🟤 Dari Abu Sa’id bin Fadhallah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إذا جمع اللهُ الأوَّلين والآخرين يومَ القيامةِ ليومٍ لا ريبَ فيه نادى منادٍ من كان أشرك في عملٍ عملَه للهِ فلْيطلبْ ثوابَه من عندِ غيرِ اللهِ فإنَّ اللهَ أغنى الشركاءِ عن الشركِ
_”Ketika Allah mengumpulkan orang-orang yang terdahulu dan yang kemudian pada hari Kiamat, pada hari yang tidak ada keraguan padanya, seorang penyeru akan menyeru: ‘Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dalam suatu amal yang ia kerjakan untuk-Ku dengan selain-Ku, maka hendaklah ia meminta pahalanya dari sembahan selain Allah, karena Allah adalah Dzat yang paling tidak butuh sekutu.'”_ (HR. At-Tirmidzi)
🟤 Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui kami sedangkan kami sedang membicarakan Al-Masih Ad-Dajjal. Beliau bersabda:
ألا أخبركم بما هو أخوفُ عليكم عندي من المسيحِ الدجالِ ؟ ، فقلنا : بلى، يا رسولَ اللهِ قال : الشركُ الخفيُّ : أن يقوم الرجل فيصلي فيزيدُ صلاتَه ؛ لما يرى من نظرِ رجلٍ .
_’Maukah kalian aku beritahukan sesuatu yang lebih aku khawatirkan menimpa kalian daripada Al-Masih Ad-Dajjal?'” Kami menjawab: ‘Tentu, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda: ‘Syirik yang tersembunyi, yaitu ketika seseorang melaksanakan shalat, lalu ia memperindah shalatnya karena melihat pandangan seseorang kepadanya.'”_ (HR. Ibnu Majah)
🟤 Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إنَّ أوَّلَ الناسِ يُقْضَى يومَ القيامةِ عليه رجلٌ اسْتُشْهِدَ ، فأُتِيَ بهِ ، فعَرَّفَهُ نِعَمَهُ ، فعَرَفَها ، قال : فما عمِلْتَ فيها ؟ قال : قاتَلْتُ فِيكَ حتى اسْتُشْهِدْتُ، قال : كذبْتَ ، ولكنَّكَ قاتَلْتَ لِيُقالَ جِريءٌ ، فقدْ قِيلَ ، ثمَّ أُمِرَ بهِ فسُحِبَ على وجْهِهِ حتَّى أُلْقِيَ في النارِ ، ورجلٌ تعلَّمَ العِلْمَ وعلَّمَهُ ، وقَرَأَ القُرآنَ ، فأُتِيَ بهِ فعَرَّفَهُ نِعمَهُ ، فعَرَفَها ، قال : فما عمِلْتَ فيها ؟ قال : تعلَّمْتُ العِلْمَ وعلَّمْتُهُ ، وقَرَأْتُ فِيكَ القُرآنَ ، قال : كذبْتَ، ولكنَّكَ تعلَّمْتَ العِلْمَ لِيُقالَ عالِمٌ ، وقرأْتَ القُرآنَ لِيُقالَ : هو قارِئٌ فقدْ قِيلَ ، ثمَّ أُمِرَ بهِ فسُحِبَ على وجْهِهِ حتى أُلْقِيَ في النارِ ، ورجُلٌ وسَّعَ اللهُ عليْهِ ، وأعْطاهُ من أصنافِ المالِ كُلِّهِ ، فأُتِيَ بهِ فعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فعَرَفَها ، قال : فمَا عمِلْتَ فيها ؟ قال : ما تركْتُ من سبيلٍ تُحِبُّ أنْ يُنفَقَ فيها إلَّا أنفقْتُ فيها لكَ ، قال : كذبْتَ، ولكنَّكَ فعلْتَ لِيُقالَ : هوَ جَوَادٌ ، فقدْ قِيلَ، ثمَّ أُمِرَ بهِ فسُحِبَ على وجْهِهِ ، ثمَّ أُلْقِيَ في النارِ
_”Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari Kiamat adalah (seorang) lelaki yang mati syahid. Ia didatangkan, lalu diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat (yang diberikan Allah) dan ia pun mengakuinya. Allah berfirman: ‘Apa yang telah kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab: ‘Aku berperang demi-Mu sampai aku mati syahid.’ Allah berfirman: ‘Kamu dusta! Sebenarnya kamu berperang agar dikatakan: “Pemberani.” Dan itu sudah diucapkan.’ Kemudian diperintahkan agar ia diseret atas wajahnya sampai dilemparkan ke dalam Neraka. (Kemudian) seorang lelaki yang menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta membaca Al-Qur’an. Ia didatangkan, lalu diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya dan ia pun mengakuinya. Allah berfirman: ‘Apa yang telah kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, dan aku membaca Al-Qur’an demi-Mu.’ Allah berfirman: ‘Kamu dusta! Sebenarnya kamu menuntut ilmu agar dikatakan: “Alim.” Dan kamu membaca Al-Qur’an agar dikatakan: “Ia adalah seorang qari’ (pembaca Al-Qur’an).” Dan itu sudah diucapkan.’ Kemudian diperintahkan agar ia diseret atas wajahnya sampai dilemparkan ke dalam Neraka. (Kemudian) seorang lelaki yang Allah lapangkan (rezekinya) dan memberikan kepadanya segala jenis harta. Ia didatangkan, lalu diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya dan ia pun mengakuinya. Allah berfirman: ‘Apa yang telah kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab: ‘Aku tidak meninggalkan satu jalan pun yang Engkau sukai untuk diinfakkan padanya, melainkan aku telah berinfak di jalan itu demi-Mu.’ Allah berfirman: ‘Kamu dusta! Sebenarnya kamu lakukan itu agar dikatakan: “Ia adalah seorang yang dermawan.” Dan itu sudah diucapkan.’ Kemudian diperintahkan agar ia diseret atas wajahnya, lalu dilemparkan ke dalam Neraka.”_ (HR. Muslim)
💡 *Penjelasan:*
Riya’ adalah beramal karena makhluk dalam hal ibadah atau melakukannya untuk mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganggapnya sebagai syirik dan memperingatkan umatnya darinya, karena ia tersembunyi bagi banyak orang yang terjatuh di dalamnya, dan karena ia merusak amalan dan menghapuskannya.
📝 *Faidah-faidah:*
- Kekhawatiran Rasulullah terhadap para Sahabat dari riya’ merupakan peringatan bagi orang yang di bawah mereka untuk sangat berhati-hati darinya.
- Orang yang shaleh pun bisa terjatuh dalam riya’ tanpa disadarinya.
- Amalan orang yang riya’ tertolak dan tidak diterima.
- Ancaman yang sangat keras bagi orang-orang yang riya’ dalam amalannya.
📗 *Sumber:* _Ad-durus Al-Yaumiyah min As-Sunani wal Al-Ahkam Asy-syariyah_
👤 *Diterjemahkan oleh:* Muh. Rujib Abdullah
Penulis : Muh. Rujib Abdullah







