DI BAWAH PANJI AL-QURAN

Kamis, 8 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DI BAWAH PANJI AL-QURAN

تحت راية القرآن

Artikel-artikel Sastra Arab di Universitas, dan Bantahan terhadap Buku “Tentang Puisi Jahiliyah” karya Doktor Thaha Husein, serta Menjatuhkan Bid’ah Baru yang Para Pendukungnya Ingin Memperbarui Agama.

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Pengantar

Setelah shalawat dan salam kepada makhluk Allah Ta’ala yang paling mulia – Muhammad Nabi yang ummi serta keluarga dan para sahabatnya semuanya, pembaca Arab yang terhormat telah terbiasa menelaah setiap terbitan baru dari khazanah Islam dan Arab melalui penerbitan al-Maktabah al-‘Ashriyah untuk percetakan, penerbitan dan distribusi. Dan hari ini penerbit mempersembahkan kepada pembaca Arab “Di Bawah Panji Al-Quran” karya salah seorang tokoh pemikir Islam Arab, sastrawan Mustafa Sadiq ar-Rafi’i rahimahullah dengan tampilan baru, berharap dapat memuaskan pembaca yang terhormat, mudah-mudahan ia menemukan yang dicarinya dalam materi yang ditinggalkan sang sastrawan, yang sangat kita butuhkan di zaman kita ini. Dan sang sastrawan menenun alur cerita-ceritanya dengan kuas seorang penyair seniman, yang merealisasikan dunia puisi, diwarnai dengan perasaan keimanan yang mendalam, menginginkan keadilan, dan menyebarkan nilai-nilai Islam yang lurus dengan kesederhanaan dan keindahannya, dan para tokohnya mewakili keutamaan dengan keagungan dan keaslian Islamnya, dan cinta yang luhur dengan benang-benangnya yang teranyam dari hati para tokohnya yang seperti malaikat dalam kecenderungan mereka dan kesucian serta keluhuran jiwa mereka.

Dan karena Mustafa Sadiq ar-Rafi’i adalah penyair yang berbudaya puitis, yang memiliki kepekaan yang halus, maka tidak dapat dielakkan baginya untuk melakukan praktik kritik seni yang tinggi dengan objektivitas yang dicampurnya dengan antusiasme, kekaguman dan cinta terhadap para sejawatnya mulai dari al-Barudi, melewati Ahmad Syauqi dan Hafizh Ibrahim.

Singkatnya, ar-Rafi’i dalam bidang ini dapat dianggap sebagai sejarawan sastra Mesir pada awal abad kedua puluh, sehingga tidak mungkin mengabaikan apa yang ia sampaikan berupa pendapat dan informasi berharga tentang gerakan sastra dalam puisi dan prosa di zamannya.

 

 

Penulis dalam Beberapa Baris

Ia adalah Mustafa Shadiq bin Abdurrazzaq bin Sa’id bin Ahmad bin Abdul Qadir ar-Rafi’i: ahli sastra, penyair, termasuk penulis besar.

Asal-usulnya dari Tripoli Syam, dan kelahirannya di Bahtim (di rumah ayah ibunya) dan wafatnya di Thantha (di Mesir). Ia terkena tuli sehingga harus dituliskan kepadanya apa yang hendak disampaikan kepadanya. Puisinya murni dalam gaya bahasa, meskipun kering pada sebagian besarnya. Dan prosanya termasuk kelas pertama.

Karya-karya ar-Rafi’i

  • Diwan Syi’r (Kumpulan Puisi), tiga jilid.
  • Tarikh Adab al-‘Arab (Sejarah Sastra Arab), dua jilid.
  • I’jaz al-Quran wa al-Balaghah an-Nabawiyah (Kemukjizatan Al-Quran dan Kefasihan Nabi).
  • Tahta Rayah al-Quran (Di Bawah Panji Al-Quran).
  • Rasa’il al-Ahzan (Surat-surat Kesedihan).
  • ‘Ala as-Saffud, bantahannya terhadap Abbas Mahmud al-‘Aqqad.
  • Diwan an-Nazharat (Kumpulan Pandangan).
  • as-Sahab al-Ahmar fi Falsafah al-Hubb wa al-Jamal (Awan Merah dalam Filsafat Cinta dan Keindahan).
  • Hadits al-Qamar (Kisah Bulan).
  • al-Ma’rakah, bantahannya terhadap Doktor Thaha Husein dalam bukunya “asy-Syi’r al-Jahili” (Puisi Jahiliyah).
  • al-Masakin (Orang-orang Miskin).
  • Awraq al-Ward (Lembaran Mawar).
  • Wahy al-Qalam (Ilham Pena), tiga jilid.

 

 

Kajian tentang Penulis dan Warisannya

  • Hayah ar-Rafi’i: Muhammad Sa’id al-‘Aryan.
  • Rasa’il ar-Rafi’i: Mahmud Abu Rayyah.

Dan lihat biografinya dalam:

  • al-Muntakhab min Adab al-‘Arab 1: 55.
  • Tarajim ‘Ulama Tharabulus 211, di akhir biografi pamannya Abdul Hamid bin Sa’id ar-Rafi’i.
  • Mu’jam al-Mathbu’at 26.
  • al-A’lam: 7: 235.
  • al-Muqtataf 73: 352.
  • Majalah ar-Rabithah al-‘Arabiyah, 18 Rabi’ul Awwal tahun 1357 H.

 

 

Peringatan

Kami mengingatkan para pembaca bahwa dalam buku ini kami bekerja untuk menjatuhkan gagasan yang berbahaya, dan jika hari ini ia dipegang oleh si fulan yang kita kenal, maka besok mungkin akan ada pada orang yang tidak kita kenal, dan kami membantah yang ini dan yang itu dengan bantahan yang sama, tidak ada ketidaktahuan kami tentang orang yang tidak kami kenal yang melembutkannya, dan tidak ada pengetahuan kami tentang orang yang kami kenal yang melebih-lebihkannya.

Dan gagasan tidak dinamai dengan nama-nama manusia, dan ia mungkin telah ada seribu tahun yang lalu kemudian kembali setelah seribu tahun yang akan datang, maka ia tidak dideskripsikan setelah itu kecuali sebagaimana ia dideskripsikan sebelumnya selama posisinya dalam jiwa tidak berubah, dan kami tidak mengira akan datang hari dimana Iblis disebut lalu dikatakan: semoga Allah meridhainya.

Dan kami yakin bahwa tidak ada manfaat dalam perdebatan kami dengan mereka yang kami debat bagi diri mereka sendiri, karena mereka tidak sesat kecuali dengan ilmu dan dengan bukti! Maka dari itu kami cenderung dalam gaya buku ini kepada pendekatan penjelasan yang kami jalankan dengan politik kata-kata tertentu, maka jika di dalamnya ada ketegasan atau kekerasan atau ucapan yang menyakitkan atau sindiran, maka itu bukan yang kami inginkan, tetapi kami seperti orang yang menggambarkan orang yang sesat untuk mencegah orang yang mendapat petunjuk agar tidak sesat, maka yang dimaksud bukanlah menghardik yang pertama tetapi pelajaran bagi yang kedua, dan untuk ini dalam cara-cara penjelasan ada gaya dan untuk itu ada gaya yang lain, ketahuilah bahwa yang paling buruk dari keburukan adalah apa yang tidak diketahui disebut keburukan, dan sesungguhnya yang paling baik dari kebaikan adalah apa yang tidak diketahui kebaikan, dan setiap makna menurut pertimbangannya memiliki tempat, dan setiap tempat dalam haknya memiliki deskripsi dan setiap deskripsi dalam tujuannya memiliki ungkapan, dan setiap ungkapan memiliki gaya dan caranya, maka inilah yang kami ingatkan.

Dan seandainya rekan-rekan kami bukan siapa mereka dalam pengaruh dan kedudukan, maka gaya kami akan berbeda dari apa adanya dalam pola dan ungkapan, dan wassalam.

ar-Rafi’i

 

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Dan semoga Allah bershalawat kepada para rasul dan nabi-nabi-Nya

Di Hadapan Buku

Ya Allah, siapkan untuk kami kebaikan, dan tetapkan untuk kami pada jalan yang benar, dan berikanlah kepada kami dari sisi-Mu rahmat.

Dan tuliskanlah untuk kami keselamatan dalam pendapat, dan jauhkanlah kami dari fitnah setan sehingga ia kuat dengan itu dan kami lemah, atau kami lemah karenanya sehingga ia kuat, dan jangan tinggalkan kami dari bintang petunjuk dari-Mu dalam setiap kegelapan keraguan dari kami.

Dan jagalah kami agar pendapat-pendapat kami tentang kebenaran yang nyata tidak menjadi seperti kedudukan malam dari siangnya, atau prasangka-prasangka kami turun dari keyakinan yang terang seperti kedudukan asap dari apinya, kami memohon kepada-Mu dengan wajah-Mu, dan kami bertawassul kepada-Mu dengan pujian-Mu dan kami berdoa kepada-Mu dengan hati yang mengenal-Mu ketika yang lain mendustakan lalu mengakui, dan beriman kepada-Mu sementara yang lain goyah dan ia tetap kokoh.

Amma ba’du, sesungguhnya aku telah memandang dan ternyata semua yang ingin kukatakan dalam kalimat ini telah kutuliskan dalam artikel-artikel ini, maka ia tidak meninggalkan masalah dan tidak meninggalkan syubhat dan terus memegang tangan pembaca lalu meletakkannya pada kesalahan-kesalahan rekan-rekan kami para pembaru, bahkan para perusak, satu demi satu, dan sesuatu demi sesuatu, maka ia darinya dalam bukti yang jelas dari mana ia mulai sampai mana ia berakhir, seperti bintang yang terus terlihat darinya kemanapun ia berjalan dan bagaimanapun ia menoleh.

Dan aku tidak melihat kelompok yang satu dalil memakan semua dalil-dalil mereka seperti para pembaru ini dalam bahasa Arab, maka mereka menurut diri mereka sendiri seperti bara yang menyala, tidak mengenyangkannya kayu bakar dunia tetapi segenggam air memakan bara, dan mereka dikecewakan dengan kekuatan Allah, karena tidak ada di antara mereka orang fasih yang berpidato yang menjadi bagi mereka seperti ungkapan dari alam tentang mazhab ini, sehingga mazhab mereka tegak dan tidak tertolak dan berdiri dan tidak berkurang, dan tidak akan datang bagi mereka orang ini, maka seandainya ia ada bagi mereka, ia akan menjadi musuh mereka yang paling keras, dan akan sangat keras dalam menghancurkan mereka, maka ia akan selalu mengurangi mereka selamanya dan mereka tidak akan sempurna dengannya selamanya, dan itu dari takdir Allah yang menakjubkan dalam bahasa Arab, karena kedudukan Al-Quran darinya, sehingga tidak masuk dalam keserakahan siapapun dan tidak dicapai oleh tangan orang yang mencapai, maka ia terpelihara dengan takdir sebagaimana kau lihat, “Dan Allah berkuasa atas urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Yusuf: 21).

Dan sesungguhnya sekelompok lalat jika mendapatkan pembela pelindung dari burung elang lalu datang berdengung dengan sayap-sayapnya untuk berlindung kepadanya dan bergabung dengannya, kemudian elang itu mengepakkan sayapnya dengan keras niscaya ia akan membinasakan mereka atau mencerai-beraikan dan membubarkan mereka, dan ia dalam bayangan mereka adalah tempat berlindung dan menurut mereka adalah perlindungan, maka itulah perumpamaan kaum dan apa yang mereka butuhkan dari orang yang fasih jika mereka mencarinya lalu mendapatkannya!

Adapun sesungguhnya tidaklah akal berdiri dengan apa yang dinamakan akal, tetapi atas apa yang dinamakan tujuan dan kebutuhan dan keinginan dan keperluan, maka hawa nafsu seseorang dari manusia membuat baginya akal yang berbeda dengan akal orang yang tidak dipanggil oleh dirinya kepada hawa nafsu seperti ini, meskipun urusan keduanya satu setelahnya.

Dan dari sinilah perbedaan kami dengan para pembaru ini, karena sesungguhnya mereka memiliki tujuan-tujuan yang tidak dapat dielakkan membuat bagi mereka akal-akal sesuai dengannya dan menurut ukurannya dalam kemaslahatan dan kerusakan, dan mereka adalah gambaran dari hati nurani mereka, maka tidaklah pada orang yang murtad ada hati nurani seorang mukmin, dan tidak pada orang yang keji ada hati nurani orang yang bertakwa, dan tidak pada orang yang sembrono ada hati nurani orang yang wara’, dan dari situ wajib bagi umat untuk berhati-hati terhadap mereka dan menempatkan mereka dalam wilayah khayalan dan waham mereka itu, maka mereka dari umat jika ia menang atas mereka dan bukan darinya jika mereka menang atasnya, dan perumpamaan mereka tidak lain seperti pasir dan kerikil, ada di aliran air tawar maka ia menjadi sesuatu dari tabiatnya dan menimbulkan warna dari keindahan dan kilau, dan ia adalah bayangan dari rambut sungai, hingga ketika ia keluar dengan air dan mengalir di tenggorokan orang yang meminumnya ia menjadi bencana dan gangguan dan terbalik bagi air menjadi aib dan dibuang bersamanya dan ia dibuang dengannya!

Dan mereka menginginkan dengan pendapat-pendapat mereka umat dan kemaslahatan serta petunjuk-petunjuknya, dan mereka berkata dalam itu dengan apa yang dimuat oleh kesombongan mereka dalam berbicara dan keluasan mereka dalam kata-kata dan kemampuan mereka dalam bertele-tele, hingga ketika kau periksa dan teliti kau tidak menemukan dalam ucapan-ucapan mereka kecuali diri-diri mereka dan tujuan-tujuan mereka dan hawa nafsu mereka, mereka ingin menguji dengan itu manusia dalam agama mereka dan akhlak mereka dan bahasa mereka, seperti orang TBC yang berjabat tangan denganmu untuk menyampaikan salam dan salamnya maka ia tidak menyampaikan kepadamu kecuali penyakitnya dan sebab-sebab kematiannya!

Dan sungguh yang paling keras di antara mereka dalam kekasaran dan kekerasan dan kebodohan adalah Doktor “Taha Husein” ini, guru Sastra Arab di Universitas Mesir, maka pelajaran-pelajaran pertamanya “Tentang Puisi Jahiliyah” adalah kekufuran kepada Allah dan ejekan terhadap manusia, ia mendustakan agama-agama dan merendahkan sejarah dan banyak kesalahan dan kebodohannya, maka tidak ada dalam tabiat kekuatan yang membantunya untuk memikul semua itu dan berdiri dengannya kecuali keras kepala dan kekeras kepalaan, maka ia berjalan mengigau dalam pelajaran-pelajarannya, dan tidak ia menetapkan kebenaran khayalan dan tidak meninggalkan kebenaran yang tetap, dan ia ingin merampas dari ahli ilmu apa yang mereka ketahui sebagaimana pencuri merampasmu apa yang kau miliki dengan keberanian bukan dengan hak dan dengan tipu daya bukan dengan keyakinan, dan dari kelengahan bukan dari bukti. Dan tidak membuatku tertawa kecuali melihat guru ini dan dua atau tiga orang yang sepertinya ingin menjadi revolusi dalam sastra Arab, dan mereka lupa bahwa mereka hanya menginginkan itu karena mereka diciptakan untuk itu, maka “Taha” di Universitas seperti aktor, hanya sarananya adalah berpura-pura dan berani dan memalsukan. Maka ketika kami menanggalkan darinya pakaian sandiwara, kami tanggalkan dalam pakaian itu peristiwa dan sandiwara dan aktor semuanya, dan Thaha Husein kembali dan ia adalah Thaha Husein. Dan di manakah ia atau sejenisnya dari sarana kemampuan, dan sarana-sarananya tidak lain adalah pena yang tidak tertandingi, dan pemikiran yang tidak terbantahkan, dan imajinasi yang tidak terkejar, dan kekuatan yang kokoh, dan tabiat yang responsif, dan kata-kata yang kau lihat hidup dan tinggi sehingga kau menganggapnya memancar dari tempat tangan Allah dalam jiwa manusia.

Akan tetapi guru Universitas hanya meniru para penghancur dari raksasa-raksasa akal di Eropa.

Dan sesungguhnya dia adalah bagian dari mereka, tetapi sebagaimana bola geografis sekolah yang menggambarkan lima benua—dari bola bumi yang memuat lima benua tersebut… Dan sungguh lebih mudah baginya untuk menguasai Eropa atau Amerika daripada menguasai akal seperti akal-akal yang dia coba meniru karyanya tanpa memiliki tekniknya, hikmahnya, keluhurannya, maupun maknanya; dan sangkaanmu bahwa engkau telah menanamkan di sayap burung gagak sehelai bulu merak agar menjadi tanaman yang menumbuhkan bulu sepertinya sehingga gagak itu suatu hari berubah menjadi bangga dan angkuh, berkilauan dan berkibar dengan warna-warni dan keindahannya—maka sesungguhnya dia akan berubah menjadi merak sebelum engkau menganggap Thaha Husein sebagai jenius filsuf..! Sebab orang itu terbelakang akalnya, gaya bahasa yang halus dan maknanya sulit dipahaminya, dan yang paling besar padanya adalah bahwa dia bergaya-gaya dan berpura-pura cerdas serta menyerupai para pemikir tetapi dalam jubah novel…!

Dia dan orang-orang sejenisnya yang pembaharu disebut penulis, ulama, dan sastrawan, karena mereka harus memiliki sebutan dan ciri dalam lapisan-lapisan umat, namun sesungguhnya mereka adalah kesalahan-kesalahan manusiawi yang dikeluarkan oleh takdir dalam bentuk ilmiah atau sastra untuk melawan kebenaran yang hampir dilupakan manusia, sehingga manusia khawatir kesalahan itu akan condong kepada kebenaran mereka atau menghilangkannya, maka mereka berpegang teguh pada talinya dan menguatkannya, dan kebenaran itu kembali setelah munculnya kesalahan yang menghadapinya dan berdiri berhadapan dengannya dalam posisi musuh terhadap musuh, seakan-akan yang muncul adalah dalilnya bukan lawannya, maka manusia mengerti wajah kebutuhan kepadanya, tempat kecukupan padanya, dan perlunya manfaat darinya, padahal hampir saja hilang, seakan-akan mereka menyelamatkannya, dan semua itu membesarkannya dan meninggikannya serta menjelaskannya dengan penjelasan terbaik dan paling jelas, dan semua itu mendorong keserakahan terhadap sunnatullah yang mengatasi yang tidak dapat dilawan; dan inilah salah satu keajaiban hikmah Allah dalam melindungi agama Islam ini dan kitab Arabnya yang kekal, maka setiap kali suatu zaman melemah, Allah mengiriminya seorang zindik (orang yang melawan agama), lalu manusia menjadi sangat waspada dan sangat membela dengan sekuat tenaga, dan agama menjadi paling kuat dan paling kokoh dalam diri mereka, dan zindik itu seakan-akan didorong kepada mereka dari neraka jahanam untuk berkata kepada mereka: kemarilah ke sana! Maka cap api neraka padanya berkata: jauhilah dia dan jauhi neraka!

Maka para pembaharu yang murtad adalah bagian dari kesalahan yang dari pekerjaannya keluar bagian dari kebenaran, dan mereka mirip dengan bahan-bahan beracun yang sedikit darinya dicampurkan dalam obat agar kekuatannya dari kekuatannya, maka ketika bercampur dengannya, dia berubah menjadi tidak seperti semula padahal pada dirinya sendiri tetap seperti semula.

Dan kami tidak ingin menambahkan tentang “Thaha” lebih dari apa yang telah kami katakan tentangnya yang akan engkau baca dalam buku ini, tetapi kami berharap semoga Allah memberinya petunjuk sehingga dia menjadi bagian dari umatnya dan kembali kepadanya, sebab jika dia tidak bersama umatnya, dia tidak akan bersama yang lainnya, dan jika umat tidak bersamanya, dia akan bersama yang lain.

Dan telah terjadi urusannya dan urusan teman-temannya sebagaimana yang terjadi dari wabah yang melewati dunia sekali lalu menyerang sebagiannya tetapi dia meninggalkan di tangan dokter-dokternya serum pencegah darinya selamanya; dan sungguh mereka telah meninggalkan buku ini untuk kami; maka kami memohon kepada Allah agar menjadikannya murni karena wajah-Nya yang mulia, bermanfaat dengan niat ini, diberi pahala dengan manfaat ini; dan bagi-Nya segala puji di dunia dan akhirat.

Musthafa Shadiq ar-Rafi’i

۞۞۞۞۞

Dua Mazhab: Lama dan Baru

“Salah seorang penulis menulis sebuah artikel di majalah al-Hilal yang mulia, di dalamnya dia memberikan kepada kami kepemimpinan mazhab lama, dan dia menamakannya baru dan menamakannya lama serta berargumentasi dan berdebat, maka kami menjawabnya dengan artikel ini”

Penulis tersebut menyatakan dalam tulisannya bahwa apa yang kami katakan, yaitu mengikuti jejak orang Arab dalam gaya bahasa mereka, berlatih dengan perkataan mereka, bersemangat menjaga bahasa mereka, dan bahwa seorang penulis dalam bahasa ini harus memiliki bayan yang baik, tampilan yang elegan, pesona yang mengagumkan, berhati-hati dalam kata-katanya, memperhatikan kelenturan kalimatnya, dan ahli dalam gaya bahasanya—semua ini dan yang sejenisnya adalah “mazhab lama”. Dan “nasionalisme sastra” yang penyebabnya kembali kepada akal batin yang mencampuradukkan antara agama, nasionalisme, dan sastra Arab.

Kemudian dia berkata: “Dan sesungguhnya penganut mazhab lama mengabaikan ilmu pengetahuan, karena ilmu-ilmu bertentangan dengan keyakinan orang Arab.” Dan jelas bahwa yang dia maksud dengan orang Arab adalah kaum muslimin bukan yang lain, sebab zaman jahiliyah telah menjadi kebohongan sejarah dan keyakinan-keyakinannya telah usang sebagaimana keusukannya memasukkannya ke dalam kubur penghuninya.

Maka mazhab lama berarti bahwa bahasa tetap menjadi bahasa Arab dalam pokok-pokok dan cabang-cabangnya, dan bahwa kitab-kitab lama yang dikandungnya tetap hidup dan turun dari setiap pikiran dalam kedudukan suatu kaum dari orang Arab yang fasih, dan bahwa agama Arab tetap seperti semula seakan-akan wahyu turun dengannya kemarin, tidak memfitnah kita di dalamnya ilmu maupun pendapat, dan bahwa semangat terhadap bahasa datang dari sisi semangat terhadap agama, karena tetap ada sesuatu yang berdiri dari keduanya seperti fondasi dan bangunan, tidak ada manfaat pada keduanya kecuali dengan berdirinya keduanya bersama-sama.

Tetapi apa itu mazhab baru? Apakah kita mengambil perlawanan lalu berkata: jika putih adalah lama maka hitam adalah baru, dan jika kefasihan, dan jika semangat terhadap warisan sejarah, dan jika hukum alam untuk kebajikan sosial, dan jika kita lahir dengan kulit seperti kulit nenek moyang kita—maka kelemahan, pengabaian nasionalisme sejarah, pelepasan dari ikatan kewajiban, dan pelepasan kulit karena itu bukan Eropa—semua ini baru karena semua itu lama?.. Ataukah ada kebenaran tetap yang terbatas yang tersembunyi dalam kebesaran dan bahayanya dalam bahasa ini tersembunyinya Amerika dalam dahsyatnya samudra… hingga Allah mengutus untuknya di zaman kita ini orang yang melemparkan pandangannya lalu mengungkapkannya dan menamakannya dan jadilah darinya mazhab baru dan jadilah dia adalah itu.

Seandainya rekan-rekan kami merenungkan sejarah bahasa ini dan sastranya, mereka akan melihat di setiap masa dari masanya sesuatu yang mungkin dinamakan mazhab baru, tetapi kami tidak menemukan seorang pun yang menamakannya demikian atau membangunnya atas dasar bahwa itu adalah sesuatu dengan dirinya sendiri kecuali di hari-hari terakhir ini, kemudian kami tidak menemukannya kecuali pada mereka yang dikuasai oleh pekerjaan penerjemahan dan kembali dari bahasa Arab kepada watak yang lemah dan materi yang rapuh, maka datang kepada mereka dari pekerjaan tersebut apa yang tidak dapat ditopang oleh alat mereka dan lembah mengalir dengan mereka dalam ketidakmampuan, maka tidak ada jalan lain bahasa-bahasa asing memasukkan kehinaan kepada bahasa Arab mereka, dan kebanyakan mereka dengan dua bahasanya seperti timbangan yang salah satu sisinya berat lalu condong dan yang lain ringan lalu tampak kosong… Dan seandainya dia menempatkan pada yang ini timbangan apa yang ada pada yang itu dan menyamakannya antara keduanya, urusan akan berbalik dan keduanya menjadi sama, maka tidak ada yang sempurna maupun yang kurang.

Penyebab sebenarnya tidak kembali kepada mazhab lama atau baru, melainkan kepada kelemahan dalam satu bahasa dan kekuatan dalam bahasa lain, dan sesungguhnya penganut mazhab baru… mengambil kesungguhan dalam satu dan pengabaian dalam yang kedua, dan lebih banyak menghadap kepada sesuatu tanpa yang lain, maka dia terikat kepadanya dan melaksanakan urusannya atasnya dan baik niatnya padanya dan menguat lalu menjadi sejenis fanatisme terhadap sastra asing dan penghuninya, maka ketika fanatisme ini mengakar dan menguat, dia mengarahkan selera dalam sastra dan gaya bahasanya kepada penafsiran tertentu menurut mazhab dan hawa nafsu, kemudian menjadikan pemahaman di belakang selera.

Dan engkau tahu bahwa selera sastra dalam sesuatu adalah tentang pemahamannya, dan bahwa penilaian terhadap sesuatu adalah bekas selera padanya, dan bahwa kritik adalah selera dan pemahaman keduanya, dan dari sinilah datang kesalahan itu yang mereka sangka sebagai kebenaran, meskipun engkau menemukan dalam kaum tersebut orang yang tidak engkau tuduh pemahamannya tetapi engkau tidak membebaskan keadilannya, dan dari yang tidak engkau tuduh padanya ini dan itu tetapi dengan itu pemahamannya datang salah karena dia tidak mau datang kecuali begini… karena fanatisme ada dalam dirinya untuk satu pendapat atas pendapat lain, atau satu orang atas orang lain, atau satu agama atas agama lain, yang mana urusannya tidak lain adalah untuk rasa batiniah.

Dan ulama sastra telah berkata bahwa ketika wilayah orang Arab meluas dan kota-kota bertambah banyak, mereka melihat mereka menyingkat (ath-Thawil), karena mereka menemukan untuk orang Arab padanya sekitar enam puluh kata yang kebanyakannya kasar dan buruk… Maka mereka membuang semua itu dan meninggalkannya serta mencukupkan diri dengan ath-Thawil karena ringannya di lidah. Ini dan yang sepertinya terjadi di masa demi masa, dan kami tidak melihat seorang pun menamakannya mazhab baru atau menyatakan demikian, dan Al-Quran itu sendiri adalah mazhab baru dengan segala makna kata ini, dan tidak ada seorang pun yang mengatakan perkataan ini padanya tidak dari ahli bahasa maupun yang masuk ke dalamnya; dan Abdul Hamid al-Katib telah memindahkan hal-hal dari gaya bahasa Persia lalu memasukkannya dalam tulisannya, dan para ulama menerjemahkan dari bahasa-bahasa yang berbeda lebih banyak dari yang diterjemahkan penulis zaman ini, dan di antara mereka ada yang kembali dalam koreksi dan penentuan kata-kata kepada orang-orang yang mereka tunjuk untuk itu dari ulama yang ahli dalam bahasa, dan muncul pemikiran-pemikiran yang berbeda, dan beragam gaya penulisan, dan orang-orang belakangan dari abad keempat hingga kesembilan ahli dalam cabang-cabang dari keseriusan dan humor, dan dalam hal-hal badi’iyah yang tidak dikenal orang Arab hingga bahasa mereka bercampur, dan dalam semua itu tidak ada sastrawan, ulama, maupun penulis yang mengatakan bahwa dia memiliki mazhab baru dari mazhab lama, karena mereka lebih paham tentang bahasa dan lebih mampu mengendalikannya dan lebih tahu tentang hikmah penetapan padanya dan lebih bersemangat terhadap sisi-sisi manfaat darinya dan pemanfaatan darinya, kemudian sarana-sarana bahasa dimudahkan bagi mereka, yang tumbuh di antara mereka tumbuh atas hafalan dan riwayat, dan menerima dari guru-guru terpercaya yang telah mengikhlaskan niat mereka untuk ilmu dan menasihati tentang diri mereka di dalamnya serta mengumpulkan dan mencakup semuanya dan seakan-akan roh mereka diperas dari cabang-cabang ilmu dengan perasan, dan pada satu orang dari mereka ada roh perpustakaan besar.

Maka ketika zaman terhenti dan sastra menjadi jurnalistik… dan bahasa Arab serta sastranya berakhir kepada beberapa buku sekolah, dan ilmu yang panjang itu menyendiri dan perpustakaan-perpustakaan menjadi baginya seperti kubur-kubur yang penuh dengan peti mati… dan fanatisme tersebar untuk orang asing dan peradabannya—urusan kembali sesuai dengan ukuran itu dalam kecilnya urusan dan lemahnya kedudukan, dan penganut sedikit bahasa Arab ini membutuhkan untuk menganggapnya keseluruhan dengan sendirinya bukan bagian dari keseluruhannya, maka jadilah karena itu mazhab dan jadilah mazhab baru…

Dan jika engkau tidak menemukan di semua ulama terdahulu yang mampu mengatakan bahwa dia penganut mazhab baru dalam bahasa atau melihat untuk dirinya pendapat kecuali bahwa dia bekerja untuk memeliharanya, menumbuhkannya, dan menyemarakkannya, dan kecuali bahwa dia melembutkan sejauh yang dia mampu dan berubah dengan apa yang dia sanggup—maka engkau akan menemukan di kalangan orang tahun 1923… yang berkata dalam bahasa ini sendiri: “Untukmu mazhabmu dan untukku mazhabku.”

“Bagimu bahasamu dan bagiku bahasaku”… Sejak kapan engkau wahai pemuda ini menjadi pemilik bahasa, peletaknya, yang menurunkan dasar-dasarnya, yang mengeluarkan cabang-cabangnya, yang menetapkan kaidah-kaidahnya, dan yang menentukan kejanggalannya? Dan siapa yang menyerahkan ini kepadamu hingga kamu memiliki hak untuk bertindak “sebagaimana pemilik bertindak atas miliknya!”

Dan hingga kamu memiliki dari ini hak penciptaan, dan dari penciptaan itu yang kamu sebut sebagai mazhabmu dan bahasamu; sungguh lebih mudah bagimu untuk dilahirkan dengan kelahiran baru sehingga kamu memiliki umur baru di mana kamu memulai kesusastraan dengan haknya dari kekuatan penguasaan dan memulai kembali mempelajari bahasa dengan apa yang menjadikanmu sesuatu di dalamnya – daripada melahirkan mazhab baru atau membeli bahasa yang kamu sebut sebagai bahasamu. Karena sesungguhnya kamu adalah satu umur dalam satu zaman di antara jutaan umur dalam berbagai zaman yang panjang, dan sesungguhnya apa yang kamu adakan berdasarkan kesalahan tidak akan kekal sebagai kebenaran, dan tidak akan pernah kekal kecuali sebagaimana penyakit kekal sebagai penyakit, maka tidak dapat dijadikan qiyas (analogi) untuk perkara yang benar dan tidak dapat dijadikan hukum bagi orang yang tidak sakit.

Jika yang mereka maksud dengan mazhab baru adalah ilmu dan verifikasi serta pengujian pendapat dan pembaruan dalam makna, dengan syarat bahasa tetap berdiri di atas dasar-dasarnya, dengan syarat variasi adalah “cara-cara” sebagaimana dikatakan misalnya dalam penciptaan Al-Qadhi Al-Fadhil yang mereka namakan Thariqah Al-Fadhiliyah,

bukan mazhab-mazhab yang dimaksudkan untuk penetapan dan penghapusan – maka kami tidak menolak sesuatu pun dari ini dan tidak membantahnya, bahkan itu adalah pendapat kami, bahkan itu adalah pendapat kehidupan, bahkan itu adalah hukum alam. Namun dengan ini kami menambahkan bahwa asal dalam semua itu adalah keselamatan bahasa dan keselamatan nasionalisme, maka kami tidak memandang pendapat bangsa-bangsa kecuali sebagai orang-orang Timur, dan kami tidak menerjemahkan dari bahasa-bahasa orang Eropa kecuali sebagai pemilik bahasa yang memiliki karakteristiknya sendiri, dan peradaban mereka tidak mengalihkan kami dari diri kami sendiri, dan tidak datang dengan pedang mereka untuk leher kami,

dan dengan godaan mereka untuk hati kami, dan kokain mereka untuk hidung kami…, bahkan kami mengutamakan keutamaan atas pendapat meskipun itu dari kepala orang gila “Nietzsche” dan kami lebih suka kemaslahatan yang kasar dan keras daripada kerusakan yang lembut dan halus meskipun itu kelembutan kewanitaan Paris.

Dan lihatlah betapa jauh jarak antara orang yang menyerahkan diri kepada fulan dan lainnya dari para ulama Eropa karena mereka adalah ulama Eropa, dan antara orang yang tidak menyerahkan diri kecuali setelah yakin dan dengan bukti kemaslahatan dan manfaat dan setelah hujjah mencapai tempatnya! Ini fulan, seorang penulis Timur yang condong kepada sosialisme dan menganutnya dan melihatnya sebagai meja Allah Sang Pencipta yang digelar di bumi-Nya untuk semua manusia, dan dia mencela kami karena mengabaikannya seolah-olah kami tidak mengetahuinya, padahal kami melihatnya sebagai meja yang sama persis hanya saja kami menambahkan bahwa meja itu digelar untuk semua manusia agar semua manusia saling mendorong mempertahankannya sehingga tidak ada seorang pun yang dapat mencapainya… Dan kami lebih memilih daripada semua meja khayali ini dengan segala kelezatan dan warnanya, laqimah-laqimah (suapan-suapan) yang diwajibkan oleh sistem zakat dalam Islam sebagai kewajiban yang tidak sempurna Islam seseorang kecuali dengannya. Maka dengan ini pertimbangkanlah.

Dan jangan sampai luput dari sahabat kami bahwa banyaknya pendapat di zaman ini dan banyaknya akal-akal yang berpikir dan kemerdekaan berpikir yang sempurna… tanpa ikatan dan syarat, kemudian keinginan agar setiap akal memiliki pengaruh dalam masyarakat, dan setiap pengaruh memiliki dalil atasnya, dan setiap dalil memiliki pengikut – semua itu akan berakhir pada penyakit masyarakat manusia yang tidak akan sembuh kecuali dengan ikatan-ikatan Ilahi yang disebut “agama-agama”. Dan ini kita melihat di Eropa dan Amerika bahwa dari kelalaian ada yang menjadi mazhab, dan dari kerendahan ada mazhab, dan dari rendahnya syahwat ada mazhab, dan dari kegilaan ada mazhab, dan dari setiap keanehan ada mazhab, dan dari yang bukan mazhab juga ada mazhab…

Itu satu hal, dan yang kedua: bahwa jika yang mereka maksud dengan mazhab baru adalah bahwa penulis menulis dalam bahasa Arab dengan berpaling kepada makna dan tujuan, meninggalkan bahasa dan urusannya, berlaku sewenang-wenang terhadapnya, mengambil apa yang kebetulan sebagaimana kebetulan, dan apa yang mengalir di penanya sebagaimana mengalir, menganggap itu sebagai anggapan orang yang melihat bahwa otaknya tanpa pelindung dari tulang kepalanya, dan bahwa tulang kepalanya seperti tulang kakinya, dan bahwa jari-jari kakinya seperti bulu matanya, dan bahwa mutlak susunan adalah mutlak keteraturan dan kesesuaian, dan bahwa bahasa adalah alat dan tidak masalah dengan alat apa pun yang kebetulan, dan tidak masalah bahwa ahli bedah merobek kulit pasien dengan giginya atau kukunya atau dengan mata kapak, selama steril. Dan selama itu persis adalah perbuatan pisau bedah, pisau bedah tidak menambah atasnya kecuali dalam ketelitian –

Jika mereka maksudkan dengan ini atau yang serupa dengannya apa yang mereka sebut mazhab sastra baru, kami katakan: tidak, kemudian tidak, kemudian tidak – tiga kali!

Adapun yang pertama, sesungguhnya lebih baik daripada meninggalkan orang bodoh dalam kebodohannya adalah mencegahnya dari kebodohannya. Dan jika mazhab kelemahan adalah tidak membebankan kepadanya kecuali sesuai kadarnya dan dalam kemampuannya, apakah itu menjadikan hal tersebut sebagai dasar untuk kekuatan; sedangkan kelemahan itu tidak lain adalah pengecualian darinya, dan kaidah pengecualian adalah bahwa dibatasi dengan nashnya dan tidak diperluas di dalamnya…

Kemudian, mana yang lebih baik bagi kesusastraan, ilmu, dan buku-buku kita: bahwa kita menjaga dasar yang benar dan kuat yang ada di tangan kita dan kita menanggung di dalamnya kelemahan orang-orang yang lemah dan kita bersabar atas perlawanan mereka terhadap perusakannya hingga tumbuh generasi yang lebih kuat dari generasi dan keluar umat yang lebih baik dari umat sehingga menemukan dasar yang selamat lalu membangun di atasnya dan menambah di dalamnya, ataukah kita biarkan kebaikan untuk kerusakan dan kita longgar dalam kekuatan hingga berubah menjadi kelemahan maka ketika datang setelah kita dia menemukan dasar yang rusak lalu menambah kerusakannya, dan kembali mazhab baru kita setelah waktu dari masa menjadi mazhab lama lalu diperbaharui darinya yang baru dengan pola lain.

Kemudian ini juga menjadi lama menurut sunnah yang sama, dan seterusnya hingga bahasa Arab ini pada sebagian zamannya menjadi laknat atas semua zamannya, maka dihapus sekaligus dan menjadi ucapan yang biasa yang engkau lihat hari ini mudah dan lembut menjadi keras, kasar, dan kaku yang bagus penerjemahannya saat itu kepada orang yang alim dan paham dengan apa yang dulu disebut kata kerja, kata benda, dan huruf… Jika tidak, maka hendaklah pemilik mazhab baru mengatakan kepada kita, apa batasan pembaruan menurut mereka; dan mengapa mereka membatasinya pada batas tertentu; bahkan bagaimana mereka membatasinya sedangkan di antara manusia ada yang lebih lemah dari orang lemah mereka maka wajib baginya ada pembaruan dari pembaruan mereka sesuai kadar kelemahannya, selama bentuk qiyas adalah satu dan perkaranya di dalamnya adalah satu dan illahnya tidak berbeda!

Adapun yang kedua, sesungguhnya bahasa Arab ini adalah bahasa agama yang berdiri di atas dasar abadi yaitu Al-Quran Al-Karim, dan telah bersepakat orang-orang terdahulu dan kemudian atas kemukjizatannya dengan kefasihan bahasanya, kecuali orang yang tidak diperhitungkan dari zindiq yang berpura-pura bodoh atau orang bodoh yang menjadi zindiq. Maka jika yang memukjizkan dalam suatu bahasa dari bahasa-bahasa dengan kesepakatan ulama dan sastrawan-sastrawannya adalah dari yang lama khususnya, apakah yang baru di dalamnya kesempurnaan yang tinggi ataukah kekurangan yang turun?…

… Kemudian sesungguhnya kefasihan Al-Quran harus tetap dipahami, dan pemahaman tidak mendekatinya kecuali dengan latihan dan praktek serta mempelajari gaya-gaya bahasa yang fasih dan meniru berdasarkannya dan penguasaan bahasa dan penglihatan terhadap kehalusannya dan seni-seni retorikanya dan perhatian terhadap keselamatan selera di dalamnya, dan semua ini adalah yang menjadikan kelonggaran dalam bahasa dan gaya-gayanya ini sebagai bentuk kerusakan dan kebodohan, maka bahasa tetap seluruhnya sebagai mazhab lama, dan sesungguhnya yang menjadi mazhab baru di dalamnya adalah orang untuk sementara waktu… Kemudian mazhabnya masuk kubur…

… Dan apa yang mungkin dilakukan oleh seorang penulis dan sepuluh dan seratus dan seribu dalam bahasa yang kitab mukjizatnya berdebar pada empat ratus juta hati; dan berapa banyak gaya bahasa yang buruk atau lemah atau awam yang muncul dalam bahasa ini sejak mereka menulis dan mencatatnya, dan berapa banyak pemikiran yang rusak atau menyimpang atau cacat, dan berapa banyak buku yang layak disebut dengan bahasa hari ini sebagai mazhab baru – maka di mana semua itu dan di mana pengaruhnya dalam bahasa dan gaya-gayanya setelah tiga belas abad; sungguh telah ditelan oleh tiga belas ombak maka turun ke kedalaman kematian yang menggenangi!…

… Namun saya melihat bagi pemilik “mazhab baru” akar dalam sejarah sastra Arab, dan akar-akarnya adalah dari orang-orang yang menganut Islam padahal mereka menganut selain itu, dan dari orang-orang yang menganut lalu menjadi zindiq di dalamnya, hingga Al-Jahizh berkata dalam sebagian suratnya – maksudnya ini dan itu -: “Maka setiap mata yang sakit yang kita lihat pada orang-orang baru kita dan orang-orang bodoh kita, renungkanlah, maka dari mereka permulaan pertamanya”. Semoga Allah merahmati Abu Utsman, sesungguhnya sejarah mengulangi dirinya hari ini “dengan mata yang sakit yang baru”.

Adapun yang ketiga, sesungguhnya kekhususan dalam kefasihan bahasa ini bukan pada kata-katanya, tetapi pada susunan kata-katanya, sebagaimana guncangan dan kegembiraan bukan pada nada-nada tetapi pada cara-cara penggabungannya.

Dan inilah seni, semua seni dalam gaya bahasa, karena itu kembali kepada selera musikal dalam huruf-huruf bahasa ini dan lonceng huruf-hurufnya, dan saya bersaksi bahwa saya tidak pernah melihat satu pun penulis dari pemilik “mazhab baru” yang menguasai sesuatu dari perkara ini, dan seandainya dia menguasainya niscaya tersingkap baginya dari penguasaannya itu apa yang tidak menyisakan padanya keraguan dalam membatalkan mazhab ini dan kekosongannya. Oleh karena itu engkau melihat mereka berdalih untuk mazhab baru mereka dengan seni dan logika dan pemikiran dan dengan segala sesuatu kecuali kefasihan. Dan jika mereka fasih, mereka datang dengan ucapan yang mentah dan berat, dan majaz-majaz yang sulit dicerna, dan istiarah-istiarah yang dingin, dan tasybih-tasybih yang gila, dan ungkapan-ungkapan panjang yang kacau yang jatuh dari jiwa sebagaimana bola yang dipompa jatuh dari bumi, tidak henti-hentinya memantul dari tempat ke tempat hingga diam!

Dan kami tidak ingin memperpanjang dalam aspek ini, karena kami telah membahas kebanyakan pembahasan tentangnya dalam jilid kedua dari “Tarikh Adab Al-Arab”, dan kami hanya mengatakan bahwa ucapan yang asing dan aneh terbagi menjadi dua bagian: apa yang kasar dan sangat asing yang tidak diketahui kecuali oleh peneliti yang mengetahui.

Dan apa yang biasa tetapi terletak bukan di tempatnya, sebagaimana engkau lihat dalam gaya-gaya sebagian penulis zaman ini yang meledak dengan apa yang tidak tertahankan meskipun lembut dan bertiup kepadamu hembusan angin sepoi-sepoi tetapi antara tempat dan tempat tidak boleh tidak menyapu bumi…!

Maka bagian pertama menjauh dengan sendirinya, maka ia asing dalam satu keadaan yang tidak berbeda.

Dan yang kedua menjauh dengan tempatnya, maka ia asing yang naik dan turun sesuai kadar kekacauannya, kemudian ia keanehan mazhab baru yang dikhususkan dengannya dan mereka hampir tidak menyadarinya.

Ini adalah ucapan yang kami tidak membahas detail-detailnya dalam ringkasannya dan kami hanya meluncurkannya dengan cepat. Dan jika engkau menginginkan perumpamaan dalam perselisihan mazhab baru dengan yang lama dan apa yang dibayangkan oleh yang baru ini dan apa yang menjadi akhir urusannya, kami katakan kepadamu carilah seorang laki-laki yang melihat bayangan kepalanya di dinding lalu dia memukulnya dengan kepalanya yang ada di lehernya…!

Tetapi ketahuilah bahwa jika kami dan engkau tidak memperingatkannya dan tidak mencegahnya maka kami telah berbuat kejahatan kepadanya meskipun kami tidak menyentuhnya dengan bahaya, dan jika dia dengan kepalanya membelah kepalanya sendiri..!

۞۞۞۞۞

Warisan Arab

Abu Khalid An-Numairi hidup pada abad ketiga Hijriyah, dan ia berpura-pura menjadi orang Arab Badui. Ia membuat-buat dalam ucapannya, bersikap bodoh dalam perkataannya, dan menggunakan cara-cara yang menyimpang dalam mengunyah kata-kata serta berbicara dengan berlebihan, untuk membuktikan bahwa ia adalah orang Arab Badui padahal sebenarnya tidak. Ia lahir dan tumbuh di Basrah. Mereka bercerita bahwa ia pergi ke padang gurun dan tinggal di sana beberapa hari, kemudian kembali ke Basrah. Ketika ia melihat talang air di atas atap rumah-rumah, ia mengingkarinya dan berkata: “Apa ini belalai-belalai yang tidak kami kenal di negeri kami…?”

Ini adalah salah satu sisi dari bahasa Arab yang diperbandingkan oleh sejarah pada zaman kita ini dengan sisi lain dari sekelompok orang yang dikaruniai keluasan dalam berbicara hingga melampaui batas akal terkadang, dan diberi watak yang menyimpang dalam meniru peradaban Eropa hingga melampaui alasan dan dalih. Mereka menganggap diri mereka lebih besar dari zaman mereka, dan zaman mereka lebih kecil dari akal mereka. Maka engkau mengenal dari mereka Abu Khalid Perancis, Abu Khalid Inggris, dan lain-lain yang pergi ke Perancis dan Inggris lalu tinggal di sana beberapa waktu kemudian kembali ke negeri dan tanah air mereka. Mereka mengingkari warisan Arab secara keseluruhan dalam bahasa, ilmu pengetahuan, dan kesusastraannya, dan mereka berkata: “Apa ini agama kuno; dan apa ini bahasa kuno? Dan apa ini gaya bahasa kuno?” Mereka semua berupaya dalam menghancurkan bangunan bahasa, merusak kekuatannya, dan memecah-belahnya.

Padahal mereka adalah orang-orang yang paling lemah dalam meletakkan sesuatu yang baru atau menciptakan sesuatu yang orisinal atau membuat sesuatu yang inovatif. Itu hanyalah penyimpangan watak, kegilaan pemikiran, dan pembalikan jiwa yang bertentangan dengan pertumbuhannya, sehingga ilmu-ilmu orang non-Arab pada mereka menjadi seperti darah yang turun kepada mereka dari bapak dan kakek mereka. Masuknya mereka ke dalam suatu bahasa menjadi keluar dari bahasa lain, dan iman mereka pada sesuatu menjadi kekafiran pada sesuatu yang lain, seolah-olah tidak dapat lurus penggabungan antara dua bahasa dan dua kesusastraan, dan tidak seimbang bagi salah seorang dari mereka untuk menjadi orang Timur meskipun di lidahnya terdapat bahasa London atau Paris!

Di antara mereka ada penulis yang menulis dalam bahasa Arab dan mencari rezeki darinya—dan ada sastrawan yang meneliti kesusastraan dan seni-seninya, dan mereka semua mahir dan baik kecuali ketika penulis mereka menulis tentang perbaikan penulisan dan peneliti mereka meneliti tentang perbaikan sastra. Di sanalah engkau melihat kebanyakan perhatian yang pertama adalah agar bahasa amiyahnya selamat sehingga tidak diingkari atas kelemahan, kesalahan tata bahasa, dan tidak dianggap buruk gaya bahasa atau ungkapannya, dan agar semua kekurangan yang menimpanya dianggap sebagai kesempurnaan modern…

Dan engkau melihat perhatian yang kedua adalah membenci kesusastraan Arab dengan gaya bahasa lainnya, memaksanya dengan cara memotong, menambal dan menempelkan, serta menyebarkan di dalamnya pernyataan-pernyataan yang tidak jelas. Ini menurut mereka adalah kebohongan tanpa bukti atasnya, ini adalah hal yang mustahil tanpa dalil di dalamnya, ini didasarkan pada keraguan, dan itu pada apa yang tidak aku ketahui dan tidak diketahui oleh siapa pun.

Seorang penulis terkenal dari kelompok ini menceritakan kepadaku, dan yang paling mengherankan dari apa yang ia katakan adalah: Bahwa Ibnu Al-Muqaffa adalah orang yang fasih dan pandai berbicara, namun ia bukan Muslim dan bukan Arab serta tidak ada urusannya dengan hadits, Al-Quran, maupun agama. Ia menyampaikan itu sebagai sanggahan terhadap apa yang aku katakan bahwa tidak ada kefasihan dan tidak ada bahasa kecuali dengan semangat pada Al-Quran, hadits, dan kitab-kitab para salaf serta kesusastraan mereka.

Dan aku tidak tahu demi Allah bagaimana orang ini dan sejenisnya memahami, tetapi engkau dapat melihat dalam ungkapannya seberapa besar kelalaian yang menimpa kelompok ini dari kekurangan pengetahuan, kelemahan pemikiran, dan membangun perkara berdasarkan penelitian surat kabar tanpa pendalaman dan penggalian. Engkau melihat bagaimana mereka pergi dari asal yang menjadi dasar tujuan kemudian mereka berupaya mendasarinya menurut kadar akal dan pemahaman mereka. Filsafat mungkin berhasil dalam segala hal kecuali dalam memberikan alasan terhadap sesuatu yang alasannya sudah diketahui. Apakah Ibnu Al-Muqaffa tumbuh kecuali dengan bahasa Arab, kesusastraan Arab, dan periwayatan Arab? Dan salah satu sebab terkuat dari kefasihannya yang terkenal adalah penguasaannya terhadap kefasihan dan gaya bahasa ini dari Tsaur bin Yazid Al-A’rabi yang mereka katakan tentangnya bahwa ia termasuk orang yang paling fasih lisannya. Tetapi di mana orang yang menggali tentang ini dan sejenisnya pada kelompok itu atau membayangkannya sehingga berhenti pada batasnya? Apakah mereka tahu bahwa Ibnu Al-Muqaffa dengan keseriusannya dalam menerjemahkan dari bahasa Persia dan Yunani, suatu hari pernah memilih gaya bahasa rakyat pada zamannya, atau menganggapnya baik untuk penerjemahan dan terjemahan, atau keluar dari kesusastraan yang ia pelajari atau berupaya di dalamnya, atau berkata dengan wajibnya menghancurkan yang lama karena ia tidak melihat bagi orang Arab seperti yang tidak ia ketahui bagi Yunani dari ilmu, hikmah, imajinasi, dan gaya bahasa cerita tertulis, atau menurunkan gaya bahasa dan tulisannya pada kedudukan orang yang melakukan tipu muslihat dalam bahasa atau bermaksud jahat terhadap sastra atau mempermudah dirinya untuk tujuan seperti yang ada dalam jiwa para pembaru ini?

Penulis itu berkata kepadaku dalam sebagian perkataannya: Bahwa warisan Arab kuno yang kita warisi harus dihancurkan seluruhnya dan disamakan dengan ketiadaan. Aku berkata: Apakah engkau membuat untuk manusia bahasa, sastra, dan sejarah kemudian watak-watak yang diwariskan yang berdiri atas pemeliharaan bahasa, sastra, dan sejarah, ataukah engkau mengira bahwa engkau mampu dengan artikel yang pincang di surat kabar yang cacat… untuk menghancurkan sesuatu yang engkau di antara awal dan akhirnya seperti sebatang jerami yang didatangkan untuk mencabut gunung dari akar-akarnya?

Dari mana datangnya warisan Arab dan bagaimana ia berkumpul dan sempurna kecuali dari bakat-bakat yang serius dalam menciptakan dan menumbuhkannya, menambahkan umur mereka sebagai halaman-halaman di dalamnya, dan mengambil untuknya kesusastraan Persia, India, Yunani, dan lainnya, lalu meng-arab-kan semua itu agar menyatu dalam bahasa bukan agar bahasa menyatu di dalamnya, dan agar menjadi sebagiannya bukan agar ia menjadi sebagiannya, dan agar tetap dengannya bukan agar hilang bersamanya?

Dan siapa yang mengklaim bahwa orang Arab adalah seluruh bumi, dan bahwa kesusastraan mereka diciptakan dengan kesempurnaan yang tidak memerlukan perbaikan atau perubahan? Tetapi siapa yang rela untuk menjadikan bagi setiap negeri Arab bahasa Arab yang berdiri sendiri, dan bagi setiap negara sastra tersendiri, dan bagi setiap kelompok penulis penulisan tersendiri? Dan siapa yang melakukan atau berupaya melakukan itu dalam seluruh sejarah Islam dengan sepanjang apa yang terbentang dan berlanjut?

Sungguh suku-suku Arab adalah bahan bahasa ini dan sebab keluasan dan penyebarannya. Dan para penyair terkemuka dari masa Jahiliyah seolah-olah setiap orang dari mereka adalah suku dalam keragaman dan kreasi secara kiasan, metafora, dan keindahan. Kemudian turunlah Al-Quran Al-Karim maka ia menjadi tujuan seluruhnya. Kemudian para penyair, penulis, dan sastrawan berturut-turut, maka siapa di antara mereka yang tidak menambah pada yang ada tidak menguranginya. Kemudian datanglah para sastrawan penerjemah dan di antara mereka ada yang menghimpun keahlian dari ujung-ujungnya sehingga mereka adalah suku-suku modern dalam makna-makna dan seni-seni bahasa. Dan mazhab mereka dalam semua yang mereka terjemahkan dan yang mereka kutip adalah kalimat ini yang diucapkan oleh Al-Utabi: “Bahasa adalah milik kami dan makna adalah milik mereka,” maksudnya orang non-Arab.

Dan ia menyalin dari kitab-kitab mereka dan kadang bepergian dalam mencari kitab-kitab selama sebulan, dan Al-Utabi termasuk orang paling fasih yang dihasilkan oleh bahasa Arab dan ia adalah satu-satunya pada zamannya dalam jawaban-jawaban yang membungkam, dan seandainya bukan karena kefasihannya namanya tidak akan tetap ada.

Maka seandainya suku-suku modern dari Abu Khalid Perancis hingga Abu Khalid Inggris berbuat seperti ini, maka pokok perkara mereka adalah semangat pada bahasa, kemudian jika mereka menguatkan tangan mereka atasnya maka mereka akan bersemangat pada kitab-kitabnya yang merupakan bahannya, kemudian jika mereka mengumpulkan ini maka mereka mempelajarinya dan saling memindahkannya, kemudian jika mereka saling mempelajarinya maka telah tertanam pada mereka kemampuan, kukuh pada mereka selera, patuh kepada mereka watak, dan mereka menjadi paham serta menilai dengan baik. Maka jika kita sampai pada ini, tidak tersisa lagi topik yang mereka perselisihkan padanya, dan menjadi para sastrawan bahasa semuanya satu jenis, dan tidak tersisa kecuali kritik yang menjelaskan pribadi dari pribadi dan cara dari cara, dan bahasa setelah itu terpelihara dan selamat, dan kepadanya semua rujukan, dan untuknya semua pekerjaan, dan ia adalah semua perkara. Dan ini adalah apa yang menjadi dasar kesusastraan bangsa-bangsa yang mandiri dan tersendiri dengan kebangsaan dan unsur-unsurnya.

Tidakkah Abu Khalid Inggris dan Abu Khalid Perancis melihat bagaimana setiap bangsa di Eropa berbangga dengan bahasanya, dan bagaimana orang-orang Perancis membanggakan lidah mereka hingga mereka menjadikannya hal pertama yang mereka pegang pada kelingking jika mereka menghitung kebanggaan dan kemuliaan mereka? Apakah ada yang lebih mengherankan dari Akademi Ilmu Pengetahuan Perancis yang mengumumkan kepada kaumnya pembatalan kata bahasa Inggris yang ada di lidah-lidah sebagai akibat dari Perang Besar dan mewajibkan menghilangkannya dari bahasa sama sekali, yaitu kata “sistem blokade laut”? Dan itu adalah sesuatu yang datang bersama bencana-bencana Perancis dalam Perang Besar. Maka ketika bencana-bencana itu pergi, Akademi Ilmu Pengetahuan berpendapat bahwa kata itu sendiri adalah bencana bagi bahasa seolah-olah ia adalah tentara negara asing di tanah negara yang merdeka dengan lencana, senjata, dan benderanya yang mengumumkan penaklukan, kekuasaan, atau perbudakan! Apakah mereka melakukan itu kecuali karena kelalaian memanggil sebagiannya kepada sebagian, dan bahwa kelalaian menimbulkan kelemahan pemeliharaan dan penjagaan, dan bahwa percampuran dan kekacauan datang dari kelalaian, dan kerusakan berkumpul dari percampuran dan kekacauan?

Sesungguhnya perkara-perkara itu dengan ukuran-ukurannya dalam timbangan kesepakatan, bukan dengan bobot-bobotnya pada dirinya sendiri. Maka seribu tentara asing dengan senjata dan amunisi mereka di tanah yang binasa dengan penduduknya mungkin merupakan pertolongan yang dengannya langit terbuka. Tetapi satu tentara dari mereka di tengah bangsa yang kuat dan merdeka, maka tanah terbelah untuknya dan hampir langit jatuh. Maka mazhab baru adalah kerusakan sosial dan pemiliknya tidak menyadari bahwa mereka memukul dengannya kehinaan atas bangsa.

Dan itu adalah kejahatan mereka terhadap diri mereka sendiri dan kejahatan mereka terhadap manusia dengan diri mereka sendiri, dan mereka tidak merasakan yang pertama maka tidak heran mereka tidak merasa malu dari yang kedua!

۞۞۞۞۞

Kalimat Quranik

Salah satu surat kabar Arab yang terbit di Amerika mengingatkanku ketika membicarakan “Surat-Surat Kesedihan” dengan perkataan yang datang dalam sebagian maknanya bahwa aku jika meninggalkan “kalimat Quranik” dan hadits syarif Nabi shallallahu alaihi wasallam dan cenderung kepada selainnya, maka itu akan lebih bermanfaat untukku dan akan memenuhi zaman kemudian akan menghancurkan penganut mazhab baru dengan kehancuran yang tidak jauh pada dugaan terkuat akan menjadikanku dalam sastra sebagai mazhab sendiri!

Dan sungguh aku berdiri lama pada perkataan mereka “kalimat Quranik” maka tampak bagiku dalam cahaya kata ini apa yang tidak aku lihat sebelumnya, hingga seolah-olah ia adalah “mikroskop” dan apa yang diteranginya dari kuman-kuman yang tadinya tersembunyi kemudian menjadi jelas, dan yang halus kemudian menjadi besar, dan yang seolah-olah tidak ada sesuatu pun namun dengan demikian penyakit-penyakit besar tidak diketahui kecuali dengannya.

Dan jika aku meninggalkan kalimat Quranik dan bahasa Arabnya, kefasihannya, ketinggiannya, dan kedudukannya dalam mendidik kemampuan, menajamkan ucapan, dan melepaskan selera pada kedudukan pertumbuhan yang murni di suku-suku Arab yang paling fasih, mengembalikan sejarah lama kami kepada kami hingga seolah-olah kami di dalamnya, menghubungkan kami dengannya hingga seolah-olah ia pada kami, memelihara bagi kami ucapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan ucapan orang-orang fasih dari kaumnya hingga seolah-olah lidah-lidah mereka ketika membaca tilawat adalah yang berputar di mulut kami dan watak mereka adalah yang menegakkan kami pada timbangan mereka—jika aku melakukan itu dan meridhainya, apakah aku akan mengikuti gaya terjemahan dalam kalimat Injil…

Dan menyesal kepada bahasa campuran asing yang di-arab-kan ini, dan menerima logat bengkok itu, membantu dengan diriku sendiri terhadap bahasaku dan kebangsaanku, menulis tulisan yang mematikan kakek-kakekku dalam Islam dengan kematian baru sehingga kata-kataku berbalik pada sejarah mereka seperti ulat yang keluar dari yang mati dan tidak memakan kecuali yang mati, dan membentuk dengan lisanku yang sakit pertumbuhan dari manusia yang akan menjadi benci kepada mereka adalah yang benar yang seharusnya menjadi yang paling dicintai oleh mereka?

Aku mengetahui bahwa sahabat kami, penulis yang fasih dan teliti Syaikh Ibrahim Al-Yaziji, ketika mereka menginginkan darinya untuk mengoreksi terjemahan Injil, ia meminta kepada mereka agar menyerahkan penanya dalam penerjemahan sehingga menurunkannya pada kedudukannya dari lisan, memilih kata-katanya, menghilangkan bahasa asingnya, membersihkannya dari kerusakan susunan dan buruknya komposisi, menuangkan padanya kesungguhan dan menjadikan baginya kemanisan. Maka mereka menolak semua itu dan mencegahnya darinya, dan menempatkannya di dalamnya pada kedudukan orang yang meng-irab akhir kata, maka ia harus meninggalkan kata itu kecuali akhirnya…

Aku mengetahui itu dan tidak pernah memperhatikan suatu hari sebabnya hingga ucapan “kalimat Quranik” seperti yang mengingatkan padanya, maka aku melihat kaum itu telah berbuah pohon mereka buahnya yang pahit, dan datang sesudah mereka generasi yang menyia-nyiakan bahasa Arab dengan bahasa Arab mereka, merusak bahasa dengan bahasa mereka, dan mendorong pena-pena dalam gaya bahasa yang aku tidak tahu apakah itu Ibrani ke Arab ataukah Arab ke Ibrani. Mereka tidak mengenal selainnya dan tidak sanggup selainnya. Dan engkau melihat salah seorang dari mereka menjatuhkan bahasa ke tanah dan ia menurut dirinya terbang dengannya dalam pesawat terbang dari jenis Zeppelin…!

Seandainya mereka membatasi diri pada hal ini dalam diri mereka sendiri dan bersikap adil terhadapnya, tetapi mereka justru mengajak orang lain kepada mazhab mereka itu, dan menganggapnya sebagai satu-satunya mazhab yang tidak boleh ditinggalkan, mereka menyebutnya yang baru dan tidak ada keinginan untuk beralih dari padanya, mereka menganggapnya yang benar dan tidak ada yang benar selain itu, padahal mereka semua tahu bahwa dia bukanlah ahli bahasa dan tidak peduli dengannya serta tidak termasuk orang yang dikenal dengan ilmu-ilmunya; kemudian kesia-siaan ini memindahkan mereka kepada pendapat-pendapat seperti pendapat anak-anak kecil dalam urusan-urusan besar, sehingga mereka berusaha menciptakan fitrah baru dalam bahasa yang berbeda dari fitrah pertama yang menjadi dasar pembentukannya, yang dengannya urusannya menjadi lurus dan kemukjizatan kefasihan Arab terwujud dengan ciri-ciri khasnya.

Sumber dari semua bencana ini adalah bahwa bahasa Arab dalam kalimat Injil menyerang bahasa Arab dalam kalimat Alquran, baik mereka menyadarinya atau tidak, maka betapa miripnya gaya-gaya lemah ini dalam kedudukannya di sastra Arab dengan penyakit keturunan yang tersembunyi dalam tubuh yang sehat, menunggu kelengahan atau penyakit atau kelalaian untuk muncul, dan tiba-tiba ia menjadi gangguan bagi kesehatan, kemudian menjalar dan menjadi kerusakan baginya, kemudian menyerang dan mengakar sehingga menjadi temperamen baru, kemudian menjadi kematian setelahnya!

Adapun saya, saya tidak mengetahui sebab kelemahan gaya penulisan dan penurunan bahasa dari kedudukannya kecuali satu dari tiga hal: penjajah yang menghancurkan bangsa dalam bahasa dan sastranya agar berubah dari fondasi sejarahnya yang dengannya ia menjadi bangsa dan tidak akan menjadi bangsa kecuali dengannya; atau pertumbuhan dalam sastra mengikuti metode terjemahan dalam kalimat Injil dan terpengaruh olehnya serta lidah menjadi bengkok karenanya; atau kejahilan sebagaimana adanya kejahilan atau sebagai kelemahan, karena tidak setiap penulis mampu mencapai, dan tidak setiap orang yang menggadaikan dirinya dengan suatu profesi mahir di dalamnya meskipun ia dinisbatkan kepadanya, dan meskipun dihitung dalam tingkatan ahlinya. Menulis adalah kerajinan yang memiliki peralatan-peralatannya, dan di dalamnya ada tingkat tertinggi, menengah, dan yang di bawah itu.

Apakah menurut pendapat kita membantu penjajah atas ciri-ciri khas dan pilar-pilar kita, atau mengambil agama-agama yang berbeda dalam bahasa, atau menjadikan ukuran ilmu dari kejahilan dalam sebagiannya dan kelemahan dari sebagian lainnya; jika tidak, apa lagi yang tersisa setelah ketiga hal ini yang dapat memberi ruang untuk alasan jika kita mengatakan ada mazhab baru dalam bahasa?

Saya kira saudara-saudara kita di Mesir bahwa mereka tidak akan pandai menulis fasih hari ini seandainya tidak ada pada zaman yang telah berlalu sebelum mereka orang-orang seperti Sayid Jamaluddin, Muhammad Abduh, Ali Yusuf, Al-Barudi, Al-Muwaylihi, dan lain-lain yang mengusir penjajahan dari bahasa dengan kefasihan mereka, menolak gaya-gaya politik bahasa dengan gaya-gaya kefasihan, mengangkat pena mereka untuk melindungi warisan Arab, menjaganya dengan lidah mereka, dan memeliharanya dengan keyakinan mereka, hingga mereka mengamankannya dari pengurangan, penghancuran, atau hilangnya…

Maka bacalah kefasihan baru ini… yang saya kutip dengan huruf-hurufnya dari sebuah surat kabar Arab Islam yang terbit di Tangier, dan renungkanlah apakah ada di antara mereka yang menulis hari ini lebih fasih darinya setelah empat puluh tahun lebih pendudukan Inggris dan pendudukan Eropa lainnya dalam penyimpangan dan kerusakan tabiat, seandainya bukan karena jiwa-jiwa Arab Timur yang besar itu yang dalam arus ini seperti jiwa-jiwa para nabi yang berdiri sebagai benteng bagi kebenaran, lambang di dalamnya, seruan kepadanya, dan perjuangan untuk membelanya?

Surat kabar itu berkata ketika membahas sejarah haji dan menulis tulisan yang tidak tersisa darinya makna, lafal, maupun susunan kecuali telah disebutkan dalam kitab-kitab yang berbeda dengan ungkapan yang paling fasih dan gaya yang paling baik, bahkan itu adalah sebagian dari agama penulis itu.

Dan bacalah apa yang dikatakannya:

“Ziarah ke Kabah yang diagungkan adalah kewajiban atas setiap muslim dan muslimah, jika mereka memiliki kemampuan kesehatan dan keuangan, dan di antara manasik haji, tujuh kali thawaf mengelilingi Kabah setiap tahun, di tempat suci yang disebutkan berkumpul 200.000 orang mukmin dan mukminat yaitu jamaah haji yang mulia, dan mereka semua mengenakan pakaian putih, dan mendengarkan khutbah mufti umat di Jabal Arafah, labbaik Allahumma labbaik.

Ka’bah dibangun oleh Ibrahim Khalilullah.

Tetapi dengan berlalunya waktu dan zaman dan dengan pengaruh banjir dan hujan telah rusak berkali-kali.

Tetapi diperbaiki dari bahan-bahan lama dan batu-batu aslinya, dan Hajar Aswad diletakkan di tempatnya oleh tangan yang diberkati Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

“Menurut sejarah-sejarah kuno, sesungguhnya air Zamzam keluar dari hentakan kaki Sayyidina Ismail kita

Dan di antara makna dan kemuliaan… ziarah ke Baitullah yang suci adalah hal yang paling penting yaitu berkumpulnya umat Islam dunia setiap tahun di tanah-tanah suci Hijaz dengan melanggengkan kesetiaan dan keikhlasan di antara dunia Islam.”

Selesai, dan saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah!

Adapun setelah ini, maka lafal-lafal yang kami kutip ini hanya turun dari asal-usulnya yang mantap dan fasih seperti kedudukan penulis-penulis yang terpesona itu dari asal-usul mereka dalam kefasihan, pendapat, dan ketelitian. Seandainya lafal dari kalimat ini diciptakan menjadi manusia, niscaya ia akan menjadi salah seorang dari mereka, dan seandainya salah seorang dari mereka diubah menjadi lafal, niscaya ia akan menjadi sebuah kata darinya. Apakah dapat diterima dari kami setelah itu untuk mengabaikan mereka atau bersikap toleran dalam urusan mereka atau memberikan keringanan kepada mereka dalam gaya, kaidah, atau kata?

Ketahuilah bahwa timbangan itu hanyalah menurut ukurannya dalam neraca, sempurna dan kurang, bukan menurut ukurannya dalam dirinya sendiri dengan sangkaan dan klaim. Maka jangan mengklaim kepada saya bahwa kamu adalah siapa kamu dan bahwa bahasamu adalah apa adanya dan bahwa pendapat adalah apa yang kamu lihat dan tulisan adalah apa yang kamu tulis, tetapi marilah ke timbanganmu dari para ulama kalam, ke timbangan bahasamu dari bahasa, ke pendapatmu dari kebenaran, dan ke tulisanmu dari tulisan. Dan kamu setelah dan sebelum juga tidak dapat menyerbu suatu ilmu dari ilmu-ilmu lalu mengatakan sesuatu di dalamnya kecuali berdasarkan qiyas dari ilmu itu sendiri yang kamu kembalikan kepadanya perkataanmu dan kamu tegakkan dengannya hujahmu, kemudian perkataanmu tidak diterima dengan ini dan tidak dianggap perkataan sampai kamu menjadi ahli ilmu ini dan termasuk orang yang mendalaminya dan membunuh masalah-masalahnya dengan belajar dan penelitian. Dan kamu demikian pula, jika muncul bagimu suatu masalah dalam suatu bidang, kamu kembali kepada kitab-kitabnya dan kepada ahlinya, maka kamu meneliti perkataan mereka sebelum mengatakan sesuatu, dan mengetahui hukuman mereka sebelum memutuskan sesuatu; dan kamu menghindari kesalahan dengan kebenaran mereka, dan menjauhkan diri dari kekurangan dengan ijtihad mereka; kemudian tidak lain adalah bahwa kamu tunduk pada pendapat mereka dalam ilmu dan bidang itu tanpa mencoba tipu daya dan tidak mengandalkan penipuan dari pendapat serta tidak berdalih dengan alasan dari alasan-alasan. Maka alangkah baiknya jika aku tahu mengapa hal itu terjadi darimu dalam suatu ilmu dan dalam setiap ilmu dan dalam setiap bidang tetapi tidak terjadi demikian dalam bahasa dan pokok-pokoknya, penulisan dan gaya-gayanya, dan kefasihan serta mazhab-mazhabnya?

Kemudian apa itu bahasa? Pernahkah kamu melihat sebuah bangsa dari buku-buku yang diatur oleh pemerintahan dari jilid-jilid dan dikuasai oleh raja dari kamus-kamus besar… ataukah bahasa adalah kamu dan aku dan kami dan dia laki-laki dan dia perempuan dan mereka laki-laki dan mereka perempuan, maka jika kita mengabaikannya dan tidak mengambilnya dengan haknya dan tidak baik dalam menjaganya, lalu kamu datang mengatakan: Gaya ini tidak saya terima maka itu bukan dari bahasa, dan orang lain mengatakan: Dan ini tidak saya tahan maka itu bukan darinya, dan yang lain mengatakan: Dan saya adalah wanita yang menulis tulisan perempuan… dan kita menarik diri dengan ini mengatakan dengan pendapat dan merasa nyaman dengan ketidakmampuan dan berdalih dengan kelemahan, dan setiap orang dari kita mengambil kelemahannya atau hawa nafsunya sebagai ukuran yang dengannya ia membatasi ilmu bahasa dalam asal dan cabangnya, maka apa kiranya bahasa kita ini setelahnya dan apa kiranya yang tersisa darinya dan di mana akan menjadi akhirnya; kemudian ilmu apa dari ilmu-ilmu yang layak dengan seperti ini atau lurus dengannya; dan dalam apa akan terjadi tarik-menarik dan tolak-menolak, dan dengan apa berdiri perdebatan dan polemik jika kita sepakat bahwa sebagian kejahilan tidak mungkin menjadi kaidah dalam sebagian ilmu?

Sesungguhnya bahasa Arab ini dibangun atas dasar magis yang membuat masa mudanya kekal sehingga tidak menjadi tua dan tidak mati, karena ia dipersiapkan sejak azali sebagai falak yang berputar bagi dua cahaya bumi yang agung: Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan dari situ terdapat padanya kekuatan menakjubkan dari daya tarik seolah-olah ia kekuatan sihir, yang tidak dapat dikuasai oleh orang fasih untuk mengambil atau meninggalkan.

Dan saya menantang semua sahabat kami yang telah saya sebutkan untuk mendatangkan kepada saya satu penulis yang berpindah dalam tingkatan-tingkatan kefasihan dan melepaskan gaya-gaya penulisan tinggi, kemudian turun darinya kepada kelemahan atau mazhab baru atau apa yang kamu kehendaki dari nama-nama dan menjadikannya sebagai mazhab dan menjadikannya sebagai jalan; dan sejarah ini ada di hadapan mereka, dan sebagian mereka ada di tangan sebagian yang lain; maka datangkanlah kepada saya satu contoh, aku akan menyerahkan kepada mereka semua bukti-bukti yang ada di tanganku tentang kebodohan mereka dan menjadikan satu orang mereka ini dengan seribu dari sisiku!

Adapun bahwa kamu tidak tahu wahai Abu Khalid dan mengklaim kesucian, dan bahwa kamu tidak mampu kemudian condong kepada pendapat, dan bahwa kamu lemah kemudian bangga dengan keselamatan; maka ini adalah gaya-gaya yang diciptakan sebelummu oleh rubah-rubah cerdas… dan mereka mengklaim bahwa ia membatasi diri pada perkataan bahwa anggur itu asam, dan aku melihatnya tidak membatasi diri pada itu kecuali karena zamannya lebih baik dari zaman kita dan lebih selamat dan lebih dekat kepada kejujuran… Seandainya ia termasuk rubah-rubah kita… niscaya ia akan mengklaim bahwa ia membeli sebotol cuka dan menuangkannya dengan tangannya ke dalam butir-butir anggur manis dan dengan itu menjadi asam dan karena itu ia meninggalkannya!

Dan bagaimana kamu menginginkan dari orang yang tidak mampu berbicara fasih untuk memujinya, padahal seandainya ia memujinya niscaya akan dituntut darinya, dan seandainya dituntut darinya niscaya akan terlihat ketidakmampuan dan keadaannya, dan seandainya muncul kepada manusia ketidakmampuan dan kekurangannya niscaya mereka tidak akan menghitungnya dalam sesuatu dan hilang di sisi mereka sedikit yang tidak ia kuasai dengan banyak yang ia kuasai?

Sungguh saya telah bertanya kepada sebagian mereka: Apa ini yang baru yang kalian pertahankan?

Ia berkata: Itu adalah apa yang ditulis di surat kabar.

Saya berkata: Sesungguhnya dalam apa yang ditulis ada yang lemah, jatuh, dan tercela, kemudian ada yang menuju kepada kemantapan dan kefasihan, kemudian ada yang bergabung dengan kalam yang baik, maka mana dari ini yang kamu kehendaki? Dan mana yang bukan qiyas dari asal Arabnya yang dikenal?

Apakah kalian menjadikan kekurangan sebagai mazhab dari kesempurnaannya, kemudian tidak cukup dengan satu kesalahan dan mengklaim bahwa kesempurnaan dalam dirinya harus dianggap mazhab dari kekurangan? Ataukah yang baru adalah apa yang ditulis di surat kabar maksudnya karena kamu sendiri menulis di surat kabar…?

Adapun kami tidak menolak gaya mereka, karena bagaimanapun juga ia lebih baik dari bahasa sehari-hari, dan kami tidak mengatakan bahwa semua manusia harus diajak bicara dalam semua urusan dunia dan agama mereka dari atas menara masjid. Tetapi perbedaan antara kami dan semua ini terbatas pada satu hal dan itu adalah penafsiran untuk semua cabangnya, yaitu bahwa penulis-penulis ini sama sekali tidak menginginkan kesalahan disebut dengan namanya… Maka jika mereka salah, jangan katakan mereka salah, tetapi katakan: Sesungguhnya itu adalah kebenaran baru.

۞۞۞۞۞

Di Balik Bukit

Hadapan Guru yang jenius, orang cerdas dalam sastra, dan hujah Arab Sayid Mushthafa Shadiq Ar-Rafi’i, semoga Allah memberi manfaat dengannya.

Aku melihat engkau telah heran dengan perkataan salah satu surat kabar Arab yang terbit di Amerika bahwa seandainya engkau meninggalkan “kalimat Alquran” dan Hadits Syarif niscaya engkau sekarang menjadi rujukan yang tidak disaingi, dan mazhabmu dalam kefasihan akan mengalahkan semua mazhab dari yang lama dan baru.

Dan berhak bagimu dan bagi orang lain, demi Allah, untuk heran dengan harapan ini yang menunjukkan penyakit rohani pada sebagian manusia, karena boleh jadi ada manusia yang tidak percaya pada turunnya Alquran tetapi tidak ada orang Arab yang sehat selera tidak percaya pada kefasihan Alquran dan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Demi umurku, sesungguhnya perkara itu seperti perkataan orang yang ditanya oleh penanya: Apakah dikatakan “Maka Allah merasakan kepada mereka pakaian lapar” (Surah An-Nahl:112)?

Maka ia menjawabnya: Celakalah kamu! Anggaplah kamu menuduh Muhammad bahwa ia bukan nabi, apakah kamu menuduhnya bahwa ia bukan orang Arab?

Tetapi kamu tidak lama mengerti maksud kecenderungan aneh ini, dan mengungkapkan apa yang muncul bagimu dalam kalimat ringkas itu dari tujuan-tujuan dan maksud-maksud jauh, maka kamu berkata dan kamu adalah pemimpin orang-orang yang berkata: “Maka muncul bagiku dalam cahaya kalimat ini apa yang tidak aku lihat sebelumnya, hingga seolah-olah ia adalah mikroskop dan apa yang ditampakkannya dari sebagian kuman yang tersembunyi sehingga terlihat, dan halus sehingga membesar, dan yang seolah-olah tidak ada, dan dengan itu tidak diketahui penyakit-penyakit besar kecuali dengannya.”

Ya, sesungguhnya di balik bukit ada apa di baliknya, sesungguhnya ada tipu daya tersembunyi yang muncul sebagian ujungnya dalam kalimat ini, tetapi biarkanlah aku katakan kepadamu bahwa bukan maksud mereka berpaling kepada kelemahan, dan bukan memusuhi Alquran karena ia fasih, dan bukan perkara itu dari apa yang disebutkan Ahmad Faris dalam (Al-Fariyaq) bahwa sebagian pelayan agama yang ia bicarakan tentang mereka berkat dengan perkataan yang lemah dan merasa asing dengan bahasa Arab yang mantap dan fasih, dan bukan ia dari jenis apa yang ia riwayatkan dalam “Kasyf Al-Makhba ‘an Funun Urubba” bahwa ia sedang mengarabkan Taurat dan ia di Inggris, maka menilai terjemahan Arab itu seorang pendeta Inggris yang telah belajar sedikit bahasa Arab, maka setiap kali ia melihat kalimat Ahmad Faris tercium darinya bau kefasihan ia mengubahnya, dan menggantinya dengan kalimat yang lemah, maka Ahmad Asy-Syidyaq heran dengan urusannya, dan telah ia kutip darinya dari pola ini kalimat-kalimat yang membuat manusia heran dari tertawa, ketika melihat bagaimana pendeta itu sengaja membalik yang tinggi dengan yang jatuh, dan yang baik dengan yang buruk dengan sengaja, dan berlomba pada yang lemah seperti berlombanya lalat pada manisan, dan terang-terangan bahwa ia sesungguhnya dengan itu bertujuan menjauhkan kalam dari kemiripan Alquran.

Tidak wahai saudara, sesungguhnya kelompok ini tidak membenci kefasihan sebagaimana adanya, dan tidak beragama dengan kelemahan yang dianut oleh pendeta-pendeta Ahmad Faris sehingga ia mengejek mereka apa yang ia ejek, dan tidak memerangi bahasa Arab itu sendiri tetapi ia memerangi darinya Alquran… Alquran…

Sesungguhnya kelompok ini memerangi Al-Quran dan Hadits serta seluruh peninggalan Islam, dan mereka ingin menggantikannya dengan perkataan zaman Jahiliyah dan perkataan orang-orang Arab yang fasih bahkan dari kalangan penyair yang hidup di masa peralihan (Jahiliyah-Islam) dan generasi setelahnya, serta setiap perkataan yang tidak memiliki nuansa keagamaan. Kelompok ini memiliki berbagai tujuan dalam kecenderungan ini, tetapi mereka sepakat dalam cara-caranya. Di antara mereka ada yang tidak mengingkari kefasihan Al-Quran dan keindahan bahasanya, serta kedudukan Al-Quran dalam bahasa Arab yang bagaikan poros bagi roda penggilingan, namun ia menyusupkan tipu daya dari sisi yang tersembunyi untuk menyingkirkannya dari lingkaran sastra Arab dan membuat generasi muda tidak tertarik padanya, dengan alasan bahwa Al-Quran itu kuno dan bahwa segala yang kuno adalah usang. Sehingga ketika mereka berhasil mencapai apa yang mereka inginkan, yaitu merendahkan kedudukan Al-Quran di hati manusia, berarti mereka telah menikam Islam dari sisi politik hingga ke isi perutnya… padahal mereka mengklaim bahwa masalah ini adalah masalah bahasa yang tidak ada hubungannya dengan politik. Dengan propaganda menyesatkan ini mereka menjebak banyak orang yang seandainya mereka menyadari tujuan-tujuan politik jahat yang tersembunyi di balik propaganda yang tampil dalam baju bahasa dan sastra, niscaya mereka akan berhati-hati, bahkan akan berbalik melawan propaganda itu dan menjadi pembela Al-Quran. Namun dengan penuh penyesalan kami katakan bahwa peristiwa-peristiwa akhir-akhir ini, terutama yang terjadi menjelang Perang Besar hingga setelahnya, telah membuktikan bahwa masih ada kelompok yang mempermainkan kelompok lain dan menggiring mereka ke mana mereka kehendaki, sehingga kelompok yang terakhir ini tidak tersadar dari mabuknya kecuali setelah perkara yang mereka pertanyakan sudah selesai. Tipu daya yang telah terungkap isi tersembunyinya dari satu kalimat saja ini, tidak lain adalah mata rantai bahasa dari rangkaian tipu daya yang ditujukan kepada Islam, bukan kepada Al-Quran semata-mata dari segi ia adalah Al-Quran, dan bukan kepada kefasihan dari segi ia adalah kefasihan…

Anda telah mengisyaratkan hal itu dalam artikel mulia Anda ketika berkata: “Saya tidak mengetahui sebab kelemahan gaya penulisan dan penurunan bahasa dari kedudukannya kecuali satu dari tiga hal. Pertama, penjajah yang menghancurkan umat dalam bahasa dan sastranya agar berpaling dari dasar sejarahnya yang dengannya ia menjadi umat dan tidak akan menjadi umat kecuali dengannya. Kedua, pertumbuhan dalam sastra berdasarkan metode penerjemahan kalimat-kalimat Injil dan tercetak karenanya sehingga lisan menjadi bengkok karenanya. Ketiga, kebodohan, baik kebodohan murni maupun kebodohan yang merupakan kelemahan.”

Maka saya katakan bahwa ketiga aspek tersebut memang merupakan penyebabnya, tetapi aspek pertama adalah yang terkuat. Pemilik aspek ini, di antara mereka ada yang ingin menghancurkan umat dalam bahasa dan sastranya untuk melayani prinsip penjajahan Eropa. Di antara mereka ada yang menganjurkan penggunaan bahasa ‘ammiyah (bahasa sehari-hari/dialek) dengan alasan bahwa itu lebih mudah dipahami. Tetapi di antara mereka ada yang tidak berusaha menghancurkan umat dalam bahasa dan sastranya, bukan karena cinta pada bahasa dan sastra, tetapi karena mengetahui mustahilnya orang Arab melepaskan diri dari bahasa dan sastra mereka. Oleh karena itu, Anda melihat mereka ini menjadi pendakwah bahasa dan sastra dengan syarat tidak ada Al-Quran dan tidak ada Hadits di dalamnya, dan bentuknya harus tidak religius. Alasan mereka dalam hal itu adalah cinta pada pembaharuan dan bahwa Al-Quran, Hadits, dan perkataan generasi salaf semuanya adalah hal kuno yang tidak selaras dengan semangat zaman dalam hal apapun. Kelompok lain beralasan bahwa hal itu karena fanatisme kebangsaan yang menurut klaim mereka bertentangan dengan fanatisme keagamaan. Pemilik fanatisme kebangsaan ini mengatakan bahwa itu termasuk pembaharuan, dan bahwa semangat nasionalisme adalah yang mendominasi zaman ini, sehingga agama dan kemodernan adalah dua hal yang berlawanan yang tidak dapat bersatu. Tetapi jika ada yang bertanya kepada mereka dengan mengatakan: “Kalian yang merupakan pendakwah pembaharuan dan pembaca sastra-sastra Eropa, tidak mengingkari bahwa para penulis Eropa hari ini dari Prancis, Jerman, Inggris, Italia, Spanyol, Rusia… dan seterusnya, sesungguhnya sastra mereka semuanya diambil dari bahasa-bahasa kuno seperti Yunani dan Latin, dan bahwa ayat-ayat Taurat dan Injil beredar di lisan dan pena mereka mengalir di dalamnya sebagaimana peribahasa, hampir tidak ada pidato maupun tulisan yang kosong darinya. Bahkan di antara mereka yang tidak beragama berbicara dengan bahasa Injil dan Taurat. Dan ini Clemenceau yang tidak ada perang terhadap agama yang lebih keras darinya, ia pernah menjawab sebagian orang yang menentangnya mengenai beberapa poin dalam Perjanjian Versailles dengan berkata: ‘Masuklah ke dalam kegembiraan perjanjian, niscaya kalian akan mendapatkannya sebagaimana kalian inginkan.’ Diketahui bahwa kalimat ‘masuk ke dalam kegembiraan‘ adalah ayat Injil ‘Masuklah ke dalam kegembiraan tuanmu.’ Dan ini adalah hal yang tidak dapat dihitung kecuali jika Anda menghitung pasir Yabrin. Kami hanya ingin membuktikan dengannya bahwa pembaharuan dan kemodernan tidak menghalangi bahasa-bahasa Eropa dan sastranya untuk tetap pada bentuk kunonya dan sumber-sumbernya dari Taurat, Injil, dari penyair-penyair Yunani, dan orator-orator Romawi. Dan bahwa para sastrawan Eropa di zaman ini menganggap buruk menciptakan karangan baru dan gaya yang tidak biasa, dan mereka menganggapnya bertentangan dengan selera, serta mereka memakai makna-makna lama yang tidak lagi meninggalkan jejak. Lihatlah apakah masih ada jejak busur dan anak panah di Eropa, dan adakah yang lebih kuno daripada busur dan anak panah? Orang-orang Prancis hari ini mengatakan: “Mengambil anak panah dari setiap kayu,” maksud mereka adalah bahwa ia meminta bantuan dari kekuatan apa pun yang berada di tangannya. Apakah menurut Anda, karena mereka ingin memperhatikan keadaan zaman, mereka mengatakan “membuat senapan dari setiap besi,” atau “membuat bom dari setiap dinamit”? Sama sekali tidak, mereka tidak mengatakan itu. Mereka tidak melihat pencampuran antara ilmu pengetahuan dan sastra, dan tidak menjadikan pembaharuan dalam seni dan industri sebagai alasan untuk mengubah gaya penulisan dengan dalih bahwa ungkapan-ungkapan ini digunakan pada masa ketika belum ada telegraf, telepon, atau sinar rontgen. Pernahkah Anda melihat penulis Eropa mengatakan: “Saya terbang dengan balon udara pikiran di langit topik”? Sama sekali tidak, dan yang semacam itu juga tidak ada. Tidak dapat diingkari bahwa memang telah muncul di Eropa kalimat-kalimat dan ungkapan-ungkapan baru yang tidak biasa di zaman-zaman sebelumnya, sebagaimana muncul istilah-istilah di setiap zaman dari zaman-zaman bahasa Arab. Maka tidak semua istilah yang disepakati orang-orang di zaman Abbasiyah sudah dikenal di awal Islam atau di zaman Jahiliyah. Tetapi semua yang baru di sini atau di sana harus kembali kepada standar bahasa dan tunduk pada hukumnya. Bahasa tidak akan dibiarkan kacau balau, baik di Timur maupun di Barat.

Orang-orang sering terpesona ketika menyebut penulis Prancis besar Anatole France yang meninggal beberapa bulan yang lalu. Penulis ini adalah yang terdepan dalam penulisan di kalangan kaumnya, mereka tidak melihat seorang pun di kedudukannya setelah Renan. Di antara yang membedakannya adalah kecenderungan kepada mazhab-mazhab sosial baru dan berlebihan dalam membenci keyakinan-keyakinan agama dan kebiasaan-kebiasaan lama serta menjauh dari Nasrani secara keseluruhan, sehingga banyak orang menggambarkannya sebagai komunis. Meskipun demikian, semua orang yang menuliskan biografinya sejak kematiannya, bahkan dari kalangan sastrawan kelompok sosialis dan komunis, sepakat bahwa ia dalam penulisannya adalah seorang tradisionalis, akademis, peniru yang mengikuti jejak Racine sang penyair yang hidup dua ratus tahun sebelum zaman ini, dan bahwa ia mempertahankan cara penulisan tradisional yang disebut mereka “klasik,” yaitu cara sekolah. Ketika dikatakan kepada penulis terkenal Maurice Barrès – yang merupakan pendukung agama dan Katolik – “Tidakkah Anda melihat prinsip-prinsip Anatole France dan keberlebihannya dalam sosialisme dan sebagainya?” Ia menjawab mereka: “Katakan tentang dia dari sisi ini apa yang kalian mau, tetapi ia telah menjaga bahasa.”

Ini adalah kalimat terkenal yang dihafal semua orang di Paris.

Ya, seorang Arab boleh tidak memiliki keyakinan yang benar dan tidak menjadi Muslim, namun standar bahasa baginya adalah Al-Quran, Hadits, dan perkataan generasi salaf, karena itulah tingkatan tertinggi yang layak menjadi teladan. Tetapi ini bukan maksud kelompok ini yang menginginkan perang dan mempersiapkannya melalui orang lain. Mereka bermaksud membongkar kaidah-kaidah Al-Quran – yang merupakan benteng paling kokoh yang menghalangi penjajahan dan budaya Barat serta lainnya – dan melakukan itu melalui jalur membuang yang lama dan usang serta mengambil yang baru dan kini. Dengan sangat disayangkan, tidak banyak orang yang menyadari sofisme ini dan mengetahui sasaran propaganda ini. Bahkan banyak dari generasi muda kita dan orang awam kita yang berpindah dari satu perangkap ke perangkap lainnya… Di antara jerat-jerat ini adalah bahwa Al-Quran menghalangi nasionalisme Arab dan tidak memberikan ruang baginya, maka Anda melihat mereka memusuhinya.

Penyakit pikiran banyak seperti penyakit badan, tetapi penyakit hati adalah yang tidak ada jalan untuk mengobatinya… Inilah sebabnya mengapa sebagian pengaku pembaharuan – bukan pendakwah pembaharuan – tidak memerangi Al-Quran dan syariat berdasarkan penelitian, pengkajian mendalam, perbandingan dan pembandingan, mengikuti yang masuk akal baik lama maupun baru, dan mencari yang bermanfaat baik yang sudah mengakar maupun yang baru. Sama sekali tidak! Mereka telah memilih mazhab mereka dari sebelumnya, lalu mengutamakan setiap yang baru bagaimanapun keadaannya dan tanpa pengadilan, itu agar dikatakan bahwa mereka adalah orang-orang maju dan modern. Adapun teori mengambil yang terbaik dari segala sesuatu dan memilih yang paling sesuai dari mana pun datangnya, mereka tidak memiliki jalan menuju itu. Mereka hanya menyukai sesuatu jika mereka tahu bahwa sebagian bangsa-bangsa Barat telah mengambilnya.

Ketika kelompok ini di Turki setuju untuk melarang minuman keras, penyebab persetujuan ini bukanlah bahaya minuman keras atau larangan syariat, melainkan mereka mengharamkan khamar hanya karena Amerika mengharamkannya!

Ambillah contoh ini:

Kami berada di Majelis Utusan di Istanbul, dan di antara rekan-rekan kami adalah Zohrab Efendi Armenia yang terkenal. Ilmu dan kecerdasannya tidak kurang dari kemasyhurannya. Sulit bagi seorang utusan, betapapun kuatnya argumentasi dan tajam hujahnya, untuk berdebat dengan Zohrab, terutama dalam hal perundang-undangan. Terjadilah bahwa sebagian utusan Turki dari kalangan yang terobsesi dengan yang baru – hanya untuk mengklaim kemajuan modern – berbeda pendapat dengan Zohrab dalam menyusun pasal undang-undang. Mereka mengadakan sidang khusus untuknya, dan dua orang dari para modernis ini bangkit menghadapi Zohrab, berdebat dengannya dan berusaha memaksanya mengikuti pendapat mereka. Setelah dialog panjang, Zohrab mengalahkan mereka berdua dan menguasai mereka dengan hujah, sehingga tidak ada yang tersisa bagi mereka kecuali diam. Namun Zohrab melakukan kesalahan dalam satu hal, yaitu tidak mengenal mentalitas kelompok ini. Setelah membungkam mereka dalam perdebatan, ia kembali berkata kepada mereka: “Dan ini juga sesuai dengan hukum syariat kalian (Islam) yang mengatakan begini dan begitu.”

Guru astronomi matematikawan Fatin Efendi, direktur observatorium Istanbul, menceritakan kepada kami bahwa ketika Zohrab mengatakan perkataan itu kepada mereka, mereka berdua kembali bangkit tiba-tiba dengan berkata: “Jika demikian halnya, maka kami tidak menerima pendapat ini!” Sejak perkataan spontan itu, Zohrab tidak lagi mampu meyakinkan mereka dengan cara apa pun. Bukan kebenaran sesuatu atau kesalahannya yang menjadi hakim bagi kelompok ini, melainkan sumber sesuatu itu tanpa memperhatikan pertimbangan lain apa pun. Jika mereka tahu bahwa sesuatu datang dari jalur agama atau sesuai dengan hukum yang terdapat dalam syariat, mereka menganggapnya buruk sebelum merasakannya. Ini tidak terbatas pada orang Turki dan kelompok Turani di antara mereka, bahkan di kalangan kami ada turunan dari pohon kurma ini, yaitu cabangnya di Mesir, Syam, dan tempat-tempat lain.

Andai saja Anda melihat kelompok ini memiliki sesuatu dari kepastian terhadap yang baru dalam hal-hal yang mengharuskan mengambil yang baru berupa ilmu yang bermanfaat, seni yang berguna, atau industri yang menguntungkan. Sesungguhnya ilmu tidak seharusnya ada yang lama dan baru di dalamnya, melainkan ia adalah pokok yang bercabang darinya cabang-cabang setiap hari yang wajib bagi manusia untuk mengikuti semuanya dengan melihat kebenarannya, kebenaran eksperimennya, dan manfaatnya bagi masyarakat.

Sama sekali tidak, wahai Tuan, jarang sekali saya melihat dari kelompok ini kecuali klaim kosong dan kecenderungan untuk memberontak terhadap apa yang mereka sebut sebagai yang lama. Mereka lupa bahwa ada prinsip-prinsip tetap dan aksioma-aksioma yang tidak ada lama dan baru di dalamnya, dan bahwa dua ditambah dua sama dengan empat sejak seratus ribu tahun yang lalu, sehingga kita tidak dapat memberontak terhadap itu. Dan bahwa sepuluh kategori adalah hal yang tidak dapat dijangkau oleh pemberontakan. Dan bahwa pemberontakan itu hanya wajib terhadap kebodohan dan wahm, bukan terhadap kebenaran dan ilmu. Dan bahwa ilmu tidak bisa menjadi kuno. Dan bahwa sastra harus memperhatikan selera umat, sejarahnya, adat istiadatnya, dan tradisinya, dan bahwa sastra bukanlah eksperimen kimia.

Inilah, wahai saudaraku, sasaran yang benar dari mereka yang mengkritikmu tentang “kalimat Al-Quran.” Adapun kelompok-kelompok lain dari mereka yang tidak mampu berbahasa fasih lalu membencinya, dan dari mereka yang merasa nyaman dengan yang lemah karena itulah satu-satunya hal yang ia mampu lakukan, maka urusan mereka mudah, dan benteng mereka lebih rapuh daripada yang harus diserang oleh pena seperti penamu.

Lausanne, 8 Februari 1925 M

Syakib Arsalan

۞۞۞۞۞

Pendapat Umum dalam Bahasa Arab Baku

Ini adalah aliran pembicaraan tentang bahasa, yang seringkali keyakinan menjadi kabur di dalamnya sehingga tidak dapat menembus ke inti persoalannya, dan prasangka menjadi bengkok sehingga tidak mampu untuk meluruskannya. Sejauh mana pun engkau memandang generasi ini, engkau tidak aman dari bertemu dengan anak-anak muda yang bercita-cita menjadi tokoh penulis, padahal mulutnya sempit, semangatnya kecil, lisannya kaku, penjelasannya berbelit-belit. Bagaikan gunung menurut dirinya sendiri namun bisa dimasukkan ke dalam peluru kecil, dan bagaikan lautan namun bisa dituang ke dalam cangkang kacang. Meskipun demikian, dia mendengar tentang kefasihan dan orang-orang fasih, dan meninggikan diri dalam kebalaghahan dan orang-orang baligh. Dia mengembangkan kulitnya yang kurus dalam perlombaan ini, dan melebarkan langkahnya yang tertatih-tatih dalam medan ini. Betapapun dia keliru dalam hal yang tersembunyi dari hakikat urusannya, dan menyembunyikan arah anginmu dari asap dan baranya, maka tidak akan luput darimu untuk melihat jelas darinya pendapat yang seperti letupan rasa sakit di kepalanya, dan akal yang lemah seandainya dia mati tidak akan menetes untuknya setetes air mata dari pena.

Di antara bencana kebodohan adalah bahwa kebodohan itu pada tingkat yang sama dalam pandangan pemiliknya, meskipun mereka mengklaim keadilan dan keseimbangan. Seandainya salah seorang dari mereka menyelinap ke setiap kejelekan dan naik ke setiap bencana, maka hal itu sebagiannya akan sama dengan sebagian lainnya pada pandangan awal dan ketika membolak-balik pemikiran. Dia tidak menyadari perbedaan antara tingkatannya, dan tidak memisahkan antara sifat-sifatnya, hingga ketika setiap sebab telah mencapai tujuannya, dan setiap permulaan telah tersambung dengan akhirnya, dan malapetaka menimpa rukun umat yang kokoh, dan musibah tersandung pada sesuatu yang telah maju.

Orang bodoh itu baru mengetahui dari kadar kerugian sebesar kadar kebodohannya, dan baru mengetahui saat itu bahwa dia memiliki kemampuan untuk menahan bencana ini sebesar kemampuannya untuk menyebabkannya, bahkan lebih dari itu. Namun itu setelah anak panah telah menembus dan urusan telah berlalu, dan setelah dia tidak memperoleh dari kejahatan itu kecuali pengetahuannya bagaimana dia melakukannya. Seolah-olah musibah dengan segala kengeriannyaditurunkan hanya untuk membuatnya paham bahwa dia bodoh; dan betapa mulianya kata-kata yang tidak dipahami kecuali dari musibah!

Orang bodoh tentang sesuatu, ketika dia berpendapat tentangnya, tidak lepas dari sifat-sifat berikut: Pertama, dia membuat pendapat secara mendadak, tidak membimbingnya dengan pengalaman, tidak mengujinya dengan ketelitian, dan hampir tidak melihat di dalamnya metode untuk membolak-balik pemikiran. Tidak lain hanyalah begitu muncul satu atau dua letupan di kepalanya, sampai dia telah menimbang dan mengukurnya serta mengetahui kadarnya benar atau salah dan salah atau benar, lalu mengeluarkannya seolah-olah itu adalah sesuatu yang dikuakkan oleh zaman dari lubang hatinya, dan dilepaskan dari ikatan akalnya, seolah-olah itulah kebenaran yang tidak diragukan lagi. Padahal mungkin engkau tidak akan menemukan dalam bab keraguan contoh yang lebih jelas darinya tentang pendapat yang mengatakan bagaimana dia menghancurkan atau membatalkan.

Kedua, pendapat itu terlihat indah baginya meskipun bodoh, sampai dia mempertahankannya dengan sepenuh hati, dan melindunginya dengan setiap hujah yang samar-samar. Sampai dia melihat bahwa usaha keras dalam hal itu justru meneguhkannya, dan bahwa ketetapan pada usaha keras itu justru merealisasikannya. Maka dia terus melemah sejumlah yang dia keras kepala dalam urusannya, kemudian tidak memperoleh dari wajah urusan kecuali apa yang menyesatkan dalam kegelapannya. Maka dia telah sampai dari jalan kepercayaan kepada kesombongan, dan dari jalan kesombongan kepada kebatilan, dan itu sangat besar kebenciannya dan sangat buruk jalannya.

Ketiga dari sifat-sifat itu, bahwa pendapat ketika berpegang teguh dengan apa yang berkumpul di sekitarnya dan berlanjut padanya dari berbagai pikiran, maka akan menjadi keyakinan yang keluar dari menjadi pendapat yang diletakkan menjadi wahyu yang dinaikkan. Dan menjadi besar dari menjadi berguncang dalam akal di antara berbagai hujah dan bukti, lalu turun ke hati di tempat menetapnya emosi dan agama. Kemudian tidak terjadi dari ini kecuali apa yang engkau lihat pada setiap orang bodoh dari pendapat yang dia keluarkan seolah-olah dia mengeluarkan syariat yang ma’shum yang tidak menyimpang darinya orang yang menyimpang kecuali dengan kehinaan dari Allah. Jika dia tidak diikuti dalam hal itu dan tidak ada yang menjadi pengikutnya, maka orang bodoh ini adalah nabi dirinya sendiri, tidak peduli apa yang ditinggalkan orang dari apa yang dia ikuti dan apa yang mereka ikuti dari apa yang dia tinggalkan!

Dan sifat-sifat tersebut dalam satu rangkaian dan pada sistem yang terus-menerus tidak ada jeda antara awal dan akhirnya. Meskipun beragam, namun seperti beragamnya ombak bagi orang yang tenggelam, berdiri darinya seperti gunung-gunung namun orang yang tenggelam tidak bersandar dari semuanya kecuali kepada air yang menenggelamkannya.

Ini adalah penjelasan perkataan tadi bahwa kebodohan pada tingkat yang sama dalam pandangan pemiliknya. Tidak ayal lagi, kesulitan yang sebenarnya dan bencana yang sebenarnya adalah bahwa kita membuat memahami orang yang tidak mengumpulkan alat pemahaman untuk apa yang engkau sampaikan kepadanya, dan bahwa engkau berdebat dengan pemilik pendapat sedangkan tidak ada baginya dari mu kecuali bahwa dia melihat dan bahwa engkau menolak. Sesungguhnya hujah dalam hal seperti ini meskipun jelas dan terang, namun tidak mengenai sasaran yang dibidik untuknya, maka tidak mewajibkan dan tidak meyakinkan. Dan hanya melewati seperti anak panah melewati udara, melewatinya dengan lurus tidak berbelok. Apapun yang engkau peroleh dari itu, engkau tidak memperoleh jalan untuk meyakinkan, dan tidak ada bagimu setelah itu kecuali menenangkan diri tentang hasil yang telah engkau selesaikan premis-premisnya, dan mundur dari tujuan yang engkau berada dalam naungan tongkat-tongkatnya. Karena hujah-hujah tidak berakhir pada kebenaran kecuali jika setara, maka keduanya berbeda saling membelakangi tetapi ketika keduanya berhadapan dan setiap hujah mengambil leher yang lain lalu berdebat kemudian naik ke akal, akal memutuskan di antara keduanya dan mengungkap wajah kebenaran di dalamnya. Adapun hujah yang lemah yang tidak didukung oleh ilmu dan tidak berdiri dengan keyakinan, maka ini tetap membelakangi, dan kekuatannya justru dalam membelakanginya dan berlindung pada setiap pelarian. Maka engkau dapati pada semua orang kecuali pemiliknya yang meyakinkan dan yang menyeimbangkan. Dan engkau tidak berhenti menghadapi darinya yang membelakangi darimu sampai engkau mundur darinya sebagai pemenang seperti yang kalah, dan berbalik sebagai pencari seperti yang dicari. Dan sungguh aku tidak tahu, tidak ayal lagi, apa yang membuat fulan berpikir bahwa dia adalah pemilik pendapat dalam bahasa Arab dan kesusastraannya, dan bahwa dia mencari-cari pendapatnya dan keras berjuang membela dan tidak melampaui dalam perselisihan darinya orang yang tidak menandinginya padanya. Apakah itu ketika bahasa memberikan kendalinya kepadanya ataukah ketika lepas darinya; dan ketika ilmunya mampu untuknya ataukah ketika khayal berkompromi untuknya; dan apa urusan fulan ini dengan bahasa Arab dan kesusastraannya dan berdebat dalam semua itu, sedangkan dia masih membutuhkan dari ilmu ini untuk memulai masa kanak-kanak sekali lagi. Jika urusan bahasa terpelintir baginya sejak dia mempelajarinya dari para pelajar yang mereka namakan guru, namun mereka tidak memberinya pengetahuan bahkan tidak pengetahuan bagaimana mengajar dirinya sendiri, maka dia melempar bahasa ini dengan kekurangan dan menjadikan kesempurnaan bagi Allah kemudian baginya.

Maka dia ingin mengubahnya dari tatanan yang dia lihat menyimpang di dalamnya, padahal tidak ada yang menyimpangkan dengannya kecuali di sekitar matanya. Lalu dia pergi dalam ocehan kecilnya ke segala arah, dan membentangkan lisannya yang bodoh dalam apa yang dia namakan baru dan filsafat baru. Bukankah bahasa itu adalah ilmu setelah fitrah berakhir pada kita dan lidah-lidah menjadi kacau? Dan bukankah yang berdebat dalam setiap ilmu kecuali ahlinya?

Mengapa orang ini dan sejenisnya tidak bangkit untuk orang yang berdiri pada salah satu alat mesin uap lalu berkata kepadanya: seandainya bagian ini di tempat itu, seandainya susunan jelek ini lebih indah dari apa adanya, seandainya diakhirkan atau didahulukan, seandainya ditambah atau dikurangi, seandainya dibongkar atau didirikan, lakukan dan lakukan…? Dan demi syairku, bagaimana jadinya urusannya dan urusan temannya itu dan bagaimana dia melihatnya dan melihat padanya dari perkataan yang semuanya dalam kebingungan dan ilmu yang semuanya kebodohan dan kesia-siaan.

Belumkah tiba saatnya orang-orang ini mengetahui bahwa di antara pendapat ada yang berbahaya, dan bahwa penunggang bahaya dari itu justru menunggang kepalanya, dan bahwa umat tidak diwajibkan secara syariat pada individu atau individu-individu, dan bahwa dalam diam ada sudut yang dingin dan gelap, tempat persembunyian hal-hal yang memalukan seandainya orang bodoh mengetahui makna memalukan!

Sesungguhnya ketidakmampuan itu patuh; dan sesungguhnya setiap apa yang dimaksudkan oleh orang-orang tegas, orang yang tidak mampu menghendakinya dan melihatnya mudah, karena itu merealisasikan makna ketidakmampuannya. Dan masih saja orang yang tidak mampu menulis adalah dia yang ingin memperbaiki bahasanya dan gaya-gayanya, dan orang yang tidak mampu berpuisi adalah dia yang mengatakan dalam perbaikannya perkataan yang paling luas. Dan seterusnya sampai engkau mencakup seluruh bab karena mereka telah berkata bahwa kita berbicara kepada rakyat jelata dan orang-orang kasar dan siapa yang turun ke kedudukan mereka dengan kata-kata penduduk Najd dan lafal-lafal penduduk Pegunungan, dan kita membayangkan dari jalan-jalan peradaban lembah-lembah Qais, Tamim, dan Asad. Singkatnya, kita memukul dalam batas-batas kekacauan yang tidak ada wajah di dalamnya dan tidak ada jalan keluar darinya, dan dalam itu ada raungan pada sastra dan bahaya bagi umat dan kerusakan besar.

Mereka mengatakan ini dan apa yang mengalir dalam alirannya dan pergi dalam kecenderungannya, dan mereka tidak malu untuk menyatakannya sedangkan mereka melihat di samping mereka dari para orientalis orang-orang asing yang telah fasih dan menghadap pada kesusastraan kita dan sejarah kita lalu meluaskannya dengan apa yang meluas bagi mereka dari ilmu, dan mencakupinya sejauh mereka mampu, bahkan hampir mereka menjadi lebih berhak padanya dan ahlinya. Padahal mereka dalam keadaan tidak membutuhkan semua itu dengan bahasa-bahasa mereka dan kesusastraan mereka dan apa yang Allah berikan kepada mereka dan kukuhkan bagi mereka di dalamnya. Kemudian rekan-rekan kita tidak khawatir untuk menguji sejarah mereka dengan kedurhakaan, dan itu adalah kehilangan anak yang tidak ada penghiburan bersamanya. Maka mereka menginginkan kita dengan diri kita sendiri melepas sejarah ini, tidak memberikan kepatuhan kepadanya, dan tidak membaiat baginya dari kita secara berkelompok. Kemudian kita menjadi seperti orang-orang Negro Afrika ketika matahari terbenam dari mereka, sejarah terbenam dari mereka, dan ketika terbit atas mereka mereka memulai sejarah baru!

Bukankah mereka mengecam dari kita bahwa kita menggenggam erat tangan kita pada bahasa yang bukan untuk kita, maka mengapa mereka tidak mengecam bahwa kita memalingkan wajah kita ke kiblat yang bukan di negeri kita? Kemudian mereka mengatakan bahwa mereka menganggap buruk pengelolaan dalam bahasa dan melepaskan lafal-lafal dan gaya-gaya pada wajah-wajah Arabnya, dan mereka ingin menghilangkan pengelolaan dalam kerajinan ini dari wajah ini, karena mereka tidak menguasainya dan tidak menembus di dalamnya ketika melakukannya. Dan mereka ingin di atas itu untuk membuang dari kita usaha keras kerajinan agar menjadi penutup keajaiban-keajaiban kita di generasi ini: kerajinan tanpa usaha keras.

Demi umurku, bagaimana urusan ini bisa datang kepada mereka atau teratur bagi mereka jika mereka membalik tatanan perkataan dan memisahkan antara bagian-bagiannya dan pergi di dalamnya dengan cara menambal dalam yang lama dengan yang baru dan dalam yang baru dengan yang lama. Sungguh kita telah mengabaikan bahasa kemudian mengabaikannya sampai menjadi bersama kita dalam keadaan kekeringan yang menjadikannya seperti orang yang meratap atas kita dan asing dari kita, dan menjadikan kita dari kurangnya pemahaman kita padanya di tempat kita terpaksa untuk mencari sesuatu selainnya yang kita pahami. Maka perbaikan bahasa menjadi seolah-olah latihan untuk merusak kita dan merusaknya, sedangkan kita membayangkan latihan untuk memperbaiki kita. Ini hanya dua rencana yang tidak ada satu pun dari keduanya yang berakhir pada kejahatan lebih dari saudaranya, baik awal maupun tempat kembali. Dan sesungguhnya yang paling jelek yang engkau lihat dari dua hal adalah bahwa pendapat terbaik adalah meninggalkan keduanya sama sekali.

Mereka mengklaim bahwa mereka ingin agar lafal-lafal mudah dan makna-makna tersingkap dan penulisan dalam kelurusannya dan keindahannya seperti permukaan langit. Bukankah kebalaghahan Arab tidak lain adalah itu? Dan bukankah ini urusan Arab? Benar. Dan apakah mereka tahu -semoga Allah memperbaiki mereka- bahwa anak kecil melihat semua yang berputar dalam pendengarannya dari lafal-lafal kedua orang tuanya seolah-olah itu hanya terjadi bagi keduanya dengan paksaan, kekerasan, dan pemaksaan, karena dia tidak memahami dari semua itu sesuatu kecuali sejumlah apa yang dia biasakan dan sesuai dengan apa yang mencapai kebutuhannya, dan karena itu adalah bahasa yang lebih luas dari bahasanya dalam materi dan kerajinan. Maka mengapa pendapat tidak bahwa para ayah turun ke bahasa-bahasa anak-anak mereka dan dibatasi ucapan kemanusiaan ini pada sinonim yang berurutan dari nama-nama permainan anak-anak dan apa yang melekat padanya?

Kemudian apa hukum orang awam -dan dia dalam setiap umat adalah anak ilmiah- di samping ahli ilmu-ilmu: apakah engkau melihatnya mengambil dari mereka kecuali dengan timbangan naluri fitrah itu pada anak kecil dengan kedua orang tuanya? Maka mengapa ilmu-ilmu dihapus dan lafal-lafalnya, istilah-istilahnya, gaya-gaya pengungkapannya, dan semacam itu dari apa yang membuat celah pemahaman kendur jika orang awam itu melakukannya atau mencampurnya, dan menjadi usaha para ulama dalam apa yang mampu dilakukan orang awam dan ketepatan orang awam dalam apa yang mampu dilakukan anak-anak?

Dan engkau jika melewati urusan anak bahasa dan anak ilmu dan bersandar pada batas tertinggi dari masa kanak-kanak ini, tidak melihat kecuali golongan rekan-rekan kita dan mereka adalah anak-anak sastra. Maka apakah berat bagi mereka untuk besar dan kuat, untuk mengikuti fitrah dalam alirannya, lalu mengambil sesuatu dengan sebab-sebabnya, dan datang pada urusan dari pintunya, dan meninggalkan pendapat sampai hari mereka menjadi di antara pemiliknya? Mereka mengeluarkan pendapat mereka atas kebodohan, maka jika engkau ungkapkan kepada mereka maknanya dan membuat mereka melihat jelas tujuan-tujuannya dan menghentikan mereka pada batas-batasnya dan memperlihatkan kepada mereka wajah-wajah mereka di cermin nasihat, mereka mengingkari apa yang engkau datangkan dan menganggapmu mengada-ada kebohongan, dan mereka bersikeras dan menyombongkan diri dengan sombong yang besar, karena puncak ilmu mereka adalah bahwa mereka mengira bukan bahwa mereka memastikan apa yang mereka sangka. Maka pendapat menurut mereka adalah pendapat itu dalam dirinya sendiri bukan apa yang berkaitan dengannya dan bukan apa yang menuju kepadanya.

Sesungguhnya bahasa adalah salah satu manifestasi dari manifestasi sejarah, dan sejarah adalah sifat umat, dan umat hampir menjadi cap bahasanya karena itu adalah kebutuhan alamiahnya yang tidak terlepas darinya dan tidak ada tegak baginya selain dengannya.

Maka bagaimana pun Anda membalik persoalan bahasa dari segi hubungannya dengan sejarah umat dan hubungan umat dengannya, Anda akan mendapatinya sebagai sifat tetap yang tidak akan lenyap kecuali dengan lenyapnya kebangsaan dan terlepasnya umat dari sejarahnya serta memakai kulit umat lain. Seandainya tersisa bagi orang-orang Mesir sesuatu yang khas dari keturunan Firaun, niscaya tersisa bagi mereka beberapa kalimat yang masih digunakan dari bahasa Hieroglif. Dan seandainya mereka diambil alih oleh umat lain selain umat Arab, niscaya mereka pasti akan meninggalkan bahasa Arab; demikian pula qiyas (analogi) ini berlaku secara lurus dan terbalik sebagaimana Anda lihat. Dan sesungguhnya dalam bahasa Arab terdapat rahasia abadi yaitu Al-Quran ini, Kitab yang nyata, yang harus disampaikan dengan cara Arab yang tegas dan diatur dengan logika dan tata bahasa sedemikian rupa sehingga kesalahan dalam pengucapan satu huruf pun darinya seperti penyimpangan kata dari maknanya dan kalimat dari maksudnya, dan sehingga kesalahan tersembunyi dan kesalahan yang tampak menjadi sama. Kemudian makna keislaman ini (agama) yang dibangun atas kemenangan dan didirikan di atas reruntuhan umat-umat dan menjaga fitrah manusia di mana pun tersebar dan di mana pun menetap, maka persoalannya lebih besar daripada yang bisa dipengaruhi oleh gelombang kebodohan atau diambil darinya sepatah kata kejahilan, dan lebih sulit daripada yang bisa dihilangkan oleh pena penulis meskipun usianya mencapai ujung zaman hingga ia menemui dari umat empat belas generasi seperti yang telah berlalu sejak sejarah Islam hingga hari ini!

Al-Quran yang mulia bukanlah sekadar kitab yang mengumpulkan di antara dua sampulnya apa yang dikumpulkan oleh sebuah buku atau beberapa buku, karena seandainya ini adalah urusannya yang terbesar, niscaya ikatannya akan terurai meskipun kokoh, dan zaman akan menghabiskannya, atau lebih tepatnya banyak umat akan merusak sesuatu darinya, dan akan tampak di dalamnya celah untuk pemalsuan dan penggantian dari orang yang ekstrem atau pembatal, dan bahasa Arabnya yang tegas dan murni akan menjadi alasan bagi orang awam dan orang yang lemah dalam bahasa Arab untuk mengubahnya ke dalam metode mereka jika mereka memiliki kemampuan untuk itu.

Seandainya mereka melakukannya, itu bukanlah pendapat yang aneh atau mustahil dalam analogi teman-teman kami… karena mereka tidak menganggapnya sebagai manfaat yang mereka cari dari jalannya dan rencana yang mereka tempuh dengan dalilnya.

Tidak ada yang mengatakan ini kecuali orang yang penuh prasangka yang dadanya menyimpan dendam dan hatinya berkumpul pada cacat yang dibenci atau orang bodoh dari jenis mereka yang pandangannya tidak diperpanjang oleh pengalaman dan tidak menembus dengan ilmu, melainkan hanya mengambil ekor pendapat, tidak mengarahkannya tetapi diarahkan bersamanya, tidak maju dengannya tetapi mundur dengannya.

Sesungguhnya Al-Quran adalah kebangsaan bahasa yang mengumpulkan ujung-ujung hubungan dengan bahasa Arab, maka senantiasa penduduknya tetap menjadi Arab karenanya dan dibedakan dengan kebangsaan ini secara hakiki atau hukum hingga Allah mengizinkan kepunahan makhluk dan melipat hamparan ini. Dan seandainya bukan karena bahasa Arab ini yang dijaga oleh Al-Quran bagi manusia dan mengembalikan mereka kepadanya dan mewajibkannya atas mereka, niscaya sejarah Islam tidak akan berlanjut dan hari-hari tidak akan berlalu dengannya selama yang Allah kehendaki, dan tidak akan kokoh bagian-bagian umat ini dan tidak akan mandiri dengannya kesatuan Islam. Kemudian banyak sebab akan melekat pada kaum muslimin dan kekeringan di antara mereka sehingga tidak tersisa kecuali bangsa-bangsa mengikutsertakan mereka dan umat-umat mencampurkan mereka dalam wajah kebangsaan alamiah – bukan politik – maka tidak akan tampak dari jejak mereka pada diri mereka setelah itu kecuali seperti yang tetap dari jalur air ketika sungai kecil mengalir ke samudera.

Sesungguhnya Allah menimpakan kepada kami bencana para pemuda kami karena mereka tumbuh di negeri kami dengan pertumbuhan budak yang hina, dan sesungguhnya keuntungan bagi mereka adalah bahwa kami bersungguh-sungguh terhadap apa yang tersisa dari kebangsaan Arab kami, dan bahwa kami memperbaiki untuk menjaga hubungan ini dan menguatkan ikatan itu antara kami dan nenek moyang kami dan memperpanjang dari itu sebab kepada masa kini kami kemudian kepada masa depan kami sehingga tidak ada dalam sejarah kami yang terputus atau terpotong. Kemudian – agar kami tidak menjadi terhadap agama dan bahasa kami seperti apa yang menjadi orang-orang campuran dan golongan lemah dari Turki dan Dailam hingga selain mereka dari jenis-jenis orang Merah itu yang menyerbu bangsa Arab sejak Daulah Abbasiyah dan merajalela dalam urusan manusia dan menjadikan pertempuran mereka di antara mereka karena perbedaan dalam kebangsaan bahasa, hingga tidak ada dalam delapan ratus tahun dari kesewenang-wenangan mereka yang setara dengan delapan puluh tahun yang ada sejak awal masa Islam. Namun mana mungkin bagi para pemuda kami itu sementara mereka tidak mengambil dari bahasa mereka dan tidak mendapat dari sastranya kecuali seperti spons mengambil dari air: mengembang dengan sedikitnya kemudian tidak lama ia memuntahkannya atau menguap darinya dan tidak ada yang menetap padanya.

Bahkan seandainya Anda menentang setiap orang yang menganggap buruk bahasa Arab dan merendahkan susunannya, niscaya Anda akan melihatnya sebagai manusia paling bodoh tentang struktur dan hikmah penurunan katanya dan cara-cara tasrifnya, kemudian Anda akan melihat padanya kekosongan dalam sejarah kaumnya. Maka jika ia mengetahui sesuatu darinya, ia telah terlepas dari buah pengetahuan seolah-olah ia menghafal teka-teki yang tidak ia tersesat di dalamnya hingga setan menyesatkannya karena kesurupan. Kemudian Anda melihat bencana besar bahwa ia tertarik dari tempat yang tidak ia ketahui, maka ia membalas kecintaan bahasa asing yang ia kuasai dengan permusuhan terhadap bahasanya yang ia bodoh, dan memberi manfaat sejarah yang ia ketahui dengan bahaya sejarah yang tidak ia ketahui. Dan manusia adalah musuh dari apa yang mereka bodoh!

Benar, tersisa bagi teman-teman kami mazhab lain yang mereka anut dan mereka tangkis dengannya prasangka, dan ini adalah yang terbaik dari pendapat mereka yang mereka usahakan, seandainya mereka memahaminya dengan cara yang dipahami darinya, dan seandainya mereka menunjukkan kepada kami halamannya tanpa bagian belakangnya… Yaitu bahwa mereka berkata: “Sesungguhnya kami menyesuaikan antara kebutuhan umat dari perkataan dan antara perkataan yang dengan itu tercapai kebutuhan ini, dan kami menginginkan perbaikan semampu kami, maka kami pakaikan sejarah dan kebiasaan kami dengan pakaian kata-kata dengan pola dan tanpa pola dan kami tidak meninggalkan umat kami pada pilihan antara bahasa Arab dan bahasa-bahasa asing.” Dan kami berkata bahwa ini adalah perkara yang tidak ada pilihan darinya dan tidak ada jalan keluar darinya, tetapi di mana yang mereka tuju dari yang mereka gunakan, dan mereka hanya mencampurkan amal saleh dan yang lain buruk.

Dan sesungguhnya mereka datang dari menghitung bahasa Arab Fusha sebagai bahasa bersejarah yang tidak menyertai zaman dan tidak mengikuti roh sejarah, maka mereka melihat bahwa ia pasti telah punah bersama penduduknya sehingga tidak tersisa kecuali untuk kaum dalam hukum orang-orang yang punah itu. Kemudian mereka keluar dari ilusi ini kepada pembakaran itu yang kami tunjukkan di awal pembicaraan, karena mereka tidak mempraktikkan bahasa ini melainkan mempelajarinya secara sepintas, dan ini tanpa ragu adalah bentuk kebodohan ilmiah. Seandainya mereka memahami rahasia bahasa Arab dan mengetahui cara-cara susunannya dan menarik dari kendalinya dan membelokkan dari kekangnya dan menyelami keindahan fitrahnya yang dengannya ia keluar dari tiga ratus susunan menjadi delapan puluh ribu materi sebagaimana kami jelaskan ucapan di dalamnya, niscaya mereka akan tahu bagaimana mereka mencari sebab untuk perbaikan bahasa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka membuka lafaz perbaikan dari makna yang tidak rusak sebagaimana mereka pergi kepadanya, dan mereka akan memikul bencana dari tempat mereka menangkisnya bukan dari tempat yang menangkis mereka. Tetapi mereka sebagaimana Anda lihat menggambarkan kepada kami kekacauan dan mereka adalah sifatnya, dan mengobati umat dan mereka adalah penyakitnya, dan mempercepat menutup perkara dengan apa yang membesar dengannya retakannya, dan meletakkan beban bencana dengan apa yang bangkit dengannya debunya. Dan tidak ada apa-apa bagi mereka jika mereka menjelaskan bahwa mereka menimpa kaum dengan kejahilan atau mengembalikan mereka dari petunjuk kepada kesesatan. Ya Allah, beri kami penglihatan terhadap ukuran kami, dan jangan Engkau hinakan kami dengan kerendahan kami, dan jangan Engkau tinggalkan kami dalam harapan dan Engkau Yang Maha Penyayang, tanpa tujuan yang Engkau persilakan bagi kami waktunya, dan jangan Engkau jadikan kami dalam amal seperti penduduk neraka, “Setiap kali suatu umat masuk (neraka), ia mengutuk saudaranya” (Surah Al-A’raf: 38).

۞۞۞۞۞

Memesirkan Bahasa

Kami maksudkan dengan memesirkan ini apa yang dituju oleh ilusi sekelompok orang utama yang melihat bahwa bahasa ini yang mereka jaga haruslah bahasa Mesir setelah menjadi bahasa Mudhar, dan bahwa ia berlanjut bagi mereka dengan Sungai Nil sejumlah saluran irigasi dan bilangan desa-desa hingga kata dilepaskan dari perkataan maka tidak ada orang bodoh di Mesir yang bodoh terhadapnya, dan buku keluar dari buku-buku maka ia berjalan dalam pemahaman kaum dengan cara yang satu dan mengambil dari mereka tempat yang dikenal tidak berbeda satu sama lain dan tidak condong kepada satu kelompok tanpa kelompok lain. Dan dari situ terlihat bagus bagi mereka pendapat bahwa tidak tersisa dalam kerumunan besar ini… dari ulama, penulis, dan sastrawan kami yang tidak tahu di mana ia meletakkan tangannya dari kata-kata bahasa dan hal-hal barunya ketika ia menulis atau menerjemahkan dari bahasa asing – dan kami tidak mengatakan Arabkan, karena ini secara alami bukan apa yang kami di dalamnya – bahkan ia mengambil dari bawah setiap lidah, dan menangkap dari setiap bibir, dan tidak jauh dalam pengambilan kepada guncangan yang luas, dan tidak pergi ke mana ia pergi kecuali ringan dari kaidah-kaidah dan pengikat-pengikat Arab ini, karena saat itu berdamai dua tepi: bahasa sehari-hari ini dan bahasa Fusha ini, dan keduanya memperbaiki antara mereka bahwa tidak mengangkat salah satunya di wajah yang lain pena atau lidah, dan bahwa keduanya mengizinkan kepada yang kedua kebebasan memanfaatkan yang menyerupai kebebasan perdagangan kecuali dalam “materi” beracun yang diungkapkan oleh ahli politik bahasa dengan kata-kata ilmiah yang umum dan kata-kata Arab yang asing. Kemudian bahwa tidak mempedulikan salah satunya apa yang ditinggalkan yang lain selain itu, maka bahasa sehari-hari berlanjut sebagaimana adanya dan bahasa Fusha pergi dengan caranya.

Mereka berkata bahwa ini adalah syarat-syarat perdamaian antara dua bahasa, atau makna-makna yang kembali kepadanya dan bersinonim dengannya ketika mereka ingin meluaskan dari syarat-syarat ini dan mengeluarkannya kepada keberagaman dan banyaknya. Dan sesungguhnya itu adalah pendapat-pendapat yang berpegang padanya sebagian pemuda kami secara berlebihan dalam semangat dan berlebih-lebihan dalam kemarahan untuk Mesir dan harapan dari apa yang membesar di dada mereka atas apa yang Anda lihat dari kelemahannya dan lemahnya pengelolaannya dan kekacauan awal dan akhirnya, karena mereka tidak menetapkan pandangan di dalamnya dan tidak membuktikan langkah apa di antara keinginan dan kemampuan, dan terlewatnya apa di antara harapan dan amal. Kemudian mereka tidak mengenalnya kecuali mimpi-mimpi yang dekat kesabarannya dan tenang burungnya, maka itu menjadi alasan orang-orang berakal jika mereka melewatinya sekilas, dan beristirahat dengan berpaling darinya dengan salam, hingga Guru Direktur “Al-Jarīdah” mengambilnya lalu merapikannya dan mengeluarkan darinya sekelompok pendapat yang layak disebut menurut oposisi sebagai pendapat! Maka ia berkata dengan perbaikan antara bahasa sehari-hari dan Fusha dengan cara yang menjadikan ini mencampur itu dan mengubahnya kepadanya, mudah-mudahan datang hari di mana bahasa sehari-hari tidak menjadi sesuatu yang disebutkan.

Namun ia mengeluarkan pendapat fasih ini dari bukan pintunya, dan mencari sebab kepadanya dalam pandangan dengan apa yang bukan dari sebab-sebabnya, dan datang dengannya ucapan jika ada padanya kebenaran maka ia adalah apa yang ia warisi dari mendekatkan apa di antara rakyat dan elit, dan menghilangkan kekakuan antara ini dan itu, dan menguatkan ikatan yang longgar antara lidah-lidah dan pena-pena, atau antara bahasa kitab dan bahasa perkataan. Kemudian apa yang ia lihat dari melangkahi dengan bahasa Arab ke depan. Dan jika ada padanya kesalahan maka ia adalah apa di balik itu dari apa yang ia lepaskan dalam ucapan-ucapan fasihnya sebagai sandaran pendapatnya dan pengukuhan hujjahnya.

Dan sesungguhnya inti pendapat ini dan kumpulannya adalah bahwa Guru melihat mengambil nama-nama hal-hal baru dari bahasa “harian” dan melewatkannya pada pola-pola Arab sejauh mungkin. Jika tidak ada nama-namanya di sana maka dari kamus bahasa dan buku-buku ilmu – karena ini menurutnya di bawah bahasa harian – maka jika tidak mendapat di ini juga, orang yang meletakkan meletakkan untuknya apa yang ia kehendaki. Dan bahwa dalam penggunaan kata-kata tunggal rakyat dan susunannya penghidupan bahasa perkataan dan memakainya pakaian kefasihan, karena akan menjadi dari itu mengangkat bahasa ini kepada penggunaan tulisan dan turun dengan yang perlu dari bahasa tertulis kepada medan percakapan dan muamalat. Itu dan sesungguhnya apa yang digunakan rakyat sesungguhnya adalah “keputusan-keputusan” umat dalam kata-kata ini yang tidak ingin turun darinya. Dan bahwa cara satu-satunya untuk menghidupkan bahasa adalah menghidupkan bahasa pendapat umum dari satu sisi dan memuaskan bahasa Al-Quran dari sisi lain. Dan sesungguhnya kami jika kami menginginkan perdamaian antara dua bahasa maka jalan terdekat untuk perdamaian ini adalah bahwa kami mencari jalan kepada menghidupkan bahasa Arab dengan menggunakan bahasa sehari-hari. Dan ketika kami menggunakannya dalam tulisan… kami terpaksa untuk membersihkannya dari kelemahan dan menjadikan rakyat mengikuti para penulis dalam tulisan-tulisan mereka… dan seterusnya dan seterusnya.

Ini adalah hasil pendapat Guru, dan kebanyakan apa yang kami kemukakan sesungguhnya adalah dari kata-katanya dengan hurufnya. Maka jika panjang bagimu deretan itu dan bosan dengannya secara keseluruhan, maka bagimu untuk menggabungkannya dalam dua kata. Kemudian Anda tidak akan melalaikan dari semuanya dengan sesuatu. Dan itu adalah bahwa Guru melihat “memesirkan bahasa” karena sesungguhnya kami jika kami mengikutinya maka sesungguhnya kami mencari semua apa yang ia tunjukkan kepadanya dari bahasa sehari-hari Mesir saja dan memberi bahasa sehari-hari ini luasnya diri kami dan pemberian pena kami, maka kami pakaikan ia dengan yang fasih dan mencampur darinya amal saleh dan yang lain buruk. Dan mudah-mudahan pendapat ini tersebar dari sisi kami yaitu kami orang-orang Mesir dan tenang di setiap umat yang memiliki bahasa Arab maka mengambil tempat pengambilan kami dalam bahasa sehari-hari mereka dan menuju kepada kecenderungan kami kepadanya. Maka jika mungkin itu terjadi dan bertemu padanya umat-umat, maka demi umurku lebih cepat dalam kepunahan bahasa Arab dan menghapusnya dan terkutuk padanya sial pendapat ini yang tidak terkutuk permusuhan musuh-musuh meskipun mereka menghabiskan penduduknya, dan sampai darinya apa yang tidak sampainya para penakluk meskipun mereka menguasai negeri itu semua.

Kemudian kami berkompromi dalam penggunaan kata-kata tunggal dan susunan-susunan sehari-hari, dan akan tertunduk untuk itu dari sesudah kami kemudian dari sesudah mereka kepada generasi-generasi banyak yang terlepas sebagiannya dari sebagian. Maka hampir datang hari di mana bahasa Fusha itu di dalam kitabnya yang mulia menjadi bentuk bahasa-bahasa bersejarah, karena kami tidak memandang dalam apa yang diberikan keringanan padanya sekarang dari kata-kata terhitung yang keluar dengannya “keputusan-keputusan umat” bahwa tidak akan berhenti di atas wajah masa sehari-hari. Tetapi kami memandang kepada pokok dalam kaidah kompromi dan keringanan. Maka jika kami menetapkannya dan mengambil dengannya selain kami dan tidak ada pada kami untuk itu pengingkaran, maka semirip-miripnya ia menjadi seperti kaidah penjajahan yang dimulai dengan kompromi untuk yang dijajah dan para penjajah dalam mengambil sesuatu yang sedikit, kemudian berakhir dengan kompromi dalam segala sesuatu sedikit atau banyak!

Adapun kami, jika kami memahami satu pandangan dari berbagai pandangan yang ada ini, maka kami tidak memahami bagaimana mungkin menghidupkan bahasa Arab dengan menggunakan bahasa ‘ammiyah (bahasa sehari-hari), dan bagaimana mungkin kita ridha terhadap bahasa Al-Quran yang menolak untuk terikat dengan dialek-dialek lain sebagaimana ia telah menghapus sebelumnya semua bahasa-bahasa Arab meskipun fasih dan kuat fitrahnya pada penuturnya, lalu mengembalikannya kepada satu bahasa yaitu bahasa Quraisy. Kemudian dari sisi lain, kita ridha dengan dialek-dialek ‘ammiyah ini yang menolak untuk terikat dengan sesuatu apapun dan selamanya selalu berubah-ubah karena berbagai sebab yang mempengaruhinya dan memutarnya di lidah-lidah, hingga menjadi di sebagian desa-desa Mesir seakan-akan bahasa Malta yang “ter-Mesir-kan”, dan sebagian desa-desa ini tidak memahami sebagian yang lain sebagaimana engkau lihat antara ujung Delta dan ujung Sha’id (Mesir Selatan).

Jika kita mencoba mazhab pembaruan ‘ammi (bahasa sehari-hari), demi kebaikanku, dari dialek manakah kita mengambil, dan dialek manakah di Mesir yang bukan Mesir sehingga kita membuangnya? Jika kita menginginkan dengan pembaruan ini untuk menarik orang awam agar mereka mengikuti para penulis dan orator dalam apa yang mereka tulis dan apa yang mereka sampaikan, apakah mereka akan mengikuti mereka hanya pada ‘ammi saja hingga turun pada yang fasih ketika mereka menerimanya dan menyukainya, hingga ketika ditampilkan kepada mereka yang fasih murni mereka mengingkarinya dan tidak menyukainya? Ataukah pengikutan itu pada ‘ammi dan fasih sekaligus? Jika boleh bagi kaum itu untuk mengikuti para penulis dan orator pada bahasa fasih yang bercampur dengan ‘ammi, mengapa tidak demikian jika yang fasih itu murni dan akrab, dan terdapat petunjuk-petunjuk yang jelas pada apa yang ada di dalamnya berupa hal baru atau asing, dan lafaz-lafaznya tidak terpisah dari makna-maknanya dan tidak pula makna-makna ini menyulitkan lafaz-lafaz itu?

Kami tidak membantah wajibnya pembaruan bahasa dan wajibnya agar ada bagi bahasa dalam kebangkitan ini suatu majma’ (lembaga bahasa) yang melindunginya dan bekerja untuknya walaupun paling tidak “seperti dinas kebersihan dan penyiraman”. Kami tidak mengatakan bahwa bahasa Arab ini sempurna dalam kosakatanya, dan tidak pula bahwa tidak boleh bagi kita untuk bertasharruf (mengolah) di dalamnya sebagaimana tasharruf penuturnya. Maka sesungguhnya barang siapa yang berpandangan demikian, ia tidak melampaui bahasa sebagai sarana dari sarana-sarana kehidupan dan alat dari alat-alat pergaulan fitri. Demi kebaikanku, apa yang akan dilakukan orang-orang itu jika bahasa Arab menjadi bahasa ilmu pengetahuan dan seni-seni modern, dan mereka datang kepada satu kelompok saja dari serangga yang para ilmuwan membaginya menjadi dua puluh ribu jenis, mereka mempertimbangkan dalam meletakkan nama-namanya perbedaan yang ada di antara mereka dalam tingkat-tingkat pembedahan? Kemudian apa yang mereka kerjakan dengan jenis-jenis sisa hewan dan tumbuhan serta selain tumbuhan yang tidak terhitung dari hal-hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan cabang-cabangnya? Apakah mencukupi dalam semua itu lafaz-lafaz lisan Arab dan kitab-kitab hewan serta tumbuhan Arab dan semisalnya yang lafaz-lafaznya dilontarkan secara longgar, penempatan-penempatannya kacau, makna-maknanya berbeda-beda, dan batas-batasnya meluas, hingga benar-benar boleh satu lafaz mencakup karena banyaknya apa yang ditunjukkan padanya dalam bahasa ini sebagian dari makna-makna ilmu yang ada di dalamnya?

Ketahuilah, sesungguhnya paling mengherankan dalam urusan kita tentang yang ma’ruf dan munkar adalah bahwa bangsa-bangsa berbeda dalam makna-makna lafaz, penciptaannya, penetapan batasnya, dan wajah-wajah pemanfaatannya, sedangkan kita tidak berbeda kecuali pada lafaz-lafaz makna-makna ini, dan apakah ia Arab atau mu’arrab (serapan), dan apakah kita menerimanya atau menolaknya, menetapkannya atau menafikannya, mensahkannya atau mengubahnya… Padahal telah luput dari kita bahwa orang-orang Arab sendiri tidak mengenal sesuatu yang disebut bahasa, melainkan perhatian mereka hanya mencakup bagian-bagian bayan dalam semua yang mereka ucapkan berdasarkan ushul (prinsip-prinsip) fitrah kebahasaan yang mereka tumbuh di atasnya. Ushul-ushul ini telah ditetapkan dalam apa yang sampai kepada kita dari kaidah-kaidah bahasa dan apa yang dinukil dari lafaz-lafaznya, maka jadilah bagi kita hukum mereka jika kita merenungkannya, menembus rahasia-rahasianya, dan ahli dalam berdiri di atasnya.

Tidak ada menurut kami dalam wajah-wajah kesalahan kebahasaan yang lebih besar dan lebih agung daripada sangkaan seseorang bahwa bahasa itu dengan kosakata-kosakata, bukan dengan penempatan-penempatan dan susunan-susunan. Sesungguhnya bahasa-bahasa yang maju adalah yang dibedakan dengan wajah-wajah susunannya dan keteraturan wajah-wajah ini di dalamnya. Tidak mungkin sama sekali suatu bahasa dari bahasa-bahasa memiliki kelimpahan dan kekayaan lafaz kecuali jika menyeru kepada itu wajah-wajah penempatan-penempatan dan susunan-susunannya. Tidak akan engkau dapati pada kami dari pengingkaran terhadap orang yang mengatakan bolehnya bertasharruf dalam susunan-susunan bahasa Arab, kemudian mendustakannya dan menganggap besar apa yang ia datangkan, kecuali seperti apa yang ada pada kami dari penolakan terhadap perkataan orang yang melarang bertasharruf dalam kosakata-kosakatanya – dengan ta’rib dan selain ta’rib – selama kebutuhan kepada itu mendesak, dan selama itu tidak mengeluarkan lafaz yang diletakkan dari kemiripan Arab yang mengalirkannya dalam bahasa dan menjadikannya padanya serta melampirkannya pada materinya, kemudian selama kita mengerjakan pekerjaan ini maka kita menyelesaikannya dengan jelas dan kukuh, dan kita menetapkan dalam hal itu sunnah orang-orang Arab dalam cara penetapan kebahasaan, hikmah cara ini, dan wajah hikmah ini.

Maka engkau melihat bahwa tidak kurang bagi kita dari bahasa sesuatu apapun, sedangkan ia pada keadaannya yang berupa penguatan penempatan-penempatan, susunan-susunan, dan keluasan untuk kosakata-kosakata walaupun datang seperti leher-leher banjir. Akan tetapi kurang pada bahasa ini adalah orang-orang yang bekerja dan berbuat baik jika mereka bekerja, dan mengetahui bagaimana pekerjaan mereka sampai kepada kebaikan, dan bagaimana pekerjaan mereka menjadi pekerjaan.

Sungguh adalah perbuatan buruk terhadap bahasa Arab ini bahwa berdiri untuk menghidupkannya “perkumpulan-perkumpulan” yang semuanya bekerja keras dalam pekerjaan baru ini berdasarkan kaidah lama, maka mereka tidak melampaui dalam cara kerja dan tujuan yang dimaksud darinya kecuali mengganti lafaz dengan lafaz, huruf dengan huruf, dan menegur kepada kesalahan dalam sebagian penggunaan dan kebenaran dalam sebagian pengabaian dari apa yang mereka keluarkan atau mereka berdiri padanya atau kebetulan bagi mereka secara kebetulan. Ini adalah pekerjaan yang jamaah di dalamnya, seberapa pun mereka bertekad dan kuat, seakan-akan mereka satu individu, dan individu yang mampu menggantikan jamaah, bahkan mungkin mencukupi mereka dan menghapus wajah mereka serta menjadi dari mereka kedudukan imam dari orang-orang yang di belakangnya.

Walaupun mereka adalah barisan-barisan yang rapat dan berhadap-hadapan, dan ini adalah perkara yang dahulu, maka sesungguhnya para ulama dan penulis menerima para perawi dan para hafizh dengan pertanyaan tentang kebenaran kalimat dan tentang wajah penggunaan huruf dari bahasa. Al-Makmun Al-Abbasi telah menyediakan dari mereka satu kelompok di “Dar Al-Hikmah” agar para penerjemah kembali kepadanya, kemudian agar mereka memeriksa atas mereka sehingga mereka memperbaiki kesalahan atau menegakkan timbangan atau mengubah kalimat. Demikian juga yang dilakukan sebagian amir-amir terkemudian dalam diwan-diwan insha’ ketika para sastrawan lemah terhadap bahasa, lidah-lidah terpelintir, dan ‘ammiyah menguasai. Yang menangani itu untuk Fatimiyyin adalah Thahir bin Babsyadz pada abad kelima, dan Ibnu Barri pada abad keenam, dan menanganinya orang-orang besar mereka sesudahnya hingga batas ini dalam masa-masa dan negara-negara yang berbeda.

Akan tetapi semua itu telah berlalu bersama ahlinya, dan bahasa tetap berputar dalam batas-batasnya maju mundur, tidak bertambah padanya apa yang mereka tambahkan dan tidak berkurang darinya apa yang mereka kurangi.

Kami tidak ragu sama sekali bahwa seandainya berdiri pada pagi setiap hari suatu majma’ lughawi (lembaga bahasa) dengan cara ini, niscaya akan runtuh pada sore setiap hari suatu majma’ darinya, karena kaum itu menyeru sisi-sisi yang samar kepada yang jelas, melompati ushul kepada furu’, bekerja dalam menutup kekurangan yang dapat ditolerir, dan menyulitkan diri untuk kebutuhan yang ada dalam kemampuan dan daya, sedangkan bahasa memenuhi semua yang mereka datangkan, tidak menghalanginya kecuali kebodohan dan pengabaian, dan kecuali buruknya pencarian pencari dan pengumpulan pengumpul. Ini – semoga Allah memperbaikimu – adalah perkara yang paling ringan dan bahaya yang paling ringan serta paling mudah apa yang menimpa kita dari urusan bahasa Arab ini. Sesungguhnya cobaan di dalamnya tetap selamanya selama masih ada di bumi makna yang tidak ada baginya lafaz di dalamnya, dan selama kita tidak membuka jalan di dalamnya untuk lafaz-lafaz yang baru ini dengan kaidah-kaidah tetap dan berdasarkan jalan-jalan yang jelas, dan selama di tangan kita ia beku, tidak kita goyangkan darinya dan tidak kita kembalikan kepada perjalanannya yang pertama dalam penetapan dan penurunan dengan apa yang tidak merusaknya, tidak merugikan ushul-ushulnya, dan tidak datang bangunannya dari “kaidah-kaidah”.

Sesungguhnya itu adalah perkara yang pertama tanggung jawabnya pada para ulama terdahulu dari orang-orang yang menyusun kitab-kitab induk dalam bahasa dan dari orang-orang yang menulis dalam ilmu pengetahuan atau menerjemahkan dari kitab-kitabnya, karena mereka – semoga Allah memaafkan mereka – tidak memperhatikan orang-orang setelah mereka, maka tidak meletakkan dalam hal itu suatu diwan (kumpulan) yang menyeluruh, dan tidak melaksanakannya dengan ijma’ yang dikenal yang sampai padanya ilmu atau berhenti padanya jalan dari jalan-jalan riwayat. Melainkan adalah bagi setiap orang dari mereka pendapatnya, pandangannya, kadar ilmunya, dan cakupan riwayannya. Jika terpaksa salah satu dari mereka kepada apa yang mempercepatnya dari kesabaran dan pemindahan pendapat dalam memilih lafaz dan me-ta’rib-kannya, dan terdorong kepada penulisan dan pengarangan dari penyempitan-penyempitan ini, ia tidak peduli untuk mengambil lafaz sebagaimana adanya dalam lisan ahlinya dan bahasa pencipta-penciptanya, selama ia tidak melepaskannya kecuali dalam uslub yang kukuh dari bahasa dan tidak melingkupinya kecuali dengan susunan Arab yang jelas. Mereka adalah yang lebih mengetahui dengan apa yang kami putuskan bahwa bahasa itu dengan penempatan-penempatan dan susunan-susunan, bukan dengan kosakata-kosakata seberapa pun mencapainya, dan bahwa perkaranya adalah dalam apa yang mengikat kalimat a’jami dengan ikatan Arab, bukan dalam kalimat itu sendiri.

Ini Al-Jahizh, ulama penulis umat ini dan individu dari para ahli fasih mereka yang luas dalam menulis. Engkau membaca kitab-kitabnya maka engkau menemukan sesuatu dari nama-nama alat-alat dan istilah-istilah seni, dan sebagian dari itu tidak ada jalan untuk memahaminya dan mengetahui yang ditunjukkannya kecuali dengan merujuk padanya dalam bahasa Persia, Hindi, Romawi, dan semisalnya, dan kecuali jika kebetulan bagi peneliti untuk menemukan penjelasannya dan tafsirnya dalam sebagian kamus-kamus Arab atau kitab-kitab seni. Adalah kebiasaan ahli fasih ini bahwa tidak berhenti pada lafaz yang baru dipetiknya dan dibelahnya, dan tidak ragu-ragu pada kalimat yang masuk dipandangnya dan diteliti kebenarannya. Ia telah menaskan pada itu dalam suatu tempat dari kitabnya “Al-Hayawan” (Hewan), maka ia berkata setelah ia menguraikan lafaz-lafaz dari istilah-istilah Zanadiqa seperti As-Satir, Al-Ghamir, Al-Butlan, dan lain-lain, dan mengingkari keanehan petunjuk di dalamnya dan bahwa ia ditinggalkan di sisi ahli dakwahnya, agamanya, di sisi orang awam, dan jamaah:

“Sesungguhnya pendapatku dalam jenis ini dari lafaz ini adalah bahwa aku berada selama aku dalam makna-makna yang ia adalah ungkapannya dan bahan di dalamnya, pada bahwa aku melafazkan dengan sesuatu yang siap, yang ada, tanpa membebani pada apa yang mungkin tidak mudah dan tidak gampang kecuali setelah riyadhah (latihan) yang panjang. Aku berpandangan bahwa aku melafazkan dengan lafaz-lafaz para mutakallimin selama aku menyelami dalam seni kalam bersama khusus ahli kalam, maka sesungguhnya itu lebih paham menurutku dan lebih ringan beban mereka padaku.”

“Bagi setiap seni ada lafaz-lafaz yang telah dijadikan bagi ahlinya setelah pengujian selainnya, maka tidak melekat pada seni mereka kecuali setelah terdapat antara mereka dan antara makna-makna seni itu kemiripan-kemiripan. Jelek bagi mutakallim bahwa ia membutuhkan lafaz-lafaz para mutakallimin dalam khutbah atau surat, atau dalam berbicara dengan orang awam dan tetangga, atau dalam berbicara dengan keluarganya, budaknya, dan budak perempuannya, atau dalam pembicaraannya jika ia berbicara atau beritanya jika ia memberitakan. Demikian juga dari kesalahan adalah bahwa ia membawa lafaz-lafaz orang-orang Arab dan lafaz-lafaz orang awam sedangkan ia masuk dalam seni kalam. Bagi setiap maqam (tempat) ada maqal (ucapan) dan bagi setiap seni ada bentuk.” Selesai.

Akan tetapi kami tidak menelusuri perkataan dalam sisi ini, maka sesungguhnya letak niat adalah bahwa kita berbicara dalam “Tamshir Al-Lughah” (Pemesirannya bahasa), dan hanyasaja kami sampai kepada pembicaraan dari sisi ini karena ia adalah jalan kami kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan dengan pendapat ini, orang-orang yang berlebih-lebihan di dalamnya, dan orang-orang yang bersikeras padanya, hanyasaja mereka menyeru dengannya kepada pembaruan dan pergi kepada bahwa ia sebaik-baik apa yang sampai padanya kebenaran dari pendapat dan sebaik-baik apa yang mungkin bagi mereka dalam sisi tujuan itu. Maka sesungguhnya mereka mengira menginginkan pembaruan dari jalan yang paling dekat, dan mencari kebutuhan yang mendesak dan manfaat yang dekat. Mereka melihat mayoritas umat adalah ‘ammi, maka tidak mengapa bahwa ada dari mayoritas ini bayangan dalam bahasa atau atas bahasa atau dekat dari bahasa. Luput dari mereka bahwa dari bawah jalan ini ada jalan-jalan lain yang lebih dekat dalam arah mereka dan lebih dekat kepada tujuan mereka jika mereka menuju kepada mengajar umat dan kepada tujuan dari pengajaran ini. Sesungguhnya waktu yang buku-buku di-ta’rib-kan atau di-Mesir-kan di dalamnya, kemudian dicetak dan disebarkan, kemudian dibaca dan dipelajari, tidak pergi dengan sia-sia jika ia pergi dalam mengajar bahasa asing dari bahasa-bahasa ilmu pengetahuan, kemudian penyampaian ilmu-ilmu pengetahuan ini dengannya. Dalam hal itu adalah bahwa umat mendapatkan ilmu pengetahuan dan seni-seni dengan benar dan meraih bersamanya kelebihan yang besar, dan bahwa ia meraih kepada bahasanya bahasa lain seluruhnya dan mengumpulkan padanya sastra-sastranya dan faedah-faedahnya. Ini adalah apa yang tidak memungkinkan sebagiannya jika kita me-Mesir-kan bahasa Arab untuk tujuan itu yang mereka sangka dan apa yang mereka cari dengannya dari kecukupan dan pembaruan.

Telah mengambil dengan pendapat ini Republik Tiongkok modern. Sesungguhnya ia mewajibkan bahasa Inggris atas setiap orang yang mencari ilmu atau seni, karena bersemangat pada waktu agar tidak terbuang dengannya penerjemahan, pencetakan, dan pembelajaran, dan untuk menghindari dari apa yang dimasukkan oleh penerjemahan pada istilah-istilah ilmu pengetahuan dan seni-seni berupa kerendahan dalam penjelasan, penetapan, penetapan batasan petunjuk, dan semisalnya dari apa yang tidak ada jalan darinya dalam pemindahan antara bahasa-bahasa yang berbeda dari bahasa ke bahasa.

Akan tetapi jika ada dalam pendapat Tamshir kebaikan, tidaklah berdiri kebaikannya dengan keburukannya. Andaikan suatu perkara dari itu terjadi, dan sesungguhnya kita mengalirkan susunan-susunan ‘ammiyah dalam yang fasih, dan memasukkan kosakata-kosakata kaum dalam bahasa, dan memungkinkan bagi orang awam pada apa yang mereka sangka dari kendali-kendali kalam dan kita ikuti kepemimpinan mereka, apa hasil itu dari mereka dan apa yang kembali pada umat, sedangkan kita mengetahui bahwa mayoritas mereka jika membutuhkan kepada kitab-kitab dalam ilmu, maka hanyasaja ia adalah kitab-kitab alif ba ta… sebelum kitab-kitab istilah-istilah ilmiah dan seni!

Sesungguhnya mengherankan bahwa kita mulai dengan pendidikan dari akhirnya, dan sesungguhnya kita datang kepada keadaan dari kelemahan lalu kita sangka di dalamnya kekuatan, kemudian kita lewati pada apa yang kita bayangkan, kita tetapkan ia sebagai hak, lalu kita putuskan hukum-hukum, kita usulkan ushul-ushul, kita hadapkan sesuatu dengan sesuatu, dan kita keluarkan keadaan dari keadaan. Tidak ada bagi kita dari apa yang sebelum itu semuanya kecuali bahwa ia adalah sangkaan yang kita sangka sebagai yakin, dan anggapan yang kita hitung sebagai qiyas (analogi), dan kecuali bahwa ia adalah ‘ammiyah, kita jadikan bagi cirinya apa yang tidak dalam tabiatnya dan kita hitung ia ushul yang jelas dengan dirinya, dibedakan dari selainnya dengan sifat-sifat yang menjadikan ushul itu ushul dan menafikannya dari sifat-sifat furu’-furu’nya. Padahal ushul ‘ammiyah ini tidak berhenti di lidah-lidah kita dan pena-pena kita, dan tidak berhenti kita mengembalikannya padanya, mengukuhkannya dengannya, dan menegakkannya pada jalannya. Padahal ‘ammiyah ini tidak layak dalam susunan-susunannya dan shighah-shighahnya untuk penulisan selama tidak dijelaskan pada wajah dari wajah-wajah. Ia sesudahnya tidak ada timbangan baginya dalam semua yang ia jauhkan dengannya dari yang fasih kecuali dalam ungkapan-ungkapan sedikit dari apa yang menjadi kebaikan terbesarnya bahwa ia dikeluarkan pada keteraturan yang dikenal dalam balaghah Arab seperti jenis majaz, kinayah, dan semisalnya. Jika ia menentang yang fasih dalam lafaz atau keteraturan, maka engkau tidak akan menemukan di dalamnya kecuali reruntuhan dari kalimat-kalimat Arab yang menolaknya orang yang mengetahuinya dengan benar dan hadir, dan menghitungnya dari kekurangan menegakkannya dengan lurus sempurna. Bagaimana pun engkau memutarnya, engkau tidak mengetahui baginya kecuali lemahnya urusan dan jatuhnya kedudukan di hadapan ushul-nya yang fasih yang ia keluar darinya dan tidak berhenti di dalamnya materinya.

Perbedaan pendapat kita tentang bahasa yang secara alamiah menolak untuk menjadi bahasa asli dan dianggap sebagai bahasa tersendiri tidaklah mengubah kenyataan. Seberapapun Anda berusaha mengubahnya, bahasa tersebut tidak akan berubah kecuali kembali ke asal-usulnya yang dikenal dan khas. Jika dipaksakan sebaliknya, ia akan kacau, goyah, dan melarikan diri ke pasar-pasar dan jalan-jalan!

Jika orang-orang itu berdalih bahwa mereka ingin mendekatkan bahasa Arab baku kepada rakyat jelata, bukan dari bahasa percakapan sehari-hari agar mudah bagi mereka untuk beradab atau belajar, kami katakan: Itu adalah satu cara, tetapi jalannya bukan seperti yang mereka katakan dengan “memisrkan” bahasa Arab baku ini. Mereka memiliki alternatif dalam berbagai cara untuk memfasihkan bahasa percakapan itu sendiri dengan mengembalikannya kepada asal-usul yang dekat, seperti keadaannya pada masa Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah. Sungguh saya menduga bahwa orang awam dari masa itu jika dibangkitkan hari ini akan melihat kebanyakan gaya bahasa baku kita lebih rendah daripada bahasa percakapan mereka.

Kami telah menguraikan sebagian pembahasan dalam dua artikel kami yang diterbitkan di “Al-Bayan” tentang pendapat awam mengenai bahasa Arab baku dan nasionalisme Arab dalam Alquran, dan kami menjelaskan di sana kerusakan pendapat dalam mengubah bahasa baku dari wajahnya yang sebenarnya. Maka kami tidak akan mengulangi apa yang telah kami uraikan, melainkan hanya menyampaikan sepatah kata dalam membuktikan kemustahilan pendapat ini, dan bahwa orang-orang yang berpendapat demikian, apapun yang mereka lakukan, mereka hanya akan menarik kepada mereka sekelompok pemuda lemah kita yang kebaratan yang mendukung mereka dengan apa yang dianggap umat sebagai pengkhianatan, dan mereka menambah pada mereka apa yang tidak disadari umat sebagai tambahan atau pengurangan. Hal itu karena mereka lalai dari roh keagamaan yang menjadi tempat tumbuh kaum Muslim – pemilik bahasa Arab ini – di berbagai penjuru bumi, dan bahwa roh ini berdiri atas penolakan fanatisme kesukuan dan nasionalisme seperti nasionalisme Mesir dan lainnya. Fanatisme ini dahulu bersifat umum di kalangan suku-suku Arab hingga Islam menghapuskannya, maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang beriman dan mewajibkan mereka dengan kalimat takwa serta menjadikan mereka bersaudara. Kemudian Nabi shallallahu alaihi wasallam menafikannya dan menjauhkan orang-orang beriman darinya dengan sabdanya:

“Bukan termasuk golongan kami orang yang menyeru kepada fanatisme kesukuan… Hadits.”

Dan tidaklah fanatisme suku dan suku dalam maknanya kecuali seperti fanatisme negeri dan negeri serta negara dan negara, dan apa yang mereka katakan tentang “memisrkan” bahasa tidak lebih dari satu wajah dari wajah-wajah fanatisme yang tercela ini. Sungguh Anda akan mendapati kaum Muslim berbeda dalam segala hal bahkan dalam agama itu sendiri, tetapi Anda tidak akan mendapati mereka kecuali sebagai satu perasaan dengan roh keagamaan Arab yang poros pusatnya adalah Kitab (Alquran) dan Sunnah dalam bahasa Arab baku keduanya, dan tidak ada jalan untuk mengubah atau mengganti keduanya, tidak dengan cara “memisrkan” maupun cara lainnya, baik di dalamnya ada perbaikan antara bahasa percakapan dan bahasa baku atau tidak ada.

Jika menyimpang dari jamaah sekelompok pemuda kita yang telah mengambil selain akhlak agama ini dan tumbuh di luar kaum agama ini dan atas dasar selain prinsip-prinsipnya, lalu mereka berpendapat tentangnya dengan prasangka mereka dan berkata dengan pendapat mereka serta meridhai baginya apa yang tidak diridhai oleh umatnya, maka mereka ini sebanyak apapun jumlahnya tidak mampu mengadakan kejadian, bahkan mereka akan binasa sedangkan jamaah tetap ada, mereka berkurang sedangkan umat bertumbuh, mereka pergi ke rahmat Allah, dan termasuk rahmat Allah bahwa mereka tidak kembali untuk kedua kalinya.

Dan Anda tidak akan mendapati orang yang berniat buruk terhadap agama ini kecuali Anda akan mendapati baginya hal serupa dalam bahasa, meskipun kami tidak mengatakan sebaliknya. Karena di antara kami ada orang-orang utama yang salah dalam pendapat yang dilihatnya atau terburu-buru dengannya tanpa memutarnya dan membolak-baliknya lama. Jika Anda memberitahunya dengan apa yang ada di dalamnya, dia akan membantu Anda atas dirinya sendiri dan menguatkan sisi kebenaran darinya dan memberikan kepadamu dengan rela, dan dalam perbuatannya pantas Anda mengenalnya dengan hikmah dan melihat perubahannya dari kesalahan ke kebenaran, jika tidak lebih baik dari kebenaranmu maka tidak di bawahnya.

Ini dan sesungguhnya teman-teman kami tidak mengabaikan bahwa asal dalam pendidikan umum adalah dengan membebani pada akhlak bukan pada akal, dan pada roh umat yang dengannya ia dibedakan dan disepakati bukan pada sifat-sifatnya yang lain. Kami tidak mendapati dalam hal itu sesuatu pada kaum Muslim seluruhnya baik orang Mesir maupun lainnya kecuali apa yang kami isyaratkan yaitu roh keagamaan yang meliputi mereka semua dan yang merupakan dasar agama ini. Maka tidak ada jalan untuk “memisrkan” bahasa Arab dan menganggap “kemisiran” ini sebagai asal bahasa yang disepakati kecuali dengan “memisrkan” agama Islam yang atas dasarnya berdiri bahasa Arab ini. Karena sebagian dari itu adalah sebab alamiah kepada sebagiannya yang lain. Maka siapa yang membukakan kepada kami wajah yang dengannya agama menjadi agama Mesir yang nasionalis… dan memberitahu kami sebab-sebab dan akibat-akibatnya, kami katakan kepadanya: Kami salah dan Anda benar “Dan demikianlah azab Tuhanmu apabila Dia mengazab negeri-negeri yang berbuat kezaliman.” (Surat Hud ayat 102)

۞۞۞۞۞

Kulit Kucing

Adalah Sang Guru Penulis yang fasih yang menulis (Malam-malam Ramadan) di surat kabar As-Siyasah pernah ditanya: Apa itu yang baru dan apa yang lama, dan apa contoh masing-masing, dan apa yang membedakan keduanya?

Maka dia mengalihkan jawabannya kepada orang-orang yang disebutnya dari mereka yang menyebut diri dengan ini dan itu, dan dia memasukkan kami di antara mereka. Maka kami menulis kepadanya kata ringkas ini:

Kepada Bintang Malam-malam yang Penuh Berkah:

Aku telah memutuskan untuk menahan diri dari menjawab hingga melihat apa yang mungkin ditulis oleh orang-orang yang Anda sebutkan, lalu aku akan mengikuti perkataan mereka, karena pendapat-pendapatku sudah dikenal dan tersebar. Tetapi hujah orang-orang yang mendukung yang baru masih tetap kata “yang baru”.

Aku kira Anda tidak akan mendapat sesuatu dari mereka setelah kata “Doktor Shabri”, dan dia menjelaskan itu bukan kepada ini dan bukan kepada itu. Dan jika Anda mendapat setelah beberapa hari sebuah kata atau beberapa kata, maka dari mana bagi Anda wahai Syawal satu malam atau beberapa malam untuk menambahnya pada Ramadan…

Ataukah Anda ingin mengambil bagimu dalam sejarah Islam sebuah mazhab baru seperti mazhab mereka dalam sastra Arab, lalu Anda mengklaim bagi sesuatu apa yang bukan untuknya dan mencabut bulan Ramadan dari bulan Juli…

Aku tidak membaca hingga hari ini tentang makna “yang baru” ini sebuah kata yang sampai dapat digambarkan darinya sebuah bukti atau disusun darinya sebuah proposisi yang benar. Semua perkataan mereka kembali kepada tiga pintu: baru, memperbarui, dan marilah kita perbarui. Adapun yang pertama, bagi mereka adalah memburukkan yang lama, mencela dan melarikan diri darinya.

Adapun yang kedua, adalah yang mencela, memaki, dan mengejek. Adapun pintu ucapan mereka “marilah kita perbarui”, maka hingga sekarang masih terbatas pada ucapan setiap orang dari mereka kepada yang lainnya “marilah kita perbarui”…

Adapun yang lama adalah kenyataan yang tetap yang dengannya berdiri masa lalu dan masa kini bersama-sama. Dan aku melihat bahwa yang baru tidak lebih dari sesuatu yang mereka bayangkan sebagai sesuatu padahal belum terjadi. Maka yang mungkin tidak lebih berhak dengannya daripada yang mustahil, dan yang mustahil tidak lebih berhak dengannya daripada yang mungkin. Sesungguhnya orang yang paling tersia-sia di antara manusia adalah dua orang: satu yang datang sebelum zamannya, dan yang lain tidak ada kecuali zamannya telah berlalu. Tidakkah Anda lihat dalam keadaan ini bahwa semua yang dibolehkan dan mungkin bagi orang-orang yang mendukung yang baru adalah bahwa mereka berdebat dengan orang-orang masa depan? Wallahi, aku tidak tahu apakah orang-orang ini bersungguh-sungguh atau bercanda? Tetapi yang tidak aku jahili bahwa pada sebagian manusia ada roh-roh dan watak-watak yang tercetak di dalamnya gambaran-gambaran masyarakat Eropa dengan apa yang dikandungnya dari keutamaan dan kejahatannya – karena yang ini adalah akibat dari yang itu, tidak ada jalan bagi mereka dari hal itu – maka jiwa-jiwa halus yang indah ini ingin menyalin gambar Islam dan Timur dan menetapkan semua yang Eropa itu di tempatnya, dan itulah kecenderungan yang baru.

Dan Anda, jika Anda seorang pengacara, bukankah dari kewajibanmu bahwa Anda mengenakan kepada pencuri jika Anda suatu hari membela seorang pencuri, lalu Anda berdiri dengan sikap terhormat meskipun pikiran, kecerdasan, dan logikamu semuanya bersiasat dengan siasat para pencuri, berhubungan dengan makna-makna mereka, dan mengeluarkan dari cara-cara apa yang mungkin pencuri itu sendiri tidak mampu melakukan sebagiannya.

Inilah contohnya tidak lainnya, dan akan kukatakan kepadamu dengan terus terang bahwa masjid-masjid Kairo melihat seribu wisatawan setiap tahun dan tidak melihat dalam setahun penuh satu orang pun dari orang-orang yang mendukung yang baru. Maka inilah tempat kembali kecenderungan itu. Kemudian ada sekelompok kecil jurnalis yang melihat dalam kata “yang baru” makna yang indah dari makna-makna “bahasa iklan”, dan bahasa ini tidak peduli apa yang bermanfaat dan apa yang membahayakan, apa yang benar dan apa yang bohong, tetapi apa yang laku dan apa yang tidak laku, apa yang untung dan apa yang rugi.

Maka yang baru Arab menurut mereka itu sedemikian dalam penamaan, adapun dalam maknanya maka ia adalah yang baru Amerika.

Jika percampuran wahai manusia dinamakan yang baru, maka sesungguhnya ada di antara kaum yang mencampur. Dan jika kelemahan, maka dalam yang lama ada apa yang kalian kehendaki darinya bahkan dari gaya-gaya “Jaramiq Syam dan Amerika”. Dan jika bias, cacian, dan celaan, maka semuanya itu lama. Dan jika kemanusiaan, maka ia lama. Dan jika akal, maka sesungguhnya akal-akal manusia yang paling agung adalah dari yang lama saja. Lalu apa?

Mungkin kalian menginginkan selera. Bagaimana kalian berbuat sedangkan kalian melihat setiap orang memiliki seleranya, dan kalian menyaksikan keadaan-keadaan berjalan dalam hal itu dengan hal-hal yang aneh bahkan dalam yang paling indah dalam keindahan. Maka mungkin yang paling berat dalam berat pada sebagian watak adalah seperti beratnya kefasihan pada watak kalian, dan berat kalian pada watak kami. Maka tidak ada bagi kalian dalam selera sesuatu yang tidak ada bagi kami yang sepertinya.

Ataukah kalian menginginkan dari yang baru menggambarkan kehidupan modern dengan mazhab-mazhabnya dalam puisi dan prosa? Siapa yang menghalangi kalian dari ini dan siapa yang mengatakan selainnya dari kami atau dari kalian?

Maka kami dalam hal itu sama tidak berbeda.

Ataukah kalian menginginkan gaya, bahasa, dan kemudahan dalam susunan, kelemahan dalam penulisan, kelonggaran dalam kaidah-kaidah, dan mengambil lafaz dari mana saja dan bagaimana penulisnya mampu? Maka ini tidak dinamakan yang baru, tetapi pada umumnya adalah sejenis ketidakmampuan dan tipu daya fikih… untuk menjadikan apa yang bukan kaidah menjadi kaidah.

Sungguh jiwa-jiwa kami telah bosan dengan klaim-klaim kosong ini. Maka bekerjalah kemudian namailah pekerjaan kalian.

Dan buruhlah beruang kemudian juallah kepada orang-orang kulitnya. Maka mungkin kalian dan kalian menjual bulu beruang tidak mendapatkan kecuali kulit kucing.

۞۞۞۞۞

Artikel-artikel Sastra Arab di Universitas Mesir

Untuk Sejarah

Universitas Mesir muncul pada tahun 1908 Masehi, dan ketika itu ia adalah ide nasional politik yang terbelah untuknya tempatnya dalam peristiwa-peristiwa, lalu ia datang sebagaimana datangnya peristiwa nasional yang berdiri – atas apa sebelumnya agar berdiri atasnya apa sesudahnya. Umat bersedekah untuknya dan bersiap-siap untuknya dan bersungguh-sungguh dengannya, maka jadilah ia apa adanya.

Dan tidak ada dalam masa itu yang dikenal dengan “sejarah kesusasteraan bahasa Arab” kecuali buku kecil ukurannya yang disusun oleh sebagian guru-guru menurut cara orientalis, dan ia diajarkan di sekolah Dar Al-Ulum, dan kecuali beberapa bab yang ditulis dengan cara ini oleh sahabat kami alim terpelajar Jurji Zaidan pemilik “Al-Hilal” dan diterbitkannya di majalahnya, kemudian dua kitab dalam dua belas ilmu bahasa Arab, salah satunya kitab Al-Wasilah Al-Adabiyyah karya Guru terkenal Syekh Husain Al-Marshafi, dan ia adalah kitab lama, hingga kitab-kitab lain dari apa yang dikumpulkan dari pilihan-pilihan puisi dan prosa, atau dari apa yang dikumpulkan dari segala sesuatu seperti Al-Mawahib Al-Fathiyyah karya Guru hujah besar Syekh Hamzah Fathullah. Maka kami menulis ketika itu di (Al-Jaridah) sebuah artikel yang Anda lihat setelah ini, dan marilah kita namakan “Artikel Al-Jaridah Pertama”.

Dan direktur Al-Jaridah adalah Sang Guru yang jenius, direktur Universitas hari ini. Maka dari pengaruh artikel itu Komite Teknis Universitas menerbitkan seruan kepada para sastrawan untuk menulis kitab dalam “kesusasteraan bahasa Arab”, dijadikan hadiah pemenangnya seratus pound, dan ditetapkan batas waktu untuk menyerahkannya kepadanya tujuh bulan. Maka kami menulis artikel kedua di Al-Jaridah. Lalu mereka kembali dan menerbitkan lomba untuk menulis kitab dalam “kesusasteraan bahasa Arab” dan menjadikan masa waktunya dua tahun dan hadiahnya dua ratus pound, dan mereka berkata: “Dan untuk membantu penulis dalam menerbitkan kitab, Universitas berkomitmen untuk cetakan pertama atas biayanya… Jika tidak ada yang berhak atas hadiah, seruan untuk lomba ini akan diperbarui untuk waktu lain dengan masa dua tahun dengan syarat-syarat ini sendiri.”

Dan itu dari pekerjaan kami dan segala puji bagi Allah dan berkat-Nya – adalah sebab dalam pengajaran kesusasteraan Arab dan sejarahnya di Universitas Mesir, dan ia adalah sebab juga dalam penulisan apa yang ditulis dari kitab-kitab dalam ilmu ini. Tetapi tidak ada seorang pun yang menyerahkan kitabnya kepada Universitas hingga hari ini.

Kemudian adalah yang paling dahulu dari karya-karya itu munculnya Juz Pertama dari kitab alim terpelajar Jurji Zaidan, kemudian Juz Pertama dari kitab kami “Sejarah Kesusasteraan Arab” mendahului yang itu sebulan atau dua bulan, pendahuluan percetakan.

Kemudian Universitas dilekatkan pada Kementerian Pendidikan dan dibuka tahun 1925, lalu mereka memilih untuk mengajar Sastra Arab di dalamnya Sang Guru Doktor Thaha Husain. Dan kami tahu bahwa dia menyampaikan pelajarannya “tentang puisi Jahiliyah”.

Namun kami tidak menemukan sesuatu darinya dan tidak menginginkan itu dan tidak memikirkannya.

Karena tidak terpikir oleh kami bahwa siapapun dari siapapun kesombongan menghiasinya untuk mengangkat bola bumi lalu melemparkannya di luar orbitnya sebagaimana Thaha berbuat yang serupa dengan itu dalam sastra, hingga memperingatkan kami artikel Guru Abbas Fadhli yang diterbitkannya baginya “As-Siyasah”, kemudian menulis setelahnya sahabat kami yang mulia, penulis Timur yang paling besar Pangeran Syakib Arsalan artikelnya “Sejarah tidak dengan asumsi” di surat kabar “Kaukab Asy-Syarq”. Maka kami menulis setelah itu artikel-artikel ini di “Al-Kaukab”.

Dan kami meninggalkannya sebagaimana adanya, tidak menyentuhnya kecuali dalam yang berlebihan dan yang langka. Dan segala puji bagi Allah atas apa yang ditaufiqkan dari sebelum dan sesudah.

۞۞۞۞۞

Artikel Pertama di Koran: Sastra Arab di Universitas Mesir

Mereka mengatakan bahwa sekelompok orang yang mengurus universitas ini telah mempercepat pekerjaan untuk kami pada tahun ini. Mereka tidak mempersiapkan dengan baik dan tidak merasa keberatan dengan tempat yang terburu-buru dari kondisi tersebut, serta ketidakmampuan bangsa dalam menghasilkan orang-orang cerdas. Oleh karena itu, mereka menjadikan pelajaran di universitas ini berupa ceramah-ceramah tentang percakapan yang menarik dan cerita-cerita lucu serta dikte tentang sejarah peradaban, negara-negara, kesusastraan asing, dan sebagian hal yang berkaitan dengan bahasa. Kemudian di masa mendatang mereka akan menghadirkan hal-hal baru dan melemparkan tangan mereka ke dalam pekerjaan yang bermanfaat ketika alat-alat telah lengkap bagi mereka, kekuatan telah terkumpul, dan mereka bersatu dengan para cendekiawan yang telah mereka kirim ke Eropa. Demikianlah mereka mengatakan bahwa mereka segera memulai pekerjaan dan tidak menunggu kecuali sebentar, untuk menjaga janji mereka, dan menghindari celaan atas kelambanan dan lemahnya semangat, serta karena manfaat tidak menafikan bahwa ia bisa diperoleh dari yang sedikit jika tidak tersedia yang lebih banyak, sebab mengunyah makanan saat lapar lebih baik daripada kedua rahang yang kaku!

Kami meyakini semua itu dan tidak berusaha menutupi cacat bangsa kami dan menyembunyikan kekurangannya, karena urusan ini mungkin tidak akan berjalan lurus bagi kami jika dimulai secara sempurna, dan sesungguhnya orang yang menumpuk semua batu bangunan di tanah lapang tidak akan mencapai tingkat telah mendirikan bangunan, bahkan harus ada perekatan batu dengan batu menurut proporsi tertentu dalam penyusunan dan keteraturan, dan tidak pernah suatu kebutuhan dicari dari selain tempatnya.

Kami menambahkan kepada mereka juga bahwa kami adalah bangsa yang ditinggalkan oleh zaman dengan apa yang ditinggalkannya berupa kebiasaan dan akhlak antara buruk dan baik, sehingga tidak bersatu dalam kebencian atau kesenangan, dan sebagian mereka tetap menjadi musuh sebagian yang lain dalam kebiasaan dan akhlak, sebagaimana halnya bangsa-bangsa di awal perjuangan mereka untuk kemajuan, dan itulah jurang tempat para pendidik jatuh, dan kedudukan yang membuat para pembimbing bingung; seandainya kuburan melemparkan kepada kami siapa yang ada di dalamnya dari para filsuf dan orang-orang bijak masyarakat, mereka tidak akan menambah kecuali memulai mengajari kami dengan yang sedikit, tetapi tidak semua yang sedikit itu wajib, bahkan kemudian dalam hal itu ada sesuatu yang lebih wajib dari sesuatu yang lain.

Maka tidak ada jalan untuk memaafkan kaum tersebut dalam mengabaikan sastra Arab padahal mereka telah menetapkan dalam konstitusi universitas dua jenis sastra asing.

Maka apakah ini lebih berhak untuk didahulukan daripada itu dan lebih dekat dengan manfaat bangsa daripadanya, atau mereka hari ini sedang mempersiapkan kebutuhan mereka sehingga menciptakan untuk kami di Eropa seorang sastrawan dan mengeluarkan dengan ilmu-ilmu orang asing seorang Arab tulen, atau bukan ini dan bukan itu tetapi mereka berjalan tanpa petunjuk sebagaimana jiwa membayangkan selama bangsa ini telah memberikan dan terus mengikuti apa yang mereka inginkan.

Jika yang pertama, maka itu adalah pendapat yang lemah dan aib yang tidak dapat menutupi semua kebaikan mereka, karena hal itu tidak terjadi pada suatu bangsa yang para penulis besarnya masih melakukan kesalahan buruk dalam bahasa mereka yang mereka gunakan, mereka tidak melihat itu sebagai cacat atau kekurangan; sehingga bahasa menjadi di tangan seperti pakaian yang rusak: setiap kali dijahit dari satu sisi, robek dari sisi lain.

Dan lihatlah bagaimana para penulis yang terus menulis di koran-koran menyebut diri mereka “al-muharrirun” (editor/penulis), dan jika engkau bertanya tentang kebanyakan penulis di bangsa ini dikatakan mereka adalah mereka tetapi mereka dengan itu tidak mengetahui bahwa itu adalah celaan bagi mereka, karena al-muharrir dalam istilah yang telah berlalu adalah penulis tulisan saja tidak lain “kaligrafer” karena dia menulis pokok-pokok dan menyempurnakan huruf-huruf dan memperhatikan keseimbangan proporsi antara apa yang dia pisahkan dari ruang kosong di kertas atau kagad di sebelah kanan tulisan dan kirinya, dan atasnya dan bawahnya, dan jauhnya jarak antar baris, dan luasnya bab dan sempitnya, dan rujukan semua itu kembali kepada makna kata “tahrir”.

Dan saya tidak akan mendalami rincian pendapat ketiga dan penjelasannya karena saya menjauhkan orang-orang universitas dari prasangka-prasangka ini, apakah mereka menunggu untuk menciptakan di Eropa orang yang mengajar sastra Arab atau meminta bantuan dengan apa yang diajarkannya kepadanya, maka itulah yang kami tuju dengan kata-kata ini dan sesungguhnya kami wajib menjelaskannya:

Saya tidak tahu apa yang dimaksud dengan perkataan mereka: “sastra bahasa Arab” kecuali itu adalah penguasaan sastrawan terhadap bahasa yang fasih dan kemampuannya menggunakannya dalam menyusun kalimat, pengetahuan tentang i’rab, bentuk-bentuk kata, dan tashrif, serta pandangan jauh dalam makna-makna balaghah dan metode-metode fasahah dan penguasaan terhadap keduanya dalam syair dan prosa, kemudian pengetahuan tentang tokoh-tokoh dan tingkatan mereka dan kelas-kelas ucapan mereka dan karya-karya mereka serta perbedaan zaman dengan mereka, dengan pandangan dalam kritik dan tempat-tempat kesalahan hingga bakat yang lapang dan kecerdasan yang sesuai, sehingga tidak menjadi bosan dengan hujah ketika menggunakannya, dan tidak lemah dalam dalil ketika berusaha mengeluarkan dan memberikan alasan, kemudian penguasaan terhadap semua itu secara sejarah dan filosofis dan memikirkannya menurut berbagai sisi dan sebab-sebabnya, dan itu semua adalah satu kesatuan yang tidak cukup sebagiannya menggantikan sebagian yang lain, dan menurut seberapa jauh sastrawan mencapainya maka demikianlah sastranya, maka dikatakan kepada orang yang menguasai bahasa sebagai ahli bahasa, dan pemilik nahwu sebagai nahwi, dan orang yang menggubah syair sebagai penyair, dan ringkasnya setiap pemilik ilmu dinisbatkan kepada ilmunya kecuali sastrawan, maka tidak ada ilmu baginya kecuali kumpulan ilmu-ilmu tersebut dan kebaikan partisipasi dalam semuanya.

Dan saya tidak membawamu jauh dalam mengambil contoh, atau menunjukmu untuk mengikuti itu dalam sifat-sifat orang, tetapi saya akan menyampaikan kepadamu berita ini tentang Ibnu Abdun, sastrawan penyair Andalusia, agar engkau memahami darinya asal-usul sastra pada orang yang mereka sebut sastrawan:

Mereka menyebutkan bahwa Abu Bakar bin Zuhr, menteri Andalusia, didatangi di rumahnya – saat dia masih muda – seorang syaikh yang menyalin untuknya kitab Al-Aghani, dan bersamanya lembaran-lembaran dari apa yang telah ditulis tetapi dia lupa membawa pokok-pokoknya dari kitab tersebut, maka sementara dia berbicara dengan syaikhnya tiba-tiba masuklah kepadanya seorang laki-laki berpenampilan lusuh, berpakaian kasar, di kepalanya sorban yang dililitkan tanpa rapi, lalu dia maju untuk meminta izin kepadanya untuk menemui ayahnya, menteri Abu Marwan, maka kenakalannya sebagai anak muda dan apa yang dia lihat dari kasar penampilannya mendorongnya untuk bersikap meremehkan dalam jawabannya dan tidak suka dari wajahnya, maka laki-laki itu diam darinya sebentar kemudian bertanya kepadanya tentang kitab yang di tangannya dan sampai mana penulis mencapainya dan kenapa dia tidak menulis, maka Abu Bakar mempermainkannya dan mulai mengejeknya dan mentertawakan bentuk dan rupanya, dan dengan itu tidak bersusah payah kecuali memberikan jawaban singkat tentang berita apa yang ditanyakan, maka ketika laki-laki itu mengetahui bahwa pokok kitab tidak ada pada penyalin untuk dibandingkan dengannya, dia berkata kepadanya: wahai anakku, ambil lembaran-lembaranmu dan bandingkan karena sesungguhnya aku telah menghafal kitab itu di masa mudaku, maka pemuda itu tersenyum tertawa dari perkataannya, maka laki-laki itu berkata setelah dia melihat itu darinya: wahai anakku peganglah dan dia mulai membaca.

Ibnu Zuhr berkata: demi Allah dia tidak salah wawu dan tidak fa’ hingga membaca sekitar dua lembar.

Kemudian mengambil untuknya di tengah-tengah kitab dan akhirnya, maka ternyata hafalannya dalam semua itu sama, maka dia bangkit tergesa-gesa hingga masuk kepada ayahnya dan menyebutkan kepadanya berita itu dan temannya; maka berlari Menteri Abu Marwan dari tempatnya, dan dia sedang berselimut selendang tidak ada padanya kemeja, dan keluar dengan kepala terbuka, kaki telanjang tidak menyenangkan dirinya, dan anaknya di hadapannya dan dia berkata: wahai tuanku maafkan aku! demi Allah tidak memberitahu kami orang kasar ini kecuali tadi! Dan terus mencela anaknya dan laki-laki itu merendahkan kepadanya dan berkata: dia tidak mengenalku, maka menteri berkata: seandainya dia tidak mengenalmu.

Maka apa alasannya dalam kebaikan adab?

Kemudian memasukkannya ke rumah dan memuliakan tempat duduknya dan menyendiri dengannya maka mereka berbicara lama hingga “menteri” keluar di hadapannya dengan penampilan seperti itu, maka ketika dia naik dan pergi pemuda itu berkata kepada ayahnya: siapa ini yang engkau agungkan dengan pengagungan ini? . . .

Dia berkata: diamlah celaka! Ini adalah sastrawan Andalusia dan imamnya dan pemimpinnya dalam “ilmu sastra” ini adalah Abu Muhammad Abdul Majid bin Abdun, hafalan-hafalannya yang paling mudah adalah kitab Al-Aghani – selesai.

Dan dari itu kita mengetahui bagaimana gelar besar ini – gelar sastrawan – menjadi rendah di zaman kita hingga tidak terhalangi darinya kecuali orang-orang awam dari yang bodoh, dan kecuali sekelompok orang yang tidak membayar harganya kepada koran-koran dalam berita ucapan selamat dan takziah.

Dan saya telah melihat di dalam kitab-kitab yang pemiliknya mengatakan bahwa mereka mengarangnya dalam “sastra bahasa Arab” dan saya tidak mengira ada kitab yang dicetak dalam hal itu oleh orang-orang modern dan saya tidak menemukan saya tidak mendapatkannya, dan saya tidak mengira seolah-olah saya menemukan dari itu sebuah kitab. . . maka mereka menetapkan dalam kitab-kitab mereka beberapa bab dalam sejarah bahasa dan syairnya dan prosanya, dan mengisyaratkan kepada sekelompok penulis dan penyair tanpa mengkritik dan tanpa membedakan, dan datang dengan sesuatu dari ucapan mereka yang mereka dapatkan – sebagaimana ahli nahwu berkata – di mana saja kebetulan, dan mungkin mereka berbicara dalam ilmu-ilmu yang dua belas dan menyebutkan untukmu nama-nama dari kitab-kitab yang dikarang di dalamnya, dan sesungguhnya engkau tidak mendapatkan manfaat dalam sebagian kitab-kitab mereka maka itu adalah hukum pengumpulan dan dari apa yang dijalankan untukmu pengarangan, dan tidak ada yang lebih buruk dari kitab yang engkau mengulas di dalamnya akal-akal dan menelusuri pendapat-pendapat kecuali akal penulisnya dan pendapatnya dan mereka walaupun menyebutkan bahwa pilihan seseorang adalah potongan dari akalnya kecuali bahwa itu pada sisi jenis yang dipilih dan kedudukannya dari yang serupa dan yang sepadan, bukan pada sisi bahwa bagi akal dalam itu ada pekerjaan yang mewajibkan konsekuensi dan mengambilnya dengan janji, ketika pilihan menurut apa yang mendorong keinginan, dan keinginan menurut seberapa banyak yang dipersiapkan oleh bakat dan diberikan oleh kekuatan, maka tidak baik menurut ahli fikih misalnya pilihan dokter dari ahli fikih, dan tidak menurut pilihan temannya dari apa yang menjadi jalannya, dan demikianlah.

Seandainya aku tahu di mana dari masa kami tingkatan-tingkatan perawi dan penghafal dan ahli kritik dan jarh dan ta’dil, karena sesungguhnya mereka dari kami seperti langit-langit dengan bumi, dan itu bukan karena terputusnya riwayat dan hilangnya bekasnya, karena sesungguhnya dalam mempelajari kitab-kitab dan menelusuri buku-buku ada sebagian kecukupan, tetapi itu dari rusaknya pengajaran dan buruknya penerimaan dengan apa yang tumbuh dari matinya orang-orang yang layak untuk memberikan manfaat, dan sungguh riwayat pada masa itu adalah pelajaran dari sebaik-baik pelajaran yang komprehensif, karena majelis riwayat mencakup kesusastraan dengan jenisnya pembahasan dan penjelasan dan penyampaian dan pemeriksaan, maka pelajar memahami dari itu dalam satu jam apa yang jika ditinggalkan dalam hal itu untuk dirinya dan sejauh mana semangatnya akan bersungguh-sungguh dalam mengumpulkannya beberapa tahun dan saya tidak tahu universitas berhasil dalam sastra ketika dia tidak menghidupkan masa itu dan tidak melipat hari-hari kepadanya, karena sesungguhnya bangsa tidak hidup jika bahasanya mati, dan tidak akan mati bahasa suatu bangsa yang hidup, dan selama bahasa Arab pada asalnya maka sastranya adalah apa yang dikeluarkan untuk kita oleh pendahulu, tidak berkurang darinya tetapi ditambahi dengan apa yang digambarkan oleh hari-hari dan diciptakan oleh pemahaman-pemahaman dan dimulai oleh bakat-bakat dan dipikirkan oleh akal-akal dan dimurnikan oleh pembuktian dan dibuat indah oleh mazhab-mazhab kritik, dan itu adalah sumber kebutuhan dalam sastra Arab kepada sastra-sastra asing, dan itu adalah kebutuhan jika disentuh kepadanya kelebihan penguasaan dan tambahan kebaikan maka sesungguhnya! tidak mencapai untuk menjadikan sastra kami tergantung pada selainnya, tidak berdiri kecuali dengannya dan tidak bergantung kecuali kepadanya, dan sesungguhnya urusan kami dalam hal itu adalah urusan sastrawan Barat dalam apa yang mereka ambil dari Yunani dan Arab dan selain mereka hingga mengarah bagi mereka jalan ini yang mereka berada padanya hari ini.

Maka jika orang-orang universitas menuju jalan yang kami isyaratkan kepadanya maka tidak ada alasan bagi mereka dalam apa yang mereka abaikan, dan jika tidak maka mereka telah memberikan alasan dari diri mereka, dan jauh sekali bermanfaat bagi orang yang tidak mengetahui sastra bahasa mereka bahwa disampaikan kepada mereka “ceramah-ceramah tentangnya dengan mempertimbangkan hubungannya dengan orang-orang Eropa dan khususnya dengan Italia”.

Maka inilah pendapat kami yang kami sampaikan kepada orang-orang mulia kami

“dan jika hari-hari memarahi mereka maka mungkin.. “.

۞۞۞۞۞

Artikel Koran Kedua: Sastra Arab Di Universitas

Sahabatku yang terhormat… Rafi’i:

Artikelmu “Tentang Sastra Arab dan Universitas” – yang dipublikasikan oleh koran – masih tertanam dalam benak.

Dan masa antara peringatanmu kepada mereka yang bertanggung jawab atas urusan itu dan respons mereka terhadap usulanmu di hari-hari ini tidak akan berlalu sia-sia, karena jasamu yang baik dan kepeloporanmu yang mulia.

Engkau mengatakan bahwa mereka terburu-buru dalam bekerja sehingga tidak menyempurnakan dan tidak mematangkan karena ketergesaan dalam kondisi tersebut, dan ketidaksuburan umat dalam melahirkan orang-orang yang cerdas. Maka hari ini mereka telah menyempurnakan dan mematangkan serta menetapkan hadiah mereka bagi siapa yang menulis buku komprehensif tentang kesusastraan bahasa Arab dan sejarahnya.

Dan aku tidak menduga kecuali bahwa engkau telah menyiapkan materi buku ini dan mulai mengeluarkannya dengan penuh keyakinan dalam tekadmu, dan sesungguhnya aku tahu bahwa waktu menuju batas waktu mereka singkat, dan pekerjaan dalam usulan mereka banyak, dan pena tidak akan menjadi burung yang terbang karena mereka, tetapi ini juga merupakan kesempatan untuk meraih kemenangan dalam persaingan, dan pembangkit semangat dari orang yang bersemangat tinggi, dan tempat pemisahan antara ketertinggalan dan keberanian maju, maka semoga engkau mewujudkan harapanku dalam sastramu, wassalam?

… Ibrahim

Tuanku yang mulia:

Engkau semoga Allah memuliakanmu adalah sekutu dalam mengetahui bahwa aku tidak memaksakan diri pada apa yang tidak aku kuasai, dan aku tidak menguasai apa yang tidak aku sempurnakan dalam pekerjaan yang waktunya sempit dan tidak tercapai di dalamnya sarana-sarananya, meskipun aku telah mengerahkan segala usaha untuknya dan menegakkan kobaran yang melelahkan serta menjadikan malam dan siang di atasnya sebagai napas-napas panas.

Dan mereka yang memutuskan untuk menyebarkan seruan kepada para sastrawan untuk menulis buku komprehensif tentang kesusastraan bahasa Arab dan sejarahnya, dan menjadikan untuk pekerjaan itu hingga batas akhirnya tujuh bulan, sesungguhnya mereka terdesak oleh kebutuhan akan sebuah buku dan kurang penulisnya maka mereka memintanya dengan seruan itu, mencarinya dalam cahaya hadiah… Dan seandainya urusan ini sesuai dengan kehendak mereka, boleh jadi ia berjalan sesuai keinginan mereka, tetapi kenyataannya sebaliknya, kecuali jika dalam sastra ada sesuatu yang tidak kita sangka dan tidak kita ketahui, dan di kalangan sastrawan ada yang tidak kita kenal dan tidak kita bayangkan, dan dalam urusan itu ada yang mereka kuasai padahal tidak ada di antara manusia yang menguasainya!

Sesungguhnya jika aku memejamkan mataku dan membayangkan buku-buku, pikiranku menyiapkan untukku dari buku-buku itu sebuah buku yang menyenangkan tentang sastra Arab yang memenuhi tujuan dan melampaui tujuan, tetapi aku mencari suatu kali bagian dari berita tentang periwayatan dan perawi di kalangan Arab dalam bab dari pintu ini, lalu aku mulai meneliti dan membolak-balik dan menelusuri hingga aku menggoreskan di atas pena hitam lima belas malam, dan penelitian ini bukanlah sesuatu yang aku tulis dalam risalah khusus atau aku khususkan untuknya artikel, lalu bagaimana pendapatmu tentang buku yang ini hanya sebagian dari bab-babnya dan cabang dari pokok-pokoknya?

Dan pada kita ada pembahasan-pembahasan lain seperti pembahasan penyandingan dan perbandingan, dan pembahasan kerajinan-kerajinan lafal beserta penyelidikan dan sejarahnya, dan inilah materi buruk yang belum dapat ditegakkan oleh sastra setelah merebak di dalamnya dan menjadi sumber musibah baginya, dan cukuplah dari pembahasan yang tidak dikuasai darinya sebuah buku dalam kesusastraan kecuali seperti air memelihara bekas perenang meskipun ia memukul di dalamnya dengan tangan dan kakinya!

Ini di samping apa yang menghalangi dari bab-bab banyak yang harus ditulis dengan apa yang memenuhi hak sejarah dan hak kritik dan hak sastra, dan itu adalah lemparan kerikil dan batu dan rintangan yang tidak dianggap enteng kecuali oleh orang yang menerobos para lelaki dan takdir, dan panas yang tidak dapat dilalui kecuali di atas seperti panasnya api, yaitu biografi-biografi dengan cara kritik dan penelitian.

Dan engkau ahli bahwa sejarah orang-orang besar jika tidak ada dalam penulisannya senyuman kebesaran dan keceriaan kehidupan dan pengaruh akhlak, maka ia hanyalah gambar-gambar mati dari mereka, dan sesungguhnya jika engkau menulis bahwa si fulan penyair besar lahir tahun sekian dan wafat tahun sekian… dan dari syairnya ucapannya, dan ucapannya, dan ucapannya, sementara orang-orang tidak mengaitkan perhitungan amal-amal mereka pada tahun kelahirannya dan bukan tahun wafatnya, maka engkau tidak lebih dari menyebarkan bagi mereka dari orang mati itu gambar yang mati juga!

Dan mungkin engkau ingat hai yang terhormat apa yang aku uraikan dalam artikel pertama tentang pola penulisan yang dijalani oleh orang-orang kontemporer dalam hal itu, dan bagaimana mereka datang dengan semuanya tanpa membedakan yang buruk dari yang baik, dan mereka dengan itu menampakkan kecerdasan di dalamnya dan memaksakan diri membanggakan dirinya, dan telah dikatakan tentang seorang lelaki yang terampas dan celaka nasibnya yang melakukan perlombaan seperti ini dengan keserakahan dan keinginan: Sesungguhnya tidak pernah dilihat seorang pun yang mencintai rezeki seperti cintanya dan tidak dibenci rezeki seperti kebenciannya, dan demikianlah aku melihat rekan-rekan kami dan lebih pantas bagi mereka!

Tidakkah dalam sastra kecuali beberapa bab sejarah dan pilihan puisi dan prosa, kemudian pena diusap dan buku dikirim dan di sampulnya nama penulisnya yang ia umumkan kepada orang-orang seperti batuknya orang yang sakit dada, dan engkau jika membuka-buka buku dan membandingkan sebagiannya dengan sebagian lainnya akan melihatnya dengan semua perhatian di dalamnya seperti pembengkakan hidung pada orang yang tidak mulia: mencapai apa yang dicapainya dengan kemarahan kemudian larut dengan sepatah kata untuk teguran dan celaan, atau tamparan untuk tuntutan dan pendidikan!

Dan sungguh aku melihat bahwa kaum itu sesungguhnya menginginkan dalam penulisan “buku komprehensif” itu jenis ini yang dinamakan oleh para humoris dari kalangan pers “penulisan dengan gunting”, dari setiap buku satu bab ke bab lain hingga semuanya berkumpul dalam sebuah buku.

Maka jika bukan sasaran mereka ke arah ini atau mendekati daripadanya, maka apa janji waktu ini yang mereka tetapkan sebagai batas waktu “untuk perlombaan” dan mengapa mereka terburu-buru di akhir sebesar apa yang mereka lambatkan di awal tanpa menimbang kebenaran ketergesaan dengan kesalahan kelambatan.

Dan kami sesungguhnya mengkritik mereka bahwa mereka – memulai – dengan mengajarkan sastra asing saja, maka entah mereka telah terjatuh dalam hawa nafsu, atau terombang-ambing pandangan dari mereka atau bagi mereka ada tujuan yang mereka tunggu sebab-sebab dan sarananya, maka seandainya mereka ketika salah dalam yang pertama, benar seukuran itu dalam yang kedua, niscaya urusan itu seimbang di antara keduanya dan akhirnya keluar sebagai penebus untuk awalnya.

Adapun ketika mereka menyebarkan seruan hingga waktu yang telah ditentukan maka apabila telah datang waktu mereka, mereka tidak dapat meminta penundaan barang sesaatpun dan tidak dapat meminta mendahulukan (Surat An-Nahl: 61), dan mereka yakin dari diri mereka sendiri dengan bisikan pertama yang mereka sangka benar, dan berharap pada hembusan angin atau debu yang mereka kira awan – maka jadilah bagi kita untuk mengira bahwa mereka tidak mengetahui tempat-tempat penolakan dalam pola yang buruk dan dangkal itu, sehingga jauh dari mereka untuk menyetujui titik-titik keinginan dalam yang menyenangkan yang sulit.

Pertimbangkan itu bahwa mereka pada umumnya akan mempercayakan pengajaran buku kepada selain penulisnya. Maka yang hadir di sisi mereka seperti yang tidak hadir dari mereka, dan tidak ada keutamaan untuk rumah mereka kecuali bahwa ia adalah sumber pengajaran, maka jika buku dicetak menjadilah setiap perpustakaan dalam hukum universitas, karena ilmu adalah buku bukan yang menyampaikannya, dan jika tidak maka mengapa mereka tidak mempercayakan penulisan kepada siapa yang akan mereka percayakan pengajaran; dan apakah mereka membatasi bahwa dari kecukupan profesor adalah kemampuan menyampaikan pelajarannya tanpa kemampuan menggali pelajaran dan mengumpulkan materinya, hingga ia tidak lebih dari murid besar di antara murid-muridnya…?

Kemudian siapa mereka yang akan mereka jadikan hakim dalam pemberian keunggulan dan penyandingan dan perbandingan antara buku-buku komprehensif yang sampai kepada mereka?

Tidak diragukan bahwa orang yang paling berhak menghukum adalah yang paling mengetahui tentang yang dihukum, dan jika tidak maka hukumnya dalam persengketaan adalah persengketaan lain yang membutuhkan hukum dari orang lain, dan bukan para hakim itu dalam timbangan dari mereka yang ditetapkan untuk mereka ketaatan dan penyerahan atas manusia seperti golongan para hakim dalam syariat dan sistem, maka tidak akan ada dalil atas kecukupan mereka untuk menghukum kecuali penyerahan para sastrawan kepada mereka dengan kecukupan ini, dan jika demikian maka mengapa pengelolaan universitas melepaskan tangannya dari kaum yang mereka adalah pemimpin kerajinan dan punggung jabatan-jabatan tingginya dan lidah-lidah hukum di dalamnya, kemudian mencari dari kelemahan individu-individu apa yang tidak mereka harapkan dalam kekuatan kelompok, padahal ia tahu bahwa beban yang dibagikan oleh tangan-tangan akan ringan di atas leher?

Ini – semoga Allah memperbaikimu – sebagian sebab kerusakan dalam usulan itu, maka jika di dalamnya ada sisi yang baik yang tidak tersingkap bagiku maka itu karena urusan ini bagiku adalah urusan malam yang membingungkan dan gelap, dan aku tidak menganggapmu sekarang kecuali telah engkau kikir – dengan tujuh bulan – dari umurku dan engkau tahu bahwa aku akan menjadi dari pembaca buku dan pengkritiknya insya Allah, karena sesungguhnya aku meskipun aku membawa pena namun aku tidak membiaskannya menjadi penyalin yang berpegang pada huruf kalam, dan berjalan dalam buku seperti jalan orang buta tidak mengambil manfaat dari cahaya dan tidak bercahaya dari kegelapan, maka adapun ketika mereka menginginkan pena sesuai apa yang mereka inginkan, maka salam sejahtera atas pena-pena.

۞۞۞۞۞

Doktor Thaha Husein dan Apa yang Dikemukakan

Profesor Doktor Thaha Husein telah berkenan menyampaikan ceramahnya tentang pengaruh paganisme, Yudaisme, dan Kristen terhadap puisi Arab, dan beliau sampai pada dua kesimpulan:

  1. Tidak ada pengaruh paganisme, Yudaisme, dan Kristen terhadap puisi Arab, khususnya puisi jahiliyyah (pra-Islam).
  2. Puisi-puisi yang ditemukan mengandung prinsip-prinsip paganisme atau Yudaisme atau Kristen sebenarnya adalah puisi-puisi palsu yang disisipkan atas nama orang-orang yang dinisbahkan kepada mereka, dan puisi-puisi itu tidak pernah ada di masa mereka.

Beliau mengembalikan kedua kesimpulan ini kepada hal-hal berikut:

  1. Para penguasa Muslim melarang beredarnya setiap puisi yang mengandung prinsip-prinsip agama-agama tersebut yang bertentangan dengan aturan dan prinsip Islam dan menghapus semuanya.
  2. Penganut agama-agama tersebut setelah terhentinya gerakan penaklukan dan tegaknya perdamaian serta tumbuhnya gerakan pemikiran di bidang sastra dan ilmu pengetahuan, didorong oleh fanatisme mereka terhadap penyair-penyair terdahulu dari agama mereka untuk mengada-ada atas nama mereka dengan apa yang tidak mereka ucapkan dan menisbahkan puisi-puisi kepada mereka yang bukan hasil karya sastra mereka dan bukan pula produk pikiran mereka.

Kami mohon izin kepada profesor yang terhormat dan mengajukan kepadanya dengan hak kebebasan penelitian agar beliau berkenan memberi kami jawaban atas apa yang bergejolak dalam dada kami dari apa yang telah beliau kemukakan dan memberitahu kami dengan ilmu beliau yang luas tentang masalah-masalah berikut:

  1. Beliau telah menyatakan bahwa tidak ada pengaruh paganisme, Yudaisme, dan Kristen terhadap puisi Arab karena orang-orang Arab setelah Islam menghapus semua puisi yang mengandung prinsip-prinsip agama-agama tersebut atau prinsip-prinsip yang berbeda dengan agama Islam dan bertentangan dengan asal-usulnya. Ini adalah tuduhan yang tidak luput dari kecerdasan beliau bahwa ia memiliki sisi bahaya yang tidak boleh dibiarkan begitu saja sebagai ketetapan ilmiah yang diakui, karena penelitian ilmiah bukanlah dasarnya perasaan dan berdirinya kecenderungan dan kepentingan khusus pada orang yang menyatakannya, melainkan dasarnya selalu adalah keyakinan yang ditenangkan oleh peneliti dalam penelitiannya dan diyakini oleh setiap orang yang ditunjukkan penelitian ini kepadanya.

Jika demikian halnya, hendaklah profesor berkenan kepada kami dan memberitahu kami:

Siapa dari raja-raja Muslim dan penguasa-penguasa mereka yang memerintahkan penguburan puisi pagan, Yahudi, dan Kristen serta menghapusnya?

Siapa dari pembantu-pembantu penguasa tersebut yang melakukan hal itu?

Bagaimana cara penghapusannya?

Apakah hal itu berhasil di seluruh negeri Islam?

Apakah puisi-puisi itu tidak menemukan tempat perlindungan di negeri-negeri lain?

Di sini kami menarik perhatian beliau bahwa puisi dahulu ditransmisikan melalui periwayatan dan dihafal di dalam dada para penghafal, dan bahwa para penghafal tersebut menurut ilmu yang kami capai adalah mayoritas dari orang-orang yang mengenal membaca dan menulis, dan jika seorang penguasa siapapun dia bisa menghapus apa yang ada di dalam perut buku-buku, bagaimana caranya baginya untuk menghilangkan apa yang dihafal di dada para penghafal dari penganut agama-agama tersebut dan membungkam lidah mereka dari menyampaikan kepada sesama penganut agama mereka dari anak-anak mereka, teman bergaul mereka, orang-orang yang berhubungan dengan mereka dan teman-teman mereka serta orang lain yang memiliki hubungan dengan mereka berupa persahabatan atau hubungan keilmuan? Apakah setelah ini kita bisa menerima bahwa tidak bocor kepada kita dari puisi penganut agama-agama tersebut sesuatu sama sekali?

Apakah setelah ini kita bisa menerima dengan tenang hati nurani bahwa apa yang dinisbahkan kepada penyair-penyair penganut agama-agama tersebut dari puisi yang mengandung prinsip-prinsip agama dan keyakinan mereka bukan dari puisi mereka dan bahwa semuanya palsu dan tidak mengandung warisan apa pun dari perkataan mereka?

Jika kita berlebihan dan mengatakan dengan kemungkinan keraguan terhadap apa yang sampai kepada kita dari puisi-puisi yang dinisbahkan kepada orang-orang tersebut, apakah tidak sebaiknya profesor menjelaskan kepada kami ciri-ciri puisi jahiliyyah, Umayyah, dan Abbasiyyah sehingga dapat dibedakan antara masing-masing dalam setiap jenis seni puisi?

Apakah beliau dapat menjelaskan kepada kami bahwa perbedaan-perbedaan ini adalah prinsip-prinsip tetap yang tidak pernah dilanggar oleh seorang pun dari orang-orang pada masa tersebut?

Apakah tidak ada di antara mereka – sebagaimana yang kita kenal pada para sastrawan kontemporer kita – kecenderungan kepada yang aneh dan tidak biasa dan sengaja membuat rumit dalam ungkapan atau cenderung kepada yang biasa-biasa saja?

Dan bahwa tidak ada di antara mereka yang fanatik terhadap yang lama dan yang memberontak terhadap mereka yang mencintai setiap yang baru?

Apakah sebaiknya profesor menjelaskan kepada kami bagaimana watak setiap penyair dari orang-orang yang dinisbahkan puisi ini kepada mereka seperti Al-A’sya, Zuhair, ‘Ubaid bin al-Abras dan lain-lain dari pemilik mu’allaqat (tujuh puisi terkenal) dan penyair-penyair jahiliyyah?

Apakah beliau dapat meramalkan untuk kami tentang apa yang ada dalam dirinya dan apa yang menguasai perasaannya sepanjang hidupnya, dalam kemarahannya dan kesabarannya, kezuhudannya dan kebanggaannya, kegembiraan dan kesusahannya, dan bagaimana jiwanya terbentuk dalam perjalanan dan penetapannya, kesehatannya dan sakitnya, keseriusannya dan main-mainnya, perbuatan siasianya dan hiburannya, kebahagiaannya dan kesedihannya, ibadahnya dan pekerjaannya, masa mudanya dan tuanya?

Dan menjelaskan kepada kami sisi kemustahilan bahwa keluar darinya apa yang dinisbahkan kepadanya dari puisi?

Saya kira – dan mohon profesor memaafkan saya dalam hal itu – bahwa mencapai sesuatu dari apa yang telah kami jelaskan bukanlah hal yang mudah jika bukan mustahil, dengan ungkapan lain bahwa mustahil memastikan dalam kondisi apa pun bahwa tidak keluar dari salah seorang dari mereka puisi apa pun yang sekarang dinisbahkan kepadanya.

Jika demikian halnya, maka mustahil menyatakan secara ilmiah dan dengan pasti serta yakin tentang tidak bocornya puisi penganut agama-agama tersebut kepada kita, dan bahwa yang ada di tangan kita adalah mengada-ada atas pemiliknya.

Ada bukti lain yang kami sampaikan kepada beliau, yaitu bahwa agama yang mendorong penyebaran ilmu dan Nabinya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berbangga dengan sabdanya: “Aku adalah kota ilmu”, mustahil secara akal untuk berusaha menghilangkan jejak-jejak penyair penganut agama-agama tersebut hanya karena prinsip-prinsip mereka berbeda dengan prinsip-prinsipnya, karena telah datang dalam Kitab yang Mulia “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku” (Surah Al-Kafirun ayat 6).

Sebagaimana jejak-jejak menunjukkan bahwa kaum Muslim memiliki pemahaman sempurna terhadap prinsip ini, karena sementara agama mereka mengharamkan khamr dan Rasul mereka melaknat yang meminumnya, membawanya, dan menuangkannya, ternyata dada mereka lapang terhadap apa yang para penyair sertakan tentangnya dalam puisi-puisi mereka, bahkan toleransi mereka bertambah sampai pemimpin kaum sufi dan banyak dari mereka datang dengan puisi-puisi khamriyah dalam syair-syair mereka, padahal mereka ini adalah orang-orang yang tidak dapat dicela dalam agamanya dan tidak dapat dicela dalam penerimaannya terhadap prinsip menghalalkan khamr!

Yang lebih mengena dari itu adalah qasidah-qasidah besar yang dimuat dalam kumpulan sastra besar dan tingkatan-tingkatan lengkap dari buku-bukunya yang dianggap seperti Al-Aghani, Al-Amali, Al-‘Iqd Al-Farid dan lain-lain, yang tegas dalam masalah-masalah sentuhan fisik dan rayuan cinta.

Dan apa yang datang tentang homoseksualitas wanita dan lain-lain dari masalah percampuran syahwat dan pengungkapan tentang cara-cara ini dengan kata-kata yang sangat jelas, khususnya dalam keluar dari adab agama dan prinsip-prinsipnya, namun dengan semua itu tidak terlarang mengambilnya dan tidak mungkin menghentikan arus bocornya dari yang mengucapkannya kepada kita meskipun panjangnya jarak yang memisahkan antara kita dan mereka.

Baik kita mengatakan bahwa puisi-puisi ini sampai kepada kita karena toleransi kaum Muslim atau karena mustahilnya proses penguburan dan penghapusan, kesimpulan logis dari itu adalah satu, yaitu bahwa tidak mungkin menerima dalam kondisi apa pun apa yang beliau ingin capai yaitu bahwa semua puisi yang dinisbahkan kepada penyair-penyair penganut agama non-Islam pada masa jahiliyyah khususnya adalah puisi yang dimasukkan kepada mereka, disisipkan karena fanatisme dan semangat membela penganut agama.

Ini dan sesungguhnya hanya perkataan tentang tidak adanya puisi untuk penganut agama non-Islam dari penyair-penyair jahiliyyah dan masa Khalifah Rasyidin dan dua negara Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah adalah perkataan yang bertentangan dengan kenyataan, dan cukup bagi kami apa yang diceritakan oleh profesor terhormat dalam ceramahnya bahwa ada kumpulan besar bernama: Penyair-penyair Kristen, dan bahwa ada kelompok lain yang dinisbahkan kepada penyair-penyair penganut agama dan keyakinan lain, karena asal dalam manusia jika mereka meriwayatkan adalah menjadikan kejujuran, dan tidak boleh menisbahkan kebohongan kepada mereka tanpa sebab yang jelas.

Setiap riwayat yang tidak bertentangan dengan akal dan tidak berlawanan dengan yang terkenal tentang akhlak orang yang dinisbahkan kepadanya dan yang dikenal dari kebiasaan dan wataknya serta lingkungan yang ia tumbuh di dalamnya dan lingkungannya yang ia dibesarkan dalam pelukannya, tidak mungkin dan tidak boleh menerima keraguan terhadapnya, sebagaimana tidak sesuai dengan kehormatan ilmu dan naik ke singgasana kepemimpinan akademis bahwa profesor dengan sukarela menyebarkan tuduhan sembarangan kepada kelompok-kelompok dan jamaah-jamaah tanpa hujjah yang tegak atas mereka yang menimbulkan keyakinan kepada setiap orang yang ditunjukkan kepadanya dari orang-orang yang kebal, dan lebih-lebih lagi bahwa amanah mengharuskan berhati-hati dalam memutuskan pemidanaan dalam tuduhan apa pun karena dari kelaziman yang paling lazim bagi prinsip-prinsip ilmu adalah kembalinya kepada dalil-dalil yang pasti, jika tidak maka hilang nilainya, karena apa yang bersandar pada dalil-dalil perkiraan atau bayangan hanyalah bersandar pada dasar yang tidak aman dan bukan tempat kepercayaan dan pertimbangan.

Jika ini adalah prinsip-prinsip awal yang diakui dalam setiap penelitian ilmiah yang wajib diikuti saat memutuskan tentang masalah apa pun dari masalah-masalah, maka menuduh orang-orang Arab dari kaum Muslim atau penguasa negara-negara mereka bahwa mereka menghapus puisi yang mengandung prinsip-prinsip untuk penganut paganisme, Yudaisme, dan Kristen yang berbeda dari prinsip-prinsip agama Islam – adalah perkataan yang tidak bersandar kepada sesuatu dari kebenaran yang pasti, dan begitu juga perkataan tentang pemalsuan semua yang ada dari puisi orang-orang tersebut yang dinisbahkan kepada masa jahiliyyah atau Umayyah atau Abbasiyyah adalah juga perkataan yang tidak tegak bukti atas kebenarannya, terlebih bertentangan dengan yang wajar yang memastikan kemustahilan mencegah bocornya puisi orang-orang tersebut.

Saya kira dan saya telah sampai kepada kebalikan dari apa yang beliau tuju, dan tidak dapat berkompromi baik kewajiban saya maupun hati nurani saya untuk mengikuti beliau dalam keputusannya yang keras yang beliau putuskan, saya telah menjelaskan kepada beliau sumber keraguan dalam semua yang beliau kemukakan.

۞۞۞۞۞

Abbas Fadli Hakim di Pengadilan-Pengadilan Ahli

Kami katakan, kami telah menerbitkan artikel ini dengan huruf-hurufnya karena ia menjadi sebab Doktor Thaha Husein menggugurkan dari bukunya apa yang telah beliau kemukakan di universitas dari apa yang ditunjuk oleh penulis artikel sampai-sampai anda dapat meletakkan tangan anda di tempat robek dari tambal-sulam tersebut…

“Taha” tidak menjawab artikel ini tetapi yang menjawab adalah huruf Ta dari Taha…

Maka ia menulis untuk salah seorang muridnya atau salah seorang muridnya yang menulis, dan ia dan muridnya sebagaimana dikatakan tentang keledai Al-Akhtal: Ia dan ekor keledainya sama!

۞۞۞۞۞

Sejarah Tidak Dibangun dengan Asumsi dan Kesewenang-wenangan

Saya tidak ingin berdebat dengan siapa pun, tidak ingin menyebutkan nama orang-orang tertentu, atau menyerang seorang peneliti sastrawan dengan tuduhan kebodohan. Namun saya ingin menyinggung melalui tulisan-tulisan yang dihasilkan oleh sebagian sastrawan pada masa ini—sebuah kecenderungan yang meskipun dalam dirinya terpuji, namun bila disalahgunakan bisa menjadi tercela dan berubah menjadi kesesatan.

Beberapa sastrawan terlalu gemar menuduh sejarah Islam yang kita miliki dan menempuh cara penjelasan yang tidak ditempuh oleh para pendahulu, dengan mencari wajah-wajah baru dan sebab-sebab peristiwa yang tidak pernah dikenal sebelumnya. Sehingga dikatakan bahwa mereka telah mengungkap fakta-fakta sejarah yang tidak diketahui orang lain, atau mengetahui rahasia-rahasia yang dibutakan oleh sejarah keagamaan atau disembunyikan oleh politik dan hawa nafsunya dari publik.

Mereka menyebut itu sebagai penelitian dan verifikasi, dan mereka mengira bahwa penelitian dan verifikasi hanyalah sekadar berbeda pendapat dan keluar dari apa yang diyakini opini umum.

Kenyataannya, jika tujuan mereka hanya sekadar berbeda pendapat dan mengubah gaya karena tidak sabar dengan makanan yang itu-itu saja, maka mereka telah mencapai tujuan.

Namun jika mereka mengklaim bahwa penjelasan-penjelasan aneh ini adalah asal mula dari peristiwa-peristiwa tersebut, izinkanlah kami untuk meminta maaf tidak memercayai mereka. Karena kami mengenal sejarah dengan bukti-bukti akal dan naql (penukilan), serta pengamatan terhadap apa yang terjadi sebelumnya dan sesudahnya, dan menyimpulkan hasil dari premis-premis yang ada. Kami tidak mengenalnya dengan terkaan, asumsi, dan bangunan tanpa dasar.

Jika inilah penelitian sejarah yang ingin ditiru sebagian orang modern dari bangsa Eropa, maka jauhilah penelitian semacam ini yang tidak lain adalah pembalikan fakta demi menghadirkan bid’ah. Para ilmuwan Eropa sendiri tidak menginginkan penelitian mereka seperti ini. Memang ada di antara mereka yang salah dalam melakukan penelitian, tetapi para pengkaji teliti di antara mereka telah mengingatkan bahwa mereka telah berbuat salah.

Ketika seseorang berdiri dan menyatakan bahwa sejarah Perang Yamamah diselimuti kegelapan, dan bahwa perang Abu Bakar melawan orang-orang murtad bukanlah untuk menegakkan agama tetapi untuk membangun kerajaan, dan hal-hal serupa yang tidak ada bukti sekecil apa pun—kami tahu bahwa dia mencoba menempuh jalan para peneliti namun mengira penelitian hanyalah keluar dari ijma’ (konsensus) meskipun ijma’ itu benar, maka dia tidak mencapai sasaran.

Ketika yang lain berdiri dan mengklaim bahwa para salaf di awal Islam menerapkan “sensor” terhadap puisi Jahiliah yang dijiwai prinsip-prinsip paganisme atau Kristen atau Yahudi—kami tahu bahwa klaim ini dibangun atas asumsi dan khayalan, tidak bersandar pada bukti, bahkan kenyataan menentangnya dari segala sisi.

Saya sangat terkesan dengan ungkapan orang yang menjawab kelompok ini, dia berkata kepada mereka: “Siapa di antara raja-raja dan penguasa Muslim yang memerintahkan untuk mengubur puisi pagan, Yahudi, dan Kristen serta menghapusnya? Siapa di antara pembantu penguasa ini yang melakukan hal itu? Bagaimana cara penghapusannya? Apakah berhasil di seluruh negeri Islam?… dan seterusnya.”

Kenyataannya mereka tidak memiliki jawaban atas pertanyaan ini, dan tidak ada cara bagi mereka untuk lolos darinya kecuali dengan mengajukan bukti-bukti lemah yang tidak menolak sedikitpun fakta tentang kebebasan periwayatan di zaman itu dan bahwa pintunya tetap terbuka lebar. Tidak menafikan bahwa zaman Sahabat tidak mengenal “sensor”, tidak ada pengawasan periwayatan, tidak ada pembungkaman mulut, dan tidak ada sesuatu pun dari tatanan “lembaga inkuisisi.”

Jika Anda merenungkan perkataan kelompok ini, Anda akan melihat mereka menunjukkan secara tersembunyi menurunnya tingkat peradaban yang dimiliki para Sahabat, dan bahwa syariat dan hukum mereka hanyalah syariat kaum yang masih dalam masa kanak-kanak peradaban, dan bahwa syariat itu “hanya sedikit menyentuh kehidupan,” dan sejenisnya. Kemudian mereka lupa bahwa pengawasan terhadap tulisan dan periwayatan tidak lain adalah dari tatanan masyarakat beradab yang telah berkembang pesat peradabannya dan kokoh kerajaannya. Dan bahwa “sensor” tidak datang bersama masyarakat nomaden dan tidak masuk akal keberadaannya di masa kesederhanaan seperti yang dialami Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Pengawasan terhadap buku dan pidato terjadi di Roma dan Konstantinopel pada masa kejayaan para kaisar, pada masa kekuasaan para paus, pada masa raja-raja penakluk seperti Louis XIV, Napoleon I kemudian yang ketiga memperbesar pengawasan itu. Hal ini terjadi pada masa Arab di zaman Abbasiyah dan raja-raja Ajam lainnya, atau raja-raja Arab yang mengambil cara-cara Ajam. Adapun mengatakan bahwa hal itu terjadi di masa Khulafaur Rasyidin dan di masa Sahabat adalah semata-mata kesewenang-wenangan dan keras kepala.

Benar bahwa orang-orang ini sangat bersemangat dengan agama baru yang dibawa kepada mereka oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi semangat mereka ini tidak mencabut dari hati mereka kecintaan akan kebebasan yang mereka tumbuh besar dengannya di masa Jahiliah, kebebasan yang tidak ada di Timur maupun di Barat suatu bangsa yang mencapai tingkat seperti bangsa Arab dalam hal ini. Siapa yang berkata: “Bangsa Arab adalah bangsa yang paling berakar dalam kebebasan” tidaklah berlebihan.

Karena itu Anda menemukan mereka meriwayatkan dengan lisan mereka dan menulis dengan pena mereka semua celaan orang-orang musyrik terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, tidak menyembunyikan sedikitpun darinya. Mereka menukilkan syubhat (keraguan) dan bantahan-bantahan yang dilontarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kelompoknya. Mereka menyebutkan banyak dari apa yang dijawab sebagian Arab kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan bagaimana dua orang yang bersengketa datang kepadanya lalu beliau memutuskan untuk salah satu dari mereka, maka yang kalah berkata: “Ini adalah hukum yang tidak dimaksudkan untuk wajah Allah.” Maka beliau ‘alaihish shalaatu wassalam bersabda:

“Musa disakiti sebelumku lebih dari ini.”

Dan lain-lain yang tersebar luas dalam kitab-kitab sirah Nabawiyah dan berita-berita awal Islam, yang diriwayatkan oleh para perawi Muslim, ditulis oleh para penulis Muslim, dan diajarkan oleh para ulama Muslim. Mereka tidak merasa keberatan dalam menukilkan hadits-hadits tersebut dan menyajikannya sebagaimana datangnya, karena mereka memiliki keyakinan yang jelas tentang agama yang mereka anut, hati mereka tenang dengan iman, dan sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diketahui oleh mereka dengan detail-detailnya. Mereka tidak membutuhkan “sensor” untuk menolak keraguan darinya dan takut bahwa peredaran riwayat-riwayat ini akan menggoyahkan akidah Islam yang sejak dibawa oleh pemiliknya shallallahu ‘alaihi wasallam hingga hari ini tidak pernah berada di tepi jurang yang runtuh.

Sesungguhnya Islam adalah kelahiran yang diberi kesehatan dan kekuatan struktur sejak kelahirannya.

Ya, di masa-masa itu dan sesudahnya mereka menolak sindiran-sindiran sebagian penyair terhadap Sahabat dan Anshar dan “Bani Najjar.” Di masa-masa itu Rasulullah ditegur dan dikatakan kepadanya:

“Apa salahnya jika engkau memaafkan, terkadang… dari seorang pemuda padahal dia sangat marah dan kesal.”

Di masa salaf, al-Akhtal menyerukan:

“Aku tidak berpuasa Ramadhan seumur hidupku… dan aku tidak memakan daging kurban. Aku tidak mengatakan selama aku hidup sehari pun… menjelang subuh: Hayya ‘alal falah (marilah menuju kemenangan).”

Dia mengatakan ini dan masuk menemui para khalifah, lalu mereka memberinya hadiah yang besar. Dia dan orang-orang Kristen dan Yahudi lainnya membanggakan agama mereka dan menyatakannya dalam puisi-puisi mereka yang diriwayatkan oleh kaum Muslim dan dicatat dalam catatan-catatan mereka.

Ketika Raja Nu’man bin Mundzir didatangi seorang Kristen pada hari yang menurutnya adalah hari sial, Nu’man memerintahkan untuk membunuhnya. Orang Kristen itu meminta waktu untuk pulang dan berpamitan kepada keluarganya. Nu’man mengizinkannya dengan syarat dia menyerahkan penjamin yang menggantikan posisinya untuk dibunuh jika dia tidak kembali. Maka dia kembali. Nu’man kagum dengan kesetiaannya, lalu bertanya kepadanya: “Apa yang membuatmu setia?”

Orang Kristen itu menjawab: “Agamaku yang membuatku!”

Nu’man bertanya: “Apa agamamu?” Dia menjawab: “Kristen.”

Nu’man masuk Kristen setelah ini. Riwayat ini adalah yang ditulis oleh kaum Muslim dan mereka tidak mengingkari hak Kristen. Mereka juga tidak mengingkari hak Yahudi. Bangsa Arab Muslim sepakat menukilkan kemuliaan as-Samaw’al yang adalah seorang Yahudi. As-Samaw’al tetap menjadi perumpamaan dalam keluhuran jiwa dan kemuliaan perangai hingga hari ini, sampai Syauqi—penyair zaman ini—berkata beberapa hari lalu:

“Seolah-olah as-Samaw’al ada padanya… maka semua sisinya adalah kemuliaan dan akhlak.”

Bagaimana mungkin kaum Muslim awal berusaha mencekik setiap suara selain suara mereka dan menghapus jejak-jejak Kristen, Yahudi, dan paganisme dari puisi Arab?

Kemudian, puisi para penyair Kristen di masa Jahiliah memenuhi diwan-diwan. Tidak ada satu pun dari mereka kecuali para ulama Islam bersemangat mengingatkan bahwa dia adalah seorang Kristen. Mereka menukilkan khutbah Quss bin Sa’idah yang adalah seorang uskup, dan menukilkan pujian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Adapun mengenai Diwan Penyair Kristen yang dicetak di Beirut adalah palsu dan bahwa para penyair yang diriwayatkan puisi-puisi mereka di dalamnya bukanlah orang Kristen tetapi pemilik diwan menjadikan mereka Kristen padahal mereka hanyalah orang Jahiliah—siapa yang mengatakan ini, dan siapa yang sampai pada perdebatan untuk mengingkari bahwa kebanyakan penyair tersebut adalah orang Kristen?

Yang paling bisa dikatakan adalah bahwa sebagian penyair tersebut tidak terbukti kekristenannya.

Ini tidak menafikan bahwa banyak penyair seperti al-‘Abadi, al-Akhtal, dan al-Qutami adalah orang Kristen yang disepakati kekristenannya, dan bahwa kaum Muslim menukilkan puisi-puisi mereka apa adanya, tidak menghapus sedikitpun darinya. Para penyair Muslim mendiskusikan mereka dan bercanda dengan mereka. Jarir berkata:

“Al-Ukhaithil berkata ketika melihat panji-panji mereka… wahai Mar Sarkis (Santo Sergius), kami tidak ingin berperang!”

Maka pernyataan bahwa Nabi shallallahu ta’ala ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya tidak membiarkan kecenderungan apa pun yang menyelisihi agama Islam, dan bahwa mereka melipat puisi orang Kristen, Yahudi, dan musyrikin adalah semata-mata kesewenang-wenangan yang tidak ada bukti sekecil apa pun, bahkan bukti telah tegak tentang kebebasan Islam dan toleransinya dalam agama.

Para perawi Muslim tidak hanya menukilkan puisi orang Kristen, Yahudi, dan musyrikin saja, tetapi juga sindiran-sindiran banyak yang diucapkan orang-orang ini terhadap Nabi dan para sahabatnya dan para ansharnya.

Wahai saudara-saudara kami, sesungguhnya di awal Islam mereka saling menukilkan seperti ucapan:

“Bani Hasyim bermain-main dengan agama sedangkan… tidak ada kabar yang datang dan tidak ada wahyu yang turun. Seandainya para pemuka kami menyaksikan di Badar… kegelisahan Khazraj dari serangan tombak.”

Kaum Muslim telah meriwayatkan hal ini dan terus meriwayatkannya, dan pada zaman Bani Umayyah masa jahiliah masih dekat, maka kebebasan dalam berucap masih utuh dan lidah-lidah masih leluasa, dan di antara yang dinisbahkan kepada Yazid saat kepala Husain radhiyallahu ‘anhu dibawa kepadanya:

Ketika kepala-kepala itu datang dan bersinar… matahari-matahari itu di atas bukit Jairun Gagak berkicau maka aku berkata benar atau tidak benar… sesungguhnya aku telah membalas hutangku dari Nabi

Kemudian dinisbahkan kepada Walid bahwa ia berkata dalam keadaan mabuk sambil merobek Al-Quran:

Jika engkau datang kepada Tuhanmu di hari kiamat… maka katakanlah wahai Tuhan, Walid telah merobekku

Ya, syair-syair ini dan yang semacamnya diriwayatkan dengan laknat bagi yang mengucapkannya, namun syair-syair itu tetap diriwayatkan dan dicatat dalam kitab-kitab sejarah dan tidak dilarang periwayatannya, tidak ada sensor pena, tidak ada kantor pemeriksaan, tidak ada buku yang diperbolehkan atau buku yang dilarang.

Adapun tentang tidak terhormatnya Nabi dan para sahabat terhadap syair dan perkataan mereka bahwa meriwayatkannya adalah kesesatan, ini adalah anggapan batil yang bertentangan dengan ijmak, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meriwayatkan syair dan menganggapnya baik dan bersabda:

“Sesungguhnya di antara syair ada hikmah”

Dan diriwayatkan oleh Umar dan Ali dan seluruh sahabat dan mereka saling melantunkannya dan terhibur karenanya, dan syair adalah hiburan majelis-majelis mereka.

Dan kisah Ka’ab bin Zuhair dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan pembacaannya di hadapan beliau “Banat Su’ad” dan getaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar qasidah ini dan pemberian beliau kepada Ka’ab berupa burdah (jubah) beliau yang mulia – semua itu tidak memerlukan penjelasan, tetapi syair seperti hal-hal lainnya jika disalahgunakan akan berubah menjadi bahaya, dan ketika terjadi dari Umar radhiyallahu ‘anhu – padahal ia adalah orang yang paling memahami kritik syair dan paling tergetar oleh syair yang bagus – pembatasan terhadap para penyair, maka itu terjadi di tempat-tempat di mana syair disalahgunakan dan menjadi pintu perselisihan dan fitnah, dan sebagaimana khalifah memiliki watak yang membuatnya tertarik pada sastra dan kagum dengan keajaiban pernyataan, maka ia memiliki kewajiban yaitu melindungi kehormatan dan menjaga perdamaian.

Adapun penghinaan para penyair terhadap para ulama dan apa yang dikatakan sebagian orang tentang berpaling darinya dan berlindung dari pencegahan membuat syair dan meriwayatkannya serta beradab dengannya, maka itu seperti Kristen-nya al-Akhtal dan al-Quthami dan yang semacam mereka tidak menghalangi para sastrawan Islam dari meriwayatkan syair-syair mereka dan menghafalnya serta beradab dengannya, dan bahwa paganisme sebagian besar penyair jahiliah tidak menghalangi pencari kefasihan dari kaum Muslim untuk terpengaruh gaya mereka dan meniru cara mereka, dan tidak ada seorang ulama dan sejarawan yang memverifikasi yang dapat mengatakan bahwa sastrawan Arab setelah Islam enggan terhadap syair jahiliah dan mengabaikan periwayatannya karena pengucapnya adalah musyrik; atau bahwa kaum Muslim melipat ucapan Quss bin Sa’idah karena ia seorang Nasrani; atau tidak kagum dengan qasidah “Jika seseorang tidak mengotori kehormatannya dengan kehinaan” karena pemiliknya adalah seorang Yahudi; siapa ya Tuhan yang mengatakan ini kecuali mereka yang membangun sejarah di atas hawa nafsu dan khayalan?

Sikap keras dalam hal-hal seperti ini terjadi pada masa Daulah Abbasiyah; karena jauhnya masa dari kesederhanaan periode pertama, dan kecenderungan negara ini ke arah non-Arab, dan menyebarnya filsafat Yunani, Persia dan India di Dar as-Salam, yang membuat para khalifah dan menteri mereka khawatir tentang akidah agama dan mendorong mereka untuk berhati-hati agar tidak bubar, dan ini lebih mirip dengan apa yang terjadi di Eropa di Abad Pertengahan, bahkan di abad-abad terakhir, bahkan dengan apa yang sisanya masih ada hingga saat ini, dan terlepas dari kehati-hatian ini pada masa Abbasiyah dan para penguasa Islam pada masa mereka, orang-orang tetap meriwayatkan hinaan dan aib mereka dan saling melantunkan celaan kasar terhadap kehormatan mereka bahkan di majelis orang yang paling dekat dengan mereka, dan al-Ma’mun pernah berkata kepada Qadhi Yahya bin Aktham: Siapakah yang mengatakan:

Seorang qadhi yang melihat hukuman dalam perzinaan… tidak melihat pada orang yang melakukan liwath ada bahaya

Ia mengisyaratkan bahwa bait ini diucapkan tentang dirinya, maka ia menjawabnya: Dialah yang mengatakan wahai Amirul Mukminin:

Aku tidak melihat kezaliman akan hilang dan atas umat… ada penguasa dari Bani Abbas

Dan telah tersebar ucapan-ucapan ta’thil (penyangkalan sifat Allah) dan ilhad (ateisme) pada masa-masa itu meskipun ada pengawasan dan pemantauan, dan didokumentasikan ucapan para mulhid dan dahriyyin (materialis).

Dan diriwayatkan syair-syair al-Ma’arri dan yang sejalan dengannya bahkan yang bertentangan dengan agama Islam seperti ucapannya:

Dan suatu kaum datang dari ujung negeri… untuk melempar jumrah dan mencium batu

Dan banyak selain ini dari ucapannya, dan Risalah al-Ghufran sampai kepada kita, dan seandainya tidak beredar dengan penyalinan selama sekitar seribu tahun tidak akan sampai kepada kita, dan seandainya ada “sensor” tidak akan membiarkan Risalah al-Ghufran.

Dan seorang Nasrani berdebat tentang agama dengan salah satu Bani Abbas, dan Nasrani itu mencela akidah Islam, dan hal itu sampai kepada al-Ma’mun maka ia berkata yang artinya, tidak seharusnya anak paman kita membiarkan agamanya terkena celaan!

Dan kitab yang ditulis oleh Abu Bakar al-Khawarizmi untuk Syiah Naisabur lebih terkenal dari “Qifa Nabki”.

Dan itu bukan kitab khusus atau surat tersembunyi, melainkan khutbah untuk penduduk suatu kota yang merupakan salah satu kota paling terkenal, dan di dalamnya ada cacian terhadap Muawiyah yang banyak, dan julukan-julukan untuk khalifah Bani Umayyah dan Bani Abbas serta membahas kehormatan mereka apa yang tidak ada dalam koran paling kasar, dan dialah yang berkata tentang ar-Rasyid: “Harun bin al-Khayzuran”, dan tentang al-Mutawakkil “al-Mutawakkil atas Syaithan bukan atas ar-Rahman” dan seterusnya, dan Abu Bakar al-Khawarizmi hidup pada zaman Bani Abbas, dan ketika ia berkata orang-orang mengikuti ucapannya dan mempelajarinya.

Dan saya tidak menyangkal – dengan itu – bahwa Daulah Islamiyah pada abad-abad berikutnya kadang-kadang membatasi filsafat yang dimaksudkan untuk ta’thil atau ilhad, dan mereka menyebutnya zindiq, adapun menghilangkan syair orang Nasrani atau Yahudi atau musyrik dan melarang meriwayatkannya maka ini adalah sesuatu yang tidak terjadi baik pada zaman sahabat maupun pada masa Bani Umayyah maupun masa Bani Abbas.

Dan orang-orang Nasrani telah mengarang pada zaman Bani Abbas buku-buku banyak dalam mengagungkan agama mereka dan sejarah-sejarah yang menguatkan mazhab mereka, dan tidak ada yang menghalangi mereka dan negara tidak melarang buku-buku mereka.

Dan jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar tidak berkumpul di Jazirah Arab dua agama, dan Umar mengusir orang-orang Nasrani dan Yahudi darinya, maka itu bukan untuk mengurangi sedikitpun kebebasan orang Nasrani dan Yahudi dalam agama mereka di seluruh negeri Islam, bahkan kebebasan orang Sabia dan Majusi, dan tidak ada sejarawan Barat atau Timur yang mengatakan bahwa Islam memaksa seseorang dalam agama atau melarang buku-buku agama lain.

Maka wahai saudara-saudara kami sesungguhnya sejarah tidak berdasarkan prasangka, dan sesungguhnya prasangka tidak menghasilkan kebenaran sedikitpun.

Dan ini adalah potongan dari yang banyak, dan setitik dari lautan; dan seandainya di tangan kami sekarang ada buku-buku maka kami akan merujuk kalian pada bukti-bukti yang tidak berakhir, maka jika kalian dengan ini bersikeras pada penentangan demi penentangan maka ini bukan yang menambah kepercayaan pada ilmu kalian, bahkan ini menguranginya, dan alih-alih menempatkan ilmu di atas fondasi keyakinan justru menempatkannya di atas fondasi yang lebih rapuh dari sarang laba-laba…

Syakib Arsalan Roma Maret tahun 1926 M

۞۞۞۞۞

Gaya Thaha Husein

Ustadz Thaha Husein tidak menyendiri dalam mengikuti yang baru dan pembaruan, dan bukan ia orang pertama yang mengklaim itu atau membela atau membantahnya, karena orang lain telah mendahuluinya tetapi ia adalah orang pertama yang berani terhadap sastra Arab dengan pemalsuan dan kepura-puraan, dan berkata tentangnya dengan pendapat bodoh, dan memutarnya pada ilusi yang jauh, dan mengambilnya dari sisi yang ia ambil sebagai ilmu untuk meninggalkannya sebagai kebodohan padahal ia mengira bahwa ia mengambilnya sebagai kebodohan dan meninggalkannya sebagai ilmu, kemudian ia adalah orang pertama yang menggunakan kerapuhan dalam gaya pengulangan seolah-olah ia mengunyah kata-kata, maka ia menurunkannya ke posisi paling rendah, dan menguji bahasa Arab darinya dengan yang dibenci yang tidak ada kesabaran padanya, dan penyakit yang tidak ada obat darinya, dan itu menjadi watak karena kebiasaan padanya, maka ia tidak datang dengan kalimat satu kecuali ia mengambil darinya pencabutan-pencabutan berbeda, dan berputar dengannya atau ia berputar dengannya dengan paksaan dan kelemahan dan pelanggaran syarat-syarat kefasihan dan hukum-hukum bahasa Arab.

Dan bencana besar adalah bahwa ia menganggap itu sebagai inovasi darinya dalam gaya dan kesempurnaan dalam susunan dan cara antara logika dan retorika!

Dan sesungguhnya dari ketidakmampuan untuk naik tidak tidak mampu untuk turun, namun kami tidak menemukan dan tidak mengenal selain Ustadz ini seseorang yang rela untuk dirinya sendiri memuji dengan cacat, dan menganggap diri baik dengan keburukan, dan mengangkat perselisihan dari apa yang tidak ada perselisihan padanya, maka ia mengklaim bahwa tidak layak bagi seorang sastrawan untuk menolaknya cara ini, dan bahwa ia tidak dapat menghitung yang menirunya padanya, hingga kami lemparkan dia di koran “as-Siyasah” dengan kata ini yang Anda lihat maka ia mulai berhati-hati pada dirinya sendiri dan menghindari pengulangan dengan usahanya, dan kami telah membuktikan kata itu karena akan ada isyarat kepadanya, kemudian karena itu adalah yang baik untuk diingat untuk sejarah agar yang setelah kami tahu bagaimana “baru” dari sebelum mereka… Dan Anda melihat kata itu dengan cara pertanyaan dan pengelolaan dalam wajah selain kritik atau penjelasan, karena Ustadz mengelola “halaman sastra” di koran “as-Siyasah” yang mulia dan mengurus semua yang diterbitkan di dalamnya, maka ia tidak mengizinkan kecuali apa yang ia ingin terbitkan atau jatuh dari dirinya pada posisi, dan tidak ada dengan pendapatnya dalam itu pendapat sama sekali, maka kami menipu dia dengan mengarahkan khitab ke arah yang tidak ia tolak meskipun tidak nyaman padanya, dan tidak mengingkari jika tidak membenarkan, dan tipu daya berlalu padanya maka ia jatuh padanya kemudian sadar setelahnya, sahabat mengingatkannya yang kami ceritakan kepadanya maka ia menyimpannya dalam dirinya.

Kepada Ustadz yang Terhormat Doktor Thaha Husein.

Kami tahu bahwa Anda menyeru ke pola baru dalam penulisan yang dengannya Anda memindahkan gaya-gaya penulisan atau mengubah aturan-aturan gaya ini atau menghapus cara-cara aturan ini, dan bahwa ini adalah yang mendorong sunnah evolusi karena ia adalah pemisah antara yang lama dan yang baru, kemudian ia adalah ia adalah selera sastra baru yang Anda klaim dan yang tertarik padanya watak pada zaman ini dan diperlukan oleh kebutuhan ilmu dan perluasan di dalamnya, dan sastra dan pendalaman di dalamnya, dan bahasa dan keinginan untuk menghidupkannya.

Dan Ustadz yang terhormat dan mereka yang berjuang dalam jalannya dan menulis dengan caranya atau menirunya telah mengungkapkan kepada kami tentang hakikat pola itu dan menampilkan contoh-contoh, dan membuktikan makna menemani watak dan meninggalkan kepura-puraan dalam bahasa fasih ini yang tidak ada yang lahir padanya dan tidak ada yang tumbuh padanya… Dan mereka menjelaskan bagaimana penulis menjadi hadhari (beradab) dalam pandangan mereka dan bagaimana bersikap toleran untuk selera ini dan lembut padanya, dan anggun dengannya, dan semua itu dengan apa yang mereka tulis dan menulis dari artikel-artikel lancar lembut manis ini… yang Anda cepat dalam membacanya ke watak lebih cepat dari penulisannya ke percetakan, namun saya semoga Allah menjagamu adalah orang yang telah Allah jadikan dalam yang Dia jadikan dari ujian dan bencana saya bahwa saya tekun pada induksi untuk bahasa ini dan pelacakan gaya-gaya ucapan di dalamnya, dari yang toleran atau berbelit, dan dari yang menolak atau taat, dan dari yang mudah atau sulit, dan dari yang aman oleh masa dan dikafiri oleh masa lain, karena filsafat itu adalah pintu dari pintu-pintu buku yang saya susun, tetapi dalam semua yang saya baca dari awal hubungan riwayat dengan Arab hingga hari ini saya tidak menemukan seperti gaya ini yang Anda tulis dengannya. seperti ucapan Anda di awal kisah guru-guru yang diterbitkan “as-Siyasah” hari ini “Ya kisah guru-guru, maka untuk guru-guru ada kisah dan untuk guru-guru ada kasus, dan kami suka agar tidak ada untuk guru-guru kisah dan tidak ada untuk guru-guru kasus, karena kami menjaga posisi guru-guru dari bahwa ada untuk mereka kisah atau kasus, tetapi Allah menghendaki dan tidak ada penolakan untuk apa yang Allah kehendaki bahwa guru-guru terlibat dalam kisah, dan bahwa guru-guru terlibat dalam kasus, bukan kasus mereka di hadapan pengadilan meskipun hampir pada suatu hari dari hari-hari sampai ke pengadilan.

Dan bukan kisah mereka menakutkan mengkhawatirkan (demikian demikian) meskipun hampir pada suatu hari dari hari-hari menjadi menakutkan mengkhawatirkan”.

Maka ini sepuluh baris kecil “guru-guru” berputar di dalamnya sejumlah hari-hari kemalangan…

Dan dikisahkan “kisah” enam kali, dan ada untuk “kasus” enam sidang, selain apa yang ada dari menakutkan dan mengkhawatirkan telah menakutkan dan mengkhawatirkan dua kali dan selain apa yang tersisa yang jelas dengan sendirinya.

Tidak diragukan lagi bahwa sang Profesor mungkin telah mengarahkan hal ini ke arah yang tidak kita ketahui dan bermaksud pada suatu sisi yang tidak kita pahami, maka hendaklah ia menunjukkannya kepada kita agar kami dapat menerapkannya dalam metode-metode retorika yang telah kami terapkan dan mencatatnya dalam cita rasa baru, atau mungkin ia berada pada prasangka kami terhadapnya dalam menganggap kata-kata ini sebagai mantra dan jampi-jampi untuk penundukan dengan kekuatan dan spiritualitasnya… Jadi jika para guru membaca artikel ini sepuluh kali, masalah akan terpecahkan dan rezeki akan datang kepada mereka saat mereka sedang tidur. Namun yang tersisa wahai Tuanku adalah bahwa Anda harus mengakhiri pembicaraan setelah gumaman dan bisikan ini dengan ucapan Anda:

Wahyu, wahyu, cepat, cepat, segera, segera… Wassalam.

۞۞۞۞۞

Bom Pertama

Ketika kami menghadiahkan buku kami “Rasail al-Ahzan fi Falsafah al-Jamal wal-Hubb” (Surat-surat Kesedihan dalam Filsafat Keindahan dan Cinta) kepada surat kabar “Al-Siyasah”, Doktor Thaha Husein menulis tentangnya di halaman “Al-Adab” – setelah sebuah pertemuan yang kami lakukan bersamanya di hadapan pemimpin redaksi di mana kami membuatnya marah dengan perkataan yang benar – maka tulisannya tidak lebih dari perdebatan picik dan kebodohan serta sikap permusuhan yang ia kenal, dan klaimnya bahwa ia tidak memahami buku itu. Klaim ini adalah jubah lama padanya, yang tidak membuatnya peduli untuk membual dengan hal itu pada dirinya sendiri dan merendahkan akal dan pendapatnya. Sungguh, pada tahun 1912 ia menulis dalam “Al-Jaridah” sebuah kritik terhadap buku kami “Hadits al-Qamar” (Pembicaraan Bulan) yang seluruhnya berkisar pada bahwa ia tidak memahami apapun dari buku tersebut. Ketika dalam pembicaraannya saat itu disebutkan bagian pertama dalam buku kami “Tarikh Adab al-Arab” (Sejarah Sastra Arab), ia berkata tentangnya:

“Buku ini yang kami persaksikan kepada Allah bahwa kami juga tidak memahaminya.” Kemudian ia sendiri datang pada tahun 1926 dan mengkhususkan bagian yang ia persaksikan kepada Allah bahwa ia tidak memahaminya itu dengan pujian terindah dan menyebutnya dengan sebutan terbaik dalam bukunya “Al-Syi’r al-Jahili” (Puisi Jahiliyah). Maka perhatikanlah dan takjublah!

Kami telah menanggapi kritiknya terhadap Rasail dalam “Al-Siyasah” dengan pasal ini, dan ini adalah yang pertama yang diterbitkan “Al-Siyasah” sebagai kritik terang-terangan terhadap Profesor yang mulia itu. Sebelum itu, surat kabar tersebut berada di tangannya seperti benteng yang kokoh, peluru keluar darinya tetapi tidak masuk ke dalamnya…

۞۞۞۞۞

Rasail al-Ahzan dalam Filsafat Keindahan dan Cinta

Kepada Profesor yang sangat cerdas Doktor Thaha Husein

Al-Mutanabbi memberi salam kepadamu dan berkata kepadamu:

Dan betapa banyak yang mencela perkataan yang benar… sedangkan cacatnya berasal dari pemahaman yang buruk!

Sungguh telah diriwayatkan bahwa Kaisan, penulis dikte Abu Ubaidah, biasa menulis selain yang ia dengar, dan membaca selain yang ia tulis, dan memahami selain yang ia baca; dan aku mengira berita itu dibuat-buat untuk bercanda dan lelucon; atau dialihkan dari arah aslinya ke sisi hiperbola. Tetapi aku melihat padamu bukti bahwa jika itu tidak benar maka tidak jauh, dan jika itu tidak terjadi maka tidak mustahil. Aku menulis kepadamu lalu kamu memahami selain yang kamu baca, dan aku berbicara kepadamu lalu kamu mengira selain yang kamu dengar, dan aku melihatmu jika mengkritik perkataanku, bumi berputar di sekelilingmu sehingga kamu terkena pingsan dan tidak tersisa dalam kata-kata maupun makna maupun metode maupun puisi maupun prosa kecuali gambaran yang berlalu dengan kecepatan rotasi bumi sehingga kamu tidak dapat membedakan apapun darinya dan tidak memahami apapun darinya!

Ada tiga hal wahai yang mulia; entah sifat dalam jiwa yang dibangun atas keras kepala dan perdebatan yang tidak peduli dengan itu untuk menghapus akal dan menggugurkan akhlak dan merendahkan kehormatan, dan mengatakan emas ini adalah batu dan batu ini adalah emas, dan melanjutkan dalam menjelaskan itu dan menegakkan dalil atas hal itu dan membelanya, kemudian keras kepala dan sofistri serta menetapkan yang dinafikan dan menafikan yang ditetapkan sebagaimana dilakukan semua ahli debat tanpa manfaat kecuali kemenangan ocehan atas ocehan, atau sifat dalam buku yang tidak sehat dan dingin yang menarik kepadanya akar-akar yang lemah dalam imajinasi dan pikiran, sehingga tidak naik dengan tinggi tetapi rendah dan mengacau; atau akal yang tidak seperti akal-akal lainnya.

Dan kami memohon keselamatan kepada Allah.

Maka tidak ada satupun dari ini yang dapat kamu hindari!

Aku telah membaca wahai Tuanku apa yang kamu tulis tentang “Rasail al-Ahzan” dari apa yang aku berani menyebutnya sebagai kritik, dan aku memahami tujuan yang kamu arahkan pembicaraanmu kepadanya. Tidak tersembunyi bagiku bahwa dalam kebenaran ada yang disebut paksaan, dan dalam kritik ada yang disebut serangan, dan dalam logika ada yang dikenal dengan sofisme, dan dalam setiap keahlian ada yang merupakan klaim dan kepalsuan serta penggabungan; jika tidak mengapa sebagian orang berbeda dengan yang lain, dan bagaimana kamu melihat orang yang akalnya tidak buruk memiliki hutang yang diperkuat dengan sumpah dan bukti-bukti sehingga tidak ada cara untuk menyangkalnya kemudian ia menyangkalnya dan bersumpah atas itu dan keras kepala di dalamnya seolah-olah yang ia sumpahi ketika mengambil darimu bukan yang ia sumpahi ketika menyangkalimu, kemudian ia mengajakmu bersamanya dalam semua metode kebatilan dan membawamu dalam semua kasus sofisme, dan sesungguhnya dalam darah dan dagingnya jika dibelah darinya, Allah akan membuatnya berbicara bahwa ia pembohong! Demi umurku, sungguh kamu tidak akan menulis selain yang kamu tulis andai kamu tidak mendengar dariku apa yang kamu dengar dalam kesalahanku terhadapmu dan penolakan terhadapmu ketika perdebatan terjadi antara kamu dan Profesor Haikal; dan aku melihatmu saat itu hampir ditelan oleh pakaianmu sendiri, dan perkataanku darimu seperti air yang menyirami pohon hanzhal yang pahit sehingga tidak menambah kecuali kepahitan.

Seandainya kamu berakal wahai Syekh, kamu akan tahu bahwa aku membuatmu marah dengan sengaja dan berlebihan terhadapmu hingga aku mencabut jiwamu dari pertemuan itu dengan paksa, dan aku tidak bermaksud dengan itu kecuali untuk mengetahui tingkat keadilanmu, dan menguji kebebasan yang kamu klaim dalam semua yang kamu tulis, karena tidak bermanfaat bagiku bahwa kamu memuji, dan tidak merugikanku bahwa kamu berusaha mencaciku, dan aku tidak peduli dengan hal itu, dan aku tidak mengira kamu menganggapku bengkok di tanganmu atau lunak terhadap sindiranmu. Maka sampai pada tingkat keadilanmu ketika marah bahwa kamu iri padaku atas satu kata dari bahasa sehingga tidak menyebutku dengannya, maka kamu berkata dalam apa yang kamu komentari pada buku Profesor Haikal “Aku menyangkal penggunaannya pada kata mahub dengan waw bukan ya, dan “beberapa sastrawan” memberitahuku bahwa penggunaan ini benar, maka aku kembali ke kamus-kamus.” Siapa yang memberitahumu dan mengembalikanmu ke kamus-kamus? Dan mengapa kamu tidak menyebut namanya dan kamu dendam kepadanya bahkan dalam kebenaran yang kamu akui, dan kamu telah menyerangnya dengan cacian dalam tiga sungai dari halaman di mana kamu mengatakan perkataan ini, apakah sulit bagimu untuk menyebut bagiku satu kebaikan dalam satu kata yang tidak kamu ketahui, kemudian kamu menyebut dirimu setelah itu sebagai kritikus yang bebas dan adil dan kamu ingin orang-orang menerima darimu dan mendengarkanmu dan tidak mengenal emas sebagai emas yang benar hingga mereka melihat “stempelanmu” padanya, dan tidak mengenal permata sebagai permata mulia hingga mereka mendengar kesaksianmu di dalamnya…?

Kemudian kamu menurunkan dirimu pada posisi di bawah ini dan demi Allah aku menganggapmu lebih tinggi darinya, maka kamu berkata:

“Aku menggambarkan Al-Aqqad dalam pasal yang lalu dengan sangat kabur kadang-kadang, dan Profesor Al-Rafi’i telah melewati pasal ini dan memberitahuku bahwa ia tidak puas dengan apapun yang aku tulis sebagaimana ia puas dengan pasal ini.” Tetapi bagaimana aku memberitahumu kabar ini, bahkan kapan kamu memahami kehalusan perkataan dan tujuannya dan menjadi bijaksana dalam kebijakan makna dan metode pemikiran? Sungguh aku menulis kepadamu bahwa tidak ada yang mengagumkanku dari apa yang aku baca darimu sebagaimana yang mengagumkanku apa yang kamu tulis minggu ini dan yang sebelumnya, yaitu kritikmu terhadap yang kamu kritik: si Fulan dan si Fulan dan si Fulan dan Al-Aqqad semuanya, bukan Al-Aqqad saja sebagaimana kamu klaim, dan ini adalah zahir lafaz, tetapi apa batinnya wahai yang sangat cerdas, karena dikatakan bahwa perkataan memiliki punggung dan perut serta batas dan titik terbit.

Seandainya kamu mengetahui ini atau memahaminya, tidakkah kamu bertanya pada dirimu sendiri mengapa tidak mengagumkanku semua pasal yang kamu tulis dalam sastra dan sejarahnya dan kamu berantakan sejak dua tahun dan menulis setiap minggu sekali, jika kamu bertanya kepadanya apakah kamu akan mengambil dari itu kecuali bahwa pasal-pasal ini dalam pandanganku adalah campuran yang dicampur, kamu menunggangi di dalamnya kesewenang-wenangan kemudian memaksa jalan kemudian meletakkan sejarah sebagaimana kamu ciptakan bukan sebagaimana Allah ciptakan, dan kamu menyerang orang-orang mati yang tidak memiliki kekuatan untuk menolak maupun menjawab maupun berdialog maupun menjawab, jika kamu mengambil ini maka apakah tidak menghasilkan bagimu kecuali bahwa kekagumanku pada dua pasal khususnya ini hanyalah karena kamu berhadapan dengan orang-orang hidup yang mampu membela diri mereka sendiri dan mengembalikanmu ke jalan yang ditempuh dan jalan yang lurus jika mereka memiliki sesuatu dari apa yang disebut penulis sebagai penulis dan sastrawan sebagai sastrawan, dan tidak menjadi dengan kepengecutan yang ketakutan dan memalukan ini yang membedakan Abu Hayyah dengan pedang kayunya… Dan menjadikannya pahlawan pertempuran, dan kamu mengetahui kisah setelahnya.

Kemudian aku melihatmu turun pada posisi di bawah dua posisi itu yang menunjukkan jauhnya kamu dari keadilan dan perginya kamu dari hakikat kritik, maka kamu mengklaim bahwa “setiap kalimat dari kalimat-kalimat buku membangkitkan dalam jiwamu perasaan kuat bahwa penulis melahirkannya dengan kelahiran dan ia merasakan dalam kelahiran ini apa yang dirasakan ibu dari rasa sakit melahirkan” begitu begitu. Sungguh kamu menjadi cemerlang dalam imajinasi setelah membaca “Rasail al-Ahzan” dan kamu akan menjadi lebih cemerlang dari ini setelah membaca “Al-Sahab al-Ahmar” (Awan Merah) yang aku hadiahkan kepadamu. Meskipun demikian, jika aku ingin mengambil pembahasanku denganmu ini, aku akan membuatmu bergeliat dari perkataan yang menyakitkan seperti ujung jarum, dan aku akan menemuimu dengan apa yang tidak kamu ketahui ke mana kamu pergi dan bagaimana kamu bersembunyi, seperti angin topan yang mengambil empat arah dari cakrawala-cakrawala atasmu. Apakah kamu mampu melawanku dalam pintu metafora dan majaz dan perumpamaan; tetapi aku tinggalkan ini sekarang, maka ceritakan padaku dari mana kamu tahu bahwa aku menulis dengan cara ini?

Mungkin kamu mengambil makna buruk ini dari perkataanku kepadamu “Apakah kamu mengira aku menulis tulisan ini saat aku sedang tidur? Ketahuilah bahwa aku melelahkan diriku untuk memperbarui karya-karya seni dalam keterangan Arab.”

Ini adalah kata-kataku dengan huruf yang sama, karena aku hampir tidak lupa apa yang aku katakan dan apa yang dikatakan kepadaku.

Sungguh aku menulis Rasail al-Ahzan dalam dua puluh enam hari, maka tulislah kamu yang sepertinya dalam dua puluh enam bulan, dan kamu luang untuk pekerjaan ini dan aku sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan banyak yang tidak meninggalkan bagiku dari semangat maupun dari waktu kecuali sedikit. Dan ini aku menantangmu untuk membawa yang sepertinya atau pasal dari yang sepertinya, dan jika perkara ini menurutmu dalam gaya yang berat ini bagimu hanyalah kelahiran dan rasa sakit dari rasa sakit melahirkan sebagaimana kamu katakan, maka atas biaya bidan dan dokter kandungan kapan kamu melahirkan dengan selamat Allah… Dan sesungguhnya aku menantangmu dan aku memberitahu orang-orang dengan apa yang kamu mampu dan apa yang tidak kamu mampu. Maha Suci yang menciptakan elang dengan penciptaan dan ayam kalkun dengan penciptaan lainnya…

Dan posisi keempat yang lebih rendah dan lebih hina dari semua tiga ini, maka kamu berkata “Aku tahu bahwa Profesor Al-Rafi’i telah memaksakan kesulitan yang hampir tidak ada kesulitan yang setara dengannya dalam menyusun buku ini… dan ia memaksakan kesulitan dalam pencetakan dan penerbitannya, dan mengeluarkan uang dalam pencetakan dan penerbitan ini, maka mungkin menjadi pemborosan dalam kekejaman bahwa kita menyampaikan karya seperti ini di dalamnya kesulitan dan penderitaan dan uang lalu kita mengumumkan bahwa itu tidak baik… dst dst.”

Apa urusanmu dengan uang dan pencetakan dan penerbitan? Tetapi ketahuilah bahwa buku ini tidak lewat sejak terbitnya empat puluh hari terhitung hingga mengembalikan semua yang dikeluarkan untuknya sen demi sen, dan tanyakan kepada semua pencetak buku-buku Arab dan semua penulis apakah terjadi pada mereka satu kejadian seperti ini?.. Janganlah kembali pada gaya ini, gaya kasihan sayang madu pada madu, dan simpan perkataan seperti ini untuk buku-bukumu dan yang seperti buku-bukumu.

Sesungguhnya aku demi Allah – atas kekaguman yang ada padamu – menjadi yakin bahwa Allah Taala tidak menganugerahimu hingga hari ini pena penulis, dan tidak menitipkanmu tipu daya politisi, dan tidak mengkhususkanmu dengan pemahaman orang bijak. Dan bagaimana kamu memiliki dari itu sedangkan kamu menggambarkan pemimpin redaksi “Al-Siyasah” dengan keanggunan dan kelembutan… bahwa ia meremehkan pembaca dan meremehkan orang-orang dan menjadikan ini perkataan dan mazhab dan filsafat. Maka dalam hal apa pekerjaan orang itu dalam surat kabar besar dalam umat yang paling membutuhkan dari siapa yang mempersatukan mereka dan mengambil alih bimbingan dan hidayah mereka dengan akhlak seperti akhlak para nabi Allahumma Shalli Wa Sallim ‘Ala Sayyidina Muhammad Wa ‘Ala Alihi Wa Ashabihi Ajma’in, yang meluas ketika dada-dada menyempit, dan membungkuk ketika hati-hati lari, dan tidak melihat dalam orang-orang sifat yang diremehkan, tetapi kesalahan yang diperbaiki?

Mudah-mudahan kamu menganggap ini dariku sebagai kebijaksanaan dan penjagaan hubungan dengan pemimpin redaksi, maka tanyakan kepada sastrawan zaman ini Pangeran Syakib Arslan apa yang aku tulis untuknya sejak setahun yang lalu dalam jawaban terhadap beberapa tulisannya, dan apakah aku memuji untuknya selain Doktor Haikal, dan apakah aku menggambarkan selain dia dengan kecerdasan dan kedalaman pemikiran dan kebaikan deskripsi dan kefasihan ungkapan, pada saat tidak ada hubungan antara aku dan dirinya, dan ia tidak melihatku dan aku tidak melihatnya kecuali satu kali di mana ia datang ke Tanta bersama Profesor yang mulia Lutfi Al-Sayyid; tetapi keadilan wahai Tuanku jika tidak ada di atasnya kecuali kebenaran maka itu karena ia adalah dasar kebenaran. Dan sungguh aku telah memberitahumu bahwa kebebasan yang kalian klaim ini dalam penulisan dan kritik jika tidak dibatasi dengan keadilan dan janjinya maka ia adalah kebodohan dan klaim, dan kamu meminta dariku kaidah-kaidah ini dan mungkin aku akan menulisnya untukmu suatu hari insya Allah.

Mari sekarang kita lihat kritikmu terhadap “Rasa’il al-Ahzan” (Surat-surat Kesedihan), dan alasan mengapa kamu tidak memahaminya.

Adapun kritiknya, tidak ada di sana kecuali bahwa kamu tidak memahami sebagaimana yang kamu akui tentang dirimu sendiri. Dan apa urusanku dengan itu? Sungguh aku telah berkata kepadamu bahwa apa yang tidak kamu pahami, orang lain memahaminya. Dan sesungguhnya Allah menciptakan kepala-kepala selain kepalamu dan akal-akal selain akalmu. Dan tidak ada seorang pun yang mengakui bahwa kamu adalah ukuran akal manusia di muka bumi. Namun kamu memutarbalikkan semua ini dan mengklaim bahwa aku berkata kepadamu “Jangan menjadikan dirimu sebagai ukuran bagi manusia,” kemudian kamu menanggapi perkataan ini dengan mengatakan: “Sungguh aku menjadikan diriku sebagai ukuran untuk diriku sendiri.” Maka jelaskanlah kepadaku, semoga Allah memperbaikimu, bagaimana dirimu bisa menjadi ukuran untuk dirimu sendiri?

Bukankah ukuran adalah alat untuk mengukur sesuatu yang lain? Maka bagaimana mungkin bagimu dirimu yang kamu ukur berbeda dengan dirimu yang menjadi standar pengukuran? Ataukah kamu akan berlindung pada kaidah-kaidah balaghah (retorika) dan menjadikan ungkapan itu berdasarkan tajrid (abstraksi)?

Kalau begitu mengapa kamu tidak memahami perkataan yang fasih berdasarkan kaidah-kaidah ini sendiri? Dan apa-apaan kepura-puraan pintar ini dan apa-apaan kepandaian semu ini? “Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya lebih banyak mendapat petunjuk ataukah orang yang berjalan tegak di atas jalan yang lurus?” (Surat Al-Mulk ayat 22).

Adapun bahwa kamu tidak memahami, maka aku tidak akan menjawabmu dengan menyebut si fulan dan si fulan dari orang-orang yang memahami buku itu dan mengaguminya serta memujinya. Dan kamu mengenal mereka dan tunduk kepada mereka dan berlebihan dalam menghormati mereka. Dan aku tidak menjawabmu bahwa para pelajar memahaminya, dan tidak pula bahwa para wanita memahaminya. Dan lihatlah apa yang ditulis oleh majalah “As-Sayyidat” di Mesir dan apa yang ditulis oleh majalah “Minerva” di Suriah, karena kamu tidak akan bisa menghasilkan satu baris pun seperti tulisan ini.

Aku tidak menjawabmu dengan ini atau yang sejenisnya, tetapi aku berkata kepadamu bahwa Al-Askari meriwayatkan dari Al-Anshari, ia berkata: Aku berkata kepada salah seorang penulis—penulis pajak tanah dan orang-orang seperti mereka dari pegawai kantor: Apa yang dilakukan ayahmu dengan keledainya? Dia berkata: Dia menjualnya!

Aku berkata: Mengapa kamu mengatakan “dia menjualnya”?

Dia berkata: Dan kamu, mengapa kamu mengatakan “dengan keledainya”?

Maka aku berkata: Aku menjadikannya majrur (diberi kasrah) dengan huruf ba.

Dia berkata: Siapa yang menjadikan ba-mu itu mengasrahkan sementara ba-ku tidak mengasrahkan?

(Maksudnya huruf ba yang ada dalam kata kerja “ba’a”/menjual)…

Bukankah ini adalah pemahaman, wahai doktor? Dan sesungguhnya orang itu telah berijtihad dalam qiyas (analogi) dan berakhir pada kesimpulan ini. Maka apa kiranya yang akan kamu katakan, dan kepada siapa kamu akan mengadukan orang yang “memahami” seperti ini? Kepada penguasa? Kepada para ahli bahasa? Kepada para dokter?… Tetapi apakah pemahamannya bahwa ba dalam kata “ba’ahu” adalah huruf jar (preposisi) merusak kaidah-kaidah nahwu dan memaksakan bahasa untuk menerima keputusannya dan berjalan sesuai dengan pola pemahamannya? Dan kamu, tidakkah kamu melihat bersamaku dan bersama manusia bahwa buruknya pemahaman, kesalahan pemahaman, dan ketiadaan pemahaman, semua itu pada hakikatnya kembali pada satu makna yaitu cacatnya pemahaman?

Sungguh kamu mengumpulkan buku-buku dan menghafal sejarah dan mempelajari sastra, maka apakah itu bermanfaat bagimu dalam menulis syair sehingga diwan Thaha Husein mengungguli diwan Al-Mutanabbi…?

Dan kamu mempelajari balaghah dan mengetahui kaidah-kaidahnya dan contoh-contohnya, maka apakah itu membantumu dalam menulis karya yang fasih yang dikenal manusia tentangmu dan mereka saling menyebarkannya dan mereka melihatnya berada pada posisi tertentu dalam bayan (retorika) dan pada kedudukan tertentu dalam keindahan? Dan pernahkah kamu dalam tulisanmu menghasilkan sesuatu berupa deskripsi, atau orang-orang mengakui bagimu sebuah khayalan yang kamu ciptakan atau majaz (metafora) yang kamu temukan? Dan pernahkah kamu menulis sesuatu tentang cinta dan keindahan serta filsafatnya dan deskripsi-deskripsinya? Maka semua ini adalah sebagian dari sebab mengapa kamu tidak memahami “Rasa’il al-Ahzan,” jika benar perkataanmu bahwa kamu tidak memahami!

Dan sebab lain: Mengapa kamu terus-menerus mengulang perkataan tanpa ada kebutuhan untuk pengulangan, padahal teman-temanmu menganggap ini sebagai cacat yang paling buruk, dan mereka mengatakan bahwa madzhab (aliran) baru… berdiri di atas gaya telegrafis. Maka jika kamu menulis, anggaplah bahwa kamu akan mengirim artikel itu melalui telegraf dan membayar biaya pengirimannya. Sungguh kamu akan bangkrut sejak lama, wahai doktor, seandainya mereka merealisasikan kaidah ini denganmu dan mengirim artikel-artikelmu melalui telegraf… Tetapi mengapa kamu mengikuti cara ini sehingga menjadi seperti trik percetakan bahwa kamu menulis enam baris padahal sebenarnya tiga baris setelah menghapus yang berulang dan kata-kata yang mubazir?

Aku sedang membaca artikel pembuka di “As-Siyasah” bersamaku seorang sastrawan, lalu aku memberikannya kepadanya dan berkata: Menurutmu artikel ini milik siapa? Maka dia melihat dan tidak menemukan tanda tangan, lalu aku berkata kepadanya: Tidak perlu tanda tangan berada di akhir artikel, bahkan mungkin berada di tengahnya!

Dia berkata: Di mana tanda tangannya?

Aku berkata: Dengarkan: Inilah tanda tangannya.

“Mereka melakukan ini, ya mereka melakukannya, mereka melakukannya; aku bersumpah sungguh mereka melakukannya, mereka melakukannya…”

Apakah orang yang menulis omong kosong seperti ini dan sejenisnya dapat mencapai dengan itu pemahaman terhadap kehalusan majaz-majaz, isti’arah (metafora), kinayah (sindiran), dan isyarah (petunjuk) dan semacamnya yang menjadi pondasi bahasa ini dalam bayan dan badi’-nya? Dan seandainya semua itu dihapus darinya, bahasa ini akan kehilangan semua keindahannya dan tidak mungkin ada di dalamnya kalam yang mukjizat atau yang diterima sama sekali.

Dan apa sebabnya dan apa alasannya bahwa tidak pernah berlaku bagimu khayalan yang menakjubkan, dan kamu tidak pernah menciptakan sesuatu yang diciptakan para penulis di semua bangsa, kecuali satu kali saja kamu ingin mendeskripsikan wanita cantik dalam roman “Al-Ighwa'” (Godaan) beberapa minggu lalu, maka kamu berkata: Bentuknya, gerakannya, kata-katanya, pakaiannya, cara berbicaranya dan bertuturnya: “Dia adalah fitnah yang bergerak.”

Fitnah yang bergerak! Aku tidak mengenal dalam semua perkataanmu yang lebih baik atau lebih kreatif dari kalimat ini, dan kamu tahu dari mana kamu mengambilnya meskipun kamu tidak pandai dalam mencurinya. Kalau tidak, apa pendapatmu ketika “fitnah” ini sedang tidur? Apakah kamu ingin aku tunjukkan kepada pembacamu di surat mana dari “Rasa’il al-Ahzan” deskripsi kata-kata, gerakan-gerakan, pakaian, cara berdebat, bentuk, dan kemanjaan, dan bahwa dia adalah fitnah yang diciptakan menjadi wanita?

Kamu berkata dalam kritikmu: “Aku harus bersikap adil (begini dan begitu), maka kamu dapat memotong buku Ar-Rafi’i kalimat demi kalimat, dan kamu akan menemukan dari kalimat-kalimat ini kelompok yang tidak sedikit” (dengarlah… dengarlah) “yang di dalamnya ada sesuatu dari keindahan lafaz yang mempesona dan menarikmu” (hipnotis magnetis dengan balaghah) “dan di dalamnya ada makna-makna berharga yang tidak lepas dari manfaat, tetapi kesulitannya, semua kesulitannya adalah dalam menghubungkan kalimat-kalimat ini satu sama lain dan mengambil sesuatu darinya.”

Kalau begitu kesulitanmu bukan dalam pemahaman tetapi dalam menghubungkan kalimat-kalimat satu sama lain. Dan aku kira kesulitan ini sendiri adalah yang membuat dari tabiatmu mengulang perkataan terus-menerus tanpa hasil dan tanpa manfaat. Dan kalau begitu sudah seharusnya kamu hanya bisa memahami dengan baik buku-buku sejarah dan peristiwa-peristiwa saja tanpa yang lain, yang tidak terlintas dalam pikiran terhubung satu sama lain. Dan kalau begitu kamu memiliki madzhab yang tidak seharusnya kita bicarakan sebagaimana tidak seharusnya kamu menjadikannya sebagai ukuran yang kamu ukur dengannya!

Kemudian bagaimana mungkin dalam buku itu ada “makna-makna berharga” dan kalimat-kalimat yang menarik dan mempesona dan jumlahnya tidak sedikit, padahal kamu menyatakan sebelum perkataan ini dengan setengah baris kosong… (artinya langsung dengan perkataan yang kamu pahami) maka kamu berkata “Aku menyelesaikan buku itu” dan tidak memahami darinya apa pun?

Pasti ada logika khusus bagimu jika premisnya adalah bahwa kamu menyelesaikan sebuah buku seutuhnya yang tidak kamu pahami apa pun darinya.

Maka kesimpulan dari premis ini adalah bahwa dalam buku itu ada kelompok yang tidak sedikit yang menarik dan mempesona dan di dalamnya ada makna-makna berharga juga…!

Dan apakah ini lebih buruk dalam kontradiksi ataukah perkataanmu “Dan pendapatku tentang buku itu adalah bahwa aku tidak memahaminya, maka aku ‘tidak bisa’ mengatakan bahwa itu baik atau buruk, tetapi aku ‘bisa’ mengatakan bahwa aku tidak memahaminya. Dan karena itu ‘tidak mungkin’ buku itu baik… tidak.”

Manakah dari dua “kemampuan” ini yang dusta dan ditolak? Dan jika kamu tidak memahaminya dan karena itu (karena itu saja) tidak mungkin (artinya mustahil) bahwa itu baik, bukankah ini dianggap sebagai pengakuan darimu tentang apa yang kamu ingkari bahwa kamu menganggap dirimu sebagai ukuran akal manusia di bumi yang beriman kepada Allah dan Kitab-Nya dan sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam? Tidakkah para pembaca melihat bagaimana si Syekh ini runtuh seolah-olah di dalam dadanya ada sesuatu yang mendidih terhadap sesuatu yang membara, dan bagaimana kamu mengatakan “tidak mungkin” kecuali jika kamu adalah semua kemungkinan itu sendiri, wahai tuanku…?

Alangkah baiknya seandainya aku tahu bagaimana menggabungkan perkataan yang tinggi satu sama lain dan mengambil sesuatu darinya ketika dia melihatnya memenuhi sebuah buku, jika dia tidak mampu menggabungkan perkataannya sendiri dalam artikel kecil sehingga menolak darinya kontradiksi mengherankan seperti ini yang mendatangimu dengan satu baris yang beriman yang dilaknat oleh satu baris yang kafir?

Aku tidak mengatakan bahwa Ustadz Thaha bukan apa-apa dalam keutamaan, sastra, dan ilmunya. Bahkan dia menurutku adalah banyak hal, bahkan dia adalah perpustakaan yang buku-bukunya berbicara. Tetapi dia tidak pernah mempraktikkan seni syair atau gaya-gaya khayalan, dan tidak pernah menjadikan dirinya dalam hal itu dengan pembiasaan atau praktek. Maka tidak seharusnya baginya mengkritik seni ini atau berbicara tentang gaya-gaya ini kecuali setelah dia menghasilkan seperti apa yang ditulis oleh para ahlinya. Jika itu tidak ada dalam tabiatnya dan tidak dalam kemampuannya dan tidak ada sesuatu pun darinya yang berhasil, maka janganlah dia tertipu dengan menjadi seorang sejarawan, dan janganlah menipu dirinya dengan menjadi ahli mantiq (logika), dan janganlah dia mengira bahwa memahami sesuatu adalah memahami segala sesuatu. Dan seandainya urusan dalam sastra didasarkan pada perluasan perkataan dan kemampuan berbicara banyak, baik benar maupun salah, niscaya sastrawan terbesar bukanlah yang terbesar para sastrawan, tetapi yang paling cerewet…

Dan Ustadz itu berkata bahwa dia memahami Al-Qur’an dan ini dan itu tetapi tidak memahami bukuku. Dan aku tidak mempercayai sedikitpun dari ini. Dan di mana hakikat-hakikat balaghah yang mukjizat dalam Al-Qur’an dari orang yang jika dikritik bait syair Syauqi:

“Wahai kelembutan, engkau adalah gema… dari suara yang merdu itu”

Dia memahami bahwa sang penyair mengatakan bahwa Aristoteles memiliki suara yang merdu… Dan dia menyanggah bahwa tidak dia dan tidak pula Syauqi mendengar suara ini… Demi Allah, seandainya orang yang berkata seperti ini maju mengikuti ujian di Al-Azhar dan menafsirkan kepada mereka dalam balaghah seperti tafsir ini, niscaya mereka memberinya “Al-Muka’ab,” sebagaimana kata orang-orang Azhar. Dan Al-Muka’ab menurut mereka adalah nol dalam nilai ujian!

Apakah orang seperti ini memahami hakikat-hakikat balaghah dalam Al-Qur’an dan kehalusan-kehalusan isyarat yang ada di dalamnya?

Dan penulis Al-Matsal as-Sa’ir berkata—dan dia adalah salah satu mujtahid besar dalam ilmu-ilmu balaghah dan salah satu penulis paling fasih sepanjang masa: “Aku dulu membaca khatam (menyelesaikan Al-Qur’an) dalam sehari, kemudian dalam sebulan, kemudian dalam setahun, kemudian sekarang aku membaca dalam satu khataman sejak sekian dan sekian tahun dan belum selesai darinya. Dan setiap kali aku mengulangi membaca, muncul bagiku apa yang tidak muncul sebelumnya.”

Inilah kaidah-kaidah bayan Arab yang mukjizat, dan inilah cara memahaminya. Maka ambillah atau tinggalkanlah!

Sesungguhnya majaz yang merupakan dasar bayan menghalangimu untuk memahami kecuali dengan qarinah (indikator) dan ‘alaqah (relasi), maka dia tidak melepaskan pemahaman bagimu tetapi mengikatnya dengan keduanya. Dan tidak membiarkanmu mengatakan “aku paham” atau “aku tidak paham,” tetapi salah satu dari dua: Entah kamu mengakui perkataan itu atau kamu mengakui tentang dirimu sendiri.

Dan orang-orang Arab dahulu memiliki pikiran yang tajam, dan mereka tidak menulis, maka itu memaksa mereka untuk berinovasi dalam lafaz-lafaz mereka dan menekan makna-makna yang banyak dalam kata-kata yang sedikit dan mencukupkan diri dengan sekilas pandang yang menunjukkan dan isyarat yang ringkas dan kinayah yang menakjubkan dan beraneka ragam dalam gaya-gaya perkataan dengan berbagai wajah dan madzhab yang banyak. Maka tidak menguasai bayan Arab ini kecuali pikiran yang teliti, kecerdasan yang tajam, dan pandangan yang kritis, dan kecuali orang yang mengikuti jejak orang-orang Arab sendiri, yang didorong oleh tabiat atau ditarik oleh asal-usul. Jika tidak ada di sana, maka jauhkanlah dia oleh Allah, dan salam!

۞۞۞۞۞

Kepada Universitas Mesir

Saya membaca dalam beberapa hikmah kalimat ini: “Berhati-hatilah dari mabuk kekuasaan, mabuk harta, mabuk ilmu, dan mabuk kedudukan!”

Saya tidak mengenal seorang pun yang telah mabuk dari keempat hal ini hingga bertingkah kasar dan keluar menuju kesia-siaan dan igauan selain sang Profesor yang keempat-empatnya… Doktor Thaha Husein, sejak dia mengajar sejarah sastra di universitas. Demi Allah, kami tidak tahu mengapa mereka tidak menugaskannya selain mata kuliah sejarah sastra dengan mata kuliah lain seperti menjelaskan hukum perdata misalnya… karena dia mampu dalam hal ini sebagaimana kemampuannya dalam hal itu, jika dia tidak memiliki materi kecuali berpikir tentang apa yang akan dikatakannya, lalu mengatakan sebagaimana dia berpikir, tidak lain adalah prasangka sebelum ilmu, tidak lain adalah keraguan sebelum keyakinan, tidak lain adalah ilusi sebelum kebenaran. Tidak ada yang lebih banyak dari perkataan pada setiap orang yang menjatuhkan kesalahan dan kebenaran dari perhitungannya, dan tidak ada yang lebih mudah dari pengingkaran pada orang yang modal ilmunya adalah keras kepala dan membangkang.

Doktor Thaha Husein mabuk karena dia diserahkan kepada Kementerian Pendidikan bersama universitas dengan satu kontrak… dan inilah mabuk kekuasaan. Kemudian mereka mencurahkan untuknya dari kas negara sebelum mereka mendengar darinya satu huruf pun dalam sejarah sastra atau mengenal bobotnya di dalamnya atau mendapat ujian darinya, dan itulah mabuknya harta. Kemudian dia menciptakan untuk universitas sebuah ilmu yang dia sampaikan kepada siapa saja yang mendatanginya dari pinggir jalan meskipun dia tidak membedakan antara Abu Jahal dan Abu Zar’… maka datanglah dari itu mabuk ilmu. Dan dia melihat dengan semua ini bahwa dia stabil dalam kedudukannya, mereka ingin menjadikannya aman dari pemecatan dan terlindungi dari pemberhentian; maka sempurnalah baginya mabuk kedudukan.

Kami tidak mengira universitas ini memiliki sastra dengan kontrak atau akta syariah sehingga menyerahkannya kepada profesor ini, dan kami tidak menduganya mengklaim hak atas sejarah sehingga membolehkannya merobohkan dan membangun di dalamnya. Maka dialah sendiri yang diambil dengan kesia-siaannya, bertanggung jawab atas kesalahannya, diperhitungkan atas apa yang dia lakukan. Dan kami atas dasar itu mengajukan kepadanya masalah-masalah ini yang kami ingin berdebat dengannya di dalamnya untuk mengungkapkan kepadanya tentang hakikat profesornya, dan agar dia tahu jika dia belum mengetahui bahwa orang itu adalah perusak bukan pembaharu, dan pemalsuan bukan pemeriksa kebenaran, dan sumber itu padanya adalah dari lemahnya pengetahuannya terhadap materi sejarah sastra sehingga dia memperluas dengan ocehan, dan dari kurangnya imajinasinya sehingga dia menambah-nambah dengan keraguan, dan dari kemerosotan kekuatan penjelasannya sehingga dia berpegang dengan dalih-dalih perdebatan.

Kami bertanya kepada pimpinan universitas:

1 – Apakah profesornya memutuskan bahwa kaum Muslim menghapus syair orang-orang Nasrani dan Yahudi dan melarang periwayatannya karena takut terhadap Islam, maka karena itu tidak sampai kepada kita dari syair mereka sesuatu pun?

2 – Dan bahwa tidak ada syair jahiliyah, bahkan dia dibuat setelah Islam, dan bahwa syair jahiliyah ini tidak dijadikan dalil untuk Alquran, bahkan Alquranlah yang dijadikan hujjah untuk syair?

3 – Dan bahwa zaman jahiliyah yang hilang syairnya telah terpelihara karena Alquran yang mulia mewakilinya?…

4 – Dan bahwa syair cinta yang diriwayatkan untuk Imru’ul Qais adalah untuk Umar bin Abi Rabi’ah? Dan kami batasi dari kekacauan orang itu pada keempat masalah ini.

Kami bertanya kepada pimpinan universitas apakah profesornya memutuskan semua itu dalam pelajarannya yang mereka gaji dia atasnya dari harta umat ataukah tidak? Dan apa dalil-dalilnya? Bahkan apa dalil-dalilnya – karena orang itu tidak lagi menjadi penulis di surat kabar “As-Siyasah” yang tidak menjawab kecuali dengan cacian dan tidak peduli sedangkan dia menerbitkan untuknya dan tidak menghiraukan – dan kami tidak mengiranya mampu mengatakan kepada direktur universitas sebagaimana dia berkata kepada pemimpin redaksi “As-Siyasah”: Aku membuatmu marah tahun lalu sehingga kamu memuji Ar-Rafi’i dalam artikel yang kamu awali bukumu dengannya, dan inilah aku meminta maaf kepadamu maka lupakan tahun lalu dan turunkan untukku bab ini… Adapun dia, maka Allah telah menjauhkan antara pemilik perkataan ini dan antara pemahaman. Jika pemimpin redaksi “As-Siyasah” tidak menulis untuk kebenaran dan tidak melihat dari pendapat untuk kebenaran, tetapi untuk kemarahan dan keridhaan dan tidak ada yang ketiga bagi keduanya; bukankah dari yang menggelikan bahwa pemilik perkataan terbalik ini adalah profesor sastra Arab di universitas?

“Dan apa yang ada di Mesir dari hal-hal yang menggelikan… dan cukuplah bagimu Thaha Husein di dalamnya”

“Tetapi dia adalah tawa seperti tangisan… atas ilmunya dan atas buku-bukunya”

۞۞۞۞۞

Dan Kepada Universitas Juga…

Kami telah menulis bertanya kepada pimpinan universitas dalam keempat masalah itu tentang apa yang dicampuradukkan di dalamnya oleh profesornya Doktor Thaha Husein, untuk berdebat dengannya tentang apa yang dikatakan orang itu, dan dia tidak mengatakan kecuali kesia-siaan. Dan sesungguhnya dia mengetahui seolah-olah dia tidak mengetahui, dan sesungguhnya dia melihat seolah-olah dia tidak melihat. Dan sesungguhnya dia dalam keadaan yang kami ingkari sangat keras pengingkarannya dalam apa yang disebutnya secara majaz sebagai pelajaran sejarah sastra, dan apa itu dalam kenyataannya kecuali pelajaran jiwa Thaha dengan apa yang bergejolak di dalamnya dari kesesatan dan keraguan dan apa yang bergejolak di dalamnya dari buruknya pemahaman dan lemahnya pendapat dan rusaknya analogi. Maka universitas menguji mahasiswanya dengan orang itu dalam pelajarannya, kemudian pelajarannya menguji mereka dengan tabiatnya, dan tabiatnya mendatangkan kepada mereka malapetakanya, dan dari malapetakanya apa yang kami ketahui dari keberanian dalam kebatilan yang tidak peduli dengan kebenaran, dan kebodohan dalam pendapat yang tidak mengenal pertengahan, dan berlebihan dalam prasangka yang tidak cocok dengannya keyakinan!

Dan bahwa seandainya profesor universitas itu fasih yang dikenal dan penyair yang terhitung dan bijaksana yang berfilsafat, kemudian ada padanya sesuatu dari sifat-sifat buruk itu, niscaya ia akan turun dengannya dan merendahkannya. Maka bagaimana dan dia adalah dia yang dikenal semua orang bahwa dia buruk pemahaman dalam gaya-gaya keterangan, karena dia secara tabiatnya tidak baik sesuatu pun darinya; pendek akal dalam makna-makna syair dan jalan-jalan orang fasih, karena dia jauh dari mereka. Dan tidak ada padanya kecuali bahwa dia kasar perasaan, tumpul pembayangan, padam khayalan. Kemudian dia dengan semua ini mengumpulkan dalam semua ini dakwaan yang kosong dan kesombongan dan kejahatan dan kekasaran lidah, hingga tidak ada di Mesir pencaci pemaki yang dikenal baginya dari artikel-artikel cacian dan makian sebagaimana dikenal untuk dua orang salah satunya adalah profesor universitas. Dan untuk itu dari buruknya pengaruh dalam akal orang itu dan pendapatnya apa yang tidak dapat tidak ada padanannya dalam seperti itu, hingga kami tidak melihat keanehannya dan keluarnya pada pendapat-pendapat yang disepakati dalam sejarah kecuali gaya dari gaya-gaya mencaci sejarah.

Kami memutuskan untuk universitas bahwa tidak ada jalan untuk membenarkan Doktor Thaha Husein dalam apa yang dia omongkan kecuali atas satu pertimbangan, yaitu bahwa orang ini adalah roh yang bertanasukh yang tidak henti-hentinya turun dalam jurang waktu, maka jika dia tegak di atas kursi universitas lewatlah roh ini dengan periode-periodenya dalam sejarah lalu mengingat persahabatannya… dengan Imru’ul Qais pada tahun 200 sebelum Islam… kemudian bergulir pita sinema… dari masa ke masa hingga hari manusia ini, dan profesor dalam semua itu menceritakan tentang penyaksian dan mengabarkan tentang pengamatan dan dia di atas kursi universitas dalam mimpi magnetis, tidur lebih keras sebagaimana dia terjaga, dan terjaga lebih jauh sebagaimana dia tenggelam tidur. Dan tidak ada jalan dalam ini kecuali ini, dan atas pimpinan universitas untuk menjelaskannya mudah-mudahan dia dan mudah-mudahan dia.

Sesungguhnya dewan universitas mengetahui bahwa apa yang disebut orang “sejarah sastra Arab” ini sesungguhnya adalah ilmu baru kelahirannya, tidak ditangani oleh ahlinya, tidak diletakkan pada zamannya, tidak mencapai sarana-sarananya, tidak terjaga kepadanya seorang pun di hari-hari ketika ada ulama dan perawi, dan sumber-sumber riwayat berlimpah. Dan tidak ditanganinya oleh orang-orang kontemporer kecuali meniru, dan atas sedikitnya buku-buku, dan dalam matinya riwayat, dan setelah terputusnya zaman Islam dari tempat-tempat banyak. Dan seandainya ada di antara kami seorang laki-laki yang membaca setiap yang tercetak dan tertulis dari buku-buku Arab yang terserak di penjuru dunia, tidak luput darinya satu lembar atau sebagian lembar, kemudian mengeluarkan darinya ilmu, niscaya dia datang dengannya kurang, bergejolak, lemah – karena hilangnya kebanyakan buku-buku dalam bencana-bencana sejarah yang berbeda, dan karena rusaknya cara penulisan dalam kebanyakan buku-buku yang sampai kepada kami. Maka apa itu seperti ilmu-ilmu yang ditulis dan diatur dan selesai darinya dan menjadi satu buku mencukupi di dalamnya dari buku-buku banyak, seperti nahwu dan sharf dan balaghah dan sejenisnya. Dan tidak seperti seni-seni yang diungkap darinya penemuan dan diperbaharui kebutuhan dan pengalaman, seperti kedokteran dan hukum dan kimia dan sejenisnya.

Maka dari situ universitas tidak mampu menyebut profesornya sebagai profesornya sebagaimana mengatakan profesor hukum dan profesor kedokteran. Dan tidak menganggapnya demikian atau menjalankan atasnya hukum mereka, bahkan dia adalah profesor secara majaz, dan pengajar untuk kedaruratan, dan wajib dikecualikan khusus darinya dari semua apa yang dinikmati oleh para profesor, karena akan terungkap – suatu hari tentang lebih buruk ketidakmampuan dan lebih keji kesalahan. Dan itu yang kami ketahui dan kami pastikan dan tidak kami ragukan di dalamnya. Dan dari situ wajib atas universitas untuk mendengar setiap perkataan tentang profesor dan memperbaiki pertimbangan apa pun perkataan itu dan atas wajah mana pun datang dan dari siapa pun pribadi dia menerimanya. Dan sesungguhnya dia mengetahui bahwa profesor sastra wajib menjadi dari paling luas orang pengetahuannya, bukan dalam novel-novel teatrikal Perancis, tetapi dalam buku-buku sastra Arab. Dan bahwa dia harus atas pengetahuannya dari paling fasih orang tulisannya dan paling penyair mereka syair dan paling tinggi mereka khayalan dan paling teliti mereka perasaan dan paling cerdas mereka pemahaman.

Akan tetapi sifat-sifat ini yang dirampas semuanya Doktor Thaha Husein, maka dia adalah profesor dengan jabatan, namanya dan gajinya, bukan dengan ilmunya dan haknya dan kecukupannya.

Dan karena itu kami berkata: Sesungguhnya universitas diambil dengan kesia-siaannya, dan diwajibkan untuk menjawab tentangnya, karena dia mengajar ilmu yang tidak tertulis dan tidak terkumpul sebab-sebabnya, dan tidak henti-hentinya orang itu berbeda di dalamnya dari orang itu dengan teks atau dengan baris atau dengan kata atau dengan pendapat, semua itu atau sebagiannya. Maka hendaklah universitas mengetahui jika dia tidak mengetahui!

۞۞۞۞۞

Dan Saksikan Seorang Saksi Dari Kalangan Mereka…

Seorang pendeta yang terhormat menulis dalam edisi mingguan surat kabar “Al-Siyasah” menceritakan sejarah Santo “Paphnutius” yang diangkat oleh Anatole France dalam novel “Thaïs”. Dia mengolok-olok dan mengejek ketakwaan dan kesalehannya, menuduhnya dengan seorang perempuan pelacur yang meninggalkannya dalam dosa dan kejatuhan jiwa, dan tidak ada perbedaan serta kedudukan antara dia dengan orang-orang sepertinya. Sementara itu, sang penulis meninggikan perempuan tersebut di akhir novel sehingga menjadikannya seorang santa yang terbuka baginya pintu-pintu surga dan malaikat-malaikat menyambutnya. Pendeta yang terhormat itu menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan kesengajaan Anatole France untuk merusak sejarah, dan bahwa itu adalah kebohongan yang disengaja dan dusta yang nyata.

Maka Doktor Haikal mengomentari hal ini dengan menyatakan bahwa penulis Prancis itu memiliki pandangan tentang sejarah, karena dia menganggapnya sebagai sejenis cerita yang tunduk pada hawa nafsu dan syahwat manusia. Dia telah membuat sejarah untuk Joan of Arc Prancis yang terkenal, di dalamnya dia menjelaskan bahwa sesuatu bernama Joan of Arc tidak pernah ada. Cukuplah bagimu menunjukkan kelemahan yang ada dalam bukti-bukti keberadaan sesuatu untuk menyebarkan keraguan ke dalam jiwa-jiwa tentang keberadaannya…

Kemudian dia berkata: Dan mungkin engkau tidak melihat dalam karya Anatole France suatu tempat untuk keheranan jika engkau kembali kepada apa yang dipegang oleh para profesor sastra di Universitas Mesir.

Ini adalah sahabat kami Doktor Thaha Hussein yang berpendapat seperti pendapat orang-orang yang mengatakan bahwa lebih dari satu penyair yang dikatakan pernah ada, sebenarnya tidak pernah ada sama sekali. Jika Anatole France pergi dengan pendapat seperti ini terhadap rahib “Paphnutius”, maka itu karena dia mengambil teori-teori seperti yang diambil oleh banyak ilmuwan dan penulis, di antaranya adalah sahabat kami Doktor Thaha dalam hal para penyair dan selain penyair yang berita-beritanya diceritakan oleh orang-orang. Selesai ringkasannya.

Maka ketahuilah bahwa profesor universitas itu “tidaklah lebih mudah darinya”, dan adakah yang lebih mudah daripada pengingkaran? Tetapi adakah yang lebih menunjukkan kebodohan daripada pengingkaran ini sendiri? Dan bukankah pengingkaran tanpa bukti itu hanyalah jenis lain dari kebohongan dan rekayasa, sebagaimana para pemalsu menciptakan tokoh-tokoh yang tidak ada bukti tentang keberadaan mereka? Mereka mengklaim dengan dusta bahwa seorang penyair pernah ada dan berkata begini dan begitu, dan dari beritanya adalah ini dan itu. Dan engkau mengklaim bahwa seorang penyair tidak pernah ada. Maka apa yang membuat kebohongan dari mereka menjadi kebenaran darimu? Dan bagaimana kalian menginginkan—sementara kalian semua sama seperti gigi-gigi keledai—bahwa sebagian dari gigi-gigi ini menjadi taring singa, sementara yang lainnya hanya dinisbatkan kepada keledai semata? Demi hidupku, engkau tidak lebih jujur dari mereka dan mereka tidak lebih berdusta darimu. Dan kelebihan antara engkau dan mereka adalah bahwa mereka menghadap wajah kebohongan sedangkan engkau menghadap punggungnya… Dan kebohongan semuanya ada di antara kalian, wajah dan punggung…

Profesor universitas itu bermain-main dengan tokoh-tokoh sejarah Arab “dari kalangan penyair dan selain penyair” seperti permainan Anatole France dengan rahib yang saleh itu. Tetapi terlewatkan oleh profesor peniru yang terbalik itu bahwa burung gagak tidak bisa menjadi burung merak atau burung merpati. Karena sesungguhnya penulis Eropa itu bersikap ateis, mengolok-olok, dan main-main karena ini adalah warna-warna dari kefasihan bahasanya yang membenturkan ucapan satu sama lain dan berdiri di atas yang saling bertentangan sebagaimana berdiri di atas yang saling selaras. Seandainya dia meninggalkannya, dia akan terpaksa dalam menulis dan mengalir di dalamnya tidak sesuai dengan tabiatnya dan kehilangan yang paling baik yang membedakannya dalam cerita dan novel. Kemudian dia melihat sejarah sebagai seni bukan ilmu, karena dia adalah penulis bukan sejarawan, dan pencerita bukan peneliti. Maka dia menanganinya dengan khayalan bukan dengan hafalan, dan mengambilnya dari ruh lebih banyak daripada mengambilnya dari pikiran. Dan dengan itu dia sampai pada pendapatnya bahwa bukti-bukti sejarah hanyalah kecenderungan-kecenderungan di mana emosi-emosi berbeda. Maka ingkarilah apa yang engkau kehendaki, itu hakmu karena engkau memiliki emosi. Dan tetapkanlah apa yang engkau kehendaki, itu terserah kepadamu karena engkau juga memiliki emosi…

Dan sejarah menurutnya adalah segala sesuatu kecuali kebenaran, karena kebenaran menurut anggapannya tidak dicari di dalamnya sama sekali. Dan penulis ini memiliki pendapat-pendapat yang rusak dan jelas kebatilannya, di antaranya pendapatnya tentang sejarah. Tetapi dia menyampaikannya dalam ungkapan-ungkapan yang fasih. Jika engkau berwawasan dalam keahlian penjelasan dan teliti di dalamnya, engkau akan melihat kerusakan makna-makna dan gerakan kegoncangan mereka dalam pikiran orang ini sebagai sebab-sebab paling halus dari kefasihannya. Seakan-akan dia ingin mendatangimu dengan kefasihan dalam bentuk penari wanita yang nakal dan murahan yang berlenggak-lenggok untukmu dalam warna-warnanya dan kesombongannya dan berbuat tidak senonoh kepadamu dalam kemanjaan dan rayuannya. Maka engkau tidak meragukan kejatuhan dan kekotorannya, tetapi engkau juga tidak mengingkari bahwa semua ini adalah keindahan paling indah padanya. Kemudian dia adalah seorang lelaki yang memiliki pikiran luas yang mencakup pertentangan-pertentangan dari ujung-ujungnya, dan mengambilnya sesuai dengan apa yang dia kehendaki dari makna-makna dirinya, bukan dari makna-maknanya, dan memberikannya kepada pembaca-pembacanya sesuai dengan wajah yang dia kehendaki dari makna-maknanya juga, bukan dari makna-maknanya.

Dan tidaklah kefasihan itu kecuali seperti sihir ini jika bukan dia itu sendiri.

Tetapi mengapa profesor universitas itu dengan ungkapannya yang kaku dan pikirannya yang mentah dan khayalannya yang tertutup dan hatinya yang tertutup rapat dan filsafatnya yang palsu dan peniruannya yang cacat? Dan mengapa dia tidak mengetahui perbedaan antara sejarah yang ditangani oleh penulis untuk cerita dan hikayat, dengan sejarah ketika ditangani oleh profesor untuk penelitian dan verifikasi! Kemudian antara sejarah sebagai materi filosofis dari perbuatan-perbuatan dan kejadian-kejadian, dengan sejarah sebagai materi ilmiah dari jiwa-jiwa dan akal-akal. Dan apa kiranya manfaat pengingkaran dengan argumen-argumen dan nash-nash yang telah disepakati, kecuali jika itu adalah tipu daya yang digunakan oleh profesor itu, dan dia mengetahui bahwa dia sedikit wawasan. Maka dia menjadikan yang banyak yang tidak dia temui sebagai cara dari yang sedikit yang dia temui, dan membangun untuk yang diketahui dan yang tidak diketahui satu bangunan, yaitu keraguan yang tidak ada seorang pun tahu di mana dia jatuh, apa yang dia hapus, dan bagaimana dia terjadi. Tetapi meskipun demikian dia menghapus dan terjadi sebagaimana dikehendaki Thaha Hussein, dan tidak ada Thaha di dunia kecuali Thaha yang ada di universitas… Mengetahui ini siapa yang mengetahui dan tidak tahu siapa yang tidak tahu!

Doktor Haikal berargumen untuk mazhab Anatole France dengan profesor universitas yang dia ungkapkan sebagai “para profesor universitas”… Dan sejak beberapa hari yang lalu beberapa misionaris Kristen juga berargumen dengan profesor universitas karena dia telah menetapkan “secara resmi di universitas yang didirikan oleh negara Muslim” bahwa Islam adalah agama kesempitan, fanatisme, dan sempitnya pikiran. Jika tidak, maka apa makna bahwa orang-orang Muslim dan penguasa-penguasa mereka menghapus di awal Islam syair-syair orang Yahudi, Nasrani, dan penyembah berhala jika bukan ini? Maka tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Dan Allah mengampuni engkau wahai misionaris Thaha Hussein!

Aneh, Thaha meniru Anatole France! Maka datangkanlah kepada kami wahai orang ini sekali saja dengan kefasihan seperti orang yang engkau tiru, kemudian tampillah setelah itu seratus kali dengan kesia-siaan seperti pendapat-pendapatnya, kami ampuni untukmu seratus dengan satu. Adapun engkau menjadi orang yang Allah hancurkan khayalannya kemudian engkau dengan itu menjadi orang yang Allah palingkan hatinya, maka itulah musibah tidak ada musibah sepertinya. Dan kami tidak melihat yang mengikutimu di dalamnya kecuali orang-orang yang merupakan orang-orang rendahan kami, dan kami tidak melihatmu kecuali seperti orang yang disesatkan oleh setan-setan di bumi dalam keadaan bingung!

Dan sesungguhnya bagi Anatole France ada kata yang berlaku untuk profesor universitas seakan-akan Allah mengilhamkannya kepadanya agar sampai kepada kami. Maka dia menamai ilmu seperti profesor ini dengan “kesesatan-kesesatan yang rumit”, seakan-akan dia bermaksud bahwa mereka menganggap kerumitannya sebagai ilmu dan pemecahannya sebagai ilmu, padahal dia pada dirinya adalah kesesatan. Dan kesesatan pada dirinya adalah kebodohan. Dan kebodohan pada dirinya bukanlah ilmu!

Kami pernah membaca surat kabar “Al-Balagh” yang mulia dengan tanda tangan “Farhat” bahwa kuliah profesor universitas tentang Imru’ al-Qais dicuri dari Ensiklopedia Islam yang dicetak di Jerman. Dan hari ini kami melihat dalam perkataan “Al-Siyasah” bahwa orang itu adalah peniru dengan peniruan yang menggelikan, menggunakan ayakan di tempat saringan halus sehingga mendatangkan kepada kami tepung berdebu… Dan semua ini menambah kekukuhan kami terhadap pertanyaan-pertanyaan kami yang kami ajukan kepada universitas. Karena sesungguhnya orang ini hanyalah bencana bagi sastra dan kerusakan dalam sejarah. Dan sesungguhnya universitas tidak memiliki hak untuk menyesatkan orang-orang dengannya. Selama dia telah memberikan kepada mereka dari ucapannya, maka hendaknya dia mengambil dari ucapan mereka. Dan jika dia benar dalam pendapat-pendapat profesornya, maka hendaknya dia sebutkan kepada orang-orang kebatilan kami dengan perdebatan yang kami ajak kepadanya. Dan jika dia dalam kebatilan, maka tidak ada jalan baginya kecuali meminta kebenaran kepada kami.

۞۞۞۞۞

Filsafat Seperti Mengunyah Air

Mereka berkata: Sesungguhnya universitas ini hanya didirikan untuk penelitian ilmiah bukan untuk ilmu itu sendiri. Karena ilmu, baik sedikitnya maupun banyaknya adalah ilmu. Dan baiknya dan buruknya adalah ilmu. Dan apa yang benar di dalamnya dan apa yang samar-samar darinya, semua itu adalah ilmu. Adapun penelitian ilmiah, maka porosnya adalah pada verifikasi dan penelitian. Maka dia di atas ilmu karena dia adalah sebabnya, tujuannya, dan perantara kepadanya. Dan penelitian menangani kebatilan sebagaimana menangani kebenaran karena dia adalah penelitian. Dan untuk itu dia ditempatkan, dan dengan itu materinya. Seandainya semua manusia sepakat atas suatu pendapat dari pendapat-pendapat atau mazhab dari mazhab-mazhab, kemudian berdiri seorang profesor di universitas ini lalu membatalkan pendapat itu dan pergi menyelisihi mazhab itu, maka boleh baginya melakukan apa yang dia mampu, membatalkan dan menyelisihi. Dan dia benar meskipun salah, dan dekat dari kebenaran meskipun jauh, dan berilmu meskipun bodoh dengan kebodohan-kebodohan yang tidak dilaknat apa sebelumnya kecuali apa sesudahnya.

Mereka berkata: Karena sesungguhnya dia meneliti untuk mendapat petunjuk kepada sesuatu. Maka jika dia mendapat petunjuk, maka sungguh dia telah mendapat petunjuk. Dan jika dia sesat, syafaat baginya bahwa dia adalah mujtahid, dan bahwa dia tidak mencabut pendapat yang benar kecuali dengan pendapat yang dia sangka kebenaran mendominasi padanya.

Dan makna filsafat ini adalah bahwa mengunyah air seperti mengunyah roti, keduanya membutuhkan gigi-gigi yang tajam dan geraham-geraham yang menggiling dan taring-taring yang kuat, selama yang mengunyah air itu adalah profesor di universitas dan selama pengunyahan menurutnya dinamakan penelitian. Karena yang diperhatikan adalah dia saja, baik berakal maupun bodoh, baik jujur maupun berdusta. Dan tidaklah universitas itu kecuali pabrik dan laboratorium yang disingkap di dalamnya pendapat-pendapat, dibuat di dalamnya pendapat-pendapat, dan dipalsukan di dalamnya pendapat-pendapat. Dan profesor di universitas mengatakan apa yang menyerupainya sebagai pendapat, keyakinan, ilmu, dan kebodohan. Dan berjalan dalam “penelitian” sesuai dengan apa yang tergambar baginya benar atau batil. Maka apa yang dia lihat itulah yang benar, tidak ada yang benar selainnya dan tidak ada yang benar sebelumnya atau sesudahnya.

Maka wahai manusia… Dan di mana pun kalian berada maka hadapkanlah wajah-wajah kalian ke arahnya: “Dan Allah menjadikan Ka’bah, rumah yang haram itu, sebagai pengokoh bagi manusia” (Surat Al-Ma’idah ayat 97) dan Allah menjadikan universitas yang haram sebagai pengokoh bagi manusia!

Akan tetapi jika benar sesuatu dari itu atau mendekati kebenaran, maka sungguh wajib bahwa tidak menangani pengajaran di universitas kecuali seorang lelaki yang tidak ada seorang pun yang menyamainya dalam ilmunya yang dia tangani. Dan menjadi salah satu sifat paling mudahnya bahwa dia di atas setiap sifat yang dikenal pada orang-orang yang serupa dengannya dan setara dengannya—telah sempurna dari sisi mereka sempurna dan menambah atas mereka hal-hal yang tidak ada dalam bakat-bakat yang dikenal, bahkan berada di paling jauh yang dicapai oleh akal manusia di ufuk yang dekat dengan wahyu dan ilham. Maka jika universitas memperoleh seperti akal yang luar biasa ini, maka boleh baginya mengatakan apa yang dia katakan dan mengklaim apa yang dikehendaki olehnya klaim. Dan dia dalam itu aman untuk dikembalikan kepadanya karena ketika itu dia berbicara dengan apa yang tidak bisa ditinggikan oleh perkataan lain.

Dan ia datang kepada manusia dengan membawa sesuatu yang berlebihan bagi mereka, dan hal itu disertai dengan hujahnya terhadap mereka, maka pembicara pun terdiam, orang yang membantah terputus, dan tidak tersisa kecuali penyerahan kepada yang lebih kuat, dan kepada dasar yang menjadi fondasi seluruh tabiat.

Sungguh telah terjadi pada Universitas Mesir adanya profesor seperti ini – yang memangsa para profesor lainnya – kau temukan dia dalam ilmu seperti hukum atau kedokteran atau filsafat dan semacamnya dari ilmu-ilmu yang telah dikaji para ulama dari generasi-generasi terdahulu dan mereka telah menyelesaikannya dalam penulisan, komentar, penjelasan, dan penelitian, dan tidak tersisa kecuali seperti apa yang tersisa yang membedakan akal dan berbeda kemampuan dalam ketajaman kecerdasan dan kekuatan observasi, berupa pendapat yang ditambahkan atau dikurangi darinya. Namun, di mana hal seperti itu dalam sejarah sastra Arab, padahal ia adalah ilmu yang masih terus terbentuk, dan masih seperti pulau-pulau vulkanik: muncul pulau dalam keadaan mendadak dan tiba-tiba, dan tenggelam pulau lainnya dengan cara yang sama, dan tidak ada sebab munculnya kecuali sebab tenggelamnya, tetapi pasti terjadi peristiwa itu kemudian datanglah filsafat dan penjelasan setelah itu.

Yang mengherankan adalah bahwa profesor Universitas, Doktor Thaha Hussein, tidak menempuh kecuali metode yang tidak sesuai dengan tabiat sejarah ini. Ia selalu mencari sebab dalam salah satu dari dua hal: entah dalam sesuatu yang bukan akibatnya, dan itu adalah kesalahan besar; atau dalam akibatnya setelah ia mengubahnya sesuai prasangkanya, dan itu lebih buruk dari yang pertama. Seperti ini jika dinamakan penelitian dan dinamakan filsafat dalam sejarah, sama sekali tidak bisa dinamakan sejarah, dan tidak keluar darinya kecuali perkataan yang meluas yang bagaimanapun juga adalah perkataan penuturnya dan sesuai kadar akalnya, kecerdasannya, pengetahuannya, dan cara pemahamannya, bukan berdasarkan sejarah, tokoh-tokohnya, dan sebab-sebabnya. Maka profesor itu seolah-olah mengajarkan seni berbicara yang sebagian materinya dari sejarah, bukan seni sejarah yang sebagian materinya dari perkataan.

Dan metode ini yang disebut ilmiah adalah dalam sejarah metode yang paling bodoh, karena ia berbeda dalam apa yang ditetapkannya sesuai perbedaan orang dan zaman, padahal sejarah adalah sesuatu yang tetap, tidak berbeda dan tidak mungkin diciptakan sekali lagi, bukan dengan pendirian Universitas Mesir dan bukan dengan perintah Kementerian Pendidikan… Ketika sejarah lahir, ia tidak menua dan tidak mati. Kemudian metode itu adalah metode yang paling mudah, khususnya bagi orang yang sedikit pengetahuannya, karena kau tidak terikat di dalamnya dengan sesuatu yang dikenal yang kau kenal atau sesuatu yang mungkar yang kau ingkari, kecuali apa yang kau kehendaki dan dikehendaki oleh kelalaian orang-orang di sekelilingmu. Kemudian kau dapat menggunakan setiap gaya padanya, maka semua jalan menuju tujuannya, karena tidak ada tujuan baginya kecuali apa yang kau sangkakan sebagai tujuan dan kau katakan bahwa itu adalah tujuan.

Sejarah ada dua jenis: yang pertama dilipat oleh masa dan telah terjadi serta terputus, maka metode ini sama sekali tidak berguna di dalamnya, dan yang kedua dilipat oleh otak-otak penulis novel dan orang-orang yang merajut dalam ilmu mengikuti cara mereka… Dan tidak ada yang lebih bermanfaat dalam mengungkap rahasia jenis ini dan menampakkan kebenarannya… dari metode ini!

Maka penelitian dalam sejarah sastra berdasarkan dasar ilmiah yang didirikan untuknya Universitas – seperti yang mereka katakan – hanya berakhir dengan sejarah ini menjadi seni kebohongan yang diberikan Universitas sifat ilmiahnya sehingga menjadi kebohongan yang benar, dan ini adalah setengah keburukan di dalamnya. Adapun setengah yang lain, maka ia ketika mengalir dalam aliran kebenaran dan diambil orang-orang dengan pertimbangan ini, tidak tersisa kecuali bahwa buku-buku Arab yang ada di tangan kita adalah kebohongan murni, dan inilah yang dituju oleh Doktor Thaha Hussein, sebagaimana telah kami jelaskan.

Maka Universitas menegakkan fondasi untuknya kemudian ia membangun, ini jika Universitas diam tentang dia dan tetap berbangga dengan kebisuan filosofis ini.

Dan sekarang saya teringat sebuah rajaz kecil yang ingin saya persembahkan untuk sahabat kita Doktor Thaha Hussein agar ia sedikit merendahkan diri, karena ia tidak akan merobek bumi dan tidak akan mencapai gunung-gunung dalam ketinggian, dan ia hanyalah seperti apa adanya:

Sungguh aneh (Thaha) sastrawan zaman

Menjadi seperti Inggris di Mesir

Armadanya pena sepanjang sejengkal

Kerajaannya satu meter dengan setengah meter

Di ruang kuliah atau lebih tepatnya omong kosong

Ia duduk di dalamnya seperti kadal di lubangnya

Berkerut dari ekor hingga punggung

Kerutannya orang yang diciptakan untuk tipu daya

Dan turun ke dunia untuk urusan mungkar

Ia bergesekan dengan setiap sastrawan merdeka

Menakut-nakutinya dengan cacian atau kejahatan

Seolah di dalamnya roh huruf jar…

Celaka dia si pengkhayal yang terpedaya

Menakut-nakuti singa dengan wajah kucing…

Spons yang datang untuk minum laut

Dan lilin yang menyala untuk matahari siang

Dan Syekh Thaha dalam kritik puisi

Tiga hal yang menggelikan, demi umurku!

(Catatan kaki)

Setelah menulis kata ini, saya menerima buku Doktor Thaha Hussein “Tentang Puisi Jahiliyah”, lalu saya melewati pendahuluan dan membaca bab yang ia beri nama “Cermin Kehidupan Jahiliyah Harus Dicari dalam Alquran”, maka sungguh aneh, demi Allah, adalah ironi yang keras dari takdir bahwa kantor Universitas tidak berada kecuali dekat dengan rumah sakit penyakit jiwa.

Dan kita akan membaca buku ini karena ia adalah Universitas yang kepadanya kita ajukan pertanyaan-pertanyaan kita… Ia berkata: “Aku hanya diberi itu karena ilmu (yang kumiliki)”, tetapi itu adalah fitnah.

Saya membaca buku “Puisi Jahiliyah” dan telah ditulis dalam judulnya “Karya Thaha Hussein: Profesor Sastra Arab di Fakultas Sastra Universitas Mesir”.

Betapa banyak nama-nama kucing dan betapa sedikit kucing itu sendiri…

Sesungguhnya makna ungkapan itu adalah bahwa orang tersebut adalah profesor puisi, penulisan, dan gaya-gayanya, serta apa yang masuk dalam itu dari tafsir dan kritik, kemudian sejarah sastra, analisisnya, pembenaran riwayat-riwayatnya, semua masalahnya, dan perbandingan antara teks-teksnya, kemudian ilmu-ilmu sastra yang dikenal, seperti seni-seni balaghah dan seni-seni periwayatan. Inilah “Sastra Arab”, dan apa pun yang diklaim oleh profesornya di Universitas, ia tidak akan mengklaim bahwa ia adalah penyair yang memiliki kedudukan, atau bahwa ia adalah penulis yang memiliki seni. Dan jika kita gugurkan kedua ini, apa yang tersisa darinya kecuali apa yang dipaksakan dari beberapa sebab sejarah? Kemudian apa gunanya sebab-sebab ini padahal sejarah sastra berdiri atas para penyair dan penulis, dan sahabat kita ini kembali dalam hal itu kepada bakat yang lemah yang tidak dikuasai oleh seni puisi dan tidak dilatih oleh aliran-aliran khayalan, dan tidak memiliki pengalaman dengan rahasia ilham yang dengannya penyair menjadi penyair dan penulis menonjol sebagai penulis. Dan ia tidak lain adalah apa yang kau lihat dari percampuran yang disebut ilmu, keberanian yang menjadi kritik, sikap berlebihan yang menjadi pendapat, peniruan terhadap orientalis yang ia sebut ijtihad, meremehkan para imam yang dengannya orang itu menjadikan dirinya imam, dan penghancuran bodoh yang ia katakan sebagai pembangunan dan pembaruan.

Dan kita tidak tahu secara pasti apa yang baru atau pembaruan menurut kelompok ini sampai kita melihat profesor Universitas memutuskan di banyak tempat dalam bukunya bahwa itu adalah keraguan. Maknanya adalah bahwa jika kau tidak mampu dengan teks baru menetapkan sesuatu yang baru, maka ragukan teks lama, maka cukuplah itu bagimu sebagai sesuatu yang kau dikenal dengannya dan mazhab yang kau perdebatkan di dalamnya; karena logika memiliki dua kaidah:

Yang pertama adalah membenarkan yang salah dengan qiyas dan bukti, dan yang kedua adalah merusakkan yang benar dengan perdebatan dan pembangkangan.

Perumpamaan Thaha dan orang-orang terdahulu adalah perumpamaan dua orang ahli logika, salah satunya berkata: Warna ini hitam, maka tidak boleh menjadi putih.

Dan yang lain – al-Husaini… – berkata: Tidak, justru warna ini bukan putih, maka boleh jadi ia hitam. Dan tidak ada keutamaan antara “boleh jadi” dan “tidak boleh jadi” kecuali karunia dari Allah, jika ia tidak ada, maka bukti tidak berguna sama sekali dari kebenaran, dan salah satu dari dua orang itu tetap dengan yang lain dalam pertengkaran dan pembangkangan yang bukti-bukti mereka telah rontok dan gugur, karena logika tidak benar darinya kecuali apa yang dibenarkan akal darinya. Maka di mana tidak ada nilai bagi akal, tidak ada nilai bagi logika.

Dan sungguh seandainya bukan karena lemahnya khayalan Doktor Thaha dan jauhnya ia dari keahlian seni dalam sastra, penyerahannya pada peniruan terhadap orang-orang zindik dan beberapa orientalis yang tidak dapat dipercaya pendapat mereka maupun pemahaman mereka dalam sastra Arab, kemudian seandainya bukan karena fanatisme yang dibenci ini yang tumbuh padanya dari kedua sifat ini menuju sifat-sifat lain yang ia ketahui dari dirinya dengan sebenar-benar pengetahuan, niscaya ia dekat dengan kebenaran dalam apa yang ia lihat, dan ia akan mengelola perkara-perkara dengan sebab-sebab yang dekat darinya, dan meminta pertolongan padanya dengan apa yang memperbaikinya.

Dan ia akan terhindar dengan itu dari kejahatan penyerangan yang dalam kebanyakan keadaannya adalah ilmu orang-orang bodoh, kekuatan orang-orang lemah, kecerdasan orang-orang dungu, dan akal orang-orang yang sakit empedu.

Padahal fanatisme itu selalu setengah kebodohan meskipun ada pada orang yang paling berilmu dan paling cerdas, dan sejak dulu ia telah merusak sejarah sastra Arab lebih banyak daripada kesalahan dan kebodohan bersama-sama.

Dan mereka telah meneliti bahwa hilangnya yang jelas dan nyata dari sastra yang tidak diragukan padanya hanya terjadi pada dua orang: yang pertama: orang yang tidak terlatih dalam keahlian, tidak terbiasa dengan kritik, tidak mengetahui apa yang ia lakukan dan tinggalkan; dan yang kedua: orang yang berilmu yang tahu bahwa ia tahu, kemudian fanatisme membawanya pada penolakan kenyataan dan pengingkaran yang disaksikan, maka ia tidak lebih dari terpapar aib dan terkenal dengan kezaliman dan sikap berlebihan.

Ini pada orang berilmu yang terlatih dan terbiasa, lalu bagaimana dengan fanatisme pada orang berilmu yang berdiri pada satu rukun dari tiga rukun?

Sesungguhnya profesor sastra harus menggabungkan pada penguasaan sejarahnya dan penelusuran bahan-bahannya, selera seni yang terdidik dan halus. Dan tidak mungkin datang baginya selera ini kecuali dari penciptaan dalam dua keahlian puisi dan prosa. Kemudian ia menggabungkan pada kedua hal ini – penguasaan dan selera – bakat aneh itu yang menggabungkan antara ilmu, pemikiran, dan imajinasi sehingga mencipta dari sejarawan, filsuf, penyair, dan ulama sosok di atas semua mereka yang kita sebut kritikus sastra.

Ketika kau tidak menemukan khayalan yang kuat pada sejarawan sastra, dan ketika kau melihat sejarawan ini tidak bertumpu kecuali pada logika, standar, dan timbangan, maka lemparkan dia dengan sejarahnya, sastranya, dan kesusastraannya ke mana kau kehendaki; karena ia tidak menolak di tanganmu dan tidak sulit bagimu, karena ketenangan dan kestabilannya – meskipun berada di kursi Universitas – tidak datang dari bahwa ia kokoh dan kukuh, dan bukan dari bahwa akar-akarnya saling terkait dan terhubung, tetapi dari ketenangan angin di sekelilingnya dan perlindungannya dengan tirai dari sini dan sana.

Sesungguhnya pemilik ilmu adalah seorang pria, dan pemilik seni adalah pria lain selain dia. Dan dasar dalam ilmu adalah akal. Dan dasar dalam seni adalah gharizah (naluri). Dan dalil akal adalah logika dan qiyas. Dan dalil gharizah adalah rasa dan bakat.

Dan sastra dari ilmu-ilmu seperti saraf-saraf dari tubuh, ia adalah yang paling halus di dalamnya tetapi ia dengan itu adalah kehidupan, akhlak, kekuatan, dan penciptaan. Dan ia tidak diukur dengan ukuran tulang-tulang yang terbentang dan tebal, dan tidak ditimbang dengan timbangan otot-otot yang padat dan kuat, dan tidak berguna padanya meter maupun kilo… Maka jika datang kepadamu pemilik meter atau kilo, lemparkan dia ke jalan, dan jika ia berkata kepadamu bahwa meter terbagi menjadi seratus bagian dan setiap bagian menjadi sepuluh bagian…

Sebelum kami membahas buku Profesor Thaha Hussein, kami berterima kasih kepadanya atas pujian yang telah ia berikan kepada kami dalam bukunya dan pengecualiannya terhadap kami dalam beberapa hal dari semua orang yang telah mengkaji sejarah sastra Arab. Kami, dalam pandangan kami sendiri, sebenarnya tidak sampai pada derajat itu dan tidak sampai pada apa yang ia sampaikan kepada kami bersama beberapa teman kami. Meskipun demikian, kami mengetahui dari perbuatan Profesor yang terhormat bahwa ia tidak akan berbuat adil kepada kami satu kali kecuali setelah ia berbuat zalim kepada kami berkali-kali, dan bahwa ia telah menjadikan penyerangan terhadap kami sebagai mazhab yang ia dikenal dengannya dan mendominasi dirinya.

Sehingga hampir tidak mungkin dikatakan oleh para pembela masa lalu atau ditulis oleh para pembela masa lalu atau dicela para pembela masa lalu kecuali hal itu menurutnya ditujukan langsung kepada kami, khusus untuk kami dari seluruh orang-orang beriman… Dan seandainya Allah menyelamatkannya dari sikap keras kepala dengan ilmunya terhadap manusia, dan menganugerahinya nikmat untuk berhenti pada batasnya serta menjaga baginya kebajikan Syarqi Islami, niscaya kami akan mendapatkan keuntungan darinya seperti keuntungan emas dan perak. Namun bagaimanapun kami berurusan dengannya di pasar Timur dan Barat, kami tidak mendapatinya di tangan Timur kecuali sebagai tembaga dan di tangan Barat kecuali sebagai emas. Jadi ia menghitung untuk kami dalam hutang-hutang yang kami tanggung, adapun dalam hutang-hutang yang menjadi hak kami, maka ia tidak menghitung untuk kami kecuali… “dengan harga barang rongsokan!”

Kami mencari dalam buku Asy-Syi’ru Al-Jahili (Puisi Jahiliyah) tentang keempat masalah yang kami ajukan ke Universitas, ternyata Profesor telah menghapus darinya masalah yang paling berbahaya dan paling penting, yaitu masalah penghapusan puisi Nasrani dan Yahudi oleh kaum Muslim. Ia tidak mengatakan apa pun tentangnya dan tidak mengisyaratkannya kecuali dengan isyarat ringan, seolah-olah dalam perkara itu ada bekas dari ketegasan Profesor Besar Direktur Universitas.

Maka ia berkata di halaman 84 tentang Umayyah bin Abi ash-Shalt: “Sesungguhnya ia mengambil sikap permusuhan terhadap Nabi shallallahu alaihi wasallam, ia menghina para sahabatnya dan mendukung para penentangnya.

Ia meratapi orang-orang kafir yang terbunuh di Badar, dan ini saja sudah cukup untuk melarang periwayatan puisinya, dan agar puisi ini hilang sebagaimana hilangnya sebagian besar mutlak dari puisi penyembah berhala yang di dalamnya dicela Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya ketika permusuhan masih keras antara beliau dengan para penentangnya dari orang-orang Arab penyembah berhala dan Yahudi.”

Dan ia berkata di halaman 5: “Jadi puisi Umayyah bin Abi ash-Shalt bukanlah hal yang aneh dalam puisi orang-orang Arab yang bertahanuts (mencari agama yang benar), atau yang menjadi Nasrani dan Yahudi di antara mereka.

Dan tidak mungkin kaum Muslim telah sengaja menghapusnya kecuali apa yang berupa celaan terhadap Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya serta kritikan terhadap Islam; karena kaum Muslim menempuh terhadapnya cara yang sama seperti terhadap puisi lainnya yang diabaikan hingga hilang.”

Maka engkau melihat bahwa di sini ada sesuatu dari perbaikan, penghapusan, dan kehati-hatian. Dan masih tersisa bahwa Profesor Universitas tertipu oleh perkataan Clement Huart, orientalis Perancis, dalam apa yang ia klaim bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang periwayatan puisi Umayyah. Maka Thaha mengikutinya dan mengira hal itu benar, meskipun ia memberi alasan larangan itu dengan alasan yang berbeda dari alasan bodoh dan konyol yang dikemukakan oleh orientalis ini.

Namun apa bukti kebenaran kabar larangan itu, padahal telah tetap dalam Shahih Muslim bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam meminta agar dibacakan kepadanya puisi Umayyah dan beliau terus berkata kepada pembaca “Teruskan, teruskan” hingga genap seratus bait!

Sesungguhnya para orientalis ini adalah orang-orang yang paling berani berbohong dan membuat-buat teks serta melebih-lebihkan dalam ungkapan ketika urusan itu berkaitan dengan Islam atau dengan sebab yang berhubungan dengannya. Dan semua yang diketahui dari perkara larangan itu adalah bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang periwayatan qasidah yang dengannya Umayyah meratapi orang-orang musyrik yang terbunuh di Badar, dan meskipun demikian qasidah itu masih diriwayatkan dalam kitab-kitab sirah hingga hari ini; karena terjadinya larangan tidak mengharuskan penghapusan yang dilarang itu dan tidak meninggalkannya pada orang yang menginginkannya.

Dan Allah telah melarang banyak hal yang masih dilakukan, dan akan tetap ada selama fitrah manusia masih ada. Maka puisi Umayyah tidak diabaikan dan tidak dilarang periwayatannya, tetapi itulah kebohongan dan kelalaian dari kedua profesor. Terlebih lagi Doktor Thaha berkata di halaman 54: Kaum Anshar menulis celaan mereka terhadap Quraisy dan berhati-hati agar tidak hilang…

Lalu bagaimana mungkin hilang “sebagian besar mutlak”? Dan apa yang menghalangi Quraisy untuk menulis celaan mereka sebagaimana yang dilakukan kaum Anshar; dan jika mereka menulis hal seperti ini, maka itu adalah teks bahwa tidak ada larangan dalam periwayatannya!

Sungguh telah menulis syaikh sastra, sahabat kami Amir Syakib Arsalan, apa yang cukup untuk menjawab Profesor Universitas dalam membangun sejarah berdasarkan kesewenang-wenangan dan asumsi serta klaimnya bahwa kaum Muslim menghapus puisi Nasrani dan Yahudi atau menyebabkan penghapusannya; maka kami tidak memperpanjang dalam makna ini, namun kami menambahkan pada apa yang dikatakan oleh syaikh kami yang mulia bahwa ketika Suhail bin Amru dari kaum musyrik Quraisy ditawan, dan ia adalah seorang yang ‘alam – yaitu terbelah bibir bawahnya – dan Quraisy ingin menebusnya, Umar bin al-Khaththab berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Cabutlah dua gigi seri bawah Suhail bin Amru agar lidahnya menjulur sehingga ia tidak akan pernah bisa berdiri sebagai orator melawanmu di suatu tempat!” Namun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menolak dan melepaskan orang itu. Seandainya beliau menghapus sesuatu atau memerintahkan sesuatu dalam menghentikan ucapan dan membatalkannya, niscaya beliau telah menghapus sarana terbesar khitabah (pidato) pada orator musyrik ini, dan membiarkannya tidak bisa melafalkan satu huruf pun dan tidak bisa menegakkan kalimat pada bunyi-bunyinya sehingga ia tidak akan pernah berhasil dalam khitabah setelahnya.

Dan kaum Muslim hingga hari ini masih meriwayatkan perkataan Ibnu az-Ziba’ra dalam menjawab Nabi shallallahu alaihi wasallam:

Kehidupan kemudian kematian kemudian kebangkitan… cerita dongeng wahai Ummu Amru!

Dan perkataan orang Yahudi itu ketika unta Nabi shallallahu alaihi wasallam tersesat:

Muhammad mengklaim bahwa berita langit datang kepadanya sementara ia tidak tahu di mana untanya!

Dan di sini kami ingin mengatakan kepada Doktor Taha: Sesungguhnya kejauhan beliau dari seni puisi adalah yang menjatuhkannya pada pendapat konyol ini. Seandainya orang Yahudi itu menuangkan kalimat ini dalam bentuk syair, maka apa kiranya yang dapat ditambahkan pada apa yang ia katakan? Dan apakah puisi Nasrani dan Yahudi itu kecuali seperti puisi seluruh orang Arab dalam hal kebanggaan, celaan, deskripsi, percintaan dan lainnya?

Ataukah Doktor mengira bahwa puisi orang Nasrani harus tentang keyakinan dan Injilnya, dan puisi orang Yahudi tentang Tauratnya dan perdagangannya… Dan barangkali ia tidak mengetahui bahwa puisi paling lemah dalam seni adalah ketika ia membahas makna-makna ini dan yang sejenisnya sebagaimana terjadi dalam puisi para ulama dan sufi, hingga mereka berkata bahwa puisi Hassan bin Tsabit turun dalam Islam ke tingkat yang lebih rendah dari apa yang ia miliki di masa Jahiliyah.

Al-Ashma’i berkata: Puisi jika engkau masukkan ke pintu kebaikan maka ia akan melunak – yaitu melemah – tidakkah engkau lihat bahwa Hassan bin Tsabit bersyair di Jahiliyah dan Islam; ketika puisinya masuk ke pintu kebaikan berupa ratapan untuk Nabi shallallahu alaihi wasallam dan Hamzah dan Ja’far radhiyallahu anhuma dan lainnya, puisinya melunak…

Dan jalan puisi adalah jalan puisi para penyair tangguh, seperti Imru’ al-Qais, Zuhair, dan an-Nabighah. Deskripsi tempat tinggal dan perjalanan dan celaan dan pujian dan rayuan kepada wanita dan deskripsi khamar dan kuda dan peperangan dan kebanggaan, maka jika engkau masukkan ke pintu kebaikan ia akan melunak. Selesai.

Terlebih lagi puisi Yahudi dan Nasrani dibedakan dengan jelas dalam periwayatan. Jika tidak sampai kepada kami, maka itu karena gugurnya periwayatan dan hilangnya kitab-kitab, bukan karena hilangnya puisi itu sendiri akibat pengabaian kaum Muslim.

Dan telah hilang banyak makna dari kebiasaan Jahiliyah dan perbuatan-perbuatannya yang dibatalkan oleh Islam atau tidak dibatalkannya, meskipun demikian puisi menyampaikannya dan para ulama tidak merasa keberatan untuk meriwayatkannya; dan ini adalah Ibnu Qutaibah berkata dalam kitab “Al-Maisir wa al-Qidah” (Judi dan Anak Panah): Sesungguhnya maisir adalah urusan dari Jahiliyah yang diputus oleh Allah dengan Islam, maka tidak tersisa pada orang-orang Arab kecuali sedikit darinya, dan pada ulama-ulama kami kecuali apa yang disampaikan kepada mereka oleh puisi kuno.

Dan telah menulis al-Jahizh dalam apa yang ia riwayatkan, ia berkata: “Aku mendapati para perawi masjid dan Mirbad dan orang yang tidak meriwayatkan puisi orang-orang gila dan pencuri-pencuri Arab dan percintaan Arab dan rajaz Arab yang pendek serta puisi Yahudi, karena mereka tidak menganggapnya sebagai perawi. Ini adalah teks bahwa periwayatan puisi Yahudi adalah bab khusus dari bab-bab periwayatan dalam Islam dan jenis yang dibedakan dari keunikan puisi.

Dan bagi Imam al-Marzubani ada kitab yang mereka katakan lebih dari lima ribu lembar, ia bagi menjadi dua belas bab di antaranya bab khusus tentang agama para penyair dalam puisi-puisi mereka termasuk Yahudi dan Nasrani.

“Sesungguhnya Profesor Universitas mengetahui dengan pengetahuan yang tidak dimasuki keraguan yang ia banggakan… bahwa kitab-kitab salaf tidak sampai kepada kami secara keseluruhan, dan tidak sampai sebagian besarnya, dan tidak juga apa yang dikatakan di dalamnya sebagai banyak, dan bahwa periwayatan tidak sampai kepada kami dengan apa yang ia bawa dari ilmu yang luas itu berupa puisi-puisi, berita-berita, dan kritik. Maka bagaimana boleh baginya menghukum puisi Jahiliyah bahwa ia palsu atau dipaksakan pada pemiliknya, atau sebagian besar mutlak darinya palsu dan dipaksakan, sementara ia tidak meriwayatkan puisi ini, dan ia tidak mengetahui berapa ukurannya, dan tidak menguasai yang paling sedikit darinya apalagi yang lebih banyak. Dan mereka berkata bahwa Ibnu al-A’rabi sendirian telah mendiktekan dari puisi beberapa muatan, maka di mana muatan-muatan ini hari ini sehingga dapat dibandingkan sebagiannya dengan sebagian yang lain. Dan siapakah yang mampu di zaman kami untuk berkata tentang puisi: Ini menyerupai puisi Jahiliyah dan ini tidak menyerupainya, dan penciptaan baru dalam ini jelas, dan seni dalam itu nyata, dan ini lebih menyerupai perkataan si fulan dan ini bukan dari tenunan si fulan dan bukan dari tingkatannya, dan itu adalah buatan yang diriwayatkan dalam puisi si fulan… dan seterusnya dan seterusnya?

Ibn Salam telah menyusun sebuah kitab tentang tingkatan penyair-penyair terkemuka zaman Jahiliyah yang hanya namanya saja yang dikenal. Apakah menurut kalian, seorang perawi seperti dia menyusun sebuah kitab pada awal abad ketiga tentang nama-nama para “penyair terkemuka” itu sementara di hadapannya tidak terdapat banyak syair mereka yang shahih yang telah ditapis, disaring, dan dibersihkan darinya syair-syair palsu dan syair-syair yang dipalsukan, serta apa yang telah dibuat-buat oleh suku-suku sesuai hawa nafsu mereka dan apa yang disisipkan oleh para perawi karena berbagai alasan mereka?

Kami tidak menolak bahwa di antara apa yang dinisbatkan kepada masa Jahiliyah terdapat syair yang dipaksakan kepada orang-orang Jahiliyah, dan syair yang dipalsukan untuk mereka dari ucapan penyair-penyair yang tidak dikenal. Kami telah menjelaskan hal itu dalam “Tarikh Adabil Arab” (Sejarah Sastra Arab) dalam bab Periwayatan dan Para Perawi dari Jilid Pertama, yaitu bab yang menjadi dasar Doktor Thaha dalam bukunya tentang Syair Jahiliyah.

Namun antara kita dan masa Jahiliyah terdapat periode-periode yang berturut-turut dari orang-orang yang meriwayatkan darinya, yang hampir mencapai lima belas abad. Sebagian besar kitab telah musnah dan hilang bersama di dalamnya perkataan-perkataan para perawi dan ilmu para ulama tentang apa yang telah mereka teliti dan nyatakan, serta apa yang mereka toleransi dan perluas. Maka tidak boleh bagi siapa pun di antara dua kutub bumi untuk menetapkan atau mengingkari, menambah atau mengurangi kecuali dengan nash dari ulama terdahulu; karena ilmu ini tidak mungkin tegak dengan mengikuti prasangka dan tidak dapat benar dengan keraguan. Sesungguhnya tempat keraguan, perkiraan, dugaan, dan kesimpulan hanya datang setelah materi dikumpulkan dari berbagai sisinya sehingga tidak luput darinya kecuali yang sedikit yang karena sedikitnya diasumsikan tidak membatalkan hukum dan tidak menggugurkan pendapat, karena sudah cukup dengan nash-nash lain yang banyak yang dengannya tercapai dugaan kuat jika tidak datang darinya keyakinan. Namun urusan ini ada di tangan profesor universitas yang diuji dengan keraguan.

Sebaliknya, dia tidak mampu mengembalikan kitab-kitab yang telah hilang untuk menyeluruhnya, dan dia tidak mungkin dapat melihat semua yang tersebar di sudut-sudut dunia dari kitab-kitab yang belum hilang, dan dia tidak melihat semua yang dapat dijangkau tangan para sastrawan: tiga tingkatan yang satu lebih rendah dari yang lain. Yang mengherankan, yang tidak ada bandingannya dalam keanehan, adalah bahwa sang profesor memiliki kekurangan semacam ini, kemudian dia mengklaim bahwa dia menyeru kepada metode ilmiah dalam sejarah sastra, bahwa dia meneliti dan memverifikasi, menetapkan dan menafikan, meyakini dan meragukan. Inilah yang menggelikan dari urusannya.

Sesungguhnya syarat paling khusus dari metode ilmiah dalam mempelajari dan menulis sejarah adalah bahwa sejarawan harus menyeluruh dalam semua yang dikatakan dan ditulis tentang topiknya, yang berkaitan dengan peristiwa atau tokoh atau masalah, tidak luput darinya sesuatu pun. Jika dia telah menyelesaikan materi dan meletakkan tangannya darinya di mana dia kehendaki dan aman bahwa tidak ada urusan penting yang luput darinya, maka datanglah syarat kedua untuk metode ini dan wajib pada saat itu bahwa dia lepas dari hawa nafsunya dan kecenderungannya, dan melepaskan diri dari pribadi kemanusiaannya, untuk menjadi dalam pekerjaannya sebuah pribadi, sebagaimana hakim melepaskan diri untuk menjadi dalam keputusannya pribadi hukum semata! Namun Thaha melepaskan diri sebelum dia mengenakan pakaian…

Ini adalah jenis kejenakaan yang jika dapat ditoleransi dari seorang penulis di surat kabar, tidak dapat ditoleransi dari seorang pengajar di universitas!

Meskipun metode ilmiah berdiri atas penelitian materi dan penguasaannya dari semua sisinya, metode ini tidak mengeluarkan sejarah itu sendiri sebagaimana adanya dalam kenyataan, melainkan datang dengan pendapat tentangnya yang tolok ukurnya selalu adalah kecerdasan pemiliknya, akalnya, dan imajinasinya. Karena itu mereka mensyaratkan pada pemilik metode tersebut bahwa dia termasuk orang yang diberi kepandaian sempurna dalam ketepatan intuisi, kekuatan pikiran, dan ketinggian imajinasi. Jika tidak, pekerjaannya keluar tanpa makna, atau dengan makna yang tidak ada nilainya, atau dengan nilai lemah yang turun dari sejarah seperti kedudukan rangka tulang dari tubuh yang hidup.

Imam al-Marzabani menyusun sebuah kitab selain kitab yang kami isyaratkan tadi. Ibn an-Nadim berkata bahwa kitab itu lebih dari lima ribu lembar yang di dalamnya dia mengumpulkan berita-berita (penyair-penyair terkenal) dari masa Jahiliyah, dimulai dengan Imru’ul Qais dan generasinya, kemudian para penyair Mukhdhram (yang hidup di dua masa), kemudian penyair-penyair Islam hingga awal Daulah Abbasiyah. Ini adalah berita-berita penyair dua ratus tahun dari sejarah, bahkan yang terkenal di antara mereka, dan telah ditulis dalam lima ribu lembar, yaitu sepuluh ribu halaman. Tidak sampai kepada kami darinya satu halaman pun. Bagaimana mungkin dengan hilangnya kitab itu dan hilangnya banyak kitab sejenis yang komprehensif dan bermanfaat ini, dapat diterima akal dari seorang sejarawan ilmiah yang duduk di kursi penelitian bahwa dia memutuskan omong kosong seperti ini yang dibawa kepada kami oleh Doktor Thaha Husein dalam mengingkari dan menetapkan syair, padahal dia dengan kekurangan yang memalukan ini juga kurang memiliki kemampuan kepenyairan, karena dia bukan penyair yang dapat merasakan dengan indera sebagaimana Dzu ar-Rummah merasakan ketika ditanya tentang syair yang dibacakan oleh Hammad ar-Rawi dalam memuji Bilal bin Abi Burdah, lalu dia berkata: Sesungguhnya itu bagus dan bukan miliknya. Ketika Bilal meminta dengan tegas kepada Hammad agar memberitahunya, dia berkata: Sesungguhnya syair itu kuno dan tidak ada yang meriwayatkannya selain aku, dan aku telah mengklaim sebagai milikku.

Jarir, al-Farazdaq, dan penyair-penyair lain memiliki banyak kisah seperti ini. Mereka membaca dengan jiwa mereka sebagaimana mereka membaca dengan mata mereka. Maka tidak pantas seorang sejarawan berkata tentang syair kecuali jika dia adalah penyair yang dapat dipercaya kemampuannya. Sesungguhnya indera dan kemampuan adalah salah satu sebab terkuat dalam berpendapat tentang hal seperti itu.

Dengan kekurangan yang berkekurangan pada profesor universitas, dia tidak pandai dalam kritik syair, karena kritik berdiri atas kemampuan dan pemahaman, bukan pemahaman semata. Dia tidak mengkritik dalam bukunya Syair Jahiliyah dengan kritik seni kecuali satu bait dari qasidah Amr bin Kulthum yang terkenal dengan Mu’allaqah, yaitu ucapannya:

Ketahuilah, jangan ada yang berbuat bodoh kepada kami, nanti kami akan berbuat bodoh melebihi kebodohan orang-orang bodoh

Sang profesor berkata: “Aku katakan bahwa bait ini menggambarkan keengganan orang badui terhadap penghinaan, tetapi aku cepat-cepat… lalu aku katakan bahwa bait ini tidak menggambarkan kelancaran tabiat badui dan penolakannya terhadap pengulangan huruf sampai batas yang membosankan ini, karena banyaknya huruf Jim, Ha’, dan Lam ini, dan keras kebodohan ini hingga membosankan” selesai.

Kami katakan: seandainya dia tidak tergesa-gesa dan tidak bergembira dengan pikiran ini, karena dia tersandung karena tergesa-gesanya hingga mulutnya penuh tanah. Sejak kapan Profesor Thaha Husein memperhatikan cacat pengulangan huruf, padahal dialah yang dijadikan perumpamaan dalam pengulangan sebelum kami mengajarinya pelajaran itu di koran “As-Siyasah”, dan dia belum sembuh dari penyakit ini. Kami melihat artikelnya di “Muqtathaf” bulan Maret tahun 1926 ini datang dengan suara sengau ini… “Dia berjalan ke mana dia mau dan menggambarkan sesuatu sebagaimana dia mau, bukan sebagaimana yang dikehendaki sesuatu itu” maka perhatikanlah.

Kami katakan kepada profesor universitas: Sesungguhnya pengulangan dalam bait Amr bin Kulthum adalah rahasia kefasihan di dalamnya, dan itulah warna yang dipercikkan penyair dari warna-warna jiwanya kepada makna untuk menciptakannya sebagai ciptaan yang hidup, sehingga seandainya tidak ada pengulangan ini, makna akan melemah dan derajat syair akan jatuh. Sesungguhnya penyair ini menggambarkan dalam bait itu kemarahan kaumnya, kehormatan mereka, kemampuan mereka untuk membalas, murka, dan hukuman keras bagi siapa yang mulia dan hina. Maka dia tidak berkata: Jika seseorang berbuat bodoh kepada kami, kami berbuat begini dan begitu. Padahal dia mampu mengatakannya jika dia menjadikan bait itu: Kapan pun seseorang berbuat bodoh kepada kami, kami berbuat bodoh… dan seterusnya. Tetapi dia pertama-tama mengingatkan dengan ucapannya: “Ketahuilah” kemudian melarang setelah itu bahwa seseorang berbuat bodoh kepada mereka, untuk memberi kesan bahwa kaumnya memiliki perintah dan larangan; ini yang pertama. Kemudian setelah itu dia mengulangi lafadz kebodohan dengan kata kerja, mashdar, dan isim fa’il, dan melanjutkannya sampai akhir syair, kebodohan demi kebodohan, untuk memberi kesan kepada jiwa-jiwa bahwa pembalasan mereka adalah bencana yang tidak ada akhirnya, yang di dalamnya kebodohan berturut-turut yang tidak ada akal bersamanya maka tidak ada belas kasihan di dalamnya. Seakan dia berkata: Sesungguhnya pembalasan itu tiga kali lipat, dan sesungguhnya barang siapa berbuat buruk kepada kami satu kali, kami kembalikan kepadanya tiga kali; dan semua itu hanya dimanfaatkan oleh pengulangan. Inilah kemarahan tabiat badui dan kehormatan mereka. Maka jangan mengharapkan dari tabiat bebas ini kelancaran dan kelembutan dalam posisi kemarahan dan peringatan serta ancamannya kepada musuh-musuhnya dengan serangan besar, melainkan nantikanlah kengerian yang mengerikan yang digambarkan untukmu oleh huruf-huruf Jim, Ha’, dan Lam ketika dia memenuhi kedua sisi mulutnya sebagai seorang Arab yang bersuara nyaring, deklamasi megah, emosi bergejolak, darah pemarah yang mengaum dengan perkataan mengaum. Apakah engkau memahami, wahai profesor universitas?

Di antara yang paling buruk dalam buku Doktor Thaha Husein adalah bahwa dia mengumumkan dalam pendahuluannya pelepasan dirinya dari agamanya ketika meneliti. Dia ingin menarik generasi muda dengan itu, mengikuti mazhab filsafat Descartes yang mewajibkan kepada peneliti untuk melepaskan diri dari segala sesuatu ketika dia meneliti tentang kebenaran.

Sang profesor berkata: Kita harus ketika menghadapi penelitian tentang sastra Arab dan sejarahnya bahwa kita melupakan kebangsaan kita dan semua ciri-cirinya “dan bahwa kita melupakan agama kita dan segala yang berhubungan dengannya!

Ini, demi umurku, adalah puncak kebodohan. Sesungguhnya ada perbedaan antara penelitian tentang kebenaran filsafat yang murni akal, dan antara penelitian tentang kebenaran sastra sejarah yang berdiri atas nash dan perkataan fulan dan fulan. Jika dia melupakan agamanya (dan perhatikanlah apa yang ada dalam ungkapan ini), maka apa yang akan terjadi dari pengaruh sejarah ini selama materi sejarah tidak terkumpul baginya sebagaimana telah kami sebutkan, dan selama sang profesor diuji dengan kekurangan dari segala sisi.

Adapun bahwa dia benar-benar telah melupakan agamanya dalam jawabannya kepada Clement Huart, orientalis Prancis, yang mengklaim bahwa dia menemukan sumber Arab dari sumber-sumber Al-Qur’an yaitu syair Umayyah bin Abi ash-Shalt “yang harus Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah meminta bantuan dengannya banyak atau sedikit dalam menyusun Al-Qur’an” sebagaimana datang dalam buku Thaha, Maha besar firman yang keluar dari mulut mereka, mereka tidak berkata kecuali dusta (Al-Kahfi: 5).

Jawaban profesor universitas yang melupakan agamanya adalah bahwa dia mengingkari pengambilan bantuan dengan syair Umayyah, tetapi dia tidak menjawab kebodohan Huart dalam klaimnya bahwa Al-Qur’an dari susunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan dia diam tentang itu, bahkan dia berkata dengan huruf yang persis di halaman 83: “Tidak penting bagiku di sini apakah Al-Qur’an terpengaruh oleh syair Umayyah atau tidak”

Maka urusan menurutnya dalam batas kebolehan sebagaimana engkau lihat, dan tidak penting baginya apakah agamanya dan agama umatnya benar atau dusta…

Seandainya Thaha Husein seorang yang fasih dari para imam kefasihan, kami akan katakan: Pendapat yang dia pandang meskipun itu kekufuran dan ateisme, tetapi dialah dia dia dia… Akan tetapi ucapannya dalam buku ini tentang Al-Qur’an al-Karim adalah ucapan orang yang “melupakan agamanya” bahkan ucapan orang yang tidak punya agama. Maka tidak ada dalam urusannya mukjizat, tidak ada kemukjizatan, dan tidak ada tanzil (pewahyuan).

Ini akan datang secara terperinci nanti. Sesungguhnya buku bodoh ini yang dibawa kepada kami oleh universitas membuat jiwa sempit karenanya karena banyaknya kesalahan di dalamnya, hingga tidak tahan kecuali orang yang berada dalam akal penulisnya, lemahnya hujahnya, runtuhnya pendapat-pendapatnya, dan banyaknya kesalahannya. Kami menemukan bahwa dalil terkuat yang menjadi sandaran pengarang dalam membohongkan apa yang diriwayatkan dari syair Jahiliyah adalah satu dalil yang dia berijtihad di dalamnya dan mengulanginya dan menyebutnya kompleks bahasa, dan dia yakin bahwa pendukung klasik tidak mampu berbuat apa-apa tentangnya. Yaitu prasangkanya bahwa perbedaan dialek Arab harus ada dalam syair-syairnya.

Karena syair Jahiliyah tidak ada sesuatu pun darinya, maka syair itu dibuat-buat setelah Islam dan setelah bahasa menjadi Quraisy. Dia berkata:

“Maka jenis perbedaan dialek ini memiliki pengaruh alamiah yang wajib dalam syair, dalam timbangan, potongan-potongannya, lautan-lautannya, dan qafiahnya secara umum. Jika susunan Al-Qur’an yang bukan syair dan tidak terikat dengan apa yang mengikat syair telah mampu tegak dalam penyampaiannya kepada suku-suku ini” dia maksud perbedaan qira’at (bacaan) “maka bagaimana syair mampu, dan bagaimana dialek-dialek yang berbeda ini tidak menimbulkan pengaruhnya dalam timbangan syair dan pemotongan musiknya”?

Apa itu dialek-dialek wahai profesor universitas? Seharusnya engkau menetapkannya sebelum engkau menentangnya. Sesungguhnya jika engkau lakukan, maka engkau akan melihatnya secara keseluruhan tidak mengubah sesuatu dari timbangan syair. Maka dialek itu sebagian besar antara penggantian huruf dengan huruf atau harakat dengan harakat atau mad dengan mad, dan semua itu tidak mempengaruhi dalam menegakkan timbangan banyak maupun sedikit. Perbedaan dalam hakikatnya adalah bentuk-bentuk dalam pelafalan dan suara lebih dari bentuk-bentuk dalam penempatan dan bahasa. Meskipun demikian, mereka menegaskan bahwa orang Arab fasih tidak terikat dengan bahasa sukunya jika bertentangan dengan tabiat kefasihan dalam dirinya. Di antara mereka ada yang sesuai dengan dialek dan di antara mereka ada yang menentangnya karena sebab pada yang ini dan pada yang ini kembali kepada fitrah dan kekuatannya. Di antara suku-suku ada yang mengambil dialek selain mereka sebagaimana yang dilakukan Quraisy. Quraisy dahulu tidak membaca dengan hamzah, tetapi ketika Al-Qur’an turun dengan hamzah, mereka mengambil dialek ini.

Dan Anda harus tahu wahai profesor universitas bahwa kami memiliki teks dari Ibnu al-Kalbi bahwa orang Arab tidak meriwayatkan dari syair jahiliah kecuali yang ada hingga seratus tahun sebelum Islam, yaitu umur dua orang yang salah satunya meriwayatkan dari yang lain, dan itulah masa ketika bahasa bangkit dan orang Arab saling mengambil dari satu sama lain.

Dan dengan semua ini masih ada teks lain bahwa di antara perbedaan dialek ada yang diambil dalam melantunkan syair jika ditemukan dalam bahasa dari orang yang keArabannya diterima, dan ada yang tidak diambil jika ditemukan dalam bahasa dari orang yang keArabannya tidak diterima, maka itu adalah bukti tegas bahwa para ulama menghapus hal-hal yang tidak mereka ridhai dan mengubah dalam melantunkan syair bukan dalam gubahan syairnya. Seorang penyair dari Bani Tamim berkata:

Dan aku tidak berkata untuk periuk Kaum telah matang… dan aku tidak berkata untuk pintu rumah terkunci

Maksudnya: Aku tidak berkata untuk periuk kaum dan seterusnya, yaitu Qaf yang diucapkan mereka antara Qaf dan Kaf, dan itu tersebar di kalangan Arab, dan itu bukan Qaf murni yang dengannya Al-Quran dibaca. Jadi apakah semua syair Bani Tamim diriwayatkan dengan cara ini? Dan bagaimana jika Kaf dalam bait syair itu diganti dengan Qaf agar sesuai dengan bahasa fushah dalam pelantuman?

Dan dalam hadits dari bahasa Himyar “Tidaklah termasuk kebaikan berpuasa dalam bepergian” karena memang dari bahasa mereka mengganti lam ta’rif (kata sandang) dengan mim, dan ungkapan ini jika diberikan harakat panjang pada Sin dalam “Laisa” akan keluar darinya sebaris syair yang beraturan dari Rajaz. Maka jika Anda melantunkannya dengan fushah dan mengatakan “Laisa minal birri ash-shiyamu fis safari” di mana pengaruh dialek-dialek dalam timbangan dan pemotongan musikal… dan bahrun serta qafiyah?

Maka dalil yang profesor universitas sangkakan tidak ada yang lebih kuat dan lebih pelik darinya dalam babnya adalah seperti yang Anda lihat paling lemah dalil-dalilnya dan paling cepat lenyapnya, lalu bagaimana dengan yang lainnya yang ia cari-cari alasan dan dipaksakan padanya pemalsuan?

Jika engkau ambil Qais terhadapmu dan Khindif… dengan segala penjurunya, engkau tidak tahu dari mana harus menggembalakan

۞۞۞۞۞

Profesor Sastra dan Al-Quran

Kepada Hai’ah Kibar al-Ulama (Dewan Ulama Besar) dan Dewan Pengurus Universitas

Kami bertemu seorang sahabat dari para sastrawan Kristen, lalu ia berkata: Celakalah kalian! Wahai para ulama dan penulis yang mengadakan kiamat terhadap risalah Profesor Syekh Ali Abdul Razaq, sesungguhnya risalah ini hanyalah tasbih kepada Allah dibandingkan dengan buku Thaha Husein yang diajarkannya di universitas.

Maka kami katakan kepada sastrawan ini: Dan buku Thaha Husein adalah tasbih kepada Allah dibandingkan dengan apa yang ada dalam diri Thaha Husein, maka seandainya bukan karena agama pemerintah, peradilan, dan kejaksaan – sebagaimana ia katakan dalam bukunya – niscaya ia telah meruntuhkan langit dan bumi dan membiarkan yang belakangan melaknat yang terdahulu, dan ia akan berbuat keji di hadapannya, di belakangnya, di kirinya, di kanannya, di atasnya dan di bawahnya, kemarahan terhadap agama dan kitabnya, dan Islam serta nabinya, dan terhadap umat dan ulamanya. Dan ia dengan apa yang diketahui dari agama pemerintah, peradilan, dan kejaksaan, Anda tidak melihatnya memandang makna dari makna-makna Islam kecuali ia datang dengan seburuk-buruk pandangan dan paling keras kebodohan dan kebodohannya. Dan Anda melihatnya bangga dalam bukunya bahwa ia termasuk orang yang “Allah ciptakan bagi mereka akal-akal yang menemukan dari keraguan kelezatan dan dalam kegelisahan serta kegoncangan keridaan” – halaman 5 – dan bahwa ia dari golongan (cukuplah bagimu bahwa mereka meragukan apa yang manusia melihatnya sebagai keyakinan, dan mungkin mereka mengingkari apa yang manusia sepakat bahwa itu kebenaran yang tidak diragukan – halaman 6. Maka ia tidak menganggap dirinya dari mereka yang Allah berfirman tentang mereka: “Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan” (QS. Al-Hujurat: 7), bahkan Allah membenci keimanan dan menghiasi dalam hatinya kegelisahan, kegoncangan, dan keraguan. Seandainya kami tahu bahwa bukunya dan kealhadannya adalah pembicaraan antara dirinya dengan dirinya atau antara dirinya dengan orang seperti “Casanova”, niscaya kami mengabaikannya, kemudian hukumnya menurut kami tidak lain adalah apa yang Allah Taala berfirman: “Barangsiapa yang melihat maka itu untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang buta maka itu atasnya” (QS. Al-Isra: 15). Tetapi bukunya adalah pelajaran yang ia sampaikan di universitas, kepada mahasiswa yang ia katakan jumlahnya sekitar dua ratus. Maka urusannya telah menjadi urusan dengan kekuatan universitas ini, dan universitas menjadi terdakwa dalam menyesatkan akidah dua ratus mahasiswa, dan menjadi dalam makna ilmiahnya seperti rumah sakit-rumah sakit para misionaris dalam makna medisnya… Dan dari situ wajib atas para imam agama untuk melindungi akidah anak-anak dan saudara-saudara kami, dan untuk menghentikan universitas dan menahan keleluasaannya serta mematahkan kesombongannya, jika tidak maka mereka bersekutu dengannya dalam dosa dan membantu universitas atasnya. Dan kami telah menyampaikan maka Ya Allah saksikanlah. Dan sesungguhnya binasa orang-orang sebelum kalian karena perselisihan mereka dalam Kitab!

Dan mari kita lihat sekarang kebodohan Thaha dan kebohongan-kebohongannya yang ia klaim dalam Al-Quran, dan kekurangajarannya yang menakjubkan dalam apa yang ia tulis karena kebodohan terhadap gaya-gaya penulisan dan selera serta karena mengikuti tabiatnya yang bodoh dan kasar.

Ia berkata dalam halaman 26: “Bagi Taurat untuk menceritakan kepada kita tentang Ibrahim dan Ismail, dan bagi Al-Quran untuk menceritakan kepada kita tentang keduanya juga; tetapi disebutkannya kedua nama ini dalam Taurat dan Al-Quran tidak cukup untuk membuktikan keberadaan historis keduanya, apalagi membuktikan kisah ini yang menceritakan kepada kita tentang hijrah Ismail dan Ibrahim ke Mekkah…

Ia berkata: Dan kami terpaksa untuk melihat dalam kisah ini sejenis trik dalam membuktikan hubungan antara Yahudi dan Arab dari satu sisi, dan antara Islam dan Yahudi, dan Taurat dan Al-Quran dari sisi lain”. Selesai…

Maka perhatikanlah kekurangajaran ini dalam ucapannya “bagi Al-Quran untuk menceritakan kepada kita” seolah-olah itu klaim orang yang mengklaim yang baginya untuk mengatakan dan untuk tidak mengatakan. Dan jika teks dalam kitab samawi yang seluruh umat beragama padanya tidak cukup untuk membuktikan keberadaan yang disebutkan, maka tidak ada lagi makna untuk membenarkannya, dan tidak ada lagi kecuali bahwa Al-Quran seperti yang diklaim para orientalis guru-guru Thaha Husein dan para walinya adalah ucapan dari ucapan Nabi shallallahu alaihi wasallam sendiri.

Dan dari gubahan dan karyanya sebagaimana dinukil dari pikun ini yang bernama Clement Huart. Maka ia masukkan padanya apa yang masuk dalam ucapan manusia dari kesalahan, kelalaian, trik, dan kebohongan, maka baginya untuk mengklaim apa yang ia mau tetapi tidak wajib atas kami untuk membenarkan atau merasa tenang. Dan jika ia menyebutkan dua orang dari para nabi, dan jika di dalamnya terdapat firman-Nya Taala: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail” (QS. Al-Baqarah: 127), maka itu menurut pendapat Universitas Mesir tidak cukup untuk membuktikan bahwa Ibrahim dan Ismail adalah dua orang yang memiliki “keberadaan historis”, dan tidak pula bahwa keduanya berhijrah ke Mekkah dan meninggikan dasar-dasar Baitulharam dan membangun Ka’bah. Dan dengan demikian kisah itu menurut pendapat Universitas Mesir termasuk dongeng-dongeng yang dibuat-buat dan termasuk yang melekat pada trik-trik para novelis yang dengan itu mereka menguatkan makna-makna sosial, politik, dan sejarah, dan didatangkan dalam novel sebagai kebohongan artistik sebagai jalan untuk merangkai kejadian atau menetapkan makna atau menjelaskan emosi.

Tidakkah profesor universitas tahu bahwa teks-teks telah ada bahwa orang Arab tidak menganggap orang Yahudi dari mereka meskipun negeri satu dan bahasa satu, maka apa kebutuhan mereka kepada trik novel yang bodoh, dan mereka tidak difitrahkan dengan fitrah Thaha Husein, untuk berbohong dan munafik sedangkan mereka tahu bahwa mereka pembohong munafik, sementara mereka yakin bahwa orang Yahudi adalah ahli kitab dan ilmu maka mereka tidak menerima dari bangsa jahiliah untuk membuat sejarah bagi mereka. Kemudian bagaimana kebohongan ini masuk dan trik ini menyusup dalam Al-Quran? Beritahukanlah kepada kami “dengan ilmu” jika kalian orang-orang yang benar.

Dan profesor berkata dalam halaman 18: “Maka Quraisy pada masa ini sedang bangkit dengan kebangkitan material perdagangan, dan kebangkitan agama paganisme; dan ia dengan kekuatan kedua kebangkitan ini berusaha untuk mewujudkan di negeri-negeri Arab kesatuan politik pagan yang merdeka…

Ia berkata: Dan jika ini benar, dan kami meyakini bahwa itu benar, maka wajar bahwa kebangkitan baru ini mencari untuk dirinya asal historis kuno yang berhubungan dengan asal-usul historis yang mulia yang diceritakan oleh dongeng-dongeng. Ia berkata: Dan dengan demikian maka tidak ada yang menghalangi Quraisy untuk menerima “dongeng” ini yang menyatakan bahwa Ka’bah dari pendirian Ismail dan Ibrahim… sebagaimana Roma sebelum itu menerima dan karena sebab-sebab yang serupa “dongeng” lain yang dibuat oleh orang Yunani yang membuktikan bahwa Roma berhubungan dengan Aeneas putra Priam pemilik Troy”.

Selesai ucapan Universitas Mesir, dan maknanya yang tegas bahwa Quraisy menerima dongeng khayalan ini yang membuktikan bahwa Ka’bah dari bangunan Ismail dan Ibrahim, maka yang meletakkan dalam Al-Quran mengambilnya dari Quraisy karena ia dari mereka. Dan dengan itu Universitas Mesir memastikan bahwa dalam Al-Quran ada kebohongan dan pemalsuan, karena dongeng sebagaimana profesor katakan dalam halaman 29 adalah baru kejadiannya muncul sebelum Islam dan Islam memanfaatkannya untuk sebab agama” yaitu maka ia adalah kebohongan terang-terangan yang Islam tahu bahwa itu kebohongan dan menipu dengannya orang Arab untuk sebab agama.

Maka apa yang tersisa dari agama ini yang mengambil dongeng yang diciptakan sebelum Islam sebentar dan menyebutkannya dalam kitabnya sebagai yang diturunkan dari langit dan bahwa itu wahyu yang diwahyukan.

Dan persis pada dongeng ini profesor universitas berkata dalam halaman 80: Maka ia – maksudnya Al-Quran – menyebutkan Taurat dan Injil dan berdebat dengan keduanya dengan orang Yahudi dan Nasrani, dan ia menyebutkan selain Taurat dan Injil sesuatu yang lain yaitu suhuf (lembaran-lembaran) Ibrahim, dan menyebutkan selain agama Yahudi dan Nasrani agama lain yaitu millah (agama) Ibrahim, yaitu Hanifiyah ini yang kita belum bisa sampai sekarang untuk mengetahui makna yang benarnya. Dan jika orang Yahudi telah memonopoli agama mereka dan takwilnya, dan orang Nasrani telah memonopoli agama mereka dan takwilnya, dan tidak ada seorang pun yang memonopoli millah Ibrahim (perhatikan!) dan tidak mengklaim untuk dirinya pengasingan dengan takwilnya, maka kaum Muslim mulai mengembalikan Islam dalam intinya kepada agama Ibrahim”. Selesai.

Tetapi, apakah kaum Muslim yang mengklaim ini, ataukah itu turun dalam Al-Quran mereka dalam firman-Nya Taala: “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): Ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia tidaklah termasuk orang-orang yang musyrik” (QS. An-Nahl: 123), hingga ayat-ayat lain?

Maka jika itu dari perbuatan kaum Muslim maka Al-Quran juga demikian dari buatan mereka menurut profesor universitas. Dan profesor ini menunjuk (dengan Hanifiyah) yang ia tidak memahami makna yang benarnya kepada apa yang terdapat dalam hadits dari sabdanya shallallahu alaihi wasallam:

“Aku diutus dengan Hanifiyah yang murah dan mudah”.

Dan kata ini telah berulang dalam hadits, maka bagaimana orang Arab mendengarnya dan para ulama meriwayatkannya dan tidak memahaminya, dan bagaimana itu terjadi sedangkan ia dibangun atas ayat-ayat banyak yang terdapat dalam Al-Quran, seperti firman-Nya Taala: “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik” (QS. Ali Imran: 67) dan firman-Nya: “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus” (QS. An-Nisa: 125).

Hingga ayat-ayat banyak yang semuanya adalah teks tegas bahwa makna Hanif sesungguhnya adalah yang miring dari syirik, penyerupaan, dan penggambaran dari apa yang diklaim oleh orang Yahudi, Nasrani, dan orang-orang musyrik. Dan al-Hanaf dalam bahasa: kemiringan. Dan orang Arab biasa mengatakan pada setiap orang yang beribadah dan menjauhi berhala: sesungguhnya ia tahanaf (condong), dan setiap orang yang berhaji dan menghadap Baitullah mereka menyebutnya Hanif, karena itu adalah rumah Ibrahim. Kemudian Islam memperluas kata itu sesuai kebiasaannya dalam lafal-lafal Islam yang dikenal. Maka makna yang benar dari Hanifiyah bahwa ia adalah syariat yang bersih yang tidak ada kotoran di dalamnya dari kealhadaan dan kemusyrikan, dan yang meluruskan manusia kepada Allah dan mengarahkan makhluk kepada Sang Pencipta semata.

Dan perhatikanlah bagaimana Allah berfirman: “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani” kemudian profesor universitas mengklaim bahwa kisah Ibrahim adalah “trik” dalam membuktikan hubungan antara Yahudi dan Arab, dan antara Islam dan Yahudi, dan antara Taurat dan Al-Quran… Maka apakah dalam kebodohan ada yang lebih luas dari ini?

Dan yang mengherankan adalah bahwa rektor universitas dengan segala kekacauan dan segala kebodohan ini berkata di halaman 126: “Al-Quran sendirian adalah teks Arab kuno yang dapat dipercaya oleh sejarawan untuk kebenarannya dan dapat menganggapnya sebagai penggambaran zaman ketika Al-Quran dibacakan.” Lalu di mana keraguan yang menimpa orang ini, dan bagaimana dia bisa dengan kaidahnya dalam penelitian dan analisis “menempatkan ilmu orang-orang terdahulu pada posisi keraguan” untuk membuktikan pernyataan ini? Apakah dia tidak tahu bahwa sebelumnya ada kaum “yang menemukan kenikmatan dalam keraguan dan kepuasan dalam kegelisahan dan keguncangan” yaitu kaum Rafidhah (Syiah), dan mereka telah meragukan teks Al-Quran dan mengatakan bahwa di dalamnya terjadi kekurangan, penambahan, pengubahan dan penggantian? Jika mahasiswa Universitas Mesir mengambil kaidah keraguan yang ditetapkan oleh guru mereka dan dia ingin membangun mereka di atasnya, apakah mereka akan mempercayai Thaha Husain atau mempercayai kaum Rafidhah?

Dan apa yang membuat Thaha lebih jujur dari mereka atau membuat mereka lebih pendusta darinya selama masalahnya adalah keraguan dan kesewenang-wenangan?

Sang profesor meyakini bahwa Al-Quran mewakili zaman Jahiliah “dan menggambarkannya”, dan bahwa Al-Quran adalah cermin paling jujur kehidupan Jahiliah – halaman 16 – dan bahwa zaman Jahiliah yang dekat dengan Islam tidak hilang, dan kita dapat menggambarkannya dengan gambar yang jelas, kuat dan benar, dengan syarat kita tidak mengandalkan syair, melainkan pada Al-Quran di satu sisi dan sejarah serta dongeng… di sisi lain – halaman 8 – dan makna kekacauan ini ditambah dengan apa yang telah disebutkan sebelumnya dan perkataannya di halaman 83: “Tidak penting bagiku apakah Al-Quran terpengaruh oleh syair Umayyah – Ibnu Abi Shalt – atau tidak.” Bahwa Al-Quran menurut orang ini adalah kitab yang menyerupai kitab-kitab yang disusun oleh para pengarang sehingga menjadi representasi zaman ketika kitab itu disusun karena berasal dari pemikiran yang terpengaruh oleh sebab-sebab banyak yang menciptakan zaman dengan penciptaan khususnya dan yang membedakannya, berpengaruh dengan sebab-sebab ini sendiri pada apa yang dia susun dan karang, seperti yang Anda lihat dalam Iliad karya Homer misalnya. Dan oleh karena itu tidak ada lagi makna untuk apa yang terdapat di dalamnya bahwa “tidak datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (Surat Fushshilat ayat 42)

Dan ini beserta yang serupa dengannya “bergabung dengan dongeng-dongeng yang dimanfaatkan oleh Islam untuk alasan agama” dan inilah yang akan menjadi keyakinan Universitas Mesir terhadap Al-Quran, bukan keyakinan Thaha Husain saja, selama universitas mengajarkan ini dan menyetujuinya dan menguji mahasiswa di dalamnya dan memberikan ijazah kepada mereka atas dasar ini.

Apakah Thaha Husain mengetahui makna firman Allah Ta’ala: (من بين يديه) “dari depannya” dan makna firman-Nya (ولا من خلفه) “dan tidak dari belakangnya”? Dan apakah dia memahami kemukjizatan balaghah ini yang para ahli balaghah bersujud kepadanya? Sesungguhnya maknanya wahai rektor universitas adalah bahwa Al-Quran tidak menggambarkan suatu zaman dan tidak mewakilinya, bahkan ia adalah kitab untuk setiap zaman, dan ia adalah yang tetap di atas setiap ilmu dan setiap penelitian dan setiap penemuan dan penemuan sepanjang zaman mana pun yang datang dari apa yang akan dilanjutkan sejarah, dan ini adalah makna “dari depannya” dan mana pun yang berlalu dari apa yang dilipat oleh masa lalu, dan ini adalah makna “dan tidak dari belakangnya”. Dan tidaklah tersembunyi bagimu bahwa zaman-zaman saling mengoreksi satu sama lain dan sebagian mengungkapkan kesalahan sebagian yang lain, dan mungkin ditetapkan pada suatu waktu apa yang terbukti setelah waktu yang panjang bahwa itu adalah kesalahan. Maka firman-Nya: “tidak datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya” termasuk kalimat-kalimat yang tidak terlintas dalam pemikiran manusiawi yang mengira bahwa ia menggambarkan zaman Jahiliah, bahkan ia adalah ilmu dari yang tidak ada yang mengetahui selain-Nya bahwa akan terjadi perkara-perkara dan timbul ilmu-ilmu dan diteliti sejarah-sejarah dan muncul penemuan-penemuan. Seandainya orang bodoh memahami, maka tidak akan berbicara kecuali orang yang memahami. Dan Allah telah berfirman tentang orang-orang yang serupa dengan Thaha Husain “dan datanglah kepada mereka para rasul mereka dengan bukti-bukti yang nyata dan mereka tidak akan beriman.” (Surat Ar-Rum ayat 9)

Dan sungguh aku heran kepada rektor universitas bagaimana dia mengandalkan dalam menggambarkan zaman Jahiliah pada sejarah dan dongeng padahal dia adalah orang yang mengatakan dengan keraguan, dan bagaimana dongeng-dongeng itu sahih menurutnya dan sejarah Arab sahih tanpa syair Jahiliah? Dan apakah datang syair ini kecuali dari jalan yang darinya datang dongeng dan sejarah, yaitu dengan periwayatan dan sanad, dan dari hafalan dan pembelajaran?

Dan jika ketiga-tiganya datang dari satu jalan dan kebohongan serta pemalsuan telah masuk ke dalam semuanya dan para ulama telah menyebutkan hal-hal tentang itu dalam tiga bab tersebut, bagaimana mungkin zaman Jahiliah ada dalam dua di antaranya tanpa yang ketiga padahal pemalsuan dalam keduanya lebih mudah daripada pemalsuan dalam syair, karena keduanya adalah ucapan seperti ucapan biasa tidak ada beban di dalamnya dan tidak ada kesusahan dan tidak ada keahlian, tidak seperti syair, terutama yang dikarang atas nama para penyair ulung Jahiliah.

Sesungguhnya rektor universitas mendatangkan ilmu aneh ini dari ketidaktahuannya tentang syair dan pembuatannya dan tujuan-tujuannya. Dia menganggap bahwa syair Jahiliah tidak akan menjadi Jahiliah dan tidak sahih dinisbahkan kepada Jahiliah kecuali jika mewakili kehidupan agama pada orang Arab. Dan sungguh Al-Quran telah menyebutkan orang Yahudi dan Nasrani dan kaum musyrik dan Shabiin tetapi syair Jahiliah tidak menyebutkan mereka. Bahkan ia sebagaimana dia katakan di halaman 18: “menampakkan kehidupan yang samar, kering, bersih atau seperti bersih dari perasaan agama yang kuat…” Maka Al-Quran menurutnya karena itu lebih sahih dalam representasi, dan syair karena itu menurutnya tidak sahih.

Dia berkata di halaman 19: “Dan Quraisy adalah orang yang beragama, kuat keimanannya kepada agamanya, dan syair Jahiliah tidak mewakili bagi mereka tentang itu kecuali sedikit.”

Maka hendaklah profesor menyebutkan kepada kami penyair-penyair Quraisy dari zaman Imru’ul Qais, dan hendaklah dia katakan kepada kami kapan ada syair di Quraisy padahal telah disebutkan bahwa mereka adalah suku yang paling sedikit syairnya dan penyairnya di zaman Jahiliah. Kemudian hendaklah peneliti pengkaji ini menyebutkan kepada kami bagaimana syair Islam mewakili kehidupan agama Islam, dan di mana ini dalam syair Jarir, Al-Farazdaq, Al-Buhturi, Al-Mutanabbi? Dan apakah rektor universitas menganggap bahwa Al-Quran berjalan seperti syair dalam penciptaan, sebab dan tujuan? Tidakkah Thaha Husain mengetahui sampai tahun 1926 bahwa Al-Quran diturunkan dengan syariat yang menghapus syariat-syariat, dan agama yang menyempurnakan agama-agama dan ibadah yang menghapus ibadah-ibadah, maka tidak ada cara lain selain menyebutkan semua itu di dalamnya secara global ketika diglobalkan dan detail ketika dirinci dan kisah ketika berkisah dan bukti ketika berdalil dan qiyas ketika menganalogikan – dan bahwa ia bukanlah emosi penyair dan bukan deskripsi penulis dan bukan cerita sejarawan dan bukan tipu muslihat novelis, dan bukan pula ilmu menurut ukuran pemikiran Thaha Husain pengajar Universitas Mesir…

Sungguh aku telah mengambil sekarang Al-Quran yang mulia ini ketika aku selesai dalam penulisan sampai kata ini dan aku memohon kepada Allah agar mengeluarkan untukku ayat yang menunjuk kepada Thaha Husain dan kesombongannya dan kebodohannya dan keacauannya, kemudian aku membukanya dengan niat ini, maka demi Allah sungguh keluarlah firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, Kami jadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka berjalan dalam kebingungan.” (Surat An-Naml ayat 4)

Dan wahai sayang kemudian wahai sayang – tiga kali, sebagaimana orang Prancis mengatakan – seandainya Thaha memahami apa yang ada dalam firman-Nya: “Kami jadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan mereka” niscaya dia menggigit setengah jari-jarinya karena menyesal!

Al-Quran wahai rektor universitas menentang agama-agama maka ia menyebutnya dan mendeskripsikannya dan berargumen terhadapnya. Lalu apa yang ditentang oleh syair Jahiliah sehingga menyebutkan agama-agama dan perasaan agama yang kuat? Dan ini dengan catatan bahwa engkau tidak menguasai syair ini dan tidak kebanyakannya dan tidak banyaknya, dan dengan catatan bahwa apa yang sampai kepadamu dalam kitab-kitab hanyalah apa yang dipilih oleh para perawi dan ulama untuk bahasa, seni dan keahlian, bukan untuk sejarah dan bukan untuk penelitian sejarah dan bukan “untuk penggambaran” suatu zaman dari zaman-zaman. Dan seandainya mereka menghendaki itu dan memperhatikannya niscaya datanglah kepadamu kitab-kitab melimpah yang tersusun dan sejarah lengkap yang terpelihara, tetapi mereka mengabaikan dari urusan syair dalam kaitannya dengan sejarah dan sebab-sebabnya dan maknanya seperti mereka mengabaikan dalam hal itu dari urusan bahasa, sebagaimana dikehendaki oleh tabiat zaman mereka dan ilmu-ilmu mereka.

Bukankah membawa kepada makna ini lebih dekat kepada akal daripada omong kosong itu?

Dan di halaman 20 dari kitab Thaha Husain Anda melihat kebodohan majemuk seperti campuran Baalbek dan Ma’dikarib… Maka dia mendakwakan bahwa Al-Quran mewakili bagi orang Arab kehidupan intelektual yang kuat dalam perdebatan agama dan filsafat, karena ia mendeskripsikan mereka dengan keras dalam perselisihan.

Dia berkata: “Dan dalam hal apa mereka berdebat dan berselisih dan berdialog? Dalam agama dan dalam hal yang berkaitan dengan agama dari masalah-masalah rumit ini yang para filsuf… menghabiskan hidup mereka di dalamnya.”

Maka alangkah malunya Universitas Mesir di antara universitas-universitas bangsa-bangsa! Tidakkah profesornya dalam sastra dan sejarah berkenan menyebutkan kepada kami satu majelis dari majelis-majelis Arab filosofis ini dan apa yang berlangsung di dalamnya dari penelitian dan verifikasi dan perdebatan dan perselisihan dan dialog dalam masalah-masalah rumit para filsuf yang mereka habiskan hidup mereka di dalamnya, agar kami percaya bahwa makna sikap keras dan perselisihan yang disebutkan dalam Al-Quran sebagai sifat orang Arab adalah dialog dalam masalah-masalah agama dan perdebatan dalam masalah-masalah rumit filsafat? Apakah dari hujah-hujah filosofis mereka adalah batu-batu yang disebutkan oleh sejarah bahwa mereka melemparkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampai memaksanya ke dinding, dan tanah yang mereka taburkan di atas kepalanya? Ataukah ucapan mereka: penyair, tukang sihir, pendusta, dan gila, dan semisalnya yang masuk dalam bab kebodohan, kekasaran dan ejekan?

Dan kapan ini menjadi sifat para filsuf wahai rektor universitas? Ataukah termasuk dari hujah-hujah filosofis mereka ketika dia menawarkan dirinya kepada suku-suku Arab menyeru mereka kepada Islam dan membacakan kepada mereka Al-Quran bahwa pamannya Abdul Uzza mengikutinya berkata dari belakangnya:

“Wahai manusia, jangan kalian mendengarnya karena sesungguhnya dia pendusta.”

Ataukah majelis-majelis ilmiah, agama dan filosofis mereka ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk lalu menyeru manusia dan membacakan kepada mereka Al-Quran kemudian bangkit lalu datanglah ahli dan pembicara mereka An-Nadhr bin Al-Harits menggantikannya di majelisnya dan bercerita kepada manusia dari berita-berita raja-raja Persia dan berkata: Demi Allah tidaklah Muhammad lebih bagus ceritanya dariku, dan ceritanya hanyalah dongeng orang-orang terdahulu yang dia tulis sebagaimana aku menulisnya!

Sesungguhnya makna perselisihan dan sikap keras adalah bahwa mereka adalah orang-orang bodoh, ahli pendustaan, penentangan, pembangkangan dan penolakan terhadap orang yang ingin membimbing dan mengarahkan mereka, tidak mungkin mengalihkan mereka dari pendapat yang di dalamnya ada hawa nafsu, sebagaimana tidak mungkin seperti itu pada orang bodoh yang dungu yang bersikeras yang diuji dengan kegilaan dan keraguan.

Maka sesungguhnya asal kata al-aladd dalam bahasa adalah yang keras al-ladd yaitu sisi leher, maka dia tidak meliukkan lehernya dalam pergulatan, dan itu adalah salah satu bukti terbesar kekuatan susunan jasmaninya karena leher pegulat adalah sepertiga pegulat. Dan sungguh tabiat-tabiat bodoh dungu pembangkang ini adalah salah satu bukti paling jelas kemukjizatan Al-Quran, karena dengan kekeraskepalaan mereka Al-Quran sampai kepada mereka, dan dengan penentangan mereka ia berpengaruh pada mereka dengan keindahannya. Seandainya mereka sebagaimana dakwa Thaha “pemilik ilmu dan kecerdasan dan pemilik emosi yang lembut dan kehidupan yang di dalamnya kelembutan dan kenikmatan” niscaya petunjuk mereka bukanlah sesuatu yang disebutkan dalam bab mukjizat.

Bukankah kita melihat hari ini di bangsa-bangsa beradab yang lembut yang memiliki nada menyebar orang-orang yang tunduk dengan ketundukan paling mudah dan paling cepat kepada setiap pemilik mazhab, bahkan kepada penyembahan syetan di Amerika negeri segala sesuatu keemasan…?

Dan bagaimana mereka bisa “pemilik kehidupan yang di dalamnya kelembutan dan kenikmatan” padahal mereka sendiri ketika para pembesar mereka dari suku-suku Quraisy berkumpul untuk berbicara kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berselisih dengannya sampai mereka memberikan alasan kepada-Nya berkata kepadanya di antara apa yang mereka katakan: “Engkau telah mengetahui bahwa tidak ada seorang pun dari manusia yang lebih sempit tangannya (lebih miskin) dan lebih sedikit airnya dan lebih keras kehidupannya dari kami.”

Dan ketika turun firman Allah Ta’ala: “Kemudian kalian akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan.” (Surat At-Takatsur ayat 8)

Az-Zubair bin Al-Awwam berkata: tentang kenikmatan apa kami ditanya wahai Rasulullah? Sesungguhnya hanya dua yang hitam – kurma dan air. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Adapun sesungguhnya akan ada…”

Maha Suci Allah! Bodoh dalam sastra dan bodoh dalam sejarah dan bodoh dalam bahasa dan bodoh dalam syair kemudian jadilah dari semua ini ilmu Universitas Mesir!

Dan bencana besar di halaman 22 ketika profesor mendakwakan bahwa keberadaan surat dalam Al-Quran yang bernama surat Ar-Rum adalah bukti bahwa orang Arab tidak berada dalam isolasi politik bahkan mereka adalah pemilik politik yang terhubung dengan politik umum, dan dia mengambil itu dari firman Allah Ta’ala: “Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun lagi.” (Surat Ar-Rum ayat 1-4)

Seolah-olah dia bermaksud bahwa sejarah ini telah dikenal oleh para ahli politik Arab dan di kementerian luar negeri Quraisy… lalu Al-Qur’an mengambilnya dari mereka sebagaimana yang diklaim orang tersebut tentang Ibrahim dan Ismail. Dan sang profesor universitas yang tidak memahami ini lalai dari firman Allah Ta’ala: “Dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang” (Surat Ar-Rum ayat 3)

Dia tidak menyadari bahwa ini adalah pemberitaan tentang yang gaib yang termasuk dalam kategori mukjizat, bukan dalam kategori sejarah dan bukan pula dalam kategori politik.

Maka penyebutan bangsa Romawi dalam Al-Qur’an dan yang serupa dengannya dalam kisah-kisah umat adalah mukjizat dari Nabi yang ummi (buta huruf) pada umat yang ummi ini. Dengan demikian, hal itu menjadi bukti atas kebodohan umat tersebut dan ketertinggalannya, bukan atas ilmu dan peradabannya. Dan Al-Qur’an tidak akan pernah menjadi bukti atas ilmu bangsa Arab, peradaban mereka, pengetahuan mereka tentang sejarah, dan hubungan mereka dengan politik sebagaimana yang ditetapkan oleh Thaha Husein di universitas, kecuali jika Al-Qur’an adalah perkataan Nabi yang dibawanya bukan wahyu dan bukan pula turunnya kitab suci. Maka hendaklah universitas melihat kemana profesor jahatnya pergi dengan perkataannya di halaman 23:

“Dan bagaimana mungkin seorang yang berakal bisa mempercayai bahwa Al-Qur’an telah muncul pada suatu umat yang jahil dan barbar?”

Dan apakah kita mempercayai Thaha dalam apa yang dia simpulkan dengan pemikirannya yang mandul bahwa bangsa Arab adalah umat yang berperadaban dan beradab tinggi “dan mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu, agama, dan politik yang terhubung dengan politik umum,” ataukah kita mempercayai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya:

“Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi, kami tidak bisa berhitung dan tidak bisa menulis.”

Dan dari mana datangnya peradaban, ilmu, dan tegaknya politik dengan ketidaktahuan umat terhadap tulisan dan hitungan?

Sesungguhnya Thaha Husein ini adalah kumpulan akhlak yang kacau, pemikiran yang saling bertentangan, dan tabiat yang menyimpang. Tidak ada seorang ilmuwan pun di bumi ini kecuali engkau akan mendapati pendapat-pendapatnya berdiri berdasarkan keseluruhan akhlaknya lebih daripada datang dari sifat-sifat akalnya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits shahih:

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas umatku adalah setiap munafik yang pandai bicara.”

Dan Thaha adalah seorang laki-laki yang mengirimkan lisannya dan hatinya ke Eropa, lalu dia kembali dengan lisannya dan meninggalkan hatinya di sana di reruntuhan Roma… Maka kemunafikan dan ocehannya harus dibatasi pada dirinya sendiri, dan universitas harus melindungi mahasiswanya darinya, dan para ulama kita harus bangkit untuk mewajibkan universitas ini mengumumkan penolakannya terhadap pendapat profesornya agar tidak ada yang tersesat karenanya, sehingga nilai dia dan nilai pendapatnya tetap sebagaimana adanya pada dirinya sendiri dan betapa hinanya itu, bukan sebagaimana dia di universitas dan betapa agungnya universitas itu.

Dan jika dekan fakultas sastra tidak menguasai bahasa Arab sedikitpun, tidak memahami pembahasan-pembahasan ini sedikitpun, dan dia tidak dari agama umat sedikitpun, maka apa yang akan kita katakan tentang profesor sastrawan yang cerdas dan fasih, direktur universitas yang bernama: Ahmad.

۞۞۞۞۞

Untuk Catatan Sejarah

Setelah artikel yang telah lewat dipublikasikan, para ulama bangkit di semua lembaga keagamaan di Asyuth, Iskandariah, Thantha, Dumyath, Az-Zaqaziq, dan Kairo, lalu mereka mengungkap ateisme profesor universitas tersebut, kebodohannya, dan kekeliruannya. Kemudian mereka mengirim telegram kepada Yang Mulia Raja Mesir, perdana menteri, dan kementerian pendidikan, serta memperingatkan seluruh umat. Maka telegram-telegram berdatangan dari seluruh penjuru negeri sebagai protes terhadap profesor universitas tersebut, dan orang tersebut menjadi laknat umat ini dengan ketiga agamanya: Islam, Kristen, dan Yahudi.

Dan berikut adalah apa yang ditulis oleh salah seorang ulama Al-Azhar dan dipublikasikan oleh surat kabar, dimana dia menggambarkan apa yang terjadi dari Al-Azhar Asy-Syarif saja tanpa lembaga-lembaga lain yang telah kami sebutkan tadi, dia berkata:

Para Ulama Memburu Ateisme

Para ulama terkemuka Al-Azhar Asy-Syarif adalah garda terdepan kampanye terencana melawan agama-agama samawi yang di garis depannya adalah buku “Tentang Puisi Jahiliyah” karya Thaha Husein. Mereka melihat setelah berdebat dengan hujah dan bukti namun dia tidak tunduk pada kekuatannya dan menunjukkan keras kepala serta berterus terang pada penyimpangan dan ateisme, bahwa mereka harus mengangkat masalah ini kepada Yang Mulia Raja dan pemerintahnya yang bertanggung jawab melindungi agama resminya, sebagai pelaksanaan kewajiban mereka terhadap agama yang mereka adalah wakil dan penyerunya. Maka berkumpul dari mereka sekitar dua ratus ulama di sekretariat lembaga-lembaga keagamaan, dan dari sana mereka menuju “Istana Abidin” dipimpin oleh Yang Mulia guru besar mereka Syaikh Jami’ Al-Azhar dan Dewan Ulama Besar, dimana mereka bertemu dengan Yang Mulia Taufiq Pasha Nasim dan memaparkan kepadanya beberapa celaan yang terdapat dalam buku tersebut. Yang Mulia menyatakan kemarahannya yang besar atas keangkuhan ini.

Dan Yang Mulia mengumumkan solidaritasnya dengan para ulama dalam menjaga telur agama dan membela kawasannya. Maka mereka keluar dengan berterima kasih kepada Yang Mulia atas semangat tinggi dan sikap mulia ini.

Dan mereka segera menuju Yang Mulia Ziwer Pasha perdana menteri di Kementerian Luar Negeri. Dan di sana mereka bertemu dengan Yang Mulia beserta Yang Terhormat menteri luar negeri dan menteri pendidikan bersama-sama. Lalu mereka menjelaskan kepada Yang Mulia dan Yang Terhormat beberapa kekufuran dan ateisme yang ada dalam buku ini.

Maka mereka merasa berat dan sangat mengecamnya dari seseorang muslim dari kedua orang tua muslim dalam suatu umat yang beragama, yang makan dan berpakaian dari harta mereka dan dihitung dalam barisan anak-anak mereka, sedangkan dia lebih buruk jejaknya dan lebih besar kejahatannya dari musuh-musuh mereka.

Dan mereka mengumumkan bersama-sama untuk mengambil langkah-langkah tegas dalam waktu dekat. Maka para ulama memuji mereka atas semangat tinggi dan perhatian besar ini yang akan mengikat lidah agama-agama samawi dan semua pemeluknya untuk memuji dan menyanjung mereka, dan mereka layak mendapat pahala yang besar dan ganjaran yang melimpah di sisi Allah “Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (Surat Muhammad ayat 7)

Dan sungguh para ulama telah kembali dari kunjungan ini penuh keyakinan dan iman bahwa Yang Mulia pemilik keagungan adalah penolong agama dan ilmu, dan pemerintahnya yang bijaksana akan menetapkan batas pemisah dan penghalang kokoh serta pengobatan yang berhasil untuk wabah mematikan ini yang lebih layak diburu dan dimusnahkan daripada kuman menular.

Semoga Allah menjaga agama-Nya dan merawat dengan pemeliharaan-Nya keagungan raja kami yang agung dan putra mahkota yang dicintai. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar doa.

Hamba Allah Miftah Dari Ulama Al-Azhar

Dan Guru Besar Agung Syaikh Jami’ Al-Azhar telah memerintahkan, maka dibentuklah komite dari para ulama untuk mempelajari buku Thaha Husein dan mengangkat laporan tentang isinya. Maka mereka mengangkat kepada Yang Mulia laporan ini yang Anda lihat salinannya, kemudian saya publikasikan di surat kabar.

Yaitu: Buku Puisi Jahiliyah dan Pendapat Komite Ulama tentangnya.

۞۞۞۞۞

Buku Puisi Jahiliyah Pendapat Komite Ulama tentangnya

Yang Mulia pemilik keutamaan maulana Guru Besar Agung Syaikh Jami’ Al-Azhar.

Assalamu’alaikum warahmatullahi:

Setelah itu, maka telah berkumpul komite yang dibentuk atas perintah Yang Mulia dari yang bertanda tangan untuk memeriksa buku Thaha Husein yang bernama “Tentang Puisi Jahiliyah” berkaitan dengan apa yang dikatakan tentangnya dari pendustaan Al-Qur’an Al-Karim, dan telah mempelajari buku tersebut, dan inilah yang kami angkat kepada Yang Mulia tentangnya setelah memeriksanya dan mengkaji isinya:

Buku tersebut terdiri dari 183 halaman, dan temanya adalah pengingkaran puisi jahiliyah dan bahwa itu adalah rekayasa setelah Islam karena alasan-alasan yang dia klaim – dan dia mengatakan bahwa dia membangun penelitiannya dengan melepaskan diri dari segala sesuatu bahkan dari agama dan kebangsaannya sesuai dengan mazhab “Descartes” Perancis.

Dan buku tersebut seluruhnya dipenuhi dengan roh ateisme dan zindiq, dan di dalamnya terdapat celaan yang banyak terhadap agama yang tersebar di dalamnya yang sama sekali tidak boleh disampaikan kepada murid-murid yang tidak memiliki informasi keagamaan yang dapat mereka gunakan untuk menghindari penyesatan ini yang merusak keyakinan mereka dan mewajibkan perselisihan dan perpecahan dalam umat serta memicu fitnah keagamaan yang keras terhadap agama negara dan agama umat.

Dan komite melihat bahwa jika roh ateisme ini tidak dilawan dalam pendidikan dan kejahatan ini tidak dicabut dari akarnya serta lembaga-lembaga pendidikan tidak dibersihkan dari “tanpa agama” yang sebagian individu bekerja untuk menyebarkannya dengan perencanaan dan kekuatan di bawah jubah kebebasan berpendapat, maka akan kacaulah tatanan dan menyebarlah kekacauan serta terganggu tali keamanan karena agama adalah dasar ketenangan dan tatanan.

Buku tersebut diletakkan secara lahiriah untuk mengingkari puisi jahiliyah, tetapi orang yang merenungkan sedikit akan mendapatinya sebagai tiang dari tiang-tiang kekufuran dan perusak agama-agama, dan seolah-olah itu hanya dibuat untuk menghancurkannya dari dasarnya, khususnya agama Islam. Karena dia berdalih dengan penelitian ini untuk mengingkari asal yang besar dari asal-asal bahasa Arab dari puisi dan prosa sebelum Islam yang dirujuk dalam memahami Al-Qur’an dan Hadits, inilah yang dituju oleh buku tersebut secara keseluruhan. Dan mari kita sebutkan beberapa bagian darinya, sebagiannya adalah kekufuran yang jelas dan sebagiannya mengarah pada ateisme dan zindiq.

Maka kami katakan:

Dia berkata di halaman 26 apa teksnya: “Taurat boleh menceritakan kepada kita tentang Ibrahim dan Ismail. Dan Al-Qur’an boleh menceritakan kepada kita tentang keduanya juga, tetapi tercantumnya dua nama ini dalam Taurat dan Al-Qur’an tidak cukup untuk membuktikan keberadaan sejarah keduanya, apalagi membuktikan kisah ini yang menceritakan kepada kita tentang hijrahnya Ismail bin Ibrahim ke Makkah.”

Penulis dengan ini mengingkari hijrah Sayyidina Ibrahim ‘alaihissalam bersama anaknya Ismail ‘alaihissalam dan mengatakan bahwa tercantumnya dua nama ini dalam Taurat dan Al-Qur’an tidak cukup untuk membuktikan keberadaan sejarah keduanya, dan ini adalah pendustaan yang jelas terhadap firman Allah Ta’ala dalam Surat Ibrahim sebagai hikayat dari beliau ‘alaihissholatu wassalam:

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah berhala. (35) Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (36) Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (37)” (Surat Ibrahim ayat 35-37)

Dan dia berkata di halaman yang sama “Kami terpaksa untuk melihat dalam kisah ini – maksudnya kisah hijrah – sejenis tipu daya untuk membuktikan hubungan antara Yahudi dan Arab dari satu sisi, dan antara Islam dan Yahudi, serta Al-Qur’an dan Taurat dari sisi lain.”

Dan dia dalam teks ini menyatakan secara terang-terangan bahwa Al-Qur’an mengarang hubungan ini antara Ismail dan Arab untuk menipu menarik Yahudi dan menyatukannya, dan untuk menisbatkan Arab kepada asal yang mulia dengan dusta dan kebohongan karena alasan-alasan politik atau agama.

Dan ini adalah puncak dari kefasikan, kekejian, dan celaan terhadap Al-Qur’an Al-Karim dalam penetapannya bahwa Ibrahim adalah bapak bagi Arab dalam firman-Nya Ta’ala: “Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim” (Surat Al-Hajj ayat 78) Ayat tersebut.

Dan ia berkata di halaman 27 “Quraisy telah sepenuhnya siap menerima dongeng seperti ini – Hijrah yang disebutkan – pada abad ketujuh Masehi… hingga ia berkata di halaman 29 “Jadi tidak ada yang menghalangi Quraisy untuk menerima dongeng ini yang – menyatakan bahwa Kakbah didirikan oleh Ismail dan Ibrahim, sebagaimana Roma sebelumnya menerima dongeng lain yang dibuat oleh Yunani untuk membuktikan bahwa Roma terhubung dengan Aeneas putra Priam pemilik Troy, karena alasan yang serupa. Persoalan cerita ini jelas. Ia baru muncul menjelang Islam, dan Islam memanfaatkannya untuk alasan keagamaan, dan Mekah menerimanya untuk alasan keagamaan dan politik juga, maka sejarah sastra dan bahasa dapat mengabaikannya ketika ingin mengetahui asal-usul bahasa Arab fushah.”

Dan ini adalah pendustaan terang-terangan terhadap firman Allah Subhanahu Wata’ala: “Dan ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail” ayat dalam Surah Al-Baqarah, dan firman-Nya: “Dan ketika Kami memberitahukan kepada Ibrahim tempat Baitullah (dengan mengatakan): Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun dan sucikanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang berdiri, yang rukuk dan yang sujud (26) Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus datang dari segenap penjuru yang jauh (27).”

Dan firman-Nya: “Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat salat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang iktikaf, yang rukuk dan yang sujud (125).”

Dan ayat-ayat lainnya dalam topik ini. Dan di atas pendustaannya terhadap Al-Quran, ia mengatakan bahwa di dalamnya terdapat penipuan dan tipu muslihat untuk alasan politik dan keagamaan yang karenanya kisah-kisah ini dibuat-buat – dengan ini dan sejenisnya penulis menetapkan bahwa Al-Quran tidak dapat dipercaya beritanya dan tidak pula apa yang ada di dalamnya dari sejarah.

Dan betapa kekufuran yang terang-terangan ini meninggalkan dampak buruk di benak para pelajar dan merusak akidah serta agama mereka. Dan apa yang tersisa dari kepercayaan dan kehormatan Al-Quran di jiwa mereka setelah pendustaan ini?

Dan ia berkata di halaman 33 “Dan ada sesuatu yang berdampak besar jika kami atau orang lain memiliki waktu yang memungkinkan untuk menyelidikinya atau merinci pembicaraan tentangnya, yaitu bahwa Al-Quran yang dibaca dengan satu bahasa dan satu dialek yaitu bahasa dan dialek Quraisy, begitu para pembaca dari berbagai suku membacanya, maka bacaannya menjadi banyak dan dialeknya beragam, dan berbeda sangat banyak… hingga ia berkata: Kami hanya menunjuk pada perbedaan lain dalam bacaan yang diterima akal dan disahkan oleh penukilan dan dituntut oleh keharusan perbedaan dialek antara suku-suku Arab yang tidak mampu mengubah tenggorokan, lidah, dan bibir mereka untuk membaca Al-Quran sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan kaumnya dari Quraisy membacanya, maka mereka membacanya sebagaimana mereka berbicara” hingga akhir perkataannya.

Dan ini adalah pernyataan terang-terangan darinya bahwa bacaan-bacaan tidak semuanya diriwayatkan dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, melainkan dari perbedaan dialek suku-suku. Maka tujuh qiraah mutawatir menurutnya tidak bersumber dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Dan diketahui dalam ushul al-din bahwa tujuh qiraah itu mutawatir dan bahwa jalannya adalah wahyu, maka pengingkarnya adalah kafir.

Selain apa yang kami sebutkan, terdapat banyak halaman yang berisi serangan yang menyakitkan, di antaranya apa yang ia katakan di halaman 81, “Dan tersebar di kalangan Arab selama kemunculan Islam dan sesudahnya gagasan bahwa Islam memperbarui agama Ibrahim.”

Dan di halaman sebelumnya “Adapun kaum Muslim, mereka ingin menetapkan bagi Islam keaslian di negeri Arab yang ada sebelum Nabi diutus, dan bahwa intisari agama Islam dan sarinya adalah intisari agama yang benar yang Allah wahyukan kepada para nabi sebelumnya.”

Dan dalam hal ini ia mendustakan firman Allah Subhanahu Wata’ala: “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): Ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah dari orang-orang yang musyrik (123).” Dan firman-Nya: “Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad) serta orang-orang yang beriman.” Dan ayat-ayat lain yang banyak dalam topik ini, dan banyak lagi lainnya yang tersebar dalam buku tersebut.

Dan tidak diragukan bahwa ini adalah persis apa yang dicela oleh orang-orang musyrik terhadap Al-Quran di awal perkaranya, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam Surah Al-Furqan: “Dan orang-orang kafir berkata: Ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan olehnya dan dia dibantu oleh kaum yang lain. Sungguh mereka telah berbuat suatu kezaliman dan dusta yang besar (4). Dan mereka berkata: Dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongeng itu kepadanya setiap pagi dan petang (5).”

Maka komite mengajukan kepada Yang Mulia apa yang telah dicapai dengan segera dari waktu mengenai apa yang ditulis penulis berupa kekufuran yang terang-terangan, dan kami meninggalkan apa yang tersimpan dalam lipatannya dari keingkaran dan kezindikan yang tidak tersembunyi dari yang melihat.

Kami mengajukannya sambil menuntut Yang Mulia dan pemerintah untuk membuat batasan terhadap kekacauan atheistik ini, khususnya yang tumbuh dalam pendidikan untuk merusak agama dengan alat kezindikan setiap hari. Kami belum selesai dari satu kejadian kecuali kami menyambut kejadian-kejadian yang tidak membiarkan orang beriman tenang dalam agamanya.

Kami menuntut Yang Mulia dan pemerintah untuk itu karena kepedulian terhadap anak-anak negara agar penyakit ini tidak menyebar di antara mereka, sedangkan mereka adalah pemuda masa depan dan akan berada di tangan mereka keputusan penting dalam urusan-urusan besar.

Dan kami tidak memahami bagaimana harta kaum Muslim dan wakaf mereka dibelanjakan untuk pendidikan yang hasilnya adalah keingkaran ini yang disebarkan oleh pendakwah dan ia menerima gaji besar dari harta-harta ini.

Dan apakah dengan cara ini dan dengan bentuk ini Kementerian Pendidikan melayani anak-anak bangsa dan pemuda masa depan serta membangun bangunan pendidikan dan pengajaran?

Kami memohon kepada Allah agar memberikan taufik kepada Anda untuk apa yang ada di dalamnya kemaslahatan. Wassalam.

26 Syawal tahun 1344

Tanda Tangan: Mahmud al-Dinari, Abdul Muti al-Syarsyimi, Muhammad Abdul Salam al-Qabbani, Abdurabuh Miftah, Abdul Hakam Atha, Muhammad Hilali al-Abyari, Abdurrahman al-Mahallawi, Muhammad Ali Salamah.

Kami berkata: Setelah itu tidak lain kecuali profesor universitas itu mundur dan semua keberanian sastranya hilang karena sepotong roti…

Dan agamanya menjadi antara akalnya dan perutnya, maka rasa takut kelaparan menjadikan baginya sebuah agama, dan ia khawatir akan dikeluarkan dari universitas maka ia mengangkat surat ini kepada direktornya untuk dipublikasikan kepada umat, ia berkata:

Yang Mulia Profesor Terhormat Direktur Universitas Mesir

Saya merasa terhormat mengajukan kepada Yang Mulia hal berikut:

Banyak kegaduhan seputar buku yang saya terbitkan beberapa waktu lalu dengan judul: “Dalam Puisi Jahiliyah” dan dikatakan bahwa saya dengan sengaja di dalamnya menghina agama dan keluar darinya, dan bahwa saya mengajarkan atheisme di universitas; dan saya menegaskan kepada Yang Mulia bahwa saya tidak bermaksud menghina agama dan tidak keluar darinya, dan tidak mungkin saya melakukan itu sedangkan saya adalah Muslim yang beriman kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya dan kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya dan Hari Akhir, dan saya adalah orang yang berjuang sekuat tenaga dalam memperkuat pendidikan agama di Kementerian Pendidikan ketika saya dihentikan bekerja di komite pendidikan ini, dan Yang Terhormat Menteri Pendidikan dan para pembantunya yang berbagi pekerjaan ini dengan saya bersaksi tentang itu. Dan saya menegaskan kepada Yang Mulia bahwa pelajaran-pelajaran saya di universitas benar-benar kosong dari menyentuh agama-agama, karena saya tahu bahwa universitas tidak didirikan untuk hal seperti ini.

Dan saya mohon agar Anda berkenan menyampaikan pernyataan ini kepada siapa yang Anda kehendaki dan mempublikasikannya di mana Anda kehendaki dan menerima salam tulus saya dan penghormatan besar saya.

Thaha Husain

Maka kami menulis artikel berikut: Ketika ia tertimpa tenggelam…

Ketika ia tertimpa tenggelam…

Saya memiliki salinan buku “Kalilah wa Dimnah” yang tidak ada duanya pada siapa pun, perumpamaan apa pun yang Anda inginkan akan Anda temukan di dalamnya, dan saya merujuk kepadanya hari ini (13 Mei tahun 1926) dan saya menemukan di dalamnya kisah ini.

Kalilah berkata: Tidakkah engkau memberiku perumpamaan yang engkau katakan wahai Dimnah?

Dimnah berkata: Dikisahkan bahwa seekor ikan seukuran satu hasta berada di sebuah kolam, ketika banjir mengalir, air membawanya ke sungai terdekat, maka keangkuhan memasukinya dan ia berkata: Ini demi umurku adalah warisan ayahku yang aku lalai tentangnya, dan betapa banyak yang hilang karena kelalaian dan kelemahan! Kemudian ia tinggal di sungai sekehendak Allah hingga arus membawanya keluar ke laut, maka ia berkata: Celaka aku, apakah aku lemah selama ini terhadap warisan pamanku! … Kemudian ia tidak berhenti dalam warisan pamannya hingga air melemparkannya ke samudera dan menjadi luas baginya apa yang cukup baginya… maka ia berkata: Allah mencelakakan kelemahan meskipun dari kemalasan dan kelambatan, sungguh aku hampir dirampas warisan kakek-kakekku! … seandainya bukan karena darah mereka yang ada di diriku terus mendorongku dan terus mengangkatku. Kemudian ia suatu hari mengapung di atas air, tiba-tiba armada Inggris membelah ombak menuju Gibraltar dengan sepuluh kapal perang dan dua puluh kapal lapis baja dan seratus kapal torpedo dan lima puluh kapal selam, maka ia terbang karena marah berkeping-keping dan berkata: Siapa kurang ajar yang menyerbu warisan kakek-kakekku ini tidak takut menerobos kepadaku padahal aku telah melindungi kerajaan ini dari tempat air mengalir hingga tempat air mencapai; kemudian ia menyerang menuju armada sambil memukul dengan ekornya karena marah ingin memukulnya dengan ekor ini pukulan yang membuatnya berbelok, tetapi armada itu jauh, dan ia cepat, maka luput darinya lalu ia berkata: Seharusnya kamu begitu, demi Allah tidak ada yang menyelamatkanmu kecuali cepatnya lari dan kecepatan melarikan diri.

Dimnah berkata: Kemudian ia berbaring di atas air menenangkan diri dari marahnya lalu tidur dan kendur. Maka sebuah perahu nelayan lewat, maka ia tidak merasakan apa-apa kecuali jala telah mengambilnya, maka ia menyelam di air dan mulai meronta-ronta naik turun tidak melihat jalan keluar atau pelarian. Ketika hal itu melelahkannya dan usaha mencapainya, ia berkata: Wahai jala, lepaskan aku, demi Allah aku tidak pernah mengatakan bahwa samudera adalah warisan kakek-kakekku dan bukan laut warisan pamanku dan bukan sungai warisan ayahku!

Kalilah berkata: Maka perumpamaan siapa ini wahai Dimnah?

Ia berkata: Perumpamaan Thaha Husain dalam suratnya kepada direktur universitas…

Saya membaca hari ini buku ini dan di dalamnya Thaha berkata: “Saya menegaskan kepada Yang Mulia bahwa saya tidak bermaksud menghina agama dan tidak memberontak terhadapnya, dan tidak mungkin bagi saya melakukan hal itu karena saya seorang Muslim yang beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir… Dan saya mohon Anda berkenan menyampaikan pernyataan ini kepada siapa pun yang Anda kehendaki dan menyebarkannya di mana pun Anda kehendaki.”

Dan kami telah menjadi pengikut mazhab Descartes, maka demi Allah kami tidak mempercayai Thaha Husein dan tidak pula Kalilah wa Dimnah sampai kami meneliti dengan objektif tanpa emosi apa pun.

Mari para pembaca meneliti bersama kami:

1 – Buku ini bertanggal 12 Mei, lalu di mana Thaha sejak dia dituduh murtad oleh satu penulis, kemudian oleh ulama Asyut, lalu Iskandariah, lalu Dumyat, lalu Zagazig, lalu Tanta, lalu Al-Azhar, lalu seluruh umat, kemudian pemerintah!

Apakah dia menerima semua ini terhadap dirinya kecuali karena dia sangat keras kepala, sangat bersikeras, menentang dengan keras kepala yang luar biasa?

2 – Bukankah dia telah menyatakan dalam metodologi penelitian di bukunya bahwa dia menanggalkan agamanya untuk penelitian ini dan mewajibkan hal itu kepada para sastrawan, dan berkata di halaman 45: bahwa pola pikirnya telah diwarnai dengan warna Barat, dan di halaman 46: bahwa dia telah membebaskan kepribadiannya dari khurafat dan dongeng, dan bahwa kemarahan orang-orang terhadap bukunya “tidak akan mengurangi pengaruhnya terhadap generasi muda ini,” maka inilah kemarahan orang-orang terhadap bukunya, lalu kenapa hari ini?

Dan apakah pola pikir Barat yang meneliti dengan mazhab Descartes yang terlepas dari agama dan dari emosi dapat memahami wahyu dan mengakuinya?

3 – Apakah para pembaca menemukan dalam suratnya kepada direktur universitas bahwa dia telah kembali dari kealhadannya dan berlepas diri dari pendapat-pendapatnya dalam buku Asy-Syi’r Al-Jahili tentang menisbahkan khurafat kepada Al-Qur’an dan mendustakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam serta mengejeknya dan haditsnya, dan seterusnya?

Ataukah urusannya seperti yang Allah ceritakan tentang Fir’aun “hingga ketika ia akan tenggelam dia berkata: Aku beriman” (Yunus: 90)?

4 – Apa tujuan menulis surat kepada direktur universitas? Apakah Tuan Direktur tidak mengetahui metodologi studi di Fakultas Sastra hingga tanggal ini? Ataukah dia tidak tahu bahwa buku Asy-Syi’r Al-Jahili dinisbahkan kepada profesor universitas dan nama universitas tercetak di judulnya? Ataukah dia tidak membaca di halaman pertamanya bahwa Thaha “membahas penelitian ini kepada mahasiswanya di universitas dan mereka lebih dari dua ratus orang” dan bahwa dia bersikeras pada penelitiannya, keras kepala di dalamnya “tidak peduli dengan kemarahan yang marah dan tidak hirau dengan berpaling yang berpaling”?

5 – Bukankah ungkapan dalam surat itu menunjukkan bahwa dia tidak menulis kecuali untuk dua tujuan: pertama agar universitas “menyampaikannya” kepada pemerintah seolah-olah itu solusi pasti untuk masalah dengannya; dan kedua agar universitas “menerbitkannya” di surat kabar seolah-olah itu solusi untuk masalahnya dengan umat.

Maka apakah dengan kedua tujuan seperti ini masih ada tempat untuk niat yang baik atau tempat untuk iman dalam surat ini?

6 – Bagaimana Thaha dapat dipercaya bahwa dia tidak bermaksud menghina agama padahal penghinaan ada dalam bukunya, dan bukunya masih dijual dan orang itu masih bersikeras padanya, tidak berlepas diri darinya dan universitas tidak berlepas diri. Dan penghinaan itu tidak muncul dalam bukunya kecuali untuk menjadikannya bukti atas teorinya bahwa bangsa Arab Adnaniyah tidak mengambil bahasa Ismail yang dalam urusannya terdapat hadits mulia dan yang merupakan dasar bahasa Al-Qur’an. Maka jika dia tidak berlepas diri dari pendapat ini dan mengumumkan bahwa dia telah kembali darinya, dan penghinaan itu adalah satu-satunya bukti atas pendapat ini, bagaimana dia mengatakan bahwa dia tidak bermaksud demikian?

7 – Apakah Thaha mengira bahwa umat beserta ulama dan sastrawannya begitu bodoh dan lalai sehingga puas dengan alasan dingin ini, alasan 12 Mei?

Ini tujuh keberatan yang harus dijawab sebelum kita mempercayai Kalilah wa Dimnah!

۞۞۞۞۞

Posisi Sulit Bagi Kementerian Pendidikan

Sebelum kami menulis tulisan kami hari ini, kami sampaikan dua huruf kepada Yang Mulia Menteri Pendidikan, karena Yang Mulia adalah orang yang berilmu dan cerdas, bahkan jenius dalam kecerdasannya dan ketajaman pikirannya; firasat tidak salah mengenali darinya seorang lelaki sejati, dan dia adalah orang yang paling tahu bahwa setiap seni memiliki metodologi dan setiap ilmu memiliki cara; dan bahwa orang cerdas yang langka dalam kedokteran dan ahli dunia di dalamnya, jika ambisinya mendorongnya dan jiwanya memaksanya untuk menyaingi ahli hukum dan menjelaskan kepada mereka serta memberi mereka pemahaman tentang ilmu-ilmu mereka dan kehalusan ilmu-ilmu mereka, mereka akan menjadikannya bahan olok-olok di antara mereka, dan akan memperlakukannya dengan lidah-lidah mereka dengan apa yang akan menimbulkan dalam sarafnya kelelahan ribuan pasien di rumah sakit yang panjang lebar seperti rumah sakit orang gila…

Dan Profesor Thaha Husein, pengajar sastra di universitas, tidak mungkin Yang Mulia Menteri mengenalnya dalam bidang sastra ini dengan pengetahuan yang memiliki keterkaitan di antara keduanya, seperti pengetahuannya tentang profesor hukum pidana misalnya, atau pengetahuan anatomi bagi profesor penyakit saraf, atau semacam itu untuk semacam itu, bahkan pengetahuan umum yang tidak terbatas dengan sifat-sifat bersama dan tidak dibedakan dengan ciri-ciri yang serupa, bahkan pengetahuan yang lebih luas dan menyeluruh seperti pengetahuan setiap orang yang membaca terhadap setiap orang yang menulis; maka tidak ada keraguan bagi kami bahwa Yang Mulia Menteri akan bersama kami dalam apa yang kami putuskan tentang wajibnya mengkritik Thaha dan memeriksa pendapat-pendapatnya dan menjelaskan kesalahan-kesalahannya dan dalam apa yang kami arahkan kepada universitas tentang hal itu, dan ini bukan hanya berdasarkan jabatannya saja, bahkan berdasarkan kecerdasan dan ilmunya juga, kemudian berdasarkan keikhlasannya terhadap amanah ilmu di atas semua itu, tidak mungkin selain ini dan kami tidak mempercayai selain ini kecuali jika Universitas Mesir dianggap sebagai tempat perlindungan atau dalam hukum tempat perlindungan bagi Dr. Thaha Husein, maka itu hal lain, dan orang itu berada dalam posisi di mana jika universitas tidak memperhatikannya, dia akan mempermalukannya.

Dan sekarang wahai Yang Mulia Menteri yang Besar, surat Profesor Thaha telah menjangkau Anda dan mengurung Anda dalam posisi yang tiga dari empat sisinya terikat erat sehingga tidak ada jalan mundur dan tidak ada perubahan dan tidak ada kecuali melanjutkan dengan tekad yang tidak berguna di dalamnya kelembutan dan ketegasan yang telah kosong dari semua akal dan kosong darinya; itu karena Kementerian Pendidikan mengajarkan ilmu yang disebut sastra bahasa ini di sekolah-sekolah menengahnya dan Darul Ulum dan peradilan syariah, dan telah datang sekolah besar yang disebut Universitas lalu profesornya meremehkan semua sekolah ini dan menafikan apa yang diajarkan di dalamnya dari seni itu dan merusaknya dan mengatakan kesalahannya dari asal-usulnya hingga cabang-cabangnya, maka apa yang disebut di sekolah-sekolah itu syair Imru’ al-Qais dan ‘Ubaid dan Tharafah dan ‘Amr ibn Kulthum dan lain-lain, universitas menyebutnya kebohongan dan penipuan dan khurafat, dan apa yang disebut di sana kemukjizatan Al-Qur’an digambarkan di universitas sebagai khurafat dan kebohongan orang-orang Arab dan eksploitasi agama atau politik dan seterusnya…

Maka Kementerian Pendidikan berada di antara dua hal yang tidak dapat dihindari salah satunya dan tidak mungkin semua hukum alam menciptakan yang ketiga bagi keduanya: maka Kementerian harus mengumumkan bahwa buku-buku yang diajarkan di sekolah-sekolahnya adalah kesalahan murni, tidak memiliki nilai bagi mereka maupun bagi guru-gurunya, kemudian memperbaiki ilmu siswa-siswanya, kemudian menyebarkan itu di semua surat kabar agar diketahui oleh mereka yang tersesat oleh Kementerian ini dan ilmu-ilmunya dahulu dan mereka tidak terhitung banyaknya; atau harus mengumumkan bahwa buku Universitas Mesir bodoh dan bahwa profesornya telah hina dan sesat dan buruk. Adapun setengah ilmu mendustakan setengahnya yang lain dalam satu kementerian sehingga yang lebih tinggi membatalkan yang lebih rendah, maka ini yang hampir tidak dapat kami pahami, dan jika ini berlanjut akan jelas dalam menunjukkan bahwa Kementerian Pendidikan Mesir tidak memiliki nilai dan tidak ada kepercayaan padanya dan tidak pada sekolah-sekolahnya dan tidak ada amanah di dalamnya untuk ilmu (1); kemudian kami harap Kementerian tidak lupa – jika benar menurut mereka buku Thaha Husein lalu memerintahkan perbaikan ilmu dan sejarah – tidak lupa memerintahkan Kementerian Wakaf pada saat itu untuk menyalakan menara Masjid Benteng… agar Al-Azhar Asy-Syarif tahu bahwa apa yang ditegakkan di atasnya ilmu-ilmu bahasa Arab, bahasa, balaghah, dan tafsir dari bukti-bukti banyak yang dinisbahkan kepada penyair-penyair Jahiliyah, dan bahwa Al-Qur’an dan balaghahnya dan kemukjizatannya dan berita-beritanya, semua itu harus dipuasakan mulai hari ini, karena profesor universitas telah membuktikan kepada Kementerian Pendidikan bahwa dia telah melihat “hilal” keraguan”…

Kementerian sekarang ditandai di seluruh dunia Arab dengan kekurangan dan kesalahan di salah satu dari dua sisinya, tidak ada yang meragukan hal itu; dan kami tidak membenci bahwa Profesor Thaha Husein menjadi keajaiban Timur dan kebanggaan bahasa Arab, tetapi kami membenci bahwa dia menjadi aib Mesir, dan bahwa dia menjadikan Universitas Mesir tempat ejekan dengan pelajaran-pelajaran ini yang kami katakan dari sisi kami bahwa itu adalah kebodohan dalam pendapat dan kerusakan dalam pemahaman dan terbalik dalam tafsir dan ekstraksi, dan kami mengatakan lebih dari itu bahwa itu menyerupai orang yang terkena gangguan jiwa lalu dihiasi baginya untuk menentang orang-orang karena kegilaannya membuatnya berilusi bahwa mereka gila dan bahwa orang waras sepertinya harus membedakan diri dari mereka agar dikenal di antara mereka sehingga tidak berlaku atasnya sifat-sifat mereka, kemudian dia melihat bahwa dia tidak dikenal di antara mereka kecuali dengan penentangan hingga dia tampak dari mereka maka… maka… maka dia meletakkan kepalanya di sepatunya dan berjalan…

Dan selanjutnya; maka pembicaraan tentang kesalahan-kesalahan profesor universitas tidak berakhir, dan kami hanya meneliti dalam apa yang kami teliti tentang asal-usul kesalahan dalam profesor ini bukan tentang cabang-cabangnya, dan kami menghitung dari itu seperti yang mereka hitung dari pohon lalu mereka mengatakan satu dan dalam satu itu ada cabang banyak, karena mereka hanya melihat batang yang memikul itu dan mengeluarkannya, maka demikian pula urusan kami dengan Thaha Husein; mengapa kami telah mematahkan batang maka kami tidak peduli berapa jumlah cabangnya, karena mereka patah meskipun tetap di batangnya.

Kami telah menemukan dalam buku profesor universitas jenis terjemahan yang aneh, dan itu adalah terjemahan dari asal-usul kesalahan dalam pikiran orang itu atau pikirannya adalah asal di dalamnya, dan jangan Anda mengira itu terjemahan dari bahasa Prancis atau Yunani, bahkan dari bahasa Arab, dan itu lebih keji baginya, maka jika Anda merenungkan teks-teks yang dikutip Profesor dalam bukunya dan membebankannya pada tujuan-tujuannya atau membebankan tujuan-tujuannya padanya dan Anda pintar, peneliti yang tajam, Anda akan melihat teks-teks ini mengeluh kepadamu dan memohon perlindunganmu dari apa yang menimpanya berupa kehinaan dan kerendahan, karena Thaha tidak pernah menemukan teks dalam buku-buku bahasa Arab kecuali kalimat yang kokoh fasih, susunannya kuat, strukturnya kuat, kata-katanya telah turun pada tempatnya dan dibawa untuk maknanya dan selaras dengan bentuknya dan keluar darinya gaya yang kokoh, natural seperti buatan atau buatan seperti natural; maka ketika dia menemukannya dalam buku-buku dengan sifat kefasihan ini dia khawatir darinya terhadap gayanya dan tulisannya, dan melihat bahwa yang paling mempermalukan kain kotor adalah jika turun di dalamnya tambalan bersih yang memiliki kebaruan dan kilau, maka tidak ada baginya kepedulian selain mendatangi teks lalu menggilingnya dengan lidahnya dan memutarnya pada gayanya dan menyusunnya seperti susunannya dan menerjemahkannya dari bahasa Arab ke bahasa Arab lainnya lalu menjadi goyah dan lemah, kemudian menyatu dalam ungkapan Thaha maka dia tidak menarik perhatian padanya dan tidak pula itu menarik perhatian padanya, kemudian bagi Thaha dari itu ada dua manfaat selain ini; adapun satu: maka teks jika dikutip pada aslinya

Akal-akal manusia berbeda pendapat dalam hal ini, dan memang wajar jika mereka berbeda-beda dalam memahaminya. Setiap orang memahami sesuatu sesuai dengan tingkat kecerdasan dan pengetahuannya, serta sesuai dengan sarana yang tersedia baginya. Namun berbeda halnya dengan teks yang telah diubah dari aslinya dan dibelokkan dari arah yang sebenarnya, karena teks seperti itu hanya memberikan satu makna saja, yaitu makna yang dimaksudkannya. Kemudian hampir tidak ada orang yang dapat memahami hakikat sesungguhnya dari apa yang dimaksud oleh teks tersebut.

Di antara hal yang saya alami dalam masalah ini adalah ketika saya menemukan dalam sebuah buku sebuah teks yang membantah berita tentang Muallaqat dan bahwa Muallaqat itu ditulis atau digantung. Kemudian penulis sebuah buku tentang sastra bahasa menemukan teks yang sama, lalu ia menyajikannya dalam bukunya sebagai teks yang mendukung berita tentang penggantungan Muallaqat, padahal teks itu adalah bukti tegas yang membantah berita tersebut. Ternyata seluruh kesalahan itu karena ia salah membaca sebuah kata kerja sehingga ia menukil teks tersebut tidak pada tempatnya, maka maknanya pun terbalik dan teksnya menjadi keliru.

Adapun manfaat kedua yang dituju oleh Thaha adalah bahwa jika ia menerjemahkan teks dan menghapus sebagian darinya, serta mengubah dan mengganti isinya, maka ia dapat menemukan jalan untuk menghubungkan makna yang ada dalam kalimat itu dengan tujuan yang ada dalam benaknya. Dengan demikian, perkataan yang sulit menjadi mudah baginya, dan pendapat yang jauh menjadi dekat.

Maka terkadang sang profesor berbohong padahal menurut Anda ia jujur, atau ia keliru padahal menurut Anda ia benar, atau ia menisbatkan kepada orang-orang apa yang tidak mereka katakan sementara teksnya memberi kesan seolah-olah mereka mengatakannya. Apapun yang terjadi dari hal-hal tersebut, semuanya hanya menghasilkan satu akibat, yaitu memaksakan teks untuk menyampaikan makna yang tidak dimaksudkan kecuali apa yang Thaha inginkan. Ini bukan sikap amanah dan bukan pula kejujuran, karena setiap ilmuwan yang berdalil dengan perkataan orang lain atau mengomentari perkataan orang lain wajib menyampaikan perkataan itu apa adanya. Jika ia menghapus sesuatu, ia harus menunjukkan tempat penghapusan itu. Jika ia mengubah atau mengganti, ia harus memberi tahu bahwa ia telah melakukan perubahan dan pengolahan. Itu adalah kewajiban dalam ilmu, dan dalam sejarah hal itu lebih wajib lagi, karena kalimat sejarah beserta peristiwanya atau maknanya seperti nama bagi seseorang yang menyandangnya: bagaimanapun nama itu diubah, tidak boleh menggantinya, dan apapun yang dikatakan tentangnya, di dalamnya hanya ada satu perkataan jika Anda menginginkan kebenarannya.

Kami ingin menjelaskan kepada masyarakat dan kepada universitas yang tampaknya lengah dan tertutup, bahwa perbuatan Thaha Husain dalam memotong dan menerjemahkan teks-teks adalah metode yang dikenal oleh para pencela Islam dan ilmu-ilmunya. Ia didahului dalam hal ini oleh Ibnu al-Rawandi, seorang ilmuwan zindik terkenal yang menulis buku-buku untuk orang Yahudi dan Nasrani dalam mencela kaum Muslim, Nabi mereka Muhammad shallallahu alaihi wasallam, Al-Quran mereka, para imam agama mereka, dan para ulama yang membahas tentang mereka. Kebiasaannya adalah mengutip teks secara terpotong, kata mereka: untuk membuatnya tampak buruk dan membuat orang takut terhadapnya, kemudian agar ia dapat mengeluarkan pendapat yang rusak dari ucapan yang orang-orang anggap benar ketika ia menisbatkannya kepada orang-orang yang terpercaya dan tsiqah (dapat dipercaya).

Maka berhati-hatilah dan berhati-hatilah wahai para sastrawan dan para pelajar untuk mempercayai profesor universitas dalam apa yang ia keluarkan dari teks-teks, kecuali jika ia menyampaikan teks-teks itu dengan ungkapan dan huruf-hurufnya yang asli, karena ia terkadang sakit pikirannya, dan mungkin di antara kalian ada yang memahami apa yang tidak ia pahami. Dan ia senantiasa sakit niatnya, sehingga ia berani dengan keberanian orang yang terganggu di salah satu sisi akalnya. Ia tidak menghormati imam manapun, tidak menyetujui pendapat apapun, tidak merasa segan, dan tidak mengikat dirinya kecuali dengan apa yang mengikatnya menurut undang-undang hukuman saja… Selama ia merasa aman dari (kejaksaan dan pengadilan), maka tidak ada yang ingin ia katakan kecuali ia katakan!

Dan di sini ada makna yang sebaiknya tidak kita tinggalkan dan kita sambungkan dengan pembicaraan ini, bahwa profesor universitas adalah orang yang skeptis, dan tidak mungkin ia menjadi orang tanpa keraguan… Jika ia menganggap kita cacat dan tercela serta menuduh kita lalai karena kami mempercayai petunjuk teks-teks dan mengambilnya dalam sejarah, maka ia lebih pantas dicela di sisi kami jika ia berdalil atau mengeluarkan kesimpulan ilmiah darinya. Tidak ada alasan baginya kecuali kita memiliki lebih banyak alasan untuk melawannya, karena bagaimana Anda tahu wahai profesor skeptis bahwa teks yang Anda jadikan dalil dan Anda ajukan untuk tujuan Anda bukanlah termasuk teks-teks yang dipalsukan atau yang diragukan kebenarannya?

Bagaimana Anda memastikan kebenarannya padahal mungkin ia adalah yang terkuat atau terlemah kebenarannya? Anda bukan dari anak-anak zaman dahulu sehingga dapat bersaksi atasnya dengan kesaksian yang adil, dan bukan pula orang yang meriwayatkannya adalah ayah, saudara, atau mertua Anda… sehingga Anda memiliki hubungan kekerabatan dengannya yang dapat menjadi dalil dalam ta’dil (pujian) dan tajrih (kritikan). Bagaimana mungkin kebohongan dan pemalsuan dibolehkan pada kebanyakan teks yang kami jadikan dalil, sementara teks yang Anda jadikan dalil tidak termasuk yang demikian…?

Apakah Anda masih ragu wahai Thaha atau Anda masih meragukan bahwa mazhab skeptisisme dalam sejarah akan menghancurkan Anda sebelum Anda menghancurkan sesuatu dengannya, dan memperlihatkan kepada orang-orang kelalaian Anda sementara Anda mengira bahwa Anda telah memperlihatkan kelalaian mereka? Adakah dalam ilmu yang lebih bodoh daripada mengatakan bahwa mayoritas mutlak dalam syair Jahiliah adalah palsu sementara Anda tidak mengetahui yang sedikit yang benar darinya, tidak dapat menentukannya, tidak dapat menentukan sebagiannya, dan tidak dapat memastikan satu bait pun darinya?

Kami tidak mengubah pendapat kami bahwa meniru sebagian orientalis adalah yang telah merusak Taha. Ia telah bergaul dengan mereka dan mengambil ilmu dari mereka, kemudian ia cenderung kepada mazhab dan perkataan mereka, karena ia dan mereka sama atau hampir sama dalam kelemahan dan sakit pemahaman serta jatuh sangat jauh dari rahasia dan makna kalam Arab. Dahulu kala tidak ada yang merusak syekh Rafidhah Hisyam bin al-Hakam kecuali persahabatannya dengan Abu Syakir ad-Disani, imam Disaniyyah. Abu Syakir ini adalah seorang yang menampakkan Islam namun menyembunyikan zindik, sebagaimana sebagian orientalis menampakkan kecenderungan kepada bahasa Arab namun menyembunyikan maksud menghancurkan Islam dengan kecenderungan ini, dan menjajah negerinya serta memperbudak penduduknya.

Yang mengherankan adalah bahwa mazhab Rafidhah persis sama dengan mazhab kelompok orientalis ini. Karena urusan terbesar mereka adalah mengingkari risalah Muhammad shallallahu alaihi wasallam, mendustakan Al-Quran, dan menolak apa yang telah disepakati oleh umat. Semua ini menjadi inti dari buku profesor universitas, baik secara sindiran maupun terang-terangan, baik secara kiasan maupun eksplisit.

Yang paling mengherankan bagi kami adalah bahwa sang profesor terjerumus ke dalam kebinasaan dan mencela Al-Quran serta mendustakannya. Bukunya penuh dengan hal itu sebagaimana kami jelaskan dalam artikel sebelumnya, padahal ia sebenarnya tidak perlu melakukan semua itu yang ia paksakan. Ia dalam keadaan sejahtera dan lapang, karena tidak ada satu pun dari itu yang berhubungan dengan topik syair Jahiliah, dan bukan merupakan dalilnya baik dari dekat maupun dari jauh. Kami tidak mengira ia bermaksud mengumpulkan banyak hal dalam bukunya dan membesarkan ukurannya, karena bukunya meski dengan semua celotehan ini dan dengan semua yang ia gunakan dari pembahasan tentang para penyair dan biografi mereka tetap kecil ukurannya dan sedikit halamannya, hanya sembilan puluh lebih halaman dari ukuran kecil. Maka tidak tersisa kecuali bahwa ia bermaksud sesuatu yang Allah mengetahuinya darinya lalu Allah membeberkannya dan menghinakannya karenanya!

Sesungguhnya ia mengambil gagasan skeptisisme terhadap syair Jahiliah dari para orientalis juga. Profesor besar pemilik majalah “al-Muqtathaf” telah menceritakan kepada kami pada bulan September tahun lalu bahwa majalah Perhimpunan Asia telah menerbitkan penelitian oleh Syekh Margoliouth, orientalis Inggris yang terkenal, yang mengingkari kebenaran syair Jahiliah. Kemudian profesor tersebut menyampaikan kepada kami sebagian dalil-dalilnya, namun kami tidak menemukan yang memuaskan atau berkenan. Kami katakan itu adalah pendapat dalam ilmu, bukan ilmu itu sendiri. Kemudian ia dari seorang orientalis dan itu membuatnya lebih lemah. Tidak pantas bagi kami mengambil dari mereka dalam sastra Arab kecuali dengan kehati-hatian dan kewaspadaan.

Ketika universitas dibuka, tiba-tiba orientalis Thaha Husain mengambil gagasan itu dan mengklaimnya, membuat bab-bab untuknya dan merinci pasal-pasal, dan mengajarkan itu di universitas. Maka universitas yang malang ini mendapatkan kehinaan dan aib dari perbuatannya, sementara ia menikmati kedudukan dan uang universitas. Universitas sebagaimana kami lihat sedang sakit, sebagian menyerang sebagian yang lain, bahkan jika lalat kritikan mendengung di atasnya, ia akan terkejut dan takut. Adapun sang syekh, seandainya kulitnya digunting dengan gunting, ia tidak akan merasakan apa-apa, seolah-olah Allah Ta’ala menciptakan separuh darahnya dari “kloroform” sehingga kulitnya selalu mati rasa di setiap waktu…

Mari kita kembali kepada apa yang sedang kita bahas tentang teks-teks, lalu lihatlah bagaimana syekh universitas melakukannya.

Ia berkata di halaman 66: “Dan Ibnu Sallam memiliki mazhab dalam beristidlal untuk menetapkan bahwa kebanyakan syair telah hilang, tidak ada salahnya kita membahasnya. Ia berpendapat bahwa Tharafah bin al-Abd dan Ubaid bin al-Abrash termasuk penyair Jahiliah yang paling terkenal dan paling terdahulu, dan ia berpendapat bahwa para perawi yang menyahihkan tidak menghafalkan untuk kedua penyair ini kecuali qasidah (puisi) sekitar sepuluh. Maka ia berkata: Jika kedua penyair ini tidak mengatakan kecuali apa yang dihafalkan untuk mereka, maka keduanya tidak pantas mendapatkan ketenaran dan kedudukan terdahulu ini.

Oleh karena itu, keduanya telah mengatakan syair yang banyak tetapi telah hilang dan tidak tersisa kecuali yang sedikit ini. Dan berat bagi para perawi atau selain para perawi untuk tidak meriwayatkan untuk kedua penyair ini kecuali qasidah sekitar sepuluh, maka mereka menambahkan kepada keduanya apa yang tidak mereka katakan”.

Adapun aslinya dalam bahasa Arab adalah: “Dan di antara yang menunjukkan hilangnya ilmu dan jatuhnya adalah sedikitnya yang tersisa di tangan para perawi dan orang-orang yang menyahihkan untuk Tharafah dan Ubaid. Yang sahih untuk keduanya adalah qasidah sekitar sepuluh. Jika tidak ada bagi keduanya selain itu, maka bukanlah tempat mereka di mana mereka ditempatkan dari ketenaran dan kedudukan terdahulu. Dan jika yang diriwayatkan dari yang buruk untuk keduanya, maka keduanya tidak pantas mendapatkan tempat mereka di mulut para perawi. Dan kami melihat bahwa selain keduanya telah jatuh dari ucapannya ucapan yang banyak.

Namun yang menimpa keduanya dari itu lebih banyak, dan keduanya adalah yang paling terdahulu dari para penyair ulung. Maka mungkin itu karena itu. Ketika sedikit ucapan keduanya, dibebankan kepada keduanya beban yang banyak”.

Teks selesai. Bandingkanlah sendiri kefasihan dengan kefasihan dan bahasa dengan bahasa, serta perbandingkan antara apa yang Thaha katakan dengan apa yang Ibnu Sallam maksudkan. Bagaimanapun kesalahannya, tidak akan luput dari Anda untuk mengetahui perbedaan antara celotehan dengan maksud yang jelas, antara ucapan yang lemah dengan yang kuat, antara pikiran yang benar dengan yang rusak, antara mengambil dalil dengan pembatasannya dan meluaskan dalil secara mutlak. Ibnu Sallam hanya berpendapat bahwa banyaknya yang hilang dari syair Tharafah dan Ubaid adalah karena keduanya paling terdahulu dari para penyair ulung, sehingga zamannya sudah jauh dan mati dengan matinya orang-orang Arab Jahiliah yang mengetahuinya.

Ini adalah teks tentang sebagian sebab hilangnya apa yang hilang dari syair, baik banyak atau sedikit. Kemudian dalam ungkapannya ada teks lain yang meruntuhkan seluruh buku universitas, yaitu penetapan bahwa kita memiliki “para perawi yang menyahihkan”, dan bahwa mereka telah menyahihkan untuk Tharafah dan Ubaid qasidah sekitar sepuluh, dan menetapkan bahwa selain itu adalah yang buruk yang dibebankan kepadanya.

Dan yang wajib dari ini adalah bahwa mereka telah mempelajari syair dan mengumpulkannya serta memverifikasi riwa yatnya dan menetapkan yang sahih serta menyebutkannya, membedakan yang palsu dan menolaknya, memilah-milah para penyair dan berbicara tentang masing-masing mereka, membandingkan antara perkataan-perkataan, mentarjih (mengunggulkan), beristidlal, berdalil, dan berdebat. Maka wajib dari itu kita mengikuti perkataan para penyahih tersebut dan mengambil ilmu mereka serta berhenti pada apa yang mereka nyatakan, karena merekalah ahli ilmu ini dan tidak ada ahli untuknya setelah mereka kecuali dengan hubungan yang berakhir kepada mereka. Jelas bahwa para perawi ini tidak menetapkan dalam buku-buku mereka kecuali apa yang sahih menurut mereka, dan bahwa tidak ada di muka bumi ini hari ini orang yang dapat melakukan sebagian dari apa yang mereka lakukan, karena kita dibandingkan dengan mereka adalah umat dari orang-orang ajam (non-Arab). Sudah jelas bahwa apa yang menjadi sarana ilmu, riwayat, dan kritik setelah seratus tahun dari sejarah Jahiliah tidak akan sama dengan setelah seribu empat ratus tahun, apalagi dengan terputusnya sanad-sanad dan hilangnya kitab-kitab. Maka di manakah semua ini dari apa yang Thaha katakan dan apa yang ia omongkan dalam bukunya?

Syekh universitas berkata di halaman 67 setelah ia menjelaskan bahwa fanatisme adalah salah satu sebab terpenting yang mendorong orang Arab untuk memalsukan syair dan menisbatkannya kepada Jahiliah, ia berkata: Dan kamu telah melihat bahwa orang-orang terdahulu telah mendahului kita pada kesimpulan ini. Dan saya ingin kamu melihat bahwa mereka telah bersusah payah karenanya. Ibnu Sallam menceritakan kepada kita bahwa para ahli ilmu mampu membedakan syair yang dibuat-buat oleh para perawi (demikian, padahal ia bermaksud pemalsuan bukan pengklaiman) dengan mudah, tetapi mereka menemukan kesulitan dan kesukaran dalam membedakan syair yang dibuat-buat oleh orang Arab sendiri!

Adapun asli yang berbahasa Arab adalah: “Kemudian datanglah para perawi setelahnya lalu mereka menambahi syair-syair itu. Tidak sulit bagi para ahli ilmu tambahan itu maupun apa yang dibuat oleh orang-orang setelah masa itu. Yang sulit bagi mereka adalah ketika seseorang dari penduduk padang pasir dari keturunan para penyair atau seseorang yang bukan dari keturunan mereka mengatakannya, maka itu sedikit menyulitkan”. Selesai.

Maka lihatlah perbedaan yang sangat jauh antara perkataan Ibnu Sallam: “seseorang dari penduduk padang pasir” dengan perkataan Thaha “yang dibuat-buat oleh orang Arab sendiri”. Dan renungkanlah makna (sedikit menyulitkan) dengan makna “menemukan kesulitan dan kesukaran”.

Dan perkataan Ibnu Salam tegas dan pasti bahwa syair yang dinisbahkan kepada masa Jahiliah dan perkaranya membingungkan para perawi sangatlah sedikit, kemudian hal itu hanya menimbulkan “sebagian kebingungan” saja.

Kemudian tidak demikian kecuali ketika datang dari orang Arab asli yang memiliki keturunan dalam syair sehingga warisan membantunya, atau orang Arab yang dalam kedudukannya seperti itu dengan bakat, kekuatan, dan tabiat alaminya. Adapun yang ditambahkan oleh para perawi dan yang dibuat oleh generasi kemudian, maka semua itu berbeda dan diketahui, tidak ada kebingungan di dalamnya. Itu adalah sebagian dari apa yang menjadi pegangan para perawi, karena merupakan materi ilmu mereka dan tidak ada manfaatnya periwayatan jika tidak terwujud dengannya. Maka katakan padaku demi hidupmu, di manakah ini dibandingkan dengan apa yang dikatakan Thaha dalam memutuskan pemalsuan (mayoritas mutlak) syair?

Dan dia berkata di halaman 54: Ibnu Salam berkata – semoga Allah bersamamu wahai Ibnu Salam… – dan aku telah memperhatikan Quraisy, ternyata bagian mereka dari syair sedikit pada masa Jahiliah, lalu mereka memperbanyaknya dalam Islam.

Dia berkata: Dan tidak ada keraguan bagiku bahwa mereka memperbanyak dengan jenis khusus dari syair ini yang di dalamnya dicela kaum Anshar.

Dan dia menerjemahkan teks ini di halaman 66 dengan terjemahan lain, lalu berkata tentang Ibnu Salam: (Dan dia memberitahu kita lebih dari ini: dia memberitahu kita bahwa Quraisy adalah yang paling sedikit syairnya di antara bangsa Arab pada masa Jahiliah. Hal itu – perhatikan – memaksa mereka untuk menjadi yang paling banyak memalsukan syair di antara bangsa Arab dalam Islam).

Tidakkah engkau melihat? Tidakkah engkau memahami? Tidakkah engkau heran? Apakah dalam teks pertama disebutkan bahwa Quraisy adalah (yang paling sedikit di antara bangsa Arab) dalam syair pada masa Jahiliah sehingga hal itu memaksa mereka dengan paksaan untuk menjadi (yang paling banyak di antara bangsa Arab) dalam pemalsuan?

Padahal kitab Ibnu Salam sudah dicetak, dan kami tidak menemukan di dalamnya asal teks tersebut. Yang kami lihat dari perkataannya dalam seluruh kitab adalah bahwa dia menjelaskan sedikitnya syair Quraisy pada masa Jahiliah karena mereka tidak berperang dan tidak ada permusuhan di antara mereka, dan sesungguhnya syair-syair banyak dalam peperangan dan peristiwa-peristiwa.

Dan dia berkata di tempat lain: Dan Quraisy menambah dalam syair-syair mereka, dengan itu mereka menginginkan (untuk menyerang) kaum Anshar dan membalas (serangan) Hassan.

Maka dalam perkataan profesor universitas ada kebohongan dan pencurian: Adapun kebohongan, yaitu dia menisbahkan kepada Ibnu Salam bahwa dia berkata bahwa Quraisy “paling banyak di antara bangsa Arab dalam memalsukan syair dalam Islam”.

Dan adapun pencurian, yaitu ucapannya: “Dan tidak ada keraguan bagiku” bahwa mereka memperbanyak dengan jenis khusus… dari syair ini yang di dalamnya dicela kaum Anshar. Itu dari Ibnu Salam, bukan dari Thaha Hussein. Dan masih tersisa bagimu untuk mengetahui bahwa menurut Ibnu Salam semua penambahan dari jenis ini. Adapun profesor universitas, dia menjadikannya dari jenis-jenis yang banyak dan jenis ini adalah yang “khusus” darinya. Maka bagaimana menurutmu tindakan ini dan bagaimana engkau menyebutnya?

Dan yang aneh adalah bahwa profesor ini yang mencoba apa yang tidak dicoba oleh seluruh umat dari para ulama, perawi, dan ahli sastra, tidak memiliki rujukan dalam bahasa Arab dalam ilmu dan nukilan (kutipan)nya kecuali dua kitab: salah satunya Al-Aghani dan yang lain Thabaqat Ibnu Salam (1). Apakah dengan dua kitab dia menjadi dalam pandangan universitas guru orang-orang terdahulu dan kemudian, dan menghapus dan menetapkan – kapan pun dia mau sebagaimana dia mau, bukan sebagaimana yang dikehendaki hal-hal ketika hal-hal menghendaki…?

Dan kami akan menyempurnakan pembahasan dalam makna ini dan dalam kemandulan kesimpulan syekh universitas serta rusaknya pendapat-pendapatnya yang dia paksakan teks-teks untuk mendukungnya dalam bab lain jika Allah menghendaki.

“Maka biarkanlah mereka dalam kesesatan mereka sampai waktu tertentu.” (Al-Mu’minun: 54)

۞۞۞۞۞

Thaha Hussein Anak Sulung Universitas…!

Al-Muqattam memberitakan bahwa Profesor Agung direktur universitas mengumpulkan di sana untuk perayaan olahraga yang mengumpulkan para pemimpin, profesor, dan mahasiswa; dan bahwa dia berpidato kepada semuanya lalu menasihati mahasiswa dengan kesungguhan dan ketekunan.

Disebutkan: “Dan berpidato Yang Mulia Profesor Doktor Thaha Hussein dengan pidato yang menyenangkan, dia membahas di dalamnya dengan lembut dan sopan…! nasihat Yang Terhormat direktur universitas”.

Kemudian akhir perayaan itu adalah kata-kata Yang Terhormat direktur, dia menyebut di dalamnya Yang Mulia Raja yang dimuliakan, bapak Al-Faruq yang agung, semoga Allah menolong dengan kekuatan dan pertolongan-Nya panji-panjinya, dan menyegarkan dengan karunia dan kemuliaan-Nya hari-harinya, dan memancarkan dari tanda keberuntungannya yang bahagia ke wajah kehidupan Mesir secara keseluruhan senyuman yang paling indah.

Al-Muqattam berkata: Kemudian dia membahas pidato Doktor Thaha dengan berkata: Sesungguhnya dia adalah anak sulung universitas Mesir! Kemudian berkata: Wahai anakku, sikap moderat… sikap moderat”. Selesai.

Adapun bergegas-gegasnya Thaha untuk membalas direktur universitas dalam perayaan resmi yang diadakan untuk permainan olahraga sementara direktur tidak lebih dari menasihati mahasiswa dengan kesungguhan dan ketekunan, maka ini adalah asal sifat Thaha dan itulah tabiat dan akhlaknya, dibangun atas tarik-menarik dan perdebatan. Tidak ada kata-kata kecuali baginya ada sepupu atau keponakannya…

Seandainya pidato dalam perayaan ini tentang mengajar berjalan di atas tali… tentu Thaha akan membalas dengan jenis balasan dan berlindung dengan sedikit keberatan. Karena yang penting baginya adalah apa yang terlintas dalam batinnya, bukan apa yang benar, bukan kenyataan, bukan yang dikehendaki situasi. Dan itulah jalannya dalam ilmu, dan itu adalah salah satu cacatnya dan salah satu akar kesalahan di dalamnya. Dan seperti ini, keraguan tetap ada di lisannya, dan dia selalu siap untuk setiap perkataan dengan perkataan (lain). Dia tidak mendengar sesuatu kecuali terbayang baginya sesuatu yang lain, dan tidak berpikir tentang suatu perkara kecuali terkacaukan baginya perkara lainnya, dan engkau tidak membuka padanya pendapat lalu dia menyetujuinya kecuali jika dia ingin karena suatu alasan untuk menyetujuinya, dan engkau tidak berdebat dengannya lalu dia meyakini kecuali jika dia mau untuk suatu tujuan untuk meyakini. Karena asal dalam susunannya adalah berdebat, keras kepala, kukuh, dan tiran dalam perkataan. Empat hal ini manifestasinya dalam dirinya adalah keraguan, kegoncangan, kegelisahan, dan rusaknya niat, dan hasilnya adalah pengingkaran, kekacauan, kebodohan, dan keras kepala. Dan semua itu mengumpul dalam diri Thaha Hussein.

Adapun bahwa dia membahas direktur universitas (dengan lembut dan sopan), maka ini adalah yang aneh dari tabiatnya. Dan penyebutan di sini tentang kelembutan dan kesopanan memahami sesuatu. Dan tidak mungkin Al-Muqattam jatuh dalam kesalahan ungkapan halus yang teliti ini, karena dia adalah guru bab ini dari retorika. Sesungguhnya kalimat itu ditulis di universitas, Thaha menulisnya atau ekornya atau kepalanya… Dan Al-Muqattam datang dengannya lalu menyebarkannya.

Kami ingin meminta izin untuk pena ini membahas Profesor Agung Lutfi Bek As-Sayyid direktur universitas. Dan dia adalah salah satu akal yang langka di Mesir, bahkan di seluruh Timur. Dia hampir menjadi orang yang diilhami dan yang diajak bicara (oleh malaikat) ketika dia menulis, membaca, atau berpikir. Dan dia demikian juga sinar yang memancar dari cermin surgawi itu yang memancarkan ke cakrawala dunia cahaya kecerdasan, kejeniusan, dan filsafat. Dan kami menyangka dia adalah orang pertama yang merespons pendapat kami dalam keharusan mengkritik Thaha dan membedakan kesalahannya dari kebenarannya serta menolak pendapat kepadanya dalam apa yang tidak benar. Karena universitas harus menjadi tempat kepercayaan dalam ilmunya, dan harus mengenal profesor dengan ilmunya, bukan ilmu dengan profesornya. Maka jika seseorang menampakkan padanya kesalahan atau memberi peringatan kepadanya tentang kekeliruan, hendaklah dia meneliti, memverifikasi, bertanya kepada ahli dzikir dan ahli pikir, dan kembali kepada setiap orang yang cerdas. Kemudian mengumumkan apa yang dia simpulkan dari kesalahan atau kebenaran dengan dalil-dalil dan bukti-buktinya, dan tidak bersikeras, tidak sombong karena menjaga dirinya, memihak profesornya, atau menutupi cacatnya. Karena jika Thaha Hussein adalah anak sulung universitas, maka sastra Arab bukanlah anak keduanya atau ketiganya…

Dan jika Thaha adalah anak sulung universitas, maka apa? Apakah dia dibiarkan untuk kecerobohannya, permainannya, dan kesia-siaannya, dan dibiarkan untuk keraguannya, kebigungannya, dan kegoncangan batinnya, dan dimanjakan bahkan terhadap ilmu, dan ditertawakan bahkan dari kesalahan-kesalahannya, dan diberi hadiah bahkan untuk apa yang dia perbuat jika apa yang dia perbuat terhubung dengan kasih sayang keluarganya dan kecenderungan mereka lebih dari terhubung dengan sebab-sebab kejahatan dan akibat-akibatnya?

Demi umurku, jika semua ini untuk anak sulung universitas dan nama Allah atasnya… menjadikan dia dari uzurnya dalam mencabut jenggot ayahnya, pamannya, dan pamannya dari ibu, dan menganggapnya dari sebab-sebab keridhaan terhadapnya jika dia jatuh dalam keburukan atau masuk dalam dosa besar – jika ini untuk anak sulung universitas, maka tidak tersisa bagi universitas kecuali menaruh baginya di samping mimbar pengajaran kuda dari kayu… agar dia bermain di atas ini dan di atas ini. Dari mimbar ke kuda dan dari kuda ke mimbar… dan jangan memarahi anak-anak di dalamnya atas tarian!

Kemudian sesungguhnya Guru Besar berkata kepada Taha: Wahai anakku, sikap moderat… sikap moderat. Tidak wahai guru kami, tidak ada tempat untuk sikap moderat, dan kami tidak menerima darimu kata ini dan Thaha tidak menerimanya. Adapun dia, maka sesungguhnya dia berkata dengan menjadikan ilmu orang-orang terdahulu semuanya sebagai tempat keraguan. Maka di mana dia akan moderat, dalam apa, dan bagaimana?

Adapun kami, maka sesungguhnya kami ingin darimu untuk berkata kepadanya: Wahai anakku, bertobat, bertobat! Karena dia keluar dalam pelajarannya dari agama umat dan mendustakan Al-Quran serta menisbahkan kepadanya khurafat, dan menjadikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seorang politikus yang melakukan tipu muslihat dan tidak beriman dalam apa yang dia sampaikan dari Tuhannya. Kemudian dia datang dalam sejarah sastra dengan kebodohan yang paling buruk dan menunjukkan dari dirinya kelemahan, kesalahpahaman, niat yang tercela, dan pikiran yang sakit. Maka di mana engkau ingin dia moderat dari semua itu?

Padahal kami dalam pembicaraan ini sesungguhnya mengambil dengan lahiriah pendapat. Adapun dalam kenyataannya, maka kami mengetahui dari keeloquensian direktur universitas dan kedalamannya yang jauh bahwa dia dengan perkataannya menginginkan nasihat untuk Thaha sebagaimana dia menasihati mahasiswa. Dia menjadikannya dengan itu masih dalam hukum mahasiswa meskipun dia profesor, dan menurunkannya ke kedudukan ini di hadapan khalayak.

Kemudian sesungguhnya dia seolah-olah berkata kepadanya: “Wahai anakku, sesungguhnya engkau miring maka luruskanlah, dan bengkok maka tegaklah, dan ceroboh maka berhati-hatilah, dan keras tabiat maka bersabarlah, dan banyak kesalahan maka berakallah!

Wahai anakku, sesungguhnya engkau kecil dan dianggap kecil, tidak cukup dengan dirimu dan tidak mandiri dalam urusanmu, maka dengarlah dan taatlah”.

“Wahai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan membawanya (membalasnya).” (Luqman: 16). Maka bagaimana dengan seberat enam puluh kilogram dari keingkaran dan kesalahan yang berada dalam kulit, daging, dan darah?

Dan sungguh kami memahami banyak pembicaraan dari dua kata Guru yang fasih dan teliti. Tetapi harus dipahami oleh Thaha dan orang-orang sepertinya. Karena sebagian mereka pergi ke pemikiran bahwa direktur universitas membalas kami dengan kata ini. Seolah-olah dia memberitahu kami bahwa Thaha diampuni dan dimaafkan jika dia membalik perabotan atau memecahkan piring, dan bahwa kesalahannya bebas. Dan paling keras hukuman universitas terhadapnya adalah berkata kepadanya: sikap moderat, sikap moderat! Karena dia anak sulung universitas! Yaitu gazalnya… (1)

Demikian berkata kepada kami sebagian sastrawan dan demikian dia memahami.

Tetapi kami yakin terhadap Guru direktur universitas, dan orang-orang akan melihat bahwa rujukan Thaha ke apa yang lebih pantas baginya dan lebih layak untuk reputasi universitas…

Sesungguhnya yang ditakutkan dari Thaha dua perkara: pertama, bahwa dia meniru Al-Ma’arri, mengikutinya, dan berjalan di atas jejaknya, entah ke surga atau ke neraka. Dan dia sendiri telah menyatakan peniruan ini di kota Beirut dalam pidatonya, dan berkata bahwa Al-Ma’arri memiliki keutamaan atasnya dalam menampakkannya sebagaimana adanya.

Maka orang itu ingin menghancurkan sebagaimana yang itu menghancurkan.

Dan dia tidak memiliki periwayatan Al-Ma’arri, tidak hafalannya, tidak syairnya, tidak filsafatnya, tidak yang lainnya yang mengalihkannya ke kinayah, isyarat, dan sindiran, dan menjadikan sebagian kejahatannya dalam sebagian kebaikannya, dan meluaskan baginya dari pintu-pintu retorika dalam bab pengarahan dan penjelasan. Maka tidak tersisa kecuali kekacauan, kebingungan, kebodohan, dakwah yang kosong, dan peniruan murni serta apa yang sejalan dengan ini.

Dan orang yang meniru ini dengan perbedaan tidak mengetahui bahwa kebanyakan keingkaran Al-Ma’arri adalah keingkaran puitis yang datang darinya sajak dan dibawa olehnya khayalan. Maka dia dari sebagian sisi dalam bab syair seperti perkataan tentang khamr, ghazal (percintaan), kemesuman, kebodohan, dan apa yang terkait dengannya. Maka ketika kami kehilangan ini dari Taha, kami tidak melihat kecuali ampas dan kulit. Maka dia adalah Al-Ma’arri yang tersisa dari Al-Ma’arri dalam ayakan sastra!

Dan pernyataan ini darinya dengan peniruan dan pengikutan menggugurkan kepercayaan kepadanya dan kepada apa yang dia klaim sebagai kebebasan berpikir. Karena kebebasan tidak datang dengan meniru orang-orang bebas, tetapi dengan memiliki sarana-sarana mereka, sebab-sebab mereka, dan bakat-bakat mereka. Adapun tanpa itu, maka tidak ada kebebasan, tetapi di sana ada tujuan dari peniruan yang meniru kebebasan bahkan dalam namanya. Dan semua tindakan peniru membawanya kepada tujuan rendah ini, bukan kepada prinsip yang luhur itu.

Dan perkara kedua yang kami takutkan dari Thaha adalah bahwa dia adalah alat Eropa penjajah yang bekerja dalam merusak akhlak umat dan menguraikan ikatannya yang kuat dari agamanya dalam sastra, bahasa, kitabnya, dan meremehkan setiap orang yang ditandai dengan sesuatu dari itu sebagai alim, pelajar, atau orang yang bertakwa. Maka dia terus-menerus dalam menghilangkan apa yang tertanam dalam jiwa kaum muslimin dari pengagungan nabi mereka, kitab mereka, memilih agama mereka, keutamaan mereka, dan menghormati ulama mereka serta pendahulu mereka. Suatu kali dengan pendustaan, suatu kali dengan ejekan, suatu kali dengan penghinaan, suatu kali dengan merusak sejarah, suatu kali dengan memindahkan akhlak keji yang berpelacuran dari kota orang-orang Prancis, dan seterusnya! Hingga seolah-olah dia setan yang dihukum Allah lalu ditanam dalam kulit manusia.

Demi Allah, seandainya berhasil baginya dan orang-orang sepertinya apa yang mereka inginkan, lalu orang-orang berani terhadap agama mereka, kitab mereka, dan ulama mereka, dan mengejek sejarah mereka, dan terputus apa yang ada di antara mereka dengan pendahulu mereka, dan mengambil risiko dengan apa yang ada di tangan mereka dari agama, ilmu, sejarah, dan keutamaan atas apa yang disebutnya industri menulis sebagai peradaban, seni, dan filsafat – maka Eropa telah mencapai dari kami dengan meriam-meriamnya, tentara-tentaranya, tipu muslihatnya, dan orang-orang liciknya sebagian dari apa yang telah dicapai dengan alat-alat kemanusiaan ini yang bernama Thaha Hussein dan si anu dan si anu…

Adapun sesungguhnya ini sekelompok dari manusia, tetapi juga sekelompok dari mazhab-mazhab. Dan musibahnya adalah bahwa tidak ada di antara mereka filosof, tidak alim, tidak sastrawan, tidak yang mampu berkata ini filsafatku, ini ilmuku, dan ini sastaku. Bahkan semuanya bergantung pada sastra Eropa, ilmunya, dan filsafatnya, dan semuanya peniru, semuanya pencuri dan penukil. Maka jika mereka dengan sifat ini, kemudian kami melihat mereka akidah mereka menyimpang, tabiat mereka rusak, dan hawa nafsu mereka berpindah, apakah mereka di antara kami kecuali dari sarana penghancuran, kerusakan, dan penjajahan, mereka sadari atau tidak sadari, mereka inginkan atau tidak inginkan? Dan apa yang bermanfaat bagi kami teriakan ilmiah, politik, atau sastra mereka sedangkan mereka sesungguhnya menghidupi teriakan ini, diberi upah untuk itu, dan hidup darinya? Seperti orang dari ahli nyanyian dan musik, mungkin dalam dirinya contoh kesengsaraan, duka, dan kesedihan, tetapi orang-orang menyewanya untuk bernyanyi…

Sesungguhnya bagi setan Thaha jalan-jalan yang banyak. Maka dia menampakkan diri kepada kami dalam makna-makna yang berbeda yang membawa kami kadang-kadang jauh dari kitabnya.

Namun ini juga termasuk dari keburukan tulisannya, karena buku ini kembali pada sebab-sebab yang berakar pada tabiat penulisnya yang dibangun atas dasar pengingkaran, perdebatan, dan penyimpangan, lebih dari yang kembali pada sebab-sebab dalam penulisan yang dibangun atas dasar penelitian, pendapat, dan verifikasi.

Mari kita kembali kepada apa yang sedang kita bahas tentang rusaknya pendapatnya dan buruknya kesimpulannya, dan bahwa ia tidak memiliki apa-apa kecuali penciplakan tanpa ketepatan, kebingungan tanpa petunjuk, dan keberanian tanpa verifikasi dan tanpa penglihatan yang jernih.

Sungguh profesor universitas ini telah bersepakat dengan Imam Al-Jahizh dalam satu kesimpulan dari satu permasalahan, dan keduanya meragukan masalah tersebut. Kami ingin memaparkan hal itu kepada universitas agar kami mengetahui kebenaran perkataan kami bahwa seorang ahli menghasilkan pendapat dari keseluruhan akhlak dan tabiatnya lebih banyak daripada yang ia ambil dari sifat-sifat akalnya, dan bahwa seandainya Thaha Husein adalah yang paling cerdas di antara para sastrawan dalam berpendapat dan berakal, paling lengkap dalam materi dan hafalan, dan paling fasih dalam logika dan gaya bahasa, kemudian ia tetap dalam sebagian kerusakan dan penyimpangannya – maka wajib menjauhkannya dari pengajaran sastra dan melindungi generasi muda darinya; karena pengajarannya memindahkan kepada anak-anak yang suci dan polos ini ilmu dan hawa nafsunya sekaligus, sehingga yang baik di dalamnya tidak dapat menyeimbangkan yang buruk di dalamnya.

Thaha berkata di halaman 152: “Dan ada satu jenis dari jenis-jenis kisah yang dahulu orang-orang membicarakannya dan sangat cenderung kepadanya dan mereka meriwayatkan di dalamnya kebohongan-kebohongan dan keajaiban-keajaiban, yaitu berita-berita tentang orang-orang yang berumur panjang yang kehidupan mereka diperpanjang lebih dari yang biasa dikenal orang. Diriwayatkan seputar orang-orang yang berumur panjang ini berita-berita dan syair-syair yang diterima oleh para ulama yang terpercaya pada abad ketiga Hijriyah.” Selesai.

Al-Jahizh berkata: “Dan para perawi telah menyebutkan tentang orang-orang yang berumur panjang syair-syair dan membuat tentang itu berita-berita, dan kami tidak menemukan atas hal itu kesaksian yang pasti dan tidak ada petunjuk yang jelas, dan kami tidak mampu menolaknya karena maknanya yang mungkin, dan tidak bisa menetapkannya karena tidak ada dalil yang menetapkannya.”

Maka engkau melihat dari perbedaan antara Al-Jahizh dan Thaha bahwa yang ini melebih-lebihkan dan menakut-nakuti dan sengaja berbohong, maka ia mengklaim bahwa orang-orang dahulu membicarakan jenis kebohongan itu dan sangat cenderung kepadanya, seolah-olah ia menyaksikan urusan mereka dan melihat orang-orang berbicara dan cenderung.

Kemudian ia memberikan kesan kepadamu bahwa para ulama yang terpercaya pada abad ketiga menerima berita-berita dan syair-syair itu, padahal Al-Jahizh tidak lain hidup pada abad ketiga. Kemudian Thaha menafikan semua yang dikatakan tentang itu seolah-olah ia yakin bahwa tidak ada satu pun dari orang-orang Arab yang berumur panjang, padahal di zaman kita sekarang ini ada orang yang usianya mencapai satu setengah abad. Jika ini adalah seorang penyair, maka apa yang menghalanginya untuk mengatakan dalam masa tuanya dan panjangnya umurnya, beratnya kehidupan atasnya dan kejenuhannya terhadapnya, apa yang dikatakan orang-orang itu atau yang serupa dengan apa yang mereka katakan?

Dan dari kelalaian profesor universitas ini – dan ini termasuk dari bukti-bukti yang banyak tentang buruknya pemahamannya dan berpegang teguhnya pada pemikiran pertama dan bahwa ia tidak memperhatikan sebab-sebab makna dan tidak memverifikasinya – bahwa ia mengqiyaskan berdasarkan zhahir pendapat bagaimanapun terjadi padanya; maka ia tidak ingat bahwa orang-orang Arab adalah kaum yang tidak memiliki perhitungan dan mereka tidak membuat tarikh kecuali peristiwa-peristiwa besar. Jika seorang syekh dari mereka berumur panjang dan mencapai seratus lima puluh tahun misalnya – dan ini adalah umur yang wajar – ia menghitungnya menjadi tiga ratus tahun atau lebih, terutama jika ia pikun dan berlebihan dan jauh antara pikirannya dan lisannya atau ia ingin membuat heboh di zamannya dan sukunya; dan bagaimana orang seperti ini mengetahui hakikat satu tahun sedangkan ia tidak menghitung dan tidak menulis dan tidak berhitung dan tidak ada padanya orang yang mencatat untuknya, dan tidak ada dalam sukunya orang yang menghafalkan dari sejarah atau mengembalikan sesuatu darinya kepada asal yang jauh…

Maka para perawi hanya memindahkan dari ini dan semacamnya dan apa yang sampai kepada mereka. Jika di dalamnya ada kebohongan maka di dalamnya ada kebenaran, dan jika di dalamnya ada yang palsu maka di dalamnya ada yang sahih; dan tidaklah melebih-lebihkan menjadi sebab dari sebab-sebab ketiadaan, bahkan ia adalah sebagian dari sebab-sebab keberadaan. Dan tidak ada jalan lain dalam yang dipalsukan kecuali ada asal yang diqiyaskan kepadanya dan yang sahih yang dilebih-lebihkan di dalamnya. Dan semua ini dipahami oleh Al-Jahizh, maka ia tidak menolak apa yang diriwayatkan dari itu, karena maknanya tidak jauh dan tidak mustahil, dan ia tidak menetapkannya sendiri karena tidak ada padanya dalil yang pasti. Seandainya Al-Jahizh lemah pemahaman, sedikit pengetahuan, jauh dari adab para ulama, niscaya ia akan sepaham dalam pendapat dengan profesor universitas ini dan bodoh dan berbohong dan mencela para perawi dan mengejek mereka sebagaimana yang dilakukan orang ini.

Dan termasuk keajaiban bahwa Thaha juga bersepakat dalam cara penarikan kesimpulan dengan kaum Rafidhah dan menyamainya seperti sandal dengan sandal; dan janganlah engkau menganggap itu aneh selama kedua kelompok telah menjatuhkan keimanan dari perhitungannya “dan melepaskan diri dari agamanya” ketika penelitian dan berpendapat; dan seolah-olah syekh universitas ini mengqiyaskan pada dirinya sendiri sehingga ia tidak percaya bahwa di dalam umat Islam ada kaum yang mengutamakan Allah dan Rasul-Nya atas semua bisikan-bisikan jiwa dan hawa nafsunya. Dan tidak ada padanya kecuali fanatisme dan kecenderungan dengan tabiat jahiliyah bahkan terhadap imam Ahli Haq Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu. Dan syekh berkata di halaman 53:

“Dan para perawi menyebutkan bahwa Umar pada suatu hari lewat, tiba-tiba Hassan dalam sekelompok kaum muslimin sedang membacakan kepada mereka syair di masjid Nabi shallallahu alaihi wasallam. Lalu ia memegang telinganya dan berkata: ‘Jeritan seperti jeritan unta.’ Hassan berkata: ‘Jauhilah aku wahai Umar! Demi Allah, sungguh aku pernah membaca syair di tempat ini di hadapan orang yang lebih baik darimu!’ Maka Umar melepaskannya dan pergi…”

Ia berkata: “Dan fiqih riwayat ini mudah bagi yang memperhatikan apa yang kami kemukakan sebelumnya bahwa kaum Anshar merasa teraniaya dan bahwa fanatisme mereka tidak tenang dengan berpindahnya urusan dari mereka, maka mereka menjadi bangga dengan menolong mereka terhadap Nabi shallallahu alaihi wasallam dan mengambil kemenangan mereka atas Quraisy… Dan Umar adalah orang Quraisy yang fanatismenya membenci merendahkan Quraisy, dan mengingkari – begitu begitu – kekalahan yang menimpa Quraisy – maksudnya dalam Perang Badar.” Selesai.

Tetapi dari mana profesor universitas ini mendapat bahwa Hassan pada waktu itu sedang membaca syair dalam menghina Quraisy di masjid Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk menghibur kaum Anshar dan menangisi untuk mereka seperti penangis upahan, sehingga karena itu bangkit fanatisme Umar dan ia kembali – sedangkan ia adalah Amirul Mukminin – kepada tabiat jahiliyah!

Dan dari mana ia mendapat bahwa Umar mengingkari kekalahan yang menimpa Quraisy dalam Perang Badar atau Fathu Makkah!

Dan apakah Umar seperti Thaha Husein yang meragukan sejarah dan mendustakannya padahal pedangnya adalah salah satu pedang yang mengalahkan Quraisy?

Kemudian bagaimana dibolehkan bagi profesor universitas ini berbohong dan mengubah nash lalu berkata: “Maka Umar meninggalkannya dan pergi”, padahal semua riwayat dalam kitab-kitab sepakat bahwa ia berkata kepada Hassan: “Engkau benar” atau ia membenarkannya. Tetapi jika Umar berkata “engkau benar” maka itu adalah nash bahwa ia tidak mengingkari apa yang ia ingkari, tidak karena solidaritas dan tidak karena fanatisme, karena fanatisme menolak dia untuk membenarkan, bahkan ia menelan amarahnya (dan meninggalkannya dan pergi). Maka lihatlah wahai manusia apa yang dilakukan orang yang keji ini untuk melempar laki-laki yang Allah memuliakan Islam dengannya dan menuduh imannya dan kejujurannya, padahal telah datang hadits yang mulia: “Bukan dari golongan kami orang yang menyeru kepada fanatisme”. Dan engkau telah melihat berapa kali kata fanatisme terulang dalam ucapannya.

Kemudian sesungguhnya perkataan Umar kepada Hassan: “Engkau benar”, menunjukkan dari sisi lain bahwa ia tidak mengingkari atasnya kecuali cara membaca syair. Penyair Arab dahulu ketika membaca syair mengembung dan membesar dalam pakaiannya dan memaksakan pembesaran dan pembesaran mulut dan memutar-mutar lidahnya dan menggerakkannya dan berteriak sebagaimana unta berteriak ketika ia dewasa dan bersuara. Dan semua itu di masjid Nabi shallallahu alaihi wasallam. Maka itulah ketika Umar berkata: “Jeritan seperti jeritan unta?”

Padahal profesor yang kacau yang melempar Umar dengan fanatisme berkata di halaman yang sama: “Para perawi bercerita” – dan di sini ia menerjemahkan nash maka mari kita nukil dari Ibnu Salam – ia berkata: Dhirar bin Khaththab Al-Fihri dan Abdullah bin Az-Ziba’ra datang ke Madinah pada masa Umar bin Khaththab, lalu keduanya mendatangi Abu Ahmad bin Jahsy… lalu keduanya berkata kepadanya: “Kami datang kepadamu agar engkau mengutus kepada Hassan supaya kami bersyair dengannya dan berbincang dengannya, karena ia dahulu dalam Islam dan mengatakan syair dalam kekufuran” – maksudnya Jahiliyah – “maka ia mengutus kepadanya lalu ia datang. Lalu ia berkata: ‘Wahai Abu Al-Walid, kedua saudaramu ingin kepadamu, mereka ingin berbincang denganmu dan membacakan syair kepadamu.’ Ia berkata: ‘Ya.’ Maka keduanya membacakan syair kepadanya” – maksudnya dari apa yang keduanya katakan tentang kaum Anshar – “hingga ketika ia menjadi seperti periuk yang mendidih, keduanya naik kendaraan mereka menuju Makkah. Maka Hassan keluar hingga mendatangi Umar lalu memberitahu kabarnya kepada Umar. Maka Umar berkata: ‘Pasti demi Allah mereka tidak akan lolos darimu!’ Lalu ia mengutus mengikuti mereka berdua lalu dikembalikan. Dan ia berkata kepada Hassan: ‘Bacalah syair!’ Maka Hassan membacakan kebutuhannya hingga Umar berkata kepadanya: ‘Apakah engkau cukup?’ Ia berkata: ‘Ya!’ Ia berkata: ‘Urusan kalian berdua sekarang jika kalian mau maka berangkatlah dan jika kalian mau maka tinggallah.'” Selesai.

Profesor ini meninggalkan nash yang jelas dan terang ini dan memindahkan riwayat Al-Aghani dan di dalamnya ada tambahan dan kepalsuaan dan memiliki pengantar dan penutup, karena datang setelah riwayat Ibnu Salam sekitar seratus tahun. Dan ia menyimpulkan darinya bahwa kaum Anshar menuliskan celaan mereka terhadap Quraisy!

Tetapi wahai profesor; bagaimana engkau lalai kelalaian yang menyeluruh ini di antara dua halaman… Dan di mana apa yang engkau katakan tentang fanatisme Umar? Dan bagaimana ia memihak Hassan atas penyair-penyair besar Quraisy dan membiarkannya membaca syair dalam menghina kaumnya dari apa yang ia katakan dalam Jahiliyah hingga ia puas; bukankah ini adalah keadilan dan pembalasan: pembacaan syair dengan pembacaan syair dan perkataan dengan perkataan walaupun terhadap Quraisy?

Padahal apa yang dikatakan Thaha tentang fanatisme Umar adalah seperti kesimpulan kaum Rafidhah dan atas cara mereka dalam berpendapat dan berpikir; karena mereka mengatakan bahwa para sahabat membaiat Abu Bakar radhiyallahu anhu dan meninggalkan Ali radhiyallahu anhu, bukan karena ketaatan dan tidak karena keinginan, tetapi fanatisme dari mereka terhadap Ali, dan kembali kepada tabiat Jahiliyah; karena Ali telah membunuh dari suku-suku mereka di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam orang yang terbunuh dalam perang-perang dan penaklukan; maka tidak menghapus Islam menurut mereka sesuatu apa pun, dan tidaklah seorang mukmin kecuali atas asal historisnya dan tabiat Jahiliyah. Dan mereka menjatuhkan apa selain itu dari manifestasi jiwa kemanusiaan yang termasuk yang paling agung di dalamnya dalam Islam adalah keyakinan agama itu. Dan itu adalah keajaiban dari keajaiban dan Allah Ta’ala menurunkan tentangnya: “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya.” (Surah Al-Mujadilah: 22)

Dan seandainya Thaha memahami makna firman-Nya: (menanamkan keimanan dalam hati mereka), tetapi hatinya sendiri adalah papan yang terhapus, dan kami berlindung kepada Allah dari kehinaan-Nya.

Dan kapan peneliti dalam sejarah Islam “melepaskan diri dari agamanya” maka ia adalah satu hal yang sama apakah ia dari kaum Rafidhah atau ia adalah profesor di universitas, karena sejarah ini hanya berdiri dalam asalnya atas makna-makna yang tidak dimengerti dan tidak dipercayai oleh orang yang melepaskan diri darinya. Dan bagaimana orang pengecut yang lemah hatinya memahami perbuatan-perbuatan pahlawan dari pahlawan-pahlawan dunia yang menyimpang di dalam diri mereka tabiat kekuatan dan keberanian sehingga dikatakan tentang salah seorang mereka bahwa ia mengangkat seratus quintal dan bahwa ia memotong rantai-rantai dari besi dengan kedua tangannya dan bahwa ia menyalib orang seperti Thaha Husein di jari kelingkingnya…?

Sesungguhnya sejarah Islam ketika dibawa dengan cara yang bukan jalannya dan dikelola oleh selain ahlinya, tidak datang darinya kecuali apa yang asing padanya. Dan menjadi sedikit penglihatan yang jernih dan menjadi banyak pendustaan dan terkumpul kesalahan dan terjadi kekeliruan, karena segala sesuatu dengan apa adanya, bukan dengan apa yang engkau sangka bahwa ia ada. Dan itu adalah rahasia dalam kekacauan para orientalis dan kaum Kristen dan Cartesian dari orang-orang seperti Thaha Husein ketika mereka mengambil pembicaraan dalam sejarah generasi pertama atau apa yang berhubungan dengannya dengan jenis hubungan dalam sastra atau syair atau semacamnya.

Dan jika setan-setan menulis sejarah malaikat dan mengikuti mazhab Descartes… maka ia melepaskan diri dari nasionalitasnya dan agamanya, maka apakah engkau melihatnya melepaskan tabiatnya dan keburukannya? Dan apakah kesalahan masuk kepadanya kecuali dari sisi tabiat ini dalam susunannya atas naluri-naluri dan sifat-sifat yang tidak berubah?

Dan lihatlah kebodohan fanatisme dalam perkataan Thaha halaman 55: “Dan engkau tidak mengingkari bahwa Yazid adalah yang melakukan peristiwa Al-Harrah yang dilanggar padanya kehormatan kaum Anshar di Madinah dan yang diambil balas dendam padanya oleh Quraisy dari orang-orang yang menang atas mereka di Badar” – Laa haula wa laa quwwata illa billah – “dan yang tidak tegak lagi untuk kaum Anshar setelahnya, dan karena sesuatu para perawi berkata ketika mereka menceritakan peristiwa Al-Harrah bahwa terbunuh padanya delapan puluh orang dari mereka yang menyaksikan Badar” – maksudnya dari orang-orang yang menghinakan Quraisy.

Wahai orang ini, apakah kau memiliki dendam terhadap kaum Anshar ataukah ayahmu berasal dari Quraisy, padahal aku tahu bahwa ayahmu dan keluargamu berlepas diri kepada Allah dari perbuatanmu dan mereka khawatir akan dikatakan di akhirat pada hari pemaparan: Inilah keluarga Thaha Husein! Andaikan Islam bukanlah sesuatu dan tidak menimbulkan pengaruh apa pun dalam jiwa kaum muslimin hingga masa Yazid; andaikan peristiwa Harrah adalah pembalasan dari Perang Badar yang tidak diikuti oleh kaum Anshar kecuali di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, andaikan hal itu masuk akal menurut pendapat seorang muslim, maka yang tersisa adalah bahwa para perawi dan sejarawan tidak mengatakan kalimat itu dengan maksud penafsiran yang kau kemukakan, kecuali jika mereka juga fanatik terhadap kaum Anshar, dan keislaman kaum Anshar menurut mereka berbeda dengan keislaman Quraisy, dan mereka pun pengecut dan munafik yang takut kepada kaum Anshar setelah menghinakan mereka dan setelah mereka tidak lagi memiliki kekuatan; maka mereka mengungkapkan dengan kata-kata yang tidak jelas yang tidak dibukakan Allah penafsiran atas hal itu kepada siapa pun kecuali setelah 1255 tahun dan hanya kepada Thaha Husein seorang…

Tidakkah kau memahami sesuatu pun, dan bagaimana kau menjadi profesor di universitas sedangkan kau begitu bodoh? Para perawi hanya bermaksud bahwa peristiwa Harrah sangat menyakitkan bagi Islam dan buruk pengaruhnya terhadap Islam. Dan peristiwa itu merupakan serangan semata dan kebodohan murni hingga orang-orang Badar ikut berperang di dalamnya dan terbunuh delapan puluh orang dari mereka, sedangkan orang-orang Badar berdasarkan nash hadits shahih adalah sebaik-baik kaum muslimin, dan mereka adalah bintang-bintang di cakrawala kenabian setelah hilangnya bola matahari Al-Azhar.

Dan tidaklah semua yang telah kau baca wahai pembaca lebih buruk daripada perkataan Thaha di halaman 72: “Dan jenis lain dari pengaruh agama dalam pemalsuan – demikian – syair dan penyandarannya kepada orang-orang jahiliah, yaitu yang berkaitan dengan pengagungan kedudukan Nabi shallallahu alaihi wasallam dari sisi keluarga dan nasabnya di Quraisy; karena suatu alasan orang-orang yakin bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam harus menjadi pilihan terbaik Bani Hasyim, dan bahwa Bani Hasyim adalah pilihan terbaik Bani Abd Manaf, dan bahwa Bani Abd Manaf adalah pilihan terbaik Bani Qushay, dan bahwa Qushay adalah pilihan terbaik Quraisy, dan Quraisy pilihan terbaik Mudhar, dan Mudhar pilihan terbaik Adnan; dan Adnan pilihan terbaik bangsa Arab, dan bangsa Arab pilihan terbaik seluruh umat manusia” selesai.

Maka apakah alasan ini wahai syaikh universitas? Kemudian apakah ejekan ini? Dan apakah kau mengejek wahai orang bodoh yang sombong kecuali hadits shahih: “Sesungguhnya Allah Taala telah memilih Kinanah dari keturunan Ismail, dan memilih Quraisy dari Kinanah, dan memilih dari Quraisy Bani Hasyim, dan memilihku dari Bani Hasyim”

Semoga Allah memburukkan wajahmu wahai syaikh yang buruk! Dan akan menimpamu apa yang selama ini kau ejek; dan siapa gerangan yang kau kira dapat kau sakiti dengan kebodohan ini sehingga benar-benar tersakiti?

۞۞۞۞۞

Fanatisme Thaha Husein terhadap Islam

Dikatakan kepadaku sebuah pernyataan yang tidak aku percayai dan aku masih ragu-ragu terhadapnya, dan aku berharap pernyataan itu adalah hadits palsu dan kebohongan terang-terangan, dan bahwa Syaikh Thaha tidak bersalah darinya seperti tidak bersalahnya serigala dari darah putra Yaqub, sesungguhnya darah tidaklah asing dari serigala. Dan serigala tidak lain adalah dokter darah, tetapi putra Yaqub memiliki darah yang berbeda dari darah manusia lainnya, dan memang darah suci ini harus menumbuhkan pemikiran kenabian yang memberi pemahaman sehingga menyelamatkan Mesir dan penduduknya dari kelaparan dan kekeringan.

Seandainya serigala menjilat darah itu, ia akan membunuh satu umat yang lengkap dengannya, dan dengan demikian tidak bersalahnya binatang buas itu dari darah tersebut seolah-olah menjadi keutamaan yang memindahkannya dari sifat serigala menuju sifat-sifat ahli ibadah dari hamba-hamba Allah yang didekatkan dan menjadikan tuduhan terhadapnya sebagai pepatah yang terkenal tentang kezaliman yang beredar di mulut orang dan tetap dalam warisan Bani Adam tentang hikmah dan balaghah, dan serigala kembali – dan ia tetap serigala – seolah-olah menjadi syahid dan seolah-olah tuduhan menimpanya lalu membunuhnya di jalan Allah sehingga ia menjadi orang suci yang kuku-kukunya menghijau karena angin surga lalu menumbuhkan daun kemangi dan darah yang telah ditumpahkannya berubah lalu menumbuhkan bunga mawar, dan tampaklah serigala suci itu dalam sejarah seolah-olah ia adalah seikat bunga yang di dalamnya ada yang hijau dan merah, dan di dalamnya ada lembar-lembar melati putih dari taring-taring dan gigi gerahamnya…

Dan Thaha Husein jika bukan serigala, tetapi kami berharap Allah merahmatinya dengan tidak bersalahnya dari tuduhan seperti tuduhan serigala yang menyerang kenabian dan merobek dengan kukunya kulit Islam, dan kami telah mengetahui jika ia tidak bersalah darinya, tetapi dikatakan wallahu alam bahwa para misionaris menemukan dalam buku “Asy-Syir al-Jahili” (Syair Jahiliah) apa yang selama ini mereka cari tetapi tidak mendapatkannya dan mereka telah menghabiskan enam puluh tahun dalam pencarian itu di bawah matahari Timur mencari sebagiannya dalam perkataan seorang ulama dari ulama kaum muslimin atau orang yang memiliki kedudukan di antara mereka atau sastrawan yang memiliki ketenaran dan kedudukan, maka mereka menemukannya hari ini dalam pelajaran-pelajaran universitas terbesar di kerajaan Islam terbesar, dan mereka menemukannya dari profesor besar yang gigih padanya, keras kepala di dalamnya, yang didukung oleh universitas dan dilindungi serta dibelanya, meskipun seluruh umat mengecewakannya, meskipun semua ahli ilmu dan ahli sastra menganggapnya bodoh, meskipun menghina agama umat dan pemerintah – sebagai dukungan yang mereka klaim – untuk kebebasan berpikir, tidak peduli apakah itu pemikiran yang matang dan benar ataukah pemikiran yang lemah dan usang yang menyerupai pemikiran anak-anak dalam membangun istana-istana megah mereka di tepi pantai di wilayah luas mereka, atau pemikiran para gadis yang membangun boneka dan patung mereka, atau pemikiran Thaha Husein dalam apa yang ia klaim tentang Al-Quran dan kenabian.

Sungguh hilangnya kepercayaan kepada universitas ini seolah-olah ia tidak memahami bahwa perkataan Thaha bukanlah satu bukti saja menurut para misionaris. Tetapi ia adalah bukti yang di atasnya ada bukti-bukti lain, ia sendiri adalah dalil dan penyandarannya kepada universitas adalah dalil, dan datangnya dari negeri Al-Azhar adalah penguatan bagi dua dalil tersebut bersama-sama, dan kegigihan universitas padanya adalah penutup dari dalil-dalil; alangkah baiknya jika aku tahu apa yang dapat dilakukan universitas jika para misionaris menerjemahkan ringkasan buku ini dan menjelaskannya dan memaparkannya dan menerjemahkannya ke bahasa Inggris, Prancis, Sansekerta, Cina, Jepang dan lainnya, dan mencetak darinya jutaan eksemplar – dan mereka memiliki percetakan besar, dan mereka memiliki harta yang melimpah yang diwakafkan untuk memerangi Islam, dan di tangan mereka dakwah yang luas – dan menyebarkan ke seluruh penjuru bumi bahwa Universitas Mesir Islam milik pemerintah Mesir telah menetapkan dalam pelajaran-pelajarannya bahwa Al-Quran adalah buatan manusia yang di dalamnya terdapat khurafat dan kebohongan, dan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah seorang politisi sehingga tidak ada kenabian dan tidak ada risalah, dan bahwa para imam kaum muslimin berbohong dalam menafsirkan sejarah mereka dan mendukung sejarah ini dengan ucapan dusta dan pemalsuan. Dan mereka bersaksi untuk Al-Quran dan hadits Nabi mereka – yang keduanya adalah dasar seluruh agama – dengan syair yang mereka palsukan dan disandarkan kepada orang-orang yang mereka ciptakan. Dan bahwa kebohongan ini terangkat dan memanjang naik dalam masa-masa dan generasi-generasi mereka hingga zaman Khulafaur Rasyidin, dan bahwa disebutkannya hadits-hadits shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dan apa yang diriwayatkan dari perkataan para sahabatnya tentang sesuatu yang bernama Imru’ul Qais dan selain Imru’ul Qais tidak dapat dipercaya, karena tidak ada sesuatu pun dari ini; maka hadits-hadits shahih adalah kebohongan, dan sanad-sanadnya yang telah diteliti oleh para ulama dan dihafal serta diriwayatkan dan diberikan ijazah oleh sebagian mereka kepada sebagian yang lain masa demi masa hanyalah kesepakatan untuk berbohong dari umat ini.

Dan cukuplah bagimu dengan umat yang berlalu atasnya hampir empat belas abad dan jumlahnya tiga ratus juta dan tersebar di seluruh penjuru bumi kemudian tidak muncul di dalamnya seorang pun yang mengetahui yang benar dan menyadarinya dan menyatakan hal itu kepada manusia dan menetapkannya serta mengajarkannya kecuali seorang yaitu Allamah hujjah para misionaris… Doktor Thaha Husein!…

Apa gerangan yang dapat dilakukan Universitas Mesir terhadap bencana yang mengancam ini dan fitnah yang melahap ini, dan bagaimana ia dapat menutup celah jika celah itu meledak – dan memancarkan darinya kejahatan besar ini, sedangkan ia hingga hari ini seolah-olah terpesona tidak sadar, dan tersihir tidak paham, dan dekan sastra di dalamnya adalah orang asing yang masih dalam kedudukan bahasa Arab yang dikatakan kepadanya: Jika kau memindahkan titik dari bawah huruf ba ke atas, ia menjadi nun… Maka kami tidak melihat universitas ini berlepas diri dari buku ini, dan tidak menolak penyandarannya kepadanya, dan masih menganggapnya sebagai buku tentang syair jahiliah… Padahal ia adalah buku untuk menghancurkan Islam… Dan ia dalam pokok bahasannya seperti rantai yang halaman-halamannya adalah cincin-cincinnya, janganlah kau meremehkan satu cincin untuk mengatakan ia hanya satu dan ia kecil dan tidak berbahaya, karena masalahnya bukan pada cincin demi cincin atau halaman demi halaman, tetapi pada keterhubungan sebagiannya dengan sebagian yang lain dan berkumpulnya keseluruhannya dari bagian-bagiannya dan tersebar bagian-bagiannya pada keseluruhannya.

Demi Allah kami tidak menulis artikel-artikel ini kecuali untuk meyakinkan universitas tentang kebodohan syaikhnya dan rusaknya pendapatnya dan sakitnya niatnya, kemudian untuk mengembalikan kepadanya rasa iri yang ada di hatinya terhadap kaum muslimin, dan ejekan yang ada di lisannya dan penanya terhadap agama mereka, imam-imam mereka dan ulama-ulama mereka, sedangkan ia dalam hal itu lemah pemahaman dan bodoh dalam meniru. Dan ia dalam batas pencapaiannya adalah orang yang hafal seperti kertas-kertas yang dikumpulkan dari buku ke buku. Dan dalam batas pekerjaannya ia adalah orang yang berani mencela orang-orang dan makna-makna, dan terjerembab dalam setiap lumpur, dan akalnya yang kurang dan ceroboh telah membungkusnya sehingga ia tidak berhati-hati dan tidak malu dan tidak menyedihkan baginya keburukan dari dirinya dan tidak menyenangkannya kebaikan dari siapa pun; dan kami masih mengingat untuknya sebuah kalimat aneh jika Allah menciptakan darinya sesuatu setelah matinya Thaha maka akan datang dari keduanya Thaha itu sendiri sekali lagi.

Kami menemuinya di surat kabar “As-Siyasah” di tempat pemimpin redaksinya dan kami berkata kepadanya di antara apa yang kami katakan: Sesungguhnya kau bukan akal umum dan bukan kebenaran menyeluruh sehingga wajar bagimu untuk mengira bahwa apa yang tidak kau pahami tidak dipahami oleh siapa pun, dan sesungguhnya manusia diciptakan dalam tingkatan-tingkatan yang mungkin yang tertingginya jauh dari yang terendahnya hingga seorang alim dari alim yang lebih cerdas darinya berada pada posisi seperti posisi orang bodoh dari alim, dan kami menceritakan kepadanya kisah imam masanya Bahauddin Al-Amili ketika para ulama berkumpul bersamanya dalam majelis dan di antara mereka ada ulama besar Syam, Imam Al-Burini, lalu Al-Baha mulai berbicara dalam tafsir dengan pembicaraan yang jelas dan terang yang dipahami oleh semua yang ada di majelis dari alim dan bukan alim, kemudian ia memperhalus hingga tidak dipahami kecuali oleh para ulama, kemudian ia meninggi hingga tidak dipahami kecuali oleh Al-Burini seorang, kemudian ia menjadi samar seperti samarnya rahasia dalam hakikat-hakikat yang masuk akal hingga tidak dipahami bahkan oleh Al-Burini.

Maka tidak ada jawaban dari profesor sastrawan yang terpelajar Thaha Husein kecuali kalimat ini dengan huruf-hurufnya: “Dia orang tolol seharusnya…”

Demi Allah, sesungguhnya orang bodoh adalah orang yang mengira bahwa hukum-hukum alam akan menciptakan baginya sebuah umat baru dengan sebuah kitab seperti kitab Syair Jahiliah, dan merusak baginya sebuah umat lama dengan kumpulan seperti kumpulan cerita politik, kemudian dia tidak mengetahui bahwa orang fasik lagi pendosa bisa mencapai tingkat kehinaan di sisi Allah sehingga Allah tidak menjadikan urusannya di tengah umat Islam ini bertambah lebih dari sebuah kedai minum di sebuah jalan di sebuah kota.

Setiap kali kami menelaah kitab “Syair Jahiliah” kami tidak bertambah kecuali yakin bahwa profesor ini yang mengagungkan mazhab Descartes adalah orang yang paling keras penyimpangannya dalam bukunya terhadap mazhab ini, karena dia tidak menulis dan tidak berpikir kecuali untuk satu tujuan – dia mencari cara dan sebab-sebabnya dengan segala kemampuannya, yaitu melemahkan urusan Islam dan memecahkannya dari sendi-sendinya dan menguraikan ikatan-ikatan kokoh yang menyatukannya dalam sejarahnya, dan cukuplah dia yang terus-menerus mengumpulkan dari sana sini, dari Athena hingga Mekah…!

Maka profesor itu tidak meneliti sebagaimana dia klaim dan sebagaimana yang menjadi pokok dalam mazhab Descartes, melainkan dia memutuskan suatu keputusan, dan sangat berbeda antara penelitian yang diinginkan darinya apa yang dihasilkannya tanpa penentuan hasil yang pasti, dan antara memutuskan hasil yang penelitian diarahkan untuknya dan bukti-bukti dikumpulkan untuknya. Maka yang pertama dibangun atas pembebasan dari sebab-sebab yang mempengaruhi pendapat seperti emosi dan fanatisme dan lainnya, sedangkan yang kedua maka klaim pembebasan di dalamnya adalah kebodohan dan ejekan; karena hasil yang ditentukan tidak menarik kecuali premis-premisnya. Dan premis-premis ini tidak memanggil kecuali sebab-sebabnya, dan sebab-sebab ini tidak berdiri kecuali dengan keadaan-keadaan yang ditentukan darinya pendapat, fanatisme, kecenderungan, hawa nafsu dan sejenisnya; dan itulah yang membawa Thaha dalam menyerbu rencana ini dan menempuh cara ini, atas apa yang dia lakukan berupa pemutarbalikan teks-teks dan mengarahkannya kepada apa yang tidak ada di dalamnya; dan atas kekacauan dari buruknya pemahaman dan rusaknya kesimpulan, dan karena itu dia membahas agama dengan pendustaan dan penolakan, dan berfanatik dengan fanatisme bodoh dalam penafsirannya dan penyampaian dalil-dalilnya, dan menjadikan keraguan sebagai hujjah dan hujjah sebagai keraguan. Agar baginya lurus untuk menyelisihi ijmak, maka jika dia menyelisihinya dia membatalkannya, maka jika dia membatalkannya dan mengira bahwa telah tersusun baginya susunan sejarah walaupun palsu dan dusta, dia kembali dengan penghancuran kepada sejarah dan kepada sebab-sebab alami yang terjalin di dalamnya dan mematahkan setiap qiyas yang para ulama biasa mengqiyaskan dengannya, maka sempurna baginya dengan itu apa yang dia sebut dan orang-orang sejenisnya sebagai baru dan itu adalah kesia-siaan – sebagaimana engkau lihat.

Dan kami tidak segan untuk menjelaskan di sini tentang pokok dari yang baru ini yang mereka klaim dan mereka berbicara dengan gagah tentangnya, maka setiap orang fasik, dan setiap orang murtad, dan setiap peniru salah satu dari keduanya, dan setiap orang yang terobsesi dengan salah satu dari tiga penyakit ini – dia adalah pembaru jika dia berjalan dalam mengaku-aku sastra Arab dan berurusan dengannya dengan jalan pendustaan dan penolakan dan kekurangan dan celaan atasnya dan atas ahlinya dan kekacauan antara pokok-pokoknya dan cabang-cabangnya, dengan syarat tidak mengeluarkan dari penelitiannya kecuali apa yang menyelisihi ijmak, atau mencela keutamaan, atau merendahkan agama, atau membatalkan pokok Arab yang kuat dengan kesembronoan Eropa yang lemah, atau meremehkan makna dari makna-makna ini yang diagungkan oleh orang-orang jumud pendukung yang lama dari Al-Quran ke bawah, dan secara ringkas pembaruan adalah bahwa engkau menjadi pencuri dari pencuri-pencuri buku-buku Eropa, kemudian engkau tidak beragama; atau tidak ada padamu dari agama kecuali namamu yang dipaksakan padamu maka tidak ada daya bagimu padanya dan engkau tidak mampu untuk menjauhkan darinya kecuali pada anak-anakmu yang miskin sebagaimana dilakukan ayah Marguerite sang syekh… Kemudian tidak ada kebutuhan untuk yang baru dengan kemurtadan dan penyimpanganmu kecuali jika engkau mencetak dengan salah satunya atau keduanya masalah-masalah sejarah Islam dan sastra Arab, dan merusak yang murni dengan yang bercampur, dan meremehkan manusia dan makna-makna, dan engkau menjadi bebas lepas dari ikatan langit dan bumi jika engkau memulai atau datang, maka engkau berkata seukuran akalmu, kemudian engkau berakal seukuran penyimpanganmu, kemudian engkau menyimpang sekuat yang engkau mampu!

Adapun jika engkau meneliti dan mengqiyaskan dan berakal dan engkau adalah orang yang paling cerdas dan paling fasih, kemudian engkau tidak mengeluarkan dari sejarah dan sastra kecuali apa yang menghiasinya dan menambahnya dan mengungkap rahasia-rahasianya dan kebenarannya yang benar, dan engkau bukan pencuri buku-buku Eropa dan mazhab-mazhab Eropa maka celakalah engkau karena engkau tidak lain hanya kuno dan engkau tidak lain hanya jiwa batu walaupun orang-orang Islam mengagungkan Ka’bah dan batunya, dan sesungguhnya masa tidak membutuhkanmu dan buku-bukumu dan pendapat-pendapatmu karena lima atau enam – atau lima puluh atau enam puluh – mereka adalah masa dan mereka adalah umat dan mereka dari sejarah yang membentang ke masa depan seperti kereta api: di dalamnya ada apa yang ada dari gerbong yang memuat dari barang-barang menurut jenis-jenisnya dan macam-macamnya dan dari manusia menurut tingkat-tingkat mereka dan kelas-kelas mereka, tetapi lima atau enam itu sendirilah gerbong mesin dan uap dan batu bara Newcastle…

Tidak wahai para pembaru, tetapi bahwa tidak ada di bumi orang yang terpelihara dari kesalahan, dan bahwa kami mengetahui bahwa kesalahan orang berilmu menunjukkan ilmunya sebagaimana menunjukkan kebenarannya, dan bahwa keraguan orang bodoh menunjukkan kebodohannya sebagaimana menunjukkan kesalahannya, karena yang pertama berhati-hati dan menjaga sekuat tenaganya, dan yang kedua bodoh dan mengalir sekuat tenaganya, maka seukuran kekuatan keraguan dan kelemahannya, dan menurut jenis kesalahan dan bentuknya, diketahui jenis pikiran dan tampak keadaan akal, dan dengan kedua ini diketahui sifat jiwa, dan dengan jiwa bukan dengan lainnya berdiri sejarah kemanusiaan.

Maka datanglah kami tanyakan kepada kalian seandainya Isa alaihissalam bersama dia seratus ribu dari orang-orang seperti Khawaja pembaru Salamah Musa apakah bersama dia kecuali seratus ribu orang keras kepala bodoh yang merusak baginya dan tidak mencukupi dalam urusannya apa yang mencukupi satu orang saja dari para nelayan itu yang ada dalam jiwa mereka yang jernih roh air yang tawar!

Dan seandainya Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersama dia lima ratus ribu dari orang-orang seperti Syekh pembaru Thaha Husein, apakah mereka mengembalikan kepadanya apa yang dikembalikan seorang Arab yang hatinya adalah roh pedangnya?

Apakah kalian melihat sekarang wahai orang-orang yang sangat mulia.. bahwa umat-umat dalam ketidakbutuhan dari kalian, dan bahwa kebutuhannya semua kebutuhan hanyalah iman dan kunonya, dan bahwa kalian tidak turun darinya dan dari sejarahnya dan sebab-sebab sejarahnya kecuali kedudukan ocehan dalam makna yang jelas dari makna yang jelas, dan bahwa perumpamaan kalian bersamanya seperti perumpamaan peristiwa sejarah yang besar mengambil apa yang dia ambil dari manusia dan meninggalkan apa yang dia tinggalkan pada mereka sampai berlalu untuk jalannya dan menjadi cerita dalam cerita-cerita, datang seorang laki-laki pengangguran gelandangan maka dia meneguk seribu gelas minuman keras dan membakar seribu rokok dari tembakau dan menyalakan api dan roh api atas otaknya untuk mengeluarkan dari otaknya riwayat sandiwara dalam peristiwa itu menghiasinya dengan kebohongan dan menghiasinya dengan filsafat dan menambahnya dengan analisis dan logika dan memperindahnya dengan khayalan dan syair, kemudian tidak menjadi dengan semua ini di samping yang asli kecuali permainan dan olok-olok dan ejekan tidak ada di dalamnya kecuali pedang yang tidak memotong, dan pahlawan yang tidak mencegah, dan api yang tidak membakar dan laut yang tidak menenggelamkan?

Apakah kalian mengira bahwa pembaruan tidak berdiri kecuali dengan penghancuran, dan apakah mencapai apa yang kalian ada di dalamnya dari kebodohan dan lemahnya pandangan tentang akibat-akibat perkara dan rahasia-rahasia hal-hal sehingga kalian berkata sesungguhnya bangunan baru tidak berdiri kecuali setelah menghancurkan yang lama dan menyingkirkan puing-puingnya dan menetapkan yang baru di tempatnya; apakah itu bangunan dari batu bata dan batu dan kayu-kayu kalian mengangkat ini dan meletakkan ini, ataukah itu bangunan dengan kata-kata di atas tanah dari kertas, maka semua yang datang untuk dibangun dibangun dan semua yang datang untuk dihancurkan dihancurkan; apakah kalian tidak mengetahui bahwa yang lama tidak hancur sama sekali karena dialah yang menjual yang baru dan membelahnya; maka jika hancur di suatu umat dari umat-umat hilang yang baru dengan hilangnya dan tidak tersisa dari umat kecuali sisa-sisa yang tidak bertahan atas kejadian dan tidak menetap atas goncangan.

Dan bahwa sunnah alam dalam yang baru adalah bahwa itu adalah perbaikan di sebagian sisi-sisi yang lama dan penyempurnaan di sebagiannya dan hiasan di sebagiannya yang lain, dan kalau tidak wajib berubah susunan kemanusiaan dan susunan akal, dan itu adalah apa yang tidak terjadi dan tidak akan terjadi darinya sesuatu.

Maka urusan dalam yang baru adalah bahwa bersambung materi baru dengan yang lama maka tiba-tiba dia adalah dia, tetapi dengan sebagian penambahan atau sebagian hiasan atau sebagian kekuatan, dan semua itu untuk menghasilkan sebagian manfaat, maka orang pembaru tidak mewujudkan dirinya wahai orang-orang mulia baru, dan tidaklah dia dari kehinaan atas alam dan hukum-hukumnya dan sebab-sebabnya sehingga dia berkata aku akan menjadi maka menjadilah; dan seandainya setiap orang hitam di restoran atau kedai minum seperti orang hitam Bani Abs niscaya rusak bumi dan tidak tersisa untuk keberanian sejarah yang terpelihara, dan seandainya setiap warna merah berkata aku adalah mawar niscaya tidak tersisa untuk mawar makna kecuali bahwa menjadi malu di wajah dunia…

Pembaru wahai orang-orang mulia baru tidak mengeluarkannya untuk umat kecuali unsur-unsur yang lama yang paling kuat ketika berkumpul padanya benar saling membantu sebagian membantu sebagian, maka sesungguhnya barangsiapa sampai kepada suatu tujuan dari tujuan-tujuan adalah dialah yang patut bahwa mengintai untuk apa setelahnya dan bahwa datang dengan apa yang tidak mampu orang di bawahnya, tetapi syaratnya adalah bahwa dia telah mencapai tujuan ini, dan tidak mencapainya kecuali jika dia dipersiapkan dengan cara-caranya, dan tidak akan datang kepadanya cara-cara ini atas yang paling sempurna dan paling lengkapnya kecuali jika Hikmah Ilahiah menghendaki bahwa memperbaiki sesuatu dalam cara-cara kehidupan dan sistem lama.

Maka yang terjadi dari semua yang telah lalu bahwa tidak ada baru kecuali di mana menjual hikmah sesuatu kemudian bersambung hukum-hukum kehidupan jiwa dengan sesuatu ini maka tiba-tiba dia berbuat dengannya apa yang ditetapkan hikmah dari apa yang kami namakan penghancuran atau pembangunan, maka engkau jika engkau adalah pembaru dalam bahasa misalnya dan ada padamu unsur-unsur yang cukup untuk berkumpulnya kekuatan dari kekuatan-kekuatan hukum umum maka tidak terhindarkan bahwa engkau menjual sesuatu yang tidak ada yang tidak mampu selainmu sebagaimana engkau mampu, maka jika engkau mencipta dan menciptakan yang baru engkau melihat yang lama sendiri adalah dalil atas bahwa engkau telah membarui maka engkau menjadi dengan kesaksiannya pembaru; dan itu adalah kesaksian sebagaimana engkau lihat tidak engkau peroleh dengan bahwa engkau “pemimpin redaksi” surat kabar atau penerjemah majalah atau peringkas dari sebagian pendapat para filosof, tetapi dari kehidupan masamu dan tabiatnya dan hukum-hukum wujudnya, karena engkau menjadi tambahan dalam masa dan tanda dalam tabiat dan kalimat baru dalam hukum-hukum umat.

Seakan ini jauh dari pokok bahasan kami, tetapi bagaimana kami berbuat dan pokok bahasan kami adalah Thaha Husein, dan dia adalah laki-laki seperti jala penangkap: semuanya mata-mata dan lubang-lubang, dan antara setiap lubang dan lubang simpul…

Kami melihat fanatisme Thaha atas Islam memakai tiga wajah: pertamanya keyakinannya dalam Al-Quran dan bahwa itu dari karya orang yang datang dengannya bukan dari wahyu dan tidak turun dan tidak mukjizat.

Dan keduanya pendapatnya tentang Nabi shallallahu alaihi wasallam dan bahwa dia adalah laki-laki politikus maka tidak ada kenabian dan tidak ada risalah.

Dan ketiganya perbuatannya dalam melemahkan urusan para imam dari para sahabat maka orang setelah mereka dan mengqiyaskan mereka dalam kemanusiaan dan hawa nafsunya dan syahwatnya atas qiyas dari dirinya dan tabiatnya…

Maka adapun Al-Quran maka sesungguhnya kami telah mengkhususkan untuknya artikel terbuka dengannya profesor universitas kehinaan yang paling keras dan paling mempermalukannya, dan kami tambahkan atasnya di sini bahwa profesor berkata di halaman 85 dalam penolakan atas orientalis Howarth yang mengklaim bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam mengambil dari syair Umayyah bin Abi Ash-Shalt dan meminta bantuan dengannya dalam menggubah Al-Quran: “Siapa yang mampu untuk mengingkari bahwa banyak dari kisah-kisah Quran adalah terkenal sebagiannya di sisi orang-orang Yahudi dan sebagiannya di sisi orang-orang Nashrani dan sebagiannya di sisi orang-orang Arab sendiri, dan adalah mudah bahwa mengetahuinya Nabi shallallahu alaihi wasallam – renungkanlah – sebagaimana adalah mudah bahwa mengetahuinya selain Nabi; kemudian adalah Nabi dan Umayyah hidup sezaman, maka tidak menjadi Nabi adalah yang mengambil dari Umayyah dan tidak menjadi Umayyah adalah yang mengambil dari Nabi?”

Dan ungkapan ini berucap dengan pendapat yang mengatakannya, sampai seakan dia berkata sesungguhnya Al-Quran tidak kurang darinya kecuali bahwa ditulis atasnya “karya si fulan” dan kami berlindung kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dan memohon ampunan kepada-Nya.

Dan dia berkata di halaman 18 dalam penjelasan bahwa Al-Quran tidak dalam kebutuhan kepada bukti-bukti dari syair atas lafaz-lafaznya dan makna-maknanya di sisi orang-orang Arab: “Kami menyelisihi mereka penyelisihan yang paling keras, karena tidak ada seorang pun yang mengingkari keArab-an Nabi pada apa yang kami ketahui…”

Artinya, jika tidak ada seorang pun yang mengingkari kearabannya, maka tidak ada yang mengingkari kebenaran perkataannya; dan kami berlindung kepada Allah dan bertobat kepada-Nya serta memohon ampunan kepada-Nya.

Kemudian dia berkata di halaman 76 tentang para ulama non-Arab dan ulama Arab: “Dan mereka—para ulama Arab—atau non-Arab, atau kedua-duanya, bermaksud mempelajari Alquran secara linguistik dan menetapkan kebenaran lafal-lafalnya dan maknanya; dan karena suatu alasan mereka merasa perlu untuk menetapkan bahwa Alquran adalah kitab Arab yang lafal-lafalnya sesuai dengan bahasa Arab, maka mereka bersemangat untuk memberikan bukti pada setiap kata dari kata-kata Alquran dengan sesuatu dari syair Arab yang menetapkan bahwa kata Alquran ini adalah Arab dan tidak ada jalan untuk meragukan kearabannya” selesai.

Dan orang ini mengulangi makna ini dan memperpanjangnya, dan tidak memahami bahwa pembuktian dengan syair tidak dimaksudkan untuk menetapkan kearaban Alquran atau kesesuaian lafal-lafalnya dengan lafal-lafal Arab, dan bukan karena keraguan terhadap kearbanan atau “karena suatu alasan…”

Tetapi yang dimaksudkan dengannya adalah menjadikan Alquran sebagai sebab dalam mengumpulkan materi bahasa dan bukti-buktinya, sebagaimana ia adalah sebab dalam meletakkan seluruh ilmu-ilmu Arab; apakah Anda menyangka peletakan nahwu adalah untuk menetapkan bahwa Alquran tidak ada kesalahan di dalamnya, ataukah untuk menegakkan lidah-lidah yang menyimpang agar mudah bagi mereka untuk membaca dan melafalkan; kemudian yang dimaksud dari mencatat bukti-bukti tersebut, mengumpulkan dan membukukannya adalah menafsirkan kata-kata Alquran agar dipahami oleh mereka yang datang setelah orang Arab sebagaimana orang Arab sendiri memahaminya, dan jelas bahwa tidak ada jalan untuk itu kecuali dengan menetapkan makna kata-kata menurut mereka, dan tidak ada kepercayaan pada penetapan ini jika tidak ada bukti dari syair mereka, karena hanya itulah yang terpelihara dari mereka, dan itulah materi bahasa, berita, dan jejak; demi usia saya, seandainya bukan karena tindakan para ulama dalam mengumpulkan bukti-bukti ini, niscaya berdiri seribu orang ateis menambahkan pada celaan mereka terhadap Alquran bahwa di dalamnya ada kesalahan bahasa, maka lihatlah, di mana hikmah ini dari apa yang diraba-raba oleh profesor universitas.

Dan dia berkata di halaman 91: “Sesungguhnya orang Yunani mengagungkan Iliad dan Odyssey dan menaruh perhatian dalam mengumpulkannya, mengurutkannya, meriwayatkannya, dan menyebarkannya dengan perhatian yang sama seperti perhatian kaum Muslim terhadap Alquran Karim.”

Dan kami tidak memahami sesuatu pun dari perkataan ini, karena ia mengandung segala kemungkinan, dan seandainya dia menjelaskan kepada kami, kami akan menjelaskan kepadanya dan menunjukkan kepadanya sejauh mana kebodohannya dan buruknya adabnya!

Adapun pendapatnya tentang Nabi shallallahu alaihi wa sallam, maka yang paling mengherankan bagi kami adalah bahwa setiap ulama atau penulis Muslim yang menyebut beliau shallallahu alaihi wa sallam pasti bershalawat kepadanya atau meletakkan simbol rumusan meskipun hanya huruf “shad” ini.

Dan Anda melihat penulis Kristen mengambil adab ini dalam buku-buku mereka berbahasa Arab, karena kaum Muslim membacanya; adapun profesor universitas seakan-akan tidak mencintai Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan tidak merasakan keagungannya maupun pengaruhnya.

Dia telah menyebutnya dalam bukunya berkali-kali hingga tak terhitung namun tidak beradab kepadanya walau sekali pun, maka tidak dengan akidah Muslim dia mengambil, dan tidak dengan basa-basi Kristen dia meneladani, bahkan metodenya adalah metode misionaris persis, membuat Anda merasakan kekasaran penulis dan kesombongannya serta penyebaran kompleksnya, padahal mereka berkata bahwa shalawat ini dari orang Muslim hanyalah menjadi bukti atas keikhlasan niatnya dan kuatnya akidahnya, dan bahwa tidak ada kotoran di dalamnya dan tidak ada syirik, dan bahwa kesegaran iman telah bercampur dengan hatinya, tetapi syekh universitas telah melepaskan diri dari agamanya sejak halaman pertama, dan demi Allah benar padanya hadits:

“Celaka hidung seorang hamba yang aku disebut di hadapannya lalu dia tidak bershalawat kepadaku”

Maka tidak ada hidung yang lebih hina dari hidung Thaha Husain karena kepedihan, kehinaan, keburukan, dan laknat.

Dan profesor itu mendustakan hadits shahih dan mengejeknya sebagaimana Anda lihat dalam sebagian yang telah berlalu.

Dan kami tidak menyangka ada seorang pun yang selamat dari pendrustaannya, bahkan dia berkata di halaman 128: “Maka aku tidak mengagungkan seorang pun dari orang-orang yang sezaman denganku dan tidak membebaskannya dari dusta dan pengklaiman palsu.”

Jika ini pendapatnya tentang orang-orang yang sezaman dengannya dan dia mengenal mereka dengan sebenar-benarnya, di antara mereka gurunya, temannya, ayahnya, dan ibunya, maka bagaimana dengannya terhadap orang-orang yang tidak dikenalnya kecuali dari buku-buku, bahkan dia hampir menyatakan terang-terangan di halaman 101 bahwa setiap orang yang tidak dikenalnya maka sangkaan terbesar menurutnya adalah bahwa dia termasuk tokoh-tokoh mitos yang tidak pernah ada; dia berkata: “Kami tidak mengenal Sa’ad, Malik, dan Zaid Manah, maka sangkaan terbesar pada kami adalah bahwa mereka tokoh-tokoh mitos yang tidak pernah ada.”

Apakah Anda mengenal wahai profesor universitas orang-orang yang mengarang kitab-kitab sejarah; dan jika Anda tidak mengenal mereka maka tidak ada yang menghalangi mereka adalah tokoh-tokoh mitos, dan dengan demikian kitab-kitab telah mengarang dirinya sendiri… karena jika Anda berkata: bahwa selain mereka yang mengarangnya, kami katakan kepadamu: dan mereka ini Anda tidak mengenal mereka; maka Anda akan terus berputar dalam kemustahilan jika kami mengambil dengan analogimu yang rusak dan pendapatmu yang sakit!

Mereka berkata: Sa’ad, Malik, Zaid Manah, dan si anu dan si anu, dan mereka menjelaskan mereka dan memberitahu kami berita mereka.

Jika kami katakan bahwa kami tidak mengenal mereka dan tidak menetapkan mereka dengan penglihatan maka dengan demikian boleh jadi mereka adalah tokoh-tokoh mitos—ini benar untuk semua yang ada sebelum kami, dan akan benar tentang kami dan sejarah kami jika datang orang-orang setelah kami dan mewarisi dunia, maka tidak akan ada ilmu sempurna kecuali kebodohan sempurna, dan cukuplah ini sebagai kebodohan bagi orang yang mengatakannya.

Kemudian sesungguhnya tidak ada dalam sifat manusiawi kesepakatan pada satu pola penciptaan, maka jika ada dusta ada bersamanya kejujuran, dan jika ada kelalaian ada kehati-hatian, dan jika dikenal pemalsuan dikenal kritik dan penelitian, dan tidak pernah dijumpai suatu umat yang seluruh sastrawan dan ulamanya bersepakat pada dusta.

Dan sungguh umat Islam telah dibedakan tanpa semua umat dengan ilmu riwayat dan syarat-syaratnya yang banyak, sebagaimana kami uraikan pembicaraan tentangnya dalam juz pertama dari Tarikh Adab al-Arab; maka jika ada pada kami para pendusta, pembuat hadits palsu, dan orang-orang yang tidak dipercaya, maka ada pada kami para kritikus, pembenar, dan orang-orang terpercaya; tetapi apa yang akan Anda lakukan terhadap orang seperti Thaha Husain yang kebodohannya lebih luas dari ilmunya, dan lisannya lebih banyak dari akalnya, dan tidak mengetahui sampai sekarang bahwa ketika sejarah sampai pada metode dialektis maka tidak perlu kecuali wawasan, tidak pikiran, dan tidak ilmu, dan setiap orang dungu adalah sejarawan, karena cukup baginya dari ilmu bahwa dia berkata tentang apa yang tidak ada bahwa itu ada, dan tentang apa yang ada: boleh jadi itu tidak ada, dan mengherankan bahwa ini adalah metode profesor sastra di universitas dan bahwa orang-orang universitas ini dari kelalaian sehingga mereka menyangka ini ilmu atau pembaruan dalam ilmu…

Dan dia berkata di halaman 48 yang bermaksud Nabi shallallahu alaihi wa sallam di awal urusannya dengan Quraisy: “Dan dia tidak mengharapkan kekuasaan atau penguasaan atau penaklukan, atau tidak ada itu dalam dakwahnya.”

Dan ungkapan terakhir ini dia menirukan dalam hal itu para ahli politik dalam bahasa praktis mereka yang menjadikan untuk setiap kalimat darinya dua pintu, kecuali bahwa Thaha menutup dalam ungkapannya kedua pintu dan jendela juga… maka sesungguhnya maknanya yang tegas adalah bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam di awal urusannya tidak mengharapkan kekuasaan, atau dia mengharapkan, tetapi dia menyembunyikan itu maka tidak menampakkannya dalam dakwahnya yang dengannya dia menyeru manusia kepada Allah.

Dan dengan demikian wahai syekh universitas maka telah ada untuk dakwah batin dan lahir, dan tidak menjadi demikian kecuali jika dari dirinya sendiri bukan dari Allah, dan hendaknya para pembaca merenungkan keburukan apa yang keluar dari qiyas ini berupa pengingkaran kenabian dan risalah, kami berlindung kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dan memohon ampunan kepada-Nya.

Kemudian dia berkata di halaman 55: “Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam menghasut untuk hujaan (sindiran) dan memberi pahala atasnya para sahabatnya, dan diriwayatkan bahwa Jibril mendukung Hassan.”

Dan kebodohan ini termasuk yang menyempitkan dada karena sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak menyukai hujaan dan tidak cacian, dan hanyalah itu sunnah Arab yang memaksanya kepadanya sifat orang Arab untuk melindungi kehormatan kaum Muslim, maka sesungguhnya ada dari sunnah ini pada orang Arab bahwa jika orang yang dicaci diam maka benar yang mencacinya maka perkataannya berlaku sebagai sejarah yang benar, kemudian pertempuran lidah tidak diam di dalamnya kecuali yang hina maka diamnya kehinaan, dan tidak menang di dalamnya kecuali yang gagap maka kegagapannya kehinaan lain, dan semua itu dari urusan mereka maka tidak ada pilihan dari kembali kepadanya agar orang Arab mengetahuinya maka tidak berpengaruh hujaan Quraisy pengaruhnya pada mereka dan menjadi sebab untuk penolakan mereka dan melemahkan urusan kaum Muslim pada mereka.

Dan Jibril tidak mendukung Hassan dalam hujaan, tetapi dalam pembelaan tentang nabinya sebagaimana diriwayatkan dalam hadits:

“Sesungguhnya Allah mendukung Hassan selama dia membela nabinya”

Dan ungkapan dengan lafal ini (al-kifah/pembelaan) memahami makna-makna banyak dan bukan di antaranya makna hujaan, dan seakan-akan beliau shallallahu alaihi wa sallam disingkapkan untuknya bahwa Thaha Husain akan mengklaim atasnya dan merendahkannya maka dia membatasi tujuannya dengannya untuk berkata kepada manusia: lihatlah maka sesungguhnya dia… dan pahamilah maka sesungguhnya dia…

Adapun fanatisme orang itu terhadap para imam Muslim maka telah berlalu dari itu sebagian, dan lihatlah bagaimana dia berkata di halaman 51 tentang Abu Sufyan dalam pembebasan Mekah: “Maka dia memandang ternyata dia di antara dua hal: apakah dia melanjutkan perlawanan maka binasa Mekah, ataukah dia berdamai dan masuk dalam apa yang telah dimasuki oleh manusia” dan menunggu… mudah-mudahan kekuasaan “politik” ini yang berpindah dari Mekah ke Madinah, dan dari Quraisy ke Anshar, kembali ke Quraisy dan ke Mekah sekali lagi; dia berkata: dan melemparkan abu di atas api ini yang membara antara Quraisy dan Anshar dan menjadi manusia semuanya—dalam lahirnya urusan—saudara-saudara yang bersatu dalam agama” selesai secara harfiah.

Dan telah panjang “penantian” Abu Sufyan dalam pendapat syekh yang gila ini sampai bangkit cucunya Yazid bin Muawiyah maka membalas dendam dari perang Badr dalam peristiwa Harrah sebagaimana dia katakan di halaman 55, dan di halaman ini dia berkata: “Sesungguhnya Yazid gambaran yang benar untuk kakeknya Abu Sufyan dalam murka terhadap Islam dan apa yang disyariatkan untuk manusia dari syariat-syariat.”

Maka Abu Sufyan dan para sahabat atau kebanyakan mereka adalah munafik dalam pandangan Universitas Mesir.

Karena mereka tidak menjadi saudara-saudara yang bersatu dalam agama kecuali—dalam lahirnya urusan—dan Abu Sufyan dengan itu termasuk penulis Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan telah menyaksikan bersamanya Hunain dan Thaif dan dicongkel matanya dalam ini.

Dan dialah yang berkata kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam setelah perang Hunain:

“Demi Allah sesungguhnya Anda benar-benar mulia, tebusan ayahku dan ibuku untukmu, demi Allah sungguh aku telah memerangimu maka sebaik-baik yang berperang Anda, dan sungguh aku telah berdamai denganmu maka sebaik-baik yang berdamai Anda”

Apakah ini perkataan munafik yang menunggu dan mengintai?

Tentang yang tidak habis-habisnya mengherankan adalah bahwa pendapat Thaha Husain ini adalah persis dan teksnya pendapat Rafidhah dan madzhab mereka, maka mereka menyangka bahwa para sahabat adalah munafik dalam hidup Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, dan para pembesar Muhajirin serta pilihan Anshar.

Maka bagaimana semua ini sejalan dalam kitab Universitas, dan apakah yang ada di dalamnya profesor untuk sastra ataukah dia profesor untuk pemikiran dan penolakan?

۞۞۞۞۞

Kebenaran Telah Jelas dari Kesesatan

Sebelum pena mengalir dalam tulisan ini, kami perlu meluruskan pernyataan yang pernah kami kemukakan dalam beberapa tulisan kami. Kami mengira bahwa profesor universitas itu mengambil gagasan keraguan terhadap syair Jahiliyah dari orientalis Marjaliouth, tetapi salah seorang cendekiawan mengingatkan kami bahwa sebelum Juha sudah ada Abu Dulama… Sesungguhnya gagasan ini berasal dari pendapat para orientalis Jerman, dan telah diuraikan dengan banyak bukti-bukti yang mirip dengan argumentasi Thaha Husein dalam buku “Syair Arab Sebelum Islam” yang dicetak di Paris tahun 1880. Demi Allah, kami akan bangga membanggakan kepada semua bangsa tentang universitas Mesir kami yang telah menghadirkan dalam sejarah dunia suatu mukjizat di atas mukjizat-mukjizat, karena berhasil mendapatkan profesor besar untuk mengajar sastra Arab yang pendapat-pendapatnya dicuri, dicetak, dan disebarkan di Eropa beberapa tahun sebelum dia sendiri lahir di Mesir…

Negeri kami ini masih terus tertimpa musibah, malang sekali, dan takdir tidak berhenti menyentuh harta karunnya yang berharga dan melemparkannya kepada para pencuri dari berbagai penjuru bumi. Tidak cukup bagi Eropa mencuri peninggalan raja-raja dan firaun-firaunnya setelah mereka mati, bahkan mereka berani juga mencuri pendapat-pendapat Firaun besar Thaha Husein sebelum kelahirannya…

Adapun setelah itu, wahai Universitas, sesungguhnya kami berbicara dan menulis hanya untukmu, dan hanya kepadamu kami maksudkan. Sesuai dengan kedudukanmu, kami telah meringkas dan merinci, karena engkau dipercaya menjaga akidah anak-anak kami namun kami melihatmu berkhianat. Di dalam dirimu terdapat tempat kembali ilmu, namun kami melihatmu bodoh. Kepadamu diserahkan pendapat tentang sastra ini, namun tidak ada yang lebih rendah dan jatuh pendapatnya selain engkau. Seharusnya sangkaan terhadapmu bahwa ilmu memiliki kehormatan di sisimu dan amanah memiliki tempat di dalam dirimu, dan bahwa engkau mengetahui perbedaan antara ilmu yang sudah selesai dan ilmu yang baru dimulai, antara akal umum yang terkumpul dari kebenaran semua ulama dan akal khusus yang dimiliki setiap sarjana dan setiap orang bodoh. Kami berharap dengan itu engkau menyadari bahwa sastra tidak mengenakan pakaian Thaha Husein, tidak hidup dengan hidupnya, dan tidak mati dengan kematiannya. Bahwa orang ini adalah cerminmu di hadapan umat, maka dia akan mengembalikanmu kepada tabiat dan akhlaknya, mewakilimu dengan kebodohan dan kedungguannya, dan mencelakaimu dengan kesesatan dan kekufurannya. Engkau berlaku seolah-olah berilmu dengannya hingga kebodohannya membeberkan aibmu, dan engkau merasa aman padanya hingga kekufurannya meliputimu. Kemudian setelah itu, engkau tidak menafikan kesalahan dan tidak mendatangkan kebenaran, malah menghancurkan dirimu sendiri karena kesombonganmu bahwa namamu adalah Universitas, dan fanatikmu terhadap kebatilan profesormu yang murtad, dan kesombonganmu di muka bumi, dan tipu daya yang buruk. Maka jadilah engkau seperti yang engkau jadi, dengan keras kepala dan keras hati, dengan keras dan menyakitkan. Engkau condong ke arah meremehkan umat, mengejek agamanya, dan merendahkan ulama dan sastravannya, seolah-olah dalam semua itu tidak ada ulama dan sastravan. Seakan-akan seluruh umat Mesir tidak sebanding di sisimu dengan “anak sulung Universitas” karena hatimu membesarkan dia hingga menjadi gunung, dan mengurangi umat hingga kembali menjadi kerikil. Timbangannya adalah timbangan hatimu, dan timbangan itu berada di tanganmu yang terhubung dengan hati ini.

Mahasuci Allah! Seakan-akan kami tidak berdebat denganmu tentang ilmu dan sastra, tetapi menegurmu dalam cinta dan hawa nafsu. Paling sia-sia adalah apa yang dikatakan para penasihat! Tidak ada padamu kecuali perselisihan, keras kepala, kekeukeuhan, dan menganggap setiap keburukan dari keburukan-keburukan sang kekasih sebagai kebaikan dari kebaikan-kebaikan cinta…

Maka menjadi jelas bagi kami bahwa persoalan di sisimu hanyalah antara pribadi-pribadi, watak-watak, dan kepentingan-kepentingan yang menjadikan ulama agama di Mesir dengan nama-nama, gelar-gelar, dan ijazah-ijazah mereka seolah-olah mereka adalah halaman tertulis yang dibaca lalu dibuang ke tempat sampah.

Adapun Thaha sendirian adalah Yang Hidup, Yang Mengetahui, Yang Berkuasa, Yang Berbicara, anak sulung yang dijadikan oleh ijazah Sorbonne seolah-olah ayat yang menghapus (nasikh), kemudian ayat yang terhapus (mansukh) tidak lain adalah Al-Azhar Asy-Syarif, padahal perselisihan itu hanya bersifat keagamaan dan tentang Kitab Allah.

Dan menjadi jelas bagi kami bahwa yang bernama Universitas Mesir ini tidak peduli baik atau buruk pengaruhnya terhadap umat, tidak perduli reputasi yang memuji atau mencela, seolah-olah dia sendirian adalah pusat otak dari tubuh Mesir. Adapun orang-orang lain dan berbagai golongan hanyalah kulit, tulang, alat-alat, dan sesuatu seperti pewarna dalam apa yang dipaksakan kepada pemiliknya, atau semacam perumpamaan ini atau dekat dengan sejenisnya. Jika seorang pria jatuh di dalamnya seperti Thaha Husein dan ditolak oleh seluruh umat, maka tidak ada perhatian bagi Universitas kecuali mengikatnya ke kursinya meskipun dengan tali, dan menetapkannya meskipun dengan paku, seolah-olah tugasnya di Universitas hanyalah tidak meninggalkannya, hanya itu…

Adapun ilmu dan sastra, maka setiap ucapan adalah ilmu dan sastra selama yang mengucapkannya adalah “anak sulung Universitas” dan selama pembedaan hilang dan hawa nafsu bercampur aduk, karena tujuan mereka sebagaimana telah jelas bagi kami dan semua orang adalah agar profesor sastra menemukan kehidupannya, bukan agar sastra menemukan profesornya. Kedua hal itu sangat berbeda sebagaimana engkau lihat, dan antara keduanya ada jurang pemisah yang sangat jauh tanpa ada pendekatan.

Kami bertanya kepada Universitas dengan pertanyaan yang terbuka agar menjawab kami jika mampu menjawab setelah sikap diamnya:

Siapakah di antara orang-orangnya dan yang memimpin di dalamnya yang layak menjadi hakim dalam perselisihan yang terjadi antara Universitas dan para sastravan? Mereka menuduh profesornya bodoh dalam sejarah sastra, meruntuhkan pelajaran-pelajarannya di atasnya, dan membatalkan pendapat-pendapatnya. Itu adalah benar yang harus dilaksanakan atau batil yang harus ditolak.

Siapakah yang akan mengucapkan kata pemisah ini dari para profesor Universitas dan orang-orangnya? Dan siapakah orang ini yang melihat pada dirinya kekuatan dalam ilmu ini dan berada dari ahlinya di posisi ini? Kami tidak tahu bahwa di Universitas ada Al-Asma’i, Abu Ubaidah, Al-Jahizh, atau siapa pun yang memiliki aroma dari mereka dan sejenisnya. Tidak ada di seluruh bumi yang mengatakan bahwa seorang ahli hukum karena itu adalah ahli sastra, dan bahwa seorang filsuf dalam ilmu-ilmu akal karena filsafatnya adalah sejarawan puisi dan tulisan. Tidak semua orang yang pandai dalam sesuatu pandai dalam segala sesuatu.

Para sastravan dan ulama telah mengajukan tuntutan, mengajukan bukti, mengemukakan hujjah-hujjah, dan membuktikan kepada Universitas tentang kekufuran syaikhnya, lemahnya pendapat, buruknya pemahaman, kemandulan penalarannya, dan bahwa dia di samping itu memiliki materi yang sedikit yang diperluasnya dengan hal-hal dari dirinya sendiri yang ia namakan analisis dan logika, bukan dengan sebab-sebab yang menjadikan materi itu sendiri dari apa yang dinamakan nash-nash dan ‘illah-illah dan semacamnya.

Gugatan telah diajukan, maka di manakah hakimnya? Apakah Universitas ini ingin mengejek para ulama dan sastravan semua, dan mengabaikan seluruh umat sehingga memasang jenggot lebat di pipinya Thaha Husein dan sorban putih di kepalanya dan mengeluarkannya kepada orang-orang dengan berkata: Kamilah hakim Universitas, sidang dibuka dan kami memutuskan bahwa Thaha Husein tidak menyimpang dalam agama Allah dan tidak akan menyimpang di dalamnya, tidak keliru dalam sejarah sastra dan tidak akan keliru, tidak dan tidak akan sepuluh kali dalam bentuk kosong…? Untuk diisi oleh Thaha Husein dengan apa yang dia kehendaki kapan pun dia kehendaki?

Wahai Universitas, kami tidak memintamu keadilan atau sebagian dari keadilan, selama engkau mengkhususkan profesormu dengan perhatian dan kelebihan dari perhatian. Tetapi celakalah engkau, apa yang akan engkau perbuat dalam sejarah sastra? Dan siapakah yang mewariskannya kepadamu atau mewakafkannya kepadamu sehingga ilmumu adalah ilmu satu-satunya? Dan kekuatan apakah ini yang menjadikan kesalahanmu memiliki unsur yang bukan dalam kesalahan sehingga tidak ada seorang pun yang berambisi memperingatkanmu padanya atau menghitungmu atasnya? Dalam ukuran ini, siapakah yang menjadikan besimu emas, saljumu yang dingin api yang menyala, kayumu tongkat gaharu, surutmu pasang tertinggi? Mahasuci Engkau, di tangan-Mu kebaikan, profesormu dan tidak ada yang lain, engkau mewarisi kerajaan Sulaiman “dengan ifrit”, dan engkau menguasai panas matahari dalam kotak korek api…

Sungguh berat bagi kami demi Allah bahwa ucapan kami sampai pada makna ini, tetapi perkataan tidak memiliki kendali kecuali dari kenyataan. Tidak seharusnya kami melihat dalam cermin tengkuk yang lebar kemudian mengatakan dalam menggambarkannya: Mahasuci Allah, betapa indahnya sihir mata, betapa manisnya embun senyuman di kelopak bibir, pipi ini, sajak dalam puisi mawar, mulut itu sesuai dengan ukuran darah, wahai yang sakit pandangan di mana darimu obatnya, dan alis ini tidak lain adalah penghalang mahkamah cinta…

Dan setelah itu, biarlah Universitas dengan profesornya, dan biarlah dia mengejek umat sesukanya. Tetapi kami ingin membuatnya memahami bahwa semua keburukan pada profesornya adalah bahwa dia mengklaim dalam bukunya memperbaiki kehidupan sastra Islam, padahal dia tahu bahwa dia tidak pernah berada di dalamnya, tidak berbagi dengan ahlinya, tidak menguasai sebab-sebabnya, dan dia tidak menanganinya dengan pikiran yang halus, pandangan yang tajam, tabiat penyair, dan yang menyerupai pemikiran ahlinya, kecenderungan dan tujuan mereka. Bahkan dia mengklaim dalam kesombongan yang luar biasa bahwa dia melepaskan diri dari emosi dan agama untuk mempelajari, memastikan, dan memverifikasi. Seandainya dia berilmu, berwawasan, dan fokus pada apa yang menjadi jalannya dalam sastra ini, niscaya dia akan berpakaian dan tidak melepaskan diri. Maka dia akan memakaikan pada pikirannya dan khayalnya emosi-emosi Arab, selera mereka, adat istiadat mereka, tabiat zaman mereka, mendekati pikiran-pikiran mereka yang tajam dan bakat-bakat mereka yang kuat. Kemudian setelah itu dia berbicara tentang sejarah mereka, sejarah sastra mereka, mengingkari dan menetapkan. Karena sesungguhnya lebih layak diterima darinya, karena dia akan seperti terhubung dengan peristiwa yang diurutnya dengan seperti apa yang dikembalikan oleh penyaksian dan pengamatan kepada yang menyaksikan dan mengamati. Dan seolah-olah dia berpartisipasi di dalamnya dengan penciptaan, maka karena itu tidak ada yang berbicara tentangnya lebih jujur darinya atau lebih dekat kepada kejujuran. Dan dia dalam apa yang diceritakan, digambarkan, atau disimpulkannya seolah-olah sisa zaman yang menggambarkan zamannya, maka tidak ada kecuali penerimaan darinya dan pengambilan pendapat dan pandangannya. Zamannya turun darinya pada posisi pemuda yang tumbuh yang mendengarkan cerita orang tua yang fana yang menceritakannya tentang dirinya.

Dari mana pikiran yang diambil dari zaman kita ini, zaman keraguan dan kekufuran, dapat menyelami rahasia-rahasia zaman-zaman beriman yang sangat kuat dalam imannya? Dari mana akal yang dibentuk oleh sebab-sebab kelembutan, berdiri di atas kenikmatan, kelunakan, dan kehidupan yang tenang, dapat masuk ke dalam rahasia-rahasia zaman-zaman yang rusak, hancur, yang sangat kuat dalam kekerasannya? Demi Allah, tentang profesor Universitas ketika dia menyesuaikan pikirannya yang Barat-Eropa dengan pikiran Timur-Arab itu hingga terjadi percampuran antara keduanya, bukankah kedua pikiran itu kecuali mencaci yang lain dan membatalkannya? Sebagaimana tampak dalam bukunya yang dengannya dia mencaci sejarah sastra dan dicaci olehnya sejarah sastra?

Engkau wahai pengendara mobil dan penunggang kereta api, engkau mengklaim bahwa kebodohan yang paling bodoh adalah menunggang unta atau mengendarai unta lalu meremehkan dan merendahkan keduanya dan mengatakan tentang keduanya apa yang mencapai hinanya ucapan. Kemudian engkau melampaui dengan sifat ini kepada pemilik unta dan unta, kemudian melampaui mereka ke zaman mereka dan engkau berkata tentang zaman kelambatan, kebodohan, kekurangan, pemborosan waktu, berlebihan dalam menghabiskan umur, dan begini dan begitu. Tetapi wahai orang bodoh, pertaruhkanlah dirimu sekali di padang pasir dan terlepaslah di sana antara lebar dan panjang yang bercampur dalam satu benang. Kemudian kumpulkan bukti-bukti dan hujjah-hujjahmu dan tinjaulah satu per satu hujjah dan bukti demi bukti, maka sesungguhnya engkau akan belajar bahwa unta menghancurkan di atasmu semua logika itu dengan kotorannya… Dan engkau akan belajar di sana logika lain yang dengannya engkau beriman dengan sangat kuat bahwa unta dan unta bukan dari hewan, tetapi keduanya adalah dua bintang yang Allah ciptakan dengan kuasa-Nya untuk langit dari pasir itu.

Sesungguhnya sebab-sebab kesalahan yang paling kuat dalam sejarah sastra ada dua hal: lemahnya pikiran untuk menembus dalam memahami rahasia-rahasia yang diliputi oleh sejarah itu, dan lemahnya materi yang mengumpulkan untukmu gambaran-gambaran sejarah, menentukan bagian-bagian gambaran ini, dan memverifikasi posisi-posisi bagian-bagian ini. Adapun pikiran, maka tidak ada penetrasi baginya kecuali jika menjadi pikiran penyair penulis yang fasih berdasarkan filsafat, kecerdasan yang jernih, dan ilmu Arab. Adapun materi, maka tidak ada nilai baginya kecuali jika dari keluasan sehingga mencakup zaman demi zaman, orang demi orang. Apa yang kurang dari itu, maka kekurangan dalam sejarah sesuai dengannya dan sesuai ukurannya.

Marilah kita ambil contoh profesor Universitas. Dia telah membuat bab-bab tentang Abu Nuwas yang di dalamnya dia menjadikan penyair cabul, jahat, dan banci ini sebagai agama untuk zamannya dan mazhab kehidupan di masanya. Dia mengatakan bahwa itu adalah zaman keraguan, kekufuran, dan zindik. Dan dia lalai dari ucapan Al-Asfahani, pengumpul syair Abu Nuwas: “Sesungguhnya pekerjaannya menulis puisi adalah di luar jalan para penyair, karena kebanyakan syair-syairnya dalam hiburan, percintaan, kerusakan, dan kesia-siaan seperti syair-syairnya dalam menggambarkan khamar, bahasa wanita dan anak laki-laki. Paling sedikit syair-syairnya adalah pujian-pujiannya.” Dia berkata: “Ini bukan jalan para penyair yang ada di zamannya.”

Jika nash ini tegas dan pasti bahwa para penyair zaman Abu Nuwas berada di jalan yang berbeda dari jalannya, bagaimana mungkin zaman itu sendiri berada di jalannya?

Selama kita masih membahas Thaha Husein, marilah kita jadikan dia sendiri sebagai contoh. Dalam bukunya Asy-Syi’rul Jahiliy (Puisi Jahiliah), dia telah menulis berbagai hal yang memalukan berupa ateisme dan ejekan terhadap agama. Jika berlalu seribu tahun kemudian datang seorang sastrawan dengan pemikiran dan pemahaman aneh sepertinya lalu menemukan bukunya atau bagian-bagiannya, bukankah dia akan menyimpulkan dengan dalil ini—jika dia tidak menemukan bahan sejarah selain ini—bahwa Universitas Mesir pada tahun 1926 adalah lembaga kekufuran dan ateisme? Kemudian pikirannya akan mengalir kepada bangsa Mesir dan menyimpulkan bahwa mereka secara keseluruhan adalah bangsa kafir dan ateis, karena universitas adalah sekolah pemerintah yang terbesar, dan pemerintah adalah manifestasi terkuat dari bangsa yang konstitusional. Namun orang bodoh ini—sejak awal…—hanyalah jatuh ke dalam percampuran yang buruk ini karena lemahnya pengumpulan bahan sejarah, meskipun pendapatnya tepat dan analisisnya benar. Seandainya dia membaca telegram-telegram lembaga keagamaan yang ditandatangani oleh semua ulamanya, keputusan ulama Al-Azhar, protes rakyat Mesir, tulisan para profesor besar, dan juga artikel-artikel kami yang lemah, tentu dia akan mengetahui dari semua itu skandal universitas tersebut sehingga pendapatnya berubah, lalu keputusannya berubah, dan berubah pula sejarah yang dia tulis dan susun.

Tidak diragukan lagi bahwa bahan yang terpelihara adalah yang menciptakan sejarah sesuai dengannya, sehingga filsafat, pemikiran, mazhab Descartes, maupun mazhab Thaha Husein tidak dapat menggantikannya; karena bahan itulah satu-satunya jalan kita menuju apa yang tidak mungkin kita capai atau yang kembali kepada kita. Adapun menuduh riwayat, kritik dan validasi perawi (jarh wa ta’dil), serta pemalsuan dengan penambahan atau pengurangan—baik karena sebab tertentu atau tanpa sebab—semua ini adalah pekerjaan pemikiran yang diberi bahan tersebut, bukan yang terputus darinya. Sejauh sejarawan gagal menguasai bahan, sejauh itu pula pemikirannya gagal, dan pendapatnya mengalami kekeliruan, keguncangan, dan kekurangan sesuai dengan apa yang mungkin terdapat dalam bahan-bahan yang luput darinya berupa ketepatan, ketelitian, kelebihan, dan sebab-sebab pendapat lainnya. Sejarawan sastra tidak akan selamat dari itu dan pemikirannya tidak akan tajam serta pendapatnya tidak akan menjadi pendapat yang benar kecuali jika dia menghilangkan cacat ini dengan membaca, mengumpulkan, dan meneliti secara menyeluruh. Itulah yang kami ingatkan kepada universitas di berbagai bagian pembicaraan kami, agar kita tahu bahwa tujuan itu jauh dan jalan itu sulit, dan bahwa sejarah sastra bukanlah dari artikel ke artikel atau dari pemikiran ke pemikiran, bukan pula termasuk tulisan jurnalistik, melainkan dari bahan ke bahan dan dari verifikasi ke verifikasi. Maka hendaknya universitas mengukur buku profesornya dengan ukuran ini, dan mencari bahan di dalamnya sebelum pendapat. Namun universitas akan melihat seluruh isi buku itu sebagai percampuran yang dihasilkan oleh perpaduan dua zaman yang bertentangan: pertama, zaman kita ini dengan apa yang diketahui sang profesor secara jelas dan benar; kedua, zaman bangsa Arab dengan apa yang ada di dalamnya yang hanya sebagiannya diketahui secara khayalan dan pendustaan, karena hal itu tidak dapat diterima oleh tabiatnya yang rusak dan menyimpang akibat mentalitas Eropa.

Ketika pemikiran sejarah menundukkan pengamatan atas khayalan dan kejujuran atas pendustaan, dan hanya berjalan dengan kecenderungan dan hawa nafsu, maka tidak akan tersisa apapun dari sejarah. Jika masih tersisa sesuatu, itu bukanlah sejarah melainkan karya tulis yang dipaksakan pikiran dan menyusahkan khayal untuk tujuan inovasi, keanehan, berfilsafat, penyesatan, atau tujuan-tujuan intelektual lainnya—apapun itu kecuali tujuan sejarah.

Dan perhatikanlah bagaimana percampuran ini terjadi. Profesor universitas berkata di halaman 52: “Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam hampir belum meninggalkan dunia ini”—ini adalah ungkapan para misionaris, seolah-olah beliau menguasainya lalu meninggalkannya, sedangkan ungkapan Islam adalah: hampir belum berjumpa dengan Rabbnya, atau dengan Ar-Rafiqul A’la—”hingga terjadi perselisihan antara Muhajirin dari Quraisy dan Anshar tentang kekhalifahan, di mana dan untuk siapa? Hampir saja urusan rusak antara kedua kelompok seandainya bukan karena sisa agama”—begitu katanya, hanya sisa saja pada para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam—”dan ketegasan sekelompok orang Quraisy, dan seandainya bukan karena kekuatan material saat itu ada pada Quraisy”—dan ini adalah kebohongan terhadap sejarah; karena Anshar segera menerima dan setuju kekhalifahan keluar dari mereka, dan ternyata urusan telah stabil antara kedua kelompok, mereka telah bersepakat tentang hal itu, tidak ada yang menyelisihi mereka kecuali Sa’d bin Ubadah Al-Anshari yang menolak membaiat Abu Bakar dan membaiat Umar, menolak shalat bersama kaum muslimin dan haji bersama mereka, serta terus mewakili oposisi dengan keras kepala dan tekad kuat hingga dia terbunuh secara diam-diam dalam salah satu perjalanannya—dibunuh oleh jin menurut klaim para perawi.” Selesai kutipan.

Kemudian dia berkata di halaman 71: “Lebih mengherankan lagi bahwa politik itu sendiri telah menjadikan jin sebagai salah satu alatnya”—selamat untuk universitas…—”dan membuatnya berbicara dengan syair pada masa Islam itu sendiri. Kami telah menyinggung di bab sebelumnya tentang pembunuhan Sa’d bin Ubadah, orang Anshar yang menolak tunduk pada kekhalifahan Quraisy. Kami katakan bahwa mereka menceritakan jin membunuhnya, dan mereka tidak cukup dengan cerita ini melainkan meriwayatkan syair yang diucapkan jin dengan membanggakan pembunuhan Sa’d bin Ubadah ini:

Kami telah membunuh pemimpin Khazraj Sa’d bin Ubadah Dan kami melemparnya dengan dua anak panah, tidak meleset dari jantungnya

Selesai perkataan sang Syekh. Kita akan berhenti di sini untuk menjelaskan kepadamu kesesatan orang ini, percampurannya, kesengajaannya berbohong, kurangnya kehati-hatiannya, dan sikapnya yang gegabah dalam apa yang dia katakan dan pandang. Kamu akan mengetahui dari itu tentang keburukan hatinya dan mengetahui dengan yakin bahwa tujuannya adalah merendahkan Islam dan meremehkan urusannya, bahwa dia seperti orang yang terpaksa menyampaikan perkataannya dalam bentuk syubhat padahal dia memiliki keluasan dari sejarah dan teks-teksnya serta bahasa dan gaya-gayanya. Bahwa dia selalu mengikuti jalan kaum zindiq dalam membuat perkataan berupa premis-premis yang salah kemudian diam tentang kesimpulan yang dihasilkan darinya—dia tidak menyatakannya secara terang-terangan tetapi membiarkan pembaca mengeluarkannya dengan pemikirannya sendiri; agar hal itu menjadi bagian dari perbuatan pembaca sehingga lebih melekat padanya dan lebih berpengaruh kuat pada jiwa dan akalnya, dan mengeluarkannya untuk meyakini apa yang dia simpulkan, sehingga keraguan menghantarkannya kepada tuduhan, dan tuduhan menyerahkannya kepada apa yang tidak dapat diselamatkan iman karenanya dan tidak sah keyakinan karenanya.

Sang Syekh menggambarkan Sa’d bin Ubadah sebagaimana kamu pahami dari sikap seperti sikap Partai Nasional di parlemen misalnya, bahwa dia mewakili “oposisi” dan terus mewakilinya hingga dia terbunuh, yaitu tahun kelima belas Hijriyah menurut sebagian pendapat dan sekitar dua tahun setelah wafatnya Abu Bakar radhiyallahu anhu. Oposisi itu hanyalah oposisi ketika muncul masalah kekhalifahan, lalu mengapa dia bertahan setelah urusan stabil? Apakah itu masih disebut—setelah ijma’ umat—sebagai pembangkangan dan pemberontakan atau oposisi yang diwakili seorang politisi? Kemudian dia mengatakan bahwa Sa’d ini tidak shalat bersama kaum muslimin, dst. Apakah pembaca memahami dari penyamaran ini kecuali bahwa dia shalat dengan shalat Nasrani atau Yahudi, padahal makna terang di dalamnya adalah bahwa orang itu shalat dengan shalat kaum muslimin, tidak mengubah dan tidak mengganti, tetapi dia shalat sendiri di rumahnya, tidak bersama jamaah di masjid? Kemudian dia mengatakan bahwa jin membunuhnya secara diam-diam dalam salah satu perjalanannya, padahal orang itu tidak terbunuh melainkan pergi ke Syam dan menetap di Hauran hingga meninggal dan mereka mendapatinya mati di tempat mandinya, dan para sejarawan tidak berselisih tentang itu. Syekh universitas hanya ingin menjadikan pembunuhan itu politis karena “oposisi” agar pemalsuan cocok—dan ini lebih mempermalukan kebodohannya. Apa keperluan kaum muslimin membunuh orang yang lemah dan terasingkan padahal urusan telah stabil, Abu Bakar telah dibaiat kemudian Umar dibaiat, dan telah berlalu dua tahun tanpa dia terbunuh, tanpa fitnah, tanpa perselisihan, tanpa sesuatu yang menyeru pembunuhan diam-diam?

Kemudian dia mengatakan bahwa politik yang membunuhnya telah membuat jin mengucapkan dua bait itu, dan bahwa mereka menceritakan dan meriwayatkan; semua itu adalah kebodohan sang profesor. Khabarnya adalah bahwa Quraisy membuat—dalam syair yang mereka buat—sebuah bait yang mereka hubungkan dengan jin tentang Sa’d bin Ubadah dan Sa’d bin Mu’adz. Mereka mengklaim di awal Islam bahwa mereka mendengar seseorang berteriak di malam hari di atas gunung Abu Qubais:

Jika kedua Sa’d selamat, Muhammad akan pagi hari di Makkah tidak takut perselisihan dari penyelisih

Karena kedua orang ini memiliki kedudukan dan bahaya di kaum mereka, hingga Nabi shallallahu alaihi wasallam mengajak keduanya bermusyawarah dalam Perang Khandaq tanpa orang lain. Ketika ini merupakan kemuliaan Sa’d, maka Ibnu Sirin dalam kisahnya mengklaim bahwa ketika dia meninggal di Syam, kabar kematiannya diketahui di Madinah “dengan telegraf…”—dan tidak ada telegraf saat itu kecuali dari jin. Dia mengklaim bahwa mereka tidak menyadari kematiannya di Madinah hingga mereka mendengar seorang penyeru dari sumur dan membaca dua bait itu. Maka kamu lihat kehalusan pembuatan dalam riwayat ini, kelembutannya, dan bagusnya susunannya. Penyeru pertama sebelum keislaman Sa’d berada di atas gunung, dan penyeru kedua setelah kematiannya berada di dasar sumur… Semua itu untuk mengagungkan kedudukan Sa’d, bukan politik, bukan pembunuhan, bukan kezindikan. Disebutkan dalam syair “kami telah membunuh” karena ungkapan Ibnu Sirin tentang itu adalah bahwa orang itu sedang berdiri buang air kecil lalu bersandar dan meninggal. Kematian mendadak ini adalah yang mereka sebut sebagai pembunuhan oleh jin, dan hal ini banyak dalam berita-berita mereka. Jangan luput dari pikiranmu bahwa jika benar orang itu dibunuh oleh politik, maka yang membunuhnya tidak lain adalah Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu anhu—betapa buruknya tuduhan itu, semoga Allah menghinakan yang mengatakannya!

Dan tersisa setelah semua ini bahwa syekh universitas telah menyimpang dari pemikiran dan meninggalkan analisis dalam peristiwa ini padahal dia sering berkata dalam bukunya: “Dan fikih riwayat ini adalah begini-begitu.” Lalu mengapa dia—semoga Allah mengampuninya—begitu? Kami katakan kepadanya bahwa “fikih riwayat ini” adalah bahwa Sa’d bin Ubadah adalah pemimpin Anshar, paling dermawan di antara mereka, dan pembawa panji mereka di semua peperangan. Dia sangat cemburu hingga disebutkan dalam hadits:

“Sesungguhnya Sa’d sangat cemburu, dan aku lebih cemburu dari Sa’d, dan Allah lebih cemburu dari kami, dan kecemburuan Allah adalah jika dilanggar larangan-laranganNya.”

Dia melemparkan cita-citanya jauh, hingga dia berdoa: “Ya Allah, berilah aku kemuliaan. Tidak ada kemuliaan kecuali dengan perbuatan, dan tidak ada perbuatan kecuali dengan harta. Ya Allah, sesungguhnya yang sedikit tidak layak bagiku dan aku tidak layak karenanya.”

Ini semua adalah akhlak dan tabiat orang itu. Ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam berjumpa dengan Rabbnya, dia berambisi mendapat kekhalifahan karena kedudukannya dan keutamaannya. Saat itu dia sedang sakit sehingga suaranya tidak terdengar, hingga ketika Anshar berkumpul untuknya, dia berkata kepada anaknya: “Aku tidak mampu karena sakitku membuat semua orang mendengar, tetapi terimalah perkataanku lalu perdengarkan kepada mereka.” Maka dia berbicara dan orang itu menghafalkan perkataannya lalu mengangkat suaranya sehingga sahabat-sahabatnya mendengar. Mungkin orang sakit ini jika sehat tentu pendapatnya benar dan dia tidak dikalahkan oleh sifat jahiliah serta masuk ke dalam apa yang orang-orang masuki. Jika dia marah setelah Abu Bakar menjadi khalifah, maka dia tidak marah kepada seluruh kaum muslimin tetapi khususnya kepada Anshar, karena mereka adalah kaumnya yang mengecewakannya. Jika demikian, klaim bahwa dia “mewakili oposisi” adalah klaim yang menggelikan.

Kemudian tersisa perkataan profesor universitas: “dan seandainya bukan karena kekuatan material saat itu ada pada Quraisy”—kami tidak tahu dari mana dia mendapat ini kecuali kebodohannya. Seolah dia membayangkan bahwa Anshar jika memiliki kekuatan material tentu akan membawa kekhalifahan, lalu ketika Quraisy membawanya, itu adalah teks bahwa kekuatan ada pada mereka.

Profesor ini—demi Allah—sangat membutuhkan dokter yang mencegahnya menarik kesimpulan sebagaimana dokter mencegah pasien makanan berat. Kami menyarankan kepadanya agar mengasihani dirinya dan tidak membebani pikirannya dengan jenis penderitaan pemikiran yang halus ini. Jika dia tidak mengasihaninya, hendaknya mengasihani kami…

Bagaimana kekuatan material ada pada Quraisy, padahal dalam khabar perselisihan Anshar dengan mereka, Al-Hubab bin Al-Mundzir berkata: “Wahai Anshar, kuasailah dengan tangan kalian. Jika mereka menolak apa yang kalian minta, maka usirlah mereka dari negeri ini, karena kalian demi Allah lebih berhak atas urusan ini daripada mereka, karena dengan pedang-pedang kalian agama ini ditaati oleh yang menaatinya.”

Apakah ini perkataan Anshar, logika pedang mereka, dan kemampuan tekad mereka, kemudian kekuatan material ada pada Quraisy dan Anshar hanya tunduk karena takut dan gentar dari kekuatan ini—bukan karena keinginan, bukan Islam, bukan iman, bukan karena menginginkan wajah Allah, bukan karena tersentuh emosi? Lalu apa makna “kekuatan material”? Apakah Kementerian Perang ada pada Quraisy, atau pabrik senjata di tangan mereka… Ataukah senjata mereka adalah pedang dan tombak, sedangkan senjata Anshar adalah tongkat dan pentungan…?

۞۞۞۞۞

Berikanlah Perumpamaan bagi Mereka

Saya kembali membuka kitab kuno “Kalilah wa Dimnah” yang saya miliki, yang telah saya katakan bahwa tidak ada yang memiliki kitab seperti ini selain saya, dan bahwa tidak ada hikmah yang menolaknya, tidak ada peristiwa yang membuatnya gentar, dan tidak ada perumpamaan yang meremehkannya. Saya telah membolak-baliknya berharap menemukan perumpamaan tentang universitas dan syekhnya yang memiliki mukjizat-mukjizat dan keajaiban-keajaiban luar biasa. Ternyata Kalilah berkata dalam salah satu ucapannya:

“Buatkanlah untukku sebuah perumpamaan tentang seorang laki-laki yang kagum pada dirinya sendiri hingga ia tertipu dan menceburkan dirinya ke dalam kebodohan yang mengingkari. Ia melihatnya sendiri sebagai ilmu, padahal semua manusia hanya mengenalnya sebagai kegilaan dan kebodohan. Karena engkau tadi telah berhenti bercerita tentang perumpamaan sekolah yang mereka klaim bernama universitas dalam keimanannya kepada syekhnya dan penantiannya agar terjadi mukjizat darinya. Dan engkau mengatakan bahwa ia adalah seorang laki-laki yang tertipu, maka engkau mengumpulkan padanya antara kesombongan dari dirinya dan kelengahan dari universitas tersebut, dan universitas itu menambah kebodohannya dengan lemahnya daya pembedaannya hingga ia berubah menjadi tidak dapat ditahan oleh akal maupun agama. Ia dulunya berhati-hati terhadap beberapa keburukan pada dirinya, dan ia dulunya mempertimbangkan ilmunya dengan beberapa pertimbangan. Namun ketika ia melihat universitas itu terabaikan dan terlantar, dan ia melihat bahwa hanya ia sendiri yang berada di atas menara, sedangkan para jamaah dan imamnya berada di bumi, ia pun mengumandangkan azan kepada kaum muslimin dengan bahasa Romawi, dan berkata: ‘Jika para jamaah adalah gagak, maka tidak heran jika muadzinnya adalah burung hantu…’ Dan engkau mengklaim wahai Dimnah bahwa universitas itu seperti sekolahnya keledai, lalu apa perumpamaan sekolah keledai itu?”

Dimnah berkata: “Mereka menceritakan bahwa di negeri demikian ada seekor keledai yang membayangkan bahwa ia memiliki kepala yang besar hingga seekor banteng hanya mengungguli ukurannya karena tanduknya. Dan ia merasa sedih karena adanya tambahan dua tanduk pada banteng itu. Ketika ia berpikir, mengukur, dan mempertimbangkan, menjadi jelas baginya bahwa salah satu dari kedua telinganya yang panjang itu lebih berat daripada kedua tanduk sekaligus. Dan ia adalah seekor keledai yang memiliki penalaran dan logika yang aneh. Maka ia mengklaim pada dirinya bahwa kepala sebesar kepalanya pasti menghasilkan akal, dan bahwa akal seperti akal ini bisa dijual kepada manusia, dan bahwa seorang manusia tidak mungkin menjadi keledai. Maka ia menemukan dari hal itu bahwa ia diciptakan berbeda dari keledai-keledai lainnya. Dan ia berkata: ‘Apa yang menghalangi saya untuk melakukan sesuatu perbuatan yang tidak ada seorang pun yang bisa memegang ekorku di dalamnya.’

Kemudian hal itu menjadi bukti di kalangan para keledai bahwa ia berada di atas manusia, karena ia menyerupai bahwa untuk inilah ia diciptakan, dan apa gunanya bagi saya memiliki ringkikan yang megah, jika tidak ada padaku kekuatan dan kemampuan yang dengannya keutamaan dapat dicapai atas mereka yang tidak meringkik?

Dimnah berkata: “Ia memiliki seorang teman dari kalangan anjing yang akrab dengannya, sekelompok anak-anak desa senang padanya, mereka mengelusnya, memberinya makan, dan bermain-main dengannya. Suatu hari keledai itu membisikkan kepadanya bahwa ia bukan seekor keledai. Anjing itu bertanya: ‘Lalu apa gerangan engkau ini? Kulit apa ini? Kuku apa ini?’ Kemudian ia menceritakan kisahnya, dan keledai itu mengklaim bahwa kulit yang ia kenakan ini hanya menyerupai para keledai agar menjadi pertanda bagi mukjizat yang ia diutus dengannya!

Anjing itu berkata: “Dan apakah engkau benar-benar memiliki mukjizat?” Ia menjawab: “Ya, maka jangan sampai ragu atau mendustakan menghinggapimu. Dan aku diutus sebagai keledai karena jenis manusia telah dijadikan dengan berbagai sifat kehinaan, kelicikan, dan kerendahan, maka tidak ada yang lebih dekat dengannya selain keraguan, iri hati, dan pengingkaran. Dan tanda-tanda serta peringatan tidak berguna baginya. Tidak ada nabi atau rasul yang datang kepadanya dengan mukjizat kecuali ia iri kepadanya lalu menolaknya karena iri hati, maka ia kafir dengan menolaknya. Dan di antara para nabi ada yang membelah laut, ada yang menghidupkan orang mati, dan ada yang membelah bulan menjadi dua bagian, namun kekafiran tetap saja ada di bumi, tidak lenyap seperti lenyapnya air, tidak mati seperti matinya yang hidup, dan tidak hancur seperti hancurnya yang mati. Demi hidupku, tidak tersisa dalam hukum akal maupun dalam tipu daya prasangka untuk keimanan jenis yang terkutuk ini kecuali mukjizat datang kepadanya dalam kulit keledai!”

Anjing itu berkata: “Demi hidupku dan hidup ayahku, sungguh ini adalah pendapat yang benar, dan urusanmu adalah urusan yang tiada bandingannya. Dan aku adalah hawariyahmu (pengikut setiamu) dalam risalah ini. Beritahu aku apa yang akan engkau lakukan, mungkin aku dapat menjalankan peran di dalamnya, karena engkau tahu apa yang ada padaku dari kesetiaan dan amanah. Dan engkau berhak menugaskanku sebagian urusanmu, karena kami para anjing telah dikenal dengan sifat-sifat mulia ini, hingga manusia tidak menemukan perumpamaan untuk mereka kecuali dari kami, setiap kali mereka menyebut kesetiaan atau membuat perumpamaan tentangnya.”

Keledai itu berkata: “Allah menghinakan manusia-manusia ini! Mereka membuat perumpamaan tentang kalian dalam hal amanah dan kesetiaan, namun mereka tidak saling mencaci kecuali berkata: ‘Wahai anjing!’ dan ‘Wahai anak anjing!’…”

Dimnah berkata: “Kemudian ia berkata kepada anjing itu: Mendekatlah kepadaku agar aku memberi wasiat kepadamu, dan jangan sampai penyakit berbicara dalam menggonggong untuk setiap suara menghinggapimu sehingga engkau membocorkan apa yang aku amanatkan kepadamu; karena para ulama telah berkata bahwa makhluk yang paling celaka adalah yang celaka karena memiliki mukjizat!”

Anjing itu berkata: “Bahkan jika ia seekor keledai…?”

Ia menjawab: “Menjauhlah dariku! Semoga Allah melakukan ini dan itu kepadamu, engkau bukan orang yang pantas untuk ini dan sesungguhnya anjing-anjing masih banyak; demi Allah, aku belum pernah melihat anjing yang buruk seperti hari ini!” Maka anjing itu merasa patah hati dan takut akan tertimpa apa yang dikatakan para ulama. Ia mengibaskan ekornya sedikit, kemudian mendekat kepada keledai itu dan berkata: “Manusia tidak salah dalam saling memanggil dengan sebutan anjing, karena aku telah mengenal aib jenisnya. Dan aku bertobat kepadamu dari apa yang telah kulakukan, maka berilah wasiat kepadaku dan ambillah diriku dengan apa yang engkau sukai, karena engkau tidak akan menemukanku kecuali di tempat yang menyenangkan hatimu menemukanku.”

Keledai itu berkata: “Semoga Allah memberkatimu dan ‘membesarkanmu’… Maka lihatlah anak-anak itu yang akrab denganmu dan memberikan kepadamu potongan roti, lihatlah apa yang dapat kamu lakukan dengan tipu muslihat hingga kamu membawa mereka kepadaku, karena permulaan mukjizatku adalah menjadi guru anak-anak.”

Maka pergilah anjing itu, lalu ia berbaring di tempat yang dekat dengan mereka sementara mereka bermain-main. Kemudian ia bangkit dan diam-diam mengambil yang terkecil di antara mereka, mengelusnya, kemudian mengambil rotinya lalu melompat menjauh. Kemudian ia mulai berlari perlahan di depan mereka dan mereka mengikutinya, ingin menangkap dan memegangnya, hingga ketika ia tiba di tempat keledai itu, ia mendorong di antara kedua kakinya, dan keledai itu mengangkat bendera ekornya sehingga anjing itu berada dalam perlindungannya… Dan keledai ini pernah melihat dalam salah satu perjalanannya seekor monyet yang menari dan telah berkumpul untuknya anak-anak, dan ia menyaksikan apa yang ditimbulkan oleh gerakan-gerakan monyet itu dari kekaguman dan kegembiraan mereka. Maka ketika anak-anak itu berkumpul ingin menangkap anjing tersebut, ia mulai melakukan untuk mereka seperti yang ia lihat monyet lakukan, dan ia mencurahkan segenap usahanya dalam hal itu dan mencapai ujung keledaiannya… Maka anjing itu tertegun dan mulai melihat seperti orang yang kagum dan berkata dalam hatinya: “Apakah ini monyet atau keledai? Dan di mana celakamusuh mukjizat yang ia klaim, karena ini hanyalah tarian seperti tarian. Dan jika tarian adalah urusan terbesarnya, maka tidak ada yang besar dalam urusannya di hadapan kami; karena anjing yang paling hina lebih kuat dalam hal itu daripada keledai yang paling besar.”

Dimnah berkata: “Di antara para penonton ada seorang yang jahat dan kritis, ia berkata: ‘Apa urusan keledai ini dengan kelincahan dan kenakalannya monyet-monyet dan apa yang mereka lakukan dari kecerobohan; sesungguhnya setan-setan ini hanya digunakan untuk hiburan dan permainan murni, dan si bodoh ini tidak diikat kecuali untuk beban dan manfaat. Jika ia dikuasai oleh tabiat ini dan dibiarkan hingga tabiat itu mengambil jalannya padanya, maka demi Allah tidak akan tersisa seorang pun yang merasa aman mempercayainya dengan anak-anaknya. Dan hampir saja ia melompat pada salah seorang dari mereka dengan lompatan ini lalu melemparkannya sehingga mematahkan lehernya atau menghancurkan salah satu tulangnya.’

Kemudian ia kembali ke rumahnya dan membawa tongkat yang tebal, sementara keledai itu dalam kebutaan dari apa yang ia lakukan. Dan telah tertanam dalam dirinya bahwa ia mendapat wahyu, dan bahwa ia adalah guru terbesar untuk ilmu di sekolah terbesar di dunia…

Maka tidak mengejutkannya kecuali orang jahat itu berdiri memukul punggungnya dengan tongkat, dan anak-anak segera berlari mengambil apa yang diperoleh tangan mereka dari kayu, papan, kulit, dan apa yang ringan dan berat, dan mereka mengelilingi sang guru keledai lalu bergiliran memukulnya. Dan keluarlah anjing itu berlari sangat cepat, hingga ketika ia selamat jauh, ia menyalahkan dirinya dan berkata: “Celakalah engkau wahai jiwaku! Alangkah bodohnya engkau! Demi Allah, hampir saja engkau membinasakanku. Apakah mungkin dalam akal orang berakal bahwa mukjizat seekor keledai adalah sesuatu selain meniru-niru monyet…?”

Dan selama kita berbicara tentang peniruan dan menunggu mukjizat dari orang-orang yang lemah, maka kami katakan bahwa para filsuf kami yang menggelikan seperti Thaha Husain mengeluarkan kelemahan mereka dalam bentuk tipu muslihat. Mereka mengatur kelemahan itu dengan rapi dan mendatangkannya dengan semacam gaya sihir, penyamaran, dan sulap. Ketika mereka telah mempersiapkannya dari keahlian mereka dan mencurahkan di dalamnya usaha dan jerih payah mereka, kemudian mereka datang kepada kami dengannya, kami melihat dan meneliti lalu tidak melihat sesuatu pun. Maka kami berkata: “Alangkah mudahnya, alangkah lemahnya, alangkah konyolnya!” Kemudian kami katakan kepada mereka bahwa kalian adalah para peniru yang terbongkar; dan bahwa salah seorang di antara kalian itu kurus tetapi tidak terlihat kecuali mengenakan pakaian orang gemuk yang tebal, dan pendek namun tidak memakai kecuali pakaian raksasa yang tinggi, dan bangkrut namun tidak membelanjakan di mata orang-orang kecuali emas kuning, lalu apakah ini? Kemudian kami katakan kepada mereka bahwa kalian adalah ulama dengan ilmu yang kalian curi, tetapi kalian bodoh dalam pencurian yang kalian lakukan. Dan kalian adalah filsuf dengan pendapat-pendapat yang kalian klaim, tetapi kalian dungu dalam buruknya pengklaiman itu. Dan kalian adalah pembaharu dengan perkataan-perkataan yang kalian hias, tetapi kalian adalah perusak karena ketidaktahuan kalian akan akibat dari penyamaran ini.

Kemudian kami katakan bahwa kami tidak tertipu dan tidak terperdaya dan tidak menyembah nama-nama, dan biarlah nama-nama itu datang dari mana pun datangnya di Barat dan Timur, maka bawa dan buktikanlah! Karena kami tidak secepat kalian dalam menerima dari kalian sebagaimana kalian cepat dalam mengambil dari orang-orang Eropa. Dan kami tidak seperti kalian dalam membeli dari agama Barat sebagaimana kalian telah menjual agama Timur. Dan pemisah antara kami dan kalian adalah bahwa di tangan kami ada akar keutamaan, maka ia adalah ukuran untuk keburukan-keburukan kalian di sisi kami sebagaimana ia adalah ukuran untuk keutamaan-keutamaan kami di sisi kami sendiri. Dan di tangan kalian ada akar hawa nafsu, maka ia adalah ukuran untuk segala sesuatu di sisi kalian kecuali agama kami dan keutamaan-keutamaan kami. Kemudian kami katakan kepada mereka bahwa di antara tanda kelemahan dalam akal-akal kalian yang perkasa… dan kehinaan dalam jiwa-jiwa kalian yang tinggi… adalah bahwa kalian mengkuduskan fulan dan fulan dari para filsuf Eropa bahkan dalam hal yang diambil dari selain mereka, dan kalian meremehkan fulan dan fulan dari para filsuf Timur bahkan dalam hal yang tidak dapat diambil kecuali dari mereka. Maka apakah ini, celakalah kalian, kecuali cap orang-orang yang diperbudak, yang lemah, dan yang bergantung? Kalian menjadikan nama-nama Eropa seolah-olah nama-nama negara-negara besar dan nama-nama Timur seolah-olah nama-nama jajahan. Dan kalian tidak mengetahui, wahai para filsuf yang sombong, bahwa ini adalah seburuk-buruk cara untuk memperbudak bangsa-bangsa yang lemah, karena masa lalu kami yang kalian cela habis dalam masa kini mereka yang kalian serukan, kemudian masa kini mereka setelah itu hanyalah pencampuran antara kami dan mereka, kemudian pencampuran ini hanyalah air liur politik di mulut penjajahan untuk menelan suapan pertama dan menjatuhkannya kedua dan mencernanya setelah itu.

Maka ketika kami katakan kepada mereka ini dan sejenisnya, mereka berkata: “Kolot, kuno, dan pendukung masa lalu.” Maka ya, ya; namun kami dengan itu tetap melembut untuk apa yang tidak mematahkan kami, dan kami memperbarui diri dengan apa yang tidak memfanakan kami, dan kami ingin agar bangsa tetap hidup meskipun seribu orang seperti Thaha Husain harus mati, bukan agar mereka tetap hidup dan bangsa binasa. Dan kebinasaan bangsa-bangsa bukan dengan kepunahan, bukan dengan wabah, bukan dengan apa yang melanda mereka dari benturan hukum-hukum alam, karena bersama setiap hal dari ini dan sejenisnya ada alasan yang tegak dan keniscayaan yang memaksa. Tetapi kebinasaan yang tidak ada kebinasaan selainnya adalah ketika hati nurani yang beriman melemah sementara tubuh-tubuhnya ganas, dan keutamaan-keutamaan hilang sementara syahwat-syahwat keras, dan keyakinan-keyakinan mati sementara kehidupan adalah pertarungan dan pertikaian. Maka jika keraguan dan penyimpangan dan mazhab fulan dan jalan fulan dan riwayat fulan dan Universitas Mesir dan Thaha Husain dan musibah hitam – jika ini mengarah kepada itu atau sebagian dari itu, maka selamatkanlah diri, selamatkanlah diri wahai umat, dan keselamatanlah, keselamatan! Karena universitas yang malang ini tidak membuat untukmu agama dari agamamu, dan tidak menyusun untukmu keutamaan dari keutamaan-keutamaanmu, dan tidak mengembalikan kepadamu apa yang ia rampas darimu dari jati dirimu. Dan tidak ada hujah baginya kecuali hujah para zindik di setiap zaman. Dan tidak ada hujah para zindik kecuali kebebasan berpikir dan penelitian. Dan seandainya tidak ada dalam manusia kecuali pikiran saja, kami akan berkata mungkin… Tetapi ada niat yang berdiri di atas akhlak, dan akhlak yang berdiri di atas tabiat, dan tabiat yang darinya ada yang buruk tidak akan menjadi baik, dan yang baik mungkin menjadi buruk!

Selamatkanlah dirimu, selamatkanlah dirimu wahai umat! Seandainya Universitas Mesir mampu membuat orang sombong bernama Thaha Husein ini menghidupkan kembali orang yang telah mati, mengeluarkannya dari kuburnya, dan menjadikannya mahasiswa di universitas yang mengingkari Ibrahim, Ismail, dan Muhammad semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepada mereka – maka universitas itu tidak akan mampu mengembalikan iman yang hilang kepada orang yang murtad, dan mengembalikan keyakinan yang lenyap kepada orang yang ragu. Dan ini seandainya universitas mengkafirkan anak-anak muslimin dengan ilmu dan demi ilmu. Lantas bagaimana keadaannya, padahal semua persoalannya adalah kebodohan pada dosennya, kerendahan pada jiwanya, kelemahan pada akalnya, dan peniruan yang buruk darinya atau meniru keburukan. Dia adalah orang yang tidak mengenal penyakit filsafatnya dan tidak menyadari bahwa dia kalah di hadapan indera. Maka dia menghancurkan dan merusak dengan hukum alami yang ada padanya, karena dia menyalakan api dari dalam dirinya untuk meledak dari dalam dirinya. Dan ketika kehidupan mencegahnya untuk bermain-main dengan indranya, maka semua permainannya tertuju kepada pikirannya dan menguasai lisannya. Maka dia adalah orang yang hukum alamnya bahwa apa pun yang dia ambil akan merusak, dan apa pun yang dia tinggalkan akan memperbaiki…

Dan sungguh dia telah merusak mazhab Descartes dan menyerangnya. Sesungguhnya filsuf ini, tidak ada yang mengambil mazhabnya kecuali orang yang pandai berpikir dan mampu menghasilkan hasil pemikiran yang benar di dalamnya, dan mengumpulkan untuk itu materi alaminya dari kecerdasan, ilmu, dan pendapat. Jika tidak demikian, maka Descartes berarti bodoh, bahkan dia akan menjadi makhluk paling bodoh. Karena jika Descartes membebaskan setiap orang untuk meragukan dan membawa pikirannya ke mana pun dia mau sesuai dengan sarana yang tersedia baginya, maka bumi akan berubah menjadi rumah sakit jiwa untuk orang gila. Dan setiap kebebasan akan keluar dari tempatnya di alam dan di masyarakat, serta menyimpang dari jalannya dalam tatanan dunia yang berdiri di atas perbedaan jenis-jenis kebebasan, bukan untuk saling menolak tetapi untuk bertemu dalam tujuan, dan atas benturannya bukan untuk saling bertentangan tetapi untuk teratur dalam susunan tertentu. Dan oleh karena itu, Descartes mengembalikan filsafatnya kepada kepribadian. Dan tidak mudah dikatakan tentang kepribadian ini bahwa dia berada di tempat yang setiap orang ingin mencapainya.

Dan sesungguhnya Descartes dengan itu khawatir terhadap pembentukan sosial dari keraguan, karena keraguan tidak ada batasnya, karena ia adalah seluruh yang tidak diketahui. Maka karena itu dia mensyaratkan agar tidak menyentuh pokok-pokok agama dan tidak berani terhadap apa yang telah manusia tempatkan pada kedudukannya dari pokok-pokok kebiasaan. Dan semua itu dengan segala ikatannya tidak cocok pada yang terbaiknya kecuali bagi orang yang akalnya dari kecerdasan dan ketajaman seolah-olah dia adalah ikatan bagi makna-makna dan khawatir-khawatir. Maka dia adalah kebebasan yang tidak dimaksudkan darinya kebebasan yang bodoh sebagaimana yang muncul dalam buku dosen universitas, tetapi pembatasan kebenaran yang tidak ada jalan kepadanya kecuali dari basiroh (pandangan batin).

Dan apakah basiroh itu? Yaitu tidak buta terhadap kebenaran karena sesuatu dari emosi atau fanatisme, dan tidak karena sesuatu dari kebodohan atau kelemahan pikiran. Maka keduanya ini seperti keduanya itu. Dan mazhab Descartes, jika engkau memahaminya, maka engkau akan menemukannya pada yang tertinggi dan terjauh dari keberatan dan apa yang memasukinya dari keraguan dalam firman Allah Ta’ala: “Inilah jalanku, aku mengajak (manusia) kepada Allah dengan basiroh (hujjah yang nyata)” (Surah Yusuf: 108). Dan janganlah hilang darimu makna “basiroh”, dan bahwasanya dia adalah kecerdasan yang paling cerdas, akal yang paling tinggi, akhlak yang paling kuat, dan tabiat yang paling benar. Dan segala sesuatu yang menembus denganmu kepada kebenaran yang tersembunyi dalam hijab-hijabnya dan menjauhkanmu dari kebutaan jiwa dengan tingkatan-tingkatannya yang berbeda. Dan basiroh ini adalah satu kata tetapi semua sarana kebenaran dan keyakinan terlipat di dalamnya, maka dia termasuk kalam yang menghimpun dan mukjizat. Kemudian sesungguhnya dia adalah ikatan yang meniadakan dari mazhab ini orang yang tidak dijadikan oleh alam sebagai ahlinya, atau alam tidak menyiapkannya dengan sebab-sebab yang dengannya dia mampu dan dengannya dia baik dalam menegakkannya.

Dan yang paling aneh dalam ikatan ini adalah bahwa dia membatasi jalan atau mazhab dengan dakwah kepada kebenaran khususnya, dan tidak melepaskannya dalam setiap dakwah. Karena jiwa manusia tidak melakukan perbuatan yang jauh ini kecuali jika dia kuat dengan kebenaran dengan kekuatan yang sempurna, dan dia termasuk jiwa-jiwa yang paling tinggi, paling agung, dan paling dekat untuk lepas dari kulitnya yang duniawi. Dan selain itu, maka mazhab filsafat ini adalah wahm dan khayalan dan melampaui ukuran-ukuran kebenaran dalam mencari kebenaran-kebenaran ini. Dan engkau tahu bahwa kejujuran jika dikurangi darinya satu kata lalu mengubah hakikatnya, maka berubah menjadi kebohongan. Dan jika ditambahkan padanya satu kata lalu mengubah hakikatnya, maka kembali seolah-olah dia berkurang dan tidak bertambah. Dan tidaklah penambahan dan pengurangan kecuali dari hawa nafsu atau kebodohan. Dan hawa nafsu adalah sebagian dari pengaruh jiwa. Dan engkau tidak akan menemukan tuduhan terhadap kebenaran kecuali di mana engkau menemukan pengaruh ini.

Dan lihatlah apa yang dikatakan Anatole France tentang seperti apa yang diklaim Thaha Husein bahwa dia menganutnya dari mazhab-mazhab kritik yang murni. Maka dia berkata: “Sesungguhnya kritik tidak ada nilainya kecuali nilai pengkritik. Dan dia seperti jenis dari jenis-jenis cerita. Dan tidaklah rujukan cerita pada hakikatnya kecuali biografi orang yang menuturkannya, maka dengan jiwanya dia menulis tentang jiwanya. Dan orang-orang yang membanggakan diri bahwa mereka meletakkan dalam seni mereka sesuatu selain diri mereka sendiri, tidaklah engkau menghitung mereka kecuali termasuk orang-orang yang sombong. Dan janganlah salah seorang dari mereka besar dalam wahammu, maka sesungguhnya manusia tidak akan keluar dari dirinya sendiri.”

Dan berkata filsuf Inggris John Theodore Merz: “Sesungguhnya cara ini yang dikerjakan oleh orang-orang yang mengklaim penjardingan untuk kebenaran berakhir bahwa orang yang memandangnya melihatnya sebagai cara yang ahlinya tidak bermaksud agar mereka terlepas dari belenggu taklid, tetapi mereka menipu diri mereka sendiri atau ditipu maka mereka mengira bahwa mereka bebas dalam apa yang mereka kerjakan, padahal mereka tidak pernah kecuali terikat dengan khayalan mereka, pasrah kepada wahm mereka yang mengontrol mereka sepenuhnya.”

Dan kami tidak berkata tentang Thaha Husein kecuali ini. Maka dia berwahm terhadap sejarah dan terhadap kebenaran-kebenaran, kemudian dia mengaitkan dengan wahm kepada hukum. Dan dia melepaskan untuk jiwanya setiap perkataan yang muncul baginya, kemudian dia menjadikan itu dari ilmu dan memaksa ilmu untuk menerimanya. Dan mungkin dia bodoh tentang khabar dan asalnya, dan dengan itu dia berkata: percayalah kepadaku dan dustakanlah manusia. Dan engkau melihat dia sakit pemahaman, lemah penalaran, kemudian dia menolak kecuali bahwa semua pikiran berada di atas dasar dari pemahamannya.

Dan dia setelah itu adalah orang yang buruk, murtad, mengejek, meniru Anatole France dalam sindiran, dan Al-Ma’arri dalam kekufuran dengan jauhnya jarak antara dia dan keduanya. Kemudian dia tidak menginginkan kecuali bahwa jiwanya ini menjadi roh sejarah Islam.

Maka jika tidak mungkin bahwa sejarah telah datang darinya karena dia telah mendahuluinya dalam keberadaan, maka tidak mustahil bahwa dia mengeluarkan kebenaran-kebenarannya dan filsafatnya yang dicetak dengan tabiatnya, menyimpang dengan penyimpangannya. Maka dia tidak mendatangkan kepada kami kecuali apa yang sejenis dengannya, dan tidak mengeluarkan untuk kami selain hal-hal yang lucu yang tidak pantas kecuali untuk umat dari orang-orang sejenisnya. Dan demi Allah, sungguh sejarah yang tidak dikoreksi dan tidak diverifikasi kecuali dengan seperti Thaha Husein. Dan demi Allah, sungguh hina umat yang tidak ada ucapan dalam sejarahnya kecuali untuk seperti “si buta universitas” sebagaimana dia disebut oleh Profesor Wahid Bey.

Dan kami akan mendatangkanmu sekarang dengan hal yang lucu yang mengagumkan dari hal-hal lucu pelajaran Universitas Mesir. Maka dosennya telah berbicara tentang kisah-kisah di kalangan kaum muslimin untuk membuktikan bahwa dia termasuk sebab-sebab pemalsuan dalam syair. Maka dia mengklaim di halaman 92 “bahwa sastra tidak dipelajari pada masa-masa Islam yang pertama untuk dirinya sendiri, dan hanya dipelajari dari segi bahwa dia adalah sarana untuk menafsirkan Al-Quran dan menta’wilkannya serta menggali hukum-hukum darinya dan dari hadits. Dan semua ini lebih dekat kepada kesungguhan dan lebih melekat dengannya daripada kisah-kisah ini yang berjalan mengikuti khayalan ke mana pun dia mau dan mendekatkan diri kepada jiwa rakyat dan menggambarkan untuknya keinginan-keinginan dan syahwat-syahwatnya serta cita-cita tingginya. Maka tidak asing bahwa orang-orang yang sungguh-sungguh dari kaum muslimin berpaling dari kisah-kisah.” Selesai.

Kami katakan: Dan ini sangat mengherankan dari dosen universitas. Maka sesungguhnya maknanya adalah bahwa tidak ada yang menyibukkan diri dengan kisah-kisah kecuali orang-orang yang main-main dan remeh.

Dan kami menetapkan bahwa tidak ada yang bercerita pada awal seni Islam ini kecuali orang-orang yang sungguh-sungguh dari kaum muslimin, dan dengan itu mereka dikenal, dan dengan mereka seni itu tumbuh, dan dengan kefasihan mereka dia muncul. Dan ini Al-Hasan Al-Bashri adalah pencerita paling terkenal di zamannya, dan dia termasuk tuan-tuan tabi’in. Dan ibunya adalah budak untuk Ummu Salamah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan Ummu Salamah menyusuinya kadang-kadang. Dan mereka telah berkata bahwa dia menghimpun setiap seni dari ilmu, zuhud, wara’, dan ibadah. Dan berkata Abu Amr bin Al-‘Ala’ bahwa dia tidak melihat di zamannya orang yang lebih fasih darinya. Tetapi dosen universitas mencampuradukkan makna kisah dan pencerita karena dia menginginkan setelah kalimat yang dia tulis ini untuk mengambil Alexander Dumas pemilik kisah-kisah Prancis yang terkenal – dan dia termasuk pemalsul, pengklaim, dan pencuri terbesar – lalu memaksanya masuk ke dalam sejarah Islam dan menyerupainya dengan ulama-ulama kami sebagaimana akan datang setelah ini. Maka dia menjadikan kisah-kisah dengan itu sebagai riwayat-riwayat dan khayalan-khayalan, atau sebagaimana dia berkata: “keinginan-keinginan rakyat dan syahwat-syahwatnya”…

Kemudian sesungguhnya kami menetapkan untuknya bahwa pencerita tidak disebut pencerita di kalangan kaum muslimin kecuali jika dia bercerita untuk pengajaran dan nasihat, dan untuk mengingatkan akhirat dan zuhud di dunia, dan menjaga roh dan akhlak dan semacamnya. Dan bahwa dasar seni ini adalah mendorong orang-orang beriman untuk jihad dan menarik minat kepada apa yang ada di sisi Allah Ta’ala dan mengutamakannya atas kehidupan. Maka rujukan pencerita dalam kisah-kisahnya kepada tafsir, hadits, hikmah, dan apa yang dia ambil dari berita-berita orang-orang yang telah lalu, dan apa yang tidak ada dosa baginya dalam membuatnya dari apa yang dimaksudkan dengannya tujuan dari tujuan-tujuan itu. Dan mereka telah menetapkan bahwa hadits lemah diamalkan dalam keutamaan-keutamaan amal. Maka demikian pula kisah yang dikarang diambil dengannya dalam nasihat tanpa sejarah, karena sesungguhnya dia hanya dikarang untuk itu bukan untuk ini. Dan tidaklah tumbuh keinginan-keinginan rakyat dalam kisah-kisah kecuali setelah orang-orang bodoh yang menerobos masuk kepadanya dari bukan ahlinya melakukannya, dan mereka menjadikannya dari pekerjaan mereka untuk kehidupan dan penghidupan. Dan dengan itu, maka orang-orang seperti mereka ini dikenal oleh ulama sejak awal sejarah, dan mereka menghitung kisah-kisah mereka sebagai bid’ah dan memperingatkan dari mereka sebagaimana ahli setiap ilmu memperingatkan dari orang-orang yang memasuki ilmu tersebut secara paksa.

Dan setelah profesor itu menyebutkan sumber-sumber kisah menurut klaimnya, dia berkata: “Sesungguhnya kisah Arab tidak ada nilainya dan tidak penting di jiwa pendengar-pendengarnya jika tidak dihiasi oleh syair dari waktu ke waktu” (demikian, dan hanya untuk waktu tertentu). Dan dia memberikan contoh dengan Seribu Satu Malam dan kisah Antarah. Kemudian dia berkata: “Dan maka sesungguhnya kisah-kisah di zaman Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah membutuhkan ukuran-ukuran yang tidak ada batasnya dari syair yang mereka hiasi dengannya kisah-kisah mereka dan mereka kuatkan dengannya sikap-sikap mereka yang berbeda.”

Maka perhatikanlah demi Allah bagaimana diukur awal zaman di zaman Bani Umayyah dengan akhir zaman di zaman kisah Antarah. Dan kami menetapkan untuk sang syekh bahwa kisah-kisah adalah jenis kalam yang paling jauh dari membawa syair dan dari kebutuhan kepadanya. Dan tidak masuk kepadanya darinya kecuali ukuran-ukuran sedikit di mana dimaksudkan saksi dan dalil. Maka jalan syair dalam ini adalah jalannya dalam selain itu dari semua seni sastra. Dan jika pencerita membuat syair atau dibuat untuknya syair, maka hanyalah sedikit atas segi keanggunan, dan agar beristirahat kepadanya dari kesungguhan, dan menghibur dengannya orang-orang yang diceritai untuknya untuk mengumpulkan semangat. Maka ini adalah satu. Dan yang kedua adalah bahwa dia bermaksud kepada keanehan dalam khabar yang dia ceritakan agar dikatakan bahwa dia luas hafalannya. Dan ini adalah jalan para perawi juga dalam apa yang mereka karang dari syair. Dan yang ketiga adalah bahwa pencerita telah memberi nasihat dan menginginkan berlebihan dalam mempengaruhi, maka mengalir dalam ucapannya sedikit dari syair sebagaimana mata-mata berkumur dengan sebagian air mata. Dan tidak ada selain ini. Maka di mana engkau menemukan ukuran-ukuran yang tidak ada batasnya.

Kemudian berkata Syekh Taha: “Dan aku hampir tidak meragukan bahwa para pencerita ini tidak berdiri sendiri (dia maksudkan berdiri) dengan kisah-kisah mereka dan tidak dengan apa yang mereka butuhkan dari syair. Dan hanya mereka meminta bantuan individu-individu dari manusia yang mengumpulkan untuk mereka dari hadits-hadits dan berita-berita dan merangkainya. Dan orang-orang lain yang menggubah untuk mereka qashidah-qashidah (menjadi qashidah-qashidah bukan bait-bait dan penggalan-penggalan).”

Dia berkata: Dan pada kami ada nash yang membolehkan bagi kami untuk mengandaikan andaian ini. Maka sungguh menceritakan kepada kami (demikian) Ibnu Salam bahwa Ibnu Ishaq berkilah dari apa (demikian) yang dia riwayatkan dari syair yang buruk maka dia berkata: Tidak ada pengetahuan bagiku tentang syair. Hanya aku didatangi dengannya maka aku membawanya.” Maka sungguh ada kaum yang mendatangkan syair dan dia membawanya. Maka siapakah kaum ini? Selesai kekacauan orang itu.

Dan ini mengherankan dari keanehan pemahaman.

Maka jika berkata Ibnu Ishaq: hanya aku didatangi dengan syair maka aku membawanya, dan Ibnu Ishaq termasuk orang-orang yang dikenal dengan dusta, maka tidak ada ucapannya menurut Thaha kecuali benar. Kemudian tidak ada makna ucapannya kecuali bahwa kaum mengetuk pintunya dan mengejeknya dan berkata: Wahai Ibnu Ishaq ambillah syair dan riwayatkanlah. Dan siapakah kiranya orang-orang gila ini yang menyia-nyiakan diri mereka sendiri, dan melelahkan pikiran, dan meletihkan khawatir dalam membuat syair untuk kemudian mendengarnya setelah itu diriwayatkan untuk ‘Ad dan Tsamud dan fulan dan fulan dari orang-orang yang binasa dan punah.

Jika Ibnu Ishaq dengan kelengahan ini, maka wajib bahwa tidak dibenarkan dan tidak diambil ucapannya sebagai nash sama sekali.

Adapun ungkapan Ibnu Salam adalah seperti ini: Dan termasuk orang yang menodai syair dan merusaknya, dan membawa (yakni meriwayatkan) darinya setiap yang buruk: Muhammad bin Ishaq. Dan dia termasuk ulama manusia tentang sirah. Maka manusia menerima darinya syair-syair. Dan dia berkilah darinya dan berkata: Tidak ada pengetahuan bagiku tentang syair, hanya aku didatangi dengannya maka aku membawanya. Dan tidak ada itu sebagai alasan. Maka dia menulis dalam sirah dari syair-syair orang-orang yang tidak pernah mengucapkan syair sama sekali… dan seterusnya!

Maka engkau melihat bahwa pembicaraan berputar tentang menodai syair dan merusaknya. Dan seperti ini tidak lurus dalam akal bahwa Ibnu Ishaq berkilah darinya dengan perkataannya: Tidak ada pengetahuan bagiku tentang syair, kecuali jika dia jelek dan rusak, dan dia termasuk ucapan yang jatuh dan apa yang tidak boleh atas ahli pandangan dengan syair. Maka jika dia atas sifat ini, maka mengapa tidak menjadi dari pekerjaan Ibnu Ishaq yang tidak ada pengetahuan baginya tentang syair, dan menjadi alasan itu sebagai rangkaian dari dustanya? Dan jika menjadi bahwa ada kaum yang membuat untuknya syair dan mendatanginya dengannya, maka tetap bahwa Ibnu Ishaq bukan orang non-Arab, tetapi orang Arab yang fasih. Dan ucapannya dalam sirah termasuk tingkatan pertama. Dan orang yang dengan kedudukan ini dan dalam kebutuhan kepada syair, maka wajib baginya bahwa meminta yang baik untuknya. Maka dia tidak mengabaikan untuk memilih untuk pembuatan syair para penyair, dan mereka banyak, maka mereka mendatanginya dengan yang baik bukan yang rendah. Dan maka tidak ada apa yang dia bawa menjadi buruk dan lemah. Dan maka tidak ada segi untuk berkilah darinya dengan perkataannya: Tidak ada pengetahuan bagiku tentang syair.

Maka jika engkau berkata bahwa dia fasih yang membedakan ucapan yang baik dari yang jelek, dan dialah yang membuat syair yang tercela dan rusak, maka wajib bahwa dia tidak ridha dengannya karena kedudukannya dari kelemahan. Kami katakan: Ini adalah sifat ulama. Bahkan sesungguhnya mereka menjadikan syair ulama sebagai tingkatan tersendiri. Dan mereka toleran dalam yang jelek dari syair mereka karena mereka tidak bersaing dengannya dengan siapa pun, dan karena mereka tidak dihitung dalam para penyair.

Dan Thaha Husein sendiri terjerumus dalam hal semacam ini. Dia membedakan puisi; padahal dia memiliki puisi yang sangat buruk, kita akan menghibur pembaca dengan sebagian darinya nanti.

Maka ada dua penafsiran terhadap berita Ibnu Ishaq dan tidak ada yang ketiga, dan keduanya saling bertentangan, dan keduanya menghancurkan argumentasi profesor universitas tersebut dan menjadi bukti pemahaman buruknya.

Dan di sini kita hentikan pena lima menit untuk menertawakan universitas sebagaimana kita menertawakan Charlie Chaplin, aktor komedi terkenal itu, karena Universitas Mesir telah mengungkap jejak pabrik Islam besar untuk pemalsuan dan kebohongan yang para pekerjanya adalah para pendongeng dan pekerja di dalamnya terbagi dalam dua kelompok besar, satu kelompok untuk memalsukan berita dan yang lain untuk membuat puisi, dan setiap kali terkumpul sejumlah produksi dari pabrik tersebut dikirim ke pasar-pasar, dan itu sebagaimana Thaha mengatakan di halaman 96: “Bukankah menjadi hak kita untuk membayangkan bahwa para pendongeng ini tidak hanya berbicara kepada orang-orang, tetapi setiap orang dari mereka – perhatikan – mengawasi sekelompok tidak sedikit perawi dan pemalsu serta penyair dan penyusun, hingga ketika telah siap sejumlah hasil pemalsuan mereka dan penyusunan ini mereka cap dengan cap mereka dan tiupkan ke dalamnya dari roh mereka… dan mereka sebarkan di antara manusia, dan perumpamaan mereka bagiku seperti pendongeng Prancis terkenal ‘Alexandre Dumas yang Besar'” selesai.

Tetapi wahai tuan dan pelindung kami, Anda tahu bahwa di antara perawi, ulama, dan ahli kalam ada kelompok yang fanatik terhadap Arab yang telah merusak kehormatan mereka, seperti Abu Ubaidah pemilik kitab Al-Matsalib yang di dalamnya dia mencela Arab dan menyerang para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kemudian ulama Syu’ubiyah, kemudian ahli kalam zindik dan sastrawan mereka, dan mereka semua hidup sezaman dengan para pendongeng yang Anda bicarakan; lalu bagaimana mereka diam dan tidak membeberkan aib Arab, sejarah mereka, dan sastra mereka dengan pabrik menakjubkan ini, dan bagaimana mereka semua lalai darinya dan meninggalkannya untukmu untuk mengungkapkannya setelah seribu dua ratus tahun; bukankah kebisuan mereka dari menyebutkan hal itu kecuali bukti pasti atas kebohonganmu sendiri dalam hal ini?

Tunjukkan buktinya, tunjukkan buktinya jika Anda memiliki desain pabrik dan bukti syar’inya… jika tidak maka tutuplah aibmu sendiri, semoga Allah merahmatimu!

۞۞۞۞۞

Puisi Thaha adalah Thaha-nya Puisi

Kami ingin mencatat dalam artikel-artikel ini dua pernyataan besar, karena kami menulis ini untuk generasi yang akan berakhir dan generasi-generasi yang akan dimulai, dan telah tertanam dalam keyakinan kami bahwa Allah Taala tidak menyebarluaskan profesor universitas ini dengan skandal yang dia sebarkan di penjuru bumi Raja Guntur… kecuali untuk menjadikannya kehinaan bagi kaum yang murtad, pelajaran bagi kaum munafik, dan teladan di sisi kaum mukmin, dan bukan tanpa hikmah dan takdir skandal ini disimpan hingga universitas besar ini dibuka untuk memulai sejarah pendidikan tinggi di Mesir dan Thaha naik ke jabatannya di sana, dan dia telah dipenuhi kesombongan dan kebanggaan dan berlaku tinggi dan boros dan tersedia baginya penyakit dari dirinya dan dari sekelilingnya dan pengangkatannya di ketinggian yang dikehendaki untuk menjadi tali kemuliaan tetapi Allah menghendaki untuk menjadi tali tiang gantungan… Seandainya dia jatuh dalam kejatuhan ini bukan di universitas ini, dia akan jatuh dengan dua sayap yang mengangkatnya, tetapi ini adalah universitas yang mereka katakan lebih besar dari pegunungan Alpen, maka ketika pembangunan gunung selesai dalam beberapa bulan dan takdir menghendaki untuk mengumumkan kepada manusia tingkat ketinggian dan elevasinya, tidak ada ukuran kecuali Thaha Husein yang menggelinding dari puncaknya ke dasarnya…

Sesungguhnya takdir memiliki ukuran-ukuran menakjubkan yang tidak dimaksudkan untuk kuantitas tetapi kualitas, dan tidak diminta darinya penentuan sesuatu pada dirinya sendiri tetapi penentuannya dalam akibat-akibatnya.

Dan ukuran itu berdasarkan hari ini yang kita alami misalnya, dan tidak dimaksudkan kecuali ukuran apa yang akan terjadi besok atau lusa atau kapan saja di masa depan, dan datang seorang pria seperti Abu Jahal di awal Islam sebagai ukuran kekufuran dan fanatisme dalam kekufuran dan keras kepala dalam fanatisme, tetapi semua itu kembalinya untuk memperkuat kenabian dan menegakkannya di jalannya dan meluruskannya di dalamnya, seakan-akan takdir membangun bangunan maka jika Anda bertanya apa fondasinya dikatakan kepadamu awalnya adalah lubang ini…

Dan Profesor Thaha Husein adalah lubang hari ini, dan pasti ada lubang jika memang tak terhindarkan, serahkan kepada kami untuk mengurusnya bagaimana kami kehendaki setelah tenggelam dan runtuh, dan sesungguhnya karena itu kami memperluas apa yang kami tulis dan terus meluaskan dalam penjelasan dan memperluas dalam menganalisis jiwa Thaha dan menyebutkan cacatnya dan menjelaskan kesalahannya dan penyebabnya, dan karena itu kami mencatat dua pernyataan ini sebagaimana kami sebutkan tadi, karena keduanya menurut kami adalah bab tersendiri dari perkataan.

Pernyataan pertama adalah untuk Doktor Thaha Husein percakapannya dengan surat kabar “L’Information” yang diterjemahkan oleh “As-Siyasah”.

Dia berkata dan maksudnya dalam percakapannya untuk para ulama agama:

“Dikatakan kepada orang-orang sederhana ini… bahwa aku mencela Islam, maka mereka semua mengumumkan perang kepadaku, padahal aku mengatakan dengan keras bahwa tidak ada dalam bukuku satu kata pun yang bisa ditafsirkan bertentangan dengan agama, dan satu-satunya ungkapan yang bisa aku dikritik karenanya menempatkan nash-nash suci jauh dari kekerasan penelitian historis…”

Dan pernyataan kedua untuk Syaikh Abdu Rabbihi Miftah dari ulama Al-Azhar dalam artikel yang diterbitkan “Al-Kaukab”, yaitu perkataannya dan khitabnya untuk Thaha Husein “Dan bagaimana Anda mengklaim wahai Doktor bahwa sebagian ulama membangkitkan masalah ini – masalah kekufuranmu – sedangkan aku menyatakan kepadamu – dan tanggung jawab dalam hal ini ada padaku sendiri – bahwa para ulama semuanya dan semua tanpa kecuali menghukum Anda dengan kekufuran, dan dengan kekufuran terang-terangan yang tidak ada takwil di dalamnya dan tidak boleh dipermudah; dan aku menantangmu dan meminta darimu dengan desakan atau permohonan agar menunjukkan kepadaku seorang dari mereka ‘dan hanya satu orang’ yang menghukummu dengan kefasikan dan kemaksiatan tanpa kekufuran.

Benar, sesungguhnya aku dan aku di antara mereka menuduhmu dengan kekufuran dan menanggung tanggung jawab tuduhan ini.

Dan atasmu untuk membebaskan dirimu dari tuduhan memalukan ini dan menuntut apa yang menjadi hakmu terhadapku. Selesai.

Kami mencatat dua pernyataan ini untuk ilmu, sejarah, dan sastra, kemudian agar manusia mengetahui tingkat musibah universitas pada profesornya yang seluruhnya adalah musibah, maka mata-mata tertuju kepadanya di negeri ini dan dia tidak malu untuk mengira dirinya di tanah tandus, dan umat seluruhnya menghormati ulamanya dan meminta perlindungan kepada mereka dalam urusan agamanya dan melihat mereka sebagai rahmat Allah baginya dan dia tidak malu untuk menyebut mereka (orang-orang sederhana) padahal dia tahu bahwa itu adalah kata bahasa sehari-hari yang tidak dimaksudkan dalam lidah awam kecuali kebodohan dan kelalaian dan sejenisnya.

Dan semua ulama sepakat atas kekufuran terang-terangannya hingga tidak ada takwil dan tidak boleh dipermudah dan tidak ada harapan untuk hukuman selain kekufuran, kemudian dia mencapai tingkat kerendahan hingga mengklaim bahwa tidak ada dalam bukunya (satu kata) yang bisa ditafsirkan bertentangan dengan agama, padahal tidak ada agama yang dihancurkan lebih parah dan lebih jahat daripada metode yang dia tempuh dalam bukunya dan memutar balikkannya untuk menjatuhkan wibawa agama dan ahlinya dalam jiwa pelajar yang masih muda, kemudian keraguan padanya, kemudian mengantar dengan keraguan ini kepada pengingkaran darinya, kemudian mengantar dengan pengingkaran kepada penghancuran; dan ini adalah tingkatan-tingkatan yang saling bertumpuk sebagaimana Anda lihat.

Demi Allah aku tidak melihat orang yang lebih mengherankan dari profesor ini, tetapi perkataannya hanyalah gambaran pemikirannya, dan pemikirannya adalah penampakan akhlaknya; dan cukuplah dari akhlaknya keras kepala ini dan keras kepala ini dan kebohongan ini dan sindiran ini seolah-olah tidak ada dalam umat seluruhnya kecuali dia sendirian yang berakal dan memahami, dan jika kita mengikutinya dalam logikanya maka semua saksi yang melihat pencuri dengan mata mereka dan bersaksi atas kejahatannya adalah para pencuri, dan pencuri sendirian adalah yang tidak bersalah!

Maka jika dikatakan kepadanya bahwa dalam kantongmu seribu dirham curian, dan mereka meletakkan jari-jari mereka padanya, dia berkata: Dan tidak ada di dalamnya satu pun yang bisa dikatakan bahwa itu dicuri… maka jika ada di dalamnya maka itu hanya menjauhkan uang-uang suci dari kekerasan penelitian komunis.

Alangkah baiknya seandainya aku tahu untuk universitas ini, apa yang mencegahnya untuk mengajarkan logika indah ini dalam pelajaran hukum, karena dengan itu dia melayani kebebasan berpikir dan bekerja, dan dengan itu dia merahmati banyak dari para pencuri dan penjahat dan ahli dosa besar dan kecil sebagaimana kemanusiaan menyerunya dan memujinya dengan lidah-lidah itu?

Demi Allah seandainya mungkin bagi seorang pencuri dari pencuri-pencuri jenius untuk menjadi profesor hukum pidana dan mungkin bagi pemalsu untuk mengajar hukum perdata dan seorang komunis – merah… – untuk menjadi profesor hukum internasional, tidak akan dilakukan oleh setiap orang dari mereka dalam pelajarannya kecuali yang serupa dengan apa yang dilakukan Thaha Husein dalam pelajaran sastra, maka tidak datang universitas dengan orang murtad yang dihukumi kekufurannya oleh seribu ulama lalu menyerahkan kepadanya pelajaran seni Arab yang mukjizatnya adalah Al-Quran, dan tidak datang dengan pencuri dan pemalsu dan komunis yang menangani hukum-hukum dan membuka di dalamnya pintu rahmat dengan kunci Descartes; dan bukankah ini hanya satu jenis sebagian dari sebagian?

Maka jika universitas berkata bahwa profesornya bukan murtad dan bukan kafir dan bukan zindik, kami katakan dan ini lebih mempermalukan dan lebih menjijikkan, maka mana yang lebih dekat kepada kejujuran dan kebenaran: perkataan satu orang atau dua orang atau tiga orang yang tidak memiliki rekam jejak dalam agama dan tidak ada hubungan mereka dengan ilmu-ilmunya, ataukah perkataan seribu ulama yang memiliki seribu sertifikat agama dan di depan mereka adalah Syaikh Universitas Al-Azhar?

Sesungguhnya itu dua pilihan dan ibu logika mandul tidak melahirkan yang ketiga baginya:

Maka entah membolehkan kekacauan dalam semua ilmu universitas dan membiarkan para pelajar bebas dalam berpikir dan meyakini dan dalam keraguan dan keyakinan, maka tidak diambil salah satu dari mereka dengan menghafal sesuatu yang tidak dia anggap benar, dan tidak ditanya apa pendapat si fulan tentang ini tetapi apa pendapatmu sendiri… dan tidak dihitung atas kesalahan dan kebenaran, karena tidak ada kesalahan dan tidak ada kebenaran dalam mazhab keraguan, bahkan semuanya seperti lingkaran kosong tidak ada ujung-ujungnya di dalamnya, dan hanya memiliki keliling jika Anda mau Anda bisa memotong seluruh umur berputar di dalamnya tanpa akhir dan tanpa tujuan tertentu, meskipun dalam bab ilmu ukur tidak menambah luasnya atas lingkaran sapi penggilingan.

Ini adalah satu hal, dan yang kedua adalah menghapus bid’ah yang dibawa oleh Thaha Husain dalam bidang sastra dan berlepas diri dari bukunya yang konyol serta mengumumkan kerusakannya dari universitas itu sendiri.

Sesungguhnya tuduhan bukan hanya ditujukan kepada Thaha karena dia ada di universitas, melainkan tuduhan itu kepada universitas itu sendiri dan dialah satu-satunya yang dituduh melakukan ateisme, kebodohan, kekacauan, kerusakan takwil, mengejek umat, dan meremehkan para ulama dan sastrawan mereka, karena dialah satu-satunya yang rela dengan kekufuran, membantu dan berpartisipasi di dalamnya, serta mengakui kebodohan, menyerukan dan mewujudkannya.

Dahulu filsuf Aristoteles memiliki pendapat tertentu lalu mendapat sanggahan karena Plato menganut mazhab yang berbeda dengannya, maka dia berkata: Jika Plato dan kebenaran berbeda pendapat, maka siapa yang lebih berhak untuk diikuti; dan kami berkata kepada universitas: Jika Plato kalian… berbeda dengan agama, kemudian sejarah, kemudian akal, kemudian pemahaman; maka manakah dari dua pihak ini yang lebih berhak untuk diikuti?

Dan apa urusan kami denganmu wahai universitas ini selain menjelaskan kekeliruan dan kesalahannya, dan cukuplah keduanya sebagai kekeliruan dan kesalahan seandainya kamu tidak dalam filsafatmu seperti apa yang dikatakan Anatole France dalam filsafat undang-undang ketika dia berkata: Sesungguhnya masyarakat berdiri di atas dua prinsip:

Pertama bahwa pencurian itu haram, dan kedua bahwa hasil pencurian itu suci karena ia dari kebebasan bekerja!

Maka kamu pun demikian berpendapat bahwa sastra berdiri di atas dua prinsip: Pertama bahwa kesalahan adalah kebodohan yang ditolak, dan kedua bahwa hasil kesalahan adalah ilmu yang diterima karena ia dari kebebasan berpikir!

Dan sekarang kami tunjukkan kepadamu wahai pembaca rahasia dari rahasia kesalahan pada profesor universitas ini.

Dan kepadanya kembali sebab terbesar dalam tumpulnya pikirannya, rumitnya pemahamannya, rapuhnya pendapat-pendapatnya, dan bahwa dia jika menyampaikan perkataan dalam sastra tidak mampu menguasai makna yang benar dan tidak mengenai sasaran yang tepat, dan senantiasa berusaha berlindung di ujung-ujung perkataan hingga seolah-olah dia hanya berpikir dengan setengah akal, maka tidak keluar setengah perkataannya kecuali dari sia-sia, main-main dan kesalahan, dan senantiasa menimpanya apa yang menimpa setiap orang yang menjadikan perbedaan pendapat sebagai mazhab sehingga mengalihkan kebanyakan perkataan dari arahnya dan menjadikan kesalahan sebagai kebenaran dan kebenaran sebagai kesalahan, dan merampas pendapat dari ahlinya dan merusaknya bagi mereka secara lahir atau batin, kemudian tidak rela jika keluarlah darinya kebodohan bahwa kamu jelaskan kepadanya ilmu, dan jika dia terjerumus dalam kelalaian bahwa kamu singkapkan kepadanya tentang hakikat, maka jika kamu lakukan itu terbanglah amarah di kepalanya lalu mengguncangnya kepadamu dengan guncangan dan memancarkanya dengan pancaran dan menjadikannya gunung berapi lalu memenuhinya dengan api dan dengan demikian dia berbeda di antara orang-orang sejenisnya dan terkenal, dan jelas dan nampak, dan menang dan mengalahkan, dan adalah demi Allah sebagai aib bagi para sastrawan zaman ini, karena semua yang ada pada orang itu berupa kekuatan dan keberanian maka sesungguhnya itu dari apa yang ada pada mereka berupa kepengecutan dan kemunduran…

Adapun rahasia itu adalah bahwa Thaha ketika mengetahui dari dirinya lemahnya imajinasi, dan melihat bahwa dia tidak menguasai apa yang dia hadapi dan tidak menembus kepada hakikatnya, berpaling dalam sastra dari tabiat syair kepada tabiat logika; karena asal dalam logika ini adalah keluasan dalam perkataan dan itu adalah dari keistimewaan profesor dan karakteristiknya; namun logika juga tidak lurus kecuali dengan kecerdasan yang tajam, dan kecerdasan ini dari sebagian sebabnya adalah tabiat penyair, maka ketika tabiat ini mengecewakan dia dalam logika sebagaimana mengecewakan dia dalam syair, berpaling kepada tabiat dialektika dan itu adalah seni dari perkataan yang kaidahnya adalah bentuk-bentuk dan standar-standar, dan bangunannya atas pengaturan dan penyusunan, dan materinya adalah ocehan dan kepanjangan; dan yang paling besar penyusunnya adalah perdebatan sengit dan keteguhan, dan tidak ditanyakan di dalamnya apa hakikat itu tetapi apa yang kamu inginkan menjadi hakikat? Dan bukan apa keyakinan tetapi apa sangkaanmu tentang keyakinan, dan tidak dikatakan di dalamnya apa buktinya tetapi apa keberatannya, dan bukan apa nash-nya tetapi apa takwilnya, dan semua itu jika tidak ditegakkan olehnya keberanian dan kebodohan dan tidak menjadi jalannya dari ejekan dan ketidakpedulian dan dari keraguan dan bisikan-bisikan dan apa yang sejalan dengan ini, tidak lurus darinya sesuatu bagi pemiliknya dan keluarlah darinya dengan terhina tidak dia dalam hujah dan tidak pula dalam kelicikan.

Maka Thaha Husain terpaksa menempuh jalannya dalam sastra dengan paksaan selama dia ingin menjadi sesuatu yang diingat, dan sesungguhnya jalan orang sepertinya adalah mengikuti orang lain dan meniru dan mencontoh dan tidak malu untuk tunduk pada pendapat orang yang lebih cerdas darinya dan tidak enggan untuk masuk dalam aturan-aturan manusia, maka ketika dia menolak itu dan ditaklukkan oleh tabiatnya dan ingin membeli sedangkan tidak ada padanya dari pembelian itu sesuatu, maka semua pekerjaannya adalah merusak pekerjaan orang lain; dan tidak ada jalan kepada itu kecuali dia tunduk kepada sangkaan, dan tidak ada jalan untuk mengikuti sangkaan kecuali keraguan, dan tidak ada bukti atas keraguan kecuali dari tujuan pemiliknya, dan tujuan ini kembali kepada tabiat dan akhlak dan keadaan pikiran, dan sebagaimana keraguan menjadi awal keyakinan pada orang-orang yang bertabiat sehat dan pikiran kuat dan akal yang tajam, menjadi akhir keyakinan pada pemilik tabiat yang kacau dan akal yang tumpul.

Maka Thaha adalah orang yang berilmu lagi utama, kamu melihatnya dari sebaik-baik sastrawan kami jika berhenti pada hafalan dan rujukan, memperbandingkan antara sejarah-sejarah umat dan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya dari jenis-jenis kesamaan dan perbedaan dan bekerja dalam penyusunannya, dan penggolongannya, dan jika berhenti pada akal lalu mulai mengumpulkan catatan pinggir dan matan dan ta’liq serta menggabungkan masalah kepada masalah dan perkataan kepada perkataan dalam ilmu apa pun yang dia kehendaki yang dia pandai menganutnya, tetapi kamu melihatnya dari paling konyol para sastrawan jika mencoba pembaruan dan penciptaan, kemudian dari paling lemah mereka jika melakukan apa yang tidak ada dalam tabiatnya dan tidak kemampuannya dari apa yang membutuhkan kepada tabiat penyair dan akal yang tajam dan pendapat serta istinbath; dan tidak ada bukti yang lebih jelas atas itu dari bukunya: Asy-Syi’rul Jaahiliy, kemudian dari cerita-cerita yang dia pindahkan dari bahasa Perancis. Karena aku pernah membaca cerita-cerita ini satu demi satu, dan ia untuk para tokoh bayan Perancis, maka tidak kulihat kecuali seperti tulang-tulang orang mati tidak ada di dalamnya selain materi fitrah dan susunan kerangka dan bentuknya, dan seandainya demikian dalam asal bahasanya tidak menjadi sastra Perancis kecuali kesia-siaan, dan adalah para sastrawan Perancis paling lemah umat dalam imajinasi dan paling jauh mereka dari syair dan makna-maknanya.

Dan sungguh dia telah memindahkan ringkasan dari novel Bunga Bakung Merah karya Anatole France – dan ia dari buku-buku yang paling fasih dari jenius besar ini – maka dia datang dengannya sebagai perkataan yang kering tidak ada air di dalamnya dan tidak ada keindahan baginya, dan tidak kurang baginya dari jenis-jenis kekurangan bahwa ia dari karang Thaha Husain bukan dari terjemahannya!

Dan aku tidak tahu bagaimana datang bagi orang yang tidak menjadi syair dari tabiatnya bahwa dia menjadi kritikus sastrawan atau profesor untuk sastra, dan di umat mana kita jumpai seperti ini, dan apakah setiap orang yang mengetahui hitung-hitungan mengetahui darinya geometri, tidak kami sangka seorang pun mengklaim itu atau menyangkalnya kecuali Thaha, karena dialah seorang diri yang mengetahui dari tabel perkalian… ilmu-ilmu banyak darinya geometri dan aljabar dan hitung-hitungan segitiga dan fisika dan kimia dan semua yang masuk di dalamnya bilangan, selama hitung-hitungan itu adalah bilangan.

Dan kamu melihatnya tidak mendebat dalam sesuatu dengan apa yang diberikan kepadanya dari kekuatan kecuali dalam menetapkan bahwa kritikus sastra tidak wajib menjadi penyair, dan bahwa pengetahuan tentang syair tidak perlu di dalamnya seperti perlunya alat dalam kerajinan bagi orang yang menggunakannya, dan seandainya syair itu adalah dialektika dan standar dan kaidah-kaidah dan batasan-batasan tidak menjadi perdebatan dalam urusannya, tetapi dia mengetahui bahwa ia adalah selera dan kecerdasan dan keduanya dari rahasia-rahasia langit, dan dia mengetahui bahwa lilin jika menjadi cahaya maka cahayanya bukan sinar rontgen “maka tidak ada perhatian baginya kemudian kecuali mengklaim bahwa kritik sastra itu adalah logika dan ilmu dan perenungan dan filsafat”

Dan dalam sebagian ini ada semua alat-alat kritik, dan semua ini adalah sebagian dari bakat-bakatnya dia dalam apa yang dia klaim.

Dan sungguh aku telah melihat kata yang fasih dari Al-Amidi seolah-olah dia menulisnya untuk menjawab profesor universitas sejak lebih dari seribu tahun; atau mungkin ada bagi mereka di zaman mereka Thaha sebagaimana bagi kami di zaman kami, dan semua (Thaha) itu menyangka bahwa kakinya adalah kilat bumi yang melipat ujung-ujungnya dalam beberapa langkah maka berkata kepadanya Al-Amidi: (Dan mungkin – semoga Allah memuliakanmu – kamu tertipu karena kamu sedikit mengetahui dari pembagian-pembagian logika dan kalimat-kalimat dari perkataan dan dialektika, atau kamu mengetahui bab-bab dari yang halal dan yang haram (ini terlupa oleh Thaha…) atau kamu menghafal sebagian dari bahasa, atau kamu melihat kepada sebagian standar-standar Arab?

Dan sesungguhnya kamu ketika mengambil ujung satu jenis dari jenis-jenis ini dengan latihan dan praktek dan perhatian yang terus-menerus maka kamu unggul di dalamnya dan membedakan, dan kamu menyangka bahwa semua yang tidak kamu tangani dari ilmu-ilmu dan tidak kamu praktekkan berjalan di jalan itu, dan bahwa kamu kapan saja kamu hadapi dia dan kamu jalankan kecerdasanmu atasnya kamu menembus di dalamnya dan kamu singkapkan tentang makna-maknanya; jauh sekali! Sungguh kamu telah menyangka sesuatu yang batil dan merengkuh sesuatu yang sulit, karena ilmu jenis apa pun tidak diraih oleh penuntutnya kecuali dengan terputus kepadanya, dan mencurahkan perhatian atasnya, dan bersemangat atas pengetahuan rahasia-rahasianya dan hal-hal tersembunyinya kemudian mungkin mudah satu jenis dari ilmu-ilmu bagi penuntutnya dan mudah; dan terhindarlah baginya jenis lain dan sulit karena setiap orang sesungguhnya yang mudah baginya adalah apa yang ada dalam tabiatnya menerimanya dan apa yang ada dalam kemampuannya melakukannya maka seharusnya – semoga Allah memperbaikimu – bahwa kamu berhenti di mana kamu dihentikan, dan cukup dengan apa yang dibagi untukmu, dan jangan melampaui kepada apa yang bukan dari urusanmu dan bukan keahlianmu” selesai.

Dan sungguh salah seorang dari teman-teman Thaha mendebat kami pada suatu hari; maka dia menolak kepada kami apa yang kami sifatkan dengannya bahwa dia tidak ada nasib baginya dalam syair dan tidak ada tangan baginya di dalamnya, dan dia berkata: Sesungguhnya baginya di dalamnya tangan dan kaki… Dan sesungguhnya dia tidak terlepas dari syair bahkan dia dalam kulit dua penyair sekaligus, dan sesungguhnya telah tersebar khawatir-khawatirnya dalam setiap makna dan membukakan bagi manusia jalan sastra modern yang dia gabungkan di dalamnya antara balaghah Yunani dan Perancis dan Arab, maka pergi dalam syairnya dengan kebaikan-kebaikan tiga umat ini; dan menunjukkan kepada kami atas bait-bait yang dia gubah dalam menyambut tahun Hijriyah, dan berkata sesungguhnya ia diterbitkan dalam beberapa edisi “Al-Muqtham” dari zaman, maka kami menulis kepada orang yang datang kepada kami dengannya, maka tidak ada darinya kecuali makna yang baru dan gaya yang langka dan lafadz yang musikal, dan di dalamnya kemanisan dan keindahan dan baginya getaran dan atasnya air, hingga seandainya dibacakan atas pohon yang kering pasti akan menghijau kemudian ia setelah itu adalah bukti dalam menunjukkan atas kecerdasan yang jernih dan balaghah yang mantap dan tabiat badui yang lancar lembut halus yang dia kenali dia dalam bukunya dengan bahwa dia menghindari pengulangan huruf-huruf, maka berkata semoga tidak tanggal giginya, dan dengan ungkapan mazhab baru semoga Allah tidak membutuhkannya kepada pemasangan gigi:

Apa urusanku dan bulan purnama aku meminta kembaliannya… bahkan apa urusan langit-langit langit dan apa urusanku

Semoga tidak menghasilkan harta jika tidak disimpan… untuk membangun kemuliaan dan baiknya perbuatan

Semoga tidak menghasilkan harta jika tidak disimpan… kecuali untuk pemilik kalung dan gelang

Semoga tidak menghasilkan harta jika tidak disimpan… kecuali untuk mencapai tingkatan-tingkatan keagungan

Dan para orang kaya pada hiburan-hiburan tekun… terkapar oleh pandangan-pandangan dan cinta yang memperdaya

Dan tidak ada keraguan pada kami bahwa bait-bait ini dari qasidah yang panjang yang hilang sisanya dalam salah satu gempa bumi, karena dia setelah syair ini tidak terjadi kecuali pelemparan dan jatuhnya meteor dan terkoyaknya bumi. Tidakkah kamu lihat sang syekh berkata: “bahkan apa urusan langit-langit langit dan apa urusanku, maka ini adalah pemberi kabar bahwa ia hampir jatuh menimpanya dan mengikutinya dengan meteor pengintai, dan perhatikan bait keempat karena ia dari sangat tingginya dan kebaruan maknanya dan kedalaman di dalamnya telah rusak, karena penyair melaknat harta jika tidak disimpan kecuali untuk mencapai tingkatan-tingkatan keagungan.

Maka apakah tingkatan-tingkatan keagungan kecuali ketinggian dan kemuliaan, dan apakah disimpan harta kecuali untuk ini?

Ataukah tingkatan-tingkatan itu adalah pangkat-pangkat dan bintang jasa?

Dan kemudian maka apa kata “keagungan” kecuali ketinggian lain untuk merusak makna karena tingkatan-tingkatan keagungan adalah tingkatan-tingkatan orang-orang besar dalam setiap umat. Maka wahai pemilik ketinggian ini jika itu syairmu maka sungguh kami menyerahkan kepadamu apa yang kamu klaim bahwa kebanyakan mutlak dalam syair Jahiliyyah itu palsu bahkan semua syair Jahiliyyah itu bohong dan palsu karena apa yang ada di dalamnya dari penciptaan dan kekonyolan dan kelemahan, dan bahwa dia tidak mewakili kehidupan Jahiliyyah.

Dan sesungguhnya datang kepadamu bukti atas pendapat ini dari bahwa seandainya kamu berada kamu di masa itu dan berlindung kepadamu suku-suku meminta banyak darimu dari peristiwa-peristiwa mereka dan syair-syair mereka, dan datang kepadamu para perawi membawa darimu dan para pencerita untuk kamu ciptakan bagi mereka ciptaan itu – pasti kamu letakkan atas penyair-penyair handal Jahiliyyah dari corak bait-baitmu ini kejantanan dan kekuatan dan kesempurnaan dan perjalanan dalam cabang-cabang syair, maka sulit syairmu pada ahli kritik dan pembedaan, dan tidak kamu jalankan dia dalam syair kecuali kamu serupakan dengannya dan bercampur dengannya bercampurnya air yang jernih dengan air yang jernih meskipun keduanya dari dua mata air yang berbeda maka tidak dikenali setelah percampuran keduanya yang mana dari sini dan yang mana dari sana!…

Sesungguhnya aku demi Allah malu untuk Thaha Husain bahwa ini adalah syairnya kemudian dia berbicara dalam syair, karena sesungguhnya perkataan lemah ini tidak terpisah dari dirinya kecuali dan di antara keduanya ada kesamaan dalam kekasaran dan kekerasan dan kekacauan dan kerobekan; dan tidak jatuh profesor itu paling banyak apa yang dia jatuh dalam bukunya Asy-Syi’rul Jaahiliy kecuali dari penyakit puitis ini dalam pikirannya, dan dari penyakit filosofis itu dalam pendapatnya karena dia bukan penyair dan bukan pula dia filosof, tetapi bukunya berdiri atas syair dan penguasaannya dan pembedaannya dan pengesahan nisbahnya dari penyair-penyair handal besar para imam bidang ini, dan atas filsafat dalam sejarah dan penanganannya terhadap benda-benda dan peristiwa-peristiwa dan orang-orang dari sisi sebab-sebab mereka dan rahasia-rahasia mereka maka tidak heran rapuh dan tersandung dan mengacaukan dan bertentangan sehingga tidak benar dalam satu kecuali salah dalam sepuluh.

Dan tidak menjadi hal baru bahwa datang bukunya sesuai ukurannya maka menguasai atasnya kelemahan dan merusaknya kesewenang-wenangan dan menariknya kecenderungan-kecenderungan buruk tidak menjadi bukunya dalam kebutuhan kepadanya tetapi ia dari kebutuhan dirinya maka tidak dia tambah atas bahwa dia memalukan dengan dia; dan dari yang paling aneh darinya perkataannya dalam halaman 74 ketika memindahkan dari Al-Aghani dari Abdul Aziz bin Abi Nahsyal dia berkata: Sesungguhnya berkata kepadaku Abu Bakar bin Abdul Aziz dan aku datang kepadanya meminta penggantian kerugian: Wahai paman, ini empat ribu dirham dan gubah bait-bait empat ini

Dan katakan: aku mendengar Hassan menggubahnya untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka aku berkata: Aku berlindung kepada Allah bahwa aku dusta atas Allah dan Rasul-Nya, tetapi jika kamu kehendaki bahwa aku katakan aku mendengar Aisyah menggubahnya maka aku lakukan. Dia berkata: Tidak.

Kecuali kamu katakan aku mendengar Hassan menggubahnya untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka dia menolak kepadaku dan aku menolak kepadanya, maka kami berdiri karena itu tidak kami berbicara beberapa malam.

Maka dia mengirim kepadaku dan berkata: Katakan bait-bait kamu memuji dengannya Hisyam dan Bani Umayyah dan jadikan ia di Ukadz dan jadikan ia untuk ayahmu dst dst.

Berkata profesor universitas yang mengikuti mazhab Descartes: Maka lihatlah kepada Ibnu Abdurrahman bagaimana temannya menginginkan dia atas bahwa dia berdusta dan membuat syair (demikian) atas Hassan.

Kemudian tidak cukup baginya pembuatan palsu ini hingga dia siarkan temannya bahwa dia mendengar Hassan menggubah syair ini di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam semua ini dengan empat ribu dirham, tetapi teman kami benci bahwa dia berdusta atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sejauh ini – dan memandang halal untuk berbohong atas nama Aisyah radhiyallahu anha, selesai.

Apakah engkau menemukan dalam kisah itu tawar-menawar atau sesuatu yang menunjukkan hal tersebut, sehingga orang Muslim itu tidak membenci berbohong atas nama Nabi shallallahu alaihi wasallam kecuali karena sedikitnya harga; dan apakah ada perbedaan dalam berbohong antara yang seharga empat ribu atau sepuluh atau kurang atau lebih, jika bukan keimanan yang mencegah orang itu darinya berdasarkan hadits sahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Barangsiapa berbohong atas namaku dengan sengaja dan disengaja, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya dari neraka”, kecuali bahwa pemahaman riwayat itu adalah bahwa jiwa Thaha dalam keserakahannya dan ketamakan terhadap harta baik halal maupun haram serta dalam tipisnya agama dan imannya, adalah yang membisikkan kepadanya penjelasan yang konyol dan dingin ini, lalu ia mengira bahwa seandainya dialah yang ditanya untuk berbohong, ia akan berkata kepada penanya: Wahai orang ini, sesungguhnya berbohong atas nama Aisyah seharga sekian dan atas nama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seharga sekian, maka jika engkau tidak memberikan selain empat ribu, maka aku tidak akan berbohong kecuali atas nama Aisyah saja…

Dan riwayat dalam ungkapannya jelas dan tegas tidak ada kesamaran di dalamnya, tetapi Thaha sebagaimana kami gambarkan adalah buah yang tidak matang kecuali dengan kepahitan yang sangat, sehingga tidak pernah dicicipi melainkan menunjukkan dirinya sendiri dan meninggalkan rasa pahit darinya yang mengabarkan tentangnya; dan seandainya Universitas Mesir dilampirkan karenanya kepada perusahaan gula… maka perusahaan itu akan bangkrut dalam memaniskan buah ini dan tidak akan manis!

Dan ia berkata di halaman 56 “dalam fanatisme Quraisy terhadap Anshar” bahwa ada dari Quraisy yang melampaui batasan dalam fanatisme hingga sesuatu yang menyerupai simpati kepada Anshar dan rasa kasihan kepada mereka, dan mungkin Zubair bin Awwam termasuk dari orang-orang yang bersimpati kepada “Anshar” yang mengasihani mereka yang menjaga janji mereka dan memelihara wasiat Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada mereka, maka para perawi menceritakan kepada kita – demikian – bahwa ia melewati sekelompok Muslim dan di antara mereka ada Hassan dan mereka tidak memperhatikan apa yang ia katakan, lalu ia menyalahkan mereka atas hal itu dan mengingatkan mereka tentang kedudukan syair Hassan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dan pengaruh itu pada jiwa Hassan, maka ia berkata memujinya: Dan aku ingin engkau memperhatikan awal syair ini.

Karena ia bagus dalam menunjukkan apa yang ingin aku tetapkan tentang masuknya kesedihan ke dalam jiwa “Anshar” karena sikap baru yang diambil Quraisy terhadap mereka, dan awal syair itu adalah:

Ia menegakkan janji Nabi dan petunjuknya… kawannya dan perkataan dengan perbuatan sama adilnya Ia menegakkan manhaj dan jalannya… ia menolong wali kebenaran dan kebenaran lebih adil

Thaha berkata: “Maka lihatlah kedua bait ini di awal penggalan itu bagaimana keduanya menggambarkan ingatan Hassan terhadap janji Nabi shallallahu alaihi wasallam dan kesedihannya atasnya dan penyesalannya atas apa yang luput dari “Anshar” berupa dukungan Nabi kepada mereka dan keadilannya kepada mereka” selesai.

Dan setelah satu halaman ia berkata: Sebagaimana Zubair termasuk dari golongan Quraisy ini yang bersimpati kepada “Anshar” karena mengingat janji Nabi shallallahu alaihi wasallam atau “menjaga kasih sayang Anshar untuk hari kebutuhan…”.

Dan berita dari Al-Aghani dalam biografi Hassan, dan ungkapannya bahwa Zubair melewati majelis dari para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Hassan bin Tsabit membacakan kepada mereka syairnya dan mereka tidak bersemangat untuk apa yang mereka dengar darinya, lalu Zubair duduk bersama mereka dan berkata: Mengapa aku melihat kalian tidak mendengarkan apa yang kalian dengar dari syair Ibnu Al-Furai’ah, padahal ia dulu membacakan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu beliau mendengarkan dengan baik dan memberikan pahala yang banyak kepadanya dan tidak disibukkan darinya dengan sesuatu pun, maka Hassan berkata dan membacakan bait-bait itu.

Maka lihatlah berapa banyak penyebab dalil sejarah antara perkataan Al-Aghani bahwa ia melewati majelis dari para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan perkataan Thaha ia melewati sekelompok Muslim, dan berita ini telah melewati semua ulama sastra dan sejarah Islam namun tidak ada seorang pun yang menyadari dalilnya atas kesedihan Anshar dan simpati Zubair kepada mereka “untuk hari kebutuhan”, kecuali dosen Universitas sendiri; maka di mana dalam berita itu disebutkan Anshar dan kesedihan mereka atas apa yang luput dari mereka, dan sesungguhnya Hassan berbicara tentang dirinya sendiri dan dialah yang ia maksud dengan perkataannya: “wali kebenaran” karena ia didukung oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan ia adalah seorang penyair yang semua kebanggaannya dalam perhatian orang-orang kepadanya dan semangat mereka terhadap perkataannya baik mereka dari kaumnya Anshar atau dari yang lainnya.

Dan di mana teksnya wahai dosen Universitas bahwa majelis para sahabat itu dari Quraisy, maka jika boleh jadi mereka dari Anshar maka batallah apa yang engkau bawa; karena kaum Hassan-lah yang tidak bersemangat mendengarnya, kemudian berapa banyak perbedaan antara pendengar syair yang tidak bersemangat dengannya dan antara yang tidak “memperhatikan”nya; kemudian di mana teks bahwa majelis itu terjadi pada tanggal tertentu padahal boleh jadi ia terjadi di zaman Umar bin Khaththab setelah urusan menjadi stabil dan tidak ada lagi perselisihan antara Quraisy dan Anshar, atau setelah itu dengan waktu yang lama, karena Zubair terbunuh pada tahun tiga puluh enam Hijriah.

Dan jika engkau tahu bahwa Zubair adalah putra bibi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan kawannya dan pilihan beliau dan ia menyaksikan bersama beliau semua peristiwa, maka jangan tanya aku tentang makna perkataan dosen “untuk hari kebutuhan”, tetapi tanyalah seorang yang ateis zindik yang tidak mengira bahwa di dalam jiwa-jiwa ada jiwa yang beriman, karena iman menurutnya adalah tipu daya dari tipu daya politik seperti keislaman Napoleon di Mesir!

Dan aneh dari Thaha setelah engkau mengenal syairnya dan sejauh mana pemahamannya terhadap syair bahwa engkau melihatnya berkata di halaman 99: “Dan semua syair ini jika engkau perhatikan adalah konyol, buruk, jelas dibuat-buat dengan pembuatan yang terlihat…”.

Dan di halaman 103: “Dan Ibnu Sallam meriwayatkan kepada kita syair lain yang tidak kurang dari ini kekonyolan dan kebuatan dan rekayasanya…”.

Dan di halaman 415 dan Sa’ad Pasha berkata kepada Lord Lloyd: Dan baik berkonsultasi dengan London, maka Lord berkata: Aku adalah London dalam masalah-masalah yang ada! Dan aku berkata demikian pula kepada Rafii dan kepada selain Rafii: Aku adalah syair, aku adalah Universitas…! Kumbang bertubuh putih…

Sesungguhnya dari kebiasaanku jika aku duduk untuk menulis adalah aku meletakkan jamku di sebelah kanan menyandarkan lenganku pada singa yang terbuat dari besi yang telah merebah dengan rebahan keangkuhan bersiap seakan-akan ia mengumpulkan lompatan pada mangsa yang ia temukan di udara baunya, meringis seakan-akan ia bersiap untuk menerkamnya terkaman kematian, bergidik mengumpulkan bagian-bagiannya untuk melepaskan darinya serangannya yang mematikan, dan telah menonjol baginya dada yang besar penuh otot yang tidak aku anggap kecuali lubang penggiling hewani itu yang Allah ciptakan dari rahang dan taringnya.

Dan aku merenungkan sekarang singa ini dan ia membawa jamku dan aku mulai berpikir tentang apa yang akan aku tulis hari ini tentang Universitas, lalu aku berkata: Aku bertanya kepada Universitas ini: Apa kiranya yang akan dipahami singa dari makna jam ini seandainya ia melihatnya tergeletak di depannya di padang pasir dan melihat jarumnya merayap merayapnya; apakah engkau mengira ia akan menganggapnya kumbang bertubuh putih, atau menganggapnya dalam angka-angka hitamnya kampung kecil semut, atau menyangkanya sepotong tulang yang lalat berterbangan di ujung-ujungnya?

Sesungguhnya ia akan mengira apa yang ia mau kira kecuali mengetahui bahwa ia adalah alat untuk menentukan waktu, karena jam waktu menurutnya adalah cakram matahari yang terbit atau terbenam, bukan untuk menunjukkan bahwa jam itu satu atau tiga atau dua belas, tetapi jam itu kegelapan atau jam itu cahaya.

Ini pada singa; adapun pada manusia maka kita bertanya kepada Universitas: Apakah setiap orang mengetahui nilai waktu dalam penentuannya dan penghitungannya? Atau setiap manusia dalam hal itu sesuai perhitungan dari pekerjaannya dan cara hidupnya? Dan apa yang dipahami “gelandangan” di jalan-jalan dari makna perkataanmu jam lima dan jam sepuluh kecuali seperti apa yang dipahami Dosen Thaha Husain dari makna-makna agama yang luhur dalam sejarah Islam, ketika ditentukan untuknya keutamaan-keutamaan mulia yang tidak ia kenal dan tidak ia terima dan tidak ia pahami, sebagaimana jam menentukan waktu-waktu yang tepat yang tidak ada tempatnya dalam kehidupan gelandangan dan orang lemah dan tidak ada bobot dan tidak ada nilai.

Dan jika kita meletakkan jam ini dalam baju gelandangan ini dan ia berfungsi teratur kemudian kita letakkan di hari lain dan ia rusak tidak berfungsi.

Maka apakah hari ini baginya kecuali seperti hari itu?

Dan apakah jam orang seperti ini kecuali roti dan uang dan sejenisnya yang tidak menunjukkan kepadanya bahwa jam itu satu atau tiga atau dua belas tetapi jam itu kenyang dan jam itu lapar?

Universitas tidak mengetahui dan tidak mau mengetahui bahwa perumpamaan dosennya dalam kepedulian terhadap hakikat-hakikat makna yang tinggi dari sejarah Islam dan pemahaman terhadapnya adalah seperti perumpamaan gelandangan itu dalam kepedulian terhadap makna waktu, dan seperti perumpamaan singa itu dalam kepedulian terhadap makna industri; tetapi kami tunjukkan kepadanya dengan matanya sendiri dan mata semua orang bahwa semua makna Islam dalam pelajarannya tidak dipahami oleh dosennya kecuali menyerupai apa yang dipahami singa ketika ia berpikir kemudian memperkirakan kemudian merenungkan kemudian memutuskan bahwa jam itu adalah kumbang bertubuh putih…

Demi Allah kami meragukan bahwa Universitas Mesir adalah sekolah ateisme, dan bahwa Thaha Husain tidak diambil untuknya tanpa yang lainnya dari mereka yang ada di Universitas lama kecuali karena cacat ini padanya, dan karena ia paling tegak dengannya dan paling mampu melakukannya, dan kami tidak menduga ini apalagi memastikannya, tetapi kami membaca hari ini bab tambahan dari sahabat kami dosen ulama besar Sayyid Rasyid Ridha yang ia tulis dalam “Al-Manar” dan disiarkan surat kabar “Al-Balagh” dan ia membuat judulnya “Propaganda Ateisme di Mesir” dan ia berkata di dalamnya ateisme bukan hal baru di Mesir, dan yang baru adalah seruan kepadanya dan pembentukan perkumpulan-perkumpulan untuk menyebarkannya dan menghancurkan Islam, dan penulisan buku-buku dalam mencela tokoh-tokoh ulama terdahulunya yang orang Eropa meninggikan derajat mereka seperti Al-Ghazali dan Ibnu Khaldun, dan pujian terhadap orang yang dituduh kafir dan ateis seperti Al-Ma’arri, dan pemuliaan terhadap sastra orang yang terkenal dengan kefasikan dan kemesuman seperti Abu Nuwas.

“Dan sungguh kami menyebutkan sejak puluhan tahun berita pembentukan perkumpulan ateis pertama yang dari anggotanya ada yang bersorban dari lulusan Al-Azhar; kemudian mereka melepas topeng dan terang-terangan dengan propaganda mereka dalam pelajaran-pelajaran “Sekolah Universitas Mesir” dan kuliah-kuliahnya… Dan ketika mereka sadar di hari-hari ini terhadap apa yang ada dalam nasionalisme mereka dan ketidakberagamaan mereka dari kerugian moral dan politik atas Mesir, dan surat kabar (Al-Siyasah) mulai menjanjikan mereka dan mengiming-imingi mereka bahwa budaya ateisme baru mereka mulai menempati tempat kepemimpinan agama itu dari jiwa bangsa-bangsa Timur umumnya dan Suriah khususnya, ketika bangsa-bangsa ini merasakan bahwa agama menjadi yang terendah dan terlemah dari pemersatu kaum dan pengikat bangsa-bangsa, dan bahwa “Sekolah Universitas Mesir yang ateis” dan ia adalah penampakan tertinggi dari budaya baru… telah menggantikan Al-Azhar yang telah meninggal tanpa disayangkan dan mewarisi kedudukan maknanya… Sungguh benar surat kabar (Al-Siyasah) – dan jarang ia jujur – dalam apa yang ia gambarkan tentang persaingan antara Universitas Al-Azhar yang agamis, dan Universitas Mesir yang ateis, maka ini adalah perkara yang diketahui oleh orang-orang yang berpandangan meskipun lalai darinya kebanyakan orang, dan orang pertama yang menyatakannya di majelis-majelis kami dari kalangan non-Muslim adalah pemuda Israel yang cerdas, kami dengar ia berbicara dalam masalah buku Syekh Ali Abdurrazaq setelah kemunculannya, dan ia mendukung di dalamnya propaganda ateisme baru; lalu ia berkata: Bukan masalahnya masalah buku yang dikarang seorang syekh Muslim dalam memerangi Islam, karena seandainya ini semua yang engkau keluhkan darinya maka mudah perkaranya. Tetapi masalahnya semua masalah – adalah persaingan antara “Universitas Mesir” dan Universitas Al-Azhar, maka jika yang kedua menang maka negeri ini akan tetap Islam, dan jika yang pertama menang maka Mesir akan mengikuti negeri-negeri Turki dan berakhirlah zaman Islam di dalamnya” selesai perkataan Sayyid dengan huruf-hurufnya.

Dan jatuh tamparan ini dan di dalamnya kekuatan empat ratus juta tangan kecuali sembilan… pada wajah Universitas, maka tidak terlihat Universitas yang hina ini marah untuk agama atau kehormatan atau amanah.

Dan tidak terjadi darinya kecuali membalikkan punggung… Dan demi Allah kami menganggapnya diam dalam perdebatan kami dengannya karena ketidakmampuan, karena kami atas apa yang kami ketahui dari segi-segi kelemahan yang banyak dalam diri kami, kami tahu yakin bahwa tidak ada di Universitas ini yang dapat menghadapi kami dalam bab ini yang kami berdebat dengannya di dalamnya, dan ia setelah itu sombong dengan dosennya mengira para sastrawan menghindarinya karena di mulutnya ada ombak dari cacian dan makian yang menenggelamkan di dalamnya orang yang menghadapinya, maka biarlah di mulutnya lautan karena itu tidak menyulitkan kami untuk mendatanginya di tengah ombak dengan tanah daratan yang menghardik hidungnya.

Dan sekarang kami tahu bahwa iman Universitas atau iman Thaha Husain kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya dan kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya dan hari akhir dalam buku itu yang disebarkan Universitas adalah hanya dalam babnya berhias seperti berdandannya wanita hitam itu yang nasib mengejeknya ketika ia dilahirkan maka keluarganya memberinya nama Dananir… Kemudian mengejeknya ketika ia besar maka A’sya Sulaim si penyair menikahinya.

Kemudian mengejeknya yang ketiga ketika ia berdandan dan bercelak dengan celak maka A’sya mengucapkan bait ini:

Seakan-akan ia dan celak dalam wadahnya… bercelak matanya dengan sebagian kulitnya

Banyak kali aku bertanya pada diriku sendiri: Apakah di seluruh Mesir ada seorang laki-laki yang berhak untuk kafir?

Dan dengan makna lain: Apakah di seluruh Mesir ada laki-laki jenius yang menyimpang yang mencapai dari ketinggian akal dan luasnya cakupan dan tajamnya pikiran dan dalamnya jiwa sehingga ia memiliki pendapat khusus dalam keimanan yang merusak apa yang disepakati orang-orang atasnya? Dan dengan makna ketiga: Apakah di Mesir dari orang yang meniru sebagian filsuf Eropa dalam ateisme yang dihitung dalam golongan orang yang ia tiru sehingga seandainya ia di Eropa yang ateis maka cerdik pandai Eropa dan dosen-dosen Universitas di sana akan menirunya…?

Sesungguhnya bencana semuanya hanya datang kepada kita dari sisi akhlak yang lemah atau keturunan yang hina atau ilmu yang kurang; adapun pengaruh akhlak yang lemah dan keturunan campuran maka tidak ada baginya kecuali pemerintah dengan sekolah-sekolahnya, karena jika ia mengabaikannya di sekolah-sekolah maka ia tidak akan mengabaikannya di pasar-pasar dan apa di baliknya dari tempat-tempat dan wilayah-wilayah ketika tumbuh orang-orang ateis yang terpelajar dalam umat dan menangani urusan-urusannya dan mengikutinya dalam sebab-sebab kehidupan; dan adapun ilmu yang kurang maka engkau lihat bahwa pemiliknya apa saja ia mengambil sesuatu dari kehalusan pemikiran melainkan berakhir pada keputusan bahwa di dalamnya ada ketidakmampuan atau kelemahan atau kekacauan, sebagaimana dilakukan Thaha Husain dalam kehalusan sejarah dan syair dan agama, dan itu alami tidak terjadi yang lainnya, karena akal yang kurang tidak lain seperti mata yang sakit: ia tidak melihat bekas sakitnya kecuali pada benda-benda yang ia lihat dan benda-benda dengan itu sehat tidak ada sakit padanya.

Dan ketahuilah bahwa kesalahan meskipun dalam satu pemikiran jika bukan perusakan dan perubahan dan pembusukan maka ia adalah cacat dan kekurangan, karena pemikiran adalah bagian dari bagian-bagian yang tersusun darinya keseluruhan makna.

Dan kapan pun banyak pemikiran yang salah dengan sebab apapun dari kekurangan akal atau kecerdasan atau akhlak, maka itu adalah yang paling buruk yang akan engkau temukan dalam pekerjaan para ateis ini ketika mereka merusak iman dan mereka mengira bahwa mereka membenarkannya, dan iman tidak lain adalah gambaran makna yang sempurna yang memiliki bagian-bagian dan untuk bagian-bagiannya ada warna-warna dan untuk warna-warnanya ada ukuran-ukuran; maka katakanlah sekarang tentang laki-laki yang tangan lumpuh atau mata sakit atau rasa rusak engkau ingin ia melukis gambar wanita cantik dan terjadi dari sebagian cacatnya bahwa ia laki-laki logika dan penjelasan dan kreasi dan penemuan yang ia klaim, kemudian tidak terjadi logikanya yang sesuai dengan selera dan pikirannya dan seninya kecuali pada perumpamaan ini.

Sesungguhnya alis hitam, dan hitam berlawanan dengan putih.

Dan lawan menampakkan baiknya lawan, maka mata dalam gambar harus berwarna putih… Dan pipi merah! Dan merah adalah warna api dan untuk api ada asap yang menghiasinya dari tepinya, maka kedua sisi wanita harus berwarna dalam gambar hitam dan ia berjalan dalam logika ini kemudian ia mengeluarkan untukmu gambar cantik maka tiba-tiba ia adalah gambar wanita buta berjenggot, tidak ia keluarkan dari alam dan tidak dari seni tetapi dari logika dan perkiraan.

Kemudian dari logikanya sendiri khususnya, kemudian dari apa yang terjadi dengan sangkaannya bahwa ia adalah kreasi dan penemuan, dan semua mereka yang engkau kenal tidak ada dari mereka atas umat kecuali pemilik satu musibah, kecuali Doktor Thaha, karena ia pemilik dua musibah, karena ia sendirian yang mengambil sastra Arab tanpa golongan ini dan ingin mendatangi Islam dari tiang-tiangnya, adapun yang lainnya maka ahli politik dan filsafat; tidak maju yang paling berani dari mereka pada penelitian sastra lalu memutar-balikannya pada ateisme kecuali menjadikannya pada segi pandangan sosial atau politik.

Dengan itu ia menyerang sastra dan kalah dari para sastrawan.

Karena jika engkau berdebat dengannya ia melilit engkau bahwa ia melihat kepada selain apa yang engkau lihat, dan pergi dalam selain madhabmu, dan ia mulai menyerahkan kepadamu kerikil dan engkau menimbangnya dengan debu; maka semuanya dalam sastra menipu dirinya sendiri; dan karena itu tidak ada yang sibuk dengan mereka seorang pun dari ulama dan sastrawan kami atas apa yang meluas dari cela-cela mereka dan berlipat ganda dari kekeliruan-kekeliruan mereka; kecuali pemilik dua musibah, maka ia meskipun dari sekumpulan mereka tetapi ia sendirian…

Dan dengan ini dia melampaui mereka dan tampak berbeda dari mereka sehingga kami melihat di antara mereka ada yang menggambarkannya sebagai pemimpin para pembaharu. Dan mungkin karena alasan ini, universitas tidak menemukan orang lain selain dia dan tidak menggantikannya dengan siapa pun, jika benar bahwa universitas ini adalah salah satu alat sebagaimana ia adalah salah satu sekolah. Dan kami masih tetap berhati-hati dalam hal ini, tidak menjatuhkan penilaian kecuali setelah pembuktian dan penjelasan yang benar, karena bobot timbangan pendapat ini masih kurang, dan tidak akan terjadi kecenderungan di dalamnya kecuali setelah dimasukkan dalam kedua piringannya karya Profesor Besar direktur universitas. Jika dia tetap diam setelah ini, maka diamnya adalah karyanya dan itu cukup. Diamnya membuat orang lain berbicara, karena dia bukan satu-satunya yang memiliki lidah dan dia tidak menguasai lidah siapa pun. Dan menurut kami dia adalah orang untuk sejarah, maka hendaklah dia berhati-hati terhadap lidah-lidah sejarah.

Kami katakan bahwa Thaha memiliki dua musibah bagi umat, tetapi Allah Yang Mahatinggi menjaga agama-Nya dan melindunginya, maka Dia memudahkan Thaha untuk apa yang diciptakan untuknya, kemudian memudahkannya bagi orang yang menabraknya. Maka dia adalah batu tetapi rapuh dan mudah patah, karena terdiri dari lapisan-lapisan yang terbentuk dari lapisan-lapisan yang hancur, tercipta dari pecahan batu dan remukan seperti kapur. Maka dia mengandung cara kehancurannya sebagai rahmat dari Allah bagi agama ini. Dan itulah sunnatullah yang tidak akan meleset darimu pada musuh-musuh Islam jika engkau meneliti mereka dan membedakan mereka, tidak berubah dan tidak berganti. Seandainya tidak demikian, mereka tidak akan binasa dan agama tetap ada, dan buku-buku mereka tidak akan lenyap sementara Al-Qur’an tetap ada.

Dan engkau melihat pemilik dua musibah ini membawa banyak senjata dari ilmu, sejarah, keberanian, keraguan, dan kebodohan. Tetapi semuanya tumpul, engkau bisa mematahkannya dengan jari-jarimu jika mau. Karena bersamanya, di samping kekuatan kata-kata ada kelemahan pemahaman, di samping kekerasan serangan ada kelemahan kekalahan. Dia cepat menulis tetapi imajinasinya pincang, perdebatannya tepat tetapi sejarahnya buruk. Dan qiyaskan pada itu dari keutamaan-keutamaannya dan penyebab kekuatannya, jika engkau merenungkannya, engkau akan melihatnya tidak pernah datang kecuali saling bertentangan dan saling menjatuhkan, sebagian menggugurkan sebagian yang lain.

Profesor meletakkan bukunya untuk meneliti bahwa puisi jahiliah adalah buatan yang dibebankan kepada pemiliknya. Dia meringkas gagasan ini dan sebab-sebabnya, kemudian berkata di halaman 9: “Tetapi saya tidak akan berhenti pada pembahasan-pembahasan ini, karena saya tidak berhenti padanya antara saya dan diri saya sendiri, bahkan saya telah melampaui-nya dan saya ingin melampaui-nya bersamamu menuju cara penelitian lain yang saya kira lebih kuat petunjuknya dan lebih kuat hujahnya dari semua pembahasan yang telah lalu, yaitu penelitian seni dan bahasa. Maka penelitian ini akan mengakhiri kita bahwa puisi yang dinisbatkan kepada Imru’ al-Qais atau kepada al-A’sya atau kepada penyair-penyair jahiliah lainnya tidak mungkin dari segi bahasa atau seni adalah milik para penyair ini.” Selesai.

Tentu saja “penelitian seni dan bahasa” adalah dasar yang menjadi landasan buku semacam ini. Karena tidak ada makna untuk dugaan, perkiraan, dan perkataanmu: saya lebih yakin dalam hal ini, saya mengingkari ini, dan sangka terbesar adalah demikian. Karena setiap orang awam, kampungan, nabti, dan Zanji mampu mengambil timbangan yang teliti lalu memiringkannya dan menjadikannya timbangan paling dusta dan paling buruk. Dan tidak sulit baginya untuk membenarkan perbuatannya dengan alasan atau dalil meskipun dia tidak memiliki kekuatan untuk itu dan keluasan di dalamnya sehingga layak menjadi profesor. Tetapi yang mengherankan adalah ketika syaikh universitas sampai pada penelitian seni dan bahasa, dia tersesat dan goyah, memudar dan lenyap. Dan kami melihat lautan besar yang disebut seni dan bahasa ini adalah genangan kecil yang dimasuki syaikh dengan air yang dangkal dan tergenang, dan dia keluar mengaku tenggelam, padahal tidak ada yang tenggelam di dalamnya kecuali sampai mata kaki.

Dan pantas bagi orang yang mengatakan seni dan bahasa untuk menunjukkan kepada kami pola setiap penyair, caranya, mazhabnya, tiang puisinya, sebab-sebab penciptaan atasnya dengan kekhususannya, dan wajah-wajah kerajinan dalam kata-katanya. Dan hendaknya dia mengembalikan kepada kami dari ilmunya yang luas zaman pertama itu ketika para perawi berkata: tidak sahih untuk Imru’ al-Qais kecuali demikian, tidak sahih untuk Tharafah dan ‘Ubaid kecuali demikian. Dan bait-bait ini dibuat oleh si fulan atau ditambahi oleh si fulan. Tetapi Profesor setelah dia menggambarkannya adalah Samudra seni dan bahasa dan bahwa dia akan mengakhiri kita pada benua baru yang dinamakan Amerika, memendekkan jalan menuju Amerika ini lalu membawanya dan meletakkannya di tepi yang lain dari genangan…

Ketika dia berkata di halaman 131: “Maka marilah kita bahas dengan sangat ringkas sesuatu dari penelitian tentang puisi dan para penyair pada masa jahiliah, untuk melihat kepada apa kita bisa merasa tenang dari puisi-puisi ini.”

Dan di halaman 152 setelah dia meriwayatkan pembukaan qasidah ‘Ubaidah bin al-Abras: “Seandainya kami tidak lebih suka ringkas dan berhati-hati padanya, niscaya kami riwayatkan untukmu puisi ini dan meletakkan tanganmu pada tempat pembuatannya di dalamnya…”

Kami katakan: maka tentang apa buku ini jika “ringkas sekali, lebih suka ringkas, dan berhati-hati pada ringkas” adalah dasar penelitian seni dan bahasa di dalamnya, padahal buku ini adalah penelitian dan semua selainnya adalah isian dan bantuan. Dan bahwa Imru’ al-Qais tidak terhapus dari sejarah “dengan sangat ringkas”, dan Muhalhil tidak menjadi tokoh legenda “dengan berhati-hati pada ringkas”… Dan apa yang cukup untukmu – celakalah engkau – bahwa engkau mengumpulkan untuk perang suatu umat pabrik-pabrik Krupp, meriam-meriamnya, dan penemuannya – peralatan jutaan pejuang jika tidak ada padamu kecuali beberapa meriam dengan sangat ringkas…?

Tidakkah engkau malu wahai Thaha bahwa engkau menjatuhkan universitas sejauh ini; dan bahwa engkau menipu orang-orang sampai batas ini dalam penelitian yang Allah tidak menciptakan ahli untuknya setelah ahlinya pergi?

Adapun masalah bahasa dalam buku Syaikh adalah masalah dialek-dialek. Dan kami telah menggugurkannya dalam sebagian yang telah lewat padamu. Kemudian simpulnya adalah perkataannya di halaman 141:

“Dan mungkin bagi kita untuk memperhatikan sebelum segala sesuatu satu perhatian yang saya tidak tahu bagaimana para pendukung lama lolos darinya, yaitu bahwa Imru’ al-Qais – jika benar riwayat para perawi – maksudnya jika benar dia diciptakan – adalah orang Yaman dan puisinya berbahasa Quraisy… Dan bahasa Yaman sangat berbeda dengan bahasa Hijaz, maka bagaimana penyair Yaman menggubah puisinya dalam bahasa penduduk Hijaz?” Sampai dia berkata: “Dan yang lebih mengherankan dari ini bahwa engkau tidak menemukan sama sekali dalam puisi Imru’ al-Qais lafal atau gaya atau cara berbicara yang menunjukkan bahwa dia orang Yaman. Maka betapa pun Imru’ al-Qais telah terpengaruh oleh bahasa Adnan, bagaimana kita bisa membayangkan bahwa bahasanya telah terhapus dari dirinya secara total dan tidak muncul jejak untuknya dalam puisinya. Kami kira bahwa para pendukung lama akan menemukan banyak kesulitan dan kesusahan untuk memecahkan masalah ini.” Selesai.

Maka kami bersama Profesor dalam dua hal: bahwa dia mengingkari keberadaan Imru’ al-Qais dengan pengingkaran tegas. Dan hujah kami atasnya adalah penyebutan penyair ini dalam hadits-hadits yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan dalam apa yang diriwayatkan dari perkataan para sahabat seperti Umar dan Ali radliyallahu ‘anhuma dan perkataan para penyair Umayyah seperti al-Farazdaq dan Jarir.

Dan yang lain: bahwa dia mengakui keberadaannya dengan pengakuan tegas dan tidak berkata “kami menguatkan bahwa dia ada.” Dan tetap ada masalah bahasa yang dia kemukakan dan dia bantah dengannya dan dia bayangkan di dalamnya terhadap para pendukung lama apa yang dia bayangkan, dan dia jadikan sebagai dalil terkuat dalam bukunya. Dan kami telah memperingatkan lebih dari sekali dalam perdebatan kami dengannya bahwa kami “akan menemukan kesulitan dan kesusahan” dalam lolos dari masalah-masalahnya. Demi Allah, kami tidak menemukan dalam satu pun kesulitan atau kesusahan, tetapi dia melemparkan kepada orang-orang apa yang ada padanya, dan itu dari urusannya. Seandainya dia berhati-hati dan meminta bantuan orang lain, akan lebih baik baginya dan lebih lurus. Tetapi Allah fitnah dia dengan dirinya sendiri dan membuatnya melihat cacat-cacat kecuali cacatnya sendiri.

Dan sebelum kami memecahkan masalah untuknya, kami katakan: sesungguhnya kami melihat dalam beberapa buku perdebatan bahwa seorang yang cerdas berkata kepada sekelompok orang: sesungguhnya atap rumah ada di atas Zaid kemudian menjadi di bawah Zaid. Maka berkata salah seorang dari mereka: tentu rumah roboh dan atap jatuh, maka tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah! Dan berkata yang lain: tidak heran orang itu mati dengan kematian terburuk, maka sesungguhnya kami milik Allah! Dan berkata yang ketiga: dan orang-orang tidak berjalan dalam pemakamannya kecuali dengan berduka, maka semoga Allah merahmatinya! Dan mereka berbicara tentang itu, sebagian menyampaikan kepada sebagian, dan tidak ada kembalinya bagi yang mati, maka masalah tidak ada solusinya!

Biarkanlah kami wahai orang-orang dari kematian dan keruntuhan dan apa yang ada dalam diri kalian dari makna-makna. Dan lihatlah pada kata itu dan jangan melampaui-nya, telitilah pemahaman sebelum engkau teliti penjelasan. Karena atap ada di atas Zaid ketika Zaid duduk di kamar, kemudian menjadi di bawahnya ketika Zaid naik ke atap. Dan inilah solusi masalah yang meruntuhkan rumah dan membunuh orang! Dan dia adalah persis masalah profesor universitas. Maka engkau tidak menemukan kesulitan dalam ini kecuali jika engkau berjalan pada caranya dalam sejarah dan bersandar padanya pada akal dan pendapat tanpa materi, mengabaikan bahwa akal menghasilkan dalam semua ilmu lalu memperbaikinya kecuali dalam sejarah karena dia merusaknya, karena tidak menghasilkan di dalamnya kecuali materi. Dan karena kebutuhannya kepada akal yang menafsirkan darinya bukan kepada akal yang menghasilkan di dalamnya. Dan akal-akal adalah jenis-jenis dengan tabiat-tabiatnya, kekhususan-kekhususannya, dan tingkat-tingkatnya. Maka jika menguasai sejarah, mereka menjadikannya bermacam-macam padahal dia adalah satu hal yang tidak berbeda dan tidak menerima tambahan, karena dia telah terjadi dan berakhir dan diletakkan atasnya stempel kepunahan.

Lihatlah wahai tuan kami dan maulana kami Thaha Husain dalam kitab al-‘Umdah di halaman 59 dari jilid pertama. Engkau akan mendapati mereka memecahkan masalahmu sejak seribu tahun lalu dengan perkataan mereka bahwa Imru’ al-Qais adalah Yaman nasabnya, Nizar tempat tinggal dan tempat tumbuhnya – maksudnya kelahiran dan pembesarannya. Dan jangan salahkan kami dalam penafsiran untukmu. Maka katakanlah engkau sekarang wahai tuan kami dan maulana kami, apakah engkau ingin melahirkan bahasa Yaman dalam darahnya sehingga darahnya menjadi kamus bahasa yang tidak mengalir sel-sel darah merah tetapi kata-kata, derivasi-derivasi, dan gaya-gaya? Dan apakah bahasa Arab, dialek mana pun, kecuali atas tempat tinggal dan tempat tumbuh dengan mendengar dan meniru? Seharusnya jalanmu wahai tuan kami dan maulana kami adalah membuktikan kepada kami terlebih dahulu bahwa Imru’ al-Qais lahir dan tumbuh di Yaman kemudian berpindah-pindah setelah itu di suku-suku Arab. Kemudian baru engkau bisa berkata: maka bagaimana dia lupa bahasanya? Dan apa yang kami lihat dalam perkataan sebagian perawi bahwa puisi adalah Yaman dan berdalih untuk itu pada masa jahiliah dengan Imru’ al-Qais, dan pada masa Islam dengan Hassan bin Tsabit, dan pada generasi maulid dengan Abu Nuwas dan teman-temannya Muslim bin al-Walid, Abu al-Syish, dan Di’bil – dan semuanya dari Yaman. Dan pada generasi setelah mereka dengan dua orang Tha’i: Abu Tammam dan al-Buhturi.

Apakah semua ini yang dinisbatkan kepada Yaman hanya atas bahasa tempat tinggal dan tempat tumbuh?

Itulah semua yang ada dalam buku Thaha tentang masalah bahasa. Dan tersisa bahwa dia menjadikan dari sebab-sebab pembuatan puisi kemudahan lafal-lafalnya. Dan dia melepaskan itu pada semua penyair jahiliah dengan qiyas yang sama. Padahal para perawi ulama menegaskan bahwa al-A’sya banyak tidak jelas dalam lafalnya dan sering merendahkan, melembutkan, dan melemahkan. Dan mereka menjadikannya berhadapan dengan al-Nabighah. Mereka berkata: dan lafal-lafal al-Nabighah dalam tingkat terakhir dari kecakapan dan kebaikan.

Maka jika puisi ini adalah buatan dan kerajinan, maka apa yang mengencangkan al-Nabighah dan melonggarkan al-A’sya? Padahal al-A’sya mendapati Islam dan adalah jahiliah. Dan penduduk Kufah mendahulukannya atas para penyair, maka tidak ada keraguan dalam keberadaannya. Dan dia adalah dari penyair-penyair Rabi’ah seperti Tharafah bin al-‘Abd. Dan sesungguhnya keduanya berbeda dalam lafal-lafal puisi. Maka bagaimana yang satu mengencang dan yang lain melembut?

Mereka berkata: dan adalah al-Asma’i mengklaim bahwa orang Arab tidak meriwayatkan puisi Abu Du’ad dan ‘Adi bin Zaid. Dan dia menjelaskan ini bahwa lafal-lafal mereka bukan Najd, yaitu bukan kuat, kokoh penyusunannya dalam tingkat terakhir dari kekuatan dan kekasaran. Dan sungguh al-Asma’i lebih berhak daripada Thaha Husain dengan apa yang dia tuju seandainya kelembutan lafal menafikan penisbatan puisi kepada jahiliah atau mukhdhram atau menetapkannya untuk maulid atau muhdats, menjadi sebab dari sebab-sebab keraguan.

Dan dengan kelembutan puisi ‘Adi, adalah Mu’awiyah radliyallahu ‘anhu mengutamakannya atas kelompok penyair. Dan dengan kelembutan Abu Du’ad, al-Huthay’ah mengutamakannya, dan dia lebih alim dalam puisi daripada Thaha dan dari kakek-kakeknya. Maka saya tidak kira dalam silsilahnya ada penyair, jika tidak maka di mana jejaknya?

Sesungguhnya kelembutan, kekasaran, kelunakan, dan kekakuan tidak kembali dalam puisi kepada bahasa penyair atau zamannya, tetapi kepada emosi-emosi, makna-makna, dan seleranya. Dan kepada cara yang dia tumbuh atasnya, dan kepada penyair yang dia ikuti. Karena kepenyairan tidak menumbuhkan kepenyairannya seperti tumbuhnya pohon, tetapi dia dengan meriwayatkan puisi orang lain lalu bekerja atasnya. Kemudian muncul padanya perkara-perkara dari dirinya, zamannya, dan hidupnya yang mempengaruhinya dengan kekuatan dan kelemahan. Dan dahulu mereka tidak menganggap penyair kecuali yang meriwayatkan untuk orang lain, karena dia ketika meriwayatkan menjadi mantap.

Dan ditanyakan kepada Ru’bah tentang penyair yang mantap, maka dia berkata: dia adalah perawi.

Berkata Yunus bin Habib: dan sesungguhnya itu karena dia mengumpulkan kepada puisinya yang bagus pengetahuan terhadap puisi orang lain yang bagus. Maka dia tidak membebani dirinya kecuali atas pandangan yang jelas. Dan renungkanlah apa yang mereka katakan tentang hafalan para penyair maulid seperti Abu Nuwas yang tidak berkata puisi hingga meriwayatkan untuk tujuh puluh wanita tanpa laki-laki. Dan Abu Tammam yang menghafal apa yang tidak terhitung. Dan al-Mutanabbi yang tidak terlewat sesuatu darinya. Dan al-Ma’arri yang tidak gugur dari hafalannya satu kata, dan seterusnya.

Dan seandainya Thaha adalah penyair, niscaya dia tahu bagaimana gaya-gaya para penyair berbeda, dengan apa berbeda, dan mengapa berbeda? Tetapi dia jauh dari ini dan ini jauh darinya sebagaimana engkau tahu. Dan jika ditetapkan bahwa penyair menurut mereka adalah perawi – dan itu tetap, tidak ada keraguan di dalamnya, dan nash-nash atasnya banyak, dan nama-nama para penyair dan perawi-perawi mereka diketahui – maka dari itu engkau tahu bagaimana puisi jahiliah sampai kepada para perawi. Karena mereka itulah adalah divan-divan yang mengumpulkan puisi dan menyampaikannya dengan benar dan terhafal, kemudian ditambahi setelahnya. Tetapi kedustaan tambahan tidak menafikan kebenaran asal. Dan perkara dalam tambahan ini kepada ahlinya yang dahulu menjadi ahlinya, bukan kepada Thaha atau sejenisnya. Maka jika kami melihat mereka berkata misalnya: adalah Imru’ al-Qais banyak makna dan tasharruf, tidak sahih untuknya kecuali dua puluhan lebih puisi panjang dan potongan – maka setelah perkataan ini tidak ada kebutuhan pada kami kepada tukang pura-pura dalam puisi, riwaiatnya, dan tahqiqnya seperti profesor universitas yang menafikan atau menetapkan, atas mazhab Descartes atau atas mazhab setan. Karena mazhab di sini adalah dari perkataan para ulama, para hafizh, dan ahli pandangan dalam puisi, kritiknya, dan pembedaannya. Dan tidak ada di bumi hari ini satu orang pun yang berkata bahwa dia dari mereka.

Dan di antara apa yang kami kira seribu tiga ratus tahun tertawa darinya dengan tawa yang mengguncang kubur-kubur para sastrawan adalah perkataan syaikh universitas dalam menentukan tarikh Imru’ al-Qais di halaman 150:

“Dan yang kami lihat kami – perhatikanlah kami – bahwa dia hidup sebelum abad keenam, dan barangkali dia hidup sebelum abad kelima juga…” Maka barangkali yang dikatakan di dalamnya untuk mengurangi adalah dalam perhitungan tarikh Husaini seratus tahun. Karena yang dikatakan di dalamnya bahwa dia hidup sebelum abad keenam Masehi tidak mungkin mendahului tahun 500. Maka jika dikatakan di dalamnya: barangkali dia hidup sebelum abad kelima juga. Maka juga ini tidak mungkin mendahului tahun 405. Dan saya bukan dari ahli matematika sehingga saya menemukan dari akal saya kekuatan untuk mengeluarkan kekacauan ini. Dan jika Pythagoras datang kepada kami lalu mengeluarkannya, maka masih ada bahwa boleh jadi Imru’ al-Qais telah hidup sebelum abad keempat dan barangkali sebelum yang ketiga juga…

Sesungguhnya setengah dusta dari pendusta mirip menjadi darinya dengan kedudukan setengah jujur.

Maka segala puji bagi Allah bahwa profesor universitas telah menyisakan untuk kami sesuatu yang kami pahami dari sesuatu yang dahulu namanya Imru’ al-Qais!

۞۞۞۞۞

Amal Mereka Seperti Abu yang Diterbangkan Angin Kencang

Saya membaca di “Al-Ahram” suatu percakapan dengan salah satu penulisnya, dengan Tuan Direktur Universitas yang menjelaskan apa yang telah dilakukan di universitasnya selama satu tahun dan mencatat kronologinya. Kami melihat Tuan tersebut menggunakan gaya bahasa yang aneh, yang tidak digunakan dalam cara berbicara dan gaya penulisan yang wajar, kecuali oleh orang yang dalam hatinya ada hal-hal yang bertentangan dengan apa yang ada di lisannya, atau perkataannya didasarkan pada prinsip yang dibuat-buat; dan kami akan membahas percakapannya sebentar lagi.

Setelah selesai membaca, saya kembali ke salinan lama saya dari kitab (Kalilah wa Dimnah) berharap menemukan di dalamnya penjelasan percakapan atau takwil filsafat ini, maka saya mendapatkan apa yang akan saya ceritakan kepadamu dari perumpamaan aneh ini, Dimnah berkata:

Dan kamu wahai Kalilah, masih belum saya lihat keluar dari kebiasaanmu dan tidak meninggalkan kesombongan dan filsafatmu. Di lidahmu selalu ada dua kata: satu mengalir dan yang lain hendak mengalir. Kamu mengira bahwa keistimewaan yang kamu miliki tidak dimiliki oleh siapa pun, seolah-olah Allah mengkhususkannya untukmu, padahal yang dikhususkan hanyalah nabi dan yang dibedakan hanyalah rasul, dan kamu bukan salah satu dari keduanya?

Sesungguhnya harapan dalam urusan tidak dicapai dengan kata-kata yang diperindah tetapi dengan kebenarannya, dan tidak cukup dengan banyaknya cara-cara kebatilan, melainkan kekuatannya terletak pada satu cara saja, karena kebenaran yang satu tidak berganda.

Demi umurku, seandainya sesuatu dari itu bermanfaat bagimu, tentulah itu bermanfaat bagi filosof Amerika itu, Kalilah berkata: dan bagaimana kejadiannya?

Dia berkata: Konon ada seorang wanita filosof di Amerika yang menguasai logika dan mengumpulkan ilmu-ilmu dan menulis puisi dan mengarang buku-buku, dan dia botak dengan kepala yang mengelupas, orang-orang mengetahui dan menyebutkan hal itu tentangnya, maka dia tidak pernah melihat wanita berambut tebal dan lebat kecuali berkata dalam hatinya:

Adapun aku, aku tidak tahu seorang pun dari para ulama dan filosof dan ahli sastra yang bisa mengalahkanku dalam debat dan membuat aku tidak bisa menjawab pertanyaannya, tetapi seandainya seorang wanita seperti ini berdebat denganku, dia akan mengalahkanku dengan kata pertamanya, karena dia pertama kali berbicara tidak akan membicarakan kecuali kebotakan… dan celakalah kamu jika tidak ada yang berbicara tentang keburukanmu kecuali lisan kebaikan!

Dia berkata: Kemudian pada masa itu terjadi kekurangan baru dalam akal para wanita, maka setiap wanita cantik mulai memotong pendek rambutnya menyerupai anak laki-laki dan pemuda, dan itu melanda mereka semua, maka wanita botak filosof itu berkata: Sungguh kesabaran yang berat sudah banyak dan seni hampir mencapai seni, dan rambut yang rontok adalah saudara rambut yang tidak tumbuh.

Dimnah berkata: Kemudian filosof itu ingin berpergian dan melihat bumi hingga sampai ke Mesir untuk melihat peninggalan Firaun yang membanggakan, maka ketika dia menyeberangi laut dan tiba di tanah Muslim, dia melihat orang-orang di mana pun dia singgah dari Marrakesh hingga Mesir mencukur kepala mereka dengan pisau cukur, maka dia berkata: Demi Allah, inilah peradaban yang membuka dunia dan menaklukkan kerajaan-kerajaan, dan tidak mengherankan dari orang-orang yang dibesarkan dengan mencukur kepala mereka dengan pisau cukur bahwa mereka mencukur leher bangsa-bangsa dengan pedang, dan inilah pendapat yang benar, dan sungguh aku sangat beruntung, dan aku tidak akan meninggalkan kesempatan ini hingga aku berbuat ini dan itu, sampai aku membawa pisau-pisau cukur ini ke kepala wanita-wanita Amerika, maka tidak akan ada perbedaan antara aku dan mereka kecuali bahwa mereka mencukur berulang kali sedangkan aku mencukur dengan pisau cukur Ilahi yang tidak ada pengulangan setelahnya!

Kalilah berkata: Celakalah kamu wahai Dimnah! Maka apa yang dilakukan si bodoh ini?

Dimnah berkata: Maha Suci Allah! Aku bilang kepadamu filosof dan kamu bilang bodoh; kemudian dia mempercepat kembali ke negerinya dan membuat pidato yang dia beri judul “Dari Negeri Pisau Cukur” dan dia tidak meninggalkan upaya dari yang seperti dirinya kecuali mencapainya, hingga dia sampai pada akhir kemampuannya, maka dia menyusunnya dengan penyusunan terbaik dan menyeimbangkan bagian-bagiannya dan menyempurnakan fasal-fasalnya dan mengawalinya dengan bahwa di Timur ada mazhab filosofis baru yang diciptakan oleh direktur Universitas Mesir, dan itu adalah sekolah seluruh Afrika, maka apapun pekerjaan bahkan pendirian universitas besar di zaman kita ini zaman universitas-universitas “maka tahun pertamanya adalah percobaan…”

Kesalahannya dalam mencari kebenaran pergi, maka itu pasti akan menyusulnya, maka itu diperhitungkan darinya. Maka itu bukan kesalahan, dan seandainya dunia hancur karenanya, itu tidak akan mencegahnya untuk disebut dalam filsafat Timur sebagai kebenaran percobaan.

Kemudian dia mengumpulkan wanita-wanita Amerika dan menyampaikan pidatonya itu kepada mereka dan menjelaskan perkara pisau cukur, dan dia tidak lupa untuk menghiasinya dan memujinya dan mengajak kepadanya, dan dia berkata di akhir ucapannya: Anggaplah kalian tidak mengetahui akibatnya, maka mazhab filosofis Timur menetapkan “tahun percobaan”. Maka tidak apa-apa bagi kalian untuk kafir pada gunting dan beriman pada pisau cukur! Dan ketahuilah – semoga Allah memperbaiki kalian – bahwa “tahun percobaan” akan menjadi agama baru yang akan meliputi bumi, maka bersegeralah untuk mencoba mencukur dengan pisau cukur agar wanita-wanita Eropa mengambilnya dari kami dan kita mendahului mereka, sebelum kita mengambilnya dari mereka dan mereka mendahului kita.

Dimnah berkata: Maka seorang wanita dari majelis itu bangun menghadapinya, cantik dan rupawan, ketika dia berdiri di depannya, dia mengambil sisir lalu menggunakannya di rambutnya menyisirnya ke kanan dan kiri dan berkata kepadanya: Wahai kamu! Seandainya di kepalamu ada yang seperti ini, tidak akan ada di lidahmu yang itu.

Dan kami membaca percakapan Tuan Direktur Universitas, dan Tuan adalah penulis Mesir pertama yang mengalir dalam penanya ungkapan “kekuasaan rakyat” tetapi dalam percakapan ini dia diam tentang rakyat dan keluhannya dan protesnya seolah-olah tidak ada sesuatu dari ini, atau Tuan melihat agama rakyat di universitas seperti kapas rakyat di bursa, harga menjauh dan mendekat dan naik dan turun dan tidak peduli dengan itu, maka jika ada kemudahan maka kemudahan dan jika ada kebangkrutan maka kebangkrutan, hanya pekerjaannya adalah menyebarkan harga sebagaimana kebetulan membawanya kehancuran dan kemakmuran!

Kami katakan: Biarlah universitas kafir dengan kekafiran yang terang-terangan, dan biarlah dikelola dengan ini jika bukan untuk ini didirikan, maka akan tetap ada masalah kesalahan-kesalahan historis dan sastra yang terjadi di dalamnya oleh profesornya dan menunjukkan kebodohan yang membuat universitas menjadi ejekan di lisan-lisan; maka apa diamnya Tuan Direktur tentang ini padahal ilmu memiliki hak yang mewajibkan kepadanya salah satu dari dua putusan: maka atau dia menyerahkan kesalahan dan mencari perbaikannya dan bekerja dalam hal itu dan mengumumkannya kepada rakyat, atau tidak; maka hendaklah dia tolak dalil dengan dalil dan hendaklah dia balas perkataan dengan perkataan dan hendaklah dia menjauhi universitas dari posisi yang keras kepala dan membangkang.

Sesungguhnya orang yang keras kepala menganggap diam sebagai sesuatu yang menutupi dan menyamarkan kepada manusia, dan dia tidak tahu bahwa ketika bukti berdiri dari salah satu dari dua pihak yang bertikai, tidak ada bagi diam pihak yang lain kecuali satu makna yang tidak berbeda baik dalam hukum maupun dalam adat maupun dalam syariat, yaitu pengakuan dan penyerahan meskipun dia tidak mengakui dan tidak menyerah.

Tuan Direktur berkata: Universitas baru memulai, dan tidak diragukan bahwa tahun pertama untuk mendirikan lembaga ilmiah besar yang dimaksudkan untuk meningkatkan pendidikan tinggi dari satu sisi dan menyebarkan pengetahuan yang membuat ilmu dicintai oleh massa – begini begini – dari sisi lain perlu dianggap “tahun percobaan”…

Kami katakan: Tetapi wahai Tuan Direktur, kami bukan dari campuran bangsa-bangsa yang tersebar, dan kami tidak dalam kebodohan dari kebodohan-kebodohan dunia, dan kami bukan yang pertama kali mendirikan universitas sehingga harta kami dan umur anak-anak kami terbuang dalam tahun percobaan; atau jika seorang pedagang yang lalai mendirikan bank dan berurusan dengan orang-orang di dalamnya kemudian rugi dan harta mereka hancur padanya, apakah alasannya menurutmu dan menurut pengadilan bahwa itu tahun percobaan?

Dan Tuan berkata: “Tidak ada yang meragukan bahwa Parlemen Mesir setelah pada tahun lalu menyambut berita pembentukan universitas dengan tepuk tangan, tidak akan ragu tahun ini – dengan kepastian ini – untuk mengesahkan undang-undang universitas dan bersemangat untuk menetapkan kepribadian hukumnya tanpa mengurangi “tanpa mengurangi!” dari ciri-cirinya sesuatu “bahkan sebagian dari sesuatu…” bahkan mungkin menambah – demi Allah – pada kekuatan kepribadian hukum ini dan memperluas lingkup manifestasinya” selesai.

Dan kami mengira bahwa seluruh percakapan tidak diletakkan kecuali untuk menarik ungkapan ini saja. Maka demi Allah, itu berat pada setiap jiwa, bahkan itu seperti mendikte kepada Parlemen, Direktur memaksakan kepadanya secara paksa, maka tidak ada yang meragukan bahkan tidak bergumam dalam dirinya; tidak ada siapa pun tidak ada siapa pun, dan “tidak” untuk meniadakan jenis, tetapi di mana mazhab Descartes wahai Tuan Direktur; apakah kalian meragukan dalam agama dan ilmu dan mengajarkan keraguan dan membela itu dan menanggung amarah seluruh rakyat karenanya, hingga ketika urusan kalian sampai kepada wakil-wakil rakyat kalian berkata “tidak ada yang meragukan”… Tidakkah kamu tahu wahai Tuan Direktur bahwa kamu meremehkan rakyat ini, dan bahwa dengan perbuatanmu kamu menempatkan universitas dari rakyat pada posisi musuh dari musuhnya.

Maka bagaimana kamu menginginkan Parlemen untuk menjadi yang tunduk padahal dia yang memerintah, dan bagaimana kamu menginginkan dia untuk melupakan rakyat agar mengingat universitas, dan bagaimana kamu maju kepadanya dengan “tahun percobaan” kemudian berkata pengesahan undang-undang dan penetapan kepribadian dan penguatannya dan perluasan lingkup manifestasinya?

Dan kami ingin memahami bagaimana perluasan dalam lingkup manifestasi pelajaran sastra. Apakah Parlemen memerintahkan pembakaran mushaf-mushaf sebagai perluasan manifestasi lingkaran yang berputar bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang dibuat-buat yang dimasuki khurafat Arab sebagaimana kalian ajarkan di universitas?

Ceritakan tentang dirimu wahai Tuan Direktur, tidakkah kamu tahu dan kamu adalah direktur universitas bahwa Thaha Husain mengumumkan kepada para mahasiswa setelah para ulama protes dan opini publik bergejolak dan hampir terjadi fitnah, bahwa pelajaran sastra pada tahun yang akan datang akan tentang “pembahasan Al-Qur’an dari sudut pandang sastra”; apakah orang seperti Thaha yang membahas Al-Qur’an kecuali di universitas yang dibenci seperti ini yang maju ke Parlemen dalam rantai dan belenggunya dari murka Allah dan rakyat dan orang-orang beriman yang saleh kemudian memaksakan kepadanya penetapan kepribadian dan perluasan lingkup manifestasi?

Dan ceritakan tentang dirimu wahai Tuan Direktur, tidakkah kamu mengenal Tuan Casanova yang kalian bawa untuk universitas dan tidakkah kalian tahu bahwa Allah akan membatalkannya (1) karena Dia Maha Pengasih daripada menghimpun kepada anak-anak rakyat yang malang ini Casanova dan muridnya Thaha Husain dalam satu sekolah – tidakkah kamu tahu bahwa dia adalah penulis kitab “Muhammad dan Akhir Dunia” yang menetapkan di dalamnya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menunjuk seorang pun setelahnya karena dia tidak meyakini bahwa dia akan mati… bahkan melihat bahwa Kiamat akan berdiri di zamannya, maka ketika dia meninggal, kematiannya adalah pendustaan terang-terangan terhadap dasar keyakinannya, maka Abu Bakar Ash-Shiddiq terpaksa berbohong dan menambahkan dalam Al-Qur’an dua ayat, salah satunya (Dan Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul) (Surah Ali Imran: 144) dan yang lain (Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati) (Surah Az-Zumar: 30).

Dan dia berkata setelah itu, ini adalah kebohongan halal yang kita berhutang kepadanya dengan Al-Qur’an Abu Bakar…

Tutuplah wahai Tuan sisi yang hidup dari universitas karena kubur telah menutupi sisi yang mati darinya, dan sungguh kalian telah memperbanyak abu maka jika angin menggerakkannya jangan salahkan angin tetapi salahkan diri kalian sendiri!

Dan sekarang kita ambil kitab Thaha karena di dalamnya terjadi kebodohan yang tidak kita lihat yang sepertinya kecuali pada sebagian orientalis, yaitu takwil riwayat Imru’ul Qais dan penetapan Syekh dengan penelitian teknis… bahwa kisah ini adalah dusta; dan sungguh kami lihat dalam sejarah sastra kisah lain yang ingin Allamah Ibnu Abi Al-Hadid penyusun syarah Nahjul Balaghah mengatakan bahwa itu dibuat-buat dan meneliti dalam hal itu dengan cara-cara teknis.

Maka kami ingin memaparkan kepadamu kedua penelitian itu agar kamu membandingkan antara ini dan itu dan agar universitas tahu di posisi kebodohan mana pelajarannya berada.

Mereka berkata: Sesungguhnya ketika terjadi fitnah khilafah, Ali menolak untuk berbaiat kepada Abu Bakar, maka Ash-Shiddiq mengutus Abu Ubaidah dan mengirimnya kepada Ali dengan pesan untuk disampaikan dan Umar membawakan perkataan lain, maka dia menyampaikan itu kepada Ali, maka dia membalas salam dengan perkataan yang dia bermaaf-maafan di dalamnya, kemudian dia pergi dan berbaiat; dan Abu Bakar meninggalkannya bersama Umar maka mereka saling berbicara dengan perkataan yang fasih, dan kisahnya panjang di dalamnya bertiga ini saling berbicara: Abu Bakar dan Umar dan Ali, perkataan dari tingkat yang tinggi, maka Ibnu Abi Al-Hadid meriwayatkannya kemudian berkata: “Kataku: Yang sangat kuat dugaanku bahwa surat-menyurat dan percakapan-percakapan ini dan semua perkataan ini adalah buatan yang dibuat-buat, dan bahwa itu dari perkataan Abu Hayyan At-Tauhidi, karena itu lebih mirip dengan perkataannya dan mazhabnya dalam pidato dan retorika, dan kami telah menghafal perkataan Umar dan surat-suratnya dan perkataan Abu Bakar dan pidato-pidatonya.

Maka kami tidak menemukan keduanya pergi dengan cara ini dan tidak menempuh jalan ini dalam perkataan mereka, dan ini perkataan yang padanya ada jejak pembuatan yang tidak tersembunyi; dan di mana Abu Bakar dan Umar dari badi’ dan seni orang-orang modern?

“Dan barangsiapa yang merenungkan perkataan Abu Hayyan akan tahu bahwa perkataan ini keluar dari tambang itu dan yang menunjukkan itu bahwa dia menyandarkannya kepada Qadhi Abu Hamid Al-Marwarudi, dan ini kebiasaannya dalam kitab Al-Bashair: dia menyandarkan kepada Abu Hamid setiap apa yang dia ingin katakan dia sendiri jika dia tidak suka dinisbatkan kepadanya.

Dan yang memperjelas bagimu bahwa itu dibuat-buat, bahwa para pembicara dengan perbedaan pendapat mereka dari Mu’tazilah dan Syi’ah dan Asy’ariyah dan ahlul hadits dan setiap orang yang menyusun dalam ilmu kalam dan Imamiyah, tidak ada seorang pun dari mereka menyebutkan satu kata pun dari hikayat ini, dan sungguh Ar-Radhi rahimahullah mengambil dari perkataan Amirul Mukminin radhiyallahu ‘anhu lafazh yang ganjil dan kata yang menyendiri yang keluar darinya dalam rangka kesakitan dan kezaliman lalu dia berdalil dengannya dan mengikatnya, seperti ucapannya… dan ucapannya… dan ucapannya… dan adalah Ar-Radhi jika mendapatkan kata dari ini maka seolah-olah dia mendapatkan kerajaan dunia dan dia memasukkannya ke dalam kitab-kitabnya dan karya-karyanya, maka di mana Ar-Radhi dari hadits ini, dan mengapa dia tidak menyebut dalam kitab Asy-Syafi fi Al-Imamiyah perkataan Amirul Mukminin radhiyallahu ‘anhu ini?

Dan demikian juga yang datang dari Imamiyah, seperti Ibnu An-Nu’man dan Bani Naubakht dan Bani Buwaih dan yang lain.

Dan demikian pula dari orang-orang yang datang sesudahnya dari kalangan teolog Syiah dan ahli riwayat serta hadits dari mereka hingga waktu kita ini – pertengahan abad ketujuh Hijriyah -; mengapa tidak disebutkan oleh Qadhi al-Qudhah dalam kitab al-Mughni padahal kitab itu memuat apa yang terjadi di antara mereka hingga mungkin dapat disusun darinya sebuah buku sejarah yang besar tentang kisah-kisah Saqifah; dan mengapa tidak disebutkan oleh para guru dan sahabat kita yang ada sebelum Qadhi al-Qudhah serta orang-orang yang datang sesudahnya dari kalangan teolog dan tokoh-tokoh kita; demikian pula perkataan tentang teolog Asyariyah dan ahli hadits, seperti Ibnu al-Baqillani dan lainnya, dan Ibnu al-Baqillani sangat keras terhadap Syiah dan sangat fanatik terhadap Amirul Mukminin semoga Allah meridhainya, maka seandainya ia mendapatkan satu kalimat pun dari perkataan Abu Bakar dan Umar dalam hadits ini niscaya ia akan memenuhi kitab-kitab dan karangan-karangan dengannya dan menjadikannya sebagai dendangan dan kebiasaannya.

“Dan perkara dalam apa yang kami sebutkan tentang pemalsuan kisah ini adalah jelas bagi orang yang memiliki sedikit saja rasa dari ilmu bayan dan pengetahuan tentang perkataan para lelaki, dan bagi orang yang memiliki sedikit saja pengetahuan tentang ilmu sirah dan sedikit keakraban dengan sejarah” selesai.

Maka perhatikanlah bagaimana penelitian orang yang mendalami dan menguasai materi yang ia bicarakan, sehingga tidak terlewatkan baginya sebuah kitab pun dari kitab-kitab dan tidak pula perkataan seorang ulama dari para ulama, sehingga ia tidak memutuskan kecuali berdasarkan ilmu dan tidak meriwayatkan kecuali dari yang memuaskan, kemudian bandingkanlah ini dengan penelitian profesor universitas dan kerapuhannya, ia berkata di halaman 134:

Dan di sini baik kita memperhatikan bahwa kebanyakan dari dongeng-dongeng dan hadits-hadits ini tidak tersebar di kalangan manusia kecuali pada zaman yang terlambat, – dan pada zaman perawi – penulis dan tukang kisah, maka sangat mungkin ia muncul pada zaman ini dan tidak diwarisi dari zaman Jahiliyah; dan sangat mungkin bahwa yang menciptakan kisah ini dan menyebarkannya tidak lain adalah tempat yang ditempati oleh suku Kindah dalam kehidupan Islam hingga akhir abad pertama Hijriyah.

“Maka kita mengetahui bahwa sebuah delegasi dari Kindah datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan dipimpin oleh al-Asyats bin Qais… dan bahwa al-Asyats – setelah murtad – bertaubat dan kembali dan bermenantu kepada Abu Bakar lalu menikahi saudara perempuannya Ummu Farwah… dan menyaksikan peperangan-peperangan kaum muslimin dalam perang melawan Persia, dan menjabat sebagai pegawai untuk Utsman, dan mendukung Ali melawan Muawiyah, dan memaksa Ali untuk menerima tahkim di perang Shiffin.

“Dan kita mengetahui bahwa anaknya Muhammad bin al-Asyats adalah pemimpin dari para pemimpin Kufah, hanya kepadanyalah Ziyad mengandalkan ketika ia kesulitan menangkap Hujr bin Adi al-Kindi. Dan kita mengetahui bahwa kisah Hujr bin Adi ini dan pembunuhan Muawiyah terhadapnya bersama sejumlah sahabatnya telah meninggalkan di hati kaum muslimin pada umumnya dan orang Yaman pada khususnya pengaruh yang kuat dan mendalam yang menjadikan orang ini dalam gambaran syahid; kemudian kita mengetahui bahwa cucu al-Asyats bin Qais yaitu Abdul Rahman bin Muhammad telah memberontak terhadap al-Hajjaj dan melepaskan bai’at dari Abdul Malik… kemudian kalah lalu mengungsi kepada raja Turki kemudian mengulangi lagi serangan berpindah-pindah di kota-kota Persia. Kemudian putus asa lalu kembali kepada raja Turki, kemudian raja ini mengkhianatinya lalu menyerahkannya kepada pegawai al-Hajjaj, kemudian ia bunuh diri dalam perjalanannya ke Irak… Apakah engkau mengira bahwa keluarga seperti keluarga Kindah ini yang menempati kedudukan seperti ini dalam kehidupan Islam tidak membuat kisah-kisah dan tidak menyewa tukang-tukang kisah untuk menyebarkan propaganda baginya dan menyiarkan tentangnya semua yang dapat mengangkat kehormatannya dan menjauhkan suaranya?

Tentu saja, dan para perawi sendiri menceritakan kepada kita bahwa Abdul Rahman bin al-Asyats mengangkat tukang-tukang kisah dan memberi mereka upah… dan ia memiliki tukang kisah yang disebut Amr bin Zar.

Dan kisah Imru’ul Qais secara khusus menyerupai dari banyak sisi kehidupan Abdul Rahman bin al-Asyats, maka ia menggambarkan kepada kita Imru’ul Qais menuntut balas atas ayahnya, dan apakah Abdul Rahman memberontak menurut orang-orang yang memahami sejarah kecuali sebagai pembalas dendam untuk Hujr bin Adi, dan ia menggambarkan kepada kita Imru’ul Qais menginginkan kerajaan, dan Abdul Rahman bin al-Asyats memandang bahwa ia tidak kurang dari Bani Umayyah dalam kelayakan untuk kerajaan yang ia tuntut, dan ia menggambarkan kepada kita Imru’ul Qais berpindah-pindah di kabilah-kabilah Arab, dan Abdul Rahman berpindah-pindah di kota-kota Persia dan Irak, dan ia menggambarkan Imru’ul Qais mengungsi kepada Kaisar meminta bantuan darinya, dan Abdul Rahman telah mengungsi kepada raja Turki meminta bantuan darinya, dan ia menggambarkan kepada kita kabar Imru’ul Qais dan ia telah dikhianati oleh Kaisar setelah seorang dari Asad mengadukan fitnah kepadanya di istana, dan raja Turki telah mengkhianati Abdul Rahman setelah utusan-utusan al-Hajjaj mengadukan fitnah kepadanya, dan ia menggambarkan kepada kita setelah ini dan itu Imru’ul Qais dan ia telah meninggal dalam perjalanannya kembali dari negeri Romawi. Dan Abdul Rahman meninggal dalam perjalanannya kembali dari negeri Turki.

Berkata Syaikh al-Allamah ath-Thahawi al-Husaini…

“Bukankah mudah bahwa kita mengandaikan bahkan kita menguatkan bahwa kehidupan Imru’ul Qais yang telah diceritakan oleh para perawi tidak lain adalah warna dari perlambangan untuk kehidupan Abdul Rahman yang diciptakan oleh tukang-tukang kisah untuk memuaskan hawa nafsu kaum-kaum Yaman di Irak, dan mereka meminjam untuknya nama raja yang sesat ini untuk menghindari pegawai-pegawai Bani Umayyah dari satu sisi, dan memanfaatkan sejumlah kecil kabar yang dikenal tentang raja yang sesat ini dari sisi lain?” selesai perkataannya dengan teksnya.

Dan semua yang telah melewatimu dari sejarah maka itu dari sejarah ath-Thabari, tidak ada di dalamnya dari Thaha kecuali pengubahan atau pengacauan; maka di mana engkau dapat berdiri dari yang seperti itu atas penelitian atau pendalaman, dan sesungguhnya Syaikh telah jahil bahwa sejarah seluruhnya adalah peristiwa-peristiwa yang mirip? Karena ia muncul pada asalnya dari tabiat-tabiat yang berdekatan yang terbatas dalam dampak-dampaknya sehingga miriplah peristiwa-peristiwa ini sebagaimana manusia saling mirip.

Dan kami akan memperlihatkan kepadamu apa yang ada dalam perkataan Syaikh dari kebohongan dan kekacauan, maka al-Asyats bin Qais tidak memaksa Ali untuk menerima tahkim meskipun ia telah berbicara tentang hal itu, yang memaksanya hanyalah para qurra yang bersama dia ketika mereka tertipu dengan pengangkatan mushaf-mushaf dari pasukan Muawiyah.

Dan Ziyad bin Abi Sufyan tidak mengandalkan Muhammad bin al-Asyats dalam menangkap Hujr bin Adi, bahkan ia berkata kepada Muhammad: Demi Allah, sungguh engkau harus mendatangkan kepadaku Hujr atau aku tidak akan meninggalkan bagimu sebuah pohon kurma pun kecuali aku tebang dan tidak sebuah rumah pun kecuali aku robohkan, kemudian engkau tidak akan selamat dariku hingga aku potong-potong engkau menjadi berkeping-keping, kemudian ia memberinya tempo tiga hari dan mengirimnya ke penjara, lalu keluarlah Muhammad dengan wajah pucat berjalan dengan goyangan yang keras. Apakah seperti ini dikatakan padanya “hanya kepadanyalah Ziyad mengandalkan” ataukah ini adalah kebiasaan orang Arab dalam menangkap pemimpin dengan pemimpin dan mendapatkan manfaat dari seseorang dengan orang lain, dan membangkitkan kebanggaan dan kemuliaan di jiwa orang yang lepas darinya dengan melarikan diri agar tidak dizalimi pada dirinya orang lain sehingga ketika ia mengetahui siapa yang ditangkap karena dirinya maka ia menyerahkan dirinya?

Dan yang menggelikan bahwa Syaikh mengatakan bahwa Ziyad mengandalkan Muhammad bin al-Asyats dalam menangkap Hujr bin Adi, kemudian ia berkata setelah itu: “Apakah Abdul Rahman bin Muhammad memberontak menurut orang-orang yang memahami sejarah kecuali sebagai pembalas dendam untuk Hujr?” Bukankah lebih dekat bahwa ia membalas dendam untuk penghinaan ayahnya?

Kemudian ia berkata bahwa pembunuhan Hujr menjadikannya dalam gambaran syahid; maka siapakah syahid kalau bukan seperti Hujr; tetapi Syaikh memahami itu dari perkataan ath-Thabari: bahwa Hujr berkata kepada orang-orang dari keluarganya yang hadir: Jangan lepaskan dariku besi dan jangan cuci dariku darah karena sesungguhnya aku akan bertemu Muawiyah besok di jalan yang benar! Kemudian ia didatangkan lalu lehernya dipancung. Berkata Hisyam: adalah Muhammad bin Sirin jika ditanya tentang apakah syahid dimandikan, ia menceritakan kepada mereka hadits Hujr; maka engkau melihat bahwa mereka bertanya kepada Ibnu Sirin apakah syahid dimandikan sebagaimana mayit dimandikan lalu ia menceritakan kepada mereka hadits Hujr, berarti bahwa ia tidak dimandikan tetapi dikuburkan dengan pakaiannya; tetapi Syaikh memahami bahwa pertanyaan dan jawabannya adalah penggambaran Hujr di kalangan kaum muslimin dalam gambaran syahid…

Kemudian ia berkata bahwa keluarga yang keadaannya seperti ini mengangkat tukang-tukang kisah untuk menyebarkan propaganda baginya. Maka jika demikian, bagaimana al-Hajjaj merasa aman dengan Abdul Rahman bin al-Asyats lalu mengirimnya sebagai panglima atas empat puluh ribu untuk memerangi Turki? Dan bagaimana mungkin ini terjadi dari seperti al-Hajjaj jika tukang-tukang kisah keluarga ini menyebarkan propaganda baginya? Tidakkah perbuatan tiran al-Hajjaj itu menunjukkan bahwa tukang-tukang kisah itu belum tercipta, karena mereka tidak tercipta kecuali pada tahun kita ini di kepala syaikh kita ini?

Berkata al-Allamah ath-Thahawi: “Dan para perawi sendiri menceritakan kepada kita bahwa Abdul Rahman mengangkat tukang-tukang kisah, dan ia memiliki tukang kisah bernama Amr bin Zar”.

Maka tanyakanlah kepadanya dari mana ia mendapatkan ini dan siapa yang menceritakan hal ini kepadanya dari para perawi; sesungguhnya ia melihat dalam ath-Thabari ungkapan ini:

Berkata Abu Mikhnaf: menceritakan kepadaku Amr bin Zar al-Qashshash: bahwa ayahnya bersama dia di sana (di negeri Turki) dan bahwa Ibnu Muhammad – Abdul Rahman – pernah memukulnya dan memenjarakannya karena kedekatannya kepada saudaranya al-Qasim, maka ketika terjadi darinya perkara yang terjadi dari penentangan – yaitu pemberontakan terhadap al-Hajjaj dan melepaskan bai’at dari Abdul Malik – ia memanggilnya dan memberinya pakaian dan memberinya. Maka ia datang bersama orang-orang yang datang; dan ia adalah tukang kisah dan orator! selesai.

Maka ungkapan itu tegas bahwa Amr ini adalah tukang kisah, dan bahwa ayahnya adalah tukang kisah dan orator, dan bahwa keduanya berada di negeri Turki berperang sebagaimana para qurra dari dua kota Basrah dan Kufah berperang karena ini adalah jihad di jalan Allah, hingga sesungguhnya pasukan Abdul Rahman yang paling kuat adalah pasukan yang seluruh tentaranya dari para qurra, dan bahwa Abdul Rahman pernah memukul Zar dan memenjarakannya karena kedekatannya kepada saudaranya al-Qasim, maka ketika ia membutuhkan untuk berperang ia memanggilnya lalu memberinya kendaraan, berarti menjadikannya penunggang kuda, dan menjadikannya dari para penunggang kudanya bukan dari tukang-tukang kisahnya, maka dari mana diambil bahwa Amr bin Zar atau Zar ayah Amr adalah tukang kisah bagi Ibnu al-Asyats yang ia angkat dan beri upah untuk membuat baginya dan bagi keluarganya kabar-kabar seperti kisah Imru’ul Qais, dan khususnya jika kita mengetahui bahwa sang ayah dari keduanya dipukul dan dipenjara…. Dan tidak berakhir keheranan kita dari kekacauan dalam perlambangan dan perbandingan antara sirah Ibnu al-Asyats dan sirah Imru’ul Qais, maka Ibnu al-Asyats bukan penyair, dan bukan anak raja, dan tidak dibunuh ayahnya lalu ia keluar mencari balas dendam seperti Imru’ul Qais; dan Ibnu al-Asyats tidak ada dalam sirahnya sebagai seorang gelandangan, dan bukan pezina, dan bukan orang yang berbicara keji seperti temannya, maka jika tukang-tukang kisah membandingkannya dengan seseorang maka orang ini tidak akan menjadi Imru’ul Qais dalam kebatilan dan keterputusannya untuk gelandangan Arab dan serigala-serigalanya dan dalam khamr dan wanita dan kekejian dan semacamnya.

Dan Ibnu al-Asyats jika ia mencari kerajaan, maka tidaklah Imru’ul Qais mencari kecuali balas dendam ayahnya, dan untuk itu ia berkata: darah ayahku membebani diriku, dan ia tidak berkata: kerajaan ayahku membebani diriku.

Dan Ibnu al-Asyats tidak mengungsi kepada raja Turki untuk meminta bantuan, tetapi dalam keadaan kalah, karena ia telah berdamai dengannya agar ia tidak mengganggu dirinya kemudian ia akan luang untuk melawan al-Hajjaj, maka jika ia menang ia akan membebaskan raja Turki dari upeti selama ia masih hidup, dan jika ia kalah lalu menginginkannya maka raja wajib memberi perlindungan kepadanya, dan raja telah menepati jaminan dan janjinya.

Dan Ibnu al-Asyats tidak diadu fitnah oleh utusan-utusan al-Hajjaj di sisi raja Turki, dan hanya mereka mengancamnya agar menyerahkannya lalu ia menyerahkannya dalam keadaan terhina, dan mensyaratkan kepada al-Hajjaj syarat-syarat yang ia terima darinya, dan dalam sebagian riwayat bahwa Ibnu al-Asyats meninggal karena TBC lalu raja datang memotong kepalanya dan mengirimkannya kepada al-Hajjaj.

Dan Ibnu al-Asyats tidak berpindah-pindah di kota-kota Persia dan Irak untuk meminta pertolongan dan mengumpulkan pasukan sebagaimana yang dilakukan Imru’ul Qais di kabilah-kabilah Arab, tetapi ia adalah pejuang yang berangkat dengan pasukan dan singgah dengan pasukan, dan Imru’ul Qais adalah sebab kehancurannya bahwa ia memfitnah putri Kaisar dengan ketampanan dan rayuannya atau lebih tepatnya dengan penampilannya yang gugup, adapun Abdul Rahman maka sebab kehancurannya adalah salah satu dari dua: entah TBC, atau keinginan raja Turki agar ia mendapatkan perhatian dari al-Hajjaj.

Dan jika benar riwayat tentang kematian karena penyakit tuberkulosis – dan buktinya kuat – maka orang itu tidak mati dalam perjalanan pulang ke negerinya dan tidak bunuh diri. Dan jika benar bahwa ia mati dalam perjalanannya, maka mereka mengatakan bahwa ia melompat dari atas istana. Dan di mana persamaan ini dengan kematian Imru’ul Qais dalam pakaian beracun yang mencerai-beraikan dagingnya? Dan jika para pencerita kisah Bani Al-Asy’ats ingin berdusta dan menambahkan kisah Imru’ul Qais dalam kebanggaan suku Kindah, maka bukan kebanggaan bahwa mereka menjadikannya penyair yang diusir ayahnya, kemudian digambarkan sebagai gelandangan, pezina, dan keji, kemudian mereka menjadikannya lemah terlantar di antara suku-suku tidak dapat membalas dendam ayahnya, kemudian mereka memaksanya pergi ke Kaisar sehingga di sana ia menjadi keji dan terbunuh karena kekejihannya. Dan tidak ada cacian pada mereka yang lebih buruk dari ini dan semacamnya, dan ia sebagaimana kau lihat sangat lemah, tidak sesuai dengan keinginan bangsa Arab manapun dan tidak pula adat istiadatnya.

Dan bagaimana para pencerita takut kepada penguasa Bani Umayyah sehingga ketakutan ini memaksa mereka untuk menyebut Ibnu Al-Asy’ats dengan julukan Imru’ul Qais, dan mereka merekayasa rekayasa yang jauh ini dan mengarang untuknya kisah yang memalukan ini, padahal mereka melihat para sejarawan dan penulis berita menyebutkan berita Ibnu Al-Asy’ats dan mencatat peperangannya dan menceritakannya serta menyebutkan sanad-sanadnya? Dan apakah negara Bani Umayyah dalam kelemahan sedemikian rupa sehingga takut kepada Ibnu Al-Asy’ats yang sudah mati, padahal negara itu telah mengalahkannya saat masih hidup dan memberontak dengan seratus ribu pejuang?

Dan seandainya para pencerita takut kepada penguasa Bani Umayyah, niscaya mereka takut pada Al-Husain bin Ali, atau pada Abdullah bin Az-Zubair, padahal keduanya menuntut kekhalifahan dengan haknya. Dan seandainya mereka takut kepada mereka, niscaya Al-Sya’bi takut kepada mereka padahal ia adalah pencerita dan perawi hadits, dan ia berperang bersama Ibnu Al-Asy’ats, kemudian setelah itu ia bertemu Al-Hajjaj, kemudian ia masuk menghadap Abdul Malik.

Ia berkata: Maka aku hendak membuat alasan tentang penentanganku bersama Ibnu Al-Asy’ats terhadap Al-Hajjaj, maka sang Raja berkata: Cukup! Kita tidak memerlukan pembicaraan ini dan kau tidak akan melihatnya dari kami dalam perkataan maupun perbuatan sampai kau meninggalkan kami…

Ke mana pun Thaha Husain pergi dalam takwilnya, ia tidak melihat kecuali apa yang meruntuhkan pendapatnya. Tetapi bagaimana mungkin orang sepertinya mengingkari keruntuhan padahal di kepalanya ada pemahaman yang rusak seperti ini!

۞۞۞۞۞

Damnah Berkata…

Beberapa ulama yang mulia dan para penulis menulis kepadaku, mereka menanyakan tentang naskahku dari “Kalilah wa Dimnah” dan meminta kepadaku agar tidak menyembunyikannya dari mereka dan tidak menyendirikannya untuk diriku sendiri, dan agar aku memberikan kepada mereka pada setiap artikel contoh darinya. Dan mereka mengatakan ini adalah yang baru dalam sastra Arab, bukan apa yang mereka hiburkan kepada kami berupa bab-bab terjemahan dan artikel-artikel yang dicuri dan pendapat-pendapat yang dipalsukan, dan bukan apa yang ditulis orang-orang yang menyerupai pedagang pasar dan orang awam dalam bahasa dan ungkapan dan kisah.

Dan seorang sastrawan mulia berkata bahwa ia akan menunjukkan kepada Kementerian Pendidikan tentang naskah ini untuk mengambilnya dariku meskipun dengan menimbangnya dengan emas, karena ia – mengira – tidak boleh kekayaan ini tetap ada pada “Tutankhamun Ar-Rafi’i”. Dan bangsa telah memiliki kekayaan Tutankhamun.

Dan seorang wanita guru menulis kepadaku mengatakan bahwa kisah filsuf wanita Amerika yang botak itu dibacakan di hadapan sekelompok wanita, maka pendapat mereka adalah bahwa sepuluh kisah dengan cara ini bermanfaat dalam menyebarkan bahasa Arab fushah dan membuat orang-orang mencintainya dan mengembalikannya setelah urusan-urusannya terpecah-belah, yang tidak dapat dicapai oleh sepuluh sekolah termasuk universitas.

Dan selanjutnya, sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah dan aku katakan jika demikian, maka itu adalah kebaikan yang asalnya dari keburukan.

Tetapi ya Subhanallah! Mengapa universitas ini seolah-olah dalam rantai dan belenggu yang mengikatnya ke bumi dan melemahkannya dan memotongnya dan memakan kulitnya? Tidakkah ia tahu bahwa pintu kesalahan yang ia masuki berhadapan dengan pintu tobat, dan bahwa jalan yang ia turuni belum terperosokkan sehingga dari mana ia datang dari situ ia kembali, dan apa yang ia potong menuju kekufuran ia potong menuju keimanan? Ya, tetapi mereka mengatakan bahwa Profesor mulia direktur universitas ini membawa dirinya jauh, dan melampaui batas kemampuannya, seolah-olah ia bukan direktur universitas melainkan pemiliknya yang membelanjainya dari kantongnya sendiri, maka ia tidak ditanya tentang apa yang ia lakukan baik kepemilikannya buruk atau baik.

Dan mereka berkata: Apa urusannya dengan Ibrahim dan Ismail dan Ka’bah dan Al-Quran dan Taurat dan sastra dan sejarah? Dan universitas ini jika ingin mengklaim bahwa Piramida Agung dibangun dengan bata, ia mampu melakukan itu dan menjadikannya sejarah meskipun Piramida itu sendiri berdiri dari batu. Kemudian tidak ada seorang pun yang boleh memaksanya untuk berbicara jika ia ingin diam, karena ia merdeka dan karena ia meneliti dengan akal orang-orangnya dan sesuai kadar akal-akal ini pada orang-orangnya.

Maka jika ada tanggung jawab dari tanggung-tanggung jawab, maka itu ada pada kaum yang menipu bangsa dalam memilih akal-akal ini dan menyangka bahwa mengukir kata universitas pada lembaran tembaga kemudian meletakkan lembaran itu pada pintu rumah menjadikan rumah itu universitas. Kemudian mereka menempuh jalan ini dalam hal para profesor, maka setelah itu segala sesuatu kembali kepada tabiatnya karena ia tidak berdusta dan tidak menipu. Maka terjadilah kekacauan dan kerusakan dan tampak kebodohan dan kesalahan, dan datanglah pelajaran sastra yang merupakan pelajaran kekufuran dan kekacauan dan pemalsuan dan pengingkaran dan kemungkaran.

Dan mereka menamakan Thaha Husain sebagai profesor di universitas dan universitas menampakkannya sebagai editor di As-Siyasah dengan kekasarannya dan kebobrokannya dan kerusakan batinnya, sebagaimana pada masanya ketika ia mencaci negara Sa’ad Pasya Zaghlul setiap hari dengan artikel. Dan qiyaskanlah pada Thaha dari kedua ujungnya ke atas dan ke bawah…

Damnah berkata: Dan universitas ini dalam pendiriannya seperti mimpi: berpindah dari tidur ke terjaga dalam sekejap mata. Maka pemimpi yang mahir melihat… bahwa sebuah lautan telah mengguncang dasarnya, guncangannya melemparkan ke udara mutiara paling berharga di dalamnya, kemudian udara berkumpul dan melemparkan ke tangannya mutiara itu, lalu ia terbangun dan tiba-tiba tangannya terkepal. Maka ia berkata kepada orang-orang di sekelilingnya: Tidakkah kalian melihat, kepalkanlah tangan kalian. Ketika mereka melakukan itu, ia berkata: Sekarang di tangan setiap orang di antara kalian ada mutiara yang harganya seratus ribu. Dan sekarang kalian telah menjadi orang-orang terkemuka dunia dan pemimpin-pemimpin dunia. Dan sesungguhnya negeri yang kalian termasuk penduduknya adalah tengkorak bumi. Sekarang dan sekarang… Dan ia terus menjanjikan mereka dan memberi harapan kepada mereka dan berkata: Sesungguhnya dalam ini ada bagi kalian kekayaan dan kejayaan dan kepemimpinan.

Kemudian pemimpi yang mahir bermimpi… bahwa dalam menggabungkan sekolah ke sekolah ada yang menciptakan universitas. Maka ia berkata: Sesungguhnya dalam ini ada bagi kalian ilmu yang paling tinggi. Dan sekarang ini adalah direktur universitas, dan itu adalah profesor ini, dan itu profesor itu, dan ini dan itu dan itu berkumpul dari mereka orang-orang ini. Maka mereka berkumpul, lalu apa yang terjadi?

Kalilah berkata: Lalu apa yang terjadi?

Damnah berkata: Terjadilah dari mereka seperti rumah yang pembangunnya menyangka bahwa rumah itu melahirkan…

Kalilah berkata: Dan bagaimana itu terjadi?

Damnah berkata: Mereka menyebutkan bahwa di kota ini ada seorang laki-laki mandul, dan padanya ada kegilaan. Maka ia berkata: Sesungguhnya aku tidak diberi rezeki anak dan aku tidak melihat rumah kecuali di dalamnya ada anak-anak. Maka seandainya aku telah membangun rumah, niscaya aku berharap keturunan sebagaimana orang-orang berharap. Dan hal itu menguasai dirinya dan tertanam dalam keyakinannya, dan terbayang baginya dari yang lahir yang batin. Maka ia datang dengan para pekerja dan tukang bangunan dan berkata: Bangunlah di sini dan luaskan dan perbanyak kamar-kamar, karena mereka sepuluh anak laki-laki dan lima anak perempuan. Maka itu lima belas kamar. Kemudian untukku dan nenek ada dua kamar.

Maka kepala tukang bangunan berkata: Dan dari mana anak-anak laki-laki dan perempuan sedangkan engkau adalah kakek mandul? Dan sesungguhnya kebutuhan orang sepertimu adalah tempat tinggal yang hangat dan rumah yang sempit yang meliputi engkau dan istrimu dan menahan tulang-tulang kalian berdua agar tidak berceceran di rumah yang luas!

Pemilik rumah berkata: Ya Subhanallah! Apa yang diperbuat oleh kebodohan dan kurangnya pengetahuan pada pemiliknya… Wahai orang bodoh, tidakkah engkau tahu bahwa setiap kamar yang dibangun untuk seorang anak disiapkan untuknya dan dinamai dengan namanya dan ditahan untuknya – maka kekuasaan mengilhaminya untuk menjadi “tahun percobaan”. Jika ibunya tidak melahirkannya setelah setahun, kekuasaan mengilhaminya untuk melahirkannya sendiri, maka jadilah kakek seperti aku dan tiba-tiba anaknya lima belas dari apa yang dilahirkan rumah…

Kalilah berkata: Maka sungguh engkau telah menyebutkan wahai Damnah bahwa universitas yang kacau ini adalah merdeka. Maka jelaskanlah kepadaku kemerdekaan itu apa?

Apakah para profesornya memakan buku-buku dan meminum tinta dan mengenakan dinding-dinding dan pintu-pintu?

Damnah berkata: Perumpamaannya dalam hal itu seperti khatib zindik bodoh yang mereka sebutkan bahwa ia menyembunyikan kekufuran dan menampakkan Islam. Maka orang-orang mengetahui itu darinya, lalu mereka memberinya kelonggaran karena kasihan kepadanya dan memperhatikannya. Kemudian ia menyebarkan sebagian dari itu dalam sebagian pembicaraannya, maka mereka berkata: Sesungguhnya agama itu toleran dan bagi takwil ada pintu-pintu dan bagi setiap perkataan ada sisi-sisi dan makna-makna. Jika tidak ada dalam perkataan kecuali satu bagian dari keimanan dan di dalamnya ada sembilan puluh sembilan dari kekufuran, maka wajib membawanya kepada yang satu tanpa yang sembilan puluh sembilan.

Kemudian hal itu membuatnya tertipu dari mereka dan ia menganggapnya kelemahan dan ketidakmampuan, lalu ia menyelam dalam kekufurannya dan jiwanya membisikkan kepadanya bahwa ia di atas manusia. Maka ia merdeka dan mereka pengikut, dan ia merdeka dan mereka budak. Dan ia berkata: Sesungguhnya tidak akan menjadi kekufuran pada orang-orang yang jumud seperti ini sebagai kekufuran kecuali di masjid “Jami'”. Dan di atas mimbar dan pada hari Jumat. Maka berbisiklah pembisik mereka dan berbicaralah pembicara mereka, dan aku akan melihat apa yang terjadi dari sikap mereka sendiri.

Karena sesungguhnya aku adalah khatib shalat mereka tetapi aku merdeka, aku berpikir dengan kepalaku bukan dengan kepala mereka. Dan sesungguhnya aku mendapat rizki dari mereka tetapi aku merdeka, aku makan dengan perutku bukan dengan perut mereka… Dan jika mereka mengatakan kufur, maka itu adalah imanku. Dan jika aku mengatakan berimanlah, maka itu adalah kufur mereka. Dan bagi mereka dariku ada perkataan yang mereka dengar, dan perkataan itu bermacam-macam dan beragam jenis. Maka dalam aku mengatakan apa yang terlintas di hatiku, aku salah atau benar, aku ubah atau aku ganti, mereka ridha atau mereka benci.

Dan atas mereka untukku ada upah yang mereka bayar, yang tidak pernah sehari pun dan tidak akan pernah dan tidak akan pernah ada kecuali dari satu jenis: emas murni benar yang berbunyi bunyi jernih, aku tidak menerima di dalamnya yang palsu atau kurang atau diubah atau diganti. Kemudian aku tidak ridha di dalamnya dengan pendapatku tanpa pendapat penguji uang yang pandai lagi ahli. Maka banyak penipuan kepada mereka bukanlah penipuan. Dan aku setelah itu dalam keselamatan, dan aku merdeka, dan aku memilih, dan aku berpikir, maka aku ada…

Dan sesungguhnya penipuan paling ringan dari mereka meskipun dalam satu dirham dan yang kurang dari dirham adalah penipuan yang terbongkar dan pengkhianatan yang berdosa dan pengkhianatan yang membinasakan. Dan tidak akan diampuni mereka oleh hukum dan tidak syariat dan tidak adat. Dan mereka diambil dengannya maka dihukum karenanya.

Damnah berkata: Maka ketika tiba hari Jumat dan orang-orang berkumpul untuk menunaikan yang wajib, datanglah sang khatib…

Aku berkata: Dan sisa halaman ini terpotong dari naskah yang ada padaku, maka barangkali di antara pembaca Al-Kaukab ada yang mempunyai naskah lain, hendaknya ia mencocokkannya dengannya dan hendaknya ia datang kepada kami dengan sisa perumpamaan itu.

Saya membaca dalam Al-Ahram sebuah artikel dari guru dan sahabat kami, lelucon zaman dan ulama besar Lembah Nil, Ahmad Zaki Pasya, yang mengatakan di dalamnya: “Di antara penyebab kesedihan dalam jiwaku dan penyebab penyesalan dalam hatiku adalah bahwa sebagian setengah ulama di Mesir dan Suriah, dan sebagian orang-orang yang menyerupai orang terpelajar dan menyerupai para ulama di kedua negeri saudara ini, telah tertimpa penyakit kebarat-baratan berupa penyakit sok pintar dan keraguan, sehingga mereka tidak melihat keutamaan bagi kakek-kakek mereka dan tidak mengetahui kebaikan mereka serta tidak menyebutkan kebanggaan tentang mereka. Bahkan anak-anak yang baik ini menjadi menundukkan kepala mereka di hadapan setiap orang Barat, dan tersungkur bersujud kepada setiap pendatang dari negeri-negeri Barat atau atas nama Barat, hingga mereka menjadi melihat ilmu, segala ilmu, hanyalah yang datang kepada mereka sekalipun melalui jalan penyelewengan atau melalui cara khurafat dari orientalis si anu atau Monsieur si itu… Jika tidak, maka hujah yang berbicara adalah apa yang keluar dari bibir Senyor Han bin Bayan atau dari Tuan Jerman bin Jerman.” Selesai.

Maka anak-anak yang baik ini dalam kesesuaian antara sebagian mereka dengan yang lain, tidak ada yang memuaskan mereka dari kepuasan kecuali orang-orang Timur melupakan ayah-ayah dan kakek-kakek mereka dan menjadi tercerai-berai; sedangkan mereka tidak tahu bahwa tidak ada seorang pun yang merdeka yang senang jika ia memiliki atas nama ayah atau kakeknya yang orang Timur, nama salah seorang dari orang Barat sekalipun itu nama salah satu negara besar. Dan jika komunitas itu berdiri dari mereka atas dasar-dasar kemanusiaan yang bekerja dalam melemahkan nasionalisme dan menanamkan dalam hati manusia apa yang ditolak oleh keyakinan dan keutamaan – maka ia pantas untuk ditinggalkan dan dibuang serta memperingatkan manusia darinya; maka hendaklah wakil-wakil rakyat melihat di mana mereka meletakkan tangan mereka pada kerusakan ini untuk memperbaikinya, dan hendaklah mereka memulai dengan unsur beracun ini yang disebut dalam kimia pendidikan “Thahawisme”…

Dan setelahnya: mari kita sempurnakan pembicaraan kita tentang apa yang disebutnya oleh profesor universitas sebagai “penelitian teknis”.

Ia berkata di halaman 144: dan marilah kita perhatikan mu’allaqah itu sendiri “mu’allaqah Imru’ul Qais”… Tetapi kita mencatat bahwa orang-orang terdahulu sendiri meragukan sebagian dari qasidah ini, maka mereka meragukan kebenaran dua bait ini:

“Engkau melihat kotoran rusa di pelataran-pelatarannya”

Dan mereka meragukan bait-bait ini:

“Dan kirban suatu kaum, aku membawa tali embernya”

Keempat bait tersebut… Kemudian ia berkata: dan kami mengira bahwa para pendukung yang lama tidak berselisih bahwa dua bait ini ganjil dalam qasidah, dan keduanya adalah:

Dan malam seperti ombak laut yang menurunkan tirainya… atasku dengan berbagai jenis kesedihan untuk menguji

Maka aku katakan kepadanya ketika ia meregangkan tulang punggungnya… dan menyusul dengan bagian-bagian belakang dan berat dengan dada

Maka dua bait ini diletakkan untuk masuk pada yang mengikutinya yaitu:

Bukankah wahai malam yang panjang, bukankah akan tersingkap… dengan pagi dan tidaklah pagi-pagi darimu lebih baik

Kami katakan: dan atas dasar ini orang-orang terdahulu meragukan dua hal dan sang syaikh mengeluarkan yang ketiga dengan pikirannya yang tajam dan pengetahuannya tentang syair secara hakiki pengetahuan… Dan kami dahulu mengangkatnya dari seperti penipuan dan penyesatan ini, karena telah datang riwayat bahwa dikatakan sesungguhnya dua bait ini yang dijadikan contoh dalam kiasan termasuk dari apa yang dibuat oleh “Khalaf Al-Ahmar” atas Imru’ul Qais sebagaimana ia membuat dari yang seperti itu atas yang lain, dan mereka tidak memastikan bahwa Khalaf membuatnya, tetapi riwayat datang dengan rumusan tawaran “dikatakan” dan jika boleh bagi kami untuk mengatakan dalam hal itu, kami akan mengatakan bahwa dua bait itu dari syair Imru’ul Qais, dan hanya mereka menisbatkannya kepada “Khalaf” berdasarkan dugaan, karena mereka berpendapat bahwa ia membuat atas setiap penyair tangguh apa yang diperbolehkan dalam syairnya dan tidak dibedakan seninya, sebagai bentuk berlebihan dari mereka dalam ilmunya tentang syair dan pendalaman di dalamnya dan bahwa ia dari kebudayaan dan keahliannya, maka jika mereka ingin menisbatkan kepadanya sesuatu yang jelek dari perkataan penyair tertentu, mereka sengaja memilih dari yang paling bagus yang dikatakan penyair ini, karena keahlian Khalaf memang seperti itu datangnya.

Dan syaikh berkata di halaman 149: “dan marilah kita cepat untuk mengatakan bahwa penggambaran permainan dengan para gadis dan apa yang ada di dalamnya dari kekejian lebih menyerupai untuk menjadi dari pemalsuan Farazdaq daripada menjadi jahiliyah, maka para perawi menceritakan kepada kita bahwa Farazdaq keluar pada hari hujan ke pinggiran Basrah lalu mengikuti jejak-jejak hingga sampai ke kolam, dan di dalamnya ada wanita-wanita yang mandi – maksudnya berendam – maka ia berkata, betapa mirip hari ini dengan hari Darah Juljul. Bukan begitu ia berkata tetapi adalah: Tidakkah aku melihat seperti hari ini sama sekali atau hari Darah Juljul”

Dan ia pergi berpaling; maka para wanita itu berteriak kepadanya: wahai pemilik baghal! maka ia kembali kepada mereka, lalu mereka bertanya kepadanya dan bersumpah kepadanya agar ia menceritakan kepada mereka tentang kisah “Darah Juljul” maka ia menceritakan kepada mereka kisah Imru’ul Qais dan melantunkan perkataannya:

Bukankah banyak hari untukmu dari mereka yang baik… dan terutama hari di Darah Juljul

Syaikh berkata dan orang-orang yang membaca syair Farazdaq dan memperhatikan kekejaannya dan kekabarannya dan bahwa ia telah dicela atas kekejian dan kekaburan ini, tidak menemukan kesulitan dalam menambahkan kepadanya bait-bait ini, karena ia dengan syairnya lebih mirip” selesai.

Kami katakan: tetapi profesor telah berbohong dan menambah dalam teks, karena riwayat dalam Al-Aghani dalam berita-berita Farazdaq dan tidak ada di dalamnya bahwa Farazdaq melantunkan kepada mereka bait-bait itu, maka bagaimana menjadi dari syairnya?

Dan menurut analogi Thaha, maka setiap penyair dari penyair-penyair hujatan dapat dilampirkan pada syairnya setiap perkataan yang di dalamnya ada hujatan dan umpatan dan celaan dan dikatakan ia dengan syairnya lebih mirip, maka ini adalah parlemen… Dan setiap penggombal dapat ditambahkan kepadanya syair setiap penggombal karena watak mereka mirip dan apa yang dikatakan yang ini, yang ini mengatakan sepertinya; meskipun penggambaran paling dominan atas Imru’ul Qais adalah bahwa ia sesat, pelacur, keji, dan ia berjalan dalam syairnya dari hal itu atas akhlak dan watak, dan baginya ada keberanian atasnya yang memberimu perasaan bahwa ia anak raja yang melihat untuk dirinya perkataan di atas perkataan manusia, maka perkataannya hanya menyerupai dirinya, dan kekejaannya hanya datang kepadanya dari sisi gombal dan kasih sayang, bukan seperti kekejian Farazdaq karena itu dari sisi hujatan dan kehinaan.

Dan Farazdaq tidak dihitung dari penyair-penyair gombal, dan penduduk Hijaz mendahulukan “Jamil” atasnya dan atas Jarir bersama karena kedudukan Jamil dari kasih sayang dan sedikitnya hasil mereka di dalamnya. Dan mereka berdua mengetahui hal itu dari diri mereka dan tidak melihat syair kecuali dalam pintu mereka dalam kebanggaan dan hujatan, maka Abu Az-Zinad meriwayatkan dari ayahnya berkata, Jarir berkata kepadaku: wahai Abu Abdurrahman, apakah aku lebih penyair atau si jahat ini? maksudnya Farazdaq, dan ia memintaku untuk mengabarinya, maka aku katakan: tidak demi Allah, ia tidak menyertaimu dan tidak mengaitkan denganmu dalam gombal; ia berkata: wah, engkau memutuskan, demi Allah atasnya. Aku demi Allah mengabarimu. Tidak menimpaku kecuali bahwa aku menghujat sekian dan sekian penyair dan ia menyendiri untukku sendirian.

Adapun hadits Farazdaq yang dijadikan dalil olehnya Thaha, maka ia menurut kami palsu, karena Farazdaq mempermalukan di dalamnya dirinya dan membiarkan para wanita mengejeknya dan memukul wajahnya dengan tanah dan lumpur dan memenuhi darinya kedua matanya dan pakaiannya dan bercanda dengannya dan meninggalkannya terhampar di bumi dan dengan keadaan paling buruk dan paling hina, dan kami tidak menganggap seperti Farazdaq meriwayatkan itu tentang dirinya atau meridhainya untuknya dan ia adalah ia dalam kebanggaan, dan sesungguhnya itu adalah cerita-cerita yang dibuat untuk anekdot dan kelakar dan ejekan. Dan andaikan berita itu benar atau andaikan ia bohong – maka atas keduanya – maka sesungguhnya Farazdaq tidak menyebutkan syair Imru’ul Qais, maka tidak ada makna untuk bahwa ia telah membuat syair setelahnya, dan bagaimana Farazdaq membuat atas Imru’ul Qais sedangkan ia menyebutnya dalam syairnya dan mendahulukannya dan menghitungnya salah satu jenius yang menganugerahinya syair?

Kemudian Thaha berkata: “adapun penggambaran Imru’ul Qais untuk kekasihnya dan kunjungannya kepadanya dan menghadapi apa yang ia hadapi untuk sampai kepadanya dan ketakutannya akan skandal ketika melihatnya dan keluarnya bersamanya dan menghapus jejak mereka dengan ujung kain penutupnya dan apa yang ada di antara mereka berdua dari permainan, maka ia lebih mirip dengan syair Umar bin Abi Rabi’ah daripada dengan sesuatu yang lain; maka cara ini dari cerita percintaan dalam syair adalah seni Ibnu Abi Rabi’ah yang telah ia monopoli monopoli yang tidak ada seorang pun yang menandinginya di dalamnya.”

“Dan sungguh menjadi aneh benar-benar bahwa Imru’ul Qais mendahului kepada seni ini dan mengambil di dalamnya gaya ini dan dikenal tentangnya cara ini kemudian datang Ibnu Abi Rabi’ah lalu menirunya di dalamnya dan tidak ada seorang pun dari para kritikus yang menunjukkan bahwa Ibnu Abi Rabi’ah telah terpengaruh oleh Imru’ul Qais, padahal mereka telah menunjukkan kepada pengaruh Imru’ul Qais pada sekelompok dari penyair-penyair dalam cara-cara dari penggambaran, maka bagaimana mungkin Imru’ul Qais adalah pencipta seni ini dari gombal yang hidup atasnya Ibnu Abi Rabi’ah dan yang membentuk kepribadian syair Ibnu Abi Rabi’ah dan tidak dikenal baginya hal itu?… Dan kami menguatkan bahwa jenis gombal ini sesungguhnya ditambahkan kepada Imru’ul Qais, menambahkannya para perawi yang terpengaruh oleh dua penyair Islam ini – Farazdaq dan Ibnu Abi Rabi’ah -” selesai.

Dan kami ingin bertanya kepada syaikh universitas tentang perkataannya: “bahwa para kritikus telah menunjukkan kepada pengaruh Imru’ul Qais pada sekelompok dalam penyair-penyair dalam cara-cara dari penggambaran; maka jika tidak demikian, maka bohong, maka siapakah para kritikus ini? Dan siapakah para penyair itu? Dan apakah cara-cara itu dari penggambaran? Dan di mana menemukan itu, apakah dalam kitab Casanova atau kitab Kadzibanova…? Ini semua dari omong kosong syaikh dan tidak ada dasar untuknya dan sesungguhnya ia membuatnya untuk menghubungkan sebagian perkataan dengan sebagian dalam susunan dalil yang ia inginkan, dan ia adalah cara para orientalis dan tidak ada nilai untuknya dalam sejarah dan kami telah mengingatkan kepadanya berulang kali.

Semua yang dikatakan para kritikus: bahwa orang yang mendahulukan Imru’ul Qais atas para penyair berdalih baginya lalu berkata bukan bahwa ia mengatakan apa yang tidak mereka katakan, tetapi ia mendahului orang-orang Arab kepada hal-hal yang ia ciptakan lalu orang-orang Arab menganggapnya baik dan para penyair mengikutinya dalam hal itu, di antaranya meminta berhenti teman-temannya, dan menangis di tempat-tempat tinggal, dan kehalusan gombal, dan dekatnya rujukan, dan penyerupaan wanita-wanita dengan kijang dan telur dan penyerupaan kuda-kuda dengan elang dan tongkat-tongkat, dan bahwa ia orang pertama yang mengikat binatang liar dan bagus dalam perumpamaan dan memisahkan antara gombal dan antara makna.

Dan dengan ini mendahului para penyair karena mereka mengikutinya dalam hal itu dan ia tidak mengikuti seorang pun, dan seni Ibnu Abi Rabi’ah sesungguhnya ia masuk dalam kehalusan – gombal, karena gombal adalah jenis yang mencakup sifat wanita-wanita dan hikayat perkataan-perkataan mereka, dan menyebabkan kepada kasih sayang mereka dan seterusnya; maka jika Ibnu Abi Rabi’ah telah menganggap baik suatu gaya dari gaya-gaya Imru’ul Qais dalam gombal lalu memperbanyak darinya dan menghabiskan di dalamnya sisi tentang syairnya maka bukan makna itu bahwa ia menemukan cara dan tidak memonopoli seni; dan dari yang tetap bahwa tidak diletakkan sesuatu atas jahiliyah setelah abad keempat, maka jika mereka bekerja atas cara Ibnu Abi Rabi’ah dan memindahkan Imru’ul Qais, tidak akan luput ini seperti pemilik Al-Aghani dan akan menjadikannya semua kebanggaan bagi Ibnu Abi Rabi’ah; dan mu’allaqah telah dibukukan diriwayatkan pada awal-awal abad kedua.

Adapun bahwa mereka tidak menunjukkan bahwa Ibnu Abi Rabi’ah mengambil seninya dari Imru’ul Qais, maka karena mereka tidak melihat itu seni dan tidak cara, sesungguhnya ia syair seperti syair yang dikenal pada mereka dengan makna-maknanya bukan dengan gayanya yang kisah, dan tidak menyebutnya seni kecuali profesor universitas.”

Dan aku menganggap diriku penyair yang menemukan syair dalam watakku dan memahaminya dan mendalami dalam tujuan-tujuannya dan mengatakannya dan bagus mengkritiknya dan membedakannya, dan aku tidak mengira seorang pun membantah dalam hal ini atau memperdebatkan denganku atasnya; dan aku dengan itu tidak melihat lebih berat dan tidak lebih dingin dan tidak lebih jelek dari syair Ibnu Abi Rabi’ah ini ketika ia mempermalukan wanita-wanita dan berkata dalam syairnya: aku berkata kepadanya dan ia berkata kepadaku, dan adalah dariku begini dan adalah darinya begini.

Dan ia bukan seni bagiku; bahkan akhlak hina dan watak sesat dan jiwa pelacur, bahkan ia seni hujatan wanita-wanita karena Ibnu Abi Rabi’ah tidak bagus memuji laki-laki dan tidak menghujatnya maka jatuh dari sisi ini untuk naik dari sisi yang berlawanan dengannya dalam wanita-wanita, maka seakan-akan ia naik dengan dua kekuatan; – kemudian laki-laki itu ingin syairnya berjalan dalam mulut-mulut dan tidak ada yang lebih berjalan dari berita-berita wanita-wanita dan pembicaraan-pembicaraan mereka, maka ini adalah ini.

Dan caranya dalam syairnya hanya bagus ketika terjadi dalam bait-bait sedikit dan qasidah yang menyendiri, dan ketika datang kelakar dan bercanda dan ketika keluar jalan anekdot atau mendorong atasnya kepemudaan dan kesegaran masa muda dalam sebagian cinta yang keras, sebagaimana dilakukan Imru’ul Qais, adapun bahwa menjadi di dalamnya kebanyakan syairnya dan atasnya semua pekerjaannya dan berbolak-balik laki-laki itu dan seakan-akan tidak ada dalam mulutnya kecuali lidah wanita maka ini yang tidak aku lihat sebagai seni, kecuali jika dikatakan seni laki-laki pencuri dan seni wanita pelacur sebagaimana dikatakan seni penyair dan seni pelukis misalnya!

Dan mereka telah menyatakan bahwa Imru’ul Qais adalah yang membuka makna-makna itu yang kami isyaratkan kepadanya dan bahwa para penyair mengikutinya, maka di mana teks bahwa Ibnu Abi Rabi’ah membuka cara ini – dari: aku berkata kepadanya dan ia berkata kepadaku, dan aku adalah dan ia adalah, dan aku berbuat dan ia berbuat?

Dan siapa yang mengikutinya dalam pintu ini dan mendalami di dalamnya kebanyakan syairnya sekalipun mereka melihatnya pencipta, mereka akan menyatakan atas itu sebagaimana mereka menyatakan atas yang lain. Bahkan Jarir melihat cara itu omong kosong, hingga kuat makna-makna Ibnu Abi Rabi’ah lalu ia melihatnya ketika itu mengatakan syair.

Dan sesungguhnya di sana ada dasar yang ditetapkan dalam sastra Arab, dan itu bahwa penyair-penyair tangguh mendahului kepada penemuan makna-makna dan gaya-gaya lalu mengikuti mereka di dalamnya orang-orang setelah mereka, karena tidak mengatakan seorang pun syair dan tidak menjadi penyair kecuali tentang riwayat dan hafalan.

Maka sungguh terjadi makna untuk penyair yang terdahulu atau lurus baginya cara dalam sebagian gaya-gaya lalu datang setelahnya orang yang menemukan itu dalam wataknya dan adalah ia telah terbiasa darinya dalam sebab-sebab kehidupannya dan zamannya apa yang tidak berjalan dengannya pertimbangan penyair yang lain, maka ia mengikuti jejak yang pertama dan mengambil perkataannya sebagai dasar yang ia bangun atasnya lalu memperbanyak dari itu dan membaliknya atas wajah-wajahnya hingga mematikannya dan tidak meninggalkan di dalamnya sesuatu untuk yang lain, dan bukan Ibnu Abi Rabi’ah bidah dalam hal itu, karena Abu Nuwas mengikuti jejak Al-A’sya dalam khamar tetapi ia memperbanyak di dalamnya hingga dikenal dengannya cara ini dan hingga tidak dipandang bagi yang lain di dalamnya makna dan ia hidup, dan ini Al-Buhturi melihat sebagian penyair-penyair terdahulu menyebutkan bayangan kekasih dan kunjungannya, dan mereka telah berkata bahwa orang pertama yang mendahului kepada makna ini “Juran Al-Aud” dalam perkataannya:

Penyiraman untuk kunjunganmu dari kunjungan yang datang kepadamu dengannya… pembicaraan jiwamu tentangnya dan ia sibuk

Kemudian mengambilnya Al-Abbas bin Al-Ahnaf dan mengambilnya Abu Tammam, maka datang Al-Buhturi lalu bergantung atasnya dan memperbanyak darinya dan menjadikan penggambaran khayalan cara dari cara-caranya maka dikenal dengannya.

Dan bagaimana diletakkan seni badi’ jika tidak adalah Muslim bin Al-Walid telah berjalan atas dasar ini lalu mengikuti apa yang ia lihat dalam syair para penyair dari kiasan dan perumpamaan dan majaz kemudian ia sengaja dalam syairnya dan bekerja agar mengusahakannya hingga menggariskan cara untuk Abu Tammam setelahnya maka datang yang ini dan menghabiskan di dalamnya syairnya – hingga dikenal dengannya dan ia dikenal dengannya dan dasar – sebagaimana engkau lihat – dari bait-bait yang tersebar dan kata-kata yang terkenal.

Jika kita melihat istilah itu sebagai kiasan atau majaz dalam ucapan orang Jahiliyah seperti Imrul Qais, apakah kita akan mengatakan bahwa itu diciptakan oleh seorang penyair Islam yang terpengaruh oleh syair Muslim bin Walid dan Abu Tammam karena seni ini dimonopoli oleh Abu Tammam?

Sesungguhnya tuan dan majikan kita Thaha Husein memiliki di tangannya timbangan yang akurat bernama timbangan gandum, namun ia justru menggunakannya untuk menimbang gunung, kota, dan negara. Ia telah menimbang istana Zaafaran (yakni Universitas Mesir) dan mengatakan beratnya dua puluh ribu ton… Ketika dikatakan kepadanya bahwa Kementerian Pekerjaan Umum tidak mengatakan demikian dan para insinyur tidak membenarkan pernyataanmu, sedangkan engkau bukan insinyur dan bukan pula Kementerian Pekerjaan Umum, ia berkata: “Mereka semua adalah pendukung yang lama karena mereka mengikuti ilmu-ilmu lama di mana sebagian dari mereka meniru sebagian yang lain…” Ia telah menimbang Imrul Qais dengan timbangan gandum ini dan hasilnya adalah satu uqiyah kurang sepuluh dirham… Seandainya manusia dan jin berkumpul untuk memberatkan timbangan Syekh ini agar mereka menambah sepuluh dirham tersebut dan menjadikan Imrul Qais yang malang itu menjadi satu uqiyah penuh, mereka tidak akan mampu, kecuali jika mereka mampu menambah akal Syekh, karena pembetulan dalam akalnya adalah pembetulan pada timbangannya.

Pada halaman 145 ia mendustakan perjalanan Imrul Qais ke Kaisar dan bahwa syairnya tentang itu adalah palsu: “Dan jika harus dicari dalil-dalil teknis tentang pemalsuan syair ini, kami ingin tahu bagaimana Imrul Qais mengunjungi negeri Romawi dan bergaul dengan Kaisar dan masuk bersamanya ke pemandian dan mempesonakan putrinya dan melihat manifestasi peradaban Yunani di Konstantinopel namun tidak terlihat jejak itu dalam syairnya. Ia tidak menggambarkan istana dan tidak menyebutnya, tidak menggambarkan gereja dari gereja-gereja Konstantinopel. Ia tidak menggambarkan gadis Kekaisaran yang ia pesona, tidak menggambarkan wanita-wanita Romawi, tidak menggambarkan sesuatu pun yang seharusnya benar-benar Romawi. Bagaimanapun juga, hanya kebodohan semata yang membantu kita membayangkan bahwa penyair Arab kuno mengucapkan syair yang disandarkan kepada Imrul Qais dalam perjalanannya ke negeri Romawi” selesai.

Wahai Syekh, tidakkah engkau tahu bahwa Mutanabbi dalam Islam seperti Imrul Qais dalam Jahiliyah. Ia telah memiliki semua sebab dan sarana syair yang tidak dimiliki oleh yang lain, dan bahwa Mutanabbi datang ke Mesir dan tinggal di sana dan bergaul dengan penduduknya; maka katakan kepada kami wahai guru sastra: di mana deskripsi Piramida dalam syair Mutanabbi? Ataukah engkau mengira bahwa Piramida pada masa itu masih kecil kemudian membesar…

Bagaimanapun juga, hanya kebodohan semata yang membantu kita membayangkan bahwa penyair seperti Mutanabbi tinggal di Mesir dan tidak menggambarkan Piramida; namun demikian Mutanabbi tetap tinggal di Mesir dan tidak menggambarkan Piramida.

Sesungguhnya pendukung yang baru akan menghadapi kesulitan dan kesusahan dalam memecahkan masalah ini dan masalah ini harus dipecahkan…

Kami telah muak dengan kebodohan Thaha dan kekonyolan pendapatnya dan kekeliruannya antara tabiat manusia dan karakteristik zaman, padahal Mutanabbi tidak lebih dari sekedar menyebut dalam syairnya lafal “al-haramain” (dua piramida) sebagaimana Imrul Qais menyebut lafal “Kaisar” – ini sama dengan itu.

Yang mengherankan adalah bahwa Syekh ini sering kali meletakkan kepalanya di suatu tempat kemudian tidak lama kemudian melompat dan tiba-tiba kakinya berada di tempat kepalanya.

Ia berkata di halaman 148: “Kami menerima bahwa Imrul Qais adalah orang pertama yang menangkap binatang liar dan menyerupakan kuda dengan tongkat dan burung elang dan semacamnya, tetapi kami sangat meragukan bahwa ia mengucapkan bait-bait ini yang diriwayatkan oleh para perawi.”

Dan di sini sebagaimana engkau lihat akal Syekh, kemudian ia melompat ke halaman 155 dan ia berkata tentang Amr bin Qumaithah sang penyair: “Tidak diketahui apa pun tentang urusannya kecuali namanya sebagaimana tidak diketahui tentang Imrul Qais dan tidak pula tentang Ubaid kecuali nama keduanya.”

Dan di sini sebagaimana engkau lihat sandal Syekh berada di tempat kepalanya; jika tidak, apakah nama Imrul Qais-lah yang menangkap binatang liar dan menemukan semua makna tersebut?

Yang benar adalah bahwa Thaha Husein bagi sastra Arab seperti gerhana matahari dan bulan… ia menutupi bahkan cahaya matahari dan cahaya bulan.

۞۞۞۞۞

Kebebasan Berpikir ataukah Kebebasan Mengkafirkan…

Artikel yang Diajukan kepada Parlemen Mesir

Surat kabar “as-Siyasah” menerbitkan pembicaraan baru dari Tuan yang mulia Direktur Universitas yang cenderung pada mazhab pembicaraannya yang pertama dalam mendiktekan kepada Parlemen dan melemparkan tongkat filosofis… bukan keinginan agar ia berubah menjadi ular sebagaimana tongkat Nabi Musa shallallahu ‘alaihi wasallam berubah sebelumnya, melainkan pengacara yang menyihir penglihatan dan pendengaran para anggota parlemen, bahkan penghipnotis yang memindahkan kehendak dan menetapkannya bagi mereka dengan kekuatan magnet; bahkan awan yang turun kepada mereka dengan malaikat yang ditugaskan untuk hidayah “sebagaimana dikatakan as-Siyasah”, meskipun para pembaca baru saja mengenal pembicaraannya yang pertama.

Mari kita mulai dengan kata-kata Tuan karena mazhab baru menjadikannya termasuk huruf-huruf yang memiliki prioritas.

Ia berkata dan maksudnya adalah undang-undang Universitas yang sekarang berada di tangan para anggota parlemen: “Saya tidak bermaksud bahwa undang-undang ini adalah contoh ideal, tetapi ia adalah karya manusiawi seperti karya-karya lainnya, yang memperhatikan perkembangan di masa depan ketika ada kebutuhan untuk itu.

Bagaimanapun juga, dalam undang-undang ini terdapat kaidah dasar yang besar untuk sistem pendidikan tinggi, yaitu kaidah bahwa Universitas harus memiliki kepribadian moral agar dapat mengatur urusannya sendiri, dan kemandirian yang menjamin baginya kebebasan berpikir yang merupakan dasar utama pendidikan tinggi!”

Hingga ia berkata: “Mungkin akan terlintas dalam pikiran bahwa Universitas dalam pembentukannya membutuhkan perwalian Pemerintah secara dekat dan campur tangannya dalam semua urusannya sampai kekuatannya menguat dan ia mampu berdiri dengan kakinya sendiri untuk menghindari kekacauan yang mungkin terjadi di Universitas pada awal pendiriannya, kekacauan yang biasanya selalu atau sering kali menyertai setiap permulaan, dan dengan demikian kita dapat memilih bahaya campur tangan karena dianggap lebih ringan daripada bahaya kekacauan di awal.

Ini adalah keberatan yang memiliki bagian dari kebenaran pada pandangan pertama jika engkau menyebut campur tangan politik” begitu, dan ia bermaksud dengan politik di mana pun disebutkan dalam pembicaraannya adalah Pemerintah “dalam semua urusan Universitas hanya sebagai bahaya, tetapi itu bukan hanya bahaya melainkan ia adalah penghancuran Universitas dari dasarnya, dan dengan campur tangan ini tidak ada universitas dan tidak ada kebebasan berpikir… Menurutmu jika engkau berpikir di bawah perwalian orang lain, apakah engkau sedang berpikir?

Jika kecenderungan pengajaran dan cara-caranya serta metode penelitian terkait dengan selain kelompok pengajar, maka apa yang diharapkan negara dari kemungkinan bagiannya dari kemajuan ilmiah di dunia adalah khayalan dalam khayalan,” selesai.

Jelas dari teks pernyataan bahwa bahaya yang paling ringan menurut Tuan adalah (kekacauan) yaitu rusaknya sistem, pemborosan harta, penyimpangan keyakinan, perusakan ilmu, penipuan terhadap manusia… dst. dst. Alangkah baiknya jika aku tahu darinya apa yang memaksa umat untuk semua ini demi sebuah kata bernama Universitas; antara sekolah yang meningkat ke posisi universitas atau tidak… Namun surat kabar “as-Siyasah” mengutip pernyataan tersebut dan menjadikannya kepala untuk tubuh artikel pembuka atau utama sebagaimana mereka katakan, yang di dalamnya disebutkan tentang Universitas: “Dan ini anggarannya dan ini undang-undangnya – tambahkan sendiri: dan ini reputasinya dan ini pekerjaannya… akan segera diajukan kepada Parlemen, dan Parlemen akan mempertimbangkan masalah ini dengan tujuan mencapai kemuliaan ilmu dan kemuliaan Mesir – tambahkan sendiri: dan kemuliaan Thaha Husein – dan sesungguhnya kami sangat bahagia bahwa kesempatan yang baik ini untuk menyebarkan pembicaraan Tuan Direktur Universitas sebelum pembahasan anggaran dan undang-undang Universitas – perhatikan – dan menyebarkan hikmah ini yang kami jadikan pembuka pembicaraan hari ini agar menjadi pelita dan penunjuk jalan ketika mempertimbangkan masalah penting ini.” selesai.

Adapun penunjuk jalan, telah disebutkan tafsirnya tadi, yaitu malaikat yang akan turun dalam awan filosofis… Adapun pelita, tidak diragukan bahwa ia akan turun dengan malaikat petir kepada para anggota parlemen (Setiap kali (awan itu) menerangi mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti) (al-Baqarah: 20).

Dan Universitas ini tidak hanya mendiktekan kepada para anggota parlemen saja tetapi ia memperingatkan mereka agar tidak menghancurkannya dan memperingatkan mereka akan siksaan sejarah jika dunia mendengar bahwa wakil-wakil umat Mesir menghalang-halangi dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala di masjid jami’ ketika mereka tidak membebaskan azan di dalamnya dan tidak membiarkan muazin mengatakan: Hayya ‘ala Buddha; hayya ‘ala Brahma, hayya ‘ala anak sapi Apis… Sedangkan kami “sesungguhnya kami sangat bahagia” bahwa kami menemukan dalam naskah lama kami dari Kalilah wa Dimnah pembicaraan ini:

Kalilah berkata: Celaka jiwa ini jika ia keras kepala dengan kecenderungannya dan ditunggangi oleh buruknya tabiatnya dan di belakangnya ada hati yang lemah yang dirusak oleh penyakitnya dan menyibukkan perhatian dan pikirannya pada apa yang dicenderunginya; para ulama telah berkata: Sesungguhnya pendapat tidak akan menjadi pendapat sampai ia tertanam dalam tabiat dengan sangat kuat. Karena pembaharu tidak akan diterima darinya sedangkan dalam tabiatnya ada sesuatu yang mungkin mengubah janjinya atau membatalkannya, dan perumpamaannya tidak lain seperti perumpamaan Gempa Bumi yang ingin mengambil profesi teknik.

Dimnah berkata: Bagaimana itu terjadi?

Ia berkata: Dikisahkan bahwa seekor Gempa Bumi adalah teman salah satu Gunung Berapi, ia berkata kepadanya suatu hari: Telah banyak gangguanmu dan kerusakanmu wahai Gunung Berapi, engkau senantiasa menjadi kemarahan bagi manusia, kehancuran, dan kutukan, dan engkau tidak berhenti antara kebakaran dan penghancuran, dan aku melihat keadaanmu ini dan aku tidak mengiramu kecuali telah dibangkitkan dari neraka ke kota ini, dan aku tidak mendugamu akan berhasil sama sekali dalam mengubah tabiat dan mazhabmu, bahkan jika engkau adalah laut niscaya engkau akan berbalik menjadi banjir kepada manusia yang menghancurkan dengan air sebagaimana engkau menghancurkan dengan api, sungguh aku telah muak dengan persahabatanmu dan aku akan meninggalkanmu mencari pekerjaan yang lebih bermanfaat bagi orang-orang malang ini; mudah-mudahan aku dapat mengembalikan kepada mereka sebagian dari apa yang engkau ambil dari mereka; para ulama telah berkata bahwa sebaik-baik kebaikan adalah ketika ia datang setelah seburuk-buruk keburukan.

Gunung Berapi berkata: Wahai Gempa Bumi, jangan tertipu oleh filsafat dan khayalan, sesungguhnya perkataan adalah yang paling mudah engkau ambil dan paling ringan engkau berikan dan ia tidak akan menjadi perkataanmu sebagai perkataan kecuali ada dari tabiatmu bukti dan saksi, jika tidak maka ia hanya perkataan sebagiannya seperti sebagian yang lain, haknya seperti batilnya dan mulianya seperti hinanya; dan jika aku ingin menamai cairan panas ini yang aku lebur dalam perutku dari batuan dan logam sebagai khamar yang menyenangkan bagi yang minum, niscaya aku lakukan dan katakan, kemudian aku akan menggambarkannya dan menghiasinya dengan syair dan hikmah dan membantahnya dan berdebat tentangnya, tetapi semua itu adalah perkataan kosong jika aku tidak menemukan orang yang mengatakan berilah aku minum, dan filsafatmu ini tidak lain seperti filsafat Direktur Universitas yang ada di Mesir…

Gempa Bumi berkata: Apa itu?

Ia berkata: Dahulu ada sekolah yang dipimpin oleh orang mulia yang pandai berbicara ini, dan di antara pengajar di dalamnya ada batu manusia yang besar bernama Thaha Husein, tanah liatnya diambil dari sebagian kakek-kakek kami… Dan jika batu ini menggelinding maka tidak ada darinya kecuali penghancuran, perusakan, dan kerusakan terhadap manusia, maka umat itu ingin menetapkan batu ini di lubangnya dan mengikatnya pada tempatnya; namun Direktur Universitas menolak kecuali melepaskannya dan membiarkannya bebas mandiri kemudian membebaskannya selain itu di jalan-jalan yang ramai dan rumah-rumah yang berdiri tanpa melompat ke tanah kosong, dan ia pergi membelanya maka di antara yang ia katakan “Sesungguhnya kekacauan telah menjadi kebiasaan yang selalu atau sering kali menyertai setiap permulaan, maka biarkan batu (berkecak-kecak) sesuai tabiatnya dan caranya maka tidak ada bahaya darinya atas kalian, dan demi Allah kalian tidak adil jika kalian mengatakan bahwa ia menghancurkan rumah-rumah kalian kemudian kalian lupa bahwa ia melebarkan jalan untuk kalian…

Gempa Bumi berkata: Biarkanlah aku, maka demi Allah aku akan menjadi berbeda dari apa yang ada dalam jiwamu, dan engkau tahu ketajaman tabiatku dan apa yang telah dikhususkan bagiku berupa kesempurnaan kekuatan dan kecerdasan, maka aku akan pergi mempelajari teknik. Karena ia adalah salah satu sebab yang paling penting dalam apa yang aku inginkan dari perbaikan!

Kalilah berkata: Dan masa berlalu sebentar maka tiba-tiba ia menjadi insinyur yang telah mahir, unggul, menguasai, dan menyempurnakan, kemudian ia mulai menunggu hari ketika Gunung Berapi meletus agar ia memakmurkan apa yang dirusaknya dan menutup celah-celah penduduk kota dengan ilmu dan keutamaannya; maka ketika tiba hari yang dijanjikan, Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kelembutan-Nya untuk mengeluarkan pelajaran bagi manusia dari kebodohan ini, maka Gunung Berapi bergejolak tidak lama dan mengacak dari sana-sini, kemudian menelan apa yang ada di hatinya sehingga ia tidak menghancurkan kecuali seperempat kota dan sisanya tetap berdiri dalam nikmat, keselamatan, keamanan, dan keridaan; maka “insinyur” itu berkata pada dirinya sendiri: Ini salah satu malammu maka bergembira bergembiralah!

Dan ia pergi untuk memakmurkan apa yang dirusak temannya, maka ketika ia datang di bawah fondasi kota ia mengguncang reruntuhan rumah-rumah yang hancur untuk mengembalikannya berdiri dengan anggapannya, tetapi ia tidak lebih dari menghancurkan semua rumah-rumah yang berdiri sehingga mengembalikannya menjadi reruntuhan, dan Gunung Berapi yang perusak memusnahkan seperempat kota dan insinyur pembaharu menghancurkan… tiga perempatnya.

Maka lihatlah wahai Dimnah, sesungguhnya itu adalah inti dan asal bukan penampakan dan hiasan, dan sesungguhnya itu adalah perbuatan bukan perkataan, dan sesungguhnya itu adalah tabiat bukan pendapat, dan sesungguhnya orang yang rusak jika ia menjadi pengajar dan menemukan murid-murid yang ia bimbing adalah seperti Gempa Bumi jika menjadi insinyur dan menemukan rumah-rumah yang ia perbaiki!

Dan kini kita melihat pernyataan rektor universitas. Sesungguhnya kami tidak senang dengan sofistri ini dari profesor terhormat ini, dan dia bukanlah satu-satunya orang yang cerdas atau pembicara yang fasih. Seharusnya orang seperti dia menjauhkan diri dari hal semacam ini, karena kami tahu bahwa di antara perkataan ada perkataan yang memerintahkan orang dengan gaya nasihat, dan memaksa mereka untuk mengadopsi salah satu dari dua pendapat padahal itu dalam bentuk pilihan di antara keduanya, seperti sebagian yang disebut dalam istilah politik sebagai memorandum padahal itu adalah peringatan, atau peringatan padahal itu adalah perang.

Perkataan rektor universitas adalah “memorandum” untuk parlemen baik dalam gayanya maupun dalam tujuannya. Tetapi wahai tuan rektor, kesalahan universitas memiliki alasan yang dapat diterima sampai engkau bersikeras dan keras kepala, meremehkan bangsa dan para ulamanya, dan menerima terhadap universitas berbagai desas-desus, perkataan, dan tuduhan yang tidak diterima oleh orang yang memiliki pekerjaan terhadap pekerjaannya, maka universitas tidak lagi memiliki alasan setelah itu.

Seluruh bangsa telah sepakat bahwa merusak sastra dan sejarah serta mengolok-olok agama dan hal-hal yang sejenis dengannya – tidak ada satu pun di antaranya yang disebut ilmu. Jika itu adalah ilmu menurutmu dan menurut pengikutmu, maka itu bukan kebutuhannya dan engkau tidak berhak memaksakan itu kepadanya atau melampaui keinginannya dalam hal itu.

Kemudian terjadi ijmak atau yang disebut opini publik bahwa universitas ini adalah pembuat kerusakan yang menyentuh apa yang sudah ada seperti fakultas hukum dan kedokteran lalu menyimpangkannya, sebagaimana gempa menyimpangkan alat observatorium di Helwan.

Alat observatorium ini adalah standar dalam ketepatan sistemnya dan ketelitiannya, tetapi itu tidak mencegah gempa untuk menggesernya dari tempatnya dan menyebabkan kekacauan dalam angka-angkanya dan petunjuknya dan mengujinya dengan kegagalan yang menguji universitas, yaitu “tahun percobaan” menurut teks pembicaraan pertamamu, atau “tahun kekacauan” menurut teks pembicaraan keduamu.

Kemudian universitas menyentuh apa yang ingin ia wujudkan, seperti sejarah sastra Arab. Aku bersumpah demi Allah dengan sumpah yang benar: kami tidak mengenal dalam buku-buku sastrawan yang lebih bodoh, lebih jahil, atau lebih tumpul dari buku universitas tentang puisi jahiliyah. Lalu mengapa kalian menginginkan kemandirian universitas setelah ini padahal hal paling sederhana dalam kemandirian itu adalah bahwa sekelompok dari kalian memanfaatkan “otoritas jabatan mereka” dalam merusak akidah para mahasiswa, karena itu adalah dari mazhab mereka dalam perbaikan sosial, kemudian – menyimpangkan sastra Arab ke arah kebodohan, kerusakan, dan ejekan, karena itu adalah dasar dalam bahasa Alquran?

Dan karena Alquran adalah dasar dalam agama, karena agama bertentangan dengan mazhab mereka dalam peradaban Barat yang mereka upayakan dengan sekuat tenaga.

Di sisimu wahai tuan ada sekelompok orang yang perbuatan mereka menjelaskan dan yang disaksikan terhadap mereka oleh kawan dan lawan, orang yang tidak bersalah dan orang yang bersalah. Apakah undang-undang mengizinkan kemandirian pegawai-pegawai ini untuk menggunakan otoritas jabatan mereka dalam hal seperti itu?

Apakah kalian menginginkan kemandirian dalam kebaikan atau dalam keburukan? Jika yang pertama, di mana kebaikan-kebaikan universitas padahal tidak ada pada orang-orang yang lebih buruk dari reputasinya dan tidak ada yang lebih mengundang kemarahan dari namanya. Dan jika yang kedua, apa gerangan wahai tuan kami aliran air yang orang ini datang dengan bejana lalu mengisinya, yang lain datang dengan qirbah (kantong air), yang ketiga datang dengan gentong, dan universitas datang dengan mobil penyiram… Itu adalah parlemen wahai tuan profesor, dan di dalamnya ada akal yang cerdas, hati yang keras, jiwa yang berprinsip, dan sifat yang beriman. Dialah yang menjaga kepentingan bangsa, dan tidak akan mungkin dengan keadaan apa pun ia menjadikan anak-anak kita di universitas ini sebagai kemarahan hati kita dalam kekufuran dan pemberontakan mereka, kutukan sejarah kita dalam penghinaan dan merendahkan mereka, dan musuh agama kita dalam keraguan dan kebebasan tanpa batas mereka.

Sesungguhnya ketika anak orang bodoh keluar sebagai orang berilmu, maka telah terikat kuat antara dia dan ayahnya dengan tambahan kasih sayangnya kepadanya dan rahmatnya padanya. Dan ketika anak Muslim keluar sebagai kafir yang meremehkan Nabinya dan Kitabnya dan ulama agamanya dan sejarah kaumnya, mengintai semua itu dengan tipu dayanya dan pekerjaannya, maka telah terputus antara dia dan ayahnya dan keduanya menjadi kutukan bagi yang lain. Agama mewajibkan ayah untuk berlepas diri dari anaknya dan membuangnya. Maka kami tidak memberikan kalian nasab-nasab kami untuk kalian putuskan, dan tidak jiwa-jiwa kami untuk kalian binasakan. Dan laknat Allah atas kebebasan berpikir yang pertama-tama di dalamnya adalah aku menjadi musuh ayahku dan ayahku menjadi musuhku!

Sesungguhnya universitas ini setelah apa yang telah tampak darinya dan dari rektornya lebih berhak untuk diawasi daripada orang-orang yang bersalah dan tertuduh dan “yang mencurigakan” sampai ia lurus pada jalannya dan niat bangsa tulus padanya serta para ulama dan sastrawan mempercayainya. Sebagaimana ia diberi kemandirian “tahun percobaan”, ia harus kehilangan itu “tahun percobaan” hingga dua tahun hingga tiga hingga seratus hingga akhir umur Thaha Husein dan orang-orang sepertinya yang datang ke universitas ini dari sejarah kotor yang ternoda dengan ateisme yang tidak ada di dalamnya tempat kepercayaan dan amanah.

Ketahuilah bahwa bangsa Islam benar-benar tahu bahwa ia diuji dalam daftar musibahnya dengan sekelompok dari orang-orang cerdasnya yang menentang pendapatnya dalam agama, akhlak, bahasa, dan sastra. Mereka dalam itu adalah kaum yang sakit akalnya yang terkena semacam apa yang disebut gila ide tetap, maka tidak ada kekuatan dari berbagai kekuatan yang mengembalikan mereka dari pendapat-pendapat dan khayalan-khayalan mereka dalam perbaikan selama mereka aman dan mendapat rezeki. Sebagian dari mereka ini ingin menjadikan bahasa menjadi bahasa awam agar bangsa suatu hari sampai pada melupakan Alqurannya dan mengabaikannya serta melepaskan diri darinya. Sebagian mereka mempercepat akibat ini maka ingin melepaskan diri dari agama ini dengan satu pukulan dengan keputusan dari pemerintah atau dengan kegilaan pemerintah seperti yang terjadi di Turki. Yang berakal dari mereka adalah yang berpegang teguh dan bersabar dan mengambil cara menuju tujuannya dengan lembut, tenang, tipu daya, dan politik, maka ia pergi untuk mencetak bangsa dalam akal mereka di sekolah besar seperti universitas…!

Syaratnya dalam sekolah ini adalah bahwa ia untuk pemerintah, karena ia tahu kebutuhan orang pada sekolah-sekolahnya dan ijazah-ijazahnya, kemudian bahwa ia mandiri dari pemerintah berdiri atas kebebasan berpikir dengan teks undang-undangnya. Dengan makna yang lebih jelas dari ini, kelompok cerdas ini ingin agar pemerintah bekerja dalam mengkafirkan bangsa secara sadar atau tidak sadar. Dengan makna yang terbuka dan terang: mereka ingin dari wakil-wakil bangsa untuk meruntuhkan bangsa yang telah menunjuk mereka sebagai wakil, maka sungguh buruknya kutu jahat yang membayangkan bahwa ia akan melahirkan empat belas juta kutu untuk jatuh di kepala setiap orang Mesir satu… Kemudian barisan pertama yang menyerbu tidak lain adalah untuk kepala para wakil khususnya…!

Anggaplah Universitas Mesir berdiri sendiri dan dengan apa yang diwakafkan untuknya oleh para wakif dan tidak ada urusan pemerintah dengannya dan tidak menggabungkan dua sekolah hukum dan kedokteran, dan jadikanlah ia dengan itu mandiri sampai batas paling jauh dalam kemandirian, berdiri atas makna paling luas dalam kebebasan berpikir dan mengkafirkan. Apa yang akan berguna baginya semua itu dan berlipat-lipat itu? Sesungguhnya ia pada hari itu hampir tidak dapat mengingkari Ibrahim dan Ismail sampai tidak terlihat seorang Muslim, Yahudi, atau Nasrani, dan sampai ia menjadi kosong di atas tiang-tiangnya dari Thaha dan orang-orang seperti Thaha. Ini adalah kebenaran yang tidak ada keraguan di dalamnya. Bukanlah urusan bahwa orang-orang cerdas ini ingin menggunakan para wakil untuk memaksa bangsa memaksa pada meretakkan dasar sosialnya dan menghancurkan bangunan sejarahnya, dan ini pekerjaan mereka. Dan bukanlah dalam urusan itu kebebasan berpikir, tetapi kebebasan bekerja, bahkan kebebasan kebodohan yang menipu, bahkan kebebasan menggunakan otoritas jabatan!

Bangsa telah berteriak dari kebodohan Thaha Husein dan kecerobohannya. Apa yang dilakukan rektor universitas bahkan apa yang dilakukan Thaha selain ia menambahkan pada itu peringatan bangsa dalam anak-anak mereka bahwa pelajaran tahun mendatang akan membahas Alquran dari sisi sastra, dan ia mengatakan ini padahal dia adalah dia yang mendustakan Alquran dari sisi sejarah. Jika ia terang-terangan setelah itu atau menipu maka ia sama sekali tidak dapat dipercaya.

“Kemandirian universitas untuk kepentingan sistem pendidikan tinggi.”

Ini adalah ungkapan yang dikatakan tuan rektor dengan bahasa Arab yang lurus. Jika engkau menambahkan padanya makna masa yang terjadi maka akan menjadi seperti ini: “menanam universitas untuk mencabut apa yang dapat dicabut…”

Sesungguhnya kebatilan tidak pernah menemukan kekuatannya dalam tabiatnya, tetapi kekuatan datang kepadanya dari sisi lain lalu memegangnya agar tidak hilang. Jika ia mengendur maka ia jatuh dan jika hilang darinya ia lenyap. Adapun kebenaran maka tetap dengan tabiatnya, kuat dengan dirinya. Maka universitas sesungguhnya khawatir atas kebatilannya lalu menginginkan baginya kekuatan undang-undang dan perlindungannya. Seandainya ia memiliki kebenaran, ia akan berkata kepada orang-orang: ini pekerjaanku maka bongkarlah jika kalian mampu, dan ini ilmuku maka kritiklah jika kalian masuk dalam keraguan darinya! Tetapi ia berlindung pada tipu muslihat yang aneh ini dalam meminta kemandirian dan kebebasan berpikir. Sesungguhnya ia dengan permintaan ini menghina bangsa dan merendahkannya dalam ilmunya sebagaimana ia merendahkannya dalam agamanya sebelumnya, seakan-akan bangsa adalah bodoh dan dungu yang memusuhi pikiran bebas karena ia tidak mampu membantahnya atau membongkarnya. Maka universitas karena itu meminta para wakil untuk melindungi pemikirannya dan memisahkan antara ilmunya yang tinggi dan kebodohan bangsa.

Kami telah berdebat dengan universitas ini dan membungkamnya sampai ia tidak memulai dan tidak mengulangi. Maka seakan-akan ia sekarang dengan apa yang dimintanya dari kebebasan berpikir ingin lolos dari setiap perdebatan dan diskusi dan menjadikan itu sebagai prinsip dalam undang-undangnya sehingga tidak ada seorang pun yang mengkritiknya dan tidak ada seorang pun yang mengharapkan darinya jawaban.

Dan kami tidak mengenal dalam sejarah bangsa-bangsa bahwa ada bangsa yang wakil-wakilnya memutuskan kebebasan kebodohan di sekolah terbesar di dalamnya!

Apa nilai kebebasan berpikir padahal engkau tidak menemukannya dalam keadaan paling agung, sebab paling besar, dan lintasan paling luas kecuali pada orang-orang yang dungu, orang yang was-was, dan kelompok mereka?

Sesungguhnya yang penting adalah ketinggian pemikiran sebelum kebebasannya. Seharusnya pemikiran itu kuat dalam menghadapi kritik, karena ia benar bukan palsu, dan hak bukan batil. Ketika pemikiran seperti itu maka ia tidak membutuhkan undang-undang yang melindunginya, karena undang-undangnya adalah perdebatannya. Adapun jika ia selain ini maka datang lemah, argumennya lemah, dalilnya rapuh, tidak mampu menolak keberatan.

Kemudian adalah keadaan bahwa pemikir peneliti mengatakan apa yang ia mau dan para pengkritik mengatakan apa yang mereka mau tanpa hasil di sini dan di sini. Demi umurku, sesungguhnya ini bukanlah kebebasan berpikir tetapi ia adalah kebebasan kesalahan, dan kesalahan selalu terikat dalam cara apa pun ia datang dan dari siapa pun ia terjadi.

Semua syariat telah membuat bagi pikiran ikatan-ikatan dan batas-batas, sebagian darinya adalah penghalangan dan sebagian darinya adalah hukuman, dan demikianlah. Untuk apa polisi, kejaksaan, pengadilan, para wali, para muhtasib, syariat, dan undang-undang, kecuali agar semua ini menjadi batas-batas bagi pikiran dan perbuatan, sebagaimana kami katakan kesalahan bahwa ia harus selamanya tidak berjalan kecuali dalam belenggu.

Tampak bagi kami bahwa tuan rektor universitas tidak memahami kami dengan pemahaman yang benar, atau jika tidak maka kami tidak memahaminya. Sesungguhnya ia mengatakan kebebasan berpikir, dan kami mengatakan nilai berpikir. Ia menginginkan kebebasan pendapat, dan kami menginginkan kebenaran pendapat. Ia menginginkan pelepasan lidah, dan kami tidak melihat kecuali pelepasan kebenaran-kebenaran yang berbicara. Jika pendapatnya benar maka wajib pemerintah melepaskan setiap orang di rumah sakit orang gila yang pikun dan mengigau dan tidak ada bahaya kecuali dari lidahnya, karena harus ada bagi mereka bagian mereka dari kebebasan berpikir sebagaimana ada bagi universitas bagiannya. Jika pendapat kami benar maka wajib mereka tetap dalam belenggu kedokteran, karena kedokteran ini memiliki wewenang syar’i atas akal mereka dan pikiran mereka sebagaimana parlemen memiliki wewenang syar’i atas akal universitas dan pemikirannya.

Ada jenis pemikiran yang lebih buruk bagi orang-orang daripada penghapusan pemikiran. Sesungguhnya pengabaian pikiran dan ketundukan manusia kepada tabiat dan nalurinya membangkitkan kesalahan-kesalahan berbeda yang pasti terjadi, tetapi ia menunjukkan pada dirinya bahwa ia adalah kesalahan-kesalahan, karena tidak ada bersamanya kecuali kebenarannya yang tampak terbuka yang telah dikenal orang dan mereka tahu dengan ilmu akal mereka bahwa ia adalah salah.

Adapun jenis dari buruknya pemikiran itu maka ia melibatkan ahlinya dalam kesalahan-kesalahan yang pasti terjadi. Jika ia terjadi maka pasti ia keras kepala bahwa ia adalah kesalahan-kesalahan dan pergi menipu orang dan menyamarkan kepada mereka dan menggoda orang-orang lemah mereka, karena bersama mereka adalah perdebatan, keras kepala, niat buruk, dan tipu daya yang buruk. Dan semua ini yang menyembunyikan kebenarannya dan menampakkannya dalam selain penampakannya dan mengenakan kebatilannya dari hiasan kebenaran. Dan buku universitas – Puisi Jahiliyah – adalah contoh terakhir yang dunia keluarkan dari jenis ini sebagaimana engkau ketahui dari apa yang kami kemukakan dalam pembongkaran terhadapnya.

Jika universitas sesungguhnya menginginkan ini maka ia adalah penyamaran, penipuan, dan tipu daya meskipun namanya adalah pendapat, pikiran, ijtihad, baru, dan apa yang mereka mau. Jika parlemen membolehkannya bagi universitas maka wajib ia memaksakan padanya bersamanya pendirian pelajaran yang ia namai pelajaran kesalahan… agar pelajaran ini memberi manfaat kepada murid-muridnya yang malang latihan dan pengalaman dalam menyadari kesalahan guru dengan diri mereka sendiri, maka mereka mampu untuk mengoreksi bagi orang seperti Thaha Husein semua kesalahannya atau sebagian besarnya atau paling tidak yang paling keji.

Kami tidak mengingkari universitas dan tidak menentangnya jika ia menyajikan racun dalam botol racun. Seandainya ia melakukan itu maka binasa siapa yang binasa dengan jelas – dan ia tidak merasakan. Sebagaimana permintaannya dari parlemen tidak lain adalah permintaan izin baginya dalam racun-racun sastra dan ilmiah – tetapi yang kami ingkari padanya adalah ia menyajikan racun dalam botol obat maka ia menipu, dan meminumkannya kepada orang maka ia membunuh, dan mengambil atas itu upah maka ia mencuri. Dan semua ini yang kami hormati ia darinya dengan penghormatan yang sangat, tetapi semua ini telah terjadi dalam pelajaran Thaha Husein!

Tuan rektor mengatakan dalam kebijaksanaan emasnya: “Apakah engkau lihat jika engkau berpikir di bawah perwalian orang lain, apakah engkau berpikir? Jika kecenderungan pengajaran terkait dengan selain kelompok para pengajar maka kemajuan ilmiah adalah khayalan dari khayalan.”

Dan kami – menyetujuinya atas ini karena ia adalah dari hujah kami atas dia. Maka kami tidak mengatakan dengan meninggalkan kecenderungan pengajaran di universitas untuk kepentingan pengaturan misalnya, tetapi kami adalah dari mereka yang melihat meninggalkan setiap keahlian kepada ahlinya dan yang menguasainya. Dan marilah kita beri contoh sekarang, antara kami dan universitas. Apakah semua “kelompok para pengajar” dalam sastra adalah Thaha Husein yang tidak ada di universitas untuk sastra selain dia, ataukah engkau mendapati dari mereka di Kementerian Pendidikan, di Al-Azhar, di jabatan-jabatan pemerintah, di surat kabar, dan lain-lain? Jika yang pertama maka batallah perkataan kami dan biarlah kami patahkan pena ini dan biarlah kami istirahatkan diri kami dari perdebatan dengan dunia terkecil yang bernama Thaha Husein… Dan jika yang kedua maka pelajaran sastra di universitas harus terikat dengan pendapat-pendapat (kelompok para pengajar). Jika universitas menolak maka atas dia untuk berdebat dengan siapa yang membantahnya dalam itu. Tidak ada jalan keluar dari salah satunya tetapi ia tidak menerima salah satunya!

Seandainya universitas ini memiliki nilai ilmiah dan adalah: tidak melipat di bawah ilmu niat lain, ia akan mengundang para sastrawan dan ulama untuk berdebat dengannya dan memberi mereka pahala atas itu dan tidak diam dari orang seperti kami dan tidak menutup pintunya di hadapan sahabat kami profesor Al-Khudari Bek bekerja dalam membisukan dia dan membisukan lainnya, baik dengan perkataannya dan permintaannya atau dengan diamnya dan pengabaiannya.

Bahkan yang lebih memalukan dari ini adalah bahwa gurunya sendiri berkata di awal bukunya halaman 15: “Dan kamu akan melihat bahwa aku tidak berlebihan ketika aku meminta sejak sekarang… kepada mereka yang tidak dapat melepaskan diri dari yang lama… agar tidak membaca bab-bab ini” demikian bunyi teksnya.

Demi Allah, seandainya Universitas adalah sekolah seperti sekolah-sekolah lainnya yang memahami makna ilmu dan mengetahui bahwa ia adalah amanah, janji dan ikatan, niscaya ia akan menghukum gurunya dengan hukuman berat karena kata-kata ini saja, karena ia mempermalukan universitas dengan sangat buruk dan menghilangkan kepercayaan kepadanya dan kepada ilmunya; sebab tidak ada kepercayaan pada suatu pendapat kecuali setelah diverifikasi dan dikritik, dan kritik tidak akan menjadi kritik jika datang dari pendukung dan pembelamu, bahkan ia adalah kritik jika datang dari penentangmu dan mereka yang mengingkari pendapatmu, kemudian kritik itu tidak sempurna maknanya kecuali jika datang dari yang paling kuat pemikirannya, paling benar pendapatnya, dan paling fasih penanya; jika orang seperti ini dan yang serupa dengannya tidak mengkritikmu, maka doronglah mereka kepadamu dengan paksa, tantanglah mereka, dan lemparlah mereka dengan tuduhan ketidakmampuan jika mereka tidak melakukannya; karena hujjah bukanlah milikmu dan bukan pula milik mereka, melainkan ia berpihak kepada yang menang di antara kalian; bahkan hujjah yang benar sekalipun ia selalu sangat membutuhkan hujjah lain untuk mendukungnya atau menafsirkannya atau membatasinya atau mencegah kerancuan antara dia dengan yang lainnya, maka segala sesuatu kebenaran dan kesempurnaannya hanya dalam pertentangan dan kritiknya, karena pertentangan adalah setengah dari kebenaran meskipun ia bukan kebenaran, karena ia menerangkannya, menyingkapkannya, memotong lidah-lidah tentangnya dan menghilangkan prasangka terhadapnya, dan dari sinilah akan tampak bagimu rahasia mukjizat yang mengagumkan yang mencapai puncak ketelitian dalam Al-Qur’an Al-Karim, karena kitab ini berbeda dari kitab-kitab samawi dan duniawi, ia sendirilah yang menyendiri dalam menantang makhluk dan menetapkan tantangan ini di dalamnya, dan dengan itu ia menetapkan kaidah tertinggi dari hak kemanusiaan dan meletakkan fondasi konstitusional yang bebas untuk mewujudkan pertentangan dan melindunginya, dan ia menegakkan bukti bagi orang-orang yang beriman atas orang-orang yang kafir, dan ketidakmampuan menghadapinya menjadi hujjah yang mematahkan yang memiliki kekuatan seperti yang ada pada hujjah lainnya dalam kemukjizatannya, maka ia meninggikan kedua hujjah sekaligus, dan itulah prinsip yang tanpanya tidak ada kemerdekaan dan tidak ada kebebasan, dan kebenaran jika kamu teliti tidak lain adalah kemenangan dalam pertempuran pendapat; dan kesalahan tidak lain adalah kekalahan di dalamnya, tidak kurang dan tidak lebih, dan hanya dengan inilah timbangan akal tegak dalam kemanusiaan ini.

Tuan Direktur berkata: “Menurutmu, jika kamu berpikir di bawah perwalian orang lain, apakah kamu sedang berpikir?”

Jika aku tidak berada di bawah perwalian orang lain wahai Tuan Direktur, tetapi aku berpikir di bawah perwalian keinginan gila dan niat buruk yang telah disaksikan oleh seluruh umat, apakah aku menurutmu sedang berpikir?

Tidakkah kamu melihat bahwa aku ketika itu, jika kamu adalah orang yang adil, bahwa aku sangat membutuhkan perlindungan dari perwalian yang berbahaya dengan perwalian yang tidak kurang dari mencegah bahaya; dan apa perbedaan antara keinginan yang menyentuhku dari orang lain sehingga merusak pemikiranku, dengan keinginan yang menyentuh orang lain dariku sehingga merusak baginya pemikiranku?

Dan apakah Thaha berpikir di Universitas agar para malaikat menulis tentangnya ataukah agar para mahasiswa menulis tentangnya?

Sungguh aku khawatir wahai Tuan Guru yang mulia tentang kemerdekaan Universitas dan kebebasan pemikirannya! Karena pembicaraan ini jika ditafsirkan dengan perbuatan-perbuatan Universitas, maka maknanya dan hasilnya adalah bahwa Parlemen akan menambahkan kepada hak-hak istimewa asing yang ditimpakan pada umat ini, hak istimewa untuk negara Istana Zafarran… yang berkunci-kunci…

Kami mengetahui bahwa Tuan Guru yang mulia, Direktur Universitas adalah seorang pria yang keras dan tertutup seperti pintu-pintu yang kokoh satu di belakang yang lain, jika kamu mencoba membuka satu pintu darinya maka ia terbuka bagimu setelah jerih payah dan usaha keras serta pergulatan panjang, kemudian di hadapanmu ada pintu lain yang memaksamu untuk melakukan seperti apa yang telah kamu lakukan dan kamu memulai lagi apa yang telah kamu selesaikan, maka kamu tidak memperoleh hasil yang berarti dari orang itu, karena ia adalah seorang filosof yang logis, cerdik, dan berpengetahuan luas yang kembali dari watak cerdasnya kepada buku-buku para filosof, dan dari buku-buku para filosof kepada watak cerdasnya, maka ia selalu waspada dan siap, dan gembok-gembok filosofisnya tidak pernah jauh dari jangkauan tangannya, maka jika ia meletakkan pintu dari pintu-pintu pembicaraan antara kamu dan dirinya, ia mengambil satu gembok, dua gembok, dan tiga gembok lalu mengunci dan mempersulit, maka ia di antara orang-orang seperti yang menyimpang dalam kaidah.

Adapun kaidah maka ia tersebar luas di banyak hal, adapun yang menyimpang maka ia adalah kaidah bagi dirinya sendiri.

Dan kami memiliki persahabatan lama dengan Tuan Guru, maka kami tidak mengetahui kecuali bahwa ia adalah orang yang adil, dan kami tidak menyangka kecuali kebaikan padanya.

Dan ketika kami menerbitkan jilid pertama dari “Sejarah Sastra Arab”, ia menulis tentangnya editorial “Al-Jarida” dan berkata kepada kami dengan lisannya bahwa ia menghabiskan seminggu berpidato di majelis-majelis ibu kota tentang buku ini; dan perbuatan dan ucapannya: (dan sebab lain) adalah yang membuat muridnya yang mulia Doktor Haikal marah sehingga ia menyambut kami waktu itu dengan tintanya dan menyiram buku itu dengan dua artikel dari parfum hitam… kami tidak membalasnya hingga hari ini, dan keduanya ada dalam bukunya yang terakhir yang ia namakan “Waktu-waktu Luang” maka sebaiknya para pembaca melihatnya; karena kami kagum pada orang-orang cerdas dengan kecerdasan mereka dan kami tidak peduli apa yang menimpa kami dari mereka; karena dada bergejolak dan watak mengalahkan kami dan pada manusia ada apa yang ada pada mereka, dan kami jika aman dari kesalahan diri kami sendiri maka tidak akan merugikan kami bahwa manusia salah terhadap kami; dan sungguh sahabat kami Tuan Guru Hifni Bek Nashif berbicara kepada kami waktu itu tentang membalas kedua artikel ini, maka kami berkata kepadanya: ketika bangunan – Haikal – selesai maka tampak dinding yang miring! Dan Haikal masih sedang dibangun!

Kami menulis ini karena seorang guru besar dari pengajar sastra Arab mengklaim kepada kami bahwa gagasan Thaha Husain yang ia kerjakan di Universitas adalah gagasan Tuan Direktur Universitas, dan bahwa Thaha bukanlah apa-apa baik besar maupun kecil, melainkan ia seperti terompet yang suara dinisbahkan kepadanya padahal suara itu dari orang lain.

Ia berkata: Dan sesungguhnya Thaha bangga dengan kedudukannya dari Tuan Guru karena ia adalah muridnya dan pemilik pendapatnya dan pembawa gagasannya, dan sesungguhnya Tuan Guru karena itu mengambil Thaha di Universitas dan menolak yang lain, dan karena sebagian itu ia membela dia sebagaimana orang yang memiliki keyakinan membela apa yang ia yakini; maka perkara antara umat dan Universitas dalam perselisihan ini yang terjadi di antara mereka lebih mirip dengan bentrokan antara dua agama yang salah satunya harus menang, kemudian jika ia menang maka ia akan merata; maka umat berada pada tahap menuju kejahiliyahan atau Islam; dan tidak ada sesuatu yang namanya kebebasan berpikir atau kemerdekaan Universitas, ini hanyalah kata-kata politik dialektis yang ditempatkan pada ukuran-ukuran yang tampak dan pada ukuran-ukuran lain yang tersembunyi, agar yang tampak adalah yang berkaitan dengan ucapan, dan yang tersembunyi adalah yang berkaitan dengan perbuatan.

Dan seandainya tidak demikian, niscaya pada sebagian kesalahan Thaha Husain ada yang melemparnya dari atas tembok dengan tergesa-gesa dari mereka dalam mengeluarkannya dan berlepas diri darinya, karena kesabaran mereka akan habis sebelum pintu dibuka untuknya; tetapi bagaimana mungkin bagi mereka sedangkan Thaha dalam hal itu adalah gagasan bukan orang, dan ia telah mengetahui sebelumnya kebahagiaan dan kesusahan akibat ini, dan bom ini tidak dilemparkan dari meriam ini sedangkan ia terisi penuh kekufuran kecuali untuk menghancurkan keimanan yang tegak, dan seperti Thaha Husain bukanlah meriam perayaan… tetapi ia adalah meriam medan perang.

Ia berkata: Dan kami memiliki banyak undang-undang, tetapi undang-undang Universitas Mesir yang diajukan kepada Parlemen dibuat untuk melanggar undang-undang dan melepaskan diri darinya!

Kami memiliki undang-undang yang mereka namakan undang-undang “Tempat yang mengganggu ketenangan” dan kami sekarang membutuhkan undang-undang yang mereka namakan undang-undang “Tempat yang mengganggu hati nurani”. Berakhir ucapan Tuan Guru.

Dan aku tidak meyakini ini dan tidak mengatakannya, meskipun aku melihat di dalamnya gambaran-gambaran, tetapi menurutmu apa rahasia keheningan yang mengherankan ini pada Direktur Universitas sehingga ia tidak menjawab umat dan tidak meminta maaf kepadanya dan tidak peduli padanya dan tidak mengetahui haknya, dan sementara ia menyala-nyala atas dia dan atas universitasnya dan atas guru universitasnya, kami melihat di tangannya ada kipas dan di tangan Thaha ada dua kipas…

Dan yang mengherankan dari Tuan Guru yang mulia ini adalah bagaimana peristiwa-peristiwa memindahkannya dari satu kedudukan ke kedudukan lain sedangkan ia ringan di tangannya dan tidak berat baginya suatu pendapat dan tidak berbobot baginya akal, dan ia masih berpindah dalam peristiwa ini dari buruk ke lebih buruk, dan ia masih menyempitkan dirinya sendiri dan kecerdasannya tidak melapangkan baginya, maka ia berada dalam kesalahan yang kebenarannya dekat dan uzur darinya mudah dan pembicaraan di dalamnya mudah, tetapi ia bersikeras padanya; dan dari kemalangan dunia bahwa kesalahan-kesalahan itu seperti lalat: yang satu darinya kemudian setelah sebentar ia menjadi seribu.

Maka tidak lain dari kekeraskepalaan Direktur Universitas kecuali ia membuat tuduhan itu memiliki akar dan cabang padahal ia adalah tanaman yang tidak kokoh dan aku tidak sampai kecerdasanku untuk menembus rahasia itu atau mengetahui hakikatnya, karena aku adalah orang yang bodoh jika pemikiran membawaku kepada keras kepala seperti keras kepalanya Tuan Guru Lutfi Al-Sayyid demi kebodohan seperti kebodohan Thaha Husain.

Akan tetapi salinanku dari “Kalilah wa Dimnah” tidaklah bodoh, maka aku baru saja merujuk kepadanya dan ternyata Dimnah yang licik berkata: Dan janganlah kamu tertipu bahwa kamu yakin akan kelengahan orang-orang di sekitarmu, karena jika kamu tidak berada pada jarak yang jauh dari akibat kelengahan mereka maka kamu berada pada jarak yang dekat dari akibat tipu muslihatmu, dan sesungguhnya takdir jika ia melepaskanmu maka ia tidak meloloskanmu dari tangan kanannya kecuali untuk menangkapmu dengan tangan kirinya, maka janganlah kamu tenang pada jarak antara kedua genggaman itu jika tidak ada cara untuk tidak jatuh di salah satunya.

Dan telah dikatakan bahwa tidak ada yang lebih bodoh dari kelengahan pada dua hal: orang yang berjalan di padang pasir yang matahari menyengat dan ia menghirup api dari panasnya, lalu ia mandi dengan air yang ia bawa sehingga ia menjadi dingin dan segar dan menolak panas terik, dan kenikmatan yang segera membuatnya lupa apa yang di hadapannya dan ia buta terhadap padang pasir dan kehausan-kehausannya dan ia mengira bahwa ia telah mengalahkannya dalam kenyamanan dirinya dan meringankan urusannya, maka tidak akan ada darinya setelah ia meminum airnya di suatu tempat kecuali ia akan meminum rohnya di tempat lain, dan kelengahan orang yang licik dan penipu yang tenang kepada tipu daya dan penipuannya sedangkan ia memperlakukan dengannya suatu umat yang sempurna.

Maka hampir ia akan mengalami apa yang dialami oleh orang yang memiliki gembok-gembok ketika ia mengunci dengan gembok-gemboknya pada dua aib maka gembok-gemboknya menjadi aib yang ketiga.

Kalilah berkata: Dan bagaimana itu terjadi?

Dimnah berkata: Mereka mengklaim bahwa seorang pria yang bijaksana dan filosof berada di negeri demikian, dan ia tulus kepada manusia tidak henti-hentinya ada hak mereka yang ia tunaikan, maka ia menulis dan mengarang pada suatu masa, kemudian ia berpidato dan berbicara pada suatu waktu, kemudian ia melepas dan mengikat dalam tali-tali politik, kemudian mereka mendirikan sekolah untuk umat ini maka mereka tidak menemukan selain dia yang mengepalainya (karena harapan-harapan di dalamnya sesuai dengan kepercayaan kepadanya, dan bahwa ia adalah orang yang lurus dorongan hati, baik jiwa, berbaik sangka kepada siapa yang ia pilih, dan ada dari kelompoknya dan pengikutnya seorang pria yang sombong yang menisbahkan dalam pendapat-pendapat dan ilmunya kepada Tuan Guru yang mulia ini, seperti biji dalam buah yang matang, maka ia adalah kepahitan di bawah kemanisan, dan ia dari pengaruh tanah bumi dalam pengaruh air surga.

Dan ia adalah sesuatu yang seandainya bukan karena tempatnya dari buah itu, tidak akan ada tempat baginya kecuali di mana ia dibuang dan diabaikan, tetapi takdir, dialah yang meletakkannya di tempat itu maka seolah-olah ia adalah kesalahan yang ditutupi oleh kebenaran.

Kemudian sesungguhnya orang yang sombong ini melakukan usahanya dan membebani orang yang baik itu dengan syafaat kelenggahannya yang filosofis, karena dikatakan bahwa setiap filosof memiliki sifat-sifat yang dengannya ia mengungguli manusia tetapi sifat-sifat itu tidak akan berkumpul padanya kecuali menciptakan padanya sifat yang dengannya manusia mengungguli dia, tidak ada yang terhindar dari itu, karena makna kemanusiaan yang murni tidak jernih pada seorang pun selain para Nabi, maka kemanusiaan pada mereka tersaring dan pada selain mereka seperti air: kamu menyaringnya dan membiarkannya di tempat penyimpanannya maka jika membiarkannya tidak menimbulkan kekeruhan di dalamnya maka ia menimbulkan makna kekeruhan di dalamnya, maka kamu masih akan menemukan setelahnya di dasarnya dari serangga-serangga dan kuman-kuman, dan itu adalah makna apa yang dibawa oleh air yang keruh dari campuran dan debu dan tanah atau ia lebih buruk darinya, dan seandainya bukan hikmah Allah ini dan bahwa pasti bagi setiap filosof ada kelengahan dan kejatuhan, dan bahwa ilmu tidak menolak dari itu suatu jenis kecuali untuk mendatangkan jenis lain – niscaya kamu tidak akan melihat orang berilmu yang lebih jatuh jiwanya dari orang bodoh, dan tidak filosof yang dipermainkan oleh orang awam dalam sebagian urusan dunianya seperti jual beli dan saling memberikan sebab-sebab kehidupan.

Damnah berkata: Kemudian orang yang tertipu itu menang dan sang filosof memudahkan jalannya dengan cara yang menakjubkan, sehingga dia menjadi seorang profesor di sekolah tersebut. Ketika dia telah mantap di posisinya, dia berkata: “Betapa layaknya semua orang menjadi orang bodoh jika filosof temanku ini seperti yang aku lihat. Akan kubuat untuknya ilmu pengetahuan seperti kecurangan yang telah kulakukan terhadapnya, karena dia tidak menguasai apa pun dari yang kukatakan, dan dia lemah dalam agama sebagaimana dia lemah jiwanya. Aku tidak melihat diriku mengumumkan sesuatu tentang diriku sebagaimana kekufuran mengumumkan tentangku, maka agama akan menyerangku dan filsafat akan menolakku. Maka aku akan mengumpulkan sifat-sifat yang tidak pernah terkumpul pada seseorang sebelumku, dan aku akan menjadi seperti bendera yang orang-orang berjatuhan di sekelilingnya sementara bendera itu tetap berdiri.”

Kemudian dia menyerang ilmu pengetahuan dan sastra serta menganggap bodoh setiap orang yang tidak bodoh dengan kebodohannya dan tidak berkoar-koar dengan koar-koarnya. Dia seperti burung gagak yang mengklaim bahwa dia adalah penyair, penulis, dan filosof. Ketika mereka bertanya kepadanya tentang puisi, dia berkata “gaaq,” lalu mereka bertanya tentang penulisan, dia berkata “giiq,” lalu mereka bertanya tentang filsafat, dia berkata “guuq!” Maka dikatakan kepadanya: “Kami hanya mendapat gaaq, giiq, dan guuq darimu, lalu di mana puisi, penulisan, dan filsafatnya?”

Dia berkata: “Semoga Allah memotong lidah kalian, wahai manusia! Seandainya Allah mengganti lidah kalian dengan lidah gagak yang fasih sepertiku, kalian akan memahami apa yang kukatakan, tetapi kalian adalah kaum yang jahil!”

Damnah berkata: Ketika profesor sekolah itu berkoar-koar dengan koar-koar yang munkar dan membuat orang-orang mentertawakannya, sekolahnya, dan ilmu-ilmu sekolahnya, ejekan pun berterbangan dan jatuh, kemudian terbang lagi dan jatuh lagi, filosof itu berkata: “Sekarang aku membutuhkan akal dan kecerdasanku, karena orang bodoh ini telah menipu aku kemudian aku menipu orang-orang dengannya. Maka aku berada di antara dua aib dari satu aibnya. Dia bagiku seperti ekor bagi kuda. Jika aku berlari, dia ikut berlari tanpa berlari sendiri, tanpa lelah, dan tanpa merasakan apa yang kualami, hanya saja dia melekat padaku! Kebodohannya telah menjatuhkanku ke posisi ini, maka kakiku tidak akan membawaku kecuali jika aku menjadikan kedua kakinya sebagai dua tiang dari batu dan berpegangan di bumi dengan akar-akar yang menjadikan sepuluh jari kakiku sepuluh pohon.”

Kemudian aku akan bangkit setelah itu dengan bangkitnya gunung yang kokoh yang tidak bisa diturunkan kecuali dengan membelah bumi dari bawahnya, dan aku adalah pemilik kunci-kunci gembok. Tidak ada satu kata pun yang dibuka terhadapku kecuali memiliki gembok di sisiku. Kebodohan orang bodoh ini gembok-nya adalah “kebebasan berpikir” – jika mereka membuka dengan itu, kami akan mengunci dengan ini. Dan kekufurannya kami kunci dengan “kebebasan penelitian,” dan keangkuhannya yang mengerikan tidak memiliki gembok tetapi mungkin perkataan kami bahwa mereka iri kepadanya bisa menjadi gembok. Dan kejatuhan sekolah kami buatkan gembok dari “tahun percobaan,” dan buruknya hasil tidak ditutup dari kami kecuali dengan gembok “kekacauan di awal,” dan campur tangan pemerintah untuk mengatasi masalah gembok-nya adalah “berpikir di bawah perwalian orang lain.”

Dia berkata bahwa pemilik gembok-gembok itu terus membuat gembok untuk setiap aib… Maka orang-orang pun berteriak dan ketakutan. Mereka memiliki balai musyawarah, dan di dalamnya ada seorang pemimpin yang mengungguli semua orang dengan kecerdasannya, dan seolah-olah takdir telah menciptakan padanya sebab-sebab kekuatan sesuai dengan kebutuhan seluruh bangsa. Ketika kau melihatnya dalam lisannya, kejelasannya, kecerdasannya, hatinya, semangatnya, dan pekerjaannya, kau hanya akan berkata: “Dari sinilah arus kemanusiaan mengalir untuk diminum oleh seluruh lautan dalam bangsa ini!”

Dia berkata: Sang filosof mengumpulkan gembok-gemboknya dan memasang di atasnya semua gembok dari logam yang tidak bisa dilebur oleh api, namanya “kemandirian sekolah,” dan mengirimkannya ke balai musyawarah untuk mengunci mulut dan pikiran orang-orang. Tetapi pemimpin itu hanya melemparkan pandangannya padanya dan memutarnya di tangannya hingga gembok-gembok itu mulai runtuh dan pecah, dan mereka meleleh seperti garam yang dilempar ke dalam air. Setiap gembok yang jatuh membuka aib, kesalahan, atau kehinaan. Maka filosof itu berkata: “Inna lillahi (sesungguhnya kami milik Allah), keras kepala tidak membuat apa-apa kecuali satu pekerjaan yang awalnya tipu daya dan akhirnya kegagalan. Aku sebenarnya tidak perlu ini seandainya orang bodoh itu tidak memprovokasinya dan mengalahkan pendapatku seperti seorang anak mengalahkan ayahnya yang tertipu. Demi Allah, dia telah mempermalukanku dengan dirinya sendiri, kemudian kembali dan mempermalukanku dengan diriku sendiri, dan menjatuhkanku dengan kebodohannya sekali dan dengan ilmuku sekali lagi! Peristiwa-peristiwa telah mengejekku, maka disiapkanlah aku untuk menjadi pemilik gembok-gembok, hingga ketika aku menjadi pemilik gembok-gembok, aku dilempar dengan pemilik kunci-kunci!”

Tidak diragukan lagi bahwa Profesor Mulia Lutfi al-Sayyid telah mengubah seluruh logikanya menjadi khayalan seperti orang yang mengira jari-jari kakinya adalah sepuluh pohon. Kami tidak mengetahui darinya dalam peristiwa Universitas satu pendapat yang benar atau hujah yang kuat. Dia telah menjadi jika berbicara salah logikanya, dan jika diam salah diamnya. Itu bukan karena kelemahan lidah, bukan kepicikan pendapat, atau keruntuhan logika, tetapi dia membela sesuatu yang tidak bisa dibela, dan memihak seorang laki-laki yang telah dinyalakan baginya neraka jahanam dan dilaknat oleh Allah, para malaikat, dan manusia.

Apa yang bisa mendinginkan lempengan es jika tidak jatuh kecuali di antara lempengan-lempengan arang yang menyala.

Profesor Lutfi al-Sayyid memiliki dari pekerjaan, pendapat, dan pandangan jauhnya apa yang melindunginya untuk menurunkan dirinya ke posisi ini. Dia bukan penyair, bukan sastrawan, bukan ahli bahasa, bukan sejarawan sastra, sehingga cacat baginya bahwa dia telah tertipu oleh Thaha Husein, dan jatuhnya syekh atau khawaja ini memalukan baginya, dan setiap kesalahan yang dia lakukan mengharuskan baginya dua kesalahan: satu karena dia adalah sastrawan dan yang kedua karena dia adalah direktur Universitas.

Sesungguhnya Profesor adalah ahli hukum, penulis yang utama, dan pembaharu sosial, jadi apa urusannya dengan Thaha dan ilmu Taha? Tetapi dia menolak untuk menjadi direktur Universitas dalam pekerjaan yang tidak ada di dalamnya kecuali menjadi direktur. Dari sinilah kita melihat ulama besar itu berdalih dengan dalil-dalil yang paling lemah dan bersandar pada kata-kata dari jerami, seperti kebebasan berpikir, berpikir di bawah perwalian, menghancurkan Universitas, dan seterusnya… Dia mengatakan ini sambil mengetahui bahwa tidak ada seorang pun yang mendebatnya dalam makna-makna ini. Pertengkaran sebenarnya adalah tentang kebodohan Universitas, kejatuhan Universitas, kekufuran Universitas, dan kekacauan Universitas. Maka dia meninggalkan apa yang kita bicarakan untuk menarik kita ke apa yang tidak kita bicarakan, seolah-olah dia tidak tahu bahwa seperti ini dianggap dalam metode berbicara sebagai yang terburuk yang dilakukan oleh orang yang argumen telah ditegakkan terhadapnya dan bukti telah diwajibkan padanya. Dia mengira dia bisa lolos dengannya padahal itu tidak menambah baginya kecuali keterjerumusan dan tidak menambah kejelasan bagi orang-orang kecuali penjelasan.

Aku salah dalam pendapat tentang ilmu, lalu kau mengingkari dan menolakku. Maka aku terbawa emosi dan menganggap besar hal itu darimu, dan berat bagi diriku, aku, wahai sastrawan besar ini, bahwa dikatakan tentangku salah dan bodoh, dan bahwa itu tersebar di kalangan orang sehingga menjadi cela sastrawanku dan cacat padaku. Maka aku meninggalkan pendapatku dan pendapatmu, kebenaranmu dan kesalahanku, dan berkata: “Sesungguhnya kau hanya dengki dan hanya menimpakan kesalahan padaku, dan ini dari keibukanmu dan dendammu.” Dan aku pergi berbicara tentang dengki dan apa yang berhubungan dengannya, dan mengambil makna-makna dari akar-akarnya yang jauh, dan aku terus menjauh dari apa yang kita bicarakan. Aku tidak membuat sesuatu kecuali menambahkan kepada ketidakmampuanku berargumen cacat keras kepala di dalamnya, dan kepada kebodohanku tentang pendapat, kebodohan lain tentang metode pembuktian. Aku memperpanjang pertengkaran dengan perpanjangan yang semakin lama antara aku dan kau mengeluarkan dari ejekan orang-orang terhadapku apa yang aku berada di dalamnya dalam penutup yang paling lebar dan kesejahteraan yang paling luas… Dan aku terus keras kepala dan runtuh, dan orang-orang terus tertawa dan mengejek. Maka aku dari satu kesalahan menjadi tak terhitung, dan kesalahan itu menjadi warna-warna yang banyak setelah sebelumnya tidak berwarna. Aku berbicara seribu kata tetapi tidak datang kecuali dengan seribu kesalahan, dan kau berbicara satu kata maka kau datang dengan seribu kebenaran, karena setiap kesalahan dalam kebodohanku, kekerasan kepalaku, dan ketidaktahuanku berpihak padamu sehingga dihitung dalam kebenaranmu. Dan orang-orang di antara kita kembali ke asal yang kita bicarakan dari pendapat ilmiah, bukan ke asal yang aku tarik yaitu berbicara tentang dengki, dendam, dan apa yang keluar darinya.

Kami berkata kepada Universitas: sastra, agama, dan sejarah. Dia tahu bahwa kami dalam hal itu berada di posisi pembelaan, dan tidak ada manfaat bagi kami dan tidak ada tujuan kecuali perbaikan, dan bahwa bangsa ini berada di antara kami dan dia, dan bahwa bangsa ini bersama kami dan melawan dia. Maka dia berlindung dengan diam tentang semua ini dan tidak berbicara kecuali tentang kebebasan berpikir, menghindari kehancuran, dan ini dan itu. Seandainya dia tahu, dia akan tahu bahwa dia tidak menghancurkan dirinya sendiri kecuali dengan seperti ini. Universitas bukan direkturnya dan bukan profesornya, dan tidak memiliki di Departemen Kesehatan akta kelahiran atau akta kematian. Dia tetap ada sementara keduanya akan hilang. Apa yang tidak berhasil dicapai oleh direktur Universitas hari ini mungkin akan berhasil dicapai oleh direktur lain, dan urusan terikat dengan peristiwa-peristiwanya, dan segala sesuatu dengan waktunya, dan alam masih pada jalannya yang mengalir. Jika kami memaksanya ke selain itu, kami tidak merusaknya tetapi merusak pekerjaan kami dan kehilangan manfaat darinya.

Semua ini diketahui oleh Profesor direktur Universitas, namun pekerjaannya menunjukkan bahwa dia percaya bahwa Universitas adalah dirinya, dan bahwa jika dia tidak melakukannya, pekerjaan siapa pun setelahnya tidak akan bermanfaat baginya. Seolah-olah dia adalah ide itu sendiri, tidak ada selain dia dan Taha. Jika mereka berdua tidak ada, maka Universitas tidak ada, karena selain mereka tidak bekerja di dalamnya. Kemudian, seolah-olah ide itu tidak dipercayakan kepada bangsa atau pemerintah… dan tidak berjalan lurus dengan pengawasan mereka, karena Profesor Direktur melihat bahwa campur tangan pemerintah adalah kehancuran, kehancuran, kehancuran… Pendapat ini tidak akan benar, bahkan tidak ada jalan keluar dalam penafsiran kecuali jika campur tangan pemerintah adalah kehancuran bagi ide pribadi. Selain itu, Universitas milik siapa? Dan bagaimana pemerintah mendirikannya untuk menghancurkannya? Dan apa nilainya sebelum dilampirkan oleh Kementerian Pendidikan?

Sesungguhnya orang yang mengumumkan bahwa campur tangan pemerintah adalah “kehancuran” bagi urusannya tidak mungkin bisa menghukum pemerintah dengan lebih jelas atau lebih fasih dari perkataan ini, jika pemerintah ini dalam pandangannya berdiri atas permusuhan terhadap bangsa, konspirasi terhadapnya, dan merusak pekerjaan-pekerjaannya yang bermanfaat. Tidak sepantasnya direktur Universitas Mesir mengumumkan tentang Pemerintah Mesir seperti ini. Tetapi yang mengherankan adalah bahwa bangsa yang meminta campur tangan pemerintah, dan direktur Universitas sendirian yang menolak itu dan mencari-cari alasan yang lemah dan membuat gembok-gembok filosofis untuknya…

Maka bangsa dan pemerintah bersama-sama telah menjadi musuh Universitas dalam pandangannya, dan ini meskipun Universitas bukan miliknya dan dia tidak abadi di dalamnya. Maka tidak tersisa kecuali satu hal dari dua hal:

Entah Profesor Direktur sendirian yang tulus, dan dia sendirian yang memiliki pendapat yang benar, dan dia sendirian adalah orang seluruh bangsa.

Atau dia sendirian memiliki ide yang tidak berdiri kecuali dengannya sendirian dan ingin menundukkan Universitas untuknya!

Tunjukkan padaku bagaimana logika yang keluar dari dua pendapat ini menjadi pendapat ketiga, dan aku akan melempar pena ini di bawah “mesin penggiling batu…” Dan aku tidak akan kembali menulis satu huruf pun tentang Universitas!

Sesungguhnya hukum-hukum tidak mengenal pengecualian dan tidak tunduk padanya. Hanya saja deskripsi sesuatu berubah maka hukumnya berubah. Ini orang berakal dituduh melakukan kejahatan besar dan melakukannya maka dia dihukum. Dan ini orang gila melakukan dosa maka dia dibiarkan, dan masing-masing memiliki keadaan, dan setiap keadaan memiliki hukumnya. Maka dalam hal apa Profesor direktur Universitas ingin pemerintah mengawasi dan campur tangan di dalamnya? Apakah dia yang mendirikannya, memilikinya, dan merawatnya? Atau ketika dia tidak ada di bangsa maka tidak ada Universitas bagi bangsa? Tidakkah boleh dalam “percobaan” kecuali satu sisi dari kebodohan, kekacauan, dan kekufuran? Jika dikatakan cobalah keimanan, ketelitian, dan keteraturan, bukankah itu sia-sia dari kesia-siaan! Apa wajah pengecualian setelah skandal, kehinaan, dan terlihatnya yang tersembunyi, dan setelah satu tahun penuh dalam “kekacauan?” Harus ada wajah untuk pengecualian jika harus ada hukum selain hukum keadaan yang kau ada di dalamnya, jika tidak maka ini adalah kerusakan dalam dasar sistem dan pembalikan hukum-hukum. Kita di dalamnya seperti orang yang menghancurkan satu sudut di rumahnya untuk menambal retakan di sudut lain, seolah-olah setiap sudut mandiri dengan sendirinya padahal mereka berempat, dalam kehancuran salah satunya adalah kehancuran semuanya, karena mereka tidak diinginkan untuk diri mereka sendiri tetapi untuk apa yang dibebankan pada mereka. Dan penyakit kehancuran tidak menular dari rumah ke rumah tetapi menular dari sudut ke sudut. Dan ketika Universitas Mesir dan Bangsa Mesir berbeda dan pertengkaran antara mereka memanas, maka tidak tersisa dalam hukum akal bahwa dia adalah universitas seperti universitas-universitas lainnya, bahkan dia adalah kesatuan hukum, seperti minoritas dalam mayoritas. Jika tidak, maka kesatuan politik dalam bangsa seperti tentara pendudukan. Jika tidak, maka kesatuan ilmiah seperti dokter di antara pasien. Jika tidak, maka kesatuan akal seperti orang berakal di antara orang gila. Dan semua ini adalah penghinaan terhadap bangsa dalam lahirnya tetapi sebenarnya penghinaan terhadap Universitas dan kehinaan.

Tetapi bangsa dalam kebaikan. Di dalamnya ada orang-orang yang tegas, orang-orang yang berpendapat, dan orang-orang yang berakal. Maka apa nilai seorang laki-laki, atau dua laki-laki, atau beberapa laki-laki yang dipekerjakan oleh pemerintah di Universitas sehingga mereka memaksakan kehendak kepada bangsa dengan pemaksaan kehendak ini, menjadikan Universitas sebagai tempat merumput, dan kesombongan mereka mencapai tingkat mengejek seribu ulama agama, meremehkan semua sastrawan negeri, bersikeras pada apa yang mereka lakukan, sombong dengan kesombongan Iblis, mengejek bangsa, membohonginya, dan membuat klaim-klaim luas dengan dusta dan kebohongan!

Surat kabar “as-Siyasah” telah menerbitkan bahwa Universitas yang saleh dan baik ini telah membeli buku Thaha Husein dan menariknya dari pasar sehingga tidak dijual dan tidak dibaca, dan dengan ini menjatuhkannya dengan kejatuhan keemasan…

“As-Siyasah” berkata: Dan Yang Mulia Syekh al-Azhar telah ridha dengan solusi ini dan diam, maka tidak tersisa makna bagi keluhan para ulama dan perjalanan mereka ke sana kemari.

Dan “as-Siyasah” menuduh Syekh al-Azhar dengan kelemahan dalam pendapat dan ilmunya, karena jika itu benar maka Syekh tahu bahwa Thaha tidak bertobat dan memperbaharui Islamnya, dan bahwa buku imannya… yang diterbitkan oleh Universitas hanyalah ejekan terhadap al-Azhar dan orang-orang di dalamnya, dan pelemparan terhadap ahli lembaga mulia ini bahwa mereka diperbudak oleh huruf dan kata-kata, tidak menembus ke tujuan-tujuan dan motif-motifnya. Dan ulama al-Azhar, Syekh Yusuf ad-Dajawi, telah menulis tentang itu dan menamai buku Thaha sebagai tipu daya yang bodoh yang tidak berlaku kecuali pada orang bodoh!

Dan apakah boleh dalam pandangan Syekh al-Azhar bahwa Universitas membelanjakan dari wakaf-wakaf kaum Muslim untuk mengajarkan kekufuran, kemudian kembali membelanjakan dari uang-uang ini untuk membeli kekufuran dari pemiliknya?

Apa makna pembelian ini dan apa manfaatnya? Bukankah seluruh umat telah mengetahui isi buku tersebut setelah kami menerbitkannya dan para ulama sendiri menerbitkannya dalam keputusan mereka yang memuat putusan; sesungguhnya umat telah merugi dua kali agar Thaha mendapat keuntungan dua kali, dan buku itu diambil dari pasar sementara penulisnya tetap di universitas; betapa mudahnya mencuri dua kali bagi orang yang mencuri satu kali selama ia memang pencuri berdasarkan tabiat dan akhlaknya!

Tetapi bukankah dalam pembelian buku oleh universitas dan pembayaran harganya terdapat isyarat tentang arah jarum magnet di universitas ini, dan bahwa arahnya semata-mata kepada kepentingan pribadi, maka beritahukanlah kepadaku apa faedah keadilan dalam apa yang disebut hukum jika kita tidak merasa aman dari keberpihakan pribadi dalam diri orang yang disebut hakim.

Dan jika kita jadikan pembelian buku sebagai ukuran, maka katakanlah kepadaku bahwa ayam telah bertelur uang kertas, akan kukatakan kepadamu tidak diragukan lagi bahwa dalam perutnya ada mesin cetak… Katakanlah kepadaku kemerdekaan universitas, akan kukatakan kepadamu sesungguhnya itu adalah perlindungan bagi sebagian dosen di dalamnya… Katakanlah kepadaku kebebasan berpikir, akan kukatakan kepadamu sesungguhnya itu adalah perlindungan bagi pemikiran yang berdosa. Ia seperti yang kau lihat ayunan logis yang memiliki dua keranjang, kau tidak akan mengatakan bahwa salah satunya naik kecuali kau telah memberiku jawaban bahwa yang lain turun…

Kita tidak berada dalam dua keranjang dari urusan universitas ini, dan bukan dua pribadi; sesungguhnya kita berada dalam suatu pekerjaan yang memiliki akibat setelahnya; dan kami telah mengatakan kepada universitas lebih dari sekali bahwa ilmu sastra yang dihasilkannya akan menjadi ilmu sastra di seluruh Timur Arab; tetapi ia tidak memahami, maka ketika ia merusaknya, kami merusakkan ilmunya, dan seandainya kami tidak melakukannya, kami akan menjadi orang-orang yang berdosa dan bersalah; demi Allah sungguh menghancurkan universitas lebih ringan bahayanya daripada menghancurkan sejarah, karena jika ia ditutup hari ini akan dibuka besok, tetapi jika sejarah dihancurkan maka siapakah yang akan membangun “piramida Khufu” selain Khufu?

۞۞۞۞۞

Filsuf Semut…

Sebagian orang telah membuatku jengkel dan menyakitiku dengan kebaikan mereka, karena mereka menjadikan salinanku dari “Kalilah wa Dimnah” sebagai perhatian terbesar mereka terhadap sastra dan perbincangan terbanyak mereka dalam penulisan, maka setiap hari aku menerima dari tulisan-tulisan mereka yang tidak habis-habisnya aku heran, dan mereka tidak menyadari bahwa dengan itu mereka menghina Universitas Mesir, sebab bagaimana orang sepertiku mencapai kedudukan besar dalam bidang pernyataan dan penulisan sementara kita memiliki universitas besar ini dan di dalamnya ada sesuatu yang bernama profesor sastra Arab; maka mengapa mereka tidak meminta profesor sastra ini untuk menciptakan bagi mereka seni dari seni penulisan untuk menunjukkan nilai dirinya dan mengajarkan kedudukan mereka, kemudian menunjukkan dengan nilai diri dan kedudukannya tentang kedudukan universitas; dan sudah menjadi kebiasaan setiap universitas di dunia bahwa tidak diajarkan di dalamnya sastra kecuali oleh orang fasih yang inovatif yang membawa pena elektrik dalam menggabungkan dua kabel puisi dan penulisan, dan dalam cahaya kefasihan yang memancar dari keduanya sekaligus mengambil dari yang ini bahan dan dari yang ini bahan, maka ia melemparkan ungkapan yang bercahaya dan bersinar seperti kilat menyambar meskipun di dalamnya tetap ada kekuatan langit dan roh dari roh alam semesta seluruhnya.

Jika mereka mengatakan bahwa profesor sastra di Universitas Mesir adalah orang yang memiliki tabiat rendah, jiwa kasar, dan tertutup hatinya, orang awam mengungguli dia dalam hal keindahan pernyataan dan kesiapan tabiat puitis dan kelembutan jiwa, dan karena itu ia memusuhi kefasihan Arab dengan segala upayanya karena ia mengetahui kelemahan dalam ucapannya, dan dari itu apa yang ia klaim sebagai “baru” yaitu tidak diukur kecuali dengan ukurannya sendiri bukan dengan ukuran si Anu dan si Anu – jika mereka mengklaim itu, kami katakan: maka yang baru dalam semua ini adalah bahwa Universitas Mesir membawa kesaksian atas dirinya sendiri dari orang ini bahwa ia dalam salah satu dari dua keadaan: entah penipu yang menyesatkan, atau orang bodoh yang tertipu; maka tanyakanlah kepadanya mana yang ia alami?

Adapun jika Thaha Husein baru bagi dunia, asing di dalamnya dengan kecemerlangannya, terbuang dari kerajaan langit, terhalang dari kenikmatan surga, diutus khusus ke Mesir untuk memperbarui umat ini kemudian kembali ke langitnya setelah “mandat” ilahi ini… Maka Kalilah telah berkata: dan sesungguhnya kegilaan kadang-kadang berasal dari sebagian akal, dan itu ketika akal memutuskan dengan dugaan yang lemah dan memutuskan dengan pendapat yang mengatakan sementara tidak ada bersama dugaan ini bukti dan tidak ada bersama pendapat itu dalil, seperti apa yang terjadi dari akal filsuf semut.

Dimnah berkata: Dan bagaimana hal itu terjadi?

Ia berkata: Diklaim bahwa seekor semut keluar berusaha dalam apa yang diusahakan oleh semut, maka ia lambat kepada kaumnya beberapa hari dan kelompoknya merindukan dia, dan ia disebut “Thahin” (1) maka ketika ketiadaannya lama berkatalah seekor semut: Wahai para semut, sesungguhnya Thahin adalah bencana bagi kami, dan ia dekat pada kami dihitung dari kami namun tidak berada di sini, maka sesungguhnya kami bekerja dalam apa yang Allah mudahkan bagi kami dari kerja keras dan ketekunan berdasarkan cara nenek moyang kami dan berdasarkan keturunan yang ada dalam diri kami dan itu adalah timbangan keutamaan kami dan standar kemaslahatan kami, dan Thahin ini senantiasa bekerja berdasarkan cara tawon dalam apa yang tidak ada manfaatnya dan tidak ada faedahnya kecuali dengung yang hilang di udara sehingga tidak bermanfaat bagi kami, dan sengatan yang mengenai tubuh kami sehingga merugikan kami, dan ia mengklaim bahwa ia menginginkan manfaat bagi kami dan tidak berhenti bekerja menurut klaimnya kemudian tidak bekerja kecuali bahaya, maka betapa layaknya ia membinasakan kami semua dalam beberapa kebodohannya, dan sesungguhnya aku memperingatkan kalian dari apa yang ia terjerumus ke dalamnya karena kebodohannya, karena sesungguhnya musibah yang menimpa manusia dari orang bodoh terjadi bersamanya alasannya sehingga menjadi musibah lain, dan sesungguhnya kami menemukan dalam kitab-kitab hikmah bahwa apabila orang berakal tertipu oleh orang bodoh lalu mengikutinya dan tenang kepadanya dan menjadikannya pemandu urusan-urusannya, maka dalam diri orang bodoh yang gila itu ada satu kebodohan dan dalam diri orang berakal itu ada dua kebodohan!

Ia berkata: Maka tampillah baginya seekor semut tua yang dahulu adalah guru Thahin, dan ia berkata: Celakalah engkau wahai orang bodoh yang tertipu dengan masa lalumu dan orang-orang masa lalumu! Tidakkah engkau mengetahui bahwa Thahin adalah ilmuwan kampung ini dan pengajarnya sejak sekian dan sekian. Dan bahwa ia tidak berhenti dalam penderitaan dan kepedihan dan kesusahan karena ia memikirkan pembaruan kita dan melampirkan kita pada umat tawon dan burung pipit, agar kita memiliki kerajaan di bumi dan kerajaan di udara; adapun sesungguhnya bukan termasuk kebinasaan bahwa kita binasa bersamanya di jalan pembaruan, bahkan kebinasaan demi Allah adalah bahwa kita hidup bersamamu dan bersama orang-orang sepertimu dalam kehidupan yang membosankan ini yang tidak ada di dalamnya seni dan keindahan dan kenikmatan dari kenikmatan tabiat-tabiat baru yang main-main, mengejek, kafir, sembrono dengan seni dan kelezatan dan kenikmatannya, maka kita tidak berhenti bekerja keras berjam-jam panjang dalam menarik biji dan butir dan sesuatu dari sesuatu-sesuatu, dan setelah kita telah menghabiskan jam-jam lebih panjang lagi dalam berpegangan dan mencari tentangnya; dan seandainya kita menyerupai selain kita, dan seandainya kita terbang, maka kehidupan akan berlipat ganda dari apa yang kita hidupi, dan sebab-sebab terbuka dan mubah siapa yang kuat merampas, dan urusan-urusan dibiarkan terbengkalai siapa yang mendahuluinya maka tunduk padanya, dan sesungguhnya selemah-lemah kelemahan adalah bahwa kita tidak menjadi apa yang kita inginkan dan tidak menginginkan untuk menjadi, dan seandainya sungguh-sungguh kemauan semut dari kita kemudian ia ingin menjadi kuda perlombaan atau gajah besar maka ia akan menjadi!

(Ia berkata): Dan aku tidak melihat Thahin kecuali penyeimbang dari tabiat-tabiat kita dan pembaru dalam kehidupan kita, kemudian membawa kita pada kedudukan paling tinggi dalam kemaslahatan dunia, dan ia tidak membebankan kita kecuali bahwa kita mengikutinya, dan tidak ada dalam mengikutinya kesusahan besar dan kecilnya, dan ia adalah filsuf dan kalian adalah orang-orang bodoh, maka jalannya adalah apa yang ia kehendaki bagi dirinya dan jalan kalian adalah apa yang ia kehendaki bagi kalian!

Semut yang berakal berkata: Sesungguhnya ini adalah cabang yang bukan dari akarnya, dan sesungguhnya kita adalah umat dari semut dan bersama kita dari keutamaan kerja keras dan kesabaran atasnya, dan ketekunan dan ketahanan di dalamnya, dan dari kebenaran penilaian dan kebaikan penundaan untuk akibat-akibat yang jauh, apa yang seandainya ditimbang dengan manfaat semua sayap pasti sebagiannya lebih berat dari semuanya, dan jika kita lambat dan kita senantiasa bekerja maka apa bahayanya jika kita tidak pernah bosan, dan sesungguhnya kelambatan dan kekuatan yang bertambah, lebih baik daripada kecepatan dan kekuatan yang berkurang, dan sesungguhnya perumpamaan kita adalah perumpamaan yang berkata: Jauh sekali sesungguhnya kebesaran yang tidak dibeli dengan emas dunia!

Semut berkata: Dan bagaimana hal itu terjadi?

Ia berkata: Diklaim bahwa seorang laki-laki miskin menjadi kaya setelah kemiskinan yang keras, dan dunia menghadap kepadanya setelah berpaling yang panjang, maka ia seperti sungai yang menghadap ke muaranya: sesungguhnya ambisinya adalah bahwa ia mengalir tidak membelokkannya dari itu sesuatu pun, dan tidak terbit matahari suatu hari kecuali datang kepadanya bersama sinar-sinarnya kantong-kantong dinar, ia memiliki dua matahari salah satunya adalah emas, dan itu dari kekayaan laki-laki itu dan kemudahan baginya.

Dan takdir-takdir yang agung mulai mengetuk pintunya tidak berhenti dan tidak terputus, maka ia tidak menyambut nikmat kecuali yang lain mengetuk kepadanya, dan ia mengambil hewan-hewan dan rombongan dan iring-iringan, maka ia berkendara suatu hari lalu hewan itu lari dengannya dan ia mengalami apa yang dialami sejenisnya dari keganasan dan nekat dan berani mengambil risiko, maka ia melemparkannya dari punggungnya dan melempar dengannya seperti ia melempar dengan kayu atau besi, maka kakinya mengenai batu lalu patah dengan patahan yang tidak bisa disambung, maka ia tidak bangkit setelahnya kecuali dengan susah payah dan tidak keluar kecuali dibawa, dan nikmat berlipat ganda dan mulai menyebar dan meluas seolah-olah di dalamnya ada roh arus yang keras yang terpancar dari langit.

Ia berkata: Dan ketika hari raya, ia keluar kepada kaumnya dengan hiasannya, maka melihatnya seorang pelajar yang miskin yang berjalan bersama gurunya – dan gurunya adalah seorang yang bijaksana – maka takjublah ia dengan apa yang ia saksikan dari keadaan laki-laki itu dan berkata: Wahai tuanku, betapa indahnya nikmat dan betapa baiknya bekasnya pada pemiliknya, dan sesungguhnya Allah memutar gerakan bumi tetapi Ia membiarkan harta untuk memutar gerakan penduduk bumi maka Ia memberikan kepadanya dengan itu sesuatu dari ketuhanan, dan betapa sengsaranya orang yang terhalang dan betapa banyak penderitaan orang miskin, maka ia adalah yang diperbudak tidak diragukan lagi, dan bukan termasuk bencana bahwa orang sepertiku tidak berhenti hidup. Tetapi bencana adalah bagaimana ia hidup!

Maka guru berkata: Mudahkanlah atasmu wahai anakku, karena sesungguhnya semua yang kau lihat maka sandalmu lebih baik bagimu daripadanya, karena kau bersandal dengan kaki yang sehat dan laki-laki ini tidak datang kepadanya kekayaan mengalir kecuali agar ia duduk maka ia tidak berjalan! Dan kau menyangka bahwa ia membeli dengan emasnya semua yang ia cintai, padahal ia tidak mencintai kecuali kebesaran untuk kakinya yang patah. Dan jauh sekali bahwa kehidupan menjualnya kebesaran dengan semua emas bumi?

Kalilah berkata: Dan panjang perselisihan di antara semut, maka tiba-tiba “Thahin” datang berusaha. Maka ia berkata: Apa yang kalian alami sepeninggalku? Maka mereka menyebutkan kepadanya apa yang mereka perdebatkan dan apa yang menjadi perdebatan atasnya. Ia berkata: Jangan kalian seperti semut agama ini dan sesungguhnya kita adalah semut dunia. Dan aku telah menyingkap bagi kalian dunia baru yang tidak diketahui, dan aku akan membawa kalian kepadanya maka kita akan menguasainya dan memilikinya, maka tinggalkanlah yang lama ini dan apa yang kita hidupi atasnya, dan datanglah ke dunia baru dan lakukanlah apa yang aku perintahkan kepada kalian.

Maka semut yang berakal berkata: Aku tidak akan pergi, dan yang baru tidak menjadi baru dengan namanya tetapi dengan manfaatnya, dan tidak ada manfaat kecuali dari keyakinan, dan tidak ada keyakinan kecuali setelah pengalaman, dan tidak ada pengalaman kecuali dalam kesesuaian dan kemaslahatan, maka jika tabiatku mengingkari maka aku mengingkari, dan para ulama telah berkata: Sesungguhnya tiga hal tidak baik bersama tiga hal: kehidupan bersama penyakit, keyakinan bersama keraguan, dan tabiat bersama peniruan. Maka aku mengambil dengan lahiriah kerja dan kehati-hatian, dan meninggalkan kepada kalian batiniah ilmu dan filsafat dan kalian akan melihat dan aku akan melihat.

Semut tua berkata: Sesungguhnya kau dari pendukung yang lama dan kau tidak akan beruntung selamanya. Dan kami pergi atas kecintaan dan kebencianmu, dan sesungguhnya dunia adalah apa yang datang bukan apa yang berlalu, dan apa yang lahir bukan apa yang dikubur, dan kalian akan melihat kami di dunia baru kami memiliki sayap-sayap dua-dua, tiga-tiga, dan empat-empat!

Kemudian ia memandang Thahin dan berkata: Bukankah kau berkata tadi bahwa udara wilayah itu menumbuhkan sayap!

Ia berkata: Benar, dan jika tidak tumbuh maka aku telah memikirkan ini, dan kita akan membuat seperti apa yang dibuat manusia ketika tidak terbang maka ia mengambil pesawat terbang, dan tidak mungkin baginya kekuasaan maka tunduk baginya kekuasaan yang setara dengannya, maka dari ini adalah penyeimbang untuk ini, dan kita akan berdaya upaya untuk nyamuk lalu kita menawannya dan kita menjinakkannya seperti menjinakkan alat dalam pekerjaan, maka ia terbang dengan kita sekali dan jatuh sekali, hingga ketika kita latih dia dan ia tunduk kepada kita dan kita samakan antara tabiat-tabiatnya dan tabiat-tabiat kita dan ia menjadi terbang dan turun atas perintah kita dan terbiasa dengan terbang, ia melahirkan bagi kita setelah itu pesawat-pesawat terbang yang banyak…!

Ia berkata: Kemudian mereka berdesakan barisan yang tersusun rapat dan pergi mengikuti “Thahin” sementara mereka berbisik-bisik bahwa tidak ada kedudukan dalam ilmu yang jauh atau dekat kecuali filsuf ini memiliki langkah yang mencapainya…

Ia berkata: Dan mereka sampai ke dunia baru maka tiba-tiba… Dan Kalilah terdiam.

Dimnah berkata: Celakalah engkau maka tiba-tiba apa? Ia berkata: Maka tiba-tiba bola anak kecil yang dilempar di sudut rumah, maka Thahin berkata: Di sini di sini. Maka ini adalah tanah baru kita!

Maka tidak jauh hingga mereka menutupinya dari semua sisinya maka tiba-tiba ia dalam pandangan mata seolah-olah ia ditulis dengan tulisan. Dan Thahin tegak di atas lengkungan bola berpikir tentang apa yang diperbaharui bagi mereka dari yang jelas dan tersembunyi dan lahir dan terbayang, dan tidak lama anak kecil itu kembali dari sekolah dan di kulitnya bekas-bekas pukulan karena ia tidak pandai menulis pelajarannya, maka ia meraih bola dengan tangannya kemudian melihat maka tiba-tiba ia adalah baris di atas baris, maka ia berkata: Laknat Allah atas tulisan aku tinggalkan ia di sekolah maka huruf-hurufnya berjalan ke rumah. Kemudian ia menendang bola dengan kakinya tendangan keras yang menghabisi setengah semut dan menggiling bawahnya dengan atasnya, maka yang tersisa lari terbirit-birit berusaha pada penyelamatan mereka di setiap arah dan tempat melarikan diri, dan ia mengikuti mereka dengan sepatunya dan menginjak mereka di mana mereka muncul, maka tidak selamat dari mereka kecuali sedikit mereka pergi lemah ke kampung, maka semut yang berakal menemui mereka dan berkata: Apa urusan yang datang dengan kalian dari dunia baru?

Maka berbicaralah seekor semut dan berkata: Laknat Allah atas yang baru dan pembaru dan pengambil dan pemberinya, sesungguhnya demi Allah tidak lain kecuali sepatu anak kecil yang jahat dan injakan injakan dan penghancuran penghancuran, maka siapa yang tidak binasa maka tidak akan lupa selamanya bahwa ia dari kebinasaan kembali!

Dan sungguh kami telah terlindungi ujian dan cobaan maka tidak ada bagi kami yang baru bersama Thahin yang membawa sial kecuali bahwa kami membeli kehidupan sebagian kami dengan kebinasaan sisanya, dan tidak ada yang baru dalam akal orang gila kecuali kegilaan orang berakal.

Setelah itu, kita akan melanjutkan kritik kita terhadap buku Thaha Husein. Sungguh kita telah menyampaikan hujah kepada Universitas hingga ia terputus, dan ia dikenaikan kehinaan dengan diamnya yang tertunduk dan kerendahannya. Perumpamaan-perumpamaan seperti “Kalilah dan Dimnah” tidak dibuat kecuali karena Universitas itu sendiri dan sesuai dengan rinciannya; maka kita akan meninggalkan perumpamaan-perumpamaan itu untuk menyelesaikan pembahasan tentang buku tersebut.

Kami tidak mengklaim bahwa kami akan mengkritisi semua masalah dan babnya, melainkan kami akan memilih secara selektif, karena tujuannya adalah untuk menunjukkan akar-akar kesalahan dan membuktikan kejatuhan buku itu serta kebodohan penulisnya. Dan bahwa tidak ada yang baru pada kelompok ini kecuali keberanian yang tidak tahu malu dalam ilmu.

Andai saja Thaha mau menerima dari kami, atau Universitas mau menerima, atau Kementerian Pendidikan mau menerima, maka kami akan memberi kesempatan kepada siapa saja yang mau menerima untuk memilih empat halaman dari buku ini yang berurutan dan tersambung, dan boleh memilihnya sesuka hati. Jika kami gagal menemukan kesalahan dari keempat halaman itu, maka seluruh buku itu benar. Namun jika kami berhasil, maka buku itu gugur sekaligus. Ini adalah pertaruhan seperti yang Anda lihat, bahkan ini adalah judi dalam kritik, tetapi ini akan mengakhiri pertempuran dengan satu pukulan. Kami tidak mengira ada buku sastra karya orang terdahulu atau orang belakangan, seberapa pun bodohnya, yang bisa dijadikan taruhan kritik dengan cara seperti ini, padahal hal itu mungkin dilakukan terhadap buku Universitas Mesir ini, sehingga tidak ada satu pun pendapat penulis di dalamnya kecuali adalah kesalahan dari penulis, dan Universitas tidak bisa membedakan planet Suha dari bulan!

Ia berkata di halaman 145, setelah menyebutkan perbedaan perawi dalam mu’allaqah Imru’ul Qais pada beberapa kata dan beberapa baitnya: “Dan perbedaan ini tidak terbatas pada qasidah ini saja, melainkan mencakup seluruh syair Jahiliah” – seolah-olah dia meriwayatkan semuanya…

“Ini adalah perbedaan yang sangat buruk yang cukup dengan sendirinya untuk membuat kita meragukan nilai syair ini, dan ini adalah perbedaan yang telah memberikan kepada para orientalis gambaran yang buruk dan keliru tentang syair Arab, sehingga mereka membayangkan bahwa syair itu tidak tersusun rapi dan tidak harmonis, dan bahwa kesatuan tidak ada dalam qasidah, dan bahwa kepribadian penyair juga tidak ada dalam qasidah, dan bahwa engkau bisa mendahulukan dan mengakhirkan, dan bahwa engkau bisa menambahkan syair orang lain kepada seorang penyair; tanpa merasa sempit atau berdosa selama engkau tidak merusak wazan dan qafiyah. Dan ini mungkin benar dalam syair Jahiliah, karena kebanyakan syair ini adalah palsu dan dibuat-buat, adapun syair Islam yang nasabnya kepada penciptanya telah sahih, maka aku menantang kritikus mana pun… untuk mengusiknya sedikit pun tanpa merusaknya, dan aku menyatakan bahwa kesatuan qasidah di dalamnya jelas, dan bahwa kepribadian penyair tidak kurang nyata daripada dalam syair asing mana pun, dan kesalahan ini hanya terjadi karena menjadikan syair Jahiliah ini sebagai model untuk syair Arab, padahal syair Jahiliah ini – sebagaimana telah kami kemukakan – tidak mewakili apa pun dan tidak layak kecuali sebagai contoh main-main para pencerita dan kepura-puraan para perawi.” Selesai.

Kami telah menasihati Thaha dalam pembicaraan kami dengannya agar berhati-hati ketika menulis kalimat demi kalimat dan makna demi makna. Jika sudah selesai mendiktekan, hendaknya ia kembali kepada ucapannya dan membandingkan sebagiannya dengan sebagian yang lain agar terhindar dari kontradiksi, karena ia mungkin membangun dan menghancurkan dirinya sendiri dalam beberapa baris.

Anda melihat di sini ia mengklaim bahwa para orientalis mengingkari kesatuan dan kepribadian dalam syair Arab, kemudian ia mengklaim bahwa hal itu datang kepada mereka karena menjadikan syair Jahiliah sebagai model, seolah-olah para orientalis ini tidak pernah menemukan syair Islam. Seandainya mereka mengetahuinya, mereka akan menemukan di dalamnya kesatuan dan kepribadian sebagaimana Thaha menemukannya. Jika para orientalis berada pada tingkat kebodohan seperti ini, maka apa nilai hukum mereka? Dan jika mereka telah membaca diwan-diwan Islam dan mencetak sebagiannya, maka apa nilai ucapan Taha? Jika ia berkata bahwa mereka mengetahui syair Islam dan tidak mengetahui kesatuan dan kepribadian di dalamnya, kami katakan: lalu bagaimana kesalahannya bisa “hanya datang kepada mereka dari menjadikan syair Jahiliah sebagai model” padahal mereka menggeneralisir seluruh syair Arab baik Jahiliah maupun Islam dengan hukuman yang sama?

Bukankah cukup mengherankan bahwa profesor sastra di Universitas tidak mengetahui sebab perbedaan perawi dalam kata-kata syair dan posisi bait-baitnya? Sungguh dalam hal itu saja sudah cukup untuk mempermalukan Universitas dengan sangat, karena orang Arab dahulu menghafal dan menyampaikan dari mulut ke mulut, dan mereka adalah kaum – sebagaimana dikatakan – injil mereka ada di dada mereka, sehingga mereka tidak menulis dan tidak membukukan. Dan bersama hafalan ada lupa, sedikit atau banyaknya. Jika salah seorang dari mereka lupa satu kata dalam satu bait syair, ia meletakkan kata lain di tempatnya untuk menegakkannya; karena ia harus meriwayatkannya atau menggunakannya sebagai perumpamaan. Kemudian ada orang lain yang tidak lupa sehingga meriwayatkan syair itu sesuai aslinya, maka berkumpullah dua riwayat. Jika mereka bertiga, maka itu tiga riwayat, masing-masing dengan lafaz yang berbeda dari yang lain, dan seterusnya.

Mungkin salah seorang dari mereka menghafal qasidah, lalu ketika suatu hari ia menyampaikannya kepada orang lain, ia mendahulukan dan mengakhirkan beberapa baitnya sesuai dengan keadaan ingatannya pada saat itu, bukan sebagaimana ia menghafalnya sebelumnya, karena ia tidak memiliki naskah tertulis untuk membandingkannya. Dan orang lain melakukan hal yang sama dengan cara mendahulukan dan mengakhirkan yang lain sesuai dengan yang memungkinkan bagi ingatannya. Kemudian ada orang lain yang telah meriwayatkannya dan mantap dalam hafalannya sehingga tidak tercampur, maka dari itu terjadilah dalam satu qasidah tiga riwayat yang bertentangan. Dan jika bait-baitnya banyak, maka riwayat-riwayatnya bertambah sesuai hitungan itu.

Kami telah merinci sebab-sebab perbedaan ini dalam berbagai aspeknya di Jilid Pertama “Tarikh Adabil Arab” (Sejarah Sastra Arab), maka tidak ada alasan untuk mengulanginya di sini.

Jika kesatuan dan kepribadian penyair tidak ada dalam syair Jahiliah karena ia adalah karya para pencerita dan kepura-puraan para perawi, dan keduanya ada dalam syair Islam yang nasabnya kepada penciptanya telah sahih – maka seharusnya ada dalam syair yang dibuat-buat atas nama Jahiliah kepribadian para pembuatnya setidaknya, karena ia diciptakan setelah Islam, dan karena nasabnya kepada penciptanya “sahih” jika bukan batu yang mengucapkannya, melainkan penyair-penyair berilmu yang menciptakan yang bagus dan pandai meniru dan membuatnya. Siapa yang mampu membuat syair atas nama Imru’ul Qais, An-Nabighah, Al-A’sya dan yang lainnya kemudian para ulama syair tertipu olehnya sehingga mereka memuat ucapannya dan meriwayatkannya, kecuali jika ia adalah penyair ulung yang mahir dan kreatif yang tahu bagaimana membuat dan bagaimana meniru! Jika demikian, bagaimana penyair ulung ini lalai dari kesatuan dan kepribadian dalam apa yang ia tiru?

Dan jika ia lalai, ke mana perginya kepribadiannya sendiri?

Dan apa kepribadian penyair ini menurut Taha?

Ia berkata di halaman 160 dalam biografi Muhalhil yang dikatakan dinamai demikian karena ia membuat syair menjadi muhalhil yaitu menipiskannya: “Tidak diragukan bahwa syair Muhalhil kacau, di dalamnya ada kehalusan dan kekacauan, tetapi kita bisa menemukan kehalusan yang sama ini dalam syair Imru’ul Qais, ‘Ubaid, Ibnu Qumay’ah, Katsir dan lainnya dari penyair Era Jahiliah. Maka mereka semua adalah muhalhil. Namun kita tidak bisa merasa tenang bahwa semua penyair Jahiliah membuat syair halus sehingga masing-masing dari mereka memiliki kepribadian-kepribadian penyair yang berbeda yang bervariasi dalam kekuatan dan kelemahan, dalam ketegasan dan kelembutan, dalam keanehan dan kemudahan. Kalau begitu siapa yang membuat syair halus? Yang membuat halus adalah mereka yang membuatnya dari para pencerita dan pemalsu.” Selesai.

Maka kepribadian menurutnya adalah kegagahan dan keagungan atau kelembutan dan kemudahan, seolah-olah setiap penyair tidak menjadi penyair kecuali jika ia berpegang pada satu pola tertentu. Ini adalah kesalahan yang nyata dan kesesatan yang jauh.

Tidak ada penyair kuno atau modern, bahkan tidak ada penyair yang dianggap penyair kecuali jika ia memberikan makna-makna dengan kata-kata terbaiknya; gagah di tempat kegagahan dan lembut di tempat kelembutan. Dan engkau tidak menemukan orang yang berpegang pada satu cara dalam memilih kata kecuali jika ia berpegang pada satu seni dalam makna, seperti penyair cinta yang tergila-gila dalam rayuannya. Karena rayuan cinta ini tidak baik di dalamnya kecuali kata-kata yang selembut air mata dan desahan. Dan engkau tahu bahwa Basyar bin Burd adalah yang mengatakan:

Jika kita marah dengan kemarahan Mudhar… kita merobek tirai matahari atau meneteskan darah

Jika kita meminjamkan tuan dari suku… puncak mimbar ia shalat atas kami dan memberi salam!

Dan ia juga yang berkata tentang budaknya “Rabābah”:

Rabābah nyonya rumah… menuangkan cuka ke dalam minyak

Ia punya sepuluh ekor ayam… dan ayam jantan yang suaranya bagus

Hal ini dikatakan kepadanya, lalu ia berkata: Sesungguhnya ini tentang Rabābah lebih baik dari ucapan Imru’ul Qais dalam mu’allaqahnya. Dan itu adalah ucapan yang benar, karena ia bermain-main dengan Rabābah dan menggodanya, dan syairnya hampir seperti cubitan lembut di kulitnya…

Dan ada definisi lain tentang kepribadian menurut Taha, karena yang kacau tidak menetap pada sesuatu.

Ia berkata di halaman 177 setelah mengutip syair Tharfah bin Al-‘Abd:

Wahai engkau yang melarangku menghadiri perang… dan menyaksikan kesenangan, apakah engkau akan mengabadikanku?

Jika engkau tidak mampu menolak kematianku… maka biarkanlah aku mendahuluinya dengan apa yang dimiliki tanganku

Dan kalau bukan karena tiga hal dari kehidupan pemuda… demi kakekmu, aku tidak peduli kapan tongkatku tegak

Di antaranya adalah mendahului para pencela dengan seteguk minuman… merah kehitaman yang jika dituangi air berbusa

Dan serangan ketika yang terancam memanggil dengan lengkungan… seperti pemimpin pohon ghada yang dibangunkan oleh api yang menyala

Dan memendekkan hari mendung dan mendung itu menakjubkan… dengan gadis cantik di bawah tenda yang ditinggikan!

Ia berkata:

“Dalam syair ini ada kepribadian yang menonjol dan kuat yang tidak dapat diklaim oleh siapa pun yang melihatnya bahwa ia dibuat-buat, palsu atau dipinjam.

Dan ia adalah kepribadian yang jelas kebeduinannya, nyata kealheisannya…

jelas kesedihannya dan keputusasaannya serta kecenderungannya kepada kebebasan… dengan kesengajaan dan kesederhanaan. Kepribadian ini mewakili seorang lelaki yang berpikir dan mencari kebaikan dan petunjuk namun tidak mencapai apa pun” – Maha Suci Allah!

Kemudian ia berkata: Aku tidak tahu apakah syair ini diucapkan oleh Tharfah atau oleh lelaki lain, dan tidak penting bagiku apakah Tharfah adalah pengucap syair ini. Bahkan tidak penting bagiku untuk mengetahui nama pemilik syair ini.

Yang penting bagiku adalah bahwa syair ini sahih… tidak ada kepura-puraan di dalamnya dan tidak ada pemalsuan!

Selesai…

Perhatikanlah bagaimana engkau memahami kekacauan ini, dan apakah setiap syair yang diucapkan oleh seorang penyair itu benar-benar sahih tanpa ada unsur kepura-puraan atau pengakuan palsu yang dikaitkan kepada yang mengucapkannya, kemudian setelah itu jika syair tersebut dinisbatkan kepada selain yang mengucapkannya maka ia dianggap palsu terhadap orang yang dinisbatkan kepadanya; dan jika kita mengambil pendekatan ini dalam segala yang diriwayatkan dari masa Jahiliah lalu berkata tidak peduli bagi kita apakah yang mengucapkan syair ini adalah si fulan atau yang lainnya dan kita tidak melihat kecuali pada syairnya sendiri, maka apa yang tersisa dari buku Thaha Husein dan apa manfaat penelitiannya tentang syair Jahiliah, padahal penelitian ini berdiri di atas penetapan syair kepada orang-orang yang dikaitkan kepadanya atau penafiannya dari mereka setelah memberikan dalil atas ini dan atas itu, “dan tidak peduli bagiku” membebaskan penelitian dari kedua ikatan ini sekaligus?

Adapun makna kepribadian di sini adalah emosi, kecenderungan, dan pemikiran filosofis, maka jika Tharafah mengucapkan bait-bait ini maka di dalamnya terdapat kepribadian syairnya dan jika ia mengucapkan bait-bait serupa yang kuat dan kokoh dalam menggambarkan unta, tidak ada cara menurut Thaha bahwa di dalamnya terdapat kepribadiannya, kecuali jika penyair itu adalah seekor unta dari unta-unta!… Semua ini dan itu adalah kekacauan yang mana orang tersebut meniru orang-orang Eropa; karena ia tidak mengetahui apa itu syair Arab dan bagaimana ia dibuat?

Sesungguhnya kepribadian dalam syair ini bukanlah kepribadian individu-individu tetapi kepribadian kelompok dan jamaah, maka suatu kelompok berpegang pada metode kekuatan dan ketegasan sehingga sebagian mereka meniru sebagian yang lain dalam hal itu maka syair mereka menjadi sama dalam metodenya meskipun mereka berbeda dan bermacam-macam orangnya, dan yang lain memilih kelembutan dan kemudahan dan yang satu mengambil jalan yang lain maka syair mereka pun serupa seperti itu.

Dan katakanlah hal yang serupa dalam seni retorika, dan seperti itu pula dalam pilar-pilar syair, seperti para penyair Syiah dan para penyair filsafat dan hikmah serta amsal… dan seterusnya dan seterusnya, dan setiap jenis dari jenis-jenis ini mengumpulkan kepribadian suatu kelompok, maka engkau sama sekali tidak akan mampu mengatakan: ini adalah ghazal si fulan dan ini adalah ghazal si fulan, engkau mengetahui itu dari kepribadian pada masing-masing keduanya, atau ini adalah amsal si fulan dan ini adalah amsal si fulan.

Hanyasanya yang berbeda adalah metode dan keahliannya; seperti Badi’ Muslim dan Abu Tammam serta kelompok mereka, dan seperti tabiat Buhturi dan Ashja’ as-Sulami serta jamaah mereka, dan amsal-amsal Ibnu Abdil Quddus dan Mutanabbi serta yang menempuh jalan mereka berdua, dan kefasikan Abu Nuwas dan Khali’ serta orang-orang seperti mereka, dan kezindikan Ma’arri dan yang Allah butakan dengan kebutaannya; dan qiyaskanlah atas itu, maka sesungguhnya keahlian yang satu mendekatkan antara para ahlinya apakah itu badi’ atau bahasa atau yang lainnya.

Dan yang menggelikan adalah perkataan Thaha bahwa ia menantang kritikus mana pun untuk bermain-main dengan syair Islam “sedikitpun” tanpa merusaknya, maka hendaklah ia datang dengan satu qasidah yang tidak mungkin di dalamnya mengganti kata dengan kata dan mendahulukan bait pada tempatnya atau mengakhirkannya dari tempatnya?

Dan jika ini termasuk yang merusak syair maka orang pertama yang bermain-main dengan syair adalah penyairnya yang meletakkannya, karena engkau melihat penyair membuat qasidah dan di dalamnya terdapat bait dari bait-bait dan posisinya yang ketiga atau keempat misalnya, kemudian ia mengeluarkannya dan tiba-tiba bait ini sendiri adalah yang ketiga puluh atau keempat puluh, dan tidak mengacaukan susunan qasidah atau pilar syair apakah ia di sini atau di sana.

Dan apa itu kesatuan qasidah jika ia dimulai dengan nasib kemudian keluar kepada deskripsi kemudian condong kepada hikmah kemudian berakhir pada pujian, dan engkau dalam semua itu memisahkan ucapan dengan perumpamaan demi perumpamaan. Dan seandainya engkau menghapus nasib dan amsal dari qasidah-qasidah pujian niscaya pujiannya akan tetap lurus dan syairnya tidak rusak.

Sesungguhnya syair Arab tunduk kepada qafiahnya tidak lain selain itu, maka qafiah dan perbedaan makna-maknanya mendahului penyair dan karyanya dan pemikirannya dan kepribadiannya, dan perhatikanlah bagaimana syair ini dibuat: Ibnu Rasyiq berkata: Abu Tammam menegakkan qafiah untuk bait agar menggantungkan akhir dengan awal; dan itulah tashdîr dalam syair, dan tidak datang dengannya banyak kecuali penyair yang dibuat-buat seperti Habib dan orang-orang sejenisnya, dan yang benar adalah bahwa penyair tidak membuat bait yang ia tidak mengetahui qafiahnya.

Ia berkata: Dan di antara para penyair ada yang mendahului kepadanya satu bait dan dua sementara pikirannya pada keduanya yang lain yang seharusnya berada setelah itu beberapa bait atau sebelumnya beberapa bait. Dan itu karena kekuatan tabiatnya dan terpancarnya bahannya; dan di antara mereka ada yang menegakkan qafiah tertentu untuk bait tertentu dari syair, seperti berada yang ketiga atau keempat atau semacam itu, ia tidak melampauinya dari tempat itu kecuali lepas darinya susunan bait-baitnya.

“Dan itu adalah cacat yang sangat dalam pembuatan dan kekurangan yang nyata”…

Dan di antara mereka ada yang jika mulai dalam pembuatan syair menulis qafiah-qafiah yang layak untuk wazan yang ia berada di dalamnya, kemudian mengambil yang umum dan yang mulia dan apa yang membantu makna-maknanya dan apa yang sesuai dengannya dan membuang selain itu, kecuali bahwa ia pasti mengumpulkannya agar mengulangi pandangannya padanya dan mengembalikan pilihannya di waktu pengerjaan dan inilah yang para ahli mengerjakannya.

Kami katakan: Dan seandainya Syekh Universitas “termasuk para ahli” niscaya ia tahu bahwa tidak mencacatkan syair Arab dan tidak menguranginya kecuali qafiah, sebagaimana tidak memperindahnya dan menghiasinya kecuali qafiah ini sendiri; maka jika kita mengatakan kesatuan dan kepribadian, qafiah mencacatnya dari satu sisi, dan jika kita mengatakan pengaruh dan pengukuhan dan musik dan nada serta kekuatan jalinan dan keluasan dalam makna-makna serta petunjuk sebagian ucapan atas sebagian, maka qafiah adalah kesempurnaan keindahan.

Dan qafiah yang satu ini dalam qasidah adalah hal yang paling sulit dalam syair Eropa, maka ketika para penyairnya melepaskan diri darinya mereka datang dengan syair sebagaimana salah seorang dari kita datang dengan artikel dari prosa: kalimat-kalimat tergantung pada kalimat-kalimat dan baris-baris terhubung dengan baris-baris; maka dari situ makna kesatuan dalam syair Eropa dan ia bukanlah sesuatu di sisi kita karena bahasa mereka sedikit hiasannya dan kecil bahannya, padahal kita jika meragamkan qafiah-qafiah dan bahr-bahr maka kita menyamai mereka dan mendahului mereka seandainya di sisi kita ada umat yang menuntut syair; maka sesungguhnya syair Arab setelah masa Umayyah tidak henti-hentinya syair golongan bukan syair umat, dan kami telah menjelaskan makna ini dalam artikel yang diterbitkan oleh majalah “Al-Muqtathaf” yang mulia.

Sesungguhnya bagi syair Arab dengan metodenya yang dikenal ada tempat dari jiwa-jiwa yang harus ia tempati di dalamnya dan tidak melampaui batasnya, – maka sesungguhnya porosnya adalah pada pengaruh, maka jika engkau menginginkannya – selain itu maka engkau seperti yang mengambil ‘ud atau kamanjah untuk menjadikan salah satunya sebagai tongkat pemukul yang ia pukul dengannya!

Dan kita tahan sekarang dari menyempurnakan penelitian ini karena ia memiliki tempat di jilid ketiga dari buku kami “Tarikh Adab al-‘Arab” (Sejarah Kesusastraan Arab) dan kami simpan untuk tempatnya.

Namun kami akhiri ucapan dengan kisah bagus tentang kepribadian mereka berkata: Adalah Ibnu Abi al-Maula dari penyair-penyair Madinah, dan ia dikenal dengan kesuciannya dan kebaikan kainnya; maka ia membacakan kepada Abdul Malik bin Marwan syair lembut yang ia katakan di dalamnya:

Aku menangis maka tidak Layla menangis karena rindu… untuk penangis dan tidak Layla bagi pemilik kemurahan ia murah hati Dan aku tunduk dengan tobat jika aku berdosa… dan jika ia berdosa maka akulah yang minta maaf

Maka Abdul Malik terharu karenanya dan mengambil kepribadian pencinta yang terbakar ini, lalu ia berkata dari mana Layla ini? Jika ia merdeka akan kuzawinkah dengannya!

Dan jika ia budak niscaya akan kubelikan untukmu semahal apa pun.

Penyair berkata: Tidak sama sekali wahai Amirul Mukminin, Layla yang aku nisbatkan kepadanya tidak lain adalah busur panahku ini yang kusebut Layla…? Karena penyair pasti baginya ada nasib.

Maka wahai Layla wahai Layla.

Setiap bernyanyi kepada Laylanya menjadikan… Layla dari manusia atau Layla dari kayu!

Muslim lafaznya… bukan maknanya…

Aku telah memasukkan dalam artikel yang judulnya “Damnah berkata…” perumpamaan khatib zindiq yang terpedaya oleh kelemahan dari dirinya karena kelancangan dan kehinaan, dan terpedaya oleh kekuatan dari manusia karena kesabaran dan kemuliaan, maka ia lancang dan hina seukuran apa yang mereka abaikan dan muliakan dan syaitannya mengklaim bahwa kekufuran tidak akan menjadi pada orang-orang yang jumud seperti ini sebagai kekufuran kecuali di Masjid Jami’, dan di atas mimbar, dan di hari Jumat.

Dan ketika Damnah mengatasi jurang perumpamaan dan mulai turun kepadanya, adalah sisa halaman terpotong dari naskahku, maka aku berkata mungkin di antara pembaca ada yang memiliki naskah yang lain maka ia bandingkan dengannya dan datang kepada kita dengan apa yang melengkapi ini, maka tidak ada seorang pun yang menyempurnakannya sampai hari ini dan hampir bulan telah habis!

Kemudian sesungguhnya surat kabar “As-Siyasah” harian menerbitkan artikel oleh Thaha Husein yang ia melempar di dalamnya para ulama kami dengan kejumudan dan kebodohan, dan menghasut kepada mereka wakil-wakil umat dan para syeikhnya, dan mengeluarkan mereka sebagai orang-orang yang ikut-ikutan pada umat ini dan pada sejarah dan zaman, dan seakan-akan ia menghitung – semoga Allah memperbaikinya – bahwa para Parlamentarian adalah salinan dari dirinya yang dikeluarkan oleh percetakan Universitas…

Atau seakan-akan ia tidak mengetahui bahwa dirinya ini adalah buku bagaimanapun para iblis berjuang keras dalam menyebarkannya tidak akan tersebar darinya dalam umat yang ada di dalamnya Al-Azhar dan para ulamanya serta bahasa Arab dan para sastrawannya lebih dari sepuluh naskah separuhnya di Universitas Mesir saja…

Kemudian terbit “As-Siyasah” mingguan dan di dalamnya artikel lain untuk Syekh (Abu Margherit) tentang filsafat ilmu dan agama serta penggabungan antara keduanya; maka tidak lagi cukup bagiku dalam agama dan ia adalah perjanjian, dan tidak pantas bagiku dalam sastra dan ia adalah amanah, kecuali bahwa aku menemukan sisa perumpamaan khatib tersebut.

Maka aku balik-balikkan rumah buku-bukuku sampai aku menemukan potongan yang hilang dari halaman itu. Maka ternyata di dalamnya ada apa yang kusalin:

Damnah berkata: Maka ketika hari Jumat dan manusia berkumpul untuk menunaikan shalat wajib, datanglah khatib – dan ia adalah seorang laki-laki buta – maka ia membelah masjid hingga naik ke mimbar, lalu ia berdehem dan batuk, dan berkata:

Wahai manusia, sesungguhnya telah jatuh di hatiku kasihan kepada kalian, dan memasukkiku rasa iba kepada kalian; maka aku tidak akan menipu kalian setelah hari ini dan sungguh aku telah menipu sebelumnya ketika aku tidak mengatakan apa yang aku ketahui, maka aku tidak akan mengumpulkan pada diriku antara apa yang kalian lihat sebagai kekufuran dan apa yang aku lihat sebagai penipuan; sungguh aku mengatakan kepada kalian: “Hamba-hamba Allah” padahal kalian hanyalah hamba-hamba diri kalian sendiri, maka sesungguhnya seorang laki-laki Arab meletakkan bagi kalian syariat dan kitab yang ia karang di dalamnya dari dongeng-dongeng orang Arab yang kencing di atas tumit mereka, kemudian ia pergi untuk jalannya maka kalian mengira ada agama dan tuhan, dan kalian beribadah untuk ini dan bergantung pada itu, maka ilusi kalian yang kalian ibadahi, dan diri kalian yang kalian tuhan-kan, dan kalian mengklaim bahwa wahyu turun sebagai kalam, dan seandainya ia turun sebagai kalam bagi orang-orang yang mendapat petunjuk niscaya ia turun sebagai batu-batu kepada orang-orang kafir…

Dan ketika ia sampai pada kata ini dari ucapannya, mengenainya sebuah kerikil di wajahnya, dilempari oleh seorang laki-laki dari tengah-tengah manusia, maka ia berkata: Ha! Seakan-akan kalian membayangkanku bahwa langit menjawabku dengan kerikil ini, tetapi dari mana ia datang? Ia datang dari arah pintu bukan dari arah atap, dan tidak ada seorang pun di pintu, dan tidak ada seorang pun kecuali di masjid, maka dari masjid aku terkena.

Dan ini adalah logika.

Maka salah seorang mereka melemparnya dengan sandal yang membentur wajahnya, lalu ia berkata: Dan ini adalah dalil lain, maka tidak mungkin langit mengirim sandal-sandal; dan sandal ini seperti yang aku raba adalah sandal (berlumpur) dan tidak ada di langit lumpur maka dari mana datang lumpur?

Ia datang dari bumi, dan adalah sandal di kaki salah seorang dari kalian lalu ia melepaskannya maka dari kalian aku terkena, dan ini adalah logika.

Maka manusia berteriak dan berkata: Wahai Syekh sesungguhnya awal hujan adalah tetesan dan mengalir deras, dan ini adalah logika…”

Kemudian sandal-sandal mereka menghujaninya hingga memenuhi rongga mimbar dan mereka menguburnya di dalamnya dengan penguburan, kemudian mereka meninggalkannya dan meninggalkannya untuknya dan berjalan tanpa alas kaki melihat bahwa mereka mendebu-i kaki mereka di jalan Allah.

Damnah berkata: Kemudian sesungguhnya seorang syekh yang bersama mereka maka ia menyelisihi mereka ke masjid dan memanjat mimbar hingga menaikinya, lalu ia menyingkap dari wajah khatib yang malang dan ia berada di barzakh antara dunia dan akhirat, maka ia bernafas hingga kembali kepadanya rohnya, kemudian ia berkata kepadanya: Wahai yang bodoh, sungguh engkau adalah seorang alim yang kafir dalam dirimu dan dalam pendapatmu, maka mereka tinggalkan untukmu pendapatmu dan dirimu dan tidak memaksamu kepada apa yang engkau benci dan membiarkanmu hidup; tetapi engkau adalah seorang laki-laki bodoh terhina, tidak mengetahui posisi kepalamu dari posisi-posisi kepala manusia, maka ketika engkau menolak kecuali bahwa ada pada setiap leher seperti wajahmu yang jelek, dan engkau menolak kecuali membawa mereka kepada kekufuranmu, dan menjadikan kebatilanmu pemimpin kebenaran-kebenaran mereka; dan engkau menolak kecuali disebut di antara mereka kepala padahal mereka tidak mengenalmu kecuali ekor maka terjadilah dari mereka apa yang engkau lihat, maka mereka mengenalkanmu wahai alim yang agung nilai ilmumu, ketika mereka hadiahkan kepadamu perpustakaan yang besar semua “jilid-jilidnya” adalah sandal…

Maka berkatalah sang khatib: Tetapi mereka telah menghina masjid dan melanggar kehormatannya serta membatalkan shalat…

Maka sang syekh berkata: Wahai orang bodoh! Aku tidak melihatmu sekarang berbicara kecuali dengan lidah yang terinjak-injak… Pergilah, semoga Allah menghinakanmu! Seandainya mereka mengenalmu dengan beban keberadaanmu ini, niscaya mereka akan menghadiahkan kepadamu perpustakaan lain berupa batu-batu!

Kami telah membaca apa yang ditulis Thaha tentang ilmu pengetahuan dan agama, dan ternyata kedudukan sang profesor dalam ilmu pengetahuan seperti kedudukannya dalam sastra, dan dia adalah peniru dalam keduanya, tidak membenarkan sesuatu pun sebagaimana mestinya, karena kemampuan membedakannya lemah. Dan karena kelemahannya itu, ia berani melawan kebenaran dengan kesombongan, keras kepala, dan lancang, mengira dengan itu dapat menutupi kebodohan dan kesalahannya, padahal ia berada dalam jabatan ilmiah yang besar tetapi tidak memiliki sarana para ulama dalam ketajaman kecerdasan dan kebenaran istinbath (pengambilan kesimpulan), juga tidak memiliki akhlak mereka dalam kehati-hatian dan pembuktian, juga tidak memiliki sifat mereka dalam mengakui dan menerima ketika hujjah (argumentasi) datang dan dalil berdiri, bahkan ia seperti yang engkau lihat dari kekacauan ke kebodohan ke kegilaan ke kemarahan seperti kemarahan orang mabuk dalam mengigau dan membuat keributan…

Sungguh seseorang dapat mencabut sebuah gunung dari bumi dengan mencabutnya dari akar-akarnya lalu menyelesaikannya, tetapi tidak dapat mencabut kesalahan dari diri Thaha meskipun orang banyak menyaksikan bahwa itu adalah kesalahan dan bahwa tidak ada alasan untuk itu; seseorang menceritakan kepadaku, katanya: Aku berdebat dengan Syekh Thaha ini suatu hari, maka ketika aku mempersempitnya dan ia terputus (argumennya) dan berada antara menerima atau membuat-buat, ia berkata: Aku tidak ingin menerima! Dan lihatlah sendiri, pendapat apa yang bisa tegak di dunia ini dengan “aku tidak ingin menerima”, dan itu adalah kata-kata yang memakan dalil-dalil dan bukti-bukti seperti api memakan kayu bakar: semakin banyak ia makan, semakin besar laparnya.

Thaha mengawali pendapatnya dengan mengumumkan kepada Syekh Al-Azhar dan para ulama agama bahwa ia seperti mereka seorang Muslim, kemudian berkata: “Dan perbedaan antara aku dan para syekh adalah bahwa aku Muslim yang sejati memahami Islam sebagaimana mestinya”:

Ya bumi telanlah, karena ini genangan air, bukan manusia; apakah dia Muslim sejati sedangkan Syekh Al-Azhar dan para ulama adalah Muslim “tidak sejati” dan mereka tidak memahami Islam sebagaimana mestinya seperti Thaha karena mereka tidak mendustakan Alquran dan tidak mengingkari kenabian seperti Thaha!…

Pembicaraan tidak bisa lurus sebagaimana yang dipahami dari struktur bahasa Arab kecuali jika Thaha memiliki sesuatu yang khusus yang dia namakan Islam; maka dari situ muncul banyak perbedaan antara dia dan Syekh Al-Azhar dan para ulama; dan hal khusus ini, sebagaimana tampak, adalah kebebasan berpikir dan berpendapat, dia memahami sesuai dengan kelemahannya dan beramal sesuai dengan kecenderungannya, dan dia salah padahal kesalahan menurut dia adalah Islam, dan dia sesat padahal kesesatan adalah Islam, dan dia berbuat maksiat padahal maksiat adalah Islam, dan dia kafir padahal kekufuran adalah Islam, dan dia mencela Islam padahal itu juga Islam! Aduh, sampai kapankah orang-orang malang ini akan berlebih-lebihan dalam makna kebebasan berpikir dan berpendapat.

Maka dengarlah wahai Thaha:

Damnah berkata: Kemudian ayam betina ini mengklaim untuk dirinya kebebasan berpikir, dan lupa bahwa pemikiran memiliki banyak syarat yang tidak terkumpul padanya, dan bahwa kebebasan berpikir pada dirinya adalah kebebasan kejahatan terhadap dirinya dan kebebasan kejahatan darinya. Lalu ia melihat seekor unta tua seperti istana besar yang dipimpin oleh anak kecil, maka ia terkejut dengan apa yang dilihatnya dari kebesaran dan kekuatannya, dan jatuh di hatinya apa yang diketahuinya dari kelembutan dan ketaatannya.

Maka ia berkata kepada ayam-ayam: Sesungguhnya aku telah memikirkan untuk memberi kemudahan bagi kita, maka kita akan mengambil untuk kita seorang pelayan yang kuat untuk kita manfaatkan.

Maka ia mengambil dengan paruhnya tali kekang unta itu dan datang dengannya memimpinnya, maka belum sempat ia meletakkan telapaknya di kandang-kandang itu hingga ia menghancurkannya dan telur-telur pecah dan anak-anak ayam mati dan ayam-ayam berterbangan ke setiap sudut, dan mereka memahami dari musibah mereka apa yang tidak mereka pahami dari akal mereka, dan semua ini pada kondisi bahwa unta itu hanya meletakkan kakinya di rumah ayam, lalu bagaimana jika ia pergi dan datang di dalamnya seperti yang dilakukan pelayan dalam pelayanan…?

Kemudian Thaha berkata, “Sesungguhnya dunia memandang agama sebagaimana memandang bahasa, dan sebagaimana memandang fikih, dan sebagaimana memandang pakaian, dari segi bahwa semua hal ini adalah fenomena sosial yang dihadirkan oleh keberadaan masyarakat dan masyarakat mengalami perkembangannya. Oleh karena itu, agama dalam pandangan ilmu pengetahuan modern adalah fenomena seperti fenomena-fenomena sosial lainnya, tidak turun dari langit dan tidak dibawa oleh wahyu, tetapi keluar dari bumi sebagaimana masyarakat itu sendiri keluar. Dan sesungguhnya pendapat ‘Durkheim’ bahwa masyarakat mengulangi dirinya sendiri, atau dengan ungkapan yang lebih tepat ‘bahwa ia mendeifikasi dirinya sendiri'” (maksudnya adalah bahwa ia menciptakan Tuhan dengan pikirannya kemudian menyembah-Nya, maka ia menyembah pikirannya dan mendeifikasi dirinya sendiri).

“Dan bahwa nasihat adalah agar dikatakan kebenaran kepada manusia, yaitu bahwa agama di satu sisi dan ilmu pengetahuan di sisi lain dan tidak ada jalan untuk pertemuan keduanya… Dan bahwa ilmu pengetahuan tidak menerima takwil (penafsiran alegoris), maka jika ia mengklaim kepadamu bahwa bumi itu bulat dan berputar mengelilingi matahari, ia tidak akan menerima darimu untuk mentakwilnya atau mengubahnya dari makna aslinya, sebagaimana ia tidak akan menerima darimu untuk mentakwil atau mengubah kaidah-kaidah hitung dan dasar-dasar matematika.

Oleh karena itu takwil hanya menyentuh nash-nash agama saja, dan para pentakwil ini merusak nash-nash Taurat dan Alquran dan membebaninya dengan makna yang bukan makna sebenarnya, agar mereka mencocokkan antara keduanya dengan ilmu pengetahuan; mereka datang dengan Taurat baru dan Alquran baru, dan mereka memahami Taurat dan Alquran (ia tidak menyebut kecuali Taurat dan Alquran, adapun Injil maka tampak bagi kami bahwa ia dalam syafaat istrinya yang Kristen…) seandainya ditanyakan tentang pemahaman ini kepada para salaf dari kaum Muslim dan Yahudi (adapun Nasrani maka dalam syafaat…) niscaya mereka mengingkarinya dengan sangat keras.

Kemudian Thaha berpendapat bahwa dimungkinkan bagi manusia untuk beragama dan beriman kepada apa yang tidak dibuktikan oleh ilmu pengetahuan, dan menjadi ilmuwan yang tidak mengakui apa yang tidak dibuktikan oleh ilmu pengetahuan. Ia berkata: Maka setiap orang di sini dapat, jika ia berpikir sedikit, menemukan dalam dirinya dua kepribadian yang berbeda.

Salah satunya berakal yang meneliti dan mengkritik dan menganalisis (maksudnya dan kafir) dan mengubah hari ini apa yang ia anut kemarin, dan yang lain berperasaan yang menikmati dan menderita dan gembira dan sedih dan ridha dan marah tanpa kritik, penelitian, atau analisis, dan kedua kepribadian itu terhubung dengan tabiat kita dan pembentukan kita, kita tidak bisa lepas dari salah satunya.

Maka apa yang menghalangi bahwa kepribadian pertama adalah ilmuwan peneliti yang mendalam, dan kepribadian kedua adalah beriman yang taat yang tenang yang mengharapkan cita-cita tertinggi; dan aku menegaskan bahwa warna kehidupan jiwa ini saja yang menjamin perdamaian antara ilmu pengetahuan dan agama, dan ini lebih mudah bagi Muslim daripada Yahudi dan Nasrani.

Adapun jika engkau mengambil posisi para pentakwil lalu mengubah nash dan membebankannya dengan apa yang tidak ia sanggup, maka engkau tidak menolong agama dan tidak mendukungnya, tetapi engkau merusaknya dan menurunkannya sesuai kehendak ilmu pengetahuan, dan mengakui bahwa seluruh salaf keliru ketika memahami Kitab tidak seperti yang engkau pahami dan tidak seperti yang dipahami ilmu pengetahuan… Mengapa engkau tidak membiarkan ilmu pengetahuan dengan gerakannya dan perubahannya, dan agama dengan ketetapan dan kestabilannya; sesungguhnya engkau hanya menjadikan agama olok-olokan dan cemoohan dengan menundukkannya pada jenis permainan ini yang disebut takwil, dan lebih baik dari cara permainan ini dan merusak nash-nash adalah ateisme yang terang-terangan.”

Selesai, kata-kata Thaha dengan huruf-hurufnya, dan itu adalah ringkasan artikel yang tidak kami tinggalkan darinya kecuali hal-hal yang tidak penting dan kecuali apa yang merupakan tambahan kekufuran atau apa yang tidak ada gunanya. Dan engkau melihat ia memutar pembicaraan pada dirinya sendiri dan membuat alasan untuk dirinya sendiri dari apa yang ia lakukan dalam kuliah-kuliah universitas dan dari apa yang akan ia lakukan, maka sesungguhnya artikelnya ini adalah pernyataan terang-terangan kepada seluruh umat dengan permusuhan, dan ketetapan hati pada apa yang mereka ingkari darinya, dan pengumuman kepada mereka bahwa ia tidak akan berubah, dan bahwa ia akan mengingkari sepenuh jiwa dan akalnya, dan bahwa ia siaga untuk mereka dan untuk agama mereka; kemudian ia mengklaim kepada manusia bahwa ia dengan itu adalah Muslim beriman, dan artikel secara keseluruhan adalah penafsiran dan pengarahan dan pembenaran untuk kekufuran orang itu dengan dalih ilmu pengetahuan. Ia ingin menetapkan di dalamnya bahwa dimungkinkan orang sepertinya menjadi kafir yang sangat kafir dengan pertimbangan bahwa ia adalah ilmuwan yang meneliti dengan akalnya, kemudian itu tidak menghalangi bahwa ia menjadi beriman dengan iman yang sangat kuat dengan pertimbangan bahwa ia adalah orang yang berperasaan yang menampung iman dalam perasaannya!

Dan tidak tersembunyi bahwa perasaan adalah tempat kelalaian, sebagaimana akal adalah tempat kesalahan, maka bukankah sang syekh menjadi kafir dan beriman dalam akal dan perasaannya, dan bukankah dalam filsafatnya ini ia lalai dari satu sisi dan salah dari sisi lain?

Dan apakah kontradiksi ini berkumpul kecuali dalam akal yang lemah seperti akal sang profesor; jika tidak, maka siapakah yang berakal bahwa penolakan kenabian dan wahyu dan pendustaan Kitab-kitab Samawi adalah pada suatu sifat dari sifat-sifat ilmu pengetahuan dan akal, dan pada sifat lain adalah agama dan iman kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya dan kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya, dan berkumpulnya kedua sifat dalam satu orang adalah dua kepribadian untuk orang yang satu ini?

Dan dalam akal mana bahwa dalam penolakan ada penetapan untuk apa yang dinolaknya, dan keduanya adalah dua kontradiksi dan tidak berkumpul dua kontradiksi bersama-sama dalam seluruh alam semesta ini, karena sesungguhnya alam semesta ini adalah hukum-hukum yang tidak mengenal kebebasan penelitian atau kebebasan berpendapat, dan tidak ada di dalamnya hukum yang kacau bernama Thaha Husein. Dan hukum Syariat adalah bahwa ketika engkau kafir maka sungguh engkau telah kafir, tidak diterima darimu tebusan atau ganti sampai engkau kembali dari pendapatmu dan bertobat darinya dan memperbaharui Islammu.

Kemudian siapakah yang menyebut perasaan sebagai kepribadian dan akal sebagai kepribadian, dan dalam pembagian apa ini; dan berdasarkan perbandingan ini maka lupa adalah kepribadian dan ingat adalah kepribadian, dan manusia keseluruhannya adalah kepribadian-kepribadian, yaitu keseluruhannya adalah manusia-manusia; sesungguhnya dua kepribadian menurut istilah para ulama adalah bahwa seseorang dari manusia memiliki keadaan tertentu dari kehidupan dan pekerjaannya lalu ia terambil dari dirinya sendiri oleh sejenis kelalaian yang mengubahnya dan membaliknya menjadi orang lain, maka engkau melihatnya mengingkari namanya dan dirinya dan keluarganya dan pekerjaannya dan pergi menuju selain itu dari kehidupan seolah-olah ia adalah orang lain selain yang telah ada, bahkan adalah roh lain yang bereinkarnasi padanya; kemudian hilang apa yang menimpanya maka ia kembali kepada dirinya yang pertama dan kembali kepada sirahnya yang pertama; dan itu menurut kami adalah omong kosong murni, karena sesungguhnya kami tidak mengatakan reinkarnasi atau penetrasi, dan kami tidak melihat seperti ini kecuali telah menimpanya sesuatu di pusat dari pusat-pusat otak yang menjadikan terjaganya seperti mimpi, sampai ketika hilang penghalang itu ia kembali kepada kesadarannya dan kembali kepada dirinya.

Thaha mencampuradukkan makna ilmu pengetahuan dan makna agama maka ia menyebutkan bahwa keduanya tidak bertemu kecuali jika salah satunya turun untuk yang lain tentang kepribadiannya, dan ia mengklaim bahwa ilmu pengetahuan tidak melihat agama kecuali telah keluar dari bumi sebagaimana masyarakat keluar. Maka kapan ilmu pengetahuan memutuskan bahwa masyarakat manusia keluar dari bumi, padahal mazhab Darwin telah mulai retak dan hancur karena gempa pena dan berpihaunya hukum evolusi dari sisi makhluk hidup ini? Dan kapan ilmu pengetahuan meneliti agama-agama dengan pertimbangan bahwa ia adalah ilmu pengetahuan; dan bagaimana baginya untuk meneliti di dalamnya sedangkan ia terbatas oleh tabiatnya dan pembatasan tabiat ini pada apa yang masuk dalam bab dalil-dalil inderawi, dan tidak ada sarana baginya kecuali sarana-sarana indera yang dikenal dari penelitian dan induksi dan perbandingan dan istinbath, tanpa apa yang terhubung dengan makna-makna akal murni yang bersifat teoritis filosofis seperti makna-makna yang dirujuk oleh agama; sesungguhnya bukanlah ilmu pengetahuan apa yang melampaui batas-batas itu yang dipagari dengan pagar-pagar penelitian dan pengujian sehingga tidak keluar darinya hasil yang tegas yang dalilnya adalah indera dan keyakinan tanpa dugaan dan debat.

Dan tidaklah ilmu pengetahuan dalam hakikatnya kecuali pertanyaan kepada alam semesta yang samar ini dengan sarana-sarana yang mampu digunakan manusia untuk bertanya kepadanya, kemudian menerima jawaban darinya dengan cara yang dijawab oleh alam dari menampakkan manfaat dan bahayanya dan sebab-sebabnya dan hukum-hukumnya. Dan manusia ini tidak memiliki sarana di balik akalnya, maka ia tidak akan mampu bertanya kepada alam tentang sesuatu dari itu, dan jika ia bertanya sebagaimana engkau lihat dari sebagian orang-orang ateis yang mengaku-aku ilmu pengetahuan dengan kepura-puraan, maka sesungguhnya alam tidak akan menjawabnya dengan sesuatu, karena pertanyaan itu tidak berakhir kepadanya dengan cara yang mengeluarkan darinya jawaban atau mengharuskannya tindakan.

Dan oleh karena itu, tidaklah pertanyaan-pertanyaan ateis seperti ini kecuali kekacauan dalam akal para pemiliknya atau keras kepala dari mereka terhadap agama-agama dan para pemeluknya, dan itu bukanlah dari ilmu pengetahuan dan ia bukan darinya dalam sebab atau tujuan. Maka perkataan Thaha misalnya bahwa cerita pembangunan Ka’bah adalah dongeng, dan bahwa Ibrahim dan Ismail adalah dua tokoh khayalan – tidak dianggap ilmu pengetahuan, bahkan kegilaan murni; maka jika ia berdalih darinya dengan ilmu pengetahuan, ia menambahkan pada keglilaannya kebodohan, maka jika ia bersikeras pada perkataannya dan dalihnya, ia menambahkan pada kebodohan dan kegilaan kelalaian!

Sesungguhnya terdapat perbedaan yang jauh antara pandangan ilmiah dan pandangan akal. Mazhab ilmiah memiliki jalan-jalan yang sudah diratakan menuju tujuan-tujuan tertentu yang telah dicapai oleh jalan-jalan ini, atau jalan-jalan lain yang masih terus diratakan, tetapi semuanya hanya mengarah pada tujuan-tujuan yang serupa. Jadi ia adalah gerakan yang didorong oleh kehendak dan dibatasi serta diarahkan olehnya. Adapun mazhab akal, sementara ia berjalan tiba-tiba ia terbang, tiba-tiba ia menyebar sebagaimana cahaya menyebar, sehingga tidak ada pembatas baginya kecuali dari segi ia merupakan perkataan yang masuk akal atau tidak masuk akal. Mazhab ini pada sebagian orang mungkin merupakan penantian mazhab, karena mereka ragu-ragu dan tidak menetap pada sesuatu, dan mungkin ia merupakan keraguan terhadap setiap mazhab, dan mungkin dalam pembongkaran mazhab yang dikenal. Semua ini berasal dari perbedaan kekuatan akal, bukan dari perbedaan kekuatan ilmu, sebagaimana engkau lihat dari perbedaan antara yang tidak terbatas dengan yang terbatas.

Para pendahulu kita dari kalangan ulama ilmu kalam memiliki ungkapan bahasa yang indah yang menggambarkan keseluruhan mazhab akal. Mereka mengatakan: Sesungguhnya fulan berbicara dalam masalah ini secara mentah dan spekulatif, dan ia memeriksa secara mentah dan berspekulasi tentangnya: ketika ia melakukan pengujian secara akal-dialektis murni, antara tertutup dengan dalil dan terbuka dengan dalil lain, dan tidak ada tujuan baginya dari itu semua kecuali perdebatan antara dalil-dalil dan menguatkan sebagiannya atas sebagian yang lain serta sampai dengan qiyas-qiyas logis pada batas akhir. Maka kekufuran dengan syubhat adalah perbuatan akal, dan iman dengan dalil adalah perbuatan akal yang lain, sedangkan ilmu adalah perbuatan yang berbeda dari keduanya. Namun ketika akal menjadi kuat dan mantap dan tepat serta didukung oleh wawasan yang tajam dan imajinasi yang cemerlang yang mendekati ilham, maka ilmu akan mengikutinya dan pasti condong kepadanya, karena ilmu ini tidak menyingkap sesuatu melainkan membuka tabir dari rahasia-rahasia alam.

Dan ia tidak menjelaskan sesuatu rahasia melainkan memperjelas darinya suatu bentuk kesempurnaan dalam ciptaan. Kesempurnaan pada dirinya sendiri adalah dalil atas Sang Pencipta, dan penciptaan ilahi dalam semua maknanya adalah mukjizat bagi akal manusia, dan mukjizat akal adalah sarana iman yang benar.

Maka ilmu dengan demikian adalah salah satu sarana iman yang membawa kepadanya dalam tujuan bukan dalam metode, dengan syarat bahwa akal itu sehat dan benar. Adapun dakwaan Thaha bahwa ia tidak bertemu dengan agama dan bahwa tidak ada jalan bagi pertemuan keduanya, sesungguhnya itu dibangun atas kontradiksi yang ada dalam akalnya atau penyakit yang ada dalam jiwanya.

Sesungguhnya terdapat dua kebenaran yang meninggikan agama dengan ketinggian yang besar hingga melampaui ilmu atau akal bersama-sama dan menundukkan keduanya. Pertama: bahwa akal tidak tahu bagaimana ia berakal dan bagaimana ia memahami. Dan ilmu dalam hal ini tidak lebih tahu darinya. Maka kerja dari sesuatu yang luar biasa yang tidak diketahui ini adalah dalil atas keberadaannya, dan ia sesudahnya adalah pengetahuan yang tidak diketahui. Kedua: bahwa kita tunduk pada hukum-hukum banyak yang saling bertentangan, tidak diketahui oleh akal maupun ilmu apa hakikat dan zatnya, tetapi apa yang terjadi dari pengaruh-pengaruhnya berupa keseimbangan dan ketidakseimbangan adalah dalil atas penetapannya, dan ia pun demikian adalah pengetahuan yang tidak diketahui.

Maka tidak ada dengan kedua kebenaran ini apa yang mencegah akal dan ilmu untuk tunduk kepada agama. Dan agama tidak lain adalah pengakuan akan ketuhanan dan pendalilan atasnya dengan pengaruh-pengaruhnya, dan ia adalah pengetahuan yang tidak diketahui dalam zatnya. Dan ketika agama membahas urusan manusia dan kehidupan serta menetapkan cara-cara bermasyarakat dan bermuamalah sebagaimana pada kita dalam agama kita yang lurus, maka tererat sudah hubungan antara ia dan ilmu, dan wajib pendekatan antara keduanya dalam apa yang mereka berselisih padanya, jika tidak maka salah satunya adalah sia-sia dan main-main.

Dan ini menyingkap keburukanmu wahai profesor universitas. Ia mengatakan dengan meninggalkan agama atas kemantapannya, agar ilmu menjadi sanggahan atasnya sehingga menghancurkan agama itu sendiri dengan kejumudan ini dan ilmu menghancurkannya dengan perubahan dan transformasi, sehingga tidak tersisa di tengah manusia orang yang melihat dalam agama yang jumud ini sesuatu yang masuk akal atau sesuatu yang benar, sehingga menjadi seakan-akan ia adalah pajak atas jiwa-jiwa, jika tidak ada di belakangnya kekuatan pemerintah tidak akan ditemukan orang yang menanggungnya atau yang membayarnya. Dan tidak lain hanya beberapa tahun setelah itu hingga menjadi ulama agama ini di Al-Azhar seperti ulama purbakala di museum purbakala.

Dan ilmu meskipun tidak bekerja untuk agama tetapi ia sangat membutuhkannya jika kita menganggap ilmu ini sebagai sarana dari sarana-sarana kemanusiaan dalam tatanan dan kemaslahatan mereka. Ia menundukkan alam bagi mereka dan memberikan manfaat dan bahaya. Namun ia tidak akan mampu melindungi manfaat dari permusuhan dan perseteruan manusia terhadapnya, dan tidak akan mampu menahan bahaya sehingga tidak terjadi karena ia permusuhan dan perseteruan. Dan di sinilah tempat agama. Hanya ia yang berdiri di atas jiwa manusia untuk melindungi manfaat dan menahan bahaya. Dan seandainya bukan karena manusia adalah hewan yang bertakwa, dan bahwa tatanan bermasyarakatnya adalah tatanan agamanya, dan dalam hukum jasadnya terdapat hukum hatinya, niscaya manusia akan saling memakan satu sama lain.

Dan mungkin dikatakan bahwa pemerintah dan hukum mencukupi menggantikan agama dalam hal itu atau mencukupi sebagai penggantinya. Dan ini adalah khayalan yang telah diuji oleh kemanusiaan zaman kita dalam pemerintahan Bolshevik yang menghapus agama dan menegakkan hukum. Maka tidak terjadi dari itu kecuali jatuhnya kemanusiaan itu sendiri, dan hukum-hukum menjadi untuk melindungi keburukan setelah sebelumnya untuk perlindungan darinya.

Dan tidaklah merebak ateisme dalam suatu umat kecuali mengubah jiwa-jiwa penduduknya, sehingga turun pada mereka kondisi demi kondisi hingga engkau mengenalnya pada akhir perkara sebagai jiwa-jiwa keledai, bagal, binatang buas, kera, dan semacamnya, bukan jiwa-jiwa manusiawi.

Maka ulama agama adalah materi yang diperlukan dalam komposisi masyarakat manusia. Jika tempat mereka di dalamnya kosong, tidak ada yang akan mengisinya. Dan agama Islam khususnya dengan apa yang ada di dalamnya berupa amal-amal dan adab-adab yang kemanusiaan tidak berdiri atas yang lebih baik, lebih kokoh, maupun lebih kuat darinya – sebagaimana telah kami jelaskan dalam kitab kami “Mukjizat Al-Quran” – menjadikan bagi ulamanya dari kedudukan yang tidak mampu mengingkarinya kecuali orang bodoh yang rusak akalnya, atau perusak yang rusak niatnya.

Mungkin datang ke dunia ini seorang lelaki cerdas filosof yang melihat apa yang dilihat filosof “Rousseau” misalnya bahwa para ulama agama adalah kaum yang hidup bukan di zaman mereka, atau di zaman orang lain. Tetapi seperti orang cerdas ini yang diterima Eropa, kecerdasannya berubah menjadi kebodohan yang sangat bodoh jika ia muncul di dunia Islam. Ia tidak akan mampu membuktikan bahwa ulama agama ini adalah pencuri kesempatan pada kehidupan, karena Islam berdiri atas lima rukun, empat di antaranya bersifat praktis-sosial. Dan kita ketika menghapus ilmu halal dan haram serta sarana-sarananya yang banyak dari ilmu hadis, tafsir, ushul, bahasa Arab, dan apa yang bercampur dengannya, tidak tersisa dari Islam kecuali apa yang diinginkan Thaha dan orang-orang sepertinya, dan Islam tidak lagi kecuali sebuah kata yang dimuat oleh lisan sebagaimana ia memuat lawannya.

Maka jika hilang empat perlima agama, tidak tersisa bagi ulama agama tempat. Dan mungkin inilah yang dirasakan oleh Thaha sehingga ia mengucapkannya lalu membeberkan dirinya dengannya, karena ia tidak menegakkan dari amal-amal Islam sesuatu apapun. Maka tampak baginya perbedaan-perbedaan banyak antara ia dan Syaikh Al-Azhar dan ulama agama, dan ia melihat ilmu-ilmu mereka sia-sia dan main-main dan kelalaian dari kelalaian-kelalaian umat. Dan semua itu termasuk yang dibicarakan jiwa lelaki itu tentang lelaki itu dan ia tidak tahu, seakan-akan ia mengatakan bahwa muslim adalah lafal, maka apa kebutuhan lafal kepada hukum-hukum dan kepada ulama dengan hukum-hukum ini. Dan seakan-akan ia melihat bahwa agama besar ini dahulu dalam sejarahnya adalah jasad, kemudian menjadi lengan dari jasad, kemudian telapak dari lengan, kemudian jari dari telapak, kemudian ruas dari jari, kemudian kuku dari ruas, kemudian potongan dari kuku yang dipotong hari ini dan dibuang. Dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah!

Adapun apa yang dikacaukan lelaki itu bahwa takwil merusak nash-nash agama, dan menjadi pengakuan dari kita bahwa salaf seluruhnya telah keliru dalam memahami Kitab dengan selain apa yang engkau pahami dan dengan selain apa yang dipahami ilmu, maka semua ini dari ketidaktahuannya yang mengherankan dan dari bahwa ia tidak tahu makna-makna apa yang ia katakan, karena ia menyahami dirinya dalam semua yang terlintas baginya dari pikiran atau pendapat tanpa penelitian, atau penelitian bukan dari kekuatannya. Apakah profesor ini menginginkan dunia dan akal-akal dan ilmu-ilmu berubah kemudian kita menjadi orang-orang yang jumud pada sebagian makna-makna bahasa yang tetap dalam lafal-lafalnya?

Tidakkah tahu profesor sastra di universitas bahwa di antara rahasia-rahasia kemukjizatan yang paling jelas dalam Al-Quran Al-Karim bahwa lafal-lafalnya menyingkap untuk setiap zaman dari makna-makna sebesar apa yang maju akal manusia dalam rahasia-rahasia sesuatu, sehingga ada di dalamnya kehidupan abadi, dan seakan-akan ia diukur atas tingkatan-tingkatan akal dan zaman. Dan ia dengan itu semua tidak berubah. Dan bahwa seandainya bukan rahasia ini niscaya mati lafal-lafal ini dari zaman yang jauh, maka salaf tidaklah keliru dalam pemahaman, tetapi alam yang keliru dalam memberinya pemahaman. Dan seandainya alam menyingkap kepadanya sebagaimana menyingkap kepada kita dan ia tetap pada pemahaman itu sebagaimana profesor menginginkan kita tetap padanya, niscaya ini adalah pintu dari ketidaktahuan yang tidak ada dalam ketidaktahuan yang lebih luas darinya. Apalagi masalah-masalah ilmiah seperti ini terhitung, dan urusan seluruhnya dalam apa selainnya dari masalah-masalah kemanusiaan. Dan kami telah memperpanjang pembicaraan padanya dalam kitab kami (Mukjizat Al-Quran) maka tidak ada kebutuhan bagi kita untuk lebih dari sekadar isyarat kepadanya.

Dan di sini rahasia dari rahasia-rahasia yang mengagumkan. Dan itu bahwa sesungguhnya telah benar bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam wafat dan tidak menafsirkan dari Al-Quran kecuali sangat sedikit, dan meninggalkannya untuk zaman-zaman dan ilmu-ilmunya dan perangkat-perangkatnya. Maka seandainya beliau menafsirkan niscaya tetap lafal-lafal Al-Quran pada makna satu sehingga bertentangan dengan ilmu, dan jadilah itu sisi yang masuk darinya untuk mencela kemukjizatan dan agama itu sendiri. Karena tidak dimungkinkan bagi Rasul shallallahu alaihi wasallam kecuali menafsirkan untuk orang-orang Arab sebesar pemahaman mereka dan sarana-sarana mereka yang sedikit. Maka ketika maju akal dan tersingkap hakikat-hakikat, menjadilah itu sia-sia.

Bukankah cukup makna ini sebagai sebab untuk kewajiban takwil, sebagaimana ia adalah makna dari makna-makna kemukjizatan yang paling jelas!

۞۞۞۞۞

Pendapatku tentang Peradaban Barat

Allah mengetahui tidak ada yang memfitnah para pemuda kita yang tertipu kecuali apa yang menguasai mereka dari peradaban ini. Sesungguhnya ia dalam perhiasannya dan kemilau-nya memiliki daya tarik seperti sihir, sehingga mereka tidak membedakan antara kebaikan dan keburukannya, dan tidak memisahkan antara prinsip-prinsipnya dan akibat-akibatnya, kemudian mereka tidak terfitnah darinya kecuali dengan apa yang menyeru mereka kepada apa yang mematikan dan menghalang-halangi mereka dari apa yang menghidupkan dan apa yang menghalangi antara mereka dan hati-hati mereka. Maka tidak ada kecuali mengikuti dan meniru.

Dan saya akan meringkas pendapat ini semampu saya, dan saya akan menjadikan pembicaraanku di dalamnya mirip dengan bahasa spekulasi: datang kilas pendek atas apa yang panjang ungkapan di dalamnya dan memanjang.

Sesungguhnya peradaban ini tidak pernah tampak pada hakikatnya, karena hakikatnya belum terkumpul. Dan telah menciptakannya generasi yang dekat dari kita dan mewariskannya dari sesudahnya dan meninggalkan bersamanya akhlak-akhlaknya dan tabiat-tabiatnya. Maka tidak henti-hentinya manusia menyerupai manusia, tetapi kehidupan diwarnai dan dipoles dan masuk ke dalamnya penyamaran dan hiasan. Dan urusan dalam hal ini mudah, karena asal kemanusiaan masih tetap ada, dan kebanyakannya masih sehat, dan sebagian kepala-kepala yang menemukan apa yang mengubah dunia masih lagi di dunia.

Namun masalahnya adalah ketika generasi berganti satu demi satu, dan manusia mekanis yang mewarisi akhlak dan tabiatnya dari mesin-mesin lebih banyak daripada yang ia warisi dari jiwa-jiwa berhasil menguasai bumi ini, maka pada saat itulah pembicaraan tentang peradaban tidak lagi menjadi tempat perhitungan dan praduga seperti sekarang ini.

Meskipun dunia masih dalam kebaikan, dan meskipun peradaban Barat belum menjadi posisi keindahan dan kebaikan bagi kemanusiaan; namun kejahatannya telah meluap dan bahayanya telah banyak. Penduduknya mulai saling mendorong dan mengeluh darinya, mereka membebankan dosa kepadanya dan menghubungkannya dengan kerusakan. Peradaban ini telah membuat orang-orang cerdas dan bijak mereka menangis karena apa yang telah dibawanya kepada mereka berupa kelemahan, hal-hal yang menggelikan, lelucon, kerusakan, dosa-dosa besar, dan perbuatan keji. Kebaikannya tidak sebanding dengan kejahatannya dan manfaatnya tidak menutupi kerusakannya.

Manusia membawa dalam dirinya dua hal yang berlawanan, yaitu akalnya dan hawa nafsunya, atau pendorongnya dan pengekangannya. Jika ia melepaskan keduanya sekaligus, maka keduanya akan merusaknya. Jika ia mengikat keduanya sekaligus, maka keduanya juga akan merusaknya. Namun kesempurnaan dan keteraturan manusia adalah dengan melepaskan akal dan membatasi hawa nafsu, sehingga satu sama lain saling menyaring, maka jadilah ia murni dan merdeka. Selama hawa nafsu terikat dalam batas-batasnya, maka tidak ada dalam akal kecuali kebaikan murni.

Jika keduanya dibiarkan begitu saja menuju tujuan masing-masing, maka sesuatu akan menindas sesuatu yang lain dan kehidupan akan kembali menjadi pergulatan hewani. Akal-akal kemudian bersiasat untuk mengubah kondisi manusia, dan manusia sepakat pada akhlak hewani yang rusak yang mereka masukkan dalam adab mereka sehingga mereka tidak mengingkarinya dan tidak menolaknya, dan mereka tidak melihat adab sebagai adab kecuali dengannya.

Peradaban Barat melepaskan akal-akal untuk bekerja keras dan berinovasi, di belakangnya ia melepaskan hawa nafsu untuk mencari kenikmatan, kesenangan, dan syahwat. Maka kebaikan dibenturkan dengan kejahatan, benturan yang tidak membunuh tetapi meninggalkan bekas-bekas yang menjadi sebab pembunuhan, karena ia terus meluas hingga mencapai akhirnya. Itulah rahasia mengapa semakin tua usia peradaban ini, semakin banyak penduduknya mengeluh dan merasakan penyakit-penyakit sosial yang tidak pernah ada pada mereka sebelumnya.

Seandainya peradaban telah merata dan melanda seluruh Eropa sehingga tidak ada lagi di negeri itu penduduk pedesaan yang lebih dekat dengan alam dan lebih menyerupainya, yang masih hidup dengan warisan lamanya seperti mayoritas besar yang menghuni desa-desanya dan memenuhi pedalaman setiap kerajaan di sana – niscaya engkau akan melihat pemandangan paling mengerikan yang bisa dilihat mata: negeri-negeri yang saling bermusuhan dan saling menolak, karena penduduknya saling berebut kepentingan pribadi, saling menerkam, larut dalam syahwat, dan saling berperang karena beban hidup mereka yang berat, membosankan, dan tidak sehat.

Akan tetapi, pedesaan Eropa dan desa-desanya dengan kecenderungan agama yang ada di dalamnya, makna-makna alam yang jauh dari peradaban, dan akhlak yang lurus dan sehat yang belum diselewengkan oleh peradaban kota – semua itu adalah yang menahan benua ini agar tidak runtuh dan memeliharanya agar tidak hancur. Ia seperti kehidupan badui murni berhadapan dengan peradaban dalam makna-maknanya yang menghabiskan, sehingga ia menjadi bahan pembaruan kemanusiaan di Eropa, sementara peradaban kota ini adalah bahan pembaruan hewani dengan apa yang diarahkan kepada indra-indra berupa kenikmatan dan kelezatan.

Indra-indra adalah penunjuk jalan hati, maka apa yang ia sampaikan kepadanya akan memperbaikinya atau merusaknya. Sungguh pada hari-hari ini aku telah membaca sebuah novel yang konon penulisnya adalah keajaiban Eropa, tetapi aku tidak selesai membacanya kecuali dengan keyakinan bahwa penulis Eropa ini adalah hewan Eropa…

Sesungguhnya akal-akal yang matang dan dapat membedakan tidak mengalirkan darinya hikmah Ilahi sebanyak yang mengalir dari hawa nafsu, bahkan tidak sebagiannya. Melainkan ia hanya dari sebagian kecil individu yang tidak sampai menjadi satu bab dalam kitab kemanusiaan yang besar.

Adapun syahwat, ia adalah untuk seluruh manusia, karena ia adalah tujuan-tujuan alamiah dalam susunan tubuh. Oleh karena itu, agama-agama berdiri di atas sunnah yang bijaksana yang menjamin kemaslahatan, yaitu menjauhkan syahwat dari masyarakat dan membolehkan sedikit darinya dengan syarat dan batasan, serta menganggap mencegah kerusakan lebih didahulukan daripada mendatangkan kemaslahatan. Meskipun hal itu tidak memberikan akal kepada manusia, sesungguhnya akal tidak memberikan kepada mereka selain itu dalam adab kehidupan. Namun peradaban berdiri di atas pelepasan akal dan hawa nafsu, maka ia menghalalkan agama pada sebagian golongan manusia dan meninggalkannya tanpa bekas pada golongan-golongan lain. Maka jadilah ia penetapan syahwat dalam akhlak dan pemberdayaan sebab-sebabnya dalam masyarakat. Dari situlah ia mulai mencabut akhlak kemanusiaan dari akar-akarnya.

Aku tidak tahu kebanyakan manifestasi peradaban kecuali penyakit-penyakit yang diberi nama bukan nama aslinya. Semuanya indah, enak dipandang, bersinar, karena semuanya membentuk mimpi yang sakit seperti mimpi-mimpi khamar dan candu…

Orang Barat yang beradab ini mengira bahwa ia telah menaklukkan alam dan menundukkannya sehingga ia menang atasnya, dan ia tidak tahu bahwa alam mengejeknya, karena kemenangan ini sendiri adalah yang menguasakan alam atasnya sehingga mengalahkan akhlaknya, melemahkan kekuatan spiritualnya, menghancurkan isinya dalam kulitnya, dan memungkinkan dalam dirinya gejala-gejala kehancuran dan kejatuhan. Maka ia tidak mengubah alam meskipun ia menang atasnya, dan alam mengubahnya kemudian membiarkannya menyebut dirinya sang pemenang, sehingga alam menambahkan pada kebodohannya kebodohan kesombongan!

Orang Barat yang beradab telah menjadi gugup, pemarah, sensitif, berjalan menuju kegilaan dengan langkah-langkah lambat tetapi terus bergerak. Peradaban telah menimpakan kepadanya penyakit-penyakitnya yang tidak ada pada nenek moyangnya, seperti kanker dan lainnya. Syahwat-syahwat telah memukulnya dengan matinya kepekaan spiritual dan kelemahannya, sehingga ia menjadi bekerja untuk tujuan yang paling luhur dengan cara-cara yang terbalik yang tidak mengantarkan kecuali kepada tujuan yang paling rendah.

Ia kembali seolah-olah asing dari alam yang kasar yang harus ia miliki kekasarannya agar tetap kuat dengannya, kuat di dalamnya, dan kuat atasnya. Sejarah akal dan sarafnya berubah dari semua itu. Maka kebangkitan seni melemah dan corak yang tinggi darinya menjadi milik sejarah kuno saja, padahal tidak ada antara yang lama dan yang baru kecuali sifat peradaban ini dan pengaruhnya pada akal-akal. Adapun manusia, ia tetaplah ia.

Akan tetapi dalam peradaban pertama yang kasar ia seperti dinar baru yang berbobot dan kasar, maka ia menjadi dalam peradaban yang lembut ini seperti dinar yang halus yang telah diusap tangan-tangan dan menghilangkan kekasarannya, sehingga ia menuju kelemahan dan menuju kekurangan!

Peradaban mengambil perempuan Barat sebagai salah satu sarananya dalam melembutkan tabiat dan mempertajam kemampuan. Bersama perempuan adalah apa yang ada padanya dari seni bercanda, merayu, bergurau, menggoda, dan apa yang ada di balik ini dari tabiat dan akhlak. Maka dunia yang beradab dalam corak kewanitaan, ketika masa mengambil jalannya di dalamnya, akan berubah menjadi corak kefasikan yang meliputi dunia ini.

Dan mereka berkata: Keindahan dan seni! Dan mereka tidak tahu bahwa keduanya jika meluas dan merata akan datang darinya kegilaan dan histeria, dan keluar dari pertemuan semua itu kehancuran dan kejatuhan, sebagaimana terjadi pada peradaban Romawi dan peradaban Barat.

Aku tidak melihat kebanyakan manifestasi peradaban ini kecuali senjata-senjata pembunuh yang membunuh kebaikan dan rahmat dalam hati manusia. Ia menaikkan beban hidup, menambahnya, dan mempersulit harapan-harapannya. Dengan itu ia menciptakan kemiskinan yang sangat parah, dan bersamanya keluar kekacauan dan ketidakseimbangan, dengannya terjadi akhlak-akhlak rendah seperti pencurian, pembunuhan, kecurangan, dengki dan semacamnya. Dunia bertambah setiap hari dengan sebab-sebab banyak yang diciptakan peradaban; maka pertambahan itu tidak menjadi kecuali kesia-siaan, kejahatan, dan penyempitan, karena apa yang dulunya cukup untuk kelompok dengan jumlah tertentu sekarang tidak cukup kecuali untuk satu orang saja. Pada saat itulah kemanusiaan tidak akan lurus kecuali dengan sebagian mereka memakan sebagian yang lain, maka banyaklah pembunuhan, perbudakan, dan kemubahan, tetapi dengan kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang beradab… Bencana pada saat itu adalah bahwa kemanusiaan bertambah besar sedangkan bumi tidak bertambah besar, maka kehidupan menjadi sempit bagi penghuninya dan keserakahan mereka menambahnya sempit. Maka ditetapkanlah pada mereka sistem pembatasan dan ia menjadi hukum kemanusiaan umum. Aku tidak melihat hukum ini akan diterapkan kecuali pada janin-janin dalam perut ibu-ibu mereka, sehingga di setiap keluarga ada timbangan kematian yang tidak memberikan dunia dari salah satu sisinya anak yang hidup kecuali setelah terkumpul di sisi yang lain empat mayat atau kurang atau lebih.

Mereka tidak akan menemukan obat dari penyakit peradaban kecuali dengan membatasi diri darinya. Hampir jika mereka sadar akan hal itu, mereka akan melarang manusia dari sebagian seni peradaban ini dengan kekuatan hukum, dan akan memaksakan kepada mereka sebagian kebodohan sebagai kewajiban yang harus mereka jalankan agar sejarah dunia tetap bersambung dan agar jenis manusia di bumi ini menemukan yang akan mewujudkannya dengan sifat-sifat dan ciri-cirinya. Karena akhlak dalam peradaban itu berdiri di atas aturan-aturannya yang paling baik, ketika tidak ada jalan untuk mengubah bangunan kemanusiaan kecuali dengan mengubah aturan-aturan ini.

Dan aku berpendapat bahwa jika dicabut dari peradaban ini sebagian besar kebaikannya, niscaya akan hilang dengan itu sebagian besar keburukannya, karena kebaikan itulah yang mengeluarkan keburukan; maka kekayaan yang luas berhadapan dengan kemiskinan yang lebih luas, dan kemewahan pribadi berhadapan dengan komunisme dan kekacauan, demikianlah. Kenikmatan peradaban ini adalah kenikmatan dalam sebagian kecilnya dan penderitaan dalam sebagian besarnya. Ia merusak orang yang mendapatkannya dengan melemahkan akhlaknya yang kuat dan baik, dan merusak orang yang tidak mendapatkannya dengan menguatkan akhlaknya yang lemah dan rusak; yang itu jatuh karena syahwat-syahwat menyertainya, dan yang ini rendah karena syahwat-syahwat menolaknya sementara ia tersedia untuk yang lain; yang itu dirusak oleh apa yang ada dalam dirinya, dan yang ini dirusak oleh apa yang ada dalam dirinya dan apa yang ada pada yang lain.

Janganlah luput darimu bahwa peradaban menetapkan pada semua manusia dua prinsip besar ini: kebebasan dan persamaan. Maka orang yang tumbuh dibesarkan dengan keduanya dan bersiap untuk keduanya dalam kehidupan. Sampai ketika ia dewasa dan tiba pada kenyataan, ia mendapati peradaban itu sendiri yang mencabut kedua prinsip tersebut dan melemparkannya ke wajahnya. Maka tidak ada dalam kenyataan kecuali bangsawan dan rakyat jelata, dan tidak ada kecuali kelas atas dan kelas bawah, dan tidak ada kecuali individu-individu terhitung dari setiap kelas yang merendahkan seluruh manusia dari para pekerja, orang-orang hina, orang-orang miskin dan sejenisnya, seolah-olah pemuka-pemuka harta dan politik mereka sendirilah jari-jari dunia yang mengambil dengan mereka apa yang ia ambil. Dengan itu kembalilah keyakinan persamaan dan sesungguhnya ia adalah keyakinan kezaliman, dan kembalilah gagasan kebebasan dan ia adalah gagasan perbudakan. Maka mayoritas dunia yang beradab adalah yang mencela peradaban dan curiga kepadanya, dan ia dengan kemarahan dan celaannya tunduk untuk mata pencahariannya yang sempit yang dibagi dengan gram dari tangan-tangan pemilik harta berlimpah, ia memberikan kepada mereka darahnya dengan rotinya, dan membeli kematiannya dengan kehidupannya. Semua itu menjadikannya mengintai fitnah, cepat di dalamnya jika terjadi, mengikuti setiap orang yang menyerunya atau menggerakkannya kepadanya, menyerang apa yang ia tahu dan apa yang tidak ia tahu, sebagaimana terjadi sekarang di Eropa!

Maka orang besar dalam peradaban ini adalah zalim yang lebih mirip orang terzalimi, dan orang kecil adalah terzalimi yang lebih mirip zalim, seolah-olah kebenaran itu sendiri keluar dari tempatnya sehingga segala sesuatu adalah kebenaran dan segala sesuatu adalah kepalsuan!

Roh kemanusiaan ketika telah menjadi terbalaskan, marah, jengkel dengan sebab-sebab yang berbeda seperti sebab-sebab peradaban ini dari politik, sosial, dan nasional – ia tidak lagi menjadi roh kehidupan tetapi roh pembunuhan dan apa yang seperti itu. Dari situlah tidak terelakkan dalam peradaban ini ledakan-ledakan perang yang berkelanjutan, dan tidak terelakkan baginya untuk menemukan siapa yang akan dibunuhnya, siapa yang akan dizaliminya, dan siapa yang akan diperhambanya. Jika negara-negara saling menahan diri dan saling meninggalkan untuk suatu masa, maka sesungguhnya mereka hanya saling menggemukkan di padang rumput perdamaian dan kehidupan, dan setiap bangsa matanya pada lemak bangsa yang lain!…

Sungguh Perang Besar adalah penyaringan Ilahi yang keras terhadap peradaban palsu ini. Allah meletakkan tangan-Nya atasnya maka terhapuslah sebagian besar kebaikannya, kehalusannya, dan hal-hal indahnya yang menakjubkan. Tabiat kemewahan mati agar bangkit tabiat kekuatan. Tetaplah dalam laki-laki makna laki-laki dan dalam perempuan makna perempuan, padahal sebelum itu laki-laki setengah perempuan dan perempuan dua kali dirinya… Maka perang itu seperti saringan untuk peradaban yang lubang-lubangnya adalah reruntuhan, parit, dan kuburan. Ketika kotoran-kotoran terkumpul setelah suatu masa, maka saringan tetap ada…

Aku tidak menyangkal bahwa peradaban adalah hiasan kehidupan dunia dan kemegahannya, tetapi bencana-nya adalah bahwa tujuannya yang ia lari kepadanya hanyalah kenikmatan, kelezatan, dan merampas umur; maka dengan itu ia memberikan semua kelezatan kehidupan, bagi yang mampu dan luas; sebagaimana ia memberikan semua keburukan-nya bagi yang terhalang dan dibatasi atasnya. Dengan kedua ini ia mewujudkan seribu orang hina, sampah, dan manusia rendahan jika ia mewujudkan satu orang dari ahli keutamaan dan rahmat dalam kemanusiaan. Tidak ada tujuan di dalamnya bahkan ia adalah pemborosan dari kedua ujungnya yang tidak berhenti mendorong manusia dari satu batas ke batas ke tanpa batas naik dan turun; maka persaingan dalam materi dan persaingan dalam emosi keduanya pergi ke satu pertemuan, yaitu amarah manusia kepada manusia, amarah yang sengsara dan melelahkan; karena tidak ada yang lebih sengsara dalam masyarakat daripada orang yang marah kepada yang tidak mau merelakan-nya. Ia adalah peradaban secara majaz jika kita memperluas ungkapan agar mencakup manusia. Jika kita teliti dalam terang majaz ini, kita akan melihat di dalamnya kehinaan, kemiskinan, dan kebinasaan dengan cara-cara yang merupakan kemuliaan, kekayaan, dan kehidupan!

Pembaharu Yang Berani…

Berkata Kilayilah: “Dan berhati-hatilah wahai Dimnah terhadap akibat-akibat keberanian dalam berpendapat dan apa yang menjadi perumpamaannya dari orang bodoh ketika kebodohannya itu berbicara di lisannya; sesungguhnya pendapat adalah timbangan yang bahasanya menunjukkan kejujuran atau kecurangan dari apa yang ditimbang padanya, bukan dari tangan yang menimbangnya. Jika timbangan itu dibiarkan sesuai dengan apa yang diletakkan di atasnya, maka ia menunjukkan kebenaran dan ketepatan. Dan jika tangan memainkannya dengan memiringkan atau membengkokkannya, maka ia menunjukkan kebohongan dan penipuan. Sesungguhnya keberanian adalah ilmunya orang bodoh ketika ia memiliki ilmu, dan kebodohannya orang berilmu ketika orang berilmu itu memiliki kebodohan.

Para ahli hikmah telah berkata bahwa keberanian ini adalah seorang perempuan yang dinikahi oleh Ilmu. Ia sangat mencintainya dan berlebihan dalam memuliakannya serta merawatnya, dan memfalsafati hidupnya sekehendaknya. Ketika ia melahirkan, ia melahirkan Kebodohan untuknya. Maka berkata Ilmu: ‘Betapa malangnya aku! Anak ini mirip ibunya yang buruk itu.’ Hikmah Allah telah mendahului bahwa tidak ada makhluk hidup yang diciptakan kecuali dari dua pihak, agar para ibu melahirkan nikmat yang berlipat ganda dan musibah yang berlipat ganda, atau agar sesuatu berkurang dari sesuatu yang lain, atau agar suatu perkara bertambah dalam perkara lainnya, atau agar suatu perbuatan membatalkan perbuatan yang lain; dan tidaklah keluar dua hal yang bertentangan atau dua hal yang saling tarik-menarik kecuali dari dua pihak.

Kemudian Ilmu memutuskan ikatan dengan Keberanian dan menceraikannya. Lalu Kebodohan menikahinya, dan ia adalah suami yang buruk dan keras. Ia terus memperdayakan istrinya dengan segala cara dan berlaku kasar kepadanya dengan segala keburukan serta memperlakukannya dengan sewenang-wenang seperti seorang pekerja memperlakukan hewannya. Ketika ia melahirkan, ia melahirkan Ejekan untuknya. Maka berkatalah Kebodohan: ‘Betapa celakanya aku! Datang sandal yang sama persis dengan sandal.’

Kemudian tumbuhlah Kebodohan dan Ejekan bersama-sama. Suatu hari keduanya bertengkar dan saling mengumpat, dan tabiat mereka menolak kecuali bahwa masing-masing harus menguasai dan mengalahkan yang lain. Maka keduanya berlari kepada ayahnya masing-masing dan membawa ayahnya. Ilmu pergi untuk berargumentasi dan Kebodohan melanjutkan untuk berdebat. Maka Keberanian mendengar suara keduanya dan berkata: ‘Celakalah kalian berdua! Untuk apa pertengkaran ini?’ Kemudian ia mendamaikan keduanya. Maka berpaling Kebodohan kepada Ilmu dan berkata: ‘Wahai saudaraku, wahai ayah dari Kebodohan.’ Berkata Ilmu: ‘Tidak aneh, wahai ayah dari Ejekan… karena memang inilah Keberanian si hina yang melahirkan untukku dan melahirkan untukmu, lalu ia mempersatukan kita dengan kedua anaknya dan menjadikanku saudara yang buruk, ayah yang buruk, dan paman yang buruk!'”

Berkata Kilaylah: “Betapa mirip engkau wahai Dimnah dengan orang berani yang keberaniannya telah memudahkan baginya dan membujuknya bahwa ia adalah orang paling berilmu di antara manusia. Maka ia pergi membawa ilmunya kepada mereka dan mengklaim kepada mereka bahwa bangunan itu berbuah.”

Berkata Dimnah: “Bagaimana kejadiannya?”

Berkata: “Konon terjadi gempa bumi di kota tertentu sehingga sebagian besar rumahnya retak. Maka pemilik-pemiliknya mendatangkan para insinyur yang memperkuat rumah-rumah itu dengan tiang-tiang kayu yang tebal agar mereka dapat memperbaiki bangunan dari kerusakannya sementara bangunan tetap kokoh dan tidak runtuh. Lalu datanglah ke kota itu seorang syekh yang berani lagi bodoh. Ia melihat rumah-rumah itu karena banyaknya tiang-tiangnya seolah-olah berdiri di atas pohon-pohon, dan melihat para tukang bangunan mengerjakan pekerjaan mereka. Maka berkatalah ia kepada sebagian pembesar kota itu: ‘Sesungguhnya negeri kalian ini sampai hari ini belum pernah didatangi oleh seorang alim selain aku, menurut penglihatanku. Dan sesungguhnya aku memiliki pendapat untuk kalian, jika kalian mengambilnya, maka rumah-rumah ini akan datang kepada kalian dalam keadaan baru seperti hari pembuatannya. Karena kalian merusaknya dengan perbaikan ini dan mengeluarkan biaya yang banyak padanya, dan kalian tidak lebih dari sekedar merobohkannya. Maka kumpulkan orang-orang untukku agar aku memberitahu kalian apa yang harus kalian lakukan.’

Berkata: “Maka tersebarlah hal itu tentang dirinya dan pendidikannya di kalangan penduduk kota. Sebagian mereka mendatangi yang lain dan berkata: ‘Ini adalah orang berilmu, dan tidaklah mungkin ia memiliki pendapat itu kecuali dari pengalaman dan percobaan, berdasarkan pengetahuan dan pemikiran. Maka janganlah kalian menjauhinya dengan prasangka buruk kepadanya hingga kalian mendatanginya, mendengarkannya, dan mengetahui apa yang ada padanya.’

Kemudian mereka berkumpul untuk orang itu dan berkata kepadanya: ‘Wahai orang bijak, kau telah melihat apa yang dilakukan gempa bumi, dan kami dalam tahun yang berat yang menggabungkan bagi kami antara kekeringan tanah, naiknya harga, dan kerusakan bangunan. Maka mudah-mudahan Allah telah mengirimmu kepada kami sebagai rahmat dari ketiga hal yang merusak ini.’

Berkata: ‘Sesungguhnya aku insya Allah adalah apa yang kalian harapkan, dan sesungguhnya aku adalah perlindungan bagi kalian dari apa yang menimpa kalian. Kalian berlindung dengan ilmu dan pendapatku. Namun bertakwalah terhadap kebodohan setelahku, belajarlah dan ambillah pelajaran. Karena sesungguhnya orang berilmu sepatutnya tidak kehilangan cara dalam setiap kesulitan, dan sesungguhnya orang bodoh pantas tidak menemukan cara dalam kesulitan apa pun.’

Dan ia terus menasihati mereka dengan ini dan semacamnya hingga mereka mengeluh. Maka berkata salah seorang dari mereka: ‘Semoga Allah memperbaikimu! Ketika kami telah mendirikan rumah-rumah, kami akan luang untukmu lalu engkau dapat menasihati dan mengajari kami. Adapun sekarang, keluarkanlah pendapatmu yang telah engkau janjikan kepada kami.’

Berkata: ‘Dengarkanlah, celakalah kalian! Tidakkah kalian melihat pohon yang menjatuhkan buahnya kemudian datang dengannya pada tahun berikutnya?’

Berkata mereka: ‘Semua pohon melakukan itu.’

Berkata: ‘Tidakkah kalian melihat pohon-pohon berupa batang-batang yang ketika dipotong tumbuh kembali, cabang-cabangnya berkembang dan berbuah?’

Berkata mereka: ‘Lalu apa?’

Berkata: ‘Semoga Allah menghinakan kalian! Bagaimana kalian buta terhadap pendapat dan pergi dari cara penyelesaian! Tidakkah kalian melihat batang-batang ini yang memikul rumah-rumah kalian? Jika kalian menggergajinya dengan gergaji untuk menggugurkan apa yang ada di atasnya berupa rumah-rumah yang rusak ini, demi Allah batang-batang itu akan tumbuh pada tahun depan memikul rumah-rumah baru berwarna kuning, merah, dan berbagai warna…'”

Kami tidak melihat dalam ilmu Profesor Thaha Husain dan orang-orang semacamnya kecuali keberanian, dan itu adalah salah satu sifat orang-orang gila. Karena keberanian itu lebih dekat kepada kecerobohan dan kebodohan selama pemiliknya tidak mengendalikan pendapatnya, tidak mengambil sikap terhadap dirinya sendiri, tidak berhati-hati, dan tidak memahami sesuatu berdasarkan dasar yang sebenarnya, melainkan berdasarkan dasar yang ia inginkan. Perbedaan antara orang gila yang berani dan pembaharu yang berani adalah bahwa keberanian orang gila berasal dari kerja saraf-sarafnya yang sakit, sedangkan keberanian pembaharu dari kerja jiwanya yang sakit. Penyakit-penyakit jiwa itu banyak, di antaranya: taklid (ikut-ikutan buta), cinta ketenaran dan kemasyhuran serta pujian, kesombongan dan pelampauan batas serta keras kepala, kekufuran dan ateisme. Jika engkau melihat seorang pembaharu dari kalangan kita, maka yakinlah bahwa engkau berhadapan dengan orang yang sakit jiwanya. Janganlah terlintas dalam benakmu bahwa ia seorang filsuf, ulama, atau sastrawan. Sifat-sifat ini atau yang menyerupainya tidak ada nilainya sama sekali jika terlepas dari akhlak yang dengannya tegak urusan umat dan umat menjadi baik, yaitu dari agama, adab, dan keutamaan.

Kekuatan penghancur yang bekerja dalam merusak tatanan dapat menghancurkan setiap makna dengan senjata yang paling tajam di dalamnya. Ia tampak pada ahli kefasikan, kerusakan, pencurian, ahli kezaliman dan kesewenang-wenangan, juga tampak dalam takaran-takaran lain pada sebagian filsuf, ulama, dan sastrawan. Karena kekuatan ini mewarnai kejahatan sebagaimana ia mewarnai buah-buahan. Lihatlah apa bedanya antara buah yang mentah pahit dengan yang matang pahit, atau antara yang merah dan kuning yang sama-sama tidak enak rasanya dan buruk cita rasanya, atau antara ulama perusak dengan pendapatnya dan pencuri perusak dengan perbuatannya, atau antara pelacur yang jatuh jiwanya dengan profesor yang hina jiwanya? Sesungguhnya semuanya adalah senjata-senjata yang bekerja dengan cara yang sama meskipun berbeda dalam jenis-jenis perusakan dan kadarnya. Tidaklah memberi pembelaan pada niat keburukan bahwa ia datang dari orang berilmu, sastrawan, atau pengajar di Universitas Mesir, sebagaimana tidak menambah keburukan jika ia datang dari pelacur, penjahat, perampok, atau pembunuh; karena ia tetap sama pada semua mereka!

Mereka ini dan itu hanyalah gaya-gaya kemanusiaan, tidak lebih.

Thaha Husain dalam klaimnya tentang kebebasan berpendapat telah menjadi seperti tipuan terhadap hukum: terjadilah dengannya kejahatan kemudian terjadilah dengannya pembebasan. Betapa banyak pencuri, pemalsu, pembunuh, dan sejenisnya yang telah dibebaskan oleh pengadilan sebagaimana Universitas Mesir membebaskan Thaha Husain dalam satu cara yang sama: karena tipuan, bukan karena kebenaran pembebasan. Betapa banyak kelengahan yang lolos dari hukum selama hukum itu berdiri untuk menemukan penjahat terlebih dahulu, kemudian hakim datang di tempat kedua. Seharusnya hukum itu berdiri untuk mencegah manusia dari kejahatan sebelum terjadinya. Ini adalah perbedaan antara hukum dan agama: agama adalah hukum untuk seluruh umat dan hukum keutamaan kemanusiaan secara umum, dan ia adalah akal umum bagi semua manusia. Adapun hukum, maka ia untuk para penjahat dan kejahatan khususnya, dan ia adalah akal khusus untuk sebagian manusia. Jika mereka mengabaikan yang pertama dan mencukupkan diri dengan yang kedua, mereka mendorong seluruh umat ke jalan kejahatan dan kejelekan. Dari sinilah engkau mengetahui kedudukan ulama agama umat, dan mereka inilah yang Thaha dan orang-orang semacamnya bekerja untuk merendahkan mereka dan meremehkan urusan mereka karena kebodohan, ketidaktahuan, buruknya pandangan, dan buruknya niat.

Mereka mencari pembelaan untuk Thaha dengan kebebasan berpendapat, seolah-olah mereka tidak mengetahui bahwa sebagian kebebasan ada dalam pembatasan dan sebagiannya dalam pencabutan. Apabila bertentangan manfaat individu dalam melepaskan kebebasan baginya dengan manfaat umat dalam membatasinya atau mencabutnya, maka wajib “pencabutan kepemilikan kebebasan ini” meskipun dengan cara yang dengannya diambil rumah-rumah orang untuk membuka jalan…

Semua ini menjelaskan bagimu kelengahan Universitas Mesir, kelengahan yang memerlukan pencucian matanya dengan larutan pembersih… Umat memandang Universitas bahwa ia darinya, sedangkan Universitas memandang kecantikannya di cermin dari wajah Thaha Husain. Maka semua yang dilihat umat di sebelah kiri, dilihatnya di wajah Thaha di sebelah kanan. Tidak ada jalan keluar dari kebalikan ini selama kedua pandangan berbeda, dan kebalikan itu melahirkan kesalahan. Maka wajar dalam salah satu dari dua pandangan bahwa Universitas berada di posisi kesalahan umat, dan dalam pandangan yang lain bahwa umat berada di posisi kesalahan Universitas.

Kami katakan bahwa ilmu Thaha Husain adalah keberanian, maka ia tidak datang dengan perkataan yang tegas, melainkan dengan perkataan yang berani. Itu jika memang kesalahan, tetapi kesalahan kebodohan, bukan kesalahan ilmu. Maka tidak ada pembelaan darinya dan tidak boleh berargumen untuknya. Karena ulama sejati tidak mengenal keberanian dan tidak mempraktikkannya. Jika engkau menemukan darinya apa yang membuatnya melakukannya, maka ketahuilah bahwa itu adalah keberanian dalil-dalilnya, kekuatan logikanya, dan kekerasan keyakinannya. Jika ia kosong dari ini dan engkau mendapatinya berani, maka dialah orang bodoh yang sombong dan kurang ajar yang tidak bersandar pada kekuatan dan ilmunya, melainkan pada kebodohan dan keburukannya serta pada kelemahan dan kelengahan manusia. Kami tidak melihat kekuatan Thaha kecuali dari sisi ini. Mereka seperti ular-ular yang menakutkan dengan ilusi meskipun tidak menyengat, dan meskipun racun telah habis dari taringnya. Seandainya bukan karena ini dari urusannya dan urusan manusia, niscaya anak-anak kecil bermain dengannya dan menjadikannya tali!

Lihatlah bagaimana profesor sastra di Universitas Mesir ini bodoh dengan kebodohan yang aneh ini.

Ia berkata di halaman 17 dan ia bermaksud Al-Quran:

“Adalah sebuah kitab Arab yang bahasanya adalah bahasa Arab sastra yang digunakan manusia pada masanya,” yaitu pada masa Jahiliah.

Dan di halaman 35: “Aku tidak mengingkari bahwa perbedaan dialek adalah kenyataan yang terjadi setelah Islam, dan aku tidak mengingkari bahwa syair telah stabil untuk semua suku meskipun ada perbedaan ini. Tetapi aku menduga bahwa engkau melupakan apa yang seharusnya tidak engkau lupakan, yaitu bahwa suku-suku setelah Islam telah mengambil untuk sastra bahasa selain bahasa mereka dan terikat dalam sastra dengan ikatan-ikatan yang tidak akan mereka terikat dengannya seandainya mereka menulis atau bersyair dalam bahasa khusus mereka. Maka orang Tamim atau Qays ketika membaca syair dalam Islam tidak membacanya dengan bahasa Tamim atau Qays dan dialek mereka, melainkan ia membacanya dengan bahasa Quraisy dan dialeknya!”

Kemudian Syekh datang dengan contoh dari sastra Yunani, kemudian berkata: “Dan demikian pula yang dilakukan orang Arab setelah Islam: mereka beralih dalam bahasa sastra mereka dari semua yang membedakan bahasa dan dialek khusus mereka kepada bahasa Al-Quran dan dialeknya.”

Kemudian ia memberikan contoh dari tanah airnya yang baru… Prancis, kemudian berkata: “Dan aku merasakan kebutuhan untuk memberikan contoh lain yang mungkin mengejutkan mereka yang mempelajari sastra Arab karena mereka tidak terbiasa dengan contoh semacam ini dari para peneliti tentang sejarah sastra. Yaitu bahwa dalam bahasa Mesir kita ada dialek-dialek yang berbeda dan cara-cara yang beragam dari cara berbicara. Maka penduduk Mesir Atas memiliki dialek-dialek mereka, penduduk Mesir Tengah memiliki dialek-dialek mereka, penduduk Kairo memiliki dialek mereka, dan penduduk Mesir Bawah memiliki dialek-dialek mereka. Dan ada kesepakatan yang berkelanjutan antara dialek-dialek ini dengan apa yang dimiliki orang Mesir dari syair dalam bahasa umum mereka. Maka penduduk Mesir Atas menggunakan wazan-wazan yang tidak digunakan penduduk Kairo atau penduduk Delta, dan mereka ini menggunakan wazan-wazan yang tidak digunakan penduduk Mesir Atas.

Ini sesuai dengan sifat alami segala sesuatu; tidaklah mungkin syair keluar dari apa yang dibiasakan pemiliknya dalam bahasa dan dialek dalam berbicara. Meskipun semua ini, kami ketika membaca syair sastra atau menulis prosa sastra dan ilmiah beralih dari bahasa dan dialek wilayah kami kepada bahasa dan dialek ini yang kepadanya beralih orang-orang Arab setelah Islam, yaitu bahasa Quraisy dan dialek Quraisy.” Selesai kekacauan Syekh.

Ia telah menetapkan dalam perkataannya bahwa bahasa Al-Quran Al-Karim adalah “bahasa sastra” yang digunakan orang-orang Arab pada masa Jahiliah. Jika demikian dan pada masa Jahiliah ada bahasa sastra untuk orang Arab, maka bagaimana Thaha mengingkari syair Jahiliah bahwa dialeknya seragam? Bagaimana ia memastikan bahwa ketiadaan perbedaan dialek di dalamnya adalah bukti bahwa ia dibuat-buat dan dipalsukan sebagaimana telah berlalu kepadamu di tempatnya? Bagaimana ia bertentangan dengan pertentangan yang terbuka ini?

Sesungguhnya “bahasa sastra” ini adalah ilusi yang konyol dari ilusi-ilusi para orientalis yang diikuti oleh Thaha karena ia adalah orang yang taklid dan pencuri. Karena bahasa sastra tidak akan muncul dan tidak akan stabil kecuali jika ia tertulis, terdokumentasi, dan dipelajari. Karena tulisan adalah pengekangan dari perubahan dan penggantian, dan ia adalah teks dalam umum peniruan dan penyalinan, karena ia di suatu tempat juga berada di setiap tempat lainnya.

Seandainya tidak ada di Mesir satu bahasa tertulis yang dipelajari yaitu bahasa Arab fusha, niscaya tidak ada baginya syair sastra maupun prosa sastra. Dari sinilah mereka yang di dalam hati mereka ada harapan dari para penjajah, dan mereka yang di dalam hati mereka ada penyakit dari para pembaharu, ingin menjadikan bahasa ‘ammiyah (dialek) sebagai bahasa tulisan dan pembelajaran. Karena apabila ia terdokumentasi dan dipelajari oleh generasi muda, ia akan menghapus fusha secara total dan menghilangkan kitab-kitabnya, sastranya, dan agamanya. Kami telah menulis tentang ini, maka kami tidak akan memperpanjangnya…

Apakah syekh universitas itu dapat memberikan kepada kita dalil atau sesuatu yang menyerupai dalil bahwa suku-suku pada masa jahiliah atau setelah Islam menulis dan belajar di padang pasir mereka dengan bahasa sastra yang ia klaim, sehingga kita percaya bahwa setiap suku memiliki dua bahasa seperti yang kita miliki di Mesir?

Yang mengherankan adalah syekh mencampur adukkan hal ini padahal ia telah membaca jilid pertama “Tarikh Adab al-‘Arab” (Sejarah Sastra Arab) dan menyebutkannya dalam bukunya; lalu bagaimana ia lupa bahwa para perawi tidak menghiraukan orang Arab yang berbicara dengan dialek selain dialek kaumnya dan tidak menganggapnya sebagai hujah dalam bahasa, dan bahwa orang Arab asli yang murni fitrahnya tidak dapat meluruskan lisannya kecuali dengan satu dialek dan satu logat saja, sampai-sampai ketika Sibawayh berselisih dengan al-Kisai dalam masalah “Dhanantu anna al-‘aqraba asyaddu las’atan min az-zunbur fa-idza huwa hiya au fa-idza huwa iyyaha!” (Aku mengira bahwa kalajengking lebih menyengat daripada lebah, ternyata dia adalah dia atau ternyata dia adalah dirinya!), dan mereka mendatangkan orang-orang Arab yang berada di pintu gerbang Yahya al-Barmaki dan menyuap mereka agar menyetujui al-Kisai dalam membolehkan dua bahasa tersebut—mereka tidak lebih dari mengatakan dalam persetujuan: Sesungguhnya perkataan yang benar adalah apa yang dikatakan al-Kisai.

Ketika Sibawayh melihat hal itu dari mereka, Yahya berkata: Perintahkan mereka untuk mengucapkannya, karena sesungguhnya lidah mereka tidak taat dengannya! …

Tidak ada salahnya di sini kita mengutip ungkapan ini dari jilid pertama “Tarikh Adab al-‘Arab” di halaman 348:

“Bagaimanapun engkau berusaha dengan orang Arab untuk mengucapkan dengan dialek selain dialek kaumnya meskipun itu lebih fasih darinya, maka sesungguhnya ia tidak mampu karena kelemahan, karena peniruan dalam kebenaran seperti peniruan dalam kesalahan, dan bahasa hanya diambil dari kemurnian fitrah dan itu hanya satu cara; al-Asma’i berkata: Isa bin Umar ats-Tsaqafi datang sementara kami berada di sisi Abu Amr bin al-‘Ala, lalu ia berkata: Wahai Abu Amr, apa yang sampai kepadaku tentang dirimu yang kau bolehkan? Ia berkata: Apa itu? Ia berkata: Sampai kepadaku bahwa engkau membolehkan: Laysa ath-thib illa al-misk (Tidak ada wewangian kecuali kesturi).

Abu Amr berkata: Aku tidur sementara manusia berjalan di malam hari! Tidak ada di bumi seorang Hijazi pun kecuali ia menashabkan. Dan tidak ada di bumi seorang Tamimi pun kecuali ia merafa’kan; kemudian ia berkata: Bangunlah wahai Yahya—yaitu al-Yazidi—dan engkau wahai Khalaf—yaitu Khalaf al-Ahmar—pergilah kepada Abu al-Mahdi ‘orang Arab Hijaz’ dan ajarilah dia rafa’, karena sesungguhnya ia tidak akan merafa’kan, dan pergilah kepada Abu al-Muntaji’ ‘orang Arab Tamim’ dan ajarilah dia nashab, karena sesungguhnya ia tidak akan menashabkan.

Ia berkata: Maka kami pergi dan mendatangi Abu al-Mahdi, ternyata ia sedang shalat, ketika ia selesai shalatnya ia menoleh kepada kami dan berkata: Apa keperluan kalian berdua? Kami berkata: Kami datang untuk menanyakan kepadamu tentang sesuatu dari kalam orang Arab. Ia berkata: Silakan. Maka kami berkata: Bagaimana kau mengatakan: Laysa ath-thib illa al-misk—dengan rafa’—maka ia berkata: Apakah kalian menyuruhku berdusta di masa tuaku! Khalaf berkata kepadanya: Laysa asy-syarab illa al-‘asal—dengan rafa’—al-Yazidi berkata: Ketika aku melihat hal itu darinya aku berkata: Laysa milak al-amr illa tha’at Allah wa al-‘amal biha—dengan rafa’—maka ia berkata: Ini adalah kalam yang tidak ada hubungannya dengannya. Kemudian ia mengulanginya dengan nashab, maka keduanya merafa’kan lagi, lalu ia berkata: Ini bukan dialekku dan bukan dialek kaumku. Keduanya berkata: Maka kami menulis apa yang kami dengar darinya, kemudian kami mendatangi Abu al-Muntaji’ dan mengajarinya nashab dan kami berusaha keras dengannya namun ia tidak menashabkan dan menolak kecuali rafa’.” Selesai.

Dan hal ini terjadi dari mereka di akhir abad kedua sementara bahasa menuju kelemahan dan kekacauan. Lalu di mana engkau menemukan bahasa sastra yang digaungkan oleh syekh ini, dan lihatlah seberapa jauh perbedaan antara perkataan imam bahasa Arab Abu Amr “Tidak ada di bumi seorang Hijazi pun kecuali ia menashabkan dan tidak ada di bumi seorang Tamimi pun kecuali ia merafa’kan” dengan perkataan Abu Marghrit… “Dan orang Tamimi atau Qaisi ketika membaca syair di masa Islam tidak membacanya dengan bahasa Qays atau Tamim dan dialek keduanya,” maka mana yang lebih dekat dengan ilmu dan kebenaran: orang yang hidup di zaman orang Arab dan meriwayatkan dari mereka ataukah orang yang antara dirinya dan orang Arab terhalang oleh kebodohan dan kekeliruannya serta empat belas abad kematian?

Dan dari hal yang sejalan dengan ini dari buku Thaha, dan ini lebih mengherankan dari yang sebelumnya, perkataannya di halaman 103: “Dan para perawi lebih tertipu lagi ketika masalah tersebut sangat berhubungan dengan padang pasir, yaitu dalam berita-berita ini yang mereka sebut hari-hari orang Arab atau hari-hari manusia, karena mereka mendengar sebagian dari berita-berita ini ‘sebagian saja…’ dari orang-orang Arab, kemudian mereka melihatnya dikisahkan secara terperinci dan panjang lebar sehingga mereka menerima apa yang diriwayatkan darinya sebagai sesuatu yang serius dan meriwayatkannya dan menafsirkannya dan dengannya menafsirkan syair dan mengambil kesimpulan darinya sejarah orang Arab, padahal masalahnya tidak melebihi apa yang telah kami kemukakan, karena berita-berita ini tidak lain adalah manifestasi kisah dari kehidupan Arab kuno ini, yang diingat orang Arab setelah mereka menetap di kota-kota lalu mereka menambah, mengembangkan, dan menghiasinya dengan syair sebagaimana orang Yunani mengingat masa lalu mereka… Maka perang Basus, perang Dahis dan al-Ghabra, perang Fijar, dan hari-hari yang banyak ini yang disusun buku-buku tentangnya dan disusun syair-syair di dalamnya tidak lain dalam kenyataannya—jika teori kami benar—kecuali perluasan dan pengembangan dari legenda-legenda dan kenangan yang diceritakan orang Arab setelah Islam.” Selesai.

Dan mungkin kita tidak melihat dalam buku Thaha satu kata pun yang menunjukkan akal kecuali perkataannya dalam ungkapan ini: “Jika teori kami benar” dan penggantungannya terhadap pendapat pada syarat ini, dan itu adalah syarat yang fasih, kemudian itu jauh dari apa yang diambil oleh syekh dari pendapat yang menyesatkan dan membingungkan, dan itu juga dari adab ilmu: karena tidak ada hukum kecuali dengan keyakinan, jika ada keraguan maka hukum dibiarkan tergantung, hanya saja Thaha tidak melewati akal ini sepuluh baris hingga penyakitnya kambuh dan serangan menimpanya maka tiba-tiba ia berkata: “Dan semua yang diriwayatkan dari hari-hari orang Arab dan perang-perang mereka dan perselisihan-perselisihan mereka dan apa yang berhubungan dengan itu dari syair layak untuk dianggap rekaan, dan mayoritas mutlaknya adalah rekaan tanpa keraguan.”

Maka ini adalah orang dungu yang mengejek dirinya sendiri seperti yang engkau lihat—dan perkataannya lebih dekat dengan kekikukan daripada ilmu, dan seakan dalam syekh ini ada tabiat selain tabiat manusia, maka kelebihannya dengan banyaknya cacatnya bukan dengan banyaknya kebaikannya. Berapa hari dari hari-hari orang Arab yang engkau ketahui wahai syekh? Dan dalam berapa buku itu ada? Dan berapa diwan yang disusun di dalamnya dari syair? Dan apa itu? Dan di mana itu? Dan apa yang telah engkau temui darinya sehingga engkau memutuskan terhadap semua itu bahwa itu adalah karya tukang cerita dan bahwa itu adalah tambahan dan perluasan dalam legenda-legenda?

Sesungguhnya hari-hari orang Arab adalah perang-perang dan penyerbuan-penyerbuan mereka, dan seandainya tidak ada yang sahih bagi mereka sesuatu dari semua yang diriwayatkan tentang mereka, maka yang sahih hanyalah berita-berita hari-hari ini saja, karena di dalamnya ada kenikmatan dan musibah mereka, dan darinya kehidupan dan kematian mereka, dan untuknya ada pujian dan celaan mereka, dan itu bagi mereka adalah materi sejarah politik, dan karena itulah disebutkan di lidah-lidah penyair mereka, karena penyair suku seakan-akan ia adalah menteri luar negeri di dalamnya, meskipun demikian tidak ada satu qasidah pun yang disusun—baik benar maupun dusta—dalam menggambarkan suatu hari dari hari-hari ini dan kisah apa yang terjadi di dalamnya, dan sesungguhnya mereka menyebut hari-hari mereka dalam kebanggaan dan sindiran lalu mereka mengisyaratkan kepadanya dan menunjuk ke tempat-tempat celaan atau pujian, tidak melebihi itu, dan dengan ini para perawi dan ulama dapat mengeluarkan nama-nama hari-hari ini dan bersaksi tentang sebagian apa yang ada di dalamnya dari syair naqaid (syair sindiran), yaitu apa yang terjadi antara penyair-penyair suku dalam hinaan dan kebanggaan, salah seorang dari mereka mengatakan lalu yang lain menyerangnya, dan engkau melihatnya dalam syair Jarir, al-Farazdaq, al-Akhtal, ath-Thirmah dan selain mereka dari orang-orang Islam sebagaimana engkau melihatnya dalam syair jahiliah, yang membuktikan bahwa itu adalah sejarah yang mereka wariskan di antara mereka, dan apa yang diwariskan suku kepada anak-anaknya kecuali nasab mereka, berita pedang-pedang mereka, kemuliaan orang-orang dermawan mereka, dan perkataan penyair-penyair mereka; dan penyair pertama telah berkata:

Seandainya kaumku mengucapkanku dengan tombak-tombak mereka… aku akan berbicara tetapi tombak-tombak telah membisukan

Maka tombak-tombak ini adalah lidah-lidah sejarah yang menulis dengan darah syair merah itu. Dan jika tidak ada bagi suku perang-perang dan peristiwa-peristiwa maka tidak ada bagi mereka keberanian dan tidak ada di dalamnya keperkasaan dan tidak ada pada mereka kekuatan dan jatuh dengan itu nasab-nasab mereka dan hilang kemuliaan mereka dan berkurang syair mereka karena tiga hal ini adalah materi syair yang diriwayatkan di antara mereka yang beredar di mulut-mulut mereka, dan mereka adalah kaum yang kehidupan mereka adalah buah dari tumbuhan pembunuhan.

Ibnu Sallam berkata: “Dan sesungguhnya syair menjadi banyak dengan perang-perang yang terjadi antara kabilah-kabilah, seperti perang Aus dan Khazraj, atau suatu kaum menyerang dan diserang, dan karena itulah syair Quraisy sedikit karena tidak ada permusuhan di antara mereka dan mereka tidak berperang, dan itu yang menyebabkan sedikitnya syair Oman dan Thaif.”

Dengan semua ini, telah hilang sebagian besar syair dan sebagian besar berita, dan hari-hari bukanlah dari ilmu tukang cerita, bahkan ulama meneliti dan memindahkannya dan itu dibacakan kepada mereka dan mereka membedakan antara itu dan kisah-kisah yang dibuat-buat.

Al-Jahizh berkata menyebutkan apa yang dibuat manusia dari berita Amr bin Wadd, ksatria Quraisy yang dibunuh oleh Ali bin Abi Thalib: “Aku membaca kepada para ulama kitab Fijar pertama, kedua, dan ketiga, dan perkara al-Muthayyibin dan al-Ahlaf, pembunuhan Abu Azyhir, kedatangan gajah, dan setiap hari yang berkumpul bagi Quraisy, maka aku tidak mendengar bagi Amr ini dalam sesuatu dari itu disebutkan.”

Dan kisah Amr seperti kisah Antarah yang dibuat oleh orang awam dan tidak luput dari ulama bahwa itu adalah rekaan yang tidak memiliki nilai.

Dan semua yang diketahui dari hari-hari orang Arab ada tiga jenis: di antaranya hari-hari kuno dan itu sangat sedikit, seperti hari Khazaz; dan beritanya ringkas, dan di antaranya hari-hari yang terjadi setelah Islam, seperti hari al-Waqidh, terjadi dalam fitnah Utsman bin Affan, dan hari al-Haramit, terjadi di masa Abdul Malik, dan hari ash-Sharif, terjadi di masa ar-Rasyid, dan semua itu mereka riwayatkan beritanya dan menyebutkannya dalam syair mereka, dan di antaranya hari-hari jahiliah, dan itu adalah materi terbesar di antara dua ujung yang tipis ini, dan kembali ke sebelum Islam enam puluh atau tujuh puluh tahun atau sekitarnya, dan yang terjauhnya tidak melebihi dalam sejarahnya seratus tahun, dan itu adalah riwayat dua generasi yang disampaikan ayah kepada anaknya atau kakek kepada cucunya, meskipun demikian semua yang diketahui darinya dengan ringkasnya beritanya tidak mencapai tujuh puluh hari, dan telah disebutkan bahwa yang besar-besarnya ada tiga: hari Sya’b Jabalah, terjadi sebelum Islam lima puluh tujuh tahun, dan hari Dzi Qar, dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menyaksikannya, dan hari Kilam Rabi’ah, dan kami tidak menemukan sejarahnya; maka seandainya hari-hari ini adalah legenda dan kisah-kisah dan “mayoritas mutlaknya adalah rekaan tanpa keraguan” sebagaimana yang dibayangkan profesor universitas, mereka akan menjadikan tiga ini menjadi tiga puluh selama mereka ingin memperbanyak dan berdusta dalam mengagungkan orang Arab.

Adapun setelah ini, maka sesungguhnya kami melewati apa yang tersisa bagi kami terhadap profesor universitas dalam bukunya dan perhitungannya—dan itu banyak—karena ia telah sangat kesulitan, bahkan bangkrut, bahkan melarat; dan yang kami harapkan adalah bahwa ia telah mengetahui bagaimana mengajar dan berakal bagaimana berpikir, dan bahwa ia telah yakin bahwa jika ia bersama kami ia tidak menambah kami, dan jika ia melawan kami ia tidak mengurangi kami, dan sesungguhnya dirinya yang ia kurangi dan dirinya yang ia tambah!

Cukuplah seseorang kebodohan jika ia kagum dengan pendapatnya, lalu bagaimana dengannya yang kagum sementara pendapatnya adalah kebodohan itu sendiri?!!

Mahasuci Allah dan segala puji bagi Allah dan tidak ada tuhan kecuali Allah dan Allah Mahabesar dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Dan kami mohon ampun kepada Allah dari apa yang terlanjur dari pena atau melampaui batas dari pemikiran, dan akhir doa kami adalah bahwa segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Universitas di Parlemen

Pada hari Ahad tanggal dua belas bulan September tahun 1926, anggaran universitas diajukan ke Parlemen. Maka tampaklah kemarahan Allah dan kebencian umat sebagaimana yang Anda lihat dalam apa yang kami kutip dari surat kabar “Al-Ahram” yang terhormat secara harfiah yang diringkas dari risalah parlemen:

Profesor “Sabri Abu Alam” berkata setelah membahas sejarah Universitas, permulaannya, dan penggabungannya dengan Kementerian Pendidikan, dan bahwa setelah itu universitas tidak lebih dari sekadar undang-undang, tempat, dan iklan dari iklan-iklan politik:

“…Semua tanda-tanda menunjukkan bahwa mereka mengeluarkan proyek tanpa melengkapi penelitian tentang sarana-sarana teknis dan administratif yang dengannya proyek tersebut terlaksana. Bukti saya tentang hal itu adalah ketika memulai pembentukan Fakultas Ilmu Pengetahuan, kuliah-kuliah Kimia tidak dimulai kecuali pada awal November karena kesibukan profesor Kimia dalam jabatan sebagai sekretaris jenderal Universitas.

Adapun pelajaran Kimia praktis tidak dimulai kecuali pada tanggal 3 Januari karena tidak disiapkannya laboratorium yang diperlukan. Demikian pula pengajaran ilmu Geologi tidak dimulai kecuali pada awal Februari, dan sebabnya adalah bahwa profesor ilmu tersebut adalah dekan fakultas, dan keadaan pengorganisasian Fakultas Ilmu Pengetahuan dan pembentukannya telah menyita seluruh waktu dan usahanya. Tidak ada bangunan khusus untuk laboratorium sebagaimana peralatan ilmiah yang diperlukan tidak datang kecuali beberapa minggu sebelum ujian. Dari situ akan jelas bahwa ada rahasia tersembunyi yang mendorong para penanggung jawab untuk mengumumkan pembukaan Universitas tanpa menyiapkan sarana-sarana yang diperlukan dari segi kesiapan mahasiswa dan kelayakan mereka untuk menerima pelajaran; dan dari segi pemilihan para profesor dan pemahaman mereka tentang keadaan mahasiswa yang akan mengikuti mereka dalam menerima pelajaran; padahal undang-undang yang dikeluarkan tentang pembentukan Universitas dengan pembentukan baru dikeluarkan pada tanggal 11 Maret tahun 1925 untuk dilaksanakan sejak hari diterbitkannya.

Saya ingat ketika kami membahas tindakan-tindakan Menteri Pendidikan sebelumnya, kami mendengar dari Yang Mulia bahwa sebagian besar reformasi yang ia usulkan untuk dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan bertujuan untuk memberi makan Universitas Mesir dengan mahasiswa yang dapat mengikuti kuliahnya.

Maksudnya adalah jika gagasan dari reformasi-reformasi ini adalah menyiapkan sekelompok mahasiswa yang mampu menerima ilmu-ilmu Universitas, maka seharusnya pendirian fakultas-fakultas ini ditunda sampai memungkinkan bagi mahasiswa untuk bergabung dengan Universitas. Oleh karena itu saya tidak memahami rahasia pendiriannya dengan kecepatan seperti ini, dan dalam upaya melarikan diri dari pengawasan Parlemen, pada saat Universitas hidup dari uang umum.

Universitas muncul dengan cap tergesa-gesa.

Dari kecepatan dalam memutuskan pendiriannya, hingga keberanian dalam pembentukannya dan dalam pengangkatan para pengajar yang diperlukan.

Didirikan dengan keputusan Dewan Menteri, dan ini tidak cukup dari sudut pandang ilmiah. Saya tidak mengira bahwa universitas didirikan antara siang dan malam, karena universitas adalah hasil perkembangan yang berkelanjutan dari ilmu pengetahuan; universitas tumbuh dan berkembang atau terbentuk dan menyerap dengan sistem sosial, politik, dan ekonomi…”

Kemudian pembicara memperpanjang pembahasannya tentang kekacauan dan kesalahan yang terjadi di Universitas dan pengangkatan orang-orangnya.

۞۞۞۞۞

Sidang hari Senin 13 September tahun 1926

Pidato Profesor Abdul Khaliq Atiyah

Para Anggota Parlemen

Setengah juta pound! Setengah juta pound! Ya, setengah juta pound yang ditanggung perbendaharaan negara sebagai harga istana Zaafaran dan pengeluaran Universitas Mesir yang tidak didirikan dalam bentuknya sekarang kecuali sejak tahun 1925 tanpa negara mengucapkan kata-katanya dalam masalah ini. Dan sekarang diminta dari kalian untuk menyetujui tiga ratus ribu pound lainnya untuk menjadi pengeluaran Universitas ini pada tahun berjalan.

Jumlah-jumlah besar dan angka-angka yang mengejutkan yang meratap dan oh betapa panjangnya ratapan dari beratnya para pembayar pajak kecil dan pembayar pajak dari negeri ini.

Saya mengatakan itu dan saya tidak melihat diri saya berlebihan, tetapi saya juga ingin agar kalian tidak mencium dari perkataan saya bau kebencian terhadap ilmu atau penolakan untuk mendatangi sumber-sumber dan lembaga-lembaganya. Karena saya yakin bahwa setiap harta meskipun langka menjadi ringan di sisi tujuan yang agung dan maksud yang paling mulia yang untuk itu didirikan dan akan didirikan lembaga seperti ini. Tetapi saya kembali dan mengatakan bahwa syaratnya, seluruh syaratnya untuk itu adalah kita memulai pekerjaan kita dari mana seharusnya dimulai, dan ikatannya, seluruh ikatannya adalah bahwa peraturan-peraturan yang ditetapkan dan metode-metode yang diperhatikan seharusnya mengarah pada tujuan ini dan mewujudkan maksud tersebut. Saat itulah pengeluaran menjadi disukai, bahkan kemurahan hati menjadi wajib.

Wahai para Anggota Parlemen, kemarin rekan Profesor Sabri Abu Alam berbicara tentang tujuan pendirian Universitas dan maksudnya, tetapi dalam penjelasannya ia bersikap global, karena ia melewatinya secara sepintas. Dan saya mohon maaf kepada kalian karena saya melihat diri saya terpaksa hari ini untuk menunjukkan beberapa rincian dalam topik ini, agar pendahuluan-pendahuluan terkait dengan kesimpulan-kesimpulan yang kami usulkan dengan keterikatan yang jelas dan harmonis. Dan kesimpulan-kesimpulan ini memiliki hubungan dan kaitan dengan uang yang diminta dari kami untuk menyetujuinya hari ini.

Sesungguhnya universitas, di negara mana pun di dunia, selalu tunduk seperti setiap makhluk pada hukum-hukum peradaban. Dimulai sebagai janin “yaitu gagasan” kemudian keluar sebagai bayi, dan dari sini dimulai fase pendirian, kemudian tumbuh menjadi anak kecil dengan perawatan para pendirinya, kemudian berkembang menjadi remaja, kemudian dewasa; kemudian tua yang mengumpulkan pengalaman dan percobaan berabad-abad; dan saat itulah ia layak untuk diberi dan pantas untuk membahagiakan.

Para hadirin: kita semua tahu bahwa apa yang dibelanjakan untuk bayi lebih sedikit dari yang dibelanjakan untuk anak kecil, dan apa yang diperlukan untuk anak kecil lebih sedikit dari yang diperlukan untuk remaja, dan begitulah keadaannya bagi orang dewasa dan orang tua, terutama dalam masalah yang sedang kita bahas.

Jika kita memahami itu dan menyadarinya, maka apa yang seharusnya saya katakan dan apa yang diharapkan saya tuju; Universitas memasuki fase baru dan menjadi milik negara sejak Maret 1925 dan menjadi bergantung dalam kehidupan barunya pada uang bersama, yaitu uang umum, dan itu adalah uang umat. Maka berhak bagi kalian dengan kewenangan yang kalian miliki atas uang ini dan kewajiban kehati-hatian dan tanggung jawab menuntut kalian – untuk mengetahui jika diminta dari kalian untuk membelanjakan, mengapa kalian membelanjakan dan berapa banyak kalian membelanjakan?

Kewajibannya adalah kita mendorong ketika harus mendorong, dan mengkritik ketika harus mengkritik, sehingga kita tidak membiarkan suatu masalah melewati kita tanpa mendorongnya atau mengkritiknya sesuai dengan apa yang dituntut oleh kepentingan.

Sungguh saya menginginkan, para hadirin, bahwa mereka yang memasukkan Universitas ke dalam fase baru memahami bahwa alam menolak lompatan. Saya mengharapkan itu, tetapi dengan sangat menyesal saya menyatakan bahwa politik yang dikuasai oleh nafsu perubahan dan penggantian, dan yang dinaiki oleh setan ketergesaan, sehingga berusaha mencapai penampilan bukan hakikat, dan bentuk bukan substansi. Dan begitulah ia menghadirkan kepada kami dan kepada negara sebuah universitas dalam pakaian raksasa, padahal ia masih kerdil dari para kerdil. Dan ingin agar Universitas itu berdiri tegak seolah-olah ia ciptaan yang kuat padahal ia bayi dalam buaian; dan seandainya masalahnya berhenti pada batas ini tentu lebih ringan, tetapi yang tidak ringan adalah bahwa kita menanggung jumlah-jumlah besar demi bentuk-bentuk bukan demi substansi, dan bahwa kita terancam – jika tidak segera melakukan pengobatan yang tegas – untuk pengeluaran-pengeluaran yang pasti akan membengkak dengan sangat besar…

Kemudian Profesor memperpanjang pembicaraan tentang administrasi Universitas, para pengajarnya, pemborosannya, dan kekeliruannya dengan penjelasan yang panjang lebar, kemudian berkata:

Masalah Thaha Hussein

Ini berkenaan dengan masalah pendidikan.

Masih ada poin lain yang harus diingatkan.

Terjadi wahai para Anggota sebuah kejadian di Universitas Mesir, dan muncul dari pihaknya sebuah suara yang menghilangkan simpati banyak orang padanya, hampir menyebabkan fitnah atau nyaris. Dan yang lebih keras dan lebih menyakitkan adalah bahwa negara tidak mendapat bagian dan tidak mendapat manfaat yang jelas atau tersembunyi dari pembangkitan topik yang dibahas oleh pemilik suara itu, sehingga dikatakan meskipun dengan cara toleransi: bahwa kebaikan-kebaikan seimbang dengan keburukan-keburukan.

Dan saya kira bahwa kalian setelah penjelasan ini telah memahami apa yang saya inginkan dan mengetahui bahwa suara yang dimaksud dengan perkataan saya ini adalah buku “Syair Jahiliyah” yang berisi cercaan tajam terhadap agama Musa yang mulia dan agama Isa yang penuh rahmat, dan terhadap Islam agama negara Mesir berdasarkan teks konstitusi.

Para hadirin, sesungguhnya keyakinan dahulu dan masih di Timur dan di Barat juga merupakan emosi-emosi yang sensitif, siaga, terjaga, berkobar meskipun tampak padam; maka orang yang berakal harus menjauhi segala yang membangkitkannya. Dan orang yang benar-benar berilmu yang memahami lingkungan tempat ia hidup dan lingkungan yang mengelilinginya, menemukan dari ilmunya ruang tanpa batas untuk menangani perbaikan dan cacat-cacat yang banyak tanpa menemukan dirinya terpaksa pada suatu waktu untuk memasuki pintu ini yang mungkin mengakibatkan dari memasukinya banyak kejadian-kejadian besar dan perkara-perkara besar.

Wahai para Anggota Parlemen, saya mohon jangan sampai ada yang menafsirkan atau menuduh kami atau bermegah kepada kami bahwa ia lebih giat dari kami dalam menjaga kebebasan ilmu dan pengajaran dan lebih besar dari kami dalam keinginan untuk mendukung kebebasan pendapat dan pemikiran.

Sesungguhnya tidak ada kebebasan mutlak di dunia ini. Seandainya demikian, kehormatan orang-orang akan dicabik-cabik dengan dalih kebebasan berpendapat. Seandainya demikian, akan muncul orang-orang di negeri ini yang menyerang sistem pemerintahan dengan mengandalkan kebebasan berpendapat. Seandainya demikian, akan muncul orang-orang di negeri ini yang menyebarkan prinsip-prinsip anarki atau bolshevisme berdasarkan kebebasan berpendapat. Namun kebebasan—wahai para anggota yang terhormat—adalah terbatas dan berakhir ketika mulai bertabrakan dengan tuntutan keteraturan dan hukum.

Anda bebas dalam segala yang Anda inginkan, tetapi berhati-hatilah agar tidak jatuh di bawah kekuasaan hukum.

Sesungguhnya pendidikan adalah bebas menurut teks konstitusi, dan tidak ada seorang pun dari kita yang menentang hal itu. Namun konstitusi juga mengatakan: Sesungguhnya pendidikan adalah bebas kecuali jika mengganggu ketertiban umum, jika bertentangan dengan kesopanan. Dan gangguan di sini artinya adalah bahwa dari penetapan pendapat tersebut dapat menimbulkan fitnah atau kemungkinan terjadinya fitnah, dan ketika itu hukum menjadi penghalang yang menghalangi, karena kepentingan umum lebih didahulukan daripada hawa nafsu. Maka bagi mereka yang memahami kebebasan berpendapat sebagaimana ditetapkan oleh hukum, dan bagi mereka yang memahami kebebasan pendidikan sebagaimana dimaksudkan oleh hukum, harus memahami bahwa ketika kami membahas masalah ini, kami ingin selalu berada dalam lingkup hukum.

Para hadirin yang terhormat, sesungguhnya tindakan orang ini juga bertentangan dengan tata krama, karena dia adalah dosen di Universitas Mesir, yang merupakan lembaga pemerintah yang hidup dari uang pemerintah yang mewakili bangsa. Dia menerima gajinya dari lembaga ini yang agamanya adalah Islam, maka tidaklah dapat dipahami, tidak masuk akal, dan tidak sesuai dengan tata krama bahwa orang ini kemudian meludahi wajah pemerintah yang membayar gajinya dari dana pemerintah dengan mencela agama rakyatnya, baik minoritas maupun mayoritas.

Sesungguhnya ketika kami menyerahkan anak-anak kami kepada pemerintah untuk belajar di lembaga-lembaganya, kami melakukan itu dengan mengandalkan bahwa antara kami dan pemerintah ada kontrak tersirat bahwa agama-agama dihormati. Saya tidak hanya mengatakan kontrak tersirat, bahkan tegas, karena pemerintah memperhatikan pengajaran agama di sekolah-sekolahnya dan memasukkannya dalam kurikulumnya. Jika demikian halnya, maka bagi mereka yang ingin membakar kemenyan ateisme, bakar saja di dalam hati mereka, karena mereka bebas dalam keyakinan mereka, atau bakar di rumah mereka, karena mereka bebas di lingkungan pribadi mereka. Adapun menyebarkannya di udara lembaga-lembaga pendidikan dan mimbar-mimbar universitas, ini tidak dapat kami pahami dengan cara apa pun (tepuk tangan keras).

Dan yang paling aneh dari tindakan ini adalah, jika benar yang saya dengar bahwa pihak universitas membeli buku ini dari penulisnya! Membeli dengan uang bangsa yang terluka oleh perbuatan ini, wahai para anggota dewan! Jika buku ini akan diajarkan di universitas, maka itu adalah puncak dari segala kesalahan, dan kami tidak punya komentar tentang hal ini. Adapun jika tujuan dari pembelian buku ini adalah untuk mencegah bahaya penyebarannya, ini juga merupakan tindakan yang tidak masuk akal, karena uang bangsa tidak boleh dibayarkan sebagai upah dan hadiah atas penghinaan terhadap bangsa, dan karena tindakan ini pada dasarnya adalah bentuk penghargaan, dan penghargaan ini terjadi di mana seharusnya ada hukuman dan di mana seharusnya ada sanksi. Semua ini jika benar apa yang saya dengar bahwa pihak universitas telah membeli buku ini.

Menteri Pendidikan: Adapun mengenai masalah buku “Dalam Sastra Jahiliyah”, saya telah mengatakan kepada Anda semua pada sidang yang lalu bahwa kami berharap universitas menjadi lembaga yang bebas untuk penelitian ilmiah yang benar, dan ini tidak berarti bahwa kami rela universitas menjadi tempat di mana kursi-kursi profesor menjadi mimbar untuk melontarkan cercaan terhadap agama apa pun dengan tujuan merendahkan kehormatannya atau menyerang kesuciannya. Kewajiban para profesor adalah menghindari hal itu dalam tulisan dan ceramah mereka. Peristiwa buku (Dalam Sastra Jahiliyah) terjadi seperti yang Anda ketahui pada masa kabinet sebelumnya. Ketika saya menjabat sebagai menteri, saya ingin mengetahui kebenaran masalah ini, maka saya bertanya kepada direktur universitas tentang tindakan yang diambilnya terhadap peristiwa ini. Dia menjawab bahwa universitas mencegah penyebaran buku tersebut dengan membeli semua salinan dari toko-toko dan menyimpannya di gudang-gudangnya, dan telah mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah pencetakan salinan lain darinya. Direktur universitas meyakinkan saya bahwa apa yang dikritik dari penulis tidak disampaikannya kepada mahasiswanya di universitas seperti yang diduga, dan bahwa penulis telah menyatakan di halaman-halaman surat kabar bahwa dia adalah muslim dan tidak bermaksud mencela agama apa pun atau merendahkan kehormatannya (kegaduhan).

Ini yang ditegaskan oleh direktur universitas kepada saya. Adapun mengenai jumlah yang dibayarkan sebagai harga buku, saya menyatakan bahwa jika saya yang bertanggung jawab, saya tidak akan menyetujui tindakan ini, dan saya setuju untuk meminta pengembaliannya jika tidak ada penghalang hukum yang mencegah hal itu.

Adapun mengenai tindakan-tindakan lain, tidak tersembunyi bagi Anda semua bahwa penulis telah bepergian ke Eropa sejak bulan Juni segera setelah pembentukan kabinet dan belum kembali. Jadi saya tidak dapat mengambil tindakan sekarang dalam ketidakhadirannya, dan bagaimanapun juga saya berjanji untuk menyelidiki masalah ini…

Ketua: Sidang ditunda untuk istirahat.

Maka sidang ditunda.

Kemudian dilanjutkan kembali.

۞۞۞۞۞

Pidato Guru Besar Al-Qayati

Syekh Al-Qayati: Wahai para anggota dewan, saya berharap anggaran universitas ini bisa kita terima dengan sorak-sorai dan tepuk tangan, karena ini adalah anggaran yang telah lama kita cita-citakan, dan tujuan yang sering kita harapkan, karena kami percaya bahwa keberadaan universitas Mesir adalah jalan menuju kesuksesan yang diharapkan, kebebasan yang diinginkan, dan kemerdekaan sejati yang dicita-citakan.

Tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak—atau selain Allah dari mereka yang berani melakukan apa yang tidak seharusnya mereka lakukan—bahwa anggaran ini datang kepada kami dalam keadaan kami merintih kesakitan, gelisah karena kesedihan, dan menangis karena musibah yang kami harapkan menjadi nikmat yang besar.

Saya tidak ingin berbicara tentang universitas dari segi pengelolaannya, atau dari segi apa yang diajarkan di dalamnya, atau dari segi kompetensi dosen dan pegawainya setelah para anggota yang terhormat telah memberikan pernyataan-pernyataan dalam hal ini. Tetapi yang ingin saya bicarakan tanpa bertele-tele adalah topik buku “Dalam Sastra Jahiliyah” yang ditulis oleh Doktor Thaha Hussein, yang merupakan putra sulung universitas yang selama ini dibiayai dari uang bangsa, dan tidak pernah disangka bahwa dia akan membalas kebaikan ini dengan durhaka sampai tingkat di mana dia menyerang universitas dengan menyerang agama Islam, agama mayoritas.

Anggota dewan yang terhormat, Guru Besar Abdul Khaliq Athiyah, telah menyebutkan banyak catatan tentang buku ini, tentang dampaknya terhadap bangsa, dan pengaruhnya terhadap pembaca dan pendengarnya, sampai-sampai dia berkata dengan benar: “Sesungguhnya buku ini telah menimbulkan fitnah atau hampir.”

Dan yang benar untuk dikatakan adalah bahwa tidak pernah diduga akan ada di antara kaum muslimin di Mesir yang berani terhadap agama sampai batas yang dicapai oleh Syekh Thaha Hussein ini.

Berbagai kejahatan, antara lain mendustakan kebenaran sejarah dan mendustakan nash-nash Al-Quran, serta menisbahkan tipu daya kepada Allah dan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan kepada Musa alaihissalam.

Sebelum saya memaparkan apa yang ada dalam buku ini atau sebagiannya, saya ingin menunjukkan kepada Anda betapa saya sangat heran dengan apa yang dikutip oleh Yang Mulia Menteri Pendidikan dari direktur universitas, bahwa buku ini tidak disampaikan kepada mahasiswa, artinya bahwa Doktor Thaha Hussein tidak menyampaikan kepada mahasiswanya apa yang ada dalam buku ini. Kami heran dengan pernyataan ini, karena penulis sendiri menyatakan dalam pendahuluan bukunya bahwa dia menyampaikannya kepada mahasiswa. Dan saya tidak tahu bagaimana mungkin benar apa yang dikatakan bahwa dia tidak menyampaikannya kepada mahasiswanya setelah dia sendiri menegaskan bahwa dia menyampaikannya kepada mereka.

Beberapa suara: Apa yang dia katakan?

Syekh Al-Qayati: Dia berkata dalam pendahuluan buku: “Ini adalah pendekatan penelitian dalam sejarah sastra Arab yang belum pernah orang-orang di negeri kita kenal sebelumnya, dan saya hampir yakin bahwa sebagian dari mereka akan menerimanya dengan marah, dan sebagian lainnya akan berpaling darinya dengan sangat, tetapi meskipun ada kemarahan mereka dan berpaling mereka, saya ingin menyebarkan penelitian ini, atau lebih tepatnya, saya ingin mencatatnya, karena saya telah menyebarkannya sebelum hari ini ketika saya membicarakannya kepada mahasiswa saya di universitas, dan bukanlah rahasia apa yang saya bicarakan kepada lebih dari dua ratus orang.”

Ini adalah perkataan penulis dalam pendahuluan buku, dan saya tidak memahami bagaimana bisa dikatakan setelah itu bahwa dia tidak menyampaikan buku ini kepada mahasiswa universitas, dan bahwa hal itu menjadi dasar bagi universitas untuk melarang seorang guru besar membalas di universitas setelah diizinkan untuk melakukannya, dengan alasan bahwa buku itu tidak disampaikan kepada mahasiswa sehingga tidak perlu dibalas di universitas yang sama.

Sesungguhnya dalam buku ini terdapat pendustaan terang-terangan terhadap Al-Quran, dan tuduhan terang-terangan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau adalah penipu, dan kebohongan terang-terangan terhadap sejarah. Sama sekali tidak boleh kita abaikan atau kita biarkan penulisnya tanpa pemeriksaan menyeluruh dengannya dan perhitungan kita dengannya harus sulit.

Sesungguhnya saya tahu bahwa adalah kemuliaan dan kesatriaan bagi seseorang untuk memaafkan orang yang telah menyakitinya, tetapi adalah kezaliman dan serangan terhadap kepentingan jika seseorang memaafkan orang yang telah menyakiti orang lain, atau orang yang mencela tanah airnya atau agamanya (tepuk tangan).

Sesungguhnya negara telah mengumumkan dalam konstitusinya bahwa ia adalah negara Islam, dan sesungguhnya negara Islam yang tidak menjaga agamanya dari gangguan dan tidak menjaga kehormatannya dari penghinaan adalah negara yang saya berlindung kepada Allah dari negara-negara yang seperti itu!

Telah sampai pada tingkat di mana Doktor Thaha Hussein menyebutkan dalam bukunya bahwa peristiwa Ibrahim dan Ismail—yang disebutkan oleh Kitab Suci—adalah peristiwa yang tidak dapat diandalkan oleh sejarah dan tidak dapat diterima, melainkan hanya peristiwa yang dikembalikan oleh kaum muslimin untuk alasan khusus yang merupakan alasan politik lebih dari pada alasan agama.

Dan telah disebutkan dalam bukunya pada halaman 26 sebagai berikut:

“Taurat boleh saja menceritakan kepada kita tentang Ibrahim dan Ismail; dan Al-Quran boleh juga menceritakan kepada kita tentang keduanya, tetapi kemunculan kedua nama ini dalam Taurat dan Al-Quran tidak cukup untuk membuktikan keberadaan historis mereka.”

Makna dari ini adalah bahwa klaim Allah bahwa sesuatu terjadi tidak cukup menjadi dalil bahwa hal itu benar-benar terjadi; dan dia tahu bahwa ini sama artinya dengan perkataan bahwa Allah adalah pendusta dalam apa yang Dia katakan!

Kemudian disebutkan pada halaman yang sama:

“…apalagi membuktikan kisah ini yang menceritakan tentang hijrahnya Ismail bin Ibrahim ke Mekkah dan munculnya bangsa Arab yang ber-Arab di sana. Dan kita terpaksa melihat dalam kisah ini sejenis tipu daya untuk menetapkan hubungan antara orang-orang Yahudi dan bangsa Arab dari satu sisi, dan Al-Quran dan Taurat dari sisi lain; dan masa paling awal yang mungkin timbul pemikiran ini adalah masa ketika orang-orang Yahudi mulai menetap di utara negeri Arab dan menyebarkan koloni-koloni di sana. Maka kita tahu bahwa perang-perang hebat meletus antara orang-orang Yahudi penjajah ini dengan bangsa Arab yang tinggal di negeri tersebut dan berakhir dengan perdamaian dan kompromi serta sejenis persekutuan dan gencatan senjata; maka tidaklah mustahil bahwa perdamaian yang disepakati antara para penyerang dan penduduk asli negeri itulah yang menjadi asal muasal kisah ini yang menjadikan bangsa Arab dan orang-orang Yahudi sebagai anak-anak sepupu, terlebih lagi mereka melihat bahwa di antara kedua kelompok tersebut terdapat kemiripan yang tidak sedikit, karena mereka semua adalah bangsa Semit.”

Dan telah disebutkan pada halaman 27 sebagai berikut:

“Dan suku Quraisy sangat siap untuk menerima dongeng semacam ini pada abad ketujuh Masehi.”

Kata “dongeng” wahai para kolega tidak digunakan kecuali untuk hal-hal yang khurafat atau omong kosong.

Maka perkataan bahwa kisah ini yang tercantum dalam Kitab Allah Yang Mulia adalah khurafat, berarti bahwa Allah mengada-ada dan kita beriman kepada keadaan-adaannya. (Interupsi)

Demi Allah, saya tidak ingin memperburuk suasana, tetapi saya ingin menyebutkan sebuah kebenaran, saya ingin mengatakan kepada orang-orang yang tidak sependapat dengan kami dan mengklaim bahwa penelitian adalah urusan bebas yang wajib dan bahwa kita tidak boleh membatasi kebebasan orang-orang dalam pendapat mereka—saya katakan kepada mereka bahwa kami tidak membatasi kebebasan mereka dalam keyakinan mereka, tetapi kami membatasi pendapat-pendapat yang diajarkan kepada anak-anak kita dan disebarkan kepada individu-individu umat antara yang terpelajar dan tidak terpelajar, dan ini pasti akan menjadi penyebab kesesatan dan kefasikan. Jika saya tidak memperpanjang waktu di hadapan Anda malam ini dalam menyebutkan nash-nash yang terdapat dalam buku ini dan menyebutkan ungkapan-ungkapan keji yang hanya menunjukkan kezindikan, maka karena saya tidak ingin memasukkan kesedihan ke dalam hati Anda, dan karena saya tidak ingin melihat air mata Anda mengalir karena kepanikan atas agama Anda dan kehormatan negara Anda.

Sesungguhnya kami berbicara tentang hal ini hanya karena dorongan untuk menjaga agama, dan itu bukan perkara yang hanya penting bagi seorang Muslim tanpa yang lain, karena kehormatan agama-agama secara keseluruhan harus dijaga.

Sesungguhnya saya tidak mengizinkan dan tidak menerima bahwa seseorang mencela agama Al-Masih alaihis salam dan tidak menerima bahwa ia mencela agama Musa alaihis salam, dengan cara yang tidak diterima oleh siapa pun bahwa seseorang mencela agama Muhammad shallallahu alaihi wasallam, karena kehormatan agama-agama harus terjaga.

Sesungguhnya saya tidak khawatir akan dikatakan bahwa kami berbicara dengan fanatik agama yang berlebihan, karena jika fanatisme agama adalah menjaga kehormatan semua agama maka saya adalah orang pertama yang fanatik.

Saya berharap setelah membacakan kepada Anda kata-kata penulis, saya dapat membacakan kepada Anda firman Allah dalam apa yang didustakan oleh penulis, tetapi saya tidak mengira Anda membutuhkan hal itu.

Kami ingin mencatatkan dalam sejarah kerja kami bahwa kami sama sekali tidak menerima bahwa ada orang yang nekad terhadap agama dengan kenekatan yang merendahkan kehormatannya dan kehormatan negara, karena pencemaran terhadap agama negara adalah pencemaran terhadap negara. Itu adalah pencemaran terhadap setiap individu dari individu-individunya. Kami tidak rela dicatat dalam sejarah bahwa pintu ini telah dibuka di antara kami, dan buku ini disebarkan di antara kami, dan keributan yang terjadi telah bangkit, kemudian berlalu begitu saja seperti awan lewat tanpa si pelanggar mendapat balasan atas pelanggarannya; saya tidak ingin dikatakan: agama dicemarkan dan disebarluaskan dan urusan ini melewati Dewan Perwakilan dan si pencela keluar dengan bersih tanpa hukuman!

Sesungguhnya belas kasihan itu wajib, tetapi tidak dalam urusan agama; dan agama telah mewajibkan untuk merajam sebagian orang yang melakukan kejahatan. Lalu bagaimana dengan orang yang mengklaim bahwa Allah adalah pendusta, dan bahwa Nabi adalah pendusta, dan bahwa orang-orang beriman adalah orang-orang bodoh yang tidak bisa membedakan antara yang hak dan yang batil?

Dan tidak boleh sama sekali cukup dengan pernyataan penulis di surat kabar bahwa dia adalah seorang Muslim. Dan saya mengarahkan perhatian Anda bahwa Doktor penulis tidak mengizinkan dirinya sendiri—meskipun situasinya sulit dan desakan kepadanya sangat banyak—untuk menulis sebuah kata yang menjelaskan apa yang dia katakan dan menafsirkannya dengan makna yang dipahami berbeda dari apa yang kami pahami.

Jika dia telah murtad dengan bukunya kemudian kembali ke Islam setelah itu maka dia adalah seorang Muslim, tetapi taubat tidak menghapus dosa dan tidak membebaskan dari hukuman; dan saya ingin mengajukan usulan khusus tetapi saya melihat usulan dari Tuan Abdul Hamid Al-Bannan Bey dan saya setuju dengannya.

Ketua: Membacakan usulan Tuan Abdul Hamid Al-Bannan Bey dan bunyinya:

“Saya mengusulkan kepada Dewan yang terhormat untuk menugaskan Pemerintah:

Pertama – Menyita dan memusnahkan buku Thaha Husein yang berjudul “Tentang Syair Jahiliah” berkenaan dengan apa yang terdapat di dalamnya berupa pendustaan terhadap Al-Quran Al-Karim, dan mengambil langkah yang diperlukan untuk mengembalikan uang yang dibayarkan kepadanya dari Universitas sebagai harga buku ini.

Kedua – Menugaskan Kejaksaan Umum untuk mengajukan tuntutan umum terhadap Thaha Husein penulis buku ini karena pencemarannya terhadap agama Islam yang merupakan agama negara.

Ketiga – Menghapus jabatannya dari Universitas dengan memutuskan tidak menyetujui anggaran yang dialokasikan untuknya.”

Kemudian dibacakan usulan Tuan Mahmud Lathif Bey dan bunyinya:

“Saya mengusulkan setelah penjelasan-penjelasan yang didengar oleh Dewan yang terhormat tentang buku ‘Tentang Syair Jahiliah’ agar Dewan memutuskan keinginannya kepada Kementerian untuk menghukum penulis buku ini yang telah menghina dalam karangannya syariat-syariat samawi dan para Nabi, dan menghina di dalamnya agama resmi negara, dan bahwa Kementerian mengambil langkah untuk menjaga lembaga-lembaga ilmiah dari menjadi tempat bagi penyerangan semacam ini, dengan mengambil langkah yang diperlukan untuk memusnahkan salinan-salinan yang ada dari buku ini.”

Ketua: Apakah pengusul usulan pertama ingin pendapat diambil atas usulannya bagian per bagian?

Abdul Hamid Al-Bannan Effendi: Ya.

Mahmud Wahbah Al-Qadhi Bey: Saya ingat bahwa Syekh Thaha Husein menulis di surat kabar bahwa dia beriman kepada Allah, Nabi-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir. (Keributan)

Makna ini adalah bahwa saya menahan diri dari berbicara selama Anda tidak menginginkannya.

Pernyataan Ketua Pemerintahan

Ketua Dewan Menteri: Saya ingin mengatakan sepatah kata dalam masalah ini, Yang Mulia Menteri Pendidikan Umum telah menyebutkan bahwa buku ini dicetak dan diterbitkan pada masa Kementerian sebelumnya; dan ketika Kementerian ini terbentuk, saya menemukan di Kantor Ketua Dewan Menteri surat dari Yang Mulia Syekh Universitas Al-Azhar yang meminta Pemerintah untuk mengambil tindakan khusus dalam masalah buku ini, dan saya ingat di antaranya adalah mengajukan gugatan pidana terhadap penulis; maka saya meminta Menteri Pendidikan untuk meneliti masalah ini, lalu dia meneliti dan menulis surat kepada saya yang menjelaskan hasil penelitiannya bersama dengan direktur Universitas dan apa yang dia lihat perlu diambil sebagai langkah-langkah untuk mencegah berulangnya jenis tindakan seperti ini di masa depan.

Dan saya menyetujui apa yang dia putuskan dan saya menulis kepada Yang Mulia Syekh Al-Azhar dengan apa yang diputuskan oleh Menteri Pendidikan dan saya setujui, yaitu menahan buku, artinya mencegah penyebarannya, dan bahwa penulis telah meminta maaf dengan apa yang dijelaskan oleh Yang Mulia Menteri Pendidikan, dan saya juga memberitahu Yang Mulia beliau tentang apa yang bermaksud dilakukan Pemerintah yaitu mengambil langkah-langkah untuk mencegah berulangnya tindakan seperti ini dari profesor mana pun di Universitas; maka persetujuan saya atas apa yang diputuskan oleh Menteri Pendidikan dianggap sebagai tindakan pemerintahan yang dikeluarkan oleh ketua kementerian yang bertanggung jawab atasnya.

Dan saya memahami bahwa Dewan menunjukkan ketidakpuasannya terhadap buku tersebut, atau menyerahkan kebebasan kepada Menteri Pendidikan dalam mengambil tindakan-tindakan tambahan selain yang telah diambil sebelumnya, adapun jika Dewan memutuskan keputusan yang bertentangan dengan tindakan yang telah diambil oleh Kementerian, atau mewajibkannya untuk melakukan tindakan tertentu tambahan atas apa yang telah dilakukan dan apa yang dijanjikan oleh Menteri Pendidikan, maka ini akan menjadi kritik terhadap tindakan-tindakannya dalam masalah ini dan mengeksposnya kepada tanggung jawab menteri.

Ketua: Saya tidak memahami maksud dari perkataan ini, apakah Anda ingin Dewan tidak mengambil keputusan?

Ketua Dewan Menteri: Usulan yang diajukan sekarang dalam pandangan saya dianggap sebagai kritik terhadap Kementerian dan mengeksposnya untuk pertanyaan kepercayaan.

Ketua: Anda ingin berarti mengajukan masalah kepercayaan kepada Kementerian.

Ketua Dewan Menteri: Ya.

Ketua: Yang Mulia Ketua Dewan Menteri melihat bahwa jika Dewan memutuskan keputusan yang bertentangan dengan tindakan yang telah diambil maka itu menyebabkan pengajuan kepercayaan kepada Kementerian.

Ketua Dewan Menteri: Saya mengatakan bahwa jika Dewan memutuskan keputusan apa pun yang bertentangan dengan tindakan yang telah diambil dan apa yang dijanjikan oleh Menteri Pendidikan Umum, maka itu menunjukkan tidak adanya kepercayaan Dewan kepada Kementerian.

Menteri Pendidikan: Saya mengatakan bahwa penulis buku ini tidak berada di Mesir, dan saya berjanji bahwa ketika dia hadir saya akan meneliti masalahnya dan bertanya kepadanya.

Dan setelah itu akan diambil tindakan yang terlihat perlu dan kami akan memaparkan semua itu kepada Dewan.

Ketua: Tetapi Dewan sekarang mempertimbangkan penghapusan jabatan.

Ketua Dewan Menteri: Tidak diragukan lagi bahwa adalah hak Dewan untuk menghapus jabatan apa pun yang dikehendaki dan ini saya tidak menentang sama sekali.

Ketua: Anda berarti menentang pengiriman penulis kepada Kejaksaan?

Ketua Dewan Menteri: Saya menganggap bahwa dalam menugaskan kami dengan itu ada ketidaknyamanan terhadap apa yang telah kami lakukan dari tindakan-tindakan, dan ini mendorong saya…

Ketua: Berarti Kementerian tidak ingin menugaskan Kejaksaan untuk melakukan penyelidikan?

Menteri Pendidikan Umum: Kementerian tidak menentang hal itu setelah bertanya kepadanya, dan jika terbukti baginya bahwa ada kejahatan?

Ketua: Berarti Kementerian berjanji untuk menugaskan Kejaksaan untuk melakukan penyelidikan jika terbukti setelah bertanya kepada penulis bahwa ada kejahatan?

Ketua Dewan Menteri: Saya telah mengatakan bahwa kami telah mengambil tindakan-tindakan yang harus diambil.

Ketua: Namun Majelis memiliki hak untuk menyampaikan keinginan.

Ketua Dewan Menteri: Jika tujuannya adalah menyampaikan keinginan, maka itu adalah hal lain. Adapun menugaskan Pemerintah untuk melakukan suatu perintah, itu tidak termasuk penyampaian keinginan dari Majelis.

Ketua: Majelis boleh menugaskan Pemerintah untuk melakukan hal-hal berdasarkan hak pengawasan yang dimilikinya yang termasuk dalam kewenangannya; apakah Pemerintah menolak hal itu? Jika kalian berjanji akan menerima hal itu, maka ini baik, dan jika tidak, maka itu akan menjadi dasar bagi prinsip baru yang perlu dibahas.

Ketua Dewan Menteri: Masalah ini adalah wewenang Otoritas Eksekutif. Dan Majelis memiliki hak untuk menyampaikan keinginan terkait hal ini, maka Pemerintah akan meneliti keinginan-keinginan ini untuk melihat apakah mungkin dilaksanakan atau tidak. Jika terbukti bagi Pemerintah bahwa ada kejahatan, maka pelakunya dapat dihukum.

Ketua: Apakah kalian semua setuju dengan keinginan-keinginan yang telah dibacakan kepada kalian; maksud saya penyitaan, menugaskan Kejaksaan untuk mengajukan tuntutan, dan pencabutan jabatan.

Mahmud Lathif Bey: Sungguh usulan yang saya ajukan berupa keinginan dapat mendamaikan antara pendapat Majelis dan Kementerian.

Ketua: Ada usulan berupa keinginan, kalian bisa menolak atau menerimanya.

Fikri Abazah Bey: Sesungguhnya dalam teks keinginan ini terdapat pertentangan, misalnya: tidak mungkin menyita buku kecuali dengan putusan pengadilan.

Ketua: Dikatakan bahwa administrasi Universitas membeli buku ini dan menahannya untuk mencegah peredarannya; apakah pengusul usulan cukup dengan itu atau ingin memusnahkannya?

Abdul Hamid Al-Bannan Efendi: Saya ingin memusnahkannya.

Ketua: Apakah Kementerian Pendidikan keberatan untuk memusnahkan buku ini?

Menteri Pendidikan: Sungguh Kementerian Pendidikan tidak keberatan dengan hal itu.

Ketua: Tersisa poin kedua, yaitu menugaskan Kejaksaan Umum untuk mengajukan tuntutan terhadap pengarang; apakah Pemerintah melihat – jika Majelis setuju menyampaikan keinginan ini – bahwa hal itu merupakan pelanggaran terhadap kewenangannya?

Abdul Khaliq Athiyyah Efendi: Saya melihat bahwa masalahnya lebih berkaitan dengan redaksi daripada substansi, karena mungkin terlintas dalam pikiran bahwa yang dimaksud dengan kata “menugaskan” adalah mewajibkan Kejaksaan untuk mengajukan tuntutan umum, oleh karena itu saya mengusulkan agar kata “menugaskan” diganti dengan kata “memberitahu”.

Ketua: Jika kata “menugaskan” yang disebutkan dalam usulan diganti dengan kata “memberitahu”, apakah Pemerintah memiliki hal yang menghalanginya untuk melaksanakan keinginan ini jika Majelis setuju untuk menyampaikannya?

Ketua Dewan Menteri: Pemerintah telah bertindak dalam masalah ini dengan apa yang dianggapnya tepat; maka penugasan Majelis kepadanya untuk melakukan lebih dari apa yang telah dilakukan menunjukkan bahwa tindakan yang telah diambil tidak memadai; dan saya melihat karena itu bahwa saya harus menentang hal tersebut!

Ketua: Kami sama sekali tidak dapat menerima ini, karena Majelis memiliki kewenangan dan hak-hak; ia dapat menyampaikan keinginan dan mengajukan permintaan. Jika Pemerintah tidak dapat melaksanakannya, wajib baginya untuk menjelaskan alasan-alasannya kepada Majelis. Adapun jika Pemerintah melihat bahwa secara prinsip Majelis tidak berhak menugaskannya atau mengajaknya untuk bekerja, maka kami tidak menerima hal itu dan saya tidak dapat memimpin Majelis ini jika hal itu bukan termasuk kewenangannya. Tepuk tangan keras.

Sungguh Majelis telah menyampaikan keinginan-keinginan di masa lalu yang jauh lebih penting dari ini, dan tidak ada keberatan terhadap pelaksanaannya; dan sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, saya tidak dapat menerima apa yang dikatakan Pemerintah, bahwa bukan wewenang Majelis untuk menyampaikan keinginan seperti ini, terutama karena hal itu bertujuan untuk memberikan kepada peradilan apa yang menjadi hak peradilan!

Ketua Dewan Menteri: Pemerintah tidak mengatakan bahwa bukan wewenang Majelis untuk menyampaikan keinginan, tetapi Pemerintah mengatakan bahwa ia telah bertindak dalam masalah ini. Jika Majelis setuju dengan keinginan ini, seolah-olah ia mengatakan bahwa apa yang telah dilakukan Pemerintah tidak memadai.

Ketua: Jika persetujuan Majelis untuk menyampaikan keinginan ini menunjukkan bahwa tindakan Pemerintah dalam masalah ini tidak memadai, maka Majelis memiliki hak ini.

Ketua Dewan Menteri: Majelis memiliki hak, namun ini dianggap sebagai keberatan terhadap tindakan Pemerintah.

Ketua: Ini adalah keberatan tanpa diragukan lagi, tetapi jika Majelis melihat bahwa keberatan ini pada tempatnya, apa pendapat Pemerintah tentang hal itu?

Fikri Abazah Bey:

Para rekan yang terhormat! Yang Mulia Ketua Dewan Menteri telah menunjuk kepada tindakan-tindakan Pemerintah dalam masalah ini secara umum.

Tetapi kami belum mengetahui rincian tindakan-tindakan ini, dan dengan tetap berpegang pada hak kami untuk menyampaikan keinginan, kami perlu mengetahui rincian tindakan yang telah dilakukan sehingga kami dapat menilainya.

Tetapi karena kesempatan tidak memungkinkan kami dan tidak memampukan kami untuk menilai apakah tindakan-tindakan ini memadai atau tidak, maka karena itu saya mengusulkan penundaan pembahasan masalah ini sampai kami mengetahui rincian yang telah saya sebutkan.

Ketua: Sungguh Pemerintah tidak menjelaskan kepada kami rincian-rincian ini, tetapi ia mengatakan bahwa tuntutan Majelis kepadanya untuk melakukan selain apa yang telah dilakukan dianggap sebagai keberatan terhadap tindakannya. Memang permintaan Majelis dianggap sebagai keberatan tetapi hal itu pada tempatnya!

Fikri Abazah Bey: Anda dapat melengkapi pembahasan dalam masa penundaan.

Ketua: Sungguh pembahasan sudah lengkap.

Menteri Kehakiman: Tampak bagi saya bahwa masalah ini hampir termasuk wewenang Menteri Kehakiman.

Majelis yang terhormat ingin menyampaikan keinginan untuk menghadirkan pengarang buku (Syair Jahiliah) ke pengadilan.

Dan Pemerintah mengatakan bahwa ia telah bertindak dalam masalah ini dengan cara tertentu sebelum dibahas di Majelis, dan Yang Mulia Menteri Pendidikan mengatakan bahwa masalah ini menjadi perhatian Kementerian dan bahwa Kementerian akan mengambil tindakan yang dianggapnya perlu; apakah ada perbedaan antara keinginan Majelis dan apa yang dijanjikan oleh Yang Mulia Menteri Pendidikan?

Saya tidak mengira ada perbedaan. Majelis boleh menyampaikan keinginan untuk memberitahu Kejaksaan Umum untuk mengajukan tuntutan terhadap buku tersebut, dan Yang Mulia Menteri Pendidikan boleh mempertimbangkan keinginan ini dan bertindak sesuai dengan penilaiannya. Dan saya kira ini lebih sesuai dengan martabat Majelis, karena Majelis sebagai Badan Legislatif jika memerintahkan pengajuan tuntutan umum dan putusan yang keluar bertentangan dengan pendapatnya, maka makna ini adalah bahwa pendapat Majelis tidak pada tempatnya. Adapun jika masalah diserahkan kepada Pemerintah dan Pemerintah memandang perlu mengajukan tuntutan umum kemudian putusan dikeluarkan membebaskan pengarang, maka Majelis tidak dapat dipersalahkan atas apapun dan Kementerian sendirilah yang menanggung tanggung jawab tindakannya.

Ketua: Boleh jadi pemberitahuan kepada Kejaksaan termasuk dalam tindakan-tindakan yang diambil Kementerian dalam masalah ini, dan pemberitahuan kepada Kejaksaan ini tidak ada hubungannya dengan putusan dalam perkara.

Menteri Kehakiman: Yang saya pahami bahwa usulan mengisyaratkan menugaskan Kejaksaan untuk mengajukan tuntutan umum.

Ketua: Kami akan mengganti kata “menugaskan” dengan kata “memberitahu”, dan saya kira memberitahu Kejaksaan tentang kejahatan yang telah dilakukan adalah hak dan kewajiban setiap individu.

Menteri Kehakiman: Tidak ada perselisihan dalam hal itu.

Abdul Hamid Al-Bannan Efendi: Saya setuju untuk mengganti kata “menugaskan” dengan kata “memberitahu”.

Menteri Kehakiman: Saya dapat mengatakan bahwa alasan tidak memberitahu Kejaksaan mungkin didasarkan pada bahwa buku “Syair Jahiliah” dibenci sejak awal, dan seharusnya diremehkan dan tidak disebarkan di kalangan masyarakat; dan karena pemberitahuan mengharuskan penerbitan buku di surat kabar dan penyebarannya di antara anggota bangsa, Kementerian melihat untuk tidak memberitahu Kejaksaan; meremehkan apa yang terkandung dalam buku dan merendahkan urusannya!

Jika Majelis melihat dengan demikian adanya kebutuhan untuk memberitahu Kejaksaan, maka tidak ada halangan untuk menyampaikan keinginan ini, dengan syarat ia termasuk dalam tindakan-tindakan yang diambil Pemerintah.

Ketua: Diajukan usulan berupa keinginan?

Abdul Hamid Al-Bannan Efendi: Tidak ada halangan bagi saya bahwa keinginan ini termasuk dalam tindakan yang akan diambil Kementerian.

Ketua: Apakah Yang Mulia Menteri Pendidikan berjanji dengan hal itu; karena ada kejahatan yang telah dilakukan dan Majelis ingin melaporkannya?

Menteri Kehakiman: Sungguh kami menghargai keinginan-keinginan Majelis dengan sebenar-benarnya, dan Majelis tidak pernah menyampaikan keinginan apapun kecuali dilaksanakan oleh Pemerintah; lalu mengapa diminta kepada Yang Mulia Menteri Pendidikan untuk berjanji sejak sekarang?

Ketua: Apa yang menyebabkan penentangan keras ini; masalahnya sangat sederhana. Yaitu: apakah Pemerintah setuju untuk melaksanakan keinginan ini atau tidak?

Abdul Hamid Al-Bannan Efendi: Saya merevisi usulan saya agar Yang Mulia Menteri Pendidikan menempatkan masalah ini sebagai bahan kajian sehingga jika ia melihat…

Menteri Pendidikan: Saya setuju dengan revisi ini.

Ketua: Usulan telah diajukan dan Majelis berhak mengeluarkan keputusan tentangnya. Apakah Yang Mulia Menteri Pendidikan setuju untuk memberitahu Kejaksaan.

Menteri Pendidikan: Sungguh saya setuju dengan revisi Tuan Abdul Hamid Al-Bannan Efendi.

Ketua: Revisi itu adalah bahwa Yang Mulia Menteri Pendidikan akan memberitahu Kejaksaan; apakah Anda berjanji dengan hal itu?

Doktor Ahmad Mahir: Saya mohon agar sidang ditangguhkan untuk istirahat.

Ketua: Sidang ditangguhkan untuk istirahat sepuluh menit.

 

 

Kata Surat Kabar Al-Ahram yang Terhormat

Kementerian Mengajukan Masalah Kepercayaan

Rasydi Pasya dan Adli Pasya di Gedung Parlemen pada Malam Hari

Rincian Masalah – Penyelesaiannya

Kemarin dan kemarin dulu telah dibahas di Dewan Perwakilan anggaran Universitas. Sejak dua minggu yang lalu beredar di kalangan berbagai desas-desus tentang Universitas. Semangat keluhan dan ketidakpuasan yang terlihat di antara para anggota Dewan terhadap tindakan mantan Menteri Pendidikan dalam urusan Kementerian Pendidikan juga menyentuh tindakannya dalam masalah Universitas. Tindakan-tindakan ini telah disepakati bersama sebagai pelanggaran undang-undang dalam banyak masalah penting, bahkan dibangun atas dasar kekacauan yang tidak menghormati kehormatan undang-undang sama sekali…

Sejak saat itu beredar berbagai desas-desus. Dikatakan bahwa ada gagasan yang bertujuan untuk menghapus undang-undang Universitas dan membiarkan setiap sekolah tinggi atau fakultas berdiri sendiri secara independen, dengan tetap mempertahankan Fakultas Sastra dan Fakultas Sains masing-masing berdiri sendiri sampai memungkinkan untuk mendirikan universitas dalam arti yang sebenarnya dengan dasar yang kokoh dan terorganisir. Beredar pula desas-desus lainnya. Kami melihat direktur Universitas, Profesor Ahmad Lutfi As-Sayyid Bey, beberapa kali datang ke Gedung Parlemen dan bertemu dengan Yang Mulia Ketua yang terhormat Saad Pasya Zaghlul untuk membela Universitas atau membela masa depan Universitas.

Di antara masalah yang juga memicu desas-desus adalah masalah buku “Asy-Syi’r Al-Jahili” (Puisi Jahiliyah) yang diterbitkan oleh Dr. Thaha Husain, dosen di Universitas. Para ulama dan orang awam mengecam beberapa ungkapan yang terkandung di dalamnya yang menyinggung agama. Banyak anggota Dewan yang mengecam tetap dipertahankannya Dr. Thaha sebagai dosen di Universitas setelah para ulama sepakat bahwa ia telah keluar dari agama.

Yang Mulia Anggota Dewan yang terhormat Syaikh Musthafa Al-Qayati telah mengumumkan niatnya untuk mengajukan pertanyaan kepada Ketua Kabinet mengenai masalah ini, kemudian dilakukan upaya keras untuk membujuknya agar membatalkan pertanyaan tersebut. Kemudian pertanyaan itu diganti dengan pertanyaan yang kami publikasikan beberapa hari lalu dengan jawaban tertulis. Ketua Kabinet tidak menjawab pertanyaan tersebut, dan tersiar kabar bahwa banyak anggota Dewan akan mengangkat masalah Dr. Thaha Husain ke Dewan selama pembahasan anggaran, dan dikatakan bahwa sebagian dari mereka akan meminta penghapusan jabatannya.

Teman-teman Dr. Thaha Husain berupaya keras untuk mencapai kesepakatan dengan mereka yang berniat menuntut penghapusan jabatan agar membatalkan hal tersebut, dengan cukup mengecam tindakan Profesor Thaha di Dewan.

Kemarin terjadi perdebatan sengit di Dewan Perwakilan mengenai buku “Asy-Syi’r Al-Jahili” dan penulisnya. Pidato-pidato disampaikan sebagaimana pembaca lihat dalam teks risalah sidang Dewan yang diterbitkan di tempat lain.

Anggota Dewan yang terhormat Abdul Hamid Al-Bannan Efendi, anggota dari Al-Jamaliyah, mengajukan usulan yang terdiri dari tiga bagian:

1 – Pemusnahan buku Asy-Syi’r Al-Jahili.

2 – Penyerahan Dr. Thaha Husain kepada Kejaksaan.

3 – Penghapusan jabatannya.

Yang Mulia Menteri Pendidikan menyetujui bagian pertama dari usulan tersebut. Yang Mulia Adli Pasya, Ketua Kabinet, berbicara tentang bagian kedua. Terjadi perdebatan antara beliau dengan Yang Mulia Ketua yang terhormat, dengan turut sertanya Menteri Pendidikan dan Kehakiman, yang berakhir dengan pernyataan Adli Pasya bahwa keputusan Dewan untuk menyerahkan penulis kepada Kejaksaan merupakan keberatan terhadap tindakan pemerintah dan menyebut masalah kepercayaan terhadap Kabinet!

Masalah ini telah dilaporkan kepada Yang Mulia Rasydi Pasya, sehingga beliau bergegas meninggalkan Dewan Senat menuju Dewan Perwakilan.

Suasana Dewan penuh dengan listrik. Anggota Dewan yang terhormat Dr. Ahmad Mahir mengusulkan untuk mengangkat sidang selama sepuluh menit untuk istirahat. Ketika sidang diangkat, Ketua yang terhormat pergi ke kantornya di Dewan Perwakilan dan diikuti oleh Adli Pasya dan Rasydi Pasya, dan mereka berdua tinggal bersamanya selama sepuluh menit.

Yang Mulia Ketua yang terhormat Saad Pasya sedang kelelahan, sehingga beliau naik mobil menuju kediamannya.

Beberapa anggota Dewan sepakat untuk menunda sidang hingga besok, karena waktu sudah hampir pukul sepuluh, dan agar ada waktu yang cukup untuk menyelesaikan masalah ini.

Sidang dibuka kembali pada pukul 10:20 dengan kepemimpinan Yang Terhormat Musthafa An-Nahhas Pasya. Banyak anggota meminta penundaan karena waktu yang terlambat, sehingga sidang ditunda.

Setelah kepergian Yang Mulia Saad Pasya, Yang Mulia Adli Pasya bersama Yang Mulia Rasydi Pasya menuju Gedung Parlemen, sebagaimana juga Yang Mulia Fathullah Barakat Pasya dan Muhammad Mahmud Pasya menuju ke sana. Adli Pasya berbicara tentang keadaan kejadian, dan menyebutkan bahwa hal itu terjadi karena kesalahpahaman, karena ia tidak bermaksud menantang Dewan dalam kewenangannya. Adli Pasya dan Rasydi Pasya tetap berada di Gedung Parlemen hingga dua pertiga jam sebelum tengah malam.

Setelah kepergian mereka, kami bertanya kepada salah satu menteri tentang hasilnya, mereka mengatakan kepada kami, “Insiden telah diselesaikan dan berakhir, seolah-olah tidak pernah terjadi.”

Setelah itu Yang Terhormat Fathullah Barakat Pasya pergi ke Klub Saadi, di mana berada beberapa menteri yang mulia, dan tinggal di sana sekitar setengah jam bersama banyak anggota Dewan Perwakilan dan Senat yang bercengkerama.

Tidak diragukan lagi sangat disayangkan bahwa sesi parlemen saat ini berakhir dengan perselisihan yang muncul seputar masalah seperti masalah kemarin, setelah Dewan Perwakilan dan Kabinet berjalan dalam berbagai urusan negara yang serius dengan kesepakatan dan keharmonisan yang sempurna, dan bahwa pemerintah mengangkat masalah kepercayaan karena sebuah buku yang telah diakui – ketika menyetujui penyitaan dan pemusnahannya – berbahayanya apa yang terkandung di dalamnya, sebuah buku yang kami tahu bahwa mayoritas besar bangsa – termasuk para ulama dan orang terpelajar – tidak menyetujuinya dan tidak menyetujui penulisnya.

۞۞۞۞۞

Sidang Hari Selasa

Ketua: Kami lanjutkan pembahasan anggaran Universitas.

Abdul Hamid Al-Bannan Efendi: Hari ini saya telah menyerahkan laporan kepada Kejaksaan Umum untuk melakukan penyelidikan terhadap Dr. Thaha Husain atas apa yang telah ia tulis yang mencerca agama Islam. Berdasarkan hal itu, tidak ada lagi tempat untuk bagian kedua dari usulan saya yang saya ajukan kemarin dalam masalah ini. Dan karena penyitaan buku tidak dapat dilakukan kecuali dengan putusan pengadilan, dan ini secara alami mengikuti perkara yang diminta untuk diselidiki, maka tidak ada lagi tempat untuk bagian pertama juga dari usulan saya. Adapun yang berkaitan dengan bagian ketiga, saya cukup dengan pernyataan Yang Mulia Ketua Kabinet dan Yang Mulia Menteri Pendidikan untuk mempertimbangkan masalah ini dan membahasnya dengan perhatian yang layak…

Berdasarkan semua ini, saya menarik usulan saya.

Ketua: Memang demikian.

Kami katakan: Dan Kejaksaan telah menerima Dr. Thaha Husain, dan pencetakan buku ini telah selesai, dan ia masih tertahan dalam timbangan mereka, entah menuju ke… atau menuju ke…

 

Selesai.

Facebook Comments Box

Penulis : Mustafa Sadiq ar-Rafi'i

Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.

Artikel Terjkait

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT
Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya
Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat
Kewajiban dan Keutamaan Taubat
Keutamaan Tauhid
Keutamaan Puasa Sunnah
Keutamaan Puasa Asyura (Yaitu hari kesepuluh dari bulan Muharram)
Keutamaan Mengajarkan Ilmu dan Menyeru Manusia kepada Kebaikan
Berita ini 10 kali dibaca

Artikel Terjkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 03:47 WIB

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:41 WIB

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:40 WIB

Keutamaan Puasa Sunnah

Artikel Terbaru

Akidah

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:47 WIB

Fatwa Ulama

Akibat Dosa Menyebabkan Bencana Alam – Faedah 10

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:45 WIB

Dakwah

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Jan 2026 - 15:41 WIB