Bid’ah-bid’ah dan Larangan Terhadapnya

Rabu, 7 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bid’ah-bid’ah dan Larangan Terhadapnya

البِدَعُ وَالنَّهْيُ عَنْهَا

1 – Ashabgh bin Malik menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Waddhah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Sa’id bin Abi Maryam menceritakan kepada kami, ia berkata: Asad bin Musa menceritakan kepada kami, ia berkata: Ismail bin ‘Ayyasy menceritakan kepada kami, dari Mu’adz bin Rifa’ah as-Salami, dari Ibrahim bin Abdurrahman al-‘Udzri, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ilmu ini akan dipikul oleh orang-orang adil dari setiap generasi, mereka menolak darinya penyelewengan orang-orang yang berlebih-lebihan, pengklaiman orang-orang yang batil, dan takwil orang-orang yang bodoh.”

2 – Ia berkata: Asad bin Musa menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Walid bin Muslim menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibrahim bin Abdurrahman al-‘Udzri menceritakan kepada kami, dari seorang yang terpercaya menurut pendapatnya dari kalangan para syaikhnya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ilmu ini akan dipikul oleh orang-orang adil dari setiap generasi, mereka menolak darinya pengklaiman orang-orang yang batil, takwil orang-orang yang bodoh, dan penyelewengan orang-orang yang berlebih-lebihan.”

3 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Seorang laki-laki yang terpercaya yang bernama Yusuf menceritakan kepada kami, dari Abu Abdullah al-Wasithi, yang menyampaikannya secara marfu’ kepada Umar bin al-Khaththab, bahwasanya ia berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi karunia kepada para hamba dengan menjadikan pada setiap masa kekosongan dari para rasul, ada orang-orang yang tersisa dari ahli ilmu, yang menyeru orang-orang yang sesat kepada petunjuk, bersabar atas penderitaan dari mereka, dan menghidupkan dengan Kitabullah orang-orang yang buta. Betapa banyak orang yang terbunuh karena Iblis telah mereka hidupkan, dan orang yang sesat dan tersesat telah mereka beri petunjuk. Mereka mengorbankan darah dan harta mereka demi menyelamatkan para hamba dari kebinasaan. Betapa indahnya jejak mereka terhadap manusia, dan betapa buruknya jejak manusia terhadap mereka. Mereka membunuh mereka di masa lampau hingga hari ini dengan had (hukuman) dan lainnya, namun Rabb-mu tidak melupakan mereka. Dan Rabb-mu tidaklah pelupa (Surat Maryam: 64). Dia menjadikan kisah-kisah mereka sebagai petunjuk, dan mengabarkan tentang kebaikan perkataan mereka. Maka janganlah kalian meremehkan mereka, karena sesungguhnya mereka berada dalam kedudukan yang tinggi, meskipun mereka mendapat kehinaan.”

4 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Seorang laki-laki menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin al-Mubarak dan Yusuf bin Asbath, ia berkata: Abdullah bin Mas’ud berkata: “Sesungguhnya Allah memiliki di setiap bid’ah yang dengannya Islam diserang, seorang wali dari wali-wali-Nya yang membela darinya dan mengucapkan tanda-tandanya. Maka manfaatkanlah kehadiran di tempat-tempat tersebut, dan bertawakkallah kepada Allah.” Ibnu al-Mubarak berkata: “Dan cukuplah Allah sebagai pelindung” (Surat an-Nisa: 81).

5 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Sharim menceritakan kepada kami, dari Hanzhalah bin Abdurrahman, dari Abdul Karim Abu Umayyah, ia berkata: “Sungguh jika aku mengembalikan seseorang dari pendapat yang buruk lebih aku sukai daripada i’tikaf selama sebulan.”

6 – Asad menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq al-Hadzdza’, dari al-Auza’i, ia berkata: Sebagian ahli ilmu berkata: “Allah tidak menerima dari pemilik bid’ah shalat, tidak puasa, tidak sedekah, tidak jihad, tidak haji, tidak umrah, tidak denda, dan tidak tebusan. Para pendahulu kalian sangat keras lidah mereka terhadap mereka, hati mereka muak dari mereka, dan mereka memperingatkan manusia dari bid’ah mereka.” Ia berkata: “Seandainya mereka menyembunyikan bid’ah mereka dari manusia, tidak ada seorang pun yang berhak membuka tabir mereka atau menampakkan aib mereka. Allah lebih berhak mengambil (menghukum) karena itu dan (menerima) taubat darinya. Namun apabila mereka menampakkannya secara terang-terangan, dan banyak seruan mereka serta para penyeru kepada bid’ah itu, maka menyebarkan ilmu adalah kehidupan, dan menyampaikan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rahmat yang dengannya orang yang beriman dapat berlindung dari orang yang murtad.”

7 – Muhammad bin Waddhah mengabarkan kepadaku, dari lebih dari seorang, bahwa Asad bin Musa menulis kepada Asad bin al-Furat: “Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya yang mendorongku menulis kepadamu adalah apa yang disebutkan oleh penduduk negerimu tentang kebaikan yang Allah berikan kepadamu berupa keadilanmu kepada manusia dan baiknya keadaanmu dalam hal yang engkau tampakkan dari sunnah, cacianmu terhadap ahli bid’ah, banyaknya penyebutanmu tentang mereka, dan celaan-celaanmu terhadap mereka. Maka Allah membungkam mereka karena engkau, menguatkan denganmu punggung ahlus sunnah, dan menguatkanmu atas mereka dengan menampakkan aib mereka dan mencela mereka. Maka Allah menghinakan mereka dengan itu, dan mereka menjadi bersembunyi dengan bid’ah mereka. Maka bergembiralah wahai saudaraku dengan pahala itu, dan anggaplah itu sebagai amal kebaikanmu yang paling utama dari shalat, puasa, haji, dan jihad. Di mana amal-amal ini dapat dibandingkan dengan menegakkan Kitabullah dan menghidupkan sunnah Rasul-Nya? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: ‘Barangsiapa menghidupkan sesuatu dari sunnahku, maka aku dan dia di surga seperti ini’ dan beliau menempelkan kedua jarinya. Dan beliau bersabda: ‘Siapa pun penyeru yang menyeru kepada ini lalu diikuti dalam hal itu, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya hingga hari kiamat.’ Maka siapa yang dapat meraih pahala ini dengan sesuatu dari amalnya? Dan disebutkan juga bahwa Allah memiliki di setiap bid’ah yang dengannya Islam diserang, seorang wali Allah yang membela darinya dan mengucapkan tanda-tandanya. Maka manfaatkanlah wahai saudaraku keutamaan ini, dan jadilah engkau dari ahlinya. Karena sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz ketika mengutusnya ke Yaman dan memberinya wasiat, beliau bersabda: ‘Sungguh jika Allah memberi petunjuk karena engkau kepada seorang laki-laki, maka itu lebih baik bagimu daripada begini dan begitu’, dan beliau mengagungkan ucapan dalam hal itu. Maka manfaatkanlah itu, dan serulah kepada sunnah sehingga engkau memiliki dalam hal itu persatuan dan jamaah yang akan berdiri di tempatmu jika terjadi sesuatu padamu, maka mereka akan menjadi para imam setelahmu, dan bagimu pahala itu hingga hari kiamat sebagaimana datang dalam hadits. Maka beramallah dengan pengetahuan yang jelas, niat yang baik, dan mengharap ridha Allah, maka Allah akan mengembalikan denganmu orang yang berbid’ah yang terfitnah, yang menyimpang dan bingung, sehingga engkau menjadi pengganti dari Nabimu shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya engkau tidak akan menemui Allah dengan amal yang menyerupainya. Dan berhati-hatilah agar engkau tidak memiliki saudara, teman duduk, atau sahabat dari kalangan ahli bid’ah. Karena sesungguhnya telah datang hadits: ‘Barangsiapa duduk bersama pemilik bid’ah, maka dicabut darinya perlindungan (dari Allah), dan diserahkan kepada dirinya sendiri. Dan barangsiapa berjalan menuju pemilik bid’ah, maka ia berjalan dalam merobohkan Islam.’ Dan telah datang: ‘Tidaklah ada tuhan yang disembah selain Allah yang lebih dibenci oleh Allah daripada pemilik hawa nafsu.’ Dan sungguh telah jatuh laknat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ahli bid’ah, dan bahwa Allah tidak menerima dari mereka denda, tidak tebusan, tidak kewajiban, dan tidak sunah. Dan setiap mereka bertambah bersungguh-sungguh dalam puasa dan shalat, mereka bertambah jauh dari Allah. Maka tinggalkanlah majelis mereka, hinakanlah mereka, dan jauhkanlah mereka sebagaimana Allah menjauhkan mereka dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghinakan mereka, demikian pula para imam petunjuk setelah beliau.”

Bab tentang Apa yang Termasuk Bidah

8 – Muhammad bin Waddhah menceritakan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Sa’id menceritakan kepada kami, ia berkata: Asad bin Musa menceritakan kepada kami, ia berkata: Rauh menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Ishaq menceritakan kepada kami, dari Haritsah bin Mudharrib: Bahwa orang-orang diberi pengumuman setelah mereka tidur bahwa barangsiapa yang shalat di masjid terbesar akan masuk surga. Maka pergilah wanita-wanita dan laki-laki hingga masjid penuh dengan orang-orang yang berdiri shalat. Abu Ishaq berkata: Sesungguhnya ibuku dan nenekku ada di antara mereka. Lalu Ibnu Mas’ud didatangi dan dikatakan kepadanya: Cepatlah (temui) orang-orang. Ia berkata: Ada apa dengan mereka? Dikatakan: Mereka diberi pengumuman setelah tidur bahwa barangsiapa yang shalat di masjid terbesar akan masuk surga. Maka keluarlah Ibnu Mas’ud sambil memberi isyarat dengan kainnya: Celakalah kalian, keluarlah agar kalian tidak disiksa, sesungguhnya ini hanyalah tiupan dari setan, sesungguhnya tidak ada kitab yang turun setelah nabi kalian, dan tidak akan turun setelah nabi kalian. Maka mereka keluar, dan kami duduk bersama Abdullah. Ia berkata: “Sesungguhnya setan apabila ingin menyebarkan kebohongan, ia pergi lalu menyerupai seorang laki-laki, kemudian menemui orang lain dan berkata kepadanya: Tidakkah berita itu sampai kepadamu? Maka laki-laki itu berkata: Apa itu? Ia berkata: Telah terjadi perkara ini dan itu. Maka pergilah dan ceritakan kepada teman-temanmu, katanya. Maka pergilah yang lain seraya berkata: Sungguh kita telah menemui seorang laki-laki, sungguh aku menduga aku mengenali wajahnya, ia mengklaim bahwa telah terjadi perkara ini dan itu, padahal dia tidak lain adalah setan.”

9 – Asad menceritakan kepada kami, dari Rabi’ bin Shabih, dari Abdul Wahid bin Shabrah, ia berkata: Berita sampai kepada Ibnu Mas’ud bahwa Amr bin Utbah bersama teman-temannya membangun masjid di bagian belakang Kufah, maka Abdullah memerintahkan agar masjid itu dirobohkan. Kemudian berita sampai kepadanya bahwa mereka berkumpul di suatu sudut masjid Kufah melakukan tasbih dengan bilangan tertentu, bertahlil, dan bertakbir. Ia berkata: Maka ia mengenakan burnus, kemudian pergi dan duduk bersama mereka. Ketika ia mengetahui apa yang mereka katakan, ia mengangkat burnus dari kepalanya kemudian berkata: Aku adalah Abu Abdurrahman. Kemudian ia berkata: Sungguh kalian telah melebihi sahabat-sahabat Muhammad shallallahu alaihi wasallam dalam ilmu, atau sungguh kalian telah membuat bidah yang sesat. Ia berkata: Maka Amr bin Utbah berkata: Kami memohon ampun kepada Allah, tiga kali. Kemudian seorang laki-laki dari Bani Tamim berkata: Demi Allah, kami tidak melebihi sahabat-sahabat Muhammad dalam ilmu, dan kami tidak membuat bidah yang sesat, tetapi kami adalah kaum yang mengingat Rabb kami. Maka ia berkata: “Tidak, demi Dzat yang jiwa Ibnu Mas’ud ada di tangan-Nya, sungguh kalian telah melebihi sahabat-sahabat Muhammad dalam ilmu, atau kalian telah membuat bidah yang sesat. Demi Dzat yang jiwa Ibnu Mas’ud ada di tangan-Nya, sungguh jika kalian mengikuti jejak kaum itu (para sahabat), niscaya mereka akan mendahului kalian dengan sangat jauh, dan sungguh jika kalian berbelok ke kanan dan ke kiri, niscaya kalian akan sesat dengan kesesatan yang jauh.”

10 – Asad menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Mubarak, dari Abdullah bin Aun, dari Ibrahim, ia berkata: Hudzaifah bin Yaman berkata: “Bertakwalah kepada Allah wahai para pembaca Al-Qur’an, ambillah jalan orang-orang yang sebelum kalian. Demi Allah, sungguh jika kalian istiqamah, sungguh kalian telah mendahului dengan sangat jauh, dan sungguh jika kalian meninggalkannya (berbelok) ke kanan dan ke kiri, sungguh kalian telah sesat dengan kesesatan yang jauh.”

11 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Hilal menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: “Ikutilah jejak kami, dan jangan kalian membuat bidah; karena sungguh kalian telah dicukupi.”

12 – Asad menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Khazim, dari Al-A’masy, dari Ibrahim, dari Hammam bin Harits, ia berkata: Hudzaifah masuk ke masjid lalu berdiri di halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) kemudian berkata: “Wahai para pembaca Al-Qur’an, tempuhlah jalan yang lurus. Sungguh jika kalian menempuhnya, sungguh kalian telah mendahului dengan sangat jauh, dan sungguh jika kalian mengambil (jalan) ke kanan dan ke kiri, sungguh kalian telah sesat dengan kesesatan yang jauh.”

13 – Asad menceritakan kepada kami, dari Yahya bin Isa, dari Al-A’masy, dari Habib bin Abi Tsabit, dari Abu Abdurrahman As-Sulami, ia berkata: Abdullah bin Mas’ud berkata: “Ikutilah dan jangan kalian membuat bidah; karena sungguh kalian telah dicukupi dari setiap kesesatan.”

14 – Asad menceritakan kepada kami, dari Yahya bin Isa, dari Al-A’masy, dari Ibrahim, dari Hammam bin Harits, ia berkata: Hudzaifah datang kepada kami di masjid lalu berkata: “Wahai para pembaca Al-Qur’an, tempuhlah jalan yang lurus; maka demi Allah, sungguh jika kalian menempuhnya, sungguh kalian telah mendahului dengan sangat jauh, dan sungguh jika kalian mengambil (jalan) ke kanan dan ke kiri, sungguh kalian telah sesat dengan kesesatan yang jauh.”

15 – Asad menceritakan kepada kami, dari Amir bin Yassaf, dari Yahya bin Abi Katsir, ia berkata: Hudzaifah bin Yaman berkata: “Ikutilah jalan kami, dan sungguh jika kalian mengikuti kami, sungguh kalian telah mendahului dengan sangat jauh, dan sungguh jika kalian menyelisihi kami, sungguh kalian telah sesat dengan kesesatan yang jauh.”

16 – Asad menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Raja’, dari Ubaidillah bin Umar, dari Yassar Abu Al-Hakam, bahwa Abdullah bin Mas’ud menerima berita bahwa sekelompok orang di Kufah bertasbih dengan kerikil di masjid. Maka ia mendatangi mereka, dan setiap orang di antara mereka telah menumpuk kerikil di hadapannya. Ia berkata: Maka ia terus melempar mereka dengan kerikil hingga mengeluarkan mereka dari masjid, sambil berkata: “Sungguh kalian telah membuat bidah yang sesat, atau sungguh kalian telah melebihi sahabat-sahabat Muhammad shallallahu alaihi wasallam dalam ilmu.”

17 – Ibrahim bin Muhammad menceritakan kepadaku, dari Harmalah, dari Ibnu Wahb, ia berkata: Ibnu Sim’an menceritakan kepadaku, ia berkata: Berita sampai kepada kami dari Abdullah bin Mas’ud bahwa ia melihat sekelompok orang bertasbih dengan kerikil, maka ia berkata: “Kalian menghitung untuk Allah, sungguh kalian telah mendahului sahabat-sahabat Muhammad dalam ilmu, atau sungguh kalian telah membuat bidah yang sesat.”

18 – Muhammad bin Waddhah menceritakan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Sa’id menceritakan kepada kami, ia berkata: Asad bin Musa menceritakan kepada kami, dari Yahya bin Isa, dari Al-A’masy, dari sebagian sahabatnya, ia berkata: Abdullah melewati seorang laki-laki yang berceramah di masjid kepada teman-temannya, dan ia berkata: Bertasbihlah sepuluh kali, dan bertahlillah sepuluh kali. Maka Abdullah berkata: “Sungguh kalian lebih mendapat petunjuk daripada sahabat-sahabat Muhammad shallallahu alaihi wasallam atau lebih sesat, bahkan yang ini, bahkan yang ini,” maksudnya: lebih sesat.

19 – Asad menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Yusuf, dari Al-Auza’i, dari Abdah bin Abi Lubabah: Bahwa seorang laki-laki mengumpulkan orang-orang lalu berkata: Semoga Allah merahmati siapa yang mengucapkan sekian kali Subhanallah. Ia berkata: Maka kaum itu mengucapkannya. Lalu ia berkata: Semoga Allah merahmati siapa yang mengucapkan sekian kali Alhamdulillah. Ia berkata: Maka kaum itu mengucapkannya. Ia berkata: Maka Abdullah bin Mas’ud melewati mereka lalu berkata: “Sungguh kalian telah mendapat petunjuk yang tidak didapat oleh nabi kalian, atau sungguh kalian benar-benar berpegang pada ekor kesesatan.”

20 – Asad menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Yusuf, ia berkata: Aku bertanya kepada Al-Auza’i tentang kaum yang berkumpul lalu sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: Ucapkanlah kebaikan. Ia berkata: “Hendaklah ia melakukannya, maka jika mereka menolaknya hendaklah ia bangkit dari mereka.”

21 – Asad menceritakan kepada kami, dari Jarir bin Hazim, dari Shalt bin Bahram, ia berkata: Ibnu Mas’ud melewati seorang wanita yang memiliki tasbih dan ia bertasbih dengannya, maka ia memotongnya dan membuangnya. Kemudian ia melewati seorang laki-laki yang bertasbih dengan kerikil, maka ia memukulnya dengan kakinya kemudian berkata: “Sungguh kalian telah mendahului, kalian menunggangi bidah yang sesat, atau sungguh kalian telah mengalahkan sahabat-sahabat Muhammad shallallahu alaihi wasallam dalam ilmu.”

22 – Muhammad bin Waddhah menceritakan kepadaku, ia berkata: Musa bin Mu’awiyah menceritakan kepada kami, dari Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari Salamah bin Kuhail, dari Abu Zar’ah, ia berkata: Musayyab bin Nujaid datang kepada Abdullah lalu berkata: Sesungguhnya aku meninggalkan di masjid laki-laki yang berkata: Bertasbihlah tiga ratus enam puluh kali. Maka ia berkata: Bangunlah wahai Alqamah dan alihkan pandangan kaum dariku. Maka ia datang lalu berdiri di hadapan mereka dan mendengar mereka berbicara, lalu berkata: “Sungguh kalian benar-benar berpegang pada ekor kesesatan, atau sungguh kalian lebih mendapat petunjuk daripada sahabat-sahabat Muhammad shallallahu alaihi wasallam,” atau semacam ini.

23 – Muhammad bin Waddhah menceritakan kepadaku, ia berkata: Zuhair bin Abbad menceritakan kepada kami, dari Yazid bin Atha’, dari Aban bin Abi Ayyasy, ia berkata: Aku bertanya kepada Hasan tentang kalung dari manik-manik dan biji kurma dan semacam itu, apakah boleh bertasbih dengannya? Maka ia berkata: “Tidak seorang pun dari istri-istri Nabi shallallahu alaihi wasallam melakukan itu, dan tidak pula wanita-wanita Muhajirin.”

24 – Dan berita sampai kepadaku bahwa Ibnu Mas’ud melewati seorang laki-laki dan ia berkata kepada teman-temannya: Bertasbihlah sekian, bertakbirlah sekian, dan bertahlillah sekian. Ibnu Mas’ud berkata: “Kalian menghitung untuk Allah, atau kalian mendengarkan untuk Allah, sungguh kalian telah dicukupi dari penghitungan dan bilangan.”

25 – Aban berkata: Maka aku berkata kepada Hasan: Bagaimana jika seorang laki-laki bertasbih dan menghitung dengan tangannya? Ia berkata: “Aku tidak melihat masalah dengan itu.”

26 – Asad menceritakan kepada kami, dari Rabi’ bin Shabih, dari Yunus bin Ubaid, ia berkata: Mereka berkumpul lalu Hasan datang kepada mereka. Seorang laki-laki berkata kepadanya: Wahai Abu Sa’id, apa pendapatmu tentang majelis kami ini? Kami adalah kaum dari ahli sunnah dan jamaah yang tidak mencela siapa pun, kami berkumpul di rumah orang ini suatu hari, dan di rumah orang ini suatu hari. Kami membaca Kitab Allah, berdoa kepada Rabb kami, bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan berdoa untuk diri kami dan untuk kaum muslimin pada umumnya. Ia berkata: Maka Hasan melarang hal itu dengan larangan yang sangat keras.

27 – Asad menceritakan kepada kami, dari Rabi’ bin Shabih, dari Aban bin Abi Ayyasy, ia berkata: Aku menemui Thalhah bin Ubaidillah bin Kuraiz Al-Khuza’i, lalu aku berkata kepadanya: Ada sekelompok saudaramu dari ahli sunnah dan jamaah, mereka tidak mencela seorang pun dari kaum muslimin, mereka berkumpul di rumah orang ini suatu hari, dan di rumah orang ini suatu hari, dan mereka berkumpul pada hari Nairuz dan Mihrajan serta berpuasa pada kedua hari itu. Maka Thalhah berkata: “Bidah dari bidah yang paling keras, demi Allah mereka lebih mengagungkan Nairuz dan Mihrajan daripada yang lain.” Kemudian Anas bin Malik terbangun lalu aku melompat kepadanya dan bertanya kepadanya sebagaimana aku bertanya kepada Thalhah. Maka ia menjawabku seperti jawaban Thalhah seolah-olah mereka telah membuat janji.

28 – Ia berkata: Asad menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Tsabit Al-Bunani, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku orang yang mendengar Hathan bin Abdullah, bahwa Abu Musa berkata kepada temannya: Mari kita jadikan hari ini untuk Allah, seolah-olah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyaksikan kita. Ia berkata: Dan di antara mereka ada yang berkata: Mari kita jadikan hari ini untuk Allah. Dan di antara mereka ada yang berkata: Mari kita jadikan hari ini untuk Allah. Maka ia terus mengulanginya hingga aku berharap aku terbenam di bumi.

29 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Marwan bin Mu’awiyah menceritakan kepada kami, ia berkata: Sa’id Al-Jurairi mengabarkan kepada kami, dari Abdullah bin Ghalib, ia berkata: Sekelompok kaum berkumpul lalu berkata: Mari kita jadikan ini hari yang keburukannya telah berlalu, kita ingat Allah padanya. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata dengan tangannya: “Hari yang keburukannya telah berlalu, bersebaranglah kalian untuk (mengurus) keluarga kalian.”

30 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Baqiyyah menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Abdurrahman, dari Ja’far bin Muhammad, dari Ali bin Abi Thalib, bahwa ia keluar suatu hari ke masjid Kufah dan ada seorang laki-laki berceramah yang dikelilingi banyak orang. Maka ia memukulnya dengan tongkat. Seorang laki-laki berkata: Apakah engkau memukul seorang laki-laki yang mengajak kepada Allah dan mengingatkan dengan keagungan-Nya? Maka ia berkata: Sesungguhnya aku mendengar kekasihku Abu Qasim shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Akan ada di antara umatku suatu kaum yang disebut para penceramah, tidak akan diangkat amal mereka kepada Allah selama mereka berada di majelis-majelis mereka itu.”

31 – Muhammad bin Waddhah menceritakan kepadaku, ia berkata: Musa bin Mu’awiyah Al-Qurasyi menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, dari Hammad bin Salamah, dari Ali bin Zaid, dari Abdurrahman bin Abi Bakrah, ia berkata: Aku sedang duduk di sisi Aswad bin Sari’, dan majelisnya berada di bagian belakang masjid jami’. Maka ia membuka surat Bani Israil hingga sampai pada ayat “dan bertakbirlah kepada-Nya dengan takbir yang agung” (Surat Al-Isra: 111). Maka orang-orang yang duduk di sekitarnya mengangkat suara mereka. Lalu Mujalid bin Mas’ud datang bersandar pada tongkatnya. Ketika kaum itu melihatnya mereka berkata: Selamat datang, selamat datang, duduklah. Ia berkata: “Aku tidak akan duduk bersama kalian meskipun majelis kalian baik, tetapi kalian telah melakukan sesuatu sebelumnya yang diingkari oleh kaum muslimin. Maka jauhilah apa yang diingkari oleh kaum muslimin.”

32 – Dan telah menceritakan kepadaku dari Musa, dari Ibnu Mahdi, dari Hammad bin Salamah, dari Humaid: “Bahwa sekelompok orang membaca ayat sajdah, ketika mereka bersujud, mereka mengangkat tangan-tangan mereka dan menghadap kiblat, maka Murarriq al-Ijli mengingkari hal itu dan memakruhkannya.”

33 – Dan telah menceritakan kepadaku dari Musa, dari Ibnu Mahdi, dari Sufyan, dari Abu Sinan, dari Abdullah bin Abi al-Hudail, dari Abdullah bin al-Khabbab, ia berkata: “Ketika kami sedang berada di masjid dan kami duduk bersama sekelompok orang membaca ayat sajdah dan menangis, ayahku mengutus seseorang untukku. Aku mendapati dia telah menyiapkan tongkat pentungnya, lalu dia mendatangiku. Aku berkata: Wahai ayahku, apa yang terjadi denganku? Apa yang terjadi denganku? Dia berkata: Bukankah aku melihatmu duduk bersama orang-orang Amaliq (golongan sesat), kemudian dia berkata: Ini adalah fitnah yang akan muncul sekarang.”

34 – Dan telah menceritakan kepadaku dari Musa, dari Ibnu Mahdi, dari Ziyad bin Muslim, dari Shalih bin Abi al-Khalil, ia berkata: “Khabbab melewati anaknya ketika ia bersama orang-orang yang berdebat tentang Alquran, maka ia pulang dalam keadaan marah dan menyiapkan cambuk atau tali kekang atau sabuk untuknya. Ketika pemuda itu pulang, ia langsung mendatanginya tanpa menanyakan apapun dan memukulnya dengan pukulan keras. Ketika pemuda itu melihat kesungguhan ayahnya, ia berkata: Aku sudah tahu, kamu hanya menginginkan diriku, tapi untuk apa? Ayahnya tidak menjawab sedikitpun dan terus memukulnya. Pemuda itu berkata: Wahai ayahku, aku tidak akan mengulanginya lagi. Sejak itu, ketika ia melewati orang-orang itu dan mereka memanggilnya, ia berkata: Tidak, kecuali kalian menerima dariku apa yang ayahku terima sebagai sesuatu kepada Allah. Mereka berkata: Sesungguhnya telah terjadi setelah Nabi shallallahu alaihi wasallam berbagai urusan dan peristiwa.”

35 – Telah menceritakan kepadaku dari Musa, dari Ibnu Mahdi, dari Sufyan, dari Said al-Jurairi, dari Abdullah bin Ghalib, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendatangi sekelompok orang di sebuah rumah dan bertanya: “Apa yang mengumpulkan kalian?” Mereka menjawab: Kami menyebut nama Allah, pada hari kejahatannya tersembunyi. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Hari kejahatannya tersembunyi, berpencar-pencarlah kalian untuk urusan kalian.”

36 – Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Wadhdhah, dari Abdullah bin Muhammad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muawiyah bin Hisham, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Said al-Jurairi, dari Abu Utsman an-Nahdi, ia berkata: Seorang petugas Umar bin al-Khaththab menulis kepadanya bahwa di sini ada sekelompok orang yang berkumpul dan berdoa untuk kaum muslimin dan untuk amir. Maka Umar menulis kepadanya: “Bawa mereka bersamamu.” Maka ia datang, dan Umar berkata kepada penjaga pintu: Siapkan cambuk. Ketika mereka masuk menemui Umar, ia memukul pemimpin mereka dengan cambuk. Aku berkata: Wahai Amirul Mukminin, kami bukan orang-orang yang dimaksud. Mereka itu adalah orang-orang yang datang dari arah timur.

37 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Wadhdhah, dari Yaqub bin Kaab, dari Isa bin Yunus, dari Ibnu Abi Laila, dari al-Hakam bin Utaibah, ia berkata: Aku bertanya kepada Abdurrahman bin Abi Laila tentang qashash (berkisah), maka ia berkata: “Aku mendapati para sahabat Muhammad shallallahu alaihi wasallam duduk bersama, dan yang ini menceritakan apa yang ia dengar, dan yang itu menceritakan apa yang ia dengar. Adapun mereka duduk sebagai penceramah (seperti qashash), maka tidak.”

38 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Wadhdhah, dari Musa bin Muawiyah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Umar bin Harun, dari adh-Dhahhak, ia berkata: Aku melihat Umar bin Abdul Aziz “memenjarakan para qashshash (tukang cerita) dan orang-orang yang duduk bersama mereka.”

39 – Telah menceritakan kepadaku Ibnu Wadhdhah, dari Abu Ayyub ad-Dimasyqi Sulaiman bin Syurahbil, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Dhamrah bin Rabiʻah, ia berkata: Aku mendengar Sufyan ats-Tsauri ketika Umar bin al-Ala al-Yamani bertanya kepadanya dan berkata: “Wahai Abu Abdillah, apakah aku harus menghadap qashshash (penceramah)?” Maka ia berkata: “Berpalinglah dari bidah-bidah.”

40 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Wadhdhah, dari Abdullah bin Muhammad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Syababah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Syuʻbah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Uqbah bin Jurait, ia berkata: Aku mendengar Ibnu Umar ketika datang seorang qashshash (penceramah) lalu duduk di majlisnya. Ibnu Umar berkata kepadanya: “Berdirilah dari majlis kami.” Orang itu menolak untuk berdiri, maka Ibnu Umar mengutus seseorang kepada kepala polisi: Usir qashshash itu. Ia berkata: Maka ia mengutusku kepadanya dan mengusirlah dia.

41 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Wadhdhah, dari Abdullah bin Muhammad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Ibrahim, dari Mujahid, ia berkata: “Seorang qashshash masuk dan duduk dekat dengan Ibnu Umar, maka ia berkata kepadanya: “Berdirilah.” Orang itu menolak untuk berdiri, maka ia mengutus seorang polisi kepadanya dan mengusirnya.” Dan aku mendengar Ibnu Wadhdhah berkata tentang para qashshash: “Mereka tidak sepatutnya bermalam di masjid-masjid, dan mereka tidak boleh dibiarkan bermalam di sana.”

42 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Wadhdhah, dari Musa bin Muawiyah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdi, dari Sufyan, dari Ubaidillah, dari Nafi, ia berkata: “Tidak ada qashash (berceramah seperti itu) pada masa Nabi shallallahu alaihi wasallam, tidak pada masa Abu Bakar, tidak pada masa Umar, dan tidak pada masa Utsman. Dan pertama kali qashash itu ada adalah ketika terjadi fitnah.”

43 – Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Wadhdhah, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Said, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Asad bin Musa, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Qais bin ar-Rabi, dari Abu Sinan Dhirar bin Murrah, dari Abdullah bin Abi al-Hudail al-Anazi, ia berkata: Kami sedang duduk bersama Abdullah bin Khabbab bin al-Aratt dan ia berkata: Bertasbihlah sekian dan sekian, bertahmidlah sekian dan sekian, dan bertakbirlah sekian dan sekian. Ia berkata: Lalu Khabbab lewat dan melihatnya kemudian mengutus seseorang kepadanya dan memanggilnya. Ia mengambil cambuk dan mulai memukul kepalanya dengannya sementara ia berkata: Wahai ayahku, mengapa engkau memukulku? Dia berkata: Bersama orang-orang Amaliq, ini adalah tanduk syetan yang telah muncul, atau telah terbit.

44 – Telah menceritakan kepada kami Asad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Hilal, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muawiyah bin Qurrah, ia berkata: “Kami dahulu jika melihat seseorang yang menjadi qashshash (penceramah), kami berkata: Ini adalah orang yang mengikuti bidah.”

45 – Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Muhammad, dari Harmalah bin Yahya, dari Ibnu Wahb, dari Ibnu Aun, ia berkata: “Muhammad bin Sirin berkata tentang suara-suara (dalam membaca) Alquran: Ini adalah perkara baru (yang diada-adakan).”

46 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Wadhdhah, telah menceritakan kepada kami Musa bin Muawiyah, dari Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari al-Ajlah, dari Ibnu Abi al-Hudail, dari Abdullah bin Khabbab, dari ayahnya, ia berkata: “Sesungguhnya Bani Israil binasa ketika mereka melakukan qashash (berceramah dengan cara seperti itu).”

47 – Dan telah menceritakan kepadaku dari Musa, dari Ibnu Mahdi, dari Sufyan, dari Hammam bin al-Harits at-Taimi, ia berkata: “Ketika Ibrahim at-Taimi melakukan qashash (ceramah), ayahnya mengusirnya dari rumahnya dan berkata: Apa perkara baru yang engkau buat ini?”

48 – Dan telah menceritakan kepadaku dari Musa, dari Ibnu Mahdi, dari Jafar bin Burqan, ia berkata: Aku mendengar Maimun bin Mihran berkata: “Qashshash (penceramah) menunggu kemurkaan Allah.”

49 – Dan telah menceritakan kepadaku dari Musa, dari Ibnu Mahdi, dari Hammam bin Yahya, dari Qatadah, dari Said bin al-Musayyab dan Murarriq, keduanya berkata: “Dimakruhkan mempercepat sujud, mengangkat tangan-tangan, dan mengeraskan suara dalam doa.”

50 – Dan telah menceritakan kepadaku dari Musa, dari Ibnu Mahdi, dari Abu Bakar bin Ayyasy, dari al-Mughirah, dari Ibrahim: “Bahwa ia memakruhkan mempercepat sujud (tilawah).”

51 – Dan telah menceritakan kepadaku dari Musa, dari Ibnu Mahdi, dari Abu Sulaiman, dari Yazid ar-Rasyak, dari Khalid al-Asyaj anak saudara Shafwan bin Mihraz, ia berkata: “Kami berada di masjid Madinah, dan ada seorang qashshash kami yang berceramah kepada kami. Ia mulai mempercepat sujud Alquran, lalu ia bersujud dan kami bersujud bersamanya. Tiba-tiba datang seorang syaikh dan berdiri di hadapan kami lalu berkata: “Jika kalian benar-benar mengikuti sesuatu, sesungguhnya kalian lebih utama daripada para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.” Maka kami bertanya tentangnya dan berkata: Siapa syaikh ini? Mereka berkata: Ini adalah Abdullah bin Umar.”

52 – Dan telah menceritakan kepadaku dari Musa, dari Ibnu Mahdi, dari Israil, dari Asyʻats bin Abi asy-Syaʻtsaʼ, dari al-Aswad bin Hilal, ia berkata: “Dahulu ada seorang laki-laki yang berceramah (qashshash), lalu didatangkan kepada Ibnu Mas’ud dan dikatakan kepadanya. Maka ia datang dan duduk di tengah orang-orang. Ketika ia mendengar apa yang mereka katakan, ia berdiri dan berkata: “Tidakkah kalian mendengar?” Ketika mereka melihatnya, ia berkata: “Apakah kalian mengetahui bahwa kalian lebih mendapat petunjuk daripada Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya, ataukah kalian sedang berpegang pada ujung kesesatan?”

Bab “Setiap Perkara Baru Adalah Bidah”

53 – Muhammad bin Wadhah menceritakan kepadaku, ia berkata: Asad bin Musa menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya bin Aslam ath-Thaifi menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Ja’far bin Muhammad menceritakan, dari ayahnya, dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkhutbah kepada manusia, lalu beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian berkata: “Sesungguhnya sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan, dan setiap bidah adalah kesesatan.”

54 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Baqiyyah menceritakan kepada kami, dari Sulaiman bin Sulaim, dari Yahya bin Jabir ath-Thaii, dari Abdurrahman bin Amr as-Sulami, dari Irbadh bin Sariyah as-Sulami, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengimami kami shalat Subuh, lalu beliau memberi kami nasihat yang sangat mengena, kemudian beliau berkata di akhir nasihatnya: “Hati-hatilah kalian dari setiap bidah, karena sesungguhnya setiap bidah adalah kesesatan.”

55 – Asad menceritakan kepada kami, dari al-Mas’udi, dari Ma’n, ia berkata: Abdul Malik berkata: “Setiap perkara yang diada-adakan adalah bidah.”

56 – Asad menceritakan kepada kami, dari Sufyan bin Uyainah, dari Hilal al-Warraq, ia berkata: Syaikh tua kami Abdullah bin Ukaim menceritakan kepada kami, dari Umar, bahwa ia biasa berkata: “Sebenar-benar perkataan adalah perkataan Allah, dan sesungguhnya sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan sesungguhnya seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan. Ketahuilah bahwa setiap perkara yang diada-adakan adalah bidah, dan setiap bidah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan berada di dalam Neraka.”

57 – Asad menceritakan kepada kami, dari Mahdi bin Maimun, ia berkata: Washil, budak Ibnu Uyainah menceritakan kepada kami, ia berkata: “Yahya bin Aqil menyerahkan kepadaku sebuah lembaran, lalu berkata: ‘Ini adalah khutbah Ibnu Mas’ud, sesungguhnya ia biasa mengatakannya setiap sore Kamis: ‘Sesungguhnya hanya ada perkataan dan perbuatan, maka sebenar-benar perkataan adalah perkataan Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan, dan sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan adalah bidah, dan setiap bidah adalah kesesatan.’

58 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Abu Hamzah, dari Rabah an-Nakha’i, ia berkata: Ibnu Mas’ud biasa berkhutbah kepada kami setiap hari Kamis, lalu ia berkata: “Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan setiap perkara yang diada-adakan adalah bidah, dan setiap bidah adalah kesesatan, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan.”

59 – Asad menceritakan kepada kami, dari Ja’far bin Burqan az-Zuhri, dari Abu Yahya, dari Yazid bin Umairah, dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata: “Hampir saja ada seseorang dari manusia yang berkata: ‘Aku telah membaca al-Quran dan aku tidak melihat manusia mengikutiku, mereka tidak akan mengikutiku sampai aku mengada-adakan bagi mereka sesuatu yang lain.’ Maka hati-hatilah kalian dari apa yang diada-adakan, karena sesungguhnya setiap yang diada-adakan adalah kesesatan.”

60 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Hammad bin Salamah dan Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami, dari Ayyub, dari Abu Qilabah, bahwa Ibnu Mas’ud berkata: “Wajib atas kalian menuntut ilmu sebelum ia dicabut, dan pencabutannya adalah perginya ahlinya. Wajib atas kalian menuntut ilmu, karena sesungguhnya salah seorang di antara kalian tidak mengetahui kapan ia membutuhkannya atau membutuhkan apa yang ada padanya. Kalian akan menemukan suatu kaum yang mengaku menyeru kepada Kitabullah padahal mereka telah membuangnya di belakang punggung mereka. Wajib atas kalian menuntut ilmu, dan hati-hatilah dari membuat bidah, berlebih-lebihan, dan mendalami (secara berlebihan), dan wajib atas kalian (berpegang) pada yang lama (warisan Salaf).”

61 – Asad menceritakan kepada kami, dari Zaid, dari Sufyan, dari Rabi’ah bin Shalih, dari Utsman bin Hashir, dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata: “Wajib atas kalian istiqamah dan mengikuti atsar (jejak Salaf), dan hati-hatilah kalian dari membuat bidah.”

62 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Zaid menceritakan kepada kami, dari Ja’far bin Burqan, dari Yahya bin Abi Hasyim, ia berkata: Seorang laki-laki menceritakan kepada kami bahwa Mu’adz bin Jabal berdiri di Syam lalu berkata: “Wahai manusia, wajib atas kalian menuntut ilmu sebelum ia diangkat. Ketahuilah bahwa sesungguhnya pengangkatannya adalah perginya ahlinya, dan hati-hatilah kalian dari bidah-bidah, membuat bidah, dan berlebih-lebihan, dan wajib atas kalian (berpegang) pada urusan kalian yang lama.”

63 – Asad menceritakan kepada kami, dari Hammad bin Salamah, dari Ayyub, dari Abu Qilabah, dari Zaid bin Umairah, dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata: “Akan terjadi fitnah yang di dalamnya harta melimpah, dan al-Quran dibuka (tersebar luas) di dalamnya, hingga dibaca oleh orang mukmin, munafik, laki-laki, perempuan, anak kecil, dan orang dewasa. Lalu seorang laki-laki membacanya secara sembunyi-sembunyi tetapi tidak diikuti, maka ia berkata: ‘Kenapa aku tidak diikuti? Demi Allah, aku akan membacanya secara terang-terangan.’ Lalu ia membacanya secara terang-terangan tetapi tidak diikuti, maka ia membangun masjid dan mengada-adakan perkataan yang bukan dari Kitabullah dan bukan dari Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka hati-hatilah kalian dan jauhilah hal itu, karena sesungguhnya itu adalah bidah kesesatan. Hati-hatilah kalian dan jauhilah hal itu, karena sesungguhnya itu adalah bidah kesesatan. Hati-hatilah kalian dan jauhilah hal itu, karena sesungguhnya itu adalah bidah kesesatan.” (Diulang tiga kali)

64 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Walid bin Muslim menceritakan kepada kami, dari orang yang menceritakan kepadanya, dari Qatadah mengenai firman-Nya: “Wahai Ahli Kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan dalam agama kalian” (Surat an-Nisa: 171), ia berkata: “Janganlah kalian membuat bidah.”

65 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Rabi’ah menceritakan kepada kami, ia berkata: Salaman bin Amir menceritakan kepada kami, dari Abu Utsman al-Asybahi, ia berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Akan ada dalam umatku dajjal-dajjal pendusta yang akan mendatangi kalian dengan bidah-bidah dari hadits yang tidak pernah kalian dengar, tidak kalian dan tidak pula bapak-bapak kalian. Maka hati-hatilah kalian dan jauhilah mereka, jangan sampai mereka memfitnah kalian.”

66 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Mahdi bin Maimun menceritakan kepada kami, dari al-Hasan, ia berkata: “Pelaku bidah tidaklah bertambah sungguh-sungguh, berpuasa dan shalat, melainkan ia bertambah jauh dari Allah.”

67 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Sebagian sahabat kami menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayyub as-Sakhtiyani biasa berkata: “Tidaklah pelaku bidah bertambah sungguh-sungguh melainkan ia bertambah jauh dari Allah.”

68 – Asad berkata: Sebagian sahabat kami menceritakan kepada kami, dari Hisyam bin Hassan, ia berkata: “Allah tidak menerima dari pelaku bidah puasa, tidak shalat, tidak zakat, tidak haji, tidak jihad, tidak umrah, tidak sedekah, tidak memerdekakan budak, tidak denda, dan tidak tebusan.”

69 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Sebagian sahabat kami menceritakan kepada kami, dari Ismail bin Ayyasy, dari Aban bin Abi Ayyasy, dari al-Hasan: “Bahwa seorang laki-laki dari Bani Israil membuat suatu bidah lalu ia menyeru manusia kepadanya, maka mereka mengikutinya. Ketika ia menyadari dosanya, ia sengaja melubangi tulang selangkanya lalu memasukkan ke dalamnya sebuah gelang, kemudian ia memasang rantai padanya lalu mengikatnya pada pohon, lalu ia terus menangis dan merintih kepada Tuhannya. Maka Allah mewahyukan kepada nabi umat itu: ‘Tidak ada taubat baginya. Orang ini Aku telah ampuni dosa yang ia lakukan, lalu bagaimana dengan orang yang ia sesatkan sehingga masuk ke Neraka?'”

70 – Asad menceritakan kepada kami, dari Abu Abdurrahman, Farra’ menceritakan kepada kami, dari Auf al-A’rabi, dari Khalid ar-Rab’i, ia berkata: “Di kalangan Bani Israil ada seorang pemuda yang membaca kitab-kitab, dan ia adalah orang yang tidak dikenal. Ia menginginkan harta dan kehormatan, maka ia membuat suatu bidah hingga ia mendapatkan harta dan kehormatan karenanya. Ia terus seperti itu hingga pengikutnya banyak. Suatu ketika ketika ia berada di atas tempat tidurnya, ia berkata: ‘Ah, manusia tidak mengetahui apa yang aku ada-adakan, bukankah Allah mengetahui apa yang aku ada-adakan? Seandainya aku bertaubat kepada Tuhanku.’ Ia berkata: Lalu ia melubangi tulang selangkanya dan memasang rantai padanya, kemudian mengikatnya pada salah satu tiang masjid, lalu berkata: ‘Aku tidak akan melepaskan diriku sampai Allah melepaskanku.’ Dan Bani Israil tidak luput, bahwa ada di antara mereka yang diwahyukan kepadanya. Maka Allah mewahyukan kepada salah seorang nabi-Nya: ‘Seandainya dosamu adalah urusan antara Aku dan dirimu, niscaya Aku ampuni sebesar apa pun itu, tetapi bagaimana dengan orang-orang dari hamba-hamba-Ku yang engkau sesatkan lalu mereka mati dan masuk Neraka, maka Aku tidak akan menerima taubatmu.'”

71 – Ibrahim bin Muhammad menceritakan kepadaku, dari Sahnun, dari Ibnu Wahb, ia berkata: Ibnu Lahi’ah mengabarkan kepadaku, dari Salaman, dari Amir, dari Abu Utsman (orang yang disusui bersama Abdul Malik bin Marwan), bahwa ia mendengar Abu Hurairah berkata: “Akan keluar suatu kaum di akhir zaman, mereka adalah dajjal-dajjal pendusta, dengan bidah-bidah dari hadits yang tidak pernah kalian dengar, tidak kalian dan tidak pula bapak-bapak kalian. Maka hati-hatilah kalian dan jauhilah mereka, jangan sampai mereka memfitnah kalian.”

72 – Muhammad bin Wadhah menceritakan kepadaku, ia berkata: Musa bin Mu’awiyah menceritakan kepada kami, dari Abdurrahman bin Mahdi, dari Ishaq bin Sa’id, dari ayahnya: Bahwa Ibnu Abbas masuk Masjidil Haram, sedang Ubaid bin Umair sedang bercerita, maka ia berkata kepada orang yang menuntunnya: “Bawalah aku berjalan sampai kau berhentikan aku padanya.” Ketika ia berhenti, ia membaca ayat-ayat yang ada dalam Surat Maryam, kemudian berkata: “Bacalah Kitabullah wahai Ibnu Umair, dan berdzikirlah dengan dzikir Allah, dan hati-hatilah aku dan kamu dari bidah-bidah dalam agama Allah.”

73 – Muhammad bin Wadhah menceritakan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Yahya menceritakan kepada kami, ia berkata: Asad bin Musa menceritakan kepada kami, ia berkata: Ismail bin Ayyasy menceritakan kepada kami, dari Buhair bin Sa’id, dari Khalid bin Mi’dan, dan Abu Bakar bin Abdullah bin Abi Maryam, dari Khalid bin Mi’dan, dari al-Irbadh bin Sariyah as-Sulami, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberi kami nasihat setelah shalat Subuh dengan nasihat yang sangat mengena, hingga mata-mata berlinang air mata karenanya dan hati-hati gemetar karenanya. Maka seorang laki-laki dari sahabatnya berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ini adalah nasihat orang yang akan berpisah, maka apa yang engkau wasiatkan kepada kami?” Beliau bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat, meskipun (pemimpin kalian) adalah budak Habasyah. Karena sesungguhnya barangsiapa yang hidup sepeninggalku akan melihat banyak perselisihan, maka hati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang diada-adakan dalam agama, karena sesungguhnya itu adalah kesesatan. Dan barangsiapa di antara kalian yang menjumpai hal itu, maka wajib baginya (berpegang) pada Sunnahku dan Sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah ia dengan gigi geraham kalian.”

74 – Muhammad bin Wadhah menceritakan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Sa’id menceritakan kepada kami, ia berkata: Asad bin Musa menceritakan kepada kami, dari Abu Zaid Hammad bin Dalil, ia berkata: Aku mendengar Sufyan bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari an-Nadhr, dari Umar bin Abdul Aziz: “Seorang pekerja/gubernurnya menulis surat kepadanya menanyakan tentang hawa nafsu (bidah-bidah), maka ia menulis balasan kepadanya: Amma ba’du, sesungguhnya aku wasiatkan kepadamu untuk bertakwa kepada Allah, bersikap pertengahan dalam urusan-Nya, mengikuti Sunnah-Nya dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam, dan meninggalkan apa yang diada-adakan oleh para pembuat bidah setelah beliau, yang telah berlaku Sunnahnya dan mereka tercukupi bebannya. Maka wajib bagimu berpegang teguh pada Sunnah, karena sesungguhnya itu bagimu dengan izin Allah adalah penjagaan. Ketahuilah bahwa manusia tidaklah mengada-adakan suatu bidah melainkan telah berlalu sebelumnya sesuatu yang menjadi dalil atasnya dan pelajaran padanya. Sesungguhnya Sunnah itu hanya disunnahkan oleh orang yang mengetahui apa yang ada dalam menyelisihinya berupa kesalahan, kekeliruan, kebodohan, dan mendalami (secara berlebihan). Maka ridhailah untuk dirimu apa yang diridhai oleh kaum itu untuk diri mereka sendiri, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang terdahulu. Sesungguhnya mereka berhenti berdasarkan ilmu, dan dengan pandangan yang tajam mereka mencukupkan diri, dan mereka lebih kuat dalam mengungkap perkara-perkara, dan dengan keutamaan di dalamnya seandainya ada yang lebih berhak. Jika petunjuk adalah apa yang kalian berada padanya, sungguh kalian telah mendahului mereka padanya. Dan jika kalian berkata: ‘Tidaklah diada-adakan setelah mereka kecuali oleh orang yang mengikuti selain jalan mereka dan menjauhkan dirinya dari mereka,’ sungguh mereka telah berbicara tentangnya dengan apa yang mencukupi, dan mereka menjelaskan darinya apa yang menyembuhkan. Maka tidaklah ada yang di bawah mereka yang kurang, dan tidaklah ada yang di atas mereka yang terbatas. Sungguh telah tertinggal di bawah mereka suatu kaum lalu mereka bersikap kasar/ekstrem, dan melampaui mereka kaum lain lalu mereka berlebih-lebihan. Sesungguhnya mereka di antara itu benar-benar berada di atas petunjuk yang lurus (Surat al-Hajj: 67).”

75 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Sa’id bin Zaid menceritakan kepada kami, ia berkata: Ashim bin Bahdalah ditanya, dan aku mendengar, dikatakan: “Wahai Abu Bakar, bagaimana pendapatmu tentang firman Allah Ta’ala: ‘Dan kepada Allah (terserah) jalan yang lurus’ (Surat an-Nahl: 9) dan di antaranya ada yang menyimpang, dan kalau Dia menghendaki niscaya Dia memberi petunjuk kalian semuanya.’ Ia berkata: Abu Wa’il menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: Abdullah menggambar garis lurus, dan menggambar garis-garis di sebelah kanan dan kirinya, lalu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menggambar seperti ini, lalu bersabda untuk garis yang lurus: “Ini adalah jalan Allah,” dan untuk garis-garis yang di sebelah kanan dan kirinya: “Ini adalah jalan-jalan yang bercerai-berai, pada setiap jalan di antaranya ada setan yang menyeru padanya, dan jalan itu bersama sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: ‘Dan sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain)’ (Surat al-An’am: 153) karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Demikianlah Dia mewasiatkan kepada kalian agar kalian bertakwa.”

76 – Telah menceritakan kepada kami Asad, dari Hammad bin Zaid, dari Ashim al-Ahwal, ia berkata: Abu al-Aliyah berkata: “Pelajarilah Islam; jika kalian telah mempelajarinya maka janganlah kalian berpaling darinya, dan berpeganglah kalian pada jalan yang lurus; karena sesungguhnya itulah Islam, dan janganlah kalian menyimpang dari jalan itu ke kiri maupun ke kanan, dan berpeganglah kalian pada sunnah Nabi kalian dan apa yang diamalkan oleh para sahabatnya sebelum mereka membunuh sahabat mereka, dan sebelum mereka melakukan apa yang mereka lakukan; karena sesungguhnya kami telah membaca Al-Quran lima belas tahun sebelum mereka membunuh sahabat mereka, dan sebelum mereka melakukan apa yang mereka lakukan, dan jauhilah hawa nafsu yang menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara manusia.” Ia berkata: Maka aku menceritakan hal itu kepada Hasan, lalu ia berkata: Ia benar dan memberi nasihat. Ia berkata: Dan aku menceritakannya kepada Hafshah binti Sirin, lalu ia berkata: Demi ayah dan keluargaku, apakah engkau telah menceritakan hal ini kepada Muhammad? Maka aku menjawab: Belum, ia berkata: Ceritakanlah kepadanya.

77 – Telah menceritakan kepada kami Asad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ayyasy, dari Aban bin Abi Ayyasy, dari Muslim bin Abi Imran al-Asy’ari, bahwa Abdullah bin Umar datang kepada Abdullah bin Mas’ud ketika ia sedang berdiri bercerita kepada para sahabatnya, lalu ia berkata: Wahai Abu Abdurrahman, apakah jalan yang lurus itu? Ia menjawab: Muhammad shallallahu alaihi wasallam meninggalkan kami di ujungnya yang paling dekat sedangkan ujungnya yang lain berada di surga, di sebelah kanannya ada jalan-jalan, dan di sebelah kirinya ada jalan-jalan, dan di atasnya ada orang-orang yang menyeru siapa saja yang melewati mereka: Marilah ke sini, marilah ke sini. Barangsiapa yang mengambil jalan-jalan itu, maka ia akan berakhir di neraka, dan barangsiapa yang tetap istiqamah pada jalan yang paling besar, maka ia akan berakhir di surga. Kemudian Ibnu Mas’ud membaca ayat ini: “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus.” (QS. Al-An’am: 153) seluruh ayat.

78 – Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah, dari Mujalid bin Sa’id, dari Amir asy-Sya’bi, dari Masruq, ia berkata: Abdullah berkata: “Tidak ada satu tahun pun melainkan tahun setelahnya lebih buruk darinya, aku tidak mengatakan: tahun yang hujannya lebih banyak dari tahun lain, atau tahun yang lebih subur dari tahun lain, atau pemimpin yang lebih baik dari pemimpin lain, tetapi lenyapnya para ulama dan orang-orang baik kalian, kemudian muncul suatu kaum yang mengukur perkara-perkara dengan pendapat mereka; maka Islam akan hancur dan rusak.”

79 – Telah menceritakan kepada kami Asad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu al-Walid bin Muslim, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Ibnu Jabir, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Busr bin Ubaidillah al-Hadhrami, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Idris al-Khaulani bahwa ia mendengar Hudzaifah bin al-Yaman berkata: Wahai Rasulullah, apakah setelah kebaikan ini akan ada kejahatan? Ia menjawab: “Ya, suatu kaum yang menjalankan sunnah yang bukan sunnahku, dan mereka mengambil petunjuk yang bukan petunjukku.” Ia berkata: Maka aku bertanya: Apakah setelah kebaikan itu ada kejahatan? Ia menjawab: “Ya, para penyeru di pintu-pintu neraka Jahannam, barangsiapa yang memenuhi seruan mereka, maka mereka akan melemparkannya ke dalamnya.” Aku bertanya: Wahai Rasulullah, jelaskan kepada kami sifat mereka, ia menjawab: “Mereka dari kulit kami, dan berbicara dengan bahasa kami.” Aku bertanya: Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku mendapati hal itu? Ia menjawab: “Berpeganglah pada jamaah kaum muslimin dan imam mereka.” Aku bertanya: Bagaimana jika mereka tidak memiliki imam dan jamaah? Ia menjawab: “Maka jauhilah semua kelompok itu, meskipun engkau harus menggigit akar pohon sampai kematian menjemputmu dalam keadaan demikian.”

80 – Telah menceritakan kepada kami Asad, dari Muhammad bin Thalhah, dari Zubaid al-Ayyami, dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: “Bagaimana keadaan kalian jika kalian diselimuti fitnah yang di dalamnya orang tua menjadi pikun, dan anak kecil tumbuh di dalamnya, yang berjalan di tengah manusia dan kalian menjadikannya sebagai sunnah, jika ia diubah, dikatakan: Ini adalah kemungkaran?”

Bab tentang Menciptakan Bid’ah

81 – Telah menceritakan kepada kami Asad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muslim ath-Thaifi, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Ibnu Abi Najih, ia berkata: Telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang membuat suatu perkara baru (dalam agama), atau melindungi orang yang membuat perkara baru, maka atasnya laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia.” Maka Abdurrahman bin Auf berkata: Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan perkara baru di dalamnya? Ia menjawab: “Membunuh tanpa alasan yang benar, atau membuat sunnah yang buruk yang tidak pernah ada.”

82 – Telah menceritakan kepada kami Asad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami al-Mubarak bin Fadhalah, dari Hasan: “Bahwa seorang laki-laki datang kepada Abu Musa al-Asy’ari, sedangkan Ibnu Mas’ud bersamanya, lalu ia berkata: Bagaimana pendapatmu tentang seorang laki-laki yang keluar dengan pedangnya karena marah untuk Allah Ta’ala, lalu ia berperang sampai terbunuh, di manakah ia? Abu Musa berkata: Di surga. Lalu Ibnu Mas’ud berkata: ‘Sesungguhnya mufti itu adalah seperti temanmu, apakah berdasarkan sunnah yang telah ditetapkan ataukah berdasarkan bid’ah?'” Hasan berkata: Ternyata orang-orang itu telah mengayunkan pedang mereka berdasarkan bid’ah.

83 – Telah menceritakan kepada kami Asad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami al-Mubarak bin Fadhalah, dari Yunus bin Ubaid, dari Ibnu Sirin, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Abu Ubaidah bin Hudzaifah, ia berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Hudzaifah bin al-Yaman, sedangkan Abu Musa al-Asy’ari sedang duduk, lalu ia berkata: Bagaimana pendapatmu tentang seorang laki-laki yang mengayunkan pedangnya karena marah untuk Allah sampai terbunuh, apakah ia di surga atau di neraka? Maka Abu Musa berkata: Di surga. Hudzaifah berkata: Tanyakan kembali kepada orang itu dan fahamilah apa yang kamu katakan. Abu Musa berkata: Subhanallah, bagaimana aku berkata? Ia berkata: Aku berkata: seorang laki-laki yang mengayunkan pedangnya karena marah untuk Allah sampai terbunuh, apakah ia di surga atau di neraka? Maka Abu Musa berkata: Di surga. Hudzaifah berkata: Tanyakan kembali kepada orang itu dan fahamilah apa yang kamu katakan, hingga ia melakukan itu tiga kali. Ketika yang ketiga kalinya, ia berkata: Demi Allah, aku tidak akan menanyakannya lagi. Maka Hudzaifah memanggilnya dan berkata: “Tunggulah, jika temanmu mengayunkan pedangnya sampai putus dan ia memperoleh kebenaran sampai ia terbunuh karenanya, maka ia di surga, dan jika ia tidak memperoleh kebenaran dan Allah tidak memberinya taufik kepada kebenaran, maka ia di neraka. Kemudian ia berkata: Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh akan masuk neraka dalam perkara seperti yang kamu tanyakan itu lebih banyak dari sekian dan sekian.”

84 – Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah, dari sebagian gurunya, ia berkata: Hudzaifah berkata: “Yang paling aku khawatirkan terhadap manusia adalah dua perkara: bahwa mereka mendahulukan apa yang mereka lihat atas apa yang mereka ketahui, dan bahwa mereka sesat sementara mereka tidak menyadarinya.” Sufyan berkata: Dialah pelaku bid’ah.

85 – Telah menceritakan kepada kami Asad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Khalid, dari Abu Abdus Salam, ia berkata: Aku mendengar Bakr bin Abdullah al-Muzani, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Syafaatku halal bagi umatku, kecuali pelaku bid’ah.”

86 – Telah menceritakan kepada kami Asad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Fudhail, dari Abu Bakr bin Ayyasy, ia berkata: “Dahulu di antara kami ada seorang pemuda yang berperang dan minum khamr,” dan ia menyebutkan beberapa hal dari kefasikan, “kemudian ia belajar membaca Al-Quran lalu masuk ke dalam Syiah, maka aku mendengar Habib bin Abi Tsabit berkata: ‘Sungguh engkau pada hari ketika engkau berperang dan melakukan apa yang engkau lakukan lebih baik daripada engkau hari ini.'”

Bab tentang Perubahan Bid’ah

87 – Telah menceritakan kepada kami Asad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ayyasy, dari Aqil bin Mudarrak as-Sulami, dari Luqman, dari Abu Idris al-Khaulani bahwa ia berkata: “Sungguh aku mendengar di salah satu sudut masjid ada api yang menyala lebih aku sukai daripada aku mendengar di dalamnya ada bid’ah yang tidak ada yang mengubahnya, dan tidaklah suatu umat membuat bid’ah dalam agama mereka melainkan Allah mengangkat dari mereka suatu sunnah karenanya.”

88 – Telah menceritakan kepada kami Asad, dari Abdullah bin Wahb, dari Mu’awiyah bin Shalih, dari Abu al-A’yaisar, dari Abu Idris al-Khaulani bahwa ia berkata: “Sungguh aku melihat di masjid ada api yang tidak dapat kupadamkan lebih aku sukai daripada aku melihat di dalamnya ada bid’ah yang tidak dapat kuubah.”

89 – Telah menceritakan kepada kami Asad, dari Abdullah bin Khalid, dari Hudzaifah, dari Musa bin Abi Habib, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku al-Hakam bin Amr ats-Tsumali dan ia termasuk sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, ia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Perkara yang memutuskan, beban yang terungkap, dan kejahatan yang tidak terputus: menampakkan bid’ah.”

90 – Telah menceritakan kepadaku Abu Ayyub, dari Sahnun, dari Ibnu Wahb, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku orang yang mendengar al-Auza’i menceritakan dari Hassan bin Athiyyah, ia berkata: “Tidaklah suatu kaum membuat bid’ah dalam agama mereka melainkan Allah mencabut dari mereka sunnah yang sebanding dengannya, kemudian Dia tidak mengembalikannya kepada mereka sampai hari kiamat.”

91 – Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, ia berkata: Dan telah mengabarkan kepadaku orang yang mendengar al-Auza’i menceritakan dari Yahya bin Abi Amr as-Saibani, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin ad-Dailami, ia berkata: “Tidaklah dibuat suatu bid’ah melainkan ia semakin berkembang, dan tidaklah ditinggalkan suatu sunnah melainkan ia semakin menjauh.”

92 – Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, dan telah mengabarkan kepadaku Salamah bin Ali, dari Sa’id bin al-Musayyab, dari Qatadah, dari Khilas bin Amr, ia meriwayatkan secara marfu’, ia berkata: “Tidaklah seseorang membuat bid’ah dalam Islam melainkan ditinggalkan dari sunnah yang lebih baik darinya.”

93 – Ibnu Wahb berkata: Telah menulis kepadaku Katsir bin Abdullah al-Muzani, ia menceritakan dari ayahnya, dari kakeknya bahwa ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menghidupkan sunnah dari sunnahku yang telah dimatikan setelahku, maka baginya pahala seperti orang yang mengamalkannya di antara manusia, hal itu tidak mengurangi sedikitpun dari pahala mereka, dan barangsiapa yang membuat bid’ah yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka atasnya dosa seperti orang yang mengamalkannya, hal itu tidak mengurangi sedikitpun dari dosa-dosa manusia.”

94 – Ibnu Wahb berkata, dan telah mengabarkan kepadaku orang yang mendengar al-Auza’i berkata: Telah menceritakan kepadaku Abdah bin Abi Lubabah, dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Barangsiapa yang membuat suatu pendapat yang tidak ada dalam Kitabullah dan tidak dilakukan oleh sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka ia tidak tahu apa keadaannya ketika bertemu dengan Allah.”

95 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Sa’id, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Asad bin Musa, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdul Mu’min bin Abdullah, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Mahdi, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Tidaklah suatu tahun datang kepada manusia melainkan mereka membuat bid’ah di dalamnya dan mematikan sunnah di dalamnya, sampai bid’ah-bid’ah hidup dan sunnah-sunnah mati.”

96 – Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’id, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdi, dan Abu Dawud, dan Abdush Shamad, dari Abdul Mu’min Abu Ubaidah, dari Mahdi, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Tidak ada satu tahun pun melainkan manusia menghidupkan bid’ah di dalamnya, dan mematikan sunnah di dalamnya, sampai bid’ah-bid’ah hidup dan sunnah-sunnah mati.”

97 – Telah menceritakan kepadaku Ibrahim, dari Muhammad, dari Aun, dari Ismail bin Nafi’ al-Qurasyyi, dari Abdullah bin al-Mubarak, ia berkata: “Ketahuilah bahwa aku melihat bahwa kematian hari ini adalah kemuliaan bagi setiap muslim yang bertemu Allah dengan berada di atas sunnah, maka sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan kepada-Nya kami kembali, maka kepada Allah kami mengadukan kesepian kami, hilangnya saudara-saudara, sedikitnya penolong, dan munculnya bid’ah-bid’ah, dan kepada Allah kami mengadukan besarnya musibah yang menimpa umat ini berupa hilangnya para ulama dan ahli sunnah, serta munculnya bid’ah-bid’ah.”

98 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’id, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Nu’aim, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Jarir bin Abdul Hamid, dari Yazid bin Abi Ziyad, dari Ibrahim, dari Alqamah, dari Abdullah, ia berkata: “Jika dunia dicari dengan amal akhirat, dan berfiqih bukan untuk agama, maka bid’ah-bid’ah akan muncul.”

99 – Telah menceritakan kepadaku Aban bin Isa, dari ayahnya, dari Ibnu al-Qasim, dari Malik bahwa ia berkata: “At-tatswib (azan kedua sebelum subuh) adalah bid’ah, dan aku tidak melihatnya (tidak membolehkannya).” Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Muadzin melakukan tatswib di Madinah pada masa Malik, maka Malik mengutus seseorang kepadanya, lalu ia datang kepadanya, maka Malik berkata kepadanya: Apa yang kamu lakukan ini? Ia berkata: Aku ingin agar manusia mengetahui terbitnya fajar sehingga mereka bangun. Maka Malik berkata kepadanya: Jangan lakukan, jangan membuat perkara baru di negeri kami yang tidak pernah ada di dalamnya. Sungguh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berada di negeri ini sepuluh tahun, dan Abu Bakar, dan Umar, dan Utsman, namun mereka tidak melakukan ini, maka jangan membuat perkara baru di negeri kami yang tidak pernah ada di dalamnya. Maka muadzin itu berhenti dari hal itu dan tinggal beberapa waktu, kemudian ia berdehem di menara ketika terbit fajar, maka Malik mengutus seseorang kepadanya, lalu ia berkata kepadanya: Apa yang kamu lakukan ini? Ia berkata: Aku ingin agar manusia mengetahui terbitnya fajar. Maka Malik berkata kepadanya: Bukankah aku telah melarangmu untuk tidak membuat perkara baru di tempat kami yang tidak pernah ada? Ia berkata: Sesungguhnya engkau melarangku dari tatswib. Maka Malik berkata kepadanya: Jangan lakukan, jangan membuat perkara baru di negeri kami yang tidak pernah ada di dalamnya. Maka ia berhenti juga beberapa waktu, kemudian ia mulai mengetuk pintu-pintu, maka Malik mengutus seseorang kepadanya lalu berkata kepadanya: Apa yang kamu lakukan ini? Ia berkata: Aku ingin agar manusia mengetahui terbitnya fajar. Maka Malik berkata kepadanya: Jangan lakukan, jangan membuat perkara baru di negeri kami yang tidak pernah ada di dalamnya. Ibnu Waddhah berkata: Dan Malik membenci tatswib. Ibnu Waddhah berkata: Dan sesungguhnya hal ini diciptakan di Irak. Aku bertanya kepada Ibnu Waddhah: Siapakah yang pertama kali menciptakannya? Maka ia berkata: Aku tidak tahu. Kami berkata kepadanya: Apakah hal itu diamalkan di Mekah atau di Madinah atau di Mesir atau negeri-negeri lainnya? Maka ia berkata: Aku tidak mendengarnya kecuali di kalangan sebagian orang Kufah dan Ibadhiyah, dan sebagian dari mereka melakukan tatswib pada waktu maghrib, ia mengumandangkan azan ketika matahari terbenam, kemudian mengakhirkan salat sampai bintang-bintang muncul kemudian melakukan tatswib, dan sebagian dari mereka mengumandangkan azan ketika kemerahan hilang dan mengakhirkan salat sampai putih hilang kemudian salat, dan sebagian dari mereka mengumandangkan azan ketika matahari tergelincir dan mengakhirkan salat kemudian melakukan tatswib dan salat, dan Waki’ adalah orang yang melakukan hal itu pada waktu salat isya.

Apa yang Datang dalam Mengikuti Atsar (Jejak-Jejak)

100 – Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Muhammad, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Harmalah bin Yahya, dari Abdullah bin Wahb, dari Jarir bin Hazim, dari al-A’masy, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Marwan bin Suwaid al-Asadi, dia berkata: “Aku keluar bersama Amirul Mukminin Umar bin Khaththab dari Mekah menuju Madinah. Ketika pagi tiba, dia memimpin kami shalat subuh, kemudian dia melihat orang-orang pergi ke suatu tempat, maka dia berkata: Kemana orang-orang ini pergi? Dikatakan: Wahai Amirul Mukminin, sebuah masjid tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat, mereka mendatanginya untuk shalat di sana. Maka dia berkata: Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena hal seperti ini, mereka mengikuti jejak-jejak nabi-nabi mereka lalu menjadikannya gereja-gereja dan biara-biara. Barangsiapa mendapati waktu shalat di masjid-masjid ini, maka shalatlah, dan barangsiapa tidak, maka berjalanlah, dan jangan sengaja mendatanginya.

101 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Musa bin Mu’awiyah, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Jarir, dari al-A’masy, dari al-Ma’rur bin Suwaid, dia berkata: “Kami keluar sebagai jamaah haji bersama Umar bin Khaththab, lalu di sebagian jalan kami menemui sebuah masjid, maka orang-orang berebutan untuk shalat di dalamnya. Umar berkata: Apa urusan mereka? Mereka menjawab: Ini adalah masjid tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat. Maka Umar berkata: Wahai manusia, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena mengikuti hal-hal seperti ini, hingga mereka menjadikannya gereja-gereja. Barangsiapa mendapati waktu shalat di dalamnya, maka shalatlah, dan barangsiapa tidak mendapati waktu shalat di dalamnya, maka berjalanlah.

102 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, dia berkata: aku mendengar Isa bin Yunus, mufti penduduk Tharsus berkata: Umar bin Khaththab memerintahkan untuk menebang pohon yang di bawahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dibai’at, maka dia menebangnya karena orang-orang pergi dan shalat di bawahnya, dia khawatir fitnah menimpa mereka. Isa bin Yunus berkata: Ini menurut kami dari hadits Ibnu ‘Aun, dari Nafi’, bahwa orang-orang mendatangi pohon itu, maka Umar menebangnya. Ibnu Waddhah berkata: Malik bin Anas dan ulama Madinah lainnya membenci mendatangi masjid-masjid itu dan jejak-jejak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu, kecuali Quba saja. Ibnu Waddhah berkata: Dan aku mendengar mereka menceritakan bahwa Sufyan ats-Tsauri masuk ke masjid Baitul Maqdis lalu shalat di dalamnya dan tidak mengikuti jejak-jejak itu dan tidak shalat di tempat-tempat itu, demikian juga yang dilakukan oleh selain dia dari orang-orang yang dijadikan teladan. Waki’ juga datang ke masjid Baitul Maqdis dan tidak mengikuti perbuatan Sufyan. Ibnu Waddhah berkata: Maka hendaklah kalian mengikuti imam-imam petunjuk yang dikenal, karena sebagian orang yang telah berlalu berkata: Betapa banyak perkara yang hari ini dikenal di kalangan banyak orang, dahulu adalah sesuatu yang mungkar bagi orang-orang yang telah berlalu, dan mencintai Allah dengan apa yang membuat-Nya membenci, dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan apa yang menjauhkan diri dari-Nya, dan setiap bid’ah memiliki perhiasan dan kemegahan.

103 – Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Amr, dari Mush’ab, dia berkata: Sufyan ditanya tentang seorang laki-laki yang banyak membaca Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa (QS. al-Ikhlas:1), dia tidak membaca selainnya sebagaimana dia membacanya, maka dia memakruhkannya, dan berkata: Sesungguhnya kalian adalah pengikut, maka ikutilah orang-orang terdahulu, dan tidak sampai kepada kami dari mereka seperti ini, sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan untuk dibaca dan tidak dikhususkan sesuatu tanpa sesuatu yang lain.

104 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Sahnun dan Harits, dari Ibnul Qasim, dari Malik bahwa dia ditanya tentang membaca Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa berulang kali dalam satu rakaat, maka dia memakruhkan itu, dan berkata: Ini termasuk perkara-perkara baru yang mereka ada-adakan.

105 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Mushaffa, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Suwaid bin Abdul Aziz, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Sayyar Abu al-Hakam, dari asy-Sya’bi, bahwa Umar bin Khaththab memukul orang-orang Rajabiyyin, yaitu mereka yang berpuasa Rajab seluruhnya. Aku berkata kepada Muhammad bin Waddhah: Untuk apa Umar memukul orang-orang Rajabiyyin? Dia berkata: Ini hanyalah berita yang datang seperti ini, aku tidak tahu apakah shahih atau tidak? Maknanya adalah kekhawatiran agar mereka tidak menjadikannya sunnah seperti Ramadhan.

106 – Telah menceritakan kepadaku Malik, dari Ali, dari Sa’id, dari Asyhab, dia berkata: “Aku bertanya kepada Malik tentang hadits yang datang bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq ketika berita Yamamah datang kepadanya, dia bersujud. Dia berkata kepadaku: Tidakkah cukup bagimu bahwa telah dibukakan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemenangan-kemenangan namun dia tidak bersujud, dan dibukakan untuk Abu Bakar selain di Yamamah namun dia tidak bersujud, dan dibukakan untuk Umar bin Khaththab namun dia tidak bersujud. Dia berkata: Maka aku berkata kepadanya: Wahai Abu Abdillah, sesungguhnya aku hanya ingin mengetahui pendapatmu lalu menolak itu. Dia berkata: Cukup bagimu ketika sampai kepadamu seperti ini dan tidak datang itu dari mereka secara bersambung, maka tolaklah dengan itu.” Ini adalah ijma’. Dan Malik membenci setiap bid’ah, walaupun dalam kebaikan. Sungguh Malik membenci datang ke Baitul Maqdis karena khawatir itu dijadikan sunnah, dan dia membenci mendatangi kuburan para syuhada, dan dia membenci mendatangi Quba karena khawatir dari itu, padahal telah datang atsar-atsar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan anjuran untuk itu, tetapi ketika para ulama mengkhawatirkan akibat dari itu, mereka meninggalkannya.

107 – Ibnu Kinanah dan Asyhab berkata: Kami mendengar Malik berkata: Ketika Sa’d bin Abi Waqqash mendatanginya, dia berkata: Aku berharap kakiku patah, dan aku tidak melakukannya. Dikatakan: Dan Ibnu Kinanah ditanya tentang jejak-jejak yang ada di Madinah, maka dia berkata: Yang paling tsabit menurut kami dalam hal itu adalah Quba, kecuali bahwa Malik membenci mendatanginya karena khawatir dijadikan sunnah. Sa’id bin Hassan berkata: “Aku membacakan kepada Ibnu Nafi’ kitab-kitabnya, ketika aku melewati hadits kelapangan pada malam Asyura, dia berkata kepadaku: Coretlah itu. Aku berkata: Mengapa demikian wahai Abu Muhammad? Dia berkata: Karena khawatir dijadikan sunnah.” Yahya bin Yahya berkata: Sungguh aku berada di Madinah pada masa Malik dan sezamannya, dan di Mesir pada masa al-Laits, Ibnul Qasim, dan Ibnu Wahb, dan malam itu aku mengalaminya bersama mereka, namun aku tidak mendengar seorang pun dari mereka menyebutnya, seandainya tsabit menurut mereka, niscaya mereka melaksanakan darinya apa yang mereka laksanakan dari hal lain yang tsabit menurut mereka.

Apa yang Datang tentang Malam Pertengahan Sya’ban

108 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Harun bin Sa’id, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, dia berkata: Aku tidak mendapati seorang pun dari para syaikh kami dan para fuqaha kami yang memperhatikan malam pertengahan Sya’ban, dan kami tidak mendapati seorang pun dari mereka menyebutkan hadits Makhul, dan tidak melihat keutamaan untuknya atas malam-malam lainnya. Ibnu Abi Zaid berkata: Para fuqaha tidak pernah melakukan itu.

109 – Telah menceritakan kepada kami Ibnu Waddhah, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Maryam, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammad, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, dari Ma’mar, dari Ibnu Abi Mulaikah, dia berkata: Dikatakan kepadanya: Sesungguhnya Ziyad an-Numairi berkata: Sesungguhnya malam pertengahan Sya’ban pahalanya seperti pahala Lailatul Qadr, maka Ibnu Abi Mulaikah berkata: Seandainya aku mendengarnya darinya dan di tanganku ada tongkat, niscaya aku memukulnya dengannya. Dan Ziyad adalah seorang qadhi.

Dibencinya Berkumpulnya Orang-Orang pada Sore Hari Arafah

110 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Zaid bin al-Basyr, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, dari al-Laits, dari Abu Hafs al-Madani, dia berkata: “Orang-orang berkumpul pada hari Arafah di masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa setelah Ashar, maka Nafi’ budak Ibnu Umar keluar dari rumah keluarga Umar lalu berkata: Wahai manusia, apa yang kalian lakukan ini adalah bid’ah dan bukan sunnah, kami mendapati orang-orang dan mereka tidak melakukan seperti ini. Kemudian dia kembali dan tidak duduk, kemudian dia keluar kedua kalinya lalu melakukan seperti itu, kemudian dia kembali.”

111 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Qudamah, dia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Anshari Muhammad bin Abdullah, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu ‘Aun, dia berkata: “Aku menyaksikan Ibrahim an-Nakha’i ditanya tentang berkumpulnya orang-orang pada sore hari Arafah, maka dia memakruhkannya dan berkata: Perkara baru.

112 – Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Ibnu Numair, dari Ibnu Mahdi, dari Sufyan, dari al-A’masy, dari Abu Wa’il: Bahwa dia tidak mendatangi masjid pada sore hari Arafah.

113 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Musa bin Ubaidillah, dari Sufyan, dia berkata: Tidak ada Arafah kecuali di Mekah, tidak ada Arafah di negeri-negeri ini.

114 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, dia berkata: telah menceritakan kepada kami lebih dari satu orang di antara mereka: Zaid, dari Sufyan, dari Musa bin Abi Isa, bahwa Nafi’ memakruhkan shalat subuh bersama imam ketika dia membaca seperti firman-Nya: Akulah tuhanmu yang paling tinggi (QS. an-Nazi’at:24), dan seperti firman-Nya: Aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku (QS. al-Qashash:38). Sufyan berkata: Sesungguhnya dia mendengarkan.

Larangan Duduk Bersama Ahli Bid’ah, Bergaul Dengannya, dan Berjalan Bersamanya

115 – Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’id, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Asad bin Musa, dia berkata: telah menceritakan kepada kami sebagian sahabat kami, dari Musa bin A’yan, dari Laits bin Abi Sulaim, dari al-Hasan, dia berkata: Jangan duduk bersama pelaku bid’ah, karena dia akan membuat hatimu sakit.

116 – Telah menceritakan kepada kami Asad, dia berkata sebagian sahabat kami: dari Abdul Malik bin Abi Karimah, dari Sufyan ats-Tsauri, dia berkata: “Barangsiapa duduk bersama pelaku bid’ah, tidak selamat dari salah satu dari tiga: Baik dia menjadi fitnah bagi yang lain, atau jatuh dalam hatinya sesuatu lalu dia tergelincir dengannya maka Allah memasukkannya ke neraka, atau dia berkata: Demi Allah, aku tidak peduli apa yang mereka bicarakan, dan aku yakin dengan diriku. Maka barangsiapa yang mengamankan Allah atas agamanya sekejap mata, Allah mencabutnya darinya.”

117 – Telah menceritakan kepada kami Asad, dari Ayyub an-Najjar al-Yamami, dia berkata: Nasyir bin Hanifah al-Hanafi mengangkatnya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam apa yang dia perkirakan, dia berkata: Barangsiapa mendatangi pelaku bid’ah untuk menghormatinya, maka sungguh dia telah membantu meruntuhkan Islam. Dan aku menemukan hadits ini pada orang yang mendengarnya dari Ayyub tertulis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak ada di dalamnya: yang dia perkirakan.

118 – Telah menceritakan kepada kami Asad, dari Katsir Abu Sa’id, dia berkata: Barangsiapa duduk kepada pelaku bid’ah, dicabut darinya perlindungan, dan diserahkan kepada dirinya.

119 – Telah menceritakan kepada kami Asad, dari Abdullah bin Khalid, dari al-Fadhl bin Hisyam, dari Urwah, dari ayahnya, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa menghormati pelaku bid’ah, maka sungguh dia telah membantu meruntuhkan Islam.

120 – Telah menceritakan kepada kami Asad, dia berkata: telah menceritakan kepada kami sebagian sahabat kami, dari al-Auza’i, dari Yahya bin Abi Katsir, dia berkata: Jika kamu bertemu pelaku bid’ah di jalan, maka ambillah jalan lain.

121 – Telah menceritakan kepada kami Asad, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid, dari Ayyub, dia berkata: Abu Qilabah berkata: Jangan kalian duduk bersama ahli hawa nafsu, dan jangan kalian berdebat dengan mereka, karena aku tidak aman agar mereka mencelupkan kalian dalam kesesatan mereka, atau mengaburkan kepada kalian apa yang kalian kenal. Ayyub berkata: Dia adalah – demi Allah – termasuk fuqaha yang berakal.

122 – Telah menceritakan kepada kami Asad, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Syihab bin Kharrasy al-Hausyabi, dari al-‘Awwam bin Hausyab bahwa dia biasa berkata kepada anaknya: Wahai Isa, perbaikilah hatimu untuk Allah, dan sedikitlah hartamu.

123 – Dan dia biasa berkata: “Demi Allah, sungguh aku melihat Isa duduk bersama orang-orang yang bermain alat musik, minuman keras, dan kebatilan, lebih aku sukai daripada aku melihatnya duduk bersama orang-orang yang berdebat, maksudnya: ahli bid’ah.”

124 – Telah menceritakan kepada kami Asad, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Zaid, dari Muhammad bin Thalhah, dia berkata: Ibrahim berkata: Jangan kalian duduk bersama pelaku bid’ah dan jangan kalian bicara dengan mereka, karena aku khawatir hati kalian berpaling.

125 – Telah menceritakan kepada kami Asad, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Zaid, dari Muhammad bin Muslim, dia berkata: Allah Ta’ala mewahyukan kepada Musa bin Imran: Jangan duduk bersama ahli hawa nafsu, agar kamu mendengar dari mereka satu kalimat lalu membuatmu berpaling, lalu menyesatkanmu, lalu memasukkanmu ke neraka.

126 – Telah menceritakan kepada kami Asad, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Muhammad, dari Shafwan bin Sulaim, dari Sa’id bin Yasar, dari Abu Hurairah, dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Seseorang berada di atas agama teman karibnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang dia jadikan teman karib.

127 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman bin Ziyad menceritakan kepada kami, dari Abu Ghassan Muhammad bin Mutharrif, dari Muhammad bin Ajlan, ia berkata: Ibnu Mas’ud berkata: “Barangsiapa ingin memuliakan agamanya, hendaknya ia menjauhi pergaulan dengan penguasa dan majlis orang-orang ahli hawa nafsu; karena duduk bersama mereka lebih melekat daripada penyakit kudis.”

128 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman bin Ziyad menceritakan kepada kami, dari Ismail bin Ayyasy, dari Abu Salamah Sulaiman bin Sulaim al-Himshi, dari Hasan al-Bashri, ia berkata: “Jangan duduk bersama orang yang mengikuti hawa nafsu; karena ia akan melemparkan ke dalam hatimu sesuatu yang membuatmu mengikutinya lalu kamu binasa, atau kamu menentangnya lalu hatimu menjadi sakit.”

129 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Muammal bin Ismail menceritakan kepada kami, ia berkata: Hasan bin Wahb menceritakan kepada kami, ia berkata: Humaid al-A’raj menceritakan kepada kami, ia berkata: “Ghailan datang ke Mekah lalu tinggal di sana. Kemudian Ghailan mendatangi Mujahid dan berkata: Wahai Abu al-Hajjaj, telah sampai kepadaku bahwa engkau melarang orang-orang dariku dan menyebutku. Apakah sampai kepadamu sesuatu dariku yang tidak aku katakan? Sesungguhnya aku hanya mengatakan begini, aku hanya mengatakan begini. Lalu ia mengatakan sesuatu yang tidak dapat diingkari. Ketika ia berdiri, Mujahid berkata: Jangan kalian duduk bersamanya; karena ia seorang Qodariyah. Humaid berkata: Suatu hari ketika aku sedang thawaf, Ghailan menyusulku dari belakang lalu menarik selendangku. Aku menoleh, ia berkata: Bagaimana Mujahid membaca huruf begini dan begini? Maka aku memberitahunya, lalu ia berjalan bersamaku. Mujahid melihatku bersamanya, maka aku mendatanginya dan aku berbicara kepadanya namun ia tidak menjawabku, aku bertanya kepadanya namun ia tidak menjawabku. Keesokan harinya aku datang kepadanya dan kudapati ia dalam keadaan seperti itu. Maka aku berkata: Wahai Abu al-Hajjaj, apa yang terjadi denganmu? Apakah sampai kepadamu sesuatu dariku? Apakah aku melakukan suatu perkara? Ada apa denganku? Ia berkata: Bukankah aku melihatmu bersama Ghailan padahal aku telah melarang kalian berbicara dengannya atau duduk bersamanya. Aku berkata: Demi Allah wahai Abu al-Hajjaj, aku tidak ingat perkataanmu, dan bukan aku yang memulainya, dialah yang memulai. Ia berkata: Demi Allah wahai Humaid, seandainya engkau tidak jujur di sisiku, aku tidak akan melihatmu dengan wajah berseri selama aku hidup.”

130 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Muammal bin Ismail menceritakan kepada kami, ia berkata: Seorang sahabat kami memberitahuku, dari Ayyub, ia berkata: “Suatu hari aku berada di sisi Muhammad bin Sirin tiba-tiba datang Amr bin Ubaid lalu masuk. Ketika ia duduk, Muhammad meletakkan tangannya di perutnya, kemudian ia berkata dan berdiri. Maka aku berkata kepada Amr: Mari kita pergi. Lalu kami keluar. Ketika Amr pergi, aku kembali dan berkata: Wahai Abu Bakar, sungguh aku memahami apa yang engkau lakukan. Ia berkata: Apa yang kamu pahami? Aku berkata: Ya. Ia berkata: Ketahuilah, sesungguhnya tidak akan menaungi aku dan dia dalam satu atap rumah.”

131 – Ismail bin Sa’d al-Bashri menceritakan kepada kami, dari seorang laki-laki yang memberitahunya, ia berkata: “Aku berjalan bersama Amr bin Ubaid, lalu Ibnu Aun melihatku kemudian berpaling dariku selama dua bulan.”

132 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Muammal menceritakan kepada kami, dari seorang laki-laki yang memberitahunya, ia berkata: “Amr bin Ubaid masuk menemui Ibnu Aun, maka Ibnu Aun diam ketika melihatnya, dan Amr pun diam kepadanya sehingga tidak bertanya sesuatu kepadanya. Ia diam sejenak kemudian berdiri dan keluar. Maka Ibnu Aun berkata: Dengan apa ia menghalalkan dirinya masuk rumahku tanpa izinku, ia mengulangi berkali-kali. Ketahuilah seandainya ia berbicara, ketahuilah seandainya ia berbicara.”

133 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Muammal bin Ismail menceritakan kepada kami, ia berkata: Sebagian sahabat kami berkata kepada Hammad bin Zaid: “Mengapa engkau tidak meriwayatkan dari Abdul Karim kecuali satu hadits saja? Ia berkata: Aku tidak mendatanginya kecuali satu kali saja untuk mendengar hadits ini, dan aku tidak suka bertobat, dengan pengetahuan tentang kedatanganku kepadanya, dan bahwa aku memiliki ini dan ini. Sungguh aku menyangka seandainya ia tahu, itu akan menjadi pemisah antara aku dan dia.”

134 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Fudhail bin Azwan menceritakan kepada kami, dari al-Mughirah, dari Ibrahim, ia berkata: Ibrahim berkata kepada Muhammad bin as-Saib: “Jangan mendekati kami selama engkau masih dalam pendapatmu ini.” Dan ia adalah seorang Murji’ah.

135 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Muammal menceritakan kepada kami, dari Hammad bin Zaid, dari Ayyub, ia berkata: “Sa’id bin Jubair menemuiku lalu berkata: Bukankah aku melihatmu bersama Thalq? Aku berkata: Benar, memangnya kenapa dengan dia? Ia berkata: Jangan duduk bersamanya; karena ia seorang Murji’ah. Ayyub berkata: Aku tidak meminta nasihatnya dalam hal itu, tetapi memang sudah sepatutnya bagi seorang Muslim jika ia melihat dari saudaranya sesuatu yang tidak disukainya untuk menasihatinya.”

136 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ismail bin Maslamah menceritakan kepada kami, dari Hammad bin Zaid, dari Yahya bin Ubaid, ia berkata: Seorang laki-laki dari kalangan Mu’tazilah menemuiku lalu ia berdiri, maka aku pun berdiri, lalu aku berkata: “Entah engkau pergi, atau aku yang pergi; karena jika aku berjalan bersama seorang Nasrani lebih aku sukai daripada berjalan bersamamu.”

137 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Baqiyyah bin Walid menceritakan kepada kami, dari Shafwan bin Amr, dari Abu ad-Darda: “Bahwa ia menulis kepada Salman mengajaknya ke tanah suci. Maka Salman menulis kepadanya: Wahai saudaraku, jika jauh jarak rumah dari rumah, maka ruh dari ruh adalah dekat, dan sesungguhnya burung-burung di langit hinggap pada sejenisnya di bumi.” Dalam riwayat lain: bahwa Salman berkata kepadanya: “Sesungguhnya tanah tidak menyucikan seseorang, dan sesungguhnya yang menyucikan manusia adalah amalnya.”

138 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Wasi’, ia berkata: “Aku melihat Shafwan bin Muhriz dan dekat darinya ada Syabibah, maka ia melihat mereka berdebat, lalu aku melihatnya berdiri mengibaskan pakaiannya sambil berkata: Kalian hanyalah kudis, kalian hanyalah kudis.”

139 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Muammal bin Ismail menceritakan kepada kami, dari Hammad bin Zaid, dari Ayyub, ia berkata: “Suatu hari seorang laki-laki masuk menemui Muhammad bin Sirin lalu berkata: Wahai Abu Bakar, aku akan membacakan kepadamu satu ayat dari Kitab Allah, aku tidak akan menambah kecuali membacanya kemudian aku keluar. Maka ia memasukkan kedua jarinya ke dalam telinganya kemudian berkata: Aku memohon kepadamu jika engkau seorang Muslim agar keluar dari rumahku. Laki-laki itu berkata: Wahai Abu Bakar, sungguh aku tidak akan menambah kecuali membaca kemudian aku keluar. Ia berkata: Maka ia bangkit dengan kain sarungnya mengikatnya padanya, dan bersiap untuk berdiri. Maka kami menghadap kepada laki-laki itu dan berkata: Sungguh ia telah memohon kepadamu agar engkau keluar, apakah halal bagimu mengeluarkan seseorang dari rumahnya? Maka ia keluar. Kami berkata: Wahai Abu Bakar, apa salahnya jika ia membaca satu ayat kemudian keluar? Ia berkata: Demi Allah seandainya aku menyangka hatiku tetap teguh sebagaimana adanya, aku tidak peduli jika ia membaca, tetapi aku khawatir ia akan melemparkan ke dalam hatiku sesuatu yang aku berusaha keras mengeluarkannya dari hatiku namun aku tidak mampu.”

140 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Ishaq al-Hadzaa menceritakan kepada kami, dari al-Auza’i, ia berkata: “Jangan biarkan orang ahli bidah berdebat; karena ia akan mewariskan pada hati kalian dari fitnahnya suatu keraguan.”

Bab: Apakah Orang Ahli Bidah Memiliki Tobat

141 – Asad menceritakan kepada kami, Rudaih bin Athiyyah menceritakan kepada kami, dari Yahya, dari Abu Amr as-Saibani, ia berkata: Dahulu dikatakan: “Allah menolak tobat orang ahli bidah, dan tidaklah berpindah orang ahli bidah kecuali kepada yang lebih buruk darinya.”

142 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Khalid menceritakan kepada kami, dari Baqiyyah, ia berkata: Seorang laki-laki dari penduduk Kufah menceritakan kepadaku, dari Amr bin Qais, dari al-Ashbagh bin Nabatah, dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata: “Tidaklah ada seorang laki-laki yang berada dalam suatu pendapat bidah lalu meninggalkannya kecuali kepada yang lebih buruk darinya.”

143 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Dhamrah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Syaudzab, ia berkata: Aku mendengar Abdullah bin al-Qasim dan ia berkata: “Tidaklah ada seorang hamba yang berada dalam hawa nafsu lalu meninggalkannya kecuali kepada yang lebih buruk darinya. Ia berkata: Maka aku menyebutkan hadits ini kepada sebagian sahabat kami, lalu ia berkata: Pembenarnya adalah dalam hadits dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: Mereka keluar dari agama seperti lepasnya anak panah dari busurnya, kemudian mereka tidak kembali hingga anak panah kembali ke tempatnya.”

144 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Musa bin Ismail menceritakan kepada kami, dari Hammad bin Zaid, dari Ayyub, ia berkata: “Ada seorang laki-laki yang berpendapat suatu pendapat lalu ia kembali darinya. Maka aku mendatangi Muhammad dengan gembira tentang hal itu untuk memberitahunya. Aku berkata: Tahukah engkau bahwa fulan telah meninggalkan pendapatnya yang dahulu ia pegang? Ia berkata: Lihatlah kepada apa ia berpindah; karena akhir hadits lebih keras terhadap mereka daripada awalnya, mereka keluar dari Islam dan tidak kembali kepadanya.”

145 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Khalid menceritakan kepada kami, dari Baqiyyah, ia berkata: Muhammad menceritakan kepadaku, dari Hisyam, dari Hasan, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Allah menolak tobat orang ahli bidah.”

146 – Asad menceritakan kepada kami, Abdullah bin Khalid menceritakan kepada kami, dari Baqiyyah, ia berkata: Muhammad juga menceritakan kepadaku, dari Humaid ath-Thawil, dari Anas bin Malik, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah menghalangi tobat dari setiap orang ahli bidah.”

147 – Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Baqiyyah bin Walid menceritakan kepada kami, dari Shafwan bin Amr, dari Sulaim bin Amir al-Khabairi, dari seorang laki-laki dari sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, bahwa ia berkata: “Sesungguhnya manusia yang paling keras ibadahnya adalah orang yang terfitnah, maksudnya orang ahli bidah.”

Kisah Shubaigh al-Iraqi

148 – Ibrahim bin Muhammad menceritakan kepadaku, dari Sahnun, dari Ibnu Wahb, dari Laits bin Sa’d, dari Muhammad bin Ajlan, dari Nafi’: “Bahwa Shubaigh al-Iraqi bertanya tentang beberapa hal dari al-Quran di kalangan tentara kaum Muslimin hingga ia tiba di Mesir. Maka Amr bin al-Ash mengirimnya kepada Umar bin al-Khaththab. Ketika utusan datang kepadanya dengan surat lalu ia membacanya, ia berkata: Di mana laki-laki itu? Ia berkata: Di tempat kediaman. Umar berkata: Perhatikan jangan sampai ia pergi sehingga engkau mendapat hukuman yang menyakitkan dariku. Maka ia membawanya kepadanya. Umar berkata: Apakah engkau menanyakan hal yang baru? Maka Umar mengutus untuk mengambil pelepah korma yang basah lalu memukulnya dengannya hingga meninggalkan punggungnya seperti roti, kemudian membiarkannya hingga sembuh, kemudian mengulanginya lagi kemudian membiarkannya hingga sembuh lalu memanggilnya untuk mengulanginya lagi. Maka Shubaigh berkata kepadanya: Jika engkau ingin membunuhku maka bunuhlah aku dengan cara yang baik, dan jika engkau ingin mengobatiku maka demi Allah sungguh aku telah sembuh. Maka ia mengizinkannya ke negerinya, dan menulis kepada Abu Musa al-Asy’ari agar tidak ada seorang pun dari kaum Muslimin yang duduk bersamanya. Hal itu sangat berat bagi laki-laki itu. Maka Abu Musa menulis kepada Umar bin al-Khaththab bahwa sungguh keadaannya telah menjadi baik. Maka Umar menulis kepadanya agar mengizinkan orang-orang untuk duduk bersamanya.”

149 – Ibrahim bin Muhammad menceritakan kepadaku, dari Harmalah bin Yahya, ia berkata: Abdullah bin Wahb menceritakan kepada kami, ia berkata: Malik bin Anas menceritakan kepadaku, ia berkata: Shubaigh berkeliling membawa Kitab Allah bersamanya: Siapa yang ingin belajar fiqih dia akan mengajarinya fiqih, siapa yang ingin belajar Allah akan mengajarinya. Maka Umar menangkapnya lalu memukulnya dengan pelepah basah kemudian memenjarakannya hingga ketika yang ada padanya mengering ia mengeluarkannya lalu memukulnya. Maka ia berkata: Wahai Amirul Mukminin, jika engkau ingin membunuhku maka bunuhlah dengan cepat, jika tidak maka engkau telah menyembuhkanku semoga Allah menyembuhkanmu. Maka Umar bin al-Khaththab membebaskannya.”

150 – Abu Ayyub menceritakan kepadaku, dari Sahnun, dari Ibnu Wahb, dari Malik bin Anas, ia berkata: “Shubaigh berkeliling membawa Kitab Allah bersamanya dan berkata: Siapa yang ingin belajar fiqih kita ajari fiqih, siapa yang ingin belajar Allah akan mengajarinya. Maka Umar bin al-Khaththab menangkapnya lalu memukulnya dengan pelepah basah kemudian memenjarakannya, hingga mengering yang ada padanya ia mengeluarkannya lalu memukulnya. Maka ia berkata: Wahai Amirul Mukminin, jika engkau ingin membunuhku maka bunuhlah dengan cepat, jika tidak maka engkau telah menyembuhkanku semoga Allah menyembuhkanmu. Maka Umar bin al-Khaththab membebaskannya.”

Ibnu Wahb berkata: Malik berkata kepadaku: Sungguh Umar bin al-Khaththab memukul Shubaigh ketika sampai kepadanya apa yang ia tanyakan tentang al-Quran dan selain itu.

Bab tentang Lepasnya Ikatan-ikatan Islam, Terkuburnya Agama, dan Tampaknya Bidah-bidah

151 – Muhammad bin Wadhdah menceritakan kepadaku, ia berkata: Nu’aim bin Hammad menceritakan kepada kami, ia berkata: Utsman bin Yunus menceritakan kepada kami, dari al-A’masy, dari Abu Wail, dari Hudzaifah bin al-Yaman: “Bahwa ia mengambil dua batu lalu meletakkan salah satunya di atas yang lain kemudian berkata kepada sahabat-sahabatnya: Apakah kalian melihat cahaya yang ada di antara kedua batu ini? Mereka berkata: Wahai Abu Abdillah, kami tidak melihat cahaya di antara keduanya kecuali sedikit. Ia berkata: Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh akan tampak bidah-bidah hingga tidak terlihat dari kebenaran kecuali sebesar yang kalian lihat dari cahaya di antara kedua batu ini. Demi Allah, akan menyebar bidah-bidah hingga jika ditinggalkan sesuatu darinya, mereka berkata: Sunnahtelah ditinggalkan.”

152 – Muhammad bin Wadhdah menceritakan kepadaku, dari Muhammad bin Sa’id, dari Nu’aim, ia berkata: Yahya bin Sulaim menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim, dari Abu ath-Thufail, dari Hudzaifah bin al-Yaman: “Bahwa ia mengambil kerikil putih lalu meletakkannya di telapak tangannya kemudian berkata: Sesungguhnya agama ini telah bersinar seterang ini. Kemudian ia mengambil segenggam tanah lalu menaburkannya di atas kerikil hingga menutupinya, kemudian berkata: Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh akan datang suatu kaum yang akan mengubur agama sebagaimana aku mengubur kerikil ini, dan sungguh mereka akan menempuh jalan orang-orang sebelum kalian persis seperti bulu anak panah dengan bulu anak panah, dan seperti sandal dengan sandal.”

153 – Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’id, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Asad bin Musa, dari Abdurrahman, dari Ikrimah bin Ammar, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Humaid Abu Abdillah, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abdul Aziz saudara Hudzaifah, ia berkata: Hudzaifah berkata: “Yang pertama kali hilang dari agama kalian adalah amanah, dan yang terakhir hilang adalah shalat. Sungguh akan terlepas ikatan-ikatan Islam satu persatu. Sungguh para wanita mereka akan shalat dalam keadaan haid. Sungguh kalian akan menempuh jalan orang-orang sebelum kalian seperti bulu anak panah dengan bulu anak panah, dan seperti sandal dengan sandal. Kalian tidak akan meleset dari jalan mereka, dan jalan mereka tidak akan meleset dari kalian. Hingga tersisa dua kelompok, salah satunya berkata: Apa urusan shalat lima waktu? Sungguh telah sesat orang-orang sebelum kita; sesungguhnya Allah hanya berfirman:” Dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian-bagian permulaan malam (Surah Hud: 114), mereka tidak shalat kecuali tiga kali. Dan kelompok lainnya berkata: Iman orang-orang mukmin kepada Allah seperti iman para malaikat, tidak ada kafir dan munafik di antara kami, menjadi kewajiban bagi Allah untuk mengumpulkan mereka berdua bersama Dajjal.”

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Tidak ada satu perbuatan pun dari umat-umat terdahulu kecuali telah dipraktikkan oleh umat ini.

Ibnu Waddhah berkata: Kebaikan setelah para nabi semakin berkurang, dan kejahatan semakin bertambah.

Dan Muhammad bin Waddhah berkata: Sesungguhnya Bani Israil binasa di tangan para pembaca dan ahli fikih mereka, dan umat ini akan binasa di tangan para pembaca dan ahli fikih mereka.

154 – Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Syu’bah, dari Mughirah bin Nu’man, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdiri di tengah-tengah kami dengan memberikan nasihat, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian akan dibangkitkan menghadap Allah dalam keadaan bertelanjang kaki, telanjang, dan tidak berkhitan, Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, (demikianlah) Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya (Surah Al-Anbiya: 104). Maka orang pertama dari makhluk yang diberi pakaian adalah Ibrahim Khalilurrahman (kekasih Yang Maha Pengasih). Kemudian akan diambil beberapa orang dari kalian ke arah kiri, maka aku berkata: Ya Rabb, sahabat-sahabatku.” Beliau bersabda: “Maka dikatakan: Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang mereka lakukan sepeninggalmu. Maka aku berkata sebagaimana yang dikatakan oleh hamba yang saleh: Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka (Surah Al-Ma’idah: 117) hingga firman-Nya: Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Surah Al-Baqarah: 129).” Beliau bersabda: “Maka dikatakan: Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu, sesungguhnya mereka tidak henti-hentinya murtad (berbalik) ke belakang sejak engkau meninggalkan mereka.”

155 – Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Bisyr Zaid bin Bisyr Al-Hadhrami, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Dhamam bin Ismail Al-Mu’afiri, dari lebih dari satu orang dari ahli ilmu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Bagaimana keadaan kalian jika pemuda-pemuda kalian berbuat fasik, wanita-wanita kalian melampaui batas, dan orang-orang bodoh kalian bertambah banyak?” Mereka berkata: Apakah hal itu akan terjadi wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Dan yang lebih parah dari itu, bagaimana keadaan kalian jika kalian tidak menyuruh kepada kebaikan dan tidak melarang dari kemungkaran?” Mereka berkata: Apakah hal itu akan terjadi wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Dan yang lebih parah dari itu, bagaimana keadaan kalian jika kalian melihat kebaikan sebagai kemungkaran, dan melihat kemungkaran sebagai kebaikan?”

156 – Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Muhammad, dari Ubaid bin Muhammad bin Ahmad bin Ashim, dari Athiyyah, dari Walid bin Abdurrahman, dari Muhammad bin Ali, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Celakalah umat ini, apa yang akan dialami oleh orang yang taat kepada Allah di dalamnya, bagaimana mereka mendustakannya dan memukulnya? Sesungguhnya ia taat kepada Allah karena mereka taat kepada Allah.” Umar bin Khaththab berkata: Ya Rasulullah, apakah manusia pada saat itu masih dalam Islam? Beliau bersabda: “Ya, wahai Umar.” Umar berkata: Ya Rasulullah, mengapa mereka membenci orang yang menyuruh mereka dengan ketaatan kepada Allah? Maka beliau bersabda: “Wahai Umar, kaum itu meninggalkan jalan lalu mereka mengendarai kendaraan, mengenakan pakaian yang lembut, dan dilayani oleh anak-anak Persia. Laki-laki di antara mereka berhias dengan perhiasan wanita untuk suaminya, dan wanita-wanita bersolek, penampilan mereka seperti penampilan raja-raja yang sewenang-wenang. Mereka mencari kegemukan seperti wanita. Maka jika wali-wali Allah berbicara dan menyuruh mereka dengan ketaatan kepada Allah, dikatakan kepadanya: Engkau adalah teman syetan, pemimpin kesesatan, pendusta terhadap kitab-kitab, engkau mengharamkan perhiasan Allah yang telah dikeluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan (demikian pula) rezeki yang baik (Surah Al-A’raf: 32). Mereka menafsirkan Kitab Allah dengan selain tafsirnya yang benar, dan mereka merendahkan wali-wali Allah dengannya.”

157 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’id, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Isa bin Yunus, dari Al-Auza’i, dari Hibban bin Abi Jablah, dari Abu Darda, ia berkata: “Seandainya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar kepada kalian hari ini, beliau tidak akan mengenali sesuatu pun dari apa yang beliau dan para sahabatnya lakukan, kecuali shalat.” Al-Auza’i berkata: Bagaimana jika hari ini? Isa berkata: Bagaimana jika Al-Auza’i menyaksikan zaman ini?

158 – Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Muhammad bin Khalid, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Ali bin Ma’bad, dari Abul Mulih, dari seorang laki-laki dari penduduk Basrah, dari Hasan, ia berkata: “Seandainya sebagian orang yang telah berlalu bangkit hingga menyaksikan orang-orang terbaik kalian hari ini, sungguh ia akan berkata: Orang-orang ini tidak memiliki keperluan terhadap akhirat. Dan seandainya ia melihat orang-orang terburuk kalian, ia akan berkata: Orang-orang ini tidak beriman kepada hari perhitungan.”

159 – Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’id, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Asad bin Musa, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Yahya, dari Musa Al-Ja’fi, dari Hasan, ia berkata: “Aku mendapati sepuluh ribu orang dari sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, seandainya mereka melihat kalian, sungguh mereka akan berkata: Apa yang terjadi dengan orang-orang ini, apakah mereka gila? Dan seandainya kalian melihat mereka, kalian akan berkata: Orang-orang ini gila. Seandainya mereka melihat orang-orang terbaik kalian, mereka akan berkata: Orang-orang ini tidak beriman kepada hari perhitungan. Dan seandainya mereka melihat orang-orang terburuk kalian, mereka akan berkata: Orang-orang ini tidak memiliki bagian di sisi Allah.”

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Dikatakan: Fitnah-fitnah keluar dari kalangan pemilik kitab-kitab dan kepada mereka fitnah itu kembali.

Ibnu Waddhah berkata: Dan dikatakan: Allah akan mengirimkan angin merah dari arah timur, maka manusia berlarian ke masjid-masjid mereka dan kepada para ulama mereka, lalu mereka mendapati mereka telah dimutasikan menjadi kera dan babi.

160 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sulaiman Al-Anbari, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Umar bin Munabbih, dari Aufa bin Dalham Al-Adawi, ia berkata: Telah sampai kepadaku dari Ali bahwa ia berkata: “Pelajarilah ilmu agar kalian dikenal dengannya, dan beramallah dengannya agar kalian menjadi termasuk ahlinya; karena sesungguhnya akan datang setelah kalian suatu zaman yang sembilan per sepuluh darinya mengingkari kebenaran, tidak selamat padanya kecuali setiap mukmin yang naumah.” Waki’ berkata: Yaitu orang yang alpa. “Mereka adalah para pemimpin petunjuk dan pelita-pelita ilmu, bukan orang-orang yang tergesa-gesa, penyebar berita, dan pemboros.”

161 – Ia berkata: Ditanyakan kepada Ali bin Abi Thalib: Apa itu naumah? Ia berkata: “Seorang laki-laki yang berdiam diri terhadap fitnah sehingga tidak tampak darinya sesuatu pun.”

162 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abuth Thahir, dari Bisyr, dari Ummu Abdillah binti Khalid, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Ummu Abdillah Al-Jursyiyyah, dan ia sering bolak-balik menemui ayahku untuk mengambil ilmu darinya, maka ia berkata pada suatu hari: “Sungguh akan datang kepada manusia suatu zaman mereka beriman kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, mereka berpuasa Ramadhan, dan mereka mengerjakan shalat lima waktu, namun agama mereka telah dirampas.” Aku berkata: Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, wahai Ummu Abdillah, sesungguhnya ini adalah perkara yang besar. Maka ia berkata: “Wahai putriku, jika mereka melihat kebenaran lalu meninggalkannya, maka tidak ada agama.”

163 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Amr, dari Mush’ab, dari Sufyan, dari Adi bin Hatim, bahwa ia berkata: “Sesungguhnya kalian berada dalam zaman yang kebaikannya adalah kemungkaran, zaman yang telah berlalu; dan kemungkarannya adalah kebaikan, zaman yang belum datang.”

164 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata, Fudhail berkata: “Di akhir zaman, orang mukmin berjalan dengan taqiyyah (bersikap hati-hati/menyembunyikan iman), dan buruk sekali suatu kaum yang di tengah-tengah mereka orang berjalan dengan taqiyyah.”

165 – Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Qudamah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hajjaj, telah mengabarkan kepadaku Hammad, dari Abu Hamzah, dari Abu Hamdah, ia berkata: Abu Hurairah berkata kepadaku: “Bagaimana keadaanmu jika engkau berada dalam zaman yang orang-orang terbaik mereka tidak mengingkari kemungkaran?” Aku berkata: Subhanallah, mereka bukanlah orang-orang terbaik. Ia berkata: “Ya, tetapi salah seorang dari mereka takut kehormatannya akan dicela, dan takut tubuhnya akan dipukul.”

166 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ka’b, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Zakariya bin Manzhur, ia berkata: Aku mendengar Abu Hazim berkata: “Aku mendapati para pembaca dan mereka adalah para pembaca, namun mereka hari ini bukan para pembaca, tetapi mereka adalah para penipu.”

167 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’id, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Umar, dari Bayan, telah menceritakan kepada kami Al-Maghfiri, dari Tabi’, dari Ka’b, ia berkata: “Tahun empat puluh seratus, rusak padanya para wanita dan anak. Dan tahun tujuh puluh sembilan seratus, barangsiapa yang menyaksikan hal itu, hendaklah ia menyiapkan kuda dan pedang, dan menyelamatkan dirinya.”

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Tahun dua puluh lima seratus, perhiasan dunia akan diangkat.

168 – Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, dari Abu Shalih, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah, dari Jundub bin Abdillah, dari Sufyan bin Auf, dari Abdullah bin Amr, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Beruntunglah orang-orang yang asing” (tiga kali). Mereka berkata: Ya Rasulullah, siapakah orang-orang yang asing? Beliau bersabda: “Orang-orang saleh yang sedikit di tengah-tengah orang-orang buruk yang banyak, orang yang membenci mereka lebih banyak daripada yang menaati mereka.” Kemudian matahari terbit, lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Akan datang beberapa orang pada hari kiamat dengan wajah-wajah seperti cahaya matahari.” Maka Abu Bakar bertanya: Apakah kami mereka wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Bukan, tetapi bagi kalian kebaikan yang banyak. Akan tetapi mereka adalah orang-orang dari umatku yang dengan mereka dapat dijauhi kesulitan-kesulitan, salah seorang dari mereka meninggal sementara hajatnya masih di dalam dadanya, mereka dibangkitkan dari penjuru-penjuru bumi.”

169 – Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’id, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, dari Uqbah bin Nafi’, dari Bakr bin Amr Al-Mu’afiri, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Beruntunglah orang-orang yang asing, yaitu mereka yang berpegang teguh pada Kitab Allah ketika ia ditinggalkan, dan beramal dengan Sunnah ketika ia dipadamkan.”

170 – Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Ghiyats, dari Al-A’masy, dari Abu Ishaq, dari Abul Ahwash, dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing.” Ditanyakan: Siapakah orang-orang yang asing? Beliau bersabda: “Orang-orang yang tercerabut dari suku-suku mereka.”

171 – Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Asad bin Musa, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Mutawakkil, dari ibunya Ummu Yahya, ia berkata: Aku mendengar Salim bin Abdillah berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Islam bermula dalam keadaan asing, dan tidaklah akan tegak kiamat hingga ia menjadi asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing ketika manusia rusak, kemudian beruntunglah orang-orang yang asing ketika manusia rusak.”

172 – Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Asad bin Musa, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ayyasy, dari Ishaq bin Abdillah bin Abi Farwah, dari Yusuf bin Salim, dari neneknya Maimunah, dari Abdurrahman bin Sanah, bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya; maka beruntunglah orang-orang yang asing.” Maka ditanyakan: Siapakah orang-orang yang asing wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Mereka yang memperbaiki ketika manusia rusak.”

173 – Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Asad bin Musa, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Mubarak bin Fadhalah, dari Hasan, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing.” Mereka berkata: Ya Rasulullah, bagaimana ia menjadi asing? Beliau bersabda: “Seperti dikatakan kepada seseorang di kampung si anu dan si anu bahwa sesungguhnya ia adalah orang asing.”

174 – Menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’id, ia berkata: Menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammad, ia berkata: Menceritakan kepada kami Ibnu Mahdi, dari Mu’awiyah bin Shalih, dari Rabi’ah bin Yazid, ia berkata: Saya mendengar Abu Idris al-Khaulani berkata: “Saya mendengar bahwa Islam memiliki simpul-simpul yang dipegang teguh oleh manusia, dan sesungguhnya simpul-simpul itu akan terlepas satu per satu. Yang pertama kali terlepas dari simpul-simpul itu adalah kesabaran (hilm), dan yang terakhir terlepas adalah shalat.”

175 – Menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’id, ia berkata: Menceritakan kepada kami Asad bin Musa, ia berkata: Menceritakan kepada kami Dlamrah, dari as-Syaibani, dari Abdullah bin ad-Dailami, ia berkata: “Sunnah akan hilang satu per satu, sebagaimana tali yang terlepas ikatan demi ikatan. Dan akhir dari agama adalah shalat. Akan ada segolongan orang yang shalat namun tidak memiliki bagian (pahala).”

176 – Menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya, dari Malik bin Anas, dari pamannya Abu Suhail bin Malik, dari ayahnya, ia berkata: “Aku tidak mengetahui sesuatu pun dari apa yang kudapati manusia masih melaksanakannya kecuali adzan untuk shalat.”

177 – Menceritakan kepadaku Ibrahim bin Muhammad, dari Harmalah bin Yahya, dari Nu’aim bin Hammad, dari Ibnu al-Mubarak, dari Sulaiman bin al-Mughirah, dari Tsabit, dari Anas bin Malik: “Aku tidak mengenali sesuatu pun dari kalian yang dahulu aku saksikan di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kecuali ucapan kalian: Laa ilaha illallah (Tidak ada tuhan selain Allah).” Kami berkata: “Wahai Abu Hamzah, bagaimana dengan shalat?” Maka ia berkata: “Kalian shalat ketika matahari terbenam, apakah itu shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”

178 – Menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’id, ia berkata: Menceritakan kepada kami Asad bin Musa, ia berkata: Menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah, dari al-Mubarak bin Fadlalah, dari al-Hasan, ia berkata: “Seandainya seseorang sempat menyaksikan generasi salaf pertama kemudian dibangkitkan hari ini, ia tidak akan mengenali sesuatu pun dari Islam.” Ia berkata: Dan ia meletakkan tangannya di pipinya kemudian berkata: “Kecuali shalat ini.” Kemudian ia berkata: “Demi Allah, bukan itu bagi orang yang hidup di tengah kemungkaran ini dan tidak sempat menyaksikan generasi salaf yang saleh ini, lalu ia melihat seorang pelaku bidah yang mengajak kepada bidahnya, dan ia melihat orang yang mencintai dunia yang mengajak kepada dunianya, namun Allah melindunginya dari semua itu, dan menjadikan hatinya merindukan generasi salaf yang saleh itu, bertanya tentang jalan mereka, mengikuti jejak-jejak mereka, dan mengikuti jalan mereka; agar diberi ganjaran yang agung. Maka demikianlah, jadilah kalian insya Allah.”

179 – Menceritakan kepadaku Abdullah bin Muhammad, dari Ali bin Ma’bad, dari al-‘Ala’ bin Sulaiman, dari Maimun bin Mihran, ia berkata: “Seandainya seseorang dari kalangan salaf dibangkitkan di tengah-tengah kalian, ia tidak akan mengenali sesuatu pun pada kalian kecuali kiblat ini.”

180 – Menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Menceritakan kepada kami Muhammad bin Qudamah al-Hasyimi, ia berkata: Menceritakan kepada kami Jarir bin Abdul Hamid, dari al-A’masy, dari Salim, dari Ummu ad-Darda’, ia berkata: Abu ad-Darda’ masuk menemuiku dalam keadaan marah. Maka aku bertanya kepadanya: “Apa yang membuatmu marah?” Ia berkata: “Demi Allah, aku tidak mengetahui pada mereka sesuatu pun dari urusan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali bahwa mereka shalat bersama-sama.”

181 – Menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Menceritakan kepada kami Muhammad bin Qudamah, ia berkata: Menceritakan kepada kami Jarir bin Abdul Hamid, dari al-A’masy, dari Salim, ia berkata: Abu ad-Darda’ berkata: “Seandainya seseorang mempelajari Islam kemudian mengabaikannya lalu mencarinya kembali, ia tidak akan mengenali sesuatu pun darinya.”

182 – Menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya, ia berkata: Menceritakan kepada kami Asad bin Musa, ia berkata: Menceritakan kepada kami al-Mubarak bin Fadlalah, dari al-Hasan, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kalian akan melihat apa yang kalian kenal dan apa yang kalian ingkari. Barangsiapa mengingkarinya maka ia berlepas diri, dan barangsiapa membencinya maka ia selamat, tetapi (tidak demikian) orang yang ridha dan mengikutinya.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, tidakkah kami membunuh orang-orang fasik di antara mereka?” Beliau bersabda: “Tidak, selama mereka masih shalat.”

183 – Malik berkata: Dan telah sampai kepadaku bahwa Abu Hurairah membaca: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,” (an-Nashr: 1) “dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,” (an-Nashr: 2) kemudian ia berkata: “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya manusia hari ini keluar dari agama Allah secara berbondong-bondong sebagaimana mereka memasukinya secara berbondong-bondong.”

184 – Menceritakan kepadaku Ibrahim bin Muhammad bin ‘Aun, dari Isma’il bin Nafi’ al-Qurasyi, dari Ibnu al-Mubarak, ia berkata: Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash berkata: “Seandainya dua orang dari generasi awal umat ini menyendiri dengan mushaf mereka di salah satu lembah ini, niscaya mereka akan mengasingkan diri dari manusia hari ini, dan mereka tidak akan mengenali sesuatu pun dari apa yang dahulu mereka jalani.”

185 – Menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’id, ia berkata: Menceritakan kepada kami Asad bin Musa, dari Waki’ bin al-Jarrah, dari al-A’masy, dari Abu Wa’il, ia berkata: Abdullah berkata: “Tahukah kalian bagaimana Islam akan runtuh?” Mereka menjawab: “Ya, sebagaimana kain yang robek, dan sebagaimana hewan yang mati.” Abdullah berkata: “Itu termasuk darinya.”

186 – Menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’id, ia berkata: Menceritakan kepada kami Asad, dari Muhammad bin al-Fudlail bin Ghazwan, dari Harun bin Abi Waki’, dari ayahnya, ia berkata: “Ayat ini turun “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian” (al-Ma’idah: 3) pada Hari Haji Akbar. Maka Umar menangis. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Apa yang membuatmu menangis wahai Umar?” Ia menjawab: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami dahulu berada dalam pertambahan agama kami. Adapun sekarang ketika telah sempurna, maka tidaklah sesuatu itu sempurna kecuali ia akan berkurang.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Engkau benar.”

187 – Menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Amr, ia berkata: Menceritakan kepada kami Mush’ab bin Mahan, dari Sufyan ats-Tsauri, dari seorang laki-laki, dari adl-Dlahhak bin Muzahim, dari Hudzaifah, ia berkata: “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan terhadap umat ini adalah mereka mengutamakan apa yang mereka lihat atas apa yang mereka ketahui, atau mereka sesat sementara mereka menyadarinya.”

188 – Menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Menceritakan kepada kami Abu ath-Thahir, dari Yahya bin Sulaim, dari al-Hajjaj bin Farafisah, ia berkata: Telah sampai kepadaku bahwa seorang laki-laki melewati Salman lalu memberi salam kepadanya, namun laki-laki itu tidak melihat keramahan dari Salman, maka ia berkata: “Sepertinya engkau tidak mengenalku wahai Abu Abdullah?” Ia menjawab: “Bahkan aku mengenalmu.” Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang shalat mendengar percakapan mereka berdua. Ketika laki-laki itu pergi, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berpaling dan bersabda: “Wahai Salman, tidakkah engkau tahu bahwa ruh-ruh itu adalah pasukan-pasukan yang dikumpulkan, mereka bertemu di udara. Maka yang saling mengenal di antara mereka akan bersatu, dan yang saling mengingkari di antara mereka akan berselisih. Apabila ilmu tampak namun amal disembunyikan, lisan-lisan bertemu namun hati-hati saling membenci, dan silaturahmi terputus; maka pada saat itulah “Allah melaknat mereka, maka Dia menjadikan mereka tuli dan membutakan mata mereka.” (Muhammad: 23)”

189 – Menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya, ia berkata: Menceritakan kepada kami Asad bin Musa, ia berkata: Menceritakan kepadaku ‘Adiy bin al-Fadll, dari Muhammad bin ‘Ajlan, dari Abdurrahman, dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya setelah kalian akan ada hari-hari, orang yang sabar pada masa itu dan berpegang teguh dengan apa yang kalian jalani hari ini, baginya pahala lima puluh orang dari kalian.” Ditanyakan: “Wahai Rasulullah, dari mereka?” Beliau bersabda: “Bahkan dari kalian.”

190 – Menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’id, ia berkata: Menceritakan kepada kami Asad bin Musa, ia berkata: Menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah, dari Aslam al-Basri, dari Sa’id saudara al-Hasan secara marfu’. Aku bertanya kepada Sufyan: “Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?” Ia menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian hari ini berada di atas penjelasan dari Rabb kalian, kalian menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, dan berjihad di jalan Allah. Dan belum tampak pada kalian dua kemabukan: kemabukan kebodohan dan kemabukan cinta kehidupan. Dan kalian akan berubah dari itu, maka kalian tidak menyuruh kepada kebaikan, tidak mencegah dari kemungkaran, dan tidak berjihad di jalan Allah. Dan akan tampak pada kalian dua kemabukan itu. Maka orang yang berpegang teguh pada saat itu dengan al-Kitab dan as-Sunnah baginya pahala lima puluh.” Ditanyakan: “Dari mereka?” Beliau bersabda: “Tidak, bahkan dari kalian.”

191 – Menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’id, ia berkata: Menceritakan kepada kami Asad bin Musa, ia berkata: Menceritakan kepada kami Isma’il bin ‘Ayyasy, dari Sa’id bin Ghunaim al-Kila’i, dari Abu Hassan Shafwan bin ‘Umair, dari al-Qasim Abu Abdurrahman, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Islam akan runtuh. Orang yang berpegang teguh pada saat itu dengan agamanya seperti orang yang menggenggam bara api, atau seperti orang yang berjalan di antara duri.”

192 – Menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Menceritakan kepada kami Zuhair bin ‘Abbad, dari Abdullah bin al-Mubarak, dari ‘Utbah bin Abi Hakim, dari ‘Amr bin Jariyah, dari Abu Tsa’labah al-Khusyani, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Orang yang berpegang teguh dengan agamaku dan sunnahku di zaman kemungkaran seperti orang yang menggenggam bara api. Bagi orang yang beramal di antara mereka pada saat itu dengan sunnahku, pahala lima puluh dari kalian.” Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, dari mereka?” Beliau bersabda: “Bahkan dari kalian.”

193 – Menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’id, ia berkata: Menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammad, ia berkata: Menceritakan kepada kami Utsman bin Katsir, dari Muhammad bin Muhajir, ia berkata: Menceritakan kepadaku Ayyub bin Jundub bin Bisyr, dari Hudzaifah, ia berkata: “Sungguh akan terlepas simpul-simpul Islam satu per satu, hingga tidak ada seorang hamba pun yang berkata: jangan, jangan. Dan sungguh kalian akan menempuh jalan umat-umat sebelum kalian persis seperti sepatu dengan sepatu, kalian tidak akan meleset dari jalan mereka dan mereka tidak akan meleset dari kalian. Hingga seandainya ada umat di antara umat-umat sebelum kalian yang memakan kotoran baik basah maupun kering, niscaya kalian akan memakannya. Dan kalian akan melampaui mereka dengan tiga kekhususan yang tidak ada pada umat-umat sebelum kalian: menggali kuburan, kegemukan wanita – seorang gadis digemukkan hingga mati karena lemaknya, hingga laki-laki mencukupkan diri dengan laki-laki tanpa wanita, dan wanita dengan wanita tanpa laki-laki. Demi Allah, sesungguhnya itu akan terjadi. Dan seandainya telah terjadi, mereka akan ditenggelamkan ke bumi dan dilempari sebagaimana yang dilakukan kepada kaum Luth. Demi Allah ini bukan pendapat tetapi kebenaran yang pasti.”

194 – Menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya, ia berkata: Menceritakan kepada kami Asad bin Musa, ia berkata: Menceritakan kepada kami al-Laits bin Sa’d, ia berkata: Menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin Abi Ja’far, dari Ibnu Khalid, ia berkata: “Aku mendapati manusia beramal dan tidak (banyak) berkata-kata, sedangkan mereka hari ini berkata-kata tetapi tidak beramal.”

195 – Menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abid ad-Dimasyqi, ia berkata: Menceritakan kepada kami al-Haitsam, dari Hafs bin Ghailan, dari Makhul, dari Anas bin Malik, ia berkata: Ditanyakan: “Wahai Rasulullah, kapan perintah kepada kebaikan dan larangan dari kemungkaran ditinggalkan?” Beliau bersabda: “Apabila tampak pada kalian apa yang tampak pada Bani Israil.” Ditanyakan: “Apa itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Apabila tampak sikap munafik pada orang-orang terbaik kalian, kejahatan pada orang-orang terburuk kalian, kekuasaan berpindah kepada orang-orang kecil kalian, dan ilmu fiqih ada pada orang-orang yang hina di antara kalian.”

196 – Menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Dari Muhammad bin Abdullah as-Sahmi, ia berkata: Menceritakan kepada kami al-Malthi, mengabarkan kepadanya Ibnu Juraij, dari ‘Atha’ bin Abi Rabah, ia berkata: “Seorang laki-laki yang memiliki penampilan (keagamaan) melewati Ali bin Abi Thalib. Ia bertanya: ‘Apakah engkau dari penduduk Khurasan?’ Ia menjawab: ‘Tidak.’ Ia bertanya: ‘Apakah engkau dari penduduk Persia?’ Ia menjawab: ‘Tidak.’ Ia bertanya: ‘Lalu dari mana engkau?’ Ia menjawab: ‘Aku dari penduduk bumi.’ Ia berkata: ‘Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Agama akan tetap lurus dan baik selama Nabath Irak belum masuk Islam. Apabila Nabath Irak masuk Islam, mereka akan merusak agama, dan berkata tentangnya tanpa ilmu; maka pada saat itulah Islam akan hancur dan runtuh.”‘

197 – Menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’id, ia berkata: Menceritakan kepada kami Asad bin Musa, menceritakan kepada kami ‘Aun bin Musa, ia berkata: Aku mendengar Hilal bin Habban, ia berkata: “Aku bertanya kepada Sa’id bin Jubair, aku berkata: ‘Wahai Abu Abdullah, kapan kehancuran manusia diketahui?’ Ia menjawab: ‘Apabila ulama mereka binasa.'”

198 – Ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Dhamrah, dari Ibnu Syaudzab, dari Iyas bin Muawiyah yang berkata: “Tidaklah suatu kaum menjauh dari nabinya melainkan ucapan mereka menjadi lebih baik, tetapi perbuatan mereka menjadi lebih buruk.”

Diberitahu kepadaku oleh Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Pada umat ini terdapat hal-hal yang tidak ada pada umat-umat sebelumnya, di antaranya adalah penggemukan para budak perempuan, pembongkaran kubur, dan lesbian. Ia berkata: Dan dikatakan: Sesungguhnya penggemukan anak-anak perempuan sebelum baligh akan menyebabkan penyakit TBC.

199 – Diceritakan kepadaku oleh Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Muhammad bin Yahya, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Asad bin Musa, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Hammad bin Salamah, dari Tsabit al-Bunani, bahwa Aisyah pernah didatangi oleh anak-anak kecil lalu ia mendoakan mereka. Suatu ketika didatangkan kepadanya seorang anak perempuan yang gemuk, maka ia berkata: “Sungguh kalian telah memaksanya makan tepung gandum sehingga tidak meninggalkan ruang baginya.”

200 – Diceritakan kepadaku oleh Ibnu Waddhah, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Muhammad bin Yahya, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Asad, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Ismail bin Ayyasy, dari Umar bin Ja’tsam, dari Ammar bin Khalid, dari Abu Dzar bahwa ia pernah berkata: “Dahulu orang yang penuh lemak dan berpakaian mengkilap, itulah yang disebut muru’ah (kemuliaan) di kalangan kalian hari ini.”

201 – Ia berkata: Dan diberitakan kepada kami oleh Asad, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Muhammad bin Khazim, dari al-A’masy, dari Ibrahim, Abdullah berkata: “Sungguh aku sangat membenci seorang penghafal Alquran jika aku melihatnya gemuk dan melupakan Alquran.”

202 – Diberitakan kepada kami oleh Asad, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Hammad bin Salamah, dari Tsabit, dari Abu Tsamir bahwa ia pernah melihat dalam mimpi – dan ia adalah seorang yang ahli ibadah – bahwa dikatakan kepadanya: “Celakalah orang-orang yang menggemukkan diri karena akan ada kelesuan dalam makanan pada hari kiamat.”

203 – Diberitakan kepada kami oleh Asad, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Mubarak bin Fadhalah, dari al-Hasan yang berkata: Seorang laki-laki datang kepada Umar, ia seorang laki-laki tua yang gemuk sebesar gumpalan daging sambil berkata: Aduh aduh. Maka Umar berkata: “Apa ini?” Ia menjawab: “Berkah Allah wahai Amirul Mukminin.” Maka Umar berkata: “Engkau berdusta, bahkan ini adalah azab Allah.”

204 – Diberitakan kepada kami oleh Asad, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Abu Bakar az-Zahidi, dari Syu’bah, dari Abu Israil, dari Ja’dah bin Hubairah yang berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam melihat seorang laki-laki yang gemuk, lalu Nabi menunjuk ke perutnya dan bersabda: “Seandainya ini ada di tempat lain, tentu akan lebih baik bagimu.”

205 – Ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh sebagian sahabat kami, ia berkata: Diceritakan kepadaku oleh Abu Bakar, dari Abu Maryam, dari al-Azhar bin Abdullah yang berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda ketika melihat seorang laki-laki yang gemuk, lalu Nabi menunjuk ke perutnya dan bersabda: “Seandainya ini ada di tempat lain, tentu akan lebih baik bagimu.”

206 – Ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh sebagian sahabat kami, ia berkata: Diceritakan kepadaku oleh Abu Bakar, dari Abu Maryam, dari al-Azhar bin Abdullah yang berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apabila kamu melihat dua puluh orang laki-laki dan kamu tidak menduga adanya kebaikan pada seorang pun dari mereka, maka sungguh urusan telah rusak.”

207 – Diceritakan kepadaku oleh Ibrahim bin Muhammad, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Harmalah bin Yahya, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Abdullah bin Wahb, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Jarir bin Hazim, dari Salman al-A’sar, dari Zaid bin Wahb, dari Ibnu Mas’ud yang berkata: Umar bin al-Khaththab adalah “benteng yang kokoh bagi Islam, manusia masuk ke dalamnya dan tidak keluar darinya. Maka robohlah benteng itu dan manusia keluar darinya dan tidak masuk lagi ke dalamnya.”

Bab: Tentang Pergiliran Keadaan Manusia Satu Sama Lain dan Tempat-Tempat

208 – Diberitakan kepada kami oleh Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Muhammad bin Sa’id, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Nu’aim bin Hammad, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Ibnu Uyainah, dari Mujahid bin Amir, ia berkata: Aku mendengar Muhammad bin al-Asy’ats berkata: “Tidak ada sesuatu pun melainkan akan mengalami pergiliran, sehingga kebodohan pun akan memiliki giliran atas kecerdasan.”

209 – Diberitakan kepada kami oleh Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Muhammad bin Sa’id, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Nu’aim, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Abu Salamah, dari Mujalid, dari Amir, dari Muhammad bin al-Asy’ats yang berkata: “Sesungguhnya setiap sesuatu memiliki giliran, bahkan kebodohan pun memiliki giliran atas kearifan.”

210 – Diberitakan kepada kami oleh Ibnu Waddhah, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Muhammad bin Sa’id, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Nu’aim, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Muhammad bin Abdullah, dari Abdul Salam bin Salamah, dari Abu Hanbal, dari Abdullah bin Amr bin al-Ash yang berkata: “Setiap sesuatu memiliki giliran yang menimpanya. Para bangsawan memiliki giliran atas orang-orang miskin, kemudian orang-oang miskin dan golongan rendah di akhir zaman akan mendapat giliran sehingga mereka berkuasa atas para bangsawan. Jika hal itu terjadi, maka bersiaplah untuk Dajjal, kemudian hari kiamat, dan hari kiamat lebih dahsyat (Surah Al-Qamar: 46) dan lebih berat.”

211 – Diberitakan kepada kami oleh Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Muhammad bin Abi Maryam, ia berkata: “Dahulu dikatakan: Sesungguhnya tempat-tempat akan saling bergantian satu sama lain, sehingga masjid dijadikan jamban, dan jamban dijadikan masjid.”

212 – Diceritakan kepadaku oleh Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Musa bin Muawiyah, dari Ibnu Mahdi, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Sufyan, dari Abu Husain, aku mendengar Ibrahim dan Khaitsamah saling berbincang, lalu mereka berkata: “Sesungguhnya orang-orang jahat akan bertahan setelah orang-orang baik.” Maka salah satu dari mereka berkata kepada yang lain: “Kami khawatir akan menjadi bagian dari mereka.”

213 – Diceritakan kepadaku oleh Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Muhammad bin Sa’id, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Nu’aim bin Hammad, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Muhammad bin Humaid, dari Amr bin Qais, ia mendengar Abdullah bin Amr berkata: “Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat adalah direndahkannya orang-orang baik, diangkatnya orang-orang jahat, dan setiap kaum dipimpin oleh orang-orang munafik mereka.”

214 – Diberitakan kepada kami oleh Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Muhammad bin Sa’id, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Nu’aim bin Hammad, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh al-Hakam bin Nafi’, dari Sa’id bin Sinan, dari Abu az-Zahiriyyah, dari Katsir bin Murrah yang berkata: Ia berkata: “Di antara tanda-tanda hari kiamat adalah berkuasanya orang yang tidak layak berkuasa, diangkatnya orang yang rendah, dan direndahkannya orang yang mulia.”

215 – Diberitakan kepada kami oleh Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Ia berkata: Dibacakan kepada kami oleh Abu al-Bisyr sementara kami mendengar, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Dhamam, dari Abu Syuraih dan yang lainnya: “Sesungguhnya hari kiamat tidak akan terjadi hingga setiap suku dipimpin oleh orang-orang munafik mereka.”

216 – Diberitakan kepada kami oleh Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Ibnu Abi Maryam, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Nu’aim, dari Abdul Khaliq bin Zaid, dari ayahnya, dari Sulaiman bin Amir al-Khaba’iri, dari Abu Umamah yang berkata: “Apabila kamu melihat seorang penasihat yang menasihati namun tidak mau dinasihati, dan orang yang dinasihati namun nasihat itu hilang darinya, maka pada saat itulah hendaklah kamu menjaga diri kalian sendiri, orang yang sesat tidak akan membahayakan kamu apabila kamu telah mendapat petunjuk (Surah Al-Ma’idah: 105).”

217 – Diceritakan kepadaku oleh Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Ibnu Abi Maryam, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Nu’aim, dari Ibnu Wahb, dari Abdurrahman bin Syuraih, dari Yazid bin Abdullah al-Qaisi, dari Yahya, dari Abu Katsir yang berkata: Umar bin al-Khaththab berkata: “Apabila manusia berbeda-beda dalam hawa nafsu mereka, dan setiap orang yang berpendapat merasa bangga dengan pendapatnya sendiri, wahai manusia hendaklah kamu menjaga diri kalian sendiri, orang yang sesat tidak akan membahayakan kamu apabila kamu telah mendapat petunjuk (Surah Al-Ma’idah: 105).”

218 – Diceritakan kepadaku oleh Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Musa bin Muawiyah, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Abdurrahman bin Mahdi al-Bashri, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Abdullah bin al-Mubarak, dari Utbah bin Abi Hakim, dari Amr bin Jabir, dari Abu Umayyah asy-Syaibani, ia berkata: Aku mendatangi Abu Tsa’labah al-Khusyani lalu aku bertanya: Wahai Abu Tsa’labah, bagaimana pendapatmu tentang ayat ini? Ia berkata: Ayat yang mana? Aku berkata: Firman Allah Ta’ala tidak akan membahayakan kamu orang yang sesat apabila kamu telah mendapat petunjuk (Surah Al-Ma’idah: 105). Ia berkata: Demi Allah, sungguh kamu telah bertanya kepada orang yang mengetahuinya, aku telah bertanya tentang hal itu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka beliau bersabda: “Bahkan perintahkanlah yang makruf dan cegahlah yang mungkar, hingga apabila kamu melihat kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dunia yang lebih diutamakan, dan setiap orang yang berpendapat bangga dengan pendapatnya sendiri, maka jagalah dirimu sendiri, dan tinggalkanlah urusan orang banyak. Karena sesungguhnya di hadapan kalian ada hari-hari yang bersabar pada masa itu seperti menggenggam bara api. Bagi orang yang beramal pada masa itu mendapat pahala seperti pahala lima puluh orang yang beramal seperti amalnya.” Ia berkata: Yang lain menambahkan kepadaku: Ditanyakan: Wahai Rasulullah, pahala lima puluh orang dari mereka? Beliau bersabda: “Pahala lima puluh orang dari kalian.”

219 – Diceritakan kepadaku oleh Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Musa bin Muawiyah, dari Ibnu Mahdi, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Sufyan, dari ash-Shalt bin Bahram, dari al-Mundzir bin Hudah, dari Kharsyah bin al-Hurr, dari Hudzaifah yang berkata: “Bagaimana keadaan kalian apabila kalian meninggalkan agama kalian seperti seorang perempuan meninggalkan kemaluannya, tidak menghalangi siapa pun yang mendatanginya?” Maka seorang laki-laki berkata: “Celakalah orang yang lemah.” Ia berkata: “Bahkan engkau yang celaka.”

220 – Diceritakan kepadaku oleh Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Diceritakan kepadaku oleh Muhammad bin Sa’id, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Nu’aim bin Hammad, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Ibnu Wahb, dari al-Harits bin Nabhan, dari Muhammad bin Sa’id, dari Ubadah bin Nusay, dari al-Aswad bin Tsa’labah, dari Muadz bin Jabal yang berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apabila muncul di kalangan kalian dua kemabukan: kemabukan kejahilan dan kemabukan cinta kehidupan, dan kalian berjihad bukan di jalan Allah, maka orang-orang yang menegakkan Kitab Allah pada masa itu secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan seperti orang-orang yang pertama kali berhijrah dari kalangan Muhajirin dan Anshar.”

221 – Diceritakan kepadaku oleh Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Muhammad bin Sa’id, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Nu’aim, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Abu Muawiyah, dan Abu Umamah, dan Yahya bin al-Yaman, dari al-A’masy, dari Ibrahim, dari ayahnya, dari Ali yang berkata: “Agama akan rusak hingga tidak ada seorang pun yang mengatakan: Laa ilaaha illallah.” Sebagian mereka berkata: Hingga tidak dikatakan: Allah Allah. “Kemudian agama akan menyibukkan dirinya sendiri, lalu Allah mengutus suatu kaum yang berpencar-pencar seperti awan musim gugur. Sesungguhnya aku mengetahui nama pemimpin mereka dan tempat berlabuhnya kendaraan mereka.”

222 – Diceritakan kepadaku oleh Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Muhammad bin Amr, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Mush’ab, dari Sufyan ats-Tsauri, dari Atha’ bin as-Sa’ib, ia berkata: Diberitahu kepadaku oleh Abdurrahman al-Hadhrami, ia berkata: Diberitahu kepadaku oleh orang yang mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Akan ada di akhir umatku suatu kaum yang diberi pahala seperti pahala yang diberikan kepada orang-orang pertama mereka. Mereka memerangi para pelaku fitnah, mengingkari kemungkaran, dan takut terhadap fitnah.”

223 – Diberitakan kepada kami oleh Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Muhammad bin Sa’id, dari Asad, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Muhammad bin Khazim, dari al-A’masy, dari Zaid bin Wahb, dari Hudzaifah yang berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menceritakan kepada kami tentang hilangnya amanah, beliau bersabda: “Hingga dikatakan: Sesungguhnya di Bani Fulan ada seorang laki-laki yang amanah. Dan hingga dikatakan tentang seseorang: Alangkah kuatnya dia, alangkah pintarnya dia, padahal di dalam hatinya tidak ada keimanan sebesar biji sawi pun.”

224 – Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Syababah, dari Laits bin Sa’d, dari Yazid bin Abi Habib, dari Abu al-Khair, dari Uqbah bin Amir, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku demi Allah tidak khawatir kalian akan berbuat syirik sepeninggalku, tetapi aku khawatir kalian akan saling bersaing dalam urusan dunia.”

225 – Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Musa bin Mu’awiyah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi, dari Hammad bin Zaid, dari Yahya bin Sa’id, dari Sa’id bin al-Musayyab, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik daripada banyak shalat dan sedekah? Mendamaikan persaudaraan yang retak, dan jauhilah kebencian, karena ia adalah pencukur. Aku tidak mengatakan mencukur rambut, tetapi mencukur agama.”

226 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Dari Musa, dari Ibnu Mahdi, dari Harb bin Syaddad, dari Yahya bin Abi Katsir, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Ya’isy bin al-Walid, dari seorang budak keluarga Zubair, ia menceritakan bahwa Zubair bin al-Awwam menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Telah merayap kepada kalian penyakit umat-umat sebelum kalian: hasad dan kebencian. Kebencian adalah pencukur. Aku tidak mengatakan mencukur rambut, tetapi mencukur agama. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku kabarkan kepada kalian apa yang dapat meneguhkan hal itu? Sebarkanlah salam di antara kalian.”

227 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Abu Hani’ al-Khaulani, dari Abu Sa’id al-Ghifari, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Akan menimpa umatku penyakit umat-umat terdahulu.” Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, apakah penyakit umat-umat itu? Beliau bersabda: “Kesombongan, kefasikan, berlomba-lomba dalam urusan dunia, saling membenci, dan saling hasad, hingga terjadi kezaliman, kemudian terjadi pembunuhan.”

228 – Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah al-Asadi, dari Sa’id bin Abi Aus, dari Bilal al-Absi, dari Maimunah istri Nabi shallallahu alaihi wasallam, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepada kami suatu hari: “Bagaimana keadaan kalian jika agama kacau, keinginan dunia merebak, saudara-saudara berselisih, dan Baitullah dibakar?”

229 – Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, dari Muhammad bin Sa’id, dari Nu’aim, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami al-Mu’tamir bin Sulaiman, dari Laits bin Abi Sulaim, dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, ia berkata: Abdullah bin Amr bin al-Ash berkata: “Hampir saja akan muncul setan-setan yang duduk bersama kalian di majelis-majelis kalian, mengajari kalian agama kalian, dan menceritakan hadits kepada kalian, padahal mereka adalah setan.”

230 – Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’id, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu al-Mubarak dan Waki’, dari Sufyan, dari Laits, dari Thawus, ia berkata: “Pelajarilah ilmu untuk dirimu sendiri, karena amanah telah hilang dari orang-orang.”

231 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, dari Musa, dari Mu’awiyah, dari Ibnu Mahdi, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Sufyan, dari al-A’masy, dari Khaitsamah, ia berkata: Abdullah bin Mas’ud berkata: “Akan datang perkara-perkara yang meragukan, maka hendaklah kalian bersikap tenang, karena seseorang menjadi pengikut dalam kebaikan lebih baik daripada menjadi pemimpin dalam kejahatan.”

232 – Telah menceritakan kepadaku Ibnu Waddhah, dari Musa bin Mahdi, dari Sufyan bin Uyainah, dari Mujalid, dari asy-Sya’bi, dari Masruq, ia berkata: Abdullah berkata: “Tidaklah datang kepada kalian suatu tahun melainkan tahun sesudahnya lebih buruk darinya. Aku tidak bermaksud tahun yang lebih subur dari tahun lain, atau lebih banyak hujan dari tahun lain, tetapi hilangnya orang-orang baik dan ulama kalian. Kemudian muncul kaum yang mengqiyaskan perkara dengan akal mereka, maka Islam akan runtuh dan rusak.”

233 – Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Abdullah bin Amr, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ilmu tidak akan dicabut dengan mencabutnya dari manusia, tetapi ilmu dicabut dengan wafatnya para ulama. Apabila tidak tersisa seorang ulama pun, manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Mereka ditanya lalu berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.”

234 – Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Muhammad, dari Aun, dari Ismail bin Nafi’ al-Qurasyi, dari Abdullah bin al-Mubarak, ia berkata: “Ketahuilah saudaraku bahwa kematian hari ini adalah kemuliaan bagi setiap muslim yang bertemu Allah dalam keadaan mengikuti Sunnah. Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali. Kepada Allah kami mengadukan kesepian kami, hilangnya saudara-saudara, sedikitnya penolong, munculnya bid’ah. Kepada Allah kami mengadukan besarnya musibah yang menimpa umat ini berupa hilangnya para ulama ahli Sunnah dan munculnya bid’ah. Kami telah berada di zaman yang berat dan fitnah yang besar. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah memperingatkan kami tentang apa yang telah menyesatkan kami dan apa yang kami alami saat ini. Beliau memperingatkan dan menyampaikan kepada kami dengan sabda dari Abu Hurairah: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Akan datang kepada kalian fitnah-fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita. Seseorang di pagi hari beriman lalu di sore hari kafir, atau di sore hari beriman lalu di pagi hari kafir. Dalam fitnah itu ada kaum yang menjual agama mereka dengan harta dunia yang sedikit.'”

235 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Abbad, ia berkata: Ibnu Mas’ud berkata: “Akan datang kepada manusia suatu zaman di mana Sunnah dianggap bid’ah, bid’ah dianggap Sunnah, kebaikan dianggap kemungkaran, dan kemungkaran dianggap kebaikan. Hal itu terjadi ketika mereka mengikuti dan meniru raja-raja dan penguasa dalam urusan dunia mereka.”

236 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’id, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Baqiyyah bin al-Walid, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad bin Hajib, dari Ziyad atau Ibnu Ziyad, ia berkata: Aku mendengar Ka’b al-Ahbar berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Akan datang di akhir zaman orang-orang yang memiliki papan tulis, mereka menghiasi hadits dengan kebohongan sebagaimana emas dihiasi dengan permata.”

237 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’id, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Asad bin Musa, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Zaid, dari al-Ahwash, dari Zakariya bin Yahya, dari orang yang menyebutkannya, dari Ammar bin Yasir, ia berkata: “Akan datang kepada manusia suatu zaman di mana agama terbaik mereka adalah agama orang-orang Arab Badui.” Ditanya: Mengapa demikian? Ia menjawab: “Akan muncul hawa nafsu dan bid’ah yang mereka dorong.”

238 – Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair, Yahya bin Isa berkata kepadaku: Dari al-A’masy, ia berkata: Syaqiq Abu Wa’il berkata kepadaku: Sulaiman menceritakan kepada kami: “Aku tidak menyerupakan para qari zamanmu kecuali seperti domba-domba yang memakan rumput hamdh (rumput asin). Siapa yang melihatnya mengira mereka gemuk, tetapi ketika disembelih tidak ditemukan seekor domba gemuk pun.”

239 – Telah mengabarkan kepadaku Abu Ayyub, dari Sahnun, dari Ibnu Wahb, dari Abdurrahman bin Yazid, dari Utbah bin Abdullah, ia berkata: Abdullah bin Mas’ud berkata: “Tidaklah para ulama zamanmu menyerupai kecuali seperti seorang laki-laki yang menggembalakan dombanya di rumput hamdh, hingga ketika perutnya kenyang dan pinggangnya membengkak, ia memilih yang terbaik dalam pandangannya, ternyata dagingnya tidak awet. Dan tidak tersisa dari dunia kecuali seperti minuman yang telah diminum jernihnya dan tersisa kotorannya.”

240 – Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Amr, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Mush’ab, dari Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri, dikatakan kepada Sufyan: Sesungguhnya anak cucunya berkata: Akan datang kepada manusia suatu zaman di mana duduk di masjid-masjid mereka setan-setan yang mengajari mereka urusan agama mereka. Sufyan berkata: Hal itu telah sampai kepada kami dari Abdullah bin Amr bahwa ia berkata: “Akan datang kepada manusia suatu zaman di mana duduk di masjid-masjid mereka setan-setan yang dulu diikat oleh Sulaiman bin Dawud di laut, mereka keluar mengajari manusia urusan agama mereka.” Sufyan berkata: “Akan datang perkara-perkara besar.” Muhammad bin Waddhah berkata: Zuhair bin Abbad berkata: Sufyan bermaksud: Mereka mengajari manusia, lalu memasukkan dalam sela-sela itu hawa nafsu yang baru, mereka menghalalkan yang haram bagi mereka, mereka meragukan mereka tentang keutamaan, kesabaran, dan Sunnah, mereka membatalkan keutamaan zuhud terhadap dunia, mereka memerintahkan mereka untuk mengejar dunia, padahal dunia adalah kepala setiap kesalahan.

241 – Telah menceritakan kepadaku Sulaiman, dari Sahnun, dari Ibnu Wahb, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Sa’id bin Abi Ayyub, dari Abu Hilal al-Khaulani, dari Muslim bin Yasar, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Akan ada di akhir zaman orang-orang dari umatku yang menceritakan kepada kalian apa yang tidak pernah kalian dengar, kalian maupun bapak-bapak kalian. Maka jauhilah mereka.”

242 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Muhammad, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Tamim, dari Muhammad bin Yusuf al-Firyabi, dari Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri, ia berkata: Telah sampai kepada kami bahwa “akan datang kepada manusia suatu zaman di mana banyak ulama mereka tetapi mereka tidak mengambil manfaat dari ilmu mereka, dan Allah tidak memberi manfaat kepada mereka dengan ilmu mereka. Yang terbaik di antara mereka adalah yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan bacaannya.”

243 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku sebagian saudaraku, dari Abdullah bin Abdul Wahhab, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Nashr, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Isa, dari Sufyan ats-Tsauri, ia berkata: Telah sampai kepadaku, dan Allah lebih mengetahui, bahwa “akan datang kepada manusia suatu zaman di mana siapa yang menuntut ilmu akan menjadi asing di zamannya.”

244 – Telah menceritakan kepadaku Sulaiman, dari Sahnun, dari Ibnu Wahb, dari Khallad bin Sulaiman, ia berkata: Aku mendengar Darraj Abu as-Samh berkata: “Akan datang kepada manusia suatu zaman di mana seseorang menggemukkan untanya hingga menumpuk lemak, kemudian ia mengendarainya ke berbagai negeri hingga menjadi kurus, mencari orang yang memfatwakannya dengan Sunnah yang telah diamalkan, tetapi tidak menemukan seorang pun yang memfatwakannya kecuali dengan dugaan.”

245 – Telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Waddhah pada tahun dua ratus delapan puluh satu, ia berkata: Aku mendengar Sahnun berkata lima puluh tahun yang lalu tentang hadits yang berbunyi: “Seseorang menggemukkan untanya hingga menumpuk lemak,” Sahnun berkata: “Aku mengira bahwa kami berada di zaman itu, maka aku mencari ahli Sunnah di zaman itu, mereka seperti bintang yang bercahaya di malam yang gelap.” Ibnu Waddhah berkata: Jika engkau mencari sesuatu yang murni, engkau tidak akan menemukannya, dan jika ia bercampur maka itulah yang sempurna. Aku mendengar Muhammad bin Waddhah berkata lebih dari satu kali: Kitab Allah telah diubah, Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah diganti, darah telah ditumpahkan, wanita-wanita mulia telah ditawan, hukum-hukum telah ditelantarkan, ahli kebatilan telah memimpin, orang yang bukan ahli agama berbicara dalam agama, orang yang tidak bersalah ketakutan, orang yang kotor merasa aman, dan yang memutuskan urusan kaum muslimin serta dijadikan pemimpin di antara mereka adalah orang yang dimurkai oleh mereka.

246 – Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, dari Humaid, dari Anas, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga tidak diucapkan: Allah, Allah, di bumi.”

247 – Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’id, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdul Quddus, dari Ufair bin Ma’dan, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Qatadah, dari al-Hasan, dari Samurah bin Jundab, ia berkata: “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kalian melihat perkara-perkara besar yang dahulu tidak pernah kalian lihat, dan tidak pernah terlintas dalam diri kalian.” Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Waddhah, ia berkata: Aku berkata: Tidak akan terjadi hari kiamat hingga berhala-berhala disembah di mihrab-mihrab.

248 – Abu Badr, dari Abdul Malik bin Said berkata: Hudzaifah berkata: “Kiamat tidak akan terjadi hingga berhala-berhala didirikan dan disembah di dalamnya, yakni di mihrab-mihrab masjid.” Hadits ini diriwayatkan kepadaku oleh Ibnu Wadhdah.

249 – Muhammad bin Wadhdah meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Abu Marwan Abdul Malik bin Habib al-Bazzaz al-Mashishi meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Ibrahim bin Muhammad al-Qurradi meriwayatkan kepada kami, dari al-Ala’ bin al-Musayyab, dari Muawiyah al-Absi, dari Zadzan, ia berkata: Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata: “Kiamat tidak akan terjadi hingga umat ini terpecah menjadi beberapa puluh tujuh golongan, semuanya di neraka, dan hanya satu yang selamat.”

250 – Muhammad bin Wadhdah meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Said meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Asad bin Musa meriwayatkan kepada kami, dari Ismail bin Ayyasy, dari Abdurrahman bin Ziyad bin An’um, dari Abdullah bin Yazid al-Mughfiri, dari Abdullah bin Amr bin al-Ash, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sungguh akan menimpa umatku seperti apa yang menimpa Bani Israil, sama persis, seperti sandal dengan sandal, sehingga jika di antara mereka ada yang mendatangi ibunya secara terang-terangan, maka di umatku akan ada yang melakukan hal itu. Dan sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di neraka kecuali satu golongan.” Mereka bertanya: Golongan mana yang terlepas dari neraka? Beliau menjawab: “Apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.”

251 – Muhammad bin Wadhdah meriwayatkan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Said meriwayatkan kepada kami, dari Nu’aim bin Hammad, ia berkata: Muhammad bin al-Harits meriwayatkan kepada kami, dari Muhammad bin Abdurrahman, dari ayahnya, dari Ibnu Umar, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi hingga berhala-berhala didirikan, dan yang pertama mendirikannya adalah penduduk Hadhar dari Tihamah.”

252 – Muhammad bin Wadhdah meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Abu Bakr bin Abi Syaibah meriwayatkan kepada kami, ia berkata: al-Ala’ bin Ashim meriwayatkan kepada kami, dari Hammad bin Zaid, dari Ayyub, dari Abu Qilabah, dari Abu Asma’, dari Tsauban, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi hingga suku-suku dari umatku bergabung dengan orang-orang musyrik, dan hingga berhala-berhala disembah, dan akan ada di umatku pendusta-pendusta sebanyak tiga puluh orang, semuanya mengklaim bahwa ia adalah nabi, padahal aku adalah penutup para nabi.”

253 – Yahya bin Maryam meriwayatkan kepadaku, Mutharrif bin Abdullah al-Madani meriwayatkan kepadaku, ia berkata: Ibnu Abi az-Zinad meriwayatkan kepada kami, dari ayahnya, dari al-A’raj, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi hingga muncul dajjal-dajjal pendusta mendekati tiga puluh orang, semuanya mengklaim bahwa ia adalah utusan Allah.”

254 – Muhammad bin Wadhdah meriwayatkan kepadaku, ia berkata: Ya’qub meriwayatkan kepadaku, dari Ka’b, ia berkata: Baqiyyah meriwayatkan kepada kami, dari Hishn bin Malik al-Awadi, ia berkata: Aku mendengar Abu Muhammad meriwayatkan dari Hudzaifah, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Bacalah Al-Quran dengan lagu dan suara orang Arab, dan jauhilah lagu ahli kefasikan; karena sesungguhnya akan datang setelahku suatu kaum yang melagukan Al-Quran seperti nyanyian, kerahiban, dan ratapan, tidak melampaui kerongkongan mereka, hati mereka dan hati orang-orang yang mengagumi perbuatan mereka terpesona.”

255 – Muhammad bin Wadhdah meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Musa bin Muawiyah meriwayatkan kepada kami, dari Abdurrahman bin Mahdi, dari Hammad bin Zaid, dari Atha’ bin as-Sa’ib, dari Abu Abdurrahman as-Sulami, ia berkata: “Sesungguhnya kami menerima Al-Quran dari suatu kaum, dan mereka memberitahu kami bahwa dahulu ketika mereka mempelajari sepuluh ayat, mereka tidak melampauinya ke sepuluh ayat berikutnya hingga mereka mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya dari ilmu. Ia berkata: Maka kami mempelajari ilmu dan amal sekaligus. Dan sesungguhnya akan mewarisi Al-Quran ini suatu kaum setelah kami yang meminumnya seperti meminum air, tidak melampaui tenggorokan mereka. Ia berkata: Bahkan tidak melampaui di sini, dan ia meletakkan tangannya di bawah dagunya.”

256 – Dan Anas bin Malik berkata: “Akan ada laki-laki yang membaca Al-Quran namun tidak melampaui kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya.”

257 – Muhammad bin Wadhdah meriwayatkan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Musa bin Muawiyah meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman bin Mahdi meriwayatkan kepada kami, dari Abdul Wahid bin Shafwan, ia berkata: Aku mendengar al-Hasan berkata: “Akan datang pada manusia suatu masa di mana mereka menjadikan Al-Quran seperti seruling.”

258 – Muhammad bin Wadhdah meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Abu Bakr bin Abi Syaibah meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Umar bin Yahya meriwayatkan kepada kami, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata: “Kami sedang duduk di depan pintu Abdullah bin Mas’ud menunggunya untuk keluar menemui kami, lalu ia keluar dan berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menceritakan kepada kami: ‘Sesungguhnya ada kaum yang membaca Al-Quran namun tidak melampaui tenggorokan mereka, mereka keluar dari Islam seperti anak panah keluar dari busurnya.'”

259 – Muhammad bin Wadhdah meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Ya’qub bin Ka’b al-Anthaki meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Humair meriwayatkan kepada kami, dari Maslamah bin Ali, dari Umar bin Dzar, dari Abu Qilabah, dari Abu Muslim al-Khaulani, dari Abu Ubaidah bin al-Jarrah, dari Umar bin al-Khaththab, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memegang janggutku, dan aku mengenali kesedihan di wajahnya, lalu beliau bersabda: “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.” Aku berkata: Benar, innalillahi wa inna ilaihi raji’un, apa itu wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Jibril datang kepadaku dan berkata: Sesungguhnya umatmu akan tertimpa fitnah sebentar lagi, tidak lama.” Ia berkata: “Aku berkata: Fitnah kekufuran ataukah fitnah kesesatan? Ia berkata: Semua akan terjadi.” Aku berkata: “Dari mana mereka mendapatkan itu padahal aku meninggalkan di antara mereka Kitabullah?” Ia berkata: “Dengan Kitabullah mereka akan sesat.” Dan menambahkan: “Dari para pembaca dan para pemimpin mereka.” Ibnu Wadhdah berkata: Jubair menghapus ucapannya: “Fitnah kekufuran ataukah fitnah kesesatan?” Sesungguhnya fitnah kekufuran adalah riddah (murtad), di dalamnya halal menawan dan mengambil harta, sedangkan fitnah kesesatan tidak halal di dalamnya menawan dan mengambil harta, dan ini yang kita alami adalah fitnah kesesatan, tidak halal di dalamnya menawan dan mengambil harta.

260 – Muhammad bin Wadhdah meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Yahya meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Asad bin Musa meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Ibnu Lahi’ah meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Masrah bin Ha’an meriwayatkan kepada kami, aku mendengar Uqbah bin Amir berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Kebanyakan orang munafik umatku adalah para pembacanya.”

261 – Asad meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin al-Mubarak meriwayatkan kepada kami, dari Abdullah bin Syuraih al-Ma’afiri, ia berkata: Syurahbil bin Yazid meriwayatkan kepada kami, dari Muhammad bin Hadbah, dari Abdullah bin Amr bin al-Ash, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Kebanyakan orang munafik umatku adalah para pembacanya.”

262 – Asad meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Abu Ubaidah Abdul Mu’min bin Abdullah meriwayatkan kepada kami, dari al-Hasan, ia berkata: “Ketahuilah bahwa di antara manusia yang terburuk adalah kaum yang membaca Al-Quran ini namun tidak mengamalkan sunnahnya.”

263 – Muhammad bin Wadhdah meriwayatkan kepadaku, ia berkata: Ibnu Yahya meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Asad bin Musa meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Bakr bin Khunais meriwayatkan kepada kami, dari Yazid asy-Syami, dari Tsaur, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam suatu hari keluar menemui mereka dan wajahnya berubah, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya di neraka Jahannam ada lembah, dan sesungguhnya Jahannam berlindung kepada Allah dari keburukan lembah itu setiap hari tujuh kali, dan sesungguhnya di lembah itu ada jurang, dan sesungguhnya Jahannam dan lembah itu berlindung kepada Allah dari jurang itu, dan sesungguhnya di jurang itu ada ular, dan sesungguhnya Jahannam, lembah itu, dan jurang itu berlindung kepada Allah dari keburukan ular itu tujuh kali, yang telah Allah sediakan untuk orang-orang celaka dari para pembawa Al-Quran yang bermaksiat kepada Allah dengannya.”

264 – Muhammad bin Wadhdah meriwayatkan kepadaku, ia berkata: Musa bin Muawiyah meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman bin Mahdi al-Bashri meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Sufyan ats-Tsauri meriwayatkan kepada kami, dari Yazid bin Abi Ziyad, dari Ibrahim, dari Alqamah, dari Abdullah, ia berkata: Bagaimana keadaan kalian ketika kalian diliputi fitnah yang di dalamnya anak kecil tumbuh besar, dan orang tua menjadi renta, dan dijadikan sebagai sunnah yang dijalankan, maka jika ada yang mengubahnya dikatakan: Sunnah telah diubah. Dikatakan: Kapan itu wahai Abu Abdurrahman? Maka ia berkata: “Ketika banyak para pembaca kalian, dan sedikit ahli fiqih kalian, dan banyak harta kalian, dan sedikit orang-orang amanah kalian, dan dunia dicari dengan amal akhirat, dan menuntut ilmu fiqih bukan untuk agama.”

265 – Dari Abdullah bin Maisarah, dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: “Ketika kemungkaran merebak di Bani Israil, ahli fiqih dan para pembaca mereka ikut makan dan minum bersama mereka, tidak memerintahkan mereka kepada kebaikan, dan tidak melarang mereka dari kemungkaran; maka Allah menimpakan hati sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan melaknat mereka atas lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan mereka melampaui batas. (Surat al-Maidah: 78)

266 – Ia berkata: Dan Asad meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Waki’ meriwayatkan kepada kami, dari Sufyan, dari Ali bin Budaimah, aku mendengar Abu Ubaidah berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ketika kemerosotan terjadi di Bani Israil, seorang laki-laki di antara mereka melihat saudaranya berbuat dosa lalu melarangnya, namun hal itu tidak menghalanginya untuk tetap menjadi teman makan, minum, dan duduknya; maka Allah menimpakan hati sebagian atas sebagian yang lain, dan turunlah kepada mereka Al-Quran Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil (Surat al-Maidah: 78) hingga sampai pada firman-Nya: tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (Surat al-Maidah: 81).” Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedang bersandar lalu duduk tegak kemudian bersabda: “Tidak, demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, hingga kalian mengambil tangan orang zalim dan kalian paksa ia kepada kebenaran dengan pemaksaan.”

267 – Asad meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman bin Muhammad al-Bukhari meriwayatkan kepada kami, dari al-Ala’ bin al-Musayyab, dari Abdullah bin Amr bin Murrah, dari Salim al-Afthas, dari Abu Ubaidah, dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya seorang laki-laki dari Bani Israil jika melihat saudaranya berbuat dosa, ia melarangnya sebagai peringatan, maka ketika esok harinya, apa yang ia lihat darinya tidak menghalanginya untuk tetap menjadi teman makan, bergaul, dan minumnya, maka ketika Allah melihat hal itu dari mereka, Dia menimpakan hati sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan melaknat mereka atas lisan nabi mereka Daud dan Isa putra Maryam Yang demikian itu karena mereka durhaka dan mereka melampaui batas (Surat al-Baqarah: 61).” Ia berkata: Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh kalian harus memerintahkan kebaikan, dan melarang kemungkaran, dan mengambil tangan orang yang berbuat jahat dan zalim, dan memaksanya kepada kebenaran dengan pemaksaan, atau Allah akan menimpakan hati sebagian kalian atas sebagian yang lain, dan akan melaknat kalian sebagaimana Dia melaknat mereka.”

268 – Asad meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Ibnu Lahi’ah meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Khalid bin Abi Imran meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Wajib atas kalian memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran, selama kalian tidak khawatir akan didatangkan kepada kalian lebih dari apa yang kalian perintahkan, maka jika kalian khawatir akan hal itu maka halal bagi kalian untuk diam.”

269 – Asad meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Hamzah meriwayatkan kepada kami, dari Ibnu al-Mubarak, dari Ibnu Aun, dari al-Hasan, ia berkata: “Suatu hal disebutkan di hadapan Muawiyah dan mereka membicarakannya, sedangkan al-Ahnaf diam, maka Muawiyah berkata: Wahai Abu Bahr, kenapa kamu tidak berbicara? Ia berkata: ‘Aku takut kepada Allah jika berbohong, dan aku takut kepada kalian jika berkata jujur.'”

270 – Asad meriwayatkan dari Qais bin Muslim, dia berkata: Saya mendengar Tariq berkata: Hamzah meriwayatkan kepada kami dari Ibnu Syawdzab, dia berkata: Al-Hasan berkata: “Sesungguhnya amar makruf nahi munkar itu hanya ditujukan kepada orang mukmin yang masih ada harapan (untuk berubah), dan orang jahil yang bisa diberi pengajaran, dan tidak ditujukan kepada orang yang sudah menghunus pedangnya.”

271 – Asad meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Syu’bah meriwayatkan kepada kami dari Qais bin Muslim, dia berkata: Saya mendengar Tariq bin Syihab berkata: ‘Utaris bin ‘Auf berkata kepada Abdullah: “Aku akan celaka jika tidak menyuruh kepada kebaikan dan tidak melarang dari kemungkaran.” Maka Abdullah berkata: “Engkau akan celaka jika hatimu tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran.”

272 – Asad meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Hammad bin Salamah meriwayatkan kepada kami dari Abu Harun Al-‘Abdi, dari budak (bekas budak) Umar bin Al-Khaththab, dari Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Hampir saja umat ini akan binasa kecuali tiga orang: seorang laki-laki yang mengingkari dengan tangannya, lisannya, dan hatinya, jika ia takut maka dengan lisannya, jika ia takut maka dengan hatinya.”

273 – Asad meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Thalhah meriwayatkan kepada kami dari Zubaid Al-Ayyami, dari Asy-Sya’bi, dari Abu Hanifah, dari Ali, dia berkata: “Jihad itu ada tiga macam: jihad dengan tangan, jihad dengan lisan, dan jihad dengan hati. Yang pertama kali dikalahkan dari jihadmu adalah tanganmu, kemudian lisanmu, lalu menjadi sampai ke hati. Jika hatinya sudah tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran, maka ia dibalik sehingga bagian atasnya dijadikan bagian bawahnya.”

274 – Asad meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Sa’id bin Zaid meriwayatkan kepada kami dari Laits bin Abi Sulaim, dia berkata: Al-Asy’ats bin Qais menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata: “Jika suatu kesalahan dikerjakan di muka bumi, maka orang yang menyaksikannya lalu membencinya seperti orang yang tidak hadir di sana, dan orang yang tidak hadir di sana tetapi meridhainya seperti orang yang menyaksikannya.”

275 – Asad meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Ismail bin ‘Ayyasy meriwayatkan kepada kami dari Umar bin ‘Amru Ar-Ra’ini, dari Ka’ab Al-Ahbar, bahwa ia biasa berkata: “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang berdiri di hadapan-Nya setiap terbit fajar, Dia mengutus mereka untuk melaksanakan apa yang Dia kehendaki dari urusan-Nya. Di antara mereka adalah malaikat yang Allah berfirman kepada mereka: Turunlah kalian ke bumi lalu namailah di wajah setiap hamba dari hamba-hamba-Ku yang membesar di dadanya apa yang ia lihat dari hal yang tidak mampu ia ubah; supaya apabila azab-Ku turun, Aku selamatkan dia dengan rahmat-Ku.”

276 – Asad meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Asyras bin Ar-Rabi’ meriwayatkan kepada kami, dia berkata: ‘Atha’ bin Maisarah Al-Khurasani meriwayatkan kepada kami, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan datang kepada manusia suatu zaman di mana hati orang mukmin meleleh di dalam perutnya sebagaimana es meleleh di dalam air.” Ditanyakan: “Wahai Nabi Allah, mengapa demikian?” Beliau bersabda: “Ia melihat kemungkaran dikerjakan tetapi ia tidak mampu mengubahnya.”

277 – Asad meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Baqiyyah meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Ishaq bin Malik Al-Hadhrami meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Abu Nizar Al-Qusyairi menceritakan kepadaku, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menyuruh kepada kebaikan maka hendaklah perintahnya itu dengan cara yang baik.”

278 – Asad meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Hammad bin Salamah meriwayatkan kepada kami dari Ali bin Zaid, dari Al-Hasan, dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan terjadi berbagai perkara yang kalian kenali dan kalian ingkari. Barangsiapa yang mengingkarinya maka ia terbebas, dan barangsiapa yang membencinya maka ia selamat, tetapi barangsiapa yang meridhainya dan mengikutinya maka mereka itulah orang-orang yang binasa.” Beliau mengucapkannya tiga kali.

279 – Muhammad bin Wadhdah menceritakan kepadaku, dia berkata: Harun bin ‘Abbad meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Jarir bin Abdul Hamid meriwayatkan kepada kami, dari Abdul Malik bin ‘Umair, dari Rabi’ bin ‘Ablah, Abdullah bin Mas’ud berkata: “Sesungguhnya akan terjadi berbagai kesulitan dan kesulitan. Maka cukuplah bagi seseorang jika ia melihat kemungkaran yang tidak ia mampu (mengubahnya) selain hanya Allah mengetahui dari hatinya bahwa ia membencinya.”

280 – Muhammad bin Wadhdah menceritakan kepadaku, dia berkata: Amir bin Musa meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Yazid bin ‘Atha’ meriwayatkan kepada kami, dari Abu Ishaq As-Sabi’i, dari sebagian anak Jarir bin Abdullah atau sebagian keluarganya, dari Jarir bin Abdullah, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ada seorang laki-laki berada dalam suatu kaum yang mengerjakan kemaksiatan, mereka lebih banyak darinya dan lebih kuat, seandainya mereka mau tentu mereka mengambil (menahan) tangannya, tetapi mereka bersikap toleran (terhadap kemungkaran) dan diam, maka mereka dihukum bersamanya.”

281 – Asad bin Musa meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Abul Ahwash meriwayatkan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Abdullah bin Jarir, dari ayahnya, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah ada seorang laki-laki berada dalam suatu kaum yang mengerjakan kemaksiatan di tengah-tengah mereka, mereka mampu untuk mengubahnya tetapi mereka tidak mengubahnya, melainkan Allah akan menimpakan azab kepada mereka sebelum mereka mati.”

282 – Muhammad bin Wadhdah menceritakan kepadaku, dia berkata: Musa bin Mu’awiyah meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Ibnu Mahdi meriwayatkan kepada kami, dari Isra’il bin Yunus, dari Ibrahim bin Al-Muhajir, dari Ibnu Mas’ud, dia berkata: “Sesungguhnya kesalahan itu dikerjakan di muka bumi lalu mereka mengerjakannya, dan bersama mereka ada seorang laki-laki maka kesalahan itu tidak menimpanya, dan menimpa orang yang berada di luar daerah itu; karena orang ini mengingkarinya dan tidak menyukainya, sedang orang yang lain itu sampai kepadanya lalu ia tidak mengingkarinya dan menyukainya.”

283 – Muhammad bin Wadhdah menceritakan kepadaku, dia berkata: Muhammad bin Yahya meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Asad bin Musa meriwayatkan kepada kami, Baqiyyah berkata: Abdullah bin Nu’aim meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Abu Huwan menceritakan kepadaku, dia berkata: “Ketika ada anak-anak kecil yang menangkap seekor ayam jantan lalu mereka mencabuti bulunya, dan seorang lelaki tua berdiri melihat mereka di samping mereka, tidak memerintahkan mereka dan tidak melarang mereka; maka Allah membuat mereka terbenam ke dalam bumi.”

284 – Asad meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Hammad bin Salamah meriwayatkan kepada kami, dari Abu ‘Imran Al-Jauni: “Bahwa Salman melewati para pemuda yang menyiksa seekor keledai, lalu ia melarang mereka tetapi mereka tidak berhenti, maka ia berkata: ‘Wahai langit, saksikanlah, dan wahai gunung-gunung, saksikanlah.'” Ibnu Wadhdah berkata: “Betapa baiknya hal itu.”

285 – Muhammad bin Wadhdah menceritakan kepadaku, dia berkata: Ahmad bin ‘Amru meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Ja’far bin Harun meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Abu Sulaim Al-Qari mengabarkan kepadaku, dari Mas’ar bin Wabarah, dia berkata: Saya mendengar Ibnu Abbas berkata: “Hati-hatilah dari perkataan tentang hal yang tidak berkepentingan bagimu; karena itu adalah kelebihan (sia-sia), dan aku tidak merasa aman bagimu darinya dari dosa. Dan hati-hatilah dari perkataan tentang hal yang berkepentingan bagimu tetapi di tempat yang tidak tepat; karena betapa banyak muslim yang bertakwa telah berbicara tentang hal yang berkepentingan baginya tetapi di tempat yang tidak tepat lalu ia menjadi lelah.”

286 – Muhammad bin Wadhdah menceritakan kepadaku, dia berkata: Muhammad bin Sa’id meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Asad bin Musa meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Ayyub bin Khawth meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Al-Hasan meriwayatkan kepada kami, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bukanlah seorang mukmin orang yang menghinakan dirinya sendiri.” Ditanyakan: “Wahai Rasulullah, bagaimana ia menghinakan dirinya sendiri?” Beliau bersabda: “Ia menampakkan dirinya untuk menghadapi ujian yang tidak ia mampu menghadapinya.”

287 – Ibnu Wadhdah meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Yahya meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Asad meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Qais bin Ar-Rabi’ meriwayatkan kepada kami, dari Al-A’masy, dari Ibrahim, dia berkata: Abdullah berkata: “Sesungguhnya seorang laki-laki mengucapkan suatu perkataan yang tidak diubah terhadapnya dan hati-hati mereka tidak mengingkarinya, maka kemurkaan turun kepada mereka.”

288 – Asad meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Al-Walid meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Abu ‘Amru Al-Awza’i menceritakan kepadaku, dia berkata: Saya mendengar Bilal bin Sa’d berkata: “Jika kesalahan tersembunyi maka ia tidak membahayakan kecuali pelakunya, tetapi jika ia tampak lalu tidak diubah maka ia membahayakan masyarakat umum.”

289 – Asad meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Baqiyyah meriwayatkan kepada kami, Abdullah bin Nu’aim menceritakan kepadaku, dia berkata: Abu Huwan menceritakan kepadaku, dia berkata: “Allah mengutus dua malaikat kepada penduduk suatu kampung: ‘Musnahkanlah kampung itu beserta penduduknya.’ Maka keduanya menemukan di sana seorang laki-laki yang sedang berdiri shalat di masjidnya. Salah satu dari keduanya naik menghadap Allah Ta’ala lalu berkata: ‘Ya Rabb kami, kami menemukan di sana hamba-Mu si fulan sedang berdiri shalat di masjidnya.’ Allah berfirman: ‘Musnahkanlah kampung itu dan musnahkan ia bersama mereka; karena sesungguhnya wajahnya tidak pernah berkerut (marah) karena Aku.'”

290 – Muhammad bin Wadhdah menceritakan kepadaku, dia berkata: Hamzah bin Sa’id meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Yahya bin Sulaim menceritakan kepadaku, dari Ibnu Khutsaim, dari Abu Az-Zubair, dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bagaimana Allah akan menyucikan suatu umat yang tidak diambil dari orang kuat mereka untuk orang lemah mereka?”

291 – Muhammad bin Wadhdah menceritakan kepadaku, dia berkata: Muhammad bin Yahya meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Asad bin Musa meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Thalhah meriwayatkan kepada kami, dari Zubaid Al-Ayyami, dari ‘Amru bin Murrah, dari seorang laki-laki dari Bani Hasyim, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Seburuk-buruk kaum adalah kaum yang tidak dipandang penting dalam menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, dan seburuk-buruk kaum adalah kaum yang tidak menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, dan seburuk-buruk kaum adalah kaum yang mengasingkan orang yang menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, dan seburuk-buruk kaum adalah kaum yang tidak menegakkan keadilan karena Allah, dan seburuk-buruk kaum adalah kaum yang di tengah-tengah mereka orang mukmin berjalan dengan taqiyyah (menyembunyikan keimanan) dan penyembunyian.”

292 – Asad meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Ismail bin ‘Ayyasy meriwayatkan kepada kami, dari Thalhah bin ‘Amru, dari ‘Atha’ bin Abi Rabah, dari Abu Hurairah, dia berkata: Ditanyakan: “Wahai Rasulullah, jika kami tidak menyuruh kepada kebaikan dan tidak melarang dari kemungkaran, sehingga kami tidak meninggalkan sedikitpun dari kebaikan kecuali kami mengerjakannya, dan tidak sedikitpun dari kemungkaran kecuali kami meninggalkannya, apakah kami tidak menyuruh kepada kebaikan dan tidak melarang dari kemungkaran?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Suruhlah kepada kebaikan meskipun kalian tidak mengerjakannya semuanya, dan saling laranglah dari kemungkaran meskipun kalian tidak meninggalkannya semuanya.”

 

Facebook Comments Box

Penulis : Muhammad bin Waddhah al-Qurthubi

Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.

Artikel Terjkait

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT
Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya
Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat
Kewajiban dan Keutamaan Taubat
Keutamaan Tauhid
Keutamaan Puasa Sunnah
Keutamaan Puasa Asyura (Yaitu hari kesepuluh dari bulan Muharram)
Keutamaan Mengajarkan Ilmu dan Menyeru Manusia kepada Kebaikan
Berita ini 0 kali dibaca

Artikel Terjkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 03:47 WIB

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:41 WIB

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:40 WIB

Keutamaan Puasa Sunnah

Artikel Terbaru

Akidah

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:47 WIB

Fatwa Ulama

Akibat Dosa Menyebabkan Bencana Alam – Faedah 10

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:45 WIB

Dakwah

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Jan 2026 - 15:41 WIB