupa-Nya
Berkata Abdullah: Telah menceritakan kepadaku ayahku semoga Allah merahmatinya, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apabila salah seorang di antara kalian memukul, maka hindarilah wajah, karena sesungguhnya Allah menciptakan Adam menurut rupa-Nya.”
Dan dia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, aku mendengar Al-Humaidi, dan telah menceritakan kepada kami Sufyan hadits ini, dan dia berkata: Ini benar, dan dia berbicara sementara Ibnu ‘Uyainah diam. Ayahku semoga Allah merahmatinya berkata: Ibnu ‘Uyainah tidak mengingkari perkataannya, seolah-olah dia menyetujuinya.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/267-268 (496-497), 2/463-464 (1052-1053)
Berkata Abdullah: Telah menceritakan kepadaku ayahku semoga Allah merahmatinya, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah, dari ‘Amr bin Dinar, dia berkata: Aku mendengar ‘Ubaid berkata: Hari terbaik di mana matahari terbit adalah hari Jumat, pada hari itu Adam ‘alaihissalam diciptakan, dan pada hari itu Kiamat terjadi, dan bahwa Allah Azza wa Jalla menciptakan Adam menurut rupa-Nya, maka dia bersin dan Allah menempatkan di lisannya: Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Maka Allah berfirman: Semoga Tuhanmu merahmatimu.
Dan dia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku pada kesempatan lain, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari ‘Amr, dari ‘Ubaid: Bahwa Allah menciptakan Adam menurut rupa-Nya.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/271-277 (520-521)
Berkata Abdullah: Telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id, telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ajlan, telah menceritakan kepadaku Sa’id, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian memukul, maka hindarilah wajah, dan jangan berkata: Semoga Allah memburukkan wajahmu dan wajah orang yang menyerupai wajahmu. Karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menciptakan Adam menurut rupa-Nya.”
“As-Sunnah” karya Abdullah 2/471 (1071)
Berkata Abdullah: Telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amir -yaitu Abdul Malik bin ‘Amr- telah menceritakan kepada kami Zuhair -yaitu Ibnu Muhammad- dari Yazid -yaitu Ibnu Jabir- dari Khalid bin Al-Lajlaj, dari Abdurrahman bin ‘Ayisy, dari sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa Rasulullah keluar kepada mereka pada suatu pagi dan beliau dalam keadaan jiwa yang baik, wajah yang cerah atau wajah yang bersinar. Maka kami berkata: Wahai Nabiyullah, sesungguhnya kami melihatmu dalam keadaan jiwa yang baik, wajah yang cerah -atau wajah yang bersinar? Maka beliau bersabda: “Dan apa yang menghalangiku padahal Tuhanku Azza wa Jalla datang kepadaku tadi malam dalam rupa yang paling baik, maka Dia berfirman: Wahai Muhammad. Aku berkata: Aku penuhi panggilan-Mu wahai Tuhanku dan aku bersedia melayani-Mu. Dia berfirman: Tentang apa gerangan para penghuni yang tertinggi bersengketa? Aku berkata: Aku tidak tahu wahai Tuhanku -beliau mengatakan demikian dua atau tiga kali- Dia berfirman: Maka Dia meletakkan kedua telapak tangan-Nya di antara kedua pundakku, maka aku merasakan kedinginannya di antara kedua dadaku hingga jelas bagiku apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Kemudian beliau membaca ayat ini: ‘Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi’ (Surah Al-An’am: 75) sampai akhir ayat. Kemudian Dia berfirman: Wahai Muhammad, tentang apa gerangan para penghuni yang tertinggi bersengketa? Beliau bersabda: Aku berkata: Tentang penghapus dosa. Dia berfirman: Apa itu penghapus dosa? Aku berkata: Berjalan dengan kaki menuju shalat Jumat, duduk di masjid-masjid menunggu shalat, dan menyempurnakan wudhu dalam keadaan sulit. Dia berfirman: Barangsiapa melakukan hal itu, maka dia hidup dengan kebaikan, mati dengan kebaikan, dan dia bebas dari kesalahan seperti hari ibunya melahirkannya. Dan tentang derajat-derajat: Perkataan yang baik, menyebarkan salam, memberi makan, dan shalat di malam hari sementara manusia tertidur. Dan Dia berfirman: Wahai Muhammad, apabila engkau shalat maka ucapkanlah: Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu hal-hal yang baik, meninggalkan kemungkaran, cinta kepada orang-orang miskin, dan agar Engkau menerima tobatku, dan apabila Engkau menghendaki fitnah di tengah manusia maka wafatkanlah aku tanpa terkena fitnah.”
Dan dia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, dari Ma’mar, dari Qatadah, yang menyampaikannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Allah Azza wa Jalla menciptakan Adam menurut rupa-Nya.”
Dan dia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Qatadah “Dalam bentuk yang paling baik” (Surah At-Tin: 4), dia berkata: Dalam rupa yang paling baik.
“As-Sunnah” karya Abdullah 2/489-490 (1121-1123)
Berkata Abu Bakar Al-Marwazi: Aku berkata kepada Abu Abdillah: Bagaimana pendapatmu tentang hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Allah menciptakan Adam menurut rupa-Nya”? Dia berkata: Adapun Al-A’masy, maka dia berkata: Dari Habib bin Abi Tsabit, dari ‘Atha’, dari Ibnu Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menciptakan Adam menurut rupa Ar-Rahman.” Maka kami berkata sebagaimana datangnya hadits.
Dan dia berkata: Dan aku mendengar Abu Abdillah, dan disebutkan kepadanya sebagian ahli hadits, dia berkata: Dia menciptakannya menurut rupanya, dia berkata: Menurut rupa tanah liat. Maka dia berkata: Ini adalah perkataan kaum Jahmiyah.
“Al-Ibanah” kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyah 3/264-265 (196)
Berkata Ya’qub bin Bukhtan: Berkata Imam Ahmad: Diciptakan Adam menurut rupa-Nya, kami tidak menafsirkannya sebagaimana datangnya hadits.
“Ibthol At-Ta’wilat” 1/79
Abdullah berkata: Seorang laki-laki berkata kepada ayahku: “Sesungguhnya si fulan berkata tentang hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: ‘Sesungguhnya Allah menciptakan Adam sesuai dengan gambarannya’, apakah maksudnya sesuai dengan gambaran laki-laki tersebut?” Ayahku menjawab: “Ia berdusta, ini adalah pendapat orang-orang Jahmiyah, dan apa manfaat dalam hal ini.”
Abdullah berkata: Kami berada di Bashrah bersama seorang syaikh, lalu ia menceritakan kepada kami hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menciptakan Adam sesuai dengan gambarannya”. Maka syaikh tersebut berkata: “Penafsirannya adalah diciptakan sesuai gambaran tanah.” Maka aku menceritakan hal itu kepada ayahku rahimahullah, lalu beliau berkata: “Ini adalah Jahmiyah,” atau beliau berkata: “Ini adalah perkataan orang-orang Jahmiyah.”
Abu Mas’ud berkata: Imam Ahmad berkata: “Makna hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam ‘Sesungguhnya Allah menciptakan Adam sesuai dengan gambarannya’ adalah: gambaran Adam sebelum penciptaannya, kemudian Allah menciptakannya sesuai gambaran tersebut. Adapun bahwa Allah menciptakan Adam sesuai dengan gambaran Allah, maka tidak. Dan Allah telah berfirman: ‘Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia’ (Asy-Syura: 11). Dan kami tidak mengatakan bahwa sesuatu dari makhluk-Nya menyerupai Allah, dan tidak tersembunyi bagi manusia bahwa Allah menciptakan Adam sesuai gambaran Adam. Maka tidak boleh dikatakan baginya: bagaimana; karena Allah tidak disifati dengan sifat manusia. Dan Allah telah berfirman: ‘Tidak ada yang serupa dengan-Nya’. Maka itulah Rabb kami Azza wa Jalla, tidak ada seorang pun dari makhluk-Nya yang serupa dengan-Nya.”
Abu Thalib al-Makki berkata: Ini adalah prasangka tentang Ahmad. Sesungguhnya ini adalah pendapat Abu Tsaur, lalu hal itu disebutkan kepada Ahmad maka beliau mengingkarinya dan berkata: “Celakalah dia! Dan gambaran apa bagi Adam sehingga Allah menciptakannya sesuai dengannya?! Dia mengatakan bahwa Allah menciptakan sesuai dengan contoh. Celakalah dia! Bagaimana dia bersikap terhadap hadits yang lain: ‘Sesungguhnya Allah menciptakan Adam sesuai gambaran ar-Rahman’?!”
Hamdan bin Ali berkata: Aku mendengar Ahmad berkata, dan seorang laki-laki bertanya kepadanya tentang hadits yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam sesuai dengan gambarannya”: apakah sesuai gambaran Adam? Maka Imam Ahmad berkata: “Di manakah yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam: ‘Sesungguhnya Allah menciptakan Adam sesuai gambaran ar-Rahman’?!”
Ibthal at-Ta’wilat 1/89, 91
Ibrahim bin Aban al-Mushili berkata: Aku mendengar Abu Abdillah, dan seorang laki-laki datang kepadanya lalu berkata: “Sesungguhnya aku mendengar Abu Tsaur mengatakan: Sesungguhnya Allah menciptakan Adam sesuai gambaran diri-Nya sendiri.” Maka beliau menunduk lama, kemudian memukul wajahnya dengan tangannya, lalu berkata: “Ini adalah perkataan buruk, ini adalah perkataan Jahm, ini adalah Jahmiyah, jangan kalian mendekatinya.”
Thabaqat al-Hanabilah 1/336
Hamdan al-Warraq berkata: Aku bertanya kepada Abu Tsaur tentang perkataan Nabi shallallahu alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam sesuai dengan gambarannya”, maka ia berkata: “Sesuai gambaran Adam.” Dan ini terjadi setelah pemukulan Ahmad bin Hanbal dan mihnah (ujian). Maka aku berkata kepada Abu Thalib: “Katakan kepada Abu Abdillah.” Maka Abu Thalib berkata: Ahmad bin Hanbal berkata kepadaku: “Perkara itu menjadi jelas tentang Abu Tsaur. Barang siapa berkata: Sesungguhnya Allah menciptakan Adam sesuai gambaran Adam, maka dia adalah Jahmiyah. Dan gambaran apa yang ada pada Adam sebelum Allah menciptakannya?!”
Thabaqat al-Hanabilah 2/336
Al-Khallal berkata: Harb bin Ismail mengabarkan kepadaku: Aku mendengar Ishaq bin Rahawaih berkata: “Telah shahih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: ‘Sesungguhnya Allah menciptakan Adam sesuai gambaran ar-Rahman’. Sesungguhnya yang wajib atasnya adalah mengucapkan apa yang shahih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau mengucapkannya.”
Bayan Talbis al-Jahmiyyah 6/418
67 – Bab: Larangan Mencela Masa
Al-Khallal berkata: Bisyr bin Musa al-Asadi mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal tentang masa (dahr), maka beliau tidak menjawabku sedikitpun tentangnya.
Hanbal berkata: Aku mendengar Harun al-Hammal berkata kepada Abu Abdillah: “Kami berada di sisi Sufyan bin Uyaynah di Makkah, lalu ia menceritakan kepada kami bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: ‘Janganlah kalian mencela masa’. Maka berdirilah Fath bin Sahl dan berkata: ‘Wahai Abu Muhammad, apakah kami mengatakan: Wahai masa, berilah kami rezeki?’ Maka aku mendengar Sufyan berkata: ‘Tangkap dia! Sesungguhnya dia adalah Jahmiyah.’ Dan dia pun melarikan diri.”
Maka Abu Abdillah berkata: “Kaum itu menolak atsar-atsar dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, sedangkan kami beriman dengannya dan tidak menolak perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.”
Ar-Riwayatayn wal Wajhayn, Masalah Aqidah hal. 71-72, Talbis al-Jahmiyyah 1/412-413
68 – Bab: Penetapan Wajah dan Sifat Hijab
Harb berkata: Ishaq bin Ibrahim menceritakan kepada kami, ia berkata: Rauh bin Ubadah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Musa bin Ubaidah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Hazim menceritakan kepada kami, dari Sahl bin Sa’d as-Sa’idi, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya di hadapan Allah terdapat tujuh puluh ribu hijab dari cahaya, tidaklah ada jiwa yang mendengar suara sesuatu dari hijab-hijab itu melainkan jiwanya akan melayang.”
Masail Harb hal. 415
Abu al-Harits ash-Shaigh berkata: Aku berkata kepada Abu Abdillah: “Wahai Abu Abdillah, aku berkata kepada seorang laki-laki: Kami tidak mengatakan bahwa wajah Allah bukan makhluk?” Maka ia berkata: “Tidak, kecuali jika ada nash dalam Kitab.” Maka Abu Abdillah gemetar dan berkata: “Astaghfirullah, Subhanallah, ini adalah kekufuran kepada Allah. Aku mengabarkan kepadamu bahwa wajah Allah bukan makhluk.”
Al-Ibanah, kitab Ar-Radd ‘ala al-Jahmiyyah 3/267 (199)
69 – Bab: Penetapan Hiqw (Pinggang)
Al-Marwazi berkata: Sebuah surat datang kepadaku dari Damaskus lalu aku tunjukkan kepada Abu Abdillah, maka beliau melihatnya. Dan di dalamnya ada: Sesungguhnya seorang laki-laki menyebutkan hadits Abu Hurairah dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menciptakan makhluk, hingga ketika Dia selesai dari mereka, Rahim (hubungan kekerabatan) itu berdiri lalu mengambil hiqw (pinggang) ar-Rahman”. Dan laki-laki itu menyampaikan hadits Abu Hurairah, maka muhaddits itu mengangkat kepalanya dan berkata: “Aku khawatir engkau telah kafir.” Maka Abu Abdillah berkata: “Ini adalah Jahmiyah.”
Abu Thalib berkata: Aku mendengar Abu Abdillah ditanya tentang hadits Hisyam bin Ammar bahwa dibacakan kepadanya hadits: “Rahim akan datang pada hari kiamat lalu berpegang dengan ar-Rahman”, maka ia berkata: “Aku khawatir engkau telah kafir.” Beliau berkata: “Ini orang Syam, apa urusannya dengan ini?!”
Aku bertanya: “Apa pendapatmu?” Beliau berkata: “Hadits itu dijalankan sebagaimana datangnya.”
Ibthal at-Ta’wilat 2/421
70 – Bab: Penetapan Dua Mata
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu al-Mughirah menceritakan kepada kami, Abdah menceritakan kepada kami, dari ayahnya Khalid yaitu Ibnu Ma’dan, ia berkata: “Mata Allah Ta’ala berada di atas tujuh langit dan di atas tujuh bumi, dan yang lainnya kelebihan atas segala sesuatu.”
As-Sunnah karya Abdullah 2/473 (1080)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Wahb bin Jarir menceritakan kepada kami, Syu’bah mengabarkan kepada kami, dari Simak bin Harb, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia menyebutkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan tentang Dajjal lalu bersabda: “Buta sebelah, campuran putih kemerahan, seolah kepalanya adalah ular, orang yang paling mirip dengannya dari kalian adalah Abdul Uzza bin Qathan. Jika kehancuran telah terjadi, maka sesungguhnya Rabb kalian tidak buta sebelah.”
As-Sunnah karya Abdullah 2/492-493 (1130)
71 – Bab: Penetapan Dua Lengan dan Dada
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Usamah menceritakan kepada kami, Hisyam bin Urwah menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abdullah bin Amr radhiyallahu anhu, ia berkata: “Allah Azza wa Jalla menciptakan malaikat dari cahaya kedua lengan dan dada.”
As-Sunnah karya Abdullah 2/475
72 – Bab: Penetapan Jangkauan Tangan (Ba’)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu al-Yaman menceritakan kepada kami, Ismail bin Ayyasy menceritakan kepada kami, dari Ummu Abdillah, dari ayahnya Khalid bin Ma’dan bahwa ia berkata: “Sesungguhnya angin surga berhembus pada jarak empat puluh kharif (musim gugur), dan kharif adalah jangkauan tangan Allah Azza wa Jalla.”
As-Sunnah karya Abdullah 2/525 (1207)
73 – Bab: Penetapan Dua Tangan
Abdullah berkata: Aku membaca di hadapan ayahku rahimahullah: Ishaq bin Sulaiman menceritakan kepada kami, Abu al-Junaid – seorang syaikh yang berada di sisi kami – menceritakan kepada kami, dari Ja’far bin Abi al-Mughirah, dari Sa’id bin Jubair bahwa mereka berkata: “Sesungguhnya loh-loh itu dari yakut,” aku tidak tahu apakah ia berkata: merah atau tidak. Dan aku berkata: Sa’id bin Jubair berkata: “Sesungguhnya loh-loh itu dari zamrud, dan tulisannya dari emas, dan ar-Rahman Azza wa Jalla menulisnya dengan tangan-Nya, dan penduduk langit mendengar bunyi berderitnya pena.”
Dan ia berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku: Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, al-Jurairi mengabarkan kepada kami, dari Abu Atthaf, ia berkata: “Allah menulis Taurat untuk Musa alaihissalam dengan tangan-Nya, dan Dia bersandar dengan punggung-Nya pada batu karang dalam loh-loh dari mutiara, maka ia mendengar bunyi berderitnya pena, tidak ada antara dia dan Allah kecuali hijab.”
Dan ia berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, Ma’mar mengabarkan kepada kami, dari Qatadah, ia berkata: Ka’ab berkata: “Allah menulis Taurat dengan tangan-Nya.”
Dan ia berkata: Aku membaca di hadapan ayahku, Ibnu Numair menceritakan kepada kami, Ismail yaitu Ibnu Abi Khalid menceritakan kepada kami, dari Hakim bin Jabir, ia berkata: “Aku dikabari bahwa Allah menciptakan Adam dengan tangan-Nya, dan menulis Taurat dengan tangan-Nya untuk Musa alaihissalam.” Dan ia berkata: Ayahku berkata: Muhammad bin Ubaid menceritakannya kepada kami dengan sanadnya dan maknanya.
Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari Ibnu Ajlan, aku mendengar ayahku, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah menulis atas diri-Nya dengan tangan-Nya ketika menciptakan makhluk: Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku.”
As-Sunnah karya Abdullah 1/294-295 (567-571)
Abdullah berkata: Aku membaca di hadapan ayahku, Ibrahim bin al-Hakam bin Aban menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dari Ikrimah, ia berkata: “Sesungguhnya Allah tidak menyentuh dengan tangan-Nya sesuatu kecuali tiga: menciptakan Adam dengan tangan-Nya, menanam surga dengan tangan-Nya, dan menulis Taurat dengan tangan-Nya.”
Dan ia berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, Abu al-Mughirah menceritakan kepada kami, Abdah menceritakan kepada kami, dari ayahnya Khalid bin Ma’dan, ia berkata: “Sesungguhnya Allah tidak menyentuh dengan tangan-Nya kecuali Adam shalawatullahi alaih, menciptakannya dengan tangan-Nya, dan surga, dan Taurat menulisnya dengan tangan-Nya.” Ia berkata: “Dan Allah Azza wa Jalla membentuk mutiara dengan tangan-Nya lalu menanam di dalamnya sebatang pohon kemudian berfirman: ‘Memanjangulah hingga Aku ridha, dan keluarkanlah apa yang ada padamu dengan izin-Ku’, maka keluarlah sungai-sungai dan buah-buahan.”
As-Sunnah karya Abdullah 1/296-297 (573-574)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Husain bin Muhammad menceritakan kepada kami, Muhammad bin Mutharrif menceritakan kepada kami, dari Zaid bin Aslam bahwa Allah Azza wa Jalla ketika menulis Taurat dengan tangan-Nya berfirman: “Dengan nama Allah, ini adalah kitab Allah dengan tangan-Nya untuk hamba-Nya Musa: dia bertasbih kepada-Ku dan mensucikan-Ku, dan tidak bersumpah dengan nama-Ku secara dusta, maka sesungguhnya Aku tidak mensucikan orang yang bersumpah dengan nama-Ku secara dusta.”
As-Sunnah karya Abdullah 1/298 (576)
Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, al-Jurairi menceritakan kepada kami dari Abu Atthaf, ia berkata: “Allah menulis Taurat untuk Musa dengan tangan-Nya, dan Dia bersandar dengan punggung-Nya pada batu karang dalam loh-loh dari mutiara, mendengar bunyi berderitnya pena, tidak ada antara Dia dan dia kecuali hijab.”
As-Sunnah karya Abdullah 2/461 (1046)
Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Dawud menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari al-Hakam, ia berkata: “Dalam bacaan Ibnu Mas’ud: ‘Bahkan kedua tangan-Nya terbuka luas’.”
As-Sunnah karya Abdullah 2/472 (1075)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Mu’adz bin Hisyam menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku, dari Ali bin al-Hakam, dari Abu Shafwan Mujahid, dari Abdullah bin Amr, ia berkata: “Tidaklah dua barisan bertemu kecuali di antara keduanya terdapat tangan Allah. Jika Dia memiringkannya kepada kelompok ini maka mereka kalah, dan jika Dia memiringkannya kepada kelompok ini maka mereka kalah.”
Ayahku berkata: “Aku mendengarnya dari Mu’adz di Yaman di sebuah desa yang dinamakan al-Kadra.”
As-Sunnah karya Abdullah 2/474 (1082)
Dan dia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyam, ayahku menceritakan kepadaku, dari ‘Amr bin Malik, dari Abu al-Jauza’, dari Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Tidaklah tujuh langit dan tujuh bumi beserta segala yang ada di dalamnya di tangan Allah ‘azza wa jalla melainkan seperti biji sawi di tangan salah seorang di antara kalian.
“as-Sunnah” karya Abdullah 2/476 (1090)
Abdullah berkata: Aku membaca di hadapan ayahku, menceritakan kepada kami Ibrahim bin al-Hakam bin Aban, ayahku menceritakan kepadaku, dari ‘Ikrimah, dia berkata: Sesungguhnya Allah tidak menyentuh dengan tangan-Nya sesuatu kecuali tiga hal: menciptakan Adam dengan tangan-Nya, menanam surga dengan tangan-Nya, dan menulis Taurat dengan tangan-Nya.
“as-Sunnah” karya Abdullah 2/525 (1206)
Al-Maimuni berkata: Imam Ahmad berkata: Barangsiapa mengklaim bahwa dua tangan-Nya adalah nikmat-nikmat-Nya, bagaimana dia akan menghadapi firman-Nya “yang Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku” (Surah Shad: 75), dengan huruf ya yang ditasydid?!
Al-Maimuni berkata: Maka aku berkata: Dan ketika Dia menciptakan Adam dengan genggaman-Nya -yaitu: dari seluruh bumi- dan hati-hati berada di antara dua jari.
“Ibthal at-Ta’wilat” 1/169
Al-Marwadzi berkata: Dan dibacakan di hadapannya -yaitu: Ahmad- “yang Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku”.
Dia berkata: Dengan ya yang ditasydid, sebagai perlawanan terhadap Jahmiyyah.
“Bada’i’ al-Fawa’id” 3/96
74 – Bab: Penetapan Tangan Kanan
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Waki’, menceritakan kepadaku Abu Hujair, dari adh-Dhahhak mengenai ayat “dan bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit-langit digulung dengan tangan kanan-Nya” (Surah az-Zumar: 67), dia berkata: Semua itu berada di tangan kanan-Nya.
Dan dia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami al-Fadhl bin Dukain, dari Salamah, dari adh-Dhahhak mengenai ayat “dan bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit-langit digulung dengan tangan kanan-Nya” (Surah az-Zumar: 67), dia berkata: Semuanya di tangan kanan-Nya.
“as-Sunnah” karya Abdullah 2/531-532 (1229-1330)
Ya’qub bin Zadzan berkata: Telah sampai kepadaku bahwa Ahmad bin Hanbal, seorang laki-laki membacakan di hadapannya: “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit-langit digulung dengan tangan kanan-Nya” (Surah az-Zumar: 67), kemudian dia menunjuk dengan tangannya, maka Ahmad berkata kepadanya: Semoga Allah memotongnya, dan dia marah lalu berdiri.
“Syarh Ushul al-I’tiqad” 3/479 (739)
75 – Bab: Penetapan Jari-Jari
Abdullah berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Mu’adz bin Mu’adz, menceritakan kepada kami Abu Ka’b penjual sutera, menceritakan kepadaku Syahr bin Hausyab, dia berkata: Aku berkata kepada Ummu Salamah: Wahai ibu kaum mukminin, apakah doa yang paling banyak dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berada di sisimu? Dia berkata: Doa yang paling banyak dibacanya shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: “Wahai Pembolak-balik hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” Dia berkata: Maka aku berkata kepadanya: Wahai Rasulullah, mengapa engkau paling banyak berdoa: “Wahai Pembolak-balik hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu”? Beliau bersabda: “Wahai Ummu Salamah, sesungguhnya tidak ada seorang anak Adam pun melainkan hatinya berada di antara dua jari dari jari-jari Allah, apa yang Dia kehendaki Dia tegakkan, dan apa yang Dia kehendaki Dia menyimpangkannya.”
“as-Sunnah” karya Abdullah 1/178-179 (222)
Abdullah berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id, dari Sufyan, menceritakan kepadaku Manshur dan Sulaiman, dari Ibrahim, dari ‘Ubaidah, dari Abdullah radiyallahu ‘anhu bahwa seorang Yahudi datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah memegang langit-langit pada satu jari, dan bumi-bumi pada satu jari, dan tanah pada satu jari, dan gunung-gunung pada satu jari, dan makhluk-makhluk pada satu jari, kemudian Dia berkata: Akulah Raja. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa hingga tampak gigi taringnya dan membaca: “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya” (Surah al-An’am: 91).
Ayahku berkata, Yahya berkata: Fudhail bin ‘Iyadh berkata: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa karena takjub dan membenarkannya.
Dan dia berkata: Aku mendengar ayahku rahimahullah, menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dengan hadits Sufyan, dari al-A’masy, dari Manshur, dari Ibrahim, dari ‘Ubaidah, dari Abdullah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah memegang langit-langit pada satu jari.” Ayahku rahimahullah berkata: Yahya menunjuk dengan jari-jarinya, dan ayahku memperlihatkan kepadaku bagaimana dia menunjuk dengan jarinya, meletakkan jari demi jari hingga sampai pada jari terakhir.
Dan dia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Yunus, menceritakan kepada kami Syaiban, dari Manshur bin al-Mu’tamir, dari Ibrahim, dari ‘Ubaidah as-Salmani, dari Abdullah bin Mas’ud radiyallahu ‘anhu, dia berkata: Seorang pendeta Yahudi datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: Wahai Muhammad -atau: Wahai Rasulullah- sesungguhnya Allah pada hari kiamat meletakkan langit-langit pada satu jari, dan bumi-bumi pada satu jari, dan gunung-gunung dan pepohonan pada satu jari, dan air dan tanah pada satu jari, dan seluruh makhluk pada satu jari, kemudian Dia menggerakkannya lalu berkata: Akulah Raja. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa hingga tampak gigi taringnya sebagai pembenaran terhadap ucapan pendeta itu, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca: “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit-langit digulung dengan tangan kanan-Nya, Mahasuci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan” (Surah az-Zumar: 67) hingga akhir ayat.
“as-Sunnah” karya Abdullah 1/264-265 (488-490)
Abdullah berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Husain bin Hasan, menceritakan kepada kami Abu Kudainah, dari ‘Atha’, dari Abu adh-Dhuha, dari Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu, dia berkata: Seorang Yahudi melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sementara beliau sedang duduk, dia berkata: Bagaimana pendapatmu wahai Abul Qasim pada hari Allah meletakkan langit pada ini -dan dia menunjuk dengan jari telunjuk-, dan bumi-bumi pada ini, dan air pada ini, dan gunung-gunung pada ini, dan seluruh makhluk pada ini, dan dia menunjuk dengan jari-jarinya, maka Allah menurunkan: “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya” (ayat tersebut).
“as-Sunnah” karya Abdullah 1/226 (494), 2/483 (1113)
Abdullah berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Hasan bin Musa al-Asyab, menceritakan kepada kami Abu Hilal Muhammad bin Sulaim, menceritakan kepada kami seorang laki-laki bahwa Ibnu Rawahah berkata kepada al-Hasan: Apakah engkau menyifati Rabb-mu ‘azza wa jalla? Dia berkata: Ya, aku menyifati-Nya tanpa pemisalan.
Dan dia berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Mu’adz bin Mu’adz, menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, menceritakan kepada kami Tsabit al-Bunani dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai firman-Nya ‘azza wa jalla: “Maka ketika Rabb-nya menampakkan diri kepada gunung itu, Dia menjadikannya hancur luluh” (Surah al-A’raf: 143), beliau bersabda: Beliau bersabda begini -yaitu: mengeluarkan ujung jari kelingking.
Ayahku berkata: Mu’adz memperlihatkannya kepada kami, maka Humaid ath-Thawil berkata kepadanya: Apa maksudmu dengan ini wahai Abu Muhammad? Dia berkata: Maka dia memukul dadanya dengan pukulan keras, dan berkata: Siapa engkau wahai Humaid, dan apa engkau wahai Humaid? Anas bin Malik menceritakannya kepadaku dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu engkau berkata apa maksudmu dengan itu?!
Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Menceritakan kepadaku orang yang mendengar Mu’adz berkata: Aku berharap dia menahannya dua bulan. Yaitu: untuk Humaid.
“as-Sunnah” karya Abdullah 1/269 (499-500)
Dan dia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Suraij bin an-Nu’man, menceritakan kepada kami Husyaim, dari Abu Bisyr, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah berita seperti melihat langsung, sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla memberitahu Musa tentang apa yang diperbuat kaumnya terhadap anak sapi, maka dia tidak melempar loh-loh itu, namun ketika dia melihat langsung apa yang mereka perbuat, dia melempar loh-loh itu, maka pecahlah ia.”
“as-Sunnah” karya Abdullah 2/483 (1114)
Dan Abu Thalib berkata: Abu Abdullah ditanya tentang hadits pendeta: Dia meletakkan langit-langit pada satu jari, dan bumi-bumi pada satu jari, dan gunung-gunung pada satu jari, dia berkata: Dia menunjuk dengan tangannya begini, yaitu: menunjuk, maka Abu Abdullah berkata: Aku melihat Yahya menceritakan hadits ini dan meletakkan jari demi jari, dan Abu Abdullah meletakkan ibu jari pada jarinya yang keempat dari bawah ke atas pada ujung setiap jari.
“Ibthal at-Ta’wilat” 2/322
76 – Bab: Penetapan Kaki
Ishaq bin Manshur berkata: Aku berkata kepada Ahmad radiyallahu ‘anhu: Bukankah engkau berkata dengan hadits-hadits ini… dan neraka mengadukan kepada Rabb-nya ‘azza wa jalla hingga Allah meletakkan kaki-Nya ke dalamnya, dan bahwa Musa ‘alaihissalam memukul malaikat maut ‘alaihissalam.
Imam Ahmad berkata: Semua ini shahih.
Ishaq berkata: Semua ini shahih, dan tidaklah mengingkarinya kecuali orang yang mengada-ada atau lemah pendapatnya.
“Masa’il al-Kausaj” (3290)
Al-Atsram berkata: Aku berkata kepada Abu Abdullah: Seorang perawi menceritakan dan aku di sisinya dengan hadits: “Ar-Rahman meletakkan kaki-Nya ke dalamnya”, dan di sisinya ada seorang pemuda; maka dia menghadap kepada pemuda itu lalu berkata: Apakah untuk ini ada tafsir? Maka Abu Abdullah berkata: Lihatlah, sama seperti yang dikatakan Jahmiyyah.
“al-Ibanah” karya Ibnu Batthah, Kitab ar-Radd ‘ala al-Jahmiyyah 3/330-331 (259)
Al-Marwadzi berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah: “Dia meletakkan kaki-Nya”? Maka dia berkata: Kita terima sebagaimana datangnya.
“al-Ibanah” karya Ibnu Batthah, Kitab ar-Radd ‘ala al-Jahmiyyah 3/331 (260)
Hanbal berkata: Aku mendengar Abu Abdullah berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dia meletakkan kaki-Nya”, kita beriman dengannya, dan kita tidak menolak apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan, bahkan kita beriman kepada Allah dan kepada apa yang dibawa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah berfirman “Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah” (Surah al-Hasyr: 7).
“Thabaqat al-Hanabilah” 1/386
77 – Bab: Ru’yah (Melihat Allah)
Pasal: Perdebatan Imam dengan Jahmiyyah tentang Melihat Wajah Allah pada Hari Kiamat
Imam Ahmad rahimahullah berkata: Maka kami berkata kepada mereka: Mengapa kalian mengingkari bahwa penduduk surga melihat Rabb mereka? Maka mereka berkata: Tidak layak bagi seseorang melihat Rabb-nya; karena yang dipandang itu diketahui dan disifati, tidak dilihat, kecuali sesuatu yang Dia lakukan. Maka kami berkata: Bukankah Allah berfirman: “Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nya mereka melihat” (Surah al-Qiyamah: 22-23).
Maka mereka berkata: Sesungguhnya makna “Kepada Rabb-nya mereka melihat” adalah bahwa mereka menunggu pahala dari Rabb mereka, dan sesungguhnya mereka melihat kepada perbuatan-Nya dan kekuasaan-Nya; dan mereka membaca ayat dari Alquran: “Tidakkah engkau memperhatikan Rabb-mu bagaimana Dia membentangkan bayangan”, maka mereka berkata: Sesungguhnya ketika Dia berfirman: “Tidakkah engkau memperhatikan Rabb-mu” (Surah al-Furqan: 45), sesungguhnya mereka tidak melihat Rabb mereka, tetapi maknanya: Tidakkah engkau melihat perbuatan Rabb-mu. Maka kami berkata: Sesungguhnya perbuatan Allah tidak henti-hentinya para hamba melihatnya, dan sesungguhnya Dia berfirman: “Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nya mereka melihat”.
Maka mereka berkata: Sesungguhnya mereka hanya menunggu pahala dari Rabb mereka.
Maka kami berkata: Sesungguhnya mereka bersama dengan menunggu pahala, mereka melihat Rabb mereka.
Maka mereka berkata: Sesungguhnya Allah tidak dilihat di dunia dan tidak di akhirat.
Dan mereka membaca ayat dari ayat-ayat yang mutasyabihat dari firman Allah jalla tsana’uhu: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan, dan Dialah Yang Mahalembut, Mahateliti” (Surah al-An’am: 103). Dan sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui makna firman Allah: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan”, dan beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian.”
Dan Allah berfirman kepada Musa: “Kamu tidak akan dapat melihat-Ku” (Surah Al-A’raf: 143). Dan Allah tidak mengatakan: Aku tidak akan terlihat. Maka manakah yang lebih utama untuk kita ikuti, Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian”. Ataukah perkataan orang Jahmiyyah ketika ia berkata: Kalian tidak akan melihat Rabb kalian? Dan hadits-hadits di tangan ahli ilmu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa penduduk surga akan melihat Rabb mereka, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ahli ilmu tentang hal ini.
Dari hadits Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Amir bin Sa’d tentang firman Allah: “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya” (Surah Yunus: 26). Ia berkata: Melihat wajah Allah.
Dari hadits Tsabit Al-Bunani, dari Abdurrahman bin Abi Laila, ia berkata: “Apabila penduduk surga telah menetap di surga, seorang penyeru akan menyeru: Wahai penduduk surga, sesungguhnya Allah telah mengizinkan kalian untuk mendapat tambahan,” katanya: “Maka hijab akan disingkap dan mereka melihat Allah, tiada tuhan selain Dia”.
Dan sungguh kami berharap bahwa Jahm dan pengikutnya termasuk orang-orang yang tidak akan melihat Rabb mereka, dan terhalang dari Allah, karena Allah berfirman tentang orang-orang kafir: “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka” (Surah Al-Muthaffifin: 15). Maka jika orang kafir terhalang dari Allah, dan orang mukmin pun terhalang dari Allah, apa kelebihan orang mukmin atas orang kafir?
Dan segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan kami seperti Jahm dan pengikutnya, dan menjadikan kami termasuk orang-orang yang mengikuti, dan tidak menjadikan kami termasuk orang-orang yang mengada-adakan, dan segala puji bagi Allah semata.
“Ar-Rad ‘ala Al-Jahmiyyah wa Az-Zanadiqah” halaman 127-129
78 – Pasal: Penetapan Ru’yah (Penglihatan) Orang-orang Mukmin terhadap Rabb Mereka pada Hari Kiamat
Salih berkata: Abu Abbas Abdullah bin Muhammad bin Amr bin Al-Jarrah Al-Azdi Al-Arabi mendiktekan kepada kami, ia berkata: Ibrahim bin Muhammad bin Khalaf Al-Asqalani datang kepadaku membawa secarik kertas dengan tulisan Muhammad bin Khalaf: Ia mengklaim bahwa ia melihat dalam mimpi seakan-akan semua anak Adam berada dalam keadaan gundah terhadap Allah kecuali aku, dan tiba-tiba Rabb semesta alam Yang Mahamulia dan Mahatinggi telah menampakkan diri kepada makhluk di udara, dan Musa bin Imran berada di sebelah kanannya, dan aku adalah makhluk yang paling dekat kepadanya setelah Musa.
Maka aku berkata kepada mereka: Dialah Rabb kalian. Mereka berkata: Jika Dia Rabb kami, maka katakanlah kepadanya: Jadikanlah matahari, bulan, dan bintang-bintang di bumi seperti keadaannya di langit, maka kami akan beriman dan aku adalah orang yang paling meyakini di antara kaum bahwa Dia adalah Rabb kami. Dan tiba-tiba Ahmad sedang berwudhu di tepi sungai, dan dia berdiri di atas jalan raya yang besar, dan dia mengenakan selendang yang memiliki tanda tertentu. Lalu dia berkata kepada makhluk: Mau kemana kalian? Mereka berkata: Kami ingin menemui Rabb semesta alam, agar Dia menjadikan matahari, bulan, dan bintang-bintang seperti keadaannya di bumi.
Maka Imam Ahmad berkata: Dialah Rabb kalian, dan Dia tidak akan melakukan apa yang kalian inginkan. Maka makhluk-makhluk itu kembali.
Ahmad berkata: Mereka yakin bahwa Dialah Rabb mereka.
“Sirah Al-Imam Ahmad” oleh putranya Salih halaman 67
Abu Dawud berkata: Aku mendengar Ahmad dan disebutkan kepadanya tentang seseorang mengenai masalah ru’yah, maka ia marah dan berkata: Barangsiapa berkata: Sesungguhnya Allah tidak dapat dilihat, maka ia adalah kafir.
“Sirah Abu Dawud” (1700)
Abu Dawud berkata: Aku mendengar Ahmad dan dikatakan kepadanya tentang seorang laki-laki yang meriwayatkan hadits dari Abu Al-Atuf; yaitu: bahwa Allah tidak akan dilihat di akhirat? Maka ia berkata: Allah melaknat orang yang meriwayatkan hadits ini hari ini, kemudian ia berkata: Allah menghinakan orang ini.
“Masail Abu Dawud” (1702)
Ibnu Hani berkata: Aku mendengar Abu Abdullah berkata: Barangsiapa tidak beriman dengan ru’yah maka ia adalah Jahmiyyah, dan Jahmiyyah adalah kafir.
“Masail Ibnu Hani” (1850)
Ibnu Hani berkata: Ia berkata: Dan sesungguhnya Allah Azza wa Jalla akan dilihat di akhirat? Ia berkata: Ya.
“Masail Ibnu Hani” (1878)
Abdullah berkata: Aku melihat ayahku rahimahullah menshahihkan hadits-hadits yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang ru’yah, dan beliau berpendapat dengannya, dan ayahku rahimahullah mengumpulkannya dalam sebuah kitab dan meriwayatkannya kepada kami.
Dan ia berkata: Ayahku rahimahullah meriwayatkan kepadaku, Waki’ meriwayatkan kepada kami, Ismail bin Abi Khalid meriwayatkan kepada kami, dari Qais bin Abi Hazim, dari Jarir bin Abdullah rahimahullah, ia berkata: Kami sedang duduk di sisi Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau melihat bulan pada malam purnama, maka beliau bersabda: “Ketahuilah bahwa kalian akan dihadapkan kepada Rabb kalian Azza wa Jalla, maka kalian akan melihatnya sebagaimana kalian melihat bulan ini, kalian tidak akan berdesak-desakan dalam melihatnya. Maka jika kalian mampu untuk tidak dikalahkan dalam shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah.” Ia berkata: Kemudian beliau membaca: “Dan bertasbihlah dengan memuji Rabbmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya” (Surah Thaha: 130).
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/229-230 (411-412)
Abdullah berkata: Ayahku meriwayatkan kepadaku, Muhammad bin Ja’far meriwayatkan kepada kami, Syu’bah meriwayatkan kepada kami, dari Ismail, ia berkata: Aku mendengar Qais bin Abi Hazim meriwayatkan dari Jarir bin Abdullah Al-Bajali radhiyallahu anhu, ia berkata: Kami berada di sisi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada malam purnama, maka beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian Azza wa Jalla sebagaimana kalian melihat bulan, kalian tidak akan berdesak-desakan dalam melihatnya. Maka jika kalian mampu untuk tidak dikalahkan pada dua shalat ini sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya” lalu beliau menyebutkan hadits tersebut.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/232 (421)
Abdullah berkata: Ayahku rahimahullah meriwayatkan kepadaku, Yahya bin Adam meriwayatkan kepada kami, Abu Bakar bin Ayyasy meriwayatkan kepada kami, dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian Azza wa Jalla”. Maka mereka berkata: Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami Azza wa Jalla? Ia berkata: Beliau bersabda: “Apakah kalian berdesak-desakan dalam melihat matahari di tengah siang?” Mereka berkata: Tidak. Beliau bersabda: “Apakah kalian berdesak-desakan dalam melihat bulan pada malam purnama?”
Mereka berkata: Tidak. Beliau bersabda: “Maka kalian tidak akan berdesak-desakan dalam melihatnya kecuali sebagaimana kalian berdesak-desakan dalam melihat yang demikian itu”. Ia berkata: Al-A’masy berkata: Tadharrun artinya: kalian berbantah-bantahan.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/236 (427)
Abdullah berkata: Dan ayahku rahimahullah meriwayatkan kepada kami, Sulaiman bin Dawud Al-Hasyimi meriwayatkan kepada kami, Ibrahim bin Sa’d meriwayatkan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Atha’ bin Yazid Al-Laitsi bahwa Abu Hurairah radhiyallahu anhu mengabarkan kepadanya.
Dan ia berkata: Dan ayahku rahimahullah dan Abu Kamil meriwayatkan kepada kami, keduanya berkata: Ibrahim bin Sa’d meriwayatkan kepada kami, Ibnu Syihab meriwayatkan kepada kami, dari Atha’ bin Yazid Al-Laitsi, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa orang-orang berkata kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat? Dan ia berkata: Dan ayahku meriwayatkan kepadaku, Abdurrazzaq meriwayatkan kepada kami, Ma’mar meriwayatkan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Atha’ bin Yazid Al-Laitsi, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Orang-orang berkata: Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat?
Dan ia berkata: Dan ayahku rahimahullah meriwayatkan kepadaku, Abdurrazzaq meriwayatkan kepada kami sekali lagi, Ma’mar meriwayatkan kepada kami, dari Az-Zuhri tentang firman Allah Azza wa Jalla: “Setiap umat dipanggil kepada kitabnya” (Surah Al-Jatsiyah: 28), dari Atha’ bin Yazid Al-Laitsi, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Orang-orang berkata: Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami Azza wa Jalla pada hari kiamat? Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apakah kalian berdesak-desakan dalam melihat matahari yang tidak ada awan di bawahnya?” Mereka berkata: Tidak wahai Rasulullah. Beliau bersabda: “Apakah kalian berdesak-desakan dalam melihat bulan pada malam purnama yang tidak ada awan di bawahnya?” Mereka berkata: Tidak wahai Rasulullah. Beliau bersabda: “Maka kalian akan melihatnya pada hari kiamat seperti itu. Allah mengumpulkan manusia, lalu berfirman: Barangsiapa menyembah sesuatu hendaklah ia mengikutinya. Maka akan mengikuti orang yang menyembah bulan kepada bulan, dan orang yang menyembah matahari kepada matahari, dan akan mengikuti orang yang menyembah thagut kepada thagut, dan tersisalah umat ini dan di dalamnya terdapat orang-orang munafik mereka. Maka Allah mendatangi mereka dalam bentuk yang bukan bentuknya yang biasa mereka kenal, lalu Dia berfirman: Aku adalah Rabb kalian. Maka mereka berkata: Kami berlindung kepada Allah darimu, ini adalah tempat kami sampai Rabb kami datang kepada kami, jika Rabb kami datang, kami akan mengenal-Nya” -ia berkata-: “Maka Allah mendatangi mereka dalam bentuk yang mereka kenal, lalu Dia berfirman: Aku adalah Rabb kalian. Maka mereka berkata: Engkau adalah Rabb kami, lalu mereka mengikuti-Nya. Ia berkata: Maka direntangkan jembatan di atas jahannam”. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Maka aku adalah orang pertama yang menyeberanginya, dan doa para rasul pada hari itu: Ya Allah selamatkanlah, ya Allah selamatkanlah. Dan di sana ada pengait-pengait seperti duri Sa’dan?! Pernahkah kalian melihat duri Sa’dan?! Namun tidak ada yang mengetahui ukuran besarnya kecuali Allah, ia menyambar manusia sesuai amal mereka” lalu beliau menyebutkan hadits panjang tersebut sampai akhirnya.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/237-239 (431-434)
Abdullah berkata: Dan ayahku meriwayatkan kepadaku, Haitsam bin Kharijah meriwayatkan kepada kami, Hafsh bin Maisarah dan Qutaibah meriwayatkan kepada kami, keduanya berkata: Abdul Aziz meriwayatkan kepada kami, dari Al-Ala’, dari ayahnya, dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Allah mengumpulkan manusia pada hari kiamat di satu dataran, kemudian Rabb semesta alam menampakkan diri kepada mereka, kemudian Dia berfirman: Tidakkah setiap umat mengikuti apa yang mereka sembah…” lalu beliau menyebutkan hadits tersebut. Maka mereka berkata: Apakah kami akan melihatnya wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Apakah kalian berdesak-desakan dalam melihat bulan pada malam purnama?” Mereka berkata: Tidak. Beliau bersabda: “Maka kalian tidak akan berdesak-desakan melihatnya pada saat itu, kemudian Dia menghilang, kemudian Dia menampakkan diri dan memperkenalkan diri-Nya kepada mereka, kemudian Dia berfirman: Aku adalah Rabb kalian, ikutilah Aku. Maka orang-orang muslim bangkit dan jembatan shirath dipasang, maka mereka melewatinya seperti kuda-kuda balap dan kendaraan, dan ucapan mereka di atasnya: Selamat selamat…” lalu beliau menyebutkan hadits panjang tersebut sampai akhirnya.
Dan ia berkata: Ayahku rahimahullah meriwayatkan kepadaku, Ismail bin Ibrahim meriwayatkan kepada kami, Hisyam Ad-Dustuwaiy meriwayatkan kepada kami, dari Qatadah, dari Shafwan bin Muhriz, ia berkata: Seorang laki-laki berkata kepada Ibnu Umar radhiyallahu anhu: Bagaimana engkau mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda tentang najwa (pembicaraan rahasia)? Ia berkata: Aku mendengar beliau bersabda: “Orang mukmin didekatkan pada hari kiamat kepada Rabbnya Azza wa Jalla sehingga Dia meletakkan perlindungan-Nya atasnya, lalu Dia meminta pengakuannya tentang dosa-dosanya, Dia berfirman: Apakah engkau mengenalnya? Maka ia berkata: Rabb, aku mengenalnya. Ia berkata: Maka Dia berfirman: Sesungguhnya Aku menutupinya atasmu di dunia dan sesungguhnya Aku mengampuninya untukmu hari ini, maka ia diberi lembaran kebaikan-kebaikannya. Adapun orang-orang kafir dan munafik maka akan diseru atas mereka di hadapan para saksi: Inilah orang-orang yang berdusta atas Rabb mereka”.
Dan ia berkata: Ayahku rahimahullah meriwayatkan kepadaku, Abu Mu’awiyah, Ibnu Numair, dan Waki’ meriwayatkan kepada kami dengan makna yang sama, mereka berkata: Al-A’masy meriwayatkan kepada kami, dari Khaitsamah, dari Adi bin Hatim, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang laki-laki di antara kalian melainkan Allah Azza wa Jalla akan berbicara dengannya pada hari kiamat tanpa ada penerjemah antara dia dan-Nya, kemudian ia melihat ke sebelah kanannya maka tidak melihat kecuali sesuatu yang telah ia dahulukan, kemudian ia melihat ke sebelah kirinya maka tidak melihat kecuali sesuatu yang telah ia dahulukan, kemudian ia melihat ke depan wajahnya maka api neraka menghadangnya”. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Maka barangsiapa di antara kalian yang mampu melindungi wajahnya dari api neraka walau dengan sebiji kurma, maka hendaklah ia melakukannya”.
Dan Waki’ berkata: Tidaklah seorang pun di antara kalian melainkan Allah Azza wa Jalla akan berbicara dengannya.
Abdullah berkata: Ayahku rahimahullah meriwayatkan kepadaku, Abdurrahman bin Mahdi meriwayatkan kepada kami, Hammad bin Salamah meriwayatkan kepada kami, dari Abdurrahman bin Abi Laila, dari Shuhaib radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Apabila penduduk surga masuk surga dan penduduk neraka masuk neraka…” lalu beliau menyebutkan hadits tersebut “Maka hijab disingkap dan Allah Azza wa Jalla menampakkan diri kepada mereka, maka tidaklah Allah Azza wa Jalla memberi mereka sesuatu yang lebih mereka cintai daripada melihat kepada-Nya”.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/244 (446)
Abdullah berkata: Ayahku rahimahullah meriwayatkan kepadaku, Yazid bin Harun meriwayatkan kepada kami, Hammad bin Salamah meriwayatkan kepada kami, dari Ya’la bin Atha’, dari Waki’ bin Hudus, dari pamannya Abu Razin Al-Uqaili radhiyallahu anhu, ia berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah, apakah kita semua akan melihat Allah pada hari kiamat? Dan apakah tanda hal itu dalam ciptaan-Nya? Beliau bersabda: “Wahai Abu Razin, bukankah kalian semua melihat bulan dengan sendirian dengannya?” Ia berkata: Aku berkata: Ya. Beliau bersabda: “Maka Allah Azza wa Jalla lebih agung”.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/246 (451)
Abdullah berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, Bahz bin Asad dan Hasan bin Musa Al-Asyib menceritakan kepada kami, mereka berkata: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, Ya’la bin Atha menceritakan kepada kami, dari Waki’ bin Hudus, dari pamannya Abu Razin Al-Uqaili, bahwasanya ia berkata: Wahai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, apakah kita semua akan melihat Tuhan kita azza wa jalla pada hari kiamat? Dan apa tandanya dalam ciptaan-Nya? Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Bukankah kalian semua melihat bulan dalam kesendirian dengannya?” Ia berkata: Benar. Beliau bersabda, “Maka Allah azza wa jalla lebih besar.”
Dan ia berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, Abdurrahman bin Mahdi dan Bahz menceritakan kepada kami, mereka berkata: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Ya’la bin Atha, dari Waki’ bin Hudus, dari pamannya Abu Razin -Bahz berkata dalam haditsnya: Al-Uqaili- ia berkata: Aku bertanya, Wahai Rasulullah, bagaimana kami akan melihat Tuhan kami azza wa jalla? Dan Bahz berkata dalam haditsnya: Apakah kita semua akan melihat Tuhan kita azza wa jalla pada hari kiamat, dan apa tandanya dalam ciptaan-Nya? Maka beliau bersabda, “Bukankah kalian semua melihat bulan dalam kesendirian dengannya?” Ia berkata: Aku menjawab: Benar. Beliau bersabda, “Maka Allah azza wa jalla lebih besar.”
As-Sunnah karya Abdullah 9/247 (454-455)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Rauh bin Ubadah menceritakan kepada kami, Ibnu Juraij menceritakan kepada kami, Abu Az-Zubair mengabarkan kepadaku; bahwasanya ia mendengar Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhu ditanya tentang wurud (melintasi), maka ia berkata: Kami akan dikumpulkan pada hari kiamat atas begini dan begitu, lihatlah yang mana di antara itu di atas manusia? Ia berkata: Maka umat-umat akan dipanggil dengan berhala-berhala mereka, dan apa yang mereka sembah, yang pertama lalu yang pertama, kemudian Tuhan kami azza wa jalla datang kepada kami setelah itu, lalu Dia berfirman: Siapa yang kalian tunggu? Mereka menjawab: Kami menunggu Tuhan kami azza wa jalla. Maka Dia berfirman: Akulah Tuhan kalian. Mereka berkata: Sampai kami melihat kepada-Mu, maka Dia tabaraka wa ta’ala menampakkan diri kepada mereka sambil tertawa, ia berkata: Maka Dia pergi bersama mereka dan mereka mengikuti-Nya, dan setiap orang dari mereka diberi -baik munafik maupun mukmin- cahaya, kemudian mereka mengikuti-Nya, dan di atas jembatan Jahannam ada kait-kait dan duri-duri yang mengambil siapa yang dikehendaki Allah, kemudian cahaya orang-orang munafik dipadamkan, lalu orang-orang mukmin selamat, maka rombongan pertama selamat dengan wajah-wajah mereka seperti bulan purnama, tujuh puluh ribu tidak dihisab, kemudian yang mengikuti mereka seperti bintang paling terang di langit, kemudian demikian, kemudian syafaat berlaku hingga dikeluarkan dari neraka orang yang berkata: Tiada tuhan selain Allah dan ada di dalam hatinya dari kebaikan seberat biji gandum, lalu mereka ditempatkan di halaman surga, dan penghuni surga menyiramkan air kepada mereka hingga mereka tumbuh seperti tumbuhnya sesuatu di banjir, kemudian ia meminta hingga dijadikan baginya dunia dan sepuluh kali lipat bersamanya.
As-Sunnah karya Abdullah 1/248-249 (457)
Abdullah berkata: Dan ayahku azza wa jalla menceritakan kepadaku, Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, Abdul Malik bin Abjar menceritakan kepada kami, dari Tsuwair bin Abi Fakhitah, dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya penghuni surga yang paling rendah kedudukannya adalah orang yang melihat ke dalam kerajaannya dua ribu tahun, ia melihat yang paling jauh darinya sebagaimana ia melihat yang paling dekat, ia melihat kepada istri-istrinya, dan tempat tidurnya, dan pembantunya, dan sesungguhnya yang paling utama kedudukan mereka adalah orang yang melihat kepada wajah Allah azza wa jalla dua kali sehari.”
Dan ia berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, Husain bin Muhammad menceritakan kepada kami, Isra’il menceritakan kepada kami, dari Tsuwair, dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu ia marfu’kan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya penghuni surga yang paling rendah kedudukannya adalah yang melihat kepada surganya dan kenikmatan, pembantunya dan tempat tidurnya dari jarak seribu tahun, dan sesungguhnya yang paling mulia kepada Allah azza wa jalla adalah yang melihat kepada wajah-Nya pagi dan sore.” Kemudian membaca ayat ini: Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya mereka melihat. (Surat Al-Qiyamah ayat 22-23).
As-Sunnah karya Abdullah 1/251-252 (461-462)
Atsar Sahabat dan Tabi’in tentang Rukyatullah
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Sufyan bin Uyainah menceritakan kepada kami, dari Amr, dari Yahya bin Ja’dah berkata: Dahulu -maksudnya Ammar- berkata: Aku memohon kepada-Mu rasa takut kepada-Mu dalam ghaib dan nyata, dan kenikmatan melihat kepada wajah-Mu.
As-Sunnah karya Abdullah 1/255 (468), 2/509 (1188)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Isra’il menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Amir bin Sa’d Al-Bajali, dari Abu Bakar radhiyallahu anhu tentang ayat: Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada balasan yang terbaik dan tambahannya (Surat Yunus ayat 26), ia berkata: Tambahannya adalah: Melihat kepada wajah Allah ta’ala.
As-Sunnah karya Abdullah 1/257 (471).
Dan ia berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Amir bin Sa’d tentang ayat ini: Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada balasan yang terbaik dan tambahannya, ia berkata: Tambahannya adalah: Melihat kepada wajah Ar-Rahman azza wa jalla.
As-Sunnah karya Abdullah 1/257 (472), 2/497 (1145)
Dan ia berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Isra’il menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Muslim bin Nadzir As-Sa’di, dari Hudzaifah radhiyallahu anhu tentang ayat: Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada balasan yang terbaik dan tambahannya, ia berkata: Melihat kepada wajah Allah azza wa jalla.
As-Sunnah karya Abdullah 1/258
Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Syarik, dari Hilal bin Humaid, dari Abdullah bin Ukaim, ia berkata: Aku mendengar Abdullah memulai dengan sumpah sebelum berbicara: Tidaklah ada di antara kalian kecuali akan bersepi-sepi dengannya Tuhan kalian azza wa jalla sebagaimana bersepi-sepi dengan bulan di malam purnama, lalu Dia berfirman: Wahai anak Adam, apa yang menggiringmu kepada-Ku? Wahai anak Adam, apa yang menggiringmu kepada-Ku? Apa yang kamu jawab terhadap para rasul? Apa yang kamu kerjakan dalam apa yang kamu ketahui?
As-Sunnah karya Abdullah 1/258 (474) 2/498 (1150)
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Hasyim bin Al-Qasim dan Husain bin Muhammad menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Ibnu Al-Mubarak menceritakan kepada kami, dari Al-Hasan tentang firman Allah azza wa jalla: Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya mereka melihat (Surat Al-Qiyamah ayat 22-23), ia berkata: Yang berseri-seri adalah: yang baik, Allah memperindahnya dengan melihat kepada Tuhan mereka azza wa jalla, dan berhak baginya untuk berseri-seri sedangkan ia melihat kepada Tuhan mereka jalla jalaluhu.
As-Sunnah karya Abdullah 1/261 (479), 2/497 (1146)
Abdullah berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, Isma’il menceritakan kepada kami, dari Abu Shalih tentang firman-Nya: Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, ia berkata: Baik, Kepada Tuhannya mereka melihat.
As-Sunnah karya Abdullah 1/262 (482), 2/456 (1031)
Abdullah berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, Husyaim mengabarkan kepada kami, Isma’il bin Salim mengabarkan kepada kami, dari Abu Shalih tentang firman Allah azza wa jalla: Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, ia berkata: Bercahaya dengan apa yang ada padanya dari nikmat, Kepada Tuhannya mereka melihat.
As-Sunnah karya Abdullah 1/262 (483), 2/456 (1029)
Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Khalaf bin Al-Walid menceritakan kepada kami, Al-Mubarak menceritakan kepada kami, dari Al-Hasan tentang firman-Nya: Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya mereka melihat, ia berkata: Yang berseri-seri adalah: yang baik, Allah memperindahnya dengan melihat kepada Tuhan mereka, dan berhak baginya untuk berseri-seri sedangkan ia melihat kepada Tuhan dan Maulanya.
As-Sunnah karya Abdullah 2/456 (1032)
Pernyataan Imam Ahmad bin Hanbal tentang Rukyatullah
Al-Fadhl bin Ziyad berkata: Aku mendengar Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal -dan sampai kepadanya dari seorang laki-laki- ia berkata: Sesungguhnya Allah ta’ala tidak akan terlihat di akhirat, maka ia marah dengan sangat keras, kemudian berkata: Barangsiapa berkata: Sesungguhnya Allah ta’ala tidak akan terlihat di akhirat maka ia telah kafir, atasnya laknat Allah dan murka-Nya, siapa pun dia dari manusia, bukankah Allah azza wa jalla berfirman: Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya mereka melihat (Surat Al-Qiyamah ayat 22-23)? Dan Allah ta’ala berfirman: Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari Tuhan mereka (Surat Al-Muthaffifin ayat 15). Dan ini dalil bahwa orang-orang mukmin melihat Allah ta’ala.
Asy-Syari’ah karya Al-Ajurri hal. 215 (529)
Hanbal berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Jahmiyyah berkata: Sesungguhnya Allah ta’ala tidak akan terlihat di akhirat. Dan Allah ta’ala berfirman: Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari Tuhan mereka (Surat Al-Muthaffifin ayat 15). Maka tidak mungkin ini kecuali bahwa Allah ta’ala terlihat, dan Dia berfirman: Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya mereka melihat (Surat Al-Qiyamah ayat 22-23). Maka ini adalah melihat kepada Allah ta’ala, dan hadits-hadits yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian” dengan riwayat-riwayat yang shahih, dan sanad-sanad yang tidak tertolak, dan Al-Qur’an menjadi saksi bahwa Allah ta’ala terlihat di akhirat.
Asy-Syari’ah hal. 215 (530)
Al-Marwadzi berkata: Abu Abdillah berkata: Dan kami beriman dengan hadits-hadits tentang ini dan kami menerimanya, dan kami jalankan sebagaimana datangnya tanpa tanya bagaimana, dan tanpa makna, kecuali atas apa yang Dia sifatkan bagi diri-Nya sendiri ta’ala.
Al-Ibanah Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah 3/58 (50)
Al-Atsram berkata: Dan aku mendengar Abu Abdillah berkata: Barangsiapa berkata: Sesungguhnya Allah tidak terlihat di akhirat, maka ia adalah Jahmi, ia berkata: Dan sesungguhnya yang berbicara dari yang berbicara adalah tentang melihat di dunia.
Al-Ibanah Kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah 3/59 (51)
Al-Lalika’i berkata: Abdullah bin Muhammad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Utsman bin Ahmad mengabarkan kepada kami, ia berkata Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang rukyah (melihat), ia berkata: Hadits-hadits yang shahih, kami beriman dengannya dan kami menerima, dan semua yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan sanad-sanad yang baik kami beriman dengannya dan kami menerima.
Syarh Ushul Al-I’tiqad 3/562 (889)
Al-Marwadzi berkata: Aku mendengar Al-Qawariri berkata: Aku melihat Ahmad bin Hanbal dalam mimpi lalu ia berkata: Orang-orang mukmin menunggu untuk melihat Tuhan mereka, adapun orang-orang kafir maka tidak boleh mereka melihat Allah ta’ala.
Ibthal At-Ta’wilat 2/290
Al-Istakhri berkata: Abu Abdillah berkata: Dan penghuni surga melihat kepada wajah-Nya, mereka melihat-Nya lalu Dia memuliakan mereka, dan Dia menampakkan diri kepada mereka lalu Dia memberi mereka.
Thabaqat Al-Hanabilah 1/62
Al-Marwadzi berkata: Aku mendengar Ahmad berkata: Barangsiapa mengklaim bahwa Allah tidak terlihat di akhirat maka ia kafir.
Thabaqat Al-Hanabilah 1/143
Ibrahim bin Ziyad Ash-Sha’igh berkata: Imam Ahmad berkata: Barangsiapa mendustakan rukyah maka ia zindiq.
Thabaqat Al-Hanabilah 1/244
Hanbal berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Barangsiapa mengklaim bahwa Allah tidak terlihat di akhirat maka ia telah kafir kepada Allah dan mendustakan Al-Qur’an dan menolak perintah Allah, ia diminta bertaubat, jika ia bertaubat jika tidak dibunuh, dan Allah ta’ala tidak terlihat di dunia, dan terlihat di akhirat.
Thabaqat Al-Hanabilah 1/387
Ibnu As-Sumaid’a berkata: Aku bertanya Abu Abdillah tentang orang yang membatalkan rukyah dan berkata: Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala tidak terlihat pada hari kiamat. Maka ia berkata: Ini dari Jahmiyyah, barangsiapa mengklaim bahwa Allah tidak terlihat pada hari kiamat maka ia telah membatalkan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Thabaqat Al-Hanabilah 1/461
Abdus bin Malik berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Dan beriman dengan rukyah pada hari kiamat, sebagaimana diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam hadits-hadits yang shahih, dan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam telah melihat Tuhannya, maka sesungguhnya itu diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam secara shahih. Telah meriwayatkannya Qatadah, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dan meriwayatkannya Al-Hakam bin Aban, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dan meriwayatkannya Ali bin Zaid, dari Yusuf bin Mihran, dari Ibnu Abbas, dan hadits menurut kami atas zhahirnya, sebagaimana datang dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan berbicara di dalamnya adalah bid’ah, tetapi kami beriman dengannya sebagaimana datang atas zhahirnya, dan kami tidak berdebat dengannya kepada siapa pun.
Thabaqat Al-Hanabilah 2/168
Muhammad bin Humaid Al-Andarabi berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata: Dan beriman bahwa penghuni surga melihat Tuhan mereka tabaraka wa ta’ala.
Thabaqat Al-Hanabilah 2/294
Muhammad bin Auf Ath-Tha’i berkata: Ahmad bin Hanbal mendiktekan kepadaku: Dan bahwa penghuni surga melihat Allah dengan terang.
Thabaqat Al-Hanabilah 2/341
Dari Musaddad bin Musarhad: Abu Abdillah menulis kepadanya: Dan bahwa penghuni surga melihat Tuhan mereka tanpa diragukan lagi.
Thabaqat Al-Hanabilah 2/430
Al-Khallal berkata: Al-Marwadzi mengabarkan kepada kami ia berkata: Dikatakan kepada Abu Abdillah: Apakah engkau mengetahui dari Yazid bin Harun, dari Abu Al-Atthuf, dari Abu Az-Zubair, dari Jabir: Jika tempat itu tetap maka kamu melihat-Ku, dan jika tidak tetap maka kamu tidak melihat-Ku di dunia dan tidak di akhirat? Maka Abu Abdillah marah dengan sangat keras, hingga terlihat di wajahnya, ia sedang duduk dan orang-orang di sekelilingnya, lalu ia mengambil sandalnya dan memakainya, dan berkata: Semoga Allah menghinakan ini! Tidak pantas ini ditulis, dan ia menolak bahwa Yazid bin Harun meriwayatkannya, atau menceritakannya, dan berkata: Ini Jahmi, ini kafir, semoga Allah menghinakan orang fasik ini, barangsiapa berkata: Sesungguhnya Allah tidak terlihat di akhirat, maka ia kafir.
Dan Mahna berkata: Aku bertanya Ahmad tentang Abu Al-Atthuf? Maka ia berkata: Jazari, matruk haditsnya.
Al-Muntakhab min ‘Ilal Al-Khallal karya Ibnu Qudamah (173)
Al-Khallal dalam Kitab As-Sunnah berkata: Hanbal mengabarkan kepada kami ia berkata: Dan aku mendengar Abu Abdillah berkata: Kaum itu kembali kepada ta’thil (penafian sifat) dalam perkataan mereka, mereka mengingkari rukyah.
Ia berkata: Dan aku mendengar Abu Abdillah berkata: Jahmiyyah berkata: Sesungguhnya Allah tidak terlihat di akhirat. Dan kami berkata: Sesungguhnya Allah terlihat; karena firman Allah ta’ala: Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya mereka melihat (Surat Al-Qiyamah ayat 22-23), dan Allah ta’ala berfirman kepada Musa: Maka jika bukit itu tetap di tempatnya maka kamu akan dapat melihat-Ku (Surat Al-A’raf ayat 143), maka Allah ta’ala mengabarkan bahwa Dia terlihat, dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kalian melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini.” Diriwayatkan oleh Jarir dan yang lainnya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan beliau bersabda: “Setiap kalian akan bersepi dengan Tuhan kalian”, dan “Sesungguhnya Allah meletakkan perlindungan-Nya atas hamba-Nya, lalu Dia bertanya kepadanya apa yang kamu kerjakan.”
Ini adalah hadits-hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan secara shahih dari Allah ta’ala bahwa Dia terlihat di akhirat, hadits-hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang tidak tertolak, dan Al-Qur’an menjadi saksi bahwa Allah terlihat pada hari kiamat, dan perkataan Ibrahim kepada ayahnya: Wahai ayahku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar dan tidak melihat (Surat Maryam ayat 42), maka tetaplah bahwa Allah mendengar dan melihat, dan Allah ta’ala berfirman: Dia mengetahui yang rahasia dan yang lebih tersembunyi (Surat Thaha ayat 7). Dan Dia berfirman: Sesungguhnya Aku bersama kalian berdua, Aku mendengar dan melihat (Surat Thaha ayat 46), dan Abu Abdillah berkata: Maka barangsiapa menolak Kitab Allah dan menolaknya, dan berita-berita dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan membuat-buat pendapat dari dirinya sendiri, dan mentakwilkan pendapatnya, maka ia telah rugi dengan kerugian yang nyata.
Dan Hanbal berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Barangsiapa berkata: Sesungguhnya Allah tidak terlihat di akhirat, maka ia telah kafir, dan mendustakan Al-Qur’an, dan menolak perintah Allah, ia diminta bertaubat, jika ia bertaubat jika tidak dibunuh.
Dan diriwayatkan dari Ya’qub bin Bukhtan bahwasanya ia mendengar Abu Abdillah berkata: Kecintaan mereka menjadi kekufuran yang jelas, mereka berkata: Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala tidak terlihat di akhirat, dan aku mendengarnya berkata: Kekufuran mereka bermacam-macam.
Bayan Talbis Al-Jahmiyyah 2/395-399
Hanbal berkata: Saya mendengar Abu Abdillah (Imam Ahmad) berkata: Tidak ada seorang pun yang lebih keras dalam meriwayatkan hadits terhadap ahli bid’ah dan penyimpangan selain Hammad bin Salamah, dan tidak ada yang lebih banyak meriwayatkan hadits-hadits tentang melihat Allah dan dalam membantah Qadariyah dan Muktazilah daripada dia. Hanbal berkata: Saya mendengar Abu Abdillah berkata: Kaum itu (Muktazilah) kembali kepada pengingkaran sifat Allah dalam seluruh perkataan mereka, mereka mengingkari hadits-hadits, dan saya tidak menyangka mereka seperti ini sampai saya mendengar perkataan mereka.
“Bayan Talbis al-Jahmiyyah” 3/714.
Abu Bakar al-Khallal berkata dalam kitab “as-Sunnah”: Yusuf bin Musa mengabarkan kepadaku bahwa Abu Abdillah ditanya: Ahli surga melihat Rabb mereka Yang Maha Mulia lagi Maha Agung dan berbicara kepada-Nya dan Dia berbicara kepada mereka? Dia menjawab: Ya, Dia melihat dan mereka melihat kepada-Nya, Dia berbicara kepada mereka dan mereka berbicara kepada-Nya, bagaimana Dia kehendaki dan kapan Dia kehendaki.
“Dar’u Ta’arudh al-Aql wan-Naql” karya Ibnu Taimiyyah 2/29
Hanbal berkata: Saya mendengar Abu Abdillah berkata: Sesungguhnya Allah tidak dilihat di dunia dan dilihat di akhirat, hal ini tetap dalam al-Quran, dalam Sunnah, dan dari para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Tabikin.
“Talbis al-Jahmiyyah” 7/127, “Bughyah al-Murtad” hal. 470
Fadhl bin Ziyad berkata: Saya mendengar Abu Abdillah ditanya: Apakah engkau berkata dengan (meyakini) melihat Allah? Maka dia menjawab: Barangsiapa tidak berkata dengan (meyakini) melihat Allah maka dia adalah Jahmiyyah.
“Hadi al-Arwah” hal. 469
Abu Thalib berkata: Abu Abdillah berkata: Firman Allah Ta’ala: “Tidaklah mereka menunggu kecuali datangnya Allah dalam naungan awan dan para malaikat” (Surat al-Baqarah: 210) “Dan datanglah Rabbmu dan para malaikat berbaris-baris” (Surat al-Fajr: 22) Maka barangsiapa berkata: Sesungguhnya Allah tidak dilihat, maka sungguh dia telah kafir.
“Hadi al-Arwah” karya Ibnu Qayyim hal. 470
Hanbal berkata: Abu Abdillah berkata: Kami mendapati manusia dan mereka tidak mengingkari hadits-hadits ini -hadits-hadits tentang melihat Allah- dan mereka meriwayatkannya secara keseluruhan, melewatkannya apa adanya tanpa mengingkarinya dan tanpa meragukan hal itu.
“Hadi al-Arwah” hal. 471
79 – Bab: Apakah Nabi shallallahu alaihi wasallam Melihat Rabbnya di Dunia?
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Aswad bin Amir menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku melihat Rabbku Yang Maha Mulia lagi Maha Agung”.
“as-Sunnah” karya Abdullah 2/484 (1116).
Dan dia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Affan menceritakan kepada kami, Abdul Shamad bin Kaisan menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku melihat Rabbku Yang Maha Mulia lagi Maha Agung”.
“as-Sunnah” karya Abdullah 2/484 (1117), 2/503 (1167).
Abdullah berkata: Aku membaca di hadapan ayahku: Abu Qurrah az-Zubaidi Musa bin Thariq -seorang qadhi bagi mereka di Yaman- menceritakan kepada kami, dan Ibnu Juraij disebutkan, Athaa mengabarkan kepadaku bahwa dia mendengar Ibnu Abbas berkata: Muhammad shallallahu alaihi wasallam melihat Rabbnya Yang Maha Mulia lagi Maha Agung dua kali.
“as-Sunnah” karya Abdullah 2/495 (1138)
Al-Marrudzi berkata: Aku berkata kepada Abu Abdillah: Sesungguhnya sekelompok orang berkata: Sesungguhnya Aisyah berkata: Barangsiapa mengklaim bahwa Muhammad melihat Rabbnya maka sungguh dia telah membuat kebohongan yang besar. Dengan apa engkau menolak perkataan Aisyah? Dia menjawab: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku melihat Rabbku” dan perkataan Nabi shallallahu alaihi wasallam lebih besar daripada perkataannya. Dan dikatakan kepadanya: Sesungguhnya seseorang berkata: Aku berkata: Sesungguhnya Allah dilihat di akhirat, dan aku tidak berkata: Sesungguhnya Muhammad melihat Rabbnya di dunia, maka dia berkata: Ini orang yang pantas dijauhi, apa urusannya dalam masalah ini?! Terima khabar (hadits) sebagaimana datangnya.
“Ibthal at-Ta’wilat” 1/110
Hanbal berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah: Nabi shallallahu alaihi wasallam melihat Rabbnya? Dia berkata: Mimpi dalam tidur, dia melihatnya dengan hatinya.
“Ibthal at-Ta’wilat” 1/111
Mihna berkata: Aku bertanya kepadanya -yaitu Ahmad- tentang hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Wahb, dari Amr bin al-Harits, dari Said bin Abi Hilal: Bahwa Marwan bin Utsman menceritakan kepadanya dari Ummu ath-Thufail -istri Ubay bin Kaab- bahwa dia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam menyebutkan bahwa dia melihat Rabbnya dalam mimpi dalam bentuk pemuda dengan rambut lebat, kedua kakinya berada dalam kehijauan, mengenakan dua sandal dari emas, di wajahnya terdapat hamparan dari emas. Maka dia memalingkan wajahnya dariku dan berkata: Ini hadits munkar, dan dia berkata: Kami tidak mengenal ini, laki-laki majhul -yaitu Marwan bin Utsman.
“Ibthal at-Ta’wilat” 1/140
Al-Atsram berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal tentang hadits Hammad bin Salamah, dari Qatadah, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Aku melihat Rabbku…” hadits. Maka Imam Ahmad bin Hanbal berkata: Ini hadits yang diriwayatkan oleh orang besar dari orang besar dari sahabat, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka barangsiapa meragukan hal itu, atau sesuatu darinya maka dia adalah Jahmiyyah, kesaksiannya tidak diterima, tidak diberi salam, dan tidak dijenguk ketika sakit.
“Ibthal at-Ta’wilat” 1/145
Al-Atsram berkata: Aku berkata kepada Abu Abdillah: Kepada apa engkau pergi?
Dia berkata: Al-A’masy berkata: dari Ziyad bin al-Hushain, dari Abu al-Aliyah, dari Ibnu Abbas berkata: Muhammad melihat Rabbnya dengan hatinya.
Dan al-Atsram berkata: Bahwa seseorang berkata kepada Ahmad: Hasan al-Asyib berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak melihat Rabbnya Ta’ala. Maka seseorang mengingkari hal itu, dan berkata: Mengapa tidak engkau berkata: Dia melihatnya, dan tidak engkau berkata: dengan kedua matanya atau dengan hatinya sebagaimana hadits datang?! Maka al-Asyib memandang baik, dan Abu Abdillah berkata: Baik.
“ar-Rawiyatain wal-Wajhain – Masail al-Aqidah” hal. 63
Abu Bakar al-Marrudzi berkata: Abdul Shamad bin Yahya ad-Dahqan menceritakan kepadaku, dia berkata: Aku mendengar Syadzan berkata: Aku mengutus kepada Abu Abdillah meminta izin kepadanya untuk meriwayatkan hadits Qatadah, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas: “Aku melihat Rabbku”, maka dia berkata: Riwayatkanlah, karena para ulama telah meriwayatkannya.
“ar-Rawiyatain wal-Wajhain – Masail al-Aqidah” hal. 68
Al-Marrudzi berkata: Aku berkata kepada Abu Abdillah: Sesungguhnya mereka berkata: Tidak ada yang meriwayatkannya kecuali Syadzan.
Maka dia marah, dan berkata: Siapa yang berkata ini?! Kemudian dia berkata: Affan mengabarkan kepadaku, Abdul Shamad bin Kaisan menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dia bersabda: “Aku melihat Rabbku Yang Maha Mulia lagi Maha Agung”.
Al-Marrudzi berkata: Maka aku berkata: Wahai Abu Abdillah, sesungguhnya mereka berkata: Qatadah tidak meriwayatkan dari Ikrimah sesuatu pun, maka dia berkata: Siapa yang berkata ini? Dia mengeluarkan lima atau enam hadits atau tujuh dari Qatadah dari Ikrimah.
“Thabaqat al-Hanabilah” 3/81-82
Hanbal meriwayatkan dari Imam Ahmad sebagaimana diriwayatkan darinya oleh al-Khallal, dia berkata: Aku berkata kepada Abu Abdillah: Nabi shallallahu alaihi wasallam melihat Rabbnya? Dia berkata: Mimpi dalam tidur, dia melihatnya dengan hatinya.
Al-Khallal meriwayatkan dari Jafar bin Muhammad, Abu Abdillah menceritakan kepadaku, dia berkata: Aku membaca di hadapan Abu Qurrah az-Zubaidi dari Ibnu Juraij. Athaa mengabarkan kepadaku bahwa dia mendengar Ibnu Abbas berkata: Muhammad shallallahu alaihi wasallam melihat Rabbnya dengan hatinya dua kali. Aku berkata: Wahai Abu Abdillah, Aisyah berkata: Dia tidak melihatnya, dan aku mengira aku berkata kepadanya: Dan Abu Dzar, dia berkata: Mereka telah berselisih tentang melihat di dunia dan tidak berselisih tentang melihat di akhirat kecuali Jahmiyyah ini.
Aku berkata: Apakah engkau mencela orang yang mengkafirkan mereka? Dia berkata: Tidak.
Aku berkata: Maka apakah mereka kafir? Dia berkata: Ya.
“Bayan Talbis al-Jahmiyyah” 7/169-170
Al-Khallal meriwayatkan dari Hubaisyi bin Sindi bahwa Abu Abdillah ditanya tentang: hadits Ibnu Abbas bahwa Muhammad shallallahu alaihi wasallam melihat Rabbnya, maka dia berkata: Sebagian mereka berkata: dengan hatinya.
Maka dikatakan kepadanya: Mana yang lebih kuat menurutmu? Maka dia berkata: Tentang melihat di dunia mereka telah berselisih di dalamnya, adapun tentang melihat di akhirat maka tidak berselisih di dalamnya kecuali Jahmiyyah ini.
Dikatakan kepadanya: Apakah engkau mencela orang yang mengkafirkan mereka? Dia berkata: Tidak.
Dikatakan: Maka apakah mereka kafir? Dia berkata: Ya.
“Bayan Talbis al-Jahmiyyah” 7/171.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marrudzi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku membaca di hadapan Abu Abdillah, dia berkata: Aku membaca di hadapan Abu Qurrah az-Zubaidi, dari Ibnu Juraij dia berkata: Athaa mengabarkan kepadaku bahwa dia mendengar Ibnu Abbas berkata: Muhammad shallallahu alaihi wasallam melihat Rabbnya dua kali.
“Bayan Talbis al-Jahmiyyah” 7/172.
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi mengabarkan kepada kami, dari Abu Abdillah, dari Waki’, Abbad an-Naji menceritakan kepada kami, aku mendengar Ikrimah berkata: Ya. Muhammad shallallahu alaihi wasallam melihat Rabbnya sampai nafasnya terputus.
Al-Khallal berkata: Dan al-Marrudzi mengabarkan kepada kami, dari Abu Abdillah, dari Yazid bin Abbad dia berkata: Aku bertanya kepada al-Hasan dan Ikrimah tentang firman Allah Ta’ala “Demi bintang ketika terbenam” (Surat an-Najm: 1) mereka berdua berkata: Ketika ia tenggelam, lalu dia menyebutkan hadits “Kemudian dia mendekat, lalu turun” (Surat an-Najm: 8).
Al-Hasan berkata: (Dia adalah Rabbku) “Maka jadilah dia dekat sejarak dua busur panah atau lebih dekat” (Surat an-Najm: 9) maka aku berkata: Wahai Abu Said apakah dia menyaksikannya? Dia berkata: Ya. Maka dia membacanya sampai sampai pada “Sesungguhnya dia telah melihat sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar” (Surat an-Najm: 18) Maka al-Hasan ragu dan berkata: Dia melihat kebesaran Rabbnya dan dia melihat berbagai perkara, maka Ikrimah berkata: Apa yang engkau inginkan? Dia berkata: Aku ingin engkau jelaskan kepadaku, maka dia berkata: Sungguh dia melihatnya kemudian dia melihatnya lagi.
“Bayan Talbis al-Jahmiyyah” 7/173-174.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marrudzi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku membaca di hadapan Abu Abdillah: Ibrahim bin al-Hakam menceritakan kepadaku, ayahku dari Ikrimah berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Abbas: Apakah Muhammad shallallahu alaihi wasallam melihat Rabbnya? Dia berkata: Ya, dia melihatnya di bawahnya tabir dari mutiara.
Al-Marrudzi berkata: Aku membacakannya kepadanya secara lengkap maka dia membenarkannya.
“Bayan Talbis al-Jahmiyyah” 7/180.
Abu Bakar al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali al-Warraq mengabarkan kepada kami, dia berkata: Ibrahim bin Hani menceritakan kepada kami, Ahmad bin Isa menceritakan kepada kami dan Ahmad bin Hanbal berkata kepadanya: Riwayatkanlah kepada mereka di rumah pamannya, Abdullah bin Wahb menceritakan kepada kami, Amr bin al-Harits mengabarkan kepadaku dari Said bin Abi Hilal bahwa Marwan bin Utsman menceritakan kepadanya dari Amarah bin Amir dari Ummu ath-Thufail -istri Ubay bin Kaab- bahwa dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebutkan bahwa dia melihat Rabbnya dalam mimpi dalam bentuk pemuda dengan rambut lebat, kedua kakinya berada dalam kehijauan, mengenakan dua sandal dari emas, di wajahnya terdapat hamparan dari emas.
“Bayan Talbis al-Jahmiyyah” 7/191-192.
Al-Marrudzi berkata: Aku berkata kepada Abu Abdillah: Bagaimana dengan Syadzan?
Dia berkata: Tsiqah (terpercaya), dan dia menetapkannya, dan berkata: Dalam hal ini kami dicela karenanya? Aku berkata: Bukankah para ulama menerimanya dengan penerimaan? Dia berkata: Benar.
Aku berkata: Sesungguhnya mereka berkata bahwa Qatadah tidak mendengar dari Ikrimah? Dia berkata: Ini tidak tahu orang yang berkata ini, dan dia marah dan mengeluarkan kitabnya kepadaku yang di dalamnya ada hadits-hadits tentang apa yang Qatadah dengar dari Ikrimah, maka ternyata enam hadits, aku mendengar Ikrimah.
Abu Abdullah berkata: Telah berlalu orang yang menguasai hal ini, dan heran dengan perkataan orang yang berkata: Dia tidak mendengar, dan berkata: Maha Suci Allah, dia datang ke Bashrah lalu orang-orang berkumpul kepadanya, dan Yazid bin Hazim berkata: Hammad bin Zaid meriwayatkan bahwa Ikrimah bertanya tentang sesuatu mengenai tafsir lalu Qatadah menjawabnya.
“Bayan Talbis al-Jahmiyyah” 7/195-196.
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, ayahku bercerita kepadaku, Aswad bin Amir bercerita kepada kami, dia berkata: Hammad bin Salamah bercerita kepada kami, dari Qatadah, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku melihat Tuhanku dalam bentuk pemuda tanpa jenggot yang berambut ikal keriting di taman yang hijau.”
“Bayan Talbis al-Jahmiyyah” 7/197-198, 223-224.
Abu Bakar al-Athram menyebutkan dalam “Kitab al-Ilal”, dia berkata: Aku bertanya kepada Ahmad tentang hadits yang di dalamnya terdapat Abdurrahman bin Aisy yang meriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam “Aku melihat Tuhanku dalam bentuk yang paling baik”? Maka dia berkata: Sanadnya goncang, karena Ma’mar meriwayatkannya dari Ayyub dari Abu Qilabah dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Dan Mu’adz bin Hisyam meriwayatkannya, dari ayahnya, dari Qatadah, dari Abu Qilabah, dari Khalid bin al-Lajlaj, dari Ibnu Aisy, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dan Hammad bin Salamah meriwayatkannya, dari Qatadah, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dan Yusuf bin Athiyyah meriwayatkannya, dari Qatadah, dari Anas dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan Abdurrahman bin Yazid bin Jabir meriwayatkannya, dari Khalid bin al-Lajlaj, dari Abdurrahman bin Aisy, dia mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dan Yazid bin Yazid bin Jabir meriwayatkannya, dari Khalid bin al-Lajlaj, dari Abdurrahman bin Aisy, dari seorang laki-laki dari sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Dan Yahya bin Abi Katsir meriwayatkannya lalu berkata: dari Ibnu Aisy, dari Malik bin Yukhamir, dari Mu’adz bin Jabal, dari Nabi, dan pokok haditsnya adalah satu, dan mereka telah goncang dalam meriwayatkannya.
“Bayan Talbis al-Jahmiyyah” 7/215-217.
80 – Bab Komprehensif tentang Sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Mensucikan-Nya
Ishaq bin Manshur berkata: Aku berkata kepada Ahmad radhiyallahu anhu: “Tuban kita Tabaraka wa Ta’ala turun setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir ke langit dunia.” Bukankah engkau beriman dengan hadits-hadits ini? Dan mereka – ahli surga – melihat Tuhan mereka Azza wa Jalla, “dan janganlah kalian menghina wajah karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menciptakan Adam menurut rupa-Nya” -yakni: rupa Tuhan semesta alam- “dan neraka mengadu kepada Tuhannya Azza wa Jalla hingga Allah meletakkan kaki-Nya padanya”, dan bahwa Musa alaihissalam menampar malaikat maut alaihissalam.
Imam Ahmad berkata: Semua ini shahih.
Ishaq berkata: Semua ini shahih, dan tidak mengingkarinya kecuali orang yang berbuat bidah atau lemah pendapatnya.
“Masail al-Kausaj” (3290)
Harb berkata: Dan Ishaq berkata: Tidak boleh memikirkan tentang Sang Pencipta, dan boleh bagi hamba-hamba untuk memikirkan tentang makhluk-makhluk dengan apa yang mereka dengar tentang mereka dan tidak menambah dari itu; karena jika mereka melakukannya mereka akan tersesat.
“Masail Harb” hal. 427
Abdullah berkata: Ayahku bercerita kepadaku, dia berkata: Suraij bin al-Nu’man bercerita kepada kami, dia berkata: Abdullah bin Nafi’ mengabarkan kepadaku, dia berkata: Malik bin Anas rahimahullah biasa berkata: Iman adalah perkataan dan perbuatan, dan berkata: Allah berbicara kepada Musa, dan berkata: Kerajaan Allah di langit, dan ilmu-Nya di setiap tempat, tidak ada sesuatu pun yang luput dari-Nya, dan dia membaca ayat ini Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tidak ada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. (Surat al-Mujadilah: 7) dan hal itu sangat berat baginya -atau dia mengingkarinya- dari orang yang berkata: Al-Quran itu makhluk, dipukul dengan keras, dan dipenjara sampai dia bertobat.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/107 (11), 1/280 (532) “Al-Ilal” riwayat Abdullah (4783)
Abdullah berkata ayahku bercerita kepadaku, Hasan bin Musa al-Asyiab bercerita kepada kami, Abu Hilal Muhammad bin Sulaim ar-Rasibi bercerita kepada kami, seorang laki-laki bercerita kepada kami bahwa Ibnu Rawahah berkata kepada Hasan: Apakah engkau menggambarkan Tuhanmu Azza wa Jalla? Dia berkata: Ya, aku menggambarkan-Nya tanpa perumpamaan.
“As-Sunnah” karya Abdullah 2/493 (1132)
Abdullah berkata: Ayahku bercerita kepada kami, Ibnu Atasy mengabarkan kepada kami, Imran bercerita kepada kami, dari Wahb dia berkata: Musa alaihissalam berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka bertanya kepadaku bagaimana permulaan-Mu? Dia berkata: Maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Aku adalah Yang Ada sebelum segala sesuatu, dan Yang Mewujudkan segala sesuatu, dan Yang Ada setelah segala sesuatu.
“Az-Zuhd” hal. 84
Abu Bakar al-Marrudzi berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal rahimahullah tentang hadits-hadits yang ditolak oleh Jahmiyyah tentang sifat-sifat dan nama-nama dan ru’yah dan kisah Arsy, maka dia membenarkannya, dan berkata: Para ulama menerimanya dengan penerimaan, terimalah khabar-khabar sebagaimana datangnya.
Al-Marrudzi berkata: Abu Bakar dan Utsman, kedua putra Abu Syaibah, mengutus kepada Abu Abdullah meminta izin kepadanya untuk meriwayatkan hadits-hadits ini yang ditolak oleh Jahmiyyah, maka Abu Abdullah berkata: Riwayatkanlah karena para ulama telah menerimanya dengan penerimaan, dan Abu Abdullah berkata: Terimalah khabar-khabar sebagaimana datangnya.
“Asy-Syari’ah” hal. 262 (671-672)
Hanbal berkata: Aku mendengar Abu Abdullah berkata: Kita beribadah kepada Allah dengan sifat-sifat-Nya, sebagaimana Dia menggambarkan diri-Nya sendiri; Dia telah menjelaskan sifat untuk diri-Nya; dan kita tidak melampaui itu, kita beriman kepada Al-Quran seluruhnya, yang muhkam maupun yang mutasyabih, dan kita tidak menghilangkan dari-Nya Subhanahu sifat dari sifat-sifat-Nya, karena keburukan yang dicela, dan kita tidak menghilangkan apa yang Dia gambarkan tentang diri-Nya sendiri berupa perkataan, dan turun, dan berdua-dua-Nya dengan seorang hamba pada hari kiamat, dan meletakkan sayap-Nya atasnya, ini semua menunjukkan bahwa Allah dilihat di akhirat, dan penentuan batasan dalam hal ini adalah bidah, dan berserah diri kepada Allah dengan perintah-Nya, dan Allah tidak henti-hentinya berbicara dan mengetahui, Maha Pengampun, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Yang Mengetahui segala yang gaib; maka ini adalah sifat-sifat Allah yang Dia gambarkan tentang diri-Nya sendiri, tidak ditolak, dan tidak dikembalikan, dan Dia berkata: Tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Hidup lagi terus mengurus (makhluk-Nya). (Surat al-Baqarah: 255) Dia-lah Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan. (Surat al-Hasyr: 23). Ini adalah sifat-sifat Allah dan nama-nama-Nya, dan Dia di atas Arsy tanpa batasan, dan Dia berkata: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy bagaimana Dia kehendaki, kehendak adalah milik-Nya dan kemampuan Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya (Surat asy-Syura: 11) sebagaimana Dia menggambarkan diri-Nya sendiri, Maha Mendengar lagi Maha Melihat, tanpa batasan, dan tanpa perkiraan.
Aku berkata kepada Abu Abdullah: Dan musyabbihah (penyerupaan) apa yang mereka katakan? Dia berkata: Penglihatan seperti penglihatanku, dan tangan seperti tanganku, dan kaki seperti kakiku. Maka sungguh dia telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya dan ini adalah perkataan yang buruk, dan pembicaraan dalam hal ini aku tidak menyukainya. Dan nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya tidak diciptakan; kita berlindung kepada Allah dari ketergelinciran dan keraguan dan keraguan, sesungguhnya Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa.
“Al-Ibanah” karya Ibnu Battah kitab “Ar-Radd ala al-Jahmiyyah” 3/326-327 (252).
Dan dia berkata dalam riwayat Abu Thalib: “Hati hamba di antara dua jari”, dan “Dia menciptakan Adam dengan tangan-Nya” dan setiap kali datang hadits seperti ini kami berkata dengannya.
Hanbal berkata: Abu Abdullah berkata tentang hadits-hadits yang diriwayatkan “Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia” dan Allah dilihat, dan sesungguhnya Dia meletakkan kaki-Nya dan apa yang menyerupai itu: Kami beriman dengannya dan membenarkannya, dan tanpa bagaimana dan tanpa makna, dan kami tidak menolak sesuatu pun darinya, dan kami mengetahui bahwa apa yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam katakan adalah benar jika dengan sanad-sanad yang shahih.
“Ibthal at-Ta’wilat” 1/45
Al-Marrudzi berkata: Aku menyebutkan kepada Abu Abdullah hadits Muhammad bin Salamah al-Jurani, dari Abdurrahman dia berkata: Zaid bin Abi Unaisah bercerita kepadaku, dari al-Minhal, dari Abu Ubaidah, dari Masruq dia berkata: Abdullah bin Mas’ud bercerita kepada kami, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Abu Abdullah berkata: Ini hadits gharib tidak sampai kepada kami dari Muhammad bin Salamah. Dan dia menganggapnya baik.
“Ibthal at-Ta’wilat” 1/157
Al-Khallal berkata: Ubaidullah bin Hanbal mengabarkan kepadaku, ayahku bercerita kepadaku -Hanbal bin Ishaq- dia berkata: Pamanku berkata: Kami beriman bahwa Dia Subhanahu di atas Arsy bagaimana Dia kehendaki, dan sebagaimana Dia kehendaki, tanpa batasan, dan tanpa sifat yang dicapai oleh penggambaran atau dibatasi oleh seseorang, maka sifat-sifat Allah adalah milik-Nya dan dari-Nya, dan Dia sebagaimana Dia menggambarkan diri-Nya sendiri; penglihatan tidak mencapai-Nya dengan batasan atau batas, dan Dia mencapai penglihatan, dan Dia Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Yang Maha Mengetahui segala yang gaib, dan tidak mencapai-Nya penggambaran seorang penggambar, dan Dia sebagaimana Dia menggambarkan diri-Nya sendiri, tidak ada dari Allah Subhanahu sesuatu yang terbatas, dan tidak sampai ilmu tentang kekuasaan-Nya seseorang, Dia mengalahkan segala sesuatu dengan ilmu-Nya dan kekuasaan-Nya dan kekuatan-Nya Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Surat asy-Syura: 11) dan Allah Subhanahu ada sebelum ada sesuatu pun, dan Allah Subhanahu Yang Awal, dan Dia Yang Akhir dan tidak sampai seseorang pada batasan sifat-sifat-Nya, dan berserah diri kepada perintah Allah Subhanahu dan ridha dengan takdir-Nya, kami memohon kepada Allah taufik dan ketepatan, sesungguhnya Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa.
“Bayan Talbis al-Jahmiyyah” 2/620-621
Al-Khallal berkata: Dan Ali bin Isa mengabarkan kepadaku bahwa Hanbal bercerita kepada mereka, dia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah tentang hadits-hadits yang diriwayatkan: Bahwa Allah Subhanahu turun ke langit dunia, dan bahwa Allah Subhanahu dilihat, dan bahwa Allah Subhanahu meletakkan kaki-Nya dan apa yang menyerupai hadits-hadits ini? Maka Abu Abdullah berkata: Kami beriman dengannya, dan membenarkannya, tanpa bagaimana dan tanpa makna, dan kami tidak menolak sesuatu pun darinya, dan kami mengetahui bahwa apa yang dibawa oleh para rasul adalah benar, dan kami mengetahui bahwa apa yang tetap dari Rasulullah adalah benar jika dengan sanad-sanad yang shahih, dan kami tidak menolak perkataan beliau, dan kami tidak menggambarkan Allah Tabaraka wa Ta’ala dengan lebih besar dari apa yang Dia gambarkan tentang diri-Nya sendiri tanpa batasan dan tanpa batas.
Hanbal berkata di tempat lain: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam Dzat-Nya sebagaimana Dia menggambarkan tentang diri-Nya sendiri, Dia telah menjelaskan Tabaraka wa Ta’ala dengan sifat untuk diri-Nya, maka Dia menentukan untuk diri-Nya sifat, tidak ada yang menyerupai-Nya, maka Allah Subhanahu disembah dengan sifat-sifat-Nya, tidak terbatas, dan tidak diketahui, kecuali dengan apa yang Dia gambarkan tentang diri-Nya sendiri, Dia Subhanahu berfirman dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Hanbal berkata di tempat lain dia berkata: Maka Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat tanpa batasan dan tanpa perkiraan, dan tidak sampai para penggambar pada sifat-Nya, dan sifat-sifat-Nya dari-Nya dan milik-Nya, dan kami tidak melampaui Al-Quran dan Hadits, maka kami berkata sebagaimana Dia berkata, dan kami menggambarkan-Nya sebagaimana Dia menggambarkan diri-Nya sendiri Subhanahu dan kami tidak melampaui itu, dan tidak sampai pada-Nya penggambaran para penggambar.
“Bayan Talbis al-Jahmiyyah” 2/622-624, 6/510-512
Dan Hanbal berkata: Dan dia berkata: Ibrahim berkata kepada ayahnya: Wahai ayahku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? (Surat Maryam: 42) maka tetaplah bahwa Allah Subhanahu Maha Mendengar lagi Maha Melihat, sifat-sifat-Nya dari-Nya, kami tidak melampaui Al-Quran dan Hadits dan Khabar, “Allah tertawa” dan tidak diketahui bagaimana itu kecuali dengan membenarkan Rasul shallallahu alaihi wasallam dan dengan menetapkan Al-Quran, para penggambar dan musyabbihah tidak menggambarkan-Nya, dan tidak membatasi-Nya seseorang, Maha Tinggi Allah dari apa yang dikatakan oleh Jahmiyyah dan musyabbihah.
Dan Abu Abdullah berkata: Ishaq bin Ibrahim berkata kepadaku ketika membaca surat pada ujian: Apakah engkau berkata: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya maka aku berkata kepadanya: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Surat asy-Syura: 11) Dia berkata: Apa yang engkau maksudkan dengannya?
Aku berkata: Al-Quran adalah sifat dari sifat-sifat Allah Subhanahu yang Dia gambarkan tentang diri-Nya dengannya, kami tidak mengingkarinya dan tidak menolaknya.
Aku berkata kepadanya: Musyabbihah apa yang mereka katakan? Dia berkata: Orang yang berkata: Penglihatan seperti penglihatanku, dan tangan seperti tanganku.
Dan Hanbal berkata di tempat lain: Dan kaki seperti kakiku maka sungguh dia telah menyerupakan Allah Subhanahu dengan makhluk-Nya, dan ini membatasi-Nya, dan ini adalah perkataan yang buruk, dan ini terbatas, pembicaraan dalam hal ini aku tidak menyukainya.
Abdullah berkata: Mereka mengosongkan Al-Quran, dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Dia meletakkan kaki-Nya”, kami beriman dengannya tidak kami batasi, dan tidak kami tolak kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bahkan kami beriman dengannya, Dia Subhanahu berfirman: Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (Surat al-Hasyr: 7) Sungguh Allah telah memerintahkan kami untuk mengambil apa yang datang, dan larangan dari apa yang dilarang-Nya, dan nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya dari-Nya tidak diciptakan, dan kami berlindung kepada Allah dari syirik dan keraguan dan keraguan, sesungguhnya Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa.
Al-Khallal berkata: Abu Al-Qasim Al-Jabali menambahkan kepadaku, dari Hanbal dalam perkataan ini: Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Hidup, Yang Berdiri Sendiri” (Al-Baqarah: 255) “Tidak ada tuhan selain Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Yang Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki Keagungan” (Al-Hasyr: 23) dan ini adalah sifat-sifat Allah Azza wa Jalla dan nama-nama-Nya Tabaraka wa Ta’ala.
“Talbis Al-Jahmiyyah” 2/625-628, 6/513-516.
Al-Khallal meriwayatkan dalam “Kitab As-Sunnah” dari Abu Thalib, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah: Abu Ishaq bin Abi Al-Laits berkata: Orang-orang yang mensifati Tuhan mereka, mereka mengatakan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. Ia berkata: Semoga Allah memaafkannya, seolah-olah ia mengagumi perkataannya.
Aku bertanya: Apa yang engkau katakan? Ia berkata: Aku mengatakan sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dan mensifati, tidak boleh melampaui hadis, beliau bersabda: “Di antara dua jari”, dan beliau bersabda: “Allah menciptakan Adam” dan sebagaimana yang datang dalam hadis seperti ini, kami katakan seperti itu.
Aku bertanya: Apakah kami termasuk orang-orang yang mensifati? Ia berkata: Ya, sebagaimana yang datang dalam sifat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami tidak melampauinya.
“Bayan Talbis Al-Jahmiyyah” 6/173-174.
Abu Bakar Al-Khallal berkata dalam kitab “As-Sunnah”: Yusuf bin Musa memberitahuku bahwa Abu Abdillah ditanya: Dan tidak ada sesuatu pun dari makhluk-Nya yang menyerupai Tuhan kita, dan tidak ada sesuatu dari makhluk-Nya yang menyerupai-Nya. Ia berkata: Ya, tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.
“Bayan Talbis Al-Jahmiyyah” 6/509.
Al-Khallal berkata: Muhammad bin Abi Harun dan Muhammad bin Ja’far memberitahuku bahwa Abu Al-Harits menceritakan kepada mereka, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah: Apa makna sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah mendekatkan hamba pada Hari Kiamat lalu menempatkan perlindungan-Nya atasnya”. Ia berkata: Begitulah beliau bersabda: “Mendekatkannya dan menempatkan perlindungan-Nya atasnya” sebagaimana beliau katakan, dan berfirman kepadanya: “Apakah kamu mengenal dosa ini dan itu”.
“Bayan Talbis Al-Jahmiyyah” 8/193.
KITAB: AL-QURAN ADALAH KALAM ALLAH DAN BANTAHAN TERHADAP JAHMIYYAH
81 – Bab: Al-Quran adalah Kalam Allah
Abu Al-Fadhl Shalih berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Surayj bin An-Nu’man menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Nafi’ memberitahuku, ia berkata: Malik biasa mengatakan: Allah berbicara kepada Musa ‘alaihis salam. Dan ia mengatakan: Al-Quran adalah kalam Allah, dan ia menganggap sangat buruk perkataan orang yang mengatakan: Al-Quran adalah makhluk.
Dan ia berkata: Dan dipukul dengan keras, dan dipenjara hingga ia bertobat.
“Sirah Al-Imam Ahmad” oleh Shalih hal. 66.
Dan ia berkata: Ayahku berkata: Sampai kepadaku bahwa Isma’il bin ‘Ulayyah masuk menemui Muhammad bin Harun yang berada di atas singgasana yang tinggi, ketika melihatnya ia mulai merangkak di singgasananya, dan berkata kepadanya: Wahai anak perempuan yang buruk, engkau yang berbicara tentang Al-Quran.
Ia berkata: Maka Isma’il terus berkata kepadanya: Jadikanlah aku tebusan bagimu wahai Amirul Mukminin, kesalahan dari seorang alim.
“Sirah Al-Imam Ahmad” oleh Shalih hal. 67.
Dan ia berkata: Ayahku berkata: Nama-nama Allah ada dalam Al-Quran, dan Al-Quran dari ilmu Allah, dan ilmu Allah bukanlah makhluk, dan Al-Quran adalah kalam Allah, bukanlah makhluk dalam segala hal, dalam segala segi, dan dalam kondisi apa pun.
Lalu dikatakan kepada Abu Abdillah: Ada kaum yang berkata: Apabila seseorang berkata: Kalam Allah bukanlah makhluk. Mereka berkata: Siapa imammu dalam hal ini? Dan dari mana engkau mengatakan: Bukanlah makhluk?
Ia berkata: Hujjahnya adalah firman Allah Tabaraka wa Ta’ala: “Barangsiapa yang membantahmu tentang hal itu setelah datang kepadamu ilmu” (Ali ‘Imran: 61) maka yang datang kepadanya tidak lain adalah Al-Quran. Ia berkata: Al-Quran dari ilmu Allah, dan ilmu Allah bukanlah makhluk, dan Al-Quran adalah kalam Allah, bukanlah makhluk, dan yang seperti ini banyak dalam Al-Quran.
Dikatakan kepadanya: Apakah cukup aku mengatakan ini adalah perkataan Jahm, dan dalam kondisi apa pun ia adalah kalam Allah?
Ia berkata: Ya.
Dikatakan kepadanya: Apakah ada salah seorang dari ulama yang berkata: Bukanlah makhluk? Ia berkata: Ja’far bin Muhammad.
Shalih berkata: Maka ayahku menceritakan kepadaku: Ia mendikte kepadaku dari kitabnya, ia berkata: Musa bin Dawud menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Abdurrahman bin Mu’abbad menceritakan kepada kami, dari Mu’awiyah bin ‘Ammar Ad-Duhni, ia berkata: Kami bertanya kepada Ja’far: Sesungguhnya mereka bertanya kepada kami tentang Al-Quran, apakah ia makhluk?
Ia berkata: Ia bukan pencipta dan bukan makhluk, tetapi ia adalah kalam Allah.
Ayahku berkata: Dan aku telah melihat Mu’abbad, dan sampai kepadaku bahwa ia berfatwa dengan pendapat Ibn Abi Laila.
“Sirah Al-Imam Ahmad” oleh Shalih hal. 69.
Abu Dawud berkata: Aku mendengar Ahmad dan ia menyebut Al-Quran lalu berkata: Aku mendengar Abu An-Nadhr berkata: Bukanlah makhluk.
Dan ia berkata: Aku mendengar Ahmad berkata: Dikatakan kepadaku: Apa yang engkau katakan, apakah engkau melihatnya dalam sesuatu yang telah berlalu? Ia berkata: Maka aku berkata: Tidak mungkin dari Allah ada sesuatu yang makhluk.
“Masa’il Abi Dawud” (1703-1704)
Abu Dawud berkata: Aku mendengar Ishaq bin Ibrahim bin Rahawayh, dan Hannad bin As-Sirri, dan Abdul A’la bin Hammad, dan Ubaidullah bin Umar bin Maisarah, dan Hakim bin Saif Ar-Raqqi, dan Ayyub bin Muhammad Ar-Raqqi, dan Suwwar bin Abdullah, dan Ar-Rabi’ sahabat Asy-Syafi’i, dan Abdul Wahhab bin Al-Hakam, dan Muhammad bin Ash-Shabbah bin Sufyan, dan Utsman bin Syaibah, dan Muhammad bin Bakkar bin Ar-Rayyan, dan Ahmad bin Jawwas Al-Hanafi, dan Wahb bin Baqiyyah, dan orang-orang yang tidak dapat kuhitung dari para ulama kami, semua ini aku mendengar mereka berkata: Al-Quran adalah kalam Allah, bukanlah makhluk, dan sebagian mereka berkata: Al-Quran bukan makhluk.
“Masa’il Abi Dawud” (1720)
Ibnu Hani’ berkata: Dan aku mendengarnya berkata: Dalam segala kondisi dari berbagai kondisi, Al-Quran adalah kalam Allah, bukan makhluk.
“Masa’il Ibnu Hani'” (1882)
Ibnu Hani’ berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Sampai kepada Muhammad bin Zubaidah Amirul Mukminin bahwa Isma’il bin ‘Ulayyah berkata: Al-Quran adalah makhluk. Ia berkata: Maka ia mengutus kepadanya, lalu ia dibawa, ketika masuk menemuinya dan Amirul Mukminin melihatnya, ia berkata kepadanya: Wahai anak perempuan yang buruk – dari jauh – engkaukah yang berkata: Al-Quran adalah makhluk, atau ia berkata: Kalam Allah adalah makhluk?
Ia berkata: Maka Isma’il berdiri, lalu terus berseru: Wahai Amirul Mukminin, jadikanlah aku tebusan bagimu, kesalahan dari seorang alim, wahai Amirul Mukminin jadikanlah aku tebusan bagimu, kesalahan dari seorang alim.
Ia berkata: Kemudian ia memerintahkan untuk mengeluarkannya, dan memerintahkan agar ia tidak meriwayatkan hadis.
Aku mendengar Ahmad berkata: Sesungguhnya aku berharap semoga Allah merahmati Muhammad bin Zubaidah karena pengingkarannya terhadap Isma’il.
“Masa’il Ibnu Hani'” (1892)
Harb bin Isma’il berkata: Ishaq bin Ibrahim menceritakan kepada kami, dari Sufyan bin ‘Uyainah, dari ‘Amr bin Dinar, ia berkata: Aku mendapati manusia sejak tujuh puluh tahun, aku mendapati para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang setelah mereka berkata: Allah adalah Pencipta dan selain-Nya adalah makhluk, kecuali Al-Quran karena ia adalah kalam Allah, darinya ia keluar dan kepada-Nya ia kembali.
Harb berkata: Ahmad bin Hanbal dan ‘Amr bin Al-‘Abbas menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, ia berkata: Mu’awiyah bin Shalih menceritakan kepada kami, dari Al-‘Ala’ bin Al-Harits, dari Zaid bin Artha’ah, dari Jubair bin Nufair, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya kalian tidak akan kembali kepada Allah dengan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang keluar dari-Nya” yakni: Al-Quran.
“Masa’il Harb” hal. 421
Harb berkata: Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Aswad bin ‘Amir menceritakan kepada kami, ia berkata: Isra’il menceritakan kepada kami, dari Utsman bin Al-Mughirah, dari Salim bin Abi Al-Ja’d, dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan dirinya kepada manusia di tempat wukuf, lalu berkata: “Adakah seseorang yang membawaku kepada kaumnya karena sesungguhnya Quraisy telah mencegahku untuk menyampaikan kalam Tuhanku”.
Harb berkata: Ishaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Jarir memberitahu kami, dari Laits bin Abi Sulaim, dari Salamah bin Kuhail, dari Abu Az-Za’ra’, ia berkata: Umar berkata: Sesungguhnya Al-Quran ini adalah kalam Allah, maka janganlah kalian membelokkannya menurut hawa nafsu kalian.
“Masa’il Harb” hal. 422
Abdullah bin Ahmad berkata: Aku mendengar ayahku, dan Abdullah bin Umar – yang dikenal dengan Musykadanah – bertanya kepadanya tentang Al-Quran? Maka ia berkata: Kalam Allah, dan bukanlah makhluk.
“As-Sunnah” oleh Abdullah 1/132 (79)
Abdullah berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, dari Mu’awiyah – yakni: Ibnu Shalih – dari Al-‘Ala’ bin Al-Harits, dari Zaid bin Artha’ah, dari Jubair bin Nufair, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya kalian tidak akan kembali kepada Allah Azza wa Jalla dengan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang keluar dari-Nya” yakni: Al-Quran. Ayahku berkata: Demikianlah yang dikatakan Abdurrahman.
“As-Sunnah” oleh Abdullah 1/140 (109), 2/497 (1143)
Abdullah berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku: Jarir menceritakan kepada kami, dari Manshur bin Al-Mu’tamar, dari Hilal bin Yasaf, dari Farwah bin Naufal Al-Asyja’i, ia berkata: Aku adalah tetangga Khabbab, maka kami keluar suatu hari dari masjid dan ia memegang tanganku lalu berkata: Wahai saudaraku, dekatkanlah dirimu kepada Allah sedapat yang kamu mampu, karena sesungguhnya kamu tidak akan mendekatkan diri kepada-Nya dengan sesuatu yang lebih dicintai oleh-Nya daripada kalam-Nya – yakni: Al-Quran.
“As-Sunnah” oleh Abdullah 1/141-142 (111)
Abdullah berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, Aswad bin ‘Amir menceritakan kepada kami, Abu Bakar – yakni: Ibnu ‘Ayyasy – memberitahu kami, dari Al-A’masy, dari Al-Hasan, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Keutamaan Al-Quran atas perkataan lain seperti keutamaan Allah Azza wa Jalla atas hamba-hamba-Nya”.
“As-Sunnah” oleh Abdullah 1/148 (124), 2/495 (1137)
Abdullah berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, Musa bin Dawud menceritakan kepada kami, Abu Abdurrahman Mu’abbad menceritakan kepada kami, dari Mu’awiyah bin ‘Ammar Ad-Duhni, ia berkata: Aku berkata kepada Ja’far – yakni: Ibnu Muhammad: Sesungguhnya mereka bertanya tentang Al-Quran, apakah ia makhluk? Ia berkata: Ia bukan pencipta dan bukan makhluk tetapi ia adalah kalam Allah.
Ayahku berkata: Aku telah melihat Mu’abbad ini, dan tidak ada masalah dengannya. Dan ayahku memujinya dan ia berfatwa dengan pendapat Ibnu Abi Laila.
“As-Sunnah” oleh Abdullah 1/151-152 (132)
Abdullah berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Sampai kepadaku dari Ibrahim bin Sa’d, dan Sa’id bin Abdurrahman Al-Jumahi, dan Wahb bin Jarir, dan Abu An-Nadhr Hasyim bin Al-Qasim, dan Sulaiman bin Harb, mereka berkata: Al-Quran adalah kalam Allah, bukanlah makhluk.
“As-Sunnah” oleh Abdullah 1/154 (138)
Abdullah berkata: Muhanna Abu Abdillah As-Sulami menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal setelah ia keluar dari penjara dua tahun: Apa yang engkau katakan tentang Al-Quran? Maka ia berkata: Kalam Allah bukan makhluk. Dan ia berkata: Barangsiapa meriwayatkan dariku selain perkataan ini maka ia pembohong.
Aku berkata kepadanya: Sesungguhnya sebagian orang menyebutkan darimu bahwa engkau berkata kepadanya: Ia adalah kalam Allah, bukan makhluk dan bukan bukan makhluk, tetapi ia adalah kalam Allah. Maka Ahmad berkata: Dusta, aku tidak mengatakan ini, tetapi ia adalah kalam Allah bukan makhluk.
Abdullah berkata: Muhanna Abu Abdillah As-Sulami menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku bertanya kepada Harits Al-Baqqal: Apa yang engkau katakan tentang Al-Quran? Maka ia berkata: Al-Quran adalah kalam Allah Azza wa Jalla, aku tidak mengatakan selain ini.
Maka aku berkata kepadanya: Sesungguhnya Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal berkata: Ia adalah kalam Allah bukan makhluk. Maka ia berkata kepadaku: Sesungguhnya Abu Abdillah adalah orang yang terpercaya dan adil.
“As-Sunnah” oleh Abdullah 1/280 (529-530).
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Umayyah bin Khalid memberitahu kami, Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri memberitahu kami, dari Thalhah bin Yahya, dari Abi Buraidah, bahwa Abu Musa menemukan sebuah tulisan lalu berkata: Seandainya aku tidak khawatir di dalamnya ada sesuatu dari kitab Allah, niscaya aku akan membakarnya.
“As-Sunnah” oleh Abdullah 2/465 (1057)
Al-Khallal berkata: Ahmad bin Hamdawaih Al-Hamadani mengabarkan kepadaku, dia berkata: Muhammad bin Abi Abdillah Al-Hamadani menceritakan kepadaku, dia berkata: Isa bin Ali menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-Mutsanna -yaitu: Al-Anbari- menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Al-Husain -yaitu: Abdul Wahhab berkata: Abu Thalib bertanya kepadaku tentang orang yang bersumpah tidak akan berbicara -dan ingatanku yang paling kuat- dengan talak; lalu dia membaca Al-Quran, maka saya katakan: Dia tidak melanggar sumpah. Dia berkata: Lalu saya kabarkan kepada Abu Abdillah -yaitu: Ahmad bin Hanbal- maka dia menyukainya.
Al-Khallal berkata: Dan Abu Bakr Al-Marwazi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Abu Abdillah ditanya: Bagaimana pendapatmu tentang seorang laki-laki yang bersumpah tidak akan berbicara lalu dia membaca sesuatu dari Al-Quran? Maka saya katakan: Sesungguhnya Abdul Wahhab berkata: Dia tidak melanggar sumpah. Lalu dia tersenyum dan berkata: Semoga Allah memberi keselamatan kepada Abdul Wahhab.
Dikatakan kepada Abu Abdillah: Setiap apa yang dijawab Abdul Wahhab dengan sesuatu, apakah engkau berpendapat dengannya!
Dia berkata: Mahasuci Allah! Orang-orang berbeda pendapat dalam fikih, itu adalah tempatnya.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/223 (1849-1850)
Al-Khallal berkata: Dan Ali bin Al-Hasan bin Harun mengabarkan kepadaku, dia berkata: Muhammad bin Abi Harun menceritakan kepadaku, dia berkata: Abu Bakr bin Shalih menceritakan kepadaku, dia berkata: Saya mendengar Abdul Wahhab, dan dia ditanya tentang seorang laki-laki yang bersumpah tidak akan berbicara, lalu dia membaca sesuatu dari Al-Quran? Maka dia berkata: Abu Ubaid berkata: Dia tidak melanggar sumpah.
Dikatakan kepada Abdul Wahhab: Apakah seperti yang dia katakan? Dia berkata: Ya.
Dan Abdul Wahhab menyebutkan bahwa Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal berkata: Dia tidak melanggar sumpah.
Al-Khallal berkata: Dan Abu Bakr Al-Marwazi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Saya menulis kepada Abu Bakr Al-Atsram, lalu dalam suratnya ada perkataan Abu Abdillah: Dan siapa yang berdalil dengan perkataan Abu Abdillah: Barangsiapa yang bersumpah dengan talak tidak akan berbicara, lalu dia membaca bahwa dia tidak melanggar sumpah; karena dia tidak berbicara.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/224 (1852-1853)
Al-Khallal berkata: Dan saya mendengar Abdullah bin Ahmad berkata: Abu Bakr Al-A’yan menyebutkan, dia berkata: Ahmad bin Hanbal ditanya tentang tafsir firman-Nya: Al-Quran adalah kalam Allah, darinya keluar dan kepadanya kembali, maka Ahmad berkata: Darinya keluar yaitu Dia yang berbicara dengannya, dan kepadanya kembali.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/226 (1859)
Al-Khallal berkata: Abu Bakr Al-Marwazi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, dia berkata: Aswad bin Amir menceritakan kepada kami, dia berkata: Israil menceritakan kepada kami, dari Utsman bin Al-Mughirah, dari Salim bin Abi Al-Ja’d, dari Jabir bin Abdillah, dia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam menawarkan dirinya kepada orang-orang di tempat wukuf, beliau bersabda: “Adakah seorang laki-laki yang akan membawaku ke kaumnya?! Karena sesungguhnya Quraisy telah menghalangiku untuk menyampaikan kalam Tuhanku.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/279 (1951)
Al-Khallal berkata: Abu Bakr mengabarkan kepada kami, dia berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, dia berkata: Yahya bin Ghailan menceritakan kepada kami, dia berkata: Rusydin bin Sa’d menceritakan kepada kami, dia berkata: Yunus bin Yazid menceritakan kepadaku, dari Ibnu Syihab bahwa Umar rahimahullah berkata: Ini Al-Quran adalah kalam Allah.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/283 (1955)
Al-Khallal berkata: Harb mengabarkan kepadaku, dia berkata: Ahmad bin Hanbal dan Basysyar bin Musa menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Jarir menceritakan kepada kami, dari Manshur, dari Hilal bin Yasaf, dari Farwah bin Naufal Al-Asyja’i, dia berkata: Saya adalah tetangga Khabbab, lalu dia berkata: Wahai anak mudaku, dekatkanlah dirimu kepada Allah semampumu, karena sesungguhnya kamu tidak akan mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang lebih dicintai-Nya daripada kalam-Nya.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/285-286 (1961)
Al-Khallal berkata: Abdullah berkata: Dan ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Hasyim bin Al-Qasim menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Aqil Abdullah bin Aqil Ats-Tsaqafi -terpercaya- menceritakan kepada kami, dia berkata: Mujalid menceritakan kepada kami, dari Umair bin Syahr Al-Hamdani, dan dia adalah utusan Hamdan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, dia berkata: “Perhatikanlah Quraisy, dengarlah dari perkataan mereka, dan tinggalkanlah perbuatan mereka.” Dia berkata: Dan saya berada di sisi Najasyi, lalu datang kepadanya anak-anaknya, para pemuda dengan papan-papan kayu, mereka membacakan kepadanya dari Injil, lalu seorang anaknya membaca ayat, maka saya tertawa. Maka Najasyi berkata kepadanya: Apakah kamu tertawa terhadap kalam Allah?
Dia berkata: Tidak, tetapi saya tertawa heran dengan apa yang dikatakan anakmu.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/297-298 (2009)
Al-Khallal berkata: Abu Bakr Al-Marwazi mengabarkan kepada kami, dari Abu Abdillah, dari Musa bin Daud, dia berkata: Abu Abdurrahman Mu’abbad menceritakan kepada kami, dari Muawiyah bin Ammar Ad-Duhani, dia berkata: Saya berkata kepada Ja’far bin Muhammad: Sesungguhnya mereka bertanya kepada kami tentang Al-Quran: Apakah ia makhluk? Maka dia berkata: Ia bukan pencipta dan bukan makhluk, tetapi ia adalah kalam Allah.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/313 (2071)
Al-Khallal berkata: Dan Harb mengabarkan kepadaku, dia berkata: Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, dia berkata: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari Malik bin Anas, dia berkata: Nafi’ menceritakan kepadaku, dia berkata: Ibnu Umar tidak membaca Al-Quran kecuali dalam keadaan suci.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/315 (2080)
Al-Khallal berkata: Harb bin Ismail Al-Karmani mengabarkan kepadaku, dia berkata: Saya berkata kepada Ishaq -yaitu: Ibnu Rahawaih- Anak kecil menulis Al-Quran di papan, apakah dia menghapusnya dengan ludah? Dia berkata: Dia menghapusnya dengan air, dan aku tidak suka jika dia meludahi. Dan dia memakruhkan menghapusnya dengan ludah.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/316 (2088)
Hamwaih bin Yunus, imam masjid jami’ Qazwin berkata: Ja’far bin Muhammad bin Fudlail Ar-Ra’si -Ra’s Al-‘Ain- menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdullah bin Shalih -penulis Al-Laits bin Sa’d- menceritakan kepada kami, dia berkata: Muawiyah bin Shalih menceritakan kepada kami, dari Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma dalam firman Allah Azza wa Jalla: “Al-Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan padanya” (Surat Az-Zumar: 28), dia berkata: Tidak diciptakan.
Dan Hamwaih bin Yunus berkata: Hadits ini sampai kepada Ahmad bin Hanbal, maka dia menulis kepada Ja’far bin Muhammad bin Fudlail agar menulis kepadanya dengan izinnya, lalu Ahmad bergembira dengan hadits ini.
“Asy-Syari’ah” karya Al-Ajurri halaman 69-70 (150)
Al-Fadhl bin Ziyad berkata: Saya bertanya kepada Abu Abdillah tentang Abbas An-Narsi, lalu saya katakan: Dia adalah pengikut sunnah, maka dia berkata: Semoga Allah merahmatinya.
Saya katakan: Telah sampai kepadaku dari dia, dia berkata: Tidaklah perkataanku: Al-Quran tidak diciptakan kecuali seperti perkataanku: Tidak ada tuhan selain Allah, maka Abu Abdillah tertawa dan bergembira dengan hal itu.
Saya katakan: Wahai Abu Abdillah, bukankah seperti yang dia katakan? Dia berkata: Ya, tetapi syaikh ini menunjukkan kepada kami pada sesuatu yang kami tidak menyadarinya, perkataannya: Sesungguhnya awal yang diciptakan Allah dari sesuatu adalah menciptakan pena. Saya katakan: Wahai Abu Abdillah, saya mendengarnya mengatakan, dia berkata: Mahasuci Allah! Betapa bagusnya apa yang dia katakan: Seakan-akan dia mengungkap tutup dari wajahku, dan dia mengangkat tangannya ke wajahnya.
Saya katakan: Sesungguhnya dia adalah syaikh yang telah tumbuh di Kufah, maka Abu Abdillah berkata: Sesungguhnya seorang ulama Kufah adalah ulama sejati, kemudian dia menyebutkan hadits Ibnu Abbas tetapi: Awal yang diciptakan Allah dari sesuatu adalah menciptakan pena, maka dia berkata: Ia tidak diriwayatkan dan kami telah menulisnya. Kemudian dia berkata: Saya melihat di dalamnya, ternyata telah diriwayatkan oleh lima orang dari Ibnu Abbas radhiyallahu ta’ala anhu.
“Asy-Syari’ah” karya Al-Ajurri halaman 73 (167)
Abu Bakr Al-Marwazi berkata: Dan saya mendengar Abu Abdillah berkata: Dan kami tidak ridha bahwa kami mengatakan: Kalam Allah. Dan kami diam sampai kami mengatakan: Sesungguhnya ia tidak diciptakan.
“Al-Ibanah” karya Ibnu Batthah, Kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah 1/314 (115)
Ishaq bin Ahmad Al-Kadzi berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepada kami, dia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Husain bin Muhammad menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Ma’syar menceritakan kepada kami, dari Sa’id Al-Maqburi, dari Abu Hurairah, dia berkata: Barangsiapa mengambil Al-Quran ketika dia masih muda, ia akan bercampur dengan daging dan darahnya, dan dia akan menjadi teman para malaikat musafir yang mulia lagi berbakti. Dan barangsiapa mengambilnya ketika sudah tua sedang dia bersemangat terhadapnya namun ia terlepas darinya, maka itulah orang yang mendapat pahalanya dua kali lipat.
“Al-Ibanah” Kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah 1/363-364 (173)
Al-Husain bin Al-Bazzar berkata: Dikatakan kepada Abu Abdillah: Sesungguhnya Luwayn berkata: Sesungguhnya awal yang diciptakan Allah adalah pena; maka awal makhluk adalah pena, dan kalam Allah sebelum penciptaan pena, maka Abu Abdillah menganggapnya baik dan berkata: Sampaikanlah kepada mereka apa yang terjadi.
“Al-Ibanah” Kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah 2/25 (217)
Muhammad bin Sulaiman Al-Jauhari berkata: Saya berkata kepada Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal: Apa pendapatmu tentang Al-Quran? Dia berkata: Tentang hal apa kamu bertanya?
Saya katakan: Kalam Allah, maka dia berkata: Kalam Allah dan bukan makhluk, dan jangan ragu untuk mengatakan bukan makhluk, karena sesungguhnya kalam Allah dari Allah dan dari dzat Allah, dan Allah berbicara dengannya, dan tidak ada dari Allah sesuatu yang makhluk.
Ahmad bin Al-Hasan At-Tirmidzi berkata: Saya bertanya kepada Abu Abdillah, dia berkata: Telah terjadi dari perkara Al-Quran apa yang telah terjadi, jika aku ditanya tentangnya, apa yang harus aku katakan?
Dia berkata kepadaku: Bukankah kamu makhluk? Saya katakan: Ya.
Dia berkata: Bukankah setiap sesuatu darimu adalah makhluk? Saya katakan: Ya.
Dia berkata: Maka perkataanmu, bukankah ia darimu dan ia makhluk? Saya katakan: Ya.
Dia berkata: Maka kalam Allah bukankah ia dari-Nya? Saya katakan: Ya.
Dia berkata: Maka apakah mungkin sesuatu dari Allah adalah makhluk?!!
“Al-Ibanah” Kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah 2/35 (224-225)
Abu Bakr Al-A’yan berkata: Ahmad bin Hanbal ditanya tentang tafsir perkataannya: Al-Quran adalah kalam Allah, darinya keluar dan kepadanya kembali, Ahmad berkata: Darinya keluar yaitu Dia yang berbicara dengannya, dan kepadanya kembali.
“Al-Ibanah” Kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah 2/36 (226)
Al-Marwazi berkata: Saya melihat Ahmad bin Muhammad bin Hanbal dalam mimpi dan dia mengenakan dua pakaian hijau, dan di kedua kakinya ada sandal yang talinya dari marjan, dan di kepalanya ada mahkota yang dihiasi dengan berbagai jenis permata, maka saya katakan: Wahai Abu Abdillah, apa yang telah Allah lakukan kepadamu?
Dia berkata: Dia mengampuniku dan memahkotaiku dan memakaikkanku, dan Dia berkata kepadaku: Wahai Abu Abdillah, sesungguhnya Aku memberikan ini kepadamu karena perkataanmu: Al-Quran tidak diciptakan.
“Syarh Ushul Al-I’tiqad” 2/404 (624)
Abu Al-Hasan Muhammad bin Ishaq bin Rahawaih Al-Qadhi di Marw berkata: Ayahku ditanya, dan aku mendengar tentang Al-Quran, dan apa yang terjadi di dalamnya dari perkataan bahwa ia makhluk; maka dia berkata: Al-Quran adalah kalam Allah dan ilmu-Nya dan wahyu-Nya, bukan makhluk. Dan sungguh Sufyan bin Uyainah telah menyebutkan, dari Amr bin Dinar, dia berkata: Saya mendapati para syaikh kami sejak tujuh puluh tahun yang lalu mereka berkata: Allah adalah Sang Pencipta dan selain-Nya adalah makhluk, dan Al-Quran adalah kalam Allah, dari-Nya keluar dan kepada-Nya kembali.
Ayahku berkata: Dan sungguh Amr bin Dinar telah mendapati para sahabat terkemuka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari kalangan Badriyyin, Muhajirin, dan Anshar seperti Jabir bin Abdillah, dan Abu Sa’id Al-Khudri, dan Abdullah bin Amr, dan Abdullah bin Abbas, dan Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu anhum, dan para tabi’in terkemuka rahmatullahi alaihim, dan di atas inilah berjalan generasi awal umat ini, mereka tidak berbeda pendapat dalam hal itu.
“Al-Asma’ wash-Shifat” karya Al-Baihaqi 1/598 (532)
Abu Abdillah As-Sijzi berkata: Saya datang ke pintu Al-Mu’tashim: hingga dia berkata: Hadirkanlah Ahmad bin Hanbal, maka aku dihadirkan. Ketika aku berdiri di hadapannya dan memberi salam kepadanya, dia berkata: Wahai Ahmad, berbicaralah dan jangan takut, maka Ahmad berkata kepadanya: Tidak, demi Allah, sungguh aku masuk kepadamu dan tidak ada dalam hatiku seberat zarrah pun rasa takut. Maka dia berkata: Apa pendapatmu tentang Al-Quran?
Maka dia berkata: Kalam Allah yang qadim (tidak bermula), tidak diciptakan.
“Al-Masa’il allati Halafa ‘alaiha Al-Imam Ahmad” halaman 47
A’yan bin Zaid berkata: Saya mendengar Ahmad bin Hanbal berkata: Al-Quran adalah kalam Allah, tidak diciptakan.
“Thabaqat Al-Hanabilah” 1/317
Ibnu Aban Al-Qurasyi berkata: Saya bertanya kepada Abu Abdillah tentang Al-Quran; maka dia berkata: Kalam Allah Azza wa Jalla dan bukan makhluk.
“Thabaqat Al-Hanabilah” 2/141
Ibnu Warah berkata: Saya bertanya kepada Ahmad tentang Al-Quran, maka dia berkata: Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan bagaimanapun bentuknya.
“Thabaqat Al-Hanabilah” 2/370
Abu Musa Al-Ukbari berkata: Saya bertanya kepada Ahmad ketika dia tiba di Ukbara di khan Mulih, saya katakan: Wahai Abu Abdillah, Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan, dari-Nya bermula dan kepada-Nya kembali? Dia berkata: Dari-Nya bermula ilmu-Nya, dan kepada-Nya kembali hukum-Nya.
“Thabaqat Al-Hanabilah” 2/517-518
82 – Bab: Al-Quran dihafal dalam hati para laki-laki
Al-Fadhl bin Ziyad berkata: Saya berkata kepada Abu Abdillah: Sesungguhnya anak pamanku datang dari Tharsus lalu dia mengabarkan kepadaku dari mereka bahwa mereka ingin mengetahui pendapatmu tentang apa yang dibicarakan oleh Musa bin Uqbah.
Maka dia berkata: Sungguh aku telah berbicara dengan perkataan di dalamnya.
Saya katakan: Sesungguhnya mereka menginginkan darimu gerakan dalam perkaranya.
Maka dia berkata: Sungguh aku telah mengeluarkan di dalamnya beberapa hadits, dan berikan kepadaku kertas hingga aku keluarkan untukmu. Lalu dia berdiri dan aku mengeluarkan sebuah kitab lalu dia memberikannya kepadaku, maka dia berkata: Bacalah kepadaku. Lalu aku membaca hadits-hadits, dan dia memberikan kepadaku nampan kertas dari sisinya, maka dia berkata: Salinlah. Lalu aku menyalinnya, dan aku mencocokkannya, dan aku membenarkannya.
“Al-Ibanah” Kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah 1/357 (165)
Al-Fadhl bin Ziyad berkata: Saya membaca kepada Ahmad: Hasyim bin Al-Qasim berkata: Abu Ja’far Ar-Razi menceritakan kepada kami, dari Ar-Rabi’ bin Anas, dari Abu Al-Aliyah -atau selainnya- dari Abu Hurairah dalam firman-Nya: “Mahasuci yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram” (Surat Al-Isra’: 1), lalu dia menyebutkan hadits, yaitu: hadits Isra’, hingga sampai pada sabda-Nya: “Dan Aku jadikan dari umatmu kaum yang hati mereka adalah Injil-injil mereka.”
Ahmad berkata: Inilah yang aku maksudkan: “Dan Aku jadikan engkau nabi yang pertama diciptakan, dan yang terakhir diutus, dan yang pertama dihukumi untuknya…”, lalu dia menyebutkan hadits.
Dia -yaitu: Al-Fadhl berkata: Ahmad berkata kepadaku: Bukankah nabi yang pertama diciptakan -yaitu: “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi dan dari engkau dan dari Nuh” (Surat Al-Ahzab: 7) maka dimulai dengannya?!
Abdullah bin Ahmad berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Husain bin Muhammad menceritakan kepada kami, ia berkata: Syaiban menceritakan kepada kami, dari Qatadah, ia berkata: Seorang laki-laki ahli ilmu menceritakan kepada kami bahwa Nabi Allah Musa alaihi salam berkata ketika mengambil luh-luh (kitab Taurat): Ya Tuhanku, aku menemukan dalam luh-luh sebuah umat yang Injil mereka ada di dalam hati mereka, mereka membacanya.
Qatadah berkata: Dan dahulu orang-orang sebelum kalian membaca kitab mereka dengan melihat, jika ia mengangkatnya dari hadapannya maka tidak menghafalnya dan tidak memahaminya. Dan sesungguhnya Allah telah memberikan kepada kalian wahai umat ini tentang hafalan sesuatu yang tidak diberikan kepada siapapun sebelum kalian.
Musa berkata: Ya Tuhanku, jadikanlah ia umatku. Allah berfirman: Itu adalah umat Ahmad.
“Al-Ibanah” kitab Bantahan terhadap Jahmiyah 1/366-369 (177-178)
83 – Bab: Larangan Berdebat tentang Al-Quran
Harb bin Ismail berkata: Ishaq berkata: Maka segala sesuatu di sisi Allah berdasarkan makna kehendak dan hikmah-Nya, dan Dia menampakkan kepada para hamba dari ilmu apa yang mencukupi mereka. Maka sepatutnya kita berhenti pada apa yang telah diajarkan kepada kita dan ditentukan batas untuknya, sehingga kita mendapat jalan dalam berfikir tentang ciptaan Allah yang menyibukkan dari berfikir tentang apa yang tidak diperintahkan kepada kita.
Abu Yaqub berkata: Dan bagaimana mungkin orang yang mengaku berilmu memperluas pembahasan mengenai perkara-perkara yang dilarang, Allah berfirman: “Dan tidak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya” (Surat Al-Isra: 44). Maka bagaimana boleh bagi makhluk membahas tentang tasbih dari pohon dan benda-benda yang dibuat, sehingga mereka membahas bagaimana mangkuk-mangkuk dan pakaian bertasbih, orang gila, kain yang ditenun, dan semua ini telah jelas dalam ilmu bahwa mereka bertasbih. Maka itu terserah kepada Allah untuk menjadikan tasbih mereka bagaimana Dia kehendaki dan sebagaimana Dia kehendaki. Dan tidak bagi manusia membahas hal itu kecuali dengan apa yang mereka ketahui, dan janganlah berbicara tentang sesuatu dalam hal ini dan yang serupa dengannya kecuali dengan apa yang Allah perintahkan, dan janganlah menambah dari itu. Dan Allah Pemberi Taufik, dan kepada-Nya bertawakal. Maka bertakwalah kepada Allah, dan janganlah membahas perkara-perkara mutasyabihat ini, karena sesungguhnya pembahasannya akan mengembalikan kalian dari jalan kebenaran.
“Masail Harb” hal. 427-428
Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Makki bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Al-Ju’aid bin Abdurrahman menceritakan kepada kami, dari Yazid bin Khushaifah, dari As-Saib bin Yazid, bahwasanya ia berkata: Didatangkan kepada Umar bin Al-Khaththab radiallahu anhu, mereka berkata: Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya kami bertemu dengan seorang laki-laki yang menanyakan tentang takwil Al-Quran. Maka Umar berkata: Ya Allah, kuasakan aku atasnya. Ia berkata: Maka ketika suatu hari Umar sedang duduk memberi makan orang-orang, tiba-tiba orang itu datang mengenakan pakaian dan sorban, lalu Umar memberinya makan. Kemudian ketika selesai, ia berkata: Wahai Amirul Mukminin, “Demi (angin) yang menerbangkan debu dengan kuat, dan awan yang mengandung hujan” (Surat Adz-Dzariyat: 1-2). Umar berkata: Engkaukah orangnya? Lalu Umar menghampirinya dan menggulung lengan bajunya, kemudian terus memukulnya hingga sorbannya jatuh. Kemudian berkata: Bawa ia hingga kalian mengembalikannya ke negerinya, kemudian hendaklah ia berdiri sebagai khatib lalu berkata: Sesungguhnya Shubaygh mencari ilmu tetapi salah. Maka ia tetap menjadi hina di kalangan kaumnya hingga ia meninggal, padahal ia adalah pemimpin kaumnya.
“Fadhailus Shahabah” 1/544-545
Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yazid menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad -yaitu Ibnu Amr- menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah radiallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Berdebat dalam Al-Quran adalah kekufuran.”
Al-Marwazi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Hammad bin Usamah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Amr Al-Laitsi menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Salamah menceritakan kepada kami, dari Abu Hurairah radiallahu anhu berkata: Berdebat dalam Al-Quran adalah kekufuran.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/108-109 (1433-1434)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdillah berkata: Mansur bin Salamah Al-Khuza’i menceritakan kepada kami, ia berkata: Sulaiman bin Bilal menceritakan kepada kami, ia berkata: Yazid bin Khushaifah menceritakan kepadaku, ia berkata: Busr bin Sa’id mengabarkan kepadaku, ia berkata: Abu Juhaim mengabarkan kepadaku bahwa dua orang berselisih tentang sebuah ayat dari Al-Quran, yang satu berkata: Aku menerimanya dari Rasulullah. Dan yang lain berkata: Aku menerimanya dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka keduanya bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam tentangnya, maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Al-Quran diturunkan dalam tujuh huruf, maka janganlah kalian berdebat dalam Al-Quran, karena sesungguhnya berdebat di dalamnya adalah kekufuran.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/109 (1435), 2/288 (1969)
Al-Khallal berkata: Ahmad bin Muhammad bin Mathar mengabarkan kepadaku, ia berkata: Abu Thalib menceritakan kepada kami bahwa ia bertanya kepada Abu Abdillah tentang seorang laki-laki yang bersumpah tidak akan berbicara satu hari hingga malam, lalu ia membaca Al-Quran.
Aku berkata: Sampai kepadaku dari Abu Ubaid bahwa ia berdosa. Abu Abdillah berkata: Siapa Abu Ubaid?
Aku berkata: Ahli hadits, apa pendapat Anda? Ia berkata: Aku tidak suka berbicara dalam masalah ini, dan janganlah engkau menjawab orang yang bertanya kepadamu tentangnya, dan janganlah berbicara dengannya.
Aku berkata: Abdul Wahhab mengabarkan kepadaku bahwa ia memiliki tetangga yang berkata: Sesungguhnya barangsiapa bersumpah tidak akan berbicara, kemudian membaca Al-Quran dalam shalat, ia tidak berdosa, dan jika membaca selain dalam shalat maka berdosa. Ia berkata: Jika membaca Al-Quran dalam shalat atau selain shalat tidak berdosa. Maka aku berkata kepada Abu Abdillah: Aku bertanya kepadamu lalu engkau diam dan tidak mengabariku! Maka ia tersenyum dan berkata: Aku tidak suka berbicara dalam perkara yang tidak dibicarakan di dalamnya, maka aku tidak suka membuat bidah.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/223-224 (1851)
Al-Khallal berkata: Ubaidullah bin Hanbal mengabarkan kepadaku, ia berkata: Ayahku Hanbal menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Allah berfirman dalam kitab-Nya: “Dan jika seorang dari orang-orang musyrikin meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah” (Surat At-Taubah: 6). Maka Jibril mendengarnya dari Allah, dan Nabi mendengarnya dari Jibril alaihima salam, dan para sahabat Nabi mendengarnya dari Nabi alaihi salam. Dan Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan, dan kami tidak ragu dan tidak bimbang di dalamnya. Dan nama-nama Allah dalam Al-Quran dan sifat-sifat-Nya dalam Al-Quran adalah dari ilmu Allah dan sifat-sifat-Nya dari-Nya. Maka barangsiapa mengira bahwa Al-Quran adalah makhluk maka ia kafir. Dan Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan, darinya dimulai dan kepadanya kembali. Maka sesungguhnya dahulu kami enggan berbicara dalam hal ini hingga orang-orang ini membuat hal yang mereka buat, dan berkata apa yang mereka katakan, mereka menyeru manusia kepada apa yang mereka serukan, maka jelaslah bagi kami urusan mereka dan itu adalah kekufuran kepada Allah Yang Agung.
Kemudian Abu Abdillah berkata: Allah senantiasa Maha Mengetahui lagi Maha Berbicara, kita beribadah kepada Allah dengan sifat-sifat-Nya yang tidak terbatas dan tidak diketahui kecuali dengan apa yang Dia sifatkan pada diri-Nya, Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Maha Mengetahui segala yang ghaib. Maka ini adalah sifat-sifat Allah tabaraka wa ta’ala yang Dia sifatkan pada diri-Nya sendiri, dan tidak ditolak dan tidak dikembalikan. Dan Dia di atas Arasy tanpa batas sebagaimana Dia berfirman, bersemayam di atas Arasy sebagaimana Dia kehendaki, dan kehendak adalah milik-Nya dan kemampuan adalah bagi-Nya. “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Surat Asy-Syura: 11). Tidak mencapai sifat-Nya para penyifat, dan Dia sebagaimana Dia mensifati diri-Nya. Kami beriman kepada Al-Quran yang muhkam dan mutasyabihnya, semuanya dari Rabb kami. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain” (Surat Al-An’am: 68). Maka kami meninggalkan perdebatan dan perselisihan dalam Al-Quran, dan kami tidak berdebat dan tidak berselisih di dalamnya. Dan kami beriman kepadanya semuanya, dan kami mengembalikannya kepada Yang Mengetahuinya yaitu kepada Allah tabaraka wa ta’ala. Maka Dia lebih mengetahuinya, dari-Nya dimulai dan kepada-Nya kembali.
Abu Abdillah berkata: Dan Abdurrahman bin Ishaq berkata kepadaku: Dahulu Allah ada dan tidak ada Quran. Maka aku berkata kepadanya menjawab: Dahulu Allah ada dan tidak ada ilmu? Maka ilmu adalah dari Allah dan bagi-Nya, dan ilmu Allah adalah dari-Nya, dan ilmu tidak diciptakan. Maka barangsiapa berkata bahwa ia makhluk maka sungguh telah kafir kepada Allah, dan mengira bahwa Allah adalah makhluk. Maka ini adalah kekufuran yang nyata.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/225-226 (1858)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Abdillah memberitahu kepada kami, ia berkata: Mansur bin Salamah Al-Khuza’i menceritakan kepada kami, ia berkata: Sulaiman bin Bilal menceritakan kepada kami, ia berkata: Yazid bin Khushaifah menceritakan kepadaku, ia berkata: Busyr bin Sa’id mengabarkan kepadaku, ia berkata: Abu Juhaim mengabarkan kepadaku bahwa dua orang berselisih tentang sebuah ayat dari Al-Quran, yang satu berkata: Aku menerimanya dari Rasulullah. Dan yang lain berkata: Aku menerimanya dari Rasulullah. Maka keduanya bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Al-Quran dibaca dalam tujuh huruf, janganlah kalian berdebat dalam Al-Quran, karena sesungguhnya berdebat di dalamnya adalah kekufuran.”
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/288 (1969)
Hanbal bin Ishaq berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan dari setiap sisi dan dalam setiap keadaan, dan tidak ada dari Allah sesuatu yang diciptakan. Dan tidak bermusuhan dalam hal ini dan tidak berbicara, dan aku tidak melihat perselisihan dan perdebatan di dalamnya.
“Al-Ibanah” karya Ibnu Baththah, kitab Bantahan terhadap Jahmiyah 2/36 (227), Bab Al-Mihnah (Ujian)
84 – Pasal: Kabar Gembira tentang Ujian
Ali bin Abdul Aziz Ath-Thalhi berkata: Ar-Rabi’ berkata kepadaku: Asy-Syafi’i berkata kepadaku: Wahai Rabi’, ambil suratku dan pergilah dengannya lalu serahkan kepada Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal dan bawakan aku jawabannya.
Ar-Rabi’ berkata: Maka aku masuk Baghdad dan bersamaku surat itu, dan aku bertemu Ahmad bin Hanbal pada shalat Subuh, maka aku shalat Fajar bersamanya. Ketika ia berpaling dari mihrab, aku menyerahkan kepadanya surat itu dan berkata kepadanya: Ini surat saudaramu Asy-Syafi’i dari Mesir.
Maka Ahmad berkata: Apakah engkau telah melihatnya? Aku berkata: Tidak.
Lalu Ahmad membuka stempel dan membaca surat itu, maka kedua matanya berlinang air mata.
Maka aku berkata kepadanya: Apa isinya wahai Abu Abdillah?
Maka ia berkata: Ia menyebut bahwa ia melihat Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam mimpi, maka beliau berkata kepadanya: Tulislah kepada Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal dan bacakan kepadanya salam dariku, dan katakan: Sesungguhnya engkau akan diuji dan dipanggil kepada penciptaan Al-Quran, maka janganlah engkau menjawab mereka, Allah akan mengangkat bagimu ilmu hingga hari kiamat.
Ar-Rabi’ berkata: Maka aku berkata: Kabar gembira. Maka ia melepas kemejanya yang menempel pada kulitnya lalu memberikannya kepadaku. Maka aku mengambilnya dan keluar menuju Mesir, dan aku mengambil jawaban surat itu dan menyerahkannya kepada Asy-Syafi’i. Maka ia berkata kepadaku: Wahai Rabi’, apa yang diberikan kepadamu?
Aku berkata: Kemeja yang menempel pada kulitnya.
Maka Asy-Syafi’i berkata kepadaku: Kami tidak akan mengambilnya darimu, tetapi basahi ia dan berikan kepada kami airnya agar aku turut serta denganmu di dalamnya.
“Manaqib Al-Imam Ahmad” karya Ibnu Al-Jauzi hal. 551
Muhammad bin Nashir berkata: Al-Hasan bin Ahmad bin Al-Banna’ memberitahu kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad Al-Hasan bin Muhammad Al-Hafizh memberitahu kepada kami, ia berkata: Abdul Wahid bin Ali bin Al-Husain Al-Fami menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Hasan Ali bin Musa bin Isa Al-Bazzaz menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Muhammad bin Al-Hajjaj Al-Marwazi menceritakan kepadaku, ia berkata: Suatu hari aku sedang duduk di jembatan At-Tabanin, tiba-tiba aku melihat dua orang membawa seorang Badui menunggangi untanya, ketika mereka berhenti di hadapanku dan berkata: Dia ada di sini, dia sedang duduk. Maka si Badui berkata kepadaku: Apakah engkau Ahmad bin Hanbal?
Maka aku berkata kepadanya: Tidak, aku adalah sahabatnya, sebutkan keperluanmu. Maka ia berkata: Aku menginginkannya.
Aku berkata: Aku tunjukkan dia kepadamu? Ia berkata: Ya demi Allah.
Maka aku berjalan di hadapannya hingga aku sampai ke pintu Abu Abdillah, lalu aku mengetuk pintu. Mereka berkata: Siapa ini? Maka aku berkata: Aku Al-Marwazi. Mereka berkata: Masuklah.
Aku berkata: Aku dan yang bersamaku?
Mereka berkata: Engkau dan yang bersamamu. Maka si Badui menambatkan untanya dan mengikatnya, lalu aku masuk dan ia masuk bersamaku. Ketika ia melihat Abu Abdillah, si Badui berkata: Ya demi Allah, tiga kali! Lalu ia memberi salam kepadanya. Maka ia berkata kepadanya: Apa keperluanmu?
Maka ia berkata: Aku adalah utusan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepadamu. Ia berkata: Celakalah engkau, apa yang engkau katakan?
Ia berkata: Sesungguhnya aku adalah seorang Badui antara kaumku dan Madinah empat puluh mil, kaumku mengutusku ke Madinah untuk membeli gandum dan kurma untuk mereka. Maka aku datang ke Madinah dan membeli apa yang mereka amanatkan kepadaku dari itu, dan malam telah tiba, maka aku shalat di masjid Nabi shallallahu alaihi wasallam Isya, lalu aku berbaring. Ketika aku tertidur tiba-tiba datang kepadaku seseorang yang menggerakkanku dan berkata kepadaku: Apakah engkau mau pergi untuk Rasulullah dalam suatu keperluan?
Maka aku berkata: Ya demi Allah. Maka ia memegang tangan kanannya pada lenganku yang kiri dan membawaku ke tembok kubur Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu ia memberhentikanku di dekat kepalanya. Maka ia berkata: Wahai Rasulullah. Maka aku mendengar dari balik tembok seseorang yang berkata: Apakah engkau mau pergi untuk kami dalam suatu keperluan?
Maka aku berkata: Ya demi Allah, ya demi Allah, ya demi Allah, tiga kali.
Maka ia bersabda: Pergilah hingga engkau datang ke Baghdad, atau Az-Zaura -keraguan dari Al-Marwazi- maka jika engkau datang ke Baghdad maka tanyakan tentang rumah Ahmad bin Hanbal. Jika engkau bertemu dengannya maka katakan: Nabi menyampaikan salam kepadamu dan berkata kepadamu: Sesungguhnya Allah akan mengujimu dengan ujian dan mengujimu dengan cobaan, dan sungguh aku telah memohonkan untukmu kesabaran atasnya, maka janganlah engkau panik.
Al-Marwazi berkata: Dan dahulu jika seorang laki-laki berkata kepadanya: Apa yang menguatkanmu wahai Abu Abdillah dalam cambukan? Ia berkata: Sungguh telah didahulukan permohonan.
Abu Bakar berkata: Dan adalah antara kepulangan si Badui dan ujian dua puluh lima hari.
“Manaqib Al-Imam Ahmad” hal. 558-559
Abu al-Qasim Ubaidullah bin al-Qasim berkata: Saya mendengar Ahmad bin Muhammad al-Marwazi berkata: Saya mendengar Ishaq bin Rahawaih berkata: Saya keluar bersama Ahmad bin Hanbal dalam haji terakhirnya yang ia laksanakan, ketika kami sampai di aqabah Madinah, tiba-tiba kami melihat seorang syekh yang dibawa dalam tandu, alis matanya telah jatuh menutupi kedua matanya karena usia tua dan ia mengikatnya dengan perban, di sekelilingnya ada para syekh dan pemuda, dan ada yang berkata: “Siapa di antara kalian Ahmad bin Hanbal?” Orang-orang menunjuk dengan tangan mereka kepada Ahmad, maka orang itu mendatanginya hingga berdiri di hadapannya, lalu berkata: “Apakah engkau Ahmad bin Muhammad bin Hanbal?” Ahmad menjawab: “Begitulah menurut ibuku.”
Orang itu berkata: “Apakah engkau mengenalku?” Ahmad menjawab: “Ya Allah, tidak.”
Ia berkata: “Saya adalah keturunan Ubaidullah bin Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, semalam saya bermimpi melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersama Abu Bakar dan Umar, mereka telah menyeberangi jembatan Baghdad, lalu selendang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jatuh dari bahu kanannya, maka engkau wahai Ahmad datang dan mengambil selendang itu hingga meletakkannya di bahu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar dan Umar radiyallahu ‘anhuma menoleh kepadamu dan berkata: ‘Bergembiralah, sesungguhnya engkau besok adalah teman kami di surga.'”
Seorang syekh yang hadir bersama Ahmad bin Hanbal berkata: “Sesungguhnya selendang yang dikembalikan Ahmad ke bahu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang Ahmad kembalikan kepada manusia.”
Ia berkata: Ahmad ketika menceritakan hadits ini mengetuk-ngetuk tanah dengan jarinya, kemudian berkata: “Aku berharap seandainya gunung ini menenggelamkanku atau membawaku pergi dan aku tidak mendengar ucapan ini.”
Semua itu agar Ahmad tidak menggantungkan diri pada ucapan tersebuh.
“Mihnah al-Imam Ahmad” karya Abdul Ghani al-Maqdisi hlm. 33-34
85 – Bab: Cobaan Imam bersama al-Ma’mun
Shalih berkata: Saya mendengar ayahku berkata: Ketika kami dihadapkan kepada Ishaq bin Ibrahim untuk ujian, dibacakan kepadanya surat yang dikirim ke Tharsus, di antara yang dibacakan kepada kami adalah: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya” (Surah Asy-Syura: 11), dan “Dia adalah Pencipta segala sesuatu”. Ayahku berkata: Maka aku berkata: “Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Surah Asy-Syura: 11).
Sebagian orang yang hadir berkata: “Tanyakan kepadanya apa yang ia maksud dengan ucapannya: ‘Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat’?”
Ayahku berkata: Maka aku berkata: “Dia adalah sebagaimana firman Allah Tabaraka wa Ta’ala.”
Shalih berkata: Kemudian orang-orang diuji, maka yang menolak dikirim ke penjara, semua orang menjawab kecuali empat orang: ayahku rahimahullah, Muhammad bin Nuh, Ubaidullah bin Umar al-Qawariri, dan al-Hasan bin Hammad Sajjadah.
Kemudian Ubaidullah bin Umar dan al-Hasan bin Hammad menjawab, dan tinggal ayahku serta Muhammad bin Nuh di penjara, mereka berdua tinggal beberapa hari di penjara, kemudian datang surat dari Tharsus untuk membawa keduanya, maka ayahku dan Muhammad bin Nuh rahmatullahi ‘alaihima dibawa dalam keadaan terbelenggu sebagai teman seperjalanan, mereka dikeluarkan dari Baghdad dan kami pergi bersama mereka hingga al-Anbar.
Abu Bakar al-Ahwal bertanya kepada ayahku, ia berkata: “Wahai Abu Abdillah, jika engkau dihadapkan pada pedang, apakah engkau akan menjawab?” Ia menjawab: “Tidak.”
Ayahku berkata: Kami berangkat hingga masuk ke Rahabah, ketika kami masuk ke sana dan itu di tengah malam, dan keluar dari Rahabah, seorang laki-laki menghadang kami lalu berkata: “Siapa di antara kalian Ahmad bin Hanbal?”
Dikatakan kepadanya: “Ini dia,” maka ia memberi salam kepada ayahku kemudian berkata: “Wahai engkau, tidak mengapa bagimu jika terbunuh di sini, dan masuk surga di sini.” Kemudian ia memberi salam dan pergi. Aku bertanya: “Siapa ini?”
Dikatakan: “Ini adalah seorang laki-laki dari Rabi’ah al-Arab, ia membuat syair di pedalaman, disebut: Jabir bin Amir.”
Ketika kami sampai di Azanah dan kami berangkat dari sana, dan itu di tengah malam, pintunya dibuka untuk kami, kami bertemu seorang laki-laki ketika kami keluar dari pintu dan ia masuk, ia berkata: “Kabar gembira, sesungguhnya orang itu telah meninggal.”
Ayahku berkata: “Aku telah berdoa kepada Allah agar aku tidak melihatnya.”
Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Ma’mar bin Sulaiman menceritakan kepada kami, dari Mirar bin Salman, dari Maimun bin Mihran ia berkata: “Tiga hal jangan engkau menguji dirimu dengannya: jangan masuk menemui penguasa meskipun engkau berkata: aku akan memerintahkannya dengan ketaatan kepada Allah. Dan jangan masuk menemui wanita meskipun engkau berkata: aku akan mengajarinya Kitab Allah. Dan jangan condongkan telingamu kepada orang yang memiliki hawa nafsu, karena engkau tidak tahu apa yang akan melekat di hatimu darinya.”
Shalih berkata: Maka ayahku dan Muhammad bin Nuh pergi ke Tharsus, dan berita kematian al-Ma’mun datang dari al-Bazandun, mereka berdua dikembalikan dalam belenggu mereka ke ar-Raqqah, dan dikeluarkan dari ar-Raqqah dengan kapal bersama orang-orang yang dipenjara, ketika mereka sampai di ‘Anah, Muhammad bin Nuh meninggal, ayahku maju dan menshalatkannya, kemudian pergi ke Baghdad dalam keadaan terbelenggu, ia tinggal di Yaasiriyyah beberapa hari, kemudian dipindahkan ke penjara di rumah yang disewa di dekat rumah ‘Amarah. Kemudian dipindahkan setelah itu ke penjara umum di Darb al-Mushiliyyah, ia tinggal di penjara sejak ditangkap, dan dibawa ke Baghdad untuk dipukul, dan dibebaskan setelah dua puluh delapan bulan.
Ayahku berkata: “Aku shalat bersama mereka dalam keadaan terbelenggu.”
Ayahku berkata: “Jika belenggu tidak menghalanginya dari kesempurnaan shalat maka tidak mengapa.”
Aku melihat Fauran membawa untuk ayahku dalam kendi air dingin lalu membawanya ke penjara.
“Sirah al-Imam Ahmad” karya putranya Shalih hlm. 48-50
Al-Husain bin Muhammad berkata: Muhammad bin Ismail bin Ahmad bin Shalih bin Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, Abu Abdillah as-Sallal menceritakan kepadaku, ia berkata: Saya mendengar Abu Abdillah Muhammad bin Nuh berkata: Aku berkata kepada Abu Abdillah: “Jika engkau melihatku lemah atau dikecewakan maka jangan lemah, karena engkau tidak seperti kami.”
Ia berkata kepadaku: “Bergembiralah karena engkau akan mengalami salah satu dari tiga hal: engkau tidak melihatnya dan ia tidak melihatmu, atau engkau melihatnya lalu mendustakannya maka ia membunuhmu dan engkau termasuk syuhada yang paling utama, atau engkau melihatnya lalu membenarkannya maka Allah menghalangi antara engkau dan dia.”
Abdullah bin Ja’far mengabarkan kepada kami dan al-Husain bin Muhammad menceritakan kepadaku dari dia, ayahku menceritakan kepada kami, Ahmad bin Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ghassan berkata: Aku dan Ahmad bin Hanbal dibawa dalam howdah di atas unta menuju al-Ma’mun, ketika kami dekat ‘Anah Ahmad berkata kepadaku: “Hatiku merasakan bahwa Raja’ al-Hishar akan datang malam ini, jika ia datang dan aku sedang tidur maka bangunkan aku dan jika ia datang sedang engkau tidur maka aku akan membangunkanmu.” Ketika kami sedang berjalan tiba-tiba ada yang mengetuk howdah, maka Ahmad mengintip, ternyata seorang laki-laki yang ia kenali dari ciri-cirinya dan ia tidak tinggal di kota-kota dan desa-desa, ia mengenakan abaya yang diikatkan di lehernya, ia berkata: “Wahai Abu Abdillah, sesungguhnya Allah telah meridhai engkau sebagai utusan-Nya, maka perhatikanlah jangan sampai kedatanganmu kepada kaum muslimin menjadi kedatangan yang membawa sial, dan ketahuilah bahwa orang-orang menunggumu karena engkau akan berkata maka mereka akan berkata, dan ketahuilah bahwa ini hanyalah kematian dan surga.” Ketika kami menghadap ke al-Bazandun, ia berkata kepadaku: “Wahai Ahmad bin Ghassan, sesungguhnya aku berwasiat kepadamu dengan wasiat maka hafalkanlah dariku, bertakwalah kepada Allah dalam kesenangan dan kesusahan, dan bersyukurlah kepada-Nya dalam kesulitan dan kemudahan, dan jika orang ini memanggil kita untuk mengatakan: al-Quran adalah makhluk, maka jangan katakan, dan jika aku mengatakannya maka jangan bersandar kepadaku, dan ta’wilkanlah firman Allah Ta’ala: ‘Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka’ (Surah Hud: 113).” Maka aku takjub dengan usia mudanya dan keteguhan hatinya, tidak lama kemudian keluarlah seorang khadim yang menyeka wajahnya dengan lengan bajunya sambil berkata: “Berat bagiku wahai Abu Abdillah bahwa Amirul Mukminin menghunus pedang yang belum pernah ia hunus sebelumnya, dan membentangkan permadani yang belum pernah ia bentangkan sebelumnya, kemudian berkata: Demi kerabatku dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku tidak akan mengangkat pedang dari Ahmad dan temannya hingga mereka berdua berkata: al-Quran adalah makhluk.” Ia berkata: Maka aku melihat Ahmad telah berlutut di atas kedua lututnya dan menatap langit dengan kedua matanya, kemudian berkata: “Tuanku, kesabaran-Mu telah membuat orang fasik ini sombong hingga ia berani membunuh dan memukul wali-wali-Mu, ya Allah, jika al-Quran adalah kalam-Mu yang bukan makhluk maka cukupkanlah kami dari masalah dengannya.”
Ia berkata: Demi Allah, belum berlalu sepertiga pertama malam kecuali kami mendengar teriakan dan kegaduhan, dan tiba-tiba Raja’ al-Hishar telah datang kepada kami lalu berkata: “Engkau benar wahai Abu Abdillah, al-Quran adalah kalam Allah yang bukan makhluk, demi Allah Amirul Mukminin telah meninggal.”
“Hilyah al-Auliya'” 9/194-195
Al-Khatib berkata: Muhammad bin Ahmad bin Rizq mengabarkan kepada kami, Utsman bin Ahmad ad-Daqqaq menceritakan kepada kami: Hanbal bin Ishaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Saya mendengar Abu Abdillah berkata: “Aku tidak melihat seorang pun pada usia muda dan sedikit ilmu, yang lebih tegak dengan perintah Allah daripada Muhammad bin Nuh, dan aku berharap Allah telah mengakhirinya dengan kebaikan, ia berkata kepadaku suatu hari ketika aku bersamanya berdua saja: Wahai Abu Abdillah, demi Allah demi Allah, sesungguhnya engkau tidak seperti aku, engkau adalah orang yang dijadikan teladan, dan makhluk ini telah mengulurkan leher mereka kepadamu untuk apa yang terjadi darimu, maka bertakwalah kepada Allah dan teguh untuk urusan Allah. Atau kurang lebih seperti ucapan ini.” Abu Abdillah berkata: “Maka aku takjub dengan penguatannya kepadaku dan nasihatnya kepadaku.”
Abu Abdillah berkata: “Lihatlah dengan apa ia diakhiri! Maka Ibnu Nuh tetap seperti itu hingga ia sakit di sebagian jalan lalu meninggal.”
Abdullah berkata: “Maka aku menshalatkannya dan menguburkannya – kukira ia berkata: di ‘Anah.”
Al-Khatib berkata: Dan kematiannya adalah pada tahun dua ratus delapan belas.
“Tarikh Baghdad” 3/323
Al-Khatib al-Baghdadi berkata: Al-Hasan bin Ali at-Tamimi mengabarkan kepadaku, ia berkata: Umar bin Ahmad al-Wa’iz menceritakan kepada kami, Ahmad bin Muhammad bin Mas’adah al-Ashbahani menceritakan kepada kami, Abu Yahya Makki bin Abdullah bin Yusuf ats-Tsaqafi menceritakan kepada kami, Abu Bakar al-A’yan menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku datang kepada Adam al-Asqalani lalu berkata kepadanya: “Abdullah bin Shalih penulis al-Laits menyampaikan salam kepadamu.”
Ia berkata: “Jangan sampaikan salam dariku kepadanya,” maka aku berkata kepadanya: “Mengapa?”
Ia berkata: “Karena ia berkata: Al-Quran adalah makhluk.”
Ia berkata: “Maka aku mengabarkan kepadanya tentang uzurnya, dan bahwa ia menampakkan penyesalan, dan mengabarkan orang-orang tentang rujuknya.”
Ia berkata: “Maka sampaikanlah salam kepadanya.”
Aku berkata kepadanya setelah itu: “Sesungguhnya aku ingin keluar ke Baghdad, apakah engkau punya keperluan?”
Ia berkata: “Ya, jika engkau datang ke Baghdad maka datangi Ahmad bin Hanbal dan sampaikan salamku kepadanya, dan katakan kepadanya: Wahai engkau, bertakwalah kepada Allah dan dekatkanlah diri kepada Allah dengan apa yang engkau alami, dan jangan biarkan seseorang memprovokasi engkau, karena engkau insya Allah akan menghadap ke surga, dan katakan kepadanya: Al-Laits bin Sa’d menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin ‘Ajlan, dari Abu az-Zinad, dari al-A’raj, dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersaid: ‘Barangsiapa mengajak kalian kepada kemaksiatan kepada Allah maka jangan patuhi dia.’”
Maka aku datang kepada Ahmad bin Hanbal di penjara dan masuk menemuinya, aku memberi salam kepadanya dan menyampaikan salam, dan mengatakannya ucapan ini dan hadits, maka Ahmad menundukkan kepala sejenak kemudian mengangkat kepalanya lalu berkata: “Semoga Allah merahmatinya hidup dan mati, sungguh ia telah memberikan nasihat yang baik.”
“Tarikh Baghdad” 7/28-29
Abdurrahman bin Abi Hatim berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Abi al-Hawari menceritakan kepada kami dari sebagian sahabatnya, ia berkata: Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku tidak mendengar ucapan yang lebih berkesan di hatiku daripada ucapan yang aku dengar dari seorang Arab Badui di Rahabah Thuq, ia berkata kepadaku: Wahai Ahmad, jika kebenaran membunuhmu maka engkau mati sebagai syahid, dan jika engkau hidup maka engkau hidup terpuji.”
Ibnu Abi Hatim berkata: Ayahku berkata: Maka adalah sebagaimana yang ia katakan, sungguh Allah ‘Azza wa Jalla telah mengangkat urusan Ahmad bin Hanbal setelah ia diuji, dan ia menjadi besar di hadapan manusia dan urusannya terangkat sangat tinggi.
“Manaqib al-Imam Ahmad” karya Ibnu al-Jauzi hlm. 390
Ibnu Al-Jauzi berkata: Muhammad bin Nashir memberitahu kami, ia berkata: Ahmad bin Abi Sa’d An-Naisaburi memberitahu kami, ia berkata: Aku mendengar Abdullah bin Yusuf berkata: Aku mendengar Abu Al-Abbas Al-Ashom berkata: Aku mendengar Al-Abbas bin Muhammad Ad-Duri berkata: Aku mendengar Abu Ja’far Al-Anbari berkata: Ketika Ahmad bin Hanbal dibawa kepada Al-Ma’mun, aku diberi tahu, lalu aku menyeberangi sungai Furat dan ternyata ia sedang duduk di penginapan. Aku mengucapkan salam kepadanya, maka ia berkata: Wahai Abu Ja’far, apakah engkau bersusah payah? Aku berkata: Ini bukan kesusahan. Dan aku berkata kepadanya: Wahai orang ini, engkau hari ini adalah pemimpin, dan orang-orang mengikutimu sebagai teladan. Maka demi Allah, jika engkau menjawab setuju tentang penciptaan Al-Quran, niscaya banyak makhluk Allah yang akan menjawab setuju karena jawabanmu, dan jika engkau tidak menjawab setuju, niscaya banyak makhluk manusia yang akan menolak. Selain itu, sesungguhnya orang itu jika tidak membunuhmu, engkau akan tetap mati, dan kematian pasti datang. Maka bertakwalah kepada Allah dan jangan menjawab setuju atas sesuatu pun kepada mereka.
Maka Ahmad menangis dan berkata: Semoga Allah menghendaki, semoga Allah menghendaki.
Kemudian Ahmad berkata kepadaku: Wahai Abu Ja’far, ulangi apa yang telah kamu katakan. Lalu aku mengulanginya kepadanya, maka ia berkata: Semoga Allah menghendaki, semoga Allah menghendaki.
“Manaqib Al-Imam Ahmad” karya Ibnu Al-Jauzi hal. 391
Abu Abdullah Muhammad bin Al-Hasan bin Ali Al-Bukhari berkata: Aku mendengar Muhammad bin Ibrahim Al-Busyanji berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata: Aku berdoa kepada Tuhanku tiga doa, dan aku melihat dikabulkannya dua doa. Aku berdoa kepada-Nya agar tidak mempertemukan aku dengan Al-Ma’mun, dan aku berdoa kepada-Nya agar tidak melihat Al-Mutawakkil. Maka aku tidak bertemu Al-Ma’mun, ia meninggal di Al-Bazandun – yaitu sungai Romawi – sementara Ahmad dipenjara di Ar-Raqqah, sampai Al-Mu’tashim dibaiat di negeri Romawi, dan ia kembali lalu mengembalikan Ahmad ke Baghdad pada tahun 218 Hijriah, dan Al-Mu’tashim mengujinya.
Adapun Al-Mutawakkil, ketika ia menghadirkan Ahmad ke istana khalifah untuk mengajar anaknya, Al-Mutawakkil duduk untuknya di celah pintu, sehingga ia melihat Ahmad tetapi Ahmad tidak melihatnya.
“Manaqib Al-Imam Ahmad” karya Ibnu Al-Jauzi hal. 392
Ibnu Al-Jauzi berkata: Abu Al-Abbas memberitahuku – dan ia termasuk para hafidz ahli hadits – bahwa mereka masuk menemui Ahmad di Ar-Raqqah saat ia dipenjara, lalu mereka mulai mengingatkannya tentang hadits-hadits yang diriwayatkan tentang taqiyah (penyembunyian keyakinan). Maka Ahmad berkata: Bagaimana kalian menjelaskan hadits Khabbab: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian, salah seorang di antara mereka digergaji dengan gergaji tetapi hal itu tidak menghalanginya dari agamanya”
Ia berkata: Maka kami putus asa darinya.
Maka Ahmad berkata: Aku tidak peduli dengan penjara, ia dan rumahku sama saja, juga tidak dengan dibunuh dengan pedang. Aku hanya takut fitnah dengan cambuk, dan aku takut tidak mampu bersabar.
Maka sebagian penghuni penjara mendengarnya berkata demikian, lalu ia berkata: Jangan khawatir wahai Abu Abdullah, itu hanya dua cambukan kemudian engkau tidak tahu di mana pukulan sisanya jatuh. Maka seolah-olah beban diangkat darinya, dan ia dikembalikan dari Ar-Raqqah dan dipenjara.
“Manaqib Al-Imam Ahmad” karya Ibnu Al-Jauzi hal. 394
Abu Ali Hanbal bin Ishaq bin Hanbal berkata: Aku mendengar Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, dan ia menyebutkan orang-orang yang dibawa ke Ar-Raqqah kepada Al-Ma’mun dan mereka menjawab setuju. Maka Abu Abdullah menyebutkan mereka setelah itu dan berkata: Mereka ini jika bersabar dan berdiri teguh karena Allah, perkara ini sudah selesai, dan orang itu – yaitu Al-Ma’mun – telah memperingatkan mereka. Tetapi ketika mereka menjawab setuju dan mereka adalah tokoh negeri, maka orang lain berani melakukan hal yang sama.
Dan Abu Abdullah jika menyebutkan mereka, ia bersedih karena itu dan berkata: Mereka adalah yang pertama membuat kerusakan ini dan merusak perkara ini.
Abu Ali Hanbal berkata: Yang pertama dibawa untuk ujian adalah tujuh orang ini, datang surat Al-Ma’mun tentang perkara mereka agar dibawa kepadanya dan mereka tidak diuji di sini, tetapi ia membawa mereka kepadanya lalu mereka menjawab setuju kepadanya di Ar-Raqqah, dan mereka adalah: Yahya bin Ma’in, dan Abu Khaitsyamah Zuhair bin Harb, dan Ahmad bin Ibrahim Ad-Durqi, dan Ismail Al-Jauzi, dan Muhammad bin Sa’d penulis Al-Waqidi, dan Abu Muslim Abdurrahman bin Yunus Al-Mustamli, dan Ibnu Abi Mas’ud.
Aku hadir bersama mereka ketika mereka dibawa ke Ar-Raqqah di penginapan di pintu gerbang Al-Anbar, maka mereka semua dibawa keluar lalu menjawab setuju dan dibebaskan.
Ia berkata: Kemudian datang surat Al-Ma’mun kepada Ishaq bin Ibrahim memerintahkannya menghadirkan Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal, dan Ubaidullah bin Umar Al-Qawariri, dan Al-Hasan bin Hammad Sijadah, dan Muhammad bin Nuh bin Maimun, dan untuk menguji mereka.
Maka Ishaq mengutus kepada mereka, lalu mereka ditangkap dan aku berada di Kufah bersama Abu Nu’aim. Aku datang setelah itu maka ayahku memberitahuku setelah kedatanganku bahwa Abu Abdullah didatangi petugas pajak saat waktu terbenam matahari lalu dibawa pergi.
Ayahku berkata: Maka aku pergi bersamanya, ia berkata: Jika besok, datanglah ke istana Amir.
Ayahku berkata: Maka aku berkata kepada Abu Abdullah: Andai engkau bersembunyi.
Maka ia berkata: Bagaimana aku bersembunyi? Jika aku bersembunyi, aku tidak aman atas dirimu dan anakku serta anakmu, dan orang-orang akan mengalami kesulitan karena aku. Tetapi aku akan melihat apa yang terjadi.
Maka ketika esok hari, Abu Abdullah dan orang-orang yang disebutkan bersamanya hadir, lalu mereka dimasukkan kepada Ishaq dan ia menguji mereka. Maka Abu Abdullah dan kelompok itu menolak untuk menjawab setuju semuanya.
Aku mendengar Abu Abdullah berkata setelah dikeluarkan dari penjara: Ketika kami dimasukkan kepada Ishaq bin Ibrahim, ia membacakan kepada kami surat orang itu – yaitu Al-Ma’mun – surat yang ia tulis kepada Ishaq dengan menyebutkan nama setiap orang dengan nasab dan gelarnya. Dan di dalamnya tertulis: Adapun Ahmad, dia adalah anak kecil itu, adapun Ibnu Nuh, apa urusannya dengan ini?! Dia harus dengan ghazwah (peperangan), adapun fulan, dia pemakan harta anak yatim, adapun fulan demikian, ia menyebutkan nama setiap orang. Abu Abdullah berkata: Dan di dalam surat itu tertulis: Bacakan kepada mereka: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya” (Asy-Syura: 11).
Abu Abdullah berkata: Ketika ia membaca: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya”, aku berkata: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. Maka Ishaq berkata: Apa yang kamu maksud dengan ini? Maka aku berkata: Kitab Allah Yang Mulia lagi Agung, dan aku tidak menambahkan sesuatu pun pada kitab-Nya sebagaimana Dia berfirman dan sifat-Nya Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi.
Kemudian ia menguji kelompok itu, maka siapa yang tidak menjawabnya dan menolaknya, ia memerintahkan untuk memenjarakannya dan membelenggunya. Ketika setelah itu ia memanggil Al-Qawariri dan Sijadah, maka mereka berdua menjawab setuju dan ia membebaskan mereka berdua. Dan Abu Abdullah setelah itu memberi udzur kepada Al-Qawariri dan Sijadah, ia berkata: Mereka berdua telah memberi alasan dan dipenjara serta dibelenggu. Dan Allah berfirman: “Kecuali orang yang dipaksa sedang hatinya tetap tenang dengan iman”. Kemudian ia berkata: Belenggu adalah paksaan, dan penjara adalah paksaan.
“Al-Mihnah” karya Abdul Ghani Al-Maqdisi hal. 39 – 43
Abu Thahir As-Silafi berkata: Abu Muhammad Al-Hasan bin Abdul Malik bin Muhammad bin Yusuf memberitahu kami, dan Abu Thalib Al-Mubarak bin Ali bin Muhammad bin Khudhair Ash-Shairafi memberitahu kami di Baghdad, Abu Thahir Abdurrahman bin Ahmad bin Abdul Qadir memberitahu kami, dan Abu Thalib Abdul Qadir bin Muhammad bin Yusuf, mereka berkata: Abu Ishaq Ibrahim bin Ishaq bin Umar bin Ajmad memberitahu kami, Abu Al-Hasan Ali bin Abdul Aziz bin Murdak Al-Barza’i memberitahu kami, Abdurrahman bin Abi Hatim menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibrahim bin Al-Harits Al-Ibadi berkata – dari keturunan Ubadah bin Ash-Shamit, dan ia adalah teman seperjalanan kami di negeri Romawi: Abu Muhammad Ath-Thafawi menghadiri Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, lalu ia menyebutkan sebuah hadits kepadanya. Maka Abu Abdullah berkata: Aku kabarkan kepadamu yang serupa dengan ini, ketika kami dibawa keluar, aku berpikir tentang apa yang kami alami, sampai ketika kami sampai di Ar-Rahbah, kami diturunkan di luar rumah-rumah menuju padang pasir. Kebanyakan yang bersama kami tertidur, maka aku berpikir tentang padang pasir itu, dan apa yang akan aku katakan jika aku sampai di sana? Sementara aku dalam keadaan itu, tiba-tiba aku merentangkan pandanganku dan ada sesuatu yang tidak jelas bagiku. Ia terus mendekat sampai jelas, ternyata seorang Arab Badui dengan pakaian orang Arab telah mendekat, dan ia mulai melangkahi mahmal-mahmal itu sampai ia sampai kepadaku. Maka ia berdiri di hadapanku lalu memberi salam kemudian berkata: Apakah kamu Ahmad bin Hanbal?
Aku diam karena heran, kemudian ia berkata untuk kedua kalinya: Apakah kamu Ahmad bin Hanbal?
Aku diam dan tidak menjawabnya. Maka ia berlutut dan berkata: Apakah kamu Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal? Aku berkata: Ya. Maka ia berkata: Bergembiralah dan bersabarlah, ini hanya satu pukulan di sini, dan engkau akan masuk surga di sini.
Dan sebagian sahabat kami menambahkan kepadaku bahwa orang Arab Badui itu berkata kepadanya: Apakah engkau mencintai Allah?
Abu Abdullah berkata: Aku berkata: Ya.
Ia berkata: Maka jika engkau mencintai Allah, engkau mencintai pertemuan dengan-Nya.
Kemudian ia pergi, maka aku terus memandangnya sampai ia menghilang dan aku tidak melihatnya.
Abu Muhammad Ath-Thafawi berkata kepadanya: Bersyukurlah kepada Allah wahai Abu Abdullah, karena sesungguhnya engkau terpuji di sisi masyarakat umum.
Maka Abu Abdullah berkata: Aku bersyukur kepada Allah atas agamaku, ini hanyalah agama, dan jika aku berkata kepada mereka, aku kafir.
“Al-Mihnah” karya Abdul Ghani Al-Maqdisi hal. 48 – 49
Hanbal berkata: Dan aku mendengar Abu Abdullah berkata: Aku berdoa kepada Allah agar tidak melihat wajahnya – yaitu Al-Ma’mun – dan itu karena sampai kepadaku tentang dia bahwa ia berkata: Jika mataku jatuh padanya, aku akan memotongnya anggota demi anggota. Abu Abdullah berkata: Maka aku berdoa kepada Allah: Jangan perlihatkan wajahnya kepadaku. Ketika kami masuk Tharsus, kami tinggal beberapa hari dan aku dalam keadaan itu, tiba-tiba ada seseorang masuk kepada kami, lalu ia berkata kepadaku: Wahai Abu Abdullah, orang itu telah meninggal. Maka aku memuji Allah Yang Maha Tinggi, dan aku terus mengharapkan pembebasan, tiba-tiba masuk kepada kami seorang laki-laki lalu berkata: Sesungguhnya telah bersama Abu Ishaq – yaitu Al-Mu’tashim – seorang laki-laki yang dipanggil Ibnu Abi Du’ad, dan ia telah memerintahkan untuk menghadirkan kalian ke Baghdad. Maka datang kepadaku perkara lain dan aku memuji Allah atas itu, dan aku berharap dan berkata: Sesungguhnya kami telah mendapat keringanan ketika dikatakan kepada kami: Turunlah ke Baghdad.
Abu Abdullah berkata: Maka aku ditempatkan di sebuah kapal dari Ar-Raqqah bersama tawanan mereka, maka aku berada dalam perkara yang besar – yaitu penderitaan.
Abu Abdullah tiba di Baghdad, lalu ia duduk di rumah Imarah di kandang untuk Muhammad bin Ibrahim – saudara Ishaq bin Ibrahim – dan ia berada dalam penjara yang sempit. Dan Abu Abdullah sakit, dan itu pada bulan Ramadhan, dan ia dibelenggu, dan ia dalam perkara yang besar. Maka ia dipenjara di penjara itu sebentar, kemudian dipindahkan ke At-Ta’yin ke penjara umum. Maka ia tinggal di penjara sekitar tiga puluh bulan. Kami mendatanginya di penjara, aku dan ayahku serta sahabat-sahabat Abu Abdullah. Kebanyakan kami masuk kepadanya, dan terkadang kami dilarang.
Maka ayahku bertanya kepadanya, ia berkata: Ceritakan kepada Abu Ali dan bacakan kepadanya, karena sesungguhnya engkau luang.
Maka ia menjawabnya, lalu ia membacakan kepadaku kitab Al-Irja’ dan yang lain di penjara. Aku melihat Abu Abdullah shalat dengan penghuni penjara sementara ia dipenjara bersama mereka dan padanya belenggu. Dan itu adalah belenggu yang lebar, maka ia pada waktu shalat, wudhu, dan tidur mengeluarkan salah satu gelang dari salah satu kakinya dan mengikatnya pada betisnya. Jika ia selesai shalat, ia mengembalikannya ke kakinya. Dan itu tanpa sepengetahuan Ishaq bin Ibrahim.
Maka aku berkata kepadanya di penjara: Wahai paman, aku melihatmu shalat dengan penghuni penjara! Maka ia berkata: Tidakkah engkau melihatku dan apa yang aku lakukan?! – yaitu dalam mengeluarkan belenggu dari salah satu kakinya – Aku berkata: Ya.
Kemudian Abu Abdullah menyebutkan Hujr bin Adi dan sahabat-sahabatnya. Maka ia berkata: Bukankah mereka dibelenggu? Bukankah mereka shalat berjamaah?! Karena darurat, tidak apa-apa dengan itu.
Abu Abdullah berkata: Dan jika ada di antara mereka yang tidak dibelenggu dan mereka meridhainya, ia shalat bersama mereka.
Aku berkata: Maka yang di kakinya belenggu, ia tidak mampu duduk dalam shalat sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada rakaat terakhir, belenggu menghalanginya dari itu.
Maka Abu Abdullah berkata: Bagaimana pun mudah baginya dan ia mampu, kecuali aku mampu itu karena aku mengeluarkannya dari kakiku.
Kemudian ia berkata: Aku berpikir tentang perkara kami, maka aku melihat keadaan kami dalam perkara ini seperti Hujr dan sahabat-sahabatnya ketika mereka dibawa keluar dan dibelenggu. Maka seolah-olah kami berada dalam gambaran perkara mereka. Kemudian Abu Abdullah berkata: Mereka mengingkari sesuatu dan kami dipanggil untuk kufur kepada Allah. Maka segala puji bagi Allah atas pertolongan-Nya dan kebaikan-Nya. Maha Suci Allah atas perkara yang Allah uji hamba-hamba dengan itu.
“Al-Mihnah” karya Abdul Ghani Al-Maqdisi hal. 51 – 54
Dan Mahmud bin Abdurrahman berkata: Ketika Abu Abdullah dan Muhammad bin Nuh dibawa dan mereka sampai di penjara Bathathiya, datang waktu zhuhur maka unta dibaringkan untuknya, dan Muhammad bin Nuh pergi bersiap untuk shalat, lalu ia datang sambil menangis.
Maka Abu Abdullah berkata: Apa yang membuatmu menangis wahai Abu Abdullah? Maka ia berkata: Wahai Abu Abdullah, demi Allah aku tidak menangis karena sedih atas keluarga, harta, atau anak. Tetapi kami datang kepada orang ini dan kami tidak tahu bagaimana keadaan kami.
Maka Abu Abdullah berkata kepadanya: Bergembiralah, maka engkau tidak akan melihatnya dan ia tidak akan melihatmu.
“Al-Mihnah” karya Abdul Ghani Al-Maqdisi hal. 55
Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad Al-Hamadzani berkata: Aku mendengar sebagian sahabat kami dari para muhaddits berkata: Ketika Ahmad dibawa ke Al-Mishishiyyah, Abu Tsaubah Ar-Rabi’ bin Nafi’ Al-Halabi masuk kepadanya, lalu berkata: Wahai orang ini, sesungguhnya mata orang-orang tertuju kepadamu. Jika engkau mengetahui bahwa engkau berdiri di posisi yang di dalamnya terdapat penyelamatan dirimu dan penyelamatan makhluk dalam hal antara mereka dan Allah Yang Maha Tinggi, maka lakukanlah. Dan jika tidak, jadikan yang di kakimu di kakiku, dan berdirilah lalu keluarlah.
Ia berkata: Maka ia berkata: Wahai orang ini! Apakah engkau mengira bahwa dirimu lebih mulia bagiku daripada diriku?! Aku tidak akan mengutamakanmu dengan posisi ini selamanya. Atau semacam itu.
“Al-Mihnah” karya Abdul Ghani Al-Maqdisi hal. 56.
Abbas bin Abdullah Al-Baghdadi berkata: Aku berada di majelis Ar-Ramadi, maka menceritakan kepadaku orang yang mendengar Al-Qawariri berkata: Ketika kami dibawa kepada Al-Ma’mun ke negeri Romawi pada hari-hari ujian, kami berjalan sampai kami dekat dari Ar-Raqqah pada malam terang bulan. Tiba-tiba aku melihat seorang pemuda mengetuk mahmal. Maka aku menampakkan diri kepadanya dan berkata: Apa yang ada di belakangmu?
Maka ia berkata: Kabarkanlah kepada Ahmad bahwa Al-Ma’mun telah meninggal pada saat ini.
Al-Qawariri berkata: Maka aku melihat Ahmad sementara ia mengangkat kedua tangannya berdoa. Maka kami tidak ragu bahwa ia berdoa terhadapnya maka dikabulkan untuknya.
“Al-Mihnah” karya Abdul Ghani Al-Maqdisi hal. 61 – 62
Ahmad bin Nashr berkata: Aku mendengar Abdullah bin Ahmad berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Aku berada di penjara, lalu aku melihat seolah-olah ada yang berkata kepadaku: Wahai Ahmad, “maka bersabarlah sebagaimana orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari para rasul telah bersabar” (Al-Ahqaf: 35).
Maka aku berkata: Semoga Allah menghendaki.
“Al-Mihnah” karya Abdul Ghani Al-Maqdisi hal. 68
86 – Bab: Cobaan Imam dengan Al-Mu’tashim
Berkata Abu Al-Fadhl: Berkata ayahku semoga Allah merahmatinya: Ketika tiba bulan Ramadhan malam kesembilan belas, aku dipindahkan dari penjara ke rumah Ishaq bin Ibrahim, dan aku dibelenggu dengan satu belenggu. Setiap hari dikirim kepadaku dua orang laki-laki -ayahku menyebutkan nama mereka, berkata Abu Al-Fadhl: Mereka berdua adalah Ajmad bin Rabbah dan Abu Syu’aib -tukang bekam- mereka berbicara denganku dan berdebat denganku. Ketika mereka berdua hendak pergi, didatangkanlah belenggu lalu aku dibelenggu. Aku tetap dalam keadaan seperti ini selama tiga hari, dan menjadi di kakiku empat belenggu.
Berkata salah satu dari mereka berdua kepadaku pada suatu hari dalam pembicaraan, dan aku bertanya kepadanya tentang ilmu Allah.
Maka dia berkata: Ilmu Allah itu makhluk. Aku berkata: Wahai orang kafir, engkau telah kafir.
Maka berkata kepadaku utusan yang hadir bersama mereka dari pihak Ishaq: Ini adalah utusan Amirul Mukminin.
Beliau berkata: Maka aku berkata: Sesungguhnya orang ini telah kafir. Dan temannya yang datang bersamanya sedang berada di luar, ketika dia masuk aku berkata: Sesungguhnya orang ini mengklaim bahwa ilmu Allah itu makhluk.
Maka dia memandang kepadanya seperti mengingkarinya. Beliau berkata: Kemudian dia pergi.
Berkata ayahku: Dan nama-nama Allah ada dalam Al-Quran, dan Al-Quran dari ilmu Allah, maka barangsiapa mengklaim bahwa Al-Quran itu makhluk maka dia kafir, dan barangsiapa mengklaim bahwa nama-nama Allah itu makhluk maka sungguh dia telah kafir.
Berkata ayahku: Ketika tiba malam keempat setelah shalat Isya, dia mengirim -yakni: Al-Mu’tashim- Bugha kepada Ishaq memerintahkannya untuk membawaku, maka aku dimasukkan kepada Ishaq, lalu dia berkata kepadaku: Wahai Ahmad, ini demi Allah nyawamu, sesungguhnya dia telah bersumpah tidak akan membunuhmu dengan pedang, dan akan memukulmu pukulan demi pukulan, dan akan melemparkanmu di tempat yang engkau tidak melihat matahari di dalamnya. Bukankah Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menjadikannya Al-Quran dalam bahasa Arab” apakah sesuatu yang dijadikan itu tidak makhluk?
Berkata ayahku: Maka aku berkata: Maka sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman: “Lalu Allah menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan” apakah Allah menciptakan mereka?!
Beliau berkata: Maka dia berkata: Pergilah dengan dia. Berkata ayahku: Maka aku diturunkan ke tepi sungai Dijlah, lalu aku dibawa turun ke tempat yang dikenal dengan Bab Al-Bustan, dan bersamaku Bugha yang besar dan utusan dari pihak Ishaq. Maka Bugha berkata kepada Muhammad penjaga dengan bahasa Persia: Apa yang mereka inginkan dari orang ini?
Dia berkata: Mereka menginginkan darinya agar dia berkata: Al-Quran itu makhluk.
Maka dia berkata: Aku tidak mengenal sesuatu pun dari ini kecuali perkataan: Tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, dan kekerabatan Amirul Mukminin dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Berkata ayahku: Ketika kami tiba di tepi sungai, aku dikeluarkan dari perahu, dan aku dibawa naik ke atas hewan tunggangan, dan belenggu-belenggu masih padaku, dan tidak ada bersamaku seorang pun yang memegangiku, maka aku hampir terjatuh di atas wajahku hingga aku sampai ke rumah, lalu aku dimasukkan kemudian aku dibawa keluar ke sebuah kamar, lalu aku ditempatkan di sebuah ruangan darinya, dan pintu dikunci untukku, dan ditempatkan seorang laki-laki di atasnya, dan itu di tengah malam, dan tidak ada di ruangan itu lampu. Lalu aku membutuhkan wudhu, maka aku mengulurkan tanganku mencari sesuatu, lalu tiba-tiba ada bejana di dalamnya air dan baskom, maka aku bersiap untuk shalat, dan aku berdiri shalat.
Ketika aku memasuki waktu pagi datang kepadaku utusan, lalu dia mengambil tanganku lalu memasukkanku ke rumah, dan tiba-tiba dia sedang duduk, dan Ibnu Abi Duad hadir, dan dia telah mengumpulkan sahabat-sahabatnya dan rumah penuh dengan penghuninya. Ketika aku mendekat kepadanya aku memberi salam, maka dia berkata: Dekatlah, dekatlah.
Maka dia tidak berhenti mendekatkanku hingga aku dekat darinya, kemudian dia berkata kepadaku: Duduklah. Maka aku duduk. Dan sungguh belenggu-belenggu telah memberatkanku. Ketika aku diam sejenak, aku berkata: Apakah engkau mengizinkan untuk berbicara?
Dia berkata: Berbicaralah. Aku berkata: Kepada apa Rasulullah mengajak?
Dia berkata: Kepada kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah.
Beliau berkata: Maka aku berkata: Maka aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah.
Beliau berkata: Kemudian aku berkata: Sesungguhnya kakekmu Ibnu Abbas menceritakan bahwa delegasi Abdul Qais ketika mereka datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau memerintahkan mereka dengan iman kepada Allah Ta’ala, maka beliau bersabda: “Tahukah kalian apa itu iman?” Mereka berkata: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda: “Kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan kalian memberikan seperlima dari harta rampasan.”
Berkata Abu Al-Fadhl: Bercerita kepadaku ayahku dia berkata: Bercerita kepada kami Yahya bin Sa’id, dari Syu’bah dia berkata: Bercerita kepadaku Abu Jamrah dia berkata: Aku mendengar Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Sesungguhnya delegasi Abdul Qais ketika mereka datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau memerintahkan mereka dengan iman, lalu dia menyebutkan seperti itu.
Berkata Abu Al-Fadhl: Berkata ayahku: Maka dia berkata kepadaku saat itu: Seandainya aku tidak mendapatimu di tangan orang sebelumku niscaya aku tidak akan mengurusimu. Kemudian dia berpaling kepada Abdurrahman bin Ishaq lalu dia berkata kepadanya: Wahai Abdurrahman, bukankah aku telah memerintahkanmu untuk mengangkat cobaan?
Berkata ayahku: Maka aku berkata dalam diriku: Allahu Akbar, sesungguhnya dalam hal ini ada jalan keluar bagi kaum muslimin.
Beliau berkata: Kemudian dia berkata: Debatlah dia, dan bicaralah dengannya. Kemudian dia berkata: Wahai Abdurrahman, bicaralah dengannya.
Maka Abdurrahman berkata kepadaku: Apa pendapatmu tentang Al-Quran?
Aku berkata: Apa pendapatmu tentang ilmu Allah? Beliau berkata: Maka dia diam.
Berkata ayahku: Maka orang ini dan orang itu berbicara denganku, maka aku membalas kepada orang ini, kemudian aku berkata: Wahai Amirul Mukminin, berikanlah kepadaku sesuatu dari Kitabullah atau Sunnah Rasul-Nya agar aku mengatakannya.
Maka Ibnu Abi Duad berkata kepadaku: Dan engkau tidak mengatakan kecuali sebagaimana dalam Kitabullah atau Sunnah Rasul-Nya! Beliau berkata: Maka aku berkata kepadanya: Engkau telah menta’wilkan suatu ta’wil maka engkau lebih mengetahui, dan apa yang engkau ta’wilkan tidak dipenjara karenanya dan tidak dibelenggu karenanya.
Beliau berkata: Maka Ibnu Abi Duad berkata: Maka dia demi Allah wahai Amirul Mukminin sesat, menyesatkan, pembuat bid’ah wahai Amirul Mukminin, dan ini para hakim-hakimmu dan para ahli fikih maka tanyakanlah kepada mereka.
Beliau berkata: Maka dia berkata kepada mereka: Apa pendapat kalian?
Maka mereka berkata: Wahai Amirul Mukminin, dia sesat, menyesatkan, pembuat bid’ah.
Beliau berkata: Maka mereka tidak berhenti berbicara denganku. Dan beliau berkata: Dan suaraku naik di atas suara-suara mereka. Maka seorang dari mereka berkata kepadaku: Allah Ta’ala berfirman: “Tiada datang kepada mereka suatu peringatan pun yang baru dari Rabb mereka” apakah sesuatu yang baru itu tidak makhluk?
Aku berkata kepadanya: Allah Ta’ala berfirman: “Shaad. Demi Al-Quran yang mempunyai peringatan” maka peringatan adalah Al-Quran, dan ayat itu tidak ada alif lam di dalamnya.
Beliau berkata: Maka Ibnu Samma’ah tidak memahami apa yang aku katakan.
Beliau berkata: Maka dia berkata kepada mereka: Apa yang dia katakan? Beliau berkata: Maka mereka berkata: Sesungguhnya dia mengatakan begini dan begini.
Beliau berkata: Maka seorang dari mereka berkata kepadaku: Hadits Khabbab: Wahai saudaraku, dekatkanlah dirimu kepada Allah dengan apa yang engkau mampu; maka sesungguhnya engkau tidak akan mendekatkan diri kepada-Nya dengan sesuatu yang lebih dicintai oleh-Nya daripada kalam-Nya.
Beliau berkata: Maka aku berkata: Ya, seperti itulah dia.
Beliau berkata: Maka Ibnu Abi Duad memandang kepadanya, dan melirihkan pandangan kepadanya dengan marah kepadanya.
Berkata ayahku: Dan sebagian mereka berkata: Bukankah Allah berfirman: “Pencipta segala sesuatu”.
Beliau berkata: Aku berkata: Sungguh Allah telah berfirman: “Yang menghancurkan segala sesuatu” maka dia menghancurkan kecuali apa yang Allah kehendaki. Dan beliau berkata: Maka sebagian dari mereka berkata kepadaku dalam perkataannya, dan dia menyebutkan hadits Imran bin Hushain: “Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala menulis peringatan” maka dia berkata: Sesungguhnya Allah menciptakan peringatan.
Beliau berkata: Maka aku berkata: Ini salah. Bercerita kepada kami lebih dari satu orang: “menulis peringatan”.
Berkata ayahku: Maka adalah ketika terpotong argumen salah satu dari mereka, Ibnu Abi Duad menengahi berbicara. Ketika mendekati waktu zuhur, dia berkata kepada mereka: Berdirilah.
Kemudian dia menahan Abdurrahman bin Ishaq lalu dia menyendiri denganku dan dengan Abdurrahman, maka dia berkata kepadaku: Tidakkah engkau kenal Shalih Ar-Rasyidi? Dia adalah guruku, dan dia berada di tempat ini duduk. Dan dia menunjuk ke arah sisi dari rumah. Beliau berkata: Maka dia berbicara dan menyebutkan Al-Quran, lalu dia menyelisihiku, maka aku perintahkan terhadapnya lalu dia diseret dan diinjak.
Berkata ayahku: Kemudian dia berkata kepadaku: Aku tidak mengenalmu, tidakkah engkau datang kepada kami?
Maka Abdurrahman berkata kepadanya: Wahai Amirul Mukminin, aku mengenalnya sejak tiga puluh tahun, dia meyakini ketaatanmu dan haji dan jihad bersamamu, dan dia menetap di rumahnya.
Beliau berkata: Maka dia berkata: Demi Allah sesungguhnya dia benar-benar ahli fikih, dan sesungguhnya dia benar-benar berilmu, dan sungguh menyenangkanku seandainya ada orang sepertinya bersamaku membantah untukku ahli-ahli agama lain, dan sungguh jika dia menjawabku kepada sesuatu yang ada di dalamnya sedikit jalan keluar baginya niscaya aku akan melepaskan darinya dengan tanganku sendiri, dan akan menginjak tumitnya, dan akan mengendarai kepadanya dengan tentaraku.
Beliau berkata: Kemudian dia berpaling kepadaku lalu berkata: Celakalah engkau wahai Ahmad, apa pendapatmu? Beliau berkata: Maka aku berkata: Wahai Amirul Mukminin, berikanlah kepadaku sesuatu dari Kitabullah atau Sunnah Rasul-Nya.
Ketika panjang majlis bersama kami dia jengkel lalu dia berdiri, maka aku dikembalikan ke tempat yang aku berada di dalamnya. Kemudian dia mengirim kepadaku dua orang laki-laki -dia menyebutkan nama mereka dan mereka adalah: sahabat Asy-Syafi’i dan Ghassan, dari sahabat-sahabat Ibnu Abi Duad- mereka berdebat denganku lalu mereka berdua berdiri bersamaku, hingga ketika hadir waktu berbuka dia mengirim kepada kami hidangan di atasnya makanan, maka mereka berdua makan, dan aku beralasan hingga diangkat hidangan, dan mereka berdua tinggal hingga esok, dan dalam kesempatan itu datang Ibnu Abi Duad lalu berkata kepadaku: Wahai Ahmad, Amirul Mukminin berkata kepadamu: Apa pendapatmu?
Maka aku berkata kepadanya: Berikanlah kepadaku sesuatu dari Kitabullah atau Sunnah Rasul-Nya hingga aku mengatakannya dengannya. Maka Ibnu Abi Duad berkata kepadaku: Demi Allah sungguh telah ditulis namamu dalam tujuh orang lalu aku menghapusnya, dan sungguh menyedihkanku pengambilan mereka terhadapmu, dan sesungguhnya demi Allah bukanlah itu pedang, sesungguhnya pukulan demi pukulan. Kemudian dia berkata kepadaku: Apa pendapatmu? Maka aku membalas kepadanya seperti apa yang aku balas kepadanya. Kemudian datang utusannya, lalu berkata: Di mana Ahmad bin Ammar? Saudara laki-laki yang aku diturunkan di kamarnya. Maka dia pergi kemudian kembali, lalu berkata: Amirul Mukminin berkata kepadamu: Apa pendapatmu?
Maka aku membalas kepadanya seperti apa yang aku balas kepada Ibnu Abi Duad. Maka tidak berhenti utusan-utusannya datang. Berkata Ahmad bin Ammar dan dia keluar masuk antara aku dan dia, dan berkata: Amirul Mukminin berkata kepadamu: Jawablah aku hingga aku datang lalu aku lepaskan darimu dengan tanganku.
Beliau berkata: Ketika hari kedua aku dimasukkan kepadanya, maka dia berkata: Debatlah dia, bicaralah dengannya.
Beliau berkata: Maka mereka berbicara, orang ini dari sini dan orang ini dari sini, maka aku membalas kepada orang ini dan orang ini. Ketika mereka datang dengan sesuatu dari perkataan yang tidak ada dalam Kitabullah dan tidak Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak ada di dalamnya berita dan tidak ada atsar, aku berkata: Aku tidak tahu apa ini? Maka mereka berkata: Wahai Amirul Mukminin, ketika hujjah tertuju kepadanya atas kami dia melompat, dan ketika kami berbicara dengannya dengan sesuatu dia berkata: Aku tidak tahu apa ini? Beliau berkata: Maka dia berkata: Debatlah dia.
Beliau berkata: Kemudian dia berkata: Wahai Ahmad, sesungguhnya aku menyayangimu.
Maka seorang laki-laki dari mereka berkata: Aku melihatmu menyebutkan hadits dan menisbatkan dirimu kepadanya.
Beliau berkata: Maka aku berkata kepadanya: Apa pendapatmu tentang firman Allah Ta’ala: “Allah mensyariatkan kepadamu tentang anak-anakmu, untuk anak laki-laki bagian seperti bagian dua orang anak perempuan”. Maka dia berkata: Allah mengkhususkan dengannya orang-orang mukmin. Beliau berkata: Maka aku berkata kepadanya: Apa pendapatmu: jika dia adalah pembunuh atau budak Yahudi atau Nashrani? Beliau berkata: Maka dia diam.
Berkata ayahku: Dan sesungguhnya aku berargumen kepadanya dengan ini; karena mereka berargumen kepadaku dengan zahir Al-Quran, dan karena perkataannya: Aku melihatmu menisbatkan diri kepada hadits.
Dan adalah ketika terpotong argumen salah satu dari mereka, Ibnu Abi Duad menengahi, lalu berkata: Wahai Amirul Mukminin, demi Allah sungguh jika engkau menjawabmu niscaya itu lebih aku cintai daripada seratus ribu dinar, dan seratus ribu dinar. Maka dia mengulangi apa yang Allah kehendaki dari itu. Kemudian dia memerintahkan mereka setelah itu untuk berdiri, dan dia menyendiri denganku dan dengan Abdurrahman, maka berputar antara kami pembicaraan yang banyak, dan dalam kesempatan itu dia berkata kepadaku: Engkau mendoakan Ahmad bin Abi Duad.
Maka aku berkata: Itu terserah kepadamu.
Maka dia mengirim kepadanya lalu dia datang lalu berbicara. Ketika panjang majlis bersama kami dia berdiri, dan aku dikembalikan ke tempat yang aku berada di dalamnya, dan datang kepadaku dua orang laki-laki yang berada di sisiku kemarin, maka mereka berdua berbicara, maka berputar antara kami pembicaraan yang banyak. Ketika waktu berbuka datanglah makanan seperti apa yang didatangkan pada malam pertama maka mereka berdua berbuka dan aku beralasan, dan utusan-utusannya datang kepada Ahmad bin Ammar, lalu dia pergi kepadanya dan datang kepadaku dengan pesannya seperti apa yang terjadi pada malam pertama, dan Ibnu Abi Duad datang kepadaku lalu berkata: Sesungguhnya dia telah bersumpah akan memukulmu pukulan demi pukulan, dan akan memenjarakanmu di tempat yang engkau tidak melihat matahari di dalamnya.
Maka aku berkata kepadanya: Lalu apa yang aku lakukan?
Hingga ketika aku hampir memasuki waktu pagi aku berkata: Sangat layak terjadi sesuatu dari urusanku pada hari ini. Dan aku telah mengeluarkan tali ikat celanaku dari celana dalamku, lalu aku mengikat dengannya belenggu-belenggu aku membawanya dengannya ketika aku menuju kepada mereka. Maka aku berkata kepada sebagian orang yang bersama penjaga: Carikan untukku benang, maka dia datang kepadaku dengan benang, lalu aku mengikat dengannya belenggu-belenggu, dan aku mengembalikan tali ikat ke dalam celana dalam, dan aku memakainya karena tidak suka terjadi sesuatu dari urusanku lalu aku telanjang.
Ketika hari ketiga aku dimasukkan kepadanya dan orang-orang hadir, maka aku masuk dari satu rumah ke rumah lain dan orang-orang bersama mereka pedang-pedang, dan orang-orang bersama mereka cambuk-cambuk, dan selain itu dari pakaian dan senjata dan sungguh telah dipenuhi rumah dengan tentara, dan tidak ada pada dua hari yang lalu banyak orang dari ini. Hingga ketika aku tiba kepadanya dia berkata: Debatlah dia, bicaralah dengannya.
Maka mereka kembali dengan seperti perdebatan mereka, dan berputar antara kami pembicaraan yang banyak, hingga ketika pada waktu yang dia menyendiri di dalamnya, maka dia datang kepadaku kemudian mereka berkumpul lalu dia meminta pendapat mereka, kemudian dia menjauhkan mereka dan memanggilku lalu dia menyendiri denganku dan dengan Abdurrahman, maka dia berkata kepadaku: Celakalah engkau wahai Ahmad, aku demi Allah menyayangimu, dan sesungguhnya aku benar-benar menyayangimu seperti kasih sayangku kepada Harun anakku maka jawablah aku.
Maka aku berkata: Wahai Amirul Mukminin, berikanlah kepadaku sesuatu dari Kitabullah atau Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ketika dia jengkel dan panjang majlis dia berkata kepadaku: Atasmu laknat Allah, sungguh telah aku berharap padamu, ambillah dia dan seretlah dia. Beliau berkata: Maka aku diambil dan diseret kemudian aku ditelanjangi, kemudian dia berkata: Dua papan penyiksa dan cambuk-cambuk. Maka didatangkanlah dua papan penyiksa dan cambuk-cambuk.
Berkata ayahku: Dan sungguh telah sampai kepadaku satu atau dua helai rambut dari rambut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu aku membungkusnya di lengan bajuku. Maka Ishaq bin Ibrahim melihat bungkusan di lengan bajuku lalu dia mengirim kepadaku: Apa ini yang terbungkus di lenganmu? Maka aku berkata: Rambut dari rambut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dan berusaha sebagian orang kepada baju untuk merobeknya pada waktu aku ditegakkan di antara dua papan penyiksa maka dia berkata kepada mereka -yakni: Al-Mu’tashim- jangan kalian robek, tanggalkanlah dari dia.
Beliau berkata: Sesungguhnya aku menyangka bahwa dia menolak dari baju robekan karena sebab rambut yang ada di dalamnya. Kemudian aku ditempatkan di antara dua papan penyiksa dan diikat tanganku, dan didatangkanlah kursi lalu dia duduk di atasnya, dan Ibnu Abi Duad berdiri di atas kepalanya, dan orang-orang semuanya berdiri dari siapa yang hadir. Maka seorang dari yang mengikatku berkata kepadaku: Peganglah salah satu dari dua papan kayu dengan tanganmu dan kuatkanlah kepadanya. Maka aku tidak memahami apa yang dia katakan, maka terlepas tanganku ketika diikat, dan aku tidak memegang dua papan kayu.
Abu al-Fadl berkata: Ayahku rahimahullah terus merasakan sakit dari kedua luka itu sampai beliau wafat.
Kemudian dia (al-Mu’tashim) berkata kepada para algojo: Majulah. Lalu dia melihat kepada cambuk-cambuk itu dan berkata: Bawakan yang lain.
Kemudian dia berkata kepada mereka: Majulah. Lalu dia berkata kepada salah seorang dari mereka: Dekat, sakiti dia, semoga Allah memotong tanganmu.
Maka dia maju dan memukul ayahku dua cambuk kemudian mundur. Kemudian dia berkata kepada yang lain: Dekat, sakiti dia, kuatkan, semoga Allah memotong tanganmu. Kemudian dia maju dan memukul ayahku dua cambuk kemudian mundur.
Dia terus memanggil satu per satu, memukul ayahku dua cambuk lalu mundur. Kemudian dia berdiri dan mendatangi ayahku sementara mereka mengepung ayahku. Lalu dia berkata: Celakalah kamu wahai Ahmad! Kamu membunuh dirimu sendiri! Celakalah kamu, jawablah aku sehingga aku bisa melepaskanmu dengan tanganku sendiri!
Sebagian dari mereka berkata kepadaku: Celakalah kamu, imammu berdiri di hadapanmu!
Ajif berkata kepadaku: Lalu dia menusukku dengan gagang pedangnya dan berkata: Apakah kamu ingin mengalahkan mereka semua ini! Dan Ishaq bin Ibrahim terus berkata: Celakalah kamu, khalifah berdiri di hadapanmu!
Dia (ayahku) berkata: Kemudian sebagian dari mereka berkata: Wahai Amirul Mukminin, darahnya di leherku.
Dia (ayahku) berkata: Kemudian dia kembali dan duduk di kursi. Lalu berkata kepada algojo: Dekat, kuatkan, semoga Allah memotong tanganmu. Kemudian dia terus memanggil algojo demi algojo, memukul ayahku dua cambuk lalu mundur, sementara dia berkata: Kuatkan, semoga Allah memotong tanganmu. Kemudian dia mendatangiku untuk kedua kalinya sambil berkata: Wahai Ahmad, jawablah aku.
Abdurrahman bin Ishaq berkata: Siapa dari sahabat-sahabatmu yang melakukan pada dirinya sendiri dalam masalah ini seperti yang kamu lakukan?! Ini Yahya bin Main, ini Abu Khaitsamah dan Ibnu Abi Israil! Dan dia terus menghitung orang-orang yang telah menjawab.
Dia (ayahku) berkata: Dan dia terus berkata: Celakalah kamu, jawablah aku. Dia berkata: Lalu aku terus mengatakan seperti yang telah aku katakan kepada mereka.
Dia (ayahku) berkata: Maka dia kembali dan duduk, kemudian terus berkata kepada algojo: Kuatkan, semoga Allah memotong tanganmu.
Ayahku berkata: Maka akalku hilang, dan aku tidak sadar kecuali ketika aku berada di sebuah ruangan, belenggu telah dilepas dariku. Dan seseorang yang hadir berkata kepadaku: Kami menelungkupkanmu di atas wajahmu, meletakkan tikar di atas punggungmu, dan menginjak-injakmu.
Ayahku berkata: Aku tidak merasakan itu semua. Dia berkata: Lalu mereka membawakan aku sawiq dan berkata: Minumlah. Aku berkata: Aku tidak berbuka puasa. Maka aku dibawa ke rumah Ishaq bin Ibrahim.
Ayahku berkata: Lalu dikumandangkan azan salat Zuhur, maka kami salat Zuhur.
Ibnu Sama’ah berkata: Apakah kamu salat sementara darah mengalir dari pukulan terhadapmu?
Aku berkata: Dengan itu Umar salat sementara lukanya mengalirkan darah. Maka dia diam. Kemudian dia dibebaskan dan kembali ke rumahnya. Didatangkan kepadanya seorang dari penjara yang ahli dalam pukulan dan luka untuk mengobatinya, lalu dia memeriksanya. Dia berkata kepada kami: Demi Allah, sungguh aku telah melihat pukulan cambuk padanya, aku tidak pernah melihat pukulan yang lebih keras dari ini, sungguh dia telah diseret dari belakang dan dari depan. Kemudian dia memasukkan alat ke dalam sebagian luka-luka itu, lalu berkata: Tidak tembus. Maka dia terus mendatanginya dan mengobatinya. Sungguh wajahnya terkena lebih dari satu pukulan. Kemudian dia terus mengobatinya sekehendak Allah. Kemudian dia berkata kepadanya: Ini adalah sesuatu yang aku ingin memotongnya. Maka dia datang dengan alat besi dan menggantungkan daging dengannya dan memotongnya dengan pisau yang bersamanya, sementara dia (Ahmad) bersabar dan memuji Allah atas itu. Maka dia sembuh darinya, namun dia terus merasakan sakit pada tempat-tempat tertentu darinya, dan bekas pukulan itu jelas terlihat di punggungnya hingga beliau wafat rahimahullah.
Shalih berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Demi Allah, sungguh aku telah memberikan kesungguhan dari diriku, dan aku berharap aku selamat dari urusan ini dengan seimbang, tidak ada yang menentangku dan tidak ada yang membelaku.
Abu al-Fadl berkata: Salah satu dari dua orang yang bersamanya mengabarkan kepadaku—dan orang ini adalah ahli hadits yang telah mendengar dan memperhatikan—kemudian dia datang kepadaku dan berkata: Wahai anak saudaraku, rahmat Allah atas Abu Abdillah, demi Allah aku tidak pernah melihat seorang pun—maksudnya: yang menyerupainya.
Sungguh aku terus berkata kepadanya ketika makanan dikirim kepada kami: Wahai Abu Abdillah, kamu berpuasa padahal kamu dalam keadaan taqiyah! Dan sungguh dia kehausan.
Maka dia berkata kepada penjaga minuman: Berikanlah kepadaku.
Maka dia memberikan kepadanya cangkir berisi air es. Lalu dia mengambilnya, memandangnya sebentar, kemudian mengembalikannya kepadanya. Dia berkata: Maka aku kagum dengan kesabarannya terhadap lapar dan haus serta ketakutan yang dia alami.
Abu al-Fadl berkata: Sungguh aku telah berusaha dan mencari cara untuk mengirimkan kepadanya makanan atau satu atau dua roti pada hari-hari ini, namun aku tidak mampu melakukan itu.
Dan seorang yang menyaksikannya mengabarkan kepadaku, dia berkata: Aku kehilangan dia selama tiga hari ini sementara mereka berdebat dengannya dan berbicara kepadanya, dia tidak salah tata bahasa dan aku tidak mengira ada seorang pun yang memiliki keberanian dan kekuatan hati sepertinya.
Abu al-Fadl berkata: Aku menemui ayahku rahimahullah suatu hari dan berkata kepadanya: Sampai kepadaku bahwa seorang datang kepada Fadl al-Anmathi dan berkata: Jadikan aku dalam keadaan halal karena aku tidak bangkit untuk menolongmu. Maka Fadl berkata: Aku tidak menjadikan seorang pun dalam keadaan halal.
Maka ayahku tersenyum dan diam. Ketika beberapa hari kemudian, aku melewati ayat ini: “Barangsiapa memaafkan dan mengadakan perbaikan, maka pahalanya di sisi Allah” (Asy-Syura: 40). Maka aku melihat tafsirnya dan ternyata itu adalah apa yang diceritakan kepadaku oleh Hasyim bin al-Qasim, dia berkata: al-Mubarak menceritakan kepadaku, dia berkata: Orang yang mendengar al-Hasan berkata kepadaku: Ketika umat-umat berlutut di hadapan Allah Tabaraka wa Ta’ala pada hari kiamat, dipanggillah: Berdirilah orang yang pahalanya dari Allah. Maka tidak ada yang berdiri kecuali orang yang memaafkan di dunia.
Ayahku berkata: Maka aku menjadikan orang yang telah meninggal dalam keadaan halal dari pukulannya terhadapku. Kemudian dia terus berkata: Dan apa salahnya bagi seseorang untuk tidak menyiksa Allah karena dirinya terhadap siapa pun.
Sirah al-Imam Ahmad karya Shalih, hal. 51-65
Ibnu Baththah berkata: Dan Abu Amr Utsman bin Umar mengabarkan kepadaku, dia berkata: Ahmad bin Muhammad bin Harun menceritakan kepada kami, dia berkata: Dan Ahmad bin Muhammad bin Abdul Hamid al-Kufi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Ubaid bin Muhammad al-Qashir berkata: Aku mendengar orang yang hadir di majelis Abu Ishaq pada hari Ahmad bin Hanbal dipukul, maka Abu Ishaq berkata kepadanya: Wahai Ahmad, jika kamu takut dari kelompok kecil ini, aku akan datang kepadamu dengan pasukanku ke rumahmu sehingga aku mendengar hadits darimu.
Dia (Ahmad) berkata: Maka dia berkata kepadanya: Wahai Amirul Mukminin, ambillah selain dari ini, tanyakanlah tentang ilmu, tanyakanlah tentang fikih, apakah yang akan kamu tanyakan tentang ini? Ubaid bin Muhammad berkata: Dan aku mendengar orang yang hadir di majelis Abu Ishaq pada hari Ahmad bin Hanbal dipukul berkata: Al-Mu’tashim menoleh kepadanya dan berkata: Apakah kamu mengenal ini? Dia berkata: Tidak.
Dia berkata: Apakah kamu mengenal ini? Dia berkata: Tidak.
Maka Ahmad menoleh dan matanya jatuh pada Ibnu Abi Du’ad, lalu dia memalingkan wajahnya, seolah-olah matanya jatuh pada seekor monyet.
Dia berkata: Apakah kamu mengenal ini—maksudnya Abdurrahman? Dia berkata: Ya.
Dia berkata: Katakanlah: Allah adalah Tuhan al-Quran. Dia berkata: Al-Quran adalah Kalam Allah.
Dia berkata: Maka Ibnu Sama’ah dan pembunuh-pembunuhnya bersaksi, lalu mereka berkata: Dia telah kafir, bunuhlah dia dan darahnya di leher kami.
Al-Ibanah, Kitab ar-Radd ‘ala al-Jahmiyyah 2/262-263 (439)
Ibnu Baththah berkata: Abu Ishaq Ibrahim bin Ishaq asy-Syirji menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Bakar al-Marwazi menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Abdillah tidak pernah salah tata bahasa dalam berbicara.
Dia berkata: Dan aku diberitahu bahwa ketika dia berdebat di hadapan khalifah, tidak ada kesalahan tata bahasa yang bisa ditangkap darinya, hingga diriwayatkan bahwa dia terus berkata: Bagaimana aku mengucapkan apa yang tidak dikatakan?!
Abu Bakar al-Marwazi berkata: Dan Ibnu Abi Hassan al-Warraq berkata kepadaku: Abu Abdillah meminta dariku kitab Hamzah tentang tata bahasa Arab ketika dia di penjara, maka aku memberikannya kepadanya, lalu dia mempelajarinya sebelum dia diuji.
Dan Ibnu Baththah berkata: Abu Amr Utsman bin Umar mengabarkan kepadaku, dia berkata: Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Harun menceritakan kepada kami, dan Muhammad bin Ali as-Samsar mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku melihat seorang syekh datang kepada Abu Abdillah sementara dia sakit, lalu dia menangis dan berkata: Sesungguhnya dia termasuk orang yang hadir ketika dia dipukul. Ketika dia keluar, aku mendengarnya berkata: Demi Allah, sungguh aku telah berbicara dengan tiga khalifah dan menginjak permadani mereka, aku tidak takut kepada mereka, dan tidak pernah masuk ke dalam diriku ketakutan seperti yang masuk dariku terhadapnya sementara dia terbaring. Demi Allah, sungguh aku melihatnya berdebat sementara dia mengatasi mereka dengan kuat hatinya, dan al-Mu’tashim berbicara kepadanya dan berkata: Jawablah aku tentang apa yang aku tanyakan kepadamu, atau sesuatu darinya.
Maka dia berkata: Aku tidak mengatakan kecuali apa yang ada dalam Kitab Allah atau Sunnah Rasul Allah.
Maka dia berkata kepadanya: Tidakkah kamu mengatakan: Al-Quran adalah makhluk?
Maka dia berkata kepadanya: Dan bagaimana aku mengucapkan apa yang tidak dikatakan?!
Orang itu berkata: Maka aku berkata kepada seorang yang di sampingku: Tidakkah kamu melihatnya bahwa dia tidak takut dengan apa yang dia alami, dan tidak salah tata bahasa pada saat seperti ini, sementara cambuk dan alat siksa di hadapannya, dan tidak ada di tangannya sesuatu pun darinya!
Dan Ibnu Baththah berkata: Abu Ishaq Ibrahim bin Ishaq asy-Syirji menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-Marwazi menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Ketika aku dipukul, ada dua algojo, setiap satu dari mereka memukul satu cambuk lalu mundur, dan yang lain memukul satu cambuk lalu mundur.
Aku bertanya: Apakah Abu Ishaq datang kepadamu dua kali? Dia berkata: Adapun satu kali, aku ingat bahwa dia keluar ke serambi dan berkata: Bawa dia. Maka mereka memegang ketiakku dan menyeretku sekitar seratus hasta ke alat siksa, lalu mereka melepas bajuku, dan aku merasakan itu di bahuku sampai sekarang. Dan aku memiliki rambut yang lebat, dan ikatan pinggangku putus. Maka aku berkata: Sekarang akan menjadi gelap—maksudnya: sementara dia di antara mereka.
Aku bertanya: Siapa yang memberimu tali di tempat itu? Dia berkata: Aku tidak tahu. Maka aku mengikat celanaku. Dan aku diberitahu bahwa mereka melepas baju tapi tidak membakarnya, dan di lengan bajunya ada rambut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Al-Marwazi berkata: Dan sampai kepadaku dari Ya’qub al-Fallas, dia berkata: Aku mendengar Isa al-Fattah berkata: Abu Abdillah berkata kepadaku: Wahai Abu Musa! Aku tidak pernah melihat orang-orang ini, yang paling berat bagiku adalah berpaling algojo, kemudian melompat kepadaku.
Dia berkata: Dan aku mendengar al-Fallas berkata: Aku mendengar Isa al-Fattah berkata: Abu Abdillah berkata kepadaku: Abu Ishaq berkata: Aku tidak pernah melihat anak perempuan yang lebih berani dari orang ini.
Al-Marwazi berkata: Dan aku mendengar Isa al-Jalla berkata: Seorang melihat dalam mimpi, ada yang berkata: Dan ketika ada sekelompok di satu sisi, maka dia terus berkata: “Jika mereka mengingkarinya”—dan dia mengisyaratkan dengan tangannya kepada Ibnu Abi Du’ad dan kawan-kawannya—“maka sesungguhnya Kami telah menyerahkannya kepada kaum yang tidak mengingkarinya” (Al-An’am: 89) yaitu Ahmad bin Hanbal dan sahabat-sahabatnya.
Al-Marwazi berkata: Dan aku diberitahu dari Ziyad bin Abi Badawaih al-Qashri, dia berkata: Aku mendengar al-Hammani berkata: Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpi, dia datang dan memegang tiang pintuku, lalu berkata: Selamatlah orang-orang yang selamat, dan binasalah orang-orang yang binasa. Maka aku berkata: Wahai Rasulullah, ayahku dan ibuku sebagai tebusanmu, siapakah orang-orang yang selamat? Dia berkata: Ahmad bin Hanbal dan sahabat-sahabatnya.
Al-Marwazi berkata: Dan sampai kepadaku tentang seorang wanita yang mereka lihat dalam mimpi, dan pelipisnya telah memutih. Maka dikatakan kepadanya: Apa uban ini? Maka dia berkata: Ketika Ahmad bin Hanbal dipukul, neraka Jahannam mendesah desahan, tidak tersisa dari kami seorang pun kecuali memutih.
Dan Ibnu Baththah berkata: Dan Abu Ishaq asy-Syirji menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-Marwazi menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Umar al-Makhrami menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku bersama Sa’id bin Manshur dan kami dalam tawaf. Dia berkata: Maka aku mendengar pemberi kabar berkata: Ahmad bin Hanbal dipukul hari ini dengan cambuk? Dia berkata: Maka Sa’id berkata kepadaku: Tidakkah kamu mendengar—atau apakah kamu mendengar? Aku berkata: Ya.
Dia berkata—maksudnya Sa’id bin Manshur: Ini dari jin yang saleh atau dari malaikat. Jika ini benar, maka sesungguhnya hari ini Ahmad bin Hanbal telah dipukul.
Maka dia berkata: Maka kami melihat dan ternyata dia telah dipukul pada hari itu.
Abu Abdillah berkata: Ketika aku dipukul, pakaianku penuh dengan darah, dan aku sedang berpuasa. Maka mereka membawa sawiq tetapi aku tidak minum, dan aku menyempurnakan puasaku. Dan sebagian tetangga hadir di sana. Maka apa yang menimpa dia—maksudnya ketika Abu Abdillah menolak minum sawiq—aku tidak tahu, Ishaq bin Ibrahim atau yang lain. Dia berkata: Dan sampai kepadaku bahwa tidak masuk kepada Abu Abdillah makanan di istana Ishaq. Dan sungguh dia telah dilarang untuk masuk kepadanya. Dan dia berkata: Kamu makan dari makanan kami. Abu Abdillah berkata: Maka aku tinggal dua hari tidak makan.
Al-Marwazi berkata: Maka an-Naisaburi—sahabat Ishaq bin Ibrahim—berkata kepadaku: Amir berkata kepadaku: Ketika mereka membawa berbukanya, maka perlihatkanlah kepadaku. Dia berkata: Maka mereka membawa dua roti dan roti tipis. Dia berkata: Maka kami perlihatkan kepada amir. Maka dia berkata: Orang ini tidak menjawab kami jika ini yang membuatnya puas.
Al-Ibanah, Kitab ar-Radd ‘ala al-Jahmiyyah 2/264-267 (441-450)
Ahmad bin al-Faraj berkata: Aku mengurus sebagian pekerjaan sultan. Maka pada suatu hari ketika aku duduk di majlis, tiba-tiba aku melihat orang-orang menutup pintu-pintu toko mereka dan mengambil senjata mereka. Maka aku berkata: Mengapa aku melihat orang-orang bersiap untuk fitnah? Maka mereka berkata: Sesungguhnya Ahmad bin Hanbal dibawa untuk diuji tentang al-Quran. Maka aku memakai pakaianku dan datang kepada penghulu khalifah—dan dia adalah teman baikku. Maka aku berkata: Aku ingin kamu memasukkan aku sehingga aku melihat bagaimana Ahmad berdebat dengan khalifah. Maka dia berkata: Apakah kamu rela dengan itu? Maka aku berkata: Ya.
Maka dia mengumpulkan sekelompok orang dan menjadikan mereka saksi atasku dan berlepas diri dari dosaku. Kemudian dia berkata kepadaku: Pergilah. Ketika hari Ahmad masuk, aku akan mengutus kepadamu. Maka ketika hari Ahmad dimasukkan kepada khalifah, utusannya datang kepadaku dan berkata: Pakailah pakaianmu dan bersiaplah untuk masuk. Maka aku memakai jubah, di atasnya kaftan, dan aku memakai ikat pinggang dan mengikatkan pedang. Dan aku datang kepada penghulu, maka dia mengambil tanganku dan memasukkan aku ke barisan pertama, yang dekat dengan Amirul Mukminin. Dan tiba-tiba aku melihat Ibnu az-Zayyat, dan tiba-tiba ada kursi dari emas yang dihiasi dengan permata, yang bagian atasnya ditutupi dengan sutra. Maka khalifah keluar dan duduk di atasnya. Kemudian dia berkata: Di mana orang ini yang mengklaim bahwa Allah Azza wa Jalla berbicara dengan dua alat tubuh? Bawa dia kepadaku. Maka Ahmad dimasukkan dan dia mengenakan baju Harawi dan sorban biru, dan dia meletakkan tangan di atas tangan, sambil berkata: Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Hingga dia berdiri di hadapan khalifah. Maka dia berkata: Apakah kamu Ahmad bin Hanbal? Maka dia berkata: Aku adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. Maka dia berkata: Apakah kamu yang sampai kepadaku bahwa kamu berkata: Al-Quran adalah Kalam Allah yang tidak diciptakan, darinya dimulai dan kepadanya kembali. Dari mana kamu mengatakan ini?
Ahmad berkata: Dari Kitab Allah Ta’ala dan berita Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dia berkata: Dan apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan? Maka dia berkata: Abdurrazzaq menceritakan kepadaku, dari Ma’mar, dari az-Zuhri, dari Salim, dari ayahnya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Sesungguhnya Allah berbicara kepada Musa dengan seratus ribu kata, dua puluh ribu kata, tiga ratus kata, dan tiga belas kata. Maka kalam itu dari Allah dan mendengarkan dari Musa. Maka Musa berkata: Wahai Tuhanku, apakah Engkau yang berbicara kepadaku atau selain-Mu? Allah Ta’ala berkata: Wahai Musa, Aku yang berbicara kepadamu, tidak ada utusan antara Aku dan kamu.
Dia berkata: “Engkau telah berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”
Ahmad berkata: “Jika ini adalah kedustaan dariku atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman: Tetapi telah pasti Aku akan mengisi Jahannam dengan jin dan manusia semuanya. (Surah As-Sajdah: 13) Maka jika perkataan itu bukan dari Allah maka ia adalah makhluk, dan jika ia makhluk maka ia telah mengaku melakukan gerakan yang tidak mampu dilakukannya.”
Lalu dia berpaling kepada Ahmad dan Ibnu Az-Zayyat, kemudian berkata: “Perdebatkan dia.”
Mereka berkata: “Wahai Amirul Mukminin, bunuhlah dia dan darahnya menjadi tanggung jawab kami.”
Dia berkata: Lalu dia mengangkat tangannya dan menampar pipi Ahmad hingga jatuh pingsan. Maka para panglima perang Khurasan berpencar, dan ayahnya adalah salah satu putra panglima perang Khurasan, sehingga Khalifah merasa takut pada dirinya dari mereka. Lalu dia memanggil kendi berisi air dan mulai memercikkannya ke wajah Ahmad. Ketika dia sadar, dia mengangkat kepalanya kepada pamannya yang berdiri di hadapan Khalifah, lalu berkata: “Wahai paman, jangan-jangan air yang dituangkan ke wajahku ini karena pemiliknya marah kepadanya.”
Khalifah berkata: “Celakalah kalian, tidakkah kalian melihat apa yang menghantuiku dari hadits ini, dan kekerabatanku dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku tidak akan mengangkat cambuk darinya hingga dia berkata: Al-Quran adalah makhluk.”
Kemudian dia memanggil seorang algojo yang disebut Abu Ad-Dan, lalu berkata: “Dalam berapa kali pukulan engkau bisa membunuhnya?”
Dia berkata: “Lima atau sepuluh atau lima belas atau dua puluh.” Lalu dia berkata: “Bunuhlah dia, semakin cepat engkau melakukannya maka akan semakin tersembunyi urusannya.” Kemudian dia berkata: “Telanjangi dia.”
Dia berkata: Lalu pakaiannya ditanggalkan dan dia berdiri di antara dua tiang penyiksa, dan Abu Ad-Dan maju—semoga Allah memotong tangannya—lalu memukulnya belasan kali cambuk, maka darah mengalir dari bahunya ke tanah. Ahmad adalah orang yang lemah fisiknya, lalu Ishaq bin Ibrahim berkata: “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya dia adalah manusia yang lemah fisiknya.”
Lalu dia berkata: “Sungguh aku telah mendengar perkataanku, dan demi kekerabatanku dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku tidak akan mengangkat cambuk darinya hingga dia berkata seperti yang aku katakan.”
Lalu dia berkata: “Wahai Abu Abdillah, kabar gembiralah, sesungguhnya Amirul Mukminin telah bertaubat dari perkataannya dan dia berkata: Laa ilaaha illallah.”
Maka Ahmad berkata: “Kalimat keikhlasan, dan aku pun berkata: Laa ilaaha illallah.”
Lalu dia berkata: “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya dia telah berkata seperti yang engkau katakan,” maka dia berkata: “Lepaskan dia.”
Dan keributan meningkat di pintu, lalu dia berkata: “Keluarlah dan lihatlah apa keributan ini.” Maka dia keluar kemudian masuk dan berkata: “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya orang-orang bermusyawarah tentang dirimu untuk membunuhmu, maka keluarkanlah Ahmad bin Hanbal, sesungguhnya aku termasuk orang yang menasihatimu.”
Maka dia dikeluarkan dan dia telah meletakkan selendang dan baju di tangannya, dan aku adalah orang pertama yang sampai di pintu. Lalu orang-orang berkata: “Apa yang engkau katakan wahai Abu Abdillah sehingga kami pun mengatakannya?” Dia berkata: “Dan apa yang mungkin aku katakan, tulislah wahai para pencatat berita, dan saksikanlah wahai para masyarakat umum: Sesungguhnya Al-Quran adalah Kalam Allah yang tidak diciptakan, dariNya ia dimulai dan kepadaNya ia kembali.”
Ahmad bin Al-Faraj berkata: Aku melihat Ahmad bin Hanbal dan cambuk telah melukai bahunya dan dia memakai celana yang ada benangnya, lalu benang itu putus dan celana itu turun. Aku memperhatikannya dan dia telah menggerakkan bibirnya maka celana itu kembali seperti semula. Lalu aku bertanya kepadanya tentang hal itu, maka dia berkata: “Ya, sesungguhnya ketika benang itu putus aku berkata: Ya Allah Tuhanku dan Penguasaku, Engkau telah menempatkanku di posisi ini, maka janganlah Engkau membukaikan auratku di hadapan seluruh makhluk. Maka celana itu kembali seperti semula.”
“Hilyatul Auliya” karya Abu Nu’aim 9/204-206
Ali bin Shalih Al-Mishri berkata: Sulaiman bin Abdullah As-Sijzi menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku datang ke pintu Al-Mu’tashim dan ternyata orang-orang berdesakan di pintunya seperti hari raya. Lalu aku masuk ke dalam istana dan melihat permadani yang terbentang dan kursi yang diletakkan, maka aku berdiri di depan kursi. Sementara aku berdiri tiba-tiba Al-Mu’tashim datang, lalu duduk di kursi, melepas sandalnya dari kakinya, dan meletakkan satu kaki di atas kaki yang lain. Kemudian dia berkata: “Hadirkan Ahmad bin Hanbal,” maka dia dihadirkan. Ketika berdiri di hadapannya dan memberi salam, dia berkata kepadanya: “Wahai Ahmad, berbicaralah dan jangan takut.”
Maka Ahmad berkata: “Demi Allah wahai Amirul Mukminin, sungguh aku masuk menemui Anda dan tidak ada di hatiku seberat biji pun ketakutan.”
Al-Mu’tashim berkata kepadanya: “Apa pendapatmu tentang Al-Quran?” Maka dia berkata: “Kalam Allah yang qadim (azali), tidak diciptakan, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Dan jika salah seorang dari orang-orang musyrik meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia agar dia dapat mendengar Kalam Allah. (Surah At-Taubah: 6).”
Lalu dia berkata kepadanya: “Apakah kamu punya hujjah selain ini?” Maka Ahmad berkata: “Ya wahai Amirul Mukminin, firman Allah ‘Azza wa Jalla: Ar-Rahman (1) Mengajarkan Al-Quran dan tidak dikatakan: Ar-Rahman menciptakan Al-Quran. Dan firmanNya ‘Azza wa Jalla: Yasin (1) Demi Al-Quran yang penuh hikmah dan tidak dikatakan: Yasin demi Al-Quran yang diciptakan.”
Maka Al-Mu’tashim berkata: “Penjarakan dia.” Maka dia dipenjara dan orang-orang berpencar. Ketika pagi tiba aku mendatangi pintu, lalu orang-orang dimasukkan maka aku pun masuk bersama mereka. Al-Mu’tashim datang dan duduk di kursinya lalu berkata: “Bawalah Ahmad bin Hanbal.” Maka dia dibawa, ketika berdiri di hadapannya, Al-Mu’tashim berkata kepadanya: “Bagaimana keadaanmu wahai Ahmad di penjaramu tadi malam?”
Maka dia berkata: “Baik dan segala puji bagi Allah, kecuali aku melihat wahai Amirul Mukminin di penjaramu sesuatu yang mengherankan.” Dia berkata kepadanya: “Dan apa yang kamu lihat?” Dia berkata: “Aku bangun di tengah malam lalu berwudhu untuk shalat dan shalat dua rakaat. Aku membaca pada rakaat pertama Alhamdulillah dan Qul a’udzu bi rabbinnaas, dan pada rakaat kedua Alhamdulillah dan Qul a’udzu bi rabbil falaq. Kemudian aku duduk dan tasyahud dan salam, lalu aku berdiri dan bertakbir dan membaca Alhamdulillah dan aku ingin membaca Qul huwallahu ahad tetapi aku tidak mampu. Kemudian aku berusaha membaca selain itu dari Al-Quran tetapi aku tidak mampu. Maka aku melihat ke sudut penjara, dan ternyata Al-Quran terbaring sebagai mayat. Lalu aku memandikannya dan mengkafaninya, dan menshalatkannya dan menguburkannya.”
Lalu dia berkata kepadanya: “Celakalah kamu wahai Ahmad, dan apakah Al-Quran bisa mati?!”
Maka Ahmad berkata kepadanya: “Maka engkau seperti itu berkata: Sesungguhnya ia makhluk, dan setiap makhluk akan mati.”
Maka Al-Mu’tashim berkata: “Ahmad telah mengalahkan kami, Ahmad telah mengalahkan kami.”
Maka Ibnu Abi Duad dan Bisyr Al-Marisi berkata: “Bunuhlah dia agar kami bisa beristirahat darinya.”
Lalu dia berkata: “Sesungguhnya aku telah berjanji kepada Allah tidak akan membunuhnya dengan pedang dan tidak memerintahkan membunuhnya dengan pedang.”
Maka Ibnu Abi Duad berkata kepadanya: “Pukulah dia dengan cambuk.”
Lalu dia berkata: “Ya,” kemudian berkata: “Hadirkan para algojo.” Maka mereka dihadirkan. Lalu Al-Mu’tashim berkata kepada salah satu dari mereka: “Dengan berapa cambuk engkau bisa membunuhnya?” Maka dia berkata: “Dengan sepuluh wahai Amirul Mukminin.”
Lalu dia berkata: “Ambillah dia.”
Sulaiman As-Sijzi berkata: Maka Ahmad bin Hanbal dikeluarkan dari pakaiannya, dan diberi kain sarung dari wol, dan kedua tangannya diikat dengan dua tali yang baru. Dia mengambil cambuk di tangannya dan berkata: “Apakah aku memukulnya wahai Amirul Mukminin?” Maka Al-Mu’tashim berkata: “Pukullah.” Maka dia memukulnya satu cambukan.
Lalu Ahmad berkata: “Alhamdulillah.”
Dan dia memukulnya yang kedua kali, maka dia berkata: “Maa syaa Allahu kaan.”
Lalu dia memukulnya yang ketiga kali, maka dia berkata: “Laa haula wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhim.”
Ketika dia hendak memukulnya cambukan keempat, aku melihat sarung dari pinggangnya telah terlepas dan hendak jatuh. Maka dia mengangkat kepalanya ke arah langit dan menggerakkan bibirnya, dan tiba-tiba bumi telah terbelah dan keluar darinya dua tangan yang memakaikan sarung kepadanya dengan kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla. Ketika Al-Mu’tashim melihat hal itu dia berkata: “Lepaskan dia.”
Lalu Ibnu Abi Duad maju kepadanya dan berkata kepadanya: “Wahai Ahmad, katakanlah di telingaku: Sesungguhnya Al-Quran adalah makhluk, sehingga aku membebaskanmu dari tangan Khalifah.”
Maka Ahmad berkata kepadanya: “Wahai Ibnu Abi Duad, katakanlah di telingaku: Sesungguhnya Al-Quran adalah Kalam Allah yang tidak diciptakan, sehingga aku membebaskanmu dari azab Allah ‘Azza wa Jalla.”
Maka Al-Mu’tashim berkata: “Masukkan dia ke penjara.”
Sulaiman berkata: Lalu dia dibawa ke penjara, dan orang-orang pulang dan aku pun pulang bersama mereka. Ketika keesokan harinya orang-orang datang dan aku datang bersama mereka, lalu aku berdiri di depan kursi. Al-Mu’tashim keluar dan duduk di kursi, dan berkata: “Bawalah Ahmad bin Hanbal.” Maka dia dibawa. Ketika berdiri di hadapannya, Al-Mu’tashim berkata kepadanya: “Bagaimana keadaanmu di penjaramu tadi malam wahai Ibnu Hanbal?” Dia berkata: “Aku dalam keadaan baik dan segala puji bagi Allah.”
Lalu dia berkata: “Wahai Ahmad, sesungguhnya aku melihat mimpi tadi malam.”
Dia berkata: “Dan apa yang Anda lihat wahai Amirul Mukminin?”
Dia berkata: “Aku melihat dalam mimpiku seolah-olah dua singa datang kepadaku dan hendak menerkamku, dan tiba-tiba dua malaikat datang dan menolak mereka dariku, dan memberikan kepadaku sebuah kitab dan berkata kepadaku: Ini adalah tulisan mimpi yang dilihat Ahmad bin Hanbal di penjaranya. Maka apa yang kamu lihat wahai Ibnu Hanbal?” Maka Ahmad menghadap Al-Mu’tashim lalu berkata kepadanya: “Wahai Amirul Mukminin, apakah kitab itu bersama Anda?” Dia berkata: “Ya, dan aku membacanya ketika pagi dan aku memahami apa yang ada di dalamnya.”
Maka Ahmad berkata kepadanya: “Wahai Amirul Mukminin, aku melihat seolah-olah Hari Kiamat telah terjadi, dan seolah-olah Allah telah mengumpulkan orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian di satu tempat dan Dia menghisab mereka. Sementara aku berdiri tiba-tiba aku dipanggil, lalu aku maju hingga berdiri di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla. Lalu Dia berkata kepadaku: Wahai Ahmad, karena apa engkau dipukul? Maka aku berkata: Karena masalah Al-Quran. Lalu Dia berkata kepadaku: Dan apa itu Al-Quran? Maka aku berkata: KalamMu ya Allah, milikMu.
Lalu Dia berkata kepadaku: Dari mana engkau mengatakan ini? Maka aku berkata: Ya Rabb, Abdul Razzaq menceritakan kepadaku. Lalu Abdul Razzaq dipanggil maka dia dibawa hingga ditempatkan di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla. Lalu Dia berkata kepadanya: Apa pendapatmu tentang Al-Quran wahai Abdul Razzaq? Maka dia berkata: KalamMu ya Allah, milikMu. Lalu Allah ‘Azza wa Jalla berkata: Dari mana engkau mengatakan ini? Maka dia berkata: Ma’mar menceritakan kepadaku. Lalu Ma’mar dipanggil, maka dia dibawa hingga ditempatkan di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla. Lalu Allah ‘Azza wa Jalla berkata kepadanya: Apa pendapatmu tentang Al-Quran wahai Ma’mar? Maka Ma’mar berkata: KalamMu ya Allah, milikMu.
Lalu Dia berkata kepadanya: Dari mana engkau mengatakan ini? Maka Ma’mar berkata: Az-Zuhri menceritakan kepadaku. Lalu Az-Zuhri dipanggil, maka dia dibawa hingga ditempatkan di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla. Lalu Allah ‘Azza wa Jalla berkata kepadanya: Wahai Zuhri, apa pendapatmu tentang Al-Quran? Maka Az-Zuhri berkata: KalamMu ya Allah, milikMu. Lalu Dia berkata: Wahai Zuhri, dari mana engkau mendapatkan ini? Dia berkata: Urwah menceritakan kepadaku. Maka dia dibawa, lalu Dia berkata: Apa pendapatmu tentang Al-Quran? Maka dia berkata: KalamMu ya Allah, milikMu.
Lalu Dia berkata kepadanya: Wahai Urwah, dari mana engkau mendapatkan ini? Maka dia berkata: Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq menceritakan kepadaku. Lalu Aisyah dipanggil, maka dia dibawa dan berdiri di hadapan Allah. Lalu Allah ‘Azza wa Jalla berkata kepadanya: Wahai Aisyah, apa pendapatmu tentang Al-Quran? Maka dia berkata: KalamMu ya Allah, milikMu.
Lalu Allah ‘Azza wa Jalla berkata kepadanya: Dari mana engkau mendapatkan ini? Dia berkata: NabiMu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan kepadaku.
Dia berkata: Maka Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dipanggil, lalu dia dibawa dan berdiri di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla. Lalu Allah ‘Azza wa Jalla berkata: Wahai Muhammad, apa pendapatmu tentang Al-Quran? Maka dia berkata kepadaNya: KalamMu ya Allah, milikMu.
Lalu Allah berkata kepadanya: Dari mana engkau mendapatkan ini? Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: Jibril menceritakan hal itu kepadaku.
Lalu Jibril dipanggil, maka dia dibawa hingga berdiri di hadapan Allah. Lalu Dia berkata kepadanya: Wahai Jibril, apa pendapatmu tentang Al-Quran? Dia berkata: KalamMu ya Allah, milikMu.
Lalu Allah Ta’ala berkata kepadanya: Dari mana engkau mendapatkan ini? Maka dia berkata: Demikianlah Israfil menceritakan kepada kami.
Lalu Israfil dipanggil, maka dia dibawa hingga berdiri di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla. Lalu Allah Subhanahu berkata: Wahai Israfil, apa pendapatmu tentang Al-Quran? Maka dia berkata: KalamMu ya Allah, milikMu.
Lalu Allah berkata kepadanya: Dan dari mana engkau mendapatkan ini? Maka Israfil berkata: Aku melihat hal itu di Lauhul Mahfuzh.
Maka Lauh (papan) dibawa, lalu berdiri di hadapan Allah. Lalu Dia berkata kepadanya: Wahai Lauh, apa pendapatmu tentang Al-Quran? Maka dia berkata: KalamMu ya Allah, milikMu.
Lalu Allah Ta’ala berkata kepadanya: Dari mana engkau mendapatkan ini? Maka Lauh berkata: Demikianlah Qalam (pena) menulis di atasku.
Maka Qalam dibawa hingga berdiri di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla. Lalu Allah ‘Azza wa Jalla berkata kepadanya: Wahai Qalam, apa pendapatmu tentang Al-Quran? Maka Qalam berkata: KalamMu ya Allah, milikMu.
Lalu Allah berkata: Dari mana engkau mendapatkan ini? Maka Qalam berkata: Engkau yang berbicara dan aku yang menulis.
Maka Allah ‘Azza wa Jalla berkata: Benar Qalam, benar Lauh, benar Israfil, benar Jibril, benar Muhammad, benar Aisyah, benar Urwah, benar Az-Zuhri, benar Ma’mar, benar Abdul Razzaq, benar Ahmad bin Hanbal, Al-Quran adalah KalamKu yang tidak diciptakan.”
Sulaiman As-Sijzi berkata: Maka Al-Mu’tashim bangkit saat itu dan berkata: “Engkau benar wahai Ibnu Hanbal.” Dan Al-Mu’tashim bertaubat, dan memerintahkan untuk memenggal leher Bisyr Al-Marisi dan Ibnu Abi Duad, dan memuliakan Ahmad bin Hanbal dan memberinya pakaian kehormatan. Tetapi dia menolak hal itu, maka dia memerintahkan untuk mengantarnya ke rumahnya.
“Thabaqatul Hanabilah” 1/438-443
Maimun bin Al-Ashbagh berkata: Aku mendengar Al-Mu’tashim pada hari mihnah (ujian) berkata kepada Ahmad: Telah sampai kepadaku bahwa engkau berkata: Sesungguhnya Al-Quran adalah Kalam Allah yang tidak diciptakan?
Maka dia berkata kepadanya: Semoga Allah memperbaiki keadaan Amirul Mukminin, berita-berita itu bisa bertambah dan berkurang.
Amirul Mukminin bertanya kepadanya: “Lalu apa yang kamu katakan?”
Dia menjawab: “Saya katakan: tidak diciptakan dalam kondisi apapun.”
Amirul Mukminin bertanya: “Dari mana kamu mengatakan itu?”
Dia menjawab: “Abdur Razzaq menceritakan kepadaku, dari Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Anas berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya kalam Allah yang dikhususkan kepada Musa ada seratus ribu kalimat dan tiga ratus tiga belas kalimat.’ Maka kalam itu dari Allah dan yang mendengarkan adalah Musa.”
Sampai Ahmad berkata: Allah Ta’ala berfirman: “Tetapi tetaplah berlaku perkataan dari-Ku: Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” (As-Sajdah: 13) Jika perkataan itu dari Allah maka kalam adalah kalam Allah.
Maimun bin Al-Ashbagh berkata: Ketika Ahmad dipukul satu kali cambuk dia berkata: “Bismillah.”
Ketika dipukul yang kedua dia berkata: “Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illa billah.”
Ketika dipukul yang ketiga dia berkata: “Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan.”
Ketika dipukul yang keempat dia berkata: “Tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah Allah tulis untuk kami.”
Mereka memukulnya dua puluh sembilan cambuk, dan tali celana Ahmad adalah pinggiran kain, maka putus lalu celananya turun hingga ke kemaluannya. Dia melempar pandangannya ke arah langit dan menggerakkan bibirnya, tidak lama kemudian celana itu tetap tidak turun.
Disebutkan dalam percakapan sampai dia berkata: Maka aku masuk menemui Ahmad tujuh hari setelah pemukulannya sementara dia sedang membaca Mushaf di hadapannya. Aku berkata: “Wahai Abu Abdillah, aku melihatmu pada hari mereka memukulmu dan celanamu terlepas, lalu kamu mengangkat pandanganmu ke arah langit dan aku melihatmu menggerakkan bibirmu, apa yang kamu katakan?”
Dia menjawab: “Aku berkata: Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan nama-Mu yang dengannya Engkau memenuhi Arasy, jika Engkau mengetahui bahwa aku berada di atas kebenaran maka janganlah Engkau membuka auratku.”
“Thabaqat Al-Hanabilah” 2/407-409
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: Abu Ma’mar Al-Qathi’i menceritakan kepadaku, dia berkata: Ketika kami hadir di istana penguasa pada masa mihnahh (ujian/siksaan), dan Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal telah dihadirkan, dia adalah seorang yang lemah lembut. Ketika dia melihat orang-orang menjawab (menyerah), urat lehernya mengembung, matanya memerah, dan kelembutan yang ada padanya hilang. Maka aku berkata: “Sesungguhnya dia telah marah karena Allah.”
Abu Ma’mar berkata: Ketika aku melihat kondisinya, aku berkata: “Wahai Abu Abdillah, bergembiralah! Muhammad bin Fudhail bin Ghazwan menceritakan kepada kami, dari Al-Walid bin Abdullah bin Jami’, dari Abu Salamah bin Abdurrahman bin ‘Auf berkata: Di antara para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ada yang jika dipaksa untuk meninggalkan sesuatu dari agamanya, terlihat bola matanya berputar di kepalanya seakan-akan dia gila.”
Ibnu Abi Usamah berkata: Diceritakan kepada kami bahwa Ahmad bin Hanbal pada masa mihnah dikatakan kepadanya: “Wahai Abu Abdillah, tidakkah kamu lihat bagaimana kebatilan menang atas kebenaran?”
Maka dia berkata: “Tidak sama sekali. Sesungguhnya kemenangan kebatilan atas kebenaran adalah ketika hati berpindah dari petunjuk menuju kesesatan, sedangkan hati kami masih melekat pada kebenaran.”
“Manaqib Al-Imam Ahmad” karya Ibnu Al-Jauzi hal. 388-389
Muhammad bin Ibrahim Al-Bushanjii berkata: Al-Mu’tashim datang dari negeri Romawi ke Baghdad pada bulan Ramadhan tahun dua ratus delapan belas, maka Ahmad diuji dan dipukul di hadapannya. Orang yang aku percaya dari sahabat-sahabat kami menceritakan kepadaku dari Muhammad bin Ibrahim bin Mush’ab—yang pada hari itu menjabat kepala polisi untuk Al-Mu’tashim, pengganti Ishaq bin Ibrahim—bahwa dia berkata: “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang tidak bergaul dengan penguasa dan tidak bercampur dengan raja-raja yang lebih teguh hatinya daripada Ahmad pada hari itu. Kami di matanya tidak lain seperti lalat.”
Al-Marwazi berkata dalam kisah mihnahnya Ahmad bin Hanbal saat dia berada di antara dua tiang: “Wahai guru, Allah Ta’ala berfirman: ‘Dan janganlah kamu membunuh dirimu.’ (An-Nisa: 29)”
Maka Ahmad berkata: “Wahai Marwazi, keluarlah dan lihatlah apa yang kamu lihat!”
Al-Marwazi berkata: “Maka aku keluar ke halaman istana khalifah, lalu aku melihat banyak orang yang tidak dapat dihitung jumlahnya kecuali oleh Allah, dengan lembaran-lembaran di tangan mereka dan pena serta tinta di lengan mereka.”
Al-Marwazi bertanya kepada mereka: “Apa yang kalian kerjakan?”
Mereka menjawab: “Kami menunggu apa yang Ahmad katakan lalu kami menulisnya.”
Al-Marwazi berkata: “Tetaplah di tempat kalian.” Maka dia masuk menemui Ahmad bin Hanbal sementara dia berdiri di antara dua tiang. Dia berkata kepadanya: “Aku melihat orang-orang dengan lembaran dan pena di tangan mereka, menunggu apa yang kamu katakan lalu mereka menulisnya.”
Maka Ahmad berkata: “Wahai Marwazi, apakah aku menyesatkan semua orang ini? Aku membunuh diriku sendiri dan tidak menyesatkan semua orang ini!”
“Manaqib Al-Imam Ahmad” karya Ibnu Al-Jauzi hal. 408-409
Ja’far Ar-Razi berkata: Ishaq bin Ibrahim biasa berkata: “Demi Allah aku melihat pada hari Ahmad bin Hanbal dipukul, celananya terangkat setelah turun dan terikat kembali setelah terlepas, namun tidak ada yang menyadari hal itu karena hilangnya akal orang-orang yang hadir. Aku tidak pernah melihat hari yang lebih berat bagi Al-Mu’tashim daripada hari itu. Demi Allah, seandainya pemukulan tidak dihentikan, dia tidak akan beranjak dari tempatnya kecuali dalam keadaan mati.”
Ibrahim bin Ishaq Al-Anshari berkata: Aku mendengar salah seorang algojo berkata: “Sungguh Ahmad bin Hanbal telah membatalkan para penjahat. Demi Allah, aku telah memukulnya dengan pukulan yang seandainya aku membaringkan seekor unta lalu memukulnya dengan pukulan itu, niscaya isi perutnya akan terbuka.”
Muhammad bin Ismail bin Abi Saminah berkata: Aku mendengar Syabash At-Taib berkata: “Sungguh aku telah memukul Ahmad bin Hanbal delapan puluh cambuk, seandainya aku memukulkan itu pada gajah niscaya akan roboh.”
Muhammad bin Ja’far Ar-Rasyidi berkata: Sebagian sahabat kami menceritakan kepadaku, dia berkata: “Ketika cambuk-cambuk mengenai Abu Abdillah, dia berkata: ‘Dengan-Mu aku meminta pertolongan wahai Dzat Yang Maha Perkasa di langit dan wahai Dzat Yang Maha Perkasa di bumi.'”
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku sering mendengar ayahku berkata: ‘Semoga Allah merahmati Abu Al-Haitsam, semoga Allah mengampuni Abu Al-Haitsam, semoga Allah memaafkan Abu Al-Haitsam.'”
Maka aku berkata: “Wahai ayah, siapakah Abu Al-Haitsam?”
Dia berkata: “Tidakkah kamu mengenalnya?”
Aku menjawab: “Tidak.”
Dia berkata: “Abu Al-Haitsam Al-Haddad. Pada hari aku dikeluarkan untuk dicambuk dan kedua tanganku direntangkan pada dua tonggak penyiksaan, tiba-tiba ada seseorang menarik bajuku dari belakang dan berkata kepadaku: ‘Apakah kamu mengenalku?'”
Aku menjawab: “Tidak.”
Dia berkata: “Aku adalah Abu Al-Haitsam Al-‘Ayyar, pencuri perampok. Tercatat dalam daftar Amirul Mukminin bahwa aku telah dipukul delapan belas ribu cambuk secara bertahap, dan aku bersabar dalam hal itu untuk ketaatan kepada setan demi dunia. Maka bersabarlah kamu dalam ketaatan kepada Ar-Rahman demi agama.”
Ahmad berkata: “Maka aku dipukul delapan belas cambuk sebagai ganti dia yang dipukul delapan belas ribu cambuk, lalu pelayan keluar dan berkata: ‘Amirul Mukminin telah memaafkannya.'”
“Manaqib Al-Imam Ahmad” karya Ibnu Al-Jauzi hal. 412-413
Abu Syu’aib Al-Harrani berkata: Kami bersama Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam di pintu istana Al-Mu’tashim sementara Ahmad bin Hanbal sedang dipukul. Abu ‘Ubaid terus berkata: “Apakah tuan kami dipukul? Tidak ada kesabaran! Apakah tuan kami dipukul? Tidak ada kesabaran!”
Abu Syu’aib berkata, maka aku berkata:
“Mereka memukul Ibnu Hanbal dengan cambuk karena kezaliman mereka dengan sewenang-wenang, namun dia tetap teguh dengan keteguhan yang cemerlang. Ketika Al-Muwaffaq berkata saat dia direntangkan di antara mereka, direntangkan seperti kulit dengan pasir yang halus: ‘Sesungguhnya aku akan mati dan tidak akan menanggung dosa yang akan membakar pelaku kemunkaran.'”
“Manaqib Al-Imam Ahmad” karya Ibnu Al-Jauzi hal. 416
Maimun bin Al-Ashbagh berkata: Aku berada di Baghdad lalu mendengar keributan. Aku bertanya: “Apa ini?”
Seseorang menjawab: “Ahmad bin Hanbal sedang diuji tentang Al-Quran.”
Dia berkata: “Maka aku pergi ke rumahku dan mengambil harta yang berharga, lalu pergi dengannya kepada orang yang bisa memasukkanku ke dalam majelis tempat Ahmad diuji.”
Dia berkata: “Mereka memasukkanku, maka aku melihat pedang-pedang telah terhunus, para panglima dengan tongkat telah turun dari kuda, dan cambuk-cambuk telah dilemparkan.”
Dia berkata: “Mereka memakaikan kepadaku jubah-jubah hitam, ikat pinggang dan pedang hingga mereka menempatkanku di dekat majelis dari tempat aku bisa mendengar percakapan. Aku melihat Amirul Mukminin mengenakan selendang Adeni, hingga dia duduk di atas kursi. Dia berkata: ‘Di mana orang yang mengklaim bahwa Allah Azza wa Jalla berbicara dengan dua organ?'”
Dia berkata: “Maka Ahmad bin Hanbal dibawa mengenakan baju putih dan selimut hijau, sandalnya tergantung di tangannya hingga ditempatkan di hadapannya.”
Amirul Mukminin bertanya: “Apakah kamu Ahmad bin Hanbal?”
Dia menjawab: “Aku adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal.”
Dia berkata: “Sampai kepadaku bahwa kamu mengatakan: Sesungguhnya Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan.”
Ahmad berkata kepadanya: “Semoga Allah memperbaiki Amirul Mukminin, laporan-laporan itu bertambah dan berkurang.”
Amirul Mukminin berkata: “Wahai Mubarak, lalu apa yang kamu katakan?”
Dia menjawab: “Aku katakan: Al-Quran tidak diciptakan, dan dalam kondisi apapun.”
Amirul Mukminin bertanya: “Dari mana kamu mengatakan itu?”
Dia menjawab: “Diriwayatkan dalam hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya kalam Allah yang dikhususkan kepada Musa ‘alaihissalam ada seratus ribu kalimat dan tiga belas kalimat.’ Maka kalam itu dari Allah Azza wa Jalla, dan yang mendengarkan adalah Musa.”
Maka Amirul Mukminin berkata: “Kamu berdusta wahai musuh Allah atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengatakan sesuatu pun dari ini.”
Ahmad berkata: “Jika kamu mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengatakan sesuatu pun dari ini, maka sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Tetapi tetaplah berlaku perkataan dari-Ku: Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.’ (As-Sajdah: 13) Jika perkataan itu dari Allah, maka kalam adalah dari Allah.”
Maka Al-Mu’tashim menoleh kepada Ibnu Abi Duad dan berkata: “Bicaralah dengannya.”
Ibnu Abi Duad berkata: “Bunuh dia!” Dan dia menampar Ahmad hingga Ahmad jatuh pingsan, kemudian sadar kembali.
Maka Al-Mu’tashim berkata: “Demi kerabatku dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sungguh aku akan memukulmu dengan cambuk atau kamu mengatakan seperti apa yang aku katakan.” Kemudian dia menoleh kepada algojo dan berkata: “Bawa dia kepadamu.”
Dia berkata: “Maka algojo membawanya dan merobek bajunya kemudian menempatkannya di antara dua tonggak. Ketika dipukul satu cambuk dia berkata: ‘Bismillah.’ Ketika dipukul yang kedua dia berkata: ‘Laa haula wa laa quwwata illa billah.’
Ketika dipukul yang ketiga dia berkata: ‘Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan.’
Ketika dipukul yang keempat dia berkata: ‘Katakanlah: Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami.’ (At-Taubah: 51) Maka dia dipukul dua puluh sembilan cambuk. Tali celana Ahmad adalah pinggiran kain, maka putus lalu celana itu turun hingga ke kemaluannya. Aku berkata dalam hati: ‘Sebentar lagi auratnya terbuka.’ Maka Ahmad melempar pandangannya ke arah langit dan menggerakkan bibirnya, tidak lama kemudian celana itu tetap tidak turun.”
“Al-Mihnah” karya Abdul Ghani Al-Maqdisi hal. 73-76
Abu Ali Hanbal bin Ishaq bin Hanbal berkata: Ketika penahanan Abu Abdillah berlangsung lama, dia berkata: Ayahku biasa bolak-balik mengurusi perkaranya dan berbicara dengan para panglima dan pejabat sultan tentang perkaranya, dengan harapan dia akan dibebaskan dan dibiarkan pergi. Ketika hal itu berlangsung lama dan tidak terwujud, dia meminta izin untuk menemui Ishaq bin Ibrahim. Dia berkata kepadanya: Wahai Amir, sesungguhnya antara kami dan Amir ada kehormatan, di antaranya ada yang akan Amir jaga; tetangga di Marw, ayahku Hanbal bersama kakekmu Al-Husain bin Mus’ab. Dia berkata: Hal itu telah sampai kepadaku.
Aku berkata: Jika Amirul Mukminin berkenan menjaga hal itu untuk kami dan memeliharanya.
Ayahku berkata: Dan aku berkata kepadanya: Wahai Amir, karena apa anak saudaraku ditahan? Dia tidak mengingkari tanzil (Al-Quran yang diturunkan), mereka hanya berbeda dalam takwil (interpretasi). Maka bebaskan dia dari penahanan yang panjang ini. Wahai Amir, kumpulkan para fuqaha dan ulama untuk kami. Ayahku berkata: Dan aku tidak menyebut ahli hadits. Maka Ishaq berkata: Apakah kamu rela?
Aku berkata: Ya wahai Amir, maka siapa yang hujahnya menang, dialah yang lebih kuat. Maka Ibnu Abi Rib’i berkata kepadaku setelah itu: Apa yang telah kamu lakukan! Kamu kumpulkan orang-orang yang menentang anak saudaramu, lalu mereka menetapkan hujah atasnya dari kalangan yang dikehendaki oleh Ibnu Abi Duad dari ahli kalam dan perdebatan. Mengapa kamu tidak bermusyawarah denganku dalam hal itu? Aku berkata kepadanya: Sudah terjadi apa yang terjadi.
Ayahku berkata: Dan ketika disebutkan kepada Ishaq bin Ibrahim tentang kehormatan terdahulu antara kami dan dia, dia berkata kepada penjaga pintunya yang bernama Al-Bukhari: Wahai Bukhari, pergilah bersamanya kepada anak saudaranya dan biarlah dia berbicara dengannya, dan jangan anak saudaranya berbicara dengan sesuatu yang tidak kamu pahami kecuali kamu beritahu aku. Ayahku berkata: Maka aku masuk menemui Abu Abdillah bersama penjaga pintu Ishaq yang disebut Al-Bukhari. Aku berkata kepadanya: Wahai Abu Abdillah, teman-temanmu telah menjawab (menerima), dan kamu telah berlepas diri antara dirimu dan Allah Azza wa Jalla, dan orang-orang telah menjawab sedangkan kamu masih tertinggal -maksudnya tertinggal dalam penjara dan kesempitan.
Maka dia berkata kepadaku: Wahai paman, jika orang alim menjawab karena takut, dan orang bodoh karena kebodohannya, maka kapan kebenaran akan jelas?!
Ayahku berkata: Maka aku diam darinya. Ketika beberapa hari setelah pertemuanku dengan Ishaq bin Ibrahim dan pembicaraanku dengannya, Ishaq bertemu dengan Al-Mu’tashim lalu mengabarkan kepadanya tentang perkataan ayahku dan apa yang disampaikannya.
Kami pergi ke penjara pada suatu hari berniat masuk menemui Abu Abdillah seperti kebiasaan kami bolak-balik, dan ada seorang laki-laki di antara tetangga kami yang bernama Harun, dia bolak-balik kepada Abu Abdillah membawa makanannya dari rumah, dan mengurus keperluannya serta melayaninya. Dikatakan kepada kami: Telah dipindahkan Abu Abdillah malam ini ke rumah Ishaq. Maka aku dan ayahku serta teman-teman kami pergi ke rumah Ishaq, kami ingin masuk menemui Abu Abdillah dan menemuinya, namun dihalangi antara kami dan hal itu. Harun Al-Jashshash datang membawa berbuka Abu Abdillah lalu menyerahkannya kepada sebagian pembantu untuk disampaikan kepada Abu Abdillah. Maka Ishaq mengutus dan mengambil keranjang yang berisi makanan berbukanya lalu melihatnya, ternyata di dalamnya ada dua roti dan sedikit kacang fava. Ishaq heran dengan hal itu.
Ketika hari berikutnya dari hari di mana Abu Abdillah dipindahkan ke rumah Ishaq dan kami berada di pintu rumah Ishaq, tiba-tiba datang Abu Syu’aib Al-Hajjam dan Muhammad bin Rabbah, hingga mereka masuk ke rumah Ishaq, kemudian masuk kepada Abu Abdillah dan bersama mereka ada gambar langit dan bumi serta yang lain.
Abu Abdillah berkata: Maka mereka bertanya kepadaku tentang sesuatu yang aku tidak tahu apa itu.
Abu Abdillah berkata: Ketika mereka bertanyakan kepadaku -maksudnya Ibnu Al-Hajjam dan Ibnu Rabbah- aku berkata: Aku tidak tahu, dan aku tidak mengenal ini. Kemudian Abu Syu’aib berkata kepadaku dalam pembicaraan yang terjadi antara aku dan dia: Dan aku bertanya kepadanya tentang ilmu Allah apa itu?
Dia berkata: Ilmu Allah makhluk. Maka aku berkata kepadanya: Kamu telah kafir kepada Allah Yang Maha Agung. Maka utusan Ishaq berkata kepadaku -dan dia bersamanya: Ini adalah utusan Amirul Mukminin.
Maka aku berkata kepadanya: Sesungguhnya orang ini telah kafir kepada Allah.
Dan aku berkata kepada temannya Ibnu Rabbah yang datang bersamanya: Sesungguhnya orang ini -maksudku Abu Syu’aib- telah kafir, dia mengklaim bahwa ilmu Allah makhluk. Maka dia melihat dan mengingkari perkataannya, dan berkata: Celakalah kamu, apa yang kamu katakan? Kemudian kami pulang.
Hanbal berkata: Maka sampai kepadaku dari Abu Syu’aib bahwa ketika dia keluar dari tempat Abu Abdillah, orang yang dekat dengannya mendengarnya berkata: Aku tidak melihat tandingan untuk orang ini.
Dan Abu Abdillah berkata kepada Abu Syu’aib pada waktu perdebatannya: Celakalah kamu, setelah pencarianmu untuk hadits dan penulisanmu untuk ilmu, tidakkah aku melihatmu di tempat ini dan itu?! Tidakkah kamu hadir begini dan begitu?! Maka Abu Syu’aib berkata: Aku tidak melihat tandingan untuk orang ini, aku heran dengan seorang laki-laki dalam kondisi yang dia alami ini dan dia menegurku.
Dia berkata: Dan ketika Abu Abdillah dipindahkan dari penjara ke rumah Ishaq, dia memakai belenggu yang ringan lalu ditambahkan belenggunya dan diperberat. Dia tinggal tiga hari di rumah Ishaq. Ketika malam keempat setelah isya di bulan Ramadhan, datang Bugha Al-Kabir kepada Ishaq bin Ibrahim lalu memerintahkannya untuk membawaku kepada Al-Mu’tashim.
Abu Abdillah berkata: Maka aku dimasukkan kepada Ishaq, dia berkata kepadaku: Wahai Ahmad, demi Allah ini adalah nyawamu, sungguh dia telah bersumpah tidak akan membunuhmu dengan pedang, dan akan memukulmu pukulan demi pukulan, dan akan memenjarakanmu di tempat yang kamu tidak melihat matahari di dalamnya. Bukankah Allah Taala berfirman: “Sesungguhnya Kami menjadikannya Al-Quran berbahasa Arab” (Az-Zukhruf: 3) Apakah yang dijadikan itu kecuali makhluk?! Abu Abdillah berkata: Maka aku berkata: Allah Taala berfirman: “Lalu dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan” (Al-Fil: 5) apakah Dia menciptakan mereka? Maka dia diam.
Abu Abdillah berkata: Kemudian Ishaq berkata kepadaku: Wahai Ahmad, seandainya kamu menjawab Amirul Mukminin kepada apa yang dia serukan kepadamu.
Dia berkata: Maka aku berbicara dengannya dengan pembicaraan. Dia berkata: Sesungguhnya aku mengkhawatirkanmu, dan sesungguhnya antara kami dan kamu ada kehormatan.
Maka aku berkata: Aku tidak punya dalam hal ini kecuali sikap yang pertama. Dia berkata: Bawa dia pergi.
Maka dia memerintahkan, aku dibawa dengan perahu ke rumah Abu Ishaq. Di dalam celana panjangku ada tali, ketika mereka memindahkanku dan menambah belengguku dan belenggu menjadi berat padaku, aku tidak mampu berjalan dengannya. Aku mengeluarkan tali dari celana panjang dan mengikat dengannya belengguku, kemudian melipat celana panjang tanpa tali dan tanpa benang. Maka aku dibawa ke rumah Abu Ishaq dan bersamaku Bugha, dan utusan Ishaq bin Ibrahim. Ketika aku sampai di rumah, aku dikeluarkan dari perahu dan dinaikkan ke atas hewan sedangkan belenggu berat padaku dan tidak ada seorang pun bersamaku yang memegangku. Aku menyangka aku akan jatuh ke tanah atau semacamnya. Aku dimasukkan lalu ditempatkan di sebuah kamar dan pintu dikunci atasku dan dua orang laki-laki duduk di atasnya, dan tidak ada lampu di dalam kamar. Maka aku berdiri shalat dan tidak mengetahui kiblat, maka aku shalat. Ketika pagi aku melihat ternyata aku menghadap kiblat.
Abu Abdillah berkata: Maka aku dimasukkan keesokan harinya kepada Abu Ishaq, ternyata dia duduk, dan Ibnu Abi Duad hadir dan telah mengumpulkan teman-temannya. Ketika Abu Ishaq melihatku, aku mendengarnya berkata kepada mereka ketika aku mendekat dari mereka: Bukankah kalian mengklaim bahwa dia masih muda? Ini adalah seorang syaikh yang sudah tua.
Maka aku tidak tahu apa yang si jahat itu berdalil atasnya karena aku tidak memahami apa yang dia katakan, dan rumah itu banyak orangnya. Ketika aku mendekat aku mengucapkan salam, dia berkata kepadaku: Mendekatlah. Dia terus berkata: Mendekatlah. Hingga aku dekat darinya. Dia berkata: Duduklah. Maka aku duduk dan belenggu telah memberatiku. Ketika aku tinggal sebentar aku berkata kepadanya: Wahai Amirul Mukminin, izinkan aku untuk berbicara? Dia berkata: Bicaralah. Aku berkata: Kepada apa anak pamanmu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyeru?
Dia berkata: Kepada kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Aku berkata: Maka aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah.
Dan aku berkata: Sesungguhnya kakekmu Ibnu Abbas menceritakan bahwa ketika utusan Abdul Qais datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau memerintahkan mereka dengan iman kepada Allah -dan aku menyebutkan kepadanya seluruh hadits- Wahai Amirul Mukminin, dan kepada apa aku diseru sedangkan ini adalah kesaksianku dan keikhlasanku kepada Allah dengan tauhid?! Dia berkata: Maka dia diam, lalu Ibnu Abi Duad berkata dengan perkataan yang tidak aku pahami.
“Al-Mihnah” karya Abdul Ghani Al-Maqdisi hal. 80-86
Al-Abbas bin Al-Mughirah berkata: Menceritakan kepada kami Abu Ali Hanbal, dia berkata: Abu Abdillah berkata: Sungguh mereka berdalil atasku dengan sesuatu yang tidak menguatkan hatiku dan tidak dapat lidahku untuk menceritakannya. Mereka mengingkari atsar-atsar dan aku tidak menyangka mereka seperti ini hingga aku mendengar perkataan mereka. Ibnu Aun mulai berkata: Jisim (tubuh), dan begini dan begitu. Maka aku berkata: Aku tidak tahu apa yang kamu katakan. Dan aku berkata: Dia adalah Al-Ahad Ash-Shamad.
Abu Abdillah berkata: Maka aku berdalil atasnya, aku berkata: Kalian mengklaim bahwa kalian menolak berita-berita dengan perbedaan sanad-sanadnya dan apa yang masuk ke dalamnya dari kekeliruan dan kelemahan. Maka ini adalah Al-Quran, kami dan kalian sepakat atasnya, dan tidak ada perbedaan di dalamnya di antara ahli kiblat, dan ini adalah ijma’. Allah berfirman dalam kitab-Nya sebagai pembenaran dari-Nya atas perkataan Ibrahim, tidak menolak perkataannya dan tidak mengingkarinya, maka Allah menceritakan hal itu dan berfirman: “Ketika dia berkata kepada ayahnya: Wahai ayahku, mengapa kamu menyembah apa yang tidak mendengar dan tidak melihat” (Maryam: 42) Maka Ibrahim mencela ayahnya karena menyembah apa yang tidak mendengar dan tidak melihat, apakah ini mungkar menurut kalian?! Mereka berkata: Penyerupaan wahai Amirul Mukminin, penyerupaan wahai Amirul Mukminin!
Aku berkata: Bukankah ini Al-Quran, apakah ini mungkar yang ditolak?! Dan ini adalah kisah Musa alaihissalam, Allah berfirman kepada Musa dalam kitab-Nya sebagai cerita tentang diri-Nya Taala: “Dan Allah berbicara kepada Musa dengan sungguh-sungguh” Maka Allah Taala menetapkan kalam untuk Musa sebagai kemuliaan dari-Nya untuk Musa, dan berfirman setelah berbicara kepada Musa: “Dengan sungguh-sungguh” (An-Nisa: 164) sebagai penguatan untuk kalam. Dan Allah Taala berfirman dalam kitab-Nya: Wahai Musa “Sesungguhnya Aku, Aku adalah Allah tidak ada tuhan selain Aku” (Thaha: 14) Apakah kalian mengingkari ini?! Maka ya’ yang kembali ini adalah cerita yang kembali kepada selain Allah dan menjadi makhluk yang mengklaim ketuhanan selain Dia Azza wa Jalla. Allah Taala berfirman: “Wahai Musa (11) Sesungguhnya Aku, Aku adalah Tuhanmu, maka lepaskanlah kedua sandalmu” (Thaha: 11-12) Maka ini adalah Kitabullah wahai Amirul Mukminin.
Maka mereka diam dan memutarkan di antara mereka perkataan yang tidak aku pahami.
Abu Abdillah berkata: Dan kaum itu menolak ini dan mengingkarinya.
Aku berkata kepadanya: Lalu Abu Ishaq? Dia berkata: Dia tidak berkata apa-apa, dan tidak mampu menolak Al-Quran, dan mereka mengingkari kalam dan ru’yah (melihat Allah).
“Al-Mihnah” karya Abdul Ghani Al-Maqdisi hal. 99-100
Ahmad berkata dalam riwayat Hanbal: Jika aku dihadapkan kepada pedang, aku tidak akan menjawab.
“Al-Adab Asy-Syar’iyyah” 1/183
87 – Pasal: Keluarnya Imam dari rumah Al-Mu’tashim
Ibnu Muhammad Al-Mashishi berkata: Aku mendengar Abdurrazzaq berkata kepada Ahmad bin Hanbal: Adapun kamu, maka semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dari Nabi-Nya.
“Thabaqat Al-Hanabilah” 2/85
Abu Muhammad Ath-Thafawi berkata kepada Ahmad bin Hanbal: Wahai Abu Abdillah, kabarkanlah kepadaku tentang apa yang mereka lakukan kepadamu? Dia berkata: Ketika aku dipukul dengan cambuk, datang orang panjang jenggot itu -maksudnya Ajif- lalu memukulku dengan gagang pedang. Maka aku berkata: Datang kelapangan, penggal leherku dan aku akan istirahat.
Maka Ibnu Sama’ah berkata kepadanya: Wahai Amirul Mukminin, penggal lehernya dan darahnya di leherku.
Maka Ibnu Abi Duad berkata kepadanya: Jangan wahai Amirul Mukminin, jangan lakukan, sesungguhnya jika dia dibunuh atau mati di rumahmu, orang-orang akan berkata: Dia bersabar hingga dibunuh. Maka orang-orang akan menjadikannya imam dan tetap pada apa yang mereka ada padanya. Tidak, tetapi bebaskan dia sekarang, jika dia mati di luar rumahmu, orang-orang akan ragu dalam perkaranya, dan sebagian mereka akan berkata: Dia tidak menjawabnya. Maka orang-orang akan ragu dalam perkaranya.
Dan Ibnu Abi Hatim berkata: Dan aku mendengar Abu Zur’ah berkata: Al-Mu’tashim memanggil paman Ahmad bin Hanbal, kemudian berkata kepada orang-orang: Apakah kalian mengenalnya?
Mereka berkata: Ya! Dia adalah Ahmad bin Hanbal.
Dia berkata: Maka lihatlah dia, bukankah dia sehat badannya? Mereka berkata: Ya.
Dan seandainya dia tidak melakukan itu, aku takut akan terjadi kejahatan yang tidak dapat ditegakkan, maka ketika dia berkata: Sungguh aku telah menyerahkannya kepada kalian dengan badan yang sehat, orang-orang tenang dan diam.
“Manaqib Al-Imam Ahmad” karya Ibnul Jauzi hal. 419-420
Ibnu Abi Hatim berkata: Dan menceritakan kepada kami Ahmad bin Sinan, dia berkata: Sampai kepadaku bahwa Ahmad bin Hanbal menghalalkan Al-Mu’tashim pada hari pembukaan Babel atau pada hari pembukaan Amuriyyah. Dia berkata: Dia dalam kehalalan dari pukulanku.
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: Ayahku berkata kepadaku: Al-Watsiq mengirim kepadaku agar aku menghalalkan Al-Mu’tashim dari pukulannya kepadaku.
Maka aku berkata: Aku tidak keluar dari rumahnya hingga aku menghalalkannya, dan aku menyebutkan perkataan Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Tidak berdiri pada hari kiamat kecuali orang yang memaafkan” maka aku memaafkannya.
Abu Ali Al-Husain bin Abdillah Al-Kharqi berkata -dan dia telah melihat Ahmad bin Hanbal: Aku bermalam dengan Ahmad bin Hanbal suatu malam, maka aku tidak melihatnya tidur kecuali menangis hingga pagi. Maka aku berkata: Abu Abdillah, tangisanmu banyak malam ini, apa sebabnya?
Maka dia berkata kepadaku: Aku teringat pukulan Al-Mu’tashim kepadaku, dan lewat padaku dalam pelajaran: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas Allah” (Asy-Syura: 40) maka aku sujud dan menghalalkannya dari pukulanku dalam sujud.
Ibrahim Al-Harbi berkata: Ahmad bin Hanbal menghalalkan orang yang hadir saat pukulannya dan setiap orang yang mendukung dalam hal itu, dan Al-Mu’tashim, dan berkata: Seandainya bukan karena Ibnu Abi Duad adalah penyeru, aku akan menghalalkannya.
“Manaqib Al-Imam Ahmad” karya Ibnul Jauzi hal. 424-425
Abu Ali Hanbal bin Ishaq berkata: Ketika Abu Ishaq memerintahkan untuk membebaskan Abu Abdillah, Abu Ishaq memberikan kepadanya ikat pinggang, baju, selendang, sepatu, dan topi. Sementara kami berada di pintu rumah Abu Ishaq di serambi, dan pada waktu itu orang-orang berkumpul di lapangan, di jalan-jalan dan tempat lainnya, pasar-pasar ditutup dan orang-orang berkumpul, tiba-tiba Abu Abdillah keluar menunggangi hewan tunggangan dari rumah Abu Ishaq dengan mengenakan pakaian-pakaian tersebut, sementara Ibnu Abi Duad berada di sebelah kanannya dan Ishaq bin Ibrahim di sebelah kirinya. Ketika sampai di serambi rumah Abu Ishaq sebelum keluar ke jalan, Ibnu Abi Duad berkata kepada mereka: Buka penutup kepalanya. Maka mereka membukanya dan hendak membawanya ke arah lapangan menuju jalan penjara, lalu ia berkata kepada mereka: Bawalah ia ke arah sana. Maksudnya ke arah Sungai Dajlah (Tigris), maka ia dibawa ke perahu, kemudian dibawa ke rumah Ishaq bersama Ghassan dan sahabat Asy-Syafi’i. Ia dibawa ke rumah Ishaq dan dijaga di sana sampai kami selesai shalat Zhuhur. Aku mengutus orang kepada ayahku, para tetangga kami, dan para syaikh kampung agar berkumpul, lalu mereka dimasukkan untuk menemuinya. Ia berkata kepada mereka: Ini adalah Ahmad bin Hanbal, jika ada di antara kalian yang mengenalnya, jika tidak maka kenalilah dia. Kemudian Ibnu Sama’ah datang dan masuk.
Abu Abdillah berkata: Ibnu Sama’ah ketika masuk berkata kepada jamaah: Ini adalah Ahmad bin Hanbal, dan sesungguhnya Amirul Mukminin telah berdebat dengannya dalam suatu perkara dan telah membebaskannya, dan ini dia. Lalu ia dikeluarkan menunggangi hewan tunggangan milik Ishaq menjelang terbenam matahari, dan sampai ke rumahnya bersama pihak penguasa dan orang-orang.
Ketika sampai di pintu rumah, aku mendengar Ayyasy penjaga penjara ketika melihat Abu Abdillah telah datang, maka Ayyasy berkata kepada orang kepercayaan Ishaq sementara orang-orang berdiri: Taziyah taziyah -maksudnya: Arab Arab. Lalu Abu Abdillah masuk dan aku ikut masuk bersamanya dari pintu gang, sementara ia membungkuk karena pukulan yang telah menembus tetapi tidak berlubang alhamdulillah, dan ia membungkuk karenanya. Ketika sampai di pintu rumah ia hendak turun, aku memeluknya tanpa aku sadari, lalu tanganku jatuh pada tempat pukulan itu sehingga ia berteriak dan merasa kesakitan, padahal aku tidak tahu, maka aku menggeser tanganku. Ia turun dengan bersandar kepadaku dan kami masuk lalu pintu ditutup.
Abu Abdillah merebahkan dirinya tengkurap, tidak mampu bergerak ke sana ke mari kecuali dengan susah payah. Ia melepaskan pakaian yang dikenakannya dan memerintahkan agar dijual, lalu mengambil harganya dan menyedekahkannya.
Ishaq bin Ibrahim tidak pernah berhenti memantau kabarnya, hal itu karena ia meninggalkannya -sebagaimana diceritakan kepada kami- ketika sudah putus asa darinya. Abu Ishaq menyesal setelah itu dan merasa bersalah hingga keadaan membaik. Orang kepercayaan Ishaq bin Ibrahim yang membawa kabar datang kepada kami setiap hari untuk mengetahui kabarnya, hingga ia sembuh dan pulih setelah perbaikan, dan keluar untuk shalat, alhamdulillah rabbil alamin. Tangannya dan kedua ibu jarinya tetap terkilir, terasa nyeri ketika terkena hawa dingin, sampai kami memanaskan air untuknya. Ada bekas cambukan di pinggangnya sehingga mereka mengira telah berlubang, tetapi Allah menyelamatkannya dari itu dan memberikan kesembuhan kepadanya.
Abu Ali berkata: Datang seorang laki-laki dari penghuni penjara yang bernama Abu Ash-Shabah, dari kalangan yang memahami cambukan dan luka-luka. Ia berkata: Sungguh aku telah melihat cambukan yang sangat hebat, aku tidak pernah melihat cambukan seperti ini dan tidak ada yang lebih keras darinya, ini adalah cambukan yang membinasakan. Sungguh para algojo -semoga Allah memotong tangan-tangan mereka- telah menyeretnya dari depan dan dari belakang, dan yang dimaksud adalah membunuhnya. Kemudian ia memeriksa dengan alat ukur -yaitu mengukurnya- karena khawatir telah berlubang, tetapi ternyata tidak berlubang.
Aku melihat Abu Abdillah telinganya terkena pukulan sehingga kulitnya terluka dan telinganya berbau busuk, dan wajahnya terkena beberapa pukulan tetapi ia tidak mengeluh.
Abu Abdillah berkata: Sebagian dari mereka berkata kepadaku: Wahai Abu Abdillah, jangan bergerak dan tegakkan dirimu. Ketika kami hendak mengobatinya, kami khawatir Ibnu Abi Duad akan mengirim orang kepada pengobat lalu memasukkan sesuatu ke dalam obatnya yang akan membunuhnya, maka kami membuat obat dan salep di rumahnya dan disimpan dalam tempat di rumah kami. Ketika pengobat datang untuk mengobatinya, kami semua hadir bersamanya lalu ia mengobatinya dengan obat itu, dan jika selesai kami mengangkatnya. Dalam pukulannya ada sedikit daging yang mati, lalu ia memotongnya dengan pisau. Bekas pukulan itu tetap di punggungnya, jika terkena hawa dingin terasa berdenyut, dan jika darah mengganggunya ia mengutus tukang bekam kapan pun waktunya untuk mengeluarkan darah hingga denyutan di kedua bahunya mereda. Air hangat dipanaskan untuk tubuhnya.
Jarir bin Ahmad bin Abi Duad -paman Abu Nashr- berkata, ayahku berkata: Aku tidak pernah melihat orang yang lebih kuat hatinya dari laki-laki ini, Ahmad bin Hanbal. Kami berbicara kepadanya, dan Khalifah berbicara kepadanya, kadang memanggilnya dengan nama dan kadang dengan kunyah: Wahai Ahmad, wahai Abu Abdillah, sementara ia berkata: Tunjukkan kepadaku sesuatu dari Kitabullah atau sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sampai aku menjawabmu.
Ja’far bin Abdul Wahid berkata: Aku membicarakan sesuatu dengan Al-Muhtadi lalu aku berkata: Ahmad bin Hanbal mengatakan hal ini, tetapi ia menyelisihi -seolah aku mengisyaratkan kepada para pendahulunya yang telah meninggal.
Ia berkata: Maka Al-Muhtadi berkata kepadaku: Semoga Allah merahmati Ahmad bin Hanbal, demi Allah seandainya dibolehkan bagiku untuk berlepas diri dari ayahku niscaya aku berlepas diri darinya. Ia berkata: Kemudian ia berkata: Bicaralah dengan kebenaran dan katakanlah, karena sesungguhnya seseorang berbicara dengan kebenaran maka ia menjadi mulia di mataku.
“Al-Mihnah” karya Abdul Ghani Al-Maqdisi halaman 102 – 107.
Muhammad bin Idris bin Muhammad Al-Khayyath berkata: Orang yang hadir saat cambukan dan ujian Ahmad berkata: Demi Allah aku melihat setelah Ahmad lemas dalam cambukan, hampir kain pinggangnya terlepas hingga keluar dua tangan dari pinggangnya lalu kain pinggang diikat kembali, dan pada saat itu Al-Mu’tashim pingsan hingga digotong oleh dua orang. Ia berkata: Sampai kepadaku bahwa Al-Mu’tashim berkata dalam tidurnya: Wahai Ahmad, sesungguhnya aku telah memaafkanmu, maka maafkanlah aku, jika tidak maka ambillah cambuk dan qishash dariku.
Abu Ali Hanbal bin Ishaq berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Akalku hilang berulang kali, jika cambukan diangkat dariku maka kesadaranku kembali, dan jika aku lemas dan jatuh maka cambukan diangkat dariku, hal itu menimpaku berulang kali sementara aku tidak sadar.
Hanbal berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Ibnu Abi Duad sebelum aku dicambuk datang kepadaku berulang kali, dan jika ia gelisah ia pergi kepada Abu Ishaq, dan datang kepadaku dengan ancaman. Pembantunya Ibnu Danqasy juga berjalan membawa pesan Abu Ishaq: Ia berkata kepadamu begini, ia berkata kepadamu begini. Ketika mereka tidak melihat perkara berjalan seperti yang mereka inginkan, mereka bertekad untuk menyakitiku dengan apa yang mereka lakukan.
Abu Bakar bin Ubaidillah berkata kepadanya: Wahai Abu Abdillah, bagaimana pendapatmu tentang dia -maksudnya Abu Ishaq? Ia berkata: Aku melihatnya duduk di bawah sinar matahari tanpa naungan. Kadang aku tidak sadar dan kadang aku sadar, jika cambukan diulangi akalku hilang dan aku tidak tahu, lalu cambukan diangkat dariku. Aku mendengarnya berkata kepada Ibnu Abi Duad: Sungguh engkau telah melakukan dosa dalam perkara laki-laki ini.
Maka ia berkata kepadanya: Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ia demi Allah seorang kafir musyrik, telah berbuat syirik dari berbagai sisi. Ia terus mendesaknya hingga memalingkannya dari apa yang ia inginkan, padahal ia telah ingin membebaskanku tanpa cambukan, tetapi Ibnu Abi Duad tidak membiarkannya, begitu juga Ishaq bin Ibrahim, dan pada saat itu ia bertekad untuk mencambukku.
Abu Ali berkata: Sampai kepadaku dari An-Naufali ia berkata: Abu Ishaq berkata kepada Ibnu Abi Duad setelah Ahmad dicambuk, sementara ia bertanya: Berapa kali dicambuk? Ibnu Abi Duad berkata: Lebih dari tiga puluh -atau tiga puluh empat- cambukan.
Abu Abdillah berkata: Seseorang yang hadir berkata kepadaku: Kemudian kami melemparkan tikar di dadamu dan membuatmu tengkurap dan kami injak.
Abu Abdillah berkata: Aku tidak sadar sama sekali tentang ini, dan diperintahkan untuk membebaskanku tetapi aku tidak tahu hingga belenggu dilepas dari kakiku.
Ibnu Abi Duad berkata kepadanya setelah aku dicambuk dan diperintahkan untuk membebaskanku: Wahai Amirul Mukminin, penjarakan dia karena ia fitnah. Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ia sesat menyesatkan dan pembuat bid’ah, jika engkau membebaskannya maka orang-orang akan terfitnahkan dengannya.
Ia berkata: Wahai Ishaq, bebaskan dia. Dan ia berdiri lalu masuk, maka pada saat itu aku sadar dengan belenggu yang telah dilepas dari kakiku. Abu Ishaq berdiri lalu masuk dari majelis itu, maka ia tidak bisa tidak harus membebaskanku, seandainya tidak demikian ia akan memenjarakanku.
Abu Bakar bin Ubaidillah berkata kepada Abu Abdillah: Wahai Abu Abdillah, bagaimana dengan Ibnu Sama’ah? Abu Abdillah berkata: Aku mendengarnya berkata kepadanya -sementara aku dihentikan dari cambukan dan aku berada di antara dua tiang siksaan: Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ia seorang yang terhormat, dan ia seorang yang terjaga dalam dirinya, mungkin ia akan menjawab Amirul Mukminin dengan sesuatu yang menjadi alasan baginya tentang apa yang Amirul Mukminin serukan kepadanya. Kemudian Ibnu Sama’ah berkata kepadaku: Celakalah engkau! Sesungguhnya Amirul Mukminin menyayangimu, dan ini dia di hadapanmu, maka jawablah ia tentang apa yang ia inginkan darimu.
Aku berkata kepadanya: Aku tidak melihat perkara yang lebih jelas dari Kitab dan Sunnah. Maka Ibnu Sama’ah menjauh dan berbicara dengan perkataan yang tidak aku pahami.
Abu Ali Hanbal berkata: Sampai kepadaku bahwa Abu Abdillah berkata: Bagiku dan mereka ada tempat berdiri di hadapan Allah Ta’ala, dan ditulis surat tentang hal itu kepadanya, maka ia berkata: Bebaskan dia sekarang juga.
Ia berkata: Sampai kepadaku bahwa Abu Al-Ala’ Al-Ahtami berkata: Aku tidak melihat seseorang yang lebih berani hatinya dari Ahmad bin Hanbal.
Ayahku mengabarkan kepadaku, ia berkata: Sebagian orang yang hadir pada hari itu berkata kepadaku: Ahmad pada masanya seperti sahabat Bani Israil pada masanya. Mereka semua berargumen kepadanya, lalu ia berargumen kepada mereka, dan ia berargumen kepada mereka dengan hati yang teguh dan pemahaman yang baik, tidak ada sesuatu yang diingkari.
Abu Ishaq berkata kepada mereka: Ini tidak seperti yang kalian gambarkan kepadaku. Hal itu karena mereka telah merendahkan kedudukannya di hadapannya dan menyakitinya serta meremehkannya di hadapannya, tetapi ketika ia menyaksikan dan melihat apa yang ada padanya, ia mengenal keutamaannya.
Abu Abdillah berkata: Seandainya bukan karena si buruk Ibnu Abi Duad, Abu Ishaq telah membebaskanku, tetapi ia dan Ishaq bin Ibrahim berkata kepadanya: Wahai Amirul Mukminin, bukan dari tata kelola kekhalifahan engkau menyelisihi dua khalifah dan membebaskannya. Seandainya tidak demikian, Abu Ishaq telah ingin membebaskanku sebelum cambukan. Ibnu Abi Duad ingin memenjarakanku setelah cambukan, maka Abu Ishaq berkata: Bebaskan. Ia kembali mendesak, maka Abu Ishaq marah dan berkata: Bebaskan dia. Aku tidak tahu kecuali dengan belenggu yang telah dilepas dariku.
Abu Ishaq berkata kepadaku pada hari ketiga ketika memerintahkan untuk mencambukku: Jawablah aku dengan sesuatu agar engkau mendapat sedikit kelapangan sehingga aku membebaskanmu, dan aku akan menginjak tumitmu, dan aku akan datang kepadamu dengan keluargaku, anakku, dan para pembantuku. Ia bermaksud dengan itu agar berpegang pada sesuatu yang menjadi alasan baginya. Aku berkata kepadanya: Kalian tidak membawa kepadaku penjelasan dari Kitabullah dan tidak dari Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Abu Abdillah berkata: Abu Ishaq lebih lembut kepadaku dari mereka semua. Adapun Ibnu Abi Duad, ia adalah orang bodoh, tidak pandai berargumen dan tidak mendapat petunjuk kepada sesuatu. Ia hanya mengandalkan orang-orang Bashrah Mu’tazilah, Barghuts dan rekan-rekannya.
Abu Bakar bin Yazdanyar -yaitu Al-Armawi- berkata dalam hadits panjang: Sampai kepadaku bahwa Al-Mu’tashim ketika mencambuk Ahmad bin Hanbal tidak bisa memanfaatkan dirinya sendiri, gemetar dan sesak napas, anggota tubuhnya bergetar dan hampir tidak bisa berdiri tegak di atas tanah. Jika dikatakan kepadanya: Para tabib? Ia berkata: Aku tahu penyakitku, penyakitku adalah ujian terhadap hamba yang saleh Ahmad bin Hanbal ketika aku mengujinya. Hingga ia meninggal dalam keadaan demikian.
Asy-Syaikh -yaitu Ibnu Yazdanyar- berkata: Sampai kepadaku bahwa algojo yang mencambuk Ahmad tangannya terkena penyakit yang memakan dagingnya pada waktu itu, dan setelah tiga hari ia meninggal, dan seluruh wajahnya menghitam.
“Al-Mihnah” karya Abdul Ghani Al-Maqdisi halaman 110 – 116
Abu al-Fadl al-Baghdadi berkata: Hanbal berkata kepadaku: Ketika anak pamanku (Imam Ahmad) dicambuk, sebagian tulang rusuknya patah, dan kami tidak berani mengobatinya karena takut dalam obat itu ada sesuatu dari racun, hingga direkomendasikan kepada kami seorang tabib saleh di Bashrah, lalu kami mendatangkannya. Ketika ia melihat patahan itu, ternyata tulang itu masih tergantung dengan daging yang rusak, maka tabib itu mencabutnya dengan giginya dan tercabut, lalu Imam Ahmad pingsan. Ketika ia sadar, aku mendengarnya berkata dengan lisan yang lemah: Ya Allah jangan Engkau hukum mereka. Ketika ia sembuh, aku berkata: Aku mendengarmu berkata -dan aku sebutkan apa yang ia katakan- maka ia berkata: Ya, aku ingin berjumpa dengan Allah azza wa jalla dan tidak ada sesuatu pun antara aku dengan kerabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan aku telah menghalalkan mereka, kecuali Ibnu Abi Duad dan orang yang seperti dia, maka aku tidak menghalalkan mereka.
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Aku memiliki dua algojo, yang satu mencambuk dengan satu cambukan kemudian mundur, dan yang lain mencambuk dengan satu cambukan, maka ketika cambukan jatuh di atas cambukan, aku berkata: Wahai jiwaku, tidak ada istirahat bagimu selain kematian.
“Al-Mihnah” karya Abdul Ghani al-Maqdisi hal. 116 – 117
Abdullah bin Ahmad berkata: Seorang laki-laki datang kepada ayahku rahimahullah lalu menyebutkan bahwa ia berada di sisi Bisyr dan mereka menyebutnya (Imam Ahmad), maka Bisyr memujinya dan berkata: Semoga Allah tidak melupakan jasa Ahmad, ia teguh dan kami pun ikut teguh dan seandainya bukan karena dia niscaya kami binasa.
Abdullah berkata: Wajah ayahku berseri-seri, maka aku berkata: Wahai ayah, bukankah pujian di muka itu dimakruhkan?
Maka ia berkata kepadaku: Wahai anakku, sesungguhnya aku disebutkan di sisi seorang laki-laki dari hamba-hamba Allah yang saleh dan apa yang dariku, maka ia memuji perbuatanku, dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda: “Mukmin adalah cermin bagi mukmin.”
Abdullah berkata: Bisyr bertemu denganku di salah satu jalan lalu ia memulai memberi salam, kemudian berkata: Bagaimana Abu Abdillah? Aku berkata: Baik, maka Bisyr berkata: Aku mengkhususkannya dengan doa di setiap waktu, dan aku memulai dengannya kemudian diriku sendiri, dan seandainya bukan karena dia dan keteguhannya dalam perkara ini niscaya kami binasa sampai akhir masa.
“Al-Mihnah” karya Abdul Ghani al-Maqdisi hal. 117 – 119
Abu Ali Hanbal berkata: Aku menghadiri Abu Abdillah dan seorang laki-laki mendatanginya di masjid kami, laki-laki itu berpenampilan baik, seolah ia bersama penguasa, lalu ia duduk hingga orang-orang yang ada di sisi Abu Abdillah pergi, kemudian ia mendekat kepadanya maka Abu Abdillah mengangkatnya ketika melihat penampilannya, lalu ia berkata kepadanya: Wahai Abu Abdillah, halalkan aku.
Ia berkata: Dari apa?
Ia berkata: Aku hadir pada hari engkau dicambuk, dan aku tidak membantu dan tidak berbicara, kecuali bahwa aku menghadiri hal itu.
Maka Abu Abdillah menunduk kemudian mengangkat kepalanya kepadanya, lalu berkata: Bertobatlah kepada Allah, dan jangan kembali ke tempat yang seperti itu. Maka ia berkata kepadanya: Wahai Abu Abdillah, aku bertobat kepada Allah Ta’ala dari penguasa, Abu Abdillah berkata kepadanya: Maka engkau dalam kehalalan dan setiap orang yang menyebutku kecuali ahli bidah.
Abu Abdillah berkata: Dan aku telah menghalalkan Abu Ishaq dan aku melihat Allah azza wa jalla berfirman: “dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu suka bahwa Allah mengampunimu?” (Surah An-Nur: 22) dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan Abu Bakar untuk memaafkan dalam kasus Misthah.
Kemudian Abu Abdillah berkata: Maaf itu lebih utama, dan apa manfaatnya bagimu jika saudaramu muslim disiksa karena dirimu. Tetapi engkau memaafkan dan memberi maaf kepadanya, maka Allah mengampunimu sebagaimana yang dijanjikan-Nya kepadamu.
“Al-Mihnah” karya Abdul Ghani al-Maqdisi hal. 159 – 160
88 – Bab: Kisah Imam dengan Al-Watsiq
Ibnu al-Jauzi berkata: Al-Watsiq Abu Ja’far Harun bin al-Mu’tashim berkuasa pada Rabi’ul Awal tahun dua puluh tujuh dan dua ratus, dan Ibnu Abi Duad membaguskan baginya pengujian orang-orang tentang penciptaan Alquran, maka ia melakukan hal itu dan tidak mengusik Ahmad, entah karena ia tahu tentang kesabarannya, atau karena ia takut akan dampak dari hukumannya, tetapi ia mengirim kepada Ahmad bin Hanbal: Jangan tinggal bersamaku di suatu negeri.
Maka Ahmad bersembunyi sepanjang kehidupan Al-Watsiq, ia senantiasa berpindah-pindah tempat kemudian kembali ke rumahnya setelah beberapa bulan, lalu bersembunyi di dalamnya hingga Al-Watsiq wafat.
Al-Baghawi berkata: Aku mendengar Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal pada tahun dua puluh delapan di awalnya, dan ia telah menyampaikan hadits Muawiyah dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Tidaklah tersisa dari dunia kecuali cobaan dan fitnah maka persiapkanlah untuk cobaan itu kesabaran.” Maka ia berkata: Ya Allah kami ridha! Ya Allah kami ridha! Ibrahim bin Hani berkata: Ahmad bin Hanbal bersembunyi di tempatku selama tiga hari. Kemudian ia berkata: Carilah untukku tempat hingga aku pindah ke sana.
Aku berkata: Aku tidak aman atasmu wahai Abu Abdillah.
Maka ia berkata: Lakukanlah, jika engkau melakukannya engkau akan mendapat manfaat.
Dan aku mencari tempat untuknya, ketika ia keluar ia berkata kepadaku: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersembunyi di gua selama tiga hari kemudian pindah, dan tidak sepatutnya mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam kemudahan dan meninggalkannya dalam kesulitan.
“Manaqib al-Imam Ahmad” karya Ibnu al-Jauzi hal. 429 – 430
89 – Bab: Surat Al-Mutawakkil kepada Imam dan Jawaban Imam kepadanya
Abu al-Fadl berkata: Ubaidillah bin Yahya menulis kepada ayahku memberitahunya: Bahwa Amirul Mukminin memerintahkanku untuk menulis kepadamu surat bertanya tentang perkara Alquran, bukan pertanyaan pengujian, tetapi pertanyaan untuk mengetahui dan memahami.
Maka ayahku rahimahullah mendiktekan kepadaku untuk Ubaidillah bin Yahya dan hanya aku sendirian tidak ada orang lain bersama kami: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah memperbaiki akibatmu wahai Abul Hasan dalam semua urusan, dan menolak darimu keburukan dunia dengan rahmat-Nya, aku telah menulis kepadamu -semoga Allah Ta’ala meridhaimu- dengan apa yang ditanyakan oleh Amirul Mukminin tentang perkara Alquran dengan apa yang hadir bagiku, dan aku memohon kepada Allah agar melestarikan taufik Amirul Mukminin, sungguh manusia telah berada dalam ketercelupan kebatilan dan perselisihan yang hebat mereka tenggelam di dalamnya, hingga khalifah sampai kepada Amirul Mukminin, maka Allah menghilangkan dengan Amirul Mukminin setiap bidah, dan terbebas dari manusia apa yang mereka alami dari kehinaan dan sempitnya penjara, maka Allah menghilangkan semua itu, dan Amirul Mukminin menghilangkannya, dan hal itu jatuh dari kaum muslimin dengan posisi yang agung, dan mereka berdoa kepada Allah untuk Amirul Mukminin, dan aku memohon kepada Allah agar mengabulkan untuk Amirul Mukminin doa yang saleh, dan agar menyempurnakan hal itu untuk Amirul Mukminin, dan agar menambah di rumahnya, dan membantunya atas apa yang ia berada di atasnya.
Maka telah disebutkan dari Abdullah bin Abbas bahwa ia berkata: Jangan kalian pukul kitab Allah sebagian dengan sebagian yang lain, karena hal itu menimbulkan keraguan di hati kalian.
Dan disebutkan dari Abdullah bin Amr bahwa sekelompok orang sedang duduk di pintu Nabi shallallahu alaihi wa sallam lalu sebagian mereka berkata: Bukankah Allah berfirman begini? Dan sebagian berkata: Bukankah Allah berfirman begini? Ia berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mendengar hal itu lalu keluar seolah-olah pecah di wajahnya biji delima, lalu berkata: “Apakah dengan ini kalian diperintahkan untuk memukul kitab Allah sebagian dengan sebagian yang lain? Sesungguhnya umat-umat sebelum kalian tersesat dalam hal yang seperti ini, kalian tidak berada dalam sesuatu dari ini, lihatlah yang diperintahkan kepada kalian maka kerjakan, dan lihatlah yang dilarang dari kalian maka tinggalkanlah.”
Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam beliau bersabda: “Perdebatan dalam Alquran adalah kekafiran.” Dan diriwayatkan dari Abu Juhaim -seorang laki-laki dari sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam beliau bersabda: “Jangan kalian berdebat tentang Alquran, karena perdebatan tentang Alquran adalah kekafiran.”
Dan Abdullah bin Abbas berkata: Seorang laki-laki datang kepada Umar bin al-Khaththab, maka Umar bertanya tentang manusia, lalu ia berkata: Wahai Amirul Mukminin, sungguh telah membaca Alquran dari mereka sekian dan sekian.
Maka Ibnu Abbas berkata: Lalu aku berkata: Demi Allah aku tidak suka mereka terburu-buru hari ini dalam Alquran dengan tergesa-gesa ini. Maka Umar memarahiku dan berkata: Cukup. Lalu aku pergi ke rumahku dengan sedih dan duka, sementara aku dalam keadaan demikian, tiba-tiba seorang laki-laki mendatangiku lalu berkata: Penuhilah Amirul Mukminin. Maka aku keluar, ternyata ia di pintu menungguku, lalu ia mengambil tanganku, dan menyendirikan aku, lalu berkata: Apa yang engkau benci dari apa yang dikatakan laki-laki itu tadi?
Maka aku berkata: Wahai Amirul Mukminin, kapan mereka tergesa-gesa dengan tergesa-gesa ini, mereka akan saling mengungguli, dan kapan mereka saling mengungguli mereka akan bersengketa, dan kapan mereka bersengketa mereka akan berselisih, dan kapan mereka berselisih mereka akan saling membunuh.
Ia berkata: Ayahmu benar, demi Allah sesungguhnya aku menyembunyikannya dari manusia hingga engkau datang dengannya.
Dan diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah ia berkata: Nabi shallallahu alaihi wa sallam menawarkan dirinya kepada manusia di tempat wukuf, lalu berkata: “Adakah seorang laki-laki yang membawaku kepada kaumnya, karena Quraisy telah mencegahku untuk menyampaikan kalam Tuhanku.”
Dan diriwayatkan dari Jubair bin Nufair ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya kalian tidak akan kembali kepada Allah dengan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang keluar dari-Nya” yaitu: Alquran. Dan diriwayatkan dari Abu Umamah, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam beliau bersabda: “Tidaklah hamba-hamba mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang seperti apa yang keluar dari-Nya” yaitu Alquran.
Dan diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa ia berkata: Biarkan Alquran murni, jangan kalian tulis di dalamnya sesuatu kecuali kalam Allah azza wa jalla.
Dan diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab bahwa ia berkata: Ini Alquran adalah kalam Allah, maka letakkanlah ia pada tempatnya.
Dan seorang laki-laki berkata kepada Hasan al-Bashri: Wahai Abu Sa’id, sesungguhnya aku ketika membaca kitab Allah dan merenungkannya dan melihat amalku, hampir saja aku putus asa dan harapanku terputus. Ia berkata: Maka Hasan berkata: Sesungguhnya Alquran adalah kalam Allah, dan amal anak Adam cenderung kepada kelemahan dan kekurangan, maka beramallah dan bergembiralah.
Dan Farwah bin Naufal al-Asyjaji berkata: Aku adalah tetangga Khabbab -dan ia dari sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam maka aku keluar bersamanya suatu hari dari masjid, dan ia memegang tanganku lalu berkata: Wahai kamu, dekatkanlah diri kepada Allah dengan apa yang engkau mampu, karena engkau tidak akan mendekatkan diri kepada-Nya dengan sesuatu yang lebih dicintai-Nya daripada kalam-Nya.
Dan seorang laki-laki berkata kepada al-Hakam bin Utaibah: Apa yang membawa ahli hawa nafsu kepada ini? Ia berkata: Perdebatan.
Dan Muawiyah bin Qurrah berkata -dan ayahnya adalah orang yang mendatangi Nabi shallallahu alaihi wa sallam: Jauhilah perdebatan-perdebatan ini, karena ia menggugurkan amal.
Dan Abu Qilabah berkata -dan ia telah mendapati lebih dari satu orang dari sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: Jangan kalian bergaul dengan ahli hawa nafsu -atau ia berkata: ahli perdebatan- karena aku tidak aman bahwa mereka akan menenggelamkan kalian dalam kesesatan mereka, dan membingungkan kalian tentang sebagian yang kalian ketahui.
Dan dua orang dari ahli hawa nafsu masuk kepada Muhammad bin Sirin, lalu keduanya berkata: Wahai Abu Bakar bolehkah kami menyampaikan hadits kepadamu? Maka ia berkata: Tidak. Keduanya berkata: Bolehkah kami membacakan kepadamu ayat dari kitab Allah? Ia berkata: Tidak, kalian berdua akan berdiri dariku atau aku akan berdiri dari kalian berdua.
Ia berkata: Maka keduanya berdiri dan keluar, lalu sebagian kaum berkata: Wahai Abu Bakar, dan apa salahnya bagimu jika keduanya membacakan kepadamu ayat dari kitab Allah Ta’ala? Maka Ibnu Sirin berkata kepadanya: Sesungguhnya aku khawatir bahwa keduanya akan membacakan kepadaku ayat lalu mengubahnya, maka hal itu tertanam di hatiku. Dan Muhammad berkata: Seandainya aku tahu bahwa aku akan seperti saat ini niscaya aku meninggalkan keduanya.
Dan seorang laki-laki dari ahli bidah berkata kepada Ayyub as-Sikhtiyani: Wahai Abu Bakar, aku bertanya kepadamu tentang satu kata? Maka ia berpaling dan ia berkata dengan tangannya: Dan tidak setengah kata.
Dan Ibnu Thawus berkata kepada anaknya saat seorang laki-laki dari ahli bidah berbicara dengannya: Wahai anakku masukkan kedua jarimu ke dalam kedua telingamu hingga engkau tidak mendengar apa yang ia katakan, kemudian ia berkata: Kuatkan.
Dan Umar bin Abdul Aziz berkata: Barangsiapa menjadikan agamanya sasaran perdebatan, ia akan banyak berpindah-pindah.
Dan Ibrahim an-Nakha’i berkata: Sesungguhnya kaum itu tidak disimpan untuk mereka sesuatu yang disembunyikan untuk kalian karena keutamaan pada kalian.
Dan Hasan rahimahullah biasa berkata: Seburuk-buruk penyakit yang bercampur dengan hati. Yaitu: hawa nafsu.
Dan Hudzaifah bin Yaman – ia adalah salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam – berkata: Bertakwalah kepada Allah wahai para pembaca Al-Quran, dan ambillah jalan orang-orang yang sebelum kalian. Demi Allah, jika kalian istiqamah, sungguh kalian telah mendahului dengan pendahuluan yang jauh. Dan jika kalian meninggalkannya ke kanan dan ke kiri, sungguh kalian telah tersesat dengan kesesatan yang jauh, atau ia berkata: yang nyata.
Ayahku rahimahullah berkata: Sesungguhnya aku meninggalkan penyebutan sanad-sanad karena sumpah yang telah aku lakukan sebelumnya – yang telah diketahui oleh Amirul Mukminin – seandainya bukan karena itu, niscaya aku sebutkan dengan sanad-sanadnya.
Dan Allah jalla tsanauhu telah berfirman: “Dan jika ada seorang dari orang-orang musyrik meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia sampai dia mendengar firman” (Surah At-Taubah: 6).
Dan Allah berfirman: “Ingatlah, segala penciptaan dan urusan adalah milik-Nya” (Surah Al-A’raf: 54), maka Dia mengabarkan tentang penciptaan kemudian berfirman: “dan urusan”. Maka Dia mengabarkan bahwa urusan itu tidak diciptakan.
Dan Allah ‘azza wa jalla berfirman: “(Allah) Yang Maha Pengasih, Yang telah mengajarkan Al-Quran, Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara” (Surah Ar-Rahman: 1-4).
Maka Allah tabaraka wa ta’ala mengabarkan bahwa Al-Quran adalah dari ilmu-Nya.
Dan Allah ta’ala berfirman: “Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu sehingga engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah yang benar.’ Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu yang datang kepadamu, maka tidak ada bagimu dari Allah seorang pelindung pun dan tidak pula seorang penolong” (Surah Al-Baqarah: 120).
Dan Allah berfirman: “Dan sungguh jika engkau mendatangkan kepada orang-orang yang diberi Kitab segala macam bukti, mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan engkau pun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebagian mereka tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain. Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang zalim” (Surah Al-Baqarah: 145). Dan Allah ta’ala berfirman: “Dan demikianlah Kami telah menurunkannya sebagai peraturan yang benar dalam bahasa Arab. Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, maka tidak ada bagimu dari Allah seorang pelindung pun dan tidak pula seorang pembela” (Surah Ar-Ra’d: 37).
Maka Al-Quran adalah dari ilmu Allah ta’ala. Dan dalam ayat-ayat ini terdapat dalil bahwa yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Al-Quran berdasarkan firman-Nya: “setelah datang ilmu kepadamu” (Surah Ar-Ra’d: 37).
Dan telah diriwayatkan dari lebih dari satu orang dari kalangan pendahulu kami yang telah berlalu bahwa mereka berkata: Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan.
Dan inilah yang aku ikuti, aku bukan ahli ilmu kalam, dan aku tidak mengetahui perdebatan tentang sesuatu dari ini kecuali yang ada dalam Kitabullah, atau hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, atau dari para sahabatnya, atau dari para Tabi’in rahimahumullah. Adapun selain itu, maka perdebatan di dalamnya tidaklah terpuji.
Dan aku memohon kepada Allah agar memperpanjang umur sang Amir dan memberinya pertolongan dari-Nya, sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
“Sirah Al-Imam Ahmad” karya Shalih hal. 112-117, “Masail Shalih” (871) bab: Orang-orang Jahmiyyah
90 – Pasal: Menyebutkan Beberapa Orang dari Jahmiyyah dan Berita-berita Mereka
Shalih berkata: Ayahku berkata: Sampai kepadaku bahwa Al-Mutsanna Al-Anmathi duduk di Wasith, lalu dia memuji Bisyr Al-Marisi. Maka Yazid bin Harun berdiri dan berkata: Tidak, demi Allah, atau dia diusir dari sana. Maka dia mengeluarkannya dari Wasith.
“Masail Shalih” (333)
Ibnu Hani berkata: Dan aku mendengarnya (Imam Ahmad) berkata: Semoga Allah menghinakan Al-Karabisi, jangan duduk bersamanya, jangan berbicara dengannya, jangan menulis kitab-kitabnya, dan jangan duduk dengan orang yang duduk bersamanya. Dan dia menyebutnya dengan perkataan yang banyak.
Dan dikatakan kepadanya berkali-kali yang tidak terhitung: Barangsiapa berkata: Al-Quran itu makhluk, maka dia menurut Anda kafir?
Dia berkata: Ya, dia menurutku kafir.
“Masail Ibnu Hani” (1865)
Ibnu Hani berkata: Aku hadir shalat bersama Abu Abdillah pada hari raya, dan ada seorang penceramah yang berceramah. Penceramah itu menyebutkan satu kalimat, dia berkata: Atas Ibnu Abi Du’ad seribu laknat Allah – atau kalimat seperti itu – kemudian dia terus berkata: Allah melaknat Ibnu Abi Du’ad. Dan dia terus menyebutnya dengan keburukan.
Maka ketika Abu Abdillah selesai melaksanakan shalat Ied, dan hari itu bertepatan dengan hari Jumat, maka dia shalat Ied kemudian pulang, dan tidak pergi ke shalat Jumat. Ketika kami sampai di sebagian jalan, kami duduk beristirahat, lalu Abu Abdillah menyebut penceramah itu. Dia berkata: Betapa bermanfaatnya mereka bagi orang awam, meskipun kebanyakan yang mereka ceritakan adalah dusta.
Aku berkata kepadanya: Sesungguhnya Abu Hamid Al-Khaffaf berkata kepadaku: Sesungguhnya Abu Nashr At-Tammar melewati orang ini saat dia berceramah di Bab Asy-Syam dan orang-orang berkumpul. Maka dia berkata: Apa ini? Dikatakan kepadanya: Seorang penceramah. Maka dia membaca ayat ini: “Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik?” (Surah Fathir: 8).
Abu Abdillah berkata: Lalu apa yang dijadikan baik baginya?! Kemudian dia menyebut satu kalimat, lalu berkata: Demi Allah, bukanlah hujjah Abdurrahman bin Ishaq dan Ishaq bin Ibrahim atasku kecuali dengan Abu Nashr At-Tammar. Dan Ishaq terus berkata kepadaku: Tidakkah engkau melihat saudara-saudaramu Ishaq bin Abi Israil dan Abu Nashr.
“Masail Ibnu Hani” (1880)
Harb bin Ismail berkata: Aku mendengar Ahmad menyebut Syu’aib bin Sahl qadhi Baghdad, maka dia berkata: Semoga Allah menghinakannya, dan dia berpendapat dengan pendapat Jahm.
“Masail Harb” hal. 456
Abdullah berkata: Aku mendengar ayahku rahimahullah berkata: Kami menghadiri majelis Abu Yusuf, dan Bisyr Al-Marisi hadir di bagian belakang orang-orang, lalu dia membuat keributan dengan berkata: Apa yang engkau katakan? Dan apa yang engkau katakan wahai Abu Yusuf?
Maka dia terus berteriak dan bersuara keras, lalu aku mendengar Abu Yusuf berkata: Naikkan dia kepadaku, naikkan dia kepadaku.
Dia (Abdullah) berkata: Lalu dia (Bisyr) datang suatu hari dan melakukan hal seperti ini, maka Abu Yusuf berkata: Naikkan dia kepadaku.
Ayahku rahimahullah berkata: Dan aku berada dekat dengannya, lalu dia (Abu Yusuf) mulai berdebat dengannya dalam suatu masalah namun sebagian perkataannya tersembunyi bagiku, maka aku berkata kepada orang yang lebih dekat dariku: Apa yang Abu Yusuf katakan kepadanya? Maka dia berkata: Dia berkata kepadanya: Engkau tidak akan berhenti sampai engkau merusak sebatang kayu.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/171 (203)
Abu Bakar Al-Khallal berkata: ‘Awan bin Ishaq Al-Hamadzani mengabarkan kepadaku, dia berkata: Aku mendengar Al-Qasim bin Asad Al-Ashbahani berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata: Aku mendengar sebagian anak cucu Sasan berkata: Aku mendengar Jahm berkata: Aku dari Harran dari Qadar.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/180 (1678)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar menceritakan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Ishaq bin Isa Al-Bazzaz menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Seorang laki-laki dari Shur yang dikenal dengan Ash-Shuri datang kepada kami, seorang mutakallim, berpenampilan baik seperti seorang rahib, maka kami kagum dengan urusannya. Kemudian dia bertemu dengan seorang pengemis lalu dia mulai berkata kepada kami: Iman itu makhluk, zakat itu makhluk, haji itu makhluk, jihad itu makhluk. Maka kami tidak tahu apa yang harus kami jawab kepadanya. Lalu kami datang kepada Abdul Wahhab Al-Warraq, maka kami ceritakan kepadanya urusannya. Maka dia berkata: Aku tidak tahu apa ini? Datanglah kepada Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal, karena dia adalah ahli penilaian urusan ini.
Ayahku berkata: Maka kami datang kepada Abu Abdillah, lalu kami memberitahukan kepadanya apa yang diberitahukan Abdul Wahhab kepada kami tentang masalah-masalah yang dia lontarkan kepada kami.
Maka Abu Abdillah berkata kepada kami: Ini adalah masalah-masalah Jahm bin Shafwan, dan itu tujuh puluh masalah, pergilah dan usirlah orang ini dari kalian.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/185 (1701)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah menyebut Bisyr Al-Marisi, maka dia berkata: Orang yang ayahnya seorang Yahudi, menurutmu dia akan jadi apa?
Dan Al-Marwazi berkata di tempat lain: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Semoga Allah memenuhi kubur Al-Marisi dengan api.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/189 (1717)
Al-Khallal berkata: Dan Abdul Malik Al-Maimuni mengabarkan kepadaku bahwa Abu Abdillah menyebut Bisyr Al-Marisi di sisinya, maka dikatakan: Kafir. Maka aku tidak melihat Abu Abdillah mengingkari dari perkataan orang yang berkata itu sedikit pun.
Al-Khallal berkata: Dan Abu Bakar Al-Marwazi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku berkata kepada Abu Abdillah: Yazid berkata: Apakah tidak ada di Al-Harbiyyah orang yang membunuh Al-Marisi? Dia berkata: Dia memang berkata demikian.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/190 (1720-1721)
Al-Khallal berkata: Dan Abu Bakar Al-Marwazi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku berkata kepada Abu Abdillah: Sesungguhnya Mutsanna Al-Anmathi berbicara di Wasith, lalu dia memuji Al-Marisi? Maka dia berkata: Ya, maka Yazid berkata: Dia diusir. Maka dia diusir, dan dia termasuk penduduknya – yaitu: penduduk Wasith.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar bin Shadaqah mengabarkan kepadaku, dia berkata: Aku mendengar Muhammad bin Manshur Ath-Thusi berkata: Kami pergi kepada Sa’duwaih. Dia berkata: Lalu ada Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Abu Khaitsamah dan beberapa orang. Dia berkata: Lalu Bisyr Al-Marisi menemui kami. Dia berkata: Maka Abu Khaitsamah menuju kepadanya, kemudian berpaling kepada kami lalu berkata: Pernahkah kalian melihat orang yang paling mirip dengan orang Yahudi selain dia?
Dia berkata: Maka Ahmad bin Hanbal rahimahullah terus berkata kepada Abu Khaitsamah rahimahullah: Engkau akan mewariskan ini kepadaku wahai Abu Khaitsamah, aku melihat wajah seperti itu.
Al-Khallal berkata: Ahmad bin Bahr Ash-Shaffar Al-Mikhrami mengabarkan kepadaku, dia berkata: Ahmad bin Al-Hasan At-Tirmidzi menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata: Al-Marisi adalah orang yang suka berkhotbah dan bukan orang yang punya hujjah – dan dia pada waktu itu masih hidup.
Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali mengabarkan kepadaku, dia berkata: Al-Atsram menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah dahulu ditanya tentang shalat di belakang Bisyr Al-Marisi.
Dia berkata: Tidak boleh shalat di belakangnya.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/191 (1724-1727)
Al-Khallal berkata: Ahmad bin Muhammad bin Abdurrahman Ath-Tharsusi mengabarkan kepadaku, dia berkata: Ja’far bin Ahmad menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Abdillah bin Al-Harits menceritakan kepada kami, dia berkata: Zakariya bin Al-Hakam menceritakan kepada kami, dari Ja’far bin Muhammad, dia berkata: Yahya Az-Zammi menceritakan kepada kami, dia berkata: Ketika aku datang dari Khurasan, lalu aku tidur di salah satu penginapan, maka sesuatu yang besar muncul dalam mimpiku, dia memiliki dua mata di dadanya, hal itu sangat menakutkanku, maka aku berkata: Laa ilaaha illallah.
Maka dia berkata: Wahai Yahya, engkau benar, laa ilaaha illallah. Dia berkata: Maka kedua mata itu berpindah ke tempat mata yang seharusnya.
Dia berkata: Aku berkata: Celakalah engkau, siapa engkau? Maka dia berkata kepadaku: Wahai Yahya, tidakkah engkau mengenaliku?
Dia berkata: Aku berkata: Tidak, aku tidak perduli tidak mengenalmu, siapa engkau? Dia berkata: Aku Iblis.
Dia berkata: Maka aku berkata kepadanya: Semoga engkau tidak hidup, dari mana engkau datang? Dia berkata: Dari Irak.
Aku berkata kepadanya: Dan dari Irak mana? Dia berkata: Baghdad.
Dia berkata: Aku berkata kepadanya: Apa yang engkau lakukan di Baghdad? Dia berkata: Aku mengangkat khalifah di sana.
Aku berkata: Dan siapa yang engkau angkat sebagai khalifah? Dia berkata: Aku mengangkat Bisyr Al-Marisi.
Aku berkata: Dan tidakkah engkau mendapatkan orang yang lebih terpercaya darinya untuk engkau angkat sebagai khalifah?
Dia berkata kepadaku: Sesungguhnya dia menyeru manusia kepada sesuatu yang jika aku menyeru mereka, mereka tidak akan menjawabku kepadanya.
Dia berkata: Aku berkata kepadanya: Kepada apa dia menyeru mereka? Dia berkata: Kepada penciptaan Al-Quran.
Dia berkata: Maka aku berkata kepadanya: Wahai terlaknat, apa pendapatmu tentang Al-Quran? Dia berkata kepadaku: Allah Allah wahai Yahya, jika aku memang bermaksiat kepada Allah, maka sesungguhnya Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan dan tidak majhul.
Abu Yahya berkata: Ahmad bin Hanbal berkata: Seandainya dia mengadakan perjalanan untuk ini ke Khurasan atau ke Mesir, itu akan sedikit.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/194 (1738)
Abu Bakar Al-Khallal berkata: Al-Hasan bin Tsawwab Al-Mikhrami mengabarkan kepadaku, dia berkata: Aku berkata kepada Ahmad bin Hanbal: Ibnu Abi Du’ad? Dia berkata: Kafir kepada Allah Yang Maha Agung.
Dan Al-Khallal berkata: Abdullah bin Ahmad bin Hanbal mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Aku mendengar Bisyr bin Al-Walid berkata: Ibnu Abi Du’ad diminta bertaubat dari perkataan Al-Quran makhluk dalam satu malam tiga kali, dia bertaubat kemudian kembali lagi, bertaubat kemudian kembali lagi.
Dan Al-Khallal berkata: Muhammad bin Abi Harun mengabarkan kepadaku bahwa Hubaisy bin Sindi menceritakan kepada mereka bahwa Ahmad bin Hanbal menyebut Ibnu Abi Du’ad, maka dia berkata: Semoga Allah memenuhi kuburnya dengan api.
Dan Al-Khallal berkata: Muhammad bin Abi Harun mengabarkan kepadaku bahwa Ishaq bin Ibrahim menceritakan kepada mereka bahwa dia hadir di Ied bersama Abu Abdillah. Dia berkata: Lalu ada seorang penceramah yang berkata: Atas Ibnu Abi Du’ad laknat Allah, dan semoga Allah memenuhi kubur Ibnu Abi Du’ad dengan seratus ribu tiang api. Dan dia terus melaknat. Maka Abu Abdillah berkata: Betapa bermanfaatnya mereka bagi orang awam.
Dan Al-Khallal berkata: Abdullah bin Ahmad mengabarkan kepadaku bahwa Al-Bandaniji berkata: Abdullah bin Al-Hasan Az-Zarrad Al-Hamadzani menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Ya’qub Al-Baghdadi menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Abu Bakar Al-Atsram berkata: Aku mendengar Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal berkata: Aku melihat Ibnu Abi Du’ad dalam mimpi, maka aku berkata: Apa yang Tuhanmu lakukan kepadamu? Maka dia berkata: Apa yang Dia lakukan kepadaku, Dia berkata kepadaku: Pergilah kalian kepada apa yang kalian sembah. Wahai Ahmad, berpeganglah dengan apa yang engkau ada padanya karena itu adalah kebenaran.
Dan Al-Khallal berkata: Muhammad bin Yahya Al-Kahal mengabarkan kepadaku, dia berkata: Aku berkata kepada Abu Abdillah: Seorang laki-laki menshalatkan Ibnu Abi Du’ad. Maka dia berkata: Ini orang yang berkeyakinan seperti itu, dia seorang Jahmi.
Dia berkata: Dan aku menyebutkan hal itu kepada Abu Abdillah al-Barudiy, lalu dia berkata: Itu adalah salah satu perbendaharaan dari perbendaharaan-perbendaharaannya, maksudnya Ibnu Abi Duad.
Al-Khallal berkata: Abdul Malik al-Maimuniy memberitahukan kepadaku, dia berkata: Abu Abdillah menyebut Ibnu Rabah, lalu dia berkata: Itu orang yang jahat.
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/198-199 (1757-1763)
Al-Khallal berkata: Abdul Malik al-Maimuniy memberitahukan kepadaku, dia berkata: Abu Abdillah menyebut Ibnu Rabah dan Sya’buwaih, lalu dia mendoakan mereka dengan doa yang tidak pernah aku dengar dia mendoakan seperti itu kepada siapapun.
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/199 (1765)
Al-Khallal berkata: Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Shadaqah memberitahukan kepadaku, dia berkata: Aku mendengar al-Maimuniy berkata: Aku berkata kepada Ahmad bin Hanbal: Wahai Abu Abdillah, ketika jenazah Ibnu Thurrah dikeluarkan, mereka menjadikan anak-anak berteriak: Tulislah kepada Malik: Sungguh telah datang kayu api neraka.
Dia berkata: Lalu Abu Abdillah memberi isyarat dan berkata: Mereka berteriak, mereka berteriak.
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/199 (1768)
Abu Ja’far Muhammad bin al-Hasan bin Badinaa berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, lalu aku berkata: Wahai Abu Abdillah, aku adalah seorang laki-laki dari penduduk Maushil, yang mayoritas penduduk negeriku adalah Jahmiyyah, dan di antara mereka ada ahlus sunnah yang sedikit jumlahnya sepertimu, dan telah terjadi masalah al-Karabisiy yang telah menyesatkan mereka – perkataan al-Karabisiy: Ucapanku terhadap Al-Quran adalah makhluk.
Maka Abu Abdillah berkata kepadaku: Hati-hatilah, hati-hatilah, hati-hatilah, hati-hatilah terhadap al-Karabisiy ini, jangan berbicara dengannya, dan jangan berbicara dengan orang yang berbicara dengannya – empat atau lima kali – sesungguhnya dalam suratku ada empat.
Aku berkata: Wahai Abu Abdillah, apakah perkataan ini menurutmu bercabang dan kembali kepada perkataan Jahm? Dia berkata: Ini semua adalah perkataan Jahm.
“Al-Ibanah” karya Ibnu Batthah, Kitab ar-Radd ‘alal Jahmiyyah 1/329-330 (129)
Abu Bakar – yaitu al-Marwadziy – berkata: Aku berkata kepada Abu Abdillah ketika kami di al-Askar, datang kepadaku surat dari Baghdad bahwa seorang laki-laki telah mengikuti al-Husain al-Karabisiy dalam perkataannya, maka dia berkata kepadaku: Orang ini telah menjadi Jahmiy dan menampakkan Jahmiyyah, seharusnya kamu berhati-hati darinya, dan dari setiap orang yang mengikutinya.
Dia berkata: Bisyr al-Marrisiy telah mati dan meninggalkan Husain al-Karabisiy.
Dan dia menyebut Husain al-Karabisiy lalu berkata: Aku tidak mengenalnya dengan sesuatu dari hadits, dan dia berkata: Ahli kalam tidak akan beruntung, barangsiapa yang terlibat dalam ilmu kalam, dia tidak luput dari menjadi Jahmiy, dan dia berkata: Allah tidak akan membiarkannya sampai Dia menjelaskan urusannya – dan dia menunjuk kepada Sulaiman at-Taymiy yang berbicara tentangnya.
Dan dia berkata: Tidak ada kaum bagiku yang lebih baik dari ahlul hadits, mereka tidak mengenal ilmu kalam.
Dan dia berkata: Ahli kalam tidak akan beruntung.
“Al-Ibanah” karya Ibnu Batthah, Kitab ar-Radd ‘alal Jahmiyyah 2/128-129 (403)
Abu Thalib berkata: Mereka memberitahukan kepadaku tentang al-Karabisiy bahwa dia menyebutkan firman Allah Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu (Surat al-Maidah: 3). Dia berkata – yaitu al-Karabisiy: Jika Dia telah menyempurnakan agama kita untuk kita, tidak akan ada perbedaan ini. Maka dia berkata – yaitu Ahmad: Ini adalah kekafiran yang nyata.
“Thabaqat al-Hanabilah” 1/84-85
Dan Ibnu Hammad al-Muqri’ berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang Husain al-Karabisiy, lalu dia berkata: Jahmiy.
“Thabaqat al-Hanabilah” 1/88
91 – Pasal: Perkataan Jahmiyyah
Al-Khallal berkata: Aku mendengar Abu Bakar al-Marwadziy berkata: Aku mendengar Abu Abdillah dan dia menyebut Jahmiyyah, lalu dia berkata: Sesungguhnya yang dimaksud dengan mereka adalah yang cocok, tahukah kamu apa yang telah mereka lakukan terhadap Islam?
Dikatakan kepada Abu Abdillah: Seseorang yang bergembira dengan apa yang menimpa pengikut-pengikut Ibnu Abi Duad, apakah ada dosa baginya dalam hal itu?
Dia berkata: Dan siapa yang tidak bergembira dengan ini?
Dikatakan kepadanya: Sesungguhnya Ibnu al-Mubarak berkata: Orang yang membalas dendam dari al-Hajjaj, dia membalas dendam untuk al-Hajjaj dari manusia. Dia berkata: Apa yang menyerupai ini dari al-Hajjaj? Orang-orang ini ingin mengubah agama.
Al-Khallal berkata: Abdul Malik bin Abdul Hamid memberitahukan kepadaku, dia berkata: Abu Abdillah berkata kepadaku dan dia menyebut Jahmiyyah dan apa yang mereka lakukan, dia berkata: Tidak ada kehidupan pada manusia.
Al-Khallal berkata: Abdullah bin Muhammad memberitahukan kepadaku: Al-Mutsanna al-Anbariy menceritakan kepada kami bahwa dia mendengar Abu Abdillah berkata: Apa yang menimpa Islam?
Al-Khallal berkata: Muhammad bin Musa memberitahukan kepadaku bahwa Hamdan bin Ali menceritakan kepada mereka, dia berkata: Aku mendengar Ahmad berkata: Jahmiyyah berkata: Jika dia mengenal Tuhannya dengan hatinya meskipun anggota tubuhnya tidak beramal – maksudnya: maka dia mukmin – dan ini adalah kekafiran Iblis, sungguh dia telah mengenal Tuhannya dengan hatinya, lalu dia berkata: Wahai Tuhanku, karena Engkau telah menyesatkanku (Surat al-Hijr: 39).
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/200 (1769-1772)
Al-Khallal berkata: Abdul Malik memberitahukan kepadaku bahwa dia menyebutkan kepada Abu Abdillah urusan Jahmiyyah dan apa yang mereka bicarakan, lalu dia berkata: Dalam pembicaraan mereka ada pembicaraan zindiq, mereka berputar pada ta’thil (peniadaan sifat Allah), mereka tidak menetapkan sesuatu pun dan demikianlah para zindiq. Dan Abu Abdillah berkata: Sampai kepadaku bahwa mereka berkata sesuatu yang mereka serukan lalu membatalkannya pada saat itu juga, mereka berkata: Dia adalah sesuatu di dalam segala sesuatu dan sesuatu itu tidak di dalam sesuatu. Dia berkata kepadaku: Maka dia telah meninggalkan perkataannya yang pertama. Dan dia menghampiriku dengan kagum.
Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Farqad al-Warraq memberitahukan kepadaku, dia berkata: Ahmad bin Sa’d al-Jauhariy menceritakan kepadaku, dia berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata: Tidak ada seorang pun yang lebih berbahaya bagi ahlul Islam daripada Jahmiyyah, mereka tidak menginginkan kecuali membatalkan Al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/200-201 (1774-1775)
92 – Pasal: Kelompok-kelompok Jahmiyyah
Abu al-Fadhl berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Jahmiyyah terpecah menjadi tiga kelompok:
Kelompok yang berkata: Al-Quran adalah makhluk.
Dan kelompok yang berkata: Kalam Allah. Dan mereka diam.
Dan kelompok yang berkata: Ucapan kami terhadap Al-Quran adalah makhluk.
Allah Azza wa Jalla berfirman dalam kitab-Nya: Maka berikan dia perlindungan sampai dia mendengar kalam Allah (Surat at-Taubah: 6). Maka Jibril mendengarnya dari Allah, dan Nabi shallallahu alaihi wasallam mendengarnya dari Jibril alaihis salam, dan para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam mendengarnya dari Nabi, maka Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan.
“Sirah al-Imam Ahmad” karya Shalih hal. 72
Abu Bakar al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwadziy memberitahukan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Jahmiyyah terpecah menjadi tiga kelompok: Orang-orang yang berkata: Makhluk, dan orang-orang yang ragu, dan orang-orang yang berkata: Ucapan-ucapan kami terhadap Al-Quran adalah makhluk.
Maka Abu Abdillah berkata: Dan kami tidak berkata: Orang-orang ini adalah Waqifah, kami berkata: Orang-orang ini adalah Syakkakah (orang-orang yang ragu).
Dan al-Khallal berkata: Hanbal bin Ishaq bin Hanbal di Wasith memberitahukan kepadaku, dia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Jahmiyyah ada tiga macam: Kelompok yang berkata: Al-Quran adalah makhluk. Dan kelompok yang berkata: Kalam Allah. Dan mereka diam, dan kelompok yang berkata: Ucapan-ucapan kami terhadap Al-Quran adalah makhluk, maka mereka menurutku dalam perkataan adalah satu.
Dan al-Khallal berkata: Ahmad bin Ashram al-Muzaniy memberitahukan kepadaku, dia berkata: Ahmad bin Hazim menceritakan kepadaku bahwa dia mendengar Abu Abdillah. Dan Ahmad bin Yahya ash-Shaffar memberitahukan kepadaku, dia berkata: Aku mendengar al-Hasan bin al-Bazzar berkata: Abu Abdillah berkata.
Dan Muhammad bin Ali memberitahukan kepadaku, dia berkata: Shalih bin Ahmad menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar ayahku – dan maknanya adalah satu – berkata: Jahmiyyah terpecah menjadi tiga kelompok: Kelompok yang berkata: Al-Quran adalah makhluk, dan kelompok yang berkata: Kalam Allah dan mereka diam, dan kelompok yang berkata: Ucapan-ucapan kami adalah makhluk.
Shalih bin Ahmad menambahkan dari ayahnya, dia berkata: Dan Allah berfirman dalam kitab-Nya: Maka berikan dia perlindungan sampai dia mendengar kalam Allah. Maka Jibril mendengarnya dari Allah Azza wa Jalla, dan Nabi shallallahu alaihi wasallam mendengarnya dari Jibril alaihis salam, dan para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam mendengarnya dari Nabi, maka Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan.
Manshur bin al-Walid memberitahukan kepadaku, bahwa Ja’far bin Muhammad menceritakan kepada mereka, dia berkata: Aku berkata kepada Abu Abdillah: Ibnu Abi Umar berkata kepadaku: Datang kepadaku hari ini sekelompok orang dari penduduk Baghdad lalu aku berkata kepada mereka: Barangsiapa yang berkata: Al-Quran adalah makhluk, dan Waqifah, dan Lafzhiyyah adalah satu hal? Maka dia berkata: Semoga Allah memberkatinya. Dia mengucapkannya tiga kali.
Aku berkata kepada Abu Abdillah: Aku mendengar Harun bin Ishaq berkata: Barangsiapa yang berkata Al-Quran adalah makhluk dan Waqifah dan Lafzhiyyah adalah Jahmiyyah; maka hal itu membuatnya senang, dan dia berkata: Semoga Allah menyehatkannya dan membalasnya dengan kebaikan.
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/202-203 (1777-1780)
Abu Thalib Ahmad bin Humaid berkata: Abu Abdillah berkata kepadaku: Mereka menjadi tiga kelompok dalam Al-Quran.
Ibnu Batthah berkata: Aku berkata: Ya, mereka adalah tiga: Jahmiyyah, dan Waqifah, dan Lafzhiyyah, adapun Jahmiyyah, maka mereka menyingkap urusan mereka, mereka berkata: Makhluk.
Dia berkata: Bagi mereka Jahmiyyah, orang-orang ini menyembunyikan diri, maka jika kamu mendesak mereka, mereka menyingkap Jahmiyyah, maka semuanya adalah Jahmiyyah, Allah berfirman: Dan Allah berbicara kepada Musa dengan pembicaraan langsung (Surat an-Nisa: 164) dan berfirman: Dan jika salah seorang dari kaum musyrikin meminta perlindungan kepadamu, maka berikan dia perlindungan sampai dia mendengar kalam Allah (Surat at-Taubah: 6). Maka apakah dia mendengar yang makhluk, dan Jibril datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan yang makhluk?!
“Al-Ibanah” karya Ibnu Batthah, Kitab ar-Radd ‘alal Jahmiyyah 1/294-295 (64)
Ibnu Batthah berkata: Abu Hafsh Umar bin Muhammad bin Raja’ berkata: Abu Nashr Ishmah bin Abi Ishmah menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-Fadhl bin Ziyad menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Thalib – Ahmad bin Humaid – menceritakan kepada kami dari Abu Abdillah, aku berkata: Telah datang Jahmiyyah yang keempat. Dia berkata: Apa itu? Aku berkata: Mereka mengklaim bahwa seseorang yang kamu kenal berkata: Barangsiapa yang mengklaim bahwa Al-Quran ada di dadanya, maka sungguh dia telah mengklaim bahwa di dalam dadanya ada sesuatu dari ketuhanan.
Dia berkata: Dan barangsiapa yang berkata ini, maka sungguh dia telah berkata seperti apa yang dikatakan Nashrani tentang Isa bahwa kalimat Allah ada padanya. Dan dia berkata: Aku tidak pernah mendengar seperti ini sama sekali.
Aku berkata: Ini adalah Jahmiyyah. Dia berkata: Lebih besar dari Jahmiyyah orang yang berkata ini?
Aku berkata: Seseorang. Dia berkata: Jangan sembunyikan dariku seperti ini.
Aku berkata: Musa bin Uqbah. Dan aku membacakan surat itu kepadanya, maka dia berkata: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, lalu dia berkata: Ini bukan ahli hadits, dan sesungguhnya dia adalah ahli kalam, ahli kalam tidak akan beruntung. Dan dia menganggap itu sangat besar dan berkata: Ini lebih dari Jahmiyyah, Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata: “Al-Quran akan dicabut dari dada-dada kalian”.
Dan dia berkata: “Di dalam hati kita dan anak-anak kita.” Ini lebih parah daripada Jahmiyyah.
Kemudian saya berkata: Sesungguhnya dia telah mengakui apa yang dituliskannya dan berkata: “Saya memohon ampun kepada Allah,” lalu dia berkata: Tidak diterima darinya dan tidak ada penghormatan baginya, dia mengingkari dan bersumpah kemudian mengakui, seandainya setelah sekian tahun jika diketahui darinya pertaubatan, baru diterima darinya, jangan diajak bicara dan dijauhi, dan barangsiapa berbicara dengannya padahal dia telah mengetahui, maka jangan diajak bicara.
“Al-Ibanah” kitab bantahan terhadap Jahmiyyah 1/355 (164)
Abu Zur’ah Ar-Razi berkata: Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: Jahmiyyah terpecah menjadi tiga golongan: golongan yang mengatakan: Al-Qur’an adalah makhluk, golongan yang berdiam diri (waqif), dan golongan yang mengatakan: lafaz kami terhadap Al-Qur’an adalah makhluk.
“Thabaqat Al-Hanabilah” 2/59 93 – Pasal: Waqifah dan bantahan terhadap mereka
Abu Daud berkata: Saya mendengar Ahmad ditanya: Apakah ada keringanan bagi mereka bahwa seseorang mengatakan: kalam Allah, kemudian diam? Maka dia berkata: Mengapa dia diam?! Seandainya bukan karena apa yang menimpa manusia, maka diam sudah cukup baginya, tetapi ketika mereka telah berbicara tentang apa yang mereka bicarakan, mengapa tidak berbicara?!
Dan Abu Daud berkata: Saya mendengar Ahmad menyebutkan dua orang laki-laki yang berdiam diri tentang Al-Qur’an dan keduanya mengajak kepada hal itu, lalu dia terus mendoakan keburukan kepada keduanya dan berkata kepadaku: Ini -untuk salah satu dari keduanya- fitnah yang besar, dan dia terus menyebutkan keduanya dengan keburukan.
“Masail Abi Daud” (1705-1706)
Abu Daud berkata: Saya mendengar Ahmad dan dikatakan kepadanya: Si fulan mengirim surat kepadamu -seorang laki-laki dari kalangan ahli hadits yang tertuduh bersikap waqif- surat dengannya?
Dia berkata: Saya tidak suka dengan orang seperti dia jika dia berada di atas pendapat tersebut.
Lalu dikatakan kepadanya: Mungkin ada sesuatu di dalamnya, maka dia mengizinkan untuk mendatangkannya.
Dan Abu Daud berkata: Saya mendengar Ahmad dan dikatakan kepadanya: Sesungguhnya si fulan -maksudnya: laki-laki ini- meriwayatkan darimu bahwa engkau memerintahkannya untuk berdiam diri.
Dia berkata: Sedangkan saya tidak menetapkannya sebagai pengetahuan kecuali setelahnya dan sesungguhnya mungkin seseorang bertanya kepadaku tentang sesuatu lalu aku diam, aku tidak diam kecuali karena tidak suka membicarakannya.
“Masail Abi Daud” (1708-1709)
Abu Daud berkata: Saya mendengar Ishaq bin Ibrahim bin Rahawayh berkata: Barangsiapa berkata: Saya tidak mengatakan: Al-Qur’an adalah makhluk, dan tidak pula tidak makhluk; maka dia adalah Jahmi.
“Masail Abi Daud” (1744)
Ibnu Hani berkata: Dan dia ditanya tentang orang yang berkata: Iman adalah perkataan, dan tentang golongan yang ragu; maka dia berkata: Murji’ah lebih baik daripada golongan yang ragu ini.
“Masail Ibni Hani” (1904)
Harb bin Ismail berkata: Dan saya bertanya kepadanya tentang laki-laki yang berkata: Al-Qur’an adalah kalam Allah dan berdiam diri, dia berkata: Dia menurutku lebih buruk daripada orang yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk; karena orang lain mengikutinya.
Ibrahim bin Al-Harits menceritakan kepada kami, dia berkata: Saya bertanya kepada Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal, saya berkata: Wahai Abu Abdillah, apakah termasuk dari Ahlus Sunnah orang yang berkata: Saya tidak mengatakan: Al-Qur’an adalah makhluk, dan saya tidak mengatakan: bukan makhluk?
Dia berkata: Tidak, dan tidak ada penghormatan, dia tidak termasuk dari Ahlus Sunnah, telah sampai kepadaku tentang orang jahat itu Ibnu Mu’adzdzal bahwa dia mengatakan perkataan ini, dan telah terfitnahkan dengannya banyak orang dari penduduk Bashrah.
“Masail Harb” hal. 417
Abdullah bin Ahmad berkata: Saya mendengar ayahku rahimahullah berkata: Barangsiapa dari kalangan ahli hadits atau dari kalangan ahli kalam lalu diam dari mengatakan: Al-Qur’an bukan makhluk, maka dia adalah Jahmi.
“As-Sunnah” oleh Abdullah 1/151 (131)
Abdullah berkata: Saya mendengar ayahku rahimahullah dan ditanya tentang Waqifah, maka ayahku berkata: Barangsiapa berdebat dan dikenal dengan ilmu kalam maka dia adalah Jahmi, dan barangsiapa tidak dikenal dengan ilmu kalam maka dijauhi sampai dia kembali, dan barangsiapa tidak memiliki ilmu maka hendaklah bertanya.
Dan Abdullah berkata: Ayahku rahimahullah ditanya -dan saya mendengar- tentang Lafzhiyyah dan Waqifah, maka dia berkata: Barangsiapa dari mereka yang jahil bukan alim maka hendaklah bertanya, dan hendaklah belajar.
Dan Abdullah berkata: Saya mendengar ayahku rahimahullah pada kesempatan lain dan ditanya tentang Lafzhiyyah dan Waqifah, maka dia berkata: Barangsiapa dari mereka yang pandai berbicara maka dia adalah Jahmi.
Dan dia berkata pada kesempatan lain: Mereka lebih buruk daripada Jahmiyyah.
“As-Sunnah” oleh Abdullah 1/179 (223-225)
Abu Bakar Al-Khallal berkata: Al-Hasan bin Tsawwab Al-Makhrami mengabarkan kepada kami bahwa dia berkata kepada Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal: Waqifah?
Dia berkata: Mereka lebih buruk daripada Jahmiyyah, mereka bersembunyi dengan sikap waqif.
Dan Al-Khallal berkata: Shalih bin Ali Al-Halabi dari keluarga Maimun bin Mihran mengabarkan kepada kami; bahwa dia berkata kepada Abu Abdillah: Apa pendapatmu tentang orang yang berdiam diri? Dia berkata: Saya tidak mengatakan: Pencipta dan tidak pula makhluk? Dia berkata: Dia seperti orang yang berkata: Al-Qur’an adalah makhluk. Dan dia adalah Jahmi.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Saya bertanya kepada Abu Abdillah tentang seorang laki-laki dari Waqifah yang berdiam diri di suatu tempat dan berbicara.
Dia berkata: Ini adalah penyeru, ini adalah Jahmi, kami tidak ragu tentang ini.
Dan Al-Khallal berkata: Dan Abu Bakar Al-Marrudzi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Saya bertanya kepada Abu Abdillah tentang orang yang berdiam diri tidak mengatakan: tidak makhluk? Dia berkata: Saya mengatakan: kalam Allah.
Dia berkata: Dikatakan kepadanya: Sesungguhnya para ulama mengatakan: tidak makhluk. Jika dia menolak maka dia adalah Jahmi.
“As-Sunnah” oleh Al-Khallal 2/204 (1782-1785)
Al-Khallal berkata: Dan Muhammad bin Yahya Al-Kahhal mengabarkan kepadaku bahwa dia berkata kepada Abu Abdillah: Golongan yang ragu menurutmu sama seperti Jahmiyyah? Dia berkata: Barangsiapa dari mereka yang berbicara, maka dia adalah Jahmi.
Al-Khallal berkata: Dan Muhammad bin Ahmad bin Jami’ Ar-Razi mengabarkan kepadaku, dia berkata: Saya mendengar Muhammad bin Muslim bahwa Abu Abdillah dikatakan kepadanya: Bagaimana dengan Waqifah? Dia berkata: Adapun yang tidak berakal maka dia akan melihat, dan jika dia berakal dan melihat pembicaraan maka dia seperti mereka.
Dia berkata: Dan Al-Qur’an di mana pun dia berubah adalah kalam Allah yang tidak makhluk.
Dan Al-Khallal berkata: Abu Bakar Muhammad bin Ali mengabarkan kepada kami bahwa Ya’qub bin Bukhtan menceritakan kepada mereka, dia berkata: Saya bertanya kepada Abu Abdillah tentang laki-laki yang berdiam diri?
Dia berkata: Ini menurutku adalah orang yang ragu dan bimbang.
Dan Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Abu Thalib Al-Masyakani menceritakan kepadaku, dia berkata: Saya berada di sisi Abu Abdillah lalu saya mendengar beberapa orang di pintu sedang berbicara.
Dan Al-Khallal berkata: Dan Ahmad bin Muhammad bin Mathar mengabarkan kepadaku, dia berkata: Abu Thalib menceritakan kepada kami, dengan hadits yang serupa. Dia berkata: Lalu saya mendengar salah satu dari mereka bertanya kepadamu tentang imam kami yang berdiam diri, maka Abu Abdillah berteriak kepada mereka, dia berkata: Lalu salah seorang berkata kepada yang lain: Ini dia engkau mendengar Abu Abdillah, ini dia dia berkata kepadamu dia tidak menyukai pembicaraan tentang ini.
Maka Abu Abdillah berkata: Kembalikan mereka. Lalu saya berteriak kepada mereka.
Maka Abu Abdillah berkata: Barangsiapa ragu maka dia adalah kafir, dan barangsiapa berdiam diri maka dia adalah kafir.
Dan Al-Khallal berkata: Dan Ya’qub bin Yusuf Al-Muthauwi’i mengabarkan kepadaku, dia berkata: Saya hadir di pintu Ahmad bin Hanbal, lalu datang sekelompok orang dari penduduk Dar Al-Quthn, mereka berkata: Sesungguhnya di sini ada seorang laki-laki yang hatinya telah tergantung dengan madzhab Ibnu Al-Asy’ats, dan dia berkata: Sesungguhnya apa yang Abu Abdillah katakan kepadaku maka aku akan mengikutinya.
Maka dia berkata: Datangkan dia. Lalu laki-laki itu datang, maka Ahmad berkata: Apa urusan kalian dengan perdebatan? Apa urusan kalian dengan ilmu kalam? Apa urusan kalian dengan pertengkaran?
Maka laki-laki itu berkata: Wahai Abu Abdillah, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, engkau melarang dari perdebatan, dan dari ilmu kalam, dan dari pertengkaran.
Maka orang-orang yang membawanya berkata kepadanya: Sesungguhnya orang ini sebentar lagi akan pergi lalu berkata: Saya pergi kepada Ahmad bin Hanbal, lalu dia melarangku dari perdebatan dan ilmu kalam dan pertengkaran, dan diam atas keraguan.
Al-Khallal berkata: Muhammad bin Abi Harun dan Muhammad bin Ja’far mengabarkan kepadaku bahwa Abu Al-Harits menceritakan kepada mereka, dia berkata: Saya bertanya kepada Abu Abdillah, saya berkata: Sesungguhnya sebagian orang berkata: Sesungguhnya Waqifah ini lebih buruk daripada Jahmiyyah?
Dia berkata: Mereka lebih keras kepada manusia (dalam memperindah) daripada Jahmiyyah, mereka meragukan manusia, dan hal itu karena Jahmiyyah sudah jelas perkara mereka, sedangkan ini jika mereka berkata: Sesungguhnya kami tidak berbicara, mereka menarik hati orang awam, sesungguhnya ini akan berujung kepada perkataan Jahmiyyah.
Dia berkata: Dan saya mendengarnya ditanya tentang orang yang berkata: Saya mengatakan Al-Qur’an adalah kalam Allah dan saya diam.
Dia berkata: Tidak, ini adalah orang yang ragu, tidak sampai dia mengatakan: tidak makhluk.
Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali As-Simsar mengabarkan kepada kami, dia berkata: Mahna menceritakan kepada kami, dia berkata: Saya bertanya kepada Harits Al-Baqqal: Apa pendapatmu tentang Al-Qur’an?
Maka dia berkata: Al-Qur’an adalah kalam Allah, saya tidak mengatakan tidak makhluk.
Maka saya berkata kepadanya: Wahai Abu Abdillah, Ahmad bin Hanbal berkata: Dia adalah kalam Allah yang tidak makhluk. Maka dia berkata kepadaku: Saudaraku, Ahmad bin Hanbal adalah tsiqah yang adil.
Dia berkata: Dan saya bertanya kepada Abu Ya’qub Ishaq bin Sulaiman Al-Jawwaz tentang Al-Qur’an; maka dia berkata: Dia adalah kalam Allah dan dia tidak makhluk.
Kemudian dia berkata kepadaku: Jika kami mengatakan: Al-Qur’an adalah kalam Allah, kami tidak mengatakan: makhluk dan tidak pula tidak makhluk, maka tidak ada perbedaan antara kami dengan Jahmiyyah ini.
Maka saya menyebutkan hal itu kepada Ahmad bin Hanbal, lalu Ahmad berkata: Semoga Allah membalas Abu Ya’qub dengan kebaikan.
Dia berkata: Dan saya bertanya kepada Ahmad setelah dia keluar dari penjara sebentar, apa pendapatmu tentang Al-Qur’an? Maka dia berkata: Dia adalah kalam Allah yang tidak makhluk. Dan dia berkata: Barangsiapa meriwayatkan dariku selain perkataan ini; maka dia adalah pembohong. Maka saya berkata kepadanya: Sesungguhnya sebagian orang menyebutkan darimu bahwa engkau berkata kepadanya: Dia adalah kalam Allah, dan sesungguhnya engkau berkata kepadanya: tidak makhluk dan tidak pula tidak makhluk, tetapi dia adalah kalam Allah.
Maka Ahmad berkata: Bohong, saya tidak mengatakan ini, tetapi dia adalah kalam Allah dan dia tidak makhluk.
“As-Sunnah” oleh Al-Khallal 2/207-208 (1799-1800).
Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali memberitahu kami, dia berkata: Abu Bakar Al-Atsram menceritakan kepada kami, dia berkata: Kami mendatangi Abu Abdillah, aku dan Al-Abbas bin Abdul Azhim, lalu Al-Abbas berkata kepada kami: Musa bin Sahl memberitahuku, dia berkata: Muhammad bin Ahmad Al-Asadi menceritakan kepadaku, dia berkata: Ibrahim bin Al-Harits Al-Abadi menceritakan kepadaku, dia berkata: Aku bangkit dari sisi Abu Abdillah, lalu aku mendatangi Abbas Al-Anbari dan mengabarkan kepadanya tentang apa yang dibicarakan Abu Abdillah mengenai masalah Ibnu Mu’adzdzal. Dia senang dengannya dan mengenakan pakaiannya, bersamanya Abu Bakar bin Hani’, lalu mereka masuk menemui Abu Abdillah. Abbas memulai dengan berkata: Wahai Abu Abdillah, ada sekelompok orang di sini yang berkata: Kami tidak mengatakan Al-Quran makhluk dan tidak pula bukan makhluk.
Dia berkata: Mereka ini lebih berbahaya daripada Jahmiyyah terhadap manusia. Celakalah kalian! Jika kalian tidak mengatakan: bukan makhluk, maka katakanlah: makhluk!
Abu Abdillah berkata: Perkataan yang buruk. Al-Abbas berkata: Apa pendapatmu wahai Abu Abdillah? Dia berkata: Yang aku yakini, yang aku anut, dan yang tidak aku ragukan adalah bahwa Al-Quran bukan makhluk. Kemudian dia berkata: Maha Suci Allah! Siapa yang meragukan hal ini? Kemudian Abu Abdillah berbicara dengan menganggap besar keraguan dalam hal itu, lalu berkata: Maha Suci Allah! Apakah hal ini diragukan?! Allah berfirman: “Ingatlah, kepunyaan-Nya-lah penciptaan dan urusan.” (Surah Al-A’raf: 54) Maka Allah membedakan antara penciptaan dan urusan.
Abu Abdillah berkata: Al-Quran adalah dari ilmu Allah, tidakkah kalian melihat firman-Nya: “Yang mengajarkan Al-Quran.” (Surah Ar-Rahman: 2), dan Al-Quran di dalamnya terdapat nama-nama Allah, apa yang kalian katakan? Tidakkah kalian mengatakan bahwa nama-nama Allah Azza wa Jalla bukan makhluk? Barangsiapa mengira bahwa nama-nama Allah Azza wa Jalla adalah makhluk maka dia telah kafir. Allah senantiasa Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Perkasa, Maha Bijaksana, Maha Mendengar, Maha Melihat. Kami tidak meragukan bahwa nama-nama Allah bukan makhluk, dan kami tidak meragukan bahwa ilmu Allah Tabaraka wa Ta’ala bukan makhluk dan itu adalah kalam Allah Azza wa Jalla, dan Allah Azza wa Jalla senantiasa Maha Bijaksana.
Kemudian Abu Abdillah berkata: Dan kekufuran apa yang lebih jelas daripada ini, dan kekufuran apa yang lebih kafir daripada ini? Apabila mereka mengira bahwa Al-Quran makhluk, maka sesungguhnya mereka telah mengira bahwa nama-nama Allah makhluk dan ilmu Allah makhluk, tetapi manusia menganggap remeh hal ini dan berkata: Mereka hanya mengatakan Al-Quran makhluk, maka mereka menganggap remeh dan mengira bahwa itu adalah perkara ringan, padahal mereka tidak mengetahui kekufuran apa yang terkandung di dalamnya.
Dia berkata: Aku tidak suka terang-terangan menyatakan hal ini kepada setiap orang, dan mereka bertanya kepadaku, lalu aku katakan: Aku tidak suka berbicara tentang hal ini, tetapi sampai kepadaku bahwa mereka mendakwa bahwa aku diam saja.
Aku berkata kepada Abu Abdillah: Bagaimana dengan orang yang berkata: Al-Quran makhluk, lalu dia berkata: Aku tidak mengatakan: nama-nama Allah makhluk dan tidak pula ilmu-Nya. Dan dia tidak menambah atas ini, apakah aku katakan: dia kafir?
Dia berkata: Begitulah menurutnya.
Abu Abdillah berkata: Apakah kami perlu meragukan hal ini?! Al-Quran menurut kami di dalamnya terdapat nama-nama Allah dan itu dari ilmu Allah, barangsiapa berkata: makhluk; maka menurutnya dia kafir.
Kemudian Abu Abdillah berkata: Sampai kepadaku bahwa Abu Khalid, Musa bin Manshur dan yang lainnya duduk di sisi itu, lalu mereka mencela pendapat kami dan mengajak kepada pendapat ini yaitu tidak mengatakan: makhluk dan tidak pula bukan makhluk, dan mereka mencela orang yang mengkafirkan, serta mereka mengira bahwa kami berpendapat seperti pendapat Khawarij. Kemudian Abu Abdillah tersenyum seperti orang yang marah, kemudian berkata: Mereka adalah kaum yang buruk.
Kemudian Abu Abdillah berkata kepada Al-Abbas: Dan orang Sijistani yang ada di sisi kalian di Basrah itu, dia jahat, sampai kepadaku bahwa dia telah menetapkan dalam hal ini pada suatu hari dengan berkata: Aku tidak mengatakan: makhluk dan tidak pula bukan makhluk, dan dia itu jahat, dia si Juling itu.
Al-Abbas berkata: Dia pernah mengatakan dengan pendapat Jahm, kemudian dia beralih kepada pendapat ini. Abu Abdillah berkata: Tidak bermakna bahwa dia mengatakan dengan pendapat Jahm kecuali syafaat.
Muhammad bin Sulaiman memberitahuku, dia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang Al-Quran, dia berkata: Dan waspadalah terhadap orang yang mengada-adakan di dalamnya? Lalu dia berkata: Aku katakan: Kalam Allah, dan aku tidak mengatakan: makhluk atau bukan makhluk, jika dia berkata: makhluk, maka dia lebih pandai dengan hujahnya daripada ini, meskipun tidak ada hujah bagi keduanya, dan segala puji bagi Allah.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/208-210 (1804-1805)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwadzi memberitahu kami, dia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang shalat atas orang yang berhenti (waqif) yakni: jika dia meninggal? Dia berkata: Tidak dishalatkan atasnya.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/210 (1808)
Abu Thalib berkata: Seorang laki-laki datang kepada Abu Abdillah sedangkan aku di sisinya, lalu berkata: Sesungguhnya aku mempunyai kerabat yang berpendapat dengan keraguan. Dia berkata: Lalu dia berkata dengan sangat marah: Barangsiapa meragukan maka dia kafir.
Abu Thalib berkata: Seorang laki-laki berkata: Al-Quran adalah kalam Allah bukan makhluk.
Dia berkata: Lalu dia berkata: Ini adalah pendapat kami: barangsiapa meragukan maka dia kafir. Dia berkata: Lalu dia berkata: Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.
“Al-Ibanah” karya Ibnu Bathah, Kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah 1/295 (66-67)
Abu Bakar Al-Marwadzi berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Barangsiapa tidak mengatakan: Sesungguhnya Al-Quran adalah kalam Allah bukan makhluk, maka dia menempati tempat Jahmiyyah.
“Al-Ibanah” karya Ibnu Bathah, Kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah 1/296-297 (70)
Abu Bakar Al-Marwadzi berkata: Abu Abdillah berkata kepadaku: Orang pertama yang bertanya kepadaku tentang berhenti (waqaf) adalah Ali Al-Asyqar, lalu aku katakan kepadanya: Al-Quran bukan makhluk.
“Al-Ibanah” karya Ibnu Bathah, Kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah 1/296-297 (70-71)
Mahna bin Yahya berkata: Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal: Apa yang engkau katakan tentang Al-Quran? Dia berkata: Kalam Allah dan ia bukan makhluk.
Aku berkata: Sesungguhnya sebagian orang meriwayatkan darimu bahwa engkau berkata: Al-Quran adalah kalam Allah dan engkau diam. Dia berkata: Barangsiapa mengatakan hal itu daripadaku maka sesungguhnya dia telah membatalkannya.
Ya’qub Ad-Dauraqi berkata: Aku bertanya kepada Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, aku berkata: Bagaimana dengan orang-orang yang berkata: Kami berhenti dan berkata: sebagaimana dalam Al-Quran, kalam Allah dan kami diam.
Dia berkata: Mereka ini lebih buruk daripada Jahmiyyah, sesungguhnya mereka menginginkan pendapat Jahm.
“Al-Ibanah” karya Ibnu Bathah, Kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah 1/308-309 (99-100)
Abu Abdillah As-Sulami berkata: Aku bertanya kepada Abu Ya’qub Al-Khazzaz Ishaq bin Sulaiman -yakni: Ar-Razi- tentang Al-Quran? Dia berkata: Ia adalah kalam Allah Azza wa Jalla, dan ia bukan makhluk.
Lalu dia berkata kepadaku: Jika kami berkata: Al-Quran adalah kalam Allah Azza wa Jalla, dan kami tidak mengatakan: makhluk, dan tidak pula bukan makhluk, tidak ada perbedaan antara kami dengan mereka -yakni: Jahmiyyah.
Lalu aku menyebutkan hal itu kepada Ahmad bin Hanbal, maka Ahmad berkata kepadaku: Semoga Allah membalas Abu Ya’qub dengan kebaikan.
“Syarh Ushul Al-I’tiqad” karya Al-Lalikai 2/288 (443)
Muhammad bin Muslim bin Warah berkata: Abu Mush’ab berkata kepadaku: Barangsiapa berkata: Al-Quran makhluk; maka dia kafir, dan barangsiapa berkata: Aku tidak tahu -yakni: makhluk atau bukan makhluk- maka dia sepertinya, kemudian dia berkata: Bahkan dia lebih buruk daripadanya.
Lalu aku menyebutkan seorang laki-laki yang menampakkan madzhab Malik, lalu aku berkata: Sesungguhnya dia menampakkan berhenti (waqaf), maka dia berkata: Semoga Allah melaknatnya, dia mengikuti madzhab kami, padahal dia berlepas darinya.
Lalu aku menyebutkan hal itu kepada Ahmad bin Hanbal, maka dia senang dengannya dan bergembira karenanya.
“Syarh Ushul Al-I’tiqad” 2/358 (522)
Salamah bin Syabib berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata: Waqifi jangan meragukan kekufurannya.
“Syarh Ushul Al-I’tiqad” 2/363 (544)
Abu Ismail Muhammad bin Ismail As-Sulami berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal tentang orang yang berkata: Al-Quran makhluk, lalu dia berkata: Al-Quran adalah dari ilmu Allah, dan ilmu Allah bukan makhluk, maka barangsiapa berkata: makhluk? Maka dia kafir, adapun orang yang berhenti (waqif) yang memahami perkataan dan mengetahui, dia adalah Jahmi, dan yang tidak memahami dan tidak mengetahui harus dipahami.
“Syarh Ushul Al-I’tiqad” 2/391 (600)
Syahin bin As-Sumaydi’ berkata: Aku mendengar Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal berkata: Waqifah lebih jahat daripada Jahmiyyah, dan barangsiapa berkata: Lafalku tentang Al-Quran makhluk maka dia kafir.
Dia berkata: Dan aku mendengar Abu Abdillah berkata: Ishaq bin Abi Israil adalah waqifi yang membawa sial.
Dia berkata: Dan aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang orang yang berkata: Aku berhenti dalam masalah Al-Quran karena kehati-hatian, dia berkata: Dia itu ragu dalam agama, ijma’ para ulama dan imam-imam terdahulu adalah bahwa Al-Quran adalah kalam Allah bukan makhluk, ini adalah agama yang aku dapati para syaikh menganutnya, dan para syaikh mendapati orang-orang sebelum mereka menganutnya.
“Thabaqat Al-Hanabilah” 2/460
Ibnul Laits berkata: Ahmad bin Hanbal ditanya -dan aku hadir- tentang Waqifah, lalu dia berkata: Waqifah, Jahmiyyah dan Lafzhiyyah menurut kami sama.
“Manaqib Al-Imam Ahmad” hal. 205
94 – Pasal: Menjauhi Waqifah
Shalih berkata: Aku berkata kepada ayahku: Apakah tidak berbicara dengan orang yang berhenti (waqaf)? Dia berkata: Tidak berbicara dengannya.
Aku berkata: Bagaimana jika seorang laki-laki berbicara dengannya? Dia berkata: Dia menyuruhnya, jika dia meninggalkan bicaranya maka dia berbicara dengannya, dan jika dia tidak meninggalkan bicaranya maka jangan berbicara dengannya.
“Sirah Al-Imam Ahmad” karya Shalih hal. 72
Abu Dawud berkata: Dan aku melihat Ahmad, seorang laki-laki dari penduduk Baghdad memberi salam kepadanya -Abu Dawud berkata: Sampai kepadaku bahwa dia adalah Abu Bakar Al-Maghazili dari orang yang berhenti sebagaimana yang sampai kepadaku- lalu dia berkata kepadanya: Pergi, jangan kau datang lagi ke pintuku -dengan perkataan yang keras- dan dia tidak menjawab salamnya, dan berkata kepadanya: Betapa perlu engkau diperlakukan sebagaimana Umar memperlakukan Shabigh -dia memberi tahu aku: Umar kepada Shabigh, sebagian sahabat kami- lalu dia masuk ke rumahnya dan menutup pintu.
“Masail Abi Dawud” (1707)
Abu Dawud berkata: Aku mendengar Ahmad, dikatakan kepadanya: Bagaimana pendapatmu tentang shalat di belakang orang yang berkata -yakni: tentang Al-Quran: Kalam Allah dan dia berhenti? Dia berkata: Aku senang jika dia dijauhi.
“Masail Abi Dawud” (1710)
Ibnu Hani berkata: Aku menyaksikan Abu Abdillah di jalan masjid jami’, dan seorang laki-laki dari Syakah (orang yang ragu) memberi salam kepadanya, lalu dia tidak menjawab salamnya, kemudian dia mengulangi salamnya, lalu Abu Abdillah mendorongnya dan tidak memberi salam kepadanya.
Ishaq berkata: Dia adalah Ibnul Makhnun, dengan kha’ yang bertitik.
“Masail Ibni Hani” (1859)
Ibnu Hani berkata: Dan dia ditanya tentang Waqifi, apakah boleh diduduki? Dia berkata: Jika dia berdebat; tidak boleh diajak bicara dan tidak boleh diduduki.
“Masail Ibni Hani” (1881)
Abdullah berkata: Seorang laki-laki dari penduduk Basrah dari orang yang biasa meriwayatkan hadits disebut-sebut di hadapan ayahku, lalu aku berkata: Sesungguhnya dia waqifi, dia berhenti; dan para ahli hadits telah meninggalkannya sehingga mereka tidak mendatanginya. Lalu dia berkata: Semoga Allah menjauhkannya.
“Al-‘Ilal” riwayat Abdullah (1442)
Abu Bakar Al-Khallal berkata: Muhammad bin An-Naqib bin Abi Harb Al-Jarjarai memberitahu kami, dia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang seorang laki-laki yang mempunyai ayah waqifi.
Dia berkata: Dia menyuruhnya dan berlembut kepadanya.
Aku berkata: Jika dia menolak, apakah dia menghentikan ucapannya terhadapnya? Dia berkata: Ya.
Dia berkata: Dan Muhammad bin Abi Harb memberitahu kami, dia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang seorang laki-laki yang mempunyai saudara perempuan atau bibi, dan dia mempunyai suami waqifi. Dia berkata: Dia bertemu dengannya dan memberi salam kepadanya.
Aku berkata: Bagaimana jika rumah itu miliknya? Dia berkata: Dia berdiri di pintu dan tidak masuk.
Dia berkata: Ahmad bin Ashram Al-Muzani memberitahu kami, dia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah, seorang laki-laki berkata kepadanya: Sesungguhnya aku mempunyai saudara waqifi, apakah aku hentikan ucapanku terhadapnya? Dia berkata: Ya, ya -dua atau tiga kali.
Dia berkata: Dan Ahmad bin Husain bin Hassan memberitahuku bahwa Abu Abdillah, Ath-Thaliqani bertanya kepadanya tentang Lafzhiyyah. Lalu Ahmad berkata: Mereka tidak boleh diduduki dan tidak boleh diajak bicara.
Dia berkata: Yusuf bin Musa memberitahuku bahwa Abu Abdillah, dikatakan kepadanya: Bagaimana dengan orang yang berhenti?
Dia berkata: Dikatakan kepadanya dan dibicarakan dalam hal itu, jika dia menolak maka dia dijauhi.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/212 (1813-1817)
Al-Khallal berkata: Dan Muhammad bin Yahya Al-Kahhal memberitahuku, dia berkata: Abu Abdillah berkata: Al-Maghazili itu mengirim surat kepadaku dengan surat yang di dalamnya terdapat perkataan Jahm.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/213 (1820)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwadzi memberitahu kami, dia berkata: Aku menyebutkan kepada Abu Abdillah seorang laki-laki dari para perawi hadits yang mereka tanya, lalu dia berhenti. Dia berkata: Dia telah datang kepadaku lalu aku tidak memberinya izin dan aku tidak keluar menemuinya.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/213 (1822)
Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali memberitahuku bahwa Ya’qub bin Bukhtan menceritakan kepada mereka bahwa dia bertanya kepada Abu Abdillah tentang orang yang berkata: Al-Quran adalah kalam Allah, bukan makhluk, dan tentang seorang laki-laki yang berkata: Al-Quran adalah kalam Allah, dan dia berkeyakinan bahwa ia bukan makhluk, dan dia mengkafirkan orang yang mengira bahwa ia makhluk, apakah laki-laki ini boleh diajak bicara?
Dia berkata: Boleh berbicara dengan orang yang berpendapat bahwa ia bukan makhluk, dan dijauhi orang yang diam.
“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/293 (1825)
Abu Thalib berkata: Saya bertanya kepada Abu Abdillah tentang orang yang berdiam diri (tidak mau menyatakan pendapat tentang Al-Qur’an), lalu beliau berkata: Saya tidak mengatakan dia bukan makhluk. Jika dia bertemu denganku di jalan dan mengucapkan salam kepadaku, apakah saya harus menjawab salamnya?
Beliau menjawab: Jangan jawab salamnya, dan jangan bicara dengannya. Bagaimana orang-orang akan mengenalinya jika kamu menjawab salamnya? Dan bagaimana dia akan tahu bahwa kamu mengingkarinya? Jika kamu tidak menjawab salamnya, dia akan merasakan kehinaan, dan dia akan tahu bahwa kamu mengingkarinya, dan orang-orang pun akan mengenalinya.
“Asy-Syari’ah” karya Al-Ajurri halaman 77 (176)
Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Seorang laki-laki datang dari daerah perbatasan dan saya membawanya kepada beliau (Imam Ahmad). Orang itu berkata: Saya punya sepupu yang berdiam diri (tentang masalah Al-Qur’an) dan saya telah menikahkan anak perempuan saya dengannya. Sekarang saya telah mengambil anak perempuan saya dan memindahkannya dengan niat untuk memisahkan mereka berdua. Beliau berkata: Jangan terima darinya kecuali dia mengatakan: tidak diciptakan (ghair makhluq). Jika dia menolak, maka pisahkan mereka berdua.
“Al-Ibanah” karya Ibnu Bathah, kitab bantahan terhadap Jahmiyah 1/298 (75)
Muhammad bin Abdul Malik Ad-Daqiqi Al-Wasithi berkata: Saya mendengar Salamah bin Syabib berkata: Saya menemui Ahmad bin Hanbal, lalu saya berkata: Wahai Abu Abdillah! Apa pendapat Anda tentang orang yang mengatakan: Al-Qur’an adalah Kalam Allah?
Ahmad menjawab: Siapa yang tidak mengatakan: Al-Qur’an adalah Kalam Allah yang tidak diciptakan, maka dia kafir. Kemudian beliau berkata kepada saya: Jangan ragu tentang kekafiran mereka, karena sesungguhnya siapa yang tidak mengatakan: Al-Qur’an adalah Kalam Allah yang tidak diciptakan, berarti dia mengatakan: diciptakan, maka dia kafir.
Salamah bin Syabib berkata kepada kami: Saya berkata, maksudnya kepada Ibnu Hanbal: Bagaimana dengan golongan Waqifah (yang berdiam diri)?
Beliau menjawab: Kafir.
“Al-Ibanah” karya Ibnu Bathah, kitab bantahan terhadap Jahmiyah 1/305-306 (94)
Ibnu Hani’ berkata: Saya bertanya kepada beliau tentang seorang laki-laki dari golongan yang ragu (Syakikah) yang mengucapkan salam kepada seseorang, apakah orang itu harus menjawab salamnya?
Beliau menjawab: Jika dia termasuk orang yang suka berdebat dan berpolemik, maka saya tidak berpendapat untuk menjawab salamnya.
“Al-Ibanah” karya Ibnu Bathah, kitab bantahan terhadap Jahmiyah 1/313 (112)
95 – Bab: Golongan Lafzhiyah dan Hukum Imam terhadap Mereka
Abu Al-Fadhl berkata: Saya berkata kepada ayah saya: Orang yang mengatakan: ucapan saya terhadap Al-Qur’an adalah makhluk, apakah boleh diajak bicara?
Beliau menjawab: Orang ini tidak boleh diajak bicara, tidak boleh shalat di belakangnya, dan jika seseorang shalat (di belakangnya), maka dia harus mengulangi shalatnya.
Abu Al-Fadhl berkata: Ya’qub bin Ibrahim Ad-Dauraqi bertanya kepada ayah saya tentang orang yang mengatakan: ucapannya terhadap Al-Qur’an adalah makhluk, bagaimana pendapat Anda tentang orang-orang ini?
Beliau berkata: Jangan ajak bicara orang-orang ini, jangan bicara tentang hal ini. Al-Qur’an adalah Kalam Allah yang tidak diciptakan dalam semua sisi, dalam semua cara, dan dalam kondisi apapun.
Shalih berkata: Sampai kepada saya bahwa Abu Thalib meriwayatkan dari ayah saya bahwa beliau mengatakan: ucapan saya terhadap Al-Qur’an tidak diciptakan. Maka saya memberitahu ayah saya tentang hal itu. Beliau berkata: Siapa yang memberitahumu?
Saya berkata: Fulan. Beliau berkata: Panggil Abu Thalib. Maka saya mengutus orang kepadanya. Lalu dia datang, dan Fauran pun datang. Ayah saya berkata kepadanya: Apakah saya mengatakan: ucapan saya terhadap Al-Qur’an tidak diciptakan?! Dan beliau marah, dan mulai gemetar. Lalu dia (Abu Thalib) berkata kepadanya: Saya membaca kepadamu Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa (Al-Ikhlas: 1). Lalu kamu berkata kepadaku: Ini tidak diciptakan.
Beliau berkata: Apakah kamu meriwayatkan dari saya bahwa saya mengatakan kepadamu: ucapan saya terhadap Al-Qur’an tidak diciptakan?! Dan sampai kepada saya bahwa kamu menulis itu dalam bukumu, dan kamu mengirim surat kepada kaum itu. Jika itu ada dalam bukumu, maka hapuslah dengan penghapusan yang keras, dan kirim surat kepada kaum yang telah kamu kirimi surat bahwa saya tidak mengatakan hal ini kepadamu. Dan beliau marah dan mendatanginya, lalu berkata: Kamu meriwayatkan dari saya apa yang tidak saya katakan kepadamu. Maka Fauran mulai meminta maaf kepadanya, dan dia pulang dari tempatnya dalam keadaan ketakutan. Abu Thalib kembali dan menyebutkan bahwa dia telah menghapus itu dari bukunya, dan bahwa dia telah menulis kepada kaum itu memberitahu mereka bahwa dia keliru dalam meriwayatkan dari Abu Abdillah.
“Sirah Al-Imam Ahmad” karya Shalih halaman 70-71
Abu Dawud berkata: Saya mendengar Ahmad berbicara tentang golongan Lafzhiyah dan mengingkari ucapan mereka. Lalu Harun berkata kepadanya: Wahai Abu Abdillah, apakah mereka ini Jahmiyah? Maka beliau terus mengatakan: Mereka, mereka, dan tidak menyatakan sesuatu secara tegas, dan tidak mengingkari apa yang dia katakan tentang ucapannya: mereka Jahmiyah.
Abu Dawud berkata: Saya menulis secarik kertas dan mengirimkannya kepada Abu Abdillah, dan saat itu beliau sedang bersembunyi. Lalu dikeluarkan kepada saya jawabannya yang tertulis di dalamnya: Saya berkata: Seorang laki-laki mengatakan: Tilawah adalah makhluk dan ucapan kami terhadap Al-Qur’an adalah makhluk, dan Al-Qur’an bukan makhluk. Apa pendapat Anda tentang menjauhinya? Dan apakah dia disebut sebagai pelaku bid’ah? Dan apa yang harus diyakini dalam hati tentang tilawah dan ucapan? Dan bagaimana jawaban tentang hal ini? Beliau menjawab: Orang ini harus dijauhi, dan dia lebih buruk dari pelaku bid’ah, dan saya tidak melihatnya kecuali sebagai Jahmiyah, dan ini adalah ucapan Jahmiyah. Al-Qur’an bukan makhluk? _Aisyah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca: Dialah yang menurunkan kepadamu Al-Kitab. Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat (Ali Imran: 7) – ayat tersebut. Lalu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila kamu melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat, maka berhati-hatilah terhadap mereka; karena sesungguhnya mereka itulah yang dimaksud oleh Allah Azza wa Jalla.” Dan Al-Qur’an bukan makhluk.
“Masail Abu Dawud” (1711-1712)
Abu Dawud berkata: Saya mendengar Ishaq bin Ibrahim bin Rahawayh menyebutkan golongan Lafzhiyah lalu dia membid’ahkan mereka.
“Masail Abu Dawud” (1745), (1752)
Abu Dawud berkata: Ahmad bin Ibrahim menceritakan kepada kami bahwa Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata kepadanya: Golongan Lafzhiyah hanya berputar-putar pada ucapan Jahm; mereka mengklaim bahwa Jibril ‘alaihissalam hanya datang dengan sesuatu yang diciptakan [kepada makhluk], maksudnya: [Jibril] makhluk datang dengannya kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Abu Dawud berkata: Ahmad bin Ibrahim menceritakan kepada kami, dia berkata: Saya bertanya kepada Ahmad bin Hanbal, saya berkata: Orang-orang yang mengatakan: Sesungguhnya ucapan kami terhadap Al-Qur’an adalah makhluk. Beliau berkata: Ini lebih buruk dari ucapan Jahmiyah. Siapa yang mengklaim ini, maka dia telah mengklaim bahwa Jibril ‘alaihissalam datang dengan sesuatu yang diciptakan dan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara dengan sesuatu yang diciptakan.
“Masail Abu Dawud” (1753-1754)
Ibnu Hani’ berkata: Beliau ditanya tentang orang yang mengatakan: ucapan saya terhadap Al-Qur’an adalah makhluk, bolehkah shalat di belakangnya? Beliau berkata: Jangan shalat di belakangnya, jangan duduk bersamanya, jangan bicara dengannya, dan jangan menjawab salamnya.
Dan saya mendengar beliau mengatakan: Jahmiyah adalah kaum yang buruk.
Dan saya mendengar Abu Abdillah mengatakan: Siapa yang mengklaim bahwa ucapan saya terhadap Al-Qur’an adalah makhluk, maka dia adalah Jahmiyah.
“Masail Ibnu Hani'” (1851-1853)
Dan saya bertanya kepadanya tentang orang yang mengatakan: ucapan saya terhadap Al-Qur’an adalah makhluk?
Beliau berkata: Ini adalah ucapan Jahm. Siapa di antara mereka yang suka berdebat, maka jangan duduk bersamanya dan jangan bicara dengannya. Dan Jahmiyah adalah kafir.
“Masail Ibnu Hani'” (1864)
Harb bin Isma’il berkata: Saya mendengar Ishaq bin Ibrahim ditanya tentang seorang laki-laki yang berkata: Al-Qur’an bukan makhluk, tetapi bacaan saya terhadapnya adalah makhluk; karena saya menirunya, dan ucapan kami adalah makhluk.
Ishaq berkata: Ini adalah bid’ah, dan dia tidak dibiarkan dengan pendapat ini sampai dia kembali dan meninggalkan ucapannya ini.
“Masail Harb” 423
Abdullah bin Ahmad berkata: Saya bertanya kepada ayah saya rahimahullah, apa pendapat Anda tentang seorang laki-laki yang mengatakan: Tilawah adalah makhluk, dan ucapan kami terhadap Al-Qur’an adalah makhluk, dan Al-Qur’an adalah Kalam Allah Azza wa Jalla dan bukan makhluk? Dan apa pendapat Anda tentang menjauhinya? Dan apakah dia disebut sebagai pelaku bid’ah? Beliau berkata: Orang ini harus dijauhi dan dia adalah ucapan pelaku bid’ah, dan ini adalah ucapan Jahmiyah. Al-Qur’an bukan makhluk. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca Dialah yang menurunkan kepadamu Al-Kitab (Ali Imran: 7). Maka Al-Qur’an bukan makhluk.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/163-164 (178)
Abdullah berkata: Saya bertanya kepada ayah saya rahimahullah: Sesungguhnya ada kaum yang mengatakan: ucapan kami terhadap Al-Qur’an adalah makhluk.
Beliau berkata: Mereka adalah Jahmiyah dan mereka lebih buruk dari orang yang berdiam diri. Ini adalah ucapan Jahm. Dan beliau memandang masalah ini sangat besar, dan berkata: Ini adalah ucapan Jahm.
Dan Abdullah berkata: Saya bertanya kepadanya tentang orang yang mengatakan: ucapan saya terhadap Al-Qur’an adalah makhluk. Beliau berkata: Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Dan jika seorang di antara orang-orang musyrik meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia sampai dia mendengar firman Allah (At-Taubah: 6). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sampai aku menyampaikan kalam Tuhanku.” Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya shalat ini tidak layak di dalamnya sesuatu dari ucapan manusia.”
Dan dia berkata: Saya mendengar ayah saya rahimahullah mengatakan: Siapa yang mengatakan: ucapan saya terhadap Al-Qur’an adalah makhluk, maka dia adalah Jahmiyah.
Dan dia berkata: Saya mendengar ayah saya rahimahullah ditanya tentang golongan Lafzhiyah, lalu beliau berkata: Mereka adalah Jahmiyah dan itu adalah ucapan Jahm. Kemudian beliau berkata: Jangan duduk bersama mereka.
Dan dia berkata: Saya mendengar ayah saya rahimahullah mengatakan: Setiap orang yang mengarahkan maksudnya kepada Al-Qur’an dengan ucapan atau selain itu, dengan maksud: makhluk, maka dia adalah Jahmiyah.
Dan dia berkata: Ayah saya ditanya dan saya mendengar tentang golongan Lafzhiyah dan Waqifah. Beliau berkata: Siapa di antara mereka yang bodoh, maka hendaklah dia bertanya dan belajar.
Dan dia berkata: Ayah saya rahimahullah ditanya dan saya mendengar tentang Lafzhiyah dan Waqifah. Beliau berkata: Siapa di antara mereka yang pandai berbicara, maka dia adalah Jahmiyah. Dan beliau berkata suatu kali: Mereka lebih buruk dari Jahmiyah. Dan beliau berkata lain kali: Mereka adalah Jahmiyah.
Dan dia berkata: Saya mendengar ayah saya mengatakan: Siapa yang mengatakan: ucapan saya terhadap Al-Qur’an adalah makhluk, ini adalah ucapan yang buruk dan jelek, dan ini adalah ucapan Jahmiyah. Saya berkata kepadanya: Sesungguhnya Al-Karabisi mengatakan ini. Beliau berkata: Dia berbohong – semoga Allah membuka aibnya – orang keji itu. Dan beliau berkata: Orang ini telah menggantikan Bisyr Al-Marisi.
Dan ayah saya rahimahullah tidak suka berbicara tentang lafazh dengan sesuatu atau mengatakan: makhluk atau bukan makhluk.
Dan dia berkata: Saya bertanya kepadanya tentang Al-Karabisi Husain, apakah Anda pernah melihatnya mencari hadits?
Beliau berkata: Saya tidak mengenalnya dan tidak melihatnya mencari hadits.
Saya berkata: Saya melihatnya di sisi Asy-Syafi’i di Baghdad. Beliau berkata: Saya tidak melihatnya dan tidak mengenalnya. Lalu saya berkata: Sesungguhnya dia mengklaim bahwa dia selalu bersama Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’d. Beliau berkata: Saya tidak melihatnya di sisi Ya’qub bin Ibrahim atau selainnya dan saya tidak mengenalnya.
“As-Sunnah” karya Abdullah 1/164-166 (180-187)
Abu Bakar Al-Khallal berkata: Abu Yahya Zakariya bin Yahya An-Naqid memberitahu saya, dia berkata: Abu Thalib menceritakan kepada kami, dia berkata: Saya berkata kepada Abu Abdillah: Dikirim surat kepada saya dari Tharsus bahwa Asy-Syarrak mengklaim bahwa Al-Qur’an adalah Kalam Allah, tetapi jika kamu membacanya maka tilawahmu adalah makhluk. Beliau berkata: Semoga Allah melaknatnya! Ini adalah ucapan Jahm dengan tepat.
Saya berkata: Seorang laki-laki berkata: Al-Qur’an adalah Kalam Allah dan bukan makhluk, tetapi ucapan saya dengannya adalah makhluk.
Beliau berkata: Siapa yang mengatakan ini, maka dia telah datang dengan seluruh perkara. Sesungguhnya itu adalah Kalam Allah dalam kondisi apapun. Hujjahnya adalah hadits Abu Bakar: Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi (Ar-Rum: 1-2).
Lalu dikatakan kepadanya: Apakah ini yang datang dari temanmu? Maka dia berkata: Tidak, demi Allah, tetapi itu adalah Kalam Allah. Ini dan selainnya hanyalah Kalam Allah.
Saya berkata: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menjadikan gelap dan terang, kemudian orang-orang kafir menyekutukan Tuhan mereka (Al-An’am: 1). Apakah yang baru saja saya baca ini adalah Kalam Allah? Beliau berkata: Ya, demi Allah, itu adalah Kalam Allah. Dan siapa yang mengatakan: ucapan saya terhadap Al-Qur’an adalah makhluk, maka dia telah datang dengan seluruh perkara. Apa yang tersisa jika dia mengatakan: ucapan saya?! Jika dia tidak kembali, maka jauhi dia dan jangan bicara dengannya. Ini seperti apa yang dikatakan Asy-Syarrak, semoga Allah menghinakannya!
Beliau berkata: Apakah kamu tahu siapa pamannya?
Saya berkata: Tidak. Beliau berkata: Abdak Ash-Shufi. Dia adalah ahli perdebatan dan pemilik pendapat yang buruk. Setiap orang yang ahli perdebatan tidak akan mengarah kepada kebaikan. Dan beliau memandang itu sangat besar dan membaca istirja’.
Dan beliau berkata: Kemana orang-orang sampai? Kemudian beliau berkata kepada saya setelah itu: Sesungguhnya fulan, sampai kepada saya tentangnya bahwa dia mengatakan: Sesungguhnya Ibnu Nuh berkata: Kertas dan tinta dan kitab adalah makhluk. Dan Abu Abdillah mendengarkan, lalu tidak mengingkari. Kamu berbohong, saya tidak mendengar […]
Saya berkata: Wahai Abu Abdillah, sesungguhnya saya berargumen kepada mereka dengan Al-Qur’an dan hadits, dan saya ingin memaparkannya kepadamu: Allah Azza wa Jalla berfirman: Dan jika seorang di antara orang-orang musyrik meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia sampai dia mendengar firman Allah (At-Taubah: 6).
Bukankah dari Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam (mereka) mendengar Kalam Allah?
Dan Allah Azza wa Jalla berfirman: Apabila kamu membaca Al-Qur’an, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk (An-Nahl: 98).
Dan Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Mereka mendengar firman Allah, kemudian mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, padahal mereka mengetahui (Al-Baqarah: 75). Dan Dia berfirman: Dan apabila kamu membaca Al-Qur’an (Al-Isra’: 45).
Dan Dia berfirman: Dan bacalah apa yang diwahyukan kepadamu dari Kitab Tuhanmu. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya, dan kamu tidak akan menemukan tempat berlindung selain Dia (Al-Kahfi: 27). Dan Dia berfirman: Dan hendaklah aku membaca Al-Qur’an (An-Naml: 92).
Dan Dia berfirman: Dan apabila kamu membaca Al-Qur’an, Kami jadikan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat suatu dinding yang tertutup (Al-Isra’: 45).
Dan Dia berfirman: Maka bacalah apa yang mudah dari Al-Qur’an (Al-Muzzammil: 20). Dalam kondisi apapun itu adalah Qur’an. Dan Dia berfirman dalam hadits Jabir: “Sesungguhnya Quraisy menghalangiku untuk menyampaikan kalam Tuhanku.”
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Mu’awiyah bin Al-Hakam: “Sesungguhnya shalat ini tidak layak di dalamnya sesuatu dari ucapan anak Adam kecuali Al-Qur’an.” Maka Al-Qur’an adalah selain ucapan.
Dan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata: Tidak, tetapi itu adalah Kalam Allah dan firman-Nya.
Abu Abdillah berkata: Betapa baiknya argumentasimu! Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sesuatu yang diciptakan, dan Nabi ‘alaihissalam datang kepada manusia dengan sesuatu yang diciptakan?!
Saya berkata: Saya sedih harus mengatakan: Ini adalah ucapan Jahm – dan dalam kondisi apapun itu adalah Kalam Allah Azza wa Jalla. Beliau berkata: Ya.
Kemudian saya datang kepadanya setelah itu, lalu beliau berkata: Saya telah menemukan di dalamnya selain satu ayat: Dan Al-Qur’an yang Kami pisah-pisahkan agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian (Al-Isra’: 106).
Dan dalam Surah Al-Jumu’ah: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya (Al-Jumu’ah: 2).
Al-Khallal berkata: Dan Muhammad bin Ali memberitahu saya, dia berkata: Ya’qub bin Bukhtan menceritakan kepada kami, dia berkata: Saya menyebutkan kepada Abu Abdillah perkara Asy-Syarrak dan apa yang datang tentangnya dari Tharsus. Beliau berkata: Waspadalah terhadapnya dan jangan duduk bersamanya. Dan dijauhi orang yang membela dan duduk bersamanya jika dia sudah diberi tahu tentang perkaranya, kecuali jika dia adalah orang yang bodoh.
Dia berkata: Dan Abu Bakar Al-Marwazi memberitahu kami, dia berkata: Saya berkata kepada Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal: Datang kepada kami surat Ibnu Habban An-Najjar dari Tharsus, dan di dalamnya ucapan Asy-Syarrak dan apa yang mereka saksikan terhadapnya.
Maka Abu Abdullah berkata: Harus diwaspadai darinya dan dia pernah berkata: Ucapanku terhadap Alquran adalah makhluk.
Dia berkata: Abu Bakar al-Marwazi memberitahukan kepada kami, dia berkata: Aku berkata kepada Abu Abdullah: Sesungguhnya aku berkata kepada Abu Tsaur: dan aku bertanya kepadanya tentang Syirrak, dia berkata: Ini adalah bid’ah. Maka dia marah dengan sangat keras, dan berkata: Begitukah dia ingin mengatakan: bid’ah! Ini adalah perkataan Jahm yang sebenarnya.
Aku berkata: Sungguh telah datang kepadaku surat dari Tharsus yang mereka sebutkan di dalamnya tentang urusan Syirrak dan apa yang (terjadi) darinya. Dia berkata: Harus diwaspadai darinya.
Aku berkata: Seorang lelaki dari pengikut Syirrak yang membela dirinya memberitahuku bahwa seseorang berbicara di Tharsus yang dikatakan kepadanya: Abu Hanifah dengan perkataan ini -yaitu: ucapanku terhadap Alquran adalah makhluk- kemudian datang setelah perkataan ini seorang pemuda lalu berbicara dengan perkataan ini, dan mereka melihatnya melekat pada Syirrak, maka mereka berkata kepadanya: Dari siapa kamu mengambil ini? Dia berkata: Antara aku dan kalian adalah Ahmad Syirrak. Maka mereka datang kepadanya, lalu dia berkata: Ini boleh dalam bahasa Arab, dan dia membenarkan perkataan pemuda itu. Dan aku berkata: Dan dia bersumpah bahwa aku tidak berkata demikian. Maka apa yang engkau katakan? Dia berkata: Dia harus dijauhi.
Aku berkata: Dan siapa yang membela dirinya? Dia berkata: Dia harus dijauhi.
Dan Abu Abdullah memerintahkan aku untuk memperingatkan darinya, dan menjauhkan orang yang duduk bersamanya, maka aku memberitahu Abu Abdullah tentang kedatangannya ke Baghdad; maka dia memerintahkan aku untuk memperingatkan darinya, dan dari setiap orang yang duduk bersamanya hingga dia menampakkan taubat yang benar.
Aku berkata: Maka sesungguhnya Syirrak berkata: Aku tidak berkata demikian, maka bagaimana aku bertaubat? Maka Abu Abdullah berkata: Dia dusta, ini orang-orang yang menceritakan darinya dan mereka bersaksi -yaitu: orang-orang yang bersaksi atasnya di Tharsus.
Aku berkata: Maka apakah dijauhi orang yang duduk bersamanya dan membela dirinya? Dia berkata: Ya, kecuali orang yang bodoh yang tidak tahu maka dia diingatkan darinya. Aku berkata kepada Abu Abdullah: Sesungguhnya seorang lelaki dari pengikut Syirrak berkata: Kemusyrikan di antara kalian lebih tersembunyi dari langkah semut.
Maka Abu Abdullah berkata: Semoga Allah menghinakannya -atau membunuhnya- mereka menolak kecuali untuk menampakkan kekufuran.
Abu Bakar al-Marwazi berkata: Dan Ishaq bin Hanbal paman Abu Abdullah berkata kepadaku: Ketika Syirrak datang dari Tharsus dia datang kepadaku lalu membungkuk di atas kepalaku lalu menciumnya, dan berkata: Sesungguhnya Abu Abdullah keras kepadaku.
Maka aku berkata: Sungguh dia telah memperingatkan darimu. Dia berkata: Maka tulislah secarik kertas dan tunjukkan kepada Abu Abdullah.
Dia berkata: Maka dia menulis secarik kertas dengan tulisan tangannya lalu aku mengambilnya, maka betapa kerasnya yang aku terima dari Abu Abdullah! Dan aku tunjukkan kepada Abu Abdullah sebuah surat yang datang kepadaku dari Tharsus tentang Syirrak bahwa mereka berargumen kepadanya dengan firman Allah: “Bahkan dia (Alquran) adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu” (Surah al-Ankabut: 49) dan dalam hadits Abu Umamah: “Dia (Alquran) lebih sulit lepas dari dada laki-laki daripada unta dari ikatannya” dan hadits Ibnu Asy’ats al-Bahili: Alquran -dan di dalamnya yang ada di dalam dada kami- bukan makhluk.
Maka Abu Abdullah berkata: Betapa baiknya argumentasi mereka kepadanya!
Al-Khallal berkata: Al-Hasan bin Abdul Wahhab memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu Bakar -yaitu: Ibnu Hammad- menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Harun al-Hammal berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal tentang Ahmad Syirrak? Maka dia berkata: Jangan diajak bicara, dan jangan diduduki, dan dijauhi, dan diperingatkan darinya.
Al-Khallal berkata: Muhammad bin Abi Harun dan Muhammad bin Ja’far memberitahuku bahwa Abu al-Harits menceritakan kepada mereka bahwa dia bertanya kepada Abu Abdullah tentang Ahmad Syirrak, maka dia berkata: Urusannya telah jelas dan harus diperingatkan darinya, dan tidak diduduki dan tidak diajak bicara.
Dan aku mendengar Abu Abdullah berkata kepada Abu Yusuf pamannya: Mengapa kamu ingin duduk bersama mereka atau berbicara dengan mereka? Jangan sampai seorang pun dari mereka mendekatimu -yaitu: Syirrak dan orang yang bersamanya.
Aku berkata kepadanya: Wahai Abu Abdullah! Sesungguhnya dia menolak dari dirinya perkataan ini, maka dia berkata: Sungguh aku telah membaca surat yang datang kepadaku tentang urusannya di dalamnya ada perkataan yang buruk, aku tidak memberitahumu aku tidak tahu apa itu, aku tidak memberitahumu aku tidak tahu apa itu, dan aku mengingatkannya tentang urusan seorang lelaki? Maka dia berkata: Jahmiiyah yang jelas, yaitu: ucapanku terhadap Alquran adalah makhluk.
“as-Sunnah” karya al-Khallal 2/318-322 (2097-2102)
Al-Khallal berkata: Dan Muhammad bin Yahya al-Kahhal memberitahuku; dia berkata: Syirrak melewati kami lalu memberi salam kepadaku dan menceritakan kepadaku bagaimana dia berbuat, dan aku berkata: Abu Abdullah melarang kami dari engkau dan memerintahkan untuk menjauhimu -atau sebagaimana dikatakan Muhammad bin Yahya- dia berkata: Maka dia berkata: Antara kami dan kalian adalah hari Kiamat.
Al-Khallal berkata: Ahmad bin Muhammad bin Mathar memberitahuku, dia berkata: Abu Thalib menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku berkata kepada Abu Abdullah: Ahmad bin Ibrahim bin ad-Dauraqi berkata: Sesungguhnya al-Karabisi ada di sampingnya lalu mendengarnya berkata: Keluarkan Ahmad yang celaka -yaitu: Syirrak- dari Abadan. Dan mereka meminta bantuan penguasa atasnya hingga mereka mengeluarkannya, ini orang-orang kafir kepada Allah, mereka lebih besar dari orang Yahudi dan Nasrani, maka Abu Abdullah berkata: Urusannya kembali kepada asal Jahmiyah ketika dia kafir dan menampakkan Jahmiyah.
Aku berkata: Apakah ini akidahnya lalu dia menampakkannya? Dia berkata: Ya.
Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ja’far dan Muhammad bin Musa memberitahuku bahwa Abu al-Harits menceritakan kepada mereka bahwa dia berkata kepada Abu Abdullah: Jika dia berkata: Ucapanku terhadap Alquran adalah makhluk. Maka apakah dia Jahmi? Dia berkata: Maka apa yang tersisa jika dia berkata: Ucapanku terhadap Alquran adalah makhluk?!
Al-Khallal berkata: Abdullah bin Ahmad bin Hanbal memberitahukan kepada kami, dia berkata: Aku bertanya kepada ayahku tentang orang yang berkata: Ucapanku terhadap Alquran adalah makhluk? Dia berkata: Dikatakan kepada orang yang berkata dengan perkataan ini: Laa ilaha illallah apakah dia makhluk? Ini diwajibkan baginya dalam perkataannya ini, dan dikatakan kepadanya: Ucapan Jibril dengannya apakah makhluk? Dan ucapan Muhammad dengannya apakah makhluk? Dia berkata: Ini adalah perkataan yang buruk jelek dan ini adalah perkataan Jahmiyah, dia berkata: Dan sampai kepadaku bahwa mereka menyandarkannya kepada Nu’aim dan mereka berdusta atasnya dan kami tidak mengetahui kitab yang dia bacakan kepada manusia, kitab-kitab ini adalah bid’ah yang mereka letakkan.
Al-Khallal berkata: Aku mendengar Abu Bakar al-Marwazi berkata: Aku mendatangi Abu Abdullah pada suatu malam di tengah malam lalu dia berkata kepadaku: Wahai Abu Bakar, sampai kepadaku bahwa Nu’aim berkata: Ucapanku terhadap Alquran adalah makhluk. Maka jika dia mengatakannya maka semoga Allah tidak mengampuninya di kuburnya.
“as-Sunnah” karya al-Khallal 2/322-323 (2105-2109)
Al-Khallal berkata: Dan Muhammad bin al-Hasan bin Harun memberitahuku, dia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah lalu aku berkata: Wahai Abu Abdullah, aku adalah lelaki dari penduduk Maushil, dan aku telah mendengar di antara mereka masalah al-Karabisi maka aku memberi fatwa kepada mereka perkataan al-Karabisi: Ucapanku terhadap Alquran adalah makhluk.
Maka dia berkata kepadaku: Jaga dirimu jaga dirimu empat atau lima kali; jangan berbicara dengan al-Karabisi, dan jangan berbicara dengan orang yang berbicara dengannya.
Maka aku berkata: Wahai Abu Abdullah, perkataan ini menurutmu, dan apa yang bercabang darinya kembali kepada perkataan Jahm? Dia berkata: Ini semua dari perkataan Jahm.
“as-Sunnah” karya al-Khallal 2/324 (2115)
Al-Khallal berkata: Ahmad bin Muhammad bin Mathar memberitahuku, dia berkata: Abu Thalib menceritakan kepada kami bahwa dia mendengar Abu Abdullah ditanya oleh Ya’qub ad-Dauraqi. Dan Muhammad bin Ali memberitahukan kepada kami, dia berkata: Shalih menceritakan kepada kami; dia berkata: Aku mendengar ayahku ditanya oleh Ya’qub ad-Dauraqi. Dan Muhammad bin Ali memberitahukan, dia berkata: Muhammad bin Ishaq menceritakan kepada kami, dia berkata: Ya’qub ad-Dauraqi menceritakan kepada kami.
Dan Utsman bin Shalih al-Anthaki memberitahukan kepada kami, dia berkata: Ad-Dauraqi menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku berkata kepada Ahmad bin Hanbal -maknanya berdekatan- apa yang engkau katakan tentang orang yang mengira bahwa ucapannya terhadap Alquran adalah makhluk? Dia berkata: Maka Ahmad duduk tegak untukku kemudian berkata: Wahai Abu Abdullah, ini orang-orang menurutku lebih jahat dari Jahmiyah, siapa yang mengira ini maka sungguh dia mengira bahwa Jibril adalah yang makhluk, dan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam berbicara dengan makhluk dan bahwa Jibril datang kepada Nabi kita dengan makhluk, ini orang-orang menurutku lebih jahat dari Jahmiyah, jangan berbicara dengan orang-orang ini dan jangan berbicara tentang sesuatu dari ini, Alquran adalah kalam Allah bukan makhluk dalam semua sisi dan dalam semua cara berubah dan dalam keadaan apa pun, tidak akan pernah menjadi makhluk selamanya, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Dan jika salah seorang dari orang-orang musyrik meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia sampai dia mendengar kalam Allah” (Surah at-Taubah: 6) dan tidak berfirman: sampai dia mendengar kalam-mu wahai Muhammad, dan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Tidak layak di dalamnya sesuatu dari perkataan manusia”, dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sampai aku menyampaikan kalam Tuhanku”, ini adalah perkataan Jahm, atas siapa yang datang dengan ini murka Allah.
Aku berkata kepadanya: Sesungguhnya mereka ini berputar-putar untuk membatalkan? Dia berkata: Ya, atas mereka laknat Allah.
“as-Sunnah” karya al-Khallal 2/324-325 (2116)
Al-Khallal berkata: Hanbal bin Ishaq bin Hanbal memberitahuku; bahwa dia mendengar Abu Abdullah ditanya: Maka tentang orang yang berkata: Ucapanku terhadap Alquran adalah makhluk, apakah diajak bicara?
Dia berkata: Dan apa yang tersisa?! Ini tidak diajak bicara, dan tidak shalat di belakang orang yang berkata: Alquran adalah makhluk, dan tidak di belakang orang yang berhenti, dan tidak di belakang orang yang berkata: Ucapanku terhadap Alquran adalah makhluk, dan jika dia shalat di belakang seorang lelaki dari mereka dan dia tidak tahu kemudian dia tahu maka dia mengulangi shalat.
Kemudian Abu Abdullah berkata: Dan apa yang tersisa jika dia berhenti dan ragu bahwa kalam Allah bukan makhluk?! Atau berkata: Ucapannya terhadap Alquran adalah makhluk maka bagaimana shalat menjadi sah dengannya? Tidak sah shalat dengan makhluk, dan kaum itu telah (terjebak) atau mereka tidak tahu.
“as-Sunnah” karya al-Khallal 2/326 (2121)
Al-Khallal berkata: Dan Hanbal bin Ishaq memberitahuku, dia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah dan dia menyebutkan hadits ini -yaitu: hadits Mu’awiyah bin al-Hakam as-Sulami- maka dia berkata: Di dalamnya ada hujjah bahwa kalam Allah bukan makhluk, dan bahwa shalat sah dengannya, dan perkataan manusia tidak layak dalam shalat, maka Rasulullah memisahkan antara perkataan dengan Alquran dan perkataan dengan selainnya dalam shalat ketika beliau bersabda: “Tidak layak di dalamnya sesuatu dari perkataan manusia” maka seandainya demikian tidak akan sah shalat dengannya sebagaimana tidak sah dengan selainnya dari perkataan manusia. Maka ada perbedaan antara bacaan Alquran dan perkataan manusia, dan tidak sah shalat kecuali dengan bacaan Alquran, dan bacaan manusia dalam shalat tidak seperti perkataan mereka dengan selainnya, dan dia menjadikan perkataan mereka dengan Alquran menjadi sah, dan perkataan mereka dengan selain Alquran tidak sah, dan berkata: “Sesungguhnya itu adalah tasbih, dan takbir, dan bacaan Alquran” maka Nabi shallallahu alaihi wasallam menjelaskan dalam ini bahwa shalat dengan bacaan Alquran menjadi sah, dan dengan selain Alquran tidak sah, dan tahlil dan tasbih termasuk dari Alquran dan dengannya shalat menjadi sah.
Kemudian Abu Abdullah berkata: Aku tidak suka berbicara panjang lebar tentang ini dan tidak berbicara di dalamnya.
Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ahmad bin Jami’ ar-Razi memberitahuku, dia berkata: Aku mendengar Muhammad bin Muslim berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal, aku berkata kepadanya: Aku ingin engkau menanggung untukku pertanyaan tentang apa yang aku inginkan tentang Lafzhiyah.
Dia berkata: Mereka lebih jahat dari orang-orang ini dari Waqifah, mereka menipu manusia, dan Allah Azza wa Jalla berfirman: “Sampai dia mendengar kalam Allah” (Surah at-Taubah: 6)
Dan berfirman: “Mereka mendengar kalam Allah kemudian mereka mengubahnya” (Surah al-Baqarah: 75) dari siapa mereka mendengar.
Ahmad berkata: Alquran bagaimana pun berubah adalah kalam Allah, dan Lafzhiyah adalah Jahmiyah.
Kami berkata: Apakah engkau mengetahui bahwa salah seorang dari Jahmiyah mengatakannya?
Dia berkata: Sampai kepadaku bahwa al-Marisi mengatakannya.
Al-Khallal berkata: Mu’adz bin al-Mutsanna al-Anbari memberitahuku bahwa Harun bin Abdullah al-Bazzar menceritakan kepada mereka, dia berkata: Aku berkata kepada Abu Abdullah: Sesungguhnya telah muncul suatu kaum yang berbicara dengan perkataan yang membuat hati bergidik, dan bahwa suatu kaum bertanya kepada kami maka kami memberitahu mereka, dan aku ingin bertambah dengan pendapatmu sebagai pengetahuan, suatu kaum yang berkata: Ucapan kami terhadap Alquran adalah makhluk.
Maka dia berkata dengan marah: Ini adalah perkataan yang buruk jelek.
Maka aku berkata: Bukankah kita berkata: Alquran adalah kalam Allah bukan makhluk dalam setiap keadaan dan dalam setiap sisi? Dia berkata: Ya.
Al-Khallal berkata: Al-Husain bin Ishaq at-Tustari memberitahuku; bahwa Abu Abdullah ditanya tentang Lafzhiyah ini; maka dia berkata: Mereka adalah Jahmiyah.
“as-Sunnah” karya al-Khallal 2/327-328 (2123-2126)
Al-Khallal berkata: Ismail bin Ishaq ats-Tsaqafi dan Ahmad bin al-Husain memberitahukan kepada kami, Ismail berkata: Aku bertanya kepada Ahmad, aku berkata: Siapa yang berkata: Ucapanku terhadap Alquran adalah makhluk?
Dia berkata: Dia adalah Jahmi, Ahmad bin al-Husain menambahkan: Tidak diragukan tentangnya.
Al-Khallal berkata: (Ahmad Abu Bakar Muhammad bin Ali) memberitahuku bahwa Ya’qub bin Bukhtan menceritakan kepada mereka. Dan Ali bin Isa memberitahuku bahwa Hanbal menceritakan kepada mereka, dia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah berkata: Orang-orang yang berkata: Ucapan kami terhadap Alquran adalah makhluk, ini adalah perkataan Jahmiyah.
Dia berkata: Muhammad bin Sulaiman al-Jauhari memberitahuku, dia berkata: Abu Abdullah berkata kepadaku: Dan jaga dirimu dari orang yang mengadakan perkara ketiga, maka dia berkata tentang lafazh, berbicara tentangnya tidak halal; Alquran adalah kalam Allah bukan makhluk dari semua sisi.
Dia berkata: Ahmad bin al-Husain memberitahuku; bahwa Abu Abdullah berkata kepadanya ath-Thalqani: Abu Abdullah, Lafzhiyah apa yang engkau katakan tentang mereka? Dia berkata: Allah Yang diminta pertolongan, kami mencari keselamatan dan bukan kemusyrikan, Jahmiyah tidak diragukan tentang mereka.
Dia berkata kepadanya: Bagaimana engkau berkata wahai Abu Abdullah tentang Lafzhiyah? Dia berkata: Jahmiyah tidak diragukan tentang mereka.
Dia berkata: Abu Bakar Muhammad bin Ali memberitahuku; bahwa Ya’qub bin Bukhtan menceritakan kepada mereka; bahwa dia bertanya kepada Abu Abdullah tentang orang yang berkata: Aku berkata perkataanku dan ucapanku, dan kalam Allah bukan makhluk?
Maka dia berkata: Ini adalah perkataan yang buruk, ini orang-orang lebih jahat dari Jahmiyah.
Dia berkata: Manshur bin al-Walid memberitahuku; bahwa Ja’far bin Muhammad menceritakan kepada mereka, dia berkata: Aku berkata kepada Abu Abdullah: Apa yang engkau lihat, aku berkata: Siapa yang berkata: Ucapannya terhadap Alquran adalah makhluk, apakah dia kafir?
Dia berkata: Ini adalah perkataan Jahm, ini adalah perkataan Jahm, ini adalah perkataan Jahm, dan Jahmiyah adalah kafir.
Dia berkata: Dan Muhammad bin Abi Harun memberitahuku; bahwa Ishaq menceritakan kepada mereka, dia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah berkata: Siapa yang mengira bahwa ucapanku terhadap Alquran adalah makhluk maka dia adalah Jahmi.
Dia berkata: Bagaimana pendapatmu ketika Jibril datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu membacakan kepadanya Alquran, maka bacaan Jibril kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan Alquran apakah makhluk?!
Dia berkata: Ja’far bin Muhammad al-Aththar memberitahuku, dia berkata: Khaththab bin Bisyr menceritakan kepada kami, dia berkata: Kami mendatangi Ahmad bin Hanbal pada pertengahan bulan Rajab tahun dua ratus tiga puluh delapan, aku dan Abu Utsman asy-Syafi’i, maka ditanya tentang orang-orang ini yang berkata: Ucapan kami terhadap Alquran adalah makhluk. Maka dia tidak suka pertanyaan itu dan berpaling darinya, kemudian berkata: Ini orang-orang Jahmiyah, ini orang-orang Jahmiyah.
Al-Khallal berkata: Aku mendengar Abdullah bin Ahmad berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Dan ditanya kepadanya: Sesungguhnya Luwain, dan Abdul Karim bin al-Haitsam memberitahuku bahwa al-Hasan bin al-Bazzar menceritakan kepada mereka bahwa Abu Abdullah ditanya: Sesungguhnya Luwain berargumen atas Lafzhiyah “Dan jika salah seorang dari orang-orang musyrik meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia sampai dia mendengar kalam Allah” (Surah at-Taubah: 6), Abu Abdullah berkata: Dan apakah ini kecuali di dunia dari orang yang mendengar kalam-Nya?!
Dan berkata: Sungguh dia telah menyampaikan dari mereka dengan apa yang terjadi. Dan ini dengan lafazh Ibnu al-Bazzar.
Dia berkata: Abu Bakar Muhammad bin Ali memberitahuku bahwa Ya’qub bin Bukhtan menceritakan kepada mereka bahwa dia mendengar Abu Abdullah berkata: Mereka menjadi tingkatan-tingkatan Lafzhiyah, kemudian berkata: Allah berfirman: “Maka sesungguhnya Kami memudahkannya dengan lisanmu agar kamu memberi kabar gembira dengannya kepada orang-orang yang bertakwa” (Surah Maryam: 97).
Maka aku berkata: Allah berfirman: “Dan jika salah seorang dari orang-orang musyrik meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia sampai dia mendengar kalam Allah” (Surah at-Taubah: 6) Sesungguhnya mereka hanya mendengar kalam Allah Azza wa Jalla dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dia berkata: Ya.
Dan ditanya tentang orang yang berkata: Ucapanku terhadap Alquran adalah makhluk, dia adalah Jahmi, mereka menurutku bukan muslim, dan Jahmiyah adalah kafir.
Dia berkata: Dan Abu Bakar Muhammad bin Ali memberitahuku bahwa Ya’qub bin Bukhtan menceritakan kepada mereka, bahwa dia berkata kepada Abu Abdillah: Abdus Ar-Razi berkata: Jika engkau membaca Al-Qur’an dan dengan itu engkau menginginkan shalat, pahala, dan ganjaran, maka itu makhluk. Dan jika engkau membaca Al-Qur’an dengan menginginkan Allah, maka itu bukan makhluk.
Maka dia (Abu Abdillah/Imam Ahmad) berkata: Semoga Allah tidak melapangkan kesulitan orang ini. Ini adalah perkataan yang buruk. Alangkah sedikitnya kesuksesan orang yang berbicara demikian.
Dia berkata: Muhammad bin Ubaid Ar-Rahabi menyebutkan, dia berkata: Aku mendengar Ali bin Al-Mishri berkata: Aku melihat Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam mimpi, dan di sebelah kanannya Abu Bakar dan di sebelah kirinya Umar radhiyallahu anhuma. Maka aku berkata: Wahai Rasulullah, ini orang-orang Lafzhiyyah (pengikut paham lafazh)?
Maka beliau bersabda: Mereka adalah Jahmiyyah (pengikut Jahm). Kemudian beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: Dan tidak ada shalat bagi mereka. Maka aku berkata: Wahai Rasulullah! Siapa yang akan menjelaskan hal itu kepadaku? Dan siapa yang akan menjadi saksi bagiku tentang hal itu? Beliau bersabda: Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. Dan beliau menunjuk dengan tangannya kepada seorang laki-laki yang kepalanya tertutup, duduk di suatu sudut. Maka aku datang dan menyingkap kain dari wajahnya, ternyata dia adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal rahimahullah, dan terlihat bekas pacar telah meresap di jenggotnya, dan tangannya di pipinya seperti orang yang sedih. Ketika pagi tiba, aku pergi kepadanya dan berkata: Ini orang-orang Lafzhiyyah? Maka dia berkata: Mereka adalah Jahmiyyah.
Dia berkata: Al-Husain bin Abdullah memberitahuku, dia berkata: Aku bertanya kepada Abu Bakar Al-Marrudzi tentang kisah Hisyam bin Ammar, apa yang diingkari oleh Abu Abdillah terhadapnya?
Maka dia berkata: Datang kepadaku surat dari Damaskus yang isinya: Tanyakan untuk kami kepada Abu Abdillah, karena sesungguhnya Hisyam bin Ammar berkata: Lafazh (ucapan) Jibril dan Muhammad alaihimas salam dengan Al-Qur’an adalah makhluk. Maka aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang apa yang mereka tulis, maka dia berkata: Semoga Allah membunuhnya (celaka). Al-Karabisi tidak berani memasukkan Jibril dan Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Ini sudah menjadi seperti Jahm. Semoga Allah membunuhnya (celaka).
As-Sunnah karya Al-Khallal 2/328-331 (2128-2140)
Al-Khallal berkata: Ahmad bin Al-Husain bin Hassan memberitahuku, dia mendengar Abu Abdillah berkata: Orang-orang Lafzhiyyah adalah Jahmiyyah. Jangan berbicara dengannya dan jangan duduk bersamanya.
Dia berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi memberitahuku bahwa Abu Abdillah ditanya tentang orang yang berkata: Lafazhku dengan Al-Qur’an adalah makhluk? Dia berkata: Jahmi.
Dia berkata: Al-Husain bin Muhammad memberitahuku bahwa dia berkata kepada Abu Abdillah: Apakah orang yang mengatakan perkataan ini harus diperingatkan darinya? Dia berkata: Sangat keras peringatannya.
Dia berkata: Hanbal bin Ishaq bin Hanbal memberitahuku, dia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah ditanya kepadanya: Orang yang berkata: Lafazhku dengan Al-Qur’an adalah makhluk, bolehkah diajak bicara? Maka dia berkata: Dan apa yang tersisa?! Orang ini tidak boleh diajak bicara.
Dia berkata: Dan Muhammad bin Ali memberitahuku bahwa Ya’qub bin Bukhtan menceritakan kepada mereka.
Dan Muhammad bin Ali memberitahu kami bahwa Shalih bin Ahmad menceritakan kepada mereka, dia berkata: Aku berkata kepada ayahku: Orang yang berkata: Lafazhku dengan Al-Qur’an adalah makhluk, bolehkah diajak bicara? Dia berkata: Dan apa yang tersisa?! Orang ini tidak boleh diajak bicara. Ya’qub dan Ishaq berkata: Dan jangan duduk bersamanya.
Dia berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi memberitahu kami, dia berkata: Abu Abdillah mengingkari terhadap orang yang menjawab dengan sesuatu dari jenis kalam ketika tidak ada imam yang didahulukan di dalamnya.
Dia berkata: Dan Abu Bakar Al-Marrudzi memberitahu kami, dia berkata: Dikatakan kepada Abu Abdillah: Sesungguhnya seorang laki-laki berbicara dengan suatu perkataan, lalu seorang dari Ahlus Sunnah menjawabnya setelah itu dengan perkataan yang baru (bid’ah). Maka Abu Abdillah marah dan mengingkari keduanya, dan berkata: Hendaklah orang yang menjawab dengan bid’ah itu memohon ampun kepada Tuhannya. Dan dia berkata: Setiap kali seseorang membuat bid’ah, mereka memperluas dalam menjawabnya.
Dia berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi memberitahu kami, dia berkata: Abu Abdillah Muhammad bin Al-Walid, teman Ghundar, menceritakan kepadaku, dia berkata: Abu Ya’qub Al-Bashri memberitahuku—dan dia termasuk orang Muslim yang terbaik rahimahullah—dia berkata: Mu’adz bin Mu’adz berbicara tentang sesuatu, lalu sampai kepada Yahya bin Sa’id Al-Qaththan, maka dia mengutus anaknya: Engkau telah menjumpai Ibnu Aun dan Yunus, apakah engkau mendengar salah satu dari mereka berbicara seperti ini?
Maka Mu’adz kembali dan berkata: Apa yang Yahya katakan sampai aku mengatakan demikian?!
Ibnu Al-Walid berkata: Maka mereka ini—maksudnya: Jahmiyyah Lafzhiyyah—yang berkata: Lafazh-lafazh kami dengan Al-Qur’an adalah makhluk, dan mereka mengklaim bahwa imam mereka adalah Ahmad bin Hanbal, dan mereka menampakkan perselisihan dengannya terhadap Jahm. Tidak ada yang berkata: Lafazhku dengan Al-Qur’an adalah makhluk kecuali Ahmad bin Hanbal, sampai tersebar ke berbagai negeri dan manusia menerima perkataannya. Adapun yang dijadikan Jahm dari yang berkata: Lafazhku dengan Al-Qur’an adalah makhluk, adalah bahwa dia mengingkari terhadap orang yang berkata: Lafazhku dengan Al-Qur’an bukan makhluk. Dan dia berkata: Aku tidak mendengar seorang alim pun yang mengatakan ini.
As-Sunnah karya Al-Khallal 2/331-333 (2142-2148)
Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi memberitahu kami, dia berkata: Sampai kepada Abu Abdillah tentang Abu Thalib bahwa dia menulis kepada penduduk Nushibin bahwa lafazhku dengan Al-Qur’an bukan makhluk. Abu Bakar berkata: Maka Shalih bin Ahmad datang kepada kami dan berkata: Berdirilah ke ayahku. Maka kami datang dan masuk kepada Abu Abdillah, ternyata dia sedang marah, sangat marah, kemarahan terlihat di wajahnya. Lalu dia berkata: Pergilah dan bawakan Abu Thalib kepadaku. Maka aku datang membawanya, lalu dia duduk di hadapan Abu Abdillah dan dia gemetar. Maka dia berkata: Apakah engkau menulis kepada penduduk Nushibin memberitahu mereka tentangku bahwa aku berkata: Lafazhku dengan Al-Qur’an bukan makhluk? Maka dia berkata: Sesungguhnya aku hanya menceritakan tentang diriku sendiri.
Dia berkata: Maka janganlah engkau ceritakan ini tentang dirimu dan tentang diriku. Aku tidak mendengar seorang alim pun mengatakan ini.
Abu Abdillah berkata: Al-Qur’an adalah kalam Allah yang tidak makhluk bagaimanapun ia dibaca. Maka dikatakan kepada Abu Thalib: Keluarlah dan beritahukan bahwa Abu Abdillah telah melarang untuk mengatakan: Lafazhku dengan Al-Qur’an bukan makhluk. Maka Abu Thalib keluar dan bertemu dengan sekelompok ahli hadits lalu memberitahu mereka bahwa Abu Abdillah melarang untuk mengatakan: Lafazhku dengan Al-Qur’an bukan makhluk.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi berkata: Dan Hamdan bin Ali Al-Warraq berkata: Abu Thalib mengadu kepadaku tentang apa yang menimpanya dari Abu Abdillah. Dia berkata: Dia menerkamku seperti singa. Dan Abu Ubaidah berkata: Abu Thalib datang kepadaku dan berkata kepadaku: Wahai Abu Ubaidah, kesalahan itu dari pihakku. Dan dia memberitahu tentang larangan Abu Abdillah dan apa yang menimpanya.
Dan Al-Fadhl bin Ziyad berkata: Aku dan Al-Busthi berada di sisi Abu Thalib. Dia berkata: Maka dia mengeluarkan kepada kami sebuah tulisan dan telah dicoret pada masalahnya, dan berkata: Kesalahan dari pihakku, dan aku memohon ampun kepada Allah. Sesungguhnya aku membaca kepada Abu Abdillah Al-Qur’an, maka dia berkata: Ini bukan makhluk. Dan kesalahan pemahaman dari pihakku, wahai Abul Abbas.
Dan Abu Bakar Al-Marrudzi berkata: Dan sekelompok dari penduduk Nushibin mengiriminya surat, kepada siapa Abu Thalib menulis tentang masalah itu, maka Abu Thalib memberitahu mereka tentang pengingkaran Abu Abdillah untuk mengatakan: Lafazhku dengan Al-Qur’an bukan makhluk.
Abu Bakar Al-Marrudzi berkata: Dan aku melihat surat Abu Thalib dengan tulisan tangannya kepada penduduk Nushibin setelah wafatnya Abu Abdillah, memberitahu mereka bahwa Abu Abdillah melarang untuk mengatakan: Lafazhku dengan Al-Qur’an bukan makhluk.
Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali Al-Warraq memberitahuku, dia berkata: Shalih menceritakan, dia berkata: Sampai kepada ayahku bahwa Abu Thalib menceritakan tentang ayahku bahwa dia berkata: Lafazhku dengan Al-Qur’an bukan makhluk. Maka aku memberitahu ayahku tentang itu. Maka dia berkata: Siapa yang memberitahumu? Aku berkata: Fulan.
Dia berkata: Kirimkan pesan kepada Abu Thalib. Maka aku mendatanginya, lalu dia datang dan Fauran datang. Maka ayahku berkata kepadanya: Apakah aku berkata kepadamu: Lafazhku dengan Al-Qur’an bukan makhluk?! Dan dia marah dan gemetar.
Maka dia berkata kepadanya: Aku membaca kepadamu: Katakanlah: Dia adalah Allah Yang Maha Esa (Surah Al-Ikhlas ayat 1), lalu engkau berkata kepadaku: Ini bukan makhluk.
Dia berkata kepadanya: Mengapa engkau ceritakan tentangku bahwa aku berkata kepadamu: Lafazhku dengan Al-Qur’an bukan makhluk? Dan sampai kepadaku bahwa engkau meletakkan itu dalam bukumu dan menulis dengannya kepada suatu kaum. Jika itu ada dalam bukumu maka hapuslah dengan sangat kuat, dan tulislah kepada kaum yang telah engkau kirimi surat bahwa aku tidak mengatakan ini kepadamu. Dan dia marah dan menghadapinya, lalu berkata: Apakah engkau ceritakan tentangku apa yang tidak aku katakan kepadamu?! Maka Fauran mulai minta maaf kepadanya, dan pulang dari sisinya dalam keadaan ketakutan. Lalu Abu Thalib kembali dan menyebutkan bahwa dia telah menghapus itu dari bukunya, dan bahwa dia telah menulis kepada kaum itu memberitahu mereka bahwa dia salah paham terhadap Abu Abdillah dalam penceritaan.
Al-Khallal berkata: Abu Yahya bin Zakariya bin Al-Faraj Al-Bazzar berkata: Abu Muhammad Fauran berkata kepadaku.
Dan Muhammad bin Ali Al-Warraq memberitahuku, dia berkata: Abu Muhammad Fauran menceritakan kepada kami, dia berkata: Shalih dan Abu Bakar Al-Marrudzi datang kepadaku sementara dia di sisiku, lalu dia memanggilku kepada Abu Abdillah, dan berkata: Sesungguhnya telah sampai kepadaku bahwa Abu Thalib telah menceritakan tentangku bahwa dia berkata: Lafazhku dengan Al-Qur’an bukan makhluk. Maka aku berdiri kepadanya dan Shalih mengikutiku dari pintunya, lalu kami masuk kepada Abu Abdillah, ternyata Abu Abdillah sedang marah, sangat marah, kemarahan terlihat di wajahnya. Maka dia berkata kepada Abu Bakar: Pergilah dan bawakan Abu Thalib kepadaku. Maka dia datang membawa Abu Thalib, lalu aku menenangkan Abu Abdillah sebelum kedatangan Abu Thalib, dan berkata: Dia punya kehormatan. Maka dia duduk di hadapannya dan warnanya berubah.
Maka Abu Abdillah berkata kepadanya: Apakah engkau ceritakan tentangku bahwa aku berkata: Lafazhku dengan Al-Qur’an bukan makhluk?
Maka dia berkata: Sesungguhnya aku hanya menceritakan tentang diriku sendiri. Maka dia berkata kepadanya: Maka janganlah engkau ceritakan ini tentang dirimu dan tentang diriku. Aku tidak mendengar seorang alim pun mengatakan ini. Atau para ulama, Fauran ragu.
Dan dia berkata kepadanya: Al-Qur’an adalah kalam Allah yang tidak makhluk di mana pun ia berada. Maka aku berkata kepada Abu Thalib—sementara Abu Abdillah mendengar: Jika engkau telah menceritakan ini kepada seseorang, maka pergilah sampai engkau memberitahunya bahwa Abu Abdillah melarang tentang ini. Maka Abu Thalib keluar dan memberitahu lebih dari satu orang tentang larangan Abu Abdillah, di antara mereka: Abu Bakar bin Zanjawih, Al-Fadhl bin Ziyad Al-Qaththan, Hamdan bin Ali Al-Warraq, dan Abu Ubaidah bin Amir.
Dan Abu Thalib menulis dengan tulisan tangannya kepada penduduk Nushibin setelah wafatnya Abu Abdillah, memberitahu mereka bahwa Abu Abdillah melarang untuk mengatakan: Lafazhku dengan Al-Qur’an bukan makhluk. Dan Abu Thalib datang kepadaku dengan suratnya, dan telah dicoret pada masalah dari bukunya.
Zakariya bin Al-Faraj menambahkan, dia berkata: Maka aku pergi kepada Abdul Wahhab Al-Warraq, lalu dia mengambil kertas itu dan membacanya. Maka dia berkata kepadaku: Siapa yang memberitahumu ini tentang Ahmad? Maka aku berkata kepadanya: Fauran. Maka dia berkata: Orang yang terpercaya dan aman atas Ahmad. Zakariya bin Al-Faraj berkata: Dan sebelum itu Abu Bakar Al-Marrudzi telah memberitahu Abdul Wahhab, maka menjadi tentang Abdul Wahhab ada dua saksi.
Abu Zakariya berkata: Dan aku mendengar Abdul Wahhab berkata: Siapa yang berkata: Lafazhku dengan Al-Qur’an bukan makhluk, dia di-hijrah (dijauhi), tidak diajak bicara, dan diperingatkan darinya. Dan sebelum itu dia berkata: Dia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah).
Ali bin Isa berkata: Sesungguhnya Hanbal menceritakan kepada mereka, dia berkata: Abu Thalib menceritakan tentang Abu Abdillah bahwa dia berkata: Lafazhku dengan Al-Qur’an bukan makhluk. Maka Abu Abdillah diberitahu, lalu dia mengirim pesan kepada Abu Thalib, maka dia datang dan Fauran datang bersamanya. Maka Abu Abdillah berkata kepadanya dan marah: Apakah aku berkata kepadamu: Lafazhku dengan Al-Qur’an bukan makhluk?!
Maka Abu Thalib berkata kepadanya: Aku membaca kepadamu: Katakanlah: Dia adalah Allah Yang Maha Esa (Surah Al-Ikhlas ayat 1), lalu engkau berkata kepadaku: Ini bukan makhluk. Dia berkata: Maka mengapa engkau ceritakan tentangku bahwa aku berkata: Lafazhku dengan Al-Qur’an bukan makhluk?! Dan engkau meletakkan tentang itu sebuah tulisan, dan menulis dengannya kepada suatu kaum. Jika itu ada dalam bukumu maka hapuslah dengan sangat kuat, dan tulislah kepada kaum atau kepada siapa engkau menulis dengannya bahwa aku tidak mengatakan ini. Dan dia marah dengan sangat marah. Sesungguhnya Abu Abdillah hanya tidak suka bahwa dia menceritakan tentangnya perkataan yang tidak dia katakan. Maka dia mengingkari itu dan marah karenanya.
Kemudian Abu Abdillah berkata: Al-Qur’an adalah kalam Allah dari segala sisi yang tidak makhluk. Maka dia meringkas perkataan di dalamnya bahwa itu dari setiap sisi tidak makhluk.
Hanbal berkata: Dan aku mendengar Abu Abdillah berkata: Kalian telah dilarang untuk berdebat tentang Al-Qur’an, dan membenturkan sebagiannya dengan sebagian yang lain. Maka apa urusanmu dengan perdebatan tentang Al-Qur’an?! Al-Qur’an adalah kalam Allah yang tidak makhluk dalam setiap aspek, dalam setiap keadaan, dan di mana pun ia berada. Dan aku tidak suka berbicara dan berdebat. Dan dia melarang tentang itu.
Muhammad bin Harun Al-Jarjarai di Tharsus berkata: Ibrahim bin Aban Al-Maushili menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah ketika Abu Thalib masuk kepadanya, maka dia berkata kepadanya: Sampai kepadaku bahwa engkau memberitahu tentangku dalam masalah Al-Qur’an dengan sesuatu yang tidak engkau dengar dariku. Apakah engkau mendengarku berkata: Sesungguhnya lafazhku dengan Al-Qur’an bukan makhluk?!
Maka dia berkata: Aku tidak mendengar sesuatu darimu. Ini adalah sesuatu yang aku katakan tentang diriku sendiri.
Maka dia berkata: Tidaklah semua yang engkau bicarakan kecuali dinisbahkan kepadaku. Seandainya aku tidak benci memutuskan hubungan dengan seorang Muslim atau memutuskannya, tentu aku tidak akan berbicara denganmu.
Ahmad bin Muhammad bin Mathar berkata: Abu Thalib menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata—sementara Abu Muhammad Fauran hadir—maka dia berkata kepadaku: Apakah engkau ceritakan tentangku bahwa aku berkata: Lafazhku dengan Al-Qur’an bukan makhluk?!
Aku berkata: Sesungguhnya aku hanya menceritakan tentang diriku sendiri.
Dia berkata: Janganlah engkau ceritakan tentangku dan tentang dirimu ini. Aku tidak mendengar seorang alim pun mengatakan ini.
Dan dia berkata: Al-Qur’an adalah kalam Allah yang bukan makhluk di mana pun ia berada dan dari setiap sisi.
Abu Bakar Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah berkata kepadaku: Sudah sangat keras kemarahanku kepada Ibnu Syaddad.
Aku berkata: Apa yang dia ceritakan tentangmu dalam masalah lafazh?
Maka sampailah kepada Ibnu Syaddad bahwa Abu Abdillah telah mengingkarinya, kemudian datanglah kepada kami Hamdun bin Syaddad dengan secarik kertas yang berisi pertanyaan-pertanyaan, lalu aku memasukkannya kepada Abu Abdillah. Kemudian ia melihat dan mendapati di dalamnya terdapat kalimat: lafazku tentang Al-Qur’an tidak diciptakan, bersama pertanyaan-pertanyaan lainnya yang ada di dalamnya.
Maka Abu Abdillah berkata: Di dalamnya ada perkataan yang tidak pernah aku ucapkan. Lalu ia berdiri dari serambi, masuk, kemudian keluar membawa tinta dan pena. Abu Abdillah mencoret tempat yang bertuliskan: lafazku tentang Al-Qur’an tidak diciptakan, dan Abu Abdillah menulis dengan tangannya sendiri di antara dua baris: Al-Qur’an bagaimanapun keadaannya tidak diciptakan, dan berkata: Aku tidak pernah mendengar seorang pun berbicara tentang hal ini dengan sesuatu. Dan ia mengingkari orang yang berkata: lafazku tentang Al-Qur’an tidak diciptakan.
Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Ibnu Ath-Thabari berkata: Kemudian datanglah kepada kami Hamdun bin Syaddad dengan kertas itu, lalu berkata: Baru saja aku datang dari sisi Abu Abdillah, dan di dalamnya tertulis: Al-Qur’an bagaimanapun keadaannya tidak diciptakan.
Dia berkata: Dan Ali Al-Jazzaz berkata: Aku hadir di sisi Ibnu Ath-Thabari ketika Syaddad datang dengan kertas yang di dalamnya bertuliskan: lafazku tentang Al-Qur’an tidak diciptakan yang telah dicoret, dan di antara dua baris tertulis: Al-Qur’an bagaimanapun keadaannya tidak diciptakan.
Abu Al-Abbas berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ali Al-Warraq berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad Fawran berkata: Datang kepadaku Syaddad dengan secarik kertas yang berisi pertanyaan-pertanyaan, dan di dalamnya tertulis: bahwa lafazku tentang Al-Qur’an tidak diciptakan, lalu aku memberikannya kepada Abu Bakar Al-Marwazi dan berkata kepadanya: Pergilah dengannya kepada Abu Abdillah dan kabari ia bahwa Ibnu Syaddad ada di sini, dan ini kertas yang telah ia bawa, maka apa yang engkau tidak sukai dan engkau ingkari darinya, coretlah.
Kemudian ia datang kepadaku dengan kertas itu yang telah dicoret pada tempat yang bertuliskan: lafazku tentang Al-Qur’an tidak diciptakan, dan Abu Abdillah menulis dengan tangannya sendiri: Al-Qur’an bagaimanapun keadaannya tidak diciptakan.
Fawran berkata: Dan aku mengenal tulisan tangan Abu Abdillah.
Ahmad bin Al-Husain bin Ali Al-Bazuri berkata: Aku mendengar Abu Abdillah ketika seorang laki-laki bertanya kepadanya tentang lafaz, lalu berkata kepadanya: Wahai Abu Abdillah, mereka menceritakan tentangmu di Al-Karkh bahwa engkau berkata: lafazku tentang Al-Qur’an tidak diciptakan. Maka ia berhenti dengan marah dan berkata: Betapa banyaknya kebohongan terhadapku! Aku tidak pernah mengatakan sesuatu tentang hal ini, dan aku tidak mengatakannya. Sesungguhnya berita ini telah sampai kepadaku, lalu aku berkata: Ini perkataan buruk yang aku uji kebenarannya, Allah tempat memohon pertolongan. Dan ia masuk ke rumahnya dalam keadaan marah.
Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepadaku Manshur bin Al-Walid An-Naisaburi: bahwa Ja’far bin Muhammad An-Nasa’i berkata: Telah shahih bagiku semasa hidup Abu Abdillah bahwa ia melarang dikatakan: lafazku tentang Al-Qur’an tidak diciptakan.
Ja’far bin Muhammad An-Nasa’i berkata: Barangsiapa mengatakan ini maka ia adalah perkataan yang baru yang tidak pernah diucapkan oleh seorang pun dari para ulama.
Sulaiman bin Al-Asy’ats berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Dalam setiap keadaan dari berbagai keadaan, Al-Qur’an tidak diciptakan.
Muhammad bin Musa dan Muhammad bin Ja’far berkata bahwa Abu Al-Harits menceritakan kepada mereka, berkata: Aku mendengar seorang laki-laki berkata kepada Abu Abdillah: Wahai Abu Abdillah, bukankah engkau mengatakan: Al-Qur’an adalah kalam Allah yang tidak diciptakan, dengan makna dari berbagai makna, dan dalam setiap keadaan dan arah? Abu Abdillah berkata: Ya.
Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Aku membacakan kepada Abu Abdillah: Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa (Al-Ikhlas: 1), maka ia berkata: Ini tidak diciptakan.
Abdullah bin Mahmud bin Aflah – di Ain Zarbah – berkata: Aku mendengar Abu Bakar bin Zanjuwaih berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata: Barangsiapa berkata: lafaznya tentang Al-Qur’an diciptakan, maka ia adalah Jahmiyyah, dan barangsiapa berkata: lafaznya tentang Al-Qur’an tidak diciptakan, maka ia adalah ahli bid’ah yang tidak boleh diajak bicara.
As-Sunnah karya Al-Khallal 2/334-339 (2153-2167)
Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepadaku Ahmad bin Al-Husain bin Hassan: bahwa Abu Abdillah ditanya tentang Lafziyyah? Maka ia berkata: Jangan duduk bersamanya, dan jangan bicara dengannya.
Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Tidak boleh dishalatkan jenazah golongan Lafziyyah.
Abu Bakar Al-Khallal berkata: Maka inilah yang tsabit dari Abu Abdillah dalam lafaz terakhir, dan awalnya adalah kisah Abu Thalib, dan telah menceritakannya dari Abu Abdillah para sahabat-sahabatnya yang tsiqah, dan kisah Hamdawaih bin Syaddad, dan apa yang diingkari oleh Abu Abdillah terhadap mereka. Maka tsbatlah dari Abu Abdillah pengingkaran terhadap mereka dalam apa yang mereka ceritakan darinya, dan tsabit darinya dari semua itu bahwa ia mengingkari orang yang mengatakan perkataan ini, dan memerintahkan untuk memboikot mereka.
Dan Abu Bakar bin Zanjuwaih khususnya menceritakan darinya bahwa ia membid’ahkan mereka. Maka mereka adalah para pendusta yang menceritakan dari Abu Abdillah, selain orang-orang bodoh ini yang mengatakan tentang lafaz tanpa imam. Maka kami memohon kepada Allah keselamatan, kemudian setelah itu adalah perkataan para syaikh, maka kembali kepada kebenaran lebih baik daripada tetap berada dalam kebatilan.
Abu Bakar Al-Marwazi Ahmad bin Muhammad bin Al-Husain berkata: Aku mendengar Abu Al-Hasan Abdul Wahhab Al-Warraq berkata: Abu Abdillah adalah imam kami dan ia termasuk orang-orang yang teguh (dalam ilmu), ia berkata: Aku tidak pernah mendengar seorang ulama berkata: lafazku tentang Al-Qur’an tidak diciptakan. Selain mereka ini menurut Abu Abdillah yang menyelisihi perkataannya: Apabila aku berdiri di hadapan Allah Azza wa Jalla kemudian Dia bertanya kepadaku: Dengan siapa engkau mengikuti? Apa yang akan aku katakan? Dan apa yang luput dari Abu Abdillah dari urusan Islam? Dan Abu Abdillah adalah ulama mengenai masalah ini dan telah diuji selama dua puluh tahun dalam perkara ini. Maka barangsiapa tidak berpihak kepada perkataan Abu Abdillah, maka kami menampakkan penyelisihannya dan memboikotnya serta tidak berbicara dengannya. Apabila kami mengatakan: Sesungguhnya Al-Qur’an tidak diciptakan, dan barangsiapa berkata: lafazku tentang Al-Qur’an diciptakan, maka ia adalah Jahmiyyah, dan apa lagi yang tersisa? Sesungguhnya ini hanya dari jalan ahli kalam, dan ahli kalam tidak akan beruntung.
Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Aku mendengar Abdul Wahhab – yaitu: Al-Warraq – berkata kepada Ishaq bin Daud: Allah tidak meninggikan saudaramu dengan apa yang ia dengar, ia menyelisihi Abu Abdillah. Maka Ishaq berkata kepadanya: Sungguh aku telah menulis kepada saudaraku: Sesungguhnya engkau ditinggikan karena Abu Abdillah, maka jika engkau menampakkan penyelisihan terhadapnya, Allah akan merendahkanmu.
Ishaq berkata: Sungguh telah datang kepadaku surat saudaraku dengan tulisan tangannya: Adapun ketika telah shahih bagimu bahwa Abu Abdillah melarang hal ini, maka kami mengikuti Abu Abdillah dan para syaikh kami ini.
Ishaq bin Daud berkata: Kami mengikuti orang yang telah meninggal, Ahmad bin Hanbal adalah imam kami dan ia termasuk orang-orang yang teguh dalam ilmu, ia berkata: Aku tidak pernah mendengar seorang ulama berkata: lafazku tentang Al-Qur’an tidak diciptakan, dan apa yang luput dari Abu Abdillah dari urusan Islam? Apabila kami mengatakan: Barangsiapa berkata: lafazku tentang Al-Qur’an tidak diciptakan, maka kami memboikotnya dan tidak berbicara dengannya, dan ini adalah bid’ah. Dan tidak ada seorang pun yang marah tentang perkara ini kecuali ia di bawah kemarahan Abu Abdillah, dan Abu Abdillah marah dengan kemarahan yang sangat keras hingga mereka berusaha menenangkannya.
Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Aku mendengar Abu Al-Husain Ali bin Muslim Ath-Thusi berkata: Al-Qur’an adalah kalam Allah yang tidak diciptakan, dan ini adalah perkataan Abu Abdillah, dan dengannya kami mengikuti, karena kami tidak menjumpai di zamannya seorang pun yang kami dahulukan darinya dalam ilmu, pengetahuan, dan agama. Dan ia walaupun didahulukan di sisi orang-orang yang kami jumpai dari para ulama kami, maka aku tidak mengetahui seorang pun yang diuji seperti ujian yang ia alami lalu ia bersabar. Maka ia adalah hujjah dan teladan, dan hujjah bagi ahli zaman ini, dan bagi orang yang diuji setelah mereka. Maka kami adalah pengikut perkataannya dan menyetujuinya. Maka barangsiapa berkata: lafazku tentang Al-Qur’an diciptakan, maka sungguh ia telah berbuat bid’ah, dan telah shahih bagi kami bahwa Abu Abdillah mengingkari orang yang mengatakan hal itu, dan marah dengan kemarahan yang sangat keras, dan berkata: Aku tidak pernah mendengar seorang ulama mengatakan ini.
Maka barangsiapa menyelisihi Abu Abdillah dalam apa yang ia larang, maka kami tidak menyetujuinya dan kami mengingkarinya. Dan kami telah menjumpai dari ulama-ulama kami seperti Abdullah bin Al-Mubarak, Husyaim bin Basyir, Ismail bin Ulayyah, Sufyan bin Uyainah, Abbad bin Abbad, Abbad bin Al-Awwam, Abu Bakar bin Ayyasy, Abdullah bin Idris, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, Yahya bin Abi Za’idah, Yusuf bin Ya’qub Al-Majisyun, Waki’, Yazid bin Harun, dan Abu Usamah. Semua mereka ini telah menjumpai para Tabi’in dan mendengar dari mereka serta meriwayatkan dari mereka, tidak ada seorang pun dari mereka yang berkata: lafazku tentang Al-Qur’an tidak diciptakan. Dan segala puji bagi Allah, maka kami adalah pengikut mereka dan menyelisihi apa yang diada-adakan setelah mereka.
Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Aku mendengar Ishaq bin Hanbal – paman Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal dan kelahirannya pada tahun wafatnya Sufyan Ats-Tsauri tahun 161 Hijriyyah, rahimahullah – berkata: Al-Qur’an adalah kalam Allah dan tidak diciptakan, dan barangsiapa berkata: lafazku tentang Al-Qur’an diciptakan, maka ia adalah Jahmiyyah, dan barangsiapa mengklaim bahwa lafaznya tentang Al-Qur’an tidak diciptakan maka sungguh ia telah berbuat bid’ah, dan Abu Abdillah telah melarang hal ini dan marah, serta berkata: Aku tidak pernah mendengar seorang ulama mengatakan ini. Abu Yusuf berkata: Dan aku tidak pernah mendengar seorang ulama mengatakan ini, aku menjumpai para ulama seperti: Husyaim, Abu Bakar bin Ayyasy, dan Sufyan bin Uyainah, maka aku tidak pernah mendengar mereka mengatakan ini. Dan Abu Abdillah adalah orang yang paling mengetahui tentang Sunnah di zamannya, sungguh ia telah membela agama Allah Azza wa Jalla dan disakiti karena Allah, dan bersabar dalam kemudahan dan kesulitan. Maka barangsiapa menceritakan dari Abu Abdillah bahwa ia berkata: lafazku tentang Al-Qur’an tidak diciptakan, maka sungguh ia telah berdusta, aku tidak pernah mendengar Abu Abdillah mengatakan ini. Sesungguhnya Abu Abdillah berkata: Golongan Lafziyyah adalah Jahmiyyah. Dan Abu Abdillah adalah orang yang paling mengetahui tentang Sunnah di zamannya.
As-Sunnah karya Al-Khallal 2/340-342 (2170-2175)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi mengabarkan kepada kami, berkata: Aku mendengar Abu Bakar Muhammad bin Sahl bin Askar, sahabat Abdurrazzaq berkata: Al-Qur’an adalah kalam Allah yang tidak diciptakan dan bagaimanapun keadaannya, dan Al-Qur’an adalah dari ilmu Allah, dan barangsiapa mengklaim bahwa ia bukan dari ilmu Allah maka ia kafir, dan barangsiapa berkata: lafazku tentang Al-Qur’an diciptakan maka ia adalah Jahmiyyah yang kafir kepada Allah, dan barangsiapa berkata: lafazku tentang Al-Qur’an tidak diciptakan, maka aku tidak melihat seorang pun dari para ulama berkata: lafazku tentang Al-Qur’an tidak diciptakan. Dan kami adalah pengikut Ahmad bin Hanbal dalam masalah ini, maka barangsiapa menyelisihinya maka kami berlepas diri darinya di dunia dan akhirat. Aku mendengar Abdurrazzaq berkata: Jika orang ini hidup, maka ia akan menjadi pengganti dari para ulama – ia maksudkan Ahmad bin Muhammad bin Hanbal – rahimahullah.
Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Aku mendengar Abdullah bin Ayyub Al-Makhrami berkata: Al-Qur’an adalah kalam Allah yang tidak diciptakan, dan barangsiapa berkata: bahwa ia diciptakan, maka sungguh ia telah membatalkan puasa, haji, jihad, dan kewajiban-kewajiban Allah, dan barangsiapa membatalkan salah satu dari kewajiban-kewajiban ini maka ia kafir kepada Allah Yang Maha Agung, dan barangsiapa berkata: lafazku tentang Al-Qur’an diciptakan, maka ia adalah Jahmiyyah, dan barangsiapa berkata: bahwa lafazku tentang Al-Qur’an tidak diciptakan, maka ia adalah orang sesat yang ahli bid’ah. Aku menjumpai Ibnu Uyainah, Yahya bin Sulaim, Waki’ bin Al-Jarrah, Abdullah bin Numair dan sekelompok dari ulama Hijaz, Basrah, dan Kufah, aku tidak pernah mendengar seorang pun dari mereka berkata: lafazku tentang Al-Qur’an diciptakan, atau tidak diciptakan. Dan telah shahih bagi kami bahwa Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal melarang dikatakan: lafazku tentang Al-Qur’an tidak diciptakan. Maka barangsiapa menyelisihi apa yang Abu Abdillah katakan maka sungguh bid’ahnya telah shahih.
Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Aku mendengar Abu Ya’qub Ishaq bin Ibrahim Al-Khurasani bin Umair Mani’ berkata: Aku menjumpai Ismail bin Ulayyah, Mu’adz bin Mu’adz, Yazid bin Harun, Waki’ bin Al-Jarrah, dan sekelompok orang, aku tidak melihat seorang pun yang diuji seperti ujian yang ia alami lalu ia bersabar. Hanbal berkata: Sungguh telah shahih bagi kami bahwa ia melarang dikatakan: lafazku tentang Al-Qur’an tidak diciptakan. Dan berkata: Aku tidak pernah mendengar seorang ulama mengatakan ini.
Abu Ya’qub berkata: Al-Qur’an adalah kalam Allah yang tidak diciptakan, dan barangsiapa berkata: bahwa ia diciptakan, maka ia kafir, dan barangsiapa berkata: bahwa lafaznya tentang Al-Qur’an diciptakan, maka ia adalah Jahmiyyah, dan barangsiapa berkata: lafaznya tentang Al-Qur’an tidak diciptakan, maka sungguh ia telah berbuat bid’ah dan mengada-adakan dalam Islam suatu perkara yang tidak kami kenal. Kami menjumpai para syaikh kami dan para imam kami, seperti: Mu’adz dan Yazid, maka kami tidak menjumpai seorang pun yang lebih keras dari keduanya terhadap ahli bid’ah, namun kami tidak pernah mendengar keduanya atau selain keduanya dari orang-orang yang kami saksikan mengatakan perkataan ini.
Dan telah shahih bagi kami dari imam kami dan imam kaum muslimin di zamannya Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bahwa ia melarang dikatakan: lafazku tentang Al-Qur’an tidak diciptakan, dan berkata: Aku tidak pernah mendengar seorang ulama mengatakan ini.
Abu Ya’qub berkata: Dan kami tidak pernah mendengar seorang ulama mengatakan ini, dan tidak sampai kepada kami dari seorang ulama bahwa ia mengatakannya sejak Allah mengutus Muhammad shallallahu alaihi wasallam hingga zaman kami ini. Dan sesungguhnya kami adalah ahli ittiba’ (mengikuti) dan taqlid kepada para imam kami dan para pendahulu kami yang telah berlalu rahimahumullah, kami tidak mengada-adakan setelah mereka suatu hal yang baru yang tidak ada dalam Kitabullah dan tidak dalam Sunnah Rasul-Nya dan tidak dikatakan oleh seorang imam. Maka barangsiapa menyelisihi Abu Abdillah dalam hal ini, kami memboikotnya dan memperingatkan tentangnya, hingga ia kembali kepada perkataan Abu Abdillah dan para ulama.
Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Aku mendengar Ali bin Syu’aib, sahabat Syu’aib bin Harb berkata: Al-Qur’an adalah kalam Allah yang tidak diciptakan, dan barangsiapa berkata: bahwa ia diciptakan, maka ia kafir, dan kami tidak mengenal lafaz itu diciptakan atau tidak diciptakan, dan barangsiapa berkata: bahwa lafazku tentang Al-Qur’an tidak diciptakan, maka kami tidak berbicara dengannya dan kami memboikotnya.
Aku berkata kepadanya: Apakah engkau menjumpai seorang pun dari para ulama berkata: lafazku tentang Al-Qur’an tidak diciptakan, atau suaraku tentang Al-Qur’an tidak diciptakan?
Ia berkata: Berlindung kepada Allah. Kemudian ia berkata: Sungguh telah berkata kepadaku seseorang dengan kebalikannya.
Maka aku berkata kepadanya: Dan apakah atas kami untuk mengatakan kebalikan dari sesuatu? Kemudian ia berkata: Ahmad bin Hanbal di zamannya atau di zaman seperti ini adalah seperti kaum Ali […] Seandainya Ahmad tidak mengingkari tempat-tempat seperti ini, siapa kami?! Kami adalah orang-orang miskin. Barangsiapa menyelisihi Ahmad bin Muhammad bin Hanbal dalam hal ini, kami memboikotnya dan tidak berbicara dengannya. Ahmad adalah pemimpin, Ahmad pemimpin.
Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Aku mendengar Muhammad bin Abdullah Al-Makhrami Al-Hafizh berkata: Al-Qur’an adalah kalam Allah yang tidak diciptakan dalam semua sisi, dan perkataan adalah dari ilmu Allah, dan barangsiapa berkata: bahwa ilmu Allah diciptakan, maka ia kafir, dan barangsiapa berkata: bahwa lafazku tentang Al-Qur’an tidak diciptakan, maka ia adalah ahli bid’ah, dan tidak ada seorang pun dari orang-orang yang kami jumpai dari para ulama mengatakan ini – yaitu: lafazku tentang Al-Qur’an tidak diciptakan – dan Abu Abdillah termasuk orang yang diikuti, dan apa yang diingkari oleh Abu Abdillah maka kami mengingkarinya, dan kami mengikuti Abu Abdillah dalam apa yang ia katakan dan kami tidak menyelisihinya. Dan aku tidak menjumpai seorang pun berkata: lafazku tentang Al-Qur’an diciptakan atau tidak diciptakan, dan sungguh aku telah menjumpai Yahya bin Sa’id Al-Qaththan, Abdurrahman bin Mahdi, Waki’ bin Al-Jarrah, Yazid bin Harun, Abu Usamah, Yahya bin Isa Ar-Ramli, dan selain mereka dari para ulama.
Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Aku mendengar Abu Al-Fadhl Al-Abbas bin Muhammad Ad-Duri berkata: Al-Qur’an adalah kalam Allah yang tidak diciptakan, dan barangsiapa berkata: bahwa ia diciptakan, maka ia kafir, dan barangsiapa berkata: lafazku tentang Al-Qur’an diciptakan, maka ia adalah Jahmiyyah, dan barangsiapa berkata: lafazku tentang Al-Qur’an tidak diciptakan, maka sungguh ia telah mengada-adakan suatu hal baru yang tidak pernah kami dengar dari orang-orang yang kami jumpai dari para ulama. Dan Abu Abdillah menurut kami adalah imam yang kami ikuti, maka barangsiapa menyelisihi Abu Abdillah maka kami memboikotnya.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwazi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Bakar Muhammad bin Ishaq ash-Shaghani berkata: Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan, maka barangsiapa yang mengatakan bahwa ia diciptakan, maka ia kafir, dan barangsiapa yang mengatakan: Lafalku terhadap al-Quran adalah makhluk, maka ia adalah Jahmiyyah, dan barangsiapa yang mengatakan: Sesungguhnya lafalku terhadap al-Quran adalah tidak diciptakan, maka ia adalah pelaku bid’ah, tidak ada pendapat kecuali pendapat Abu Abdillah (Imam Ahmad), maka barangsiapa yang menyelisihinya, maka kami memboikotnya dan tidak berbicara dengannya.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwazi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Harun bin Sufyan al-Mustamliy berkata: Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan.
Dan Harun berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Kaum Lafzhiyyah adalah Jahmiyyah.
Aku bertanya kepada Harun: Lalu orang yang mengatakan: Lafalku terhadap al-Quran tidak diciptakan, apa status dia?
Dia menjawab: Ini adalah bid’ah yang tidak kami kenal.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwazi mengabarkan kepada kami: Aku mendengar Abu Ali bin al-Jaruwi berkata: Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan dari segala sisi, kami tidak mengenal selain ini.
Aku bertanya kepada Ibnu al-Jaruwi: Apakah kamu mendengar seseorang berkata: Lafalku terhadap al-Quran tidak diciptakan?
Dia menjawab: Aku berlindung kepada Allah. Ibnu al-Jaruwi berkata: Sungguh aku telah berkata kepada mereka -yaitu: kepada Sulaiman al-Lu’lui dan Ibnu Salim al-Khalqani: Barangsiapa yang berkata: Lafalku terhadap al-Quran tidak diciptakan, maka ini adalah bid’ah, dan aku melarang mereka darinya. Lalu mereka berkata: Kami menerima.
Maka aku bertanya kepada Ibnu al-Jaruwi: Lalu orang yang berkata: Lafalku terhadap al-Quran tidak diciptakan, apa status dia menurutmu? Dia menjawab: Ini adalah bid’ah, kepalanya dipukul dan dia dipenjara. Lalu aku berkata kepadanya: Lalu mengapa kamu tidak memboikot mereka? Dia menjawab: Seandainya ada seseorang yang bertanya kepadaku yang memiliki pengetahuan dan mazhab, niscaya aku akan berkata: Boikot mereka hingga mereka kembali.
Ibnu al-Jaruwi berkata: Terkadang aku diuji dengan mereka dalam suatu jenazah. Dan dia mulai berdalih. Dia berkata: Sesungguhnya mereka mengetahui penolakanku dan penginkaranku terhadap perkataan ini, dan aku tidak berkata melainkan agar lepas dariku.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwazi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Muhammad bin Hisyam al-Marwazi: Apakah kamu menjumpai seorang pun dari para ulama yang berkata: Lafalku terhadap al-Quran tidak diciptakan? Dia menjawab: Tidak, ini adalah bid’ah. Padahal dia telah menjumpai Abu Alqamah al-Farawi, Husyaiman, Abu Bakar bin Ayyasy, Ibnu Idris, Ibnu Abi Za’idah, Waki’, al-Muharibi, Abu Khalid al-Ahmar, dan al-Qasim bin Malik al-Muzani.
Dan dia berkata: Sungguh aku menyaksikan Ismail -yaitu: Ibnu Ibrahim- ketika shalat didirikan berkata: Apakah Ahmad bin Hanbal ada di sini? Katakan kepadanya: Maju dan salat menjadi imam kami.
Muhammad bin Hisyam berkata: Dan kami tidak mengenal lafal itu makhluk atau tidak makhluk, dan ini adalah bid’ah.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwazi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Yusuf Ya’qub anak saudara Ma’ruf al-Karkhi rahimahullah berkata: Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan, dan barangsiapa yang mengatakan: Sesungguhnya ia diciptakan, maka ia kafir, dan barangsiapa yang mengatakan: Lafalku terhadap al-Quran adalah makhluk, maka ia adalah Jahmiyyah, dan barangsiapa yang mengatakan: Lafalku terhadap al-Quran tidak diciptakan, maka ia adalah pelaku bid’ah, aku adalah orang yang pertama kali membahas masalah ini, mereka menulis kepadaku dari Maushil lalu aku berkeliling menemui para guru kami, dan mereka menulis kepadaku dari Nashibin lalu mereka berkata kepadaku: Ini adalah bid’ah. Ya’qub berkata: Dan Abu Abdillah lebih utama daripada Ma’ruf al-Karkhi rahimahumallah, kami di posisi seperti kaum Anshar dari Abu Abdillah, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Seandainya kaum Anshar menempuh suatu lembah -atau beliau bersabda: jurang- niscaya aku akan menempuh lembah kaum Anshar” dan seandainya manusia mengatakan suatu perkataan, dan Ahmad bin Muhammad bin Hanbal mengatakan suatu perkataan, niscaya kami akan berkata dengan perkataannya.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwazi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Ja’far dan Abu al-Husain Muhammad dan Ali, keduanya anak Dawud al-Qanthuri berkata: Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan dan di mana pun ia berada, dan barangsiapa yang mengatakan: Lafalku terhadap al-Quran adalah makhluk, maka kami memboikotnya dan tidak berbicara dengannya; karena menyelisihi Abu Abdillah.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwazi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Hamdun al-Muqri berkata: Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan.
Dan aku mendengar Waki’ bin al-Jarrah berkata: Barangsiapa yang mengatakan: Al-Quran makhluk, maka ia kafir. Abu Hamdun berkata: Dan barangsiapa yang mengatakan: Lafalku terhadap al-Quran adalah makhluk, maka ia adalah Jahmiyyah, dan barangsiapa yang mengatakan: Sesungguhnya lafalku terhadap al-Quran tidak diciptakan, maka ia adalah pelaku bid’ah, aku tidak menjumpai seorang pun dari para ulama yang mengatakan ini. Adapun para ulama, sungguh mereka telah memboikot mereka, adapun ahli al-Quran, sungguh mereka telah menolak perkataan mereka, dan berkata: Kami tidak menemukan ini dalam Kitabullah, ini adalah bid’ah, maka pergilah kalian kepada ahli kalam agar mereka berdebat dengan kalian, adapun para pemilik ilmu dan al-Quran, sungguh mereka telah menolak kalian.
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwazi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu al-Hasan Matsna bin Jami’ berkata: Barangsiapa yang mengatakan: Lafalku terhadap al-Quran tidak diciptakan maka sungguh dia telah membuat perkara baru, dan telah shahih menurut kami bahwa Abu Abdillah melarang darinya, maka barangsiapa yang menyelisihi Abu Abdillah maka kami memboikotnya.
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/343-347 (2177-2191)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwazi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Harun bin Ishaq al-Hamdani menulis kepadaku: Apa yang digariskan oleh Abu Abdillah, itulah yang tergariskan, dan ini adalah bid’ah yang tidak kami kenal, dan dalam suratnya tertulis: Tidak ada keperluan bagi kalian untuk merasa terasing kepada perkataan siapa pun selama tidak ada perkataan Abu Abdillah di dalamnya.
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/348 (2194)
Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwazi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Ya’qub Ishaq bin Ibrahim bin Habib bin asy-Syahid, dan dia menulis kepadaku dengan tulisan tangannya: Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan dan barangsiapa yang mengatakan: Sesungguhnya ia diciptakan maka ia kafir, dan barangsiapa yang mengatakan: Lafalku terhadap al-Quran adalah makhluk, maka ia adalah Jahmiyyah, dan barangsiapa yang mengatakan: Lafalku terhadap al-Quran tidak diciptakan, maka sungguh dia telah membuat perkara baru dan berbuat bid’ah, dan kami adalah pengikut Abu Abdillah, kami mengingkari apa yang dia ingkari, maka barangsiapa yang menceritakan dariku selain ini maka sungguh dia telah berdusta.
“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/348 (2196)
Ishaq bin Dawud berkata: Aku mendengar Ja’far bin Ahmad berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata: Kaum Lafzhiyyah dan Waqifah adalah zindik tulen.
Abu Hafsh berkata: Abu Ja’far Muhammad bin Dawud menceritakan kepada kami, ia berkata: Abbas ad-Dauri berkata: Ahmad bin Hanbal berkata: Kaum Waqifah dan Lafzhiyyah adalah Jahmiyyah.
“Al-Ibanah” karya Ibnu Baththah, Kitab Radd ala al-Jahmiyyah 1/296 (68-69)
Ya’qub ad-Dauriqi berkata: Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal: Orang-orang ini yang mengatakan: Lafal kami terhadap al-Quran adalah makhluk?
Maka dia menjawab: Al-Quran dari sisi mana pun sama sekali tidak bisa menjadi makhluk, Allah Ta’ala berfirman: “Dan jika seorang dari orang-orang musyrik meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia agar dia dapat mendengar kalam Allah.” (Surat at-Taubah: 6) dan tidak berfirman: hingga dia mendengar kalammu wahai Muhammad.
Maka aku berkata kepadanya: Sesungguhnya orang-orang ini berkisar pada pembatalan dan peniadaan. Dia menjawab: Benar, dan Ahmad bin Hanbal berkata: Laknat Allah atas mereka.
Shalih berkata: Abbas datang lalu berkata: Wahai Abu Abdillah, sesungguhnya ada kaum di sisi kami yang berkata: Lafal kami terhadap al-Quran adalah makhluk, maka apakah kami berkata: Ia tidak diciptakan?
Dia menjawab: Tidak, aku tidak mendengar seorang pun mengatakan ini.
Abu Ja’far berkata: Abu al-Harits ash-Sha’igh menceritakan kepadaku, ia berkata: Dan aku mendengarnya -yaitu: Abu Abdillah- ditanya tentang perkataan Husain al-Karabisi, dikatakan kepadanya: Sesungguhnya dia berkata lafalku terhadap al-Quran adalah makhluk, maka dia menjawab: Ini adalah perkataan Jahm, Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan jika seorang dari orang-orang musyrik meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia agar dia dapat mendengar kalam Allah.” (Surat at-Taubah: 6) maka siapakah yang mendengar kalam Allah? Mereka telah dibinasakan oleh penyusunan kitab-kitab, mereka meninggalkan atsar-atsar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan menghadap kepada ilmu kalam.
Maka aku berkata kepadanya: Jika dia berkata: Lafalku terhadap al-Quran makhluk; maka dia adalah Jahmiyyah.
Dia menjawab: Lalu apa yang tersisa jika dia berkata: Lafalku terhadap al-Quran adalah makhluk.
Abu al-Harits berkata: Aku dan Abu Musa pergi kepada Abu Abdillah, maka Abu Musa berkata kepadanya: Wahai Abu Abdillah, perkara yang telah mereka ada-adakan ini, hati-hati merasa jijik darinya, dan manusia bertanya kepada kami tentangnya, mereka berkata: Lafal kami terhadap al-Quran adalah makhluk?
Abu Abdillah berkata -dengan penuh kemarahan: Ini adalah perkataan buruk, jelek, keji, tidak ada kebaikan di dalamnya.
Abu Musa berkata kepadanya: Bukankah kamu berkata: Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan dalam segala keadaan, dan dengan semua sisi dan makna?
Dia menjawab: Ya, dan setiap yang bercabang dari ini maka ia jelek dan buruk.
Abu Thalib Ahmad bin Humaid berkata: Aku berkata kepada Abu Abdillah: Tetanggaku mengabarkan kepadaku bahwa ada seorang laki-laki di ar-Rumailah yang berkata dengan perkataan al-Karabisi: Lafalnya terhadap al-Quran adalah makhluk, maka mereka melarangnya salat bersama mereka, lalu dia datang dan bertanya kepadamu tentang: Seseorang yang berkata: Lafalku terhadap al-Quran adalah makhluk, apakah boleh salat di belakangnya? Maka kamu berkata kepadanya: Tidak. Lalu dia kembali kepada mereka dan mengabarkan kepada mereka perkataanmu, dan berkata: Sesungguhnya aku bertobat dan memohon ampun kepada Allah dari apa yang aku katakan. Maka mereka berkata kepadanya: Salatlah bersama kami. Lalu dia salat bersama mereka.
Dia menjawab: Dia adalah dirinya sendiri! Seorang laki-laki berjanggut panjang bertanya kepadaku setelah aku salat Zhuhur, maka aku berkata kepadanya: Mengapa kalian berbicara tentang apa yang telah kalian dilarang darinya, tidak boleh salat di belakangnya dan tidak boleh duduk bersamanya.
“Al-Ibanah” karya Ibnu Baththah, Kitab Radd ala al-Jahmiyyah 1/333-335 (136-140)
Abdullah bin Suwaid berkata: Aku mendengar Abu Ishaq al-Hasyimi berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal, lalu aku berkata: Jika mereka berkata kepada kami: Al-Quran dengan lafal-lafal kami adalah makhluk; apakah kami berkata kepada mereka: Ia tidak diciptakan dengan lafal-lafal kami atau kami diam?
Maka dia menjawab: Dengarlah apa yang aku katakan kepadamu: Al-Quran dalam semua sisi tidaklah diciptakan.
Kemudian Abu Abdillah berkata: Jibril ketika mengatakannya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, apakah dari dia itu makhluk?! Dan Nabi ketika mengatakannya, apakah dari dia itu makhluk?! Ini adalah termasuk perkataan paling buruk dan paling jahat.
Kemudian Abu Abdillah berkata: Telah sampai kepadaku dari Jahm bahwa dia berkata demikian di awal perkaranya.
Abu Thalib meriwayatkan dari Abu Abdillah, ia berkata: Aku berkata kepadanya: Ada yang menulis kepadaku dari Tharsus bahwa asy-Syirrak menyangka bahwa al-Quran adalah kalam Allah, maka jika kamu membacanya maka bacaanmu adalah makhluk.
Dia menjawab: Allah membunuhnya, ini adalah perkataan Jahm itu sendiri.
Aku bertanya: Seseorang berkata tentang al-Quran: Kalam Allah yang tidak diciptakan, akan tetapi lafalku dengannya adalah makhluk? Dia menjawab: Ini adalah perkataan buruk, barangsiapa yang mengatakan ini maka sungguh dia telah mendatangkan perkara semuanya.
Aku bertanya: Dalilnya adalah hadits Abu Bakar ketika dia membaca “Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi.” (Surat ar-Rum: 1-2) maka mereka berkata: Apakah ini datang dari temanmu? Dia menjawab: Tidak, akan tetapi ia adalah kalam Allah. Dia menjawab: Ya, ini dan selainnya sesungguhnya adalah kalam Allah, jika dia tidak kembali dari ini maka jauhilah dia dan jangan berbicara dengannya, ini seperti apa yang dikatakan asy-Syirrak. Aku berkata: Demikianlah sampai kepadaku. Dia berkata: Allah menghinakannya, tahukah kamu siapa pamannya? Aku berkata: Tidak.
Dia menjawat: Pamannya adalah Abdak ash-Shufi, dan dia adalah orang yang ahli kalam dan pendapat buruk, dan setiap orang yang ahli kalam maka dia tidak condong kepada kebaikan. Dan dia mengagungkan hal itu dan mengucapkan istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) dan berkata: Kemana arah perkara manusia?!
“Al-Ibanah” karya Ibnu Baththah, Kitab Radd ala al-Jahmiyyah 1/338-339 (142-143)
Al-Marwazi berkata: Aku berkata kepada Abu Abdillah: Sesungguhnya seorang laki-laki dari sahabat-sahabat kami menikahkan saudara perempuannya kepada seorang laki-laki, ternyata dia dari kaum Lafzhiyyah ini, dia berkata: Lafalku terhadap al-Quran adalah makhluk, dan sungguh dia telah menulis hadits, maka Abu Abdillah berkata: Ini lebih buruk daripada Jahmiyyah.
Aku bertanya: Apakah mereka dipisahkan? Dia menjawab: Ya.
Aku bertanya: Apakah saudaranya yang memisahkan mereka? Dia menjawab: Dia telah berbuat baik, dan dia berkata: Mereka menampakkan Jahmiyyah, ini adalah perkataan yang akhirnya membatalkan awalnya.
Aku berkata kepada Abu Abdillah: Sesungguhnya al-Karabisi berkata: Barangsiapa yang tidak berkata: Lafalku terhadap al-Quran adalah makhluk maka dia kafir? Dia menjawab: Bahkan dialah yang kafir, dan dia berkata: Bisyr al-Marisi telah meninggal dan menggantikannya Husain al-Karabisi.
Abu Thalib berkata dari Abu Abdillah: Ya’qub ad-Dauriqi bertanya kepadanya tentang orang yang berkata: Lafal kami terhadap al-Quran adalah makhluk, bagaimana pendapatmu tentang ini? Dia menjawab: Orang-orang ini tidak diajak bicara dan ini tidak diajak bicara, al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan, dari segala sisi, dan dari segala cara penyebutan, dan dalam keadaan bagaimanapun.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan jika seorang dari orang-orang musyrik meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia agar dia dapat mendengar kalam Allah.” (Surat at-Taubah: 6). Dan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Tidak sah dalam salat sesuatu pun dari perkataan manusia”; dan beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Hingga aku menyampaikan kalam Tuhanku.” Ini adalah perkataan Jahm, atas orang yang mendatangkan ini murka Allah.
“Al-Ibanah” karya Ibnu Baththah, Kitab Radd ala al-Jahmiyyah 1/344-345 (151-152)
Abu Hafs Umar bin Muhammad bin Raja berkata: Abu Ja’far Muhammad bin Daud menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Al-Marwazi menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Al-Hasan Abdul Wahhab Al-Warraq berkata: Aku tidak pernah mendengar seorang ulama pun berkata: Lafalku terhadap Al-Qur’an tidak diciptakan. Siapakah orang-orang yang menurut Abu Abdullah (Imam Ahmad) menyelisihi perkataannya? Jika aku berdiri kelak di hadapan Allah, lalu Dia bertanya kepadaku: Siapa yang engkau ikuti? Apa yang akan aku katakan? Dan hal apakah dari urusan Islam yang luput dari (pengetahuan) Abu Abdullah? Abu Abdullah adalah ulama yang menguasai masalah ini, ia telah diuji sejak dua puluh tahun yang lalu dalam perkara ini. Barangsiapa tidak mengikuti perkataan Abu Abdullah, maka kami menyatakan penentangan terhadapnya dan kami memboikotnya, serta tidak berbicara dengannya. Apabila kami berkata: Al-Qur’an tidak diciptakan, dan barangsiapa berkata: Lafalku terhadap Al-Qur’an, maka ia adalah Jahmiyah, lalu apa lagi yang tersisa?! Sesungguhnya ini adalah dari jalan ahli kalam, dan ahli kalam tidak akan beruntung.
Abu Hafs berkata: Abu Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar menceritakan kepada kami, ia berkata: Ishaq bin Daud berkata: Kami mengikuti orang yang telah wafat, Ahmad bin Hanbal adalah imam kami, dan ia termasuk orang-orang yang mendalam dalam ilmu. Ia berkata: Aku tidak pernah mendengar seorang ulama pun berkata: Lafalku terhadap Al-Qur’an tidak diciptakan. Dan hal apakah dari urusan Islam yang luput dari (pengetahuan) Abu Abdullah?!
Ketika kami berkata: Barangsiapa berkata: Lafalku terhadap Al-Qur’an diciptakan, maka ia adalah Jahmiyah, dan kami berkata sebagaimana para ulama berkata: Al-Qur’an adalah kalamullah yang tidak diciptakan bagaimanapun ia berpindah, lalu apa lagi yang tersisa?! Barangsiapa berkata: Lafalku terhadap Al-Qur’an tidak diciptakan, maka kami memboikotnya dan tidak berbicara dengannya, dan ini adalah bid’ah. Tidak ada seorang pun yang marah karena perkara ini seperti kemarahan Abu Abdullah. Abu Abdullah sangat marah, sampai-sampai mereka berusaha menenangkannya.
Abu Hafs berkata: Abu Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar menceritakan kepada kami: Aku mendengar Abu Al-Hasan Ali bin Muslim berkata: Al-Qur’an adalah kalamullah yang tidak diciptakan, ini adalah perkataan Abu Abdullah, maka kami mengikutinya karena kami tidak mendapati di zamannya seorang pun yang mendahuluinya dalam ilmu, ma’rifah, dan keberagamaan. Ia adalah orang yang didahulukan di sisi para ulama yang kami temui. Aku tidak mengetahui seorang pun yang diuji seperti ujian yang dialaminya, lalu ia bersabar. Maka ia adalah teladan dan hujjah bagi ahli zaman ini dan bagi orang-orang setelah mereka. Kami mengikuti perkataannya dan menyetujuinya.
Barangsiapa berkata: Lafalku terhadap Al-Qur’an tidak diciptakan, maka ia telah berbuat bid’ah, dan ini bukan termasuk perkataan para ulama. Ini adalah sesuatu yang dibuat-buat oleh ahli kalam yang melakukan bid’ah. Telah shahih bagi kami bahwa Abu Abdullah mengingkari orang yang berkata demikian, dan ia sangat marah karenanya.
Ia berkata: Aku tidak pernah mendengar seorang ulama pun berkata demikian. Barangsiapa menyelisihi Abu Abdullah dalam apa yang ia larang, maka kami tidak menyetujuinya, kami mengingkarinya. Kami telah menemui para ulama kami seperti Abdullah bin Al-Mubarak, Husyaim bin Basyir, Ismail bin Ulayyah, Sufyan bin Uyainah, Abbad bin Abbad, Abbad bin Al-Awwam, Abu Bakar bin Ayyasy, Abdullah bin Idris, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, Yahya bin Zaidah, Yusuf bin Ya’qub bin Al-Majisyun, Waki’, Yazid bin Harun, dan Abu Usamah. Mereka semua telah menemui para Tabi’in, mendengar dari mereka dan meriwayatkan dari mereka. Tidak ada seorang pun dari mereka yang berkata: Lafalku terhadap Al-Qur’an tidak diciptakan. Maka kami mengikuti mereka, dan menyelisihi bid’ah yang muncul setelah mereka.
Abu Hafs berkata: Abu Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar -yakni Al-Marwazi- menceritakan kepada kami, ia berkata: Ishaq bin Hanbal berkata: Barangsiapa berkata: Lafalku terhadap Al-Qur’an diciptakan, maka ia adalah Jahmiyah. Dan barangsiapa mengklaim bahwa lafalnya terhadap Al-Qur’an tidak diciptakan, maka ia telah berbuat bid’ah.
Abu Abdullah telah melarang hal ini, marah karenanya, dan berkata: Aku tidak pernah mendengar seorang ulama pun berkata demikian. Aku menemui para ulama seperti Husyaim, Abu Bakar bin Ayyasy, dan Sufyan bin Uyainah, namun aku tidak pernah mendengar mereka berkata demikian. Abu Abdullah adalah orang yang paling mengetahui tentang Sunnah di zamannya. Ia telah membela agama Allah, disakiti di jalan Allah, dan bersabar dalam kesenangan maupun kesusahan.
Abu Yusuf berkata: Barangsiapa meriwayatkan dari Abu Abdullah bahwa ia berkata: Lafalku terhadap Al-Qur’an tidak diciptakan, maka ia telah berdusta. Aku tidak pernah mendengar Abu Abdullah berkata demikian. Abu Abdullah hanya berkata: Lafzhiyyah adalah Jahmiyah, dan Abu Abdullah adalah orang yang paling mengetahui tentang Sunnah di zamannya.
Kitab Al-Ibanah, Kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah 1/347-351 (155-158)
Abu Hafs berkata: Abu Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Bakar bin Sahl bin Askar berkata: Al-Qur’an adalah kalamullah yang tidak diciptakan bagaimanapun ia berpindah. Al-Qur’an termasuk dari ilmu Allah. Barangsiapa mengklaim bahwa ia bukan dari ilmu Allah, maka ia kafir. Barangsiapa berkata: Lafalku terhadap Al-Qur’an diciptakan, maka ia adalah Jahmiyah yang kafir kepada Allah. Barangsiapa berkata: Lafalku terhadap Al-Qur’an tidak diciptakan, aku tidak melihat seorang pun dari para ulama berkata: Lafalku terhadap Al-Qur’an tidak diciptakan.
Kami mengikuti Ahmad bin Muhammad bin Hanbal dalam masalah ini. Barangsiapa menyelisihinya, maka kami berlepas diri darinya di dunia dan akhirat. Aku mendengar Abdurrazzaq berkata: Jika orang ini hidup, ia akan menjadi pengganti para ulama -ia bermaksud Ahmad bin Hanbal rahimahullah.
Abu Hafs berkata: Abu Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abdullah bin Ayyub Al-Makhrami berkata: Al-Qur’an adalah kalamullah yang tidak diciptakan. Barangsiapa berkata bahwa ia diciptakan, maka ia telah membatalkan puasa, haji, jihad, dan kewajiban-kewajiban Allah. Barangsiapa membatalkan salah satu dari kewajiban ini, maka ia kafir kepada Allah Yang Maha Agung. Barangsiapa berkata: Lafalku terhadap Al-Qur’an tidak diciptakan, maka ia sesat dan berbuat bid’ah. Aku menemui Ibnu Uyainah, Yahya bin Sulaim, Waki’ bin Al-Jarrah, Abdullah bin Numair, dan sejumlah ulama dari Hijaz, Bashrah, dan Kufah. Aku tidak pernah mendengar seorang pun dari mereka berkata: Lafalku terhadap Al-Qur’an diciptakan, atau tidak diciptakan.
Telah shahih bagi kami bahwa Abu Abdullah -Ahmad bin Hanbal- melarang untuk berkata: Lafalku terhadap Al-Qur’an tidak diciptakan. Barangsiapa berkata dengan menyelisihi perkataan Abu Abdullah, maka bid’ahnya telah nyata.
Kitab Al-Ibanah, Kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah 1/351-353 (160-161)
Abu Imran Al-Jashshash berkata: Aku mendengar seorang lelaki dari penduduk Syam bertanya kepada Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal, ia berkata kepadanya: Wahai Abu Abdullah, sesungguhnya suatu kaum telah membuat perkara baru di tempat kami, mereka berkata: Sesungguhnya kalamullah, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya adalah makhluk.
Maka Ahmad bin Hanbal berkata: Mahasuci dan Mahatinggi Allah, tidak ada sesuatu pun dari sifat-sifat-Nya, kalamnya, maupun nama-nama-Nya yang diciptakan. Ia berkata: Dan tidak pula di atas lisan makhluk menjadi makhluk.
Ia berkata: Lalu apa yang makhluk itu? Ia berkata: Segala sesuatu di atas lisan makhluk adalah makhluk.
Kitab Al-Ibanah karya Ibnu Bathah, Kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah 2/16-17 (204)
Abu Ismail At-Tirmidzi berkata: Aku mendengar Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata: Lafzhiyyah adalah Jahmiyah. Allah Ta’ala berfirman: “sehingga ia mendengar kalamullah” (Surah At-Taubah: 6). Siapa yang mendengar?!
Ibnu Jarir berkata: Dan aku mendengar sejumlah sahabat kami yang aku tidak hafal nama-nama mereka meriwayatkan dari beliau bahwa ia berkata: Barangsiapa berkata: Lafalku terhadap Al-Qur’an diciptakan, maka ia adalah Jahmiyah. Dan barangsiapa berkata: Tidak diciptakan, maka ia adalah Jahmiyah.
Syarh Ushul Al-I’tiqad 2/392 (602)
Abdullah bin Imam Ahmad meriwayatkan dari ayahnya, ia berkata: Barangsiapa berkata: Lafalku terhadap Al-Qur’an diciptakan -dengan maksud Al-Qur’an- maka ia kafir.
Al-I’tiqad karya Al-Baihaqi hal. 115
Ibnu Syazan bin Khalid Al-Hamadzani berkata: Aku mendengar Ahmad berkata: Barangsiapa berkata: Lafalnya terhadap Al-Qur’an diciptakan, maka ia adalah Jahmiyah yang kekal di neraka selamanya. Kemudian ia berkata: Dan ini adalah kesyirikan kepada Allah Yang Maha Agung.
Thabaqat Al-Hanabilah 1/109
Abu Al-Harits berkata: Aku mendengar Abu Abdullah berkata: Barangsiapa mencintai ilmu kalam, maka ia tidak akan keluar dari hatinya.
Ia berkata: Dan aku mendengarnya ketika ditanya tentang perkataan Al-Husain Al-Karabisi, lalu dikatakan kepadanya: Sesungguhnya ia berkata: Lafalku terhadap Al-Qur’an diciptakan. Maka ia berkata: Ini adalah perkataan Jahm. Allah berfirman: “Dan jika seseorang dari orang-orang musyrik meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia sehingga ia mendengar kalamullah” (Surah At-Taubah: 6). Barangsiapa tidak mendengar kalamullah, maka Allah membinasakan mereka.
Thabaqat Al-Hanabilah 1/178-179
Ibrahim bin Sa’id Al-Jauhari berkata: Wahai Abu Abdullah, sesungguhnya Al-Karabisi dan Ibnu Ats-Tsalji telah berbicara. Maka Ahmad berkata: Tentang apa?
Aku berkata: Tentang lafal. Maka Ahmad berkata: Lafal terhadap Al-Qur’an tidak diciptakan. Dan barangsiapa berkata: Lafalku terhadap Al-Qur’an diciptakan, maka ia adalah Jahmiyah.
Thabaqat Al-Hanabilah 1/241
Abu Bakar As-Sarraj berkata: Aku bertanya kepada Ahmad tentang seorang lelaki yang berkata: Al-Qur’an diciptakan. Ia berkata: Kafir. Dan aku bertanya kepadanya tentang orang yang berkata: Lafalku terhadap Al-Qur’an diciptakan. Ia berkata: Jahmiyah.
Thabaqat Al-Hanabilah 1/270
Budail bin Muhammad bin Asad berkata: Aku dan Ibrahim bin Sa’id Al-Jauhari masuk menemui Ahmad bin Hanbal radhiyallahu ‘anhu pada hari ia wafat atau ia wafat pada malam sebelum hari itu. Ia berkata: Ahmad terus berkata kepada kami: Berpeganglah kalian dengan Sunnah, berpeganglah kalian dengan atsar, berpeganglah kalian dengan hadits. Jangan kalian tulis pendapat fulan dan pendapat fulan. Lalu ia menyebut nama-nama ahlur ra’yi.
Kemudian Ibrahim bin Sa’id berkata kepadanya: Wahai Abu Abdullah, sesungguhnya Al-Karabisi dan Ibnu Ats-Tsalji telah berbicara. Maka Ahmad berkata: Tentang apa mereka berbicara? Ia berkata: Tentang lafal. Maka Ahmad berkata: Lafal terhadap Al-Qur’an tidak diciptakan. Dan barangsiapa berkata: Lafalku terhadap Al-Qur’an diciptakan, maka ia adalah Jahmiyah yang kafir.
Abu Thahir berkata: Kemudian aku bertemu Ibrahim bin Sa’id di Baghdad, dan aku tidak masuk menemuinya kecuali setelah susah payah di rumahnya. Lalu aku bertanya kepadanya, aku berkata: Budail bin Muhammad telah mengabarkan kepadaku bahwa engkau bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang lafal terhadap Al-Qur’an. Maka Ibrahim mengabarkan kepadaku bahwa ia bertanya kepada Ahmad, lalu ia berkata: Lafal terhadap Al-Qur’an tidak diciptakan. Dan barangsiapa berkata: Lafalku terhadap Al-Qur’an diciptakan, maka ia kafir.
Kemudian aku menemuinya lagi setelah itu di Zurbah, lalu aku bertanya kepadanya tentang lafal ini, maka ia mengabarkan kepadaku seperti yang ia abarkan pada kali pertama.
Thabaqat Al-Hanabilah 1/325
Ibnu Badina berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal radhiyallahu ‘anhu, lalu aku berkata kepadanya: Wahai Abu Abdullah, aku adalah seorang lelaki dari penduduk Maushil. Yang dominan di negeri kami adalah Jahmiyah, dan di antara mereka ada Ahlus Sunnah yang sedikit jumlahnya yang mencintaimu. Telah terjadi masalah Al-Karabisi yang menyebabkan mereka terfitnahkan oleh perkataan Al-Karabisi: Lafalku terhadap Al-Qur’an diciptakan. Maka Abu Abdullah berkata kepadaku: Jauhilah dan jauhilah Al-Karabisi ini, jangan berbicara dengannya dan jangan berbicara dengan orang yang berbicara dengannya. Empat atau lima kali, kecuali yang tercatat dalam catatanku adalah empat kali.
Lalu aku berkata: Wahai Abu Abdullah, apakah perkataan ini menurutmu dan apa yang muncul darinya kembali kepada perkataan Jahm? Ia berkata: Ini semua dari perkataan Jahm.
Thabaqat Al-Hanabilah 2/281
Ibnu Syaddad Ash-Shafadi berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal ketika kami membahas perkara Al-Qur’an. Maka ia berkata: Ia bagaimanapun berpindah adalah tidak diciptakan. Lafal terhadap Al-Qur’an, barangsiapa berkata: Ia diciptakan, maka ini dari perkataan Jahm. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mereka menghalangiku untuk menyampaikan kalamullah Rabbku ‘Azza wa Jalla.” Allah berfirman: “sehingga ia mendengar kalamullah” (Surah At-Taubah: 6). Ia berkata: Dan Ahmad berkata: Tidak boleh duduk bersama orang yang berkata: Lafalku terhadap Al-Qur’an diciptakan, dan tidak boleh shalat di belakangnya, karena sesungguhnya ini dari perkataan Jahm.
Thabaqat Al-Hanabilah 2/304
Ibnu Mandah berkata: Ahmad berkata: Barangsiapa berkata: Lafalku terhadap Al-Qur’an diciptakan, maka ia kafir, diminta bertobat. Jika ia bertobat, jika tidak maka ia dibunuh.
Thabaqat Al-Hanabilah 2/391
Syahin bin As-Sumaid’ berkata: Aku mendengar Abu Abdullah berkata: Barangsiapa berkata: Lafalku terhadap Al-Qur’an diciptakan, maka ia kafir.
Dan ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah berkata: Barangsiapa berkata: Al-Qur’an diciptakan, maka ia kafir. Dan barangsiapa ragu akan kekufurannya, maka ia kafir.
Abu Thalib berkata: Aku membaca di hadapannya: “Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa” (Surah Al-Ikhlas: 1) dan aku bertanya kepadanya: Apakah ini makhluk? Maka Ahmad berkata kepadanya: Ini bukan makhluk. Lalu sampai kepadanya bahwa Abu Thalib meriwayatkan dari beliau bahwa ia berkata: Lafalku terhadap Al-Qur’an tidak diciptakan. Maka Ahmad marah kepadanya dan berkata: Apakah aku berkata kepadamu: Lafalku terhadap Al-Qur’an tidak diciptakan?! Maka ia berkata: Tidak, tetapi aku membaca di hadapanmu: “Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa” lalu aku berkata kepadamu: Apakah ini tidak diciptakan? Maka engkau berkata: Ya.
Maka ia berkata: Lalu mengapa engkau meriwayatkan dari aku bahwa aku berkata kepadamu: Lafalku terhadap Al-Qur’an tidak diciptakan? Maka ia berkata: Aku tidak meriwayatkannya darimu, tetapi aku meriwayatkannya dari diriku sendiri.
Ia berkata: Maka jangan engkau katakan ini, karena sesungguhnya aku tidak pernah mendengar seorang ulama pun berkata demikian. Tetapi katakanlah: Al-Qur’an bagaimanapun ia berpindah adalah kalamullah yang tidak diciptakan.
Majmu’ Al-Fatawa 12/325
Ibnu Zanjuwaih berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata: Barangsiapa berkata: Lafalku terhadap Al-Qur’an diciptakan, maka ia adalah Jahmiyah. Dan barangsiapa berkata: Tidak diciptakan, maka ia adalah mubtadi’ yang tidak boleh diajak bicara.
Majmu’ Al-Fatawa 12/325
96 – Bab: Penyebutan Orang yang Berkata: Al-Quran itu Baru (Hadits)
Harb al-Kirmani berkata: Aku mendengar Ishaq berkata: Barangsiapa yang mengatakan bahwa Al-Quran itu baru (hadits) dengan maksud makhluk, maka dia kafir kepada Allah Yang Maha Kaya lagi Maha Agung.
Aku bertanya: Apa makna firman-Nya: “Tidaklah datang kepada mereka suatu peringatan baru pun dari Tuhan mereka” (Surah Al-Anbiya: 2), dia menjawab: Baru dari Arasy, yang terakhir turun dari kitab-kitab dari Arasy. Kemudian aku mengulangi pertanyaan itu kepadanya, lalu dia berkata: Yang paling baru kitab-kitab yang diturunkan oleh Ar-Rahman.
“Masail Harb” halaman 417-418.
Abu Bakr al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah (Imam Ahmad) berkata: Siapa Dawud bin Ali al-Ishfahani itu! Semoga Allah tidak melapangkan urusannya. Muhammad bin Yahya an-Naisaburi mengirimkan surat kepadaku bahwa Dawud al-Ishfahani dengan bohong berkata: Sesungguhnya Al-Quran itu baru (hadits).
Abdullah (bin Ahmad) berkata: Dawud meminta izin bertemu ayahku, lalu ayahku berkata: Siapa ini? Dawud? Semoga Allah tidak menguatkan hatinya dan semoga Allah memenuhi kuburnya dengan ulat. Maka dia (Dawud) meninggal dalam keadaan berulat.
“Majmu’ al-Fatawa” 6/324.
97 – Bab: Perdebatan dengan Jahmiyyah
Imam Ahmad berkata: Firman-Nya: “Demi bintang ketika terbenam” (Surah An-Najm: 1), beliau berkata: Hal itu karena kaum Quraisy mengatakan bahwa Al-Quran adalah syair. Mereka mengatakan: Dongeng orang-orang terdahulu. Mereka mengatakan: Mimpi yang kacau balau. Mereka mengatakan: Muhammad mengarangnya sendiri. Mereka mengatakan: Dia mempelajarinya dari orang lain. Maka Allah bersumpah demi bintang ketika terbenam, maksudnya Al-Quran ketika turun, lalu berfirman: “Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru” (Surah An-Najm: 1-2), maksudnya Muhammad, “dan tidak pula keliru, dan dia tidak berbicara menurut kemauan hawa nafsunya” (Surah An-Najm: 2-3), Dia berfirman: Sesungguhnya Muhammad tidak mengatakan Al-Quran ini dari dirinya sendiri, lalu berfirman: “Tidak lain (Al-Quran itu)”, artinya: apa itu, maksudnya Al-Quran “adalah wahyu yang diwahyukan” (Surah An-Najm: 4). Maka Allah membatalkan bahwa Al-Quran adalah sesuatu selain wahyu karena firman-Nya “Tidak lain (Al-Quran itu) adalah wahyu yang diwahyukan”. Kemudian berfirman: “Dia diajarkan”, maksudnya diajarkan kepada Muhammad oleh Jibril shallallahu ‘alaihi wasallam, “dan dia tidak berbicara menurut kemauan hawa nafsunya. Tidak lain (Al-Quran itu) adalah wahyu yang diwahyukan, yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai kecerdasan, lalu dia menampakkan diri dengan rupa yang asli” (Surah An-Najm: 3-6) hingga firman-Nya: “Maka dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang diwahyukan” (Surah An-Najm: 10). Maka Allah menamakan Al-Quran sebagai wahyu dan tidak menamakannya sebagai makhluk.
Kemudian Jahm mengklaim perkara lain, dia berkata: Beritahu kami tentang Al-Quran, apakah dia sesuatu? Kami menjawab: Ya, dia adalah sesuatu. Dia berkata: Sesungguhnya Allah menciptakan segala sesuatu, mengapa Al-Quran tidak termasuk dalam perkara-perkara yang diciptakan, padahal kalian telah mengakui bahwa dia adalah sesuatu?!
Demi umurku, sungguh dia mengklaim perkara yang memungkinkan baginya untuk mengklaim, dan dia telah menyamarkan kepada manusia dengan apa yang dia klaim. Maka kami berkata: Sesungguhnya Allah dalam Al-Quran tidak menamakan kalam-Nya sebagai sesuatu, Dia hanya menamakan sebagai sesuatu apa yang terjadi dengan perkataan-Nya. Tidakkah engkau mendengar firman-Nya tabaraka wa ta’ala: “Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu” (Surah An-Nahl: 40), maka sesuatu itu bukanlah perkataan-Nya, sesuatu itu hanyalah yang terjadi dengan perkataan-Nya. Dan dalam ayat lain: “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu” (Surah Yasin: 82), maka sesuatu itu bukanlah perintah-Nya, sesuatu itu hanyalah yang terjadi dengan perintah-Nya.
Di antara tanda-tanda dan bukti-bukti bahwa Allah tidak bermaksud kalam-Nya termasuk dalam perkara-perkara yang diciptakan adalah:
Allah berfirman tentang angin yang Dia kirimkan kepada kaum ‘Ad: “Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya” (Surah Al-Ahqaf: 25). Padahal angin itu datang kepada berbagai hal yang tidak dihancurkannya, yaitu tempat tinggal mereka, rumah-rumah mereka, dan gunung-gunung yang ada di sekitar mereka. Angin itu datang kepadanya namun tidak menghancurkannya, padahal Allah berfirman: “Yang menghancurkan segala sesuatu”. Demikian pula ketika Allah berfirman: “Pencipta segala sesuatu” (Surah Az-Zumar: 62), Dia tidak bermaksud diri-Nya, ilmu-Nya, dan kalam-Nya termasuk dalam perkara-perkara yang diciptakan. Allah berfirman kepada Ratu Saba’: “Dan dia diberi segala sesuatu” (Surah An-Naml: 23), padahal kerajaan Sulaiman adalah sesuatu dan dia tidak diberinya. Demikian pula ketika Allah berfirman: “Pencipta segala sesuatu” (Surah Al-An’am: 102), Dia tidak bermaksud kalam-Nya termasuk dalam perkara-perkara yang diciptakan. Allah berfirman kepada Musa: “Dan Aku telah memilihmu untuk Diri-Ku” (Surah Thaha: 41). “Dan Allah memperingatkan kamu terhadap Diri-Nya” (Surah Ali ‘Imran: 28). Allah berfirman: “Tuhanmu telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang” (Surah Al-An’am: 54). Dan berfirman: “Engkau mengetahui apa yang ada pada diri-Ku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada Diri-Mu” (Surah Al-Ma’idah: 116). Kemudian berfirman: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati” (Surah Ali ‘Imran: 185). Maka orang yang berakal tentang Allah telah mengetahui bahwa Dia tidak bermaksud Diri-Nya termasuk dalam diri-diri yang akan merasakan kematian, padahal Allah telah menyebutkan setiap diri. Demikian pula ketika Allah berfirman: “Pencipta segala sesuatu”, Dia tidak bermaksud Diri-Nya, ilmu-Nya, dan kalam-Nya termasuk dalam perkara-perkara yang diciptakan.
Dalam hal ini terdapat bukti dan penjelasan bagi orang yang berakal tentang Allah. Semoga Allah merahmati orang yang berpikir dan kembali dari perkataan yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah, dan tidak berkata tentang Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian dari makhluk-Nya, berfirman: “Bukankah telah diambil perjanjian dari mereka dalam Kitab, bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar” (Surah Al-A’raf: 169). Dan dalam ayat lain berfirman: “Katakanlah: Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu, dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui” (Surah Al-A’raf: 33). Maka Allah telah mengharamkan berkata dusta terhadap-Nya.
Allah berfirman: “Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berdusta terhadap Allah, wajah mereka menjadi hitam” (Surah Az-Zumar: 60). Maka Allah melindungi kami dan kalian dari fitnah orang-orang yang menyesatkan.
Allah telah menyebutkan kalam-Nya di berbagai tempat dalam Al-Quran, Dia menamakannya sebagai kalam dan tidak menamakannya sebagai makhluk. Firman-Nya: “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya” (Surah Al-Baqarah: 37). Allah berfirman: “Padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah” (Surah Al-Baqarah: 75). Allah berfirman: “Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya” (Surah Al-A’raf: 143). Allah berfirman: “Wahai Musa, sesungguhnya Aku telah memilihmu melebihi manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku” (Surah Al-A’raf: 144). Allah berfirman: “Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung” (Surah An-Nisa’: 164). Allah berfirman: “Maka berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya” (Surah Al-A’raf: 158). Maka Allah mengabarkan kepada kita bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beriman kepada Allah dan kepada kalam Allah. Allah berfirman: “Mereka ingin mengubah kalimat-kalimat Allah” (Surah Al-Fath: 15). Allah berfirman: “Katakanlah: Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku” (Surah Al-Kahfi: 109). Allah berfirman: “Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia supaya dia sempat mendengar firman Allah” (Surah At-Taubah: 6), dan Dia tidak berfirman: supaya dia sempat mendengar ciptaan Allah. Ini adalah nash dengan bahasa Arab yang jelas, tidak membutuhkan tafsir, dia jelas dengan segala puji bagi Allah.
Aku telah bertanya kepada orang Jahmiyyah: Bukankah Allah berfirman “Katakanlah: Kami beriman kepada Allah” (Surah Al-Baqarah: 136), “Dan katakanlah kepada manusia perkataan yang baik” (Surah Al-Baqarah: 83), “Dan katakanlah: Kami beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu” (Surah Al-‘Ankabut: 46), “Dan katakanlah perkataan yang benar” (Surah Al-Ahzab: 70), “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” (Surah Ali ‘Imran: 64). Allah berfirman: “Dan katakanlah: Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu” (Surah Al-Kahfi: 29). Allah berfirman: “Maka katakanlah: Salam” (Surah Al-An’am: 54). Dan kita tidak pernah mendengar Allah berfirman: Katakanlah bahwa kalam-Ku adalah makhluk.
Allah berfirman: “Dan janganlah kamu mengatakan: (Tuhan itu) tiga. Berhentilah” (Surah An-Nisa’: 171). Allah berfirman: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang yang mengucapkan salam kepadamu: Kamu bukan seorang mukmin” (Surah An-Nisa’: 94). “Janganlah kamu katakan ra’ina” (Surah Al-Baqarah: 104). “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati” (Surah Al-Baqarah: 154). “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap sesuatu: Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): Insya Allah” (Surah Al-Kahfi: 23-24). “Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka” (Surah Al-Isra’: 23). “Dan janganlah kamu menyembah tuhan yang lain di samping Allah” (Surah Al-Qashash: 88). “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan” (Surah Al-An’am: 151). “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu” (Surah Al-Isra’: 29). “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar” (Surah Al-An’am: 151). “Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik” (Surah Al-An’am: 152). “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong” (Surah Al-Isra’: 37).
Dan yang serupa dengan ini banyak dalam Al-Quran. Inilah yang Allah larang dan Dia tidak berfirman kepada kita: Janganlah kalian mengatakan bahwa Al-Quran adalah kalam-Ku.
Para malaikat menamai kalam Allah sebagai kalam dan tidak menamakannya sebagai makhluk. Firman-Nya: “Hingga apabila rasa takut telah dihilangkan dari hati mereka, mereka berkata: Apakah yang difirmankan oleh Tuhanmu?” (Surah Saba’: 23). Hal itu karena para malaikat tidak mendengar suara wahyu antara Isa dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan di antara keduanya sekian dan sekian tahun. Ketika Allah mewahyukan kepada Muhammad, para malaikat mendengar suara wahyu seperti benturan besi pada batu, lalu mereka mengira bahwa itu adalah urusan dari hari kiamat, maka mereka ketakutan dan sujud dengan wajah mereka. Itulah makna firman-Nya: “Hingga apabila rasa takut telah dihilangkan dari hati mereka”, artinya: hingga apabila ketakutan hilang dari hati mereka, para malaikat mengangkat kepala mereka lalu sebagian mereka bertanya kepada sebagian yang lain, mereka berkata: Apakah yang difirmankan oleh Tuhan kalian? Mereka tidak berkata: Apakah yang diciptakan oleh Tuhan kalian. Ini adalah penjelasan bagi orang yang Allah kehendaki petunjuk baginya.
Kemudian Jahm mengklaim perkara lain, dia berkata: Aku menemukan ayat dalam Kitabullah tabaraka wa ta’ala yang menunjukkan bahwa Al-Quran itu makhluk. Kami berkata: Di ayat mana? Dia berkata: “Tidaklah datang kepada mereka suatu peringatan baru pun dari Tuhan mereka” (Surah Al-Anbiya: 2). Dia mengklaim bahwa Allah menyebut Al-Quran sebagai baru (hadits), dan setiap yang baru (hadits) itu makhluk.
Demi umurku, sungguh dia telah membuat samar kepada manusia dengan ini, dan itu adalah ayat dari ayat-ayat mutasyabihat. Maka kami berkata tentang hal itu dengan perkataan, kami memohon pertolongan kepada Allah, dan kami memperhatikan Kitabullah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
Ahmad radhiyallahu ‘anhu berkata: Ketahuilah bahwa dua perkara jika keduanya berkumpul dalam satu nama yang mencakup keduanya, lalu salah satunya lebih tinggi dari yang lainnya, kemudian berlaku atas keduanya nama pujian, maka yang lebih tinggi lebih berhak dengan pujian dan lebih dominan atasnya. Dan jika berlaku atasnya nama celaan, maka yang lebih rendah lebih berhak dengannya.
Di antaranya adalah firman Allah ta’ala dalam Kitab-Nya: “Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia” (Surah Al-Baqarah: 143). “(yaitu) mata air yang dari padanya hamba-hamba Allah minum” (Surah Al-Insan: 6), maksudnya orang-orang yang berbuat baik, bukan orang-orang yang berbuat jahat. Ketika mereka berkumpul dalam nama manusia dan nama hamba-hamba, maka makna firman Allah jalla tsana’uhu: “(yaitu) mata air yang dari padanya hamba-hamba Allah minum”, maksudnya orang-orang yang berbuat baik, bukan orang-orang yang berbuat jahat, karena firman-Nya ketika orang-orang berbuat baik berdiri sendiri: “Sesungguhnya orang-orang yang berbuat baik berada dalam kenikmatan” (Surah Al-Infithar: 13). Dan ketika orang-orang yang berbuat jahat berdiri sendiri: “Dan sesungguhnya orang-orang yang berbuat jahat benar-benar berada dalam neraka” (Surah Al-Infithar: 14).
Firman-Nya: “Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia”, maka orang mukmin lebih berhak dengannya meskipun mereka berkumpul dalam nama manusia, karena orang mukmin ketika berdiri sendiri diberi pujian, karena firman-Nya: “Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia”, “Dan Dia adalah Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman” (Surah Al-Ahzab: 43). Dan ketika orang-orang kafir berdiri sendiri, berlaku atas mereka celaan dalam firman-Nya: “Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim” (Surah Hud: 18). Allah berfirman: “Bahwa Allah telah memurkai mereka dan dalam siksaan mereka kekal” (Surah Al-Ma’idah: 80). Maka mereka ini tidak masuk dalam rahmat.
Dalam firman-Nya: “Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi” (Surah Asy-Syura: 27), maka orang kafir dan orang mukmin berkumpul dalam nama hamba, dan orang kafir lebih berhak dengan melampaui batas daripada orang-orang mukmin, karena orang-orang mukmin berdiri sendiri dan dipuji dalam hal dilapangkan rezeki bagi mereka, yaitu firman-Nya: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir” (Surah Al-Furqan: 67), dan firman-Nya: “Dan sebagian dari apa yang Kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan” (Surah Al-Baqarah: 3). Allah telah melapangkan rezeki bagi Sulaiman bin Dawud, Dzul-Qarnain, Abu Bakar, Umar, dan orang-orang yang seperti mereka dari orang yang dilapangkan baginya, lalu dia tidak melampaui batas. Dan ketika orang kafir berdiri sendiri, berlaku atasnya nama melampaui batas dalam firman-Nya tentang Qarun: “Maka dia berlaku sombong terhadap mereka” (Surah Al-Qashash: 76), dan Namrudz bin Kan’an ketika Allah memberinya kerajaan lalu dia membantah tentang Tuhannya, dan Fir’aun ketika Musa berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir’aun dan pemuka kaumnya perhiasan dan harta benda dalam kehidupan dunia” (Surah Yunus: 88). Ketika mereka berkumpul dalam satu nama lalu berlaku atas mereka nama melampaui batas, maka orang-orang kafir lebih berhak dengannya sebagaimana orang mukmin lebih berhak dengan pujian.
Ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Tidak datang kepada mereka suatu peringatan pun dari Tuhan mereka yang baru (muhdats), melainkan mereka mendengarnya” (Surat Al-Anbiya: 2), maka Dia menggabungkan dua peringatan: peringatan Allah dan peringatan Nabi-Nya. Adapun peringatan Allah ketika berdiri sendiri, tidak dikenakan padanya istilah ‘baru’ (muhdats). Tidakkah engkau mendengar firman-Nya: “Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar” (Surat Al-Ankabut: 45), “Dan ini adalah peringatan yang diberkahi” (Surat Al-Anbiya: 50)? Namun ketika peringatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri sendiri, maka dikenakan padanya istilah ‘baru’ (muhdats). Tidakkah engkau mendengar firman-Nya: “Dan Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat” (Surat Ash-Shaffat: 96). Maka peringatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah perbuatan, dan Allah adalah penciptanya yang menciptakan sesuatu yang baru. Dalil bahwa Dia menggabungkan dua peringatan adalah firman-Nya: “Tidak datang kepada mereka suatu peringatan pun dari Tuhan mereka yang baru (muhdats)” (Surat Al-Anbiya: 2). Dia menetapkan sifat ‘baru’ (muhdats) padanya ketika datang kepada kita. Engkau tahu bahwa yang datang kepada kita dengan membawa para Nabi hanyalah penyampai dan pemberi peringatan. Allah berfirman: “Dan berilah peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (Surat Adh-Dhariyat: 55), “Maka berilah peringatan jika peringatan itu bermanfaat” (Surat Al-A’la: 9), “Sesungguhnya kamu hanyalah pemberi peringatan” (Surat Al-Ghashiyah: 21). Ketika mereka berkumpul dalam nama ‘peringatan’, maka dikenakan pada mereka istilah ‘baru’ (muhdats). Adapun peringatan Nabi ketika berdiri sendiri, dikenakan padanya istilah ‘ciptaan’, dan lebih layak dengan sifat ‘baru’ (muhdats) daripada peringatan Allah yang ketika berdiri sendiri tidak dikenakan padanya istilah ciptaan atau baru.
Maka kami menemukan petunjuk dari firman Allah “Tidak datang kepada mereka suatu peringatan pun dari Tuhan mereka yang baru (muhdats)” (Surat Al-Anbiya: 2) menuju kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu tidak mengetahui lalu Allah mengajarkannya. Ketika Allah mengajarkannya, maka hal itu adalah sesuatu yang baru (muhdats) bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Kemudian Jahm mengajukan perkara lain, ia berkata: Sesungguhnya kami menemukan ayat dalam Kitab Allah yang menunjukkan bahwa Al-Quran adalah makhluk.
Kami berkata: Ayat yang mana? Ia berkata: Firman Allah: “Sesungguhnya Al-Masih Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan kalimat-Nya” (Surat An-Nisa: 171), dan Isa adalah makhluk.
Kami berkata: Sesungguhnya Allah menghalangimu dari pemahaman tentang Al-Quran. Isa dikenakan padanya ungkapan-ungkapan yang tidak dikenakan pada Al-Quran, karena Dia menyebutnya sebagai yang dilahirkan, anak kecil, pemuda, dan anak laki-laki yang makan dan minum. Dia dikhitabkan dengan perintah dan larangan, dikenakan padanya nama khitab, janji dan ancaman. Kemudian dia dari keturunan Nuh dan dari keturunan Ibrahim. Tidak halal bagi kita mengatakan tentang Al-Quran seperti apa yang kami katakan tentang Isa. Apakah kalian mendengar Allah berfirman tentang Al-Quran seperti apa yang Dia katakan tentang Isa? Tetapi makna dari firman Allah Yang Maha Agung pujian-Nya: “Sesungguhnya Al-Masih Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam” (Surat An-Nisa: 171), maka kalimat yang disampaikan kepada Maryam adalah ketika Dia berkata kepadanya: “Kun (Jadilah)”, maka jadilah Isa dengan “Kun”. Isa bukanlah ‘Kun’ itu sendiri, tetapi dengan ‘Kun’ dia ada. ‘Kun’ dari Allah adalah perkataan, dan ‘Kun’ bukanlah makhluk.
Orang-orang Nasrani dan Jahmiyyah berdusta atas nama Allah dalam perkara Isa. Jahmiyyah berkata: Isa adalah ruh Allah dan kalimat-Nya karena kalimat adalah makhluk. Orang-orang Nasrani berkata: Isa adalah ruh Allah dari dzat Allah dan kalimat-Nya dari dzat Allah, sebagaimana dikatakan: Sesungguhnya kain sobek ini dari kain yang utuh ini.
Sedangkan kami berkata: Sesungguhnya Isa ada dengan kalimat, dan Isa bukanlah kalimat itu sendiri. Adapun firman Allah: “Dan ruh dari-Nya” (Surat An-Nisa: 171), maksudnya dari perintah-Nya adalah ruh di dalamnya, sebagaimana firman-Nya: “Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya dari-Nya” (Surat Al-Jathiyah: 13), maksudnya dari perintah-Nya. Tafsir ‘ruh Allah’ maknanya bahwa ia adalah ruh dengan kalimat Allah yang diciptakan Allah, sebagaimana dikatakan: hamba Allah, langit Allah, dan bumi Allah.
Kemudian Jahm mengajukan perkara lain, ia berkata: Sesungguhnya Allah berfirman: “Dia menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari” (Surat Al-Furqan: 59). Ia mengklaim bahwa Al-Quran tidak terlepas dari berada di langit, atau di bumi, atau di antara keduanya. Ia menyerupakan dan membingungkan manusia.
Kami berkata kepadanya: Bukankah Allah Yang Maha Agung pujian-Nya hanya menjatuhkan istilah ciptaan dan makhluk pada apa yang ada di langit dan bumi dan di antara keduanya? Mereka berkata: Ya.
Kami berkata: Apakah di atas langit ada sesuatu yang diciptakan? Mereka berkata: Ya.
Kami berkata: Sesungguhnya Dia tidak menjadikan apa yang di atas langit bersama dengan benda-benda yang diciptakan. Para ahli ilmu telah mengetahui bahwa di atas tujuh langit ada Kursi, Arsy, Lauh Mahfuzh, hijab-hijab, dan banyak hal yang tidak disebutkan-Nya dan tidak dijadikan-Nya bersama dengan benda-benda yang diciptakan. Hanya berita dari Allah tentang langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya.
Kami berkata: Mereka mengklaim bahwa Al-Quran tidak terlepas dari berada di langit, atau di bumi, atau di antara keduanya. Kami berkata: Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman: “Allah tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan haq (kebenaran)” (Surat Ar-Rum: 8). Apa yang dengannya Dia ciptakan langit dan bumi sudah ada sebelum langit dan bumi. Kebenaran (al-haqq) yang dengannya Dia ciptakan langit dan bumi adalah perkataan-Nya, karena Allah mengatakan kebenaran. Dia berfirman: “Dia (Allah) berfirman: ‘Maka yang haq itu dan yang haq itu Aku katakan'” (Surat Shad: 84), “Dan (ingatlah) hari Dia berfirman: ‘Kun (jadilah)’, maka jadilah; firman-Nya itulah yang haq” (Surat Al-An’am: 73). Kebenaran yang dengannya Dia ciptakan langit dan bumi sudah ada sebelum langit dan bumi, dan kebenaran itu adalah perkataan-Nya, dan perkataan-Nya bukanlah makhluk.
Kitab “Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah waz-Zanadiqah” karya Imam Ahmad halaman 114-126
Imam Ahmad berkata: Mereka berkata: Datang hadits: “Sesungguhnya Al-Quran akan datang dalam bentuk pemuda yang pucat lalu mendatangi pemiliknya seraya berkata: ‘Apakah kamu mengenalku?’ Lalu dia berkata: ‘Siapa kamu?’ Maka ia berkata: ‘Aku adalah Al-Quran yang membuat haus siangmu dan begadang malammu.'”
Dia berkata: “Lalu Allah mendatangkannya, kemudian dia berkata: ‘Ya Rabb…'” Mereka mengklaim bahwa Al-Quran adalah makhluk dari hadits-hadits ini. Kami berkata kepada mereka: Al-Quran tidak datang kecuali dengan makna bahwa telah datang dari orang yang membaca: “Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa” (Surat Al-Ikhlas: 1) maka baginya begini dan begini. Tidakkah kalian melihat bahwa barangsiapa membaca: “Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa” tidak datang kepadanya kecuali pahala? Karena kita membaca Al-Quran lalu berkata: Ya Rabb, karena kalam Allah tidak datang dan tidak berubah dari keadaan ke keadaan lain. Makna bahwa Al-Quran datang adalah pahala Al-Quran yang datang, lalu berkata: Ya Rabb.
Kitab “Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah waz-Zanadiqah” karya Imam Ahmad halaman 145
Shalih berkata: Al-Mutawakkil mengirim utusan kepada Abu Ishaq bin Ibrahim memerintahkannya untuk membawa ayahku ke kemah militer. Dia berkata: Ishaq mengirim utusan kepada ayahku lalu berkata: Sesungguhnya Amirul Mukminin telah menulis kepadaku memerintahkanku untuk membawamu kepadanya, maka bersiaplah untuk itu.
Ayahku berkata: Ishaq bin Ibrahim berkata kepadaku: Halalkan aku, maka aku berkata: Aku telah menghalalkanmu dan setiap orang yang hadir.
Ayahku berkata: Ishaq berkata kepadaku: Aku bertanya kepadamu tentang Al-Quran, pertanyaan orang yang mencari petunjuk bukan pertanyaan ujian, dan hendaklah hal itu tertutup pada dirimu. Apa pendapatmu tentang Al-Quran?
Ayahku berkata: Aku berkata: Al-Quran adalah kalam Allah, bukan makhluk.
Dia berkata: Katakan kepadaku: Dari mana kamu mengatakan bukan makhluk? Ayahku berkata: Aku berkata kepadanya: Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman: “Ingatlah, kepunyaan-Nya lah penciptaan (al-khalq) dan urusan (al-amr)” (Surat Al-A’raf: 54), maka Dia membedakan antara penciptaan (al-khalq) dan urusan (al-amr).
Ishaq berkata: Urusan (al-amr) itu makhluk? Ayahku berkata: Aku berkata kepadanya: Wahai Ishaq, sesungguhnya Allah menciptakan ciptaan. Ayahku berkata: Dia berkata kepadaku: Dari siapa kamu meriwayatkan bahwa itu bukan makhluk? Aku berkata: Ja’far bin Muhammad berkata: Bukan pencipta dan bukan makhluk. Dia pun diam.
Kitab “Sirah Al-Imam Ahmad” karya putranya Shalih halaman 83-84
Hanbal berkata: Aku mendengar Abu Abdullah (Imam Ahmad) berkata: Di antara hujjah yang aku sampaikan kepada mereka pada hari itu aku berkata:
Allah berfirman: “Ingatlah, kepunyaan-Nya lah penciptaan (al-khalq) dan urusan (al-amr)” (Surat Al-A’raf: 54), maka Dia membedakan antara penciptaan (al-khalq) dan urusan (al-amr). Hal itu karena mereka berkata kepadaku: Bukankah segala sesuatu selain Allah adalah makhluk?
Aku berkata kepada mereka: Apa yang selain Allah adalah makhluk, adapun Al-Quran maka ia adalah kalam-Nya dan bukan makhluk. Syu’aib berkata kepadaku: Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami menjadikannya Al-Quran” (Surat Az-Zukhruf: 3). Bukankah setiap yang dijadikan adalah makhluk?
Aku berkata: Allah berfirman: “Lalu dia menjadikan berhala-berhala itu hancur lebur” (Surat Al-Anbiya: 58), apakah Dia menciptakan mereka? “Maka Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan” (Surat Al-Fil: 5), apakah Dia menciptakan mereka? Apakah setiap yang dijadikan adalah makhluk? Bagaimana ia bisa makhluk padahal ia telah ada sebelum Dia menciptakannya? Dia pun terdiam.
Dia berfirman: “Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: ‘Kun (jadilah)’, maka jadilah ia” (Surat An-Nahl: 40).
Aku berkata kepada mereka saat itu: Penciptaan (al-khalq) berbeda dengan urusan (al-amr). Allah Ta’ala berfirman: “Telah datang perintah Allah, maka janganlah kamu meminta agar disegerakan” (Surat An-Nahl: 1). Perintah-Nya, kalam-Nya, dan kekuasaan-Nya bukan makhluk. Janganlah kalian membenturkan Kitab Allah sebagiannya dengan sebagian yang lain, karena kita telah dilarang dari hal ini.
Kitab “Al-Ibanah” karya Ibnu Baththah, Kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah halaman 30-31
Abu Umar Utsman bin Umar Ad-Darraj berkata: Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Harun Al-Khallal menceritakan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Al-Husain Al-Warraq dari Maushil menulis kepadaku, dia berkata: Bakar bin Muhammad bin Al-Hakam menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Abdullah (Imam Ahmad), dia berkata: Aku bertanya kepadanya tentang hujjah yang ia sampaikan ketika menghadap orang-orang ini? Dia berkata: Mereka berargumen kepadaku dengan ayat ini: “Tidak datang kepada mereka suatu peringatan pun dari Tuhan mereka yang baru (muhdats)” (Surat Al-Anbiya: 2), yaitu bahwa Al-Quran adalah yang baru. Aku berargumen kepada mereka dengan ayat ini: “Shaad, demi Al-Quran yang mempunyai peringatan” (Surat Shad: 1). Aku berkata: Dia menamakannya sebagai peringatan, dan kalian berkata: “Tidak datang kepada mereka suatu peringatan pun dari Tuhan mereka yang baru (muhdats)” (Surat Al-Anbiya: 2), maka mungkin ada yang baru selain Al-Quran, tetapi “Shaad, demi Al-Quran yang mempunyai peringatan” (Surat Shad: 1), maka ia adalah Al-Quran dan ia bukanlah yang baru (muhdats). Dia berkata: Dengan ini aku berargumen kepada mereka.
Mereka berargumen kepadaku: Tidaklah Allah menciptakan langit maupun bumi maupun begini lebih besar daripada Ayat Kursi.
Dia berkata: Aku berkata kepadanya: Sesungguhnya Dia tidak menjadikan Ayat Kursi sebagai makhluk. Ini adalah perumpamaan yang Dia berikan, yaitu ia lebih agung daripada diciptakan. Seandainya ia makhluk, tentu langit lebih agung darinya, yaitu ia bukan makhluk.
Dia berkata: Mereka berargumen kepadaku dengan firman: “Allah Pencipta segala sesuatu” (Surat Ar-Ra’d: 16).
Aku berkata: “Dan dari segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan” (Surat Adh-Dhariyat: 49), apakah Dia menciptakan dari Al-Quran berpasang-pasangan? “Dan aku diberi segala sesuatu” (Surat An-Naml: 23), apakah dia diberi Al-Quran? Apakah dia diberi kenabian? Apakah dia diberi begini dan begini?
Allah Ta’ala berfirman: “Ia menghancurkan segala sesuatu” (Surat Al-Ahqaf: 25), apakah ia menghancurkan segala sesuatu? Sesungguhnya ia hanya menghancurkan apa yang Allah kehendaki dari sesuatu.
Dia berkata: Ibnu Abi Du’ad berkata kepadaku: Di mana kamu menemukan bahwa Al-Quran adalah kalam Allah?
Aku berkata: “Dan bacakanlah apa yang telah diwahyukan kepadamu yaitu Kitab Tuhanmu. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain dari pada-Nya” (Surat Al-Kahfi: 27). Dia pun diam.
Aku berkata kepadanya di hadapan khalifah, dan terjadi perdebatan antara aku dan dia. Aku berkata kepadanya: Aku dan kamu sepakat bahwa ia adalah kalam, dan kamu berkata: Ia adalah makhluk. Maka datangkanlah hujjah dari Kitab Allah atau dari Sunnah. Ibnu Abi Du’ad dan teman-temannya tidak mengingkari bahwa ia adalah kalam.
Dia berkata: Mereka tidak suka menampakkan bahwa ia bukan kalam agar mereka tidak dicela.
Hamzah bin Al-Qasim berkata: Hanbal menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Abdullah berkata: Ketika Ibnu Abi Du’ad berbicara kepadaku, aku tidak menjawabnya dan tidak menoleh kepada perkataannya. Tetapi ketika Abu Ishaq berbicara kepadaku, aku melembutkan perkataan dan pembicaraan kepadanya.
Dia berkata: Abu Ishaq berkata kepadaku: Jika kamu menjawabku, sungguh aku akan datang kepadamu dengan pengawal dan pembantu-pembantuku, aku akan menginjak permadanimu, dan aku akan meninggikan namamu. Wahai Ahmad, bertakwalah kepada Allah terhadap dirimu sendiri. Wahai Ahmad! Demi Allah, demi Allah.
Abu Abdullah berkata: Dia tidak tahu dan tidak mengerti, dan dia menyangka bahwa pendapat mereka adalah benar, maka dia berkata: Wahai Ahmad! Sesungguhnya aku sangat peduli padamu.
Aku berkata: Wahai Amirul Mukminin! Ini adalah Al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berita-beritanya. Hujjah mana yang jelas yang aku datangi.
Dia berkata: Lalu yang ini dan yang ini berbicara.
Dia berkata: Ibnu Abi Du’ad berkata ketika ia dan teman-temannya kehabisan argumentasi: Demi Dzat yang tiada tuhan selain Dia, sungguh jika dia menjawabmu, ia lebih aku cintai daripada seratus ribu dan seratus ribu, ia menghitungnya berulang kali. Abu Abdullah berkata: Di antara hujjah yang aku sampaikan kepada mereka pada hari itu, aku berkata kepada mereka: Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman: “Ingatlah, kepunyaan-Nya lah penciptaan (al-khalq) dan urusan (al-amr)” (Surat Al-A’raf: 54). Hal itu karena mereka berkata kepadaku: Bukankah segala sesuatu selain Allah adalah makhluk? Aku berkata kepada mereka: Dia membedakan antara penciptaan (al-khalq) dan urusan (al-amr). Apa yang selain Allah adalah makhluk, adapun Al-Quran maka ia adalah kalam-Nya, bukan makhluk. Dia berfirman: Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman: “Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: ‘Kun (jadilah)’, maka jadilah ia” (Surat An-Nahl: 40).
Aku berkata kepada mereka: Allah Ta’ala berfirman: “Telah datang perintah Allah” (Surat An-Nahl: 1). Perintah-Nya adalah kalam-Nya dan kekuasaan-Nya, bukan makhluk. Janganlah kalian membenturkan Kitab Allah sebagiannya dengan sebagian yang lain, karena kita telah dilarang dari hal itu.
Hanbal berkata: Abu Abdullah berkata: Aku berargumen kepada mereka, maka aku berkata: Kalian mengklaim bahwa berita-berita (hadits) kalian tolak karena perbedaan sanad-sanadnya, dan apa yang masuk ke dalamnya dari keraguan dan kelemahan. Maka Al-Quran ini, kami dan kalian sepakat tentangnya, dan tidak ada perbedaan di antara ahli kiblat tentangnya, dan ia adalah ijma’.
Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman dalam Kitab-Nya sebagai pembenaran dari-Nya terhadap perkataan Ibrahim tanpa menolak perkataannya dan apa yang diriwayatkan darinya, Dia berfirman: “(Ingatlah) ketika dia berkata kepada bapaknya: ‘Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?'” (Surat Maryam: 42). Ibrahim mencela bapaknya karena menyembah sesuatu yang tidak mendengar dan tidak melihat. Apakah ini munkar menurut kalian? Mereka berkata: Menyerupakan, menyerupakan wahai Amirul Mukminin.
Aku berkata: Bukankah ini adalah Al-Quran? Apakah ini munkar menurut kalian dan tertolak? Ini adalah kisah Musa. Allah berfirman kepada Musa dalam Kitab-Nya sebagai riwayat dari diri-Nya: “Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung” (Surat An-Nisa: 164). Maka Allah menetapkan perkataan kepada Musa sebagai kemuliaan dari-Nya kepada Musa. Kemudian Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku” (Surat Thaha: 14). Apakah kalian mengingkari ini? Apakah boleh ‘ya’ ini kembali kepada selain Allah? Atau apakah makhluk boleh mengklaim ketuhanan? Apakah boleh ada yang mengatakan ini selain Allah? Dia berfirman kepada Musa: “Sesungguhnya Aku ini Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu” (Surat Thaha: 12). Ini adalah Kitab Allah wahai Amirul Mukminin. Apakah boleh ada yang mengatakan kepada Musa: ‘Aku Tuhanmu’ yang makhluk? Dan apakah Musa menyembah makhluk? Dan apakah dia pergi kepada Fir’aun dengan membawa risalah makhluk wahai Amirul Mukminin?
Dia berkata: Maka mereka diam, dan mereka berbicara satu sama lain dengan pembicaraan yang tidak saya pahami.
Abu Abdillah berkata: Dan kaum itu menolak hal ini dan mengingkarinya. Saya tidak pernah melihat seorang pun yang mencari ilmu kalam dan menyukainya kecuali akan membawanya kepada perkara yang besar. Sungguh mereka telah berbicara dengan suatu perkataan dan berdalil dengan sesuatu yang tidak mampu memperkuat hatiku dan tidak mampu diucapkan lisanku untuk meriwayatkannya. Dan kaum itu kembali kepada ta’thil (penafian sifat Allah) dalam perkataan-perkataan mereka, dan mereka mengingkari ru’yah (melihat Allah) dan semua atsar. Aku tidak menyangka bahwa keadaannya seperti ini hingga aku mendengar pendapat-pendapat mereka.
Abu Abdillah berkata: Dikatakan kepadaku pada hari itu: “Dahulu Allah ada dan tidak ada Al-Quran.”
Maka aku katakan kepadanya: “Dahulu Allah ada dan tidak ada ilmu?!” Maka dia diam. Dan seandainya dia mengira selain itu bahwa Allah ada dan tidak ada ilmu, niscaya dia telah kafir kepada Allah.
Abu Abdillah berkata: Dan aku katakan kepadanya yaitu kepada Ibnu Al-Hajjam: Celakalah engkau, Allah tidak mengetahui hingga sesuatu itu ada, maka ilmu-Nya dan ilmumu sama! Engkau telah kafir kepada Allah Yang Maha Mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi, Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Yang Maha Mengetahui segala yang gaib. Celakalah engkau, apakah ilmu-Nya seperti ilmumu? Apakah Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan hati?!
Abu Abdillah berkata: Bukankah ini pendapatnya?
Abu Abdillah berkata: Dan ini adalah kekufuran kepada Allah. Aku tidak menyangka bahwa kaum itu seperti ini. Sungguh si Barghuts pada hari itu berkata: “Al-jism (tubuh/benda) dan begini…” Dan perkataan yang tidak aku pahami.
Maka aku katakan: Aku tidak tahu dan tidak mengerti apa ini, kecuali bahwa aku tahu bahwa Dia adalah Yang Maha Esa, Maha Dibutuhkan, tidak ada yang serupa dengan-Nya dan tidak ada yang setara dengan-Nya, dan Dia sebagaimana Dia mensifati diri-Nya sendiri. Maka dia diam dariku.
Dia berkata: Maka Syu’aib berkata kepadaku: Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami menjadikannya Al-Quran dalam bahasa Arab” (Surah Az-Zukhkruf: 3). Bukankah setiap yang dijadikan itu makhluk?
Aku katakan: Maka sungguh Allah telah berfirman: “Lalu ia menjadikan berhala-berhala itu hancur” (Surah Al-Anbiya: 58). Apakah Dia menciptakan mereka?! “Maka Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan” (Surah Al-Fil: 5). Apakah Dia menciptakan mereka?! Apakah setiap yang dijadikan itu makhluk?! Bagaimana ia bisa menjadi makhluk padahal ia telah ada sebelum kata “menjadikan” diciptakan? Dia berkata: Maka dia diam.
Abu Amr Utsman bin Umar berkata: Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Harun menceritakan kepada kami, dia berkata: Ali bin Ahmad Abu Ghalib mengabarkan kepadaku, dia berkata: Muhammad bin Yusuf Al-Marwazi yang dikenal dengan Ibnu Suriyyah menceritakan kepadaku, dia berkata: Aku masuk menemui Abu Abdillah dan ada belat di punggungnya. Dia berkata kepadaku: Wahai Abu Ja’far, kaum itu telah menumpahkan darahku. Maka mereka berkata kepadanya, yaitu Al-Mu’tashim: Wahai Amirul Mukminin, tanyakan kepadanya tentang Al-Quran, apakah ia sesuatu atau bukan sesuatu? Dia berkata: Maka Al-Mu’tashim berkata kepadaku: Wahai Ahmad, jawablah mereka.
Dia berkata: Maka aku katakan kepadanya: Wahai Amirul Mukminin! Sesungguhnya orang-orang ini tidak memiliki ilmu tentang Al-Quran, tidak tentang nasikh dan mansukh, dan tidak tentang yang umum dan yang khusus. Allah Azza wa Jalla telah berfirman dalam kisah Musa: “Dan Kami tuliskan untuk dia di dalam luh-luh (Taurat) segala sesuatu” (Surah Al-A’raf: 145), namun tidak dituliskan untuknya Al-Quran. Dan Dia berfirman dalam kisah Saba: “Dan dia diberi segala sesuatu” (Surah An-Naml: 23), namun dia tidak diberi Al-Quran. Maka mereka terdiam.
“Al-Ibanah” Kitab Radd ‘ala Al-Jahmiyyah 2/250-258 (431-433)
Abu Amr Utsman bin Umar berkata: Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Harun Al-Khallal menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Ja’far mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Hartsamah bin Khalid, kerabat Ishaq bin Daud, dan kami berdua bersama, aku dan Ishaq. Dia berkata: Ahmad bin Hanbal berkata: Ibnu Abi Du’ad berkata kepadaku saat mereka memperdebatkanku, dan aku telah berkata kepada mereka: Tunjukkan kepadaku apa yang kalian katakan dalam Kitab Allah atau dalam Sunnah Rasulullah. Tunjukkan kepadaku wahai Ibnu Hanbal dalam ilmumu bahwa permadani yang kita duduki ini makhluk?
Dia berkata: Aku katakan: Ya, Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan dari bulu domba, bulu unta, dan bulu kambing, perabotan rumah tangga dan perhiasan sampai waktu tertentu” (Surah An-Nahl: 80). Dia berkata: Maka seakan-akan aku memasukkan batu ke mulutnya.
Abu Ishaq Ibrahim bin Ishaq Asy-Syirji Al-Khashib menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Al-Hajjaj Al-Marwazi menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Abdillah berkata kepadaku: Aku tinggal tiga hari mereka memperdebatkanku. Aku bertanya: Apakah ada yang memasukkan makanan kepadamu? Dia berkata: Tidak. Aku bertanya: Apakah kamu makan sesuatu? Dia berkata: Aku tinggal dua hari tidak makan, dan tinggal dua hari tidak minum, dan tinggal tiga hari mereka memperdebatkanku di hadapannya, yaitu Ar-Ra’is Abu Ishaq. Dan mereka mengumpulkan sekitar lima puluh orang Bashri dan lainnya, yaitu dari para pendebat, dan di antara mereka ada Asy-Syafi’i yang buta.
Maka aku bertanya kepadanya: Apakah mereka semua memperdebatkanmu di malam hari? Dia berkata: Ya, setiap malam. Dan di antara mereka ada pemuda Ghassan, yaitu qadhi Kufah. Dan dia berkata: Sesungguhnya urusan itu adalah urusan Ibnu Abi Du’ad.
Aku bertanya kepadanya: Apakah mereka semua berbicara kepadamu? Dia berkata: Ya, ini berbicara dari sini, dan ini berdalil dari sana, dan ini menta’wil ayat, dan Ujaif di sebelah kanannya, dan Ishaq di sebelah kirinya berdiri, dan kami di hadapannya, yaitu Abu Ishaq. Maka dia bertanya kepadaku beberapa kali, maka aku katakan: Tunjukkan kepadaku dalam kitab atau sunnah.
Maka Ishaq dan Ujaif berkata kepadaku: Dan kamu tidak mengatakan kecuali apa yang ada dalam kitab atau sunnah?
Aku katakan kepada mereka: Perdebatkanlah aku dalam fikih atau dalam ilmu.
Maka Ujaif berkata: Kamu sendirian ingin mengalahkan semua makhluk ini. Dan dia menusukku dengan gagang pedangnya, dan Abu Abdillah mengisyaratkan ke lehernya menunjukkan kepadaku dengan tangannya begini. Kemudian Ishaq bin Ibrahim berkata: Dan kamu tidak mengatakan kecuali apa yang ada dalam kitab atau sunnah. Dan dia menusukku dengan gagang pedangnya, dan Abu Abdillah mengisyaratkan ke tenggorokannya. Aku bertanya: Apakah Abu Ishaq berbicara?
Dia berkata: Tidak, hanya diam. Sesungguhnya urusan itu adalah urusan Ibnu Abi Du’ad.
Kemudian Abu Abdillah berkata: Tidak ada seorang pun di antara mereka yang lebih lembut kepadaku daripada Abu Ishaq meskipun tidak ada di antara mereka yang memiliki petunjuk.
Dia berkata: Dan aku mendengar Abu Abdillah berkata: Ketika aku berkata: Aku tidak berbicara kecuali apa yang ada dalam kitab atau sunnah, Asy-Syafi’i yang buta berdalil dengan hadits Imran bin Hushain: “Allah menciptakan Adz-Dzikr.” Dia berkata: Maka aku katakan kepadanya: Ini salah, Ats-Tsauri dan Abu Mu’awiyah meriwayatkannya, dan sesungguhnya Muhammad bin Ubaid salah di dalamnya, dan aku telah melarangnya untuk meriwayatkannya.
Dia berkata: Maka Abu Ishaq berkata: Aku melihatnya sebagai seorang fakih.
Abu Amr Utsman bin Umar berkata: Ahmad bin Muhammad bin Harun menceritakan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Al-Husain Al-Warraq menulis kepadaku dari Maushil, dia berkata: Bakar bin Muhammad menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Abdillah, dia berkata: Dan berkumpul kepadaku banyak makhluk, dan aku di antara mereka seperti tawanan, dan belenggu-belenggu itu telah memberatkanku. Dia berkata: Dan mereka berbicara keras dan tertawa, dan setiap orang dari mereka mengambil ayat, dan yang lain datang dengan hadits. Dia berkata: Dan pemimpin menenangkan mereka.
Dia berkata: Maka yang ini berkata sesuatu, dan ini berkata sesuatu, dan ini berkata sesuatu. Maka salah seorang dari mereka berkata kepadaku: Bukankah diriwayatkan dari Abu As-Salil, dari Abdullah bin Rabah, dari Ubai bin Ka’ab? Maka aku katakan: Dan kamu apa yang membuatmu tahu siapa Abu As-Salil? Dan siapa Abdullah bin Rabah? Dan apa urusanmu dengan ini? Dia berkata: Maka dia diam.
Dan yang lain berkata kepadaku: “Allah tidak menciptakan dari langit dan tidak pun bumi yang lebih besar dari Ayat Kursi.” Maka aku katakan: Sesungguhnya ini hanyalah perumpamaan. Maka dia diam.
Dan yang lain berdalil kepadaku dengan hadits Ath-Thanafisi dari Al-A’masy, dari Jami’ hadits Imran bin Hushain: “Sesungguhnya Allah menciptakan Adz-Dzikr.” Maka aku katakan: Ini salah di dalamnya, yaitu Ath-Thanafisi. Dan Abu Mu’awiyah berkata: “Allah menulis Adz-Dzikr.”
Dia berkata: Dan aku berteriak kepada mereka, dan aku meninggikan suaraku, dan itu lebih mudah bagiku daripada ini dan itu. Allah menghilangkan rasa takut dari hatiku, hingga aku tidak peduli dan tidak takut kepada mereka. Maka ketika mereka putus asa dariku dan berkumpul kepadaku, Abdurrahman berkata kepadaku: Aku tidak pernah melihat sepertimu, siapa yang melakukan apa yang kamu lakukan?! Aku katakan kepadanya: Al-Quran. Sungguh aku dan kalian telah sepakat bahwa ia adalah Kalam Allah, dan kalian mengklaim bahwa ia makhluk, maka tunjukkanlah dari kitab atau sunnah. Maka Ibnu Abi Du’ad berkata kepadaku: Dan kamu menemukan dalam setiap hal kitab dan sunnah?
Maka ketika dia putus asa dariku dia berkata: Ambil dia, dan orang-orang Turki memasukkan tangan mereka ke belengguku lalu menyeretku ke tempat yang jauh. Dan dia menyebutkan kisah pemukulan.
“Al-Ibanah” Kitab Radd ‘ala Al-Jahmiyyah 2/258-262 (436-438)
Zarqan bin Muhammad berkata: Aku mendengar Abu Dawud As-Sijistani berkata: Ketika Abdullah bin Abdullah Al-Khurasani dibawa dan dihadapkan untuk mihnah (ujian), dan Ahmad bin Hanbal dipenjara.
Al-Khurasani berkata: Ini yang kalian serukan kepadaku, paparkan kepadaku.
Dia berkata: Kamu mengatakan: Al-Quran makhluk?
Dia berkata: Ini yang kalian serukan, apakah Allah dan Rasul-Nya serta semua mukmin mengetahuinya?
Mereka berkata: Ya. Dia berkata: Apakah diam tentangnya cukup bagi mereka?
Maka Al-Mu’tashim menundukkan kepala lama, kemudian mengangkat kepalanya lalu berkata: Ya.
Dia berkata: Maka apa yang cukup bagi kalian sebagaimana yang cukup bagi kaum itu?!
Dia berkata: Maka Al-Mu’tashim berkata: Kosongkan untukku sebuah rumah. Maka dikosongkan untuknya sebuah rumah, lalu dia menjatuhkan dirinya di dalamnya dengan punggung dan mengangkat kedua kakinya ke dinding sambil berkata: Allah mengetahuinya, dan Rasul-Nya mengetahuinya, dan orang-orang mukmin, dan diam tentangnya cukup bagi mereka, cukup bagi kami apa yang cukup bagi kaum itu. Al-Khurasani benar. Dia terus berkata demikian dan mengulanginya sepanjang hari dan malamnya, tidak menemukan dalil di dalamnya.
Maka ketika keesokan harinya dia memerintahkan untuk menghadirkan jamaah kemudian duduk di kursinya dan menghadirkan kaum itu. Maka dia memulai dengan Al-Khurasani lalu Al-Khurasani membungkam mereka dan memotong hujjah mereka. Maka Al-Mu’tashim berkata: Bebaskan Al-Khurasani.
Maka Ibnu Abi Du’ad berkata: Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya orang ini apabila keluar dengan cara ini akan memfitnah orang awam, dan dia akan berkata: Aku telah mengalahkan Amirul Mukminin dan mengalahkan para qadhiNya, para syaikhnya, dan para ulamanya, dan aku menundukkannya dan membantah hujjahnya. Maka dia berkata: Kamu benar wahai Ahmad. Kemudian dia berkata: Seretlah kakinya. Maka mereka menyeret kakinya dengan mukanya ke rumah tempat Ahmad bin Hanbal berada, maka rasa (tulang rawan) tersangkut di tenggorokannya. Maka dia berkata: Tariklah dia. Maka kepalanya terputus.
Ahmad bin Hanbal berkata: Maka aku mendengar lisan berkata dalam kepala: Tidak makhluk tiga kali, kemudian diam. Ahmad berkata: Maka itu adalah yang memberikanku pencerahan dalam urusanku, dan menguatkan hatiku dengannya.
“Al-Ibanah” Kitab Radd ‘ala Al-Jahmiyyah 2/282-283 (455)
Salamah bin Ja’far Ar-Ramli berkata: Al-Abbas bin Masykawaih Al-Hamadzani menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku dimasukkan menemui Khalifah yang bergelar Al-Watsiq, aku dan sekelompok ahli ilmu. Maka dia memulai pertanyaan kepadaku dari antara mereka. Maka aku katakan: Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya aku orang yang takut dan tidak memiliki pengalaman berbicara dengan khalifah-khalifah sebelummu.
Maka dia berkata: Jangan takut dan tidak ada bahaya atasmu. Apa pendapatmu tentang Al-Quran? Maka aku katakan: Kalam Allah tidak makhluk. Maka dia berkata: Aku bersaksi sungguh kamu akan mengatakan makhluk atau aku akan memotong lehermu.
Dia berkata: Maka aku katakan: Sesungguhnya jika kamu memotong leherku maka sesungguhnya kamu di tempat itu jika takdir berjalan dari sisi Allah. Maka teguhkanlah kepadaku wahai Amirul Mukminin, maka aku bisa jadi seorang yang berilmu maka teguhkanlah hujjahku, atau aku bisa jadi seorang yang bodoh maka wajib atasmu mengajariku, karena sesungguhnya kamu Amirul Mukminin dan Khalifah Allah di bumi-Nya, dan anak paman Nabi-Nya.
Maka dia berkata: Bukankah kamu membaca: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran” (Surah Al-Qamar: 49), “Dan Dia menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” (Surah Al-Furqan: 2). Aku katakan: Wahai Amirul Mukminin! Apakah kata “kull” (segala) dalam Kitab Allah khusus ataukah umum? Dia berkata: Umum. Aku katakan: Tidak, bahkan khusus. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan dia diberi segala sesuatu” (Surah An-Naml: 23). Apakah dia diberi kerajaan Sulaiman alaihissalam?
Maka dia memukulku dengan tiang yang ada di hadapannya, kemudian berkata: Keluarkan dia lalu potong lehernya. Maka aku dikeluarkan ke sebuah kubah yang dekat darinya, lalu tanganku diikat kuat. Maka aku berseru: Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya kamu akan memotong leherku dan aku mendahului mu, maka bersiaplah untuk pertanyaan dengan jawaban.
Maka dia berkata: Keluarkan orang zindiq ini dan tempatkan dia di penjara yang paling sempit.
Maka aku dikeluarkan ke Dar Al-Ammah, maka tiba-tiba aku bertemu dengan Ibnu Abi Du’ad yang sedang memperdebatkan manusia tentang penciptaan Al-Quran. Maka ketika dia melihatku dia berkata: Wahai Khuramiy! Aku katakan: Kamu dan orang-orang yang bersamamu, dan mereka adalah pengikut Dajjal.
Maka dia memenjarakanku di penjara di Baghdad yang disebut Al-Mathbaq. Maka dia mengirimkan kepadaku sekelompok ulama dengan secarik kertas yang menguatkanku dan meneguhkanku atas apa yang aku di atasnya. Maka aku membaca apa yang ada di dalamnya, maka di dalamnya ada:
Hendaklah kamu dengan ilmu dan tinggalkanlah setiap orang yang berlebihan Dan setiap orang yang sesat kepada hawa nafsu yang cenderung kepada perkataan dan ucapan Dan janganlah kamu cenderung wahai ini kepada bid’ah Yang menyesatkan pengikutnya dengan perkataan dan ucapan Sesungguhnya Al-Quran adalah Kalam Allah yang Dia turunkan Al-Quran tidaklah makhluk dan tidak batal Seandainya ia makhluk niscaya akan dijadikannya Keraguan zaman kepada kematian dan kebatalan Dan bagaimana bisa batal apa yang tidak ada sesuatu membatalkannya? Atau bagaimana bisa usang Kalam Sang Pencipta Yang Maha Tinggi? Dan apakah ada yang menambahkan Kalam Allah dari seseorang Kepada keusangan selain kesesatan dan orang-orang bodoh? Maka janganlah kamu mengatakan apa yang mereka katakan meskipun mereka menghinamu Dan mereka mengikatmu dengan rantai dan belenggu Tidakkah kamu melihat ulama yang sabar ketika diuji Dengan cambuk apakah dia berpindah dari keadaan ke keadaan? Maka bersabarlah atas setiap apa yang datang dari zaman Maka kesabaran adalah pakaiannya dari sebaik-baik pakaian
Wahai penghuni penjara, pikirkan dalam apa kamu menganggapnya Apakah ia pembunuh ataukah ia penolong untuk pembunuhan? Atau apakah kamu datang dengannya sebagai kepala untuk Rafidhah Yang melihat pemberontakan bagi mereka dengan kebodohan atas pemimpin? Atau apakah tertangkap karena khamr dan alat musik Yang menuangkan gelas di dalamnya setiap orang sesat? Bukan seperti itu dia, bahkan dia adalah orang yang wara’ Yang suci dari kehormatan dan harta
Kemudian dia mengingatku setelah beberapa hari dan mengeluarkanku dari penjara, dan menempatkanku di hadapannya, dan berkata: Mudah-mudahan kamu tetap pada perkataan yang aku dengar darimu?
Maka aku katakan: Demi Allah wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya aku berdoa kepada Rabbku Tabaraka wa Ta’ala di malam dan siangku agar Dia tidak mematikanku kecuali atas apa yang kamu dengar dariku.
Dia berkata: Aku melihatmu berpegang teguh! Aku katakan: Ini bukanlah sesuatu yang aku katakan dari diriku sendiri, tetapi ia adalah sesuatu yang aku temui di dalamnya para ulama di Makkah, Madinah, Kufah, Bashrah, Syam, dan wilayah-wilayah perbatasan. Maka aku melihat mereka atas Sunnah dan Jamaah.
Maka dia berkata kepadaku: Dan apa itu Sunnah dan Jamaah? Aku katakan: Aku bertanya tentangnya kepada para ulama, maka setiap orang mengabarkan dan berkata: Sesungguhnya sifat mukmin dari Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah bahwa hamba berkata dengan ikhlas: Tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, dan pengakuan dengan apa yang dibawa para Nabi dan Rasul, dan hamba bersaksi atas apa yang nampak dari lisannya dan diikat oleh hatinya, dan iman kepada takdir baik dan buruknya dari Allah, dan hamba mengetahui bahwa apa yang menimpanya tidak akan meleset darinya, dan apa yang meleset darinya tidak akan menimpanya, dan iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan, dan bahwa Allah Azza wa Jalla telah mengetahui dari makhluk-Nya apa yang akan mereka lakukan, dan kepada apa mereka akan kembali, sekelompok di surga dan sekelompok di neraka, dan shalat Jumat dan dua hari raya di belakang setiap imam baik yang baik maupun yang fasik, dan shalat wajib tanpa mendahulukan waktu atau mengakhirkan waktu, dan bahwa kita bersaksi untuk sepuluh orang yang disaksi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Quraisy dengan surga, dan cinta dan benci karena Allah dan dalam Allah, dan menjatuhkan talak apabila terjadi satu kata, dan mengusap khuf untuk musafir tiga hari dan untuk mukim sehari semalam, dan qashar dalam safar apabila bersafar enam belas farsakh dengan Hasyimi yaitu empat puluh delapan mil, dan mendahulukan berbuka dan mengakhirkan sahur, dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat, dan mengeraskan suara dengan Amin, dan menyembunyikan Bismillahirrahmanirrahim, dan bahwa kamu mengatakan dengan lisanmu dan kamu mengetahui dengan yakin dengan hatimu bahwa sebaik-baik umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar kemudian Umar kemudian Utsman kemudian Ali radhiyallahu ‘anhum, dan menahan diri dari apa yang terjadi antara para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan iman kepada Ba’ts dan Nusyur, dan azab kubur, dan Munkar dan Nakir, dan Shirath, dan Mizan, dan bahwa Allah Azza wa Jalla mengeluarkan ahli dosa besar dari umat ini dari neraka, dan bahwa tidak kekal di dalamnya kecuali orang musyrik, dan bahwa ahli surga melihat Allah dengan mata kepala mereka, dan bahwa Al-Quran adalah Kalam Allah tidak makhluk, “Dan seluruh bumi dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan” (Surah Az-Zumar: 67).
Dia berkata: Maka ketika dia mendengar ini dariku dia memerintahkan terhadapku maka dicabut untukku empat gigi geraham, dan berkata: Keluarkan dia dariku, jangan sampai dia merusakkan kepadaku apa yang aku di dalamnya.
Maka aku keluar dan bertemu dengan Abu Abdillah -Ahmad bin Hanbal- lalu dia menanyakan kepadaku tentang apa yang terjadi antara aku dan khalifah, maka aku mengabarinya. Dia berkata: “Semoga Allah tidak melupakan bagimu sikap ini ketika engkau berdiri di hadapan-Nya.” Kemudian dia berkata: “Seharusnya kita menulis ini di pintu-pintu masjid kita, dan mengajarkannya kepada keluarga dan anak-anak kita.” Kemudian dia berpaling kepada anaknya Shalih dan berkata: “Tulislah hadits ini, dan jadikanlah dalam lembaran putih dan simpanlah, dan ketahuilah bahwa ini termasuk sebaik-baik hadits yang kau tulis jika engkau berjumpa dengan Allah pada hari kiamat, engkau akan menjumpai-Nya di atas Sunnah dan Jama’ah.”
“Al-Ibanah” kitab Ar-Raddu ‘ala al-Jahmiyyah 2/284-288 nomor 456
Abu Umar Hamzah bin Al-Qasim bin Abdul Aziz Al-Hasyimi Al-Khatib berkata, ia berada di masjid Jami’ Manshur: telah menceritakan kepada kami Abu Ali -Hanbal bin Ishaq bin Hanbal- dia berkata: aku menghadiri Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in di sisi Affan, dan itu adalah pertama kali Affan diuji, dan Yahya menanyainya setelah dia diuji pada keesokan harinya, maka dia berkata kepadanya: “Wahai Abu Utsman, kabarkanlah kepada kami apa yang dikatakan Ishaq kepadamu, dan apa jawabanmu kepadanya?”
Maka dia berkata: “Wahai Abu Zakariya, aku tidak menghitamkan wajahmu dan tidak pula wajah sahabat-sahabatmu” -maksudnya dengan itu: bahwa aku tidak menjawab (menerima ujian itu).
Maka dia berkata kepadanya: “Bagaimana kejadiannya?” Dia berkata: “Dia membacakan kepadaku surat yang ditulis oleh Al-Ma’mun dari tanah Al-Jazirah dari Ar-Raqqah, maka di dalamnya tertulis: Ujilah Affan dan ajaklah dia untuk mengatakan: Al-Qur’an -yakni: makhluk- maka jika dia menjawab maka tetapkanlah dia dalam urusannya, dan jika dia tidak menjawabmu untuk apa yang aku tuliskan kepadamu maka potonglah darinya apa yang mengalir kepadanya.”
Affan berkata: “Maka ketika dia membacakannya kepadaku, Ishaq berkata kepadaku: ‘Apa yang engkau katakan?'”
Aku membacakan kepadanya: “Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa.” (Surat Al-Ikhlas ayat 1)
Maka Ishaq berkata kepadaku: “Wahai syaikh, sesungguhnya Amirul Mukminin berkata: Sesungguhnya jika engkau tidak menjawabnya untuk apa yang dia serukan kepadamu, dia akan memotong darimu apa yang mengalir kepadamu, dan jika Amirul Mukminin memotong darimu, maka kami pun akan memotong juga.”
Dia berkata: Affan berkata: “Maka aku berkata kepadanya: Lalu bagaimana dengan firman Allah: ‘Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.'” (Surat Adz-Dzariyat ayat 22) Dia berkata: “Maka dia diam dariku, dan aku pulang.” Maka Abu Abdillah dan Yahya serta sahabat-sahabat mereka gembira dengan hal itu.
Hanbal berkata: “Maka aku mendengar Abu Abdillah setelah itu berkata: ‘Mahasuci Allah! Dahulu orang-orang berbicara -maksudnya: tentang kedua syaikh ini- dan menyebut-nyebut mereka, dan kami termasuk dari orang-orang dalam urusan mereka berdua sebagaimana Allah mengetahuinya, keduanya berdiri untuk Allah dengan urusan yang tidak ada seorang pun yang berdiri seperti keduanya berdiri dengannya: Affan dan Abu Nu’aim.'”
“Al-Ibanah” kitab Ar-Raddu ‘ala al-Jahmiyyah 2/293-294 nomor 463
Hanbal meriwayatkan dari Ahmad dalam kitab “Al-Mihnah” bahwa dia mengatakan hal itu dalam perdebatan dengan mereka pada hari ujian ketika mereka berargumen kepadanya dengan sabdanya: “Akan datang Surat Al-Baqarah dan Ali Imran.” Mereka berkata: “Dan kedatangan tidak terjadi kecuali untuk makhluk.” Maka Ahmad membantah mereka dengan firman-Nya: “Dan Tuhanmu datang.” (Surat Al-Fajr ayat 22), “Atau Tuhanmu datang.” (Surat Al-An’am ayat 158)
“Ibthal At-Ta’wilat” 2/396
[Bab-bab selanjutnya tentang Ar-Raddu ‘ala al-Jahmiyyah ada di jilid berikutnya]
Penulis : Khalid ar-Rabat, Sayyid Izzat Ied, Muhammad Ahmad Abduttawab
Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.







