Jarum jam terus berputar, seolah memberitahu betapa cepatnya waktu berlalu. Matahari terbenam di barat dan akan terbit kembali esok pagi. Hari silih berganti, bulan dan tahun pun terlewati. Kita melewati masa lalu, menghadapi masa kini, dan mempersiapkan masa depan, karena kemarin adalah pelajaran, hari ini adalah anugerah, dan esok adalah harapan.
Bangsa kita memiliki harapan. Umat Islam memiliki harapan. Semua orang memiliki harapan. Pertanyaannya adalah, kepada siapa harapan ini dibebankan? Siapa yang bertanggung jawab untuk mewujudkan harapan yang tak terkira ini?
Ada kalangan yang terlalu tua untuk menanggung harapan bangsa, dan ada pula yang masih terlalu dini untuk menyadari betapa pentingnya harapan ini. Di tengah-tengahnya, pemuda Islam hadir untuk membuktikan kredibilitasnya, siap menanggung harapan bangsa dan agama serta mewujudkannya.
Bagi pemuda Islam, harapan yang tak terkira ini bagaikan lautan tantangan yang harus ditaklukkan. Apa pun yang dibebankan kepadanya justru menjadi batu loncatan yang melahirkan berbagai ide cemerlang. Namun, pertanyaannya, apakah pemuda Islam hari ini benar-benar siap menghadapi tantangan tersebut?
Lampu Merah bagi Manuver Pemuda Islam
Dalam aturan lalu lintas, lampu merah menandakan bahwa kendaraan harus berhenti. Namun, dalam kehidupan pemuda Islam masa kini, “lampu merah” yang menghentikan langkah mereka bukanlah rambu lalu lintas, melainkan kesabaran yang terbatas serta rendahnya kepercayaan diri. Dua hal ini sering kali membuat mereka enggan melanjutkan estafet tanggung jawab untuk memajukan bangsa dan memperbaiki kondisi umat Islam yang sedang tidak baik-baik saja.
Masa Muda: Berleha-leha atau Berjaya?
Saat bayi, seluruh kebutuhan kita telah disiapkan oleh ayah, sementara ibu memastikan kita tetap nyaman dan aman dalam buaiannya. Saat kanak-kanak, kita dimanjakan dan keinginan kita selalu diindahkan. Namun, ketika menginjak masa muda, semua berubah. Kita harus mencari jati diri sendiri.
Masa muda adalah masa penuh kesempatan, sementara masa tua adalah masa penuh kenyataan. Jika kita hanya berdiam diri di masa muda, maka di masa tua nanti, ketenangan hanya akan menjadi mimpi belaka.
Pemuda Islam harus segera bergerak dan menunjukkan eksistensinya demi memperbaiki kondisi umat dan memajukan bangsa. Namun, upaya ini tidak akan berjalan lancar selama pemuda Islam belum menyingkirkan hambatan-hambatan yang menghalangi langkahnya. Lantas, apa saja hal yang menghalangi pemuda Islam dalam perjuangannya?
Hambatan Pemuda Islam dalam Mewujudkan Perubahan
- Kesabaran yang Terbatas
Bagaimana hal ini dapat menghambat langkah pemuda Islam? Dalam menghadapi berbagai tantangan dan cobaan, pemuda harus memiliki kesabaran. Tanpa kesabaran, mereka akan mudah marah dan menyerah. Padahal, kesabaran adalah elemen penting yang menopang usaha pemuda dalam memajukan bangsa dan memperbaiki kondisi umat Islam.
- Rendahnya Kepercayaan Diri
Lingkungan sosial sangat berpengaruh dalam meningkatkan kepercayaan diri pemuda Islam. Masyarakat yang memberikan ruang dan dukungan kepada pemuda adalah masyarakat yang ikut serta dalam menciptakan perubahan. Tanpa dukungan, pemuda akan mudah putus asa, ragu dalam mengambil keputusan, dan merasa sendirian dalam mengemban tanggung jawabnya.
- Usaha Saja Tak Akan Cukup
Setelah menyelesaikan dua masalah di atas, apakah usaha pemuda dan masyarakat sudah cukup? Tentu tidak! Kita tidak boleh melupakan Allah. Doa harus selalu menyertai usaha kita, karena tanpa restu dari Yang Maha Kuasa, semua upaya akan sia-sia.
Strategi Pemuda Islam dalam Menaklukkan Tantangan
Untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut, ada tiga langkah konkret yang harus dilakukan pemuda Islam agar mampu memajukan bangsa dan memperbaiki kondisi umat:
- Restu dari Allah ﷻ
Dalam dunia kerja, hampir segala sesuatu memerlukan laporan kepada atasan, baik dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Atasan memerlukan laporan untuk mengetahui kinerja kita karena mereka tidak bisa melihatnya secara langsung. Sementara itu, Allah Maha Mengetahui dan melihat segala yang kita lakukan, tetapi tetap memerintahkan kita untuk senantiasa berdoa, meminta, dan berkeluh kesah kepada-Nya dalam segala keadaan. Oleh karena itu, pemuda Islam harus selalu menyertakan doa dalam setiap usaha yang mereka lakukan.
- Dukungan dari Masyarakat
Peran masyarakat sangat penting dalam membentuk generasi muda yang berkontribusi. Memberikan ruang, fasilitas, kesempatan, serta dukungan merupakan bentuk peran aktif masyarakat dalam memperbaiki kondisi umat dan membangun bangsa.
- Mengontrol Emosi dan Menjaga Diri
Emosi bagaikan pedang bermata dua; bisa menguntungkan tetapi juga bisa merugikan. Pemuda Islam harus pandai mengontrol emosinya dan menjaga dirinya sendiri. Mencari lingkungan yang mendukung perkembangan diri, memiliki mentor yang tepat, serta berteman dengan orang-orang yang selalu memberikan semangat adalah beberapa langkah konkret dalam menjaga diri.
Pemuda Islam: Ambil Tindakan dan Wujudkan Harapan!
Zaman terus berkembang, dan tantangan semakin banyak serta beragam. Tidak sepantasnya pemuda Islam menyerah dan berpangku tangan hanya karena kurangnya kesabaran, rendahnya kepercayaan diri, serta jauhnya diri dari Allah. Kuncinya adalah menyelesaikan masalah dari yang paling mendasar: mendekatkan diri kepada Allah, meningkatkan kepercayaan diri, dan mengontrol emosi.
Begitu banyak orang yang memiliki harapan, tetapi sangat sedikit yang benar-benar mengambil tindakan. Jika semua orang hanya bisa berharap, siapa yang akan bertindak untuk mewujudkan semua harapan ini?
Saatnya pemuda Islam mengambil peran dan membuktikan bahwa mereka adalah agen perubahan sejati!
Rubil Raditya Maulana
Pesantren Tahfiz Al-Bassam, Sukabumi







