Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, dan tidak ada permusuhan kecuali terhadap orang-orang zalim. Shalawat dan salam atas junjungan kami Muhammad, pemimpin para rasul dan imam orang-orang bertakwa, serta atas keluarga dan sahabatnya semuanya.
Adapun setelahnya, maka ini adalah kitab yang memuat pembahasan ringkasan tentang dosa-dosa besar, hal-hal yang diharamkan, dan larangan-larangan.
DOSA-DOSA BESAR
Dosa-dosa besar adalah apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya dalam Al-Quran dan Sunnah serta riwayat dari para salaf yang saleh. Allah Ta’ala telah berjanji dalam kitab-Nya yang mulia bahwa bagi siapa yang menjauhi dosa-dosa besar dan hal-hal yang diharamkan, maka Dia akan menghapus dosa-dosa kecil dari keburukan-keburukannya berdasarkan firman-Nya:
“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara apa yang dilarang kepadamu, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia.” (An-Nisa: 31)
Allah Ta’ala telah menjamin dengan nash ini bahwa barang siapa yang menjauhi dosa-dosa besar, maka Dia akan memasukkannya ke dalam surga. Allah Ta’ala berfirman:
“Dan orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.” (Asy-Syura: 37)
Dan Allah Ta’ala berfirman:
“(Yaitu) mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji kecuali kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya.” (An-Najm: 32)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat, dan Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa untuk apa yang ada di antara ketiganya, jika dosa-dosa besar dijauhi.”
Maka wajib bagi kita untuk meneliti apa saja dosa-dosa besar itu agar kaum muslimin dapat menjauhinya. Kami mendapati para ulama rahimahullah telah berbeda pendapat mengenainya. Ada yang berkata bahwa dosa besar itu tujuh, dan mereka berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan,” lalu beliau menyebutkan di antaranya: syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak, memakan harta anak yatim, memakan riba, berpaling pada hari perang, dan menuduh zina wanita-wanita baik-baik yang lengah lagi beriman. (Muttafaq ‘alaih)
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Dosa besar itu lebih dekat kepada tujuh puluh daripada kepada tujuh.” Dan benar, demi Allah, ucapan Ibnu Abbas.
Adapun hadits tersebut, tidak ada di dalamnya pembatasan dosa-dosa besar. Yang tepat dan didukung dalil adalah bahwa barang siapa yang melakukan sesuatu dari kemungkaran besar yang memiliki hukuman had di dunia seperti pembunuhan, zina, dan pencurian, atau yang di dalamnya terdapat ancaman di akhirat berupa azab, murka, ancaman, atau laknat terhadap pelakunya dari lisan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itu adalah dosa besar.
Harus diserahkan bahwa sebagian dosa besar lebih besar dari sebagian lainnya. Tidakkah engkau lihat bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menghitung syirik kepada Allah sebagai dosa besar, padahal pelakunya kekal di neraka dan tidak akan diampuni selamanya. Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (An-Nisa: 48)
DOSA BESAR ke-01: SYIRIK KEPADA ALLAH
Dosa besar yang paling besar adalah syirik kepada Allah Ta’ala, dan itu ada dua macam:
Pertama: Menjadikan sekutu bagi Allah dan menyembah selain-Nya, seperti batu, pohon, matahari, bulan, nabi, syaikh, bintang, malaikat, atau selain itu. Ini adalah syirik besar yang disebutkan Allah ‘azza wa jalla.
Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (An-Nisa: 48)
Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang besar.” (Luqman: 13)
Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka.” (Al-Maidah: 72)
Ayat-ayat tentang hal itu banyak. Barang siapa yang menyekutukan Allah kemudian mati dalam keadaan musyrik, maka dia pasti penghuni neraka, sebagaimana barang siapa yang beriman kepada Allah dan mati dalam keadaan beriman, maka dia penghuni surga meskipun disiksa dengan api neraka.
Dalam Shahih diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidakkah aku kabarkan kepadamu tentang dosa besar yang paling besar?” (tiga kali). Para sahabat berkata: “Ya wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua.” Beliau sedang bersandar lalu duduk dan berkata: “Ketahuilah, ucapan dusta, ketahuilah persaksian palsu.” Beliau terus mengulanginya hingga kami berkata: “Seandainya beliau diam.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan,” lalu menyebutkan di antaranya syirik kepada Allah.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah dia.”
Jenis kedua dari syirik adalah riya dalam amal, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“Barang siapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (Al-Kahfi: 110)
Artinya: jangan riya dengan amalnya kepada seorang pun.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hati-hatilah kalian dari syirik kecil.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apa syirik kecil itu?” Beliau menjawab: “Riya. Allah Ta’ala berfirman pada hari Dia membalas hamba-hamba dengan amal mereka: ‘Pergilah kepada orang-orang yang kalian pamerkan amal kalian kepada mereka di dunia, lalu lihatlah apakah kalian mendapat balasan dari mereka.'”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah berfirman: ‘Barang siapa yang beramal lalu mempersekutukan Aku dengan selain-Ku, maka amalnya untuk yang dipersekutukan itu, dan Aku berlepas diri darinya.'”
Beliau bersabda: “Barang siapa yang ingin didengar (orang), Allah akan memperdengarkannya, dan barang siapa yang riya, Allah akan memperlihatkannya.”
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapat dari puasanya kecuali lapar dan dahaga, dan betapa banyak orang yang shalat malam tidak mendapat dari shalatnya kecuali begadang.” Maksudnya jika shalat dan puasa tidak dilakukan karena Allah Ta’ala, maka tidak ada pahala baginya.
Sebagaimana diriwayatkan dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Perumpamaan orang yang beramal untuk riya dan sum’ah seperti orang yang mengisi kantongnya dengan kerikil kemudian masuk pasar untuk berbelanja dengannya. Ketika dibuka di hadapan penjual, ternyata itu kerikil dan dipukul ke wajahnya. Tidak ada manfaat baginya dari kantongnya selain ucapan orang kepadanya betapa penuh kantongnya, dan dia tidak diberi apa-apa dengannya. Demikian pula orang yang beramal untuk riya dan sum’ah, tidak ada baginya dari amalnya selain ucapan orang, dan tidak ada pahala baginya di akhirat.”
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (Al-Furqan: 23)
Maksudnya amal-amal yang mereka kerjakan bukan karena wajah Allah Ta’ala, Kami batalkan pahalanya dan jadikan seperti debu yang beterbangan, yaitu debu yang terlihat dalam sinar matahari.
Adiy bin Hatim ath-Tha’i radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Diperintahkan kelompok-kelompok manusia pada hari kiamat menuju surga hingga ketika mereka mendekatinya dan mencium harumnya serta melihat istana-istananya dan apa yang Allah sediakan bagi penghuninya, maka dipanggillah: ‘Palingkan mereka darinya karena mereka tidak memiliki bagian di dalamnya.’ Maka mereka kembali dengan penyesalan dan keheranan yang tidak pernah dialami orang terdahulu dan kemudian. Mereka berkata: ‘Ya Tuhan kami, seandainya Engkau memasukkan kami ke neraka sebelum memperlihatkan kepada kami apa yang Engkau perlihatkan dari pahala yang Engkau sediakan untuk kekasih-kekasih-Mu, itu akan lebih ringan bagi kami.’ Allah Ta’ala berfirman: ‘Itulah yang Aku kehendaki untuk kalian. Kalian jika menyendiri, kalian menentang-Ku dengan kemungkaran besar, dan jika bertemu manusia, kalian menemui mereka dengan tunduk, memamerkan kepada manusia amal kalian yang berbeda dengan apa yang kalian berikan kepada-Ku dari hati kalian. Kalian takut kepada manusia dan tidak takut kepada-Ku, kalian memuliakan manusia dan tidak memuliakan Aku, kalian meninggalkan untuk manusia dan tidak meninggalkan untuk-Ku.’ Maksudnya demi manusia. ‘Maka hari ini Aku rasakan kepada kalian azab yang pedih bersama apa yang Aku haramkan kepada kalian dari pahala yang berlimpah.'”
Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah: “Apa keselamatan itu?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Jangan menipu Allah.” Dia bertanya: “Bagaimana menipu Allah?” Beliau menjawab: “Engkau mengerjakan amal yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya kepadamu, tetapi engkau menginginkan dengannya selain wajah Allah. Bertakwalah dari riya karena itu adalah syirik kecil. Sesungguhnya orang yang riya akan dipanggil pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk dengan empat nama: ‘Wahai pemberiya, wahai pengkhianat, wahai pendosa, wahai yang rugi! Sia-sia amalmu dan batal pahalamu. Tidak ada pahala bagimu di sisi Kami. Pergilah dan ambil pahalamu dari yang engkau kerjakan untuknya, wahai penipu!'”
Sebagian ulama ditanya: “Siapa orang yang ikhlas?” Dia menjawab: “Orang yang ikhlas adalah yang menyembunyikan kebaikannya sebagaimana dia menyembunyikan keburukannya.”
Dikatakan kepada sebagian mereka: “Apa puncak keikhlasan?” Dia menjawab: “Jangan mencintai pujian manusia.”
Al-Fudhail bin ‘Iyadh radhiyallahu ‘anhu berkata: “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya, dan beramal karena manusia adalah syirik. Keikhlasan adalah Allah menyelamatkanmu dari keduanya. Ya Allah, selamatkan kami dari keduanya dan maafkan kami.”
DOSA BESAR KE-02: MEMBUNUH JIWA
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (An-Nisa: 93)
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan hak dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa, (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh.” (Al-Furqan: 68-70)
Allah Ta’ala berfirman:
“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (Al-Maidah: 32)
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan apabila anak yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apa dia dibunuh.” (At-Takwir: 8-9)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan,” lalu menyebutkan pembunuhan jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak.
Seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Dosa apa yang paling besar di sisi Allah Ta’ala?” Beliau menjawab: “Engkau menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dia yang menciptakanmu.” Dia bertanya: “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Engkau membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.” Dia bertanya: “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Engkau berzina dengan istri tetanggamu.” Maka Allah Ta’ala menurunkan sebagai pembenaran:
“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan hak dan tidak berzina.” (Al-Furqan: 68)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika dua muslim bertemu dengan pedang mereka, maka pembunuh dan yang dibunuh keduanya di neraka.” Ditanya: “Ya Rasulullah, ini pembunuhnya, lalu bagaimana dengan yang dibunuh?” Beliau menjawab: “Karena dia bersemangat untuk membunuh temannya.”
Imam Abu Sulaiman rahimahullah berkata: “Ini hanya terjadi demikian jika keduanya tidak berperang berdasarkan takwil. Mereka hanya berperang karena permusuhan di antara keduanya dan fanatisme atau mencari dunia atau kepemimpinan atau kemuliaan. Adapun yang memerangi ahli bughat dengan sifat yang wajib mereka perangi dengannya, atau membela diri atau kehormatannya, maka dia tidak masuk dalam ini karena dia diperintahkan berperang untuk membela dirinya tanpa bermaksud membunuh temannya kecuali jika dia bersemangat membunuh temannya. Barang siapa yang memerangi pemberontak atau perampok jalan dari kaum muslimin, maka dia tidak bersemangat membunuhnya, dia hanya menolaknya dari dirinya. Jika temannya berhenti, dia menahan diri darinya dan tidak mengejarnya. Karena hadits tidak datang tentang orang yang memiliki sifat ini. Adapun yang menyelisihi sifat ini, maka dialah yang masuk dalam hadits yang kami sebutkan ini, wallahu a’lam.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jangan kalian kembali setelahku menjadi orang-orang kafir yang sebagian memukul tengkuk sebagian.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hamba senantiasa dalam kelapangan agamanya selama dia tidak mengenai darah yang haram.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Yang pertama diputuskan di antara manusia pada hari kiamat adalah tentang darah.”
Dalam hadits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Membunuh seorang mukmin lebih besar di sisi Allah daripada lenyapnya dunia.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dosa-dosa besar adalah menyekutukan Allah, membunuh jiwa, dan sumpah ghamush.” Disebut ghamush karena menenggelamkan pemiliknya di neraka.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak dibunuh seorang pun secara zalim kecuali anak Adam yang pertama mendapat bagian dari darahnya karena dialah yang pertama membuat sunnah pembunuhan.” (Dikeluarkan dalam Shahihain)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang membunuh mu’ahad (orang yang diperjanjikan), dia tidak akan mencium harum surga, dan sesungguhnya harumnya dapat tercium dari perjalanan empat puluh tahun.” (Dikeluarkan oleh Bukhari)
Jika demikian halnya dalam membunuh mu’ahad yaitu yang diberi perjanjian dari kalangan Yahudi dan Nasrani di negeri Islam, maka bagaimana dengan membunuh muslim?
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketahuilah, barang siapa yang membunuh jiwa yang diperjanjikan yang memiliki jaminan Allah dan jaminan Rasul-Nya, maka dia telah mengingkari jaminan Allah dan tidak akan mencium harum surga, dan sesungguhnya harumnya dapat tercium dari perjalanan lima puluh musim gugur.” (Dishahihkan oleh Tirmidzi)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang membantu membunuh seorang muslim dengan setengah kata, dia akan bertemu Allah dengan tertulis di antara kedua matanya: putus asa dari rahmat Allah Ta’ala.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad)
Dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap dosa, Allah mungkin mengampuninya kecuali laki-laki yang mati kafir atau laki-laki yang membunuh mukmin dengan sengaja.” Kami memohon keselamatan kepada Allah.
DOSA BESAR KE-03: SIHIR
Karena penyihir pasti akan menjadi kafir. Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 102: “Tetapi setan-setan itu kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” Dan setan yang terkutuk tidak memiliki tujuan dalam mengajarkan sihir kepada manusia kecuali agar manusia menyekutukan Allah.
Allah Ta’ala mengabarkan tentang Harut dan Marut dalam Surat Al-Baqarah ayat 102: “Dan keduanya tidak mengajarkan kepada seseorang pun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanyalah cobaan, maka janganlah kamu kafir.’ Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu sesuatu yang dapat memisahkan antara seorang suami dengan istrinya. Tetapi mereka tidak dapat memberi mudarat kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepada mereka dan tidak memberi manfaat. Dan sungguh, mereka telah mengetahui bahwa barangsiapa membeli (ilmu sihir) itu, dia tidak akan mendapat keuntungan di akhirat” – yaitu tidak mendapat bagian.
Maka kamu akan melihat banyak orang sesat yang terjun ke dalam sihir dan mereka mengira bahwa sihir itu hanya haram saja, padahal mereka tidak menyadari bahwa itu adalah kekafiran. Mereka terjun ke dalam mempelajari dan mengamalkan simiya (ilmu sihir) yang merupakan sihir murni, dalam mengikat suami dari istrinya yang merupakan sihir, dalam membuat cinta lelaki kepada perempuan dan kebencian perempuan kepadanya, dan yang serupa dengan itu melalui kata-kata yang tidak diketahui yang kebanyakannya adalah syirik dan kesesatan.
Hukuman bagi penyihir adalah dibunuh karena dia telah kafir kepada Allah atau mendekati kekafiran. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan,” dan beliau menyebutkan di antaranya adalah sihir. Al-Mubiqat artinya yang membinasakan. Maka hendaklah hamba bertakwa kepada Tuhannya dan jangan masuk ke dalam sesuatu yang akan merugikannya di dunia dan akhirat.
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Hukuman penyihir adalah dipukul dengan pedang.” Yang benar adalah bahwa ini adalah perkataan Jundub. Dari Bajalah bin Abdah bahwa dia berkata: “Datang kepada kami surat dari Umar radhiyallahu ‘anhu sebelum kematiannya setahun: ‘Bunuhlah setiap penyihir laki-laki dan perempuan.'”
Dari Wahb bin Munabbih dia berkata: “Aku membaca dalam sebagian kitab, Allah ‘azza wa jalla berfirman: ‘Laa ilaaha illa ana (Tidak ada tuhan selain Aku). Bukan termasuk dari-Ku orang yang menyihir dan yang meminta disihirkan, yang meramal dan yang meminta diramal, yang percaya burung dan yang meminta dipercayakan burung.'”
Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tiga orang yang tidak akan masuk surga: pemabuk khamar, pemutus silaturrahim, dan yang membenarkan sihir.” Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya.
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu secara marfu’ (sampai kepada Nabi), beliau bersabda: “Ruqyah, tamimah, dan tiwala adalah syirik.” Tamimah (jamaknya tamimah) adalah manik-manik dan jimat yang digantungkan oleh orang-orang jahil pada diri mereka, anak-anak mereka, dan hewan mereka. Mereka mengira bahwa itu dapat menolak ‘ain (mata jahat). Ini adalah perbuatan jahiliyah, dan siapa yang meyakini hal itu maka dia telah berbuat syirik.
Tiwala (dengan kasrah ta’ dan fathah waw) adalah sejenis sihir yaitu membuat perempuan dicintai suaminya. Hal itu dijadikan sebagai syirik karena keyakinan orang jahil bahwa itu berpengaruh selain dari apa yang telah ditakdirkan Allah Ta’ala.
Al-Khattabi rahimahullah berkata: “Adapun jika ruqyah itu dengan Al-Qur’an atau dengan nama-nama Allah Ta’ala maka itu dibolehkan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meruqyah Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhuma dengan berkata: ‘A’udzukuma bi kalimatillahi at-tammati min kulli syaythanin wa hammatin wa min kulli ‘ainin lammah (Aku berlindungkan kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan binatang berbisa dan dari setiap mata yang jahat).’ Dan dengan pertolongan Allah kita meminta bantuan dan kepada-Nya kita bertawakal.”
DOSA BESAR KE-04: MENINGGALKAN SHALAT
Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Maryam ayat 59: “Maka datanglah pengganti sesudah mereka yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu, maka mereka akan menemui kesesatan. Kecuali orang yang bertaubat, beriman, dan beramal saleh.”
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Bukan maksudnya mereka meninggalkan shalat sama sekali, tetapi mereka mengakhirkan shalat dari waktu-waktunya.”
Sa’id bin Al-Musayyib, imam para tabi’in rahimahullah berkata: “Yaitu tidak shalat Zhuhur hingga datang waktu Ashar, tidak shalat Ashar hingga Maghrib, tidak shalat Maghrib hingga Isya, tidak shalat Isya hingga Subuh, dan tidak shalat Subuh hingga matahari terbit. Barangsiapa yang mati dalam keadaan bersikeras pada keadaan ini dan tidak bertaubat, Allah mengancamnya dengan ghayy, yaitu sebuah lembah di neraka Jahannam yang dalam, jahat rasanya.”
Allah Ta’ala berfirman dalam ayat lain dalam Surat Al-Ma’un ayat 4-5: “Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya.” Yaitu mereka yang lengah dan meremehkannya.
Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang-orang yang lalai terhadap shalatnya. Beliau bersabda: ‘Yaitu mengakhirkan waktu’ – maksudnya mengakhirkan shalat dari waktunya.” Beliau menyebut mereka sebagai orang yang shalat, tetapi karena mereka meremehkan dan mengakhirkannya dari waktunya, Allah mengancam mereka dengan wail yaitu siksa yang keras. Dikatakan bahwa wail adalah lembah di Jahannam, seandainya gunung-gunung dunia dijalankan di dalamnya, niscaya akan meleleh karena panasnya yang sangat. Itu adalah tempat tinggal orang yang meremehkan shalat dan mengakhirkannya dari waktunya, kecuali jika dia bertaubat kepada Allah Ta’ala dan menyesal atas kelalaiannya.
Allah Ta’ala berfirman dalam ayat lain dalam Surat Al-Munafiqun ayat 9: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” Para mufassir berkata: “Yang dimaksud dengan dzikrullah dalam ayat ini adalah shalat lima waktu. Barangsiapa yang sibuk dengan hartanya dalam jual beli, penghidupan, dan kebunnya, serta anak-anaknya hingga melupakan shalat pada waktunya, maka dia termasuk orang yang rugi.”
Demikian juga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Yang pertama kali dihisab dari hamba pada hari kiamat dari amalnya adalah shalat. Jika baik shalatnya maka dia beruntung dan berhasil, jika kurang maka dia kecewa dan rugi.”
Allah Ta’ala mengabarkan tentang penghuni neraka dalam Surat Al-Muddatstsir ayat 42-48: “Apa yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil bersama orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, sampai datang kepada kami kematian. Maka tidak berguna bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberi syafa’at.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perjanjian yang ada antara kami dan mereka adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.”
Beliau juga bersabda: “Antara hamba dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” Dua hadits yang sahih.
Dalam Shahih Bukhari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang terlewat shalat Asharnya maka terhapuslah amalnya.”
Dalam As-Sunan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja maka lepas darinya jaminan Allah.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah’, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan itu maka mereka telah memelihara darah dan harta mereka dariku kecuali dengan haknya, dan perhitungan mereka ada pada Allah.” Muttafaq ‘alaih.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang memelihara shalat maka shalat itu akan menjadi cahaya, bukti, dan keselamatan baginya pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang tidak memeliharanya maka tidak akan menjadi cahaya, bukti, dan keselamatan baginya pada hari kiamat, dan dia akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama Fir’aun, Qarun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.”
Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ketahuilah bahwa tidak ada bagian bagi seseorang dalam Islam jika dia menyia-nyiakan shalat.”
Sebagian ulama rahimahullah berkata: “Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat dikumpulkan bersama keempat orang itu karena dia hanya disibukkan dari shalat oleh hartanya, kerajaannya, jabatan menteri, atau perdagangannya. Jika disibukkan oleh hartanya maka dikumpulkan bersama Qarun, jika disibukkan oleh kerajaannya maka dikumpulkan bersama Fir’aun, jika disibukkan oleh jabatan menteri maka dikumpulkan bersama Haman, dan jika disibukkan oleh perdagangannya maka dikumpulkan bersama Ubay bin Khalaf, pedagang orang-orang kafir di Makkah.”
Imam Ahmad meriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja maka lepas darinya jaminan Allah ‘azza wa jalla.”
Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya bahwa Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: ‘Ya Rasulullah, amalan apa yang paling dicintai Allah Ta’ala dalam Islam?’ Beliau menjawab: ‘Shalat pada waktunya.’ Dan barangsiapa meninggalkan shalat maka tidak ada agama baginya, dan shalat adalah tiang agama.”
Ketika Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu tertusuk, dikatakan kepadanya: “Shalat wahai Amirul Mukminin.” Dia berkata: “Ya, ketahuilah bahwa tidak ada bagian bagi seseorang dalam Islam jika dia menyia-nyiakan shalat.” Lalu dia shalat radhiyallahu ‘anhu dalam keadaan lukanya mengalirkan darah.
Abdullah bin Syaqiq At-Tabi’i radhiyallahu ‘anhu berkata: “Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memandang ada satu amalan pun yang meninggalkannya adalah kafir selain shalat.”
Ali radhiyallahu ‘anhu ditanya tentang perempuan yang tidak shalat, maka dia berkata: “Barangsiapa tidak shalat maka dia kafir.”
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa tidak shalat maka tidak ada agama baginya.”
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Barangsiapa meninggalkan satu shalat dengan sengaja maka dia akan bertemu Allah Ta’ala dalam keadaan Allah murka kepadanya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa bertemu Allah dalam keadaan menyia-nyiakan shalat, Allah tidak akan peduli sedikitpun dengan kebaikan-kebaikannya” – yaitu apa yang akan dilakukan dan apa yang akan diperbuat dengan kebaikan-kebaikannya jika dia menyia-nyiakan shalat.
Ibnu Hazm berkata: “Tidak ada dosa setelah syirik yang lebih besar daripada mengakhirkan shalat dari waktunya dan membunuh mukmin tanpa hak.”
Ibrahim An-Nakha’i berkata: “Barangsiapa meninggalkan shalat maka dia telah kafir.”
Ayyub As-Sakhtiyani berkata seperti itu juga.
Aun bin Abdullah berkata: “Sesungguhnya hamba apabila dimasukkan ke dalam kubur, yang pertama kali ditanya tentang shalat. Jika shalatnya diterima maka dilihat amalan-amalannya yang lain, dan jika tidak diterima maka tidak dilihat sedikitpun amalannya setelah itu.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila hamba shalat pada awal waktu maka shalatnya naik ke langit dan padanya ada cahaya hingga sampai ke Arsy, lalu memintakan ampun untuk pemiliknya hingga hari kiamat dan berkata: ‘Semoga Allah memeliharamu sebagaimana kamu memeliharaku.’ Dan apabila hamba shalat bukan pada waktunya maka shalatnya naik ke langit dalam keadaan gelap. Apabila sampai ke langit maka dilipat seperti kain usang dilipat dan dipukulkan ke wajah pemiliknya sambil berkata: ‘Semoga Allah menyia-nyiakanmu sebagaimana kamu menyia-nyiakanku.'”
Abu Dawud meriwayatkan dalam Sunannya dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tiga orang yang Allah tidak menerima shalat mereka: orang yang mengimami suatu kaum sedangkan mereka tidak menyukainya, orang yang memperbudak orang merdeka, dan laki-laki yang datang ke shalat secara debar.” Debar adalah datang setelah shalat terlewat.
Diriwayatkan dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa menggabungkan dua shalat tanpa uzur maka dia telah mendatangi pintu besar dari pintu-pintu dosa besar.”
Maka kami memohon kepada Allah taufik dan pertolongan. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan, Maha Mulia, dan Maha Penyayang di antara yang menyayangi.
BAB: KAPAN ANAK DISURUH SHALAT
Abu Dawud meriwayatkan dalam As-Sunan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Suruhlah anak shalat apabila berumur tujuh tahun, dan apabila berumur sepuluh tahun maka pukullah dia karena meninggalkan shalat.”
Dalam riwayat lain: “Suruhlah anak-anak kalian shalat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka karena meninggalkannya ketika berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.”
Imam Abu Sulaiman Al-Khattabi rahimahullah berkata: “Hadits ini menunjukkan pengerasan hukuman baginya apabila dia baligh dan meninggalkan shalat. Sebagian sahabat Imam As-Syafi’i rahimahullah ta’ala berdalil dengan hadits ini dalam wajibnya membunuh orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja setelah baligh. Mereka berkata: ‘Jika dia berhak dipukul padahal belum baligh, maka menunjukkan bahwa dia berhak mendapat hukuman setelah baligh yang lebih berat daripada pukulan. Dan tidak ada setelah pukulan sesuatu yang lebih keras daripada pembunuhan.'”
Para ulama rahimahullah telah berselisih tentang hukum orang yang meninggalkan shalat. Malik, As-Syafi’i, dan Ahmad rahimahullah berkata: “Orang yang meninggalkan shalat dibunuh dengan dipukul pedang di lehernya.”
Kemudian mereka berselisih tentang kekafiran orang yang meninggalkan shalat tanpa uzur hingga keluar waktunya. Ibrahim An-Nakha’i, Ayyub As-Sakhtiyani, Abdullah bin Al-Mubarak, Ahmad bin Hanbal, dan Ishaq bin Rahawayh berkata: “Dia kafir.”
Mereka berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Perjanjian yang ada antara kami dan mereka adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir,” dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Antara seseorang dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.”
Bab
Telah diriwayatkan dalam hadis bahwa barangsiapa yang memelihara salat-salat wajib, Allah Ta’ala akan memuliakannya dengan lima kemuliaan: mengangkat darinya kesempitan hidup, azab kubur, memberikan kitabnya dengan tangan kanan, melewati shirat seperti kilat yang menyambar, dan masuk surga tanpa hisab. Dan barangsiapa yang meremehkannya, Allah akan memberikan hukuman dengan lima belas hukuman: lima di dunia, tiga saat kematian, tiga di kubur, dan tiga saat keluar dari kubur.
Adapun yang menimpa di dunia: Pertama, dicabut keberkahan dari umurnya. Kedua, dihapus tanda-tanda orang saleh dari wajahnya. Ketiga, setiap amal yang dikerjakannya tidak diberi pahala oleh Allah. Keempat, tidak diangkat doanya ke langit. Kelima, tidak mendapat bagian dalam doa orang-orang saleh.
Adapun yang menimpanya saat kematian: Pertama, dia mati dalam kehinaan. Kedua, dia mati dalam kelaparan. Ketiga, dia mati dalam kehausan, sekalipun diberi minum lautan dunia, tidak akan hilang hausnya.
Adapun yang menimpanya di kubur: Pertama, kuburnya disempitkan hingga tulang rusuknya berbenturan. Kedua, kuburnya dinyalakan api, dia berbolak-balik di atas bara api siang dan malam. Ketiga, dikuasakan atasnya di dalam kubur seekor ular yang bernama Asy-Syuja’ Al-Aqra’, matanya dari api dan kukunya dari besi, panjang setiap kuku perjalanan sehari. Dia berbicara kepada mayit dan berkata: “Aku Asy-Syuja’ Al-Aqra’,” dan suaranya seperti guntur yang menggelegar. Dia berkata: “Tuhanku memerintahkan aku untuk memukulmu karena menyia-nyiakan salat Subuh hingga terbit matahari, memukulmu karena menyia-nyiakan salat Zuhur hingga Asar, memukulmu karena menyia-nyiakan salat Asar hingga Maghrib, memukulmu karena menyia-nyiakan salat Maghrib hingga Isya, dan memukulmu karena menyia-nyiakan salat Isya hingga Subuh.” Setiap kali dia memukulnya satu pukulan, dia tenggelam ke dalam tanah tujuh puluh hasta. Dia terus tersiksa di dalam tanah hingga hari kiamat.
Adapun yang menimpanya saat keluar dari kubur di padang mahsyar: beratnya hisab, murka Tuhan, dan masuk neraka. Dalam riwayat lain: Sesungguhnya dia datang pada hari kiamat dengan tiga baris tulisan di wajahnya. Baris pertama: “Wahai penyia-nyia hak Allah.” Baris kedua: “Wahai yang dikhususkan dengan murka Allah.” Baris ketiga: “Sebagaimana engkau menyia-nyiakan hak Allah di dunia, maka putus asalah hari ini dari rahmat Allah.”
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, dia berkata: “Apabila hari kiamat, seorang laki-laki didatangkan lalu ditempatkan di hadapan Allah Azza wa Jalla, lalu Allah memerintahkan dia ke neraka. Dia berkata: ‘Wahai Tuhanku, mengapa?’ Allah Ta’ala berfirman: ‘Karena mengakhirkan salat dari waktu-waktunya dan bersumpah palsu atas nama-Ku.'”
Dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bahwa beliau suatu hari berkata kepada para sahabatnya: “Ya Allah, janganlah Engkau biarkan di antara kami orang yang celaka dan terhina.” Kemudian beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tahukah kalian siapa orang celaka yang terhina?” Mereka berkata: “Siapa dia, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Orang yang meninggalkan salat.”
Dan diriwayatkan bahwa yang pertama kali hitam wajahnya pada hari kiamat adalah wajah-wajah orang yang meninggalkan salat. Dan sesungguhnya di Jahannam ada lembah yang disebut Al-Mulhim, di dalamnya ada ular-ular, setiap ular setebal leher unta, panjangnya perjalanan sebulan. Dia menyengat orang yang meninggalkan salat, lalu racunnya mendidih dalam tubuhnya selama tujuh puluh tahun, kemudian dagingnya hancur.
Kisah
Diriwayatkan bahwa seorang wanita dari Bani Israil datang kepada Musa alaihissalam dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah berbuat dosa besar dan telah bertobat darinya kepada Allah Ta’ala. Doakanlah agar Allah mengampuni dosaku dan menerima tobatku.” Musa alaihissalam berkata kepadanya: “Apa dosamu?” Dia berkata: “Wahai Nabi Allah, aku telah berzina dan melahirkan anak, lalu aku membunuhnya.” Musa alaihissalam berkata kepadanya: “Keluarlah wahai wanita fasik, jangan sampai turun api dari langit yang membakar kami karena keburukanmu.” Dia keluar dari sisinya dengan hati yang patah. Lalu Jibril alaihissalam turun dan berkata: “Wahai Musa, Tuhan Ta’ala berfirman kepadamu: Mengapa engkau menolak orang yang bertobat, wahai Musa? Tidakkah engkau dapati yang lebih buruk darinya?” Musa berkata: “Wahai Jibril, siapa yang lebih buruk darinya?” Dia berkata: “Orang yang meninggalkan salat dengan sengaja.”
Kisah Lain
Dari sebagian salaf, bahwa dia mendatangi saudara perempuannya yang telah meninggal. Terjatuh darinya kantong berisi uang ke dalam kuburnya tanpa disadari oleh siapa pun hingga dia pergi dari kuburnya. Kemudian dia mengingatnya dan kembali ke kuburnya, lalu menggalinya setelah orang-orang pergi. Dia mendapati kubur itu menyala api atasnya. Dia mengembalikan tanah atasnya dan pulang kepada ibunya sambil menangis sedih. Dia berkata: “Wahai ibuku, kabarkanlah kepadaku tentang saudara perempuanku dan apa yang biasa dia kerjakan.” Ibunya berkata: “Apa maksud pertanyaanmu tentang dia?” Dia berkata: “Wahai ibuku, aku melihat kuburnya menyala api atasnya.” Ibunya menangis dan berkata: “Wahai anakku, saudara perempuanmu meremehkan salat dan mengakhirkannya dari waktunya.” Ini adalah keadaan orang yang mengakhirkan salat dari waktunya, lalu bagaimana keadaan orang yang tidak salat sama sekali? Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar menolong kami dalam memeliharanya pada waktu-waktunya. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan lagi Mulia.
Bab
Tentang hukuman bagi orang yang tergesa-gesa dalam salat dan tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya. Telah diriwayatkan dalam tafsir firman Allah Ta’ala: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya” (Surah Al-Ma’un: 4-5) bahwa itu adalah orang yang tergesa-gesa dalam salat dan tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya.
Ditetapkan dalam Sahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa seorang laki-laki masuk masjid sementara Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedang duduk di dalamnya. Laki-laki itu salat, kemudian datang dan memberi salam kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Beliau membalas salamnya, kemudian berkata kepadanya: “Kembalilah dan salatlah, karena kamu belum salat.” Dia kembali dan salat seperti salatnya yang tadi, kemudian datang dan memberi salam kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Beliau membalas salamnya, kemudian berkata: “Kembalilah dan salatlah, karena kamu belum salat.” Dia kembali dan salat seperti salatnya yang tadi, kemudian datang dan memberi salam kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Beliau membalas salamnya dan berkata: “Kembalilah dan salatlah, karena kamu belum salat,” sampai tiga kali. Pada yang ketiga dia berkata: “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, wahai Rasulullah, aku tidak bisa lebih baik dari ini, maka ajarkanlah aku.” Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apabila kamu berdiri untuk salat, bertakbirlah, kemudian bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an, kemudian rukuklah hingga kamu tenang dalam rukuk, kemudian bangkitlah hingga kamu berdiri dengan tegak, kemudian sujudlah hingga kamu tenang dalam sujud, kemudian duduklah hingga kamu tenang dalam duduk, kemudian sujudlah hingga kamu tenang dalam sujud, dan lakukanlah demikian dalam seluruh salatmu.”
Imam Ahmad radhiyallahu anhu meriwayatkan dari Al-Badriy radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak sah salat bagi orang yang tidak menegakkan punggungnya dalam rukuk dan sujud.” Diriwayatkan juga oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan At-Tirmidzi berkata: “Hadis hasan sahih.” Dalam riwayat lain: “Hingga dia menegakkan punggungnya dalam rukuk dan sujud.” Ini adalah nash dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa barangsiapa yang salat dan tidak menegakkan punggungnya setelah rukuk dan sujud sebagaimana semula, maka salatnya batal. Ini dalam salat fardhu. Demikian juga tentang tuma’ninah (ketenangan), yaitu setiap anggota tubuh menetap di tempatnya.
Ditetapkan dari beliau shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Orang yang paling besar pencuriannya adalah orang yang mencuri dari salatnya.” Ditanyakan: “Bagaimana dia mencuri dari salatnya?” Beliau bersabda: “Tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya serta bacaan di dalamnya.”
Imam Ahmad meriwayatkan dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Allah tidak melihat kepada orang yang tidak menegakkan punggungnya antara rukuk dan sujudnya.”
Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Itulah salat orang munafik, dia duduk mengawasi matahari hingga ketika matahari berada di antara dua tanduk setan, dia berdiri lalu mengetuk empat kali, tidak mengingat Allah di dalamnya kecuali sedikit.”
Dari Abu Musa, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam suatu hari salat bersama para sahabatnya, kemudian duduk. Seorang laki-laki masuk dan berdiri salat, dia rukuk dan mengetuk sujudnya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apakah kalian melihat orang ini? Seandainya dia mati, dia akan mati bukan atas agama Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Dia mengetuk salatnya sebagaimana burung gagak mengetuk darah.” Dikeluarkan oleh Abu Bakar bin Khuzaimah dalam Sahihnya.
Dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada orang yang salat kecuali ada malaikat di kanannya dan malaikat di kirinya. Jika dia menyempurnakannya, keduanya naik dengannya kepada Allah Ta’ala. Jika dia tidak menyempurnakannya, keduanya memukul wajahnya dengannya.”
Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya dari Ubadah bin Ash-Shamit bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang berwudhu dengan sebaik-baik wudhu, kemudian berdiri untuk salat lalu menyempurnakan rukuk, sujud, dan bacaannya, salat itu berkata: ‘Semoga Allah memeliharamu sebagaimana kamu memeliharaku,’ kemudian naik dengannya ke langit dengan cahaya dan nur, maka terbuka baginya pintu-pintu langit hingga sampai kepada Allah Ta’ala, lalu memberi syafaat bagi pemiliknya. Tetapi jika dia tidak menyempurnakan rukuk, sujud, dan bacaannya, salat itu berkata: ‘Semoga Allah menyia-nyiakanmu sebagaimana kamu menyia-nyiakanku,’ kemudian naik dengannya ke langit dengan kegelapan, maka tertutup baginya pintu-pintu langit, kemudian dilipat seperti kain usang yang dilipat, lalu dipukulkan ke wajah pemiliknya.”
Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Salat itu takaran. Barangsiapa yang menyempurnakannya, disempurnakan untuknya. Barangsiapa yang menguranginya, sungguh kalian telah mengetahui apa yang Allah firmankan tentang orang-orang yang mengurangi takaran.” Allah Ta’ala berfirman: “Kecelakaanlah bagi orang-orang yang curang” (Surah Al-Muthaffifin: 1). Orang yang curang adalah yang mengurangi takaran, timbangan, meteran, atau salat. Allah menjanjikan mereka dengan wail (kecelakaan), yaitu lembah di Jahannam yang Jahannam sendiri meminta perlindungan dari panasnya. Kami berlindung kepada Allah darinya.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian sujud, hendaklah dia meletakkan wajah dan hidungnya serta kedua tangannya di atas tanah. Sesungguhnya Allah Ta’ala mewahyukan kepadaku agar aku sujud atas tujuh anggota tubuh: dahi, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan ujung-ujung kedua kaki, dan agar aku tidak menahan rambut dan pakaian. Barangsiapa yang salat dan tidak memberikan setiap anggota tubuh haknya, anggota tubuh itu akan melaknatnya hingga dia selesai dari salatnya.”
Bukhari meriwayatkan dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu anhu bahwa dia melihat seorang laki-laki salat dan tidak menyempurnakan rukuk dan sujud salat. Hudzaifah berkata kepadanya: “Kamu telah salat, dan seandainya kamu mati sementara kamu salat dengan salat seperti ini, kamu akan mati bukan atas fitrah Muhammad shallallahu alaihi wasallam.” Dalam riwayat Abu Dawud, dia berkata: “Sudah berapa lama kamu salat dengan salat seperti ini?” Dia berkata: “Sudah empat puluh tahun.” Dia berkata: “Kamu tidak salat apa pun selama empat puluh tahun, dan seandainya kamu mati, kamu akan mati bukan atas fitrah Muhammad shallallahu alaihi wasallam.”
Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Wahai anak Adam, apa yang berharga bagimu dari agamamu jika salatmu sudah hina bagimu, padahal kamu pertama kali akan ditanya tentangnya pada hari kiamat?” Sebagaimana telah disebutkan dari sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat dari amalnya adalah salatnya. Jika baik, maka dia beruntung dan berhasil. Jika rusak, maka dia kecewa dan rugi. Jika ada yang kurang dari yang fardhu, Allah Ta’ala berfirman: ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku mempunyai sunnah, maka disempurnakan dengannya apa yang kurang dari yang fardhu.’ Kemudian amal-amal yang lain seperti itu juga.” Maka hendaklah hamba memperbanyak nawafil (sunnah) agar disempurnakan dengannya apa yang kurang dari fardhu-fardhunya. Dan dengan Allah lah taufik.
Bab
Tentang hukuman bagi orang yang meninggalkan salat berjamaah padahal dia mampu. Allah Ta’ala berfirman: “(Ingatlah) hari (ketika) betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud, tetapi mereka tidak sanggup lagi. Pandangan mereka tertunduk penuh kehinaan, dan mereka dahulu dipanggil untuk bersujud ketika mereka (masih) sehat.” (Surah Al-Qalam: 42-43)
Yaitu pada hari kiamat, kehinaan penyesalan akan menyelimuti mereka, padahal mereka dahulu di dunia dipanggil untuk sujud. Ibrahim At-Taimi berkata: “Yaitu dipanggil untuk salat wajib dengan adzan dan iqamah.” Said bin Al-Musayyab berkata: “Mereka dahulu mendengar ‘Hayya ‘ala ash-shalah, hayya ‘ala al-falah’ (marilah ke salat, marilah ke keberuntungan) tetapi mereka tidak menjawab, padahal mereka sehat dan selamat.” Ka’b Al-Akhbar berkata: “Demi Allah, ayat ini tidak turun kecuali tentang orang-orang yang tidak menghadiri jamaah.”
Maka ancaman apa yang lebih keras dan lebih tegas dari ini bagi orang yang meninggalkan salat berjamaah padahal dia mampu menghadirinya?
Adapun dari sunnah, yang ditetapkan dalam Sahih Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku telah berniat untuk memerintahkan salat, lalu salat didirikan, kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami manusia, kemudian aku pergi bersama beberapa orang yang membawa ikat kayu bakar kepada kaum yang tidak menghadiri salat berjamaah, lalu aku bakar rumah-rumah mereka dengan api.” Beliau tidak mengancam membakar rumah-rumah mereka kecuali karena meninggalkan kewajiban, meskipun di dalam rumah-rumah itu ada anak-anak dan harta benda.
Dalam Sahih Muslim, bahwa seorang laki-laki buta datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku tidak punya penuntun yang menuntunku ke masjid.” Dia meminta kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam agar diberi keringanan untuk salat di rumahnya. Beliau memberinya keringanan. Ketika dia pergi, beliau memanggilnya dan berkata: “Apakah kamu mendengar panggilan salat?” Dia berkata: “Ya.” Beliau berkata: “Maka jawablah.”
Abu Dawud meriwayatkan dari Amr bin Umm Maktum bahwa dia datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Madinah banyak binatang buas dan binatang merayap, aku buta, rumahku jauh, dan aku punya penuntun yang tidak cocok denganku. Apakah ada keringanan bagiku untuk salat di rumahku?” Beliau berkata: “Apakah kamu mendengar panggilan?” Dia berkata: “Ya.” Beliau berkata: “Maka jawablah, karena aku tidak mendapati keringanan untukmu.”
Ini adalah orang yang buta, dia mengeluhkan kesulitan yang dialaminya dalam datang ke masjid, dan dia tidak punya penuntun yang menuntunnya ke masjid. Meskipun demikian, Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak memberinya keringanan untuk salat di rumah. Lalu bagaimana dengan orang yang sehat penglihatannya, selamat, tidak ada uzur baginya?
Karena itu, ketika Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma ditanya tentang seorang laki-laki yang puasa siang, qiyam malam, tetapi tidak salat berjamaah dan tidak salat Jumat, dia berkata: “Jika dia mati dalam keadaan seperti ini, maka dia di neraka.”
Abu Hurairah berkata: “Sungguh lebih baik bagi seorang anak Adam apabila telinganya dipenuhi dengan timah yang dilebur daripada dia mendengar panggilan (azan) tetapi tidak menjawabnya.”
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mendengar panggilan untuk shalat tetapi tidak ada uzur yang mencegahnya untuk mengikutinya…” Ditanya: “Apakah uzur itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Takut atau sakit. Jika tidak demikian, maka shalatnya yang dikerjakan di rumah tidak diterima.”
Al-Hakim mengeluarkan dalam Mustadraknya dari Ibnu Abbas juga bahwa dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada tiga orang yang dilaknat Allah: seseorang yang memimpin suatu kaum padahal mereka membencinya, seorang wanita yang bermalam sedang suaminya murka kepadanya, dan seorang laki-laki yang mendengar ‘hayya ‘alas shalah, hayya ‘alal falah’ kemudian tidak menjawabnya.”
Ali bin Abi Thalib berkata: “Tidak ada shalat bagi tetangga masjid kecuali di masjid.” Ditanya: “Siapakah tetangga masjid?” Dia menjawab: “Orang yang mendengar azan.”
Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abdullah bin Mas’ud bahwa dia berkata: “Barangsiapa yang senang bertemu Allah besok sebagai seorang muslim – maksudnya pada hari kiamat – maka hendaklah ia menjaga kelima shalat ini di tempat-tempat dimana azan dikumandangkan. Sesungguhnya Allah telah mensyariatkan bagi nabi kalian sunnah-sunnah petunjuk, dan shalat-shalat itu termasuk sunnah petunjuk. Seandainya kalian shalat di rumah-rumah kalian sebagaimana orang yang membolos ini shalat di rumahnya, niscaya kalian meninggalkan sunnah nabi kalian. Dan seandainya kalian meninggalkan sunnah nabi kalian, niscaya kalian sesat. Sungguh kami melihat tidak ada yang membolos darinya kecuali orang munafik yang jelas kemunafikannya atau orang sakit. Sungguh dahulu seorang laki-laki dibawa dengan ditopang oleh dua orang hingga dia didirikan dalam shaf atau hingga dia datang ke masjid untuk shalat berjamaah.”
Ar-Rabi’ bin Khaitsam pernah lumpuh sebelah badannya karena stroke, namun dia tetap keluar untuk shalat dengan bertopang pada dua orang. Dikatakan kepadanya: “Wahai Abu Muhammad, engkau telah diberi keringanan untuk shalat di rumah, engkau berhalangan.” Maka dia berkata: “Memang seperti yang kalian katakan, tetapi aku mendengar muazin berkata: ‘hayya ‘alas shalah, hayya ‘alal falah’. Barangsiapa yang mampu menjawabnya walaupun dengan merangkak atau merayap, maka hendaklah dia lakukan.”
Hatim al-Asham berkata: “Suatu kali aku tertinggal shalat berjamaah, maka hanya Abu Ishaq al-Bukhari yang menghiburku. Seandainya anakku meninggal, niscaya lebih dari sepuluh ribu orang akan menghiburku. Karena musibah agama di sisi manusia lebih ringan daripada musibah dunia.”
Sebagian salaf berkata: “Tidak ada seorang pun yang tertinggal shalat berjamaah kecuali karena dosa yang menimpanya.”
Ibnu Umar berkata: “Umar keluar suatu hari ke kebunnya, lalu pulang sedangkan orang-orang telah selesai shalat Ashar. Maka Umar berkata: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, aku tertinggal shalat Ashar berjamaah. Aku persaksikan kalian bahwa kebunku ini aku sedekahkan kepada orang-orang miskin sebagai kafarat atas apa yang telah diperbuat Umar.'” (Kebun adalah taman yang ada pohon kurmanya.)
Fasal
Hendaklah perhatiannya pada menghadiri shalat Isya dan Fajar lebih besar, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya kedua shalat ini – maksudnya Isya dan Fajar – adalah shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik. Seandainya mereka mengetahui pahala yang ada pada keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak.”
Ibnu Umar berkata: “Dahulu kami, apabila ada seseorang di antara kami yang tidak hadir pada shalat Isya dan Subuh berjamaah, kami berprasangka buruk kepadanya bahwa dia telah bermunafik.”
Hikayah
Dari Ubaidullah bin Umar al-Qawariri: “Tidak pernah aku tertinggal shalat Isya berjamaah sama sekali. Suatu malam ada tamu menginap di rumahku, aku tersibukkan karena dia dan tertinggal shalat Isya berjamaah. Maka aku keluar mencari shalat di masjid-masjid Bashrah, tetapi aku dapati semua orang telah selesai shalat dan masjid-masjid telah ditutup. Maka aku pulang ke rumah dan berkata: ‘Telah disebutkan dalam hadits bahwa shalat berjamaah melebihi shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.’ Maka aku shalat Isya dua puluh tujuh kali, kemudian tidur. Dalam mimpi aku melihat seakan-akan aku bersama sekelompok orang di atas kuda, dan aku juga di atas kuda. Kami berlomba dan aku memacu kudaku tetapi tidak bisa menyusul mereka. Aku menoleh kepada salah seorang dari mereka, dia berkata kepadaku: ‘Jangan melelahkan kudamu, engkau tidak akan menyusul kami.’ Aku bertanya: ‘Mengapa?’ Dia menjawab: ‘Karena kami shalat Isya berjamaah sedangkan engkau shalat sendirian.’ Maka aku terbangun dalam keadaan sedih dan dukacita karena hal itu. Kami memohon pertolongan dan taufik kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Mulia.”
DOSA BESAR KE-05: MENOLAK ZAKAT
Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah orang-orang yang kikir dengan apa yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa (kikir) itu baik bagi mereka. Sebenarnya (kikir) itu buruk bagi mereka. Apa yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan di leher mereka pada hari kiamat.” (Ali Imran: 180)
Allah Ta’ala berfirman: “Dan kecelakaan bagi orang-orang musyrik, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat.” (Fushshilat: 6-7) – maka Allah menyebut mereka sebagai orang musyrik.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka siksa yang pedih. Pada hari ketika emas perak itu dipanaskan dalam neraka jahannam, lalu disetrika dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan kepada mereka): ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.'” (At-Taubah: 34-35)
Telah tetap dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Tidak ada pemilik emas dan perak yang tidak menunaikan haknya kecuali pada hari kiamat akan dibuatkan untuknya lempengan-lempengan api, lalu dipanaskan di neraka jahannam, kemudian disetrika dengannya dahinya, lambung dan punggungnya. Setiap kali dingin, akan dipanaskan lagi untuknya pada hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun, hingga Allah memutuskan perkara di antara manusia. Kemudian dia akan melihat jalannya, entah ke surga atau ke neraka.”
Ditanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan unta?” Beliau menjawab: “Dan tidak ada pemilik unta yang tidak menunaikan haknya kecuali pada hari kiamat akan dihamparkan untuknya dataran yang luas, selengkap-lengkapnya tidak kurang seekor anak unta pun, menginjak-injak dia dengan telapak kakinya dan menggigitnya dengan mulutnya. Setiap kali yang pertama selesai melewatinya, yang terakhir dikembalikan kepadanya pada hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun, hingga Allah memutuskan perkara di antara manusia. Kemudian dia akan melihat jalannya, entah ke surga atau ke nereka.”
Ditanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan sapi dan kambing?” Beliau menjawab: “Dan tidak ada pemilik sapi dan kambing yang tidak menunaikan haknya kecuali pada hari kiamat akan dihamparkan untuknya dataran yang luas, tidak ada yang keriting tanduknya, tidak ada yang gundul, dan tidak ada yang patah tanduknya. Menanduk dia dengan tanduknya dan menginjak-injak dia dengan kukunya. Setiap kali yang pertama selesai melewatinya, yang terakhir dikembalikan kepadanya pada hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun, hingga Allah memutuskan perkara di antara manusia. Kemudian dia akan melihat jalannya, entah ke surga atau ke neraka.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tiga orang pertama yang masuk neraka: penguasa yang sewenang-wenang, orang kaya yang tidak menunaikan hak Allah Ta’ala dari hartanya, dan orang fakir yang sombong.”
Dari Ibnu Abbas: “Barangsiapa yang memiliki harta yang cukup untuk haji ke Baitullah Ta’ala tetapi tidak berhaji, atau wajib zakat padanya tetapi tidak berzakat, maka dia akan meminta dikembalikan (ke dunia) ketika mati.” Seorang laki-laki berkata kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah wahai Ibnu Abbas, karena yang meminta dikembalikan hanyalah orang-orang kafir.” Ibnu Abbas berkata: “Aku akan membacakan untukmu Al-Quran tentang hal itu.” Allah Ta’ala berfirman: “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah” – yaitu menunaikan zakat – “dan aku termasuk orang-orang yang saleh” – yaitu berhaji. Ditanya kepadanya: “Apa yang mewajibkan zakat?” Dia menjawab: “Apabila harta mencapai dua ratus dirham maka wajib zakatnya.” Ditanya: “Apa yang mewajibkan haji?” Dia menjawab: “Bekal dan kendaraan.”
Tidak wajib zakat pada perhiasan yang halal jika dipersiapkan untuk dipakai. Tetapi jika dipersiapkan untuk disimpan atau disewakan maka wajib zakatnya. Dan wajib zakat pada nilai barang-barang dagang.
Dari Abu Hurairah: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang Allah berikan harta kepadanya tetapi tidak menunaikan zakatnya, maka pada hari kiamat akan dijadikan untuknya seperti ular jantan yang gundul, memiliki dua bintik di kepalanya, melingkari dia pada hari kiamat, lalu memegang rahangnya seraya berkata: ‘Aku adalah hartamu, aku adalah simpananmu.’ Kemudian beliau membaca ayat ini: ‘Dan janganlah orang-orang yang kikir dengan apa yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa (kikir) itu baik bagi mereka. Sebenarnya (kikir) itu buruk bagi mereka. Apa yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan di leher mereka pada hari kiamat.'” (Diriwayatkan Bukhari)
Dari Ibnu Mas’ud tentang firman Allah Ta’ala mengenai orang yang mencegah zakat: “Pada hari ketika emas perak itu dipanaskan dalam neraka jahannam, lalu disetrika dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka” – dia berkata: “Tidak diletakkan dinar di atas dinar dan tidak dirham di atas dirham, tetapi kulit diperluas hingga diletakkan setiap dinar dan dirham secara terpisah.”
Jika ditanya mengapa khusus dahi, lambung, dan punggung yang disetrika, dijawab: Karena orang kaya yang kikir apabila melihat orang fakir, dia cemberut dan mengernyitkan alisnya, memalingkan lambungnya, dan jika (orang fakir) mendekat kepadanya dia memunggunginya. Maka dia dihukum dengan menyetrika anggota-anggota ini agar balasan sesuai dengan perbuatan.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Lima dengan lima.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apa itu lima dengan lima?” Beliau menjawab: “Tidak ada kaum yang mengingkari janji kecuali Allah menguasakan musuh atas mereka. Tidak ada yang memutuskan hukum dengan selain yang Allah turunkan kecuali kemiskinan menyebar di antara mereka. Tidak ada yang menampakkan keji kecuali kematian menyebar di antara mereka. Tidak ada yang mengurangi takaran dan timbangan kecuali tanaman dicegah dari mereka dan mereka ditimpa tahun-tahun kekeringan. Dan tidak ada yang mencegah zakat kecuali hujan ditahan dari mereka.”
Nasihat
Katakanlah kepada orang-orang yang tersibukkan di dunia oleh tipuan mereka: Sesungguhnya besok adalah kehancuran mereka. Apa manfaatnya apa yang mereka kumpulkan ketika datang yang mereka takuti: “Pada hari ketika emas perak itu dipanaskan dalam neraka jahannam, lalu disetrika dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka.” Bagaimana bisa hilang dari hati dan akal mereka: “Pada hari ketika emas perak itu dipanaskan dalam neraka jahannam, lalu disetrika dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka.”
Harta diambil menuju tempat penyiksaan yang menakutkan, dimasukkan ke dalam wadah untuk dipanaskan agar azab menguat. Kemudian dibuat lempengan-lempengan agar setrikaan merata di seluruh kulit. Kemudian didatangkan orang yang telah menyimpang dari petunjuk, berlari menuju tempat yang bukan bersama kaum yang cahaya mereka menyinari mereka. Kemudian: “dipanaskan di nereka jahannam, lalu disetrika dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka.”
Ketika mereka bertemu orang fakir, dia mendapat penderitaan. Jika diminta sesuatu dari mereka, maka menyala dari mereka bara kemarahan seperti bara api. Jika mereka berlemah lembut kepadanya, mereka berkata: “Ini telah membantu kalian dan pertanyaan ini untuk itu.” Mereka lupa bahwa seandainya Tuhanmu kehendaki, Dia akan memberikan kekayaan kepada yang membutuhkan dan menjadikan miskin yang itu. Mereka lupa hikmah Sang Pencipta dalam kekayaan yang ini dan kemiskinan yang itu.
Alangkah menakjubkannya, betapa banyak kesedihan yang akan menimpa mereka ketika kubur memeluk mereka: “Pada hari ketika emas perak itu dipanaskan dalam neraka jahannam, lalu disetrika dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka.” Ahli waris akan mengambilnya dari mereka tanpa lelah, dan yang mengumpulkan akan ditanya dari mana dia memperoleh apa yang diperolehnya. Ketahuilah bahwa duri untuk dia dan untuk ahli waris yang matang.
Di manakah ketamakan para pengumpul? Di manakah akal mereka: “Pada hari ketika emas perak itu dipanaskan dalam neraka jahannam, lalu disetrika dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka.”
Seandainya engkau melihat mereka di tingkatan-tingkatan neraka berbolak-balik di atas bara dirham dan dinar, dan tangan kanan telah dibelenggu bersama tangan kiri karena mereka kikir di waktu lapang. Seandainya engkau melihat mereka di neraka diberi minum dari air yang mendidih dan yang sabar pun telah menjerit: “Pada hari ketika emas perak itu dipanaskan dalam neraka jahannam, lalu disetrika dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka.”
Sebagaimana mereka diberi nasihat di dunia tetapi tidak ada di antara mereka yang mendengar. Betapa banyak mereka diingatkan akan azab Allah tetapi tidak ada di antara mereka yang takut. Betapa banyak mereka diberitahu tentang mencegah zakat tetapi tidak ada di antara mereka yang membayar. Seakan-akan mereka dengan harta-harta telah berubah menjadi ular jantan yang gundul. Maka harta itu bukanlah tongkat Musa dan gunung mereka: “Pada hari ketika emas perak itu dipanaskan dalam neraka jahannam, lalu disetrika dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka.”
Hikayah
Diriwayatkan dari Muhammad bin Yusuf al-Faryabi: “Aku keluar bersama sekelompok sahabatku untuk menziarahi Abu Sinan rahimahullah. Ketika kami masuk dan duduk di sisinya, dia berkata: ‘Mari kita ziarahi tetangga kita yang saudaranya meninggal dan menghiburnya.’ Maka kami pergi bersamanya dan masuk menemui laki-laki itu. Kami dapati dia sangat menangis dan berduka atas saudaranya. Kami duduk menghibur dan menenangkannya tetapi dia tidak mau menerima hiburan dan penghiburan. Kami berkata: ‘Tidakkah engkau tahu bahwa kematian adalah jalan yang pasti?’ Dia menjawab: ‘Ya, tetapi aku menangis karena keadaan saudaraku yang pagi dan sore berada dalam azab.’ Kami berkata kepadanya: ‘Apakah Allah memberitahumu tentang yang gaib?’ Dia menjawab: ‘Tidak, tetapi ketika aku menguburkannya dan meratakan tanah di atasnya, setelah orang-orang pergi, aku duduk di sisi kuburnya. Tiba-tiba ada suara dari kuburnya yang berkata: ‘Aduh, kalian meninggalkanku sendirian merasakan azab. Padahal aku dulu shalat, aku dulu puasa.’ Ucapannya membuatku menangis, maka aku gali tanah untuk melihat keadaannya. Ternyata kubur itu menyala dengan api dan di lehernya ada kalung api. Maka kasih sayang persaudaraan membawaku dan aku ulurkan tanganku untuk mengangkat kalung dari lehernya, tetapi jari-jariku dan tanganku terbakar.” Kemudian dia keluarkan tangannya kepada kami, ternyata hitam terbakar. Dia berkata: “Maka aku kembalikan tanah kepadanya dan pergi. Bagaimana aku tidak menangis atas keadaannya dan bersedih atasnya?” Kami bertanya: “Apa yang dilakukan saudaramu di dunia?” Dia menjawab: “Dia tidak menunaikan zakat dari hartanya.” Kami berkata: “Ini adalah pembenaran firman Allah Ta’ala: ‘Dan janganlah orang-orang yang kikir dengan apa yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa (kikir) itu baik bagi mereka. Sebenarnya (kikir) itu buruk bagi mereka. Apa yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan di leher mereka pada hari kiamat.’ Dan saudaramu disegerakan azabnya di kuburnya sampai hari kiamat.”
Kemudian kami keluar dari sisinya dan mendatangi Abu Dzar, sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami ceritakan kepadanya kisah laki-laki itu dan berkata kepadanya: “Orang Yahudi dan Nasrani mati tetapi kami tidak melihat pada mereka hal seperti itu.” Dia berkata: “Mereka tidak diragukan lagi bahwa mereka di neraka. Sesungguhnya Allah memperlihatkan kepada kalian pada ahli iman agar kalian mengambil pelajaran.” Allah Ta’ala berfirman: “Maka barangsiapa yang dapat melihat, maka (manfaatnya) untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang buta, maka (mudaratnya) atas dirinya sendiri. Dan aku bukanlah pemelihara atas kalian.” (Al-An’am: 104)
Maka kami memohon maaf dan keselamatan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Mulia.
DOSA BESAR KE-06: BERBUKA PUASA DI BULAN RAMADAN TANPA UZUR
Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.” (Surat Al-Baqarah ayat 183-184)
Telah tetap dalam Shahihain dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Islam dibangun atas lima perkara: kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan puasa Ramadan.”
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa berbuka puasa sehari di bulan Ramadan tanpa uzur, maka puasa sepanjang masa tidak dapat menggantinya meskipun ia berpuasa.”
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Tali-tali Islam dan kaidah-kaidah agama ada tiga: kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah, shalat, dan puasa Ramadan. Barangsiapa meninggalkan salah satunya, maka ia kafir.” Na’udzu billahi min dzalik (kita berlindung kepada Allah dari hal itu).
DOSA BESAR KE-07: MENINGGALKAN HAJI PADAHAL MAMPU
Allah Ta’ala berfirman: “Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.” (Surat Ali ‘Imran ayat 97)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa memiliki bekal dan kendaraan yang cukup untuk sampai ke Baitullah al-Haram namun tidak berhaji, maka tidak mengapa baginya mati dalam keadaan Yahudi atau Nasrani. Hal itu karena Allah Ta’ala berfirman: ‘Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.’”
Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sungguh aku telah berniat mengutus orang-orang ke negeri-negeri ini untuk melihat setiap orang yang mampu namun tidak berhaji, maka hendaklah mereka mengenakan jizyah kepada mereka. Mereka bukanlah muslim.”
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Tidak ada seorang pun yang tidak berhaji dan tidak menunaikan zakat hartanya, kecuali ia akan meminta kembali ke dunia ketika mati.” Dikatakan kepadanya: “Sesungguhnya yang meminta kembali ke dunia hanyalah orang-orang kafir.” Ia berkata: “Bahkan itu ada dalam kitab Allah Ta’ala: ‘Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah’ – yaitu menunaikan zakat – ‘dan aku termasuk orang-orang yang saleh’ – yaitu berhaji. ‘Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’” (Surat Al-Munafiqun ayat 10-11)
Ditanya: “Dengan apa zakat itu wajib?” Ia menjawab: “Dengan dua ratus dirham dan senilainya dari emas.” Ditanya: “Apa yang mewajibkan haji?” Ia menjawab: “Bekal dan kendaraan.”
Dari Sa’id bin Jubair radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Meninggal tetanggaku yang kaya namun tidak berhaji, maka aku tidak mau menshalatkannya.”
DOSA BESAR KE-08: DURHAKA KEPADA KEDUA ORANG TUA
Allah Ta’ala berfirman: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu” – yaitu berbakti kepada keduanya dengan kasih sayang dan kelembutan – “jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka” – yaitu janganlah berkata kepada keduanya dengan rasa jengkel ketika mereka sudah tua dan lanjut usia. Sebaiknya kamu mengurus mereka sebagaimana mereka dahulu mengurus kamu, dengan catatan keutamaan bagi yang terdahulu. Bagaimana bisa terjadi kesetaraan, padahal dahulu mereka menanggung gangguanmu dengan mengharapkan kehidupanmu, sedangkan kamu jika menanggung gangguan mereka justru mengharapkan kematian mereka. Kemudian Allah Ta’ala berfirman: “dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” – yaitu lembut dan halus – “dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Ya Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.'” (Surat Al-Isra’ ayat 23-24)
Allah Ta’ala berfirman: “bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Surat Luqman ayat 14) Lihatlah, semoga Allah merahmatimu, bagaimana Allah menggandengkan syukur kepada keduanya dengan syukur kepada-Nya.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Tiga ayat turun bergandengan dengan tiga lainnya, tidak diterima salah satunya tanpa pasangannya: (Pertama) firman Allah Ta’ala: ‘Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul.’ (Surat An-Nisa’ ayat 59) Barangsiapa taat kepada Allah namun tidak taat kepada Rasul, tidak diterima darinya. (Kedua) firman Allah Ta’ala: ‘Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat.’ (Surat Al-Baqarah ayat 43) Barangsiapa shalat namun tidak berzakat, tidak diterima darinya. (Ketiga) firman Allah Ta’ala: ‘Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu.’ Barangsiapa bersyukur kepada Allah namun tidak bersyukur kepada kedua orang tuanya, tidak diterima darinya.”
Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ridha Allah tergantung pada ridha kedua orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka kedua orang tua.”
Dari Ibnu Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Seorang laki-laki datang meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berjihad bersamanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: ‘Apakah kedua orang tuamu masih hidup?’ Ia menjawab: ‘Ya.’ Beliau berkata: ‘Maka berjihadlah untuk keduanya.'” (Diriwayatkan dalam Shahihain)
Lihatlah bagaimana beliau mengutamakan bakti kepada kedua orang tua dan melayani mereka daripada jihad.
Dalam Shahihain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maukah kalian kuberitahu tentang dosa besar yang paling besar? Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Lihatlah bagaimana beliau menggandengkan berbuat jahat kepada keduanya dan tidak berbakti serta tidak berbuat baik dengan syirik.
Dalam Shahihain juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak masuk surga orang yang durhaka, orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian, dan orang yang kecanduan khamar.”
Dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Seandainya Allah mengetahui sesuatu yang lebih rendah dari ‘ah’, niscaya Dia melarangnya. Hendaklah si durhaka beramal apa saja yang ia kehendaki, ia tidak akan masuk surga. Dan hendaklah si berbakti beramal apa saja yang ia kehendaki, ia tidak akan masuk neraka.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah melaknat orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah melaknat orang yang mencaci ayahnya, Allah melaknat orang yang mencaci ibunya.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semua dosa, Allah menunda sebagian darinya sampai hari kiamat, kecuali durhaka kepada kedua orang tua, maka Allah menyegerakan hukumannya kepada pelakunya – yaitu hukuman di dunia sebelum hari kiamat.”
Ka’b al-Ahbar rahimahullah berkata: “Sesungguhnya Allah menyegerakan kebinasaan hamba jika ia durhaka kepada kedua orang tuanya agar disegerakan azab baginya. Dan sesungguhnya Allah menambah umur hamba jika ia berbakti kepada kedua orang tuanya agar ditambahkan baginya kebajikan dan kebaikan.”
Di antara bentuk bakti kepada keduanya adalah memberi nafkah jika mereka membutuhkan. Telah datang seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku ingin menghabiskan hartaku.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu.”
Ka’b al-Ahbar ditanya tentang durhaka kepada kedua orang tua, apa itu? Ia menjawab: “Yaitu jika ayah atau ibunya bersumpah atasnya, ia tidak memenuhi sumpah keduanya. Jika keduanya menyuruhnya dengan suatu perintah, ia tidak menaati perintah keduanya. Jika keduanya meminta sesuatu, ia tidak memberi keduanya. Jika keduanya mempercayainya, ia mengkhianati keduanya.”
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma ditanya tentang penghuni A’raf, siapa mereka dan apa A’raf itu? Ia menjawab: “Adapun A’raf, ia adalah gunung antara surga dan neraka. Dinamakan A’raf karena ia mengawasi surga dan neraka. Di atasnya ada pohon-pohon, buah-buahan, sungai-sungai, dan mata air. Adapun orang-orang yang berada di atasnya, mereka adalah orang-orang yang keluar berjihad tanpa ridha ayah dan ibu mereka, lalu terbunuh dalam jihad. Kematian mereka di jalan Allah menghalangi mereka masuk neraka, namun durhaka kepada kedua orang tua menghalangi mereka masuk surga. Maka mereka di A’raf hingga Allah memutuskan perkara mereka.”
Dalam Shahihain, seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Ya Rasulullah, siapa orang yang paling berhak mendapat perlakuan baikku?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Ia bertanya: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Ia bertanya: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Ia bertanya: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ayahmu, kemudian yang terdekat lalu yang terdekat.”
Beliau menekankan bakti kepada ibu tiga kali dan kepada ayah sekali. Hal itu tidak lain karena penderitaan ibu lebih banyak dan kasih sayangnya lebih besar, ditambah dengan apa yang ia alami dari mengandung, sakit melahirkan, kelahiran, menyusui, dan begadang malam.
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma melihat seseorang menggendong ibunya di atas tengkuknya sambil thawaf mengelilingi Ka’bah. Orang itu berkata: “Wahai Ibnu Umar, apakah menurutmu aku telah membalasnya?” Ia menjawab: “Tidak, bahkan tidak dengan satu kali kontraksi dari kontraksi-kontraksinya. Namun kamu telah berbuat baik, dan Allah akan membalas yang sedikit dengan yang banyak.”
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Empat orang yang Allah berhak tidak memasukkan mereka ke surga dan tidak merasakan kenikmatan surga: pecandu khamar, pemakan riba, pemakan harta anak yatim secara zalim, dan yang durhaka kepada kedua orang tuanya, kecuali jika mereka bertaubat.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Surga berada di bawah telapak kaki ibu.”
Seorang laki-laki datang kepada Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu dan berkata: “Wahai Abu Darda’, aku telah menikahi seorang wanita dan ibuku menyuruhku menceraikannya.” Abu Darda’ berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Orang tua adalah pintu tengah menuju surga. Jika kamu mau, sia-siakanlah pintu itu atau jagalah.'”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tiga doa yang mustajab, tidak diragukan lagi: doa orang yang dizalimi, doa musafir, dan doa orang tua untuk anaknya.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bibi seperti ibu” – yaitu dalam hal bakti, penghormatan, silaturahmi, dan berbuat baik.
Dari Wahb bin Munabbih, ia berkata: “Sesungguhnya Allah Ta’ala mewahyukan kepada Musa shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Wahai Musa, hormatilah kedua orang tuamu. Sesungguhnya barangsiapa menghormati kedua orang tuanya, Aku perpanjang umurnya dan Aku anugerahkan kepadanya anak yang akan menghormatinya. Dan barangsiapa durhaka kepada kedua orang tuanya, Aku pendekkan umurnya dan Aku anugerahkan kepadanya anak yang akan mendurhakai.'”
Abu Bakr bin Abi Maryam berkata: “Aku membaca dalam Taurat bahwa barangsiapa memukul ayahnya akan dibunuh.”
Wahb berkata: “Aku membaca dalam Taurat bahwa barangsiapa menampar orang tuanya akan dirajam.”
Dari Amr bin Murrah al-Juhani, ia berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: ‘Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku shalat lima waktu, puasa Ramadan, menunaikan zakat, dan berhaji, apa yang kuperoleh?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Barangsiapa melakukan hal itu, ia akan bersama para nabi, shiddiqin, syuhada’, dan orang-orang saleh, kecuali jika ia durhaka kepada kedua orang tuanya.'”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah melaknat orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya.”
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Aku melihat pada malam diisra’kan, beberapa kaum di neraka tergantung pada batang-batang api. Aku bertanya: ‘Wahai Jibril, siapa mereka?’ Ia menjawab: ‘Mereka yang mencaci ayah dan ibu mereka di dunia.'”
Diriwayatkan bahwa barangsiapa mencaci kedua orang tuanya, akan turun kepadanya di kuburnya bara api sejumlah setiap tetes hujan yang turun dari langit ke bumi.
Diriwayatkan bahwa jika si durhaka kepada kedua orang tua dikubur, kubur akan menjepit dia hingga tulang rusuknya saling bertemu.
Orang yang paling keras siksaannya pada hari kiamat ada tiga: musyrik, pezina, dan yang durhaka kepada kedua orang tuanya.
Bisyr berkata: “Tidak ada seorang laki-laki yang mendekat kepada ibunya sehingga ia mendengar ucapannya, kecuali hal itu lebih utama daripada orang yang berperang dengan pedangnya di jalan Allah. Dan memandangnya lebih utama dari segala sesuatu.”
Seorang laki-laki dan perempuan datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berselisih tentang anak mereka. Laki-laki itu berkata: “Ya Rasulullah, anakku keluar dari sulbiku.” Perempuan itu berkata: “Ya Rasulullah, aku mengandungnya dengan ringan dan melahirkannya dengan syahwat, aku mengandungnya dengan berat dan melahirkannya dengan berat, dan aku menyusuinya selama dua tahun penuh.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memutuskan anak itu untuk ibunya.
Nasihat
Wahai orang yang menyia-nyiakan hak yang paling penting, yang menukar bakti kepada kedua orang tua dengan durhaka, yang lupa akan kewajiban atasnya, yang lengah dari apa yang ada di hadapannya. Bakti kepada kedua orang tua adalah hutang atasmu, namun kamu menjalaninya dengan mengikuti keburukan. Kamu mencari surga menurut anggapanmu, padahal surga itu di bawah telapak kaki ibumu.
Ia mengandungmu dalam perutnya sembilan bulan seperti sembilan tahun haji, dan menanggung saat melahirkan yang dapat melelehkan jiwa. Ia menyusuimu dengan susunya dan menghilangkan tidurnya untukmu. Ia mencuci kotoran darimu dengan tangan kanannya dan mengutamakanmu atas dirinya dalam makanan. Ia menjadikan pangkuannya sebagai tempat tidurmu dan memberikan kebaikan serta bantuan kepadamu.
Jika kamu sakit atau mengeluh, ia menunjukkan kesedihan yang melampaui batas, memperpanjang duka dan tangisan, dan memberikan hartanya kepada dokter. Seandainya ia disuruh memilih antara hidupmu dan matinya, ia akan meminta hidupmu dengan suara tertingginya.
Inilah ia, dan berapa kali kamu memperlakukannya dengan akhlak buruk berkali-kali, namun ia mendoakanmu dengan taufik secara rahasia dan terang-terangan. Ketika ia membutuhkan di masa tuanya, kamu menjadikannya sebagai hal yang paling ringan bagimu. Kamu kenyang sementara ia lapar, kamu puas sementara ia qana’ah. Kamu mendahulukan keluarga dan anak-anakmu dengan kebaikan, dan kamu membalas jasanya dengan kelupaan.
Perkaranya sulit bagimu padahal ringan, umurnya panjang bagimu padahal pendek. Kamu menjauhinya padahal tidak ada penolong selain kamu. Inilah, sementara Tuhanmu telah melarangmu dari mengucapkan “ah” dan menegurmu dalam haknya dengan teguran yang lembut. Kamu akan dihukum di duniamu dengan durhaka anak-anak dan di akhiratmu dengan jauh dari Tuhan semesta alam.
Dia memanggilmu dengan lisan celaan dan ancaman: “Itu karena apa yang telah diperbuat tanganmu, dan bahwa Allah tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.”
Ibumu memiliki hak yang banyak jika kamu tahu Banyakmu wahai ini, di sisinya sedikit Berapa banyak malam ia begadang karena beratmu mengeluh Baginya dari perutnya ada rintihan dan desahan Dan dalam melahirkan jika kamu tahu, ada kesulitan atasnya Hingga dari sesak nafas darinya hati terbang Berapa kali ia mencuci kotoran darimu dengan tangan kanannya Dan pangkuannya tidak lain adalah tempat tidur bagimu Ia menebus dirimu dari apa yang kamu keluhkan dengan jiwanya Dan dari susunya minuman yang mengalir bagimu Berapa kali ia lapar dan memberikan makanannya kepadamu Dengan kasih sayang dan belas kasihan saat kamu kecil Maka celakalah orang berakal yang mengikuti hawa nafsu Dan celakalah orang buta hati sementara ia dapat melihat Maka ambillah, berharaplah pada doa-doanya yang luas Karena kamu sangat membutuhkan apa yang ia doakan untukmu
Kisah Alqamah
Diceritakan bahwa pada zaman Nabi Muhammad ﷺ, ada seorang pemuda bernama Alqamah. Dia sangat rajin beribadah kepada Allah dalam hal shalat, puasa, dan sedekah. Kemudian dia jatuh sakit dan sakitnya semakin parah. Istrinya lalu mengirim utusan kepada Rasulullah ﷺ dengan pesan: “Wahai Rasulullah, suamiku Alqamah sedang sekarat, maka aku ingin memberitahukan keadaannya kepada Anda.”
Nabi ﷺ kemudian mengutus Ammar, Shuhaib, dan Bilal, dan berkata: “Pergilah kepadanya dan talaqqinkanlah syahadat kepadanya.” Mereka pun pergi dan masuk menemuinya, dan mendapatinya dalam keadaan sekarat. Mereka mulai mentalaqinkan “Laa ilaaha illa Allah” kepadanya, namun lidahnya tidak bisa mengucapkannya. Mereka lalu mengirim kabar kepada Rasulullah ﷺ bahwa lidahnya tidak bisa mengucapkan syahadat.
Nabi ﷺ bertanya: “Apakah masih ada orang tuanya yang hidup?” Dijawab: “Wahai Rasulullah, ibunya yang sudah tua.” Rasulullah ﷺ lalu mengutus seseorang kepadanya dan berkata kepada utusan itu: “Katakan kepadanya, jika dia mampu datang kepada Rasulullah ﷺ, maka datanglah, jika tidak, tetaplah di rumah sampai beliau datang kepadamu.”
Utusan itu datang kepada ibu Alqamah dan menyampaikan pesan Rasulullah ﷺ. Ibu itu berkata: “Jiwaku sebagai tebusan untuk jiwanya, aku lebih berhak untuk mendatanginya.” Dia lalu bertumpu pada tongkat dan datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu mengucapkan salam. Rasulullah membalas salamnya dan berkata: “Wahai ibu Alqamah, katakanlah yang sebenarnya. Jika kamu berbohong, wahyu dari Allah ﷻ akan turun. Bagaimana keadaan anakmu Alqamah?”
Ibu itu berkata: “Wahai Rasulullah, dia rajin shalat, rajin puasa, dan rajin bersedekah.” Rasulullah ﷺ bertanya: “Lalu bagaimana keadaanmu terhadapnya?” Dia menjawab: “Wahai Rasulullah, aku marah kepadanya.” “Mengapa?” tanya Rasulullah. Dia berkata: “Wahai Rasulullah, dia lebih mengutamakan istrinya dariku dan mendurhakaiku.”
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya kemarahan ibu Alqamah telah menghalangi lidah Alqamah dari mengucapkan syahadat.” Kemudian beliau berkata: “Wahai Bilal, pergilah dan kumpulkan kayu bakar yang banyak untukku.” Ibu itu bertanya: “Wahai Rasulullah, apa yang akan Anda lakukan?” Beliau menjawab: “Aku akan membakarnya dengan api di hadapanmu.” Ibu itu berkata: “Wahai Rasulullah, anakku! Hatiku tidak sanggup melihat Anda membakarnya dengan api di hadapanku.”
Rasulullah ﷺ bersabda: “Wahai ibu Alqamah, azab Allah lebih keras dan lebih kekal. Jika kamu ingin Allah mengampuninya, maka ridhailah dia. Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, Alqamah tidak akan mendapat manfaat dari shalatnya, puasanya, dan sedekahnya selama kamu masih marah kepadanya.”
Ibu itu berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah, para malaikat-Nya, dan orang-orang Muslim yang hadir bahwa aku telah ridha terhadap anakku Alqamah.” Rasulullah ﷺ bersabda: “Pergilah wahai Bilal, lihatlah apakah dia bisa mengucapkan ‘Laa ilaaha illa Allah’ atau tidak. Mungkin saja ibu Alqamah berbicara dengan apa yang tidak ada di hatinya karena malu kepadaku.”
Bilal pergi dan mendengar Alqamah dari dalam rumah mengucapkan “Laa ilaaha illa Allah.” Bilal masuk dan berkata kepada orang-orang yang ada: “Sesungguhnya kemarahan ibu Alqamah telah menghalangi lidahnya dari syahadat, dan keridhaan ibunya telah membebaskan lidahnya.” Kemudian Alqamah meninggal pada hari itu juga.
Rasulullah ﷺ menghadiri jenazahnya, memerintahkan untuk memandikan dan mengkafaninya, kemudian menshalatkannya dan menghadiri pemakamannya. Kemudian beliau berdiri di tepi kuburnya dan berkata: “Wahai kaum Muhajirin dan Anshar, barangsiapa yang lebih mengutamakan istrinya daripada ibunya, maka atasnya laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya sesuatu pun kecuali dia bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla, berbuat baik kepadanya, dan meminta keridhaan ibunya. Sebab keridhaan Allah ada pada keridhaan ibu, dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan ibu.”
Kami memohon kepada Allah agar memberi kita taufik untuk meraih keridhaan-Nya dan menjauhkan kita dari kemurkaan-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
DOSA BESAR KE-09: MEMUTUS HUBUNGAN KEKERABATAN
Allah ﷻ berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 1: “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim.” Artinya, bertakwalah terhadap silaturrahim agar kalian tidak memutuskannya.
Allah ﷻ berfirman dalam Surat Muhammad ayat 22-23: “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya mata mereka.”
Allah ﷻ berfirman dalam Surat Ar-Ra’d ayat 20-21: “Orang-orang yang menepati janji Allah dan tidak merusak perjanjian, dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang diperintahkan Allah untuk dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.”
Allah ﷻ berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 26-27: “Allah menyesatkan dengan Al-Quran banyak orang dan memberi petunjuk dengan Al-Quran kepada banyak orang pula. Dan Allah tidak menyesatkan dengan Al-Quran itu melainkan orang-orang yang fasik, yaitu orang-orang yang merusak janji Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk dihubungkan dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.”
Dalam Shahihain diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturrahim.”
Barangsiapa yang memutus hubungan dengan kerabat-kerabatnya yang lemah, menjauhi mereka, menyombongkan diri kepada mereka, tidak menyambung mereka dengan kebaikan dan ihsannya, padahal dia kaya dan mereka fakir, maka dia termasuk dalam ancaman ini dan terhalang dari masuk surga kecuali dia bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla dan berbuat baik kepada mereka.
Dalam hadits dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda: “Barangsiapa memiliki kerabat yang lemah namun tidak berbuat baik kepada mereka dan mengalihkan sedekahnya kepada yang lain, Allah tidak akan menerima sedekahnya dan tidak akan memandangnya pada hari kiamat.”
Jika seseorang miskin, hendaklah dia menyambung silaturrahim dengan mengunjungi mereka dan menanyakan keadaan mereka, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Sambunglah silaturrahim kalian walau hanya dengan salam.”
Beliau juga bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia menyambung silaturrahim.”
Dalam hadits dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda: “Bukanlah penyambung silaturrahim itu orang yang membalas, tetapi penyambung silaturrahim adalah orang yang ketika silaturrahimnya diputus, dia tetap menyambungnya.”
Beliau juga bersabda: “Allah ﷻ berfirman: ‘Aku adalah Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) dan ini adalah rahim (silaturrahim). Barangsiapa menyambungnya, Aku sambung dia, dan barangsiapa memutusnya, Aku putus dia.'”
Dari Ali bin Husain radhiyallahu anhuma, dia berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, janganlah kamu berteman dengan orang yang memutus silaturrahim, karena aku mendapatinya terlaknat dalam Kitab Allah di tiga tempat.”
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa dia duduk menceritakan hadits dari Rasulullah ﷺ, lalu berkata: “Aku melarang keras setiap orang yang memutus silaturrahim kecuali dia berdiri dari sisi kami.” Tidak ada yang berdiri kecuali seorang pemuda dari ujung halaqah. Dia pergi kepada bibinya karena dia telah bermusuhan dengannya selama bertahun-tahun, lalu berdamai dengannya.
Bibinya bertanya: “Apa yang membawamu kemari, wahai anak saudaraku?” Dia menjawab: “Aku duduk bersama Abu Hurairah sahabat Rasulullah ﷺ, lalu dia berkata: ‘Aku melarang keras setiap orang yang memutus silaturrahim kecuali dia berdiri dari sisi kami.'” Bibinya berkata: “Kembalilah kepada Abu Hurairah dan tanyakan mengapa demikian.”
Dia kembali kepada Abu Hurairah dan menceritakan apa yang terjadi dengan bibinya, dan bertanya mengapa orang yang memutus silaturrahim tidak boleh duduk bersamanya. Abu Hurairah berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya rahmat tidak turun kepada suatu kaum yang di antara mereka ada orang yang memutus silaturrahim.'”
Diceritakan bahwa seorang kaya melakukan haji ke Baitullah Haram. Ketika sampai di Mekah, dia menitipkan seribu dinar dari hartanya kepada seorang yang terkenal dengan amanah dan shaleh sampai dia wukuf di Arafah. Ketika dia wukuf di Arafah dan kembali ke Mekah, dia mendapati orang itu telah meninggal. Dia bertanya kepada keluarganya tentang hartanya, dan mengetahui bahwa mereka tidak tahu apa-apa tentang hartanya.
Dia mendatangi ulama Mekah dan menceritakan keadaannya. Mereka berkata: “Jika sudah tengah malam, datanglah ke sumur Zamzam, lihatlah ke dalamnya, dan panggillah dengan namanya. Jika dia termasuk ahli surga, dia akan menjawabmu pada panggilan pertama.” Orang itu pergi dan memanggil di Zamzam, tetapi tidak ada yang menjawab.
Dia kembali kepada mereka dan menceritakannya. Mereka berkata: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Kami khawatir temanmu termasuk ahli neraka. Pergilah ke tanah Yaman, di sana ada sumur bernama Barhut yang dikatakan berada di mulut Jahannam. Lihatlah ke dalamnya pada malam hari dan panggillah dengan namanya. Jika dia termasuk ahli neraka, dia akan menjawabmu dari sana.”
Dia pergi ke Yaman dan bertanya tentang sumur itu. Dia diarahkan ke sana, lalu mendatanginya pada malam hari, melihat ke dalamnya, dan memanggil dengan namanya. Orang itu menjawab. Dia bertanya: “Di mana emasku?” Dia menjawab: “Aku kuburkan di tempat tertentu di rumahku dan tidak aku amanatkan kepada anakku. Datanglah kepada mereka dan galilah di sana, kamu akan menemukannya.”
Dia bertanya: “Apa yang menurunkanmu ke sini padahal kami mengira kamu baik?” Dia menjawab: “Aku memiliki saudara perempuan yang fakir, aku menelantarkannya dan tidak berbelas kasih kepadanya. Allah Subhanahu menghukumku karena dia dan menurunkanku ke tempat ini.”
Hal ini sesuai dengan hadits shahih, sabda Nabi ﷺ: “Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturrahim,” yaitu orang yang memutus hubungan dengan saudara perempuan, bibi dari pihak ibu, bibi dari pihak ayah, anak saudara perempuan, dan kerabat lainnya.
Kami memohon kepada Allah taufik untuk ketaatan kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.
Dosa Besar Kesepuluh: Zina
Sebagian zina lebih besar dari sebagian yang lain. Allah ﷻ berfirman dalam Surat Al-Isra ayat 32: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”
Allah ﷻ berfirman dalam Surat Al-Furqan ayat 68-70: “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa, (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang yang bertaubat.”
Allah ﷻ berfirman dalam Surat An-Nur ayat 2: “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.”
Para ulama berkata: “Ini adalah hukuman pezina di dunia jika mereka bujangan yang belum menikah. Jika mereka sudah menikah atau pernah menikah walau sekali dalam hidup, maka mereka dirajam dengan batu sampai mati. Demikian yang ditetapkan dalam sunnah dari Nabi ﷺ.”
Jika hukuman qishash tidak dilaksanakan kepada mereka di dunia dan mereka mati tanpa taubat, maka mereka akan diazab di neraka dengan cambuk api, sebagaimana disebutkan bahwa dalam Zabur tertulis: “Sesungguhnya para pezina digantung dengan kemaluannya di neraka, dipukul dengan cambuk besi. Jika mereka meminta tolong dari pukulan itu, malaikat Zabaniyah akan berteriak kepada mereka: ‘Di mana suara ini ketika kamu tertawa, bergembira, bersenang-senang, tidak mengawasi Allah ﷻ, dan tidak malu kepada-Nya?'”
Dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda: “Tidaklah berzina orang yang berzina ketika dia berzina dalam keadaan beriman, tidak mencuri orang yang mencuri ketika dia mencuri dalam keadaan beriman, tidak minum khamr orang yang minum khamr ketika dia meminumnya dalam keadaan beriman, dan tidak merampok perampok ketika dia merampok jarahan yang mulia yang membuat orang-orang memandangnya dalam keadaan beriman.”
Beliau juga bersabda: “Jika seorang hamba berzina, iman keluar darinya seperti naungan di atas kepalanya. Kemudian jika dia berhenti, iman kembali kepadanya.”
Beliau juga bersabda: “Barangsiapa berzina atau minum khamr, Allah mencabut iman darinya sebagaimana manusia melepas baju dari kepalanya.”
Dalam hadits Nabi, Rasulullah ﷺ bersabda: “Tiga orang yang tidak akan diajak bicara Allah pada hari kiamat, tidak dipandang-Nya, dan tidak disucikan-Nya, dan bagi mereka azab yang pedih: orang tua yang berzina, raja yang suka berbohong, dan orang miskin yang sombong.”
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu, dia berkata: “Aku bertanya: ‘Wahai Rasulullah, dosa apa yang paling besar di sisi Allah ﷻ?’ Beliau menjawab: ‘Bahwa kamu menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dia yang menciptakanmu.’ Aku bertanya: ‘Sungguh itu besar, lalu apa lagi?’ Beliau menjawab: ‘Bahwa kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.’ Aku bertanya: ‘Lalu apa lagi?’ Beliau menjawab: ‘Bahwa kamu berzina dengan istri tetanggamu.'”
Kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan pembenaran itu dalam Surat Al-Furqan ayat 68-70: “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa.”
Lihatlah, semoga Allah merahmatimu, bagaimana Allah menyandingkan zina dengan istri tetangga dengan syirik kepada Allah dan pembunuhan jiwa yang diharamkan Allah Azza wa Jalla kecuali dengan hak. Hadits ini diriwayatkan dalam Shahihain.
Dalam Shahih Bukhari, dalam hadits tentang mimpi Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Samurah bin Jundub, disebutkan bahwa Nabi ﷺ didatangi Jibril dan Mikail. Beliau berkata: “Kami pergi dan sampai pada sesuatu seperti tandoor, bagian atasnya sempit dan bagian bawahnya luas, di dalamnya ada keributan dan suara-suara. Kami mengintip ke dalamnya dan melihat laki-laki dan perempuan telanjang. Datang kepada mereka api dari bawah mereka, dan ketika api itu datang kepada mereka, mereka berteriak karena panasnya yang sangat. Aku bertanya: ‘Siapa mereka wahai Jibril?’ Dia menjawab: ‘Mereka adalah para pezina laki-laki dan perempuan. Ini adalah azab mereka sampai hari kiamat.'”
Kami memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan.
Dari Atha’ dalam tafsir firman Allah ﷻ tentang Jahannam dalam Surat Al-Hijr ayat 44: “Baginya tujuh pintu,” dia berkata: “Pintu yang paling keras kesedihannya, panasnya, kesusahannya, dan paling busuk baunya adalah untuk para pezina yang melakukan zina setelah mengetahui.”
Dari Makhul Ad-Dimasyqi, dia berkata: “Penghuni neraka mencium bau busuk, lalu mereka berkata: ‘Kami tidak pernah mencium bau yang lebih busuk dari ini.’ Lalu dikatakan kepada mereka: ‘Ini adalah bau kemaluan para pezina.'”
Ibnu Zaid, salah satu imam tafsir, berkata: “Sungguh penghuni neraka terganggu oleh bau kemaluan para pezina.”
Dalam sepuluh ayat yang Allah tulis untuk Musa alaihissalam: “Dan jangan mencuri, dan jangan berzina, maka Aku tutup wajah-Ku darimu.” Jika khitab itu untuk Nabi-Nya Musa alaihissalam, bagaimana dengan selainnya?
Datang dari Nabi ﷺ bahwa Iblis mengirim bala tentaranya ke bumi dan berkata kepada mereka: “Siapa di antara kalian yang menyesatkan seorang Muslim, akan aku pakaikan mahkota di kepalanya.” Yang paling besar fitnah di antara mereka adalah yang paling dekat kedudukannya kepada Iblis.
Salah satu di antara mereka datang dan berkata: “Aku tidak berhenti menggoda si fulan sampai dia menceraikan istrinya.” Iblis berkata: “Kamu tidak berbuat apa-apa, dia akan menikah dengan yang lain.” Kemudian yang lain datang dan berkata: “Aku tidak berhenti menggoda si fulan sampai aku timbulkan permusuhan antara dia dan saudaranya.” Iblis berkata: “Kamu tidak berbuat apa-apa, mereka akan berdamai.” Kemudian yang lain datang dan berkata: “Aku tidak berhenti menggoda si fulan sampai dia berzina.” Iblis berkata: “Ya, bagus apa yang kamu lakukan,” lalu mendekatkannya dan meletakkan mahkota di kepalanya.
Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan setan dan bala tentaranya.
Dari Anas berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya iman itu adalah jubah yang Allah kenakan kepada siapa yang Dia kehendaki. Apabila seorang hamba berzina, maka Allah mencabut jubah iman darinya. Jika ia bertobat, maka Allah mengembalikannya kepadanya.”
Dan datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Wahai sekalian umat Islam, takutlah kalian terhadap zina karena sesungguhnya di dalamnya terdapat enam sifat, tiga di dunia dan tiga di akhirat. Adapun yang di dunia yaitu hilangnya cahaya wajah, pendeknya umur, dan kekal dalam kemiskinan. Sedangkan yang di akhirat yaitu murka Allah Tabaraka wa Ta’ala, buruknya hisab, dan azab api neraka.”
Dan dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa yang mati dalam keadaan terus menerus meminum khamar, maka Allah Ta’ala akan memberinya minum dari sungai al-Ghuthah, yaitu sungai yang mengalir di neraka dari kemaluan para pelacur – maksudnya para pezina – yang mengalir dari kemaluan mereka berupa nanah dan darah busuk di dalam api neraka, kemudian itulah yang akan diminumkan kepada orang yang mati dalam keadaan terus menerus meminum khamar.”
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada dosa setelah syirik kepada Allah yang lebih besar di sisi Allah daripada setetes mani yang diletakkan seorang laki-laki pada kemaluan yang tidak halal baginya.”
Dan beliau juga bersabda ‘alaihis shalatu wassalam: “Di Jahannam terdapat lembah yang di dalamnya ada ular-ular, setiap ular setebal leher unta yang menyengat orang yang meninggalkan shalat, lalu racunnya mendidih dalam tubuhnya selama tujuh puluh tahun kemudian dagingnya hancur lebur. Dan sesungguhnya di Jahannam terdapat lembah yang bernama Jubbul Huzn (Sumur Kesedihan) yang di dalamnya ada ular-ular dan kalajengking-kalajengking, setiap kalajengking sebesar bagal yang memiliki tujuh puluh sengat, pada setiap sengat terdapat tempat racun, kemudian ia menyerang pezina dan menuangkan racunnya ke dalam tubuhnya sehingga ia merasakan kepahitan dan sakitnya selama seribu tahun, kemudian dagingnya hancur lebur dan mengalir dari kemaluannya nanah dan darah busuk.”
Dan diriwayatkan juga bahwa barangsiapa yang berzina dengan seorang wanita yang sudah bersuami, maka baginya dan bagi wanita itu dalam kubur setengah azab umat ini. Apabila tiba hari kiamat, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan hukuman kepada suaminya berupa kebaikan-kebaikan si pezina ini, jika hal itu terjadi tanpa sepengetahuan suami. Namun jika suami mengetahui dan diam saja, maka Allah mengharamkan surga baginya karena Allah Ta’ala telah menulis di pintu surga: “Engkau haram bagi orang dayuts,” yaitu orang yang mengetahui perbuatan keji di keluarganya namun diam saja dan tidak cemburu.
Dan diriwayatkan juga bahwa barangsiapa yang meletakkan tangannya pada seorang wanita yang tidak halal baginya dengan syahwat, maka ia akan datang pada hari kiamat dengan tangannya terbelenggu ke lehernya. Jika ia menciumnya, maka bibirnya akan dipotong di dalam api neraka. Jika ia berzina dengannya, maka pahanya akan berbicara dan bersaksi atasnya pada hari kiamat seraya berkata: “Aku dinaiki untuk yang haram.” Maka Allah Ta’ala memandangnya dengan pandangan murka sehingga daging wajahnya berjatuhan, namun ia tetap menyombongkan diri dan berkata: “Aku tidak melakukan apa-apa.” Maka lidahnya bersaksi atasnya dengan berkata: “Aku berbicara dengan yang tidak halal.” Dan kedua tangannya berkata: “Aku meraih yang haram.” Dan kedua matanya berkata: “Aku melihat yang haram.” Dan kedua kakinya berkata: “Aku berjalan untuk yang tidak halal.” Dan kemaluannya berkata: “Aku yang melakukan.” Dan malaikat penjaga berkata: “Dan aku mendengar.” Dan yang lainnya berkata: “Dan aku mencatat.” Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan Aku melihat dan menutupi.” Kemudian Allah Ta’ala berfirman: “Wahai malaikat-malaikat-Ku, ambillah dia dan dari azab-Ku rasakan olehnya, karena sungguh telah keras murka-Ku terhadap orang yang sedikit rasa malunya kepada-Ku.”
Dan pembenaran hal tersebut terdapat dalam Kitab Allah ‘Azza wa Jalla: “Pada hari ketika lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (An-Nur: 24)
Dan zina yang paling besar adalah zina dengan ibu, saudara perempuan, istri ayah, dan dengan mahram-mahram. Dan Al-Hakim telah menshahihkan: “Barangsiapa yang menggauli mahramnya, maka bunuhlah dia.” Dan dari Al-Bara’ bahwa pamannya diutus oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada seorang laki-laki yang menikahi istri ayahnya untuk membunuhnya dan mengambil seperlima hartanya.
Maka kami memohon kepada Allah Yang Maha Pemberi dengan karunia-Nya agar Dia mengampuni dosa-dosa kami. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan lagi Maha Mulia.
DOSA BESAR KE-11: HOMOSEKSUAL (LIWATH)
Allah ‘Azza wa Jalla telah mengisahkan kepada kami dalam Kitab-Nya yang mulia tentang kisah kaum Luth di beberapa tempat, di antaranya firman Allah Ta’ala: “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi” (Hud: 82) – yaitu dari tanah liat yang dibakar hingga menjadi seperti batu bata yang tersusun – yaitu saling menyusul satu sama lain – yang diberi tanda – yaitu diberi tanda khusus yang menunjukkan bahwa itu bukan dari batu-batu penduduk dunia – di sisi Tuhanmu – yaitu dalam perbendaharaan-Nya yang tidak boleh ada yang bertindak terhadap sesuatu darinya kecuali dengan izin-Nya – dan azab itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim – tidak jauh dari orang-orang zalim umat ini jika mereka melakukan perbuatan mereka bahwa akan menimpa mereka apa yang menimpa kaum terdahulu berupa azab.
Dan karena itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Yang paling aku takutkan atas kalian adalah perbuatan kaum Luth.” Dan beliau melaknat orang yang melakukan perbuatan mereka tiga kali dengan bersabda: “Laknat Allah atas orang yang melakukan perbuatan kaum Luth, laknat Allah atas orang yang melakukan perbuatan kaum Luth, laknat Allah atas orang yang melakukan perbuatan kaum Luth.”
Dan beliau bersabda ‘alaihish shalatu wassalam: “Barangsiapa di antara kalian yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah pelaku dan yang diperlakukan.”
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Dilihat bangunan tertinggi di kampung lalu dijatuhkan darinya, kemudian diikuti dengan batu-batu sebagaimana yang dilakukan terhadap kaum Luth.”
Dan kaum muslimin telah sepakat bahwa homoseksual termasuk dosa-dosa besar yang Allah Ta’ala haramkan: “Mengapa kalian mendatangi laki-laki di antara seluruh alam dan meninggalkan istri-istri yang diciptakan Tuhan kalian untuk kalian? Bahkan kalian adalah kaum yang melampaui batas” (Asy-Syu’ara: 165-166) – yaitu melampaui batas dari yang halal menuju yang haram.
Dan Allah Ta’ala berfirman dalam ayat lain memberitakan tentang nabi-Nya Luth ‘alaihis salam: “Dan Kami selamatkan dia dari negeri yang penduduknya mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik.” (Al-Anbiya: 74)
Dan nama negeri mereka adalah Sadum. Penduduknya melakukan perbuatan-perbuatan keji yang Allah Subhanahu sebutkan dalam kitab-Nya. Mereka mendatangi laki-laki dari seluruh alam melalui duburnya dan saling kentut di majlis-majlis mereka bersama hal-hal lain yang mereka kerjakan berupa kemungkaran.
Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia berkata: “Sepuluh sifat dari perbuatan kaum Luth: menata rambut, membuka kancing, melempar dengan batu kecil, melempar dengan kerikil, bermain dengan merpati terbang, bersiul dengan jari, membunyikan buku-buku jari, menggantung kain, membuka kancing jubah, terus menerus minum khamar dan mendatangi laki-laki. Dan umat ini akan menambah atas hal-hal tersebut: lesbian antara wanita dengan wanita.”
Dan datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Lesbian antara wanita adalah zina.”
Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Empat golongan yang menjadi pagi hari dalam murka Allah dan menjadi petang hari dalam kemurkaan Allah Ta’ala.” Ditanyakan: “Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Laki-laki yang menyerupai wanita, wanita yang menyerupai laki-laki, orang yang mendatangi binatang, dan orang yang mendatangi laki-laki – maksudnya homoseksual.”
Dan diriwayatkan bahwa apabila laki-laki menunggangi laki-laki, maka Arsy Ar-Rahman berguncang karena takut dari murka Allah Ta’ala dan langit-langit hampir jatuh ke bumi, lalu malaikat-malaikat memegang ujung-ujungnya dan membaca “Qul Huwallahu Ahad” sampai selesai hingga reda murka Allah ‘Azza wa Jalla.
Dan datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Tujuh golongan yang Allah Ta’ala laknat dan tidak memandang mereka pada hari kiamat dan berfirman: ‘Masuklah kalian ke neraka bersama yang masuk’: pelaku dan yang diperlakukan – maksudnya homoseksual -, yang menggauli binatang, yang menggauli ibu dan anak perempuannya, dan yang menggauli tangannya, kecuali jika mereka bertobat.”
Dan diriwayatkan bahwa suatu kaum akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan tangan-tangan mereka hamil karena zina yang mereka lakukan di dunia dengan bermain-main dengan kemaluan mereka.
Dan diriwayatkan bahwa termasuk perbuatan kaum Luth adalah bermain dadu, berlomba dengan merpati, adu anjing, adu domba jantan, adu ayam jantan, masuk pemandian tanpa penutup, mengurangi takaran dan timbangan. Celakalah orang yang melakukannya.
Dan dalam atsar: “Barangsiapa yang bermain dengan merpati hias, maka ia tidak akan mati hingga merasakan kepedihan kemiskinan.”
Dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa orang homoseksual jika mati tanpa tobat, maka ia akan disiksa dalam kuburnya menjadi babi.
Dan beliau bersabda shallallahu ‘alaihi wasallam: “Allah tidak memandang kepada laki-laki yang mendatangi laki-laki atau wanita melalui duburnya.”
Dan Abu Sa’id Ash-Sha’luki berkata: “Akan ada dalam umat ini suatu kaum yang disebut kaum homoseksual dan mereka terbagi menjadi tiga golongan: golongan yang memandang, golongan yang berjabat tangan, dan golongan yang melakukan perbuatan keji tersebut.”
Dan memandang dengan syahwat kepada wanita dan anak laki-laki tampan adalah zina berdasarkan apa yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Zina mata adalah memandang, zina lidah adalah berbicara, zina tangan adalah meraba, zina kaki adalah melangkah, zina telinga adalah mendengar, dan jiwa berangan-angan dan berhasrat, sedangkan kemaluan membenarkan atau mendustai hal tersebut.”
Dan karena itulah orang-orang shalih sangat berhati-hati dalam berpaling dari anak-anak laki-laki tampan dan dari memandang mereka serta bergaul dan duduk bersama mereka.
Al-Hasan bin Dzakwan berkata: “Jangan kalian duduk dengan anak-anak orang kaya karena mereka memiliki wajah seperti wajah gadis-gadis perawan, maka mereka lebih besar fitnah daripada wanita.”
Dan sebagian tabi’in berkata: “Aku tidak lebih takut terhadap pemuda yang beribadah dari binatang buas yang berbahaya daripada anak laki-laki tampan yang duduk bersamanya.”
Dan dahulu dikatakan: “Jangan sampai seorang laki-laki bermalam dengan anak laki-laki tampan di satu tempat.”
Dan sebagian ulama mengharamkan berduaan dengan anak laki-laki tampan di rumah atau toko atau pemandian dengan qiyas kepada wanita karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali setan menjadi yang ketiga di antara mereka.”
Dan di antara anak-anak laki-laki tampan ada yang melampaui wanita dalam kecantikannya, maka fitnah dengannya lebih besar dan memungkinkan terhadap dirinya dari keburukan yang tidak mungkin terhadap wanita, dan mudah terjadi terhadap dirinya dari jalan kecurigaan dan keburukan yang tidak mudah terjadi terhadap wanita, maka ia lebih layak untuk diharamkan.
Dan perkataan salaf dalam menakut-nakuti dari mereka dan memperingatkan dari melihat mereka lebih banyak daripada yang bisa dihitung. Dan mereka menyebut mereka “orang-orang menjijikkan” karena mereka dibenci secara syar’i.
Dan sama dalam semua yang kami sebutkan antara pandangan orang yang dinisbatkan kepada keshalihan dan lainnya.
Dan Sufyan Ats-Tsauri masuk ke pemandian lalu masuklah kepadanya seorang anak laki-laki yang tampan wajahnya, maka ia berkata: “Keluarkan dia dariku, keluarkan dia, karena sesungguhnya aku melihat bersama setiap wanita satu setan dan aku melihat bersama setiap anak laki-laki tampan beberapa belas setan.”
Dan datanglah seorang laki-laki kepada Imam Ahmad rahimahullah dengan membawa seorang anak laki-laki yang tampan, maka Imam berkata: “Apa hubungannya denganmu?” Ia menjawab: “Anak saudara perempuanku.” Beliau berkata: “Jangan bawa dia kepada kami lagi dan jangan berjalan bersamanya di jalan agar tidak disangka buruk oleh orang yang tidak mengenalmu dan tidak mengenalnya.”
Dan diriwayatkan bahwa ketika delegasi Abdul Qais datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, di antara mereka ada seorang anak laki-laki tampan, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendudukkannya di belakang punggungnya dan berkata: “Sesungguhnya fitnah Dawud ‘alaihis salam adalah karena pandangan.”
Dan mereka menyebutkan syair: “Semua kejadian bermula dari pandangan Dan sebagian besar api dari percikan yang dianggap kecil Dan seseorang selama masih memiliki mata yang ia bolak-balik Pada mata orang lain tergantung pada bahaya Berapa banyak pandangan yang berbuat dalam hati pemiliknya Perbuatan anak panah tanpa busur dan tanpa tali Yang menyenangkan orang yang melihat apa yang membahayakan hatinya Tidak selamat datang kegembiraan yang kembali dengan bahaya”
Dan dahulu dikatakan: “Pandangan adalah utusan zina.” Dan dalam hadits: “Pandangan adalah anak panah beracun dari anak-anak panah Iblis. Barangsiapa yang meninggalkannya karena Allah, maka Allah akan mewariskan hatinya manisnya ibadah yang akan ia rasakan hingga hari kiamat.”
Fasal: Tentang hukuman orang yang membolehkan dirinya dengan suka rela
Dari Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu bahwa ia menulis kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu bahwa ia menemukan di salah satu daerah seorang laki-laki yang digauli melalui duburnya. Maka Abu Bakar meminta musyawarah para sahabat radhiyallahu ‘anhum tentang perkaranya. Maka Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya ini adalah dosa yang tidak dikerjakan kecuali oleh satu umat yaitu kaum Luth, dan Allah Ta’ala telah memberitahukan kepada kita apa yang Dia perbuat terhadap mereka. Aku berpendapat agar ia dibakar dengan api.” Maka Abu Bakar menulis kepadanya untuk membakarnya dengan api, lalu Khalid radhiyallahu ‘anhu membakarnya.
Dan Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa yang membolehkan dirinya dengan suka rela hingga digauli, maka Allah menimpakan kepadanya syahwat wanita dan menjadikannya setan yang terkutuk dalam kuburnya hingga hari kiamat.”
Dan umat telah sepakat bahwa barangsiapa yang melakukan hal tersebut dengan budaknya, maka ia adalah homoseksual yang berdosa.
Dan di antara yang diriwayatkan bahwa Isa bin Maryam ‘alaihis salam dalam perjalanan spiritualnya melewati api yang menyala di atas seorang laki-laki. Maka Isa ‘alaihis salam mengambil air untuk memadamkan apinya, namun api itu berubah menjadi anak laki-laki dan laki-laki itu berubah menjadi api. Maka Isa ‘alaihis salam heran dengan hal tersebut dan berkata: “Wahai Tuhanku, kembalikanlah mereka kepada keadaan mereka di dunia agar aku menanyakan kabar mereka.” Maka Allah Ta’ala menghidupkan mereka, ternyata mereka adalah seorang laki-laki dan seorang anak laki-laki. Maka Isa ‘alaihis salam berkata kepada keduanya: “Apa kabar kalian?” Laki-laki itu berkata: “Wahai ruh Allah, sesungguhnya aku di dunia terkena ujian karena cinta kepada anak laki-laki ini, lalu syahwat membawaku untuk melakukan perbuatan keji dengannya. Ketika aku mati dan anak laki-laki ini mati, ia dijadikan api yang membakarku sekali dan aku dijadikan api yang membakarnya sekali. Maka inilah azab kami hingga hari kiamat.”
Kami berlindung kepada Allah dari azab kubur dan memohon kepada-Nya ampunan, keselamatan, dan taufik untuk apa yang Dia cintai dan ridhai.
Fasal
Dan yang menyertai homoseksual adalah mendatangi wanita melalui duburnya yang diharamkan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki” (Al-Baqarah: 223) – yaitu bagaimana kalian kehendaki menghadap dan membelakangi dalam satu lubang yaitu satu tempat.
Dan sebab turunnya ayat ini adalah bahwa orang-orang Yahudi pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Jika seorang laki-laki mendatangi istrinya dari belakang melalui kemaluannya, maka anak yang lahir akan juling.” Maka para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya tentang hal tersebut, lalu Allah menurunkan ayat ini untuk mendustakan mereka: “Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki” – dengan posisi sujud atau tidak dengan posisi sujud, hanya saja itu dalam satu lubang. Dikeluarkan oleh Muslim.
Dan dalam riwayat: “Takutlah kalian dari dubur dan haid.” Dan perkataannya “dalam satu lubang” yaitu dalam satu tempat yaitu kemaluan karena itu adalah tempat bercocok tanam yaitu tempat menanam anak. Adapun dubur maka ia adalah tempat kotoran dan itu kotor lagi menjijikkan.
Dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Terkutuk orang yang mendatangi wanita yang sedang haid atau wanita melalui duburnya.”
Dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang mendatangi wanita yang sedang haid atau wanita melalui duburnya atau dukun, maka sungguh ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.”
Maka barangsiapa yang menyetubuhi istrinya ketika ia sedang haid atau menyetubuhinya melalui duburnya, maka ia terkutuk dan masuk dalam ancaman keras ini. Demikian juga jika ia mendatangi dukun yaitu peramal dan orang yang mengaku mengetahui barang yang dicuri dan berbicara tentang perkara-perkara gaib lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu dari hal tersebut dan membenarkannya.
Dan banyak dari orang-orang jahil yang terjatuh dalam maksiat-maksiat ini karena sedikitnya pengetahuan mereka dan mendengarkan ilmu. Dan karena itulah Abu Darda’ berkata: “Jadilah orang yang berilmu atau yang belajar atau yang mendengarkan atau yang mencintai, dan janganlah menjadi yang kelima sehingga engkau binasa,” yaitu orang yang tidak tahu dan tidak belajar dan tidak mendengarkan dan tidak mencintai orang yang melakukan hal tersebut.
Dan wajib atas hamba untuk bertobat kepada Allah dari semua dosa dan kesalahan serta memohon ampunan Allah atas apa yang telah berlalu darinya dalam kebodohannya dan memohon keselamatan dalam sisa umurnya.
Allahumma sesungguhnya kami memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agama, dunia, dan akhirat. Sesungguhnya Engkau Maha Penyayang di antara yang penyayang.
DOSA BESAR KE-12: RIBA
Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung” (QS. Ali Imran: 130). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila” (QS. Al-Baqarah: 275).
Maksudnya adalah mereka tidak dapat bangkit dari kubur mereka di hari kiamat kecuali seperti bangkitnya orang yang telah disentuh dan dijatuhkan oleh setan. Hal itu karena mereka berkata: “Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba”, yaitu sama-sama halal. Maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. Ketika Allah membangkitkan manusia di hari kiamat, mereka keluar dengan tergesa-gesa kecuali para pemakan riba. Mereka bangkit lalu jatuh seperti orang yang terkena epilepsi. Setiap kali bangkit, mereka terjatuh lagi. Karena ketika mereka memakan riba yang haram di dunia, Allah menumbuhkannya di perut mereka hingga memberatkan mereka di hari kiamat. Setiap kali mereka ingin bangkit, mereka terjatuh. Mereka ingin bergegas bersama manusia lain tetapi tidak mampu.
Qatadah berkata bahwa pemakan riba akan dibangkitkan di hari kiamat dalam keadaan gila. Itu adalah tanda bagi para pemakan riba yang dengannya penduduk padang mahsyar mengenali mereka.
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Ketika aku diisra’kan, aku melewati suatu kaum yang perut mereka di hadapan mereka. Setiap orang dari mereka perutnya seperti rumah besar yang berat, hingga perut mereka memiringkan mereka. Mereka tersusun di jalan keluarga Fir’aun. Dan keluarga Fir’aun diperlihatkan kepada api pagi dan petang. Mereka datang seperti unta yang kalah, tidak mendengar dan tidak berakal. Ketika pemilik perut-perut itu merasakan kedatangan mereka, mereka bangkit lalu perut mereka memiringkan mereka sehingga mereka tidak mampu bergegas hingga keluarga Fir’aun menutupi mereka dan mengembalikan mereka maju mundur. Itulah azab mereka di alam barzakh antara dunia dan akhirat.” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Aku bertanya: ‘Wahai Jibril, siapa mereka?’ Dia menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang memakan riba. Mereka tidak dapat berdiri kecuali seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran penyakit gila.'”
Dalam riwayat lain disebutkan: “Ketika aku dinaikkan, aku mendengar di langit ketujuh di atas kepalaku suara guntur dan petir. Aku melihat laki-laki yang perut mereka di hadapan mereka seperti rumah-rumah yang di dalamnya ada ular dan kalajengking yang terlihat dari luar perut mereka. Aku bertanya: ‘Siapa mereka wahai Jibril?’ Dia menjawab: ‘Mereka adalah para pemakan riba.'”
Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Abdullah bin Mas’ud dari ayahnya: “Apabila zina dan riba merebak di suatu kampung, maka Allah mengizinkan kehancurannya.”
Dari Umar secara marfu’: “Apabila manusia kikir dengan dinar dan dirham, berjual beli dengan ‘inah, mengikuti ekor sapi, dan meninggalkan jihad di jalan Allah, maka Allah akan menurunkan bala yang tidak akan diangkat dari mereka hingga mereka kembali kepada agama mereka.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah riba merebak pada suatu kaum kecuali kegilaan akan merebak pada mereka. Dan tidaklah zina merebak pada suatu kaum kecuali kematian akan merebak pada mereka. Dan tidaklah suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan kecuali Allah mencegah hujan dari mereka.”
Dalam hadis panjang disebutkan bahwa pemakan riba disiksa sejak dia mati hingga hari kiamat dengan berenang di sungai merah yang seperti darah dan dipaksa menelan batu. Itu adalah harta haram yang dia kumpulkan di dunia. Dia dibebani kesulitan di dalamnya dan dipaksa menelan batu api sebagaimana dia menelan yang haram yang dikumpulkannya di dunia. Ini adalah azabnya di alam barzakh sebelum hari kiamat bersama laknat Allah kepadanya.
Sebagaimana shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Empat orang yang Allah berhak untuk tidak memasukkan mereka ke surga dan tidak merasakan kenikmatan surga: pemabuk khamr, pemakan riba, pemakan harta anak yatim tanpa hak, dan durhaka kepada orang tua, kecuali jika mereka bertobat.”
Telah diriwayatkan bahwa para pemakan riba akan dikumpulkan dalam bentuk anjing dan babi karena tipu daya mereka dalam memakan riba, sebagaimana pemilik hari Sabtu dimutasi ketika mereka menipu untuk mengeluarkan ikan yang Allah larang mereka tangkap pada hari Sabtu. Mereka menggali kolam untuk ikan tersebut jatuh pada hari Sabtu lalu mengambilnya pada hari Ahad. Ketika mereka melakukan itu, Allah memutasi mereka menjadi kera dan babi. Demikian pula orang-orang yang menipu dalam riba dengan berbagai macam tipu daya. Sesungguhnya Allah tidak tersembunyi dari-Nya tipu daya para penipu.
Ayyub As-Sakhtiyani berkata: “Mereka menipu Allah sebagaimana mereka menipu anak kecil. Seandainya mereka melakukan perkara itu secara terang-terangan, itu akan lebih ringan bagi mereka.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Riba itu tujuh puluh pintu, yang paling ringan seperti seorang laki-laki menikahi ibunya. Dan sesungguhnya riba yang paling berat adalah memperpanjang kehormatan seorang muslim.” Maka terbukti bahwa itu adalah pintu dari pintu-pintu riba yang paling besar.
Dari Anas dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah kepada kami lalu menyebutkan riba dan mengagungkan urusannya. Beliau bersabda: ‘Satu dirham yang diperoleh seseorang dari riba lebih berat daripada tiga puluh enam kali zina dalam Islam.'”
Dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Riba itu tujuh puluh dosa, yang paling ringan seperti seorang laki-laki menggauli ibunya.” Dalam riwayat lain: “yang paling ringan seperti orang yang menikahi ibunya.” Al-hawb artinya dosa.
Ali dan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata: “Yang menambah dan yang meminta tambahan keduanya di neraka” – maksudnya yang mengambil dan yang memberi sama-sama berdosa. Kami memohon keselamatan kepada Allah.
Pasal
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Jika kamu memiliki piutang pada seseorang lalu dia menghadiahkan sesuatu kepadamu, maka jangan kamu terima karena itu riba.”
Al-Hasan rahimahullah berkata: “Jika kamu memiliki piutang pada seseorang, maka apa yang kamu makan dari rumahnya adalah suht (haram).” Ini berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam: “Setiap pinjaman yang menarik manfaat maka itu riba.”
Ibnu Mas’ud juga berkata: “Barangsiapa memberi syafaat untuk seseorang lalu orang itu menghadiahkan kepadanya hadiah, maka itu suht.” Pembenaran hal ini dari sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa memberi syafaat untuk seseorang lalu orang itu menghadiahkan kepadanya hadiah atas syafaat itu dan dia menerimanya, maka dia telah mendatangi pintu besar dari pintu-pintu riba” – dikeluarkan oleh Abu Dawud. Maka kami memohon ampun dan keselamatan kepada Allah dalam agama, dunia, dan akhirat.
DOSA BESAR KE-13: MEMAKAN HARTA ANAK YATIM DAN MENZALIMINYA
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak-anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perut mereka dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala” (QS. An-Nisa: 10). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik hingga ia dewasa” (QS. Al-An’am: 152).
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata dalam Mi’raj: “Tiba-tiba aku melihat laki-laki yang ditugaskan kepada mereka laki-laki yang membuka rahang mereka, dan yang lain datang membawa batu dari api lalu melemparkannya ke mulut mereka dan keluar dari dubur mereka. Aku bertanya: ‘Wahai Jibril, siapa mereka?’ Dia menjawab: ‘Mereka yang memakan harta anak-anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka menelan api dalam perut mereka'” – diriwayatkan oleh Muslim.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah Azza wa Jalla akan membangkitkan suatu kaum dari kubur mereka dengan api keluar dari perut mereka, mulut mereka berkobar api.” Ditanyakan: “Siapa mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Tidakkah kamu lihat bahwa Allah Ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak-anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka menelan api dalam perut mereka.'”
As-Suddi rahimahullah Ta’ala berkata: “Pemakan harta anak yatim secara zalim akan dikumpulkan di hari kiamat dengan api menyala keluar dari mulutnya, telinganya, hidungnya, dan matanya. Setiap orang yang melihatnya mengetahui bahwa dia pemakan harta anak yatim.”
Para ulama berkata: “Setiap wali anak yatim jika dia fakir lalu memakan dari hartanya dengan ma’ruf sekadar usahanya dalam mengurus kepentingannya dan mengembangkan hartanya, maka tidak mengapa. Dan yang melebihi yang ma’ruf adalah suht yang haram berdasarkan firman Allah Ta’ala: ‘Barangsiapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang fakir, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut’ (QS. An-Nisa: 6).”
Dalam memakan dengan ma’ruf ada empat pendapat: Pertama, mengambil dengan cara pinjaman. Kedua, makan sekadar kebutuhan tanpa berlebihan. Ketiga, mengambil sekadar upah jika bekerja untuk anak yatim. Keempat, mengambil ketika darurat, jika mampu dibayar, jika tidak mampu maka halal. Pendapat-pendapat ini disebutkan oleh Ibnu Al-Jauzi dalam tafsirnya.
Dalam Bukhari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku dan orang yang merawat anak yatim di surga seperti ini” – dan beliau menunjuk dengan jari telunjuk dan tengah serta merenggangkan keduanya.
Dalam shahih Muslim dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang merawat anak yatim untuknya atau untuk orang lain, aku dan dia seperti kedua ini di surga” – dan beliau menunjuk dengan jari telunjuk dan tengah.
Merawat anak yatim adalah mengurus urusannya dan berusaha dalam kepentingannya dari makanan, pakaian, dan mengembangkan hartanya jika dia punya harta. Jika dia tidak punya harta, maka menafkahinya dan memberinya pakaian karena mengharap wajah Allah Ta’ala.
Sabda beliau dalam hadis “untuknya atau untuk orang lain” maksudnya sama saja apakah anak yatim itu kerabat atau orang asing darinya. Kerabat seperti dirawat oleh kakeknya, saudaranya, ibunya, pamannya, suami ibunya, paman dari pihak ibu, atau kerabat lainnya. Yang asing adalah yang tidak ada hubungan kerabat dengannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menggabungkan anak yatim dari kaum muslimin dengan makanan dan minumannya hingga Allah Ta’ala mencukupinya, maka Allah mewajibkan baginya surga kecuali jika dia berbuat dosa yang tidak diampuni.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengusap kepala anak yatim, tidak mengusapnya kecuali karena Allah, maka baginya kebaikan sebanyak rambut yang dilewati tangannya. Dan barangsiapa berbuat baik kepada anak yatim laki-laki atau perempuan di sisinya, maka aku dan dia seperti ini di surga.”
Seorang laki-laki berkata kepada Abu Darda radhiyallahu ‘anhu: “Berilah aku wasiat.” Dia berkata: “Sayangilah anak yatim, dekatkanlah dia darimu, dan berilah dia makan dari makananmu. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam didatangi seorang laki-laki yang mengeluh tentang kerasnya hatinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Jika kamu ingin hatimu lembut, dekatkanlah anak yatim darimu, usaplah kepalanya, dan berilah dia makan dari makananmu. Sesungguhnya itu akan melunakkan hatimu dan kamu akan mampu memenuhi kebutuhanmu.'”
Di antara yang diceritakan dari sebagian salaf, dia berkata: “Aku pada awal urusanku tenggelam dalam kemaksiatan dan minum khamr. Suatu hari aku bertemu dengan anak yatim yang fakir. Aku mengambilnya dan berbuat baik kepadanya, memberinya makan, memberinya pakaian, memasukkannya ke pemandian, menghilangkan kekusuhannya, dan memuliakannya sebagaimana seseorang memuliakan anaknya bahkan lebih. Aku bermalam setelah itu lalu bermimpi bahwa kiamat telah terjadi dan aku dipanggil untuk hisab. Aku diperintahkan ke neraka karena buruknya kemaksiatanku. Para malaikat zabaniah menyeretku untuk membawaku ke neraka. Aku di hadapan mereka hina dan terhina, mereka menyeretku ke neraka. Tiba-tiba anak yatim itu menghadangku di jalan dan berkata: ‘Lepaskanlah dia wahai malaikat Rabbiku hingga aku memberi syafaat untuknya kepada Rabbiku. Sesungguhnya dia telah berbuat baik kepadaku dan memuliakanku.’ Para malaikat berkata: ‘Kami tidak diperintahkan untuk itu.’ Tiba-tiba ada panggilan dari Allah Ta’ala yang berfirman: ‘Lepaskanlah dia, sesungguhnya Aku telah menganugerahkan kepadanya apa yang darinya dengan syafaat anak yatim dan kebaikannya kepadanya.’ Aku terbangun lalu bertobat kepada Allah Azza wa Jalla dan mencurahkan usahaku dalam menyampaikan kasih sayang kepada anak-anak yatim.”
Oleh karena itu, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berkata: “Sebaik-baik rumah adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim yang diperlakukan dengan baik. Dan seburuk-buruk rumah adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim yang diperlakukan dengan buruk. Dan hamba Allah yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah yang berbuat baik kepada anak yatim atau janda.”
Diriwayatkan bahwa Allah Ta’ala mewahyukan kepada Dawud ‘alaihis salam: “Wahai Dawud, jadilah bagi anak yatim seperti bapak yang penyayang dan jadilah bagi janda seperti suami yang penuh kasih sayang. Ketahuilah sebagaimana kamu menanam demikian kamu menuai.” Maknanya bahwa kamu sebagaimana berbuat demikian juga diperbuat denganmu, yaitu tidak dapat dihindari bahwa kamu akan mati dan meninggalkan anak yatim atau istri yang menjanda.
Dawud ‘alaihis salam berkata dalam munajatnya: “Ilahiku, apa balasan orang yang menolong anak yatim dan janda karena mengharap wajah-Mu?” Allah berfirman: “Balasannya adalah Aku menaunginya dalam naungan-Ku di hari tidak ada naungan kecuali naungan-Ku” – maksudnya naungan ‘Arsy-Ku di hari kiamat.
Di antara yang datang dalam keutamaan berbuat baik kepada janda dan anak yatim dari seorang keturunan Ali yang tinggal di Balkh dari negeri Ajam. Dia memiliki istri keturunan Ali dan memiliki anak-anak perempuan darinya. Mereka hidup dalam kemewahan dan kenikmatan. Suami meninggal dan istri serta anak-anak perempuannya setelahnya tertimpa kemiskinan dan kekurangan. Dia keluar bersama anak-anak perempuannya ke kota lain karena takut cemoohan musuh. Kebetulan keluarnya di saat dingin yang sangat. Ketika masuk kota itu, dia memasukkan anak-anak perempuannya ke salah satu masjid yang terbengkalai dan pergi mencari cara untuk mencari makanan mereka.
Dia melewati dua perkumpulan: perkumpulan seorang laki-laki muslim yang merupakan syaikh kota, dan perkumpulan seorang laki-laki majusi yang merupakan penanggung jawab kota. Dia mulai dengan yang muslim dan menceritakan keadaannya kepadanya. Dia berkata: “Aku seorang wanita keturunan Ali dan bersamaku anak-anak perempuan yatim. Aku memasukkan mereka ke salah satu masjid yang terbengkalai dan aku ingin makanan mereka malam ini.” Dia berkata kepadanya: “Buktikan kepadaku bahwa kamu keturunan Ali yang mulia.” Dia berkata: “Aku wanita asing, tidak ada di kota ini yang mengenalku.” Maka dia berpaling darinya.
Dia pergi darinya dengan hati yang patah lalu datang kepada laki-laki majusi itu dan menceritakan keadaannya kepadanya serta memberitahukan bahwa bersamanya anak-anak perempuan yatim dan dia adalah wanita mulia yang asing. Dia menceritakan kepadanya apa yang terjadi dengannya bersama syaikh muslim. Dia bangkit dan mengirim beberapa istrinya. Mereka datang dengannya dan anak-anak perempuannya ke rumahnya, memberi mereka makan makanan yang paling lezat, memakaikan mereka pakaian yang paling bagus, dan mereka bermalam di sisinya dalam kenikmatan dan kemuliaan.
Ketika tengah malam, syaikh muslim itu bermimpi seolah-olah kiamat telah terjadi dan bendera telah diikatkan di atas kepala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia melihat istana dari zamrud hijau yang mahkotanya dari mutiara dan yakut, dan di dalamnya kubah-kubah mutiara dan marjan. Dia bertanya: “Wahai Rasulullah, untuk siapa istana ini?” Beliau menjawab: “Untuk seorang laki-laki muslim yang bertauhid.” Dia berkata: “Wahai Rasulullah, aku laki-laki muslim yang bertauhid.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Buktikan kepadaku bahwa kamu muslim yang bertauhid.” Dia menjadi bingung. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: “Ketika wanita keturunan Ali mendatangimu, kamu berkata: ‘Buktikan kepadaku bahwa kamu keturunan Ali.’ Demikian juga kamu, buktikan kepadaku bahwa kamu muslim.”
Laki-laki itu terbangun dengan sedih karena menolak wanita itu dengan kecewa. Kemudian dia berkeliling kota menanyakan tentangnya hingga ditunjukkan kepadanya bahwa dia berada di rumah majusi. Dia mengirim utusan kepadanya lalu dia datang. Dia berkata kepadanya: “Aku ingin wanita mulia keturunan Ali dan anak-anak perempuannya darimu.” Dia berkata: “Tidak ada jalan untuk ini, dan aku telah mendapat berkah dari mereka.” Dia berkata: “Ambillah dariku seribu dinar dan serahkan mereka kepadaku.” Dia berkata: “Aku tidak mau.” Dia berkata: “Pasti aku harus mendapat mereka.” Dia berkata: “Yang kamu inginkan, aku lebih berhak kepadanya. Dan istana yang kamu lihat dalam mimpimu diciptakan untukku. Apakah kamu menunjukkanku dengan Islam? Demi Allah, aku dan keluarga rumahku tidak tidur tadi malam hingga kami semua masuk Islam di tangan wanita keturunan Ali. Aku melihat seperti yang kamu lihat dalam mimpimu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku: ‘Wanita keturunan Ali dan anak-anak perempuannya bersamamu?’ Aku berkata: ‘Ya, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda: ‘Istana itu untukmu dan keluarga rumahmu. Kamu dan keluarga rumahmu termasuk penghuni surga. Allah menciptakanmu beriman dalam azali.'”
Muslim itu pulang dengan kesedihan dan penyesalan yang hanya Allah yang mengetahuinya. Lihatlah, semoga Allah merahmatimu, berkah berbuat baik kepada janda dan anak-anak yatim, apa yang mengakibatkan kemuliaan bagi pelakunya di dunia.
Dan karena itulah telah terbukti dalam dua kitab sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Orang yang berusaha membantu janda dan orang-orang miskin adalah seperti orang yang berjihad di jalan Allah.” Perawi berkata: “Saya kira beliau berkata: ‘Dan seperti orang yang shalat malam yang tidak pernah lelah, dan seperti orang yang berpuasa yang tidak pernah berbuka.'” Orang yang berusaha membantu mereka adalah orang yang mengurus kepentingan dan kemaslahatan mereka karena mengharap wajah Allah Ta’ala. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk melakukan hal tersebut dengan karunia dan kemurahan-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan, Maha Mulia, Maha Penyayang, Maha Pengampun, Maha Penyayang.
DOSA BESAR KE-14: BERDUSTA ATAS NAMA ALLAH ﷻ DAN ATAS NAMA RASUL-NYA ﷺ
Allah ‘azza wa jalla berfirman: “Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berdusta atas nama Allah, wajah mereka menjadi hitam.” (Az-Zumar: 60). Al-Hasan berkata: “Mereka adalah orang-orang yang berkata: ‘Jika kita mau, kita kerjakan, dan jika kita mau, kita tidak kerjakan.'” Ibnu Al-Jauzi berkata dalam tafsirnya: “Sebagian ulama berpendapat bahwa berdusta atas nama Allah dan atas nama Rasul-Nya adalah kekufuran yang mengeluarkan dari agama. Tidak diragukan lagi bahwa berdusta atas nama Allah dan atas nama Rasul-Nya dalam menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal adalah kekufuran murni. Adapun permasalahannya adalah dalam berdusta atas nama-Nya dalam hal selain itu.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa berdusta atas namaku, maka dibuatkanlah untuknya rumah di neraka.” Dan beliau bersabda: “Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempatnya di neraka.” Dan beliau bersabda: “Barangsiapa meriwayatkan dariku suatu hadits sedangkan ia tahu bahwa itu dusta, maka ia termasuk salah satu dari orang-orang yang berdusta.” Dan beliau bersabda: “Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta atas nama selainku. Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempatnya di neraka.” Dan beliau bersabda: “Barangsiapa mengatakan atas namaku sesuatu yang tidak pernah aku katakan, maka hendaklah ia menempati tempatnya di neraka.” Dan beliau bersabda: “Seorang mukmin bisa saja memiliki sifat apa saja kecuali khianat dan dusta.” Kami memohon kepada Allah taufik dan penjagaan. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan, Maha Mulia.
DOSA BESAR KE-15: LARI DARI MEDAN PERANG
Jika musuh tidak melebihi dua kali lipat jumlah kaum muslimin, kecuali jika mundur untuk strategi perang atau bergabung dengan pasukan lain meskipun jauh. Allah Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa yang membelakangi mereka pada hari itu kecuali berbelok untuk berperang atau menggabungkan diri kepada pasukan lain, maka sesungguhnya ia mendapat murka dari Allah dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (Al-Anfal: 16).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan.” Para sahabat bertanya: “Apa saja itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari pada hari peperangan, dan menuduh zina wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah, dan yang beriman.”
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Ketika turun ayat: ‘Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang.’ (Al-Anfal: 65), maka Allah mewajibkan kepada mereka agar dua puluh orang tidak lari dari dua ratus orang. Kemudian turun ayat: ‘Sekarang Allah telah meringankan (beban) kamu dan Dia mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada seratus orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika di antara kamu ada seribu orang, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.’ (Al-Anfal: 66). Maka ditetapkan bahwa seratus orang tidak boleh lari dari dua ratus orang.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
DOSA BESAR KE-16: PEMIMPIN YANG MENIPU DAN MENZALIMI RAKYATNYA
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya siksa yang pedih itu hanya atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak.” (Asy-Syura: 42).
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu mengira Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak, mereka datang tergesa-gesa mendongakkan kepalanya, pandangan mereka tidak kembali kepada mereka dan hati mereka kosong.” (Ibrahim: 42-43).
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan kelak orang-orang yang zalim itu akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (Asy-Syu’ara: 227).
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Mereka tidak saling mencegah dari perbuatan munkar yang mereka perbuat. Amat buruklah apa yang mereka perbuat itu.” (Al-Maidah: 79).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa menipu kami, maka ia bukan dari golongan kami.” Dan beliau bersabda: “Kezaliman itu adalah kegelapan-kegelapan pada hari kiamat.” Dan beliau bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pemimpin mana saja yang menipu rakyatnya, maka ia masuk neraka.” Dan beliau bersabda: “Barangsiapa diberi amanah Allah untuk memimpin rakyat kemudian ia tidak melindungi mereka dengan nasihatnya, maka Allah mengharamkan surga baginya.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Dalam riwayat lain: “Ia mati dalam keadaan menipu rakyatnya, maka Allah mengharamkan surga baginya.”
Dan beliau bersabda: “Tidak ada hakim yang memutuskan perkara di antara manusia melainkan ia akan ditahan pada hari kiamat dengan malaikat yang memegang tengkuknya. Jika malaikat berkata: ‘Lemparkan dia!’, maka dia dilemparkan dan jatuh ke neraka selama empat puluh tahun.” Diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Celakalah para penguasa, celakalah para kepala, celakalah para amanah. Sungguh akan ada kaum pada hari kiamat yang berharap andai saja ubun-ubun mereka digantung di bintang Tsuraya sehingga mereka disiksa, padahal mereka tidak pernah mengerjakan sesuatu pun.”
Dan beliau bersabda: “Sungguh akan datang kepada hakim yang adil pada hari kiamat suatu saat dimana ia berharap andai ia tidak pernah memutuskan perkara antara dua orang dalam masalah sebiji kurma pun.” Dan beliau bersabda: “Tidak ada pemimpin sepuluh orang melainkan ia akan didatangkan pada hari kiamat dalam keadaan tangannya terbelenggu ke lehernya. Keadilannya akan membebaskannya atau kezalimannya akan membinasakannya.”
Dan dari doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau berkata: “Ya Allah, barangsiapa yang memimpin urusan umatku ini lalu ia berlembut kepada mereka, maka berlembut-lembutlah kepadanya. Dan barangsiapa yang menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia.”
Dan beliau bersabda: “Barangsiapa yang diberi Allah kekuasaan atas urusan kaum muslimin lalu ia menyembunyikan diri dari kebutuhan, kekurangan, dan kemiskinan mereka, maka Allah akan menyembunyikan diri dari kebutuhan, kekurangan, dan kemiskinannya.”
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan ada penguasa-penguasa yang fasik dan zalim. Barangsiapa membenarkan kebohongan mereka dan membantu kezaliman mereka, maka ia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya, dan ia tidak akan mendatangi telagaku.”
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua golongan dari umatku tidak akan mendapat syafaatku: penguasa yang zalim dan penipu, dan orang yang berlebihan dalam agama yang menyaksikan mereka dan berlepas diri dari mereka.”
Dan beliau bersabda: “Orang yang paling keras siksaannya pada hari kiamat adalah pemimpin yang zalim.”
Dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai manusia, suruhlah kepada kebaikan dan cegahlah kemungkaran sebelum kalian berdoa kepada Allah namun Dia tidak mengabulkan, dan sebelum kalian meminta ampun kepada Allah namun Dia tidak mengampuni. Sesungguhnya ahli kitab dari kaum Yahudi dan rahib-rahib dari kaum Nasrani ketika mereka meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar, Allah melaknat mereka melalui lisan para nabi mereka, kemudian Dia menimpakan bencana kepada mereka semua.”
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mengada-ada dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka itu tertolak. Dan barangsiapa mengada-ada suatu perkara atau melindungi orang yang mengada-ada, maka atasnya laknat Allah, malaikat, dan manusia seluruhnya. Allah tidak menerima darinya tebusan dan keadilan.”
Dalam hadits juga: “Barangsiapa tidak merahmati, tidak akan dirahmati. Allah tidak merahmati orang yang tidak merahmati manusia.”
Dan beliau bersabda: “Pemimpin yang adil akan dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan selain naungan-Nya.” Dan beliau bersabda: “Orang-orang yang berlaku adil berada di atas mimbar dari cahaya, yaitu mereka yang berlaku adil dalam hukuman mereka, keluarga mereka, dan apa yang mereka pimpin.”
Dan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz radhiyallahu ‘anhu ke Yaman, beliau berkata: “Jauhilah harta benda terbaik mereka, dan takutlah doa orang yang dizalimi karena sesungguhnya tidak ada hijab antara doanya dengan Allah.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
Dan beliau bersabda: “Tiga orang yang tidak akan diajak bicara Allah pada hari kiamat”, beliau menyebutkan di antaranya raja yang pendusta.
Dan beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian akan berlomba-lomba mencari kepemimpinan, dan itu akan menjadi penyesalan pada hari kiamat.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Dan di dalamnya juga: “Dan sesungguhnya demi Allah, kami tidak akan memberikan pekerjaan ini kepada orang yang memintanya atau orang yang tamak kepadanya.”
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Ka’b bin ‘Ujrah, semoga Allah melindungimu dari kepemimpinan orang-orang bodoh, yaitu para penguasa yang akan ada setelahku yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak mengikuti sunnahku.”
Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barangsiapa mencari jabatan hakim kaum muslimin hingga ia mendapatkannya, kemudian keadilannya mengalahkan kezalimannya, maka baginya surga. Dan barangsiapa kezalimannya mengalahkan keadilannya, maka baginya neraka.”
Dan beliau bersabda: “Kalian akan berlomba-lomba mencari kepemimpinan, dan itu akan menjadi penyesalan pada hari kiamat.”
Dan Umar berkata kepada Abu Dzar radhiyallahu ‘anhuma: “Ceritakanlah kepadaku hadits yang kamu dengar dari Rasulullah.” Maka Abu Dzar berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Seorang penguasa akan didatangkan pada hari kiamat lalu dilemparkan ke jembatan neraka, maka jembatan itu bergetar bersamanya sehingga tidak ada persendiannya yang tersisa kecuali terlepas dari tempatnya. Jika ia taat kepada Allah dalam pekerjaannya, ia akan lewat. Dan jika ia durhaka kepada Allah dalam pekerjaannya, jembatan itu akan robek bersamanya dan ia jatuh ke neraka selama lima puluh tahun.'” Maka Umar berkata: “Siapa yang mau mencari pekerjaan dengan ini, wahai Abu Dzar?” Ia menjawab: “Orang yang Allah cabut hidungnya dan Allah tempelkan pipinya ke tanah.”
Dan Amr bin Al-Muhajir berkata: “Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu ‘anhu berkata kepadaku: ‘Jika kamu melihatku condong dari kebenaran, maka peganglah kerah bajuku kemudian katakanlah: Wahai Umar, apa yang kamu lakukan?'”
Wahai orang yang rela dengan nama zalim, berapa banyak kezaliman yang ada padamu. Penjara itu neraka, dan kebenaran itu hakim, dan tidak ada hujjah bagimu dalam apa yang kamu pertengkarkan. Kubur itu menakutkan, maka ingatlah penjara mu. Hisab itu panjang, maka selamatkanlah dirimu. Umur itu seperti sehari, maka segeralah matahari mu. Kamu bergembira dengan hartamu padahal perolehannya haram. Kamu bermain-main dengan angan-anganmu padahal perjalanan itu cepat. Sesungguhnya kezaliman tidak akan ditinggalkan darinya sedikitpun. Jika kamu melihat orang zalim yang telah berkuasa, maka tidurlah untuknya, karena barangkali ia bermalam lalu semut mengambil sisinya dari malam, yaitu luka-luka di badan.
DOSA BESAR KE-17: SOMBONG
Sombong, berbangga diri, congkak, ujub, dan takabbur. Allah Ta’ala berfirman: “Dan Musa berkata: ‘Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhan kamu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari perhitungan.'” (Ghafir: 27). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Baqarah: 190).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketika seorang laki-laki berjalan dengan sombong, tiba-tiba Allah membenamkannya ke bumi, maka ia tergulung-gulung di dalamnya sampai hari kiamat.”
Dan beliau bersabda: “Para penguasa yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut-semut kecil yang diinjak-injak manusia, mereka diliputi kehinaan dari segala penjuru.”
Sebagian salaf berkata: “Dosa pertama yang dimaksiatkan kepada Allah adalah kesombongan.” Allah Ta’ala berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan yang kafir.” (Al-Baqarah: 34). Barangsiapa sombong terhadap kebenaran, maka imannya tidak bermanfaat baginya sebagaimana yang dilakukan Iblis.
Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji dzarrah.” Diriwayatkan oleh Muslim.
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Luqman: 18).
Dan beliau bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Keagungan adalah kain-Ku dan kesombongan adalah selendang-Ku. Barangsiapa memperebutkan keduanya dengan-Ku, Aku lemparkan ia ke dalam neraka.'” Diriwayatkan oleh Muslim. Memperebutkan artinya menarik-narik.
Dan beliau bersabda: “Surga dan neraka bertengkar. Surga berkata: ‘Mengapa yang masuk kepadaku hanya orang-orang lemah dan sampah manusia.’ Dan neraka berkata: ‘Aku dikhususkan dengan para penguasa dan orang-orang sombong.'” (hadits lengkap).
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Luqman: 18). Artinya jangan memiringkan pipimu dengan berpaling secara sombong. Dan marahan adalah berjalan dengan sombong.
Salamah bin Al-Akwa’ berkata: “Seorang laki-laki makan di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangan kirinya. Beliau berkata: ‘Makanlah dengan tangan kananmu.’ Ia berkata: ‘Aku tidak bisa.’ Beliau berkata: ‘Semoga kamu tidak bisa.’ Tidak ada yang menghalanginya kecuali kesombongan. Maka ia tidak bisa mengangkatnya ke mulutnya lagi setelah itu.” Diriwayatkan oleh Muslim.
Dan beliau bersabda: “Maukah aku beritahu kalian tentang penduduk neraka? Setiap orang yang kasar, rakus, dan sombong.” Yang kasar adalah orang yang keras dan zalim. Yang rakus adalah orang yang mengumpulkan dan pelit. Ada yang berkata: orang yang gemuk dan sombong dalam jalannya. Ada yang berkata: orang yang berperut besar.
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Tidak ada laki-laki yang berjalan dengan sombong dan membesarkan dirinya melainkan ia akan bertemu Allah dalam keadaan Allah murka kepadanya.'”
Dan sahih dari hadits Abu Hurairah: “Tiga orang pertama yang masuk neraka: pemimpin yang zalim, orang kaya yang tidak menunaikan zakat, dan orang miskin yang sombong.”
Dalam Sahih Al-Bukhari dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tiga orang yang tidak akan dilihat Allah pada hari kiamat dan tidak akan disucikan-Nya, dan bagi mereka siksa yang pedih: orang yang menjulurkan kainnya, orang yang menyebut-nyebut pemberiannya, dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu.” Orang yang menjulurkan kain adalah orang yang menjulurkan kain sarung atau pakaian atau celananya sampai ke kakinya, karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apa yang dijulurkan dari kedua mata kaki dari kain sarung, maka itu di neraka.”
Dan kesombongan yang paling buruk adalah orang yang sombong kepada hamba-hamba Allah dengan ilmunya dan membesarkan dirinya dengan keutamaannya. Sesungguhnya orang ini tidak mendapat manfaat dari ilmunya. Karena barangsiapa mencari ilmu untuk akhirat, ilmunya akan membuatnya rendah hati, hatinya khusyuk, jiwanya tunduk, dan ia selalu mengawasi dirinya. Ia tidak lengah darinya, bahkan ia menghisab dirinya setiap saat dan memperhatikannya. Jika ia lengah darinya, ia akan tergelincir dari jalan yang lurus dan membinasakannya.
Dan barangsiapa mencari ilmu untuk berbangga dan kepemimpinan, dan angkuh kepada kaum muslimin, dan meremehkan mereka, maka ini termasuk kesombongan yang paling besar. Dan tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji dzarrah. Dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.
DOSA BESAR KE-18: KESAKSIAN PALSU
Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu.” (Al-Furqan: 72). Dalam atsar disebutkan: “Kesaksian palsu disetarakan dengan menyekutukan Allah Ta’ala dua kali.”
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan jauhilah perkataan palsu.” (Al-Hajj: 30).
Dalam hadits: “Tidak akan bergeser kaki saksi palsu pada hari kiamat hingga diwajibkan baginya neraka.”
Penulis rahimahullah Ta’ala berkata: “Saksi palsu telah melakukan berbagai kejahatan besar:
Pertama: Berdusta dan mengada-ada. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang melampaui batas lagi pendusta.” (Ghafir: 28). Dalam hadits: “Seorang mukmin bisa memiliki sifat apa saja kecuali khianat dan dusta.”
Kedua: Ia menzalimi orang yang ia saksikan sehingga harta, kehormatan, dan jiwanya diambil karena kesaksiannya.
Ketiga: Ia menzalimi orang yang ia saksikan untuknya dengan mengarahkan kepadanya harta haram lalu ia mengambilnya karena kesaksiannya, maka wajib baginya neraka. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa aku putuskan untuknya dari harta saudaranya tanpa hak, maka janganlah ia mengambilnya karena sesungguhnya aku memotongkan untuknya sepotong api.”
Keempat: Ia menghalalkan apa yang Allah Ta’ala haramkan dan melindunginya dari harta, darah, dan kehormatan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maukah aku beritahu kalian tentang dosa besar yang paling besar? Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua. Ketahuilah, dan perkataan palsu. Ketahuilah, dan kesaksian palsu.” Beliau terus mengulanginya hingga kami berkata: “Seandainya beliau diam.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
Maka kami memohon kepada Allah Ta’ala keselamatan dan kesehatan dari segala bencana.
DOSA BESAR KE-19: MEMINUM KHAMAR
Firman Allah tentang Larangan Khamar
Allah ﷻ berfirman dalam Surat Al-Maidah ayat 90-91:
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan keji yang termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan dari shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).”
Allah ﷻ telah melarang dengan tegas dalam ayat ini tentang khamar dan memperingatkan dari bahayanya. Nabi ﷺ bersabda: “Jauhilah khamar karena sesungguhnya ia adalah induk segala kejahatan. Barangsiapa tidak menjauhkannya maka dia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya dan berhak mendapat azab karena bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.”
Allah ﷻ berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 14:
“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.”
Keterangan tentang Keharaman Khamar
Dari Ibnu Abbas RA, dia berkata: “Ketika turun pengharaman khamar, para sahabat berjalan satu sama lain dan berkata: ‘Khamar telah diharamkan dan dijadikan setara dengan syirik.'”
Abdullah bin Amr berpendapat bahwa khamar adalah dosa besar yang paling besar. Ia tanpa ragu adalah induk segala kejahatan dan telah dilaknat peminum khamar dalam beberapa hadis.
Dari Ibnu Umar RA, dia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap yang memabukkan adalah khamar, dan setiap khamar adalah haram. Barangsiapa meminum khamar di dunia dan mati sedang dia tidak bertobat darinya dan dia adalah pemabuk, maka dia tidak akan meminumnya di akhirat.” (HR. Muslim)
Muslim meriwayatkan dari Jabir RA bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah berjanji kepada orang yang meminum yang memabukkan untuk memberinya minum dari lumpur khabel.” Ditanyakan: “Ya Rasulullah, apakah lumpur khabel itu?” Beliau menjawab: “Keringat penduduk neraka atau perasan penduduk neraka.”
Dalam Shahihain disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa meminum khamar di dunia, maka ia akan diharamkan darinya di akhirat.”
Pecandu Khamar Seperti Penyembah Berhala
Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Pecandu khamar seperti penyembah berhala.”
Pecandu Khamar yang Mati Tanpa Tobat Tidak Masuk Surga
An-Nasa’i meriwayatkan dari hadis Ibnu Umar bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang durhaka kepada orang tuanya dan tidak pula pecandu khamar.”
Dalam riwayat lain: “Tiga golongan yang Allah haramkan bagi mereka surga: pecandu khamar, orang yang durhaka kepada orang tuanya, dan dayuts yaitu orang yang membiarkan kemungkaran dalam keluarganya.”
Orang Mabuk Tidak Diterima Kebaikannya oleh Allah
Jabir bin Abdullah meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Tiga golongan yang tidak diterima shalat mereka dan tidak diangkat kebaikan mereka ke langit: budak yang melarikan diri hingga dia kembali kepada tuannya dan meletakkan tangannya di tangan mereka, wanita yang dimurkai suaminya hingga suaminya ridha kepadanya, dan orang mabuk hingga dia sadar.”
Khamar adalah apa yang menutupi akal, baik berupa cairan atau padat, dimakan atau diminum.
Dari Abu Sa’id Al-Khudri, dia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah tidak menerima shalat peminum khamar selama masih ada sesuatu darinya dalam tubuhnya.”
Dalam riwayat lain: “Barangsiapa meminum khamar, Allah tidak menerima sesuatu darinya. Dan barangsiapa mabuk karenanya, tidak diterima shalatnya selama empat puluh pagi. Jika dia bertobat kemudian kembali lagi, maka hak Allah untuk memberinya minum dari tembaga cair neraka Jahannam.”
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa meminum khamar dan tidak mabuk, Allah berpaling darinya selama empat puluh malam. Dan barangsiapa meminum khamar dan mabuk, Allah tidak menerima darinya sedikitpun selama empat puluh malam. Jika dia mati dalam masa itu, dia mati seperti penyembah berhala, dan hak Allah untuk memberinya minum dari lumpur khabel.” Ditanyakan: “Ya Rasulullah, apakah lumpur khabel itu?” Beliau menjawab: “Perasan penduduk neraka berupa nanah dan darah.”
Abdullah bin Abi Aufa berkata: “Barangsiapa mati sebagai pecandu khamar, dia mati seperti penyembah Lata dan Uzza.”
Ditanyakan: “Bagaimana dengan pecandu khamar, apakah dia yang tidak pernah sadar dari meminumnya?” Dia menjawab: “Tidak, tetapi dia adalah orang yang meminumnya jika mendapatkannya, meskipun setelah bertahun-tahun.”
Peminum Khamar Bukan Mukmin Ketika Meminumnya
Dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ: “Pencuri tidak mencuri ketika dia mencuri sedang dia mukmin, pezina tidak berzina ketika dia berzina sedang dia mukmin, dan peminum khamar tidak meminum ketika dia meminumnya sedang dia mukmin. Dan tobat terbuka setelahnya.” (HR. Bukhari)
Dalam hadis disebutkan: “Barangsiapa berzina atau meminum khamar, Allah mencabut iman darinya seperti manusia melepas baju dari kepalanya.”
Dalam hadis lain: “Barangsiapa meminum khamar di sore hari, dia bangun pagi dalam keadaan musyrik. Dan barangsiapa meminumnya di pagi hari, dia malam dalam keadaan musyrik.”
Dalam hadis dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Sesungguhnya bau surga dapat tercium dari jarak perjalanan lima ratus tahun, dan tidak akan mencium baunya orang yang durhaka kepada orang tua, orang yang mengungkit-ungkit pemberian, pecandu khamar, dan penyembah berhala.”
Imam Ahmad meriwayatkan dari hadis Abu Musa Al-Asy’ari RA bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak akan masuk surga pecandu khamar, orang yang percaya sihir, dan pemutus silaturahmi. Barangsiapa mati sedang dia meminum khamar, Allah akan memberinya minum dari sungai Ghuthah, yaitu air yang mengalir dari kemaluan para pelacur yang menyakiti penduduk neraka dengan bau kemaluan mereka.”
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah mengutusku sebagai rahmat dan petunjuk bagi seluruh alam. Allah mengutusku untuk menghapus alat-alat musik dan perkara jahiliyah. Rabbiku bersumpah dengan kemuliaan-Nya: ‘Tidaklah seorang hamba dari hamba-hamba-Ku meminum seteguk khamar kecuali Aku akan memberinya minum seperti itu dari air panas Jahannam. Dan tidaklah seorang hamba dari hamba-hamba-Ku meninggalkannya karena takut kepada-Ku kecuali Aku akan memberinya minum di taman-taman suci bersama sebaik-baik teman minum.'”
Orang-orang yang Dilaknat dalam Perkara Khamar
Abu Dawud meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Khamar dilaknat dengan sendirinya, demikian pula peminumnya, pemberinya, penjualnya, pembelinya, pemerasnya, orang yang minta diperaskan, pembawanya, orang yang dibawakan kepadanya, dan pemakan hasil penjualannya.”
Imam Ahmad meriwayatkan dari hadis Ibnu Abbas, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Jibril AS datang kepadaku dan berkata: Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah melaknat khamar, pemerasnya, orang yang minta diperaskan, penjualnya, pembelinya, peminumnya, pemakan hasil penjualannya, pembawanya, orang yang dibawakan kepadanya, pemberinya, dan orang yang minta diberi.'”
Larangan Menjenguk Peminum Khamar dan Tidak Memberi Salam
Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash RA, dia berkata: “Jangan kalian menjenguk peminum khamar jika mereka sakit.”
Bukhari berkata: “Ibnu Umar berkata: ‘Jangan kalian memberi salam kepada peminum khamar.'”
Nabi ﷺ bersabda: “Jangan kalian duduk bersama peminum khamar, jangan menjenguk orang sakit mereka, dan jangan menyaksikan jenazah mereka. Sesungguhnya peminum khamar akan datang pada hari kiamat dengan wajah hitam, lidah terjulur di atas dadanya, air liurnya menetes, setiap orang yang melihatnya akan jijik jika mengetahui bahwa dia peminum khamar.”
Sebagian ulama berkata: “Larangan menjenguk mereka dan memberi salam kepada mereka karena peminum khamar adalah orang fasik yang dilaknat, telah dilaknat oleh Allah dan Rasul-Nya sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dalam sabda ‘Allah melaknat khamar dan peminumnya’ dalam hadis tersebut. Jika dia membelinya dan memerasnya, dia dilaknat dua kali. Jika dia memberinya kepada orang lain, dia dilaknat tiga kali. Karena itulah dilarang menjenguknya dan memberi salam kepadanya, kecuali jika dia bertobat. Barangsiapa bertobat, Allah akan menerima tobatnya.”
Khamar Tidak Halal untuk Pengobatan
Dari Umm Salamah RA, dia berkata: “Putriku sakit, lalu aku merendam sesuatu untuknya dalam tempat. Rasulullah ﷺ masuk menemuiku sedang itu mendidih. Beliau bertanya: ‘Apa ini wahai Umm Salamah?’ Aku ceritakan kepadanya bahwa aku mengobati putriku dengannya. Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya Allah ﷻ tidak menjadikan kesembuhan umatku pada apa yang diharamkan kepada mereka.'”
Hadis-hadis Lain tentang Khamar
Di antaranya yang disebutkan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah dari Abu Musa RA, dia berkata: “Nabi ﷺ didatangi minuman dalam tempayan yang berbunyi, lalu beliau bersabda: ‘Benturkan ini ke dinding, karena ini adalah minuman orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.'”
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa di dadanya ada ayat dari kitab Allah kemudian dia menuangkan khamar ke atasnya, dia akan datang pada hari kiamat setiap huruf dari ayat itu akan memegang ubun-ubunnya hingga menghentikannya di hadapan Allah ﷻ untuk mengadukan dia. Barangsiapa diadukan oleh Al-Quran, dia akan kalah. Maka celakalah orang yang Al-Quran menjadi lawannya pada hari kiamat.”
Dari Nabi ﷺ: “Tidaklah suatu kaum berkumpul atas yang memabukkan di dunia kecuali Allah akan mengumpulkan mereka di neraka, lalu sebagian mereka menghadap sebagian yang lain saling menyalahkan. Salah seorang berkata kepada yang lain: ‘Wahai fulan, semoga Allah tidak membalasmu dengan kebaikan dariku, kamu yang membawaku ke tempat ini.’ Dan yang lain berkata seperti itu juga.”
Dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Barangsiapa meminum khamar di dunia, Allah akan memberinya minum dari racun ular berbisa satu tegukan hingga daging wajahnya berjatuhan ke dalam bejana sebelum dia meminumnya. Jika dia meminumnya, daging dan kulitnya berjatuhan yang menyakiti penduduk neraka. Ketahuilah bahwa peminumnya, pemerasnya, orang yang minta diperaskan, pembawanya, orang yang dibawakan kepadanya, dan pemakan hasil penjualannya adalah sekutu dalam dosanya. Allah tidak menerima dari mereka shalat, puasa, dan haji hingga mereka bertobat. Jika mereka mati sebelum bertobat, hak Allah untuk memberi mereka minum dengan setiap tegukan yang mereka minum di dunia dari nanah Jahannam. Ketahuilah bahwa setiap yang memabukkan adalah khamar dan setiap khamar haram.”
Termasuk dalam sabda Nabi ﷺ “setiap yang memabukkan adalah khamar” adalah ganja sebagaimana akan dibahas nanti insya Allah.
Diriwayatkan bahwa peminum khamar jika mereka sampai di atas shirath, para malaikat zabaniyah akan menyambar mereka ke sungai khabel, lalu mereka diberi minum dengan setiap gelas khamar yang mereka minum satu tegukan dari sungai khabel. Seandainya tegukan itu dituangkan dari langit, niscaya akan membakar langit-langit karena panasnya. Kami berlindung kepada Allah darinya.
Atsar dari Salaf tentang Khamar
Ibnu Mas’ud RA berkata: “Jika peminum khamar mati, kuburkan dia, kemudian salibkan dia di atas kayu, kemudian gali kuburnya. Jika kalian tidak melihat wajahnya memalingkan dari kiblat, kalau tidak biarkan dia tetap disalib.”
Dari Fudhail bin Iyadh bahwa dia hadir di sisi muridnya yang sedang sekarat. Dia mulai mentalqinkan syahadat kepadanya tetapi lidahnya tidak dapat mengucapkannya. Dia mengulanginya kepadanya, lalu dia berkata: “Aku tidak akan mengucapkannya dan aku berlepas diri darinya.” Fudhail keluar darinya sambil menangis, kemudian dia melihatnya setelah beberapa waktu dalam mimpi sedang diseret ke neraka. Dia berkata kepadanya: “Wahai orang miskin, dengan apa pengetahuan dicabut darimu?” Dia berkata: “Wahai guru, aku mempunyai penyakit, lalu aku mendatangi seorang dokter. Dia berkata kepadaku: ‘Minumlah setiap tahun segelas khamar, jika tidak kamu lakukan, penyakitmu akan tetap.’ Maka aku meminumnya setiap tahun untuk pengobatan.” Inilah keadaan orang yang meminumnya untuk pengobatan, bagaimana keadaan orang yang meminumnya bukan untuk itu. Kami memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan dari setiap bala.
Seorang yang bertobat ditanya tentang sebab tobatnya. Dia berkata: “Aku biasa menggali kubur, lalu aku melihat di dalamnya mayat-mayat yang memalingkan dari kiblat. Aku bertanya kepada keluarga mereka tentang mereka. Mereka berkata: ‘Mereka biasa meminum khamar di dunia dan mati tanpa tobat.'”
Seorang saleh berkata: “Putraku yang kecil meninggal. Ketika aku menguburkannya, aku melihatnya setelah kematiannya dalam mimpi dan rambutnya sudah beruban. Aku berkata: ‘Wahai anakku, aku menguburmu sedang kamu kecil, apa yang membuatmu beruban?’ Dia berkata: ‘Wahai ayah, dikuburkan di sampingku seorang laki-laki yang biasa meminum khamar di dunia. Jahannam meniup untuknya satu tiupan yang tidak tersisa anak kecil kecuali beruban rambutnya karena dahsyatnya tiupan itu.’ Kami berlindung kepada Allah darinya dan memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan dari apa yang mewajibkan azab di akhirat.”
Kewajiban bagi hamba adalah bertobat kepada Allah ﷻ sebelum kematian mendatanginya sedang dia dalam keadaan yang paling buruk, lalu dia dilemparkan ke neraka. Kami berlindung kepada Allah darinya.
Bab: Tentang Ganja
Ganja yang dibuat dari daun ganja adalah haram seperti khamar. Pemakannya dihukum had seperti peminum khamar dihukum had. Ia lebih buruk dari khamar dari segi merusak akal dan temperamen hingga terjadi pada orang tersebut sifat kewanitaan dan dayuts serta kerusakan lainnya. Khamar lebih buruk dari segi mengantarkan kepada pertengkaran dan perkelahian. Keduanya menghalangi dari mengingat Allah dan dari shalat.
Sebagian ulama mutaakhir ragu-ragu dalam menghukum hadnya dan berpendapat bahwa pemakannya dita’zir dengan hukuman di bawah had, karena mereka mengira bahwa ganja mengubah akal tanpa kegirangan seperti halnya banuj (sejenis obat bius). Mereka tidak menemukan perkataan ulama terdahulu tentangnya. Padahal tidak demikian, bahkan pemakannya bergembira dan menyukainya seperti peminum khamar bahkan lebih, hingga mereka tidak sabar meninggalkannya. Ia menghalangi mereka dari mengingat Allah dan dari shalat jika mereka memperbanyaknya, di samping sifat dayuts, kewanitaan, kerusakan temperamen dan akal, serta lainnya.
Tetapi karena ia padat dan dimakan bukan diminum, para ulama berbeda pendapat tentang najisnya dalam tiga pendapat dalam mazhab Imam Ahmad dan lainnya. Ada yang berkata ia najis seperti khamar yang diminum, dan ini adalah pertimbangan yang benar. Ada yang berkata tidak karena padatnya. Ada yang berkata dibedakan antara yang padat dengan yang cair.
Bagaimanapun, ia termasuk dalam apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya dari khamar yang memabukkan secara lafazh dan makna.
Abu Musa berkata: “Ya Rasulullah, beri kami fatwa tentang dua minuman yang biasa kami buat di Yaman: bita’ yaitu dari madu yang direndam hingga kuat, dan mizr yaitu dari jagung dan gandum yang direndam hingga kuat.” Rasulullah ﷺ telah diberi jawami’ul kalim dengan penutupnya, lalu beliau bersabda: “Setiap yang memabukkan haram.” (HR. Muslim)
Beliau bersabda: “Aku yang memabukkan banyaknya maka sedikitnya haram.” Beliau tidak membedakan antara jenis yang satu dengan yang lain karena dimakan atau diminum. Apalagi khamar bisa dijadikan roti, dan ganja ini bisa dilarutkan dengan air dan diminum. Khamar diminum dan dimakan, begitu juga ganja diminum dan dimakan.
Para ulama tidak menyebutkannya karena ia tidak ada pada zaman salaf yang lalu. Ia baru muncul ketika datangnya bangsa Tatar ke negeri-negeri Islam. Ada yang mengatakan dalam menggambarkannya dengan syair:
“Pemakan dan penanamnya menghalalkannya Maka itulah dua musibah atas orang celaka”
“Demi Allah, Iblis tidak pernah bergembira seperti kegembiraannya dengan ganja karena dia menghiasinya bagi jiwa-jiwa hina, lalu mereka menghalalkannya dan menganggapnya murah.”
“Katakanlah kepada orang yang makan ganja karena kebodohan Kamu hidup dalam memakannya dengan kehidupan yang paling buruk Nilai manusia adalah esensinya, lalu mengapa Wahai saudara yang bodoh, kamu menjualnya dengan ganja”
KISAH
Dari Abdul Malik bin Marwan bahwa seorang pemuda datang kepadanya dengan menangis dan bersedih hati. Pemuda itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya aku telah melakukan dosa yang sangat besar, apakah ada taubat bagiku?” Abdul Malik bertanya, “Apa dosamu?” Pemuda itu menjawab, “Dosaku sangat besar.” Abdul Malik berkata, “Apa itu? Bertaubatlah kepada Allah Ta’ala, sesungguhnya Dia menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan.”
Pemuda itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, aku dulu menggali kubur-kubur dan aku melihat di dalamnya hal-hal yang menakjubkan.” Abdul Malik bertanya, “Apa yang kamu lihat?”
Pemuda itu menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, pada suatu malam aku menggali sebuah kubur dan aku melihat pemiliknya telah dipalingkan wajahnya dari arah kiblat. Aku merasa takut padanya dan ingin keluar, tiba-tiba ada yang berkata di dalam kubur: ‘Mengapa kamu tidak bertanya tentang si mayit, mengapa wajahnya dipalingkan dari kiblat?’ Aku bertanya mengapa dipalingkan? Dia menjawab: ‘Karena dia dahulu meremehkan shalat, inilah balasan orang seperti dia.’
Kemudian aku menggali kubur yang lain dan aku melihat pemiliknya telah berubah menjadi babi dan diikat dengan rantai dan belenggu di lehernya. Aku merasa takut padanya dan ingin keluar, tiba-tiba ada yang berkata kepadaku: ‘Mengapa kamu tidak bertanya tentang amalnya dan mengapa dia disiksa?’ Aku bertanya mengapa? Dia menjawab: ‘Dia dahulu minum khamar di dunia dan meninggal tanpa taubat.’
Yang ketiga, wahai Amirul Mukminin, aku menggali sebuah kubur dan mendapati pemiliknya terikat ke tanah dengan tali-tali dari api dan lidahnya dijulurkan dari tengkuknya. Aku merasa takut dan mundur serta ingin keluar, lalu aku dipanggil: ‘Mengapa kamu tidak bertanya tentang keadaannya, mengapa dia diuji seperti ini?’ Aku bertanya mengapa? Dia menjawab: ‘Dia dahulu tidak menjaga diri dari kencing dan suka menyebarkan berita di antara manusia, inilah balasan orang seperti dia.’
Yang keempat, wahai Amirul Mukminin, aku menggali sebuah kubur dan mendapati pemiliknya menyala terbakar api. Aku merasa takut padanya dan ingin keluar, lalu dikatakan: ‘Mengapa kamu tidak bertanya tentang dia dan keadaannya?’ Aku bertanya bagaimana keadaannya? Dia menjawab: ‘Dia dahulu meninggalkan shalat.’
Yang kelima, wahai Amirul Mukminin, aku menggali sebuah kubur dan aku melihatnya diperluas untuk si mayit sejauh mata memandang dan di dalamnya ada cahaya yang terang. Si mayit tidur di atas tempat tidur dan cahayanya bersinar dengan mengenakan pakaian yang indah. Aku merasa kagum padanya dan ingin keluar, lalu dikatakan kepadaku: ‘Mengapa kamu tidak bertanya tentang keadaannya, mengapa dia dimuliakan dengan kemuliaan ini?’ Aku bertanya mengapa dia dimuliakan? Dikatakan kepadaku: ‘Karena dia dahulu adalah seorang pemuda yang taat, tumbuh dalam ketaatan dan ibadah kepada Allah Azza wa Jalla.'”
Abdul Malik berkata saat itu: “Sesungguhnya dalam hal ini terdapat pelajaran bagi orang-orang yang bermaksiat dan kabar gembira bagi orang-orang yang taat. Maka wajib bagi orang yang tertimpa cacat-cacat ini untuk segera bertaubat dan taat. Semoga Allah menjadikan kita dan kalian termasuk orang-orang yang taat dan menjauhkan kita dari perbuatan orang-orang fasik. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan lagi Mulia.”
DOSA BESAR KE-20: JUDI
Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan dari shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (Surat Al-Maidah ayat 90-91)
Al-maisir adalah judi dengan jenis apa pun, baik dadu, catur, kelereng, dadu tulang, kemiri, telur, kerikil, atau lainnya. Ini termasuk memakan harta manusia dengan batil yang dilarang Allah dengan firman-Nya: “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil” (Surat Al-Baqarah ayat 188) dan termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya ada orang-orang yang menyelam dalam harta Allah tanpa hak, maka bagi mereka neraka pada hari kiamat.”
Dalam Shahih Bukhari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa berkata kepada temannya: ‘Mari berjudi’, maka hendaklah dia bersedekah.” Jika perkataan saja sudah mewajibkan kafarat atau sedekah, bagaimana pendapatmu tentang perbuatannya?
Fasal
Para ulama berselisih pendapat tentang dadu dan catur jika tanpa taruhan. Mereka sepakat mengharamkan bermain dadu berdasarkan hadis shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa bermain dadu, seakan-akan dia mencelupkan tangannya dalam daging dan darah babi.” (Diriwayatkan Muslim)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Barangsiapa bermain dadu, maka dia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.”
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Bermain dadu adalah judi seperti mengoleskan lemak babi.”
Adapun catur, mayoritas ulama mengharamkan bermainnya, baik dengan taruhan maupun tanpa taruhan. Dengan taruhan jelas merupakan judi tanpa perselisihan. Adapun tanpa taruhan, itu juga judi yang haram menurut mayoritas ulama. Diriwayatkan kebolehannya dalam satu riwayat dari Asy-Syafi’i jika dilakukan sendirian dan tidak menyibukkan dari kewajiban atau shalat pada waktunya.
An-Nawawi rahimahullah ditanya tentang bermain catur, apakah haram atau boleh? Beliau menjawab: “Haram menurut mayoritas ahli ilmu.”
Beliau juga ditanya tentang bermain catur, apakah boleh atau tidak dan apakah pemainnya berdosa atau tidak? Beliau menjawab: “Jika karena catur seseorang meninggalkan shalat dari waktunya atau bermain dengan imbalan, maka haram. Selain itu makruh menurut Asy-Syafi’i dan haram menurut selainnya.”
Dalil pengharaman menurut pendapat mayoritas adalah firman Allah Ta’ala: “Diharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi… hingga firman-Nya: dan (diharamkan) mengundi nasib dengan anak panah” (Surat Al-Maidah ayat 3)
Sufyan dan Waki’ bin Al-Jarrah berkata: “Itu adalah catur.”
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata: “Catur adalah judi orang ajam.” Beliau pernah melewati orang-orang yang sedang bermain catur lalu berkata: “Apa patung-patung yang kalian sembah ini? Sungguh, jika salah seorang di antara kalian menyentuh bara api sampai padam lebih baik baginya daripada menyentuhnya.” Kemudian beliau berkata: “Demi Allah, bukan untuk ini kalian diciptakan.”
Beliau juga berkata: “Pemain catur adalah orang paling pendusta. Salah seorang berkata: ‘Aku membunuh’, padahal dia tidak membunuh; ‘Dia mati’, padahal dia tidak mati.”
Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata: “Tidak bermain catur kecuali orang yang bersalah.”
Ishaq bin Rahawayh ditanya: “Apakah Anda melihat ada masalah dalam bermain catur?” Beliau menjawab: “Semua masalah ada di dalamnya.” Dikatakan kepadanya: “Sesungguhnya penduduk perbatasan bermain catur untuk keperluan perang.” Beliau menjawab: “Itu adalah kefasikan.”
Muhammad bin Ka’b Al-Qurazhi ditanya tentang bermain catur, beliau menjawab: “Sedikitnya yang ada padanya adalah pemainnya akan dihadapkan pada hari kiamat atau dibangkitkan pada hari kiamat bersama ahli batil.”
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma ditanya tentang catur, beliau menjawab: “Itu lebih buruk dari dadu,” dan telah disebutkan tentang pengharamannya.
Imam Malik bin Anas rahimahullah ditanya tentang catur, beliau menjawab: “Catur termasuk dadu. Telah sampai kepada kami dari Ibnu Abbas bahwa dia mengelola harta seorang yatim lalu menemukan catur dalam warisan ayah si yatim, maka dia membakarnya. Seandainya bermain catur halal, tidak boleh baginya membakarnya karena itu harta yatim. Tetapi karena bermain catur haram, maka dia membakarnya. Catur sama seperti khamar, jika ditemukan dalam harta yatim wajib ditumpahkan.” Ini adalah mazhab habar umat radhiyallahu ‘anhu.
Ibrahim An-Nakha’i ditanya: “Apa pendapatmu tentang bermain catur?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya itu terlaknat.”
Abu Bakar Al-Atsram meriwayatkan dalam kitabnya dari Watsilah bin Al-Asqa’ dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah memiliki dalam setiap hari tiga ratus enam puluh pandangan kepada makhluk-Nya, tidak ada bagian bagi pemilik ‘syah’ di dalamnya” – maksudnya pemain catur karena dia berkata ‘syah mat’.
Abu Bakar Al-Ajurri meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika kalian melewati orang-orang yang bermain dengan anak panah ini – dadu dan catur serta permainan lainnya – maka jangan memberi salam kepada mereka. Sesungguhnya jika mereka berkumpul dan asyik dengan permainan itu, datanglah setan dengan bala tentaranya lalu mengepung mereka. Setiap kali salah seorang dari mereka hendak mengalihkan pandangannya dari permainan itu, setan dengan bala tentaranya mendorongnya, maka mereka terus bermain sampai berpisah seperti anjing-anjing yang berkumpul pada bangkai lalu memakannya sampai kenyang perutnya kemudian berpisah. Dan karena mereka berdusta dengan berkata ‘syah mat’.”
Diriwayatkan dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat adalah pemilik ‘syah’ – maksudnya pemain catur. Tidakkah kamu melihat dia berkata: ‘Aku membunuhnya’, ‘Demi Allah dia mati’, ‘Demi Allah dia berdusta dan mendustakan Allah’.”
Mujahid berkata: “Tidak ada orang yang mati kecuali diperlihatkan kepadanya teman-teman duduknya yang biasa dia duduki.” Seorang laki-laki yang biasa bermain catur sedang sekarat, lalu dikatakan kepadanya: “Ucapkanlah: Laa ilaaha illallah!” Dia berkata: “Syahak” (istilah catur), kemudian meninggal. Yang menguasai lisannya adalah apa yang biasa dia ucapkan semasa hidupnya dalam permainan, sehingga dia mengucapkan “syahak” sebagai ganti kalimat keikhlasan.
Ini seperti yang terjadi pada orang lain yang biasa bergaul dengan peminum khamar. Ketika kematian datang kepadanya dan seseorang datang mentalqinkan syahadat, dia berkata: “Minumlah dan berilah aku minum!” kemudian meninggal. Laa haula wa laa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim.
Ini sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan: “Setiap orang mati dalam keadaan seperti yang dia hidupi dan dibangkitkan dalam keadaan seperti yang dia matikan.” Maka kami memohon kepada Allah Yang Maha Pemberi agar Dia mewafatkan kami dalam keadaan muslim, tidak berubah, tidak berganti, tidak sesat, dan tidak menyimpang. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan lagi Mulia.
DOSA BESAR KE-21: MENUDUH WANITA BAIK-BAIK
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena laknat di dunia dan di akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Surat An-Nur ayat 23-24)
Allah Ta’ala juga berfirman: “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Surat An-Nur ayat 4)
Allah Ta’ala menjelaskan dalam ayat bahwa barangsiapa menuduh seorang wanita muhshonah (wanita merdeka yang baik-baik) melakukan zina dan perbuatan keji, maka dia terlaknat di dunia dan akhirat serta mendapat azab yang besar. Di dunia dia dikenai had delapan puluh kali cambuk dan kesaksiannya gugur meskipun dia orang yang adil.
Dalam Shahihain bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan” – beliau menyebutkan di antaranya menuduh wanita-wanita baik-baik yang lengah lagi beriman.
Qazaf (tuduhan zina) adalah mengatakan kepada wanita asing yang merdeka, baik-baik, dan muslimah: “Hai pezina!” atau “Hai pelacur!” atau “Hai sundal!” atau mengatakan kepada suaminya: “Hai suami pelacur!” atau mengatakan kepada anaknya: “Hai anak pezina!” atau “Hai anak sundal!” atau mengatakan kepada anak perempuannya: “Hai anak perempuan pezina!” atau “Hai anak perempuan sundal!” Karena qahbah (sundal) adalah ungkapan untuk pezina.
Jika seseorang dari laki-laki atau perempuan mengatakan hal itu kepada laki-laki atau perempuan – seperti mengatakan kepada laki-laki: “Hai pezina!” atau mengatakan kepada anak laki-laki merdeka: “Hai anak haram!” atau “Hai yang digauli!” – maka wajib atasnya had delapan puluh kali cambuk, kecuali jika dia mendatangkan bukti. Bukti sebagaimana Allah firmankan adalah empat orang saksi yang bersaksi atas kebenarannya dalam tuduhan terhadap wanita atau laki-laki itu. Jika tidak mendatangkan bukti, dia dicambuk jika yang dituduh menuntutnya.
Demikian juga jika menuduh budak laki-laki atau budak perempuannya dengan mengatakan kepada budaknya: “Hai pezina!” atau kepada budak perempuannya: “Hai pezina!” atau “Hai pelacur!” atau “Hai sundal!” berdasarkan hadis shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa menuduh budaknya berzina, akan ditegakkan had atasnya pada hari kiamat kecuali jika sesuai dengan apa yang dia katakan.”
Banyak orang jahil yang terjatuh dalam perkataan keji ini yang mendatangkan hukuman bagi mereka di dunia dan akhirat. Karena itu, terbukti dalam Shahihain dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya seseorang mengucapkan satu kata yang tidak dia perhatikan, dia tergelincir karenanya ke dalam neraka lebih jauh dari jarak antara timur dan barat.”
Mu’az bin Jabal bertanya: “Ya Rasulullah, apakah kami dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kami ucapkan?” Beliau menjawab: “Ya Allah, semoga ibumu kehilangan engkau wahai Mu’az! Apakah yang menelungkupkan manusia ke dalam neraka dengan wajah mereka selain hasil panen lidah mereka?”
Dalam hadis: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam.”
Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (Surat Qaf ayat 18)
Uqbah bin Amir berkata: “Ya Rasulullah, apa yang menyelamatkan?” Beliau menjawab: “Jagalah lidahmu, hendaklah rumahmu mencukupimu, dan menangislah atas dosamu.”
Sesungguhnya orang yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang keji dan kotor yang berkata dengan kekejian dan perkataan buruk.”
Semoga Allah melindungi kita dan kalian dari keburukan lidah kita dengan karunia dan kemurahan-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan lagi Mulia.
DOSA BESAR KE-22: BERKHIANAT TERHADAP HARTA RAMPASAN PERANG
Berkhianat terhadap harta rampasan perang, baitul mal, dan zakat. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” (QS. Al-Anfal: 58)
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan tidak layak bagi seorang nabi berkhianat. Barangsiapa yang berkhianat, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu.” (QS. Ali Imran: 161)
Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: “Suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berdiri di hadapan kami, lalu beliau menyebutkan tentang berkhianat dan membesarkan masalah tersebut. Kemudian beliau bersabda: ‘Jangan sampai aku mendapati salah seorang dari kalian datang pada hari kiamat dengan membawa unta di atas lehernya yang bersuara, lalu ia berkata: “Ya Rasulullah, tolonglah aku!” Maka aku akan berkata: “Aku tidak dapat berbuat apa-apa untukmu dari Allah, sungguh aku telah menyampaikan kepadamu.”
Jangan sampai aku mendapati salah seorang dari kalian datang pada hari kiamat dengan membawa kuda di atas lehernya yang meringkik, lalu ia berkata: “Ya Rasulullah, tolonglah aku!” Maka aku akan berkata: “Aku tidak dapat berbuat apa-apa untukmu dari Allah, sungguh aku telah menyampaikan kepadamu.”
Jangan sampai aku mendapati salah seorang dari kalian datang pada hari kiamat dengan membawa kambing di atas lehernya yang mengembik, lalu ia berkata: “Ya Rasulullah, tolonglah aku!” Maka aku akan berkata: “Aku tidak dapat berbuat apa-apa untukmu dari Allah, sungguh aku telah menyampaikan kepadamu.”
Jangan sampai aku mendapati salah seorang dari kalian datang pada hari kiamat dengan membawa jiwa di atas lehernya yang berteriak, lalu ia berkata: “Ya Rasulullah, tolonglah aku!” Maka aku akan berkata: “Aku tidak dapat berbuat apa-apa untukmu dari Allah, sungguh aku telah menyampaikan kepadamu.”
Jangan sampai aku mendapati salah seorang dari kalian datang pada hari kiamat dengan membawa kain yang berkibar di atas lehernya, lalu ia berkata: “Ya Rasulullah, tolonglah aku!” Maka aku akan berkata: “Aku tidak dapat berbuat apa-apa untukmu dari Allah, sungguh aku telah menyampaikan kepadamu.”
Jangan sampai aku mendapati salah seorang dari kalian datang pada hari kiamat dengan membawa benda yang tidak bersuara di atas lehernya, lalu ia berkata: “Ya Rasulullah, tolonglah aku!” Maka aku akan berkata: “Aku tidak dapat berbuat apa-apa untukmu dari Allah, sungguh aku telah menyampaikan kepadamu.”‘”
Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim. Maksud “kain yang berkibar di atas lehernya” adalah pakaian dan kain. Maksud “benda yang tidak bersuara di atas lehernya” adalah emas atau perak.
Barangsiapa yang mengambil sesuatu dari jenis-jenis yang disebutkan tersebut dari harta rampasan perang sebelum dibagi-bagikan di antara para pejuang, atau dari baitul mal tanpa izin imam, atau dari zakat yang dikumpulkan untuk orang-orang fakir, maka ia akan datang pada hari kiamat dengan membawa apa yang diambilnya di atas lehernya, sebagaimana Allah Ta’ala sebutkan dalam Al-Quran: “Barangsiapa yang berkhianat, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu.” (QS. Ali Imran: 161)
Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam: “Kembalikanlah benang dan jarum jahit, dan jauhilah berkhianat karena hal itu adalah kehinaan bagi pelakunya pada hari kiamat.”
Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika beliau mengangkat Ibnu Lutbiyah untuk mengurus sedekah, lalu ia kembali dan berkata: “Ini untuk kalian dan ini hadiah untukku.” Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam naik ke mimbar, memuji Allah dan menyanjung-Nya, hingga beliau bersabda: “Demi Allah, tidak ada seorang pun dari kalian yang mengambil sesuatu tanpa haknya, kecuali ia akan datang pada hari kiamat dengan membawanya. Maka aku tidak akan mengenal seorang pun dari kalian yang bertemu Allah dengan membawa unta yang bersuara, atau sapi yang melenguh, atau kambing yang mengembik.” Kemudian beliau mengangkat tangannya dan bersabda: “Ya Allah, apakah aku telah menyampaikan?”
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menuju Khaibar, lalu Allah memberikan kemenangan kepada kami. Kami tidak memperoleh emas dan perak sebagai rampasan perang, tetapi kami memperoleh barang-barang berupa makanan dan pakaian. Kemudian kami pergi ke lembah (yaitu Wadi al-Qura). Bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ada seorang budak yang dihadiahkan kepadanya oleh seorang laki-laki dari Bani Judzam yang bernama Rifa’ah bin Yazid dari Bani Dhubaib. Ketika kami turun di lembah, budak Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berdiri untuk membuka pelana beliau, lalu ia tertembak anak panah dan meninggal dunia. Kami berkata: “Berbahagialah ia dengan syahid, ya Rasulullah!” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Tidak sama sekali! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya kain yang diambilnya dari harta rampasan perang yang belum dibagi-bagikan itu sedang menyala-nyala menjadi api baginya.”
Maka orang-orang menjadi takut. Lalu datanglah seorang laki-laki membawa tali sandal atau dua tali sandal, dan berkata: “Aku mengambil ini pada hari Khaibar.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Tali sandal atau dua tali sandal dari api.” (Muttafaq alaih)
Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Ada seorang laki-laki yang bertugas mengurus barang-barang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang bernama Karkarah. Ketika ia meninggal, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Ia di neraka.” Maka mereka pergi melihatnya dan mendapati sebuah jubah yang telah dikhianatkannya.”
Dari Zaid bin Khalid al-Juhani bahwa ada seorang laki-laki yang berkhianat dalam perang Khaibar, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam menolak untuk menshalatinya dan bersabda: “Sesungguhnya sahabat kalian telah berkhianat di jalan Allah.” Ia berkata: “Kami menggeledah barang-barangnya dan mendapati manik-manik dari manik-manik Yahudi yang nilainya tidak sampai dua dirham.”
Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Kami tidak mengetahui bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam menolak menshalati seseorang kecuali orang yang berkhianat dan orang yang membunuh dirinya sendiri.”
Dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Hadiah-hadiah para petugas adalah berkhianat.”
Dalam bab ini terdapat banyak hadets, dan sebagiannya akan datang dalam bab kezaliman.
Kezaliman terbagi menjadi tiga bagian: Pertama, memakan harta dengan cara yang batil. Kedua, menzalimi hamba dengan pembunuhan, pemukulan, perusakan, dan pelukaan. Ketiga, menzalimi hamba dengan makian, laknat, celaan, dan tuduhan.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah berkhutbah di Mina dan bersabda: “Ketahuilah bahwa darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian sebagaimana haramnya hari kalian ini, di bulan kalian ini, di negeri kalian ini.” (Muttafaq alaih)
Dan beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci dan tidak menerima sedekah dari hasil berkhianat.”
Maka kami memohon kepada Allah taufik untuk melakukan apa yang Dia cintai dan ridhai. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan lagi Mulia.
DOSA BESAR KE-23: PENCURIAN
Allah Ta’ala berfirman: “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya sebagai pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Maidah: 38)
Ibnu Syihab berkata: “Allah memberikan efek jera dengan pemotongan tangan dalam pencurian harta manusia. Dan Allah Maha Perkasa dalam pembalasan-Nya terhadap pencuri, Maha Bijaksana dalam apa yang diwajibkan-Nya berupa pemotongan tangan.”
Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Tidak berzina orang yang berzina ketika ia berzina dalam keadaan beriman, dan tidak mencuri pencuri ketika ia mencuri dalam keadaan beriman, tetapi taubat tersedia.”
Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam memotong tangan karena perisai yang nilainya tiga dirham.
Dari Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memotong tangan pencuri karena seperempat dinar ke atas.”
Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Jangan potong tangan pencuri karena sesuatu yang kurang dari harga perisai.” Ditanyakan kepada Aisyah radhiyallahu anha: “Berapa harga perisai?” Ia menjawab: “Seperempat dinar.”
Dalam riwayat lain: “Potonglah karena seperempat dinar dan jangan potong karena yang kurang dari itu.” Seperempat dinar pada waktu itu adalah tiga dirham, dan satu dinar adalah dua belas dirham.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Allah melaknat pencuri yang mencuri telur lalu tangannya dipotong, dan mencuri tali lalu tangannya dipotong.” Al-A’masy berkata: “Mereka memahami bahwa yang dimaksud adalah telur besi, dan tali yang mereka pahami adalah tali yang nilainya tiga dirham.”
Dari Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata: “Ada seorang wanita Makhzum yang meminjam barang lalu mengingkarinya. Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk memotong tangannya. Keluarganya mendatangi Usamah bin Zaid dan berbicara kepadanya tentang wanita itu, lalu ia berbicara kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Wahai Usamah, aku tidak melihatmu memberi syafaat dalam salah satu hukum Allah Ta’ala.”
Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam berdiri berkhutbah dan bersabda: “Sesungguhnya yang menghancurkan orang-orang sebelum kalian adalah bahwa apabila orang mulia di antara mereka mencuri, mereka membiarkannya. Dan apabila orang lemah di antara mereka mencuri, mereka memotong tangannya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya.” Maka ia memotong tangan wanita Makhzum itu.
Dari Abdurrahman bin Jarir, ia berkata: “Kami bertanya kepada Fadhalah bin Ubaid tentang menggantungkan tangan pencuri di lehernya, apakah itu dari sunnah?” Ia berkata: “Nabi shallallahu alaihi wa sallam didatangi seorang pencuri, lalu beliau memotong tangannya, kemudian memerintahkan untuk menggantungkannya di lehernya.”
Para ulama berkata: “Taubat tidak bermanfaat bagi pencuri kecuali ia mengembalikan apa yang dicurinya. Jika ia bangkrut, hendaklah ia meminta halal dari pemilik harta.” Wallahu a’lam.
DOSA BESAR KE-24: PENYAMUN JALANAN
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan bagi mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (QS. Al-Maidah: 33)
Al-Wahidi rahimahullah berkata: “Makna ‘memerangi Allah dan Rasul-Nya’ adalah mendurhakai keduanya dan tidak menaati keduanya. Setiap orang yang mendurhakaimu, maka ia memerangimu. ‘Dan membuat kerusakan di muka bumi’ yaitu dengan pembunuhan, pencurian, dan mengambil harta. Setiap orang yang mengangkat senjata terhadap orang-orang mukmin, maka ia memerangi Allah dan Rasul-Nya. Ini adalah pendapat Malik, Al-Auza’i, dan Asy-Syafi’i.”
Firman Allah Ta’ala “mereka dibunuh” sampai dengan “atau dibuang dari negeri” – Al-Walibi dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata: “Kata ‘atau’ dimasukkan untuk pilihan, dan maknanya adalah kebolehan. Jika imam menginginkan, ia boleh membunuh. Jika menginginkan, ia boleh menyalib. Jika menginginkan, ia boleh membuang. Ini adalah pendapat Al-Hasan, Sa’id bin Musayyab, dan Mujahid.”
Dalam riwayat Atiyyah ia berkata: “Kata ‘atau’ bukan untuk kebolehan, tetapi merupakan tingkatan hukum berdasarkan perbedaan kejahatan. Barangsiapa yang membunuh dan mengambil harta, maka ia dibunuh dan disalib. Barangsiapa yang mengambil harta tanpa membunuh, maka dipotong tangannya. Barangsiapa yang menumpahkan darah tanpa mengambil harta, maka ia dibunuh. Barangsiapa yang menakut-nakuti jalan tanpa membunuh, maka ia dibuang dari negeri. Ini adalah madzhab Asy-Syafi’i radhiyallahu anhu.”
Asy-Syafi’i juga berkata: “Setiap orang dihukum sesuai dengan perbuatannya. Barangsiapa yang wajib atas dirinya hukuman mati dan salib, maka ia dibunuh sebelum disalib karena tidak suka menyiksanya, dan disalib selama tiga hari kemudian diturunkan. Barangsiapa yang wajib atas dirinya hukuman mati tanpa salib, maka ia dibunuh dan diserahkan kepada keluarganya untuk menguburkannya. Barangsiapa yang wajib atas dirinya hukuman potong tanpa bunuh, maka dipotong tangan kanannya kemudian dibakar lukanya. Jika ia kembali mencuri kedua kalinya, maka dipotong kaki kirinya. Jika ia kembali mencuri, maka dipotong tangan kirinya berdasarkan riwayat dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang bersabda tentang pencuri: ‘Jika ia mencuri, maka potonglah tangannya. Kemudian jika ia mencuri lagi, maka potonglah kakinya. Kemudian jika ia mencuri lagi, maka potonglah tangannya. Kemudian jika ia mencuri lagi, maka potonglah kakinya.’ Karena itulah yang dilakukan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu anhuma, dan tidak ada yang menyelisihi mereka dari kalangan sahabat. Alasan mengapa yang dipotong adalah kaki kiri adalah karena kesepakatan orang-orang yang berpendapat memotong kaki setelah tangan bahwa yang dipotong adalah kaki kiri. Itulah makna firman Allah Ta’ala ‘dengan bertimbal balik’.”
Firman Allah Ta’ala “atau dibuang dari negeri” – Ibnu Abbas berkata: “Yaitu imam membolehkan untuk membunuhnya dengan mengatakan: ‘Barangsiapa yang menemuinya, maka bunuhlah dia.’ Ini untuk orang yang masih dapat ditangkap. Adapun orang yang sudah ditangkap, maka pembuangannya dari negeri adalah dengan penjara karena apabila ia dipenjara dan dicegah untuk berkeliling di negeri, maka ia telah dibuang darinya.”
Ibnu Qutaibah mengutip syair dari sebagian orang yang dipenjara: “Kami keluar dari dunia padahal kami termasuk penduduknya Maka kami bukan termasuk orang hidup di dalamnya dan bukan pula orang mati Apabila sipir penjara datang kepada kami suatu hari untuk suatu keperluan Kami heran dan berkata: ‘Orang ini datang dari dunia'”
Maka dengan hanya memotong jalan dan menakut-nakuti jalan saja, seseorang telah melakukan dosa besar. Bagaimana lagi jika ia mengambil harta atau melukai atau membunuh, maka ia telah melakukan beberapa dosa besar, ditambah dengan apa yang umumnya mereka lakukan berupa meninggalkan shalat dan membelanjakan apa yang mereka ambil untuk khamar, zina, homoseksual, dan lain-lain. Kami memohon kepada Allah keselamatan dari segala bala dan cobaan. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan, Mulia, Pengampun, dan Penyayang.
DOSA BESAR KE-25: SUMPAH GHAMUS (SUMPAH PALSU)
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak memperoleh bagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.” (QS. Ali Imran: 77)
Al-Wahidi berkata: Ayat ini turun berkenaan dengan dua orang laki-laki yang bersengketa kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sebidang tanah. Terdakwa bermaksud bersumpah, maka Allah menurunkan ayat ini. Lalu terdakwa enggan bersumpah dan mengakui hak penggugat.
Dari Abdullah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa bersumpah atas suatu sumpah sedang ia berdusta di dalamnya untuk mengambil harta seorang muslim, niscaya ia akan bertemu Allah Ta’ala dalam keadaan Allah murka kepadanya.” Al-Asy’ath berkata: “Demi Allah, karena akulah ayat ini turun. Ada tanah antara aku dan seorang Yahudi, lalu ia mengingkariku. Maka aku mengadukannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bertanya: ‘Adakah barang buktimu?’ Aku menjawab: ‘Tidak.’ Beliau berkata kepada orang Yahudi itu: ‘Bersumpahlah!’ Aku berkata: ‘Ya Rasulullah, jika demikian ia akan bersumpah dan pergi dengan hartaku.’ Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat: ‘Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit…'”
Maksudnya ialah keuntungan sedikit dari dunia, yaitu apa yang mereka sumpahi dengan dusta. “Mereka itu tidak memperoleh bagian (pahala) di akhirat” artinya tidak ada bagian bagi mereka di akhirat. “Dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka” maksudnya dengan perkataan yang menyenangkan mereka. “Dan tidak akan melihat kepada mereka” dengan pandangan yang menyenangkan mereka, yaitu pandangan rahmat. “Dan tidak akan mensucikan mereka” dan tidak akan menambah kebaikan bagi mereka dan tidak akan memuji mereka.
Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa bersumpah atas harta seorang muslim tanpa hak, niscaya ia akan bertemu Allah dalam keadaan Allah murka kepadanya.” Abdullah berkata: Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan kepada kami pembenaran dari Kitab Allah: “Sesunghnya orang-orang yang menukar janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit…” sampai akhir ayat. Hadis ini diriwayatkan dalam Shahihain.
Dari Abu Umamah, ia berkata: Kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda: “Barangsiapa mengambil hak seorang muslim dengan sumpahnya, maka Allah telah mewajibkan baginya neraka dan mengharamkan surga baginya.” Seorang laki-laki bertanya: “Walaupun sedikit, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Walaupun sebatang kayu arak.” Hadis ini diriwayatkan Muslim dalam Shahihnya.
Hafsh bin Maisarah berkata: “Alangkah kerasnya hadis ini!” Lalu dikatakan: “Bukankah dalam Kitab Allah Ta’ala ada: ‘Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit…'”
Dari Abu Dzar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tiga golongan yang Allah tidak akan berbicara dengan mereka pada hari kiamat, tidak akan mensucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ini tiga kali. Abu Dzar berkata: “Mereka celaka dan merugi, ya Rasulullah. Siapa mereka?” Beliau menjawab: “Orang yang menjulurkan kainnya (di bawah mata kaki), orang yang mengungkit pemberiannya, dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dosa-dosa besar ialah: menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa, dan sumpah ghamus.” Hadis ini diriwayatkan Bukhari dalam Shahihnya.
Ghamus adalah sumpah yang sengaja berdusta di dalamnya. Dinamakan Ghamus karena ia menenggelamkan orang yang bersumpah ke dalam dosa, dan dikatakan pula menenggelamkannya ke dalam neraka.
Fasal
Termasuk dalam hal ini adalah bersumpah dengan selain Allah ‘Azza wa Jalla, seperti dengan Nabi, Ka’bah, malaikat, langit, air, kehidupan, amanah (ini yang paling keras di sini), ruh, kepala, kehidupan sultan, nikmat sultan, dan tanah si fulan.
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah dengan bapak-bapak kalian. Barangsiapa bersumpah, hendaklah ia bersumpah dengan Allah atau diam saja.” Dalam riwayat lain yang shahih: “Barangsiapa hendak bersumpah, janganlah bersumpah kecuali dengan Allah atau diam saja.”
Dari Abdurrahman bin Samurah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian bersumpah dengan thaghut dan jangan pula dengan bapak-bapak kalian.” Diriwayatkan Muslim. Thaghut adalah jamak dari thaghiyah, yaitu berhala-berhala. Dari sini hadis: “Ini adalah thaghutnya kaum Daus,” yakni berhala dan sesembahan mereka.
Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa bersumpah dengan amanah, maka ia bukan dari golongan kami.” Diriwayatkan Abu Dawud dan lainnya.
Dari dia radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa bersumpah lalu berkata: ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari Islam,’ maka jika ia berdusta, maka ia sebagaimana yang dikatakannya. Dan jika ia benar, maka ia tidak akan kembali kepada Islam dengan selamat.”
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia mendengar seseorang berkata: “Demi Ka’bah!” Maka ia berkata: “Janganlah bersumpah dengan selain Allah, karena aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, maka ia telah kafir dan syirik.'” Diriwayatkan Tirmidzi dan dihasankan Ibnu Hibban dalam Shahihnya, dan Hakim. Ia berkata: “Shahih menurut syarat mereka.”
Para ulama menafsirkan sabda beliau “kafir atau syirik” sebagai ancaman keras, sebagaimana diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Riya itu syirik.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa bersumpah lalu berkata dalam sumpahnya: ‘Demi Latta dan Uzza,’ hendaklah ia berkata: ‘Laa ilaaha illallah.'” Di antara para sahabat ada yang baru masuk Islam dan sebelumnya biasa bersumpah dengan keduanya, maka terkadang lidahnya terdahulu bersumpah dengan keduanya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya segera mengucapkan “Laa ilaaha illallah” untuk menghapus apa yang telah terlanjur diucapkan lidahnya. Dan kepada Allah-lah pertolongan diminta.
DOSA BESAR KE-26: KEZALIMAN
Dengan memakan harta manusia dan mengambilnya secara zalim, dan menzalimi manusia dengan memukul, mencaci, melampaui batas, dan berlaku sewenang-wenang terhadap orang-orang lemah.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu mengira Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak, mereka datang tergesa-gesa memenuhi panggilan dengan mengangkat kepalanya, pandangan mereka tidak dapat kembali kepada mereka dan hati mereka kosong. Dan berilah peringatan kepada manusia akan hari (yang pada waktu itu) azab datang kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zalim: ‘Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) sampai waktu yang dekat, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul.’ (Tetapi dikatakan kepada mereka): ‘Bukankah kamu telah bersumpah dahulu bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa? Dan kamu telah mendiami tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami buat perumpamaan-perumpamaan bagi kamu.'” (QS. Ibrahim: 42-45)
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya siksa itu hanya atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia.” (QS. Asy-Syura: 42)
Allah Ta’ala berfirman: “Dan kelak orang-orang yang zalim akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 227)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memberi kesempatan kepada orang zalim hingga apabila Dia menyiksanya, Dia tidak melepaskannya.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca: “Dan demikianlah siksaan Tuhanmu apabila Dia menyiksa negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya siksaan-Nya itu pedih lagi keras.” (QS. Hud: 102)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang padanya ada kezaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatan atau sesuatu, hendaklah ia meminta kehalalannya hari ini sebelum datang hari yang tidak ada dinar dan dirham. Jika ia mempunyai amal saleh, akan diambil darinya sekadar kezalimannya. Jika ia tidak mempunyai kebaikan, akan diambil dari kejahatan orang yang dizaliminya lalu dibebankan kepadanya.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Tuhannya Tabaraka wa Ta’ala bahwa Dia berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku jadikan di antara kalian terlarang, maka janganlah kalian saling menzalimi.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?” Mereka menjawab: “Ya Rasulullah, orang bangkrut di antara kami adalah yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki harta.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya orang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat dengan salat, zakat, puasa, dan haji. Lalu ia datang dalam keadaan telah mencaci orang ini, mengambil harta orang ini, memfitnah kehormatan orang ini, memukul orang ini, dan menumpahkan darah orang ini. Maka akan diambil untuk orang ini dari kebaikan-kebaikannya, dan untuk orang ini dari kebaikan-kebaikannya. Jika kebaikan-kebaikannya habis sebelum terbayar apa yang ada padanya, akan diambil dari dosa-dosa mereka lalu dilemparkan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka.”
Hadis-hadis ini semuanya dalam kitab-kitab Shahih. Telah berlalu hadis: “Sesungguhnya ada orang-orang yang bergelimang dalam harta Allah tanpa hak, maka bagi mereka neraka pada hari kiamat.”
Telah berlalu sabda beliau kepada Mu’adz ketika mengutusnya ke Yaman: “Dan takutlah doa orang yang terzalimi, karena sesungguhnya tidak ada hijab antara doanya dengan Allah.”
Dalam Shahih: “Barangsiapa menzalimi sejengkal tanah, akan dikalungkan kepadanya dari tujuh bumi pada hari kiamat.”
Dalam sebagian kitab disebutkan Allah Ta’ala berfirman: “Sangat keras murka-Ku terhadap orang yang menzalimi orang yang tidak menemukan penolong baginya selain Aku.”
Sebagian mereka membaca syair:
“Janganlah berbuat zalim jika kamu berkuasa
Karena kezaliman akan kembali akibatnya kepada penyesalan
Matamu tidur sedang orang yang terzalimi terjaga
Berdoa atasmu sedang mata Allah tidak tidur”
Sebagian salaf berkata: “Janganlah menzalimi orang-orang lemah sehingga kamu menjadi orang jahat di antara orang-orang kuat.”
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya burung hubara mati di sarangnya karena kurus akibat kezaliman orang zalim.”
Dikatakan tertulis dalam Taurat: Seorang penyeru berseru dari balik jembatan, yaitu Shirath: “Wahai golongan para tiran yang sombong dan wahai golongan orang-orang mewah yang celaka! Sesungguhnya Allah bersumpah dengan kemuliaan dan keagungan-Nya bahwa tidak akan melewati jembatan ini hari ini seorang zalim pun.”
Dari Jabir, ia berkata: Ketika para muhajir Habasyah kembali pada tahun Fathu Makkah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata: “Mengapa kalian tidak menceritakan hal paling menakjubkan yang kalian lihat di tanah Habasyah?” Berkata pemuda-pemuda di antara mereka: “Tentu, ya Rasulullah. Ketika kami sedang duduk suatu hari, tiba-tiba lewat seorang nenek tua dari nenek-nenek mereka membawa di atas kepalanya tempayan air. Lalu ia lewat di depan seorang pemuda dari mereka. Pemuda itu meletakkan salah satu tangannya di antara kedua bahunya kemudian mendorongnya hingga wanita itu jatuh berlutut dan tempayan airnya pecah. Ketika ia berdiri, ia menoleh kepadanya lalu berkata: ‘Kamu akan tahu wahai penipu, ketika Allah meletakkan Kursi dan mengumpulkan yang terdahulu dan yang terkemudian, dan tangan serta kaki berbicara tentang apa yang mereka kerjakan. Kamu akan tahu tentang urusanku dan urusanmu di sisi-Nya besok.'” Berkata: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Benar. Bagaimana Allah akan menyucikan suatu kaum yang tidak diambil haknya dari yang kuat untuk yang lemah?”
“Apabila orang zalim menganggap kezaliman sebagai kendaraan
Dan tenggelam dalam kesombongan dalam perbuatan buruknya
Maka serahkanlah ia kepada perputaran zaman dan keadilannya
Akan tampak baginya apa yang tidak ada dalam perhitungannya”
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Lima golongan yang Allah murka kepada mereka, jika Dia kehendaki Dia laksanakan murka-Nya kepada mereka di dunia, dan jika tidak Dia perintahkan mereka di akhirat ke neraka: Seorang pemimpin kaum yang mengambil haknya dari rakyatnya dan tidak berlaku adil dari dirinya dan tidak menolak kezaliman dari mereka; seorang pemuka kaum yang mereka taati sedang ia tidak berlaku sama antara yang kuat dan yang lemah dan berbicara dengan hawa nafsu; seorang laki-laki yang tidak memerintahkan keluarga dan anaknya dengan ketaatan kepada Allah dan tidak mengajarkan mereka urusan agama mereka; seorang laki-laki yang mempekerjakan pekerja lalu mengambil pekerjaannya secara penuh tetapi tidak membayar upahnya; dan seorang laki-laki yang menzalimi seorang wanita tentang maharnya.”
Dari Abdullah bin Salam, ia berkata: Sesungguhnya Allah Ta’ala ketika menciptakan makhluk dan mereka berdiri dengan kaki mereka, mereka mengangkat kepala mereka ke langit dan berkata: “Ya Tuhan, dengan siapa Engkau?” Dia berfirman: “Dengan orang yang terzalimi hingga dikembalikan kepadanya haknya.”
Dari Wahb bin Munabbih, ia berkata: Seorang tiran dari para tiran membangun istana dan memperindahnya. Lalu datang seorang nenek tua yang miskin dan membangun di sampingnya sebuah pondok untuk berteduh. Suatu hari sang tiran berkendara dan berkeliling istana lalu melihat pondok itu. Ia bertanya: “Milik siapa ini?” Dikatakan: “Milik seorang wanita miskin yang berteduh di dalamnya.” Maka ia memerintahkan untuk menghancurkannya. Datanglah nenek tua itu dan melihat pondoknya telah hancur. Ia bertanya: “Siapa yang menghancurkannya?” Dikatakan: “Raja melihatnya lalu menghancurkannya.” Maka nenek tua itu mengangkat kepalanya ke langit dan berkata: “Ya Tuhanku, jika aku tidak hadir, ke mana Engkau?” Berkata: Maka Allah memerintahkan Jibril untuk membalikkan istana beserta penghuninya, lalu ia membalikkannya.
Dikatakan ketika Khalid bin Barmak dan anaknya dipenjara, ia berkata: “Wahai ayahku, setelah kemuliaan kita menjadi dalam belenggu dan penjara.” Ia menjawab: “Wahai anakku, doa orang yang terzalimi berjalan di malam hari, kita lalai darinya tetapi Allah tidak lalai darinya.”
Yazid bin Hakim berkata: “Aku tidak pernah takut kepada seseorang seperti takutku kepada seorang laki-laki yang kuzalimi sedang aku tahu bahwa tidak ada penolong baginya kecuali Allah. Ia berkata kepadaku: ‘Cukuplah Allah bagiku, Allah di antara aku dan kamu.'”
Al-Rasyid memenjarakan Abu al-‘Atahiyah asy-Sya’ir, maka ia menulis kepadanya dari penjara dua bait syair ini:
“Demi Allah, sesungguhnya kezaliman itu sial
Dan senantiasa orang yang berbuat jahat adalah yang terzalimi
Kamu akan tahu wahai orang zalim ketika kita bertemu
Besok di sisi Yang Maha Memiliki siapa yang tercela”
Dari Abu Umamah, ia berkata: Orang zalim datang pada hari kiamat hingga apabila ia berada di atas jembatan jahannam, orang yang terzalimi menemuinya dan mengenalinya dengan apa yang dizaliminya. Maka orang-orang yang menzalimi tidak berhenti dengan orang-orang yang dizalimi hingga mereka mencabut apa yang ada di tangan mereka dari kebaikan-kebaikan. Jika mereka tidak menemukan kebaikan-kebaikan bagi mereka, mereka dibebankan dari kejahatan-kejahatan mereka seukuran apa yang mereka zalimi hingga mereka dikembalikan ke tingkat paling bawah dari neraka.
Dari Abdullah bin Unais, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Para hamba dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan telanjang kaki, telanjang tubuh, tidak bersunat. Lalu seorang penyeru memanggil mereka dengan suara yang didengar oleh yang jauh sebagaimana didengar oleh yang dekat: ‘Akulah Raja Yang Maha Menghukum. Tidak pantas bagi seorang dari ahli surga untuk masuk surga atau seorang dari ahli neraka untuk masuk neraka sedang padanya ada kezaliman kecuali Aku berikan balasan hingga tamparan dan di atasnya. Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun.'” Kami berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana sedang kami datang telanjang kaki dan telanjang tubuh?” Beliau bersabda: “Dengan kebaikan-kebaikan dan kejahatan-kejahatan sebagai balasan. Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun.”
Datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa memukul satu cambukan secara zalim, akan diqishas darinya pada hari kiamat.”
Di antara yang disebutkan bahwa Kisra mengambil seorang pendidik untuk anaknya, mengajarinya dan mendidiknya. Hingga ketika anak itu mencapai puncak dalam keutamaan dan adab, pendidik itu memanggil anak pada suatu hari dan memukulnya dengan pukulan keras tanpa kesalahan dan tanpa sebab. Maka anak itu mendendam kepada guru hingga ia besar dan ayahnya meninggal, lalu ia menjadi raja setelahnya. Ia memanggil guru dan berkata kepadanya: “Apa yang mendorongmu untuk memukulku pada hari ini dan itu dengan pukulan yang menyakitkan tanpa kesalahan dan tanpa sebab?” Guru berkata: “Ketahuilah wahai raja, bahwa ketika kamu mencapai puncak dalam keutamaan dan adab, aku tahu bahwa kamu akan memperoleh kerajaan setelah ayahmu. Maka aku ingin merasakanmu rasa sakit pukulan dan rasa sakit kezaliman agar kamu tidak menzalimi seseorang.” Ia berkata: “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan,” kemudian ia memerintahkan memberikan hadiah kepadanya dan memulangkannya.
Termasuk kezaliman adalah mengambil harta anak yatim. Telah berlalu hadis Mu’adz bin Jabal ketika Rasulullah berkata kepadanya: “Dan takutlah doa orang yang terzalimi karena sesungguhnya tidak ada hijab antara doanya dengan Allah.”
Dalam riwayat lain: “Sesungguhnya doa orang yang terzalimi diangkat di atas awan dan Tuhan Tabaraka wa Ta’ala berfirman: ‘Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, sungguh Aku akan menolongmu walaupun setelah beberapa waktu.'”
Mereka membaca syair:
“Takutlah doa orang yang terzalimi karena doanya
Diangkat di atas awan kemudian dikabulkan
Takutlah doa orang yang tidak ada hijab antara doanya
Dengan Ilah semesta alam
Dan janganlah kamu mengira Allah menyia-nyiakannya
Dan tidak menyembunyikan darinya pembicaraan
Karena telah sahih bahwa Allah berfirman: ‘Demi kemuliaan-Ku
Sungguh Aku akan menolong orang yang terzalimi dan ia diberi pahala’
Barangsiapa tidak membenarkan hadis ini, maka sesungguhnya ia
Bodoh atau akalnya terganggu”
Fasal
Di antara kezaliman yang paling besar adalah menunda-nunda pembayaran hak yang ada padanya padahal ia mampu untuk membayarnya. Sebagaimana telah terbukti dalam Shahih Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Menunda-nunda pembayaran orang kaya adalah kezaliman.” Dan dalam riwayat lain: “Menunda-nunda pembayaran orang yang mampu adalah kezaliman yang menghalalkan kehormatan dan hukumannya,” yakni menghalalkan pengaduan dan pemenjaraannya.
Fasal
Di antara kezaliman adalah menzalimi wanita dari haknya berupa mahar, nafkah, dan pakaiannya. Hal ini termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Menunda-nunda pembayaran orang yang mampu adalah kezaliman yang menghalalkan kehormatan dan hukumannya.”
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Seorang hamba laki-laki atau perempuan akan ditarik tangannya pada hari kiamat, lalu diseru di hadapan seluruh makhluk: ‘Ini adalah si fulan bin fulan, barangsiapa yang memiliki hak padanya, maka datanglah untuk mengambil haknya.'” Ia berkata: “Maka seorang wanita akan bergembira karena ia memiliki hak pada ayahnya, saudaranya, atau suaminya.” Kemudian ia membaca firman Allah: “Maka tidak ada lagi hubungan nasab di antara mereka pada hari itu, dan mereka tidak saling bertanya.” (Al-Mu’minun: 101)
Ia berkata: “Allah akan mengampuni dari hak-Nya apa yang dikehendaki-Nya, tetapi Dia tidak mengampuni dari hak-hak manusia sedikitpun. Maka hamba itu akan dihadapkan kepada manusia, kemudian Allah Ta’ala berfirman kepada pemilik hak-hak: ‘Datanglah untuk mengambil hak-hak kalian.'” Ia berkata: “Maka Allah Ta’ala berfirman kepada para malaikat: ‘Ambillah dari amal-amal salehnya, lalu berikan kepada setiap pemilik hak haknya sesuai dengan kadar tuntutannya. Jika ia adalah wali Allah dan masih tersisa untuknya seberat dzarrah, Allah Ta’ala akan melipatgandakannya hingga ia masuk surga dengannya. Namun jika ia adalah hamba yang celaka dan tidak tersisa baginya sesuatu, maka para malaikat berkata: ‘Ya Rabb kami, kebaikan-kebaikannya telah habis, sedangkan orang-orang yang menuntutnya masih ada.’ Maka Allah berfirman: ‘Ambillah dari kejahatan-kejahatan mereka, lalu tambahkan kepada kejahatannya,’ kemudian dibuatkan untuknya catatan menuju neraka.”
Hal ini diperkuat oleh hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah disebutkan sebelumnya: “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Beliau menyebutkan bahwa orang yang bangkrut dari umatnya adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan shalat, zakat, dan puasa, namun ia datang dalam keadaan telah mencaci ini, memukul ini, dan mengambil harta ini. Maka diambil untuk orang ini dari kebaikan-kebaikannya, dan untuk orang ini dari kebaikan-kebaikannya. Jika kebaikan-kebaikannya habis sebelum ia melunasi apa yang ada padanya, maka diambil dari kejahatan-kejahatan mereka lalu dilemparkan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka.
Fasal
Di antara kezaliman adalah mempekerjakan pekerja atau seseorang dalam suatu pekerjaan dan tidak memberikan upahnya. Sebagaimana telah terbukti dalam Shahih Bukhari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Tiga orang yang akan Aku lawan pada hari kiamat, dan barangsiapa yang Aku lawan, pasti Aku kalahkan: Seseorang yang berjanji atas nama-Ku lalu berkhianat, seseorang yang menjual orang merdeka lalu memakan hasil penjualannya, dan seseorang yang mempekerjakan pekerja lalu mengambil manfaat penuh dari pekerjaannya tetapi tidak memberikan upahnya.'”
Demikian pula jika ia menzalimi orang Yahudi atau Nasrani, atau mengurangi haknya, atau membebaninya di luar kemampuannya, atau mengambil darinya sesuatu tanpa keridhaannya, maka ia termasuk dalam firman Allah Ta’ala: “Aku adalah lawannya” atau “Aku adalah musuhnya pada hari kiamat.”
Termasuk dalam hal ini adalah bersumpah atas hutang yang ada di kewajibannya dengan dusta dan zalim. Sebagaimana telah terbukti dalam Shahih Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang merampas hak seorang muslim dengan sumpahnya, maka Allah telah mewajibkan baginya neraka dan mengharamkan surga.” Ditanya: “Ya Rasulullah, meskipun itu sesuatu yang kecil?” Beliau bersabda: “Meskipun sebatang ranting dari pohon arak.”
Maka takutlah pembalasan besok ketika engkau memenuhi apa yang telah diperoleh kedua tanganmu hari ini dengan timbangan yang adil, di tempat berdiri yang tidak ada di sana kecuali orang yang menunduk, atau orang yang tunduk, atau orang yang menundukkan kepala. Anggota tubuh mereka di sana adalah saksi-saksi, penjara mereka adalah api, dan hakim mereka adalah Dzat Yang Maha Keras siksaan-Nya. Bahwa engkau menunda-nunda hak-hak hari ini dengan kekayaan, maka besok engkau akan membayarnya dengan kebangkrutan.
Telah diriwayatkan bahwa tidak ada yang lebih dibenci oleh seorang hamba pada hari kiamat daripada melihat orang yang dikenalnya, karena takut orang itu menuntutnya karena kezaliman yang telah dilakukannya terhadapnya di dunia. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sungguh kalian akan membayar hak-hak kepada pemiliknya pada hari kiamat, hingga kambing yang gundul akan dibalas dari kambing yang bertanduk.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang memiliki kezaliman terhadap saudaranya berupa kehormatan atau sesuatu, maka hendaknya ia meminta kehalalannya hari ini sebelum datang hari ketika tidak ada dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal saleh, akan diambil darinya sesuai kadar kezalimannya. Dan jika ia tidak memiliki kebaikan, maka akan diambil dari kejahatan temannya lalu dibebankan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka.”
Abdullah bin Abi Dunya meriwayatkan dengan sanadnya kepada Abu Ayyub Al-Anshari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Yang pertama kali bertengkar pada hari kiamat adalah seorang laki-laki dan istrinya. Demi Allah, lidahnya tidak berbicara, tetapi kedua tangannya dan kedua kakinya bersaksi atasnya dengan apa yang biasa ia lakukan untuk menyusahkan suaminya di dunia. Dan bersaksi atas laki-laki itu tangannya dan kakinya dengan apa yang biasa ia berikan kepada istrinya berupa kebaikan atau keburukan. Kemudian dipanggil laki-laki itu dan para pembantunya, seperti itu juga. Maka tidak diambil dari mereka dinar dan dirham, tetapi kebaikan-kebaikan orang zalim ini diberikan kepada orang yang dizalimi ini, dan kejahatan-kejahatan orang yang dizalimi ini dibebankan kepada orang zalim ini. Kemudian didatangkan para penguasa yang sombong dalam belenggu-belenggu dari besi, lalu dikatakan: ‘Giringlah mereka ke neraka.'”
Syuraih Al-Qadhi berkata: “Orang-orang yang zalim akan mengetahui hingga siapa yang mereka aniaya, bahwa orang zalim menunggu hukuman sedangkan orang yang dizalimi menunggu pertolongan dan pahala.”
Diriwayatkan bahwa jika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, Allah menguasakan atasnya orang yang menzaliminya.
Tawus Al-Yamani masuk menemui Hisyam bin Abdul Malik, lalu ia berkata kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah pada hari pengumuman.” Hisyam berkata: “Apa itu hari pengumuman?” Ia berkata: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Maka seorang penyeru mengumumkan di antara mereka: Laknat Allah atas orang-orang yang zalim.'” (Al-A’raf: 44) Maka Hisyam pun pingsan. Tawus berkata: “Ini adalah kehinaan sifat, maka bagaimana dengan kehinaan penyaksian? Wahai orang yang rela dengan nama zalim, betapa banyak kezaliman yang ada padamu. Penjara adalah jahannam dan kebenaran adalah hakim.”
Fasal tentang Peringatan dari Masuk kepada Orang-orang Zalim, Bergaul dengan Mereka, dan Membantu Mereka
Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kalian disentuh api neraka.” (Hud: 113) Ar-rukun (cenderung) di sini adalah tenang kepada sesuatu dan condong kepadanya dengan cinta. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Janganlah kalian condong sepenuhnya dalam cinta, kelembutan ucapan, dan kasih sayang.” As-Suddi dan Ibnu Zaid berkata: “Janganlah kalian berdamai dengan orang-orang zalim.” Ikrimah berkata: “Yaitu menaati dan mencintai mereka.” Abu Al-Aliyah berkata: “Janganlah kalian ridha dengan perbuatan-perbuatan mereka yang menyebabkan kalian disentuh api neraka, maka kalian akan terkena panasnya, padahal kalian tidak memiliki pelindung selain Allah.” Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Kalian tidak memiliki pencegah yang mencegah kalian dari azab Allah, kemudian kalian tidak akan ditolong, tidak akan dicegah dari azab-Nya.”
Allah Ta’ala berfirman: “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman-teman mereka.” (Ash-Shaffat: 22) Yakni orang-orang yang serupa, setara, dan pengikut mereka.
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan ada pemimpin-pemimpin yang didatangi oleh para pengunjung atau pengikut dari kalangan manusia yang berbuat zalim dan berdusta. Barangsiapa yang masuk kepada mereka dan membenarkan kebohongan mereka serta membantu mereka dalam kezaliman mereka, maka ia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya. Dan barangsiapa yang tidak masuk kepada mereka dan tidak membantu mereka dalam kezaliman mereka, maka ia dari golonganku dan aku dari golongannya.”
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang membantu orang zalim, maka ia akan dikuasai.”
Sa’id bin Al-Musayyab rahimahullah berkata: “Janganlah kalian memenuhi mata kalian dengan para pembantu orang zalim kecuali dengan pengingkaran dari hati kalian, supaya tidak sia-sia amal-amal saleh kalian.”
Makhul Ad-Dimasyqi berkata: “Seorang penyeru akan menyeru pada hari kiamat: ‘Di mana orang-orang zalim dan para pembantu mereka?’ Maka tidak tersisa seorang pun yang mengulurkan tinta untuk mereka, atau meninta tinta untuk mereka, atau meraut pena untuk mereka, atau yang lebih dari itu, kecuali ia hadir bersama mereka. Maka mereka dikumpulkan dalam peti dari api lalu dilemparkan ke jahannam.”
Seorang penjahit datang kepada Sufyan Ats-Tsauri dan berkata: “Sesungguhnya aku seorang laki-laki yang menjahit pakaian-pakaian penguasa. Apakah aku termasuk pembantu orang zalim?” Sufyan berkata: “Bahkan engkau termasuk orang-orang zalim itu sendiri. Akan tetapi pembantu orang zalim adalah orang yang menjual kepadamu jarum dan benang.”
Telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Yang pertama masuk neraka pada hari kiamat adalah para algojo yang bersama mereka ada cambuk-cambuk yang mereka gunakan untuk memukul manusia di hadapan orang-orang zalim.”
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Para algojo dan polisi adalah anjing-anjing api pada hari kiamat.” Para algojo adalah pembantu orang zalim.
Telah diriwayatkan bahwa Allah Ta’ala mewahyukan kepada Musa ‘alaihis salam: “Perintahkan Bani Israil agar tidak membaca dzikir-Ku, karena sesungguhnya Aku mengingat orang yang mengingat-Ku, dan ingatan-Ku kepada mereka adalah Aku melaknat mereka.” Dalam riwayat lain: “Karena sesungguhnya Aku mengingat orang yang mengingat-Ku di antara mereka dengan laknat.”
Datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Janganlah salah seorang di antara kalian berdiri di tempat di mana seseorang yang dizalimi dipukul, karena sesungguhnya laknat akan turun kepada orang yang hadir di tempat itu jika mereka tidak membelanya.”
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Seorang laki-laki didatangi di kuburnya, lalu dikatakan kepadanya: ‘Sesungguhnya kami akan memukulmu seratus pukulan.’ Maka ia terus meminta syafaat kepada mereka hingga mereka menjadi satu pukulan saja. Maka mereka memukulnya, lalu kuburnya menyala dengan api. Maka ia berkata: ‘Mengapa kalian memukul aku dengan pukulan ini?’ Mereka berkata: ‘Sesungguhnya engkau shalat tanpa bersuci dan engkau melewati seorang yang dizalimi tetapi tidak menolongnya.'”
Inilah keadaan orang yang tidak menolong orang yang dizalimi padahal ia mampu menolongnya, maka bagaimana keadaan orang yang zalim?
Telah terbukti dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Tolonglah saudaramu baik ketika ia zalim maupun dizalimi.” Ditanya: “Ya Rasulullah, aku menolongnya ketika ia dizalimi, tetapi bagaimana aku menolongnya ketika ia zalim?” Beliau bersabda: “Engkau mencegahnya dari kezaliman, karena itulah pertolonganmu kepadanya.”
Di antara yang diceritakan, seorang ahli ma’rifah berkata: “Aku melihat dalam mimpi seorang laki-laki dari orang-orang yang melayani orang zalim dan para pemungut pajak setelah kematiannya beberapa waktu dalam keadaan yang buruk. Aku berkata kepadanya: ‘Bagaimana keadaanmu?’ Ia berkata: ‘Keadaan yang buruk.’ Aku berkata: ‘Ke mana engkau pergi?’ Ia berkata: ‘Kepada azab Allah.’ Aku berkata: ‘Bagaimana keadaan orang-orang zalim di sisi-Nya?’ Ia berkata: ‘Keadaan yang buruk. Tidakkah engkau mendengar firman Allah ‘Azza wa Jalla: ‘Dan orang-orang yang zalim akan mengetahui ke tempat kembali mana mereka akan kembali.'” (Asy-Syu’ara: 227)
Di antara yang diceritakan, seseorang berkata: “Aku melihat seorang laki-laki yang tangannya terpotong dari bahu dan ia menyeru: ‘Barangsiapa yang melihatku, janganlah ia menzalimi siapa pun.’ Maka aku mendekatinya dan berkata kepadanya: ‘Wahai saudaraku, apa kisahmu?’ Ia berkata: ‘Wahai saudaraku, kisah yang aneh. Hal itu karena aku dahulu termasuk pembantu orang zalim. Suatu hari aku melihat seorang nelayan yang telah menangkap ikan besar yang membuatku kagum. Maka aku mendatanginya dan berkata: ‘Berikan aku ikan ini.’ Ia berkata: ‘Aku tidak akan memberikannya, aku akan mengambil harganya sebagai makanan untuk keluargaku.’ Maka aku memukulnya dan mengambilnya dengan paksa, lalu pergi dengannya.’
Ia berkata: ‘Ketika aku sedang berjalan membawanya, tiba-tiba ikan itu menggigit ibu jariku dengan gigitan yang kuat. Ketika aku sampai di rumah dan meletakkannya dari tanganku, ibu jariku berdenyut dan sangat sakit hingga aku tidak bisa tidur karena sakit yang hebat dan tanganku bengkak. Ketika pagi hari aku mendatangi dokter dan mengadukan rasa sakit kepadanya. Ia berkata: ‘Ini awal penyakit yang memakan, potonglah atau akan memotong tanganmu.’ Maka aku potong ibu jariku, kemudian tanganku berdenyut hingga aku tidak tahan tidur dan tidak tenang karena sakit yang hebat. Dikatakan kepadaku: ‘Potong telapak tanganmu,’ maka aku potong. Rasa sakit menyebar ke lengan bawah dan menyakitiku dengan sakit yang hebat hingga aku tidak tahan untuk tenang dan aku berteriak karena sakit yang hebat. Dikatakan kepadaku: ‘Potong sampai siku,’ maka aku potong. Rasa sakit menyebar ke lengan atas dan berdenyut di lengan atasku lebih keras dari sakit yang pertama. Dikatakan: ‘Potong tanganmu dari bahu atau akan menyebar ke seluruh tubuhmu,’ maka aku potong.’
Ia berkata: ‘Seseorang berkata kepadaku: ‘Apa sebab sakitmu?’ Maka aku ceritakan kisah ikan itu. Ia berkata kepadaku: ‘Seandainya engkau kembali ketika pertama kali sakit menimpa mu kepada pemilik ikan dan meminta kehalalannya serta memuaskannya, niscaya tidak akan terpotong dari anggota tubuhmu satu anggota pun. Maka pergilah sekarang kepadanya dan mintalah ridha nya sebelum rasa sakit sampai ke badanmu.’
Ia berkata: ‘Maka aku terus mencarinya di negeri itu hingga aku menemukannya. Aku jatuh di atas kedua kakinya, menciumnya sambil menangis, dan berkata kepadanya: ‘Wahai tuanku, aku memohon kepadamu dengan nama Allah agar engkau memaafkanku.’ Ia berkata kepadaku: ‘Siapa kamu?’ Aku berkata: ‘Aku orang yang mengambil ikan darimu dengan paksa,’ dan aku ceritakan apa yang terjadi serta menunjukkan tanganku. Maka ia menangis ketika melihatnya, kemudian berkata: ‘Wahai saudaraku, aku telah menghalalkannya untukmu karena apa yang telah kulihat menimpamu dari bencana ini.’ Aku berkata: ‘Wahai tuanku, demi Allah, apakah engkau pernah mendoakanku ketika aku mengambilnya?’ Ia berkata: ‘Ya, aku berkata: ‘Ya Allah, sesungguhnya orang ini menguasaiku dengan kekuatannya atas kelemahanku terhadap apa yang Engkau rizkikan kepadaku dengan zalim, maka perlihatkanlah kepadaku kekuasaan-Mu terhadapnya.’ Aku berkata: ‘Wahai tuanku, sungguh Allah telah memperlihatkanmu kekuasaan-Nya padaku, dan aku bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dari apa yang dahulu aku lakukan yaitu melayani orang-orang zalim. Aku tidak akan kembali berdiri di pintu mereka dan tidak akan menjadi pembantu mereka selama aku hidup, insya Allah.’ Dan dengan Allah lah taufik.”
Nasihat
Saudara-saudaraku, betapa banyak kematian mengeluarkan jiwa dari rumahnya yang tidak pernah ia huni, dan betapa banyak ia menurunkan jasad-jasad ke tetangganya yang tidak pernah ia jadikan tetangga, dan betapa banyak ia mengalirkan mata-mata seperti mata air setelah ketenangan nya.
Syair: Wahai orang yang berpaling dengan kesenangan hidup yang nikmat, Engkau akan berpaling darinya dengan rela atau terpaksa, Sesungguhnya peristiwa-peristiwa mengusir orang-orang mulia dari tanah air mereka dan burung-burung dari sarang-sarang mereka.
Di mana orang yang menguasai barat dan timur, memakmurkan pelosok-pelosok, menanam taman-taman, meraih angan-angan, dan menunggangi kuda betina? Berteriak kepadanya dari rumahnya burung gagak yang mengaum, dan mengetuknya dalam kesenangan nya penyerang yang paling tajam, dan menggertak atasnya guntur dan petir, dan menimpa nya apa yang memutihkan sebagian ubun-ubun, dan dicampakkan oleh kekasih yang tidak pernah berpisah, dan ditinggalkan oleh sahabat dan teman yang jujur, dan dipindahkan dari tetangga makhluk-makhluk kepada tetangga Sang Pencipta.
Kematian mendatanginya – demi Allah – tanpa mengecualikannya, dan menghinakannya dengan paksaan setelah kemuliaan kekuatannya, dan menggantikannya dengan kasarnya tanah setelah lembutnya tempat tidurnya, dan cacing-cacing merobeknya di kuburnya seperti sobek kain nya, dan ia tinggal dalam kesempitan yang hebat dari kehidupan nya, dan menjauh dari sahabat seolah-olah ia tidak pernah berjalan bersamanya.
Tidak bermanfaat baginya – demi Allah – kehati-hatian dan tidak menolaknya kekayaan, bahkan merugikannya kekurangan bekal, dan ia menjadi – demi Allah – pelajaran bagi orang yang lewat, dan memotong jarak yang jauh dari jalan-jalan yang tinggi, dan tinggal sebagai sandera yang tidak tahu apakah ia binasa atau beruntung.
Dan ini untukmu setelah beberapa hari, dan apa yang engkau alami sekarang adalah mimpi-mimpi, dan duniamu tidak baik, dan apa yang engkau dengar akan engkau lihat besok dengan sempurna, dan akan menimpa aku dan engkau.
Celakalah engkau! Tidakkah perkataan ini berpengaruh padamu?
DOSA BESAR KE-27: PEMUNGUT CUKAI (AL-MAKKAS)
Pemungut cukai termasuk dalam firman Allah Ta’ala dalam Surat Asy-Syura ayat 42: “Sesungguhnya jalan (untuk menghukum) hanyalah terhadap orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di bumi tanpa hak. Mereka itu akan mendapat azab yang pedih.”
Pemungut cukai termasuk penolong terbesar orang-orang zalim, bahkan dia termasuk golongan zalim itu sendiri. Sebab dia mengambil sesuatu yang tidak berhak dia ambil dan memberikannya kepada orang yang tidak berhak menerimanya. Karena itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pemungut cukai tidak akan masuk surga.” Dan beliau bersabda: “Tidak akan masuk surga pemilik cukai.” (Hadits riwayat Abu Dawud)
Hal itu karena dia memikul kezaliman terhadap hamba-hamba Allah. Dari mana pemungut cukai pada hari kiamat bisa membayar kepada orang-orang apa yang telah dia ambil dari mereka? Mereka hanya akan mengambil dari kebaikan-kebaikannya jika dia memiliki kebaikan. Dia termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?” Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, orang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki harta.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya orang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang dengan shalat, zakat, puasa, dan haji, namun dia datang setelah mencaci orang ini, memukul orang ini, dan mengambil harta orang ini. Maka diambillah untuk orang ini dari kebaikan-kebaikannya, dan untuk orang ini dari kebaikan-kebaikannya. Jika kebaikan-kebaikannya habis sebelum dia melunasi apa yang menjadi kewajibannya, maka diambillah dari kejahatan-kejahatan mereka lalu dilemparkan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka.”
Dalam hadits tentang wanita yang menyucikan dirinya dengan rajam: “Sungguh dia telah bertaubat dengan taubat yang seandainya ditaubat oleh seorang pemungut cukai, niscaya akan diampuni atau diterima darinya.”
Pemungut cukai memiliki kemiripan dengan perampok jalan, dan dia termasuk pencuri. Pemungut cukai, penulisnya, saksinya, dan pengambilnya dari kalangan tentara, kepala desa, dan pemilik otoritas adalah sekutu dalam dosa, pemakan suap dan haram.
Telah sahih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari suap. Neraka lebih berhak baginya.” Suap adalah setiap haram yang buruk namanya yang menimbulkan aib. Al-Wahidi rahimahullah menyebutkannya dalam tafsir firman Allah Ta’ala dalam Surat Al-Maidah ayat 100: “Katakanlah: ‘Tidak sama yang buruk dengan yang baik.'”
Dari Jabir, seseorang berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya khamar adalah perdaganganku dan aku telah mengumpulkan harta dari penjualannya. Apakah harta itu bermanfaat bagiku jika aku beramal dengannya dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika engkau belanjakan untuk haji, jihad, atau sedekah, tidak akan sebanding di sisi Allah dengan sayap nyamuk. Sesungguhnya Allah tidak menerima kecuali yang baik.” Maka Allah Ta’ala menurunkan sebagai pembenaran terhadap perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Surat Al-Maidah ayat 100: “Katakanlah: ‘Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu.'” Atha’ dan Al-Hasan berkata: “Yang halal dan yang haram.” Maka kami memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan.
NASIHAT
Di manakah orang yang membangun benteng-benteng kokoh dan berjaga-jaga, yang membangun taman-taman dan berlebihan dalam menanam, yang memasang singgasana kemuliaan untuk dirinya dan duduk di atasnya, yang mencapai puncak dan melihat yang dicari, yang mengira dalam dirinya ada kelanggengkan, tetapi dugaan itu meleset? Allah yang mengalahkan kenikmatan telah membuatnya gelisah dan merampas, menimpanya dengan kekuasaan lalu menurunkannya dari kuda, mengarahkannya ke rumah bencana lalu terhapus, meninggalkannya dalam kegelapan gulita dari kebodohan dan kekotoran.
Orang berakal adalah yang menghabiskan hari-harinya, karena akibat-akibat terjadi secara tiba-tiba. Dia melihat engkau membangun dan mengumpulkan sementara jejak-jejak terhapus. Perhatikanlah tinggal lama sementara umur dicuri.
Pemilik akal berpikir, tidak ada harapan dalam hidup Pasti akan berakhir suatu urusan dan berbalik Di mana raja-raja dan anak-anak raja, dan orang-orang Yang dahulu jika manusia berdiri karena segan, mereka duduk? Dan pedang-pedang mereka di setiap pertempuran Ditakuti, dan di hadapan mereka ada hijab dan penjaga Mereka tertawa karena kebinasaan di tengah medan perang Terbunuh dan menjadi mayat di perut bumi lalu terhapus Suatu peristiwa melanda mereka dan kubur merangkul mereka Mereka bermalam sebagai mayat-mayat di makam terkurung Seolah-olah mereka tidak pernah ada dan tidak pernah diciptakan Kenangan mereka mati di antara manusia dan terlupakan Demi Allah, seandainya matamu menyaksikan apa yang diperbuat Tangan-tangan bencana kepada mereka dan cacing-cacing memangsa Niscaya engkau akan melihat pemandangan yang menyedihkan hati Dan menyaksikan kemungkaran yang di bawahnya ada keputusasaan Dari wajah-wajah berseri yang pandangan terpesona Dalam kemegahan kecantikan, bagaimana bisa terhapus? Dan tulang-tulang yang lapuk tidak ada nyawa di dalamnya Dan tidak akan bertahan untuk ini sementara terkoyak-koyak Dan lidah-lidah yang berkata-kata dihiasi adab Apa urusannya, urusannya dengan bencana kebisuan? Sampai kapan wahai pemilik larangan, tidak sadar karena bodoh Dan air mata kedua matamu tidak mengalir dan memancar?
NASIHAT
Wahai orang yang bepergian setiap hari satu perjalanan, sementara kitabnya telah mencatat hingga biji sawi, tidak mengambil manfaat dari pemberi peringatan padahal peringatan-peringatan terus datang, tidak mendengarkan penasihat padahal telah menasihatinya. Baju besinya bolong dan anak-anak panah tertembak. Cahaya petunjuk telah muncul tetapi dia tidak melihatnya dan tidak merenungkannya. Dia berharap kekal sementara melihat nasib orang yang pernah berharap. Dia masih berkutat setelah uban pada aib dengan kerinduan dan kegilaan.
Jadilah sesukamu, karena di hadapanmu ada hisab dan guncangan. Betapa lembutnya kulitmu, pasti cacing-cacing akan memakannya. Sungguh heran pada kelemahan seorang mukmin yang yakin pada balasan dan pertanggungjawaban. Yakinlah dari tipuan dan kebodohan.
Celaka engkau wahai orang ini! Siapa yang mengundangmu dan membuka rumahnya, sungguh dia telah memberimu jika engkau tahu kedudukannya. Maka bersegeralah selagi masih ada sisa umurmu dan perbaikilah awalnya. Sisa umur mukmin adalah permata yang berharga.
DOSA BESAR KE-28: MEMAKAN HARAM DAN MENGONSUMSINYA DALAM BENTUK APAPUN
Allah Azza wa Jalla berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 188: “Dan janganlah kalian makan harta di antara kalian dengan jalan yang batil.” Artinya, janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain dengan cara batil. Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma berkata: “Yaitu dengan sumpah batil yang dusta, yang dengannya seseorang mengambil harta saudaranya dengan cara batil.”
Memakan dengan cara batil ada dua macam: Pertama, dengan cara zalim seperti merampas, khianat, dan mencuri. Kedua, dengan cara main-main dan permainan seperti yang diambil dalam judi dan permainan hiburan dan semacamnya.
Dalam Shahih Bukhari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ada orang-orang yang menyelam dalam harta Allah tanpa hak, maka mereka akan mendapat neraka pada hari kiamat.”
Dalam Shahih Muslim, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan seorang laki-laki yang memperpanjang safar, kusut dan berdebu, mengangkat tangannya ke langit: “Ya Rabb, ya Rabb,” padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi makan dengan haram, maka bagaimana akan dikabulkan untuknya?
Dari Anas radiyallahu ‘anhu berkata: Aku berkata: “Ya Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menjadikanku orang yang doanya dikabulkan.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Anas, sucikanlah usahamu niscaya doamu akan dikabulkan. Sesungguhnya seseorang mengangkat suap dari harem ke mulutnya, maka tidak dikabulkan baginya doa selama empat puluh hari.”
Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah membagi akhlak di antara kalian sebagaimana membagi rezeki di antara kalian. Allah memberikan dunia kepada yang dicintai-Nya dan yang tidak dicintai-Nya, tetapi tidak memberikan agama kecuali kepada yang dicintai-Nya. Barangsiapa yang Allah beri agama, maka Allah mencintainya. Tidak ada hamba yang memperoleh harta haram lalu membelanjakan darinya, Allah tidak akan memberkatinya. Tidak pula bersedekah darinya, Allah tidak akan menerimanya. Tidak pula meninggalkannya di belakang punggungnya kecuali menjadi bekal menuju neraka. Sesungguhnya Allah tidak menghapus kejahatan dengan kejahatan, tetapi menghapus kejahatan dengan kebaikan.”
Dari Ibnu Umar radiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dunia itu manis lagi hijau. Barangsiapa memperoleh harta di dalamnya dari cara yang halal dan membelanjakannya pada haknya, Allah akan memberinya pahala dan mewariskannya surga-Nya. Barangsiapa memperoleh harta di dalamnya bukan dari cara yang halal dan membelanjakannya bukan pada haknya, Allah Ta’ala akan memasukkannya ke dalam rumah penghinaan. Betapa banyak orang yang menyelam dalam apa yang diinginkan jiwanya dari haram, mereka akan mendapat neraka pada hari kiamat.”
Datang dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa tidak peduli dari mana dia memperoleh harta, Allah tidak akan peduli dari pintu mana memasukkannya ke neraka.”
Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu berkata: “Sungguh, jika salah seorang dari kalian memasukkan tanah ke mulutnya lebih baik daripada memasukkan haram ke mulutnya.”
Telah diriwayatkan dari Yusuf bin Asbath rahimahullah berkata: “Sesungguhnya pemuda jika beribadah, syaitan berkata kepada bala tentaranya: ‘Lihatlah dari mana makanannya. Jika makanannya buruk, dia berkata: ‘Biarkanlah dia beribadah dan bersungguh-sungguh, karena dia telah mencukupi kalian dari dirinya sendiri. Sesungguhnya kesungguhannya dengan memakan haram tidak akan bermanfaat baginya.'”
Hal ini diperkuat dengan apa yang tetap dalam Shahih dari sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang laki-laki yang makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi makan dengan haram, maka bagaimana akan dikabulkan untuknya?
Telah diriwayatkan dalam hadits bahwa seorang malaikat di Baitul Maqdis menyeru setiap hari dan setiap malam: “Barangsiapa memakan haram, Allah tidak akan menerima darinya sharaf dan tidak pula adl.” Sharaf adalah nafil dan adl adalah fardhu.
Abdullah bin Al-Mubarak berkata: “Sungguh, menolak satu dirham dari syubhat lebih aku cintai daripada bersedekah dengan seratus ribu seratus.”
Datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa berhaji dengan harta haram lalu berkata: ‘Labbaik,’ seorang malaikat berkata: ‘Tidak labbaik dan tidak sa’daik, hajimu ditolak atasmu.'”
Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa membeli baju dengan sepuluh dirham dan dalam harganya ada satu dirham dari haram, Allah tidak akan menerima shalatnya selama dia memakainya.”
Wahab bin Al-Ward berkata: “Seandainya engkau berdiri seperti tiang, tidak akan bermanfaat bagimu hingga engkau melihat apa yang masuk ke perutmu, halal atau haram.”
Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma berkata: “Allah tidak menerima shalat seseorang yang dalam perutnya ada haram hingga dia bertaubat kepada Allah Ta’ala darinya.”
Sufyan Ats-Tsauri berkata: “Barangsiapa membelanjakan haram dalam ketaatan seperti orang yang menyucikan baju dengan air kencing. Baju tidak disucikan kecuali dengan air, dan dosa tidak dihapus kecuali dengan halal.”
Umar radiyallahu ‘anhu berkata: “Kami meninggalkan sembilan persepuluh halal karena takut jatuh dalam haram.”
Dari Ka’b bin Ujrah radiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak akan masuk surga jasad yang diberi makan dengan haram.”
Dari Zaid bin Arqam berkata: “Abu Bakar memiliki seorang budak yang mengeluarkan kharaj untuknya (yaitu telah mukatabah dengan harta), dan dia datang setiap hari dengan kharajnya. Abu Bakar bertanya kepadanya dari mana dia mendapatkannya. Jika dia ridha, dia memakannya, jika tidak, dia meninggalkannya. Suatu malam dia datang dengan makanan sementara Abu Bakar sedang puasa. Dia makan satu suap dan lupa bertanya kepadanya. Kemudian dia berkata kepadanya: ‘Dari mana engkau datang dengan ini?’ Dia berkata: ‘Aku dulu meramal untuk orang-orang pada masa jahiliah, dan aku tidak pandai meramal kecuali aku menipu mereka.’ Abu Bakar berkata: ‘Cih untukmu! Kau hampir membinasakanku.’ Kemudian dia memasukkan tangannya ke mulutnya dan berusaha muntah tetapi tidak keluar. Dikatakan kepadanya: ‘Sesungguhnya itu tidak akan keluar kecuali dengan air.’ Maka dia meminta air dan minum lalu muntah hingga memuntahkan segala sesuatu yang ada di perutnya. Dikatakan kepadanya: ‘Semoga Allah merahmatimu, semua ini karena suapan ini?’ Dia berkata radiyallahu ‘anhu: ‘Seandainya tidak keluar kecuali bersama nyawaku, niscaya aku keluarkan. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Setiap jasad yang tumbuh dari suap, maka neraka lebih berhak baginya.’ Aku khawatir akan tumbuh dalam jasadku dari suapan ini.'”
Telah disebutkan sebelumnya sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidak akan masuk surga jasad yang diberi makan dengan haram.” Sanadnya shahih.
Para ulama rahimahullah berkata: “Termasuk dalam bab ini adalah pemungut cukai, pengkhianat, penipu, pencuri, pengangguran, pemakan riba dan yang memberinya, pemakan harta anak yatim, saksi palsu, orang yang meminjam sesuatu lalu mengingkarinya, pemakan suap, pengurang takaran dan timbangan, orang yang menjual sesuatu yang cacat lalu menutupinya, penjudi, tukang sihir, peramal, pelukis, pelacur, peratap, pemungut sepersepuluh, makelar jika mengambil upahnya tanpa izin dari penjual dan memberitahu pembeli dengan yang berlebihan, dan orang yang menjual orang merdeka lalu memakan harganya.”
FASAL
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Pada hari kiamat akan didatangkan orang-orang yang memiliki kebaikan-kebaikan seperti gunung-gunung Tihamah. Ketika mereka didatangkan, Allah menjadikannya debu yang berterbangan, kemudian melemparkan mereka ke dalam neraka.” Ditanya: “Ya Rasulullah, bagaimana itu?” Beliau berkata: “Mereka shalat, puasa, zakat, dan haji, namun jika ada sesuatu dari haram yang tersedia bagi mereka, mereka mengambilnya, maka Allah menggugurkan amal-amal mereka.”
Dari sebagian orang saleh bahwa dia terlihat setelah matinya dalam mimpi. Ditanya kepadanya: “Apa yang Allah perbuat denganmu?” Dia berkata: “Kebaikan, namun aku ditahan dari surga karena sebuah jarum yang kupinjam tetapi tidak kukembalikan.”
Maka kami memohon kepada Allah Ta’ala ampunan, keselamatan, dan taufik untuk apa yang Dia cintai dan ridhai. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan, Maha Mulia, Maha Penyayang, Maha Pengasih.
NASIHAT
Wahai hamba-hamba Allah! Bukankah malam-malam dan hari-hari meruntuhkan ajal-ajal? Bukankah akhir orang yang tinggal di dunia menuju kepunahan? Bukankah akhir kesehatan berujung pada penyakit? Bukankah puncak keselamatan adalah berkurangnya kesempurnaan? Bukankah setelah menetapnya angan-angan datang serangan ajal? Bukankah kalian telah diberitahu tentang kepergian padahal perpindahan telah dekat? Bukankah telah jelas bagi kalian pelajaran-pelajaran dan telah dipukul untuk kalian perumpamaan-perumpamaan?
Dan orang mulia yang hidup mewah menjadi hina baginya Setiap pendakian yang sulit dan jalan yang sukar Maka dia dipakaikan setelah kelembutan pakaian Yang kasar dengan paksaan darinya di dalam debu Dan wajah-wajah berseri berubah Setelah warna kecantikan dengan warna seperti asap Dan matahari-matahari yang terbit tenggelam Setelah cahaya itu darinya dengan kegelapan Dan bangunan tinggi yang kokoh Lembut lentiknya goyang pucuknya Cih untuk dunia, tidak ada tabiatnya Selain merusak ikatan atau mengkhianati janji Maka bersiaplah bekal kalian agar selamat dan beramallah Shalih sebelum robohnya kemah-kemah
Wahai orang yang tergantung pada perhiasan yang mempesona, kelanggengannnya seperti kilat yang menyambar. Wahai orang yang menyia-nyiakan dalam hawa nafsu kewajiban-kewajiban hak, engkau menantang Sang Pencipta dan malu dari makhluk. Wahai orang yang mengutamakan puncak ketinggian, menutupi kefasikan itu. Tidakkah engkau akan melihat kefasikan itu? Wahai orang yang tergila-gila dengan hamparan hawa nafsu sementara dia dalam penjara kebinasaan terkurung. Menangislah untuk dirimu yang sakit, karena sesungguhnya engkau berhak menangis.
Sungguh heran bagi orang yang melihat perbuatan maut kepada teman-temannya dan yakin akan kehancurannya padahal dia belum mati, dan iman kepada akhirat telah menetap di hatinya, namun dia tidur lalai di sampingnya. Dia lupa balasan atas kejahatan dan dosanya, dan berpaling kepada Tuhannya dari hawa nafsu kepada Rabbnya.
Seakan-akan aku melihatnya telah diberi minum gelas kematian, dia meminta tolong dari minumannya. Maut menyendirikannya dari keluarga dan kelompoknya, memindahkannya ke kuburnya, hina di dalamnya setelah kesombongannya.
Maka wahai pemilik akal, berjalanlah ke kuburnya dan berbeloklah kepadanya. Sungguh, nasihat-nasihat telah menembus telinga-telinga, tetapi aku tidak melihat pendengar mengambil manfaat darinya. Sungguh, cahaya tempat-tempat terbit telah muncul, tetapi tempat-tempat terbit itu buta. Sungguh, pelajaran-pelajaran telah jelas dengan jejak-jejak orang lain bagi yang tertipu dengan tempat-tempat jatuh, mengapa air mata tidak mengalir?
Sungguh heran untuk hati yang ketika mengingat kebenaran tidak khusyuk. Sungguh, cakar-cakar ketamakan telah menancap di dalamnya. Wahai orang yang ubanannya telah datang, apakah engkau melihat yang telah berlalu dari umur akan kembali? Terjagalah untuk yang tersisa dan berhentilah serta kembalilah. Kengerian itu besar, hisab itu keras, dan jalan itu jauh. Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi, tidak ada yang dapat menolaknya.
DOSA BESAR KE-29: SESEORANG MEMBUNUH DIRINYA SENDIRI
Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu membunuh diri kamu sendiri. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami akan memasukkannya ke dalam neraka, dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An-Nisa: 29-30)
Al-Wahidi berkata dalam tafsir ayat ini: “Janganlah kamu membunuh diri kamu sendiri” artinya janganlah sebagian kamu membunuh sebagian yang lain karena kalian adalah penganut agama yang satu, maka kalian seperti satu jiwa. Ini pendapat Ibnu Abbas dan mayoritas ulama. Ada juga kelompok yang berpendapat bahwa ini adalah larangan bagi seseorang untuk membunuh dirinya sendiri.
Yang menunjukkan kebenaran pendapat ini adalah apa yang diceritakan kepada kami Abu Manshur Muhammad bin Muhammad al-Manshuri dengan sanadnya dari Amr bin al-‘Ash yang berkata: “Aku bermimpi basah pada malam yang dingin ketika aku dalam perang Dzat as-Salasil. Aku khawatir jika mandi aku akan mati, maka aku bertayamum dan shalat subuh bersama sahabat-sahabatku. Aku menceritakan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau berkata: ‘Wahai Amr, apakah kamu shalat bersama sahabat-sahabatmu dalam keadaan junub?’ Aku memberitahu beliau alasan yang menghalangiku dari mandi, dan aku berkata: ‘Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman: Dan janganlah kamu membunuh diri kamu sendiri, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa dan tidak berkata apa-apa.”
Hadits ini menunjukkan bahwa Amr menafsirkan ayat ini sebagai larangan menghancurkan dirinya sendiri, bukan orang lain, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari hal itu.
Firman-Nya: “Dan barangsiapa berbuat demikian” – Ibnu Abbas berkata: isyarat ini kembali kepada semua yang dilarang dari awal surat hingga tempat ini. Ada kelompok yang mengatakan ancaman ini kembali kepada memakan harta dengan batil dan membunuh jiwa yang haram.
Firman-Nya: “dengan melanggar hak dan aniaya” – maksudnya melampaui apa yang diperintahkan Allah. “dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah” artinya Allah mampu melaksanakan ancaman-Nya berupa memasukkan ke neraka.
Dari Jundub bin Abdullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Ada seorang laki-laki sebelum kalian yang terluka, lalu dia tidak sabar. Dia mengambil pisau dan memotong tangannya, darahnya tidak berhenti mengalir hingga dia mati. Allah Ta’ala berfirman: ‘Hambaku telah mendahului-Ku dengan nyawanya, Aku haramkan surga untuknya.'” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa membunuh dirinya dengan besi, maka besinya di tangannya, dia akan menusuk-nusuk perutnya dengannya di neraka Jahannam selama-lamanya. Barangsiapa membunuh dirinya dengan racun, maka racunnya di tangannya, dia akan meminumnya di neraka Jahannam selama-lamanya. Barangsiapa turun dari gunung lalu membunuh dirinya, maka dia akan turun di neraka Jahannam selama-lamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits Tsabit bin adh-Dhahhak, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Melaknat seorang mukmin seperti membunuhnya. Barangsiapa menuduh seorang mukmin dengan kekafiran maka seperti membunuhnya. Barangsiapa membunuh dirinya dengan sesuatu, dia akan disiksa dengannya pada hari kiamat.”
Dalam hadits sahih tentang seorang laki-laki yang kesakitan karena luka-lukanya lalu mempercepat kematian dengan membunuh dirinya menggunakan mata pedangnya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dia termasuk penghuni neraka.”
Maka kami memohon kepada Allah agar mengilhami kami petunjuk dan melindungi kami dari kejahatan diri kami dan keburukan amal kami. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan, Mulia, Pengampun, dan Penyayang.
NASIHAT
Wahai anak Adam, bagaimana kamu mengira amal-amalmu kokoh padahal kamu tahu bahwa itu adalah tipu daya? Bagaimana kamu meninggalkan muamalah dengan Allah padahal kamu tahu bahwa itu bermanfaat? Bagaimana kamu menyia-nyiakan bekalmu padahal kamu yakin bahwa perjalanan itu jauh?
Wahai yang berpaling dari kami, sampai kapan sikap acuh dan berpaling ini? Wahai yang lalai dari kematian padahal umur pasti akan habis! Wahai yang tertipu dengan angan-angannya padahal tangan-tangan kematian pada ajalnya memotongnya dengan gunting! Wahai yang tertipu dengan kesehatannya padahal badannya setiap hari berkurang! Wahai yang setiap hari sebagiannya habis, kamu akan habis demi Allah bagian-bagiannya! Wahai yang lalai dari bekal padahal telah diperingatkan setelah hitam itu putih! Wahai yang sedikit berhati-hati padahal anak panah kematian panjang dan lebar! Wahai yang digiring ke tempat kebinasaan padahal mata air kehidupan telah kering! Wahai yang tertawa padahal mata kebinasaan tidak pernah tidur! Bagi siapa waktu-waktu ini di hadapannya, bagaimana kelopak matanya mampu terpejam?
DOSA BESAR KE-30: BERBOHONG DALAM KEBANYAKAN PERKATAANNYA
Allah Ta’ala berfirman: “Ketahuilah, laknat Allah atas orang-orang yang zalim.” (QS. Hud: 18)
Allah Ta’ala berfirman: “Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta.” (QS. Adz-Dzariyat: 10)
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang melampaui batas lagi pendusta.” (QS. Ghafir: 28)
Dalam Shahihain dari Ibnu Mas’ud berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya kejujuran membimbing kepada kebaikan, dan kebaikan membimbing ke surga. Seseorang senantiasa jujur dan berusaha jujur hingga ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Sesungguhnya dusta membimbing kepada kejahatan, dan kejahatan membimbing ke neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan berusaha berdusta hingga ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.”
Dalam Shahihain juga bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tanda orang munafik ada tiga, meskipun dia shalat, puasa, dan mengaku muslim: jika bercerita dia berdusta, jika berjanji dia ingkar, dan jika dipercaya dia khianat.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Empat hal, barangsiapa memilikinya maka dia munafik murni, dan barangsiapa memiliki satu sifat darinya maka padanya ada sifat kemunafikan hingga dia meninggalkannya: jika dipercaya dia khianat, jika berjanji dia ingkar, jika bertengkar dia berbuat keji.”
Dalam Shahih Bukhari dalam hadits mimpi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata: “Kami mendatangi seorang laki-laki yang terbaring telentang, dan yang lain berdiri di atasnya dengan kait besi, dia merobek mulutnya hingga ke tengkuknya, dan matanya hingga ke tengkuknya. Kemudian dia pergi ke sisi yang lain dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan di sisi pertama. Belum dia kembali kepadanya hingga sembuh seperti semula, lalu dia melakukan hal yang sama kepadanya hingga hari kiamat. Aku bertanya kepada mereka: ‘Siapa ini?’ Mereka berkata: ‘Sesungguhnya dia keluar dari rumahnya lalu berdusta dengan kebohongan yang sampai ke seluruh penjuru.'”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang mukmin dicetak dengan segala sifat kecuali khianat dan dusta.”
Dalam hadits: “Hati-hatilah dengan prasangka, karena prasangka adalah sedusta-dustanya ucapan.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tiga orang yang tidak akan diajak bicara Allah, tidak akan dilihat-Nya pada hari kiamat, tidak akan disucikan-Nya, dan bagi mereka azab yang pedih: orang tua yang berzina, raja yang pendusta, dan orang miskin yang sombong.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Celakalah orang yang bercerita untuk membuat orang tertawa lalu dia berdusta, celakalah dia, celakalah dia, celakalah dia.”
Yang lebih besar dari itu adalah bersumpah, sebagaimana Allah Ta’ala mengabarkan tentang orang-orang munafik dengan firman-Nya: “Dan mereka bersumpah atas nama Allah dengan dusta, padahal mereka mengetahui.” (QS. At-Taubah: 42)
Dalam hadits sahih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tiga orang yang tidak akan diajak bicara Allah pada hari kiamat, tidak akan disucikan-Nya, dan bagi mereka azab yang pedih: seorang laki-laki yang memiliki kelebihan air lalu mencegah musafir, seorang laki-laki yang menjual barang kepada seseorang lalu bersumpah demi Allah bahwa dia membelinya dengan sekian dan sekian, lalu orang itu membenarkannya dan membelinya padahal tidak demikian, dan seorang laki-laki yang membaiat imam hanya untuk dunia, jika diberi sesuatu darinya dia menepati, jika tidak diberi dia tidak menepati.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Besar sekali khianat bahwa kamu bercerita kepada saudaramu dengan cerita yang dia percayai kepadamu padahal kamu berbohong kepadanya.”
Dalam hadits juga: “Barangsiapa bermimpi dengan mimpi yang tidak dilihatnya, dia ditugaskan untuk mengikat dua butir jelai dan dia tidak akan bisa mengikatnya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kedustaan paling besar terhadap Allah adalah seseorang mengatakan matanya melihat apa yang tidak dilihatnya” – maksudnya dia berkata: “Aku melihat dalam mimpiku begini dan begitu” padahal dia tidak melihat apa-apa.
Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata: “Seorang hamba senantiasa berdusta dan berusaha berdusta hingga dituliskan titik hitam di hatinya hingga hatinya menjadi hitam, lalu ditulis di sisi Allah termasuk orang-orang pendusta.”
Seorang muslim hendaknya menjaga lisannya dari berbicara kecuali pembicaraan yang jelas manfaatnya. Dalam diam ada keselamatan, dan tidak ada yang menyamai keselamatan.
Dalam Shahih Bukhari dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam.”
Hadits yang disepakati keshahihannya ini adalah nash yang jelas bahwa seseorang tidak boleh berbicara kecuali jika pembicaraannya baik, yaitu yang jelas manfaatnya bagi pembicara.
Abu Musa berkata: “Aku bertanya: ‘Wahai Rasulullah, muslim manakah yang paling utama?’ Beliau menjawab: ‘Yang kaum muslimin selamat dari lisannya dan tangannya.'”
Dalam Shahihain: “Sesungguhnya seseorang berbicara dengan satu kata yang tidak diperhatikannya – maksudnya tidak dipikirkannya bahwa itu haram – dia tergelincir karenanya ke neraka lebih jauh dari jarak antara timur dan barat.”
Dalam Muwaththa’ Imam Malik dari riwayat Bilal bin al-Harits al-Muzani bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya seseorang berbicara dengan satu kata dari ridha Allah Ta’ala yang tidak dia sangka akan sampai sejauh itu, Allah Ta’ala menuliskan untuknya ridha-Nya hingga hari dia bertemu-Nya. Dan sesungguhnya seseorang berbicara dengan satu kata dari murka Allah Ta’ala yang tidak dia sangka akan sampai sejauh itu, Allah menuliskan untuknya murka-Nya hingga hari dia bertemu-Nya.”
Hadits-hadits sahih yang senada dengan apa yang kami sebutkan sangat banyak, dan apa yang kami isyaratkan sudah cukup.
Seseorang ditanya: “Berapa cacat yang kamu temukan pada anak Adam?” Dia menjawab: “Lebih banyak dari yang bisa dihitung. Yang aku hitung ada delapan ribu cacat. Aku menemukan satu sifat jika diamalkan akan menutupi semua cacat, yaitu menjaga lisan.”
Semoga Allah menjauhkan kita dari maksiat-maksiat dan menggunakan kita untuk apa yang Dia cintai dan ridhai. Sesungguhnya Allah Maha Dermawan dan Mulia.
NASIHAT
Wahai hamba, tidak ada yang lebih berharga bagimu dari umurmu, namun kamu menyia-nyiakannya. Tidak ada musuh bagimu seperti setan, namun kamu mentaatinya. Tidak ada yang lebih berbahaya dari mengikuti nafsumu, namun kamu bersahabat dengannya. Tidak ada modal selain saat-saat keselamatan, namun kamu menyia-nyiakannya.
Sungguh telah berlalu dari umurmu yang indah-indah, maka apa yang tersisa setelah memutihnya rambut di pelipis? Wahai yang hadir badannya namun hatinya tidak hadir, berkumpulnya cacat adalah uban termasuk musibah. Berlalu masa muda dan cinta kepada kekasih, cukup sebagai penghalang dan pengingat yang membuat rambut di pelipis memutih.
Wahai yang lalai, sesungguhnya menangis adalah sebaik-baik akhlak. Mana tangisan karena takut kepada Yang Maha Agung lagi Penuntut? Mana masa yang terbuang dalam permainan? Kulihat di dalamnya akhir akibat. Berapa banyak pada hari kiamat bersama air mata yang mengalir karena dosa-dosa yang dikumpulkan kitab sang pencatat.
Siapa bagiku jika aku berdiri di tempat perhitungan dan dikatakan kepadaku: “Apa yang kamu lakukan terhadap setiap kewajiban?” Bagaimana kamu mengharap keselamatan namun bermain dengan tawanan permainan? Jika angan-angan datang kepadamu dengan sangkaan yang pendusta?
Kematian itu sulit, keras, pahit tempat minumnya. Dia melemparkan kejahatannya dengan gelas dada-dada pasukan. Maka lihatlah dirimu dan tunggulah kedatangan yang gaib. Dia datang dengan paksaan dan melempar dengan anak panah yang mengenai sasaran.
Wahai yang berharap tetap selamat dari bencana, kamu membangun rumah seperti sarang laba-laba. Mana mereka yang naik punggung kendaraan? Sempitlah bagi mereka ajal jalan-jalan madzhab. Dan kamu setelah sebentar akan menjadi teman musibah. Maka lihatlah, pikirkanlah, dan renungkanlah sebelum keajaiban.
DOSA BESAR KE-31: HAKIM YANG BURUK
Allah Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maidah: 44)
Allah Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah: 45)
Allah Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Maidah: 47)
Al-Hakim meriwayatkan dengan sanadnya dan dalam Shahih-nya dari Thalhah bin Ubaidillah radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Allah tidak menerima shalat imam yang memutuskan perkara dengan selain apa yang Allah turunkan.”
Al-Hakim juga menshahihkan dari hadits Buraidah radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Para hakim ada tiga: satu hakim di surga dan dua hakim di neraka. Hakim yang mengetahui kebenaran lalu memutuskan dengannya maka dia di surga. Hakim yang mengetahui kebenaran lalu berbuat zalim dengan sengaja maka dia di neraka. Hakim yang memutuskan tanpa ilmu maka dia di neraka.” Mereka bertanya: “Apa dosanya yang tidak tahu?” Beliau menjawab: “Dosanya adalah tidak menjadi hakim hingga dia berilmu.”
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa dijadikan hakim maka dia telah disembelih tanpa pisau.”
Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Seorang hakim hendaknya sehari mengadili dan sehari menangis untuk dirinya.”
Muhammad bin Wasi’ rahimahullah berkata: “Orang pertama yang dipanggil pada hari kiamat untuk dihisab adalah para hakim.”
Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hakim yang adil didatangkan pada hari kiamat, lalu dia mengalami beratnya hisab hingga dia berharap tidak pernah memutuskan perkara antara dua orang meskipun hanya masalah sebiji kurma.”
Dari Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya hakim akan tergelincir dalam gelinciran di Jahannam lebih jauh dari Aden.”
Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada penguasa atau hakim kecuali dia akan didatangkan pada hari kiamat hingga ditempatkan di hadapan Allah azza wa jalla di atas shirath. Kemudian rahasia-rahasianya dibuka dan dibacakan di hadapan seluruh makhluk. Jika dia adil, Allah akan menyelamatkannya dengan keadilannya. Jika selain itu, jembatan itu akan bergetar bersamanya hingga terjadi jarak sekian dan sekian antara setiap anggota tubuhnya, kemudian jembatan itu berlubang bersamanya ke Jahannam.”
Makhul berkata: “Jika aku disuruh memilih antara mengadili dan dipenggal leherku, aku akan memilih dipenggal leherku daripada mengadili.”
Ayyub as-Sakhtiyani berkata: “Sesungguhnya aku dapati orang yang paling berilmu adalah yang paling keras larinya darinya (jabatan hakim).”
Dikatakan kepada ats-Tsauri: “Sesungguhnya Syuraih telah diangkat sebagai hakim.” Dia berkata: “Betapa mereka telah merusaknya.”
Malik bin al-Mundzir memanggil Muhammad bin Wasi’ untuk menjadikannya hakim Bashrah namun dia menolak. Dia mendesaknya dan berkata: “Kamu harus duduk (menjadi hakim) atau aku akan mencambukmu.” Dia berkata: “Jika kamu lakukan maka kamu adalah penguasa, dan hinanya dunia lebih baik dari hinanya akhirat.”
Wahb bin Munabbih berkata: “Jika hakim berniat berbuat zalim atau melakukannya, Allah akan memasukkan kekurangan kepada penduduk kerajaannya hingga di pasar-pasar, rezeki, tanaman, dan susu, dan segala sesuatu. Jika dia berniat kebaikan atau keadilan, Allah akan memasukkan berkah kepada penduduk kerajaannya seperti itu.”
Seorang petugas dari petugas-petugas Himsh menulis kepada Umar bin Abdul Aziz radhiallahu ta’ala ‘anhu: “Amma ba’du, sesungguhnya kota Himsh telah rusak dan memerlukan perbaikan.” Umar menulis kepadanya: “Bentengkanlah dengan keadilan, bersihkan jalan-jalannya dari kezaliman. Wassalam.”
Diharamkan bagi hakim memutuskan perkara dalam keadaan marah. Jika terkumpul pada hakim: sedikit ilmu, buruk niat, akhlak buruk, dan sedikit wara’, maka sempurnalah kerusakannya. Wajib baginya untuk memecat dirinya dan segera mencari kelepasan.
Maka kami memohon kepada Allah ampunan, keselamatan, dan taufik untuk apa yang Dia cintai dan ridhai. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan dan Mulia.
NASIHAT
Wahai engkau yang umurnya semakin bertambah tapi malah semakin berkurang, wahai engkau yang merasa aman dari malaikat maut padahal dia sudah mengintai. Wahai engkau yang condong kepada dunia, apakah engkau selamat dari kekurangan? Wahai engkau yang menyia-nyiakan umurnya, apakah engkau sudah memanfaatkan kesempatan? Wahai engkau yang ketika naik di jalan hidayah lalu muncul hawa nafsu kemudian mundur lagi, siapa yang akan menolongmu di hari kiamat ketika lembaran catatan amal dibuka?
Sungguh mengherankan jiwa yang tidur di malam hari dan melupakan dahsyatnya hari kiamat. Dan meskipun nasihat-nasihat mengetuk hatinya hingga telinganya mendengar, lalu kembali lagi larangan-larangan itu tersia-sia. Jiwa-jiwa menjadi tamak kepada kemurahan Yang Maha Mulia tapi tidak patuh kepada-Nya dalam keadaan apapun. Kaki-kaki berlari mengikuti hawa nafsu di jalan-jalan yang jauh setelah jelas terlihat jalan-jalan hidayah yang luas. Cita-cita berlomba-lomba di mata air hawa nafsu, tidak ada gunanya nasihat-nasihat akal bagi mereka. Dan hati-hati yang menyimpan taubat ketika takut karena peringatan yang mencegah, lalu kembali lagi kepada yang tidak halal berulang-ulang.
DOSA BESAR KE-32: MENGAMBIL SUAP DALAM MEMUTUSKAN PERKARA
Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 188)
Artinya janganlah kalian menyogok para hakim, janganlah kalian menyuap mereka agar mereka mengambil hak orang lain untuk kalian padahal kalian tahu bahwa itu tidak halal bagi kalian.
Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah melaknat orang yang menyuap dan yang menerima suap dalam memutuskan perkara.” (HR. Tirmidzi dan dia berkata hadits hasan)
Dari Abdullah bin Amr: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang menyuap dan yang menerima suap.”
Para ulama berkata: Ar-rasyiy adalah orang yang memberi suap, dan al-murtasyiy adalah orang yang menerima suap. Laknat hanya menimpa penyuap jika dia bermaksud menyakiti seorang muslim atau ingin mendapatkan sesuatu yang tidak berhak dia dapatkan. Adapun jika dia memberi suap untuk mendapatkan haknya dan menolak kezaliman dari dirinya, maka dia tidak termasuk dalam laknat tersebut. Adapun hakim, maka suap itu haram baginya baik dia membatalkan kebenaran dengannya atau menolak kezaliman dengannya.
Telah diriwayatkan dalam hadits lain bahwa laknat juga menimpa ar-ra’isy yaitu perantara antara keduanya. Dia mengikuti penyuap dalam tujuannya, jika baik maka laknat tidak menimpanya, jika tidak maka laknat menimpanya.
PASAL
Termasuk dalam hal ini adalah yang diriwayatkan Abu Dawud dalam Sunan-nya dari Abu Umamah Al-Bahiliy radiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa memberi syafaat kepada seseorang lalu orang itu memberinya hadiah karena syafaat tersebut, maka sungguh dia telah mendatangi pintu besar dari pintu-pintu riba.”
Dari Ibnu Mas’ud dia berkata: “Suht itu adalah engkau meminta keperluan untuk saudaramu lalu terpenuhi, kemudian dia memberimu hadiah dan engkau menerimanya darinya.”
Dari Masruq bahwa dia berbicara kepada Ibnu Ziyad tentang sebuah kezaliman lalu dia mengembalikannya. Kemudian pemilik kezaliman itu memberinya hadiah berupa seorang budak wanita, tapi dia menolaknya dan tidak menerimanya. Dia berkata: “Aku mendengar Ibnu Mas’ud berkata: Barangsiapa menolak kezaliman dari seorang muslim lalu diberi sesuatu karena hal itu, sedikit atau banyak, maka itu adalah suht.” Laki-laki itu berkata: “Wahai Abu Abdurrahman, kami tidak menyangka bahwa suht itu kecuali suap dalam memutuskan perkara.” Dia berkata: “Itu adalah kekufuran, kami berlindung kepada Allah darinya dan kami memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan dari segala bala dan keburukan.”
KISAH
Dari Imam Abu Umar Al-Auza’i rahimahullah – dia tinggal di Beirut – bahwa seorang Nasrani datang kepadanya dan berkata: “Sesungguhnya gubernur Baalbek telah menzalimiku dengan sebuah kezaliman dan aku ingin engkau menulis surat kepadanya.” Dia membawa sebotol madu. Al-Auza’i rahimahullah berkata: “Jika engkau mau, aku kembalikan botol ini dan aku tulis surat untukmu kepadanya. Dan jika engkau mau, aku ambil botol ini.” Lalu dia menulis surat kepada gubernur: “Kurangilah pajak Nasrani ini.” Dia mengambil botol dan surat itu lalu pergi kepada gubernur dan memberikan surat itu kepadanya. Gubernur pun mengurangi tiga puluh dirham darinya karena syafaat imam rahimahullah dan semoga Allah mengumpulkan kami dalam golongannya.
NASIHAT
Wahai hamba-hamba Allah, perhatikanlah akibat-akibat dan berhati-hatilah terhadap kekuatan yang menghukum dan takutlah kepada hukuman yang membalas dan takutlah pencabutan dari Yang Mencabut, karena sesungguhnya Dia – demi Allah – adalah Yang Menuntut lagi Mengalahkan. Di mana orang-orang yang duduk mencari angan-angan dan berdiri serta berkeliling menyiapkan rumah kepergian dan berputar-putar? Betapa sedikit mereka tinggal dan betapa sempurna mereka bermukim! Sungguh mereka telah dicela dalam jiwa mereka di dasar kubur mereka atas apa yang telah mereka lakukan dan mereka menyesal.
Demi Allah, seandainya manusia tahu untuk apa mereka diciptakan, niscaya mereka tidak akan tidur nyenyak. Sungguh mereka diciptakan untuk urusan yang jika mata hati mereka melihatnya, niscaya mereka akan bingung dan kebingungan. Kematian kemudian kubur kemudian kebangkitan dan celaan dan kengerian-kengerian besar. Untuk hari kiamat beberapa orang telah beramal, mereka shalat karena takut kepadanya dan berpuasa. Dan kami ketika diperintah atau dilarang seperti Ahli Kahfi yang terjaga tapi tidur.
Wahai engkau yang telah ternoda dengan kotoran-kotoran dosa dan telah terlumuri dengan bencana-bencana musibah. Wahai engkau yang mendengar perkataan orang yang mencela dan menegur, mengikat ikatan taubat hingga ketika sore dia batalkan. Wahai engkau yang melepas lidahnya padahal malaikat mencatat dan menyalin. Wahai engkau yang burung hawa nafsu telah bersarang dan bertelur di dadanya. Betapa banyak kematian telah memusnahkan raja-raja seperti gunung-gunung tinggi. Betapa banyak yang mengguncang fondasi-fondasi yang telah tertanam dalam kesombongan dan menempatkan mereka di kegelapan liang kubur dan di belakang mereka ada barzakh. Wahai engkau yang hatinya lebih kotor dari badannya karena dosa-dosa. Wahai engkau yang berperang dengan kemaksiatan-kemaksiatan besar, apakah engkau merasa aman bahwa engkau akan ditenggelamkan atau diubah wujudnya? Wahai engkau yang melekat pada aib setelah diselimuti uban, maka perbuatanmu tercatat. Dan segala puji bagi Allah selama-lamanya.
DOSA BESAR KE-33: WANITA MENYERUPAI LAKI-LAKI DAN LAKI-LAKI MENYERUPAI WANITA
Dalam Shahih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah melaknat wanita-wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita.”
Dalam riwayat lain: “Allah melaknat wanita yang seperti laki-laki.”
Dalam riwayat lain dia bersabda: “Allah melaknat laki-laki banci dan wanita-wanita yang seperti laki-laki,” yaitu yang menyerupai laki-laki dalam pakaian dan pembicaraan mereka.
Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah melaknat wanita yang memakai pakaian laki-laki dan laki-laki yang memakai pakaian wanita.”
Jika wanita memakai pakaian khas laki-laki seperti sorban, celana, dan lengan baju yang sempit, maka dia telah menyerupai laki-laki dalam pakaian mereka, maka laknat Allah dan Rasul-Nya menimpanya, dan juga suaminya jika dia membolehkannya yaitu ridha dengannya dan tidak melarangnya, karena dia diperintahkan untuk meluruskannya dalam ketaatan kepada Allah dan melarangnya dari kemaksiatan, sesuai firman Allah Ta’ala: “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS. At-Tahrim: 6), yaitu didiklah mereka dan ajarilah mereka dan perintahkanlah mereka untuk taat kepada Allah dan laranglah mereka dari maksiat kepada Allah sebagaimana wajib atas kalian terhadap diri kalian sendiri.
Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya. Laki-laki adalah pemimpin di keluarganya dan akan ditanya tentang mereka pada hari kiamat.”
Dan datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Ketahuilah, binasalah laki-laki ketika mereka menaati wanita.”
Al-Hasan berkata: “Demi Allah, tidak ada seorang laki-laki pun pada hari ini yang menaati istrinya dalam apa yang dia inginkan kecuali Allah Ta’ala akan menjerumuskannya ke neraka.”
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua golongan dari penghuni neraka yang belum aku lihat: suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, mereka memukul manusia dengannya, dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, condong dan mencondongkan, kepala mereka seperti punuk unta yang condong, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)
Sabdanya “berpakaian” yaitu dari nikmat-nikmat Allah, “telanjang” dari syukurnya. Dan dikatakan yaitu wanita yang memakai baju tipis yang menampakkan warna badannya. Makna “condong” dikatakan condong dari ketaatan kepada Allah dan apa yang wajib mereka jaga. “Mencondongkan” yaitu mengajarkan kepada wanita lain perbuatan tercela. Dan dikatakan “condong” yaitu berjalan dengan angkuh, “mencondongkan” dengan bahu mereka. Dan dikatakan “condong” yaitu bersisir dengan sisiran yang condong dan itulah sisiran pelacur, dan “mencondongkan” yaitu menyisir wanita lain dengan sisiran tersebut. “Kepala mereka seperti punuk unta” yaitu mereka membesarkan dan mengagungkannya dengan melilitkan serban atau sorban atau semacamnya.
Dari Nafi’ berkata: “Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Amr berada di sisi Zubair bin Abdul Muthalib ketika datang seorang wanita menggembalakan kambing sambil menggendong busur. Abdullah bin Umar bertanya: ‘Apakah engkau laki-laki atau wanita?’ Dia menjawab: ‘Wanita.’ Lalu dia menoleh kepada Ibnu Amr dan berkata: ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala telah melaknat melalui lisan nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam wanita-wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita.'”
Di antara perbuatan-perbuatan yang dilaknat wanita karenanya adalah menampakkan perhiasan, emas dan mutiara dari balik cadar, memakai minyak wangi berupa misk dan ambar serta wewangian ketika keluar, memakai pakaian berwarna-warni, kain dan sutra, jubah-jubah pendek dengan memanjangkan baju dan melebarkan serta memanjangkan lengan baju dan lain sebagainya ketika keluar. Semua itu termasuk tabarruj (berhias untuk dipamerkan) yang Allah murka karenanya dan murka kepada pelakunya di dunia dan akhirat.
Perbuatan-perbuatan ini yang telah melanda kebanyakan wanita, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang mereka: “Aku melihat neraka dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita.”
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku tidak meninggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita.”
Maka kami memohon kepada Allah agar melindungi kami dari fitnah mereka dan memperbaiki mereka dan kami dengan anugerah dan kemurahan-Nya.
NASIHAT
Wahai anak Adam, seakan-akan engkau sudah didatangi kematian secara tiba-tiba dan menyerang serta menyusul engkau kepada yang telah mendahului dari umat-umat dan memindahkanmu ke rumah kesendirian dan kegelapan, dan dari sana ke perkemahan orang-orang mati yang berkemah di antara kemah-kemah, terpisah dari hartamu yang terkumpul dan dari kebersamaanmu yang tersusun. Engkau tidak bisa menolaknya dengan banyaknya harta dan tidak dengan kekuatan para pembantu. Engkau menyesal atas kelalaian dengan penyesalan yang sangat.
Sungguh mengherankan mata yang tidur padahal yang menuntutnya tidak tidur. Kapan engkau akan berhati-hati dari apa yang diancamkan dan diancam? Kapan engkau akan menyalakan api ketakutan di hatimu dan menyala? Sampai kapan kebaikan-kebaikanmu lenyap dan keburukan-keburukanmu bertambah? Sampai kapan engkau tidak takut dengan teguran yang menasihati meskipun dia keras? Sampai kapan engkau antara kelemahan dan kemalasan berulang-ulang? Kapan engkau akan takut pada hari di mana kulit-kulit berbicara dan bersaksi? Kapan engkau akan meninggalkan yang fana untuk yang tidak habis? Kapan angin ketakutan dan harapan akan bertiup denganmu di lautan kerinduan? Kapan engkau akan berdiri di malam hari ketika gelap gulita?
Di mana orang-orang yang beramal untuk Tuhannya dan menyendiri serta berdiri di kegelapan dan rukuk dan sujud? Mereka datang ke pintu-Nya di waktu sahur dan berdatangan. Mereka berpuasa di terik siang hari, mereka sabar dan bersungguh-sungguh. Sungguh mereka telah berjalan dan engkau tertinggal, terlewatlah darimu apa yang mereka dapatkan. Engkau tertinggal di belakang mereka dan jika engkau tidak menyusul mereka, mereka akan pergi.
Wahai yang tidur di malam hari, kapan engkau akan tidur? Bangunlah wahai kekasihku, waktu yang dijanjikan telah dekat. Barangsiapa tidur hingga malamnya habis, dia tidak akan mencapai tempat tujuan atau akan kelelahan. Katakanlah kepada pemilik akal-akal yang sehat, jembatan mizan adalah tempat pertemuan kalian.
DOSA BESAR KE-34: LAKI-LAKI YANG MEMBIARKAN KEMUNGKARAN PADA KELUARGANYA DAN MUCIKARI YANG BERUSAHA MERUSAK ANTARA DUA ORANG
Allah Ta’ala berfirman: “Laki-laki yang berzina tidak menikah melainkan dengan perempuan yang berzina, atau dengan perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nur: 3)
Dari Abdullah bin Umar radiyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tiga orang tidak akan masuk surga: yang durhaka kepada kedua orang tuanya, dayuts, dan wanita yang seperti laki-laki.”
An-Nasa’i meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tiga orang yang Allah haramkan surga bagi mereka: pecandu khamr, yang durhaka kepada kedua orang tuanya, dan dayuts yang membiarkan kekejian pada keluarganya,” yaitu membiarkan kemungkaran pada keluarganya. Kami berlindung kepada Allah dari hal itu.
Penyusun rahimahullah Ta’ala berkata: “Barangsiapa yang mengira keluarganya berbuat keji dan dia pura-pura tidak tahu karena cintanya kepada mereka atau karena dia memiliki utang kepadanya dan dia tidak mampu atau mahar yang berat atau dia memiliki anak-anak kecil lalu dia mengadukannya kepada hakim dan meminta penetapan nafkah mereka, maka dia lebih rendah dari yang berpaling darinya. Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak memiliki ghirah (cemburu untuk agama). Kami memohon kepada Allah keselamatan dari segala bala dan cobaan. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan lagi Mulia.”
NASIHAT
Wahai engkau yang disibukkan dengan syahwat-syahwat yang fana, kapan engkau akan bersiap-siap untuk kematian yang datang? Sampai kapan engkau tidak bersungguh-sungguh dalam menyusul kafilah-kafilah yang telah lewat? Apakah engkau berharap padahal engkau tawanan bantal untuk menyusul para pemuka? Jauh, jauh, jauh!
Wahai engkau yang mengharapkan dalam sangkaannya kelezatan-kelezatan, berhati-hatilah dengan serangan penghancur kelezatan-kelezatan. Berhati-hatilah dengan tipu dayanya, sesungguhnya itu tersembunyi dalam persediaan nafas-nafas dan pandangan-pandangan.
Berlalu manisnya apa yang engkau sembunyikan dan setelahnya tertinggal kepadamu kepahitan akibat-akibatnya. Wahai penyesalan para pendosa di hari kembali mereka, seandainya mereka mendahului ke surga-surga. Seandainya tidak ada kecuali rasa malu kepada Dzat yang menutup aib-aib, niscaya mereka memperbanyak penyesalan.
Wahai engkau yang lembaran amalnya dikelilingi dosa-dosa dan timbangan-timbangannya ringan karena banyaknya dosa-dosa. Apakah engkau tidak melihat orang-orang setara yang menahan diri dari keinginan-keinginannya? Apakah engkau tidak melihat pengantin-pengantin yang sendirian telah diantarkan ke liang kubur? Apakah engkau tidak menyaksikan jasad-jasad orang-orang yang bermewah-mewah telah dibungkus dalam kain kafan dan dilipat? Apakah engkau tidak menyaksikan fase jasad-jasad dalam rahim-rahim dan kapan engkau akan tersadar untuk menyelamatkan jiwamu wahai yang mengantuk?
Kapan engkau akan mengambil pelajaran dengan bekas rumah orang lain yang telah usang? Di mana para raja yang pemberani dan ksatria? Di mana orang-orang yang dimanjakan dengan budak-budak wanita dan kijang-kijang yang cantik nan lemah gemulai? Di mana orang-orang yang sombong pemilik wajah-wajah yang cemberut? Di mana yang terbiasa dengan kemewahan istana-istana, terkurung di kubur-kubur dalam tempat yang paling sempit? Di mana yang bergegas dalam pakaian-pakaiannya, telanjang dalam tanahnya tanpa pakaian? Di mana yang lalai dalam angan-angannya dan keluarganya tentang ajalnya, dirampas oleh tangan-tangan pencuri?
Di mana pengumpul harta-harta, dirampas yang dijaga dan binasa penjaganya? Hak bagi orang yang mengetahui tipu daya dunia untuk meninggalkannya, dan bagi yang tidak mengenal dirinya untuk menegurnya, dan bagi yang yakin dengan kepindahannya untuk mengingatnya, dan bagi yang dibanjiri nikmat untuk mensyukurinya, dan bagi yang dipanggil ke negeri keselamatan untuk memotong padang belantara hawa nafsu agar dapat menghadirkannya.
DOSA BESAR KE-35: MUHALLIL DAN YANG DIMUHALLILKAN UNTUKNYA
🔸 Pengertian Muhallil
Muhallil adalah seorang laki-laki yang menikahi seorang perempuan yang telah ditalak tiga kali oleh suaminya yang pertama, dengan niat supaya perempuan itu bisa halal kembali bagi suami pertamanya.
🔸 Yang Dimuhallilkan Untuknya
Yaitu suami pertama dari perempuan tersebut. Dialah yang ingin menikah kembali dengan istrinya setelah menjatuhkan ṭalāq tiga, namun tidak bisa kecuali setelah:
-
- Istrinya menikah dengan laki-laki lain secara sah,
- Pernikahan tersebut betul-betul berlangsung (bukan pura-pura),
- Telah terjadi hubungan suami-istri (jima’) dalam pernikahan itu,
- Kemudian bercerai secara normal (bukan direkayasa),
- Setelah masa ‘iddah habis, barulah wanita tersebut boleh menikah lagi dengan suami pertama.[1]
Shahih dari hadits Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat muhallil dan yang dimuhallilkan untuknya. At-Tirmidzi berkata: “Dan pengamalan dengan itu menurut ahli ilmu di antara mereka Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Abdullah bin Umar. Dan itu adalah pendapat para fuqaha dari kalangan tabi’in.” Imam Ahmad meriwayatkannya dalam Musnad-nya dan An-Nasa’i dalam Sunan-nya juga dengan sanad yang shahih.
Dari Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang muhallil, maka beliau bersabda: ‘Tidak, kecuali nikah karena keinginan, bukan nikah tipu daya dan bukan main-main dengan Kitab Allah Azza wa Jalla sampai dia merasakan madunya.'” Diriwayatkan oleh Abu Ishaq Al-Jauzajani.
Dari Uqbah bin Amir berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maukah aku beritahu kalian tentang kambing jantan yang dipinjam?” Mereka berkata: “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Dia adalah muhallil. Allah melaknat muhallil dan yang dimuhallilkan untuknya.” Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad yang shahih.
Dari Ibnu Umar bahwa seorang laki-laki bertanya kepadanya: “Apa pendapatmu tentang wanita yang aku nikahi untuk menghalalkannya bagi suaminya, dia tidak menyuruhku dan tidak tahu?” Ibnu Umar berkata kepadanya: “Tidak, kecuali nikah karena keinginan. Jika engkau suka maka tahanlah dia, jika engkau benci maka ceraikanlah dia. Sesungguhnya kami menganggap ini zina pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Adapun atsar-atsar dari para sahabat dan tabi’in, telah diriwayatkan Al-Athram dan Ibnu Mundzir dari Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu berkata: “Tidaklah didatangkan kepadaku seorang muhallil dan yang dimuhallilkan untuknya kecuali aku rajam keduanya.”
Umar bin Khattab ditanya tentang menghalalkan wanita untuk suaminya, maka dia berkata: “Itu adalah zina.”
Dari Abdullah bin Syuraik Al-Amiri berkata: “Aku mendengar Ibnu Umar radiyallahu ‘anhuma ketika ditanya tentang seorang laki-laki yang menceraikan sepupunya lalu menyesal dan menginginkannya, kemudian seorang laki-laki ingin menikahinya untuk menghalalkannya baginya. Ibnu Umar berkata: ‘Keduanya adalah pezina meskipun mereka tinggal dua puluh tahun atau sekitarnya jika dia tahu bahwa dia ingin menghalalkannya.'”
Dari Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma bahwa seorang laki-laki bertanya kepadanya: “Sepupuku menceraikan istrinya tiga kali lalu menyesal.” Dia berkata: “Sepupumu telah mendurhakai Tuhannya sehingga Dia menyesalkannya dan menaati setan sehingga Dia tidak menjadikan jalan keluar baginya.” Dia berkata: “Bagaimana menurutmu tentang seorang laki-laki yang menghalalkannya untuknya?” Dia berkata: “Barangsiapa menipu Allah, Allah akan menipunya.”
Ibrahim An-Nakha’i berkata: “Jika niat salah satu dari tiga orang – suami pertama atau suami kedua atau wanita – adalah tahlil, maka nikah yang kedua batal dan dia tidak halal bagi yang pertama.”
Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Jika salah satu dari tiga orang bermaksud tahlil maka dia telah merusak.”
Sa’id bin Musayyab, imam tabi’in, berkata tentang seorang laki-laki yang menikahi wanita untuk menghalalkannya bagi suami pertamanya: “Dia tidak halal.”
Yang berpendapat demikian di antaranya Malik bin Anas, Al-Laits bin Sa’d, Sufyan Ats-Tsauri, dan Imam Ahmad.
Ismail bin Sa’id berkata: “Aku bertanya kepada Imam Ahmad tentang laki-laki yang menikahi wanita dengan niat dalam hatinya untuk menghalalkannya bagi suami pertamanya dan wanita itu tidak tahu hal tersebut. Dia berkata: ‘Dia adalah muhallil dan jika dia bermaksud tahlil dengan itu maka dia terlaknat.'”
Madzhab Asy-Syafi’i rahimahullah: Jika mensyaratkan tahlil dalam akad maka akad batal karena itu adalah akad dengan syarat memutuskannya tanpa tujuannya, maka batal seperti nikah mut’ah. Jika syarat ada sebelum akad maka yang paling shahih adalah sah. Jika akad seperti itu tanpa mensyaratkan dalam akad dan tidak sebelumnya maka akad tidak rusak. Jika dia menikahinya dengan syarat jika dia menghalalkannya dia akan mencerainya maka ada dua pendapat, yang paling shahih adalah batal.
Sisi kebatalan adalah bahwa itu syarat yang mencegah sahnya kelangsungan nikah maka menyerupai pembatasan waktu. Dan inilah yang paling shahih menurut Ar-Rafi’i. Sisi yang kedua adalah bahwa itu syarat fasid yang menyertai akad maka tidak membatalkan sebagaimana jika dia menikahinya dengan syarat tidak menikah lagi dengannya dan tidak bepergian dengannya. Wallahu a’lam.
Doa Pembuka: Maka kami memohon kepada Allah agar Dia memberikan petunjuk kepada kami untuk melakukan apa yang diridhai-Nya dan menjauhkan kami dari kemaksiatan-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan, Maha Mulia, Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Nasihat Pertama: Sungguh beruntunglah suatu kaum yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkan mereka, dan mengeluarkan hati mereka dari kegelapan bentuk dunia. Mereka memanfaatkan hari-hari keselamatan sehingga mereka beruntung dan menikmati kalam Tuhan mereka sehingga mereka berserah diri kepada perintah-Nya dan selamat. Mereka mengambil karunia-Nya dengan syukur dan menerimanya. Mereka meninggalkan tidur yang nyenyak dalam ketaatan kepada-Nya dan lari kepada-Nya dari semua manusia, dan mengutamakan ketaatan kepada-Nya dengan pengutamaan orang yang mengetahui dan paham. Mereka ridha dan tidak menentang apa yang terjadi. Mereka menjual diri mereka, maka sebaik-baik jual beli. Mereka menyerahkan diri kepada-Nya ketika menyerahkan ruh, dan melayani-Nya dengan dada yang terbuka untuk pelayanan. Mereka mengetuk pintu-Nya dan pintu itu terbuka. Mereka terus menangis sehingga kelopak mata mereka lecet karena air mata. Mereka bangun di waktu sahur seperti bangkitnya orang yang menangis dan meratap. Mereka sabar menggunakan pakaian bulu domba dan kain karung. Mereka mendidik jiwa mereka sehingga yang tercela menjadi terpuji.
Kamu mengenal mereka dengan tanda-tanda mereka, di atas mereka ada bekas-bekas kebenaran yang terlihat jelas. Mereka telah harum dengan keharuman ketenangan-Nya, aroma kelegaan mereka menguar. Dari kebaikan puji-pujian, ada aroma-aroma bagi mereka di setiap tempat yang dapat dicium, memegang hembusan angin, tetapi mereka liar bagi selain mereka, tidak menguar.
DOSA BESAR KE-36: TIDAK BERSUCI DARI AIR KENCING DAN INI ADALAH CIRI ORANG NASRANI
Allah Ta’ala berfirman: “Dan pakaianmu bersihkanlah.” (Al-Muddatstsir: 4)
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, dia berkata: Nabi shallallahu alaihi wa sallam melewati dua kubur, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya keduanya sedang disiksa, dan mereka tidak disiksa karena dosa besar. Adapun salah seorang dari mereka, dia berjalan dengan adu domba (namimah), dan yang lainnya tidak membersihkan diri dari air kencing,” yakni tidak berhati-hati darinya. Diriwayatkan dalam Shahihain.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Bersucilah dari air kencing, karena kebanyakan siksa kubur berasal darinya.” Diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni.
Kemudian, barangsiapa yang tidak berhati-hati dari air kencing pada badannya dan pakaiannya, maka sholatnya tidak diterima.
Al-Hafizh Abu Nu’aim meriwayatkan dalam Al-Hilyah dari Syaqi bin Mati’ Al-Ashbahi dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Empat orang yang menyakiti penghuni neraka selain penderitaan yang ada pada mereka. Mereka berlari antara air panas dan api neraka, berdoa dengan kecelakaan dan kebinasaan. Penghuni neraka berkata satu sama lain: ‘Apa yang terjadi dengan mereka ini, mereka telah menyakiti kami selain penderitaan yang ada pada kami?'”
Beliau bersabda: “Seorang laki-laki terkunci dalam peti dari bara api, seorang laki-laki menyeret ususnya, seorang laki-laki mulutnya mengalir nanah dan darah, dan seorang laki-laki memakan dagingnya sendiri.”
Beliau bersabda: “Lalu dikatakan kepada pemilik peti: ‘Apa yang terjadi dengan si terkutuk ini, dia telah menyakiti kami selain penderitaan yang ada pada kami?’ Maka dia menjawab: ‘Sesungguhnya si terkutuk ini mati sedangkan di lehernya ada harta manusia.’
Kemudian dikatakan kepada yang menyeret ususnya: ‘Apa yang terjadi dengan si terkutuk ini, dia telah menyakiti kami selain penderitaan yang ada pada kami?’ Maka dia menjawab: ‘Sesungguhnya si terkutuk ini tidak peduli di mana air kencing mengenainya dan tidak mencucinya.’
Kemudian dikatakan kepada yang mulutnya mengalir nanah dan darah: ‘Apa yang terjadi dengan si terkutuk ini, dia telah menyakiti kami selain penderitaan yang ada pada kami?’ Maka dia menjawab: ‘Sesungguhnya si terkutuk ini melihat setiap kata buruk lalu menikmatinya.’ Dalam riwayat lain: ‘Dia memakan daging manusia dan berjalan dengan adu domba.’
Kemudian dikatakan kepada yang memakan dagingnya: ‘Apa yang terjadi dengan si terkutuk ini, dia telah menyakiti kami selain penderitaan yang ada pada kami?’ Maka dia menjawab: ‘Sesungguhnya si terkutuk ini memakan daging manusia,’ yakni dengan ghibah.”
Maka kami memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan dengan karunia dan kemuliaan-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penyayang dari semua yang penyayang.
Nasihat Kedua: Wahai para hamba, ingatlah tempat-tempat kematian orang-orang yang telah mendahului kalian dan renungkanlah akibat mereka, ke mana mereka pergi. Ketahuilah bahwa mereka telah terbagi dan berpisah. Adapun ahli kebaikan, mereka berbahagia, dan adapun ahli kejahatan, mereka celaka. Maka lihatlah dirimu sebelum kamu mengalami apa yang mereka alami.
Dan manusia seperti hilal ketika terbitnya Tampak kecil dan lembut kemudian menjadi utuh Bertambah hingga jika telah sempurna diikuti Putaran dua waktu, berkurang kemudian memudar
Adalah masa muda selendang yang membanggakan dengannya Namun telah beterbangan darinya karena bencana, koyak
Dan mati tersenyum serius uban dengannya Seperti malam bangkit di ujung-ujungnya ufuk
Aku heran dan zaman tidak habis keajaibannya Dari orang yang bersandar pada dunia dan mereka telah benar
Dan betapa sering dia mengganggu pemiliknya dengan kedukaan Dengan pengetuk kedukaan dan kegelisahan mereka mengetuk
Rumah yang di dalamnya ajal-ajal membinasakan Dan pemilik pengalaman di dalamnya takut dan was-was
Wahai para lelaki untuk yang tertipu oleh kebatilannya Setelah penjelasan dan yang terperdaya dengannya percaya
Aku berkata dan jiwa memanggilku untuk perhiasannya Di mana para raja, raja-raja manusia dan pasar
Di mana mereka yang condong pada kenikmatannya Telah ada sebelum mereka kehidupan dan kemewahan
Malam rumah-rumah mereka sunyi dan terbengkalai Seakan-akan mereka tidak pernah diciptakan sebelumnya
Wahai ahli kenikmatan rumah yang tidak kekal baginya Sesungguhnya tertipu oleh bayangan yang hilang adalah kebodohan
Dosa Besar Ke-37: Riya
Allah Ta’ala berfirman tentang orang-orang munafik: “Mereka berbuat riya di hadapan manusia dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit.” (An-Nisa: 142)
Allah Ta’ala berfirman: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan memberikan bantuan.” (Al-Ma’un: 4-7)
Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti sebagaimana orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia…” (Al-Baqarah: 264)
Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (Al-Kahf: 110) Yakni jangan riya dengan amalannya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang pertama dihukum pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan lalu Allah mengenalkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya, maka dia mengenalnya. Allah berfirman: ‘Apa yang kamu kerjakan terhadapnya?’ Dia menjawab: ‘Aku berperang di jalan-Mu hingga mati syahid.’ Allah berfirman: ‘Kamu berbohong, tetapi kamu melakukannya agar dikatakan dia pemberani, dan telah dikatakan.’ Kemudian diperintahkan sehingga dia diseret dengan wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.
Dan seorang laki-laki yang dilapangkan Allah untuknya dan diberi dari berbagai jenis harta. Dia didatangkan lalu Allah mengenalkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya, maka dia mengenalnya. Allah berfirman: ‘Apa yang kamu kerjakan terhadapnya?’ Dia menjawab: ‘Aku tidak meninggalkan suatu jalan yang Engkau sukai untuk diinfakkan di dalamnya kecuali aku menginfakkan untukmu.’ Allah berfirman: ‘Kamu berbohong, tetapi kamu melakukannya agar dikatakan dia dermawan, dan sungguh telah dikatakan.’ Kemudian diperintahkan sehingga dia diseret dengan wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.
Dan seorang laki-laki yang belajar ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an. Dia didatangkan lalu Allah mengenalkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya, maka dia mengenalnya. Allah berfirman: ‘Apa yang kamu kerjakan terhadapnya?’ Dia menjawab: ‘Aku belajar ilmu dan mengajarkannya, dan aku membaca Al-Qur’an karena-Mu.’ Allah berfirman: ‘Kamu berbohong, tetapi kamu belajar agar dikatakan dia alim, dan kamu membaca agar dikatakan dia qari.’ Kemudian diperintahkan sehingga dia diseret dengan wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.” Diriwayatkan oleh Muslim.
Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang ingin didengar, Allah akan memperdengarkannya, dan barangsiapa yang riya, Allah akan mempermalukan dia.”
Al-Khaththabi berkata: “Maknanya adalah barangsiapa yang beramal tidak dengan ikhlas, dia hanya ingin dilihat dan didengar manusia, maka dia dibalas dengan hal itu, yaitu Allah akan mempermalukannya dan menampakkan apa yang dia sembunyikan dan rahasiakan dari hal itu. Wallahu a’lam.”
Beliau alaihi ash-shalatu was-salam bersabda: “Sedikit riya adalah syirik.”
Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Ditanyakan: “Apa itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Riya. Allah Ta’ala berfirman pada hari Dia membalas hamba-hamba dengan amal mereka: ‘Pergilah kepada orang-orang yang kalian pernah berbuat riya kepada mereka dengan amal kalian, lalu lihatlah apakah kalian mendapat balasan di sisi mereka.'”
Dikatakan dalam firman Allah Ta’ala: “Dan tampaklah bagi mereka dari Allah apa yang tidak pernah mereka perhitungkan.” (Az-Zumar: 47) Dikatakan bahwa mereka telah mengerjakan amal-amal yang mereka anggap di dunia sebagai kebaikan, namun tampak bagi mereka pada hari kiamat sebagai kejahatan.
Sebagian salaf jika membaca ayat ini berkata: “Celakalah ahli riya.”
Dikatakan bahwa orang yang riya diseru pada hari kiamat dengan empat nama: “Wahai orang yang riya, wahai pengkhianat, wahai orang fasik, wahai orang yang rugi, pergilah dan ambillah upahmu dari orang yang kamu kerjakan untuknya, maka tidak ada upah bagimu di sisi kami.”
Al-Hasan berkata: “Orang yang riya ingin mengalahkan takdir Allah padanya. Dia adalah orang yang buruk, dia ingin agar manusia berkata dia saleh. Bagaimana mereka akan berkata demikian padahal dia telah menempati tempat orang-orang yang buruk di sisi Tuhannya? Maka tidak ada pilihan bagi hati orang-orang mukmin selain mengenalnya.”
Qatadah berkata: “Jika seorang hamba riya, Allah berfirman: ‘Lihatlah hamba-Ku bagaimana dia mengolok-olok-Ku.'”
Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu anhu melihat seorang laki-laki yang menundukkan lehernya, maka dia berkata: “Wahai pemilik leher, angkatlah lehermu. Khusyu’ bukan pada leher, sesungguhnya khusyu’ ada di hati.”
Dikatakan bahwa Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu anhu menemui seorang laki-laki di masjid dalam keadaan sujud sambil menangis dan berdoa, maka Abu Umamah berkata kepadanya: “Kamu, kamu, seandainya ini di rumahmu.”
Muhammad bin Al-Mubarak As-Suri berkata: “Tampakkanlah sikap (saleh) di malam hari, karena itu lebih mulia daripada menampakkannya di siang hari. Karena sikap di siang hari untuk makhluk, dan sikap di malam hari untuk Tuhan semesta alam.”
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata: “Orang yang riya memiliki tiga tanda: dia malas jika sendirian, bersemangat jika bersama orang lain, bertambah dalam amal jika dipuji, dan berkurang jika dicela.”
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata: “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya, dan beramal karena manusia adalah syirik. Ikhlas adalah Allah menyelamatkanmu dari keduanya.”
Maka kami memohon kepada Allah pertolongan dan keikhlasan dalam amal, perkataan, gerakan, dan ketenangan. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan, Maha Mulia.
Nasihat Ketiga: Hamba-hamba Allah, sesungguhnya hari-hari kalian sedikit dan nasihat-nasihat kalian mematikan, maka hendaklah yang akhir mengabarkan yang awal dan hendaklah yang lalai terbangun sebelum perjalanan kafilah. Wahai yang yakin bahwa dia pasti akan pergi tanpa ragu dan tidak memiliki bekal dan kendaraan. Wahai yang tenggelam dalam ombak hawa nafsu, kapan kamu akan naik ke pantai? Apakah kamu telah bangun dari tidur yang panjang dan hadir dalam nasihat dengan hati yang tidak lalai? Dan bangun di malam hari dengan bangunnya orang yang berakal dan menulis dengan air mata baris-baris surat? Kamu menyembunyikan dengan itu desahan penyesalan dan perantara, dan mengirimkannya dalam kapal air mata yang mengalir, semoga dia berlabuh di pantai?
Dan sayang sekali untuk orang yang tertipu, bodoh, dan lalai. Sungguh dia telah membebani setelah tua dengan dosa yang berat. Dan dia telah menyia-nyiakan kebatilan dan mengorbankan yang bodoh. Dia bersandar pada menunggangi hawa nafsu dengan tunggangan yang miring. Dia membangun bangunan dan mendirikan benteng, sedangkan dia lengah dari mengingat kuburnya. Dan dia mengklaim setelah ini bahwa dia berakal.
Demi Allah, sungguh para pahlawan telah mendahuluinya ke tempat-tempat yang tinggi, sedangkan dia mengharapkan dalam kebatilannya kemenangan orang yang beramal. Jauh, jauh sekali, tidak menang orang yang batil dengan yang batil.
Wahai yang kagum dengan kebanggaan Dengan istana-istana rumah Sesungguhnya dunia hanya tempat Untuk berdiri dan qunut
Besok kamu akan turun ke rumah Yang sempit setelah luas Di antara kaum yang diam Yang berbicara dalam keheningan
Maka ridhailah di dunia dengan pakaian Dan dari kehidupan dengan makanan pokok Dan ambillah rumah yang lemah Seperti rumah laba-laba
Kemudian katakanlah wahai jiwaku ini Rumah tempat tinggalmu maka matilah
DOSA BESAR KE-38: BELAJAR UNTUK DUNIA DAN MENYEMBUNYIKAN ILMU
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir: 28) Yakni ulama yang mengetahui Allah Azza wa Jalla.
Ibnu Abbas berkata: “Dia bermaksud sesungguhnya yang takut kepada-Ku dari makhluk-Ku adalah yang mengetahui kekuasaan-Ku, kemuliaan-Ku, dan kekuatan-Ku.”
Mujahid dan Asy-Sya’bi berkata: “Alim adalah yang takut kepada Allah Ta’ala.”
Ar-Rabi’ bin Anas berkata: “Barangsiapa yang tidak takut kepada Allah maka dia bukan alim.”
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati.” (Al-Baqarah: 159)
Ayat ini turun tentang ulama Yahudi. Yang dimaksud dengan “keterangan-keterangan” adalah rajam, hudud, dan hukum-hukum. Dan yang dimaksud dengan “petunjuk” adalah urusan Muhammad alaihi ash-shalatu was-salam dan sifat-sifatnya. “Setelah Kami menerangkannya kepada manusia” yakni Bani Israil “dalam Al Kitab” yakni dalam Taurat. “Mereka itu” yakni yang menyembunyikan “dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati.”
Ibnu Abbas berkata: “Segala sesuatu kecuali jin dan manusia.”
Ibnu Mas’ud berkata: “Tidaklah dua orang Muslim saling melaknat kecuali laknat itu kembali kepada orang Yahudi dan Nasrani yang menyembunyikan urusan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan sifat-sifatnya.”
Bagian Pertama: Tentang Menyembunyikan Ilmu
Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 187: “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang diberi Kitab (yaitu): ‘Hendaklah kamu menerangkan (isi)nya kepada manusia, dan jangan kamu sembunyikan.’ Tetapi mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan menukarnya dengan harga yang sedikit. Maka alangkah buruknya jual beli mereka itu.”
Al-Wahidi berkata: Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang Yahudi Madinah. Allah mengambil janji mereka dalam Taurat agar mereka menjelaskan urusan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sifat-sifatnya, dan risalahnya, serta tidak menyembunyikannya. Itulah firman Allah Ta’ala: “Hendaklah kamu menerangkan (isi)nya kepada manusia, dan jangan kamu sembunyikan.”
Al-Hasan berkata: Ini adalah janji Allah Ta’ala kepada para ulama Yahudi agar mereka menjelaskan kepada manusia apa yang ada dalam kitab mereka, yang di dalamnya terdapat penyebutan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tentang firman-Nya “Tetapi mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka,” Ibnu Abbas berkata: Maksudnya mereka membuang janji itu ke belakang punggung mereka. “Dan menukarnya dengan harga yang sedikit,” yaitu apa yang mereka ambil dari orang-orang bodoh dengan kepemimpinan mereka dalam ilmu.
Tentang firman-Nya “Maka alangkah buruknya jual beli mereka itu,” Ibnu Abbas berkata: Buruk sekali jual beli mereka dan mereka merugi.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mempelajari ilmu yang seharusnya dicari untuk wajah Allah, namun dia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan kepentingan duniawi, maka dia tidak akan mencium bau surga, yaitu harumnya.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud)
Telah berlalu hadits Abu Hurairah tentang tiga orang yang diseret ke neraka, salah satunya orang yang dikatakan kepadanya: “Sesungguhnya kamu belajar agar dikatakan alim, dan sungguh telah dikatakan.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mencari ilmu untuk membanggakan diri di hadapan para ulama, atau untuk berdebat dengan orang-orang bodoh, atau untuk menarik hati manusia kepadanya, maka dia masuk neraka.” Dalam riwayat lain: “Allah akan memasukkannya ke neraka.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa ditanya tentang ilmu lalu menyembunyikannya, maka dia akan dikekang pada hari kiamat dengan kekang dari api.”
Di antara doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: “Aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mempelajari ilmu namun tidak mengamalkannya, maka ilmu itu tidak menambahnya kecuali kesombongan.”
Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan didatangkan seorang alim yang buruk pada hari kiamat, lalu dilemparkan ke neraka. Dia berputar dengan ususnya sebagaimana keledai berputar mengelilingi penggilingan. Dikatakan kepadanya: ‘Mengapa kamu mengalami ini? Bukankah kami mendapat petunjuk melalui kamu?’ Dia menjawab: ‘Aku menyuruh kalian kepada sesuatu namun aku sendiri melanggarnya.'”
Hilal bin Al-Ala berkata: “Mencari ilmu itu berat, menjaganya lebih berat dari mencarinya, mengamalkannya lebih berat dari menjaganya, dan selamat darinya lebih berat dari mengamalkannya. Maka kami memohon kepada Allah keselamatan dari segala bala dan taufik untuk apa yang Dia cintai dan ridhai. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.”
Nasihat
Wahai anak Adam, kapan kamu akan mengingat akibat-akibat perkara? Kapan kamu akan berangkat dari istana-istana ini? Sampai kapan kamu berputar-putar dalam semua yang kamu bangun? Di mana orang-orang yang ada sebelum kalian di rumah-rumah dan istana-istana? Di mana orang yang menyangka dengan buruk sangka bahwa dia tidak akan kembali? Mereka telah pergi, demi Allah semuanya berkumpul di kubur-kubur dan menempati tempat tidur yang kasar sampai ditiup sangkakala.
Ketika mereka bangkit untuk pemisahan keputusan dan langit berguncang, terbuka tabir yang tersembunyi dan terkoyak yang tertutup. Tampak keajaiban-keajaiban perbuatan dan terkumpul apa yang ada di dalam dada. Didirikan jembatan shirath, betapa banyak kaki yang tersandung. Diletakkan di atasnya kait-kait untuk merenggut setiap orang yang tertipu.
Wajah-wajah orang bertakwa bersinar seperti bulan purnama dan mereka beruntung dengan perdagangan yang tidak akan merugi. Ahli kefasikan berteriak dengan celaka dan kebinasaan. Didatangkan neraka yang dituntun dengan tali kendali dan ia mendidih. Ketika mereka dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar suara keras darinya dan ia mendidih.
Tidak ada kegembiraan di dunia bagi orang yang beriman kepada hari kebangkitan. Hanya orang bodoh atau kafir yang bergembira.
Sesungguhnya dunia hanyalah kesenangan Semua yang ada di dalamnya adalah tipu daya Maka ingatlah dahsyatnya hari Di mana langit berguncang
Dosa Besar yang Ketiga Puluh Sembilan: Khianat
Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Anfal ayat 27: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”
Al-Wahidi rahimahullah Ta’ala berkata: Ayat ini turun berkenaan dengan Abu Lubabah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimnya kepada Bani Quraizhah saat beliau mengepung mereka. Keluarga dan anaknya berada di antara mereka. Mereka berkata: “Wahai Abu Lubabah, apa pendapatmu jika kami turun atas keputusan Sa’d terhadap kami?” Abu Lubabah mengisyaratkan ke lehernya, yaitu bahwa itu adalah penyembelihan, maka jangan lakukan. Itu adalah khianat darinya kepada Allah dan Rasul-Nya.
Abu Lubabah berkata: “Kedua kakiku tidak beranjak dari tempatku sampai aku mengetahui bahwa aku telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya.”
Firman-Nya “dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” adalah ‘athaf kepada larangan, yaitu jangan mengkhianati amanat-amanat kalian.
Ibnu Abbas berkata: “Amanat-amanat adalah perbuatan-perbuatan yang Allah percayakan kepada hamba-hamba-Nya, yaitu kewajiban-kewajiban. Allah berfirman: Jangan kalian langgar.”
Al-Kalbi berkata: “Adapun khianat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah dengan mendurhakai keduanya. Adapun khianat terhadap amanat, maka setiap orang dipercaya atas apa yang Allah wajibkan kepadanya. Jika dia mau, dia khianati, dan jika dia mau, dia tunaikan. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Ta’ala.”
Firman-Nya “sedang kamu mengetahui” bahwa itu adalah amanat tanpa keraguan.
Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Yusuf ayat 52: “Dan bahwa Allah tidak memberi petunjuk kepada tipu daya orang-orang yang khianat.”
Maksudnya: Allah tidak membimbing tipu daya orang yang mengkhianati amanatnya, yaitu dia akan terbongkar pada akhirnya dengan terhalang dari petunjuk.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara dia berbohong, jika berjanji dia mengingkari, dan jika dipercaya dia berkhianat.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah baginya, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak ada janji baginya.”
Khianat itu buruk dalam segala hal, dan sebagiannya lebih buruk dari sebagian yang lain. Tidaklah sama orang yang mengkhianatimu dalam uang receh dengan orang yang mengkhianatimu dalam keluarga dan hartamu serta melakukan dosa-dosa besar.
Dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tunaikanlah amanat kepada orang yang mempercayaimu, dan jangan mengkhianati orang yang mengkhianatimu.”
Dalam hadits juga: “Orang mukmin bisa memiliki sifat apa saja kecuali khianat dan dusta.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah berfirman: ‘Aku adalah yang ketiga dari dua orang yang berserikat selama salah satu dari keduanya tidak mengkhianati temannya.'”
Di dalamnya juga: “Yang pertama kali diangkat dari manusia adalah amanat, dan yang terakhir tersisa adalah shalat. Betapa banyak orang yang shalat namun tidak ada kebaikan padanya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jauhilah khianat, karena sesungguhnya ia seburuk-buruk teman.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Begitulah ahli neraka,” dan disebutkan di antara mereka seorang laki-laki yang tidak tersembunyi baginya keinginan walau sekecil apapun kecuali dia mengkhianatinya.
Ibnu Mas’ud berkata: “Akan didatangkan pada hari kiamat pemilik amanat yang berkhianat di dalamnya, lalu dikatakan kepadanya: ‘Tunaikanlah amanatmu!’ Dia berkata: ‘Bagaimana ya Rabb, padahal dunia telah lenyap?’ Lalu digambarkan untuknya seperti bentuknya di hari dia mengambilnya di dasar Jahannam. Kemudian dikatakan kepadanya: ‘Turunlah kepadanya dan keluarkan!’ Dia turun kepadanya lalu memikulnya di pundaknya. Itu lebih berat baginya dari gunung-gunung dunia. Ketika dia mengira akan selamat, amanat itu jatuh dan dia mengikutinya selama-lamanya.”
Kemudian dia berkata: “Shalat adalah amanat, wudhu adalah amanat, mandi adalah amanat, timbangan adalah amanat, takaran adalah amanat, dan yang paling besar dari itu semua adalah titipan-titipan. Ya Allah, perlakukan kami dengan kelembutan-Mu dan tolong kami dengan ampunan-Mu.”
Nasihat
Wahai hamba-hamba Allah, alangkah mulianya waktu-waktu namun kalian telah menyia-nyiakannya. Alangkah bodohnya jiwa-jiwa namun kalian telah menaatinya. Alangkah teliti pertanyaan tentang harta, maka lihatlah bagaimana kalian mengumpulkannya. Alangkah terjaganya catatan-catatan dengan amal-amal, maka renungkanlah apa yang telah kalian simpan di dalamnya.
Sebelum kepergian dari yang sedikit dan penghisaban tentang yang kecil dan yang besar, sebelum kalian turun ke perut liang kubur dan menjadi makanan cacing di rumah yang pintunya tertutup. Seandainya dikatakan di dalamnya kepada orang yang durhaka: “Apa yang kamu pilih?” dia akan berkata: “Aku kembali dan tidak akan kembali lagi.”
Di mana ahli rumah-rumah dari kaum Nuh Kemudian ‘Ad setelah mereka dan Tsamud Sementara kaum berada di atas bantal-bantal dan sutera tebal Pipi-pipi mengalir ke tanah Dan orang sehat di pagi hari menjenguk orang sakit Padahal dia lebih dekat dengan kematian daripada yang dijenguknya
Dosa Besar yang Keempat Puluh: Berbuat Baik dengan Menyebutkan Budi
Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 264: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).”
Al-Wahidi berkata: “Yaitu dengan menyebut-nyebut apa yang telah diberikan.”
Al-Kalbi berkata: “Dengan menyebut budi kepada Allah dalam sedekahnya dan menyakiti penerimanya.”
Dalam hadits shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tiga orang yang Allah tidak berbicara kepada mereka, tidak memandang mereka pada hari kiamat, tidak menyucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih: orang yang memanjangkan pakaiannya, orang yang menyebut-nyebut budi, dan orang yang menjual barangnya dengan sumpah palsu.”
Yang dimaksud memanjangkan pakaian adalah orang yang memanjangkan kain sarung, pakaian, kemeja, atau celananya sehingga sampai ke kedua kaki, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apa yang di bawah kedua mata kaki dari kain sarung maka itu di neraka.”
Dalam hadits juga: “Tiga orang yang tidak masuk surga: anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, pemabuk khamar, dan orang yang menyebut-nyebut budi.” (Diriwayatkan oleh An-Nasa’i)
Di dalamnya juga: “Tidak masuk surga orang yang licik, bakhil, dan orang yang menyebut-nyebut budi.”
Yang dimaksud licik adalah tipu daya dan penipuan. Yang dimaksud menyebut-nyebut budi adalah orang yang memberi sesuatu atau bersedekah dengannya kemudian menyebut-nyebut budinya.
Datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Jauhilah menyebut budi dalam kebaikan, karena itu menghilangkan syukur dan menghapus pahala.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah ‘azza wa jalla: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).”
Ibnu Sirin mendengar seorang laki-laki berkata kepada yang lain: “Aku telah berbuat baik kepadamu, aku lakukan ini dan itu.” Ibnu Sirin berkata kepadanya: “Diamlah! Tidak ada kebaikan dalam berbuat baik jika dihitung-hitung.”
Sebagian mereka berkata: “Barangsiapa menyebut-nyebut kebaikannya, gugur syukurnya. Barangsiapa kagum dengan amalnya, batallah pahalanya.”
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah Ta’ala menyairkan:
Jangan terima dari manusia Dengan mereka menyebut budi kepadamu darinya Pilihlah untuk dirimu bagiannya Dan bersabarlah, karena sabar adalah perisai Sebutan budi laki-laki terhadap hati Lebih keras dari tusukan tombak
Juga menyairkan sebagian mereka:
Dan seorang teman yang telah berbuat baik kepadaku Lambat balasanku kepadanya maka dia memusuhi aku Ketika dia yakin bahwa zaman telah memerangi aku Dia menampakkan penyesalan dari apa yang telah dia berikan kepadaku Kamu merusak dengan sebutan budi apa yang telah kamu lakukan dari kebaikan Bukanlah orang mulia jika memberi dengan menyebut budi
Nasihat
Wahai orang yang mendahului dengan kesalahan-kesalahan, alangkah bodohnya kamu! Sampai kapan kamu tertipu dengan Dzat yang telah memberi tangguh kepadamu seakan-akan Dia telah mengabaikanmu? Seakan-akan kamu sudah bersama kematian dan dia telah datang kepadamu dan membinasakanmu.
Ketika kepergian dan malaikat telah membuatmu takut dan menawanmu, bala telah meliputimu setelah hawa nafsu dan membelenggumu. Kamu menyesal atas dosa besar yang telah memberatmu.
Wahai orang yang tenang dengan yang fana, alangkah banyak kesalahanmu! Wahai orang yang berpaling dari nasihat, seakan-akan nasihat tidak dikatakan untukmu! Di mana kekasihmu yang dulu ada dan ke mana dia pindah? Bukankah kerusakan dalam tubuhnya dan kemiskinan telah menasihatimu?
Di mana orang yang banyak harta? Di mana orang yang panjang angan-angan? Bukankah dia telah sendirian di kuburnya dengan amal? Di mana orang yang menyeret bajunya dengan sombong dan lengah? Bukankah dia telah bepergian dan sampai sekarang belum sampai?
Di mana orang yang bersenang-senang di istananya seakan-akan dia tidak pernah ada di dunia dan di kuburnya tidak akan hilang? Di mana orang yang unggul dan merayakan? Hilang, demi Allah, bintang kebahagiaannya dan terbenam.
Di mana para kaisar dan penguasa yang sewenang-wenang yang pertama? Harta mereka dimiliki selain mereka dan dunia berganti-ganti.
DOSA BESAR KE-41: MENDUSTAKAN TAKDIR
Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Qamar ayat 49: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.”
Ibnu Al-Jauzi berkata dalam tafsirnya tentang sebab turunnya ayat ini ada dua pendapat. Pertama: Orang-orang musyrik Makkah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berdebat dengannya tentang takdir, maka turunlah ayat ini. Hanya Muslim yang meriwayatkannya.
Abu Umamah meriwayatkan bahwa ayat ini berkenaan dengan kaum Qadariyah.
Pendapat kedua: Uskup Najran datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: “Wahai Muhammad, kamu mengklaim bahwa kemaksiatan itu dengan takdir, padahal tidak demikian.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Kalian adalah musuh-musuh Allah.” Maka turunlah ayat ini: “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan dan siksaan. Pada hari mereka diseret atas muka mereka ke dalam neraka (dikatakan kepada mereka): ‘Rasakanlah sentuhan Saqar.’ Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.”
Umar bin Al-Khattab meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata: “Ketika Allah mengumpulkan orang-orang terdahulu dan terkemudian pada hari kiamat, Dia memerintahkan seorang penyeru lalu dia menyeru dengan seruan yang didengar oleh orang-orang terdahulu dan terkemudian: ‘Di mana musuh-musuh Allah?’ Maka bangkitlah kaum Qadariyah, lalu diperintahkan mereka ke neraka. Allah berfirman: ‘Rasakanlah sentuhan Saqar. Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.'”
Mereka disebut musuh-musuh Allah karena mereka berdebat bahwa tidak boleh Allah menakdirkan kemaksiatan kepada hamba kemudian menyiksanya karenanya.
Hisyam bin Hassan meriwayatkan dari Al-Hasan, dia berkata: “Demi Allah, seandainya seorang Qadari berpuasa hingga menjadi seperti tali, kemudian shalat hingga menjadi seperti busur, niscaya Allah akan menelungkupkannya atas wajahnya di Saqar, kemudian dikatakan kepadanya: ‘Rasakanlah sentuhan Saqar. Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.'”
Muslim meriwayatkan dalam shahihnya dari hadits Ibnu Umar, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Segala sesuatu dengan takdir, bahkan ketidakmampuan dan kecerdasan.”
Ibnu Abbas berkata: “Segala sesuatu yang Kami ciptakan dengan takdir” tertulis di Lauh Mahfuzh sebelum terjadinya.
Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Ash-Shaffat ayat 96: “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.”
Ibnu Jarir berkata: Di dalamnya ada dua segi. Pertama: bahwa “ma” bermakna mashdar, maka maknanya: Allah menciptakan kalian dan perbuatan kalian. Kedua: bahwa “ma” bermakna “alladzi”, maka maknanya: Allah menciptakan kalian dan menciptakan apa yang kalian buat dengan tangan kalian dari patung-patung.
Dalam ayat ini ada dalil bahwa perbuatan-perbuatan hamba itu diciptakan. Wallahu a’lam.
Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Asy-Syams ayat 8: “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.”
Ilham adalah memasukkan sesuatu ke dalam jiwa. Sa’id bin Jubair berkata: “Allah mewajibkan kepadanya kefasikan dan ketakwaannya.”
Ibnu Zaid berkata: “Allah menjadikan itu padanya dengan taufik-Nya kepadanya untuk takwa dan penolakan-Nya kepadanya untuk kefasikan.” Wallahu a’lam.
Dalam hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata: “Sesungguhnya Allah berkarunia kepada suatu kaum lalu mengilhami mereka kebaikan dan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya. Dia menguji suatu kaum lalu menolak mereka dan mencela mereka atas perbuatan-perbuatan mereka. Mereka tidak mampu selain apa yang Dia ujikan kepada mereka, lalu Dia menyiksa mereka. Dia Maha Adil, tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, dan mereka yang ditanya.”
Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi pun kecuali di umatnya ada kaum Qadariyah dan Murji’ah. Sesungguhnya Allah melaknat kaum Qadariyah dan Murji’ah melalui lisan tujuh puluh nabi.”
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kaum Qadariyah adalah Majusi umat ini.”
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap umat memiliki Majusi, dan Majusi umat ini adalah mereka yang mengklaim bahwa tidak ada takdir dan bahwa urusan itu spontan. Jika kalian bertemu mereka, beritahukan bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku.”
Kemudian beliau berkata: “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari mereka memiliki emas sebesar Gunung Uhud lalu menginfakkannya di jalan Allah, tidak akan diterima sampai dia beriman kepada takdir, baik dan buruknya.”
Kemudian disebutkan hadits Jibril dan pertanyaannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berkata: “Apakah iman itu?” Beliau berkata: “Bahwa kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan kamu beriman kepada takdir, baik dan buruknya.”
Perkataan “bahwa kamu beriman kepada Allah”: Iman kepada Allah adalah membenarkan bahwa Dia Subhanahu wa Ta’ala ada, memiliki sifat-sifat keagungan dan kesempurnaan, suci dari sifat-sifat kekurangan, bahwa Dia Esa, Shamad, Pencipta semua makhluk, yang mengendalikan mereka dengan apa yang Dia kehendaki, berbuat di kerajaan-Nya apa yang Dia inginkan.
Iman kepada malaikat adalah membenarkan penghambaan mereka kepada Allah, bahkan mereka adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka. Mereka tidak memberi syafa’at kecuali bagi orang yang diridhai dan mereka karena takut kepada-Nya sangat khawatir.
Iman kepada rasul-rasul adalah membenarkan bahwa mereka benar dalam apa yang mereka kabarkan tentang Allah Ta’ala. Allah memperkuat mereka dengan mukjizat-mukjizat yang menunjukkan kebenaran mereka, bahwa mereka menyampaikan risalah-risalah Allah Ta’ala dan menjelaskan kepada mukallaf apa yang Allah perintahkan kepada mereka, bahwa wajib menghormati mereka dan tidak membeda-bedakan antara seorang pun dari mereka.
Iman kepada hari akhir adalah membenarkan hari kiamat dan apa yang terkandung di dalamnya berupa pengembalian setelah kematian, kebangkitan, pengumpulan, penghisaban, timbangan, jembatan, surga dan neraka, bahwa keduanya adalah tempat pahala dan siksa-Nya bagi orang yang berbuat baik dan berbuat buruk, sampai yang lainnya yang shahih dengan naqal.
Iman kepada takdir adalah membenarkan apa yang telah disebutkan sebelumnya. Intinya adalah apa yang ditunjukkan oleh firman-Nya Subhanahu: “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu” dan firman-Nya: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.”
Bagian Pertama: Tentang Takdir dan Iman
Dari hal tersebut adalah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu Abbas: “Dan ketahuilah bahwa seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka tidak akan dapat memberi manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk membahayakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah atasmu. Telah diangkat pena-pena dan telah kering lembaran-lembaran.”
Madzhab para salaf dan imam-imam khalaf adalah bahwa barangsiapa yang membenarkan hal-hal ini dengan pembenaran yang tegas tanpa keraguan dan kebimbangan, maka dia adalah mukmin yang sesungguhnya, baik hal itu berdasarkan dalil-dalil yang pasti atau keyakinan yang tegas. Wallahu a’lam.
Pasal: Kesepakatan Ulama Sunnah
Tujuh puluh orang dari kalangan tabi’in, imam-imam muslim, para salaf, dan fuqaha negeri telah bersepakat bahwa sunnah yang meninggal dunia atasnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang pertama adalah:
- Ridha dengan qadha Allah dan takdir-Nya
- Tunduk kepada perintah-Nya
- Sabar di bawah hukum-Nya
- Mengambil apa yang diperintahkan Allah
- Meninggalkan apa yang dilarang Allah
- Mengikhlaskan amal untuk Allah
- Beriman kepada takdir, baik dan buruknya
- Meninggalkan perdebatan, argumentasi, dan pertikaian dalam agama
- Mengusap kedua khuf (sepatu kulit)
- Berjihad bersama setiap khalifah, baik yang baik maupun yang fasik
- Menshalati orang yang meninggal dari ahli qiblat
- Iman adalah perkataan, perbuatan, dan niat yang bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan
- Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak diciptakan
- Sabar di bawah panji penguasa atas apa yang datang darinya, baik adil maupun zalim
- Tidak memberontak kepada para penguasa dengan pedang walaupun mereka berbuat zalim
- Tidak mengkafirkan seorang pun dari ahli qiblat walaupun dia melakukan dosa besar, kecuali jika dia menghalalkannya
- Tidak bersaksi untuk seorang pun dari ahli qiblat dengan surga karena kebaikan yang dia lakukan, kecuali orang yang disaksikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
- Menahan diri dari apa yang terjadi di antara sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
- Sebaik-baik makhluk setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali radhiyallahu ‘anhum ajma’in
- Mendoakan rahmat untuk semua istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, anak-anaknya, dan sahabat-sahabatnya radhiyallahu ‘anhum ajma’in
Faidah: Perkataan-Perkataan yang Menyebabkan Kekafiran
Di dalamnya terdapat dari perkataan manusia yang merupakan kekafiran sebagaimana dinyatakan tegas oleh para ulama, di antaranya:
- Barangsiapa yang mengolok-olok nama dari nama-nama Allah, atau perintah-Nya, atau janji-Nya, atau ancaman-Nya, maka dia kafir
- Seandainya dia berkata: “Seandainya Allah memerintahkanku begini, aku tidak akan melakukannya,” maka dia kafir
- “Seandainya kiblat berada di arah ini, aku tidak akan shalat ke arahnya,” maka dia kafir
- Jika dikatakan kepadanya: “Janganlah meninggalkan shalat karena Allah akan menghukummu,” lalu dia berkata: “Seandainya Dia menghukumku karena hal itu padahal aku dalam keadaan sakit dan kesulitan, niscaya Dia menzalimiku,” maka dia kafir
- Seandainya dia berkata: “Seandainya para nabi dan malaikat bersaksi di sisiku tentang ini, aku tidak akan membenarkannya,” maka dia kafir
- Jika dikatakan kepadanya: “Potonglah kukumu karena itu sunnah,” lalu dia berkata: “Aku tidak akan melakukannya walaupun itu sunnah,” maka dia kafir
- Seandainya dia berkata: “Si fulan di mataku seperti orang Yahudi,” maka dia kafir
- Seandainya dia berkata: “Sesungguhnya Allah duduk untuk berbuat adil atau berdiri untuk berbuat adil,” maka dia kafir
- Ada pendapat bahwa orang yang berkata kepada seorang muslim: “Semoga Allah tidak mengakhiri hidupmu dengan kebaikan atau merampas imanmu,” maka dia kafir
- Juga datang bahwa orang yang meminta sumpah seseorang, lalu orang itu ingin bersumpah dengan nama Allah, tetapi dia berkata: “Aku ingin kamu bersumpah dengan talak,” maka dia kafir
Dan masih banyak contoh lainnya yang disebutkan dalam teks.
Para ulama berbeda pendapat tentang beberapa kasus, dan ada ungkapan-ungkapan yang dibenci dan diingkari seperti: “Tidak ada agama bagimu, tidak ada iman bagimu, tidak ada keyakinan bagimu, kamu orang fasik, kamu munafik, kamu zindik, kamu fasiq,” dan yang semacamnya. Semua itu haram dan dikhawatirkan akan menyebabkan terampasnya iman dan kekal di neraka.
Maka kami memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah dengan karunia-Nya agar mewafatkan kami sebagai muslim berpegang pada Al-Kitab dan As-Sunnah. Sesungguhnya Dia Maha Penyayang dari para penyayang.
Nasehat
Wahai hamba-hamba Allah, di manakah orang-orang yang menimbun harta, mengumpulkan dan menikmati syahwat hingga kenyang, berangan-angan kekal tetapi tidak mendapatkan apa yang mereka harapkan? Umur mereka habis dengan tipuan yang memperdaya mereka. Setan mereka memasang jerat hawa nafsu lalu mereka terjatuh ke dalamnya. Malaikat maut datang kepada mereka lalu mereka tunduk dan patuh. Mereka dikeluarkan dari rumah-rumah mereka, demi Allah mereka tidak kembali. Mereka berpencar-pencar di dalam kubur, dan ketika sangkakala ditiup, mereka akan berkumpul.
Bagaimana mata ahli ilmu bisa tenang Atau menikmati kenikmatan hidup atau tertidur? Padahal kematian memperingatkan mereka terang-terangan Seandainya kaum itu punya pendengaran, tentu mereka mendengar Neraka terbentang, pasti mereka akan mendatanginya Tidak ada yang tahu siapa yang selamat dan siapa yang jatuh Burung-burung dan hewan ternak telah aman Ikan-ikan di laut tidak khawatir akan ketakutan Sedangkan manusia dengan perbuatan ini tergadaikan Baginya ada pengawas rahasia yang memperhatikan Hingga dia melihat pada hari berkumpul sendirian Kulit, mata, dan telinga menjadi saksi atasnya Ketika mereka berdiri dan para saksi berdiri Jin, manusia, dan malaikat telah khusyuk Lembaran-lembaran berterbangan di tangan tersebar Di dalamnya rahasia dan berita-berita terungkap Bagaimana dengan manusia sedangkan berita-berita berdiri Sebentar lagi, tidak tahu apa yang akan terjadi Apakah di surga dengan kemenangan yang tidak terputus Ataukah di neraka yang tidak menyisakan dan tidak membiarkan Menghempaskan penghuninya kadang-kadang dan mengangkat mereka Ketika mereka mengharapkan jalan keluar dari kesedihannya, mereka dipukul mundur Tangisan yang panjang tidak bermanfaat penyesalan mereka Alangkah jauh, tidak ada ruqyah yang berguna dan tidak ada kepanikan
DOSA BESAR KE-42: MENGUPING ORANG LAIN DAN RAHASIA MEREKA
Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” (Surat Al-Hujurat ayat 12)
Ibnu Al-Jauzi rahimahullah berkata: Abu Zaid, Al-Hasan, Ad-Dhahhak, dan Ibnu Sirin membaca dengan huruf ha’. Abu Ubaidah berkata: At-tajassus dan at-tahassus adalah satu, yaitu mencari-cari. Darinya kata jasus (mata-mata).
Yahya bin Abi Katsir berkata: At-tajassus dengan jim tentang aib manusia, dan dengan ha’ mendengarkan pembicaraan kaum.
Para mufassir berkata: At-tajassus adalah mencari-cari cacat dan aib orang muslim. Maknanya: janganlah salah seorang di antara kalian mencari-cari cacat saudaranya untuk mengetahuinya jika Allah telah menutupinya.
Dikatakan kepada Ibnu Mas’ud: “Si Walid bin Uqbah ini janggutnya menetes khamar.” Dia berkata: “Sesungguhnya kami dilarang dari at-tajassus. Jika ada sesuatu yang tampak bagi kami, kami akan mengambil tindakan.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mendengarkan pembicaraan suatu kaum padahal mereka tidak suka, maka pada hari kiamat akan dituangkan timah cair ke telinganya.” (HR. Bukhari)
Al-anak adalah timah yang dicairkan. Kami berlindung kepada Allah darinya dan memohon kepada Allah taufik untuk apa yang Dia cintai dan ridhai. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan lagi Mulia.
Nasehat
Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya ajal telah mendekat dan mendekati. Jiwa-jiwa tergadaikan telah mengumpulkan dan bersusah payah. Seakan-akan tangan-tangan kebinasaan telah mengambil dan merampas. Betapa banyak matahari yang terbit di atas kubur telah tenggelam. Wahai anak-anak fana, perangkap kebinasaan telah dipasang.
Wahai hamba-hamba Allah, semua kemaksiatan telah ditulis dan dicatat. Jiwa-jiwa tergadaikan dengan apa yang telah diperbuat dan dikerjakan. Baginya apa yang diusahakan dan atasnya apa yang dikerjakan.
Wahai orang yang tertipu dengan angan-angan dan harapan-harapan palsu, berhadapan dengan keburukan-keburukan dan tidak tahu siapa yang dilawan. Wahai yang hadir jasadnya tetapi hatinya tidak hadir, apakah kamu rela melewatkan kebaikan-kebaikan dan hal-hal yang diinginkan?
Wahai yang umurnya habis dalam perjalanan dan berjalan seperti unta yang cepat. Wahai yang telah beruban dan belum bertaubat, ini termasuk keajaiban. Sungguh mengherankan, bagaimana yang dikejar bisa tidur sedangkan yang mengejar tidak lengah.
DOSA BESAR KE-43: PENGUMPAT (AN-NAMMAM)
Yaitu orang yang memindahkan pembicaraan di antara manusia dengan maksud merusak hubungan di antara mereka. Ini penjelasannya.
Adapun hukumnya, maka ia haram berdasarkan ijma’ kaum muslimin. Telah berulang-ulang dalil-dalil syar’i dari Al-Kitab dan As-Sunnah yang mengharamkannya.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang suka mencela, yang berjalan kesana kemari menebar fitnah” (Surat Al-Qalam ayat 10-11)
Dalam dua kitab shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak akan masuk surga seorang pengumpat.”
Dalam hadits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua kubur, beliau bersabda: “Sesungguhnya keduanya sedang disiksa, dan keduanya tidak disiksa karena dosa besar. Adapun yang pertama, dia tidak bersuci dari air kencingnya. Adapun yang lain, dia berjalan dengan namimah (adu domba).” Kemudian beliau mengambil pelepah yang basah, membelahnya menjadi dua, dan menancapkan masing-masing satu di setiap kubur. Beliau bersabda: “Semoga keduanya diringankan selama keduanya belum kering.”
Sabda beliau “dan keduanya tidak disiksa karena dosa besar” artinya bukanlah besar meninggalkannya bagi keduanya, atau bukanlah besar menurut sangkaan keduanya. Karena itu beliau bersabda dalam riwayat lain: “Ya, itu besar.”
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalian akan mendapati sejahat-jahat manusia adalah orang yang bermuka dua, yang datang kepada orang-orang ini dengan satu wajah dan kepada orang-orang itu dengan wajah lain. Barangsiapa yang memiliki dua lidah di dunia, maka Allah akan menjadikan baginya dua lidah dari api pada hari kiamat.”
Maksud “orang yang memiliki dua lidah” yaitu berbicara dengan orang-orang ini dengan pembicaraan dan dengan orang-orang itu dengan pembicaraan lain. Ini sama maknanya dengan pemilik dua wajah.
Imam Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah berkata: Namimah biasanya diterapkan pada orang yang menyampaikan perkataan orang lain kepada orang yang dibicarakan dengan berkata: “Si fulan berkata tentangmu begini.”
Namimah tidak terbatas pada itu saja, bahkan batasannya adalah membuka apa yang dibenci untuk dibuka, baik dibenci oleh yang dipindahkan darinya atau yang dipindahkan kepadanya atau pihak ketiga, baik pembukaan itu dengan perkataan atau tulisan atau isyarat atau gerakan atau semacamnya, baik dari perkataan atau perbuatan, baik itu cacat atau lainnya.
Hakikat namimah adalah membuka rahasia dan membuka tabir dari apa yang dibenci untuk dibuka. Sepatutnya manusia diam dari semua yang dilihatnya dari keadaan manusia kecuali yang dalam menceritakannya ada manfaat bagi kaum muslimin atau menolak kemaksiatan.
Beliau berkata: Setiap orang yang dibawa kepadanya namimah dan dikatakan kepadanya: “Si fulan berkata tentangmu begini dan begini,” maka dia wajib melakukan enam hal:
Pertama: Tidak membenarkannya karena dia pengumpat yang fasik dan dia tertolak khabarnya.
Kedua: Melarangnya dari hal itu, menasihatinya, dan menjelekkan perbuatannya.
Ketiga: Membencinya karena Allah ‘azza wa jalla karena dia dibenci di sisi Allah, dan benci karena Allah itu wajib.
Keempat: Tidak berprasangka buruk kepada orang yang dipindahkan darinya karena firman Allah Ta’ala: “Jauhilah banyak prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa” (Surat Al-Hujurat ayat 12)
Kelima: Tidak membawa apa yang diceritakan kepadanya untuk mencari-cari dan meneliti kebenaran hal itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain”
Keenam: Tidak ridha untuk dirinya apa yang dilarang pengumpat darinya, maka tidak menceritakan namimahnya.
Telah datang bahwa seorang laki-laki menyebutkan kepada Umar bin Abdul Aziz tentang seseorang dengan sesuatu. Umar berkata: “Wahai orang ini, jika kamu mau, kami akan melihat urusanmu. Jika kamu benar, maka kamu termasuk orang-orang dari ayat ini: ‘Jika datang kepada kalian orang fasik dengan berita, maka telitilah.’ Dan jika kamu dusta, maka kamu termasuk orang-orang dari ayat ini: ‘Yang suka mencela, yang berjalan kesana kemari menebar fitnah.’ Jika kamu mau, kami maafkan kamu.”
Dia berkata: “Maafkan wahai Amirul Mukminin, aku tidak akan kembali kepadanya selamanya.”
Seseorang mengangkat kertas kepada Ash-Shahib bin Abbad rahimahullah mendorongnya untuk mengambil harta anak yatim, dan dia memiliki harta yang banyak. Dia menulis di belakang kertas: “Namimah itu jelek walaupun benar. Si mayit semoga Allah merahmatinyya, anak yatim semoga Allah memperbaikinya, harta semoga Allah memberkatinya, dan pengadu semoga Allah melaknatnya.”
Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Barangsiapa yang memindahkan kepadamu pembicaraan, maka ketahuilah bahwa dia memindahkan kepada orang lain pembicaraanmu.”
Ini seperti perkataan orang: “Barangsiapa yang memindahkan kepadamu, dia memindahkan darimu, maka berhati-hatilah.”
Ibnu Al-Mubarak berkata: “Anak zina tidak merahasiakan pembicaraan.” Dia menunjukkan dengan hal itu bahwa setiap orang yang tidak merahasiakan pembicaraan dan berjalan dengan namimah menunjukkan bahwa dia anak zina, sebagai istinbath dari firman Allah Ta’ala: “Yang kasar, dan selain itu lagi, anak zina” (Surat Al-Qalam ayat 13). Zaniim adalah anak angkat.
Diriwayatkan bahwa sebagian salaf shalih mengunjungi saudaranya dan menyebutkan kepadanya tentang sebagian saudaranya sesuatu yang dibencinya. Dia berkata kepadanya: “Wahai saudaraku, kamu lama tidak datang dan kamu datang kepadaku dengan tiga kejahatan: kamu membuat aku benci saudaraku, menyibukkan hatiku karenanya, dan menuduh dirimu yang amanah.”
Sebagian mereka berkata: “Barangsiapa yang mengabarkan kepadamu tentang cercaan dari saudaramu, maka dialah yang mencacimu.”
Seorang laki-laki datang kepada Ali bin Al-Husain radhiyallahu ‘anhuma dan berkata: “Sesungguhnya si fulan mencacimu dan berkata tentangmu begini dan begini.”
Dia berkata: “Pergilah bersama kami kepadanya.” Dia pergi bersamanya dan dia mengira bahwa Ali akan membela dirinya. Ketika sampai kepadanya, dia berkata: “Wahai saudaraku, jika apa yang kamu katakan tentangku benar, maka semoga Allah mengampuniku. Dan jika apa yang kamu katakan tentangku batil, maka semoga Allah mengampunimu.”
Dikatakan dalam firman Allah Ta’ala: “Yang memikul kayu bakar” (Surat Al-Masad ayat 4) yaitu istri Abu Lahab, bahwa dia biasa memindahkan pembicaraan dengan namimah. Namimah disebut kayu bakar karena ia sebab permusuhan sebagaimana kayu bakar adalah sebab menyalanya api.
Dikatakan: Perbuatan pengumpat lebih berbahaya daripada perbuatan setan karena perbuatan setan dengan bisikan, sedangkan perbuatan pengumpat dengan berhadapan langsung.
Kisah
Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki melihat seorang budak yang dijual dan penjual mengumumkan: “Tidak ada cacat padanya kecuali dia pengumpat saja.” Dia meremehkan cacat itu dan membelinya. Budak itu tinggal bersamanya beberapa hari, kemudian berkata kepada istri tuannya: “Sesungguhnya tuanku ingin menikah lagi atasmu atau bersetubuh dengan budak perempuan. Dia berkata bahwa dia tidak mencintaimu. Jika kamu ingin agar dia sayang kepadamu dan meninggalkan apa yang direncanakan, maka jika dia tidur, ambillah pisau cukur dan cukurlah beberapa helai rambut dari bawah janggutnya dan tinggalkan rambut-rambut itu bersamamu.”
Wanita itu berkata dalam hatinya: “Ya,” dan hati wanita itu sibuk dan bertekad melakukan hal itu jika suaminya tidur.
Kemudian dia datang kepada suaminya dan berkata: “Tuanku, sesungguhnya nyonya istrimu telah mengambil teman dan kekasih selain dirimu, cenderung kepadanya, dan ingin terbebas darimu. Dia telah bertekad untuk menyembelihmu malam ini. Jika kamu tidak memercayaiku, pura-puralah tidur malam ini dan lihatlah bagaimana dia datang kepadamu dengan sesuatu di tangannya yang ingin digunakan untuk menyembelihmu.”
Tuannya membenarkannya. Ketika malam tiba, wanita itu datang dengan pisau cukur untuk mencukur rambut dari bawah janggut suaminya, sementara laki-laki itu pura-pura tidur. Dia berkata dalam hatinya: “Demi Allah, budak itu benar dengan apa yang dikatakannya.”
Ketika wanita itu meletakkan pisau cukur dan mengarahkannya ke leher suaminya, suaminya bangun dan mengambil pisau cukur darinya lalu menyembelihnya dengan pisau itu. Keluarga wanita itu datang dan melihatnya terbunuh, lalu mereka membunuh suaminya. Terjadilah pertarungan antara kedua kelompok karena celaka budak yang celaka itu.
Karena itulah Allah menyebut pengumpat sebagai fasik dalam firman-Nya: “Jika datang kepada kalian orang fasik dengan berita, maka telitilah, agar kalian tidak menimpakan bencana kepada suatu kaum karena ketidaktahuan, sehingga kalian menyesal atas apa yang telah kalian lakukan” (Surat Al-Hujurat ayat 6)
NASIHAT
Wahai orang yang terjerat oleh hawa nafsu sehingga tidak mampu membebaskan diri darinya! Wahai orang yang lalai dari kehancuran padahal kehancuran itu telah menghampirinya! Wahai orang yang tertipu dengan keselamatannya padahal kematian telah memasang jerat untuknya! Renungkanlah kepergianmu sementara engkau masih dalam keadaanmu sekarang. Jika engkau tidak menangis, maka berusahalah untuk menangis.
Aku menangis, tetapi mengapa engkau tidak menangis atas masa mudamu? Cukuplah uban sebagai pemberi peringatan untukmu, cukuplah… Tidakkah engkau melihat bahwa uban telah berdiri sebagai pemberita kematian Menggantikan masa muda yang segar, kemudian mengabarkan kematianmu… Tidakkah engkau melihat setiap hari yang berlalu seolah-olah Dengan kehanucurannya bagi orang-orang yang binasa, ia memelukmu… Wahai orang yang fana dan telah tiba waktunya Apakah engkau berharap untuk kekal? Engkau bukanlah di sana… Engkau akan pergi dan yang engkau lihat akan tetap sebagaimana engkau melihatnya Maka apa yang engkau tinggalkan akan melupakanmu, itulah yang akan terjadi… Engkau akan mati sebagaimana orang-orang yang telah engkau lupakan telah mati Dan engkau akan dilupakan, dan yang hidup akan mencintai setelah cintamu… Seolah-olah engkau telah dijauhkan setelah mendekat Kepadamu, dan jika ada yang menangisimu, mereka akan menangisimu… Seolah-olah orang yang menabur tanah atasmu Bermaksud dengan apa yang ditaburkannya atasmu untuk merelakan hatimu… Seolah-olah musibah zaman tidak pernah menimpamu sedetik pun Kepadamu ketika musibah besar datang kepadamu… Engkau melihat bumi betapa banyak di dalamnya orang-orang tergadai yang terkubur Mereka terkunci sehingga tidak ada tebusan yang diterima untuk mereka
Nabi ﷺ bersabda: “Mencaci maki seorang Muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekafiran.” Dan beliau ﷺ bersabda: “Melaknat seorang mukmin seperti membunuhnya.” (HR. Bukhari)
Dalam Shahih Muslim dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda: “Para pelaknat tidak akan menjadi pemberi syafaat dan tidak pula menjadi saksi pada hari kiamat.”
Beliau ﷺ bersabda: “Tidak pantas bagi seorang shiddiq (orang yang sangat jujur) untuk menjadi pelaknat.”
Dalam hadits: “Seorang mukmin itu bukanlah pencela, bukan pelaknat, bukan yang keji, dan bukan yang kasar.” Yang kasar adalah orang yang berbicara dengan perkataan keji dan buruk.
Dari Rasulullah ﷺ beliau bersabda: “Sesungguhnya jika seorang hamba melaknat sesuatu, laknat itu naik ke langit lalu pintu-pintu langit tertutup untuknya, kemudian turun ke bumi lalu pintu-pintunya tertutup untuknya, kemudian ia mengambil arah kanan dan kiri. Jika tidak mendapat jalan masuk, ia kembali kepada orang yang dilaknat jika ia pantas untuk itu, jika tidak maka kembali kepada yang mengucapkannya.”
Nabi ﷺ pernah menghukum seorang wanita yang melaknat untanya dengan merampas unta tersebut darinya. Imran bin Hushain berkata: “Ketika Rasulullah ﷺ dalam suatu perjalanan, seorang wanita Anshar naik unta, lalu unta itu memberontak, maka wanita itu melaknatnya. Rasulullah ﷺ mendengar hal itu lalu bersabda: ‘Ambillah apa yang ada padanya dan biarkanlah untanya, karena ia telah terlaknat.’ Imran berkata: ‘Seolah-olah aku melihatnya sekarang berjalan di antara orang-orang, tidak ada seorang pun yang mempedulikannya.'” (HR. Muslim)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ beliau bersabda: “Sesungguhnya riba yang paling keji adalah seseorang yang memanjangkan lidahnya terhadap kehormatan saudaranya sesama Muslim.”
Dari Amr bin Qais berkata: “Jika seseorang mengendarai hewan tunggangannya, hewan itu berkata: ‘Ya Allah, jadikanlah dia penyayang dan lembut kepadaku.’ Jika dia melaknatnya, hewan itu berkata: ‘Atas durhaka kami kepada Allah dan Rasul-Nya, laknat Allah ‘Azza wa Jalla.'”
PASAL
Tentang Kebolehan Melaknat Pelaku Maksiat yang Tidak Tertentu
Allah Ta’ala berfirman: “Ketahuilah, laknat Allah atas orang-orang yang zalim.” (QS. Hud: 18)
Allah berfirman: “Kemudian kita bermubahalah, maka kita jadikan laknat Allah atas orang-orang yang dusta.” (QS. Ali ‘Imran: 61)
Telah tetap dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda: “Allah melaknat pemakan riba, yang memberikannya, saksinya, dan penulisnya.” Beliau bersabda: “Allah melaknat muhallil (orang yang menikahi wanita dengan tujuan menghalalkannya untuk mantan suaminya) dan yang dihalalkan untuknya.” Beliau bersabda: “Allah melaknat wanita yang menyambung rambut dan yang minta disambungkan rambutnya, yang mentato dan yang minta ditato, yang mencabut bulu alis dan yang minta dicabut bulu alisnya.”
Washilah adalah wanita yang menyambung rambutnya, mustausilah adalah yang rambutnya disambungkan. Namishah adalah yang mencabut bulu dari alis, mutanammishah adalah yang dilakukan hal itu kepadanya.
Beliau ﷺ melaknat ash-shaliqah, al-haliqah, dan asy-syaqqah. Shaliqah adalah wanita yang mengeraskan suaranya ketika musibah, haliqah adalah yang mencukur rambutnya ketika musibah, syaqqah adalah yang merobek pakaiannya ketika musibah.
Beliau ﷺ melaknat para pembuat gambar. Beliau melaknat orang yang mengubah batas-batas tanah. Beliau bersabda: “Allah melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya” dan melaknat orang yang mencaci ibunya.
Dalam Sunan disebutkan bahwa beliau bersabda: “Allah melaknat orang yang menyesatkan orang buta dari jalan, melaknat orang yang mendatangi binatang, melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth, melaknat orang yang mendatangi dukun atau mendatangi istri dari dubur, melaknat wanita peratap dan orang-orang di sekitarnya, melaknat orang yang memimpin shalat suatu kaum sedangkan mereka membencinya, melaknat wanita yang bermalam sedangkan suaminya marah kepadanya, melaknat seorang laki-laki yang mendengar ‘hayya ‘alash-shalah, hayya ‘alal-falah’ kemudian tidak menyahut, melaknat orang yang menyembelih selain untuk Allah, melaknat pencuri, melaknat orang yang mencaci para sahabat, melaknat laki-laki yang banci dan wanita yang menyerupai laki-laki, melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki, melaknat wanita yang memakai pakaian laki-laki dan laki-laki yang memakai pakaian wanita, melaknat orang yang buang air besar di jalan, melaknat wanita yang tidak memakai inai di tangannya dan wanita yang tidak memakai celak mata, melaknat orang yang merusak hubungan istri dengan suaminya atau budak dengan tuannya, melaknat orang yang mendatangi wanita haid atau istri dari dubur, melaknat orang yang menunjuk saudaranya dengan besi, melaknat orang yang menahan zakat, melaknat orang yang menisbatkan diri kepada selain ayahnya atau berpihak kepada selain walinya, melaknat orang yang menandai binatang di wajahnya, melaknat pemberi syafaat dan yang minta syafaat dalam hukuman Allah jika telah sampai kepada hakim, melaknat wanita jika keluar rumah tanpa izin suaminya dan melaknatnya jika tidur meninggalkan tempat tidur suaminya sampai dia kembali, melaknat orang yang meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar jika dia mampu, melaknat pelaku dan yang diperlakukan (dalam homoseksual), melaknat khamar dan peminumnya, penyajinya, yang minta disajikan, penjualnya, pembelinya, pemerasnya, yang minta diperas, pembawanya, yang dibawakan kepadanya, pemakan harganya, dan yang menunjukkan kepadanya.”
Beliau ﷺ bersabda: “Enam orang yang aku laknat, Allah melaknat mereka dan setiap nabi yang dikabulkan doanya: yang mendustakan takdir Allah, yang menambah kitab Allah, yang bertindak sewenang-wenang dengan kesombongannya untuk memuliakan yang dihinakan Allah dan menghinakan yang dimuliakan Allah, yang menghalalkan larangan Allah, yang menghalalkan dari keturunanku apa yang Allah haramkan, yang meninggalkan sunnahku.” Beliau melaknat pezina dengan istri tetangganya, melaknat orang yang onani, melaknat orang yang menikahi ibu dan anaknya, melaknat penyuap dan yang menerima suap dalam hukum dan perantaranya, melaknat orang yang menyembunyikan ilmu, melaknat penimbun, melaknat orang yang mengkhianati seorang Muslim yaitu menelantarkannya dan tidak menolongnya, melaknat pemimpin jika tidak ada belas kasihan padanya, melaknat laki-laki yang membujang yang berkata tidak akan menikah dan wanita yang membujang, melaknat orang yang mengendarai gurun sendirian, melaknat orang yang mendatangi binatang. Kita berlindung kepada Allah dari laknat-Nya dan laknat Rasul-Nya.
PASAL
Ketahuilah bahwa melaknat Muslim yang terpelihara hukumnya haram berdasarkan ijma’ kaum muslimin. Boleh melaknat pemilik sifat-sifat tercela seperti: “Allah melaknat orang-orang zalim, Allah melaknat orang-orang kafir, Allah melaknat Yahudi dan Nasrani, Allah melaknat orang-orang fasik, Allah melaknat para pembuat gambar” dan semacam itu sebagaimana telah disebutkan.
Adapun melaknat seseorang secara khusus dari orang yang memiliki sifat maksiat seperti Yahudi, Nasrani, zalim, pezina, pencuri, atau pemakan riba, maka zhahir hadits-hadits menunjukkan bahwa hal itu tidak haram. Al-Ghazali rahimallahu menyinggung keharamannya kecuali terhadap orang yang kita ketahui mati dalam kekafiran seperti Abu Lahab, Abu Jahal, Fir’aun, Haman dan sejenisnya. Beliau berkata bahwa laknat adalah pengusiran dari rahmat Allah, dan kita tidak tahu bagaimana akhir orang fasik dan kafir ini.
Adapun orang-orang yang dilaknat Rasulullah ﷺ secara khusus seperti sabdanya: “Ya Allah, laknatlah Ra’l, Dzakwan, dan ‘Ushayyah yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya” – ini tiga suku Arab – maka boleh jadi beliau ﷺ mengetahui kematian mereka dalam kekafiran.
Beliau berkata: Yang mendekati laknat adalah mendoakan keburukan kepada manusia, bahkan mendoakan orang zalim seperti perkataan: “Semoga Allah tidak menyehatkan tubuhnya dan tidak menyelamatkannya” dan yang semacamnya. Semua itu tercela. Demikian juga melaknat seluruh hewan dan benda mati, semua ini tercela.
Sebagian ulama berkata: Barangsiapa melaknat orang yang tidak pantas dilaknat hendaknya segera berkata: “Kecuali jika dia tidak pantas.”
PASAL
Boleh bagi yang menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran serta setiap pendidik untuk berkata kepada orang yang diajak bicara dalam hal itu: “Celakalah kamu” atau “Wahai orang yang lemah keadaannya” atau “Wahai orang yang kurang memperhatikan dirinya” atau “Wahai orang yang menzalimi dirinya” atau yang semacam itu, dengan syarat tidak melampaui batas kepada dusta dan tidak mengandung kata-kata qadzaf (tuduhan zina) secara sharih atau kinayah atau ta’ridh walaupun benar dalam hal itu. Hanya boleh apa yang telah kami sebutkan dan tujuannya adalah untuk mendidik dan mencegah serta agar perkataan itu lebih berkesan di hati. Wallahu a’lam.
Ya Allah, sucikanlah hati kami dari keterikatan kepada selain-Mu, jadikanlah kami dari kaum yang Engkau cintai dan mereka mencintai-Mu, ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum muslimin.
NASIHAT
Wahai orang yang sedikit bekalnya sedangkan jalan masih jauh! Wahai orang yang menghadap kepada yang membahayakan, meninggalkan yang bermanfaat! Apakah menurutmu perkara yang benar itu tersembunyi bagimu? Sampai kapan engkau menyia-nyiakan waktu padahal ia dihitung oleh malaikat pengawas dan pencatat?
Kemarin telah berlalu sebagai saksi yang adil Dan diiringi hari yang menjadi saksi atasmu… Jika kemarin engkau melakukan keburukan Maka segeralah berbuat baik selagi engkau terpuji… Jangan menunda kebaikan sampai besok Karena bisa saja besok datang sedangkan engkau telah tiada… Jika kematian meleset darimu dan menimpa Orang yang engkau kasihi, ketahuilah bahwa ia akan kembali
DOSA BESAR KE-45: BERKHIANAT DAN TIDAK MENEPATI JANJI
Allah Ta’ala berfirman: “Dan tepatilah janji; sesungguhnya janji itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra’: 34)
Az-Zajjaj berkata: Segala sesuatu yang Allah perintahkan atau larang termasuk dalam janji.
Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu.” (QS. Al-Maidah: 1)
Al-Wahidi berkata: Ibnu Abbas dalam riwayat Al-Walabi berkata tentang “al-‘uqud” yaitu apa yang Allah halalkan dan haramkan, wajibkan dan batasi dalam Al-Quran. Adh-Dhahhak berkata: Dengan janji-janji yang Allah ambil dari umat ini agar mereka penuhi dari apa yang Allah halalkan, haramkan, wajibkan berupa shalat dan kewajiban-kewajiban lainnya.
Demikian juga al-‘uqud jamak dari ‘ahd, akad bermakna yang diikat yaitu yang Allah tetapkan atas kita, maka Allah telah menetapkan hal itu dan tidak ada jalan untuk membatalkannya sama sekali.
Muqatil bin Hayyan berkata: “Penuhilah akad-akad” yang Allah janjikan kepada kalian dalam Al-Quran dari apa yang diperintahkan-Nya berupa ketaatan-Nya agar kalian amalkan dan larangan-Nya yang dilarang-Nya untuk kalian, dan dengan janji-janji antara kalian dengan orang-orang musyrik dan dalam hal-hal yang terjadi dari janji antara manusia. Wallahu a’lam.
Nabi ﷺ bersabda: “Empat perkara, barangsiapa memilikinya maka dia munafik murni, dan barangsiapa memiliki satu sifat dari keempat sifat itu maka padanya ada sifat kemunafikan sampai dia meninggalkannya: Jika berkata dia berdusta, jika diberi amanah dia berkhianat, jika berjanji dia ingkar, dan jika bertengkar dia berbuat jahat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap pengkhianat akan memiliki bendera pada hari kiamat yang dikatakan: Ini pengkhianatan si fulan bin fulan.”
Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Tiga orang yang Aku menjadi lawan mereka pada hari kiamat: seorang laki-laki yang memberikan (janji) dengan nama-Ku kemudian berkhianat, seorang laki-laki yang menjual orang merdeka lalu memakan harganya, dan seorang laki-laki yang mempekerjakan pekerja lalu mengambil sempurna pekerjaannya tetapi tidak memberikan upahnya.” (HR. Bukhari)
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa melepaskan tangannya dari ketaatan akan bertemu Allah pada hari kiamat tanpa hujjah untuknya, dan barangsiapa mati sedangkan tidak ada baiat di lehernya maka dia mati seperti matinya jahiliah.” (HR. Muslim)
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan surga hendaklah kematiannya datang sedangkan dia beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hendaklah dia berbuat kepada manusia sebagaimana dia ingin diperlakukan. Barangsiapa membaiat imam lalu memberikan jabatan tangannya dan buah hatinya hendaklah dia menaatinya jika mampu. Jika datang orang lain yang menandinginya maka penggallah leher yang lain itu.”
DOSA BESAR KE-46: MEMBENARKAN DUKUN DAN PERAMAL
Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra’: 36)
Al-Wahidi dalam tafsir firman Allah Ta’ala “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya” – Al-Kalbi berkata: Jangan katakan apa yang tidak kamu ketahui. Qatadah berkata: Jangan katakan aku mendengar padahal tidak mendengar, aku melihat padahal tidak melihat, aku tahu padahal tidak tahu. Maknanya: Jangan katakan sesuatu dengan apa yang tidak kamu ketahui. “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”
Al-Walabi dari Ibnu Abbas berkata: Allah akan bertanya kepada hamba-hamba tentang apa yang mereka gunakan untuk itu. Dalam hal ini terdapat larangan melihat yang tidak halal, mendengarkan yang haram, dan menginginkan yang tidak boleh. Wallahu a’lam.
Allah Ta’ala berfirman: “(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya.” (QS. Al-Jin: 26-27)
Ibnu Al-Jauzi berkata: Yang mengetahui ghaib adalah Allah ‘Azza wa Jalla sendiri, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya. “Maka Dia tidak memperlihatkan” yaitu tidak memberitahukan tentang ghaib-Nya yang tidak diketahui seorang pun dari manusia “kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya” karena dalil atas kebenaran para rasul adalah pemberitahuan mereka tentang ghaib. Maknanya bahwa orang yang diridhai-Nya untuk kerasulan, Allah memberitahukan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya dari ghaib. Dalam hal ini terdapat dalil bahwa barangsiapa mengklaim bahwa bintang-bintang menunjukkan ghaib maka dia kafir. Wallahu a’lam.
Bagian Pertama: Tentang Dukun dan Peramal
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mendatangi peramal atau dukun lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka sungguh dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Dan kami riwayatkan dalam Shahihain dari Zaid bin Khalid al-Juhani radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Subuh bersama kami setelah hujan pada malam hari. Ketika selesai, beliau menghadap kepada orang-orang dan berkata: “Tahukah kalian apa yang dikatakan Tuhan kalian?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau berkata: “Pada pagi ini, sebagian hamba-Ku beriman kepada-Ku dan sebagian lagi kafir. Adapun yang berkata: ‘Kita diberi hujan karena karunia Allah dan rahmat-Nya’, maka dia beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang. Sedangkan yang berkata: ‘Kita diberi hujan karena bintang ini dan itu’, maka dia kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang.”
Para ulama berkata: Jika seorang Muslim berkata “Kita diberi hujan karena bintang ini dan itu” dengan maksud bahwa bintang itulah yang menciptakan, melakukan, dan menimbulkan hujan, maka dia menjadi kafir dan murtad tanpa keraguan. Namun jika dia berkata dengan maksud bahwa bintang tersebut adalah tanda turunnya hujan, dan hujan turun pada saat tanda tersebut, sedangkan turunnya hujan adalah karena perbuatan Allah yang menciptakannya, maka dia tidak kafir. Para ulama berbeda pendapat tentang kemakruhannya, dan yang dipilih adalah bahwa hal itu makruh karena merupakan perkataan orang-orang kafir, dan ini jelas dari hadits tersebut.
Kata “fi atsar sama'” dalam hadits ini, “sama'” berarti hujan. Wallahu a’lam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mendatangi peramal lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari.” (HR. Muslim)
Dari Aisyah radhiyallahu anha, dia berkata: Beberapa orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dukun. Beliau berkata: “Mereka tidak ada apa-apanya.” Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, bukankah mereka pernah berkata begini dan begitu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Itu adalah satu kalimat kebenaran yang didengar jin, lalu dia bisikkan ke telinga temannya, kemudian dicampur dengan seratus kebohongan.” (HR. Bukhari Muslim)
Dari Aisyah radhiyallahu anha, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sesungguhnya malaikat turun di awan dan membicarakan perkara yang telah ditetapkan di langit. Setan mencuri pendengaran dan mendengarnya, lalu mewahyukan kepada dukun, kemudian mereka menambahkan seratus kebohongan dari diri mereka sendiri.” (HR. Bukhari)
Dari Qabisah bin Abi al-Mukhariq radhiyallahu anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Ramalan, keyakinan buruk terhadap burung, dan meramal dari jejak adalah termasuk jibt (sihir).” (HR. Abu Dawud)
Abu Dawud berkata: “Ath-thuruq” adalah mengusir burung, yaitu menganggap baik atau buruk dari terbangnya burung. Jika burung terbang ke arah kanan, dia menganggapnya baik, dan jika terbang ke arah kiri, dia menganggapnya buruk.
Abu Dawud berkata: “Al-‘iyafah” adalah garis-garis (ramalan). Al-Jauhari berkata: “Al-jibt” adalah kata yang menunjuk kepada berhala, dukun, penyihir, dan sejenisnya.
Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mempelajari satu cabang ilmu perbintangan, maka dia telah mempelajari satu cabang sihir. Semakin banyak dia mempelajarinya, semakin banyak pula dosanya.”
Ali bin Abi Thalib berkata: “Dukun adalah penyihir, dan penyihir adalah kafir.” Maka kita memohon kepada Allah keselamatan dan perlindungan di dunia dan akhirat.
Nasihat
Wahai hamba-hamba Allah, renungkanlah tentang pendahulu-pendahulu kalian sebelum kehancuran kalian, dan perhatikanlah urusan-urusan kalian sebelum datangnya kubur kalian. Bersiap-siaplah untuk kepergian sebelum terlewatkan kesempatan untuk berubah. Di mana para raja dan saudara-saudara? Di mana orang-orang yang membangun istana? Mereka telah pergi, demi Allah, dari tanah air mereka, dan kain kafan mereka telah terkoyak di dalam kubur. Pemberi peringatan mereka telah menyeru kepada ahli ma’rifah: “Semua yang ada di atas bumi akan binasa.” Keadaan mereka telah berubah-ubah, dan malam-malam telah mempermainkan mereka di tangan-tangannya. Mereka sibuk dari anak-anak dan harta benda, dan kekasih-kekasih mereka melupakan mereka setelah beberapa malam. Mereka memeluk tanah dan berpisah dari harta benda. Seandainya salah seorang dari mereka diizinkan berbicara, dia akan berkata:
“Barangsiapa melihat kami, hendaklah dia mengingatkan dirinya Bahwa dia berdiri di pinggir kehancuran… Dan perubahan zaman tidak akan bertahan Dan apa yang datang dengannya akan menghancurkan gunung-gunung yang kokoh… Betapa banyak rombongan yang telah singgah di sekitar kami Minum khamar dengan air yang jernih… Dan teko-teko dibawa kepada mereka Dan kuda-kuda pilihan berlari dengan keagungan… Mereka hidup lama dalam kehidupan yang menyenangkan Zaman mereka putih tanpa halangan… Kemudian mereka menjadi permainan zaman Dan begitulah zaman membinasakan para laki-laki.”
DOSA BESAR KE-47: DURHAKA ISTRI KEPADA SUAMINYA
Allah Ta’ala berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 34: “Dan wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”
Al-Wahidi rahimahullah ta’ala berkata: “Nusyuz di sini adalah durhaka kepada suami, yaitu meninggikan diri terhadapnya dengan menyelisihi.” Atha berkata: “Yaitu dia berhias untuk suaminya namun menolak dirinya, dan berubah dari apa yang biasa dilakukannya berupa ketaatan.” Maka nasehatilah mereka dengan Kitab Allah dan ingatkan mereka tentang apa yang Allah perintahkan kepada mereka. Dan pisahkanlah mereka di tempat tidur. Ibnu Abbas berkata: “Yaitu membelakangi mereka di atas ranjang dan tidak mengajak bicara.” As-Sya’bi dan Mujahid berkata: “Yaitu meninggalkan tidur bersama mereka, tidak berbaring bersamanya.” Dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Ibnu Abbas berkata: “Sebagai pelajaran seperti sentilan.” Suami boleh memperbaiki nusyuz istrinya dengan apa yang Allah izinkan kepadanya sebagaimana disebutkan Allah dalam ayat ini. “Kemudian jika mereka mentaatimu” dalam apa yang diminta dari mereka, “maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka.” Ibnu Abbas berkata: “Janganlah kalian mencari-cari kesalahan mereka.”
Dalam Shahihain bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila seorang laki-laki mengajak istrinya ke ranjangnya lalu dia tidak datang, maka malaikat melaknatnya hingga pagi.” Dalam lafaz lain: “Maka dia bermalam dalam keadaan suaminya marah kepadanya, malaikat melaknatnya hingga pagi.”
Lafaz Shahihain juga: “Apabila seorang wanita bermalam meninggalkan ranjang suaminya dan menolaknya, maka yang di langit murka kepadanya hingga suaminya ridha kepadanya.”
Dari Jabir radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tiga orang yang Allah tidak menerima shalat mereka dan tidak mengangkat kebaikan mereka ke langit: budak yang melarikan diri hingga dia kembali kepada tuannya dan meletakkan tangannya di tangan mereka, wanita yang dimurkai suaminya hingga suaminya ridha kepadanya, dan orang mabuk hingga dia sadar.”
Dari Al-Hasan, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku orang yang mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Yang pertama kali ditanyakan kepada wanita pada hari kiamat adalah tentang shalatnya dan tentang suaminya.”
Dalam hadits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berpuasa sedangkan suaminya hadir kecuali dengan izinnya, dan tidak boleh mengizinkan seseorang masuk ke rumahnya kecuali dengan izinnya.” (HR. Bukhari)
Maksud “syahid” adalah hadir, tidak bepergian. Itu dalam puasa sunnah, maka dia tidak boleh berpuasa hingga meminta izin kepadanya karena wajibnya hak suami dan ketaatan kepadanya.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seandainya aku memerintahkan seseorang untuk sujud kepada seseorang, niscaya aku akan memerintahkan wanita untuk sujud kepada suaminya.” (HR. Tirmidzi)
Bibi Hushain bin Muhshan berkata dan menyebutkan suaminya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau berkata: “Perhatikanlah bagaimana sikapmu kepadanya, karena dia adalah surga dan nerakamu.” (HR. Nasa’i)
Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu anhuma, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah tidak melihat kepada wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya sedangkan dia tidak bisa hidup tanpanya.”
Datang dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Apabila wanita keluar dari rumah suaminya, maka malaikat melaknatnya hingga dia kembali atau bertaubat.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wanita mana pun yang meninggal dalam keadaan suaminya ridha kepadanya, maka dia masuk surga.”
Maka wajib atas wanita untuk mencari keridhaan suaminya dan menjauhi kemurkaan suaminya. Dia tidak boleh menolak suaminya ketika suaminya menginginkannya karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apabila seorang laki-laki mengajak istrinya ke ranjangnya, maka hendaklah dia datang walaupun dia sedang di atas tungku.”
Para ulama berkata: Kecuali jika dia memiliki uzur berupa haid atau nifas, maka tidak halal baginya untuk mendatanginya dan tidak halal pula bagi laki-laki untuk meminta hal tersebut darinya dalam keadaan haid dan nifas, dan tidak boleh menggaulinya hingga dia mandi karena firman Allah Ta’ala dalam Surah Al-Baqarah ayat 222: “Maka jauhilah wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci.” Maksudnya: janganlah kalian mendekati persetubuhan mereka hingga mereka suci.
Ibnu Qutaibah berkata: “Yathurna” artinya berhenti darahnya dari mereka. Apabila “tatahharna” artinya mereka telah mandi dengan air. Wallahu a’lam.
Karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah lewat: “Barangsiapa mendatangi wanita haid atau wanita dari duburnya, maka dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.”
Dalam hadits lain: “Terlaknat orang yang mendatangi wanita haid atau wanita di duburnya.”
Nifas sama seperti haid hingga empat puluh hari. Maka tidak halal bagi wanita untuk menaati suaminya jika suaminya ingin mendatanginya dalam keadaan haid dan nifas, dan dia harus menaatinya dalam selain itu.
Wanita hendaknya mengetahui bahwa dia seperti hamba sahaya bagi suami. Maka dia tidak boleh bertindak terhadap dirinya dan hartanya kecuali dengan izin suami. Dia harus mendahulukan hak suami atas haknya, dan hak keluarga suami atas hak keluarganya. Dia harus bersiap untuk kenikmatan suami dengannya dengan segala sebab kebersihan. Dia tidak boleh sombong kepadanya dengan kecantikannya dan tidak mencela suami dengan keburukan jika ada padanya.
Al-Asma’i berkata: Aku masuk ke padang pasir dan melihat wanita cantik yang memiliki suami jelek. Aku berkata kepadanya: “Bagaimana kamu rela untuk dirimu berada di bawah orang seperti ini?” Dia berkata: “Dengarlah wahai orang ini! Mungkin dia berbuat baik dalam hubungannya dengan Allah Penciptanya, maka Allah menjadikan aku sebagai pahalanya. Dan mungkin aku berbuat buruk, maka Allah menjadikannya sebagai hukumanku.”
Aisyah radhiyallahu anha berkata: “Wahai para wanita, seandainya kalian mengetahui hak suami-suami kalian atas kalian, niscaya seorang wanita di antara kalian akan menyapu debu dari kaki suaminya dengan pipinya.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wanita-wanita kalian yang termasuk ahli surga adalah yang penyayang, yang apabila dia disakiti atau menyakiti, dia mendatangi suaminya hingga meletakkan tangannya di telapak tangan suami dan berkata: ‘Aku tidak akan tidur hingga kamu ridha.'”
Wajib pula atas wanita untuk senantiasa malu kepada suaminya, menundukkan pandangan di hadapannya, taat kepada perintahnya, diam ketika suami berbicara, berdiri ketika suami datang, menjauhi semua yang membuatnya murka, berdiri bersamanya ketika dia keluar, menawarkan dirinya kepadanya ketika dia tidur, tidak berkhianat kepadanya ketika dia tidak ada dalam hal ranjang, harta, dan rumahnya, harum bau badannya, memelihara mulut dengan siwak, misk, dan wangi-wangian, senantiasa berhias di hadapannya dan meninggalkannya ketika dia tidak ada, memuliakan keluarga dan kerabatnya, dan melihat yang sedikit darinya sebagai banyak.
Fasal: Keutamaan Wanita yang Taat kepada Suaminya dan Beratnya Azab yang Durhaka
Wanita yang takut kepada Allah Ta’ala hendaknya bersungguh-sungguh untuk taat kepada Allah dan taat kepada suaminya, serta mencari keridhaan suami dengan sekuat tenaganya, karena suami adalah surga dan nerakanya berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wanita mana pun yang meninggal dalam keadaan suaminya ridha kepadanya, maka dia masuk surga.”
Dalam hadits juga: “Apabila wanita mengerjakan shalat lima waktunya, puasa sebulannya, dan taat kepada suaminya, maka silakan masuk dari pintu surga mana pun yang dia kehendaki.”
Diriwayatkan dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Burung di udara, ikan di air, malaikat di langit, matahari dan bulan memintakan ampunan untuk wanita yang taat kepada suaminya selama dia dalam keridhaan suaminya. Dan wanita mana pun yang durhaka kepada suaminya, maka atasnya laknat Allah, malaikat, dan semua manusia. Dan wanita mana pun yang cemberut di hadapan suaminya, maka dia dalam kemurkaan Allah hingga dia tersenyum kepadanya dan meminta keridhaan darinya. Dan wanita mana pun yang keluar dari rumahnya tanpa izin suaminya, maka malaikat melaknatnya hingga dia kembali.”
Datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga, beliau berkata: “Empat wanita di surga dan empat di neraka. Adapun empat yang di surga: wanita yang suci, taat kepada Allah dan suaminya, banyak anak, sabar, qana’ah dengan yang sedikit bersama suaminya, memiliki rasa malu. Jika suaminya tidak ada, dia menjaga dirinya dan hartanya. Jika suaminya hadir, dia menahan lidahnya darinya. Yang keempat: wanita yang ditinggal mati suaminya dan memiliki anak-anak kecil, lalu dia menahan diri untuk anak-anaknya, mendidik mereka, berbuat baik kepada mereka, dan tidak menikah karena khawatir anak-anaknya terlantar.”
“Adapun empat wanita yang di neraka: wanita yang kasar lisannya kepada suaminya, yaitu panjang lidah kepada suaminya, keji perkataannya. Jika suaminya tidak ada, dia tidak menjaga dirinya. Jika suaminya hadir, dia menyakitinya dengan lidahnya. Yang kedua: wanita yang membebani suaminya dengan apa yang tidak mampu dia lakukan. Yang ketiga: wanita yang tidak menutupi dirinya dari laki-laki dan keluar dari rumahnya dengan bersolek. Yang keempat: wanita yang tidak memiliki perhatian kecuali makan, minum, dan tidur, tidak memiliki keinginan untuk shalat, tidak untuk taat kepada Allah, tidak untuk taat kepada Rasul-Nya, dan tidak untuk taat kepada suaminya.”
Maka wanita jika memiliki sifat-sifat ini dan keluar dari rumahnya tanpa izin suaminya, dia adalah wanita terlaknat dari ahli neraka kecuali jika bertaubat kepada Allah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku mengintip ke dalam neraka dan melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita-wanita, dan itu karena sedikitnya ketaatan mereka kepada Allah, Rasul-Nya, dan suami-suami mereka, serta banyaknya tabarruj (bersolek) mereka.”
Tabarruj adalah ketika dia ingin keluar, dia memakai pakaian terbagusnya, berhias, mempercantik diri, dan keluar memesona orang dengan dirinya. Jika dia selamat dengan dirinya, orang-orang tidak selamat darinya. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wanita adalah aurat, apabila dia keluar dari rumahnya, setan memperhatikannya. Dan wanita paling dekat kepada Allah adalah ketika dia berada di rumahnya.”
Dalam hadits juga: “Wanita adalah aurat, maka tahanlah mereka di rumah-rumah. Sesungguhnya wanita apabila keluar ke jalan, keluarganya berkata kepadanya: ‘Mau ke mana?’ Dia berkata: ‘Aku akan menjenguk orang sakit, mengantar jenazah.’ Setan terus menggodanya hingga dia keluar dari rumahnya. Dan wanita tidak mencari keridhaan Allah dengan sesuatu seperti duduk di rumahnya, menyembah Tuhannya, dan menaati suaminya.”
Ali radhiyallahu anhu berkata kepada istrinya Fatimah radhiyallahu anha: “Wahai Fatimah, apa yang terbaik bagi wanita?” Dia berkata: “Agar dia tidak melihat laki-laki dan laki-laki tidak melihatnya.”
Ali radhiyallahu anhu biasa berkata: “Tidakkah kalian malu? Tidakkah kalian cemburu? Salah seorang di antara kalian membiarkan istrinya keluar di antara laki-laki, dia melihat kepada mereka dan mereka melihat kepadanya.”
Suatu hari Aisyah dan Hafshah radhiyallahu anhuma duduk di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu masuk Ibnu Ummi Maktum yang buta. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Berhijablah dari dia.” Keduanya berkata: “Wahai Rasulullah, bukankah dia buta, tidak melihat kami dan tidak mengenal kami?” Beliau bersabda: “Apakah kalian berdua buta? Bukankah kalian melihatnya?”
Sebagaimana laki-laki hendaknya menundukkan pandangannya dari wanita, demikian juga wanita hendaknya menundukkan pandangannya dari laki-laki sebagaimana telah lewat dari perkataan Fatimah radhiyallahu anha bahwa kebaikan wanita adalah tidak melihat laki-laki dan laki-laki tidak melihatnya.
Jika dia terpaksa keluar untuk mengunjungi orang tuanya, kerabatnya, untuk ke pemandian, dan semacamnya yang dia butuhkan, maka hendaklah dia keluar dengan izin suaminya tanpa bersolek dengan kain lusuh dengan pakaian rumahnya, menundukkan pandangan dalam berjalan, melihat ke tanah, tidak ke kanan dan tidak ke kiri. Jika dia tidak melakukan itu, maka dia bermaksiat.
Diceritakan bahwa ada seorang wanita yang termasuk yang suka bersolek di dunia dan biasa keluar dari rumahnya dengan bersolek. Dia meninggal, lalu sebagian keluarganya melihatnya dalam mimpi dan dia telah dihadapkan kepada Allah Azza wa Jalla dengan pakaian tipis. Angin bertiup dan membukakannya, maka Allah berpaling darinya dan berkata: “Bawa dia ke sebelah kiri menuju neraka, karena dia termasuk yang suka bersolek di dunia.”
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata: Aku masuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Fatimah radhiyallahu anha dan kami mendapati beliau menangis dengan keras. Aku berkata kepada beliau: “Fida bapak dan ibuku wahai Rasulullah, apa yang membuatmu menangis?” Beliau berkata: “Wahai Ali, pada malam aku diisra’ ke langit, aku melihat wanita-wanita dari umatku disiksa dengan berbagai jenis siksaan. Aku menangis karena apa yang aku lihat dari beratnya siksaan mereka. Aku melihat seorang wanita digantung pada rambutnya, otaknya mendidih. Aku melihat seorang wanita digantung pada lidahnya dan air mendidih dituangkan ke tenggorokannya. Aku melihat seorang wanita kakinya diikat ke dadanya dan tangannya ke ubun-ubunnya. Aku melihat seorang wanita digantung pada payudaranya. Aku melihat seorang wanita kepalanya kepala babi dan badannya badan keledai dengan sejuta jenis siksaan. Aku melihat seorang wanita dalam bentuk anjing dengan api masuk dari mulutnya dan keluar dari duburnya, dan malaikat memukul kepalanya dengan pemukul dari api.”
Maka berdirilah Fatimah radhiyallahu anha dan berkata: “Kekasihku dan penyejuk mataku, apa perbuatan mereka hingga siksaan ditimpakan kepada mereka?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Wahai anakku, adapun yang digantung pada rambutnya, dia dahulu tidak menutupi rambutnya dari laki-laki. Adapun yang digantung pada lidahnya, dia dahulu menyakiti suaminya. Adapun yang digantung pada payudaranya, dia dahulu merusak ranjang suaminya. Adapun yang kakinya diikat ke dadanya dan tangannya ke ubun-ubunnya dan ular serta kalajengking disiksa kepadanya, dia dahulu tidak membersihkan badannya dari junub dan haid dan mengejek shalat. Adapun yang kepalanya kepala babi dan badannya badan keledai, dia dahulu pengadu domba dan pendusta. Adapun yang dalam bentuk anjing dengan api masuk dari mulutnya dan keluar dari duburnya, dia dahulu suka menyombongkan pemberian dan hasud.”
Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang wanita menyakiti suaminya di dunia kecuali istrinya dari bidadari berkata: ‘Jangan sakiti dia, semoga Allah membunuhmu.’ Dan betapa jelasnya kecelakaan bagi wanita yang durhaka kepada suaminya.”
Pasal
Ketika seorang perempuan diperintahkan untuk taat kepada suaminya dan mengupayakan keridhaannya, maka suami juga diperintahkan untuk berbuat baik kepadanya, berlaku lemah lembut padanya, bersabar atas perilaku buruk dan hal-hal lain yang muncul darinya, serta memberikan haknya berupa nafkah, pakaian, dan pergaulan yang baik. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: {Dan pergaulilah mereka dengan cara yang ma’ruf} (QS. An-Nisa: 19).
Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Berbuat baiklah kepada para perempuan. Ketahuilah bahwa kalian memiliki hak atas istri-istri kalian, dan istri-istri kalian memiliki hak atas kalian. Hak mereka atas kalian adalah kalian berbuat baik kepada mereka dalam hal pakaian dan makanan mereka. Sedangkan hak kalian atas mereka adalah agar mereka tidak mempersilakan orang yang kalian benci untuk menginjakkan kaki di tempat tidur kalian dan tidak mengizinkan orang yang kalian benci masuk ke rumah-rumah kalian.”
Dan sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam: “tawanan”, yaitu para tawanan, jamak dari ‘aniyah yaitu perempuan tawanan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan perempuan dalam kedudukannya di bawah kekuasaan laki-laki dengan seorang tawanan.
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya.” Dalam riwayat lain: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling lemah lembut terhadap keluarganya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat lemah lembut terhadap para perempuan.
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa saja laki-laki yang bersabar atas akhlak buruk istrinya, Allah akan memberikan pahala kepadanya seperti pahala yang Allah berikan kepada Ayyub ‘alaihissalam atas ujiannya. Dan siapa saja perempuan yang bersabar atas akhlak buruk suaminya, Allah akan memberikan pahala kepadanya seperti pahala yang Allah berikan kepada Asiyah binti Muzahim, istri Fir’aun.”
Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Umar radhiyallahu ‘anhu untuk mengadukan akhlak istrinya. Dia berdiri di depan pintu Umar menunggu keluarnya Umar. Kemudian dia mendengar istri Umar membentak-bentaknya dengan lidahnya dan bertengkar dengannya, sedangkan Umar diam tidak membalasnya. Maka pergilah laki-laki itu dan berkata: “Jika ini keadaan Umar dengan ketegasan dan kekerasannya, dan dia adalah Amirul Mukminin, bagaimana keadaanku?”
Kemudian Umar keluar dan melihatnya pergi dari pintunya, lalu memanggilnya dan berkata: “Apa keperluanmu, wahai saudaraku?” Dia berkata: “Wahai Amirul Mukminin, aku datang untuk mengadukan akhlak buruk istriku dan sikap berlebihannya kepadaku. Lalu aku mendengar istrimu seperti itu juga, maka aku kembali dan berkata: ‘Jika ini keadaan Amirul Mukminin dengan istrinya, bagimana keadaanku?'”
Umar berkata: “Wahai saudaraku, aku bersabar padanya karena hak-hak yang dia miliki atasku. Dia memasak makananku, memanggang rotiku, mencuci pakaianku, menyusui anakku, dan semua itu bukanlah kewajiban atasnya. Hatiku menjadi tenang bersamanya dari yang haram. Maka aku bersabar padanya karena hal itu.” Laki-laki itu berkata: “Wahai Amirul Mukminin, istriku juga demikian.” Umar berkata: “Maka bersabarlah wahai saudaraku, karena itu hanya masa yang sebentar.”
Diceritakan bahwa salah seorang orang shalih memiliki saudara fi lillah dari kalangan orang-orang shalih yang mengunjunginya setiap tahun sekali. Dia datang untuk mengunjunginya lalu mengetuk pintu. Istrinya berkata: “Siapa?” Dia berkata: “Saudara suamimu fi lillah, aku datang untuk mengunjunginya.” Dia berkata: “Dia pergi mencari kayu bakar, semoga Allah tidak mengembalikannya dengan selamat,” dan dia terus mencacinya.
Sementara dia berdiri di pintu, tiba-tiba saudaranya datang dari arah gunung sambil membawa ikatan kayu bakar di punggung seekor singa, dan dia menggiringnya di depannya. Dia datang lalu memberi salam kepada saudaranya, menyambutnya dengan ramah, masuk ke rumah sambil membawa kayu bakar, dan berkata kepada singa: “Pergilah, barakallahu fiik.” Kemudian dia memasukkan saudaranya, sementara perempuan itu masih mencaci maki dan berkata-kata dengan lidahnya, sedangkan suaminya tidak membalasnya. Dia makan bersama saudaranya, lalu berpamitan dan pergi sambil heran dengan kesabaran saudaranya terhadap perempuan itu.
Ketika tahun kedua, saudaranya datang mengunjunginya seperti biasa, lalu mengetuk pintu. Istrinya berkata: “Siapa yang mengetuk pintu?” Dia berkata: “Saudara suamimu si fulan fi lillah.” Dia berkata: “Selamat datang, silakan duduk, dia akan datang insya Allah dengan kebaikan dan keselamatan.” Dia heran dengan kelembutan kata-katanya dan adabnya. Ketika saudaranya datang sambil membawa kayu bakar di punggungnya, dia juga heran dengan hal itu. Dia datang lalu memberi salam kepadanya, masuk rumah dan memasukkannya. Perempuan itu menyiapkan makanan untuk mereka berdua dan mendoakan mereka dengan kata-kata yang lemah lembut.
Ketika dia hendak berpisah dengannya, dia berkata: “Wahai saudaraku, kabarkanlah kepadaku tentang apa yang ingin kutanyakan kepadamu.” Dia berkata: “Apa itu wahai saudaraku?” Dia berkata: “Tahun lalu aku datang kepadamu dan mendengar kata-kata perempuan yang kasar lidahnya, kurang adab, banyak mencaci, dan aku melihatmu datang dari arah gunung dengan kayu bakar di punggung singa yang tunduk di hadapanmu. Tahun ini aku melihat kata-kata perempuan itu lemah lembut, tidak mencaci, dan aku melihatmu datang dengan kayu bakar di punggungmu. Apa sebabnya?”
Dia berkata: “Wahai saudaraku, perempuan yang galak itu telah meninggal dunia. Aku bersabar atas akhlaknya dan apa yang muncul darinya. Aku bersamanya dalam kesulitan dan aku menahannya. Maka Allah menundukkan untukku singa yang kamu lihat membawa kayu bakar untukku karena kesabaranku padanya dan kesungguhanku menahannya. Ketika dia meninggal, aku menikahi perempuan shalihah ini dan aku dalam kenyamanan bersamanya, maka singa itu terputus dariku dan aku perlu membawa kayu bakar di punggungku karena kenyamananku bersama perempuan yang diberkahi dan taat ini. Maka kami memohon kepada Allah agar memberikan kami kesabaran atas apa yang Dia cintai dan ridhai. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.”
DOSA BESAR KE-48: MEMBUAT GAMBAR
Membuat gambar pada pakaian, dinding, batu, uang dirham, dan segala sesuatu yang lain, baik itu terbuat dari lilin, adonan, besi, tembaga, wol, atau selainnya, serta perintah untuk merusaknya.
Allah Ta’ala berfirman: {Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknat mereka di dunia dan di akhirat, dan menyediakan bagi mereka azab yang menghinakan} (QS. Al-Ahzab: 57). Ikrimah berkata: “Mereka adalah orang-orang yang membuat gambar.”
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang membuat gambar akan disiksa pada hari kiamat. Dikatakan kepada mereka: ‘Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan.'” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari bepergian, dan aku telah menutup ruang kecilku dengan tirai yang bergambar patung. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, wajahnya berubah dan berkata: “Wahai Aisyah, orang yang paling keras siksaannya pada hari kiamat adalah mereka yang menyerupai ciptaan Allah Azza wa Jalla.” Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Maka aku memotongnya dan menjadikannya dua buah bantal.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Al-qiram dengan kasrah qaf adalah tirai, dan as-sahwah seperti serambi yang berada di depan rumah.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Setiap pembuat gambar di neraka. Dijadikan baginya dari setiap gambar yang dia buat satu jiwa yang disiksa di neraka jahannam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan dari beliau radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Barangsiapa membuat gambar di dunia, dia akan dibebani untuk meniupkan ruh padanya pada hari kiamat, dan dia tidak akan dapat meniupkannya selamanya.”
Dan dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau berkata: “Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Siapa yang lebih zalim daripada orang yang berusaha mencipta seperti ciptaan-Ku? Maka hendaklah mereka mencipta sebutir biji, atau hendaklah mereka mencipta sebutir gandum, atau hendaklah mereka mencipta sebutir debu.'” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Keluar leher dari neraka pada hari kiamat dan berkata: ‘Aku ditugaskan atas tiga golongan: setiap orang yang menyeru tuhan lain bersama Allah, setiap orang yang sombong dan durhaka, dan para pembuat gambar.'”
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Malaikat tidak masuk rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam Sunan Abu Dawud dari Ali bin Abi Thalib, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Malaikat tidak masuk rumah yang di dalamnya ada anjing, gambar, dan orang junub.”
Al-Khattabi rahimahullah Ta’ala berkata: Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam “Malaikat tidak masuk rumah yang di dalamnya ada anjing, gambar, dan orang junub” maksudnya adalah malaikat yang turun dengan rahmat dan berkah, bukan malaikat yang menjaga, karena mereka tidak berpisah dari orang junub maupun selainnya.
Ada yang berkata bahwa yang dimaksud bukanlah orang junub yang terkena junub lalu menunda mandi hingga waktu shalat tiba, tetapi orang yang junub dan tidak mandi, menyepelekan mandi dan menjadikannya kebiasaan. Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkeliling pada istri-istrinya dengan satu kali mandi, dan dalam hal ini ada penundaan mandi dari awal waktu wajibnya.
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur dalam keadaan junub dan tidak menyentuh air.
Adapun anjing, yang dimaksud adalah memelihara anjing bukan untuk tanaman, peternakan, atau berburu. Adapun jika terpaksa memeliharanya karena membutuhkannya untuk beberapa keperluan atau untuk menjaga rumahnya ketika terpaksa, maka tidak mengapa insya Allah.
Adapun gambar, adalah setiap gambar makhluk bernyawa, baik yang berbentuk patung berdiri atau yang terukir di langit-langit atau dinding atau diletakkan di permadani atau ditenun di kain atau tempat lain. Karena keumuman dalil mencakup semuanya, maka hendaklah dihindari. Dan dengan Allah-lah taufiq.
Wajib merusak gambar-gambar bagi yang mampu merusaknya dan menghilangkannya. Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari Hayyan bin Hushain, dia berkata: Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata kepadaku: “Maukah aku utusan kamu untuk melakukan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam utus aku, yaitu jangan kamu biarkan gambar kecuali kamu hapus, dan jangan biarkan kubur yang tinggi kecuali kamu ratakan.” Maka kami memohon kepada Allah taufiq untuk apa yang Dia cintai dan ridhai. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.
DOSA BESAR KE-49: MENAMPAR PIPI, MERATAP, MEROBEK PAKAIAN, MENCUKUR DAN MENCABUT RAMBUT, SERTA BERDOA DENGAN CELAKA DAN KEBINASAAN SAAT MUSIBAH
Kami riwayatkan dalam Shahih Bukhari dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bukan dari golongan kami orang yang menampar pipi, merobek pakaian, dan berdoa dengan doa jahiliyah.”
Kami riwayatkan dalam Shahih keduanya (Bukhari dan Muslim) dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dari ash-shaliqah, al-haliqah, dan asy-syaqqah. Ash-shaliqah adalah yang meninggikan suaranya dengan ratapan. Al-haliqah adalah yang mencukur rambutnya dan mencabutnya saat musibah. Asy-syaqqah adalah yang merobek pakaiannya saat musibah.
Semua ini haram menurut kesepakatan ulama. Demikian juga haram mengurai rambut, menampar pipi, mencakar wajah, dan berdoa dengan celaka dan kebinasaan.
Dari Ummu Athiyyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil janji dari kami dalam bai’at agar kami tidak meratap. (HR. Bukhari)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua perkara pada manusia yang merupakan kekufuran: mencela nasab dan meratapi mayit.” (HR. Muslim)
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat perempuan yang meratap dan yang mendengarkannya. (HR. Abu Dawud)
Dari Abu Burdah, dia berkata: Abu Musa Al-Asy’ari sakit lalu pingsan, dan kepalanya di pangkuan seorang perempuan dari keluarganya. Perempuan itu mulai berteriak dengan suara tinggi dan dia tidak mampu mencegahnya. Ketika sadar, dia berkata: “Aku berlepas diri dari apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri darinya. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dari ash-shaliqah, al-haliqah, dan asy-syaqqah.”
Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Abdullah bin Rawahah pingsan, lalu saudara perempuannya mulai menghitung-hitung atasnya sambil berkata: “Wahai begini, wahai begitu.” Ketika sadar, dia berkata: “Tidak ada yang kamu katakan kecuali dikatakan kepadaku: ‘Kamu begini, kamu begitu.'” (HR. Bukhari)
Dalam Shahihain bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mayit disiksa di kuburnya karena ratapan yang dilakukan atasnya.”
Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Tidaklah ada mayit yang mati lalu berdiri yang menangisinya sambil berkata: ‘Wahai tuanku, wahai gunungku, wahai begini, wahai begitu’ dan semacam itu, kecuali ditugaskan padanya dua malaikat yang mendorongnya: ‘Apakah begini kamu?'” (HR. Tirmidzi)
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perempuan yang meratap jika tidak bertaubat sebelum matinya akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan mengenakan baju dari ter dan baju besi dari kudis.”
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya aku dilarang dari dua suara bodoh lagi durhaka: suara saat kenikmatan, hiburan, permainan, dan seruling setan; serta suara saat musibah, mencakar wajah, merobek pakaian, dan jeritan setan.”
Al-Hasan berkata: Dua suara terlaknat: seruling saat kenikmatan dan jeritan saat musibah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya para perempuan peratap ini dibuat dua baris di neraka lalu menyalak pada penghuni neraka sebagaimana anjing menyalak.”
Dari Al-Auza’i bahwa Umar bin Al-Khattab mendengar suara tangisan lalu masuk bersama orang lain. Dia memukul mereka hingga sampai pada perempuan peratap lalu memukulnya hingga jilbabnya jatuh. Dia berkata: “Pukul, karena dia peratap dan tidak ada kehormatan baginya. Dia tidak menangis karena kesedihan kalian. Dia menumpahkan air matanya untuk mengambil dirham kalian. Dia menyakiti mayit kalian di kubur mereka dan orang hidup kalian di rumah mereka, karena dia melarang dari sabar padahal Allah memerintahkannya, dan memerintahkan kegelisahan padahal Allah melarangnya.”
Ketahuilah bahwa ratapan adalah meninggikan suara dengan pujian, perempuan peratap menghitung dengan suaranya kebaikan-kebaikan mayit. Ada yang berkata: ratapan adalah menangis atasnya sambil menyebut kebaikan-kebaikannya.
Para ulama berkata: Haram meninggikan suara secara berlebihan dengan tangisan. Adapun menangis atas mayit tanpa pujian dan ratapan, maka tidak haram.
Kami riwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk Sa’d bin Ubadah bersama Abdurrahman bin Auf, Sa’d bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhum. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis. Ketika orang-orang melihat tangisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka ikut menangis. Beliau berkata: “Tidakkah kalian mendengar bahwa Allah tidak menyiksa karena air mata dan kesedihan hati, tetapi menyiksa karena ini atau merahmati,” sambil menunjuk lidahnya.
Kami riwayatkan dalam Shahih keduanya dari Usamah bin Zaid bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata… Sa’d berkata: “Apa ini wahai Rasulullah?” Beliau berkata: “Ini adalah rahmat yang Allah letakkan di hati hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya Allah hanya merahmati dari hamba-hamba-Nya yang penyayang.”
Kami riwayatkan dalam Shahih Bukhari dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk kepada anaknya Ibrahim ketika dia sedang menghembuskan nafas terakhir. Mata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meneteskan air mata. Abdurrahman bin Auf berkata kepadanya: “Dan engkau juga wahai Rasulullah?” Beliau berkata: “Wahai Ibnu Auf, ini adalah rahmat,” kemudian menyusulnya dengan yang lain lalu berkata: “Sesungguhnya mata meneteskan air mata, hati bersedih, dan kami tidak mengatakan kecuali yang merelakan Rabb kami. Kami karena perpisahanmu wahai Ibrahim benar-benar bersedih.”
Adapun hadits-hadits shahih bahwa mayit disiksa karena tangisan keluarganya atasnya, maka tidak pada zhahirnya dan keumumannya, tetapi harus ditakwil. Para ulama berbeda pendapat dalam takwilnya atas beberapa pendapat. Yang paling zhahir – wallahu a’lam – bahwa itu dibawa pada kondisi dia memiliki sebab dalam tangisan, baik dia telah berwasiat kepada mereka atau selainnya.
Pengikut madzhab Syafi’i berkata: Boleh sebelum mati dan sesudahnya, tetapi sebelumnya lebih utama karena hadits yang shahih: “Jika sudah wajib maka jangan menangis siapa pun yang menangis.” Syafi’i dan para pengikutnya menegaskan bahwa makruh menangis setelah kematian secara makruh tanzih dan tidak haram. Mereka mentakwil hadits “maka jangan menangis siapa pun yang menangis” pada kemakruhan. Wallahu a’lam.
Pasal
Sesungguhnya perempuan peratap mendapat siksa dan laknat ini karena dia memerintahkan kegelisahan dan melarang sabar, padahal Allah dan Rasul-Nya telah memerintahkan sabar dan mengharap pahala serta melarang kegelisahan dan kemarahan. Allah Ta’ala berfirman: {Hai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar} (QS. Al-Baqarah: 153).
TAFSIR TENTANG UJIAN DAN PENGHIBURAN DALAM ISLAM
TAFSIR AYAT TENTANG UJIAN
Atha’ berkata dari Ibnu Abbas bahwa makna “Sesungguhnya Aku bersama kalian” adalah “Aku menolong kalian dan tidak mengecewakan kalian.” Allah Ta’ala berfirman: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu” (QS. Al-Baqarah: 155) – artinya Kami akan memperlakukan kalian sebagai orang yang diuji. Sesungguhnya Allah mengetahui akhir segala urusan, sehingga Dia tidak memerlukan ujian untuk mengetahui akibatnya. Namun Dia memperlakukan mereka sebagai perlakuan terhadap orang yang menguji. Barangsiapa yang sabar, maka Dia akan memberikan pahala atas kesabarannya, dan barangsiapa yang tidak sabar, maka ia tidak berhak mendapat pahala.
Firman Allah “dengan sedikit ketakutan, kelaparan” – Ibnu Abbas berkata: yang dimaksud ketakutan adalah takut kepada musuh, dan kelaparan berarti paceklik dan kekeringan. “Dan kekurangan harta” – yaitu kerugian dan kehilangan dalam harta, kebinasan ternak. “Dan jiwa” – dengan kematian, pembunuhan, penyakit, dan usia tua. “Dan buah-buahan” – yaitu kebutuhan-kebutuhan dan tidak keluarnya buah-buahan sebagaimana biasanya.
Kemudian Allah mengakhiri ayat dengan memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar untuk menunjukkan bahwa barangsiapa yang sabar atas musibah-musibah ini, maka ia mendapat janji pahala dari Allah Ta’ala. Allah berfirman: “Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah: 155).
Kemudian Allah menyifati mereka dengan firman-Nya: “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah” – yaitu tertimpa bencana dari hal-hal yang disebutkan tadi. Tidak dikatakan musibah terhadap sesuatu kebaikan yang menimpa seseorang. “mereka mengucapkan: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” – Sesungguhnya kami adalah hamba Allah, Dia berbuat kepada kami apa yang Dia kehendaki, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya dengan kematian dan kepunahan.
Makna kembali kepada Allah adalah kembali kepada kekuasaan-Nya yang tunggal dalam memutuskan, karena di dunia ini Dia telah memberikan kekuasaan kepada sebagian hamba untuk memutuskan. Apabila kekuasaan para hamba telah hilang, maka urusan kembali kepada Allah Azza wa Jalla.
HADITS-HADITS TENTANG UJIAN DAN MUSIBAH
Dari Aisyah radhiyallahu anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya karenanya, hingga duri yang menusuknya.” (HR. Muslim)
Dari Alqamah bin Martsad bin Sabit dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang tertimpa musibah, maka hendaklah ia mengingat musibah yang menimpaku (kematianku), karena sesungguhnya itu adalah musibah yang paling besar.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, Allah bertanya kepada para malaikat: ‘Apakah kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?’ Mereka menjawab: ‘Ya.’ Allah bertanya: ‘Apakah kalian telah mencabut buah hatinya?’ Mereka menjawab: ‘Ya.’ Allah bertanya: ‘Apa yang dikatakan hamba-Ku?’ Mereka menjawab: ‘Ia memuji-Mu dan mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.’ Allah berfirman: ‘Bangunkanlah untuk hamba-Ku sebuah rumah di surga dan namakanlah rumah pujian.'”
Dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Allah Ta’ala berfirman: “Tidak ada balasan bagi hamba-Ku ketika Aku mencabut orang yang dicintainya dari penduduk dunia kemudian ia bersabar mengharap pahala, melainkan surga.” (HR. Bukhari)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Termasuk kebahagiaan anak Adam adalah ridha terhadap apa yang ditetapkan Allah, dan termasuk kesengsaraan anak Adam adalah murka terhadap apa yang ditetapkan Allah Ta’ala.”
Dari Umar bin Khattab radhiyallahu anhu, ia berkata: “Apabila Malaikat Maut ‘alaihissalam mencabut ruh seorang mukmin, ia berdiri di pintu rumah sementara ahli rumah berteriak. Di antara mereka ada yang menampar wajahnya, ada yang mengacak-acak rambutnya, dan ada yang meratapi dengan kata ‘celaka’. Malaikat Maut berkata: ‘Mengapa kalian panik dan takut seperti ini? Demi Allah, aku tidak mengurangi umur siapa pun di antara kalian, tidak mengambil rezeki siapa pun di antara kalian, dan tidak menzalimi siapa pun di antara kalian sedikitpun. Jika keluhan dan kemarahan kalian ditujukan kepadaku, maka demi Allah aku hanya menjalankan perintah. Jika terhadap mayit kalian, maka sesungguhnya ia sudah dikuasai (takdir). Jika terhadap Tuhan kalian, maka kalian kafir karenanya. Sesungguhnya aku akan kembali kepada kalian berkali-kali hingga tidak tersisa seorang pun di antara kalian.'”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya mereka melihat tempatnya dan mendengar perkataannya, niscaya mereka akan lupa terhadap mayit mereka dan menangisi diri mereka sendiri.”
BAB TENTANG TA’ZIYAH (PENGHIBURAN)
Dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang menghibur orang yang tertimpa musibah, maka baginya pahala seperti pahalanya.” (HR. Tirmidzi)
Dari Abu Burdah radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata kepada Fatimah radhiyallahu anha: “Barangsiapa yang menghibur wanita yang kehilangan anak, ia akan dipakaikan kain dari surga.” (HR. Tirmidzi)
Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Fatimah radhiyallahu anha: “Apa yang mengeluarkanmu dari rumah, wahai Fatimah?” Ia menjawab: “Aku mendatangi ahli rumah ini, lalu aku mendoakan rahmat untuk mayit mereka dan menghibur mereka.”
Dari Amr bin Hazm dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidaklah seorang mukmin menghibur saudaranya dalam musibah melainkan Allah akan memakaikannya pakaian kemuliaan pada hari kiamat.”
Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu, bahwa ta’ziyah adalah memberikan kesabaran dan menyebutkan hal-hal yang dapat menghibur pemilik mayit, meringankan kesedihannya, dan meringankan musibahnya. Ta’ziyah disunahkan karena mengandung amar ma’ruf nahi munkar. Ia juga termasuk dalam firman Allah Ta’ala: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa” (QS. Al-Maidah: 2). Ini adalah dalil terbaik yang dapat dijadikan hujjah dalam masalah ta’ziyah.
Ketahuilah bahwa ta’ziyah yaitu memerintahkan kesabaran, disunahkan sebelum penguburan dan sesudahnya. Para sahabat Syafi’i berkata: sejak mayit meninggal dan berlanjut setelah penguburan hingga tiga hari. Para sahabat kami berkata: Ta’ziyah dimakruhkan setelah tiga hari karena ta’ziyah menenangkan hati orang yang tertimpa musibah, dan umumnya hatinya sudah tenang setelah tiga hari, sehingga tidak perlu memperbarui kesedihan baginya. Demikian dikatakan jumhur sahabab kami.
Abu Abbas dari sahabab kami berkata: Tidak mengapa melakukan ta’ziyah setelah tiga hari, bahkan boleh selamanya meskipun waktu berlalu lama. An-Nawawi rahimahullah berkata: Yang dipilih adalah tidak melakukan ta’ziyah setelah tiga hari kecuali dalam dua keadaan yang dikecualikan para sahabat kami, yaitu jika orang yang menghibur atau pemilik musibah sedang bepergian saat penguburan dan kebetulan kembali setelah tiga hari.
Ta’ziyah setelah penguburan lebih utama daripada sebelumnya karena ahli mayit sibuk dengan persiapan jenazah, dan karena rasa sepi mereka setelah penguburan karena berpisah dengannya lebih besar. Ini jika tidak terlihat dari mereka kegelisahan berlebihan. Jika terlihat, maka didahulukan ta’ziyah untuk menenangkan mereka. Wallahu a’lam.
Dimakruhkan duduk untuk ta’ziyah, yaitu berkumpulnya ahli mayit di suatu rumah agar orang yang ingin melakukan ta’ziyah dapat mendatangi mereka.
LAFAZ TA’ZIYAH YANG BAIK
Lafaz ta’ziyah sudah mashur. Yang terbaik untuk ta’ziyah adalah apa yang kami riwayatkan dalam Shahihain dari Usamah bin Zaid radhiyallahu anhu, ia berkata: “Salah seorang putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusan kepada Rasul untuk memanggilnya dan memberitahu bahwa anaknya sedang sekarat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada utusan: ‘Kembalilah kepadanya dan katakanlah: Sesungguhnya milik Allah apa yang Dia ambil, dan milik-Nya apa yang Dia berikan. Segala sesuatu di sisi-Nya ada ajalnya yang telah ditentukan. Suruhlah dia bersabar dan mengharap pahala.'” Kemudian disebutkan kelanjutan hadits.
An-Nawawi rahimahullah berkata: Hadits ini termasuk kaidah-kaidah Islam yang paling agung yang mengandung banyak hal penting dari pokok-pokok agama, cabang-cabangnya, adab-adab, kesabaran atas semua bencana, kerisauan, penyakit, dan lain-lain.
Makna sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam “Sesungguhnya milik Allah apa yang Dia ambil” adalah bahwa seluruh alam ini milik Allah. Dia tidak mengambil apa yang menjadi milik kalian, tetapi Dia mengambil apa yang menjadi milik-Nya yang ada di sisi kalian dalam makna titipan.
“Dan milik-Nya apa yang Dia berikan” – apa yang Dia berikan kepada kalian tidak keluar dari kepemilikan-Nya, tetapi tetap milik-Nya Subhanahu, Dia berbuat padanya apa yang Dia kehendaki.
“Segala sesuatu di sisi-Nya ada ajalnya yang telah ditentukan” – maka janganlah kalian panik, karena siapa yang dicabut nyawanya telah habis ajalnya yang telah ditentukan. Mustahil mengundur atau memajukannya. Jika kalian telah mengetahui semua ini, maka bersabarlah dan mengharap pahalah atas apa yang menimpa kalian. Wallahu a’lam.
HADITS-HADITS DAN KISAH TENTANG KESABARAN
Dari Mu’awiyah bin Iyas dari ayahnya radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau kehilangan seorang sahabat lalu menanyakannya. Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, anaknya yang engkau lihat telah meninggal.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuinya dan menanyakan tentang anaknya. Orang itu memberitahu bahwa anaknya telah meninggal. Beliau menghiburnya kemudian berkata: “Wahai fulan, mana yang lebih engkau sukai: menikmati kebersamaannya sepanjang umurmu, ataukah besok engkau tidak mendatangi pintu surga melainkan mendapatinya telah mendahuluimu ke sana untuk membukakan pintu bagimu?” Orang itu berkata: “Wahai Nabi Allah, ia mendahuluiku ke surga dan membukakan pintu bagiku lebih aku sukai.” Beliau berkata: “Maka itu untukmu.” Ditanyakan: “Wahai Rasulullah, apakah ini khusus untuknya ataukah untuk kaum muslimin secara umum?” Beliau menjawab: “Bahkan untuk kaum muslimin secara umum.”
Dari Abu Musa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau keluar ke Baqi’ lalu mendatangi seorang wanita yang sedang menangis di atas kubur. Beliau berkata kepadanya: “Wahai hamba Allah, bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah.” Wanita itu berkata: “Wahai hamba Allah, pergilah engkau! Aku adalah wanita yang berduka kehilangan anak.” Beliau berkata: “Wahai hamba Allah, bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah.” Wanita itu berkata: “Wahai hamba Allah, seandainya engkau tertimpa musibah, tentu engkau akan memaafkanku.” Beliau berkata: “Wahai hamba Allah, bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah.” Wanita itu berkata: “Wahai hamba Allah, engkau telah membuatku mendengar, maka pergilah.” Beliau pun pergi meninggalkannya.
Seorang laki-laki muslim melihat wanita itu lalu mendatanginya dan bertanya apa yang dikatakan laki-laki tadi kepadanya. Wanita itu memberitahu apa yang dikatakan dan apa yang dijawabnya. Laki-laki itu berkata: “Apakah engkau mengenalnya?” Wanita itu menjawab: “Tidak, demi Allah.” Ia berkata: “Celaka engkau! Itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Wanita itu segera berlari hingga menemui beliau dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku akan bersabar.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya kesabaran itu adalah pada saat kejutan pertama” – artinya sesungguhnya kesabaran itu baik ketika musibah datang tiba-tiba, adapun setelahnya maka terjadi pelupaan secara alami.
Dalam Shahih Muslim: Anak Abu Thalhah dari Ummu Sulaim meninggal. Ia berkata kepada keluarganya: “Jangan kalian memberitahu Abu Thalhah hingga aku sendiri yang memberitahunya.” Abu Thalhah datang, lalu ia menyajikan makan malam. Ia makan dan minum. Kemudian ia berdandan untuknya lebih baik dari biasanya, lalu ia bersetubuh dengannya. Ketika ia melihat bahwa suaminya sudah kenyang dan telah bersetubuh dengannya, ia berkata: “Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu jika suatu kaum meminjamkan sesuatu kepada suatu keluarga, kemudian mereka meminta kembali pinjaman mereka, apakah boleh menolaknya?” Ia menjawab: “Tidak.” Ummu Sulaim berkata: “Maka terimalah (kematian) anakmu dengan ikhlas.”
Abu Thalhah marah dan berkata: “Engkau membiarkanku hingga ketika aku sudah bersentuhan barulah engkau memberitahuku tentang anakku. Demi Allah, engkau tidak akan mengalahkanku dalam hal kesabaran.” Ia pergi hingga menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memberitahu apa yang terjadi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua.” Kemudian disebutkan kelanjutan hadits.
Dalam hadits disebutkan: “Tidak ada seorang pun yang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.”
Ali radhiyallahu anhu berkata kepada Asy’ats bin Qais: “Sesungguhnya jika engkau bersabar dengan iman dan mengharap pahala (maka baik), jika tidak, engkau akan lupa sebagaimana binatang-binatang lupa.”
Seorang hakim menulis kepada seseorang yang tertimpa musibah: “Sesungguhnya telah pergi darimu apa yang engkau kehilangan karenanya, maka janganlah hilang darimu apa yang tersedia untukmu yaitu pahala.”
Yang lain berkata: “Orang berakal melakukan pada hari pertama musibah apa yang dilakukan orang bodoh setelah lima hari.”
Aku berkata: Telah diketahui bahwa berlalunya waktu akan menghibur orang yang tertimpa musibah. Karena itulah syariat memerintahkan kesabaran pada kejutan pertama.
Sampai kepada Syafi’i radhiyallahu anhu bahwa Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah kehilangan anak lalu ia sangat bersedih. Syafi’i rahimahullah mengirim surat kepadanya: “Wahai saudaraku, hiburlah dirimu dengan apa yang engkau hibur kepada orang lain, dan anggaplah jelek dari perbuatanmu apa yang engkau anggap jelek dari perbuatan orang lain. Ketahuilah bahwa musibah yang paling menyakitkan adalah hilangnya kegembiraan dan terhalangnya pahala. Bagaimana jika keduanya terkumpul dengan memperoleh dosa? Maka ambillah bagianmu wahai saudaraku ketika ia dekat darimu sebelum engkau mencarinya sedang ia telah jauh darimu. Semoga Allah mengilhamkanmu kesabaran ketika musibah dan memperoleh bagi kami dan engkau pahala dengan kesabaran.”
Ia menulis kepadanya dengan syair: Sesungguhnya aku menghiburmu bukan karena aku yakin Akan kehidupan, tetapi karena sunnah agama Maka tidak ada penghibur yang kekal setelah kematiannya Dan tidak pula yang dihibur meskipun keduanya hidup sampai suatu waktu
Seorang laki-laki menulis kepada salah seorang saudaranya menghibur tentang anaknya: “Amma ba’du, sesungguhnya anak bagi ayahnya selama hidup adalah kesedihan dan fitnah. Jika ia mendahului (mati), maka ia menjadi shalawat dan rahmat. Maka janganlah bersedih atas apa yang luput darimu berupa kesedihan dan fitnah, dan jangan sia-siakan apa yang Allah Ta’ala gantikan untukmu berupa shalawat dan rahmat-Nya.”
Musa bin Mahdi berkata kepada Ibrahim bin Salamah sambil menghiburnya tentang anaknya: “Ia membuatmu gembira padahal ia adalah bala dan fitnah, dan ia membuatmu sedih padahal ia adalah shalawat dan rahmat.”
Seorang laki-laki menghibur laki-laki lain dengan berkata: “Sesungguhnya orang yang menjadi pahala bagimu di akhirat lebih baik daripada orang yang menjadi kegembiraan dan kebahagiaan bagimu di dunia.”
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma, bahwa ia menguburkan anaknya kemudian tertawa di sisi kubur. Ditanyakan kepadanya: “Apakah engkau tertawa di sisi kubur?” Ia menjawab: “Aku ingin membuat setan murka.”
Dari Ibnu Juraij rahimahullah, ia berkata: “Barangsiapa yang tidak menghadapi musibahnya dengan pahala dan mengharap ganjaran, ia akan lupa sebagaimana binatang-binatang lupa.”
Dari Humaid Al-A’raj, ia berkata: Aku melihat Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata tentang anaknya sambil memandangnya: “Sesungguhnya aku mengetahui sifat terbaik padamu.” Ditanya: “Apa itu?” Ia menjawab: “Kematian, maka aku mengharapkan pahalanya.”
Dari Hasan Bashri rahimahullah: Seorang laki-laki bersedih atas anaknya dan mengadukan hal itu kepadanya. Hasan berkata: “Apakah anakmu pergi meninggalkanmu?” Ia menjawab: “Ya, kepergiannya lebih sering daripada kehadirannya.” Hasan berkata: “Maka biarkanlah ia pergi, karena ia tidak pernah pergi meninggalkanmu melainkan untukmu di dalamnya pahala yang lebih besar daripada ini.” Laki-laki itu berkata: “Wahai Abu Sa’id, engkau telah meringankan kesedihanku atas anakku.”
Umar bin Abdul Aziz masuk menemui anaknya yang sedang sakit. Ia berkata: “Wahai anakku, bagaimana keadaanmu?” Anaknya menjawab: “Aku merasakan kebenaran.” Umar berkata: “Wahai anakku, agar engkau berada di timbangan kebaikanku lebih aku sukai daripada aku berada di timbangan kebaikanmu.” Anaknya berkata: “Wahai ayahku, agar terjadi apa yang engkau sukai lebih aku sukai daripada terjadi apa yang aku sukai.”
Anak Imam Syafi’i meninggal, lalu ia bersyair: Tidaklah masa itu kecuali demikian, maka bersabarlah untuknya Musibah harta atau perpisahan dengan kekasih
Urwah terkena penyakit yang memakan dagingnya, lalu kakinya dipotong dari betis. Tidak ada yang menahannya padahal ia sudah tua, dan ia tidak meninggalkan wiridnya malam itu kecuali ia mengucapkan (QS. Al-Kahf: 62): “Sesungguhnya kami telah menemui kesusahan dalam perjalanan kami ini” dan bersyair:
Demi hidupku, tidaklah tanganku condong kepada keburukan Dan tidak membawaku kakiku menuju kemungkaran Tidak pula menuntunku pendengaranku dan penglihatanku kepadanya Dan tidak menunjukkanku akalku dan pikiranku kepadanya Dan aku tahu bahwa tidak ada musibah yang menimpaku Dari masa melainkan telah menimpa pemuda sebelumku
Ia berkata radhiyallahu anhu: “Ya Allah, jika Engkau menguji maka Engkau juga telah memberikan afiat. Jika Engkau mengambil maka Engkau juga telah menyisakan. Engkau mengambil satu anggota dan menyisakan anggota-anggota lain. Engkau mengambil satu anak dan menyisakan anak-anak lain.”
Pada malam itu datang kepada Walid seorang laki-laki buta dari Bani Abs. Walid bertanya tentang kedua matanya. Ia berkata: “Aku bermalam di lembah dan aku tidak tahu di bumi ada orang Absi yang hartanya melebihi hartaku. Kami diterjang banjir yang menghanyutkan harta, keluarga, dan anak-anakku kecuali seekor unta dan seorang anak kecil. Unta itu liar lalu lari. Aku mengejarnya. Belum jauh melewati anak kecil itu, aku mendengar suaranya lalu kembali. Ternyata kepala anak itu sudah di perut (binatang buas) yang membunuhnya. Kemudian aku mengejar unta untuk menangkapnya, lalu ia menendangku dengan kakinya mengenai wajahku, menghancurkannya dan merusak mataku. Maka aku tidak memiliki keluarga, harta, anak, maupun unta.”
Walid berkata: “Bawalah ia kepada Urwah agar ia tahu bahwa di bumi ada orang yang lebih berat bencananya darinya.”
Disebutkan bahwa Utsman radhiyallahu anhu ketika dipukul sambil darah mengalir di jenggotnya berkata: “Laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minadh-dhaalimiin. Allahumma inni asta’iinu bika ‘alaihim wa asta’iinuka ‘alaa jamii’i umuuri wa as’aluka ash-shabra ‘alaa mabtalaitanii” (Tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pertolongan-Mu atas mereka dan memohon pertolongan-Mu atas semua urusanku, dan aku memohon kesabaran atas apa yang Engkau ujikan kepadaku).
Al-Mada’ini berkata: “Aku melihat di padang pasir seorang wanita yang tidak pernah aku lihat tubuh yang lebih segar darinya dan wajah yang lebih cantik darinya. Aku berkata: ‘Demi Allah, jika keseimbangan dan kegembiraan yang melakukan ini padamu…’ Ia menjawab: ‘Sama sekali tidak, demi Allah. Sesungguhnya aku adalah sumber kesedihan dan pengganti kerisauan. Aku akan ceritakan kepadamu: Aku memiliki suami dan dua anak darinya. Ayah mereka menyembelih kambing pada hari raya kurban. Kedua anak itu bermain-main. Yang besar berkata kepada yang kecil: Apakah kamu mau aku tunjukkan bagaimana ayah menyembelih kambing? Yang kecil menjawab: Ya. Maka ia menyembelihnya. Ketika melihat darah, ia panik dan lari ke gunung lalu dimakan serigala. Ayah mereka keluar mencarinya lalu tersesat dan mati kehausan. Masa membuatku sendirian.’ Aku bertanya: ‘Bagaimana keadaanmu dengan kesabaran?’ Ia menjawab: ‘Seandainya ia kekal bagiku, aku akan kekal untuknya. Tetapi ia adalah luka yang kemudian sembuh.'”
Hadits dari Ibnu Abbas (semoga Allah meridai keduanya) berkata: Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa dari umatku yang memiliki dua orang anak yang mendahuluinya (meninggal lebih dulu), maka dia akan masuk surga.” Maksudnya adalah dua orang anak. Aisyah (semoga Allah meridainya) berkata: “Demi ayah dan ibuku, bagaimana dengan orang yang memiliki satu anak yang mendahului?” Rasulullah ﷺ bersabda: “Dan yang memiliki satu anak yang mendahului juga, wahai yang diberi taufik.” Aku bertanya: “Bagaimana dengan orang yang tidak memiliki anak yang mendahului dari umatmu?” Beliau bersabda: “Aku adalah yang mendahului umatku, mereka tidak akan tertimpa musibah seperti yang menimpaku.”
Dari Abu Ubaidah (semoga Allah meridainya) dari ayahnya berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang mendahulukan tiga orang anak yang belum baligh, maka mereka akan menjadi benteng baginya dari neraka.” Abu Darda berkata: “Aku telah mendahulukan dua orang.” Beliau bersabda: “Dan dua orang juga.” Ubay bin Ka’ab, pemimpin para qari (pembaca Al-Quran) berkata: “Aku telah mendahulukan satu orang.” Rasulullah ﷺ bersabda: “Dan satu orang juga, tetapi itu pada guncangan pertama.”
Dari Waki’ berkata: Ibrahim Al-Harbi memiliki seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang telah menghafal Al-Quran dan mempelajari fiqih dan hadits dalam jumlah yang banyak, kemudian dia meninggal. Saya datang untuk memberikan ta’ziah kepadanya. Dia berkata kepadaku: “Aku dulu mengharapkan kematian anakku ini.” Aku berkata: “Wahai Abu Ishaq, engkau adalah ulama dunia, mengapa berkata seperti itu? Padahal dia telah cerdas, menghafal Al-Quran, dan mempelajari fiqih serta hadits.” Dia berkata: “Ya, aku bermimpi seolah-olah hari kiamat telah tiba, seolah-olah ada anak-anak kecil di tangan mereka terdapat kendi air yang menyambut orang-orang untuk memberi mereka minum, dan seolah-olah hari itu adalah hari yang sangat panas dan terik.” Dia berkata: “Lalu aku berkata kepada salah seorang dari mereka: ‘Berilah aku minum dari air ini.’ Dia memandangku dan berkata: ‘Kamu bukan ayahku.’ Aku bertanya: ‘Siapa kalian?’ Dia menjawab: ‘Kami adalah anak-anak kecil yang meninggal dalam Islam dan meninggalkan ayah-ayah kami, kami menyambut mereka dan memberi mereka minum air.'” Dia berkata: “Karena itulah aku mengharapkan kematiannya.”
Muslim meriwayatkan dari Abu Hassan berkata: Aku berkata kepada Abu Hurairah (semoga Allah meridainya): “Ceritakanlah kepada kami hadits yang dapat menenangkan hati kami tentang orang-orang yang telah meninggal.” Dia berkata: “Ya, anak-anak kecil mereka adalah burung-burung kecil surga. Salah seorang dari mereka akan menyambut ayahnya atau kedua orang tuanya, lalu mengambil bajunya atau tangannya, dan tidak berhenti hingga memasukkannya ke dalam surga.”
Dari Malik bin Dinar (semoga Allah merahmatinynya) berkata: Pada awal keadaanku, aku tenggelam dalam kesenangan dan minum khamar. Aku membeli seorang budak wanita dan menjadikannya selir, lalu dia melahirkan seorang anak perempuan untukku. Aku mencintainya dengan cinta yang sangat mendalam hingga dia merangkak dan berjalan. Ketika aku duduk untuk minum khamar, dia datang dan menarikku, lalu menumpahkan khamar itu di hadapanku. Ketika dia berusia dua tahun, dia meninggal dan kesedihannya membuatku sangat berduka.
Pada malam pertengahan bulan Sya’ban, aku tidur dalam keadaan mabuk karena khamar. Aku bermimpi seolah-olah hari kiamat telah tiba dan aku keluar dari kuburku, tiba-tiba ada seekor naga besar yang mengikutiku hendak memakanku. Aku lari darinya dan dia mengikutiku. Semakin aku berlari cepat, semakin dia mengejarku dan aku takut kepadanya. Dalam perjalananku, aku melewati seorang lelaki tua yang bersih pakaiannya tetapi lemah.
Aku berkata: “Wahai lelaki tua, demi Allah, lindungilah aku dari naga ini yang hendak memakanku dan membinasakanku.” Dia berkata: “Wahai anakku, aku adalah lelaki tua yang sudah uzur dan naga ini lebih kuat dariku, aku tidak mampu menghadapinya. Tetapi berlarilah dan bergegas, mudah-mudahan Allah menyelamatkanmu darinya.”
Aku bergegas lari dan dia di belakangku. Aku melihat lapisan-lapisan neraka yang berkobar dan hampir saja aku terjatuh ke dalamnya, tiba-tiba ada yang berkata: “Kamu bukan termasuk penghuninya.” Aku kembali lari dan naga itu masih mengikutiku. Aku melihat gunung yang bercahaya dengan kamar-kamar yang memiliki pintu dan tirai.
Tiba-tiba ada yang berkata: “Tolonglah orang celaka ini sebelum musuhnya mengejarnya.” Pintu-pintu dibuka, tirai-tirai diangkat, dan tampak anak-anak dengan wajah seperti bulan purnama, dan anakku bersama mereka. Ketika dia melihatku, dia turun dengan sebuah mangkuk dari cahaya dan memukulkan tangan kanannya kepada naga itu, lalu naga itu lari ketakutan. Dia duduk di pangkuanku dan berkata: “Wahai ayah, belumkah tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan apa yang diturunkan dari kebenaran?” (QS. Al-Hadid: 16)
Aku berkata: “Wahai anakku, apakah kalian mengenal Al-Quran?” Dia berkata: “Kami lebih mengenalnya daripada kalian.” Aku berkata: “Wahai anakku, apa yang kalian lakukan di sini?” Dia berkata: “Kami adalah anak-anak muslim yang meninggal, kami ditempatkan di sini hingga hari kiamat, menunggu kalian datang kepada kami.”
Aku berkata: “Wahai anakku, naga apa yang mengejarku dan hendak membinasakanku?” Dia berkata: “Wahai ayah, itu adalah perbuatan burukmu yang telah kamu kuatkan, sehingga hendak membinasakanmu.” Aku berkata: “Dan siapa lelaki tua lemah yang kulihat?” Dia berkata: “Itu adalah amal salehmu yang telah kamu lemahkan hingga tidak mampu melawan amal burukmu. Maka bertobatlah kepada Allah dan janganlah menjadi orang yang binasa.”
Kemudian dia terangkat dariku dan aku terbangun. Aku bertobat kepada Allah sejak saat itu. Lihatlah, semoga Allah merahmatinmu, keberkahan keturunan ketika mereka meninggal dalam keadaan kecil, baik laki-laki maupun perempuan. Manfaat bagi kedua orang tua di akhirat hanya diperoleh jika mereka bersabar dan mengharap pahala serta berkata: “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” (Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali).
Maka mereka akan memperoleh apa yang dijanjikan Allah Ta’ala dengan firman-Nya: “Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali)” (QS. Al-Baqarah: 156). Artinya: kami dan harta kami, Dia berbuat kepada kami apa yang Dia kehendaki, dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali – ini adalah pengakuan akan kehancuran dan kepunahan.
Dari Tsauban (semoga Allah meridainya) berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah seorang hamba ditimpa musibah kecuali karena salah satu dari dua hal: baik karena dosa yang tidak akan Allah ampuni kecuali dengan musibah itu, atau karena derajat yang tidak akan Allah berikan kepadanya kecuali dengan musibah itu.”
Sa’id bin Jubair berkata: “Sungguh telah diberikan kepada umat ini ketika tertimpa musibah, apa yang tidak diberikan kepada para nabi sebelum mereka: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali). Seandainya ini diberikan kepada para nabi alaihimus salam, niscaya diberikan kepada Ya’qub alaihis salam ketika dia berkata: ‘Ya asafa ‘ala Yusuf’ (Aduhai, alangkah sedihnya aku atas (kehilangan) Yusuf).”
Dari Ummu Salamah (semoga Allah meridainya) berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang berkata ketika tertimpa musibah: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, Allahumma ajurni fi musibati wakhluf li khairan minha’ (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku dan gantilah untukku yang lebih baik darinya), maka Allah akan memberinya pahala dan mengganti untuknya yang lebih baik darinya.”
Dia berkata: “Ketika Abu Salamah meninggal, aku berkata: ‘Siapa yang lebih baik dari Abu Salamah?’ Kemudian aku mengucapkannya, lalu Allah menggantiku dengan Rasulullah ﷺ.” (Diriwayatkan oleh Muslim)
Dari Asy-Sya’bi bahwa Syuraih berkata: “Sesungguhnya aku ketika tertimpa musibah, aku memuji Allah atasnya empat kali: Aku memuji-Nya karena musibah itu tidak lebih besar darinya, aku memuji-Nya karena Dia telah menganugerahiku kesabaran atasnya, aku memuji-Nya karena Dia telah memberi taufik kepadaku untuk mengucapkan ‘inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ karena mengharap pahala, dan aku memuji-Nya karena Dia tidak menjadikannya pada agamaku.”
Firman Allah: “Mereka itulah yang memperoleh ampunan dari Tuhan mereka dan rahmat” (QS. Al-Baqarah: 157). Shalawat dari Allah adalah rahmat dan ampunan. “Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” – maksudnya orang-orang yang mendapat petunjuk untuk mengucapkan ‘inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’, dan dikatakan juga: menuju surga dan pahala.
Dari Sa’id bin Al-Musayyab dari Umar bin Khattab (semoga Allah meridainya) berkata: “Sebaik-baik dua timbangan dan sebaik-baik tambahan: ‘Mereka itulah yang memperoleh ampunan dari Tuhan mereka dan rahmat’ – sebaik-baik dua timbangan. ‘Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk’ – sebaik-baik tambahan.”
Adapun jika orang yang tertimpa musibah marah dan berdoa dengan celaka dan keburukan, atau menampar pipi, atau merobek baju, atau mengacak-acak rambut, atau mencukurnya, atau memotongnya, atau mencabutnya, maka baginya murka dari Allah Ta’ala dan atasnya laknat, baik laki-laki maupun perempuan.
Telah diriwayatkan juga bahwa memukul paha ketika tertimpa musibah dapat menghapuskan pahala. Diriwayatkan bahwa barangsiapa yang tertimpa musibah lalu merobek baju karenanya, atau menampar pipi, atau merobek kerah baju, atau mencabut rambut, maka seolah-olah dia mengambil tombak hendak memerangi Tuhannya.
Telah disebutkan sebelumnya bahwa Allah Azza wa Jalla tidak menyiksa karena air mata yang mengalir dan kesedihan hati, tetapi menyiksa karena ini – maksudnya apa yang diucapkan oleh orang yang tertimpa musibah dengan lisannya, yaitu meratap dan menangis keras.
Telah disebutkan sebelumnya bahwa mayit disiksa di kuburnya karena ratapan untuknya. Ketika perempuan peratap berkata: “Wahai lenganku, wahai penolongku, wahai yang memberi pakaianku,” maka mayit ditarik dan dikatakan kepadanya: “Kamukah lengannya? Kamukah penolongnya? Kamukah yang memberinya pakaian?” Maka meratap adalah haram karena membakar kesedihan, menghalangi dari kesabaran, dan di dalamnya terdapat penentangan terhadap penyerahan kepada takdir dan ketundukan kepada perintah Allah Ta’ala.
KISAH
Salih Al-Marri berkata: Pada suatu malam Jumat aku berada di antara kuburan, lalu aku tidur. Tiba-tiba kubur-kubur terbuka dan orang-orang mati keluar darinya, duduk berkelompok-kelompok. Turunlah kepada mereka piring-piring tertutup. Di antara mereka ada seorang pemuda yang disiksa dengan berbagai jenis siksaan.
Aku mendekatinya dan berkata: “Wahai pemuda, apa masalahmu sehingga kamu disiksa di antara orang-orang ini?” Dia berkata: “Wahai Salih, demi Allah, sampaikanlah apa yang aku perintahkan kepadamu, tunaikanlah amanah dan kasihanilah keterasinganku, mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla menjadikan untukku jalan keluar melalui tanganmu. Sesungguhnya ketika aku mati, ibuku mengumpulkan perempuan-perempuan peratap yang meratapiku dan menangisiku setiap hari. Aku disiksa karena itu – api dari kananku, kiri, belakang, dan depanku karena ucuran buruk ibuku. Semoga Allah tidak membalasnya dengan kebaikan untukku.”
Kemudian dia menangis hingga aku ikut menangis karena tangisannya. Lalu dia berkata: “Wahai Salih, demi Allah, pergilah kepadanya – dia berada di tempat tertentu” – dan dia menunjukkan tempatnya kepadaku – “katakan kepadanya: ‘Mengapa kamu menyiksa anakmu, wahai ibu? Kamu telah membesarkanku dan melindungiku dari keburukan, tetapi ketika aku mati, kamu melemparkanku ke dalam siksaan. Wahai ibu, seandainya kamu melihatku – belenggu di leherku, rantai di kakiku, malaikat penyiksa memukulku dan membentak-ku. Seandainya kamu melihat buruknya keadaanku, niscaya kamu mengasihiku. Jika kamu tidak meninggalkan apa yang kamu lakukan berupa ratapan dan tangisan, maka Allah (akan menjadi hakim) antara aku dan kamu pada hari ketika langit terbelah dari langit dan makhluk-makhluk muncul untuk keputusan pengadilan.'”
Salih berkata: “Aku terbangun dengan ketakutan dan tinggal di tempatku dengan gelisah hingga fajar. Ketika pagi tiba, aku masuk ke kota dan tidak ada yang menjadi perhatianku kecuali rumah yang menjadi milik ibu pemuda itu. Aku menanyakannya dan mendatanginya. Ternyata pintunya berwarna hitam dan suara perempuan peratap terdengar dari dalam rumah.
Aku mengetuk pintu, keluarlah seorang nenek dan berkata: ‘Apa yang kamu inginkan, wahai orang ini?’ Aku berkata: ‘Aku ingin bertemu ibu pemuda yang meninggal.’ Dia berkata: ‘Apa yang akan kamu lakukan dengannya? Dia sedang sibuk dengan kesedihannya.’ Aku berkata: ‘Suruhlah dia keluar, aku membawa pesan dari anaknya.’
Dia masuk dan mengabarkannya, lalu keluarlah seorang ibu mengenakan pakaian hitam, wajahnya menghitam karena banyak menangis dan menampar. Dia berkata kepadaku: ‘Siapa kamu?’ Aku berkata: ‘Aku Salih Al-Marri. Tadi malam terjadi padaku di kuburan dengan anakmu begini dan begini. Aku melihatnya dalam siksaan dan dia berkata: “Wahai ibu, kamu telah membesarkanku dan melindungiku dari keburukan, tetapi ketika aku mati, kamu melemparkanku ke dalam siksaan. Jika kamu tidak meninggalkan apa yang kamu lakukan, maka Allah (akan menjadi hakim) antara aku dan kamu pada hari ketika langit terbelah dari langit.”‘
Ketika dia mendengar itu, dia pingsan dan jatuh ke tanah. Ketika sadar, dia menangis dengan keras dan berkata: ‘Wahai anakku, aku sayang kepadamu. Seandainya aku tahu tentang keadaanmu, aku tidak akan melakukannya. Aku bertobat kepada Allah Ta’ala dari itu.’
Kemudian dia masuk, menyuruh pergi para peratap, mengenakan pakaian selain pakaian itu, dan mengeluarkan kepadaku sebuah kantong berisi dirham yang banyak. Dia berkata: ‘Wahai Salih, sedekahkanlah ini untuk anakku.’
Salih berkata: “Aku berpamitan dengannya, mendoakannya, dan pergi. Aku menyedekahkan dirham-dirham itu untuk anaknya. Ketika malam Jumat berikutnya, aku datang ke kuburan seperti biasa, lalu tidur. Aku melihat penghuni kubur keluar dari kubur mereka dan duduk seperti biasa. Datanglah piring-piring kepada mereka. Pemuda itu tampak tertawa, gembira, dan senang. Datang kepadanya juga sebuah piring yang diambilnya.
Ketika dia melihatku, dia datang kepadaku dan berkata: ‘Wahai Salih, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan untukku. Allah telah meringankan siksaan dariku karena ibuku meninggalkan apa yang dia lakukan, dan datang kepadaku apa yang kamu sedekahkan untukku.’
Salih berkata: “Aku berkata: ‘Apa piring-piring ini?’ Dia berkata: ‘Ini adalah hadiah orang-orang hidup untuk mayit mereka berupa sedekah, bacaan, dan doa yang turun kepada mereka setiap malam Jumat. Dikatakan kepada mereka: “Ini hadiah si fulan untukmu.” Kembalilah kepada ibuku, sampaikanlah salamku, dan katakan kepadanya: “Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan untukku. Telah sampai kepadaku apa yang dia sedekahkan untukku. Kamu akan segera menyusulku, maka bersiaplah.”‘
Salih berkata: “Kemudian aku terbangun dan datang setelah beberapa hari ke rumah ibu pemuda itu. Ternyata ada keranda diletakkan di pintu. Aku bertanya: ‘Untuk siapa ini?’ Mereka berkata: ‘Untuk ibu pemuda.’ Aku hadir dalam shalat jenazahnya dan dia dikuburkan di samping anaknya di kuburan itu. Aku mendoakan mereka berdua dan pergi.
Kami memohon kepada Allah agar Dia mewafatkan kami dalam keadaan muslim, menyertakan kami dengan orang-orang saleh, dan melindungi kami dari neraka. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah, Maha Mulia, Maha Penyayang, Maha Pengasih.
DOSA BESAR KE-50: BERBUAT ANIAYA
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya (yang patut mendapat) pembalasan hanyalah terhadap orang-orang yang berbuat aniaya terhadap manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak; mereka itu akan mendapat azab yang pedih.” (QS. Asy-Syura: 42)
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian merendah diri sehingga tidak ada seorang pun yang berbuat aniaya terhadap yang lain, dan tidak ada seorang pun yang menyombongkan diri terhadap yang lain.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat disebutkan: “Seandainya suatu gunung berbuat aniaya terhadap gunung lain, niscaya Allah akan menjadikan yang berbuat aniaya di antara keduanya menjadi hancur lebur.”
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada dosa yang lebih layak untuk diberi balasan oleh Allah kepada pelakunya di dunia selain aniaya dan memutus hubungan kekerabatan.”
Allah telah menenggelamkan Qarun ke dalam bumi ketika dia berbuat aniaya terhadap kaumnya. Allah Ta’ala telah mengabarkan tentangnya dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka…” hingga firman-Nya: “Maka Kami benamkan dia beserta rumahnya ke dalam bumi.” (QS. Al-Qashash: 76-81)
Ibnu Al-Jauzi rahimahullah berkata tentang aniaya Qarun, ada beberapa pendapat:
Pertama: Dia memberikan upah kepada seorang pelacur agar menuduh Musa alaihissalam berbuat zina dengannya. Wanita itu melakukannya, kemudian Musa meminta dia bersumpah atas apa yang dikatakannya. Wanita itu kemudian menceritakan kisahnya dengan Qarun. Inilah aniaya yang dilakukannya, demikian menurut Ibnu Abbas.
Kedua: Dia berbuat aniaya dengan kekufuran kepada Allah Azza wa Jalla, menurut Adh-Dhahhak.
Ketiga: Dengan kekufuran, menurut Qatadah.
Keempat: Dia memanjangkan pakaiannya sejengkal karena kesombongan, menurut Atha’ Al-Khurasani.
Kelima: Dia melayani Fir’aun dan berbuat sewenang-wenang terhadap Bani Israil serta menzalimi mereka, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Mawardi.
Tentang firman “Maka Kami benamkan dia beserta rumahnya ke dalam bumi”, ketika Qarun memerintahkan pelacur untuk menuduh Musa sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, Musa menjadi marah lalu mendoakannya. Allah mewahyukan kepadanya: “Aku telah memerintahkan bumi untuk mentaatimu, maka perintahkanlah dia.” Musa berkata: “Wahai bumi, ambillah dia!” Maka bumi mengambilnya hingga menutupi kasurnya. Ketika Qarun melihat hal itu, dia memohon kepada Musa dengan mengatasnamakan hubungan kekerabatan. Musa berkata: “Wahai bumi, ambillah dia!” Maka bumi mengambilnya hingga menutupi kedua kakinya. Musa terus berkata: “Wahai bumi, ambillah dia!” hingga bumi menenggelamkannya sepenuhnya.
Allah kemudian mewahyukan kepadanya: “Wahai Musa, demi keagungan dan kemuliaan-Ku, seandainya dia meminta pertolongan kepada-Ku, niscaya Aku akan menolongnya.”
Ibnu Abbas berkata: Bumi menenggelamkannya hingga ke bumi yang paling bawah. Samurah bin Jundub berkata: Setiap hari dia tenggelam sedalam satu qamah (tinggi badan manusia). Muqatil berkata: Ketika Qarun binasa, Bani Israil berkata: “Musa membinasakan dia hanya untuk mengambil harta dan rumahnya.” Maka Allah menenggelamkan rumah dan hartanya setelah tiga hari. Tidak ada golongan yang menolongnya dari (azab) Allah, yaitu tidak ada yang dapat mencegahnya dari (azab) Allah, dan dia bukan termasuk orang-orang yang dapat membela diri dari apa yang Allah turunkan. Dan Allah lebih mengetahui.
Ya Allah, sesungguhnya apabila Engkau menerima, kami selamat. Apabila Engkau berpaling, kami berserah diri. Apabila Engkau memberi taufik, Engkau beri ilham. Apabila Engkau meninggalkan, kami dituduh. Ya Allah, hilangkanlah kegelapan dosa-dosa kami dengan cahaya ma’rifat dan hidayat-Mu. Jadikanlah kami termasuk orang yang Engkau hadapi sehingga berpaling dari selain-Mu. Ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum muslimin. Amin.
DOSA BESAR KE-51: BERBUAT SEWENANG-WENANG TERHADAP ORANG LEMAH, BUDAK, HAMBA SAHAYA, ISTRI, DAN HEWAN
Karena Allah Ta’ala telah memerintahkan untuk berbuat baik kepada mereka dengan firman-Nya: “Sembahlah Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. An-Nisa: 36)
Al-Wahidi berkata tentang firman Allah Ta’ala “Sembahlah Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatupun”: Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim Al-Mahrajani memberitahu kami dengan sanadnya dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu anhu, dia berkata: “Aku pernah menunggang di belakang Nabi Shallallahu alaihi wa sallam di atas seekor keledai. Beliau berkata: ‘Wahai Mu’adz!’ Aku menjawab: ‘Labbaik wa sa’daik ya Rasulallah.’ Beliau berkata: ‘Apakah kamu tahu apa hak Allah atas hamba-hamba-Nya dan apa hak hamba-hamba atas Allah?’ Aku menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Beliau berkata: ‘Sesungguhnya hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah agar mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan hak hamba-hamba atas Allah adalah agar Dia tidak menyiksa orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.'”
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu, dia berkata: “Seorang Arab Badui datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan berkata: ‘Wahai Nabi Allah, berilah aku wasiat.’ Beliau berkata: ‘Jangan menyekutukan Allah dengan sesuatupun, walaupun kamu dipotong dan dibakar. Jangan meninggalkan shalat pada waktunya karena shalat adalah tanggungan Allah. Jangan minum khamar karena khamar adalah kunci segala kejahatan.'”
Firman-Nya “dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa” maksudnya berbuat baik kepada keduanya dengan kelembutan dan bersikap lembut, tidak kasar dalam menjawab, tidak menatap keduanya dengan tajam, tidak meninggikan suara di hadapan keduanya, tetapi bersikap di hadapan keduanya seperti hamba di hadapan tuannya karena merendahkan diri kepada keduanya.
Firman-Nya “karib-kerabat” maksudnya menyambung hubungan dengan mereka dan berbelas kasih kepada mereka. “anak-anak yatim” dengan bersikap lemah lembut kepada mereka, mendekatkan mereka, dan mengusap kepala mereka. “orang-orang miskin” dengan memberikan sedikit dan perlakuan yang baik.
“tetangga yang dekat” yaitu yang ada hubungan kekerabatan denganmu, maka dia memiliki hak kekerabatan, hak bertetangga, dan hak Islam. “tetangga yang jauh” yaitu yang tidak ada hubungan kekerabatan denganmu. Dikatakan “rajulun junub” jika dia orang asing yang jauh dari keluarganya, dan “qaumun ajanib” artinya orang-orang asing, dan “al-janabah” artinya jauh.
Dari Aisyah radhiyallahu anha bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Jibril senantiasa berwasiat kepadaku tentang tetangga hingga aku mengira bahwa dia akan mewariskannya.”
Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya tetangga akan berpegang pada tetangganya pada hari kiamat sambil berkata: ‘Wahai Tuhanku, Engkau telah melapangkan rizki saudaraku ini dan menyempitkan rizki untukku. Aku bermalam dalam keadaan lapar sementara dia bermalam dalam keadaan kenyang. Tanyakanlah kepadanya mengapa dia menutup pintunya dari diriku dan mengharamkan kepadaku apa yang telah Engkau lapangkan untuknya.'”
“teman sejawat” Ibnu Abbas dan Mujahid berkata: yaitu teman dalam perjalanan, dia memiliki hak bertetangga dan hak persahabatan.
“ibnu sabil” yaitu orang lemah yang wajib dijamu hingga dia sampai ke tempat yang dituju. Ibnu Abbas berkata: yaitu orang yang melintas jalan, kamu beri tempat tinggal dan makanan hingga dia pergi dari tempatmu.
“hamba sahayamu” maksudnya budak, diperbaiki rizkinya dan dimaafkan kesalahannya.
Firman-Nya “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri”, Ibnu Abbas berkata: yang dimaksud dengan “mukhtalan” adalah orang yang sombong dalam dirinya yang tidak menunaikan hak-hak Allah, dan “fakhur” adalah orang yang membanggakan diri di hadapan hamba-hamba Allah dengan apa yang Allah berikan kepadanya berupa kemuliaan dan nikmat.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Ketika seorang pemuda dari umat sebelum kalian sedang berjalan dengan pakaian yang bagus dengan sombong dan bangga, tiba-tiba bumi menelannya, maka dia terombang-ambing di dalamnya hingga hari kiamat.”
Dari Usamah, dia berkata: Aku mendengar Ibnu Umar berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan memandangnya pada hari kiamat.”
Inilah yang disebutkan oleh Al-Wahidi. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ketika akan meninggalkan dunia dalam sakitnya yang terakhir berwasiat tentang shalat dan berbuat baik kepada budak, beliau bersabda: “Allah… Allah… (peliharalah) shalat dan hamba sahaya yang kalian miliki.”
Dalam hadits: “Berbuat baik dalam kepemilikan adalah keberuntungan, dan berbuat buruk dalam kepemilikan adalah kecelakaan.”
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang buruk dalam kepemilikannya.”
Abu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata: “Aku sedang memukul budakku dengan cambuk ketika aku mendengar suara dari belakangku: ‘Ketahuilah wahai Abu Mas’ud, bahwa Allah lebih berkuasa terhadapmu daripada kamu terhadap budak ini.’ Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, aku tidak akan memukul budakku lagi setelah ini selamanya.'” Dalam riwayat lain: “Cambuk jatuh dari tanganku karena takut kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.” Dalam riwayat lain: “Aku berkata: ‘Dia merdeka karena Allah.’ Beliau berkata: ‘Kalau kamu tidak melakukan itu, niscaya api neraka akan membakarmu pada hari kiamat.'” (HR. Muslim)
Muslim juga meriwayatkan dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, dia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa memukul budaknya karena dosa yang tidak dilakukannya atau menamparnya, maka kaffarahnya adalah memerdekakannya.”
Dari hadits Hakim bin Hizam, dia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah akan menyiksa orang-orang yang menyiksa manusia di dunia.”
Dalam hadits: “Barangsiapa memukul dengan cambuk secara zalim, akan diqishas daripadanya pada hari kiamat.”
Ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam: “Berapa kali kami memaafkan pembantu?” Beliau menjawab: “Dalam sehari tujuh puluh kali.”
Suatu hari ada siwak di tangan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, kemudian beliau memanggil seorang pembantunya, tetapi dia terlambat datang. Beliau bersabda: “Kalau bukan karena qishas, niscaya aku pukul kamu dengan siwak ini.”
Abu Hurairah radhiyallahu anhu memiliki seorang budak wanita berkulit hitam. Suatu hari dia mengangkat cambuk untuk memukulnya, kemudian berkata: “Kalau bukan karena qishas, niscaya aku pukul kamu. Tetapi aku akan menjualmu kepada orang yang memberiku harga yang cukup. Pergilah, kamu merdeka karena Allah.”
Seorang wanita datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku pernah berkata kepada budak wanitaku: ‘Wahai pezina!'” Beliau bertanya: “Apakah kamu melihat hal itu padanya?” Dia menjawab: “Tidak.” Beliau berkata: “Sesungguhnya dia akan meminta qishas darimu pada hari kiamat.” Wanita itu kembali kepada budak wanitanya, memberikannya cambuk dan berkata: “Pukulilah aku!” Budak wanita itu menolak, kemudian dia memerdekakannya. Setelah itu dia kembali kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan memberitahu tentang pembebasan budaknya. Beliau berkata: “Mudah-mudahan… mudah-mudahan pembebasanmu untuknya dapat menghapus tuduhan yang kamu lontarkan kepadanya.”
Dalam Shahihain disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa menuduh budaknya sedang dia tidak bersalah dari apa yang dikatakannya, akan dicambuk pada hari kiamat kecuali jika sesuai dengan apa yang dikatakannya.”
Dalam hadits: “Bagi budak adalah makanan dan pakaiannya, dan jangan dibebani dengan apa yang tidak mampu dilakukannya.”
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berwasiat kepada mereka ketika akan meninggalkan dunia: “Allah… Allah… peliharalah shalat dan hamba sahaya yang kalian miliki. Berilah mereka makan dari apa yang kalian makan, berilah mereka pakaian dari apa yang kalian kenakan, dan jangan bebani mereka dengan pekerjaan yang tidak mampu mereka lakukan. Jika kalian membebani mereka, maka bantulah mereka. Jangan menyiksa makhluk Allah, karena Dia memberikan mereka kepadamu sebagai milik. Seandainya Dia berkehendak, niscaya Dia akan memberikan kalian kepada mereka sebagai milik.”
Sekelompok orang masuk menemui Salman Al-Farisi radhiyallahu anhu ketika dia menjadi amir di Madain, mereka mendapatinya sedang menguleni adonan keluarganya. Mereka berkata kepadanya: “Mengapa tidak membiarkan budak wanita yang menguleni?” Dia radhiyallahu anhu menjawab: “Kami mengirimnya untuk pekerjaan lain, dan kami tidak suka menumpukkan pekerjaan lain lagi kepadanya.”
Sebagian salaf berkata: “Jangan pukul budak pada setiap kesalahan, tetapi simpanlah untuknya. Jika dia bermaksiat kepada Allah, maka pukullah dia karena maksiat kepada Allah dan ingatkan dia dengan dosa-dosa yang ada antara kamu dan dia.”
Pasal
Di antara perlakuan terburuk kepada budak laki-laki dan perempuan adalah memisahkan antara dia dengan anaknya atau antara dia dengan saudaranya, berdasarkan apa yang datang dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa memisahkan antara ibu dan anaknya, Allah akan memisahkan antara dia dan orang-orang yang dicintainya pada hari kiamat.”
Ali karramallahu wajhah berkata: “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menghadiahkan kepadaku dua orang budak yang bersaudara, kemudian aku menjual salah satu dari keduanya. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata: ‘Kembalikanlah, kembalikanlah dia.'”
Termasuk perlakuan buruk adalah membiarkan budak, budak wanita, dan hewan kelaparan. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Cukuplah bagi seseorang sebagai dosa bahwa dia menahan makanan dari yang dimilikinya.”
Termasuk juga memukul hewan dengan pukulan yang menyakitkan atau menahannya tanpa memenuhi kebutuhannya atau membebankannya melebihi kemampuannya. Telah diriwayatkan dalam tafsir firman Allah Ta’ala: “Tiada suatu binatang pun di bumi dan burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu.” (QS. Al-An’am: 38)
Dikatakan: “Mereka akan didatangkan bersama manusia dalam keadaan berdiri pada hari kiamat, kemudian akan diputuskan di antara mereka hingga diambilkan hak kambing yang tidak bertanduk dari kambing yang bertanduk, hingga dimintakan qishas untuk semut dari semut, kemudian dikatakan kepada mereka: ‘Jadilah kalian tanah.’ Maka di sanalah orang kafir berkata: ‘Alangkah baiknya seandainya aku dahulu menjadi tanah.'”
Ini adalah dalil tentang pengadilan antara binatang-binatang dan antara mereka dengan Bani Adam, hingga jika manusia memukul binatang tanpa hak atau membiarkannya lapar atau haus atau membebankannya melebihi kemampuannya, maka binatang itu akan meminta qishas daripadanya pada hari kiamat sesuai dengan kezaliman yang dilakukannya atau kelaparan yang ditimbulkannya.
Dalilnya adalah apa yang shahih dalam Shahihain dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Seorang wanita disiksa karena seekor kucing yang diikatnya hingga mati kelaparan. Dia tidak memberinya makan dan minum ketika mengurungnya, dan tidak membiarkannya makan dari serangga-serangga bumi.”
Dalam Shahih disebutkan bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melihat seorang wanita tergantung di neraka dan kucing menggaruk wajah dan dadanya, menyiksanya sebagaimana dia menyiksa kucing di dunia dengan mengurung dan membiarkannya kelaparan.
Ini berlaku umum untuk seluruh hewan. Demikian pula jika dia membebankannya melebihi kemampuannya, hewan itu akan meminta qishas daripadanya pada hari kiamat berdasarkan apa yang shahih dalam Shahihain bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Ketika seorang laki-laki sedang menggiring sapi, tiba-tiba dia menungganginya dan memukulnya. Sapi itu berkata: ‘Kami tidak diciptakan untuk ini. Kami hanya diciptakan untuk membajak.'”
Ini adalah sapi yang Allah beri kemampuan bicara di dunia untuk membela dirinya bahwa dia tidak boleh disakiti dan tidak boleh digunakan selain untuk apa yang diciptakan untuknya. Barangsiapa yang membebankannya melebihi kemampuannya atau memukulnya tanpa hak, maka pada hari kiamat dia akan meminta qishas daripadanya sesuai dengan pukulan dan siksaan yang diterimanya.
Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: “Suatu kali aku menunggang keledai dan memukulnya dua atau tiga kali. Keledai itu mengangkat kepalanya, memandangku, dan berkata: ‘Wahai Abu Sulaiman, ini adalah qishas pada hari kiamat. Jika kamu mau, kurangilah. Jika kamu mau, perbanyaklah.’ Aku berkata: ‘Aku tidak akan memukul apapun setelah ini selamanya.'”
Ibnu Umar melewati anak-anak Quraisy yang memasang burung sebagai sasaran untuk dilempar, dan mereka telah menjanjikan kepada pemilik burung setiap anak panah yang meleset. Ketika mereka melihat Ibnu Umar, mereka berpencar. Dia berkata: “Siapa yang melakukan ini? Semoga Allah melaknat yang melakukan ini. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melaknat orang yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai sasaran.”
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melarang menyiksa binatang, yaitu menahannya untuk dibunuh, walaupun itu termasuk yang diizinkan syara’ untuk dibunuh seperti ular, kalajengking, tikus, dan anjing buas, bunuhlah dengan sekali pukul dan jangan menyiksanya berdasarkan sabda beliau: “Jika kalian membunuh, maka berbuat baiklah dalam membunuh. Jika kalian menyembelih, maka berbuat baiklah dalam menyembelih. Hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya dan menenangkan sembelihannya.”
Demikian pula jangan membakarnya dengan api berdasarkan hadits shahih bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Aku pernah memerintahkan kalian untuk membakar si fulan dan si fulan dengan api, tetapi sesungguhnya api, tidak ada yang boleh menyiksa dengannya kecuali Allah. Jika kalian menemukan keduanya, maka bunuhlah.”
Ibnu Mas’ud berkata: “Kami bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam perjalanan, kemudian beliau pergi untuk suatu keperluan. Kami melihat burung hamra (sejenis burung) bersama dua anaknya, kemudian kami mengambil kedua anaknya. Burung hamra datang dan mulai mengepak-ngepakkan sayapnya. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam datang dan berkata: ‘Siapa yang membuat ini bersedih karena anaknya? Kembalikanlah kedua anaknya kepadanya.'”
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melihat sarang semut yang telah kami bakar, beliau berkata: “Siapa yang membakar ini?” Kami menjawab: “Kami.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya tidak layak bagi siapapun untuk menyiksa dengan api kecuali Tuhannya.”
Di dalamnya terdapat larangan membunuh dan menyiksa dengan api bahkan untuk kutu, pinjal, dan lainnya.
Pasal
Dimakruhkan membunuh hewan dengan sia-sia berdasarkan riwayat dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa membunuh burung pipit dengan sia-sia, dia akan berteriak kepada Allah pada hari kiamat sambil berkata: ‘Wahai Tuhanku, tanyakan kepada orang ini mengapa dia membunuhku dengan sia-sia, dan dia tidak membunuhku untuk kemanfaatan.'”
Dimakruhkan berburu burung pada hari-hari mereka beranak berdasarkan riwayat dalam atsar. Dimakruhkan menyembelih hewan di hadapan induknya berdasarkan riwayat dari Ibrahim bin Adham rahimahullah, dia berkata: “Seorang laki-laki menyembelih anak sapi di hadapan induknya, maka Allah mengeringkan tangannya.”
PASAL TENTANG KEUTAMAAN MEMERDEKAKAN BUDAK
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barangsiapa memerdekakan seorang mukmin, Allah akan memerdekakan setiap anggota tubuhnya dengan setiap anggota tubuh orang yang dimerdekakannya dari api neraka, hingga Dia memerdekakan kemaluannya dengan kemaluannya.” (HR. Bukhari)
Dari Abu Umamah radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam: “Siapa saja muslim yang memerdekakan seorang muslim, maka itu adalah penebus baginya dari api neraka, setiap anggota tubuhnya dibalas dengan setiap anggota tubuh orang yang dimerdekakannya. Siapa saja muslim yang memerdekakan dua orang wanita muslimah, maka keduanya adalah penebusnya dari api neraka, setiap dua anggota tubuh keduanya dibalas dengan satu anggota tubuhnya. Siapa saja wanita muslimah yang memerdekakan seorang wanita muslimah, maka dia adalah penebusnya dari api neraka, setiap anggota tubuhnya dibalas.” (HR. Tirmidzi dan dia menshahihkannya)
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan-Mu yang beruntung dan hamba-hamba-Mu yang saleh.
DOSA BESAR KE-52: MENYAKITI TETANGGA
Telah ditetapkan dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim) bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah, dia tidak beriman. Demi Allah, dia tidak beriman.” Ditanyakan: “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya, yaitu dari gangguan dan keburukannya.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang dosa terbesar di sisi Allah, lalu beliau menyebutkan tiga hal: bahwa engkau menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dia yang menciptakanmu, bahwa engkau membunuh anakmu karena takut dia akan makan bersamamu, dan bahwa engkau berzina dengan istri tetanggamu.
Dalam hadits juga disebutkan: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah dia menyakiti tetangganya.” Tetangga itu ada tiga macam: tetangga muslim yang masih kerabat, dia memiliki hak bertetangga, hak Islam, dan hak kekerabatan; tetangga muslim yang memiliki hak bertetangga dan hak Islam; dan tetangga kafir yang memiliki hak bertetangga.
Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma memiliki tetangga Yahudi. Ketika dia menyembelih kambing, dia berkata: “Bawalah sebagian daging ini kepada tetangga kita yang Yahudi.”
Diriwayatkan bahwa tetangga yang fakir akan bergantung pada tetangga yang kaya pada hari kiamat dan berkata: “Wahai Tuhanku, tanyakan kepada orang ini mengapa dia tidak berbuat baik kepadaku dan menutup pintunya untukku.”
Seorang tetangga hendaknya sabar terhadap gangguan tetangganya, karena itu termasuk berbuat baik kepadanya. Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku lakukan akan membuatku masuk surga.” Beliau menjawab: “Berbuat baiklah.” Dia bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana aku tahu bahwa aku berbuat baik?” Beliau menjawab: “Tanyakan kepada tetanggamu. Jika mereka mengatakan bahwa engkau berbuat baik, maka engkau memang berbuat baik. Dan jika mereka mengatakan bahwa engkau berbuat buruk, maka engkau memang berbuat buruk.” Hadits ini disebutkan oleh Al-Baihaqi dari riwayat Abu Hurairah.
Datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa menutup pintunya dari tetangganya karena takut terhadap keluarga dan hartanya, maka dia bukanlah orang beriman. Dan bukanlah orang beriman orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya.”
Dikatakan: “Sungguh seorang laki-laki berzina dengan sepuluh wanita itu lebih ringan daripada dia berzina dengan istri tetangganya. Dan sungguh seorang laki-laki mencuri dari sepuluh rumah itu lebih ringan daripada dia mencuri dari rumah tetangganya.”
Dalam Sunan Abu Dawud dari riwayat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengadukan tetangganya. Beliau berkata kepadanya: ‘Pergilah dan bersabarlah.’ Dia datang lagi dua atau tiga kali, kemudian beliau berkata: ‘Pergilah dan letakkan barang-barangmu di jalan.’ Dia pun melakukannya. Orang-orang yang lewat bertanya tentang keadaannya, lalu dia menceritakan masalahnya dengan tetangganya. Mereka pun melaknat tetangganya dan berkata: ‘Semoga Allah melakukan ini dan itu kepadanya’ dan mendoakannya dengan buruk. Lalu tetangganya datang kepadanya dan berkata: ‘Wahai saudaraku, kembalilah ke rumahmu, karena engkau tidak akan melihat sesuatu yang tidak engkau sukai lagi.'”
Dan hendaknya seseorang sabar terhadap gangguan tetangganya meskipun dia orang dzimmi (non-Muslim yang hidup di bawah perlindungan negara Islam). Diriwayatkan dari Sahl bin Abdullah At-Tusturi rahimahullah bahwa dia memiliki tetangga dzimmi. Dari kakus (jamban) tetangganya itu bocor ke salah satu ruangan di rumah Sahl. Sahl setiap hari meletakkan mangkuk besar di bawah bocoran itu untuk menampung kotoran yang jatuh dari kakus orang Majusi itu, lalu membuangnya pada malam hari di tempat yang tidak dilihat orang. Sahl rahimahullah terus melakukan hal ini dalam waktu yang lama sampai dia menghadapi kematian. Dia memanggil tetangganya yang Majusi itu dan berkata: “Masuklah ke ruangan itu dan lihat apa yang ada di dalamnya.” Dia masuk dan melihat bocoran itu dan kotoran yang jatuh ke dalam mangkuk. Dia bertanya: “Apa ini yang aku lihat?” Sahl berkata: “Ini sudah lama jatuh dari rumahmu ke ruangan ini, dan aku menampungnya di siang hari dan membuangnya di malam hari. Seandainya bukan karena ajalku telah datang dan aku takut orang lain tidak memiliki akhlak yang cukup untuk melakukan hal ini, maka aku tidak akan memberitahukannya kepadamu. Lakukanlah apa yang kau pandang baik.” Orang Majusi itu berkata: “Wahai syaikh, engkau memperlakukanku dengan perlakuan seperti ini sejak lama, sedangkan aku tetap dalam kekufuranku. Ulurkan tanganmu, karena aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Kemudian Sahl rahimahullah meninggal dunia. Kita memohon kepada Allah agar Dia membimbing kita dan kalian kepada akhlak dan perbuatan serta perkataan yang terbaik, dan agar Dia memperbaiki akhir kita. Sungguh Dia Maha Dermawan, Maha Mulia, Maha Penyayang, Maha Pengasih.
DOSA BESAR KE-53: MENYAKITI KAUM MUSLIMIN DAN MEMAKI MEREKA
Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)
Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok); dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain, boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat: 11)
Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya termasuk orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan manusia atau dihindari manusia karena takut terhadap keburukan ucapannya.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah telah mengangkat kesulitan kecuali dari orang yang menyerang kehormatan saudaranya, maka itulah orang yang dalam kesulitan atau binasa.”
Dalam hadits: “Seluruh diri seorang Muslim atas Muslim lainnya adalah haram: darahnya, hartanya, dan kehormatannya.”
Beliau ‘alaihis shalatu was salam bersabda: “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, dia tidak menzhaliminya, tidak menelantarkannya, dan tidak merendahkannya. Cukuplah bagi seseorang sebagai keburukan bahwa dia merendahkan saudaranya sesama Muslim.”
Dalam hadits juga: “Memaki seorang Muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran.”
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata: “Dikatakan: ‘Wahai Rasulullah, si fulanah shalat malam dan puasa siang, tetapi dia menyakiti tetangga-tetangganya dengan lisannya.’ Beliau menjawab: ‘Tidak ada kebaikan padanya, dia di neraka.'” Hadits ini dishahihkan oleh Al-Hakim.
Dalam hadits juga: “Sebutkanlah kebaikan-kebaikan orang-orang yang telah meninggal di antara kalian dan jauhilah keburukan-keburukan mereka.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menyeru seseorang dengan sebutan kafir atau berkata: ‘Wahai musuh Allah’ padahal dia tidak demikian, maka ucapan itu akan kembali kepadanya.”
Beliau ‘alaihis shalatu was salam bersabda: “Ketika aku diisra’kan pada suatu malam, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga, mereka mencakar wajah dan dada mereka dengan kuku-kuku itu. Aku bertanya: ‘Siapa mereka ini wahai Jibril?’ Dia menjawab: ‘Mereka ini adalah orang-orang yang memakan daging manusia dan menyerang kehormatan mereka.'”
FASAL: PERINGATAN TERHADAP KERUSAKAN DAN PENGADU DOMBA ANTARA ORANG-ORANG BERIMAN DAN ANTARA BINATANG-BINATANG
Shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya setan telah putus asa untuk disembah oleh orang-orang yang shalat di Jazirah Arab, tetapi (dia berusaha) dalam mengadu domba di antara mereka.” Maka setiap orang yang mengadu domba antara dua orang dari Bani Adam dan memindahkan di antara keduanya sesuatu yang menyakiti salah satunya, maka dia adalah tukang adu domba dari golongan setan, termasuk orang yang paling jahat sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang orang-orang yang paling jahat di antara kalian?” Mereka menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Orang-orang yang paling jahat di antara kalian adalah para penyebar fitnah, perusak di antara orang-orang yang saling mencintai, pencari kesulitan bagi orang-orang yang tidak bersalah.” Dan kesulitan berarti kesukaran.
Shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Tidak akan masuk surga seorang tukang adu domba.” Tukang adu domba adalah orang yang memindahkan pembicaraan antara manusia dan antara dua orang dengan sesuatu yang menyakiti salah satunya atau yang membuat hatinya was-was terhadap temannya atau sahabatnya dengan mengatakan kepadanya: “Si fulan berkata tentangmu begini dan begitu dan berbuat begini dan begitu,” kecuali jika dalam hal itu ada kemaslahatan atau manfaat seperti memperingatkannya dari keburukan yang akan terjadi atau mengakibatkan sesuatu.
Adapun mengadu domba antara binatang-binatang, hewan-hewan, burung-burung, dan lainnya, maka itu haram seperti mengadu ayam jantan agar saling mematuk, mengadu domba jantan agar saling menanduk, mengadu anjing satu dengan lainnya, dan yang serupa dengan itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang hal itu. Barangsiapa melakukan hal itu, maka dia bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Termasuk hal itu adalah merusak hati istri terhadap suaminya dan budak terhadap tuannya, sebagaimana diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Terkutuklah orang yang merusak (hubungan) seorang wanita dengan suaminya atau seorang budak dengan tuannya.” Kita berlindung kepada Allah dari hal itu.
FASAL: ANJURAN UNTUK MENDAMAIKAN ANTARA MANUSIA
Allah Ta’ala berfirman: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami beri kepadanya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa: 114)
Mujahid berkata: “Ayat ini berlaku umum di antara manusia,” maksudnya tidak ada kebaikan dalam apa yang dibicarakan dan dibahas manusia kecuali yang berupa amal-amal kebaikan, yaitu firman-Nya: “kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah” kemudian kata yang diidhafahkan dihapus “atau berbuat ma’ruf.” Ibnu Abbas berkata: “Yaitu silaturahmi dan ketaatan kepada Allah.” Dikatakan untuk semua amal kebajikan disebut ma’ruf karena akal dapat mengenalinya. Firman-Nya Ta’ala: “atau mengadakan perdamaian di antara manusia” ini termasuk yang dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Beliau berkata kepada Abu Ayyub Al-Anshari: “Maukah aku tunjukkan kepadamu sedekah yang lebih baik bagimu daripada unta merah?” Dia menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Engkau mendamaikan antara manusia ketika mereka berselisih dan mendekatkan mereka ketika mereka berjauhan.”
Umm Habibah radhiallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semua perkataan anak Adam itu merugikannya, bukan menguntungkannya, kecuali yang berupa menyuruh kepada kebaikan atau mencegah dari kemungkaran atau dzikir kepada Allah.”
Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki berkata kepada Sufyan: “Alangkah beratnya hadits ini.” Sufyan berkata: “Apakah engkau tidak mendengar firman Allah Ta’ala: ‘Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf’ sampai akhir ayat? Inilah yang dimaksud.” Kemudian Allah Subhanahu menjelaskan bahwa hal itu hanya bermanfaat bagi orang yang mencari apa yang ada di sisi Allah. Allah Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami beri kepadanya pahala yang besar” yaitu pahala yang tidak terbatas.
Dalam hadits: “Bukanlah pendusta orang yang mendamaikan antara manusia lalu menyebarkan kebaikan atau mengatakan kebaikan.” Diriwayatkan oleh Bukhari. Umm Kultsum berkata: “Dan aku tidak mendengar beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan keringanan dalam sesuatu yang dikatakan manusia kecuali dalam tiga hal: dalam perang, mendamaikan antara manusia, dan pembicaraan suami kepada istrinya dan pembicaraan istri kepada suaminya.”
Dari Sahl bin Sa’d As-Sa’idi radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar bahwa Bani Amr bin Auf terjadi perselisihan di antara mereka, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar untuk mendamaikan mereka bersama beberapa orang dari para sahabatnya. Diriwayatkan oleh Bukhari.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada amalan yang lebih utama daripada berjalan menuju shalat atau mendamaikan yang berselisih dan sumpah yang diperbolehkan di antara kaum muslimin.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mendamaikan antara dua orang, Allah akan memperbaiki urusannya dan memberikan kepadanya dengan setiap kata yang dikatakannya (pahala seperti) memerdekakan budak, dan dia pulang dalam keadaan diampuni dosanya yang telah lalu.” Dan dengan Allah lah pertolongan. Ya Allah, perlakukanlah kami dengan kelembutan-Mu dan jangkau kami dengan maaf-Mu, wahai Yang Maha Pengasih di antara yang pengasih.
DOSA BESAR KE-54: MENYAKITI HAMBA-HAMBA ALLAH DAN BERSIKAP SOMBONG KEPADA MEREKA
Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)
Allah Ta’ala berfirman: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu’ara: 215)
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: ‘Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya.'” Dalam riwayat lain: “maka dia telah menantang-Ku untuk berperang,” yaitu Aku beritahukan kepadanya bahwa Aku akan berperang dengannya.
Dalam hadits bahwa Abu Sufyan menemui Salman, Shuhaib, dan Bilal dalam suatu kelompok, lalu mereka berkata: “Pedang-pedang Allah belum mengambil haknya dari musuh Allah.” Abu Bakar radhiallahu ‘anhu berkata: “Apakah kalian mengatakan ini kepada pemuka Quraisy dan pemimpinnya?” Lalu dia menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan memberitahukan hal itu. Beliau bersabda: “Wahai Abu Bakar, jangan-jangan engkau membuat mereka marah. Jika engkau membuat mereka marah, berarti engkau membuat Tuhanmu marah.” Abu Bakar radhiallahu ‘anhu lalu menemui mereka dan berkata: “Wahai saudara-saudaraku, apakah aku membuat kalian marah?” Mereka menjawab: “Tidak, semoga Allah mengampunimu wahai saudara kami.” Perkataan mereka “mengambil haknya” maksudnya belum memenuhi haknya darinya.
FASAL: TENTANG FIRMAN-NYA TA’ALA: “DAN BERSABARLAH KAMU BERSAMA-SAMA DENGAN ORANG-ORANG YANG MENYERU TUHANNYA DI PAGI DAN SENJA HARI, SEDANG MEREKA MENGHENDAKI KERIDHAAN-NYA” (QS. Al-Kahf: 28)
Ayat-ayat ini tentang keutamaan orang-orang fakir. Sebab turunnya adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, orang pertama yang beriman kepadanya adalah orang-orang fakir. Demikian juga setiap nabi yang diutus, orang pertama yang beriman kepadanya adalah orang-orang fakir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa duduk bersama para sahabatnya yang fakir seperti Salman, Shuhaib, Bilal, dan Ammar bin Yasir radhiallahu ‘anhum.
Orang-orang musyrik ingin menipu beliau untuk mengusir orang-orang fakir karena mereka mendengar bahwa ciri khas para rasul adalah pengikut pertama mereka adalah orang-orang fakir. Maka datanglah beberapa pemuka orang-orang musyrik dan berkata: “Wahai Muhammad, usirlah orang-orang fakir dari sisimu, karena jiwa kami enggan duduk bersama mereka. Jika engkau mengusir mereka dari sisimu, niscaya orang-orang mulia dan para pemuka akan beriman kepadamu.” Maka Allah Ta’ala menurunkan: “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya.” (QS. Al-An’am: 52)
Ketika orang-orang musyrik putus asa untuk mengusir mereka, mereka berkata: “Wahai Muhammad, jika engkau tidak mau mengusir mereka, buatlah untuk kami suatu hari dan untuk mereka suatu hari.” Maka Allah Ta’ala menurunkan: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini.” (QS. Al-Kahf: 28) Maksudnya jangan melampaui mereka dan jangan memandang melewati mereka karena enggan kepada mereka dan mencari persahabatan dengan anak-anak dunia. “Dan katakanlah: ‘Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.'” (QS. Al-Kahf: 29) Kemudian Allah memberikan perumpamaan orang kaya dan orang fakir dengan firman-Nya: “Dan berikanlah kepada mereka perumpamaan dua orang laki-laki” (QS. Al-Kahf: 32) dan “Dan berikanlah kepada mereka perumpamaan kehidupan dunia” (QS. Al-Kahf: 45).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengagungkan orang-orang fakir dan memuliakan mereka. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah, mereka ikut hijrah bersamanya. Mereka tinggal di Shuffah masjid dalam keadaan mukim dan bertakwa, maka mereka disebut Ashab Ash-Shuffah. Setiap orang fakir yang hijrah bergabung dengan mereka hingga mereka menjadi banyak, radhiallahu ‘anhum.
Mereka ini menyaksikan apa yang Allah sediakan untuk para wali-Nya berupa kebaikan dan melihatnya dengan cahaya iman. Mereka tidak menggantungkan hati mereka pada sesuatu dari alam semesta, bahkan mereka berkata: “Hanya kepada-Mu kami menyembah, kepada-Mu kami tunduk dan sujud, dengan-Mu kami mendapat petunjuk dan meminta petunjuk, kepada-Mu kami bertawakal dan bergantung, dengan mengingat-Mu kami menikmati dan bergembira, di medan cinta-Mu kami bermain dan bersuka ria, untuk-Mu kami bekerja dan bersungguh-sungguh, dari pintu-Mu kami tidak akan pernah pergi.”
Maka saat itulah Allah memuliakan jalan mereka dan menyapa Rasul-Nya tentang mereka dengan berfirman: “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari” sampai akhir ayat. Maksudnya: jangan mengusir kaum yang pada sore hari mereka berbolak-balik dalam dzikir kepada Tuhan mereka, dan jika mereka pagi hari maka mereka kembali ke pintu-Nya. Jangan mengusir kaum yang masjid-masjid adalah tempat tinggal mereka, Allah adalah yang mereka cari dan pelindung mereka, lapar adalah makanan mereka, begadang ketika orang tidur adalah minuman mereka, fakir dan kekurangan adalah pakaian mereka, miskin dan malu adalah selimut mereka. Mereka mengikat kuda tekad mereka di pintu Tuan mereka dan merebahkan wajah mereka di mihrab-mihrab percakapan rahasia mereka.
Fakir itu ada yang umum dan khusus. Yang umum adalah kebutuhan kepada Allah Ta’ala, dan ini adalah sifat setiap makhluk, mukmin maupun kafir. Inilah makna firman-Nya Ta’ala: “Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah” sampai akhir ayat. (QS. Fathir: 15) Yang khusus adalah sifat para wali Allah dan kekasih-kekasih-Nya: kosongnya kedua tangan dari dunia dan kosongnya hati dari keterikatan kepadanya karena kesibukan dengan Allah ‘azza wa jalla dan kerinduan kepada-Nya serta senang dengan keluangan dan khalwat bersama Allah ‘azza wa jalla.
Ya Allah, rasakan kepada kami manisnya munajat kepada-Mu, dan tempuhlah dengan kami jalan keridhaan-Mu, putuskan dari kami segala yang menjauhkan kami dari hadirat-Mu, mudahkan bagi kami apa yang Engkau mudahkan bagi ahli cinta-Mu, ampunilah kami dan kedua orang tua kami serta kaum muslimin.
DOSA BESAR KE-55: MENJULURKAN KAIN SARUNG, PAKAIAN, DAN CELANA KARENA SOMBONG, BANGGA DIRI, DAN TAKABUR
Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apa yang berada di bawah kedua mata kaki dari kain sarung, maka itu di neraka.”
Beliau ‘alaihis shalatu was salam bersabda: “Allah tidak akan memandang orang yang menyeret kain sarungnya karena sombong.”
Beliau ‘alaihis shalatu was salam bersabda: “Tiga orang yang tidak akan Allah ajak bicara pada hari kiamat, tidak akan memandang mereka, tidak akan mensucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih: orang yang menjulurkan pakaiannya, orang yang menyebut-nyebut pemberiannya, dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu.”
Hadits tentang Kesombongan dalam Berpakaian
Dalam hadits disebutkan juga: “Ketika seorang laki-laki berjalan dengan pakaian yang membuatnya takjub pada dirinya sendiri, rambutnya tersisir rapi, ia berjalan dengan sombong, tiba-tiba bumi menelannya dan ia akan berguling-guling di dalamnya hingga hari kiamat.” Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa menyeret pakaiannya karena kesombongan, maka Allah tidak akan memandangnya pada hari kiamat.” Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Memanjangkan pakaian pada kain sarung dan sorban – barangsiapa menyeret sesuatu dari keduanya karena kesombongan, maka Allah tidak akan memandangnya pada hari kiamat.” Dan beliau ‘alaihis shalatu was salam bersabda: “Kain sarung orang mukmin sampai pertengahan betisnya, dan tidak ada dosa baginya pada bagian antara itu dan mata kaki. Apa yang berada di bawah mata kaki maka itu dalam neraka.” Dan ini berlaku umum untuk celana, baju, jubah, rompi, pakaian panjang dan lainnya dari pakaian. Maka kami memohon kepada Allah keselamatan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ketika seorang laki-laki sedang shalat dengan memanjangkan kain sarungnya, Rasulullah berkata kepadanya: ‘Pergilah dan berwudhulah.’ Kemudian ia datang lagi, maka beliau berkata: ‘Pergilah dan berwudhulah.’ Maka seseorang berkata kepadanya: ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau menyuruhnya berwudhu lalu diam tentang hal itu?’ Beliau menjawab: ‘Sesungguhnya ia sedang shalat dengan memanjangkan kain sarungnya, dan Allah tidak menerima shalat orang yang memanjangkan kain sarungnya.'” Dan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa menyeret pakaiannya karena kesombongan, maka Allah tidak akan memandangnya pada hari kiamat,” maka Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kain sarungku kendor kecuali jika aku menjaganya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Sesungguhnya engkau bukan termasuk orang yang melakukannya karena kesombongan.” Ya Allah, perlakukanlah kami dengan kebaikan-Mu yang indah dan sempurna dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.
DOSA BESAR KE-56: MEMAKAI SUTRA DAN EMAS BAGI LAKI-LAKI
Dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim) bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa memakai sutra di dunia, maka ia tidak akan memakainya di akhirat.” Dan ini berlaku umum bagi tentara dan selain mereka karena sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Diharamkan memakai sutra dan emas atas laki-laki umatku.”
Dari Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami minum dalam bejana emas dan perak, makan di dalamnya, memakai sutra dan sutra tebal, dan duduk di atasnya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari)
Barangsiapa menghalalkan memakai sutra bagi laki-laki maka ia kafir. Adapun Syari’ shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya memberikan keringanan untuk orang yang terkena gatal atau kudis atau lainnya, dan untuk para pejuang ketika berhadapan dengan musuh. Adapun memakai sutra untuk perhiasan bagi laki-laki maka haram menurut ijma’ kaum muslimin, baik itu berupa jubah atau pakaian Qibti atau kain katun. Demikian juga jika yang lebih banyak adalah sutra maka haram. Demikian juga emas, memakainya haram bagi laki-laki, baik berupa cincin, kalung, atau hiasan pedang, haram memakainya dan membuatnya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat di tangan seorang laki-laki cincin dari emas, maka beliau melepaskannya dan berkata: “Apakah salah seorang dari kalian sengaja mengambil bara api lalu meletakkannya di tangannya?” Demikian juga hiasan emas dan kain bordir emas haram bagi laki-laki.
Para ulama berbeda pendapat tentang bolehnya memakaikan anak kecil sutra dan emas. Sebagian membolehkannya dan yang lain melarangnya karena keumuman sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sutra dan emas: “Kedua ini haram bagi laki-laki umatku dan halal bagi perempuan mereka.” Maka anak kecil termasuk dalam larangan ini. Dan ini adalah madzhab Imam Ahmad dan lainnya rahimahullah. Maka kami memohon kepada Allah taufik untuk apa yang Dia cintai dan ridhai. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan lagi Mulia.
DOSA BESAR KE-57: BUDAK MELARIKAN DIRI
Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila budak melarikan diri, maka shalatnya tidak diterima.” Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Budak mana pun yang melarikan diri, maka ia telah lepas dari jaminan.”
Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dalam Shahihnya dari hadits Jabir berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tiga orang yang Allah tidak menerima shalat mereka dan tidak naik ke langit kebaikan mereka: budak yang melarikan diri hingga ia kembali kepada tuannya, perempuan yang suaminya murka kepadanya hingga suaminya ridha, dan orang mabuk hingga ia sadar.”
Dari Fadhalah bin ‘Ubaid secara marfu’: “Tiga orang yang tidak ditanya tentang mereka: seorang laki-laki yang memisahkan diri dari jamaah dan durhaka kepada imamnya, budak yang melarikan diri dan mati dalam kedurhakaan, dan seorang perempuan yang suaminya pergi darinya padahal ia telah mencukupi kebutuhannya namun ia berhias setelah kepergiannya” – yakni menampakkan kecantikannya sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah, yaitu masa antara Isa dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, demikian disebutkan oleh Al-Wahidi rahimahullah.
DOSA BESAR KE-58: MENYEMBELIH UNTUK SELAIN ALLAH ﷻ
Seperti orang yang berkata dengan nama setan atau berhala atau dengan nama syaikh fulan. Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu memakan dari apa yang tidak disebut nama Allah atasnya” (QS. Al-An’am: 121).
Ibnu Abbas berkata: “Yang dimaksud adalah bangkai dan yang tercekik hingga firman-Nya: ‘dan yang disembelih atas berhala.'” Al-Kalbi berkata: “Apa yang tidak disebut nama Allah atasnya atau disembelih untuk selain Allah Ta’ala.” Atha’ berkata: “Melarang dari sembelihan yang disembelih oleh Quraisy dan Arab atas berhala-berhala.”
Firman-Nya: “Dan sesungguhnya itu adalah kefasikan” yakni sesungguhnya segala apa yang tidak disebut nama Allah atasnya dari bangkai adalah fasik atau keluar dari kebenaran dan agama. “Dan sesungguhnya setan-setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu” yakni setan membisikkan kepada kawan-kawannya lalu memasukkan ke dalam hatinya perdebatan dengan kebatilan. Yaitu bahwa orang-orang musyrik membantah orang-orang mukmin dalam masalah bangkai.
Ibnu Abbas berkata: “Setan membisikkan kepada kawan-kawannya dari kalangan manusia: ‘Bagaimana kalian menyembah sesuatu yang tidak kalian makan apa yang dibunuhnya, padahal kalian makan apa yang kalian bunuh?’ Maka Allah menurunkan ayat ini: ‘Dan jika kamu menaati mereka’ yakni dalam menghalalkan bangkai ‘sesungguhnya kamu adalah orang-orang musyrik.'”
Az-Zajjaj berkata: “Dan dalam hal ini ada dalil bahwa setiap orang yang menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah atau mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah maka ia musyrik.”
Jika dikatakan: “Bagaimana kalian membolehkan sembelihan muslim jika ia meninggalkan menyebut nama Allah padahal ayat ini seperti nash dalam pengharaman?” Kami jawab: “Sesungguhnya para mufassir menafsirkan ‘apa yang tidak disebut nama Allah atasnya’ dalam ayat ini dengan bangkai dan tidak ada seorang pun yang mengartikannya dengan sembelihan muslim jika ia meninggalkan menyebut nama Allah. Dan dalam ayat ada beberapa hal yang menunjukkan bahwa ayat ini dalam pengharaman bangkai, di antaranya firman-Nya: ‘Dan sesungguhnya itu adalah kefasikan’ dan tidak fasik orang yang memakan sembelihan muslim yang meninggalkan menyebut nama Allah. Di antaranya firman-Nya: ‘Dan sesungguhnya setan-setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu’ dan perdebatan itu hanyalah dalam masalah bangkai menurut ijma’ para mufassir, bukan dalam sembelihan yang meninggalkan menyebut nama Allah dari kaum muslimin. Di antaranya firman-Nya: ‘Dan jika kamu menaati mereka sesungguhnya kamu adalah orang-orang musyrik’ dan kemusyrikan itu dalam menghalalkan bangkai bukan dalam menghalalkan sembelihan yang tidak disebut nama Allah atasnya.”
Abu Manshur telah mengabarkan kepada kami dengan sanadnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Bagaimana pendapatmu tentang laki-laki dari kami yang menyembelih dan lupa menyebut nama Allah Ta’ala?’ Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Nama Allah ada di mulut setiap muslim.'”
Abu Manshur juga mengabarkan kepada kami dengan sanadnya dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Cukup baginya namanya, dan jika ia lupa menyebut nama ketika menyembelih maka hendaklah ia menyebut nama dan mengingat Allah kemudian makan.”
Amr bin Abi Amr mengabarkan kepada kami dengan sanadnya dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa suatu kaum berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya suatu kaum mendatangi kami dengan daging, kami tidak tahu apakah disebut nama Allah atasnya atau tidak?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebutlah nama Allah atasnya dan makanlah.” Ini akhir perkataan Al-Wahidi rahimahullah. Dan telah disebutkan sebelumnya sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.”
DOSA BESAR KE-59: MENGAKU KEPADA SELAIN AYAHNYA PADAHAL IA MENGETAHUI
Dari Sa’d radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mengaku kepada selain ayahnya padahal ia mengetahui bahwa itu bukan ayahnya, maka surga haram baginya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian berpaling dari ayah-ayah kalian. Barangsiapa berpaling dari ayahnya maka ia kafir.” (Diriwayatkan oleh Bukhari)
Dan di dalamnya juga: “Barangsiapa mengaku kepada selain ayahnya maka atasnya laknat Allah.”
Dari Zaid bin Syarik berkata: “Aku melihat Ali radhiyallahu ‘anhu berkhutbah di atas mimbar, aku mendengarnya berkata: ‘Demi Allah, tidak ada pada kami kitab yang kami baca kecuali Kitab Allah Ta’ala dan apa yang ada dalam lembaran ini.’ Maka ia membentangkannya, ternyata di dalamnya ada (hukuman) gigi unta dan sesuatu dari luka-luka. Dan di dalamnya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Madinah haram antara ‘Air sampai Tsaur. Barangsiapa membuat kerusakan di dalamnya atau melindungi pelaku kerusakan, maka atasnya laknat Allah, malaikat, dan semua manusia. Allah tidak menerima darinya pada hari kiamat tebusan dan keadilan. Dan barangsiapa berpaling kepada selain walinya maka atasnya seperti itu. Dan perlindungan kaum muslimin adalah satu.'” (Diriwayatkan oleh Bukhari)
Dari Abu Dzar bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bukan dari golongan kami seorang laki-laki yang mengaku kepada selain ayahnya padahal ia mengetahuinya kecuali ia kafir. Dan barangsiapa mengaku apa yang bukan haknya maka ia bukan dari golongan kami dan hendaklah ia menempati tempatnya dari neraka. Dan barangsiapa memanggil seseorang dengan kekafiran atau berkata: ‘Hai musuh Allah’ padahal tidak demikian kecuali akan kembali kepadanya.” (Diriwayatkan oleh Muslim)
Maka kami memohon kepada Allah ampunan, keselamatan, dan taufik untuk apa yang Dia cintai dan ridhai. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan lagi Mulia.
DOSA BESAR KE-60: PERDEBATAN, BANTAHAN, DAN KERAS KEPALA
Allah Ta’ala berfirman: “Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) apa yang ada dalam hatinya, padahal dia adalah musuh yang paling keras, dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di muka bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan” (QS. Al-Baqarah: 204-205).
Di antara kata-kata yang tercela adalah bantahan, perdebatan, dan pertengkaran. Imam Hujjatul Islam Al-Ghazali rahimahullah berkata: “Bantahan adalah menyerang perkataan untuk menampakkan cacat di dalamnya tanpa tujuan selain merendahkan yang mengatakannya dan menampakkan kelebihanmu atasnya.”
Beliau berkata: “Adapun perdebatan adalah ungkapan tentang sesuatu yang berkaitan dengan menampakkan madzhab-madzhab dan menetapkannya.”
Beliau berkata: “Adapun pertengkaran adalah keras kepala dalam perkataan untuk memenuhi maksud berupa harta atau lainnya. Terkadang dimulai dan terkadang berupa bantahan. Bantahan tidak ada kecuali bantahan.” Ini perkataan Al-Ghazali.
An-Nawawi rahimahullah berkata: “Ketahuilah bahwa perdebatan terkadang dengan hak dan terkadang dengan batil.” Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab melainkan dengan cara yang paling baik” (QS. Al-Ankabut: 46). Dan Allah berfirman: “Dan debatlah mereka dengan cara yang paling baik” (QS. An-Nahl: 125). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Tidak ada yang membantah ayat-ayat Allah kecuali orang-orang yang kafir” (QS. Ghafir: 4).
Beliau berkata: “Jika perdebatan untuk mengetahui kebenaran dan menetapkannya maka itu terpuji. Jika untuk menolak kebenaran atau perdebatan tanpa ilmu maka tercela. Atas dasar rincian inilah dinilai nash-nash yang datang tentang kebolehan dan celanya. Perdebatan dan debat bermakna satu.”
Sebagian mereka berkata: “Aku tidak melihat sesuatu yang lebih menghilangkan agama, lebih mengurangi kehormatan, dan lebih menyibukkan hati daripada pertengkaran.”
Jika dikatakan: manusia pasti membutuhkan pertengkaran untuk mengambil hak-haknya, maka jawabannya adalah apa yang dijawab oleh Al-Ghazali rahimahullah: “Ketahuilah bahwa celaan yang pasti adalah bagi orang yang bertengkar dengan batil dan tanpa ilmu seperti wakil hakim karena ia mewakili dalam pertengkaran sebelum mengetahui kebenaran di pihak mana, maka ia bertengkar tanpa ilmu. Masuk dalam celaan juga orang yang menuntut haknya karena ia tidak membatasi pada kadar kebutuhan tetapi menampakkan keras kepala, bohong, menyakiti, dan menguasai lawannya. Demikian juga orang yang mencampur dengan pertengkaran kata-kata yang menyakiti padahal ia tidak membutuhkannya dalam meraih haknya. Demikian juga orang yang mendorongnya pada pertengkaran hanyalah keras kepala untuk mengalahkan lawan dan mematahkannya. Ini yang tercela.”
“Adapun orang yang terzalimi yang membela hujjahnya dengan jalan syariat tanpa keras kepala dan berlebihan serta kelebihan keras kepala atas kebutuhan tanpa maksud keras kepala dan tidak menyakiti, maka perbuatan ini tidak haram. Tetapi yang lebih utama adalah meninggalkannya jika ia menemukan jalan untuk itu karena mengendalikan lisan dalam pertengkaran pada batas keseimbangan sulit, dan pertengkaran menggerogoti dada serta membangkitkan kemarahan. Jika kemarahan bangkit maka terjadi dendam antara keduanya hingga masing-masing dari mereka gembira dengan kesusahan yang lain dan sedih dengan kebahagiaannya serta melepaskan lisannya dalam kehormatannya. Barangsiapa bertengkar maka ia telah terbuka pada bencana-bencana ini. Paling sedikit darinya adalah kesibukan hati hingga ia dalam shalatnya dan pikirannya terkait dengan perdebatan dan pertengkaran, maka tidak tersisa keadaannya atas kelurusan. Pertengkaran adalah permulaan kejahatan. Demikian juga perdebatan dan bantahan. Maka sepatutnya bagi manusia tidak membuka pintu pertengkaran kecuali untuk darurat yang tidak bisa dihindarinya.”
Kami riwayatkan dalam kitab At-Tirmidzi dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Cukup bagimu dosa bahwa kamu selalu bertengkar.”
Datang dari Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya pertengkaran itu ada kehancurannya.” Aku katakan: al-quhum dengan dhummah qaf dan fathah ha’ yang tidak bertitik, yaitu kebinasaan-kebinasaan.
Fasal
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa berdebat dalam pertengkaran tanpa ilmu, maka ia tidak akan lepas dari murka hingga ia berhenti.”
Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah sesat suatu kaum setelah petunjuk yang mereka miliki kecuali mereka diberi perdebatan.” Kemudian beliau membaca: “Mereka tidak memberikannya kepadamu kecuali karena perdebatan” (QS. Az-Zukhruf: 58).
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Yang paling aku takutkan atas kalian adalah tergelincirnya seorang alim, debat munafik dalam Al-Qur’an, dan dunia yang memotong leher-leher kalian.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Umar)
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bantahan dalam Al-Qur’an adalah kekafiran.”
Fasal
Dibenci pengubahan dalam perkataan dengan berlebihan dan memaksakan sajak dengan kefasihan dengan mukadimah-mukadimah yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang berlagak fasih. Semua itu termasuk pemaksaan yang tercela. Bahkan sepatutnya ia bermaksud dalam pembicaraannya dengan lafazh yang dipahaminya dengan jelas dan tidak memberatkannya.
Kami riwayatkan dalam kitab At-Tirmidzi dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah membenci orang yang pandai bicara dari kalangan laki-laki yang menggerak-gerakkan lidahnya sebagaimana sapi menggerak-gerakkan (mulutnya).” At-Tirmidzi berkata: “Hadits hasan.”
Dan kami riwayatkan di dalamnya juga dari Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat denganku tempat duduknya pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya di antara kalian. Dan sesungguhnya yang paling aku benci di antara kalian dan paling jauh dariku tempat duduknya pada hari kiamat adalah ats-tsartsarun, al-mutasyaddiqun, dan al-mutafaihiqun.” Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui ats-tsartsarun dan al-mutasyaddiqun, maka apa al-mutafaihiqun?” Beliau bersabda: “Orang-orang yang sombong.” At-Tirmidzi berkata: “Hadits hasan.”
Beliau berkata: “Ats-tsartsar adalah yang banyak bicara, al-mutasyaddiq adalah orang yang meninggikan diri atas manusia dalam perkataan dan kasar kepada mereka.”
Ketahuilah bahwa tidak masuk dalam celaan memperindah lafazh khutbah dan nasihat jika tidak ada di dalamnya berlebihan dan keanehan, kecuali bahwa yang dimaksud darinya adalah menggerakkan hati kepada ketaatan kepada Allah Ta’ala, dan keindahan lafazh dalam hal ini ada pengaruh yang nyata. Wallahu a’lam.
DOSA BESAR KE-61: MENCEGAH KELEBIHAN AIR
Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Bagaimana pendapatmu jika air kamu menjadi surut ke dalam tanah, maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?'” (QS. Al-Mulk: 30)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian mencegah kelebihan air sehingga dengan itu kalian mencegah rumput.” Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mencegah kelebihan airnya dan kelebihan rumputnya, maka Allah akan mencegah keutamaannya pada hari kiamat.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah, tidak akan dipandang-Nya pada hari kiamat, tidak akan disucikan-Nya, dan bagi mereka azab yang pedih: seorang laki-laki yang memiliki kelebihan air di tempat terpencil lalu dia mencegahnya dari musafir, seorang laki-laki yang membaiat seorang imam tidak membaiatnya kecuali karena dunia, jika diberi darinya maka dia menepati, dan jika tidak diberi darinya maka dia tidak menepati, dan seorang laki-laki yang menjual barang kepada seseorang setelah shalat Ashar lalu dia bersumpah demi Allah bahwa dia telah mengambilnya dengan harga sekian dan sekian, maka orang itu membenarkannya padahal tidak demikian.” Hadits ini diriwayatkan dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim).
Bukhari menambahkan: “Dan seorang laki-laki yang mencegah kelebihan airnya, maka Allah berfirman: ‘Hari ini Aku cegah keutamaan-Ku darimu sebagaimana engkau mencegah kelebihan apa yang tidak dikerjakan tanganmu.'”
DOSA BESAR KE-62: MENGURANGI TAKARAN DAN TIMBANGAN SERTA YANG SERUPA
Allah Ta’ala berfirman: “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang” (QS. Al-Muthaffifin: 1), yaitu orang-orang yang mengurangi hak manusia dan merugikan mereka dalam takaran dan timbangan.
Firman-Nya: “Yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi” (QS. Al-Muthaffifin: 2), artinya mereka meminta haknya dipenuhi. Az-Zajjaj berkata: “Maknanya adalah apabila mereka menerima takaran dari orang lain, mereka meminta dipenuhi atas mereka, begitu juga apabila mereka menimbang. Dan tidak disebutkan ‘apabila mereka menimbang’ karena takaran dan timbangan adalah alat jual beli dalam hal yang ditakar dan ditimbang, maka salah satunya menunjukkan yang lain.”
“Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain mereka mengurangi” (QS. Al-Muthaffifin: 3), artinya mereka mengurangi dalam takaran dan timbangan.
As-Suddi berkata: “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, di sana ada seorang laki-laki bernama Abu Juhainah yang memiliki dua takaran, dia menakar dengan salah satunya dan menerima takaran dengan yang lain, maka Allah menurunkan ayat ini.”
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Lima dengan lima.” Mereka bertanya: “Ya Rasulullah, apa lima dengan lima?” Beliau bersabda: “Tidaklah suatu kaum melanggar janji kecuali Allah menguasakan musuh mereka atas mereka. Tidaklah mereka memutuskan perkara dengan selain apa yang Allah turunkan kecuali tersebar di antara mereka kemiskinan. Tidaklah tampak di antara mereka perbuatan keji kecuali Allah turunkan kepada mereka wabah, yaitu banyaknya kematian. Tidaklah mereka mengurangi takaran kecuali dicegah tumbuh-tumbuhan dan ditimpa dengan tahun-tahun paceklik. Dan tidaklah mereka mencegah zakat kecuali ditahan dari mereka hujan.”
“Tidakkah mereka itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan” (QS. Al-Muthaffifin: 4). Az-Zajjaj berkata: “Maknanya adalah seandainya mereka menyangka bahwa mereka akan dibangkitkan, niscaya mereka tidak akan mengurangi dalam takaran dan timbangan.”
“Pada suatu hari yang besar” (QS. Al-Muthaffifin: 5), yaitu hari kiamat. “Pada hari ketika semua orang berdiri menghadap Tuhan semesta alam” (QS. Al-Muthaffifin: 6), yaitu untuk perintah-Nya, pembalasan-Nya dan perhitungan-Nya. Mereka berdiri di hadapan-Nya untuk keputusan penghakiman.
Dari Malik bin Dinar, dia berkata: “Seorang tetangga masuk ke rumahku ketika kematian telah menghampirinya, dan dia berkata: ‘Dua gunung api, dua gunung api.’ Aku bertanya: ‘Apa yang kamu katakan?’ Dia berkata: ‘Wahai Abu Yahya, aku memiliki dua takaran, aku menakar dengan salah satunya dan menerima takaran dengan yang lain.’ Malik bin Dinar berkata: ‘Aku berdiri dan memukul salah satunya dengan yang lain.’ Dia berkata: ‘Wahai Abu Yahya, setiap kali engkau memukul salah satunya dengan yang lain, bertambah besar dan berat urusan itu.’ Maka dia meninggal dalam sakitnya.”
Muthaffif adalah orang yang mengurangi takaran dan timbangan. Disebut muthaffif karena dia hampir tidak mencuri kecuali sesuatu yang sedikit (thafif). Itu adalah bentuk pencurian, pengkhianatan, dan memakan yang haram. Kemudian Allah mengancam orang yang melakukan itu dengan wail, yaitu siksa yang keras. Ada yang berkata: wail adalah lembah di neraka, seandainya gunung-gunung dunia dijalankan di dalamnya, niscaya akan meleleh karena panasnya yang sangat.
Sebagian salaf berkata: “Aku bersaksi atas setiap penakar atau penimbang dengan api, karena hampir tidak selamat kecuali yang dilindungi Allah.”
Sebagian mereka berkata: “Aku masuk kepada seorang yang sakit ketika kematian telah menghampirinya. Aku mengajarkan kepadanya syahadat tetapi lidahnya tidak dapat mengucapkannya. Ketika dia sadar, aku berkata kepadanya: ‘Wahai saudaraku, mengapa aku mengajarkan syahadat kepadamu tetapi lidahmu tidak dapat mengucapkannya?’ Dia berkata: ‘Wahai saudaraku, lidah timbangan di atas lidahku menghalangiku mengucapkannya.’ Aku berkata kepadanya: ‘Demi Allah, apakah engkau menimbang dengan kurang?’ Dia berkata: ‘Tidak, demi Allah, tetapi aku tidak pernah berdiri lama untuk menguji kebenaran timbanganku.’ Inilah keadaan orang yang tidak memperhatikan kebenaran timbangannya, bagaimana keadaan orang yang menimbang dengan kurang?”
Nafi’ berkata: “Ibnu Umar pernah melewati penjual, lalu berkata: ‘Bertakwalah kepada Allah dan sempurnakanlah takaran dan timbangan, karena orang-orang yang mengurangi takaran akan dihentikan sampai keringat membekap mereka hingga setengah telinga.’ Begitu juga pedagang yang mengeraskan tangannya pada lengan baju ketika menjual dan melonggarkannya ketika membeli.”
Sebagian salaf berkata: “Celakalah orang yang menjual dengan sebutir yang dia berikan kurang, (dia kehilangan) surga yang luasnya langit dan bumi. Dan celakalah orang yang membeli kecelakaan dengan sebutir yang dia ambil lebih.”
Maka kami memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan dari segala bala dan cobaan. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan lagi Mulia.
DOSA BESAR KE-63: MERASA AMAN DARI TIPU DAYA ALLAH
Allah Ta’ala berfirman: “Hingga apabila mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong” (QS. Al-An’am: 44), artinya Kami timpakan azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari.
Al-Hasan berkata: “Barangsiapa dilapangkan Allah rezekinya tetapi dia tidak melihat bahwa Allah memperdayanya, maka dia tidak berakal. Dan barangsiapa disempitkan rezekinya tetapi dia tidak melihat bahwa Allah memperhatikannya, maka dia tidak berakal.” Kemudian dia membaca ayat ini: “Hingga apabila mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka tiba-tiba mereka terdiam putus asa” (QS. Al-An’am: 44).
Dia berkata: “Kaum itu diperdaya, demi Tuhan Ka’bah. Mereka diberi apa yang mereka butuhkan kemudian diambil.”
Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila engkau melihat Allah memberikan kepada hamba apa yang dia sukai padahal dia tetap dalam kemaksiatannya, maka sesungguhnya itu adalah istidraj (penyesatan bertahap) dari-Nya.” Kemudian beliau membaca: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami bukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; hingga apabila mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka jadilah mereka terdiam putus asa” (QS. Al-An’am: 44).
Iblas adalah putus asa dari keselamatan ketika datang kebinasaan. Ibnu Abbas berkata: “Mereka putus asa dari segala kebaikan.” Az-Zajjaj berkata: “Mublis adalah orang yang sangat menyesal, putus asa, dan sedih.”
Dalam atsar disebutkan bahwa ketika Allah memperdaya Iblis padahal dia dari golongan malaikat, Jibril dan Mikail menangis. Allah ‘azza wa jalla berkata kepada keduanya: “Mengapa kalian menangis?” Keduanya berkata: “Ya Tuhan, kami tidak merasa aman dari tipu daya-Mu.” Allah Ta’ala berfirman: “Begitulah, jadilah kalian demikian, jangan merasa aman dari tipu daya-Ku.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa: “Ya Muqallibal qulub (Wahai Dzat Yang membolak-balik hati), tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu.” Ditanya kepada beliau: “Ya Rasulullah, apakah engkau khawatir atas kami?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sesungguhnya hati-hati itu di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman, Dia membolak-balikkannya sebagaimana Dia kehendaki.”
Dalam hadits shahih: “Sesungguhnya seseorang beramal dengan amalan ahli surga hingga tidak ada jarak antara dia dan surga kecuali satu hasta, lalu catatan takdir mendahuluinya, maka dia beramal dengan amalan ahli neraka lalu memasukinya.”
Dalam Shahih Bukhari dari Sahl bin Sa’d As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya seseorang beramal dengan amalan ahli neraka padahal dia termasuk ahli surga, dan seseorang beramal dengan amalan ahli surga padahal dia termasuk ahli neraka. Sesungguhnya amal itu (dinilai) berdasarkan penghabisannya.”
Allah Ta’ala telah menceritakan dalam kitab-Nya yang mulia kisah Bil’am, bahwa dia dicabut imannya setelah ilmu dan pengetahuan. Demikian juga Barshisha sang ahli ibadah, dia meninggal dalam keadaan kafir.
Diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki di Mesir yang bertugas di masjid untuk adzan dan shalat, padanya ada cahaya ibadah dan nur ketaatan. Pada suatu hari dia naik menara seperti biasanya untuk adzan. Di bawah menara ada rumah seorang Nasrani dzimmi. Dia mengintip ke dalam rumah itu dan melihat anak perempuan pemilik rumah yang cantik. Dia terpesona kepadanya, meninggalkan adzan, dan turun kepadanya.
Perempuan itu berkata kepadanya: “Apa maumu dan apa yang kamu inginkan?” Dia berkata: “Aku menginginkanmu.” Dia berkata: “Aku tidak akan memenuhi kemaksiatan.” Dia berkata kepadanya: “Aku akan menikahlah denganmu.” Dia berkata kepadanya: “Engkau muslim dan ayahku tidak akan menikahkanku denganmu.” Dia berkata: “Aku akan menjadi Nasrani.” Dia berkata kepadanya: “Jika engkau lakukan, maka aku akan lakukan.” Maka dia menjadi Nasrani untuk menikah dengannya dan tinggal bersama mereka di rumah.
Ketika di pertengahan hari itu, dia naik ke atap yang ada di rumah lalu terjatuh dan meninggal. Maka dia tidak memperoleh agamanya dan tidak pula menikmati perempuan itu. Kami berlindung kepada Allah dari tipu daya-Nya, buruknya akibat, dan buruknya akhir.
Dari Salim dari Abdullah, dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering bersumpah: ‘Tidak, demi Dzat Yang membolak-balik hati.'” Diriwayatkan oleh Bukhari. Maknanya adalah Dia mengubahnya lebih cepat dari berjalannya angin dengan perbedaan dalam menerima dan menolak, keinginan dan kebencian, dan sifat-sifat lainnya.
Dalam Al-Quran: “Dan ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya” (QS. Al-Anfal: 24). Mujahid berkata: “Maknanya adalah Dia membatasi antara manusia dan akalnya hingga dia tidak tahu apa yang diperbuat jarinya.” “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang yang mempunyai hati” (QS. Qaf: 37), yaitu akal.
Ath-Thabari memilih bahwa itu adalah pemberitahuan dari Allah Ta’ala bahwa Dia lebih berkuasa atas hati hamba daripada mereka sendiri, dan bahwa Dia membatasi antara mereka dan hatinya jika Dia kehendaki hingga manusia tidak dapat memahami sesuatu kecuali dengan kehendak Allah ‘azza wa jalla.
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa: ‘Ya Muqallibal qulub, tsabbit qalbi ‘ala tha’atika (Wahai Dzat Yang membolak-balik hati, tetapkanlah hatiku di atas ketaatan kepada-Mu).’ Aku berkata: ‘Ya Rasulullah, engkau sering berdoa dengan ini, apakah engkau khawatir?’ Beliau berkata: ‘Apa yang membuatku aman, wahai Aisyah? Hati-hati hamba itu di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman, Dia membolak-balikkannya sebagaimana Dia kehendaki. Jika Dia menghendaki membolak-balik hati seorang hamba, Dia membolak-balikkannya.'”
Jika hidayah sudah diketahui dan istiqamah bergantung pada kehendak-Nya, dan akibat tidak diketahui, dan kehendak tidak dapat dilawan, maka jangan takjub dengan iman, amal, shalat, puasa, dan seluruh ibadahmu. Jika itu dari usahamu, maka sesungguhnya itu dari ciptaan Tuhanmu dan karunia-Nya yang mengalir kepadamu. Maka apa pun yang kamu banggakan dari itu, kamu membanggakan barang orang lain. Barangkali Dia mencabutnya darimu, maka hatimu kembali dari kebaikan lebih kosong daripada perut keledai.
Berapa banyak taman yang petangnya bunganya segar dan subur, paginya bunganya kering dan hancur, ketika angin kerusakan bertiup kepadanya. Demikian juga hamba, dia sore hari dengan hatinya bersinar karena ketaatan kepada Allah yang selamat, dan pagi hari dia dengan kemaksiatan kepada Allah gelap dan sakit. Itulah takdir Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung.
Wahai anak Adam, pena-pena berjalan atasmu sedang kamu dalam kelalaian tidak tahu. Wahai anak Adam, tinggalkanlah rumah-rumah indah, alat musik, tempat tinggal dan rumah, serta persaingan di dunia ini hingga engkau melihat apa yang diperbuat takdir dalam urusanmu.
Ar-Rabi’ berkata: “Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu ta’ala ditanya…” Lalu penyeru dari sisi Arsy memanggil: “Di mana fulan, di mana fulan?” Tidak ada yang mendengar suara itu kecuali gemetar tulang rusuknya. Dia berkata: “Allah ‘azza wa jalla berkata kepada orang itu: ‘Engkau yang dicari, marilah kepada pemeriksaan di hadapan Pencipta langit dan bumi.’ Maka makhluk memandang dengan mata mereka ke arah Arsy, dan orang itu dihentikan di hadapan Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla melemparkan cahaya-Nya kepadanya sehingga menutupinya dari makhluk, kemudian berkata kepadanya: ‘Wahai hamba-Ku, tidakkah engkau tahu bahwa Aku menyaksikan amalmu di dunia?’ Dia berkata: ‘Ya, ya Tuhanku.’ Allah Ta’ala berkata: ‘Wahai hamba-Ku, tidakkah engkau mendengar tentang siksa dan azab-Ku bagi yang mendurhakai-Ku?’ Dia berkata: ‘Ya, ya Tuhanku.’ Allah Ta’ala berkata: ‘Tidakkah engkau mendengar tentang pembalasan dan pahala-Ku bagi yang menaati-Ku?’ Dia berkata: ‘Ya, ya Tuhanku.’ Allah Ta’ala berkata: ‘Wahai hamba-Ku, engkau mendurhakai-Ku.’ Dia berkata: ‘Ya Tuhanku, memang begitu.’ Allah Ta’ala berkata: ‘Wahai hamba-Ku, apa sangkaanmu hari ini kepada-Ku?’ Dia berkata: ‘Ya Tuhanku, semoga Engkau memaafkan aku.’ Allah Ta’ala berkata: ‘Wahai hamba-Ku, engkau yakin bahwa Aku akan memaafkanmu?’ Dia berkata: ‘Ya, ya Tuhanku, karena Engkau melihatku dalam kemaksiatan dan menutupinya dariku.’ Dia berkata: ‘Allah ‘azza wa jalla berkata: ‘Aku telah memaafkanmu, mengampunimu, dan membenarkan sangkaanmu. Ambillah kitabmu dengan tangan kananmu. Apa yang ada di dalamnya berupa kebaikan telah Aku terima, dan apa yang berupa kejahat telah Aku ampuni untukmu. Aku Maha Dermawan lagi Mulia.'”
Tuhan kami, seandainya bukan karena cinta-Mu kepada pengampunan, niscaya Engkau tidak memberi kesempatan kepada yang melawan-Mu dengan kemaksiatan. Seandainya bukan karena maaf dan kemuliaan-Mu, niscaya penghuni surga tidak tenang.
Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai maaf, maka maafkanlah kami. Ya Allah, pandanglah kami dengan pandangan ridha, tetapkanlah kami dalam daftar ahli kemurnian, dan selamatkan kami dari daftar ahli kekerasan. Ya Allah, wujudkanlah harapan kami dengan harapan, perbaikilah amal kami dalam segala keadaan, mudahkan jalan kami dalam mencapai ridha-Mu, bimbinglah kami kepada kebaikan dengan ubun-ubun kami, dan berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.
DOSA BESAR KE-65: MENINGGALKAN JAMAAH LALU SHALAT SENDIRIAN TANPA UZUR
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada kaum yang tidak hadir dalam jamaah: “Sungguh aku telah berniat menyuruh seseorang memimpin shalat orang-orang, kemudian aku membakar rumah-rumah orang yang tidak hadir dalam jamaah.” Diriwayatkan oleh Muslim.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaklah orang-orang berhenti meninggalkan jamaah atau Allah akan mengunci hati mereka kemudian mereka akan termasuk orang-orang yang lalai.” Diriwayatkan oleh Muslim.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa meninggalkan tiga Jumat karena meremehkannya, Allah akan mengunci hatinya.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-Nasa’i.
Beliau bersabda: “Barangsiapa meninggalkan Jumat tanpa uzur dan tidak ada gangguan, maka dia dicatat sebagai munafik dalam catatan yang tidak terhapus dan tidak berubah.”
Dari Hafshah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berangkat ke Jumat wajib atas setiap yang sudah baligh.” Maka kami memohon kepada Allah taufik untuk apa yang Dia cintai dan ridhai. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan lagi Mulia.
DOSA BESAR KE-66: BERSIKERAS MENINGGALKAN SHALAT JUMAT DAN JAMAAH TANPA UZUR
Allah Ta’ala berfirman: “Pada hari ketika betis disingkapkan dan mereka diseru untuk sujud, tetapi mereka tidak kuasa lagi. Pandangan mereka tertunduk penuh kehinaan, padahal dahulu mereka diseru untuk sujud ketika mereka masih sehat.” (QS. Al-Qalam: 42-43)
Ka’b Al-Ahbar berkata: “Ayat ini tidak turun kecuali tentang orang-orang yang tidak hadir dalam jamaah.”
Sa’id bin Al-Musayyab, imam tabi’in rahimahullah berkata: “Mereka mendengar ‘hayya ‘alas shalah, hayya ‘alal falah’ tetapi tidak menjawab padahal mereka sehat selamat.”
Dalam Shahihain bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh aku telah berniat menyuruh mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku suruh adzan untuk shalat, kemudian aku suruh seseorang memimpin orang-orang, kemudian aku datangi orang-orang yang tidak hadir shalat jamaah lalu aku bakar rumah mereka dengan api.”
Dalam riwayat Muslim juga dari hadits Abu Hurairah: “Sungguh aku telah berniat menyuruh anak-anak mudaku mengumpulkan kayu untukku, kemudian aku datangi kaum yang shalat di rumah mereka padahal tidak ada penyakit pada mereka, lalu aku bakar rumah itu atas mereka.”
Dalam hadits shahih ini dan ayat sebelumnya ada ancaman keras bagi yang meninggalkan shalat jamaah tanpa uzur. Abu Dawud meriwayatkan dalam Sunannya dengan sanadnya kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mendengar muadzin tetapi tidak ada yang mencegahnya datang kecuali uzur…” Ditanya: “Apa uzur itu, ya Rasulullah?” Beliau berkata: “Takut atau sakit, maka tidak diterima darinya shalat yang dia kerjakan,” yaitu di rumahnya.
At-Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa dia ditanya tentang seorang laki-laki yang puasa siang dan qiyam malam tetapi tidak shalat jamaah dan tidak Jumat. Dia berkata: “Jika orang ini mati maka dia di neraka.”
Muslim meriwayatkan bahwa seorang laki-laki buta datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: “Ya Rasulullah, aku tidak punya penuntun yang menuntunku ke masjid, apakah aku ada keringanan shalat di rumah?” Beliau memberi keringanan kepadanya. Ketika dia berpaling, beliau memanggilnya lalu berkata: “Apakah engkau mendengar adzan shalat?” Dia berkata: “Ya.” Beliau berkata: “Maka jawablah.”
Dalam riwayat Abu Dawud bahwa Ibnu Ummi Maktum datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya Madinah banyak binatang buas dan aku buta, apakah aku ada keringanan shalat di rumah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Apakah engkau mendengar ‘hayya ‘alas shalah, hayya ‘alal falah’?” Dia berkata: “Ya.” Beliau berkata: “Maka jawablah.”
Dalam riwayat lain bahwa dia berkata: “Ya Rasulullah, aku buta, jauh rumah, dan penuntunku tidak cocok untukku, apakah aku ada keringanan?” Dan ucapan beliau “fa hayya halla” artinya marilah dan datanglah.
Al-Hakim meriwayatkan dalam Mustadraknya dengan syarat Shahihain dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mendengar adzan tetapi tidak ada yang mencegahnya mengikutinya kecuali uzur, maka tidak ada shalat baginya.” Mereka bertanya: “Apa uzur itu, ya Rasulullah?” Beliau berkata: “Takut atau sakit.”
Datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Allah melaknat tiga orang: orang yang memimpin kaum padahal mereka membencinya, wanita yang bermalam sedang suaminya murka kepadanya, dan laki-laki yang mendengar ‘hayya ‘alas shalah, hayya ‘alal falah’ kemudian tidak menjawab.”
Abu Hurairah berkata: “Sungguh lebih baik telinga anak Adam dipenuhi timah yang meleleh daripada dia mendengar ‘Hayya ‘ala ash-shalah, hayya ‘ala al-falah’ (mari shalat, mari meraih keberuntungan) kemudian dia tidak memenuhi panggilan tersebut.”
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata: “Tidak ada shalat bagi tetangga masjid kecuali di masjid.” Ditanya: “Siapa tetangga masjid?” Dia menjawab: “Yang mendengar adzan.” Dia juga berkata: “Barangsiapa mendengar panggilan (adzan) namun tidak mendatanginya, maka shalatnya tidak akan melampaui kepalanya kecuali karena udzur.”
Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata: “Barangsiapa senang bertemu Allah besok sebagai seorang Muslim, maka hendaklah dia menjaga kelima shalat ini di tempat mereka dipanggil. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mensyariatkan bagi Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam sunnah-sunnah petunjuk, dan shalat-shalat tersebut termasuk sunnah petunjuk. Seandainya kalian shalat di rumah-rumah kalian sebagaimana orang yang tidak hadir ini shalat di rumahnya, niscaya kalian akan meninggalkan sunnah Nabi kalian. Dan seandainya kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat. Sungguh kami telah melihat bahwa tidak ada yang tidak hadir kecuali orang munafik yang dikenal kemunafikannya atau orang sakit. Sungguh seorang laki-laki didatangkan dalam keadaan bersandar pada dua orang laki-laki hingga dia berdiri dalam shaf, maksudnya dia bersandar kepada keduanya karena kelemahannya, karena semangat mendapatkan keutamaannya dan takut akan dosa meninggalkannya.”
Pasal
Keutamaan shalat berjamaah sangat besar sebagaimana dalam tafsir firman Allah Ta’ala: “Dan sungguh telah Kami tulis dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh” (Al-Anbiya: 105). Mereka adalah orang-orang yang mengerjakan shalat lima waktu secara berjamaah. Dan dalam firman Allah Ta’ala: “Dan Kami tulis apa yang mereka kerjakan dan bekas-bekas mereka” (Yasin: 12), yaitu langkah-langkah mereka.
Dalam hadis sahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa bersuci di rumahnya kemudian berjalan menuju salah satu rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban Allah, maka langkah-langkahnya, yang satu menghapus kesalahan dan yang lain mengangkat derajat. Ketika dia selesai shalat, malaikat terus mendoakannya selama dia berada di tempat shalatnya dengan berkata: ‘Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, sayangilah dia,’ selama dia tidak mengganggu atau berhadats di tempat itu.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajat-derajat?” Mereka menjawab: “Tentu, ya Rasulullah.” Beliau bersabda: “Menyempurnakan wudhu pada saat sulit, memperbanyak langkah menuju masjid-masjid, dan menunggu shalat setelah shalat. Itulah ribath, itulah ribath.” (Diriwayatkan Muslim)
DOSA BESAR KE-67: BERBUAT MUDHARAT DALAM WASIAT
Allah Ta’ala berfirman: “Sesudah dipenuhi wasiat yang dibuatnya atau (dan) sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris)” (An-Nisa: 12), yaitu tidak memasukkan bahaya kepada ahli waris. Itu adalah dengan berwasiat dengan hutang yang sebenarnya tidak ada padanya dengan maksud merugikan ahli waris. Maka Allah melarang hal tersebut.
Allah Ta’ala berfirman: “(Hukum-hukum tersebut) sebagai ketentuan yang benar-benar dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun” (An-Nisa: 12). Ibnu Abbas berkata: “Maksudnya adalah apa yang Allah halalkan dari kewajiban-kewajiban-Nya dalam warisan. Barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya dalam urusan warisan, Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah kemenangan yang besar. Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya…” Mujahid berkata: “Dalam apa yang Allah wajibkan dari warisan.” Ikrimah dari Ibnu Abbas berkata: “Barangsiapa tidak ridha dengan pembagian Allah dan melampaui apa yang Allah bagikan, Allah akan memasukkannya ke dalam neraka.” Al-Kalbi berkata: “Maksudnya adalah mengingkari pembagian warisan Allah dan melampaui batas-batas-Nya dengan menghalalkannya, Allah akan memasukkannya ke dalam neraka, kekal di dalamnya, dan baginya azab yang menghinakan.”
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya seorang laki-laki atau perempuan beramal dengan ketaatan kepada Allah selama enam puluh tahun, kemudian ketika mereka menghadapi kematian, mereka berbuat mudharat dalam wasiat, maka neraka menjadi wajib bagi mereka.” Kemudian Abu Hurairah membaca ayat ini: “Sesudah dipenuhi wasiat yang dibuatnya atau (dan) sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris)” (An-Nisa: 12). (Diriwayatkan Abu Dawud)
Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barangsiapa lari membawa warisan seorang ahli waris, Allah akan memutus warisannya dari surga.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah memberikan kepada setiap yang berhak haknya, maka tidak ada wasiat untuk ahli waris.” (Dishahihkan At-Tirmidzi)
DOSA BESAR KE-68: TIPU DAYA DAN PENIPUAN
Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan tipu daya yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang melakukannya” (Fathir: 43).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tipu daya dan penipuan itu di neraka.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang curang, orang yang pelit, dan orang yang suka mengungkit-ungkit.”
Allah Ta’ala berfirman tentang orang-orang munafik: “Mereka hendak menipu Allah, padahal Allah-lah yang menipu mereka” (An-Nisa: 142). Al-Wahidi berkata: “Mereka diperlakukan dengan perlakuan penipu atas penipuan mereka. Yaitu mereka diberi cahaya sebagaimana orang-orang mukmin diberi, ketika mereka berjalan di atas shirath, cahaya mereka dipadamkan dan mereka tertinggal dalam kegelapan.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadis: “Dan penghuni neraka ada lima orang,” dan disebutkan di antara mereka seorang laki-laki yang tidak pagi dan tidak sore kecuali dia menipumu tentang keluarga dan hartamu.”
DOSA BESAR KE-69: MEMATA-MATAI KAUM MUSLIM DAN MENUNJUKKAN AURAT MEREKA
Dalam hal ini ada hadis Hathib bin Abi Balta’ah dan bahwa Umar ingin membunuhnya karena perbuatannya, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencegahnya membunuhnya karena dia telah menyaksikan perang Badar. Jika memata-matai itu mengakibatkan kelemahan Islam dan umatnya serta pembunuhan atau penawanan atau perampasan atau sesuatu dari itu, maka ini termasuk orang yang berbuat kerusakan di bumi dan merusak tanaman dan keturunan, maka wajib dibunuh dan dia berhak mendapat azab. Maka kami memohon ampun dan keselamatan kepada Allah.
Tentu setiap pemata-mata tahu bahwa jika namimah (adu domba) termasuk dari dosa-dosa besar, maka namimah seorang mata-mata lebih besar dan lebih berat. Kami berlindung kepada Allah dari itu dan memohon ampun dan keselamatan kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Lembut, Maha Mengetahui, Maha Mulia, Maha Pemurah.
DOSA BESAR KE-70: MENCACI SALAH SEORANG DARI PARA SAHABAT RADHIYALLAHU ANHUM
Telah tetap dalam Shahihain bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya.'”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jangan kalian mencaci sahabat-sahabatku! Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan mencapai satu mud salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya.” (Diriwayatkan dalam Shahihain)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Allah, demi Allah, terhadap sahabat-sahabatku! Jangan kalian jadikan mereka sasaran setelahku. Barangsiapa mencintai mereka maka karena cintanya kepadaku dia mencintai mereka. Barangsiapa membenci mereka maka karena kebenciannya kepadaku dia membenci mereka. Barangsiapa menyakiti mereka maka sungguh dia telah menyakitiku. Barangsiapa menyakitiku maka sungguh dia telah menyakiti Allah. Barangsiapa menyakiti Allah, hampir saja Allah akan menyiksanya.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi)
Dalam hadis ini dan hadis-hadis serupa terdapat penjelasan keadaan orang yang menjadikan mereka sasaran setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mencaci mereka, membuat-buat kedustaan terhadap mereka, mencela mereka, mengkafirkan mereka, dan berani kepada mereka.
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Allah, Allah” adalah kalimat peringatan dan ancaman sebagaimana orang yang memperingatkan berkata: “Api! Api!” yaitu waspadalah terhadap api.
Sabda beliau “Jangan kalian jadikan mereka sasaran setelahku” maksudnya jangan kalian jadikan mereka sasaran untuk dicaci dan dicela sebagaimana dikatakan: “Fulan menjadikan fulan sasaran untuk dicacinya,” yaitu target untuk dicaci.
Sabda beliau “Barangsiapa mencintai mereka maka karena cintanya kepadaku dia mencintai mereka, dan barangsiapa membenci mereka maka karena kebenciannya kepadaku dia membenci mereka” – ini termasuk keutamaan dan kemuliaan yang paling agung karena mencintai para sahabat karena mereka menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menolong beliau, beriman kepada beliau, menguatkan beliau, dan berkorban dengan jiwa dan harta. Barangsiapa mencintai mereka maka sesungguhnya dia mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Cinta kepada sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tanda cinta kepada beliau, dan benci kepada mereka adalah tanda benci kepada beliau.
Sebagaimana dalam hadis sahih: “Cinta kepada Anshar adalah dari iman, dan benci kepada mereka adalah dari kemunafikan.” Hal itu tidak lain karena keutamaan dan jihad mereka melawan musuh-musuh Allah di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Demikian pula cinta kepada Ali radhiyallahu anhu adalah dari iman, dan benci kepadanya adalah dari kemunafikan. Sesungguhnya yang mengetahui keutamaan para sahabat radhiyallahu anhum adalah orang yang merenungkan keadaan, perjalanan hidup, dan jejak mereka dalam kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan setelah wafat beliau, berupa berlomba-lomba dalam iman, berjihad melawan orang-orang kafir, menyebarkan agama, menampakkan syiar-syiar Islam, meninggikan kalimat Allah dan Rasul-Nya, mengajarkan kewajiban-kewajiban dan sunnah-sunnah-Nya.
Kalau bukan karena mereka, tidak akan sampai kepada kita dasar agama dan cabangnya, tidak akan kita ketahui dari kewajiban dan sunnah-sunnah satu sunnah pun dan tidak satu kewajiban pun, dan tidak akan kita ketahui dari hadis-hadis dan berita-berita sedikit pun.
Barangsiapa mencela mereka atau mencaci mereka maka sungguh dia telah keluar dari agama dan murtad dari agama kaum Muslim. Karena celaan tidak akan terjadi kecuali dari keyakinan akan keburukan mereka, menyimpan dendam kepada mereka, dan mengingkari apa yang Allah Ta’ala sebutkan dalam kitab-Nya berupa pujian kepada mereka, dan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam puji kepada mereka berupa keutamaan, kemuliaan, dan cinta kepada mereka.
Dan karena mereka adalah perantara yang paling disukai dari yang ma’tsur dan perantara dari yang manqul. Mencela perantara adalah mencela yang asli, dan meremehkan perawi adalah meremehkan yang diriwayatkan. Ini jelas bagi yang merenungkannya dan selamat dari kemunafikan, zindik, dan ilhad dalam keyakinannya.
Cukuplah apa yang datang dalam berita dan atsar dalam hal itu seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah memilihku dan memilih untukku sahabat-sahabat. Dia jadikan untukku dari mereka menteri-menteri, penolong-penolong, dan menantu-menantu. Barangsiapa mencaci mereka maka atasnya laknat Allah, malaikat, dan manusia seluruhnya. Allah tidak akan menerima darinya pada hari kiamat sedikitpun kebaikan dan keadilan.”
Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, dia berkata: “Beberapa orang dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Kami dicaci.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Barangsiapa mencaci sahabat-sahabatku maka atasnya laknat Allah, malaikat, dan manusia seluruhnya.'”
Dari Anas, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memilihku dan memilih untukku sahabat-sahabatku. Dia jadikan untukku sahabat-sahabat, saudara-saudara, dan menantu-menantu. Akan datang kaum setelah mereka yang mencela dan merendahkan mereka. Jangan kalian bergaul dengan mereka, jangan kalian minum dengan mereka, jangan kalian menikah dengan mereka, jangan kalian shalat atas mereka, dan jangan kalian shalat bersama mereka.”
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika sahabat-sahabatku disebutkan maka diamlah. Jika bintang-bintang disebutkan maka diamlah. Jika takdir disebutkan maka diamlah.”
Para ulama berkata: “Maknanya adalah barangsiapa meneliti rahasia takdir dalam penciptaan.” Yaitu diam adalah tanda iman dan taslim terhadap perintah Allah. Demikian pula dengan bintang-bintang. Barangsiapa meyakini bahwa bintang-bintang itu pelaku atau memiliki pengaruh tanpa kehendak Allah Azza wa Jalla maka dia musyrik.
Demikian pula barangsiapa mencela sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sesuatu, mencari-cari kesalahan mereka, menyebutkan aib dan menisbatkannya kepada mereka, maka dia munafik. Bahkan yang wajib bagi seorang Muslim adalah mencintai Allah, mencintai Rasul-Nya, mencintai apa yang dibawanya, mencintai orang yang menegakkan perintah-Nya, mencintai orang yang mengambil petunjuk-Nya dan mengamalkan sunnah-Nya, mencintai keluarga, sahabat-sahabat, istri-istri, anak-anak, pelayan-pelayan, dan pembantu-pembantunya, mencintai orang yang mencintai mereka dan membenci orang yang membenci mereka. Karena ikatan iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.
Ayyub As-Sakhtiyani radhiyallahu anhu berkata: “Barangsiapa mencintai Abu Bakar maka sungguh dia telah menegakkan mercusuar agama. Barangsiapa mencintai Umar maka sungguh dia telah menerangi jalan. Barangsiapa mencintai Utsman maka sungguh dia telah menerangi diri dengan cahaya Allah. Barangsiapa mencintai Ali maka sungguh dia telah berpegang teguh dengan tali yang kokoh. Barangsiapa berkata baik tentang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka sungguh dia telah terbebas dari kemunafikan.”
Pasal
Adapun keutamaan-keutamaan sahabat dan kelebihan-kelebihan mereka, jumlahnya terlalu banyak untuk disebutkan. Para ulama Ahlusunnah telah sepakat bahwa sahabat yang paling utama adalah sepuluh orang yang dijamin masuk surga, dan yang paling utama di antara sepuluh orang tersebut adalah Abu Bakar, kemudian Umar bin Khattab, kemudian Utsman bin Affan, kemudian Ali bin Abi Thalib, semoga Allah meridhai mereka semua. Tidak ada yang meragukan hal ini kecuali orang yang bid’ah, munafik, dan jahat.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menegaskan dalam hadits Irbadh bin Sariyah, beliau bersabda: “Kalian harus berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk setelahku. Gigitlah dengan gigi geraham, dan jauhilah perkara-perkara baru dalam agama.” Hadits tersebut. Para khalifah yang mendapat petunjuk adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, semoga Allah meridhai mereka semua.
Allah telah menurunkan ayat-ayat dalam Al-Quran tentang keutamaan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah tidak akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat, orang-orang miskin…” (Surat An-Nur ayat 22). Tidak ada perselisihan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Abu Bakar, maka Allah menyifatinya dengan kelebihan, semoga Allah meridhainya.
Allah Ta’ala juga berfirman: “(Yaitu) yang kedua dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua…” (Surat At-Taubah ayat 40). Tidak ada perselisihan juga bahwa ayat ini berkenaan dengan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Rabb telah bersaksi untuknya dengan persahabatan, memberinya kabar gembira dengan ketenangan, dan menghiasinya dengan sebutan “yang kedua dari dua orang”. Sebagaimana yang dikatakan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu: “Siapa yang bisa lebih utama dari yang kedua dari dua orang, yang Allah adalah yang ketiganya?”
Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang yang datang membawa kebenaran dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Surat Az-Zumar ayat 33). Ja’far Ash-Shadiq berkata: “Tidak ada perselisihan bahwa yang datang membawa kebenaran adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan yang membenarkannya adalah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu.” Keutamaan apakah yang lebih tinggi dari itu bagi mereka, semoga Allah meridhai mereka semua.
[1] Tambahan penerjemah.
87. Al-Kaba’ir (Dosa-Dosa Besar)
Penulis : Imam Adz-Dzahabi
Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.







