Al-Bidayah wa An-Nihayah (Permulaan dan Akhir) 16
Pada tahun ini berangkatlah sekelompok orang untuk menunaikan ibadah haji dengan pengawalan, namun mereka tidak dapat melanjutkan perjalanan. Maka mereka berbelok ke Kufah lalu kembali. Pada bulan Dzulhijjah tahun ini dimulailah pembangunan Madrasah Nidzamiyah di Baghdad, dan untuk keperluan itu dirobohkan banyak rumah dari Musyra’ah Az-Zawaya dan Bab Al-Basrah. Pada tahun ini terjadi banyak peperangan antara Tamim bin Al-Mu’izz bin Badis dengan anak-anak Hammad, bangsa Arab, dan orang-orang Maghrib di Shanhajah dan Zanatah.
Yang memimpin haji dari Baghdad adalah An-Naqib Abu Al-Ghanaim.
Pada tahun ini terjadi pembunuhan terhadap Amid Al-Mulk Al-Kunduri, yaitu Muhammad bin Manshur bin Muhammad Abu Nashr, wazir Tughrilbek. Ia telah dipenjara selama satu tahun penuh. Ketika dibunuh, jenazahnya diangkut lalu dikuburkan di samping ayahnya di desa Kundar dari wilayah Tharithith, bukan Kundar yang dekat dengan Qazwin. Sultan mengambil alih semua harta dan kekayaannya. Ia adalah orang yang cerdas, fasih berbicara, penyair, memiliki banyak keutamaan, cepat dalam menjawab.
Ketika Tughrilbek mengirimnya kepada khalifah untuk meminang putrinya, namun khalifah menolak dengan keras, ia membaca syair yang menyerupai kata-kata Al-Mutanabbi:
Tidak semua yang diinginkan manusia dapat ia raih
Maka sang wazir melanjutkannya:
Angin bertiup tidak sesuai dengan kehendak kapal
Lalu khalifah terdiam dan menunduk.
Umur Al-Kunduri ketika dibunuh adalah lebih dari empat puluh tahun. Di antara syairnya yang bagus adalah:
Jika pada manusia ada keterbatasan untuk menyaingi aku, maka kematian telah meluaskan dunia bagi manusia Aku pergi dan orang yang gembira namun tertipu mengikutiku, setiap orang pasti merasakan cawan kematian
Adalah Raja Tughrilbek pernah mengirimnya untuk meminang istri Khwarazm Syah, namun ia sendiri yang menikahinya. Maka ia dikebiri namun tetap dipertahankan dalam jabatannya. Alat kelaminnya dikubur di Khwarazm, darahnya ditumpahkan ketika dibunuh di Marw Ar-Rudz, tubuhnya dikubur di Kundar, kepalanya diangkut lalu dikubur di Naisabur, dan tengkorak kepalanya dipindahkan ke Kirman.
Pada hari Asyura, penduduk Al-Karkh menutup toko-toko mereka dan mendatangkan perempuan-perempuan untuk meratapi Husain sebagaimana kebiasaan bid’ah mereka yang sudah lama. Ketika hal itu terjadi, orang awam mengingkarinya. Khalifah memanggil Abu Al-Ghanaim, naqib bani Thalib, dan mengingkari hal itu. Ia meminta maaf dengan mengatakan bahwa ia tidak mengetahui hal itu, dan ketika ia mengetahuinya ia langsung menghilangkannya. Penduduk Al-Karkh berdatangan ke Diwan untuk meminta maaf dari hal itu dan melepaskan diri darinya. Keluarlah keputusan tentang kekafiran orang yang mencela para sahabat dan menampakkan bid’ah.
Ibnu Al-Jauzi berkata: Pada bulan Rabi’ul Awal lahir di Bab Al-Azaj seorang bayi perempuan yang memiliki dua kepala, dua wajah, dua leher, dan empat tangan pada satu tubuh yang sempurna, kemudian ia meninggal. Ia berkata: Pada bulan Jumadal Akhirah terjadi gempa bumi di Khurasan yang berlangsung selama beberapa hari. Gunung-gunung retak karenanya dan menewaskan sekelompok orang, beberapa desa tertelan bumi. Orang-orang keluar ke padang pasir dan tinggal di sana. Terjadi kebakaran di Nahr Mu’alla di Baghdad yang membakar seratus toko dan tiga rumah. Banyak harta benda orang-orang yang hilang dan orang-orang saling menjarahi.
Ibnu Al-Jauzi berkata: Pada bulan Sya’ban terjadi pertempuran di Damaskus. Mereka membakar rumah yang berdampingan dengan masjid, maka terbakarlah Masjid Damaskus. Demikian kata Ibnu Al-Jauzi; sedangkan yang masyhur adalah bahwa kebakaran Masjid Damaskus terjadi pada tahun 461 H, tiga tahun kemudian. Dan bahwa budak-budak Fathimiyyin bertengkar dengan budak-budak Abbasiyyin, lalu dilemparkan api ke Dar Al-Imarah – yaitu Al-Khadhra – maka terbakar dan apinya merambat hingga mencapai masjid. Atap-atapnya, hiasan-hiasannya, dan marmernya jatuh, dan ia menjadi seperti reruntuhan. Al-Khadhra hancur menjadi gundukan tanah, setelah sebelumnya dalam keadaan sangat kokoh dan rapih, menyenangkan, dan bagus bangunannya. Hingga hari ini tidak ditinggali – karena buruknya tempatnya – kecuali oleh orang-orang rendahan dan sampah masyarakat, setelah sebelumnya menjadi istana kerajaan dan kekuasaan sejak didirikan oleh Mu’awiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu ta’ala ‘anhu. Adapun masjidnya, tidak ada bangunan di muka bumi yang lebih bagus darinya, hingga ia terbakar dan menjadi reruntuhan untuk waktu yang lama. Kemudian raja-raja mulai membangunnya kembali dan memperbaikinya hingga dilantai pada masa Al-Adil Abu Bakar bin Ayyub. Perbaikan-perbaikan terus dilakukan hingga zaman kita ini sehingga kondisinya agak pulih, namun dibandingkan dengan kondisi awalnya tidak ada apa-apanya. Perbaikan terus dilakukan hingga masa Amir Saifuddin Tankiz bin Abdullah An-Nashiri sekitar tahun 730 H dan sebelum serta sesudahnya sedikit. Az-Zainabi dan ia bermukim di Makkah.
Orang-orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini
Al-Hafizh yang Besar Abu Bakar Ahmad bin Al-Husain bin Ali bin Abdullah bin Musa Al-Baihaqi, salah seorang hafizh besar yang memiliki karya-karya yang tersebar ke berbagai negeri dan daerah. Ia lahir pada tahun 384 H dan merupakan orang yang terbaik di zamannya dalam penguasaan ilmu, hafalan, fiqih, dan penulisan. Ia adalah seorang ahli fiqih, ahli hadits, dan ahli ushul. Ia menuntut ilmu dari Al-Hakim Abu Abdullah An-Naisaburi dan mendengar banyak hadits dari selainnya. Ia mengumpulkan banyak hal yang sangat bermanfaat yang belum pernah didahului oleh siapa pun dan tidak tertandingi; di antaranya kitab “As-Sunan Al-Kabir”, “Nushush Asy-Syafi’i” masing-masing sepuluh jilid, “As-Sunan wal Atsar”, “Al-Madkhal”, “Al-Adab”, “Syu’ab Al-Iman”, “Al-Khilafiyyat”, “Dala’il An-Nubuwwah”, “Al-Ba’ts wan Nusyur” dan karya-karya lainnya baik besar maupun kecil yang sangat bermanfaat yang tidak tertandingi. Ia adalah orang yang zahid, sedikit bergantung pada dunia, banyak beribadah dan wara’ rahimahullah ta’ala. Wafatnya di Naisabur dan peti jenazahnya dipindahkan ke Baihaq pada bulan Jumadal Ula tahun ini.
Al-Hasan bin Ghalib bin Ali bin Ghalib bin Manshur bin Sha’luk, Abu Ali At-Tamimi yang dikenal dengan Ibnu Al-Mubarak Al-Muqri’. Ia bergaul dengan Ibnu Sam’un dan mengajarkan Al-Qur’an dengan qira’at yang diingkari. Ia terbukti berdusta; entah dengan sengaja atau karena kesalahan. Ia dituduh dalam banyak riwayat dan Abu Al-Hasan Al-Qazwini termasuk orang yang mengingkarinya. Dibuatkan berita acara terhadapnya dan ia dilarang mengajar dengan qira’at yang mungkar. Abu Muhammad bin As-Samarqandi berkata: Ia adalah pendusta. Wafatnya pada tahun ini pada usia delapan puluh dua tahun dan dikubur di samping Ibrahim Al-Harbi. Ibnu Khalkan berkata: Ia belajar fiqih dari Abu Al-Fath Nashir bin Muhammad Al-Umari Al-Maruzi kemudian lebih mendalami hadits dan terkenal karenanya serta melakukan perjalanan untuk menuntutnya.
Al-Qadhi Abu Ya’la Al-Hanbali Muhammad bin Al-Husain bin Muhammad bin Khalaf bin Ahmad bin Al-Farra’, Al-Qadhi Abu Ya’la, pemuka Hanabilah dan orang yang menegakkan madzhab mereka dalam cabang-cabang fiqih. Ia lahir pada bulan Muharram tahun 380 H, mendengar banyak hadits dan meriwayatkan dari Ibnu Hababah. Ibnu Al-Jauzi berkata: Ia termasuk pemuka orang-orang terpercaya, memberikan kesaksian di hadapan Ibnu Makula dan Ibnu Ad-Damaghani dan diterima. Ia menjabat sebagai hakim di lingkungan istana khalifah. Ia adalah imam dalam fiqih yang memiliki karya-karya bagus yang banyak dalam madzhab Ahmad. Ia mengajar dan berfatwa selama bertahun-tahun. Madzhab berakhir kepadanya dan karya-karyanya tersebar beserta murid-muridnya. Ia menggabungkan kepemimpinan, fiqih, kejujuran, akhlak baik, ibadah, kesederhanaan, khusyu’, sikap yang baik, dan diam dari hal yang tidak bermanfaat. Wafatnya pada tanggal 20 Ramadhan tahun ini pada usia tujuh puluh delapan tahun. Pada pemakamannya berkumpul para qadhi dan para tokoh dari kalangan fuqaha dan saksi-saksi. Hari itu sangat panas sehingga sebagian orang yang mengikuti pemakamannya berbuka puasa. Ia meninggalkan dari anak-anaknya ‘Ubaidullah Abu Al-Qasim, Abu Al-Husain, dan Abu Hazim. Sebagian orang melihatnya dalam mimpi lalu bertanya: Apa yang Allah lakukan terhadapmu? Ia menjawab: Dia merahmati aku, mengampuni aku, memuliakanku, dan meninggikan derajatku sambil menghitung dengan jarinya. Orang itu bertanya: Karena ilmu? Ia menjawab: Bukan, tapi karena kejujuran. Rahimahullah ta’ala.
Ibnu Sidah Al-Lughawi Abu Al-Husain Ali bin Isma’il Al-Mursi adalah imam yang hafal bahasa Arab. Ia buta. Ia mengambil ilmu bahasa Arab dan bahasa dari ayahnya, dan ayahnya juga buta. Kemudian ia belajar kepada Abu Al-‘Ala Sha’id Al-Baghdadi. Ia memiliki “Al-Muhkam” dalam beberapa jilid, “Syarh Al-Hamasah” dalam enam jilid, dan lainnya. Ia membaca kitab Al-Gharib karya Abu ‘Ubaid kepada Syaikh Abu ‘Umar At-Thalamkanki secara lisan dari hafalannya, sedangkan sang syaikh membandingkan naskahnya dengan yang dibaca. Orang-orang mendengar bacaannya dari hafalan dan takjub terhadap hal itu.
Wafatnya pada bulan Rabi’ul Awal tahun ini pada usia enam puluh tahun. Ada yang mengatakan ia wafat pada tahun 448 H, tetapi yang pertama lebih sahih, wallahu a’lam.
Pada tahun ini Abu Sa’id Al-Mustaufi yang bergelar Syaraf Al-Mulk membangun makam Imam Abu Hanifah An-Nu’man di Baghdad dan membuat kubah di atasnya. Di sampingnya ia membangun madrasah dan menempatkan pengajar dan para fuqaha di dalamnya. Abu Ja’far bin Al-Bayadhi masuk untuk berziarah kepada Abu Hanifah lalu membaca syair secara spontan:
Tidakkah engkau melihat bahwa ilmu telah tersia-sia, maka orang yang terkubur dalam liang lahad ini mengumpulkannya Demikianlah bumi ini telah mati, lalu dihidupkan oleh kedermawanan Al-‘Amid Abu As-Sa’d
Pada bulan Sya’ban bertiup angin panas yang menyebabkan banyak orang dan hewan mati di Baghdad, dan merusak banyak pohon jeruk dan limau.
Pada tahun ini terbakar makam Ma’ruf Al-Karkhi. Penyebabnya adalah penjaga makam memasak air gandum untuknya karena sakit, lalu api merambat ke kayu-kayu sehingga seluruh bangunan terbakar.
Pada tahun ini terjadi kemahalal harga dan kelaparan di Damaskus, Aleppo, Harran, dan seluruh Khurasan. Terjadi kematian pada hewan; kepala dan mata mereka membengkak sehingga orang-orang dapat menangkap keledai hutan dengan tangan, tetapi mereka enggan memakannya.
Ibnu Al-Jauzi berkata dalam Al-Muntazhim: Pada hari Sabtu tanggal 10 Dzulqa’dah, Al-‘Amid Abu Sa’d Al-Qadhi mengumpulkan orang-orang untuk menghadiri pengajaran di An-Nidzamiyah di Baghdad, dan ia menunjuk untuk mengajar dan memimpinnya Syaikh Abu Ishaq Asy-Syirazi. Ketika orang-orang telah berkumpul dan Abu Ishaq datang untuk mengajar, seorang faqih muda menemuinya dan berkata: Wahai tuanku, apakah engkau akan mengajar di tempat yang hasil rampasan? Maka ia menolak hadir dan kembali ke rumahnya. Lalu ditunjuklah Syaikh Abu Nashr bin Ash-Shabbagh untuk mengajar. Ketika hal ini sampai kepada Nizam Al-Mulk, ia marah kepada Al-‘Amid dan mengirim utusan kepada Syaikh Abu Ishaq untuk mengembalikannya mengajar di An-Nidzamiyah pada bulan Dzulhijjah tahun ini. Ia tidak pernah shalat fardhu di sana, tetapi keluar ke salah satu masjid untuk menunaikan shalat fardhu; karena alasan yang disebutkan bahwa sebagian tanahnya adalah hasil rampasan. Masa pengajaran Ibnu Ash-Shabbagh adalah dua puluh hari, kemudian Syaikh Abu Ishaq kembali ke sana.
Pada bulan Dzulqa’dah tahun ini terbunuh Ash-Shulaihii, amir Yaman dan penguasa Makkah. Ia dibunuh oleh salah seorang amir Yaman dan khutbah dilakukan untuk Al-Qa’im bi Amrillah Al-Abbasi.
Yang memimpin haji pada tahun ini adalah Abu Al-Ghanaim An-Naqib.
Orang-orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini
Muhammad bin Isma’il bin Muhammad, Abu Ali At-Thusi, dikatakan kepadanya Al-Iraqi karena kepandaiannya dan lamanya ia tinggal di sana. Ia mendengar hadits dari Abu Thahir Al-Mukhallish dan belajar fiqih kepada Abu Muhammad Al-Bafi kemudian kepada Syaikh Abu Hamid Al-Isfara’ini. Ia menjabat sebagai qadhi kota Tus dan termasuk fuqaha yang ahli dan unggul, rahimahullah ta’ala.
Pada tahun ini harga-harga murah di Baghdad dengan sangat jelas. Sungai Tigris surut dengan nyata. Pada tahun ini Raja Alp Arslan mengambil janji kerajaan setelahnya untuk anaknya Malikshah dan berjalan di depannya dengan payung, sedangkan para amir di depannya berjalan dengan pakaian kebesaran. Hari itu adalah hari yang bersejarah.
Yang memimpin haji pada tahun ini adalah Nur Al-Huda Abu Thalib Al-Husain bin Nizam Al-Hadhratain.
Kemudian Masuklah Tahun Empat Ratus Enam Puluh Hijriah
Ibnu al-Jauzi berkata: Pada bulan Jumadil Ula terjadi gempa bumi di tanah Palestina yang menghancurkan kota Ramlah dan merobohkan dua menara dari masjid Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, gempa tersebut sampai ke Wadi ash-Shafra dan Khaibar, dan bumi terbelah mengeluarkan harta simpanan, getarannya sampai ke ar-Rahbah dan Kufah. Datang surat dari seorang pedagang tentang gempa ini yang mengatakan: Gempa tersebut menenggelamkan seluruh Ramlah hingga tidak selamat kecuali dua rumah saja, dan merenggut lima belas ribu jiwa. Batuan yang ada di Baitul Maqdis terbelah, kemudian kembali menyatu dengan kuasa Allah Ta’ala. Laut surut sejauh perjalanan sehari dan tenggelam ke dalam bumi, di tempat air itu muncul berbagai permata dan lainnya. Orang-orang masuk ke daratan laut untuk mengambilnya, lalu air laut kembali dan menenggelamkan banyak orang di antara mereka.
Pada hari Sabtu pertengahan Jumadil Akhir dibacakan i’tiqad Qadiri yang berisi mazhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan pengingkaran terhadap ahli bid’ah. Abu Muslim al-Laitsi al-Bukhari al-Muhaddits membacakan kitab at-Tauhid karya Ibnu Khuzaimah kepada jamaah yang hadir. Hal itu disebutkan dengan dihadiri oleh Wazir Ibnu Jahir dan para pembesar dari kalangan fuqaha dan ahli ilmu kalam, mereka mengakui menyetujuinya. Kemudian dibacakan i’tiqad Qadiri kepada Syarif Abu Ja’far bin al-Muhtadi billah di Bab al-Bashrah, karena beliau mendengarnya dari Khalifah al-Qadir billah yang mengarangnya.
Pada tahun ini Khalifah memberhentikan waziرnya Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Jahir yang bergelar Fakhruddin. Khalifah mengutus seseorang untuk menegurnya tentang banyak hal, lalu ia meminta maaf dan mulai bersikap lembut dan merendah diri. Dijawab bahwa ia boleh pergi ke mana saja ia mau, ia memilih Hillah Ibnu Muzaid. Pengikutnya menjual harta dan rumah mereka, menceraikan istri-istri mereka. Ia membawa anak-anaknya dan keluarganya, datang untuk menaiki perahu untuk turun ke Hillah, sementara orang-orang di sekelilingnya ikut menangis karena tangisannya. Ketika melewati istana Khalifah ia mencium tanah berkali-kali, sementara Khalifah ada di jendela, dan Wazir berkata: Wahai Amirul Mukminin, kasihanilah usia tuaku, kepergianku, dan anak-anakku. Ia dikembalikan ke jabatan wazir dengan syafaat Dubais bin Muzaid pada tahun berikutnya. Para penyair memujinya dan orang-orang bergembira dengan kembalinya ia ke jabatan wazir, hari itu adalah hari yang bersejarah.
Yang Wafat pada Tahun Ini dari Tokoh-Tokoh:
Abdul Malik bin Muhammad bin Yusuf Abu Manshur, yang bergelar asy-Syaikh al-Ajall. Ia adalah orang paling unggul di zamannya dalam mengerjakan kebaikan, cepat melakukan perbuatan baik dan memberikan bantuan kepada ahlinya dari kalangan Ahlus Sunnah, dengan sikap keras terhadap ahli bid’ah dan melaknat mereka, memperhatikan orang-orang yang menjaga kehormatan dengan berbuat baik, bersedekah kepada orang-orang yang membutuhkan dan menyembunyikan itu semampunya. Di antara kejadian aneh yang terjadi padanya: ia memberikan bantuan kepada seseorang setiap tahun sebesar sepuluh dinar, ia menuliskannya untuknya atas nama seseorang yang bernama Ibnu Ridwan. Ketika Syaikh wafat, orang itu datang kepada Ibnu Ridwan dan berkata: Berikan kepadaku apa yang biasa Syaikh berikan kepadaku. Ibnu Ridwan berkata kepadanya: Orang yang biasa menulis untukmu atasku telah meninggal, aku tidak bisa memberikan sesuatu kepadamu. Orang itu pergi ke makam asy-Syaikh al-Ajall, membaca sesuatu dari al-Qur’an dan mendoakan rahmat untuknya, kemudian berpaling, tiba-tiba ada secarik kertas berisi sepuluh dinar. Ia mengambilnya dan datang kepada Ibnu Ridwan dan menceritakan hal itu kepadanya. Ibnu Ridwan berkata kepadanya: Ini wahai saudaraku terjatuh dariku hari ini di makamnya, ambillah dan bagimu dariku yang serupa setiap tahun.
Wafatnya pada pertengahan Muharram tahun ini pada usia enam puluh lima tahun. Hari wafatnya adalah hari yang bersejarah, dihadiri oleh banyak orang yang tidak diketahui jumlahnya kecuali oleh Allah Azza wa Jalla. Semoga Allah Ta’ala merahmatinya dan memuliakan tempat kembalinya.
Abu Ja’far Muhammad bin al-Hasan ath-Thusi
Faqih Syi’ah. Ia dimakamkan di Masyhad Ali. Ia bermukim di sana ketika rumahnya di al-Karkh dan buku-bukunya terbakar pada tahun empat ratus empat puluh delapan hingga Muharram tahun ini, lalu wafat dan dimakamkan di sana.
Khadijah binti Muhammad bin Ali bin Abdullah al-Wa’izhah yang dikenal dengan asy-Syahjaniyan. Lahir tahun tiga ratus tujuh puluh empat. Ia pernah bergaul dengan Ibnu Sam’un dan meriwayatkan darinya serta dari Ibnu Syahin. Ia dimakamkan di samping Ibnu Sam’un.
Kemudian Masuklah Tahun Empat Ratus Enam Puluh Satu Hijriah
Pada malam pertengahan Sya’ban tahun ini terjadi kebakaran Masjid Damaskus. Penyebabnya adalah pertengkaran antara para pembantu Fatimiyah dan Abbasiyah di antara mereka, lalu api dilemparkan ke Dar al-Mulk – yaitu al-Khadhra yang berdekatan dengan masjid dari arah kiblat – lalu terbakar, dan apinya merambat ke masjid hingga atapnya runtuh, pecahan-pecahan emasnya yang ada di dinding-dindingnya berhamburan, fusaifusa yang ada di lantainya dan di dinding-dindingnya terlepas, keindahan dan kemegahannya berubah dan berganti dengan kebalikannya. Atapnya dahulu berlapis emas semuanya termasuk bagian atasnya, dindingnya dengan pecahan emas berwarna-warni, tergambar di sana seluruh negeri dunia: Ka’bah dan Mekah di mihrab, dan semua negeri timur dan barat, masing-masing di tempatnya yang sesuai. Tergambar di sana setiap pohon yang berbuah dan tidak berbuah, terbentuk dan tergambar di negeri dan tempatnya. Tirai tergantung di pintu-pintunya yang menuju ke halaman dan pada dasar-dasar dinding sampai sepertiga darinya, sisa dinding dengan pecahan berwarna-warni. Lantainya semua dengan pecahan marmer dan fusaifusa. Tidak ada bangunan di dunia yang lebih indah darinya, tidak istana raja-raja dan tidak istana khalifah apalagi yang lainnya. Kemudian ketika kebakaran ini terjadi padanya, keadaan sempurna berubah menjadi kebalikannya. Lantainya menjadi lumpur di musim dingin dan debu di musim panas, tergali dan terbengkalai. Keadaannya terus seperti itu hingga lantainya dipasang ubin pada zaman al-Adil Abu Bakar bin Ayyub setelah tahun enam ratus Hijriah. Semua yang runtuh darinya dari marmer dan lainnya dari kayu-kayu disimpan di empat masyhad, timur dan barat, hingga dikeluarkan dari sana oleh Qadhi Kamaluddin asy-Syahrazuri pada zaman Malik al-Adil Nuruddin Mahmud bin Zanki ketika ia mengangkatnya sebagai pengelola bersama peradilan, pengelolaan wakaf semuanya, pengelolaan percetakan uang dan lainnya. Para raja terus memperbaiki keindahannya hingga zaman kita ini, hingga keadaannya mendekati seperti semula pada zaman Amir Saifuddin Tankiz bin Abdullah an-Nashiri, wakil Syam, semoga Allah Ta’ala membalasnya. Syaikh Abu al-Faraj bin al-Jauzi dalam al-Muntazham mencatat kebakaran ini pada tahun empat ratus lima puluh delapan, diikuti oleh Ibnu as-Sa’i dalam tarikh-nya. Yang benar adalah pada tahun ini sebagaimana disebutkan oleh Ibnu as-Sa’i juga pada tahun ini, guru kami al-Hafizh Abu Abdullah adz-Dzahabi, muarrikh Islam dalam tarikhnya dan lebih dari satu orang, wallahu a’lam.
Pada tahun ini kaum Hanabilah mengingkari Syaikh Abu al-Wafa bin Aqil – padahal ia termasuk tokoh besar mereka – karena kunjungannya kepada Abu Ali bin al-Walid al-Mutakallim al-Mu’tazili, dan mereka menuduhnya dengan paham Mu’tazilah. Tidak diragukan bahwa ia tidak mengunjunginya kecuali untuk mengetahui mazhabnya secara mendalam, tetapi hawa nafsu mencurinya dan ada kecenderungan darinya padanya. Terjadi fitnah panjang antara dia dan mereka, banyak orang dari mereka menderita karenanya. Fitnah tidak reda hingga tahun empat ratus enam puluh lima, kemudian mereka berdamai di antara mereka setelah persengketaan yang banyak.
Pada tahun ini Sungai Tigris naik lebih dari dua puluh satu hasta hingga masuk ke Masyhad Abu Hanifah dan Masyhad an-Nudzur. Pada tahun ini datang kabar bahwa al-Afsyin memasuki negeri Rum hingga sampai ke Amuriyah, membunuh banyak orang dan mengambil harta yang banyak. Pada tahun ini terjadi harga murah yang hebat di Kufah hingga ikan dijual empat puluh rathl satu habah.
Mengimami haji adalah Abu al-Ghanaim al-Alawi.
Yang Wafat pada Tahun Ini dari Tokoh-Tokoh:
Al-Faurani Abu al-Qasim Abdurrahman bin Muhammad bin Ahmad bin Fauran al-Faurani al-Maruzi, salah satu imam Syafi’iyah, penyusun al-Ibanah yang berisi nukilan-nukilan aneh, pendapat dan wajah yang tidak ditemukan kecuali di dalamnya. Ia ahli dalam ushul dan furu’, mengambil fiqih dari Abu Bakar al-Qaffal. Imam al-Haramain hadir di tempatnya ketika masih kecil, tetapi ia tidak memperhatikannya, hingga ada perasaan darinya tentangnya, karena itu ia banyak menyalahkannya dalam an-Nihayah. Qadhi Ibnu Khallikan berkata: Bila ia berkata dalam an-Nihayah “berkata sebagian penyusun: begini dan salah dalam itu”, dan mulai menjatuhkannya, maksudnya adalah Abu al-Qasim al-Faurani. Wafatnya pada Ramadhan tahun ini di Marw, pada usia tujuh puluh tiga tahun. Muridnya Abu Sa’d Abdurrahman bin Muhammad al-Ma’mun al-Ma’arri – pengajar di Nizhamiyah setelah Syaikh Abu Ishaq dan sebelum Ibnu ash-Shabbagh dan setelahnya juga – menulis kitab tentang al-Ibanah, ia menamainya Tatimmat al-Ibanah, ia menyelesaikannya hingga kitab al-Hudud, dan meninggal sebelum menyempurnakannya, lalu As’ad al-Ajli dan lainnya menyempurnakannya tetapi tidak mencapai tingkatannya, mereka menamainya Tatimmat at-Tatimmah, rahimahumullaahu ta’ala.
Kemudian Masuklah Tahun Empat Ratus Enam Puluh Dua Hijriah
Ibnu al-Jauzi berkata: Di antara peristiwa-peristiwa pada tahun ini: bahwa pada tiga jam di hari Selasa tanggal sebelas Jumadil Ula yaitu tanggal delapan belas Adzar terjadi gempa bumi dahsyat di Ramlah dan wilayah-wilayahnya hingga sebagian besar hancur dan temboknya runtuh. Hal itu menyeluruh di Baitul Maqdis dan Tannis, Ailah terbenam, laut surut hingga daratannya tersingkap dan orang-orang berjalan di atasnya kemudian kembali. Salah satu sudut Masjid Mesir berubah. Gempa ini diikuti pada jamnya oleh dua gempa lain.
Pada tahun ini Raja Rum pergi dari Konstantinopel ke Syam dengan tiga ratus ribu pasukan, turun ke Manbij, membakar desa-desa antara Manbij hingga tanah Rum, membunuh laki-laki mereka dan menawan perempuan mereka. Kaum muslimin di Halab dan lainnya sangat ketakutan terhadapnya, ia tinggal enam belas hari kemudian Allah memulangkannya dengan kehinaan, karena sedikitnya bekal mereka dan binasanya sebagian besar pasukannya karena kelaparan, walhamdulillahi wal minnah.
Pada tahun ini tangan Amir Mekah sempit, ia mengambil emas dari tirai-tirai Ka’bah, talang air dan pintu Ka’bah, lalu mencetak itu menjadi dirham dan dinar. Demikian pula yang dilakukan penguasa Madinah dengan pelita-pelita yang ada di Masjid Nabawi atas penghuninya, shalawat dan salam yang paling utama.
Pada tahun ini terjadi kelaparan hebat dan paceklik besar di wilayah Mesir, sehingga mereka memakan bangkai, hewan mati dan anjing. Anjing dijual dengan harga lima dinar. Gajah-gajah mati lalu dimakan habis. Hewan-hewan habis hingga tidak tersisa bagi penguasa Mesir kecuali tiga ekor kuda setelah jumlahnya yang banyak. Wazir turun suatu hari dari bighalnya, pembantu lengah darinya karena lemah kelaparan, lalu diambil oleh tiga orang, disembelih dan dimakan. Mereka ditangkap lalu disalib. Pada pagi harinya tulang-tulang mereka sudah terlihat, daging mereka dimakan orang. Tertangkap seorang laki-laki yang membunuh anak-anak dan perempuan, mengubur kepala dan anggota badan mereka dan menjual daging mereka, lalu ia dibunuh. Orang-orang Arab datang dengan makanan menjualnya di luar kota, tidak berani masuk agar tidak dirampas dan dijarah dari mereka. Tidak ada yang berani mengubur mayat pada siang hari, hanya menguburnya pada malam hari secara sembunyi-sembunyi agar tidak digali dan dimakan. Penguasa Mesir membutuhkan hingga menjual berbagai barang berharga yang ia miliki, di antaranya sebelas ribu baju besi dan dua puluh ribu pedang berhias, delapan puluh ribu keping kristal besar, tujuh puluh lima ribu keping sutra lama. Pakaian perempuan dan laki-laki dijual serta tirai buaian dengan harga paling murah, demikian pula properti dan lainnya. Sebagian barang berharga khalifah ini adalah yang dirampok dari Baghdad pada hari-hari al-Basasiri.
Pada tahun ini datang pembantu, hadiah dan pemberian dari Raja Alp Arslan kepada Khalifah al-Qa’im bi Amrillah. Pada tahun ini nama putra mahkota ditulis pada dinar dan dirham dan dinamai al-Amiri, transaksi dengan selainnya dilarang.
Pada tahun ini datang surat penguasa Mekah kepada Raja Alp Arslan yang berada di Khurasan memberitahukan tentang ditegakkannya khutbah di Mekah untuk al-Qa’im bi Amrillah dan untuk Sultan di Mekah, dan memutus khutbah untuk orang-orang Mesir. Ia mengirim kepadanya tiga puluh ribu dinar dan pakaian kehormatan yang bagus, dan mengalirkan untuknya setiap tahun sepuluh ribu dinar.
Pada tahun ini Amidul Daulah Ibnu Jahir menikah dengan putri Nizhamul Mulk di ar-Rayy, kemudian kembali ke Baghdad.
Mengimami haji adalah Abu al-Ghanaim al-Alawi.
Pada Tahun Ini Wafat dari Tokoh-Tokoh dan Orang-Orang Terkenal:
Al-Hasan bin Ali bin Muhammad bin Bari Abu al-Jawa’iz al-Wasithi tinggal di Baghdad waktu yang lama. Ia adalah sastrawan, penyair yang pandai. Lahir tahun tiga ratus lima puluh dua dan meninggal pada tahun ini pada usia seratus sepuluh tahun. Di antara syairnya yang bagus adalah ucapannya:
Wahai dukacitaku dari ucapannya … ia mengkhianati janjiku dan miliknya Demi yang menjadikanku … terikat padanya dan miliknya Tidaklah ia terlintas di pikiranku … kecuali memberiku dan miliknya
Muhammad bin Ahmad bin Sahl
Syairnya bagus, di antaranya ucapannya:
Wahai pembangun istana-istana tunggulah … hentikan, sebab istana pemuda adalah kematian Tidak pernah berkumpul keluarga penghuni istana … kecuali kemalangan mereka adalah perpecahan Sesungguhnya kehidupan seperti bayangan … berpindah tidak ada ketetapan baginya
Dan ucapannya:
Aku meninggalkan mereka dan bagiku dunia berpisah … aku pergi tidak ada bagiku selain kenangan mereka Aku berkata wahai kelezatanku antara aku dan mereka … sesungguhnya kejernihan hidupku setelah mereka keruh Seandainya bukan karena hatiku menghibur diri dengan harapan kepada mereka … kau akan mendapatinya jika mereka jauh dengan unta terbelah Wahai seandainya unta-unta mereka pada hari perpisahan disembelih … atau seandainya ia untuk binatang buas di padang terpotong Wahai waktu perpisahan engkau adalah waktu yang mendekat … wahai pedihnya perpisahan engkau adalah api yang menyala
Dan ucapannya:
Aku mencari teman di seluruh dunia … tetapi pencarianku gagal menemukan teman Ya ada yang dinamakan teman secara kiasan … tetapi tidak dalam makna kasih sayang yang jujur Maka aku menceraikan kasih sayang seluruh orang dengan tegas … dan aku menjadi dari tawanan pemeliharaan yang bebas
Tahun 463 Hijriah
Pada tahun ini, raja Romawi Romanus datang dengan pasukan sebesar gunung terdiri dari Romawi, Kurdi, dan Franka dalam jumlah besar dan perlengkapan yang sangat banyak. Bersamanya ada 35.000 panglima perang, setiap panglima memiliki pasukan antara 500 hingga 2.000 kavaleri. Dari Franka ada 35.000 orang, dari suku Ghuzz yang berada di belakang Konstantinopel ada 15.000 orang, bersamanya 100.000 penggali dan penambang, 1.000 pembuat jalan, 400 gerobak yang membawa sepatu dan paku, 1.000 gerobak yang membawa senjata, pelana, ketapel dan manjanik. Di antaranya ada manjanik yang ditarik oleh 1.200 orang. Niatnya—semoga Allah melaknatnya—adalah memusnahkan Islam dan pemeluknya. Ia telah memberikan wilayah-wilayah kepada panglima-panglimanya hingga Baghdad, dan memesan kepada wakilnya di sana agar memperlakukan khalifah dengan baik, lalu berkata kepadanya: “Bersikaplah lemah lembut kepada orang tua itu karena ia adalah sahabat kita.” Kemudian, setelah wilayah-wilayah Irak dan Khurasan jatuh ke tangan mereka, mereka bermaksud menyerang Syam dan penduduknya dalam satu serangan untuk merebut kembali wilayah itu dari tangan kaum muslimin dan menyelamatkannya menurut anggapan mereka. Namun takdir berkata: Demi umurmu, sesungguhnya mereka berada dalam kemabukannya, terombang-ambing.
Sultan Alp Arslan menemuinya dengan pasukannya yang berjumlah sekitar 20.000 orang di tempat yang disebut ar-Rahwah pada hari Rabu, 25 Dzulqa’dah. Sultan khawatir dengan banyaknya orang-orang musyrik. Ahli fikih Abu Nasr Muhammad bin Abdul Malik al-Bukhari menyarankan agar pertempuran dilaksanakan pada hari Jumat setelah waktu zuhur, ketika para khatib sedang mendoakan para mujahidin. Ketika kedua pasukan berhadapan, Sultan turun dari kudanya, bersujud kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia, menggosokkan wajahnya ke tanah, dan berdoa kepada Allah memohon pertolongan-Nya. Allah menurunkan pertolongan-Nya kepada kaum muslimin dan memberikan kemenangan atas kaum musyrikin. Mereka membunuh banyak sekali dari kaum musyrikin yang tidak terhitung jumlahnya, dan menangkap raja mereka Romanus. Yang menangkapnya adalah seorang budak Romawi. Sultan memberinya perintah dan memberikan banyak hadiah kepadanya. Budak ini sebelumnya pernah ditawarkan kepada Nizam al-Mulk sang wazir dalam sekelompok hadiah, tetapi ia menolaknya. Majikannya berkata: “Dia adalah… dan dia…” sambil memujinya, tetapi Nizam menolaknya dan berkata seolah-olah mengejek: “Barangkali ia akan membawa raja Romawi Romanus sebagai tawanan kepada kita,” dan kejadiannya persis seperti yang ia katakan. Segala puji dan terima kasih bagi Allah.
Ketika Romanus dibawa menghadap Sultan Alp Arslan, Sultan memukulnya dengan tangannya tiga kali dan berkata: “Jika akulah yang menjadi tawanan di hadapanmu, apa yang akan kamu lakukan?” Ia menjawab: “Segala yang buruk.” Sultan berkata: “Lalu apa sangkaanmu tentang diriku?” Ia menjawab: “Engkau akan membunuhku atau mempermalukanku di negerimu. Adapun pengampunan dan mengambil tebusan, itu mustahil.” Sultan berkata: “Aku tidak berniat selain memberi pengampunan dan mengambil tebusan.” Maka ia menebus dirinya dengan 1.500.000 dinar, membebaskan semua tawanan di negeri Romawi, dan gencatan senjata selama 50 tahun dengan membayar 1.000 dinar setiap hari. Ia berdiri di hadapan Sultan dan memberinya segelas air, mencium tanah di hadapannya, dan menghadap ke arah khalifah dengan penuh penghormatan. Sultan memberinya 10.000 dinar untuk bekal perjalanannya, membebaskan sejumlah panglima perang dan pengikutnya, mengantarnya sejauh satu farsakh, dan mengirim pasukan untuk melayani, menjaga, dan mengawalnya hingga ke negerinya. Bersama mereka ada bendera bertuliskan: Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad Rasulullah.
Ketika ia tiba di negerinya, ia mendapati orang-orang Romawi telah mengangkat raja lain menggantikannya. Ia mengirim utusan kepada Sultan untuk meminta maaf dan mengirim emas dan permata yang mendekati 300.000 dinar. Ia hidup sederhana dan mengenakan pakaian dari wol. Kemudian ia menjadi tamu raja Armenia, tetapi raja itu menangkapnya, memasung matanya, dan mengirimnya kepada Sultan untuk mendekatkan diri kepada Sultan.
Pada tahun ini, penguasa Aleppo Mahmud bin Mirdas menyerukan khutbah untuk al-Qa’im bi Amrillah dan untuk Sultan Alp Arslan. Khalifah mengirim pakaian kehormatan dan pengangkatan kepadanya melalui Syarif Tarrad az-Zaynabi.
Pada tahun ini, Nurul Huda Abu Talib az-Zaynabi memimpin haji. Di Makkah dikumandangkan khutbah untuk Khalifah al-Qa’im bi Amrillah, dan khutbah untuk penguasa Mesir dihentikan. Selama 100 tahun khutbah untuk mereka dikumandangkan di Makkah, namun terputus pada tahun ini. Segala puji dan terima kasih bagi Allah.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini
Al-Hafizh Abu Bakr al-Khatib al-Baghdadi
Ahmad bin Ali bin Tsabit bin Ahmad bin Mahdi, salah satu ahli hadits terkenal dan penulis Tarikh Baghdad dan karya-karya lainnya yang banyak dan bermanfaat, sekitar 60 karya, bahkan dikatakan mencapai 100 karya, wallahu a’lam.
Ia lahir tahun 391 Hijriah, ada yang mengatakan tahun 392. Pertama kali ia mendengar hadits tahun 403 Hijriah. Ia tumbuh di Baghdad dan belajar fikih kepada Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari dan ulama lain dari murid-murid Syekh Abu Hamid. Ia mendengar banyak hadits dan melakukan rihlah (perjalanan ilmiah) ke Basrah, Naisabur, Isfahan, Hamadzan, Syam, dan Hijaz. Ia dijuluki al-Khatib karena pernah menjadi khatib di Darzijan. Ia mendengar hadits di Makkah dari Qadhi Abu Abdullah Muhammad bin Salamah al-Qudha’i, dan membaca Shahih al-Bukhari kepada Karimah binti Ahmad dalam lima hari.
Ia kembali ke Baghdad dan mendapat kedudukan di sisi wazir Abu al-Qasim bin al-Muslimah. Ketika orang-orang Yahudi Khaibar mengklaim bahwa mereka memiliki surat dari Nabi yang berisi pembebasan jizyah dari mereka, Ibnu al-Muslimah menunjukkan surat itu kepada al-Khatib. Al-Khatib berkata: “Ini dusta.” Ditanyakan kepadanya: “Apa dalilnya?” Ia menjawab: “Karena di dalamnya ada kesaksian Mu’awiyah bin Abu Sufyan, padahal ia belum masuk Islam saat Khaibar. Peristiwa Khaibar terjadi tahun 7 Hijriah, sedangkan Mu’awiyah baru masuk Islam saat Fathu Makkah. Di dalamnya juga ada kesaksian Sa’d bin Mu’adz, padahal ia telah wafat pada peristiwa al-Khandaq tahun 5 Hijriah.” Orang-orang kagum dengan penjelasan itu. Al-Khatib telah mendahului orang lain dalam kritik ini sebagaimana telah saya sebutkan dalam karya khusus.
Ketika terjadi fitnah al-Basasiri di Baghdad tahun 450, ia keluar dari Baghdad menuju Syam dan tinggal di Damaskus di menara timur masjidnya. Ia membacakan hadits Nabi kepada orang-orang dengan suara yang keras sehingga terdengar di seluruh penjuru masjid. Suatu hari ia membacakan keutamaan Abbas, maka kaum Rafidhah dan pengikut Fatimiyyah menyerangnya dan ingin membunuhnya. Ia meminta perlindungan kepada Syarif az-Zaynabi yang memberinya perlindungan. Ia tinggal di Dar al-‘Aqiqi. Kemudian ia keluar dari Damaskus dan tinggal di kota Shur. Di sana ia menulis banyak karya Abu Abdullah ash-Shuri dengan tulisan tangannya sendiri. Ia meminjam karya-karya itu dari istri ash-Shuri. Ia terus tinggal di Syam hingga tahun 462, kemudian kembali ke Baghdad dan meriwayatkan sebagian dari hadits yang telah ia dengar. Ia pernah berdoa di Makkah agar dapat memiliki 1.000 dinar, dapat meriwayatkan Tarikh di Masjid al-Manshur, dan meninggal di Baghdad lalu dimakamkan di samping Bisyr al-Hafi. Dikatakan bahwa ia telah meriwayatkan Tarikh di Masjid al-Manshur dan memiliki emas mendekati 1.000 dinar. Ketika ia sakit parah, ia memiliki sekitar 200 dinar yang diwasiatkan untuk ahli hadits. Ia meminta Sultan menyetujui wasiat itu karena ia tidak memiliki ahli waris, dan permintaannya dikabulkan.
Ia memiliki banyak karya bermanfaat, di antaranya kitab Tarikh, kitab al-Kifayah, al-Jami’, Syaraf Ashab al-Hadits, al-Muttafiq wal Muftariq, as-Sabiq wal Lahiq, Talkhish al-Mutasyabih fir Rasm, Fadhl al-Washl, Riwayah al-Aba’ ‘anil Abna’, Riwayah ash-Shahabah ‘anit Tabi’in, Iqtidha’ al-‘Ilm al-‘Amal, dan lain-lain. Syekh Abu al-Faraj bin al-Jawzi menyebutkannya dalam al-Muntazham dan berkata: “Dikatakan bahwa kebanyakan karya-karya ini dimulai oleh Abu Abdullah ash-Shuri dan diselesaikan oleh al-Khatib.” Ia pandai membaca, fasih berbicara, menguasai sastra, dan dapat menulis syair. Awalnya ia mengikuti madzhab Imam Ahmad, kemudian pindah ke madzhab Syafi’i. Kemudian ia mulai berbicara tentang pengikut Ahmad dan mencela mereka sedapat mungkin, dengan cara-cara yang aneh dalam mencela mereka. Kemudian Ibnu al-Jawzi membela kelompoknya dengan panjang lebar.
Ibnu al-Jawzi menyebutkan dari syair al-Khatib—dari tulisan tangannya—sebuah qasidah yang bagus pembukaannya dan indah isinya, awalnya:
Demi umurmu, tidaklah aku tergugah oleh bekas tempat tinggal yang aku singgahi di sana, dan bukan pula oleh kenangan tempat-tempat bernyanyi
Dan bukan bekas kemah-kemah yang membuat air mataku tumpah karena mengingat masa dengan para kekasih
Dan tidaklah cinta pernah menguasai kendali diriku, dan aku tidak pernah membangkangnya sehingga ia membelokan tali kekangku
Aku mengenal perbuatannya terhadap orang-orang yang dilanda cinta dan apa yang mereka alami dari kehinaan cinta
Maka aku tidak memberikannya kesempatan untuk menguasaiku, dan berapa banyak orang yang terbunuh olehnya di antara manusia yang tak terhitung jumlahnya dan yang terikat
Aku mencari saudara yang murni persahabatannya, yang baik dalam keadaan tidak tampak dan terjaga lisannya
Namun aku tidak menemukan dari saudara-saudara kecuali kemunafikan dalam menjauh dan mendekat
Dan ulama zaman kita tidak ada kebaikan di dalam mereka, engkau hanya melihat bentuk-bentuk yang menarik tanpa makna
Dan gambaran mereka semua seperti ini, maka aku tidak berkata selain: si fulan atau si fulan
Dan karena aku tidak menemukan orang merdeka yang mau membantu terhadap apa yang menimpa dari perputaran zaman
Aku bersabar dengan mulia terhadap pukulan zaman dan tidak panik terhadap apa yang menimpaku darinya
Dan aku tidak pernah dalam kesulitan menjadi lemah, aku berkata kepadanya: cukuplah, cukuplah bagiku
Tetapi aku adalah orang yang kokoh, kokoh pendirian, teguh hati, dan berkumpul keberaniannya
Mulia jiwa, aku tidak memilih rezeki yang datang selain dari pedangku atau tombakku
Maka kemuliaan dalam api siksaan yang membakar musuhku lebih manis daripada kehinaan di surga
Al-Hafizh Ibnu Asakir memberikan biografinya dalam Tarikhnya dengan baik sebagaimana kebiasaannya, dan menyebutkan dari syairnya:
Janganlah iri kepada orang dunia karena kemegahannya, dan jangan karena kenikmatan sesaat yang membuatnya gembira
Karena zaman adalah sesuatu yang paling cepat berubah, dan perbuatannya sudah jelas bagi makhluk
Berapa banyak peminum madu yang di dalamnya ada kematiannya, dan berapa banyak yang mengikatkan pedang yang dengannya ia disembelih
Wafatnya adalah pada hari Senin pagi tanggal 7 Dzulhijjah tahun ini, dalam usia 72 tahun di sebuah kamar yang ia tempati di Darb as-Silsilah dekat Madrasah Nizhamiyyah. Orang-orang sangat memperhatikan pemakamannya. Di antara yang mengangkat jenazahnya adalah Syekh Abu Ishaq asy-Syirazi. Ia dimakamkan di samping kubur Bisyr al-Hafi di kubur seorang laki-laki yang telah menyiapkannya untuk dirinya sendiri. Ia diminta untuk memberikannya kepada al-Khatib, tetapi ia berat hati. Hingga seseorang berkata kepadanya: “Demi Allah, jika engkau dan al-Khatib datang menghadap Bisyr, siapa di antara kalian berdua yang akan ia dudukkan di sampingnya?” Ia menjawab: “Al-Khatib.” Maka dikatakan: “Berilah dia dengan murah hati,” lalu ia memberikannya. Ia dimakamkan di sana, semoga Allah merahmatinya dan memuliakan tempat kembalinya. Ia termasuk orang yang pantas dibacakan syair:
Engkau terus bekerja keras dalam sejarah dengan sungguh-sungguh, hingga aku melihatmu tertulis dalam sejarah
Ibnu Khallikan meriwayatkan dari as-Sam’ani bahwa ia wafat di bulan Syawwal dan ia bersedekah dengan seluruh hartanya dan mewakafkan buku-bukunya.
Hassan bin Sa’id bin Hassan bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Mani’ bin Khalid bin Abdurrahman bin Khalid bin al-Walid al-Makhzumi al-Mani’i
Di masa mudanya ia menggabungkan antara kezuhudan dan perdagangan hingga menjadi pemimpin orang-orang di zamannya. Kemudian ia meninggalkan itu dan mengabdikan diri pada ibadah, kezuhudan, berbuat baik, bersilaturahmi, bersedekah, berbuat baik kepada makhluk, membangun masjid-masjid dan ribath-ribath. Sultan datang kepadanya dan mengambil berkah darinya. Ketika terjadi kelaparan, setiap hari ia membuat banyak roti dan makanan untuk disedekahkan. Setiap tahun ia memberikan pakaian dan jubah yang lengkap kepada hampir 1.000 orang, begitu juga kaum wanita. Ia juga membiayai pernikahan anak-anak perempuan fakir dan yatim. Ia menghapuskan banyak pajak dan beban pemerintah dari wilayah Naisabur dan desa-desanya. Ia sangat sederhana dalam berpakaian, mengenakan pakaian compang-camping, dan meninggalkan syahwat. Demikianlah ia hingga wafat di negerinya Marwarrudz pada tahun ini. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadanya. Amin.
Muhammad bin al-Husain bin Hamzah Abu Ya’la al-Ja’fari
Ahli fikih Syiah di zamannya.
Muhammad bin Wasysyah bin Abdullah, Abu Ali
Maula Abu Tamam Muhammad bin Ali bin al-Hasan az-Zaynabi. Ia mendengar hadits dan adalah seorang sastrawan penyair. Ia menulis untuk Naqib an-Nuqaba’ al-Kamil, dan dinisbatkan kepada Mu’tazilah dan Rafidhah. Di antara syairnya:
Aku membawa tongkat, bukan karena kelemahan yang membuatku membawanya, dan bukan pula karena aku bungkuk karena tua
Tetapi aku mewajibkan diriku membawanya untuk mengajarkan diriku bahwa orang yang menetap sedang dalam perjalanan
Syekh Abu Umar bin Abdul Barr an-Namari
Al-Hafizh, penulis berbagai karya, di antaranya at-Tamhid, al-Istidzkar, al-Isti’ab, dan lainnya.
Ibnu Zaydun asy-Sya’ir
Ahmad bin Abdullah bin Ahmad bin Ghalib bin Zaydun Abu al-Walid, penyair ulung Andalusia dari Qurthubah. Ia berhubungan dengan Amir al-Mu’tadhid ‘Abbad, penguasa Isyibiliyyah (Sevilla). Ia mendapat kedudukan di sisinya dan menjadi penasihatnya dalam kedudukan wazir. Anaknya Abu Bakr bin Abi al-Walid menjadi wazir untuknya. Ia adalah penulis qasidah perpisahan yang terkenal yang mengatakan di dalamnya:
Kalian pergi dan kami pergi, namun tidak kering dadaku karena kerinduan kepada kalian, dan tidak kering kelopak mataku
Hampir saja ketika hati nurani kami berbicara kepada kalian, kesedihan membunuh kami jika bukan karena penghiburan kami
Hari-hari kami berubah karena jauhnya kalian hingga menjadi hitam, padahal dahulu dengan kalian putih malam-malam kami
Kemarin kami bersama dan tidak ada yang khawatir akan perpisahan kami, hari ini kami sendirian dan tidak ada harapan pertemuan kami
Ini adalah qasidah yang panjang, di dalamnya ada kepandaian yang kuat yang membangkitkan tangisan bagi setiap orang yang membaca atau mendengarnya, karena tidak ada seorang pun dari anak-anak dunia kecuali telah kehilangan teman, kekasih, atau kerabat. Di antara syairnya:
Antara aku dan engkau ada sesuatu yang jika aku mau tidak akan hilang, rahasia yang jika rahasia-rahasia tersebar, ia tidak tersebar
Wahai yang menjual bagiannya dariku, padahal jika ditawarkan kepadaku kehidupan dengan bagianku darinya, aku tidak akan menjualnya
Cukup bagimu bahwa jika engkau membebankan kepada hatiku apa yang tidak sanggup ditanggung oleh hati manusia, ia sanggup
Bebankan, aku akan menanggung; perlakukan sewenang-wenang, aku akan bersabar; muliakanlah, aku akan merendahkan diri; berpalinglah, aku akan menghadap; katakanlah, aku akan mendengar; perintahkanlah, aku akan taat
Ia wafat pada bulan Rajab tahun ini dan anaknya Abu Bakar terus menjabat sebagai wazir (menteri) bagi Al-Mu’tamid ibn Abbad, hingga Ibnu Tasyafin merebut Cordoba dari tangannya pada tahun empat ratus delapan puluh empat lalu ia terbunuh pada hari itu. Demikian dikatakan oleh Ibnu Khallikan dalam kitab Al-Wafayat.
Karimah binti Ahmad ibn Muhammad ibn Abi Hatim Al-Marwaziyyah adalah seorang wanita alim yang salihah. Ia mendengarkan Shahih Al-Bukhari dari Al-Kasymihaniy dan para imam membaca di hadapannya seperti Al-Khatib, Abu Al-Muzhaffar As-Sam’aniy, dan lain-lain.
Kemudian Masuk Tahun Empat Ratus Enam Puluh Empat
Pada tahun ini Syaikh Abu Ishaq Asy-Syiraziy bersama kaum Hanabilah bangkit dalam mengingkari para pelaku kerusakan dan mereka yang menjual minuman keras, serta dalam membatalkan penyewaan tempat-tempat pelacuran yaitu para pelacur itu. Lalu ditulislah surat kepada Sultan mengenai hal itu maka datanglah surat-suratnya berisi pengingkaran. Pada tahun ini terjadi gempa bumi dahsyat di Baghdad sehingga bumi berguncang sebanyak enam kali.
Pada tahun ini terjadi kenaikan harga yang sangat tinggi dan kematian yang merajalela pada hewan ternak, sampai-sampai sebagian penggembala di Khurasan bangun pada waktu pagi untuk menggiring kambingnya, ternyata semuanya telah mati. Datang pula banjir besar dan hujan es besar yang merusak sangat banyak tanaman dan buah-buahan di Khurasan.
Pada tahun ini Amir Adud Ad-Din putra Khalifah menikahi putri Sultan Alp Arsalan dari Safra Khatun dan pernikahan itu di Naisabur. Wakil Sultan adalah Nizam Al-Mulk dan wakil mempelai pria adalah Amid Ad-Dawlah Ibnu Juhair. Ketika akad nikah dilangsungkan, permata-permata berharga ditaburkan kepada orang-orang, dan hari itu adalah hari yang disaksikan banyak orang. Gajah-gajah dan kuda-kuda dihias, dan tabuh serta terompet dibunyikan.
Di Antara Orang Terkenal yang Wafat pada Tahun Ini:
Bakar ibn Muhammad ibn Huaid, Abu Manshur An-Naisaburiy mengaku bahwa ia dari keturunan Utsman ibn Affan dan meriwayatkan hadis dari Abu Bakar ibn Al-Madzhab. Ia adalah orang yang terpercaya dan wafat pada bulan Muharram tahun ini dalam usia mendekati delapan puluh tahun.
Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Abdullah ibn Abdul Shamad ibn Al-Muhtadi Billah Abu Al-Hasan Al-Hasyimiy adalah khatib Masjid Jami’ Al-Manshur. Ia termasuk orang yang memakai sorban tinggi. Ia meriwayatkan hadis dari Ibnu Rizqawaih dan lainnya, dan diriwayatkan darinya oleh Al-Khatib. Ia adalah orang yang terpercaya dan adil, bersaksi di hadapan Ibnu Makulah dan Ibnu Ad-Damaghaniy lalu mereka menerimanya. Ia wafat pada tahun ini dalam usia delapan puluh tahun dan dikuburkan dekat makam Bisyir Al-Hafiy, rahimahullah ta’ala.
Muhammad ibn Ahmad ibn Syadzah ibn Ja’far Abu Abdullah Al-Ashfahaniy menjabat sebagai qadhi (hakim) di Dijail. Ia bermazhab Syafi’i dan meriwayatkan hadis dari Abu Umar ibn Mahdiy. Wafatnya di Baghdad dan dipindahkan ke Dijail.
Kemudian Masuk Tahun Empat Ratus Enam Puluh Lima
Pada hari Kamis tanggal sebelas bulan Muharram, datang ke Diwan (kantor pemerintahan) Abu Al-Wafa Ali ibn Muhammad ibn Aqil Al-Aqiliy Al-Hanbaliy, dan ia telah menulis surat tentang dirinya yang berisi taubatnya dari paham Mu’tazilah dan bergaul dengan penganutnya, bahwa ia telah kembali dari keyakinan bahwa Al-Hallaj termasuk orang baik, dan ia telah mencabut tulisan yang ia buat tentang hal itu, serta bahwa Al-Hallaj telah dibunuh berdasarkan ijma’ (konsensus) ulama pada masanya, dan mereka benar sedangkan ia salah. Sejumlah orang menyaksikan hal itu dalam surat tersebut. Ia kembali dari Diwan menuju rumah Syarif Abu Ja’far, lalu memberi salam dan berdamai dengannya serta meminta maaf kepadanya dan menghormatiya. Segala puji dan karunia bagi Allah.
Wafatnya Sultan Alp Arsalan dan Menjadi Rajanya Anaknya Malikshah
Sultan telah berangkat pada awal tahun ini dengan dua ratus ribu prajurit ingin berperang ke wilayah seberang sungai. Terjadilah di salah satu perhentian bahwa ia marah kepada seorang laki-laki bernama Yusuf Al-Khawarazmiy, lalu orang itu dihentikan di hadapannya. Sultan mulai menegurnya tentang beberapa hal yang dilakukannya, kemudian memerintahkan agar dipancangkan empat pasak untuknya dan ia disalib di antaranya. Maka Yusuf berkata kepada Sultan: “Wahai banci, apakah orang sepertiku dibunuh seperti ini?” Sultan sangat marah karenanya dan memerintahkan untuk melepaskannya. Sultan mengambil busur lalu memanah Yusuf dengan anak panah namun meleset. Yusuf menghampiri Sultan, maka Sultan bangkit dari singgasana dan turun lalu tersandung dan jatuh. Yusuf menyusul Sultan lalu menikamnya dengan belati yang ada di tangannya pada pinggangnya. Pasukan mengejarnya dan membunuhnya, padahal Sultan telah terluka parah. Sultan wafat pada hari Sabtu tanggal sepuluh Rabi’ul Awwal tahun ini. Dikatakan bahwa penduduk Bukhara ketika ia melewati mereka dan pasukannya merampas banyak barang milik mereka, mereka mendoakan keburukannya maka ia pun binasa.
Ketika ia wafat, anaknya Malikshah duduk di atas singgasana kerajaan dan para amir berdiri di hadapannya. Wazir Nizam Al-Mulk berkata kepadanya: “Berbicaralah wahai Sultan.” Ia berkata: “Yang paling tua di antara kalian adalah ayahku, yang menengah adalah saudaraku, dan yang paling muda adalah anakku. Aku akan berlaku kepada kalian dengan apa yang belum pernah dilakukan sebelumnya.” Mereka pun diam. Ia mengulangi perkataannya maka mereka menjawab dengan mendengar dan taat. Yang memikul tanggung jawab urusannya adalah wazir ayahnya Nizam Al-Mulk. Ia menambahkan gaji pasukan sebesar tujuh ratus ribu dinar. Mereka berjalan ke Marw lalu memakamkan Sultan di sana. Nanti akan disebutkan sesuatu dari biografinya dalam bagian wafat.
Ketika kematiannya sampai kepada penduduk Baghdad, orang-orang mengadakan ta’ziyah untuknya. Pasar-pasar ditutup dan Khalifah menampakkan kesedihan atasnya. Putrinya Al-Khatun yang merupakan istri Khalifah menanggalkan pakaiannya dan duduk di atas tanah. Datang surat-surat dari Sultan pada bulan Rajab kepada Khalifah yang menyatakan duka cita atas ayahnya dan meminta agar khutbah didirikan untuknya, maka hal itu pun dilakukan.
Malikshah memberi pakaian kehormatan kepada Wazir Nizam Al-Mulk berupa pakaian-pakaian mulia dan memberinya hadiah-hadiah banyak, di antaranya dua puluh ribu dinar. Ia memberinya gelar Atabak yang artinya Amir Besar Ayah. Ia menjalankan kebijakan yang baik. Ketika Qawurt Bek mendengar kematian saudaranya Alp Arsalan, ia berkuda dengan pasukan besar bermaksud memerangi anak saudaranya Malikshah. Mereka pun bertemu dan berperang, maka tentara Qawurt kalah dan ia ditawan. Anak saudaranya menegurnya lalu menahannya kemudian mengutus orang yang membunuhnya.
Pada tahun ini terjadi fitnah besar antara penduduk Al-Karkh dengan Bab Al-Bashrah dan Al-Qala’in. Mereka saling berperang dan banyak dari mereka yang terbunuh. Bagian besar dari Al-Karkh terbakar. Al-Mutawalliy membalas dendam untuk penduduk Al-Karkh dari penduduk Bab Al-Bashrah dengan mengambil banyak harta mereka sebagai hukuman atas apa yang mereka perbuat. Pada tahun ini, dakwah Abbasiyah ditegakkan di Baitul Maqdis. Pada tahun ini penguasa Samarkand yaitu Altukin menguasai kota Tirmidz. Pada tahun ini yang memimpin haji adalah Abu Al-Ghanaim Al-Alawiy.
Di Antara Orang Terkenal yang Wafat pada Tahun Ini:
Sultan Alp Arsalan yang bergelar Sultan Dunia, putra Jaghri Bek Dawud ibn Mika’il ibn Saljuq ibn Tuqaq At-Turkiy, penguasa wilayah-wilayah yang luas. Ia menjadi raja setelah pamannya Tughrulbek selama tujuh tahun enam bulan dan beberapa hari. Ia adalah orang yang adil, berjalan di tengah manusia dengan kebijakan yang baik, murah hati, penyayang kepada rakyat, lemah lembut kepada orang-orang miskin, berbakti kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya dan budak-budaknya, banyak berdoa agar nikmat yang dilimpahkan kepadanya tetap langgeng, banyak bersedekah. Ia bersedekah setiap Ramadhan sebesar lima belas ribu dinar. Tidak diketahui pada zamannya ada kejahatan atau penyitaan harta, bahkan ia cukup dari rakyat dengan kharaj (pajak tanah) dalam dua kali cicilan sebagai kemudahan bagi mereka.
Sebagian pengadu menulis kepadanya tentang Nizam Al-Mulk. Ia memanggilnya dan berkata kepadanya: “Jika ini benar, maka perbaikilah akhlakmu dan perbaikilah keadaanmu. Jika tidak benar, maka maafkanlah kesalahan mereka dengan kesibukan yang menyibukkan mereka dari mengadu manusia.” Ia sangat bersungguh-sungguh dalam menjaga harta rakyat. Sampai kepadanya bahwa seorang budaknya mengambil kain milik seorang pedagang maka ia menyalibnya. Seluruh budak pun jera karenanya karena takut akan kekerasannya.
Ia meninggalkan anak-anak: Malikshah yang menjadi penggantinya, Iyaz, Takasy, Buri Baris, Arsalan Arghun, Sarah, Aisyah, dan seorang putri lainnya. Wafatnya pada tahun ini dalam usia empat puluh satu tahun dan dikuburkan di samping ayahnya di Ar-Rayy, rahimahullah ta’ala.
Abu Al-Qasim Al-Qusyairiy Abdul Karim ibn Hawazan ibn Abdul Malik ibn Thalhah
Ibunya dari Bani Sulaim. Ayahnya wafat ketika ia masih kecil. Ia mempelajari sastra dan bahasa Arab, berguru kepada Syaikh Abu Ali Ad-Daqqaq, mengambil fiqh dari Abu Bakar ibn Muhammad Ath-Thusiy, dan kalam dari Abu Bakar ibn Furak. Ia menulis banyak karya, di antaranya Tafsir Al-Kabir dan Ar-Risalah yang di dalamnya ia menyebutkan biografi sejumlah masyaikh dan orang-orang salih. Ia berhaji bersama Imam Al-Haramain dan Abu Bakar Al-Baihaqiy. Ia memberi nasihat kepada manusia.
Ia wafat di Naisabur pada tahun ini dalam usia tujuh puluh tahun dan dikuburkan di samping gurunya Abu Ali Ad-Daqqaq. Tidak ada seorang pun dari keluarganya yang masuk ke perpustakaan bukunya kecuali setelah beberapa tahun sebagai bentuk penghormatan kepadanya. Ia memiliki seekor kuda tunggangan yang dihadiahkan kepadanya. Ketika ia wafat, kuda itu tidak mau makan makanan hingga mati tidak lama setelahnya. Demikian disebutkan oleh Ibnul Jauziy.
Qadhi Ibnu Khallikan dalam kitab Al-Wafayat memujinya dengan banyak pujian dan menyebutkan sebagian syair indahnya. Di antaranya perkataannya:
Semoga Allah memberi minum waktu ketika aku menyendiri dengan wajahmu Dan senyum cinta di taman kesenangan tersenyum Kami tinggal beberapa waktu dan mata-mata tenang Lalu aku bangun suatu hari dan kelopak mata berlinang
Dan perkataannya juga rahimahullah ta’ala:
Seandainya engkau sejam berada di antara kami Dan menyaksikan ketika kami mengulangi perpisahan Engkau yakin bahwa dari air mata ada yang bercerita Dan engkau tahu bahwa dari cerita ada air mata
Dan perkataannya juga:
Barangsiapa yang dalam lamanya cinta merasakan ketenangan Maka aku dari Laila tidak merasakan hal itu Dan paling banyak yang kudapat dari pertemuannya Adalah angan-angan yang tidak terwujud seperti kilatan kilat
Ibnu Shirba’ar As-Sya’ir namanya Ali ibn Al-Hasan ibn Ali ibn Al-Fadhl Abu Manshur Al-Katib yang dikenal dengan Ibnu Shirba’ar. Nizam Al-Mulk biasa berkata kepadanya: “Engkau Shardur bukan Shirba’ar.” Sebagian orang menghujanya dengan berkata:
Jika orang-orang dahulu memberi julukan pada ayahmu Dan menamainya karena kikitnya Shirba’ar Maka engkau menyebarkan apa yang ia kumpulkan Sebagai durhaka kepadanya dan engkau menyebutnya syair
Ibnul Jauziy berkata: “Ini adalah kezaliman yang nyata karena syairnya sangat indah.” Kemudian ia menyebutkan beberapa potongan syairnya yang indah, di antaranya perkataannya:
Ceritakanlah tentang Nu’man dan penghuninya Sesungguhnya cerita tentang kekasih adalah hiburan malam Aku mencari kalian dari angin setiap kali ia bertiup Dari arah tanah kalian angin yang harum
Ia berkata: “Ia telah menghafal Al-Qur’an dan mendengar hadis dari Ibnu Bisyran dan lainnya serta banyak meriwayatkan hadis. Suatu hari ia menunggang hewan tunggangan lalu ia dan hewan itu terjatuh ke dalam sumur dan keduanya mati. Ia dikuburkan di Bab Abraz pada bulan Shafar tahun ini.”
Ibnul Jauziy berkata: “Aku membaca dengan tulisan Ibnu Aqil bahwa Shirba’ar adalah penjaga perbendaharaan di Ar-Rashah dan ia dituduh sebagai orang yang murtad.” Ibnu Khallikan telah menyebutkan untuknya sebagian syair-syairnya dan memujinya dalam bidangnya. Wallahu a’lam bi halihi (Allah lebih mengetahui keadaannya).
Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn Ubaidillah ibn Abdul Shamad ibn Al-Muhtadi Billah Abu Al-Husain dikenal dengan Ibnul Ghariq. Ia lahir tahun tiga ratus tujuh puluh dan mendengar dari Ad-Daraquthniy dan ia adalah orang terakhir yang meriwayatkan darinya di dunia, juga dari Ibnu Syahin. Ia menyendiri darinya dan mendengar dari banyak orang lainnya. Ia adalah orang yang terpercaya, beragama, banyak shalat dan puasa. Ia disebut rahib Bani Hasyim. Ia memiliki ilmu dan akal yang melimpah, banyak membaca Al-Qur’an, hatinya lembut, air matanya banyak. Para penuntut ilmu melakukan rihlah (perjalanan menuntut ilmu) kepadanya dari berbagai penjuru. Kemudian pendengarannya menjadi berat sehingga ia membacakan kepada orang-orang, dan salah satu matanya hilang. Ia menjadi khatib pada usia enam belas tahun dan bersaksi di hadapan para hakim pada tahun empat ratus enam. Ia menjabat sebagai hakim pada tahun empat ratus sembilan dan tetap menjadi khatib di Masjid Jami’ Al-Manshur dan Masjid Jami’ Ar-Rashah selama tujuh puluh enam tahun, dan menjadi hakim selama lima puluh enam tahun. Ia wafat pada akhir bulan Dzulqa’dah tahun ini, telah melewati usia sembilan puluh tahun. Hari pemakamannya adalah hari yang disaksikan banyak orang dan ia terlihat dalam mimpi-mimpi yang baik.
Kemudian Masuklah Tahun Empat Ratus Enam Puluh Enam
Pada bulan Safar, khalifah mengadakan majlis umum dengan cucunya, Amir Uddatuddin Abu Qasim Abdullah al-Muqtadi Biamrillah, berdiri di sampingnya. Usianya pada saat itu delapan belas tahun, dalam keadaan yang sangat tampan. Hadir para amir dan pembesar negara. Khalifah mengikatkan bendera Sultan Malikshah dengan tangannya sendiri. Hari itu merupakan hari yang bersejarah. Keramaian sangat padat sehingga orang-orang saling mengucapkan selamat satu sama lain karena selamat.
Banjir Baghdad
Pada bulan Jumadil Akhir, datanglah hujan lebat dan banjir yang sangat kuat dan besar. Sungai Tigris meluap hingga menenggelamkan sebagian besar Baghdad, bahkan sampai ke istana khalifah. Para budak perempuan keluar dengan rambut terbuka hingga mereka sampai ke sisi barat. Khalifah melarikan diri dari tempat duduknya, tidak menemukan jalan yang bisa dilalui. Sebagian pelayan membawanya ke Taj. Hari itu merupakan hari yang sangat dahsyat dan peristiwa yang mengerikan. Harta benda manusia musnah dalam jumlah yang sangat besar, dan banyak orang meninggal tertimbun reruntuhan dari penduduk Baghdad dan desa-desa. Di atas banjir datang kayu-kayu, binatang buas, dan ular dalam jumlah yang sangat banyak. Banyak rumah roboh di kedua sisi kota, dan banyak kuburan terendam, di antaranya kuburan Al-Khaizuran, makam Imam Ahmad bin Hanbal. Air masuk melalui jendela-jendela Maristan Al-Adudi. Banjir juga merusak banyak hal di Mosul, menghantam tembok Sinjar hingga runtuh, dan membawa gerbangnya dari tempatnya sejauh empat farsakh.
Pada bulan Dzulhijjah tahun ini, datang angin kencang di tanah Basrah yang mencabut sekitar lima ribu pohon kurma.
Orang-orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini:
Ahmad bin Muhammad bin al-Hasan as-Simnani al-Hanafi al-Asy’ari
Ibnu Jauzi berkata: Ini termasuk hal yang aneh. Qadi al-Qudat Abu Abdullah ad-Damaghani menikahi putrinya dan mengangkatnya sebagai wakil qadi. Dia adalah orang yang terpercaya, mulia dari kalangan orang-orang terhormat, melampaui usia delapan puluh tahun.
Abdul Aziz bin Ahmad bin Ali bin Sulaiman Abu Muhammad al-Kattani al-Hafizh ad-Dimasyqi
Ia mendengar banyak hadits, menulis banyak, dan menyusun karya dengan baik dan bermanfaat. Ia memiliki banyak karya tentang keutamaan-keutamaan yang aneh, dan sebagian yang diriwayatkannya adalah palsu, namun ia tidak menunjukkannya meskipun ia adalah orang yang terpercaya, tepat, hafizh, jujur, lurus jalan dan keyakinannya, bermazhab salaf. Al-Hafizh Abu Bakar al-Khatib menulis hadits darinya. Semoga Allah merahmatinya.
Muhammad bin Ibrahim bin Ali bin Ibrahim bin Ja’far Abu Bakar al-Attar al-Ashbahani al-Hafizh
Mustamli Abu Nu’aim. Ia mendengar banyak hadits dan mendiktekan dari hafalannya. Al-Khatib menulis satu hadits darinya. Ia adalah orang besar di negerinya, terpercaya, mulia, dan agung. Wafatnya pada tahun ini. Semoga Allah merahmatinya.
Al-Mawardiyyah
Ibnu Jauzi menyebutkan bahwa ia adalah seorang wanita tua yang salihah dari penduduk Basrah yang memberi nasihat kepada para wanita. Ia bisa menulis dan membaca, serta menghabiskan lima puluh tahun dari umurnya tanpa berbuka di siang hari dan tidak tidur di malam hari. Ia makan roti kacang, dan buah tin kering bukan yang segar, sedikit anggur dan minyak zaitun, dan kadang-kadang makan daging dalam jumlah sedikit. Ketika wafat, kebanyakan penduduk negeri mengikuti jenazahnya, dan dimakamkan di makam orang-orang salih.
Kemudian Masuklah Tahun Empat Ratus Enam Puluh Tujuh
Pada bulan Safar, al-Qaim Biamrillah jatuh sakit sangat parah hingga tenggorokannya bengkak dan menolak untuk dibekam. Wazir Fakhrudaulah terus memaksanya hingga ia dibekam dan kondisinya membaik. Orang-orang telah cemas lalu bergembira dengan kesembuhannya.
Pada bulan ini datang banjir besar, orang-orang mengalami kesulitan yang sangat berat. Kebanyakan bangunan Baghdad belum sepenuhnya pulih dari banjir pertama, sehingga orang-orang keluar ke padang pasir dan duduk di atas bukit-bukit di bawah hujan.
Terjadi wabah besar di Rahabah, sekitar sepuluh ribu penduduknya meninggal. Demikian pula terjadi di Wasith, Basrah, Khuzistan, tanah Khurasan dan lainnya. Wallahu a’lam.
Kisah Wafatnya Khalifah al-Qaim Biamrillah
Ia dibekam pada hari Kamis tanggal dua puluh delapan Rajab dari penyakit yang sering menyerangnya sejak tahun banjir. Kemudian ia tidur, lalu bekamnya pecah. Ia bangun dalam keadaan lemah dan putus asa. Maka dipanggilah cucunya dan putra mahkotanya, Uddatuddin Abu Qasim Abdullah bin Muhammad bin al-Qaim. Ia menghadirkan qadi dan para nuqaba, dan mempersaksikan mereka untuk kedua kalinya tentang penunjukan putra mahkota setelahnya, maka mereka menjadi saksi. Kemudian wafatnya terjadi pada malam Kamis tanggal tiga belas Sya’ban dalam usia tujuh puluh empat tahun delapan bulan delapan hari. Masa khilafahnya adalah empat puluh empat tahun delapan bulan dua puluh lima hari. Tidak ada seorang pun dari Bani Abbas sebelumnya yang mencapai masa ini. Khilafah ayahnya sebelumnya melampaui empat puluh tahun, sehingga total masa mereka berdua adalah delapan puluh lima tahun dan beberapa bulan, dan itu mendekati seluruh masa Bani Umayyah.
Al-Qaim Biamrillah adalah orang yang tampan, wajah yang indah, putih kemerahan, fasih, wara’, zahid, beradab, penulis yang fasih, penyair, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya beberapa syairnya ketika di Haditsah Anah tahun lima puluh. Ia adalah orang yang adil, banyak berbuat baik kepada manusia, semoga Allah merahmatinya.
Ia dimandikan oleh Asy-Syarif Abu Ja’far bin Abi Musa al-Hanbali atas wasiat khalifah. Ditawarkan kepada Asy-Syarif Abu Ja’far apa yang ada di sana dari perabot dan harta, namun ia tidak menerima sedikitpun. Shalat jenazah untuk khalifah dilakukan pada pagi hari Kamis yang disebutkan, dan dimakamkan di sisi kakek-kakeknya, kemudian dipindahkan ke Rasafah, dan kuburnya diziarahi hingga sekarang. Pasar-pasar ditutup karena wafatnya, kain-kain berkabung dipasang, para wanita Hasyimi dan lainnya meratapi beliau. Wazir Ibnu Jahir dan putranya duduk berduka di tanah, orang-orang merobek pakaian mereka. Hari itu sangat berat, keadaan berlanjut demikian selama tiga hari.
Ia adalah salah satu khalifah Bani Abbas terbaik dalam agama, keyakinan, dan pemerintahan. Ia diuji di antara mereka dengan fitnah al-Basasiri yang mengharuskannya keluar dari rumahnya, meninggalkan istri dan anak-anaknya serta negerinya, lalu tinggal di Haditsah Anah selama satu tahun penuh. Kemudian Allah mengembalikan nikmat dan khilafah kepadanya. Sebagaimana kata penyair: Maka mereka pun menjadi orang yang Allah kembalikan nikmatnya kepada mereka, ketika mereka adalah Quraisy dan tidak ada manusia seperti mereka.
Ia memiliki pendahulu yang salih sebagaimana firman Allah: Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jatuhkan ke atas kursinya mayat, kemudian ia bertaubat. (Surah Shad). Kami telah menyebutkan ringkasan apa yang disebutkan para mufassir dalam surah Shad, dan telah menguraikan panjang lebar tentang kisah Abbas ini dan fitnah Basasiri pada tahun empat ratus lima puluh dan lima puluh satu.
Khilafah al-Muqtadi Biamrillah
Ia adalah Abu Qasim Uddatuddin Abdullah bin al-Amir Dzakhiratuddin Muhammad bin al-Khalifah al-Qaim Biamrillah bin al-Qadir al-Abbasi. Ibunya adalah orang Armenia bernama Arjuwan yang dipanggil Qurrah al-‘Ain. Ia menyaksikan khilafah beliau dan khilafah kedua putranya al-Mustazhhir dan al-Mustarsyid. Ayahnya wafat ketika ia masih dalam kandungan. Ketika lahir laki-laki, kakeknya dan kaum muslimin bergembira sangat, karena Allah menjaga bagi kaum muslimin kelangsungan khilafah dalam keluarga al-Qadir. Sebab selain mereka berbaur di pasar-pasar bersama orang awam, dan hati-hati muak untuk mengangkat orang-orang seperti itu sebagai khalifah atas manusia. Ia tumbuh dalam asuhan kakeknya al-Qaim Biamrillah yang mendidiknya dengan apa yang layak bagi orang sepertinya, dan melatihnya dengan sifat-sifat terbaik, segala puji bagi Allah.
Usia al-Muqtadi ketika menjadi khalifah adalah dua puluh tahun, dalam keadaan sangat tampan lahir dan batin. Bai’atnya pada hari Jumat tanggal tiga belas Sya’ban tahun ini. Ia duduk di Dar asy-Syajarah dengan qamis putih, sorban putih yang halus, dan selendang qasab durriyyah. Datanglah para wazir, amir, syarif, dan tokoh-tokoh masyarakat membai’atnya. Yang pertama membai’atnya adalah Asy-Syarif Abu Ja’far bin Abi Musa al-Hanbali yang melantunkan syair:
Jika seorang pemimpin dari kami meninggal, berdirilah pemimpin lain
Kemudian ia terbata-bata tidak tahu apa selanjutnya, maka khalifah berkata:
Yang mengucapkan apa yang dikatakan orang-orang mulia dan melaksanakannya
Membai’atnya dari para ulama senior adalah Syaikh Abu Ishaq asy-Syirazi, Syaikh Abu Nashr bin ash-Shabbagh asy-Syafi’i, dan Syaikh Abu Muhammad at-Tamimi al-Hanbali. Ia keluar dan shalat Ashar bersama orang-orang, kemudian setelah beberapa saat dikeluarkan keranda kakeknya dengan tenang dan khidmat tanpa teriakan atau ratapan, lalu ia shalat jenazah dan dibawa ke pemakaman, semoga Allah merahmatinya.
Al-Muqtadi Billah adalah orang yang bijaksana dan berani. Hari-harinya seluruhnya penuh berkah, rezeki melimpah, khilafah sangat diagungkan, para raja merendah dan tunduk di hadapannya. Khutbah untuknya dibacakan di Haramain, Baitul Maqdis, dan seluruh Syam. Kaum muslimin merebut kembali Ruha dan Antakiyah dari tangan musuh. Baghdad dan negeri-negeri lain makmur. Ia mengangkat sebagai wazir Ibnu Jahir, kemudian Abu Syuja’, kemudian mengembalikan Ibnu Jahir. Qadinya adalah ad-Damaghani kemudian Abu Bakar asy-Syami. Mereka ini termasuk qadi dan wazir terbaik, segala puji bagi Allah.
Pada bulan Sya’ban, para pelacur diusir dari Baghdad dengan menunggang keledai sambil mengumumkan aib dan kehinaan diri mereka. Rumah-rumah mereka dihancurkan dan mereka ditempatkan di sisi barat. Menara-menara merpati dihancurkan dan permainan dengan burung merpati dilarang. Orang-orang diwajibkan memakai kain penutup di pemandian umum. Pemilik pemandian dilarang membuang kotoran ke Tigris, dan mereka diwajibkan menggali sumur untuk air kotor tersebut demi menjaga air minum.
Pada bulan Syawal, terjadi kebakaran di beberapa tempat di Baghdad, bahkan di istana khalifah, membakar banyak rumah dan toko. Di Wasith terjadi kebakaran di sembilan tempat, terbakar delapan puluh empat rumah dan enam khan, serta banyak hal lainnya. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Pada tahun ini dibuat observatorium untuk Sultan Malikshah, dikumpulkan sejumlah ahli perbintangan terkemuka dan dikeluarkan banyak harta untuk itu. Observatorium terus beroperasi hingga sultan wafat lalu terhenti.
Pada bulan Dzulhijjah, khutbah di Makkah dikembalikan untuk orang-orang Mesir dan khutbah Abbasiyah dihentikan. Hal itu karena penguasa Mesir menguat setelah sebelumnya lemah karena kelaparan di negerinya. Ketika harga murah kembali, orang-orang kembali ke sana dan kehidupan menjadi baik. Khutbah Abbasiyah di Makkah telah berlangsung selama empat tahun lima bulan, dan akan kembali seperti semula sebagaimana akan dijelaskan pada tempatnya.
Pada bulan ini penduduk Sawad melarikan diri karena parahnya wabah, sedikitnya air Tigris dan surutnya. Haji dipimpin oleh Asy-Syarif Abu Thalib al-Husaini bin Muhammad az-Zainabi, dan ia mengambil bai’at untuk Khalifah al-Muqtadi.
Orang-orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini:
Khalifah al-Qaim Biamrillah Abdullah
Telah kami sebutkan sesuatu dari biografinya ketika menyebutkan wafatnya. Semoga Allah merahmatinya.
Ad-Dawudi
Perawi Shahih Bukhari, Abdurrahman bin Muhammad bin al-Muzhaffar bin Muhammad bin Dawud Abu al-Hasan bin Abi Thalhah ad-Dawudi. Lahir tahun tiga ratus tujuh puluh empat. Ia mendengar banyak hadits dan belajar fiqih kepada Syaikh Abu Hamid al-Isfarayini dan Abu Bakar al-Qaffal, bergaul dengan Abu Ali ad-Daqqaq dan Abu Abdurrahman as-Sulami, menulis banyak, mengajar, berfatwa, menyusun karya, dan memberi nasihat kepada manusia. Ia memiliki kemampuan tinggi dalam puisi dan prosa. Di samping itu, ia banyak berdzikir, lisannya tidak berhenti dari dzikir kepada Allah. Suatu hari Wazir Nizhamul Mulk menemuinya lalu duduk di hadapannya, Syaikh berkata kepadanya: “Sesungguhnya Allah telah menguasakan engkau atas hamba-hamba-Nya, maka perhatikanlah bagaimana engkau menjawab-Nya jika Ia menanyakan tentang mereka kepadamu.” Wafatnya di Busyanj pada tahun ini melampaui usia sembilan puluh tahun. Di antara syairnya:
Dahulu dalam berkumpul dengan manusia ada cahaya, maka cahaya pun hilang dan kegelapan menyelimuti Manusia dan zaman rusak bersama-sama, maka salam untuk manusia dan zaman
Abu al-Hasan Ali bin al-Hasan bin Ali bin Abi ath-Thayyib al-Bakharzi
Penyair terkenal. Ia awalnya belajar kepada Syaikh Abu Muhammad al-Juwaini kemudian beralih ke penulisan dan puisi, lalu melampaui teman-temannya. Ia memiliki diwan terkenal, di antaranya:
Sesungguhnya aku mengeluhkan sengatan pelipismu yang kalajengkingnya di pipimu berputar-putar Dan aku menangisi mutiara gigi depanmu yang membuatku yatim, bagaimana bisa terus tertawa padahal ia yatim
Tahun 468 Hijriah
Ibnu Al-Jauzi berkata: Pada bulan Syakban datang belalang sebanyak pasir dan kerikil, memakan tanaman. Kebanyakan orang mengalami kesulitan dan kelaparan, hingga mereka menggiling buah kharrub dengan tepung jagung lalu memakannya. Terjadilah wabah penyakit, kemudian Allah mencegah belalang dari merusak, belalang-belalang itu berlalu tanpa membahayakan, maka harga-harga pun menjadi murah. Ia berkata: Terjadi paceklik yang sangat hebat di Damaskus dan berlangsung selama tiga tahun.
Pada tahun ini Nashr bin Mahmud bin Shalih bin Mirdas menguasai kota Manbij dan mengusir orang-orang Romawi darinya, segala puji bagi Allah.
Pada bulan Dzulqaidah tahun ini, Al-Aqsasis menguasai kota Damaskus dan mengalahkan Al-Mu’alla bin Haidarah, wakil Al-Mustanshir Al-Ubaidiy, hingga ke kota Banyas. Khutbah untuk Al-Muqtadi disampaikan di kota itu dan khutbah orang-orang Mesir dihentikan sampai sekarang. Al-Mustanshir memanggil wakilnya lalu memenjarakannya hingga ia meninggal di dalam penjara. Pada tahun ini, yang memimpin ibadah haji adalah penguasa Kufah, yaitu Amir Khatluq bin Kuntukin At-Turki yang dikenal dengan sebutan Ath-Thawil. Ia telah mengusir Bani Khafajah ke berbagai negeri dan mengalahkan mereka. Ia hanya ditemani enam belas orang Turki, namun tiba dengan selamat di Mekkah. Ketika ia tinggal di salah satu rumah di sana, beberapa budak menyerangnya, namun ia membunuh banyak dari mereka dan mengalahkan mereka dengan kekalahan yang memalukan. Setelah itu ia menginap di Az-Zahir, demikian kata Ibnu As-Sa’i dalam tarikh-nya. Khutbah untuk Bani Abbas dikembalikan pada bulan Dzulhijjah di Mekkah, dan khutbah orang-orang Mesir dihentikan, segala puji dan terima kasih bagi Allah.
Di Antara Tokoh yang Wafat pada Tahun Ini:
Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Isa bin Abi Musa
Abu Tamam bin Abul Qasim Ibnul Qadhi Abi Ali Al-Hasyimi, naqib (ketua) Bani Hasyim. Ia adalah sepupu Asy-Syarif Abu Ja’far bin Abi Musa, ahli fikih Hambali. Ia meriwayatkan hadits dan Abu Bakar bin Abdul Baqi mendengar darinya. Ia dimakamkan di Bab Harb.
Muhammad bin Al-Qasim bin Habib bin Abdus
Abu Bakar Ash-Shaffar dari penduduk Naisabur. Ia mendengar dari Al-Hakim, Abu Abdurrahman As-Sulami dan banyak orang lainnya. Ia belajar fikih kepada Syaikh Abu Muhammad Al-Juwaini dan menggantikannya dalam majelis pengajarannya.
Muhammad bin Muhammad bin Abdullah
Abu Al-Husain Al-Baidlawi Asy-Syafi’i, menantu Abu Ath-Thayyib Ath-Thabari yang menikahi putrinya. Ia mendengar hadits, dan ia adalah orang yang terpercaya dan baik. Ia wafat pada bulan Syakban tahun ini. Syaikh Abu Nashr bin Ash-Shabbagh mengimami shalatnya dan Abu Abdullah Ad-Damaghani menghadiri pemakamannya sebagai makmum. Ia dimakamkan di rumahnya di Qathi’ah Al-Karkh.
Mahmud bin Nashr bin Shalih
Amir Halab. Ia menguasai kota itu pada tahun 459 H. Ia termasuk manusia yang paling baik bentuk dan perbuatannya.
Mas’ud bin Abdul Aziz bin Al-Muhsin bin Al-Hasan bin Abdurrazzaq
Abu Ja’far Al-Bayadli, penyair. Di antara syairnya:
Tak ada temanku yang menolong selain malam, ketika ia panjang karena perpisahan bagiku Aku mengadu setelah kekasih pergi kepadanya, dan ia mengadu setelah pagi tiba kepadaku
Dan juga syairnya:
Wahai yang mengenakan pakaian kepedihan karena perpisahanmu, hingga aku tersembunyi dengannya dari para penjenguk Aku merasa nyaman dengan begadang yang panjang, hingga kelopak mataku lupa bagaimana tidurku Jika Yusuf dengan kecantikannya memotong tangan-tangan, maka engkau menghancurkan hati-hati
Al-Wahidi, Ahli Tafsir
Abul Hasan Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Matuwayh Al-Wahidi. Ibnu Khallikan berkata: Saya tidak tahu nisbah ini kepada apa. Ia adalah penulis tiga kitab tafsir: Al-Bashith, Al-Wasith, dan Al-Wajiz. Ia berkata: Dari namanya Al-Ghazali mengambil nama-nama kitabnya. Ia berkata: Ia memiliki kitab Asbabun Nuzul dan At-Tahbir fi Syarh Al-Asma’ Al-Husna. Ia telah mensyarah Diwanul Mutanabbi dan tidak ada di antara syarah-syarahnya yang banyak itu yang sepertinya. Ia berkata: Ia mendapat keberuntungan dalam karya-karyanya dan semua orang sepakat tentang kebaikannya. Para pengajar menyebutkannya dalam pelajaran mereka. Ia belajar tafsir dari Ats-Tsa’alibi. Ia sakit cukup lama kemudian wafat di Naisabur pada bulan Jumadal Akhirah tahun ini.
Nashir bin Muhammad bin Ali
Abu Manshur At-Turki Al-Mudhafiri, ayah dari hafizh Muhammad bin Nashir. Ia membaca qira’at dan mendengar banyak hadits. Dialah yang membacakan At-Tarikh kepada Al-Khatib di Masjid Al-Manshur. Ia adalah orang yang cerdas dan tampan. Ia wafat masih muda, belum mencapai tiga puluh tahun, pada bulan Dzulqaidah tahun ini. Sebagian orang meratapinya dengan qashidah panjang yang seluruhnya disebutkan oleh Ibnu Al-Jauzi dalam Al-Muntazham.
Yusuf bin Muhammad bin Yusuf bin Al-Hasan
Abul Qasim Al-Hamadhani. Ia mendengar hadits, mengumpulkan dan menyusun karya, dan riwayat darinya tersebar luas. Ia wafat pada tahun ini, hampir mencapai sembilan puluh tahun.
Tahun 469 Hijriah
Pada bulan Muharram, khalifah sakit keras sehingga orang-orang menyebarkan kabar tentangnya. Ia lalu berkuda agar orang-orang melihatnya secara langsung, maka mereka pun tenang.
Pada bulan Jumadal Akhirah tahun ini, Sungai Tigris meluap sangat tinggi, dua puluh satu hasta setengah, sehingga orang-orang memindahkan harta benda mereka. Istana khalifah dikhawatirkan, maka tabut Al-Qa’im Biamrillah dipindahkan pada malam hari ke pemakaman di Ar-Rusafah.
Pada bulan Syawal tahun ini, terjadi fitnah antara Hanabilah dan Asy’ariyah. Hal itu karena Ibnul Qusyairi datang ke Baghdad dan duduk berbicara di madrasah An-Nizhamiyah. Ia mencela Hanabilah dan menisbatkan mereka kepada tajsim (menyerupakan Allah dengan makhluk), dan Abu Sa’d Ash-Shufi membantunya, Syaikh Abu Ishaq Asy-Syirazi pun memihak kepadanya. Ia menulis surat kepada Nizhamul Mulk mengadu tentang Hanabilah dan meminta bantuan. Sekelompok orang pergi menemui Asy-Syarif Abu Ja’far bin Abi Musa, syaikh Hanabilah, yang sedang berada di masjidnya, namun orang lain membelanya. Seorang penjahit dibunuh dari pasar Ats-Tsalatsaa’, orang lain terluka, dan fitnah pun membesar. Syaikh Abu Ishaq dan Abu Bakar Asy-Syasyi menulis kepada Nizhamul Mulk, lalu datanglah suratnya kepada Fakhrudaulah yang mengingkari kejadian itu dan tidak suka dinisbatkan kepada madrasah yang dibangunnya sesuatu dari hal itu. Syaikh Abu Ishaq bertekad untuk pergi dari Baghdad karena marah atas kejadian buruk itu. Khalifah mengirim utusan kepadanya untuk menenangkannya, lalu ia mengumpulkan antara dia dengan Asy-Syarif Abu Ja’far, Abu Sa’d Ash-Shufi, dan Abu Nashr Ibnul Qusyairi di tempat wazir. Wazir menghadap kepada Abu Ja’far sambil mengagungkannya dalam perbuatan dan perkataan. Syaikh Abu Ishaq berdiri mendatanginya dan berkata: “Aku adalah orang yang engkau kenal saat aku masih muda, dan inilah kitab-kitabku dalam ilmu ushul. Aku berkata di dalamnya berbeda dengan Asy’ariyah.” Kemudian ia mencium kepalanya. Abu Ja’far berkata kepadanya: “Benar, tetapi ketika engkau masih miskin, engkau tidak menampakkan kepada kami apa yang ada dalam dirimu. Ketika datang para pembantu, penguasa, dan Khawaja Buzurg—maksudnya Nizhamul Mulk—engkau menampakkan apa yang tersembunyi dalam dirimu.” Syaikh Abu Sa’d Ash-Shufi berdiri dan mencium kepala Asy-Syarif Abu Ja’far juga, dan bersikap lembut kepadanya. Ia berpaling kepadanya dengan marah dan berkata: “Wahai Syaikh, adapun para fuqaha jika berbicara dalam masalah ushul, mereka memiliki andil di dalamnya. Adapun engkau adalah orang yang sibuk dengan hiburan, sima’ (mendengarkan musik), dan ta’bir (penafsiran mimpi), siapa di antara kami yang menyerobot kebatilanmu?” Kemudian ia berkata: “Wahai wazir, perdamaian macam apa di antara kami? Kami mewajibkan apa yang kami yakini dan mereka mengharamkannya! Kakek khalifah ini, Al-Qa’im dan Al-Qadir, telah menampakkan kepada orang-orang keyakinan mereka di hadapan orang banyak menurut mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah dan Salaf, dan kami mengikuti hal itu sebagaimana orang-orang Irak dan Khurasan menyetujuinya, dan dibacakan kepada orang-orang di semua diwan.” Wazir mengirim utusan kepada khalifah memberitahukan apa yang terjadi, lalu datanglah jawaban berupa ucapan terima kasih kepada para jamaah khususnya Asy-Syarif Abu Ja’far. Kemudian ia dipanggil ke istana khalifah untuk memberi salam dan memperoleh berkahnya melalui doanya.
Ibnu Al-Jauzi berkata: Pada bulan Dzulqaidah tahun ini, banyak penyakit di kalangan penduduk Baghdad, Wasith, dan daerah pedesaan. Datang kabar bahwa Syam juga demikian.
Pada bulan ini, kemungkaran dan pelacuran dihilangkan di Baghdad, dan orang-orang fasik melarikan diri darinya. Pada tahun ini Nashir bin Mahmud bin Mirdas menguasai Halab setelah wafatnya ayahnya.
Pada tahun ini, Amir Ali bin Abi Manshur bin Faramurz bin Ala’udaulah bin Kaluwayh menikahi As-Sit Arslan Khatun binti Dawud, bibi Sultan Malikshah, yang sebelumnya adalah istri Al-Qa’im Biamrillah.
Pada tahun ini Al-Aqsasis, penguasa Damaskus, mengepung Mesir dan menyulitkan penguasanya Al-Mustanshir Billah, kemudian ia kembali ke Damaskus. Yang memimpin ibadah haji pada tahun ini adalah Amir Khatluq At-Turki, penguasa Kufah.
Di Antara Tokoh yang Wafat pada Tahun Ini:
Isbahduust bin Muhammad bin Al-Hasan
Abu Manshur Ad-Dailami, penyair. Ia bertemu dengan Abu Abdullah Ibnul Hajjaj, Abdul Aziz bin Nabatah dan penyair-penyair lainnya. Ia adalah seorang Syiah lalu bertaubat dan mengatakan qashidah tentang hal itu, di antaranya:
Dan jika aku ditanya tentang keyakinanku, aku katakan apa yang menjadi mazhab orang-orang berbakti Dan aku katakan sebaik-baik manusia setelah Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah sahabat dan temannya di dalam gua Kemudian tiga orang setelahnya adalah sebaik-baik manusia, betapa mulianya mereka dari para pemimpin yang suci Ini adalah keyakinanku dan yang aku harapkan dengannya adalah kemenanganku dan kemerdekaanku dari azab neraka
Thahir bin Ahmad bin Babasyaz
Abul Hasan Al-Mishri, ahli nahwu. Ia jatuh dari atap Masjid Amru bin Al-Ash di Mesir lalu meninggal saat itu juga, yaitu pada bulan Rajab tahun ini. Ibnu Khallikan berkata: Ia adalah imam zamannya dalam ilmu nahwu di Mesir dan memiliki karya-karya yang bermanfaat, di antaranya Muqaddimahnya, Syarah-nya, dan Syarh Al-Jumal karya Az-Zajjaji. Ia berkata: Tugasnya di Mesir adalah tidak ada surat yang ditulis di diwan insha’ kecuali diajukan kepadanya, lalu ia memperbaiki kesalahan di dalamnya kemudian disampaikan kepada pihak yang dituju. Ia memiliki gaji dan jatah yang baik untuk itu.
Ia berkata: Suatu ketika ia sedang makan bersama sebagian temannya, lalu datanglah seekor kucing. Mereka melemparkan sesuatu kepadanya, ia mengambilnya dan pergi dengan cepat, kemudian kembali. Mereka melemparkan sesuatu kepadanya lagi, ia pergi dengan cepat, kemudian datang lagi. Mereka melemparkan sesuatu kepadanya lagi, maka mereka tahu bahwa ia tidak memakan semua ini. Mereka mengikutinya, ternyata ia pergi membawanya kepada kucing lain yang buta di atap di sana. Mereka heran dengan hal itu. Syaikh berkata: “Ya Subhanallah! Ini adalah hewan yang bodoh, Allah telah mengalirkan rezeki kepadanya melalui tangan yang lain, tidakkah Dia akan memberi rezeki kepadaku sedangkan aku adalah hamba-Nya?!” Kemudian ia meninggalkan gaji yang ia miliki, mengumpulkan catatan-catatannya, dan mengabdikan diri untuk ibadah, kesibukan ilmiah, dan mukim di sebuah kamar di Masjid Amru bin Al-Ash hingga ia wafat. Ia telah mengumpulkan ta’liqah (catatan) dalam nahwu hampir lima belas jilid. Para sahabatnya seperti Ibnu Barri dan lainnya mengambil darinya, mengambil manfaat darinya, dan menyebutnya Ta’liq Al-Ghurfah.
Abdullah bin Muhammad bin Abdullah bin Umar bin Ahmad bin Al-Mujamma’ bin Mujib bin Muhammad bin Ma’bad bin Hazarmard
Abu Muhammad Ash-Shuraifini, dikenal dengan Ibnul Mu’allim, salah satu syaikh hadits musnad yang terkenal. Ia menyendiri meriwayat dari sejumlah syaikh karena panjang umurnya. Ia adalah orang terakhir yang meriwayatkan Al-Ja’diyat dari Ibnu Hababbah dari Abul Qasim Al-Baghawi dari Ali bin Al-Ja’d, dan itulah sanad kami. Orang-orang bepergian menemuinya karena hal itu. Sekelompok hafizh mendengar darinya, di antaranya Hafizh Abu Bakar Al-Khatib. Ia adalah orang yang terpercaya, terpuji jalannya, dan bersih nuraninya. Ia wafat di Shuraifin pada bulan Jumadal Ula dalam usia delapan puluh lima tahun.
Hayyan bin Khalaf bin Husain bin Hayyan bin Muhammad bin Hayyan bin Wahb bin Hayyan, Abu Marwan al-Qurthubi, maula (sekutu) Bani Umayyah, penulis buku Tarikh al-Maghrib yang terdiri dari enam puluh jilid. Al-Hafizh Abu Ali al-Ghassani memujinya atas kefasihan, kejujuran, dan kecakapan berbahasanya. Al-Ghassani berkata: Saya mendengarnya mengatakan: “Ucapan selamat setelah tiga hari adalah meremehkan persahabatan, dan ucapan belasungkawa setelah tiga hari adalah memancing musibah.” Ibnu Khallikan berkata: Ia wafat pada bulan Rabi’ul Awal tahun tersebut. Seseorang melihatnya dalam mimpi dan bertanya tentang keadaannya, “Apa yang Allah lakukan terhadapmu?” Ia menjawab: “Allah mengampuniku. Adapun Tarikh, aku menyesalinya, tetapi Allah dengan kebaikan-Nya memaafkanku dan memberiku ampunan.”
Ubaidullah bin Sa’id bin Hatim, Abu Nashr al-Sijzi al-Wa’ili, dinisbahkan kepada sebuah desa bernama Wa’il dari desa-desa Sijistan. Ia mendengar banyak hadits, mengumpulkan, menyusun, dan meriwayatkan. Ia menetap di tanah haram. Ia memiliki kitab al-Ibanah dalam ushul (dasar-dasar agama), dan juga memiliki keahlian dalam furu’ (cabang-cabang hukum). Sebagian orang lebih mengunggulkannya dalam hafalan daripada al-Shuri.
Muhammad bin Ali bin al-Husain, Abu Abdullah al-Anmathi yang dikenal dengan Ibnu Sakinah, lahir tahun 390 H. Ia banyak mendengar hadits dan wafat pada tahun ini pada usia 79 tahun.
Kemudian Masuklah Tahun 470 Hijriah
Ibnu al-Jauzi berkata: Pada bulan Rabi’ul Awal terjatuh petir di kampung al-Tautsah di sisi barat menimpa dua pohon kurma di sebuah masjid sehingga membakar pucuk-pucuknya. Orang-orang naik dan memadamkan api, lalu turun dengan membawa pelepah yang masih menyala-nyala.
Ibnu al-Jauzi berkata: Datang surat dari Nizham al-Mulk kepada Syekh Abu Ishaq al-Syirazi sebagai jawaban atas suratnya kepadanya mengenai masalah Hanabilah. Kemudian Ibnu al-Jauzi menyebutkan isi surat tersebut, yang intinya bahwa tidak mungkin mengubah mazhab-mazhab atau memindahkan penganutnya dari mazhab mereka. Mazhab yang dominan di daerah tersebut adalah mazhab Imam Ahmad, dan kedudukannya dikenal di kalangan para imam, serta kedudukannya dalam Sunnah sudah diketahui, dalam kata-kata yang panjang.
Ibnu al-Jauzi berkata: Pada bulan Syawal tahun tersebut terjadi fitnah antara Hanabilah dan para fuqaha Nizhamiyyah. Masing-masing pihak didukung oleh sekelompok orang awam. Terbunuh antara mereka sekitar dua puluh orang tewas, kemudian fitnah itu mereda.
Ibnu al-Jauzi berkata: Pada tanggal 19 Syawal, lahir untuk Khalifah al-Muqtadi putranya al-Mustazhhir Billah, Abu al-Abbas Ahmad. Negeri dihias, dan wazir duduk menerima ucapan selamat. Kemudian pada hari Ahad tanggal 26 Syawal lahir untuknya anak lain yaitu Abu Muhammad Harun.
Ibnu al-Jauzi berkata: Pada tahun itu Taj al-Daulah Tutush bin Alp Arslan menguasai Syam dan mengepung Aleppo.
Pada tahun ini yang mengimami haji adalah penguasa Kufah, Khatlagh. Ibnu al-Jauzi menyebutkan bahwa wazir Ibnu Jahir telah membuat mimbar yang megah untuk digunakan khutbah di Makkah, tetapi ketika tiba di sana, ternyata khutbah telah dikembalikan kepada Mesir (Fatimiyah), maka mimbar tersebut dipecah dan dibakar. Wallahu a’lam.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Itu
Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Ya’qub, Ibnu Hamduh, Abu Bakar al-Razzaz al-Muqri’, orang terakhir yang meriwayatkan dari Abu al-Husain bin Sam’un. Ia adalah seorang yang terpercaya, ahli ibadah, dan baik jalannya. Al-Khatib menulis darinya dan berkata ia seorang yang jujur. Ia wafat pada tahun ini pada usia 89 tahun, rahimahullah ta’ala.
Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah, Abu al-Hasan bin al-Nuqur al-Bazzaz, salah seorang musnad (perawi hadits) yang berusia panjang. Ia menyendiri dengan banyak naskah dari Ibnu Hababah dari al-Baghawi dari para syeikhnya, seperti naskah Hudbah, Kamil bin Thalhah, Umar bin Zurarah, dan Abu al-Sakan al-Baladi. Ia banyak meriwayatkan dan berhati-hati. Ia mengambil upah satu dinar untuk memperdengarkan hadits Thalut bin ‘Abbad. Syekh Abu Ishaq al-Syirazi telah memberinya fatwa tentang bolehnya mengambil upah untuk memperdengarkan hadits karena kesibukannya dengan hal tersebut menghalanginya dari mencari nafkah. Ia wafat pada usia 89 tahun, rahimahullah ta’ala.
Ahmad bin Abdul Malik bin Ali bin Ahmad, Abu Shalih al-Muadzdzin al-Naisaburi al-Hafizh. Ia banyak menulis, mengumpulkan dan menyusun. Ia menulis dari seribu syekh seribu hadits. Ia memberikan nasihat dan mengumandangkan adzan. Ia wafat setelah melampaui usia 80 tahun.
Abdullah bin al-Hasan bin Ali bin Muhammad bin al-Hasan, Abu al-Qasim bin Abi Muhammad al-Khallal, orang terakhir yang meriwayatkan dari Abu Hafsh al-Kattani. Ia mendengar banyak hadits, dan al-Khatib meriwayatkan darinya dan mempercayainya. Ia wafat pada usia 85 tahun dan dimakamkan di Bab Harb, rahimahullah ta’ala.
Abdurrahman – Ibnu Mandah – bin Muhammad bin Ishaq bin Muhammad bin Yahya bin Ibrahim, Abu al-Qasim bin Abi Abdillah, al-Imam putra al-Imam. Ia mendengar dari ayahnya, Ibnu Mardawaih, dan banyak orang di berbagai wilayah yang ia kunjungi. Ia mengumpulkan banyak hadits, dan memiliki wibawa, sikap yang baik, mengikuti Sunnah, dan pemahaman yang baik. Ia banyak melakukan amar ma’ruf nahi munkar, tidak takut celaan orang yang mencela dalam urusan Allah. Sa’d bin Muhammad al-Zanjani berkata: “Allah memelihara Islam dengannya dan dengan Abdullah al-Anshari al-Harawi.” Ibnu Mandah ini wafat di Ashbahan pada usia 87 tahun. Jenazahnya dihadiri oleh banyak orang yang tidak terhitung kecuali oleh Allah Azza wa Jalla, rahimahullah ta’ala.
Abdul Malik bin Abdul Ghaffar bin Muhammad bin al-Muzhaffar bin Ali, Abu al-Qasim al-Hamadhani, salah seorang hafizh, fuqaha, dan wali yang bergelar Najir. Ia mendengar banyak hadits, dan menulis serta membacakan untuk para penuntut ilmu. Ia wafat di al-Rayy pada bulan Muharram tahun ini dan dimakamkan di samping Ibrahim al-Khawwash.
Asy-Syarif Abu Ja’far al-Hanbali, Abdul Khaliq bin Isa bin Ahmad bin Muhammad bin Isa bin Ahmad bin Ibrahim bin Abdullah bin Ma’bad bin al-Abbas bin Abdul Muththalib al-Hasyimi, Ibnu Abi Musa al-Hanbali al-Abbasi. Ia adalah salah seorang fuqaha, ulama, ahli ibadah, zahid yang terkenal dengan religiusitas, keutamaan, ibadah, dan keteguhannya dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar karena Allah, tidak takut celaan orang yang mencela. Ia lahir tahun 411 H dan belajar pada Qadhi Abu Ya’la bin al-Farra’. Gurunya memberikan rekomendasi kepadanya di hadapan Ibnu al-Damaghani yang kemudian menerimanya. Kemudian ia meninggalkan kesaksian setelah itu. Ia terkenal dengan keshalihan dan religiusitasnya. Ketika Khalifah al-Qa’im Biamrillah hendak wafat, ia berwasiat agar dimandikan oleh Syarif Abu Ja’far ini, dan ia berwasiat banyak harta dan kekayaan kepadanya, tetapi ia tidak menerima sedikitpun dari itu. Ketika terjadi fitnah antara Hanabilah dan Asy’ariyah karena Ibnu al-Qusyairi, ia ditahan di istana khalifah dengan terhormat dan dimuliakan. Para fuqaha dan lainnya masuk menemuinya dan mencium tangan serta kepalanya. Ia tetap di sana hingga sakit, lalu diizinkan pulang ke keluarganya. Ia wafat di sisi mereka pada malam Kamis pertengahan bulan Shafar tahun ini, dan dimakamkan di samping Imam Ahmad. Orang awam menjadikan kuburnya pasar setiap malam Rabu, mereka berdatangan dan membaca khataman Al-Qur’an di sisinya hingga datang musim dingin. Jumlah khataman yang dibaca di sisinya mencapai sepuluh ribu khataman karena banyaknya pembacaan untuknya, rahimahullah ta’ala.
Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Abdullah, Abu al-Hasan al-Baidhawi, salah seorang fuqaha Syafi’iyah. Ia menjabat sebagai qadhi di seperempat wilayah al-Karkh dan dimakamkan di samping ayahnya, rahimahuma Allah ta’ala.
Kemudian Masuklah Tahun 471 Hijriah
Pada tahun itu Sultan al-Malik al-Muzhaffar Taj al-Muluk Tutush bin Alp Arslan al-Saljuqi menguasai Damaskus dan membunuh penguasanya Aqsis. Hal itu terjadi karena Aqsis mengirim utusan kepadanya meminta bantuan melawan orang-orang Mesir. Ketika Tutush tiba, Aqsis tidak kelang menyambutnya, maka ia memerintahkan untuk membunuhnya dan ia pun dibunuh pada saat itu juga.
Pada tahun itu wazir Ibnu Jahir dipecat atas anjuran Nizham al-Mulk karena memihak kepada Syafi’iyah. Kemudian al-Muqtadi mengirim surat kepada Nizham al-Mulk untuk mengembalikannya, maka anaknya dikembalikan dan ia sendiri dibebaskan.
Pada tahun itu Sa’d al-Daulah Kauharain datang sebagai amir ke Baghdad, dan genderang ditabuh di pintunya pada waktu-waktu shalat. Ia bersikap tidak sopan terhadap khalifah, dan memaku sepatu kuda di pintu al-Firdaus. Maka dikirim surat kepada Sultan mengenai perkaranya, lalu datang surat dari Sultan yang mengingkarinya.
Yang mengimami haji pada tahun ini adalah Amir penguasa Kufah, Khatlagh al-Turki, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Itu
Sa’d bin Ali bin Muhammad bin Ali bin al-Husain, Abu al-Qasim al-Zanjani. Ia melakukan rihlah (perjalanan ilmu) ke berbagai penjuru dan mendengar banyak hadits. Ia adalah seorang imam, hafizh, dan ahli ibadah. Kemudian pada akhir umurnya ia tinggal di Makkah dan orang-orang mencari berkah darinya. Ibnu al-Jauzi berkata: Mereka mencium tangannya lebih sering daripada mencium Hajar Aswad.
Salim al-Huri, dinisbahkan kepada sebuah desa dari desa-desa Dajil. Ia adalah seorang ahli ibadah dan zahid. Dikatakan bahwa ia pernah hidup sekian lama dengan makan hanya sebiji anggur setiap hari. Ia mendengar hadits dan membacakannya, rahimahullah.
Abdullah bin Sab’un, Abu Ahmad al-Faqih al-Maliki al-Qairawani. Ia wafat di Baghdad dan dimakamkan di Bab Harb, wasubhanahu wa ta’ala a’lam.
Kemudian Masuklah Tahun 472 Hijriah
Pada tahun itu Ibrahim bin Mas’ud bin Mahmud bin Sabuktikin – penguasa Ghaznah – menaklukkan banyak benteng yang kokoh dari negeri-negeri India, kemudian kembali ke negerinya dengan selamat dan membawa rampasan perang.
Pada tahun itu lahir Amir Abu Ja’far bin al-Muqtadi Biamrillah, dan Baghdad dihias untuknya.
Pada tahun itu penguasa Mausul, al-Amir Syaraf al-Daulah Muslim bin Quraisy bin Badran al-‘Uqaili menjadi penguasa setelah wafat ayahnya.
Pada tahun itu Manshur bin Marwan menguasai Diyar Bakr setelah ayahnya.
Pada tahun itu Sultan memerintahkan untuk menenggelamkan Ibnu Allan al-Yahudi, penanggung jawab pajak Bashrah, dan diambil dari hartanya empat ratus ribu dinar. Lalu Khumartakin menanggung Bashrah dengan seratus ribu dinar dan seratus ekor kuda setiap tahun.
Pada tahun itu Ubaidullah bin Nizham al-Mulk menaklukkan Tikrit. Yang mengimami haji adalah Khatlagh al-Turki, dan khutbah orang-orang Mesir diputus di Makkah, lalu khutbah disebutkan untuk al-Muqtadi dan Sultan Malikshah al-Saljuqi.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Itu
Abdul Malik bin al-Hasan bin Ahmad bin Hairun, Abu Nashr. Ia mendengar banyak hadits dan adalah seorang zahid, ahli ibadah yang berpuasa terus-menerus dan mengkhatamkan Al-Qur’an setiap malam, rahimahullah.
Muhammad bin Muhammad bin Ahmad bin al-Husain bin Abdul Aziz bin Mihran al-‘Ukbari. Ia mendengar dari Hilal al-Haffar, Ibnu Rizqawaih, al-Hammami, dan lainnya. Ia adalah orang yang utama dan baik dalam syair. Di antara syairnya:
Aku panjangkan pikiranku tentang manusia mana Yang telah pergi dahulu dan siapa yang mereka tinggalkan untuk kita Mereka adalah orang-orang hidup setelah mati karena kenangan Sedangkan kita adalah orang-orang mati karena kehinaan
Ia wafat pada bulan Ramadhan tahun ini pada usia 90 tahun.
Hayyaj bin Abdullah al-Huthini al-Syami. Ia mendengar hadits dan adalah orang yang paling unik di zamannya dalam kezuhudan, fikih, dan kesungguhan dalam ibadah. Ia menetap di Makkah selama beberapa waktu memberi fatwa kepada penduduknya, dan melakukan umrah tiga kali setiap hari dengan berjalan kaki. Ia tidak memakai sandal sejak tinggal di Makkah. Ia biasa ziarah ke makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama penduduk Makkah dengan berjalan kaki tanpa alas. Begitu pula ia biasa ziarah ke makam Ibnu Abbas di Thaif. Ia tidak menyimpan sesuatu dan tidak memakai kecuali satu gamis saja. Sebagian amir Makkah memukulnya dalam salah satu fitnah Rafidhah, lalu ia sakit beberapa hari dan meninggal setelah melampaui usia 80 tahun, rahimahullah.
Kemudian Masuklah Tahun 473 Hijriah
Pada tahun itu Takasy, saudara Sultan Malikshah, menguasai sebagian Khurasan. Pada tahun itu diizinkan para wa’izh (penceramah) untuk duduk memberi nasihat, setelah sebelumnya mereka dilarang sejak waktu fitnah Ibnu al-Qusyairi. Pada tahun itu ditangkap sejumlah pemuda yang telah menjadikan seorang pemimpin atas mereka bernama Abdul Qadir al-Hasyimi. Mereka berkirim surat kepadanya dari berbagai penjuru, dan yang mengadu kepadanya adalah seorang yang bernama Ibnu Rasul. Mereka biasa berkumpul di masjid Baratha, lalu dikhawatirkan perkara mereka bahwa mereka bersekutu dengan orang-orang Mesir, maka diperintahkan untuk menangkap mereka. Yang mengimami haji adalah Khatlagh al-Turki. Wallahu a’lam.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Itu
Ahmad bin Muhammad bin Umar bin Muhammad bin Ismail, Abu Abdullah bin al-Akhdhar al-Muhaddits. Ia mendengar dari Ali bin Syadzhan dan bermazhab Zhahiriyah. Ia banyak membaca Al-Qur’an, baik perangainya, qana’ah terhadap dunia, rahimahullah.
Ash-Shulaih yang menguasai Yaman, Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Ali yang bergelar ash-Shulaih. Ayahnya adalah seorang qadhi di Yaman dan bermazhab Sunni. Ia tumbuh dan mempelajari ilmu serta menguasai banyak bidang ilmu. Ia bermazhab Syi’ah mengikuti mazhab Qaramithah. Ia memimpin jamaah haji selama lima belas tahun. Terkenal di kalangan manusia bahwa ia akan menguasai Yaman. Ia muncul di negeri Yaman setelah membunuh Najah, penguasa Tihamah, dan menguasai negeri Yaman seluruhnya dalam waktu singkat, dan kekuasaannya mantap pada tahun 455 H. Ia berkhutbah untuk al-Mustanshir al-‘Ubaidi penguasa Mesir. Ketika pada tahun ini ia keluar untuk haji dengan dua ribu penunggang kuda, Sa’id bin Najah menghadangnya di Musim (tempat pelaksanaan haji) dengan sedikit orang, lalu mereka berperang dan ia terbunuh bersama saudaranya. Sa’id bin Najah mengambil alih kerajaannya dan harta bendanya. Di antara syair ash-Shulaih ini adalah:
Aku nikahkan putih-putih India dengan tombak-tombakku yang kecoklatan Kepala-kepala mereka sebagai pengganti taburan itu adalah taburan Begitulah kemuliaan, tidaklah dinikahi Kecuali di mana umur-umur diceraikan
Muhammad bin al-Husain bin Abdullah bin Ahmad bin Yusuf bin asy-Syibl, Abu Ali asy-Sya’ir al-Baghdadi. Ia menyandkan hadits dan memiliki syair yang bagus, di antaranya:
Jangan tampakkan kepada pencela atau yang memberi maaf Keadaanmu dalam kesenangan dan kesusahan Karena kasihan orang-orang yang bersedih memiliki kepahitan Di dalam hati seperti kegembiraan musuh atas penderitaan
Dan ia juga memiliki (syair):
Si kikir menghabiskan umurnya dengan mengumpulkan harta, dan bagi bencana serta ahli waris apa yang ia tinggalkan Seperti ulat sutera, apa yang ia bangun mencekiknya, sementara yang lain mendapat manfaat dari apa yang ia bangun
Yusuf bin al-Hasan bin Muhammad bin al-Hasan, Abu al-Qasim al-Tafkiri, dari penduduk Zanjan. Lahir tahun tiga ratus sembilan puluh lima. Ia belajar fiqih menurut mazhab Syafi’i, dan belajar fiqih kepada Syaikh Abu Ishaq al-Syirazi, dan ia termasuk murid terbesarnya. Ia adalah seorang ahli ibadah, wara’, khusyuk, banyak menangis ketika berdzikir, dan rajin beribadah. Wafatnya pada tahun ini dan ia mendekati usia delapan puluh tahun.
Kemudian Masuk Tahun Empat Ratus Tujuh Puluh Empat
Pada tahun ini, Abu Kamil Manshur bin Nur al-Daulah Dubais memimpin apa yang dipimpin ayahnya dari berbagai pekerjaan, dan Sultan serta Khalifah memberikan pakaian kehormatan kepadanya. Pada tahun ini, Syaraf al-Daulah Muslim bin Quraisy menguasai Harran dan berdamai dengan penguasa Ruha.
Pada tahun ini, Tutus bin Alp Arsalan penguasa Damaskus menaklukkan kota Antaratus.
Pada tahun ini, Khalifah mengutus Ibnu Juhair kepada Sultan Malikshah untuk melamar putrinya untuknya. Ibunya menyetujui hal itu dengan syarat bahwa ia tidak memiliki istri atau selir selain dia, dan bahwa ia bermalam di sisinya, maka syarat itu disepakati.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini:
Dawud bin Sultan Malikshah. Ayahnya sangat berduka atasnya, hingga ia hampir – atau berniat – membunuh dirinya sendiri, namun para amir mencegahnya dari hal itu. Ia pindah ke negeri lain, dan memerintahkan para wanita untuk meratapi putranya. Ketika berita itu sampai ke Baghdad, wazir Khalifah duduk untuk menerima belasungkawa.
Al-Qadi Abu al-Walid al-Baji, Sulaiman bin Khalaf bin Sa’d bin Ayyub al-Tujibi al-Andalusi al-Baji, ahli fiqih Maliki, salah satu hafizh yang banyak menghafal dalam bidang fiqih dan hadits. Ia mendengar hadits dan mengadakan rihlah ke negeri-negeri Timur pada tahun empat ratus dua puluh enam. Di sana ia mendengar banyak hadits dan bertemu dengan para imam pada masa itu seperti al-Qadi Abu al-Thayyib al-Thabari dan Abu Ishaq al-Syirazi. Ia menetap di Makkah selama tiga tahun bersama Syaikh Abu Dzar al-Harawi, dan tinggal di Baghdad juga selama tiga tahun, dan di Mausil selama satu tahun di sisi Abu Ja’far al-Samani, qadinya. Ia belajar fiqih dan ushul darinya dan mendengar dari al-Khatib al-Baghdadi, dan al-Khatib juga mendengar darinya dan meriwayatkan darinya dua bait yang bagus ini:
Jika aku mengetahui dengan pengetahuan yang yakin bahwa seluruh hidupku hanya sesaat Maka mengapa aku tidak menjaganya dengan baik, dan menjadikannya dalam kebaikan dan ketaatan
Kemudian ia kembali ke negerinya setelah tiga belas tahun, dan menjabat sebagai qadi di sana. Dikatakan bahwa ia juga menjabat sebagai qadi Halab, demikian dikatakan oleh Ibnu Khallikan. Ia berkata: Ia memiliki banyak karya tulis, di antaranya al-Muntaqa fi Syarh al-Muwattha’, Ihkam al-Fushul fi Ahkam al-Ushul, al-Jarh wa al-Ta’dil, dan lain-lain. Kelahirannya pada tahun empat ratus tiga, dan wafat di al-Mariyyah pada malam Kamis antara dua waktu Isya, tanggal sembilan belas Rajab tahun ini, semoga Allah merahmatinya.
Abu al-Aghur Dubais bin Ali bin Muzayyad, yang bergelar Nur al-Daulah. Wafat pada tahun ini pada usia delapan puluh tahun, di mana ia menjabat sebagai amir selama lebih dari enam puluh tahun. Putranya Abu Kamil menggantikannya dan bergelar Baha’ al-Daulah.
Abdullah bin Ahmad bin Ridwan, Abu al-Qasim al-Baghdadi. Ia termasuk para pembesar dan menderita sakit kepala sebelah selama tiga tahun, sehingga ia tinggal di rumah gelap, tidak melihat cahaya dan tidak mendengar suara.
Kemudian Masuk Tahun Empat Ratus Tujuh Puluh Lima
Pada tahun ini, Mu’ayyid al-Mulk bin Nizam al-Mulk tiba dan tinggal di madrasah ayahnya, dan genderang dipukul di pintunya pada tiga waktu shalat.
Pada tahun ini, Syaikh Abu Ishaq al-Syirazi diutus sebagai utusan kepada Sultan Malikshah dan Wazir Nizam al-Mulk. Setiap kali Abu Ishaq melewati suatu negeri, penduduknya keluar menyambutnya dengan anak-anak dan wanita mereka, mencari berkah darinya dan menyentuh sanggurdinya; bahkan terkadang mereka mengambil debu dari kuku kuda tunggangannya. Ketika ia sampai di Sawah, penduduknya keluar menemuinya, dan tidak ada pasar yang ia lewati kecuali mereka menaburkan yang terbaik dari apa yang mereka miliki kepadanya, hingga ia melewati pasar para tukang sepatu. Mereka tidak memiliki apa-apa selain sandal anak kecil, maka mereka menaburkannya kepadanya. Syaikh pun merasa takjub dengan hal itu.
Pada tahun ini, khutbah untuk putri Sultan Malikshah diperbarui dari pihak Khalifah. Ibunya meminta empat ratus ribu dinar, kemudian kesepakatan dicapai pada lima puluh ribu dinar untuk susuan dan maskawin seratus ribu dinar.
Pada tahun ini, Sultan berperang dengan saudaranya Tutus lalu menawannya kemudian melepaskannya, dan kekuasaannya atas Damaskus dan wilayahnya tetap stabil. Khatlag memimpin haji bagi manusia.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini:
Abdul Wahhab bin Muhammad bin Ishaq bin Muhammad bin Yahya bin Mandah, Abu Amru al-Hafizh, dari keluarga hadits. Ia mengadakan rihlah ke berbagai penjuru dan mendengar banyak hadits, dan wafat di Ashbahan pada tahun ini, semoga Allah ta’ala merahmatinya.
Ibnu Makula, al-Amir Abu Nasr Ali bin al-Wazir Abu al-Qasim Hibatullah bin Ali bin Ja’far bin Alkan bin Muhammad bin Dalf bin Abi Dalf al-Tamimi, al-Amir Sa’d al-Mulk, Abu Nasr bin Makula. Salah satu imam hadits dan pemimpin para amir. Ia mengadakan rihlah dan berkeliling serta mendengar banyak hadits, dan menyusun al-Ikmal fi al-Musytabih min Asma’ al-Rijal, sebuah kitab yang agung yang belum pernah ada sebelumnya dan tidak ada yang menyamainya, kecuali apa yang dikritik oleh Ibnu Nuqthah dalam kitab yang ia beri nama al-Istidrak.
Ia dibunuh oleh budak-budaknya di Kirman pada tahun ini. Kelahirannya pada tahun empat ratus dua puluh, dan ia hidup selama lima puluh lima tahun. Ibnu Khallikan berkata: Dikatakan bahwa ia dibunuh pada tahun empat ratus tujuh puluh sembilan, dan dikatakan pada tahun empat ratus delapan puluh tujuh. Ia berkata: Ayahnya adalah wazir al-Qa’im bi Amrillah, dan pamannya Abu Abdullah bin al-Husain bin Ali menjabat sebagai qadi Baghdad. Ia berkata: Saya tidak tahu mengapa ia dipanggil al-Amir, kecuali jika ia dinisbatkan kepada kakeknya al-Amir Abu Dalf. Asalnya dari Jirbadziqa dan lahir di Ukbara pada bulan Sya’ban tahun empat ratus dua puluh satu. Ia berkata: al-Khatib al-Baghdadi telah menyusun kitab al-Mu’tanaf, di dalamnya ia mengumpulkan antara dua kitab al-Daruquthni dan Abdul Ghani bin Sa’id dalam al-Mu’talif wa al-Mukhtalif. Lalu Ibnu Makula datang dan menambahkan pada karya al-Khatib dan menamainya al-Ikmal, yang sangat bermanfaat dalam menghilangkan kerancuan dan ketepatan. Tidak ada yang seperti itu, dan amir ini tidak memerlukan keutamaan lain setelahnya, karena di dalamnya terdapat bukti banyaknya pengetahuannya, ketepatannya, penelitiannya, dan kesempurnaannya. Di antara syair yang dinisbatkan kepadanya adalah ucapannya:
Cabut kemahmu dari negeri di mana engkau dihinakan, dan jauhilah kehinaan karena kehinaan itu dihindari Dan pergilah jika di tanah air ada kekurangan, karena kayu cendana yang basah di tanah airnya adalah kayu bakar
Kemudian Masuk Tahun Empat Ratus Tujuh Puluh Enam
Pada tahun ini, Amid al-Daulah Ibnu Juhair diberhentikan dari jabatan wazir Khalifah. Ia berangkat bersama keluarga dan anak-anaknya kepada Sultan dan menemui Nizam al-Mulk, wazir Sultan. Ia memberikan jabatan kepada putranya Fakhr al-Daulah atas negeri Bakr. Ia berangkat ke sana dengan pakaian kehormatan, genderang, dan pasukan, dan diperintahkan untuk merebutnya dari Ibnu Marwan dan berkhotbah untuk dirinya sendiri, dan namanya ditulis pada mata uang. Ia terus berusaha hingga merebutnya dari tangan mereka, dan kerajaan mereka musnah di tangannya sebagaimana akan dijelaskan nanti. Abu al-Fath Muzhaffar bin Ra’is al-Ru’asa’ menjabat sebagai wazir Khalifah, kemudian diberhentikan pada bulan Sya’ban, dan Abu Syuja’ Muhammad bin al-Husain diangkat sebagai wazir dan bergelar Zhahir al-Din.
Pada bulan Jumada al-Akhirah, Mu’ayyid al-Mulk mengangkat Abu Sa’d Abdurrahman bin al-Ma’mun al-Mutawalli untuk mengajar di al-Nizhamiyyah setelah wafatnya Syaikh Abu Ishaq al-Syirazi, semoga Allah merahmatinya.
Pada tahun ini, penduduk Harran memberontak terhadap Syaraf al-Daulah Muslim bin Quraisy. Ia datang dan mengepung kota itu, lalu menaklukkannya, meruntuhkan temboknya, dan menyalib qadinya Ibnu Jalbah dan kedua putranya di tembok. Pada bulan Syawwal, Abu al-Mahasin bin Abi al-Ridha dibunuh, karena ia memfitnah Nizam al-Mulk kepada Sultan dan berkata kepadanya: “Serahkan mereka kepadaku agar aku bisa mengambil seribu ribu dinar untukmu dari mereka.” Nizam al-Mulk kemudian membuat jamuan yang megah dan menghadirkan budak-budaknya – yang berjumlah ribuan – dari orang Turki, dan mulai berkata kepada Sultan: “Semua ini dari hartamu, dan apa yang aku wakafkan dari madrasah-madrasah dan ribath, semuanya adalah syukurku kepadamu di dunia dan pahalaku untukmu di akhirat. Harta dan semua yang aku miliki ada di hadapanmu, dan aku cukup dengan kain tambal dan sudut (untuk beribadah).” Maka Sultan memerintahkan untuk membunuh Abu al-Mahasin – padahal ia sangat dekat dengannya, sangat istimewa baginya, dan memiliki kedudukan di sisinya – dan memberhentikan ayahnya dari jabatan penulis tughara’ dan memberikan jabatan itu kepada Mu’ayyid al-Mulk bin Nizam al-Mulk.
Amir Khatlag al-Turki, pemegang iqtha’ Kufah, memimpin haji bagi manusia.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini:
Syaikh Abu Ishaq al-Syirazi, Ibrahim bin Ali bin Yusuf al-Fairuzabadzi – yaitu sebuah desa dari desa-desa Fars, dan dikatakan ia adalah kota Jur – syaikh mazhab Syafi’i dan pengajar al-Nizhamiyyah di Baghdad. Lahir tahun tiga ratus sembilan puluh tiga, dan dikatakan lima, dan dikatakan enam. Ia belajar fiqih di Fars kepada Abu Abdullah al-Baidhawi, kemudian datang ke Baghdad pada tahun empat ratus lima belas. Ia belajar fiqih kepada al-Qadi Abu al-Thayyib al-Thabari, dan mendengar hadits dari Ibnu Syadzaan dan al-Barqani. Ia adalah seorang zahid, ahli ibadah, wara’, sangat berwibawa, dihormati, dan imam dalam bidang fiqih, ushul, hadits, dan banyak bidang lainnya. Ia memiliki banyak karya tulis yang bermanfaat, seperti al-Muhadzdzab dalam mazhab, al-Tanbih, al-Nukat dalam khilafiyyah, al-Luma’ dalam ushul fiqih, al-Tabshirah, al-Ma’unah, Thabaqat al-Fuqaha’, dan lain-lain. Penulis berkata: Saya telah menyebutkan biografinya secara lengkap dan terperinci di awal syarah al-Tanbih.
Ia wafat pada malam Ahad, dua puluh satu Jumada al-Akhirah di rumah Abu al-Muzhaffar bin Ra’is al-Ru’asa’. Abu al-Wafa’ bin Aqil al-Hanbali memandikannya, dan shalat jenazah dilaksanakan di Bab al-Firdaus dari Dar al-Khilafah. Al-Muqtadi bi Amrillah menghadiri shalat jenazahnya, dan Abu al-Fath al-Muzhaffar bin Ra’is al-Ru’asa’, yang merupakan wakil wazir, memimpin shalat jenazahnya. Kemudian dishalatkan lagi di Masjid al-Qashr, dan dimakamkan di Bab Abraz di pekuburan yang berdekatan dengan daerah itu, semoga Allah ta’ala merahmatinya.
Para penyair memujinya semasa hidupnya dan setelah wafatnya. Ia sendiri memiliki syair yang indah. Di antara yang dibacakan oleh Ibnu Khallikan dari syairnya adalah ucapannya:
Aku bertanya kepada orang-orang tentang sahabat yang setia, mereka berkata: Tidak ada jalan untuk itu Berpegang teguhlah jika engkau mendapatkan ujung baju orang mulia, karena orang mulia di dunia ini sedikit
Ibnu Khallikan berkata: Ketika ia wafat, para fuqaha mengadakan tahlilan untuknya di Madrasah al-Nizhamiyyah. Mu’ayyid al-Mulk menunjuk Abu Sa’d al-Mutawalli menggantikannya. Ketika berita itu sampai kepada Nizam al-Mulk, ia menulis: “Seharusnya madrasah ditutup selama satu tahun untuk menghormatinya,” dan ia memerintahkan agar Syaikh Abu Nasr bin al-Shabbagh mengajar menggantikannya.
Thahir bin al-Husain bin Ahmad bin Abdullah al-Qawwas. Ia membaca al-Qur’an, mendengar hadits, dan belajar fiqih kepada al-Qadi Abu al-Thayyib al-Thabari. Ia berfatwa dan mengajar, dan memiliki halaqah di Masjid al-Manshur untuk munazharah dan fatwa. Ia adalah orang yang terpercaya, wara’, zahid, dan rajin di masjidnya selama lima puluh tahun. Wafatnya pada tahun ini pada usia delapan puluh enam tahun, dan dimakamkan dekat dengan Imam Ahmad, semoga Allah merahmatinya dan kami.
Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Isma’il, Abu Thahir al-Anbari, khatib yang dikenal dengan sebutan Ibnu Abi al-Shaqr. Ia berkeliling ke berbagai negeri dan mendengar banyak hadits. Ia adalah orang yang terpercaya, shalih, fadhil, dan ahli ibadah. Al-Khatib al-Baghdadi mendengar darinya dan meriwayatkan karya-karyanya. Ia wafat di Anbar pada bulan Jumada al-Akhirah pada usia sekitar seratus tahun, semoga Allah merahmatinya.
Muhammad bin Ahmad bin al-Husain bin Jurdah, salah satu pembesar besar Baghdad. Ia termasuk orang kaya dan dermawan. Hartanya diperkirakan tiga ratus ribu dinar. Asalnya dari Ukbara lalu tinggal di Baghdad. Ia memiliki rumah besar di sana yang terdiri dari tiga puluh tempat tinggal yang berdiri sendiri, di dalamnya ada pemandian dan kebun, memiliki dua pintu, pada setiap pintu ada masjid. Ketika muadzin mengumandangkan adzan di salah satunya, yang lain tidak mendengar karena luasnya. Istri Khalifah al-Qa’im – ketika terjadi fitnah al-Basasiri pada tahun empat ratus lima puluh – turun menginap di sisinya dalam perlindungannya. Ia mengirim sepuluh ribu dinar kepada Amir Quraisy bin Badran, amir Arab, untuk melindungi rumahnya. Dialah yang membangun masjid yang dikenal dengan namanya di Baghdad, dan ribuan orang telah mengkhatamkan al-Qur’an di sana. Ia tidak pernah melepaskan pakaian pedagang. Wafatnya pada tanggal sepuluh Dzulqa’dah tahun ini, dan dimakamkan di pekuburan yang berdekatan dengan pekuburan al-Qazwini, semoga Allah merahmatinya dan kami, amin.
Kemudian Masuklah Tahun Empat Ratus Tujuh Puluh Tujuh Hijriah
Pada tahun ini terjadi perang antara Fakhrudaulah Ibnu Jahir dengan Ibnu Marwan penguasa Diyar Bakr. Ibnu Jahir berhasil menguasai wilayah Arab, menawan keluarga-keluarga mereka, dan merebut negeri-negeri tersebut. Bersamanya ada Saifuddaulah Shadaqah bin Manshur bin Dubais bin Ali bin Mazid al-Asadi. Ia kemudian menebus banyak orang Arab, maka orang-orang berterima kasih kepadanya atas hal itu dan para penyair memujinya.
Pada tahun ini, Sultan mengutus Amiduddaulah Ibnu Jahir dengan pasukan besar dan bersamanya Qasimuddaulah Aq Sunqur kakek Bani Atabak, para penguasa Syam dan Maushil. Mereka pergi ke Maushil dan menguasainya.
Pada bulan Sya’ban, Sulaiman bin Qutulmisy menguasai Antakiyah. Syarafuddaulah Muslim bin Quraisy ingin merebutnya darinya, namun Sulaiman mengalahkan dan membunuhnya. Muslim ini termasuk raja-raja yang paling baik perilakunya. Di setiap desa ia memiliki wali, qadhi, dan petugas intelijen. Ia menguasai wilayah dari as-Sandiyyah hingga Manbij. Setelahnya yang menjadi penguasa adalah saudaranya Ibrahim bin Quraisy yang telah dipenjara selama bertahun-tahun, lalu dibebaskan dan menjadi penguasa.
Pada tahun ini lahirlah Sultan Sanjar bin Malikasyah pada tanggal dua puluh Rajab di Sinjar. Pada tahun ini juga Takasy, saudara Sultan, memberontak. Sultan menangkapnya, mencongkel matanya, dan memenjarakannya.
Yang memimpin haji pada tahun ini adalah al-Amir Khamaratakin al-Hasanani karena orang-banyak mengeluh tentang kerasnya perjalanan yang dipimpin Khatlagh dan penarikan pajak yang ia lakukan terhadap mereka. Suatu kali ia berangkat dari Kufah ke Mekah dalam sembilan belas hari.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini:
Ahmad bin Muhammad bin Dust Abu Sa’d an-Naisaburi, syaikh para sufi. Ia memiliki ribath di kota Naisabur yang pintunya bisa dimasuki unta beserta penunggangnya. Ia berhaji berkali-kali dengan cara tajrid (tanpa bekal). Ketika jalan ke Mekah terputus, ia membawa sekelompok fuqara dan berhubungan dengan suku-suku Arab hingga sampai ke Mekah. Ia wafat pada tahun ini dan usianya telah melebihi sembilan puluh tahun, semoga Allah merahmatinya. Ia berwasiat agar putranya Ismail menggantikannya. Maka ia didudukkan sebagai syaikh ribath ketika berusia dua belas tahun. Dialah yang mewakafkan berbagai wakaf untuk ribath tersebut.
Ibnu ash-Shabbagh, Penulis Kitab asy-Syamil
Abdussayyid bin Muhammad bin Abdul Wahid bin Ahmad bin Ja’far, al-Imam Abu Nashr Ibnu ash-Shabbagh, lahir tahun empat ratus Hijriah. Ia belajar fiqih di Baghdad kepada Abuth Thayyib ath-Thabari hingga mengungguli para ulama Syafi’iyyah di Iraq. Ia menulis berbagai karya bermanfaat, di antaranya kitab asy-Syamil dalam madzhab. Ia adalah orang pertama yang mengajar di an-Nizhamiyyah. Wafatnya pada tahun ini dan dimakamkan di rumahnya di al-Karkh, kemudian dipindahkan ke Bab Harb, semoga Allah merahmatinya.
Al-Qadhi Ibnu Khallikan berkata: Ia adalah faqih di dua Iraq, dan disejajarkan dengan asy-Syaikh Abu Ishaq, namun Ibnu ash-Shabbagh lebih alim darinya dalam madzhab, dan kepadanyalah para penuntut ilmu pergi. Ia telah menulis asy-Syamil dalam fiqih dan al-Umdah dalam ushul fiqih. Ia menjabat pengajar di an-Nizhamiyyah pertama kali, kemudian diberhentikan setelah dua puluh hari dan digantikan oleh asy-Syaikh Abu Ishaq. Ketika asy-Syaikh Abu Ishaq wafat, jabatan itu dipegang oleh Abu Sa’d al-Mutawalli, kemudian al-Mutawalli diberhentikan dan digantikan oleh Ibnu ash-Shabbagh, kemudian Ibnu ash-Shabbagh diberhentikan dan digantikan oleh Ibnu al-Mutawalli. Ia adalah orang terpercaya, hujjah, dan shalih. Ia lahir tahun empat ratus Hijriah dan menjadi buta di akhir hidupnya, semoga Allah merahmatinya.
Mas’ud bin Nashir bin Abdullah bin Ahmad bin Ismail Abu Sa’id as-Sijzi al-Hafizh. Ia mengadakan rihlah dalam menuntut hadits dan mendengar banyak hadits serta mengumpulkan kitab-kitab yang berharga. Ia memiliki tulisan yang bagus, nukilan yang shahih, hafizh, dan dhabit, semoga Allah merahmatinya.
Kemudian Masuklah Tahun Empat Ratus Tujuh Puluh Delapan Hijriah
Pada bulan Muharram terjadi gempa bumi di Arjan sehingga banyak orang Rum dan hewan ternak mereka binasa. Pada tahun ini banyak terjadi penyakit berupa demam dan thaun di Iraq, Hijaz, dan Syam. Setelah itu disusul dengan kematian mendadak, kemudian binatang-binatang liar mati di padang pasir, lalu disusul kematian hewan ternak hingga susu dan daging menjadi langka. Di samping semua itu, terjadi fitnah besar antara Rafidhah dan Ahli Sunnah sehingga banyak orang terbunuh.
Pada bulan Rabi’ul Awal bertiup angin hitam yang membawa pasir, banyak pohon-pohon kurma dan lainnya tumbang, petir menyambar di berbagai negeri hingga orang-orang mengira hari kiamat telah tiba, kemudian semua itu berlalu, segala puji bagi Allah.
Pada tahun ini lahir putra Khalifah yang bernama Abu Abdullah al-Husain. Baghdad dihias, genderang dan terompet ditabuh, dan banyak sedekah dibagikan.
Pada tahun ini Fakhrudaulah Ibnu Jahir menguasai banyak negeri di antaranya Amad, Mayafariqin, dan Jazirah Ibnu Umar. Negara Bani Marwan runtuh di tangannya pada tahun ini. Pada tanggal dua belas Sya’ban, Abu Bakar Muhammad bin Muzhaffar asy-Syami diangkat menjadi qadhi al-qudhat di Baghdad setelah wafatnya Abu Abdullah ad-Damaghani. Ia dikenakankan jubah kehormatan di diwan. Yang memimpin haji adalah al-Amir Khatlagh at-Turki. Ia berziarah ke makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat berangkat maupun pulang. Ia berkata: “Aku kira ini adalah hajiku yang terakhir,” dan memang benar demikian.
Pada tahun ini keluarlah tauqi’ (surat keputusan) Khalifah al-Muqtadi Biamrillah tentang pembaruan amar ma’ruf nahi munkar di setiap kawasan, mewajibkan Ahlul Dzimmah mengenakan pakaian pembeda, merusak alat-alat musik, menumpahkan khamar, dan mengusir pelaku kemaksiatan.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini:
Ahmad bin Muhammad bin al-Hasan bin Muhammad bin Ibrahim bin Abi Ayyub, Abu Bakar al-Fauraki, cucu al-Ustadz Abu Bakar bin Faurak. Ia menetap di Baghdad. Ia adalah mutakallim yang memberi nasihat kepada orang-banyak di an-Nizhamiyyah. Karena dirinya terjadi fitnah antar madzhab. Ibnu al-Jauzi berkata: Ia sangat cinta dunia, tidak segan-segan memakai sutra, dan disebutkan bahwa ia mengambil pajak arang. Wafatnya pada tahun ini dalam usia enam puluh lebih tahun. Ia dimakamkan di samping kuburan al-Asy’ari di Masyra’ah ar-Rawaya.
Al-Hasan bin Ali Abu Abdullah al-Mardusi. Ia adalah pemimpin orang-orang di zamannya dan paling sempurna muru’ahnya. Ia telah mengabdi pada masa Bani Buwaih dan hidup hingga masa ini. Para raja mengagungkannya dan berkirim surat kepadanya dengan sebutan “hambamu” dan “pelayanmu”. Ia banyak bersedekah, shalat, dan berbuat baik. Usianya mencapai sembilan puluh lima tahun. Ia telah menyiapkan kuburan dan kafan untuk dirinya lima tahun sebelum wafatnya.
Abu Sa’d al-Mutawalli
Abdurrahman bin al-Ma’mun bin Ali Abu Sa’d al-Mutawalli, penulis kitab at-Tatimmah dan pengajar di an-Nizhamiyyah setelah Abu Ishaq asy-Syirazi. Ia fasih, pandai berbicara, dan mahir dalam banyak ilmu. Wafatnya pada bulan Syawwal tahun ini dalam usia lima puluh dua tahun, semoga Allah merahmatinya. Yang menshalatkannya adalah al-Qadhi Abu Bakar asy-Syami dan dimakamkan di Bab Abraz.
Imam al-Haramain
Abdul Malik bin Abdullah bin Yusuf bin Abdullah bin Yusuf bin Muhammad bin Huwayyih, Abu al-Ma’ali al-Juwaini. Juwain adalah salah satu desa Naisabur. Ia dijuluki Imam al-Haramain karena bermukim di Mekah selama empat tahun. Kelahirannya pada tahun sembilan belas dan empat ratus. Ia mendengar hadits dan belajar fiqih kepada ayahnya asy-Syaikh Abu Muhammad al-Juwaini. Ia mengajar di halaqahnya setelah ayahnya dan belajar fiqih kepada al-Qadhi Husain. Ia pergi ke Baghdad, belajar fiqih di sana, dan meriwayatkan hadits di sana. Ia pergi ke Mekah dan bermukim di sana selama empat tahun, kemudian kembali ke Naisabur. Ia diberi jabatan pengajaran, khutbah, dan wa’dh. Ia menulis kitab Nihayah al-Mathalib fi Dirayah al-Madzhab, al-Burhan fi Ushul al-Fiqh, dan lain-lain dalam berbagai ilmu. Para pelajar belajar kepadanya dan datang kepadanya dari berbagai penjuru. Yang menghadiri majelisnya ada tiga ratus mutafaqqih. Aku telah menjelaskan biografinya secara lengkap dalam ath-Thabaqat.
Wafatnya pada tanggal dua puluh lima Rabi’ul Akhir tahun ini dalam usia lima puluh tujuh tahun. Ia dimakamkan di rumahnya kemudian dipindahkan ke samping ayahnya, semoga Allah merahmatinya.
Ibnu Khallikan berkata: Ibunya adalah seorang budak yang dibeli ayahnya dari hasil tulisannya menyalin kitab. Ayahnya memerintahkan agar tidak ada yang menyusuinya selain ibunya. Kebetulan seorang perempuan masuk menemuinya lalu menyusuinya satu kali. Maka asy-Syaikh Abu Muhammad mengambilnya, membalikkannya, meletakkan tangannya di perutnya, memasukkan jarinya ke tenggorokannya, dan terus melakukan itu hingga ia memuntahkan semua susu perempuan itu yang ada di perutnya. Ia berkata: Mungkin saja suatu saat Imam al-Haramain merasa lemah dalam beberapa majelis munazharah, lalu ia berkata: “Ini adalah akibat dari susuan itu.”
Ia berkata: Ketika ia kembali dari Hijaz ke negerinya Naisabur, ia diberi jabatan mihrab, mimbar, khutbah, pengajaran, dan majelis tazkir pada hari Jumat. Ia menjabat selama tiga puluh tahun tanpa saingan dan tanpa persaingan. Ia menulis dalam setiap bidang, di antaranya an-Nihayah yang belum pernah ada yang sepertinya dalam Islam.
Al-Hafizh Abu Ja’far berkata: Aku mendengar asy-Syaikh Abu Ishaq asy-Syirazi berkata kepada Imam al-Haramain: “Wahai pemberi manfaat bagi ahli Masyriq dan Maghrib, engkau hari ini adalah imam para imam.”
Di antara karangannya: asy-Syamil dalam ushul ad-din, al-Burhan dalam ushul fiqh, Talkhish at-Taqrib, al-Irsyad, al-‘Aqidah an-Nizhamiyyah, Ghiyats al-Umam, Ghiyats al-Khalq, dan lain-lain yang diselesaikannya maupun yang belum diselesaikannya.
Ia berkata: Ketika ia wafat pada bulan Rabi’ul Akhir tahun empat ratus tujuh puluh delapan, yang menshalatkannya adalah putranya Abu al-Qasim. Pasar-pasar ditutup, para muridnya mematahkan pena dan tinta mereka. Mereka berjumlah empat ratus orang dan tetap seperti itu selama satu tahun. Ia diratapi dengan banyak ratapan, di antaranya ucapan sebagian orang:
Hati-hati para ulama berada di atas bara Dan hari-hari manusia bagaikan malam-malam Apakah dahan ahli ilmu akan berbuah suatu hari Padahal telah wafat al-Imam Abu al-Ma’ali
Muhammad bin Ahmad bin Abdullah bin Ahmad bin al-Walid
Abu Ali, syaikh Mu’tazilah. Ia mengajar untuk mereka, namun Ahli Sunnah mengingkari mereka. Maka ia menetap di rumahnya selama lima puluh tahun hingga wafat pada bulan Dzulhijjah tahun ini. Ia dimakamkan di pemakaman asy-Syuniziyyah. Dialah yang berdebat dengan asy-Syaikh Abu Yusuf al-Qazwini al-Mu’tazili al-Mufassir tentang bolehnya menikahi anak-anak muda di surga, sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Aqil tentang keduanya. Ia hadir saat itu. Orang ini condong kepada bolehnya hal itu karena aman dari kerusakan di sana. Abu Yusuf berkata: Ini tidak mungkin terjadi. Dari mana engkau tahu bahwa mereka akan memiliki dubur? Anggota tubuh ini hanya diciptakan di dunia sebagai tempat keluarnya kotoran. Di surga tidak ada yang seperti itu, maka mereka tidak memerlukannya, dan masalah ini sama sekali tidak memiliki gambaran.
Orang ini telah meriwayatkan satu hadits dari gurunya Abu al-Husain al-Bashri dengan sanad yang telah disebutkan sebelumnya, dari jalur Syu’bah dari Manshur dari Rib’i bin Hirasy dari Abu Mas’ud al-Badri, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.” Hadits ini diriwayatkan oleh al-Qa’nabi dari Syu’bah, dan ia tidak meriwayatkan darinya selain hadits ini. Dikatakan bahwa ketika ia pergi kepadanya, ia masuk menemuinya saat ia sedang buang air kecil di kamar mandi, lalu ia meminta agar ia meriwayatkan kepadanya. Maka ia meriwayatkan hadits ini seolah sebagai nasihat untuknya, dan berkomitmen untuk tidak meriwayatkan selain itu. Ada yang mengatakan bahwa Syu’bah lewat di hadapan al-Qa’nabi sebelum ia mempelajari ilmu hadits. Ketika itu ia masih menggeluti minuman keras. Ia meminta agar ia meriwayatkan kepadanya, namun ia menolak. Lalu ia mengeluarkan pisau dan berkata: “Jika engkau tidak meriwayatkan kepadaku, aku akan membunuhmu.” Maka ia meriwayatkan hadits ini kepadanya. Lalu ia bertaubat dan kembali kepada Malik. Kemudian kesempatan mendengar dari Syu’bah terlewatkan, maka tidak ada yang ia dapatkan selain ini. Wallahu a’lam.
Abu Abdullah ad-Damaghani
Muhammad bin Ali bin al-Husain bin Abdul Malik bin Abdul Wahhab bin Hamuyyah ad-Damaghani al-Hanafi, qadhi al-qudhat di Baghdad. Kelahirannya pada tahun sembilan puluh delapan dan tiga ratus. Ia belajar fiqih di negerinya kemudian datang ke Baghdad pada tahun delapan belas dan empat ratus. Ia belajar fiqih di sana kepada Abu Abdullah ash-Shaimari dan Abu al-Husain al-Quduri, mendengar hadits dari keduanya, dari Ibnu an-Naqur, al-Khathib, dan lainnya. Ia menguasai fiqih, memiliki akal yang sempurna, dan sikap rendah hati yang berlebihan. Kepemimpinan para fuqaha berakhir padanya. Ia fasih dalam ungkapan. Ia miskin pada awal penuntutan ilmunya dengan mengenakan pakaian compang-camping. Kemudian kepemimpinan dan jabatan qadhi sampai kepadanya setelah Ibnu Makulah pada tahun empat puluh sembilan. Al-Qa’im Biamrillah menghormatinya dan Sultan Thughrilbak mengagungkannya. Ia menjalankan pengadilan selama tiga puluh tahun dengan perilaku yang sangat baik, amanah, agama, dan menjaga diri. Ia sakit beberapa hari kemudian wafat pada tanggal dua puluh empat Rajab tahun ini mendekati usia delapan puluh tahun. Ia dimakamkan di rumahnya di Darb al-Qala’in kemudian dipindahkan ke Masyhad Abu Hanifah, semoga Allah merahmati keduanya.
Muhammad bin Ali bin al-Muthallib
Abu Sa’d al-Adib. Ia telah mempelajari nahwu, adab, bahasa, sirah, dan berita orang-orang. Kemudian ia berhenti dari semua itu dan mengerjakan banyak shalat, sedekah, dan puasa hingga wafat pada tahun ini dalam usia delapan puluh enam tahun, semoga Allah merahmatinya.
Muhammad bin Abi Thahir al-Abbasi
Dikenal dengan nama Ibnu ar-Rajhi, ia belajar fikih kepada Ibnu ash-Shabbagh dan menjadi wakil hakim. Ia memiliki metode yang terpuji dan memberikan kesaksian di hadapan Ibnu ad-Damaghani yang diterima.
Manshur bin Dubais bin Ali bin Mazid
Abu Kamil, amir setelah Saif ad-Daulah Shadaqah, wafat pada bulan Rajab tahun ini. Ia memiliki syair dan sastra, serta memiliki keutamaan. Di antara syairnya adalah:
Jika aku tidak memikul beban besar dan tidak memimpin pasukan, tidak bersabar atas setiap kemuliaan, tidak melindungi orang yang bersalah dan menjaga wilayahnya ketika aku berseru untuk kebanggaan lalu bergabung, maka janganlah bangkit olehku semangat Arab menuju kemuliaan yang menurunkan bagiku puncak-puncak setiap yang terlarang
Hibatullah bin Abdullah bin Ahmad, as-Sibi
Qadhi al-Harim di Nahr Mu’alla, dan guru Khalifah al-Muqtadi bi Amrillah. Ia mendengar hadits dan wafat pada bulan Muharram tahun ini dalam usia lebih dari delapan puluh tahun. Ia memiliki syair yang bagus, di antaranya:
Aku mengharapkan delapan puluh tahun dari Penciptaku, sesuai yang datang di dalamnya dari Rasul terpilih, maka Ia sampaikan kepadaku, maka terima kasih kepada-Nya, dan menambah tiga tahun yang menyertainya, dan aku menunggu janji-Nya untuk menepatinya karena Dia adalah Dzat yang layak menepati
Kemudian Masuk Tahun Empat Ratus Tujuh Puluh Sembilan
Pada tahun ini terjadi pertempuran antara Tutush penguasa Damaskus dengan Sulaiman bin Qutulmish penguasa Aleppo, Antakya dan daerah tersebut. Pasukan Sulaiman kalah dan ia sendiri terbunuh dengan belati yang ada padanya. Sultan Malikshah berangkat dari Ashbahan menuju Aleppo dan menguasainya, serta menguasai wilayah-wilayah di antaranya yang ia lalui yaitu Harran, ar-Ruha, dan Qal’ah Ja’bar. Ja’bar adalah seorang syaikh tua yang telah buta dan memiliki dua anak laki-laki. Para perampok jalanan berlindung ke sana dan berlindung dengannya. Sultan mengirim surat kepada Ja’bar bin Sabiq untuk menyerahkan benteng tetapi ia menolak, maka Sultan memasang mesin ketapel dan alat perang lainnya hingga membukanya, lalu memerintahkan membunuh pemiliknya Sabiq. Istrinya berkata: “Jangan bunuh dia sampai kau bunuh aku bersamanya,” lalu ia melemparkan dirinya di belakangnya sehingga patah, kemudian memerintahkan untuk memotongnya menjadi dua setelah itu. Wanita itu melemparkan dirinya di belakangnya tetapi selamat. Sebagian orang mencela perbuatannya, maka ia berkata: “Aku benci orang Turki itu menyentuhku karena akan menjadi aib bagiku.” Hal itu dianggap baik darinya. Sultan mengangkat Qasim ad-Daulah Aq Sunqur at-Turki sebagai wakil di Aleppo, ia adalah kakek Nuruddin asy-Syahid. Ia mengangkat Muhammad bin Syaraf ad-Daulah Muslim sebagai wakil di ar-Rahabah, Harran, ar-Raqqah, Suruj, dan al-Khabur, serta menikahkannya dengan saudara perempuannya Zulaykha Khatun.
Ia memakzulkan Fakhr ad-Daulah bin Jahir dari Diyar Bakr dan menyerahkannya kepada al-Amid Abu Ali al-Balkhi, dan memberikan pakaian kehormatan kepada Saif ad-Daulah Shadaqah bin Manshur bin Dubais al-Asadi serta menetapkannya pada pekerjaan ayahnya. Ia masuk Baghdad pada bulan Dzulqa’dah tahun ini dan ini adalah kunjungan pertamanya. Ia ziarah ke makam-makam dan kuburan, masuk menghadap khalifah lalu mencium tangannya dan meletakkannya di atas matanya. Khalifah memberikan pakaian kehormatan yang tinggi kepadanya, menyerahkan urusan manusia kepadanya, dan khalifah memeriksa para amirnya. Nizam al-Mulk berdiri di hadapan khalifah, memperkenalkan para amir satu persatu dengan namanya, berapa jumlah pasukannya dan wilayah kekuasaannya, kemudian khalifah memberikan pakaian kehormatan yang tinggi kepadanya. Ia keluar dari hadapan khalifah dan turun di madrasahnya an-Nizhamiyyah. Ia belum pernah melihatnya sebelum tahun ini, maka ia menganggapnya bagus kecuali ia anggap kecil, dan menganggap bagus ahlinya dan orang-orang yang ada di dalamnya, semoga Allah merahmatinya atas itu, dan ia memohon kepada Allah agar menjadikan itu murni karena wajah-Nya yang mulia. Ia turun ke perpustakaan buku-bukunya dan mendiktekan sebagian dari yang pernah ia dengar, maka para ahli hadits mendengarnya darinya.
Syaikh Abu al-Qasim Ali bin Abi Ya’la al-Husaini ad-Dabusi datang ke Baghdad dengan kemegahan yang besar, lalu ia ditetapkan sebagai pengajar di an-Nizhamiyyah setelah Abu Sa’d al-Mutawalli.
Pada bulan Rabi’ul Akhir selesai dibangun menara masjid al-Qashr dan dikumandangkan adzan di dalamnya. Pada tahun ini terjadi gempa bumi yang dahsyat di Irak, Jazirah, dan Syam, menghancurkan banyak bangunan, dan kebanyakan manusia keluar ke padang pasir kemudian kembali. Haji dipimpin oleh Amir Khumartakin al-Hasnani. Khutbah orang Mesir dihapus dari Mekah dan Madinah, dan lembaran-lembaran yang di pintu Ka’bah yang berisi nama orang Mesir dicabut dan diganti dengan yang baru yang berisi nama al-Muqtadi. Ibnu al-Jauzi berkata: Muncul seorang laki-laki antara as-Sindiyyah dan Wasith yang merampok di jalan, ia tangan kirinya putus, membuka gembok dalam waktu sangat cepat, menyelam di Sungai Tigris dalam dua kali selaman, melompat sejauh dua puluh lima dzira’, memanjat dinding-dinding yang licin, dan tidak ada yang mampu menangkapnya, lalu ia keluar dari Irak dengan selamat. Ia berkata: Pada tahun ini wafat seorang fakir yang meminta-minta kepada manusia di Masjid al-Manshur, maka ditemukan di jubahnya enam ratus dinar Maghribi. Ia berkata: Pada tahun ini Saif ad-Daulah Shadaqah membuat jamuan untuk Sultan Jalal ad-Daulah Abu al-Fath Malikshah yang mencakup seribu ekor kambing dan seratus ekor unta selain yang lain, dan masuklah ke dalamnya dua puluh ribu man gula, dan telah digantung padanya dari berbagai jenis burung dan hewan buas yang diisi dengan gula dalam jumlah banyak. Sultan mengambil sedikit darinya, kemudian memberi isyarat sehingga dijarah sampai habis, kemudian pindah dari tempat itu ke tenda besar yang belum pernah terlihat sepertinya dari sutra, dan di dalamnya lima ratus buah perak dan berbagai macam patung gaharu, minyak kesturi, dan ambar selain itu. Ia bentangkan di dalamnya jamuan khusus maka sultan makan saat itu dan dibawa kepadanya dua puluh ribu dinar, dan tenda itu diberikan kepadanya secara utuh, lalu ia pulang.
Orang-Orang yang Wafat pada Tahun Ini
Amir Ja’bar bin Sabiq al-Qusyairi
Bergelar Sabiq ad-Din, ia telah menguasai Qal’ah Ja’bar dalam waktu yang lama sehingga dinisbahkan kepadanya. Sebelumnya disebut ad-Dausariyyah, dinisbahkan kepada budak an-Nu’man bin al-Mundzir. Kemudian amir ini menjadi tua dan buta, dan ia memiliki dua anak laki-laki yang merampok di jalan. Sultan Malikshah bin Alb Arslan as-Saljuqi melewatinya ketika pergi ke Aleppo untuk mengambilnya, maka ia menurunkannya dari benteng dan membunuhnya, serta mengambil benteng itu dari mereka pada tahun ini.
Amir Khatla’
Amir haji, ia menguasai Kufah dan memiliki beberapa pertempuran dengan orang-orang Arab yang menunjukkan keberaniannya, menakuti hati mereka, dan mencerai-beraikan mereka di negeri-negeri. Ia memiliki perilaku yang baik, menjaga shalat-shalat, banyak membaca Alquran, dan memiliki jejak yang baik di jalan Mekah dalam memperbaiki bangunan-bangunan dan tempat-tempat yang dibutuhkan. Ia memiliki madrasah mazhab Hanafi di makam Yunus di Kufah, dan membangun masjid di sisi barat Baghdad di atas Sungai Tigris di Musyra’ah al-Karkh. Ia wafat pada bulan Jumadal Ula tahun ini semoga Allah merahmatinya. Ketika Nizam al-Mulk mendengar kematiannya ia berkata: “Telah mati seribu orang.”
Ali bin Fadhal al-Mujasyi’i
Abu al-Hasan an-Nahwi al-Maghribi, ia memiliki karya-karya yang menunjukkan ilmu dan luasnya pemahamannya, dan meriwayatkan hadits dengan sanad. Wafatnya pada bulan Rabi’ul Awwal tahun ini, dan dimakamkan di Bab Abraz.
Ali bin Ahmad at-Tustari
Ia adalah pemuka penduduk Bashrah dalam harta dan kemampuan, memiliki perahu-perahu yang beroperasi di laut. Ia membaca Alquran, mendengar hadits, dan menyendiri dalam meriwayatkan kitab Sunan Abi Daud. Wafatnya pada bulan Rajab tahun ini.
Yahya bin al-Husain bin Isma’il al-Husaini
Ia adalah seorang fakih dalam mazhab Zaid bin Ali bin al-Husain dan memiliki pengetahuan tentang ushul dan hadits.
Kemudian Masuk Tahun Empat Ratus Delapan Puluh
Pada bulan Muharram dipindahkan perlengkapan putri Sultan Malikshah ke Dar al-Khilafah dengan seratus tiga puluh ekor unta yang ditutupi dengan sutra Rum, kebanyakannya wadah-wadah emas dan perak, dan tujuh puluh empat ekor bagal yang ditutupi dengan berbagai jenis sutra kerajaan, dan di atas enam ekor di antaranya ada dua belas peti perak yang berisi permata dan perhiasan. Di depan bagal-bagal ada tiga puluh tiga ekor kuda yang di atasnya pelana-pelana emas yang dihiasi dengan berbagai jenis permata, dan sebuah ayunan besar yang ditutupi dengan sutra kerajaan yang di atasnya lembaran-lembaran emas yang dihiasi dengan permata. Khalifah mengirim untuk menjemput mereka Wazir Abu Syuja’ dan di depannya sekitar tiga ratus pengawal selain obor-obor untuk melayani as-Sitt Khatun istri Sultan Turkan Khatun, ibu mertua khalifah, dan memintanya untuk membawa amanah syarif ke Dar al-Khilafah maka ia menyetujuinya. Wazir Nizam al-Mulk hadir dengan para amir terkemuka dan di depan mereka dari lilin dan obor-obor yang tak terhitung jumlahnya. Datanglah istri-istri para amir, setiap satu dari mereka dalam kelompoknya dan budak-budak perempuannya dengan lilin-lilin dan obor-obor di depan mereka, kemudian datang al-Khatun putri Sultan istri khalifah – setelah semuanya – dalam tandu yang ditutupi, dan di atasnya dari emas dan permata yang tak terhitung nilainya, dan telah mengitari tandu tersebut dua ratus budak perempuan Turki dengan pelana-pelana yang dihiasi yang memukau pandangan. Ia masuk Dar al-Khilafah dengan keadaan ini, dan telah dihias Harem suci, dan dinyalakan lilin-lilin di dalamnya, dan itu adalah malam yang disaksikan oleh khalifah, sangat megah. Ketika keesokan harinya khalifah menghadirkan para amir sultan, dan membentangkan jamuan yang belum pernah terlihat sepertinya yang mencakup yang hadir dan yang tidak hadir, dan memberikan pakaian kehormatan kepada al-Khatun istri sultan, dan itu adalah hari yang disaksikan. Sultan sedang tidak ada karena berburu, kemudian datang setelah beberapa hari, dan pernikahan dengannya pada awal tahun. Ia melahirkan dari khalifah pada bulan Dzulqa’dah seorang anak laki-laki, Baghdad dihias karenanya.
Pada tahun ini lahir untuk Sultan Malikshah seorang anak yang diberi nama Mahmud, ia adalah yang berkuasa setelahnya. Pada tahun ini sultan menjadikan anaknya Abu Syuja’ Ahmad sebagai putra mahkota setelahnya dan memberinya gelar Malik al-Muluk Adhud ad-Daulah wa Taj al-Millah ‘Uddat Amir al-Mu’minin, dan dikhutbahkan untuknya dengan itu di mimbar-mimbar Baghdad dan selainnya, dan ditaburkan emas kepada para khatib ketika menyebut namanya.
Pada tahun ini dimulai pembangunan at-Tajiyyah di Bab Abraz, dan dibuat bendungan, dan ditanami pohon kurma dan buah-buahan di sana, dan dibuat tembok atas perintah Sultan Malikshah.
Haji dipimpin oleh Najm ad-Daulah Khumartakin.
Orang-Orang yang Wafat pada Tahun Ini
Isma’il bin Abdullah bin Musa bin Sa’id
Abu al-Qasim as-Sawi, ia melakukan perjalanan dalam hadits ke berbagai penjuru hingga melewati apa yang di seberang sungai, dan ia memiliki bagian yang besar dalam sastra dan pengetahuan bahasa Arab. Wafat di Naisabur pada bulan Jumadal Ula tahun ini.
Thahir bin al-Husain al-Bandaniji
Abu al-Wafa penyair yang unggul, ia memiliki dua qasidah dalam pujian Nizam al-Mulk, salah satunya dengan huruf berharakat dan yang lain tanpa titik, awalnya:
Mereka mencela dan seandainya mereka tahu apa itu celaan, mereka tidak akan mencela, dan menolak celaan mereka adalah kekhawatiran dan penderitaan
Wafatnya di negerinya pada bulan Ramadhan dalam usia lebih dari tujuh puluh tahun.
Muhammad bin Amirul Mu’minin al-Muqtadi bi Amrillah
Ia terkena cacar dan meninggal karenanya dalam usia sembilan tahun. Ayahnya dan orang-orang berduka cita atasnya dan berkumpul untuk takziah, maka ia mengirim kepada mereka berkata: “Sesungguhnya bagi kami pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada teladan yang baik ketika anaknya Ibrahim wafat,” dan Allah Ta’ala berfirman: “Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” (Al-Baqarah: 156) Kemudian ia meminta orang-orang untuk pulang ke rumah mereka.
Muhammad bin Muhammad bin Zaid bin Ali bin Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib
Abu al-Hasan al-Husaini bergelar al-Murtadha Dzi asy-Syarafain, lahir tahun empat ratus lima dan mendengar banyak hadits, membaca sendiri kepada para syaikh, dan menemani al-Hafizh Abu Bakar al-Khatib sehingga ia memiliki pengetahuan yang baik tentang hadits. Al-Khatib mendengar darinya sebagian riwayatnya, kemudian pindah ke Samarkand dan mendiktekan hadits di Ashbahan dan lainnya. Ia memiliki akal yang sempurna, keutamaan, dan kedermawanan, dan memiliki harta yang banyak, kepemilikan yang luas, dan nikmat yang berlimpah. Dikatakan ia memiliki empat puluh desa, dan banyak bersedekah, berbuat baik, dan memberikan kepada ulama dan fakir miskin. Zakat harta simpanannya mencapai sepuluh ribu dinar selain zakat hasil pertanian, dan ia memiliki kebun yang tidak dimiliki raja sepertinya. Raja yang di seberang sungai – namanya al-Khidhr bin Ibrahim – memintanya sebagai pinjaman untuk bersantai di dalamnya tetapi ia menolak, dan berkata: “Aku pinjamkan kepadanya untuk minum khamar di dalamnya setelah menjadi tempat tinggal ahli ilmu, hadits, dan agama?” Maka ia berpaling darinya dan mendendamnya, kemudian memanggilnya untuk meminta nasihat dalam beberapa urusan seperti biasa. Ketika hadir di sisinya ia menangkapnya dan memenjarakannya di bentengnya, dan menguasai semua kepemilikannya, harta simpanannya, dan harta-hartanya. Ia berkata: “Aku tidak yakin akan kebenaran nasabku kecuali dengan penyitaan ini, karena aku dibesarkan dalam kenikmatan dan aku berkata: Sesungguhnya orang sepertiku pasti diuji,” kemudian mereka mencegahnya makan dan minum hingga ia meninggal semoga Allah merahmatinya di benteng, maka mereka mengeluarkannya dan menguburkannya di sana, kuburnya diziarahi, semoga Allah memuliakan tempat kembalinya.
Muhammad bin Hilal bin al-Muhsin bin Ibrahim
Abu al-Hasan bin ash-Shabi bergelar Ghars an-Ni’mah, ia mendengar dari ayahnya dan Abu Ali bin Syadzhan. Ia banyak bersedekah dan berbuat baik, dan telah melanjutkan sejarah ayahnya yang melanjutkan sejarah ayahnya yang melanjutkan sejarah Tsabit bin Sinan yang melanjutkan sejarah Ibnu Jarir ath-Thabari. Ia membangun sebuah rumah di Baghdad dan mewakafkan di dalamnya empat ribu jilid dalam berbagai bidang ilmu, dan meninggalkan ketika meninggal tujuh puluh ribu dinar, dan dimakamkan di makam Ali radiyallahu ‘anhu, semoga Allah merahmatinya.
Hibatullah bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin al-Muhalla Abu Nashr, mengumpulkan khutbah-khutbah dan nasihat-nasihat serta mendengar hadits dari banyak guru, dan meninggal muda sebelum waktunya untuk meriwayatkan hadits.
Abu Bakar bin Umar Amir al-Mulatsammin Berada di tanah Farghana, ia mengalami kejayaan yang tidak dialami oleh raja-raja lainnya. Ketika ia berkuda untuk berperang melawan musuh, lima ratus ribu pejuang turut bersamanya, semuanya taat kepadanya. Ia menegakkan hukum-hukum syariat, menjaga kehormatan Islam, dan memperlakukan rakyat dengan cara syar’i dengan keyakinan yang benar serta loyal kepada Daulah Abbasiyah. Ia tertembak anak panah dalam salah satu peperangannya, mengenai lehernya dan menewaskannya pada tahun ini.
Fathimah binti Ali Guru perempuan dan penulis, dikenal dengan nama Bintu al-Aqra’. Ia mendengar hadits dari Abu Umar bin Mahdi dan lainnya. Ia menulis khat mansub dengan gaya Ibn al-Bawwab, dan orang-orang belajar menulis darinya. Dengan tulisan tangannya dibuatlah perjanjian gencatan senjata dari diwan kepada raja Romawi, dan suatu ketika ia menulis surat kepada Amid al-Mulk al-Kunduri lalu ia memberinya seribu dinar. Ia meninggal pada bulan Muharram tahun ini di Baghdad dan dikubur di Bab Abraz.
Kemudian masuklah tahun empat ratus delapan puluh satu
Pada tahun ini terjadi fitnah besar antara kaum Rafidhah dan Sunni di Baghdad, dan terjadi banyak peristiwa besar.
Pada bulan Rabiul Awal, orang-orang Turki dikeluarkan dari wilayah khilafah, dan ini memperkuat kedudukan khilafah. Pada tahun ini Mas’ud bin al-Malik al-Mu’ayyad bin Ibrahim bin Mas’ud bin Mahmud bin Sabuktakin menguasai negeri Ghaznah setelah ayahnya. Pada tahun ini Malikshah menaklukkan kota Samarkand. Orang-orang diberangkatkan haji oleh Amir Khumartakin, dan di antara yang berhaji adalah Wazir Abu Syuja’ yang menunjuk anaknya Abu Mansur dan Tharad bin Muhammad al-Zainabi sebagai wakilnya.
Di antara tokoh yang meninggal pada tahun ini:
Ahmad bin Sultan Malikshah, putra mahkota ayahnya, meninggal pada usia sebelas tahun. Orang-orang berkabung selama tujuh hari, tidak ada yang menunggang kuda, para perempuan meratapi kepergiannya di pasar-pasar, dan penduduk negeri-negeri yang dikuasai ayahnya menghitamkan pintu-pintu mereka.
Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Ja’far Abu Ismail al-Anshari al-Harawi, meriwayatkan hadits dan menulis karya. Ia banyak begadang di malam hari. Ia meninggal di Herat pada bulan Dzulhijjah dalam usia delapan puluh enam tahun.
Kemudian masuklah tahun empat ratus delapan puluh dua
Pada bulan Muharram, Abu Bakar al-Syami mengajar di Madrasah Tajiyah di Bab Abraz, yang telah didirikan oleh al-Shahib Taj al-Mulk Abu al-Ghanaim untuk mazhab Syafi’i. Pada tahun ini terjadi fitnah besar antara Rafidhah dan Sunni, mereka mengangkat mushaf-mushaf dan terjadi peperangan panjang, banyak orang terbunuh. Ibn al-Jauzi dalam “al-Muntazham” mengutip dari tulisan tangan Ibn Aqil bahwa yang terbunuh pada tahun ini mendekati dua ratus orang. Ia berkata: Penduduk Karkh mencela para sahabat dan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan sampai mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka laknat Allah atas penduduk Karkh yang melakukan itu. Saya menuturkan ini agar yang membacanya mengetahui apa yang tersimpan dalam hati kaum Rafidhah berupa kejahatan dan kebencian terhadap agama Islam dan pemeluknya, serta permusuhan tersembunyi dalam hati mereka terhadap Allah, Rasul-Nya dan syariat-Nya.
Pada tahun ini Sultan Malikshah menguasai wilayah Ma wara’ al-Nahr dan sebagian besar wilayah di sana setelah peperangan besar dan pertempuran dahsyat. Pada tahun ini pasukan Mesir menguasai beberapa negeri Syam. Pada tahun ini menara masjid Aleppo dibangun kembali. Pada tahun ini al-Khatun binti Sultan mengadu kepada ayahnya tentang ketidakpedulian Khalifah terhadapnya. Ayahnya mengirim al-Thawasyi Shawab dan Amir Bazan untuk membawanya kembali. Khalifah menyetujui dan mengutus al-Naqib serta beberapa pembesar untuk menemaninya. Putra Khalifah Abu al-Fadhl dan Wazir mengantar hingga al-Nahrawan pada bulan Rabiul Awal. Ketika ia sampai ke tempat ayahnya, ia meninggal pada bulan Syawwal tahun ini di Isfahan. Masa berkabung diadakan di Baghdad selama tujuh hari dan Khalifah mengutus dua amir untuk menyampaikan belasungkawa kepada Sultan.
Orang-orang diberangkatkan haji oleh Khumartakin.
Di antara tokoh yang meninggal pada tahun ini:
Abdul Shamad bin Ahmad bin Ali, dikenal dengan Zhahir al-Naisaburi al-Hafizh. Ia banyak bepergian dan mendengar hadits yang banyak serta mengajarkannya. Kematian menyergapnya pada tahun ini di Hamadzan saat masih muda.
Ali bin Abi Ya’la bin Zaid Abu al-Qasim al-Dabuusi, guru di Nizhamiyah setelah al-Mutawalli. Ia mendengar sedikit hadits dan merupakan fakih yang mahir serta ahli debat yang cemerlang.
Ashim bin al-Hasan bin Muhammad bin Ali bin Ashim bin Mihran Abu al-Husain al-Ashimi dari penduduk Karkh, tinggal di Bab al-Sya’ir. Ia lahir tahun tiga ratus sembilan puluh tujuh, seorang yang memiliki keutamaan dan sastra, mendengar hadits dari al-Khatib dan lainnya. Ia terpercaya dan hafizh. Di antara syairnya yang bagus adalah ucapannya:
Betapa rinduku pada kaum di Kazhimah Aku pamit pada mereka saat rombongan menghalangi Air mata tak henti sejak mereka pergi Tak ada lagi mataku yang memandang dan terpejam Mereka pergi, air mataku mengalir deras Bercucuran dan hatiku penuh penyakit Mereka pergi mengganti, semoga tak kurasakan kehilangan mereka Dariku, dan tak ada penggantinya Kupinjamkan mereka hatiku dengan kepercayaan Dari mereka, namun tak dikembalikan yang kupinjamkan
Muhammad bin Ahmad bin Hamid bin Ubaid Abu Ja’far al-Bukhari, ahli kalam Mu’tazilah, tinggal di Baghdad dan dikenal dengan Qadhi Aleppo. Ia bermazhab Hanafi dalam furu’ dan Mu’tazilah dalam ushul. Meninggal di Baghdad tahun ini dan dikubur di Bab Harb.
Muhammad bin Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Ismail al-Ashbahani Dikenal dengan Simkawaih, salah satu hafizh pengembara yang banyak bepergian, mendengar banyak hadits dan mengumpulkan kitab-kitab. Ia tinggal di Herat, seorang yang saleh dan banyak ibadah. Meninggal di Naisabur pada bulan Dzulhijjah tahun ini.
Kemudian masuklah tahun empat ratus delapan puluh tiga
Pada bulan Muharram datang fakih Abu Abdullah al-Thabari dengan surat penugasan dari Nizham al-Mulk untuk mengajar di Nizhamiyah. Kemudian datang fakih Abu Muhammad Abdul Wahhab al-Syirazi dengan surat penugasan lain darinya untuk mengajar di sana juga. Maka disepakati bahwa orang ini mengajar sehari dan yang lain sehari.
Pada bulan Jumadal Ula, penduduk Bashrah diserang oleh seseorang bernama Taliya yang mempelajari ilmu perbintangan. Ia menyesatkan banyak penduduknya dan mengklaim dirinya sebagai al-Mahdi. Ia membakar banyak bagian Bashrah termasuk perpustakaan yang merupakan perpustakaan wakaf pertama dalam Islam. Ia merusak banyak alat-alat produksi dan lain-lain.
Pada tahun ini Abu al-Qasim Ali bin Tharad al-Zainabi dilantik sebagai naqib Abbasiyah menggantikan ayahnya. Pada tahun ini difatwakan agar para guru anak-anak dilarang mengajar di masjid demi menjaga kesuciannya, dan tidak dikecualikan kecuali seorang yang merupakan fakih Syafi’i yang tahu bagaimana menjaga masjid. Mufti berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Tutuplah setiap pintu kecuali pintu Abu Bakar.”
Orang-orang diberangkatkan haji oleh Khumartakin seperti biasa.
Di antara yang meninggal pada tahun ini:
Wazir Abu Nashr bin Jahir, Muhammad bin Muhammad bin Jahir Fakhruddin Daulah, salah satu wazir terkenal. Ia menjadi wazir untuk al-Qa’im kemudian untuk putranya al-Muqtadi, lalu diberhentikan oleh Sultan Malikshah dan diberi wilayah Diyar Bakr dan lainnya. Ia meninggal di Mosul, kota tempat ia dilahirkan.
Kemudian masuklah tahun empat ratus delapan puluh empat
Pada bulan Muharram, ahli nujum yang membakar Bashrah menulis surat kepada penduduk Wasith mengajak mereka menaatinya. Dalam suratnya ia menyatakan bahwa ia adalah al-Mahdi pemilik zaman yang memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran serta membimbing makhluk kepada kebenaran. “Jika kalian taat, kalian akan selamat dari azab, jika berpaling dari kebenaran, kalian akan dibenamkan. Maka berimanlah kepada Allah dan kepada Imam Mahdi.”
Pada tahun ini penduduk dzimmah diwajibkan mengenakan pakaian pembeda dan ikat pinggang, demikian pula perempuan mereka di pemandian dan tempat lainnya. Pada bulan Jumadal Ula, Syaikh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thusi datang dari Isfahan ke Baghdad untuk mengajar di Nizhamiyah. Nizham al-Mulk memberinya gelar Zain al-Din Syaraf al-A’immah. Ibn al-Jauzi berkata: Ucapannya manis dan kecerdasannya tajam. Pada bulan Ramadhan, Wazir Abu Syuja’ diberhentikan dari jabatan wazir khilafah. Ia membaca syair saat pemberhentiannya:
Ia menjabat tanpa memiliki musuh Dan meninggalkannya tanpa memiliki teman
Kemudian datang surat dari Nizham al-Mulk agar ia keluar dari Baghdad, maka ia keluar ke beberapa tempat tetapi tidak merasa nyaman. Ia berniat untuk berhaji kemudian hati Nizham tenang terhadapnya dan mengutus seseorang memintanya menjadi rekannya dalam hal itu. Ibn al-Mushallaya menggantikan posisi wazir, yang telah masuk Islam sebelum jabatan ini pada awal tahun ini. Pada bulan Ramadhan, Sultan Malikshah memasuki Baghdad bersama Wazir Nizham al-Mulk. Qadhi al-Qudhah Abu Bakar al-Syami dan Ibn al-Mushallaya al-Musalmani keluar menyambutnya. Raja-raja dari berbagai wilayah datang untuk memberi salam, termasuk saudaranya Taj al-Daulah Tutsy penguasa Damaskus dan atabeknya Qasim al-Daulah Aq Sunqur penguasa Aleppo.
Pada bulan Dzulqa’dah, Sultan Malikshah keluar bersama putranya dan cucu dari Khalifah dengan banyak orang menuju Kufah. Pada tahun ini Abu Mansur bin Jahir diangkat menjadi wazir, ini adalah masa jabatan keduanya sebagai wazir al-Muqtadi. Ia diberi pakaian kehormatan dan Nizham al-Mulk berkunjung ke rumahnya di Bab al-Ammah untuk memberi selamat.
Pada bulan Dzulhijjah, Sultan mengadakan perayaan Milad di Sungai Tigris. Api-api besar dinyalakan, banyak lilin diterangi, malam yang sangat menakjubkan. Para penyair membuat syair tentangnya. Ketika pagi tiba dari malam itu, si pendusta pendakwah yang mengklaim dirinya al-Mahdi, Taliya ahli nujum, diarak di atas unta di Baghdad sambil ia mencaci orang-orang dan orang-orang melaknatinya. Di kepalanya topi tinggi dari kertas dan cambuk memukul dari segala arah, kemudian ia disalib.
Pada tahun ini Sultan Malikshah memerintahkan Jalal al-Daulah membangun kembali masjidnya yang dinisbatkan kepadanya di luar tembok. Pada tahun ini Amirul Muslimin Yusuf bin Tasyafin penguasa negeri Maghrib menguasai banyak wilayah Andalusia, menangkap penguasanya al-Mu’tamid bin Abbad dan memenjarakannya beserta keluarganya di Aghmat. Al-Mu’tamid ini dikenal dermawan, beradab, penyantun, baik sikapnya dan pergaulannya, berbuat baik kepada rakyat dan lembut kepada mereka. Orang-orang bersedih atasnya dan para penyair banyak membuat syair tentang musibahnya.
Pada tahun ini bangsa Franka menguasai kota Sisilia dari negeri Maghrib. Raja mereka meninggal lalu digantikan putranya yang memperlakukan rakyat seperti raja-raja Muslim dan berbuat baik kepada mereka seakan ia salah satu dari mereka.
Pada tahun ini terjadi gempa bumi yang banyak di Syam dan tempat lain, meruntuhkan banyak bangunan termasuk sembilan puluh menara dari tembok Antakya. Banyak orang tewas tertimpa reruntuhan. Orang-orang diberangkatkan haji oleh Khumartakin.
Di antara yang meninggal pada tahun ini:
Abdurrahman bin Ahmad bin Alik, Abu Thahir, lahir di Isfahan dan belajar fikih di Samarkand. Ia yang menjadi sebab penaklukan kota itu oleh Sultan Malikshah. Ia termasuk pemimpin mazhab Syafi’i dan telah mendengar banyak hadits. Abdul Wahhab bin Mandah berkata: Kami tidak melihat fakih di masa kami yang lebih adil dan lebih berilmu darinya. Ia fasih lisannya, tinggi muruwahnya, melimpah kekayaannya. Meninggal di Baghdad, para wazir dan pembesar berjalan kaki di pemakamannya kecuali Nizham al-Mulk yang berkuda dan meminta maaf karena usianya yang tua. Ia dikubur di samping Syaikh Abu Ishaq al-Syirazi, hari yang sangat berkesan. Sultan Malikshah datang ke pemakaman. Ibn Aqil berkata: Saya duduk di pagi ta’ziah di samping Nizham al-Mulk sementara raja-raja berdiri di hadapannya, saya berani melakukannya karena ilmu. Diriwayatkan oleh Ibn al-Jauzi.
Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Hamid Abu Nashr al-Marwazi, imam dalam ilmu qira’at dan memiliki karya di dalamnya. Ia banyak bepergian untuk itu. Pernah ia tenggelam di laut dalam salah satu perjalanannya. Saat ombak mengangkat dan menurunkannya, ia melihat matahari telah tergelincir, maka ia niat berwudhu dan menyelam dalam air, kemudian naik dan menemukan papan lalu menungganginya dan shalat di atasnya. Allah memberinya keselamatan dengan berkah shalat. Ia hidup setelah itu lama dan meninggal pada tahun ini dalam usia sembilan puluhan lebih.
Muhammad bin Abdullah bin al-Husain Abu Bakar al-Nashih, fakih Hanafi, ahli debat dan ahli kalam Mu’tazilah. Ia pernah menjadi qadhi di Naisabur kemudian diberhentikan karena pengkhianatan wakilnya dan mereka menerima suap. Ia menjabat qadhi Rayy, telah mendengar hadits dan termasuk ulama besar. Meninggal pada bulan Rajab.
Artuq bin Aksab al-Turkmani Kakek para raja Artuqiyah yang sekarang menjadi penguasa Mardin. Ia pemberani, berani dan tinggi cita-citanya, menguasai banyak negeri. Ibn Khallikan membuat biografinya dan mencatat wafatnya pada tahun ini.
Kemudian masuklah tahun empat ratus delapan puluh lima Hijriah
Pada tahun ini, Sultan Maliksyah memerintahkan untuk membangun pasar kota yang dikenal dengan Tughrilbik di samping istana kerajaan. Ia memperbarui penginapan-penginapan, pasar-pasar, dan rumah-rumahnya. Ia juga memerintahkan untuk memperbaharui masjid yang telah diselesaikan pada masa Harun al-Khadim pada tahun empat ratus dua puluh empat. Sultan sendiri mengawasi pemasangan arah kiblatnya, dengan ahli perbintangannya Ibrahim hadir. Kayu-kayu dari masjid Samarra dipindahkan ke tempat itu. Nizham al-Mulk memulai pembangunan rumah yang megah untuknya, demikian juga Taj al-Muluk Abu al-Ghanaim memulai pembangunan rumah yang megah pula. Mereka menetap di kota itu dan Baghdad menjadi menyenangkan bagi mereka.
Pada bulan Jumadil Ula, terjadi kebakaran besar di Baghdad di berbagai tempat. Api tidak padam hingga banyak harta benda penduduk musnah. Yang mereka perbaiki tidak sebanding dengan yang terbakar dan kerugian yang mereka alami.
Pada bulan Rabiul Awwal, Sultan berangkat ke Isfahan dan dalam rombongannya terdapat putra Khalifah, Abu al-Fadhl Ja’far. Kemudian ia kembali ke Baghdad pada bulan Ramadhan. Ketika ia sedang dalam perjalanan pada tanggal sepuluh bulan itu, seorang anak muda dari suku Dailam menyerang Wazir Nizham al-Mulk setelah ia berbuka puasa, lalu menikamnya dengan pisau hingga tewas. Anak muda Dailam itu ditangkap dan dibunuh. Nizham al-Mulk adalah salah satu wazir terbesar dan pemimpin terbaik. Kami akan menyebutkan sesuatu tentang perjalanan hidupnya ketika membahas biografinya.
Sultan tiba di Baghdad pada bulan Ramadhan dengan niat yang tidak baik, lalu Allah memberikan kepadanya apa yang ia inginkan untuk musuh-musuhnya. Sebab ketika kediamannya stabil di Baghdad dan orang-orang datang memberi salam dan ucapan selamat atas kedatangannya, serta Khalifah mengutus seseorang untuk mengucapkan selamat kepadanya, Sultan mengirim pesan kepada Khalifah mengatakan: “Engkau harus meninggalkan Baghdad untukku dan pindah ke kota mana pun yang engkau kehendaki.” Khalifah mengirim utusan meminta penundaan selama sebulan, tetapi Sultan menjawab: “Bahkan tidak satu jam pun.” Khalifah lalu mengirim utusan memohon penundaan sepuluh hari, dan Sultan menyetujuinya setelah penolakan yang keras. Namun sebelum masa itu berakhir, Sultan keluar pada hari Idul Fitri untuk berburu dan diserang demam tinggi. Ia kemudian berbekam, tetapi tidak pulih darinya hingga ia meninggal sebelum sepuluh hari tersebut berlalu. Segala puji dan karunia bagi Allah.
Istrinya, Zubaidah Khatun, menguasai tentara dan mengatur keadaan dengan baik. Ia mengirim utusan kepada Khalifah meminta agar putranya, Mahmud, diangkat menjadi raja menggantikan ayahnya dan agar namanya disebutkan dalam khutbah di seluruh mimbar. Khalifah menyetujuinya, mengirimkan pakaian kebesaran kepadanya, dan mengutus waziRnya, Amid al-Daulah Ibnu Jahir, untuk menyampaikan belasungkawa dan selamat. Usia Raja Mahmud saat itu adalah lima tahun. Kemudian ibunya membawanya bersama pasukan menuju Isfahan untuk mengukuhkan kekuasaannya. Mereka memasuki kota itu dan mencapai tujuan mereka. Nama Mahmud disebutkan dalam khutbah di seluruh negeri, termasuk di kedua kota suci. Taj al-Mulk Abu al-Ghanaim al-Marzban bin Khusrau diangkat menjadi waziRnya. Ibu Raja Mahmud mengirim permintaan kepada Khalifah agar putranya diberi kekuasaan dan agar penunjukan para gubernur diserahkan kepadanya. Khalifah berkata: “Ini tidak dibenarkan oleh syariat.” Al-Ghazali menyetujui pendapat itu, sementara al-Musyaththab bin Muhammad al-Hanafi memberi fatwa membolehkannya, tetapi yang diikuti hanyalah pendapat al-Ghazali. Sebagian besar tentara Sultan berpaling kepada putra Sultan yang lain, Barkiyaruq. Mereka membaiatnya dan menyebutkan namanya dalam khutbah di ar-Rayy. Khatun dan putranya tersisa dengan sekelompok kecil tentara dan pengawal khusus. Ia mengeluarkan tiga puluh juta dinar untuk mereka guna memerangi Barkiyaruq bin Malikshah. Pertempuran terjadi pada bulan Dzulhijjah, dan Khatun beserta putranya kalah. Telah tercatat dalam Shahih Bukhari: “Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang perempuan.”
Pada bulan Dzulqa’dah, Banu Khafajah menyerang jamaah haji. Para tentara yang berada dalam rombongan haji bersama Amir Khumartakin memerangi mereka dan mengalahkan mereka. Harta benda orang-orang Arab itu dirampas. Segala puji dan karunia bagi Allah.
Pada tahun ini, hujan es yang sangat besar turun di Bashrah. Berat sebutir es mencapai lima rothl hingga tiga belas rothl. Banyak pohon kurma dan pepohonan rusak karenanya. Angin ribut yang sangat kencang datang dan merobohkan puluhan ribu pohon kurma. “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali. Dan musibah apa pun yang menimpa kalian adalah karena perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy-Syura: 30)
Pada tahun ini, Taj al-Daulah Tutus, penguasa Damaskus, menguasai kota Homs, benteng ‘Arqah, dan benteng Afamiyah. Bersamanya ada Qasim al-Daulah Aq Sunqur. Sultan telah mengirim pasukan ke Yaman bersama Sa’d al-Daulah Kuhara’in dan seorang panglima lain dari Turkoman. Mereka memasuki Yaman dan bertindak buruk di sana. Kuhara’in meninggal pada hari ia memasuki kota Aden. Segala puji dan karunia bagi Allah.
Di antara tokoh yang meninggal pada tahun ini:
Ja’far bin Yahya bin Abdullah bin Abdurrahman
Abu al-Fadhl at-Tamimi yang dikenal dengan Ibnu al-Hakkak al-Makki. Ia melakukan perjalanan mencari hadits ke Syam, Irak, Isfahan, dan berbagai negeri lainnya. Ia mendengar banyak hadits dan menyusun juz-juz hadits. Ia adalah seorang hafizh yang teliti, cermat, beradab, jujur, dan baik. Ia menjadi penulis surat untuk penguasa Makkah. Ia adalah orang yang berpenampilan baik dan murah hati. Usianya mendekati delapan puluh tahun, semoga Allah merahmatinya.
Nizham al-Mulk al-Wazir
Ia adalah al-Hasan bin Ali bin Ishaq bin al-Abbas, Abu Ali, Wazir Nizham al-Mulk. Ia menjadi wazir untuk Raja Alp Arslan dan putranya Malikshah selama dua puluh sembilan tahun. Ia termasuk wazir terbaik. Lahir di Tus pada tahun empat ratus delapan Hijriah. Ayahnya adalah salah seorang yang mengabdi kepada para sahabat Mahmud bin Sabuktikin, dan ia berasal dari para dihqan (tuan tanah). Ayahnya menyuruh putranya ini untuk membaca Al-Quran ketika ia berusia sebelas tahun. Ia mempelajari ilmu qiraat, memperdalam fiqih mazhab Syafi’i, mendengar hadits, serta mempelajari bahasa dan nahwu. Ia memiliki cita-cita yang tinggi dan berhasil memperoleh banyak ilmu. Kemudian ia naik pangkat hingga menjadi wazir untuk Sultan Alp Arslan bin Daud bin Mika’il bin Saljuq, lalu setelahnya untuk putranya Malikshah. Ia tidak pernah mengalami kemunduran dalam jabatannya. Ia membangun madrasah-madrasah Nizhamiyah di Baghdad, Naisabur, dan tempat lainnya. Majelisnya dipenuhi oleh para fuqaha dan ulama sehingga ia menghabiskan sebagian besar waktunya bersama mereka. Ada yang berkata kepadanya: “Orang-orang ini menyibukkanmu dari banyak urusan.” Ia menjawab: “Mereka adalah perhiasan dunia dan akhirat. Seandainya aku dudukkan mereka di atas kepalaku, aku tidak akan menganggap itu berlebihan.” Ketika Abu al-Qasim al-Qusyairi dan Abu al-Ma’ali al-Juwaini masuk menemuinya, ia berdiri untuk mereka dan mendudukkan mereka di tempat kehormatan. Namun ketika Abu Ali al-Farmadzi masuk, ia berdiri dan mendudukkannya di tempatnya sendiri, sementara ia duduk di hadapannya. Ia ditegur tentang hal itu, lalu berkata: “Ketika mereka berdua masuk menemuiku, mereka berkata: ‘Engkau dan engkau,’ sehingga aku semakin sombong. Adapun al-Farmadzi, ia menyebutkan cacatku dan kezalimanku, sehingga aku menjadi rendah hati dan meninggalkan banyak hal yang sedang aku lakukan.”
Ia sangat menjaga shalat pada waktunya. Tidak ada kesibukan yang mengalihkannya dari shalat setelah adzan. Ia rutin berpuasa pada hari Senin dan Kamis. Ia memiliki banyak wakaf yang menghasilkan dan sedekah yang melimpah.
Ia sangat menghormati para sufi dengan penghormatan yang sangat tinggi. Ia ditegur tentang hal itu, lalu berkata: “Aku dulu mengabdi kepada salah seorang amir. Suatu hari datang seseorang kepadaku dan berkata: ‘Abdilah orang yang pengabdianmu kepadanya bermanfaat bagimu, dan jangan mengabdi kepada orang yang besok akan dimakan anjing.’ Aku tidak memahami apa yang ia katakan. Kebetulan malam itu amir tersebut mabuk, lalu keluar di tengah malam dalam keadaan mabuk. Ia memiliki anjing-anjing yang memangsa orang asing di malam hari. Anjing-anjing itu tidak mengenalinya dan mencabik-cabiknya. Pada pagi harinya ia telah dimakan oleh anjing.” Ia berkata: “Maka aku mencari orang seperti syaikh itu.”
Ia telah mendengar hadits di berbagai tempat di Baghdad dan tempat lainnya. Ia berkata: “Aku tahu bahwa aku bukan orang yang pantas untuk meriwayatkan hadits, tetapi aku ingin terikat dalam barisan perawi hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.” Ia juga berkata: “Aku bermimpi melihat Iblis, lalu aku berkata kepadanya: ‘Celakalah kamu! Allah menciptakanmu dan memerintahkanmu bersujud kepada-Nya secara langsung, namun kamu menolak. Adapun aku, Allah tidak memerintahkanku bersujud kepada-Nya secara langsung, namun aku bersujud kepada-Nya beberapa kali setiap hari.'” Maka Iblis membacakan syair:
Barangsiapa yang tidak pantas untuk perjumpaan, Maka semua kebaikannya adalah dosa.
Al-Muqtadi pernah mendudukkannya di hadapannya dan berkata kepadanya: “Wahai Hasan, semoga Allah meridhai engkau dengan keridhaan Amirul Mukminin terhadapmu.” Ia memiliki banyak orang Turki yang mengabdi kepadanya.
Ia memiliki banyak putra. Lima di antara mereka menjadi wazir. Putranya Ahmad menjadi wazir untuk Sultan Muhammad bin Malikshah dan untuk Amirul Mukminin al-Mustarsyid Billah.
Nizham al-Mulk keluar bersama Sultan dari Isfahan menuju Baghdad pada awal bulan Ramadhan tahun ini. Ketika tiba tanggal sepuluh, ia melewati salah satu jalan dekat Nahawand, dan ia berjalan bersamanya dalam tandu. Ia berkata: “Di sini banyak sahabat terbunuh pada masa Umar, maka berbahagialah orang yang berada bersama mereka.” Kebetulan setelah ia berbuka puasa, datang seorang anak muda dengan penampilan seperti orang yang meminta pertolongan kepadanya, membawa surat permohonan. Ketika ia sampai kepadanya, ia menikamnya dengan pisau di dadanya, lalu melarikan diri tetapi tersandung tali tenda, kemudian ditangkap dan dibunuh. Wazir bertahan selama beberapa saat, Sultan datang menjenguknya, dan ia meninggal di hadapannya. Sultan dicurigai terlibat dalam kejadian ini, bahwa dialah yang bersekongkol melawannya. Namun masa hidup Sultan setelahnya tidak lama, hanya tiga puluh lima hari. Dalam hal itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.
Ketika penduduk Baghdad mendengar kematian Nizham, mereka berduka cita atas kepergiannya. Wazir dan para pembesar duduk untuk menerima takziah selama tiga hari. Para penyair meratapi kematiannya, di antaranya Muqatil bin Athiyyah yang berkata:
Wazir Nizham al-Mulk adalah mutiara Yang unik, diciptakan oleh ar-Rahman dari kemuliaan. Ia sangat berharga sehingga masa tidak mengenal nilainya, Maka Allah mengembalikannya karena cemburu kepada kerang.
Ibnu Aqil, Ibnu al-Jauzi, dan lainnya memujinya, semoga Allah merahmatinya.
Abdul Baqi bin Muhammad bin al-Husain bin Daud bin Naqiya
Abu al-Qasim asy-Sya’ir (penyair), penduduk Harim ath-Thahiri. Ia lahir pada tahun empat ratus sepuluh Hijriah. Ia mendengar hadits dan sangat mahir. Sebagian orang menuduhnya menganut pendapat orang-orang terdahulu dan bahwa ia berkata: “Di langit terdapat sungai air, sungai susu, sungai khamr, dan sungai madu. Tidak ada yang jatuh dari itu ke bumi kecuali ini yang merusak rumah dan meruntuhkan atap.” Perkataan ini adalah kekufuran dari yang mengatakannya, semoga Allah melaknatnya. Hal ini dinukil darinya oleh Ibnu al-Jauzi dalam al-Munthadzam. Diceritakan dari seseorang bahwa di telapak tangannya ditemukan tulisan ketika ia meninggal berisi dua bait syair ini:
Aku singgah pada tetangga yang tamunya tidak akan kecewa, Aku berharap selamat dari azab neraka. Dan sesungguhnya aku, meskipun takut kepada Allah, yakin Akan karunia-Nya, dan Allah lebih mulia dari yang memberi.
Malik bin Ahmad bin Ali bin Ibrahim
Abu Abdullah al-Baniyasi asy-Syami. Ia memiliki nama lain yang diberikan ibunya: Ali Abu al-Hasan, tetapi nama yang diberikan ayahnya lebih dikenal. Ia mendengar hadits dari banyak guru dan merupakan orang terakhir yang meriwayatkan hadits dari Abu al-Hasan bin ash-Shalt. Ia meninggal dalam kebakaran Pasar ar-Raihaniyyin pada usia delapan puluh delapan tahun. Ia adalah orang yang terpercaya di kalangan ahli hadits.
Sultan Malikshah
Sultan yang agung Jalal ad-Daulah, Abu al-Fath Malikshah bin Abi Syuja’ Alp Arslan bin Daud bin Mika’il bin Saljuq bin Taqaq at-Turki. Ia menguasai Baghdad sebagaimana telah kami sebutkan. Kerajaannya membentang dari ujung negeri Turki hingga ujung negeri Yaman. Para raja dari berbagai wilayah dan negeri mengirim utusan kepadanya, termasuk raja Romawi, Khazar, dan Alan. Pemerintahannya tegas dan jalan-jalan pada masanya aman. Meskipun ia sangat berkuasa, ia mau berhenti untuk orang miskin, wanita, dan orang lemah, lalu memenuhi kebutuhan mereka.
Ia telah membangun bangunan-bangunan yang megah, mendirikan jembatan-jembatan, menghapus berbagai pajak dan pungutan, menggali sungai-sungai besar yang telah rusak, membangun madrasah Abu Hanifah dan pasar, membangun masjid yang disebut Masjid Sultan di Baghdad, membangun menara al-Qurun dari hasil buruannya di Kufah, dan yang serupa di seberang sungai. Ia mencatat apa yang ia buru sendiri dalam perburuannya, dan jumlahnya mencapai sekitar sepuluh ribu buruan. Ia bersedekah sepuluh ribu dirham dan berkata: “Aku takut kepada Allah Ta’ala bahwa aku telah merenggut nyawa hewan yang tidak untuk dimakan.”
Ia memiliki perbuatan-perbuatan baik dan kehidupan yang saleh. Di antaranya adalah ketika seorang petani melaporkan kepadanya bahwa para pelayan Sultan telah mengambil muatan semangka miliknya yang merupakan modal utamanya. Ia berkata: “Hari ini aku akan mengembalikan muatanmu.” Kemudian ia berkata kepada pengurusnya: “Aku ingin kalian membawakan semangka hari ini.” Mereka mencari dan menemukan semangka di tenda penghulu istana, lalu membawanya kepadanya. Ia memanggil penghulu istana dan berkata: “Dari mana kamu mendapat semangka ini?” Ia menjawab: “Para pelayan membawanya.” Sultan berkata: “Hadirkan mereka.” Penghulu pergi dan membuat mereka melarikan diri. Sultan mengirim utusan dan membawa penghulu itu kembali, lalu menyerahkannya kepada petani sambil berkata: “Pegang tangannya, sebab ia adalah budakku dan budak ayahku, dan jangan sekali-kali melepaskannya.” Muatan petani dikembalikan, lalu petani keluar membawanya dengan penghulu dipegang tangannya. Akhirnya penghulu menebus dirinya dari petani dengan tiga ratus dinar.
Ketika ia berangkat untuk memerangi saudaranya Takasy, ia melewati Tus dan masuk untuk berziarah ke makam Ali bin Musa ar-Ridha bersama Nizham al-Mulk. Ketika mereka keluar, ia berkata kepada Nizham: “Apa yang kamu doakan?” Ia menjawab: “Aku berdoa kepada Allah agar memberikanmu kemenangan atas saudaramu.” Sultan berkata: “Tetapi aku berdoa: Ya Allah, jika saudaraku lebih baik bagi kaum muslimin, maka menangkanlah dia atasku, dan jika aku lebih baik bagi mereka, maka menangkan aku atasnya.”
Malikshah ini berjalan dengan pasukannya dari Isfahan ke Antakiyah, dan tidak diketahui ada seorang pun dari pasukannya yang menzalimi seorang pun dari rakyatnya.
Seorang Turkoman mengadu kepadanya bahwa seorang lelaki telah menghilangkan keperawanan putrinya, dan ia ingin diberi izin untuk membunuhnya. Sultan berkata kepadanya: “Wahai orang ini, seandainya putrimu mau, ia tidak akan memberikan dirinya kepadanya. Jika kamu tetap ingin melakukannya, bunuhlah putrimu bersamanya.” Lelaki itu terdiam. Sultan berkata kepadanya: “Atau ada yang lebih baik dari itu?” Ia berkata: “Apa itu?” Sultan berkata: “Keperawanan putrimu telah hilang, maka nikahkan ia dengan lelaki itu, dan aku akan memberikan mas kawinnya dari baitul mal secukupnya.” Maka ia pun melakukannya.
Seorang pengkhotbah menceritakan kepadanya bahwa Kisra suatu hari melewati sebuah desa dalam salah satu perjalanannya, terpisah dari pasukannya. Ia berhenti di pintu sebuah rumah dan meminta minum. Seorang budak perempuan keluar membawakan kepadanya bejana berisi air tebu dengan es. Ia meminumnya dan sangat menyukainya, lalu bertanya: “Bagaimana kalian membuat ini?” Budak itu menjawab, “Mudah bagi kami memerasnya dengan tangan kami.” Ia meminta minuman kedua. Budak itu pergi untuk membawakannya, namun terbersit dalam pikiran Kisra untuk mengambil tempat ini dari mereka dan memberikan ganti rugi. Budak itu terlambat kembali, kemudian keluar tanpa membawa apa-apa. Kisra bertanya: “Ada apa?” Ia menjawab, “Sepertinya niat sultan kami berubah terhadap kami, sehingga sulit bagi saya memerasnya”—padahal ia tidak tahu bahwa dialah sang sultan. Kisra berkata: “Pergilah, sekarang kamu pasti bisa melakukannya.” Dan ia mengubah niatnya kepada hal lain. Budak itu pergi dan segera membawakan minuman kedua. Ia meminumnya lalu pergi.
Sultan Malikshah berkata kepadanya: “Ini cocok untukku, tetapi ceritakan kepada rakyat kisah Kisra yang lain ketika ia melewati sebuah kebun dan meminta setandan buah anggur mentah dari penjaganya karena ia menderita penyakit kuning dan kehausan. Penjaga kebun berkata kepadanya: ‘Sesungguhnya sultan belum mengambil haknya darinya, maka aku tidak bisa memberikan sesuatu kepadamu darinya.'” Orang-orang kagum dengan kecerdasan raja dan kecepatannya mengingat kisah ini sebagai tandingan dari kisah yang pertama.
Dua petani mengadu kepada Sultan tentang Amir Khumartekin yang telah mengambil harta banyak dari mereka berdua dan mematahkan gigi seri mereka. Mereka berkata: “Kami mendengar tentang keadilanmu di dunia. Jika engkau memberikan hukuman qisas dari dia sebagaimana Allah memerintahkanmu, atau kami akan mengadukanmu kepada Allah pada hari Kiamat.” Mereka memegang sanggurdinya, maka ia turun dari kudanya dan berkata kepada mereka berdua, “Peganglah lengan bajuku dan seretlah aku ke rumah Nizham Al-Mulk.” Mereka takut melakukan itu. Ia bersikeras, maka mereka melakukan apa yang diperintahkannya. Ketika berita kedatangan sultan mencapai Nizham, ia keluar tergesa-gesa dari kemahnya. Sultan berkata kepadanya: “Aku hanya menunjukmu untuk membela pihak yang teraniaya dari yang menyaniyainya.” Ia segera menulis pemecatan Khumartekin, pencabutan tanah jaganya, bahwa harta mereka harus dikembalikan, dan bahwa gigi serinya dicabut jika kesaksian ditegakkan terhadapnya. Sultan memerintahkan dari kantongnya sendiri seratus dinar untuk mereka berdua.
Suatu kali ia menghapus beberapa pajak. Seorang pengawas keuangan berkata kepadanya: “Wahai sultan dunia, ini setara dengan enam ratus ribu dinar atau lebih.” Ia berkata: “Celakalah engkau! Sesungguhnya harta adalah milik Allah, hamba-hamba adalah milik-Nya, negeri-negeri adalah milik-Nya, dan hanya ini yang tersisa bagiku. Siapa yang menantangku dalam hal ini, akan kucincang lehernya.” Seorang wanita cantik bernyanyi untuknya, ia terpikat dan jiwanya menginginkannya, ia hampir mendekatinya. Wanita itu berkata: “Wahai raja, aku cemburu pada wajah tampan ini dari api neraka, dan antara halal dan haram hanya satu kata.” Ia memanggil qadhi dan menikahkannya dengannya.
Ibnu Al-Jauzi menyebutkan dari Ibnu Aqil bahwa Sultan Malikshah akidahnya sempat rusak karena bergaul dengan sebagian kelompok Bathiniyyah, kemudian ia berlepas diri dari itu dan kembali kepada kebenaran.
Disebutkan bahwa Ibnu Aqil menulis untuknya sesuatu tentang dalil penetapan Sang Pencipta. Kami telah menyebutkan bahwa ketika ia kembali ke Baghdad untuk terakhir kalinya, ia bertekad memaksa khalifah keluar darinya. Khalifah meminta penundaan sepuluh hari, namun sultan jatuh sakit dan meninggal sebelum sepuluh hari berlalu.
Kematiannya terjadi pada malam Jumat pertengahan bulan Syawal di usia tiga puluh tujuh tahun lima bulan. Masa pemerintahannya dari itu adalah sembilan belas tahun beberapa bulan. Ia dimakamkan di Asy-Syauniziyyah, dan tidak ada seorang pun yang menshalatkannya karena ketatnya kerahasiaan urusan ini. Penyakitnya adalah demam, dan dikatakan bahwa ia diracuni, wallahualam.
Pendiri At-Tajiyyah di Baghdad
Al-Marzaban bin Khusrau Taj Al-Mulk, wazir Abu Al-Ghanaim, pendiri At-Tajiyyah tempat Abu Bakar Asy-Syasyi mengajar. Ia membangun makam Syekh Abu Ishaq. Sultan Malikshah ingin menjadikannya wazir menggantikan Nizham Al-Mulk, namun ia meninggal dengan cepat. Lalu ia menjadi wazir untuk putranya Mahmud. Ketika saudaranya Barkiyaruq mengalahkannya, para ghulam Nizham membunuhnya dan memotong-motongnya pada bulan Dzulhijjah tahun ini.
Hibatullah bin Abdul Warits bin Ali bin Ahmad bin Buri
Abu Al-Qasim Asy-Syirazi, salah satu pengembara yang berkeliling ke berbagai penjuru. Ia adalah seorang hafizh yang terpercaya, beragama, wara’, memiliki keyakinan dan perilaku yang baik. Ia memiliki kitab sejarah yang bagus. Penuntut ilmu datang kepadanya dari Baghdad dan tempat lain. Semoga Allah merahmatinya.
Tahun Delapan Puluh Enam Empat Ratus Enam
Pada tahun ini, seorang pria bernama Ardasir bin Manshur Abu Al-Husain Al-Abbadi tiba di Baghdad dalam perjalanan pulangnya dari haji. Ia singgah di An-Nizhamiyyah dan berkhotbah kepada orang-orang. Al-Ghazali, pengajar tempat itu, menghadiri majelisnya. Orang-orang berdesakan dalam majelis khotbahnya dan bertambah banyak di majlis-majlis setelahnya. Banyak orang meninggalkan mata pencaharian mereka. Dalam beberapa kesempatan, hampir tiga puluh ribu orang dari laki-laki dan perempuan menghadiri majelisnya. Banyak orang bertobat dan menetap di masjid-masjid. Minuman keras ditumpahkan, alat-alat musik dihancurkan. Orang itu sendiri saleh, memiliki ibadah dan kezuhudan yang melimpah, memiliki keadaan yang baik. Orang-orang berebut sisa air wudhunya, bahkan kadang mengambil dari tempat wudhunya untuk mencari berkah.
Ibnu Al-Jauzi menyampaikan bahwa suatu kali ia menginginkan anggur Syam dan es pada salah seorang sahabatnya. Orang itu menjelajahi seluruh kota tetapi tidak menemukannya. Ia kembali dan menemukan Syekh dalam khalwatnya. Ia bertanya: “Apakah ada yang datang kepada Syekh hari ini?” Dikatakan kepadanya: “Seorang wanita datang dan berkata: ‘Aku memintal dengan tanganku sendiri dan menjualnya. Aku ingin membeli sesuatu istimewa untuk Syekh.'” Ia menolak. Wanita itu menangis. Ia kasihan padanya dan berkata: “Pergilah dan belilah.” Ia berkata: “Apa yang engkau inginkan?” Ia berkata: “Apa saja yang kamu mau.” Wanita itu pergi dan membawakan anggur Syam dan es, lalu ia memakannya.
Seseorang berkata: “Aku masuk menemuinya saat ia minum kuah. Aku berkata dalam hati, andai ia memberiku sisanya untuk kuminum demi menghafal Alquran.” Ia memberiku sisanya dan berkata: “Minumlah dengan niat itu.” Ia berkata: “Allah menganugerahiku hafalan Alquran.” Ia memiliki ibadah dan mujahadah. Kemudian terjadi bahwa ia berbicara tentang jual beli qiradh dengan harga sebenarnya, lalu ia dilarang duduk (mengajar) dan diusir dari kota.
Pada tahun ini, Tutush bin Alp Arslan, penguasa Damaskus, menyerukan kesultanan untuk dirinya sendiri dan meminta dari khalifah agar khutbah dibacakan untuknya di Irak. Penundaan terjadi karena keponakan Barkiyaruq bin Malikshah. Ia pergi ke Ar-Rahhah dengan ditemani dan ditaati oleh Aq Sunqur Qasim Ad-Daulah, penguasa Aleppo, dan Buzan, penguasa Ar-Raha. Ia menaklukkan Ar-Rahhah, kemudian pergi ke Mosul dan mengambilnya dari penguasanya, Ibrahim bin Quraish bin Badran. Ia mengalahkan pasukannya dari Bani Uqail dan membunuh banyak panglima. Demikian juga ia mengambil Diyar Bakr dan menjadikan Al-Kafi bin Fakhruddin bin Jahir sebagai wazir. Ia juga mengambil Hamadzan, Khilatth, menaklukkan Azerbaijan, dan urusannya berkembang pesat. Kemudian kedua panglima Aq Sunqur dan Buzan meninggalkannya dan pergi kepada Raja Barkiyaruq. Tutush tinggal sendirian, maka keponakannya Barkiyaruq mengambil kesempatan darinya. Tutush kembali dan menyusul Qasim Ad-Daulah Aq Sunqur dan Buzan di gerbang Aleppo. Ia mengalahkan mereka berdua, menangkap Buzan dan Aq Sunqur, lalu menyalib mereka berdua. Ia mengirim kepala Buzan untuk diarak keliling Harran dan Ar-Raha, lalu menguasainya setelahnya.
Pada tahun ini terjadi fitnah antara Rafidhah dan Ahlusunnah, dan banyak keburukan menyebar di antara mereka. Pada tanggal dua Syaban, lahir khalifah Al-Mustarshid Billah Abu Manshur Al-Fadhl bin Abi Al-Abbas Ahmad Al-Mustadzhir. Khalifah bergembira dengannya dan menjadikannya putra mahkota yang bahagia.
Pada bulan Dzulqaidah, Sultan Barkiyaruq memasuki Baghdad. Wazir Abu Manshur bin Jahir keluar menemuinya dan memberikan ucapan selamat atas nama khalifah atas kedatangannya.
Pada tahun ini, Al-Mustanshir Al-Ubaidi mengambil kota Shur dari tanah Syam. Tidak ada seorang pun dari penduduk Irak yang berhaji tahun ini.
Yang Meninggal di Antaranya dari Tokoh-Tokoh:
Ja’far bin Al-Muqtadi Biamrillah dari Khatun binti Sultan Malikshah, pada Jumadal Ula. Wazir duduk untuk menerima belasungkawa selama tiga hari.
Sulaiman bin Ibrahim bin Muhammad bin Sulaiman
Abu Mas’ud Al-Ashbahani mendengar banyak hadits, menyusun kitab, dan mengeluarkan hadits atas Shahihain. Ia memiliki pengetahuan hadits yang baik, mendengar dari Ibnu Mardawaih, Abu Nuaim, dan Al-Barqani. Al-Khatib dan lainnya menulis darinya. Kematiannya pada Dzulqaidah di usia delapan puluh sembilan tahun.
Abdul Wahid bin Ahmad bin Al-Husain Ad-Daskari
Abu Sa’d, ahli fikih Syafi’i. Ia bergaul dengan Abu Ishaq Asy-Syirazi dan meriwayatkan hadits. Ia berkata: “Tubuhku ini tidak pernah bermaksiat dalam kenikmatan sedikitpun.” Ia meninggal pada Rajab tahun ini dan dimakamkan di Bab Harb.
Ali bin Ahmad bin Yusuf bin Ja’far
Abu Al-Hasan Al-Hakari datang ke Baghdad dan singgah di ribath Az-Zauzani. Ia memiliki beberapa ribath yang telah dibangunnya. Ia mendengar hadits dan lebih dari satu hafizh meriwayatkan darinya. Ia berkata: “Aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam mimpi di Raudhah. Aku berkata: ‘Ya Rasulullah, berilah aku wasiat.’ Ia berkata: ‘Hendaklah engkau berpegang pada akidah Ahmad bin Hanbal dan mazhab Asy-Syafi’i, dan jauhilah bergaul dengan ahli bid’ah.'” Kematiannya pada Muharram tahun ini.
Ali bin Muhammad bin Muhammad
Abu Al-Hasan Al-Khatib Al-Anbari yang dikenal dengan Ibnu Al-Akhdhar. Ia mendengar dari Abu Muhammad Al-Fardhi dan dialah orang terakhir yang meriwayatkan darinya. Kematiannya pada Syawal di usia sembilan puluh lima tahun.
Abu Nashr, Ibnu Makula Ali bin Hibatullah bin Ja’far bin Alakan bin Muhammad bin Dalf bin Abi Dalf
Amir Abu Nashr, lahir tahun empat ratus dua. Ia mendengar banyak hadits dan termasuk para hafizh. Ia memiliki kitab “Al-Ikmal fi Al-Mu’talif wa Al-Mukhtalif” yang menggabungkan kitab Abdul Ghani bin Sa’id dan kitab Ad-Daraquthni serta lainnya, dan menambahkan banyak hal penting yang baik dan bermanfaat. Ia adalah ahli nahwu yang unggul, fasih ungkapannya, dan memiliki syair yang baik.
Ibnu Al-Jauzi berkata: “Aku mendengar guru kami Abdul Wahhab mencela agamanya dan berkata: ‘Ilmu membutuhkan agama.'” Ia terbunuh di Khuzistan pada tahun ini atau tahun setelahnya dalam usia lebih dari delapan puluh tahun, demikian disebutkan Ibnu Al-Jauzi.
Tahun Delapan Puluh Tujuh Empat Ratus Tujuh
Pada tahun ini terjadi wafat Khalifah Al-Muqtadi dan khilafah putranya Al-Mustadzhir Billah.
Sifat Kematiannya
Ketika Sultan Barkiyaruq tiba di Baghdad, ia meminta dari khalifah agar menulis kitab kesultanan untuknya yang berisi perjanjian kepadanya. Kitab itu ditulis dan pakaian kebesaran disiapkan dan ditunjukkan kepada khalifah. Kitab itu dibacakan pada hari Jumat tanggal empat belas Muharram. Kemudian makanan dihidangkan kepadanya. Ia makan seperti biasa dalam keadaan sangat sehat. Kemudian ia mencuci tangannya dan duduk melihat surat perjanjian setelah menandatanganinya. Di dekatnya ada seorang pengurus rumah tangga bernama Syams An-Nahar. Ia berkata: “Ia melihat kepadaku dan berkata: ‘Siapa orang-orang yang masuk ke kita tanpa izin ini?’ Aku menoleh tetapi tidak melihat siapa pun. Aku melihatnya keadaannya berubah, tangan dan kakinya lemas, kekuatannya lepas, dan ia jatuh ke tanah. Aku menyangka ia pingsan, maka aku membuka kancing pakaiannya. Ternyata ia tidak merespons panggilan. Aku menutup pintu dan keluar, lalu memberitahu putra mahkota tentang hal itu.” Para panglima dan kepala negara datang memberikan belasungkawa atas ayahnya dan mengucapkan selamat atas khilafah, lalu mereka membaiatnya. Wallahualam.
Riwayat Al-Muqtadi Biamrillah
Dialah Amirul Mukminin Al-Muqtadi Biamrillah Abu Al-Qasim Abdullah bin Adz-Dzakhirah bin Amirul Mukminin Al-Qaim Biamrillah bin Al-Qadir Billah Al-Abbasi. Ibunya adalah seorang budak perempuan bernama Arjuwan, seorang Armenia yang menyaksikan khilafah putranya, khilafah cucunya Al-Mustadzhir, dan cicit Al-Mustarshid juga. Al-Muqtadi berkulit putih, bertubuh sempurna, indah sikapnya. Di zamannya, banyak tempat di Baghdad dibangun. Ia mengusir para penyanyi, pemilik alat musik, dan kemaksiatan. Ia sangat cemburu terhadap kehormatan orang-orang, menyuruh kepada kebaikan, melarang kemungkaran, baik perilaku lahir dan batinnya, rahimahullah. Kematiannya terjadi pada hari Jumat tanggal empat belas Muharram tahun ini, di usia tiga puluh delapan tahun delapan bulan sembilan hari. Khilafahnya dari itu adalah sembilan belas tahun delapan bulan kurang dua hari. Kematiannya disembunyikan tiga hari hingga pembaiatan untuk putranya Al-Mustadzhir diperkokoh, kemudian ia dishalatkan dan dimakamkan di makam mereka, wallahualam.
Khilafah Al-Mustadzhir Billah Abu Al-Abbas Ahmad
Ketika ayahnya meninggal pada hari Jumat, ia dihadirkan dalam usia enam belas tahun dua bulan, lalu dibaiat untuk khilafah. Yang pertama membaiatnya adalah wazir Abu Manshur bin Jahir, kemudian pembaiatan diambil untuknya dari Raja Rukn Ad-Daulah Barkiyaruq bin Sultan Malikshah, kemudian dari sisa panglima dan pemimpin. Para panglima, wazir, dan dari kalangan ulama, hadir Al-Ghazali, Asy-Syasyi, dan Ibnu Aqil, dan mereka membaiatnya pada hari itu. Al-Mustadzhir Billah memiliki akhlak yang mulia, hafal Alquran, fasih, pandai, dan penyair ulung. Di antara syairnya yang indah, ia berkata:
Panas dahaga mencairkan di dalam hati apa yang padam Suatu hari aku mengulurkan tangan pada jejak perpisahan
Bagaimana aku menempuh jalan kesabaran padahal Aku melihat jalan-jalan di jurang cinta terpotong-potong
Telah mengingkari janji bulan yang aku jatuh cinta padanya Setelah menepati janji sepanjang masa dengan apa yang dijanjikan
Jika aku mengingkari ikrar cinta dalam hatiku Setelah ini, maka tidak akan pernah aku melihatnya selamanya
Al-Mustadzhir menyerahkan urusan-urusan khilafah kepada wazirnya Abu Manshur Amid Ad-Daulah bin Jahir. Ia mengurusnya dengan sebaik-baik pengurusan, menyempurnakan urusan dengan kesempurnaan penuh, dan mengatur rakyat. Ia termasuk wazir-wazir terbaik.
Pada tanggal tiga belas Syaban, khalifah memberhentikan Abu Bakar Asy-Syasyi dari jabatan qadhi dan menyerahkannya kepada Abu Al-Hasan bin Ad-Damaghani.
Pada tahun ini terjadi fitnah antara Ahlusunnah dan Rafidhah. Banyak tempat dibakar dan banyak orang terbunuh, innalillahi wainna ilaihi rajiun.
Tidak ada seorang pun yang berhaji pada tahun ini karena perselisihan para sultan. Khutbah untuk Sultan Barkiyaruq Rukn Ad-Daulah dibacakan pada hari Jumat tanggal empat belas Muharram, yaitu hari khalifah Al-Muqtadi Biamrillah meninggal setelah menandatangani suratnya.
Di antara tokoh-tokoh terkemuka yang meninggal pada tahun itu:
Aq Sunqur al-Atabek, yang bergelar Qasim al-Daulah al-Saljuqi, dikenal dengan sebutan al-Hajib, penguasa Aleppo, Diyar Bakr, dan al-Jazirah. Ia adalah kakek dari Raja Nuruddin Mahmud bin Zangi bin Aq Sunqur. Pada awalnya ia adalah salah satu sahabat terdekat Sultan Malikshah bin Alp Arslan al-Saljuqi, kemudian kedudukannya meningkat di sisi Sultan hingga Sultan memberikan kepadanya Aleppo dan wilayah-wilayahnya atas saran Menteri Nizham al-Mulk. Ia termasuk raja yang paling baik kepemimpinannya dan paling baik akhlaknya. Rakyat hidup dalam keamanan, kemakmuran, dan keadilan di bawah pemerintahannya. Kemudian kematiannya terjadi di tangan Sultan Taj al-Daulah Tutush, penguasa Damaskus. Yang terjadi adalah Aq Sunqur meminta bantuan kepadanya dan kepada penguasa Harran dan al-Ruha untuk memerangi keponakan Sultan yaitu Barkiyaruq bin Malikshah, namun mereka melarikan diri dan meninggalkannya. Maka ia melarikan diri ke Damaskus. Setelah Sultan Tutush menguasai situasi, ia memerangi mereka berdua di gerbang Aleppo, membunuh keduanya dan merebut wilayah mereka kecuali Aleppo yang kemudian jatuh ke tangan anak Aq Sunqur yaitu Zangi pada tahun 523 H, sebagaimana akan dijelaskan kemudian.
Ibnu Khallikan menyebutkan bahwa ia adalah budak Sultan Malikshah, begitu juga Buzan penguasa al-Ruha. Ketika Tutush menguasai Aleppo, ia mengangkatnya sebagai wakil di sana, namun ia memberontak. Maka Tutush yang juga telah menguasai Damaskus mendatanginya dan memeranginya, kemudian membunuhnya pada tahun ini di bulan Jumadil Ula. Setelah ia terbunuh, anaknya Imaduddin Zangi menguburkannya di Aleppo dengan memasukkannya dari atas tembok kota ke Madrasah al-Zujajiyyah.
Amir al-Juyush Badr al-Jamali
Panglima tentara Mesir dan pengatur urusan kerajaan-kerajaan Fathimiyyah. Ia adalah orang yang bijaksana, dermawan, mencintai para ulama – dan mereka memiliki jatah tetap darinya. Ia sangat berkuasa di masa al-Mustanshir, kendali segala urusan ada di tangannya. Ia menaklukkan banyak negeri, masa hidupnya panjang, namanya harum, dan para penyair memujinya. Kemudian ia meninggal pada bulan Dzulqaidah tahun ini, dan urusan dilanjutkan oleh anaknya al-Afdhal setelahnya.
Khalifah al-Muqtadi
Sebagian biografinya telah disebutkan sebelumnya.
Khalifah al-Mustanshir al-Fathimi
Abu Tamim, Ma’ad bin Abi al-Hasan Ali bin al-Hakim. Masa kekhalifahannya berlangsung enam puluh tahun, dan tidak ada khalifah sebelum atau sesudahnya yang mencapai masa seperti ini. Ia telah mewasiatkan kekhalifahan kepada anaknya Nizar, namun al-Afdhal bin Badr al-Jamali memberhentikannya setelah kematian ayahnya, dan membai’at Abu al-Qasim Ahmad bin al-Mustanshir, saudara Nizar, dengan gelar al-Musta’li. Maka Nizar melarikan diri ke Iskandariah dan mengumpulkan orang-orang untuk berbai’at kepadanya. Hakim Iskandariah Jalaluddin bin Ammar menangani urusannya. Al-Afdhal mendatanginya dan memeranginya berkali-kali namun mereka mengalahkannya. Al-Afdhal berhasil menangkap sang hakim dan Nizar. Ia membunuh sang hakim dan memenjarakan Nizar hingga ia meninggal. Al-Musta’li pun kokoh dalam kekhalifahannya pada usia dua puluh satu tahun.
Muhammad bin Abi Hasyim
Amir Makkah. Ia meninggal pada tahun ini pada usia lebih dari sembilan puluh tahun.
Mahmud bin Sultan Malikshah
Ibunya telah mengangkatnya sebagai raja dan menghabiskan banyak harta untuk kepentingannya. Kemudian saudaranya Barkiyaruq melawannya dan mengalahkannya. Ia tinggal di negerinya Isfahan, kemudian meninggal di sana pada tahun ini dan dibawa ke Baghdad untuk dikuburkan di al-Turbah al-Nizhamiyyah. Ia adalah orang yang paling tampan wajahnya dan paling menawan penampilannya. Ia meninggal pada bulan Syawal tahun ini. Ibunya al-Khatun Turkan Shah meninggal pada bulan Ramadhan tahun yang sama.
Kemudian Tahun Empat Ratus Delapan Puluh Delapan Dimulai
Pada tahun ini, Yusuf bin Abuq al-Turkmani datang dari pihak Taj al-Daulah Abu Sa’id Tutush bin Alp Arslan penguasa Damaskus, ke Baghdad untuk menegakkan dakwah baginya di Baghdad. Tutush telah pergi untuk memerangi keponakannya di wilayah al-Rayy. Ketika utusannya memasuki Baghdad, orang-orang takut dan khawatir kepadanya. Khalifah memanggilnya dan mendekatkannya, dan ia mencium tanah di hadapan Khalifah. Penduduk Baghdad bersiap-siap menghadapinya dan takut mereka akan dirampok. Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba saudaranya datang dan mengabarkan kepadanya bahwa Tutush terbunuh di antara orang-orang pertama yang terbunuh dalam pertempuran tersebut. Kematiannya terjadi pada tanggal 17 Safar tahun ini. Maka urusan Barkiyaruq menjadi kuat dan ia memegang kendali penuh atas segala urusan. Duqaq bin Tutush bersama ayahnya ketika ayahnya terbunuh. Ia pergi ke Damaskus dan menerimanya dari Amir Sawutakin yang ditunjuk sebagai wakil oleh ayahnya. Ia mengangkat Abu al-Qasim al-Khawarizmi sebagai menteri. Abdullah bin Tutush menguasai kota Aleppo dan pengatur kerajaannya adalah Janah al-Daulah al-Husain bin Aitakin. Ridwan bin Tutush adalah penguasa kota Aleppo dan kepadanyalah dinisbahkan Bani Ridwan di sana. Pada hari Jumat tanggal 19 Rabi’ul Awwal tahun ini, khutbah disampaikan untuk putra mahkota Abu al-Manshur al-Fadhl bin al-Mustazhir dengan gelar Dzakhirah al-Din.
Pada bulan Rabi’ul Akhir, menteri Ibnu Jahir keluar dan merancang tembok di al-Harim dan mengizinkan rakyat umum untuk bekerja dan berekreasi. Mereka menampakkan banyak kemungkaran dan kebodohan yang menunjukkan lemahnya akal, dan melakukan hal-hal yang munkar. Maka Ibnu Aqil mengirimkan surat kepadanya berisi kata-kata keras dan pengingkaran yang tidak baik.
Pada bulan Ramadhan, Sultan Barkiyaruq keluar lalu seorang pembunuh menyerangnya namun tidak berhasil. Maka ia ditangkap, disiksa, dan mengaku ada orang lain yang terlibat, namun mereka tidak mengaku. Maka ketiga orang itu dibunuh. Dan seorang sida-sida (hadim istana) datang dari pihak Khalifah untuk memberi selamat kepadanya atas keselamatannya.
Pada bulan Dzulqaidah tahun ini, Abu Hamid al-Ghazali keluar dari Baghdad menuju Baitul Maqdis, meninggalkan pengajaran di Madrasah Nizhamiyyah, berzuhud terhadap dunia, memakai pakaian kasar setelah sebelumnya memakai pakaian bagus. Saudaranya menggantikannya dalam mengajar. Ia kembali pada tahun ketiga sejak kepergiannya, kemudian menunaikan haji, lalu kembali ke negerinya. Ia telah menyusun kitab Ihya dalam masa ini, dan setiap hari banyak orang berkumpul kepadanya di ribath untuk mendengarkannya.
Pada hari Arafah, hakim Abu al-Faraj Abdurrahman bin Hibatullah bin al-Busti dikabuli (diberi jubah kehormatan) dengan gelar Syaraf al-Qudhat, dan dikembalikan kepada jabatan hakim di al-Harim dan tempat lainnya.
Pada tahun ini terjadi perdamaian antara penduduk al-Karkh dari kalangan Sunni dan Rafidhah (Syiah) dengan penduduk wilayah lainnya. Mereka saling mengunjungi, saling makan, dan saling minum. Ini adalah hal yang menakjubkan. Pada tahun ini Ahmad Khan penguasa Samarqand dibunuh. Sebabnya adalah ia disaksikan telah melakukan zindiq (kafir), maka ia dicekik dan digantikan oleh sepupunya Mas’ud.
Pada tahun ini orang-orang Turki memasuki Afrika dan mengkhianati Yahya bin Tamim bin al-Mu’izz bin Badis. Mereka menangkapnya dan menguasai negerinya serta membunuh banyak orang, setelah terjadi peperangan hebat antara mereka dengannya. Pemimpin mereka adalah seorang laki-laki bernama Syah Malik yang berasal dari keturunan salah satu amir Timur. Ia datang ke Mesir dan bekerja di sana kemudian melarikan diri ke Maghrib dan melakukan apa yang telah disebutkan. Tidak ada orang dari penduduk Irak yang menunaikan haji pada tahun ini.
Di antara tokoh-tokoh terkemuka yang meninggal pada tahun itu:
Ahmad bin al-Hasan bin Ahmad bin Khairun
Abu al-Fadhl yang dikenal dengan sebutan Ibnu al-Baqilani. Ia banyak mendengar hadits, dan al-Khatib menulis darinya. Ia memiliki pengetahuan yang baik dan termasuk orang-orang tsiqah (terpercaya). Ia menjadi saksi di hadapan Abu Abdullah al-Damighani, kemudian menjadi amien (orang kepercayaan) baginya, kemudian diangkat menjadi pengawas gudang hasil bumi. Ia meninggal pada bulan Rajab dalam usia delapan puluh dua tahun.
Tutush Abu al-Muzhaffar
Taj al-Daulah bin Alp Arslan bin Daud bin Mika’il bin Saljuq, penguasa Damaskus dan negeri-negeri lainnya. Urusan dan kekuasaannya sempat mengalahkan keponakannya Barkiyaruq bin Malikshah bin Alp Arslan, namun Allah menentukan apa yang Dia kehendaki. Sebagaimana al-Mutanabbi berkata:
Bagi Allah ada rahasia dalam kemuliaan Anda, sesungguhnya Kata-kata musuh adalah jenis delusi
Ibnu Khallikan berkata: Ia adalah penguasa wilayah-wilayah Timur. Atsiz meminta bantuannya dalam memerangi Amir al-Juyush dari pihak penguasa Mesir. Ketika ia tiba di Damaskus untuk menolongnya dan Atsiz keluar menemuinya, ia memerintahkan untuk menangkap dan membunuhnya, dan ia sendiri menguasai Damaskus dan wilayah-wilayahnya pada tahun 471 H. Kemudian ia berperang dengan keponakannya Barkiyaruq di wilayah al-Rayy, namun ia dikalahkan oleh keponakannya dan ia terbunuh dalam pertempuran. Anaknya Ridwan menguasai Aleppo hingga tahun 507 H. Ibunya meracuninya dengan setandan anggur. Urusan dilanjutkan setelahnya oleh anaknya Taj al-Mulk Buri selama empat tahun, kemudian anak yang lain Syamsul Muluk Ismail selama tiga tahun, kemudian ibunya juga membunuhnya – ibunya adalah Zumurrud Khatun binti Jawali – dan mengangkat saudaranya Syihabuddin Mahmud bin Buri. Ia berkuasa selama empat tahun, kemudian saudaranya berkuasa selama satu tahun, kemudian Muhyiddin Abuq berkuasa dari tahun 534 H hingga kekuasaan diambil darinya oleh Nuruddin Mahmud bin Zangi sebagaimana akan disebutkan kemudian. Atabek al-Asakir (panglima pasukan) di Damaskus di masa Abuq adalah Mu’inuddin, yang kepadanya dinisbahkan al-Mu’iniyyah di al-Ghutah, dan Madrasah al-Mu’iniyyah di Damaskus.
Rizqullah bin Abdul Wahhab bin Abdul Aziz
Abu Muhammad al-Tamimi, salah satu imam qurra (ahli qiraah) dan fuqaha – pada madzhab Ahmad – dan hadits. Ia memiliki majelis untuk nasihat dan halaqah untuk fatwa di Masjid al-Manshur kemudian di Masjid al-Qashr. Ia tampan, dicintai oleh rakyat umum, memiliki syair yang baik, dan sangat tekun beribadah, fasih berbicara, baik dalam berdebat. Ia meriwayatkan melalui leluhurnya hadits musalsil hingga sampai kepada Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah yang berkata: “Ilmu berseru kepada amal, jika ia menjawab maka ia tetap, jika tidak maka ia pergi.” Ia memiliki kedudukan tinggi di sisi Khalifah yang mengutusnya dalam tugas-tugas penting sebagai utusan kepada Sultan. Ia meninggal pada hari Selasa pertengahan Jumadil Ula tahun ini dalam usia delapan puluh delapan tahun. Ia dikuburkan di rumahnya di Bab al-Maratib dengan izin Khalifah. Anaknya Abu al-Fadhl menshalatkannya.
Abu Yusuf al-Qazwini
Abdussalam bin Muhammad bin Yusuf bin Bundar, syaikh Mu’tazilah. Ia belajar kepada Abdul Jabbar bin Ahmad al-Hamadzani dan pergi ke Mesir dan tinggal di sana selama empat puluh tahun. Ia mengumpulkan banyak kitab dan menyusun tafsir dalam tujuh ratus jilid. Ibnu al-Jauzi berkata: Ia mengumpulkan hal-hal yang menakjubkan di dalamnya. Ia membahas tentang firman Allah Ta’ala: “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman” (Al-Baqarah: 102) dalam satu jilid penuh. Ibnu Aqil berkata: Ia panjang lidah dalam ilmu terkadang dan dalam syair di waktu lain. Ia mendengar hadits dari Abu Umar bin Mahdi dan lainnya. Ia meninggal di Baghdad dalam usia sembilan puluh enam tahun, dan ia tidak menikah kecuali di akhir umurnya.
Abu Syuja’ al-Wazir Muhammad bin al-Husain bin Abdullah bin Ibrahim
Abu Syuja’ yang bergelar Zhahiruddin al-Rudzrawari asal, al-Ahwazi kelahiran. Ia termasuk menteri yang paling baik, banyak bersedekah dan berbuat baik kepada para ulama dan fuqaha. Ia mendengar hadits dari Syaikh Abu Ishaq al-Syirazi dan lainnya, dan menyusun kitab-kitab di antaranya kitabnya yang menjadi dzail (lanjutan) dari “Tajarib al-Umam”. Ia menjadi menteri bagi Khalifah al-Muqtadi, dan ia memiliki enam ratus ribu dinar yang diinfakkannya di jalan kebaikan dan sedekah. Ia mewakafkan wakaf-wakaf yang baik, membangun tempat-tempat ziarah, dan banyak memberi kepada para janda dan anak yatim. Seorang laki-laki berkata kepadanya: Di samping kami ada seorang janda yang memiliki empat anak dan mereka telanjang dan kelaparan. Maka ia mengirimkan kepada mereka bersama salah seorang khawashnya (orang khusus) nafkah, pakaian, dan makanan, serta melepas pakaiannya sendiri dalam cuaca yang sangat dingin, dan berkata: Demi Allah, aku tidak akan memakainya hingga kamu kembali kepadaku dengan kabar mereka. Maka orang itu pergi dengan tergesa-gesa dan memenuhi kebutuhan mereka, menyampaikan kebaikan tersebut kepada mereka, kemudian kembali sementara sang menteri menggigil kedinginan. Ketika ia mengabarinya tentang mereka dengan berita yang menyenangkannya, ia memakai pakaiannya. Suatu kali kepadanya dibawakan potongan-potongan gula, ketika diletakkan di hadapannya ia merasa sedih karena orang-orang yang tidak mampu membelinya. Maka ia mengirimkan semuanya yang sangat banyak ke masjid-masjid dan memberinya kepada para fakir dan orang-orang buta.
Ia tidak duduk di diwan kecuali bersama para fuqaha. Jika terjadi perkara yang sulit baginya, ia bertanya kepada mereka, lalu memutuskan sesuai dengan fatwa mereka. Ia sangat rendah hati dengan manusia, baik orang khusus maupun umum. Kemudian ia diberhentikan dari jabatan menteri, lalu pergi menunaikan haji dan bermukim di Madinah. Kemudian ia sakit, dan ketika penyakitnya semakin parah ia datang ke Hujrah Nabawiyyah dan berkata: Wahai Rasulullah, Allah Ta’ala berfirman: “Dan sekiranya mereka ketika menganiaya diri mereka sendiri datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (An-Nisa: 64). Dan ini aku telah datang kepadamu memohon ampunan Allah dari dosa-dosaku dan mengharapkan syafaatmu di hari kiamat. Kemudian ia meninggal pada hari itu juga. Semoga Allah merahmatinyadan ia dikuburkan di Baqi’.
Hakim Abu Bakar al-Syami Muhammad bin al-Muzhaffar bin Bakran al-Hamawi
Abu Bakar asy-Syami lahir pada tahun empat ratus dan belajar fikih di negerinya, kemudian menunaikan haji pada tahun empat ratus tujuh belas, dan tiba di Baghdad lalu belajar fikih kepada Syekh Abu ath-Thayyib ath-Thabari dan mendengar hadits di sana, dan bersaksi di hadapan Ibnu ad-Damaghani yang menerimanya. Ia menetap di masjidnya selama lima puluh lima tahun mengajarkan al-Quran dan fikih kepada orang-orang. Ketika Abu Abdullah ad-Damaghani wafat, Abu Syuja’ al-Wazir mengusulkannya sehingga Khalifah al-Muqtadi melantiknya sebagai qadhi. Ia termasuk orang yang paling bersih dan paling menjaga diri; tidak menerima pemberian dari penguasa maupun hadiah dari siapa pun, tidak mengubah pakaian atau makanannya, tidak mengambil upah atas jabatan qadhi, dan tidak menunjuk wakil melainkan menangani peradilan sendiri, serta tidak berpihak kepada siapa pun. Ia pernah memukul sebagian orang yang melakukan kemungkaran ketika tidak ada bukti jika ada dugaan kuat hingga mereka mengaku, dan disebutkan bahwa dalam perkataan asy-Syafi’i ada yang menunjukkan hal ini. Abu Bakar asy-Syasyi telah menyusun kitab dalam membantahnya tentang hal itu, dan Ibnu Aqil mendukungnya dalam apa yang ia lakukan dari memutuskan dengan bukti-bukti dugaan, dan berdalil untuknya dengan firman Allah Ta’ala: “Jika baju gamisnya koyak di bagian depan… ayat” (Surah Yusuf: 26). Seorang laki-laki dari kalangan fuqaha besar dan ahli debat yang disebut al-Musytathab bin Muhammad bin Usamah al-Farghani bersaksi di hadapannya, namun ia tidak menerimanya karena melihatnya mengenakan sutra dan cincin emas. Penggugat berkata kepadanya: Sesungguhnya sultan dan wazirnya Nizam al-Muluk mengenakan sutra dan emas. Qadhi asy-Syami berkata: Demi Allah, seandainya keduanya bersaksi di hadapanku atas seikat sayuran pun aku tidak akan menerima kesaksian keduanya.
Ia wafat pada hari Selasa tanggal sepuluh Sya’ban tahun ini dalam usia delapan puluh delapan tahun, dan dimakamkan dekat Ibnu Suraij.
Abu Abdullah al-Humaidi Muhammad bin Abu Nashr Futuh bin Abdullah bin Humaid
Abu Abdullah bin Humaid al-Andalusi, dari sebuah pulau yang disebut Mayurqah, dekat Andalusia.
Ia tiba di Baghdad dan mendengar hadits di sana, dan ia adalah seorang hafizh yang banyak meriwayatkan, sangat beragama, cemerlang, menjaga diri dan bersih. Ia adalah penyusun al-Jam’u baina ash-Shahihain dan memiliki karya lain, dan telah menulis dari karya-karya Ibnu Hazm dan al-Khatib. Wafatnya adalah malam Selasa tanggal tujuh belas Dzulhijjah, dan ia telah melewati usia tujuh puluh tahun, dan kuburnya dekat kubur Bisyr al-Hafi di Baghdad.
Hibatullah anak Syekh Abu al-Wafa bin Aqil
Ia telah menghafal al-Quran dan belajar fikih dan menampakkan kecerdasan, kemudian ia jatuh sakit sehingga ayahnya mengeluarkan banyak harta untuknya, namun tidak bermanfaat apa pun. Suatu hari anaknya berkata kepadanya: Wahai ayahku, sesungguhnya engkau telah memperbanyak obat-obatan dan doa-doa, dan Allah memiliki pilihan, maka biarkanlah aku dengan pilihan Allah. Ayahnya berkata: Aku tahu bahwa ia tidak diberi taufiq mengucapkan kata-kata ini kecuali ia telah dipilih untuk mendapat kemuliaan. Dan Allah Ta’ala lebih mengetahui.
Kemudian masuklah tahun empat ratus delapan puluh sembilan
Ibnu al-Jauzi berkata dalam al-Muntadzham: Pada tahun ini orang-orang bodoh ahli nujum memutuskan bahwa pada tahun ini akan terjadi banjir besar mendekati banjir Nuh, dan kabar itu tersebar di kalangan awam dan mereka takut. Maka Khalifah al-Mustadzhir memanggil Ibnu Aisyun ahli nujum dan menanyainya tentang perkataan ini. Ia berkata: Sesungguhnya banjir Nuh terjadi di masa ketika tujuh benda langit berkumpul di buruj Pisces, dan sekarang berkumpul di dalamnya enam dan tidak berkumpul bersamanya Saturnus, maka pasti terjadi banjir di sebagian negeri, dan yang paling dekat adalah Baghdad. Maka Khalifah memerintahkan wazirnya untuk memperbaiki tanggul-tanggul dan tempat-tempat yang dikhawatirkan air akan meledak darinya, dan orang-orang mulai menunggu. Kemudian datang kabar bahwa jamaah haji berada di Wadi al-Miyaqat setelah Nakhlah, lalu datang banjir besar kepada mereka, dan tidak selamat dari mereka kecuali yang berpegang pada puncak-puncak gunung, dan air membawa unta, orang-orang, dan perbekalan. Maka Khalifah menganugerahi ahli nujum tersebut hadiah dan memberikan tunjangan kepadanya.
Pada tahun ini Amir Qawam ad-Daulah Abu Sa’id Karbuga menguasai kota Mosul dan membunuh Muhammad bin Syaraf ad-Daulah Muslim bin Quraisy dan menenggelamkannya setelah pengepungan sembilan bulan.
Pada tahun ini Tamim bin al-Mu’izz al-Maghribi menguasai kota Gabes, dan mengeluarkan saudaranya Umar darinya. Maka khatib Sousse berkata dalam hal itu beberapa bait:
Zaman tertawa padahal biasanya ia bermuka masam Ketika engkau membuka Gabes dengan mata pedangmu Dan engkau mendatanginya sebagai pengantin dan engkau tidak mengawinkannya Kecuali dengan tombak, pedang-pedang tajam, dan kuda-kuda Allah mengetahui engkau tidak memetik buah-buahnya Kecuali ayahmu sebelumnya yang menanamnya Siapa yang dalam tombak-tombak biru adalah peminang Baginya puncak-puncak negeri adalah pengantin-pengantin
Pada bulan Safar darinya, Syekh Abu Abdullah ath-Thabari mengajar di an-Nizhamiyah, yang dilantik untuknya oleh Fakhr al-Mulk bin Nizam al-Mulk, wazir Barkyaruq. Pada tahun ini Khafajah menyerang negeri Saif ad-Daulah Shadaqah bin Manshur bin Dubais dan menuju makam Husain di al-Ha’ir, dan mereka menampakkan kemungkaran dan kerusakan di dalamnya. Amir Shadaqah yang disebutkan menyergap mereka di sana dan membunuh banyak dari mereka hingga di dekat makam. Di antara keajaiban adalah salah seorang dari mereka menjatuhkan dirinya dan kudanya dari atas tembok lalu selamat dia dan kudanya.
Haji dipimpin pada tahun ini oleh Amir Khumartekin al-Hasanani.
Yang wafat pada tahun ini dari tokoh-tokoh:
Abdullah bin Ibrahim bin Abdullah Abu Hakim al-Khabri: Khabr adalah salah satu negeri Persia. Ia mendengar hadits dan belajar fikih kepada Syekh Abu Ishaq asy-Syirazi, dan ia memiliki pengetahuan tentang faraid, sastra, dan bahasa serta memiliki karya-karya, dan ia disukai akhlaknya dan ia menulis mushaf-mushaf dengan upah. Ketika suatu hari ia sedang menulis, ia meletakkan pena dari tangannya dan bersandar dan berkata: Demi Allah, jika ini adalah kematian maka sungguh manis, kemudian ia wafat.
Abdul Muhsin bin Muhammad bin Ali bin Ahmad asy-Syaihi,
Pedagang yang dikenal dengan Ibnu Syahdankah, dari Baghdad. Ia mendengar banyak hadits, melakukan perjalanan dan banyak mengambil dari al-Khatib ketika ia di Shur, dan dialah yang membawanya ke Irak sehingga karena itu al-Khatib menghadiahkan kepadanya Tarikh Baghdad dengan tulisan tangannya, dan telah meriwayatkan darinya dalam karya-karyanya, dan ia menamakannya Abdullah dan ia adalah orang terpercaya.
Abdul Malik bin Ibrahim bin Ahmad,
Abu al-Fadhl yang dikenal dengan al-Hamadhani, belajar fikih kepada al-Mawardi, dan ia memiliki kemampuan panjang dalam ilmu-ilmu syariah, hisab, dan lainnya, dan ia menghafal Gharib al-Hadits karya Abu Ubaid dan al-Mujmal karya Ibnu Faris, dan ia menjaga diri dan zahid. Al-Muqtadi memanggilnya untuk melantiknya sebagai qadhi al-qudhah, namun ia menolak keras dan meminta maaf dengan alasan tidak mampu dan lanjut usia, dan ia adalah orang yang cerdas dan lembut. Ia berkata: Ayahku jika ingin mendidikku mengambil tongkat dengan tangannya kemudian berkata: Aku berniat memukul anakku untuk pendidikan sebagaimana Allah perintahkan kemudian memukulku. Ia berkata: Hingga ia berniat dan menyempurnakan niat, aku sudah melarikan diri. Ia wafat pada bulan Rajab darinya, dan dimakamkan di dekat kubur Ibnu Suraij.
Muhammad bin Ahmad bin Abdul Baqi bin Manshur
Abu Bakar ad-Daqqaq yang dikenal dengan Ibnu al-Khadhhibah, dikenal dengan pengajaran, bagusnya bacaan, bagusnya tulisan, dan benarnya nukilan. Ia menggabungkan antara ilmu qiraat dan hadits, dan banyak mengambil dari al-Khatib dan sahabat-sahabat al-Mukhlish. Ia berkata: Ketika Baghdad tenggelam, rumahku dan buku-bukuku tenggelam sehingga tidak tersisa bagiku apa pun, maka aku butuh menyalin. Aku menulis Shahih Muslim pada tahun itu tujuh kali. Suatu malam aku tidur dan bermimpi seakan-akan Kiamat telah terjadi dan ada yang berkata: Di mana Ibnu al-Khadhhibah? Aku datang lalu dimasukkan ke surga. Ketika memasukinya aku berbaring telentang dan meletakkan satu kakiku di atas yang lain, dan berkata: Aku beristirahat dari menyalin. Kemudian aku terbangun dengan pena di tanganku dan salinan di hadapanku.
Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani
Manshur bin Muhammad bin Abdul Jabbar bin Ahmad bin Muhammad Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani al-Hafizh, dari penduduk Marw. Ia pertama belajar fikih kepada ayahnya dalam mazhab Abu Hanifah kemudian berpindah ke mazhab asy-Syafi’i ketika belajar kepada Abu Ishaq asy-Syirazi dan Ibnu ash-Shabbagh. Ia memiliki kemampuan panjang dalam banyak bidang, dan menyusun at-Tafsir, kitab al-Intishar dalam hadits, al-Burhan dan al-Qawathi’ dalam ushul fikih, al-Istilam dan lainnya, dan berkhotbah di kota Naisabur. Ia berkata: Aku tidak pernah menghafal sesuatu lalu melupakannya. Ia ditanya tentang kabar-kabar sifat, maka ia berkata: Hendaklah kalian dengan agama perempuan-perempuan tua. Ia ditanya tentang istiwa’, maka ia berkata:
Kalian datang kepadaku untuk mengetahui rahasia Sa’da Kalian mendapatiku tentang rahasia Sa’da sangat kikir Sesungguhnya Sa’da adalah cita-cita yang diharapkan Mengumpulkan kesucian dan wajah yang cantik
Ia wafat pada bulan Rabiul Awwal tahun ini dan dimakamkan di pemakaman Marw; semoga Allah merahmatinya dan kami, amin.
Kemudian masuklah tahun empat ratus sembilan puluh
Pada tahun ini adalah awal kekuasaan Khwarazmiyah, yaitu ketika Sultan Barkyaruq menguasai negeri Khurasan setelah terbunuhnya pamannya Arslan Arghun bin Alp Arslan dan menyerahkannya kepada saudaranya Ahmad yang dikenal dengan al-Malik Sanjar, dan menjadikan atabaknya Amir Qumaj dan wazirnya Ali bin al-Husain ath-Thughrai, dan mengangkat atas Khurasan Amir Habsyi bin at-Tuntaq. Ia melantik atas kota Khwarazm seorang pemuda yang disebut Muhammad bin Anushtakin, dan ayahnya adalah dari amir-amir Saljuqiyah. Ia tumbuh dalam adab, keutamaan, dan bagusnya perilaku. Ketika ia dilantik atas kota Khwarazm ia diberi gelar Khwarazm Syah, dan ia adalah raja pertama mereka. Ia berbuat baik dalam perilaku, dan memperlakukan orang-orang dengan baik. Ketika ia wafat, anaknya Atsiz berdiri menggantikannya atas Khwarazm dan berjalan pada jalan ayahnya dan menampakkan keadilan, sehingga ia disenangi oleh Sultan Sanjar, dan orang-orang mencintainya, dan kedudukannya meningkat.
Pada tahun ini al-Malik Ridhwan bin Taj al-Mulk Tutsy berkhotbah untuk Khalifah Fathimiyah al-Musta’li. Pada bulan Ramadhan darinya Barsaq salah seorang dari amir-amir besar dibunuh, dan ia adalah orang pertama yang menjabat syahnakiyah Baghdad. Pada bulan Syawal seorang laki-laki Bathiniyah dibunuh di dekat Babu an-Nubi setelah dua orang adil bersaksi atasnya; salah satunya adalah Ibnu Aqil bahwa ia mengajak keduanya kepada mazhabnya. Ia terus berkata: Apakah kalian membunuhku padahal aku mengucapkan: Tidak ada tuhan selain Allah? Ibnu Aqil berkata: Allah Ta’ala berfirman: “Maka ketika mereka melihat azab Kami, mereka berkata: ‘Kami beriman kepada Allah saja dan kami kafir kepada apa yang dahulu kami mempersekutukannya dengan Allah.’ Maka tidak bermanfaat kepada mereka iman mereka ketika mereka telah melihat azab Kami… ayat” (Surah Ghafir: 84-85).
Haji dipimpin pada tahun itu oleh Khumartekin al-Hasanani.
Pada hari Asyura diserbu rumah Baha’ ad-Daulah Abu Nashr bin Jalal ad-Daulah Abu Thahir bin Buwaih karena perkara-perkara yang terbukti atasnya di hadapan qadhi. Darahnya dihalalkan, rumahnya dirobohkan dan dijadikan tempat dua masjid untuk Hanafiyah dan Syafi’iyah. Sultan Malikshah telah memberikan kepadanya al-Mada’in, Dair Aqul, dan lainnya.
Yang wafat pada tahun ini dari tokoh-tokoh:
Ahmad bin Muhammad bin al-Hasan bin Ali bin Zakariya bin Dinar Abu Ya’la, al-Abdi al-Bashri, yang dikenal dengan Ibnu ash-Shawwaf. Lahir tahun empat ratus, dan mendengar hadits, dan ia adalah zahid sufi, faqih yang mengajar, memiliki wibawa, ketenteraman, dan agama, dan ia adalah ulama dalam sepuluh ilmu. Ia wafat pada bulan Ramadhan darinya dalam usia sembilan puluh tahun; semoga Allah merahmatinya.
Al-Mu’ammar bin Muhammad bin al-Mu’ammar bin Ahmad bin Muhammad
Abu al-Ghanaim al-Husaini, naqib bagi Thalibiyyin. Ia mendengar hadits, dan ia berparas bagus, mulia akhlaknya, banyak ibadah, tidak diketahui bahwa ia menyakiti seorang muslim atau mencela seorang sahabat. Ia wafat dalam usia enam puluh sekian tahun dan ia menjadi naqib selama tiga puluh dua tahun, dan ia termasuk dari pemuka Quraisy. Setelahnya dilantik anaknya Abu al-Futuh Haidarah dan diberi gelar ar-Radhi Dzu al-Fakhrain. Para penyair menangisinya dengan bait-bait yang disebutkan Ibnu al-Jauzi.
Yahya bin Ahmad bin Muhammad bin Ali as-Saibi
Ia mendengar hadits dan para penuntut ilmu datang kepadanya. Ia adalah orang terpercaya, saleh, jujur, beragama, hidup seratus dua belas tahun tiga bulan, dan dalam kondisi itu sehat panca inderanya dibacakan kepadanya al-Quran dan hadits; semoga Allah Ta’ala merahmatinya.
Kemudian Masuklah Tahun 491 Hijriyah
Pada bulan Jumadil Ula tahun ini, orang-orang Franka merebut kota Antakiyah setelah pengepungan yang keras, dengan adanya pengkhianatan dari sebagian penjaga menara. Penguasanya, Yaghi Siyan, melarikan diri dengan beberapa orang saja, meninggalkan keluarga dan hartanya di kota itu. Kemudian di tengah jalan dia menyesal sangat atas perbuatannya sehingga pingsan dan jatuh dari kudanya. Maka teman-temannya pergi meninggalkannya. Lalu datanglah seorang penggembala domba yang memotong kepalanya dan membawanya kepada raja Franka. Ketika berita ini sampai kepada Amir Karbuka, penguasa Mosul, dia mengumpulkan banyak pasukan. Dukak bin Tutus, penguasa Damaskus, dan Janah ad-Daulah, penguasa Homs, beserta yang lain berkumpul bersamanya dan berangkat menghadapi orang-orang Franka. Mereka bertempur dengan mereka di tanah Antakiyah, lalu orang-orang Franka mengalahkan mereka dan membunuh banyak sekali dari mereka serta mengambil harta yang sangat banyak dari mereka. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali). Kemudian orang-orang Franka berangkat ke Ma’arrat an-Nu’man dan merebutnya setelah pengepungan, fa la haula wa la quwwata illa billah (tiada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah). Ketika keadaan ini sampai kepada Raja Barkyaruq, hal itu sangat menyulitkannya dan dia menulis kepada para amir di Baghdad agar mereka dan Wazir Ibnu Jahir bersiap untuk memerangi orang-orang Franka. Sebagian tentara keluar ke luar kota di sisi barat, kemudian tekad ini bubar karena mereka mendapat kabar bahwa orang-orang Franka berjumlah satu juta pejuang, fa la haula wa la quwwata illa billah.
Khumartikin memimpin ibadah haji bagi manusia pada tahun ini.
Orang-Orang Terkenal yang Wafat pada Tahun Ini:
Turad bin Muhammad bin Ali bin al-Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim bin al-Imam bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas, Abu al-Fawaris bin Abi al-Hasan bin Abi al-Qasim bin Abi Tammam, dari keturunan Zainab binti Sulaiman bin Ali bin Abdullah bin Abbas, dan dia adalah ibu dari anak Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim al-Imam bin Muhammad bin Abdullah bin Abbas. Dia mendengar banyak hadits dan kitab-kitab besar, dan dia menyendiri dalam meriwayatkan dari sejumlah para syaikh, dan orang-orang datang kepadanya dari berbagai penjuru. Dia mendiktekan hadits di berbagai negeri, dan para ulama serta tuan-tuan menghadiri majlisnya. Abu Abdullah ad-Damaghani menghadiri majlisnya. Dia menjabat sebagai naqib (ketua) bani Abbas dalam waktu yang lama. Dia wafat pada usia lebih dari sembilan puluh tahun dan dimakamkan di pemakaman para syuhada, rahimahullah.
Al-Muzaffar Abu al-Fath, Putra Ra’is ar-Ru’asa’ Abi al-Qasim Ibnu al-Muslimah
Rumahnya menjadi tempat berkumpulnya para ahli ilmu, agama, dan sastra. Di rumahnya wafat Syaikh Abu Ishaq asy-Syirazi. Ketika Abu al-Fath wafat, dia dimakamkan di samping Syaikh Abu Ishaq di makamnya, rahimahullahu ta’ala.
Kemudian Masuklah Tahun 492 Hijriyah
Pada tahun ini orang-orang Franka – semoga Allah Ta’ala menghinakan mereka – merebut Baitul Maqdis, yaitu pada waktu Dhuha hari Jumat, tujuh hari sebelum akhir bulan Sya’ban tahun 492 Hijriyah. Orang-orang Franka – semoga Allah melaknat mereka – menguasai Baitul Maqdis – semoga Allah memuliakannya – dan mereka berjumlah sekitar satu juta pejuang. Mereka membunuh di tengahnya lebih dari tujuh puluh ribu orang terbunuh dari kaum Muslim, dan mereka merajalela di antara rumah-rumah, dan adalah suatu janji yang pasti terjadi.
Ibnu al-Jauzi berkata: Mereka mengambil dari sekeliling Shakhrah (batu) empat puluh dua lampu dari perak, berat masing-masing tiga ribu enam ratus dirham, dan mengambil sebuah tanur dari perak dengan berat empat puluh ratl menurut ukuran Syam dan dua puluh tiga lampu dari emas. Orang-orang pergi dengan ketakutan dari Syam ke Irak meminta pertolongan kepada Khalifah dan Sultan terhadap orang-orang Franka, di antaranya Qadhi Damaskus Abu Sa’d al-Harawi. Ketika orang-orang di Baghdad mendengar peristiwa mengerikan ini, mereka terkejut dan menangis. Abu Sa’d al-Harawi telah menggubah kata-kata yang dibacakan di Diwan dan di atas mimbar-mimbar, maka orang-orang menangis tersedu-sedu. Khalifah mengutus para fuqaha untuk keluar ke negeri-negeri agar mendorong para raja untuk berjihad. Maka keluarlah Ibnu Aqil dan banyak fuqaha terkemuka lainnya, mereka berkeliling di tengah masyarakat tetapi hal itu tidak memberi manfaat apa-apa, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Abu al-Muzaffar al-Abiwardi berkata tentang hal itu:
Kami mencampur darah dengan air mata yang mengalir Sehingga tidak tersisa dari kami yang terkena belas kasihan Dan seburuk-buruk senjata seseorang adalah air mata yang ditumpahkannya Ketika perang menyalakan apinya dengan pedang-pedang Wahai anak-anak Islam, sesungguhnya di belakang kalian Peristiwa-peristiwa yang menyamakan puncak dengan tanah Dan bagaimana mata bisa tertidur penuh kelopaknya Atas kelalaian yang membangunkan setiap orang yang tertidur Dan saudara-saudara kalian di Syam tempat istirahat siang mereka Punggung kuda balap atau perut burung bangkai Orang-orang Rum menghina mereka sedangkan kalian Menghela ujung kemewahan dengan perbuatan orang yang damai Dan antara menikam tombak dan sabetan pedang ada jeda Yang membuat anak-anak menjadi beruban seperti kepala-kepala tua Dan perang-perang itu, barangsiapa yang tidak hadir di tengahnya Demi keselamatan, akan menggigit jari penyesal setelahnya Terhunus di tangan-tangan orang-orang musyrik pedang-pedang tajam Yang akan tertanam dari mereka di leher dan tengkorak-tengkorak Hampir-hampir orang yang tersembunyi di Thaybah Berseru dengan suara paling keras: Wahai keluarga Hasyim Aku melihat umatku tidak menusukkan kepada musuh Tombak-tombak mereka padahal agama rapuh tiang-tiangnya Dan mereka menghindari pembalasan karena takut kematian Dan tidak menganggap kehinaan sebagai pukulan yang melekat Relakah para pemimpin Arab dengan penghinaan Dan tunduk dalam kehinaan para kesatria orang-orang Ajam Andai mereka ketika tidak membela dengan ghirah Terhadap agama, setidaknya cemburu terhadap wanita-wanita Dan jika mereka tidak berminat pada pahala ketika perang berkecamuk Mengapa mereka tidak mendatanginya karena menginginkan harta rampasan
Pada tahun ini adalah permulaan kekuasaan Sultan Muhammad bin Malikshah, dia adalah saudara Sultan Sanjar dari ayah dan ibunya, dan kekuasaannya berkembang sampai terjadi darinya bahwa dia dikhutbahkan di Baghdad pada bulan Dzulhijjah tahun ini.
Pada tahun ini dia pergi ke Rayy dan menemukan Zubaidah Khatun, ibu saudaranya Barkyaruq, lalu dia memerintahkan untuk mencekiknya – dan usianya saat itu empat puluh dua tahun – pada bulan Dzulhijjah tahun ini. Dia memiliki lima pertempuran dahsyat dengan Barkyaruq.
Pada tahun ini harga-harga sangat mahal di Baghdad sehingga banyak orang meninggal karena kelaparan dan mereka tertimpa wabah hebat sehingga mereka tidak mampu mengubur orang-orang mati karena banyaknya mereka.
Orang-Orang Terkenal yang Wafat pada Tahun Ini:
Sultan Ibrahim putra Sultan Mahmud bin Mas’ud putra Sultan Mahmud bin Subuktigin, penguasa Ghaznah dan wilayah-wilayah India dan selainnya. Dia memiliki kehormatan dan kemegahan yang sangat besar. Al-Kiya al-Harrasi – ketika Sultan Barkyaruq mengirimnya kepadanya – dalam suatu risalah menceritakan tentang yang disaksikannya di sisinya dari urusan kesultanan dalam pakaian dan tempat duduknya dan apa yang ada di sisinya dari kebahagiaan duniawi. Dia berkata: Aku melihat sesuatu yang menakjubkan, dan dia memberinya nasihat dengan hadits: “Sapu tangan Sa’d bin Mu’adz di surga lebih baik dari ini.” Maka dia menangis. Dia berkata: Dia tidak membangun rumah untuk dirinya kecuali sebelumnya membangun masjid atau madrasah atau ribath. Dia wafat rahimahullahu ta’ala pada bulan Rajab tahun ini, dan usianya telah melewati sembilan puluh tahun, dan masa kekuasaannya adalah empat puluh dua tahun.
Abdul Baqi bin Yusuf bin Ali bin Shalih
Abu Turab al-Maraghi, lahir tahun 401 Hijriyah. Dia belajar fiqih kepada Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari dan mendengar hadits darinya dan dari para syaikh lain di berbagai negeri. Kemudian dia menetap di Naisabur. Dia menghafal banyak sekali masalah khilafiyah, sekitar empat ribu masalah beserta dalil-dalilnya dan perdebatannya, dan selain itu dari kisah-kisah, hal-hal menarik, dan adab. Dia adalah orang yang sabar dan qana’ah (menerima apa adanya) menurut cara salaf. Datang kepadanya surat keputusan jabatan qadhi Hamadzan, maka dia berkata: Aku menunggu surat keputusan dari Allah Azza wa Jalla di tangan Malakul Maut untuk menghadap kepada-Nya. Demi Allah, duduk sejenak di masjid ini dengan ketenangan hati lebih aku sukai daripada kekuasaan atas dua Irak, dan mengajarkan satu masalah kepada pelajar lebih aku sukai daripada kekuasaan atas dua makhluk. Demikian diceritakan Ibnu al-Jauzi dalam al-Muntazham. Dia wafat rahimahullah pada bulan Dzulqa’dah tahun ini pada usia sembilan puluh tiga tahun.
Abu al-Qasim, Putra Imam al-Haramain
Dia dibunuh oleh sebagian orang Bathiniyah di Naisabur, rahimahullah dan rahima abahu (semoga Allah merahmatinya dan ayahnya) dengan kemurahan dan kemuliaan-Nya.
Kemudian Masuklah Tahun 493 Hijriyah
Pada bulan Safar tahun ini Sultan Barkyaruq masuk ke Baghdad dan turun di Dar al-Mulk, dan khutbah untuknya dikembalikan di Baghdad, dan khutbah saudaranya Muhammad bin Malikshah dihentikan. Khalifah mengirimkan kepadanya hadiah yang luar biasa, dan kaum awam serta para wanita bergembira dengannya. Namun dia dalam kesulitan tentang urusan saudaranya Sultan Muhammad karena kecenderungan negara kepadanya dan berkumpulnya mereka kepadanya, sedikitnya harta yang ada bersamanya, dan tuntutan tentara kepadanya atas gaji mereka. Maka dia bertekad untuk menyita harta Wazir Ibnu Jahir, lalu dia berlindung kepada Khalifah yang melindunginya dari hal itu. Kemudian keadaan disepakati dengan perdamaian darinya sebesar seratus enam puluh ribu dinar. Kemudian dia bertemu dengan saudaranya Muhammad di tempat dekat Hamadzan, lalu saudaranya Muhammad mengalahkannya, dan dia selamat dengan dirinya bersama lima puluh penunggang kuda. Terbunuh dalam pertempuran ini Sa’d ad-Daulah Kuhara’in al-Khadim yang telah lama berhijrah dalam pemerintahan dan pernah menjabat syahnah Baghdad. Dia halim (penyabar) dengan perilaku yang baik, tidak pernah sengaja berbuat zalim, dan tidak ada pelayan yang melihat kehormatan, kemuliaan, dan banyaknya pelayanan seperti yang dilihatnya. Dia banyak melakukan shalat malam dan tidak duduk kecuali dalam keadaan berwudhu, tidak pernah sakit sepanjang hidupnya, dan tidak pernah sakit kepala. Ketika terjadi apa yang terjadi dalam pertempuran ini, urusan Sultan Barkyaruq menjadi lemah. Kemudian pasukannya kembali kepadanya, dan Amir Daud Habsyi bergabung dengannya dengan dua puluh ribu orang. Lalu dia bertemu dengan saudaranya yang lain, Sanjar, dan Sanjar mengalahkannya juga, dan Daud yang disebutkan itu tertangkap dalam pertempuran ini. Lalu Amir Buzghush, salah satu amir Sanjar, membunuhnya. Maka sisi Barkyaruq menjadi lemah dan keadaannya mundur, orang-orangnya bercerai-berai darinya, dan khutbahnya dihentikan dari Baghdad pada tanggal empat belas Rajab, dan khutbah Sultan Muhammad dikembalikan.
Pada bulan Ramadhan Wazir ‘Amid ad-Daulah Ibnu Jahir ditangkap bersama dua saudaranya, Za’im ar-Ru’asa’ Abu al-Qasim dan Abu al-Barakat yang bergelar al-Kafi, dan diambil dari mereka harta yang banyak, dan dia dipenjara di Dar al-Khilafah sampai meninggal pada bulan Syawal tahun ini. Pada malam kedua puluh tujuh bulan itu, syahnah Isfahan dibunuh, ditikam oleh seorang Bathini dengan pisau di pinggangnya, padahal dia berhati-hati dari mereka sepanjang masa jabatannya, dan memakai baju besi di bawah pakaiannya kecuali malam ini. Pada malam ini beberapa orang dari anak-anaknya meninggal, maka pada pagi harinya keluar dari rumahnya lima jenazah.
Pada tahun ini raja Franka datang dengan tiga ratus ribu pejuang, lalu Kumsytikin Ibnu ad-Danisymand Thaylu, atabik pasukan di Damaskus yang disebut Amin ad-Daulah, pendiri al-Aminiyah di Damaskus dan di Bushra – bukan yang di Baalbek – bertemu dengannya. Dia mengalahkan orang-orang Franka dan membunuh banyak sekali dari mereka sehingga tidak selamat dari mereka kecuali tiga ribu orang, dan kebanyakan mereka terluka – yaitu tiga ribu itu – dan hal itu terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun ini. Dia mengejar mereka sampai Malatya lalu menguasainya, dan menawan rajanya, wa lillahil hamd (segala puji bagi Allah).
Amir at-Tuntasy at-Turki memimpin ibadah haji bagi manusia, dan dia bermazhab Syafi’i.
Orang-Orang Terkenal yang Wafat pada Tahun Ini:
Abdur Razzaq al-Ghaznaui ash-Shufi, syaikh ribat ‘Attab. Dia berhaji beberapa kali dengan cara tajrid (tanpa bekal). Dia meninggal pada usia sekitar seratus tahun dan tidak meninggalkan kain kafan. Isterinya berkata kepadanya saat sakaratul maut: Engkau akan malu hari ini, tidak akan ditemukan untukmu kain kafan. Maka dia berkata kepadanya: Seandainya aku meninggalkan kain kafan, aku yang akan malu.
Dan kebalikannya Abu al-Hasan al-Bustami
Syaikh ribat Ibnu al-Muhallaban, dia tidak memakai kecuali kain wol musim dingin dan musim panas, dan menampakkan zuhud. Ketika dia wafat ditemukan untuknya empat ribu dinar yang terpendam. Maka orang-orang takjub dari keadaan keduanya dan kebetulan kematian mereka pada tahun ini. Semoga Allah merahmati yang pertama dan memaafkan yang kedua.
Wazir ‘Amid ad-Daulah Ibnu Jahir, Muhammad bin Abi Nashr bin Muhammad bin Jahir, Wazir Besar
Abu Manshur, bergelar ‘Amid ad-Daulah, dia adalah salah satu pemimpin para wazir dan tuan-tuan para pembesar. Dia mengabdi kepada tiga orang khalifah dan menjadi wazir bagi dua dari mereka. Dia halim (penyabar) jarang tergesa-gesa, namun dia dibicarakan orang karena kesombongan. Dia menjabat wazir beberapa kali, dicopot kemudian dikembalikan, dan yang terakhir adalah kali ini. Dia dipenjara di Dar al-Khilafah dan tidak keluar dari penjara kecuali dalam keadaan mayat pada bulan Syawal tahun ini.
Ibnu Jazlah ath-Thabib
Yahya bin ‘Isa bin Jazlah, pengarang Kitab al-Minhaj dalam ilmu kedokteran. Dia dahulu Nasrani dan sering datang kepada Syaikh Abu Ali bin al-Walid al-Mu’tazili untuk belajar logika kepadanya. Abu Ali mengajaknya masuk Islam dan menjelaskan kepadanya dalil-dalil sampai dia masuk Islam dan Islamnya menjadi baik. Abu Abdullah ad-Damaghani, qadhi al-qudhah, mengangkatnya sebagai wakilnya dalam menulis catatan-catatan. Kemudian setelah itu dia mengobati orang-orang tanpa imbalan, dan kadang-kadang dia meracik obat untuk mereka dari hartanya sebagai sumbangan. Dia berwasiat agar buku-bukunya menjadi wakaf di Masyhad Abu Hanifah, rahimahullahu ta’ala.
Kemudian Masuklah Tahun Empat Puluh Sembilan Puluh Empat Empat Ratus
Pada tahun ini, bencana menjadi sangat besar di Ashbahan dan sekitarnya akibat kelompok Bathiniyah. Sultan membunuh banyak sekali orang dari mereka, dan rumah-rumah serta harta benda mereka dihalalkan untuk rakyat biasa. Siapa saja yang mampu menangkap mereka, boleh membunuhnya dan mengambil hartanya. Mereka telah menguasai banyak benteng. Benteng pertama yang mereka kuasai adalah pada tahun delapan puluh tiga empat ratus. Yang menguasainya adalah Hasan bin Ash-Shabbah, salah seorang pendakwa mereka. Dia pernah masuk ke Mesir dan belajar dari para zindik yang ada di sana, kemudian pergi ke daerah-daerah tersebut di wilayah Ashbahan. Dia hanya mendakwahi orang-orang bodoh yang tidak tahu tangan kanan dari tangan kirinya, lalu memberinya makan madu dengan kacang dan jintan hitam hingga temperamennya terbakar dan otaknya rusak. Kemudian dia menceritakan kepadanya sebagian berita tentang Ahlul Bait, dan membohonginya dengan perkataan-perkataan Rafidhah yang sesat bahwa mereka dizalimi dan dicegah haknya. Kemudian dia berkata kepadanya: “Jika kaum Khawarij berperang bersama Bani Umayyah untuk Ali, maka kamu lebih berhak berperang untuk menolong imammu Ali bin Abi Thalib.” Dia terus memberinya minum dari ajaran ini dan semisalnya hingga dia menyetujuinya dan menjadi lebih patuh kepadanya daripada kepada ibu dan ayahnya sendiri. Dia memperlihatkan kepadanya banyak hal dari tipuan, trik, dan helah yang tidak akan berhasil kecuali pada orang-orang bodoh, hingga banyak orang berkumpul mengelilinginya dalam jumlah besar. Sultan Malikshah mengirim surat kepadanya mengancam dan melarangnya mengirim para Fidaiyah kepada para ulama. Ketika surat itu dibacakan di hadapan utusan, dia berkata kepada para pemuda di sekitarnya: “Aku ingin mengirim salah seorang dari kalian sebagai utusan kepada tuannya.” Maka wajah-wajah para hadirin memandang penuh harap. Kemudian dia berkata kepada seorang pemuda di antara mereka: “Bunuh dirimu!” Maka pemuda itu mengeluarkan pisau dan menusukkan ke lehernya sendiri, lalu jatuh mati. Dia berkata kepada yang lain: “Lemparkan dirimu dari tempat ini!” Maka dia melemparkan dirinya dari atas benteng ke dasar paritnya hingga tubuhnya terpotong-potong. Kemudian dia berkata kepada utusan: “Inilah jawabannya!” Sejak itu Sultan berhenti berkirim surat kepadanya. Demikianlah disebutkan oleh Ibnu Al-Jauzi. Akan disebutkan kemudian bahwa Raja Shalahuddin pembebas Baitul Maqdis, mengalami hal serupa dengan Sinan pemilik Iwan.
Pada bulan Ramadhan, Khalifah Al-Mustazhhir Billah memerintahkan untuk membuka Masjid Qasr, dicat putih, dan shalat Tarawih dilaksanakan di dalamnya, membaca Basmalah dengan jahr (keras), dan melarang perempuan keluar di malam hari untuk berjalan-jalan.
Pada awal tahun ini, Sultan Barkyaruq memasuki Baghdad dan dikhotbahkan untuknya. Kemudian kedua saudaranya Muhammad dan Sanjar menyusulnya dan masuk ke Baghdad. Saat itu Barkyaruq sedang sakit, maka keduanya menyeberang ke sisi barat. Khutbah untuk Barkyaruq dipotong dan khutbah dilakukan untuk keduanya. Barkyaruq melarikan diri ke Wasith. Pasukannya menjarah negeri dan tanah yang mereka lalui. Sebagian ulama melarang dan menasihatinya dari perbuatan itu, tetapi tidak berhasil sama sekali.
Pada tahun ini, bangsa Franka menguasai banyak benteng, di antaranya Qaisariyah dan Suruj. Raja Franka Godefroy, yang merebut Baitul Maqdis, pergi ke Akka dan mengepungnya. Sebuah anak panah mengenai lehernya dan dia langsung mati. Semoga laknat Allah atasnya dan tentaranya.
Di Antara Orang-orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini:
Ahmad bin Muhammad bin Abdul Wahid bin Ash-Shabbagh
Abu Manshur, mendengar hadits dan belajar fikih dari Qadhi Abu Ath-Thayyib Ath-Thabari kemudian dari pamannya Abu Nashr bin Ash-Shabbagh. Dia adalah seorang fakih yang utama, banyak shalat, dan berpuasa sepanjang masa. Dia pernah menjabat sebagai qadhi di seperempat wilayah Karkh, dan menjadi muhtasib di sisi barat. Semoga Allah merahmatinya.
Abdullah bin Al-Hasan bin Abi Manshur
Abu Muhammad Ath-Thabsi, melakukan rihlah, mengumpulkan hadits, menyusun kitab, dan merupakan salah seorang hafizh yang banyak meriwayatkan, terpercaya, jujur, menguasai hadits, wara’, dan baik akhlaknya. Semoga Allah merahmatinya.
Abdurrahman bin Ahmad bin Muhammad
Abu Al-Faraj Az-Zaz As-Sarakhsi, tinggal di Marw, mendengar hadits dan mendiktekannya, para ulama melakukan rihlah kepadanya. Dia adalah hafizh mazhab Syafii, bertakwa, dan wara’. Semoga Allah merahmatinya.
Azizi bin Abdul Malik bin Manshur
Abu Al-Maali Al-Jili Al-Qadhi, yang bergelar Syizalah. Dia bermazhab Syafii dalam furu’ dan Asyari dalam ushul. Dia adalah hakim di Bab Al-Azaj. Ada permusuhan besar antara dirinya dengan ahlul Bab Al-Azaj dari kalangan Hanabilah. Dia mendengar seseorang menyeru tentang keledainya yang hilang, maka dia berkata: “Dia masuk Bab Al-Azaj dan memegang tangan siapa yang dia kehendaki.” Suatu hari dia berkata kepada Naqib Tharrad Az-Zaynabi: “Jika seseorang bersumpah tidak akan melihat manusia lalu melihat penduduk Bab Al-Azaj, dia tidak melanggar sumpah.” Maka Syarif itu berkata kepadanya: “Barang siapa bergaul dengan suatu kaum selama empat puluh hari, maka dia termasuk dari mereka.” Karena itu ketika dia meninggal, mereka sangat gembira atas kematiannya.
Muhammad bin Ahmad bin Abdul Baqi bin Al-Hasan bin Muhammad bin Thuq
Abu Al-Fadha’il Ar-Rabi’i Al-Maushili, belajar fikih dari Syaikh Abu Ishaq Asy-Syirazi, mendengar hadits dari Qadhi Abu Ath-Thayyib Ath-Thabari. Dia terpercaya, saleh, dan menulis banyak hadits. Semoga Allah merahmatinya.
Muhammad bin Al-Hasan
Abu Abdullah Ar-Razani, tinggal di Awana. Dia adalah seorang qari, fakih, saleh, memiliki keadaan-keadaan spiritual, karamah, dan mukasyafah. Dia belajar dari Qadhi Abu Ya’la bin Al-Farra tentang hadits dan lainnya. Ibnu Al-Jauzi berkata: Sampai kepadaku bahwa anaknya yang kecil meminta darinya seekor kijang dan terus memaksa. Maka dia berkata kepadanya: “Wahai anakku, besok akan datang kepadamu seekor kijang.” Ketika hari berikutnya, datanglah seekor kijang yang menanduk-nandukkan pintunya dengan tanduknya hingga pintu terbuka. Ayahnya berkata: “Wahai anakku, kijangmu telah datang.” Semoga Allah merahmatinya.
Muhammad bin Ali bin Ubaidillah bin Ahmad bin Shalih bin Sulaiman bin Wad’an
Abu Nashr Al-Maushili Al-Qadhi, datang ke Baghdad tahun sembilan puluh tiga empat ratus dan menceritakan hadits dari pamannya dengan kitab Al-Arba’in Al-Wad’aniyah. Pamannya Abu Al-Fath bin Wad’an telah mencuri kitab itu dari Zaid bin Rifa’ah Al-Hasyimi, lalu dia membuat sanad-sanad palsu kepada para perawi setelah Zaid bin Rifa’ah. Semuanya palsu, meskipun sebagian kandungannya memiliki makna yang benar. Wallahu a’lam.
Muhammad bin Manshur
Abu Sa’d Al-Mustaufi, Syaraf Al-Mulk Al-Khawarizmi, orang yang sangat terhormat. Dia sangat fanatik kepada para pengikut Abu Hanifah dan mewakafkan sebuah madrasah untuk mereka di Marw, serta mewakafkan banyak buku di dalamnya. Dia membangun madrasah di Baghdad dekat Bab Ath-Thaq, membangun kubah di atas makam Abu Hanifah, membangun ribath-ribath di padang pasir, dan melakukan banyak kebaikan. Dia termasuk orang yang paling baik makanannya, minumannya, pakaiannya, dan paling banyak hartanya. Kemudian setelah semua itu dia meninggalkan pekerjaan dan menghadap kepada ibadah serta menyibukkan diri dengan dirinya sendiri hingga meninggal. Semoga Allah merahmatinya.
Muhammad bin Manshur Al-Qusyairi
Dikenal dengan Amid Khurasan, datang ke Baghdad pada masa Thughrilbek, dan menceritakan hadits dari Abu Hafsh Umar bin Ahmad bin Masrur. Dia sangat berminat dalam kebaikan, mewakafkan madrasah di Marw untuk Abu Bakar bin Abi Al-Muzhaffar As-Sam’ani dan keturunannya. Ibnu Al-Jauzi berkata: Mereka mengelolanya hingga sekarang. Dia membangun madrasah di Naisabur dan di sana terdapat makamnya. Wafatnya pada bulan Syawwal tahun ini. Semoga Allah merahmatinya.
Nashr bin Ahmad bin Abdullah bin Al-Bathr
Abu Al-Khaththab Al-Bazzaz Al-Qari, lahir tahun tiga ratus sembilan puluh delapan, mendengar banyak hadits, menyendiri dalam meriwayatkan dari Ibnu Razqawaih dan lainnya. Umurnya panjang, para ulama melakukan rihlah kepadanya, dan pendengarannya shahih. Semoga Allah merahmatinya.
Kemudian Masuklah Tahun Lima Puluh Sembilan Puluh Lima Empat Ratus
Pada tanggal tiga Muharram, Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad yang dikenal dengan Ilkiya Al-Harasi ditangkap dan diberhentikan dari mengajar di Nizhamiyah. Hal ini karena sebagian orang menuduhnya kepada Sultan bahwa dia Bathini. Sekelompok ulama bersaksi untuknya, di antaranya Ibnu Aqil, bahwa dia bersih dari tuduhan itu. Kemudian datang surat dari Darul Khilafah untuk membebaskannya.
Pada tahun ini, hari Selasa tanggal sebelas Muharram, Khalifah Al-Mustazhhir bersidang di Darul Khilafah dengan memakai Burdah di pundaknya dan tongkat di tangannya. Datanglah kedua Raja bersaudara Muhammad dan Sanjar putra-putra Malikshah, lalu mencium tanah dan diberi pakaian kehormatan kesultanan. Kepada Muhammad diberikan pedang, kalung, gelang, panji-panji, dan kuda-kuda dari kendaraannya. Kepada Sanjar diberikan kurang dari itu.
Khalifah mengangkat Sultan Muhammad sebagai raja dan menjadikannya wakilnya dalam urusan yang berkaitan dengan khilafah, selain apa yang Khalifah tutup pintunya untuknya. Kemudian Sultan Muhammad keluar pada tanggal sembilan belas bulan itu. Orang-orang mengabarkan tentang kedatangan Barkyaruq, kemudian mereka berdamai atas beberapa perkara. Sultan Muhammad berkuda dan mereka bertemu. Terjadi banyak peperangan dan Muhammad kalah. Dia mengalami kesusahan yang sangat berat sebagaimana akan dijelaskan nanti.
Pada bulan Rajab, Qadhi Abu Al-Hasan Ad-Damaghani menerima kesaksian Abu Al-Husain dan Abu Khazim, keduanya putra Qadhi Abu Ya’la bin Al-Farra. Pada tahun ini, Isa bin Abdullah Al-Ghaznawi datang dan memberi nasihat kepada manusia. Dia bermazhab Syafii dan Asyari, maka terjadilah fitnah antara Hanabilah dan Asyariah di Baghdad.
Pada tahun ini terjadi kebakaran besar di Baghdad. Yang mengimami haji adalah Humaid Al-Amri, pengikut Saifud Daulah Shadaqah bin Manshur bin Dubais bin Ali bin Mazid Al-Asadi, penguasa Hillah.
Di Antara Orang-orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini:
Abu Al-Qasim Penguasa Mesir
Yang bergelar Al-Musta’li pada Dzulhijjah tahun ini. Setelahnya, anaknya Ali yang berusia sembilan tahun mengambil alih pemerintahan dan bergelar Al-Amir bi Ahkamillah.
Muhammad bin Hibatullah
Abu Nashr Al-Qadhi Al-Bandaniji Adh-Dharir Asy-Syafii, belajar dari Syaikh Abu Ishaq Asy-Syirazi kemudian mujawir di Makkah selama empat puluh tahun, memberi fatwa, mengajar, dan meriwayatkan hadits. Dia adalah salah satu keajaiban zaman. Di antara syairnya:
Semoga aku kehilangan jiwaku karena kelalaianku Padahal saudara-saudaraku dan orang yang kucintai telah pergi Aku berjanji kepada Rabbku lalu melanggar janjinya Dan meninggalkan tekadku ketika syahwat muncul Bekalku sedikit, tidak kulihat cukup untukku Apakah aku menangisi bekal ataukah panjangnya perjalanan?
Kemudian Masuklah Tahun Enam Puluh Sembilan Puluh Enam Empat Ratus
Pada tahun ini, Sultan Barkyaruq mengepung saudaranya Muhammad di Ashbahan. Penduduknya mengalami kesempitan rezeki dan kelaparan sangat parah. Sultan Muhammad memaksa penduduknya untuk menyita harta mereka, sementara pengepungan mengelilingi mereka dari luar kota. Maka mereka mengalami ketakutan, kelaparan, dan pengurangan harta, jiwa, serta buah-buahan. Kemudian Sultan Muhammad keluar dari Ashbahan dalam keadaan melarikan diri. Saudaranya mengirim budaknya Iyaz untuk mengejarnya tetapi tidak berhasil menangkapnya. Muhammad selamat dengan selamat.
Ibnu Al-Jauzi berkata: Pada bulan Safar tahun ini, ditambahkan dalam gelar-gelar Qadhil Qudhat Abu Al-Hasan Ad-Damaghani: Tajul Islam. Pada Rabiul Awal, khutbah untuk para sultan di Baghdad dihentikan dan hanya menyebutkan Khalifah serta mendoakan untuknya.
Kemudian kedua saudara Barkyaruq dan Muhammad bertemu dan Muhammad kalah lagi, kemudian mereka berdamai. Pada tahun ini, Duqaq bin Tutsy bin Malikshah penguasa Damaskus menguasai kota Rahhah. Pada tahun ini, Abu Al-Muzhaffar Al-Khujandi Al-Wa’izh dibunuh di Ray. Dia adalah seorang fakih Syafii dan pengajar. Seorang Rafidhi Alawi membunuhnya dalam fitnah. Dia adalah ulama yang utama. Nizhamul Mulk mengunjungi dan memuliakannya. Yang mengimami haji adalah Khumartikin.
Di Antara Orang-orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini:
Ahmad bin Ali bin Abdullah bin Sawwar
Abu Thahir Al-Muqri pemilik kitab-kitab tentang ilmu Alquran. Dia terpercaya, tsiqat, terjaga, dapat dipercaya, menguasai bidang ini, dan telah melampaui usia delapan puluh tahun. Semoga Allah merahmatinya.
Abu Al-Maali
Salah seorang yang saleh, zahid, memiliki karamah dan mukasyafah. Dia banyak beribadah dan hidup sederhana dari dunia. Tidak memakai kecuali satu gamis saja, baik musim panas maupun musim dingin. Jika dingin sangat hebat, dia meletakkan kain sarung di pundaknya. Disebutkan bahwa pada bulan Ramadhan dia mengalami kesusahan yang sangat berat, maka dia berniat pergi kepada salah seorang temannya untuk meminjam sesuatu. Dia berkata: “Ketika aku menuju ke sana, tiba-tiba seekor burung hinggap di pundakku dan berkata: ‘Wahai Abu Al-Maali, aku adalah malaikat fulan, jangan pergi kepadanya, kami akan mendatangkannya kepadamu.’ Orang itu datang pagi-pagi kepadaku.” Diriwayatkan oleh Ibnu Al-Jauzi dalam kitab Muntazhamnya dari dua jalur darinya. Wafatnya pada tahun ini dan dimakamkan dekat makam Ahmad.
Puteri Al-Qa’im Biamrillah Amirul Mukminin
Yang menikah dengan Thughrilbek, wafat pada tahun ini dan dimakamkan di Rashafah. Dia banyak bersedekah dan memberi. Majelis ta’ziyah untuknya diselenggarakan di Bait An-Nubah, dihadiri Wazir. Wallahu a’lam.
Kemudian Masuklah Tahun Tujuh Puluh Sembilan Puluh Tujuh Empat Ratus
Pada tahun ini, bangsa Franka – semoga Allah melaknat mereka – menuju Syam. Kaum muslimin memerangi mereka dan membunuh dua belas ribu orang dari mereka. Allah mengembalikan orang-orang kafir itu dengan kekecewaan mereka, mereka tidak memperoleh kebaikan sama sekali. Dalam pertempuran ini, Bardawil penguasa Ruhah ditawan.
Pada tahun ini, menara Wasith runtuh. Menara itu termasuk menara paling indah. Penduduk negeri membanggakannya dan juga kubah Al-Hajjaj. Ketika runtuh, terdengar tangisan dan ratapan penduduk negeri yang sangat keras, tidak pernah terdengar yang seperti itu. Meskipun demikian, tidak ada yang terbunuh karenanya. Pembangunannya pada tahun tiga ratus empat pada masa Al-Muqtadir.
Pada tahun ini, perdamaian antara kedua Sultan bersaudara Barkyaruq dan Muhammad dikuatkan. Mereka membagi negeri-negeri. Khutbah untuk Muhammad di Baghdad dihentikan dan dilanjutkan untuk Raja Barkyaruq. Dia mengirimkan pakaian kehormatan untuknya dan untuk Amir Iyaz. Pada tahun ini, bangsa Franka merebut kota Akka dan kota-kota pantai lainnya.
Pada tahun ini, Amir Saifud Daulah Shadaqah bin Manshur penguasa Hillah menguasai kota Wasith. Pada tahun ini wafat Raja Duqaq bin Tutsy penguasa Damaskus. Budaknya Thughtikin mengangkat anaknya yang masih kecil menggantikan posisinya dan mengambil bai’at untuknya. Dia menjadi atabegnya. Keduanya mengatur kerajaan Damaskus untuk beberapa waktu. Pada tahun ini, Sultan Sanjar memberhentikan wazirnya Abu Al-Fath Ath-Thughrai dan mengasingkannya ke Ghaznah.
Pada tahun ini, Abu Nashr Nizam al-Hadlratain menjabat sebagai kepala Diwan al-Insya’ setelah wafatnya pamannya Abu Sa’d al-‘Ala’ bin al-Mushallaya. Pada tahun ini pula terbunuh seorang dokter yang mahir dan cakap, Abu Nu’aim, yang memiliki diagnosa-diagnosa yang sangat mengagumkan. Yang memimpin haji pada tahun ini adalah Amir Khumartakin.
Orang-orang terkemuka yang wafat pada tahun ini:
Ardasir bin Abi Manshur Abu al-Hasan al-‘Abadi sang pengkhotbah, datang ke Baghdad dan dicintai oleh masyarakat awam pada tahun 486 Hijriah. Ia memiliki keadaan-keadaan baik dalam penampilannya, wallahu a’lam.
Ismail bin Muhammad bin ‘Utsman bin Ahmad
Abu al-Faraj al-Qumsani dari penduduk Hamadzan, mendengar hadits dari ayahnya, kakeknya, dan sejumlah orang. Ia adalah seorang hafizh yang baik pengetahuannya tentang para perawi dan matan hadits, terpercaya, dan dapat dipercaya; semoga Allah merahmatinya.
Al-‘Ala’ bin al-Hasan bin Wahab bin al-Mushallaya
Sa’d al-Daulah, penulis Diwan al-Insya’ di Baghdad. Ia dahulu seorang Nasrani lalu masuk Islam pada tahun 484 Hijriah. Ia menjabat dalam kepemimpinan selama masa yang panjang, sekitar enam puluh lima tahun. Ia pernah menjabat sebagai wazir beberapa kali dan menulis surat-surat resmi dalam waktu yang lama. Ia fasih dalam ungkapan dan banyak bersedekah. Ia wafat pada tahun ini dalam usia yang panjang; semoga Allah merahmatinya.
Muhammad bin Ahmad bin ‘Umar
Abu ‘Umar al-Nahawandi, qadhi Bashrah selama masa yang panjang. Ia adalah seorang faqih yang berilmu, mendengar hadits dari Abu al-Hasan al-Mawardi dan lainnya. Ia termasuk murid-murid al-Mawardi. Kelahirannya pada tahun 410 Hijriah, dan ada yang mengatakan tahun 407 Hijriah, wallahu a’lam.
Kemudian masuklah tahun 498 Hijriah
Pada tahun ini wafat Sultan Barkiyaruq dan ia mewasiatkan kepada putranya yang masih kecil, Malikshah, yang usianya empat tahun beberapa bulan. Khutbah diserukan untuknya di Baghdad, dan dinarkan serta dirham ditaburkan ketika namanya disebut. Ia dijuluki Jalal al-Daulah, dan Amir Iyaz dijadikan atabaknya. Kemudian Sultan Muhammad bin Malikshah datang ke Baghdad, maka para pembesar negara keluar menemuinya dan berdamai dengannya. Yang mengambil bai’at untuk perdamaian adalah al-Kiya al-Harrasi, guru madrasah Nizhamiyah. Khutbah diserukan untuknya di sisi barat dan untuk keponakannya di sisi timur. Kemudian Amir Iyaz terbunuh, ia masuk Baghdad dan pakaian kehormatan, dawat (tinta), serta dust (jubah kebesaran) dikirimkan kepadanya.
Wazir Sa’d al-Daulah menghadiri majelis al-Kiya al-Harrasi di pelajaran Nizhamiyah untuk memotivasi orang-orang dalam menuntut ilmu.
Pada tanggal 12 Rajab tahun ini, tanda pengenal yang telah diwajibkan kepada ahli dzimmah sejak tahun 484 Hijriah dihapuskan, dan tidak diketahui apa sebabnya. Pada tahun ini terjadi banyak peperangan antara orang-orang Mesir dan Franka, dan banyak orang Franka yang terbunuh. Kemudian kekalahan berpihak pada orang-orang Mesir dan Franka membunuh banyak dari mereka juga.
Orang-orang terkemuka yang wafat pada tahun ini:
Sultan Barkiyaruq bin Malikshah Rukn al-Daulah al-Saljuqi, mengalami banyak kesulitan, peperangan dahsyat, dan keadaan yang beragam. Khutbah diserukan untuknya di Baghdad enam kali, dan ia dicopot enam kali. Usianya ketika wafat adalah 24 tahun beberapa bulan. Setelahnya putranya Malikshah menjadi pengganti tetapi urusannya tidak sempurna karena persaingan dengan pamannya Muhammad.
‘Isa bin ‘Abdullah bin al-Qasim
Abu al-Mu’ayyad al-Ghaznawi al-Asy’ari, seorang pengkhotbah, penulis, dan penyair. Ia datang ke Baghdad dan berkhotbah di sana hingga disukai penduduknya. Ia bermazhab Asy’ari dan sangat fanatik kepadanya. Ia keluar dari Baghdad menuju negerinya lalu wafat di Isfara’in.
Muhammad bin Ahmad bin Ibrahim bin Salfah al-Ashbahani
Abu Ahmad adalah seorang syaikh yang saleh dan terpercaya, mendengar banyak hadits. Ia adalah ayah dari al-Hafizh Abu Thahir al-Silafi; semoga Allah merahmatinya.
Al-Hafizh Abu ‘Ali al-Jayani
Al-Husain bin Muhammad bin Ahmad al-Ghassani al-Andalusi, penyusun kitab “Taqyid al-Muhmal” tentang lafazh-lafazh dalam dua kitab Shahih. Ini adalah kitab yang bermanfaat dan sangat berguna. Ia memiliki tulisan yang bagus, berilmu dalam bahasa, syair, dan sastra. Ia mendengar hadits di masjid Qurthubah. Ia wafat pada malam Jumat, 12 Sya’ban tahun ini, pada usia 71 tahun; semoga Allah merahmatinya.
Muhammad bin ‘Ali bin al-Hasan bin Abi al-Shaqr
Abu al-Hasan al-Wasithi, mendengar hadits dan belajar fiqih kepada Syaikh Abu Ishaq al-Syirazi, membaca sastra, dan mengarang syair. Di antaranya adalah ucapannya:
Barangsiapa berkata kepadaku: “Aku punya kedudukan dan pengaruh, dan aku diterima oleh penguasa kita,” namun tidak memberikan manfaat kepada sahabatnya, maka janganlah ada orang seperti itu
Kemudian masuklah tahun 499 Hijriah
Pada bulan Muharram tahun ini, seorang laki-laki mengaku sebagai nabi di daerah Nahawand dan memberi nama empat orang sahabatnya dengan nama Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Banyak orang bodoh dan awam mengikuti kesesatannya, menjual harta mereka dan menyerahkan hasilnya kepadanya. Ia dermawan, memberikan kepada siapa saja yang datang kepadanya apa yang ia miliki. Kemudian ia terbunuh di daerah itu, semoga Allah melaknatnya.
Seorang laki-laki lain dari keturunan Alb Arslan di daerah itu mencoba merebut kekuasaan tetapi tidak berhasil; ia ditangkap dalam waktu kurang dari dua bulan. Orang-orang berkata: “Seorang mengaku sebagai nabi dan yang lain mengaku sebagai raja, maka tidak lebih cepat dari lenyapnya keduanya.”
Pada bulan Rajab tahun ini, Sungai Dijlah (Tigris) meluap sangat besar, merusak banyak tanaman dan menenggelamkan banyak rumah di Baghdad. Pada tahun ini pula Thughtakin, atabak pasukan di Damaskus, mengalahkan Franka dan kembali dengan kemenangan ke Damaskus. Kota dihiasi selama tujuh hari sebagai ungkapan kegembiraan atas kekalahan Franka. Pada bulan Ramadhan, Raja Ridlwan bin Tutsy, penguasa Halab, mengepung kota Nashihin.
Pada tahun ini datang ke Baghdad seorang raja dari raja-raja Mulatstsimin (orang-orang berkerudung) dan bersamanya seorang laki-laki yang disebut al-Faqih. Ia mengkhotbahi orang-orang di Masjid al-Qashr dalam keadaan berkerudung, kemudian kembali ke Mesir. Ia memiliki banyak peperangan dengan Franka dan gugur syahid dalam salah satunya.
Yang memimpin haji pada tahun ini dari Irak adalah seorang laki-laki dari kerabat Amir Saif al-Daulah Shadaqah.
Orang-orang terkemuka yang wafat pada tahun ini:
Sahl bin Ahmad bin ‘Ali bin al-Arghiyani Abu al-Fath al-Hakim, mendengar hadits dari al-Baihaqi dan lainnya, mencatat dari Qadhi Husain metodenya dan berterima kasih atasnya. Ia awalnya belajar fiqih kepada Syaikh Abu ‘Ali al-Sanji, kemudian belajar fiqih dan mencatat dari Imam al-Haramain dalam ushul dan berdebat di hadapannya hingga dipuji. Ia menjabat sebagai qadhi di negerinya selama beberapa waktu, kemudian meninggalkan semua itu dan beribadah serta membaca Alquran. Menurut Ibnu Khallikan, ia membangun ribath untuk para sufi dari hartanya sendiri dan terus beribadah hingga wafat pada awal Muharram tahun ini; semoga Allah merahmatinya.
Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin ‘Ali bin ‘Abd al-Razzaq
Abu Manshur al-Khayyath, salah seorang qari’ dan orang-orang saleh. Ia mengkhatamkan ribuan kali Alquran, dan ribuan orang mengkhatamkan Alquran di hadapannya. Ia menyampaikan banyak hadits. Ketika wafat, orang sangat banyak menghadiri jenazahnya, berkumpul dalam jumlah yang tidak pernah terlihat seperti itu dalam jenazah pada masa-masa itu. Usianya ketika wafat adalah 97 tahun; semoga Allah merahmatinya. Seseorang melihatnya dalam mimpi lalu bertanya kepadanya: “Apa yang Tuhanmu lakukan kepadamu?” Ia menjawab: “Aku diampuni karena mengajarkan surat al-Fatihah kepada anak-anak.”
Muhammad bin ‘Ubaidillah bin al-Hasan bin al-Husain
Abu al-Faraj al-Bashri, qadhilnya. Ia mendengar dari Abu al-Thayyib al-Thabari, al-Mawardi, dan lainnya. Ia melakukan rihlah dalam menuntut hadits. Ia adalah seorang abid yang khusyu’ dalam berdzikir.
Muharisy bin Mujli,
Amir orang-orang Arab di Haditsah dan ‘Anah. Dialah yang menerima titipan al-Qa’im bi-Amrillah ketika terjadi fitnah al-Basasiri di Baghdad; ia memuliakan Khalifah ketika datang kepadanya, kemudian Khalifah membalasnya dengan balasan yang sangat baik. Amir Muharisy ini banyak shalat dan bersedekah. Wafatnya pada tahun ini dalam usia 80 tahun.
Kemudian masuklah tahun 500 Hijriah
Abu Dawud berkata dalam Sunannya: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahab, telah menceritakan kepadaku Mu’awiyah bin Shalih, dari ‘Abd al-Rahman bin Jubair, dari ayahnya, dari Abu Tsa’labah al-Khusyani, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah tidak akan mengacuhkan umat ini dari setengah hari.”
Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin ‘Utsman, telah menceritakan kepada kami Abu al-Mughirah, telah menceritakan kepadaku Shafwan, dari Syuraih bin ‘Ubaid, dari Sa’d bin Abi Waqqash, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya aku berharap umatku tidak akan diabaikan oleh Tuhannya sehingga Dia mengakhirkan mereka setengah hari.” Dikatakan kepada Sa’d: “Berapa setengah hari?” Ia menjawab: 500 tahun. Ini termasuk dalil-dalil kenabian. Penyebutan masa ini tidak menafikan tambahan di atasnya sebagaimana yang terjadi; karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan beberapa tanda-tanda kiamat yang pasti terjadi sebagaimana yang beliau kabarkan, persis sama. Penyebutannya akan datang setelah zaman kita, dan kepada Allah-lah kita memohon pertolongan.
Di antara peristiwa yang terjadi pada tahun ini adalah Sultan Muhammad bin Malikshah mengepung banyak benteng dari benteng-benteng Bathiniyyah (kelompok Bathiniah). Ia menaklukkan banyak tempat dari benteng-benteng itu, membunuh banyak sekali dari mereka, dalam jumlah yang sangat besar dan sangat banyak. Di antara yang ditaklukkannya adalah sebuah benteng yang kokoh yang telah dibangun oleh ayahnya di dekat Ashbahan di puncak gunung yang sulit dijangkau di sana. Sebab dibangunnya benteng itu adalah pada suatu ketika ia sedang berburu, seekor anjing lari darinya, ia mengejarnya sampai ke puncak gunung dan menemukannya. Bersamanya ada seorang utusan dari Romawi. Orang Romawi itu berkata: “Seandainya gunung ini ada di negeri kami, pasti kami akan membangun benteng di atasnya.” Ucapan ini mendorong Sultan untuk membangun benteng di puncaknya, ia menghabiskan satu juta dua ratus ribu dinar untuk membangunnya. Setelah itu, seorang laki-laki dari kelompok Bathiniah bernama Ahmad bin ‘Abd al-Malik bin ‘Atasy menguasainya dan membuat kaum muslimin kesulitan karenanya. Putranya Sultan Muhammad mengepungnya selama satu tahun hingga berhasil menaklukkannya. Laki-laki ini dikuliti dan kulitnya diisi dengan jerami, kepalanya dipotong dan diarak keliling di berbagai wilayah. Kemudian benteng ini dihancurkan batu demi batu. Istrinya melemparkan dirinya dari puncak benteng dan mati, dan musnah pula perhiasan-perhiasan berharga yang ada bersamanya. Orang-orang merasa sial dengan benteng ini, mereka berkata: “Penunjuknya adalah seekor anjing, yang menyarankannya adalah seorang kafir, dan yang bersembunyi di dalamnya adalah seorang zindiq.”
Pada tahun ini terjadi banyak peperangan antara suku Khafajah dan suku ‘Abadah, suku ‘Abadah mengalahkan suku Khafajah dan membalas dendam mereka. Pada tahun ini pula Saif al-Daulah Shadaqah bin Manshur al-Asadi menguasai kota Tikrit setelah pertempuran yang panjang. Pada tahun ini Sultan Muhammad mengutus Amir Jawali Saqawu ke Mawshil dan memberikannya sebagai iqtha’ (wilayah kekuasaan). Ia pergi dan merebutnya dari Amir Jakarmisy setelah berperang dengannya, mengalahkan pasukan-pasukannya, dan menawannya, kemudian membunuhnya setelah itu. Jakarmisy adalah termasuk amir-amir terbaik dalam kepemimpinan, keadilan, dan kebaikan. Kemudian Qilij Arslan bin Qutalmisy datang dan mengepung Mawshil, ia merebutnya dari Jawali, maka Jawali pergi ke al-Rahhah dan mengambilnya. Kemudian ia datang untuk memerangi Qilij dan mengalahkannya, Qilij menceburkan dirinya ke Sungai Khabur dan binasa.
Pada tahun ini terjadi banyak peperangan antara orang-orang Romawi dan Franka, mereka berperang dengan sangat hebat dan banyak yang terbunuh dari kedua pihak. Akhirnya kekalahan setelah perhitungan panjang menimpa Franka.
Pada hari ‘Asyura tahun ini terbunuh Fakhr al-Mulk Abu al-Muzhaffar bin Nizham al-Mulk, ia adalah anak sulung dan wazir Sultan Sanjar di Naisabur. Ia sedang berpuasa. Seorang Bathini membunuhnya. Ia pada malam itu bermimpi melihat al-Husain bin ‘Ali radliyallahu ‘anhuma berkata kepadanya: “Segeralah datang kepada kami dan berbukalah di tempat kami malam ini.” Ia bangun dengan heran lalu berniat berpuasa pada hari itu. Beberapa sahabatnya menyarankan agar ia tidak keluar rumah pada hari itu, tetapi ia tidak keluar kecuali di akhir siang. Ia melihat seorang pemuda yang sedang mengadu dan di tangannya ada surat. Ia bertanya: “Ada apa?” Pemuda itu memberikan surat kepadanya. Ketika ia sedang membacanya, tiba-tiba pemuda itu menusuknya dengan belati yang ada di tangannya dan membunuhnya. Orang Bathini itu ditangkap dan dibawa kepada Sultan. Ia diinterogasi dan mengaku bahwa beberapa orang dari pegawai wazir memerintahkannya melakukan itu – padahal ia berbohong. Ia dibunuh dan mereka juga dibunuh.
Pada bulan Shafar, Khalifah memberhentikan wazir Abu al-Qasim ‘Ali bin Jahir dan menghancurkan rumahnya yang telah dibangun oleh ayahnya dari reruntuhan rumah-rumah orang. Dalam hal ini terdapat pelajaran dan nasihat bagi orang-orang yang memiliki pandangan dan akal. Abu al-Hasan al-Damaghani diangkat sebagai wazir pengganti.
Yang memimpin haji pada tahun ini adalah seorang Turkmani dari pihak Sultan Muhammad bin Malikshah.
Dan di antara tokoh terkemuka yang wafat pada tahun ini:
Ahmad bin Muhammad bin Al-Muzhaffar Abu Al-Muzhaffar Al-Khawafi, ahli fikih Syafi’i. Ibnu Khallikan berkata: Ia adalah orang yang paling pandai dalam hal debat di zamannya, berguru fikih kepada Imam Al-Haramain, dan merupakan murid beliau yang paling menonjol. Ia menjabat sebagai qadhi (hakim) di Thus dan wilayah-wilayah sekitarnya, dan terkenal di kalangan ulama karena kehebatannya dalam berdebat dan mengalahkan lawan. Ibnu Khallikan berkata: Al-Khawafi dengan membuka huruf kha dan waw adalah penisbatan kepada Khawaf, yaitu suatu wilayah dari wilayah-wilayah Naisabur. Ia wafat pada tahun ini; semoga Allah merahmatinya.
Ja’far bin Ahmad bin Al-Husain bin Ahmad bin Ja’far As-Sarraj Abu Muhammad Al-Qari’ Al-Baghdadi, lahir tahun 416 H. Ia membaca Al-Qur’an dengan berbagai riwayat, dan mendengar banyak hadits Nabi dari para syaikh laki-laki dan perempuan di berbagai negeri. Al-Hafizh Abu Bakr Al-Khatib telah membuat kompilasi beberapa jilid dari apa yang ia dengar. Ia adalah orang yang kuat hafalannya, baik ingatannya, seorang sastrawan dan penyair yang pandai menggubah syair, menggubah kitab Al-Mubtada’, kitab At-Tanbih, Al-Kharqi dan lain-lain. Ia memiliki kitab Mashari’ Al-‘Ushshaq dan lain-lain. Di antara syairnya:
Katakanlah kepada mereka yang karena kebodohannya Mencela tinta dan pena Dan para pembawanya dari Tangan-tangan yang bertemu di pergelangan Seandainya tidak ada tinta dan pena Dan lembaran-lembaran serta buku-buku Dan para penghafal syariat Utusan dari sebaik-baik keluarga Dan para perawi haditsnya dari Leluhur yang tsiqah dan leluhur lainnya Niscaya kau akan melihat dari golongan sesat Pasukan-pasukan yang mengikuti pasukan-pasukan Setiap orang berkata dengan kebodohannya Padahal Allah adalah penolong orang yang terzhalimi
Aku menyebut mereka Ahlul Hadits Para pemilik akal dan para pemilik pandangan Hasywiyyah? Celakalah kalian Dan bagi mereka yang menyatakan kekurangan mereka secara terang-terangan Mereka adalah isi surga-surga kenikmatan Di atas dipan-dipan dan mimbar-mimbar Teman-teman Ahmad semuanya Dari telaga beliau yang penuh air keluar
Ibnu Khallikan menyebutkan syair-syair indah lainnya darinya, di antaranya perkataannya:
Dan orang yang mengaku masa muda padahal Telah disorbankan uban di atas rambutnya Ia menyemir janggutnya dengan wasm Cukuplah baginya bahwa ia berbohong di janggutnya
Abdul Wahhab bin Muhammad bin Abdul Wahhab bin Abdul Wahid Abu Muhammad Asy-Syirazi Al-Farisi, mendengar banyak hadits dan belajar fikih. Nizham Al-Muluk mengangkatnya untuk mengajar di Nizhamiyah Baghdad pada tahun 483 H, ia mengajar di sana beberapa waktu, dan ia mendiktekan hadits-hadits. Ia banyak melakukan kesalahan dalam membaca teks (tashif). Suatu kali ia meriwayatkan hadits “Shalat setelah shalat adalah catatan di ‘Illiyyin”, tetapi ia membacanya: “seperti api dalam kegelapan”, kemudian ia menafsirkannya bahwa itu lebih banyak cahayanya.
Muhammad bin Ibrahim bin ‘Ubaid Al-Asadi, penyair. Ia bertemu dengan Abu Al-Hasan At-Tahami, dan sangat gemar menggubah syair tandingan terhadap syairnya. Ia pernah tinggal di Yaman, Irak, kemudian di Hijaz, lalu di Khurasan. Di antara syairnya:
Aku berkata: Engkau menjadi beban ketika datang berulang kali Ia berkata: Engkau membebani pundakku dengan kebaikan-kebaikan Aku berkata: Engkau memperpanjang. Ia berkata: Justru terpanjang Dan mempererat. Ia berkata: Tali persahabatan
Yusuf bin Ali Abu Al-Qasim Az-Zanjani, ahli fikih. Ia adalah orang yang taat beragama. Ia menuturkan dari Syaikh Abu Ishaq Asy-Syirazi dari Qadhi Abu Ath-Thayyib, berkata: Suatu hari kami berada di Jami’ Al-Manshur dalam sebuah halaqah, datanglah seorang pemuda Khurasani, lalu ia menyebutkan hadits Abu Hurairah tentang musharrah (kambing yang susunya ditahan agar tampak banyak), maka pemuda itu berkata: Hadits ini tidak dapat diterima. Belum selesai perkataannya, tiba-tiba jatuhlah dari atap masjid seekor ular, maka orang-orang pun bangkit melarikan diri. Ular itu mengejar pemuda tersebut dari antara mereka. Maka dikatakan kepadanya: Bertobatlah, bertobatlah! Maka ia berkata: Aku bertobat, lalu ular itu pergi dan kami tidak tahu ke mana ia pergi. Diriwayatkan oleh Ibnu Al-Jauzi dari syaikhnya Abu Al-Mu’ammar Al-Anshari dari Abu Al-Qasim ini, wallahu a’lam.
Pada tahun ini, khalifah memperbaharui pemberian pakaian kehormatan kepada wazirnya Abu Al-Ma’ali Hibatullah bin Muhammad bin Al-Muththalib, dan memuliakannya serta mengagungkannya.
Pada bulan Rabi’ Al-Akhir tahun ini, Sultan Muhammad memasuki Baghdad, maka wazir dan para pembesar menyambutnya. Ia berbuat baik kepada penduduknya dan tidak ada seorang pun dari pasukannya yang mengusik sesuatu pun. Sultan Ghiyats Ad-Din Muhammad murka kepada Shadaqah bin Manshur Al-Asadi, penguasa Hillah dan Tikrit karena ia memberi perlindungan kepada salah seorang musuhnya yang bernama Abu Dalf Sarkhab Ad-Dailami, penguasa Sawah. Sultan mengirim utusan kepadanya agar menyerahkan orang itu kepadanya, tetapi ia tidak mau, maka Sultan mengirim pasukan kepadanya yang kemudian mengalahkan pasukannya. Padahal pasukannya berjumlah dua puluh ribu penunggang kuda dan tiga puluh ribu pejalan kaki. Shadaqah terbunuh dalam pertempuran, dan beberapa pemimpin tentaranya ditawan. Dari istrinya diambil lima ratus ribu dinar dan permata yang berharga.
Ibnu Al-Jauzi berkata: Pada tahun ini muncul seorang gadis buta yang berbicara tentang rahasia-rahasia orang, dan orang-orang berupaya keras dengan berbagai cara untuk mengetahui keadaannya tetapi mereka tidak bisa mengetahuinya. Ibnu ‘Aqil berkata: Urusannya membingungkan para ulama, orang-orang khusus dan orang awam, sehingga ia ditanya tentang ukiran cincin-cincin yang terbalik yang sulit, tentang jenis-jenis batu permata, sifat-sifat orang, dan apa yang ada di dalam biji-bijian dari lilin, tanah liat, biji-bijian yang berbeda dan manik-manik. Salah seorang dari mereka berusaha keras hingga meletakkan tangannya pada kemaluannya, lalu dikatakan kepadanya: Apa yang ada di tangannya? Maka ia berkata: Ia akan membawanya kepada istri dan anak-anaknya.
Pada tahun ini, Qadhi Fakhr Al-Muluk Abu ‘Ubaid Ali bin ‘Ammar, penguasa Tripoli, datang ke Baghdad untuk menggerakkan kaum muslimin melawan Franka. Maka Sultan Ghiyats Ad-Din Muhammad memuliakannya dengan pemuliaan yang berlebihan, memberinya pakaian kehormatan dan mengirim bersamanya pasukan yang banyak untuk memerangi Franka.
Dan di antara tokoh terkemuka yang wafat pada tahun ini:
Tamim bin Al-Mu’izz bin Badis, penguasa Ifriqiyah (Afrika Utara). Ia termasuk di antara raja-raja terbaik dalam hal akhlak, kedermawanan, dan kebaikan. Ia memerintah selama empat puluh enam tahun, dan berumur tujuh puluh sembilan tahun. Ia meninggalkan anak laki-laki lebih dari seratus orang, dan anak perempuan enam puluh orang. Yang memerintah setelahnya adalah anaknya Yahya. Di antara pujian terindah yang ditujukan kepada Al-Amir Tamim adalah perkataan penyair:
Yang paling benar dan paling tinggi yang kami dengar tentang kedermawanan Dari kabar yang diriwayatkan sejak dahulu Adalah cerita-cerita yang diriwayatkan oleh banjir dari hujan Dari laut dari tangan Al-Amir Tamim
Shadaqah bin Manshur bin Dubais bin Ali bin Mazid Al-Asadi, Al-Amir Saif Ad-Daulah, penguasa Hillah, Tikrit, Wasith dan lainnya. Ia adalah orang yang mulia, menjaga kehormatan diri, memiliki tanggung jawab, tempat berlindung bagi setiap orang yang ketakutan, orang-orang merasa aman di negerinya dan di bawah perlindungannya. Ia pandai membaca kitab-kitab tetapi tidak pandai menulis. Ia mengumpulkan buku-buku yang sangat banyak dan berharga. Ia tidak pernah menikah lagi jika sudah memiliki istri, dan tidak mengambil budak perempuan jika sudah memiliki budak, untuk menjaga kehormatan dan agar tidak menyakiti hati seseorang. Ia dipuji dengan sifat-sifat baik yang sangat banyak. Ia terbunuh dalam salah satu pertempuran, dibunuh oleh seorang budak bernama Bazghush. Umurnya lima puluh sembilan tahun, ia menjabat sebagai amir selama dua puluh satu tahun; semoga Allah merahmatinya.
Pada hari Jumat tanggal dua puluh dua bulan Sya’ban, khalifah Al-Mustazhir Billah menikahi Khatun binti Malikshah, saudara perempuan Sultan Muhammad, dengan mahar seratus ribu dinar. Emas bertebaran, dan akad nikah ditulis di Ashfahan. Pada tahun ini terjadi banyak peperangan antara Al-Atabak Thughtakin, penguasa Damaskus, dengan Franka. Pada tahun ini Sa’id bin Humaid Al-‘Umari menguasai Hillah As-Saifiyyah. Pada tahun ini Sungai Tigris meluap sangat tinggi sehingga hasil panen terendam dan harga-harga naik sangat tinggi karena itu. Yang memimpin haji adalah Al-Amir Qaimaz.
Dan di antara tokoh terkemuka yang wafat pada tahun ini:
Al-Hasan Al-‘Alawi Abu Hasyim, pemimpin Hamadan. Ia memiliki harta yang sangat banyak. Sultan mengenakan denda kepadanya sebesar sembilan ratus ribu dinar, maka ia menimbangnya dan tidak menjual tanah atau yang lainnya untuk itu.
Al-Husain bin Ali Abu Al-Fawaris, Ibnu Al-Khazin, penulis yang terkenal dengan tulisan mansub, wafat pada bulan Dzulhijjah tahun ini. Ibnu Khallikan berkata: Ia menulis dengan tangannya lima ratus mushaf Al-Qur’an. Ia meninggal mendadak; semoga Allah merahmatinya.
Abdul Wahid bin Isma’il bin Ahmad bin Muhammad Abu Al-Mahasin Ar-Ruyani, dari penduduk Thabaristan, salah seorang imam Syafi’iyyah. Ia lahir tahun 415 H, berkelana ke berbagai negeri hingga sampai ke wilayah di seberang sungai (Transoxiana), menguasai banyak ilmu, mendengar banyak hadits, dan menyusun kitab-kitab dalam madzhab, di antaranya Al-Bahr dalam cabang-cabang fikih, yang merupakan kitab yang lengkap, sempurna, mencakup hal-hal yang langka dan lainnya. Dalam peribahasa: Ceritakanlah tentang Al-Bahr dan tidak mengapa (karena begitu luasnya). Ia biasa berkata: Seandainya kitab-kitab Asy-Syafi’i terbakar, aku akan mendiktekannya dari hafalanku. Ia dibunuh secara zhalim pada hari Jumat, yaitu hari ‘Asyura, di masjid jami’ di Thabaristan.
Ibnu Khallikan berkata: Ia belajar fikih dari Nashir Al-Maruzi dan mencatat darinya. Ar-Ruyani memiliki kedudukan yang agung dan kehormatan yang besar di wilayah-wilayah tersebut. Nizham Al-Muluk sangat mengagungkannya. Ia telah menyusun kitab-kitab dalam ushul dan furu’, di antaranya: Bahrul Madzhab, kitab Manashish Al-Imam Asy-Syafi’i, kitab Al-Kafi, Hilyatul Mu’min, dan ia juga memiliki kitab-kitab tentang khilafiyyah (perbedaan pendapat); semoga Allah merahmatinya.
Yahya bin Ali bin Muhammad bin Al-Hasan bin Bistham Asy-Syaibani At-Tabrizi Abu Zakariya, salah seorang imam dalam ilmu bahasa dan nahwu. Ia belajar kepada Abu Al-‘Ala’ dan yang lainnya. Sejumlah orang berguru kepadanya, di antaranya Abu Manshur Ibnu Al-Jawaliqi. Ibnu Nashir berkata: Ia tsiqah (terpercaya) dalam meriwayatkan, dan memiliki karya-karya yang banyak. Ibnu Khairun berkata: Ia tidak terpuji cara hidupnya. Ia wafat pada bulan Jumada Al-Akhirah dan dikuburkan di samping Syaikh Abu Ishaq Asy-Syirazi di Bab Abraz.
Pada tahun ini Franka – semoga Allah melaknat mereka – merebut kota Tripoli, membunuh laki-lakinya, menawan wanita dan anak-anaknya, dan merampas harta benda dan kekayaan. Kemudian mereka merebut kota Jubalah sepuluh malam setelahnya. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi, Maha Agung, Maha Besar, Maha Mulia. Fakhr Al-Muluk bin ‘Ammar melarikan diri dari mereka menuju penguasa Damaskus, Thughtakin, yang memuliakannya dan memberinya banyak wilayah.
Pada tahun ini, salah seorang dari golongan Bathiniyyah menyerang wazir Abu Nashr bin Nizham Al-Muluk dan melukainya. Kemudian orang Bathini itu ditangkap dan diberi minum khamr sehingga mengaku tentang sekelompok dari Bathiniyyah, maka mereka ditangkap dan dibunuh. Yang memimpin haji adalah Al-Amir Qaimaz.
Dan di antara tokoh terkemuka yang wafat pada tahun ini:
Ahmad bin Ali bin Ahmad Abu Bakr Al-‘Altsi, ia bekerja mengaci dinding-dinding dan tidak membuat gambar, dan tidak mengambil sesuatu dari siapa pun. Ia memiliki properti yang ia jual untuk kebutuhan hidupnya. Ia mendengar hadits dari Qadhi Abu Ya’la, dan belajar sedikit fikih kepadanya. Jika ia menunaikan haji, ia mengunjungi kuburan-kuburan di Makkah. Jika sampai di kubur Fudlail bin ‘Iyadh, ia menggaris di sampingnya dengan tongkatnya dan berkata: Ya Rabb, di sini. Maka tergambarlah bahwa ia menunaikan haji pada tahun ini, berdiri di Arafah dalam keadaan berihram, lalu wafat di akhir hari itu. Ia dimandikan dan dikafani serta dikelilingkan di sekitar Ka’bah, kemudian dikuburkan di samping Fudlail bin ‘Iyadh di tempat yang biasa ia garisi dengan tongkatnya itu. Ketika kabar wafatnya sampai kepada penduduk Baghdad, mereka berkumpul untuk menshalatkan ghaib atasnya; semoga Allah merahmatinya.
Umar bin Abdul Karim bin Sa’duwaih Abu Al-Fityan Ad-Dahustani, ia berkelana dalam mencari hadits, mengelilingi dunia, membuat takhrij dan mengadakan seleksi (intikhab). Ia memiliki kepahaman dalam bidang ini, dan ia tsiqah (terpercaya). Abu Hamid Al-Ghazali telah mengoreksi kepadanya kedua kitab shahih (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim). Wafatnya di Sarakhs pada tahun ini.
Muhammad yang dikenal dengan saudara Hammadi, ia adalah salah seorang orang shalih yang besar. Ia menderita penyakit menahun, lalu ia bermimpi melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga ia sembuh. Ia menetap di masjidnya selama empat puluh tahun, tidak keluar kecuali untuk shalat Jumat, dan memutuskan hubungan dengan manusia. Ia wafat pada tahun ini, dan dikuburkan di sebuah sudut dekat kubur Abu Hanifah; semoga Allah merahmatinya.
Kemudian Masuklah Tahun Lima Ratus Empat
Pada awal tahun ini, sekelompok orang Baghdad dari kalangan fuqaha (ahli fikih) dan lainnya mempersiapkan diri, di antaranya Ibnu az-Zaghuni, untuk berangkat ke Syam guna memerangi Franj—semoga Allah melaknat mereka—ketika sampai kabar kepada mereka bahwa Franj telah menaklukkan beberapa kota, di antaranya kota Shaida pada bulan Rabiul Awal, dan juga kota-kota lainnya. Kemudian banyak dari mereka kembali ketika mendengar bahwa pasukan Franj sangat banyak.
Pada tahun ini, Khatun putri Malikshah, istri Khalifah, tiba di Baghdad. Dia menginap di rumah saudaranya Sultan Muhammad. Kemudian perlengkapannya diangkut dengan seratus enam puluh dua ekor unta dan dua puluh tujuh ekor bagal. Baghdad dihias untuk kedatangannya, dan dia masuk menemui Khalifah pada malam yang kesepuluh dari bulan Ramadan, yang merupakan malam yang bersejarah.
Pada bulan Syakban, Abu Bakar asy-Syami mengajar di Nizhamiyyah bersama dengan Tajiyyah. Wazir dan para pembesar negara serta lainnya hadir di sana. Orang yang memimpin ibadah haji adalah Amir Qaimaz, dan orang-orang Khurasan tidak dapat melaksanakan haji karena kehausan dan kekurangan air.
Tokoh-Tokoh yang Wafat pada Tahun Ini
Idris bin Hamzah
Abu al-Hasan asy-Syami ar-Ramli al-Utsmani, salah seorang ahli debat ulung dalam mazhab Syafi’i. Dia pertama kali belajar fikih kepada Nashr bin Ibrahim, kemudian di Baghdad kepada Abu Ishaq asy-Syirazi. Dia pergi ke Khurasan hingga sampai ke wilayah seberang sungai (Ma Wara an-Nahr), dan tinggal di Samarkand serta mengajar di madrasahnya hingga wafat pada tahun ini.
Ali bin Muhammad bin Ali bin Imaduddin
Abu al-Hasan ath-Thabari, dikenal dengan sebutan Ilkiya al-Harrasi, salah seorang fuqaha besar dari tokoh-tokoh mazhab Syafi’iyyah. Dia lahir tahun empat ratus lima puluh dan belajar kepada Imam al-Haramain. Dia dan al-Ghazali adalah murid-murid terbesar, dan masing-masing dari mereka pernah menjabat sebagai pengajar di Nizhamiyyah Baghdad.
Abu al-Hasan ini sangat fasih dengan suara yang keras lagi merdu. Dia mengulangi pelajaran tujuh kali pada setiap anak tangga dari tangga Nizhamiyyah Naisabur, dan anak tangga itu ada tujuh puluh buah. Dia telah mendengar banyak hadits, berdebat, berfatwa, dan mengajar. Dia termasuk ulama besar dan pemimpin para fuqaha. Dia memiliki sebuah kitab yang membantah pendapat-pendapat yang dikemukakan sendiri oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam satu jilid, dan dia memiliki karya-karya lainnya.
Pada suatu waktu dia dituduh bersekutu dengan Bathiniyyah, sehingga jabatan mengajarnya dicabut. Kemudian sekelompok ulama bersaksi tentang kebersihan dirinya dari tuduhan itu, di antaranya Ibnu Aqil, lalu jabatannya dikembalikan.
Wafatnya pada hari Kamis tanggal satu Muharram tahun ini dalam usia lima puluh empat tahun, dan dimakamkan di samping Syaikh Abu Ishaq asy-Syirazi, semoga Allah merahmati keduanya.
Qadhi Ibnu Khallikan menyebutkan bahwa dia hafal hadits dan berdebat dengannya. Dialah yang berkata: “Apabila penunggang kuda hadits-hadits bertarung di medan pertempuran, maka terbanglah kepala-kepala qiyas (analogi) ke tempat bertiupnya angin.”
As-Salafi meriwayatkan darinya bahwa dia pernah ditanya tentang para penulis hadits, apakah mereka termasuk dalam wasiat untuk para fuqaha? Dia menjawab: Ya, karena sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa yang menjaga untuk umatku empat puluh hadits, maka Allah akan membangkitkannya sebagai seorang faqih yang alim.”
Dia juga pernah ditanya tentang Yazid bin Muawiyah, lalu dia menyebutkan celaan dan kefasikan tentangnya, dan membolehkan mencacinya. Adapun al-Ghazali, maka dia menentang hal itu dan melarang melaknatinya karena dia seorang muslim dan tidak terbukti bahwa dia rela dengan terbunuhnya Husain. Seandainya itu terbukti pun, maka itu tidak membolehkan untuk melaknatinya, karena pembunuh tidak dilaknat, apalagi pintu taubat masih terbuka dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya. (QS. Asy-Syura: sebagian dari ayat 25)
Al-Ghazali berkata: “Adapun mendoakan rahmat untuknya, maka itu diperbolehkan, bahkan dianjurkan. Bahkan kami mendoakan rahmat untuknya dalam kelompok kaum muslimin dan mukmin secara umum dalam shalat-shalat.”
Ibnu Khallikan menyebutkan hal ini secara panjang lebar dengan lafazhnya dalam biografi Ilkiya ini. Dia berkata: “Ilkiya artinya: yang berkedudukan besar, yang didahulukan, yang diagungkan.”
Kemudian Masuklah Tahun Lima Ratus Lima
Pada tahun ini Sultan Ghiyatsuddin Muhammad mengirim pasukan yang kuat bersama Amir Maudud bin at-Tutkin penguasa Mosul, Sukman al-Quthbi penguasa Tabriz, Ahmadil penguasa Maraghah, dan Amir Ilghazi penguasa Mardin. Yang memimpin seluruh pasukan adalah Amir Maudud penguasa Mosul untuk memerangi Franj di Syam. Mereka merebut banyak benteng dari tangan Franj dan membunuh banyak dari mereka.
Ketika mereka memasuki Damaskus, Amir Maudud masuk ke masjid untuk shalat. Lalu datang seorang Bathini menyamar sebagai pengemis yang meminta sesuatu darinya. Ketika mendekat, dia menikam jantungnya sehingga dia meninggal seketika. Semoga laknat Allah atas Bathini ini.
Ditemukan seorang laki-laki buta di atap Masjid Baghdad membawa pisau yang diracuni. Dikatakan bahwa dia ingin membunuh Khalifah.
Pada tahun ini, Khalifah memperoleh anak laki-laki dari putri Sultan, sehingga dipukul tambur-tambur dan terompet-terompet, dan Wazir duduk di Pintu Firdaus untuk menerima ucapan selamat.
Pada tahun ini saudara Khalifah meninggal, sehingga tambur dihentikan beberapa hari, dan Wazir duduk di Pintu Firdaus untuk menerima takziah. Begitulah dunia, yang ini dihibur dan yang itu diberi selamat.
Pada bulan Ramadan, Wazir Ahmad bin an-Nizham dipecat, dan masa jabatannya adalah empat tahun sebelas bulan.
Pada tahun ini, Franj mengepung kota Shur yang berada di tangan orang-orang Mesir. Yang bertanggung jawab atas kota itu adalah Izz al-Mulk al-A’azz dari pihak mereka. Dia bertempur melawan mereka dengan hebat dan mempertahankannya dengan baik hingga habis anak panah dan peralatan yang dimilikinya. Lalu Tughtikin penguasa Damaskus membantunya dan mengirimkan kepadanya peralatan dan senjata, sehingga kekuatannya bertambah, dan Franj pun mundur dari kota itu pada bulan Syawal.
Orang yang memimpin haji adalah Amir al-Juyusy Nazhar al-Khadim, dan tahun itu adalah tahun yang subur.
Tokoh-Tokoh yang Wafat pada Tahun Ini
Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Abu Hamid al-Ghazali
Lahir tahun empat ratus lima puluh dan belajar fikih kepada Imam al-Haramain. Dia unggul dalam banyak ilmu dan memiliki karya-karya yang tersebar dalam berbagai bidang. Dia termasuk orang-orang paling cerdas di dunia dalam segala hal yang dibicarakannya. Dia menjadi pemimpin di masa mudanya hingga dia mengajar di Nizhamiyyah Baghdad pada tahun empat ratus delapan puluh empat ketika usianya tiga puluh empat tahun. Para pemuka ulama hadir mengikuti pengajarannya. Di antara yang hadir adalah Ibnu Aqil dan Abu al-Khaththab dari tokoh-tokoh Hanabilah. Mereka kagum dengan kefasihannya dan keluasan ilmunya.
Ibnu al-Jauzi berkata: Mereka menulis kata-katanya dalam karya-karya mereka. Kemudian dia meninggalkan dunia sama sekali dan menghadap kepada amal akhirat. Dia mencari nafkah dari menyalin, lalu pergi ke Syam dan tinggal di Damaskus dan Baitul Maqdis beberapa waktu. Dalam periode ini dia menulis bukunya “Ihya Ulumuddin”, yang merupakan kitab yang mengagumkan dan memuat banyak ilmu dari syariat, bercampur dengan hal-hal yang lembut dari tasawuf dan amal hati. Namun di dalamnya terdapat banyak hadits-hadits gharib dan mungkar, dan di antaranya ada yang maudhu’ (palsu), sebagaimana ditemukan dalam kitab-kitab furu’ lainnya yang dijadikan dalil untuk halal dan haram. Kitab yang disusun untuk riqaq (pelemah hati), targhib (motivasi), dan tarhib (peringatan) lebih mudah urusannya daripada yang lainnya.
Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi kemudian Ibnu ash-Shalah telah mengecamnya dalam hal ini dengan sangat keras. Al-Maziri ingin membakar bukunya Ihya Ulumuddin, demikian juga orang-orang Maghrib lainnya. Mereka berkata: “Ini adalah kitab Ihya Ulumuddinnya, adapun agama kami, maka Ihya Ulumnya adalah Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya,” sebagaimana yang telah saya kutip kata-katanya dalam biografinya dari Thabaqat asy-Syafi’iyyah.
Ibnu Sukkar telah membantah bagian-bagian Ihya Ulumuddin dan menjelaskan kebatilannya dalam sebuah karya yang bermanfaat. Al-Ghazali pernah berkata: “Aku adalah orang yang sedikit bekalnya dalam hadits.” Dikatakan bahwa di akhir umurnya dia condong kepada mendengar hadits dan menghafal Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim).
Ibnu al-Jauzi telah menulis kitab tentang Ihya dan menamainya “I’lam al-Ahya bi Aghalith al-Ihya” (Memberi Tahu Orang-orang Hidup tentang Kesalahan-kesalahan Ihya).
Ibnu al-Jauzi berkata: Kemudian salah seorang wazir memerintahkannya untuk keluar ke Naisabur, lalu dia mengajar di Nizhamiyyahnya, kemudian kembali ke negerinya Thus. Dia membangun sebuah ribath (zawiyah) dan membuat rumah yang bagus, serta menanam kebun yang indah di sana. Dia tekun membaca Al-Qur’an dan menghafal hadits-hadits shahih.
Wafatnya pada hari Senin tanggal empat belas Jumadil Akhirah tahun ini, dan dimakamkan di Thus, semoga Allah Ta’ala merahmatinya. Salah seorang sahabatnya bertanya kepadanya ketika dia dalam keadaan sakaratul maut, lalu berkata: “Berilah aku wasiat.” Dia menjawab: “Hendaklah engkau bersikap ikhlas,” dan dia terus mengulanginya hingga meninggal, semoga Allah merahmatinya.
Kemudian Masuklah Tahun Lima Ratus Enam
Pada bulan Jumadil Akhirah tahun ini, Ibnu ath-Thabari duduk sebagai pengajar di Nizhamiyyah dan asy-Syasyi dipecat darinya.
Pada tahun ini, Syaikh yang saleh, salah seorang ahli ibadah Yusuf bin Ayyub masuk ke Baghdad dan memberi nasihat kepada orang-orang. Dia sangat diterima. Dia adalah seorang faqih Syafi’i yang belajar fikih kepada Syaikh Abu Ishaq asy-Syirazi, kemudian sibuk dengan ibadah dan kezuhudan. Dia memiliki keadaan-keadaan yang saleh.
Suatu kali seorang laki-laki yang disebut Ibnu as-Saqqa berdebat dengannya dalam suatu masalah, lalu dia berkata kepadanya: “Diam, karena aku mencium dari perkataanmu bau kekufuran, dan mungkin engkau akan mati bukan dalam agama Islam.” Kebetulan setelah beberapa waktu, orang itu keluar ke negeri Rum untuk suatu keperluan, lalu dia masuk Kristen di sana. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali), hasbunallahu wa ni’mal wakil (Cukuplah Allah sebagai Pelindung kami dan Dia sebaik-baik Pelindung), kepada Allah kami bertawakkal.
Suatu kali ketika dia memberi nasihat kepada orang-orang, dua anak Abu Bakar asy-Syasyi berdiri menghadapnya dan berkata kepadanya: “Jika engkau berbicara menurut mazhab al-Asy’ari, silakan, kalau tidak maka diamlah.” Dia berkata: “Semoga kalian tidak menikmati masa muda kalian.” Maka keduanya meninggal dalam usia muda dan tidak mencapai usia tua.
Orang yang memimpin haji pada tahun ini adalah Amir al-Juyusy Nazhar al-Khadim, dan orang-orang mengalami kehausan yang sangat.
Tokoh-Tokoh yang Wafat pada Tahun Ini
Sha’id bin Manshur bin Ismail bin Sha’id
Abu al-‘Ala al-Khatib an-Naisaburi, mendengar banyak hadits dan menjabat sebagai khatib setelah ayahnya serta mengajar dan memberi nasihat. Abu al-Ma’ali al-Juwaini memujinya, dan dia pernah menjadi qadhi Khwarazm.
Muhammad bin Musa bin Abdullah
Abu Abdullah al-Balasaghuni at-Turki al-Hanafi, dikenal dengan al-Lamisyi. Al-Hafizh Ibnu Asakir meriwayatkan satu hadits darinya, dan menyebutkan bahwa dia menjabat sebagai qadhi Baitul Maqdis, lalu orang-orang mengadu tentangnya, sehingga dia dipecat. Kemudian dia menjabat sebagai qadhi Damaskus. Dia sangat ekstrem dalam mazhab Abu Hanifah, dan dialah yang mengatur iqamah menjadi dua kali-dua kali.
Ibnu Asakir berkata: Hingga Allah menghapus hal itu dengan negara Malik Salahuddin. Dia berkata: Dia pernah bertekad untuk mengangkat imam Hanafi di masjid, maka penduduk Damaskus menolak hal itu. Mereka menolak shalat di belakangnya dan mereka semua shalat di Dar al-Khail, yaitu yang di sebelah selatan masjid, tempat Madrasah al-Aminiyyah dan sekitarnya. Batasnya adalah empat jalan.
Dia pernah berkata: “Seandainya kekuasaan ada di tanganku, sungguh aku akan mengambil jizyah dari pengikut-pengikut asy-Syafi’i.” Dia juga membenci pengikut-pengikut Malik. Ibnu Asakir berkata: Sirahnya dalam peradilan tidak terpuji. Wafatnya pada hari Jumat tanggal tiga belas Jumadil Akhirah tahun ini. Dia berkata: Aku menyaksikan jenazahnya ketika aku masih kecil di masjid.
Al-Mu’ammar bin Ali bin al-Mu’ammar
Abu Sa’d bin Abi ‘Imamah, al-Wa’izh (pengkhotbah). Dia fasih, pandai berbicara, jenaka, cerdik, dan cerdas. Dia memiliki kata-kata yang bagus dalam khutbah dan surat-surat yang didengar dan dipuji. Wafat pada bulan Rabiul Awal tahun ini dan dimakamkan di Bab Harb.
Abu Ali al-Maghribi
Dia adalah seorang ahli ibadah, zahid, dan wara’, mencari nafkah dengan yang paling sedikit. Kemudian dia berkeinginan untuk mempelajari ilmu kimia, lalu dia dibawa ke istana Khalifah, dan tidak ada kabar tentangnya setelah itu.
Nuzhah
Budak perempuan Khalifah al-Mustzhir Billah. Dia berkulit hitam, terhormat, dan berjiwa mulia. Wafat pada hari Jumat tanggal dua belas Syawal tahun ini.
Abu Sa’d as-Sam’ani
Penyusun kitab al-Ansab dan lainnya. Dia adalah Tajul Islam Abdul Karim bin Abu Bakar bin Muhammad bin Abi al-Muzhaffar al-Manshur bin Abdul Jabbar, as-Sam’ani, al-Maruzi, faqih Syafi’i, hafizh muhaddits, Qiwamuddin, salah seorang imam yang menulis karya-karya. Dia mengadakan rihlah (perjalanan ilmiah) dan mendengar banyak hadits hingga dia menulis dari empat ribu syaikh. Dia menulis Tafsir, at-Tarikh (sejarah), al-Ansab, dan adz-Dzail (tambahan) pada tarikh al-Khatib al-Baghdadi.
Ibnu Khallikan menyebutkan untuknya karya-karya yang sangat banyak, di antaranya kitabnya yang mengumpulkan seribu hadits dari seratus syaikh dan dia mengomentarinya dari sisi sanad dan matan. Kitab itu sangat bermanfaat, semoga Allah merahmatinya.
Kemudian Masuklah Tahun 507 Hijriah
Pada tahun ini terjadi pertempuran besar antara kaum muslimin dan Franka di wilayah Thabariyah. Dalam pertempuran ini hadir raja Damaskus al-Atabak Thughtakin, dan dalam pasukannya ada penguasa Sinjar, penguasa Mardin, dan penguasa Mosul. Mereka mengalahkan Franka dengan kekalahan yang memalukan, membunuh banyak sekali dari mereka, merampas harta melimpah dari mereka, dan menguasai seluruh wilayah tersebut. Segala puji dan anugerah bagi Allah. Kemudian mereka kembali ke Damaskus.
Ibnu as-Sa’i menyebutkan dalam tarikh-nya tentang terbunuhnya raja Maudud penguasa Mosul pada tahun ini. Ia berkata: Dia dan al-Atabak Thughtakin shalat Jumat di masjid, lalu keduanya keluar ke halaman dengan tangan masing-masing di tangan yang lain. Tiba-tiba seorang Bathini menerkam Maudud dan membunuhnya. Semoga Allah merahmatinya. Dikatakan bahwa Thughtakin-lah yang bersekongkol untuk membunuhnya. Wallahu a’lam.
Datanglah surat dari Franka kepada kaum muslimin yang isinya: “Sesungguhnya suatu umat yang membunuh pemimpinnya pada hari rayanya di rumah ibadahnya, berhak bagi Allah untuk memusnahkannya.”
Pada tahun ini Aleppo dikuasai oleh Alp Arslan bin Ridwan bin Tutush setelah ayahnya. Lu’lu’ al-Khadim mengurus urusan kesultanan di hadapannya, sehingga tidak tersisa padanya kecuali nama saja.
Pada tahun ini dibuka rumah sakit yang dibangun oleh Kumusytakin al-Khadim di Baghdad. Orang-orang diberangkatkan haji oleh Zanki bin Barsaq.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini
Ismail bin al-Hafizh Abu Bakr Ahmad bin al-Husain al-Baihaqi
Dia mendengar banyak hadits dan berkeliling ke berbagai negeri. Dia mengajar di kota Khawarizm. Dia adalah orang yang ahli di bidang hadits dengan jalan yang diridhai. Wafatnya di negerinya Baihaq pada tahun ini.
Syuja’ bin Abi Syuja’ Faris bin al-Husain bin Faris, Abu Ghalib adz-Dzuhli al-Hafizh
Dia mendengar banyak hadits dan merupakan orang ahli dalam bidang ini. Dia mulai menyempurnakan “Tarikh al-Khatib” kemudian menghapusnya. Dia banyak beristighfar dan bertobat karena dia telah menulis syair Ibnu al-Hajjaj sebanyak tujuh kali. Dia wafat pada tahun ini dalam usia tujuh puluh tujuh tahun.
Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Ishaq bin al-Husain bin Manshur bin Mu’awiyah bin Muhammad bin Utsman bin ‘Anbasah bin ‘Utbah bin Utsman bin ‘Anbasah bin Abi Sufyan Shakhr bin Harb al-Umawi, Abu al-Muzhaffar bin Abi al-‘Abbas al-Abiurdi, sang penyair
Dia adalah orang yang berilmu dalam bahasa dan nasab, mendengar banyak hadits dan menyusun “Tarikh Abiurd”, “Ansab al-‘Arab” (Silsilah Bangsa Arab), dan kitab tentang al-Mu’talif wa al-Mukhtalif serta lainnya. Dia dinisbahkan kepada kesombongan dan keangkuhan yang berlebihan, sampai-sampai dia berdoa dalam shalatnya: “Ya Allah, jadikanlah aku penguasa timur dan barat bumi.” Suatu kali dia menulis kepada khalifah: “Al-Khadim al-Mu’awi” (Hamba Bani Umayyah). Maka khalifah menghapus huruf mim sehingga tersisa “al-‘Awi” (Yang Menggonggong). Di antara syairnya adalah:
Zamanku mengingkariku dan tidak tahu bahwasanya aku lebih mulia, dan kejadian-kejadian masa itu hina
Ia terus memperlihatkan kepadaku kesulitan bagaimana penyerangannya, dan aku bermalam memperlihatkan kepadanya kesabaran bagaimana seharusnya
Muhammad bin Thahir bin Ali bin Ahmad, Abu al-Fadhl al-Maqdisi al-Hafizh
Lahir tahun 448 H. Pertama kali mendengar hadits tahun 460 H. Dia melakukan perjalanan mencari hadits ke banyak negeri dan mendengar banyak hadits. Dia memiliki pengetahuan yang baik dalam bidang ini dan menyusun kitab-kitab yang bermanfaat. Namun, dia menyusun sebuah kitab tentang kebolehan mendengarkan musik dan tentang tasawuf. Dia menggunakan hadits-hadits yang sangat mungkar di dalamnya dan menyebutkan hadits-hadits shahih bukan pada tempatnya. Lebih dari satu imam memuji hafalannya.
Ibnu al-Jauzi menyebutkan dalam kitabnya yang ia beri nama “Shifat at-Tashawwuf” (Sifat Tasawuf) dan berkata tentangnya: “Orang yang melihatnya akan tertawa.” Dia berkata: “Dia bermazhab Dawudi. Siapa yang memujinya hanya memuji karena hafalannya terhadap hadits, selain itu yang mencacat lebih pantas.” Dia berkata: “Abu Sa’d as-Sam’ani menyebutkannya dan membela tanpa alasan, setelah berkata: Aku bertanya tentang dia kepada guru kami Ismail bin Ahmad ath-Thalhi, maka dia memberikan penilaian buruk tentangnya, dan pandangannya buruk terhadapnya.” Dia berkata: “Kami mendengar Abu al-Fadhl bin Nashir berkata: Muhammad bin Thahir tidak dapat dijadikan hujjah. Dia menyusun tentang bolehnya memandang anak-anak muda, dan dia berpendapat dengan madzhab kaum Ibahiyyah.”
Kemudian dia menyebutkan dari syairnya berikut ini:
Tinggalkan tasawuf dan zuhud yang telah disibukkan dengannya anggota badan suatu kaum dari manusia
Dan singgahlah di biara Daraya karena di sana terdapat para rahib antara pendeta dan diakon
Dan minumlah arak tua dari tangan seorang kafir yang menuangkan dua khamr kepadamu dari pandangan dan gelas
Lalu dengarkan nyanyian dawai dari seorang pemuda yang lembut, pandangannya lebih tajam dari berlian
Menyanyi dengan syair seseorang yang terkenal di kalangan manusia, terdokumentasi pada mereka di atas kertas
Seandainya tidak ada angin kenangan denganmu yang menyejukkanku, niscaya aku terbakar dari panasnya napasku
Kemudian as-Sam’ani berkata: “Semoga dia telah bertobat dari semua ini.” Ibnu al-Jauzi berkata: “Ini tidak dapat diterima, bahwa dia menyebutkan cacatan para imam terhadapnya, kemudian berdalih dengan kemungkinan tobatnya.”
Ibnu al-Jauzi menyebutkan bahwa ketika dia hampir wafat, dia terus mengulang syair ini:
Dahulu kalian tidak mengenal kekasaran, lalu dari siapa kalian lihat telah belajar
Kemudian wafatnya di sisi barat Baghdad pada bulan Rabi’ul Awal tahun ini.
Abu Bakr asy-Syasyi, pemilik al-Mustazhhiri
Muhammad bin Ahmad bin al-Husain bin Umar asy-Syasyi, salah satu imam Syafi’iyyah di zamannya. Lahir pada bulan Muharram tahun 427 H. Dia mendengar hadits dari Abu Ya’la bin al-Farra’, Abu Bakr al-Khatib, Syaikh Abu Ishaq asy-Syirazi dan belajar fiqih kepadanya serta kepada yang lain. Dia membaca “asy-Syamil” kepada penulisnya Ibnu ash-Shabbagh, dan meringkasnya dalam kitab yang dia susun untuk al-Mustazhhir Billah dan menamainya “Hilyat al-‘Ulama’ bi Ma’rifat Madzahib al-Fuqaha'” (Perhiasan Para Ulama dengan Pengetahuan Madzhab Para Fuqaha), yang dikenal dengan al-Mustazhhiri. Dia telah mengajar di an-Nizhamiyyah di Baghdad kemudian diberhentikan darinya. Dia biasa membaca:
Belajarlah wahai pemuda, selagi ranting masih lentur, dan tanahmu masih lembut, serta tabi’atmu masih dapat menerima
Cukup bagimu wahai pemuda kemuliaan dan kebanggaan, diamnya yang hadir sedangkan engkau berbicara
Dia wafat menjelang subuh hari Sabtu, tanggal 16 Syawal tahun ini, dan dikuburkan di samping Syaikh Abu Ishaq asy-Syirazi di Bab Abraz.
Al-Mu’taman bin Ahmad bin Ali bin al-Husain bin ‘Ubaidillah, Abu Nashr as-Saji al-Maqdisi
Dia mendengar hadits yang banyak, meriwayatkan, dan merupakan orang terpercaya, benar dalam periwayatan, bagus tulisannya, terpuji dalam perjalanan hidupnya, lembut jiwanya. Dia belajar fiqih kepada Syaikh Abu Ishaq asy-Syirazi dalam waktu yang lama, dan melakukan perjalanan ke Ashbahan dan lainnya. Dia termasuk di antara para hafizh terutama untuk matan. Muhammad bin Thahir berbicara tentangnya.
Ibnu al-Jauzi berkata: “Dia lebih pantas dengan itu darinya, dan mana Tsuraya dari tanah?” Al-Mu’taman wafat hari Sabtu tanggal 18 Shafar tahun ini, dan dikuburkan di Bab Harb. Wallahu a’lam.
Kemudian Masuklah Tahun 508 Hijriah
Pada tahun ini terjadi kebakaran besar di Baghdad. Dan pada tahun ini terjadi gempa bumi yang dahsyat di wilayah Jazirah yang menghancurkan tiga belas menara, dari ar-Ruha banyak rumah, dan sebagian tembok Harran serta rumah-rumah yang banyak di berbagai negeri, maka binasalah kebanyakannya. Di Balis sekitar seratus rumah. Setengah benteng Harran runtuh dan setengahnya selamat. Kota Sumaisat ambles, dan banyak makhluk mati tertimbun reruntuhan. Innalillahi wa innailaihi raji’un (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali).
Pada tahun ini penguasa Aleppo Taj ad-Daulah Alp Arslan bin Ridwan bin Tutush dibunuh oleh budak-budaknya. Setelahnya yang bangkit menggantikannya adalah saudaranya Sultansyah bin Ridwan.
Pada tahun ini Sultan Sanjar bin Malikshah menguasai negeri Ghaznah dan dikhutbahkan untuknya di sana setelah pertempuran besar. Dia mengambil harta yang banyak dari sana, di antaranya lima mahkota; nilai setiap mahkota seribu ribu dinar, tujuh belas singgasana dari emas dan perak, seribu tiga ratus potongan perhiasan bertatahkan permata. Dia menetap di sana empat puluh hari, dan menetapkan Bahram Syah dari keluarga Bani Sabuktikin sebagai penguasanya. Tidak pernah dikhutbahkan di Ghaznah sebelum Sultan Sanjar dari dinasti Saljuq untuk siapa pun.
Pada tahun ini Sultan Muhammad mengangkat Amir Aq Sunqur al-Barsaqi sebagai penguasa Mosul dan wilayah-wilayahnya, dan memerintahkannya untuk memerangi Franka. Maka dia memerangi mereka pada akhir tahun ini dan mengambil ar-Ruha dari mereka, menghancurkannya beserta Suruj dan Sumaisat, menjarah Mardin, dan menawan putra rajanya Iyaz bin Ilghazi.
Sultan Muhammad mengirim utusan kepadanya yang mengancamnya, maka dia melarikan diri darinya menuju Thughtakin penguasa Damaskus. Keduanya sepakat untuk membangkang terhadap Sultan Muhammad. Terjadilah antara mereka berdua dengan wakil Homs Qurjan bin Qarajah peperangan-peperangan yang banyak, kemudian mereka berdamai.
Pada tahun ini istri penguasa Mara’sy yang Franka menguasai Mara’sy setelah wafatnya suaminya, Allah melaknat keduanya. Orang-orang diberangkatkan haji oleh Amirul Juyusy Abu al-Khair Yaman al-Khadim, dan orang-orang berterima kasih atas haji mereka bersamanya.
Kemudian Masuklah Tahun 509 Hijriah
Pada tahun ini Sultan Ghiyatsuddin Muhammad bin Malikshah penguasa Irak mengirimkan pasukan yang besar bersama Amir Barsaq bin Barsaq menuju Ilghazi penguasa Mardin dan menuju Thughtakin penguasa Damaskus untuk memerangi mereka karena kerja sama mereka dalam membangkang terhadap sultan dan memutus khutbahnya. Jika selesai dari itu, akan menuju untuk memerangi Franka.
Ketika pasukan mendekat ke negeri Syam, keduanya melarikan diri darinya dan bergabung dengan Franka. Amir Barsaq datang ke Kafr Thab dan menaklukkannya dengan paksa. Dia mengambil apa yang ada di dalamnya dari wanita dan anak-anak. Datanglah penguasa Antakya Roger dengan lima ratus pasukan berkuda dan dua ribu pejalan kaki. Dia menyerang kaum muslimin mendadak dan membunuh banyak sekali dari mereka, mengambil harta yang melimpah, dan Barsaq melarikan diri dengan sekelompok kecil orang. Pasukan yang bersamanya berantakan. Innalillahi wa innailaihi raji’un.
Pada bulan Dzulqa’dah tahun ini, Sultan Ghiyatsuddin Muhammad datang ke Baghdad, dan Thughtakin penguasa Damaskus datang kepadanya meminta maaf, maka sultan memberikan pakaian kehormatan kepadanya, ridha kepadanya, dan mengembalikannya ke pekerjaannya.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini
Ismail bin Muhammad bin Ahmad bin Millah, Abu Utsman al-Ashbahani
Salah satu pengelana dalam menuntut hadits. Dia telah memberi nasihat di masjid al-Manshur tiga puluh majelis, dan Muhammad bin Nashir menulis imla’ darinya. Dia wafat di Ashbahan.
Muntajab bin Abdullah al-Mustazhhiri, Abu al-Hasan al-Khadim
Dia banyak beribadah. Muhammad bin Nashir memujinya. Dia berkata: “Dia mewakafkan untuk para ahli hadits.”
Hibatullah bin al-Mubarak bin Musa, Abu al-Barakat as-Siqthi
Dia mendengar banyak hadits dan melakukan perjalanan untuk itu. Dia adalah orang yang ahli, mengetahui bahasa. Dia dikuburkan di Bab Harb.
Yahya bin Tamim bin al-Mu’izz bin Badis, penguasa Ifriqiyah
Dia termasuk di antara sebaik-baik raja, mengetahui, bagus perjalanan hidupnya, mencintai fakir miskin dan ulama. Mereka memiliki rizki darinya. Dia wafat dalam usia lima puluh dua tahun, dan meninggalkan tiga puluh anak. Yang bangkit menggantikannya adalah anaknya Ali.
Kemudian Masuklah Tahun 510 Hijriah
Pada tahun ini terjadi kebakaran di Baghdad yang membakar banyak rumah, di antaranya rumah Nur al-Huda al-Zaynabi, Ribath Bahrauz, dan perpustakaan Nizhamiyyah, namun buku-bukunya selamat karena para ahli fikih telah memindahkannya.
Pada tahun ini juga, penguasa Maraghah terbunuh di majelis Sultan Muhammad oleh kelompok Bathiniyyah. Pada hari Asyura terjadi fitnah besar antara kaum Rafidhah dan Sunni di makam Ali bin Musa al-Ridha di kota Tus, dalam peristiwa itu banyak orang terbunuh. Pada tahun ini Sultan pergi ke Persia setelah wafatnya wakilnya karena khawatir terhadap keamanan Persia dari penguasa Kirman. Yang memimpin ibadah haji bagi manusia adalah Amir al-Juyusy Abu al-Hasan Nazhar al-Khadim. Tahun ini merupakan tahun yang subur dan aman, segala puji bagi Allah.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini:
Al-Baghawi, mufasir, ahli hadits, dan ahli fikih. Ada pendapat mengatakan wafatnya pada tahun 516 Hijriah, sebagaimana akan disebutkan nanti, wallahu a’lam.
Aqil bin al-Imam Abu al-Wafa Ali bin Aqil al-Hanbali, ia adalah seorang pemuda yang telah cemerlang, hafal Alquran, menulis dengan baik, dan memahami makna-makna dengan baik. Ketika ia wafat, ayahnya bersabar dan bersyukur serta menunjukkan ketabahan. Seorang pembaca membacakan dalam majelis ta’ziah: “Wahai orang yang mulia, sesungguhnya dia mempunyai seorang ayah yang sudah tua, maka tahanlah salah seorang di antara kami sebagai penggantinya” (Yusuf: 78). Ibnu Aqil pun menangis dengan sangat.
Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Bayan al-Razzaz, orang terakhir yang meriwayatkan dari Ibnu Makhlad dengan juz al-Hasan bin Arafah, dan menyendiri dengan hal-hal lainnya juga. Ia wafat pada tahun ini dalam usia sembilan puluh tujuh tahun.
Muhammad bin Manshur bin Muhammad bin Abd al-Jabbar Abu Bakr al-Sam’ani, banyak mendengar hadits dan meriwayatkannya, berkhotbah di Nizhamiyyah Baghdad, dan mendiktekan hadits di Marw sebanyak seratus empat puluh majelis. Ia memiliki pengetahuan sempurna dalam hadits, seorang sastrawan, penyair yang utama, dan memiliki penerimaan besar di hati orang-orang. Ia wafat di Marw dalam usia empat puluh tiga tahun.
Muhammad bin Ahmad bin Thahir bin Hamid Abu Manshur al-Khazin, ahli fikih kaum Imamiyyah dan mufti mereka di al-Karkh. Ia telah mendengar hadits dari al-Tanukhi dan Ibnu Ghaylan. Wafatnya pada bulan Ramadhan.
Muhammad bin Ali bin Muhammad Abu Bakr al-Nasawi, ahli fikih Syafi’i. Ia mendengar hadits dan kepadanya diserahkan pengesahan saksi-saksi di Nasa. Ia adalah orang yang utama, religius, dan wara’.
Mahfuzh bin Ahmad bin al-Hasan Abu al-Khaththab al-Kaludzani, salah seorang imam Hanabilah dan pengarang mereka. Banyak mendengar hadits, belajar fikih kepada al-Qadhi Abu Ya’la, membaca ilmu faraid kepada al-Wani, mengajar, memberi fatwa, berdebat, dan mengarang dalam bidang ushul dan furu’. Ia memiliki syair yang bagus dan mengumpulkan sebuah qashidah yang menyebutkan keyakinan dan mazhabnya. Ia mengatakan di dalamnya:
Tinggalkanlah dari dirimu kenangan kabilah yang pergi Dan kerinduan kepada wanita-wanita cantik yang tersembunyi Dan ratapan dalam kenangan Sa’da, sesungguhnya Kenangan Sa’da adalah kesibukan orang yang tidak berbahagia Dan dengarkanlah perkataanku jika engkau ingin selamat Di hari perhitungan, dan ambillah petunjukku niscaya engkau akan mendapat hidayah
Ia menyebutkan kelanjutannya yang panjang. Wafatnya pada bulan Jumadil Akhir tahun ini dalam usia tujuh puluh delapan tahun. Dishalatkan atasnya di Masjid Jami’ al-Qashr dan Masjid Jami’ al-Manshur, dan dimakamkan dekat Imam Ahmad.
Kemudian Masuklah Tahun 511 Hijriah
Pada tanggal empat bulan Shafar terjadi gerhana bulan total. Pada malam itu orang-orang Franka menyerbu pinggiran Hamah dan membunuh banyak orang, kemudian mereka kembali—semoga Allah melaknat mereka—ke negeri mereka.
Pada tahun ini terjadi gempa bumi dahsyat di Baghdad, banyak rumah roboh di sisi barat, dan harga-harga melambung sangat tinggi di Baghdad pada tahun ini. Pada tahun ini Lu’lu’ al-Khadim terbunuh, yaitu orang yang telah menguasai kerajaan Aleppo setelah wafatnya tuannya Ridhwan bin Tutsy. Ia dibunuh oleh sekelompok orang Turki. Ia telah keluar dari Aleppo menuju Ja’bar, lalu sekelompok budaknya dan lainnya berteriak di tengah perjalanan: “Kelinci! Kelinci!” Mereka melemparnya dengan anak panah seolah-olah mereka sedang berburu, maka mereka membunuhnya.
Pada tahun ini wafat Sultan Ghiyats al-Din Muhammad bin Maliksyah bin Alp Arslan bin Dawud bin Mika’il bin Saljuq, penguasa negeri Irak, Khurasan, dan negeri-negeri luas serta wilayah-wilayah yang luas lainnya. Ia termasuk raja-raja yang terbaik dan yang paling baik perilakunya, adil, penyayang, mudah dalam pergaulan, terpuji dalam pergaulan, rahimahullah. Ketika kematian mendatanginya, ia memanggil anaknya Mahmud, memeluknya, dan keduanya menangis. Kemudian ia memerintahkannya duduk di atas singgasana kerajaan, saat itu usianya empat belas tahun. Ia pun duduk dengan mahkota dan gelang, dan memerintah. Ketika ayahnya wafat, ia membagikan harta perbendaharaan kepada pasukan, dan di dalamnya ada sebelas ribu ribu dinar. Kekuasaan stabil untuknya, dan ia dikhotbahkan di Baghdad dan negeri-negeri lainnya. Umur ayahnya Sultan Muhammad adalah tiga puluh sembilan tahun empat bulan dan beberapa hari. Ia telah dikhotbahkan di Baghdad beberapa kali, dan saudaranya Barkiyaruq menentangnya, kemudian kekuasaan stabil untuknya hingga tahun ini; rahimahullah ta’ala dan semoga Allah memuliakan tempat kembalinya.
Pada tahun ini lahir al-Malik al-‘Adil Nur al-Din Mahmud bin Zanki bin Aq Sunqur, penguasa Aleppo dan Damaskus.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini:
Al-Qadhi al-Murtadha Abu Muhammad Abdullah bin al-Qasim bin al-Muzhaffar bin Ali bin al-Qasim al-Syahrazuri, ayah dari al-Qadhi Jamal al-Din Muhammad bin Abdullah al-Syahrazuri, qadhi Damaskus pada masa Nur al-Din. Ia belajar di Baghdad dan mempelajari fikih di sana. Ia bermadzhab Syafi’i, cemerlang, religius, bagus dalam menyusun syair, kemudian kembali ke negerinya dan berkhotbah serta berbicara kepada hati. Ia memiliki qashidah yang cemerlang dalam ilmu tasawuf, Ibnu Khallikan menyebutkannya secara lengkap karena keindahan dan kefasihannya:
Api mereka tampak sedang malam telah gelap Dan pemandu letih serta petunjuk bingung Aku merenungkannya sementara pikiranku dari perpisahan Sakit dan pandangan mataku lemah Dan hatiku adalah hati yang tersiksa itu Dan cintaku adalah cinta yang meresap itu
Dan dari syairnya:
Wahai malam, tidaklah aku datang mengunjungi kalian Melainkan aku dapati bumi terlipat untukku Dan tidaklah aku memalingkan tekad dari pintu kalian Melainkan aku tersandung oleh ekorku
Dan dari syairnya dalam bentuk dubayt:
Wahai hati, sampai kapan nasihat tak berguna Tinggalkan candamu, betapa banyak ia mencelakaimu Tak ada anggota tubuh darimu yang terluka selain luka Engkau tak merasa mabuk hingga engkau sadar
Wafatnya pada tahun ini. Ibnu Khallikan berkata: al-‘Imad dalam Kharidat menyebutkan bahwa ia wafat setelah tahun 520 Hijriah, wallahu a’lam.
Muhammad bin Sa’id bin Nabhan Abu Ali al-Katib, ia mendengar hadits dan meriwayatkannya, berumur seratus tahun dan berubah sebelum wafatnya. Ia memiliki syair yang bagus, di antaranya ia berkata dalam sebuah qashidah:
Aku punya ajal yang Allah telah takdirkan Ya, dan rezeki yang akan aku penuhi Hingga apabila aku telah menyempurnakan darinya apa yang Ditakdirkan untukku, aku tak akan melampauinya Berkata orang-orang mulia yang biasa aku kunjungi Di majelis yang biasa aku hadiri Ibnu Nabhan telah kembali kepada Tuhannya Semoga Allah merahmati kami dan dia
Amir al-Hajj Yaman bin Abdullah Abu al-Khayr al-Mustazhhiri, ia dermawan, mulia, terpuji, memiliki pendapat dan kecerdasan tajam. Ia telah mendengar hadits dari Abu Abdullah al-Husayn bin Thalhah al-Na’ali dengan bimbingan Abu Nashr al-Ashbahani, dan ia menjadi imam dalam shalat-shalat. Ketika ia datang sebagai utusan ke Ashbahan, ia meriwayatkan hadits di sana. Wafatnya terjadi pada bulan Rabi’ al-Akhir tahun ini, dan dimakamkan di sana; rahimahullah ta’ala.
Kemudian Masuklah Tahun 512 Hijriah
Pada tahun ini dikhotbahkan untuk Sultan Mahmud bin Muhammad bin Maliksyah atas perintah Khalifah al-Mustazhhir Billah. Pada tahun ini Dubays bin Shadaqah bin Manshur al-Asadi meminta kepada Sultan Mahmud agar mengembalikannya ke al-Hillah dan tempat-tempat lain yang dahulu ayahnya mengelolanya dari pekerjaan-pekerjaan, maka ia memenuhi permintaannya dan mengangkatnya pada apa yang dahulu ayahnya kelola, maka ia menjadi besar dan kedudukannya terangkat.
Wafatnya Khalifah al-Mustazhhir Billah
Beliau adalah Abu al-‘Abbas Ahmad bin Amirul Mukminin al-Muqtadi bi Amrillah. Ia adalah orang yang baik, utama, cerdas, cemerlang, menulis khat mansub. Hari-harinya di Baghdad bagaikan hari-hari raya. Ia sangat ingin berbuat kebajikan dan kebaikan serta cepat dalam hal itu; tidak menolak orang yang meminta, dan indah dalam pergaulan. Ia tidak mendengarkan perkataan tukang adu domba tentang manusia dan tidak mempercayai pengawas. Ia telah mengatur urusan-urusan khilafah dengan baik dan menguasainya, mengetahuinya, dan mempelajarinya. Ia memiliki ilmu yang banyak, keutamaan yang besar, dan syair yang bagus yang telah kami sebutkan sebelumnya ketika menyebut masa khilafahnya. Yang memandikan jenazahnya adalah Ibnu Aqil dan Ibnu al-Sinni, yang menshalatkannya adalah anaknya Abu Manshur al-Fadhl dengan takbir empat kali, dan dimakamkan di kamar yang biasa ia tinggali. Yang mengherankan adalah bahwa ketika Sultan Alp Arslan wafat, setelahnya wafat Khalifah al-Qa’im bi Amrillah, kemudian ketika Sultan Maliksyah wafat, setelahnya wafat al-Muqtadi bi Amrillah, kemudian ketika Sultan Muhammad wafat, setelahnya wafat al-Mustazhhir Billah; rahimahumullah. Wafatnya al-Mustazhhir Billah pada tanggal enam belas Rabi’ al-Akhir tahun ini, dalam usia empat puluh satu tahun tiga bulan dan sebelas hari.
Kekhilafahan al-Mustarsyid Billah Amirul Mukminin Abu Manshur al-Fadhl bin al-Mustazhir
Ketika ayahnya wafat – sebagaimana telah kami sebutkan – ia dibaiat untuk menjadi khalifah, dan namanya disebutkan di atas mimbar-mimbar. Ia telah menjadi putra mahkota selama dua puluh tiga tahun. Yang mengambil baiat untuknya adalah Qadhi al-Qudhat (Ketua Hakim) Abu al-Hasan ad-Damagani. Ketika baiat telah stabil untuknya, saudaranya Abu al-Hasan melarikan diri dengan perahu bersama tiga orang, dan menuju kepada Dubais bin Shadaqah bin Manshur bin Dubais bin Ali bin Mazid al-Asadi di Hillah. Dubais memuliakannya dan berbuat baik kepadanya. Al-Mustarsyid Billah merasa khawatir akan hal itu, lalu berkirim surat kepada Dubais mengenai hal tersebut bersama Naqib an-Nuqaba az-Zainabi. Saudara khalifah itu melarikan diri dari Dubais, maka ia mengirimkan pasukan kepadanya yang memaksanya memasuki padang pasir. Ia mengalami dahaga yang sangat, lalu bertemu dengan dua orang Badui yang memberinya minum dan membawanya ke Baghdad. Saudaranya (khalifah) menghadirkannya kepadanya, lalu keduanya berpelukan dan menangis. Khalifah menempatkannya di rumah yang pernah ia tinggali sebelum menjadi khalifah, berbuat baik kepadanya dan menenangkan hatinya. Masa ketidakhadirannya dari Baghdad adalah sebelas bulan. Kekhilafahan menjadi stabil tanpa ada yang menandingi al-Mustarsyid.
Pada tahun ini terjadi kelaparan yang sangat parah di Baghdad, hujan terputus dan bahan makanan tidak ada. Urusan para perampok (ayarun) di Baghdad menjadi sangat parah, mereka menjarah rumah-rumah di siang hari secara terang-terangan, dan polisi tidak mampu mengubah atau mengingkari hal itu.
Mengurus haji bagi orang-orang pada tahun ini adalah Nazhr al-Khadim.
Orang-orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini:
Khalifah al-Mustazhir Billah, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya pada tahun ini.
Kemudian setelahnya wafat pula neneknya, ibu dari ayahnya al-Muqtadi.
Arjuwan al-Armaniyyah
Ia dipanggil Qurrat al-Ain, ia memiliki banyak kebaikan, kebajikan dan sedekah. Ia telah berhaji tiga kali, dan menyaksikan kekhilafahan anaknya al-Muqtadi bi Amrillah, kekhilafahan cucunya al-Mustazhir, dan kekhilafahan cicitnya al-Mustarsyid. Ia juga melihat anak dari al-Mustarsyid. Wafatnya adalah pada tahun ini; semoga Allah merahmatinya.
Bakr bin Muhammad bin Ali bin al-Fadhl
Abu al-Fadhl al-Anshari, ia meriwayatkan hadits, dan ia dijadikan teladan dalam menghafal mazhab Abu Hanifah. Ia belajar fikih kepada Abdul Aziz bin Ahmad al-Halwani. Ia bisa menyebutkan pelajaran dari manapun ia ditanya tanpa menelaah atau meninjau kembali. Terkadang di awal menuntut ilmunya ia mengulang satu masalah empat ratus kali. Wafatnya adalah pada bulan Syakban tahun ini.
Al-Husain bin Muhammad bin Ali bin al-Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab az-Zainabi
Ia membaca Al-Quran, mendengar hadits dan belajar fikih kepada Abu Abdullah ad-Damagani lalu unggul dan memberi fatwa. Ia mengajar di mausoleum Abu Hanifah, mengelola wakafnya dan mencapai kepemimpinan mazhab Abu Hanifah. Ia diberi gelar Nurul Huda, dan melakukan perjalanan sebagai utusan kepada para raja, dan mengelola naqabah (perwakilan) keturunan Thalib dan Abbas. Kemudian ia meminta berhenti setelah beberapa bulan, lalu saudaranya Tharrad mengelola naqabah Abbas. Wafatnya adalah hari Senin tanggal sebelas Shafar dalam usia sembilan puluh dua tahun. Anaknya Abu al-Qasim Ali menshalatinya, dan para pembesar serta ulama menghadirinya. Ia dikuburkan di sisi kubur Abu Hanifah di dalam kubah; semoga Allah merahmatinya.
Yusuf bin Ahmad Abu Thahir
Dikenal dengan sebutan Ibn al-Kharzi, pemilik gudang pada masa al-Mustazhir. Ia tidak memberikan haknya dalam hal penghormatan kepada al-Mustarsyid ketika ia masih putra mahkota. Ketika kekhilafahan sampai kepadanya, ia disita seratus ribu dinar. Kemudian seorang ghulam (pelayan)nya menunjuk ke sebuah rumah, maka ditemukan di dalamnya empat ratus ribu dinar yang diambil oleh khalifah. Kemudian wafatnya adalah setelah ini tidak lama dalam tahun ini.
Abu al-Fadhl bin al-Khazin
Ia adalah seorang sastrawan yang halus, penyair yang utama. Di antara syairnya adalah ucapannya:
Aku datang ke rumahnya namun tidak kulihat teman Kecuali menyambutku dengan wajah yang berseri Dan kegembiraan di wajah anak muda itu adalah hasil Dari pendahulu cahaya wajah pemiliknya Aku masuk surganya dan mengunjungi nerakanya Lalu aku bersyukur kepada Ridwan dan kasih sayang Malik
Kemudian Masuk Tahun Tiga Belas Lima Ratus (513 H)
Pada tahun ini terjadi peperangan hebat antara Sultan Mahmud bin Muhammad bin Malikshah dengan pamannya Sultan Sanjar bin Malikshah. Kemenangan dalam peperangan itu adalah bagi Sanjar. Maka namanya disebutkan di Baghdad pada tanggal enam belas Jumadil Ula tahun ini, dan khutbah Sultan Mahmud dihentikan. Kemudian terjadi perdamaian antara keduanya, dan Sultan Sanjar memerintahkan agar namanya (Mahmud) tetap disebutkan dalam khutbah di seluruh wilayahnya.
Pada tahun ini orang-orang Franka (Tentara Salib) berjalan menuju kota Aleppo lalu membukannya dengan paksa dan menguasainya, serta membunuh banyak penduduknya. Maka berjalanlah kepada mereka penguasa Mardin Ilghazi bin Artuq dengan pasukan yang banyak dan mengalahkan mereka dari Aleppo. Ia mengejar mereka sampai ke sebuah gunung tempat mereka berlindung, lalu membunuh mereka di sana dengan pembantaian yang sangat besar; segala puji bagi Allah. Tidak selamat dari mereka kecuali sedikit. Ia menawan dari panglima mereka lebih dari tujuh puluh orang, dan terbunuh di antara yang terbunuh adalah Roger (Sarkhal) penguasa Antiokia. Kepalanya dibawa ke Baghdad, maka berkatalah sebagian penyair tentang hal itu dengan berlebihan yang keterlaluan:
Katakanlah apa yang engkau kehendaki karena ucapanmu diterima Dan kepadamu setelah Sang Pencipta adalah sandaran Bergembiralah Al-Quran ketika engkau menolongnya Dan menangislah karena kehilangan orang-orangnya Injil
Pada tahun ini terbunuh Amir Mankubars yang adalah kepala keamanan di Baghdad. Ia adalah seorang yang zalim, kejam, dan buruk perilakunya. Raja Mahmud bin Muhammad bin Malikshah membunuhnya di hadapannya karena beberapa hal; di antaranya ia menikahi selir ayahnya sebelum habis masa iddahnya. Sungguh baik apa yang dilakukannya, dan Allah telah memberikan ketenangan kepada kaum muslimin darinya. Betapa zalimnya dan kejamnya ia.
Pada tahun ini menjabat sebagai qadhi al-qudhat Baghdad al-Akmal Abu al-Qasim bin Ali bin Abi Thalib, al-Husain bin Muhammad az-Zainabi. Ia diberi pakaian kehormatan setelah wafatnya Abu al-Hasan ad-Damagani.
Pada tahun ini muncul kubur Ibrahim al-Khalil alaihissalam, kubur Ishaq dan Yakub alaihimussalam. Manusia menyaksikan hal itu dan jasad mereka tidak lapuk, dan di sisi mereka ada lampu-lampu dari emas dan perak. Hal itu disebutkan oleh Ibn al-Khazin dalam Tarikhnya, dan aku mengira ia mengutipnya dari al-Muntazham karya Ibn al-Jauzi, wallahu alam.
Orang-orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini:
Ibn Aqil – Ali bin Aqil bin Muhammad bin Aqil Abu al-Wafa
Syaikh kaum Hanabilah di Baghdad dan penulis kitab al-Funun dan kitab-kitab bermanfaat lainnya. Ia lahir tahun empat ratus tiga puluh satu. Ia membaca Al-Quran kepada Ibn Syitha, mendengar banyak hadits, dan belajar fikih kepada al-Qadhi Abu Yala bin al-Farra. Ia belajar sastra kepada Ibn Burhan, ilmu faraid kepada Abdul Malik al-Hamadzani, cara berceramah kepada Abu Thahir bin al-Allaf (murid Ibn Samun), ilmu ushul kepada Abu al-Walid al-Muktazili. Ia berkumpul dengan semua ulama dari setiap mazhab. Terkadang sebagian sahabatnya mencela hal itu namun ia tidak memperdulikan mereka. Karena itulah ia unggul dari teman-temannya dan melampaui orang-orang di zamannya dalam banyak bidang, dengan kehati-hatian, ketakwaan, rupa yang baik dan banyak kesibukan. Ia pernah berceramah pada beberapa waktu namun terjadi fitnah lalu ia meninggalkan hal itu. Allah membuatnya dapat menikmati semua inderanya sampai saat kematiannya. Wafatnya adalah pada pagi hari Jumat tanggal dua Jumadil Ula tahun ini, dalam usia lebih dari delapan puluh tahun. Jenazahnya sangat ramai, dan ia dikuburkan dekat kubur Imam Ahmad di samping al-Khadim Mukhlis; semoga Allah merahmatinya.
Ali bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin al-Husain bin Abdul Malik bin Abdul Wahhab bin Hamuwaih
Abu al-Hasan ad-Damagani, qadhi al-qudhat putra qadhi al-qudhat. Ia lahir pada bulan Rajab tahun empat ratus empat puluh sembilan. Ia belajar dan unggul, lalu menjabat sebagai qadhi al-qudhat setelah ayahnya. Kemudian ia diberhentikan dan diganti dengan Abu Bakr asy-Syasyi, lalu dikembalikan lagi ke jabatannya. Ibn al-Jauzi berkata: Tidak diketahui ada hakim yang menjabat dalam usia lebih muda darinya – maksudnya di Baghdad – dari para qadhi al-qudhat. Ia berkata: Dan tidak diketahui ada hakim yang menjabat untuk empat khalifah selain dia kecuali Syuraih. Kemudian ia menyebutkan dari amanat dan ketakwaannya yang menunjukkan kehati-hatian, ketakwaannya dan kekuatannya; semoga Allah merahmatinya. Ia menjabat sebagai hakim selama dua puluh empat tahun. Demikianlah wafatnya pada bulan Muharram tahun ini dalam usia enam puluh tiga tahun enam bulan, dan kuburnya di sisi mausoleum Abu Hanifah.
Al-Mubarak bin Ali bin al-Husain
Abu Saad al-Mukhurrimi mendengar hadits, belajar fikih pada mazhab Ahmad, berdiskusi, memberi fatwa dan mengajar. Ia mengumpulkan banyak kitab yang belum pernah ada sebelumnya yang sepertinya. Ia menjadi wakil dalam peradilan, dan memiliki reputasi yang baik, jalan yang indah, dan keputusan yang tepat. Ia telah membangun madrasah di Bab al-Azj, yaitu yang dinisbatkan kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jili al-Hanbali. Kemudian ia diberhentikan dari jabatan hakim dan disita hartanya yang sangat banyak, pada tahun lima ratus sebelas. Wafatnya adalah pada bulan Muharram tahun ini, dan ia dikuburkan di samping Abu Bakr al-Khallal di sisi kubur Ahmad.
Kemudian Masuk Tahun Empat Belas Lima Ratus (514 H)
Pada pertengahan Rabiul Awal tahun ini terjadi pertempuran besar antara dua saudara Sultan Mahmud dan Masud, keduanya putra Muhammad bin Malikshah, di dekat Aqabah Asdabad. Pasukan Masud kalah, dan wazirnya al-Ustadz Abu Ismail ditawan beserta sejumlah panglimanya. Sultan Mahmud memerintahkan untuk membunuh wazir Abu Ismail, maka ia dibunuh dalam usia enam puluh sekian tahun. Ia memiliki karya-karya dalam ilmu kimia. Kemudian ia mengirim jaminan keamanan kepada saudaranya Masud dan memanggilnya kepadanya. Ketika keduanya bertemu, mereka berpelukan, menangis dan berdamai.
Pada tahun ini Dubais bin Shadaqah penguasa Hillah menjarah negeri-negeri dan berkendaraan sendiri ke Baghdad. Ia memasang tenda di hadapan istana khalifah, dan menampakkan apa yang ada dalam hatinya dari dendam. Ia menceritakan bagaimana kepala ayahnya diarak keliling negeri, dan mengancam al-Mustarsyid. Khalifah mengutus kepadanya untuk menenangkan kemarahannya dan menjanjikannya bahwa ia akan memperbaiki hubungannya dengan Sultan Mahmud. Ketika Sultan Mahmud tiba di Baghdad, Dubais mengirim permintaan keamanan, maka ia memberinya keamanan dan memperlakukannya seperti biasa. Kemudian ia menjarah pasukan sultan, maka Sultan Mahmud berkendaraan sendiri untuk memeranginya, dan membawa serta seribu perahu untuk menyeberang ke Hillah. Dubais melarikan diri dari hadapannya dan berlindung kepada Ilghazi lalu tinggal di sana selama setahun. Kemudian ia kembali ke Hillah dan mengirim permintaan maaf kepada khalifah dan sultan, namun keduanya tidak menerimanya. Sultan mengirimkan pasukan kepadanya yang mengepungnya dan memperketat pengepungan selama hampir setahun. Ia bertahan di negerinya dan pasukan tidak dapat mencapainya di tempat-tempat tersebut.
Pada tahun ini terjadi pertempuran besar antara Kuruj (Georgia) dan kaum muslimin di dekat Tiflis. Bersama Kuruj ada orang-orang kafir Qifjaq. Mereka membunuh banyak sekali kaum muslimin, merampas harta yang sangat banyak, dan menawan sekitar empat ribu tawanan. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Kuruj menjarah wilayah-wilayah tersebut dan melakukan perbuatan-perbuatan mungkar. Mereka mengepung Tiflis selama beberapa waktu kemudian menguasainya dengan paksa, setelah mereka membakar qadhi dan khatib ketika keduanya keluar kepada mereka meminta jaminan keamanan. Mereka membunuh kebanyakan penduduknya, menawan keturunannya, dan mengambil harta bendanya. Maka tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.
Pada tahun ini, Joscelin orang Franka penguasa Ar-Raha menyerang sekelompok orang Arab dan Turkoman, lalu membunuh mereka dan merampas harta mereka.
Pada tahun ini, para penjahat memberontak di Baghdad, dan merampas rumah-rumah secara terang-terangan baik siang maupun malam. Maka cukuplah Allah sebagai penolong kami dan Dia sebaik-baik pelindung.
Pada tahun ini merupakan awal kekuasaan Muhammad bin Tumart di negeri Maghrib. Awal kisah orang ini adalah bahwa ia datang di masa mudanya dari negeri Maghrib ke Baghdad lalu tinggal di Nizhamiyah, dan menekuni ilmu pengetahuan sehingga memperoleh bagian yang baik dari ilmu furu’ dan ushul dari Al-Ghazali dan lainnya. Ia menampakkan ibadah, zuhud, dan wara’, bahkan kadang mengingkari Al-Ghazali karena keindahan pakaiannya, terutama ketika mengenakan pakaian khusus saat mengajar di Nizhamiyah. Kemudian ia menunaikan haji dan kembali ke negerinya. Ia memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar, mengajarkan Al-Qur’an kepada orang-orang, dan mengajari mereka fiqih. Maka tersebarlah namanya di kalangan manusia. Ia bertemu dengan Yahya bin Tamim bin Al-Mu’izz bin Badis penguasa negeri Ifriqiyah yang mengagungkan dan memuliakannya serta meminta doanya, sehingga ia semakin terkenal dan tersebar beritanya. Ia tidak memiliki apa-apa kecuali kendi dan tongkat, dan tidak tinggal kecuali di masjid-masjid. Kemudian ia berpindah dari satu negeri ke negeri lain hingga memasuki Marrakesh bersama muridnya Abdul Mu’min bin Ali yang ia lihat tanda-tanda kecerdasan dan keberanian padanya. Di sana ia melihat kemungkaran berkali lipat dari yang ia lihat di tempat lain; di antaranya bahwa laki-laki memakai tutup wajah sedangkan perempuan berjalan dengan wajah terbuka. Maka ia mulai mengingkari hal itu, hingga pada suatu hari ia berpapasan dengan saudara perempuan Amirul Muslimin Ali bin Yusuf bin Tashfin penguasa Marrakesh dan sekitarnya, yang bersama perempuan-perempuan berkendara dengan wajah terbuka. Maka ia dan para sahabatnya mulai mengingkari mereka dan memukul hewan-hewan tunggangan, sehingga saudara perempuan sang raja terjatuh dari tunggangannya. Raja menghadirkannya dan menghadirkan para fuqaha, namun ia unggul dengan hujjah. Ia mengambil kesempatan menasihati raja tentang dirinya sendiri. Meskipun demikian, raja mengusirnya dari negerinya. Maka ia mulai mencemarkan nama baik raja dan menyeru manusia untuk memeranginya. Banyak orang mengikutinya dalam hal itu. Ibnu Tashfin mengirim pasukan besar kepadanya, namun Ibnu Tumart mengalahkan mereka. Maka urusannya menjadi besar, kedudukannya naik, dan kekuatannya bertambah. Ia menyebut dirinya dengan Al-Mahdi, dan menyebut pasukannya dengan pasukan Al-Muwahhidun (Unitaris). Ia menyusun kitab tentang tauhid dan akidah yang disebut Al-Murshidah. Kemudian terjadi pertempuran-pertempuran dengan pasukan Ibnu Tashfin. Pada suatu hari ia membunuh sekitar tujuh puluh ribu dari mereka, dan itu atas isyarat Abu Abdullah Al-Wansharisi yang mengklaim bahwa seorang malaikat turun kepadanya dan mengajarinya Al-Qur’an dan Al-Muwaththa’, dan bahwa ia memiliki malaikat-malaikat yang bersaksi tentang hal itu di sebuah sumur yang ia namakan. Ketika ia melewati sumur itu, dan ia telah menempatkan orang-orang di dalamnya, saat ia bertanya kepada mereka dan orang-orang mendengar, mereka bersaksi tentang hal itu. Maka saat itu ia memerintahkan untuk menutup sumur itu dengan mereka di dalamnya, sehingga mereka semua mati. Karena itu dikatakan: “Barangsiapa menolong orang zalim, maka ia akan dikuasai olehnya.”
Kemudian Ibnu Tumart yang menjuluki dirinya sebagai Al-Mahdi mengirim pasukan di bawah pimpinan Abu Abdullah Al-Wansharisi dan Abdul Mu’min untuk mengepung Marrakesh. Penduduknya keluar menghadapi mereka dan terjadi pertempuran yang dahsyat. Di antara yang terbunuh adalah Abu Abdullah Al-Wansharisi ini yang mengklaim bahwa malaikat-malaikat berbicara kepadanya. Kemudian mereka mencarinya di antara orang-orang yang terbunuh namun tidak menemukannya, lalu mereka berkata: “Sesungguhnya malaikat-malaikat telah mengangkatnya.” Padahal Abdul Mu’min telah menguburkannya saat orang-orang sedang berperang. Banyak pengikut Al-Mahdi yang terbunuh. Saat mengirim pasukan, ia sedang sakit parah. Ketika berita itu sampai kepadanya, sakitnya bertambah parah, dan ia sedih atas terbunuhnya Abu Abdullah Al-Wansharisi. Ia menyerahkan urusan setelahnya kepada Abdul Mu’min bin Ali dan memberikan gelar Amirul Mu’minin kepadanya. Ia adalah seorang pemuda yang tampan, tegas, dan berakal.
Kemudian Ibnu Tumart meninggal dunia dalam usia lima puluh satu tahun, dan masa kekuasaannya sepuluh tahun. Ketika urusan berpindah kepada Abdul Mu’min bin Ali, ia berbuat baik kepada rakyat, dan tampak darinya sifat yang baik sehingga orang-orang mencintainya. Wilayah kekuasaannya meluas, pasukannya dan rakyatnya bertambah banyak. Ia memusuhi Ibnu Tashfin penguasa Marrakesh, dan perang terus berlangsung antara mereka hingga tahun 535 H. Ibnu Tashfin meninggal, lalu digantikan putranya Tashfin yang meninggal pada tahun 539 H malam tanggal 27 Ramadhan. Saudaranya Ishaq bin Ali bin Yusuf bin Tashfin menjadi penguasa. Abdul Mu’min bergerak menghadapinya dan menaklukkan wilayah-wilayah itu, membuka kota Marrakesh dan membunuh di sana umat yang tidak diketahui jumlahnya kecuali oleh Allah Azza wa Jalla. Ia membunuh rajanya Ishaq yang masih muda pada tahun 542 H. Ishaq ini adalah raja terakhir dari Al-Murabithin (Almoravid), dan masa kekuasaan mereka tujuh puluh tahun. Yang menjadi raja dari mereka ada empat orang: Ali, ayahnya Yusuf, dan kedua putranya Tashfin dan Ishaq bin Ali yang disebutkan.
Abdul Mu’min menetap di kota Marrakesh, dan kekuasaannya kukuh di wilayah itu. Ia menang atas Dakalah pada tahun 543 H, yaitu suku besar sekitar dua ratus ribu prajurit kaki dan dua puluh ribu prajurit berkuda yang pemberani. Ia membunuh banyak dari mereka, menawan anak-anak mereka, dan merampas harta mereka, hingga budak perempuan yang cantik dijual dengan harga beberapa dirham saja. Aku telah melihat seseorang menulis tentang biografi Ibnu Tumart ini dalam satu jilid tentang keputusan-keputusannya dan hari-harinya, bagaimana ia berkuasa di negeri Maghrib, dan apa yang ia lakukan dari hal-hal yang ia kira sebagai keadaan yang baik, padahal itu adalah hal-hal mustahil yang hanya dilakukan oleh orang-orang jahat, dan berapa banyak manusia yang ia bunuh dan nyawa yang ia hilangkan.
Orang-orang terkenal yang meninggal pada tahun ini:
- Ahmad bin Abdul Wahhab bin As-Sibi, Abu Al-Barakat, meriwayatkan hadits dengan sanad tinggi, dan ia mengajar anak-anak Khalifah Al-Mustazhir. Ketika khilafah berpindah kepada Al-Mustarsyid, ia mengangkatnya sebagai kepala perbendaharaan. Ia memiliki harta yang banyak dan banyak bersedekah, memperhatikan ahli ilmu. Ia meninggalkan harta yang banyak yang diperkirakan seratus ribu dinar. Ia mewasiatkan tiga puluh ribu dinar untuk Makkah dan Madinah. Wafatnya pada tahun ini dalam usia lima puluh enam tahun tiga bulan. Shalat jenazahnya dipimpin oleh menteri Abu Ali bin Shadaqah, dan dikuburkan di Bab Harb.
- Abdurrahim bin Abdul Karim bin Hawazan, Abu Nashr Al-Qusyairi, belajar kepada ayahnya dan Imam Al-Haramain, meriwayatkan hadits dari banyak orang. Ia memiliki kecerdasan dan kepandaian, pikiran yang cepat dan berani, serta lidah yang mahir dan fasih. Ia pernah masuk Baghdad dan berkhotbah di sana, sehingga terjadi fitnah antara Hanabilah dan Syafi’iyah. Karena itu, Asy-Syarif Abu Ja’far bin Abi Musa dipenjara dan Ibnu Al-Qusyairi diperintahkan keluar dari Baghdad untuk memadamkan fitnah. Ia kembali ke negerinya, dan wafat pada tahun ini.
- Abdul Aziz bin Ali bin Umar, Abu Hamid Ad-Dainuri, memiliki banyak harta dan bersedekah, memiliki martabat, kedermawanan, dan wibawa di hadapan Khalifah. Ia meriwayatkan hadits dan berkhotbah, pandai menyampaikan dan manis tutur katanya. Wafat di Ar-Rayy pada tahun ini.
Kemudian masuk tahun 515 H (lima belas lima ratus Hijriyah):
Pada tahun ini, Sultan Mahmud memberikan kota Mayyafariqin kepada Amir Ilghazi, dan kota itu tetap di tangan anak-anaknya hingga diambil oleh Shalahuddin Yusuf bin Ayyub pada tahun 580 H (delapan puluh lima ratus Hijriyah).
Pada tahun ini, ia juga memberikan kota Mosul kepada Aq Sunqur Al-Bursuqi dan memerintahkannya memerangi orang-orang Franka.
Pada tahun ini, Balak bin Bahram – yang merupakan keponakan Ilghazi – mengepung kota Ar-Raha, lalu menawan rajanya Joscelin orang Franka dan sejumlah pemimpin dari anak buahnya, dan memenjarakan mereka di benteng Khartabirt.
Pada tahun ini, angin hitam bertiup selama tiga hari dan membunuh banyak manusia, hewan, dan ternak.
Pada tahun ini, terjadi gempa bumi dahsyat di Hijaz yang menyebabkan Rukun Yamani retak dan sebagiannya runtuh, dan sebagian dari haram Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Madinah An-Nabawiyah runtuh.
Pada tahun ini, muncul seorang Alawi di Makkah yang telah belajar fiqih dan lainnya di Nizhamiyah. Ia memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar sehingga banyak orang mengikutinya. Penguasa Makkah Ibnu Abi Hasyim mengasingkannya ke Bahrain.
Pada tahun ini, istana Sultan di Isfahan terbakar, tidak tersisa apa pun dari perabotan, permadani, permata, emas dan perak kecuali batu ruby merah. Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.
Sebelum itu satu minggu, masjid besar Isfahan juga terbakar. Masjid yang besar itu memiliki kayu yang bernilai satu juta dinar. Di antara yang terbakar adalah lima ratus mushaf, termasuk mushaf dengan tulisan Ubay bin Ka’ab. Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.
Pada bulan Sya’ban tahun ini, Khalifah Al-Mustarsyid duduk di istana khilafah dengan kemegahan khilafah; burdah di pundaknya dan tongkat di hadapannya. Dua raja bersaudara Mahmud dan Mas’ud datang dan berdiri di hadapannya, mencium tanah. Ia memberikan tujuh pakaian kehormatan kepada Mahmud, kalung, dua gelang, dan mahkota. Ia mendudukkannya di atas kursi, dan menasihatinya serta membacakan kepadanya firman-Nya: “Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (Surat Az-Zalzalah: 7-8). Ia memerintahkannya berbuat baik kepada rakyat, dan Khalifah mengikat dua panji dengan tangannya, memberikan kekuasaan kepadanya. Keduanya keluar dari hadapannya dengan taat dan dihormati, dan pasukan di hadapan mereka menuju istana mereka dengan kemegahan yang sangat besar.
Nazhar Al-Khadim memimpin ibadah haji bagi manusia.
Orang-orang yang meninggal pada tahun ini:
- Ibnul Qatha’ ahli bahasa, Abu Al-Qasim Ali bin Ja’far bin Ali bin Abdullah bin Al-Husain bin Ahmad bin Muhammad bin Ziyadatullah bin Muhammad bin Al-Aghlab As-Sa’di As-Siqilli kemudian Al-Mishri ahli bahasa, penyusun kitab Al-Af’al yang di dalamnya ia mengungguli Ibnul Quthiyah. Ia memiliki banyak karya. Ia datang ke Mesir sekitar tahun 500 H (lima ratus Hijriyah) ketika orang-orang Franka hampir mengambil Sisilia. Orang-orang Mesir memuliakannya dan sangat menghormatinya. Ia dinisbatkan kepada kelonggaran dalam periwayatan. Ia memiliki syair yang baik dan kuat. Qadhi Ibnu Khallikan menyebutkan sebagian darinya yang bagus. Ia telah melampaui usia delapan puluh tahun.
Orang-orang terkenal yang meninggal:
- Abu Al-Qasim Syahansyah, Al-Afdhal bin Amir Al-Juyusy Badr Al-Jamali, pengatur negara Fatimiyah di Mesir. Kepada ayahnya dinisbatkan Qaisariyyah Amir Al-Juyusy (orang awam menyebutnya Marjuyusy). Ayahnya adalah pembangun masjid yang ada di pelabuhan Iskandariah di pasar Al-Attarin, dan makam kepala di Asqalan. Ayahnya adalah wakil Al-Mustanshir di kota Shur, ada yang mengatakan di Akka. Kemudian ia memanggilnya pada musim dingin, maka ia naik kapal laut. Ia mengangkatnya sebagai wakil di negeri Mesir, maka ia memperbaiki urusan-urusan setelah rusaknya. Ia meninggal pada tahun 488 H (empat ratus delapan puluh delapan Hijriyah), dan setelahnya putranya Al-Afdhal ini menjadi menteri. Ia seperti ayahnya dalam keberanian dan ketegasan. Ketika Al-Mustanshir meninggal, ia mengangkat Al-Musta’li dan urusan-urusan terus berjalan di tangannya. Ia adil, baik sikapnya, dikenal baik hatinya. Wallahu a’lam.
Ia ditikam oleh seorang Fidawi (pembunuh bayaran) saat sedang berkendara dan terbunuh pada bulan Ramadhan tahun ini dalam usia lima puluh tujuh tahun. Masa kepemimpinannya setelah ayahnya dua puluh delapan tahun.
Istananya adalah Dar Al-Wakalah di Mesir sekarang. Ditemukan padanya harta yang sangat besar yang tidak terhitung; dari harta yang banyak berupa emas, perak, kuda pilihan, hewan ternak, tanah pertanian, dan barang-barang berharga. Semua itu berpindah kepada Khalifah Fatimiyah dan dimasukkan ke dalam perbendaharaannya. Pengumpulnya pergi ke jalan yang sama dalam perhitungan tentang sedikit dan banyaknya. Khalifah menggantikannya dengan Abu Abdullah Al-Bathaaihi dan memberikan gelar Al-Ma’mun.
Qadhi Ibnu Khallikan berkata: Al-Afdhal meninggalkan emas murni enam ratus juta dinar, dirham dua ratus lima puluh erdeb, tujuh puluh ribu kain sutra atlas, tiga puluh ekor unta berisi emas Irak, tempat tinta emas yang di dalamnya permata senilai dua belas ribu dinar, seratus paku emas dengan berat setiap paku seratus mitsqal di sepuluh majelis; pada setiap paku ada saputangan diikat dengan emas, setiap saputangan dengan warna yang berbeda dari pakaiannya, dan lima ratus peti pakaian untuk tubuhnya. Ia berkata: Ia meninggalkan budak, kuda, bagal, kendaraan, minyak kesturi, wewangian, dan perhiasan yang tidak diketahui jumlahnya kecuali oleh Allah Azza wa Jalla. Ia meninggalkan sapi, kerbau, dan kambing yang malu disebutkan jumlahnya. Pajak susunya dalam setahun mencapai tiga puluh ribu dinar. Ia meninggalkan dua peti besar berisi jarum emas untuk keperluan perempuan.
- Abdur Razzaq bin Abdullah bin Ali bin Ishaq Ath-Thusi, keponakan Nizham Al-Mulk, belajar fiqih kepada Imam Al-Haramain, berfatwa, mengajar, berdebat, dan menjadi menteri bagi Raja Sanjar. Wafat pada tahun ini.
- Khatun As-Safariyah, selir Sultan Malikshah dan ibu dari Sultan Muhammad dan Sanjar. Ia banyak bersedekah dan berbuat baik kepada manusia. Setiap tahun ia mengirim penyaluran air untuk jamaah haji. Ia religius dan baik. Ia terus mencari hingga mengetahui tempat ibu dan keluarganya. Ia mengirim banyak harta hingga mereka datang kepadanya. Ketika ibunya datang setelah empat puluh tahun tidak bertemu, ia ingin menguji pemahamannya, maka ia duduk di antara budak-budak perempuannya. Ketika ibunya mendengar pembicaraannya, ia mengenalinya. Ia berdiri mendekatinya lalu berpelukan dan menangis. Kemudian ibunya masuk Islam di tangannya. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan dan berbuat baik kepadanya.
Ia unik karena melahirkan dua raja di masa negara Turki dan Ajam. Tidak dikenal yang serupa dengannya kecuali sedikit; di antaranya: Wiladah binti Al-Abbas melahirkan untuk Abdul Malik putra Al-Walid dan Sulaiman, Syahfarand melahirkan untuk Al-Walid putra Yazid dan Ibrahim yang juga menjadi khalifah, dan Al-Khaizuran melahirkan untuk Al-Mahdi putra Al-Hadi dan Ar-Rasyid.
At-Thughrai
Penyusun Lamiyatul Ajam, Al-Husain bin Ali bin Abdul Shamad Muayyiduddin Al-Ashfahani Al-Amid Fakhrul Kuttab, penulis dan penyair yang dikenal dengan sebutan At-Thughrai. Dia pernah menjabat sebagai wazir di Irbil beberapa waktu lamanya. Qadhi Ibnu Khallikan mencantumkan qasidhahnya yang berbentuk Lamiyah yang dikarangnya pada tahun lima ratus lima Hijriyah di Baghdad, di dalamnya dia menceritakan kondisi dan urusan-urusannya. Qasidah ini dikenal dengan sebutan Lamiyatul Ajam, awal baitnya:
Keteguhan pendapat menjagaku dari kesalahan, dan perhiasan keutamaan menghiasiku di saat pengangguran. Kemuliaanku di akhir dan kemuliaanku di awal adalah syariat, dan matahari di waktu dhuha seperti matahari di masa kanak-kanak. Untuk apa tinggal di Zaura (Baghdad), bukan tempat tinggalku di sana, dan bukan untaku di sana, dan bukan unta gembalaku.
Qadhi Ibnu Khallikan telah mencantumkan seluruh qasidah ini dan juga mencantumkan syair-syairnya yang lain.
Kemudian Masuklah Tahun Enam Belas Lima Ratus Hijriyah
Pada bulan Muharram tahun ini, Sultan Thughrul kembali taat kepada saudaranya Mahmud, setelah sebelumnya dia keluar dari ketaatannya dan merebut wilayah Azerbaijan.
Pada tahun ini, Sultan Mahmud memberikan kota Washit kepada Aq Sunqur sebagai tambahan dari Mausil. Lalu dia mengirim Imaduddin Zanki bin Aq Sunqur ke sana, maka dia menjadi walinya dan berbuat baik dalam kepemimpinannya di sana, serta menunjukkan ketegasan dan kecakapan.
Pada bulan Safar tahun ini, wazir Sultan Mahmud, Abu Thalib As-Saymirmi terbunuh, dibunuh oleh seorang Bathini. Saat itu dia telah keluar untuk perjalanan menuju Hamadzan. Istrinya keluar dengan seratus budak perempuan dengan kendaraan emas. Ketika berita pembunuhannya sampai kepada mereka, mereka kembali dalam keadaan bertelanjang kaki dan tersingkap, sudah dihinakan setelah mulia. Sultan kemudian mengangkat Syamsul Mulk Utsman bin Nizhamul Mulk sebagai wazir menggantikannya.
Pada tahun ini, terjadi pertemuan antara Aq Sunqur Al-Bursuqi dengan Dubais bin Shadaqah, Dubais mengalahkannya dan membunuh banyak tentaranya. Lalu Sultan memenjarakan Manshur bin Shadaqah, saudara Dubais, dan anaknya, dan mengirim mereka ke sebuah benteng. Karena hal itu, Dubais menyakiti daerah tersebut, menjarah negeri-negeri, memotong rambutnya dan mengenakan pakaian hitam, serta menjarah harta-harta Khalifah juga dari negeri-negeri. Maka diumumkan di Baghdad untuk keluar berperang melawannya. Khalifah keluar dengan pasukan, mengenakan jubah hitam dan sorban, di pundaknya Burdah (jubah Nabi shallallahu alaihi wasallam), di tangannya tongkat, dan di pinggangnya ikat pinggang sutra Cina. Bersamanya wazirnya Nizhamuddin Ahmad bin Nizhamul Mulk, Naqibun Nuqaba Ali bin Thurad Az-Zaynabi, dan Syaikhus Syuyukh Shadruddin bin Ismail. Aq Sunqur Al-Bursuqi menyambutnya dengan pasukan, mereka mencium tanah, dan Al-Bursuqi mengatur barisan pasukan. Para pembaca Alquran berdiri di hadapan Khalifah. Dubais datang dan di hadapannya budak-budak wanita memukul rebana, dan para waria dengan alat musik. Kedua kelompok bertemu, dan Khalifah telah menghunus pedangnya, bertakbir dan mendekat ke medan pertempuran. Anbar bin Abul Askar menyerang sayap kanan Khalifah dan memecahkannya, serta membunuh seorang panglima. Kemudian dia menyerang kedua kalinya dan mengalahkan mereka seperti pertama kali. Lalu Imaduddin Zanki bin Aq Sunqur menyerang dia, Anbar tertangkap dan bersamanya tertangkap Badil bin Zaidah. Maka pasukan Dubais kalah, dan mereka menceburkan diri ke air, banyak dari mereka yang tenggelam. Khalifah memerintahkan untuk memenggal leher para tawanan di hadapannya. Istri-istri dan selir-selir Dubais menjadi tawanan. Khalifah kembali ke Baghdad dan memasukinya pada hari Asyura tahun berikutnya, itu adalah hari yang disaksikan. Ketidakhadirannya selama enam belas hari. Adapun Dubais, dia selamat dengan dirinya sendiri dan menuju Ghaziyah lalu bersama mereka ke Basrah, memasukinya, menjarahnya, dan membunuh panglimanya. Kemudian dia takut kepada Al-Bursuqi lalu keluar darinya, pergi ke padang pasir, bergabung dengan orang-orang Franka dan hadir bersama mereka dalam pengepungan Halab. Kemudian dia meninggalkan mereka dan bergabung dengan Raja Thughrul, saudara Sultan Mahmud.
Pada tahun ini, Sultan Husamuddin Timurtasy bin Ilghazi bin Artuq menguasai benteng Mardin setelah wafatnya ayahnya, dan saudaranya Sulaiman menguasai Mayyafariqin. Pada tahun ini muncul tambang tembaga di Diyar Bakr dekat benteng Dzul Qarnain. Pada tahun ini, sekelompok penceramah memasuki Baghdad dan berceramah di sana, mereka mendapat penerimaan penuh dari masyarakat awam.
Yang memimpin haji adalah Nazhar Al-Khadim.
Di Antara Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini:
Abdullah bin Ahmad bin Umar bin Abul Asy’ats Abu Muhammad As-Samarqandi, saudara Abu Al-Qasim. Abu Muhammad ini adalah salah seorang hafizh hadits. Dia mengklaim bahwa dia memiliki apa yang tidak dimiliki Abu Zur’ah Ar-Razi. Dia menemani Al-Khatib beberapa waktu, mengumpulkan, menyusun, dan menulis, serta melakukan perjalanan ke berbagai penjuru. Wafatnya pada hari Senin kedua belas Rabiul Awwal tahun ini, dalam usia delapan puluh tahun.
Ali bin Ahmad Abu Thalib As-Saymirmi, dinisbahkan kepada sebuah desa di Ashfahan. Dia adalah wazir Sultan Mahmud. Dia terang-terangan melakukan kezaliman dan kefasikan, menimbulkan pajak-pajak kepada masyarakat dan memperbarui pajak-pajak yang telah dihapus sejak waktu yang lama. Dia berkata: “Aku telah malu karena banyaknya kezaliman terhadap orang yang tidak memiliki penolong, dan banyaknya sunnah-sunnah buruk yang aku ciptakan.”
Ketika dia berniat keluar menuju Hamadzan, dia menghadirkan para peramal. Mereka meramal untuknya dengan ramalan pasir untuk waktu keberangkatannya agar lebih cepat kembalinya. Dia keluar pada waktu itu dengan pedang-pedang terhunus di hadapannya dan para budak dalam jumlah besar. Namun demikian, seorang Bathini datang kepadanya dan memukulnya hingga membunuhnya pada saat itu juga, setelah memukulnya berkali-kali di bagian vital tubuhnya, kemudian menyembelihnya seperti menyembelih kambing. Para budak memukul dengan pedang dan anak panah di punggungnya namun dia tidak peduli dengan itu semua sampai membunuhnya kemudian dia mati setelahnya. Istri-istrinya kembali dalam keadaan tersingkap wajah-wajah mereka; Allah telah mengganti mereka dengan kehinaan setelah kemuliaan, dan ketakutan setelah keamanan. Itu terjadi pada hari Selasa akhir bulan Safar. Betapa mirip kondisi mereka dengan ucapan Abul Atahiyah tentang Al-Khaizuran dan budak-budak wanitanya ketika Al-Mahdi wafat:
Mereka pergi dengan sutra dan kembali dengan mengenakan kain kasar. Setiap orang yang menanduk dari manusia, dia memiliki hari untuk menanduk. Engkau akan mati meskipun engkau hidup sepanjang umur Nuh alaihissalam. Maka ratapilah dirimu sendiri jika engkau harus meratap.
Al-Hariri, Penulis Al-Maqamat
Al-Qasim bin Ali bin Muhammad bin Utsman Fakhruddin Abu Muhammad Al-Hariri Al-Bashri, penulis Al-Maqamat yang kefasihannya telah menyebar di mana-mana, dan hampir melampaui Sahban. Lahir tahun empat puluh enam empat ratus Hijriyah, mendengar hadits, dan belajar bahasa dan nahwu, menulis dalam semua itu dan mengungguli orang-orang pada zamannya, unggul atas teman-teman seangkatannya. Dia tinggal di Baghdad dan bekerja dalam bidang penulisan bersama para penulis di istana Khalifah. Dia bukan termasuk orang yang tumpul daya cipta dan pikirannya tidak keruh serta bakatnya. Ibnu Al-Jauzi berkata: Dia mendengar hadits dan meriwayatkannya, membaca sastra dan bahasa, mengungguli orang-orang pada zamannya dalam kecerdasan, kepintaran, dan kefasihan, serta keindahan ungkapan. Dia menulis Al-Maqamat yang terkenal. Siapa yang merenungkannya akan mengetahui kedudukan penulisnya. Wafat pada tahun ini di Basrah. Ada yang berkata: Sesungguhnya Abu Zaid dan Al-Harits bin Hammam tidak ada wujudnya, dan dia hanya menjadikan Al-Maqamat ini dari bab perumpamaan. Sebagian dari mereka berkata: Abu Zaid Al-Muthahhar bin Sallar As-Saruji memiliki wujud, dia adalah orang yang mulia, memiliki ilmu dan pengetahuan tentang bahasa, maka Allahlah yang lebih mengetahui.
Qadhi Ibnu Khallikan menyebutkan bahwa Abu Zaid namanya adalah Al-Muthahhar bin Sallar, dia orang Basrah yang mulia dalam nahwu dan bahasa, belajar kepada Al-Hariri di Basrah. Adapun Al-Harits bin Hammam, sesungguhnya yang dimaksud adalah dirinya sendiri, sebagaimana yang datang dalam hadits: “Setiap kalian adalah Harits, dan setiap kalian adalah Hammam.” Demikian kata Qadhi. Sedangkan lafazh yang terpelihara adalah: “Nama yang paling benar adalah Harits dan Hammam”, karena setiap orang adalah Harits yaitu pelaku, atau Hammam dari kata keinginan yaitu tekad dan pikiran. Dia menyebutkan bahwa maqamah pertama yang dia buat adalah yang keempat puluh delapan, yaitu Al-Haramiyyah. Sebabnya adalah seorang laki-laki berpakaian compang-camping masuk ke masjid Basrah yang fasih lisannya. Mereka memintanya menyebut namanya, dia berkata: Abu Zaid As-Saruji. Maka dia membuat maqamah ini tentangnya. Wazir Khalifah Al-Mustarsyid, yaitu Jalaluddin Amidud Daulah Abu Ali Al-Hasan bin Abul Izz Ali bin Shadaqah, menyarankan kepadanya. Ibnu Khallikan berkata: Demikian yang kulihat dalam naskah dengan tulisan tangan penulis pada pinggirnya, dan ini lebih benar daripada yang berkata: Dia adalah Wazir Syarafuddin Abu Nashr Anusyirwan bin Khalid bin Muhammad Al-Qasyani, yang juga wazir Al-Mustarsyid. Dikatakan: Sesungguhnya Al-Hariri telah membuatnya empat puluh maqamah. Ketika dia datang ke Baghdad, ada yang tidak mempercayainya dalam hal itu, dan sebagian wazir mengujinya. Dia duduk di suatu tempat dan mengambil tinta dan kertas tetapi tidak berhasil, sampai dia kembali ke negerinya dan membuat sepuluh lagi, maka genaplah lima puluh maqamah. Abu Al-Qasim Ali bin Aflah, penyair, berkata tentangnya—dia termasuk orang yang mendustakannya:
Seorang syaikh kami dari Rabi’ah Al-Faras, mencabut janggutnya karena kegilaan. Allah membuatnya berbicara dengan Masyyan sebagaimana Dia melemparkannya di tengah dewan dengan kebisuan.
Makna kata Masyyan: yaitu tempat di Basrah. Disebutkan bahwa dia adalah kepala dewan Masyyan. Dikatakan: Sesungguhnya dia buruk rupa. Suatu ketika, seorang laki-laki melakukan perjalanan kepadanya, ketika melihatnya dia meremehkannya. Al-Hariri memahami itu lalu berkata:
Engkau bukan orang pertama yang melakukan perjalanan yang ditipu oleh bulan, dan pengintai yang dikagumi oleh hijaunya kotoran. Maka pilihlah selainku untuk dirimu, sesungguhnya aku seorang laki-laki seperti Al-Ma’idi, maka dengarlah tentangku tetapi jangan melihatku.
Dikatakan: Sesungguhnya Al-Ma’idi adalah nama kuda jantan yang cepat pada orang Arab yang buruk penampilannya. Wallahu a’lam.
Al-Baghawi Al-Husain bin Mas’ud bin Muhammad
Abu Muhammad Al-Baghawi, penulis Tafsir, Syarhus Sunnah, At-Tahdzib dalam fikih, Al-Jam’u Baynash Shahihain, Al-Mashabih dalam hadits-hadits shahih dan hasan, dan lain-lain. Dia belajar kepada Qadhi Husain, dan mahir dalam ilmu-ilmu ini. Dia adalah ulama besar pada zamannya dalam ilmu-ilmu ini, dan dia adalah orang yang beragama, wara’, zahid, ahli ibadah, dan saleh. Wafat pada bulan Syawal tahun ini. Ada yang berkata: pada tahun sepuluh. Maka Allahlah yang lebih mengetahui. Dikubur bersama gurunya Qadhi Husain di Thalaqan. Wallahu a’lam.
Kemudian Masuklah Tahun Tujuh Belas Lima Ratus Hijriyah
Pada hari Asyura, Khalifah kembali dari Al-Hillah setelah mengalahkan pasukan Dubais dan mencerai-beraikan mereka, serta memutuskan hubungan mereka pada awal bulan ini. Kemudian dia kembali ke negerinya Baghdad dengan bantuan dan kemenangan, serta kembali kepada keluarganya dengan gembira.
Pada tahun ini, Khalifah bertekad untuk menyunatkan anak-anaknya dan anak-anak saudaranya, mereka berjumlah dua belas orang. Maka Baghdad dihias selama tujuh hari dengan hiasan yang tidak pernah terlihat sebelumnya. Masyarakat memperlihatkan perhiasan, emas, dan pakaian yang tidak pernah terlihat sebelumnya.
Pada bulan Sya’ban tahun ini, As’ad Al-Mayhani tiba sebagai pengajar di An-Nizhamiyyah Baghdad sebagai pengawasnya, dan Al-Baqirhi diberhentikan darinya. Terjadi perselisihan antara dia dengan para fuqaha karena dia memberhentikan sejumlah dari mereka, dan hanya cukup delapan puluh pelajar dari mereka saja. Hal itu tidak mudah bagi banyak dari mereka.
Pada tahun ini, Sultan Mahmud pergi ke negeri Kurj, dan telah terjadi perselisihan antara mereka dengan Al-Qifjaq, maka dia memerangi mereka dan mengalahkan mereka. Kemudian kembali ke Hamadzan dengan bantuan dan kemenangan.
Pada tahun ini, Thughtakin penguasa Damaskus menguasai kota Hamah setelah wafatnya penguasanya Mahmud bin Qarajah, dia adalah orang yang zalim dan kejam.
Pada tahun ini, Naqibul Alawiyyin diberhentikan, dan rumah Ali bin Aflah dihancurkan, karena keduanya adalah mata-mata bagi Dubais. Kepada Ali bin Thurad Az-Zaynabi ditambahkan niqabah Alawiyyin bersama niqabah Abbasiyyin.
Di Antara Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini:
Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Yahya bin Shadaqah At-Taghlibi, yang dikenal dengan sebutan Ibnul Khayyath, penyair Damaskus yang penulis mahir. Dia memiliki diwan syair yang terkenal. Hafizh Ibnu Asakir berkata: Diwan penyair ditutup dengannya di Damaskus. Dia adalah penyair yang mahir, baik, bagus, banyak karya, hafal syair-syair orang-orang terdahulu dan berita-berita mereka. Qadhi Ibnu Khallikan mencantumkan dari syairnya yang indah beberapa bagian, di antaranya adalah qasidahnya yang jika tidak ada baginya selain itu maka cukup baginya, yaitu yang dia katakan di awalnya:
Ambillah dari angin utara Najd sebagai keamanan bagi hatinya, karena anginnya hampir menerbangkan akal pikirannya. Kalian berdua, angin itu, sesungguhnya ketika dia bertiup maka kerinduan adalah yang paling mudah dari musibahnya. Dua sahabatku, seandainya kalian berdua mencintai niscaya kalian berdua mengetahui kedudukan cinta dari orang yang tertimpa cinta yang sabar hatinya. Dia ingat dan ingatan itu membuat rindu, dan pemilik cinta itu merindukan, dan siapa yang cinta menempel padanya maka dia terkena. Cinta dengan putus asa akan cinta dan harapannya, dan rindu dengan jauhnya ziarah dan dekatnya. Dan di rombongan ada yang melipat tulang rusuk karena sakit, jika penyeru cinta memanggilnya maka dia memenuhinya. Jika hembusan nafas datang dari sisi padang pasir maka dia menjamin di dalamnya penyakitnya tanpa teman-temannya. Dan yang tersembunyi di antara tombak-tombak yang berpaling, dan di dalam hati dari keberpalingannya seperti tirai-tirainya. Aku cemburu jika aku merasa di kampung ada keluhan, hati-hati dan takut bahwa itu adalah untuk kekasihnya.
Wafatnya pada bulan Ramadhan tahun tujuh belas lima ratus Hijriyah dalam usia sembilan puluh tujuh tahun di Damaskus.
Kemudian Masuklah Tahun Lima Ratus Delapan Belas (518 H)
Pada tahun ini kaum Bathiniyyah muncul di Amad, lalu penduduknya memerangi mereka dan membunuh tujuh ratus orang dari mereka; segala puji bagi Allah.
Pada tahun ini jabatan shihnakih di Baghdad dikembalikan kepada Sa’d ad-Daulah Yarnaqasy az-Zakawi, dan Manshur bin Shadaqah, saudara Dubais, diserahkan kepadanya untuk diserahkan ke Darul Khilafah. Datang kabar bahwa Dubais telah berlindung kepada Tughril, dan keduanya telah bersepakat untuk merebut Baghdad. Maka orang-orang bersiap-siap untuk memerangi mereka berdua. Aq Sunqur diperintahkan untuk kembali ke Mosul, dan dia mengangkat Imaduddin Zanki bin Aq Sunqur sebagai wakilnya di Bashrah.
Pada bulan Rabiul Awal, al-Malik Husamuddin Tamartas bin Ilghazi bin Artuq memasuki kota Aleppo. Dia menguasai kota itu setelah penguasanya Balak bin Bahram bin Artuq. Balak telah mengepung benteng Manbij ketika sebuah anak panah mengenai lehernya dan dia meninggal. Tamartas mengangkat wakil di Aleppo, kemudian kembali ke Mardin. Kota itu kemudian diambil darinya, dan Aq Sunqur mengambilnya sebagai tambahan wilayah Mosul.
Pada tahun ini Khalifah mengirim Qadhi Abu Sa’d al-Harawi untuk meminang putri Sultan Sanjar untuknya. Khalifah mulai membangun rumah di tepi Sungai Tigris untuk mempelai wanita, dan pembangunan al-Mutsmanah selesai pada tahun ini. Haji dipimpin oleh Jamaluddin Iqbal al-Mustarsyidi.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini
Ahmad bin Ali bin Burhan Abu al-Fath, dikenal dengan sebutan Ibnu al-Hammami. Dia belajar fiqih dari Abu al-Wafa bin Aqil, dan menjadi ahli dalam madzhab Imam Ahmad. Kemudian teman-temannya mengkritiknya tentang beberapa hal, yang mendorongnya untuk berpindah ke madzhab Syafi’i. Dia belajar kepada al-Ghazali dan asy-Syasyi, menjadi ahli dan terkemuka, bersaksi di hadapan Qadhi az-Zainabi, dan mengajar di an-Nizhamiyyah selama satu bulan. Dia wafat pada bulan Jumada dan dimakamkan di Bab Abraz.
Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Muhammad Abu Ja’far ad-Damaghani. Dia mendengar hadits dan bersaksi di hadapan ayahnya, menjadi wakil saudaranya di al-Karkh, kemudian meninggalkan semua itu dan menjabat sebagai hajib Bab an-Nubi, kemudian diberhentikan lalu diangkat kembali. Dia adalah orang yang baik akhlaknya. Wafatnya pada bulan Jumadil Ula tahun ini.
Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Ibrahim Abu al-Fadhl al-Maidani, penulis kitab “al-Amtsal” yang tidak ada tandingannya dalam bidangnya. Dia memiliki syair yang bagus. Ibnu Khallikan berkata: Dia wafat pada hari Rabu tanggal dua puluh lima bulan Ramadhan tahun ini.
Kemudian Masuklah Tahun Lima Ratus Sembilan Belas (519 H)
Pada tahun ini Dubais dan Sultan Tughril menuju Baghdad untuk merebutnya dari tangan Khalifah. Ketika mereka mendekatinya, Khalifah keluar menghadapi mereka dengan pasukan yang sangat besar, orang-orang berjalan kaki di depannya. Dia mengenakan pakaian hitam dan jubah, di tangannya ada tongkat, hingga perhentian pertama, kemudian setelah itu orang-orang berkuda. Ketika malam tiba—pagi harinya mereka akan bertempur dan mereka berniat menjarah Baghdad—Allah mengirimkan hujan lebat dan Sultan Tughril jatuh sakit pada malam itu. Pasukan itu pun bercerai-berai dan mereka mundur dalam keadaan kecewa dan ketakutan. Dubais—semoga Allah melaknatnya—dan Tughril berlindung kepada Malik Sanjar dan meminta perlindungan dari Khalifah dan Sultan Mahmud. Sanjar menahan Dubais di bentengnya. Ada pengadu yang melapor kepada Malik Sanjar bahwa Khalifah ingin menguasai kerajaan sendirian dan sekarang telah keluar dari Baghdad untuk memerangi musuh-musuhnya. Hal itu masuk ke dalam hati Sanjar dan dia menyimpan niat buruk, meskipun dia telah menikahkan putrinya dengan Khalifah.
Pada tahun ini Qadhi Abu Sa’d Muhammad bin Nashr bin Manshur al-Harawi dibunuh di Hamadzan oleh kaum Bathiniyyah. Dia telah diutus oleh Khalifah kepada Sanjar untuk meminang putrinya. Haji dipimpin oleh Nazhar al-Khadim.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini
Aq Sunqur al-Bursuqi, penguasa Mosul, dibunuh oleh kaum Bathiniyyah di maqshurah masjid jami’ kota itu pada hari Jumat. Dia, semoga Allah merahmatinya, adalah seorang Turki yang baik sirahnya, benar batinnya, menjaga shalat pada waktunya, banyak berbuat kebajikan, sedekah dan ihsan kepada rakyat. Setelah dia wafat, kekuasaannya dilanjutkan oleh anaknya, as-Sultan Izzuddin Mas’ud, dan Sultan Mahmud mengukuhkannya dalam jabatannya.
Hilal bin Abdurrahman bin Syuraih bin Umar bin Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim bin Sulaiman bin Bilal bin Rabah, muadzin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia mengembara dan berkeliling ke berbagai negeri. Dia adalah seorang syaikh yang keras suaranya, bagus bacaannya, dan merdu nadanya. Dia wafat pada tahun ini di Samarkand; semoga Allah ta’ala merahmatinya.
Al-Qadhi Abu Sa’d al-Harawi, Muhammad bin Nashr bin Manshur Abu Sa’id al-Harawi, salah satu fuqaha terkenal dan para pembesar terkemuka. Dia dibunuh oleh kaum Bathiniyyah di Hamadzan ketika pergi sebagai utusan Khalifah kepada Sultan Sanjar untuk meminang putrinya. Wallahu a’lam.
Tahun Dua Puluh Lima Ratus (520 H) dari Hijrah Nabi
Pada tahun ini Sultan Mahmud dan Khalifah saling berkirim surat untuk bersekutu melawan Sultan Sanjar. Ketika Sanjar mengetahui hal itu, dia menulis surat kepada keponakannya Mahmud, melarang dan menariknya ke pihaknya, serta memperingatkannya tentang Khalifah, bahwa jika mereka berdua selesai dengannya, dia akan berbalik menyerangnya dan melawannya. Mahmud mendengarkan perkataan pamannya, batal dari niatnya, dan bermaksud memasuki Baghdad pada tahun itu. Khalifah menulis surat kepadanya melarang hal itu karena sedikitnya bahan makanan di kota itu, tetapi dia tidak menerimanya dan tetap mendatanginya. Ketika kedatangannya sudah dekat, Khalifah keluar dari rumahnya dan mengungsi ke wilayah barat. Hal itu menyulitkannya dan rakyat. Hari Raya Idul Adha tiba, dan Khalifah sendiri yang menyampaikan khutbah kepada rakyat, khutbah yang sangat agung, fasih dan sangat baik. Khatib-khatib masjid jami’ bertakbir di belakangnya, dan itu adalah hari yang disaksikan. Ibnu al-Jauzi menyebutkannya secara lengkap, meriwayatkannya dari orang yang hadir bersamanya dari Khalifah bersama Qadhil Qudhat Abu al-Qasim az-Zainabi dan sejumlah para saksi. Ketika Khalifah hendak turun dari mimbar, Abu al-Muzhaffar Muhammad bin Ahmad bin Abdul Aziz al-Hasyimi mendahului dan membacakan untuknya syair:
Semoga keselamatan Allah atasmu wahai sebaik-baik orang yang naik
Ke atas mimbar yang dipenuhi oleh bendera-bendera kemenangan
Dan sebaik-baik orang yang memimpin dan memberi rahmat kepada manusia
Dengan sirahmu yang baik dan bagimu kekuasaan
Sungguh telah memukau pendengaran kami darimu sebuah khutbah
Dan nasihat yang tegas yang membuat batu pun menjadi lunak
Engkau penuhi semua hati dengan keagungan
Maka telah berguncang karena takut akan peringatanmu negeri Mesir
Kalimatnya melambung tinggi kemuliaan atas setiap pembicara
Dan ketinggiannya agung hingga tidak dapat dicakup oleh hitungan
Engkau tegakkan dengan itu mimbar yang tinggi kedudukannya
Yang bintang-bintang gemerlap pun tidak dapat mencapai puncaknya
Dan engkau tambahkan dengan itu kemegahan kekal bagi Adnan
Maka pagi hari karenanya antara manusia bersamamu adalah kebanggaan
Maka bagi Allah masa dimana engkau adalah imamnya
Dan bagi Allah agama dimana engkau adalah pemuka kami di dalamnya
Semoga engkau kekal sepanjang zaman dan kerajaan setiap kali
Berlalu suatu masa dimana engkau di dalamnya, datanglah masa yang lain
Dan engkau menyambut hari raya yang membahagiakan dengan penghormatan
Yang memuliakan kami di dalamnya shalatmu dan penyembelihan kurbanmu
Ketika Khalifah turun dari mimbar, dia menyembelih unta dengan tangannya sendiri, dan masuk ke suradaq. Orang-orang menangis dan berdoa untuk Khalifah agar diberi taufiq dan kemenangan. Kemudian Sultan Mahmud memasuki Baghdad pada hari Selasa tanggal delapan belas Dzulhijjah. Mereka turun di rumah-rumah penduduk, dan rakyat mengalami banyak gangguan terhadap keluarga mereka. Khalifah berkirim surat untuk perdamaian, tetapi Khalifah menolak. Dia berkuda dengan pasukannya dan memerangi orang-orang Turki. Bersamanya hanya sekelompok kecil prajurit, tetapi semua rakyat jelata bersamanya. Banyak orang Turki yang terbunuh. Kemudian datang Imaduddin Zanki dengan pasukan besar dari Wasith menggunakan kapal untuk menolong Sultan. Ketika Khalifah menyadari hal itu, dia menyerukan perdamaian. Perdamaian terjadi antara Sultan dan Khalifah. Raja sangat gembira dengan hal itu dan meminta maaf kepada Khalifah atas apa yang terjadi. Kemudian dia keluar pada awal tahun berikutnya menuju Hamadzan karena sakit.
Pada tahun ini adalah pertama kalinya Ibnu al-Jauzi berbicara di atas mimbar untuk memberi nasihat kepada orang-orang, dan umurnya saat itu tiga belas tahun. Hadir Syaikh Abu al-Qasim Ali bin Ya’la al-Alawi al-Balkhi, seorang Sunni, yang mengajarinya beberapa kalimat. Kemudian dia menaikkannya ke mimbar dan dia mengucapkannya. Itu adalah hari yang disaksikan. Ibnu al-Jauzi berkata: Jama’ah pada hari itu diperkirakan lima puluh ribu orang.
Pada tahun ini Thughtakin penguasa Damaskus bertempur dengan musuh-musuhnya dari kaum Franj. Dia membunuh banyak dari mereka dan memperoleh harta rampasan yang banyak, segala puji dan anugerah bagi Allah.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini
Ahmad bin Muhammad bin Muhammad, Abu al-Fath ath-Thusi al-Ghazali, saudara Abu Hamid al-Ghazali. Dia adalah seorang penceramah yang fasih, memiliki kedudukan dalam ilmu kalam dan zuhud serta pandai bergaul. Dia memiliki ucapan-ucapan yang bagus. Suatu kali dia berceramah di istana Raja Mahmud, lalu diberikan kepadanya seribu dinar. Dia keluar dan di pintu ada kuda Wazir dengan pelana emas, rantai-rantainya dan perhiasan yang ada padanya, lalu dia mengendarainya. Hal itu sampai kepada Wazir, dia berkata: “Biarkan dia dan jangan kembalikan kuda itu kepadaku.” Suatu kali dia mendengar kincir air mengerang, lalu dia melemparkan kain selendangnya ke atasnya hingga robek berkeping-keping. Ibnu al-Jauzi berkata: Dia memiliki ucapan-ucapan bagus, tetapi yang dominan pada ucapannya adalah kekacauan, meriwayatkan hadits-hadits palsu dan cerita-cerita kosong serta makna-makna yang rusak. Kemudian Ibnu al-Jauzi menyebutkan hal-hal yang mungkar dari ucapannya, wallahu a’lam. Di antaranya bahwa setiap kali ada sesuatu yang membingungkannya, dia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan terjaga, lalu bertanya tentang itu dan beliau menunjukkan yang benar kepadanya. Dia berkata: Dia fanatik membela Iblis dan mencari alasan untuknya. Ibnu al-Jauzi berbicara panjang lebar tentangnya. Dia berkata: Dia dinisbatkan kepada kecintaan kepada pemuda tampan dan qaul dengan musyahadah, wallahu a’lam tentang kebenaran itu.
Ibnu Khallikan berkata: Dia adalah penceramah yang bagus ceramahnya, tampan penampilannya, pemilik karamah dan isyarat. Dia adalah salah seorang fuqaha, tetapi condong kepada ceramah sehingga mendominasi dirinya. Dia mengajar di an-Nizhamiyyah menggantikan saudaranya ketika saudaranya berzuhud dan meninggalkannya. Dia meringkas Ihya’ Ulum ad-Din dalam satu jilid yang diberi nama “Lubab al-Ihya'”. Dia memiliki kitab “adz-Dzakhirah fi Ilm al-Bashirah”. Dia berkeliling ke berbagai negeri dan melayani kaum Sufi dengan dirinya sendiri. Dia condong kepada uzlah dan menyendiri.
Ahmad bin Ali bin Muhammad al-Wakil, dikenal dengan sebutan Ibnu Burhan Abu al-Fath, faqih Syafi’i. Dia belajar fiqih kepada al-Ghazali, Ilkiya, dan Abu Bakr asy-Syasyi. Dia sangat mahir dalam ushul, memiliki kitab “al-Wajiz fi Ushul al-Fiqh”. Dia memiliki berbagai bidang ilmu yang baik yang dikuasainya dengan sangat baik. Dia menjabat pengajar di an-Nizhamiyyah Baghdad kurang dari sebulan. Wafatnya pada tahun ini sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Khallikan; semoga Allah merahmatinya.
Bahram bin Bahram Abu Syuja’ al-Bai’. Dia mendengar hadits dan membangun madrasah untuk pengikut Ahmad di Kalwadza, dan mewakafkan sebagian hartanya untuk para fuqaha.
Sha’id bin Sayyar bin Muhammad bin Abdullah bin Ibrahim Abu al-‘Ala al-Ishhaqi al-Harawi al-Hafizh, salah seorang yang sangat teliti. Dia mendengar hadits dan wafat di Ghurj, sebuah desa di pinggir Herat, pada tahun ini.
Kemudian Masuklah Tahun 521 Hijriyah
Tahun ini dimulai ketika Khalifah dan Sultan Mahmud sedang berperang, dan Khalifah berada di kemah besar di sisi barat. Ketika tiba hari Rabu tanggal 4 Muharram, sekelompok tentara Sultan berhasil masuk ke istana Khalifah, maka terkumpullah di dalamnya seribu pejuang bersenjata yang kemudian menjarah harta benda. Para budak wanita keluar dengan kepala terbuka meminta tolong hingga mereka masuk ke istana Khatun.
Ibnu al-Jauzi berkata: “Aku melihat mereka dalam keadaan seperti itu.” Ketika hal itu terjadi, Khalifah naik kuda bersama pasukannya dan kapal-kapal didatangkan, lalu pasukan naik ke dalamnya. Baghdad bergoncang dengan teriakan hingga seakan-akan dunia sedang diguncang gempa. Rakyat jelata bangkit bersama pasukan Khalifah lalu mengalahkan pasukan Sultan, membunuh banyak panglima, menawan yang lain, menjarah istana Sultan, istana menteri dan istana dokternya Abu al-Barakat, serta mengambil titipan yang ada di rumahnya. Terjadilah kekacauan yang sangat dahsyat, hingga mereka bahkan menjarah kaum sufi di Ribath Bahrouz.
Terjadilah peristiwa-peristiwa panjang dan musibah-musibah besar. Rakyat jelata menyerang Sultan dan berkata kepadanya: “Wahai Bathini! Kau tinggalkan perang melawan Franka dan Romawi, malah memerangi Khalifah?” Kemudian Khalifah pindah ke istananya pada tanggal 7 Muharram. Ketika tiba hari Asyura, keadaan membaik dan Sultan meminta jaminan keamanan dan perdamaian dari Khalifah. Khalifah menyetujui hal itu, dan orang-orang merasa gembira dengan perdamaian tersebut. Khalifah mengirim kepadanya Naqib al-Nuqaba (Pemimpin para Pemimpin), Qadhi al-Qudhat (Hakim Agung), Syekh al-Syuyukh (Pemimpin para Syekh), dan 33 orang saksi. Sultan menahan mereka selama enam hari, hal ini menyedihkan orang-orang dan mereka takut akan fitnah lain yang lebih parah dari yang pertama. Yarnaqsy al-Zakawi, kepala keamanan Baghdad, menghasut Sultan terhadap penduduk Baghdad agar menjarah harta mereka, tetapi Sultan tidak menerimanya. Kemudian ia mengizinkan rombongan itu masuk menemuinya pada waktu Maghrib. Qadhi shalat berjamaah bersama mereka dan mereka membacakan surat Khalifah kepadanya, maka ia berdiri. Ia menyetujui semua yang diminta Khalifah, terjadilah perdamaian dan sumpah. Pasukan Sultan memasuki Baghdad dalam keadaan sangat menderita karena kekurangan makanan di perkemahan mereka, dan mereka berkata: “Seandainya ia tidak berdamai, kami akan mati kelaparan.” Tampak dari Sultan kesabaran yang besar terhadap rakyat jelata, segala puji bagi Allah.
Khalifah memerintahkan agar mengembalikan apa yang telah dirampas dari rumah-rumah tentara, dan bahwa siapa yang menyembunyikan sesuatu maka darahnya halal. Khalifah mengutus Ali bin Tharrad al-Zainabi al-Naqib kepada Sultan Sanjar agar menjauhkan Dubais dari pintunya, dan mengirim bersamanya pakaian kehormatan dan panji-panji. Sultan Sanjar memuliakan utusan tersebut, dan mengizinkan memukul tambur di pintunya pada tiga waktu, dan tampak darinya ketaatan yang besar.
Kemudian Sultan Mahmud jatuh sakit di Baghdad, lalu dokter memerintahkannya untuk pindah darinya ke Hamadzan. Ia berangkat pada bulan Rabi’ul Akhir dan menyerahkan jabatan kepala keamanan Baghdad kepada Imaduddin Zanki. Ketika Sultan tiba di Hamadzan, ia mengutus Mujahiduddin Bahrouz untuk menjadi kepala keamanan Baghdad dan menjadikan Hillah di bawah kekuasaannya, serta mengutus Imaduddin Zanki ke Mosul dan wilayah-wilayahnya.
Pada tahun ini, al-Hasan bin Salman mengajar di Nizhamiyah Baghdad.
Pada tahun ini, Abu al-Futuh al-Isfara’ini datang dan berkhotbah di Baghdad. Ia menyampaikan banyak hadits yang sangat munkar, lalu diminta bertaubat darinya dan diperintahkan untuk pindah ke tempat lain. Sekelompok pembesar membantunya dan mengembalikannya ke keadaan semula, sehingga terjadi banyak fitnah di antara orang-orang karena dirinya. Sebagian rakyat jelata melemparinya dengan batu di pasar-pasar, karena ia mengucapkan ungkapan-ungkapan yang tidak perlu disebutkan, sehingga hati rakyat jelata menjauh darinya dan membencinya. Syekh Abdul Qadir al-Jili duduk dan berbicara kepada orang-orang, mereka terkesan dan mencintainya serta meninggalkan yang itu.
Pada tahun ini, Sultan Sanjar membunuh 12.000 orang dari kaum Bathiniyah. Nazhir al-Khadim memimpin haji bagi orang-orang.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini
Muhammad bin Abdul Malik bin Ibrahim bin Ahmad, Abu al-Hasan bin Abi al-Fadhl al-Hamadzani al-Faradhi, penulis kitab Tarikh dari keluarga ahli hadits dan para imam. Ibnu al-Jauzi menyebutkan dari gurunya Abdul Wahhab bahwa ia mencela dirinya. Ia wafat tiba-tiba pada bulan Syawal tahun ini, dan dimakamkan di samping Ibnu Suraij.
Fatimah binti al-Husain bin al-Hasan bin Fadhlawih, ia mendengar hadits dari al-Khatib, Ibnu al-Muslimah dan lainnya. Ia adalah seorang penceramah wanita yang memiliki ribath tempat berkumpulnya para wanita zahidah. Ibnu al-Jauzi telah mendengar darinya kitab Musnad asy-Syafi’i dan lainnya.
Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad bin as-Sayyid al-Bathaliusi kemudian al-Balansi, penulis karya-karya dalam ilmu bahasa dan lainnya. Ia menyusun al-Mutsallats dalam dua jilid, dan menambahkan di dalamnya banyak hal dari Quthrub. Ia memiliki Syarh Suquth az-Zand karya Abu al-‘Ala yang lebih bagus dari syarah penulisnya, dan ia memiliki Syarh Adab al-Katib karya Ibnu Qutaibah. Di antara syairnya yang disebutkan oleh Qadhi Ibnu Khallikan:
Pemilik ilmu hidup abadi setelah kematiannya … sementara anggota tubuhnya di bawah tanah telah hancur Dan pemilik kebodohan mati padahal ia berjalan di atas tanah … ia disangka dari golongan orang hidup padahal ia telah binasa
Kemudian Masuklah Tahun 522 Hijriyah
Pada awalnya, utusan Sanjar datang kepada Khalifah meminta agar namanya dikhotbahkan di mimbar-mimbar Baghdad, maka ia dikhotbahkan untuk dirinya setiap Jumat di sebuah masjid.
Pada tahun ini, Ibnu Shadaqah wazir Khalifah wafat, dan Naqib al-Nuqaba diangkat menjadi wakil wazir. Pada tahun ini, Sultan Mahmud bertemu dengan pamannya Sanjar dan mereka berdamai setelah ketegangan. Sanjar menyerahkan Dubais kepada Mahmud dengan syarat ia akan meredakan kemarahan Khalifah terhadapnya dan memberhentikan Zanki dari Mosul dan wilayah-wilayahnya, serta menyerahkan hal itu kepada Dubais. Pada Rabi’ul Awwal tersebar kabar di Baghdad bahwa Dubais datang ke Baghdad dengan pasukan yang banyak. Khalifah menulis kepada Malik Mahmud: “Jika engkau tidak mencegahnya datang ke Baghdad, maka kami akan keluar menghadapinya dan membatalkan semua perjanjian dan perdamaian antara kami dan engkau.”
Pada tahun ini, Atabak Zanki bin Aq Sunqur menguasai kota Aleppo dan wilayah sekitarnya. Pada tahun ini, Taj al-Muluk Buri bin Thughtagin menguasai kota Damaskus setelah wafatnya ayahnya. Ayahnya adalah salah satu budak Taj ad-Daulah Tutsy bin Alb Arslan. Ia adalah orang yang berakal, bijaksana, adil, baik, dan banyak berjihad melawan Franka, semoga Allah merahmatinya.
Pada tahun ini, dibuatlah mushalla untuk shalat Ied di Baghdad di luar Pintu Gerbang al-Halbah, dipagari, dan dibuat kiblat di dalamnya. Nazhir al-Khadim memimpin haji pada tahun ini.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini
Al-Hasan bin Ali bin Shadaqah, Abu Ali, wazir al-Musytarsyid, wafat pada bulan Rajab tahun ini. Di antara syairnya yang disebutkan oleh Ibnu al-Jauzi dengan pujian berlebihan:
Aku dapati manusia seperti air dalam rasa dan kejernihannya … dan bahwa Amirul Mukminin adalah kesegaran air itu Aku menggambarkan makna akal sebagai sosok yang tergambar … dan bahwa Amirul Mukminin adalah perumpamaannya Seandainya bukan karena syariat, agama, dan takwa … niscaya aku katakan dari pengagungan: Maha Agung Keagungannya
Al-Husain bin Ali bin Abi al-Qasim al-Lamisyi dari penduduk Samarkand, meriwayatkan hadits dan belajar fikih. Ia menjadi perumpamaan dalam berdebat, ia adalah orang yang baik, religius menurut jalan Salaf, meninggalkan sikap berlebihan, dan banyak menyuruh kepada kebaikan. Ia datang dari Khaqan, penguasa wilayah Trans-Oxiana, sebagai utusan ke istana Khalifah. Dikatakan kepadanya: “Tidakkah engkau berhaji tahun ini?” Ia menjawab: “Aku tidak akan menjadikan haji sebagai pengikut utusan mereka.” Maka ia kembali ke negerinya dan wafat pada bulan Ramadhan tahun ini pada usia 81 tahun, semoga Allah merahmatinya.
Thughtagin al-Atabak, penguasa Damaskus, seorang Turki, salah satu budak Taj ad-Daulah Tutsy bin Alb Arslan as-Saljuqi. Ia termasuk raja-raja terbaik, paling adil, dan paling banyak berjihad melawan musuh-musuh. Wafatnya pada tahun ini, dan setelahnya digantikan oleh putranya Taj al-Muluk Buri.
Kemudian Masuklah Tahun 523 Hijriyah
Pada bulan Muharram tahun ini, Sultan Mahmud masuk ke Baghdad dan berusaha keras meredakan kemarahan Khalifah terhadap Dubais, dan agar menyerahkan kepadanya wilayah Mosul. Khalifah menolak hal itu dan menolak keras sekali. Namun Dubais terlambat masuk ke Baghdad, kemudian ia memasukinya dan berkuda di antara orang-orang. Mereka melaknatnya dan mencacinya di mukanya. Imaduddin Zanki datang dan menawarkan kepada Sultan setiap tahun 100.000 dinar, hadiah dan bingkisan, serta berjanji kepada Khalifah dengan yang serupa, dengan syarat tidak mengangkat Dubais untuk jabatan apapun dan agar Zanki tetap pada tugasnya di Mosul. Maka ia menetapkannya untuk hal itu dan memberikan pakaian kehormatan kepadanya, lalu ia kembali ke tugasnya. Pada tahun ini ia menguasai Aleppo dan Hama serta menawan penguasanya Sunj bin Taj al-Muluk yang menebus diri darinya dengan 50.000 dinar.
Pada hari Senin akhir Rabi’ul Akhir, Sultan memberikan pakaian kehormatan jabatan wazir kepada Naqib al-Nuqaba secara penuh. Tidak diketahui ada seorangpun dari keturunan Abbasiyah yang menangani jabatan wazir selain dirinya.
Pada bulan Ramadhan, Dubais datang dengan pasukan ke Hillah lalu menguasainya dan memasukinya bersama pengikutnya yang berjumlah 300 pasukan berkuda. Kemudian ia mulai mengumpulkan harta dan mengambil hasil panen dari desa-desa, hingga mengumpulkan sekitar 500.000 dinar, dan merekrut mendekati 10.000 pejuang. Keadaan semakin memburuk karenanya. Ia mengutus kepada Khalifah untuk meredakan kemarahannya tetapi ia tidak ridha terhadapnya, dan menawarkan kepadanya harta yang sangat banyak tetapi Khalifah tidak menerimanya. Khalifah menulis kepada Sultan, lalu Sultan mengutus pasukan kepadanya. Ia melarikan diri dari mereka dan pergi ke padang pasir, semoga Allah tidak menyatukan urusan dengannya. Ia menyerang Basrah dan mengambil harta milik Sultan dan Khalifah darinya, kemudian masuk ke padang pasir dan kabarnya terputus.
Pada tahun ini, penguasa Damaskus membunuh 6.000 orang dari kaum Bathiniyah, dan kepala pemimpin mereka digantung di pintu gerbang benteng. Allah memberikan ketenangan kepada penduduk Syam dari mereka.
Pada tahun ini, Franka mengepung kota Damaskus. Penduduknya keluar menghadapi mereka dan berperang dengan sangat sengit. Penduduk Damaskus mengutus Abdul Wahhab al-Wa’izh dan bersama dengannya sekelompok pedagang ke Baghdad meminta bantuan Khalifah. Mereka hampir merusak mimbar masjid hingga dijanjikan bahwa mereka akan menulis kepada Sultan agar mengirim pasukan besar untuk menolong penduduk Syam. Tetapi tidak ada pasukan yang dikirim kepada mereka hingga Allah menolong mereka dari sisi-Nya, maka kaum muslimin mengalahkan mereka dan membunuh 10.000 dari mereka. Tidak selamat dari mereka kecuali 40 orang saja, segala puji dan nikmat bagi Allah. Baimand al-Faranjiy penguasa Antakia terbunuh.
Pada tahun ini, orang-orang bingung tentang haji hingga waktunya sempit karena fitnah Dubais, semoga Allah mencelakainya, hingga memimpin haji untuk mereka salah satu budak Yarnaqsy al-Zakawi yang bernama Baghajiq.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini
As’ad bin Abi Nashr al-Maihani, Abu al-Fath, salah satu imam madzhab Syafi’i di zamannya. Ia belajar fikih dari Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani, dan menjadi pemimpin pada zamannya serta terpilih dari antara teman-teman sebayanya. Ia diangkat mengajar di Nizhamiyah Baghdad, dan mendapat kedudukan di kalangan khusus dan umum. Ia menulis dari dirinya Ta’liqah al-Khilaf, kemudian ia diberhentikan dari Nizhamiyah, lalu pergi ke Hamadzan dan wafat di sana pada tahun ini, semoga Allah ta’ala merahmatinya.
Kemudian Masuklah Tahun 524 Hijriyah
Pada tahun ini terjadi gempa bumi yang dahsyat di Irak, karena gempa itu banyak rumah di Baghdad runtuh. Di tanah Mosul turun hujan yang sangat lebat, sebagiannya jatuh berupa api yang menyala, sehingga banyak rumah terbakar karenanya, dan orang-orang berlarian menyelamatkan diri.
Pada tahun ini, ditemukan di Baghdad kalajengking-kalajengking terbang yang memiliki dua ekor penyengat. Orang-orang sangat ketakutan darinya. Pada tahun ini, Sultan Sanjar menguasai kota Samarkand yang saat itu dikuasai Muhammad bin Khan.
Pada tahun ini, Imaduddin Zanki menguasai banyak wilayah dari Jazirah dan dari wilayah Franka. Terjadi peperangan panjang dan peristiwa besar bersamanya, dan ia dimenangkan atas mereka dalam semua pertempuran itu, segala puji dan nikmat bagi Allah. Ia membunuh banyak orang dari pasukan Romawi ketika mereka datang ke Syam, dan para penyair memujinya atas hal itu.
Pembunuhan Khalifah Mesir dari Dinasti Fathimiyah
Pada tanggal 2 Dzulqa’dah, Khalifah Fathimi al-Amir bi Ahkamillah bin al-Musta’li penguasa Mesir dibunuh oleh kaum Bathiniyah. Usianya 34 tahun, dan masa khilafahnya 29 tahun 5 bulan setengah. Orang ini adalah yang kesepuluh dari dinasti Fathimiyah, dan yang kesepuluh dari keturunan Ubaidillah al-Mahdi. Ketika al-Amir dibunuh, seorang budak Armenia dari budak-budak Khalifah menguasai negeri Mesir dan mengambil alih semua urusan selama tiga hari, hingga datang Abu Ali Ahmad bin al-Afdhal bin Badr al-Jamali, lalu ia mengangkat Khalifah al-Hafizh Abu al-Maimun Abdul Majid bin al-Amir Abi al-Qasim bin al-Mustanshir Billah yang berusia 58 tahun. Ketika ia mengangkatnya, ia menguasai semua urusan tanpa sepengetahuannya dan mengurungnya di sebuah majelis, tidak ada yang masuk kepadanya kecuali orang yang ia inginkan. Ia memindahkan harta dari istana ke rumahnya dan tidak tersisa bagi al-Hafizh kecuali namanya saja.
DAN SIAPA YANG MENINGGAL DUNIA PADA TAHUN INI DI ANTARA TOKOH-TOKOH TERKEMUKA:
Ibrahim bin Utsman bin Muhammad, Abu Ishaq al-Kalbi dari penduduk Gaza, telah melewati usia delapan puluh tahun, dan ia memiliki puisi yang bagus. Di antara puisinya tentang orang-orang Turki:
Dalam fitnah dari pasukan Turki yang tidak menyisakan Bagi guntur, peluru-peluru mereka suara dan tidak pula ketenaran Kaum yang jika dihadapi adalah malaikat-malaikat Dalam kebaikan, namun jika diperangi adalah iblis-iblis
Dan miliknya:
Seandainya apa yang ada padamu dengan cinta mengkhususkanku Wahai yang menzalimiku, pembagian cinta antara kami Aku menghadapi singa dan tidak takut serangannya Namun aku takut pandangan rusa ketika ia melirik
Dan miliknya:
Sesungguhnya kehidupan ini hanyalah barang sementara Dan orang bodoh yang sesat adalah yang memilihnya Apa yang berlalu telah lewat dan yang diharapkan adalah gaib Dan bagimu adalah saat yang engkau berada di dalamnya
Dan juga miliknya:
Mereka berkata engkau meninggalkan puisi, aku menjawab karena terpaksa Pintu dorongan-dorongan dan pendorong-pendorong tertutup Negeri-negeri kosong, tidak ada orang mulia yang diharapkan Darinya pemberian dan tidak pula yang cantik untuk dicintai Dan di antara keajaiban-keajaiban bahwa puisi tidak dibeli Dan dikhianati di dalamnya karena kemerosotan dan dicuri
Dan di antara apa yang dideklamasikan oleh Ibnu Khallikan dalam Wafayat dari puisinya yang indah ucapannya:
Isyarat darimu cukup bagi kami dan sebaik-baik Balasan salam pagi hari perpisahan dengan anggukan kepala Hingga ketika terlepas darinya kain karena kebingungan Dan terurai dengan pelukan untaian kalung dalam kegelapan Ia tersenyum maka malam menjadi terang lalu dipungut Butir-butir yang berserakan dalam cahaya yang teratur
Kematiannya adalah pada tahun ini di negeri Balkh, dan ia dimakamkan di sana.
Al-Husain bin Muhammad bin Abdul Wahhab bin Ahmad bin Muhammad bin al-Husain bin Ubaidillah bin al-Qasim bin Abdullah bin Sulaiman bin Wahb ad-Dabbas
Abu Abdullah penyair yang dikenal dengan al-Bari’, ia mempelajari qiraah dan mendengar hadits, dan ia mengetahui nahwu, bahasa, dan sastra, dan ia memiliki puisi yang indah. Kematiannya adalah pada tahun ini, dan ia telah melewati usia delapan puluh tahun; semoga Allah merahmatinya.
Muhammad bin Sa’dun bin Marja
Abu Amir al-Abdari al-Qurasyi al-Hafizh, asalnya dari Mallorca, dari negeri Maghrib. Ia masuk Baghdad lalu mendengar di sana dari Tharra>d az-Zainibi dan al-Humaidi dan selain keduanya. Ia memiliki pengetahuan hadits yang baik, dan ia menganut dalam cabang-cabang fiqih madzhab Zhahiriyah. Ia meninggal di Baghdad pada bulan Rabi’ al-Akhir.
KEMUDIAN MASUKLAH TAHUN DUA PULUH LIMA DAN LIMA RATUS (525 H)
Pada tahun ini Dubais tersesat dari jalan di padang pasir lalu ia ditangkap oleh sebagian panglima-panglima orang Arab di tanah Syam, dan ia dibawa kepada raja Damaskus Buri bin Thughtakin, lalu ia menjualnya kepada Zanki bin Aq Sunqur penguasa Mosul dengan lima puluh ribu dinar. Ketika ia berada di tangannya, Dubais tidak ragu bahwa ia akan membunuhnya karena permusuhan di antara keduanya, tetapi Zanki memuliakannya, dan memberinya harta yang banyak, mendahulukannya, dan menghormatinya. Kemudian datang utusan-utusan khalifah untuk memintanya, maka ia mengirimnya bersama mereka. Ketika ia sampai di Mosul, ia dipenjara di bentengnya.
Dan pada tahun ini terjadi perselisihan antara kedua saudara Mahmud dan Mas’ud lalu mereka saling berhadapan untuk berperang kemudian berdamai. Dan pada tahun ini terjadi kematian Raja Mahmud bin Maliksyah bin Alp Arslan, maka didudukkan dalam kerajaan sebagai penggantinya anaknya Daud, dan dijadikan untuknya atabeg dan wazir, dan dikhotbahkan untuknya di kebanyakan negeri.
DAN SIAPA YANG MENINGGAL DUNIA PADA TAHUN INI DI ANTARA TOKOH-TOKOH TERKEMUKA:
Ahmad bin Muhammad bin Abdul Qahir, Abu Nashr ath-Thusi, ia mendengar hadits dan belajar fiqih kepada Syaikh Abu Ishaq asy-Syirazi, dan ia adalah syaikh yang lembut dengan cahaya pada dirinya.
Ibnu al-Jauzi berkata: Ia mendeklamasikan kepadaku:
Dalam setiap keadaan jadikanlah kehati-hatian sebagai bekal Yang kau dahulukan di antara musibah-musibah dan masa Jika engkau meraih kebaikan, engkau meraihnya dengan tekad Dan jika khutbah-khutbah menghindarmu maka karena udzur
Ia berkata: Dan ia juga mendeklamasikan kepadaku:
Aku mengenakan pakaian harapan sementara orang-orang telah tidur Dan aku berdiri mengadu kepada Tuhanku apa yang aku temukan Dan aku berkata wahai bekuku dalam setiap musibah Dan orang yang kepadanya untuk mengangkat bahaya aku bersandar Dan sungguh aku telah mengulurkan tanganku sementara bahaya meliputi Kepada-Mu wahai sebaik-baik yang diulurkan kepada-Nya tangan Maka janganlah Engkau mengembalikannya wahai Tuhan dalam keadaan kecewa Karena lautan kemurahan-Mu memberi minum setiap yang mendatangi
Al-Hasan bin Sulaiman bin Abdullah bin Abdullah
Ibnu al-Fata, Abu Ali, ahli fiqih pengajar Nizhamiyah. Ia telah memberikan nasihat di masjid istana, dan ia biasa berkata: Aku dalam fiqih adalah puncak, dan dalam nasihat adalah pemula. Ia meninggal pada tahun ini, dan yang memandikannya adalah Qadhi Abu al-Abbas bin ar-Ruthbi, dan dimakamkan di dekat Abu Ishaq.
Hammad bin Muslim ar-Rahbi ad-Dabbas
Disebutkan untuknya keadaan-keadaan, mukasyafah, pengungkapan hal-hal gaib, dan selain itu dari maqam-maqam. Aku melihat Ibnu al-Jauzi berbicara tentangnya dan berkata: Ia telanjang dari ilmu-ilmu syar’i, dan sesungguhnya ia hanya berpengaruh terhadap orang-orang bodoh.
Dan ia menyebutkan dari Ibnu Aqil bahwa ia menjauhkan orang-orang darinya, dan Hammad ad-Dabbas biasa berkata: Ibnu Aqil adalah musuhku. Ibnu al-Jauzi berkata: Dan orang-orang bernadzar untuknya lalu ia menerima itu, kemudian ia meninggalkan itu, dan ia mulai mengambil dari mimpi-mimpi, dan membelanjakan untuk sahabat-sahabatnya. Kematiannya adalah pada bulan Ramadhan dan dimakamkan di asy-Syuniziyah.
Ali bin al-Mustazhhir Billah
Saudara khalifah al-Mustarsyid, meninggal pada bulan Rajab tahun ini, dan usianya dua puluh satu tahun, maka ditinggalkan pemukulan genderang, dan orang-orang duduk untuk ta’ziah beberapa hari.
Muhammad bin Ahmad bin Abi al-Fadhl al-Mahiyani
Salah satu imam Syafi’iyah, ia belajar fiqih kepada Imam al-Haramain dan selainnya, dan melakukan rihlah dalam menuntut hadits ke negeri-negeri yang bermacam-macam. Ia mengajar, memberi fatwa, dan berdebat. Ia meninggal pada tahun ini, dan telah mendekati sembilan puluh tahun, dan dimakamkan di desa Mahiyan dari negeri Marw; semoga Allah merahmatinya.
Mahmud as-Sulthan bin as-Sulthan Muhammad bin Maliksyah bin Alp Arslan bin Daud Mika’il bin Saljuq, ia termasuk sebaik-baik raja-raja, dan padanya ada kesabaran, ketabahan, kebaikan, dan keteguhan. Mereka duduk untuk ta’ziahnya tiga hari. Semoga Allah memaafkannya.
Hibatullah bin Muhammad bin Abdul Wahid bin Ahmad bin al-Abbas bin al-Husain
Abu al-Qasim asy-Syaibani, perawi Musnad, dari Abu Ali bin al-Madzhab, dari Abu Bakr bin Malik, dari Abdullah bin Ahmad, dari ayahnya. Ia telah mendengar sejak lama karena ia dilahirkan pada tahun tiga puluh dua dan empat ratus. Ayahnya memulainya lebih awal lalu memperdengarkannya dan bersamanya saudaranya Abdul Wahid kepada jamaah dari syaikh-syaikh pilihan. Telah meriwayatkan darinya Ibnu al-Jauzi dan selain keduanya. Ia adalah tsiqah, thabit, shahih as-sama’. Ia meninggal antara Zhuhur dan Ashar hari Rabu tanggal empat Syawal tahun ini, dan usianya sembilan puluh tiga tahun; semoga Allah ta’ala merahmatinya.
KEMUDIAN MASUKLAH TAHUN DUA PULUH ENAM DAN LIMA RATUS (526 H)
Pada tahun ini Mas’ud bin Muhammad masuk Baghdad, dan datang padanya Qaraja as-Saqi, dan bersamanya Saljuq Syah bin Muhammad, dan masing-masing dari keduanya meminta kerajaan untuk dirinya sendiri. Datang Imaduddin Zanki bin Aq Sunqur untuk bergabung dengan keduanya, lalu Qaraja as-Saqi menjumpainya lalu mengalahkannya, maka ia lari darinya ke Tikrit. Maka wakil bentengnya Najmuddin Ayyub – ayah Raja Shalahuddin yang membuka Baitul Maqdis di masa setelahnya – melayaninya hingga ia kembali ke negerinya. Maka inilah sebabnya Najmuddin Ayyub pergi kepadanya, dan ia di Aleppo lalu melayani di sisinya. Kemudian terjadi dari urusan-urusan apa yang akan datang penjelasannya dari apa yang ditakdirkan Allah ta’ala.
Kemudian kedua raja Mas’ud dan Saljuq Syah berkumpul lalu berdamai, dan mereka berkuda kepada Raja Sanjar. Mereka berperang dengannya, dan pasukan Sanjar seratus enam puluh ribu, dan yang bersama keduanya mendekati tiga puluh ribu, dan jumlah yang terbunuh di antara mereka empat puluh ribu. Pasukan Sanjar menangkap Qaraja as-Saqi lalu ia membunuhnya paksaan di hadapannya. Kemudian ia mendudukkan Thughril bin Muhammad di atas singgasana kerajaan, dan dikhotbahkan untuknya di atas mimbar-mimbar, dan Sanjar kembali ke negerinya. Thughril menulis kepada Dubais dan Zanki agar mereka pergi ke Baghdad untuk mengambilnya, maka keduanya datang dalam pasukan yang tebal, lalu khalifah bergerak keluar kepada keduanya dan mengalahkan keduanya, dan membunuh banyak dari sahabat-sahabat keduanya, dan Allah menjauhkan kejahatan keduanya darinya, dan segala puji bagi Allah.
Dan pada tahun ini terbunuh Abu Ali bin al-Afdhal bin Badr al-Jamali wazir al-Hafizh al-Fathimi, maka al-Hafizh memindahkan harta-harta yang telah diambilnya ke rumahnya, dan ia menjadikan wazir setelahnya Abu al-Fath Yanis al-Hafidzhi dan memberinya gelar Amir al-Juyusy. Kemudian ia membuat tipu muslihat untuknya lalu membunuhnya, dan menjadikan wazir anaknya Hasan dan dikhotbahkan untuknya dengan wilayah al-ahd.
Dan pada tahun ini al-Mustarsyid memberhentikan wazirnya Ali bin Tharra>d az-Zainibi, dan menjadikan wazir Anusyirwan bin Khalid setelah penolakan. Dan pada tahun ini menguasai Damaskus Syamsul Muluk Isma’il bin Buri bin Thughtakin setelah wafat ayahnya, dan ia menjadikan wazir Yusuf bin Fairuz, dan ia adalah baik, maka ia menguasai negeri-negeri yang banyak, dan saudaranya menaatinya.
DAN SIAPA YANG MENINGGAL DUNIA PADA TAHUN INI DI ANTARA TOKOH-TOKOH TERKEMUKA:
Ahmad bin Ubaidillah bin Muhammad bin Ubaidillah bin Muhammad bin Ahmad bin Hamdan bin Umar bin Isa bin Ibrahim bin Sa’id bin Utbah bin Farqad as-Sulami, dan dikenal dengan Ibnu Kadisy al-Ukbari Abu al-Izz al-Baghdadi, ia mendengar hadits yang banyak, dan ia memahaminya dan meriwayatkannya, dan ia adalah terakhir yang meriwayatkan dari al-Mawardi. Telah memujinya selain keduanya; di antara mereka Abu Muhammad bin al-Khasyab. Muhammad bin Nashir menuduhnya dan melemparnya bahwa ia mengakui memalsu hadits, maka Allah yang lebih mengetahui. Abdul Wahhab al-Anmathi berkata: Ia bercampur aduk. Ia meninggal pada bulan Jumada al-Ula tahun ini.
Muhammad bin Muhammad bin al-Husain bin Muhammad
Abu al-Husain bin al-Qadhi Abi Ya’la bin al-Farra’ al-Hanbali, ia dilahirkan pada bulan Sya’ban tahun lima puluh satu dan empat ratus. Ia mendengar dari ayahnya dan selainnya, dan belajar fiqih, berdebat, memberi fatwa, dan mengajar. Ia memiliki rumah di dalamnya ada harta lalu diserang pada malam hari, maka ia dibunuh dan hartanya diambil. Kemudian Allah azza wa jalla menyingkapkan pembunuhnya lalu mereka membunuhnya.
KEMUDIAN MASUKLAH TAHUN DUA PULUH TUJUH DAN LIMA RATUS (527 H)
Pada bulan Shafar darinya masuk Sulthan Mas’ud ke Baghdad, maka dikhotbahkan untuknya di atas mimbar-mimbarnya, dan khalifah memberikan pakaian khilafah kepadanya dan memberinya wewenang kesultanan. Ketika ia disebutkan di atas mimbar-mimbar, ditaburkan dinar-dinar dan emas kepada orang-orang, dan diberikan pakaian khilafah kepada Raja Daud bin Mahmud.
Dan pada tahun ini Dubais mengumpulkan kumpulan yang banyak di Wasith dan bergabung dengannya sekelompok orang, maka Sulthan mengutus kepadanya pasukan lalu mereka mengalahkannya dan memecah belah kelompoknya. Kemudian khalifah bertekad untuk keluar ke Mosul agar mengambilnya dari tangan Zanki, maka ia keluar dalam pasukan yang tebal dan banyak dari panglima-panglima, pembesar-pembesar, dan wazir-wazir. Ketika ia mendekatinya, Imaduddin Zanki mengirim utusan kepadanya menawarkan kepadanya dari harta-harta yang banyak dan hadiah-hadiah yang banyak agar ia kembali darinya tetapi ia tidak menerima. Kemudian sampai kepadanya bahwa Sulthan Mas’ud telah berdamai dengan Dubais, dan memberikan pakaian khilafah kepadanya, maka ia kembali dengan cepat ke Baghdad dalam keadaan selamat dan mulia.
Dan pada tahun ini meninggal Ibnu az-Zaghuni salah satu imam Hanabilah, maka halaqahnya diminta oleh Ibnu al-Jauzi – dan ia adalah pemuda – tetapi didapatkan oleh selainnya, akan tetapi wazir Anusyirwan mengizinkan untuknya dalam nasihat, maka ia berbicara pada tahun ini kepada orang-orang di tempat-tempat yang bermacam-macam dari Baghdad, dan majelis-majelisnya banyak dan orang-orang berdesak-desakan atasnya.
Dan pada tahun ini Syamsul Muluk Isma’il penguasa Damaskus menguasai kota Hama, dan ia berada di tangan Zanki. Dan pada bulan Dzulhijjah orang-orang Turkuman menjarah kota Tripoli, maka keluar kepada mereka al-Qumusy – semoga Allah melaknatnya – lalu mereka mengalahkannya dan membunuh banyak dari sahabat-sahabatnya, dan mereka mengepungnya di sana waktu yang lama hingga kepungan memanjang lalu mereka pulang.
Dan pada tahun ini menjabat Makkah Qasim bin Abi Fulaitah setelah ayahnya. Dan pada tahun ini Syamsul Muluk membunuh saudaranya Sunj. Dan pada tahun ini orang-orang Bathiniyah membeli benteng al-Qadmus di Syam lalu mereka tinggal di dalamnya, dan mereka memerangi yang berdekatan dengan mereka dari kaum muslimin dan orang-orang Franka. Dan pada tahun ini saling berperang orang-orang Franka di antara mereka sendiri peperangan yang keras, maka Allah memusnahkan dari mereka banyak orang, banyak sekali. Dan menyerang mereka pada tahun ini juga Imaduddin Zanki lalu ia membunuh dari mereka seribu orang yang terbunuh, dan merampas harta-harta yang banyak, dan dikatakan untuknya: perang tembok-tembok.
Dan haji membawa orang-orang pada tahun ini Nazhar al-Khadim, dan demikian pula pada tahun sebelumnya dan sesudahnya.
Wafat dalam tahun ini dari kalangan tokoh terkenal:
Ahmad bin Salamah bin Ubaidillah bin Makhlad bin Ibrahim
Abu al-Abbas bin ar-Rutbi, ia belajar fiqih kepada Abu Ishaq dan Ibnu ash-Shabbagh di Baghdad, dan di Ashbahan kepada Muhammad bin Tsabit al-Khujandi. Kemudian ia menjabat sebagai hakim di Baghdad di wilayah Harim, dan sebagai muhtasib (pengawas pasar) di Baghdad. Ia juga menjadi guru anak-anak khalifah. Ia wafat pada bulan Rajab tahun ini, dan dimakamkan di samping makam Syaikh Abu Ishaq.
As’ad bin Abu Nashr bin Abu al-Fadhl
Abu al-Fath al-Maihani Majduddin, salah seorang imam Syafi’iyah dan penulis kitab al-Thariqah fi al-Khilaf yang masyhur. Ia mengajar di Nizhamiyah Baghdad pada tahun 507 Hijriah hingga tahun 513 Hijriah, lalu diberhentikan dari jabatan itu. Murid-muridnya tersebar dan namanya menjadi terkenal. Telah disebutkan sebelumnya pada tahun 517 Hijriah bahwa ia menjabat kembali, dan bahwa ia wafat pada tahun 523 Hijriah. Ibnu Khallikan berkata: ia wafat tahun 527 Hijriah.
Al-Hasan bin Muhammad bin Ibrahim bin Ahmad bin Ali
Abu Nashr al-Yunarti dari desa-desa Ashbahan. Ia mendengar hadits dan melakukan rihlah (perjalanan mencari ilmu), dan memiliki kitab tarikh. Ia pandai menulis dengan baik dan membaca dengan fasih. Ia wafat di Ashbahan pada tahun ini, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih mengetahui.
Ibnu az-Zaghuni al-Hanbali
Ali bin Ubaidillah bin Nashr bin as-Sarri az-Zaghuni, imam terkenal. Ia mempelajari qira’at, mendengar hadits, mendalami fiqih, nahwu dan bahasa. Ia memiliki karya tulis yang banyak dalam bidang ushul dan furu’. Ia juga mahir dalam berkhutbah. Banyak orang yang menghadiri pemakamannya, dan pemakamannya sangat ramai.
Ali bin Ya’la bin Awadh
Abu al-Qasim al-Alawi al-Harawi. Ia mendengar Musnad Ahmad dari Ibnu al-Hashain, dan Sunan at-Tirmidzi dari Abu Amir al-Azdi. Ia berkhutbah kepada penduduk Naisabur, kemudian datang ke Baghdad dan berkhutbah di sana. Ia diterima dengan baik oleh penduduk Baghdad, dan mengumpulkan banyak harta dan kitab. Ibnu al-Jauzi berkata: Dialah orang pertama yang membimbingku dalam berkhutbah, dan aku berbicara di hadapannya ketika aku masih kecil, dan aku berbicara kepada orang-orang saat kepulangannya.
Muhammad bin Ahmad bin Yahya
Abu Abdillah al-Utsmani ad-Dibaji, yang dikenal di Baghdad sebagai al-Maqdisi. Ia belajar fiqih dan bermazhab Asy’ari, dan berkhutbah kepada penduduk Baghdad. Ibnu al-Jauzi berkata: Aku mendengarnya membaca syair di majelisnya:
Biarkan kelopak mataku menangis, wajar bagiku berduka Dosa-dosa tidak meninggalkan hatiku dalam keadaan sehat
Kegembiraan hatiku telah kusam oleh tangan-tangan maksiat Dan uban menyeruku dengan seruan yang jelas
Setiap kali kukatakan luka hatiku telah sembuh Hatiku kembali terluka karena dosa-dosa
Sesungguhnya kemenangan dan kenikmatan bagi hamba Yang datang di padang mahsyar dalam keadaan aman dan tenang
Muhammad bin Muhammad bin al-Husain bin Muhammad bin Ahmad bin Khalaf
Abu Khazim bin Abu Ya’la bin al-Farra’, ahli fiqih putra ahli fiqih. Ia lahir tahun 457 Hijriah, mendengar hadits, dan termasuk fuqaha yang zahid dan saleh. Ia wafat pada bulan Safar tahun ini.
Abu Muhammad Abdul Jabbar bin Abu Bakr bin Muhammad bin Hamdis al-Azdi ash-Shiqilli
Penyair terkenal. Ibnu Khallikan menyebutkan syair-syairnya yang indah, di antaranya:
Bangkitlah, ambillah dari tangan pemilik selendang Malam telah diberitakan oleh pembawa kabar pagi
Segeralah menuju kelezatan dan tungganglah untuknya Kuda-kuda yang mendahului dalam keceriaan yang riang
Sebelum matahari duha meneguk Air liur awan pagi dari mulut bunga-bunga
Dan di antara makna-maknanya yang unik:
Bertambah celak di atas celak kelopak mata Dan racun ujung anak panah, padahal ia mematikan
Kemudian masuklah tahun 528 Hijriah
Pada tahun ini terjadi perdamaian antara khalifah dan Zangi. Pada tahun ini Zangi menaklukkan banyak benteng dan membunuh banyak orang Franka. Pada tahun ini Syamsul Muluk menaklukkan Syaqif Tairun dan menjarah negeri-negeri Franka.
Pada tahun ini Saljuq Syah datang ke Baghdad, lalu singgah di Dar al-Mamlakah dan khalifah memuliakannya serta mengirimkan sepuluh ribu dinar kepadanya. Kemudian Sultan Mas’ud datang, dan kebanyakan pengikutnya mengendarai unta karena sedikitnya kuda.
Pada tahun ini kepemimpinan Bani Uqail dipegang oleh anak-anak Sulaiman bin Muharisy al-Uqaili sebagai penghormatan kepada kakek mereka.
Pada tahun ini Ibnu Thurad dikembalikan ke jabatan wazir. Pada tahun ini Iqbal al-Mustarsyidi diberi pakaian kehormatan seperti para raja, dan diberi gelar Malikul Arab Saifuddaulah, ia naik kuda dengan pakaian kehormatan dan hadir di dewan. Pada tahun ini kekuasaan Malik Thughrul menguat, dan kekuasaan Malik Mas’ud melemah.
Wafat dalam tahun ini dari kalangan tokoh terkenal:
Ahmad bin Ali bin Ibrahim
Abu al-Wafa al-Fairuzabadzi, salah seorang syaikh sufi. Ia tinggal di ribath az-Zauzani, perkataannya menyenangkan, dan ia hafal banyak riwayat hidup para sufi, berita-berita dan syair-syair mereka.
Abu Ali al-Fariqi
Al-Hasan bin Ibrahim bin Burhun Abu Ali al-Fariqi. Ia lahir tahun 433 Hijriah dan belajar fiqih di sana kepada Abu Abdillah Muhammad bin Bayan al-Kazaruni murid al-Mahamili, kemudian kepada Syaikh Abu Ishaq dan Ibnu ash-Shabbagh, dan mendengar hadits. Ia mengulang-ulang kitab al-Muhadzdzab dan asy-Syamil, kemudian menjabat sebagai qadhi di Washith. Ia memiliki perjalanan hidup yang baik dan niat yang baik, menikmati semua indra dan akalnya hingga wafat pada bulan Muharram tahun ini dalam usia sembilan puluh enam tahun.
Abdullah bin Muhammad bin Ahmad bin al-Husain
Abu Muhammad bin Abu Bakr asy-Syasyi. Ia mendengar hadits dan belajar fiqih kepada ayahnya, berdebat dan memberi fatwa. Ia adalah orang yang mulia, penceramah yang fasih dan berbakat. Ibnu al-Jauzi memuji ceramahnya dan keindahan nazham dan natsarnya serta lafazhnya.
Ia wafat pada bulan Muharram mendekati usia lima puluh tahun rahimahullah, dan dimakamkan di samping ayahnya.
Muhammad bin Ahmad bin Ali
Abu Bakr al-Qaththan yang dikenal sebagai Ibnu al-Hallaj al-Baghdadi. Ia mendengar hadits dan mempelajari qira’at, ia adalah orang yang baik, zahid, ahli ibadah yang doanya mendapat berkah dan diziarahi, rahimahullah.
Muhammad bin Ali Abdul Wahid asy-Syafi’i
Abu Rasyid dari penduduk Amul Thabaristan. Ia lahir tahun 434 Hijriah, berhaji dan tinggal di Mekkah, mendengar hadits dan meriwayatkan sedikit. Ia adalah zahid yang mengasingkan diri dari manusia dan sibuk dengan dirinya sendiri. Suatu ketika ia berlayar bersama pedagang di laut, lalu mereka sampai di sebuah pulau. Ia berkata: Biarkan aku di pulau ini untuk beribadah kepada Allah di dalamnya. Mereka menolak, tetapi ia tetap ingin tinggal di sana, maka mereka meninggalkannya dan berlayar. Angin mengembalikan mereka, lalu mereka membujuknya untuk ikut bersama mereka tetapi ia menolak, maka mereka berlayar lagi. Angin mengembalikan mereka lagi kepadanya, mereka membujuknya lagi tetapi ia menolak, maka mereka berlayar. Angin mengembalikan mereka lagi kepadanya. Mereka berkata: Tidak mungkin kami bisa berlayar kecuali bersamamu, dan jika kau ingin tinggal di sana maka kembalilah ke sana. Maka ia ikut bersama mereka, kemudian kembali ke pulau itu dan tinggal di sana beberapa waktu, kemudian pergi dari sana. Dikatakan bahwa di pulau itu ada ular yang menelan manusia, dan di sana ada mata air yang ia minum dan berwudhu darinya. Kemudian ia kembali ke negerinya Amul dan wafat di sana pada tahun ini. Makamnya terkenal dan diziarahi.
Ibu Khalifah al-Mustarsyid
Ia wafat pada malam Senin setelah waktu Isya, tanggal sembilan belas Syawal tahun ini.
Kemudian masuklah tahun 529 Hijriah
Pada tahun ini terjadi wafatnya al-Mustarsyid dan pengangkatan ar-Rasyid. Adapun sebabnya adalah telah terjadi banyak pertempuran antara Sultan Mas’ud dengan khalifah. Keadaan berkembang hingga khalifah bermaksud memutus khutbah untuknya dari Baghdad. Kebetulan saudaranya Thughrul bin Muhammad bin Maliksy wafat, maka ia pergi ke negeri itu dan menguasainya. Kekuatannya menguat, kemudian ia mulai mengumpulkan pasukan untuk merebut Baghdad dari khalifah. Ketika khalifah mengetahui hal itu, ia resah dan bersiap-siap menghadapinya. Sekelompok pemimpin amir memihak kepada khalifah karena takut terhadap kekuasaan Malik Mas’ud. Khalifah berangkat dari Baghdad dengan pasukan besar di dalamnya ada para qadhi dan pemimpin negara dari semua golongan. Mereka berjalan di depannya pada pemberhentian pertama hingga sampai ke tenda besar. Ia mengirim pasukan pendahuluan di depannya, dan Malik Mas’ud mengirim untuk pasukan pendahulunya Dubais bin Shadaqah bin Manshur, yang dulunya penguasa Hillah. Terjadilah peristiwa-peristiwa besar dan peperangan yang banyak. Intinya, kedua pasukan bertemu pada tanggal sepuluh Ramadhan hari Senin, mereka berperang dengan keras. Tidak terbunuh dari kedua barisan kecuali lima orang saja. Kemudian khalifah menyerang pasukan Malik Mas’ud dan mengalahkan mereka. Kemudian mereka kembali dan menyerang pasukan khalifah, mengalahkan mereka dan membunuh banyak dari mereka. Khalifah ditangkap, dan harta bendanya dirampas, di antaranya empat juta dinar, dan selain itu berupa pakaian, pakaian kehormatan, perabotan, kain dan perkakas. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Berita itu terbang ke seluruh penjuru, dan ketika berita sampai ke Baghdad, penduduk sangat resah karenanya, dan diguncang dengan guncangan yang dahsyat lahir dan batin. Orang awam datang ke mimbar-mimbar lalu menghancurkannya dan menolak menghadiri shalat Jumat. Wanita-wanita keluar ke jalan-jalan dengan rambut terurai meratapi khalifah dan apa yang menimpanya berupa penangkapan. Penduduk Baghdad menjadi teladan dalam hal itu bagi banyak penduduk negeri lain, dan terjadilah fitnah besar yang menyebar ke seluruh penjuru. Keadaan terus seperti itu pada awal bulan Dzulqa’dah dan kehebohan menyebar di penjuru negeri. Malik Sanjar menulis kepada keponakannya memperingatkannya dari akibat hal itu, dan memberitahukan kepadanya tentang peristiwa besar dan musibah dahsyat yang terjadi, dan memerintahkannya untuk mengembalikan khalifah ke tempat kehormatannya dan rumah khilafahnya. Malik Mas’ud melaksanakan hal itu dan mendirikan tenda besar untuk khalifah, dan memasang di dalamnya kubah besar dengan singgasana yang megah di bawahnya. Khalifah dikenakan pakaian hitam seperti biasanya dan ditunggangi sebagian kendaraan yang biasa ia tunggangi. Malik Mas’ud datang lalu mencium tanah di hadapannya, memegang tali kekang kuda dan berjalan dalam pengabdiannya, dan semua pasukan berjalan kaki hingga khalifah didudukkan di singgasananya. Malik Mas’ud berdiri di hadapannya, dan khalifah memberinya pakaian kehormatan. Dubais dibawa dalam keadaan terikat, dua amir di kanannya dan dua amir di kirinya dengan pedang terhunus dan kain putih. Ia dilemparkan di hadapan khalifah, apa yang diperintahkan kepadanya untuk menenangkan hatinya?! Maka Sultan memohon syafaat untuk Dubais sementara ia tergeletak berkata: Maaf ya Amirul Mukminin, aku salah, maafkan pada saat mampu. Khalifah memerintahkan untuk melepaskannya sambil berkata: Tidak ada cercaan atas kalian. Ia bangkit berdiri dan meminta untuk mencium tangan khalifah, maka ia diizinkan lalu menciumnya dan menempelkannya di dadanya, dan meminta maaf atas dirinya dan apa yang telah terjadi. Keadaan stabil sebagaimana telah kami sebutkan, dan berita ini terbang ke seluruh penjuru dan orang-orang bergembira karenanya. Ketika awal Dzulqa’dah tiba, datanglah utusan dari Malik Sanjar kepada keponakannya mendesaknya untuk berbuat baik kepada khalifah, dan agar segera mengembalikannya ke negerinya. Ia mengirim bersama utusan itu pasukan untuk berada dalam pelayanan khalifah menuju Baghdad. Pasukan itu ditemani sepuluh orang Bathiniyah, ada yang berkata: dari tempat yang tidak mereka sadari, dan ada yang berkata: mereka memang sengaja dikirim, maka Allah lebih mengetahui. Namun demikian ketika mereka sampai ke sana, mereka menyerang khalifah di tendanya dan membunuhnya serta memotong-motongnya, sehingga orang-orang tidak mendapatinya kecuali dalam potongan-potongan. Mereka membunuh bersamanya sekelompok pengikutnya di antaranya Abdullah bin Sakinah. Kelompok tersebut ditangkap lalu dibakar, semoga Allah membinasakan mereka. Berita itu tersebar oleh para kafilah di negeri-negeri, tidak ada penduduk suatu negeri kecuali mereka lebih bersedih atas khalifah al-Mustarsyid daripada yang lain, terutama penduduk Baghdad. Wanita-wanita keluar ke jalan-jalan meratapi dan menangisinya. Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi telah menyebutkan apa yang mereka katakan dalam ratapan atas khalifah rahimahullah. Pembunuhannya terjadi di pintu Maraghah pada hari Kamis tanggal tujuh belas Dzulqa’dah. Ia dibawa ke Baghdad, dan ketika berita kematiannya sampai ke Baghdad, diadakan tahlil untuknya selama tiga hari setelah putranya ar-Rasyid dibai’at.
Penyebutan sesuatu dari biografi al-Mustarsyid rahimahullah
Al-Mustarshid adalah seorang yang pemberani lagi berani maju, jauh cita-citanya, fasih lagi pandai berbicara, manis tutur katanya, baik penyampaiannya, indah tulisannya, banyak beribadah, dicintai oleh rakyat jelata dan kalangan khusus. Dialah khalifah terakhir yang terlihat menjadi khatib. Ia terbunuh pada usia empat puluh tiga tahun tiga bulan. Masa kekhalifahannya adalah tujuh belas tahun enam bulan dua puluh hari. Ibunya adalah seorang budak perempuan dari bangsa Turki.
Kekhilafahan Ar-Rasyid Billah Abu Ja’far Manshur bin Al-Mustarshid
Ayahnya telah mengambil janji kesetiaan untuknya, kemudian ia ingin mencopotnya tetapi tidak mampu melakukan itu karena memang ia tidak mampu. Maka ketika ayahnya terbunuh di Bab Maraghah pada hari Kamis tanggal tujuh belas Dzulqa’dah tahun lima ratus dua puluh sembilan sebagaimana telah kami sebutkan, saat itu ia berada di Baghdad. Ketika berita itu sampai kepadanya di sana, para amir dan pembesar membaiatnya, dan namanya disebut di atas mimbar-mimbar di Baghdad dan seluruh negeri. Pada waktu itu ia sudah tua dan memiliki anak-anak. Ia berkulit putih, bertubuh besar, dan berwajah tampan. Ketika tiba hari Arafah tahun ini, jenazah Al-Mustarshid dibawa—telah dipindahkan dari sana ke Baghdad—lalu dishalatkan di Bait An-Nubah. Kerumunan sangat padat dan orang-orang keluar untuk shalat Idul Fitri keesokan harinya dalam kesedihan yang mendalam atas Al-Mustarshid. Paham Rafidhah (Syi’ah) sedikit muncul di awal-awal masa Ar-Rasyid.
Di antara tokoh-tokoh yang meninggal di tahun ini:
Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Al-Husain bin Umar Abu Al-Muzhaffar bin Abi Bakr Asy-Syasyi
Ia belajar fikih kepada ayahnya dan kematian merenggutnya setelah saudaranya, dan ia belum mencapai usia periwayatan.
Isma’il bin Abdul Malik bin Ali Abu Al-Qasim Al-Hakimi
Ia belajar fikih kepada Imam Al-Haramain, dan merupakan rekan Al-Ghazali dalam menuntut ilmu dan lebih tua daripadanya. Karena itu Al-Ghazali menghormatinya dan memuliakannya. Ia adalah ahli fikih yang cakap, ahli ibadah yang wara’. Wafatnya pada tahun ini di Tus dan dimakamkan di samping Al-Ghazali, semoga Allah merahmati keduanya.
Dubais bin Shadaqah bin Manshur bin Dubais bin Ali bin Mazid Abu Al-A’azz Al-Asadi
Sang Amir, dari keluarga kepemimpinan dan para pemimpin Arab. Ia adalah pemberani yang gagah berani, melakukan berbagai perbuatan besar dan berkelana ke berbagai negeri karena takut dari khalifah. Kemudian khalifah Al-Mustarshid meredakan kemarahannya kepadanya sebagaimana telah kami sebutkan. Ketika khalifah terbunuh, ia hidup setelahnya tiga puluh empat hari. Kemudian ia dituduh di hadapan Sultan Mas’ud bahwa ia telah mengirim surat kepada Zanki melarangnya datang menghadap sultan dan memerintahkannya menyelamatkan dirinya. Maka sultan mengutus seorang budak Armenia kepadanya. Ia menjumpainya menundukkan kepalanya sedang memikirkan urusannya. Sang budak tidak berbicara kepadanya hingga menghunus pedangnya dan memenggalnya, memisahkan kepalanya dari tubuhnya. Ada yang mengatakan: sultan memanggilnya menghadap lalu membunuhnya di hadapannya, wallahu a’lam.
Thughril As-Sultan bin As-Sultan Muhammad bin Malikshah
Wafat di Hamadzan pada hari Rabu tanggal tiga Muharram tahun ini.
Ali bin Muhammad Ad-Darzijani
Ia adalah seorang ahli ibadah yang zahid. Ibnu Al-Jauzi meriwayatkan darinya bahwa ia pernah mengatakan bahwa kekuasaan (kudrat) berhubungan dengan yang mustahil, kemudian ia mengingkari itu dan dimaafkan karena kebodohannya dan tidak pahamnya terhadap apa yang dikatakannya.
Al-Fadhl Abu Manshur Amirul Mukminin Al-Mustarshid Billah
Ia termasuk khalifah-khalifah Abbasiyah terbaik, pemberani dan gagah, menghadapi peperangan dengan dirinya sendiri dan telah kami sebutkan itu sebelumnya. Ia dibunuh oleh kelompok Bathiniyyah di Bab Maraghah pada hari Kamis tanggal tujuh belas Dzulqa’dah tahun ini, kemudian dipindahkan ke Baghdad dan dimakamkan di sana. Semoga Allah merahmatinya dan membasahi tanah kuburnya dengan rahmat serta menjadikan surga sebagai tempat tinggal dan tempat kembalinya.
Kemudian masuklah tahun lima ratus tiga puluh
Pada tahun ini terjadi perselisihan antara khalifah Ar-Rasyid dan Sultan Mas’ud karena ia mengirim kepada khalifah meminta darinya apa yang telah ditulis ayahnya Al-Mustarshid untuknya ketika menawannya, yang berisi komitmen sebesar empat ratus ribu dinar. Ia menolak membayar itu dan berkata: “Tidak ada antara kami dan kalian kecuali pedang.” Maka terjadilah perselisihan antara keduanya. Sultan mengerahkan pasukan dan khalifah menggerakkan para amir serta mengirim kepada Imaduddin Zanki. Ia pun datang dan banyak orang berkumpul bersamanya. Dalam situasi itu datang Sultan Dawud bin Mahmud bin Muhammad bin Malikshah, lalu khalifah menyebutkan namanya di atas mimbar Baghdad, memberinya pakaian kebesaran dan membaiatnya untuk kerajaan. Permusuhan antara sultan dan khalifah menjadi sangat kuat. Khalifah keluar ke luar Baghdad dan pasukan berjalan di hadapannya seperti mereka memperlakukan ayahnya sebelumnya, yaitu pada hari Rabu akhir Sya’ban. Sultan Dawud keluar dari sisi yang lain. Ketika sampai kepada mereka berita tentang banyaknya pasukan Sultan Mas’ud, Imaduddin Zanki menyarankan kepada khalifah untuk pergi bersamanya ke Mosul. Bersamaan dengan itu, Sultan Mas’ud masuk ke Baghdad pada ketidakhadiran mereka pada hari Senin tanggal empat Syawal. Ia menguasai istana khilafah dengan semua isinya. Kemudian ia mengambil dari para istri khalifah dan selir-selirnya perhiasan, emas, pakaian untuk hiasan dan lainnya. Ia mengumpulkan para qadhi dan fuqaha dan menunjukkan kepada mereka tulisan tangan Ar-Rasyid yang menyatakan bahwa kapan saja ia keluar dari Baghdad untuk memerangi sultan maka ia telah mencabut dirinya dari khilafah. Sebagian fuqaha yang memberi fatwa memfatwakan pencopotannya. Maka ia dicopot pada hari Senin tanggal enam belas Dzulqa’dah berdasarkan keputusan hakim dan fatwa mayoritas fuqaha. Masa kekhalifahannya adalah sebelas bulan sebelas hari. Sultan memanggil pamannya Al-Muqtafi bin Al-Mustadzhir lalu dibaiat untuk khilafah menggantikan keponakannya Ar-Rasyid Billah.
Kekhilafahan Al-Muqtafi Li Amrillah Abu Abdullah Muhammad bin Al-Mustadzhir Billah
Ibunya adalah seorang budak kuning bernama Nasim dan dipanggil Sitt As-Sadah. Usianya waktu itu empat puluh tahun. Ia dibaiat untuk khilafah setelah pencopotan Ar-Rasyid dua hari kemudian dan namanya disebut di atas mimbar-mimbar pada hari Jumat tanggal dua puluh Dzulqa’dah. Ia diberi gelar Al-Muqtafi karena dikatakan bahwa ia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpi dan beliau berkata kepadanya: “Urusan ini akan sampai kepadamu maka ikutilah aku.” Maka urusan itu sampai kepadanya setelah enam hari dan ia diberi gelar karena itu.
Faedah yang baik yang perlu diperhatikan
Al-Muqtafi dan Al-Mustarshid menjabat khilafah dan keduanya adalah bersaudara, begitu juga As-Saffah dan Al-Manshur, begitu juga Al-Hadi dan Ar-Rasyid putra Al-Mahdi, begitu juga Al-Watsiq dan Al-Mutawakkil putra Al-Mu’tashim adalah bersaudara. Adapun tiga bersaudara yaitu Al-Amin, Al-Ma’mun, dan Al-Mu’tashim putra Ar-Rasyid; Al-Muntashir, Al-Mu’tazz, dan Al-Mu’tamid putra Al-Mutawakkil; Al-Muktafi, Al-Muqtadir, dan Al-Qahir putra Al-Mu’tadhid; Ar-Radhi, Al-Muqtafi, dan Al-Muthi’ putra Al-Muqtadir. Adapun empat bersaudara, maka itu hanya terjadi pada Bani Umayyah yaitu: Al-Walid, Sulaiman, Yazid, dan Hisyam putra Abdul Malik bin Marwan.
Ketika Al-Muqtafi mantap dalam khilafah, Ar-Rasyid terus pergi ke Mosul bersama penguasanya Imaduddin Zanki dan memasukinya pada bulan Dzulhijjah tahun ini.
Di antara tokoh-tokoh yang meninggal di tahun ini:
Muhammad bin Hamawayh bin Muhammad bin Hamawayh Abu Abdullah Al-Juwaini
Ia meriwayatkan hadits dan merupakan orang yang terpercaya, terkenal dengan ilmu dan kezuhudannya, memiliki karamah-karamah. Ia datang ke Baghdad dan ketika berpamitan kepada mereka ia membacakan syair untuk mereka:
Seandainya ada bagiku setelah kembali kepada kalian Aku penuhi kerinduan hati di sisi kalian Dan jika yang lain terjadi dan dalam ghaib ada pelajaran Dan terjadi takdir maka salam sejahtera atas kalian
Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Habib Abu Bakr Al-Amiri
Yang dikenal dengan Ibnu Al-Khabbazah. Ia mendengar hadits dan melakukan perjalanan dalam menuntutnya. Ia memiliki pengetahuan dalam fikih dan hadits, telah mensyarah kitab Asy-Syihab, dan ia memberi nasihat kepada orang-orang dengan cara tasawuf. Ibnu Al-Jauzi termasuk yang belajar kepadanya dan ia memujinya. Di antara syairnya:
Bagaimana upayaku dan ini adalah keadaanku dalam cinta Dan kerinduan lebih menguasaiku daripada celaan para pencela Dan bagaimana aku bisa melupakan sedangkan dalam cintaku kepadanya kesibukan Yang menghalangi antara kepentinganku dan urusan-urusanku
Ia telah membangun sebuah ribath, dan di sisinya ada sekelompok penyembah dan zahid. Ketika ia akan wafat, ia berwasiat kepada mereka untuk bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla dan ikhlas, kemudian ia mulai meninggal dan dahinya berkeringat. Ia mengulurkan tangannya lalu berkata:
Inilah aku telah mengulurkan tanganku kepadaMu maka kembalikanlah Dengan karunia bukan dengan kegembiraan musuh-musuh
Kemudian ia berkata: “Aku melihat para syaikh di hadapan mereka ada nampan-nampan dan mereka menungguku.” Kemudian ia wafat pada malam Rabu pertengahan Ramadhan dan dimakamkan di ribathnya. Kemudian ribath dan kuburnya tenggelam pada tahun lima ratus lima puluh empat, semoga Allah merahmatinya.
Muhammad bin Al-Fadhl bin Ahmad bin Muhammad bin Abi Al-Abbas Abu Abdullah Ash-Sha’idi Al-Farawi
Ayahnya dari benteng Farawah dan tinggal di Naisabur, maka lahirlah baginya di sana Muhammad ini. Ia mendengar banyak hadits dari sejumlah syaikh di berbagai penjuru, belajar fikih, memberi fatwa, berdebat, dan memberi nasihat. Ia adalah orang yang cerdas, berwajah tampan, indah pergaulannya, banyak tersenyum. Ia mendiktekan lebih dari seribu majelis dan para penuntut ilmu melakukan perjalanan kepadanya dari berbagai penjuru hingga dikatakan: “Bagi Al-Farawi ada seribu perawi.” Dikatakan bahwa itu tertulis di cincinnya. Ia telah membacakan Shahih Muslim hampir dua puluh kali. Ia wafat pada bulan Syawal tahun ini pada usia sembilan puluh tahun, semoga Allah merahmatinya.
Kemudian masuklah tahun lima ratus tiga puluh satu
Pada tahun ini banyak kematian mendadak di Ishfahan, maka meninggal ribuan orang dan banyak rumah ditutup.
Pada tahun ini khalifah menikahi Khatun Fatimah binti Muhammad bin Malikshah dengan mahar seratus ribu dinar. Saudaranya Sultan Mas’ud menghadiri akad beserta sejumlah pembesar negara, para wazir dan amir, dan ditaburkan kepada orang-orang berbagai hadiah.
Pada tahun ini penduduk Baghdad berpuasa Ramadhan tiga puluh hari dan tidak melihat hilal pada malam tiga puluh satu padahal langit cerah. Ibnu Al-Jauzi berkata: “Ini adalah sesuatu yang tidak pernah terjadi sepertinya.”
Pada tahun ini melarikan diri wazir penguasa Mesir yaitu Tajud Daulah Bahram An-Nashrani. Ia telah berkuasa di negeri dan buruk sikapnya. Khalifah Al-Hafizh mencarinya hingga menangkapnya lalu memenjarakannya, kemudian melepaskannya. Ia kemudian menjadi rahib dan meninggalkan pekerjaan. Setelahnya diangkat sebagai wazir Ridhwan bin Az-Zanji dan diberi gelar Al-Malik Al-Afdhal. Tidak ada wazir yang diberi gelar itu sebelumnya. Kemudian terjadi perselisihan antara dia dan Al-Hafizh, dan khalifah terus mengejarnya hingga membunuhnya dan mengurus urusannya sendiri.
Pada tahun ini Imaduddin Zanki menguasai beberapa negeri.
Pada tahun ini muncul di Syam awan hitam yang membuat dunia gelap, kemudian setelahnya muncul awan merah seperti api yang membuat dunia terang. Kemudian datang angin kencang yang menumbangkan banyak pohon, kemudian turun hujan lebat dan jatuh hujan es yang besar.
Pada tahun ini Raja Rum menyerang negeri Syam dan mengambil banyak negeri dari tangan Franj, dan Aliyun bin Raja Armenia taat kepadanya.
Di antara tokoh-tokoh yang meninggal di tahun ini:
Ahmad bin Muhammad bin Tsabit bin Al-Hasan Abu Sa’d Al-Khujandi
Ia belajar fikih kepada ayahnya Imam Abu Bakr Al-Khujandi Al-Ishbahani, dan menjabat pengajaran di Madrasah Nizhamiyyah Baghdad berkali-kali dan dicopot darinya. Ia telah mendengar hadits dan memberi nasihat. Wafat pada awal Sya’ban tahun ini, hampir berusia sembilan puluh tahun.
Hibatullah bin Ahmad bin Umar Al-Hariri
Dikenal dengan Ibnu Ath-Thabar. Ia mendengar banyak hadits dan ia terakhir yang meriwayatkan dari Abu Al-Hasan bin Zauj Al-Hurrah. Abu Bakr Al-Khatib telah meriwayatkan darinya. Ia adalah orang yang tsiqah, shahih pendengarannya, banyak berdzikir dan membaca Al-Quran, menikmati indera dan kekuatannya hingga wafat pada Jumadil Ula tahun ini pada usia sembilan puluh enam tahun, semoga Allah merahmatinya.
KEMUDIAN MASUKLAH TAHUN 532 HIJRIAH
Pada tahun ini terbunuhlah Khalifah Ar-Rasyid Al-Makhluk (yang dicopot). Hal itu terjadi ketika Malik Daud dan sejumlah pemimpin besar berkumpul bersamanya. Mereka bermaksud memerangi Mas’ud di wilayah Maraghah, namun Mas’ud mengalahkan mereka, mencerai-beraikan pasukan mereka, dan membunuh sejumlah besar dari mereka dengan cara memenggal kepala di hadapannya. Di antara yang terbunuh adalah Shadaqah bin Dubais. Mas’ud mengangkat saudara Shadaqah, yaitu Muhammad, sebagai pengganti di Al-Hillah. Khalifah Ar-Rasyid yang telah dicopot melarikan diri dan memasuki Isfahan, lalu dibunuh oleh orang-orang Khurasani yang melayaninya. Sebelumnya ia telah sembuh dari sakit yang dideritanya, namun mereka membunuhnya pada tanggal 25 Ramadhan. Ia dimakamkan di Syahristana, luar kota Isfahan. Ia memiliki warna kulit yang bagus, wajah yang rupawan, sangat kuat, dan berwibawa. Ibunya adalah seorang budak. Semoga Allah merahmatinya.
Pada tahun ini Ka’bah ditutupi kain penutup oleh seorang pedagang yang bernama Rast Al-Farisi dengan harga 18.000 dinar. Hal itu karena tidak ada kain penutup yang datang ke Ka’bah pada tahun ini akibat perpecahan di antara para penguasa.
Pada tahun ini terjadi gempa bumi yang dahsyat di negeri Syam, Jazirah, dan Irak. Banyak bangunan yang runtuh, dan banyak orang yang meninggal dunia tertimbun reruntuhan dalam jumlah yang sangat besar. Pada tahun ini terjadi kelaparan yang hebat di Khurasan hingga mereka memakan anjing.
Pada tahun ini Malik Imaduddin Zanki merebut kota Homs pada bulan Muharram. Pada bulan Ramadhan ia menikah dengan Sitt Zumurud Khatun, ibu dari penguasa Damaskus, yaitu wanita yang dinisbahkan kepadanya Al-Khatuniyah Al-Barraniyah.
Pada tahun ini penguasa Rum merebut kota Buza’ah yang berjarak enam farsakh dari Halab. Penduduknya yang selamat dari pembunuhan dan penawanan datang meminta pertolongan kepada kaum muslimin di Baghdad. Khutbah di Baghdad dihentikan dan terjadi fitnah yang berkepanjangan.
Pada tahun ini Sultan Mas’ud menikahi Sufra binti Dubais bin Shadaqah. Baghdad dihiasi untuk peristiwa itu selama tujuh hari. Ibnu Al-Jauzi berkata: “Akibat hal itu terjadi kerusakan yang luas, panjang, dan tersebar.” Kemudian Mas’ud menikahi putri pamannya, maka Baghdad dihiasi selama tiga hari juga.
Pada tahun ini lahirlah Sultan An-Nashir Shalahuddin Yusuf bin Ayyub bin Syadi di benteng Tikrit. Pada tahun ini orang-orang diberangkatkan haji oleh Amir Nazhar Al-Khadim, demikian juga pada tahun-tahun sebelumnya. Semoga Allah memberikan pahala kepadanya.
TOKOH-TOKOH TERKEMUKA YANG WAFAT PADA TAHUN INI:
Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Abu Bakar bin Abi Al-Fath Ad-Dainuri Al-Hanbali. Ia mendengar hadits dan belajar fikih kepada Abu Al-Khaththab Al-Kaludzani. Ia berfatwa, mengajar, dan berdebat. As’ad Al-Maihani berkata: “Tidaklah Abu Bakar Ad-Dainuri membantah dalil seseorang kecuali ia merusaknya.” Syaikh Abu Al-Faraj Ibnu Al-Jauzi belajar darinya dan meriwayatkan darinya syair berikut:
Aku berharap menjadi ahli fikih yang pandai berdebat Tanpa kesulitan, maka kegilaan pun beragam Bukankah memperoleh harta tanpa kesulitan Yang kau hadapi? Maka bagaimana ilmu bisa didapat
Abdul Mun’im bin Abdul Karim bin Hawazan Abu Al-Muzhaffar Al-Qusyairi, orang terakhir yang tersisa dari mereka. Ia mendengar dari ayahnya, Abu Bakar Al-Baihaqi, dan lainnya. Abdul Wahhab Al-Anmathi mendengar darinya, dan ia memberikan ijazah kepada Ibnu Al-Jauzi. Ia hampir mencapai usia 90 tahun.
Muhammad bin Abdul Malik bin Muhammad bin Umar Abu Al-Hasan Al-Karaji. Ia mendengar banyak hadits di berbagai negeri. Ia adalah ahli fikih dan mufti. Ia belajar fikih kepada Abu Ishaq dan ulama-ulama Syafi’iyah lainnya. Ia adalah seorang sastrawan, penyair, dan fasih. Ia memiliki banyak karya tulis, di antaranya Al-Fushul fi I’tiqad Al-A’immah Al-Fuhul, di mana ia menyebutkan madzhab salaf dalam bab akidah dan meriwayatkan hal-hal yang aneh dan bagus. Ia memiliki tafsir dan kitab fikih. Ia tidak melakukan qunut dalam shalat subuh dan berkata: “Hal itu tidak shahih dalam hadits. Imam kami Asy-Syafi’i berkata: ‘Jika hadits shahih, maka lemparkanlah perkataanku ini ke dinding.'” Ia memiliki rupa yang bagus dan pergaulan yang baik. Di antara syairnya:
Rumahnya jauh dariku, namun Bayangan keindahannya tinggal di dalam hati Jika hati telah penuh dengannya, maka apa Bahayanya jika tempat-tempat kosong darinya
Ia wafat semoga Allah merahmatinya setelah melewati usia 70 tahun.
Khalifah Ar-Rasyid Manshur bin Al-Mustarsyid
Ia menjabat sebagai khalifah setelah ayahnya, kemudian dicopot. Ia pergi bersama Imad Zanki ke wilayah Maushil. Kemudian ia mengumpulkan pasukan dan bertempur dengan Malik Mas’ud pada tahun ini, namun Mas’ud mengalahkan mereka. Ia pergi ke Isfahan dan terbunuh setelah menderita sakit. Ada yang mengatakan ia diracun, ada yang mengatakan dibunuh oleh Bathiniyah, dan ada yang mengatakan dibunuh oleh para pelayan yang mengurusi urusannya. Wallahu a’lam.
Ibnu Al-Jauzi meriwayatkan dari Abu Bakar Ash-Shuli yang berkata: “Orang-orang mengatakan: setiap orang keenam yang memimpin urusan manusia sejak awal Islam pasti akan dicopot.” Ibnu Al-Jauzi berkata: “Aku merenungkan hal itu dan menemukannya sangat mengherankan. Yang memimpin adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali, kemudian Hasan lalu dicopot. Kemudian Muawiyah, Yazid, Muawiyah bin Yazid, Marwan, Abdul Malik, kemudian Abdullah bin Zubair lalu dicopot dan dibunuh. Kemudian Al-Walid, Sulaiman, kemudian Umar bin Abdul Aziz, Yazid, Hisyam, kemudian Al-Walid bin Yazid lalu dicopot dan dibunuh. Urusan Bani Umayyah tidak teratur lagi setelahnya hingga berkuasa As-Saffah Al-Abbasi, kemudian saudaranya Al-Manshur, kemudian Al-Mahdi, kemudian Al-Hadi, kemudian Ar-Rasyid, kemudian Al-Amin lalu dicopot dan dibunuh. Kemudian Al-Ma’mun, Al-Mu’tashim, Al-Watsiq, Al-Mutawakkil, Al-Muntashir, kemudian Al-Musta’in lalu dicopot dan dibunuh. Kemudian Al-Mu’tazz, Al-Muhtadi, Al-Mu’tamid, Al-Mu’tadhid, Al-Muktafi, kemudian Al-Muqtadir lalu dicopot kemudian dikembalikan lalu dibunuh. Kemudian Al-Qahir, Ar-Radhi, Al-Muttaqi, Al-Muktafi, Al-Muthi’, kemudian Ath-Tha’i’ lalu dicopot. Kemudian Al-Qadir, Al-Qa’im, Al-Muqtadi, Al-Mustazhir, Al-Mustarsyid, kemudian Ar-Rasyid lalu dicopot dan dibunuh.”
Anusyirwan bin Khalid bin Muhammad Al-Qasyani Al-Faini
Dari desa Fain di Qasyaan, wazir Abu Nashr. Ia menjadi wazir bagi Sultan Mahmud dan Khalifah Al-Mustarsyid. Ia adalah orang yang berakal, berwibawa, dan bertubuh besar. Dialah yang mewajibkan Abu Muhammad Al-Hariri untuk menyempurnakan Al-Maqamat. Sebab musababnya adalah Abu Muhammad Al-Hariri sedang duduk suatu hari di masjid Bani Haram, salah satu kawasan di Basrah. Seorang syaikh berbaju lusuh masuk ke tempatnya. Mereka bertanya: “Siapa kamu?” Ia menjawab: “Aku seorang laki-laki dari Saruj yang dipanggil Abu Zaid.” Maka Al-Hariri membuat Maqamah Al-Haramiyah yang tersebar di kalangan manusia. Ketika Wazir Anusyirwan membacanya, ia sangat kagum dan meminta Abu Muhammad Al-Hariri untuk menambah lainnya. Maka ia membuat hingga genap 50 maqamah, yaitu yang terkenal dan beredar di kalangan manusia. Wazir itu adalah orang yang mulia dan terpuji, hanya saja ia dinisbahkan kepada Syiah. Al-Hariri memujinya dengan syair:
Alangkah aku ingin tahu, dan angan-angan adalah penghibur Meski di dalamnya ada kelegaan bagi orang yang berduka Apakah kalian tahu bahwa sejak tempat tinggalmu menjauh Dan kedekatan diriku dari sisimu yang luas menjadi jauh Aku menanggung kerinduan yang tetap apinya Membalikkanku di malam hari dari sisi ke sisi Aku teringat hari-hari pertemuan lalu aku berbalik Untuk mengingatnya dengan kesedihan yang nyata dan hati yang terbang Dan aku memiliki kerinduan di setiap waktu kepada kalian Bukan kerinduan orang yang kehausan kepada air sejuk yang segar Demi Allah, seandainya aku menyembunyikan kecintaanku kepada kalian Niscaya ia tidak tersembunyi di timur maupun di barat Dan yang menyedihkan hatiku yang menderita dan melemahkannya Adalah rida kalian dengan mengabaikan jawaban atas surat-suratku Dahulu aku tidak takut akan penolakan meski berbuat dosa Kini aku takut akan hal itu padahal aku tidak berdosa Ketika rombongan Irak pergi ke arah kalian Dan aku tidak mampu pergi bersama rombongan Aku menjadikan suratku sebagai wakilku karena terpaksa Barangsiapa tidak mendapat air hendaklah bertayamum dengan debu Dan aku kirimkan juga sebagian dari anggota tubuhku Untuk memberitahu kalian tentang penjelasan keadaanku dan meminta keterangan Aku tidak melihat setelah kabar kalian tentang kabar kalian Dengan kebaikan, cukuplah bagiku kebanggaanmu adalah kebanggaanku
KEMUDIAN MASUKLAH TAHUN 533 HIJRIAH
Pada tahun ini terjadi gempa bumi yang dahsyat di kota Janzah. Akibatnya meninggal 230.000 orang. Tempatnya menjadi air hitam seluas sepuluh farsakh kali sepuluh farsakh. Penduduk Halab diguncang gempa dalam satu malam sebanyak 80 kali.
Pada tahun ini Sultan Mas’ud menghapus banyak pajak dari rakyat, dan banyak doa untuknya.
Pada tahun ini terjadi pertempuran besar antara Sultan Sanjar dan Khawarizm Syah. Sanjar mengalahkannya dan putra Khawarizm Syah terbunuh dalam pertempuran. Ayahnya sangat berduka cita atas kematiannya.
Pada tahun ini penguasa Damaskus Syihabuddin Mahmud bin Taj Al-Muluk Buri bin Thughtikin dibunuh oleh tiga orang dari orang-orang terdekatnya di malam hari. Mereka melarikan diri dari benteng. Dua orang tertangkap dan disalib, satu orang lolos.
Setelahnya yang berkuasa adalah saudaranya Kamaluddin Muhammad bin Taj Al-Muluk. Sebelum itu ia berada di Baalbek. Setelahnya yang menguasai Baalbek adalah Imaduddin Zanki yang mengangkat Amir Najmuddin Ayyub, ayah dari Malik Shalahuddin dan Malik Al-Adil Abu Bakar beserta keturunan mereka, sebagai wakilnya.
Pada tahun ini orang-orang Yahudi dan Nasrani diberhentikan dari jabatan-jabatan pemerintahan, kemudian dikembalikan lagi sebelum sebulan.
Pada tahun ini orang-orang diberangkatkan haji oleh Nazhar Al-Khadim. Semoga Allah memberikan pahala kepadanya.
TOKOH-TOKOH TERKEMUKA YANG WAFAT PADA TAHUN INI:
Zahir bin Thahir bin Muhammad Abu Al-Qasim bin Abi Abdurrahman bin Abi Bakar Asy-Syahhami, ahli hadits yang banyak meriwayatkan, banyak berkelana. Ia mendengar banyak hadits dan mendiktekan di masjid Naisabur seribu majelis. Dikatakan bahwa ia memiliki penyakit yang menyebabkannya sering menjamak shalat. Abu Sa’d As-Sam’ani membicarakannya dan berkata bahwa ia mengabaikan shalat-shalat. Ibnu Al-Jauzi membantah As-Sam’ani dengan alasan sakit. Wallahu a’lam.
Ia mencapai usia 85 tahun. Wafatnya di Naisabur pada bulan Rabi’ul Akhir dan dimakamkan di pemakaman Yahya bin Yahya.
Ali bin Aflah
Abu Al-Qasim Al-Katib. Al-Mustarsyid menganugerahinya pakaian kebesaran dan memberinya gelar Jamalu Al-Mulk serta memberikan empat rumah kepadanya. Ia memiliki sebuah rumah di samping keempat rumah itu, maka ia meruntuhkan semuanya dan membangun di tempatnya sebuah rumah yang megah dengan panjang 60 hasta dan lebar 40 hasta. Khalifah memberinya kayu-kayu, batu bata, dan emas untuk membangunnya. Ibnu Aflah mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk rumah itu. Ia menulis di pintu-pintunya dan hiasannya syair-syair bagus dari karyanya sendiri dan karya orang lain. Di antaranya adalah yang tertulis di pintu rumah:
Jika orang-orang yang melihat takjub dengan luarku Maka dalamku jika mereka tahu lebih menakjubkan Yang membangunku dari telapak tangannya adalah awan Yang membawa darinya hujan lebat Dan taman akhlaknya menghias Taman-tamanku yang bunganya keemasan Dadanya menghiasi dadaku dengan cahayanya Matahari yang tidak terbenam di atas hari-hari
Dan tertulis pada hiasan:
Dan dari kemuliaan seorang pemuda Selama ia hidup adalah rumah yang megah Maka puaslah dari dunia dengannya Dan beramallah untuk negeri akhirat Yang itu setia dengan apa Yang dijanjikan dan ini adalah penyihir
Dan di tempat lain tertulis:
Dan tempat seolah-olah surga keabadian Meminjamkan kepadanya dari keindahannya kecemerlangan Dan memberikan kepadanya dari peristiwa zaman Untuk tidak menimpa padanya dengan perjanjian Maka ia menjadi sombong atas semua yang Dibangun baik di barat maupun di timur Rombongan tetap berkumpul di dalamnya Dan tamu-tamu di dalamnya pada waktu petang Kekal untukmu wahai Jamalu Al-Muluk Dan keutamaan selama engkau menginginkan keabadian Dan selamatlah ia bagimu dari keraguan zaman Dan engkau dijaga dari apa yang ditakuti darinya
Namun angan-angan ini tidak benar. Bahkan tidak lama setelah mendapatkannya, Khalifah menuduh Ibnu Aflah berkorespondensi dengan Dubais. Maka ia memerintahkan penghancuran rumah ini hingga tidak tersisa dinding sama sekali. Rumah itu menjadi reruntuhan setelah tempat tinggal dan kediaman di dalamnya begitu indah. Inilah hikmah Allah yang membolak-balik siang dan malam, dan takdir berjalan sesuai kehendak-Nya.
Ibnu Al-Jauzi menyebutkan hal-hal bagus dari syair dan prosa Ibnu Aflah. Di antaranya:
Tinggalkanlah cinta untuk orang-orang yang mengenalnya Yang telah menjalani cinta hingga yang paling sulit menjadi mudah Engkau menguji dirimu dalam hal yang tidak kau ketahui Dan sesuatu itu sulit bagi orang yang tidak pernah mencobanya Bersabarlah meski engkau tidak mampu bersungguh-sungguh Karena banyak orang mencapai urusan yang sulit dicarinya Aku tekuk tulang rusuk di atas hati yang membuatku bingung Di setiap hari dan melelahkanku dengan perubahan-perubahannya Angin dari Najd yang mengeluh menggugahnya Dan kilauan kilat dari Nu’man menggembirakan hatinya
Dan di antaranya perkataannya:
Ini adalah Al-Khaif dan itu adalah Mina Maka bersikap lembutlah wahai penggiring unta kepada kami Dan tahanlah rombongan untuk kami sesaat Kami meratapi pelataran dan menangisi bekas-bekas Karena untuk tempat ini kami sediakan tangisan Dan untuk bekas-bekas ini air mataku disimpan Dahulu mereka ada dan kami ada sebagai tetangga Wahai kembalikanlah Allah masa itu Di antara kami di hari Atsailat An-Naqa Ada perpisahan di antara kami tanpa saling ridha
Kemudian masuklah tahun 534 Hijriah
Pada tahun ini Zanki mengepung Damaskus, lalu al-Atabak Mu’in ad-Din Anar, budak Tughtikin, membentenginya. Kebetulan meninggallah rajanya, Jamal ad-Din Muhammad bin Buri bin Tughtikin. Maka Mu’in ad-Din mengirim utusan kepada saudaranya, Mujir ad-Din Abaq yang berada di Ba’labak, lalu ia menguasai Damaskus. Kemudian Zanki pergi ke Ba’labak dan merebutnya serta mengangkat Najm ad-Din Ayyub sebagai wakilnya di sana.
Pada tahun ini Khalifah al-Muqtafi li Amrillah masuk menemui al-Khatun Fatimah, saudara perempuan Sultan Mas’ud, dan Baghdad ditutup selama beberapa hari. Ini adalah peristiwa yang sangat terkenal.
Pada tahun ini Sultan menikah dengan putri Amirul Mukminin, dan hari itu merupakan hari yang sangat berkesan.
Pada tahun ini diumumkan untuk menshalatkan seorang lelaki saleh, maka orang-orang berkumpul di madrasah Syekh Abdul Qadir. Kemudian terjadilah bahwa orang itu bersin dan tersadar. Lalu datanglah jenazah lelaki lain, maka orang-orang menshalatkannya.
Pada tahun ini air berkurang di seluruh dunia. Pada tahun ini lahir penguasa Hamah, Taqi ad-Din Umar Syahanasyah bin Ayyub bin Syadzi.
Orang-orang terkemuka yang meninggal pada tahun ini:
Ahmad bin Ja’far bin al-Faraj Abu al-Abbas al-Harbi, salah seorang ahli ibadah dan zuhud. Ia mendengar hadits dan memiliki berbagai keadaan spiritual, hingga dikatakan bahwa ia pernah terlihat di Arafah pada beberapa tahun padahal ia tidak melaksanakan haji pada tahun itu.
Abdul Salam bin al-Fadl Abu al-Qasim al-Jili, mendengar hadits dan mempelajari fikih dari Ilkiya al-Harasi, serta menguasai ushul dan furu’ dan lainnya. Ia menjabat sebagai hakim Basrah dan termasuk sebaik-baik hakim, semoga Allah merahmatinya.
Kemudian masuklah tahun 535 Hijriah
Pada tahun ini al-Burdah dan tongkat tiba di Baghdad, setelah keduanya diambil dari al-Musytarsyid pada tahun 529 Hijriah. Sultan Sanjar menyimpannya sampai mengembalikannya pada tahun ini.
Pada tahun ini selesai dibangun Madrasah al-Kamaliyah yang dinisbatkan kepada Kamal ad-Din Abu al-Futuh Hamzah bin Thalhah, pemilik perbendaharaan. Syekh Abu al-Hasan bin al-Khall mengajar di sana, dan para pembesar hadir di hadapannya, semoga Allah Ta’ala merahmatinya.
Orang-orang terkemuka yang meninggal pada tahun ini:
Ismail bin Muhammad bin al-Fadl bin Ali bin Ahmad, Abu al-Qasim at-Talhiy al-Asbahani, mendengar banyak hadits, melakukan rihlah, menulis, dan mendiktekan hadits di Ashbahan hampir tiga ribu majelis. Ia adalah seorang imam dalam hadits, fikih, tafsir, dan bahasa, hafizh yang teliti. Ia meninggal pada malam Idul Adha ketika hampir berusia delapan puluh tahun. Ketika pemandikan jenazah hendak menyingkirkan kain dari kemaluannya, ia mengembalikannya dengan tangannya.
Muhammad bin Abdul Baqi bin Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin ar-Rabi’ bin Tsabit bin Wahb bin Musjaja’ah bin al-Harits bin Abdullah bin Ka’ab bin Malik al-Anshari, mendengar hadits dan sendirian meriwayatkan dari sejumlah syekh. Ia mendiktekan hadits di masjid al-Qasr dan memiliki pengetahuan dalam banyak ilmu. Ia pernah ditawan oleh Romawi ketika kecil, dan mereka menghendaki agar ia mengucapkan kalimat kekufuran tetapi ia menolak. Ia belajar tulisan Romawi dari mereka. Ia biasa berkata: “Barang siapa melayani tinta, maka mimbar akan melayaninya.” Di antara syairnya yang disebutkan Ibnu al-Jauzi dari dirinya dan didengar darinya:
Jagalah lisanmu, jangan bocorkan tiga hal: usia, harta sejauh kemampuanmu, dan mazhabmu Karena dengan ketiga hal itu engkau akan diuji dengan tiga hal: orang yang mengkafirkanmu, orang yang hasad, dan orang yang mendustakanmu
Dan juga perkataannya:
Aku memiliki ajal yang pasti akan kucapai, maka bila ia telah habis dan berakhir, aku akan mati Seandainya singa-singa ganas memusuhi aku, tidaklah mereka membahayakan aku selama waktu itu belum datang
Dan juga perkataannya:
Baghdad adalah negeri yang baik bagi ahli ilmu, dan bagi orang-orang papa adalah negeri kesempitan dan kesusahan Aku tetap kebingungan berjalan di gang-gangnya, seakan-aku mushaf di rumah seorang zindiq
Ibnu al-Jauzi berkata: Ia mencapai usia sembilan puluh tiga tahun tanpa panca indera dan akalnya berubah. Ia meninggal pada tanggal dua Rajab tahun ini. Para pembesar dan masyarakat menghadiri pemakamannya, dan ia dimakamkan dekat kubur Bisyr.
Yusuf bin Ayyub bin Yusuf bin al-Hasan bin Wahrah Abu Ya’qub al-Hamadzani, mempelajari fikih dari Syekh Abu Ishaq dan menguasai fikih dan munazharah. Kemudian ia berkecimpung dalam ibadah dan bergaul dengan orang-orang saleh, serta menetap di pegunungan. Kemudian ia kembali ke Baghdad dan memberi nasihat di sana, dan mendapat penerimaan. Ia meninggal pada bulan Rabiul Awal di salah satu desa Herat, semoga Allah Ta’ala merahmatinya.
Kemudian masuklah tahun 536 Hijriah
Pada tahun ini terjadi banyak peperangan antara Sultan Sanjar dan Khwarazm Syah. Khwarazm Syah menguasai Marw setelah kekalahan Sanjar. Ia membunuh banyak orang di sana dan bertindak buruk terhadap para fuqaha Hanafiyah yang ada di sana. Pasukan Khwarazm berjumlah tiga ratus ribu pejuang.
Pada tahun ini selesai pembuatan saluran Nahrawan. Bahrouz asy-Syahnah di Baghdad memberikan jubah sutera Romawi kepada para pekerja. Ia dan Sultan Mas’ud naik perahu di sungai itu. Sultan sangat senang dengan hal itu. Sultan telah menghabiskan tujuh puluh ribu dinar untuk sungai itu.
Pada tahun ini Kamal ad-Din bin Thalhah, pemilik perbendaharaan, menunaikan haji dan ketika kembali ia berzuhud, meninggalkan pekerjaan, dan menetap di rumahnya.
Pada tahun ini Jumat dilaksanakan di masjid al-Abbasiyin atas izin Khalifah. Nazhar al-Khadim memimpin haji untuk orang-orang.
Orang-orang terkemuka yang meninggal pada tahun ini:
Ismail bin Ahmad bin Umar bin Abi al-Asy’ats, Abu al-Qasim bin Abi Bakr as-Samarqandi ad-Dimasqi kemudian al-Baghdadi, mendengar banyak hadits dan sendirian meriwayatkan dari para syekh. Pendengarannya shahih. Ia mendiktekan di masjid al-Manshur banyak majelis, hampir tiga ratus majelis. Ia meninggal pada tahun ini setelah melampaui usia delapan puluh tahun, semoga Allah merahmatinya.
Yahya bin Ali bin Muhammad bin Ali Abu Muhammad bin ath-Tharrah al-Mudir, lahir pada tahun 429 Hijriah, mendengar banyak hadits dan memberikan pengajaran. Ia adalah seorang syekh yang baik, berwibawa, banyak beribadah dan kebaikan. Ia meninggal pada bulan Ramadhan tahun ini dalam usia seratus tujuh tahun, semoga Allah Ta’ala merahmatinya dan meridhainya, amin.
Kemudian masuklah tahun 537 Hijriah
Pada tahun ini Imad ad-Din Zanki menguasai al-Haditsah, memindahkan Bani Maharisy dari sana ke Mosul, dan mengangkat wakil-wakil dari pihaknya di sana.
Kemudian masuklah tahun 538 Hijriah
Pada tahun ini Sultan Mas’ud bersiap untuk merebut Mosul dan Syam dari Imad ad-Din Zanki. Zanki berdamai dengannya dengan seratus ribu dinar. Ia menyerahkan dua puluh ribu dinar darinya dan Sultan membebaskan sisanya. Sebabnya adalah bahwa putranya, Saif ad-Din Ghazi, selalu dalam pelayanan Sultan.
Pada tahun ini Zanki menguasai sebagian wilayah Bakr. Pada tahun ini Malik Sanjar mengepung Khwarazm Syah, kemudian mengambil harta darinya dan membebaskannya.
Pada tahun ini ditemukan seorang lelaki yang berbuat mesum dengan seorang anak, maka ia dilempar dari puncak menara. Pada malam Selasa tanggal dua puluh empat Dzulqaidah terjadi gempa bumi. Nazhar al-Khadim memimpin haji untuk orang-orang, semoga Allah Ta’ala membalasnya.
Orang-orang terkemuka yang meninggal pada tahun ini:
Abdul Wahhab bin al-Mubarak bin Ahmad Abu al-Barakat al-Anmathi al-Hafizh, mendengar banyak hadits dan meriwayatkannya. Ia adalah orang yang terpercaya, religius, wara’, berwajah cerah, dan berakhlak baik. Ia meninggal pada bulan Muharram dalam usia sembilan puluh enam tahun.
Ali bin Tharad bin Muhammad bin Ali az-Zaynabi, Wazir al-Abbasi Abu al-Qasim, Naqib an-Nuqaba’ untuk kedua kelompok pada zaman al-Mustazhhir, menjadi wazir untuk al-Musytarsyid al-Muqtafi, kemudian dicopot dan dikembalikan. Tidak ada orang Abbasi lain yang menjabat sebagai wazir selain dirinya. Ia telah mendengar banyak hadits dan memberikan pengajaran. Ia meninggal pada bulan Ramadhan dalam usia tujuh puluh enam tahun, semoga Allah merahmatinya.
Az-Zamakhsyari, Mahmud bin Umar bin Muhammad bin Umar Abu al-Qasim az-Zamakhsyari, pengarang al-Kasysyaf dalam tafsir dan al-Mufashshal dalam nahwu, serta karya-karya bermanfaat lainnya. Ia telah mendengar hadits dan berkeliling negeri dalam mencari ilmu, serta menetap di Mekah beberapa waktu. Ia menampakkan mazhab Muktazilah dan menyatakannya secara terang-terangan dalam tafsirnya serta berdebat membelanya. Kemudian ia meninggal di Khwarazm pada malam Arafah tahun ini dalam usia tujuh puluh enam tahun.
Kemudian masuklah tahun 539 Hijriah
Pada tahun ini al-Imad Zanki merebut ar-Ruhha dan benteng-benteng Jazirah lainnya dari tangan Franka. Ia membunuh banyak dari mereka, menawan banyak wanita, memperoleh harta yang berlimpah, dan menghilangkan kesusahan besar yang dialami kaum muslimin, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan.
Nazhar al-Khadim, Amirul Juyusy, memimpin haji untuk orang-orang. Terjadi persaingan antara dia dan Amir Mekah sehingga jamaah haji dirampok saat mereka sedang thawaf.
Orang-orang terkemuka yang meninggal pada tahun ini:
Ibrahim bin Muhammad bin Manshur bin Umar Abu al-Walid al-Karkhi, mempelajari fikih dari Syekh Abu Ishaq dan Abu Sa’d al-Mutawalli hingga menjadi orang paling unggul di zamannya dalam fikih dan kesalehan. Ia meninggal pada tahun ini.
Sa’d bin Muhammad bin Umar Abu Manshur ar-Razzaz, mendengar hadits dan mempelajari fikih dari al-Ghazali, asy-Syasyi, al-Mutawalli, Ilkiya al-Harasi, dan As’ad al-Mayhani. Ia mengajar di an-Nizhamiyah, memiliki sikap yang baik, berwibawa, dan tenang. Hari pemakamannya sangat berkesan. Ia dimakamkan di dekat Syekh Abu Ishaq.
Umar bin Ibrahim bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad bin Ali bin al-Husain bin Ali bin Hamzah bin Yahya bin al-Husain bin Zaid bin Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib al-Qurasyi al-Alawi Abu al-Barakat al-Kufi kemudian al-Baghdadi, mendengar banyak hadits dan menulis banyak. Ia menetap di Damaskus beberapa waktu dan memiliki pengetahuan yang baik dalam fikih, hadits, tafsir, bahasa, dan adab. Ia memiliki karya-karya dalam ilmu nahwu. Ia hidup sederhana, sabar, dan tabah. Ia meninggal pada bulan Sya’ban tahun ini dalam usia sembilan puluh tujuh tahun, semoga Allah Ta’ala merahmatinya.
Kemudian Masuklah Tahun Lima Ratus Empat Puluh Hijriah
Pada tahun ini Ali bin Dubais mengepung saudaranya Muhammad dan tidak berhenti mengepungnya hingga ia merebut kota Hillah dari tangannya dan menguasainya. Pada bulan Rajab tahun ini, Sultan Mas’ud memasuki Baghdad karena takut akan persekutuan Abbas penguasa Ray dengan Muhammad Syah bin Mahmud, kemudian ia keluar darinya pada bulan Ramadan. Yang memimpin haji pada tahun ini adalah Qayimaz Al-Arjuwani, mamluk dari Amirul Juyusy Nazhar; karena peristiwa yang terjadi antara Nazhar dengan Amir Mekah pada tahun sebelumnya.
Dan di antara tokoh yang wafat pada tahun ini:
Ahmad bin Muhammad bin Al-Hasan bin Ali bin Ahmad bin Sulaiman Abu Sa’d Al-Ashbahani kemudian Al-Baghdadi
Ia mendengar hadits dan menempuh jalan para Salaf, bersifat ramah dan melepaskan beban, kadang-kadang ia keluar ke pasar hanya dengan mengenakan baju dan peci. Ia berhaji sebelas kali dan biasa mendiktekan hadits serta banyak berpuasa. Ia wafat di Nahawand pada bulan Rabiul Awal tahun ini dalam usia mendekati delapan puluh tahun.
Ali bin Ahmad bin Al-Husain bin Ahmad Abu Al-Hasan Al-Yazdi
Ia berguru fiqih kepada Abu Bakar As-Syasyi, mendengar hadits dan mengajarkannya. Ia dan saudaranya memiliki satu baju dan satu sorban, jika yang ini keluar maka yang lain duduk di rumah, demikian pula sebaliknya.
Mauhub bin Ahmad bin Muhammad bin Al-Khidhr Abu Manshur Al-Jawaliqi
Syaikhul Lughah (Guru Besar Bahasa) pada zamannya, ia memegang jabatan guru bahasa di Madrasah Nizhamiyyah menggantikan gurunya Abu Zakariya At-Tabrizi selama beberapa waktu. Ia menjadi imam shalat bagi Al-Muqtafi, dan kadang-kadang Khalifah membaca beberapa kitab kepadanya. Ia adalah orang yang berakal, rendah hati dalam berpakaian, panjang diamnya, banyak berpikirnya. Ia memiliki halaqah di Masjid Jami’ Al-Qashr pada hari-hari Jumat. Pada dirinya terdapat pelo. Duduk di sampingnya adalah Al-Maghribi sang penafsir mimpi, seorang yang fadhil tetapi banyak mengantuk dalam majelisnya. Seorang sastrawan berkata tentang keduanya:
Baghdad menurutku dosanya tak akan terampuni… Dan cacatnya terbuka tak akan tertutupi
Karena Al-Jawaliqi di dalamnya menjadi pendiktar… Bahasa, dan karena Al-Maghribi menjadi penafsir
Terpenjara pelonya ia mengatakan fasih… Dan seorang pengantuk yang terjaganya menafsir dalam mimpi
Kemudian Masuklah Tahun Lima Ratus Empat Puluh Satu Hijriah
Pada malam awal bulan Rabiul Awal tahun ini terbakar istana yang dibangun oleh Al-Musyarsyid, yang sangat indah. Khalifah Al-Muqtafi telah pindah bersama para jariyah dan selir-selirnya ke istana itu untuk tinggal selama tiga hari. Tidak lama setelah mereka tidur, istana terbakar menimpa mereka; karena seorang jariyah mengambil lilin di tangannya dan apinya mengenai beberapa kayu; sehingga istana terbakar. Allah selamatkan Khalifah dan keluarganya. Ketika pagi tiba ia bersedekah dengan banyak harta dan membebaskan banyak orang dari tahanan.
Pada bulan Rajab tahun ini terjadi perselisihan antara Khalifah dengan Sultan Mas’ud, kemudian Khalifah mengirim utusan ke masjid-masjid jami’ dan masjid-masjid, lalu ditutup selama tiga hari hingga mereka berdamai.
Pada hari Jumat pertengahan bulan Dzulqaidah, Ibnu Al-‘Abadi sang penceramah duduk untuk berceramah dengan hadirnya Sultan Mas’ud. Sultan telah menetapkan pajak yang berlebihan pada perdagangan rakyat. Ibnu Al-‘Abadi berkata dalam ceramahnya: “Wahai Sultan dunia, engkau terkadang memberikan kepada penyanyi ketika engkau merasa senang, hampir sebesar pajak yang engkau bebankan kepada kaum muslimin ini, maka anggaplah aku sebagai penyanyi dan engkau telah merasa senang, maka bebaskan pajak ini untukku, sebagai syukur atas nikmat Allah kepadamu.” Sultan memberi isyarat dengan tangannya bahwa aku telah melakukannya, maka orang-orang berdoa untuknya. Surat-surat ditulis tentang hal itu dan diumumkan di negeri tentang penghapusan pajak tersebut. Orang-orang bergembira karenanya, segala puji dan karunia bagi Allah.
Pada tahun ini hujan sangat sedikit, air sungai-sungai berkurang, belalang besar menyebar, dan orang-orang diserang penyakit di tenggorokan mereka sehingga banyak orang meninggal karenanya, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali).
Pada tahun ini terbunuh Al-Malik ‘Imaduddin Zanki bin Qasimud Daulah Aq Sunqur At-Turki, penguasa Mosul, Aleppo dan wilayah lain dari negeri Syam dan Jazirah. Ia sedang mengepung benteng Ja’bar, di dalamnya Salim bin Malik Al-‘Uqaili. Beberapa mamluk Zanki menyuap hingga mereka membunuhnya pada malam kelima bulan Rabiul Awal tahun ini. Al-‘Imad Al-Katib berkata: Ia sedang mabuk, wallahu a’lam (Allah lebih mengetahui).
Ia termasuk raja-raja terbaik dan yang paling baik sirah dan rupanya. Ia adalah pejuang yang pemberani, tegas, raja-raja perbatasan tunduk kepadanya. Ia adalah orang yang paling keras ghirah (cemburu) terhadap wanita rakyat, yang paling dermawan di antara para raja dalam bermuamalah, dan yang paling lembut kepada rakyat jelata. Setelahnya, yang berkuasa di Mosul adalah anaknya Saifuddin Ghazi, dan di Aleppo anaknya Nuruddin Mahmud. Nuruddin ini merebut kembali kota Ar-Ruha yang telah dibuka oleh ayahnya, kemudian penduduknya memberontak lalu ia menaklukkan mereka.
Pada tahun ini Abdul Mu’min penguasa Maghrib menguasai Pulau Andalusia setelah peperangan panjang. Pada tahun ini bangsa Franka – semoga Allah melaknat mereka – menguasai kota Tripoli Barat. Pada tahun ini penguasa Damaskus merebut kembali kota Ba’labak, di dalamnya Amir Najmuddin Ayyub dari pihak Zanki, ia menyerahkan benteng kepadanya dan memberinya komandannya di sisinya di Damaskus.
Pada tahun ini Sultan Mas’ud membunuh haajibnya (kepala pengawal) Abdurrahman Thughayirak dan membunuh Abbas penguasa Ray serta melemparkan kepalanya kepada pengikutnya. Orang-orang panik dan menjarah tenda-tenda Abbas ini. Abbas termasuk pejuang terkenal yang berani, ia memerangi kaum Bathiniyyah bersama tuannya Jauhar dan terus membunuh mereka hingga ia membangun menara dari kepala-kepala mereka di kota Ray.
Pada tahun ini meninggal Naqibun Nuqaba (ketua para ketua nasab) di Baghdad Muhammad bin Tharad Az-Zainibi, maka setelahnya menjabat Ali bin Thalhah Az-Zainibi. Pada tahun ini tembok roboh menimpa putri Khalifah yang telah baligh, lalu ia meninggal. Pemakamannya dihadiri oleh para pembesar.
Yang memimpin haji adalah Nazhar Al-Khadim. Pada tahun ini berhaji Nizhamuddin bin Jahir sang wazir.
Dan di antara tokoh yang wafat pada tahun ini:
Zanki bin Aq Sunqur
Telah disebutkan sesuatu dari biografinya dalam peristiwa-peristiwa. Asy-Syaikh Syihabuddin Abu Syamah telah menguraikan panjang lebar dalam “Ar-Raudhatayn” tentang biografinya dan apa yang diucapkan tentangnya dari puisi dan prosa, rahimahullah.
Sa’d Al-Khair bin Muhammad bin Sahl bin Sa’d Abu Al-Hasan Al-Maghribi Al-Andalusi Al-Anshori
Ia melakukan perjalanan dari Andalusia hingga ke China, mendengar hadits dan berguru fiqih kepada Al-Ghazali, mengumpulkan kitab-kitab berharga, dan meriwayatkan darinya Ibnu Al-Jauzi dan lainnya. Ketika wafat di Baghdad ia berwasiat agar yang menshalatkannya adalah Al-Ghaznawi, dan agar dikuburkan di samping makam Abdullah bin Imam Ahmad. Pemakamannya dihadiri banyak orang.
Syafi’ bin Abdurrasyid bin Al-Qasim Abu Abdullah Al-Jaili Asy-Syafi’i
Ia berguru fiqih kepada Ilkiya Al-Harasi dan kepada Al-Ghazali. Ia tinggal di Al-Karkh dan memiliki halaqah di Masjid Jami’ Al-Manshur di serambi. Ibnu Al-Jauzi berkata: “Aku menghadiri halaqahnya.”
Abdullah bin Ali bin Ahmad bin Abdullah Abu Muhammad, cucu Abu Manshur Az-Zahid
Ia membaca qira’at dan menyusun kitab tentangnya, mendengar banyak hadits, mengumpulkan kitab-kitab bagus, dan menjadi imam di masjidnya selama lebih dari lima puluh tahun, mengajarkan Al-Quran kepada banyak orang. Ibnu Al-Jauzi berkata: “Aku tidak pernah mendengar siapapun yang lebih baik bacaannya darinya.” Pemakamannya dihadiri banyak orang.
Abbas, Syahnah (Gubernur Keamanan) Ray
Ia berhasil menguasainya, kemudian dibunuh oleh Mas’ud sebagaimana kami sebutkan. Ia banyak bersedekah dan berbuat baik kepada rakyat, membunuh banyak kaum Bathiniyyah, dan membangun menara dari kepala-kepala mereka di Ray. Orang-orang bersedih atasnya, rahimahullah.
Muhammad bin Tharad bin Muhammad Az-Zainibi Abu Al-Hasan, Naqibun Nuqaba Al-Hasyimiyyin
Ia adalah saudara Ali bin Tharad sang wazir, mendengar banyak hadits dari ayahnya, pamannya Abu Nashr dan lainnya, dan usianya mendekati tujuh puluh tahun.
Wajih bin Thahir bin Muhammad Abu Bakar Asy-Syahami
Saudara Zahir, ia telah mendengar banyak hadits dan memiliki pengetahuan tentangnya. Ia adalah syaikh yang tampan wajahnya, cepat meneteskan air mata, banyak berdzikir, sanadnya shahih dan lisannya jujur. Ia wafat di Baghdad pada tahun ini.
Kemudian Masuklah Tahun Lima Ratus Empat Puluh Dua Hijriah
Pada tahun ini bangsa Franka menguasai beberapa benteng dari Pulau Andalusia. Pada tahun ini Nuruddin bin Mahmud Zanki menguasai beberapa benteng dari tangan bangsa Franka di pesisir dan lainnya. Pada tahun ini dikhotbahkan untuk Al-Mustanjid Billah sebagai waliahad setelah ayahnya Al-Muqtafi. Pada tahun ini ‘Aunuddin Yahya bin Hubairah menjabat sekretaris Diwanuz Zamam, dan Za’imuddin Yahya bin Ja’far menjabat Shadriyatul Makhzanil Ma’mur. Pada tahun ini kelaparan melanda Afrika sehingga kebanyakan orang binasa karenanya hingga rumah-rumah kosong dan benteng-benteng sepi.
Pada tahun ini Saifuddin Ghazi menikahi putri penguasa Mardin Husamuddin Tamrtasy bin Artuq setelah mengepungnya lalu berdamai dengannya atas hal tersebut. Ia dibawa kepadanya ke Mosul setelah dua tahun, sedangkan ia sakit dan hampir meninggal, namun ia tidak sempat menyetubuhinya hingga ia meninggal. Setelahnya menjabat saudaranya Quthb bin Maudud yang lalu menikahinya.
Ibnu Al-Jauzi berkata: Pada bulan Safar seorang laki-laki bermimpi ada yang berkata kepadanya: “Barangsiapa menziarahi makam Ahmad bin Hanbal, diampuni dosanya.” Ia berkata: “Tidak ada seorangpun baik khusus maupun umum kecuali menziarahinya.” Ibnu Al-Jauzi berkata: “Aku mengadakan majelis pada hari itu dan berkumpul di dalamnya ribuan orang.”
Dan di antara tokoh yang wafat pada tahun ini:
As’ad bin Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Abdush-Shamad bin Al-Muhtadi Billah Abu Manshur
Ia mendengar banyak hadits, adalah orang baik, religius, saleh, menikmati indera dan kekuatannya hingga saat wafat, dan telah melampaui seratus tahun sekitar tujuh tahun.
Abu Muhammad Abdullah bin Ali bin Abdullah bin Khalaf bin Ahmad bin Umar Al-Lakhmi Al-Andalusi Ar-Rusyathi Al-Hafizh
Penyusun kitab “Iqtibasul Anwar wal Timasu az-Azhar” tentang nasab para sahabat dan perawi atsar, dan ini termasuk dari karya terbaik yang besar. Ia terbunuh syahid pada pagi hari Jumat tanggal dua puluh bulan Jumada di Al-Mariyyah.
Nashrullah bin Muhammad bin Abdul Qawi Abu Al-Fath Al-Ladziqi Al-Mashishi Asy-Syafi’i
Ia berguru fiqih kepada Asy-Syaikh Nashr bin Ibrahim Al-Maqdisi di Shur, mendengar hadits darinya dan dari Abu Bakar Al-Khatib, dan mendengar di Baghdad dan Al-Anbar. Ia adalah salah seorang mashayikh Syam yang faqih dalam ushul dan furu’. Wafatnya pada tahun ini dalam usia melampaui sembilan puluh empat tahun.
Hibatullah bin Ali bin Muhammad bin Hamzah Abu As-Sa’adat Ibnus Syajari An-Nahwi
Ia lahir tahun empat ratus lima puluh, mendengar hadits dan kepemimpinan para ahli nahwu sampai kepadanya. Ia berkata: “Aku tidak pernah mendengar syair celaan yang lebih balig dari ucapan Miskawih:
Dan aku tidak lain adalah misk yang telah hilang di sisimu… Ia hilang padahal di sisi kebanyakan orang ia harum
Kemudian Masuklah Tahun Lima Ratus Empat Puluh Tiga
Pada tahun ini Mujir al-Din bin Atabak Damaskus meminta pertolongan kepada al-Malik Nur al-Din penguasa Aleppo untuk melawan Franka. Maka Nur al-Din bergerak dengan cepat dan bertempur dengan mereka di tanah Busra, lalu mengalahkan mereka dan kembali. Ia turun di al-Kiswah dan raja Damaskus, Mujir al-Din Abaq keluar menemuinya, melayaninya dan menghormatinya. Penduduk Damaskus menyaksikan kehormatan Nur al-Din.
Pada tahun ini Franka menguasai al-Mahdiyah dan penguasanya, al-Hasan bin Ali bin Yahya bin Tamim bin al-Mu’izz bin Badis bin Manshur bin Yusuf bin Buluggin bin Ziri melarikan diri dengan keluarga dan harta benda yang dapat dibawa. Mereka bercerai-berai di berbagai negeri dan dimakan oleh berbagai wilayah. Dia adalah raja terakhir dari Bani Badis. Permulaan kerajaan mereka adalah pada tahun tiga ratus tiga puluh lima. Franka masuk ke kota itu sementara perbendaharaannya penuh dengan hasil bumi, harta, perlengkapan dan lain-lain. Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.
Pada tahun ini Franka mengepung Damaskus—mereka berjumlah tujuh puluh ribu pejuang, bersama mereka ada raja Jerman dengan pasukan yang tidak dapat dihitung kecuali oleh Allah Yang Maha Mulia. Damaskus saat itu dipimpin oleh Mujir al-Din Abaq dan atabaknya Mu’in al-Din, yang merupakan pengatur kerajaan. Itu terjadi pada hari Sabtu tanggal enam Rabi’ul Awal. Penduduk kota keluar menghadapi mereka dengan seratus tiga puluh ribu orang. Mereka berperang dengan dahsyat. Dari kaum muslimin terbunuh pada hari pertama sekitar dua ratus orang, sedangkan dari Franka terbunuh banyak orang yang tak terhitung. Perang berlanjut beberapa waktu. Mushaf Utsman dikeluarkan ke tengah halaman masjid dan orang-orang berkumpul di sekelilingnya berdoa kepada Allah Yang Maha Mulia, kaum wanita dan anak-anak membuka kepala mereka berdoa dan menangis, abu ditaburkan di kota. Lalu Abaq meminta pertolongan kepada al-Malik Nur al-Din Mahmud penguasa Aleppo dan kepada saudaranya Saif al-Din Ghazi penguasa Mosul. Mereka segera datang dengan sekitar tujuh puluh ribu pasukan bersama raja-raja dan yang lain yang bergabung dengan mereka. Ketika Franka—semoga Allah membinasakan mereka—mendengar kedatangan pasukan itu, mereka meninggalkan kota. Pasukan mengejar mereka dan membunuh banyak dari mereka dalam jumlah besar. Di antara yang terbunuh bersama mereka adalah seorang pendeta bernama Ilyas, dialah yang menghasut mereka untuk menyerang Damaskus. Ia telah membuat-buat mimpi tentang al-Masih yang menjanjikannya penaklukan Damaskus. Maka ia terbunuh, semoga Allah melaknatnya. Mereka hampir saja merebut kota itu tetapi Allah menyelamatkannya, melindunginya dengan kekuatan dan kekuasaan-Nya. Allah berfirman: “Dan sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” (Al-Baqarah: 251). Dan Allah berfirman: “Dan sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah.” (Al-Hajj: 40). Kota Damaskus tidak dapat dijangkau oleh musuh-musuh dari kalangan kafir, karena ia adalah tempat yang telah diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai benteng Islam saat terjadi peperangan dan fitnah, dan di sana Isa bin Maryam akan turun. Franka telah membunuh banyak penduduk Damaskus. Di antara yang terbunuh adalah faqih besar yang bergelar Hujjat al-Din, syaikh madzhab Maliki di sana, Abu al-Hajjaj Yusuf bin Dunas al-Fandalawi di tanah al-Nairab. Ia dikubur di pemakaman Bab al-Shaghir. Mu’in al-Din membuat perdamaian dengan Franka tentang Damaskus dengan memberikan Banyas, maka mereka meninggalkan Damaskus dan menguasai Banyas.
Pada tahun ini terjadi perselisihan antara Sultan Mas’ud dengan para amirnya sehingga mereka meninggalkannya dan pergi ke Baghdad. Mereka berperang dengan rakyat dan membunuh banyak dari mereka, kecil dan besar. Kemudian mereka berkumpul di hadapan al-Taj, mencium tanah dan meminta maaf kepada khalifah atas apa yang terjadi. Mereka pergi ke arah al-Nahrawan lalu bercerai-berai di berbagai negeri dan merampok penduduknya. Harga-harga menjadi mahal di Irak karena itu.
Pada tahun ini Abu al-Hasan Ali bin Ahmad bin Ali bin al-Damighani diangkat sebagai qadhi al-qudhah (hakim agung) di Baghdad menggantikan al-Zainabi. Pada tahun ini Suri bin al-Husain, raja Ghur, menguasai kota Ghaznah. Penguasanya, Bahram Syah bin Mas’ud dari keturunan Sabuktakin pergi ke India meminta bantuan rajanya. Ia datang dengan pasukan yang besar dan merebut kembali Ghaznah dari tangan Suri dan menangkapnya sebagai tawanan lalu menyalibnya. Padahal ia adalah orang yang mulia, dermawan, banyak bersedekah.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini:
Ibrahim bin Muhammad bin Nabhan bin Muhriz al-Ghanawi al-Raqqi, mendengar hadits dan belajar fiqih dari al-Syasyi dan al-Ghazali. Ia menulis banyak dari karya-karya mereka dan membacakannya kepada mereka. Ia banyak menemani mereka. Ia berwibawa, banyak diam, tampan penampilannya. Ia wafat pada bulan Dzulhijjah tahun ini dalam usia lebih dari delapan puluh tahun.
Syahanshah bin Ayyub bin Syadzi, gugur sebagai syahid bersama Nur al-Din. Ia adalah ayah dari al-Sitt ‘Adhra’ yang mewakafkan al-‘Adhrawi-yyah, Taqi al-Din Umar yang mewakafkan al-Taqawi-yyah dan lain-lain.
Ali bin al-Husain bin Muhammad bin Ali al-Zainabi Abu al-Qasim al-Akmal bin Abi Thalib Nur al-Huda bin Abi al-Hasan Nizam al-Hadlratain, putra naqib al-nuqaba Abu al-Qasim putra al-Qadli Abu Tammam al-‘Abbasi, qadhi al-qudhah di Baghdad, Irak dan lain-lain. Ia mendengar hadits dan merupakan faqih yang terpandang, berwibawa, berpenampilan baik, sedikit bicara. Ia bepergian bersama khalifah al-Rasyid ke Mosul dan mengalami berbagai peristiwa. Kemudian ia kembali ke Baghdad dan wafat di sana pada tahun ini dalam usia lebih dari enam puluh tahun. Pemakamannya sangat meriah. Semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas.
Abu al-Hajjaj Yusuf bin Dunas al-Fandalawi, syaikh madzhab Maliki di Damaskus. Ia terbunuh pada hari Sabtu tanggal enam Rabi’ul Awal—dekat dengan al-Rabwah di tanah al-Nairab—bersama dengan Syaikh Abd al-Rahman al-Halhuli, salah seorang zahid. Keduanya terbunuh bersama-sama. Semoga Allah merahmati keduanya.
Kemudian Masuklah Tahun Lima Ratus Empat Puluh Empat
Pada tahun ini wafat al-Qadli ‘Iyadl bin Musa bin ‘Iyadl bin ‘Amr bin Musa bin ‘Iyadl bin Muhammad bin Musa bin ‘Iyadl al-Yahshubi al-Sabti, hakim kota itu, salah satu dari para syaikh ulama madzhab Maliki dan penulis banyak karya yang bermanfaat, di antaranya adalah asy-Syifa’, Syarh Muslim, Mashariq al-Anwar dan lain-lain. Ia memiliki syair yang bagus dan merupakan imam dalam banyak ilmu seperti fiqih, bahasa, hadits, sastra dan sejarah manusia. Ia lahir tahun empat ratus empat puluh enam dan wafat pada hari Jumat bulan Jumadil Akhir, ada yang mengatakan pada bulan Ramadhan tahun ini di kota Sabtah. Semoga Allah merahmatinya.
Pada tahun ini al-Malik Nur al-Din Mahmud bin Zanki penguasa Aleppo menyerang negeri Franka dan membunuh banyak dari mereka. Di antara yang terbunuh adalah al-Barnas penguasa Antakia. Ia membuka banyak benteng mereka. Segala puji dan terima kasih bagi Allah. Ia telah meminta bantuan dari Mu’in al-Din bin Atabak Damaskus, maka ia mengirimkan sebagian pasukannya bersama Amir Mujahid al-Din bin Bazan bin Mamin, wakil Sarkhad. Mereka berjuang dengan baik. Para penyair mengarang banyak syair tentang peperangan ini, di antaranya Ibn al-Qaisarani dan lainnya. Abu Syamah telah menyebutkan syair-syair itu dalam ar-Raudlatain.
Pada hari Rabu tanggal tiga Rabi’ul Akhir, Abu al-Muzhaffar Yahya bin Hubairah diangkat sebagai wazir khalifah dan diberi gelar ‘Aun al-Din serta diberikan pakaian khusus kepadanya.
Pada bulan Rajab, Malikshah bin Mahmud pergi ke Baghdad bersama banyak amir, bersama mereka Ali bin Dubais dan sejumlah orang Turkman dan lain-lain. Mereka meminta khalifah agar khutbah disebutkan atas namanya, tetapi ia menolak. Surat-menyurat berlangsung berkali-kali. Khalifah mengirim surat kepada Sultan Mas’ud mendesaknya untuk datang tetapi ia memperlambat. Situasi menjadi sempit dan masalah melebar. Raja Sanjar menulis kepada keponakannya Mas’ud mendesaknya, jika ia tidak segera datang kepada khalifah. Ia baru datang pada akhir tahun, maka semua kejahatan itu menghilang dan berubah menjadi kegembiraan semuanya.
Pada tahun ini bumi berguncang dengan dahsyat, bumi bergerak sepuluh kali, gunung di Halwan terbelah, ribath al-Bahrauzi runtuh, dan banyak orang meninggal karena demam tinggi. Para pasien tidak berbicara sampai mereka meninggal.
Pada tahun ini wafat Saif al-Din Ghazi bin Zanki penguasa Mosul. Setelahnya yang berkuasa adalah saudaranya Qutb al-Din Maudud bin Zanki. Ia menikahi istri saudaranya yang belum digauli, al-Khatun binti Temurtasy bin Ilghazi bin Artuq penguasa Mardin. Ia melahirkan anak-anak untuknya yang semuanya menguasai Mosul. Al-Khatun ini membuka kerudungnya di hadapan lima belas raja. Pada tahun ini Nur al-Din pergi ke Sinjar dan membukanya. Saudaranya Qutb al-Din Maudud mengirim pasukan kepadanya untuk mengusirnya dari sana. Kemudian mereka berdamai dan ia menggantinya dengan al-Rahabah dan Homs. Sinjar tetap untuk Qutb al-Din, dan Nur al-Din kembali ke negerinya. Ia menyerang Franka pada tahun ini dan membunuh banyak dari mereka serta menawan al-Barnas penguasa Antakia. Para penyair memujinya, di antaranya al-Fath al-Qaisarani dengan qasidah yang menggelegar, ia berkata di awalnya:
Inilah tekad-tekad yang sejati, bukan yang diklaim pedang Dan inilah kemuliaan-kemuliaan, bukan yang dikatakan kitab-kitab Dan inilah semangat-semangat yang bila dituntut Syair dan pidato tersandung mengikutinya Engkau telah berjabat tangan wahai putra ‘Imad al-Din dengan puncaknya Dengan telapak tangan yang untuk usaha-usaha, di bawahnya ada kepayahan Kakekmu terus membangun setiap yang tinggi Hingga ia membangun kubah yang tiang-tiangnya adalah meteor
Pada tahun ini Nur al-Din membuka benteng Afamiyah yang dekat dengan Hamah.
Pada tahun ini wafat penguasa Mesir al-Hafizh li-Din Allah ‘Abd al-Majid bin Abi al-Qasim Muhammad bin al-Mustanshir. Setelahnya yang memegang kekuasaan adalah anaknya al-Zhafir Isma’il. Ahmad bin al-Afdlal bin Amir al-Juyusy telah menguasai al-Hafizh dan berkhutbah di Mesir untuk al-Qa’im Akhir al-Zaman, dan mengumandangkan adzan dengan “hayya ‘ala khair al-‘amal”. Al-Hafizh adalah yang menciptakan gendang qaulanj yang apabila dipukul oleh orang yang menderita qaulanj (sakit perut), penyakit qaulanj dan angin di dalamnya akan keluar. Jamaah haji dipimpin oleh Amir Nazhar al-Khadim. Ia sakit di Kufah lalu kembali dan menunjuk budaknya Qayimaz sebagai penggantinya. Ketika ia tiba di Baghdad, beberapa hari kemudian ia wafat, semoga Allah merahmatinya. Orang-orang Arab mengambil kesempatan terhadap jamaah haji dan menghadang mereka di jalan ketika mereka pulang. Qayimaz lemah dalam menghadapi mereka, maka ia mengambil jaminan keselamatan untuk dirinya dan melarikan diri, menyerahkan jamaah haji kepada mereka. Mereka membunuh sebagian besar dari mereka dan mengambil harta orang-orang. Sedikit yang selamat dari yang lolos. Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.
Pada tahun ini wafat Mu’in al-Din Anur, atabak pasukan di Damaskus. Ia adalah salah seorang budak Tughtikin, kemudian setelah itu ia menjadi atabak para raja di Damaskus. Ia adalah ayah dari al-Sitt ‘Ishmat al-Din Khatun istri al-Malik Nur al-Din, dan ia yang mewakafkan al-Madrasah al-Mu’iniyyah di dalam Bab al-Faraj. Kuburnya ada di kubah selatan al-Syamiyyah al-Barranniyah di kampung al-‘Uwainah dekat Dar al-Battikh. Semoga Allah merahmatinya.
Ketika Mu’in al-Din wafat, kekuatan al-Wazir al-Ra’is Mu’ayyid al-Daulah Ali bin al-Shufi dan saudaranya Zain al-Daulah Haidarah menguat. Terjadi perselisihan antara mereka dengan al-Malik Mujir al-Din Abaq yang menyebabkan mereka mengumpulkan rakyat jelata dan orang-orang awam untuk melawannya. Mereka berperang dan banyak yang terbunuh dari kedua belah pihak, kemudian terjadi perdamaian setelah itu. Para penyair memujinya.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini:
Ahmad bin Nizham al-Mulk al-Hasan bin Ali Abu Nashr, wazir untuk al-Mustarsy̧id dan Sultan Mahmud. Ia mendengar hadits dan termasuk wazir-wazir yang baik. Semoga Allah merahmatinya.
Ahmad bin Muhammad bin al-Husain al-Arjani, hakim Tustar. Ia meriwayatkan hadits dan memiliki syair yang bagus dengan makna-makna yang indah. Di antaranya ucapannya:
Ketika aku menguji manusia mencari dari mereka Seorang saudara yang dapat dipercaya saat kesulitan datang Aku berharap dalam keadaan lapang dan susahku Dan aku berseru di antara orang-orang hidup: adakah yang menolong Aku tidak melihat dalam yang menyakitkanku kecuali yang bergembira Dan aku tidak melihat dalam yang menyenangkanku kecuali yang iri Bergembiralah kalian berdua wahai mataku dengan satu pandangan Dan kalian berdua telah membawa hatiku ke tempat minum yang pahit Wahai mataku, berhentilah dari hatiku karena sesungguhnya itu Dari kezaliman, usaha dua orang dalam membunuh satu orang
‘Isa bin Hibatullah, Abu ‘Abdullah al-Naqqasy, mendengar hadits. Kelahirannya tahun empat ratus lima puluh tujuh.
Ibn al-Jauzi berkata: Ia adalah orang yang jenaka, ringan jiwa, memiliki hal-hal lucu yang bagus. Ia telah melihat orang-orang dan bergaul dengan orang-orang cerdas. Ia menghadiri majeliseku dan menulis surat kepadaku dan aku menulis surat kepadanya. Aku pernah menulis kepadanya dan mengagungkannya dalam tulisan, maka ia menulis kepadaku:
Engkau telah menambahiku dalam sapaan sehingga Aku takut kekurangan dari kelebihan Maka jadikanlah sapaanku sapaan seperiku Dan jangan ubah kebiasaanku
Dan miliknya:
Jika orang tua menemukan dalam dirinya Semangat maka itulah kematian yang tersembunyi Tidakkah engkau lihat bahwa cahaya pelita Memiliki nyala sebelum ia padam
Ghazi bin Aq Sunqur al-Malik Saif al-Din, penguasa Mosul. Ia adalah saudara Nur al-Din Mahmud penguasa Aleppo kemudian Damaskus setelah itu. Saif al-Din ini termasuk raja-raja yang terbaik, yang paling baik tingkah lakunya, yang paling baik batinnya, yang paling tampan rupanya, pemberani, mulia. Ia menyembelih setiap hari untuk pasukannya seratus ekor kambing, untuk budak-budaknya tiga puluh ekor, dan pada hari raya seribu ekor selain sapi dan ayam. Ia adalah orang pertama yang membawa di atas kepalanya bendera dari para raja daerah. Ia memerintahkan pasukan agar tidak berkuda kecuali dengan pedang dan pentungan. Ia membangun madrasah di Mosul dan ribath untuk para sufi. Al-Haish Baish memujinya maka ia memberinya seribu dinar tunai dan pakaian khusus.
Ketika ia wafat karena demam pada bulan Jumadil Akhir tahun ini, ia dimakamkan di madrasahnya yang telah disebutkan. Usianya ketika itu empat puluh tahun, dan masa pemerintahannya setelah ayahnya adalah tiga tahun lima puluh lima hari, semoga Allah merahmatinya.
Nazhar al-Khadim, Amirul Haji
Selama dua puluh tahun lebih, ia mendengar hadits dan belajar kepada Ibnu az-Zaghuni. Ia mencintai ilmu, sedekah, dan kebajikan. Jamaah haji bersamanya dalam ketenangan dan keamanan yang sempurna, hal itu karena keberaniannya dan kewibawaannya di sisi para khalifah, raja-raja, dan para amir.
Ia wafat pada malam Selasa tanggal sebelas Dzulqaidah, dan dimakamkan di Rusafah.
Pada tahun ini Nuruddin Mahmud menaklukkan benteng Afamiyah, yang merupakan salah satu benteng paling kukuh dan daerah paling luas. Ada yang mengatakan pada tahun sebelumnya.
Pada tahun ini ia menuju Damaskus namun tidak berhasil merebutnya, maka ia menganugerahkan pakaian kehormatan kepada rajanya Mujiiruddin Abaq dan kepada waziirnya ar-Rais Ibnu ash-Shufi, dan keadaan ditetapkan bahwa khutbah untuknya di sana setelah Khalifah dan Sultan, demikian pula mata uang.
Pada tahun ini Nuruddin menaklukkan benteng Azaz dan menawan rajanya Ibnu Jauslin. Kaum muslimin semua bergembira dengan hal itu. Kemudian setelahnya ia menawan ayahnya Jauslin, raja Franka, maka kegembiraan menjadi lebih besar lagi. Setelah menawannya, ia menaklukkan banyak benteng dari negeri-negerinya. Segala puji dan karunia bagi Allah, dengan-Nya taufik dan perlindungan.
Pada bulan Muharram, Yusuf ad-Dimasyqi hadir mengajar di Nizhamiyah dan diberi pakaian kehormatan. Para pembesar hadir di tempat itu. Ketika hal itu tidak dengan izin Khalifah, melainkan dengan perintah Sultan, dan Ibnu Nizham al-Mulk melarangnya, maka ia tinggal di rumahnya dan tidak kembali ke madrasah sama sekali. Setelahnya digantikan oleh Syaikh Abu an-Najib dengan izin Khalifah dan perintah Sultan.
Ibnu al-Jauzi berkata: Pada tahun ini turun hujan di Yaman yang semuanya darah, hingga mewarnai pakaian orang-orang.
Orang-orang terkenal yang wafat pada tahun ini:
Al-Hasan bin Dzin Nun
Bin Abi al-Qasim bin Abi al-Hasan, Abu al-Mafakhir an-Naisaburi, ia datang ke Baghdad dan berkhotbah. Ia mencela kelompok Asy’ariyah sehingga dicintai oleh Hanabilah. Kemudian mereka mengujinya, ternyata ia seorang Muktazilah, maka pamornya meredup. Karena ia terjadi fitnah di Baghdad. Ibnu al-Jauzi mendengar darinya sebagian syairnya, di antaranya:
Para dermawan telah mati, berlalu, selesai, dan pergi… dan mati setelah mereka segala kedermawanan Mereka meninggalkanku di tengah kaum yang bodoh… seandainya mereka melihat bayangan tamu dalam mimpi, mereka akan mati
Abdul Malik bin Abdul Wahhab al-Hanbali
Qadhi Bahauddin, ia mengetahui mazhab Abu Hanifah dan Ahmad, dan berdebat untuk keduanya. Ia dimakamkan bersama ayah dan kakeknya di Qubur asy-Syuhada.
Abdul Malik bin Abi Nashr bin Umar Abu al-Ma’ali al-Jili
Ia adalah seorang fakih yang saleh, taat beribadah, dan miskin. Ia tidak memiliki rumah untuk ditinggali, dan hanya bermalam di masjid-masjid yang sepi. Ia berangkat bersama jamaah haji, lalu menetap di Faid. Penduduk di sana memujinya dengan kebaikan.
Al-Faqih Abu Bakr bin al-Arabi
Al-Maliki, pensyarah Sunan at-Tirmidzi, ia adalah seorang fakih yang alim, zahid, dan abid. Ia mendengar hadits setelah belajar fikih, berguru kepada al-Ghazali, dan mengambil ilmu darinya. Ia menuduhnya memiliki pendapat para filosof, dan berkata: Ia masuk ke dalam perut mereka namun tidak keluar darinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih mengetahui.
Pada tahun ini pasukan Sultan menyerang negeri-negeri Isma’iliyah, membunuh banyak orang dan kembali dengan selamat.
Pada tahun ini Nuruddin mengepung Damaskus selama sebulan, kemudian pergi darinya menuju Dariya. Perdamaian terjadi melalui perantaraan al-Burhan al-Balkhi, semoga Allah merahmatinya.
Pada tahun ini terjadi pertempuran antara Franka dan pasukan Nuruddin Mahmud, kaum muslimin kalah dan banyak dari mereka yang terbunuh. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Ketika peristiwa ini terjadi, hal itu sangat menyedihkan Raja Nuruddin. Ia meninggalkan kenikmatan dan kemewahan hingga ia dapat membalas dendam. Ia menghasut sekelompok Turkoman terhadap mereka, mereka mengintai raja mereka Jauslin al-Ifranji. Mereka terus mengejarnya hingga menawannya dalam salah satu perburuannya. Nuruddin mengirim utusan, menyergap kaum Turkoman dan mengambil Jauslin sebagai tawanan. Ia adalah salah satu kafir yang paling durhaka dan penjahat terbesar, laknat Allah atasnya. Ia menghadapkannya di hadapannya dalam keadaan paling hina, kemudian memenjarakannya. Nuruddin pergi ke negerinya dan mengambil semuanya beserta isinya.
Pada bulan Dzulhijjah, Ibnu al-Abadi duduk di Masjid al-Manshur dan berbicara, di sana ada sekelompok pembesar. Kelompok Hanabilah hampir menimbulkan fitnah pada hari itu karena ia bukan Hanbali. Yang memimpin haji pada tahun itu adalah Qayimaz al-Arjuwani.
Orang-orang terkenal yang wafat pada tahun ini:
Asy-Syaikh Burhanuddin Abu al-Hasan Ali al-Balkhi
Syaikh Hanafiyah di Damaskus, mengajar di al-Balkhiyah, kemudian di al-Khatuniyah al-Barraniyah. Ia adalah seorang alim yang mengamalkan ilmunya, wara’, dan zahid. Ia dimakamkan di Maqabir Bab ash-Shaghir.
Pada tahun ini wafat Sultan Mas’ud, dan setelahnya yang mengurus pemerintahan adalah keponakannya Malikshah bin Mahmud. Kemudian datang Sultan Muhammad mengambil kerajaan dan menetap baginya. Ia membunuh Amir Khas Bik, mengambil hartanya, dan melemparkannya kepada anjing-anjing yang memakannya. Baghdad menjadi kacau, keadaan guncang, dan kaidah-kaidah berubah. Khalifah mendengar bahwa Wasith juga kacau, maka ia berkuda menuju ke sana bersama pasukan dengan kemegahan yang besar, memperbaiki keadaannya, dan berputar ke Kufah dan Hillah. Kemudian kembali ke Baghdad dengan kuat dan menang. Negeri dihias untuknya, segala puji bagi Allah.
Pada tahun ini Abdul Mumin, penguasa negeri Maghrib, menaklukkan Bajayah, yaitu negeri Bani Hammad. Raja terakhir mereka adalah Yahya bin Abdul Aziz bin Hammad. Kemudian ia mengirim pasukan ke Shanhajah, mengepungnya, dan mengambil hartanya.
Pada tahun ini terjadi pertempuran besar antara Nuruddin Mahmud dan Franka, ia mengalahkan mereka dan membunuh banyak dari mereka. Segala puji dan karunia bagi Allah.
Pada tahun ini terjadi pertempuran antara Sanjar dan Raja Ghur Alauddin al-Husain bin al-Husain, raja pertama mereka. Sanjar mengalahkannya dan menawannya. Ketika menghadapkannya di hadapannya, ia berkata kepadanya: Apa yang akan kamu lakukan kepadaku jika kamu menawanku? Ia mengeluarkan belenggu dari perak dan berkata: Aku akan membelenggumu dengan ini. Maka ia memaafkannya dan melepaskannya ke negerinya. Ia pergi ke Ghazanah dan merebutnya dari tangan penguasanya Bahram Shah as-Subuktikin. Ia mengangkat saudaranya Saifuddin sebagai wakilnya di sana, namun penduduk negeri mengkhianatinya dan menyerahkannya kepada Bahram Shah yang menyalibnya. Bahram Shah meninggal tidak lama kemudian. Alauddin pergi ke sana, Khusrau bin Bahram Shah melarikan diri darinya. Alauddin memasukinya dan menjarahnya selama tiga hari, membunuh banyak penduduknya, dan memperbudak penduduknya. Ia menyuruh mereka membawa tanah dalam karung ke suatu tempat yang jauh dari negeri itu. Dari tanah itu dibangun benteng yang terkenal hingga sekarang. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Bani Subuktikin dari negeri Ghazanah dan lainnya. Permulaan mereka adalah pada tahun 366 H. Mereka termasuk raja-raja terbaik, paling banyak berjihad melawan kafir, paling banyak harta, wanita, dan pasukan. Mereka telah menghancurkan berhala-berhala, memusnahkan orang-orang kafir, dan mengumpulkan harta yang tidak dikumpulkan oleh raja-raja lain, meskipun negeri mereka termasuk negeri paling baik, paling banyak suburnya dan airnya. Semua itu lenyap dan hilang dari mereka. Katakanlah: “Wahai Allah, Pemilik kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Ali Imran: 26) Kemudian mereka menguasai Ghur, India, dan Khurasan, kerajaan mereka meluas dan kekuasaan mereka menjadi besar.
Ibnu al-Jauzi menceritakan dalam al-Muntazham bahwa pada tahun ini seekor ayam jantan bertelur satu butir telur, kemudian seekor elang bertelur dua butir, dan seekor burung unta bertelur padahal tidak ada jantannya. Ini adalah hal yang sangat aneh.
Orang-orang terkenal yang wafat pada tahun ini:
Al-Muzaffar bin Ardasir, Abu Manshur al-Abadi
Sang penceramah, ia mendengar hadits, masuk ke Baghdad lalu mendiktekan hadits di sana dan berceramah. Ia menulis apa yang ia ceramahkan kepada orang-orang, hingga terkumpul baginya beberapa jilid. Ibnu al-Jauzi berkata: Hampir-hampir tidak kamu temukan dalam satu jilid lima kata yang bagus. Ia mengkritiknya dan panjang lebar mencela. Ia menganggap baik dari ucapannya ketika ia berkata: Ketika turun hujan dan ia sedang berceramah kepada orang-orang, orang-orang lari ke bawah tembok-tembok. Ia berkata: Jangan kalian lari dari percikan air rahmat, yang menetes dari awan nikmat, tetapi larilah dari percikan api yang terpercik dari batu api kemarahan. Ia wafat setelah melewati lima puluh tahun sedikit.
Mas’ud as-Sultan bin Muhammad bin Malikshah bin Alb Arslan bin Daud bin Mikaail bin Saljuq at-Turki as-Saljuqi
Penguasa Irak dan lainnya, ia mendapat kekuasaan dan kebahagiaan yang banyak yang tidak didapat orang lain. Ia mengalami banyak peristiwa dan peperangan panjang. Ia pernah menawan Khalifah al-Mustarsyid dalam salah satu peperangan tersebut, sebagaimana telah disebutkan. Ia wafat pada hari Rabu akhir Jumadil Akhir tahun ini.
Ya’qub al-Khaththath al-Katib
Ia wafat di Nizhamiyah. Diwan al-Hasyariyah datang untuk mengambil warisannya untuk Baitul Mal, namun para fuqaha mencegah mereka. Terjadilah fitnah besar, yang berakhir dengan pemberhentian pengajar madrasah Syaikh Abu an-Najib dan pemukulannya di diwan sebagai ta’zir.
Pada tahun ini terjadi perang antara Sultan Sanjar dan orang-orang Turki di negeri Balkh. Mereka membunuh sangat banyak dari pasukannya, hingga mayat-mayat menumpuk seperti bukit-bukit besar. Mereka menawan Sultan Sanjar dan membunuh para amir yang bersamanya dengan cara disiksa. Ketika mereka menghadapkannya, mereka mencium tanah di hadapannya dan berkata: Kami adalah hamba-hambamu. Mereka adalah beberapa amir besar. Ia tinggal bersama mereka selama dua bulan, kemudian mereka datang bersamanya. Mereka memasuki Marw yang merupakan pusat kerajaan Khurasan. Sebagian dari mereka meminta agar menjadikannya sebagai iqta’ baginya. Ia berkata: Ini tidak mungkin, ini adalah pusat kerajaan. Mereka mentertawakannya dan sebagian dari mereka membuang angin kepadanya. Maka ia turun dari singgasana kerajaan, masuk ke khanqah, dan menjadi fakir dari kalangan penghuninya. Ia bertaubat dari kerajaan. Orang-orang Turki itu menguasai negeri-negeri, menjarahnya, dan meninggalkannya rata dengan tanah. Mereka mengangkat Sulaiman Shah sebagai raja, namun masa kekuasaannya tidak lama hingga mereka memberhentikannya dan mengangkat keponakan Sanjar, al-Khaqan Mahmud bin Muhammad bin Kukhan. Keadaan menjadi berantakan dan setiap orang menguasai suatu wilayah dari kerajaan-kerajaan itu. Negara menjadi negara-negara.
Pada tahun ini terjadi banyak peperangan antara Abdul Mumin dan orang-orang Arab di negeri Maghrib. Pada tahun ini orang-orang Franka mengambil kota Asqalan dari wilayah pesisir. Pada tahun ini Khalifah keluar menuju Wasith dengan pasukan besar, memperbaiki keadaannya dan kembali ke Baghdad. Yang memimpin haji pada tahun ini adalah Qayimaz al-Arjuwani.
Pada tahun ini meninggal dua orang penyair yang serupa dan yang disamakan pada masa akhir dengan al-Farazdaq dan Jarir, yaitu:
Abu al-Hasan Ahmad bin Munir al-Jauni di Aleppo
dan Abu Abdullah Muhammad bin Nasr bin Shaghir al-Qaisarani al-Halabi di Damaskus, semoga Allah merahmati keduanya.
Dan Ali bin al-Sallar yang bergelar al-Adil, wazir (menteri) al-Zhafir penguasa Mesir, dan dialah yang membangun madrasah di Iskandariyah untuk mazhab Syafi’i; untuk al-Hafizh Abu Thahir al-Salafi, semoga Allah merahmatinya, dan al-Adil ini bertentangan dengan namanya; ia adalah orang yang sangat zalim, kejam, dan perusak, dan ia telah dibiografikan oleh Ibnu Khallikan.
Kemudian masuk tahun 549 Hijriah
Pada tahun ini khalifah al-Muqtafi berkuda dengan pasukan yang besar menuju Tikrit lalu mengepung bentengnya, dan bertemu dengan sekelompok orang Turki dan Turkman di sana, maka Allah memberinya kemenangan atas mereka, dan mengalahkan mereka untuknya, serta meninggikan kalimatnya atas mereka, kemudian ia kembali ke Baghdad dengan dukungan dan kemenangan.
Dan datanglah berita bahwa di Mesir khalifah mereka al-Zhafir telah terbunuh, dan tidak tersisa dari mereka kecuali seorang anak kecil berusia lima tahun, yang telah mereka angkat sebagai pemimpin mereka dan memberinya gelar al-Faiz, maka khalifah menulis surat pengangkatan untuk Raja Nuruddin Mahmud bin Zanki atas negeri-negeri Syam dan negeri-negeri Mesir, dan mengirimkannya kepadanya.
Pada tahun ini bertiup angin yang sangat kencang setelah waktu Isya yang di dalamnya ada api, maka orang-orang takut bahwa itu adalah hari Kiamat, dan bumi bergoncang, dan air Sungai Tigris berubah menjadi merah. Dan muncul di tanah Wasith darah yang tidak diketahui sebabnya. Dan datang berita bahwa Raja Sanjar dalam tawanan orang-orang Turki, dalam keadaan sangat hina dan terhina, dan bahwa ia menangisi dirinya sendiri setiap waktu.
Pada tahun ini Raja Nuruddin Mahmud bin Zanki merebut Damaskus dari tangan rajanya Mujir al-Din Abaq bin Muhammad bin Buri bin Thughtakin, dan itu karena buruknya pemerintahannya dan lemahnya kekuasaannya, dan pengepungan rakyat kepadanya di benteng beberapa kali, bersama pemimpin Muayyid al-Daulah al-Musayyab bin al-Shufi, dan kekuasaan budak Atha atas kerajaan dengan kezaliman dan kekejamannya, maka orang-orang berdoa kepada Allah siang dan malam agar Ia mengganti mereka dengan Raja Nuruddin, dan bersamaan dengan itu orang-orang Franka merebut Ashqalan, maka Raja Nuruddin sangat marah akan hal itu, namun ia tidak dapat mencapai mereka; karena Damaskus berada di antara mereka dan dia, dan ia khawatir jika ia mengepung Damaskus dengan kekerasan; maka rajanya akan meminta bantuan kepada orang-orang Franka dan mereka akan membantunya seperti yang terjadi beberapa kali; karena orang-orang Franka tidak ingin Nuruddin menguasai Damaskus; karena ia akan menjadi kuat dengan kota itu atas mereka dan mereka tidak akan mampu menghadapinya, maka ia mengirim di depannya Amir Asaduddin Syirkuh dengan seribu penunggang kuda dengan dalih mencari perdamaian, namun Mujir al-Din tidak memperhatikannya, dan tidak seorang pun dari penduduk kota keluar menemuinya, maka ia menulis kepada Nuruddin tentang hal itu, lalu Raja Nuruddin berkuda dengan pasukannya, dan turun di Uyun al-Fasiriya dari tanah Damaskus kemudian berpindah ke dekat Pintu Gerbang Timur, lalu ia membukanya dengan paksa dan memasuki kota setelah pengepungan sepuluh hari, dan masuknya adalah pada hari Ahad tanggal sepuluh Safar tahun ini, dan Mujir al-Din berlindung di benteng lalu ia menurunkannya darinya, dan menggantinya dengan kota Homs, dan Nuruddin memasuki benteng, dan tangannya mantap atas Damaskus dan segala puji bagi Allah, maka ia menyeru di kota dengan keamanan, dan bahwa ia memberi kabar gembira kepada orang-orang dengan kebaikan, lalu ia menghapus pajak-pajak dari mereka, dan dibacakanlah surat-surat tentang hal itu di atas mimbar-mimbar, maka kaum muslimin bergembira dan memperbanyak doa untuknya, dan raja-raja Franka menulis kepadanya memberi selamat dan mendekatkan diri kepadanya, dan tunduk kepadanya.
Dan di antara tokoh yang meninggal pada tahun ini:
Pemimpin Muayyid al-Daulah al-Musayyab bin al-Shufi, wazir Damaskus untuk Mujir al-Din
Dan ia telah memberontak terhadap raja beberapa kali, dan urusannya menjadi besar, kemudian terjadi perdamaian di antara mereka berdua, seperti yang telah disebutkan sebelumnya.
Atha al-Khadim
Salah seorang amir Damaskus dan ia telah menguasai urusan-urusan pada zaman Mujir al-Din, dan ia menjadi wakil di Baalbek pada beberapa kesempatan, dan ia adalah orang yang zalim dan kejam, dan dialah yang dinisbahkan kepadanya Masjid Atha di luar Pintu Gerbang Syarqi. Dan Allah Maha Mengetahui.
Kemudian masuk tahun 550 Hijriah
Pada tahun ini khalifah al-Muqtafi li Amrillah keluar dengan kemegahan yang besar menuju Daquqa lalu mengepungnya, maka penduduknya keluar menemuinya dan memintanya agar pergi dari mereka; karena sesungguhnya penduduknya telah binasa di antara dua pasukan, maka ia memenuhi permintaan mereka, dan pergi dari mereka, dan kembali ke Baghdad setelah dua setengah bulan, kemudian ia keluar menuju al-Hillah dan Kufah, dan pasukan berada di depannya, dan Sulaiman Syah berkata kepadanya: Aku adalah wali ahad Sanjar, jika engkau menetapkan hal itu untukku, jika tidak maka aku seperti salah seorang amir. Maka ia menjanjikannya kebaikan, dan ia membawa penutup di depan khalifah di atas bahunya, lalu ia menyiapkan urusan-urusan dan menstabilkannya, dan memberi salam di makam Ali dengan kedua jarinya, dan ia telah bertekad untuk memasuki makam, namun wazir Ibnu Hubairah melarangnya dari hal itu, seakan ia takut atasnya dari bahaya kaum Rafidhah, wallahu a’lam.
Pada tahun ini Nuruddin menaklukkan Baalbek kembali seperti semula; dan itu karena Najmuddin adalah wakil atas kota dan benteng, lalu ia menyerahkannya kepada seorang lelaki yang disebut: al-Dhahhak al-Buqa’i. Maka Najmuddin berkirim surat kepada Nuruddin, dan Nuruddin terus berlaku lembut hingga ia juga mengambil benteng, dan memanggil Najmuddin kepadanya ke Damaskus lalu memberinya tanah feodal, dan memuliakannya karena saudaranya Asaduddin; karena sesungguhnya ia memiliki andil besar dalam pembukaan Damaskus untuk Raja al-Adil Nuruddin, dan ia menjadikan Amir Syamsuddin Turansyah bin Najmuddin sebagai syahnah (kepala keamanan) Damaskus kemudian setelah itu ia menjadikan saudaranya Salahuddin Yusuf sebagai syahnah, dan menjadikannya dari orang-orang dekatnya yang tidak pernah berpisah darinya baik di rumah maupun dalam perjalanan; karena ia memiliki penampilan yang baik, pandai bermain bola, dan Nuruddin suka bermain bola; untuk melatih kuda dan mengajarinya menyerang dan mundur, dan dalam masa kesyahnahannya Salahuddin Yusuf, Arqalah sang penyair berkata:
Pelan-pelan wahai pencuri-pencuri Syam Karena sesungguhnya aku adalah penasihat yang baik bagimu dalam perkataan Maka jauhilah orang yang senama dengan Nabi Yusuf pemilik akal dan kecantikan Yang itu adalah pemotong tangan-tangan para wanita Dan yang ini adalah pemotong tangan-tangan para pria
Dan ia telah menguasakan saudaranya Turansyah ini atas negeri Yaman setelah itu, dan ia bergelar Syamsuddin.
Dan di antara tokoh yang meninggal pada tahun ini:
Muhammad bin Nashir
Bin Muhammad bin Ali bin Umar al-Hafizh, Abu al-Fadhl al-Baghdadi. Ia lahir pada malam pertengahan bulan Syakban tahun 467 Hijriah, dan mendengar banyak hadits, dan menyendiri dengan guru-guru, dan ia adalah hafizh yang teliti, banyak riwayatnya, dari ahlus sunnah, banyak berdzikir, cepat menangis. Dan telah belajar kepadanya sekelompok orang; di antaranya Syaikh Abu al-Faraj Ibnul Jauzi, mendengar dengan bacaannya Musnad Imam Ahmad, dan kitab-kitab besar lainnya, dan ia sering memujinya, dan ia telah menjawab terhadap Abu Sa’d al-Sam’ani dalam perkataannya tentang Muhammad bin Nashir: ia suka mencela orang-orang. Ibnul Jauzi berkata: dan pembicaraan tentang jarh dan ta’dil bukanlah dari jenis ini, dan sesungguhnya Ibnu al-Sam’ani suka berfanatik terhadap para pengikut Imam Ahmad, kami berlindung kepada Allah dari buruknya niat dan fanatisme. Dan wafatnya Muhammad bin Nashir adalah malam Selasa tanggal delapan belas Syakban tahun ini, pada usia delapan puluh tiga tahun, dan dishalatkan atasnya beberapa kali, dan dikuburkan di Babus Harb, semoga Allah merahmatainya.
Mujalli bin Jami’ bin Naja, Abu al-Ma’ali al-Makhzumi al-Arsufi
Kemudian al-Mishri yang menjadi qadhinya, ahli fiqih Syafi’i, penyusun kitab al-Dzakhair dalam mazhab, dan di dalamnya banyak keanehan, dan ia termasuk kitab-kitab yang bermanfaat, semoga Allah merahmatainya.
Kemudian masuk tahun 551 Hijriah
Pada bulan Muharram darinya, Sultan Sulaiman Syah bin Muhammad bin Malikshah bin Alp Arslan al-Saljuqi masuk ke Baghdad dengan payung kerajaan di atas kepalanya, maka wazir Ibnu Hubairah menyambutnya dan memasukkannya kepada khalifah, maka ia mencium tanah dan khalifah meminta sumpahnya atas ketaatan dan ketulusan niat dan nasihat dan kasih sayang, dan mengenakan kepadanya pakaian kehormatan raja-raja, dan ditetapkan bahwa untuk khalifah adalah Irak dan untuk Sulaiman Syah adalah apa yang ia taklukkan dari Khurasan, kemudian khutbah untuknya dibacakan di Baghdad setelah Raja Sanjar, kemudian ia keluar darinya pada bulan Rabiul Awal lalu ia berperang dengan Sultan Muhammad bin Mahmud bin Malikshah, maka Muhammad mengalahkannya dan mengalahkan pasukannya, lalu ia pergi melarikan diri, maka ia bertemu dengan wakil Quthbuddin Maudud bin Zanki penguasa Mosul lalu ia menangkapnya dan menahannya di benteng Mosul dan memuliakannya selama penahanannya dan melayaninya, dan ini termasuk kebetulan yang paling aneh.
Pada tahun ini orang-orang Franka menguasai al-Mahdiyah dari negeri-negeri Maghrib setelah pengepungan yang keras. Pada tahun ini Nuruddin Mahmud bin Zanki menaklukkan benteng Tall Harim dan mencabutnya dari tangan orang-orang Franka, dan ia adalah salah satu benteng yang paling kuat dan tempat yang paling terlindungi, dan itu setelah pertempuran yang dahsyat dan peperangan yang mengerikan yang merupakan salah satu penaklukan terbesar, dan para penyair memujinya saat itu. Pada tahun ini Raja Sanjar melarikan diri dari tawanan dan kembali ke kerajaannya di Marw, dan ia berada di tangan mereka sekitar lima tahun. Pada tahun ini Abdul Mumin mengangkat anak-anaknya atas negeri-negerinya; menjadikan setiap orang sebagai wakil di sebuah kota besar.
Disebutkan pengepungan Baghdad
Dan sebabnya adalah bahwa Sultan Muhammad bin Mahmud bin Malikshah mengirim kepada khalifah al-Muqtafi meminta darinya agar khutbah dibacakan untuknya di Baghdad, namun ia tidak memenuhinya, maka ia pergi dari Hamadzan menuju Baghdad untuk mengepungnya, maka orang-orang berlarian, dan khalifah mengbentengi kota, dan Sultan Muhammad datang lalu mengepung Baghdad dan berdiri menghadap mahkota dari rumah kekhalifahan dengan pasukan yang besar, dan mereka melempar ke arahnya dengan anak panah, dan rakyat bertarung dengan pertempuran yang dahsyat dengan api Yunani dan lainnya, dan pertempuran berlanjut untuk beberapa waktu, maka sementara mereka seperti itu tiba-tiba sultan mendapat kabar bahwa saudaranya telah menggantikannya di Hamadzan, maka ia pergi dari Baghdad menuju Hamadzan pada bulan Rabiul Awal tahun 552 Hijriah, dan pasukan-pasukan yang bersamanya berpencar di negeri-negeri, dan orang-orang mengalami setelah pertempuran ini penyakit yang keras, dan kematian yang cepat, dan banyak tempat di Baghdad terbakar dan hal itu berlanjut di dalamnya selama dua bulan.
Pada tahun ini Abu al-Badr bin al-Wazir bin Hubairah dibebaskan dari benteng Tikrit dan ia berada di sana, ditahan, selama tiga tahun, maka orang-orang menyambutnya hingga pertengahan jalan, dan para penyair memujinya, maka di antara mereka adalah al-Ablah sang penyair, membacakan kepada wazir sebuah qasidah yang ia katakan di awalnya:
Dengan lisan apa kepada para pengadu aku dicela Padahal mereka telah mengetahui bahwa aku terjaga sedang mereka tidur
Hingga ia berkata:
Dan mereka menganggap banyak perjumpaan untukku darimu semalam Padahal telah berlalu setahun dengan penolakan dan setahun
Maka khalifah gembira saat itu. Dan mengenakan kepadanya pakaiannya dan memberinya lima puluh dinar, dan haji bersama orang-orang adalah Qaimaz.
Dan di antara tokoh yang meninggal pada tahun ini:
Ali bin al-Husain Abu al-Hasan al-Ghaznawi
Sang pengkhotbah, ia memiliki penerimaan yang banyak dari rakyat, dan dibangunkan untuknya oleh Khatun istri al-Mustazhhir sebuah ribath di Babus al-Azj, dan ia mewakafkan untuknya banyak wakaf, maka ia mendapat kedudukan yang luas dan sultan mengunjunginya. Dan ia bagus dalam penyampaian dan bagus ceramahnya, hadir di majlisnya banyak khalayak, dan banyak sekali dari berbagai jenis orang. Dan Ibnul Jauzi menyukai beberapa hal dari ceramahnya, ia berkata: dan aku mendengarnya suatu hari berkata: seikat kesedihan lebih baik dari karung-karung amal. Kemudian membaca syair:
Betapa banyak penyesalan bagiku di dalam hati Dari anak ketika ia tumbuh Aku berharap padanya kesalehannya Namun ia tidak tumbuh seperti yang aku kehendaki
Ia berkata: dan aku mendengarnya suatu hari membaca syair:
Kaumku mengiri aku atas profesi ku Karena sesungguhnya aku dalam profesi ku adalah penunggang kuda Aku begadang di malamku dan mereka tertidur Dan apakah sama orang yang begadang dan orang yang tidur
Ia berkata: dan ia berkata: kalian menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai wali sehingga mereka mencaci nabimu pada hari raya mereka dan mereka bangun pagi duduk di samping kalian?! Kemudian ia berkata: Bukankah aku telah menyampaikan? Ia berkata: dan ia adalah Syiah, kemudian ada upaya untuk mencegahnya dari berceramah, kemudian diizinkan untuknya, tetapi muncul bagi orang-orang Ibnu al-Abbadi, maka banyak dari orang-orang cenderung kepadanya, dan sesungguhnya Sultan Mas’ud mengagungkannya dan hadir di majlisnya, maka ketika Sultan Mas’ud meninggal, al-Ghaznawi menjadi hina setelahnya, dan dihinakan dengan penghinaan yang sangat, maka ia sakit dan meninggal pada bulan Muharram tahun ini. Ibnul Jauzi berkata: dan sampai kepadaku bahwa ia berkeringat dalam sakarat mautnya kemudian ia sadar dan ia berkata: ridha dan taslim. Dan ketika ia meninggal ia dikuburkan di ribathnya yang ia tinggali di dalamnya.
Mahmud bin Ismail bin Qadus, Abu al-Fath al-Dimyathi
Penulis surat-surat resmi di negeri-negeri Mesir, dan ia adalah guru Qadhi al-Fadhil dan ia memanggilnya pemilik dua kefasihan, dan al-Imad al-Katib menyebutnya dalam kitab al-Kharidah dan memujinya, dan dari syairnya kepada orang yang mengulang-ulang takbir di awal shalat:
Dan orang yang lemah niatnya yang menghilangkan semangatnya Dengan banyaknya gemetar dan getarannya Ia bertakbir tujuh puluh kali dalam satu kali Seakan ia shalat atas Hamzah
Syaikh Abu al-Bayan
Naba bin Muhammad yang dikenal dengan Ibnu al-Haurani, ahli fiqih zahid abid yang utama yang khusyuk, semoga Allah mensucikan ruhnya, ia membaca Alquran dan kitab al-Tanbih menurut mazhab Syafi’i, dan ia memiliki pengetahuan yang baik dalam bahasa, banyak membaca, dan ia memiliki perkataan yang diriwayatkan darinya, dan aku melihat untuknya sebuah kitab dengan tulisan tangannya di dalamnya nazham-nazham yang untuknya, dikatakannya para sahabat dan pengikutnya dengan logat yang aneh, dan ia sejak masa mudanya hingga ia meninggal di atas jalan yang saleh, dan Raja Nuruddin telah mengunjunginya di ribathnya di dalam Darbu al-Hajar, dan mewakafkan sesuatu untuknya, dan wafatnya adalah pada hari Selasa tanggal tiga Rabiul Awal tahun ini, dan dikuburkan di makam Babus Shaghir, dan itu adalah hari yang disaksikan. Dan aku telah menyebutkannya dalam Thabaqat al-Syafi’iyah, semoga Allah merahmatainya.
Abdul Ghafir bin Ismail
Bin Abdul Ghafir bin Muhammad bin Abdul Ghafir bin Ahmad bin Sa’id al-Farisi al-Hafizh, ia belajar fiqih kepada Imam al-Haramain dan mendengar banyak hadits dari kakeknya untuk ibunya Abu al-Qasim al-Qusyairi, dan ia melakukan perjalanan ke negeri-negeri dan mendengarkan banyak hadits, dan menyusun kitab al-Mufham fi Gharib Muslim dan lainnya, dan menjabat sebagai khatib Naisabur dan ia adalah orang yang utama cerdas religius hafizh.
TAHUN 552 HIJRIAH
Tahun ini dimulai dengan Muhammad Syah bin Mahmud masih mengepung Baghdad, sementara rakyat jelata dan tentara di pihak Khalifah Al-Muqtafi berperang dengan sangat keras. Salat Jumat tidak dilaksanakan karena kondisi peperangan, dan fitnah sangat besar. Kemudian Allah memudahkan dengan perginya Sultan, sebagaimana telah disebutkan pembahasannya pada tahun sebelumnya. Ibnu Al-Jauzi telah menguraikan hal ini secara panjang lebar pada tahun ini.
Pada tahun ini terjadi gempa bumi dahsyat di Syam yang menyebabkan banyak sekali korban jiwa yang tidak terhitung jumlahnya kecuali oleh Allah. Sebagian besar Aleppo, Hamah, Syaizar, Homs, Kafr Thab, Hishnu Al-Akrad (Benteng Kurdi), Latakia, Ma’arrah, Apamea, Antiokia, dan Tripoli runtuh. Ibnu Al-Jauzi berkata: Adapun Syaizar, tidak ada yang selamat darinya kecuali seorang wanita dan pelayannya, sedangkan yang lain semuanya tewas. Adapun Kafr Thab, tidak ada seorang pun yang selamat. Adapun Apamea, bentengnya runtuh ke dalam tanah. Bukit Juran terbelah menjadi dua bagian, menampakkan banyak peti mati dan rumah-rumah di dalamnya. Dia berkata: Banyak kota-kota Franka yang hancur, dan tembok-tembok sebagian besar kota Syam runtuh, bahkan sebuah tempat belajar Al-Quran di Hamah runtuh menimpa anak-anak sehingga mereka semua tewas, tidak ada seorang pun yang datang menanyakan tentang mereka. Syaikh Abu Syamah telah menyebutkan bagian ini secara lengkap dalam kitab Ar-Raudhatain, dan menyebutkan apa yang dikatakan para penyair tentang peristiwa tersebut.
Pada tahun ini Sultan Mahmud bin Zanki menguasai Benteng Syaizar setelah pengepungan, dan merebut kota Ba’labak yang dikuasai oleh Ad-Dahhak Al-Buqa’i. Ada yang mengatakan bahwa peristiwa itu terjadi pada tahun 550 sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, dan Allah lebih mengetahui.
Pada tahun ini Nuruddin sakit sehingga Syam ikut sakit karena sakitnya, kemudian dia sembuh dan kaum Muslim sangat gembira karenanya. Saudaranya Quthbuddin Maudud menguasai Jazirah Ibnu Umar.
Pada tahun ini Khalifah membuat pintu untuk Ka’bah yang dilapisi dengan emas, dan mengambil pintu yang lama untuk dijadikan peti jenazah baginya sendiri.
Pada tahun ini kelompok Isma’iliyah menyerang jamaah haji Khurasan sehingga tidak menyisakan seorang pun dari mereka, baik zahid maupun ulama.
Pada tahun ini terjadi kelaparan hebat di Khurasan hingga mereka memakan serangga. Seseorang menyembelih seorang laki-laki Alawi lalu memasaknya dan menjualnya di pasar. Ketika perbuatannya terungkap, dia dibunuh.
Abu Syamah menyebutkan bahwa penaklukan Banyas terjadi pada tahun ini oleh Malik Nuruddin sendiri. Sebelumnya Mu’inuddin telah menyerahkannya kepada Franka sebagai perdamaian untuk Damaskus dengan memberikan kompensasi kepada mereka. Rajanya terbunuh dan banyak harta rampasan diperoleh, segala puji bagi Allah.
Pada tahun ini Syaikh Abu Al-Waqt Abdul Awwal bin Isa bin Syu’aib As-Sijzi datang, dan Shahih Bukhari didengarkan darinya di rumah wazir di Baghdad. Yang memimpin ibadah haji adalah Qaimaz.
Orang-orang Terkemuka yang Wafat Pada Tahun Ini:
- Ahmad bin Umar bin Muhammad
bin Ahmad bin Isma’il, Abu Al-Laits An-Nasafi, dari penduduk Samarkand. Dia mendengar hadits, mempelajari fikih, dan memberikan nasihat. Dia memiliki penampilan yang baik. Dia datang ke Baghdad dan memberikan nasihat, kemudian kembali ke negerinya dan dibunuh oleh perampok. Semoga Allah merahmatinya.
- Ahmad bin Bakhtyar
bin Ali bin Muhammad, Abu Al-Abbas, Al-Manda’i Al-Wasithi, qadhi kota tersebut. Dia mendengar hadits dan memiliki pengetahuan sempurna tentang sastra dan bahasa. Dia menyusun kitab-kitab tentang sejarah dan lain-lain. Dia adalah orang yang terpercaya dan jujur. Dia wafat di Baghdad dan disalatkan di Nizhamiyah.
- Sultan Sanjar
bin Maliksyah bin Alp Arslan bin Dawud bin Mika’il bin Saljuq, Abu Al-Harits. Namanya Ahmad dan diberi gelar Sanjar. Dia lahir pada bulan Rajab tahun 479 H. Dia berkuasa lebih dari enam puluh tahun, di antaranya empat puluh satu tahun sebagai penguasa tunggal. Dia ditawan oleh suku Ghuzz selama sekitar lima tahun, kemudian melarikan diri dan kembali ke kerajaannya di Merv. Dia wafat pada bulan Rabiul Awal tahun ini dan dimakamkan di sebuah kubah yang dibangunnya bernama Darul Akhirah. Semoga Allah merahmatinya.
- Muhammad bin Abdul Lathif
bin Muhammad bin Tsabit, Abu Bakar Al-Khujandi, ahli fikih Syafi’i. Dia menjabat pengajar di Nizhamiyah Baghdad. Dia pandai berdebat dan memberikan nasihat kepada orang-orang dengan pedang-pedang terhunus di sekelilingnya. Ibnu Al-Jauzi berkata: Dia tidak mahir dalam memberikan nasihat, keadaannya lebih mirip wazir daripada ulama. Dia dipercaya oleh para sultan hingga mereka mengambil keputusan berdasarkan pendapatnya. Dia wafat mendadak di Isfahan.
- Muhammad bin Al-Mubarak
bin Muhammad bin Al-Khall, Abu Al-Hasan bin Abi Al-Baqa’. Dia mendengar hadits dan belajar fikih dari Asy-Syasyi. Dia mengajar dan memberi fatwa. Dia wafat pada bulan Muharram tahun ini. Saudaranya, Syaikh Abu Al-Husain bin Al-Khall sang penyair, wafat pada bulan Dzulqa’dah tahun ini.
- Yahya bin Isa
bin Idris, Abu Al-Barakat Al-Anbari, seorang pengkhotbah. Dia membaca Al-Quran, mendengar hadits, mempelajari fikih, dan memberikan nasihat kepada orang-orang dengan cara orang-orang saleh. Dia menangis sejak naik mimbar hingga turun. Dia adalah orang yang beribadah, zuhud, wara’, menyuruh pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dia dikaruniai anak-anak saleh yang diberi nama dengan nama keempat khalifah: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Mereka semua menghafal Al-Quran. Banyak orang yang menyelesaikan hafalan bersamanya. Dia dan istrinya berpuasa sepanjang tahun dan shalat malam, tidak berbuka kecuali setelah Isya. Dia memiliki karamah dan mimpi-mimpi baik. Ketika dia meninggal, istrinya berkata: “Ya Allah, jangan biarkan aku hidup setelahnya.” Dia meninggal lima belas hari setelahnya. Dia termasuk wanita-wanita salihah. Semoga Allah merahmati keduanya.
TAHUN 553 HIJRIAH
Pada tahun ini kerusakan yang dilakukan orang-orang Turkmen dari pengikut Barjam Al-Iwani semakin meningkat. Mankurus Al-Mustarsyidi dikirim untuk melawan mereka dengan pasukan besar. Mereka bertemu dan mengalahkan mereka dengan kekalahan yang memalukan. Mereka membawa para tawanan dan kepala-kepala yang terpenggal ke Baghdad.
Pada tahun ini terjadi pertempuran besar antara suku Ghuzz dengan Malik Mahmud. Mereka mengalahkannya dan membunuh banyak pengikutnya serta orang lain, merampok negeri-negeri, dan tinggal di Merv. Kemudian mereka memanggilnya, dia takut pada dirinya sendiri, maka dia mengirim putranya mendahuluinya. Mereka menghormatinya. Kemudian dia datang kepada mereka, mereka berkumpul bersamanya dan memuliakan apa dia.
Pada tahun ini terjadi fitnah besar di Merv antara ahli fikih Syafi’iyah Al-Mu’ayyad bin Al-Husain dengan naqib Alawiyyin Abu Al-Qasim Zaid bin Al-Hasan. Banyak orang terbunuh di antara mereka, masjid-masjid, sekolah-sekolah, dan pasar-pasar terbakar. Al-Mu’ayyad Asy-Syafi’i melarikan diri ke salah satu benteng.
Pada tahun ini lahir An-Nashir Lidinillah Abu Al-Abbas Ahmad bin Al-Mustadhi Bi Amrillah.
Pada tahun ini Al-Muqtafi pergi ke arah Anbar untuk berburu, menyeberangi sungai Furat, berziarah ke makam Husain, pergi ke Wasith, dan kembali ke Baghdad tanpa ditemani wazir.
Pada tahun ini pasukan Mesir mengalahkan Franka di tanah Asqalan dengan kekalahan dahsyat bersama Malik Ash-Shalih Abu Al-Gharat, Farisuddin Thala’i’ bin Ruzzik. Para penyair memujinya.
Pada tahun ini Malik Nuruddin datang dari Aleppo ke Damaskus setelah sembuh dari penyakit. Kaum Muslim bergembira dengannya. Dia keluar untuk memerangi Franka, pasukannya kalah, sehingga dia dan sekelompok kecil pengikutnya berada di tengah-tengah musuh. Mereka melemparkan banyak anak panah kepada mereka. Kemudian mereka takut bahwa berdirinya dia dengan kelompok kecil ini adalah jebakan untuk kedatangan pasukan pengintai kepada mereka, maka mereka melarikan diri, segala puji bagi Allah.
Yang memimpin ibadah haji pada tahun ini adalah Qaimaz Al-Arjuwani.
Orang-orang Terkemuka yang Wafat Pada Tahun Ini:
- Abdul Awwal bin Isa
bin Syu’aib bin Ibrahim bin Ishaq, Abu Al-Waqt As-Sijzi Ash-Shufi Al-Harawi, perawi Shahih Bukhari, Musnad Ad-Darimi, dan Al-Muntakhab min Musnad Abd bin Humaid. Dia datang ke Baghdad dan orang-orang mendengar kitab-kitab ini darinya. Dia termasuk sebaik-baik syaikh dengan penampilan terbaik dan paling sabar dalam membacakan hadits. Ibnu Al-Jauzi berkata: Abu Abdullah Muhammad bin Al-Husain At-Tikriti Ash-Shufi memberitahuku, dia berkata: “Aku menyandarkannya kepadaku lalu dia meninggal. Kata-kata terakhir yang dia ucapkan adalah: ‘Andai kaumku mengetahui bahwa Tuhanku telah mengampuniku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan.'” (QS. Yasin: 26-27)
- Nashr bin Manshur
bin Al-Husain bin Ahmad bin Abdul Khaliq Al-Aththar, Abu Al-Qasim Al-Harrani. Dia sangat kaya dan memberikan banyak sedekah untuk berbagai amal kebaikan. Dia banyak membaca Al-Quran dan menjaga shalat berjamaah. Baginya diriwayatkan mimpi-mimpi baik. Usianya mendekati delapan puluh tahun.
- Yahya bin Salamah
bin Al-Husain bin Muhammad, Abu Al-Fadhl Asy-Syafi’i, Al-Hashkafi, dinisbatkan kepada Hishnu Kaifa. Dia adalah imam dalam banyak ilmu: fikih dan sastra, sebagai penyair dan penulis prosa. Namun dia dinisbatkan kepada sikap ekstrem dalam Syiah. Ibnu Al-Jauzi telah menyebutkan sebagian syairnya. Di antaranya ucapannya dalam sebuah qasidah panjang:
Mereka membagi-bagi hatiku pada hari perpisahan, maka tidak ada lagi hatiku sejak mereka pergi Mereka berangkat di atas kelopak mata dan beristirahat di dalam dada, dan air mataku mereka minum Maka air mataku tertumpah, hatiku terluka, dan dahagaku tidak pernah reda Cintaku abadi, mataku berdarah, dan tidurku terusir Aku terpesona oleh kijang yang cantik dari mereka, alangkah indahnya kijang cantik itu Pedangnya terhunus, dahinya halus, dan pipinya merah merona Pelipisnya di atas merahnya pipinya berbelit-belit seperti kalajengking, keriting Seolah-olah nafasnya dan ludahnya adalah minyak wangi dan arak, sementara giginya dingin Pinggangnya mendudukkan dia ketika berdiri, dan di dalam dada darinya yang tinggal dan yang duduk Dia memiliki tubuh seperti batang pohon ban yang bergoyang dengan sengaja tanpa ada kebengkokan
Syair ini sangat panjang, kemudian dia keluar dari rayuan ini kepada memuji Ahlulbait dan imam-imam dua belas, semoga Allah meridhai mereka dan memberi manfaat kepada kita dengan mereka, di mana dia berkata:
Penanya tentang cinta Ahlulbait, apakah aku mengakuinya secara terang-terangan atau mengingkarinya Jauh sekali! Bercampur dengan daging dan darahku cinta mereka, dan itu adalah petunjuk dan jalan yang lurus Haidara (Ali) dan kedua cucu setelahnya, kemudian Ali dan putranya Muhammad Dan Ja’far Ash-Shadiq dan putra Ja’far, Musa, dan setelahnya Ali sang tuan Maksudku Ar-Ridha, kemudian putranya Muhammad, kemudian Ali dan putranya yang diberi taufik Dan Hasan berikutnya, dan setelahnya Muhammad bin Hasan yang ditunggu Merekalah imam-imamku dan tuan-tuanku, meskipun sekelompok orang mencaciku dan mencelaku Imam-imam yang sangat mulia, nama-nama mereka tersusun berurutan Mereka adalah hujjah Allah atas hamba-hamba-Nya, dan mereka adalah jalan dan tujuan kepada-Nya Kaum yang memiliki keutamaan dan kemuliaan yang tinggi, yang diketahui oleh orang musyrik dan orang yang bertauhid Kaum yang memiliki tempat di setiap bumi, bahkan mereka memiliki tempat di setiap hati Kaum yang memiliki Mina, Masy’ar, Marwatain, masjid Kaum yang memiliki Mekah, Abthah, Khaif, Jamrah, dan Baqi’ Al-Gharqad
Kemudian dia menyebutkan terbunuhnya Husain di Thaff hingga dia berkata:
Wahai Ahlulbait Rasul shallallahu alaihi wasallam, wahai sandaranku, dan orang yang cintanya aku andalkan Kalian adalah perantaraku besok kepada Allah, dan bagaimana aku takut sedang dengan kalian aku bersandar Pencinta kalian di surga hidup abadi, sedangkan lawannya di neraka Jahanam selamanya Dan aku tidak mencintai kalian dengan membenci yang lain, sesungguhnya kalau begitu aku celaka, tidak bahagia dengan kalian Maka jangan sampai seorang Rafidhah mengira bahwa aku menyetujuinya, atau seorang Khawarij yang rusak Muhammad dan para khalifah setelahnya adalah sebaik-baik makhluk Allah menurut apa yang aku temukan Mereka yang menegakkan dasar-dasar agama bagi kami, dan mereka yang membangun rukun-rukunnya dan menguatkannya Dan barangsiapa mengkhianati Ahmad (Muhammad) dalam para sahabatnya, maka lawannya pada hari pembalasan adalah Ahmad Ini akidahku, maka berpeganglah dengannya niscaya kalian beruntung, ini jalanku, maka tempuhlah niscaya kalian mendapat petunjuk Dan Syafi’i adalah madzhabku, madzhabnya, karena sesungguhnya dia dalam ucapannya diberi taufik Aku mengikutinya dalam ushul dan furu’, maka hendaklah pencari yang mencari petunjuk mengikutiku Sesungguhnya aku dengan izin Allah adalah orang yang selamat dan mendahului, ketika orang yang zalim dan yang pertengahan lemah
Dan dia juga berkata:
Jika hartaku sedikit, engkau tidak akan mendapatiku tunduk, banyak bersedih, gemar menggigit ujung jari Dan tidak sombong jika Allah memperbarui nikmat, sekalipun apa yang diberikan kepadaku adalah semua yang dimiliki manusia
Dia wafat, semoga Allah merahmatinya, pada bulan Rabiul Awal tahun ini di Mayyafariqin.
TAHUN 554 HIJRIAH
Pada tahun ini Khalifah Al-Muqtafi sakit keras, kemudian sembuh darinya. Baghdad dihias selama beberapa hari, dan dia memberikan sedekah yang sangat banyak.
Pada tahun ini Abdul Mu’min merebut kembali kota Mahdiyah dari tangan Franka. Mereka telah merebutnya dari kaum Muslim pada tahun 543 H. Dia memerangi banyak orang di negeri-negeri Maghrib hingga tulang-tulang orang yang terbunuh di sana seperti bukit yang besar. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali).
Pada bulan Safar turun hujan es di Iraq yang besar, berat satu butir hampir lima rathil, dan ada yang sembilan rathil menurut ukuran Baghdad. Banyak tanaman yang rusak karenanya. Khalifah pergi ke Wasith, melewati pasarnya dan melihat masjidnya. Dia jatuh dari kudanya dan jidatnya terluka, kemudian sembuh.
Pada bulan Rabiuts Tsani sungai Tigris meluap sangat tinggi, sehingga banyak tempat di Baghdad terendam hingga sebagian besar rumah di sana menjadi timbunan. Makam Imam Ahmad terendam, kubur-kubur di sana runtuh, dan mayat-mayat mengapung di atas air, demikian kata Ibnu Al-Jauzi.
Pada tahun ini banyak terjadi penyakit dan kematian.
Pada tahun ini raja Rum datang dengan pasukan besar menuju negeri Syam, namun Allah mengembalikannya dengan kecewa dan merugi karena kekurangan perbekalan mereka. Kaum Muslim menawan keponakan perempuannya, segala puji dan kebaikan bagi Allah.
Yang memimpin ibadah haji pada tahun ini adalah Qaimaz Al-Arjuwani.
Siapa yang Wafat pada Tahun Ini dari Tokoh-Tokoh Terkemuka:
Ahmad bin Ma’ali
bin Barakah al-Harbi, berguru fikih kepada Abu al-Khaththab al-Kaludzani, dan mahir dalam ilmu perdebatan, mengajar dan memberi fatwa, kemudian menjadi pengikut mazhab Syafi’i, lalu kembali menjadi Hanbali, dan berkhotbah di Baghdad. Ia wafat pada tahun ini; tunggangannya masuk ke tempat sempit, lalu pelana kudanya menusuk dadanya.
Sultan Muhammad Syah bin Mahmud bin Muhammad bin Maliksyah bin Alb Arslan
Ketika ia kembali dari pengepungan Baghdad menuju Hamadzan, ia terkena penyakit TBC yang tidak sembuh, hingga akhirnya wafat pada bulan Dzulhijjah tahun ini. Beberapa hari sebelum wafatnya, ia memerintahkan agar semua yang ia miliki dan kuasai diperlihatkan kepadanya, sementara ia duduk di balkon. Maka seluruh pasukan berkuda lengkap dan semua hartanya dihadirkan, para budaknya bahkan hingga para selirnya, lalu ia menangis dan berkata: “Pasukan-pasukan ini tidak dapat menolak sedikitpun musibah dariku, dan tidak menambah umurku sejenak pun.” Kemudian ia menyesali apa yang telah dilakukannya kepada Khalifah al-Muqtafi dan penduduk Baghdad serta pengepungan dan gangguan terhadap mereka. Kemudian ia membagikan banyak harta dari gudang dan harta tersebut. Ia wafat meninggalkan anak kecil. Pasukan dan para panglima berkumpul mendukung pamannya Sulaiman Syah bin Muhammad bin Maliksyah yang tadinya dipenjara di Mosul, lalu dibebaskan, dan kekuasaan sultan jatuh kepadanya. Khutbah disampaikan untuk namanya di seluruh negeri, kecuali Baghdad dan Irak.
Kemudian Masuk Tahun Lima Ratus Lima Puluh Lima Hijriah
Wafatnya Khalifah al-Muqtafi li Amrillah
Abu Abdillah Muhammad bin al-Mustazhhir Billah
Ibunya adalah Nasim, yang dipanggil Sitt as-Sadah, berkulit sawo matang dari budak-budak terbaik. Ia sakit tenggorokan, dan ada yang mengatakan: bisul muncul di tenggorokannya. Ia wafat pada malam Ahad, tanggal dua Rabiul Awal tahun ini, dalam usia enam puluh enam tahun kurang dua puluh delapan hari. Masa kekhalifahannya adalah dua puluh empat tahun tiga bulan enam belas hari. Ia dimakamkan di istana kekhalifahan, kemudian dipindahkan ke kompleks pemakaman. Ia adalah seorang yang tegas, pemberani, berani maju, menangani urusan sendiri, menyaksikan peperangan, dan memberikan harta yang banyak kepada pengikut-pengikutnya yang baik. Ia adalah orang pertama yang memerintah Irak secara mandiri tanpa campur tangan para sultan, sejak masa awal Daulah Dailam hingga masanya, dan kukuh dalam kekhalifahan serta memerintah pasukan dan para panglima. Ia memiliki kesamaan dengan ayahnya dalam beberapa hal; di antaranya penyakit tenggorokan, wafat di bulan Rabiul Awal, dan kematian Sultan Muhammad Syah tiga bulan sebelumnya, demikian juga dengan al-Mustazhhir yang wafat tiga bulan sebelum Muhammad, dan setelah banjir Baghdad setahun kemudian wafat al-Qa’im, demikian juga dengan khalifah ini. Berkata Afif an-Nasikh: Aku melihat dalam mimpi seseorang berkata: “Jika tiga huruf kha bertemu, maka al-Muqtafi akan wafat,” yaitu: lima ratus lima puluh lima.
Kekhilafahan al-Mustanjid Billah, Abu al-Muzaffar Yusuf bin al-Muqtafi
Ketika ayahnya wafat sebagaimana telah kami sebutkan, ia dibaiat pada pagi hari Ahad tanggal dua Rabiul Awal tahun ini. Yang membaiatnya adalah para pembesar Bani Abbas, kemudian wazir, para qadhi, ulama, dan panglima. Usianya saat itu empat puluh lima tahun. Ia adalah orang yang saleh, dan telah menjadi putra mahkota ayahnya sejak lama. Kemudian diselenggarakan takziah untuk ayahnya. Ketika khutbah disampaikan untuk namanya pada hari Jumat, dirham dan dinar ditaburkan kepada orang-orang, dan kaum muslimin bergembira dengannya setelah ayahnya. Ia mempertahankan wazir Ibnu Hubairah dalam jabatannya dan berjanji demikian hingga wafatnya. Ia memecat Qadhi al-Qudhah Ibnu ad-Damagani, dan mengangkat Abu Ja’far Abdul Wahid ath-Tsaqafi menggantikannya. Ia adalah seorang syaikh tua yang memiliki riwayat hadits, dan pernah menjalankan peradilan di Kufah untuk waktu yang lama. Ia wafat pada bulan Dzulhijjah tahun ini, lalu digantikan oleh putranya Ja’far.
Pada bulan Syawal tahun ini, bangsa Turki di Hamadzan bersepakat untuk menggulingkan Sulaiman Syah, dan mereka menyampaikan khutbah untuk Arslan bin Tughril.
Pada tahun ini wafat:
Al-Fa’iz bi Nashrillah al-Fathimi
Penguasa Mesir, yaitu Abu al-Qasim Isa bin Ismail az-Zhahir. Wafatnya pada bulan Safar dalam usia sebelas tahun, masa pemerintahannya enam tahun dua bulan. Pengatur negerinya adalah Abu al-Gharat. Kemudian setelahnya menjabat al-Adhid, khalifah terakhir mereka, yaitu Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf bin al-Hafizh. Ayahnya bukan khalifah, dan saat itu ia hampir baligh. Yang mengatur kerajaannya adalah al-Malik ash-Shalih Thala’i’ bin Ruzzik al-Wazir, yang mengambil baiat untuknya dan menikahkannya dengan putrinya, dengan mas kawin yang sangat besar. Putrinya itu hidup lebih lama dari suaminya al-Adhid, dan menyaksikan keruntuhan Daulah Fathimiyyin di tangan al-Malik Shalahuddin Yusuf bin Ayyub bin Syadi pada tahun lima ratus enam puluh empat, sebagaimana akan dijelaskan secara rinci insya Allah.
Pada tahun ini wafat Sultan Besar Penguasa Ghaznah:
Khusrausyah bin Bahramsyah
bin Mas’ud bin Ibrahim bin Mas’ud bin Mahmud bin Subuktigin, dari keluarga kerajaan dan kepemimpinan yang tinggi, yang diwariskan turun-temurun. Ia adalah salah satu pemimpin raja-raja terbaik dan paling baik perilakunya, mencintai ilmu dan ahlinya. Wafatnya pada bulan Rajab tahun ini. Setelahnya menjabat putranya Maliksyah. Lalu Alauddin al-Husain, raja Ghur, mendatanginya dan mengepung Ghaznah beberapa waktu namun tidak berhasil, lalu kembali dengan kecewa.
Pada tahun ini wafat Maliksyah bin Sultan Mahmud bin Muhammad bin Maliksyah bin Alb Arslan as-Saljuqi di Ishbahan karena racun. Dikatakan bahwa Wazir Aunuddin bin Hubairah yang mengirim orang untuk memberikan racun kepadanya. Wallahu a’lam.
Pada tahun ini wafat Panglima Haji Qayimaz bin Abdullah al-Arjuwani
Ia jatuh dari kudanya saat bermain polo di lapangan khalifah, sehingga otaknya keluar dari telinganya dan ia wafat seketika, rahimahullah. Ia termasuk panglima-panglima terbaik, dan orang-orang sangat menyesali kematiannya. Jenazahnya dihadiri banyak orang. Ia wafat pada bulan Sya’ban tahun ini. Pada tahun itu yang memimpin haji adalah Panglima Arghasy pemegang tanah Kufah. Pada tahun ini berhaji Panglima Besar Syirkuh bin Syadi, komandan pasukan al-Malik Nuruddin bin Zanki, dan ia bersedekah dengan harta yang banyak.
Pada tahun ini Qadhi Zakiyuddin Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Yahya al-Qurasyi mengundurkan diri dari jabatan qadhi di Damaskus, lalu al-Malik Nuruddin membebaskannya dan mengangkat Qadhi Kamaluddin Muhammad bin Abdullah asy-Syahrazuri menggantikannya. Ia termasuk qadhi-qadhi terbaik dan paling banyak bersedekah, dan memiliki sedekah yang terus mengalir setelahnya. Ia seorang alim dan pandai. Kepadanya dinisbatkan Syubbak al-Kamali tempat para hakim duduk di masjid setelah shalat Jumat.
Siapa yang Wafat pada Tahun Ini dari Tokoh-Tokoh Terkemuka:
Panglima Mujahiduddin
Bazzan bin Mamin al-Kurdi, salah satu komandan pasukan Syam sebelum al-Malik Nuruddin dan sesudahnya. Ia pernah menjabat di kota Sharkhad untuk waktu yang lama. Ia tegas, pemberani, banyak berbuat kebajikan, bersedekah, dan memberi. Ia pendiri Madrasah al-Mujahidiyyah dekat an-Nuriyyah. Ia juga memiliki Madrasah al-Mujahidiyyah yang di dalam Bab al-Faradis al-Barrani, dan di sana kuburannya. Ia juga memiliki as-Sab’ al-Mujahidi di dalam Bab az-Ziyadah dari Masjid Jami’ di Maqshurah al-Khidhr. Wafatnya di rumahnya pada bulan Safar tahun ini, lalu dibawa ke masjid dan dishalatkan, kemudian dikembalikan ke madrasahnya dan dimakamkan di sana di dalam Bab al-Faradis. Orang-orang sangat menyesali kematiannya, rahimahullah.
Syaikh Adi bin Musafir
bin Ismail bin Musa bin Marwan bin al-Hasan bin Marwan al-Hakari, syaikh Thariqah Adawiyyah. Asalnya dari al-Biqa’ barat Damaskus dari desa Bait Far, kemudian pergi ke Baghdad dan bertemu di sana dengan Syaikh Abdul Qadir, Syaikh Hammad ad-Dabbas, Syaikh Aqil al-Munbiji, Abu al-Wafa’ al-Halwani, Abu an-Najib as-Suhrawardi dan lainnya. Kemudian ia menyendiri dari manusia dan berkhalwat di Jabal al-Hakariyyah dan membangun zawiyah di sana. Penduduk daerah itu sangat meyakininya, bahkan sebagian dari mereka berlebihan dalam meyakininya dengan sangat berlebihan dan munkar. Kemudian wafatnya pada tahun ini di zawiyahnya dalam usia tujuh puluh tahun.
Abdul Wahid bin Ahmad
bin Muhammad bin Hamzah, Abu Ja’far ath-Tsaqafi, Qadhi Qudhah Baghdad. Ia menjabat setelah Abu al-Hasan ad-Damagani pada awal tahun ini. Ia sebelumnya menjadi qadhi di Kufah. Wafatnya pada bulan Dzulhijjah tahun ini dalam usia hampir delapan puluh tahun. Setelahnya menjabat putranya Ja’far.
Al-Fa’iz penguasa Mesir, telah disebutkan dalam peristiwa-peristiwa.
Qayimaz al-Arjuwani, juga telah disebutkan.
Khalifah al-Muqtafi Abu Abdillah Muhammad bin Abu al-Abbas Ahmad al-Mustazhhir, biografinya telah disebutkan saat wafatnya.
Muhammad bin Yahya
bin Ali bin Muslim, Abu Abdillah az-Zubaidi, lahir di kota Zabid Yaman tahun empat ratus delapan puluh dan datang ke Baghdad tahun lima ratus sembilan. Ia berkhotbah, dan memiliki pengetahuan nahwu dan sastra. Ia sabar dalam kemiskinan dan tidak mengeluh tentang kondisinya kepada siapapun. Ia memiliki keadaan-keadaan yang saleh, rahimahullah ta’ala.
Kemudian Masuk Tahun Lima Ratus Lima Puluh Enam Hijriah
Pada tahun ini dibunuh Sultan Sulaiman Syah bin Muhammad bin Maliksyah. Ia memiliki sikap sembrono dan tidak peduli dengan agama, terus-menerus minum khamr bahkan di bulan Ramadhan. Maka Kurdabazu al-Khadim, pengatur kerajaannya, memberontak dan membunuhnya, lalu membaiat Sultan Arslan Syah bin Tughril bin Muhammad bin Maliksyah setelahnya.
Pada tahun ini dibunuh al-Malik ash-Shalih Farisuddin Abu al-Gharat Thala’i’ bin Ruzzik al-Armani, wazir al-Adhid penguasa Mesir dan ayah mertua istrinya. Ia telah menguasai al-Adhid karena masih kecil dan menguasai semua urusan, lalu para pengawal membunuhnya. Setelahnya menjadi wazir putranya Ruzzik dan diberi gelar al-Adil. Ayahnya ash-Shalih adalah orang yang mulia dan berbudaya, mencintai ahli ilmu dan berbuat baik kepada mereka. Ia termasuk raja-raja dan wazir-wazir terbaik, dan dipuji oleh beberapa penyair.
Berkata Ibnu Khallikan: Awalnya ia menjabat di Minyat Bani Khushayb, kemudian keadaannya sampai menjadi wazir untuk al-Fa’iz, dan jabatan wazir Abbas hilang pada tahun lima ratus empat puluh sembilan. Kemudian ketika ia wafat pada tahun ini, putranya al-Adil Ruzzik bin Thala’i’ menggantikannya dalam jabatan wazir dan tetap di sana hingga diambil alih oleh Syawar, sebagaimana akan dijelaskan. Ia berkata: Ash-Shalih inilah yang membangun masjid di dekat Bab Zuwailah di luar Kairo. Ia berkata: Di antara keajaiban adalah bahwa ia menjabat wazir pada tanggal sembilan belas suatu bulan, dan dibunuh pada tanggal sembilan belas bulan lain, dan dipindahkan dari rumah wazir ke al-Qarafah pada tanggal sembilan belas bulan lain, dan kekuasaan mereka lenyap pada tanggal sembilan belas bulan lain. Ia berkata: Di antara syairnya yang diriwayatkan darinya oleh al-Wa’izh Zainuddin Ali bin Naja al-Hanbali adalah:
Ubanmu telah menanggalkan celupan masa muda Dan elang hinggap di sarang gagak Engkau tidur sementara mata peristiwa terjaga Dan taring musibah tidak menggantikanmu Bagaimana umurmu tetap sedang ia adalah harta Padahal engkau telah membelanjakannya tanpa perhitungan
Dan perkataannya:
Berapa lama masa memperlihatkan kepada kita dari peristiwa-peristiwanya Pelajaran, sementara kita berpaling dan menjauh Kita lupa kematian dan tidak mengalir penyebutannya Di antara kita, lalu penyakit mengingatkan kita tentangnya
Dan di antara syairnya yang bagus juga perkataannya:
Allah menolak kecuali masa tetap untuk kita Dan kemuliaan serta kemenangan melayani kita dalam kerajaan kita Kami tahu bahwa harta ribuan akan habis Dan tersisa untuk kami setelahnya pahala dan sebutan Kami campur kedermawanan dengan keberanian hingga seakan kami Awan yang padanya kilat, guntur, dan hujan
Dan miliknya juga, yang ia gubah tiga malam sebelum wafatnya:
Kami dalam kelalaian dan tidur, sementara kematian Memiliki mata terjaga yang tidak tidur Kami telah berangkat menuju pemandian bertahun-tahun Andai aku tahu kapan pemandian itu tiba
Kemudian para budak al-Adhid membunuhnya di siang hari secara sembunyi-sembunyi dalam usia enam puluh satu tahun. Putranya al-Adil dikukuhkan dengan jabatan wazir. Ammarah al-Yamani meratapi ia dengan qasidah-qasidah yang indah. Dan pada hari dipindahkan ke makamnya di al-Qarafah, al-Adhid berjalan bersamanya hingga sampai ke kuburnya dalam peti.
Berkata Qadhi Ibnu Khallikan: Maka al-Faqih Ammarah membuat tentang itu qasidah panjang yang ia kuasai dengan baik. Di antaranya dalam sifat peti ia berkata:
Dan seakan-akan ia peti Nabi Musa yang ditempatkan Di sisi-sisinya ketenangan dan ketentraman
Pada tahun ini Bani Khafa’jah menyerang penduduk Kufah dengan serangan besar dan membunuh banyak orang, di antaranya Panglima Qaysar, dan melukai Panglima Haji Arghasy dengan beberapa luka. Maka Wazir Khalifah Aunuddin bin Hubairah bangkit mendatangi mereka dengan pasukan, lalu mengejar mereka hingga masuk ke padang pasir. Mereka lalu meminta maaf.
Pada tahun ini menjabat di Makkah asy-Syarif Isa bin Qasim bin Abi Hasyim, dan ada yang mengatakan: Qasim bin Fulaitah bin Qasim bin Abi Hasyim.
Pada tahun ini Khalifah al-Mustanjid memerintahkan penghapusan toko-toko yang menyempitkan jalan, dan agar tidak ada pedagang yang duduk di tengah jalan agar tidak merugikan orang yang lewat. Pada tahun ini terjadi harga murah yang sangat luar biasa di Baghdad.
Pada tahun ini dibuka madrasah yang dibangun oleh Ibnu asy-Syamhal di al-Ma’muniyah, dan mengajar di dalamnya Abu Hakim Ibrahim bin Dinar an-Nahruwani al-Hanbali. Dia wafat pada akhir tahun ini, dan setelahnya mengajar di sana Abu al-Faraj bin al-Jauzi, yang sebelumnya menjadi asisten pengajar di sana, dan dia menyerahkan pengajaran lain di Bab al-Azaj kepadanya ketika wafat.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini:
Hamzah bin Ali bin Thalhah
Abu al-Futuh al-Hajib, dia sangat dekat dengan al-Musytarsyid dan juga al-Muqtafi. Dia membangun madrasah di samping rumahnya, dan pergi haji lalu kembali dengan sikap zuhud, sehingga menetap di rumahnya dengan penuh keagungan selama sekitar dua puluh tahun. Wafatnya terjadi pada tahun ini. Seseorang memujinya dengan syair:
Wahai penopang Islam, wahai orang yang cita-citanya yang mulia telah meninggi menuju keluhuran Dunia pernah menjadi milikmu namun engkau tidak ridha dengannya sebagai kerajaan, maka engkau lebih memilih akhirat
Kemudian Masuk Tahun Lima Puluh Tujuh dan Lima Ratus (557 H)
Pada tahun ini bangsa Kurji menyerbu negeri kaum muslimin, mereka membunuh banyak laki-laki dan menawan banyak anak-anak. Maka berkumpullah untuk memerangi mereka para raja di wilayah itu: Ildikiz penguasa Azerbaijan, Ibnu Sukman penguasa Khilath, dan Ibnu Aq Sunqur penguasa Maraghah. Mereka pergi ke negeri mereka pada tahun berikutnya lalu menjarahnya dan menawan anak-anak mereka. Mereka bertemu dengan mereka dan mengalahkan mereka dengan kekalahan yang sangat dahsyat dan mengerikan. Mereka terus membunuh dan menawan selama tiga hari.
Pada bulan Rajab, Yusuf ad-Dimasyqi dikembalikan mengajar di Nizhamiyah setelah pemecatan Ibnu Nizham al-Mulk karena seorang wanita mengklaim bahwa dia menikahinya, dia menyangkal, kemudian mengakui, lalu dicopot dari pengajaran.
Pada tahun ini selesai madrasah yang dibangun oleh Wazir Ibnu Hubairah di Bab al-Bashrah dan dia menunjuk pengajar dan ahli fiqih di sana. Yang mengimami haji pada tahun ini adalah Amir Kufah, Arghasy.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini:
Syuja’
Syaikh Hanafiyah di Masyhad Abu Hanifah, dia pandai berbicara dalam perdebatan. Para ulama Hanafiyah belajar darinya, dan dia dikubur di dekat Masyhad.
Shadaqah bin Wazir al-Wasithi
Dia masuk ke Baghdad dan berceramah di sana serta menampakkan kezuhudan. Dia condong kepada Syiah dan ilmu kalam, namun demikian dia diterima oleh rakyat biasa dan sebagian para amir. Dia memperoleh banyak harta dan membangun ribath darinya, dan dikubur di sana, semoga Allah mengampuninya.
Zumurrud Khatun
Putri Jawali, saudara perempuan al-Malik Duqaq bin Tutasy dari ibunya. Dia yang membangun al-Khatuniyah di luar Damaskus dekat desa Shan’a’ di tempat yang disebut Tall ats-Tsa’alib, sebelah barat Damaskus pada sisi timur selatan Shan’a’ asy-Syam yang merupakan desa yang terkenal sejak dahulu. Dia mewakafkannya kepada asy-Syaikh Burhan ad-Din Ali bin Muhammad al-Balkhi al-Hanafi yang telah disebutkan sebelumnya. Dia adalah istri al-Malik Buri bin Thughtakin, melahirkan baginya dua anaknya: Syams al-Muluk Isma’il yang disebutkan, yang memerintah setelah ayahnya dan menjalankan kebijakannya, bersekutu dengan Franka melawan kaum muslimin, dan berniat menyerahkan negeri dan harta kepada mereka, maka mereka membunuhnya dan saudaranya menjadi raja setelah berkonsultasi dengannya dan dengan bantuannya. Dia pernah membaca Al-Qur’an dan mendengarkan hadits, bermazhab Hanafi dan mencintai para ulama dan orang shalih. Atabik Zanki penguasa Aleppo menikahinya dengan harapan bisa merebut Damaskus karenanya namun tidak berhasil. Dia pergi kepadanya ke Aleppo kemudian kembali ke Damaskus setelah kematiannya. Dia pernah masuk Baghdad dan dari sana pergi ke Hijaz, tinggal di Mekah selama setahun, kemudian datang dan tinggal di Madinah Nabi hingga wafat di sana dan dikubur di Baqi’ pada tahun ini. Dia banyak berbuat kebajikan, shadaqah, shalat, dan puasa. As-Sibt berkata: Dia tidak wafat hingga harta di tangannya berkurang, maka dia menyaring gandum dan jelai dan hidup dari upahnya, dan ini termasuk kesempurnaan kebaikan, kebahagiaan, dan husnul khatimah, semoga Allah merahmatinya.
Kemudian Masuk Tahun Lima Puluh Delapan dan Lima Ratus (558 H)
Pada tahun ini meninggal penguasa Maghrib, Abdul Mumin bin Ali, murid Ibnu Tumart dan khalifah penggantinya dalam kerajaan di kota Sala. Putranya Yusuf hadir di sisinya, dan membawa jenazahnya ke Marrakesy seolah-olah dia sakit. Ketika sampai di sana, dia mengumumkan kematiannya, maka orang-orang mengucapkan ta’ziyah dan membaiatnya sebagai raja penggantinya, dan memberikan gelar Amirul Mukminin kepadanya. Abdul Mumin ini adalah orang yang tegas, berani, dermawan, mengagungkan syariat. Pada zamannya, siapa yang tidak menjaga shalat akan dibunuh, tetapi dia suka menumpahkan darah, bahkan untuk dosa kecil, maka Allah akan menghukumnya dengan apa yang Dia kehendaki.
Pada tahun ini terbunuh al-Malik Saif ad-Din Muhammad bin Ala’ ad-Din al-Ghuri, dia dibunuh oleh orang Ghuzz. Dia adalah raja yang adil.
Pada tahun ini Franka menyerang Nuruddin dan pasukannya secara mendadak, kaum muslimin melarikan diri tanpa saling menoleh. Al-Malik Nuruddin bangkit dan menunggang kudanya dengan belenggu di kakinya, seorang Kurdi turun dan memotongnya hingga Sultan Nuruddin bisa pergi dan selamat. Franka mengejar orang Kurdi itu dan membunuhnya, semoga Allah merahmatinya. Nuruddin berbuat baik kepada keturunannya dan tidak pernah melupakan jasanya.
Pada tahun ini Khalifah memerintahkan untuk mengusir Bani Asad dari al-Hillah dan membunuh siapa yang tertinggal dari mereka, karena kerusakan mereka dan surat-menyurat mereka dengan Sultan Muhammad Syah, serta hasutan mereka kepadanya untuk mengepung Baghdad. Empat ribu orang dari Bani Asad dibunuh, sisanya keluar dari sana, dan wakil-wakil Khalifah menguasai al-Hillah al-Mazidiyah. Yang mengimami haji pada tahun ini adalah al-Amir Arghasy.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini:
Sultan Besar Abu Muhammad Abdul Mumin bin Ali al-Qaisi al-Kufi
Murid Ibnu Tumart. Ayahnya adalah pekerja tanah liat. Ketika Ibnu Tumart melihatnya, dia menyukainya dan melihat pertanda bahwa dia akan beruntung, maka dia mengajaknya dan dia menjadi besar, pasukan yang dikumpulkan oleh Ibnu Tumart dari al-Mashamidah dan lainnya berkumpul di sekelilingnya. Mereka memerangi penguasa Marrakesy, Ali bin Yusuf bin Tasyafin, raja orang-orang berkalung. Abdul Mumin menguasai Wahran, Tilimsan, Fas, Sala, dan Sabtah, kemudian mengepung Marrakesy selama sebelas bulan dan membebaskannya pada tahun lima puluh dua dan lima ratus (542 H). Kerajaan-kerajaan stabil untuknya dan waktunya jernih. Dia adalah orang yang berakal, tegas, berwibawa, baik penampilannya, tampan. Wafatnya pada tahun lima puluh delapan (558 H) dan dia berkuasa selama tiga puluh tiga tahun. Dia menyebut dirinya Amirul Mukminin.
Thalhah bin Ali
Bin Tharad, Abu Ahmad az-Zaini, Naqib an-Nuqaba’, meninggal mendadak, semoga Allah merahmatinya. Yang menjadi naqib setelahnya adalah anaknya Abu al-Hasan Ali, dia masih muda belia lalu dicopot dan disita hartanya pada tahun ini.
Muhammad bin Abdul Karim
Bin Ibrahim bin Abdul Karim, Abu Abdullah bin al-Anbari, penulis surat di Baghdad. Dia adalah seorang syaikh yang baik dan pandai, menguasai seni menulis surat, diutus sebagai utusan kepada al-Malik Sanjar dan lainnya, melayani para raja dan khalifah, hampir berusia sembilan puluh tahun. Di antara syairnya:
Wahai orang yang meninggalkanku dan tidak peduli, apakah masa pertemuan akan kembali Aku tidak mengharap, wahai siksaan hatiku, bahwa keadaanku dalam cintamu akan tenang Mataku seperti yang engkau kenal selalu menangis, dan tubuhku seperti yang engkau lihat sudah usang Apa salahnya bagimu jika engkau menghiburku dalam pertemuan dengan janji yang mustahil Aku mencintaimu dan engkau adalah bagian orang lain, wahai pembunuhku, apa dayaku Hari-hari penderitaanku karenamu hitam, betapa miripnya dengan malam-malam Mereka mencerciku karena cintaku padamu, apa urusan mereka denganku Wahai yang mewajibkanku untuk melupakan dia, akulah yang sedih dan engkau yang tenang Perkataan untuk meninggalkannya adalah benar, betapa baiknya jika itu lurus bagiku Aku ceraikan keteguhanku tiga kali, dan kerinduan masih ada dalam bayanganku
Kemudian Masuk Tahun Lima Puluh Sembilan dan Lima Ratus (559 H)
Pada tahun ini datang Syawar bin Mujir ad-Din, Abu Syuja’ as-Sa’di yang bergelar Amir al-Juyusy, yang saat itu adalah wazir Mesir setelah keluarga Ruzzik. Setelah an-Nashir Ruzzik bin Thala’i’ dibunuh, dia menjabat sebagai wazir dan urusannya menjadi besar. Kemudian memberontak melawannya seorang amir bernama adh-Dhirgham bin Sawar, mengumpulkan banyak pasukan dan mengalahkannya, membunuh dua anaknya Thayya dan Sulaiman, dan menawan yang ketiga yaitu al-Kamil bin Syawar, lalu memenjarakannya dan tidak membunuhnya karena jasa ayahnya kepadanya. Dhirgham menjadi wazir setelahnya dan bergelar al-Manshur. Syawar keluar dari Mesir melarikan diri dari al-‘Adhid dan Dhirgham, berlindung kepada Nuruddin Mahmud. Nuruddin memerintahkan untuknya Jausaq al-Maidan al-Akhdar, dan menyambutnya dengan baik serta memuliakannya. Syawar meminta dari Nuruddin pasukan untuk bersamanya agar dia bisa membuka Mesir, dan bagi Nuruddin sepertiga hasilnya. Maka dia mengirim bersamanya pasukan di bawah pimpinan Asad ad-Din Syirkuh bin Syazi. Ketika mereka memasuki negeri Mesir, pasukan yang ada di sana keluar menghadapi mereka, mereka bertarung dengan sangat sengit, Asad ad-Din mengalahkan mereka dan membunuh banyak dari mereka, Dhirgham bin Sawar terbunuh dan kepalanya diarak keliling negeri. Urusan Syawar stabil dalam jabatan wazir dan keadaannya mantap. Kemudian al-‘Adhid dan Syawar bersekongkol melawan Asad ad-Din, dan Syawar mengingkari apa yang telah diperjanjikannya dengan Nuruddin, serta memerintahkan Asad ad-Din untuk pulang, namun dia menolak, merajalela di negeri itu, mengambil banyak harta, dan merebut banyak kota dari asy-Syarqiyah dan lainnya. Maka Syawar meminta pertolongan melawan mereka dari raja Franka yang ada di Ashqalan bernama Muri, dia datang kepadanya dengan banyak pasukan. Asad ad-Din pindah ke Bilbais dan telah memperkuatnya serta mengisinya dengan perlengkapan dan alat-alat, dan lain-lain. Mereka mengepungnya di sana selama delapan bulan, Asad ad-Din dan pasangannya bertahan dengan sangat kuat. Sementara mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba datang kabar bahwa al-Malik Nuruddin telah memanfaatkan ketidakhadiran Franka dan pergi dengan pasukan ke negeri mereka, membunuh banyak dari mereka, membuka Harim dan membunuh banyak Franka, serta pergi ke Banyas. Karena itu urusan Franka di Mesir menjadi lemah, dan mereka meminta perdamaian dari Asad ad-Din, dia mengabulkan mereka, mengambil dari Syawar enam puluh ribu dinar. Asad ad-Din dan pasukannya keluar dan pergi ke Syam pada bulan Dzulhijjah tahun itu.
Peristiwa Harim
Pembebasan Harim terjadi pada bulan Ramadhan tahun ini. Nuruddin meminta bantuan dari pasukan kaum muslimin – mereka datang dari setiap penjuru – untuk mengambil balasannya dari Franka. Dia bertemu dengan mereka di Tall Harim dan mengalahkan mereka dengan kekalahan besar. Dia menawan al-Barnas penguasa Anthakiyah, al-Qumash penguasa Tharablus, ad-Duk panglima Rum, dan Ibnu Juslin, serta membunuh dari mereka sepuluh ribu orang, ada yang mengatakan dua puluh ribu. Pada bulan Dzulhijjah tahun itu Nuruddin membuka kota Banyas, ada yang mengatakan pembukaannya pada tahun enam puluh. Wallahu a’lam. Bersamanya ada saudaranya Nashr ad-Din Amir Umara, anak panahnya mengenai salah satu matanya dan menghilangkannya. Al-Malik Nuruddin berkata kepadanya: “Seandainya engkau melihat apa yang Allah siapkan untukmu sebagai pahala di akhirat, engkau akan berharap mata yang satunya juga hilang.” Dan dia berkata kepada Ibnu Mu’in ad-Din Anur: “Sesungguhnya hari ini kulit ayahmu telah dingin dari api neraka Jahannam, karena dia telah menyerahkannya kepada Franka sebagai perdamaian untuk Damaskus.”
Pada bulan Dzulhijjah tahun ini terbakar istana Jairun dengan kebakaran besar. Pada malam itu hadir para amir, di antaranya Asad ad-Din Syirkuh setelah kembalinya dari Mesir, dan dia berusaha sangat keras dalam memadamkan api ini dan melindungi batas masjid darinya, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan dan memberinya pahala surga.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini:
Jamal ad-Din
Wazir penguasa Mausil, Muhammad bin Ali bin Abi Manshur, Abu Ja’far al-Ashbahani yang bergelar al-Jawad, wazir Quthb ad-Din Maudud bin Zanki. Dia banyak berbuat kebaikan dan shadaqah. Dia meninggalkan jejak-jejak baik di Mekah dan Madinah, di antaranya: dia mengalirkan mata air ke Arafah, membuat bangunan di sana, membangun masjid Arafah dan tangga-tangganya, menyempurnakan pintu-pintu Haram, membangun masjid al-Khaif, membangun al-Hijr, menghias dan menyepuh Kabah dengan emas, membuatnya dengan marmer, membangun tembok di sekeliling Madinah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, membangun jembatan di atas Sungai Tigris di dekat Jazirah Ibnu Umar dengan batu pahat, besi dan timbal, membangun banyak ribath. Setiap hari dia bershadaqah di pintunya seratus dinar, dan membebaskan tawanan setiap tahun dengan sepuluh ribu dinar. Shadaqahnya terus mengalir kepada para fuqaha dan fuqara di mana pun mereka berada, dari Baghdad dan negeri-negeri lainnya. Dia dipenjara pada tahun lima puluh delapan (558 H). Ibnu as-Sa’i menyebutkan dalam sejarahnya dari seseorang yang bersamanya di penjara bahwa seekor burung putih turun kepadanya sebelum kematiannya dan terus bersamanya sementara dia berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla hingga dia wafat pada bulan Sya’ban tahun ini, kemudian burung itu terbang darinya. Dia dikubur di ribath yang dibangunnya untuk dirinya di Mausil. Ada persaudaraan dan perjanjian antara dia dan Asad ad-Din Syirkuh bin Syazi, siapa di antara mereka yang meninggal lebih dahulu maka yang lain akan membawanya ke Madinah Nabi. Maka Asad ad-Din Syirkuh menyewa orang-orang untuknya yang membawanya ke Madinah. Setiap kota yang mereka lewati, mereka menshalatkannya, berdoa untuknya dan memujinya dengan baik. Mereka menshalatkannya di Mausil, Tikrit, Baghdad, al-Hillah, Kufah, Faid, dan Mekah. Dia ditawafkan mengelilingi Kabah, kemudian dipindahkan ke Madinah dan dikubur di ribath yang dibangunnya di sebelah timur Masjid Nabawi. Ibnu al-Jauzi dan Ibnu as-Sa’i berkata: Tidak ada antara dia dan haram Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam serta makamnya kecuali lima belas dzira’. Ibnu as-Sa’i berkata: Ketika mereka menshalatkannya di al-Hillah, seorang pemuda naik ke tempat tinggi dan bersyair:
Keranganya berjalan di atas pundak, padahal sering kali kedermawanannya dan pemberiannya berjalan di atas pelana Dia melewati lembah maka pasirnya memuji atasnya, dan melewati perkumpulan maka para jandanya memujinya
Dan di antara yang wafat pada tahun ini setelah tahun lima puluh:
Ibnu al-Khazin al-Katib
Ahmad bin Muhammad bin al-Fadhl bin Abdul Khaliq, Abu al-Fadhl yang dikenal dengan nama Ibnu al-Khazin, al-Katib al-Baghdadi, seorang penyair. Ia adalah seorang yang pandai menulis dengan sangat baik, memberikan perhatian besar pada penulisan mushaf Al-Qur’an. Putranya, Abu al-Fath Nashrullah, banyak menulis maqamat, dan mengumpulkan diwan syair ayahnya yang sebagian besar dikutip oleh Ibnu Khallikan dalam jumlah yang cukup banyak.
Kemudian Masuklah Tahun 560 Hijriah
Pada bulan Shafar tahun tersebut, terjadi fitnah besar di Ashbahan antara para fuqaha karena masalah mazhab. Fitnah ini berlangsung beberapa hari dan banyak orang terbunuh. Pada tahun ini juga terjadi kebakaran besar di Baghdad yang membakar sangat banyak tempat. Ibnu al-Jauzi menyebutkan bahwa pada tahun ini seorang wanita di Baghdad melahirkan empat anak perempuan dalam satu kandungan. Pada tahun ini yang memimpin haji adalah al-Amir Arghasy al-Kabir, semoga Allah membalasnya.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini
Umar bin Bahliqa
Pemilik penggilingan gandum yang memperbaharui Masjid al-Aqibah di Baghdad dan meminta izin kepada khalifah untuk mengadakan salat Jumat di sana, lalu khalifah mengizinkannya. Ia telah membeli tanah-tanah makam di sekitarnya dan menambahkannya ke masjid serta menggali mayat-mayat dari sana. Maka Allah menakdirkan bahwa ia juga digali dari kuburnya setelah dikubur sebagai balasan yang setimpal. Dan Tuhanmu sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya. (Quran, Fushshilat: 46)
Muhammad bin Abdullah bin al-Abbas bin Abdul Hamid
Abu Abdullah al-Harrani adalah orang terakhir yang tersisa dari para saksi yang diterima di hadapan Abu al-Hasan al-Damaghani. Ia telah mendengar hadits dan merupakan orang yang lembut dan cerdas. Ia menyusun sebuah kitab bernama Raudhah al-Udaba yang berisi mutiara-mutiara yang bagus. Ibnu al-Jauzi berkata: Suatu hari aku mengunjunginya dan lama duduk bersamanya, lalu aku berkata aku akan pergi karena telah memberatkanmu, maka ia membacakan syair untukku:
Jika kunjungan-kunjungan yang telah mengangkat derajatku Disebut sebagai beban dan berat Maka aku tidak memberatkan kecuali tali persahabatanku Dan tidak membebani kecuali punggung syukurku
Marjan al-Khadim
Ia membaca berbagai qiraah dan belajar fikih mazhab asy-Syafi’i. Ia bersikap fanatik terhadap madzhab Hanabilah dan membenci serta memusuhi Wazir Ibnu Hubairah dan Ibnu al-Jauzi dengan permusuhan yang keras. Ia berkata kepada Ibnu al-Jauzi: “Tujuanku adalah mencabut mazhab kalian.” Ketika Ibnu Hubairah wafat pada tahun ini, ia semakin kuat terhadap Ibnu al-Jauzi dan Ibnu al-Jauzi merasa takut kepadanya. Ketika ia wafat pada tahun ini, Ibnu al-Jauzi sangat bergembira. Wafatnya pada bulan Dzulqa’dah tahun ini.
Ibnu al-Tilmidz
Dokter yang cakap dan ahli, namanya Hibatullah bin Sha’id. Wafatnya pada tahun ini pada usia sembilan puluh lima tahun. Ia hidup berkecukupan di dunia dan memiliki kedudukan besar di mata manusia. Ia wafat—semoga Allah memburukkannya—dalam agamanya dan dikubur di gereja kuno, semoga Allah tidak merahmatinya jika ia wafat sebagai seorang Nasrani, karena ia mengaku Muslim tetapi wafat dalam agamanya (Nasrani).
Wazir Ibnu Hubairah
Yahya bin Muhammad bin Hubairah Abu al-Muzhaffar, wazir khalifah yang agung, penyusun kitab al-Ifshah. Ia mempelajari berbagai qiraah dan mendengar hadits. Ia memiliki pengetahuan yang baik dalam nahwu, bahasa, dan arudh. Ia belajar fikih mazhab Imam Ahmad dan menyusun kitab-kitab yang baik dan bermanfaat, di antaranya al-Ifshah dalam beberapa jilid yang di dalamnya ia menjelaskan hadits dan membahas pendapat para ulama. Ia menganut mazhab Salaf dalam akidah. Ia dahulu miskin tidak memiliki harta, kemudian ia masuk dalam pelayanan hingga menjadi wazir untuk al-Muqtafi kemudian untuk putranya al-Mustanjid. Ia termasuk wazir terbaik dan paling baik sirahnya serta paling jauh dari kezaliman. Ia tidak mengenakan pakaian sutra. Al-Muqtafi berkata: “Tidak ada wazir untuk Bani Abbas seperti dirinya,” demikian pula putranya al-Mustanjid yang sangat kagum padanya. Marjan al-Khadim berkata: Aku mendengar Amirul Mukminin al-Mustanjid membacakan syair Ibnu Hubairah yang dihadapannya dari puisinya:
Dua nikmat jernih telah mengkhususkan dan merataimu Maka kenang keduanya hingga hari kiamat akan dikenang Kedermawananmu sementara dunia membutuhkanmu Dan kedermawananmu sementara kebaikan di antara manusia diingkari Seandainya Ja’far dan Yahya berusaha menggapai tempatmu wahai Yahya Niscaya Yahya dan Ja’far akan menyerah darinya Dan aku tidak melihat orang yang berniat buruk padamu wahai Abu al-Muzhaffar kecuali engkaulah yang menang
Ia sangat bersungguh-sungguh dalam menegakkan Daulah Abbasiyah dan memutus pengaruh raja-raja Seljuk dari mereka dengan segala cara yang mungkin hingga kekhalifahan tegak di seluruh Irak, tidak ada sedikit pun hukum para sultan bersamanya, segala puji dan syukur bagi Allah.
Ia mengadakan majelis diskusi untuk para ulama di rumahnya, mereka berdiskusi dan berdebat di hadapannya, ia mengambil manfaat dari mereka dan mereka darinya. Suatu hari terjadi ia berbicara kepada seorang fuqaha dengan kata-kata yang kasar, ia berkata: “Wahai keledai,” kemudian ia menyesal dan berkata: “Aku ingin engkau berkata kepadaku sebagaimana aku berkata kepadamu.” Fuqaha itu menolak, lalu ia berdamai dengannya dengan dua ratus dinar. Ia wafat secara mendadak dan dikatakan bahwa seorang dokter meracuninya. Dokter itu kemudian diracuni enam bulan setelahnya, dan dokter itu berkata: “Aku meracuninya maka aku diracuni.” Ia wafat pada hari Ahad tanggal dua belas Jumadil Ula tahun ini pada usia enam puluh satu tahun. Ia dimandikan oleh Ibnu al-Jauzi, dan jenazahnya dihadiri oleh orang sangat banyak. Pasar-pasar ditutup dan orang-orang menangisinya. Ia dikubur di madrasah yang ia dirikan di Bab al-Bashrah, semoga Allah merahmatinya. Para penyair telah meratapnya dengan banyak ratapan.
Dan Abu al-Qasim Umar bin Muhammad bin Ahmad bin Ikrimah
Al-Bazri al-Jazari, Syaikh asy-Syafi’iyah di sana yang dijuluki Zainuddin Jamal al-Islam. Ia masuk Baghdad dan belajar di sana dari al-Kiya al-Harrasi, al-Ghazali, dan asy-Syasyi pemilik al-Mustazhiri. Ia menyusun sebuah kitab tentang al-Muhadzdzab dan menyebutkan di dalamnya berbagai permasalahan lainnya, nama-nama tokohnya dan bahasanya, dalam satu jilid sebagaimana disebutkan Ibnu Khallikan. Para penuntut ilmu datang kepadanya dari setiap penjuru. Ia adalah orang yang paling hafal terhadap mazhab asy-Syafi’i pada zamannya. Ia wafat pada tahun ini.
Kemudian Masuklah Tahun 561 Hijriah
Pada tahun ini Sultan Nuruddin Mahmud membuka Benteng al-Munaitharah dan membunuh banyak orang Franka di sana, serta memperoleh harta rampasan yang banyak.
Pada tahun ini Izzuddin bin al-Wazir Ibnu Hubairah melarikan diri dari penjara bersama seorang mamluk Turki. Ia diumumkan di kota: “Siapa yang mengembalikannya akan mendapat seratus dinar, dan siapa yang ditemukan bersembunyinya akan dihancurkan rumahnya dan disalib di pintunya serta anak-anaknya disembelih di hadapannya.” Seorang Arab menunjukkan tempatnya, lalu ia ditangkap dari sebuah kebun, dipukuli dengan sangat keras dan dikembalikan ke penjara dengan pengawasan yang lebih ketat.
Pada tahun ini kaum Rafidhah menampakkan celaan terhadap para Sahabat radiallahu anhum dan menampakkan hal-hal yang mungkar, padahal mereka tidak mampu melakukannya pada masa-masa sebelumnya karena takut kepada Ibnu Hubairah. Terjadi perdebatan di kalangan awam tentang masalah penciptaan Al-Qur’an. Yang memimpin haji pada tahun ini adalah Arghasy.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini
Al-Hasan bin al-Abbas
bin Abi ath-Thayyib bin Rustam Abu Abdullah al-Ashbahani, termasuk dari orang-orang saleh besar yang banyak menangis. Ia berkata: “Suatu hari aku menghadiri majelis Ibnu Masyadah saat ia berbicara kepada orang-orang, lalu aku melihat Rabb Yang Maha Mulia pada malam ini dan Dia berkata kepadaku: ‘Engkau berdiri di hadapan ahli bid’ah dan mendengar perkataannya? Aku akan mencabutmu dari penglihatan di dunia.’ Maka pagi harinya ia tidak dapat melihat sedangkan matanya terbuka seolah-olah ia dapat melihat.”
Abdul Aziz bin al-Husain
bin al-Jabab al-Aghlabi as-Sa’di al-Qadhi Abu al-Ma’ali al-Bashri yang dikenal dengan Ibnu al-Jalis karena ia bersahabat dengan penguasa Mesir. Al-Imad menyebutkannya dalam al-Khariidah dan berkata: “Ia memiliki keutamaan yang terkenal dan syair yang terkenal.” Di antaranya adalah perkataannya:
Dan sungguh mengherankan bahwa pedang-pedang di sisi mereka Mengeluarkan darah padahal pedang-pedang itu jantan Dan lebih mengherankan dari itu bahwa pedang-pedang di tangan mereka Menyala-nyala seperti api padahal tangan-tangan itu lautan
Asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jili
Abdul Qadir bin Abi Shalih Abu Muhammad al-Jili, lahir tahun 470 Hijriah. Ia masuk Baghdad lalu mendengar hadits dan belajar fikih kepada Abu Sa’id al-Mukharrimi al-Hanbali. Ia membangun sebuah madrasah dan menyerahkannya kepada Syaikh Abdul Qadir. Ia berbicara kepada orang-orang di sana dan memberi nasihat, dan banyak orang mengambil manfaat darinya. Ia memiliki sikap yang baik dan diam, kecuali untuk amar ma’ruf nahi munkar. Ia memiliki kezuhudan yang banyak, memiliki keadaan-keadaan saleh dan mukasyafah. Para pengikut dan sahabatnya memiliki perkataan tentangnya dan mereka menyebutkan perkataan, perbuatan, dan mukasyafahnya yang kebanyakan berlebihan. Ia adalah orang yang saleh dan wara’. Ia menyusun kitab al-Ghunyah dan Futuuh al-Ghaib yang di dalamnya terdapat hal-hal yang baik, dan ia menyebutkan di dalamnya hadits-hadits yang lemah dan maudhu’. Pada umumnya ia termasuk dari syaikh-syaikh besar yang mulia, semoga Allah menguduskan ruhnya dan menerangi kuburnya. Wafatnya pada malam Sabtu tanggal delapan Rabiul Akhir tahun ini pada usia sembilan puluh tahun, dan dikubur di madrasah miliknya.
Kemudian Masuklah Tahun 562 Hijriah
Pada tahun ini orang-orang Franka datang dalam pasukan yang banyak ke Negeri Mesir dan orang-orang Mesir membantu mereka, lalu mereka bertindak di beberapa negeri. Berita itu sampai kepada Asaduddin Syirkuh bin Syazi, maka ia meminta izin kepada Sultan Nuruddin untuk kembali ke sana—karena ia sangat marah kepada Wazir Syawar—maka Sultan mengizinkannya. Ia berangkat ke sana pada Rabiul Akhir bersama keponakan saudaranya Shalahuddin Yusuf bin Ayyub. Dalam hati orang-orang sudah tertanam bahwa ia akan menguasai Negeri Mesir. Tentang hal ini Arqalah yang dijuluki Hasan asy-Sya’ir berkata:
Aku berkata sementara orang-orang Turki telah bertekad Mesir untuk memerangi orang-orang Arab Wahai Rabb sebagaimana Engkau memberikan kekuasaan kepada Yusuf ash- Shiddiq dari anak-anak Ya’qub Berikanlah kekuasaannya pada zaman kita kepada Yusuf ash- Shadiq dari anak-anak Ayyub Yang tidak berhenti memukul kepala musuh Dengan benar dan memukul tumit-tumit
Ketika berita kedatangan Asaduddin dan pasukan bersamanya sampai kepada Wazir Syawar, ia mengirim kepada Franka maka mereka datang dari setiap penjuru kepadanya. Berita itu sampai kepada Asaduddin—padahal hanya dua ribu pasukan berkuda bersamanya—maka ia bermusyawarah dengan para amir yang bersamanya, dan semua menyarankan agar kembali kepada Nuruddin karena banyaknya Franka, kecuali seorang amir yang bernama Syarafuddin Buzghasy. Ia berkata: “Barangsiapa takut terbunuh atau tertawan hendaklah ia duduk di rumahnya bersama istrinya, dan barangsiapa yang telah memakan harta kaum Muslimin janganlah menyerahkan negeri mereka kepada musuh.” Keponakan saudaranya Shalahuddin Yusuf bin Ayyub juga berkata demikian. Maka Allah memberikan keteguhan kepada mereka, lalu mereka bergerak menuju Franka. Mereka berperang dengan mereka dengan peperangan yang dahsyat, mereka membunuh banyak Franka dan mengalahkan mereka serta membunuh banyak dari mereka yang tidak diketahui jumlahnya kecuali oleh Allah azza wa jalla, segala puji dan syukur bagi Allah atas segala keadaan.
Pembukaan Iskandariah di Tangan Asaduddin Syirkuh
Kemudian Asaduddin Syirkuh setelah mengalahkan Franka dan orang-orang Mesir pergi ke Iskandariah dan menguasainya serta mengumpulkan hartanya. Ia mengangkat keponakan saudaranya Shalahuddin Yusuf sebagai wakilnya dan kembali ke ash-Sha’id lalu menguasainya, dan mengumpulkan harta yang sangat banyak dari sana, segala puji dan syukur bagi Allah. Kemudian Franka dan orang-orang Mesir berkumpul mengepung Iskandariah selama tiga bulan untuk merebutnya dari tangan Shalahuddin, yaitu saat pamannya berada di ash-Sha’id. Shalahuddin dan pasukannya mempertahankannya dengan sangat kuat, tetapi persediaan makanan menipis dan keadaan mereka sangat sempit. Maka Asaduddin Syirkuh—semoga Allah menguatkannya—pergi kepada mereka. Wazir Syawar berdamai dengannya tentang Iskandariah dengan lima puluh ribu dinar maka ia menerimanya. Shalahuddin keluar darinya dan menyerahkannya kepada orang-orang Mesir dan kembali ke Syam pada pertengahan Syawal dan Dzulqa’dah. Syawar menetapkan untuk Franka dari Mesir setiap tahun seratus ribu dinar, dan bahwa mereka akan memiliki polisi di Kairo. Franka kembali ke negeri mereka setelah Sultan Nuruddin Mahmud bin Zanki mengikuti mereka di negeri mereka, dan menaklukkan banyak benteng dari negeri mereka, membunuh banyak laki-laki mereka, menawan banyak wanita dan anak-anak mereka, dan memperoleh harta rampasan yang banyak dari barang dan harta mereka, segala puji bagi Allah. Bersama dia adalah saudaranya Quthbuddin Maudud, maka ia menyerahkan ar-Raqqah kepadanya, lalu ia pergi dan menguasainya.
Pada tahun ini pada bulan Sya’ban adalah kedatangan al-Imad al-Katib dari Baghdad ke Damaskus, yaitu Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ashbahani, pemilik kitab al-Fath al-Qudsi, al-Barq asy-Syami, al-Khariidah, dan lain-lain dari karya-karyanya. Maka Qadhi al-Qudhat Kamaluddin asy-Syahrazuri menempatkannya di Madrasah an-Nuriyah asy-Syafi’iyah di dalam Bab al-Faraj. Madrasah itu dinisbahkan kepadanya karena ia tinggal di sana, maka disebut al-Imadiyah. Kemudian ia menjabat sebagai pengajarnya pada tahun 567 Hijriah setelah Syaikh al-Faqih Ibnu Abd. Orang pertama yang datang menemuinya adalah Najmuddin Ayyub, karena ia mengenalnya dari Tikrit. Al-Imad memujinya dengan qashidah yang disebutkan oleh Syaikh Syihabuddin Abu Syamah. Pada saat itu Asaduddin Syirkuh dan Shalahuddin Yusuf berada di Mesir, maka ia memberitahukannya dalam qashidah tersebut dengan wilayah Shalahuddin atas Negeri Mesir di mana ia berkata:
Dan akan menetap di Mesir Yusuf dan dengannya Akan tenang setelah berpisah mata Ya’qub Dan Yusuf akan bertemu dengan saudara-saudaranya di sana Dan Allah akan mengumpulkan mereka tanpa celaan
Kemudian al-Imad menjabat sebagai penulis (katib) untuk Sultan Nuruddin, rahimahullah.
Di Antara Tokoh-Tokoh Terkemuka yang Wafat pada Tahun Tersebut:
Arghasy, Amir Haji selama beberapa tahun, adalah komandan pasukan. Ia keluar dari Baghdad untuk memerangi Syamlah at-Turkmani, lalu jatuh dari kudanya dan meninggal dunia.
Abu al-Ma’ali al-Katib
Muhammad bin al-Hasan bin Muhammad bin Ali bin Hamdun, pengarang kitab at-Tadzkirah al-Hamduniyyah. Ia pernah menjabat Diwan az-Zamam (lembaga keuangan) untuk beberapa waktu. Wafat pada bulan Dzulqa’dah dan dimakamkan di makam Quraisy.
ar-Rasyid ash-Shadafi
Ia biasa duduk di hadapan al-‘Abbadi di atas kursi. Ia memiliki uban, sikap, dan wibawa. Ia sering menghadiri majelis-majelis sima’ (mendengarkan musik sufi). Kebetulan ia meninggal dunia saat sedang menari dalam salah satu majelis sima’. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuninya.
Kemudian Masuklah Tahun 563 Hijriah
Pada bulan Safar tahun itu, Syaraf ad-Din Abu Ja’far bin al-Baladi tiba di Baghdad dari Wasith. Pasukan keluar menyambutnya, begitu juga kedua naqib, qadhi, dan orang-orang berjalan di hadapannya menuju Diwan. Ia duduk di kursi wazir dan surat pengangkatannya dibacakan. Ia diberi gelar al-Wazir Syaraf ad-Din Jalal al-Islam Mu’izz ad-Daulah Sayyid al-Wuzara’ Shadr asy-Syarq wa al-Gharb (Wazir Syaraf ad-Din Kemuliaan Islam Penegak Negara Pemimpin Para Wazir Kepala Timur dan Barat).
Pada tahun itu, suku Khafajah membuat kerusakan di negeri dan merampok desa-desa. Pasukan dari Baghdad keluar menghadapi mereka, namun mereka melarikan diri ke padang pasir. Pasukan mundur karena takut kehausan, lalu mereka kembali menyerang pasukan dan membunuh banyak orang serta menawan yang lain. Pasukan telah menangkap banyak dari mereka, yang kemudian disalib di tembok-tembok kota.
Pada bulan Syawal, istri Raja Nur ad-Din Mahmud bin Zanki tiba di Baghdad untuk menunaikan haji dari sana. Ia adalah as-Sayyidah ‘Ishmat ad-Din Khatun binti Mu’in ad-Din Anar. Pasukan keluar menyambutnya bersama pelayan Shandal. Tempat tinggal disiapkan untuknya dan ia diberi penghormatan yang sangat besar.
Pada tahun itu wafat Qadhi al-Qudhah (Hakim Agung) Baghdad, Ja’far bin ats-Tsaqafi. Negeri kosong tanpa hakim selama dua puluh tiga hari hingga Ruh bin al-Hadisi dilantik sebagai Qadhi al-Qudhah pada tanggal 4 Rajab.
Di Antara Tokoh-Tokoh Terkemuka yang Wafat pada Tahun Tersebut:
Ja’far bin Abdul Wahid
Abu al-Barakat ats-Tsaqafi, Qadhi al-Qudhah Baghdad setelah ayahnya. Lahir tahun 519 Hijriah, dan wafat pada tahun ini. Sebab kematiannya adalah karena dimintai uang dan Wazir Ibnu al-Baladi berbicara kepadanya dengan keras, sehingga ia takut lalu muntah darah dan meninggal dunia, rahimahullah.
Abu Sa’d as-Sam’ani
Abdul Karim bin Muhammad bin Manshur, Abu Sa’d as-Sam’ani. Ia melakukan rihlah (perjalanan menuntut ilmu) ke Baghdad, mendengar hadits di sana dan melanjutkan sejarah Baghdad karya al-Khatib al-Baghdadi. Ibnu al-Jauzi telah mengkritiknya dalam al-Muntazham, menyebutkan bahwa ia bersikap fanatik terhadap pengikut mazhabnya dan mencela sejumlah dari mereka, dan bahwa ia menerjemahkan dengan ungkapan awam seperti perkataannya tentang salah satu syaikhah: “Ia wanita yang suci.” Dan tentang penyair terkenal Haish Bish bahwa ia memiliki saudara perempuan bernama: Dakhil Khuraj, dan lain-lain.
Abdul Qahir bin Muhammad
bin Abdullah Ibnu ‘Amuwaih Abu an-Najib as-Suhrawardi. Ia menyebutkan bahwa ia dari keturunan Abu Bakar ash-Shiddiq. Ia mendengar hadits, belajar fikih, memberi fatwa, dan mengajar di madrasah Nizhamiyyah. Ia membangun madrasah dan ribath untuk dirinya. Di samping itu ia juga seorang sufi yang memberi nasihat kepada orang-orang. Ia dimakamkan di madrasahnya.
Muhammad bin Abdul Hamid
bin Abi al-Husain Abu al-Fath ar-Razi yang dikenal dengan al-‘Ala’ al-‘Alim. Ia berasal dari Samarkand dan termasuk tokoh hebat dalam debat. Ia memiliki metode dalam khilaf (perbedaan pendapat) dan jadal (perdebatan logika) yang disebut: at-Ta’liqah al-‘Alimiyyah. Ibnu al-Jauzi berkata: Ia pernah datang ke Baghdad dan menghadiri majelismu. Abu Sa’d as-Sam’ani berkata: Ia kerap minum khamar, dan ia berkata: “Tidak ada di dunia yang lebih nikmat dari kitab yang kubaca dan sejenis khamar yang kuminum.”
Ibnu al-Jauzi berkata: Kemudian sampai kepadaku bahwa ia berhenti dari minum khamar dan berdebat, lalu beralih kepada kehidupan zuhud dan kebaikan, rahimahullah.
Yusuf bin Abdullah
bin Bandar ad-Dimasyqi, pengajar madrasah Nizhamiyyah di Baghdad. Ia belajar fikih kepada As’ad al-Maihani dan mahir dalam debat. Ia bersikap fanatik terhadap mazhab Asy’ariyyah. Pada tahun ini ia diutus sebagai utusan kepada Syamlah at-Turkmani, lalu wafat di negeri tersebut, rahimahullah.
Kemudian Masuklah Tahun 564 Hijriah
Pada tahun itu terjadi pembebasan Mesir oleh Amir Asad ad-Din Syirkuh. Pada tahun itu, orang-orang Franka (Tentara Salib) berbuat sewenang-wenang di negeri Mesir karena mereka ditempatkan sebagai gubernur di sana. Mereka berkuasa atas pintu-pintunya dan prajurit paling berani mereka tinggal di sana. Tidak lama lagi mereka akan menguasainya sepenuhnya dan mengusir penduduk Muslim dari sana. Maka saat itu bala bantuan Franka datang dari berbagai penjuru dan berjalan bersama Muri, raja Asqalan, dalam pasukan yang sangat besar. Yang pertama kali mereka rebut adalah kota Bilbais. Mereka membunuh banyak orang di sana dan menawan yang lain. Mereka tinggal di sana dan meninggalkan barang-barang bawaan mereka, menjadikannya sebagai tempat berlindung dan benteng bagi mereka. Kemudian mereka datang dan berkemah di dekat Kaherah dari arah Bab al-Barqiyyah. Wazir Syawar memerintahkan orang-orang untuk membakar Mesir dan pindah dari sana ke Kaherah. Negeri dirampok dan harta banyak orang hilang. Api terus membakar di Mesir selama lima puluh empat hari. Maka saat itu penguasa Mesir, al-‘Adhid, mengirim permintaan bantuan kepada Nur ad-Din dan mengirimkan kepadanya rambut perempuan-perempuannya sambil berkata: “Tolonglah aku dan selamatkanlah perempuan-perempuanku dari tangan Franka.” Ia berjanji memberi sepertiga hasil bumi Mesir dengan syarat Asad ad-Din tinggal di sana bersama mereka, dan mereka mendapat iqtha’ (tanah pemberian) melebihi sepertiga tersebut.
Nur ad-Din mulai mempersiapkan pasukan menuju negeri Mesir. Ketika Wazir Syawar merasakan kedatangan pasukan Muslim, ia mengirim utusan kepada raja Franka berkata: “Kamu tahu kasih sayang dan persahabatanku, tetapi al-‘Adhid dan kaum Muslim tidak setuju bahwa aku menyerahkan negeri ini.” Ia berdamai dengan mereka agar mereka meninggalkan negeri dengan membayar satu juta dinar, dan ia segera memberikan seratus ribu dinar dari jumlah itu. Mereka mengambilnya dan kembali ke negeri mereka karena takut akan kedatangan Nur ad-Din dan berharap bisa kembali lagi. Mereka membuat tipu daya dan Allah juga membuat tipu daya, dan Allah adalah sebaik-baik pembuat tipu daya (Ali Imran: 54). Kemudian Wazir Syawar mulai menagih kepada orang-orang untuk mengumpulkan emas yang dijadikan perdamaian dengan Franka. Ia menyulitkan orang-orang padahal mereka sudah tertimpa kebakaran dan ketakutan. Maka Allah mengganti musibah mereka dan memperbaiki keadaan mereka.
Raja Nur ad-Din memanggil Amir Asad ad-Din Syirkuh dari Himsh ke Halab. Ia berkendara dalam satu hari dari Himsh dan masuk Halab pada hari itu juga. Nur ad-Din senang dengan hal itu dan menganggapnya pertanda baik. Ia mengangkatnya sebagai komandan pasukan yang telah disiapkan untuk negeri Mesir dan memberinya dua ratus ribu dinar. Ia tambahkan kepadanya sejumlah amir dan tokoh, setiap dari mereka mengharapkan dengan perjalanan itu ridha ar-Rahman (Allah yang Maha Pengasih). Di antara mereka adalah keponakan Syirkuh, Salah ad-Din Yusuf bin Ayyub bin Syadi. Ia tidak merasa senang dengan keberangkatan ini, bahkan merasa enggan. Allah Ta’ala berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui” (al-Baqarah: 216). Ia tambahkan kepadanya enam ribu orang Turkman. Ia berangkat bersama mereka dari Halab ke Damaskus, kemudian mengirimnya ke negeri Mesir bersama pasukan yang bersamanya.
Ketika pasukan Nur ad-Din tiba di negeri Mesir, mereka mendapati orang-orang Franka telah meninggalkan Kaherah dan kembali ke negeri mereka dengan kesepakatan yang merugikan. Kedatangannya ke sana adalah pada tanggal 7 Rabi’ul Akhir. Amir Asad ad-Din menemui al-‘Adhid pada hari itu. Al-‘Adhid memberinya pakaian kehormatan yang indah dan ia memakainya. Ia kembali ke kemahnya di luar kota. Kaum Muslim bergembira dengan kedatangannya. Berbagai kebaikan dan kemurahan diberikan kepada mereka, hadiah dan penghormatan disampaikan kepada mereka. Tokoh-tokoh masyarakat keluar ke kemah Asad ad-Din untuk mengabdi kepadanya. Di antara yang datang kepadanya adalah Khalifah al-‘Adhid dalam penyamaran. Ia membisikkan kepadanya urusan-urusan penting, di antaranya adalah membunuh Wazir Syawar, dan hal itu dibicarakan dengannya.
Urusan Amir Asad ad-Din menjadi besar di Mesir. Wazir Syawar tidak mampu mencegah hal itu karena banyaknya pasukan yang bersama Asad ad-Din, tetapi ia mulai menunda-nunda apa yang telah disepakati untuk mereka dan untuk Raja Nur ad-Din dari apa yang mereka janjikan. Namun demikian ia tetap berkunjung ke Amir Asad ad-Din dan berkendara bersamanya. Ia berniat mengadakan jamuan untuknya, tetapi teman-temannya melarangnya hadir karena takut bahaya darinya. Mereka bermusyawarah dengannya untuk membunuh Syawar, tetapi Amir Asad ad-Din tidak mengizinkan mereka melakukan hal itu.
Pada suatu hari, Syawar datang ke kediaman Amir Asad ad-Din dan mendapatinya telah pergi ziarah ke makam Imam asy-Syafi’i. Yang ada di sana hanya keponakannya, Salah ad-Din. Maka Salah ad-Din memerintahkan untuk menangkapnya. Ia tidak bisa membunuhnya kecuali setelah bermusyawarah dengan pamannya. Pengikut-pengikutnya melarikan diri dan memberitahu al-‘Adhid, berharap ia akan mengirim orang untuk menyelamatkannya. Al-‘Adhid mengirim utusan kepada Amir Asad ad-Din meminta kepalanya. Maka Syawar dibunuh dan kepalanya dikirim kepada al-‘Adhid pada tanggal 17 Rabi’ul Akhir. Kaum Muslim bergembira dengan hal itu.
Asad ad-Din memerintahkan untuk merampas rumah Syawar, maka rumahnya dirampas. Asad ad-Din menemui al-‘Adhid dan diangkat menjadi wazir. Ia diberi pakaian kehormatan yang sangat besar dan diberi gelar al-Malik al-Manshur. Ia tinggal di rumah Syawar dan kedudukannya menjadi besar di sana.
Ketika berita pembebasan Mesir sampai kepada Nur ad-Din, ia bergembira dengan hal itu dan para penyair datang memberinya ucapan selamat. Namun ia tidak merasa senang karena Asad ad-Din menjadi wazir. Demikian pula ketika jabatan wazir berpindah kepada keponakannya, Salah ad-Din. Ia mulai membuat siasat untuk menghilangkan hal itu tetapi tidak berhasil, terutama karena sampai kepadanya bahwa Salah ad-Din telah menguasai perbendaharaan al-‘Adhid, sebagaimana akan dijelaskan nanti, wallahu a’lam.
Asad ad-Din mengirim ke istana meminta seorang katib (sekretaris). Mereka mengirimkan kepadanya Qadhi al-Fadhil, berharap ia akan menerima dari pendapat al-Fadhil jika ia berbicara dan menjelaskan apa yang mereka harapkan. Asad ad-Din mengirim petugas-petugas ke berbagai wilayah, memberikan iqtha’ dan melantik para pejabat. Ia bergembira dengan dirinya beberapa hari yang terbatas, lalu ajalnya datang pada hari Sabtu tanggal 22 Jumadal Akhirah tahun ini. Masa jabatannya adalah dua bulan lima hari.
Ketika Asad ad-Din wafat, rahimahullah, para amir Syam menyarankan al-‘Adhid untuk melantik Salah ad-Din Yusuf sebagai wazir menggantikan pamannya. Maka ia melantiknya sebagai wazir, memberinya pakaian kehormatan yang indah, dan memberinya gelar al-Malik an-Nashir.
Sifat Pakaian Kehormatan yang Dipakai Salah ad-Din Saat Itu
Sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Syihab ad-Din Abu Syamah dalam ar-Raudhatain:
Sorban putih Tinisi dengan ujung emas, jubah dibiki dengan hiasan emas, jubah dengan hiasan emas, mantel dengan hiasan emas, kalung permata seharga sepuluh ribu dinar, pedang berhias seharga lima ribu dinar, batu seharga delapan ribu dinar dengan kalung emas dan ikat kepala emas berpermata di kepalanya dengan dua ratus butir permata, di kakinya empat kalung permata, di kepalanya tongkat emas, di kepalanya ikat putih dengan bendera-bendera putih, dan bersama pakaian kehormatan itu beberapa bungkusan, kuda-kuda, dan barang-barang lain, serta surat pengangkatan wazir yang dibungkus dengan kain sutra putih. Hal itu terjadi pada hari Senin tanggal 25 Jumadal Akhirah tahun ini, dan itu adalah hari yang bersejarah. Seluruh pasukan berjalan dalam pengabdiannya. Tidak ada yang tidak hadir selain ‘Ain ad-Daulah al-Yaruqi. Ia berkata: “Aku tidak akan mengabdi kepada Yusuf setelah Nur ad-Din.” Kemudian ia pergi dengan pasukannya ke Syam. Nur ad-Din menegurnya atas hal itu.
Al-Malik Salah ad-Din tinggal di Mesir sebagai wakil Raja Nur ad-Din. Khutbah untuknya dilakukan di mimbar-mimbar negeri Mesir. Amir Nur ad-Din menyurati dia dengan sebutan al-Amir al-Isfahsalar Salah ad-Din, dan Salah ad-Din bersikap rendah hati kepadanya dalam surat-surat dan tanda tangan. Namun hati-hati telah berpaling kepadanya, jiwa-jiwa tunduk kepadanya. Al-‘Adhid sangat tertekan pada masa-masanya. Kedudukan Salah ad-Din meningkat di antara masyarakat di negeri tersebut. Ia menambah iqtha’ orang-orang yang bersamanya sehingga mereka mencintainya, menghormatinya, dan mengabdi kepadanya.
Nur ad-Din mengirim surat kepadanya menegurnya karena menerima jabatan wazir tanpa suratnya, dan memerintahkannya untuk menghitung keuangan negeri Mesir. Tetapi Salah ad-Din tidak menghiraukan hal itu. Nur ad-Din sering berkata dalam keheranannya: “Kerajaan Ibnu Ayyub.” Salah ad-Din mengirim utusan kepada Raja Nur ad-Din meminta agar keluarganya, saudara-saudaranya, dan kerabatnya dikirim kepadanya. Maka Nur ad-Din mengirim mereka kepadanya dengan syarat taat dan patuh kepadanya. Urusannya menjadi stabil di sana, negaranya terjaga dengan itu, urusannya sempurna, kekuasaannya kuat, dan pilar-pilarnya menguat.
Salah seorang penyair berkata tentang pembunuhan Wazir Syawar oleh Salah ad-Din:
Selamat bagi Mesir atas penguasaan Yusuf
Dengan perintah dari ar-Rahman (Allah) yang telah ditakdirkan
Pembunuhan Syawar oleh Yusuf tidaklah sama
Kecuali menyerupai pembunuhan Jalut oleh Daud
Abu Syamah berkata: Al-‘Adhid membunuh pada tahun ini anak-anak Syawar, yaitu Syuja’ yang bergelar al-Kamil, ath-Thari yang bergelar al-Mu’azzham, dan saudara mereka yang lain yang bergelar Faris al-Muslimin. Kepala-kepala mereka diarak di negeri Mesir.
Penyebutan Pembunuhan Sida-sida Muktamin al-Khilafah dan Para Pengikutnya di Tangan Salahuddin
Peristiwa ini terjadi karena ia mengirim surat dari istana kekhalifahan di Mesir kepada orang-orang Franka agar mereka datang ke negeri Mesir untuk mengusir pasukan Islam Syam dan tentara-tentara Nur ad-Din dari sana. Yang mengirimkan surat kepada mereka adalah sida-sida Muktamin al-Khilafah, komandan pasukan di istana. Dia adalah seorang Habasyah (Ethiopia) yang telah mengirimnya bersama seseorang yang dipercayainya. Namun di tengah perjalanan, utusan itu bertemu dengan seseorang yang curiga terhadap keadaannya, lalu membawanya kepada al-Malik an-Nashir Salahuddin. Setelah diinterogasi, dia mengeluarkan surat tersebut. Salahuddin pun memahami keadaan sebenarnya namun merahasiakannya.
Muktamin al-Khilafah sang sida-sida merasa curiga bahwa al-Malik Salahuddin telah mengetahui masalah ini, maka dia berdiam di istana untuk waktu yang lama karena takut atas keselamatannya. Kemudian pada suatu hari terlintas dalam pikirannya untuk keluar berburu. Maka al-Malik Salahuddin mengirim orang yang menangkap dan membunuhnya, lalu kepalanya dibawa kepadanya. Kemudian dia memberhentikan semua pelayan yang mengelola istana, dan menunjuk Baha ad-Din Qaraqush sebagai pengganti mereka untuk mengawasi istana. Dia memerintahkannya untuk melaporkan semua urusan kepadanya, baik yang kecil maupun yang besar.
Peristiwa Sudan
Peristiwa ini terjadi ketika sida-sida Habasyah Muktamin al-Khilafah dibunuh dan pelayan-pelayan lainnya diberhentikan. Mereka marah karenanya dan berkumpul sekitar lima puluh ribu orang. Mereka berperang melawan pasukan Salahuddin di antara dua istana. Banyak orang terbunuh dari kedua belah pihak. al-Adhid menyaksikan pertempuran dari istana, dan pasukan Syam dilempari batu dari istana serta diserang dengan panah. Dikatakan bahwa itu atas perintahnya, dan dikatakan pula bahwa itu bukan atas perintahnya.
Kemudian saudara an-Nashir, Syams ad-Dawlah Turansyah – yang hadir dalam peperangan, telah dikirim oleh Nur ad-Din kepada saudaranya untuk menguatkannya – memerintahkan untuk membakar menara pandang al-Adhid. Pintu dibuka dan diumumkan: “Sesungguhnya Amirul Mukminin memerintahkan kalian untuk mengusir orang-orang Sudan ini dari tengah-tengah kalian dan dari negeri kalian.” Maka pasukan Syam pun menguat dan keberanian orang-orang Sudan sangat melemah.
Al-Malik an-Nashir mengirim pasukan ke perkampungan mereka yang dikenal dengan nama al-Manshurah, tempat rumah-rumah dan keluarga mereka berada di Bab Zuwailah, lalu membakarnya. Mereka pun berbalik mundur, dan pedang mengejar mereka sehingga banyak dari mereka terbunuh. Kemudian mereka meminta jaminan keamanan dari al-Malik Salahuddin, dan dia mengabulkannya serta mengusir mereka ke al-Jizah. Kemudian Syams ad-Dawlah Turansyah, saudara al-Malik Salahuddin, keluar menemui mereka dan membunuh sebagian besar dari mereka juga. Tidak tersisa kecuali sedikit dari mereka. “Maka itulah rumah-rumah mereka yang kosong karena kezaliman mereka” (Surat an-Naml: 52).
Pada tahun ini al-Malik Nur ad-Din bin Mahmud bin Zanki menaklukkan benteng Ja’bar dan merebutnya dari tangan pemiliknya Syihab ad-Din Malik bin Ali bin Malik al-Uqaili. Benteng itu berada di tangan mereka sejak zaman Sultan Malikshah. Pada tahun ini pula terbakar Masjid Aleppo, lalu Nur ad-Din membangunnya kembali. Pada tahun ini meninggal Yaruq yang kepadanya dinisbahkan sebuah perkampungan di luar Aleppo.
Di Antara Tokoh yang Meninggal pada Tahun Ini:
Sa’d Allah bin Nashr bin Sa’id ad-Dajaji
Abu al-Hasan, ahli wejangan mazhab Hambali. Dia lahir pada tahun empat ratus delapan puluh. Dia mendengar hadis, belajar fikih, dan memberikan wejangan. Dia memiliki wejangan yang lembut. Ibnu al-Jauzi memujinya dalam hal itu dan menyebutkan bahwa suatu kali dia ditanya tentang hadis-hadis sifat, maka dia melarang untuk membahasnya, dan melantunkan:
“Orang yang marah menolak ridha wahai diriku, padahal kaulah yang menjadikan taat kepadanya sebagai kewajiban
Maka janganlah kau memutuskan hubungan dengan orang yang tidak mampu kau putuskan, meskipun dia bermaksud memutuskan hubungan dengan pipimu dan bumi”
Ibnu al-Jauzi menyebutkan darinya bahwa dia berkata: “Aku pernah takut kepada khalifah, lalu aku mendengar suara yang memanggil dalam mimpi dan berkata kepadaku: ‘Tulislah:
“Tolak musibah zaman dengan kesabaranmu, dan berharaplah kelembutan Yang Maha Esa Maha Mengetahui
Jangan putus asa meskipun kesulitan menyempitkanmu, dan panah takdir melemparkanmu dengan anak panah
Sesungguhnya bagi-Nya Yang Maha Tinggi di antaranya ada jalan keluar yang tersembunyi dari penglihatan dan ilusi
Berapa banyak orang yang selamat di antara ujung-ujung tombak, dan mangsa yang selamat dari gigi harimau”
Dia meninggal pada bulan Sya’ban tahun itu pada usia delapan puluh empat tahun dan dimakamkan di samping ribath az-Zauzani, kemudian dipindahkan ke pemakaman Imam Ahmad.
Syawar bin Mujir ad-Din
Abu Syuja’ as-Sa’di, yang bergelar Amir al-Juyusy, wazir Negeri Mesir pada masa al-Adhid. Dialah yang merebut jabatan wazir dari tangan Ruzzik. Dia adalah orang pertama yang menunjuk al-Qadhi al-Fadhil sebagai penulis, memanggilnya dari Iskandariah dari Bab as-Sidrah. Dia mendapat kedudukan di sisinya, dan para penulis istana tersaingi olehnya karena mereka melihat kemuliaan dan keutamaannya. Para penyair memujinya, di antaranya Umarah al-Yamani yang berkata:
“Besi merasa bosan dengan besi, namun Syawar dalam menolong agama Muhammad tidak pernah bosan
Zaman bersumpah akan mendatangkan orang sepertinya, kau melanggar sumpahmu wahai zaman maka berdosalah”
Keadaannya terus berlangsung hingga Amir Dhirgham bin Sawar memberontak terhadapnya, maka dia meminta perlindungan kepada al-Malik Nur ad-Din. Nur ad-Din mengutus Amir Asad ad-Din Syirkuh bersamanya, lalu mereka menolongnya melawan musuhnya. Namun dia mengingkari janjinya, dan Asad ad-Din terus dendam kepadanya hingga dia dibunuh pada tahun ini di tangan keponakannya Salahuddin Yusuf. Lehernya dipancung di hadapannya oleh Amir Jardik pada tanggal tujuh belas Rabiul Akhir. Setelahnya Asad ad-Din Syirkuh diangkat sebagai wazir sebagaimana telah kami sebutkan, namun masa jabatannya tidak berlangsung lama setelahnya, hanya dua bulan lima hari.
Ibnu Khallikan berkata: Dia adalah Abu Syuja’ Syawar bin Mujir ad-Din bin Nizar bin Asy’air bin Sya’s bin Mughits bin Habib bin al-Harits bin Rabi’ah bin Yakhnus bin Abi Dzu’aib Abdullah, dan dia adalah ayah Halimah as-Sa’diyyah. Demikianlah ia berkata, dan dalam apa yang ia katakan terdapat keraguan karena pendeknya nasab ini dibandingkan dengan jauhnya masa. Wallahu a’lam.
Syirkuh bin Syadi
Asad ad-Din al-Kurdi ar-Rawadi, dan mereka adalah suku Kurdi yang paling mulia. Dia berasal dari sebuah desa bernama Dawin dari wilayah Adzarbaijan. Dia dan saudaranya Najm ad-Din Ayyub – yang lebih tua – mengabdi kepada Amir Mujahid ad-Din Bahrouz al-Khadim, kepala polisi Irak. Najm ad-Din Ayyub ditunjuk sebagai wakil di benteng Tikrit. Kebetulan al-Malik Imad ad-Din Zanki masuk ke sana dalam pelarian dari Qaraja as-Saqi, maka mereka berdua berbuat baik kepadanya dan mengabdi kepadanya.
Kemudian terjadi bahwa dia membunuh seorang dari rakyat biasa dalam tindakan pendisiplinan, maka Bahrouz mengusir mereka berdua dari benteng. Mereka lalu pergi kepada Zanki di Aleppo, dan dia berbuat baik kepada mereka berdua. Kemudian mereka berdua mendapat kedudukan di sisi putranya Nur ad-Din Mahmud. Ayyub ditunjuk sebagai wakil di Baalbek dan putranya Nur ad-Din menguatkan kedudukannya. Asad ad-Din menjadi amir terbesar dan terdekat di sisi Nur ad-Din. Dia memberinya wilayah ar-Rahhah dan Homs bersama dengan tanah-tanah yang lain yang dimilikinya, karena keberaniannya, kegagahannya, ketegasannya, dan jihadnya melawan musuh-musuh Allah, orang-orang Franka dan lainnya, dalam hari-hari yang terhitung dan peperangan-peperangan yang dipertimbangkan, terutama pada hari penaklukan Damaskus. Dan yang lebih mengagumkan dari itu adalah apa yang dilakukannya di negeri Mesir. Semoga Allah merahmatinya dan menjadikan surga sebagai tempat tinggalnya.
Kematiannya terjadi pada hari Sabtu secara mendadak karena serangan angina (khanaaq), yaitu pada tanggal dua puluh dua Jumadil Akhir tahun ini, rahimahullah. Abu Syamah berkata: Kepadanya dinisbahkan Khanqah al-Asadiyyah di dalam Bab al-Jabiyah di jalanan Bani Hasyim, dan Madrasah al-Asadiyyah di asy-Syaraf al-Qibli. Kemudian urusan beralih setelahnya kepada keponakannya Salahuddin Yusuf, lalu kekuasaan menjadi kokoh baginya dan kerajaan-kerajaan taat kepadanya di sana. Segala puji bagi Allah.
Muhammad bin Abdul Baqi bin Ahmad bin Abdul Wahid
Bin Sulaiman yang dikenal dengan Ibnu al-Bathi. Dia mendengar banyak hadis, menyampaikan hadis, dan orang-orang datang kepadanya. Dia mendekati usia sembilan puluh tahun, rahimahullah.
Muhammad al-Fariqy
Abu Abdullah, ahli wejangan. Dikatakan bahwa dia menghafal Nahjul Balaghah dan mengubah kata-katanya. Dia fasih dan pandai berbicara, kalimatnya ditulis dan diriwayatkan darinya sebuah kitab yang dikenal dengan al-Hikam al-Fariqiyyah.
Mu’ammar bin Abdul Wahid
Bin Raja’ Abu Ahmad al-Ashfahani, salah satu ahli hadis dan ahli wejangan. Dia meriwayatkan dari sahabat-sahabat Abu Nu’aim, dan memiliki pengetahuan yang baik tentang hadis. Dia meninggal saat pergi haji di padang pasir, rahimahullah.
Kemudian Masuk Tahun Lima Enam Puluh Lima Hijriah
Pada bulan Safar tahun itu, orang-orang Franka mengepung kota Dimyath dari negeri Mesir selama lima puluh hari. Mereka menyempitkan penduduknya dan membunuh banyak umat. Mereka datang dari darat dan laut dengan harapan menguasai negeri Mesir dan karena takut kaum muslimin menguasai Yerusalem.
Salahuddin menulis surat kepada Nur ad-Din meminta bantuan dan memohon agar dia mengirimkan pasukan bantuan kepadanya. Sebab jika dia keluar dari Mesir, penduduknya akan melakukan keburukan di belakangnya, dan jika dia diam menghadapi Franka, mereka akan merebut Dimyath dan menjadikannya benteng untuk memperkuat diri merebut Mesir. Maka Nur ad-Din mengutus banyak pasukan kepadanya, yang menyusul satu sama lain.
Kemudian Nur ad-Din memanfaatkan ketidakhadiran Franka dari negeri mereka, lalu menyerang mereka dengan pasukan yang banyak. Dia menghancurkan negeri-negeri mereka, merampas harta mereka, membunuh laki-laki mereka, dan menawan perempuan serta anak-anak mereka dalam jumlah yang besar. Di antara yang dikirim kepada Salahuddin adalah ayahnya, Amir Najm ad-Din Ayyub, bersama pasukan dan saudara-saudaranya yang lain. Pasukan dari Mesir menyambutnya pada bulan Rajab, dan al-Adhid keluar untuk menyambutnya sebagai penghormatan kepada anaknya Salahuddin. Dia memberinya Iskandariah, Dimyath, dan al-Buhairah, begitu juga dengan saudara-saudaranya yang lain. al-Adhid membantu Salahuddin dalam peristiwa ini dengan satu juta dinar, hingga akhirnya orang-orang Franka mundur dari Dimyath.
Orang-orang Franka pergi dari Dimyath karena mereka mendengar bahwa al-Malik Nur ad-Din telah menyerang negeri mereka, membunuh banyak laki-laki mereka, menawan banyak perempuan dan anak-anak mereka, dan merampas harta mereka dalam jumlah besar. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan atas kaum muslimin.
Kemudian Nur ad-Din pergi pada bulan Jumadil Akhir menuju al-Karak dan mengepungnya. Tempat itu adalah salah satu negeri yang paling kuat pertahanannya dan hampir saja dia menaklukkannya, tetapi dia mendengar bahwa dua komandan Franka telah menuju Damaskus. Dia khawatir orang-orang Franka akan mengepung mereka, maka dia meninggalkan pengepungan dan menuju Damaskus lalu membentenginya.
Ketika orang-orang Franka mundur dari Dimyath, Nur ad-Din dan kaum muslimin bergembira dengan sangat. Para penyair melantunkan puisi, masing-masing dengan qasidah mereka. Al-Malik Nur ad-Din sangat peduli dan sangat prihatin dengan hal itu, hingga suatu ketika salah seorang penuntut ilmu hadis membacakan kepadanya sebuah juz yang berisi hadis musalsalah dengan senyuman. Dia diminta untuk tersenyum agar musalsalah itu tersambung, namun dia menolak dan berkata: “Aku malu kepada Allah jika Dia melihatku tersenyum sementara kaum muslimin dikepung oleh Franka di pelabuhan Dimyath.”
Syaikh Abu Syamah menyebutkan bahwa imam masjid Abu ad-Darda’ di benteng al-Manshurah melihat dalam mimpi pada malam ketika Franka pergi dari Dimyath, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Sampaikan salam kepada Nur ad-Din dan beri kabar gembira kepadanya bahwa Franka telah pergi dari Dimyath.” Aku berkata: “Ya Rasulullah, dengan tanda apa?” Beliau bersabda: “Dengan tanda sujudnya pada hari Tall Harim ketika dia berkata dalam sujudnya: ‘Ya Allah, tolonglah agama-Mu dan jangan tolong Mahmud. Siapa Mahmud si anjing ini hingga ditolong?'” Ketika Nur ad-Din shalat Subuh di tempatnya, dia memberinya kabar gembira dengan itu dan memberitahunya tentang tanda tersebut. Mereka menyelidiki malam itu dan ternyata benar demikian.
al-Imad al-Katib berkata: Pada tahun ini al-Malik Nur ad-Din memakmurkan Masjid Daraya dan memakmurkan makam Syaikh Abu Sulaiman ad-Darani di sana, dan musim dingin di Damaskus.
Pada tahun ini Nur ad-Din mengepung al-Karak selama empat hari. Najm ad-Din Ayyub, ayah Salahuddin, berpisah dengannya dari sana menuju anaknya di Mesir. al-Malik Nur ad-Din mewasiatkannya agar memerintahkan anaknya Salahuddin untuk melakukan khutbah di Mesir untuk Khalifah al-Mustanjid Billah al-Abbasi, karena khalifah mengirim teguran kepadanya tentang hal itu.
Pada tahun ini orang-orang Franka dari pesisir datang untuk melindungi al-Karak bersama Qarib bin ar-Raqiq dan Ibnu Hunfara – keduanya adalah ksatria Franka yang paling berani. Nur ad-Din bermaksud menemui mereka, tetapi mereka menyimpang dari jalannya.
Pada tahun ini terjadi gempa bumi yang dahsyat di Syam dan Jazirah, dan merata di sebagian besar bumi. Banyak tembok di Syam runtuh, banyak rumah jatuh menimpa penghuninya, terutama di Damaskus, Homs, Hamah, Aleppo, dan Baalbek. Temboknya jatuh dan sebagian besar bentengnya. Maka Nur ad-Din memperbarui pembangunan sebagian besar yang runtuh akibat gempa bumi ini.
Dan pada tahun ini meninggal dunia Raja Quthb al-Din Maudud bin Zangi, saudara Nur al-Din Mahmud penguasa Mosul, dalam usia empat puluh tahun, dan masa pemerintahannya dua puluh satu tahun. Ia termasuk raja-raja terbaik, dicintai rakyat, penyayang kepada mereka, berbuat baik kepada mereka, dan berpenampilan baik. Yang memerintah setelahnya adalah putranya Saif al-Din Ghazi dari al-Sitt Khatun binti Tamurtasy bin Ilghazi bin Artuq penguasa Mardin. Yang mengatur kerajaannya dan berkuasa penuh adalah Fakhr al-Din Abdul Masih, seorang yang zalim dan sewenang-wenang. Pada tahun ini terjadi banyak peperangan antara raja-raja Barat di Jazirah al-Andalus, demikian pula terjadi banyak peperangan antara raja-raja Timur juga. Yang memimpin haji pada tahun ini dan tahun sebelumnya adalah Amir Arghasy al-Kabir.
Pada tahun ini wafat al-Mustanjid dan digantikan putranya al-Mustadhi. Adapun al-Mustanjid telah sakit pada awal tahun ini kemudian sembuh menurut pandangan orang-orang, maka diadakan jamuan besar karena hal itu, dan orang-orang bergembira karenanya. Kemudian dokter memasukkannya ke pemandian padahal ia dalam keadaan sangat lemah, lalu ia meninggal di pemandian, semoga Allah merahmatinya. Dikatakan bahwa hal itu terjadi atas petunjuk sebagian pejabat negara kepada dokter untuk mempercepat kematiannya. Wafatnya pada hari Sabtu setelah dzuhur tanggal dua Rabi’ul Akhir dalam usia empat puluh delapan tahun, dan masa kekhalifahannya sebelas tahun satu bulan. Ia termasuk khalifah-khalifah terbaik, paling adil, dan paling lemah lembut kepada rakyat. Ia menghapuskan pajak dan pungutan dari mereka, tidak meninggalkan pajak di Irak. Seorang temannya pernah memintakan syafaat untuknya pada seorang penjahat dan menawarkan sepuluh ribu dinar, maka khalifah berkata kepadanya: “Aku akan memberimu sepuluh ribu dinar, datangkan orang sepertinya kepadaku agar aku dapat memberikan ketenangan kepada kaum muslimin dari kejahatannya.”
Al-Mustanjid berkulit sawo matang, berjanggut panjang, dan ia khalifah Abbasiyah yang ketiga puluh dua. Dalam perhitungan Jumal angka ini adalah lam ba, karena itu salah seorang sastrawan berkata tentangnya: Engkau menjadi inti (lubb) dari seluruh Bani Abbas … jika engkau hitung dengan perhitungan Jumal para khalifah
Ia banyak menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah kemungkaran. Ia telah melihat dalam mimpinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beberapa kali, yang terakhir empat hari sebelum ia menjadi khalifah, beliau berkata kepadanya: Katakanlah: Ya Allah, bimbinglah aku bersama orang yang Engkau bimbing dan berilah kesehatan kepadaku bersama orang yang Engkau beri kesehatan… do’a qunut selengkapnya. Shalat jenazahnya dilaksanakan pada hari Ahad sebelum dzuhur dan dikubur di Dar al-Khilafah, kemudian dipindahkan ke makam di al-Rusafah.
Kekhalifahan al-Mustadhi
Beliau adalah Abu Muhammad al-Hasan bin Yusuf al-Mustanjid bin al-Muqtafi. Ibunya berkebangsaan Armenia bernama Ghadhah. Kelahirannya pada bulan Sya’ban tahun 536 H. Ia dibaiat sebagai khalifah pada hari ayahnya meninggal, pagi hari Ahad tanggal sembilan Rabi’ul Akhir, dan orang-orang membaiatnya. Tidak ada yang menjadi khalifah dengan nama al-Hasan setelah al-Hasan bin Ali selain dia, dan kunyahnya juga sama. Pada hari itu dikenakan pakaian kebesaran kepada orang-orang lebih dari seribu pakaian, dan itu adalah hari yang bersejarah. Ia mengangkat qadhi al-qudhat Baghdad untuk Ruh bin al-Haditsi pada hari Jumat tanggal empat belas Rabi’ul Akhir, dan mengenakan pakaian kebesaran yang agung kepada wazir yaitu al-Ustadz ‘Adhud al-Din. Dipukullah genderang di pintunya pada tiga waktu: fajar, maghrib dan isya. Ia memerintahkan tujuh belas amir dari budak-budak, dan mengizinkan para penceramah sehingga mereka berbicara setelah dilarang dalam waktu yang lama. Kemudian banyak yang keberatan. Di antara yang dinazamkan oleh al-‘Imad al-Katib ketika datang kabar gembira tentang kekhalifahan al-Mustadhi dan mereka berada di tanah Mosul:
Sungguh zaman telah bercahaya dengan al-Mustadhi … pewaris selendang dan putra paman Nabi Ia datang dengan kebenaran, syariat dan keadilan … maka selamat datanglah kedatangan ini Berbahagialah penduduk Baghdad, mereka beruntung … setelah kesusahan dengan setiap kehidupan yang menyenangkan Jika ada kegelapan di masa lampau … maka kembalinya di masa yang cerah
Pada tahun ini Raja Nur al-Din Mahmud bin Zangi pergi ke al-Raqqah dan menaklukkannya, demikian juga Nusaybin, al-Khabur dan Sinjar, dan menyerahkannya kepada suami putrinya, yaitu keponakannya ‘Imad al-Din Zangi bin Maudud. Kemudian ia pergi ke Mosul dan tinggal di sana dua puluh empat hari, dan mempertahankannya untuk keponakannya Saif al-Din Ghazi bin Quthb al-Din Maudud bersama Jazirah, dan menikahkan putrinya yang lain dengannya. Ia memerintahkan pembangunan masjidnya dan perluasannya, dan mengawasi sendiri peletakan pondasinya. Ia menjadikan khatib dan pengajian fikih untuknya, mengangkat untuk pengajaran Faqih Abu Bakar al-Nawqani murid Muhammad bin Yahya, murid al-Ghazali, dan menulis piagam untuknya, dan mewakafkan desa dari desa-desa Mosul untuk masjid itu. Semua itu atas petunjuk Syaikh Salih al-‘Abid Umar al-Malla’. Ia memiliki zawiyah yang dikunjungi orang dan mengadakan undangan setiap tahun pada bulan Maulid yang dihadiri raja-raja, para amir, ulama dan wazir, dan ia sangat memperhatikan hal itu. Raja Nur al-Din adalah temannya, dan ia meminta nasihatnya dalam urusan-urusannya, dan mempercayainya dalam hal-hal penting. Dialah yang memberinya petunjuk selama tinggal di Mosul tentang semua kebaikan yang dilakukannya, karena itu dengan kedatangannya terjadi segala kegembiraan bagi penduduk Mosul, dan musibah-musibah terangkat dari mereka, pajak dan pungutan dihapuskan dari mereka, dan penguasa yang zalim Abdul Masih dikeluarkan dari tengah-tengah mereka. Ia menamakannya Abdullah dan membawanya ke Damaskus dan memberinya tanah yang baik, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan.
Abdul Masih ini adalah seorang Kristen kemudian menampakkan Islam, dan dikatakan bahwa ia memiliki gereja di dalam rumahnya. Ia buruk perjalanannya terhadap para ulama dan khususnya kaum muslimin. Ketika Nur al-Din memasuki Mosul, yang memintakan keamanan untuknya adalah Syaikh Umar al-Malla’. Ketika Nur al-Din memasuki Mosul, keponakannya keluar menemuinya, lalu berdiri di hadapannya. Ia memuliakannya dan berbuat baik kepadanya serta mengenakan kepadanya pakaian kebesaran yang datang dari khalifah. Ia masuk ke kota dengan kemegahan yang besar. Nur al-Din tidak memasuki Mosul sampai musim dingin kuat, lalu ia tinggal di sana seperti yang kami sebutkan dua puluh empat hari. Pada malam terakhir ia tinggal di sana, ia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mimpi berkata kepadanya: Negerimu telah baik bagimu dan engkau meninggalkan jihad dan memerangi musuh-musuh Allah. Maka ia bangun seketika untuk bepergian dan tidak sampai pagi ia sudah berangkat ke Syam. Ia mengangkat Syaikh Syaraf al-Din bin Abi ‘Asrun sebagai qadhi atas Sinjar, Nusaybin dan al-Khabur, lalu Ibn Abi ‘Asrun mengangkat wakil-wakil dan sahabat-sahabat di sana.
Pada tahun ini Salahuddin memberhentikan para qadhi Mesir karena mereka adalah Syi’ah, dan mengangkat qadhi al-qudhat di sana untuk Shadr al-Din Abdul Malik bin Dirbas al-Marani al-Syafi’i, dan mengangkat wakil-wakil di seluruh wilayah qadhi-qadhi Syafi’iyah. Ia membangun madrasah untuk Syafi’iyah dan lainnya untuk Malikiyah. Keponakannya Taqi al-Din Umar bin Syahanasyah membeli rumah yang dikenal dengan Manazil al-‘Izz dan menjadikannya madrasah untuk Syafi’iyah, dan mewakafkan al-Raudhah dan lainnya untuknya. Salahuddin membangun tembok-tembok kota, demikian juga tembok-tembok Iskandariyah, dan berbuat baik kepada rakyat dengan sangat banyak kebaikan. Ia berkuda dan menyerang negeri-negeri Franka di sekitar ‘Asqalan dan Ghazzah, dan menghancurkan benteng mereka di Aylah, dan membunuh banyak sekali pejuang mereka. Ia menjemput keluarganya yang datang dari Syam, dan berkumpul dengan mereka setelah perpisahan yang lama. Pada tahun ini Salahuddin menghentikan adzan dengan “hayya ‘ala khair al-‘amal” dari seluruh negeri Mesir, dan mulai mempersiapkan khutbah untuk Bani Abbas di atas mimbar-mimbar.
Di Antara yang Meninggal pada Tahun Ini dari Para Tokoh:
Thahir bin Muhammad bin Thahir
Abu Zur’ah, asal Maqdisi, kelahiran Razi, tinggal di Hamadzan, lahir tahun 481 H. Ayahnya al-Hafizh Muhammad bin Thahir telah memperdengarkan banyak hal kepadanya. Di antara yang diriwayatkannya adalah Musnad al-Syafi’i. Wafatnya di Hamadzan hari Rabu tanggal tujuh Rabi’ul Akhir dan hampir berusia sembilan puluh tahun.
Yusuf al-Qadhi
Abu al-Hajjaj bin al-Khallal, pemilik dewan penulisan di negeri Mesir, dan ia adalah guru al-Qadhi al-Fadhil dalam bidang ini. Ia belajar kepadanya sehingga mahir sampai diperkirakan bahwa ia menempati posisinya ketika syaikh lemah melaksanakan tugas jabatan karena tuanya. Al-Qadhi al-Fadhil mengerjakan jabatan itu dan mengurus keluarganya sampai ia meninggal, kemudian ia banyak berbuat baik kepada keluarganya, semoga Allah merahmati mereka.
Yusuf bin Khalifah
Al-Mustanjid billah bin al-Muqtafi bin al-Mustazhir. Telah disebutkan wafat dan biografinya dalam peristiwa-peristiwa. Setelahnya meninggal pamannya Abu Nasr bin al-Mustazhir beberapa bulan kemudian dan tidak tersisa setelahnya seorangpun dari keturunan al-Mustazhir. Wafatnya pada hari Selasa tanggal dua puluh delapan Dzulqa’dah pada tahun itu.
Pada Tahun Ini Wafat al-‘Adhid Penguasa Mesir
Pada Jumat pertama tahun ini, Salahuddin memerintahkan untuk mengadakan khutbah untuk Bani Abbas di Mesir, dan pada Jumat kedua di Kairo. Itu adalah hari yang bersejarah. Ketika berita sampai kepada Raja Nur al-Din di Syam, ia mengirim kepada khalifah memberitahukan hal itu bersama Ibn Abi ‘Asrun Syihab al-Din Abu al-Ma’ali al-Muthahhar. Baghdad dihias, pasar-pasar ditutup, kubah-kubah didirikan, dan kaum muslimin bergembira dengan sangat gembira. Khutbah telah terputus dari negeri Mesir sejak tahun 359 H pada masa kekhalifahan al-Muthi’ al-‘Abbasi ketika orang-orang Fathimiyun menguasainya pada masa al-Mu’izz al-Fathimi pembangun Kairo sampai saat ini, yaitu dua ratus delapan tahun. Ibn al-Jauzi berkata: Aku telah menulis tentang hal itu sebuah kitab yang kusebut al-Nashr ‘ala Mishr.
Kematian al-‘Adhid Terakhir Khalifah-Khalifah ‘Ubaydiyyin
Al-‘Adhid dalam bahasa artinya pemotong, “tidak boleh ditebang pohonnya”, tidak boleh dipotong, dan dengannya terputuslah negara mereka. Namanya Abdullah dan berkunyah Abu Muhammad bin Yusuf al-Hafizh bin Muhammad bin al-Mustanshir bin al-Hakim bin al-‘Aziz bin al-Mu’izz bin al-Manshur bin al-Qa’im bin al-Mahdi raja pertama mereka. Kelahiran al-‘Adhid pada tahun 546 H, maka ia hidup dua puluh satu tahun. Perjalanannya tercela, ia seorang Syi’ah yang jahat. Seandainya ia mampu, ia akan membunuh setiap orang dari Ahlussunnah yang ia kuasai. Terjadilah bahwa ketika urusan Raja Salahuddin stabil, ia menetapkan khutbah untuk Bani Abbas atas perintah Raja Nur al-Din kepadanya karena kritikan khalifah al-Mustanjid kepadanya sebelum wafatnya. Al-Mustanjid ketika itu sedang sakit parah, maka ketika ia meninggal digantikan putranya, maka khutbah di Mesir untuknya. Kemudian al-‘Adhid sakit dan wafatnya pada hari ‘Asyura. Raja Salahuddin menghadiri jenazahnya, menyaksikan takziahnya, menangisi dan menyesalkannya, dan tampak darinya kesedihan. Al-‘Adhid memang taat kepadanya dalam apa yang diperintahkannya. Al-‘Adhid adalah orang yang mulia, dermawan, terpuji, semoga Allah memaafkannya. Ketika ia meninggal, Salahuddin menguasai istana dengan isinya dan mengeluarkan keluarga al-‘Adhid darinya ke rumah yang dikhususkan untuk mereka. Ia memberikan kepada mereka rezeki dan nafkah yang baik dan kehidupan yang ridha sebagai ganti apa yang hilang dari mereka berupa kekhalifahan. Ia menyesali mengadakan khutbah untuk Bani Abbas di Mesir sebelum wafatnya, mengapa tidak sabar sampai setelah kematiannya, tetapi itu adalah takdir yang ditakdirkan dan tertulis dalam kitab. Di antara yang dinazamkan oleh al-‘Imad tentang hal itu:
Meninggal al-‘Adhid si pendusta, maka tidak … ada bid’ah yang terbuka di Mesir lagi Dan masa Fir’aunnya berakhir dan menjadi … Yusufnya yang berkuasa dalam urusan-urusan Padamlah bara api orang-orang sesat dan … layu dari kemusyrikan setiap yang menyala Menjadi persatuan kebaikan yang solid … di sana dan ikatan keteguhan yang teratur Ketika menjadi terbuka syiar Bani … Abbas dengan benar dan kebatilan tersembunyi Dan bermalamlah penyeru tauhid menang … dan dari penyeru-penyeru kemusyrikan membalas dendam Dan tetaplah ahli kesesatan dalam naungan … yang gelap dari ketiadaan dan kebutaan Terkejutlah orang-orang jahil dalam kegelapan … ketika bercahaya mimbar-mimbar ulama Dan kembali dengan al-Mustadhi berdiri tegak … bangunan kebenaran yang telah runtuh Dan tinggi negara yang tertindas … dan menang agama setelah diinjak Bergoyangiah badan Islam karena senang … dan tersenyumlah mulut Islam dan tersenyum Bergembira wajah-wajah petunjuk senang … maka hendaklah kekufuran menyesali giginya menyesal Kembali haram musuh-musuh yang terlanggar … yang terlindungi dan harta para tiran dibagi-bagi Istana-istana penduduk istana dirusaknya … oleh ‘Amir dari rumah dari kesempurnaan yang tinggi Ia usir setelah ketenangan penghuninya … dan mati dengan hina padahal hidungnya angkuh
Di antara syair yang dikatakan di Baghdad memberitakan kepada khalifah al-Mustadhi bi Amrillah dengan khutbah untuknya di Mesir dan wilayah-wilayahnya:
Berbahagialah wahai tuanku pembukaan yang berturut-turut … kepadamu dengannya unta-unta berlari membawa berita Engkau mengambil dengannya Mesir padahal menghalangi darinya … dari kemusyrikan kekuatan dalam tenggorokan kebenaran melemparkan Maka kembali dengan memuji Allah dengan nama imammu … berbangga pada semua negeri dan terhormat Tidak aneh bahwa tunduk kepada Yusuf negerinya … dan adalah kepada ketinggiannya ia mendambakan Menyerupainya akhlak dan perilaku dan kesucian … dan setiap dari Rahman di bumi menggantikan Engkau singkapkan dengan itu dari keluarga Hasyim aib … dan kehinaan menolak kecuali dengan pedangmu tersingkap
Syaikh Syihab al-Din Abu Syamah menyebutkannya dalam al-Raudhatain dan lebih panjang dari ini. Ia menyebutkan bahwa Abu al-Fadha’il al-Husain bin Muhammad bin Turkan hajib Ibn Hubairah membacakannya kepada khalifah al-Mustanjid sebelum kematiannya ketika takwil mimpi yang dilihat sebagian orang untuk khalifah dengan makna ini, dan yang dimaksud dengan Yusuf yang kedua adalah khalifah al-Mustanjid. Demikianlah disebutkan qasidah dalam kehidupan al-Mustanjid oleh Ibn al-Jauzi dan lainnya, padahal khutbah hanya untuk putranya al-Mustadhi. Maka berlangsunglah pembicaraan dengan nama Raja al-Nashir Salah al-Din Yusuf bin Ayyub semoga Allah merahmatinya. Khalifah al-Mustadhi bi Amrillah telah mengirim kepada Raja Nur al-Din pakaian kebesaran yang agung, demikian juga untuk Raja Salahuddin ke negeri Mesir dan bersamanya bendera-bendera hitam dan liwa yang diikat. Dibagikan di masjid-masjid di Syam dan di Mesir. Maka segala puji bagi Allah atas apa yang dianugerahkan berupa kemuliaan dan kemenangan.
Ibn Abi Thayy berkata dalam kitabnya: Ketika Raja Salahuddin al-Malik al-Nashir selesai memperkuat kerajaan dan mengadakan khutbah serta takziah dengan berakhirnya negara ‘Ubaydiyah yang mengklaim bahwa mereka Fathimiyah, ia memeriksa harta dua istana. Ia menemukan di dalamnya harta, barang-barang, peralatan, pakaian, pakaian dan permadani yang menakjubkan dan hal yang luar biasa. Di antaranya tujuh ratus yatim dari permata, sebatang zamrud panjangnya lebih dari sejengkal dan tebalnya seperti ibu jari, tali dari yaqut, dan di dalamnya teko besar dari batu pelindung, dan genderang untuk sakit perut jika dipukul oleh seseorang akan keluar angin dari duburnya sehingga hilang apa yang dirasakannya dari sakit perut. Kebetulan salah seorang amir Kurdi mengambilnya di tangannya dan tidak tahu apa urusannya. Ketika ia memukul di atasnya keluar kentut, maka ia melemparkannya dari tangannya ke tanah sehingga pecah dan hilanglah kegunaannya. Adapun batang zamrud itu, Sultan memecahnya menjadi tiga bagian dan membagikannya kepada istri-istrinya. Ia membagikan kepada para amir banyak sekali potongan balakhsy, yaqut, emas, perabotan, barang-barang dan lain-lain. Berlanjutlah penjualan apa yang tersisa di sana dari perabotan dan barang-barang sekitar sepuluh tahun. Ia mengirim kepada khalifah di Baghdad dari itu hadiah-hadiah yang besar dan agung, demikian juga kepada Raja Nur al-Din ia mengirim kepadanya bagian yang besar dan baik. Ia tidak menyimpan untuk dirinya sendiri apapun dari harta yang diperolehnya, bahkan ia memberikan semua itu kepada yang ada di sekelilingnya dari para amir, wazir, raja-raja dan sahabat-sahabat, semoga Allah merahmatinya. Di antara yang dikirimkannya kepada Nur al-Din adalah tiga potong balakhsy, berat yang satu tiga puluh satu mitsqal, yang lain delapan belas mitsqal dan yang ketiga di bawah keduanya, dengan mutiara yang banyak, enam puluh ribu dinar, dan wewangian yang belum pernah didengar sepertinya. Di antaranya keledai Utabi dan gajah yang sangat besar. Keledai dikirim kepada khalifah dalam kumpulan hadiah dan barang-barang yang luar biasa.
Ibn Abi Thayy berkata: Ditemukan perpustakaan buku yang tidak ada tandingannya di kota-kota Islam, berisi dua juta jilid. Katanya: Di antara keajaibannya adalah di dalamnya seribu dua ratus dua puluh naskah dari Tarikh al-Thabari. Demikianlah kata al-‘Imad al-Katib bahwa buku-buku hampir seratus dua puluh ribu jilid. Ibn al-Atsir berkata di dalamnya dari buku-buku dengan tulisan yang bagus seratus ribu jilid. Al-Qadhi al-Fadhil menerimanya lalu mengambil darinya banyak sekali yang dipilih dan diseleksinya. Katanya: Ia membagi istana utara di antara para amir maka mereka tinggal di sana. Ia menetapkan ayahnya Najm al-Din Ayyub di istana besar di tepi sungai yang disebut al-Lu’lu’ah yang di dalamnya taman al-Kafuri.
Dan sebagian besar para panglima tinggal di rumah-rumah orang-orang yang dahulu berafiliasi dengan Fathimiyyah. Tidak ada seorang pun dari Turki bertemu dengan salah seorang dari mereka yang berada di sana kecuali mereka merampas pakaiannya dan menjarah rumahnya, hingga banyak dari mereka tercerai-berai ke berbagai negeri dan berpencar-berpisah, menjadi tangan yang terpisah-pisah. Masa pemerintahan Fathimiyyah adalah dua ratus delapan puluh tahun lebih sedikit, lalu mereka menjadi seperti kemarin yang telah berlalu dan seakan-akan mereka tidak pernah tinggal di sana. Orang pertama yang memerintah dari mereka adalah Al-Mahdi, ia berasal dari Salamiyyah, seorang pandai besi bernama Sa’id, ia seorang Yahudi yang masuk ke negeri Maghrib dan menamakan dirinya Ubaidillah, mengklaim dirinya sebagai keturunan bangsawan Alawi Fathimi, dan berkata: “Sesungguhnya aku adalah Al-Mahdi.” Hal ini disebutkan oleh lebih dari satu orang dari para ulama besar yang mulia seperti Al-Qadhi Abu Bakar Al-Baqillani dan Asy-Syaikh Abu Hamid Al-Isfarayini dan lebih dari satu orang dari para imam terkemuka setelah tahun empat ratus Hijriyah, sebagaimana telah kami uraikan secara panjang lebar dalam pembahasan sebelumnya. Yang dimaksud adalah bahwa pendusta pembohong ini berhasil dengan kepalsuan yang dibuatnya di negeri-negeri tersebut, dan dibantu oleh sekelompok orang-orang bodoh yang ahli ibadah, ia memiliki negara dan kekuasaan, kemudian ia menjadi kuat hingga membangun sebuah kota yang diberi nama Al-Mahdiyyah sebagai nisbah kepadanya, dan menjadi raja yang ditaati, ia menampakkan Rafidhah dan menyembunyikan kekafiran yang murni.
Kemudian setelahnya adalah anaknya Muhammad, lalu Al-Manshur Al-Mu’izz dan ia adalah orang pertama dari mereka yang memasuki negeri Mesir dan dibangunkan untuknya kota Kaherah, kemudian Al-Aziz kemudian Al-Hakim kemudian Adh-Dhahir kemudian Al-Mustanshir kemudian Al-Musta’li kemudian Al-Amir kemudian Al-Hafidh kemudian Adh-Dhafir kemudian Al-Fa’iz kemudian Al-‘Adhid, dan ia adalah yang terakhir dari mereka. Maka jumlah mereka empat belas raja, dan masa mereka dua ratus delapan puluh tahun lebih. Demikian juga jumlah khalifah Bani Umayyah empat belas orang juga; tetapi masa mereka sembilan puluh tahun lebih. Aku telah menyusun nama-nama mereka dalam bentuk rajaz yang melengkapi rajaz Bani Abbas ketika berakhirnya negara mereka di Baghdad pada tahun enam ratus lima puluh enam Hijriyah sebagaimana akan datang. Fathimiyyun adalah khalifah yang paling kaya dan paling banyak hartanya. Mereka termasuk khalifah yang paling sewenang-wenang, paling kejam dan paling dhalim, dan raja yang paling najis sirahnya dan paling buruk batinya. Dalam negara mereka muncul bid’ah-bid’ah dan kemungkaran-kemungkaran, banyak orang-orang yang fasik, dan sedikit di sisi mereka orang-orang shalih dari kalangan ulama dan ahli ibadah. Banyak di tanah Syam kaum Nushairiyyah, Duruziyyah dan Hasyisyiyyah, dan bangsa Franka menguasai seluruh pesisir Syam hingga mereka merebut Al-Quds, Nablus, Ajlun, Al-Ghaur, negeri Ghazzah, Asqalan, Karak Asy-Syaubak, Thabariyyah, Banyas, Shur, Atslits, Shaida, Beirut, Akka, Shafad, Tharabulus, Anthakiyyah dan semua yang berdekatan dengan itu hingga negeri Ayas dan Sis. Mereka menguasai negeri Amid, Ar-Ruha, Ra’sul Ain dan berbagai negeri lainnya selain itu. Mereka membunuh banyak makhluk yang tidak diketahui jumlahnya kecuali oleh Allah, dan menawan keturunan kaum muslimin dari kalangan perempuan dan anak-anak yang tidak terbatas dan tidak dapat dideskripsikan. Mereka hampir menguasai Damaskus tetapi Allah menjaganya dengan perhatian-Nya dan menyelamatkannya dengan pemeliharaan-Nya. Ketika hari-hari mereka berakhir dan ikatan mereka terputus, Allah mengembalikan semua negeri ini kepada pemiliknya dari para pemimpin kaum muslimin, dan Allah mengembalikan orang-orang kafir dalam keadaan kecewa, dan Dia membinasakan mereka karena apa yang mereka usahakan di dunia dan pada hari pembalasan. Penyair yang terkenal yang dipanggil Arqalah telah berkata:
Kekuasaan setelah keluarga Ali telah menjadi bersinar dengan raja-raja dari keluarga Syadziy Dan timur menjadi iri pada barat terhadap kaum itu, maka Mesir berbangga atas Baghdad Mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan ketegasan dan tekad, dan deringan baja di dalam baja Bukan seperti Fir’aun dan Al-Aziz dan orang yang ada di sana seperti Al-Khathib dan Al-Ustadz
Asy-Syaikh Syihabuddin Abu Syamah rahimahullah berkata, yang dimaksud dengan Al-Ustadz adalah: Kafur Al-Ikhsyidi. Dan ucapannya: Keluarga Ali maksudnya Fathimiyyun dan mereka tidaklah Fathimiyyun; sesungguhnya mereka adalah pendusta-pendusta yang menisbahkan diri kepada Ubaid, dan namanya adalah Sa’id, ia seorang Yahudi pandai besi dari Salamiyyah. Kemudian ia menyebutkan apa yang kami sebutkan dari perkataan para imam tentang mereka dan celaan mereka terhadap nasab mereka. Ia berkata: Aku telah meneliti secara menyeluruh pembicaraan tentang hal itu dalam mukhtashar Tarikh Dimasyq dalam biografi Abdurrahim bin Ilyas. Kemudian ia menyebutkan dalam Ar-Raudhatain di tempat ini banyak hal dari keburukan-keburukan mereka, dan apa yang mereka nyatakan secara terang-terangan pada beberapa waktu dari kekafiran-kekafiran dan musibah-musibah yang besar, laknat Allah atas mereka. Aku sendiri telah menyebutkan banyak hal dalam rentang apa yang telah aku lalui dari sejarah mereka di tahun-tahun sebelumnya yang dapat menutup telinga dan menjauhkan watak. Abu Syamah berkata: Aku telah membuat buku khusus yang kusebut Kasyf Ma Kana ‘Alaihi Banu ‘Ubaid min Al-Kufr wal-Kidzb wal-Makr wal-Kaid (Pengungkapan Apa yang Ada pada Bani Ubaid dari Kekafiran, Kebohongan, Tipu Daya dan Kejahatan). Demikian pula para ulama telah menyusun banyak kitab dalam menyanggah mereka. Di antara yang terbaik yang disusun tentang hal itu adalah: kitab Al-Qadhi Abu Bakar Al-Baqillani yang diberi nama Kasyf Al-Asrar wa Hatk Al-Astar (Pengungkapan Rahasia-Rahasia dan Pengoyakan Tirai-Tirai).
Betapa baiknya apa yang dikatakan oleh sebagian penyair tentang Bani Ayyub yang memuji mereka atas apa yang mereka lakukan di negeri Mesir:
Bukankah kalian yang menghilangkan negara kekafiran dari Bani Ubaid di Mesir, sesungguhnya inilah keutamaan Zindiq-zindiq Syi’ah Bathiniyyah, Majusi dan tidak ada asal-usul mereka di kalangan orang-orang shalih Mereka menyembunyikan kekafiran dan menampakkan Tasyi’, agar mereka dapat bersembunyi sedikit dan kebodohan melanda mereka semua
Pada tahun ini Malik Shalahudin menghapuskan dari penduduk Mesir berbagai pungutan dan pajak-pajak, dan dibacakan pengumuman tentang hal itu di hadapan para saksi pada hari Jumat setelah shalat tanggal tiga Shafar. Pada tahun ini terjadi perselisihan antara Malik Nuruddin dan Malik An-Nashir Shalahudin. Hal itu terjadi karena Nuruddin berperang pada tahun ini ke negeri Franka di pesisir-pesisir, lalu ia menimpakan kepada mereka penderitaan yang keras, dan menetapkan dalam diri mereka siksa dan ancaman. Kemudian ia bertekad untuk mengepung Al-Karak, dan ia menulis surat kepada Shalahudin untuk menemuinya dengan pasukan-pasukan Mesir ke negeri Karak agar mereka bertemu di sana untuk membahas kemaslahatan yang akan kembali manfaatnya kepada kaum muslimin. Malik Shalahudin menduga dari hal itu dan takut bahwa perintah ini memiliki bahaya yang akan menghilangkan apa yang telah ia peroleh berupa kemapanan. Tetapi meskipun demikian ia berkendara dengan pasukannya dari negeri Mesir untuk menuju kepatuhan pada perintah. Ia berjalan beberapa hari kemudian kembali lagi dengan beralasan kekurangan kendaraan, dan kekhawatiran atas kekacauan urusan jika jauh dari Mesir dan sibuk darinya. Ia mengirim permintaan maaf tentang hal itu kepada Sultan Malik Nuruddin, maka hal itu masuk ke dalam hatinya darinya, dan kemarahannya kepadanya menjadi keras, dan ia bertekad untuk memasuki negeri Mesir dan merebutnya dari Shalahudin, dan mengangkat orang lain. Ketika berita ini sampai kepada Shalahudin, ia menjadi sangat kesusahan karenanya, dan ia menyebutkan hal itu di hadapan para panglima dan pembesar-pembesar, maka anak saudaranya Taqiyuddin Umar dengan segera berkata: “Demi Allah, jika Nuruddin datang menyerang kami, kami akan melawannya.” Maka Al-Amir Najmuddin Ayyub, ayah Malik Shalahudin, mencacinya dan mendiamkannya, kemudian berkata kepada anaknya: “Dengar apa yang aku katakan kepadamu: Demi Allah tidak ada di sini seorang pun yang lebih perhatian kepadamu selain aku dan pamanmu ini,” maksudnya Syihabuddin Al-Harimi, “dan jika kami melihat Nuruddin, kami akan segera mendatanginya dan mencium tanah di hadapannya, demikian juga seluruh panglima. Jika ia menulis surat kepadaku agar aku mengirimmu kepadanya bersama seorang utusan, aku akan melakukannya.” Kemudian ia memerintahkan orang-orang yang ada di sana untuk pulang dan pergi. Ketika ia berduaan dengan anaknya, ia berkata kepadanya: “Apakah kamu tidak punya akal? Kamu menyebutkan hal seperti ini di hadapan orang-orang ini, lalu Umar mengatakan perkataan seperti ini dan kamu menyetujuinya, maka tidak akan ada yang lebih penting bagi Nuruddin selain menyerangmu dan melawanmu. Jika orang-orang ini melihatnya, tidak akan ada seorang pun dari mereka yang tinggal bersamamu. Tetapi kirimkan utusan kepadanya, bersikap lemah lembutlah kepadanya, dan rendahkan dirilah di hadapannya, dan katakan kepadanya: ‘Apakah ada keperluan untuk kedatangan tuanku? Kirimkan saja utusan kepadaku hingga aku datang bersamanya ke hadapanmu.'” Maka ia mengirim hal itu kepadanya. Ketika Nuruddin mendengar perkataan seperti ini, hatinya menjadi lunak kepadanya, dan perhatiannya berpaling darinya, dan ia sibuk dengan hal lain. Dan urusan Allah adalah takdir yang telah ditentukan. Pada tahun ini Nuruddin menggunakan merpati pos; hal itu karena kerajaan yang luas dan besar, karena ia menguasai dari perbatasan Nubah hingga Hamadzan, tidak terputus kecuali oleh negeri Franka, laknat Allah atas mereka, dan mereka semua di bawah kekuasaan dan gencatan senjatanya. Oleh karena itu ia menempatkan di setiap benteng dan kota pertahanan merpati-merpati yang membawa surat-surat ke berbagai penjuru dalam waktu yang paling cepat dan persiapan yang paling mudah. Betapa baiknya apa yang dikatakan tentang mereka oleh Al-Qadhi Al-Fadil: Merpati adalah malaikat-malaikat para raja. Al-‘Imad Al-Katib telah memperpanjang pembicaraan tentang hal itu dan menyenangkan, mengagumkan dan menakjubkan.
Orang-Orang yang Wafat pada Tahun Ini
Abdullah bin Ahmad
Bin Ahmad bin Ahmad Abu Muhammad Ibnul Khasyab, ia membaca Al-Qur’an dan mendengar hadits, dan belajar nahwu hingga ia menjadi pemimpin pada ahli zamannya dalam keduanya. Ia mensyarah Al-Jumal karya Abdul Qahir Al-Jurjani. Ia adalah seorang yang shalih dan banyak melakukan perbuatan sunnah. Wafatnya pada bulan Sya’ban tahun ini, dan dikuburkan dekat Imam Ahmad. Ia terlihat dalam mimpi, lalu ditanyakan kepadanya: “Apa yang Allah lakukan terhadapmu?” Ia berkata: “Dia mengampuniku dan memasukkanku ke dalam surga, tetapi Dia berpaling dariku dan dari sekelompok ulama yang meninggalkan amal.” Ibnu Khallikan berkata: Ia tidak memperhatikan penampilan dalam makanan dan pakaiannya, dan ia tidak peduli dengan siapa yang tersedak atau tersandung.
Muhammad bin Muhammad bin Muhammad
Abu Al-Mudhaffar Al-Barawi, ia belajar fikih kepada Muhammad bin Yahya murid Al-Ghazali, ia bermunazhahah dan berceramah di Baghdad, dan ia menampakkan madzhab Al-Asy’ari dan berbicara mengenai Hanabilah. Wafat pada bulan Ramadhan tahun ini.
Nashir bin Al-Khuwayyi Ash-Shufi
Ia berjalan kaki dalam mencari hadits tanpa alas kaki. Wafat di Baghdad rahimahullah Ta’ala.
Asy-Syaikh Syihabuddin Abu Syamah berkata: Pada tahun ini wafat
Nashrullah bin Abdullah Abu Al-Futuh
Al-Iskandari yang dikenal dengan Ibnu Qalaqis, penyair, di ‘Aidzab pada usia tiga puluh lima tahun.
Dan Asy-Syaikh Abu Bakar Yahya bin Sa’dun Al-Qurthubi penghuni Mausil, ahli qira’at dan nahwu.
Ia berkata: Pada tahun ini lahir Al-Aziz dan Adh-Dhahir, dua anak Shalahudin, dan Al-Manshur Muhammad bin Taqiyuddin Umar.
Tahun Lima Ratus Enam Puluh Delapan Hijriyah
Pada tahun ini Nuruddin mengirim kepada Malik Shalahudin, Al-Muwaffaq Khalid bin Al-Qaisarani agar menghitung negeri Mesir, dan karena ia menganggap sedikit hadiah yang dikirim kepadanya dari khazanah Al-‘Adhid. Tujuannya adalah untuk menetapkan pajak pada negeri Mesir yang dibawa kepadanya setiap tahun.
Pada tahun ini Malik Shalahudin mengepung Al-Karak dan Asy-Syaubak, ia menyempitkan penduduknya dan merusak banyak tempat dari wilayah-wilayahnya, tetapi ia tidak berhasil merebutnya pada tahun itu.
Pada tahun ini bangsa Franka berkumpul di Syam untuk menyerang kota Zar’, lalu mereka sampai ke Simkin, maka Nuruddin keluar menghadapi mereka, lalu mereka melarikan diri darinya ke Al-Fawar, kemudian ke As-Sawad kemudian ke Asy-Syalalah. Ia mengirim pasukan ke Thabariyyah, mereka merusak di sana, menawan, membunuh dan merampas ghanimah, lalu kembali dalam keadaan selamat oleh Allah. Bangsa Franka kembali dalam keadaan kecewa, laknat Allah atas mereka semua. Al-‘Imad Al-Katib telah memujinya dengan qashidah yang hebat dalam peperangan ini.
Pembukaan Negeri Nubah
Pada tahun ini Sultan Shalahudin mengirim saudaranya Syamsud Daulah Turansyah ke negeri Nubah, lalu ia menaklukkannya dan menguasai bentengnya, yaitu sebuah benteng yang disebut: Ibrim. Ketika ia melihatnya sebagai negeri yang sedikit manfaatnya, pajaknya tidak mencukupi biayanya, ia mengangkat pengganti di benteng tersebut seorang laki-laki dari Kurdi yang disebut: Ibrahim. Ia menjadikannya komandan yang ditetapkan di benteng Ibrim, dan bergabung dengannya sekelompok orang Kurdi pengangguran, maka harta mereka menjadi banyak dan keadaan mereka menjadi baik di sana. Mereka melancarkan serangan-serangan dan mendapatkan ghanimah dan kegembiraan. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Di tahun ini terjadi kematian Amir Najmuddin Ayyub, ayah dari Malik Shalahuddin. Ia terjatuh dari kudanya lalu meninggal dunia, dan riwayat hidupnya akan disebutkan dalam bab kematian, insya Allah.
Di tahun ini Malik Nuruddin pergi ke negeri Izzuddin Qilich Arslan bin Mas’ud bin Qilich Arslan bin Sulaiman as-Saljuqi, raja Rum. Ia memeriksa negerinya dalam perjalanan dan memperbaiki kerusakan yang ditemukannya. Kemudian ia melanjutkan perjalanan dan menaklukkan Mar’asy dan Bahsana, serta berlaku baik di setiap tempat.
Al-‘Imad al-Katib berkata: Pada tahun ini tiba Fakih Imam besar Quthbuddin an-Naisaburi, yang merupakan fakih zamannya dan tidak ada tandingannya. Nuruddin sangat senang dengannya dan menempatkannya di Aleppo di madrasah Bab al-Iraq. Kemudian ia membawanya ke Damaskus dan mengajar di sudut barat masjid yang dikenal dengan Syekh Nashr al-Maqdisi, dan tinggal di madrasah al-Jarukhiyyah. Nuruddin memulai pembangunan madrasah besar untuk mazhab Syafi’i, namun ajal menjemputnya sebelum itu terwujud. Abu Syamah berkata: Itulah madrasah al-‘Adiliyyah al-Kubra yang kemudian dibangun oleh Malik al-‘Adil Abu Bakar bin Ayyub setelahnya.
Di tahun ini Syihabuddin bin Abi ‘Asrun kembali dari Baghdad setelah membawa ucapan selamat atas khutbah Abbasiyah di negeri Mesir, dan membawa surat keputusan dari khalifah tentang pemberian wilayah Darb Harun dan Sharifain kepada Malik Nuruddin. Kedua wilayah itu dahulu milik ayahnya Imaduddin Zanki. Malik Nuruddin ingin membangun madrasah di Baghdad di tepi sungai Tigris dan menjadikan kedua tempat itu sebagai wakaf untuknya, namun takdir menghalanginya dari itu, semoga Allah merahmatinya. Di tahun ini terjadi banyak peperangan di wilayah Khwarazm antara Sultansyah dengan musuh-musuhnya, yang dirinci oleh Ibnu al-Atsir dan Ibnu as-Sa’i.
Di tahun ini raja Armenia Malih bin Liyun mengalahkan pasukan Rum dan memperoleh banyak harta rampasan dari mereka. Ia mengirim banyak harta kepada Nuruddin dari hasil itu, dan tiga puluh kepala dari kepala-kepala mereka. Nuruddin kemudian mengirimnya kepada Khalifah al-Mustadhi’ bi Amrillah al-‘Abbasi.
Di tahun ini Shalahuddin mengirim pasukan bersama Qaraqusyi, mamluk Taqiyuddin Umar bin Syahansyah, ke negeri Afrika. Mereka menaklukkan banyak wilayah termasuk kota Tripoli Barat dan beberapa kota lainnya.
Di antara tokoh yang wafat di tahun ini:
Ildikiz at-Turki al-Atabiki
Penguasa Azerbaijan dan wilayah lainnya. Ia adalah mamluk al-Kamal as-Saimirami, wazir Sultan Mahmud. Ketika Mahmud membunuhnya, Ildikiz ini mendapat kedudukan tinggi di sisi Sultan. Kemudian kedudukannya semakin tinggi dan kuat hingga menguasai Azerbaijan, Bilad al-Jabal dan wilayah lainnya. Ia seorang yang adil, berkeadilan, pemberani, dan berbuat baik kepada rakyat, semoga Allah merahmatinya. Ia wafat di tahun ini.
Amir Najmuddin Abu Syukr Ayyub bin Syadi
Ayah dari raja-raja Bani Ayyub, orang Kurdi ar-Rawadi—mereka adalah sebaik-baik orang Kurdi—ad-Duwaini; dinisbatkan kepada Duwain di utara Azerbaijan yang berbatasan dengan Kurj. Sebagian mengatakan: Ayyub bin Syadi bin Marwan, dan sebagian menambahkan setelah Marwan dengan bin Ya’qub. Yang dipegang oleh mayoritas ulama adalah bahwa setelah Syadi tidak ada yang diketahui dalam nasab mereka. Sebagian membuat keanehan dengan mengklaim bahwa ia dari keturunan Marwan bin Muhammad al-Ja’di, khalifah terakhir Bani Umayyah. Ini tidak benar. Yang dinisbatkan kepadanya mengklaim hal ini adalah Malik Abu al-Fida Isma’il bin Thughtakin bin Ayyub bin Syadi yang dikenal dengan Ibnu Saifuddin. Ia memerintah Yaman setelah ayahnya, lalu menjadi sombong dan mengklaim khilafah, bergelar al-Imam al-Hadi bi Nurillah, al-Mu’izz li Dinillah, Amirul Mukminin. Ia mengklaim bahwa ia keturunan Umayyah dan para penyair memujinya dengan berlebihan dan menekankan hal itu. Ia sendiri berkata dalam hal itu:
Sesungguhnya aku al-Hadi sang khalifah dan orang yang Menginjak tengkuk orang yang sombong dengan kuda kurus yang tangkas
Dan pasti aku akan mendatangi Baghdad melipat wilayahnya Dan menyebarkannya seperti para pedagang menyebarkan kain
Dan akan aku tegakkan bendera-benderaku di menara-menaranya Dan aku hidupkan di dalamnya apa yang telah dibangun oleh kakekku
Dan akan dikhotbahkan untukku di setiap mimbarnya Dan aku tampakkan agama Allah di dataran rendah dan tinggi
Klaim ini tidak benar, tidak ada dasar yang dapat diandalkan, dan tidak ada sanad yang dapat dijadikan sandaran.
Yang dimaksud adalah bahwa Amir Najmuddin lebih tua dari saudaranya Asaduddin Syirkuh. Ia lahir di tanah Mosul. Amir Najmuddin adalah orang yang pemberani dan berani melayani Malik Muhammad bin Malikasyah. Raja melihat keberanian dan amanahnya, lalu mengangkatnya sebagai gubernur benteng Tikrit. Ia memerintah dengan adil dan termasuk orang yang paling mulia. Kemudian Malik Mas’ud memberikan wilayah itu kepada Mujahiduddin Bahruz, kepala polisi Irak, dan ia tetap mempertahankannya di sana. Pada suatu kesempatan Malik Imaduddin Zanki melewatinya dalam keadaan melarikan diri dari Qaraja as-Saqi. Ia memberikan perlindungan dan melayaninya dengan sempurna, mengobati luka-lukanya, dan ia tinggal di sana lima belas hari. Kemudian ia berangkat ke negerinya Mosul. Kemudian terjadi bahwa Najmuddin Ayyub menghukum seorang Nasrani hingga tewas. Ada yang mengatakan bahwa yang membunuhnya adalah saudaranya Asaduddin Syirkuh, dan ini yang disebutkan oleh Qadhi Ibnu Khallikan. Ia berkata: Seorang budak perempuan kembali dari salah satu tugas dan menyebutkan bahwa komandan di pintu benteng telah mengganggunya. Maka keluarlah Asaduddin Syirkuh dan menikamnya dengan tombak hingga tewas, lalu saudaranya Najmuddin Ayyub menahannya. Ia menulis surat kepada Mujahiduddin Bahruz memberitahukan keadaan yang sebenarnya. Maka ia membalas suratnya dengan mengatakan: “Ayahmu pernah memberikan jasa kepadaku”—ayahnya pernah menjadi wakilnya di benteng ini sebelum Najmuddin Ayyub—”dan aku tidak suka menyakiti kalian berdua, tetapi pindahlah dari sana.” Maka Bahruz mengeluarkan mereka berdua dari bentengnya. Pada malam keluarnya dari benteng itu, lahirlah baginya Malik an-Nashir Shalahuddin Yusuf. Ia berkata: Aku merasa sial dengan kelahirannya karena kehilangan negeriku dan tanah airku. Seseorang berkata kepadaku: “Kami melihat apa yang engkau alami berupa sial karena bayi ini, bagaimana jika bayi ini kelak menjadi raja besar yang memiliki nama besar?” Dan benar terjadi demikian. Mereka berdua kemudian melayani Malik Imaduddin Zanki, lalu kepada putranya Nuruddin Mahmud al-Malik al-‘Adil. Mereka mendapat kedudukan tinggi di sisinya dan dimuliakan. Malik Nuruddin mengangkatnya sebagai wakil di Ba’labak. Ia menetap di sana untuk waktu yang lama dan sebagian besar anak-anaknya lahir di sana. Kemudian terjadilah peristiwa yang telah kami sebutkan tentang kedatangannya ke negeri Mesir, dan kepergian Amir Najmuddin kepada putranya di sana pada tahun 564 H. Kemudian terjadi pada bulan Dzulhijjah ia terjatuh dari kudanya dan meninggal setelah delapan hari, yaitu pada hari kedua puluh tujuh Dzulhijjah tahun ini. Saat itu putranya Malik Shalahuddin sedang mengepung al-Karak dan asy-Syaubak. Ketika berita sampai kepadanya, ia sangat sedih karena tidak hadir saat itu, lalu ia mengirim surat dengan penuh kesedihan kemudian membaca syair:
Dan tangan kematian merampasnya dalam ketidakhadiranku Seandainya aku hadir, apa yang bisa aku lakukan
Najmuddin Ayyub banyak melakukan shalat, puasa, dan sedekah. Ia mulia, dermawan, dan terpuji. Ibnu Khallikan berkata: Ia memiliki khanqah di negeri Mesir, masjid dan saluran air di luar Bab an-Nashr dari Kairo yang diwakafkannya pada tahun 566 H. Ia juga memiliki khanqah di Damaskus yang dikenal dengan an-Najmiyyah. Putranya mengangkatnya sebagai wakil di negeri Mesir ketika ia keluar ke al-Karak dan memberikan kepadanya kekuasaan atas perbendaharaan. Ia termasuk orang yang paling dermawan dan para penyair memujinya seperti al-‘Imad al-Katib, ‘Arqalah, ‘Imarah al-Yamani dan banyak lainnya. Mereka meratapi kematiannya dengan banyak ratapan, dan hal itu disebutkan lengkap oleh Syekh Syihabuddin Abu Syamah dalam bukunya ar-Raudhatain. Ketika ia meninggal, ia dimakamkan bersama saudaranya Asaduddin Syirkuh di Dar al-Imarah. Kemudian keduanya dipindahkan ke Madinah Nabawiyah pada tahun 580 H dan dimakamkan di pemakaman Wazir Jamaluddin al-Maushili, yang bersahabat dengan Asaduddin Syirkuh.
Syihabuddin Abu Syamah berkata: Pada tahun ini wafat raja para ahli nahwu al-Hasan bin Shafi
Yazdan at-Turki
Ia termasuk pemimpin besar Baghdad yang berkuasa dalam pemerintahan, tetapi ia seorang Rafidhah yang jahat dan fanatik kepada Rafidhah. Mereka berada dalam perlindungan dan pengaruhnya hingga Allah memberikan kelegaan kepada kaum Muslimin darinya pada tahun ini di bulan Dzulhijjah. Ia dimakamkan di rumahnya, lalu dipindahkan ke pemakaman Quraisy, segala puji bagi Allah. Ketika ia meninggal, Ahlussunnah bergembira dengan kematiannya, dan Syi’ah marah karenanya, dan terjadi fitnah karena hal itu. Ibnu as-Sa’i menyebutkan dalam tarikh-nya bahwa ia di masa mudanya adalah pemuda tampan. Ia berkata: Syekh kami Abu al-Yaman al-Kindi berkata tentangnya ketika matanya sakit:
Setiap pagi dan setiap petang aku Berdiri di pintu-pintumu dengan salam
Dan telah dikatakan kepadaku ia mengeluh sakit pada matanya Maka kami pun mengeluh darinya dan bersedih
Ibnu al-Jauzi berkata dalam al-Muntazham: Hujan es besar sebesar jeruk jatuh di tempat mereka, ada yang beratnya tujuh rathl. Kemudian setelah itu terjadi kenaikan air yang sangat besar di sungai Tigris yang tidak pernah dialami sebelumnya. Ia merusak banyak bangunan, desa, dan ladang hingga kuburan. Orang-orang keluar ke padang pasir, dan banyak yang berteriak dan berdoa hingga Allah memberikan jalan keluar, dan air mulai surut, segala puji bagi Allah Tuhan bumi dan langit. Adapun Mosul, terjadi hal serupa dengan yang terjadi di Baghdad bahkan lebih banyak. Sekitar seribu rumah hancur karena air dan sekitar jumlah yang sama roboh karenanya. Banyak orang meninggal di bawah reruntuhan. Demikian pula sungai Efrat naik dengan sangat tinggi, dan banyak desa hancur karenanya. Harga-harga naik di Irak dalam tanaman dan buah-buahan. Wabah terjadi pada ternak domba, dan banyak orang yang makan darinya terkena penyakit di Irak dan tempat lainnya.
Ibnu as-Sa’i berkata: Pada bulan Ramadhan, hujan turun terus-menerus di Diyar Bakr dan Mosul selama empat puluh hari dan malam, mereka tidak melihat matahari kecuali dua kali dalam waktu yang sangat singkat. Rumah-rumah dan tempat tinggal roboh menimpa penghuninya. Sungai Tigris naik sangat tinggi karena itu dan banyak tempat tinggal di Baghdad dan Mosul terendam. Kemudian air surut dengan izin Allah Azza wa Jalla. Ibnu al-Jauzi berkata: Pada bulan Rajab, Ibnu al-Harawi datang dari Nuruddin membawa pakaian-pakaian Mesir dan seekor keledai betina berwarna-warni, kulitnya bergaris-garis seperti kain ‘Atabi. Ia berkata: Ibnu asy-Syasyi diberhentikan dari mengajar di an-Nizhamiyyah dan Abu al-Khair al-Qazwini yang menggantikannya. Ia berkata: Pada bulan Jumadil Akhir, al-Mujir al-Faqih ditahan dan dituduh zindik, tidak beragama, meninggalkan shalat dan puasa. Kemudian sekelompok orang membela dan membersihkannya, maka ia dikeluarkan. Disebutkan bahwa ia berkhotbah di al-Harbiyyah suatu hari dan berkumpul padanya sekitar tiga puluh ribu orang.
Ibnu as-Sa’i berkata: Pada tahun ini Abu al-‘Abbas Ahmad bin Amirul Mukminin al-Mustadhi’ terjatuh dari kubah yang tinggi ke tanah dan selamat, segala puji bagi Allah. Namun tangan kanannya berubah dan lengan tangan kirinya, dan sebagian hidungnya terkelupas. Bersamanya ada seorang budak hitam bernama Najah. Ketika ia melihat tuannya terjatuh, ia juga menjatuhkan dirinya dan berkata: “Aku tidak membutuhkan kehidupan setelahnya.” Ia juga selamat. Ketika khilafah beralih kepada Abu al-‘Abbas an-Nashir—yaitu orang yang terjatuh ini—ia tidak melupakan jasa Najah ini, maka ia memberikan kekuasaan dalam pemerintahan kepadanya dan berbuat baik kepadanya.
Pada tahun ini Malik Nuruddin pergi ke negeri Rum dengan pasukan di bawah komandonya, raja Armenia, penguasa Malatya dan banyak raja serta panglima. Ia menaklukkan beberapa benteng mereka, segala puji bagi Allah. Ia mengepung benteng Rum, lalu penguasanya berdamai dengannya dengan lima puluh ribu dinar sebagai jizyah. Kemudian ia kembali ke Aleppo setelah mendapat kesuksesan dalam semua yang diinginkannya, lalu kembali ke Damaskus dengan kemenangan dan kegembiraan yang besar.
Pada tahun ini terjadi penaklukan negeri Yaman oleh Malik Shalahuddin Yusuf bin Ayyub. Sebabnya adalah sampai kepadanya bahwa di sana ada seorang laki-laki bernama Abdun Nabi bin Mahdi yang menguasainya dan menyerukan kepada dirinya sendiri serta menyebut dirinya al-Imam. Ia mengklaim bahwa ia akan menguasai seluruh bumi. Saudaranya Ali bin Mahdi sebelumnya telah menguasai Yaman dan merebutnya dari tangan penduduk Zabid. Ia meninggal pada tahun 560 H, lalu saudaranya ini berkuasa setelahnya. Keduanya memiliki perilaku dan batin yang buruk. Malik Shalahuddin bertekad, karena banyaknya pasukan dan kekuatannya, untuk mengirim pasukan kepadanya. Saudaranya yang tertua Syamsud Daulah adalah orang yang pemberani, berwibawa, dan pahlawan. Ia bergaul dengan ‘Imarah al-Yamani sang penyair, yang menggambarkan kepadanya negeri Yaman, keindahannya, dan banyaknya kebaikannya. Hal itu mendorongnya untuk berangkat dalam ekspedisi ini pada bulan Rajab tahun ini. Ia tiba di Makkah—semoga Allah memuliakannya—lalu berumrah di sana, kemudian berangkat dari sana ke Zabid. Abdun Nabi keluar menghadapinya dan bertempur dengannya. Turansyah mengalahkan dan menawannya beserta istrinya al-Hurrah, yang memiliki banyak harta. Ia memintanya menyerahkan barang-barang berharga dan harta simpanan yang mulia. Pasukan menjarah Zabid. Kemudian ia pergi ke Aden dan Yasir penguasanya bertempur dengannya. Turansyah mengalahkan dan menawannya, lalu merebut negeri itu dengan pengepungan yang ringan. Ia mencegah pasukan menjarahnya dan berkata: “Kami tidak datang untuk merusak negeri tetapi untuk memakmurkan dan menguasainya.” Kemudian ia memperlakukan orang-orang dengan baik dan adil sehingga mereka mencintainya. Kemudian ia menguasai sisa benteng-benteng, tempat-tempat perlindungan, dan wilayah-wilayah, dan seluruh kerajaan Yaman berhasil ia kuasai dengan sempurna. Ia menyerahkan kepadanya hati dan perbendaharaannya. Khutbah disampaikan di sana untuk Khalifah Abbasi Abu Muhammad al-Hasan al-Mustadhi’, dan orang yang mengaku-aku bernama Abdun Nabi dibunuh. Yaman bersih dari kekotoran dan kembali kepada kondisinya seperti sebelumnya. Ia menulis surat kepada saudaranya Malik an-Nashir Shalahuddin memberitahukan tentang kemenangan yang Allah berikan kepadanya dan kebaikan yang diberikan kepadanya. Maka Malik Shalahuddin menulis tentang hal itu kepada Nuruddin, lalu Nuruddin mengirim surat tentang hal itu kepada khalifah memberinya kabar gembira tentang penaklukan Yaman dan khutbah di sana untuknya.
Pada tahun itu keluarlah Al-Muwaffaq Khalid bin Al-Qaisarani dari negeri Mesir, setelah Malik An-Nashir menetapkan perhitungan negeri Mesir dan apa yang keluar dari hasil-hasilnya sesuai dengan yang diperintahkan oleh Malik Nuruddin sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Malik An-Nashir—ketika perintah itu sampai kepadanya—hampir saja menampakkan perpecahan dan menunjukkan sikap menentang serta menolak, tetapi ia kembali kepada tabiat baiknya dan menampakkan ketaatan yang terpuji. Ia memerintahkan untuk menuliskan perhitungan dan menyusun buku. Maka para pegawai dewan, akuntan, dan penulis melaksanakannya. Ia mengirimkan bersama Ibnu Al-Qaisarani hadiah yang mulia dan pemberian yang besar lagi menyenangkan, di antaranya lima mushaf Al-Quran yang indah dengan tulisan yang rata, seratus kalung dari permata berharga yang terdiri dari potongan-potongan delima, yakut, dan permata, kain-kain mewah, wadah-wadah dan kendi-kendi serta piring-piring dari emas dan perak, kuda-kuda, budak laki-laki dan budak perempuan yang cantik dan baik, dan emas sepuluh peti yang terkunci dan tersegel, yang tidak diketahui berapa ratus ribu jumlah emas Mesir di dalamnya yang disediakan untuk belanja.
Ketika kafilah itu berangkat dari negeri Mesir, belum sampai ke Syam hingga terjadilah wafatnya Malik Nuruddin rahimahullah. Maka Malik An-Nashir mengirim orang untuk mengembalikannya kepadanya. Dikatakan bahwa sebagian dari hadiah itu telah diambil orang dan ia mengetahui hal itu ketika barang-barang itu diletakkan di hadapannya.
Terbunuhnya Umarah bin Abu Al-Hasan bin Zaidan Al-Hakami
Dari Qahtan, Abu Muhammad yang bergelar Najmuddin Al-Yamani, penyair dan ahli fikih mazhab Syafii. Sebab pembunuhannya adalah bahwa sekelompok pemimpin negara Fathimiyah berkumpul, lalu mereka menulis surat kepada Franka (Tentara Salib) mengundang mereka. Mereka menunjuk seorang khalifah dari keturunan Fathimiyah, seorang wazir, dan para panglima. Hal itu terjadi ketika Sultan sedang tidak ada di negeri Karak. Kemudian terjadilah kedatangannya, lalu Umarah Al-Yamani mendorong Syamsud-Daulah Turansyah untuk pergi ke Yaman agar pasukan menjadi lemah dalam menghadapi Franka jika mereka datang untuk menolong Fathimiyah. Maka keluarlah Turansyah dan Umarah tidak ikut dengannya, tetapi ia tinggal di Kairo membicarakan persoalan ini dan bergabung dengan orang-orang yang membicarakannya. Ia adalah salah seorang tokoh besar yang menyerukan dan mendorong hal itu. Mereka memasukkan dalam urusan ini orang yang dinisbatkan kepada Malik An-Nashir, dan itu karena kurangnya akal dan banyaknya kebodohan mereka. Orang itu mengkhianati mereka ketika mereka sangat membutuhkannya, yaitu Syekh Zainuddin Ali bin Naja, seorang khatib. Ia datang kepada Sultan dan memberitahukan tentang apa yang telah disepakati oleh kaum itu dan apa yang telah sampai kepadanya urusan mereka. Maka Sultan memberikan kepadanya harta yang banyak dan memberikan kepadanya pakaian-pakaian yang indah. Kemudian Sultan memanggil mereka satu per satu dan memeriksa mereka, lalu mereka mengakui hal itu. Maka ia menahan mereka, kemudian meminta fatwa para fuqaha tentang urusan mereka. Mereka memfatwakannya untuk membunuh mereka dan mencerai-beraikan mereka. Maka saat itu ia memerintahkan untuk menyalib pemimpin-pemimpin dan tokoh-tokoh mereka, tidak para pengikut dan budak-budak mereka. Ia memerintahkan untuk mengasingkan sisa-sisa tentara Ubaidiyah ke negeri yang paling jauh, dan memisahkan keturunan Al-Adhid dan keluarganya di sebuah rumah sehingga tidak sampai kepada mereka perbaikan atau kerusakan. Ia memberikan kepada mereka rizki yang cukup untuk mereka.
Umarah memusuhi Qadhi Al-Fadhil. Ketika ia dihadapkan ke hadapan Sultan, Qadhi Al-Fadhil berdiri lalu bertemu dengan Sultan untuk memberi syafaat baginya di sisi Sultan. Umarah mengira bahwa ia berbicara buruk tentangnya, maka ia berkata, “Wahai tuan Sultan, jangan dengarkan darinya.” Maka Qadhi Al-Fadhil marah dan keluar dari istana. Sultan berkata kepadanya, “Sesungguhnya ia telah memberi syafaat untukmu.” Maka ia sangat menyesal. Ketika ia dibawa untuk disalib, ia melewati rumah Qadhi, lalu memintanya tetapi Qadhi bersembunyi darinya. Maka ia membaca syair:
Abdur Rahim telah bersembunyi Sesungguhnya keselamatan adalah keajaiban
Ibnu Abi Thay berkata: Adapun orang-orang yang disalib adalah Al-Mufadhdhal bin Al-Qadhi yaitu Abu Al-Qasim Hibatullah bin Abdullah bin Kamil, qadhi qudhah negeri Mesir pada zaman Fathimiyah yang bergelar Fakhrul-Umana. Ia adalah orang pertama yang disalib sebagaimana dikatakan oleh Al-Imad Al-Katib. Ia dinisbatkan kepada keutamaan dan adab, dan memiliki syair yang bagus. Di antaranya ucapannya tentang seorang pemuda penjahit:
Wahai penjahit yang menambal setiap pakaian Dan wahai kijang yang cintanya adalah keyakinanku Mudah-mudahan dengan tangan perjumpaan engkau menambal Apa yang telah dirobek oleh perpisahan dari hatiku
Dan Ibnu Abdul-Qawi, ketua para dai. Ia mengetahui harta simpanan istana, maka ia disiksa agar memberitahukan tentangnya tetapi ia menolak. Maka ia meninggal dan harta itu hilang. Dan Al-Uwairis yang adalah nazir diwan dan juga menjabat sebagai qadhi. Dan Syabrama, sekretaris rahasia. Dan Abdush-Shamad Al-Qasyah, salah seorang panglima orang-orang Mesir. Dan Najahin Al-Hamami, dan seorang pria ahli nujum Nasrani Armenia yang telah memberi kabar gembira kepada mereka bahwa urusan ini akan terwujud berdasarkan ilmu nujum.
Dan Umarah Al-Yamani, penyair
Ia adalah penyair yang terkenal, fasih dan pandai yang tidak tertandingi dalam bidang ini. Ia memiliki diwan yang terkenal. Aku telah menyebutkannya dalam kitab Thabaqat Asy-Syafiiyah karena ia menekuni mazhab Syafii. Ia memiliki karya tulis tentang ilmu faraid dan kitab tentang para wazir Fathimiyah, dan kitab yang di dalamnya ia kumpulkan sirah Nafisah yang diyakini oleh rakyat jelata Mesir. Ia adalah seorang sastrawan yang mulia, ahli fikih yang fasih, namun ia dinisbatkan kepada pemihakan kepada Fathimiyah. Ia memiliki banyak sekali puji-pujian untuk mereka, untuk para wazir dan panglima mereka. Paling sedikit ia dinisbatkan kepada Rafidhah (Syiah), dan batinnya dituduh kafir murni.
Al-Imad menyebutkan dalam Al-Khariidah bahwa ia berkata dalam qasidahnya yang awalnya:
Ilmu sejak dulu membutuhkan kepada ilmu Dan mata pedang tidak butuh kepada pena
Qasidah ini sangat panjang dan di dalamnya terdapat kekafiran dan zindiq yang banyak. Ia berkata di dalamnya:
Sesungguhnya awal agama ini dari seorang laki-laki Yang berusaha hingga mereka memanggilnya pemimpin manusia
Al-Imad berkata: Maka ulama Mesir memfatwakan untuk membunuhnya dan mendorong Sultan untuk menghukum orang sejenisnya. Ia berkata: Mungkin saja bait ini dibuat-buat atas namanya. Wallahu alam. Ibnu As-Sai telah menyebutkan sesuatu dari syairnya yang halus. Di antaranya ucapannya memuji salah seorang raja:
Seorang raja jika engkau menghadap wajahnya yang ceria Engkau berpisah darinya dan keceriaan di atas dahimu Dan jika aku mencium tangan kanannya dan keluar dari Pintu-pintunya, para raja mencium tangan kananku
Di antaranya ucapannya bersyair:
Aku dalam cinta kepada pemuda Udzri memiliki alasan Tidak tersisa bagiku sejak air mata mengakui penyangkalan Aku dalam tubuh-tubuh dan dalam mencium pipi-pipi dan dalam Memeluk payudara-payudara memiliki kesukaan dan keinginan Ini pilihanku maka ikutilah jika engkau ridha dengannya Atau tidak, maka biarkanlah aku dengan apa yang aku cintai dan aku pilih
Di antara yang dibacakan oleh Tajuddin Al-Kindi tentang Umarah Al-Yamani ketika ia disalib:
Umarah dalam Islam menampakkan pengkhianatan Dan membai’at di dalamnya bai’at dan salib Dan ia menjadi sekutu kesyirikan dalam kebencian kepada Ahmad Maka ia menjadi dalam cinta salib tersalib Dan ia adalah buruk tempat pertemuan jika engkau mengujinya Engkau akan menemukan darinya tongkat dalam kemunafikan yang kuat Ia akan menemui besok apa yang ia berusaha untuk mencapainya Dan akan diberi minum nanah di neraka dan tersalib
Syekh Syihabuddin berkata: Yang pertama adalah salib orang-orang Nasrani, yang kedua bermakna tersalib, yang ketiga bermakna kuat, dan yang keempat adalah lemak tulang.
Ketika Malik An-Nashir menyalib orang-orang ini—dan itu terjadi pada hari Sabtu tanggal dua bulan Ramadhan tahun ini di antara dua istana di Kairo—ia menulis surat kepada Malik Nuruddin memberitahukan tentang apa yang terjadi dari mereka dan apa yang ia timpakan kepada mereka berupa kehinaan dan hukuman. Al-Imad berkata: Surat itu sampai pada hari wafatnya Malik Nuruddin rahimahullah ta’ala. Demikian juga Malik Shalahuddin membunuh seorang laki-laki dari penduduk Iskandariyah yang disebut Qadid Al-Qashshash. Orang-orang terpesona kepadanya dan menjadikan baginya bagian dari penghasilan mereka, bahkan para wanita dari harta mereka. Lalu ia dikepung dan ia ingin selamat, tetapi tidak ada waktu untuk selamat. Maka ia dibunuh seperti orang-orang yang telah lalu, dan sungguh ia adalah seburuk-buruk pengganti. Segala puji bagi Allah dan dengan-Nya pertolongan dan perlindungan.
Di antara syair Umarah yang ditemukan meratapi Al-Adhid, pemerintahannya, dan hari-harinya:
Penyesalanku atas zaman Imam Al-Adhid Penyesalan orang mandul atas perpisahan dengan yang tunggal Aku bergaul dengan para wazirnya dan berteman dengan Para panglimanya yang mulia dan terpuji Dukacitaku atas kamar-kamar istanamu ketika kosong Wahai putra Nabi dari padatnya orang yang datang Dan atas keterpisihanmu dari tentaramu yang Dahulu seperti ombak samudra yang tenang Engkau mempercayakan urusan mereka kepada orang yang dipercaya khilafah Maka ia tersandung dan lemah dari memperbaiki yang rusak Mudah-mudahan malam-malam mengembalikan kepada kalian Apa yang telah kalian biasakan dari kebiasaan yang baik
Dan ia dari sebagian qasidah:
Wahai pencercaku dalam cinta putra-putra Fathimah Bagimu celaan jika aku mengurangi dalam celaku Demi Allah kunjungilah lapangan dua istana dan menangislah bersamaku Atasnya, tidak atas Shiffin dan Jamal Dan katakanlah kepada penghuninya, demi Allah tidak menyatu Luka-lukaku pada kalian dan tidak lukaku tertutup Apa menurutmu yang akan dilakukan oleh Franka Kepada keturunan keluarga Amirul Mukminin Ali
Syekh Abu Syamah telah menyebutkan dalam Ar-Raudhatain dari syair-syair Umarah Al-Yamani dan puji-pujiannya kepada khalifah-khalifah Fathimiyah dan keluarga mereka banyak sekali, demikian juga Qadhi Ibnu Khallikan.
Ibnu Qarqul Ibrahim bin Yusuf bin Ibrahim bin Abdullah bin Badis bin Al-Qaid Al-Hamzi Abu Ishaq bin Qarqul Al-Andalusi
Penulis kitab Mathali’ Al-Anwar yang ia susun seperti kitab Masyriq Al-Anwar karya Qadhi Iyadh. Ia adalah salah seorang ulama negerinya dan orang-orang mulia yang terkenal. Ia meninggal mendadak setelah shalat Jumat tanggal enam Syawal tahun ini dalam usia enam puluh empat tahun, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Khallikan.
Fasal tentang Wafatnya Malik Al-Adil Nuruddin Mahmud Zanki bin Aq Sunqur At-Turki As-Saljuqi pada tahun ini, dan disebutkan sesuatu dari perjalanan hidupnya yang adil dan hari-harinya yang sempurna
Ia adalah Malik Al-Adil Nuruddin Abu Al-Qasim Mahmud bin Malik Al-Atabak Qasim Ad-Daulah Imaduddin Abu Said Zanki yang bergelar Asy-Syahid bin Malik Aq Sunqur Al-Atabak yang bergelar juga Qasim Ad-Daulah, orang Turki Saljuqi, maula mereka. Ia lahir pada waktu terbit matahari hari Ahad tanggal tujuh belas Syawal tahun sebelas dan lima ratus di Halab. Ia tumbuh dalam pengasuhan ayahnya yang menguasai Halab, Mausil, dan negeri-negeri lain yang banyak. Ia belajar berkuda dan memanah. Ia adalah orang yang berani, pemberani, memiliki cita-cita yang tinggi, tujuan yang baik, kehormatan yang berlimpah, dan agama yang kokoh. Ketika ayahnya terbunuh tahun empat puluh satu saat mengepung Ja’bar sebagaimana telah kami sebutkan, kerajaan di Halab jatuh kepada putranya ini dan saudaranya Saifuddin Ghazi memberinya Mausil sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.
Kemudian Malik Nuruddin menaklukkan Damaskus pada tahun empat puluh sembilan, lalu ia berbuat baik kepada penduduknya dan membangun untuk mereka madrasah-madrasah, masjid-masjid, dan ribath-ribath. Ia melebarkan jalan-jalan dan pasar-pasar, dan menghapus cukai-cukai di Dar Al-Batikh, hewan ternak, tanah lapang, dan lain-lain. Ia adalah seorang penganut mazhab Hanafi yang mencintai para ulama dan fuqara, menghormati dan menghargai mereka, dan berbuat baik kepada mereka. Ia melaksanakan hukum-hukumnya dengan keadilan yang baik dan mengikuti syariat yang suci. Ia mengadakan majelis-majelis keadilan dan menanganinya sendiri. Para qadhi, fuqaha, dan mufti dari berbagai mazhab berkumpul kepadanya. Ia duduk pada hari Selasa di Masjid Mu’allaq yang ada di Al-Kusyk agar setiap orang dari kaum muslimin dan ahli dzimmah dapat sampai kepadanya. Ia memasang pagar di sekitar perkampungan Yahudi, yang dahulunya rusak. Ia menutup Pintu Kaisan dan membuka Pintu Al-Faraj, dan sebelumnya tidak ada pintu di sana sama sekali. Ia menampakkan di negerinya Sunnah dan mematikan bid’ah. Ia memerintahkan adzan dengan “Hayya ‘alash-shalah, hayya ‘alal-falah,” dan sebelumnya tidak diadzan dengan keduanya pada masa pemerintahan ayah dan kakeknya. Yang diadzan hanyalah “Hayya ‘ala khairil-‘amal” karena syiar Rafidhah (Syiah) tampak di sana. Ia menegakkan hudud, membuka benteng-benteng, dan mengalahkan Franka berkali-kali. Ia merebut kembali dari tangan mereka benteng-benteng kuat yang banyak yang telah mereka kuasai dari negeri-negeri kaum muslimin, sebagaimana telah diuraikan sebelumnya pada tahun-tahun yang lalu di masa-masanya.
Ia memberikan pembagian kepada para amir Arab agar mereka tidak mengganggu jamaah haji. Ia membangun di Damaskus rumah sakit yang bagus yang belum pernah dibangun di Syam sebelumnya yang seperti itu, dan sesudahnya juga. Ia mewakafkan wakaf untuk orang yang mengajari anak-anak yatim menulis dan Al-Quran, dan menjadikan untuk mereka nafkah dan pakaian, dan untuk yang mengajari anak-anak yatim dan untuk orang-orang yang mujawir di dua tanah haram.
Masjid Jami’ dalam kondisi rusak, maka ia menyerahkan pengurusannya kepada Qadhi Kamaluddin Muhammad bin Abdullah Asy-Syahrazuri Al-Maushili yang datang bersamanya. Ia menjadikannya qadhi qudhah di Damaskus. Maka ia memperbaiki urusan-urusannya dan membuka empat tempat ziarah yang dahulu hasil-hasil Masjid Jami’ ada di sana sejak terbakar tahun enam puluh satu dan empat ratus. Ia menambahkan kepada wakaf-wakaf Masjid Jami’ yang diketahui wakaf-wakaf yang tidak diketahui pewakafnya dan tidak diketahui syarat-syarat mereka. Ia menjadikannya satu pena dan menamakannya harta kemaslahatan. Ia mengaturnya untuk orang-orang yang membutuhkan, fuqara, masakin, para janda, anak-anak yatim, dan yang semacamnya.
Malik Nuruddin memiliki tulisan yang bagus, banyak membaca kitab-kitab agama, mengikuti atsar-atsar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjaga shalat berjamaah, banyak membaca Al-Quran, banyak melakukan kebaikan, menjaga kehormatan perut dan kemaluannya, hemat dalam pengeluaran untuk diri sendiri, keluarga, dan tanggungannya dalam makanan dan pakaian. Tidak pernah terdengar darinya kata-kata keji dalam marah maupun ridha.
Ibnul-Atsir berkata: Tidak ada di antara raja-raja Islam setelah Umar bin Abdul Aziz yang seperti Malik Nuruddin dan tidak ada yang lebih berupaya untuk keadilan dan insaf daripadanya. Ia telah meminta fatwa para ulama tentang kadar yang halal baginya dari baitul mal, maka ia mengambilnya dan tidak menambah. Ia memiliki toko-toko di Himsh yang ia beli dari bagiannya dari harta rampasan, dan bertambah sewanya untuk istrinya atas nafkahnya ketika ia meminta menambahnya.
Dan dia sering bermain bola, maka sebagian orang saleh menegurnya tentang hal itu, lalu dia berkata: “Sesungguhnya aku hanya ingin melatih kuda dan mengajarkannya menyerang dan mundur.” Dan dia tidak mengenakan sutra, dan makan dari hasil jerih payahnya sendiri, semoga Allah merahmatinya. Suatu hari dia berkuda bersama sebagian sahabatnya dengan matahari di punggung mereka, dan bayangan mereka di hadapan mereka yang tidak dapat mereka capai, kemudian mereka kembali dan bayangan itu menjadi di belakang mereka. Maka Sultan Nuruddin memacu kudanya sambil menoleh dan bayangannya mengikutinya, kemudian dia berkata kepada sahabatnya: Aku telah membandingkan kondisi kita ini dengan dunia, ia lari dari orang yang mengejarnya dan mengejar orang yang lari darinya. Dan sebagian mereka telah membacakan syair tentang makna ini:
Seperti rezeki yang kamu cari … Seperti bayangan yang berjalan bersamamu Kamu tidak akan meraihnya dengan mengikutinya … Maka jika kamu berbalik darinya, ia mengikutimu
Dan dia adalah seorang ahli fikih menurut mazhab Abu Hanifah, dan dia mendengar hadis dan memperdengarkannya, dan dia banyak salat malam sejak waktu sahur hingga dia berkuda:
Dia menggabungkan keberanian dan kekhusyukan … Betapa indahnya mihrab dalam mihrab
Dan demikian pula istrinya, Ismatuddin Khatun binti Al-Atabak Muinuddin Anur, banyak melakukan salat malam. Suatu malam dia tertidur dari wiridnya, maka dia bangun di pagi hari dalam keadaan marah. Dia bertanya tentang keadaannya, lalu dia menyebutkan apa yang terjadi padanya berupa tidur yang memutusnya dari wiridnya. Maka dia memerintahkan untuk memukul tablkhanah (musik kerajaan) di benteng pada waktu sahur untuk membangunkannya dan orang-orang sepertinya dari tidur untuk salat malam:
Dan Allah mengenakan pada tulang-tulang itu meskipun … Telah lapuk di bawah tanah, pengampunan dan keampunan Semoga tanah yang mereka letakkan di dalamnya dipenuhi rahmat … Tempat kediaman kubur mereka dengan ruh dan keharuman
Dan Ibnu Al-Atsir menyebutkan bahwa Sultan Nuruddin suatu hari sedang bermain bola, tiba-tiba dia melihat seorang lelaki berbicara kepada orang lain sambil memberi isyarat kepadanya. Maka dia mengutus Hajib untuk menanyakan apa urusannya. Ternyata dia adalah seorang lelaki yang bersama utusan dari pihak hakim, dan dia mengklaim memiliki hak atas Sultan Nuruddin dan menginginkan pertemuan antara dia dan Sultan dengan hakim. Ketika Hajib memberitahukan hal itu kepadanya, dia melemparkan tongkat polo (jauqan) dari tangannya dan pergi bersama lawannya ke hakim Kamaluddin Asy-Syahrazuri. Dia telah mengirim pesan kepadanya di tengah jalan agar tidak memperlakukannya kecuali seperti perlakuan terhadap pihak yang bersengketa. Ketika mereka tiba, Nuruddin berdiri bersama lawannya hingga perkara diselesaikan, dan tidak terbukti hak bagi lelaki itu, bahkan hak terbukti ada pada Sultan. Ketika hal itu jelas, Sultan berkata: Aku datang bersamanya agar tidak ada seorang pun yang enggan hadir ke Syariat, karena kami hanyalah pengawal di hadapannya, dan aku tahu bahwa dia tidak memiliki hak padaku. Namun dengan ini aku persaksikan bahwa aku telah memberikan kepemilikan itu kepadanya dan menghibahkannya untuknya.
Dan hakim Tajuddin mengutus seorang utusan dari pihaknya yang disebut Suwaid untuk menghadirkan Sultan Nuruddin ke majelis pengadilan untuk mendengar gugatan dari seorang lelaki terhadapnya. Maka Suwaid menyampaikan pesan kepada Hajib. Hajib masuk menemui Sultan sambil tertawa dan berkata: Agar tuan berangkat ke hakim untuk mendengar gugatan. Seolah-olah dia mengejek hal itu. Maka Sultan berkata kepadanya: Mengapa kamu mengejek hal itu! Kemudian dia berkata: Bawakanku kudaku. Lalu dia bangkit sambil berkata: “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan: ‘Kami mendengar dan kami patuh.'” (Surah An-Nur: 51) Dan dia pergi ke hakim pada hari yang hujan dengan lumpur yang banyak, semoga Allah merahmatinya.
Ibnu Al-Atsir berkata: Dan dia adalah orang pertama yang membangun rumah keadilan. Dia duduk di sana dalam seminggu dua hari. Ada yang mengatakan: empat. Ada yang mengatakan: lima. Dan hakim serta para ahli fikih dari berbagai mazhab hadir. Pada hari itu tidak ada Hajib yang menghalanginya, bahkan orang kuat dan orang lemah dapat menemuinya. Dia berbicara dengan orang-orang dan meminta penjelasan dari mereka serta berbicara langsung dengan mereka. Dia mengungkap orang zalim dan memberikan keadilan kepada orang yang dizalimi dari yang zalim. Dia berkata: Penyebabnya adalah bahwa Asaduddin Syirkuh bin Syazi telah menjadi sangat besar kedudukannya hingga seolah-olah dia menjadi mitra dalam kerajaan. Dia mengumpulkan properti, harta, perkebunan, dan desa-desa. Kadang wakilnya menzalimi tetangga mereka dalam hal tanah. Hakim Kamaluddin memberikan keadilan kepada setiap orang yang mengadu tentang semua amir kecuali Asaduddin ini. Ketika Sultan Nuruddin membangun rumah keadilan, Asaduddin memerintahkan wakilnya agar tidak membiarkan siapa pun memiliki kezaliman padanya, meskipun besar, karena hilangnya hartanya lebih dia sukai daripada Nuruddin melihatnya dengan pandangan orang zalim atau membuatnya berdiri bersama lawan dari orang awam. Mereka melakukan hal itu. Ketika Nuruddin duduk di rumah keadilan untuk waktu yang lama, dia tidak melihat seorang pun yang mengadu tentang Asaduddin. Dia bertanya kepada hakim tentang hal itu, dan hakim memberitahukan keadaan yang sebenarnya. Maka Nuruddin bersujud syukur kepada Allah dan berkata: Segala puji bagi Allah yang menjadikan sahabat-sahabat kami memberikan keadilan dari diri mereka sendiri.
Adapun keberaniannya, dikatakan bahwa tidak pernah terlihat di atas punggung kuda yang lebih baik atau lebih kokoh darinya. Dia pandai bermain bola, dan kadang dia memukulnya kemudian memacu kuda mengikutinya dan mengambilnya dari udara dengan tangannya, kemudian melemparkannya ke ujung lapangan, dan tidak terlihat tongkat polonya melampaui kepalanya, dan tongkat polo tidak terlihat di tangannya karena lengan bajunya menutupinya, tetapi itu adalah penghinaan terhadap permainan bola.
Dia adalah seorang yang berani dan sabar dalam perang, dijadikan perumpamaan dalam hal itu. Dia berkata: Aku telah menghadapi kesyahidan lebih dari sekali tetapi tidak terwujud bagiku. Suatu hari ahli fikih Quthbuddin An-Naisaburi berkata kepadanya: Demi Allah wahai tuan Sultan, jangan mempertaruhkan dirimu, karena jika kamu terbunuh, semua orang yang bersamamu akan terbunuh dan negeri-negeri akan diambil. Maka dia berkata: Diamlah wahai Quthbuddin, siapakah Mahmud? Siapa yang menjaga negeri-negeri sebelumku? Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Dia berkata: Maka menangislah orang-orang yang hadir.
Dia pernah menawan sendiri dalam salah satu peperangan salah seorang raja Franka, kemudian dia meminta saran para amir tentangnya; apakah dia membunuhnya atau mengambil harta yang ditawarkan kepadanya sebagai tebusan? Mereka berbeda pendapat. Kemudian pandangannya condong untuk membebaskannya dan mengambil tebusan. Ketika dia mempersiapkan pengiriman tebusan, dia meninggal di negerinya. Hal itu mengagumkan Nuruddin dan para sahabatnya. Nuruddin membangun dari harta itu rumah sakit yang dibangun di Damaskus, yaitu yang paling baik dari rumah sakit yang dibangun di negeri-negeri. Dari syaratnya adalah untuk orang-orang fakir dan miskin, dan jika tidak ditemukan sebagian obat yang sulit ditemukan kecuali di sana, maka orang kaya tidak dilarang darinya. Dan siapa yang datang berobat tidak dilarang dari minumannya. Karena itu Nuruddin datang kepadanya dan minum dari minumannya, semoga Allah merahmatinya.
Aku berkata: Sebagian orang mengatakan: Sesungguhnya apinya tidak pernah padam sejak dibangun hingga zaman kita ini, wallahu a’lam.
Dia telah membangun penginapan-penginapan di jalan-jalan dan menara-menara, dan mengatur penjaga di tempat-tempat yang menakutkan, dan menempatkan di dalamnya merpati pos yang memberitakan berita dalam waktu yang sangat cepat. Dia membangun ribath dan khanqah. Dia mengumpulkan para ahli fikih di sisinya untuk berdiskusi, dan para syekh dan sufi untuk berkunjung. Dia menghormati dan memuliakan mereka. Salah seorang amir di sisinya pernah mencela salah seorang ulama, yaitu Quthbuddin An-Naisaburi. Maka Nuruddin berkata kepadanya: Celakalah kamu! Jika apa yang kamu katakan benar, maka dia memiliki banyak kebaikan yang tidak kamu miliki yang dapat menghapus kejelekan yang kamu sebutkan jika kamu jujur. Padahal aku demi Allah tidak mempercayaimu. Dan jika kamu mengulangi menyebut dia atau orang lain dengan buruk, aku akan mendidikmu. Dia berkata: Maka dia menahan diri darinya dan tidak menyebutnya setelah itu. Dia membangun di Damaskus rumah untuk mendengar hadis dan memperdengarkannya. Ibnu Al-Atsir berkata: Dan dia adalah orang pertama yang membangun rumah hadis. Dia adalah sosok yang berwibawa dan berwibawa dengan wibawa yang kuat di hati para amirnya. Tidak ada seorang pun yang berani duduk di hadapannya kecuali dengan izinnya. Tidak ada seorang amir pun yang duduk tanpa izin kecuali Amir Najmuddin Ayyub. Adapun Asaduddin Syirkuh, Majduddin bin Ad-Daiah wakil Halab, para pembesar dan lainnya, mereka berdiri di hadapannya. Namun dengan ini, jika salah seorang ahli fikih atau fakir masuk, dia berdiri untuknya dan berjalan beberapa langkah dan mendudukkannya bersamanya di permadaninya. Dia mulai berbicara dengannya dengan wibawa dan ketenangan. Jika dia memberikan sesuatu kepada salah seorang dari mereka, dia berkata: Mereka ini memiliki hak dalam baitul mal; berlipat ganda dari apa yang aku berikan kepada mereka. Jika mereka ridha dari kami dengan sebagiannya, maka mereka telah berbuat baik kepada kami.
Dia pernah mendengar satu juz hadis darinya dan di dalamnya: “Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dengan mengenakan pedang di pundak.” Maka dia heran dengan perubahan kebiasaan orang-orang, dan bagaimana para prajurit mengikat pedang di pinggang mereka dan tidak melakukan ini. Kemudian dia memerintahkan para prajurit agar tidak membawa pedang kecuali dengan mengenakannya. Kemudian dia keluar pada hari kedua ke iring-iringan dengan mengenakan pedang, dan semua pasukan juga demikian, dia bermaksud untuk mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Wazinya, Muwaffaquddin Khalid bin Muhammad bin Nashr bin Shaghir Ibnu Al-Qaisarani, penyair itu, menceritakan kepadanya bahwa dia melihat dalam mimpinya bahwa dia mencuci pakaian Sultan Nuruddin. Maka dia memerintahkannya untuk menulis surat-surat tentang penghapusan cukai dan pajak dari negeri-negeri, dan berkata: Ini adalah tafsir mimpimu.
Dia menulis kepada orang-orang meminta mereka segera menghalalkan dari apa yang telah dia ambil dari mereka, dan berkata: Sesungguhnya itu dibelanjakan untuk memerangi musuh-musuh kalian dari orang-orang kafir, semoga Allah memburukkan dan melaknat mereka.
Dia menulis tentang hal itu ke seluruh kerajaannya dan negeri-negeri kekuasaannya, dan memerintahkan para penceramah untuk meminta halal kepadanya dari para pedagang untuk Nuruddin. Dia berkata dalam sujudnya: Ya Allah, rahmatilah pemungut cukai. Dikatakan bahwa Burhanuddin Al-Balkhi mengingkari Sultan Nuruddin dalam penggunaannya harta cukai untuk membantu dalam peperangan, dan berkata: Bagaimana kalian akan diberi kemenangan sedangkan di dalam pasukan kalian ada khamar, tambur, dan terompet?! Dikatakan bahwa penyebab dia menghapus cukai dari orang-orang adalah bahwa penceramah Abu Utsman Al-Muntakhab bin Abi Muhammad Al-Wasithi – dia adalah salah satu orang saleh yang besar – membacakan syair kepada Nuruddin:
Seperti berdirimu wahai orang yang tertipu … Di hari kiamat dan langit berguncang Jika dikatakan Nuruddin, kamu akan pergi dengan selamat … Maka berhati-hatilah agar kamu tetap tinggal dan tidak ada cahaya bagimu Kamu dilarang minum khamar sedangkan kamu dari … Cawan kezaliman yang penuh memabukkan Kamu meninggalkan cawan minuman dengan menjaga diri … Sedangkan atasmu cawan yang haram berputar Apa yang akan kamu katakan jika kamu dipindahkan ke kehancuran … Sendirian dan Munkar dan Nakir datang kepadamu Dan para penggugat bergantung padamu sedangkan kamu di … Hari hisab terseret dan ditarik Dan pasukan tercerai-berai darimu sedangkan kamu di … Sempitnya liang kubur berbaring dan terkubur Dan kamu berharap bahwa kamu tidak pernah menjabat jabatan apa pun … Satu hari pun dan tidak dikatakan orang-orang amir Dan kamu tetap setelah kemuliaan sebagai jaminan dalam lubang … Di dunia orang-orang mati dan kamu terhina Dan kamu dikumpulkan telanjang sedih menangis … Gelisah dan tidak ada penolong bagimu di antara manusia Apakah kamu ridha hidup sedangkan hatimu telah rusak … Bersih dari reruntuhan dan tubuhmu yang makmur Apakah kamu ridha bahwa orang lain mendapat keberuntungan kedekatan dengannya … Selamanya sedangkan kamu dijauhkan dan ditinggalkan Siapkanlah untuk dirimu hujjah yang akan menyelamatkanmu … Hari kembali semoga kamu dimaafkan
Ketika Sultan Nuruddin mendengarnya, dia menangis dan memerintahkan untuk menghapus cukai dan pajak di seluruh negerinya.
Syekh Umar Al-Malla’ dari Mausil menulis kepadanya – dia telah memerintahkan para wali di sana agar tidak memutuskan suatu perkara apa pun hingga mereka memberitahukan kepadanya, maka apa yang dia perintahkan kepada mereka dalam sesuatu, mereka mematuhinya – dan dia adalah salah satu orang saleh yang zuhud, dan Nuruddin meminjam darinya setiap bulan Ramadhan apa yang dia berbuka dengannya, maka dia mengirimkan kepadanya fatit (roti kering) dan raqaq (roti tipis) dan dia berbuka dengannya – dia menulis kepadanya: Sesungguhnya orang-orang perusak telah banyak dan perlu ada semacam kebijakan, dan seperti ini tidak datang kecuali dengan membunuh, menyalib, dan memukul. Dan jika harta seseorang diambil di padang pasir, siapa yang akan datang bersaksi untuknya? Maka Sultan Nuruddin menulis di belakang surat: Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk dan mensyariatkan syariat untuk mereka dan Dia lebih tahu tentang apa yang memperbaiki mereka. Seandainya Dia tahu bahwa dalam syariat ada tambahan dalam kemaslahatan, pasti Dia mensyariatkannya. Maka kami tidak memerlukan tambahan atas apa yang Allah Ta’ala syariatkan. Dia berkata: Maka Syekh Umar Al-Malla’ mengumpulkan orang-orang di Mausil dan membacakan surat itu kepada mereka, dan berkata: Lihatlah surat orang zuhud kepada raja, dan surat raja kepada orang zuhud! Saudara Syekh Abu Al-Bayan datang kepadanya mengadu tentang seorang lelaki yang mencacinya dan menuduhnya bahwa dia munafik dan pura-pura. Dia melebih-lebihkan dalam pengaduannya tentangnya. Maka Sultan berkata kepadanya: Bukankah Allah Ta’ala berfirman: “Dan apabila orang-orang yang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan: ‘Salam.'” (Surah Al-Furqan: 63) Maka Syekh diam dan tidak dapat menjawab.
Ahli fikih Abu Al-Fath Al-Asytari, mu’id (asisten pengajar) An-Nizhamiyah di Baghdad – dia telah mengumpulkan biografi singkat Nuruddin – berkata: Dia menjaga salat pada waktunya secara berjamaah dengan sempurna syarat, rukun, ruku, dan sujudnya. Dia banyak salat malam dan berdoa kepada Allah Azza wa Jalla dalam semua urusannya.
Dia berkata: Kami mendengar dari sekelompok sufi yang dapat dipercaya ucapan mereka bahwa mereka masuk ke negeri Baitul Maqdis untuk berziarah pada masa Franka. Mereka mendengar orang-orang kafir berkata: Ibnu Al-Qasim – maksudnya Nuruddin – memiliki rahasia dengan Allah. Sesungguhnya dia tidak menang atas kami dengan banyaknya prajurit dan pasukannya, tetapi dia menang atas kami dengan doa dan salat malam. Karena dia salat di malam hari dan mengangkat tangannya kepada Allah dan berdoa kepada-Nya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan doanya dan memberikan permintaannya, dan tidak menolak tangannya dengan kecewa, maka dia menang atas kami. Dia berkata: Ini adalah ucapan orang-orang kafir tentangnya, semoga Allah merahmatinya.
Syekh Syihabuddin menceritakan bahwa Sultan Nuruddin mewakafkan kebun Maidan – selain rumpun yang berdekatan dengannya – separuhnya untuk pewangian Jami’ Damaskus dan separuh lainnya dibagi sebelas bagian; dua bagian darinya untuk pewangian madrasah yang dia dirikan untuk Hanafiyah dan sembilan bagian yang tersisa untuk pewangian sembilan masjid; yaitu Jami’ Ash-Shalihin di Jabal Qasiun, Jami’ Al-Qal’ah, Masjid Athiyah, Masjid Ibnu Labid di Al-Fusqar, Masjid Ar-Rammahin, Masjid Al-Abbasi, Masjid Al-Mu’allaq di Ash-Shaghah, Masjid Dar Al-Battikh Al-Mu’allaq, dan masjid yang diperbaharui Nuruddin di dekat gereja Yahudi. Untuk setiap masjid ini satu bagian dari sebelas bagian dari separuh itu.
Dan kebaikan-kebaikannya, perbuatan-perbuatan terpujinya, serta keistimewaan-keistimewaannya sangatlah banyak, dan kami telah menyebutkan sebagian dari hal itu sebagai petunjuk terhadap hal-hal lainnya.
Syekh Syihabuddin telah menyebutkan dalam awal kitab Raudhataini banyak hal tentang itu, dan menyebutkan qashidah-qashidah yang digunakan untuk memujinya. Kami telah menguraikan pada masa pemerintahannya bagian yang baik dari keadilan dan niat baiknya. Kami menyebutkan bahwa ketika Asaduddin membuka negeri-negeri Mesir kemudian meninggal, lalu Shalahuddin mengambil alih, ia (Nuruddin) berniat untuk memecatnya dari sana dan mengangkat orang lain beberapa kali, namun takdir menghalanginya dari hal itu dan menghambatnya karena mendekatnya ajalnya dan berakhirnya umurnya. Namun pada tahun ini – tahun lima ratus enam puluh sembilan – yang merupakan akhir masa kepemimpinannya, ia telah bertekad untuk masuk ke negeri-negeri Mesir, dan mengirim pasukan dari negeri Maushal dan tempat lainnya agar mereka berada di negeri Syam sementara ia sendiri menunggangi kuda bersama pasukan utamanya menuju Mesir. Al-Malik Shalahuddin sangat takut kepadanya. Ketika tiba hari Idul Fitri tahun itu, dan ia berada di Lapangan Hijau Qibli dan khatib shalat Id bersamanya di sana, dan itu adalah hari Ahad. Ia melempar al-Qabaq di Lapangan Hijau Utara, dan takdir berkata kepadanya: ini adalah Id yang terakhir. Ia menggelar jamuan makan yang meriah pada hari Id, dan memerintahkan untuk membagikannya seperti kebiasaan. Ia mengkhitankan putranya Al-Malik ash-Shalih Ismail pada hari itu, dan menghias kota untuknya. Kabar gembira diumumkan untuk Id dan khitanan. Ia menunggangi kuda pada hari Senin dalam pawai seperti biasa, kemudian bermain bola pada hari itu, lalu ia mendapat kemarahan dari salah seorang amir, dan hal itu tidak sesuai dengan tabiatnya. Ia segera pergi ke benteng dalam keadaan sangat marah dan mengalami gangguan, dan masuk dalam kebingungan akibat ketidakseimbangan kondisinya, serta sibuk dengan dirinya dan gangguannya. Semua indera dan tabiatnya berubah. Ia tidak keluar menghadap orang-orang selama seminggu, sementara orang-orang sibuk dari mengurusinya karena apa yang mereka lakukan dari bermain dan bersenang-senang dengan hiasan yang telah mereka pasang. Yang satu menyerahkan nyawanya dan yang lain bersenang-senang dengan kemurahannya. Kegembiraan-kegembiraan itu berubah menjadi kesedihan, dan kesenangan itu berganti dengan kesungguhan. Al-Malik mengalami penyempitan di tenggorokannya yang menghalanginya dari berbicara, dan ini adalah kondisi dari sakit akibat kemarahan yang terpendam. Ia disarankan untuk berbekam namun tidak melakukannya, dan urusan Allah adalah takdir yang sudah ditentukan, dan hal itu tertulis dalam Kitab.
Ketika tiba hari Rabu tanggal sebelas Syawal tahun ini, ia wafat menuju rahmat Allah Ta’ala dalam usia lima puluh delapan tahun, dan ia menjadi raja selama dua puluh delapan tahun. Dishalatkan jenazahnya di Masjid Jami’ Benteng Damaskus, dan dikubur di sana sampai kemudian dipindahkan ke makam yang dibangun untuknya di pintu madrasah yang ia dirikan untuk mazhab Hanafi, semoga Allah merahmatinya, membasahi tanahnya dengan rahmat, dan menjadikan surga sebagai tempat kembalinya.
Para penyair telah meratapi kematiannya dengan banyak ratapan yang telah disebutkan oleh Abu Syamah dalam Raudhataini. Betapa baiknya apa yang dikatakan Al-Imad:
Aku heran pada kematian bagaimana ia bisa menemukan Seorang raja dalam sifat-sifat raja
Dan bagaimana bumi yang berputar bisa terbaring Di dalam tanah sementara bumi berada di tengah bumi yang berputar
Dan Hassan asy-Sya’ir yang dijuluki Al-‘Arqalah berkata tentang madrasah Nuruddin ketika ia dikubur di sana:
Dan sebuah madrasah akan mengajarkan segala sesuatu Dan kekal dalam perlindungan ilmu dan ibadah
Namanya harum di timur dan barat Dengan Nuruddin Mahmud bin Zanki
Ia berkata dan perkataannya benar dan jujur Tanpa sindiran dan tanpa keraguan
Damaskus di antara kota-kota adalah rumah kerajaanku Dan ini di antara madrasah-madrasah adalah rumah kerajaanku
Makamnya terkenal di Damaskus, diziarahi dan terali jendelanya diberi wewangian, sehingga mewangikan setiap orang yang lewat. Orang-orang menyebutnya Nuruddin asy-Syahid karena penyempitan yang terjadi di tenggorokannya. Demikian pula ayahnya disebut asy-Syahid dan dijuluki al-Qasim, dan orang Franka menyebutnya Ibnu al-Qasim.
Sifat-sifat Al-Malik Nuruddin semoga Allah merahmatinya
Ia bertubuh tinggi, berkulit sawo matang, bermata indah, berdahi lebar, berparas tampan, berwajah Turki, tidak memiliki jenggot kecuali di dagunya, berwibawa namun rendah hati, memiliki keagungan dan cahaya Islam, serta mengagungkan kaidah-kaidah syariat, semoga Allah merahmatinya.
Pasal
Ketika Al-Malik Nuruddin meninggal pada bulan Syawal tahun ini, putranya Ash-Shalih Ismail dibai’at menjadi raja setelahnya, dan ia masih kecil. Amir Syamsuddin bin Muqaddam dijadikan atabek-nya. Para amir berselisih, pendapat-pendapat kebingungan, kejahatan-kejahatan muncul, khamar banyak beredar, dan perbuatan keji tersebar. Bahkan keponakannya Saifuddin Ghazi bin Maudud penguasa Maushal ketika memastikan kematian pamannya – padahal ia sedang dikepung olehnya – menyuruh penyerunya mengumumkan di kota pembolehan bermain, bersuka ria, minum khamar, dan hiburan, dan bersama penyeru itu ada rebana, gelas, dan seruling. Maka sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Keponakan ini dan raja-raja serta amir-amir lainnya yang berada di bawah kekuasaannya tidak ada seorang pun yang berani melakukan kemungkaran dan perbuatan keji ketika Nuruddin masih hidup. Ketika ia meninggal, urusan mereka kacau dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi, dan terbukti ucapan penyair:
Maka minumkanlah aku khamar dan katakan padaku ini adalah khamar Dan jangan minumkan aku secara sembunyi-sembunyi jika bisa terang-terangan
Musuh-musuh dari setiap penjuru mengincar kaum muslimin, dan orang-orang Franka bertekad untuk menyerang Damaskus dan merebutnya dari tangan kaum muslimin. Ibnu Muqaddam al-Atabek keluar menghadapi mereka di dekat Banyas, namun ia lemah dalam menghadapi mereka sehingga ia melakukan gencatan senjata untuk beberapa waktu dan menyerahkan harta yang banyak kepada mereka secara tunai. Seandainya ia tidak menakut-nakuti mereka dengan kedatangan Al-Malik Shalahuddin, mereka tidak akan mau berdamai dengannya. Ketika berita itu sampai kepada As-Sultan Al-Malik Shalahuddin bin Ayyub penguasa negeri-negeri Mesir, ia menulis surat kepada para amir – khususnya Ibnu Muqaddam – mencela mereka atas apa yang mereka lakukan berupa gencatan senjata dan penyerahan harta kepada orang-orang Franka, padahal mereka lebih sedikit dan lebih hina. Ia memberitahu mereka bahwa ia bertekad untuk menyerang negeri-negeri Syam untuk melindunginya dari orang Franka. Mereka membalas suratnya dengan surat yang kasar dan kata-kata yang buruk, namun ia tidak menghiraukannya. Karena sangat takut kepadanya, mereka menulis kepada Saifuddin Ghazi penguasa Maushal agar menjadikannya raja atas mereka, untuk menangkis Al-Malik an-Nashir penguasa Mesir, namun ia tidak mau karena ia takut itu adalah tipu daya mereka terhadapnya. Hal itu karena telah melarikan diri darinya seorang sida-sida Sa’duddin Kumusytakin yang telah dijadikan oleh Al-Malik Nuruddin sebagai mata-mata untuknya dan penjaganya dari melakukan perbuatan yang tidak pantas berupa kemaksiatan, khamar, permainan, dan hiburan. Ketika Nuruddin meninggal dan ia mengumumkan pengumuman buruk itu di Maushal, sida-sida tersebut takut bahwa ia akan menangkapnya sehingga ia melarikan diri secara diam-diam. Ketika Ghazi memastikan kematian pamannya, ia berusaha keras mencari sida-sida itu namun gagal, lalu ia menyita harta bendanya. Sida-sida itu masuk ke Halab, kemudian pergi ke Damaskus dan bersepakat dengan para amir untuk membawa putra tuannya Al-Malik ash-Shalih Ismail ke Halab, ia akan membesarkannya di sana dan Damaskus diserahkan kepada al-Atabek Syamsuddin bin Muqaddam sedangkan benteng kepada sida-sida Jamaluddin Raihan. Ketika Al-Malik ash-Shalih berangkat dari Damaskus, para amir dan pembesar Damaskus keluar bersamanya menuju Halab dan itu pada tanggal dua puluh tiga Dzulhijjah tahun ini. Ketika mereka sampai di Halab, anak kecil itu duduk di singgasana kerajaannya dan mereka menahan keluarga al-Dayyah: Syamsuddin bin ad-Dayyah – saudara Majduddin yang merupakan saudara sepersusuan Nuruddin – beserta ketiga saudaranya. Syamsuddin Ali bin ad-Dayyah mengira bahwa putra Nuruddin akan diserahkan kepadanya untuk dibesarkannya karena ia adalah orang yang paling berhak untuk itu, namun mereka mengecewakan harapannya dan memenjarakannya beserta saudara-saudaranya di sumur. Al-Malik Shalahuddin menulis kepada para amir mencela mereka karena memindahkan anak itu dari Damaskus ke Halab dan memenjarakan keluarga ad-Dayyah, padahal mereka termasuk amir-amir terbaik dan pemimpin-pemimpin besar. Mengapa mereka tidak menyerahkan anak itu kepada Majduddin bin ad-Dayyah yang merupakan orang paling disukai oleh Nuruddin dan oleh orang-orang?! Mereka membalas suratnya dengan kurang sopan, dan semua itu semakin membuat Shalahuddin marah kepada mereka dan mendorongnya untuk datang dengan pasukannya kepada mereka, namun pada saat ini ia sibuk dengan urusan yang menyibukkan karena terjadi urusan yang menakutkan di negerinya sebagaimana akan dijelaskan insya Allah di awal tahun yang akan datang.
Di antara orang-orang yang meninggal pada tahun ini dari para tokoh dan orang-orang terkenal:
Al-Hasan bin Ahmad bin al-Hasan bin Ahmad bin Muhammad al-‘Athar Abu al-‘Ala’ al-Hamadzani al-Hafizh
Ia mendengar banyak hadits dan mengembara ke banyak negeri, bertemu dengan para syekh dan datang ke Baghdad serta memperoleh banyak kitab. Ia mempelajari ilmu qira’at dan bahasa hingga menjadi orang yang paling unggul pada zamannya dalam ilmu Kitabullah dan Sunnah. Ia menyusun banyak kitab yang bermanfaat, mengikuti jalan salaf dengan cara yang diridhai, dermawan, ahli ibadah, zahid, berakidah benar, berpenampilan baik, memiliki kedudukan di negerinya dan diterima sepenuhnya. Wafatnya pada malam Kamis tanggal sebelas Jumadil Akhir tahun ini, dan ia telah melewati usia delapan puluh tahun dengan empat bulan dan beberapa hari. Ibnu al-Jauzi berkata: Telah sampai kepadaku bahwa ia terlihat dalam mimpi berada di sebuah kota yang semua dindingnya adalah kitab-kitab dan di sekelilingnya kitab-kitab yang tak terhitung, dan ia sibuk membacanya. Ditanyakan kepadanya: Apa ini? Ia berkata: Aku meminta kepada Allah agar menyibukkanku dengan apa yang aku kerjakan di dunia, maka Dia memberikannya kepadaku.
Al-Ahwazi
Penjaga kitab-kitab di Masyhadd Abu Hanifah di Baghdad. Ia meninggal mendadak pada bulan Rabiul Awal tahun ini, demikian pula ayah dan saudaranya meninggal mendadak seperti kematiannya, semoga Allah merahmati mereka.
Mahmud bin Zanki bin Aq Sunqur As-Sultan Al-Malik al-‘Adil Nuruddin
Penguasa negeri-negeri Syam dan negeri-negeri lainnya yang banyak, dan telah disebutkan sebelumnya dalam pembahasan peristiwa-peristiwa, semoga Allah merahmatinya.
Ibnu al-Jauzi berkata: Nuruddin Mahmud bin Zanki semoga Allah merahmatinya telah merebut dari tangan orang-orang kafir lebih dari lima puluh kota, dan ia saling berkirim surat denganku dan aku pun berkirim surat dengannya, semoga Allah merahmatinya. Ia berkata: Ketika kematian mendatanginya, ia mengambil janji dari para amir sepeninggalnya untuk putranya – yaitu Ash-Shalih Ismail – dan memperbarui perjanjian dengan penguasa Tharablus agar tidak menyerang Syam dalam masa yang telah ia sepakati dengannya. Hal itu karena ia telah menawannya dalam salah satu perangnya dan menawan bersamanya sejumlah orang dari pemerintahannya. Penguasa Tharablus itu menebus dirinya dengan tiga ratus ribu dinar, lima ratus kuda, lima ratus baju besi dan perisai sejumlah itu, qanthuriyet, dan lima ratus tawanan dari kaum muslimin. Ia berjanji kepadanya untuk tidak menyerang negeri kaum muslimin sampai masa tujuh tahun tujuh bulan dan tujuh hari, dan ia mengambil sandera darinya untuk itu: seratus orang dari anak-anak pembesar Franka dan para patriknya. Jika ia melanggar janji maka darah mereka akan ditumpahkan. Ia telah bertekad untuk menaklukkan Baitul Maqdis semoga Allah memuliakannya, namun ajal menjemputnya pada bulan Syawal tahun ini. Masa kepemimpinannya adalah dua puluh delapan tahun dan beberapa bulan, dan hal itu telah disebutkan sebelumnya. Ini adalah ringkasan apa yang disebutkan oleh Ibnu al-Jauzi dan maknanya.
Al-Khidhr bin Nashr bin ‘Aqil bin Nashr al-Irbili
Faqih Syafi’i, orang pertama yang mengajar di Irbil pada tahun lima ratus tiga puluh tiga. Ia adalah orang yang utama dan religius, orang-orang banyak mengambil manfaat darinya. Ia belajar kepada Ilkiya al-Harasi dan lainnya di Baghdad dan datang ke Damaskus. Ibnu ‘Asakir membuat biografi tentangnya dan al-Qadhi Ibnu Khallikan menerjemahkannya dalam al-Wafayat, dan berkata: Makamnya diziarahi, dan aku telah menziarahinya lebih dari sekali, semoga Allah merahmatinya.
Pada tahun ini meninggal raja Franka Muri semoga Allah melaknatnya, dan kurasa ia adalah raja ‘Asqalan dan negeri-negeri di sekitarnya. Ia hampir saja menguasai negeri-negeri Mesir kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.
Kemudian masuklah tahun lima ratus tujuh puluh
Tahun ini dimulai dan As-Sultan Al-Malik an-Nashir Shalahuddin Yusuf bin Ayyub telah bertekad untuk masuk ke negeri-negeri Syam untuk melindunginya dari tangan orang-orang Franka yang terkutuk, namun terjadi urusan yang menyibukkannya dari hal itu. Yaitu bahwa orang-orang Franka datang ke pantai Mesir dengan armada laut yang belum pernah terdengar seperti itu dalam hal banyaknya kapal dan apa yang ada di dalamnya berupa alat-alat pengepungan, banyaknya prajurit dan pasukan. Di antaranya ada dua ratus syini, setiap syini berisi seratus lima puluh prajurit dan empat ratus kapal lainnya. Kedatangan mereka dari Siqilliyah ke hadapan Iskandariyah empat hari sebelum awal tahun. Mereka memasang manjaniq dan dababat di sekitar kota, dan penduduknya keluar menghadapi mereka dan memerangi mereka dengan keras, dan pertempuran berlanjut selama beberapa hari. Banyak yang terbunuh dari kedua belah pihak. Kemudian penduduk kota bersepakat untuk membakar apa yang mereka pasang berupa manjaniq dan dababat, maka mereka melakukannya dan hal itu melemahkan hati orang-orang Franka. Kemudian kaum muslimin menyerang mereka di tempat-tempat mereka dan membunuh sebagian mereka serta memperoleh rampasan yang mereka inginkan. Orang-orang Franka melarikan diri ke segala arah, dan tidak ada tempat perlindungan bagi mereka kecuali laut atau terbunuh atau tertawan. Kaum muslimin menguasai harta benda mereka, barang-barang mereka, kuda-kuda mereka, dan kemah-kemah mereka – secara ringkas mereka membunuh banyak pria dan memperoleh rampasan harta yang banyak – dan yang tersisa dari mereka naik ke armada laut kembali ke negeri mereka dengan kecewa.
Di antara hal yang juga menghalangi Al-Malik an-Nashir dari Syam adalah bahwa seorang laki-laki yang dikenal dengan al-Kanz – sebagian orang menamakannya Abbas bin Syadi – dan ia adalah salah seorang panglima negeri-negeri Mesir dari pemerintahan Fathimiyah – padahal itu adalah ‘Ubaidiyah – ia telah pindah ke Aswan dan mulai mengumpulkan orang-orang kepadanya. Berkumpul kepadanya banyak orang dari kalangan rakyat jelata, orang-orang yang tinggal menetap, dan orang-orang Badui. Ia mengklaim kepada mereka bahwa ia akan mengembalikan pemerintahan Fathimiyah dan menghancurkan para atabek Turki. Berkumpul kepadanya banyak orang dan pasukan besar. Kemudian ia menyerang Qush dan wilayah-wilayahnya, dan membunuh sejumlah amir dan prajuritnya. Al-Malik Shalahuddin mengirim pasukan tentara Mesir kepadanya, dan mengangkat sebagai panglima saudaranya Al-Malik al-‘Adil Saifuddin Abu Bakr al-Kurdi. Ketika keduanya bertemu, Abu Bakr mengalahkannya, menawan keluarganya dan membunuhnya sebagaimana terjadi pada pemimpin Bani Hanifah, dan karena itu Allah menjadikan pemerintahan Bani Ayyub tinggi dan mulia.
Pasal
Ketika negeri-negeri Mesir sudah stabil dan tidak tersisa lagi pemimpin dari sisa pemerintahan ‘Ubaidiyah, As-Sultan Al-Malik an-Nashir Shalahuddin Yusuf keluar dengan pasukan-pasukan Turki menuju negeri-negeri Syam ketika penguasanya Nuruddin Mahmud bin Zanki meninggal dan penduduknya ketakutan, pilar-pilarnya goyah, penguasa-penguasanya berselisih, dan urusan mereka kacau. Tujuannya semoga Allah merahmatinya adalah menyatukan wilayahnya dan berbuat baik kepada penduduknya, mengamankan dataran dan gunungnya, menolong Islam, menangkis musuh, menegakkan Al-Qur’an, menyembunyikan agama-agama lain, menghancurkan salib-salib, meraih keridhaan Ar-Rahman, dan memusuhi setan. Maka ia keluar dari negeri-negeri Mesir ke al-Birkah pada awal bulan Shafar, dan tinggal di sana sampai pasukan berkumpul kepadanya. Ia mengangkat sebagai wakil di Mesir saudaranya Saifuddin Abu Bakr. Kemudian ia berjalan menuju Bilbais pada tanggal tiga belas Rabiul Awal, kemudian melanjutkan perjalanan hingga melewati kota Bushra dan penguasanya Shidiq bin Jauli berjalan dalam pengabdiannya. Ia memasuki kota Damaskus pada hari Senin akhir Rabiul Awal, dan tidak terjadi pertentangan di dalamnya, tidak ada dua pedang yang saling berselisih. Hal itu karena wakilnya Syamsuddin bin Muqaddam awalnya telah menulis surat kepadanya dengan kasar, namun ketika ia melihat urusannya berjalan dengan baik, ia mulai berkirim surat dengannya dan mendesaknya untuk datang ke Damaskus serta menjanjikannya untuk menyerahkan kota. Ketika ia melihat kesungguhan, ia tidak bisa menolak maka menyerahkan kota kepadanya tanpa perlawanan. As-Sultan pertama kali turun di rumah ayahnya – yaitu rumah al-‘Uqaiqi yang dibangun sebagai madrasah untuk Al-Malik azh-Zhahir. Qadhi dan tokoh-tokoh Damaskus datang memberi salam kepada As-Sultan dan mereka melihat darinya puncak kebaikan. Ketika itu di benteng berada sida-sida Jamaluddin Raihan al-Khadim. Ia terus berkirim surat dengannya dan membuainya sampai berhasil mempengaruhinya dan memberinya hadiah yang banyak, maka ia menyerahkan benteng kepadanya, datang kepadanya, dan berdiri di hadapannya. Ia menghormatinya, menghormatkannya, dan berbuat baik kepadanya. Al-Malik an-Nashir menampakkan bahwa ia adalah orang yang paling berhak untuk membesarkan putra Nuruddin karena kebaikan Nuruddin yang kokoh kepada mereka. Ia menyebutkan bahwa ia telah berkhutbah untuk Nuruddin di negeri-negeri Mesir dan mencetak mata uang atas namanya. Kemudian ia memperlakukan orang-orang dengan kebaikan dan memerintahkan pembatalan apa yang diada-adakan setelah Nuruddin berupa pajak-pajak dan pungutan, menegakkan hukum hudud, memerintahkan kebaikan, dan melarang kemungkaran. Dan bagi Allah kesudahan segala urusan.
Bab
Ketika Damaskus telah sepenuhnya berada di bawah kekuasaannya, tidak lama kemudian dia segera bergegas menuju Aleppo, karena di sana terjadi kekacauan dan kerusuhan. Dia mengangkat saudaranya Thughtakin bin Ayyub, yang bergelar Saifuddin Islam, sebagai wakilnya di Damaskus. Ketika melewati Homs, dia merebut bagian luarnya tetapi tidak menyibukkan diri dengan bentengnya karena dia yakin akan memperolehnya. Kemudian dia pergi ke Hamah dan menerimanya dari penguasanya Izzuddin Jurdik, dan memintanya untuk menjadi utusannya antara dia dan penduduk Aleppo. Dia menyetujui hal itu dan pergi menemui mereka, memperingatkan mereka tentang kekuatan Shalahuddin, tetapi mereka tidak memperhatikannya dan tidak mengandalkannya. Bahkan mereka memerintahkan untuk memenjarakannya, sehingga mereka menempatkannya bersama Bani ad-Dayah dalam sumur tempat mereka berada. Ketika jawabannya terlambat sampai kepada Shalahuddin, dia menulis surat yang fasih kepada mereka yang mencela mereka atas perselisihan dan kurangnya persatuan di antara mereka. Mereka membalas dengan jawaban yang sangat buruk, lebih tajam dari tombak. Maka dia mengirim utusan kepada mereka mengingatkan mereka tentang hari-harinya, hari-hari ayahnya dan pamannya dalam mengabdi kepada Nuruddin dalam pertempuran-pertempuran terpuji yang disaksikan oleh para pemuka agama. Kemudian dia pergi ke Aleppo dan berkemah di Gunung Jausyan, sehingga setiap orang yang memiliki baju besi merasa takut pada kekuasaannya. Penduduk Aleppo dipanggil untuk berkumpul di lapangan Bab al-Iraq. Ketika mereka berkumpul, putra Raja Nuruddin menampakkan diri kepada mereka, menunjukkan keramahan dan menangis di hadapan mereka, mendorong mereka untuk berperang melawan Shalahuddin atas saran para panglima. Penduduk kota menjawab dengan wajib taat kepadanya atas setiap orang. Kaum Rafidhah (Syiah) di antara mereka mensyaratkan agar azan dengan kalimat “Hayya ‘ala khairil ‘amal” dikembalikan, disebutkan di pasar-pasar, mereka mendapat tempat di sisi timur masjid, nama-nama dua belas imam disebutkan di hadapan jenazah, jenazah dikafani lima kali, dan akad nikah mereka diserahkan kepada Asy-Syarif ath-Thahir Abu al-Makarim Hamzah bin Zuhrah al-Husaini. Semua itu disetujui. Maka azan dengan “Hayya ‘ala khairil ‘amal” dikumandangkan di masjid dan tempat-tempat lain di seluruh kota. Penduduk kota tidak mampu melawan An-Nashir. Mereka menggunakan segala tipu muslihat untuk melawannya. Pertama, mereka mengirim utusan kepada Sinan, pemimpin kaum Hasyisyiyah (Assassin), yang mengirimkan beberapa pengikutnya untuk membunuh An-Nashir, tetapi mereka tidak berhasil. Mereka malah membunuh beberapa panglima. Kemudian mereka ketahuan dan semuanya dibunuh. Segala puji bagi Allah atas nikmat-Nya. Mereka kemudian berkirim surat dengan Al-Qumush, penguasa Tripoli Franka, dan menjanjikan kepadanya harta yang banyak jika dia mengusir Sultan Malik An-Nashir dari mereka. Al-Qumush ini pernah ditawan oleh Nuruddin dan ditahan selama sepuluh tahun, kemudian dia menebus dirinya dengan seratus ribu dinar dan seribu tawanan Muslim. Dia tidak pernah melupakan jasa Nuruddin, semoga Allah merahmatinya. Al-Qumush, semoga Allah melaknatnya, berangkat dari negerinya Tripoli dengan pasukannya, tetapi tidak berani berperang melawan Sultan. Dia malah menuju Homs untuk merebutnya secara mendadak. Sultan An-Nashir berkuda menujunya dan telah mengirim pasukan ke negerinya yang membunuh, menawan, dan merampas. Ketika Sultan mendekatinya, dia mundur dan kembali ke negerinya, mengira bahwa dia telah memenuhi permintaan mereka. Ketika Shalahuddin kembali ke Homs, dia belum merebut bentengnya saat keberangkatannya, maka dia mengepung benteng itu dan memasang manjanik yang memaksanya untuk merebut benteng dan menaklukkan penghuninya dengan paksa. Kemudian dia kembali ke Aleppo dan Allah memberikan kepadanya dalam serangan ini apa yang dia minta. Al-Qadhi al-Fadhil menulis surat yang fasih dan indah atas nama Sultan melalui Al-Khatib Syamsuddin yang mengatakan: “Setelah menyampaikan salam yang merupakan hak pertemuan, dan ketulusan menuntut doa yang tulus, hendaklah dia mengulangi dan mengulangi peristiwa-peristiwa yang bukan cerita yang dibuat-buat, dan kejadian-kejadian yang jika dia berbicara banyak tentangnya, maka lebih banyak lagi yang telah terjadi. Hendaklah dia menguraikan sebagiannya semoga dapat melapangkan dada kita, dan memperjelas keadaan-keadaan yang tersembunyi karena sesungguhnya Allah tidak disembah secara sembunyi-sembunyi.”
Di antara keajaiban adalah benda-benda ajaib berjalan Di bumi tanpa diketahui oleh yang dimaksud Seperti unta yang paling mematikan baginya adalah kehausan Sementara air di atas punggungnya terbawa
“Sesungguhnya kami menyalakan api dengan tangan kami sementara orang lain mendapat cahaya, kami menggali air dengan tangan kami sementara orang lain mendapat manfaat, kami menerima anak panah dengan dada kami sementara orang lain mengandalkan khayalan, kami berjabat tangan dengan pedang dengan dada kami sementara orang lain mengklaim kepemimpinan. Pasti kami akan mengambil kembali harta kami dengan sikap keadilan yang dengannya harta yang dirampas dikembalikan, dan ketaatan kami akan muncul sehingga kami mendapat bagian dari lisan sebagaimana kami mendapat bagian dari hati. Permulaan urusan kami adalah bahwa kami berada di Syam membuka penaklukan dengan mengawasi sendiri, berjihad melawan orang-orang kafir dengan memimpin pasukan kami sendiri, kami, ayah kami, dan paman kami. Kota mana yang ditaklukkan atau benteng yang dikuasai atau pasukan musuh yang dihancurkan atau barisan Islam yang dengannya berperang dan kami tidak berada di dalamnya? Tidak ada yang mengabaikan perbuatan kami, dan musuh kami tidak mengingkari bahwa kami menyalakan bara dan menguasai bola, memimpin jamaah, mengatur pasukan perang, dan mengatur barisan, hingga muncul di Syam jejak-jejak yang pahalanya adalah milik kami, dan tidak merugikan kami bahwa yang menyebutnya adalah orang lain.” Kemudian dia menyebutkan apa yang mereka lakukan di Mesir dalam mengalahkan kekufuran, menghilangkan kemungkaran, mengalahkan Franka, menghancurkan bid’ah yang ada di sana, keadilan yang ditegakkan dan kebaikan yang disebarkan, khutbah Abbasiyah yang ditegakkan di negeri-negeri Mesir, Yaman, Nubia, dan Afrika, dan hal-hal lain dengan ungkapan yang indah.
Ketika surat itu sampai kepada mereka, mereka memberikan jawaban yang buruk. Mereka telah berkirim surat dengan penguasa Mosul Saifuddin Ghazi bin Maudud, saudara Nuruddin Mahmud bin Zangi, yang mengirim saudaranya Izzuddin dengan pasukannya dan datang kepada mereka dengan kekuatannya. Penduduk Aleppo bergabung dengan mereka dan menuju Hamah ketika An-Nashir tidak ada dan sibuk dengan Benteng Homs dan pembangunannya. Ketika berita itu sampai kepadanya, dia pergi menemui mereka dengan sedikit pasukan. Dia sampai kepada mereka dan mereka dalam pasukan yang banyak. Mereka menghadapinya dan mengharapkan kemenangan karena sedikitnya jumlah pasukannya. Mereka berniat untuk menyerangnya, tetapi dia menjaga mereka dan mengajak mereka untuk berdamai agar pasukan dapat menyusulnya, sampai dia berkata kepada mereka dalam ucapannya: “Aku cukup dengan Damaskus saja, dan aku akan menetapkan khutbah untuk Malik Shalih Ismail di sana, dan aku akan meninggalkan selain itu dari tanah Syam.” Pelayan Saaduddin Kumsytakin menolak perdamaian kecuali mereka memberikan kepada mereka Ar-Rahabah yang berada di tangan sepupunya Nashiruddin bin Asaduddin. Dia berkata: “Itu bukan hakku dan aku tidak mampu melakukannya.” Mereka menolak perdamaian dan memulai pertempuran. Dia menjadikan pasukannya satu kesatuan, dan itu adalah hari Ahad tanggal sembilan belas Ramadan di Qurun Hamah. Dia bersabar dengan kesabaran yang besar. Di tengah-tengah keadaan, keponakannya Taqiyuddin Umar bin Syahanasyah dan saudaranya Farrukhsyah datang dengan sebagian pasukan. Bendera mereka mengungguli mereka dan ketakutan mereka sampai kepada mereka, maka mereka melarikan diri dan kalah. Dia menawan sebagian pemimpin mereka dan menyerukan agar tidak mengejar yang lari dan tidak membunuh yang terluka. Kemudian dia membebaskan mereka yang tertawan dan segera pergi ke Aleppo. Keadaan telah berbalik kepada mereka dan mereka menuju keadaan yang buruk. Kemarin dia meminta perdamaian dan perjanjian damai dari mereka, dan hari ini mereka meminta darinya agar berhenti dan mundur, dengan syarat Al-Ma’arrah, Kafr Tab, dan Barin adalah miliknya selain apa yang sudah ada di tangannya dari wilayah Hamah, Homs, dan Baalbek bersama Damaskus. Dia menerima itu dan berhenti dari mereka. Dia bersumpah untuk tidak menyerang Malik Shalih setelahnya, dan berdoa untuknya di semua mimbar negerinya. Saudaranya Majduddin memohon agar Bani ad-Dayah dikeluarkan dari penjara, maka dia melakukan itu. Kemudian dia kembali dengan kemenangan, perlindungan, keselamatan, dan kebahagiaan.
Ketika dia berada di Hamah, datang utusan Khalifah Al-Mustadhi Biamrillah dengan pakaian kehormatan Sunni, penghormatan Abbasiyah, bendera-bendera hitam, dan surat pengangkatan dari Diwan untuk kekuasaan atas negeri-negeri Mesir dan Syam. Pakaian kehormatan diberikan kepada keluarganya, kerabatnya, sahabat-sahabatnya, mertuanya, para pembantunya, dan para pendukungnya. Itu adalah hari yang bersejarah. Dia mengangkat sepupunya dan mertuanya Amir Syihabuddin Mahmud sebagai wakilnya di Hamah. Kemudian pergi ke Homs dan memberikannya kepada sepupunya Nashiruddin, sebagaimana sebelumnya dari ayahnya Syirkuh Asaduddin, kemudian ke Baalbek kemudian ke Al-Biqa’ dan kembali ke Damaskus pada bulan Dzulqa’dah.
Pada tahun ini muncul seorang laki-laki dari desa Masyghara dari wilayah Damaskus. Dia adalah orang Maghribi yang mengaku sebagai nabi dan menunjukkan beberapa trik, ilusi, sulap, dan pintu-pintu sihir. Sebagian penduduk dari daerah itu dari kalangan rakyat jelata, massa, dan awam terpesona olehnya. Sultan mencarinya, lalu dia melarikan diri pada malam hari dari Masyghara ke wilayah Aleppo. Setiap orang yang terputus ekornya berkumpul padanya dan menyesatkan banyak petani yang tidak beruntung. Dia menikahi seorang wanita yang dicintainya yang berasal dari penduduk dataran itu. Dia mengajarinya untuk mengaku sebagai nabi, sehingga kisah mereka menyerupai Musailamah dan Sajjah. Semoga Allah melaknat mereka berdua setiap kali merpati mendekut dan setiap kali awan mendung menurunkan hujan.
Pada tahun ini menteri Khalifah melarikan diri dan rumahnya dirampok.
Pada tahun ini Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi mengajar di madrasah yang didirikan untuk Hanabilah. Dihadiri oleh Qadhi al-Qudhah (Hakim Agung) Abu al-Hasan Ibnu ad-Damighani, para fuqaha (ahli fiqih), dan para pembesar. Itu adalah hari yang bersejarah dan pakaian kehormatan Sunni diberikan kepadanya.
Pada tahun itu meninggal dunia dari kalangan tokoh:
Ruh bin Ahmad Abu Thalib al-Haditsi
Qadhi al-Qudhah di Baghdad pada beberapa waktu. Putranya berada di tanah Hijaz, ketika kabar kematian ayahnya sampai kepadanya, dia sakit dan meninggal beberapa hari kemudian. Dia dijuluki dengan Rafidhah (Syiah).
Syamlah at-Turkamani
Dia pernah menguasai negeri-negeri Persia, mendirikan benteng-benteng, menguasai Saljuqiyah, dan kekuasaannya teratur selama sekitar dua puluh tahun. Kemudian beberapa orang Turkman memeranginya dan membunuhnya.
Qaimaz bin Abdullah
Quthbuddin al-Mustanjidi menjadi menteri Khalifah Al-Mustadhi. Dia adalah pemimpin seluruh pasukan. Kemudian dia memberontak terhadap Khalifah dan bermaksud merampok istana khalifah. Khalifah naik ke atas atap rumahnya dan memerintahkan rakyat untuk merampok rumah Qaimaz, maka rumahnya dirampok berdasarkan fatwa para fuqaha. Dia melarikan diri dan binasa bersama orang-orang yang bersamanya di padang pasir dan gurun.
Kemudian Tahun Lima Ratus Tujuh Puluh Satu Masuk
Pada tahun ini orang-orang Franka meminta kepada Sultan Shalahuddin, yang telah tinggal di Damaskus di Marj ash-Shaffar, untuk berdamai dengan mereka. Dia menyetujui itu karena Syam sedang mengalami kekeringan dan membutuhkan hal itu. Dia mengirim pasukannya bersama Al-Qadhi al-Fadhil ke negeri Mesir untuk mengumpulkan hasil panen kemudian kembali. Dia sendiri bermaksud tinggal di Syam dan mengandalkan sekretarisnya Al-Imad sebagai pengganti yang paling fasih di negeri-negeri itu, yaitu Al-Qadhi al-Fadhil, teladan para ulama dan orang-orang berbudi, tujuan para pencari ilmu, perhiasan majelis, Zainul Islam yang lisannya lebih tajam dari pedang. Tetapi Sultan membutuhkan untuk mengirimnya ke negeri Mesir agar menjadi mata dan penolong baginya di sana, dan lisan yang fasih yang menyuarakan darinya, sehingga dia membutuhkan penggantinya. Tidak ada seorang pun yang lebih mulia baginya dan lebih dicintainya daripadanya:
Karena keridhaan, Sulaima menjadi pengganti Bagi Laila, tetapi untuk kebutuhan ada ketentuan
Tinggalnya di negeri Syam dan pengiriman pasukan bersama Al-Qadhi al-Fadhil adalah puncak kehati-hatian, pengaturan, dan perhatian untuk menjaga kerajaan yang baru diperoleh karena takut atas serangan dari sana.
Ketika dia mengirim pasukan ke Mesir dan dia tinggal dengan sebagian kecil pasukannya, sementara Allah telah menjamin kemenangan bagi dia dan mereka, penguasa Mosul Saifuddin Ghazi, keponakan Nuruddin, menulis kepada kelompok penduduk Aleppo mencela mereka atas perdamaian yang terjadi antara mereka dan Malik Shalahuddin. Pada saat itu dia sibuk mengepung saudaranya Imaduddin Zangi di Sinjar, dan ini bukan perbuatan yang baik. Alasan dia berperang dengan saudaranya hanyalah ketaatan saudaranya kepada Malik An-Nashir dan keluarganya. Dia berdamai dengan saudaranya ketika mengetahui kekuatan An-Nashir dan pendukung-pendukungnya. Kemudian dia mendorong penduduk Aleppo untuk memutuskan perjanjian dengan Malik Shalahuddin. Mereka mengirimkan kepadanya perjanjian yang telah mereka buat dengannya. Dia memohon pertolongan kepada Allah atas mereka dan mengirim utusan kepada pasukan Mesir agar datang kepadanya. Penguasa Mosul datang dengan pasukannya dan kekuatannya. Dia bertemu dengan sepupunya Malik Shalih Imaduddin Ismail dan berjalan dengan dua puluh ribu pejuang berkuda. An-Nashir pergi menuju mereka sebagai singa yang menerkam, sementara bersamanya hanya seribu penunggang kuda yang pemberani. Berapa banyak kelompok kecil yang mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. (Al-Baqarah: 249). Tetapi pasukan telah keluar dari negeri Mesir dalam barisan seperti gunung dengan perlengkapan dan jumlah seperti pasir. Kedua kelompok bertemu dan saling mengajak berperang pada hari Kamis tanggal sepuluh Syawal. Mereka berperang dengan dahsyat hingga Sultan sendiri ikut berperang, dan dengan izin Allah terjadilah kekalahan. Mereka membunuh banyak orang dari penduduk Aleppo dan Mosul, merebut kemah-kemah Malik Saifuddin Ghazi dan harta bendanya, menawan sejumlah pemimpin mereka, lalu Sultan membebaskan mereka setelah memberikan pakaian kehormatan kepada mereka. Mereka telah meminta bantuan sekelompok orang Franka dalam pertempuran, dan ini bukan perbuatan para pahlawan sejati. Sultan menemukan di perkemahan Sultan Ghazi beberapa sangkar berisi burung-burung berkicau di majelis minuman kerasnya. Bagaimana orang yang seperti ini perilaku dan mazhabnya akan menang?! Sultan memerintahkan untuk mengembalikannya kepadanya. Dia berkata kepada utusan: “Katakan kepadanya setelah sampai dan menyampaikan salam: Kesibukanmu dengan burung-burung ini lebih kamu sukai daripada jatuh dalam bahaya yang kamu lihat.” Sultan merampas banyak harta mereka dan membagikannya kepada sahabat-sahabatnya, orang-orang yang dicintainya, dan para pendukungnya baik yang tidak hadir maupun yang hadir. Dia memberikan kemah Malik Saifuddin Ghazi kepada keponakannya Izzuddin Farrukhsyah bin Syahanasyah bin Najmuddin. Dia mengembalikan apa yang ada di tempat penyimpanannya berupa budak-budak wanita dan penyanyi-penyanyi, dan dia memiliki lebih dari seratus penyanyi wanita. Dia mengembalikan sangkar-sangkar dan alat-alat permainan ke Aleppo dan berkata: “Katakan kepadanya: Ini lebih kamu sukai daripada perang.” Pasukan Mosul ditemukan seperti kedai minuman karena banyaknya khamar, alat musik, dan hiburan. Ini adalah jalan orang yang lalai dari jalan kebaikan.
Fasal (Bab)
Ketika orang-orang Halab (Aleppo) kembali ke Halab, mereka pulang dengan hasil yang sangat buruk dan menyesali pengkhianatan mereka terhadap sumpah serta penentangan mereka terhadap ketaatan kepada Yang Maha Pengasih, dan pembelahan mereka terhadap tongkat kesatuan dari Sultan. Mereka memperkuat kota karena takut akan serangan singa (Sultan). Penguasa Mosul segera bergegas dan sampai di kota itu, dan dia tidak percaya sampai dia benar-benar memasukinya. Adapun Sultan Salahuddin, ketika dia selesai membagikan harta rampasan dari yang tertinggal, baik yang rusak maupun yang selamat, dia bergegas menuju Halab Syahba (Aleppo yang Kelabu) dalam kondisi puncak kekuasaan, kekuatan, dan kemuliaan yang tinggi. Dia mendapati mereka telah memperkuat kota itu, dan benteng telah mereka kukuhkan. Maka dia berkata: “Yang maslahat adalah kita segera membuka benteng-benteng yang ada di sekitar kota ini, kemudian kita kembali kepada mereka sehingga tidak ada seorang pun dari mereka yang dapat menghalangi kita.” Maka dia mulai membuka benteng-benteng satu per satu, kemudian kembali kepada mereka dan menghancurkan pilar-pilar negara mereka satu per satu. Dia menaklukkan Bazaah dan Manbij, kemudian pergi ke Azaz. Orang-orang Halab mengirim utusan kepada Sinan, lalu dia mengirim sekelompok pengikutnya untuk membunuh Salahuddin. Sebagian dari mereka masuk ke dalam pasukannya dengan menyamar sebagai tentara, lalu mereka bertempur dengan sangat keras hingga berbaur dengan mereka. Mereka menemukan kesempatan pada suatu hari ketika Sultan tampak di hadapan orang-orang. Salah seorang dari mereka menyerangnya dan memukulnya dengan pisau di kepalanya, ternyata dia telah berjaga-jaga dari mereka dengan memakai baju besi sehingga Allah menyelamatkannya. Namun pisau itu melewati pipinya dan melukainya dengan luka ringan. Kemudian orang Fidai (pembunuh bayaran) itu memegang kepala Sultan dan meletakkannya di tanah untuk menyembelihnya, sementara orang-orang di sekelilingnya dilanda kepanikan. Kemudian akal mereka kembali dan mereka segera menuju orang Fidai itu lalu membunuhnya dan memotong-motongnya. Kemudian yang lain menyerbu pada saat itu juga kepada Sultan dan dibunuh. Kemudian yang lain menyerbu salah seorang panglima dan juga dibunuh, sedangkan yang keempat melarikan diri namun berhasil dikejar dan dibunuh. Pertempuran hari itu pun berhenti.
Kemudian Sultan bertekad untuk menguasai kota itu, lalu menaklukkannya dan memberikannya sebagai iqta (tanah pemberian) kepada keponakannya Takiyuddin Umar bin Syahanysyah bin Ayyub. Kemarahannya kepada penduduk Halab sangat keras karena apa yang telah mereka perbuat dan karena mereka telah mengirim para Fidai kepadanya dan penyerangan mereka terhadapnya. Maka dia datang dan berkemah di hadapan kota di Gunung Jausyan dan mendirikan kemahnya di puncak Badukiyah, yaitu pada tanggal lima belas Dzulhijjah. Dia memungut uang dan mengambil pajak dari desa-desa serta melarang segala sesuatu masuk atau keluar dari kota itu. Pengepungannya terhadap kota itu terus berlanjut hingga tahun berganti.
Pada bulan Dzulhijjah tahun ini, Syamsud Daulah Turansyah, saudara Sultan, kembali dari negeri Yaman karena sangat merindukan saudaranya, keluarganya, dan negeri Syam dengan udara dan naungannya yang sejuk, karena dia muak dengan panasnya Yaman, meskipun dia telah memperoleh harta yang sangat banyak dari kekayaannya di sana. Saudaranya Al-Malik An-Nashir sangat gembira dengan kedatangannya, dan kekuatannya bertambah karenanya. Ketika mereka bertemu, An-Nashir yang penyayang, berbakti, dan setia berkata: “Aku adalah Yusuf dan ini adalah saudaraku.” Dia telah menunjuk Syamsuddin sebagai wakil di negeri Yaman, dan dia hanya menunjuk orang yang tidak akan menentangnya dari kalangan kerabatnya dan orang-orang yang memiliki budi baik kepadanya. Ketika dia sudah menetap di sisi saudaranya, dia menunjuknya sebagai wakil di Damaskus dan wilayah-wilayahnya. Ada yang mengatakan: kedatangannya adalah sebelum Perang Mawashilah dan merupakan salah satu sebab terbesar dari kemenangan dan pertolongan karena keberaniannya, kegagahannya, kecakapannya berkuda, dan keperkasaannya.
Pada tahun ini, Takiyuddin Umar, keponakan Sultan, mengirim ghulam (budaknya) Baharuddin Qaraqush dengan pasukan ke negeri Maghrib (Afrika Utara). Dia menaklukkan banyak wilayah di sana dan memperoleh harta yang sangat banyak, kemudian kembali ke Mesir dan merasa nyaman di sana serta meninggalkan wilayah-wilayah tersebut.
Pada tahun ini datang ke Damaskus seorang pengkhotbah besar Abul Fath Abdussalam bin Yusuf bin Muhammad bin Muqallad At-Tanukhi yang berasal dari Damaskus namun dibesarkan di Baghdad. Al-Imad menyebutnya dalam kitab Al-Kharidah. Dia berkata: “Dia adalah temanku. Dia mengadakan majelis nasihat dan Sultan Salahuddin menghadirinya.” Dia mengutip beberapa bait syairnya. Di antaranya adalah apa yang dia ucapkan dalam majelisnya:
Wahai pemilik jiwaku, wahai puncak harapanku Wahai yang hadir dan menyaksikan dalam hati dan pikiran Engkau ciptakan aku dari tanah yang Engkau ciptakan Hingga ketika aku menjadi patung dari bentuk-bentuk Engkau alirkan dalam jasadku roh yang bercahaya Yang mengalir di dalamnya seperti aliran air dalam pohon Engkau kumpulkan antara kemurnian roh yang bercahaya Dan kerangka yang Engkau bentuk dari bahan yang keruh Jika aku ghaib dalam-Mu maka itulah kebanggaan dan kemuliaanku Dan jika hadir maka itulah pendengaranku dan penglihatanku Jika Engkau berhijab maka rahasiaku ada pada-Mu dalam kegelisahan Dan jika Engkau terlintas maka hatiku karena-Mu dalam bahaya Engkau tampak lalu menghapus tanda-tandaku kemudian menetapkannya Dan jika Engkau ghaib dariku aku hidup dengan bekasnya
Di Antara Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini:
Al-Hafizh Abu Al-Qasim Ibnu Asakir Ali bin Al-Hasan bin Hibatullah bin Asakir Abu Al-Qasim Ad-Dimasyqi
Salah seorang hafizh hadits terbesar yang sangat memperhatikan hadits dalam hal mendengar, mengumpulkan, menyusun, mempelajari, menghafal sanad dan matannya, serta menguasai metode dan cabang-cabangnya. Dia menyusun kitab Tarikh Asy-Syam dalam delapan puluh jilid yang tetap abadi setelahnya. Dia telah melampaui para sejarawan sebelumnya dan membuat lelah para sejarawan sesudahnya. Dia meraih tongkat perlombaan dalam hal ini dan melampaui batas yang membuatnya aman dari ketertinggalan. Siapa yang melihat dan memperhatikannya serta melihat apa yang dia gambarkan dan asalnya di dalamnya, akan memberikan keputusan bahwa kitab itu unik di antara kitab-kitab sejarah dan berada di puncak tertinggi. Ini di samping kitab-kitab yang dia miliki dalam ilmu hadits yang bermanfaat, dan ibadah serta jalan-jalan baik yang dia lakukan. Dia memiliki kitab Athraf Al-Kutub As-Sittah, Asy-Syuyukh An-Nubal, Tabyin Kidzib Al-Muftari ala Abi Al-Hasan Al-Asy’ari, dan karya-karya lain yang besar dan kecil, juz-juz dan volume-volume. Dia sangat banyak melakukan perjalanan dalam mencari hadits, berkeliling ke kota-kota, wilayah-wilayah, dan negeri-negeri. Dia mengumpulkan kitab-kitab yang tidak dikumpulkan oleh seorang hafizh pun dalam hal menyalin, menyalin ulang, mencocokkan, dan mengoreksi lafazh-lafazh. Dia termasuk keluarga besar Damaskus yang terkemuka, dan kepemimpinannya di kalangan mereka sangat tinggi, dari kalangan yang memiliki kehormatan, kedudukan, harta yang banyak, dan pemberian. Wafatnya pada tanggal sebelas Rajab pada usia tujuh puluh dua tahun. Sultan Salahuddin menghadiri pemakamannya dan dia dimakamkan di pemakaman Bab Ash-Shaghir, semoga Allah merahmatinya. Yang menshalatkannya adalah Syaikh Quthbuddin An-Naisaburi.
Ibnu Khallikan berkata: Dia memiliki banyak syair, di antaranya ucapannya:
Wahai jiwa, celakalah engkau, uban telah datang Maka apa artinya kekanak-kanakan dan apa artinya percintaan? Masa mudaku telah berlalu seolah tidak pernah ada Dan uban telah datang seolah tidak pernah hilang Seolah-olah diriku dalam kelengahan Dan bencana kematian telah turun kepadanya Alangkah andainya aku tahu dari golongan siapa aku nanti Dan apa yang telah Allah tetapkan bagiku di azali
Dia berkata: Dia telah mengikat diri dengan sesuatu yang tidak wajib, yaitu huruf Za sebelum Lam. Dia berkata: Saudaranya Shainuddin Hibatullah bin Al-Hasan adalah seorang ahli hadits dan faqih yang belajar di Baghdad kepada As’ad Al-Maihani, kemudian datang ke Damaskus dan mengajar di Al-Ghazaliyah. Dia wafat di sana pada tahun lima puluh tiga dan enam ratus, semoga Allah merahmati keduanya dan kita dengan karunia-Nya.
Kemudian Masuklah Tahun Lima Puluh Dua dan Lima Ratus (572 H)
Tahun ini dimulai sementara Sultan Salahuddin mengepung Halab dan hampir mencapai tujuannya. Mereka meminta kepadanya dan memohon agar dia berdamai dengan mereka. Maka dia berdamai dengan mereka dengan syarat bahwa Halab dan wilayah-wilayahnya hanya untuk Al-Malik Ash-Shalih saja. Maka ditulis perjanjian itu dan diselesaikan perhitungannya. Ketika malam tiba, Al-Malik Ash-Shalih Ismail mengirim utusan kepada Al-Malik An-Nashir meminta tambahan benteng Azaz, di samping kehormatan yang telah diberikan kepadanya. Dia mengirim adik perempuannya yang masih kecil yaitu Al-Khatun binti Nuruddin agar hal itu lebih mendorong diterimanya permintaan dan lebih berhasil untuk memperoleh pemberian. Ketika An-Nashir melihatnya, dia berdiri seperti batang yang segar dan mencium tanah, serta mengabulkan permintaannya. Dia memberikan kepadanya perhiasan dan hadiah-hadiah yang banyak yang dia anggap wajib. Kemudian dia berangkat dari Halab dan menuju kaum Ismailiyah yang telah menyerangnya. Dia mengepung benteng mereka Mashyab, lalu membunuh, memukul, dan menawan. Dia mengambil sapi-sapi mereka, menghancurkan rumah-rumah mereka, dan mempersingkat umur mereka, hingga pamannya Syihabuddin Mahmud bin Takasy, penguasa Hamah, memberi syafaat kepada mereka karena mereka adalah tetangganya. Maka dia menerima syafaatnya. Wakil Baalbek, Al-Amir Syamsuddin Muhammad bin Abdul Malik bin Muqaddam – yang dahulu menjadi wakil Damaskus – telah menghadirkan kepadanya sekelompok tawanan Franka yang telah melakukan kerusakan di Biqa ketika Sultan tidak ada dan sibuk mengepung Mashyab. Maka hal ini memperbarui tekadnya untuk berperang melawan Franka dan bangkit. Dia berdamai dengan kaum Ismailiyah, pengikut Sinan, kemudian kembali ke Damaskus dalam penjagaan Ar-Rahman. Saudaranya Syamsud Daulah Turansyah telah menyambutnya, lalu mereka saling berdamai, berpelukan, dan membacakan syair-syair.
Ketika Sultan memasuki Damaskus pada tanggal tujuh belas Safar, dia menyerahkannya kepada saudaranya Syamsud Daulah Turansyah dan memberinya gelar Al-Malik Al-Mu’azham. Sultan bertekad untuk berangkat ke Mesir. Qadhi Kamaluddin Muhammad bin Abdullah Asy-Syahrazuri telah wafat pada tanggal enam Muharram tahun ini. Dia adalah salah satu qadhi terbaik dan orang yang paling dekat dengan Nuruddin Asy-Syahid. Nuruddin menyerahkan kepadanya pengawasan masjid, percetakan uang, pembangunan tembok, dan pengawasan kepentingan umum.
Ketika dia akan wafat, dia berwasiat agar jabatan qadhi diberikan kepada keponakannya Dhiyauddin bin Tajuddin Asy-Syahrazuri. Sultan Al-Malik An-Nashir Salahuddin mengesahkan hal itu sebagai penghormatan kepada Kamal Asy-Syahrazuri, meskipun dia memiliki kebencian kepadanya karena apa yang terjadi antara mereka ketika Salahuddin menjadi syahnah (kepala polisi) di Damaskus. Dia sering menentang dan melawannya. Namun meskipun demikian, dia mengesahkan wasiatnya untuk keponakannya. Maka dia duduk di majelis pengadilan sesuai kebiasaan pamannya, peraturannya, dan tata caranya. Sultan masih tetap berniat menunjuk Syarafuddin Abu Sa’d Abdullah bin Abi Ashrun Al-Halabi, yang telah hijrah kepada Sultan ke Damaskus. Sultan telah berjanji akan menunjuknya sebagai qadhi Damaskus. Dia merahasiakan hal itu kepada Al-Qadhi Al-Fadhil. Al-Qadhi Al-Fadhil menyarankan kepada Adh-Dhiya agar mengundurkan diri dari jabatan qadhi, maka dia mengundurkan diri dan diberhentikan. Dia dibiarkan menjadi wakil Baitul Mal. Sultan menunjuk Ibnu Abi Ashrun dengan syarat dia menunjuk Qadhi Muhyiddin Abu Al-Maali Muhammad bin Zakiyuddin sebagai wakilnya. Maka dia melakukan hal itu. Kemudian setelah beberapa tahun, Muhyiddin Abu Hamid bin Abi Ashrun menjadi mandiri dalam memutuskan perkara menggantikan ayahnya Syarafuddin karena melemahnya penglihatan ayahnya.
Pada bulan Safar tahun ini, Sultan Al-Malik An-Nashir mewakafkan desa Hazm untuk Zawiyah Al-Ghazaliyah dan untuk orang-orang yang mempelajari ilmu-ilmu syariat di sana, atau apa yang dibutuhkan oleh para faqih. Dia menjadikan pengawasannya untuk Quthbuddin An-Naisaburi, pengajar di sana.
Pada bulan ini, Sultan Salahuddin menikahi As-Sayyidah Khatun Ishmatud Din binti Muinuddin Unur. Dia adalah istri Al-Malik Nuruddin Mahmud. Setelah wafatnya Nuruddin, dia tinggal di benteng dengan terhormat dan dimuliakan. Yang menikahkannya adalah saudaranya Al-Amir Sa’duddin Mas’ud bin Unur. Qadhi Ibnu Abi Ashrun menghadiri akad nikah bersama para saksi yang bersamanya. An-Nashir bermalam bersamanya pada malam itu dan malam setelahnya. Kemudian dia berangkat ke Mesir dua hari setelah bercampur dengannya. Dia berangkat pada hari Jumat sebelum shalat, lalu turun di Marj Ash-Shafar, kemudian berangkat dan makan malam dekat Ash-Shanmain. Kemudian dia mempercepat perjalanan hingga masuk ke negeri Mesir pada hari Sabtu tanggal enam belas Rabiul Awal tahun ini dengan kemegahan kerajaan. Saudaranya dan wakilnya Al-Malik Al-Adil Saifuddin Abu Bakar telah menyambutnya sampai ke Bahr Al-Qulzum (Laut Merah) dengan membawa banyak hadiah, terutama berbagai jenis makanan. Bersama Sultan ada Al-Imad Al-Katib, dan dia belum pernah datang ke negeri Mesir sebelum itu. Maka dia mulai menyebutkan kebaikan-kebaikannya, apa yang menjadi kekhususannya di antara negeri-negeri lain, dan menggambarkan dua piramida. Dia membuat berbagai macam perbandingan dan sangat berlebihan dalam hal itu sebagaimana disebutkan dalam kitab Ar-Raudhatain.
Pada bulan Sya’ban, Sultan An-Nashir bin Ayyub berangkat ke Iskandariyah dan menyuruh kedua putranya Al-Afdhal Ali dan Al-Aziz Utsman mendengarkan hadits dari Al-Hafizh As-Salafi. Dia datang kepada beliau bersama keduanya selama tiga hari: Kamis, Jumat, dan Sabtu pada tanggal empat Ramadhan. Sultan berniat untuk berpuasa di sana. Dia telah menyelesaikan pembangunan tembok di sekeliling kota dan memerintahkan untuk memperbarui armada laut serta memperbaiki kapal-kapalnya. Dia mengisinya dengan orang-orang dan pejuang, serta memerintahkan mereka untuk menyerang pulau-pulau di laut. Dia memberikan mereka iqta yang banyak dan mengalokasikan dari Baitul Mal untuk keperluan armada laut apa yang mencukupi untuk semua keperluannya. Kemudian dia kembali ke Kairo pada pertengahan Ramadhan dan menyelesaikan puasanya di sana.
Pada tahun ini, An-Nashir Salahuddin memerintahkan untuk membangun madrasah Syafiiyah di atas makam Imam Asy-Syafii. Dia menjadikan Syaikh Najmuddin Al-Khabusyani sebagai pengajar dan pengawasnya.
Pada tahun ini, dia memerintahkan untuk membangun Al-Maristan (rumah sakit) di Kairo dan mewakafkan banyak wakaf untuknya.
Pada tahun ini, Al-Amir Mujahiddin Qaimaz, wakil Benteng Mosul, membangun masjid yang bagus, ribath, madrasah, dan maristan yang berdekatan di luar kota Mosul. Wafatnya tertunda hingga tahun lima puluh lima dan lima ratus (595 H). Dia memiliki beberapa madrasah, khanaqah, dan masjid selain yang kami sebutkan. Dia adalah orang yang religius, baik, dan utama, bermadzhab Hanafi, berdiskusi tentang sastra, syair, dan fikih. Banyak berpuasa dan shalat malam, semoga Allah menyucikan rohnya.
Pada tahun ini, para penderita kusta dari penduduk Baghdad dikeluarkan ke suatu wilayah dari kota itu agar terpisah dari orang-orang yang sehat – kami memohon kesehatan kepada Allah dengan karunia dan kemurahan-Nya. Ibnu Al-Jauzi menyebutkan dalam kitab Al-Muntazham dari seorang wanita yang berkata: “Aku berjalan di jalan dan seorang laki-laki seolah menghalangiku setiap kali aku melewatinya. Aku berkata kepadanya: Sungguh tidak ada jalan untuk mendapatkan apa yang engkau inginkan dariku kecuali dengan akad nikah, maka nikahilah aku di hadapan hakim. Aku tinggal bersamanya selama beberapa waktu, kemudian perutnya membengkak. Kami mengira dia terkena penyakit busung air sehingga kami mengobatinya untuk penyakit itu. Setelah beberapa waktu, dia melahirkan anak seperti wanita melahirkan, ternyata dia adalah khuntsa musykil (berkelamin ganda yang meragukan).” Ini termasuk hal yang paling aneh. Wallahu Ta’ala a’lam (Allah Maha Mengetahui).
Dan di antara tokoh terkemuka yang wafat pada tahun ini:
Ali bin Asakir bin al-Murahab bin al-Awwam, Abu al-Hasan al-Bathaihi, ahli qira’at dan bahasa, mendengar hadits dan mengajarkannya, dan ia memiliki pengetahuan yang baik tentang nahwu dan bahasa, mewakafkan buku-bukunya di masjid Ibnu Jurdah di Baghdad, wafatnya pada bulan Syakban dan usianya telah lebih dari delapan puluh tahun, semoga Allah merahmatinya.
Muhammad bin Abdullah bin al-Qasim, Abu al-Fadhl, Qadhi al-Qudhat (Hakim Agung) di Damaskus, Kamaluddin asy-Syahrazuri, al-Mushili, ia memiliki madrasah di sana untuk mazhab Syafi’i, dan madrasah lain di Nushibin, ia adalah orang yang berilmu, beragama, amanah, terpercaya, dan wara’. Ia diangkat menjadi hakim di Damaskus oleh Nuruddin Mahmud bin Zanki, dan juga dijadikan wazir sebagaimana diceritakan oleh Ibnu as-Sa’i yang berkata: Ia sering diutus dalam misi-misi penting. Suatu kali ia menulis di bagian atas surat kepada Khalifah al-Muqtafi: Muhammad bin Abdullah ar-Rasul, maka Khalifah menulis di bawahnya: Shallallahu alaihi wa sallam. Penulis berkata: Nuruddin mempercayakan kepadanya pengawasan masjid dan percetakan uang, pembangunan rumah sakit dan madrasah-madrasah, serta urusan-urusan penting lainnya. Wafatnya, semoga Allah Ta’ala merahmatinya, pada bulan Muharram tahun ini di Damaskus.
Khatib Syamsuddin bin al-Wazir Abu al-Mudha’, khatib Mesir dan putra wazinya. Ia adalah orang pertama yang berkhutbah di Mesir untuk Khalifah al-Mustadhі’ bi Amrillah al-Abbasi atas perintah Sultan an-Nashir Shalahuddin Yusuf bin Ayyub. Kemudian ia mendapat kedudukan tinggi di sisinya hingga dijadikan utusan antara Sultan dengan raja-raja dan para khalifah. Ia adalah pemimpin yang disegani, mulia, terpuji, didatangi para penyair dan sastrawan. Kemudian posisinya dalam urusan kedubes dan penyampaian pesan digantikan oleh Dhiyauddin bin Qadhi al-Qudhat asy-Syahrazuri yang disebutkan sebelumnya dengan surat keputusan sultani, dan itu merupakan jabatan yang telah ditetapkan.
Kemudian masuklah tahun lima ratus tujuh puluh tiga
Pada tahun ini Sultan memerintahkan pembangunan Benteng Gunung dan dinding pembatas di sekitar Kairo dan Mesir yang meliputi keduanya. Maka dibangunlah benteng bagi raja yang tidak ada bandingannya di Mesir baik bentuk maupun rupanya. Yang mengawasi pembangunan itu adalah Amir Bahauddin Qaraqush, mamluk (budak) Taqiyuddin Umar bin Syahinsyah bin Ayyub.
Pada tahun ini terjadi pertempuran Ramlah yang menimpa kaum muslimin.
Pada bulan Jumadal Ula tahun ini Sultan al-Malik an-Nashir Shalahuddin Yusuf bin Ayyub berangkat dari Mesir menuju perang melawan Franka. Ia tiba di wilayah Ramlah lalu menawan, merampas, mendapat ghanimah, memaksa, mematahkan, dan memperoleh kemenangan. Namun pasukannya tersibukkan dengan ghanimah dan berpencar ke desa-desa dan tempat-tempat seperti pengembara yang tersesat. Sultan tinggal bersama sekelompok kecil pasukan sendirian. Tiba-tiba pasukan Franka menyerangnya dengan pasukan besar. Sultan nyaris tidak selamat kecuali setelah usaha keras, segala puji bagi Allah. Kemudian pasukan berkumpul kembali setelah berpencar dan bergabung dengannya setelah beberapa hari. Terjadi desas-desus di kalangan masyarakat karena kejadian itu. Penduduk Mesir tidak percaya akan melihatnya lagi setelah sampai kepada mereka berita-berita yang menakutkan. Keadaan menjadi sebagaimana dikatakan: Aku puas dari ghanimah dengan kembali selamat
Meskipun demikian, bedug kegembiraan ditabuh di seluruh negeri karena selamatnya Sultan. Tidak terjadi pertempuran seperti ini kecuali setelah sepuluh tahun, yaitu pada hari Hittin, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Sultan telah berdiri kokoh dalam pertempuran ini dengan sangat hebat. Anak Sultan al-Malik al-Muzhaffar Taqiyuddin Umar, yaitu Syahinsyah, ditawan dan tinggal di tangan mereka selama tujuh tahun. Anak Sultan yang lain terbunuh, ia adalah pemuda yang baru tumbuh kumisnya. Maka Sultan bersedih atas yang terbunuh dan yang hilang, dan bersabar mengikuti teladan Ayyub Alaihissalam, dan meratap sebagaimana Dawud Alaihissalam meratap. Dua ulama bersaudara, Dhiyauddin Isa dan Zhahiruddin, juga ditawan. Sultan menebus mereka setelah beberapa tahun dengan tujuh puluh ribu dinar.
Pada tahun ini keadaan di Halab menjadi kacau. Sultan al-Malik ash-Shalih Ismail bin Nuruddin menahan pelayan Kumsytukin dan memintanya menyerahkan benteng Harim yang berada di tangannya, namun ia menolak. Maka ia digantung terbalik dan diasapi di bawah hidungnya hingga mati saat itu juga. Pasukan Franka menuju Harim tetapi tidak berhasil menaklukkannya, kemudian diserahkan kepada al-Malik ash-Shalih.
Pada tahun ini datang seorang raja besar dari raja-raja Franka yang bermaksud mengambil Syam karena Sultan sedang tidak ada dan wakilnya sibuk dengan kesenangan mereka.
Al-Imad al-Katib berkata: Di antara syarat gencatan senjata dengan Franka adalah bahwa ketika datang raja besar dari raja-raja mereka yang tidak bisa mereka tolak, maka mereka akan berperang bersamanya, membantunya dan menolongnya. Apabila ia pergi dari mereka, gencatan senjata kembali seperti semula. Maka raja ini beserta seluruh pasukan Franka bersamanya menuju kota Hamah, sedangkan penguasanya Syihabuddin Mahmud, paman Sultan, sedang sakit, dan wakil Damaskus beserta para amir yang bersamanya sibuk dengan kesenangan mereka. Mereka hampir merebut negeri itu, tetapi Allah mengalahkan mereka setelah empat hari. Mereka pergi ke Harim tetapi tidak berhasil merebutnya, dan al-Malik ash-Shalih penguasa Halab mengusir mereka setelah memberikan harta dan tawanan yang mereka minta. Penguasa Hamah, Amir Syihabuddin Mahmud bin Takasy, paman Sultan an-Nashir, wafat, dan anaknya wafat tiga hari sebelumnya, semoga Allah merahmati keduanya.
Ketika al-Malik an-Nashir mendengar turunnya pasukan Franka ke Harim, ia keluar dari Mesir menuju Syam untuk memerangi Franka – semoga Allah melaknat mereka. Ia masuk ke Damaskus pada tanggal dua puluh empat bulan Syawal, bersamanya al-Imad al-Katib, sedangkan al-Qadhi al-Fadhil tinggal di Mesir dengan niat menunaikan haji pada tahun ini, semoga Allah menerima darinya.
Pada tahun ini datang surat al-Qadhi al-Fadhil kepada an-Nashir yang mengucapkan selamat atas kelahiran putranya, yaitu Abu Sulaiman Dawud, dengannya sempurnalah anak laki-lakinya menjadi dua belas. Setelahnya lahir beberapa anak laki-laki lagi, sehingga ia wafat meninggalkan tujuh belas anak laki-laki dan seorang putri kecil bernama Mu’nisah, yang kemudian dinikahi oleh anak pamannya al-Malik al-Kamil Muhammad bin al-Adil, sebagaimana akan dijelaskan pada tempatnya, insya Allah Ta’ala.
Pada tahun ini terjadi fitnah besar antara orang Yahudi dan rakyat jelata di Baghdad. Penyebabnya adalah seorang muazin di gereja Yahudi mendapat perlakuan buruk dari sebagian orang Yahudi dengan ucapan, maka muslim itu memaki balik, lalu keduanya berkelahi. Muazin itu datang mengadu ke pemerintah, keadaan memburuk, orang banyak berkumpul dan membuat kegaduhan. Ketika hari Jumat, rakyat jelata melarang pelaksanaan khutbah di beberapa masjid. Mereka keluar dan segera menjarah pasar para pedagang minyak wangi tempat orang Yahudi berjualan, lalu pergi ke gereja Yahudi dan menjarahnya. Polisi tidak mampu menghentikan mereka. Maka Khalifah memerintahkan menyalib beberapa orang dari rakyat jelata. Pada malam hari dikeluarkan sekelompok preman yang ada di penjara yang telah divonis mati, lalu mereka disalib. Banyak orang mengira ini karena peristiwa tersebut. Maka fitnah pun mereda, segala puji bagi Allah.
Pada tahun ini wazir Khalifah, Adhudud Daulah bin Ra’is ar-Ru’asa’ bin al-Muslimah, keluar untuk menunaikan haji. Orang-orang keluar mengantarnya. Tiga orang Bathiniyyah menghampirinya dengan menyamar sebagai fakir dan membawa surat. Salah satu dari mereka maju memberikan surat lalu menikamnya dengan pisau beberapa kali. Yang kedua menyerang, demikian juga yang ketiga sehingga mereka melukai dan melukai beberapa orang di sekitarnya. Ketiganya langsung dibunuh dan dibakar. Wazir dibawa kembali ke rumahnya dan meninggal pada hari itu juga. Wazir inilah yang membunuh dan mengeksekusi dua anak wazir Ibnu Hubairah. Maka Allah menguasakan orang yang membunuhnya. Sebagaimana kamu berbuat, demikian pula kamu akan diperlakukan, sebagai balasan yang setimpal. Dan Tuhanmu tidak menganiaya hamba-hambaNya (QS. Fushshilat: 46).
Dan di antara tokoh terkemuka yang wafat pada tahun ini:
Shadaqah bin al-Husain Abu al-Faraj bin al-Haddad, ia membaca Al-Qur’an, mendengar hadits, mempelajari fikih dan berfatwa, mengarang syair, mempelajari ilmu kalam dan berdebat. Ia memiliki kitab sejarah sebagai kelanjutan dari gurunya Ibnu az-Zaghuni, yang berisi hal-hal aneh dan mengherankan. Ibnu as-Sa’i berkata: Ia adalah syaikh yang berilmu, utama, fakir yang makan dari upah menyalin, tinggal di sebuah masjid di Baghdad dekat al-Badriyyah dan menjadi imam di sana. Ia mengeluh tentang zaman dan anak-anaknya.
Aku melihat Ibnu al-Jauzi dalam kitab al-Muntazham mencela dan menuding dia dengan tuduhan berat, serta menukil syair-syairnya yang mirip dengan Ibnu ar-Rawandi dalam ateisme, wallahu a’lam. Wafatnya pada bulan Rabi’ al-Akhir tahun ini pada usia tujuh puluh lima tahun, dikubur di Bab Harb. Diriwayatkan untuknya mimpi-mimpi yang tidak baik, kami mohon kepada Allah keselamatan di dunia dan akhirat.
Muhammad bin Ahmad bin Abdul Jabbar, Abu al-Muzhaffar al-Hanafi, dikenal dengan al-Musyathab, termasuk ulama terkenal, mempelajari fikih, mengajar, berfatwa, dan berdebat. Wafat pada tahun ini telah melampaui usia delapan puluh tahun.
Muhammad bin As’ad bin Muhammad Abu Manshur al-Aththar, dikenal dengan Hafdah, banyak mendengar hadits, mempelajari fikih, berdebat, berfatwa dan mengajar. Ia datang ke Baghdad lalu wafat di sana pada tahun ini, semoga Allah Ta’ala merahmatinya.
Mahmud bin Takasy, Syihabuddin al-Harimi Paman Sultan Shalahuddin, termasuk amir terbaik dan paling berani. Keponakannya memberinya Hamah ketika menaklukkannya. Franka mengepungnya di sana pada tahun ini saat ia sedang sakit. Mereka membuka kota dan membunuh sebagian penduduknya, tetapi Allah mengusir mereka dengan kecewa, segala puji bagi Allah.
Fathimah binti Nashr bin al-Aththar Termasuk wanita terkemuka, dari keturunan saudara perempuan pemilik al-Makhzan. Ia termasuk ahli ibadah, wara’, dan menjaga kehormatan. Dikatakan bahwa ia tidak keluar dari rumahnya kecuali tiga kali. Khalifah dan lainnya memujinya, wallahu a’lam.
Kemudian masuklah tahun lima ratus tujuh puluh empat
Pada tahun ini datang surat dari al-Qadhi al-Fadhil dari Mesir kepada Sultan yang sedang di Syam mengucapkan selamat atas keselamatan putra-putranya yang dua belas raja. Ia berkata dalam sebagian suratnya: Mereka dengan segala puji bagi Allah adalah kegembiraan dunia dan perhiasannya, bunga kehidupan dan kembangnya. Sesungguhnya hati yang luas menanggung perpisahan dengan mereka adalah luas, hati yang puas dengan berita mereka adalah puas, mata yang tertidur dari kejauhan mereka adalah tertidur, raja yang menguasai kesabarannya atas mereka adalah bijaksana, dan nikmat Allah dengan mereka adalah nikmat yang dengannya hidup menjadi nikmat. Apakah leher tuan tidak rindu untuk dikalung dengan mutiara mereka? Apakah matanya tidak haus untuk terpuaskan dengan pandangan mereka? Apakah hatinya tidak rindu kepada hatinya? Apakah burung ini tidak memungut dengan mencium mereka yang keluar dari sangkarnya? Dan tuan – semoga Allah menjaganya – bisa berkata:
Seperti kerinduan ini tidak mampu ditanggung oleh hati Tetapi hatiku dalam cinta terus berbolak-balik
Pada tahun ini Sultan Shalahuddin menghapus bea dan pajak dari para jamaah haji di Makkah. Sebelumnya diambil dari jamaah haji dari Maghrib dalam jumlah besar, dan siapa yang tidak mampu membayarnya akan dipenjara sehingga terlewat wukuf di Arafah. Ia mengganti amir Makkah dengan harta yang diberikan dari Mesir, dan mengangkut kepadanya setiap tahun delapan ribu irdab gandum ke Makkah agar menjadi bantuan baginya dan pengikutnya, dan memudahkan para mujawirin untuk membelinya. Ia juga menetapkan gandum untuk para mujawirin yang diangkut kepada mereka, semoga rahmat Allah atasnya sepanjang masa.
Pada tahun ini Amir Syamsuddin bin Muqaddam memberontak di Baalbek, dan tidak datang untuk menghadap Sultan yang berkemah di luar Homs, karena sampai kepadanya bahwa saudara Sultan, Turansyah, meminta Baalbek dari Sultan dan diberikan kepadanya. Ibnu Muqaddam menolak keluar darinya hingga Sultan datang sendiri dan mengepungnya tanpa pertempuran, hingga datang hujan dan salju. Maka Sultan kembali ke Damaskus pada bulan Rajab, dan menugaskan orang untuk mengepung kota tanpa pertempuran. Kemudian Ibnu Muqaddam diberi ganti yang banyak, lebih baik dari yang ada di tangannya, maka ia keluar dan Turansyah menguasainya.
Ibnu al-Atsir berkata: Pada tahun ini terjadi kelaparan parah karena sedikitnya hujan yang melanda Irak, Syam, dan Mesir, berlanjut hingga tahun lima ratus tujuh puluh lima. Kemudian hujan datang dan harga menjadi murah, tetapi diikuti oleh wabah parah yang melanda negeri-negeri dengan satu penyakit yaitu sarsam (radang selaput otak). Tidak hilang kecuali pada tahun lima ratus tujuh puluh enam. Banyak orang meninggal karena itu, dan jumlah manusia yang tidak diketahui kecuali oleh Allah yang menciptakan mereka.
Pada bulan Ramadhan tahun ini tiba khilah (pakaian kehormatan) dari Khalifah kepada al-Malik Shalahuddin ketika ia di Damaskus. Khilah itu sangat mewah, dan gelarnya ditambah: Mu’izz Amiril Mukminin (Pemulia Amirul Mukminin), dan diberikan khilah kepada saudaranya Turansyah dengan gelar Mushthafa Amiril Mukminin (Pilihan Amirul Mukminin).
Pada tahun ini an-Nashir Shalahuddin mengutus keponakannya Farruksyah bin Syahinsyah bin Ayyub di depannya untuk memerangi Franka yang telah berazam memerangi kaum muslimin. Mereka merusak di sekitar Damaskus dan desa-desanya, menjarah sekitarnya. Sultan memerintahkannya untuk berhati-hati terhadap mereka hingga mereka masuk ke tengah negeri, dan jangan memerangi mereka hingga Sultan datang. Ketika mereka bertemu, Franka segera menyerang, maka Farruksyah mengalahkan mereka dan membunuh salah satu raja mereka yaitu penguasa Nasirah, al-Hunfari, yang termasuk raja-raja besar dan pemberani mereka yang tidak gentar dalam pertempuran. Maka Allah menjatuhkannya dalam peperangan ini. Kemudian Sultan Shalahuddin mengejar keponakannya, dan belum sampai al-Kuswah hingga kepala-kepala musuh di atas tombak, ghanimah dan tawanan, serta pasukan dengan kegembiraan dan senjata dari bendera-bendera dan perisai menemuinya.
Di sana terdapat benteng milik putri orang-orang Franka—semoga Allah melaknat mereka—dekat Bait al-Ahzan (Rumah Kesedihan) milik Kaum Dawiyah (Knights Templar). Mereka menjadikannya pos pengintaian untuk memerangi kaum Muslim dan memutus jalan mereka. Raja-raja mereka melanggar perjanjian yang telah disepakati dengan Salahuddin. Mereka menyerang wilayah-wilayah negeri dari segala penjuru untuk menyibukkan kaum Muslim dari menghadapi mereka serta memecah-belah pasukan Muslim agar tidak berkumpul di satu tempat. Maka Sultan menugaskan keponakannya Taqiyuddin Umar di perbatasan Hamah bersama Syamsuddin bin Muqaddam dan Saifuddin Ali bin Ahmad al-Masythub. Di perbatasan Homs ia menugaskan sepupunya Nashiruddin bin Asaduddin Syirkuh. Ia mengirim surat kepada saudaranya Saifuddin Abu Bakar al-Adil, wakilnya di Mesir, agar mengirimkan seribu lima ratus pasukan berkuda untuk membantunya memerangi orang-orang Franka. Ia menulis surat kepada orang-orang Franka memerintahkan mereka menghancurkan benteng yang telah mereka bangun untuk Kaum Dawiyah. Mereka menolak kecuali jika diberi ganti biaya pembangunannya. Ia menawarkan enam puluh ribu dinar namun mereka menolak. Ia meningkatkannya hingga seratus ribu dinar namun mereka tetap menolak. Keponakannya Taqiyuddin Umar berkata kepadanya: “Gunakanlah uang ini untuk pasukan Muslim, lalu pergilah ke benteng ini dan hancurkanlah.” Maka ia mengikuti sarannya dan menghancurkannya pada tahun berikutnya, sebagaimana akan kami sebutkan, insya Allah Ta’ala.
Pada tahun ini Khalifah al-Mustadhi’ memerintahkan pembuatan prasasti di makam Imam Ahmad bin Hanbal yang berisi Ayat Kursi, dan setelahnya: “Ini adalah makam Mahkota Sunnah, Penyatu Umat, Yang Luhur Semangatnya, Ulama, Ahli Ibadah, Ahli Fikih, Ahli Zuhud,” serta menyebutkan tahun wafatnya, semoga Allah merahmatinya.
Pada tahun ini di Baghdad ditahan seorang penyair yang membaca syair untuk kaum Rawafidh (Syiah), bernama Ibnu Qarayya. Ia berdiri di pasar-pasar membacakan syair-syair yang berisi celaan terhadap para Sahabat—semoga Allah meridhai mereka—mencaci maki mereka, menuduh mereka zalim, dan menjelek-jelekkan orang yang mencintai mereka. Atas perintah Khalifah digelar majlis untuknya, ia dimintai keterangan dan ternyata ia adalah seorang Rafidhi (Syiah) yang keras kepala dan licik. Para ulama memfatwakan agar lidah dan tangannya dipotong, maka dilaksanakanlah hal itu. Kemudian orang-orang awam menyergapnya dan terus melemparinya dengan batu bata hingga ia melemparkan dirinya ke Sungai Tigris. Mereka mengeluarkannya dari sungai dan membunuhnya hingga mati. Mereka mengambil tali, mengikatnya di kedua kakinya, dan menyeretnya mengelilingi kota. Kemudian mereka melemparkannya ke salah satu tungku pembakaran bersama batu bata dan kapur. Petugas keamanan tidak mampu menyelamatkannya dari mereka.
Orang-orang terkemuka yang wafat pada tahun ini:
As’ad bin Baldarak Abu Ahmad al-Jabri’ili
Ia mendengar hadits dan merupakan syaikh yang cerdas, baik dalam berdiskusi, mahir dalam berjenaka, cepat dalam merespons. Ia wafat pada tahun ini dalam usia seratus empat tahun, semoga Allah merahmatinya.
Muhammad bin Nusaim bin Abdullah, Abu Abdullah al-Khayyath
Bekas budak al-Ra’is Abu al-Fadhl bin Aisyun. Ia mendengar hadits dan hampir berusia delapan puluh tahun. Ia jatuh dari tangga dan meninggal. Ia berkata: Mantan tuan ayahku, yakni Ibnu A’la al-Hakim Abu al-Fadhl bin Aisyun membacakan syair untukku:
Pembaca kitab anatomi lebih pantas bertakwa Daripada pendeta yang membungkuk di biaranya
Pengamat bintang-bintang, jiwanya Lebih utama beribadah kepada Rahman daripada jiwa lainnya
Penyurvei bumi yang luas Lebih utama menyentuhnya dengan telapak tangan yang disentuh
Lebih utama takut kepada Tuhannya daripada orang bodoh Dengan segitiga, persegi, dan segi lima
Al-Haish Baish
Sa’d bin Muhammad bin Sa’d, Syihabuddin Abu al-Fawaris ash-Shaifi, seorang penyair yang memiliki diwan syair yang terkenal. Ia wafat pada hari Selasa tanggal lima Sya’ban tahun ini dalam usia delapan puluh dua tahun. Ia dishalatkan di Nizhamiyah dan dikuburkan di Bab at-Tibn. Ia tidak meninggalkan keturunan dan tak ada bandingannya dalam korespondensi. Ia sangat fasih dan berlebihan dalam berfasih, namun surat-suratnya tidak selaras kecuali dengan gaya yang berlebihan. Ia mengklaim bahwa ia dari Bani Tamim. Ketika ayahnya ditanya tentang hal itu, ia berkata: “Aku tidak mendengarnya kecuali darinya.” Maka seorang penyair menghujatnya tentang klaimnya tersebut:
Berapa lama kau berlagak dan memperpanjang omong kosongmu Tak ada sehelai rambut pun darimu dari Bani Tamim
Makanlah kadal, telanlah buah hanzhal yang kering Dan minumlah jika kau mau air kencing burung unta
Ini bukan wajah orang yang memuliakan tamu Tidak menjamu, dan tidak menolak bahaya dari kehormatan
Dari syair al-Haish Baish yang baik:
Keselamatan manusia sesaat adalah keajaiban Dan segala sesuatu menjadi sebab kehancurannya
Ia lari dan bencana mengejarnya Ia lari darinya padahal pelarian menuju kepadanya
Bagaimana ia bisa tetap selamat dalam perubahannya Bebas dari kerusakan kehidupannya
Dan dari syairnya juga:
Jangan kenakan dunia dengan lengah Karena kematian makhluk hidup tidak dapat dihindari
Jangan biarkan panjang umur menipumu Hingga kau mengira panjang umur adalah keabadian
Mendekati apa yang memiliki akhir Betapa dekatnya buaian dari liang kubur
Yang mirip dengan ini adalah apa yang disebutkan oleh penulis kitab al-‘Aqd, yaitu Abu Umar, Ahmad bin Muhammad bin Abd Rabbih al-Andalusi dalam kitab al-‘Aqd-nya:
Ketahuilah bahwa dunia hanyalah kemegahan taman Jika satu sisi menghijau, sisi lain mengering
Zaman dan harapan hanyalah bencana Di atasnya, dan kenikmatan hanyalah musibah
Jangan biarkan matamu bercelak dengan air mata Atas yang pergi darinya, karena sesungguhnya kau pun akan pergi
Abu Sa’d as-Sam’ani telah menyebutkan Haish Baish ini dalam Dzail-nya dan memujinya. Ia mendengar diwan dan surat-suratnya darinya. Qadhi Ibnu Khallikan memuji surat-suratnya dan berkata: “Ia memiliki kesombongan dan keangkuhan, tidak berbicara kecuali dengan bahasa Arab yang benar, seorang ahli fikih madzhab Syafi’i. Ia belajar khilafiyah dan ilmu mantiq, kemudian ia sibuk dari semua itu dengan syair. Ia adalah orang yang paling mengetahui syair-syair Arab dan perbedaan bahasa mereka.” Ia berkata: “Ia dijuluki al-Haish Baish karena ia melihat orang-orang dalam keadaan bergerak dan kacau, lalu berkata: ‘Mengapa orang-orang dalam keadaan haish baish,’ yakni dalam kesulitan dan kekacauan, maka julukan ini melekat padanya.” Ia mengklaim bahwa ia keturunan Aktsam bin Shaifi, tabib bangsa Arab. Ia tidak meninggalkan keturunan. Ia memiliki surat wesel di al-Hillah, lalu pergi untuk menagihnya dan wafat di Baghdad pada tahun ini, semoga Allah merahmatinya.
Kemudian masuk tahun lima tujuh puluh lima dan lima ratus (575 H)
Pada tahun ini terjadi Pertempuran Marj ‘Uyun.
Tahun ini dimulai dengan Sultan Salahuddin berkemah dengan pasukannya di Tall al-Qadhi di Banyas. Kemudian orang-orang Franka mendatanginya dengan seluruh pasukan mereka. Ia bangkit menghadapi mereka seperti singa mengaum. Begitu kedua pasukan berhadapan dan kedua tentara bertemu, Allah menurunkan kemenangan-Nya, mengagungkan tentara-Nya, dan mengalahkan musuh-musuh dengan kuasa-Nya sendiri. Bendera-bendera salib melarikan diri, dan pasukan Allah mengejar tengkuk mereka. Banyak dari mereka yang terbunuh dalam jumlah besar. Sejumlah raja mereka ditawan dan tunduk serta patuh, di antaranya komandan Dawiyah (Knights Templar), komandan Isbitariyah (Knights Hospitaller), penguasa Ramlah, penguasa Thabariyah (Tiberias), Qastalan Yafa, dan lainnya dari raja-raja mereka, serta banyak dari pemberani dan pahlawan mereka. Dari ksatria Baitul Maqdis ditawan hampir tiga ratus orang dari bangsawan Nasrani. Mereka digiring dalam belenggu seolah-olah mereka mabuk padahal mereka tidak mabuk. (QS. Al-Hajj: 2)
Al-‘Imad al-Katib berkata: “Sultan memeriksa mereka pada malam itu hingga fajar menyingsing di kegelapan. Ia shalat Subuh pada hari itu dengan wudhu Isya. Sultan duduk pada malam itu bersama sekitar dua puluh orang sementara mereka dalam jumlah sebanyak itu, namun Allah menyelamatkannya dari mereka. Kemudian ia mengirim mereka ke Damaskus agar ditahan di bentengnya dan berada dalam lindungan pemerintahannya. Ibnu al-Barzani, penguasa Ramlah, menebus dirinya setelah setahun dengan seratus lima puluh ribu dinar Shuri dan pembebasan seribu tawanan dari negerinya, maka permintaannya dikabulkan. Demikian pula sejumlah dari mereka menebus diri dengan harta berlimpah dan hadiah berharga. Sebagian dari mereka meninggal di penjara, berpindah darinya ke penjara yang lebih dalam (neraka). Demikianlah Allah berbuat kepada orang-orang kafir.
Kebetulan pada hari Sultan menang atas orang-orang Franka di Marj ‘Uyun, armada laut Muslim juga menguasai dua kapal perang Franka di laut dan merampas seribu tawanan. Armada kembali ke pantai dengan kemenangan dan dukungan. Para penyair memuji Sultan dalam peperangan ini dengan banyak puji-pujian. Berita ini dikirim ke Baghdad dan genderang kemenangan ditabuh dengan penuh suka cita atas kemenangan kaum Muslim terhadap musuh-musuh Allah yang sesat.
Al-Malik al-Muzhaffar Taqiyuddin Umar tidak hadir dalam pertempuran ini karena sibuk dengan peristiwa yang lebih mengagumkan. Raja Rum Qilij Arslan meminta Benteng Ra’ban dengan dalih bahwa Nuruddin telah merebutnya darinya dan anaknya telah melepaskannya untuknya. Sultan Taqiyuddin Umar menolak permintaannya. Maka penguasa Rum mengirim dua puluh ribu pasukan untuk mengepungnya. Sultan Taqiyuddin Umar mengirim delapan ratus pasukan berkuda termasuk Saifuddin Ali bin Ahmad al-Masythub. Mereka bertemu dan mengalahkan mereka dengan izin Allah. Kekuasaan Malik Salahuddin atas Benteng Ra’ban tetap kokoh. Benteng ini sebelumnya diberikan sebagai ganti untuk Ibnu al-Muqaddam atas Ba’labakk. Taqiyuddin Umar berbangga dengan pertempuran ini dan memandang bahwa ia telah mengalahkan dua puluh ribu, ada yang mengatakan tiga puluh ribu pasukan dengan delapan ratus pasukan berkuda. Penyebabnya adalah ia menyerang mereka pada malam hari saat mereka lengah, sehingga mereka tidak bertahan di hadapannya dan melarikan diri semua. Ia membantai mereka dan merampas semua yang mereka tinggalkan di kemah-kemah mereka. Dikatakan bahwa ia mengalahkan mereka pada hari yang sama ketika Sultan mengalahkan Franka di Marj ‘Uyun. Wallahu a’lam.
Penghancuran Benteng Bait al-Ahzan yang dekat dengan Shafad
Kemudian Sultan berkendara dengan pasukan besarnya ke benteng yang telah dibangun orang-orang Franka tahun lalu. Mereka telah menggali sumur yang mengalir di sana dan menyerahkannya kepada Kaum Dawiyah. Sultan mengepungnya, menggalinya dari semua sisi, dan membakarnya dengan api hingga meratakan dan menghancurkannya hingga ke fondasinya. Ia merampas semua persediaan di dalamnya, termasuk seratus ribu senjata, makanan dalam jumlah besar, dan menawan tujuh ratus tawanan. Sebagian dibunuh dan sisanya dikirim ke Damaskus. Kemudian ia kembali ke Damaskus dengan kemenangan dan dukungan. Namun sepuluh dari panglimanya meninggal karena panas dan wabah selama pengepungan yang berlangsung empat belas hari. Orang-orang kembali berziarah ke makam Ya’qub sesuai kebiasaan mereka. Para penyair memujanya, salah seorang dari mereka berkata:
Demi kebesaranmu tombak-tombak melengkung Dan pandangan musuh di bawah kemuliaanmu tertunduk
Cahaya petunjuk yang bersinar dalam kegelapan syirik Dan pedang yang jika Allah mengayunkannya menjadi tajam
Kau berdiri di benteng kesulitan, dan sungguh Itu adalah tempat berdiri yang benar yang tak tertandingi
Wajah bumi tidak tampak karena terhalang Oleh orang-orang seperti singa hutan yang bergerak maju
Kuda betina cepat, baju besi berlapis Dan pedang putih dari India, serta busur yang lentur
Bendera-bendera kuningmu tidak pernah mundur sesaat Hingga hati-hati hitam mereka gemetar
Dari puncaknya salib dan gereja jatuh Dan tegak olehnya agama hanif dan mushaf
Salib penyembah salib dan tempat Pertempuran, sungguh kau tinggalkan sebagai tanah lapang
Apakah negeri para nabi akan ditinggali oleh kelompok Yang bersumpah di tangan kanannya padahal mereka berdusta
Aku menasihati kalian dan nasihat dalam agama adalah wajib Tinggalkanlah rumah Ya’qub karena Yusuf telah datang
Penyair lain berkata:
Kehancuran Franka datang dengan cepat Dan sudah waktunya salib-salib mereka dipatahkan
Seandainya kematian mereka belum dekat Mereka tidak akan membangun rumah kesedihan mereka
Dari surat seorang penulis kepada Baghdad yang menggambarkan benteng yang dihancurkan Salahuddin: “Mereka melebarkan temboknya hingga lebih dari sepuluh hasta dan memotong batu-batu besar untuknya; setiap bongkahan dari tujuh hasta ke atas dan ke bawah, jumlahnya lebih dari dua puluh ribu batu. Setiap batu tidak dapat ditempatkan dan berdiri di bangunannya kecuali dengan biaya empat dinar atau lebih. Di antara dua tembok terdapat isian dari batu-batu besar yang kokoh yang dapat mempermalukan hidung gunung-gunung yang tinggi. Pelapisannya dibuat dengan kapur yang jika genggamannya melingkupi batu, bercampur dengannya seperti tubuhnya sendiri dan menyatukannya lebih kuat dan lebih keras dari massanya, serta memerintahkan musuhnya dari besi untuk tidak mencoba menghancurkannya.”
Pada tahun ini Sultan Salahuddin memberikan kota Ba’labakk kepada keponakannya Izzuddin Farrukhsyah bin Syahansyah bin Ayyub. Ia menyerang Shafad dan wilayah-wilayahnya, membunuh sejumlah besar pejuang dan penduduknya. Farrukhsyah adalah salah satu pahlawan pemberani yang terkenal dan terpuji dalam pertempuran.
Dan pada tahun itu Hakim al-Fadhil pergi haji dari Damaskus dan kembali ke Mesir, di perjalanan ia mengalami berbagai kengerian, menemui kesulitan, kelelahan dan kelesuan. Padahal pada tahun sebelumnya ia telah berhaji dari Mesir dan kembali ke Syam, namun urusannya lebih mudah dibandingkan tahun ini.
Pada tahun itu terjadi gempa bumi dahsyat yang mengakibatkan runtuhnya benteng-benteng dan desa-desa, banyak manusia meninggal dunia, batu-batu besar berjatuhan dari puncak gunung-gunung, dan batu-batu bertabrakan di antara gunung-gunung di padang pasir dan tanah tandus, meskipun jarak antar gunung itu berjauhan di berbagai penjuru. Pada tahun itu pula, manusia ditimpa kelaparan yang sangat parah, kematian yang tersebar luas, dan kesusahan yang berat. Banyak makhluk meninggal karena hal-hal tersebut. Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali (QS. Al-Baqarah: 156).
Wafatnya al-Mustadhi bi Amrillah dan Sebagian Biografinya
Permulaan sakitnya adalah pada akhir Syawal tahun ini. Istrinya ingin merahasiakannya namun tidak berhasil. Terjadi fitnah besar di Baghdad dan orang-orang awam menjarah banyak rumah dan harta benda yang melimpah. Ketika tiba hari Jumat tanggal dua puluh dua Syawal, dikhotbahkan nama putra mahkota Abu al-Abbas Ahmad bin al-Mustadhi, yaitu Khalifah an-Nashir Lidinillah. Itu adalah hari yang sangat bersejarah, emas ditebarkan kepada para khatib, muazin, dan orang-orang yang hadir saat namanya disebutkan di mimbar dan diumumkan pada waktu shalat Ashar.
Ketika tiba hari Sabtu akhir bulan Syawal, wafatlah Khalifah al-Mustadhi bi Amrillah. Sakitnya berupa demam yang dimulai pada hari Idul Fitri, dan keadaannya terus memburuk hingga genap sebulan ia sakit, lalu ia wafat, semoga Allah merahmatinya, pada akhir Syawal. Usianya saat itu tiga puluh sembilan tahun, masa kekhalifahannya adalah sembilan tahun tiga bulan dan tujuh belas hari. Ia dimandikan dan dishalatkan keesokan harinya, lalu dimakamkan di Dar an-Nashr yang ia bangun sendiri, sesuai wasiat yang ia tinggalkan. Ia meninggalkan dua anak laki-laki; salah satunya adalah putra mahkota yaitu Uddat ad-Din wa ad-Dunya Abu al-Abbas Ahmad an-Nashir Lidinillah, dan yang lain adalah Abu Manshur Hasyim. Beberapa pemimpin pernah menjadi waziرnya. Ia termasuk khalifah-khalifah terbaik, banyak menyuruh kepada kebaikan dan melarang kemungkaran. Ia menghapus berbagai pungutan dan pajak dari rakyat, menghilangkan bid’ah dan musibah dari mereka. Ia penyantun, berwibawa, dan mulia. Semoga Allah Ta’ala merahmatinya, membasahi tanah kuburnya, dan menjadikan surga sebagai tempat tinggalnya. Setelahnya, anaknya an-Nashir dibaiat sebagai khalifah.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Itu:
Ibrahim bin Ali
Abu Ishaq as-Salami, ahli fikih Syafi’i, yang dikenal dengan Ibnu al-Farra’, al-Umawi kemudian al-Baghdadi. Ia adalah ahli fikih yang brilian, cerdas, mahir berdebat, fasih, pandai berpidato, penyair ulung. Ia wafat pada usia tujuh puluh empat tahun, dan dishalatkan oleh Abu al-Hasan al-Qazwini pengajar di madrasah Nizhamiyah, semoga Allah Ta’ala merahmatinya.
Ismail bin Mauhub
bin Ahmad bin Muhammad bin al-Khadhr, Abu Muhammad bin al-Jawaliqi, yang bergelar Hujjat al-Islam, salah satu imam bahasa di zamannya, yang diperhitungkan di antara teman-temannya karena kebaikan agama dan kuatnya keyakinan, pengetahuan bahasa dan nahwu, kejujuran lisan, ketulusan niat, serta kebaikan sikapnya dalam kehidupan, pertumbuhan, dan akhir hayatnya. Ia telah mendengar hadits dan meriwayatkannya, memahami atsar dan mengikuti jalan serta maknanya. Semoga Allah merahmatinya dan memuliakannya.
al-Mubarak bin Ali bin al-Husain bin Abdullah bin Muhammad
Abu Muhammad bin ath-Thabbakh, al-Baghdadi, penduduk Mekah dan menetap di sana, hafizh hadits di sana dan tokoh ilmu yang diperhitungkan di sana. Hari pemakamannya adalah hari yang bersejarah. Semoga Allah Ta’ala merahmatinya.
Kekhilafahan an-Nashir Lidinillah Abu al-Abbas Ahmad bin al-Mustadhi
Ketika ayahnya wafat pada akhir Syawal tahun lima ratus tujuh puluh lima, para panglima, wazir, pembesar, kalangan khusus dan umum membaiatnya. Ia telah dikhotbahkan di mimbar-mimbar semasa hidup ayahnya, tidak lama sebelum wafatnya. Dikatakan bahwa ayahnya baru memberikan mandat kepadanya sehari sebelum wafat, ada yang mengatakan seminggu. Namun Allah Azza wa Jalla menakdirkan bahwa tidak ada dua orang pun yang berselisih dengannya setelah wafat ayahnya. Ia bergelar Khalifah an-Nashir Lidinillah. Tidak ada dari Bani Abbas sebelumnya yang menjabat khalifah lebih lama darinya, karena kekhalifahannya berlangsung hingga tahun wafatnya pada tahun enam ratus dua puluh dua. Ia adalah sosok yang cerdas, pemberani, dan berwibawa. Riwayat sirahnya akan disebutkan ketika wafatnya, insya Allah Ta’ala.
Pada tanggal tujuh Dzulqaidah tahun ini, pemilik khazanah Zhahir ad-Din Abu Bakar bin al-Atthar dicopot dan dihinakan dengan sangat, beserta para pendukungnya. Banyak dari mereka dibunuh dan diarak keliling negeri. Kekuasaan Khalifah an-Nashir semakin kokoh, kewibawaannya besar di negeri-negeri dan di hati manusia. Ia menjalankan tugas-tugas kekhilafahan sebagaimana mestinya dalam segala urusan dan kepentingan mereka. Ketika Idul Adha tiba, perayaan dilaksanakan sesuai kebiasaan. Wallahu a’lam.
Kemudian Masuklah Tahun Lima Ratus Tujuh Puluh Enam
Pada tahun itu Sultan Shalahuddin mengadakan gencatan senjata dengan Franka, lalu pergi ke negeri Rum dan mendamaikan raja-rajanya dari Bani Artuq. Ia menyerang negeri Armenia dan menghinakan rajanya, menaklukkan sebagian bentengnya, mengambil jarahan yang sangat banyak darinya berupa bejana-bejana emas dan perak, karena raja tersebut telah mengkhianati sekelompok orang Turkoman yang berlindung di negerinya. Kemudian ia berdamai dengannya dengan syarat membayar harta, membebaskan tawanan yang ditahannya, dan tawanan lain yang harus diselamatkan dari tangan Franka. Kemudian Sultan kembali dengan penuh kemenangan dan memasuki Hamah pada akhir Jumadil Akhirah. Para penyair memujinya atas hal tersebut.
Penguasa Mausil Saifuddin Ghazi bin Maudud bin Zanki wafat. Ia adalah pemuda yang tampan, berpenampilan menarik, tinggi sempurna, jenggotnya bundar. Ia berkuasa selama sepuluh tahun dan wafat pada usia tiga puluh tahun. Ia adalah orang yang menjaga diri, berwibawa, tidak menoleh ketika berkendara atau duduk, pemalu, tidak membiarkan seorang pelayan pun masuk menemui para wanita. Ia tidak berani menumpahkan darah, dan ada yang mengatakan ia agak kikir, semoga Allah memaafkannya. Wafatnya pada tanggal tiga Safar. Ia telah berkeinginan menjadikan anaknya Izz ad-Din Sanjar Syah sebagai penguasa setelahnya, namun para panglima tidak menyetujuinya karena takut kepada Shalahuddin karena usianya yang masih kecil. Mereka semua sepakat mengangkat saudaranya, lalu saudaranya Izz ad-Din Mas’ud didudukkan menggantikannya di kerajaan, dan Mujahid ad-Din Qaimaz dijadikan wakilnya dan pengatur kerajaannya. Utusan khalifah datang meminta kepada Shalahuddin agar membiarkan Saruj, ar-Ruha, ar-Raqqah, Harran, al-Khabur, dan Nushaibin tetap di tangannya, sebagaimana di tangan saudaranya. Sultan menolak hal itu dan berkata: “Negeri-negeri ini adalah penjaga perbatasan kaum muslimin, dan aku hanya meninggalkannya di tangannya agar ia membantu kami memerangi Franka, namun ia tidak melakukannya.” Ia menulis surat kepada khalifah memberitahukan bahwa maslahatnya adalah negeri-negeri itu berada di tangannya.
Wafatnya Turansyah Saudara Sultan
Pada tahun itu wafatlah saudara tertua Sultan, al-Malik al-Muazzham Syamsud Daulah Turansyah bin Ayyub, yang telah menaklukkan negeri Yaman atas perintah saudaranya Shalahuddin. Ia menetap di sana beberapa waktu dan mengumpulkan harta yang sangat banyak, kemudian mengangkat wakilnya di sana dan berangkat menuju saudaranya ke Syam karena rindu kepadanya. Ia menulis surat kepadanya dari tengah perjalanan berupa syair yang dibuatkan untuknya oleh penyairnya Ibnu al-Munajjim, ketika mereka sampai di Taima:
Apakah saudaraku, bahkan pemilikku, tahu bahwa aku Akan kembali kepadanya meski lama terombang-ambing Dan aku dengan sehari berjumpa dengannya Rela menjual kerajaanku meski sangat berharga Tidak tersisa kecuali kurang dari dua puluh malam Mata dan telinga kita memetik cita-cita Di hadapan raja yang para raja tunduk saat ia tampak Dan khusyuk mengagungkannya sementara ia khusyuk
Kutuliskan sementara sebagian kerinduanku kepadamu telah Mengajarkan burung merpati yang sendu meratap Kerajaan hanyalah kenyamanan yang engkau adalah perinya Merangkul dunia dan kami adalah jari-jarinya
Kedatangannya kepada saudaranya adalah pada tahun lima ratus tujuh puluh satu, lalu ia menyaksikan bersamanya medan-medan yang terkenal dan peperangan-peperangan yang terpuji. Ia mengangkatnya sebagai wakil di Damaskus beberapa waktu, kemudian pergi ke Mesir dan mengangkatnya sebagai wakil di Iskandariah namun tidak cocok untuknya. Ia sering diserang penyakit kolik hingga wafat di sana, semoga Allah Ta’ala merahmatinya, pada tahun ini, dan dimakamkan di istana keamiran di sana. Kemudian saudara perempuannya Sitt asy-Syam binti Ayyub memindahkannya dan memakamkannya di makam miliknya yang berada di asy-Syamiyah al-Baraniyah. Kuburannya yang di sebelah kiblat, yang di tengah adalah kuburan suaminya dan putra pamannya Nashiruddin Muhammad bin Asaduddin Syirkuh, penguasa Homs dan ar-Rahabah, sedang yang di belakang adalah kuburnya, semoga Allah merahmati mereka dan melimpahkan pahala baginya. At-Turbah al-Husamiyah dinisbatkan kepada anaknya Husamuddin Umar bin Lajin, dan makam itu berada di samping madrasah sebelah baratnya. Al-Malik Turansyah adalah orang yang mulia, dermawan, pemberani, sangat berwibawa, berjiwa besar, dan berlapang dada. Ibnu Sa’dan al-Halabi berkata tentangnya:
Dialah raja, jika engkau dengar tentang Kisra dan Qaishar Maka keduanya dalam kedermawanan dan keberanian adalah hambanya Dan bukan Hatim yang dapat dibandingkan dengannya Ambillah apa yang kami lihat dan tinggalkan apa yang kami dengar Berlindunglah pada perlindungannya meminta tolong karena sesungguhnya ia Akan melindungimu dari kezaliman zaman dan permusuhannya Dan janganlah memikul beban terima kasih pada awan Bila awan kedermawanannya mengucur dengan murah hati Ia mengulurkan kedua tangannya dengan apa yang berasal darinya Maka untuk kebahagiaan adalah tangan kanannya dan untuk kemudahan adalah tangan kirinya
Ketika berita kematiannya sampai kepada saudaranya Sultan Shalahuddin yang sedang berkemah di luar Homs, ia sangat bersedih karenanya, dan membacakan bab ratapan dari al-Hamasah yang telah ia hafal.
Pada bulan Rajab, datanglah utusan Khalifah an-Nashir dengan pakaian khilafah dan hadiah-hadiah kepada al-Malik an-Nashir Shalahuddin. Sultan mengenakan pakaian khalifah di Damaskus, kota dihias untuknya, dan itu adalah hari yang bersejarah.
Pada bulan Rajab juga, Sultan berangkat dari Syam menuju negeri Mesir untuk melihat keadaan di sana dan berpuasa Ramadhan di sana. Niatnya adalah menunaikan haji tahun itu ke Baitullah al-Haram. Ia mengangkat keponakan saudaranya Izz ad-Din Farrukhsyah bin Syahansyah bin Ayyub sebagai wakil di Syam. Al-Imad al-Katib berkata: Ia adalah orang yang langka dalam perumpamaan, melimpah keutamaannya. Al-Qadhi al-Fadhil menulis atas nama al-Malik al-Adil Abu Bakar, wakil Mesir, kepada penduduk Yaman, al-Baqi’, dan Mekah memberitahukan tentang tekad Sultan untuk berhaji tahun ini agar mereka bersiap menyambut raja dan memberikan perhatian kepadanya. Sultan membawa serta Shadr ad-Din Abu al-Qasim Abd ar-Rahim Syaikh asy-Syuyukh Baghdad yang datang sebagai utusan dari khalifah, agar berada dalam pelayanannya sampai ke negeri Mesir dan menemaninya ke Hijaz yang mulia. Sultan memasuki negeri Mesir, tentara menyambutnya dan itu adalah hari yang bersejarah. Adapun Shadr ad-Din, ia hanya tinggal sebentar di sana hingga berangkat ke Hijaz yang mulia melalui laut dan sempat berpuasa di Masjidil Haram.
Pada tahun itu, Qaraqush at-Taqawi pergi ke negeri Maghrib lalu mengepung Qabis dan banyak benteng di sekitarnya, dan berhasil menguasai kebanyakannya. Ia menangkap seorang pemuda tampan dari salah satu benteng dan ingin membunuhnya. Penduduk benteng berkata kepadanya: “Jangan bunuh dia dan ambillah sepuluh ribu dinar,” namun ia menolak. Mereka meningkatkan hingga seratus ribu dinar namun ia tetap menolak dan harus membunuhnya, maka ia membunuhnya. Ketika ia membunuhnya, turunlah pemilik benteng yang adalah seorang syaikh tua membawa kunci-kunci benteng itu, lalu berkata: “Ambillah ini karena aku adalah syaikh tua, dan aku hanya menjaga benteng ini karena anak muda yang baru kau bunuh itu, dan aku punya anak-anak saudara yang tidak kusukai jika mereka menguasainya setelahku.” Ia mempertahankannya di benteng itu dan mengambil banyak harta darinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui yang benar.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini:
Al-Hafizh Abu Thahir as-Salafi
Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim Salfah, al-Hafizh yang besar dan berumur panjang, Abu Thahir as-Salafi al-Ashfahani. Ia disebut as-Salafi dinisbatkan kepada kakeknya Ibrahim yang disebut Salfah karena salah satu bibirnya terbelah sehingga ia memiliki tiga bibir, maka orang-orang Ajam menamakannya demikian. Al-Qadhi Ibnu Khallikan berkata: as-Salafi bergelar Shadr ad-Din, bermazhab Syafi’i, datang ke Baghdad dan belajar di sana kepada Ilkiya al-Harasi, mengambil ilmu bahasa dari al-Khatib Abu Zakariya Yahya bin Ali at-Tabrizi, mendengar banyak hadits, dan mengadakan rihlah dalam menuntut ilmu ke berbagai penjuru. Kemudian menetap di pelabuhan Iskandariah pada tahun lima ratus sebelas, dan al-Adil Abu al-Hasan Ali bin as-Sallar, wazir Khalifah azh-Zhahir, membangunkan madrasah untuknya dan menyerahkan pengurusannya kepadanya, madrasah itu dikenal hingga sekarang. Ibnu Khallikan berkata: Imla’ dan catatan-catatannya sangat banyak. Orang-orang Mesir menyebutkan ia lahir tahun empat ratus tujuh puluh dua. Al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi menyampaikan darinya bahwa ia berkata: Aku ingat pembunuhan Nizham al-Mulk tahun empat ratus delapan puluh lima di Baghdad, dan aku saat itu berusia sekitar sepuluh tahun. Al-Hafizh Abu al-Qasim ash-Shaffrawi menyampaikan bahwa ia berkata: Kelahiranku menurut perkiraan bukan kepastian adalah tahun empat ratus tujuh puluh delapan, maka usianya sembilan puluh delapan tahun, karena ia wafat malam Jumat tanggal lima Rabi’ul Akhir tahun lima ratus tujuh puluh enam di pelabuhan Iskandariah dan dimakamkan di Wa’lah, di sana ada beberapa orang shalih. Semoga Allah Ta’ala merahmatinya. Ibnu Khallikan menguatkan pendapat ash-Shaffrawi, ia berkata: Tidak sampai kepada kami dari sekitar tiga ratus tahun yang lalu bahwa ada seseorang melampaui seratus tahun kecuali al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari, semoga Allah merahmatinya. Al-Hafizh Ibnu Asakir telah membuat biografinya dalam tarikhnya dengan baik, meskipun ia wafat lima tahun sebelumnya. Ia menyebutkan rihlahnya dalam menuntut ilmu hadits, perjalanannya di berbagai wilayah, bahwa ia awalnya bertasawuf, kemudian menetap di pelabuhan Iskandariah dan menikahi wanita yang kaya, lalu keadaannya menjadi baik, dan sebuah madrasah diwakafkan untuknya di sana. Ia menyebutkan sebagian syair-syairnya, di antaranya:
Apakah aku aman dari serangan kematian yang tiba-tiba Dan orang aman dari kebodohan padahal ia telah mengenal zaman Dan zaman tidak berpihak dalam perputarannya Pada orang-orang rendah maupun para pemimpin mulia Bagaimana mungkin, padahal Nabi telah wafat bersama sahabatnya Dan istri-istrinya semua dan Fatimah az-Zahra
Di antara syair al-Hafizh as-Salafi yang disampaikan Ibnu Asakir:
Wahai orang yang menuju ilmu hadits lalu mencelanya Karena pemahamannya tersesat dari jalan petunjuk Sesungguhnya ilmu-ilmu seperti yang engkau ketahui banyak Dan yang paling mulia adalah fikih hadits dan ilmunya Siapa yang mencarinya dan dalam hal itu ia waspada Maka sempurnalah anak panahnya dalam kemuliaan Kalau bukan karena hadits dan ahlinya, tidaklah tegak Agama Nabi dan tersesat dari kita hukumnya Dan bila ada orang yang meragukan perkataan kita Maka makanlah seluruh pemahaman di bumi, pemahamannya
Dan bila ragu pada ucapan kami orang yang sok pintar Maka konsumsilah seluruh pemahaman di muka bumi, pemahamannya
Kemudian Masuklah Tahun Lima Ratus Tujuh Puluh Tujuh
Tahun ini dimulai sementara Raja Al-Nashir Salahuddin masih menetap di Kairo, tekun mendengarkan hadits-hadits. Datanglah surat dari wakilnya di Syam, Izzuddin Farrukhsyah, yang memberitakan tentang nikmat yang Allah Yang Mahatinggi anugerahkan kepada penduduk berupa banyaknya wanita yang melahirkan bayi kembar, sebagai ganti atas musibah wabah dan kematian yang menimpa mereka pada tahun sebelumnya, dan bahwa Syam menjadi subur dengan izin Allah, sebagai ganti atas kekeringan dan mahalnya harga yang pernah menimpa mereka.
Pada bulan Syawal, Raja Salahuddin pergi ke Iskandariah untuk menyaksikan apa yang telah diperintahkannya berupa penguatan benteng, pembangunan menara-menara dan istana-istananya. Ia mendengarkan kitab Muwaththa’ Al-Imam Malik dari Syaikh Abu Thahir bin Auf, dari Ath-Tharthusyi. Yang mendengar bersamanya adalah Al-Imad Al-Katib. Qadhi Al-Fadhil mengirim surat kepada Sultan untuk mengucapkan selamat atas pertemuan mendengar hadits ini, dan Allah Yang Mahatinggi Mahatahu.
Kisah Wafatnya Raja Ash-Shalih Ismail bin Raja Nuruddin Penguasa Aleppo dan Peristiwa yang Terjadi Setelahnya
Wafatnya adalah pada tanggal dua puluh lima Rajab tahun ini di Benteng Aleppo dan dimakamkan di sana. Penyebab wafatnya—menurut kabar—adalah bahwa Amir Alamuddin Sulaiman bin Jandar memberinya racun dalam setangkai anggur ketika berburu. Ada yang mengatakan, justru Yaqut Al-Asadi yang memberinya racun dalam minuman, ada yang mengatakan dalam khasykananjah. Lalu ia terserang penyakit perut yang terus berlanjut hingga ia wafat, semoga Allah merahmatinya. Ia adalah pemuda yang tampan, berwajah menarik, dan belum mencapai usia dua puluh tahun. Ia termasuk raja yang paling menjaga diri, dan sangat mirip dengan ayahnya dalam hal tidak berbuat zalim. Para dokter meresepkan untuk meminumnya khamr sebagai pengobatan penyakitnya. Ia meminta fatwa kepada sebagian ulama tentang meminumnya sebagai pengobatan, dan ulama tersebut memfatwakannya. Maka ia berkata kepadanya: “Apakah meminumnya akan menambah atau mengurangi ajalku?” Ulama itu menjawab: “Tidak.” Ia berkata: “Demi Allah, aku tidak akan meminumnya, maka aku akan bertemu Allah dalam keadaan telah meminum apa yang diharamkan-Nya kepadaku.” Ketika ia sudah putus asa akan hidupnya, ia memanggil para amir dan meminta mereka bersumpah setia kepada putra pamannya Izzuddin Mas’ud penguasa Mosul, karena kuatnya kekuasaan dan kemantapannya, agar dapat mencegahnya dari Salahuddin. Ia khawatir mereka akan berbaiat kepada putra pamannya yang lain, Imaduddin Zanki penguasa Sinjar—yang menikahi saudara perempuannya dan diasuh oleh ayahnya—sehingga tidak mampu menjaganya dari Salahuddin.
Ketika ia wafat, penduduk Aleppo memanggil Izzuddin Mas’ud bin Quthbuddin penguasa Mosul, maka ia datang kepada mereka dan memasuki Aleppo dengan kemegahan yang luar biasa. Itu adalah hari yang bersejarah, yaitu pada tanggal dua puluh Sya’ban. Ia menerima perbendaharaan dan gudang-gudangnya serta senjata yang ada di dalamnya. Sementara Taqiyuddin, pamannya, berada di kota Manbij, lalu ia melarikan diri ke Hamah. Ia mendapati penduduknya telah meneriakkan slogan Izzuddin penguasa Mosul. Penduduk Aleppo membuat Izzuddin Mas’ud berambisi untuk merebut Damaskus karena ketidakhadiran Salahuddin di tanah Mesir. Mereka memberitahunya tentang kecintaan penduduk Syam kepada keluarga Atabek ini. Maka ia berkata: “Antara kami dan dia ada sumpah dan perjanjian, dan aku akan berkhianat kepadanya!” Ia tinggal di Aleppo beberapa bulan dan menikahi ibu Raja Ash-Shalih pada bulan Syawal. Kemudian ia pergi ke Raqqah dan menetap di sana. Datanglah utusan saudaranya Imaduddin Zanki yang meminta untuk menukar Aleppo dengan Sinjar. Ia sangat mendesak dalam hal itu. Saudaranya enggan lalu melakukannya dengan terpaksa. Ia menyerahkan Aleppo kepadanya dan Imaduddin menyerahkan kepadanya Sinjar, Al-Khabur, Raqqah, Nushibin, Saruj, dan wilayah lainnya.
Ketika Raja Salahuddin mendengar peristiwa-peristiwa ini, ia berangkat dari tanah Mesir bersama pasukannya dan berjalan hingga tiba di Furat lalu menyeberanginya. Sebagian amir penguasa Mosul berpaling kepadanya, maka ia mundur dari pertempuran dengannya. Salahuddin menguasai seluruh wilayah Jazirah. Ia berniat mengepung Mosul tetapi tidak terlaksana. Kemudian ia datang ke Aleppo dan menerimanya dari Imaduddin Zanki karena kelemahannya untuk mempertahankannya, karena sedikitnya senjata dan peralatan perang yang ditinggalkan Izzuddin di sana. Itu terjadi pada tahun berikutnya, sebagaimana akan kami sebutkan.
Pada tahun ini, Prince penguasa Karak—semoga Allah melaknatnya—berniat menuju Taima’ dari tanah Hijaz untuk sampai ke Madinah Nabawiyah. Maka dikirimkan pasukan dari Damaskus yang menjadi penghalang antara dia dan Hijaz, dan itu menghalanginya dari niatnya, segala puji dan nikmat bagi Allah.
Pada tahun ini, Sultan Salahuddin mengangkat saudaranya Saifuddin Zhahiruddin Tughtakin bin Ayyub sebagai wakil Yaman dan memberikan kekuasaan kepadanya, lalu mengirimnya ke sana. Itu karena perselisihan para wakilnya dan kekacauan para pengikutnya setelah wafatnya Al-Mu’azhzham Turansyah, saudara Sultan yang menaklukkannya. Ketika fitnah terjadi di sana dengan banyaknya kekacauan, jiwa saudaranya Tughtakin tertarik ke sana. Maka saudaranya mengirimnya ke sana dan mengangkatnya sebagai penguasa. Ia berangkat dan tiba di sana pada tahun lima ratus tujuh puluh delapan. Ia menjalankan pemerintahan dengan sangat baik, dengan keadilan yang sempurna dan niat yang baik. Ia menyita harta Haththan bin Munqidz, wakil Zabid, yang mendekati satu juta dinar atau lebih. Adapun wakil Aden, Fakhruddin Utsman Az-Zanjili, ia meninggalkan Yaman sebelum kedatangan Tughtakin, lalu menetap di Syam. Ia memiliki wakaf yang terkenal di Yaman dan Mekah. Kepadanya dinisbatkan Madrasah Zanjiliyah di luar Bab Tuma, berhadapan dengan Dar Ath-Tha’am. Ia telah mengumpulkan harta yang sangat besar dari sana.
Pada tahun ini, Franka berkhianat dan melanggar perjanjian mereka, memutus jalan kaum Muslimin di darat dan laut, secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan. Maka Allah memberikan kemenangan besar atas mereka dengan tenggelamnya sekitar dua ribu lima ratus orang dari para prajurit terpilih mereka yang tersapu ombak ke pelabuhan Damietta sebelum Sultan keluar dari Mesir. Mereka dikepung, sebagian tenggelam dan tertawan sekitar seribu tujuh ratus orang dari mereka, segala puji dan nikmat bagi Allah.
Pada tahun ini, Qaraqusyi pergi ke wilayah Afrika dan menaklukkan banyak negeri. Ia berperang dengan pasukan Ibn Abdul Mu’min dan kekuasaannya semakin kuat di sana. Ia adalah salah seorang mameluk Taqiyuddin Umar bin keponakan Sultan Salahuddin. Kemudian ia kembali ke tanah Mesir. Sultan memerintahkannya untuk menyelesaikan tembok yang mengelilingi Kairo dan Mesir, dan itu sebelum keberangkatannya pada tahun ini. Itu adalah pertemuan terakhirnya dengan Mesir hingga Allah Yang Mahatinggi mewafatkannya, setelah Allah memperlihatkan kepadanya cita-citanya sebelum kematian datang. Allah memberikan ketenangan matanya dari musuh-musuhnya dan membukakan di tangannya Baitul Maqdis beserta daerah sekitarnya dan isinya. Ketika ia berkemah keluar dari Mesir, ia menghadirkan anak-anaknya di sekitarnya, ia mencium mereka, memeluk mereka, dan merangkul mereka. Maka sebagian mereka membacakan syair:
Nikmatilah wangi semerbak Najd, karena setelah petang ini tidak ada lagi semerbak
Maka keadaannya seperti yang dikatakan. Ia tidak kembali ke Mesir setelah tahun ini, tetapi tempat tinggalnya di Syam. Pada tahun ini, Sultan dikaruniai dua putra, yaitu Al-Mu’azhzham Turansyah dan Raja Al-Muhsin Ahmad. Antara kelahiran mereka hanya tujuh hari, maka negeri-negeri dihias dan kegembiraan berlangsung empat belas hari.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini:
Syaikh Kamaluddin Abu Al-Barakat
Abdurrahman bin Muhammad bin Abi As-Sa’adat Ubaidillah bin Muhammad bin Ubaidillah Al-Anbari, ahli nahwu, ahli fikih, abid, zahid, nasik, khusyuk, wara’. Ia hidup sederhana dan tidak menerima pemberian dari siapa pun, bahkan dari khalifah. Ia hadir dalam giliran kaum sufi di istana khalifah, dan tidak menerima dari hadiah khalifah untuk mereka sedikit pun. Ia sabar dalam menuntut ilmu dan memiliki karya-karya yang bermanfaat. Wafatnya adalah pada bulan Sya’ban tahun ini, semoga Allah Yang Mahatinggi merahmatinya. Qadhi Ibn Khallikan berkata: “Ia memiliki kitab ‘Asrar Al-Arabiyyah’ yang sangat bermanfaat, kitab ‘Thabaqat An-Nuhah’ yang juga sangat bermanfaat, dan kitab ‘Al-Mizan fi An-Nahw’.”
Kemudian Masuklah Tahun Lima Ratus Tujuh Puluh Delapan
Pada tanggal lima Muharram, Sultan berangkat dari tanah Mesir menuju wilayah Syam untuk berhadapan dengan musuh dan berbuat baik kepada para wali. Itu adalah pertemuan terakhirnya dengan Mesir, ia tidak kembali ke sana setelah itu. Dalam perjalanannya, ia menyerang pinggiran wilayah Franka di tanah Karak dan menjadikan saudaranya Tajul Muluk Buri bin Ayyub di sayap kanan yang berjalan terpisah darinya, agar mereka dapat menguasai wilayah musuh. Mereka bertemu di Al-Azraq setelah tujuh hari. Wakil Damaskus Izzuddin Farrukhsyah telah menyerang wilayah Tiberias dan sekitarnya, menaklukkan benteng-benteng yang baik, menawan seribu orang dari mereka, dan merampas dua puluh ribu ekor ternak, semoga Allah memutihkan wajahnya. Masuknya Sultan ke Damaskus adalah pada tanggal tujuh belas Safar. Kemudian ia keluar pada sepuluh hari pertama Rabiul Awal dan bertempur dengan Franka di sekitar Tiberias dan Baisan di bawah Benteng Kaukab. Banyak orang terbunuh dari kedua belah pihak, tetapi kemenangan berpihak kepada kaum Muslimin, dan ia kembali dengan kemenangan dan dukungan.
Kemudian Sultan berangkat dengan pasukan dan tentaranya menuju Aleppo dan wilayah Timur untuk merebutnya. Hal itu karena penduduk Mosul dan Aleppo telah mengirim surat kepada Franka agar menyerang pinggiran wilayah untuk menyibukkan An-Nashir dengan dirinya sendiri dari mereka. Maka perjalanannya melalui wilayah Biqa’, kemudian ke Hamah, lalu ke Aleppo. Ia mengepungnya selama tiga hari, lalu melihat bahwa lebih baik meninggalkannya ke tempat lain. Ia berjalan hingga menyeberangi Furat, menguasai wilayah Jazirah, Al-Khabur, Harran, Ar-Ruha, Raqqah, Nushibin, dan lainnya. Para raja di sana tunduk kepadanya. Kemudian ia kembali ke Aleppo dan menerimanya dari penguasanya Imaduddin Zanki, yang telah menukar kota tersebut dengan saudaranya Izzuddin Mas’ud untuk mendapatkan Sinjar, sebagaimana telah kami sebutkan pada tahun sebelumnya. Maka kerajaan-kerajaan menjadi stabil untuknya di timur dan barat, jauh dan dekat. Pada saat itulah ia mampu memerangi musuh-musuhnya dari Franka—semoga Allah melaknatkan mereka—dan Allah memberikan kekuasaan kepadanya atas mereka, maka bagi-Nya segala puji atas apa yang telah Ia anugerahkan.
Bab
Ketika Prince Karak—semoga Allah melaknatnya—tidak mampu menyakiti kaum Muslimin di darat, ia membuat kapal di Laut Qulzum untuk memutus jalan para pedagang dan jamaah haji. Gangguan mereka sampai ke Aidzab, dan penduduk Madinah Nabawiyah takut akan kejahatan mereka. Maka Al-Adil Abu Bakar—wakil Mesir—memerintahkan Amir Husamuddin Lu’lu’ pimpinan armada untuk membuat kapal-kapalnya di Laut Qulzum untuk memerangi pengikut Prince. Ia melakukan hal itu dan mereka berhasil mengalahkan mereka di setiap tempat. Mereka membunuh, membakar, menenggelamkan, menawan, dan mengalahkan mereka di banyak tempat dan pertempuran besar yang dahsyat. Darat dan laut menjadi aman dengan izin Allah yang di tangan-Nya manfaat dan bahaya. Sultan mengirim surat kepada saudaranya untuk berterima kasih atas usahanya, dan mengirim ke kantor khalifah untuk memberitahu mereka tentang nikmat Allah kepadanya berupa penaklukan-penaklukan di darat dan laut, dan apa yang ia alami dari nikmat dan kebaikan Allah secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.
Bab tentang Wafatnya Raja Al-Manshur Izzuddin
Farrukhsyah bin Syahansyah bin Ayyub, penguasa Baalbek dan wakil Damaskus untuk pamannya Raja Salahuddin. Ia adalah ayah dari Raja Al-Amjad Bahram Syah, penguasa Baalbek juga setelah ayahnya. Kepadanya dinisbatkan Madrasah Farrukhsyahiyah di sebelah timur laut, dan di sampingnya Makam Amjadiyah untuk putranya. Keduanya adalah wakaf untuk madzhab Hanafi dan Syafi’i. Farrukhsyah adalah orang yang berani, pemberani, pahlawan, berakal, cerdas, mulia, dermawan, dan dipuji. Para penyair memujinya karena kedermawanan, keutamaan, dan kebaikannya. Ia adalah salah satu murid terbesar Syaikh Tajuddin Abu Al-Yaman Al-Kindi, yang dikenalnya dari majelis Qadhi Al-Fadhil. Al-Imad Al-Katib memiliki pujian-pujian indah untuknya. Ia sendiri, semoga Allah merahmatinya, memiliki puisi yang indah dan lembut. Di antaranya adalah perkataannya:
Aku dalam tawanan penyakit, karena cinta pemuda ini
Kijang yang mata-matanya memanah hatiku dengan anak panah
Setiap kali ia memberi minum mulutnya di atas panasnya waktu
Aku merasakan darinya madu dalam es yang jernih dalam anggur
Putranya, Raja Al-Amjad, juga seorang penyair yang baik. Paman ayahnya Salahuddin memberikan Baalbek kepadanya setelah ayahnya, dan ia tetap di sana untuk waktu yang lama. Di antara kebaikan Al-Manshur Izzuddin Farrukhsyah adalah persahabatannya dengan Tajuddin Al-Kindi, dan ia memiliki pujian-pujian untuknya. Syaikh Syihabuddin telah menyebutkan semua itu secara lengkap dalam kitab Ar-Raudhatain. Di antaranya adalah bahwa suatu hari ia masuk ke pemandian dan melihat seorang laki-laki yang ia kenal sebagai orang kaya, tetapi keadaannya telah jatuh hingga ia menutupi dirinya dengan sebagian tangannya agar tubuhnya tidak terlihat. Ia merasa kasihan kepadanya dan memerintahkan pelayannya untuk memindahkan sebuah bungkusan dan permadani ke tempat laki-laki itu, menghadirkan seekor bagal untuknya, seribu dinar, dan surat keputusan untuk mendapatkan dua puluh dinar setiap bulan. Maka laki-laki itu masuk sebagai orang paling miskin, dan keluar sebagai orang paling kaya. Semoga rahmat Allah atas orang-orang dermawan yang bijaksana.
Dan di antara tokoh terkemuka yang wafat pada tahun ini:
Syekh Abu Al-Abbas Ar-Rifa’i
Ahmad bin Abi Al-Hasan Ali bin Abi Al-Abbas Ahmad, yang dikenal dengan Ibnu Ar-Rifa’i, pemimpin tarekat Ahmadiyah dan Rifa’iyah Al-Bathaiḥiyyah karena beliau tinggal di Umm ‘Ubaidah dari desa-desa Al-Bathaih yang terletak antara Basrah dan Wasith. Asal-usulnya dari bangsa Arab lalu menetap di negeri ini, dan banyak orang yang berkumpul di sekelilingnya. Dikatakan bahwa beliau telah menghafal kitab At-Tanbih dalam fikih. Dan aku telah menyebutkannya dalam kitab Thabaqat Asy-Syafi’iyah.
Ibnu Khallikan berkata: Para pengikutnya memiliki keadaan-keadaan yang menakjubkan seperti memakan ular-ular dalam keadaan hidup, dan masuk ke dalam tungku yang sedang menyala-nyala lalu memadamkannya, dan dikatakan bahwa mereka di negeri mereka menunggangi singa. Beliau berkata: Syekh Ahmad tidak memiliki keturunan, dan yang memiliki keturunan adalah saudaranya, dan keturunannya mewarisi kepemimpinan di negeri-negeri tersebut. Beliau berkata: Di antara syair Syekh Ahmad, menurut yang dikatakan:
Ketika malamku gelap, hatiku mengembara dengan menyebutmu Aku meratap sebagaimana meratap burung merpati yang berkalung Di atasku awan yang menurunkan hujan kesedihan dan duka Dan di bawahku lautan-lautan yang mengalir dengan duka nestapa
Tanyakan kepada Ummu ‘Amr bagaimana tawanannya bermalam Ia membebaskan para tawanan selainnya sedangkan ia terikat Maka ia tidak dibunuh padahal dalam pembunuhan ada kenyamanan Dan tidak pula dibebaskan darinya sehingga ia terlepas
Dan di antara syairnya ucapannya:
Aku cemburu padanya dari ayahnya dan ibunya Dan dari setiap orang yang mendekat padanya dan memandangnya Dan aku khawatir juga pada cermin di tangannya Ketika ia melihat darimu apa yang aku lihat
Beliau berkata: Beliau tetap dalam keadaan tersebut hingga wafat pada hari Kamis tanggal dua puluh dua Jumadal Ula tahun ini, semoga Allah merahmatinya.
Khalaf bin Abdul Malik bin Mas’ud bin Basykuwal
Abu Al-Qasim Al-Qurthubi, ahli hadits, muhaddits, sejarawan, penulis kitab-kitab. Beliau memiliki kitab Ash-Shilah yang dijadikannya lanjutan dari sejarah Abu Al-Walid bin Al-Faradhi, dan beliau memiliki kitab Al-Mustaghithin billah, dan beliau memiliki satu jilid tentang penentuan nama-nama yang masih samar dalam riwayat-riwayat menurut cara Al-Khatib, dan nama-nama orang yang meriwayatkan Al-Muwaththa menurut huruf mu’jam, yang mencapai tujuh puluh tiga orang. Wafatnya pada bulan Ramadhan dalam usia delapan puluh empat tahun, semoga Allah merahmatinya dan meridhainya.
Allamah Quthb Ad-Din Abu Al-Ma’ali
Mas’ud bin Muhammad bin Mas’ud An-Naisaburi, belajar fikih kepada Muhammad bin Yahya sahabat Al-Ghazali, datang ke Damaskus dan mengajar di Al-Ghazaliyah dan Al-Mujahidiyah, dan di Aleppo di madrasah Nuruddin dan Asaduddin, kemudian di Hamadzan, lalu kembali ke Damaskus dan mengajar di Al-Ghazaliyah, dan kepemimpinan madzhab berakhir kepadanya, dan wafat di sana pada akhir Ramadhan pada hari raya tahun lima ratus tujuh puluh delapan, dalam usia sembilan puluh tiga tahun, dan darinya belajar Al-Fakhru bin Asakir dan yang lainnya, dan beliaulah yang menshalatkan jenazah Al-Hafizh Ibnu Asakir. Dan Allah Maha Mengetahui.
Kemudian masuk tahun lima ratus tujuh puluh sembilan
Pada tanggal empat belas Muharram, Sultan Shalahuddin menguasai kota Amid secara damai setelah pengepungan yang panjang, dari tangan penguasanya Ibnu Nisan, setelah ia membawa apa yang mampu ia bawa dari harta benda, kekayaan dan barang-barangnya selama tiga hari. Ketika Sultan menguasai negeri tersebut, ia menemukan di dalamnya banyak sekali harta benda dan alat-alat perang serta senjata, hingga ia menemukan sebuah menara yang penuh dengan mata anak panah, dan menara lain yang berisi seratus ribu lilin, dan hal-hal yang panjang untuk dijelaskan. Dan ia menemukan di sana perpustakaan yang berisi satu juta empat puluh ribu jilid, lalu ia menghadiahkan semuanya kepada Qadhi Al-Fadhil, maka ia memilih darinya muatan tujuh puluh ekor keledai. Kemudian Sultan menghadiahkan negeri tersebut dengan apa yang ada di dalamnya kepada Nuruddin Muhammad bin Qara Arslan – dan ia telah menjanjikannya – maka dikatakan kepadanya: Sesungguhnya harta benda tidak termasuk dalam janjimu. Maka ia berkata: Aku tidak akan kikir padanya – dan di perbendaharaannya ada tiga juta dinar – dan ia telah menjadi bagian dari sahabat-sahabat kami dan penolong-penolong kami. Maka para penyair memujinya atas perbuatan baik dan indah ini, dan ia layak mendapat pujian dan balasan yang berlimpah. Dan di antara ucapan terbaik yang dikatakan sebagian mereka dalam hal itu dari sebuah qasidah untuknya kepada Sultan:
Katakan kepada para raja mundurlah dari kerajaan kalian Karena telah datang sang pengambil dunia dan pemberinya
Kemudian Sultan berangkat pada sisa Muharram menuju kota Aleppo lalu mengepungnya dan menghalanginya, dan penduduknya memeranginya dengan baik, dan saudara Sultan Tajul Muluk Buri bin Ayyub terluka dengan luka parah, lalu meninggal karenanya setelah beberapa hari. Ia adalah putra Ayyub yang paling muda, belum mencapai usia dua puluh tahun, dan dikatakan bahkan melewatinya dua tahun. Ia adalah orang yang cerdas dan paham, memiliki diwan syair yang bagus. Maka saudaranya Al-Malik Shalahuddin sangat bersedih atasnya, dan menguburkannya di Aleppo, kemudian memindahkannya ke Damaskus. Kemudian terjadi kesepakatan antara Sultan dengan penguasa Aleppo Imaduddin Zangi bin Maudud bin Zangi bin Aq Sunqur atas ganti rugi yang ia berikan yaitu mengembalikan kepadanya Sinjar dan menyerahkan negeri tersebut kepadanya. Maka Imaduddin Zangi keluar dan datang untuk menghadap Sultan, dan menyampaikan belasungkawa atas saudaranya, dan tinggal bersamanya di perkemahan, dan memindahkan barang-barangnya ke Sinjar. Dan Sultan menambahkan kepadanya Al-Khabur, Ar-Raqqah, Nushaibin dan Suruj, dan mensyaratkan kepadanya untuk mengirimkan pasukan dalam pelayanan untuk perang. Kemudian ia berangkat dan Sultan mengantarnya. Dan Sultan tinggal di perkemahan beberapa hari tidak peduli dengan Aleppo, dan tidak menganggapnya banyak atau penting. Kemudian ia naik ke bentengnya pada hari Senin tanggal tujuh belas Shafar dengan dukungan, kemenangan dan kegembiraan, dan Amir Thuman mengadakan perjamuan besar untuknya, dan itu adalah hari yang disaksikan. Sebagian mereka mendengarnya saat masuk membaca ayat ini: Katakanlah: Wahai Allah, Pemilik kerajaan [Ali Imran: 26] ayat tersebut. Dan ketika masuk istana raja, ia membaca: Dan Dia mewariskan kepada kalian tanah mereka, rumah-rumah mereka dan harta benda mereka [Al-Ahzab: 27]. Dan ketika masuk maqam Ibrahim, ia shalat dua rakaat di dalamnya dan memperpanjang sujud, doa dan permohonan, semoga Allah merahmatinya. Kemudian ia mulai mengadakan perjamuan besar, dan berita gembira telah dipukul, dan Sultan memberikan pakaian kehormatan kepada para amir, dan berbuat baik kepada para pemimpin dan fakir miskin, dan perang telah meletakkan bebannya, dan hati-hati telah mencapai tujuannya.
Ia meletakkan tongkatnya dan tempat tinggal menetap bersamanya Sebagaimana tentramnya mata musafir dengan kepulangan
Dan para penyair memujinya saat pembebasan Aleppo dengan pujian-pujian yang bagus, dan itu telah menempati posisi yang agung darinya, hingga ia berkata: Aku tidak pernah senang dengan pembebasan benteng lebih besar kegembiraan daripada pembebasan kota Aleppo. Dan ia menghapuskan dari kota tersebut dan seluruh negeri Jazirah pajak-pajak dan pungutan, dan demikian juga dari negeri Syam dan Mesir, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan.
Dan sesungguhnya kaum Franka dalam ketidakhadiran Sultan dan kesibukannya dengan negeri-negeri Jazirah dan urusan-urusan tersebut, telah berbuat kerusakan di negeri-negeri kanan dan kiri, dan rubah-rubah memanfaatkan ketidakhadiran singa lalu berkeliaran di sekitar sarang singa sambil menyangka itu bayangan belaka. Maka Sultan mengirim kepada pasukan-pasukannya agar berkumpul kepadanya dan berada di hadapannya, agar ia dapat bersiap setelah ini semua untuk memerangi kaum Franka musuh yang terhina. Dan ia telah diberi kabar gembira tentang pembebasan Baitul Maqdis ketika membuka Aleppo, yaitu bahwa ahli fikih Majduddin bin Jahbal Asy-Syafi’i melihat dalam tafsir Abu Al-Hakam bin Burjan Al-Maghribi pada firman Allah Ta’ala: Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi [Ar-Rum: 1] ayat tersebut. Kabar gembira tentang pembebasan Baitul Maqdis pada tahun lima ratus delapan puluh tiga, dan ia mengambil dalil atas itu dengan beberapa hal. Maka ia menulis itu dalam sebuah surat dan memberikannya kepada ahli fikih Isa Al-Hakari agar memberi kabar gembira dengan itu kepada Sultan, namun ia tidak berani melakukan itu karena takut tidak sesuai. Maka ia memberitahukan hal itu kepada Qadhi Muhyiddin bin Az-Zaki, lalu ia menyusun maknanya dalam sebuah qasidah yang mengatakan di dalamnya:
Dan pembebasan kalian atas Aleppo Asy-Syahba pada Shafar Telah ditetapkan bagi kalian pembebasan Al-Quds pada Rajab
Dan ia menyerahkannya kepada Sultan maka semangat Sultan semakin kuat untuk itu. Maka ketika membebaskannya – sebagaimana akan datang – ia memerintahkan Qadhi untuk berkhutbah pada hari itu dan itu adalah hari Jumat. Dan ketika sampai kepadanya bahwa Ibnu Jahbal adalah orang yang pertama kali mengetahui hal itu, ia memerintahkannya untuk mengajar di atas Shakhrah itu sendiri pelajaran yang agung, dan memberikan hadiah yang berlimpah kepadanya dan pujian yang baik kepadanya.
Fasal
Kemudian Sultan berangkat dari Aleppo pada akhir Rabiul Akhir dengan pasukan-pasukannya dan ia telah menjadikan di sana putranya Azh-Zhahir Ghazi, dan mengangkat untuk kehakimannya Muhyiddin bin Az-Zaki, maka ia menunjuk untuknya di sana seorang wakil, dan ia kembali bersama Sultan dalam pelayanannya. Maka ia melewati Hamah kemudian Homs kemudian Ba’labak kemudian masuk Damaskus pada tanggal tiga Jumadal Ula dengan dukungan dan kemenangan dalam kemegahan yang besar dan kenikmatan yang besar, dan itu adalah hari yang disaksikan. Dan niatnya keluar dengan cepat untuk memerangi kaum Franka. Maka ia keluar darinya pada awal Jumadal Akhirah dengan pasukan-pasukannya menuju Al-Quds Asy-Syarif, lalu sampai ke Baisan dan menjarahi, dan turun di Ain Jalut. Dan ia mengirim di hadapannya serangan yang dahsyat di dalamnya Jardik dan sekelompok dari An-Nuriyah, dan Jawli budak pamannya Asaduddin. Maka mereka menemukan pasukan Al-Karak dari kaum Franka yang menuju kepada sahabat-sahabat mereka sebagai bantuan bagi mereka. Maka mereka bertemu dengan mereka lalu membunuh dari kaum Franka banyak orang dan menawan seratus tawanan, dan tidak hilang dari kaum muslimin kecuali satu orang saja. Kemudian kembali pada akhir hari itu. Dan sampai kepada Sultan bahwa kaum Franka telah berkumpul untuk memeranginya, maka ia menuju mereka dan bersiap untuk mereka agar mereka menghadapinya dalam pertempuran, namun mereka mundur darinya. Maka ia membunuh dari mereka banyak orang dari pinggiran mereka dan melukai seperti mereka. Maka mereka kembali mundur ke belakang dengan ketakutan darinya yang sangat karena banyaknya pasukannya, dan ia di belakang mereka membunuh dan menawan hingga mereka masuk jauh ke negeri-negeri mereka. Maka ia kembali dari mereka dengan dukungan dan kemenangan. Dan Qadhi Al-Fadhil menulis kepada Khalifah memberitahukan apa yang Allah anugerahkan kepada kaum muslimin dari kemenangan mereka atas kaum Franka. Dan ia tidak melakukan sesuatu dan tidak ingin melakukannya kecuali membahasnya dengan Khalifah dengan adab, kehormatan, ketaatan dan kemuliaan.
Fasal
Dan pada Rajab Sultan pergi ke Al-Karak lalu mengepungnya dan dalam iringannya Taqiyuddin Umar bin saudaranya. Dan ia telah menulis kepada saudaranya Al-Adil Abu Bakar agar hadir kepadanya untuk menguasainya di Aleppo dan wilayah-wilayahnya sesuai dengan apa yang ia minta darinya. Dan pengepungan berlanjut di Al-Karak selama bulan Rajab, namun ia tidak mendapatkan permintaan darinya. Dan sampai kepadanya bahwa kaum Franka telah berkumpul semuanya untuk mencegah darinya Al-Karak. Maka ia berpikir untuk kembali ke Damaskus agar menemui mereka – dan itu adalah dari keinginan terbesarnya dan permintaan terbesarnya – dan ia mengutus putra saudaranya Taqiyuddin Umar ke Mesir sebagai wakil, dan dalam iringannya Qadhi Al-Fadhil. Dan ia mengirim saudaranya ke kerajaan Aleppo dan wilayah-wilayahnya, dan memanggil putranya Azh-Zhahir kepadanya, dan demikian juga wakil-wakilnya dan orang yang ia hormati. Dan An-Nashir hanya memberikan kepada saudaranya Al-Adil Aleppo agar ia dekat darinya, karena ia tidak memutuskan suatu perkara tanpa musyawarahnya. Dan ia meminjam dari saudaranya Abu Bakar Al-Adil seratus ribu dinar. Dan Azh-Zhahir bin An-Nashir merasa sedih atas perpisahannya dengan Aleppo dan masa tinggalnya yang pertama di sana enam bulan, tetapi ia tidak menampakkan apa yang ada di dalam dirinya kepada ayahnya, namun ia menampakkan itu di halaman wajahnya dan lisan yang lepas.
Kemudian Masuklah Tahun 580 Hijriah
Pada tahun ini Sultan mengirim utusan kepada pasukan-pasukan Aleppo, Jazirah, dan Mesir. Maka datanglah kepadanya Taqiyuddin Umar dari Mesir bersama Al-Qadhi Al-Fadhil, dan dari Aleppo datang Abu Bakar Al-Adil. Datang pula raja-raja dari Jazirah, Sinjar, dan wilayah-wilayah serta negeri-negeri di sekitarnya. Sultan mengambil semuanya bersama pasukannya, lalu berangkat menuju Karak dan mengepungnya pada tanggal empat belas bulan Jumadil Ula. Mereka memasang alat-alat pelontar (manjaniq) sebanyak sembilan buah dan mulai mengepungnya. Hal itu karena Sultan melihat bahwa menaklukkan Karak saat ini lebih bermanfaat bagi kaum muslimin, karena mereka (Karak) memutus jalan bagi jamaah haji dan para pedagang di daratan maupun lautan.
Ketika ia dalam keadaan demikian, sampailah kabar kepadanya bahwa orang-orang Franka—semoga Allah melaknat mereka—telah berkumpul menghadapinya dengan lengkap, baik pasukan berkuda maupun pasukan berkaki, untuk menghalanginya dari Karak. Maka Sultan meninggalkan pengepungan Karak dan menuju mereka. Sultan turun di Husban menghadap mereka, kemudian berpindah ke Ma’ Ain, maka larilah orang-orang Franka menuju Karak. Sultan mengirim pasukan mengejar mereka dan membunuh banyak dari mereka dalam pembantaian yang dahsyat. Sultan memerintahkan pasukan untuk menyerang wilayah-wilayah pesisir karena kosong dari pasukan tempur. Maka Nablus dan desa-desa serta pedesaan di sekitarnya dijarah. Kemudian Sultan kembali ke Damaskus dan mengizinkan pasukan untuk kembali ke negeri-negeri mereka yang berbeda-beda. Sultan memerintahkan keponakannya Taqiyuddin Umar Al-Malik Al-Muzhaffar untuk kembali ke Mesir bersama pasukannya, demikian pula saudaranya Al-Adil untuk kembali ke Shahba (Aleppo). Sultan tinggal di Damaskus untuk menunaikan kewajiban puasa, agar kuda-kuda beristirahat dan pedang-pedang diasah.
Datanglah kepada Sultan pakaian kehormatan dari Khalifah, maka ia memakainya dan memberikan pakaian kehormatan kepada saudaranya Al-Adil dan saudara sepupunya Nasiruddin Muhammad bin Syirkuh. Kemudian Sultan memberikan pakaian kehormatannya kepada Nasiruddin bin Qara Arslan, penguasa Hishan Kaifa, Khartabirt, dan Amid yang telah Sultan lepaskan kepadanya.
Pada tahun ini meninggal saudara sepupu Sultan, penguasa Mardin, Mayyafariqin, dan wilayah-wilayah itu, yaitu Quthbuddin Ilghazi bin Albi bin Timurtasy bin Ilghazi bin Artuq. Maka anaknya yang berusia sepuluh tahun menggantikannya dalam kekuasaan.
Pada tahun ini juga meninggal penguasa Maghrib, yaitu Yusuf bin Abdul Mumin bin Ali, dan anaknya Ya’qub menggantikannya dalam kekuasaan.
Pada akhir tahun ini sampai kabar kepada Sultan Salahuddin bahwa penguasa Mosul mengepung Irbil. Maka penguasa Irbil meminta pertolongan kepada Sultan. Sultan segera berangkat kepadanya bersama pasukan dan tentaranya. Ia berjalan ke Baalbek, kemudian ke Homs, kemudian ke Hamah. Sultan tinggal di sana beberapa hari menunggu kedatangan Al-Imad Al-Katib kepadanya. Hal itu karena Al-Imad mengalami kelemahan sehingga tinggal di Baalbek sampai sembuh dari sakitnya. Al-Qadhi Al-Fadhil telah mengirim kepadanya dari Damaskus seorang dokter bernama As’ad bin Ilyas Al-Mathran, yang merawatnya dengan pengobatan dari seorang dokter untuk orang yang dicintainya.
Kemudian Masuklah Tahun 581 Hijriah
Tahun ini dimulai ketika Sultan berkemah di luar Hamah. Ia berangkat ke Aleppo dan disambut oleh saudaranya Al-Adil. Pasukan-pasukan berkumpul kepadanya, maka ia keluar darinya pada bulan Safar menuju Mosul. Ia menyeberangi sungai Efrat dan datang ke Harran, lalu menangkap penguasanya Muzhaffaruddin bin Zainuddin, yang merupakan saudara Zainuddin penguasa Irbil. Kemudian Sultan meridhai dan mengembalikannya ke kerajaannya hingga jelas niat baiknya. Kemudian ia berangkat dari sana menuju Mosul. Para raja menyambutnya dari setiap penjuru. Datang menghadapnya Imaduddin Abu Bakar bin Qara Arslan, penguasa negeri Bakr dan Amid. Kemudian sampai kabar kepadanya tentang kematian saudaranya Nuruddin Arslan. Ia meminta izin untuk mengambil kerajaannya, maka Sultan memberikannya.
Sultan berangkat dan turun di wilayah-wilayah Isma’iliyah dekat Mosul. Datang kepadanya penguasa Irbil Zainuddin, yang termasuk di antara raja-raja wilayah itu yang tunduk kepadanya—sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Sultan mengutus Dhiyauddin bin Kamaluddin Al-Shahrazuri kepada Khalifah untuk memberitahukan apa yang telah diputuskannya yaitu mengepung Mosul, dan bahwa tujuannya hanyalah mengembalikan mereka kepada ketaatan kepada Imam dan menolong Islam. Maka ia mengepung Mosul beberapa waktu, kemudian meninggalkannya pada akhir Rabiul Awal tanpa menaklukkannya. Ia berjalan menuju Khilath dan menguasai banyak negeri dan wilayah-wilayah di Jazirah dan Diyar Bakr. Terjadilah peristiwa-peristiwa panjang yang telah dirinci oleh Ibnu Al-Atsir dalam Al-Kamil dan penulis Rawdhatayn.
Kemudian terjadilah perdamaian antara Sultan dengan orang-orang Mosul, dengan syarat mereka menjadi bagian dari pasukannya jika Sultan memanggil mereka untuk memerangi orang-orang Franka, dan agar khutbah disampaikan untuk Sultan serta mata uang dicetak dengan namanya. Maka hal itu dilakukan di semua negeri tersebut. Khutbah Salajiqah dan Aziqiyah terputus di semua negeri itu, dan urusan tersepakati serta kesulitan teratasi.
Terjadilah kemudian Sultan jatuh sakit dengan sakit yang keras setelah ini. Ia bersikap tegar dan tidak menampakkan rasa sakit sedikitpun hingga penyakitnya bertambah parah dan keadaannya makin memburuk, sampai ia tiba di Harran dan berkemah di sana karena hebatnya rasa sakitnya. Kabar ini tersebar di seluruh negeri. Orang-orang khawatir terhadapnya, orang-orang kafir dan munafik menggembar-gemborkan kabar buruk, dan orang-orang baik serta mukmin pun khawatir. Saudaranya Abu Bakar Al-Adil datang dari Aleppo membawa para dokter dan obat-obatan. Ia mendapati Sultan dalam keadaan sangat lemah. Al-Adil menyarankan agar Sultan berwasiat dan membuat surat wasiat. Maka Sultan berkata: “Aku tidak khawatir karena aku meninggalkan setelahku Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali”—maksudnya saudaranya Al-Adil penguasa Aleppo, Taqiyuddin Umar penguasa Hamah yang saat itu menjadi wakil Mesir dan tinggal di sana, serta kedua putranya Al-Aziz Utsman dan Al-Afdhal Ali.
Kemudian Sultan bernazar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala: jika Allah menyembuhkannya dari sakit ini, ia akan mencurahkan seluruh perhatiannya untuk memerangi orang-orang kafir, tidak akan memerangi seorang muslim lagi setelah itu, akan menjadikan perhatian terbesarnya untuk menaklukkan Baitul Maqdis meskipun harus menghabiskan semua harta dan simpanan yang dimilikinya, dan akan membunuh dengan tangannya sendiri Pangeran penguasa Karak. Hal itu karena Pangeran tersebut melanggar perjanjian yang telah disepakati dengan Sultan, yakni ia berkhianat terhadap kafilah pedagang dari Mesir dengan merampas harta mereka dan memenggal kepala mereka di hadapannya, sambil berkata: “Di mana Muhammad kalian yang akan menolong kalian?” Nazar ini semuanya atas saran Al-Qadhi Al-Fadhil, rahimahullah, dan dialah yang mengarahkan Sultan kepada hal itu serta mendorongnya hingga Sultan mengikrarkannya kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Allah Azza wa Jalla menyembuhkannya dan memulihkannya dari penyakit yang telah menimpanya, yang menjadi penghapus dosa-dosanya, pengangkat derajatnya, dan kemenangan bagi Islam dan umatnya. Datanglah kabar gembira tentang itu dari setiap penjuru, dan negeri-negeri pun dihias. Segala puji dan syukur bagi Allah.
Al-Qadhi Al-Fadhil menulis dari Damaskus—saat ia berada di sana—kepada Al-Muzhaffar Taqiyuddin Umar, wakil Mesir untuk pamannya An-Nashir, bahwa kabar tentang kesembuhan An-Nashiriyah telah tersebar luas berita-beritanya, cahaya-cahayanya, dan tanda-tandanya. Penyakit telah berlalu, segala puji bagi Allah, apinya telah padam, debunya telah hilang, dan percikannya telah mati. Itu hanyalah musibah yang Allah lindungi bahayanya, dan bencana besar yang Allah cukupkan Islam dari urusannya, dan cobaan yang dengan itu Allah menguji jiwa-jiwa kita, maka Dia melihat bahwa hal terkecil yang ada pada kita adalah kesabarannya. Allah tidak akan menyia-nyiakan doa ketika hati-hati telah mengikhlaskannya, tidak akan menghentikan pengabulan meskipun dosa-dosa menghalangi jalannya, dan tidak akan menyalahi janji kelapangan ketika sahabat dan yang menemani telah putus asa.
Kabar duka yang Zaman menambahkan huruf mim padanya Sehingga menjadi kabar gembira setelah kesusahannya Dan pembawa kabar tidak jujur dengannya, karena aku Melihat matahari terbit bersama bintang-bintang
Tuan kami Sultan Al-Malik An-Nashir telah menyambut kesembuhan yang segar dan baru, dengan tekad yang tajam dan kuat, serta semangat untuk jihad, dengan surga yang terhampar luas, perhitungan telah selesai, kita telah melewati shirath, dan kita telah menghadapi kesulitan-kesulitan yang karena ketakutan terhadapnya, unta nyaris masuk ke dalam lubang jarum.
Kemudian Sultan berkuda dari Harran setelah sembuh, masuk ke Aleppo, kemudian melewati Hamah dan Homs, dan masuk ke Damaskus dalam keadaan kesembuhannya sempurna. Hari masuknya ke Damaskus adalah hari yang disaksikan dan pagi yang terpuji. Segala puji bagi Allah.
Di antara orang-orang terkemuka yang meninggal pada tahun ini:
Abdullah bin As’ad Al-Mushuli
Faqih Muhadzibuddin Abdullah bin As’ad Al-Mushuli, mudarris Homs. Ia sangat mahir dalam berbagai bidang, khususnya dalam syair dan sastra. Al-Imad dan Syekh Syihabuddin Abu Syamah memujinya.
Amir Nasiruddin Muhammad bin Asaduddin Syirkuh
Penguasa Homs dan Ar-Rahhah, ia adalah saudara sepupu Sultan Salahuddin dan suami saudarinya Sitt Asy-Syam binti Ayyub. Wafatnya di Homs, lalu istrinya Sitt Asy-Syam memindahkannya ke makamnya di Madrasah Asy-Syamiyah Al-Barraniyah. Kuburnya berada di tengah-tengah antara kuburnya dan saudaranya Al-Mu’azzham Turansyah penguasa Yaman. Nasiruddin Muhammad meninggalkan harta dan simpanan yang sangat banyak, melebihi satu juta dinar. Wafatnya pada hari Arafah secara mendadak. Setelahnya, kerajaan Homs diperintah oleh anaknya Asaduddin Syirkuh atas perintah Sultan, semoga Allah membantunya.
Mahmud bin Ahmad bin Ali bin Ismail
Bin Abdurrahim, Syekh Jamaluddin Abu Ats-Tsana Al-Mahmudi bin Ash-Shabuni, karena kakek dari ibunya adalah Syekh Abu Utsman Ash-Shabuni yang termasuk imam-imam terkenal. Ia disebut Al-Mahmudi karena kakeknya menemani Sultan Mahmud bin Muhammad bin Malikshah. Syekh Jamaluddin ini datang ke Syam pada masa Sultan Nuruddin Mahmud bin Zanki, maka Sultan menghormatinya. Kemudian ia pergi ke Mesir dan menetap di sana. Salahuddin juga menghormatinya dan mewakafkan tanah untuknya dan keturunannya, yang hingga kini masih menjadi milik mereka.
Amir besar Sa’duddin Mas’ud bin Mu’inuddin
Ia termasuk amir-amir besar pada masa Nuruddin dan Salahuddin. Ia adalah saudara Sitt Khatun. Ketika Salahuddin menikahinya, Sultan menikahkan saudarinya Sitt Rabi’ah Khatun binti Ayyub kepadanya. Madrasah Shalahiyah di kaki bukit untuk madzhab Hanbali dinisbatkan kepadanya. Masa hidupnya panjang, ia wafat pada tahun 643 Hijriah. Ia adalah orang terakhir yang tersisa dari anak-anak Ayyub. Wafatnya di Damaskus pada Jumadil Akhir dari luka yang dideritanya saat pengepungan Mayyafariqin.
Sitt Khatun Ishmatuddin
Binti Mu’inuddin, wakil Damaskus dan atabek pasukannya sebelum Nuruddin, sebagaimana telah disebutkan. Ia adalah istri Nuruddin, rahimahullah. Setelahnya Salahuddin menikahinya pada tahun 572 Hijriah. Ia termasuk wanita paling cantik, paling menjaga diri, dan paling banyak bersedekah. Dialah yang mewakafkan Al-Khatuniyah Al-Jawwaniyah di kampung Hajar Adz-Dzahab, dan khanaqah Khatun di luar Bab An-Nashr di awal Asy-Syaraf Al-Qibli di Banyas. Ia dimakamkan di makamnya di kaki Qasyun dekat kubah-kubah Asy-Syarkasiyah, di sampingnya Dar Al-Hadits Al-Asyrafiyah dan Al-Atabikiyah. Ia memiliki banyak wakaf selain itu. Adapun Al-Khatuniyah Al-Barraniyah yang berada di Saluran Air di kampung Shan’a Asy-Syam yang dikenal dengan Tall Ats-Tsa’alib, itu didirikan oleh Sitt Zumurrud Khatun binti Jawali. Ia adalah saudari Al-Malik Duqaq dari ibunya, dan merupakan istri Zanki, ayah Nuruddin Mahmud penguasa Aleppo. Ia telah wafat sebelum waktu ini sebagaimana telah disebutkan, rahimahallahu ta’ala.
Hafizh besar Abu Musa Al-Madini
Muhammad bin Umar bin Ahmad Al-Ashbahani, Hafizh Abu Musa Al-Madini, salah satu hafizh dunia yang banyak melakukan perjalanan. Ia memiliki banyak karya dan mensyarah banyak hadits, rahimahullah.
As-Suhaili Abu Al-Qasim
Abu Al-Qasim dan Abu Zaid, Abdurrahman bin Al-Khathib Abi Muhammad Abdullah bin Al-Khathib Abi Umar Ahmad bin Abi Al-Hasan Ashbagh bin Husain bin Sa’dun bin Ridhwan bin Futuh—dialah yang masuk ke Andalusia—Al-Khatsa’mi As-Suhaili. Qadhi Ibnu Khallikan meriwayatkan dari Ibnu Dihyah bahwa As-Suhaili mendiktekan nasabnya kepadanya. Demikian dikatakan Ibnu Khallikan. As-Suhaili dinisbatkan kepada sebuah desa dekat Malaqah bernama Suhail, karena bintang Suhail tidak terlihat dari manapun di negeri-negeri itu kecuali dari puncak gunung yang tinggi di dekatnya. As-Suhaili lahir tahun 508 Hijriah. Ia mempelajari qira’at dan menuntut ilmu hingga mahir dan memimpin orang-orang pada zamannya dengan kekuatan pemikirannya, kejernihan akalnya, dan baiknya karya-karyanya. Ia buta meskipun demikian.
Ia memiliki kitab “Ar-Raudh al-Unuf” yang di dalamnya ia menyebutkan poin-poin bagus tentang sirah yang belum pernah ada orang yang mendahuluinya dalam banyak hal darinya, dan ia memiliki kitab “Al-I’lam fima Ubhima fi al-Quran min al-Asma’ al-A’lam”, dan kitab “Nata’ij al-Fikr”, dan masalah dalam ilmu faraid yang indah, dan masalah tentang rahasia mengapa Dajjal itu buta sebelah mata, dan banyak hal lain yang unik, indah dan bermanfaat, dan ia memiliki syair-syair yang bagus, dan ia adalah orang yang suci lagi miskin, dan ia telah mendapatkan harta yang banyak di akhir umurnya dari penguasa Marrakesh. Wafatnya pada tahun ini hari Kamis tanggal dua puluh enam bulan Syakban, dan ia memiliki qasidah yang dengannya ia berdoa kepada Allah dan mengharap pengabulan padanya yaitu ucapannya:
Wahai yang melihat apa yang ada dalam hati dan mendengar… Engkau Yang Maha Menyiapkan untuk semua yang diharapkan Wahai yang diharap untuk semua kesulitan… Wahai yang kepada-Nya tempat mengadu dan berlindung Wahai yang khazanah rezeki-Nya dalam firman “Kun”… Karuniakanlah karena sesungguhnya kebaikan ada pada-Mu semuanya Tidak ada bagiku selain kefakiranku kepada-Mu sebagai wasilah… Maka dengan kefakiran kepada-Mu kefakiranku kulenyapkan Tidak ada bagiku selain mengetuk pintu-Mu sebagai jalan… Maka jika Engkau menolakku pintu mana yang akan kuketuk Dan siapa yang akan kupanggil dan kusebut namanya… Jika karunia-Mu dicegah dari orang fakir-Mu Jauh bagi kemuliaan-Mu untuk memutuskan asa orang yang bermaksiat… Karunia lebih besar dan pemberian lebih luas
Kemudian Masuklah Tahun Lima Ratus Delapan Puluh Dua
Pada tanggal dua Rabiul Awal tahun tersebut adalah masuknya Sultan Salahuddin ke Damaskus setelah kesehatannya pulih, dan itu adalah hari yang masyhur sebagaimana yang biasa terjadi pada raja-raja, dan ia bertemu dengan Al-Qadhi Al-Fadhil dan mengunjunginya serta meminta kunjungan baliknya, dan bermusyawarah dengannya dan meminta nasihatnya, dan ia tidak memutuskan suatu perkara tanpa dirinya, dan tidak menyembunyikan darinya isi hatinya, dan isi batinnya serta kandungannya, kemudian Sultan menetapkan anaknya Al-Afdhal Ali sebagai penguasa Damaskus, dan Al-Adil Abu Bakar turun dari Aleppo untuk menantunya, suami putrinya Al-Malik Adh-Dhahir Ghazi bin As-Sultan, dan Sultan mengirim saudaranya Al-Adil bersama anaknya Imaduddin Utsman Al-Malik Al-Aziz ke kekuasaan Mesir, dan Al-Adil menjadi atabaknya, dan baginya ada tanah lungguh yang sangat besar, dan dicopot darinya wakilnya Taqiyuddin Umar, maka ia bertekad untuk masuk ke Afrika, namun Sultan terus berkirim surat kepadanya dan bersikap lemah lembut padanya dan bersikap ramah kepadanya hingga ia datang dengan pasukannya menuju ke arahnya, lalu ia memuliakan dan menghormatinya dan membesarkannya dan memberinya tanah lungguh Hamah dan banyak negeri bersamanya – dan sesungguhnya itu telah menjadi miliknya sebelum itu – dan menambahkannya selain itu kota Mayyafariqin dan Al-Imad Al-Katib memujinya dengan qasidah sin yang mulia yang disebutkannya dalam “Ar-Raudhatain”.
Pada tahun ini Qumas Tripoli berdamai dengan Sultan dan menandatangani perjanjian damai dengannya dan bersahabat dengannya, hingga ia memerangi raja-raja Franka dengan peperangan yang sangat keras dan menawan dari mereka para wanita dan anak-anak, dan hampir masuk Islam namun syaitannya menghalanginya dan melemparnya dengan keburukan, dan perdamaiannya merupakan salah satu sebab terkuat untuk kemenangan Sultan atas Franka, dan termasuk yang paling keras yang menimpa mereka dalam agama dan dunia mereka.
Al-Imad Al-Katib berkata: Para ahli nujum di semua negeri memutuskan kehancuran dunia pada bulan Syakban ketika berkumpulnya enam planet di buruj Mizan dengan banjir angin di seluruh negeri, dan ia menyebutkan bahwa sebagian orang-orang bodoh bersiap-siap untuk itu dengan menggali gua-gua dan jalan masuk dan terowongan di bumi karena takut akan hal itu. Ia berkata: Maka ketika tiba malam itu yang mereka tunjukkan dan mereka sepakati, tidak terlihat malam seperti itu dalam ketenangan dan kediamannya serta kehening dan kesunyiannya, demikian juga yang disebutkan lebih dari satu orang dari manusia, dan para penyair telah membuat syair dalam mendustakan para ahli nujum dalam kejadian ini dan lainnya dengan syair-syair yang bagus, di antaranya ucapan Isa bin Maudud:
Sobek-sobekkan kalender dan zij… karena telah jelas yang tersembunyi Sesungguhnya kalender dan zij… hanyalah sia-sia dan kosong Aku berkata kepada yang tujuh: Ibrahim dan Mani’ dan Atha’ Dan kapan mereka turun di Mizan… angin akan menguasai Dan menggerakkan pasir hingga… terisi darinya langit Dan melanda bumi kerusakan… dan kehancuran dan bencana Dan menjadi dataran seperti… tandus dan seperti gunung yang gundul Dan kalian memutuskan maka Yang Maha Memutuskan menolak… kecuali apa yang Dia kehendaki Tidak datang syariat dan tidak… datang dengannya para nabi
Maka kalian menjadi bahan tertawaan yang… tertawa darinya para ulama Cukup bagi kalian aib dan cela… apa yang dikatakan para penyair Kemudian apa yang membuat kalian tamak dalam… keputusan kecuali para pemimpin Andai ketika mereka tidak bagus dalam… agama prasangka tidak berbuat buruk Maka atas astrolab Ptolemeus… dan zij kemusnahan Dan atasnya kehinaan selama… bumi dibasahi langit
Orang-orang yang Wafat pada Tahun Ini dari Tokoh-Tokoh Terkenal
Abu Muhammad Abdullah bin Abi Al-Wahsy Barri bin Abdul Jabbar bin Barri, Al-Maqdisi kemudian Al-Mishri, salah satu imam bahasa dan nahwu di zamannya, dan kepadanya ditampilkan risalah-risalah setelah Ibnu Babasyadz, dan ia banyak membaca, mengetahui tentang bidang ini, meninggalkan kepura-puraan dalam perkataannya, tidak memperhatikan dan tidak menoleh pada i’rab dalam perkataannya ketika ia berbicara dengan manusia, dan ia memiliki karya-karya yang bermanfaat, dan ia telah melampaui delapan puluh tahun dengan tiga tahun, semoga Allah merahmatinya.
Kemudian Masuklah Tahun Lima Ratus Delapan Puluh Tiga
Pada tahun itu terjadi Perang Hittin yang menjadi tanda dan pendahuluan serta kabar gembira untuk pembebasan Baitul Maqdis oleh kaum mukminin, dan melepaskannya dari tangan-tangan orang-orang kafir, Ibnul Atsir berkata dalam Al-Kamil: Hari pertamanya adalah hari Sabtu, dan itu adalah hari Nairuz, dan itu adalah awal tahun Persia, dan kebetulan itu juga awal tahun Romawi, dan itu adalah hari yang turunnya matahari di buruj Hamal, demikian juga bulan juga berada di buruj Hamal. Dan ia berkata: Dan ini adalah sesuatu yang jauh terjadi yang sepertinya.
Dan Sultan keluar dari Damaskus hari Sabtu awal bulan Muharram – dan dikatakan: di pertengahannya – dengan pasukan yang besar untuk berjihad dengan ahli surga melawan ahli neraka, maka ia pergi ke Ra’s Al-Ma’, lalu anaknya Al-Afdhal turun di sana dengan sebagian dari pasukan dan Sultan maju dengan sisa pasukan ke Bushra lalu berkemah di Qasr Abi Salamah menunggu kedatangan para haji, dan di antara mereka saudara perempuannya Sitt Asy-Syam dan putranya Husamuddin Muhammad bin Umar bin Lajin, agar mereka selamat dari kejahatan Ibrans Al-Karak yang berkhianat dan melanggar janji dan berbuat jahat. Maka ketika kafilah haji melewati di akhir bulan Shafar, Sultan pergi lalu turun di Al-Karak dan memotong pepohonan yang ada di sekitarnya dan menggembalakan tanaman dan mereka memakan buah-buahan, dan datanglah kepadanya pasukan-pasukan Mesir dan berkerumun pasukan-pasukan timur dengan tombak-tombak dan pedang-pedang timur, maka mereka turun di tempat putra Sultan di Ra’s Al-Ma’, dan Al-Afdhal mengirim pasukan menuju negeri Franka, maka mereka membunuh dan mengambil harta rampasan dan selamat dan menghancurkan dan menawan, dan kembali lalu memberi kabar gembira dengan permulaan kemenangan dan pertolongan, dan Sultan datang dengan pasukannya dan bergabung kepadanya semua pasukan yang datang dan yang hadir, lalu ia mengatur pasukan dan bendera-bendera, dan berjalan menuju ke negeri pantai, dan jumlah yang bersamanya dari prajurit adalah dua belas ribu selain sukarelawan, maka Franka mendengar kedatangannya, lalu mereka semua berkumpul dan berdamai di antara mereka, dan masuk bersama mereka Qumas Tripoli yang pengkhianat dan Ibrans Al-Karak yang jahat, dan mereka datang dengan semua orang mereka dan ahli puncak mereka dan dasar mereka, dan mereka membawa bersama mereka salib suci yang dibawa oleh pengabdi thagut dari mereka, dan orang-orang sesat nasut dan lahut, dengan makhluk yang tidak mengetahui jumlah mereka kecuali Allah, dikatakan: mereka lima puluh ribu. Dan dikatakan: enam puluh tiga ribu. Dan telah menakut-nakuti mereka penguasa Tripoli dengan kekuatan kaum muslimin, maka Ibrans Arnath penguasa Al-Karak keberatan kepadanya lalu ia berkata kepadanya: Aku tidak ragu bahwa engkau mencintai kaum muslimin dan menakut-nakuti kami dengan jumlah mereka yang banyak, dan api tidak takut dari banyaknya kayu bakar. Maka Qumas berkata kepada mereka: Aku tidak lain dari kalian, dan kalian akan melihat akibat apa yang kukatakan kepada kalian. Maka mereka maju dan Sultan datang lalu menaklukkan Tiberias dan menguat dengan apa yang ada di dalamnya dari makanan dan barang-barang dan selain itu, dan benteng bertahan darinya maka ia tidak sibuk dengannya, dan ia menguasai danau dalam kekuasaannya, dan mencegah orang-orang kafir agar sampai darinya ke seteguk, atau minum air dengan minum, dan mereka datang dalam kehausan yang tidak mengetahuinya kecuali Allah, maka Sultan keluar untuk mereka ke permukaan gunung barat Tiberias di kampung yang dikatakan: Hittin. Yang dikatakan: Bahwa di dalamnya ada makam Syuaib alaihissalam. Maka bertemu di sana dua pasukan dan berhadapan dua kelompok, dan bercahaya wajah keimanan, dan berdebu serta gelap wajah kekufuran dan kerugian dan itu sore hari Jumat, dan orang-orang bermalam di barisan mereka dan pagi menyingkap hari Sabtu yang merupakan hari yang sulit bagi ahli hari Ahad, dan itu lima hari tersisa dari Rabiulakhir dalam panasnya terik, dan terbit matahari di wajah-wajah Nasrani dan mereka dari panasnya terik mabuk dan mereka tidak mabuk, dan ada di bawah kaki kuda-kuda mereka rumput kering, maka Sultan memerintahkan pasukan pemanah, lalu mereka melemparinya maka menyala di bawah kuku kuda-kuda mereka api, maka berkumpul atas mereka panas matahari dan panas kehausan, dan panas api dari bawah kaki mereka, dan panas lemparan anak panah dari busur-busur yang keras, maka orang-orang pemberani saling berhadapan dalam kancah peperangan, kemudian Sultan memerintahkan dengan takbir dan serangan yang sungguh-sungguh, maka kemenangan dari Allah, lalu Allah memberi mereka pundak-pundak orang-orang kafir yang jahat, maka terbunuh dari mereka tiga puluh ribu pada hari itu, dan tertawan tiga puluh ribu dari pemberani-pemberani mereka dan kesatria-kesatria mereka, dan termasuk dalam tawanan semua raja-raja mereka selain Qumas Tripoli karena ia melarikan diri di awal pertempuran, dan diambil salib mereka yang paling besar menurut mereka, dan itu adalah yang mereka sangka bahwa itu adalah yang disalib di atasnya orang yang disalib, dan mereka telah melapisinya dengan emas dan mutiara dan permata berharga, dan itu adalah hari bagi orang-orang kafir yang sulit, dan tidak pernah didengar seperti hari ini dalam kemuliaan Islam dan ahlinya, dan hancurnya kebatilan dan kehinaannya, hingga disebutkan bahwa sebagian petani dilihat oleh sebagian dari mereka dan ia menuntun lebih dari tiga puluh tawanan dari Franka, ia telah mengikat mereka dengan tali kemah, dan sebagian dari mereka menjual tawanan dengan sandal yang dipakainya di kakinya, dan terjadi perkara-perkara yang tidak pernah didengar yang sepertinya dan tidak jatuh mata pada bentuknya, maka bagi Allah pujian selama-lamanya pujian yang banyak dan baik.
Dan ketika sempurna perang besar ini dan nikmat yang mendalam dan besar ini, Sultan memerintahkan untuk memasang kemah yang besar, dan duduk di dalamnya di atas singgasana kerajaan dan di sebelah kanannya dipan-dipan dan di sebelah kirinya yang seperti itu, dan didatangkan para tawanan berjalan dalam belenggu-belenggunya, maka dipancung leher-leher sejumlah dari pemimpin-pemimpin Dawiyah dan Isbitariyah di hadapannya dengan disembelih, dan tidak ditinggalkan dari mereka yang disebutkan orang-orang tentangnya sebutan, kemudian didatangkan raja-raja lalu mereka didudukkan di sebelah kanan dan kirinya menurut derajat mereka, maka didudukkan raja mereka yang besar di sebelah kanannya, dan di bawahnya Arnath Ibrans Al-Karak – semoga Allah menghinakannya – dan di hadapannya sisa raja-raja dan di sebelah kirinya, maka didatangkan untuk Sultan minuman dingin dari sirup, lalu ia minum kemudian memberi raja lalu ia minum, kemudian raja mereka memberi Arnath lalu ia minum, maka Sultan marah, dan berkata: Sesungguhnya aku hanya memberimu minum dan tidak memerintahkanmu untuk memberinya minum, ini tidak ada perjanjian baginya pada sisiku. Kemudian Sultan pindah ke kemah dalam kemah dan memanggil Arnath, maka ketika ia berdiri di hadapannya ia bangkit kepadanya dengan pedang dan berkata: Ya, aku menggantikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam membela umatnya. Kemudian ia menyerunya ke Islam maka ia menolak, maka ia membunuhnya dan mengirim kepalanya kepada raja-raja, dan berkata: Sesungguhnya ini telah berani menghina Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka aku membunuhnya, kemudian Sultan membunuh semua yang ada dari para tawanan dari Dawiyah dan Isbitariyah dengan disembelih, dan Allah meringankan kaum muslimin dari dua jenis yang buruk ini, dan tidak selamat dari yang ditawari Islam kecuali sedikit, maka dikatakan: Sesungguhnya jumlah terbunuh mencapai tiga puluh ribu, demikian juga para tawanan adalah tiga puluh ribu, dan jumlah pasukan Franka adalah enam puluh tiga ribu, dan yang selamat dari mereka – dengan sedikitnya mereka – kebanyakan mereka terluka, maka mereka mati di negeri mereka setelah kembali mereka, dan di antara yang mati demikian Qumas Tripoli karena ia lari terluka lalu mati di negerinya setelah kembalinya, semoga Allah melaknatnya, kemudian dikirim para pemimpin tawanan dan kepala-kepala pembesar yang terbunuh, dan dengan salib suci bersama Al-Qadhi Ibnu Abi Ashrun ke Damaskus agar mereka ditempatkan di bentengnya, maka ia masuk dengan salib terbalik, maka itu adalah hari yang masyhur, dan bagi Allah pujian dan karunia.
Kemudian Sultan berjalan menuju benteng Thabariyah (Tiberias) dan menaklukkannya. Thabariyah sebelumnya membagi bersama negeri-negeri Hauran, Balqa, dan kawasan-kawasan sekitarnya dari Jaolan dan seluruh wilayah tersebut dengan sistem separuh-separuh. Allah melapangkan kaum muslimin dari sistem pembagian tersebut dan semuanya menjadi milik mereka. Kemudian Sultan berjalan menuju Akka dan turun mengepungnya pada hari Rabu akhir bulan Rabiul Akhir, lalu menaklukkannya secara damai pada hari Jumat. Dia mengambil apa yang ada di sana berupa hasil panen, harta benda, persediaan, dan barang-barang dagangan, serta membebaskan para tawanan muslimin yang ada di sana. Mereka menemukan empat ribu tawanan muslimin, maka Allah melapangkan mereka dan segala puji bagi Allah. Sultan memerintahkan untuk mengadakan shalat Jumat di sana, dan itulah Jumat pertama yang diselenggarakan di daerah pesisir setelah diambil oleh Franka, setelah tujuh puluh tahun berlalu, maka segala puji bagi Allah selamanya.
Dia berangkat dari sana menuju Shaida, Beirut, dan kawasan-kawasan tersebut dari daerah pesisir lalu menaklukkannya, karena kosong dari pasukan tempur dan dari para raja. Kemudian dia berjalan menuju Ghazzah, Asqalan, Nablus, Beisan, dan tanah-tanah Gaur, lalu menguasai semuanya itu dengan pertolongan dan kekuatan Allah. Sultan mengangkat keponakannya Husamuddin Umar bin Muhammad bin Lajin sebagai wakil di Nablus, dan dialah yang menaklukkannya. Jumlah tempat yang ditaklukkan dalam waktu singkat ini mendekati lima puluh negeri, setiap negeri memiliki pasukan tempur, benteng, dan pertahanan, maka segala puji bagi Allah.
Tentara dan kaum muslimin memperoleh banyak harta rampasan dari tempat-tempat ini, dan menawan banyak orang yang tidak terbatas dan tidak tergambarkan. Islam dan pemeluknya bergembira di timur dan barat dengan kemenangan besar dan penaklukan-penaklukan hebat ini. Sultan membiarkan tentaranya menikmati penaklukan-penaklukan dan harta rampasan yang melimpah ini selama beberapa bulan, agar mereka beristirahat dan mengumpulkan diri serta kuda-kuda mereka untuk bersiap menaklukkan Baitul Maqdis yang mulia. Tersiar kabar di kalangan manusia bahwa Sultan bertekad untuk menaklukkan Baitul Maqdis, maka para ulama, orang-orang saleh, dan sukarelawan datang dari berbagai penjuru. Saudaranya Al-Adil datang setelah perang Hitthin dan penaklukan Akka, lalu dia sendiri menaklukkan banyak benteng juga. Berkumpullah para hamba Allah dan tentara-tentara sukarelawan dalam jumlah yang sangat banyak dan amat besar, maka pada saat itulah Sultan menuju Baitul Maqdis bersama orang-orang yang bersamanya, sebagaimana akan dijelaskan.
Para penyair telah memuji Al-Malik Shalahudin karena perang Hitthin, mereka banyak berbicara dan memperbagus serta memperpanjang pujian. Al-Qadhi Al-Fadhil menulis kepadanya dari Damaskus—dan dia tinggal di sana karena sakit yang menimpanya—: Hendaknya tuanku bergembira bahwa Allah telah menegakkan agama yang lurus dengannya, dan bahwa dia sebagaimana dikatakan: Engkau menjadi tuanku dan tuan setiap muslim. Dan bahwa Allah telah melimpahkan kepadanya dua nikmat: yang bathin dan yang zhahir, dan mewariskan kepadanya dua kerajaan: kerajaan dunia dan kerajaan akhirat. Hamba menulis ini, dan kepala-kepala sampai sekarang belum terangkat dari sujudnya, dan air mata belum terseka dari pipi-pipinya. Setiap kali hamba memikirkan bahwa gereja-gereja kembali menjadi masjid-masjid, dan tempat yang dulu dikatakan di sana: Bahwa Allah adalah yang ketiga dari tiga, hari ini dikatakan di sana: Bahwa Dia adalah Yang Maha Esa, hamba memperbaharui syukur kepada Allah, terkadang mengalir dari lisannya, dan terkadang mengalir dari kelopak matanya. Semoga Allah membalas Yusuf dengan kebaikan atas pengeluarannya dari penjaranya. Para hamba menunggu perintah tuanku, maka setiap orang yang ingin masuk pemandian di Damaskus telah berniat untuk masuk pemandian Thabariyah.
Itulah kemuliaan-kemuliaan, bukan dua mangkuk susu… Dan itulah penaklukan, bukan Uman dan Yaman. Dan itulah pedang, bukan pedang Ibnu Dzi Yazan.
Kemudian dia berkata: Dan bagi lidah-lidah masih ada dalam penaklukan ini kesempatan panjang dan ucapan yang agung.
Penyebutan Penaklukan Baitul Maqdis pada Tahun Ini
Dan Penyelamatannya dari Tangan Nasrani Setelah Sembilan Puluh Dua Tahun
Ketika Sultan menaklukkan tempat-tempat di sekitar Baitul Maqdis dari negeri-negeri yang diberkahi dan apa yang dekat dari pesisir-pesisir yang disebutkan dan diisyaratkan sebelumnya, dia memerintahkan tentara untuk berkumpul dan pasukan-pasukan yang berpencar di berbagai negeri bersatu, lalu berjalan menuju Baitul Maqdis yang mulia pada hari Ahad, tanggal lima belas Rajab tahun ini—yaitu tahun lima ratus delapan puluh tiga Hijriyah. Dia turun di sebelah barat Baitul Maqdis, dan Franka—semoga Allah melaknat mereka—telah memperkuat tembok-tembok dengan pasukan tempur. Mereka berjumlah enam puluh ribu pejuang, yang menghalangi Baitul Maqdis atau lebih. Padahal mereka bukanlah pelindung-pelindungnya. Pelindung-pelindungnya tidak lain hanyalah orang-orang yang bertakwa (QS. Al-Anfal: 34). Penguasa negeri pada hari itu adalah seorang laki-laki yang disebut Balyan bin Bazran. Bersamanya orang-orang yang selamat dari perang Hitthin pada hari bertemunya dua pasukan, dari Dawiyah dan Isbitariyah pengikut-pengikut setan, semoga laknat Allah kepada mereka semua. Sultan tinggal di tempat yang disebutkan itu selama lima hari, dan menyerahkan kepada setiap kelompok dari tentaranya yang mendapat pertolongan suatu sisi dari menara-menara tembok. Kemudian dia pindah ke sisi utara, karena dia melihatnya lebih luas dan lebih cocok untuk medan perang, pertempuran dan perkelahian. Franka berperang mempertahankan negeri dengan perang yang dahsyat, dan mereka berusaha keras dalam menolong Qumamah dan Qiyamah dengan usaha yang dahsyat. Sebagian panglima muslimin gugur sebagai syuhada menuju rahmat Tuhan semesta alam, maka marahlah karena itu banyak dari para panglima Islam, dan mereka bersungguh-sungguh dalam peperangan dengan setiap tombak dan pedang. Ketapel dan alat pelontar batu telah dipasang, pedang-pedang bernyanyi dan tombak-tombak bekerja, mata-mata memandang ke salib-salib yang terpasang di atas tembok-tembok, bahkan di atas kubah Shakhrah, kiblat para pemeluk agama-agama sejak dahulu kala. Hal itu menambah kemarahan besar dan kesungguhan yang kuat bagi para ahli iman, maka terjadilah hari yang berat bagi orang-orang kafir, tidak mudah. Sultan—semoga Allah menguatkannya—beserta para sahabatnya menyerbu ke pojok timur laut tembok, lalu menggalinya, menggantungnya, mengisinya dengan api dan membakarnya. Maka runtulah sisi itu, dan menara itu jatuh seluruhnya, maka terjadilah keruntuhannya. Ketika Franka menyaksikan peristiwa yang memilukan dan musibah yang menyakitkan bagi mereka itu, para pembesar mereka mendatangi Sultan dan meminta syafaat kepadanya melalui setiap orang agar memberikan mereka jaminan keamanan. Sultan menolak dan berkata: Aku tidak akan membukanya kecuali seperti ketika kalian menaklukkannya dengan paksa, dan aku tidak akan membiarkan seorangpun dari orang-orang Nasrani di dalamnya kecuali akan kubunuh, sebagaimana kalian membunuh orang-orang muslimin yang ada di sana. Penguasanya, Balyan bin Bazran, meminta jaminan keamanan dari Sultan agar bisa hadir di hadapannya, maka Sultan mengamaninya. Ketika dia hadir, dia melembutkan hatinya dan meminta syafaat kepadanya dengan segala kemampuannya, tetapi Sultan tidak mengabulkan jaminan keamanan untuk mereka. Mereka berkata: Jika engkau tidak memberi kami jaminan keamanan, kami akan kembali dan membunuh setiap tawanan dari kaum muslimin di tangan kami—dan mereka mendekati empat ribu orang—dan membunuh anak-anak kami, menghancurkan rumah-rumah dan tempat-tempat bagus, merusak harta yang ada di tangan kami, meruntuhkan kubah Shakhrah, dan tidak meninggalkan kemungkinan dalam merusak apa yang kami kuasai. Setelah itu kami akan berperang dengan pertempuran maut, maka tidak akan terbunuh seorangpun dari kami kecuali setelah membunuh sejumlah orang dari kalian. Maka apa yang engkau harapkan dari kebaikan setelah ini?
Ketika Sultan mendengar itu, dia menyetujui perdamaian, dengan syarat setiap laki-laki dari mereka membayar untuk dirinya sepuluh dinar, untuk perempuan lima dinar, dan untuk setiap anak laki-laki dan anak perempuan dua dinar. Barangsiapa tidak mampu membayar itu, maka dia menjadi tawanan bagi kaum muslimin. Hasil panen, senjata, dan rumah-rumah menjadi milik kaum muslimin, dan mereka pindah darinya ke tempat aman mereka yaitu kota Shaur. Maka perdamaian ditulis berdasarkan syarat itu, dan siapa yang tidak membayar apa yang disyaratkan kepadanya sampai empat puluh hari, maka dia menjadi tawanan. Jumlah yang ditawan dengan syarat ini adalah enam belas ribu orang, dari laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Sultan dan kaum muslimin memasuki negeri pada hari Jumat sebentar sebelum waktu shalat, yaitu pada hari dua puluh tujuh Rajab. Al-Imad berkata: Dan itulah malam Isra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha ke langit-langit yang tinggi. Syaikh Syihabudin Abu Syamah berkata: Dan itu adalah salah satu pendapat tentang Isra, dan Allah Taazza Aalla yang lebih mengetahui. Shalat Jumat tidak terlaksana bagi kaum muslimin pada hari itu, berbeda dengan yang mengira bahwa shalat itu diselenggarakan pada hari itu, dan bahwa Sultan berkhutbah sendiri dengan pakaian hitam pada hari itu. Yang benar adalah bahwa Jumat tidak mungkin diselenggarakan pada hari itu karena sempitnya waktu, dan baru diselenggarakan pada Jumat berikutnya. Yang menjadi khatib adalah Al-Qadhi Muhyiddin Muhammad bin Ali, Al-Qurasyi bin Az-Zaki, sebagaimana akan dijelaskan sebentar lagi. Tetapi Masjidil Aqsha dibersihkan pada hari itu dari apa yang ada di dalamnya berupa salib-salib, pendeta-pendeta, dan babi-babi. Rumah-rumah untuk Dawiyah dihancurkan, padahal mereka telah membangunnya di sebelah barat mihrab besar, dan menjadikan mihrab sebagai jamban—semoga Allah Taazza Aalla melaknat mereka. Masjid dibersihkan dari semua itu, dan dikembalikan ke keadaan semula di masa-masa Islam dan negara Muhammad. Shakhrah dicuci dengan air yang suci, dan dicuci lagi dengan air mawar yang mewah, dan diperlihatkan kepada orang-orang yang melihat, padahal sebelumnya tertutup, terhalang, dan tersembunyi dari para peziarah. Salib yang terpasang di atas kubahnya diturunkan, dan dikembalikan ke kehormatannya. Franka telah memotong potongan-potongan darinya lalu menjualnya kepada raja-raja laut dengan berat emasnya, sehingga sulit untuk mengembalikan apa yang hilang darinya dan apa yang lenyap.
Dikumpulkan dari Franka apa yang mereka bayarkan untuk diri mereka sendiri dari harta, dan Sultan membebaskan banyak orang dari mereka, dari putri-putri raja dengan orang-orang perempuan dan laki-laki yang bersama mereka. Pembebasan diberikan kepada banyak dari mereka, dan ada orang-orang yang diberi syafaat lalu dimaafkan. Sultan membagikan semua emas yang dikumpulkan dari mereka kepada tentara, dan tidak menyisakan sedikitpun untuk disimpan dan ditimbun. Dia rahimahullah adalah orang yang penyabar, mulia, pemberani, dan penyayang. Saya memohon kepada Allah Taazza Aalla agar memperbaharui rahmat-Nya kepadanya, dan menghadapkan wajah-Nya yang mulia kepadanya.
Penyebutan Jumat Pertama yang Diselenggarakan di Baitul Maqdis Setelah Pembukaannya di Masa Negara Shalahiyah
Ketika Baitul Maqdis dibersihkan dari apa yang ada di dalamnya berupa salib-salib, lonceng-lonceng, pendeta-pendeta, babi-babi, dan pastor-pastor, dan dimasuki oleh para ahli iman, diteriakkan adzan dan setan lari, dibaca Al-Quran, dan tempat itu disucikan, maka penyelenggaraan Jumat pertama di dalamnya adalah pada hari keempat bulan Syakban, delapan hari setelah hari penaklukan. Mimbar dipasang di samping mihrab yang disucikan, karpet-karpet mewah dibentangkan di tempat-tempat yang luas itu, lampu-lampu digantung, dan ayat-ayat diwahyu ditilawahkan menggantikan apa yang dulu dibaca berupa tahrif dalam Injil. Kebenaran datang dan kebatilan-kebatilan itu sirna. Sajadah-sajadah diatur, sujud-sujud menjadi banyak, ibadah-ibadah beragam, doa-doa dilanjutkan, berkah-berkah turun, kesusahan-kesusahan sirna, shalat-shalat diselenggarakan, adzan disuarakan, lonceng bisu, muazin-muazin hadir dan pastor-pastor tidak ada, nafas-nafas menjadi baik, jiwa-jiwa tenang, keberuntungan datang dan kesialan pergi, para penyembah dan zahid hadir, para abdal dan para quthb serta para autad, Yang Maha Esa disembah, orang yang rukuk dan sujud banyak, yang berdiri dan yang duduk, masjid penuh sesak, air mata mengalir karena lembutnya hati, dan orang-orang berkata: Ini adalah hari yang mulia, keutamaan yang besar, dan musim yang indah. Ini adalah hari dikabulkannya doa-doa, dicurahkannya berkah-berkah, mengalirnya air mata, dan terampuninya kesalahan-kesalahan. Para muazin mengumandangkan adzan untuk shalat ketika matahari condong, dan hati-hati hampir terbang dari kegembiraan dengan keadaan itu. Sultan sampai saat itu belum menunjuk seorang khatib, dan telah bersiap untuk itu banyak ulama, takut salah seorang dari mereka dipanggil untuk itu dan ternyata tidak kompeten. Maka keluarlah perintah Sultan Shalahi kepada para khatib, dan dia berada di kubah Shakhrah yang mulia, bahwa Al-Qadhi Muhyiddin bin Az-Zaki pada hari ini menjadi khatib. Dia mengenakan jubah hitam dan naik mimbar, dan Allah telah mengenakan kepadanya kewibawaan, memuliakan dia dengan kalimat takwa, dan memberinya ketenangan, ketegasan, dan cahaya. Dia berkhutbah kepada manusia dengan khutbah yang agung, mulia, fasih, dan baligh. Dia menyebutkan di dalamnya kemuliaan Baitul Maqdis, apa yang diriwayatkan tentangnya berupa keutamaan-keutamaan dan anjuran-anjuran, apa yang ada di dalamnya berupa dalil-dalil dan tanda-tanda, dan apa yang Allah anugerahkan kepadanya atas orang-orang yang hadir berupa nikmat ini yang setara dengan banyak ketaatan. Syaikh Syihabudin Abu Syamah telah menyebutkannya dalam Ar-Raudhatain secara lengkap. Hal pertama yang dia katakan ketika berbicara adalah: Maka binasalah kaum yang berbuat zalim, dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam (QS. Al-An’am: 45), kemudian dia menyebutkan semua pujian dalam Al-Quran, lalu berkata: Segala puji bagi Allah yang memuliakan Islam dengan pertolongan-Nya, menghinakan kesyirikan dengan kekuasaan-Nya, mengatur urusan-urusan dengan perintah-Nya, melanggengkan nikmat-nikmat dengan syukur kepada-Nya, dan membiarkan orang-orang kafir dengan tipu daya-Nya. Yang menakdirkan hari-hari sebagai giliran dengan keadilan-Nya, menjadikan akibat baik bagi orang-orang bertakwa dengan karunia-Nya, dan melimpahkan kepada hamba-hamba-Nya dari naungan-Nya, menampakkan agama-Nya atas semua agama. Yang Maha Perkasa di atas hamba-hamba-Nya sehingga tidak dapat dilawan, yang Maha Zahir atas makhluk-Nya sehingga tidak dapat ditandingi, yang Maha Memerintah dengan apa yang Dia kehendaki sehingga tidak dapat diprotes, yang Maha Menghukum dengan apa yang Dia inginkan sehingga tidak dapat ditolak. Aku memuji-Nya atas kemenangan-Nya dan penampakan-Nya, pemuliaan-Nya terhadap para wali-Nya dan pertolongan-Nya terhadap para penolong-Nya, penyucian-Nya terhadap rumah-Nya yang suci dari najis-najis kesyirikan dan kotoran-kotorannya, dengan pujian orang yang merasakan pujian di dalam bathin rahasianya dan zahir terang-terangannya. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Yang Maha Esa, Yang Maha Dibutuhkan, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada yang setara dengan-Nya, dengan kesaksian orang yang menyucikan hatinya dengan tauhid, dan meredhai Tuhan-nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, penghilang keraguan, penghancur kesyirikan, dan pembersih kebohongan. Dia yang diisrakan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha ini, dan dimikrajkan darinya ke langit-langit yang tinggi, ke Sidratil Muntaha, di sisinya Jannatul Ma’wa, ketika Sidrah diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, penglihatannya tidak berpaling dan tidak melampui batas. Semoga Allah memberkatinya dan atas khalifahnya Ash-Shiddiq yang mendahului ke iman, dan atas Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab orang pertama yang mengangkat dari rumah ini simbol salib-salib, dan atas Amirul Mukminin Utsman bin Affan pemilik dua cahaya pengumpul Al-Quran, dan atas Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib penggoncang kesyirikan dan penghancur berhala-berhala, dan atas keluarganya dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Kemudian disebutkan nasihat, yang mencakup ungkapan selamat kepada para hadirin atas apa yang Allah mudahkan di tangan mereka berupa pembebasan Baitul Maqdis yang kedudukannya begini dan begini, lalu disebutkan keutamaan-keutamaannya dan keistimewaannya, bahwa ia adalah kiblat pertama, masjid kedua, dan tanah haram ketiga. Perjalanan tidak dilakukan setelah dua masjid kecuali menujunya, dan jari kelingking tidak digenggam setelah dua tempat kecuali untuknya. Ke tempat inilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diisra’kan dari Masjidil Haram, dan beliau shalat di sana bersama malaikat-malaikat yang didekatkan, para nabi dan rasul yang mulia. Dari sanalah terjadi Mi’raj ke langit-langit, kemudian beliau kembali ke sana, lalu berjalan darinya menuju Masjidil Haram dengan Buraq. Dan ia adalah tanah mahsyar dan bangkit pada hari pertemuan, tempat kediaman para nabi dan tujuan para wali, dan telah dibangun di atas takwa sejak hari pertama.
Saya katakan: Dikatakan bahwa yang pertama kali membangunnya adalah Ya’qub alaihissalam setelah al-Khalil (Ibrahim) alaihissalam membangun Masjidil Haram empat puluh tahun. Sebagaimana disebutkan dalam Shahihain, kemudian pembangunannya diperbaharui oleh Sulaiman bin Daud alaihimassalam, sebagaimana ditetapkan dalam hadits di Musnad, Sunan, Shahih Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, al-Hakim dan lain-lain. Sulaiman alaihissalam memohon kepada Allah ketika selesai membangunnya tiga hal: hikmah yang sesuai dengan keputusannya, kerajaan yang tidak layak bagi siapa pun setelahnya, dan bahwa tidaklah seseorang datang ke masjid ini yang tidak menggerakkannya kecuali untuk shalat di dalamnya melainkan ia keluar dari dosa-dosanya seperti hari ibunya melahirkannya.
Khatib menyebutkan penyempurnaan dua khutbah tersebut, dan berdoa untuk Khalifah Abbasiyah, kemudian untuk Sultan al-Malik an-Nashir Salahuddin, rahimahullah ta’ala. Setelah shalat, Syaikh Zainuddin Abu al-Hasan Ali bin Naja al-Mishri duduk di kursi nasihat dengan izin Sultan, lalu memberi nasihat kepada orang-orang. Itu adalah waktu yang disaksikan dan keadaan yang terpuji, maka bagi Allah segala puji dan karunia. Hakim Muhyiddin bin az-Zaki terus berkhutbah kepada orang-orang pada hari-hari Jumat selama empat Jumat, kemudian Sultan menetapkan untuk al-Quds seorang khatib tetap, dan mengirim ke Halab untuk mengambil mimbar yang telah disiapkan oleh al-Malik al-Adil Nuruddin Mahmud untuk Baitul Maqdis. Ia telah berharap agar pembebasannya terjadi di tangannya, tetapi itu hanya terjadi di tangan salah seorang pengikutnya setelah wafatnya, rahimahullah ta’ala.
Kisah yang Aneh
Syaikh Syihabuddin Abu Syamah berkata dalam ar-Raudhatain: Syaikh kami Abu al-Hasan Ali bin Muhammad as-Sakhawi telah berbicara dalam tafsirnya yang pertama, katanya: Terdapat dalam tafsir Abu al-Hakam al-Andalusi – yaitu Ibnu Barjan – di awal Surah ar-Rum pemberitahuan tentang pembebasan Baitul Maqdis dan bahwa ia akan diambil dari tangan orang-orang Nasrani pada tahun 583 Hijriah. As-Sakhawi berkata: Aku tidak melihatnya mengambil itu dari ilmu huruf, tetapi ia mengambilnya dari apa yang ia klaim dari firman Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi di negeri yang terdekat, dan mereka sesudah kekalahannya itu akan menang dalam beberapa tahun lagi (ar-Rum: 1-2). Maka ia membangun perkara itu berdasarkan sejarah sebagaimana yang dilakukan para ahli nujum, kemudian menyebutkan bahwa mereka akan menang di tahun ini, dan dikalahkan di tahun itu, sesuai dengan apa yang dituntut oleh lingkaran takdir. Kemudian berkata: Ini adalah perbintangan yang bertepatan dengan ketepatan, jika benar bahwa ia mengatakan itu sebelum terjadinya, dan ada dalam bukunya sebelum terjadinya. Katanya: Ini bukan dari ilmu huruf, dan bukan dari pintu karamah, karena karamah tidak diperoleh dengan perhitungan. Katanya: Ia telah menyebutkan dalam tafsir Surah al-Qadr bahwa jika ia mengetahui waktu ketika Al-Quran diturunkan, ia akan mengetahui waktu ketika ia akan diangkat.
Saya katakan: Ibnu Barjan menyebutkan ini dalam tafsirnya sekitar tahun 522 Hijriah, dan dikatakan bahwa Raja Nuruddin mengetahui hal itu lalu berharap bisa hidup hingga tahun 583, karena kelahirannya pada tahun 511 Hijriah. Ia mempersiapkan sebab-sebab untuk itu hingga ia menyiapkan mimbar yang besar untuk Baitul Maqdis jika Allah memberikan kemenangan padanya. Wallahu a’lam.
Adapun Shakhrah yang besar, Sultan menghilangkan apa yang di sekitarnya dan di dekatnya berupa kemungkaran, gambar-gambar dan salib. Ia menampakkannya setelah tersembunyi dan tertutup serta tidak terlihat. Ia memerintahkan fakih Dhiyauddin Isa al-Hakkari untuk membuat di sekitarnya terali-terali dari besi. Ia menetapkan untuknya imam tetap, dan mewakafkan untuknya rezeki yang baik, demikian juga untuk imam mihrab al-Aqsha. Ia membuat untuk kaum Syafi’iyah al-Madrasah ash-Shalahiyah yang juga disebut an-Nashiriyah. Ia mewakafkan untuk para sufi ribath yang dulunya adalah rumah untuk tabarruk di samping al-Qumamah. Ia memberikan gaji dan jatah untuk para fuqaha dan fuqara, serta menyediakan khataman dan rub’ah di berbagai sudut Masjid al-Aqsha untuk siapa saja yang membaca atau melihatnya dari yang menetap maupun pengunjung.
Bani Ayyub berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan di al-Quds asy-Syarif untuk yang datang, pergi, dan menetap. Semoga Allah membalas mereka semua dengan kebaikan. Sultan bertekad untuk menghancurkan Qumamah dan menjadikannya rata dengan tanah agar terputus jalan orang-orang Nasrani dari Baitul Maqdis. Lalu dikatakan kepadanya: Mereka tidak akan meninggalkan haji ke tempat ini meskipun engkau jadikan ia tanah yang rata. Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab telah membebaskan negeri ini dan membiarkan gereja ini di tangan mereka, maka bagimu teladan dalam hal itu. Maka ia berpaling darinya dan membiarkannya sebagaimana adanya, mengikuti teladan Umar bin al-Khaththab, salah satu Khulafaur Rasyidin dan para imam yang mendapat petunjuk. Ia tidak meninggalkan di sana dari orang Nasrani kecuali empat orang yang melayaninya. Ia menghalangi antara orang Nasrani dan tempat itu. Ia menghancurkan kuburan-kuburan mereka yang ada di dekat Bab ar-Rahmah dan menghapus bekasnya. Ia menghancurkan kubah-kubah yang ada di sana dan mempercepat kehancurannya.
Adapun tawanan-tawanan Muslim yang ada di al-Quds, Sultan membebaskan mereka, memberi mereka pemberian yang menyenangkan, dan memberi mereka pakaian yang indah. Masing-masing dari mereka pergi ke negerinya dan kembali ke keluarga dan tempat tinggalnya. Maka bagi Allah segala puji atas nikmat dan karunia-Nya.
Pasal
Ketika Sultan Salahuddin menetapkan di al-Quds asy-Syarif apa yang kami sebutkan, ia berangkat darinya pada tanggal 25 Sya’ban. Ia memerintahkan putranya al-Aziz untuk kembali ke Mesir. Sultan berjalan dengan pasukannya menuju kota Shur yang telah tertinggal di antara daerah-daerah itu. Seorang pedagang yang disebut al-Markis telah menguasainya setelah pertempuran Hiththin. Ia memperkuatnya, mengatur perkaranya, menggali parit di sekelilingnya dari laut ke laut, dan sebagian besarnya berada di laut. Sultan datang dengan pasukannya dan mengepungnya beberapa lama. Ia meminta armada laut dari negeri Mesir di laut, sehingga mengepungnya darat dan laut. Orang-orang Franka menyerang lima kapal dari armada pada suatu malam, menguasai dan menghancurkannya. Kaum Muslimin menjadi sedih, musim dingin melanda mereka, persediaan berkurang, luka-luka bertambah, dan para panglima lelah dengan pengepungan. Mereka meminta Sultan agar pergi bersama mereka ke Damaskus pada waktu ini hingga mereka beristirahat kemudian kembali lagi setelah waktu ini. Ia mengabulkan mereka setelah menolak, padahal benteng Shur sudah runtuh sebagian besarnya dan tinggal kemenangan. Ia menuju Damaskus dan melewati ‘Akka dalam perjalanannya. Pasukan-pasukan berpencar masing-masing ke negerinya dan wilayahnya, membawa kerinduan yang besar kepada keluarga, negeri dan keinginannya.
Adapun Sultan, ketika sampai ke ‘Akka, ia turun di bentengnya dan menempatkan putranya al-Afdhal di menara ad-Dawiyah. Ia menunjuk ‘Izzuddin Jurdik sebagai wakilnya. Sebagian orang menyarankan kepada Sultan untuk menghancurkan kota ‘Akka karena takut orang Franka kembali ke sana. Ia hampir melakukannya tetapi tidak. Andai saja ia melakukannya. Bahkan ia menugaskan Bahauddin Qaraqush at-Taqawi untuk memakmurkan dan memperbaharui keindahannya. Ia mewakafkan rumah al-Isbithar menjadi dua bagian untuk para fuqaha dan fuqara. Ia menjadikan rumah uskup sebagai rumah sakit dan mewakafkan untuk semua itu wakaf-wakaf yang menghasilkan. Ia menunjuk hakim kota Jamaluddin bin asy-Syaikh Abu an-Najib sebagai pengawasnya, dan ia tepat dalam semua itu dengan pendapat-pendapatnya. Ketika Sultan selesai dari peperangan ini dan menghilangkan dari kaum Muslimin kesusahan itu, dan kembali ke Damaskus dengan kemenangan dan bantuan, ia membahagiakan mata dan menyenangkan hati. Datanglah kepadanya utusan raja-raja dengan ucapan selamat dari berbagai wilayah dan negeri dengan hadiah-hadiah yang memukau pandangan. Khalifah menulis kepadanya mencela beberapa hal, di antaranya: bahwa ia mengirim kabar gembira kemenangan Hiththin dengan seorang pemuda Baghdad yang rendah di sisi mereka, tidak ada harga dan nilainya, dan mengirim kabar pembebasan al-Quds asy-Syarif dengan seorang kurir, dan memberi gelar pada dirinya dengan al-Malik an-Nashir menyerupai Khalifah an-Nashir. Ia menerima utusan dengan wajah ceria dan kebaikan, tidak menampakkan kecuali mendengar dan taat. Ia mengirim permintaan maaf atas yang terjadi bahwa perang telah menyibukkannya dari mempertimbangkan banyak perkara. Adapun gelarnya an-Nashir, itu dari masa Khalifah al-Mustadhi’, dan dengan ini, gelar apa pun yang diberikan Amirul Mukminin padaku itulah yang tidak akan aku tinggalkan. Ia beradab dengan Khalifah dengan adab yang sempurna, rahimahullah ta’ala.
Pada tahun ini terjadi pertempuran besar di negeri India antara Raja Syihabuddin al-Ghuri penguasa Ghaznah dan raja India yang besar. Orang-orang India datang dengan banyak pasukan dan bersama mereka empat belas gajah. Sayap kanan dan kiri kaum Muslimin kalah. Dikatakan kepada Raja: Selamatkanlah dirimu. Tetapi itu tidak menambahnya kecuali keberanian. Ia menyerang gajah-gajah lalu melukai sebagiannya – dan luka gajah tidak sembuh. Salah seorang pawang gajah melemparnya dengan tombak di lengannya hingga keluar dari sisi lain, ia jatuh tersungkur. Orang-orang India menyerangnya untuk menangkapnya, para sahabatnya bertempur membela untuk melindunginya. Terjadilah perang di dekatnya yang tidak pernah terdengar kerasnya dalam suatu pertempuran. Kaum Muslimin menang dan menyelamatkan raja mereka serta membawanya di atas pundak-pundak mereka dalam tandu sejauh dua puluh farsakh, darahnya mengalir deras. Ketika pasukannya kembali kepadanya, ia mulai mencela para panglima dan bersumpah akan membuat setiap panglima memakan makanan kudanya, dan ia tidak memasukkan mereka ke Ghaznah kecuali berjalan kaki tanpa alas.
Pada tahun ini seorang wanita dari pedalaman Baghdad melahirkan seorang anak perempuan yang memiliki gigi.
Pada tahun ini Khalifah an-Nashir membunuh Ustadz Darnya Abu al-Fadhl bin ash-Shahib, padahal ia telah menguasai urusan-urusan dan tidak tersisa bagi Khalifah bersama dia satu kata pun. Meskipun demikian, ia menjaga diri dari harta, baik dalam kepemimpinannya. Khalifah mengambil darinya sangat banyak harta dan kekayaan.
Pada tahun ini Khalifah mengangkat Abu al-Muzhaffar Ubaidullah bin Yunus sebagai wazir dan memberinya gelar Jalaluddin. Orang-orang negara berjalan di belakangnya hingga Qadhi al-Qudhat Abu al-Hasan bin ad-Damaghani. Ibnu Yunus ini dahulu adalah saksi di sisinya. Hakim berkata sambil berjalan: Semoga Allah melaknat umur panjang. Lalu hakim wafat di akhir tahun ini, rahimahullah ta’ala. Ia telah memutuskan perkara di masa beberapa khalifah dan ia dari keluarganya.
Di antara yang wafat pada tahun ini – yaitu tahun 583 – dari tokoh-tokoh:
Syaikh Abdul Mughits bin Zuhair al-Harbi
Ia termasuk orang-orang shalih Hanabilah dan dikunjungi. Ia memiliki karya tentang keutamaan Yazid bin Mu’awiyah yang berisi hal-hal aneh dan menakjubkan. Abu al-Faraj bin al-Jauzi telah membantah buku ini dan ia baik serta benar. Di antara yang paling baik yang terjadi pada Abdul Mughits ini adalah bahwa salah seorang khalifah – dan aku kira ia an-Nashir – datang kepadanya untuk ziarah secara sembunyi-sembunyi. Syaikh mengenalinya tetapi tidak memberitahu bahwa ia telah mengenalinya. Khalifah bertanya kepadanya tentang Yazid, apakah dilaknat atau tidak? Ia berkata: Aku tidak membolehkan melaknatnya, karena jika aku membuka pintu ini, orang-orang akan melaknat khalifah kita. Ia berkata: Mengapa? Ia berkata: Karena ia melakukan banyak hal mungkar, di antaranya ini dan ini. Kemudian ia mulai menghitung kepada Khalifah kemungkaran-kemungkaran yang terjadi darinya agar ia berhenti darinya. Khalifah meninggalkannya dan keluar dari sisinya dan perkataannya telah berpengaruh padanya. Kemudian wafatnya pada bulan Muharram tahun ini, rahimahullah.
Pada tahun ini wafat Syaikh Ali bin Khaththab bin Zhafar, ahli ibadah yang zuhud, salah seorang zahid yang memiliki karamah. Tempat tinggalnya di Jazirah bin Umar. Ibnu al-Atsir berkata dalam al-Kamil: Aku tidak melihat sepertinya dalam baiknya akhlak, kewibawaannya, kemurahannya dan ibadahnya, rahimahullah.
Panglima Syamsuddin Muhammad bin Abdul Malik bin Muqaddam
Salah satu wakil al-Malik an-Nashir Salahuddin. Ketika an-Nashir membebaskan Baitul Maqdis, sekelompok orang berihram pada musim haji darinya menuju Masjidil Haram. Ia menjadi Amirul Hajj tahun itu. Ketika di Arafah, ia memukul drum dan mengibarkan bendera-bendera, menampakkan keagungan Sultan Salahuddin. Thasytakin, Amirul Hajj dari Khalifah, marah lalu menegurnya, tetapi ia tidak mendengarkan. Mereka berkelahi dan Ibnu Muqaddam terluka, lalu meninggal pada hari kedua di Mina, rahimahullah. Ia dimakamkan di sana. Terjadilah banyak peristiwa, dan Thasytakin disalahkan atas yang dilakukannya serta dicopot dari jabatannya.
Muhammad bin Ubaidillah
Bin Abdullah, cucu Ibnu at-Ta’awidzi, penyair. Ia buta di akhir umurnya dan telah melewati usia enam puluh tahun. Wafatnya, rahimahullah, pada bulan Syawal tahun ini.
Nashr bin Fityan bin Mathar
Pada tanggal 5 Ramadhan wafat fakih Abu al-Fath Nashr bin Fityan bin Mathar al-Hanbali yang dikenal dengan Ibnu al-Muni. Ia adalah zahid yang ahli ibadah. Kelahirannya tahun 501 Hijriah. Di antara yang belajar fiqh kepadanya dari orang-orang terkenal adalah Syaikh Muwaffaquddin bin Qudamah, al-Hafizh Abdul Ghani, Muhammad bin Khalaf bin Rajih, an-Nashih Abdurrahman bin an-Najm bin Abdul Wahhab al-Hanbali, Abdurrazzaq bin asy-Syaikh Abdul Qadir dan lain-lain.
Abu al-Hasan ad-Damaghani
Pada tahun ini wafat Qadhi al-Qudhat di Baghdad Abu al-Hasan bin ad-Damaghani. Ia telah memutuskan perkara di masa al-Muqtafi kemudian al-Mustanjid, lalu dicopot dan dikembalikan di masa al-Mustadhi’. Ia memutuskan perkara untuk an-Nashir hingga wafat pada tahun ini, rahimahullah.
Kemudian Masuklah Tahun 584 Hijriah
Pada bulan Muharram tahun tersebut, Sultan Salahuddin mengepung Benteng Kaukab. Ia melihat benteng itu sangat kokoh dan sulit ditaklukkan, sementara waktunya tersita untuk urusan lain. Maka ia menugaskan Amir Qaymaaz an-Najmi bersama lima ratus pasukan berkuda untuk menyempitkan jalan-jalan menuju benteng tersebut. Demikian pula ia menugaskan lima ratus pasukan berkuda bersama Tughril al-Jandaar untuk mengepung Safad—yang saat itu dikuasai oleh Ordo Templar—untuk mencegah pasokan bahan makanan dan perbekalan masuk. Ia juga mengirim pasukan lain ke Karak dan Syaubak untuk mengepung dan menyempitkan penghuninya, agar ia bisa fokus mengurus urusan-urusannya untuk memerangi dan mengepung tempat-tempat tersebut.
Sultan memasuki Damaskus dari peperangan ini pada bulan Rabiul Awal. Kaum muslimin sangat bergembira dengan kedatangannya, beduk kabar gembira dipukul, dan kota dihiasi. Sultan mendapati ash-Shafi Ibnul Qabidh, bendahara kas negara, telah membangun sebuah istana megah di benteng yang menghadap ke arah selatan. Sultan marah kepadanya dan memberhentikannya dari jabatannya seraya berkata, “Kami tidak diciptakan untuk menetap di Damaskus, kami hanya diciptakan untuk beribadah dan berjihad.”
Sultan duduk di Darul Adl (Balai Keadilan), dihadiri para qadhi dan orang-orang mulia. Ia mengunjungi Qadhi al-Fadhil di kebunnya di atas lereng bukit di Jausaq Ibnul Farasy. Sultan menceritakan kepadanya peristiwa-peristiwa yang terjadi dan meminta nasihatnya mengenai apa yang harus dilakukan di masa mendatang dalam hal-hal penting dan peperangan. Kemudian Sultan keluar dari Damaskus bersama pasukannya, melintasi Jabal Nabus, memasuki Biqa, berkemah di Baalbek, dan berjalan menuju Homs. Pasukan dari Jazirah datang menemuinya saat ia berada di al-Ashy. Lalu ia menuju pantai Syam dan menaklukkan Antartus serta benteng-benteng lainnya. Ia menaklukkan Jablah dan Ladziqqiyyah—yang merupakan salah satu kota paling indah dalam hal bangunan, marmer, dan tempatnya. Ia juga menaklukkan Sahyun, Bakas, dan asy-Syughr—dua benteng di tepi Sungai al-Ashy yang sangat kokoh. Keduanya ditaklukkan dengan paksa. Ia juga menaklukkan Benteng Barzuyah, sebuah benteng besar di puncak gunung tinggi yang kokoh, di bawahnya terdapat lembah-lembah dalam. Benteng ini terkenal kekebalannya di seluruh negeri Franka dan kaum muslimin. Sultan mengepungnya dengan pengepungan paling keras dan memasang manjanik-manjanik besar. Ia membagi pasukan menjadi tiga kelompok, setiap kelompok bergiliran bertempur. Ketika mereka lelah dan capek, kelompok lain menggantikan mereka, sehingga pertempuran terus berlangsung siang malam, pagi dan sore. Benteng ini jatuh pada giliran Sultan sendiri, ditaklukkan dengan paksa dalam beberapa hari. Ia merampas semua isi benteng, menguasai hasil panen dan harta bendanya, membunuh para penjaganya dan lelaki-lelakianya, menawan anak-anak dan keturunan mereka. Kemudian ia beralih dari sana dan menaklukkan Benteng Darbsak dan Benteng Baghras, semuanya ditaklukkan dengan paksa, dirampas dan dikuasai, segala puji bagi Allah.
Kemudian cita-citanya yang tinggi tertuju untuk menaklukkan Antakya, karena ia telah menghancurkan kampung-kampung di sekitarnya dan merasa kuat dengan banyaknya pasukan. Penguasa Antakya mengirim surat kepadanya meminta gencatan senjata dengan syarat membebaskan tawanan muslim yang ada padanya. Sultan menyetujuinya karena ia tahu pasukannya dan para pembantunya sudah lelah. Maka gencatan senjata ditetapkan selama tujuh bulan. Tujuan Sultan adalah agar pasukan beristirahat dari kelelahan mereka dan jiwa-jiwa mereka pulih dari kepayahan. Sultan mengirim utusan untuk menerima tawanan dari penguasa Antakya, dan kekuasaan Nasrani pun melemah.
Kemudian Sultan berjalan, dan putranya adh-Dhahir memintanya untuk singgah ke Aleppo. Sultan menyetujui permintaan tersebut dan turun di bentengnya selama tiga malam, kemudian berniat melanjutkan perjalanan. Keponakannya Taqiyyuddin mengundangnya ke Hamah, lalu ia turun di bentengnya selama satu malam, yang merupakan salah satu tujuan besarnya dan cita-citanya. Malam itu ia memberinya Jablah dan Ladziqqiyyah sebagai wilayah kekuasaan. Kemudian ia berjalan dan turun di Benteng Baalbek serta masuk ke pemandian umumnya. Lalu ia kembali ke Damaskus dengan penuh dukungan, kemenangan, kegembiraan dan kebahagiaan. Kabar gembira datang kepadanya tentang pembebasan Karak oleh kaum muslimin yang mengepungnya. Allah memberikan ketenangan bagi daerah tersebut dan memudahkan kesulitannya bagi para pedagang, jamaah haji, dan pejuang yang melewatinya. “Maka binasalah kaum yang zalim itu. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam” (al-An’am: 45).
Bagian tentang Kisah Pembebasan Safad dan Benteng Kaukab
Sultan tidak tinggal di Damaskus kecuali beberapa hari saja sampai ia keluar bersama pasukannya menuju wilayah Safad. Ia mengepungnya pada pertengahan bulan Ramadhan dengan manjanik dan pasukan pemberani. Cuaca sangat dingin sehingga air membeku di pagi hari. Sultan terus mengepung hingga Safad jatuh secara damai pada tanggal delapan Syawwal, segala puji bagi Allah dalam segala keadaan. Kemudian ia berjalan menuju Shur (Tyre), kota itu menyerahkan kekuasaannya, melepaskan diri dari para penolongnya dan panglimanya. Ketika Safad jatuh, Shur menyadari bahwa ia juga akan terikat dalam belenggu.
Kemudian Sultan berjalan dari sana menuju Benteng Kaukab—yang merupakan markas Ordo Hospitaller sebagaimana Safad adalah markas Ordo Templar. Mereka adalah golongan Franka yang paling dibenci oleh Malik an-Nashir Salahuddin, yang hampir tidak pernah membiarkan seorang pun dari mereka hidup jika tertangkap sebagai tawanan—maka Sultan mengepung Benteng Kaukab hingga menaklukannya, membunuh dan menawan para pejuangnya, serta memberikan ketenangan bagi para musafir dari kejahatan penghuninya. Pantai-pantai tersebut pun tenang dan penduduknya hidup dengan tenang. Semua ini terjadi saat langit mengguyur hujan, angin bertiup kencang, banjir mengalir, kaki-kaki terjebak dalam lumpur, namun Sultan dalam semua itu tetap sabar, tabah, dan mengharap pahala. Qadhi al-Fadhil bersamanya dalam peristiwa-peristiwa ini sebagai saksi yang mengamati. Qadhi al-Fadhil menulis atas nama Sultan kepada saudaranya Saifuddin penguasa Yaman, mengundangnya ke Syam untuk menolong kaum Islam dan membunuh orang-orang kafir yang hina, karena Sultan telah bertekad untuk mengepung Antakya dan Taqiyyuddin Umar akan mengepung Tarabulus ketika tahun ini berakhir. Kemudian Qadhi al-Fadhil berniat untuk pergi ke Mesir, maka Sultan berjalan bersamanya untuk mengantarnya. Lalu Sultan berbelok ke Baitul Maqdis, melaksanakan shalat Jumat di sana, dan merayakan Idul Adha di Shakhrah (Kubah Batu) di Masjid al-Aqsha. Kemudian ia berjalan bersama saudaranya al-Adil menuju Asqalan, lalu memberikan Karak kepada saudaranya sebagai pengganti Asqalan dan memerintahkannya untuk kembali agar menjadi penolong bagi putranya al-Aziz dalam menghadapi peristiwa zaman. Sultan kembali dan tinggal di kota Akka hingga tahun ini berakhir.
Pada tahun ini, sekelompok Rafidhah (Syiah) keluar di Mesir dengan tujuan mengembalikan kekuasaan Fathimiyyah. Mereka memanfaatkan ketidakhadiran al-Adil dari Mesir dan meremehkan al-Aziz Utsman bin Salahuddin. Mereka mengirim dua belas orang untuk berseru di malam hari: “Ya Ali, Ya Ali,” dengan harapan rakyat akan menjawab seruan mereka dan mendukung rencana mereka. Namun tidak seorang pun menanggapi mereka dan tidak ada yang mencegah mereka. Ketika melihat hal itu, mereka melarikan diri lalu ditangkap, dibelenggu, dan dipenjarakan. Ketika berita ini sampai ke Sultan Salahuddin, ia sedih dan khawatir. Al-Fadhil masih bersamanya dan belum berpisah, lalu berkata kepadanya, “Wahai Malik, seharusnya engkau bergembira dan jangan bersedih, karena tidak ada seorang pun dari rakyatmu yang mendengarkan ajakan orang-orang bodoh ini. Seandainya mereka menanggapi, tentu berbeda. Seandainya engkau mengirim mata-mata dari pihakmu untuk menguji rakyatmu, pasti engkau akan senang dengan apa yang sampai kepadamu.” Hal itu menenangkan Sultan dan ia setuju dengan perkataannya. Karena itulah ia mengirimnya ke Mesir agar menjadi mata dan penolong yang membantu baginya.
Di Antara yang Meninggal pada Tahun Ini dari Tokoh-Tokoh Terkemuka:
Amir Besar Keturunan Raja-Raja dan Sultan-Sultan
Asy-Syaizari Mu’ayyiduddin Abu al-Harits dan Abu al-Muzhaffar Usamah bin Mursyid bin Ali bin Muqallad bin Nashr bin Munqidz, salah seorang penyair terkenal dan amir terpuji. Ia mencapai usia sembilan puluh enam tahun. Umurnya sendiri merupakan sebuah catatan sejarah tersendiri. Rumahnya di Damaskus menjadi tempat berkumpulnya para cendekiawan dan tempat tinggal para ulama. Ia memiliki syair-syair yang indah dan makna-makna yang tinggi dalam jumlah banyak, ilmu yang luas, kedermawanan dan keutamaan yang besar. Ia adalah putra raja-raja Syaizar, kemudian tinggal di Mesir untuk beberapa waktu pada zaman Fathimiyyah, lalu kembali ke Syam dan datang kepada Malik Salahuddin pada tahun tujuh puluh dan membacakan syairnya:
Aku memuji panjang umurku meski telah memutih rambutku Meski aku telah banyak berbuat dosa di dalamnya Karena aku hidup hingga bertemu Setelah musuh, seorang sahabat yang dicintai
Dan ia berkata tentang gigi yang dicabutnya hingga hilang manfaatnya:
Dan seorang sahabat yang tak pernah kuharap perpisahan dengannya Yang bersusah payah demi manfaatku dan berusaha dengan sungguh-sungguh Tidak pernah kutemui sejak kita bersahabat, namun ketika ia muncul Di hadapan mataku, kami berpisah dengan perpisahan abadi
Ia memiliki diwan syair yang besar. Salahuddin lebih menyukainya daripada diwan-diwan lainnya.
Ia lahir pada tahun 488 Hijriah. Pada masa mudanya ia gagah, berani, dan pemberani. Ia membunuh singa sendirian secara langsung. Kemudian ia berumur panjang hingga meninggal pada tahun ini. Ibnu Khallikan berkata: malam Selasa tanggal dua puluh tiga Ramadhan, dan dimakamkan di sebelah timur Jabal Qasiyun. Ia berkata: “Aku telah mengunjungi makamnya, membaca (Al-Qur’an) di sana, dan menghadiahkannya untuknya, semoga Allah merahmatinya.”
Di antara syair yang dibacakan darinya adalah perkataannya:
Jangan meminjam kulit untuk perpisahan mereka Karena kekuatanmu akan lemah menghadapi pembelakangannya yang terus menerus Dan ketahuilah bahwa jika engkau kembali kepada mereka Dengan sukarela, jika tidak, engkau akan kembali dengan terpaksa
Dan perkataannya tentang membunuh singa dan usianya yang tua:
Maka takjublah dengan lemahnya tanganku memegang pena Setelah menghancurkan tombak di leher singa Dan katakanlah kepada orang yang berharap panjang umur Inilah akibat-akibat panjang umur dan masa
Ibnu al-Atsir berkata: Pada tahun ini meninggal guru kami Abu Muhammad Abdullah bin Ali bin Ali bin Abdullah bin Suwaidah at-Tikriti. Ia adalah seorang ulama hadits dan memiliki karya-karya yang bagus. Semoga Allah merahmatinya.
Al-Hazimi al-Hamadhani
Syaikh Syihabuddin berkata: Pada tahun ini meninggal al-Hafizh Abu Bakr Muhammad bin Musa bin Utsman bin Hazim al-Hazimi al-Hamadhani di Baghdad, pemilik karya-karya tulis, meski usianya masih muda, di antaranya al-Ajalah dalam bidang nasab, an-Nasikh wal Mansukh dalam bidang hadits dan lainnya. Ia lahir pada tahun 548 atau 549 Hijriah dan meninggal pada tanggal dua puluh delapan Jumadal Ula tahun ini.
Kemudian Masuklah Tahun 585 Hijriah
Pada tahun ini datang utusan dari Khalifah kepada Sultan memberitahukan tentang penetapan putra mahkota Abu Nashr Muhammad yang bergelar adh-Dhahir bin Khalifah an-Nashir. Sultan memerintahkan khatib Damaskus Abu al-Qasim Abdul Malik bin Zaid ad-Dulaiy untuk mendoakannya. Kemudian Sultan mempersiapkan hadiah-hadiah besar dan pemberian yang mulia bersama para utusan, dan mengirimkan tawanan-tawanan Franka dengan pakaian mereka dalam keadaan berperang. Ia mengirimkan salib Shalbut yang dikubur di bawah ambang pintu Bab an-Nawa dari Darul Khilafah, sehingga diinjak-injak oleh kaki, setelah sebelumnya diagungkan dan dicium. Salib itu diludahi setelah sebelumnya disujudi. Yang benar adalah bahwa salib ini adalah yang dipasang di atas Kubah Batu, terbuat dari tembaga berlapis emas, dan telah jatuh ke tingkat paling bawah.
Kisah Akka dan Peristiwa yang Terjadi Padanya
Ketika memasuki bulan Rajab, orang-orang Franka yang ada di Shur berkumpul dan berjalan menuju kota Akka lalu mengepungnya. Kaum muslimin yang ada di dalamnya bertahan dan mempersiapkan apa yang mereka butuhkan untuk pengepungan. Berita ini sampai ke Sultan, maka ia segera pergi dari Damaskus. Ia mendapati mereka telah mengepung kota seperti cincin mengepung kelingking. Sultan terus melawan dan mencegah mereka darinya, hingga ia membuat jalan menuju pintu benteng yang bisa dijangkau oleh siapa saja yang menginginkannya, baik tentara maupun rakyat biasa, wanita dan anak-anak. Kemudian ia memasukkan ke dalamnya peralatan, perbekalan, dan pasukan yang ia inginkan. Ia sendiri masuk dengan dirinya yang mulia, naik ke atas temboknya dan melihat orang-orang Franka, pasukan mereka, serta banyaknya jumlah personel dan peralatan mereka. Pasokan terus datang kepada mereka dari laut setiap saat, segala sesuatu mereka terus bertambah, dan setiap waktu bantuan datang kepada mereka. Sultan kembali ke perkemahannya sementara pasukan terus berdatangan kepadanya dari setiap arah dan tempat, ada yang berjalan kaki dan ada yang berkuda.
Pertempuran Marj Akka
Kemudian orang-orang Franka keluar dengan sekitar dua ribu pasukan berkuda dan tiga puluh ribu pejalan kaki pada sepuluh hari terakhir bulan Syaban. Sultan keluar menghadapi mereka bersama para pemimpin pemberani yang bersamanya. Mereka bertempur di Marj Akka dalam pertempuran yang dahsyat. Sebagian kaum muslimin kalah di awal hari, namun di akhir hari keadaan berbalik melawan Franka, dan akibat baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa. Sekitar dua ratus muslim terbunuh, sedangkan dari pihak Franka terbunuh lebih dari tujuh ribu orang. Ketika pertempuran ini selesai, Sultan pindah dari tempatnya yang pertama ke tempat yang jauh dari bau mayat-mayat, karena takut akan wabah dan bahaya, agar pasukan berkuda dan kuda-kuda bisa beristirahat. Sultan tidak menyadari bahwa hal itu merupakan kemaslahatan terbesar bagi musuh yang dipermalukan, karena mereka memanfaatkan masa jeda ini. Mereka menggali parit di sekeliling perkemahan mereka dari laut ke laut untuk seluruh pasukan mereka, menjadikan tanahnya sebagai tembok yang tinggi, dan membuat pintu-pintu untuk keluar jika mereka menginginkannya. Mereka kokoh di tempat tersebut yang mereka pilih dan tetapkan. Masalah menjadi parah, urusan menjadi kuat, penyakit menjadi sulit disembuhkan, dan keadaan bertambah buruk. Pendapat Sultan adalah agar mereka segera menyerang setelah kemenangan dan tidak membiarkan mereka menunggu hingga angin laut tenang sehingga bantuan datang kepada mereka dari segala penjuru dengan cepat. Namun para amir beralasan karena lelah dan jenuh, dan setiap orang meremehkan urusan Franka, tidak menyadari apa yang telah ditakdirkan. Maka Sultan mengirim surat kepada semua raja meminta bantuan dan pertolongan, menulis surat kepada Khalifah dengan keluhan, dan mengirim surat-surat berisi ajakan dan dorongan. Bantuan pun datang kepadanya secara berkelompok maupun sendiri-sendiri. Ia mengirim surat ke Mesir meminta saudaranya al-Adil, maka al-Adil datang kepadanya. Ia juga meminta agar armada laut dipercepat, lalu armada itu tiba dengan lima puluh kapal di laut bersama Amir Husamuddin Lu’lu’. Ketika armada tiba, kapal-kapal Franka bergeser ke kanan dan kiri, semuanya takut padanya. Pasokan, peralatan, dan personel terus terhubung ke kota. Hati-hati menjadi lapang setelah kesempitan dan kesedihan. Tahun ini berakhir dengan keadaan seperti ini, dan tidak ada tempat berlindung dari Allah kecuali kepada-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab (Allah Maha Mengetahui yang benar).
Dan siapa yang meninggal pada tahun tersebut dari para tokoh:
Hakim Syarafuddin Abu Sa’d
Abdullah bin Muhammad bin Hibatullah bin Abi ‘Ashrun, salah satu imam mazhab Syafi’i, memiliki kitab Al-Intishar, dan pernah menjabat sebagai Kepala Hakim di Damaskus. Kemudian ia menjadi buta sepuluh tahun sebelum wafatnya, lalu anaknya Muhyiddin diangkat menggantikannya untuk menghibur hatinya. Hakim Syarafuddin mencapai usia sembilan puluh tiga setengah tahun, dan dimakamkan di Madrasah Ashruniyyah yang didirikannya di sebelah barat Suwaiqa Bab al-Barid, berhadapan dengan rumahnya, dengan jalan di antaranya. Ia termasuk orang-orang saleh dan ulama yang mengamalkan ilmunya, semoga Allah merahmatinya. Hakim Ibnu Khallikan telah menyebutkannya dan berkata: Asalnya dari Haditsah al-Mausil, mengembara menuntut ilmu ke berbagai negeri, berguru kepada As’ad al-Maihani, Abu Ali al-Fariqi, dan lain-lain. Ia pernah menjabat sebagai hakim di Sinjar dan Harran, menjabat mengajar di Ghazaliyyah pada masa Nuruddin, kemudian pindah ke Aleppo dan Nuruddin membangunkan madrasah untuknya di Aleppo dan juga di Homs. Kemudian ia datang ke Damaskus pada masa Shalahuddin dan menjabat sebagai hakim pada tahun lima ratus tujuh puluh tiga hingga wafatnya pada tahun ini. Ia telah menyusun sebuah risalah tentang bolehnya orang buta menjadi hakim, dan ini bertentangan dengan mazhab, namun penulis Al-Bayan menyebutkannya sebagai pendapat sebagian ulama. Ia berkata: Aku tidak menemukannya di tempat lain. Ia telah menyusun banyak kitab, di antaranya: Shafwat al-Madzhab fi Nihayat al-Mathalib dalam tujuh jilid, Al-Intishar dalam empat jilid, Al-Khilaf dalam empat jilid, Al-Dzari’ah fi Ma’rifat al-Syari’ah, Al-Mursyid dan lain-lain, serta kitab yang diberi judul Ma’akhidz al-Nazhar, ringkasan tentang ilmu faraid dan lainnya. Ibnu Asakir telah menyebutkannya dalam Tarikh-nya, begitu juga al-Imad yang memujinya, demikian pula al-Qadhi al-Fadhil.
Al-Imad menyebutkan banyak syairnya, dan di antara yang disebutkan Ibnu Khallikan darinya adalah:
Aku berharap dapat hidup, padahal setiap saat Yang berlalu padaku, orang-orang mati menggoyangkan keranda mereka Bukankah aku seperti mereka, hanya saja aku memiliki Sisa-sisa malam di waktu yang kujalani
Ahmad bin Abdurrahman bin Wahban
Abu al-Abbas, yang dikenal sebagai Ibnu Afdhal al-Zaman, Ibnu al-Atsir berkata: Ia adalah ulama yang mendalam dalam banyak ilmu: fikih, ushul, hisab, faraid, ilmu bintang, hai’ah, mantiq dan lain-lain. Ia pernah bermukim di Mekah dan tinggal di sana hingga wafat di sana. Ia termasuk orang yang paling baik pergaulan dan akhlaknya.
Fakih Amir Dhiya’uddin Isa al-Hakkari
Ia termasuk sahabat Asaduddin Syirkuh, masuk bersama beliau ke Mesir dan mendapat kedudukan tinggi di sisinya. Kemudian ia selalu menemani Sultan Shalahuddin hingga wafat dalam rombongannya di tempat bernama al-Kharrubah dekat Akka, lalu dipindahkan ke Baitul Maqdis dan dimakamkan di sana. Ia termasuk yang berguru kepada Syaikh Abu al-Qasim bin al-Bazuri al-Jazari. Fakih Isa termasuk orang yang utama, mulia, dan panglima besar, semoga Allah Ta’ala merahmatinya.
Al-Mubarak bin al-Mubarak al-Karkhi
Pengajar di Nizhamiyyah, berguru kepada Ibnu al-Khall, memiliki kedudukan tinggi di sisi Khalifah dan masyarakat umum, tulisan tangannya sangat bagus hingga menjadi perumpamaan. Aku telah menyebutkannya dalam Thabaqat, semoga Allah Ta’ala merahmatinya.
Kemudian masuk tahun lima ratus delapan puluh enam
Tahun dimulai sementara Sultan mengepung para pengepung Akka, dan bantuan Franka datang kepada mereka dari laut setiap waktu dan setiap saat, bahkan para wanita keluar dengan niat berperang, dan di antara mereka ada yang datang dengan niat menghibur para lelaki asing di perantauan. Sebuah kapal datang kepada mereka berisi tiga ratus wanita cantik dengan niat ini, hingga banyak orang fasik dari kaum muslimin berpindah kepada mereka karena para wanita ini. Kabar tersebar bahwa Raja Jerman telah datang dengan sekitar tiga ratus ribu prajurit dari arah Konstantinopel berniat menguasai Syam, membunuh penduduk dan raja-rajanya untuk membalas Baitul Maqdis. Kaum muslimin sangat cemas dan takut akan bahayanya, di tengah kesibukan besar dan pengepungan yang dahsyat yang mereka hadapi. Namun Allah melindungi mereka dan menghancurkan mayoritas tentara Jerman di jalan-jalan karena kedinginan, kelaparan, dan tersesat di tempat-tempat berbahaya, sebagaimana akan dijelaskan dan diperinci, insya Allah Ta’ala.
Adapun sebab bangkitnya Nasrani pada tahun ini sebagaimana disebutkan Ibnu al-Atsir dalam Kamil-nya, bahwa sekelompok pendeta dan pastor naik dari kota Shur dalam empat kapal, berkeliling negeri-negeri pantai, mendorong mereka untuk membantu Baitul Maqdis dan apa yang terjadi pada penduduk pantai berupa pembunuhan, penawanan, dan kehancuran rumah. Mereka telah membuat gambar Al-Masih dan gambar seorang Arab yang memukulnya. Jika mereka bertanya kepada mereka siapa yang memukul Al-Masih ini? Mereka menjawab: Ini nabi orang Arab yang memukulnya dan telah melukainya hingga mati. Maka mereka pun bergejolak, marah, menangis, dan berduka, lalu keluar dari negeri mereka untuk menolong agama, nabi, dan tempat haji mereka dengan berbagai cara, bahkan wanita-wanita terhormat dan anak-anak yang sangat berharga dan istimewa bagi keluarga mereka.
Pada pertengahan Rabi’ul Awwal, Sultan menerima penyerahan Syaqif Arnun dengan jaminan keamanan. Penguasanya ditawan dalam kehinaan dan penghinaan. Ia termasuk orang Franka yang paling licik dan paling mengetahui sejarah manusia, bahkan kadang membaca kitab-kitab hadits dan tafsir Quran, namun dengan semua itu ia memiliki hati yang keras dan kafir, semoga Allah melaknatnya.
Ketika musim dingin berlalu dan musim semi tiba, raja-raja datang dari negeri mereka dengan kuda, pemberani, pasukan, dan ksatrianya. Khalifah mengirim kepada Sultan Shalahuddin muatan-muatan naft (cairan pembakar), tombak, juru naft, dan penggali terowongan yang masing-masing ahli dalam pekerjaannya dengan sangat sempurna, serta perintah dengan dua puluh ribu dinar. Laut terbuka dan kapal-kapal Franka berdatangan dari setiap pulau untuk membantu teman-teman mereka dan memberi mereka kekuatan dan persediaan. Franka membuat tiga menara dari kayu dan besi yang dilapisi kulit yang disiram cuka agar naft tidak mempan padanya. Setiap menara dapat memuat lima ratus prajurit dan lebih tinggi dari menara kota, dipasang di atas roda sehingga dapat digerakkan sesuka hati. Di atas setiap menara ada manjaniq besar. Hal ini sangat mengkhawatirkan kaum muslimin dan membuat mereka marah. Maka Sultan memikirkan cara membakarnya, memanggil juru naft dan menjanjikan harta yang banyak. Seorang pemuda tukang tembaga dari Damaskus yang dikenal sebagai Ali bin Arif al-Nahhasin tampil dan berjanji membakar dan menghancurkannya. Ia mengambil naft putih, mencampurnya dengan obat-obatan yang ia ketahui, merebus semuanya dalam tiga kuali tembaga hingga menjadi api yang berkobar. Setiap menara dilempari dengan satu kuali dari kuali-kuali tersebut dengan manjaniq dari dalam Akka, maka terbakarlah ketiga menara tersebut dengan izin Allah Azza wa Jalla hingga menjadi api yang lidahnya menjulang ke angkasa. Kaum muslimin berteriak satu kali dengan takbir. Dalam setiap menara terbakar tujuh puluh kafir, dan itu adalah hari yang berat bagi orang-orang kafir. “dan Kami hadapkan kepada apa yang mereka kerjakan dari suatu amal, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan” (Al-Furqan: 23). Hal ini terjadi pada hari Senin dua puluh delapan Rabi’ul Awwal tahun ini. Franka telah bersusah payah membuatnya selama tujuh bulan, lalu terbakar dalam satu hari.
Kemudian Sultan menawarkan hadiah besar kepada pemuda tukang tembaga itu, namun ia menolak menerimanya dan berkata: “Aku melakukan ini hanya mengharap wajah Allah dan mengharap apa yang ada di sisi-Nya Yang Maha Suci, maka aku tidak menginginkan dari kalian balasan dan terima kasih.”
Armada Mesir datang membawa persediaan yang banyak untuk penduduk kota. Franka menyiapkan armada mereka untuk memerangi armada kaum muslimin. Sultan bangkit dengan pasukannya untuk menyibukkan mereka dari memerangi armada, penduduk kota juga memerangi mereka, dan kedua armada bertempur di laut. Itu adalah hari yang besar dan disaksikan, perang di darat dan laut. Franka berhasil menguasai satu kapal dari armada kaum muslimin, namun Allah menyelamatkan sisanya sehingga sampai ke kota dengan persediaan yang mereka sangat membutuhkan bahkan sepersepuluhnya. Mereka memuji Allah Ta’ala atas kemudahan setelah kesulitan.
Adapun Raja Jerman yang telah disebutkan sebelumnya, ia datang dengan jumlah banyak dan pasukan besar mendekati tiga ratus ribu prajurit dengan niat membantu Baitul Maqdis yang telah direbut dari tangan mereka. Ia terus melewati wilayah demi wilayah, mereka dirampas di setiap tempat dan dibunuh seperti hewan dibunuh, hingga raja mereka menyeberangi sungai yang arusnya deras. Ia tergoda untuk berenang di dalamnya, ketika masuk ke dalamnya, air membawanya ke batang pohon yang melukai kepalanya dan mengakhiri hidupnya. Allah menyelamatkan kaum muslimin darinya dan roh nya dikumpulkan ke Sijjin. Putra bungsunya diangkat menjadi raja setelahnya. Pasukan mereka telah berantakan dan jumlah mereka berkurang, kemudian mereka datang dan tidak melewati satu negeri pun kecuali banyak dari mereka yang terbunuh di sana dan jumlah mereka terus berkurang hingga mereka datang kepada teman-teman mereka yang mengepung Akka, dan mereka hanya seribu ksatria, tidak memiliki kedudukan atau nilai di hadapan siapa pun dari penganut agama mereka atau lainnya. Demikianlah sunnah Allah bagi siapa yang ingin menentang Islam dan pemeluknya, yaitu kehancuran dan kehancuran mereka, segala puji dan nikmat bagi Allah atas kebaikan dan karunia-Nya.
Al-Imad menyebutkan dalam penuturannya bahwa tentara Jerman datang dengan lima ribu prajurit dan bahwa semua raja Franka membenci kedatangan mereka karena takut akan kekuatannya dan hilangnya kerajaan mereka dengan kerajaannya. Tidak ada yang senang dengan kedatangannya kecuali Marquis, penguasa Shur yang memulai fitnah ini dan menimbulkan bencana ini—semoga Allah melaknatnya—karena ia menjadi kuat dengannya, dengan pasukannya, dan tipu muslihatnya, karena ia sangat berpengalaman dalam perang dan pertempuran. Ia menciptakan banyak alat perang yang tidak pernah terpikirkan oleh siapa pun: mendirikan dabbabat (mesin pengepungan) sebesar gunung yang bergerak dengan roda dan memiliki tanduk besi yang menghantam tembok hingga memecahkannya dan merusak sisinya. Allah Yang Maha Agung menganugerahkan dengan membakar dan menghancurkannya, Allah menyelamatkan kaum muslimin dari kejahatannya, segala puji bagi Allah. Ia bangkit dengan pasukan Franka dan menyerang pasukan kaum muslimin, berperang melawan Shalahuddin. Allah Subhanahu—dan bagi-Nya segala puji—menganugerahkan kemenangan atas mereka. Pasukan maju seluruhnya terhadap mereka dan membunuh banyak orang kafir dan pasukan yang besar. Suatu kali mereka menyerbu kemah secara tiba-tiba dan merampas banyak barang. Raja Adil Abu Bakar—yang memimpin sayap kanan—bangkit terhadap mereka, berkuda dengan para sahabatnya. Ia membiarkan Franka masuk jauh di antara kemah-kemah, kemudian menyerang mereka dengan tombak dan pedang. Mereka melarikan diri dari hadapannya, dan ia terus membunuh mereka kelompok demi kelompok, rombongan demi rombongan hingga menutupi permukaan bumi dengan mereka lebih indah dari taman-taman yang mekar. Diperkirakan yang terbunuh dari mereka paling sedikit lima ribu. Al-Imad dan lainnya menyebutkan bahwa yang terbunuh dari mereka antara Zuhur hingga Ashar sepuluh ribu, segala puji bagi Allah. Sementara itu sayap kiri tidak menyadari apa yang terjadi, bahkan mereka tertidur pada waktu qailulah (tidur siang) di kemah-kemah mereka dan banyak dari mereka tidak tahu.
Yang mengejar dan menawan mereka kurang dari seribu orang, dan yang terbunuh dari kaum muslimin sepuluh orang atau kurang. Ini adalah nikmat besar dan kemenangan yang menyeluruh. Hal ini melemahkan dan melemahkan pasukan Franka, dan mereka hampir meminta perdamaian dan pergi dari kota. Kebetulan datang bantuan kepada mereka dari laut bersama seorang raja bernama Kandahri—semoga Allah melaknatnya—bersama harta yang banyak. Ia membiayai mereka dan mengeluarkan untuk mereka, memerintahkan mereka untuk keluar bersamanya menghadapi Sultan Shalahuddin. Ia mendirikan dua manjaniq di Akka, menghabiskan untuk setiap satu dua ribu lima ratus dinar, namun penduduk kota membakarnya. Surat-surat datang dari penguasa Rum dari Konstantinopel meminta maaf kepada Shalahuddin tentang Raja Jerman, bahwa ia tidak melewati kerajaan dan negerinya atas kehendaknya sendiri, dan bahwa ia melewatinya karena banyaknya pasukannya. Karena itu ia memberi kabar gembira kepada Sultan bahwa Allah akan menghancurkan mereka di setiap tempat, dan demikian yang terjadi, segala puji bagi Allah yang memiliki kebaikan sejak dahulu. Ia mengirim surat kepada Sultan: “Aku akan mengadakan Jum’at dan khatib untuk kaum muslimin di negeriku.” Maka Sultan mengirim bersama utusannya seorang khatib dan mimbar. Hari masuknya kepada mereka adalah hari yang disaksikan dan pemandangan yang terpuji. Khutbah dilaksanakan, berdoa untuk Khalifah Abbasiyyah, dan berkumpul di sana kaum muslimin, pedagang, dan musafir yang ada di sana, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.
Bab
Wali Akka dari pihak Sultan Salahuddin, yaitu Amir Bahauddin Qaraqush, menulis surat kepada Sultan pada sepuluh hari pertama bulan Sya’ban. Ia melaporkan bahwa persediaan makanan di kota hanya tersisa untuk menghidupi mereka hingga malam tanggal 15 Sya’ban. Ketika surat itu sampai ke tangan Sultan, Yusuf menyimpan rahasia ini dalam hatinya dan tidak mengungkapkannya kepada siapa pun karena khawatir berita tersebut tersebar dan sampai ke telinga musuh, sehingga mereka akan semakin kuat menghadapi kaum muslimin dan hati-hati kaum muslimin pun akan melemah. Padahal Sultan telah menulis surat kepada komandan armada laut di Mesir untuk segera mengirim bantuan bahan makanan ke Akka, namun keberangkatannya tertunda. Kemudian pada malam tanggal 15, tiga kapal tiba membawa persediaan makanan yang cukup untuk penduduk kota sepanjang musim dingin. Kapal-kapal tersebut dipimpin oleh Amir al-Hajib Lu’lu’. Ketika kapal-kapal itu mendekati kota, armada Franka menyerang mereka untuk menghalangi mereka masuk ke kota dan menghancurkan muatannya. Terjadilah pertempuran laut yang sangat dahsyat. Kaum muslimin di darat berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah agar kapal-kapal mereka selamat, sementara Franka juga berteriak-teriak di darat dan di laut. Keributan sangat keras terdengar. Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin dan melindungi kapal-kapal mereka. Angin berhembus dengan baik untuk kapal-kapal tersebut sehingga mereka berlayar menembus kapal-kapal Franka yang mengepung pelabuhan dan memasuki kota dengan selamat. Penduduk kota dan tentara sangat bergembira karenanya, segala puji bagi Allah.
Sebelum ketiga kapal Mesir ini, Sultan telah menyiapkan sebuah kapal besar dari Beirut yang bermuatan empat ratus karung dan banyak keju, bawang, lemak, daging kering, anak panah, dan minyak bakar. Kapal ini adalah salah satu kapal Franka yang telah dirampas. Sultan memerintahkan para pelaut di dalamnya untuk berpenampilan seperti Franka, bahkan mereka mencukur jenggot mereka, mengikat ikat pinggang salib, dan membawa babi-babi di kapal. Mereka membawa kapal itu mendekati kapal-kapal Franka, yang mengira mereka adalah bagian dari mereka. Kapal itu berlayar cepat seperti anak panah yang melesat dari busurnya. Franka memperingatkan mereka tentang bahaya pelabuhan dari pihak kaum muslimin, namun mereka beralasan bahwa mereka tidak bisa mengendalikan kapal karena angin yang kencang, sehingga mereka tidak bisa berhenti atau berbalik. Mereka terus berlayar hingga masuk ke pelabuhan dan membongkar semua persediaan makanan yang mereka bawa. Perang adalah tipu daya. Mereka melewati pelabuhan sementara mata musuh tertutup. Pelabuhan dipenuhi dengan kebaikan dan kegembiraan, dan persediaan mereka bertambah hingga datangnya ketiga kapal Mesir tersebut. Pelabuhan kota diapit oleh dua menara, salah satunya disebut Menara Lalat. Franka membuat sebuah kapal besar dengan belalai yang memiliki mekanisme untuk meletakkannya di atas tembok dan menara sesuai keinginan mereka. Kapal ini menjadi ancaman besar bagi kaum muslimin yang terus mencari cara untuk menghancurkannya, hingga Allah mengirimkan kobaran api yang membakarnya dan menenggelamkannya. Hal ini terjadi karena Franka telah menyiapkan banyak minyak bakar dan kayu di dalamnya, serta kapal lain di belakangnya yang penuh dengan kayu saja, sehingga ketika kaum muslimin ingin menyerang pelabuhan dengan kapal mereka menggunakan kait, mereka berencana melepaskan minyak bakar ke kapal kayu tersebut agar terbakar dan berlayar di antara kapal-kapal muslimin untuk membakarnya. Di kapal mereka yang lain terdapat pasukan yang berada di bawah kubah yang telah mereka perkuat. Namun ketika mereka melepaskan minyak bakar ke Menara Lalat, keadaan berbalik terhadap mereka dengan kehendak Allah. Hal ini disebabkan kuatnya angin pada malam itu, sehingga api tidak menyebar ke kapal lain tetapi justru membakar kapal mereka sendiri. Api merambat ke kapal yang lain sehingga tenggelam, dan sampai ke kapal pasukan sehingga hancur bersama orang-orang di dalamnya. Mereka menyerupai orang-orang kafir terdahulu sebagaimana firman Allah dalam Kitab-Nya yang jelas, “Mereka merobohkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang beriman.” (Surah Al-Hasyr: 2)
Bab
Pada tanggal tiga Ramadhan, pengepungan Franka terhadap kota semakin ketat hingga mereka turun ke parit. Penduduk kota keluar menghadapi mereka dan membunuh banyak dari mereka. Mereka berhasil membakar pendobrak yang telah dibuat untuk menghancurkan tembok, dan apinya merambat ke alat-alat pengepungan lainnya. Kobaran api yang besar naik ke langit. Kemudian kaum muslimin menariknya dengan kait-kait besi yang diikat pada rantai sehingga mereka memperolehnya. Mereka menuangkan air dingin padanya hingga dingin setelah beberapa hari. Besi yang ada di dalamnya seberat seratus kuintal menurut ukuran Damaskus, segala puji dan terima kasih bagi Allah.
Pada tanggal 28 Ramadhan, Raja Zainuddin penguasa Irbil berada bersama Sultan. Ia meninggal di Akka. Orang-orang sangat berduka atas kematiannya karena usianya yang masih muda, dalam perantauan, dan kemuliaan serta kedermawanannya. Saudaranya, Muzaffaruddin, diberi ucapan belasungkawa. Dialah yang menggantikan kepemimpinannya. Ia meminta kepada Sultan Salahuddin untuk menambahkan Shahrazur kepadanya dan meninggalkan Harran, Ruha, Sumaisat dan lainnya, dengan tambahan membayar lima puluh ribu dinar tunai. Permintaannya dikabulkan, dibuatkan surat penugasan untuknya, dibentangkan panji-panji, dan wilayah yang ditinggalkan itu diserahkan kepada Raja Muzaffar Taqiyuddin ibnu keponakan Sultan Salahuddin.
Bab
Qadhi Al-Fadhil berada di Mesir mengatur kerajaan di sana, mempersiapkan apa yang dibutuhkan Sultan berupa uang dan biaya, membuat armada laut beserta perlengkapannya, dan hasil-hasil yang diperlukan. Surat-surat Sultan selalu datang kepadanya setiap saat untuk meminta nasihatnya dalam urusan yang akan memperbaiki keadaan kaum muslimin. Demikian pula surat-surat Al-Fadhil yang penuh kebijaksanaan selalu tiba kepada Sultan setiap waktu. Di antara surat-suratnya, ada yang menyebutkan bahwa penyebab lamanya pengepungan ini adalah karena banyaknya dosa dan pelanggaran larangan di kalangan manusia. Dalam salah satu suratnya ia berkata bahwa apa yang ada di sisi Allah tidak dapat diraih kecuali dengan ketaatan kepada-Nya, dan kesulitan tidak akan dilepaskan kecuali dengan kembali kepada-Nya dan mengikuti syariat-Nya. Kemaksiatan tampak di setiap tempat, dan kezaliman tersebar di mana-mana. Telah naik kepada Allah dari hal-hal tersebut sesuatu yang setelahnya tidak bisa diharapkan kecuali hal yang kita memohon perlindungan dari-Nya. Dalam suratnya disebutkan bahwa telah sampai kepadanya bahwa di Baitul Maqdis telah muncul kemungkaran, kemaksiatan, dan kezaliman di wilayahnya yang tidak mungkin dapat diperbaiki kecuali dengan usaha yang besar.
Di antara suratnya yang lain ia berkata: Sesungguhnya kami ditimpa musibah karena diri kami sendiri. Seandainya kami jujur kepada-Nya, niscaya Dia akan menyegerakan akibat kejujuran kami. Seandainya kami taat kepada-Nya, Dia tidak akan menghukum kami dengan musuh kami. Seandainya kami melakukan apa yang mampu kami lakukan dari perintah-Nya, niscaya Dia akan melakukan untuk kami apa yang tidak mampu kami lakukan kecuali dengan-Nya. Maka tidak ada yang berselisih kecuali karena amalnya sendiri, tidak menyalahkan kecuali dirinya sendiri, tidak berharap kecuali kepada Tuhannya, dan tidak menunggu tentara menjadi banyak, tidak harta menjadi terkumpul, tidak si fulan yang diandalkan untuk berperang, dan tidak si fulan yang ditunggu untuk berangkat. Semua ini adalah kesibukan yang mengalihkan dari Allah, dan bukan padanya kemenangan itu, dan kami tidak aman bahwa Allah akan menyerahkan kami kepadanya. Kemenangan adalah dari Allah, pertolongan dari-Nya, dan kebiasaan yang baik adalah dari-Nya. Kami memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosa kami. Seandainya tidak karena dosa-dosa kami yang menghalangi jalan doa kami, niscaya jawaban doa kami telah turun dan air mata orang-orang yang khusyuk telah membasuh. Namun di jalan ada penghalang. Semoga Allah memilihkan yang terbaik bagi tuan kami dalam takdir yang telah ditetapkan dan yang akan datang.
Dalam surat yang lain, ia menyatakan kesedihannya atas kelemahan kondisi fisik Sultan karena beban yang dipikul hatinya dari kesulitan yang ia hadapi—semoga Allah memberinya pahala—dengan perkataannya: Tidak ada cela dalam diri para raja kecuali sisa kelemahan yang ada pada tubuh tuan kami ini, karena ia ada di hati kami, dan kami tebus dengan pendengaran dan penglihatan kami.
Kami, para pelayan, merasakan apa yang engkau rasakan Walau mereka khawatir atas apa yang kukatakan, maka itu ada padaku sendiri
Syeikh Syihabuddin penulis Kitab ar-Raudhatain telah mengutip di sini beberapa surat dari Al-Fadhil kepada Sultan yang berisi kefasihan, kebahasaan, nasihat, dan dorongan untuk berjihad yang membuat orang-orang pemberani pun tidak mampu menandinginya. Surat-surat tersebut pantas ditulis dengan air emas di kalung-kalung permata. Semoga Allah merahmati beliau, manusia yang sangat fasih, menteri yang sangat memberikan nasihat, dan akal yang sangat matang.
Bab
Qadhi Al-Fadhil menulis surat yang sangat fasih atas nama Sultan kepada raja Maghrib, Amirul Mukminin dan sultan pasukan Al-Muwahhidin, Yaqub bin Yusuf bin Abdul Mumin, meminta bantuan untuk mengirim kapal-kapal di laut yang akan membantu kaum muslimin melawan kapal-kapal Franka. Surat tersebut berisi ungkapan yang panjang, fasih, indah, dan bagus yang dikutip secara lengkap oleh Syeikh Syihabuddin dengan keindahannya. Sultan Salahuddin mengirim bersama surat itu hadiah yang sangat berharga berupa berbagai barang dan benda-benda indah. Semua itu dibawa oleh Amir besar Syamsuddin Abu al-Hazm Abdurrahman bin Munqidz. Perjalanannya di laut dimulai pada tanggal delapan Dzulqaidah tahun ini. Ia masuk menghadap sultan Maghrib pada tanggal dua puluh Dzulhijjah. Ia tinggal di sana hingga tanggal sepuluh Muharram tahun 588 Hijriyah. Pengiriman ini tidak membawa hasil apa-apa karena sultan itu marah karena tidak diberi gelar Amirul Mukminin. Al-Fadhil sebenarnya telah menyarankan untuk tidak mengirim utusan kepadanya dan tidak bergantung padanya, namun yang terjadi memang sudah ditakdirkan oleh Allah.
Bab
Pada tahun ini Sultan mengalami sakit karena banyaknya perkara yang ia hadapi yang lebih pahit dari air yang sangat asin. Musuh yang terkutuk—semoga Allah melaknat mereka—mengambil kesempatan ini untuk menyerang Islam. Sekelompok dari mereka bersiap untuk berperang, sementara yang lain tetap mengepung kota. Mereka datang dalam jumlah yang sangat besar dan dengan persenjataan yang lengkap. Sultan mengatur pasukan ke kanan, ke kiri, di tengah, dan di sayap-sayap. Ketika mereka melihat pasukan yang sangat banyak, mereka melarikan diri dari medan perang dan mundur dari arena pertempuran. Banyak dari mereka yang terbunuh, segala puji bagi Allah.
Bab
Ketika musim dingin tiba dan kapal-kapal Franka mundur dari kota karena takut binasa akibat ganas-nya laut, kaum muslimin yang berada di dalam kota meminta Sultan untuk membebaskan mereka dari pengepungan yang berat dan pertempuran siang malam, pagi dan sore, sembunyi-sembunyi dan terang-terangan. Mereka meminta agar Sultan mengirim pasukan pengganti. Sultan merasa kasihan kepada mereka dan bertekad melakukan hal itu. Mereka berjumlah sekitar dua puluh ribu muslimin antara komandan dan prajurit. Ia mempersiapkan pasukan lain sebagai pengganti mereka. Keputusan ini sebenarnya bukan pendapat yang baik, namun Sultan tidak bermaksud kecuali kebaikan, yaitu agar pasukan yang baru masuk ke kota dalam kondisi semangat yang segar, dengan tekad yang kuat, dan dalam keadaan istirahat dibandingkan dengan pasukan sebelumnya. Namun pasukan sebelumnya memiliki pengalaman di kota dan dalam pertempuran, memiliki kesabaran yang luar biasa, dan telah terlatih dalam kesabaran menghadapi musuh di darat dan di laut. Untuk pasukan baru ini disiapkan tujuh kapal yang berisi persediaan makanan yang cukup untuk setahun penuh. Allah menakdirkan—dan urusan ada di tangan-Nya sejak dulu dan kemudian—bahwa ketika kapal-kapal itu berada di tengah laut dan mendekati pelabuhan, terjadilah badai yang sangat dahsyat di laut. Angin kencang mempermainkan kapal-kapal besar itu sehingga mereka terguncang, beradu, hancur, dan tenggelam. Persediaan makanan yang ada di dalamnya tenggelam dan para pelaut yang ada di dalamnya binasa. Kejadian ini menyebabkan kelemahan yang sangat besar pada kaum muslimin dan keadaan menjadi sangat sulit. Sultan pun sakit dan sakitnya semakin bertambah—semoga Allah menyembuhkannya. Hal ini menjadi bantuan bagi musuh yang terkutuk untuk merebut kota. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Kejadian ini terjadi pada bulan Dzulhijjah tahun ini. Yang memimpin pasukan yang masuk ke Akka adalah Amir Saifuddin Ali bin Ahmad bin al-Masythub, semoga Allah menguatkannya.
Pada hari ketujuh Dzulhijjah, sebagian besar tembok Akka runtuh. Franka segera menyerbunya namun kaum muslimin lebih dulu sampai ke sana dan menutupnya dengan dada mereka, bertarung mempertahankannya dengan jiwa mereka. Mereka terus mempertahankannya hingga berhasil membangunnya kembali lebih kuat, lebih kokoh, lebih baik, dan lebih indah dari sebelumnya.
Pada tahun ini terjadi wabah penyakit yang sangat hebat di kedua pasukan, muslimin dan kafir. Sultan berkata tentang hal ini:
Bunuhlah aku bersama Malik Dan bunuhlah Malik bersamaku
Kebetulan anak raja Jerman meninggal pada tanggal dua Dzulhijjah bersama sekelompok pembesar Kindihariyah dan pemimpin Franka, semoga Allah melaknat mereka. Franka sangat berduka atas kematian anak raja Jerman. Mereka menyalakan api besar di setiap tenda. Setiap hari ratusan orang Franka meninggal. Sekelompok dari mereka meminta perlindungan kepada Sultan karena kelaparan, kesempitan, dan pengepungan yang mereka alami. Banyak dari mereka yang masuk Islam, segala puji dan terima kasih bagi Allah.
Pada bulan ini Qadhi Al-Fadhil datang dari Mesir menemui Sultan. Keduanya sudah lama saling merindukan. Masing-masing menyampaikan kepada yang lain apa yang disembunyikan dan disimpan dalam hati mereka berupa pendapat-pendapat yang di dalamnya terdapat kemaslahatan kaum muslimin. Menteri yang jujur datang kepada Sultan yang diberi taufik dan Amir yang diberi pertolongan, semoga Allah merahmati keduanya.
Di antara tokoh-tokoh terkemuka yang meninggal pada tahun ini:
Raja Jerman yang datang dengan dua ratus ribu pasukan, ada yang mengatakan tiga ratus ribu pasukan dari ujung negerinya. Ia melewati Konstantinopel dan kota-kota setelahnya dengan niat untuk merebut seluruh wilayah Syam dari tangan kaum muslimin sebagai bantuan—menurutnya—untuk Baitul Maqdis yang telah direbut kembali oleh Malik Salahuddin dari tangan kaum musyrikin. Pasukan si terkutuk itu terus berkurang dan binasa di setiap tempat yang mereka lewati. Allah menakdirkan kebinasaannya dengan tenggelam sebagaimana Allah membinasakan Firaun, semoga Allah melaknat keduanya. Ia turun untuk berenang di salah satu sungai, lalu air menyeretnya secara paksa dan membawanya ke batang pohon di sana sehingga kepalanya pecah dan ia meninggal seketika—semoga Allah melaknatnya. Orang-orang Jerman kemudian mengangkat anaknya yang lebih muda sebagai raja dan ia datang bersama sisa pasukan mereka dalam keadaan yang sudah melemah. Intinya, mereka tiba bergabung dengan saudara-saudara mereka di Akka dengan lima ribu pasukan, ada yang mengatakan seribu pasukan. Kaum muslimin sangat khawatir dengan kedatangan mereka dan sangat takut, namun Allah mencukupkan orang-orang beriman dari pertempuran, dan Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Kemudian anaknya pun meninggal di akhir tahun ini, segala puji dan terima kasih bagi Allah.
Muhammad bin Muhammad bin Abdullah
Abu Hamid Qadhi al-Qudhah di Mosul, Muhyiddin putra Qadhi al-Qudhah Kamaluddin asy-Syahrazuri asy-Syafii. Imad al-Katib memujinya dan mengutip puisinya yang berbunyi:
Bukti-bukti menegakkan sifat-sifat Mematahkan tulang punggung para imam peniadaan sifat Ketika pasukan pengesaan datang Mengalahkan penganut penyerupaan dan pemisalan Maka kebenaran adalah apa yang kita semua tuju Dengan dalil-dalil dari khabar dan wahyu Barangsiapa yang tidak mengikuti syariat Maka keterlaluan kebodohan telah melemparkannya ke dalam kesesatan
Kemudian masuklah tahun lima ratus delapan puluh tujuh Hijriah
Pada tahun ini tiba raja Perancis dan raja Inggris serta raja-raja laut lainnya bergabung dengan pasukan Tentara Salib di Akka. Mereka bersatu untuk menyerang Akka pada tahun ini sebagaimana akan dijelaskan secara rinci. Tahun ini dimulai sementara pengepungan terhadap Akka masih berlangsung dari kedua pihak. Pasukan pengganti telah selesai memasuki kota dan al-Malik al-‘Adil berkemah di tepi laut agar mereka dapat menyelesaikan masuknya pasukan dan perbekalan mereka – semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka. Pada malam awal Rabiul Awal, kaum muslimin keluar dari Akka dan menyerbu perkemahan Tentara Salib. Mereka membunuh banyak sekali dari mereka, menawan dan merampas banyak barang. Mereka menawan dua belas orang perempuan. Sebuah kapal besar milik Tentara Salib mengalami kecelakaan dan tenggelam, menewaskan banyak orang dari mereka, sementara sisanya ditawan. Penguasa Homs, Asad ad-Din Syirkuh bin Nashir ad-Din Muhammad bin Syirkuh menyerang ternak Tentara Salib di wilayah Tripoli dan merampas banyak sekali kuda, sapi, dan kambing dari mereka. Pasukan patroli berhasil mengalahkan banyak Tentara Salib dan membunuh mereka. Tidak ada yang terbunuh dari kaum muslimin kecuali seorang sida kecil yang kudanya tersandung. Pada tanggal dua belas Rabiul Awal, tiba di pasukan Tentara Salib raja Perancis Philip dengan enam kapal terkutuk yang penuh dengan penyembah salib. Ketika ia tiba dan datang kepada mereka, tidak ada satu pun dari raja-raja mereka yang memiliki keputusan atau perintah bersamanya karena kebesarannya di mata mereka. Ia datang membawa elang besar berwarna putih, yaitu elang kelabu yang menakutkan. Elang itu terbang dari tangannya dan jatuh di tembok Akka. Penduduk kota menangkapnya dan mengirimkannya kepada Sultan. Tentara Salib menawar seribu dinar untuk elang itu tetapi tidak dikabulkan. Setelah dia datang Condfrir yang juga termasuk raja-raja besar mereka. Kapal-kapal raja Inggris tiba tetapi dia sendiri tidak datang karena sibuk dengan pulau Siprus dan merebutnya dari tangan penguasanya. Raja-raja Islam dari negeri-negeri mereka terus berdatangan pada awal musim semi ke hadapan Sultan an-Nashir Salahuddin.
al-‘Imad berkata: Kaum muslimin memiliki pencuri-pencuri yang masuk ke kemah-kemah Tentara Salib untuk mencuri, bahkan mereka mencuri orang. Suatu ketika salah seorang dari mereka mengambil seorang bayi yang sedang menyusui dari tempat tidurnya, berusia tiga bulan. Ibunya sangat sedih kehilangan bayinya dan mengadu kepada raja-raja mereka. Mereka berkata kepadanya: “Sesungguhnya sultan kaum muslimin itu berhati lembut, dan kami izinkan kamu pergi kepadanya untuk mengadukan urusanmu kepadanya.” al-‘Imad berkata: Maka datanglah perempuan itu kepada Sultan sementara aku berdiri bersamanya. Ia menangis dengan keras dan menggosok-gosokkan wajahnya ke tanah. Sultan bertanya tentang urusannya. Ia menceritakan keadaannya kepadanya. Sultan sangat tersentuh hingga matanya berkaca-kaca. Ia memerintahkan untuk menghadirkan anaknya. Ternyata anak itu sudah dijual di pasar. Sultan memerintahkan untuk membayar harganya kepada pembeli dan terus menunggu hingga anak itu dibawa. Ibunya mengambilnya dan menyusuinya sesaat sambil menangis karena sangat gembira dan merindukannya. Kemudian Sultan memerintahkan untuk mengirimnya kembali kepada kaumnya dengan kuda sebagai penghormatan, semoga Allah merahmatinya dan membasahi tanahnya dengan belas kasihan.
Bab tentang bagaimana musuh terkutuk merebut kota Akka dari tangan Sultan secara paksa
Ketika tiba bulan Jumadil Ula, pengepungan Tentara Salib – semoga Allah melaknat mereka – terhadap Akka semakin intensif. Mereka bersatu melawannya dari segala penjuru. Raja Inggris datang kepada mereka dengan pasukan yang sangat besar dalam dua puluh lima kapal yang penuh dengan prajurit. Penduduk benteng mengalami cobaan darinya dengan cobaan yang tidak menyerupai cobaan sebelumnya. Maka ketika itu, genderang dimainkan di kota, dan itu adalah tanda antara mereka dengan Sultan. Sultan pun memainkan genderangnya dan mendekat ke kota serta berpindah dekat kepada mereka untuk menyibukkan mereka dari kota. Mereka telah mengepungnya dari segala tempat dan memasang tujuh manjaniq yang menembaki kota siang dan malam, terutama pada menara ‘Ain al-Baqar hingga merusak dengan kerusakan yang jelas. Mereka mulai menimbun parit dengan apa yang mereka bisa dari hewan mati, dari yang terbunuh di antara mereka dan yang meninggal juga. Penduduk kota mengangkut apa yang mereka lemparkan ke dalam parit ke laut. Raja Inggris berhasil menangkap sebuah kapal besar milik kaum muslimin yang datang dari Beirut penuh dengan perbekalan dan senjata lalu merebutnya. Dia berdiri di laut dengan empat puluh kapal tidak membiarkan sesuatu pun mencapai kota sama sekali – semoga Allah melaknatnya. Di kapal itu ada enam ratus prajurit pilihan yang gagah berani, mereka semua gugur, semoga Allah merahmati mereka semua. Karena ketika mereka dikepung dari segala sisi dan mereka yakin akan tenggelam atau terbunuh, mereka melubangi kapal dari segala sisinya sehingga tenggelam dan Tentara Salib tidak dapat mengambil apapun darinya, baik perbekalan maupun senjata. Kaum muslimin sangat bersedih atas musibah ini, innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali). Namun Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengganti bencana ini dengan kaum muslimin membakar di hari ini sebuah dalabah (alat pengepung) milik Tentara Salib yang terdiri dari empat lantai; yang pertama dari kayu, yang kedua dari timah hitam, yang ketiga dari besi dan yang keempat dari tembaga. Alat itu tinggi menjulang di atas tembok dan para prajurit ada di dalamnya. Penduduk kota sangat cemas karenanya hingga diri mereka berbisik karena takut akan bahayanya untuk meminta perlindungan dari Tentara Salib dan menyerahkan kota. Maka Allah memberikan jalan keluar dan memungkinkan mereka membakarnya. Itu terjadi di hari yang sama ketika kapal tersebut tenggelam. Penduduk kota mengirim pesan kepada Sultan mengeluhkan intensitas pengepungan dan kuatnya serangan terhadap mereka sejak raja Inggris datang – semoga Allah melaknatnya. Meskipun demikian, raja Perancis juga sakit dan terluka tetapi itu tidak menambah mereka kecuali kesulitan, ketegasan, dan kesombongan. Marquis meninggalkan mereka dan pergi ke negerinya Tirus karena takut mereka akan mengeluarkan rajanya dari tangannya. Raja Inggris mengirim pesan kepada Sultan Salahuddin menyebutkan bahwa dia memiliki burung buas yang dia bawa dari laut dan dia berniat mengirimnya kepadanya tetapi burung-burung itu sudah lemah dan dia meminta ayam dan burung untuknya agar menjadi kuat. Sultan mengetahui bahwa dia sesungguhnya meminta itu untuk dirinya sendiri dengan cara halus, maka dia mengirimkan hal itu kepadanya karena kemurahan hati dan tabiatnya. Kemudian dia mengirim pesan meminta buah dan salju, maka Sultan juga mengirimkannya kepadanya. Namun kebaikan itu tidak bermanfaat bersamanya, bahkan ketika dia sembuh dia kembali lebih buruk dari sebelumnya. Pengepungan semakin intensif siang dan malam. Orang-orang yang ada di kota mengirim pesan mengatakan: “Jika kalian tidak melakukan sesuatu untuk kami besok, kami akan meminta perlindungan dari Tentara Salib.” Hal itu menyulitkan Sultan karena dia telah mengirimkan ke sana senjata-senjata Syam, wilayah Mesir, dan seluruh pesisir serta apa yang telah dia rampas dari perang Hitthin dan dari Baitul Maqdis, sehingga kota itu penuh dengan semua itu. Sultan bertekad untuk menyerang musuh. Ketika pagi tiba, dia menunggang kuda bersama pasukannya. Dia melihat Tentara Salib telah menunggang kuda dari balik parit mereka dan prajurit kaki dari mereka telah membuat benteng di sekeliling pasukan berkuda mereka. Mereka adalah bongkahan besi yang padat yang tidak dapat ditembus oleh apapun. Maka dia mengurungkan niatnya karena dia tahu tentang keengganan pasukannya terhadap apa yang dia inginkan dan keberaniannya mendorongnya untuk itu, semoga Allah merahmatinya.
Sementara itu pengepungan terhadap kota semakin intensif sekali. Prajurit kaki dari mereka masuk ke parit dan menggantungkan sebuah badanah (bangunan pengepung) dari tembok, mengisinya dan membakarnya hingga runtuh. Tentara Salib masuk ke kota tetapi kaum muslimin melawan mereka dan berperang dengan perang yang sangat keras. Mereka membunuh enam orang dari pemimpin mereka. Tentara Salib sangat marah kepada mereka karena hal itu. Malam datang dan memisahkan kedua pihak. Ketika pagi tiba, komandan kaum muslimin di kota Saif ad-Din al-Masythub keluar dan bertemu dengan raja Perancis. Dia meminta perlindungan untuk jiwa mereka dan akan menyerahkan kota kepadanya. Raja tidak menyetujui hal itu dan berkata: “Setelah tembok runtuh kamu datang meminta perlindungan!” Amir al-Masythub berkata kasar kepadanya dan kembali ke kota dalam keadaan yang hanya Allah yang tahu. Ketika penduduk kota diberitahu, mereka sangat takut karena apa yang terjadi. Mereka mengirim pesan kepada Sultan memberitahukan apa yang terjadi. Sultan mengirim pesan kepada mereka agar segera keluar dari kota melalui laut dan jangan terlambat dari malam ini sehingga tidak ada seorang muslim pun yang tersisa di sana. Banyak dari mereka yang ada di sana sibuk mengumpulkan perbekalan dan senjata dan terlambat berangkat pada malam itu. Ketika pagi tiba, berita itu telah sampai kepada Tentara Salib dari dua budak kecil yang mendengar apa yang diperintahkan Sultan lalu mereka lari kepada kaum mereka dan memberitahu mereka tentang hal itu. Maka mereka menjaga laut dengan penjagaan yang sangat ketat sehingga tidak ada seorang pun dari penduduk kota yang dapat bergerak sedikitpun dan tidak ada yang keluar darinya sama sekali. Sultan bertekad untuk menyerbu musuh pada malam ini tetapi pasukan tidak menyetujuinya dan berkata: “Kami tidak akan mempertaruhkan seluruh Islam.” Ketika pagi tiba, Sultan mengirim pesan kepada raja-raja Tentara Salib meminta perlindungan untuk penduduk kota dengan syarat dia akan membebaskan sejumlah yang sama dari tawanan yang ada di bawah kekuasaannya dari Tentara Salib dan menambahkan kepada mereka salib Shalibut. Mereka menolak kecuali dia membebaskan setiap tawanan di bawah kekuasaannya dan membebaskan untuk mereka semua wilayah pesisir yang diambil dari mereka dan Baitul Maqdis. Sultan menolak hal itu. Negosiasi terus berlanjut mengenai hal itu sementara pengepungan terus meningkat terhadap tembok kota. Banyak celah yang runtuh dan kaum muslimin memperbaiki banyak di antaranya serta menutup lubang tempat-tempat itu dengan dada mereka, semoga Allah merahmati mereka. Mereka bersabar dengan kesabaran yang luar biasa. Akhir perkara mereka adalah syahid dengan sabar. Mereka menulis kepada Sultan di akhir perkara mereka mengatakan: “Wahai tuan kami, jangan tunduk kepada orang-orang terkutuk ini yang telah menolak memenuhi permintaanmu untuk kami. Kami telah berbai’at kepada Allah Ta’ala untuk berjihad hingga kami semua terbunuh. Kepada Allah kami memohon pertolongan.” Ketika waktu Zhuhur pada hari ketujuh belas Jumadil Akhir tahun ini, orang-orang tidak menyadari kecuali tiba-tiba bendera kekafiran, salib-salib, lambang-lambang, dan api mereka telah berkibar di tembok kota. Tentara Salib berteriak dengan satu teriakan. Musibah itu sangat besar bagi kaum muslimin dan kesedihan kaum Muwahhidin semakin dalam. Ucapan orang-orang berakal di antara manusia terbatas pada: innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (sesunggahnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali). Orang-orang diliputi kebingungan yang luar biasa dan keheranan yang sangat. Tangisan, ratapan, tangisan dan isak tangis terjadi di pasukan. Marquis – semoga Allah melaknatnya – masuk dan telah kembali kepada mereka dengan cepat membawa hadiah untuk para raja. Dia masuk pada hari ini dengan empat bendera untuk raja-raja. Dia memasang satu di menara pada hari Jumat, yang lain di benteng, yang lain di menara Daulat dan yang lain di menara peperangan menggantikan bendera-bendera Sultan. Kaum muslimin yang ada di sana mundur ke satu sudut kota dalam keadaan ditahan, dikepung, dalam tekanan. Para wanita dan anak-anak ditawan, harta mereka dirampas, para pahlawan dibelenggu, dan para lelaki dihinakan. Perang berganti-ganti, segala puji bagi Allah atas segala keadaan.
Sultan – semoga Allah menguatkannya – memerintahkan pasukan untuk mundur dari posisi yang sempit ini ke posisi setelahnya. Dia sendiri mundur sendirian untuk melihat apa yang akan mereka lakukan dan apa yang akan mereka andalkan. Sementara mereka – semoga Allah melaknat mereka – sibuk dengan penguasaan atas kota dan bingung dengan perolehan harta secara keseluruhan dan rinci. Kemudian Sultan pergi ke pasukan dengan kesedihan dan duka cita yang hanya Allah Yang Mahatinggi yang mengetahuinya. Raja-raja Islam, para amir dan pembesar negara datang menta’ziyahnya atas apa yang terjadi dan menghiburnya atas keadaan yang telah berlalu. Kemudian dia bernegosiasi dengan raja-raja Tentara Salib tentang pembebasan tawanan Islam yang ada di tangan mereka. Mereka meminta dari Sultan sejumlah yang sama dari tawanan mereka, seratus ribu dinar, dan salib Shalibut jika masih ada. Sultan mengirim dan menghadirkan uang dan salib. Dia tidak dapat menyediakan dari tawanan kecuali enam ratus tawanan. Tentara Salib meminta darinya untuk menunjukkan salib kepada mereka dari jauh. Ketika salib diangkat untuk mereka, mereka bersujud kepadanya dan menjatuhkan diri mereka ke tanah. Mereka mengirim pesan meminta darinya apa yang dia hadirkan dari uang dan tawanan. Sultan menolak kecuali mereka mengirimkan kepadanya tawanan yang ada di tangan mereka atau mengirimkan sandera kepadanya untuk itu. Mereka berkata: “Tidak, tetapi dia mengirimkan itu dan ridha dengan kepercayaan kami.” Dia memahami dari mereka bahwa mereka ingin melakukan khianat dan tipu daya. Maka dia tidak mengirimkan itu kepada mereka. Dia memerintahkan untuk mengembalikan para tawanan kepada keluarga mereka di Damaskus dan mengirim salib ke Damaskus dalam keadaan dihinakan. Tentara Salib membawa keluar tiga ribu orang dari kaum muslimin di satu dataran, semoga Allah merahmati mereka. Mereka menghadapkan mereka setelah Ashar dan menyerang mereka dengan serangan serentak lalu membunuh mereka semua, semoga Allah merahmati mereka, memuliakan tempat tinggal mereka dan menjadikan surga sebagai tempat kembali mereka. Mereka tidak menyisakan di tangan mereka dari kaum muslimin kecuali seorang amir, atau bangsawan, atau orang yang mereka lihat kuat dalam pekerjaan mereka, atau seorang wanita atau anak kecil. Terjadilah apa yang terjadi dan putusan telah dijatuhkan yang tentangnya kalian berdua meminta fatwa. Masa berkemahnya Sultan – semoga Allah merahmatinya – di Akka dengan sabar, bersabar, dan menjaga adalah tiga puluh tujuh bulan. Jumlah yang terbunuh dari Tentara Salib adalah lima puluh ribu.
Bab tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah Tentara Salib merebut Akka
Mereka bergerak seluruhnya menuju Ashqalan sementara Sultan bersama pasukannya berjalan sejajar dengan mereka dan menghadang mereka dari pos ke pos. Kaum muslimin menculik dan merampas mereka di setiap tempat. Setiap tawanan yang dibawa kepada Sultan, dia memerintahkan untuk membunuhnya di tempat itu juga pada saat itu juga. Terjadi beberapa pertempuran antara kedua pasukan. Kemudian raja Inggris meminta untuk bertemu dengan al-Malik al-‘Adil, saudara Sultan, meminta darinya perdamaian dan perlindungan dengan syarat wilayah pesisir dikembalikan kepada penduduknya. al-‘Adil berkata kepadanya: “Sesungguhnya sebelum itu setiap ksatria dan prajurit kaki dari kalian harus dibunuh.” Si terkutuk itu marah dan bangkit dari hadapannya dalam keadaan marah. Kemudian Tentara Salib bersatu untuk berperang melawan Sultan di hutan Arsuf. Kemenangan adalah untuk kaum muslimin. Banyak dari Tentara Salib yang terbunuh di hutan Arsuf, ribuan demi ribuan. Banyak juga dari kaum muslimin yang terbunuh. Pasukan telah melarikan diri dari Sultan di awal pertempuran dan tidak tersisa bersamanya kecuali tujuh belas prajurit sementara dia tetap teguh dan sabar. Genderang terus dipukul tidak berhenti dan bendera-bendera berkibar. Kemudian orang-orang kembali dan kemenangan adalah untuk kaum muslimin dan giliran menyerang kepada orang-orang kafir. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.
Kemudian Sultan maju dengan pasukannya dan berkemah di luar Ashqalan. Para pemilik pendapat menyarankan kepada Sultan untuk menghancurkan Ashqalan karena khawatir orang-orang kafir menguasainya dan menjadikannya sarana untuk merebut Baitul Maqdis – semoga Allah Ta’ala menjaganya – atau terjadi di sana peperangan dan pertempuran seperti apa yang terjadi di Akka atau lebih parah. Sultan bermalam memikirkan hal itu. Ketika pagi tiba, Allah telah menanamkan dalam hatinya bahwa kehancurannya adalah kemaslahatan. Dia menyebutkan hal itu kepada orang-orang yang hadir dan berkata kepada mereka: “Demi Allah, kematian semua anak-anakku lebih ringan bagiku daripada menghancurkan satu batu darinya, tetapi jika ini mengandung kemaslahatan bagi kaum muslimin maka tidak mengapa.”
Kemudian dia memanggil para gubernur dan memerintahkan mereka untuk menghancurkan kota dengan cepat sebelum kedatangan musuh yang terkutuk. Orang-orang mulai menghancurkannya. Penduduknya dan yang hadir menangis atas keindahannya, nikmatnya tempat tinggalnya, banyaknya tanaman dan buah-buahannya, lebatnya sungai-sungainya dan segarnya bunganya. Api dilemparkan ke berbagai sudut dan sisinya. Istana-istananya, rumah-rumahnya, pasar-pasarnya dan ruang-ruangnya dihancurkan. Gandum yang ada di dalamnya yang tidak mungkin dipindahkan atau dibawa dimusnahkan. Kehancuran dan pembakaran terus berlangsung di dalamnya hingga akhir Sya’ban tahun ini.
Kemudian Sultan berangkat darinya pada tanggal dua Ramadhan setelah meninggalkannya sebagai tanah rata yang tidak ada tanda-tanda untuk siapapun. Kemudian dia melewati ar-Ramlah dan menghancurkan bentengnya serta menghancurkan gereja Lod. Dia mengunjungi Baitul Maqdis dan kembali ke perkemahan dengan cepat – semoga Allah menerima darinya. Kemudian raja Inggris mengirim pesan kepada Sultan mengatakan kepadanya: “Sesungguhnya urusan telah berlarut-larut dan Tentara Salib dan kaum muslimin telah binasa. Sesungguhnya tujuan kami hanya tiga hal tidak yang lain: pengembalian salib, wilayah pesisir dan Baitul Maqdis. Kami tidak akan kembali dari ketiga hal ini selama mata kami masih berkedip.” Sultan mengirimkan kepadanya jawaban yang sangat keras dan perkataan yang sangat buruk. Kemudian Tentara Salib bertekad untuk menuju Baitul Maqdis. Sultan maju dengan pasukannya ke Baitul Maqdis dan meninggalkannya serta tinggal di Dar al-Qasaqis dekat Qumamah pada Dzulqa’dah. Dia mulai memperkuat kota, memperdalam parit-paritnya dan bekerja di sana dengan dirinya sendiri bersama anak-anaknya. Para amir, para qadhi, para ulama dan kaum sufi bekerja di sana dengan diri mereka sendiri. Itu adalah waktu yang bersejarah. Pasukan patroli berada di sekeliling kota dari arah Tentara Salib. Setiap saat mereka mengalahkan Tentara Salib, membunuh, menawan dan merampas dari mereka. Segala puji bagi Allah atas nikmat-Nya. Tahun ini berakhir sementara keadaan seperti itu.
Pada tahun ini sebagaimana yang disebutkan oleh al-‘Imad al-Katib, al-Qadhi Muhyiddin Muhammad bin az-Zaki menjabat sebagai qadhi Damaskus.
Pada tahun tersebut, Amir Mekah Daud bin Isa bin Flaitah bin Qasim bin Muhammad bin Abi Hasyim Al-Hasani menyerang dan mengambil harta-harta Ka’bah, bahkan ia mencabut sebuah kalung perak yang ada pada lingkaran Hajar Aswad, yang telah dipasang untuk memperbaiki keretakan ketika seorang Qarmathi memukul batu tersebut dengan pentungan. Ketika Sultan mendengar beritanya dari para jamaah haji yang pulang, ia memecatnya dan mengangkat saudaranya Maktsar sebagai pengganti, serta menghancurkan benteng yang telah dibangun oleh saudaranya di Gunung Abu Qubais. Daud tinggal di Nakhlah hingga wafat di sana pada tahun 589 Hijriyah.
Tokoh-Tokoh yang Wafat pada Tahun Ini:
Al-Malik Al-Muzhaffar Taqi Al-Din Umar bin Syahanshah bin Ayyub
Ia sangat dicintai oleh pamannya Al-Malik An-Nashir Salah Al-Din. Pamannya menunjuknya sebagai wakil di Mesir dan negeri-negeri lainnya, kemudian memberikannya wilayah Hamah dan banyak kota-kota di sekitarnya serta dari wilayah Al-Jazirah. Ia bersama pamannya Sultan dalam pengepungan Akka, kemudian meminta izin kepada pamannya untuk mengawasi wilayah-wilayahnya yang berdekatan dengan sungai Efrat. Ketika ia tiba di sana, ia sibuk dengan urusan wilayahnya, dan matanya tertuju untuk mengambil wilayah-wilayah lain dari tangan raja-raja yang bertetangga dengannya, lalu ia memerangi mereka. Kematiannya terjadi dalam kondisi seperti itu, sementara Sultan An-Nashir Salah Al-Din sedang marah kepadanya karena kesibukannya tersebut yang membuatnya tidak membantu Sultan.
Jenazahnya diangkut hingga dimakamkan di Hamah. Ia memiliki sebuah madrasah yang megah di sana, demikian pula ia memiliki madrasah terkenal di Damaskus dengan banyak wakaf yang berkah. Setelahnya, putranya Al-Mansur Nasir Al-Din Muhammad mengambil alih kekuasaan. Al-Malik Salah Al-Din mengesahkannya setelah melalui usaha keras dan ancaman. Kalau bukan karena Sultan Al-Malik Al-Adil Abu Bakar yang memberikan syafaat untuknya, ia tidak akan dapat menempati kedudukan ayahnya, tetapi Allah menyelamatkan. Wafatnya Taqi Al-Din adalah pada hari Jumat tanggal 19 Ramadhan tahun ini. Ia adalah seorang yang berani, pemberani, bercita-cita tinggi, kuat, mulia, dan sempurna. Semoga Allah merahmatinya.
Al-Amir Husam Al-Din Muhammad bin Umar bin Lajin
Ibunya adalah Sitt Al-Syam binti Ayyub, yang mewakafkan dua masjid Syamiyah di Damaskus. Pada malam Jumat tanggal 19 Ramadhan juga, Sultan berduka karena kehilangan keponakan dari saudara laki-lakinya dan keponakan dari saudara perempuannya dalam satu malam yang sama. Keduanya adalah pembantu terbesar dan saudara termulia. Husam Al-Din dimakamkan di makam Husamiyah yang dibangun oleh ibunya di distrik Al-Awainah, yaitu Syamiyah Al-Baraniyah.
Pada tahun ini juga wafat:
Al-Amir Alam Al-Din Sulaiman bin Jandar Al-Halabi
Ia adalah salah satu amir besar dalam pemerintahan Salah Al-Din. Ia yang menyarankan kepada Sultan untuk menghancurkan Asqalan. Ia jatuh sakit di Yerusalem, lalu meminta izin untuk berobat di Damaskus dan Sultan mengizinkannya. Ia berangkat hingga tiba di Ghabagib dan wafat di sana pada akhir bulan Dzulhijjah. Pada bulan Rajab wafat seorang amir besar wakil Damaskus, semoga Allah menjaganya.
Ash-Shafi bin Al-Faidh
Ia adalah salah satu pengikut terbesar Sultan sebelum menjadi raja, kemudian Sultan menunjuknya sebagai wakil di Damaskus hingga ia wafat di sana pada tahun ini. Semoga Allah merahmatinya.
Pada bulan Rabiul Awal wafat:
Dokter yang Mahir dan Handal As’ad bin Al-Mathran
Ia telah dimuliakan dengan Islam dan bersyukur atas keahlian pengobatannya yang khusus dan umum. Semoga Allah merahmatinya.
Syekh Najm Al-Din Al-Khabusyani
Yang membangun makam Asy-Syafi’i di Mesir atas perintah Sultan Salah Al-Din, serta mewakafkan wakaf-wakaf mulia padanya. Sultan menunjuknya untuk mengajar dan mengelolanya. Sultan sangat menghormati dan memuliakannya. Saya telah menyebutkannya dalam kitab Thabaqat Asy-Syafi’iyah dan karya-karyanya dalam mazhab seperti Syarh Al-Wasith dan lainnya. Ketika Al-Khabusyani wafat, banyak orang meminta posisi mengajar. Al-Malik Al-Adil memberikan syafaat kepada saudaranya untuk Syekh Asy-Syuyukh Abu Al-Hasan Muhammad bin Hamuwaih, lalu Sultan menunjuknya untuk posisi tersebut. Kemudian ia diberhentikan setelah wafatnya Sultan, dan posisi tersebut tetap di tangan putra-putra Sultan satu demi satu, kemudian setelah itu dibersihkan dan kembali kepada para ahli fikih dan pengajar. Wallahu Ta’ala a’lam bish-shawab.
Kemudian Masuk Tahun 588 Hijriyah
Tahun dimulai dengan Sultan Salah Al-Din berkemah di Yerusalem yang mulia. Ia telah membagi tembok kota di antara anak-anaknya dan para amirnya, dan ia sendiri bekerja dengan tangannya sendiri, mengangkut batu di antara pelana kudanya dan dirinya. Orang-orang mengikutinya dan para ulama, serta orang-orang fakir bekerja dengan tangan mereka sendiri. Bangsa Franka—semoga Allah melaknat mereka—berada di sekitar kota dari arah Asqalan dan sekitarnya, tidak berani mendekat kepada penjaga dan pasukan yang mengawal Yerusalem yang mulia. Namun mereka berniat mengepung Yerusalem dan bertekad menyerang Islam. Kadang mereka menang dan kadang penjaga yang menang, kadang mereka merampas dan kadang dirampas.
Pada bulan Rabiul Akhir, Al-Amir Saif Al-Din Al-Masythub tiba menemui Sultan di Yerusalem setelah bebas dari tawanan. Ia adalah wakil di Akka ketika kota itu direbut, lalu ia menebus dirinya dari mereka dengan 50.000 dinar. Sultan memberinya sebagian besar dari uang tersebut dan menunjuknya sebagai wakil di kota Nablus. Ia wafat di sana pada bulan Syawal tahun itu.
Pada bulan Rabiul Akhir, Marquis penguasa Tyre terbunuh—semoga Allah melaknatnya. Raja Inggris mengutus dua orang Fidai untuk membunuhnya. Mereka berpura-pura masuk Kristen dan tinggal di gereja hingga berhasil menemui Marquis dan membunuhnya. Mereka juga terbunuh. Raja Inggris kemudian menunjuk keponakan perempuannya dari ibu, Al-Kandahuri, yang juga keponakan Raja Prancis dari ayah, sebagai penguasa di sana. Jadi kedua raja tersebut adalah paman dari sisi ibu dan ayahnya—semoga Allah melaknatnya. Ketika ia tiba di Tyre, ia menikahi istri Marquis setelah satu malam kematiannya, padahal perempuan itu sedang hamil. Hal ini karena permusuhan keras antara Raja Inggris dan Marquis. Sultan Salah Al-Din membenci keduanya, tetapi ia pernah bersikap baik kepada Marquis dengan sesuatu, sehingga kematiannya tidak ringan baginya.
Pada tanggal 9 Jumadil Awal, bangsa Franka—semoga Allah melaknat mereka—merebut benteng Ad-Darum, lalu menghancurkannya dan membunuh banyak penduduknya serta menawan sebagian anak-anak. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali). Kemudian mereka maju dengan pasukan kuda dan infanteri mereka menuju Yerusalem yang mulia. Sultan keluar menemui mereka dengan pasukan Iman yang terdiri dari infanteri dan kavaleri, para pahlawan dan pemberani. Ketika kedua pasukan saling berhadapan, pasukan Setan mundur kembali sebelum pertempuran terjadi dan kembali pulang. Sultan kembali ke Yerusalem. Allah telah mengembalikan orang-orang kafir dengan kekecewaan mereka tanpa memperoleh kebaikan, dan Allah mencukupkan orang-orang beriman dalam peperangan. Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa (Q.S. Al-Ahzab: 25).
Kemudian Raja Inggris—semoga Allah melaknatnya—yang merupakan raja terbesar bangsa Franka pada waktu itu, berhasil menyergap sebagian kafilah Muslim. Ia menyerang mereka di malam hari, membunuh banyak dari mereka, menawan 500 tawanan, dan merampas banyak harta, unta, kuda, dan bagal. Jumlah unta yang dirampas mencapai 3.000 ekor. Bangsa Franka menjadi sangat kuat karena perampasan ini. Hal ini sangat menyedihkan Sultan dan ia takut akan akibat buruknya. Raja Inggris mempekerjakan para penggembala untuk unta-unta, para pengendali untuk bagal-bagal, dan para penunggang untuk kuda-kuda. Ia datang dengan semangat yang sangat kuat dan bertekad untuk mengepung Yerusalem. Ia mengirim utusan kepada raja-raja Franka yang berada di pantai untuk memanggil mereka beserta pasukan tempur mereka.
Sultan bersiap untuk menghadapi mereka, menyempurnakan tembok kota, memperbaiki parit-parit, memasang alat-alat dan manjanik, serta memerintahkan untuk menghilangkan sumber-sumber air di sekitar Yerusalem. Sultan mengumpulkan para amirnya pada malam Jumat tanggal 19 Jumadil Akhir, di antaranya Abu Al-Haija As-Samin, Al-Masythub, dan para Asadiyah seluruhnya. Ia bermusyawarah dengan mereka mengenai masalah besar yang menyakitkan ini. Mereka berbicara panjang lebar dan masing-masing menyampaikan pendapatnya. Al-Imad Al-Katib menyarankan agar mereka bersumpah untuk mati di dekat Shakhrah sebagaimana yang dilakukan para Sahabat. Mereka setuju dengan saran tersebut.
Sementara itu Sultan diam, murung, dan berpikir. Para hadirin terdiam seakan-akan ada burung di atas kepala mereka. Kemudian Sultan berkata: “Alhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah (Segala puji bagi Allah dan shalawat serta salam atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam). Ketahuilah bahwa kalian hari ini adalah pasukan Islam dan bentengnya. Kalian tahu bahwa darah, harta, dan keluarga kaum Muslim tergantung pada tanggungjawab kalian. Musuh ini merasa aman dari Muslim kecuali dari kalian. Jika kalian berpaling—na’udzubillah—ia akan menaklukkan negeri-negeri seperti gulungan lembaran untuk kitab. Dan itu akan menjadi tanggungjawab kalian. Karena kalianlah yang menghadapi ini dan kalian yang memakan harta baitul mal. Kaum Muslim di seluruh negeri bergantung pada kalian. Wassalam.”
Saif Al-Din Al-Masythub bangkit untuk menjawabnya dan berkata: “Wahai tuanku, kami adalah budak dan hamba-hambamu. Engkaulah yang telah memberi kami, membesarkan kami, dan memuliakan kami. Kami tidak memiliki apa-apa selain nyawa kami, dan kami ada di hadapanmu. Demi Allah, tidak ada seorang pun dari kami yang akan mundur dari membantumu hingga mati.” Para hadirin berkata seperti yang dikatakan Al-Masythub. Sultan sangat gembira dan hatinya senang. Ia menjamu mereka dengan hidangan yang melimpah. Mereka pulang dengan kesepakatan tersebut.
Kemudian Sultan mendengar dari sebagian amir yang berkata: “Kami khawatir akan terjadi pada kami di negeri ini seperti yang terjadi pada penduduk Akka, kemudian mereka akan mengambil negeri-negeri Islam satu per satu. Kemaslahatan adalah kita bertemu mereka di luar kota. Jika kita mengalahkan mereka, kita ambil sisa negeri mereka. Jika terjadi hal yang lain, pasukan selamat dan Yerusalem akan jatuh. Negeri-negeri Islam pernah rendah tanpa Yerusalem selama masa yang panjang.” Mereka mengirim pesan kepada Sultan: “Jika engkau ingin kami tinggal di Yerusalem di bawah pengepungan Franka, maka jadilah engkau bersama kami atau sebagian keluargamu, agar pasukan berada di bawah perintahmu. Karena orang-orang Kurdi tidak menaati orang-orang Turki dan orang-orang Turki tidak menaati orang-orang Kurdi.”
Ketika berita itu sampai kepadanya, ia sangat sedih dan menghabiskan malamnya dengan penuh kekhawatiran dan kesedihan, memikirkan apa yang mereka katakan. Kemudian masalah itu terselesaikan dengan kesepakatan bahwa Al-Malik Al-Amjad penguasa Baalbek akan tinggal bersama mereka sebagai wakilnya di Yerusalem. Itu terjadi pada siang hari Jumat. Ketika ia datang untuk shalat Jumat dan muadzin mengumandangkan adzan Dzuhur, ia berdiri dan shalat dua rakaat antara dua adzan, kemudian sujud dan berdoa kepada Allah Ta’ala dengan sangat khusyuk. Ia merendahkan diri kepada Tuhannya dan memohon kepada-Nya dalam hati untuk menghilangkan kesulitan besar ini.
Pada hari Sabtu keesokan harinya, datang surat-surat dari penjaga di sekitar kota bahwa bangsa Franka telah berselisih di antara mereka mengenai pengepungan Yerusalem. Raja Prancis berkata: “Kami datang dari negeri-negeri yang jauh dan menghabiskan harta yang banyak untuk membebaskan Baitul Maqdis dan mengembalikannya kepada kami, dan kini hanya tersisa satu perjalanan antara kami dan mereka.” Raja Inggris berkata: “Negeri ini sulit untuk kami kepung karena air di sekitarnya telah habis. Ketika kami mengirim orang untuk membawa air dari jarak yang jauh, pengepungan akan terganggu dan pasukan akan binasa.”
Akhirnya mereka sepakat untuk mengangkat 300 orang dari mereka sebagai juri, yang kemudian menyerahkan keputusan kepada 12 orang, yang kemudian menyerahkan kepada 3 orang. Mereka menghabiskan malam untuk mempertimbangkan, kemudian pagi harinya mereka memutuskan untuk mundur. Mereka tidak bisa menolak keputusan tersebut. Maka mereka mundur—semoga Allah melaknat mereka semua—dan berjalan hingga berkemah di Ramlah. Mereka telah lama dalam keterasingan dan kelelahan. Itu terjadi pada pagi hari tanggal 21 Jumadil Akhir.
Sultan keluar dengan pasukannya ke luar Yerusalem dan berjalan menuju mereka karena takut mereka akan pergi ke Mesir dengan banyaknya kendaraan dan harta yang mereka miliki. Raja Inggris sering menyebutkan hal itu. Namun Allah mengecewakan mereka. Utusan-utusan silih berganti dari Raja Inggris kepada Sultan meminta perdamaian dan gencatan senjata selama tiga tahun, dengan syarat Sultan mengembalikan Asqalan kepada mereka, memberikan mereka gereja Baitul Maqdis yaitu Al-Qumamah (Gereja Makam Suci), dan mengizinkan orang-orang Kristen untuk mengunjungi dan berziarah tanpa bayaran.
Sultan menolak mengembalikan Asqalan tetapi mengizinkan Al-Qumamah dan mewajibkan uang kepada para peziarah yang diambil dari masing-masing dari mereka. Raja Inggris menolak kecuali Asqalan dikembalikan kepada mereka dan temboknya dibangun kembali seperti semula. Sultan tetap pada keputusannya untuk tidak menyetujui.
Kemudian Sultan berkuda hingga tiba di Jaffa dan mengepungnya dengan pengepungan yang keras, lalu menaklukkannya. Pasukannya memperoleh banyak rampasan dari sana. Bentengnya bertahan, tetapi Sultan berusaha keras hingga benteng itu melemah dan hampir menyerah. Mereka hampir mengirimkan kunci-kunci kota kepada Sultan dan meminta jaminan keamanan untuk yang besar dan kecil. Namun saat mereka dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba kapal-kapal Raja Inggris muncul di atas permukaan laut. Semangat mereka menguat dan jiwa mereka memberontak. Raja yang terkutuk itu menyerang dan merebut kembali kota, membunuh Muslim yang tertinggal di sana dengan dipotong lehernya di hadapannya dan mereka juga terbunuh.
Sultan mundur dari posisi pengepungan ke belakangnya karena takut pasukan diserang oleh bangsa Franka. Raja Inggris heran dengan kekuatan serangan Sultan yang bisa menaklukkan kota sebesar itu dalam dua hari, sementara yang lain tidak bisa menaklukkannya dalam dua tahun. Tetapi ia tidak menyangka bahwa meskipun Sultan dengan kehebatan dan ketegasannya akan mundur dari posisinya hanya dengan kedatangan dirinya, sementara ia dan pasukannya baru keluar dari laut tanpa senjata.
Kemudian Raja Inggris mendesak untuk meminta perdamaian dengan syarat Asqalan termasuk dalam perdamaian mereka. Sultan menolak dengan keras. Kemudian Sultan menyergap Raja Inggris pada malam-malam itu ketika ia bersama 17 pasukan kuda dan sedikit infanteri di sekitarnya. Sultan mengepungnya dengan pasukannya, mengepung dengan kepungan yang tidak menyisakan jalan keluar baginya jika pasukan tetap menyerangnya dengan keras. Namun mereka semua mundur dari penyerangan—tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah. Sultan terus mendorong mereka dengan dorongan yang sangat kuat, tetapi mereka semua menolak seperti orang sakit menolak meminum obat.
Sementara itu, Raja Inggris—semoga Allah melaknatnya—telah berkuda bersama para pengikutnya dan mengambil alat-alat perangnya dan tombak-tombaknya. Ia melewati sayap kanan hingga awalnya sampai akhir sayap kiri—maksudnya sayap kanan dan kiri pasukan Muslim—tetapi tidak ada seorang pun dari pasukan berkuda yang maju kepadanya dan tidak ada pahlawan pemberani yang menyambutnya. Maka Sultan mundur kembali dengan sedih karena tidak melihat dari pasukan yang patuh atau mendengar. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali).
Kemudian Raja Inggris mengalami penyakit yang parah setelah itu, dan dia mengirim utusan kepada Sultan meminta buah-buahan dan es. Maka Sultan mengirimkan semua itu kepadanya sebagai tanda kedermawanan, kebaikan, menunjukkan kekuatan dan kemurahan hati. Kemudian dia sembuh – semoga Allah melaknatnya – dan berulang kali dia mengirim utusan meminta perdamaian kepada Sultan, karena sangat rindunya dia kepada negerinya dan kerinduannya pada kenikmatannya. Sultan menyetujui apa yang dia katakan dan melepaskan tuntutannya atas Asqalan (Ashkelon), serta ridha dengan apa yang ditetapkan oleh Sultan. Perjanjian perdamaian ditulis sesuai dengan yang ditetapkan Sultan pada tanggal 18 Sya’ban. Perjanjian dan ikrar ditegaskan dari setiap raja dari raja-raja mereka, uskup dan patriark. Para amir dari kaum muslimin bersumpah dan menuliskan tanda tangan mereka, sedangkan dari Sultan cukup dengan perkataan saja, sebagaimana kebiasaan para sultan. Kedua pihak sangat bergembira dan menunjukkan kebahagiaan. Gencatan senjata berlaku untuk menghentikan perang selama tiga tahun delapan bulan, dan mereka tetap menguasai kota-kota pesisir yang ada di tangan mereka, sedangkan kaum muslimin menguasai kota-kota pegunungan yang berhadapan dengannya, dan wilayah-wilayah yang berada di antara keduanya dibagi menjadi dua. Sultan mengirim seratus tukang tambang bersama seorang amir untuk menghancurkan tembok Asqalan dan mengeluarkan orang-orang Franka dan Jerman yang ada di sana.
Sultan kembali ke Yerusalem yang mulia, lalu mengatur urusan-urusannya dan menetapkannya, membenahi permasalahannya dan menguatkannya. Dia menambah wakaf madrasah dengan pasar beserta toko-tokonya dan tanah beserta kebun-kebunnya, juga menambah wakaf untuk para sufi. Dia bertekad untuk menunaikan ibadah haji tahun itu, maka dia menulis surat ke Hijaz, Yaman, negeri Mesir dan Syam agar mereka mengetahuinya dan bersiap-siap. Namun Al-Qadhi Al-Fadhil menulis surat melarangnya dari hal itu karena khawatir terhadap negeri-negeri, dan mengingatkannya bahwa memperhatikan keadaan kaum muslimin dan memperbaiki urusan mereka yang telah condong kepada kerusakan, menjaga benteng-benteng mereka dan bersabar menghadapi musuh-musuh mereka pada waktu ini, lebih utama bagimu daripada apa yang telah kamu tekadkan di tahun ini, sedangkan musuh yang terhina masih berkemah di Syam dan belum ada satu kapal pun yang berlayar ke negeri mereka, dan kamu tahu bahwa mereka berdamai hanya untuk memperkuat diri dan memperbanyak pasukan, kemudian mereka akan berbuat tipu daya dan khianat.
Sultan mendengarkan nasihatnya dan berterima kasih atas nasihatnya serta menerimanya. Dia bertekad untuk meninggalkan haji tahun itu, dan menuliskan hal tersebut ke seluruh wilayah. Sultan terus tinggal di Yerusalem sepanjang bulan Ramadhan dalam keadaan berpuasa, shalat, dan membaca Quran. Setiap ada pemimpin Nasrani yang datang untuk berziarah, dia memberikan penghormatan dan kebaikan yang sangat besar kepadanya untuk menarik hati mereka, memperkuat sumpah yang telah mereka ikrarkan, dan berharap agar masuk ke dalam hati mereka sedikit iman. Tidak tersisa seorang pun dari raja-raja mereka kecuali datang untuk berziarah ke Gereja Makam Kudus secara menyamar, dan menghadiri jamuan Sultan di antara orang banyak dari mereka tanpa terlihat, sedangkan Sultan sama sekali tidak mengetahui hal itu secara keseluruhan maupun rinci. Karena itulah dia memperlakukan mereka dengan penghormatan dan menunjukkan kepada mereka sikap yang baik, kebaikan yang melimpah, dan naungan yang teduh.
Ketika tiba tanggal 5 Syawal, dia menunggang kuda bersama pasukan dan laskarnya, lalu keluar dari Yerusalem yang mulia menuju Damaskus yang terlindungi. Dia mengangkat Izz Ad-Din Jurdik sebagai wakil di Yerusalem dan Baha Ad-Din Yusuf bin Rafi’ bin Tamim Asy-Syafi’i sebagai qadhi-nya. Dia melewati Wadi Al-Jaib dan bermalam di Birkat Ad-Dawiyah, kemudian pagi harinya tiba di Nablus lalu memeriksa keadaan dan urusannya, kemudian pergi darinya. Dia terus melewati benteng-benteng, perkuatan, dan kota-kota untuk memeriksa keadaan dan harta, mengungkap kezaliman, hal-hal yang diharamkan dan dosa-dosa, serta mengatur kemuliaan. Di tengah perjalanan, datang menghadapnya Baimand penguasa Antiokhia, maka dia menghormatinya dan berbuat baik kepadanya serta memberikan harta yang banyak dan pakaian kebesaran yang indah. Al-Imad Al-Katib berada dalam rombongannya, lalu dia menceritakan tentang tempat-tempat singgahnya dari satu tempat ke tempat lain dan dari satu persinggahan ke persinggahan lain, sampai dia berkata: Pada hari Senin dia menyeberangi Ain Al-Jur menuju Marj Yabus dan ketakutan telah hilang. Di sana datanglah para pembesar Damaskus dan tokoh-tokohnya, orang-orang utama dan mulianya. Kami singgah pada hari Selasa di Al-Arradah, orang-orang yang menyambut datang dengan hadiah dan pemberian sesuai kebiasaan. Pada hari Rabu pagi – yaitu tanggal 16 Syawal pagi – kami masuk ke surga Damaskus dengan selamat dan aman seandainya kami kekal. Kepergian Sultan darinya telah lama, empat tahun. Maka Damaskus mengeluarkan beban-bebannya, menampilkan wanita-wanita dan laki-lakinya. Itu adalah hari perhiasan dan semua orang di kota itu keluar. Orang-orang berkumpul pada waktu dhuha dan menyebarkan kegembiraan dan sukacita. Dia bertemu dengan anak-anaknya yang besar dan kecil, dan utusan raja-raja datang kepadanya dari berbagai negeri. Dia tinggal sepanjang sisa tahunnya berburu dan menghadiri Dar Al-Adl untuk memutuskan perkara serta beramal dengan kebaikan dan keutamaan.
Ketika tiba Hari Raya Kurban, salah seorang penyair memujinya dengan qasidah yang berisi:
Demi dia, kalau bukan karena kedua matanya yang menggoda Aku tidak akan mengatakan puisi percintaan Dan sudah sepatutnya pujian untuk Al-Malik An-Nashir Adalah yang paling utama untuk kupikirkan Raja yang memenuhi kerajaan-kerajaan dengan keadilan Sebagaimana dia meluaskan kebaikan kepada manusia Hari-hari raya datang dengan puasa dan berbuka Dan kamu menemukan kebahagiaan di darat dan di laut Wahai yang menyenangkan ketaatan kepada Allah Ketika raja bersikeras terhadap kesulitan Kamu memperoleh apa yang kamu cari dari agama dan dunia Wahai pemudanya yang di atas raja-raja dan kebanggaan Kamu telah mengumpulkan dua kemuliaan asal dan cabang Dan menguasai dua negeri dunia dan akhirat
Di antara peristiwa yang terjadi pada tahun ini adalah peperangan besar antara penguasa Ghaznah Syihab Ad-Din As-Sabuktikin dengan raja India dan pengikut-pengikutnya yang telah mengalahkannya pada tahun 583. Maka Allah memberikan kemenangan kepadanya atas mereka pada tahun ini, dia mengalahkan mereka, membunuh banyak dari mereka dan menawan banyak orang. Di antara yang ditawan adalah raja mereka yang paling besar dan delapan belas ekor gajah, termasuk yang pernah melukainya. Dia menghadirkan raja itu di hadapannya lalu menghinakannya dan tidak menghormatinya, menguasai bentengnya dan memberitakan tentang apa yang ada di dalamnya dari setiap yang berharga dan remeh, kemudian membunuhnya setelah itu dan kembali ke Ghaznah dalam keadaan ditolong, dimenangkan, gembira dan bahagia.
Pada tahun ini, amir haji di Baghdad – yaitu Tasytikin yang telah menjadi amir haji selama dua puluh tahun dan berada dalam keadaan sangat baik sikapnya – dituduh bahwa dia berkirim surat kepada Shalahuddin bin Ayyub untuk datang ke Irak agar mengambilnya karena tidak ada yang menghalanginya. Padahal itu adalah kebohongan terhadapnya, namun meskipun demikian dia dipenjara, dihinakan dan hartanya disita.
Fasal
Orang-orang terkemuka yang wafat pada tahun ini:
Al-Qadhi Syams Ad-Din Muhammad bin Muhammad bin Musa
Yang dikenal dengan Ibn Al-Farrasy, dia adalah qadhi pasukan di Damaskus. Sultan mengirimnya dalam misi keduataan ke raja-raja di berbagai penjuru. Dia wafat di Malatyah dalam perjalanan kembali dari Bani Qilij.
Saif Ad-Din Ali bin Ahmad Al-Masytub
Dia adalah salah seorang pengikut Asad Ad-Din Syirkuh, hadir bersamanya dalam tiga peperangan di Mesir, kemudian menjadi salah seorang amir besar Shalahuddin. Dialah yang menjadi wakil di Akka ketika diambil oleh orang-orang Franka, lalu mereka menawannya bersama orang-orang yang ditawan. Dia menebus dirinya dengan lima puluh ribu dinar dan bebas hingga sampai kepada Sultan yang berada di Yerusalem. Sultan memberikan sebagian besar darinya dan mengangkatnya sebagai wakil Nablus. Wafatnya pada hari Ahad tanggal 23 Syawal di Yerusalem yang mulia dan dikubur di rumahnya.
Penguasa negeri Rum, Izz Ad-Din Qilij Arslan bin Mas’ud bin Qilij Arslan
Dia telah membagikan semua negerinya kepada anak-anaknya dengan harapan mereka taat kepadanya, namun mereka menentangnya, berbuat sewenang-wenang dan durhaka kepadanya, merendahkan kedudukannya dan meninggikannya. Dia tetap dalam keadaan seperti itu hingga wafat pada tahun ini.
Pada bulan Rabi’ul Akhir wafat sastrawan dan penyair Abu Al-Murhaf Nashr bin Manshur An-Numairi
Dia mendengar hadits dan belajar sastra. Dia terkena cacar ketika berusia empat belas tahun, maka penglihatannya sangat berkurang. Dia tidak dapat melihat benda-benda yang jauh, tetapi dapat melihat yang dekat darinya namun tidak memerlukan penuntun. Dia pergi ke Irak untuk mengobati matanya, tetapi dokter-dokter membuatnya putus asa dari hal itu. Maka dia sibuk menghafal Quran dan bergaul dengan orang-orang shalih dan zahid, lalu dia berhasil. Dia memiliki diwan syair yang besar dan bagus. Pernah dia ditanya tentang mazhabnya dan keyakinannya, maka dia bersyair:
Aku mencintai Ali, Al-Batul (Fatimah) dan anak-anaknya Dan tidak mengingkari kedua Syaikh atas keutamaan pendahuluan Dan aku berlepas diri dari orang yang menyakiti Utsman Sebagaimana aku berlepas diri dari kesetiaan kepada Ibnu Muljam Dan aku kagum dengan ahli hadits karena kejujuran mereka Maka aku tidak bergabung dengan kaum selain mereka
Wafatnya di Baghdad dan dikubur di makam para syuhada di Bab Harb, semoga Allah merahmatinya.
Kemudian Masuk Tahun Lima Ratus Delapan Puluh Sembilan
Pada tahun ini terjadi wafatnya Al-Malik An-Nashir Shalahuddin, semoga Allah merahmatinya.
Tahun ini dimulai sedangkan dia dalam keadaan sangat sehat dan selamat. Dia keluar bersama saudaranya Al-Adil Abu Bakr untuk berburu di timur Damaskus. Telah disepakati antara dia dan saudaranya bahwa setelah selesai urusan dengan orang-orang Franka selama ini, dia akan pergi ke negeri Rum dan mengirim saudaranya ke Khlat. Apabila mereka berdua selesai dari urusan mereka, mereka akan pergi bersama-sama ke negeri Azerbaijan dan negeri Ajam, karena tidak ada seorang pun di sana yang menghalanginya. Ketika jamaah haji tiba dari Hijaz yang mulia pada hari Senin tanggal 11 Safar, Sultan keluar untuk menyambut mereka. Anak saudaranya Saif Al-Islam penguasa Yaman datang bersama mereka, maka dia menghormatinya dan mengagungkannya, lalu kembali ke benteng yang ditolong (Al-Qal’ah Al-Manshurah), masuk melalui pintu besi. Itulah terakhir kalinya dia menunggang kuda di dunia ini. Kemudian dia terserang demam kuning pada malam Sabtu tanggal 16 Safar. Ketika pagi tiba, Al-Qadhi Al-Fadhil, Ibnu Syaddad dan anaknya Al-Afdhal masuk menemuinya. Dia mulai mengeluh kepada mereka tentang kegelisahannya semalam. Dia merasa senang berbincang-bincang dan majlis mereka berlangsung lama di sisinya. Kemudian penyakitnya bertambah dan terus berlanjut. Para dokter memeriksa dia pada hari keempat, lalu dia mengalami dehidrasi dan keringat yang sangat deras hingga menembus ke lantai. Dehidrasi semakin kuat, maka para amir dari pembesar-pembesar dihadirkan. Anaknya Al-Afdhal Nur Ad-Din Ali dibai’at sebagai wakil di Damaskus ketika tanda-tanda kelemahan yang sangat parah muncul dan hilangnya kesadaran di beberapa waktu. Orang-orang yang masuk menemuinya dalam keadaan ini adalah Al-Qadhi Al-Fadhil, Ibnu Syaddad, qadhi negeri Ibnu Az-Zaki. Keadaan semakin memburuk pada malam Rabu tanggal 27 Safar. Dia memanggil Syaikh Abu Ja’far imam Al-Kalasah untuk bermalam di sisinya membaca Quran dan mentalqinkannya syahadat ketika keadaan mendesak. Dia menyebutkan bahwa dia membaca di sisinya sedangkan dia dalam sakaratul maut. Ketika dia membaca: “Dialah yang tiada tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata” (Surat Al-Hasyr:22), dia berkata: “Benar demikian.” Ketika azan Subuh tiba, Al-Qadhi Al-Fadhil datang lalu masuk menemuinya sedangkan dia dalam nafas terakhir. Ketika pembaca membaca: “Tiada tuhan selain Dia, kepada-Nya aku bertawakal” (Surat At-Taubah:129), dia tersenyum, wajahnya cerah dan menyerahkan rohnya kepada Tuhannya Yang Maha Suci. Dia wafat, semoga Allah merahmatinya, memuliakan tempat kembalinya dan menjadikan surga Firdaus sebagai tempat tinggalnya. Usianya adalah lima puluh tujuh tahun, karena dia lahir di Tikrit pada bulan-bulan tahun 532, semoga Allah merahmatinya. Sungguh dia adalah pelindung bagi Islam dan benteng serta perlindungan dari tipu daya orang-orang kafir yang hina. Penduduk Damaskus tidak pernah mendapat musibah seperti musibahnya. Setiap orang dari mereka berharap seandainya bisa menebusnya dengan anak-anak, orang-orang yang dicintai dan teman-temannya. Pasar-pasar ditutup dan khazanah dijaga ketat. Kemudian mereka mulai mengurus jenazahnya dan memandikannya. Semua anak-anaknya dan keluarganya hadir, dan berat bagi mereka untuk mendatangkan yang sepertinya. Yang memandikannya adalah khatib negeri, faqih Ad-Dula’i. Yang menghadirkan kafan dan biaya pengurusan jenazah adalah Al-Qadhi Al-Fadhil dari harta halalnya sendiri. Ini sementara anak-anaknya yang besar dan kecil keluar dan memanggil-manggil serta menangis, sedangkan manusia dalam ratapan, tangisan dan permohonan. Kemudian dia dikeluarkan dalam keranda setelah shalat Dhuhur dan orang-orang dishalatkan olehnya oleh Al-Qadhi Ibnu Az-Zaki. Kemudian dikubur di rumahnya di benteng yang ditolong. Anaknya mulai membangun makam untuknya dan madrasah untuk Syafi’iyah di dekat Masjid Al-Qadam sesuai wasiatnya dahulu, tetapi pembangunannya tidak selesai dan tidak sempurna. Itu adalah ketika anaknya Al-Aziz datang dan mengepung saudaranya Al-Afdhal sebagaimana akan dijelaskan nanti pada tahun 590. Kemudian Al-Afdhal membeli untuknya rumah di sebelah utara Al-Kalasah di Wizzan, sebanding dengan yang ditambahkan Al-Qadhi Al-Fadhil di Al-Kalasah, lalu menjadikannya makam baginya. Semoga awan-awan rahmat turun ke atasnya dan limpahan kasih sayang sampai kepadanya. Pemindahannya ke sana pada hari Asyura tahun 592. Dishalatkan untuknya di bawah An-Nasr oleh Qadhi Al-Qudhah Muhammad bin Ali Al-Qurasyi Ibnu Az-Zaki atas izin Al-Afdhal kepadanya. Yang masuk ke liang lahadnya adalah anaknya Al-Afdhal, dia yang menguburkannya dengan tangannya sendiri sedangkan dia pada hari itu adalah sultan Syam, itu karena haknya atas dia, pelayanan dan penghormatan. Dikatakan: Dia dikubur bersamanya pedangnya yang biasa dia hadiri untuk jihad dan pertempuran, itu atas perintah Al-Qadhi Al-Fadhil salah seorang yang dermawan dan mulia. Mereka mengambil firasat bahwa pedang itu akan bersamanya pada hari kiamat, dia bersandar padanya hingga masuk surga karena karunia yang telah diberikannya yaitu mengalahkan musuh-musuh dan menolong wali-wali Allah, dan paling besar karunia itu baginya. Kemudian tahlilan untuknya diadakan di Masjid Umawi selama tiga hari, dihadiri oleh orang-orang khusus dan umum, rakyat dan para hakim. Para penyair telah membuat banyak martsiyah untuknya. Di antara yang paling bagus adalah yang dibuat oleh Al-Imad Al-Katib di akhir kitabnya Al-Barq Asy-Syami, yaitu dua ratus tiga puluh dua bait. Syaikh Syihab Ad-Din Abu Syamah telah menyusunnya dalam Ar-Raudhatain. Di antaranya ucapannya di awal:
Petunjuk telah menyeluruh dan kerajaan telah merata penyebarannya… sedangkan zaman telah menjadi buruk dan kebaikan-kebaikannya telah berkurang Di mana orang yang sejak dahulu selalu ditakuti… yang diharapkan rasa takut dan pemberian-pemberiannya Di mana orang yang ketaatan-ketaatan kita untuknya… tercurahkan dan ketaatan-ketaatannya untuk Tuhannya Demi Allah di mana raja penolong yang… niat-niatnya ikhlas karena Allah semata Di mana orang yang senantiasa menjadi sultan bagi kita… yang panggilannya diharapkan dan kekuasaannya ditakuti Di mana orang yang telah memuliakan zaman dengan keutamaannya… dan penghormatan-penghormatan darinya tinggi di atas orang-orang yang mulia Di mana orang yang bangsa Franka tunduk pada kehebatannya… dengan hina dan dengannya (sultan) balas dendam terhadap mereka tercapai Pedang-pedangnya adalah belenggu di leher-leher musuh… pemberian-pemberiannya adalah kalung di leher-leher manusia
Dan Imaduddin al-Katib menulis ratapan untuk Malik an-Nashir: Siapa untuk kemuliaan, siapa untuk kedudukan tinggi, siapa untuk petunjuk… yang melindunginya, siapa untuk keberanian, siapa untuk kemurahan Ia meminta keabadian kerajaannya pada yang akan datang… karena ia tidak yakin dengan keabadian kerajaan yang cepat berlalu Lautan yang telah menjadikan daratan sebagai laut dengan kemurahannya… dan dengan pedangnya wilayah-wilayah pesisir ditaklukkan Orang yang pada zamannya adalah ahli kebenaran… dan dengan kekuasaannya mengalahkan ahli kebatilan Penaklukan-penaklukannya dengan al-Quds sebagai permata mahkotanya… meninggalkan keutamaan baginya tanpa ada yang menandingi Aku tidak akan meminta hujan deras untuk kuburmu… karena aku melihat kemurahanmu telah membuat hujan deras malu Maka semoga Ridwan, malaikat Surga, memberimu minum karena sesungguhnya aku… tidak rela dengan siraman hujan yang turun
Penyebutan Harta Peninggalannya dan Sedikit Biografinya
Al-Imad dan lainnya mengatakan: Ia tidak meninggalkan di dalam perbendaharaannya dari emas kecuali satu dinar Shuri dan tiga puluh enam dirham. Yang lain mengatakan: empat puluh tujuh dirham, dan ia tidak meninggalkan rumah, tanah, perkebunan, kebun, atau apa pun dari berbagai jenis harta benda. Ini padahal ia memiliki tujuh belas anak laki-laki dan satu anak perempuan, dan telah meninggal untuknya beberapa anak lainnya selama hidupnya. Yang hidup setelahnya enam belas anak laki-laki, yang tertua adalah al-Malik al-Afdal Nuruddin Ali, lahir di Mesir tahun 565 pada malam Idul Fitri, kemudian al-Aziz Imaduddin Abu al-Fath Utsman lahir di Mesir juga pada Jumadil Awal tahun 567, kemudian adh-Dhafir Muzaffaruddin Abu al-Abbas al-Khidr, lahir di Mesir pada Syaban tahun 568, dan ia adalah saudara sekandung al-Afdal, kemudian adh-Dhahir Ghiyatsuddin Abu Manshur Ghazi, lahir di Mesir pertengahan Ramadan tahun 568, kemudian al-Muizz Fathuddin Abu Yaqub Ishaq, lahir di Damaskus pada Rabiul Awal tahun 570, kemudian Najmuddin Abu al-Fath Mas’ud, lahir di Damaskus tahun 571, dan ia adalah saudara sekandung al-Aziz, kemudian al-Agharr Syarafuddin Abu Yusuf Yaqub, lahir di Mesir tahun 572, dan ia juga saudara sekandung al-Aziz, kemudian az-Zahir Mujiruddin Abu Sulaiman Dawud, lahir di Mesir tahun 573, dan ia adalah saudara sekandung adh-Dhahir, kemudian Abu al-Fadl Quthbuddin Musa, dan ia adalah saudara sekandung al-Afdal, lahir di Mesir tahun 573 juga, kemudian diberi gelar al-Muzaffar, kemudian al-Asyraf Muizzuddin Abu Abdullah Muhammad, lahir di Syam tahun 575, kemudian al-Muhsin Dhahiruddin Abu al-Abbas Ahmad; lahir di Mesir tahun 577, dan ia adalah saudara sekandung yang sebelumnya, kemudian al-Muadhdham Fakhruddin Abu Manshur Turansyah, lahir di Mesir pada Rabiul Awal tahun 577, dan wafatnya terlambat hingga tahun 658, kemudian al-Jawwal Ruknuddin Abu Said Ayyub lahir tahun 578, dan ia adalah saudara sekandung al-Muizz, kemudian al-Ghalib Nashiruddin Abu al-Fath Maliksyah, lahir pada Rajab tahun 578 dan ia adalah saudara sekandung al-Muadhdham, kemudian al-Manshur Abu Bakr saudara al-Muadhdham dari kedua orang tuanya, lahir di Harran setelah wafat Sultan, kemudian Imaduddin Syazi dari ibu budak, dan Nashratuddin Marwan juga dari ibu budak. Adapun anak perempuannya adalah Munisat Khatun yang menikahi sepupunya al-Malik al-Kamil Muhammad bin al-Adil Abu Bakr bin Ayyub, rahimahullah Ta’ala.
Alasan ia tidak meninggalkan harta dan kepemilikan adalah karena banyaknya pemberian-pemberian, hadiah-hadiah, sedekah-sedekahnya, dan kebaikannya kepada para amir, menteri-menterinya, wali-walinya, bahkan kepada musuh-musuhnya, dan kami telah menyebutkan sebelumnya hal-hal yang menunjukkan banyak dari itu, rahimahullah. Ia adalah orang yang sederhana dalam pakaian, makanan, minuman, dan kendaraannya, tidak mengenakan kecuali katun, linen, dan wol, dan tidak diketahui bahwa ia melakukan hal yang makruh setelah Allah memberikan kepadanya kerajaan, bahkan perhatian terbesarnya dan tujuan terbesar adalah menolong Islam, mengalahkan musuh-musuh yang hina, dan ia mencurahkan pikirannya dalam hal itu dengan pendapatnya sendiri bersama orang yang ia percayai pendapatnya, siang dan malam, secara rahasia dan terang-terangan.
Ini di samping apa yang ada padanya dari keutamaan-keutamaan dan fadilah-fadilah, manfaat-manfaat yang berharga, dalam bahasa dan sastra, serta sejarah manusia, hingga dikatakan bahwa ia menghafal al-Hamasah seluruhnya dari awal hingga akhir. Ia rajin melaksanakan shalat pada waktunya berjamaah, dikatakan bahwa shalat berjamaah tidak pernah luput darinya dalam waktu yang lama sebelum wafatnya, bahkan tidak pada saat sakitnya menjelang wafat, imam masuk dan mengimaminya shalat, maka ia berusaha berdiri meskipun dalam keadaan lemah, rahimahullah.
Ia memahami apa yang dibicarakan di hadapannya dari penelitian dan perdebatan, dan turut berpartisipasi dalam itu dengan partisipasi yang baik dan dekat, meskipun tidak dengan ungkapan istilah yang disepakati. Al-Quthb an-Naisaburi telah mengumpulkan untuknya sebuah aqidah yang ia hafalkan, dan ia mengajarkannya kepada anak-anaknya yang berakal. Ia suka mendengar al-Quran yang agung, dan rajin mendengar hadits hingga ia pernah mendengar satu juz saat berada di antara barisan pasukan, maka ia berbangga dengan itu dan berkata: Ini adalah tempat di mana tidak ada seorang pun yang mendengar hadits di tempat seperti ini. Dan itu atas isyarat Imaduddin al-Katib.
Ia adalah orang yang lembut hatinya, cepat meneteskan air mata saat mendengar hadits, sangat mengagungkan syiar-syiar agama. Pernah melarikan diri kepada anaknya adh-Dhahir yang ada di Aleppo, seorang pemuda bernama Syihabuddin as-Suhrawardi, yang mengetahui alkimia dan sedikit trik sulap, dan pintu-pintu tipu daya. Maka anak Sultan adh-Dhahir terpesona padanya, mendekatkannya dan menyukainya, dan menentang dalam hal itu para pembawa syariat. Maka Sultan mengiriminya surat agar membunuhnya tanpa ampun, lalu ia menyalibnya atas perintah ayahnya dan memamerkannya. Dikatakan: ia malah memenjarakannya di antara dua dinding hingga mati tertekan, dan itu pada tahun 586 Hijriah.
Sultan Salahuddin, rahimahullah, adalah termasuk orang yang paling berani dan paling kuat fisik dan hatinya, di samping penyakit-penyakit dan kelemahan yang menimpa tubuhnya, khususnya saat ia bersiaga, bersabar, dan gigih di Akka; karena ia dengan banyaknya pasukan dan bantuan mereka tidak menambahkan padanya kecuali kekuatan dan keberanian, dan pasukan mereka telah mencapai lima ratus ribu prajurit, dan dikatakan: enam ratus ribu. Dan jumlah yang terbunuh dari mereka adalah seratus ribu prajurit. Ketika keadaan berakhir, dan mereka menguasai Akka dan membunuh sebagian besar yang ada di dalamnya, dan mereka bergerak semuanya menuju Baitul Maqdis; ia terus mengikuti mereka dari satu tempat ke tempat lainnya, dari satu perjalanan ke perjalanan lain, sementara pasukan mereka berlipat ganda dari yang bersamanya, dan dengan ini Allah menolongnya dan mengalahkan mereka, membantunya dan membunuh mereka, dan ia mendahului mereka sampai ke Baitul Maqdis, maka ia menjaganya dan melindunginya, memperkuat bangunannya, mengokohkan tiang-tiangnya, menjaga wilayahnya dan ia terus dengan pasukannya tinggal di sana menakut-nakuti mereka dan membuat mereka ketakutan, mengalahkan mereka dan merampas harta mereka, mengalahkan mereka dan menawan mereka, hingga mereka merendahkan diri kepadanya, dan tunduk di hadapannya, dan memohon kepadanya agar berdamai dengan mereka dan meninggalkan mereka, dan perang menghentikan beban-bebannya antara mereka dan dia, maka ia menjawab permintaan mereka sesuai dengan cara yang ia inginkan, bukan yang mereka inginkan. Dan itu termasuk rahmat yang dikhususkan untuk orang-orang beriman; karena tidak berlalu tahun-tahun itu hingga negeri-negeri dikuasai oleh saudaranya Abu Bakr al-Adil, maka dengan dia kaum Muslim menjadi mulia, dan dengan dia orang-orang kafir menjadi hina.
Ia rahimahullah adalah orang yang dermawan, mulia, pemalu, banyak senyum, banyak berseri-seri wajahnya, tidak jemu melakukan kebaikan, sangat sabar dan gigih dalam kebaikan-kebaikan dan ketaatan, maka rahimahullah, dan semoga Allah menempatkannya di surga. Syaikh Syihabuddin Abu Syamah telah menyebutkan bagian yang baik dari sejarah hidupnya dan masa-masanya, keadilannya dalam rahasia dan terang-terangan, dan keputusan-keputusannya.
Pasal
Sultan al-Malik Salahuddin telah membagi negeri-negeri di antara anak-anaknya, maka Mesir untuk anaknya al-Aziz Imaduddin Utsman Abu al-Fath, dan negeri Damaskus dan sekitarnya untuk anaknya al-Afdal Nuruddin Ali, dan ia adalah yang tertua dari semua anaknya, dan kerajaan Aleppo untuk anaknya adh-Dhahir Ghazi Ghiyatsuddin, dan untuk saudaranya al-Adil Karak dan Syaubak dan wilayah Ja’bar dan banyak wilayah yang memotong Sungai Furat, dan Hamah dan wilayah lain bersamanya untuk al-Malik al-Manshur Muhammad bin Taqiyuddin Umar bin keponakan Sultan, dan Homs dan ar-Ruhbah dan lainnya untuk Asaduddin bin Syirkuh bin Nashiruddin Muhammad bin Asaduddin Syirkuh al-Kabir, paman Salahuddin saudara ayahnya Najmuddin Ayyub, dan Yaman dengan benteng-benteng dan wilayah-wilayahnya semuanya dalam kekuasaan Sultan Dhahiruddin Saifil Islam Thughtakin bin Ayyub saudara Sultan Salahuddin, dan Baalbek dan wilayahnya untuk al-Amjad Bahram Syah bin Farrukhsyah, dan Bushra dan wilayahnya untuk adh-Dhafir bin an-Nashir. Kemudian urusan-urusan setelah kematian Salahuddin mulai bergejolak dan berbeda dan memburuk dalam semua keadaan ini, hingga urusan berakhir pada apa yang terjadi, kerajaan-kerajaan menjadi stabil, dan perkumpulan-perkumpulan berkumpul pada saudara Sultan, al-Malik al-Adil, dan kerajaan berada di tangan anak-anaknya yang mulia dan utama, sebagaimana akan kami jelaskan nanti, insya Allah Ta’ala.
Pada tahun ini Khalifah an-Nashir Lidinillah memperbaharui perpustakaan buku-buku Madrasah Nizhamiyah di Baghdad, dan memindahkan ke dalamnya ribuan buku-buku bagus yang berharga.
Terjadi di Baghdad pada bulan Muharram tahun ini kejadian yang aneh; yaitu anak perempuan seorang pedagang tepung jatuh cinta pada budak ayahnya, ketika ayahnya mengetahui urusannya ia mengusir budak itu dari rumahnya, maka anak perempuan itu berjanji dengannya pada suatu malam, lalu ia datang dengan sembunyi-sembunyi, maka ia meninggalkannya di sebagian rumah, dan turun pada pertengahan malam, lalu membunuh ayahnya yang adalah tuannya, dan anak perempuan itu memerintahkannya membunuh ibunya, maka ia membunuhnya dalam keadaan hamil, dan anak perempuan itu memberikan kepadanya perhiasan senilai dua ribu dinar. Pagi harinya urusannya diketahui polisi maka ia ditangkap dan dibunuh semoga Allah melaknatnya dan ia. Tuannya adalah termasuk orang yang paling baik, paling banyak sedekah dan kebaikannya, dan ia adalah pemuda yang tampan wajahnya, rahimahullah. Pada tahun ini mengajar di Madrasah al-Jadidah di makam Ma’ruf al-Karkhi Syaikh Abu Ali an-Nuqani, dan hadir di sisinya para qadhi dan tokoh-tokoh, dan diadakan di sana jamuan meriah.
Di Antara yang Wafat pada Tahun Ini dari Tokoh-tokoh:
Sultan Salahuddin Yusuf bin Ayyub bin Syazi
Dan itu telah disebutkan sebelumnya secara rinci.
Amir Baktamar Penguasa Khilat
Dibunuh pada tahun ini dan ia termasuk raja-raja terbaik, paling berani, dan paling baik perilakunya, rahimahullah.
Atabik Izzuddin Mas’ud bin Maudud bin Zanki
Penguasa Mosul sekitar tiga belas tahun, dan ia termasuk raja-raja terbaik dan paling baik perilakunya, ia meniru al-Malik al-Adil Nuruddin pamannya dan dimakamkan di makamnya di madrasah yang ia dirikan di Mosul, semoga Allah membalasnya.
Ja’far bin Muhammad bin Quthairah, Abu al-Hasan
Salah satu penulis di Irak, ia dinisbahkan kepada Syiah, dan ini banyak pada penduduk negeri-negeri itu, semoga Allah tidak memperbanyak orang-orang seperti mereka dan sejenisnya di kalangan Muslim. Datang kepadanya seorang laki-laki suatu hari lalu berkata kepadanya: Aku melihat tadi malam Amirul Mukminin Ali dalam mimpi dan ia berkata kepadaku: Pergi kepada Ibnu Quthairah, katakan kepadanya memberimu sepuluh dinar. Maka Ibnu Quthairah berkata kepadanya: Kapan kamu melihatnya? Ia berkata: Awal malam. Ia berkata: Aku melihatnya di akhir malam, maka ia berkata kepadaku: Jika datang kepadamu seorang laki-laki dengan ciri-ciri begini dan begini, lalu meminta sesuatu darimu maka jangan memberinya. Maka laki-laki itu berpaling pergi, lalu ia memanggilnya dan memberikan kepadanya sesuatu. Dan dari syairnya sebagaimana disebutkan Ibnu as-Sa’i, dan telah disebutkan sebelumnya oleh yang lain:
Dan ketika aku meneliti manusia mencari dari mereka… saudara yang dapat dipercaya saat kesulitan datang Dan aku berpikir tentang hariku saat senang dan susah… dan memanggil di antara yang hidup adakah yang menolong Maka aku tidak melihat dalam kesusahanku kecuali orang yang gembira… dan tidak melihat dalam kegembiraanku kecuali orang yang iri
Yahya bin Said bin Ghazi
Abu al-Abbas al-Bashri penulis al-Maqamat, ia adalah penyair sastrawan yang cerdas dan fasih, memiliki keahlian tinggi dalam bahasa dan puisi, dan dari syairnya adalah ucapannya:
Nyanyian gadis mengalir lembutnya… tanpa susah payah di setiap telinga Tidak pernah ditolak pintu pendengaran… dan tidak pernah datang sebagai tamu dengan izin
Sayyidah Zubaidah
Binti Imam al-Muqtafi Liamrillah, saudari al-Mustanjid, bibi al-Mustadhi, ia telah hidup lama sekali, dan memiliki sedekah-sedekah banyak yang mengalir. Sultan Mas’ud pernah menikahinya dengan mahar seratus ribu dinar, lalu ia wafat sebelum menggaulinya, padahal ia tidak suka akan hal itu, maka tujuannya tercapai.
Wanita Salihah Fatimah Khatun
Wanita salihah Fatimah Khatun binti Muhammad bin Hasan al-‘Amid, adalah wanita yang salihah, ahli ibadah, dan zuhud. Ia berumur seratus enam tahun. Ia menikah pada masa Amir al-Juyusy Nazhar ketika masih perawan, dan tetap bersamanya hingga suaminya meninggal. Setelah itu ia tidak menikah lagi, bahkan ia menyibukkan diri dengan berdzikir kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi serta beribadah. Semoga Allah merahmatinya.
Pada tahun ini, Khalifah an-Nashir Lidinillah al-‘Abbasi mengutus kepada Syaikh Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi memintanya agar menambahkan syair-syair yang sesuai pada bait-bait terkenal karya ‘Adi bin Zaid, meskipun sampai sepuluh jilid. Bait-bait tersebut adalah:
Wahai engkau yang mencemooh dan mencela nasib Apakah engkau yang terbebas dan terpelihara?
Atau apakah engkau memiliki janji yang kokoh dari hari-hari, bahkan engkau orang yang bodoh dan tertipu
Siapakah yang engkau lihat takdir telah mengabadikannya, atau siapakah yang ia memiliki pelindung dari tertindas?
Di manakah Kisra, Kisra para raja, Abu Sa san, atau di manakah sebelum dia Sabur?
Dan Bani al-Ashfar para raja, raja-raja Rum tidak tersisa dari mereka yang disebutkan
Dan saudara al-Hadhr ketika ia membangunnya dan ketika Daj lah mengalir kepadanya dan Khabur
Ia membangunnya dengan marmer dan melapisinya dengan sel sa sehingga burung-burung bersarang di puncaknya
Tidak takut oleh bencana takdir, maka lenyap kerajaan darinya sehingga pintunya ditinggalkan
Dan ingatlah penguasa Khawarnaq ketika ia naik suatu hari dan untuk petunjuk ia merenung
Senang hatinya dengan keadaannya dan banyaknya apa yang ia miliki dan laut terbentang serta as-Sadir
Maka sadar hatinya dan berkata: dan tidaklah bodoh orang hidup bahwa ia akan menuju kematian
Kemudian setelah kejayaan, kerajaan, dan kekuasaan an, mereka dikuburkan di sana, di kuburan
Kemudian mereka menjadi seperti dedaunan ke ring yang diterpa angin Shaba dan Dabur
Namun hari-hari mengkhususkan bagi seseo rang dan di dalamnya, demi umurku, terdapat pelajaran dan renungan
Ketika al-Malik al-Afdhal bin Salahuddin menempati posisi ayahnya di Damaskus, ia mengirimkan hadiah-hadiah tahunan yang berisi barang-barang istimewa ke pintu Kekhalifahan, di antaranya adalah senjata ayahnya, kuda yang biasa ditunggangi ayahnya dalam peperangan, dan banyak barang lainnya. Di antaranya adalah Salib Shalibut yang dirampas ayahnya dari Franka pada Perang Hittin, yang berisi emas lebih dari dua puluh rathl dan dihiasi dengan permata-permata berharga, serta empat budak wanita dari putri-putri raja Franka. Al-‘Imad al-Katib menulis untuknya surat yang sangat bagus yang berisi ucapan takziah atas ayahnya dan permohonan kepada Khalifah agar ia menjadi penerus kerajaan ayahnya. Maka permintaan itu dikabulkan.
Ketika tiba bulan Jumadal Ula, al-‘Aziz penguasa Mesir datang ke Damaskus untuk mengambilnya dari saudaranya al-Afdhal. Ia berkemah di al-Kiswa pada hari Sabtu tanggal 6 Jumada dan mengepung kota. Saudaranya melawannya dan mempertahankan kota, sehingga sungai-sungai diputus dan buah-buahan dijarah. Keadaan menjadi sangat buruk. Kondisi terus seperti itu hingga datang al-‘Adil, paman mereka, yang mendamaikan mereka dan mengembalikan kerukunan setelah ada sumpah bahwa al-‘Aziz akan mendapatkan Baitul Maqdis dan daerah sekitar Palestina, bahwa Jubailah dan Ladziqqiyah menjadi milik adh-Dhahir penguasa Aleppo, dan bahwa paman mereka al-‘Adil mendapatkan wilayah lamanya di tanah Mesir ditambah dengan wilayahnya di Syam dan Jazirah seperti Harran, ar-Ruha, Ja’bar, dan sekitarnya. Mereka sepakat tentang hal itu. Al-‘Aziz menikahi putri pamannya al-‘Adil. Ia sakit kemudian sembuh saat berkemah di Marj ash-Shaffar. Para raja keluar untuk mengucapkan selamat kepadanya atas kesembuhannya, pernikahannya, dan perdamaian. Kemudian ia kembali ke Mesir karena sangat rindu kepada keluarga dan anak-anaknya.
Al-Afdhal setelah kematian ayahnya telah buruk dalam pengelolaan negara. Ia menjauhkan para panglima dan orang-orang terdekat ayahnya, mendekatkan orang-orang asing, dan mulai minum khamr serta bermain-main. Wazirnya Dhiya’uddin Ibnu al-Atsir al-Jazari menguasainya, dan dialah yang mendorongnya ke arah itu sehingga ia rusak dan merusaknya, menyesatkan dan menyesatkannya. Nikmat hilang dari mereka berdua, sebagaimana akan disebutkan kemudian.
Pada tahun ini terjadi pertempuran besar antara Syihabuddin malik Ghaznah dengan orang-orang kafir India. Mereka datang menyerangnya dengan satu juta prajurit dan membawa tujuh ratus gajah termasuk seekor gajah putih yang belum pernah terlihat sepertinya. Syihabuddin mengalahkan mereka di dekat sungai besar yang disebut Majun. Raja mereka terbunuh, Syihabuddin menguasai harta bendanya dan harta negerinya, mendapat rampasan gajah-gajah mereka, dan masuk ke ibukota raja tersebut. Ia mengangkut dari perbendaharaan raja itu emas dan lainnya dengan seribu empat ratus ekor unta, kemudian kembali ke negerinya dengan selamat dan penuh kemenangan.
Pada tahun ini Sultan Khwarizm Syah Takasy yang juga disebut Ibnu al-Ashba’i menguasai negeri ar-Rayy dan lainnya, berdamai dengan Sultan Thughrul as-Saljuqi. Ia telah menguasai negeri ar-Rayy dan seluruh kerajaan saudaranya Sultan Syah beserta perbendaharaannya, dan kedudukannya menjadi besar. Kemudian ia bertemu dengan Sultan Thughrul pada bulan Rabiul Awwal tahun ini. Sultan Thughrul terbunuh dan kepalanya dikirim ke Khalifah, lalu digantung di pintu an-Nubah beberapa hari. Khalifah mengirimkan pakaian kebesaran dan pengangkatan kepada Sultan Khwarizm Syah, yang menguasai Hamadzan dan negeri-negeri luas lainnya.
Pada tahun ini Khalifah marah kepada Syaikh Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi, murka kepadanya, dan mengasingkannya ke Wasith. Ia tinggal lima hari tanpa bisa makan apapun, dan menetap di sana selama lima tahun melayani dirinya sendiri, menimba air dari sumur yang dalam untuk keperluannya sendiri. Ia adalah seorang syaikh tua yang telah mencapai usia delapan puluh tahun. Ia membaca satu khatam Al-Qur’an setiap siang dan malam. Ia berkata: “Aku tidak membaca Surah Yusuf karena rasa rinduku kepada anakku Yusuf hingga Allah memberikan kelapangan.” Sebagaimana akan disebutkan kemudian, insya Allah.
Pada tahun ini meninggal beberapa tokoh:
Ahmad bin Isma’il bin Yusuf
Abu al-Khair al-Qazwini asy-Syafi’i al-Mufassir. Ia datang ke Baghdad dan berceramah di an-Nizhamiyyah. Ia menganut pendapat al-Asy’ari dalam ushul. Ia duduk pada hari Asyura, lalu dikatakan kepadanya: “Laknatilah Yazid bin Mu’awiyah.” Maka ia berkata: “Itu adalah imam yang berijtihad.” Orang-orang melempar dia dengan batu bata, lalu ia bersembunyi, kemudian melarikan diri ke Qazwin.
Ibnu asy-Syathibi; Pencipta asy-Syathibiyyah
Abu Muhammad al-Qasim bin Firrah bin Abi al-Qasim Khalaf bin Ahmad, ar-Ru’aini asy-Syathibi adh-Dharir (yang buta), penyusun asy-Syathibiyyah tentang qira’at tujuh. Tidak ada yang mendahuluinya dalam hal ini dan tidak ada yang menyamainya. Di dalamnya terdapat simbol-simbol yang merupakan harta karun yang hanya bisa dipahami oleh setiap orang yang ahli dan berpengalaman, ini semua meskipun ia buta. Ia lahir tahun 538 H. Syathibah adalah kampung halamannya, sebuah desa di sebelah timur Andalus. Ia miskin, dan pernah ditawarkan untuk menjadi khatib di negerinya tetapi menolak karena para khatib terlalu berlebihan di atas mimbar dalam memuji para raja.
Asy-Syathibi keluar untuk menunaikan haji, lalu tiba di Iskandariah tahun 572 H. Ia mendengar dari as-Salafi al-Hafizh. Al-Qadhi al-Fadhil melantiknya sebagai kepala pengajaran qira’at di madrasahnya. Ia mengunjungi Baitul Maqdis yang mulia dan berpuasa di sana pada bulan Ramadhan, kemudian kembali ke Kairo dan meninggal di sana pada bulan Jumadal Akhirah tahun ini. Ia dikuburkan di al-Qarafah dekat Makam al-Fadhliyyah. Ia adalah seorang yang religius, khusyu’, zuhud, penuh wibawa, tidak berbicara dalam hal yang tidak bermanfaat baginya. Ia sering mengutip bait-bait ini, yang merupakan teka-teki tentang keranda jenazah, dan bait ini bukan karangannya:
Apakah engkau mengenal sesuatu di langit yang terbang Jika ia berjalan orang-orang berteriak ke mana pun ia pergi
Maka engkau melihatnya ditunggangi dan engkau melihatnya menunggangi Dan setiap pemimpin yang menaikinya adalah tawanan
Ia mendorong kepada takwa dan dibenci mendekatinya Dan jiwa merasa jijik darinya padahal ia adalah pemberi peringatan
Dan tidak dikunjungi karena keinginan untuk berziarah Tetapi dengan terpaksa orang yang diziarahi itu dikunjungi
Pada tahun ini terjadi Pertempuran az-Zalaqah di negeri Andalus sebelah utara Qurthubah di Marj al-Hadid. Itu adalah pertempuran besar, Allah memberikan kemenangan kepada Islam di dalamnya dan menghinakan penyembah salib. Adapun kejadiannya adalah al-Fansy raja Franka di negeri Andalus yang berpusat kerajaannya di kota Thulaitilah menulis kepada Amir Ya’qub bin Yusuf bin Abdul Mu’min raja Maghrib dengan menghinanya, memanggilnya, dan mendesaknya, dalam tulisan panjang yang berisi celaan, ancaman, dan ancaman yang keras. Maka Sultan Ya’qub bin Yusuf menulis di kepala suratnya di atas tulisan al-Fansy: “Kembalilah kepada mereka, maka sesungguhnya kami akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak sanggup menghadapinya, dan kami pasti akan mengusir mereka dari negeri itu dengan hina dan mereka dalam keadaan tunduk.” (an-Naml: 37)
Kemudian ia segera berangkat dengan pasukan dan tentaranya hingga menyeberangi selat menuju Andalus. Mereka bertemu di tempat yang telah disebutkan tadi. Pada awalnya kekalahan menimpa kaum muslimin, terbunuh dari mereka dua puluh ribu orang. Kemudian akhirnya kekalahan menimpa orang-orang kafir. Allah mengalahkan mereka, menghancurkan mereka, dan menghinakan mereka dengan kekalahan yang sangat buruk, kekalahan yang paling buruk dan paling mengerikan. Terbunuh dari mereka seratus empat puluh tiga ribu orang, tertawan dari mereka tiga belas ribu orang. Kaum muslimin mendapat rampasan banyak sekali dari mereka, di antaranya seratus empat puluh tiga ribu tenda, dari kuda empat puluh enam ribu ekor, dari bagal seratus ribu ekor, dari keledai seratus ribu ekor, dari perisai lengkap tujuh puluh ribu buah, dan dari peralatan sangat banyak. Ia menguasai dari benteng-benteng mereka sangat banyak, dan mengepung kota mereka Thulaitilah beberapa waktu, tetapi tidak berhasil menaklukkannya, lalu ia kembali ke negerinya.
Ketika al-Fansy mengalami apa yang dialaminya, ia mencukur kepala dan janggutnya, membalik salibnya, mengendarai keledai, dan bersumpah tidak akan menunggang kuda, tidak menikmati makanan, dan tidak tidur dengan wanita sampai agama Nasrani memberikan kemenangan kepadanya. Maka ia mengumpulkan pasukan yang tidak terhitung jumlahnya kecuali oleh Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Sultan Ya’qub mempersiapkan diri menghadapinya. Mereka bertemu dan berperang dengan pertempuran yang dahsyat. Maka orang-orang Franka kalah lebih buruk dari kekalahan mereka yang pertama, dan kaum muslimin mendapat rampasan dari mereka seperti yang telah disebutkan sebelumnya atau lebih banyak. Sultan menguasai banyak dari benteng-benteng dan kastil-kastil mereka, segala puji dan karunia bagi Allah, hingga dikatakan: tawanan dijual dengan satu dirham, kuda dengan lima dirham, tenda dengan satu dirham, pedang dengan setengah dirham. Kemudian Sultan membagikan rampasan-rampasan ini sesuai dengan syariat, sehingga para mujahidin menjadi kaya selamanya. Kemudian orang-orang Franka meminta jaminan keamanan dari Sultan, maka ia mengadakan gencatan senjata dengan mereka untuk menghentikan perang selama lima tahun. Yang mendorongnya melakukan itu adalah munculnya seorang laki-laki yang disebut ‘Ali bin Ishaq al-Mayurqi yang disebut al-Mulatstsam. Ia muncul di negeri Ifriqiyah dan melakukan hal-hal mengerikan selama Sultan pergi dan sibuk berperang melawan Franka selama tiga tahun. Pemberontak Mayurqi ini muncul di pedalaman, berbuat kerusakan di bumi, membunuh banyak orang, dan menguasai banyak negeri.
Pada tahun ini dan tahun sebelumnya, pasukan Khalifah menguasai negeri ar-Rayy, Ashbahan, Hamadzan, Khuzistan, dan negeri-negeri lainnya. Kekuatan Kekhalifahan bertambah kuat atas para raja dan kerajaan-kerajaan. Pada tahun ini al-‘Aziz keluar dari Mesir menuju Damaskus untuk mengambilnya dari tangan saudaranya al-Afdhal. Al-Afdhal setelah kematian ayahnya telah bertaubat, kembali ke jalan yang benar, berhenti dari apa yang ia lakukan yaitu minum khamr, bersenda gurau dan bermain-main. Ia mulai berpuasa dan shalat, mulai menulis mushaf dengan tangannya sendiri, dan jalannya menjadi baik. Namun wazirnya Dhiya’uddin al-Jazari merusak pemerintahannya dan mengotori kebersihannya. Ketika al-Afdhal mendengar kedatangan saudaranya ke arahnya, ia segera pergi ke pamannya al-‘Adil yang berada di Ja’bar meminta bantuan. Maka al-‘Adil pergi bersamanya dan mendahuluinya ke Damaskus. Al-Afdhal juga pergi ke saudaranya adh-Dhahir di Aleppo, lalu mereka berdua pergi bersama menuju Damaskus. Ketika al-‘Aziz mendengar hal itu dan telah dekat dengan Damaskus, ia segera kembali ke Mesir. Al-‘Adil dan al-Afdhal mengejarnya untuk mengambil negeri Mesir darinya. Mereka telah sepakat bahwa sepertiga Mesir untuk al-‘Adil dan dua pertiganya untuk al-Afdhal. Kemudian al-‘Adil mengurungkan niatnya dan mengirim utusan kepada al-‘Aziz untuk menguatkannya, dan mendekati al-Afdhal untuk menghambatnya. Mereka tinggal di Bilbis beberapa hari hingga al-Qadhi al-Fadhil keluar menemui mereka dari pihak al-‘Aziz. Maka terjadi perdamaian antara mereka dengan syarat Baitul Maqdis dan wilayahnya dikembalikan kepada al-Afdhal, dan al-‘Adil tetap menetap di Mesir dengan wilayah lamanya. Maka al-‘Adil tinggal di sana dengan tujuan menguasainya, dan al-Afdhal kembali ke Damaskus setelah al-‘Aziz keluar untuk mengantarnya. Ini adalah gencatan senjata yang rapuh, dan perdamaian yang penuh noda.
Tentang Para Tokoh Terkemuka yang Wafat di Tahun Ini:
Ali bin Hasan bin Musafir
Abu al-Hasan, al-Katib al-Baghdadi. Ia adalah seorang sastrawan dan penyair. Di antara syairnya adalah:
Tidurku terusir dan berlalu Kilat di Sal’ menyambar dahulu Terlihat bagaikan tangan orang hitam Menghunus pedang tajam yang putih gemilang Seperti kuda putih kelabu Di tengah debu jika berlari Tampak bagaikan hembusan angin Menerpa bara api al-Ghadha Hingga engkau mengira orang Zanji Memandang lalu memejamkan mata Atau nyala api yang berkobar Membubung tinggi lalu meredup Ah, sungguh kilat yang menyambar Menerangi tempat Dzat al-Adha Mengingatkanku masa yang telah berlalu Di al-Ghuwair yang telah sirna Hatiku berkata: “Wahai engkau yang berpaling Meminta keperluan lalu mengelak” Ia meminta dari yang membuatnya sakit Demi diriku, wahai sang penyembuh Wahai sasaran hati, sungguh Engkau tinggalkan hatiku sebagai sasaran Bagi anak panah yang seolah-olah Ditembakkan oleh takdir murni Hingga aku yakin Bahwa tidurku telah berakhir Hingga malam berlalu dan hampir Malam itu berakhir seluruhnya Dan pagi datang di tepi Kegelapan dengan cahaya putih Menghunus di timur atas Barat, cahaya berlalu
Kemudian Masuklah Tahun 592 Hijriyah
Pada bulan Rajab tahun ini, al-Aziz datang bersama pamannya al-Malik al-Adil dengan pasukan. Mereka memasuki Damaskus dengan paksa, dan mengeluarkan al-Afdhal beserta menterinya yang telah salah dalam mengatur. Al-Aziz shalat di makam ayahnya al-Malik al-Nashir Shalahuddin, dan khutbah disampaikan untuknya di Damaskus. Ia masuk ke benteng al-Manshuroh dan duduk di Dar al-Adl untuk mengadili dan memutuskan perkara. Semua ini terjadi sementara saudaranya al-Afdhal hadir di sisinya dalam pelayanan. Ia memerintahkan Qadhi Muhyiddin bin al-Zaki untuk mendirikan al-Madrasah al-Aziziyyah di samping makam ayahnya. Madrasah itu dulunya adalah rumah Amir Izzuddin Syamah. Kemudian ia mengangkat pamannya al-Malik al-Adil sebagai wakil di Damaskus, dan kembali ke Mesir pada hari Senin tanggal 9 Sya’ban. Mata uang dan khutbah adalah untuknya. Al-Afdhal didamaikan tentang Damaskus dengan (diberi) Sharkhad, dan menterinya Ibnu al-Atsir al-Jazari melarikan diri ke daerahnya. Ia telah menghancurkan dirinya dan kerajaannya dengan kesalahannya. Al-Afdhal pindah ke Sharkhad bersama keluarganya, anak-anaknya, dan saudaranya Quthbuddin.
Pada tahun ini bertiup angin yang sangat kencang, hitam, dan gelap gulita di tanah Irak, disertai pasir merah, sehingga orang-orang membutuhkan lampu di siang hari. Pada tahun ini juga, Qiwamuddin Abu Thalib Yahya bin Said bin Ziyadah menjabat sebagai kepala dewan penulisan di Baghdad. Ia adalah orang yang fasih, tetapi bukan seperti al-Fadhil. Pada tahun ini pula, Mujiiruddin Abu al-Qasim Mahmud bin al-Mubarak mengajar di (madrasah) al-Nizhamiyyah. Ia adalah orang yang mulia dan pandai berdebat.
Pada tahun ini terbunuh ketua mazhab Syafi’i di Ashbahan, Shadrruddin Muhammad bin Abdul Lathif bin Muhammad bin Abdul Lathif bin Tsabit al-Khujandi, dibunuh oleh Falakuddin Sanqar al-Thawil. Hal ini menjadi penyebab hilangnya kerajaan Ashbahan dari dewan.
Pada tahun ini wafat seorang menteri; menteri kekhalifahan.
Mu’ayyaduddin Abu al-Fadhl
Muhammad bin Ali bin al-Qashshab. Ayahnya adalah penjual daging di salah satu pasar Baghdad. Kemudian ia maju dan menjadi pemimpin orang-orang di zamannya. Wafatnya di Hamadzan. Ia telah mengembalikan banyak wilayah dari negeri Irak, Khurasan, dan lainnya kepada dewan kekhalifahan. Ia adalah orang yang aktif dengan semangat tinggi, memiliki ketegasan, keberanian, dan syair yang bagus.
Pada tahun ini wafat:
Al-Fakhru Mahmud bin Ali
Al-Nuqani al-Syafi’i, saat pulang dari haji.
Dan penyair: Abu al-Ghanaim Muhammad bin Ali
Ibnu al-Mu’allim al-Haritsi dari desa-desa Washith, pada usia sembilan puluh satu tahun. Ia adalah penyair yang fasih. Ibnu al-Jauzi mengutip dalam majelisnya sebagian dari keindahan syair-syairnya. Ibnu al-Sa’i telah mencantumkan bagian yang bagus dari syairnya yang indah dan menarik.
Pada tahun ini wafat ahli fikih Abu al-Hasan Ali bin Said bin al-Hasan al-Baghdadi yang dikenal dengan sebutan Ibnu al-Arif.
Dan bergelar al-Bay’ al-Fasid (Jual Beli yang Rusak). Ia dahulu bermadzhab Hanbali kemudian belajar mazhab Syafi’i kepada Abu al-Qasim bin Fadhlan. Dialah yang memberinya gelar tersebut karena seringnya ia mengulang masalah ini antara mazhab Syafi’iyyah dan Hanafiyyah. Dikatakan bahwa setelah semua ini ia berpindah ke madzhab Imamiyyah, wallahualam.
Pada tahun ini wafat Syaikh Abu Syuja’
Muhammad bin Ali bin Syu’aib bin al-Dahhan al-Faradhi al-Hasib al-Muarrikh al-Baghdadi. Ia datang ke Damaskus dan memuji Syaikh Abu al-Yaman al-Kindi Zaid bin al-Hasan, maka ia berkata:
Wahai Zaid, semoga Tuhanmu menambahkan atasmu Dari karunia-Nya nikmat yang tidak dapat dicapai oleh harapan Semoga Allah tidak mengubah keadaan yang telah Ia berikan kepadamu Selama antara ahli nahwu beredar al-Hal dan al-Badal Nahwu, engkaulah yang paling berhak dari orang-orang yang alim dengannya Bukankah dengan namamu dalam nahwu dipukulkan perumpamaan?
Kemudian Masuklah Tahun 593 Hijriyah
Pada tahun ini datang surat dari Qadhi al-Fadhil kepada Ibnu al-Zaki memberitahukan kepadanya bahwa pada malam Jumat tanggal 9 Jumadil Akhirah datang fenomena yang di dalamnya ada kegelapan yang tebal, kilat yang menyambar, dan angin yang sangat kencang. Hembusan anginnya menguat dan semakin keras, hingga angin tersebut bertiup dengan bebas, dan terdengar suara yang keras, sehingga dinding-dinding bergetar dan berbenturan. Keadaan itu bertemu meskipun jauh jaraknya dan saling berpelukan. Debu tebal berterbangan antara langit dan bumi, hingga dikatakan: “Sepertinya langit ini akan menimpa bumi.” Dan jangan dikira kecuali bahwa Jahannam telah mengalir darinya suatu lembah, dan datang darinya badai yang melampaui batas. Tiupan angin bertambah kuat hingga memadamkan lampu bintang-bintang; dan merobek permukaan langit, serta menghapus apa yang di atasnya dari tulisan. Maka kami seperti firman Allah Ta’ala: “memasukkan anak jari mereka ke dalam telinga mereka karena (mendengar suara) petir” (QS. al-Baqarah: 19) dan seperti yang kami katakan: mereka menempelkan tangan mereka pada mata mereka karena kilat. Tidak ada pelindung dari sambarnya penglihatan, dan tidak ada tempat berlindung dari musibah kecuali benteng istighfar. Orang-orang melarikan diri, wanita, laki-laki, dan anak-anak, dan keluar dari rumah-rumah mereka dalam keadaan ringan dan berat; tidak dapat berbuat sesuatu pun dan tidak dapat (pula) mendapat jalan” (QS. al-Nisa: 98). Mereka berlindung ke masjid-masjid jami’, dan tunduk kepada bencana dengan leher yang tunduk, dengan wajah-wajah yang hina, dan jiwa-jiwa yang meninggalkan keluarga dan harta, memandang dengan pandangan lemah, dan menanti musibah besar apa yang akan datang. Ikatan mereka dengan kehidupan telah terputus, dan jalan keselamatan telah tertutup bagi mereka. Pikiran jatuh pada apa yang akan mereka hadapi, dan mereka berdiri untuk shalat mereka, dan mereka berharap seandainya mereka termasuk orang-orang yang selalu menjaganya, hingga Allah mengizinkan ketenangan, dan menolong orang-orang yang berdoa dengan tidur. Pada pagi harinya setiap orang memberi salam kepada temannya, dan mengucapkan selamat atas keselamatan jalannya, dan melihat bahwa ia telah dibangkitkan setelah tiupan sangkakala, dan sadar setelah teriakan keras. Dan bahwa Allah telah mengembalikan kesempatan kepadanya, dan menghidupkannya kembali setelah hampir Dia mengambilnya secara tiba-tiba. Datang kabar-kabar bahwa badai ini telah menghancurkan kapal-kapal di lautan, dan pepohonan di padang pasir, dan menewaskan banyak orang dari para musafir, dan di antara mereka ada yang melarikan diri tetapi pelarian tidak bermanfaat baginya… hingga ia berkata: Dan janganlah majelis mengira bahwa aku mengirim pena dengan berlebihan dan perkataan dengan mengada-ada, maka perkaranya lebih besar, tetapi Allah telah menyelamatkan. Dan kami berharap bahwa Allah telah membangunkan kami dengan apa yang Dia beri pelajaran, dan mengingatkan kami dengan apa yang membuat kami lalai. Maka tidak ada dari hamba-hamba-Nya yang melihat Kiamat dengan mata kepala sendiri, dan tidak mencari bukti tentangnya setelah itu kecuali penduduk negeri kami. Maka tidak ada yang diceritakan oleh orang-orang terdahulu seperti ini dalam musibah-musibah, dan tidak ada preseden sebelumnya dalam masalah-masalah yang sulit. Dan segala puji bagi Allah yang dari karunia-Nya telah menjadikan kami memberitakan tentangnya, dan tidak memberitakan tentang kami. Dan kami memohon kepada Allah agar mengalihkan dari kami godaan keserakahan dan tipu daya ketika datang kepada kami.
Pada tahun ini Qadhi al-Fadhil menulis dari negeri Mesir kepada al-Malik al-Adil di Damaskus mendorongnya untuk memerangi Franka, dan berterima kasih kepadanya atas apa yang sedang ia lakukan dalam memerangi mereka, dan menjaga wilayah Islam. Di antara isi surat-surat itu ia berkata: Waktu-waktu ini yang kalian alami adalah pengantin umur, dan pengeluaran-pengeluaran yang mengalir di tangan kalian adalah mahar bidadari di negeri kekal. Dan betapa beruntungnya orang yang menitipkan kepada tangan Allah apa yang ada di tangannya, maka itulah nikmat Allah kepadanya, dan taufik-Nya yang tidak semua orang yang mencarinya dapat mencapainya. Dan hitamnya debu perang dalam pertempuran-pertempuran ini adalah putihnya apa yang telah dihitamkan oleh dosa-dosa dari lembaran-lembaran. Maka betapa beruntungnya pertempuran-pertempuran itu, dan betapa kembalinya ketenangan dari goncangan-goncangan itu. Dan ia juga menulis kepadanya: Semoga Allah menjadikan nama itu sebagai mahkota di atas mimbar-mimbar dan lembaran-lembaran, dan kehidupan bagi dunia dan apa yang ada di dalamnya dari jasad-jasad dan jiwa-jiwa. Dan hamba mengetahui apa yang diketahuinya dari perkara yang dipandang perlu oleh penyaksian, dan terjadi dengannya akibat dalam kegembiraan, dan tidak ada tambahan atas perumpamaan keadaan dengan ucapannya:
Tidakkah engkau lihat bahwa seseorang tangannya luka Maka ia memotongnya dengan sengaja agar yang lainnya selamat
Dan seandainya di dalamnya ada pengaturan, maka penguasa kami telah mendahuluinya. Dan barangsiapa memotong kuku dari jari maka ia telah mendatangkan manfaat kepada tubuh dengan perbuatannya, dan menolak darinya bahaya.
Menanggung yang tidak disukai tidaklah membahayakan Selama ia menganggapnya sebab menuju yang terpuji
Dan akhir dari setiap kesusahan adalah awal dari setiap ghazwah (peperangan). Maka janganlah penguasa kami bosan dengan niat ribath dan pelaksanaannya, dan menanggung beban dan memikulnya. Karena ia ketika menghadapkan wajahnya kepada satu wajah, yaitu wajah Allah, Allah menghadapkan kepadanya semua wajah. “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, pasti Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-Ankabut: 69)
Pada tahun ini berakhir masa gencatan senjata yang telah dibuat oleh al-Malik Shalahuddin untuk Franka. Maka mereka datang dengan seluruh kekuatan mereka, dan al-Malik al-Adil menemui mereka di Marj Akka lalu mengalahkan mereka, merampas harta mereka, dan membuka Yafa dengan paksa; dan segala puji bagi Allah serta nikmat-Nya.
Mereka telah menulis kepada raja Jerman untuk meminta bantuannya membuka Baitul Maqdis, namun Allah menakdirkan kematiannya dengan cepat. Franka pada tahun ini mengambil Beirut dari wakilnya Izzuddin Syamah tanpa pertempuran dan tanpa perang. Oleh karena itu salah seorang penyair berkata tentang Amir Syamah:
Ia menyerahkan benteng, tidak ada celaan atasmu Tidak dicela orang yang menginginkan keselamatan Maka pemberian benteng-benteng tanpa perang Adalah sunnah yang dirintis di Beirut oleh Syamah
Dan pada tahun ini meninggal raja Franka, Kandahri. Ia jatuh dari tempat tinggi lalu meninggal, sehingga orang-orang Franka bagaikan domba tanpa pengembala, hingga mereka mengangkat penguasa Siprus sebagai raja dan menikahkannya dengan Ratu, istri Kandahri. Terjadilah banyak peristiwa antara mereka dengan al-Adil Abu Bakar bin Ayyub, dan dalam semuanya ia menang atas mereka dan mengalahkan mereka, serta membunuh banyak pejuang mereka; segala puji bagi Allah. Mereka terus seperti itu bersamanya hingga mereka meminta perdamaian dan gencatan senjata, lalu ia membuat perjanjian dengan mereka untuk itu pada tahun berikutnya.
Dan pada tahun ini meninggal raja Yaman, Saifuddin Thughtikin, saudara Sultan Shalahuddin. Ia telah mengumpulkan harta yang sangat banyak, dan biasa mencetak emas seperti bentuk batu penggiling dan menyimpannya seperti itu. Setelahnya, putranya Ismail naik tahta, dan ia adalah orang yang ceroboh dan kurang pertimbangan. Kebodohannya membuatnya mengklaim bahwa ia keturunan Quraisy Umayyah, dan bergelar al-Hadi. Pamannya al-Adil menulis surat kepadanya melarangnya dari hal itu dan mengancamnya karena hal tersebut, namun ia tidak menerima darinya dan tidak mengindahkannya. Bahkan ia terus melakukannya dan buruk dalam pengelolaan terhadap para amir dan rakyat, sehingga ia dibunuh dan digantikan oleh seorang mamluk dari mamluk-mamluk ayahnya.
Dan pada tahun ini meninggal: Amir besar Abu al-Hayja al-Samin al-Kurdi. Ia termasuk amir-amir terbesar al-Malik an-Nasir Shalahuddin, dan dialah yang menjadi wakil di Akka dan keluar darinya sebelum Franka merebutnya, kemudian masuk kembali setelah al-Masythub lalu diambil darinya. Shalahuddin menunjuknya sebagai wakil di Baitul Maqdis, kemudian ketika al-Aziz merebutnya, ia dipecat darinya. Lalu ia pergi ke Baghdad dan dimuliakan dengan sangat mulia. Khalifah mengirimnya sebagai panglima pasukan ke Hamadzan, lalu ia meninggal di sana.
Dan pada tahun ini meninggal: Qadhi al-Qudhat Baghdad, Abu Thalib Ali bin Ali bin Hibatullah bin Muhammad bin al-Bukhari. Ia mendengar hadits dari Abu al-Waqt dan lainnya, dan belajar fiqih kepada Abu al-Qasim bin Fadhlan. Ia menjabat sebagai wakil hakim di Baghdad, kemudian memegang jabatan, dan ditambahkan kepadanya pada masa jabatan wakil wazir. Kemudian ia dipecat dari jabatan qadhi, lalu diangkat kembali dan meninggal dalam keadaan menjabat sebagai hakim, kami memohon keselamatan kepada Allah. Ia adalah orang yang utama dan pandai dari keluarga ahli fiqih dan keadilan, dan ia memiliki syair:
Menjauh dari yang buruk dan jangan mengulanginya, dan barang siapa kau beri kebaikan maka tambahkan untuknya
Engkau akan dicukupi dari musuhmu dari segala tipu daya, jika musuh bersiasat dan engkau tidak bersiasat balik kepadanya
Dan pada tahun ini meninggal: Sayyid Syarif Naqib ath-Thalibiyin di Baghdad, Abu Muhammad al-Hasan bin Ali bin Hamzah bin Muhammad bin al-Hasan bin Muhammad bin al-Hasan bin Muhammad bin Ali bin Yahya bin al-Husain bin Zaid bin Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib al-Alawi al-Husaini, yang dikenal dengan Ibnu al-Aqsasi, kelahiran dan dibesarkan di Kufah. Ia adalah penyair ulung, memuji para khalifah dan wazir. Ia dari keluarga yang terkenal dengan kesusastraan, kepemimpinan, dan kedermawanan. Ia datang ke Baghdad lalu memuji al-Muqtafi dan al-Mustanjid serta putranya al-Mustadhi dan putranya an-Nashir, yang mengangkatnya sebagai naqib. Ia adalah syaikh yang berwibawa, melampaui usia delapan puluh tahun. Ibnu as-Sai telah menyebutkan banyak qasidahnya, di antaranya:
Bersabarlah atas tipu daya zaman, karena ia tidak kekal di atas jalannya
Qadha telah mendahului, maka ridhailah dengannya dan jangan mencari hakikatnya
Berapa kali ia mengalahkanmu dan membuatmu melihat dari kelapangan dan kesempitan
Ia terus pada anak cucunya berjalan di atas jalan ini
Dan pada tahun ini meninggal as-Sitt Adhra binti Syahanysyah bin Ayyub dan dimakamkan di madrasahnya di dalam Bab an-Nashr.
Dan as-Sitt Khatun, ibu al-Malik al-Adil, dan dimakamkan di rumahnya di Damaskus yang berdekatan dengan rumah Asaduddin Syirkuh.
Kemudian masuk tahun lima ratus sembilan puluh empat (594)
Pada tahun ini orang-orang Franka mengumpulkan pasukan mereka dan datang mengepung Tabnin. Al-Adil memanggil anak-anak saudaranya untuk memerangi mereka, maka datanglah al-Aziz dari Mesir dan al-Afdhal dari Sharkhad. Orang-orang Franka mundur dari benteng dan sampai kepada mereka berita kematian raja Jerman, lalu mereka meminta gencatan senjata dan keamanan dari al-Adil, maka ia membuat gencatan senjata dengan mereka dan para raja kembali ke tempat mereka. Pada masa ini al-Muazhzham Isa bin al-Adil menjadi besar dan ayahnya menunjuknya sebagai wakil di Damaskus, kemudian pergi ke kerajaannya di al-Jazirah dan ia berbuat baik kepada mereka dalam pemerintahan.
Dan telah meninggal pada tahun ini Sultan penguasa Sinjar dan kota-kota besar lainnya, yaitu Imaduddin Zangi bin Maudud bin Zangi al-Atabaki. Ia termasuk raja-raja yang terbaik dan paling baik bentuk dan pemerintahannya, paling baik niat dan batinnya, namun ia pelit. Ia sangat mencintai para ulama, terutama Hanafiyah. Ia telah membangun madrasah untuk mereka di Sinjar, dan mensyaratkan untuk mereka makanan yang dimasak untuk setiap orang dari mereka setiap hari. Ini adalah perhatian yang baik, dan faqih lebih layak mendapat kebaikan ini daripada fakir; karena kesibukan faqih dengan mengulang dan menelaah pelajarannya membuatnya tidak sempat memikirkan penghidupannya. Kemudian penguasa Mausil, anak pamannya, menyerang anak-anaknya dan merebut kerajaan dari mereka. Anak-anaknya meminta pertolongan kepada al-Malik al-Adil, maka ia mengembalikan kerajaan kepada mereka dan menolak kezaliman dari mereka. Kerajaan stabil untuk putranya Quthbuddin Muhammad. Kemudian al-Adil pergi ke Mardin dan mengepungnya pada bulan Ramadhan, lalu menguasai pinggiran kota dan wilayahnya. Bentengnya membuatnya kewalahan, maka ia tetap mengepungnya dan menghabiskan musim dingin. Tidak ada seorang pun yang mengira bahwa ia akan menguasainya; hingga para penyair mencela dia karena itu; karena hal itu tidak menetap dan tidak terprediksi.
Dan pada tahun ini Ghur menguasai kota Balkh dan mengalahkan Khatha, menundukkan dan mengalahkan mereka. Mereka mengharapkan Khalifah mengirim utusan kepada mereka agar mencegah Khawarizm Syah memasuki Irak, karena ia ingin agar namanya disebutkan dalam khutbah di Baghdad.
Dan pada tahun ini Khawarizm Syah mengepung kota Bukhara lalu menaklukkannya setelah beberapa lama. Kota itu telah menahan diri darinya untuk waktu yang lama dan Khatha membantu mereka, namun ia mengalahkan mereka semua dan merebutnya dengan paksa. Ia memaafkan penduduknya dan memberi ampun kepada mereka. Padahal mereka telah mengenakan seekor anjing buta sebelah mata dengan jubah dan menamainya Khawarizm Syah, dan melemparkannya dengan manjaniq kepada pasukan Khawarizm, dan berkata: “Ini adalah raja kalian.” Khawarizm Syah memang buta sebelah mata. Ketika ia berkuasa atas mereka, ia memaafkan mereka, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan.
Dan di antara tokoh terkemuka yang meninggal pada tahun ini:
Al-Qawwam bin Zabadah, penulis pesan di gerbang kekhalifahan, yaitu Abu Thalib Yahya bin Said bin Hibatullah bin Ali bin Zabadah, Qawamuddin. Kepemimpinan dalam surat-menyurat, penulisan, kefasihan dan kefasihan di zamannya di Irak berakhir padanya. Ia memiliki banyak ilmu selain itu, seperti fiqih menurut mazhab Syafii, yang ia pelajari dari Ibnu Fadhlan. Ia memiliki pengetahuan yang baik dalam ushul, hisab, dan bahasa, serta memiliki syair yang bagus. Ia telah menjabat beberapa jabatan dan dipuji dalam semuanya. Di antara syairnya yang indah adalah:
Jangan meremehkan musuh yang kau anggap hina, karena berapa banyak zaman telah menyusahkan orang yang bersungguh-sungguh dengan permainan
Inilah matahari mengalami gerhana padanya meskipun kebesarannya, oleh kepala dan ekor
Dan syairnya:
Dengan goncangnya zaman, orang-orang rendah di dalamnya naik hingga bencana merata
Demikian pula air yang tenang, jika digerakkan, bangkitlah dari dasarnya kotoran-kotoran
Dan juga syairnya:
Aku telah meninggalkan dunia dan tidak meninggalkannya orang yang terikat pada harapan dan angan-angannya
Maka jika aku memalingkan wajahku darinya, mereka melemparkanku ke laut ombaknya yang bergelombang
Mereka meminta penerangan dariku dan aku binasa sendirian, seolah-olah aku sumbu dalam pelita
Ia meninggal pada tahun ini pada bulan Dzulhijjah pada usia tujuh puluh dua tahun. Jenazahnya dihadiri banyak orang dan dimakamkan di sisi Musa bin Jafar.
Al-Qadhi Abu al-Hasan Ali bin Jabir bin Zuhair bin Ali al-Bathaīhi. Ia datang ke Baghdad dan belajar fiqih di sana serta mendengar hadits. Ia tinggal di Rahbat Malik bin Thuq untuk waktu yang lama belajar kepada Abu Abdullah bin an-Nabih al-Faradhi, kemudian menjabat sebagai qadhi Irak untuk waktu yang lama. Ia adalah seorang sastrawan. Ia mendengar dari gurunya Abu Abdullah bin an-Nabih yang melantunkan syairnya sendiri sebagai tandingan untuk al-Hariri dalam dua baitnya yang ia klaim tidak dapat ditandingi dengan yang ketiga, yaitu:
Berilah tanda yang dipuji jejaknya, dan bersyukurlah kepada yang memberi meskipun hanya biji wijen
Dan tipu daya, sedapat mungkin jangan kau lakukan, agar kau memperoleh kepemimpinan dan kemuliaan
Maka Ibnu an-Nabih berkata:
Tidaklah budak yang bungkuk di antara manusia lebih baik dari orang merdeka yang datang dengan kesempurnaan
Mulutnya, jika kau minta sedekah dari ucapan tidak, maka orang merdeka tidak memenuhi mulutnya dengannya
Al-Amir Izzuddin Jardik. Ia termasuk amir-amir terbesar pada zaman Nuruddin. Ia termasuk yang ikut membunuh Syawar, dan mendapat kedudukan tinggi di sisi Shalahuddin. Ia telah menunjuknya sebagai wakil di Baitul Maqdis ketika menaklukkannya. Ia biasa ditunjuk untuk urusan-urusan besar lalu ia menyelesaikannya dengan kebangkitan dan keberaniannya. Ketika al-Afdhal berkuasa, ia memecatnya dari Baitul Maqdis, maka ia meninggalkan negeri Syam dan pindah ke Mausil lalu meninggal di sana pada tahun ini.
Kemudian masuk tahun lima ratus sembilan puluh lima (595)
Pada tahun ini terjadi wafatnya al-Malik al-Aziz penguasa Mesir. Hal itu terjadi ketika ia keluar untuk berburu. Pada malam Ahad tanggal dua puluh Muharram, ia mengejar serigala, lalu kudanya tersandung dan ia jatuh darinya. Wafatnya terjadi setelah beberapa hari setelah kembali ke negeri, lalu dipindahkan dan dimakamkan di rumahnya, kemudian dipindahkan ke sisi makam asy-Syafii. Ia berusia dua puluh tujuh atau dua puluh delapan tahun; semoga Allah merahmatinya. Dikatakan bahwa pada tahun ini ia telah bertekad untuk mengusir Hanabilah dari negerinya, dan menulis kepada saudara-saudaranya yang lain agar mengusir mereka dari negeri mereka. Hal itu tersebar darinya dan terdengar darinya dan menyebar, serta ia menyatakannya terang-terangan. Semua itu dari guru-gurunya, teman-temannya, dan kawan-kawannya dari kalangan Jahmiyah, serta sedikitnya pengetahuannya tentang Quran dan hadits. Ketika terjadi apa yang terjadi, kedudukan Hanabilah menjadi besar di negeri Mesir dan Syam di kalangan khusus dan umum. Dikatakan bahwa salah seorang saleh dari mereka mendoakannya, maka tidak lama setelah ia keluar berburu, terjadilah kebinasaannya dengan cepat, wallahu alam.
Dan al-Qadhi al-Fadhil menulis surat belasungkawa atas al-Aziz kepada pamannya al-Malik al-Adil yang sedang mengepung Mardin bersama pasukannya, dan putranya Muhammad al-Kamil yang menjadi wakilnya di negeri al-Jazirah yang berdekatan dengan negeri al-Hirah. Isi suratnya: Semoga Allah melanggengkan kekuasaan tuan kami al-Malik al-Adil, dan memberkahi umurnya serta meninggikan urusannya dengan urusannya, dan memuliakan pertolongan Islam dengan pertolongannya, dan jiwa-jiwa mengorbankan diri untuk jiwanya yang mulia, dan Allah mengecilkan perkara-perkara besar dengan nikmat-Nya yang besar padanya, dan menghidupkannya dengan kehidupan yang baik di mana ia dan Islam berdiri di tempat-tempat penaklukan yang besar, dan kembali darinya dengan urusan-urusan yang diserahkan dan akibat-akibat yang selamat, dan tidak mengurangi baginya orang-orang atau perlengkapan, dan tidak menghilangkan darinya jiwa atau anak, dan tidak memendekkan baginya ekor atau tangan, dan tidak memanaskan hatinya atau hatinya, dan tidak mengotori pikirannya atau sumber airnya. Ketika Allah menakdirkan apa yang Ia takdirkan pada al-Malik al-Aziz; semoga Allah merahmatinya, dan salam darinya berulang kali kepadanya, dari berakhirnya masanya dan hadirnya ajalnya, bencana musibah itu sangat besar, dan munculnya yang dibenci sangat menyakitkan. Maka semoga Allah merahmati wajah itu dan menyegarkannya, kemudian ke jalan Surga memudahkannya.
Dan jika kebaikan-kebaikan wajah-wajah binasa, maka tanah menghapus dari wajahnya yang cantik
Maka muliakan bagi hamba dan bagi para wali, bahkan bagi hati tuan kami, yang tidak kehilangan pakaian belasungkawa, karena cepatnya kematiannya dan beralihnya ke tempat tidurnya, dan memakai pakaian kelapukan sebelum aus pakaian pemuda, dan diarak ke tanah dan ranjangnya dikelilingi kelezatan dan teman sebaya. Masa sakit setelah kembali dari Fayyum adalah dua minggu, dan itu terjadi pada jam ketujuh dari malam Ahad tanggal dua puluh Muharram. Hamba pada saat menulis ini berkumpul antara sakit hati dan badan, sakit anggota badan dan panas hati, dan ditimpa musibah tuan ini, dan janji dengan ayahnya semoga Allah merahmatinya tidak jauh, dan kesedihan atasnya setiap hari baru.
Ketika al-Aziz meninggal; semoga Allah merahmatinya, ia meninggalkan sepuluh anak laki-laki. Maka amir-amirnya mengangkat putranya Muhammad sebagai raja, dan menggelarinya dengan al-Manshur. Mayoritas amir di dalam hati condong untuk merajakan al-Adil, tetapi mereka menganggap tempatnya jauh. Maka mereka mengirim utusan kepada al-Afdhal yang ada di Sharkhad dan memanggilnya dengan pos cepat. Ketika ia tiba di tempat mereka, ia menolak bantuan mereka, dan mereka mendapati kata mereka berselisih tentang dirinya, dan tidak sempurna baginya apa yang ia datangi. Para amir terbesar Nashiriyah berkhianat kepadanya, dan keluar dari negeri Mesir lalu tinggal di Baitul Maqdis dan mengirim utusan mempercepat pasukan Adiliyah. Maka ia mengakui keponakannya atas kekuasaan, dan menyebutkan namanya di mata uang dan khutbah di seluruh kerajaan di sana. Tetapi ia mendapatkan dari perjalanan ini bahwa ia mengambil pasukan yang banyak dari orang-orang Mesir, dan datang dengan mereka untuk merebut kembali Damaskus dalam ketidakhadiran pamannya yang sedang mengepung Mardin, dan itu atas saran saudaranya penguasa Halab dan anak pamannya raja Homs Asaduddin. Ketika ia sampai di sana dan turun di sekitarnya, ia memotong sungai-sungainya, merusak pohon-pohonnya, mengurangi buah-buahnya, dan berkemah dengan kemahnya di masjid al-Qadam. Ia telah ditimpa penyesalan dan kerugian. Saudaranya adh-Dhahir datang kepadanya, dan anak pamannya al-Asad yang gagah dan singa yang ganas serta pasukan Hamah, maka pasukannya bertambah banyak dan al-Afdhal bin an-Nashir menjadi kuat. Pasukannya telah masuk ke negeri dan menyerukan dengan syiarnya, tetapi tidak ada seorang pun dari rakyat yang mengikuti mereka. Dan al-Adil datang dari Mardin dengan pasukannya, dan telah berkumpul di sekelilingnya kelompok anak-anak saudaranya, dan setiap Mesir membantunya dengan para pembesarnya. Al-Afdhal mendahului ke Damaskus dua hari, lalu ia memperkuatnya dan menjaganya dari setiap orang yang dengki dan yang bermata dua. Ia telah menunjuk putranya Muhammad al-Kamil sebagai wakil di Mardin, pemimpin para sultan.
Ketika ia masuk Damaskus, kebanyakan amir berkhianat kepadanya dari orang-orang Mesir dan lainnya, dan urusan al-Afdhal melemah dan ia putus asa dari kebaikan dan manfaat mereka. Ia tetap mengepung negeri dengan orang-orang yang bersamanya hingga berganti tahun dan ia masih seperti itu. Kemudian keadaan terselesaikan pada awal tahun berikutnya, sebagaimana akan dijelaskan nanti insya Allah taala.
Dan pada tahun ini dimulai pembangunan tembok Baghdad dengan batu bata dan kapur, dan dibagikan kepada para amir. Pembangunannya selesai setelah tahun ini, maka Baghdad aman dari banjir dan pengepungan. Ia tidak memiliki tembok sebelum itu.
Tahun 595 Hijriyah
Pada tahun ini wafat Sultan Besar Abu Muhammad Ya’qub bin Yusuf bin Abdul Mu’min, penguasa Maghrib dan Andalusia, di kotanya Sala. Ia telah membangun sebuah kota indah di dekatnya yang diberi nama Al-Mahdiyah. Ia adalah seorang yang beragama, berperilaku baik, dan jujur batinnya. Ia semula menganut mazhab Maliki, kemudian menjadi pengikut mazhab Zhahiri (mazhab Daud ibnu Hazm), lalu condong kepada mazhab Syafi’i. Ia mengangkat beberapa hakim dari kalangan Syafi’iyah di sebagian negerinya. Masa pemerintahannya berlangsung lima belas tahun. Ia banyak melakukan jihad, semoga Allah merahmatinya. Ia menjadi imam dalam salat lima waktu, dan bersikap dekat dengan kaum wanita dan orang-orang lemah. Dialah yang pernah dikirimi surat oleh Salahuddin meminta bantuan melawan Franka, namun karena Salahuddin tidak menyapanya dengan gelar Amirul Mukminin, ia marah dan tidak memenuhi permintaan tersebut. Setelah wafatnya, putranya Muhammad meneruskan pemerintahan dengan mengikuti jejak ayahnya, dan banyak negeri yang sebelumnya memberontak terhadap ayahnya kembali bersama dengannya. Namun setelah itu, mereka bercerai-berai karena hawa nafsu, dan dinasti ini musnah setelah wafatnya Raja Ya’qub.
Pada tahun ini, seorang laki-laki non-Arab di Damaskus mengaku sebagai Isa bin Maryam. Amir Sarimuddin Buzghush, wakil benteng, memerintahkan untuk menyalibnya, maka ia disalib di dekat pemandian Imaduddin al-Katib, di luar Pintu Faraj berhadapan dengan penggilingan yang berada di antara kedua pintu. Pemandian ini telah lama musnah. Dua hari setelah penyalibannya, massa menyerang kaum Rafidhah (Syiah) dan menuju ke makam salah seorang dari mereka di Pintu Shaghir yang bernama Watstsab. Mereka membongkar kuburannya dan menyalibnya bersama dua ekor anjing. Peristiwa ini terjadi pada bulan Rabi’ul Akhir tahun tersebut.
Pada tahun ini terjadi fitnah besar di wilayah Khurasan. Penyebabnya adalah Fakhruddin Muhammad bin Umar ar-Razi, guru para mutakallimin (ahli ilmu kalam) pada zamannya, datang menemui Raja Ghiyatsuddin al-Ghuri, penguasa Ghaznah. Raja menyambutnya dengan baik dan membangunkan sebuah madrasah untuknya di Herat. Sebagian besar orang Ghuriyah menganut mazhab Karramiyah, sehingga mereka membenci ar-Razi dan ingin menjauhkannya dari Raja. Mereka mengumpulkan sejumlah fuqaha Hanafiyah, Karramiyah, dan banyak Syafi’iyah untuk menghadapinya. Hadir pula Ibnul Qudwah, seorang syaikh yang sangat dihormati masyarakat dan penganut mazhab Ibnu Karram dan Ibnul Haisham. Ia berdebat dengan ar-Razi, dan perdebatan tersebut berakhir dengan saling mencela dan mencaci. Keesokan harinya, orang-orang berkumpul di Masjid Jami’, dan seorang penceramah berdiri berbicara. Dalam khutbahnya ia berkata: “Wahai manusia, kami tidak mengatakan kecuali apa yang shahih menurut kami dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun ilmu Aristoteles, kekufuran Ibnu Sina, dan filsafat al-Farabi, kami tidak mengetahuinya. Untuk apa kemarin seorang syaikh Islam dicaci yang membela agama Allah dan Sunnah Rasul-Nya?” Maka orang-orang pun menangis dan berteriak, kaum Karramiyah menangis dan meminta pertolongan, dan mereka dibantu oleh orang-orang terkemuka. Mereka melaporkan kejadian tersebut kepada Raja, lalu Raja memerintahkan pengusiran ar-Razi dari negerinya. Ar-Razi kembali ke Herat. Karena peristiwa ini, hati ar-Razi dipenuhi kebencian terhadap Karramiyah, dan ia selalu menyebut-nyebut mereka dalam setiap ucapannya, di setiap tempat, kapan pun.
Pada tahun ini, terjadi pengampunan terhadap Syaikh Jamaluddin Abul Faraj Ibnul Jauzi, syaikhul wu’azh (guru para penceramah) pada zamannya dan setelahnya. Ia pernah diusir dari Baghdad ke Wasith dan tinggal di sana selama lima tahun. Penduduk Wasith mendapat banyak manfaat darinya, belajar kepadanya dan mengambil ilmu darinya. Ketika ia kembali ke Baghdad, Khalifah memberinya pakaian kehormatan dan mengizinkannya untuk duduk seperti biasa di dekat makam yang mulia, berdekatan dengan makam Ma’ruf al-Karkhi. Jamaah yang hadir sangat banyak, dan Khalifah turut hadir. Ibnul Jauzi menyampaikan teguran, dan pada hari itu ia membacakan syair yang ditujukan kepada Khalifah:
Janganlah engkau biarkan dahaga taman yang engkau tumbuhkan Dengan hujan kebaikanmu yang telah membasahinya Janganlah engkau patahkan tongkat yang telah engkau rawat Mustahil bagi pembangun kejayaan untuk merusaknya Jika aku memiliki dosa padahal aku tidak melakukannya Maka mulailah kembali maafmu dan berikanlah kepadaku keridhaan Dahulu aku berharap kepadamu untuk meraih cita-cita Kini aku tidak meminta selain keridhaan
Dan di antara yang ia bacakan pada hari itu:
Kami menderita karena perpisahan sekian lama hingga Ketika kami bertemu seakan-akan kami tidak pernah menderita Kami murka ketika zaman mengazalimi kami Dan zaman tidak berhenti memperlakukan kami hingga kami ridha Barangsiapa tidak dihidupkan setelah mati suatu hari Maka sesungguhnya kami setelah mati telah dihidupkan
Pada tahun ini, Khalifah an-Nashir memanggil qadhi Mosul, Dhiyauddin Ibnu asy-Syahrazuri, dan mengangkatnya sebagai qadhi al-qudhah (hakim agung) Baghdad.
Pada tahun ini terjadi fitnah di Damaskus terkait dengan al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi. Ia biasa berbicara di mihrab Hanabilah di Masjid Umawi, dan suatu hari ia membicarakan masalah akidah. Qadhi Muhyiddin bin az-Zaki dan Dhiyauddin al-Khatib ad-Daula’i berkumpul bersama Sultan al-Mu’azhzham dan Amir Sarimuddin Buzghush, lalu diadakan sidang terkait masalah istawa’ di atas ‘Arasy, turun (nuzul), huruf, dan suara. An-Najm al-Hanbali sepakat dengan para fuqaha lainnya, sementara al-Hafizh tetap pada pendapatnya dan tidak mau mencabutnya. Seluruh fuqaha menentangnya dan memberikan tuntutan yang berat namun ia tidak memenuhinya. Hingga Amir Buzghush berkata kepadanya: “Apakah semua orang ini sesat dan hanya engkau sendiri yang benar?!” Ia menjawab: “Ya.” Amir pun marah dan memerintahkan untuk mengusirnya dari negeri. Abdul Ghani meminta waktu tiga hari, dan Amir memberinya tenggang waktu. Buzghush mengirim tahanan dari benteng untuk menghancurkan mimbar al-Hafizh. Salat Zhuhur pada hari itu tidak dilaksanakan di mihrab Hanabilah. Lemari dan peti yang ada di sana dikeluarkan, dan terjadilah kekacauan hebat. Kami berlindung kepada Allah dari fitnah, yang tampak maupun yang tersembunyi. Sidang itu diadakan pada hari Senin, tanggal dua puluh empat Dzulhijjah. Al-Hafizh Abdul Ghani berangkat ke Ba’labakk, kemudian pergi ke negeri Mesir. Para muhadditsun (ahli hadits) melindunginya, menyayanginya dan memuliakan.
Yang Wafat pada Tahun Ini dari Tokoh Terkemuka:
Amir Mujahiddin Qaimaz ar-Rumi
Wakil Mosul dan penguasa kerajaannya pada masa Ibnu gurunya Nuruddin Arsalan. Ia adalah seorang yang berakal cerdas, fakih Hanafi, dan ada yang mengatakan Syafi’i. Ia hafal banyak sejarah dan kisah. Ia membangun beberapa masjid jami’, madrasah, ribath dan penginapan. Ia memiliki banyak sedekah. Ibnul Atsir berkata: “Ia termasuk orang-orang terbaik di dunia.”
Abu al-Hasan Muhammad bin Ja’far bin Ahmad bin Muhammad bin Abdul Aziz al-Abbasi al-Hasyimi
Qadhi al-qudhah Baghdad, setelah Ibnu an-Najjari. Ia bermazhab Syafi’i, belajar fiqih kepada Abu al-Hasan Ibnul Khall dan lainnya. Ia pernah menjabat qadhi dan khatib di Makkah, dan ia berasal dari sana, tetapi kemudian pindah ke Baghdad dan mendapat kedudukan duniawi hingga mencapai apa yang dicapainya. Kemudian ia dicopot dari jabatan qadhi karena ada catatan yang menunjukkan tanda tangannya, dan konon catatan itu dipalsukan atas namanya. Wallahu a’lam. Ia tinggal di rumahnya hingga wafat.
Syaikh Jamaluddin Abu al-Qasim Yahya bin Ali bin al-Fadhl bin Barakah bin Fadhlan
Syaikh Syafi’iyah di Baghdad. Ia pertama kali belajar fiqih kepada Sa’id bin Muhammad ar-Razzaz, mudarris (pengajar) Nizhamiyah, kemudian pergi ke Khurasan dan belajar kepada Syaikh Muhammad az-Zubaidi, murid al-Ghazali. Ia kembali ke Baghdad setelah menguasai ilmu munazharah (debat) dan ushulain (dua ilmu ushul). Ia menjadi pemimpin ahli Baghdad, para pelajar dan fuqaha banyak mengambil manfaat darinya. Dibangunkan sebuah madrasah untuknya dan ia mengajar di sana. Namanya tersebar luas dan murid-muridnya bertambah banyak. Ia banyak membaca Al-Qur’an dan meriwayatkan hadits. Ia adalah syaikh yang baik, lembut dan jenaka. Di antara syairnya:
Jika engkau ingin mencapai kedudukan orang-orang mulia Maka hendaklah dengan memberi pertolongan dan berbuat adil Dan jika ada orang yang berbuat zalim kepadamu maka biarkanlah Bersamanya dan zaman, karena zaman cukup sebagai pembalasnya
Kemudian Masuk Tahun 596 Hijriyah
Tahun ini dimulai, dan al-Malik al-Afdhal dengan pasukan Mesir mengepung pamannya al-Adil di Damaskus. Ia telah memutus sungai-sungai dan pasokan makanan sehingga tidak ada roti dan air kecuali sedikit. Keadaan ini berlangsung lama. Mereka membuat parit dari tanah al-Lawan hingga Yalda agar pasukan Damaskus tidak bisa mencapai mereka. Musim dingin tiba dengan hujan dan lumpur yang deras. Ketika memasuki bulan Shafar, al-Malik al-Kamil Muhammad bin al-Adil datang kepada ayahnya dengan banyak pasukan Turkman dan bala tentara dari negeri Jazirah, ar-Raha dan Harran. Pada saat itu, pasukan Mesir mundur dan bercerai-berai. Adh-Dhahir kembali ke kerajaan Aleppo, al-Asad ke Homs, dan al-Afdhal ke negeri Mesir. Al-Adil selamat dari tipu daya musuh setelah sebelumnya ia hampir menyerahkan negeri dan berserah diri, tetapi Allah menyelamatkannya.
Para amir Nashiriyah mengikuti al-Afdhal untuk mencegahnya masuk ke Kaherah dan menulis surat kepada al-Adil agar segera datang kepada mereka. Al-Adil segera berangkat menuju mereka dengan mendengarkan dan menaati saran mereka. Al-Afdhal berlindung di benteng Jabal dalam keadaan lemah dan gagal. Al-Adil turun di al-Birkah dan menguasai Mesir dengan aman tanpa ada persaingan. Keponakannya al-Afdhal turun menemuinya dalam keadaan tunduk dan hina setelah sebelumnya ia disegani dan agung. Al-Adil memberikan kepadanya beberapa negeri dari Jazirah dan mengusirnya dari Syam karena buruknya perilakunya. Al-Adil memasuki istana Sultan di Kaherah dan mengembalikan jabatan qadhi kepada Shadruddin Abdul Malik bin Darbas al-Marani al-Kurdi. Ia membiarkan khutbah dan mata uang tetap atas nama keponakannya al-Manshur, sementara ia sendiri yang mengendalikan urusan pemerintahan. Ia mengangkat ash-Shahib Shafiyuddin bin Syukr sebagai wazir karena ketegasan, keberanian, kepemimpinan dan ketaatannya.
Al-Adil menulis surat kepada putranya al-Kamil memanggilnya dari negeri Jazirah untuk menjadikannya raja di negeri Mesir dan menyerahkan pemerintahan kepadanya. Al-Kamil datang, maka ayahnya memuliakannya, menghormatinya, memeluknya dan merangkulnya. Raja menghadirkan para fuqaha dan meminta fatwa mereka tentang sahnya kerajaan keponakannya al-Manshur bin al-Aziz yang masih kecil berumur sepuluh tahun. Mereka berfatwa bahwa pengangkatannya tidak sah karena ia masih di bawah perwalian. Maka al-Adil memanggil para amir dan mengajak mereka untuk membaiatnya, tetapi mereka menolak. Ia membujuk dan mengancam mereka, dan berkata di antara ucapannya: “Kalian telah mendengar fatwa para ulama, imam dan fuqaha. Kalian telah mengetahui bahwa benteng-benteng kaum muslimin tidak dapat dijaga oleh anak-anak kecil, melainkan hanya oleh raja-raja besar.” Mereka pun tunduk dan membaiatnya, kemudian setelahnya untuk putranya al-Kamil. Para khatib mengumumkan hal itu setelah Khalifah untuk mereka berdua, dan mata uang dicetak atas nama keduanya. Damaskus ditetapkan atas nama al-Mu’azhzham Isa bin al-Adil, dan Mesir atas nama al-Kamil.
Pada bulan Syawwal, kembali ke Damaskus Amir Falakuddin Abu Manshur Sulaiman bin Syarwah bin Khuldak, saudara al-Malik al-Adil seibu. Dialah yang mewakafkan al-Falakiyah di dalam Pintu al-Faradis, dan di sana pula makamnya. Ia tinggal di sana dalam keadaan terhormat dan dimuliakan hingga wafat pada tahun ini.
Pada tahun ini dan tahun berikutnya terjadi kelaparan hebat di negeri Mesir, sehingga banyak orang kaya dan miskin yang binasa karenanya. Orang-orang melarikan diri dari sana menuju Syam, tetapi hanya sedikit yang sampai. Orang-orang Franka menangkap mereka di jalan-jalan, memperdaya mereka dan membunuh mereka dengan imbalan makanan sedikit. Adapun negeri Irak, harganya murah. Ibnu as-Sa’i berkata: “Pada tahun ini, seekor ayam jantan bertelur di Baghdad. Aku bertanya kepada beberapa orang tentang hal itu dan mereka memberitahukan kepadaku.”
Yang Wafat pada Tahun Ini dari Tokoh Terkemuka:
Sultan Alauddin Khawarizmsyah
Takasy bin Alb Arsalan bin Atsiz dari keturunan Thahir bin al-Husain, penguasa Khwarizm dan sebagian Khurasan, ar-Ray dan wilayah luas lainnya. Dialah yang mengakhiri dinasti Saljuqiyah. Ia adil, berperilaku baik, memiliki pengetahuan bagus tentang musik, baik pergaulannya, fakih bermazhab Abu Hanifah, mengetahui ilmu ushul, dan membangun madrasah besar untuk kaum Hanafiyah. Ia dimakamkan di makam yang dibangunnya di Khwarizm. Setelah wafatnya, putranya Alauddin Muhammad meneruskan pemerintahan, dan bergelar Quthbuddin.
Pada tahun ini terbunuh wazir Sultan Khwarizmsyah.
Nizhamuddin Mas’ud bin Ali
Ia berperilaku baik, bermazhab Syafi’i. Ia memiliki madrasah besar di Khwarizm dan masjid jami’ yang megah. Ia membangun masjid jami’ besar untuk Syafi’iyah di Marw. Kaum Hanabilah iri kepadanya, dan syaikh mereka di sana dipanggil Syaikhul Islam. Konon mereka membakarnya. Ini merupakan perbuatan yang berasal dari kurangnya agama dan akal serta tidak menghormati tempat ibadah Islam. Sultan Khwarizmsyah mendenda mereka sejumlah biaya yang dikeluarkan wazir untuk membangunnya.
Pada tahun ini wafat Syaikh musnad mu’ammar (perawi hadits yang berumur panjang) yang menjadi tujuan perjalanan ilmu pada zamannya:
Abu al-Faraj Abdul Mun’im bin Abdul Wahhab bin Shadaqah bin al-Khidhr bin Kulaib al-Harrani al-Ashli, al-Baghdadi al-Maulid wad-Dar wal-Wafah
Dalam usia sembilan puluh enam tahun. Ia banyak mendengar dan meriwayatkan hadits, dan menyendiri dengan periwayatan dari sejumlah syaikh. Ia termasuk pedagang terkemuka yang memiliki kekayaan. Semoga Allah merahmatinya.
Al-Faqih Majd ad-Din Abu Muhammad Thahir bin Nashr bin Jahbal, guru besar Baitul Maqdis yang mulia, orang pertama yang mengajar di Madrasah Shalahiyah, dan dia adalah ayah dari para fuqaha Bani Jahbal yang berada di Madrasah Jarrukhiyah, kemudian mereka pindah ke Madrasah Imadiyah dan Dimaghiyah pada masa kami ini, kemudian mereka meninggal dan tidak tersisa kecuali kebaikan mereka.
Al-Amir Sharim ad-Din Qaimaz bin Abdullah an-Najmi
Dia termasuk pembesar-pembesar negara pada masa Dinasti Shalahiyah. Dia memiliki kedudukan di sisi Shalahuddin seperti ustaddar (bendahara istana); dan dialah yang menguasai istana ketika al-Adhid meninggal, sehingga dia memperoleh harta yang sangat melimpah. Dia banyak bersedekah dan mewakafkan harta, pernah bersedekah dalam sehari sebanyak tujuh ribu dinar emas, dan dialah yang mewakafkan Madrasah Qaimaziyah di sebelah timur Benteng Mansurah. Adapun Dar al-Hadits al-Asyrafiyah dulunya adalah rumah amir ini, dan dia memiliki pemandian di sana, kemudian al-Malik al-Asyraf Musa bin al-Adil membelinya setelah itu dan membangunnya menjadi dar hadits, dan meruntuhkan pemandian itu lalu membangunnya menjadi tempat tinggal bagi syekh yang mengajar di sana. Ketika dia meninggal dan dikuburkan di makamnya, rumah-rumah dan gudang-gudangnya digali, karena dia diduga menyimpan harta yang sangat banyak. Total yang terkumpul dari penggalian itu adalah seratus ribu dinar, dan diduga bahwa dia memiliki lebih dari itu, tetapi dia biasa mengubur hartanya di tanah-tanah tandus milik perkebunan dan desanya. Maka semoga Allah memberinya ampunan dan membasahi tanah kuburnya dengan rahmat.
Al-Amir al-Kabir Lu’lu’
Salah seorang hajib (penjaga pintu) di negeri Mesir, termasuk pembesar-pembesar amir pada masa Dinasti Shalahiyah. Dialah yang menguasai armada laut, sehingga menjadi seperti duri di tenggorokan orang-orang Franka dan belati di dada mereka. Berapa banyak pemberani yang ditawannya, berapa banyak kapal yang dihancurkannya, berapa banyak armada mereka yang dicerai-beraikannya, dan berapa banyak perahu kecil dan kapal yang ditenggelamkan awaknya. Dia selain banyak berjihad, juga merupakan orang yang banyak bersedekah, banyak menafkahkan harta setiap hari. Pernah terjadi kelaparan hebat di negeri Mesir, maka dia bersedekah dua belas ribu roti kepada dua belas ribu fakir miskin; semoga Allah membalasnya dengan kebaikan dan rahmat di kuburnya, memutihkan wajahnya pada hari dikumpulkan dan dibangkitkan; amin.
Asy-Syekh al-Imam al-Faqih al-Allamah Syihab ad-Din ath-Thusi
Salah seorang syekh mazhab Syafi’i di negeri Mesir, dan syekh Madrasah yang dinisbatkan kepada Taqi ad-Din Umar bin Syahanasyah bin Ayyub yang disebut Manazil al-Izz. Dia termasuk murid-murid Muhammad bin Yahya, murid al-Ghazali. Dia memiliki kedudukan dan posisi terhormat di sisi raja-raja Mesir, menyuruh mereka berbuat baik dan melarang mereka dari kemungkaran, hingga dia meninggal; rahimahullah, pada tahun ini. Manusia berdesakan di jenazahnya dan merasa kehilangan atasnya.
Asy-Syekh Zhahir ad-Din Abd as-Salam al-Farisi
Syekh mazhab Syafi’i di Halab. Dia belajar fikih dari Muhammad bin Yahya murid al-Ghazali, dan berguru kepada Fakhr ar-Razi. Dia pergi ke Mesir dan ditawari untuk mengajar di makam Asy-Syafi’i tetapi dia menolak. Lalu dia pergi ke Halab dan tinggal di sana hingga meninggal pada tahun ini.
Asy-Syekh al-Allamah Badr ad-Din bin Askar
Pemimpin mazhab Hanafi di Damaskus. Abu Syamah berkata: dia dikenal dengan Ibnu al-Aqqadah.
Penyair yang mahir, gagah berani, al-Abdi, yaitu Abu al-Hasan Ali bin Nashr bin Aqil bin Ahmad bin Ali bin Abd al-Qais bin Rabi’ah. Dia berasal dari Baghdad, datang ke Damaskus pada tahun lima sembilan puluh lima dan lima ratus (595 H), membawa diwan syair miliknya yang berisi mutiara-mutiara indah, permata, akidah-akidah dan emas murni. Dia memuji al-Malik al-Amjad penguasa Ba’labak dan sebelumnya, dan dia mengatakan:
Manusia hanyalah orang yang sempurna keberuntungannya namun kurang, dan yang lain di antara mereka kurang keberuntungannya namun sempurna
Dan aku sungguh kaya karena malu dan kesucian, meskipun tidak ada harta berlimpah padaku
Pada tahun ini meninggal:
Al-Qadhi al-Fadhil al-Imam al-Allamah, Syekh para Ahli Fasih dan Balaghah
Abu Ali Abd ar-Rahim bin al-Qadhi al-Asyraf Abu al-Majd Ali bin al-Hasan bin al-Baisani, al-Maula al-Ajall al-Qadhi al-Fadhil. Ayahnya adalah qadhi di Asqalan, lalu mengirim anaknya pada masa Dinasti Fathimiyah ke negeri Mesir. Dia belajar di sana tentang kitabah al-insya’ (seni menulis surat resmi) dari Abu al-Fath Qadus dan lainnya, sehingga menguasai semua negeri hingga Baghdad, dan tidak ada yang setara dengannya di zamannya, tidak ada yang sepadan dan tidak ada yang menyamainya atau menandinginya hingga masa kita sekarang. Ketika al-Malik Shalahuddin berkuasa di negeri Mesir, dia menjadikannya sebagai sekretaris, sahabat, menterinya, teman duduk dan teman senangnya. Dia lebih mulia baginya dari keluarga dan anak-anaknya, lebih mulia dari harta berharga dan hartanya. Mereka berdua saling membantu hingga menaklukkan wilayah-wilayah, negeri-negeri, benteng-benteng dan kubu-kubu, yang satu dengan pedang dan tombaknya, yang satu dengan pena, lidah dan kefasihannya.
Al-Qadhi al-Fadhil dengan banyaknya harta, kedudukan dan kepemimpinannya, banyak bersedekah dan memberi, berpuasa dan shalat. Dia setiap hari dan malam merutinkan khatam Al-Qur’an satu kali penuh, ditambah dengan ibadah sunnah lainnya. Dia penyayang, baik sikapnya, suci hati dan batinnya. Dia memiliki madrasah di negeri Mesir untuk mazhab Syafi’i dan Maliki, dan mewakafkan untuk membebaskan tawanan dari tangan orang-orang Nasrani. Dia mengumpulkan buku-buku sekitar seratus ribu kitab, dan ini adalah sesuatu yang tidak pernah dicapai oleh seorang pun dari para menteri, ulama, raja-raja, maupun penulis.
Dia lahir pada tahun tiga puluh dua dan lima ratus (532 H). Wafatnya terjadi pada hari al-Adil memasuki istana Mesir di madrasahnya secara mendadak, hari Selasa tanggal enam Rabi’ al-Akhir. Orang-orang memperhatikan jenazahnya dengan sungguh-sungguh, dan pada hari kedua al-Malik al-Adil menziarahi kuburnya dan menyesali kepergiannya. Dikatakan bahwa al-Malik al-Adil mengangkat Shafi ad-Din bin Syukr sebagai menteri, dan ketika al-Fadhil mendengar hal itu, dia berdoa kepada Allah agar tidak menghidupkannya sampai masa pemerintahan ini, karena persaingan di antara keduanya. Maka dia meninggal; rahimahullah, dan tidak ada seorang pun yang mencelanya atau menyakitinya, dan tidak pernah melihat dalam pemerintahan ada yang lebih besar darinya.
Para penyair meratapi dia dengan syair-syair indah, di antaranya perkataan al-Qadhi Hibatullah bin Sana’ al-Mulk:
Abd ar-Rahim adalah rahmat atas manusia, yang dengan kebersamaannya kami aman dari turunnya siksa
Wahai orang yang bertanya tentang dia dan sebab-sebabnya, dia mencapai langit, maka tanyakanlah kepadanya tentang sebab-sebabnya
Dan masa tahu bahwa penyelesaian urusannya adalah dengan goresan penanya dan pemisahan pidatonya
Dan sungguh kedudukan Yang Mulia telah tinggi di atas manusia dengan ketinggian jabatannya dan baiknya asal-usulnya
Dan datang kepadanya peminang untuk jabatan menteri, padahal sering kali jabatan itu sulit dicapai para peminangnya
Mereka tidak memberinya gelar itu agar dia naik dengannya, namanya mencukupinya dari gelar-gelar
Zaman berkata kepada yang lain ketika menginginkannya: tangan kananmu berdebu, kamu bukan dari teman-teman sebayanya
Pergilah jalanmu, kamu bukan dari tuan-tuannya, dan kembalilah, kamu bukan dari sahabat-sahabatnya
Dan dengan kemuliaan tuan kami dan tuan selain kami, hinanya kesulitan-kesulitan masa
Dan kebahagiaan datang ke pintunya, bukan seperti yang pergi ke pintunya
Raja-raja tunduk kepada wajahnya dengan wajah mereka, bahkan mereka digiring ke pintunya dengan leher mereka
Dia menyibukkan raja-raja dengan yang akan sirna, sedangkan jiwanya sibuk dengan dzikir di mihrabnya
Dalam puasa dan shalat dia melelahkan dirinya, dan jaminan kenyamanannya ada pada kelelahannya
Dan dia bersegera meninggalkan kelezatan-kelezatannya karena yakin pada baiknya hasil dan tempat kembalinya
Maka biarlah dunia berbangga dengan pengatur kerajaannya darinya dan pelajar ilmunya dan para penulisnya
Orang yang berpuasa, orang yang shalat, orang yang berilmu, orang yang bekerja, orang yang dermawan dan pemberinya
Yang mengherankan adalah bahwa al-Qadhi al-Fadhil dengan kepiawaian dan kefasihannya yang tidak tertandingi dan tidak tersamai, tidak diketahui memiliki qashidah panjang yang menggelegar, tetapi dia memiliki antara satu bait dan dua bait dalam surat-surat dan lainnya yang sangat banyak. Di antaranya adalah perkataannya:
Kalian mendahului dalam berbuat kebaikan dengan murah hati, dan tidak ada seperti kalian dalam yang diceritakan atau diriwayatkan
Dan sangkaanku adalah bahwa aku akan mendahului kalian dalam hal itu, tetapi tangisan mendahului sebelumku sehingga membangkitkan tangisanku
Dan di antaranya perkataannya:
Aku memiliki sahabat, aku tidak takut dari kezaliman kejadian, dari masa kecuali dia ada di belakangku
Jika masa menggigitku maka sesungguhnya aku, dengan benderanya aku menerkamnya dan di belakangnya
Dan dia mengatakan pada awal urusannya:
Aku melihat para penulis semuanya, dengan rezeki yang merata kepada mereka selama bertahun-tahun
Dan tidak ada rezeki bagiku di antara mereka, seakan-akan aku diciptakan dari para penulis yang mulia
Dan dia mengatakan tentang lebah dan kunang-kunang:
Dan dua penyanyi saling bersahutan dalam majelis, lalu mereka diusir karena gangguannya oleh orang-orang
Yang ini memberi kebalikan dari yang datang darinya, sedangkan yang ini, maka yang satu dipuji dan yang itu dicela
Dan dia mengatakan tentang penghapus pena:
Penghapus yang siangnya membuat malam kegelapan tinta, seakan-akan dia dari ujungnya adalah saputangan tangan pena
Dan perkataannya:
Kami bermalam dalam keadaan yang menyenangkan cinta, tetapi tidak mungkin dijelaskan
Penjaga kami adalah malam dan kami berkata kepadanya: jika kamu pergi dari kami, pagi akan datang
Al-Malik al-Aziz Utsman bin an-Nashir bertanya kepadanya tentang seorang budak perempuan dari selirnya yang mengirimkan kepadanya sebuah kancing dari emas yang dibungkus amber hitam, maka al-Fadhil mengatakan:
Dia memberimu amber di tengahnya, kancing dari emas yang halus jahitannya
Maka kancing dalam amber maknanya adalah: kancingkan dirimu tersembunyi seperti ini dalam kegelapan
Al-Qadhi Ibnu Khallikan berkata: telah diperselisihkan tentang gelarnya, ada yang mengatakan: Muhyi ad-Din, dan ada yang mengatakan: Mujir ad-Din. Dan diriwayatkan dari Imarah al-Yamani bahwa dia menyebutnya dengan penyebutan yang baik, dan bahwa al-Adil bin ash-Shalih bin Ruzzik adalah yang memanggilnya dari Iskandariyah, dan dia dihitung dalam kebaikan-kebaikannya. Ibnu Khallikan telah merinci biografinya seperti yang kami sebutkan, dan dalam ini ada tambahan yang banyak. Wallahu a’lam.
Kemudian Masuklah Tahun Tujuh Sembilan Puluh Tujuh dan Lima Ratus (597 H)
Pada tahun ini kelaparan sangat parah di tanah Mesir, sehingga banyak sekali orang meninggal baik dari kalangan fakir miskin maupun orang kaya. Kemudian diikuti dengan wabah besar, hingga Syekh Abu Syamah meriwayatkan dalam adz-Dzail bahwa al-Adil mengafani dari hartanya dalam masa satu bulan tahun ini sekitar dua ratus dua puluh ribu mayat. Anjing dan bangkai dimakan pada tahun ini di Mesir, dan dimakan juga banyak sekali anak-anak kecil dan bayi, dipanggang oleh kedua orang tuanya lalu dimakan. Hal ini banyak terjadi pada manusia hingga tidak lagi dipandang aneh di antara mereka. Kemudian mereka mulai menjebak satu sama lain dan memakan siapa yang mereka kuasai, dan siapa yang mengalahkan dari yang kuat terhadap yang lemah, dia menyembelihnya dan memakannya.
Seseorang menyuguhi temannya, dan ketika sepi dengan dia, dia menyembelihnya dan memakannya. Ditemukan pada seseorang empat ratus kepala manusia.
Banyak dokter yang meninggal yang dipanggil untuk mengobati orang sakit, lalu disembelih dan dimakan. Pernah seorang laki-laki memanggil dokter, maka dokter itu takut dan pergi bersamanya dengan was-was. Laki-laki itu terus bersedekah kepada siapa yang ditemuinya di jalan, berdzikir dan bertasbih, dan memperbanyak hal itu. Dokter menjadi curiga dan berpikir buruk, namun demikian keserakahan membuatnya terus bersamanya. Ketika sampai di rumah, ternyata itu adalah rumah yang rusak, maka dia semakin curiga. Keluarlah seorang laki-laki dari rumah itu, lalu berkata kepada temannya: “Dengan kelambatan ini kamu membawakan kami buruan.” Ketika dokter mendengar hal itu, dia melarikan diri, dan keduanya mengejarnya dengan cepat, tetapi dia tidak selamat kecuali setelah kesulitan yang sangat besar.
Pada tahun ini terjadi wabah keras di wilayah Anazah antara Hijaz dan Yaman. Mereka tinggal di dua puluh desa, maka musnah darinya delapan belas desa, tidak tersisa di sana rumah atau orang yang masih bernapas. Hewan ternak dan harta benda mereka tidak ada yang mengurusnya, dan tidak ada seorang pun yang mampu menempati desa-desa itu atau memasukinya, bahkan siapa yang mendekati sesuatu dari desa-desa ini akan binasa pada saat itu juga. Maha Suci Yang di tangan-Nya kerajaan segala sesuatu dan kepada-Nya kalian dikembalikan. Adapun dua desa yang tersisa, maka tidak meninggal seorang pun dari mereka dan tidak ada perasaan pada mereka tentang apa yang terjadi pada yang di sekitar mereka; bahkan mereka seperti apa yang mereka alami, tidak kehilangan seorang pun dari mereka.
Terjadi di Yaman pada tahun ini suatu peristiwa yang sangat aneh, yaitu seorang laki-laki bernama Abdullah bin Hamzah al-Alawi telah menguasai banyak dari negeri Yaman, dan mengumpulkan sekitar dua belas ribu pasukan berkuda dan dari pejalan kaki sejumlah besar. Raja Yaman al-Mu’izz bin Isma’il bin Saif al-Islam bin Thughtukin bin Ayyub takut kepadanya, dan sangkaannya kuat akan hilangnya kerajaannya di tangan orang yang berkuasa ini, dan dia yakin akan kebinasaan karena kelemahannya dalam menghadapinya dan perselisihan para amirnya dengannya dalam musyawarah. Maka Allah mengirimkan petir, lalu turun kepada mereka, maka tidak tersisa seorang pun dari mereka. Pasukan menjadi kacau di antara mereka, dan al-Mu’izz datang dengan pasukannya lalu membunuh dari mereka enam ribu orang terbunuh, dan dia tetap dalam kerajaannya dengan aman.
Pada tahun ini kedua saudara; al-Afdhal dari Sarkhad dan azh-Zhahir dari Halab berkirim surat untuk berkumpul mengepung Damaskus dan merebutnya dari al-Mu’azzam bin al-Adil, dan akan menjadi milik al-Afdhal, kemudian mereka akan pergi ke negeri Mesir lalu mengambilnya dari al-Adil dan anaknya al-Kamil yang keduanya telah melanggar janji dan membatalkan khutbah al-Manshur bin Abdul Aziz, dan mengingkari perjanjian. Jika telah stabil bagi keduanya kerajaan Mesir akan menjadi milik al-Afdhal, dan Damaskus akan ditambahkan kepada azh-Zhahir bersama Halab.
Ketika sampai kepada al-Adil apa yang mereka sepakati, dia mengirim pasukan bantuan untuk anaknya al-Mu’azzam di Damaskus, maka mereka tiba sebelum kedatangan azh-Zhahir dan saudaranya al-Afdhal. Kedatangan keduanya ke sana adalah pada bulan Dzulqa’dah dari arah Ba’labak, lalu mereka turun dengan pasukan mereka di Masjid al-Qadam. Pengepungan terhadap negeri semakin keras, dan banyak dari pasukan memanjat dari arah Khan Ibnu al-Muqaddam, dan tidak tersisa kecuali pembukaan negeri, seandainya tidak datangnya malam.
Kemudian azh-Zhahir berubah pikiran dari apa yang telah dia janjikan kepada saudaranya tentang Damaskus akan menjadi milik al-Afdhal. Dia berpendapat bahwa Damaskus menjadi miliknya terlebih dahulu, kemudian jika Mesir ditaklukkan dia akan menyerahkannya kepada al-Afdhal. Maka dia mengirim surat kepadanya tentang hal itu, tetapi al-Afdhal tidak menerima hal itu, dan keduanya berselisih dan terpecah kata mereka, saling bertengkar tentang kerajaan di Damaskus. Maka para amir bercerai-berai dari keduanya, dan al-Adil dikirimi surat untuk perdamaian. Dia mengirim surat menyetujui apa yang keduanya minta yaitu memberi mereka sesuatu dari negeri Jazirah dan sebagian wilayah Ma’arrah. Pasukan-pasukan berpencar dari negeri pada bulan Muharram tahun delapan sembilan puluh delapan (598 H), dan masing-masing dari kedua raja pergi untuk menerima negeri-negeri yang diberikan kepadanya. Terjadilah peristiwa-peristiwa yang panjang penjelasannya.
Azh-Zhahir dan saudaranya telah menulis kepada penguasa Mosul Nur ad-Din Arslan al-Atabaki agar mengepung kota-kota Jazirah yang bersama paman mereka al-Adil. Maka dia berangkat dengan pasukannya dan mengirim kepada putra pamannya Quthb ad-Din penguasa Sinjar, dan berkumpullah bersama keduanya penguasa Mardin yang dahulu telah dikepung al-Adil dan ditekan dalam waktu yang lama. Maka pasukan-pasukan menuju Harran dan di sana al-Faiz bin al-Adil, lalu mereka mengepungnya selama beberapa waktu. Kemudian ketika sampai kepada mereka berita terjadinya perdamaian antara al-Adil dan kedua putra saudaranya azh-Zhahir dan al-Afdhal, mereka juga beralih untuk berdamai, dan itu setelah al-Faiz meminta hal itu dari mereka. Urusan-urusan menjadi tertata dan stabil seperti apa yang dahulu; dan segala puji dan karunia bagi Allah.
Pada tahun ini, Ghiyatsuddin dan saudaranya Syihabuddin Al-Ghuriyyan menguasai seluruh negeri, benteng, dan harta yang dahulu dikuasai oleh Khwarizm Syah, dan terjadilah peristiwa-peristiwa panjang yang sangat lama. Pada tahun ini terjadi gempa bumi yang dahsyat, dimulai dari negeri Syam hingga Jazirah, negeri Rum, dan Irak. Gempa paling hebat dan terbesar terjadi di Syam; banyak rumah yang runtuh, dan sebuah desa di wilayah Busra tertelan bumi. Adapun di wilayah pantai, banyak sekali kerusakan yang terjadi, dan banyak tempat yang hancur di Tarablus, Shur, Akka, dan Nablus. Di Nablus tidak tersisa kecuali kampung Samaria, dan meninggal dunia di sana serta di desa-desanya tiga puluh ribu orang tertimbun reruntuhan. Sebagian besar menara bagian timur Masjid Damaskus runtuh beserta empat belas mahkotanya, sebagian besar Kalasah dan Maristan Al-Nuri. Orang-orang keluar ke lapangan meminta pertolongan. Sebagian besar benteng Baalbek runtuh meskipun bangunannya sangat kokoh. Laut terbelah hingga ke Siprus dan melemparkan kapal-kapal ke pantainya, dan merembet ke arah timur, sehingga banyak rumah yang runtuh, dan meninggal bangsa-bangsa yang tak terhitung jumlahnya, hingga penulis Mir’at Al-Zaman berkata: bahwa yang meninggal pada tahun ini akibat gempa sekitar seribu seratus ribu orang. Hal ini dinukil dalam Dzail Al-Raudhatain darinya.
Di antara orang-orang terkenal dan terkemuka yang meninggal pada tahun ini:
Syaikh Abu Al-Faraj Ibnu Al-Jauzi
Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Hammadi bin Ahmad bin Muhammad bin Ja’far Al-Jauzi—dinisbahkan kepada pelabuhan sungai di Basrah—bin Abdullah bin Al-Qasim bin Al-Nadhr bin Al-Qasim bin Muhammad bin Abdullah bin Abdurrahman bin Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq, Syaikh Al-Hafizh, penceramah Jamaluddin Abu Al-Faraj, yang terkenal dengan Ibnu Al-Jauzi, Al-Qurasyi At-Taimi Al-Baghdadi Al-Hanbali, salah seorang ulama yang istimewa. Ia unggul dalam banyak bidang ilmu, menyusun karya-karya besar dan kecil sekitar tiga ratus karya, menulis dengan tangannya sendiri sekitar dua ribu jilid. Ia unik dalam seni ceramah yang belum pernah didahului oleh yang serupa, dan tidak ada yang bisa menyamai gayanya dan bentuknya, dalam kefasihan dan kefasihannya, kemanisan kata-katanya, keindahan gubahan bahasanya, pengaruh ceramahnya, pendalaman makna-makna indah, dan mendekatkan hal-hal asing dengan apa yang disaksikan dari urusan-urusan inderawi, dengan ungkapan yang ringkas dan cepat. Di samping itu ia memiliki keunggulan dalam semua ilmu pengetahuan, dan memiliki kontribusi dalam berbagai jenis ilmu dari tafsir, hadits, sejarah, hitung, kajian bintang. Ia memiliki karya-karya dalam hal itu yang tidak cukup tempat ini untuk menghitung dan membatasinya; di antaranya adalah kitabnya dalam tafsir yang terkenal dengan nama Zad Al-Masir, dan ia memiliki yang lebih lengkap darinya tetapi tidak terkenal dan tidak diingkari. Ia memiliki Jami’ Al-Masanid yang di dalamnya mencakup sebagian besar Musnad Imam Ahmad, Shahih Bukhari dan Muslim, serta Jami’ Tirmidzi. Ia memiliki kitab Al-Muntazhim fi Tawarikh Al-Umam min Al-‘Arab wa Al-‘Ajam dalam dua puluh jilid, yang telah kami masukkan dalam kitab kami ini banyak dari peristiwa-peristiwa dan biografinya. Ia terus menulis berita dunia hingga ia sendiri menjadi sejarah, dan betapa pantas baginya ucapan penyair:
Engkau tidak henti bersungguh-sungguh dalam sejarah dengan tekun … hingga aku melihatmu tertulis dalam sejarah
Ia memiliki maqamat dan khutbah-khutbah, dan ia memiliki Al-Ahadits Al-Maudhu’ah dan Al-‘Ilal Al-Mutanahiyah fi Al-Ahadits Al-Wahiyah dan lain-lainnya.
Ia lahir pada tahun sepuluh dan lima ratus, dan ayahnya meninggal saat usianya tiga tahun. Keluarganya adalah pedagang tembaga. Ketika ia mulai dewasa, bibinya membawanya ke masjid Muhammad bin Nashir Al-Hafizh, lalu ia melazimi Syaikh tersebut, mendengar hadits darinya, belajar fikih kepada Ibnu Az-Zaghuni, menghafal ceramah, dan berceramah saat usianya belum genap dua puluh tahun. Ia belajar bahasa dari Abu Manshur Al-Jawaliqi. Ia adalah orang yang saleh dan taat, mengumpulkan diri, tidak bergaul dengan siapa pun, tidak makan dari yang di dalamnya terdapat syubhat, dan tidak keluar dari rumahnya kecuali untuk salat Jumat. Majelis ceramahnya dihadiri para khalifah, wazir, raja, pembesar, ulama, fakir, dan dari berbagai golongan manusia. Paling sedikit yang berkumpul dalam majelisnya sepuluh ribu orang, dan terkadang berkumpul seratus ribu atau lebih. Kadang-kadang ia berbicara dari khatirnya secara spontan, baik dalam bentuk nazham maupun natsar, semoga Allah merahmatinya.
Intinya, ia adalah guru yang unik dalam ceramah, memiliki kontribusi baik dalam ilmu-ilmu lainnya. Ia memiliki karisma, keanggunan pada dirinya, dan meninggikan dirinya melebihi kedudukannya, dan itu tampak dalam prosa dan puisinya. Di antaranya adalah ucapannya:
Aku senantiasa meraih yang mahal bahkan yang tinggi … dan menghadapi jalan yang sulit dan panjang
Cita-cita menggiringku dalam arena-arenanya … bebas beruntung berlari sejauh yang kuharapkan
Taufik mengantarkanku di dalamnya kepada yang … menjadikan selainku buta dalam mencapai dan menerobos
Seandainya ilmu ini adalah pribadi yang berbicara … dan aku bertanya kepadanya apakah engkau pernah menjumpai sepertiku, ia akan berkata tidak
Di antara syairnya juga, dan diriwayatkan untuk selainnya:
Jika engkau qana’ah dengan rezeki yang mudah … engkau menjadi bebas di antara manusia tanpa dibenci
Wahai bekal diriku jika mengalir di belakangku … aku tidak peduli dengan mutiara dan permata
Ia memiliki nazham dan natsar yang sangat banyak yang tidak terbatas, dan ia memiliki kitab tersendiri yang dinamainya: Nazhm Al-Juman fi Kana wa Kana.
Di antara ucapannya yang indah adalah perkatanya tentang hadits: “Umur umatku antara enam puluh hingga tujuh puluh” bahwa sesungguhnya umur mereka yang sebelum kita panjang karena jauhnya padang pasir, maka ketika rombongan mendekati negeri tempat tinggal, dikatakan kepada mereka: Percepatlah perjalanan. Seorang lelaki berkata kepadanya: Mana yang lebih utama? Aku duduk bertasbih atau beristighfar? Maka ia berkata: Kain yang kotor lebih membutuhkan sabun daripada wewangian.
Ia ditanya tentang orang yang berwasiat saat sedang sekarat, maka ia berkata: Ini seperti menambal atap pada musim dingin.
Pada suatu hari ia menoleh ke arah Khalifah Al-Mustadhi’ saat sedang berceramah dan berkata: Wahai Amirul Mukminin, jika aku berbicara aku takut darimu, dan jika aku diam aku takut atasmu. Dan sungguh ucapan seseorang: Bertakwalah kepada Allah, lebih baik bagimu daripada ucapannya: Kalian adalah Ahlul Bait yang diampuni. Umar bin Khaththab biasa berkata: Jika sampai kepadaku tentang seorang penguasa bahwa ia zalim lalu aku tidak mengubahnya, maka akulah yang zalim. Wahai Amirul Mukminin, Yusuf tidak kenyang di masa paceklik agar tidak melupakan orang yang lapar, dan Umar memukul perutnya pada tahun Ramadah dan berkata: Keronconglah atau jangan keronconglah, demi Allah kami tidak akan menjadi gemuk dan tidak menggemukkan hingga orang-orang makmur. Ia berkata: Maka Al-Mustadhi’ bersedekah dengan harta yang banyak, membebaskan tahanan-tahanan, dan memberi pakaian kepada banyak fakir miskin.
Ibnu Al-Jauzi lahir sekitar tahun sepuluh dan lima ratus, sebagaimana telah disebutkan, dan wafatnya pada malam Jumat antara dua isya pada tanggal dua belas Ramadhan tahun ini, dalam usia delapan puluh tujuh tahun. Jenazahnya diusung di atas kepala orang-orang, lalu dimakamkan di Bab Harb di samping ayahnya dekat Imam Ahmad, dan itu adalah hari yang sangat bersejarah, hingga dikatakan: bahwa banyak orang berbuka puasa karena panasnya yang sangat dan banyaknya kerumunan orang, semoga Allah merahmatinya. Ia berwasiat agar ditulis di atas kuburannya bait-bait ini:
Wahai Yang Banyak Maafnya kepada … orang yang banyak dosanya di sisi-Nya
Datang kepadamu orang berdosa mengharap pengampunan … dari kejahatan tangannya
Aku adalah tamu dan balasan tamu … adalah kebaikan kepadanya
Syaikh Jamaluddin Ibnu Al-Jauzi memiliki tiga anak lelaki; Abdul Aziz, dan ia adalah anak tertuanya, meninggal dalam usia muda semasa ayahnya masih hidup pada tahun lima puluh empat. Kemudian Abu Al-Qasim Ali, dan ia durhaka kepada ayahnya, mengadu domba padanya di masa ujian dan lainnya. Ia menguasai kitab-kitabnya saat ayahnya di Wasith, lalu menjualnya dengan harga yang sangat murah. Kemudian Muhyiddin Yusuf, dan ia adalah anak yang paling cerdas dan paling muda di antara mereka; lahir tahun delapan puluh dan berceramah setelah ayahnya, belajar dan menguasai serta memimpin teman-temannya. Kemudian ia menjabat hisbah Baghdad, lalu menjadi utusan para khalifah kepada raja-raja di berbagai wilayah, terutama kepada Bani Ayyub di Syam. Ia memperoleh dari mereka harta dan penghormatan sehingga membangun Madrasah Al-Jauziyah yang berada di An-Nasyabin di Damaskus. Kemudian ia menjadi Ustadz Dar Al-Khilafah Al-Musta’shim pada tahun empat puluh dan enam ratus, dan terus menjabatnya hingga terbunuh bersama khalifah pada masa Hulagu bin Tuli bin Jengis Khan. Abu Al-Faraj memiliki beberapa anak perempuan; di antaranya Rabi’ah, ibu cucunya Abu Al-Muzhaffar bin Qazawughli penulis Mir’at Al-Zaman, yang merupakan salah satu kitab sejarah yang paling lengkap dan paling banyak manfaatnya. Ibnu Khallikan menyebutnya dalam Al-Wafayat lalu memujinya dan menyanjung karya-karyanya serta ilmu-ilmunya.
Al-‘Imad Al-Katib Al-Ashbahani
Muhammad bin Muhammad bin Hamid bin Muhammad bin Abdullah bin Ali bin Mahmud bin Hibatullah bin Ilah—dengan tasydid lam dan dhammahnya—yang dikenal dengan Al-‘Imad Al-Katib Al-Ashbahani, penulis karya-karya, surat-surat, dan syair. Ia lahir di Ashbahan pada tahun sembilan belas dan lima ratus, datang ke Baghdad lalu belajar di sana kepada Syaikh Abu Manshur Sa’id bin Ar-Razzaz, pengajar di Nizhamiyah, dan mendengar hadits. Kemudian ia pergi ke Syam dan mendapat kedudukan di sisi Raja Nuruddin Mahmud bin Zanki, menulis di hadapannya dan mengangkatnya sebagai pengurus madrasah yang dibangunnya di dalam Bab Al-Faraj yang disebut Al-‘Imadiyah; dinisbahkan kepada Al-‘Imad ini karena banyaknya ia tinggal di sana dan mengajarnya di sana, dan ia bukan orang pertama yang mengajar di sana, tetapi telah didahului untuk mengajar di sana oleh lebih dari satu orang, sebagaimana telah disebutkan dalam biografi Nuruddin.
Kemudian Al-‘Imad menjadi penulis dalam Daulah Shalahiyah, dan Qadhi Al-Fadhil memuji dan mensyukurinya. Mereka berkata: ucapannya terkesan kaku dan lesu, tetapi bakatnya sangat baik dan tajam. Qadhi Al-Fadhil pernah berkata kepada rekan-rekannya pada suatu hari: Katakanlah, lalu mereka berbicara dan menyerupakan sifat ini dengan berbagai sifat, tetapi Qadhi tidak menerimanya, dan berkata: Ia seperti korek api, luarnya dingin dan dalamnya api. Ia memiliki karya-karya: Kharidat Al-Qashr fi Syu’ara’ Al-‘Ashr, Al-Fath Al-Qudsi, Al-Barq Asy-Syami, dan lain-lain dari karya-karya yang menggunakan sajak, ungkapan yang berpasangan, qasidah-qasidah panjang, serta makna dan lafazh yang terpilih.
Di antara syair percintaannya yang indah, adalah bait-bait ini:
Bagaimana kalian berkata di matanya ada kelemahan … padahal aku melihatnya tanpa kelemahan bertindak zalim
Seandainya kalian melihat pandangannya bagaimana ia menawan … kalian akan berkata itu adalah yang mematahkan bukan yang patah
Pemanah busur alisnya untuk membidik … hatiku seolah-olah ia pemanah
Jangan tanyai aku tentang arak karena akalku … meluap dari araknya yang mulia
Bagaimana mungkin sadar dari mabuknya seorang yang terpesona … dicampur gelasnya oleh bidadari cantik
Mewariskan kepadanya sakit mereka mata yang hitam … dan menghadiahkan kepadanya kekurusan pinggang ramping
Tidak berburu singa-singa yang ganas … kecuali rusa-rusa yang sarangnya adalah kamar
Setiap yang ramping liukan, langsing … di atas bulan purnama kerahnya terkancing
Dan pipi menuai bunga poppy darinya … dan gigi seperti yang tercecer
Wafatnya pada awal Ramadhan tahun ini dalam usia tujuh puluh delapan tahun, semoga Allah merahmatinya, dan dimakamkan di pemakaman kaum sufi.
Amir Bahauddin Qaraqusyi
Lelaki dikebiri, salah seorang pembesar besar Daulah Shalahiyah. Ia pemberani dan gagah berani. Ia menguasai istana ketika Al-‘Adhid meninggal, dan membangun benteng Kairo mengelilingi Mesir juga, dan berakhir di Al-Muqassam; yaitu tempat yang di sana para sahabat membagi apa yang mereka rampas dari Mesir. Ia membangun benteng Jabal. Raja Shalahudin pernah menyerahkan Akka kepadanya untuk membangun banyak tempat di sana, lalu pengepungan terjadi saat ia di sana. Ketika pasukan pengganti keluar darinya, ia termasuk di antara yang keluar, kemudian Ibnu Al-Masythub memasukinya. Disebutkan bahwa ia ditawan lalu menebus dirinya dengan sepuluh ribu dinar, dan kembali kepada Shalahudin yang sangat gembira dengannya. Ketika ia meninggal pada tahun ini, Al-‘Adil mengawasi harta peninggalannya dan tanah serta hartanya menjadi milik Raja Al-Kamil Muhammad bin Al-‘Adil. Qadhi Ibnu Khallikan berkata: telah dinisbahkan kepadanya hukum-hukum yang aneh, hingga sebagian orang menyusun juz kecil yang dinamainya: kitab Al-Fasyusy fi Ahkam Qaraqusyi, lalu menyebutkan banyak sekali hal dan aku menduga itu dibuat-buat atasnya; karena Raja Shalahudin mengandalkannya, dan tidak mungkin ia melakukan itu jika ia dalam keadaan seperti itu! Wallahu a’lam.
Muklibah bin Abdullah Al-Mustanjidi
Ia adalah seorang Turki yang ahli ibadah dan zahid. Ia mendengar muadzin pada waktu sahur sedang melantunkan di menara:
Wahai lelaki malam bersungguh-sungguhlah … berapa banyak suara yang tidak ditolak
Tidaklah bangun malam kecuali … orang yang memiliki tekad dan kesungguhan
Maka Muklibah menangis, dan berkata kepada muadzin: Wahai muadzinku, tambahlah bagiku. Maka muadzin berkata:
Telah berlalu malam dan pergi … dan kekasihku telah menampakkan diri
Maka Muklibah berteriak satu teriakan yang menjadi ajalnya, maka pagi harinya penduduk negeri berkumpul di pintunya, dan yang beruntung adalah yang sampai ke kerandalannya, semoga Allah Ta’ala merahmatinya.
Abu Manshur bin Abu Bakar bin Syuja’
Al-Muzakklisy di Baghdad, dan dikenal dengan Ibnu Nuqthah. Ia berkeliling di pasar-pasar Baghdad pada siang hari melantunkan puisi dan maulaya, dan menghibur orang-orang di malam-malam Ramadhan. Ia berbakat, jenaka, dan nakal. Saudaranya Syaikh Abdul Ghani Az-Zahid termasuk di antara orang-orang saleh terbesar, memiliki zawiyah di Baghdad yang diziarahi, dan memiliki pengikut dan murid. Ia tidak menyimpan sesuatu yang diperolehnya dari pemberian. Ia bersedekah pada suatu malam dengan seribu dinar sedangkan para sahabatnya berpuasa, tidak menyimpan dari itu sesuatu untuk makan malam mereka. Istri khalifah menikahkannya dengan seorang budak wanita dari orang-orang khusus dan melengkapinya dengan sepuluh ribu dinar kepadanya, tetapi tidak sampai setahun dan tidak ada lagi dari itu sesuatu pada mereka, bahkan semua itu disedekahkan hingga tidak tersisa pada mereka kecuali lesung. Seorang peminta-minta berdiri di pintunya dan memaksa dalam permintaan, lalu ia mengeluarkan lesung kepadanya, dan berkata: Ambillah ini dan makanlah dengan itu tiga puluh hari, dan jangan mencela Allah Azza wa Jalla. Ia termasuk sebaik-baik orang saleh.
Maksudnya bahwa dikatakan kepada saudaranya Abu Manshur ini: Celakalah engkau, engkau berkeliling di pasar-pasar dan melantunkan syair-syair, sedangkan saudaramu adalah orang yang telah kamu kenal! Maka ia memulai berkata dalam menjawab hal itu dengan dua bait maulaya dari syairnya secara spontan:
Sungguh kecewa yang menyerupakan batu karang dengan mutiara … dan menyerupakan pelacur dengan wanita terhormat yang perawan
Aku penyanyi dan saudaraku zahid sekali waktu … di rumah ada dua sumur yang ini manis dan yang ini pahit
Pernah disebutkan di sisinya tentang pembunuhan Utsman, dan Ali hadir, maka ia memulai berkata: Kana wa kana, dan siapa yang terbunuh dalam perlindungannya seperti Ibnu Affan lalu meminta maaf, wajib atasnya untuk menerima maafnya Yazid di Syam. Maka kaum Rafidhah ingin membunuhnya. Kebetulan pada salah satu malam ia menghibur orang-orang di Ramadhan ketika melewati istana khalifah, lalu khalifah bersin di teras rumah dan Abu Manshur ini mengatakan kepadanya dari jalan dalam nazham yang ia ucapkan secara spontan maulaya yang berkata di akhirnya:
Siapa pun yang bersin di beranda yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu)
Maka khalifah mengirimkan kepadanya seratus dinar, dan memerintahkan untuk melindunginya dari kaum Rafidhah, hingga ia meninggal pada tahun ini, semoga Allah merahmatinya.
Pada tahun ini juga meninggal:
Musnad Syam Abu Thahir Barakat bin Ibrahim bin Thahir
Al-Khusyu’i, ia berbagi banyak guru dengan Ibnu Asakir, dan umurnya panjang setelah wafatnya selama dua puluh tujuh tahun, sehingga ia menyambungkan cucu-cucu dengan kakek-kakek.
Kemudian Masuklah Tahun Lima Ratus Sembilan Puluh Delapan
Pada tahun ini, Syekh Abu Umar Muhammad bin Ahmad bin Qudamah Al-Maqdisi mulai membangun masjid jami di Gunung (Jabal Qasiyun), dan seorang laki-laki bernama Syekh Abu Daud Mahasin Al-Fami membiayai pembangunannya. Hingga bangunan mencapai ketinggian sebesar tinggi tubuh seseorang, dana yang dimilikinya habis. Kemudian Al-Malik Al-Muzhaffar Kukuburi bin Zainuddin, penguasa Irbil, mengirimkan sejumlah besar uang untuk menyelesaikan pembangunan masjid tersebut, dan pembangunan pun selesai. Ia juga mengirimkan seribu dinar untuk mengalirkan air ke masjid tersebut dari Barzah, namun Al-Malik Al-Mu’azhzham, penguasa Damaskus, tidak mengizinkannya dengan alasan bahwa hal itu akan mengganggu banyak kuburan kaum muslimin. Lalu dibuatlah sumur untuknya dengan keledai penggiling yang berputar, dan diwakafkan untuk itu.
Pada tahun ini terjadi banyak peperangan dan peristiwa panjang antara Khawarizm dan Ghur di negeri-negeri Timur, yang dirinci oleh Ibnu Al-Atsir dan diringkas oleh Ibnu Katsir.
Pada tahun ini, Majduddin Yahya bin Ar-Rabi mengajar di Nizhamiyah, dan ia diberi pakaian kehormatan yang bagus berwarna hitam dengan selendang berwarna biru tua, serta dihadiri oleh para ulama dan tokoh terkemuka. Pada tahun ini juga, Abu Al-Hasan Ali bin Sulaiman Al-Jili diangkat sebagai Qadhi Al-Qudhat (Hakim Agung) di Baghdad, dan ia pun diberi pakaian kehormatan.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini:
Al-Qadhi Ibnu Az-Zaki
Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Yahya bin Ali bin Abdul Aziz, Abu Al-Ma’ali Al-Quraisyi, Muhyiddin Qadhi Al-Qudhat di Damaskus. Setiap orang dari leluhurnya adalah seorang qadhi; ayahnya, kakeknya, dan kakek buyutnya Yahya bin Ali yang telah disebutkan, dan dialah yang pertama kali menjabat sebagai hakim di Damaskus dari keluarga mereka. Ia adalah kakek dari Al-Hafizh Abu Al-Qasim bin Asakir dari pihak ibu. Ibnu Asakir telah menulis biografinya dalam kitab sejarahnya, dan tidak menambahkan keterangan lebih dari “Al-Quraisyi”. Syekh Abu Syamah berkata: Seandainya ia keturunan Umawiyah Utsmaniyah sebagaimana yang mereka klaim, pasti Ibnu Asakir akan menyebutkan hal itu, karena itu adalah kehormatan bagi kakeknya dan kedua pamannya, Muhammad dan Sulthan. Jika itu benar, tentu tidak akan tersembunyi dari Ibnu Asakir.
Ibnu Az-Zaki belajar kepada Al-Qadhi Syarafuddin Abu Sa’d Abdullah bin Muhammad bin Abi Ashrun, dan menjadi wakilnya dalam pengadilan. Ia adalah orang pertama yang meninggalkan jabatan wakil. Ia juga adalah orang pertama yang berkhutbah di Al-Quds ketika Al-Malik Shalahuddin menaklukkannya, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya pada tahun lima ratus delapan puluh tiga. Kemudian ia diangkat sebagai qadhi Damaskus dan ditambahkan kepadanya juga jabatan qadhi Halab. Ia adalah pengawas wakaf Masjid Agung. Kemudian ia diberhentikan beberapa bulan sebelum wafatnya, dan jabatan itu diberikan kepada Syamsuddin bin Al-Baini dengan sistem kontrak.
Al-Qadhi Muhyiddin bin Az-Zaki melarang para pelajar untuk mempelajari ilmu mantiq (logika) dan ilmu kalam, dan merobek buku-buku siapa saja yang memiliki sesuatu dari itu di Madrasah At-Taqawiyah. Ia menghafal kitab akidah bernama Al-Mishbah karya Al-Ghazali, dan anak-anaknya juga menghafalnya. Ia memiliki majlis tafsir yang ia sampaikan di Al-Kallasah, di seberang makam Al-Malik An-Nashir Shalahuddin. Pernah terjadi perselisihan antara dirinya dengan kelompok Ismailiyah, dan mereka ingin membunuhnya, maka ia membuat pintu dari rumahnya menuju masjid agar dapat keluar untuk shalat. Kemudian akalnya terganggu, dan ia mengalami semacam epilepsi hingga wafat pada tanggal tujuh Sya’ban tahun ini. Ia dimakamkan di makam di kaki Gunung Qasiyun.
Al-Khathib Ad-Daula’i
Dhiyauddin Abu Al-Qasim Abdul Malik bin Zaid bin Yasin At-Taghlibi Ad-Daula’i, dinisbatkan kepada sebuah desa di Mosul yang disebut Ad-Daula’iyah. Ia lahir di sana pada tahun lima ratus delapan belas, dan belajar fikih di Baghdad menurut madzhab Syafi’i. Ia mendengar hadits, mendengar Sunan At-Tirmidzi dari Abu Al-Fath Al-Karukhi, dan Sunan An-Nasa’i dari Abu Al-Hasan Ali bin Ahmad Al-Yazdi. Kemudian ia datang ke Damaskus dan diangkat sebagai khatib dan pengajar di Al-Ghazaliyah. Ia adalah orang yang zuhud, wara’, baik akhlaknya, dan berwibawa dalam menegakkan kebenaran.
Wafatnya pada hari Selasa tanggal dua belas Rabi’ul Awal, dan dimakamkan di pemakaman Babus Shaghir di dekat kuburan para syuhada. Hari pemakamannya adalah hari yang bersejarah. Setelahnya, jabatan khatib dipegang oleh anak saudaranya, Muhammad bin Abu Al-Fadhl bin Zaid, selama tiga puluh tujuh tahun. Ibnu Az-Zaki pernah mengangkat anaknya, Az-Zaki Ath-Thahir, tetapi ia hanya memimpin satu shalat saja. Kemudian Jamaluddin meminta pertolongan kepada Amir Falakuddin, saudara Al-‘Adil, dan ia mengangkatnya untuk jabatan tersebut. Ia menjabat hingga wafat pada tahun enam ratus tiga puluh lima.
Syekh Ali bin Muhammad bin Ghulayyis
Al-Yamani, ahli ibadah dan zuhud. Ia tinggal di sebelah timur Al-Kallasah, dan memiliki berbagai karamah yang dinukil oleh Syekh Alamuddin As-Sakhawi darinya, dan dikutip oleh Abu Syamah darinya dalam Ad-Dzail.
Ash-Shadr Abu Ats-Tsana Hammad bin Hibatullah bin Hammad Al-Harrani At-Tajir
Lahir pada tahun lima ratus sebelas, tahun yang sama dengan kelahiran Nuruddin bin Zanki. Ia mendengar hadits di Baghdad, Mesir, dan negeri-negeri lainnya, dan meriwayatkan hadits. Ia wafat pada bulan Dzulhijjah.
Di antara syairnya adalah:
Berpindah-pindahnya seseorang di berbagai negeri membuatnya memperoleh… kebaikan-kebaikan yang tidak ada padanya di negerinya sendiri.
Tidakkah engkau lihat bidak catur, berpindah-pindahnya… memberinya kebaikan di dalamnya melebihi kedudukannya.
As-Sit Al-Jalilah Al-Mashunah Banafsha binti Abdullah
Budak yang dimerdekakan oleh Al-Imam Al-Mustadhi’, ia adalah salah satu selir terbesarnya. Setelah wafatnya, ia menjadi salah satu wanita yang paling banyak bersedekah, berbuat baik, dan berbuat ihsan kepada para ulama dan orang-orang fakir. Ia memiliki banyak kebaikan yang terkenal di jalan menuju Hijaz, dan ia mewakafkan sebuah madrasah untuk madzhab Hanbali dengan wakaf-wakaf yang melimpah. Ia dimakamkan di Baghdad di dekat makam Ma’ruf Al-Karkhi.
Ibnu Al-Muhtasib, Penyair Abu Asy-Syukr Mahmud bin Sulaiman bin Sa’id Al-Mushili
Dikenal sebagai Ibnu Al-Muhtasib. Ia belajar fikih di Baghdad kemudian mengembara ke berbagai negeri dan menemani Ibnu Asy-Syahrazuri serta datang bersamanya. Ketika Ibnu Asy-Syahrazuri diangkat sebagai qadhi Baghdad, ia mengangkatnya sebagai pengawas wakaf Nizhamiyah. Ia adalah orang yang berilmu dan menyusun syair yang indah. Di antaranya:
Berilah kami utang dengan minuman anggur terbaik… dengan semua emas yang dikumpulkan.
Dan berteriaklah dengan jiwa dalam muamalah… di dalamnya dengan apa yang kami miliki dari harta.
Semua yang ada di kantong dipandang remeh oleh… orang yang berakal dalam mencium ludahnya yang segar.
Terutama jika ia datang kepadamu seperti emas… yang telah mereka kalungi dengan kalung buah anggur.
Membakar tangan pemutar jika berhenti putaran… dengannya sesaat dari api yang berkobar.
Jika niat kami muncul untuk mencuri mendengarkan… dengan lembut untuk hiburan dan permainan, mengikutinya dari langit wadahnya yang jernih… lemparan dengan bintang-bintang yang gemilang.
Tidak pernah menyesal tangan bagi peminumnya… demi hak firman “Celakalah kedua tangan Abu Lahab”.
Kedermawanan di balik pagar anggurnya… membuatku mabuk kegirangan.
Aku mabuk kemarin jika aku bertekad untuk minum… besok, sungguh ini adalah keajaiban.
Hindari kemabukan dan persahabatannya… pengharaman syariat pemimpin bangsa Arab.
Aku tinggalkan itu dan berlindung kepada… naungan seorang imam yang menyelamatkan dari bencana.
Yang suci lagi murni dan anak laki-laki terbaik… dan suci akhlak serta suci nasab.
Apa yang dikatakan para pujangga tentang seorang laki-laki… khalifah Allah dan anak paman nabi.
Di antara syairnya yang indah juga adalah:
Aku berani mendeskripsikan anggur dalam wadahnya… alangkah indahnya aroma harum darinya.
Berkat si pemberi minum yang telah duduk dengannya… mabuk lalu bertambah mabuk ketika merangkak dengannya.
Ia melangkah dengannya dengan dokumen syariat… atas orang yang bangkrut dari khutbahnya.
Ia memanggilnya di awal setiap orang pelit… dan kosong dari setiap orang yang memanggilnya.
Pemuda dengannya hati orang yang dengki dan bersyukurlah… setiap pemuda di antara manusia yang menjadi pemuda dengannya.
Tolonglah dengannya wahai orang yang tergila-gila dengannya… dan berilah emas dalam buah anggurnya.
Tinggallah dengannya semua kegembiraan di sisi kami… dan dosanya lebih besar dari pahalanya.
Kemudian Masuklah Tahun Lima Ratus Sembilan Puluh Sembilan
Sibth bin Al-Jauzi berkata dalam Al-Mir’ah: Pada malam Sabtu terakhir bulan Muharram, bintang-bintang bergerak hebat di langit dan berguncang ke timur dan barat, beterbangan seperti belalang yang tersebar ke kanan dan kiri. Ia berkata: Tidak pernah terlihat yang seperti ini kecuali pada tahun diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pada tahun dua ratus empat puluh satu.
Pada tahun ini dimulai pembangunan tembok benteng Damaskus, dimulai dari menara sudut barat selatan yang berdekatan dengan Babus Nashr.
Pada tahun ini, Khalifah An-Nashir mengirimkan pakaian kehormatan dan celana persaudaraan (futuwwah) kepada Al-Malik Al-‘Adil dan anak-anaknya. Pada tahun ini, Al-‘Adil mengirim anaknya Al-Asyraf Musa untuk mengepung Mardin dan dibantu oleh pasukan Sinjar dan Mosul. Kemudian terjadi perdamaian melalui perantaraan Az-Zhahir dengan syarat bahwa penguasa Mardin harus menyerahkan kepada Al-‘Adil setiap tahun seratus lima puluh ribu dinar, bahwa mata uang dan khutbah untuk Al-‘Adil, dan bahwa kapan saja ia memintanya dengan pasukannya, ia harus hadir kepadanya.
Pada tahun ini selesai pembangunan Ribath Al-Marzbанiyah, dan Syekh Syihabuddin Umar bin Muhammad As-Suhrawardi diangkat sebagai pengawasnya bersama sekelompok sufi, dan ditetapkan bagi mereka gaji dan jatah yang sesuai untuk kebutuhan mereka selama tinggal di negeri Mesir.
Pada tahun ini, Al-Malik Al-‘Adil menempatkan Muhammad bin Al-Malik Al-‘Aziz dan saudara-saudaranya dalam pengawasan ketat, dan mengirim mereka ke Ar-Raha karena khawatir jika mereka tinggal di Mesir. Pada tahun ini, bangsa Kurj (Georgia) menguasai kota Dawin, lalu membunuh penduduknya dan menjarahnya. Kota itu berada di wilayah Azerbaijan, dan itu terjadi karena rajanya sibuk dengan kefasikan dan minum khamr – semoga Allah melaknatnya – sehingga orang-orang kafir dapat menguasai leher kaum muslimin karena perbuatannya, dan semua itu akan menjadi belenggu di lehernya pada Hari Kiamat.
Pada tahun ini wafat Al-Malik Ghiyatsuddin Al-Ghuri, saudara Syihabuddin. Setelahnya, anaknya Mahmud menggantikan kerajaannya dan menggunakan gelar ayahnya. Ghiyatsuddin adalah orang yang berakal, tegas, pemberani, tidak pernah benderanya kalah meskipun banyak peperangan, dan ia bermadzhab Syafi’i. Ia telah membangun madrasah yang megah untuk madzhab Syafi’i, dan sirahnya sangat baik, begitu pula dengan batinnya; semoga Allah merahmatinyya.
Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini:
Al-Amir Al-Kabir Falakuddin, Abu Manshur Sulaiman bin Syarwah bin Khaldak, Saudara Al-Malik Al-‘Adil dari Pihak Ibu
Wafatnya pada tanggal dua puluh sembilan Muharram, dan dimakamkan di rumahnya yang telah ia jadikan madrasah di dalam Babus Faradis di kawasan Al-Aftaris, dan ia mewakafkan seluruh Al-Juman untuknya; semoga Allah menerimanya.
Al-Qadhi Adh-Dhiya’ Asy-Syahrazuri
Abu Al-Fadha’il, Al-Qasim bin Yahya bin Abdullah bin Al-Qasim Asy-Syahrazuri Al-Mushili, Qadhi Al-Qudhat di Baghdad. Ia adalah anak saudara Qadhi Al-Qudhat di Damaskus, Kamaluddin Asy-Syahrazuri pada masa Nuruddin. Ketika ia wafat pada tahun lima ratus tujuh puluh enam pada masa Daulah Shalahiyah, ia berwasiat agar jabatan qadhi diberikan kepada anak saudaranya ini, maka ia menjabatnya. Kemudian ia diberhentikan dan diganti dengan Ibnu Abi Ashrun, dan diberi kompensasi dengan jabatan duta kepada para raja. Kemudian ia menjabat sebagai qadhi negeri Mosul, lalu dipanggil ke Baghdad dan menjabat selama dua tahun empat bulan. Kemudian ia meminta berhenti tetapi Khalifah tidak mengizinkannya karena kedudukannya di sisinya. Maka ia meminta bantuan istrinya Sit Al-Muluk kepada ibu Khalifah, dan istrinya memiliki kedudukan di sisinya, maka permintaannya dikabulkan. Lalu ia pergi menjadi qadhi Hamah karena kecintaannya pada kota itu, dan ia dicela karena hal itu. Ia memiliki banyak keutamaan dan memiliki syair-syair yang indah. Wafatnya di Hamah pada pertengahan Rajab; semoga Allah merahmatinya.
Ubaidullah bin Ali bin Nashr bin Hamzah
Abu Bakar Al-Baghdadi yang dikenal sebagai Ibnu Al-Maristaniyah, salah satu ulama terkenal. Ia mendengar dan mengumpulkan hadits, dan ia adalah seorang dokter dan ahli nujum yang mengetahui ilmu-ilmu orang-orang terdahulu dan sejarah manusia. Ia menyusun Diwan Al-Islam tentang sejarah Darus Salam (Baghdad), dan menyusunnya dalam tiga ratus enam puluh kitab, tetapi tidak terkenal. Ia mengumpulkan sirah Ibnu Hubairah. Ia mengklaim bahwa ia keturunan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, maka mereka membicarakannya karena hal itu. Seseorang mendendangkan syair:
Tinggalkan nasab, jangan membahas Taim… sesungguhnya yang hina adalah dari anak yang mulia.
Sungguh engkau menjadi pendatang dari Taim… seperti klaim Haish Baish kepada Tamim.
Ibnu An-Naja Al-Wa’izh
Ali bin Ibrahim bin Naja, Zainuddin Abu Al-Hasan Ad-Dimasyqi, penceramah Hanbali, dan cucu Syekh Abu Al-Faraj Asy-Syirazi Al-Hanbali. Ia pergi ke Baghdad untuk belajar fikih di sana dan mendengar hadits. Kemudian ia kembali ke negerinya, lalu kembali lagi ke Baghdad sebagai utusan dari pihak Nuruddin pada tahun lima ratus enam puluh empat, dan meriwayatkan hadits di sana. Kemudian ia mendapat kedudukan di sisi Al-Malik An-Nashir Shalahuddin. Dialah yang mengadu tentang Imarah Al-Yamani dan keluarganya sehingga mereka disalib. Ia memiliki kedudukan di Mesir. Ia pernah berbicara pada hari Jum’at ketika khutbah disampaikan di Baitul Maqdis Asy-Syarif setelah selesai shalat Jum’at, dan itu adalah waktu yang bersejarah. Ia hidup dengan kehidupan yang lebih nikmat dari kehidupan para raja dalam makanan dan pakaian. Ia memiliki dua puluh selir, masing-masing seharga seribu dinar. Setelah semua itu, ia meninggal dalam keadaan miskin dan tidak meninggalkan kain kafan. Ia pernah membacakan syair di atas mimbarnya untuk Wazir Thala’i bin Ruzzik:
Ubanmu telah menggugurkan cat masa muda… dan elang hinggap di sarang burung gagak.
Engkau tidur sementara mata bencana terjaga… dan tidak ada yang menggantikanmu dari bencana yang menimpamu.
Bagaimana mungkin umurmu bertahan padahal ia adalah harta… dan engkau telah membelanjakannya tanpa perhitungan.
Syekh Abu Al-Barakat
Muhammad bin Ahmad bin Sa’id at-Tikriti yang dikenal dengan sebutan al-Mu’ayyad, adalah seorang sastrawan dan penyair. Di antara syairnya yang ditujukan kepada al-Wajih an-Nahwi – ketika ia awalnya bermazhab Hanbali, kemudian berpindah ke mazhab Hanafi, lalu menjadi pengikut mazhab Syafi’i – di halaqah nahwu Nizhamiyyah:
Sampaikan dariku kepada al-Wajih sebuah pesan / meskipun pesan-pesan tidak berguna di sisinya Engkau bermazhab kepada an-Nu’man (Abu Hanifah) setelah Ibnu Hanbal / dan itu karena sumber makananmu telah habis Engkau tidak memilih pendapat asy-Syafi’i karena beragama / tetapi engkau hanya menginginkan apa yang menguntungkan Dan tidak lama lagi engkau pasti akan berpindah / kepada Malik, maka pahamilah apa yang akan engkau katakan?
Bibi Jaliliyyah yang Terpelihara Zumurrud Khatun
Ibu khalifah an-Nashir li Dinillah bin al-Mustadhî’, ia adalah wanita yang salihah, ahli ibadah, banyak berbuat kebaikan dan silaturahmi, banyak wakaf dan sedekah. Ia membangun tempat-tempat pengairan di jalan menuju Hijaz yang mulia, dan memperbaiki jalan-jalan. Ia membangun makam untuknya di samping kuburan Ma’ruf al-Karkhi. Jenazahnya sangat banyak yang menyaksikan, dan ta’ziah berlangsung selama sebulan penuh. Ia hidup dalam masa kekhilafahan anaknya selama dua puluh empat tahun dengan pengaruh yang kuat dan perintahnya ditaati.
Pada tahun ini lahir Syekh Syihab ad-Din Abu Syamah. Ia telah membuat biografi dirinya sendiri ketika menyebutkan kelahirannya pada tahun ini dalam kitab “adh-Dzail” dengan biografi yang panjang, yang akan dipindahkan ke tahun wafatnya; semoga Allah merahmatinya. Ia menyebutkan permulaan urusannya dan kesungguhannya dalam menuntut ilmu, karya-karyanya dan banyak syair-syairnya, serta mimpi-mimpi yang dilihatnya yang membawa kabar gembira.
Pada tahun ini dimulai kekuasaan Jenghis Khan, raja Tatar – semoga Allah melaknatnya – dan Jenghis Khan adalah pembuat Yasiq (undang-undang Tatar), yang ia ciptakan untuk dijadikan rujukan hukum bagi bangsa Tatar dan para pengikut mereka dari kalangan para panglima Turki – yang menginginkan hukum jahiliyyah. Ia adalah ayah dari Tuluy, dan kakek dari Hulagu bin Tuluy – yang membunuh Khalifah al-Musta’shim dan penduduk Baghdad pada tahun enam ratus lima puluh enam (656 H), sebagaimana akan dijelaskan kemudian.
Tahun Enam Ratus Hijriyyah
Pada tahun ini kaum Franka telah mengumpulkan pasukan yang sangat banyak untuk merebut kembali Baitul Maqdis dari kaum Muslimin – menurut dugaan mereka. Namun Allah menyibukkan mereka dengan perang melawan Romawi; hal itu terjadi karena mereka melewati Konstantinopel dalam perjalanan mereka, dan mereka mendapati raja-raja kota itu sedang berselisih di antara mereka. Maka mereka mengepungnya hingga merebutnya dengan paksa, dan membiarkannya tiga hari untuk pembunuhan dan penawanan. Lebih dari seperempat kota terbakar, dan tidak ada seorang pun dari orang Romawi yang tersisa setelah tiga hari kecuali terbunuh, atau menjadi miskin, atau terbelenggu, atau menjadi tawanan. Kebanyakan yang tersisa berlindung ke gereja besar mereka yang bernama Sophia. Kaum Franka menyerang gereja itu, lalu para pendeta keluar menemui mereka dengan membawa Injil untuk memohon belas kasihan kepada mereka dan membacakannya kepada mereka. Namun mereka tidak memperhatikan sama sekali apa yang dihadapkan kepada mereka, bahkan mereka membunuh mereka semua tanpa tersisa. Mereka mengambil apa yang ada di dalam gereja berupa perhiasan, emas, dan harta yang tak terhitung jumlahnya. Mereka mengambil apa yang ada pada salib-salib dan dinding-dinding. Segala puji bagi Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang apa yang Dia kehendaki terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi.
Kemudian para raja Franka melakukan undian, dan mereka berjumlah tiga orang; yaitu Duqus dari Venesia yang merupakan seorang syekh buta yang kudanya dipimpin orang, Marquis dari Perancis, dan Count dari Flanders yang jumlah pasukannya dan peralatannya paling banyak. Undian jatuh kepadanya tiga kali, maka mereka mengangkatnya sebagai raja Konstantinopel. Kedua raja lainnya mengambil sebagian wilayah. Kekuasaan berpindah dari Romawi kepada Franka di Konstantinopel pada tahun ini. “Katakanlah: Wahai Allah, Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki.” (Ali Imran: 26). Tidak ada yang tersisa di tangan orang Romawi di sana kecuali wilayah di seberang teluk, yang dikuasai oleh seorang laki-laki Romawi yang disebut Laskari. Ia terus menguasai wilayah itu hingga ia meninggal; semoga Allah melaknatnya.
Kemudian kaum Franka menuju negeri Syam, dan mereka telah menjadi kuat dengan penguasaan mereka atas Konstantinopel. Mereka turun di Akka dan menyerbu banyak negeri Islam dari arah al-Gaur dan wilayah-wilayah itu, mereka membunuh dan menawan. Maka al-Malik al-‘Adil bangkit untuk menghadapi mereka – ia berada di Damaskus, segala puji bagi Allah – dan memanggil pasukan dari Mesir dan Masyriq. Ia mengepung mereka dekat Akka, terjadilah pertempuran yang dahsyat dan ketabatan yang luar biasa di antara mereka. Kemudian terjadilah perdamaian dan gencatan senjata di antara mereka, dan ia memberikan kepada mereka beberapa wilayah. Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.
Pada tahun ini terjadi banyak peperangan antara Khwarizm dan Ghuriyyah di Masyriq yang panjang penceritaannya.
Pada tahun ini terjadi perang antara Nuruddin – penguasa Mosul – dan Quthbuddin Muhammad bin ‘Imaduddin Zanki – penguasa Sinjar. Al-Asyraf bin al-‘Adil membantu Quthbuddin, kemudian mereka berdamai di antara mereka. Al-Asyraf menikahi saudara perempuan Nuruddin, yaitu al-Atabikiyyah binti ‘Izzuddin Mas’ud bin Maudud bin Zanki, pendiri madrasah yang ada di as-Safh, dan di sana makamnya.
Pada tahun ini terjadi gempa bumi yang dahsyat di Mesir, Syam, Jazirah, Siprus, dan wilayah-wilayah lainnya; demikian dikatakan Ibnu al-Atsir dalam kitabnya “al-Kamil”.
Pada tahun ini seorang pedagang bernama Mahmud bin Muhammad al-Himyari menguasai sebagian negeri Hadramaut; Zhafar dan lainnya. Masa kekuasaannya berlangsung hingga tahun sembilan belas dan enam ratus (619 H) dan setelahnya.
Pada bulan Jumadal Ula tahun ini diadakan majelis untuk Qadhi al-Qudhah di Baghdad, yaitu Abu al-Hasan ‘Ali bin ‘Abdullah bin Sulaiman al-Halabi di rumah wazir. Terbukti terhadapnya tuduhan bahwa ia menerima suap, maka ia dipecat dalam majelis itu dan difasikkan, serta sorban dilepas dari kepalanya. Masa jabatannya adalah dua tahun tiga bulan.
Pada tahun ini meninggal al-Malik Ruknuddin bin Qilij Arslan, penguasa negeri Rum antara Malatya dan Konya. Ia memiliki keberanian dan ketegasan, namun ia dituduh menganut paham para filsuf, dan menjadi pelindung bagi orang-orang yang dituduh seperti itu, serta tempat berlindung bagi mereka. Sebelum kematiannya tampak darinya kezaliman yang besar; yaitu ia mengepung saudara kandungnya – yang merupakan penguasa Anquriya, yang juga disebut Ankara – selama dua tahun hingga persediaan makanan di kota itu habis. Akhirnya saudaranya menyerahkan kota itu kepadanya dengan terpaksa, dengan syarat ia diberi sebagian wilayah. Ketika ia menguasai saudaranya dan anak-anaknya, ia mengirim orang yang membunuh mereka dengan khianat, tipu daya, dan makar. Namun ia hanya hidup lima hari setelah itu, kemudian Allah memukul dia dengan sakit kolik selama tujuh hari lalu meninggal. Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan mereka tidak diberi penangguhan. (ad-Dukhan: 29). Setelahnya diangkat menjadi raja anaknya Qilij Arslan yang masih kecil, ia bertahan satu tahun, kemudian kerajaan dicabut darinya juga, dan berpindah kepada pamannya Kaykhusraw.
Pada tahun ini banyak orang dari kelompok Bathiniyyah dibunuh di Wasith; segala puji bagi Allah.
Ibnu al-Atsir berkata: Pada bulan Rajab berkumpul sekelompok sufi di sebuah ribath di Baghdad dalam majelis sama’ (mendengarkan musik spiritual). Seorang penyanyi, yaitu al-Jammal al-Hilli menyanyikan untuk mereka:
Wahai yang menasihati, cukuplah / cukuplah uban rambutku sebagai nasihat Masa muda seolah tidak pernah ada Dan uban seolah selalu ada / Demi malam-malam pertemuan Akhirnya dan awalnya / Dan warna pucat wajah kekasih Ketika mendengar nasihat / Jika kehidupanku bersama kalian kembali Manis kehidupan bagiku dan terus berlanjut
Ia berkata: Para sufi bergerak seperti biasa, lalu seorang laki-laki di antara mereka bernama Ahmad bin Ibrahim ar-Razi menunjukkan keadaan tawajud (ekstase spiritual), kemudian jatuh pingsan. Mereka menggerakkannya dan ternyata ia telah meninggal. Ia berkata: Ia adalah seorang laki-laki yang salih. Ibnu as-Sa’i berkata: Ia adalah seorang syekh yang salih, berguru kepada ash-Shadr ‘Abdurrahim Syekh asy-Syuyukh. Orang-orang menyaksikan jenazahnya, dan ia dikuburkan di Bab Abraz.
Orang-Orang Terkemuka yang Meninggal Pada Tahun Ini
Abu Muhammad al-Qasim Baha’uddin
Al-Hafizh putra al-Hafizh Abu al-Qasim ‘Ali bin Hibatullah bin ‘Asakir, ia lahir pada tahun dua puluh tujuh dan lima ratus (527 H). Ayahnya telah memperdengarkan banyak hadits kepadanya, dan ia berbagi guru dengan ayahnya dalam kebanyakan guru-gurunya. Ia menyalin tarikh ayahnya dua kali dengan tulisannya sendiri, dan menulis banyak, serta memperdengarkan hadits. Ia menyusun beberapa kitab, dan menggantikan ayahnya dalam memperdengarkan hadits di masjid dan Dar al-Hadits an-Nuriyyah.
Wafatnya pada hari Kamis tanggal delapan bulan Safar, dan ia dikuburkan setelah Ashar bersama ayahnya di pemakaman Bab ash-Shaghir di sebelah timur kuburan para sahabat di luar pagar; semoga Allah merahmati keduanya.
Al-Hafizh ‘Abdul Ghani al-Maqdisi
‘Abdul Ghani bin ‘Abdul Wahid bin ‘Ali bin Surur, al-Hafizh Abu Muhammad al-Maqdisi, pemilik karya-karya terkenal, di antaranya: “al-Kamal fi Asma’ ar-Rijal” (Kesempurnaan dalam Nama-nama Para Perawi), “al-Ahkam al-Kubra” (Hukum-hukum Besar), “al-Ahkam ash-Shughra” (Hukum-hukum Kecil), dan lainnya. Ia lahir di Jamma’il pada bulan Rabi’ul Akhir tahun satu dan empat puluh dan lima ratus (541 H). Ia lebih tua dari anak bibinya, al-Imam Muwaffaquddin ‘Abdullah bin Ahmad bin Qudamah al-Maqdisi, empat bulan. Kedatangan mereka bersama keluarga mereka dari Baitul Maqdis ke Masjid Abu Shalih pertama kali, kemudian mereka pindah ke as-Safh dan tempat itu dikenal dengan nama mereka, maka disebut: ash-Shalihiyyah. Mereka tinggal di ad-Dair. Al-Hafizh ‘Abdul Ghani membaca al-Quran, mendengar hadits, dan melakukan perjalanan ilmiah bersama al-Muwaffaq ke Baghdad pada tahun enam puluh dan lima ratus (560 H). Syekh ‘Abdul Qadir menempatkan mereka bersamanya di madrasah, padahal ia tidak membiarkan siapa pun tinggal bersamanya, tetapi ia melihat tanda-tanda kecerdasan, kebaikan, dan kesalehan pada keduanya, maka ia memuliakan mereka dan memperdengarkan hadits kepada mereka. Kemudian ia wafat lima puluh malam setelah kedatangan mereka.
Minat ‘Abdul Ghani adalah pada hadits dan nama-nama perawi, sedangkan minat al-Muwaffaq adalah pada fikih. Mereka belajar pada Syekh Abu al-Faraj Ibnu al-Manni. Kemudian mereka datang ke Damaskus setelah empat tahun. ‘Abdul Ghani pergi ke Mesir dan Iskandariah, kemudian kembali ke Damaskus, lalu melakukan perjalanan ke Jazirah dan Baghdad, kemudian melakukan perjalanan ke Ashbahan (Isfahan) dan mendengar banyak hadits di sana. Ia menemukan karya al-Hafizh Abu Nu’aim tentang nama-nama para sahabat – saya katakan: kitab itu ada padaku dengan tulisan Abu Nu’aim – maka ia mulai mengkritiknya di beberapa tempat dalam kitab itu, di seratus sembilan puluh tempat. Banu al-Khujandi marah karenanya dan bersikap fanatik terhadapnya, lalu mengusirnya dari sana dengan bersembunyi dalam kain.
Ketika ia masuk dalam perjalanannya menuju Mosul, ia mendengar kitab al-‘Uqaili tentang al-Jarh wat Ta’dil (kritik dan pembelaan perawi). Maka kaum Hanafiyyah bangkit menentangnya karena Abu Hanifah. Ia keluar dari sana juga dengan ketakutan dan was-was. Ketika ia tiba di Damaskus, ia membaca hadits setelah salat Jumat di serambi Hanabilah Masjid Damaskus, dan orang-orang berkumpul kepadanya. Ia lembut hatinya dan cepat menangis, sehingga ia mendapat penerimaan. Para ulama Damaskus menjadi iri kepadanya dan mengirim an-Nasih Ibnu al-Hanbali untuk berbicara di bawah patung elang untuk mengganggunya. Maka ‘Abdul Ghani memindahkan waktunya setelah Ashar. Suatu hari ia menyebutkan akidahnya di atas kursi, maka al-Qadhi Muhyiddin Ibnu az-Zaki dan al-Khatib Dhiya’uddin ad-Daula’i bangkit menentangnya. Diadakan majelis untuknya di benteng pada hari Senin tanggal dua puluh empat Dzulqa’dah tahun lima dan sembilan puluh dan lima ratus (595 H).
Mereka berbicara dengannya tentang masalah ketinggian (Allah), masalah turunnya (Allah), dan masalah huruf dan suara, dan pembicaraan berlangsung lama, hingga ash-Sharim Bizghush, wali benteng, berkata kepadanya: Apakah semua orang ini dalam kesesatan, dan engkau sendirian yang berada di atas kebenaran? Ia berkata: Ya. Maka Bizghush marah karenanya dan memerintahkannya untuk keluar dari negeri.
Ia berangkat setelah tiga hari ke Ba’labak, kemudian ke negeri Mesir. Para penggiling gandum melindunginya, dan ia membaca hadits di sana. Para fuqaha di Mesir juga bangkit menentangnya dan menulis kepada wazir Shafiuddin Ibnu Syukr. Wazir menyetujui pengusiran dia ke Maghrib, namun ia meninggal sebelum surat itu sampai, pada hari Senin tanggal dua puluh tiga Rabi’ul Awwal tahun ini. Usianya lima puluh tujuh tahun, dan ia dikuburkan di al-Qarafah bersama Syekh Abu ‘Amr bin Marzuq; semoga Allah merahmati keduanya.
As-Sibth berkata: Ia adalah orang yang wara’, zahid, ahli ibadah, salat setiap hari tiga ratus rakaat, seperti wirid Imam Ahmad. Ia qiyamullail dan puasa sepanjang tahun. Ia murah hati dan dermawan, tidak menimbun apa pun, dan bersedekah kepada para janda dan anak yatim di tempat yang tidak dilihat orang. Ia menambal bajunya dan mengutamakan harga baju baru untuk sedekah. Penglihatannya melemah karena banyak membaca dan menangis. Ia adalah satu-satunya di zamannya dalam ilmu hadits dan hafalan.
Saya katakan: Syekh kami al-Hafizh Abu al-Hajjaj al-Mizzi – semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya – telah menyempurnakan kitabnya “al-Kamal fi Asma’ ar-Rijal” – perawi kitab yang enam – dengan penyempurnaannya yang ia kritik di banyak tempat, sekitar seribu tempat; hal itu karena ia adalah Imam al-Mizzi yang tidak dapat ditandingi, disaingi, atau dibantah. Dan kitabnya “at-Tahdzib” tidak pernah ada yang mendahuluinya dengan yang sepertinya, dan tidak akan tertandingi dalam bentuknya. Semoga Allah merahmati kedua pemilik “at-Tahdzib” dan “al-Kamal”, keduanya adalah orang yang langka di zamannya dalam hafalan para perawi, ketelitian, mendengar dan memperdengarkan hadits, serta mengurutkan matan dan nama-nama perawi.
Ibnu al-Atsir berkata: Pada tahun ini wafat
Abu al-Futuh As’ad bin Mahmud al-Ijli
Pengarang “Tatimmat at-Tatimmah”, As’ad bin Abi al-Fadhl bin Mahmud bin Khalaf al-Ijli, seorang ahli fikih mazhab Syafi’i dari Ashbahan, seorang penceramah yang bernama Muntakhab ad-Din. Ia mendengar hadits, mempelajari fikih, menjadi ahli, dan menulis karya “Tatimmat at-Tatimmah” untuk melengkapi karya Abu Sa’d al-Harawi. Ia adalah seorang yang zuhud dan rajin beribadah, serta memiliki karya “Syarh Musykilat al-Wasith wa al-Wajeez”. Ibnu Khalkan berkata: Ia wafat pada bulan Safar tahun 600 H.
Al-Banani, Penyair
Abu Abdullah Muhammad bin al-Muhanna, penyair yang dikenal dengan sebutan al-Banani. Ia memuji para khalifah, menteri, para amir dan lainnya. Ia menjadi tua dan lanjut usia. Puisinya halus dan indah. Di antara syairnya:
Dengan zalim engkau melihat orang yang dilanda cinta engkau tegur Dan keterlaluan dengan hawa nafsu yang kini engkau ingkari Wahai pencela orang yang sedih, seandainya engkau menegur pembunuhnya Dengan pipi dan rambut di pipi, niscaya engkau memaafkannya Aku tebus dia yang matanya yang menyihir mengajariku Bila ia siap membunuhku bagaimana aku menyihirnya Ia menikmati malam dalam tidur dan aku begadang Hingga pagi dan ia melupakanku sedang aku mengingatnya
Dan juga puisinya:
Pagi-pagi kau mengedarkan kepada para pencela Dan menyeret ekor di taman-taman Dan menggoyangkan dalam lekuk-lekuk ka lung pinggangnya menggoyangkan dahan-dahan layu Dan berkata pada dahan basah Ketika ia serupa atau condong Putih warna pipinya Bertambah sedang warna mawar pudar Madu kehidupan dan pertemuannya Dan dadanya racun pembunuh
Abu Sa’id al-Hasan bin Khalid bin al-Mubarak bin Mihdar an-Nasrani al-Mardini
Yang bergelar al-Wahid. Ia belajar di masa mudanya ilmu orang-orang terdahulu sehingga menguasainya dan unggul di dalamnya. Ia memiliki kemampuan tinggi dalam puisi yang indah. Di antara puisinya; Allah membunuhnya:
Datang kepadaku surat yang ditulis jari-jemari Yang mengumpulkan lautan dari limpahan mereka menenggelamkan lautan Sungguh heran bagaimana terlipat di atas kertasnya Padahal sepuluh jarinya tidak terbiasa menggenggam
Dan juga puisinya; Allah melaknatnya:
Sungguh pelipisnya telah berpengaruh pada warna pipinya Dan terlihat seperti cahaya dari balik kaca Engkau melihat pasukan Romawi di Zanaj telah muncul Pasukan depannya berlari untuk hari peperangan Atau fajar dengan malam yang gelap berhias Menyerupai kayu eboni di lempengan gading Sungguh pelipisnya cemburu pada mawar pipinya Maka ia memagar dengan rambutnya dengan pagar
Ath-Thawusi, Pemilik Thariqah
Al-Iraqi bin Muhammad bin al-Iraqi, Rukn ad-Din Abu al-Fadhl al-Qazwini, kemudian al-Hamadzani, yang dikenal dengan ath-Thawusi. Ia adalah ahli dalam ilmu khilaf, jidal, dan munazarah. Ia mengambil ilmu ini dari Syaikh Radhi ad-Din an-Naisaburi al-Hanafi, dan menulis karya dalam bidang itu tiga ta’liq. Ibnu Khalkan berkata: Yang paling baik adalah yang tengah. Perjalanan ilmiah menuju kepadanya di Hamadzan. Sebagian amir Hujabah di sana membangunkan untuknya madrasah yang dikenal dengan al-Hajibiyyah. Wafatnya pada tahun ini. Dikatakan bahwa ia dinisbahkan kepada Thawus bin Kaisan, seorang Tabi’in, wallahu a’lam.
Pada tahun ini khalifah memecat putranya Muhammad yang bergelar azh-Zhahir dari status wali ahad setelah dikhutbahkan untuknya selama tujuh belas tahun, dan mengangkat sebagai wali ahad putranya yang lain, Ali. Namun Ali wafat tidak lama kemudian, maka kembali urusan itu kepada azh-Zhahir, lalu dibaiat sebagai khalifah setelah ayahnya an-Nashir, sebagaimana akan datang pada tahun 623 H.
Pada tahun ini terjadi kebakaran besar di Dar al-Khilafah di gudang senjata, sehingga terbakar banyak sekali senjata, harta benda, dan tempat tinggal yang nilainya mendekati empat juta dinar. Berita kebakaran ini tersebar di kalangan manusia, maka para raja dari berbagai penjuru mengirim hadiah berupa senjata-senjata kepada khalifah sebagai pengganti yang hilang dalam jumlah banyak; segala puji bagi Allah.
Pada tahun ini orang-orang Kurj berbuat kerusakan di negeri-negeri kaum muslimin, membunuh banyak orang, dan menawan banyak umat. Pada tahun ini terjadi peperangan antara amir Makkah Qatadah al-Hasani dengan amir Madinah Salim bin Qasim al-Husaini. Qatadah telah menuju Madinah dan mengepung Salim di dalamnya. Salim mengendarai kuda menujunya setelah shalat di Hujrah Nabawiyyah dan meminta pertolongan Allah atas Qatadah, kemudian keluar menghadapinya dan mengalahkannya, lalu mengejarnya hingga Makkah dan mengepungnya di sana. Kemudian Qatadah mengirim utusan kepada para amir Salim dan memecah belah mereka darinya, dan Salim kembali pulang ke Madinah dengan selamat. Pada tahun ini Ghiyats ad-Din Kaikhusraw bin Qilij Arslan bin Mas’ud bin Qilij Arslan bin Sulaiman bin Qutulmisy menguasai negeri Rum dan merebutnya dari putra saudaranya, dan ia menetap di sana. Kedudukannya menjadi besar, kekuatannya bertambah kuat, pasukannya bertambah banyak, para amir dan penguasa daerah menaatinya. Al-Afdhal bin Shalah ad-Din mengkhutbahkan untuknya di Sumaisath dan pergi mengabdi kepadanya.
Terjadi pada tahun ini bahwa seorang lelaki di Baghdad turun ke sungai Dijlah untuk berenang di dalamnya, dan memberikan pakaiannya kepada pelayannya, lalu ia tenggelam di air. Ditemukan dalam selembar kertas di surbannya bait-bait ini:
Wahai manusia, dahulu aku memiliki harapan Ajal membuatku pendek dari mencapainya Maka hendaklah bertakwa kepada Allah Rabbnya seorang lelaki Yang dimungkinkan baginya di zamannya untuk beramal Bukanlah aku sendiri yang dipindahkan ke tempat yang engkau lihat Setiap orang akan dipindahkan kepada yang serupa dengannya
Di antara tokoh terkenal dan terkemuka yang wafat pada tahun ini:
Abu al-Hasan Ali bin al-Hasan bin Antar bin Tsabit al-Hilli
Yang dikenal dengan Syamaim. Ia adalah seorang syaikh yang beradab, fadhil, ahli bahasa, dan penyair. Ia mengumpulkan dari puisinya sebuah Hamasah yang ia lebih utamakan daripada Hamasah karya Abu Tammam. Ia memiliki puisi khamriyyat yang ia klaim lebih unggul daripada yang dimiliki Abu Nuwas. Abu Syamah berkata dalam “adz-Dzail”: Ia sedikit agamanya, memiliki kebodohan, kerendahan, dan kebebasan. Ia memiliki Hamasah dan surat-surat. Ibnu as-Sa’i berkata: Ia datang ke Baghdad dan belajar nahwu dari Ibnu al-Khasyab, dan memperoleh bagian yang baik dari nahwu, bahasa, dan syair-syair Arab, kemudian menetap di Mosul hingga wafat di sana. Di antara puisinya dalam Hamasah-nya:
Janganlah melepas pandangan pada sapi rusa Karena tempat jatuhnya ajal ada pada ajal Berapa banyak pandangan yang aku inginkan namun tidak mengambil Tangan orang yang membunuh bagi yang ia bunuh adalah alat pembunuhan Muncul namun tidak mengizinkan memberi salam Dan sedikitnya ucapan salam adalah perbuatan pembunuh
Dan dari puisi khamriyyat-nya:
Campurlah dengan perak yang dicetak darah Yang ditiru oleh air mata mataku Ketika pemberitahu perpisahan mengabarkan Tentang perpisahan antara yang kucintai dan aku Berkibarlah bagi kami dua matahari dari cahayanya Di dua ufuk Dan muncul bagi kami dalam gelasnya Dari warnanya dalam dua pakaian
Dan puisinya dalam tajnis:
Andai orang yang lama di Sya am, jauhnya dan menetap di sana Menjadikan kembali ke Zau ra’ dari sebagian pahalanya Apakah engkau kira zaman mempijakkanku Pada tanah misk tanahnya Dan aku melihat, wahai cahaya mataku Tempat pijakan bagiku dan engkau melihatnya
Abu Nashr Muhammad bin Sa’dullah
bin Nashr bin Sa’id ad-Dajaji. Ia adalah seorang penceramah Hanbali yang fadhil, penyair yang mahir. Dan ia memiliki:
Jiwa pemuda jika memperbaiki keadaannya Adalah lebih dekat untuk meraih harapan baginya Dan jika engkau melihatnya memperbaiki perkataannya Adalah lebih kuat untuk memikul kemuliaan baginya Maka jika muncul keadaan orang yang untuknya untuknya Di kuburnya ketika ujian untuknya untuknya
Abu al-Abbas Ahmad bin Mas’ud bin Muhammad al-Qurthubi al-Khazraji
Ia adalah imam dalam tafsir, fikih, hisab, faraid, nahwu, bahasa, arudh, dan kedokteran. Ia memiliki karya-karya yang baik dan puisi yang indah, di antaranya:
Dan di pipi-pipi ada apa yang di taman namun Untuk kilau bunganya ada makna yang menakjubkan Dan paling menakjubkan yang dikagumi darinya bahwa aku Melihat taman dibawa oleh ranting
Abu al-Fida Isma’il bin Yarnaqasy as-Sinjari
Maula penguasa Sinjar, Imad ad-Din Zanki bin Maudud bin Zanki. Ia adalah seorang tentara yang tampan, memiliki puisi yang indah, dan banyak sastra. Di antara puisinya adalah yang ia tulis kepada al-Malik al-Asyraf Musa bin al-Adil untuk menghiburnya atas saudaranya yang bernama Yusuf:
Air mata kemuliaan dan kemurahan hati tumpah Dan tanah lapang kemuliaan adalah dataran rendah karena kehilanganmu Kemurahan hati dan kebaikan di liang lahat terbaring Pagi hari terbaring di liang lahat itu Yusuf Pemuda yang tangan kematian merenggut rohnya Padahal ia untuk roh-roh dengan pedang yang putih merenggut Malam-malam zaman memberinya minum gelas kematiannya Padahal ia memberi minum kematian dalam perang dikenal Wahai sesal andai kematian bermanfaat dengan sesal Dan wahai penyesalan andai berfaedah penyesalan Dan jiwaku kuat atas musibah-musibah Namun ia lemah dari memikul musibah ini
Abu al-Fadhl bin Ilyas bin Jami’ bin Ali al-Irbili
Ia belajar fikih di an-Nizhamiyyah, mendengar hadits, dan menulis “at-Tarikh” dan lainnya. Ia menyendiri dengan kebaikan menulis syarat-syarat. Ia memiliki keutamaan dan puisi yang baik, di antaranya:
Wahai yang menyakiti hatiku, apakah untuk perpisahanmu akhir Dan yang membuat mataku terjaga, apakah bayanganmu berkunjung Dan yang menikmati penyiksaan dengan kezaliman dalam menjauh Tidakkah bagimu dalam syariat cinta ada yang menahan Selamat bagimu hati yang telah aku wakafkan Untuk mengingat hari-hariku sedang engkau musafir Maka tidak berpisah kesedihan yang menyayat dari pikiranku Karena jauhmu hingga Yang Berkuasa menyatukan pertemuan Jika aku mati maka salam dariku untuk kalian Datang kepada kalian selagi Allah Yang Maha Besar mengingat
Abu as-Sa’adat al-Hilli
Pedagang Baghdad yang Rafidhah. Setiap hari Jumat ia mengenakan baju perang, dan berdiri di balik pintu rumahnya yang tertutup padanya, sedangkan orang-orang sedang shalat Jumat, dan ia menunggu agar shahib az-zaman keluar dari sirdab Samarra – maksudnya Muhammad bin al-Hasan al-Askari – untuk menyambar dengan pedangnya kepada manusia untuk menolong al-Mahdi.
Abu Ghalib bin Kamunah, Yahudi, Penulis
Ia memalsukan tulisan tangan Ibnu Muqlah karena kekuatan tulisannya. Ia wafat – Allah melaknatnya – di penjara Wasith; disebutkan oleh Ibnu as-Sa’i dalam “Tarikhnya”.
Pada tahun ini wafat Yahudi lain yang disebut:
Abu Ghalib bin Abi Thahir bin Syubr
Ia adalah petugas di Dar adh-Dharb di Baghdad. Disebutkan oleh Ibnu as-Sa’i al-Khazin dalam “Tarikhnya”.
Kemudian Masuklah Tahun 602 Hijriah
Pada tahun ini terjadi peperangan besar antara Malik Syihabuddin Muhammad bin Sam al-Ghuri, penguasa Ghaznah, dengan Bani Kukar yang menguasai Gunung Judi. Mereka telah murtad dari Islam, maka ia memerangi mereka dan mengalahkan mereka, serta memperoleh harta rampasan yang sangat banyak yang tidak dapat dihitung dan digambarkan. Sebagian dari mereka mengejarnya hingga membunuhnya secara tersembunyi pada malam awal bulan Sya’ban tahun itu setelah shalat Isya, semoga Allah merahmatainya. Ia termasuk raja yang paling baik dalam pemerintahan, paling berakal, dan paling teguh dalam peperangan, semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya.
Ketika ia terbunuh, bersamanya ada Fakhruddin al-Razi yang biasa mengadakan majelis nasihat yang dihadiri oleh sang raja. Ia menangis ketika berkata di akhir majelisnya: “Wahai Sultan, kekuasaanmu tidak akan kekal, demikian juga talbis (penyamaran) al-Razi. Sesungguhnya kembali kita semua kepada Allah.” Ketika Sultan terbunuh, para pengawal istana menuduhnya sebagai pembunuh, maka ia takut dan berlindung kepada Wazir Mu’ayyid al-Mulk bin Khawajah, yang kemudian mengirimnya ke tempat yang aman. Setelahnya, Ghaznah dikuasai oleh salah seorang budaknya, yaitu Tajuddin al-Daz. Setelah itu terjadi berbagai peristiwa yang panjang penceritaannya, yang telah dirinci oleh Ibnu al-Atsir dan Ibnu al-Sa’i.
Pada tahun ini bangsa Kurj (Georgia) menyerang negeri-negeri kaum muslimin hingga sampai ke Khalath, membunuh dan menawan. Para pejuang dan masyarakat umum melawan mereka. Pada tahun ini pula penguasa Irbil, Muzhafaruddin Kukburi bersama penguasa Maraghah berangkat untuk memerangi raja Azerbaijan yaitu Abu Bakar bin al-Bahlawan karena ia enggan memerangi bangsa Kurj dan sibuk dengan mabuk-mabukan siang malam. Namun mereka tidak mampu mengalahkannya. Kemudian pada tahun ini ia menikahi putri raja Kurj, sehingga kejahatan mereka terhadapnya berhenti. Ibnu al-Atsir berkata: Kondisinya seperti kata pepatah: “Ia sarungkan pedangnya dan cabut kemaluannya.”
Pada tahun ini Khalifah mengangkat Nashiruddin Nashir bin Mahdi al-Alawi al-Hasani sebagai wazir. Pakaian jabatan wazir dikenakan kepadanya dan genderang ditabuh di hadapannya dan di pintunya pada waktu-waktu shalat. Pada tahun ini penguasa negeri Armenia yaitu Ibnu Laun menyerang negeri Halab, membunuh, menawan, dan merampas. Maka Malik al-Zhahir Ghazi bin al-Nashir keluar menghadapinya, Ibnu Laun pun melarikan diri dari hadapannya. Al-Zhahir kemudian menghancurkan sebuah benteng yang telah dibangunnya, meratakanya dengan tanah.
Pada bulan Sya’ban tahun ini dihancurkan Jembatan Romawi yang ada di Bab Syarqi dan batu-batunya dihamparkan untuk melapisi Masjid Umawi atas perantaraan Wazir Shafiuddin bin Syukr, wazir al-Adil. Pelapisan lantainya selesai pada tahun 604 Hijriah.
Tokoh-Tokoh yang Wafat pada Tahun Ini:
Syarafuddin Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Ali, Jamaluddin al-Syahrazuri
Di kota Homs. Ia telah dikeluarkan ke sana dari Damaskus. Sebelumnya ia adalah pengajar di al-Aminiyyah dan di halaqah masjid berhadapan dengan al-Barradah. Ia memiliki ilmu yang baik dalam mazhab dan khilafiyyah.
Al-Taqi Isa bin Yusuf bin Ahmad al-Iraqi al-Gharafi yang Tunanetra
Pengajar di al-Aminiyyah juga. Ia tinggal di menara barat, dan ada seorang pemuda yang melayani dan menuntunnya. Syaikh kehilangan uang, lalu menuduh pemuda ini mencurinya, namun tidak terbukti. Pemuda itu balik menuduh Syaikh, padahal orang-orang tidak menyangka bahwa Syaikh memiliki harta. Maka hilanglah harta itu, dan tercemarlah kehormatannya. Pada pagi hari Jumat tanggal 7 Dzulqa’dah ia ditemukan tergantung di rumahnya di menara barat. Orang-orang enggan menshalatkannya karena ia membunuh dirinya sendiri. Maka Syaikh Fakhruddin Abdurrahman bin Asakir maju dan menshalatkannya, sebagian orang mengikutinya. Abu Syamah berkata: Yang mendorongnya melakukan itu adalah hilangnya hartanya dan tercemarnya kehormatannya. Ia berkata: Aku pernah mengalami kejadian serupa dengan ini, namun Allah Mahasuci menyelamatkanku dengan karunia-Nya. Ia berkata: Setelahnya yang mengajar di al-Aminiyyah adalah al-Jamal al-Mishri, wakil Baitul Mal.
Abu al-Ghanaim al-Rukbusalar al-Baghdadi
Ia bekerja bersama Izzuddin Najah al-Syurabi, dan mengumpulkan harta yang sangat banyak. Setiap kali ia memperoleh harta, ia membeli dengannya properti dan mencatatnya atas nama temannya yang ia percaya. Ketika ajal menjemputnya, ia berwasiat kepada orang itu agar mengurus anak-anaknya dan menafkahi mereka dari warisannya yang ia tinggalkan untuk mereka. Orang yang diberi wasiat itu jatuh sakit tidak lama kemudian, lalu memanggil saksi-saksi untuk menyaksikan bahwa apa yang ada di tangannya adalah milik ahli waris Abu al-Ghanaim. Namun ahli warisnya memperlambat menghadirkan saksi-saksi, dan orang itu tertimpa stroke lalu meninggal. Ahli warisnya menguasai semua harta dan properti itu, dan tidak memberikan apa-apa kepada anak-anak Abu al-Ghanaim dari apa yang ayah mereka tinggalkan untuk mereka.
Abu al-Hasan Ali bin Ali bin Sa’adah al-Fariqi
Belajar fikih di Baghdad, menjadi asisten di al-Nizhamiyyah dan menjadi wakilnya dalam pengajaran, lalu menjadi pengajar mandiri di madrasah yang didirikan oleh ibu Khalifah. Ia diminta menjadi wakil qadhi menggantikan Abu Thalib Ali bin Ali al-Bukhari, ia menolak namun dipaksa. Ia menjalankannya sebentar, kemudian suatu hari masuk ke masjid dengan memakai kain wol di kepalanya, memerintahkan para wakil dan pengawal untuk meninggalkannya, dan menyaksikan dirinya sendiri bahwa ia mengundurkan diri dari jabatan wakil qadhi. Ia tetap pada jabatan asisten dan pengajar, semoga Allah merahmatainya.
Pada hari Jumat tanggal 20 Rabiul Awwal wafat:
Al-Khatun
Ibu Sultan Malik al-Mu’azzham Isa bin al-Adil. Ia dimakamkan di kubah Madrasah al-Mu’azzhamiyyah di kaki Gunung Qasiyun.
Al-Amir Mujiruddin Tasyatkin al-Mustanjidi
Amir Haji dan pemimpin negeri Khuzistan. Ia adalah orang tua yang baik, berakhlak mulia, banyak beribadah, sangat fanatik dalam mazhab Syiah. Ia wafat di Tustar pada hari kedua Jumadal Akhirah tahun 602 Hijriah. Kerandanya dibawa ke Kufah dan dimakamkan di maqam Ali alaihissalam sesuai wasiatnya. Demikian Ibnu al-Sa’i memberikan biografinya dalam Tarikhnya.
Abu Syamah menyebutkan dalam al-Dzail bahwa ia adalah Tasyatkin bin Abdullah al-Muqtafi, Amir Haji yang menunaikan haji bersama orang-orang selama 26 tahun. Ia berada di Hijaz seolah-olah seorang raja. Wazir Ibnu Yunus menuduhnya berkirim surat dengan Shalahuddin, maka Khalifah memenjarakannya. Kemudian terbukti bahwa tuduhan itu tidak benar, lalu membebaskannya dan memberinya Khuzistan, kemudian mengembalikannya ke jabatan Amir Haji. Al-Hillah al-Saifiyyah adalah wilayah kekuasaannya. Ia adalah orang yang pemberani, dermawan, murah hati, sedikit bicara. Bisa berlalu seminggu tanpa ia mengucapkan sepatah kata pun. Ia memiliki kesabaran dan toleransi yang tinggi. Seseorang meminta pertolongannya terhadap salah seorang bawahannya namun ia tidak menjawab. Orang yang meminta tolong itu berkata kepadanya: “Apakah engkau keledai?” Ia menjawab: “Tidak.” Ibnu al-Ta’awidzi berkata tentangnya dalam syairnya:
Dan seorang amir atas negeri, seorang maula Yang tidak menjawab orang yang mengadu kecuali dengan diam Semakin tinggi kedudukannya, semakin Allah merendahkannya Dengan kebodohannya sampai ke tingkat binatang
Selimut tidurnya dicuri oleh pelayannya. Mereka ingin memeriksa pelayan itu, padahal Amir Tasyatkin melihatnya mengambilnya. Ia berkata: “Jangan hukum siapa pun, karena yang mengambilnya tidak akan mengembalikannya, dan yang melihatnya tidak akan mengadukan.”
Ia mencapai usia 90 tahun. Suatu ketika ia menyewa tanah untuk wakaf selama 300 tahun. Seseorang berkomentar dengan bercanda: “Orang ini tidak yakin akan kematian; umurnya 90 tahun dan menyewa tanah untuk 300 tahun.” Orang-orang tertawa mendengarnya.
Kemudian Masuklah Tahun 603 Hijriah
Pada tahun ini terjadi berbagai peristiwa panjang di Timur antara Ghuriyyah dan Khwarizmiyyah. Khwarizm Syah bin Takasy menguasai negeri Thalaqan. Pada tahun ini Khalifah mengangkat Imaduddin Abu al-Qasim Abdullah bin al-Damaghani sebagai Qadhi al-Qudhat di Baghdad.
Pada tahun ini Khalifah menangkap Abdussalam bin Abdul Wahhab bin Syaikh Abdul Qadir al-Jailani karena kefasikan dan kemaksiatan. Buku-buku dan hartanya telah dibakar sebelumnya karena berisi kitab-kitab filsafat dan ilmu orang-orang terdahulu. Ia menjadi pengemis meminta-minta kepada orang-orang. Ini adalah akibat kesalahannya menentang Syaikh Abu al-Faraj bin al-Jauzi; karena dialah yang mengadu kepada Wazir Ibnu al-Qashshab hingga sebagian kitab Ibnu al-Jauzi dibakar, sisanya disegel, dan ia diasingkan ke Wasith selama lima tahun, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Orang-orang berkata: “Allah-lah yang mencukupi.” Dalam Al-Qur’an: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa” (Asy-Syura: 40). Para sufi berkata: “Jalan itu mengambil haknya.” Para dokter berkata: “Tabiat itu setimpal.”
Pada tahun ini bangsa Franka mengepung Homs, maka rajanya Asaduddin Syirkuh bin Nashiruddin Muhammad bin Asaduddin Syirkuh al-Kabir memerangi mereka. Malik al-Zhahir penguasa Halab membantunya dengan pasukan, maka Allah menolak kejahatan mereka, segala puji dan karunia bagi Allah.
Pada tahun ini dua pemuda di Baghdad berkumpul untuk minum. Salah seorang dari mereka menikam yang lain dengan pisau hingga tewas, lalu melarikan diri. Ia ditangkap dan dibunuh. Ditemukan bersamanya secarik kertas berisi dua bait syair karangannya yang ia perintahkan untuk diletakkan di antara kain kafannya, yaitu:
Aku datang kepada Yang Mahamulia tanpa bekal Dari amal-amal perbuatan, dengan hati yang bersih Buruk sangka adalah jika engkau menganggap bekal Bila yang akan ditemui adalah Yang Mahamulia
Tokoh-Tokoh yang Wafat pada Tahun Ini:
Al-Faqih Abu Manshur
Abdurrahman bin al-Husain bin Abdullah bin al-Nu’man al-Naili, yang dijuluki Qadhi Syuraih karena kecerdasan, keutamaan, keahlian, akal, dan kesempurnaan akhlaknya. Ia menjadi qadhi di negerinya, kemudian datang ke Baghdad. Ia ditunjuk untuk jabatan-jabatan besar namun menolaknya. Amir Tasyatkin bersumpah agar ia bekerja padanya di bidang administrasi, maka ia melayaninya selama 20 tahun. Kemudian Wazir Ibnu Mahdi mengadunya kepada Khalifah, maka ia dipenjarakan di rumah Tasyatkin hingga wafat pada tahun ini. Tidak lama kemudian, sang wazir juga dipenjara di sana. Ini adalah sesuatu yang sangat aneh.
Abdurrazzaq bin Syaikh Abdul Qadir
Ia adalah orang yang terpercaya, ahli ibadah, zuhud, dan wara’. Ia adalah yang paling baik di antara saudara-saudaranya. Ia tidak terlibat dalam jabatan dan kekuasaan seperti mereka, tetapi hidup sederhana dari dunia dan mengutamakan akhirat. Ia banyak mendengar hadits dan juga diriwayatkan darinya.
Abu al-Haram Makki bin Rayyan bin Syabbah bin Shalih al-Makisini
Dari wilayah Sinjar, kemudian al-Mushuli, ahli nahwu. Ia datang ke Baghdad dan belajar dari Ibnu al-Khasysyab, Ibnu al-Qashshar, dan al-Kamal al-Anbari. Ia datang ke Syam dan banyak orang mengambil manfaat darinya, di antaranya Syaikh Alamuddin al-Sakhawi dan lainnya. Ia adalah seorang tunanetra yang fanatik kepada Abu al-‘Ala’ al-Ma’arri karena kesamaan di antara keduanya dalam sastra dan kebutaan. Di antara syairnya:
Jika pemberian memerlukan perantara Maka jangan terima itu dengan mata yang dingin Jika pemberian dicela karena datang dari seseorang Maka lebih layak dicela bila datang dari dua orang
Dan dari syairnya juga:
Diriku sebagai tebusan untuk pemuda yang lemah gemalai Yang berkata kepada kami kebenaran di hari perpisahan Barangsiapa mencintai sesuatu karena mengharap darinya tamak Untuk ciuman perpisahan, niscaya ia menginginkan kita
Iqbal al-Khadim Jamaluddin
Salah seorang pelayan Shalahuddin, yang mewakafkan dua madrasah al-Iqbaliyyah; yang Syafi’iyyah dan yang Hanafiyyah. Keduanya adalah rumah yang dijadikan madrasah, dan ia mewakafkan harta untuk keduanya; yang besar untuk Syafi’iyyah dengan dua pertiga wakaf, dan yang kecil untuk Hanafiyyah dengan sepertiga wakaf. Ia wafat di Baitul Maqdis, semoga Allah merahmatainya.
Kemudian Masuklah Tahun Enam Ratus Empat Hijriah
Pada tahun ini, jamaah haji kembali ke Iraq sambil berdoa kepada Allah dan mengadukan kepada orang-orang apa yang mereka alami dari Sadarjahan al-Bukhari al-Hanafi, yang datang ke Baghdad dalam misi utusan. Khalifah menyambutnya dengan meriah. Dia keluar untuk menunaikan haji pada tahun ini, lalu menyulitkan orang-orang dalam hal air dan perbekalan. Sekitar enam ribu jamaah haji Iraq meninggal karenanya pada tahun ini. Disebutkan bahwa budak-budaknya mendahului ke sumber-sumber air lalu menguasai air tersebut, mereka mengambilnya untuk menyirami sekeliling kemah tuannya di terik Hijaz, dan menyirami sayur-sayuran yang dibawa bersamanya dalam tanahnya, sementara mereka menghalangi para musafir yang hendak ke Baitullah al-Haram. Ketika dia kembali bersama orang-orang, rakyat jelata melaknatnya, para pembesar tidak menyambutnya, khalifah tidak memuliakannya dan tidak mengirim seorang pun kepadanya. Dia keluar dari Baghdad sementara rakyat di belakangnya melemparinya dengan batu dan melaknatnya. Orang-orang menjulukinya: Sadar Jahannam. Kita berlindung kepada Allah dari kehinaan.
Pada tahun ini, khalifah menangkap wazirnya Ibnu Mahdi al-Alawi karena dia dituduh menginginkan khilafah, atau ada sebab-sebab lain yang disebutkan. Yang penting, dia dipenjara di rumah Tasytikin hingga meninggal di sana. Dia adalah orang yang sangat kejam dan keras kepala, hingga salah seorang menyindir dia:
Wahai dua kawan, katakan kepada Khalifah Ahmad Berhati-hatilah—semoga engkau dijaga dari kejahatan—terhadap apa yang engkau lakukan Wazirmu ini berada di antara dua perkara Perbuatan baikmu, wahai sebaik makhluk, menjadi sia-sia Jika dia benar-benar dari keturunan Haidar Maka ini adalah wazir yang mengingini khilafah Dan jika dia tidak jujur dalam klaimnya Maka yang paling sia-sia adalah kebaikan yang ada padanya
Ada yang berkata: dia adalah orang yang menjaga diri dari harta, baik perilakunya, bagus pengurusannya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih mengetahui keadaannya.
Pada bulan Ramadan tahun ini, khalifah mengatur dua puluh rumah untuk menjamu orang-orang yang berbuka puasa dari kalangan fakir miskin. Di setiap rumah dimasak makanan yang banyak setiap hari, dan diangkut ke sana juga roti yang baik dan banyak kue-kue—semoga Allah membalasnya dengan kebaikan—dan tindakan ini menyerupai apa yang dilakukan oleh Quraisy dalam hal Rifadah di musim haji, yang dulunya ditangani oleh pamannya Abu Thalib, sebagaimana Abbas menangani Siqayah (penyediaan air). Di kalangan mereka juga terdapat kedutaan, panji, dan Darul Nadwah, sebagaimana telah dijelaskan di tempatnya. Semua jabatan ini telah berada pada keadaan yang paling sempurna pada Khalifah-khalifah Abbasiyah, semoga Allah merahmati mereka.
Pada tahun ini, khalifah mengutus Syekh Syihabuddin as-Suhrawardi bersama Sanqar as-Silahdar kepada al-Malik al-Adil dengan jubah kehormatan tahunan, di dalamnya ada kalung dan dua gelang, dan kepada semua anak-anaknya dengan jubah kehormatan juga.
Pada tahun ini, al-Awhad bin al-Adil, penguasa Mayyafariqin, menguasai kota Khilath setelah membunuh penguasanya Ibnu Baktamur, yang adalah pemuda yang sangat tampan rupanya. Dia dibunuh oleh salah seorang mamluknya, kemudian pembunuh itu juga dibunuh. Negeri itu menjadi kosong tanpa penguasa, maka al-Awhad bin al-Adil mengambilnya, sebagaimana kami sebutkan.
Pada tahun ini, Sultan Khwarazm Muhammad bin Takasy menguasai negeri-negeri di seberang sungai dari bangsa Khitai setelah peperangan yang panjang. Terjadi pada suatu hari peristiwa yang mengherankan, yaitu kaum muslimin kalah dari Sultan Khwarazm Syah dalam salah satu pertempuran, dan dia tinggal bersama sekelompok kecil pengikutnya. Orang-orang kafir Khitai membunuh sebagian dari mereka dan menawan banyak orang, dan Sultan Khwarazm Syah termasuk yang ditawan. Dia ditawan oleh seorang laki-laki yang tidak menyadarinya dan tidak tahu bahwa dia adalah raja, dan bersama dia ditawan seorang amir yang disebut Ibnu Mas’ud. Ketika hal itu terjadi dan pasukan Islam kembali ke markasnya, mereka kehilangan sultan di antara mereka, maka mereka bingung, berselisih sangat hebat, dan seluruh Khurasan menjadi guncang. Sebagian orang mengira bahwa sultan telah terbunuh.
Adapun keadaan sultan dan amir itu, amir berkata kepada sultan: Menurutku lebih baik engkau menyembunyikan kerajaanmu dalam keadaan ini, dan tampakkan bahwa engkau adalah budakku. Dia menerima sarannya, dan mulai melayaninya, memakaikan pakaiannya, memberinya minum dan meletakkan makanan di hadapannya, serta bersungguh-sungguh dalam melayaninya. Orang yang menawan mereka berkata: Aku lihat orang ini melayanimu, siapa kamu? Dia berkata: Aku adalah Ibnu Mas’ud al-Amir, dan ini budakku. Dia berkata: Demi Allah, seandainya bukan karena para amir mengetahui bahwa aku telah menawan seorang amir, niscaya aku bebaskan kamu. Dia berkata: Aku hanya khawatir pada keluargaku, karena mereka mengira aku telah terbunuh dan mengadakan pemakaman. Jika kamu berkenan menebusnya dengan harta dan mengirim orang untuk mengambilnya dari mereka, itu akan baik. Dia berkata: Baik. Lalu dia menunjuk seorang dari pengikutnya. Ibnu Mas’ud berkata: Keluargaku tidak mengenal orang ini, tetapi jika kamu berkenan mengirimkan budakku bersamanya untuk memberi kabar gembira kepada mereka tentang kehidupanku dan memerintahkan mereka mengumpulkan harta. Dia berkata: Baik. Maka dia membekali mereka berdua dengan orang yang menjaga mereka ke kota Khwarazm.
Ketika mereka mendekati kota Khwarazm, raja mendahului mereka ke sana. Ketika orang-orang melihatnya, mereka sangat gembira, kabar gembira diumumkan di seluruh negerinya, raja kembali ke kedudukannya, kegembiraan tersebar karena kepulangannya, dan dia memperbaiki apa yang telah rusak dari kerajaannya karena kabar tentang kehilangannya yang tersebar, dan dia mengepung Herat dan mengambilnya dengan paksa.
Adapun orang yang telah menawannya, dia berkata suatu hari kepada Ibnu Mas’ud: Orang-orang menangisi bahwa Khwarazm Syah telah hilang. Dia berkata: Tidak, dia adalah orang yang ada dalam tawananmu. Dia berkata kepadanya: Mengapa kamu tidak memberitahuku tentang dia agar aku mengembalikannya dengan terhormat dan agung! Dia berkata: Aku takut padamu terhadapnya. Dia berkata: Mari kita pergi kepadanya. Maka mereka pergi kepadanya dan dia memuliakan mereka dengan sangat dan berbuat baik kepada mereka.
Pada tahun ini, penguasa Samarkand berkhianat dan membunuh semua orang Khwarazmiyah yang ada di negerinya, hingga seseorang dipotong menjadi dua bagian dan digantung di pasar seperti domba yang digantung. Dia berniat membunuh istrinya, putri Khwarazm Syah, kemudian mundur dari membunuhnya, dan mengepungnya serta memenjarakannya di benteng dan mempersempitnya. Ketika kabar itu sampai kepada Raja Khwarazm Syah, dia pergi kepadanya dengan pasukan lalu mengepungnya dan mengepung Samarkand, kemudian mengambilnya dengan paksa, dan membunuh sekitar dua ratus ribu penduduknya. Dia menurunkan raja dari benteng dan membunuhnya dengan disiksa di hadapannya, dan tidak meninggalkan keturunan atau anak cucunya. Khwarazm Syah menguasai kerajaan-kerajaan yang ada di sana.
Pada tahun ini, bangsa Khitai dan raja Tatar Kushluy Khan yang berbatasan dengan kerajaan Tiongkok berperang. Raja Khitai menulis kepada Khwarazm Syah meminta bantuannya melawan Tatar, dan berkata: Jika mereka mengalahkan kami, mereka akan sampai ke negerimu. Dan demikianlah yang terjadi. Tatar juga menulis kepadanya meminta bantuannya melawan Khitai dan berkata: Mereka adalah musuh kami dan musuhmu, maka bersamalah dengan kami melawan mereka. Maka dia menulis kepada setiap pihak untuk menenangkan hati mereka, dan menghadiri pertempuran antara mereka sambil memisahkan diri dari kedua pihak. Kekalahan jatuh pada Khitai, maka mereka binasa kecuali sedikit dari mereka. Tatar mengingkari apa yang telah mereka perjanjikan dengan Khwarazm Syah, maka terjadi permusuhan yang keras di antara mereka, dan mereka saling mengancam untuk berperang. Khwarazm Syah takut kepada mereka dan menghancurkan banyak negeri yang berbatasan dengan negeri Kushluy Khan karena takut dia menguasainya. Kemudian Jenghis Khan keluar melawan Kushluy Khan, maka dia sibuk memeranginya dan tidak jadi memerangi Khwarazm Syah. Kemudian terjadi peristiwa-peristiwa aneh yang akan kami sebutkan, insya Allah Ta’ala.
Pada tahun ini, serangan-serangan orang Franka dari Tripoli terhadap wilayah Homs banyak terjadi. Penguasanya, Asaduddin Syirkuh, lemah menghadapi mereka, maka adz-Dzahir penguasa Aleppo mengiriminya pasukan yang menguatkannya melawan Franka.
Al-Malik al-Adil keluar dari Mesir dengan pasukan-pasukan Islam, dan mengirim kepada pasukan-pasukan Jazirah al-Umariyah, maka mereka menemuinya di Akka lalu mengepungnya, karena orang-orang Siprus telah mengambil dari armada kaum muslimin kapal-kapal yang di dalamnya ada sejumlah kaum muslimin. Penguasa Akka meminta keamanan dan perdamaian dengan syarat mengembalikan tawanan, maka dia menerimanya, dan al-Adil pergi lalu turun di danau Qudus dekat Homs, kemudian pergi ke negeri Tripoli dan tinggal di sana dua belas hari membunuh, menawan, dan mengambil harta rampasan, serta menghancurkan negeri-negeri Tripoli itu, hingga orang Franka condong kepada perdamaian. Kemudian dia kembali ke Damaskus dengan dibantu, dimenangkan, gembira, dan berbahagia.
Pada tahun ini, penguasa Azerbaijan yaitu al-Amir Nushratuddin Abu Bakar bin al-Bahlawan menguasai kota Maraghah karena kosong dari penguasa yang kuat. Rajanya meninggal, dan yang menjadi raja setelahnya adalah anaknya yang masih kecil, maka seorang pelayan mengurusnya.
Pada tanggal satu Dzulqa’dah, Muhyiddin Abu Muhammad Yusuf bin Abdurrahman bin al-Jauzi bersaksi di hadapan Qadhi al-Qudhat Abu al-Qasim bin ad-Damaghani, maka dia menerimanya dan mengangkatnya sebagai muhtasib dua sisi Baghdad dan memberinya jubah kehormatan tahunan yang hitam dengan sorban biru kehitaman. Setelah sepuluh hari, dia duduk untuk berceramah menggantikan ayahnya Abu al-Faraj di Bab Badr asy-Syarif, dan banyak orang hadir di sana. Setelah empat hari dari itu, Dhiyauddin Ahmad bin Mas’ud at-Turkistani al-Hanafi mengajar di Masyhad Abu Hanifah, dan dihadiri oleh para pembesar dan tokoh-tokoh.
Pada bulan Ramadan tahun ini, utusan dari khalifah datang kepada al-Adil dengan jubah-jubah kehormatan. Maka dia dan kedua putranya al-Mu’adzdham dan al-Asyraf serta wazirnya Shafiuddin bin Syukr dan beberapa amir memakai jubah-jubah kehormatan tahunan dari khalifah, dan mereka masuk ke benteng pada waktu shalat Dzuhur dari Pintu Besi. Wazir membacakan surat pengangkatan sambil berdiri, dan itu adalah hari yang bersejarah.
Pada tahun ini, jam dipasang di menara al-Arus di Masjid Umawi, dan mereka mulai membangun tangga yang berhadapan dengan Madrasah al-Qaimaziyah.
Pada tahun ini, Syekh Syarafuddin Abdullah bin Zainul Qudhat Abdurrahman bin Sulthan mengajar di Madrasah ar-Rawahiyah di Damaskus.
Pada tahun ini, Syekh Ibnu al-Hubair al-Baghdadi pindah dari madzhab Hanbali ke madzhab Syafi’i, dan mengajar di madrasah Umm al-Khalifah, dan dihadiri oleh para pembesar dan ulama dari berbagai madzhab.
Orang-Orang Terkemuka yang Meninggal pada Tahun Ini:
Al-Amir Itamisy bin Abdullah
Salah satu amir Khalifah an-Nashir, dia termasuk pemimpin amir yang taat beragama, berakal, bersih, dan menjaga kehormatan. Salah seorang khatib dari kalangan Nasrani memberinya racun, maka dia meninggal; semoga Allah merahmatinya. Nama orang yang memberinya racun adalah Ibnu Sawa. Ketika khalifah mengetahui keadaannya, dia menyerahkan Ibnu Sawa kepada budak-budak Itamisy. Ibnu Mahdi al-Wazir memintakan syafaat untuknya dan berkata: Sesungguhnya orang-orang Nasrani telah menawarkan lima puluh ribu dinar untuknya. Maka khalifah menulis di kepala kertas:
Sesungguhnya singa-singa hutan, cita-cita mereka di hari pertempuran adalah pada jarahan, bukan yang dirampas
Maka budak-budak Itamisy menerimanya lalu membunuhnya dan membakarnya. Khalifah menangkap Ibnu Mahdi al-Wazir setelah itu, sebagaimana telah disebutkan.
Hanbal bin Abdullah bin al-Faraj bin Sa’adah ar-Rashafi al-Hanbali
Muadzin di Masjid al-Mahdi, perawi Musnad Imam Ahmad dari Ibnul Husain, dari Ibnul Madzhab, dari Ibnu Malik, dari Abdullah, dari ayahnya. Dia berumur sembilan puluh tahun, keluar dari Baghdad lalu memperdengarkannya di Irbil, dan raja-raja Damaskus memanggilnya ke sana, maka orang-orang mendengar darinya Musnad di sana. Al-Mu’adzdham memuliakannya dan makan di rumahnya di meja makan dari makanan-makanan lezat, maka dia sering mengalami gangguan pencernaan karena dia sempit keadaannya dan kasar kehidupannya di Baghdad. Al-Kindi ketika masuk kepada al-Mu’adzdham menanyakan tentang Hanbal, maka al-Mu’adzdham berkata: Dia sedang gangguan pencernaan. Maka dia berkata: Beri dia makan kacang. Maka al-Mu’adzdham tertawa. Kemudian al-Mu’adzdham memberinya harta yang banyak dan mengembalikannya ke Baghdad, maka dia meninggal di sana pada tahun ini. Kelahirannya pada tahun sepuluh lima ratus. Bersama dia ada Ibnu Thabarzad, yang wafatnya terlambat setelahnya hingga tahun tujuh enam ratus.
Abdurrahman bin Isa bin Abil Hasan al-Bazuri
Penceramah Baghdad, mendengar dari Ibnu Abil Waqt dan lainnya, dan belajar kepada Ibnul Jauzi tentang ceramah. Kemudian jiwanya ingin menyamainya dan dirinya merasa tinggi, dan berkumpul padanya sekelompok dari penduduk Bab an-Nashirah. Kemudian dia menikah di akhir umurnya—sementara dia hampir tujuh puluh tahun—dengan seorang gadis, lalu dia mandi di hari yang dingin, maka kemaluannya bengkak, dan dia meninggal pada tahun ini.
Al-Amir Zainuddin Qaraja ash-Shalahi
Penguasa Sharkhad. Dia memiliki rumah di dekat Bab ash-Shaghir di dekat saluran az-Zallaqah dan makamnya di as-Safh dalam kubah di tepi jalan dekat makam Ibnu Tamirk. Al-Adil menetapkan putranya Ya’qub atas Sharkhad.
Abdul Aziz ath-Thabib
Meninggal mendadak, dan dia adalah ayah Sa’duddin ath-Thabib al-Asyraf. Ibnu Unain berkata tentangnya:
Sendiri-sendiri dan tidak ada pengganti al-Khatib dalam jamaah Dan kematian dan tidak ada Abdul Aziz sebagai dokter
Pada tahun ini meninggal:
Al-Afif Ibnud Darji
Imam maqsurah Hanafiyah Barat di Masjid Bani Umayyah.
Abu Muhammad Ja’far bin Muhammad bin Mahmud bin Hibatullah bin Ahmad bin Yusuf al-Irbili
Ia adalah seorang yang memiliki keutamaan dalam berbagai ilmu pengetahuan, dalam ilmu fikih menurut mazhab Syafi’i, ilmu hisab (matematika), ilmu faraid (pembagian waris), ilmu ukur (geometri), sastra, nahwu (tata bahasa Arab), dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan al-Quran al-Aziz serta ilmu-ilmu lainnya. Di antara syairnya yang indah dan bagus adalah ucapannya:
Seseorang tidak dapat menolak apa yang datang kepadanya dari takdir, dan dalam berbagai musibah terdapat pelajaran jika direnungkan
Maka tidak ada yang dapat menyelamatkan dari takdir jika telah turun, baik berupa pendapat, kekuatan, ketakutan, maupun kehati-hatian
Maka gunakanlah kesabaran dalam segala urusan dan jangan bersedih karena sesuatu, sebab akibat dari kesabaranmu adalah kemenangan
Betapa banyak kesulitan pernah menimpa kami lalu perputaran zaman mengubahnya, dan setelahnya datang kemudahan
Janganlah seseorang berputus asa dari rahmat Allah, sebab tidak ada yang berputus asa darinya kecuali golongan yang kafir
Sesungguhnya aku mengetahui bahwa zaman itu memiliki pergantian keadaan, dan bahwa kedua harinya adalah hari yang aman dan hari yang berbahaya
Kemudian Masuklah Tahun Enam Ratus Lima (605 H)
Pada bulan Muharram tahun ini, sempurnalah pembangunan Dar al-Diyafah (rumah penginapan) di Baghdad yang didirikan oleh an-Nashir Lidinillah di sisi barat Baghdad untuk jamaah haji dan para musafir; mereka mendapatkan jamuan selama mereka tinggal di sana, dan jika salah seorang dari mereka berkeinginan untuk melanjutkan perjalanan dari sana, maka ia diberi bekal, pakaian, dan setelah semua itu diberi satu dinar untuk perjalanan. Semoga Allah membalas kebaikannya dengan kebaikan.
Pada tahun ini, Abu al-Khaththab Ibnu Dihyah al-Kalbi kembali dari perjalanannya ke Irak, lalu melewati negeri Syam. Ia berkumpul di majelis Wazir Shafiyuddin bin Syukr bersama dengan Syekh Tajuddin Abu al-Yaman Zaid bin al-Hasan al-Kindi, seorang guru dalam ilmu bahasa dan hadits. Ibnu Dihyah menyebutkan dalam pembicaraannya hadits tentang syafa’at hingga sampai pada ucapan Nabi Ibrahim alaihis salam: “Sesungguhnya aku hanyalah kekasih dari wara-wara” (dengan memfathahkan kedua lafaz). Maka al-Kindi berkata: “min wara-wara” (dengan mendhamahkan keduanya). Maka Ibnu Dihyah berkata kepada wazir Ibnu Syukr: “Siapa dia?” Maka ia menjawab: “Ini adalah Syekh Abu al-Yaman al-Kindi.” Lalu Ibnu Dihyah merendahkannya, dan ia memang orang yang berani. Maka al-Kindi berkata: “Ia dari (kabilah) Kalb maka ia pun menggonggong.” Syekh Syihabuddin Abu Syamah berkata: “Kedua riwayat itu diceritakan, dan juga diceritakan dengan memakai jar (kasrah).”
Pada tahun ini, Fakhruddin Ibnu Taimiyyah, khatib Harran, kembali dari haji ke Baghdad dan duduk di Bab Badr untuk berceramah, menggantikan tempat Muhyiddin Yusuf bin Syekh Abu al-Faraj. Maka ia berkata dalam perkataannya saat itu:
Dan anak unta yang berumur dua tahun jika terperangkap dalam pertarungan, tidak mampu menyerang seperti seekor unta tua yang kuat
Seolah-olah ia menyindir al-Muhyi bin al-Jauzi, karena ia masih muda berusia dua puluh lima tahun. Wallahu a’lam.
Pada hari Jumat tanggal sembilan Muharram, seorang budak Ifranj (Eropa) masuk dari pintu maqshurah Masjid Damaskus dalam keadaan mabuk dan di tangannya ada pedang terhunus, sementara orang-orang sedang duduk menunggu shalat Subuh. Maka ia menyerang orang-orang dengan memukul mereka dengan pedangnya, sehingga membunuh dua atau tiga orang, dan memukul mimbar dengan pedangnya hingga rusak. Lalu ia ditangkap dan dimasukkan ke rumah sakit jiwa, dan digantung pada hari itu juga di jembatan al-Labadin.
Pada tahun ini, Syekh Syihabuddin as-Suhrawardi kembali dari Damaskus dengan membawa hadiah-hadiah dari al-Malik al-Adil. Ia disambut oleh tentara, dan bersamanya ada harta yang banyak untuk dirinya sendiri juga. Ia sebelumnya adalah orang fakir yang zuhud, namun ketika ia kembali, ia dilarang berceramah, dan ribath-ribath (asrama sufi) yang ia kelola diambil darinya, dan ia diserahkan kepada harta yang ada di tangannya. Maka ia mulai membagikannya kepada orang-orang fakir dan miskin, sehingga banyak orang dari kalangan fuqaha dan selain mereka menjadi kaya karenanya. Maka al-Muhyi Ibnu al-Jauzi berkata dalam majelisnya dengan maksud: tidak perlu seseorang mengambil harta dari bukan tempatnya yang benar, lalu menyalurkannya kepada yang berhak menerimanya, dan meninggalkannya lebih baik baginya daripada mengambilnya. Sesungguhnya ia hanya ingin agar kedudukannya terangkat dengan membagikannya, atau kembali kepada keadaannya seperti semula. Seandainya ia dibiarkan mengelola apa yang ia kelola, ia tidak akan membagikannya. Maka hendaklah seorang hamba berhati-hati terhadap dunia; sesungguhnya ia adalah penipu yang memperdaya, yang dapat menculik para ulama dan ahli ibadah yang tangguh, apalagi orang awam dan para pemimpin. Dan Ibnu al-Jauzi kelak jatuh ke dalam apa yang telah jatuh di dalamnya as-Suhrawardi bahkan lebih parah.
Pada tahun ini, orang-orang Franka menyerang kota Hims dan menyeberangi sungai Orontes dengan jembatan yang mereka siapkan di negeri mereka. Ketika pasukan yang menang menyadari mereka, mereka mengejar mereka, lalu mereka melarikan diri dari pasukan itu. Pasukan Islam membunuh banyak dari mereka, dan kaum muslimin mendapatkan harta rampasan yang baik dari mereka.
Pada tahun ini terbunuh penguasa al-Jazirah, dan ia adalah orang yang paling buruk perilakunya di antara manusia dan paling jahat niatnya, yaitu al-Malik Sanjar Syah bin Ghazi bin Maudud bin Zanki bin Aq Sunqur al-Atabiki. Ia adalah sepupu Nuruddin penguasa Mosul. Yang membunuhnya adalah anaknya sendiri Ghazi, ia berhasil masuk menemuinya saat ayahnya berada di tempat buang air dalam keadaan mabuk, lalu menikamnya dengan pisau empat belas tikaman, kemudian menyembelihnya; dan semua itu dilakukan agar ia dapat merebut kekuasaan setelahnya, namun Allah mengharamkan hal itu baginya. Lalu yang diangkat menjadi raja adalah saudaranya Mahmud, dan Ghazi yang durhaka kepada ayahnya ini ditangkap dan dibunuh pada hari itu juga. Maka Allah mencabut darinya kekuasaan dan kehidupan, namun Allah telah mengistirahatkan kaum muslimin dari kezaliman, kekerasan, dan kefasikan ayahnya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. al-An’am: 129)
Di Antara yang Wafat pada Tahun Ini Juga
Abu al-Fath Muhammad bin Ahmad bin Bakhtiyar bin Ali bin Muhammad bin Ibrahim bin Ja’far al-Wasithi yang dikenal dengan Ibnu al-Manda’i
Ia adalah orang terakhir yang meriwayatkan Musnad Imam Ahmad dari Ibnu al-Husain. Ia berasal dari keluarga ahli fikih, kehakiman, dan keagamaan. Ia adalah orang yang tsiqah (terpercaya), adil, dan sangat berhati-hati dalam penukilan. Di antara yang ia lantunkan dari hafalannya:
Seandainya Laila berada di tempat terbitnya matahari di hadapannya, dan aku berada di belakang matahari ketika ia tenggelam
Niscaya aku akan berbicara kepada diriku dengan menunggu pemberiannya, dan angan-angan berkata kepadaku bahwa sesungguhnya ia dekat
Qadhi al-Qudhah (Hakim Agung) di Negeri Mesir, Shadruddin Abdul Malik bin Durbas al-Marani al-Kurdi
۞۞۞۞۞
Penulis : Imaduddin, Abu Al-Fida', Isma'il bin Umar bin Katsir Al-Quraisyi Ad-Dimasyqi (701 - 774 H)
Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.







