Beriman pada para malaikat menghasilkan buah yang indah lagi mulia di antaranya:
Pertama, mengetahui keagungan Allah Ta’ala, dahsyatnya kekuatan dan kekuasaan-Nya. Karena kehebatan ciptaan menunjukkan kehebatan Pencipta.
Kedua, kesyukuran kepada Allah atas perhatian dan pertolongan-Nya kepada Bani Adam di mana Dia menugaskan sebagian malaikat untuk menjaga dan mencatat amaliah manusia dan maslahat-maslahat manusia yang lain.
Ketiga, mencintai para malaikat lantaran ibadah mereka kepada Allah Ta’ala.
Sebagian orang yang berpenyakit dalam hatinya mengingkari adanya jasmani malaikat. Kata mereka, malaikat itu hanyalah ibarat dari kekuatan kebaikan yang terpendam pada diri makhluk.
Ini merupakan pendustaan terhadap Kitab Allah, sunnah Rasul shallallahu alaihi wasallam dan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin.
Firman Allah, “Segala puji bagi Allah yang mencipta langit dan bumi dan yang menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan – yaitu para malaikat yang bersayap dua, tiga dan empat.” (QS. Fathir: 1)
Firman Allah, “Andai mereka melihat saat orang-orang kafir dicabut nyawanya, saat malaikat memukul wajah dan punggung orang-orang kafir tersebut.” (QS. Al Anfal: 50)
Firman Allah, “Sekiranya engkau melihat pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam kesakitan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), ‘Keluarkanlah nyawamu.’” (QS. Al An’am: 93)
Firman Allah, “Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, “Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab, “(Perkataan) yang benar,” dan Dialah Yang Mahatinggi, Mahabesar.” (QS. Saba: 23)
Allah berfirman tentang ahli surga, “(Yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang saleh dari nenek moyangnya, pasangan, dan anak cucu mereka, sedang para malaikat masuk menjumpai mereka dari semua pintu. (Sambil mengucapkan), “Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.” Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 23-24)
i dalam Shahih Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda, “Jika Allah mencintai seorang hamba maka Dia menyeru kepada Jibril ‘Sesungguhnya Allah mencintai fulan maka cintailah dia’ maka Jibril pun mencintai orang itu. Jibril pun menyeru kepada para penghuni langit: ‘Sesungguhnya Allah mencintai fulan maka cintailah dia’ kemudian diberikan kepada orang tersebut penerimaan seluruh penduduk bumi.’ (Shahih Al-Bukhari, Kitabut Tauhid no. 33)
Di dalam Shahih pula diriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika tiba saatnya shalat Jumat maka di setiap pintu masjid ada malaikat yang mencatat urutan orang yang datang. Jika Imam telah duduk di mimbar maka para malaikat itu pun menutup buku catatan mereka dan ikut menyimak khutbah.” (Al Bukhari, Bada`ul Khalq hadis no. 6, dan Muslim Kitabul Jum’ah hadis no.24)
Inilah nas-nas yang tegas yang menjelaskan bahwa para malaikat itu adalah jism (makhluk berjasmani) bukan kekuatan maknawi (sekedar simbol) sebagaimana dikatakan orang-orang yang menyimpang. Atas dasar nas-nas inilah kaum muslimin bersepakat.
Diterjemahikan dari Nubdzah fil Aqidah Al Islamiyah, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah
Penulis : Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin







