Manusia hidup di dunia ini telah ditentukan ajalnya, telah dijatah lama kehidupannya di dunia. Oleh karena itu dengan berjalannya hari-hari, berlalunya bulan-bulan, dan bergantinya tahun-tahun, sesungguhnya itu semua mendekatkan manusia kepada ajalnya.
Namun sayang, mayoritas manusia tidak memperhatikan. Bahkan kebanyakan mereka sibuk dan menyibukkan diri dengan berbagai urusan dunia yang fana, melalaikan akhirat yang kekal selamanya.
Allah Ta’ala berfirman:
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (16) وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (17)
16. Tetapi kamu lebih mementingkan kehidupan duniawi.
17. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.
(QS. Al-A’la/87: 16-87)
Jangan hanya sibuk makan, bersenang-senang, dan dilalaikan angan-angan, seolah-olah tidak ada Hari Pembalasan!
Allah Ta’ala berfirman:
ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا، وَيُلْهِهِمُ الأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ
Biarkanlah mereka (orang-orang kafir di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). (QS. Al-Hijr/15: 3)
Jangan terpedaya dengan kesenangan dunia, sesungguhnya keberuntungan yang sebenarnya adalah ketika orang yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga!
Allah Ta’ala berfirman:
فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ، وَأُدْخِلَ الجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ،
وَمَا الحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الغُرُورِ
Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.
Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS. Ali Imroon/3: 185)
Jika manusia mau mengamati orang-orang yang hidup di sekitarnya, sudah banyak orang-orang yang dia kenal telah mendahuluinya menuju alam baka.
Lihatlah, di antara kita sudah ditinggal mati oleh kakek atau neneknya, ayah atau ibunya, kakak atau adiknya, suami atau istrinya, bahkan anak atau cucunya. Demikian juga tetangganya, kawan sekolahnya, teman bermainnya, atau kawan kerjanya. Sebagian mereka sudah mendahului pergi meninggalkan kita.
Sahabat Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu telah memberikan nasehat yang sangat berharga, sebagaimana disebutkan oleh imam Al-Bukhari di dalam kitab Shahihnya:
ارْتَحَلَتْ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً وَارْتَحَلَتْ الْآخِرَةُ مُقْبِلَةً وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ
فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا
فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابَ وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلٌ
“Dunia telah berjalan menjauh, sedangkan akhirat telah berjalan mendekat.
Keduanya (dunia dan akhirat) memiliki orang-orang (yang memburunya),
maka hendaklah kamu menjadi orang-orang (yang memburu) akhirat,
janganlah kamu menjadi orang-orang (yang memburu) dunia!
Karena sesungguhnya hari ini (di dunia): ada amal dan belum ada hisab (perhitungan amal),
sedangkan besok (akhirat): ada hisab dan tidak ada amal”.
(HR. Bukhari, 8/89; Bab: Fil amal wa thulihi / angan-angan dan panjangnya; penerbit: Dar Thouq; cet: 1; th. 1422 H)
Sahabat yang mulia ini, Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu, telah berkata benar, telah memberikan nasehat kepada umat,
maka siapakah orang beruntung yang mau mengambil nasehatnya?
Orang yang berakal adalah orang yang mendengarkan perkataan, kemudian mengikuti perkataan yang terbaik.
Demikian sedikit nasehat bagi kita semua.
Semoga Alloh selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.
Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju ridho dan sorga-Nya yang penuh kebaikan.
Penulis : Ustadz Muslim Atsari Hafidzahullah Ta'ala
Sumber Berita: Grup Whatsapp Majlis Quran Hadits Ikhwan







