Kejujuran hampir selalu ditempatkan sebagai puncak moralitas. Sejak kecil kita diajari bahwa jujur itu baik, bohong itu salah. Dalam banyak keadaan, prinsip ini memang benar dan tidak terbantahkan. Kejujuran adalah fondasi kepercayaan, dan kepercayaan adalah pondasi kehidupan sosial.
Namun Islam, sebagai agama yang membangun peradaban, tidak berhenti pada slogan moral yang sederhana. Islam tidak hanya mengajarkan apa yang benar, tetapi juga bagaimana kebenaran itu hadir dalam kehidupan manusia. Karena kebenaran yang disampaikan tanpa hikmah, bisa berubah dari nilai mulia menjadi sumber kerusakan.
Di sinilah para ulama mengajarkan cara berpikir yang lebih matang dan berlapis. Salah satu nasihat yang sangat tajam datang dari Imam Ash-Shan’ani رحمه الله, seorang ulama besar yang dikenal mendalam dalam memahami tujuan syariat.
Beliau berkata (maknanya):
“Perhatikanlah hikmah Allah dalam syariat-Nya yang bertujuan menyatukan hati manusia. Karena itulah perbuatan adu domba diharamkan, meskipun isi ucapannya benar. Sebab, ia merusak hati, menumbuhkan permusuhan, dan melahirkan rasa saling membenci.
Sebaliknya, ada keadaan di mana ucapan yang asalnya terlarang, seperti kebohongan, justru dibolehkan apabila tujuannya untuk menyatukan hati, menumbuhkan kasih sayang, dan menghilangkan permusuhan.”
(Subulus Salam, 8/264)
Sekilas, pernyataan ini terasa mengejutkan. Bagaimana mungkin sesuatu yang benar justru diharamkan, sementara sesuatu yang salah bisa diberi keringanan? Namun jika direnungkan lebih dalam, inilah wajah syariat yang sarat hikmah dan jauh dari kekakuan.
Adu domba atau namimah sering kali tidak berisi kebohongan. Justru sebaliknya, ia kerap disampaikan dengan kalimat, “Ini sebenarnya fakta,” atau “Saya hanya menyampaikan apa adanya.” Tetapi kebenaran yang dipindahkan dari satu pihak ke pihak lain, tanpa kebutuhan syar’i dan tanpa tujuan maslahat, sering kali hanya melahirkan luka. Hati menjadi rusak, hubungan menjadi renggang, dan permusuhan tumbuh tanpa disadari.
Dalam kondisi seperti ini, masalahnya bukan terletak pada benar atau salahnya informasi, melainkan pada dampaknya. Islam tidak menilai ucapan hanya dari isinya, tetapi juga dari akibat yang ditimbulkannya.
Sebaliknya, ada keadaan tertentu di mana seseorang tidak menyampaikan seluruh kebenaran secara apa adanya. Ia memilih kata yang lebih halus, menahan sebagian informasi, atau bahkan menyampaikan ungkapan yang tidak sepenuhnya faktual demi mendamaikan dua pihak yang berselisih. Bukan untuk menipu, tetapi untuk mencegah kerusakan yang lebih besar.
Inilah yang dimaksud para ulama ketika membahas kebolehan “berkata tidak apa adanya” dalam rangka ishlah atau perbaikan hubungan. Bukan pembenaran terhadap dusta, tetapi pengecualian yang lahir dari pertimbangan maslahat dan mafsadat.
Pelajaran ini sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan pendidikan. Di madrasah, pesantren, dan sekolah, sering kali konflik justru membesar bukan karena masalah besar, tetapi karena informasi kecil yang dipindahkan tanpa kendali. Kalimat sederhana yang disampaikan tanpa hikmah bisa memicu prasangka, merusak kepercayaan, bahkan melahirkan perpecahan yang panjang.
Karena itu, pendidikan Islam sejatinya tidak hanya melatih santri agar jujur, tetapi juga agar bijak. Tidak hanya berani berkata benar, tetapi mampu menimbang kapan kebenaran itu perlu disampaikan, bagaimana cara menyampaikannya, dan kepada siapa ia ditujukan.
Islam tidak mendidik manusia menjadi mesin kejujuran yang kaku, tetapi membentuk insan berakal, beradab, dan berperasaan. Insan yang memahami bahwa menjaga hati manusia adalah bagian dari tujuan besar syariat.
Pada akhirnya, kejujuran tanpa hikmah bisa melukai, sementara hikmah yang lahir dari iman justru mampu menyelamatkan. Dan di situlah letak kedewasaan akhlak yang ingin dibangun oleh Islam. Wallahu a’lam.







